P. 1
Makalah Piqih

Makalah Piqih

|Views: 104|Likes:
Published by jajuli47
Makalah ushul piqih
Makalah ushul piqih

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: jajuli47 on Nov 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2011

pdf

text

original

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Shalat Salat (ejaan KBBI) atau sholat (bahasa Arab: ‫ة‬ ), merujuk kepada salah satu ritual

ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Rasulullah SAW sebagai figur pengejawantah perintah Allah. Rasulullah SAW bersabda, Salatlah kalian sesuai dengan apa yang kalian lihat aku mempraktikkannya. a) Pengertian secara Etimologi Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, do'a. Sedangkan menurut istilah salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. b) Hukum Salat Shalat lima waktu merupakan suatu kewajiban yang harus ditegakkan oleh setiap muslim yang sudah akil baligh, baik laki- laki maupun perempuan, dalam keadaan sehat, maupun sakit. Dalam banyak hadits, Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan keras kepada orang yang suka meninggalkan salat, diantaranya ia bersabda: "Perjanjian yang memisahkan kita dengan mereka adalah salat.“ Barang siapa yang meninggalkan salat, maka berarti dia telah kafir.” Orang yang meninggalkan salat maka pada hari kiamat akan disandingkan bersama dengan orang-orang laknat, berdasarkan hadits berikut ini: "Barangsiapa yang menjaga salat maka ia menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf."

1

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

BAB II PEMBAHASAN A. Hukum salat dapat dikategorisasikan sebagai berikut : Fardhu, Salat fardhu ialah salat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Salat Fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu :
o

Fardhu ‘Ain : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti salat lima waktu, dan salat jumat(Fardhu 'Ain untuk pria). Fardhu Kifayah : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Seperti salat jenazah

o

Nafilah (salat sunnat),Salat Nafilah adalah salat-salat yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Salat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu
o

Nafil Muakkad adalah salat sunnat yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunnat witir dan salat sunnat thawaf.

o

Nafil Ghairu Muakkad adalah salat sunnat yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti salat sunnat Rawatib dan salat sunnat yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).

B. Tiga Belas Rukun Salat : Berdiri Niat
2

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Takbiratul ihram Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat Ruku' dengan tuma'ninah I'tidal dengan tuma'ninah Sujud dua kali dengan tuma'ninah Duduk antara dua sujud dengan tuma'ninah Duduk dengan tuma'ninah serta membaca tasyahud akhir dan sholawat kepada nabi berlindung kepada Allah dari siksa jahannam dan kubur serta fitnah hidup dan mati dan kekejian fitnah dajjal Membaca salam yang pertama Tertib (melakukan rukun secara berurutan) Salat Berjama'ah Salat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama(berjama'ah). Pada salat berjama'ah seseorang yang dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai Imam Salat, dan yang lain akan berlaku sebagai Makmum.

Salat yang dapat dilakukan secara berjama'ah antara lain :
o o

Salat Fardhu Salat Tarawih

Salat yang mesti dilakukan berjama'ah antara lain:
o o o

Salat Jumat Salat Hari Raya (Ied) Salat Istisqa'

Salat wajib, yaitu salat yang tidak wajib berjamaah tetapi sebaiknya berjamaah.

C. Salat dalam kondisi khusus

1) Safar (perjalanan), Salat Qashar, dan Salat Jama’

3

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan salat diberi keringanan tertentu. Misalkan saat seseorang sakit dan saat berada dalam perjalanan (safar). Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia dibolehkan melakukan salat dengan posisi duduk, sedangkan bila ia tidak mampu untuk duduk maka ia diperbolehkan salat dengan berbaring, bila dengan berbaring ia tidak mampu melakukan gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat. Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia diperkenankan menggabungkan (jama’) atau meringkas (qashar) salatnya. Menjama' salat berarti menggabungkan dua salat pada satu waktu yakni dzuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya. Mengqasar salat berarti meringkas salat yang tadinya 4 raka'at (dzuhur,ashar,isya) menjadi 2 rakaat. Salat dalam Al Qur'an Berikut ini adalah ayat-ayat yang membahas tentang salat di dalam Al Qur'an, kitab suci agama Islam.

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (QS.Ibrahim :31)14:31

Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji (zinah) dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-‘Ankabut : 45) 29:45

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam: 59)19:59

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (alMa’arij : 19-23)70:19
4

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

D. Sejarah Salat Fadhu Salat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya adalah Salat Malam, yaitu sejak diturunkannya Surat al-Muzzammil (73) ayat 1-19. Setelah beberapa lama kemudian, turunlah ayat berikutnya, yaitu ayat 20: Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orangorang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan turunnya ayat ini, hukum Salat Malam menjadi sunat. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, alHasan, Qatadah, dan ulama salaf lainnya berkata mengenai ayat 20 ini, "Sesungguhnya ayat ini menghapus kewajiban Salat Malam yang mula-mula Allah wajibkan bagi umat Islam. Sholat juga merupakan kewajiban paling utama setelah tauhid. Apabila sholat seorang muslim baik maka seluruh amal perbuatannya akan baik, begitu pula sebaliknya, jika sholatnya rusak maka seluruh amal perbuatannya pun rusak.Oleh karena itu sholat sangat membutuhkan perhatian serius, teristimewa yang harus diperhatikan karena adanya bid'ah dan penyimpanganpenyimpangan yang terdapat dalam praktek sholat. Al Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya kualitas keislaman seseorang adalah tergantung pada kualitas ibadah sholatnya. Kecintaan seseorang kepada Islam juga tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan sholat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba
5

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualitas ibadah sholatmu." (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170171) E. Shalat Sunah Rawatib Shalat sunah rawatib adalah shalat yang mengiringi solat wajib lima waktu dalam sehari yang bisa dikerjakan pada saat sebelum sholat dan setelah solat. Fungsi salat sunat rawatib adalah menambah serta menyempurnakan kekurangan dari shalat wajib. a) Tata Cara dan Syarat Kondisi 1. Dikerjakan sendiri-sendiri tidak berjamaah 2. Mengambil tempat salat yang berbeda dengan tempat melakukan sholat wajib. 3. Shalat sunah rawatib dilakukan dua rokaat dengan satu salam. 4. Tidak didahului azan dan qomat b) Jenis Salat Sunat Rawatib 1. Salat sunat qabliyah / qobliyah adalah sholat sunah yang dilaksanakan sebelum mengerjakan solat wajib. 2. shalat sunah ba'diyah adalah sholat yang dikerjakan setelah melakukan shalat wajib. c) Macam-macam Sholat Sunah Rawatib 1. Salat sunat rawatib muakkad / penting Adalah sholat sunat rawatib yang dikerjakan pada : - Sebelum subuh dua rokaat - Sebelum zuhur dua rokaat - Sesudah dzuhur dua rokaat - Sesudah maghrib dua rokaat - Sesudah isya dua rokaat d) Salat sunat rawatib ghoiru muakkad / tidak penting Adalah sholat sunat rawatib yang dikerjakan pada : - Sebelum zuhur dua rokaat - Setelah zuhur dua rokaat - Sebelum ashar empat rokaat
6

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

- Sebelum magrib dua rokaat - Sebelum isya dua rokaat E. Shalat sunah Sholat Dluha Sholat sunnah yang dikerjakan paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak 12 rakaat, adapun waktu mengerjakannya ialah mulai matahari naik agak tinggi sampai mulai masuk waktu dhuhur Sholat Hajat Sholat yang dilakukan ketika mempunyai hajat. Sholat hajat dikerjakan pada siang atau malam hari untuk mengadukan atau mengajukan permintaan khusus kepada Allah SWT. Sholat Tahajjud Sholat sunnah diwaktu malam yang dilakukan sesudah tidur. Setiap orang yang akan melakukan Sholat tahajjud disyaratkan untuk tidur dulu, sekalipun tidurnya sesudah Sholat maghrib sebelum Sholat ‘Isya. Dan bagi yang belum Sholat ‘Isya disyaratkan untuk melakukan Sh ‘Isya barulah melakukan Sholat Tahajjud. Sholat Istikharah Sholat istikharah adalah Sholat dengan tujuan untuk mencari petunjuk yang lebih baik pada sesuatu yang akan dilakukan. Dan Sholat tersebut dilakukan dengan beberapa kali sehingga hatinya terasa mantap atas pilihannya. Sholat Taubat Sholat yang dilakukan setelah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun besar. Maksudnya adalah untuk mohon ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang dilakukan. Sholat Muthlaq Sholat yang tidak dibatasi seperti waktu sesudah Sholat ‘Isya, dan tidak dibatasi dengan sebab. Sholat Awwabin
7

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Sholat sunnah yang dikerjakan sesudah Sholat baidiyyah Maghrib Sholat Tasbih Sholat untuk Memaha Sucikan Allah SWT. Sholat Gerhana Hukum melakukan Sholat tersebut Sunnah Muakad. Waktunya melakukan Sholat gerhana adalah sampai gerhana itu sudah hilang atau normal. Sholat Istisqa’ Sholat minta hujan itu disunnahkan, maka (terlebih dahulu) imam supaya memerintahkan penduduk bertaubat, bersedekah, keluar dari perbuatan aniaya, berdamai dengan musuh, dan berpuasa tiga hari. Kemudian pada hari keempat imam keluar bersama-sama mereka yang berpakaian sederhana, dalam keadaan khusyu’ serta merendahkan diri. Kemudian imam Sholat bersama-sama mereka dua rakaat sebagaimana Sholat hari raya dan berkhutbah sesudahnya. Shalat adalah ibadah yang utama dan berpahala sangat besar. Banyak hadits-hadits yg menerangkan hal itu akan tetapi dalam kesempatan ini kita cukup menyebutkan beberapa di antaranya sebagai berikut 1. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amal yang paling utama dalam hal shalat beliau menjawab “Shalat pada waktunya.” 2. Sabda Rasulullah SAW “Bagaimana pendapat kamu sekalian seandainya di depan pintu masuk rumah salah seorang di antara kamu ada sebuah sungai kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari; apakah masih ada kotoran yg melekat di badannya?” Para sahabat menjawab “Tidak akan tersisa sedikit pun kotoran di badannya.” Bersabda Rasulullah SAW “Maka begitu pulalah perumpamaan shalat lima kali sehari semalam; dgn shalat itu Allah akan menghapus semua dosa.” 3. Sabda Rasulullah SAW “Tidak ada seorang muslim pun yg ketika shalat fardhu telah tiba kemudian dia berwudhu’ dgn baik dan memperbagus kekhusyu’annya serta ruku’nya terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yg telah lalu selama dia tidak melakukan dosa besar dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu.” 4. Sabda Rasulullah SAW “Pokok segala perkara itu adl AlIslam; dan tonggak Islam itu adl shalat; dan puncak Islam itu adl jihad di jalan Allah.” Adapun yang dimaksud dengan shalat wustha ialah shalat ashar. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam hadits shahih yang juga disebutkan Allah secara khusus karena memiliki keutamaan tersendiri. Dan hal ini sudah cukup dikenal dan masyhur dalam Islam.
8

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Dikabarkan bahwa sebab turunnya izin melaksanakan shalat khauf adalah sebagai berikut. Dahulu orang-orang Islam pernah berada dalam suatu peperangan bersama Rasulullah. Dalam peperangan tersebut Rasulullah saw bersama orang-orang Islam melaksanakan shalat zhuhur sebagaimana biasanya, dan saat itu kaum musyrikin dekat dengan mereka dan melihat Rasulullah beserta orang-orang Islam sedang melaksanakan shalat zhuhur. Ketika mereka selesai dari shalat, sebagian kaum musyrikin berkata, “Seandainya kita menyerang mereka dan mereka dalam keadaan shalat, pasti kita akan berhasil menghancurkan mereka.” Sebagian kaum musyrikin lainnya berkata, “Sesungguhnya setelah shalat yang mereka kerjakan ini masih ada shalat yang lebih mereka cintai daripada ayah-ayah mereka dan anak-anak mereka (yaitu shalat ashar).” Kemudian turunlah Jibril as kepada Rasulullah dengan shalat khauf. Perhatikanlah bagaimana keutamaan shalat ashar, yang sampai kaum musyrikin pun mengetahuinya.

Allah swt berfirman, “..dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Yang dimaksud al-Inabah dalam ayat tersebut adalah kembali kepada Allah, sedangkan bertaqwa adalah takut kepada Allah, dan mendirikan shalat adalah melaksanakannya dengan cara yang telah diperintahkan oleh Allah.

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orangorang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanatamanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” Allah swt berfirman, “..kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya..” Allah mengecualikan mereka dari golongan orang-orang yang diciptkan dengan penuh keluh-kesah dan gelisah ketika mereka tertimpa keburukan, dan lalai ketika mereka mendapat kebaikan. Seakan-akan Allah swt berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mendirikan shalat pada hakikatnya tidak termasuk orang-orang yang suka berkeluh-kesah dan gelisah.”

Allah swt berfirman, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari
9

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

ibadah-badah yang lain).” Seseorang yang mendirikan shalat seperti yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka shalatnya akan mencegahnya dari perbuatan yang tidak disuakai Allah, seperti yang telah disebutkan di atas dan lain sebagainya dari perbuatan yang tidak disukai Allah. Rasulullah saw bersabda, “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.” Orang yang mendirikan shalat dengan mengikuti dan mencontoh Rasulullah saw dalam shalatnya, yakni seperti tata cara yang telah dinukil oleh para ulama salaf maupun khalaf, maka ia juga dianggap sebagai orang yang mendirikan dan senantiasa memelihara shalat.

Adapun shalat dibagi menjadi dua, yaitu shalat zhahir dan shalat batin, yang mana tidak akan sempurna shalat seseorang kecuali mendirikan keduanya secara bersamaan. Adapun shalat zhahir adalah berdiri, membaca, ruku`, sujud, dan lain sebagainya dari amal shalat zhahir. Dan shalat batin adalah khusyuk, hadirnya hati, ikhlas, tadabbur dan memahami makna bacaan yang dibacanya, tasbih, dan lain sebagainya dari amal shalat batin. Shalat zhahir adalah tugas seluruh anggota tubuh, dan shalat batin adalah tugas hati. Dan hati itulah yang menjadi tolak ukur al-Haq melihat seorang hamba.

Imam al-Ghazali berkata, “Perumpamaan orang yang mendirikan shalat zhahir dan lalai akan shalat batin bagaikan seseorang yang memberikan hadiah kepada seorang raja pelayan yang sudah mati. Dan perumpamaan orang yang lalai akan shalat zhahir bagaikan seseorang yang memberikan hadiah kepada seorang raja pelayang yang terpotong anggota tubuhnya dan tercukil kedua matanya. Kedua orang tersebut berhak mendapatkan hukuman dan siksan dari raja karena hadiah yang mereka berikan merupakan salah satu bentuk penghinaan.”

Kemudia al-Ghazali berkata, “ Dan sesungguhnya engkau menghadiahkan shalatmu kepada Tuhanmu, maka janganlah pernah engkau mempersembahkan bentuk shalat seperti yang telah disebutkan, karena hal tersebut akan mengakibatkan engkau mendapat siksa dan hukuman dari Allah.” (N-113-116)

2. Berakal. Orang gila tidak wajib sholat, 3. Baligh. Tidak wajib sholat atas anak kecil hingga dia baligh berdasarkan hadits di atas, hanya saja hendaknya dia disunnahkan agar diperintah sholat ketika berusia tujuh tahun,

10

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

4. Suci dari hadats kecil dan hadats besar. Hadats kecil adalah batalnya wudhu, dan hadats besar ketika seorang belum mandi dari janabah 5. Kesucian tubuh, pakaian, dan tempat dari najis. 6. Sudah masuk waktu sholat. Tidak wajib sholat kecuali ketika sudah masuk waktunya, tidak sah sholat jika dikerjakan sebelum waktunya 7. Menutup aurot. 8. Niat. 9. Menghadap kiblat. G. Rukun-rukun Sholat Sholat memiliki rukun-rukun yang jika ditinggalkan salah satunya, maka batal sholat yang dilakukan. Rukun-rukun tersebut adalah: 1. Niat. Yaitu azam (kemauan yang kuat dari) hati untuk menunaikan sholat tertentu. 2. Takbiratul ihrom. 3. Berdiri jika mampu dalam sholat wajib. 4. Membaca surat al-Fatihah pada setiap roka’at. 5. Ruku’. H. Para Ulama Sepakat Bahwa Meninggalkan Shalat Termasuk Dosa Besar yang Lebih Besar dari Dosa Besar Lainnya Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7) Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)

11

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27) Apakah Orang yang Meninggalkan Shalat Kafir Alias Bukan Muslim? Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir? Asy Syaukani -rahimahullah- mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369). Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.

12

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187) Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya. Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Al Qur’an Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja. Allah Ta’ala berfirman,

--> ً ِ َ َ ِ َ ‫◌َ َ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ھ ْ َ ْ ٌ أَ َ ُ ا ا ﱠ َ ةَ وا ﱠ َ ُ ا ا ﱠ َ َ ات َ َ ْ فَ َ ْ َ ْ نَ َ ًّ إِ ﱠ َ ْ َ ب وآَ َ َ و‬ ِ ِ َ َ َ َ “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31) Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang
13

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orangorang kafir. Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan,

ً ِ َ َ ِ َ ‫إِ ﱠ َ ْ َ ب وآَ َ َ و‬ َ َ َ ”kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh”. Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mu’min, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman. Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

--> ِ ‫◌َ إِنْ َ ُ ا وأَ َ ُ ا ا ﱠ َ ةَ وآَ َ ُ ا ا ﱠ َ ةَ َ ِ ْ َ ا ُ ُ ْ ِ ا ﱢ‬ َ َ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9] : 11). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

ٌ‫إِ ﱠ َ ا ْ ُ ْ ِ ُ نَ إِ ْ َ ة‬ “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49] : 10) Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Hadits Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
14

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

‫َ ْ َ ا ﱠ ُ ِ و َ ْ َ ا ﱢ ْ ك وا ْ ُ ْ ِ َ ْ ك ا ﱠ َة‬ ُ ِ َ ِ َ “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫َ ْ َ ا َ ْ ِ و َ ْ َ ا ُ ْ ِ وا ِ ْ َ ن ا ﱠ َ ةُ َ ِذا َ َ َ َ َ َ ْ أَ ْ َ ك‬ َ َ َ ِ “Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566). Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ُ‫ا ﱠ َة‬ ُ ُ ‫و َ ُ ده‬ َ ‫ا ِ ْ َم‬ ُ ِ َْ ‫ا‬ ‫رأس‬ ُ َْ

”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan Islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat. Para Sahabat Berijma’ (Bersepakat), Meninggalkan Shalat adalah Kafir

15

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Umar mengatakan, َ‫َ إِ ْ َم ِ َ ْ َ َ ك ا ﱠ َة‬ َ َ ”Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari jalan yang lain, Umar berkata,

َ‫و َ َ ﱠ ِ ا ِ ْ َم ِ َ ْ َ َ ك ا ﱠ َة‬ َ ِ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah. Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan, ‫ َ َ َ ونَ َ ْ ً ِ َ ا َ ْ َ ل َ ْ ُ ُ ُ ْ ٌ َ ْ َ ا ﱠ َة‬ِ ْ ِ ‫و‬ ‫ﷲ‬ - ٍ ‫َ نَ أَ ْ َ ب ُ َ ﱠ‬ ُ

“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)
16

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada. Ibnul Qayyim mengatakan, ”Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56) Berbagai Kasus Orang yang Meninggalkan Shalat Kasus Pertama, kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, ‘Sholat oleh, ora sholat oleh.’ [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Kasus Kedua, kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in. Kasus Ketiga, kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman
17

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

dan nifak sekaligus. … Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617) Kasus Keempat, kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman. Kasus Kelima, kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman,

(5) َ‫َ َ ِ ِ ْ َ ھ ن‬ ُ

ْ َ ْ ‫و ْ ٌ ِ ْ ُ َ ﱢ َ )4( ا ﱠ ِ َ ھ‬ ُ َ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190) Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan).

18

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).“ Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.“ (Lihat Ash Sholah, 35-36) Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

19

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Jadi, shalat lima waktu merupakan suatu kewajiban yang harus ditegakkan oleh setiap muslim yang sudah akil baligh, baik laki- laki maupun perempuan, dalam keadaan sehat, maupun sakit. Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“ Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah memberikan pemahaman agama, ilham, dan petunjuk kepada kita, serta melindungi kita dari keburukan hawa nafsu kita.Sesungguhnya shalat adalah tiang agama, dan shalat merupakan pilar terkuat dalam rukun Islam yang lima setelah syahadat. Dan posisi shalat dalam agama bagaikan posisi kepala pada tubuh seseorang. Seperti halnya seseorang takkan hidup tanpa kepala, maka seseorang tidak
20

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

dianggap beragama tanpa melaksanakan shalat. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam hadits. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang memelihara shalat, senantiasa mendirikannya, yang khusyuk dalam melaksanakannya, dan selalu menjaganya. Demikianlah Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dalam kitab-Nya. Ia berfirman, “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” Semoga sholawat Allah tetap terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga, shahabatshahabat dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk beliau. Semoga Allah juga senantiasa mengagungkan sunnah beliau hingga hari kiamat nanti. Amin.

21

Ida Rosdiana / 1210503060 / BSI/II/B

Daftar Pustaka • • • http://www.angelfire.com/pro/sembahyang/ sumber file al_islam.chm Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin. Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia • • www. Wikipediaindonesia.com Seadie, Ahmad. 1996. Penuntun Shalat Lengkap. Jakarta : RICA GRAFIKA

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->