Penggunaan dan Teknik Produksi Pakan Alami: Mikroalga

Alih Jenjang D4 Bidang Studi Akuakultur 2009

Pakan Alami dalam Larvikultur
Larvikultur = Mencakup semua proses kultur mulai dari pemeliharaan induk (broodstock) hingga produksi benih ikan (fry) yang siap untuk distok dan dibesarkan dalam fasilitas grow-out

1970-an: Penggunaan benih ‘liar’ (hasil tangkapan dari alam)
  

Murah Mudah (sudah tersedia di alam) Kuantitas (ketersediaan melimpah)

1970-an: Penggunaan benih ‘liar’ (hasil tangkapan dari alam)
    

Murah Mudah (sudah tersedia di alam) Kuantitas (ketersediaan melimpah) Frekuensi ketersediaan di alam? Kualitas  pemilihan species?  kontrol penyakit?

pemeliharaan larva  spesifik untuk masing-masing spesies .1980-an: Intensifikasi akuakultur  Mulai meningkatnya biaya produksi  dibutuhkan peningkatan produktifitas  peningkatan kepadatan kultur  ketersediaan benih secara kontinyu  Teknologi kultur .pengembangbiakan oleh indukan (breeding) .

1mm   Penyerapan ‘yolk sac’ 3 – 8 hari Kebutuhan pakan awal dengan ukuran 80-120μ Perkembangan larva yang belum sempurna (primitif)  -.1mm Bream 2. pergerakan / lokomosi  Kebutuhan nutrisi yang tinggi untuk pertumbuhan larva .5 . penglihatan.2 . sistem pencernaan.4.3.Pemeliharaan Larva  Ukuran larva Bass 3.ukuran mulut.

4.1mm   Penyerapan ‘yolk sac’ 3 – 8 hari Kebutuhan pakan awal dengan ukuran 80-120μ Perkembangan larva yang belum sempurna (primitif)  -.1mm Bream 2. pergerakan / lokomosi  Kebutuhan nutrisi yang tinggi untuk pertumbuhan larva  Penggunaan pakan alami! .3. sistem pencernaan. penglihatan.5 .ukuran mulut.2 .Pemeliharaan Larva  Ukuran larva Bass 3.

Penggunaan Pakan Alami MIKROALGA Larva moluska tahap awal . rotifera. ikan Moluska dan bivalvial dewasa Tahap akhir larva dan awal juvenil udang dan ikan . copepoda Tahap awal larva crustacea (udang).akhir Artemia.

Mikroalga .

ukuran sel) 2. ditentukan berdasarkan . energi. Sumber makanan dan nutrisi bagi . dan sebagai kontrol mikroba.nilai nutrisi yang terkandung di dalamnya .moluska bivalvial . sumber nutrisi bagi larva.kemudahannya untuk dicerna .tahap awal pertumbuhan juvenil beberapa spesies ikan (Mikroalga yang akan digunakan.tahap larva awal – akhir pada banyak spesies udang .zooplankton (rotifera.Fungsi Mikroalga 1. Digunakan untuk memelihara larva ikan laut dengan metode Green Water Technique  mikro-alga berperan untuk menstabilkan kualitas air. dll . copepoda)  pakan alami .kandungan toksik . 3. kosmetik. Sumber suplemen makanan.

  .62% dari berat kering). dan 4.Nutrisi Mikroalga  Nilai nutrisi pada setiap spesies mikroalga berbeda-beda  dalam kultur satu spesies dapat bervariasi (tergantung dari kondisi kultur yang ada) Persentase kandungan protein. dan karbohidrat pada mikroalga berturut-turut adalah 1235%.6-23% Selain itu.2-23%. mikroalga merupakan sumber yang kaya asam askorbik (0.11-1. lipid / lemak. 7.

PM.Kelas Bacillariophyceae Skeletonema Thalassiosira Phaeodactylum Chaetoceros Cylindrotheca Bellerochea Genus LU. PM. LM. A. LM. LUT PM LM. A=artemia. A. AL. ZT=zooplankton air tawar . RL LU. LM. PM. PM. PM. ZT. PM=postlarva moluska bivalvial. PM. A. LUT. PM PM PM PM LM. PM LU. A LU. LM. LUT=larva udang air tawar. LM=larva moluska bivalvial. PM. LM. PM LM. LM. RL. Chrorococcum Xanthophyceae Chlorophyceae Olisthodiscus Carteria Dunaliella Cyanophyceae Spirulina PM PM PM PM. RL LU. RL LU=larva udang penaeid. A. LUT LM. A. PM Contoh Aplikasi Penggunaan LU. RL=rotifer laut. PM LM. A LU PM Actinocylus Nitzchia Cyclotella Haptophyceae Isochrysis Pseudoisochrysis Dicrateria Chrysophyceae Prasinophyceae Monocrysis (Pavlova) Tetraselmis (Platymonas) Pyramimonas Micromonas Cryptophyceae Chroomonas Chryptomonas Rhodomonas Cryptophyceae Clamydomonas PM A A LU.

protozoa . jamur.Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum mengkultur mikro-alga        Familiar dengan laju pertumbuhan species mikroalga di laboratorium Kebutuhan kultur / species sepanjang siklus hidup Jumlah algae yang dibutuhkan untuk pakan dan inokulasi diperhatikan Jumlah flasks kultur Ekstra produksi jika ada kultur yang gagal Stok kultur harus steril (bacteria free) untuk kebanyakan species Bebas kontaminasi species mikroalga lain.

Teknik Sterilisasi Metode umum:  Pasteurisasi  80 oC dan didinginkan alamiah  Autoclave  Sodium Hypochlorite (bleach)  0.4-0.2 mL/L (4 tetes)  Neutralize: Na2CO3 0.9 g/L .5 mL/L (10 tetes)  Neutralize: 10-15 mL sodium thiosulfate (248 g/L) per liter  Hydrochloric acid  0.

5. Aeration-mixes culture.000 .000 16:8(min) 24:0(max) 7-9 8.000 (tergantung volume dan kepadatan) 20-24 2.7 .Kondisi Umum Kultur Mikroalga Parameter Suhu (°C) Kisaran 16-27 Optimum 18-24 Salinitas (g. 1991) 12-40 1. hours) pH 1.L-1) Intensitas cahaya (Lux) Photoperiod (light: dark.2-8.500 . 3. 2. tambah CO2 Semua essential nutrients ada Terbatas waktu (Anonymous.10.

intensitas cahaya yang dibutuhkan semakin tinggi  Sumber cahaya: sinar matahari atau cahaya buatan dari tabung fluoresens (lampu neon).Kondisi Umum Kultur Mikroalga Cahaya  Dibutuhkan untuk kegiatan fotosintesis  Kebutuhan cahaya (intensitas dan fotoperiode) tergantung pada kedalaman dan kepadatan kultur (korelasi positif)  semakin tinggi kedalaman dan kepadatan kultur.2-8. .  Intensitas cahaya yang terlalu tinggi akan mengakibatkan fotoinhibisi pada kultur. Durasi penggunaan cahaya buatan  ≥ 18 jam sehari pH  Kisaran pH pada kebanyakan kultur mikroalga adalah antara 7-9 dengan kisaran optimum 8.7.

salinitas optimum 20-24 g/L-1.Kondisi Umum Kultur Mikroalga Aerasi / pengadukan  Sumber CO2 untuk proses fotosintesis  Pengadukan  menghindari terjadinya sedimentasi pada kultur mikroalga agar semua sel terekspos secara merata terhadap cahaya & nutrien Suhu  Suhu optimal bagi kultur mikroalga berkisar antara 20-240C. Suhu < 160C  menurunkan laju pertumbuhan Suhu > 350C  menyebabkan kematian beberapa spesies Salinitas  Mikroalga air laut sangat toleran terhadap perubahan salinitas. .

Fase Pertumbuhan Kultur Mikroalga .

konsentrasi sel pada kultur mikroalga lebih tinggi bila dibandingkan dengan kondisinya di alam  kultur mikroalga harus diperkaya dengan nutrien untuk menghindari defisiensi. Medium yang umum digunakan untuk kultur mikroalga adalah medium Walne – Medium Premix Nutrien harus dalam jumlah yang tepat Phosphate Sunlight.Fase Pertumbuhan Kultur Mikroalga    Secara umum. Water Nitrogen Trace Metals Silicate . CO2.

Co   Beneficial : 1. Mo (fiksasI N). ADP c.H. metabolisme) .O d. Cl (biasanya banyak) 2. Zn. dinoflagellates 2. Vitamin (B12. B1) : cyanobacteria. diatom. Mn. Makronutrien: a. S. K. P – ATP. DNA b. Mikronutrien: Fe. Na. B. NH4)  protein. Si: penting untuk diatom (membuat cangkang. N – (NO3.Kebutuhan Nutrisi Kultur Mikroalga  Nutrien  substansi yang dibutuhkan untuk survive atau dibutuhkan untuk sintesis komponen organik sel (pertumbuhan sel) Essential: 1. Mg. green alga. C. Ca. Cu.

1 mL per 1L kultur) Vitamin B1 Larutan E Ditambahkan akuades hingga 0.0 g 0.8 g 0.2 g 25 mL 40 g Dikocok hingga larut 0.4H20 H3BO3 EDTA NaI2PO4.25 L Larutan F (untuk kultur Chroomonas salina. tambahkan pada larutan A dan C sebanyak 1 mL per 1 L kultur) NaNO3 Ditambahkan akuades hingga 1 L 100 g 1 mL Dipanaskan hingga larut 2.1 L Larutan C (0.9 g 2. tambahkan pada larutan A dan C sebanyak 2 mL per 1 L kultur) Larutan E Na2SiO3.Medium Walne Konstituen Larutan A (1 mL per 1 L kultur) FeCl3 MnCl.1 g 200 g .4 g 33.2H2O Jumlah 0.2 L Larutan D (untuk kultur diatom.5H2O HCl Ditambahkan akuades hingga 0.6H2O ((NH4)6Mo7O24.6 g 45 g 20 g NaNO3 Larutan B Ditambahkan akuades hingga 1L Larutan B ZnCl2 CoCl2.4H2O) CuSO4.0 g 10 mL Dipanaskan hingga larut 0.1 g 2.5H2O Ditambahkan akuades hingga 1 L Vitamin B12 Ditambahkan akuades hingga 0.

 .Defisiensi O2 .Kebutuhan Nutrisi Kultur Mikroalga  Nutritional value dari algae tidak dapat diperbaiki jika kultur sudah melewati fase 3 karena penurunan daya cerna.Kekurangan nutrien . defisiensi nutrisi dan kemungkinan produksi dari metabolite yang toksik.Kultur yang kurang steril .  Kegagalan kultur dapat disebabkan oleh : .Suhu yang tidak optimal .Fluktuasi / perubahan pH yang ekstrim Kunci sukses dari produksi alga  menjaga kultur dalam exponential phase.

Mikroalga Tampilan mikroskopik mikroalga yang umum dipakai dalam akuakultur Dunaliella sp. . Spirulina sp. Thalasiossira sp. Nannochloropsis sp. Chaetoceros sp. Chlorella sp.

Kultur stok / start-up mikroalga dalam tabung reaksi .

Kultur mikroalga dalam gelas Erlenmeyer 100 .250 mL .

Kultur mikroalga dalam gelas Erlenmeyer 1 L .

Isolat mikroalga Stok kultur Up-scalled 5 –10 L .

Up-scaling Kultur Mikroalga .

Kultur mikroalga skala hatchery .

Kultur mikroalga skala lapangan / industri .

kontaminasi oleh alga kompetitor.Open culture  seperti tangki atau kolam yang tidak ditutup  lebih mudah terkontaminasi . flask. kadar nutrisi.Kultur indoor  memudahkan untuk mengontrol cahaya. . suhu. .Kultur outdoor  memberikan masalah dalam memelihara kultur mikroalga yang spesifik dalam waktu yang lama. dan kantong  tidak mudah terkontaminasi karena tertutup.  Open / Closed .Teknik Kultur Mikroalga  Indoor / Outdoor . carboys.Closed culture  seperti tabung.

Teknik Kultur Mikroalga  Axenic (steril)/ xenic (+) Kultur axenic bebas dari organisme asing seperti bakteri ( -) Tidak praktis untuk pelaksanaan secara komersil  Batch inokulasi sel ke dalam medium nutrisi hanya dilakukan satu kali .

dimana konsentrasi mikroalga dijaga pada level tertentu dengan mengencerkan kultur dengan medium baru secara otomatis 2.Dapat dilakukan secara indoor maupun outdoor .Teknik Kultur Mikroalga  Semi continuous . dan buangan kultur secara simultan dibasuh  laju pertumbuhan kultur mikroalga dapat mendekati laju pertumbuhan yang maksimum 1. Kultur chemostat.  Continous Suplai air (laut) bernutrisi secara kontinu dipompa ke dalam tangki pertumbuhan. (bukan kepadatan mikroalga) . Kultur turbidostat. dimana laju penambahan medium baru diatur sedemikian rupa sehingga laju pertumbuhan mikroalga konstan.Pemanenan periodik diikuti dengan menambahkan nutrien ke dalam volume kultur semula.

menyediakan suplai sel Sulit.Tipe Kultur Indoor Outdoor Closed Open Axenic Kelebihan Dapat dikontrol (predictable) murah Kontaminasi kurang murah Predictable Mahal Kekurangan Sulit dikontrol (Iess predictable) Mahal Mudah kontaminasi Mahal. pembelian peralatan dapat sangat tinggi Lebih mudah. tidak konsisten kualitas dapat . memungkinkan bagi kultur laju produksi tinggi dalam jumlah yang rendah. . agak efisien Paling mudah Semi-continuous Batch Kualitasnya bervariasi Tidak efisien. umumnya hanya berkualitas tinggi yang konsisten. lebih mudah Less predictable Efisien. sulit Non-axenic Continuous Murah.

10.Mikroalga: Chaetoceros gracilis  Digunakan sebagai pakan alami dalam produksi zooplankton dan larva udang Morfologi  Golden brown diatom  Ukuran: 12 µm (l).5 µm (p)  Berkoloni membentuk rantai Salinitas : 26 – 32 ppt Suhu : 28 – 30 °C Kultur media  Medium Walne + Si  Guillards f/2 + Si Analisis nutrisi  28% Protein  23% Carbs  9% Fat      .

Mikroalga: Chlorella sp.     Berguna untuk green water technique  menjaga kualitas air . kosmetik. Digunakan sebagai pakan dalam produksi zooplankton (rotifera. daphnia dll). serat. dll. asam amino. Kandungan Protein Chlorella yang tinggi (60%) Chlorella Growth Factor (CGF)  mempercepat pemulihan jaringan rusak  memperbaiki sistem imun. larvikultur ikan. mineral.   Chlorella  alga hijau . kandungan klorofil paling tinggi Mengandung vitamin. produksi makanan. enzim (chlorophyllase dan pepsin ). asam nukleat.

pigmen (carotenes.Mikroalga: Spirulina sp. suplemen. E. chlorophyll). udang.A. dan moluska / bivalvial  Fatty acids (18%).  Merupakan alga hijau-biru berfilamen (Green-blue Algae) / cyanobacterium  Air tawar (danau)  pH tinggi  Merupakan sumber makronutrien dan mikronutrien untuk larva beberapa ikan. dan mineralnya baik untuk kesehatan ikan  Kandungan protein tinggi (55-70%)  Digunakan dalam industri makanan. dan kosmetik . Vit. minuman.

Filtrasi 2. Penambahan flokulan kimiawi (chemical flocculation)  . Penambahan flokulan elektrik (electro flocculation) 4.Pemanenan dan Penyimpanan Mikroalga  Kultur mikroalga harus dipanen saat pertumbuhan kultur mencapai tahap stationer Teknik pemanenan: 1. Sentrifugasi 3.

Aluminium sulfat .Feri klorida Menyebabkan sel mikro-alga mengalami koagulasi dan dapat dipisahkan dari medium .Hasil panen (konsentrat alga) umumnya kurang baik digunakan sebagai pakan alami (tidak tahan lama) .Pemanenan dan Penyimpanan Mikroalga Penambahan Flokulan Kimia .

Kultivasi Spirulina Pemanenan segar .Pemanenan Spirulina sp.

Big Harvesting Harvester Dewatering Tables and Algae Bloom Commercial product .

disimpan dalam tempat gelap dan suhu 4oC untuk menjaga viabilitas Cream separator .Pemanenan dan Penyimpanan Mikroalga  Sentrifugasi .Volume mikroalga besar  Cream separator .Kecepatan sentrifuga tergantung dari jenis mikroalga dan model alat Penyimpanan   Penyimpanan selama 1-2 minggu dalam freezer atau refrigerator Kultur Tetraselmis sp.

E). Anti oksidan memperpanjang siklus hidup kultur mikroalga dengan pencegahan oksidasi yang menyebabkan perubahan bau serta warna pada kultur mikroalga. Senyawa preservatif lainnya zat tambahan yang membantu melindungi kultur dari pembusukan.Penggunaan senyawa tambahan dalam preservasi mikroalga: 1. 2. terutama oleh mikroorganisme (biologis) . Agen Krioprotektan: Mencegah kerusakan sel membran akibat kristalisasi es dalam proses penyimpanan kultur mikroalga pada suhu rendah (<0°C) 4. Zat Asam menjaga level pH (keasaman air agar stabil pada pH<5 untuk mencegah kerusakan sel (autolisis) dan dekomposisi oleh mikroba 3. menjaga kandungan asam lemak esensial serta vitamin dalam kultur (vitamin C.

00 3 AROMA 0 = aroma normal 1 = aroma berbega. jumlah sel yang hidup) Mingguan 08.Parameter kualitas kultur mikroalga konsentrat NO Parameter Interval Monitoring Waktu Monitoring Metode 1 Kepadatan sel Mingguan 08.00 Haemocytometer Pengamatan mikroskopik pH meter 2 pH Harian 08.00 Penumbuhan / inokulasi pada medium agar .00 Organoleptic / indera penciuman 4 Mingguan 08.Kepadatan sel 2. Kondisi sel (bentuk. tidak menyengat 2 = aroma menyengat Pemisahan (grading) 1.00 Pengamatan mikroskopik 5 Jumlah bakteri total / Total Bacteria Count (TBC) Mingguan 08.

Produksi kultur dengan kualitas yang tidak konsisten 3. Pemanenan / harvesting 5.sumber nutrisi .Permasalahan terkait dengan proses kultur dan penggunaan mikroalga 1. Kontaminasi kultur Medium kultur (air and nutrien). Kualitas dan kuantitas .musim . selang.teknik kultur .prosedur kultur yang tidak optimal 4. Penyimpanan / preservation . kultur stok / starter 2. tabung. Strategi transportasi / delivery 6. air kultur.

Standar prosedur kultur: 1. Teknologi preservasi / penyimpanan Pemanenan dan penyimpanan ---. Strategi pemanenan Periode pemanenan: kualitas hasil panen alga Teknik pemanenan 4. Kepadatan sel awal kultur mikroalga 2.Tahap minimalisasi permasalahan proses kultur dan penggunaan mikroalga .pasta alga .Optimasi proses persiapan serta up-scalling kultur .Pengelolaan kultur stok murni .peningkatan pertumbuhan kultur . Optimasi medium kultur (rasio Nitrogen:Phospor.minimalisasi kontaminan dan/atau polutan 3.peningkatan kualitas alga . Silikat) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful