Qadha Dan Qadar

QADHA DAN QADAR

Karya : Karya : Karya : Karya :
MUHAMMAD BIN SHALEH AL-‘UTSAIMIN
Penerjemah : Penerjemah : Penerjemah : Penerjemah :
MASYKUR. MZ
Murajaah : Murajaah : Murajaah : Murajaah :
MUHAMMAD YUSUF HARUN, MA
MUHAMMADUN ABD HAMID, MA
DR.MUH.MU’INUDINILLAH BASRI, MA
ERWANDI TARMIZI
Qadha dan Qadar
2
t .t..: ¸..:t¸
F «,.,:¸.:;t «.::t, E
._:.: W
_._..:· _.. _, ..- __±:·
,¸: W
¸,=±. , K ¸
.,·¸. W
, ._..·.,. _¸..- K _¸., _.. ..-
_..¸: _..·¸¸¸;
1426 
=·¸=, .- -,-:=,· .¸¡=|· ·_·_¸
Qadha dan Qadar
3
DAFTAR ISI:
Isi Hal
Sekapur sirih dari penerjemah 4
1.Pendahuluan 5
2.Pengertian tauhid dan macam–macamnya 7
3. Pendapat- pendapat tentang Qadar 9
4. Sanggahan atas pendapat pertama 14
5. Sanggahan atas pendapat kedua 18
6. Tingkatan Qadha dan Qadar 27
7. Penutup 35
Qadha dan Qadar
4
SEKAPUR SIRIH
DARI PENERJEMAH
Dengan memohon petunjuk ke hadirat Allah ,
kami hadirkan ke hadapan anda sebuah buku kecil yang
menyoroti masalah yang selalu menjadi ajang perdebatan
di kalangan ulama hingga sekarang, yaitu masalah
“Qadha’ dan Qadar”.
Dalam buku ini dijelaskan secara gamblang
prinsip yang dianut oleh ahlussunnah wal jama`ah dan
para ulama salaf dalam masalah ini, dan diuraikan pula
kerancuan yang terdapat dalam paham-paham yang
menyimpang dari garis kebenaran, berdasarkan dalil naqli
dan dalil ‘aqli.
Diharapkan buku yang mungil ini dapat
memenuhi harapan para pembaca, baik dari kalangan
terpelajar maupun umum, yang ingin memperoleh
gambaran jelas tentang masalah tersebut.
Semoga Allah  menjadikan amal kami ini
ikhlas semata–mata untuk-Nya dan bermanfaat bagi para
hamba-Nya yang beriman dan membimbingnya dari
kegelapan menuju cahaya kebenaran.
Penerjemah
Masykur Mz
Qadha dan Qadar
5

1
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah  yang telah mengutus
hamba-Nya Muhammad  dengan membawa kebenaran,
menyampaikan amanat kepada ummat dan berjihad
dijalan-Nya hingga akhir hayat. Semoga shalawat dan
salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, berikut para
keluarga, shahabat dan pengikutnya yang setia.
Dalam pertemuan ini, kami akan membahas
suatu masalah yang kami anggap sangat penting bagi kita
umat Islam, yaitu masalah qadha’ dan qadar. Mudah-
mudahan Allah  membukakan pintu karunia dan
rahmat-Nya bagi kita, menjadikan kita termasuk para
pembimbing yang mengikuti jalan kebenaran dan para
pembina yang membawa pembaharuan.
Sebenarnya masalah ini sudah jelas. akan tetapi
kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan
banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami
masalah ini serta banyaknya orang yang
membicarakannya, yang kadangkala benar tetapi
seringkali salah; di samping itu tersebarnya pemahaman–
pemahaman yang hanya mengikuti hawa nafsu dan
adanya orang–orang fasik yang berdalih dengan qadha’
dan qadar untuk kefasikannya; seandainya bukan karena
Qadha dan Qadar
6
itu semua, niscaya kami tidak akan berbicara tentang
masalah ini.
Sudah sejak duhulu masalah qadha’ dan qadar
menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah  keluar menemui
shahabatnya, ketika itu mereka sedang berselisih tentang
masalah qadha’ dan qadar maka beliau melarangnya dan
memperingatkan bahwa kehancuran umat–umat terdahalu
tiada lain karena perdebatan seperti ini.
Qadha dan Qadar
7
2
PENGERTIAN TAUHID
DAN MACAM – MACAMNYA
Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi
ajang perselisian di kalangan umat Islam, tetapi Allah 
telah membuka hati para hamba-Nya yang beriman, yaitu
para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa menempuh
jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat.
Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk
rububiyah Allah  atas makhluk-Nya. Maka masalah ini
termasuk dalam salah satu diantara tiga macam tauhid
menurut pembagian ulama:
Pertama: tauhid Al-Uluhiyah, ialah mengesakan
Allah  dalam beribadah, yakni beribadah hanya kepada
Allah dan karena-Nya semata.
Kedua: tauhid Ar-Rububiyah, ialah mengesakan
Allah  dalam perbuatan-Nya , yakni mengimani dan
meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai
dan mengatur alam semesta ini.
Ketiga: tauhid Al-Asma’ wash-Shifat, ialah
mengesakan Allah  dalam asma’ dan sifat-Nya. artinya
mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan
Allah  dalam dzat, asma’ maupun sifat.
Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid Ar
Rububiyah. Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah
Qadha dan Qadar
8
berkata: “qadar adalah merupakan kekuasaan Allah ".
Karena tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan
kekuasan-Nya yang menyeluruh, di samping itu, qadar
adalah rahasia Allah  yang tersembunyi, tak ada
seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia,
tertulis di lauh mahfuzh dan tak ada seorangpun yang
dapat melihatnya. Kita tidak tahu, takdir baik atau buruk
yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk
lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash
yang shahih.
Qadha dan Qadar
9
3
PENDAPAT – PENDAPAT
TENTANG QADAR
Pembaca yang budiman.
Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah
menjadi tiga golongan:
Pertama: mereka yang ekstrim dalam
menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan
kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa
manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan
keinginan, dia hanya dikemudikan dan tidak mempunyai
pilihan, laksana bulu yang tertiup angin. Mereka tidak
membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi atas
kehendaknya dan perbuatan yang terjadi diluar
kehendaknya, tentu saja mereka ini keliru dan sesat,
kerena sudah jelas menurut agama, akal dan adat
kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara
perbuatan yang di kehendaki dan perbuatan yang
terpaksa.
Kedua: mereka yang ekstrim dalam menetapkan
kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka
menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah
karena kehendak dan keinginan Allah  serta diciptakan
oleh-Nya. Menurut mereka, manusia memiliki kebebasan
atas perbuatannya. Bahkan ada diantara mereka yang
mengatakan bahwa Allah  tidak mengetahui apa yang
diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka
Qadha dan Qadar
10
inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan
dan kehendak makhluk.
Ketiga: mereka yang beriman, sehingga diberi
petunjuk oleh Allah  untuk menemukan kebenaran
yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah
Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam masalah ini mereka
menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil
syar’i dan dalil aqli. Mereka berpendapat bahwa
perbuatan yang dijadikan Allah  di alam semesta ini
terbagi atas dua macam:
1- Perbuatan yang dilakukan oleh Allah 
terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini tak ada kekuasaan
dan pilihan bagi siapapun. Seperti turunnya hujan,
tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat
dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada
makhluk Allah . Hal seperi ini, tentu saja tak ada
kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali Allah 
yang maha Esa dan kuasa.
2- Perbutan yang dilakukan oleh semua
makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini
terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya;
karena Allah  menjadikannya untuk mereka.
Sebagaimana firman Allah :
“Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh
jalan yang lurus”. (At Takwir: 28).
Qadha dan Qadar
11
¡à6.Ï. _¨. ߉ƒÌム$´‹÷.‘‰9# ¡à6.Ï.´¸ _¨. ߉ƒÌム:Åz¸#
“Di antara kamu ada orang yang menghendaki
dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki
akhirat”.( Ali Imran: 152).
“Maka barang siapa yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin
(kafir) biarlah ia kafir “ ( Al Kahfi: 29).
Manusia bisa membedakan antara perbuatan
yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi
karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan
sadar turun dari atap rumah melalui tangga, ia tahu kalau
perbuatannya atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri.
Lain halnya kalau ia terjatuh dari atap rumah, ia tahu
bahwa hal tersebut bukan karena kehendaknya. Dia dapat
membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama
atas dasar kehendaknya dan yang kedua diluar
kehendaknya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.
Begitu juga orang yang menderita sakit beser
umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa
kemauannya. Tetapi apabila ia sudah sembuh, ia sadar
bahwa air kencingnya keluar atas kehendaknya. Dia
mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada
seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan
tersebut.
Qadha dan Qadar
12
Demikian segala hal yang terjadi pada diri
manusia, dia mengetahui, perbedaan antara mana yang
terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak.
Akan tetapi, karena kasih sayang Allah , ada
diantara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya
namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya. Seperti
perbuatan orang yang terlupa, dan orang yang sedang
tidur. Firman Allah  dalam kisah Ashabul kahfi:
“...Dan kami bolik–balikkan mereka ke kanan
dan ke kiri …” (Al- Kahfi: 18).
Padahal mereka sendiri yang sebenarnya berbalik
ke kanan dan berbalik ke kiri, tetapi Allah  menyatakan
bahwa Dialah yang membalik–balikkan mereka ke kanan
dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak
mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak
mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Maka
perbuatan tersebut di nisbatkan kepada Allah .
Dan sabda Nabi Muhammad : “Barang siapa yang lupa
ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum,
maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena
Allah  yang memberinya makan dan minum."
Dinyatakan dalam hadits ini, bahwa yang
memberi makan dan minum adalah Allah , karena
perbuatan orang tersebut terjadi di luar kesadarannya,
maka seakan–akan terjadi tanpa kemauannya.
Qadha dan Qadar
13
Kita semua mengetahui perbedaan antara
perasaan sedih atau perasaan senang yang kadang kala
dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya
serta dia sendiri tidak mengetahui sebab dari kedua
perasaan tersebut yang timbul dari perbuatan yang
dilakukan oleh dirinya sendiri. Hal ini, alhamdulillah,
sudah cukup jelas dan gamblang.
Qadha dan Qadar
14
4
SANGGAHAN ATAS
PENDAPAT PERTAMA
Pembaca yang budiman!
Seandainya kita mengambil dan mengikuti
pendapat golongan yang pertama, yaitu mereka yang
ekstrim dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sia lah
syari’at ini dari tujuan semula. Sebab bila dikatakan
bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam
perbuatannya, berarti tidak perlu dipuji atas perbuatannya
yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatannya
yang tercela. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut
dilakukan tanpa kehendak dan keinginan darinya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Allah  maha suci dari pendapat dan paham yang
demikian ini.
Adalah merupakan kezhaliman, jika Allah 
menyiksa orang yang berbuat maksiat yang perbuatan
maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan
keinginannya.
Pendapat seperti ini sangat jelas bertentangan
dengan firman Allah :
Qadha dan Qadar
15
_$%´¸ …çµã.ƒÌ% #‹.> $. £“$! î‰,ÏGã ¸__¸ $´‹É)ø9& ’Îû ,©.¸ _ ¨_ä.
A‘$¤Ÿ2 7‰,Ï.ã ¸__¸ 8í$¨.¨. Îö,‚ù=Ïj9 7‰G÷èã. A=ƒÌ•. ¸__¸ “Ï%©!# Ÿ_è_
ì. ¸!# $¸.9Î) z#´, ç:$´‹É)ø9'ù ’Îû É>#‹èø9# ωƒÏ‰¤±9# ¸__¸ * _$%
…çµã.ƒÌ% $´./´‘ $. …çµçGø,óôÛ& _Å3.9´¸ ¿%. ’Îû __.=Ê 7‰,Ïè/ ¸__¸ _$%
Ÿ¸ #¡ß.ÅÁGøƒB £“$! ô‰%´¸ àMø.£‰% /ä3ø‹9Î) ω‹Ïã´¡ø9$Î/ ¸__¸ $. ã_£‰7ãƒ
ã_ö¡)ø9# £“$! $.´¸ $.& 5¸.=àÎ/ ω‹Î7èù=Ïj9 ¸__¸
“Dan (malaikat) yang menyertai dia berkata:
"inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku,
Allah berfirman: “lemparkanlah olehmu berdua ke
dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras
kepala; yang sangat enggan melakukan kebaikan,
melanggar batas lagi ragu-ragu; yang menyembah
sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah
dia ke dalam siksaan yang sangat (pedih ). Sedang (
syaitan ) yang menyertai dia berkata: “ya Rabb kami,
aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada
dalam kesesatan yang jauh". Allah berfirman:
“Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal
sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman
kepadamu. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan
Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku" (
Qaaf : 23- 29).
Qadha dan Qadar
16
Dalam ayat ini Allah  menjelaskan bahwa
siksaan dari-Nya itu adalah karena keadilan-Nya, dan
sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-amba-Nya.
Sebab Allah  telah memberikan peringatan dan
ancaman kepada mereka, telah menjelaskan jalan
kebenaran dan jalan kesesatan bagi mereka, akan tetapi
mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan
memiliki alasan di hadapan Allah  untuk membantah
keputusan-Nya.
Andai kita menganut pendapat yang batil ini,
niscaya sia-sialah firman Allah  ini:
“(Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar
supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah
Allah sesudah di utusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah
maha Perkasa lagi maha Bijaksana ". (An- Nisaa’: 165).
Dalam ayat ini Allah  menjelaskan bahwa
tidak ada alasan lagi bagi manusia setelah di utusnya para
Rasul, karena sudah jelas hujjah Allah  atas mereka.
Maka seandainya masalah takdir bisa dijadikan alasan
bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun
sesudah di utusnya para Rasul. Karena qadar (takdir)
Qadha dan Qadar
17
Allah  sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para
Rasul dan tetap ada sesudah mereka diutus.
Dengan demikian pendapat ini adalah batil
karena tidak sesuai dengan nash (dalil) dan kenyataan,
sebagaimana telah kami uraikan dengan contoh-contoh di
atas.
Qadha dan Qadar
18
5
SANGGAHAN
ATAS PENDAPAT KEDUA
Adapun pendapat kedua, yaitu pendapat
golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan
manusia, maka pendapat inipun bertentangan dangan
nash dan kenyataan. Sebab banyak ayat yang
menjelaskan bahwa kehendak manusia tidak lepas dari
kehendak Allah . Firman Allah:
“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila di
kehendaki oleh Allah, Tuhan semesta Alam ". (At Takwir:
28- 29).
Qadha dan Qadar
19
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia
kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan
bagi mereka” ( Al Qashash: 68).
“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam
(surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang lurus (Islam)” (Yunus: 25).
Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya
telah mengingkari salah satu dari rububiyah Allah, dan
berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa
yang tidak dikehendaki dan tidak diciptakan-Nya.
Padahal Allah lah yang menghendaki segala sesuatu,
menciptakannya dan menentukan qadar (takdir)nya.
Sekarang kalau semuanya kembali kepada
kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan Allah,
lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh
seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan
tidak dapat petunjuk?
Jawabnya: bahwa Allah  menunjuki orang-
orang yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan
orang-orang yang patut menjadi sesat. Firman Allah:
Qadha dan Qadar
20
“Maka tatkala mereka berpaling (dari
kebenaran) Allah memalingkan hati mereka; dan Allah
tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.( Ash
Shaf: 5).
$.Î6ù ¡Í¸ÅÕø). ö¡ß¸).V‹Ïi. ö¡ß¸.¨.è9 $.ù=è_´ ¸ ö¡ß¸/¡è=è% Z«´‹Å¡.% (
_¡èùÌhtä† ´¸Î=6ø9# _ã .ϵÏèÅÊ#´¡¨.  #¡¡·´¸ $yàm $£.Ïi. #¸ãÏj.èŒ
.ϵÎ/ 4
“(Tetapi ) karena mereka melanggar janjinya,
Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras
membatu, mereka suka merobah perkataan (Allah) dari
tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan
sebahagian dari apa yang mereka yang telah diberi
peringatan dengannya” (Al Ma’idah: 13).
Di sini Allah  menjelaskan bahwa Dia tidak
menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh
dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan
tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang
telah ditakdirkan oleh Allah  untuk dirinya. Karena dia
tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi,
Qadha dan Qadar
21
maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi
orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat
petunjuk.
Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh
jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah  telah
menghendakinya demikian? Apa tidak lebih patut
baginya menempuh jalan kebenaran kemudian
mengatakan bahwa Allah  telah menunjukkan
kepadaku jalan kebenaran?
Pantaskah dia menjadi orang yang jabri kalau
tersesat dan qadari
(1)
kalau berbuat kebaikan?
Sungguh tak pantas seseorang menjadi jabri
ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiatan, kalau ia
tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah  ia
mengatakan: “ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku
dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah”; tetapi
ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufiq dari
Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan ia
mengatakan: “ini kuperoleh dari diriku sendiri”. Dengan
demikian ia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan
menjadi jabri dalam segi kemaksiatan.
1
. Jabri ialah orang yang berpendapat bahwa
manusia itu terpaksa dalam perbuatannya, tidak
mempunyai kehendak dan keinginan.
Qadari ialah orang yang berpendapat bahwa
manusia memiliki kebebasan dalam
perbuatannya dan mengingkari adanya takdir.
Qadha dan Qadar
22
Ini tidak dibenarkan sama sekali, sebab
sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan
kemampuan.
Masalah hidayah persis seperti masalah rizki dan
menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua tahu bahwa
manusia telah ditentukan untuknya rizki yang menjadi
bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk
mencari rizki ke sana dan kemari; baik di daerahnya
sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk di rumah saja
seraya berkata: “kalau sudah ditakdirkan untukku rizkiku
tentu ia akan datang dengan sendirinya”. Bahkan dia akan
berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini
disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan,
sebagaimana di sebutkan dalam hadits Nabi  yang
diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud : “Sesungguhnya
kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu
selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian
berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh
hari pula, kemudian berubah menjadi segumpal daging
selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus
seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat
perkara, yaitu rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan
apakah ia termasuk orang celaka atau bahagia”.
Jadi rizki inipun telah tercatat seperti halnya amal
perbuatan, baik ataupun buruk, juga telah tercatat.
Kalau begitu, mengapa anda pergi kesana dan
kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat
kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan mendapatkan
Qadha dan Qadar
23
kebahagiaan surga? padahal kedua-duanya adalah sama,
tidak ada perbedaannya.
Jika anda mau berusaha untuk mencari rizki dan
untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan anda,
sehingga kalau anda sakit, pergi kemanapun mencari
dokter ahli untuk mengobati penyakit anda, padahal anda
tahu kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat
bertambah dan tidak berkurang. Anda tidak bersikap
pasrah sambil berkata: “sudahlah aku tetap tinggal di
rumah saja meski menderita sakit, karena kalaupun aku di
takdirkan panjang umur aku akan tetap hidup”. Bahkan
anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang
ahli, yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit anda
dengan takdir Allah. Jika demikian, mengapa usaha anda
di jalan akhirat dan dalam amal shaleh tidak seperti usaha
anda untuk kepentingan duniawi?
Sebagaimana telah aku kemukakan bahwa
masalah qadar adalah rahasia Allah  yang tersembunyi,
tak mungkin anda dapat mengetahuinya. Sekarang anda
di antara dua jalan: jalan yang membawa anda kepada
keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan;
dan jalan yang dapat membawa anda kepada kehancuran,
penyesalan, dan kehinaan. Sekarang anda sedang berdiri
di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk
memilih, tak ada seorangpun yang akan merintangi anda
untuk melalui jalan yang kanan atau jalan yang kiri. Anda
dapat pergi kemanapun sesuka hati anda. Lalu mengapa
anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa
"itu sudah takdirku”? apa tidak lebih patut jika anda
Qadha dan Qadar
24
memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa “itu
takdirku” ?
Untuk lebih jelasnya, apabila anda mau
bepergian ke suatu tempat dan dihadapan anda ada dua
jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan lebih aman;
sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mengerikan.
Tentu saja anda akan memilih jalan yang mulus, yang
lebih pendek dan lebih aman, tidak memilih jalan yang
tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan
dengan jalan yang visual, begitu juga dengan yang non
visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun kadang-
kala hawa nafsulah yang berperan dan menguasai akal.
Padahal, sebagai seorang mu’min seyogyanya akalnyalah
yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya.
Jika orang menggunakan akalnya, maka akal itu menurut
pengertian yang sebenarnya akan melindungi pemiliknya
dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang
bermanfaat dan membahagiakan.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa
manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam
perbuatan yang dilakukannya secara sadar, bukan
terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan
pilihannya untuk kepentingan dunia, maka iapun
seharusnya begitu pula dalam usahanya menuju akhirat.
Bahkan jalan menuju akhirat lebih jelas. Karena Allah 
telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an dan melalui
sabda Rasul-Nya , maka jalan menuju akhirat tentu saja
lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk
kepentingan dunia.
Qadha dan Qadar
25
Namun kenyataannya, manusia mau berusaha
untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya dan
meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin
hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan janji
Allah , dan Allah  tidak akan menyalahi janji-Nya.
Pembaca yang budiman
Inilah yang menjadi ketetapan Ahlussunnah Wal
Jamaah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab
mereka, yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar
kemauannya dan berkata menurut keinginannya, tetapi
keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan
dan kehendak Allah . Dan Ahlussunnah Wal Jamaah
mengimani bahwa kehendak Allah  tidak lepas dari
hikmah kebijaksanaan-Nya, bukan kehendak yang mutlak
dan absolut, tetapi kehendak yang senantiasa sesuai
dengan hikmah kebijaksanaan-Nya. Karena di antara
asma Allah  adalah AL- HAKIM yang artinya: Maha
Bijaksana yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana
dalam keputusan-Nya.
Allah  dengan sifat hikmah-Nya, menentukan
hidayah bagi siapa yang di kehendaki-Nya yang menurut
pengetahuan-Nya benar-benar menginginkan al-haq dan
hatinya dalam istiqamah. Dan dengan sifat hikmah-Nya
pula, dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka
akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam.
Sifat hikmah Allah  tidak dapat menerima bila orang
yang suka akan kesesatan termasuk orang-orang yang
mendapat petunjuk, kecuali jika Allah  memperbaiki
hatinya dan merubah kehendaknya, dan Allah  Maha
Qadha dan Qadar
26
Kuasa atas segala sesuatu. Namun, sifat hikmah-Nya
menetapkan bahwa setiap sebab berkait erat dengan
akibatnya.
Qadha dan Qadar
27
6
TINGKATAN QADHA’ DAN QADAR
Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, qadha’ dan
qadar mempunyai empat tingkatan:
Pertama: Al-‘Ilm (pengetahuan)
Artinya: mengimani dan meyakini bahwa Allah
 Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa
yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun
terperinci, baik itu termasuk perbuatan-Nya sendiri atau
perbuatan makhluk-Nya. Tak ada sesuatupun yang
tersembunyi bagi-Nya.
Kedua: Al-kitabah (penulisan)
Artinya: mengimani bahwa Allah  telah
menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh
mahfuzh.
Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh
Allah  dalam firman-Nya:
Qadha dan Qadar
28
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di
langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu
terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfuzh).
sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah”. (Al- Hajj:70).
Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa
Allah  mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu
tertulis dalam sebuah kitab lauh mahfuzh.
Sebagaimana dijelaskan pula oleh Rasulullah 
dalam sabdanya:“ Pertama kali tatkala Allah 
menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya:
tulislah!. Qalam itu berkata: ya Tuhanku, apakah yang
hendak kutulis? Allah  berfirman: Tulislah apa saja
yang akan terjadi! maka seketika itu bergeraklah qalam
itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari
kiamat”.
Ketika Nabi Muhammad  ditanya tentang apa
yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau
tidak ? beliau menjawab: “ sudah ditetapkan”.
Dan ketika beliau ditanya: “mengapa kita mesti
beramal dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah
tertulis? beliapun menjawab: “beramallah kalian, masing-
masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah
ditentukan baginya”. Kemudian beliau membaca firman
Allah:
Qadha dan Qadar
29
“Adapun orang yang memberikan hartanya (di
jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan
baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang
bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan
adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan
memudahkan baginya (jalan) yang sukar”.( Al Lail: 5 –
10).
Oleh karena itu hendaklah anda berusaha,
sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad 
kepada para sahabat. "Anda akan di mudahkan menurut
takdir yang telah ditentukan Allah ".
Ketiga: Al- Masyiah (kehendak).
Artinya: bahwa segala sesuatu, yang terjadi atau
tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan
kehendak Allah . hal ini dinyatakan jelas dalam Al
Qur’an Al Karim. Dan Allah  telah menetapkan bahwa
apa yang diperbuat-Nya, serta apa yang diperbuat para
hamba-Nya juga atas kehendak-Nya. Firman Allah:
Qadha dan Qadar
30
“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah,Tuhan semesta alam”. ( At Takwir: 28
-29).
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka
tidak mengerjakannya”. ( Al – An’am : 112).
“Seandainya Allah menghendaki, tidaklah
mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat
apa yang dikehandaki-Nya”. (Al Baqarah: 253).
Dalam ayat–ayat tersebut Allah  menjelaskan
bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi
dengan kehendak-Nya.
Dan banyak pula ayat–ayat yang menunjukkan
bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan
kehendak-Nya. Seperti firman Allah:
Qadha dan Qadar
31
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya akan
Kami berikan kepada tiap–tiap jiwa petunjuk (bagi)
nya”.( As Sajdah: 13).
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia
menjadikan manusia umat yang satu”. (Huud: 118).
Dan banyak lagi ayat–ayat yang menetapkan
kehendak Allah dalam apa yang diperbuat-Nya.
Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan
seseorang kepada qadar (takdir) kecuali dengan
mengimani bahwa kehendak Allah  meliputi segala
sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali
dengan kehendak-Nya. Tak mungkin ada sesuatu yang
terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak
Allah .
Keempat: Al – Khalq (penciptaan)
Artinya: mengimani bahwa Allah pencipta segala
sesuatu. Apa yang ada di langit dan di bumi Penciptanya
tiada lain kecuali Allah . Sampai “kematian” lawan
dari kehidupan itupun diciptakan.Firman Allah:
Qadha dan Qadar
32
“Yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya”.( Al Mulk: 2).
Jadi segala sesuatu yang ada di langit ataupun di
bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah .
Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa
yang terjadi dari hasil perbuatan Allah adalah ciptaan-
Nya. Seperti langit, bumi, gunung, sungai, matahari,
bulan, bintang, angin, manusia dan hewan kesemuanya
adalah ciptaan Allah. Demikian pula apa yang terjadi
untuk para makhluk ini, seperti: sifat, perubahan dan
keadaan, itupun ciptaan Allah .
Akan tetapi mungkin saja ada orang yang merasa
sulit memahami, bagaimana dapat dikatakan bahwa
perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan
kehendak kita ini adalah ciptaan Allah ?
Jawabnya: ya, memang demikian, sebab
perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya
dua faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Apabila
perbuatan manusia timbul karena kehendak dan
kemampuannya, maka perlu diketahui bahwa yang
menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah
Qadha dan Qadar
33
Allah . Dan siapa yang menciptakan sebab dialah yang
menciptakan akibatnya.
Jadi, sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang
menciptakan perbuatan manusia maksudnya adalah
bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena dua
faktor, yaitu: kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak
ada kehendak dan kemampuan, tentu manusia tidak akan
berbuat, karena andaikata dia menghendaki, tetapi tidak
mampu, tidak akan dia berbuat, begitu pula andaikata dia
mampu, tetapi tidak menghendaki, tidak akan terjadi
suatu perbuatan. Jika perbuatan manusia terjadi karena
adanya kehendak yang mantap dan kemampuan yang
sempurna, sedangkan yang menciptakan kehendak dan
kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah ,
maka dengan ini dapat dikatakan bahwa yang
menciptakan perbuatan manusia adalah Allah .
Akan tetapi, pada hakikatnya manusialah yang
berbuat, manusialah yang bersuci, yang melakukan
shalat, yang menunaikan zakat, yang berpuasa, yang
melaksanakan ibadah haji dan umrah, yang berbuat
kemaksiatan, yang berbuat ketaatan; hanya saja perbuatan
ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan
yang diciptakan oleh Allah . Dan alhamdulillah hal ini
sudah cukup jelas.
Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib
kita tetapkan untuk Allah . Dan hal ini tidak
bertentangan apabila kita katakan bahwa manusia sebagai
pelaku perbuatan.
Qadha dan Qadar
34
Seperti halnya kita katakan: “api membakar”
padahal yang menjadikan api dapat membakar adalah
Allah . Api tidak dapat membakar dengan sendirinya,
sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya,
tentu ketika nabi Ibrahim  dilemparkan ke dalam api,
akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata beliau tidak
mengalami luka bakar sedikitpun, karena Allah 
berfirman kepada api itu:
“Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi
Ibrahim”. (Al Anbiya’: 69).
Sehingga Nabi Ibrahim  tidak terbakar,
bahkan tetap dalam keadaan sehat walafiat.
Jadi api tidak dapat membakar dengan
sendirinya, tetapi Allah-lah yang menjadikan api tersebut
mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api
untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan
kemampuan pada diri manusia untuk berbuat, tidak ada
bedanya. Hanya saja, Karena manusia mempunyai
kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka secara
hukum yang dinyatakan sebagai pelaku tindakan adalah
manusia. Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa
yang diperbuatnya, karena dia berbuat menurut kehendak
dan kemauannya sendiri.
Qadha dan Qadar
35
7
PENUTUP
Sebagai penutup, kami katakan bahwa seorang
mu’min harus ridha kepada Allah  sebagai Tuhannya,
dan termasuk kesempurnaan ridha-Nya yaitu mengimani
adanya qadha dan qadar serta meyakini bahwa dalam
masalah ini tidak ada perbedaan antara amal yang
dikerjakan manusia, rizki yang dia usahakan dan ajal
yang dia khawatirkan. Kesemuanya adalah sama, sudah
tertulis dan ditentukan. Dan setiap manusia dimudahkan
menurut takdir yang ditentukan baginya.

Qadha dan Qadar

2

EF W



 K K  W W

    

1426 

Qadha dan Qadar

3

DAFTAR ISI:

Isi Sekapur sirih dari penerjemah 1.Pendahuluan 2.Pengertian tauhid dan macam–macamnya 3. Pendapat- pendapat tentang Qadar 4. Sanggahan atas pendapat pertama 5. Sanggahan atas pendapat kedua 6. Tingkatan Qadha dan Qadar 7. Penutup

Hal 4 5 7 9 14 18 27 35

Dalam buku ini dijelaskan secara gamblang prinsip yang dianut oleh ahlussunnah wal jama`ah dan para ulama salaf dalam masalah ini. yang ingin memperoleh gambaran jelas tentang masalah tersebut. kami hadirkan ke hadapan anda sebuah buku kecil yang menyoroti masalah yang selalu menjadi ajang perdebatan di kalangan ulama hingga sekarang. Diharapkan buku yang mungil ini dapat memenuhi harapan para pembaca.Qadha dan Qadar 4 SEKAPUR SIRIH DARI PENERJEMAH Dengan memohon petunjuk ke hadirat Allah . dan diuraikan pula kerancuan yang terdapat dalam paham-paham yang menyimpang dari garis kebenaran. berdasarkan dalil naqli dan dalil ‘aqli. Semoga Allah  menjadikan amal kami ini ikhlas semata–mata untuk-Nya dan bermanfaat bagi para hamba-Nya yang beriman dan membimbingnya dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Penerjemah Masykur Mz . baik dari kalangan terpelajar maupun umum. yaitu masalah “Qadha’ dan Qadar”.

Qadha dan Qadar 5  1 PENDAHULUAN Segala puji bagi Allah  yang telah mengutus hamba-Nya Muhammad  dengan membawa kebenaran. di samping itu tersebarnya pemahaman– pemahaman yang hanya mengikuti hawa nafsu dan adanya orang–orang fasik yang berdalih dengan qadha’ dan qadar untuk kefasikannya. Mudahmudahan Allah  membukakan pintu karunia dan rahmat-Nya bagi kita. menyampaikan amanat kepada ummat dan berjihad dijalan-Nya hingga akhir hayat. seandainya bukan karena . kami akan membahas suatu masalah yang kami anggap sangat penting bagi kita umat Islam. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau. yaitu masalah qadha’ dan qadar. berikut para keluarga. akan tetapi kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami masalah ini serta banyaknya orang yang membicarakannya. yang kadangkala benar tetapi seringkali salah. Dalam pertemuan ini. menjadikan kita termasuk para pembimbing yang mengikuti jalan kebenaran dan para pembina yang membawa pembaharuan. Sebenarnya masalah ini sudah jelas. shahabat dan pengikutnya yang setia.

Sudah sejak duhulu masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam.Qadha dan Qadar 6 itu semua. niscaya kami tidak akan berbicara tentang masalah ini. ketika itu mereka sedang berselisih tentang masalah qadha’ dan qadar maka beliau melarangnya dan memperingatkan bahwa kehancuran umat–umat terdahalu tiada lain karena perdebatan seperti ini. Diriwayatkan bahwa Rasulullah  keluar menemui shahabatnya. .

tetapi Allah  telah membuka hati para hamba-Nya yang beriman. yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta. menguasai dan mengatur alam semesta ini. Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid Ar Rububiyah. Maka masalah ini termasuk dalam salah satu diantara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama: Pertama: tauhid Al-Uluhiyah. Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah . yakni beribadah hanya kepada Allah dan karena-Nya semata. ialah mengesakan Allah  dalam perbuatan-Nya . artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah  dalam dzat. Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah  atas makhluk-Nya.Qadha dan Qadar 7 2 PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM – MACAMNYA Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam. asma’ maupun sifat. ialah mengesakan Allah  dalam asma’ dan sifat-Nya. yaitu para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. ialah mengesakan Allah  dalam beribadah. Ketiga: tauhid Al-Asma’ wash-Shifat. Kedua: tauhid Ar-Rububiyah.

. Karena tak syak lagi.Qadha dan Qadar 8 berkata: “qadar adalah merupakan kekuasaan Allah ". takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya. tak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia. kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang shahih. Kita tidak tahu. qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasan-Nya yang menyeluruh. qadar adalah rahasia Allah  yang tersembunyi. tertulis di lauh mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. di samping itu.

Kedua: mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah  serta diciptakan oleh-Nya. kerena sudah jelas menurut agama. Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah menjadi tiga golongan: Pertama: mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya. akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang di kehendaki dan perbuatan yang terpaksa. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi atas kehendaknya dan perbuatan yang terjadi diluar kehendaknya. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan. Bahkan ada diantara mereka yang mengatakan bahwa Allah  tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. dia hanya dikemudikan dan tidak mempunyai pilihan. laksana bulu yang tertiup angin. Mereka . tentu saja mereka ini keliru dan sesat. Menurut mereka.Qadha dan Qadar 9 3 PENDAPAT – PENDAPAT TENTANG QADAR Pembaca yang budiman.

sehat dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah . Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar’i dan dalil aqli. kehidupan. kematian. . Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya. tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali Allah  yang maha Esa dan kuasa. Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah  di alam semesta ini terbagi atas dua macam: 1Perbuatan yang dilakukan oleh Allah  terhadap makhluk-Nya. sehingga diberi petunjuk oleh Allah  untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Ketiga: mereka yang beriman. Sebagaimana firman Allah : “Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus”. karena Allah  menjadikannya untuk mereka. tumbuhnya tanaman.Qadha dan Qadar 10 inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk. Dalam hal ini tak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. sakit. Hal seperi ini. (At Takwir: 28). Mereka itu adalah Ahlussunnah Wal Jamaah. 2Perbutan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Seperti turunnya hujan.

. orang yang dengan sadar turun dari atap rumah melalui tangga. “Maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. ia sadar bahwa air kencingnya keluar atas kehendaknya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut. Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya. Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. ia tahu kalau perbuatannya atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atap rumah. Tetapi apabila ia sudah sembuh. dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir “ ( Al Kahfi: 29). Dan siapapun mengetahui perbedaan ini. ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauannya. yang pertama atas dasar kehendaknya dan yang kedua diluar kehendaknya.Qadha dan Qadar 11 ntÅzF$# ߉ƒÌム¨ à6Ïu $u‹÷‘‰9$# ߉ƒÌム¨ à6Ï “Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat”. Sebagai contoh.( Ali Imran: 152). Dia dapat membedakan antara kedua perbuatan ini. ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kehendaknya.

maka seakan–akan terjadi tanpa kemauannya. bahwa yang memberi makan dan minum adalah Allah . Dan sabda Nabi Muhammad : “Barang siapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa. dia mengetahui. karena Allah  yang memberinya makan dan minum. Padahal mereka sendiri yang sebenarnya berbalik ke kanan dan berbalik ke kiri. Maka perbuatan tersebut di nisbatkan kepada Allah . perbedaan antara mana yang terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak. Firman Allah  dalam kisah Ashabul kahfi: “.Dan kami bolik–balikkan mereka ke kanan dan ke kiri …” (Al.. Akan tetapi. lalu makan atau minum. tetapi Allah  menyatakan bahwa Dialah yang membalik–balikkan mereka ke kanan dan ke kiri. maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. karena kasih sayang Allah .Qadha dan Qadar 12 Demikian segala hal yang terjadi pada diri manusia. sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapatkan hukuman atas perbuatannya.. dan orang yang sedang tidur. .Kahfi: 18). Seperti perbuatan orang yang terlupa. karena perbuatan orang tersebut terjadi di luar kesadarannya. ada diantara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya." Dinyatakan dalam hadits ini.

Hal ini. sudah cukup jelas dan gamblang. alhamdulillah.Qadha dan Qadar 13 Kita semua mengetahui perbedaan antara perasaan sedih atau perasaan senang yang kadang kala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak mengetahui sebab dari kedua perasaan tersebut yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dirinya sendiri. .

jika Allah  menyiksa orang yang berbuat maksiat yang perbuatan maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan keinginannya. Dengan demikian. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut dilakukan tanpa kehendak dan keinginan darinya. yaitu mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar. berarti tidak perlu dipuji atas perbuatannya yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatannya yang tercela. niscaya sia-sia lah syari’at ini dari tujuan semula. dapat disimpulkan bahwa Allah  maha suci dari pendapat dan paham yang demikian ini. Sebab bila dikatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam perbuatannya.Qadha dan Qadar 14 4 SANGGAHAN ATAS PENDAPAT PERTAMA Pembaca yang budiman! Seandainya kita mengambil dan mengikuti pendapat golongan yang pertama. Pendapat seperti ini sangat jelas bertentangan dengan firman Allah : . Adalah merupakan kezhaliman.

melanggar batas lagi ragu-ragu. Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku.Qadha dan Qadar 15 ¨ä. Allah berfirman: “lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala. tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh".29). padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. . dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku" ( Qaaf : 23. Å3s9u …çµçGøtóôÛr& !$t $u/u‘ …çµãƒÌs% ã£‰t7ム$t  ω‹Ïãuø9$$Î/ /ä3ø‹s9Î) àMø£‰s% ô‰s%u £“t$s! (#ßÅÁtGøƒrB Ÿ  ω‹Î7yèù=Ïj9 5=sàÎ/ O$tr& !$tu £“t$s! ãös)ø9$# “Dan (malaikat) yang menyertai dia berkata: "inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku. yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah. maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat (pedih ). Sedang ( syaitan ) yang menyertai dia berkata: “ya Rabb kami. t©yy_ ’Îû $u‹É)ø9r&  î‰ÏGtã £“t$s! $t #x‹y …çµãƒÌs% t$s%u Ÿyèy_ “Ï%©!$#  A=ƒÌ• 7‰tG÷èã Îöy‚ù=Ïj9 8í$¨¨  7‰Ïtã A‘$¤Ÿ2 t$s% *  ωƒÏ‰¤±9$# É>#x‹yèø9$# ’Îû ç$u‹É)ø9r'sù tyz#u $s9Î) «!$# yìt t$s%  7‰Ïèt/ ¤n=|Ê ’Îû t%x. aku tidak menyesatkannya. yang sangat enggan melakukan kebaikan.

Dan Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana ".Nisaa’: 165). tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun sesudah di utusnya para Rasul. telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan bagi mereka. karena sudah jelas hujjah Allah  atas mereka. Dalam ayat ini Allah  menjelaskan bahwa tidak ada alasan lagi bagi manusia setelah di utusnya para Rasul. maka mereka tidak akan memiliki alasan di hadapan Allah  untuk membantah keputusan-Nya. dan sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-amba-Nya. niscaya sia-sialah firman Allah  ini: “(Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah di utusnya Rasul-rasul itu. Maka seandainya masalah takdir bisa dijadikan alasan bagi mereka. (An. Andai kita menganut pendapat yang batil ini. Karena qadar (takdir) . akan tetapi mereka memilih jalan kesesatan.Qadha dan Qadar 16 Dalam ayat ini Allah  menjelaskan bahwa siksaan dari-Nya itu adalah karena keadilan-Nya. Sebab Allah  telah memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka.

sebagaimana telah kami uraikan dengan contoh-contoh di atas. Dengan demikian pendapat ini adalah batil karena tidak sesuai dengan nash (dalil) dan kenyataan. .Qadha dan Qadar 17 Allah  sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para Rasul dan tetap ada sesudah mereka diutus.

Firman Allah: “(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. yaitu pendapat golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan manusia. Tuhan semesta Alam ".29). (At Takwir: 28.Qadha dan Qadar 18 5 SANGGAHAN ATAS PENDAPAT KEDUA Adapun pendapat kedua. maka pendapat inipun bertentangan dangan nash dan kenyataan. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila di kehendaki oleh Allah. Sebab banyak ayat yang menjelaskan bahwa kehendak manusia tidak lepas dari kehendak Allah . .

Padahal Allah lah yang menghendaki segala sesuatu. “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga). dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” (Yunus: 25). lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan tidak dapat petunjuk? Jawabnya: bahwa Allah  menunjuki orangorang yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan orang-orang yang patut menjadi sesat.Qadha dan Qadar 19 "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Firman Allah: . dan berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa yang tidak dikehendaki dan tidak diciptakan-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” ( Al Qashash: 68). Sekarang kalau semuanya kembali kepada kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan Allah. Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya telah mengingkari salah satu dari rububiyah Allah. menciptakannya dan menentukan qadar (takdir)nya.

èŒ $£Ïi $yàym (#¡nu  ϵÏèÅÊ#u¨ tã zÎ=x6ø9$# èùÌhptä† 4 ϵÎ/ “(Tetapi ) karena mereka melanggar janjinya. mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.( Ash Shaf: 5). ( Zu‹Å¡s% ößt/è=è% $où=yèy_u öß¨yès9 ößs)sV‹Ïi ÍÅÕø)t $yÎ6sù (#ãÏj. Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.Qadha dan Qadar 20 “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) Allah memalingkan hati mereka. Di sini Allah  menjelaskan bahwa Dia tidak menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang telah ditakdirkan oleh Allah  untuk dirinya. dan mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka yang telah diberi peringatan dengannya” (Al Ma’idah: 13). . Karena dia tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi.

Dengan demikian ia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan menjadi jabri dalam segi kemaksiatan. kalau ia tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah  ia mengatakan: “ini sudah takdirku.Qadha dan Qadar 21 maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat petunjuk. tetapi ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufiq dari Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan ia mengatakan: “ini kuperoleh dari diriku sendiri”. dan tak mungkin aku dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah”. Qadari ialah orang yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya dan mengingkari adanya takdir. . mengapa jika seseorang menempuh jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah  telah menghendakinya demikian? Apa tidak lebih patut baginya menempuh jalan kebenaran kemudian mengatakan bahwa Allah  telah menunjukkan kepadaku jalan kebenaran? Pantaskah dia menjadi orang yang jabri kalau tersesat dan qadari(1) kalau berbuat kebaikan? Sungguh tak pantas seseorang menjadi jabri ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiatan. 1 . Kalau begitu. Jabri ialah orang yang berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam perbuatannya. tidak mempunyai kehendak dan keinginan.

sebagaimana di sebutkan dalam hadits Nabi  yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud : “Sesungguhnya kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani. kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula. amal perbuatannya dan apakah ia termasuk orang celaka atau bahagia”. Masalah hidayah persis seperti masalah rizki dan menuntut ilmu. Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari rizki ke sana dan kemari. Kalau begitu. baik ataupun buruk.Qadha dan Qadar 22 Ini tidak dibenarkan sama sekali. yaitu rizkinya. Bahkan dia akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Jadi rizki inipun telah tercatat seperti halnya amal perbuatan. Padahal rizki ini disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan. kemudian berubah menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula. baik di daerahnya sendiri atau di luar daerahnya. lalu Allah mengutus seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara. Tidak duduk di rumah saja seraya berkata: “kalau sudah ditakdirkan untukku rizkiku tentu ia akan datang dengan sendirinya”. juga telah tercatat. mengapa anda pergi kesana dan kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan mendapatkan . ajalnya. Sebagaimana kita semua tahu bahwa manusia telah ditentukan untuknya rizki yang menjadi bagiannya. sebab sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan kemampuan.

tidak ada perbedaannya. Sekarang anda sedang berdiri di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk memilih. pergi kemanapun mencari dokter ahli untuk mengobati penyakit anda. kebahagiaan. dan kehinaan. Jika anda mau berusaha untuk mencari rizki dan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan anda. penyesalan. Anda dapat pergi kemanapun sesuka hati anda. karena kalaupun aku di takdirkan panjang umur aku akan tetap hidup”. sehingga kalau anda sakit. Lalu mengapa anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa "itu sudah takdirku”? apa tidak lebih patut jika anda . tidak akan dapat bertambah dan tidak berkurang. Jika demikian. kedamaian dan kemuliaan.Qadha dan Qadar 23 kebahagiaan surga? padahal kedua-duanya adalah sama. yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit anda dengan takdir Allah. mengapa usaha anda di jalan akhirat dan dalam amal shaleh tidak seperti usaha anda untuk kepentingan duniawi? Sebagaimana telah aku kemukakan bahwa masalah qadar adalah rahasia Allah  yang tersembunyi. tak ada seorangpun yang akan merintangi anda untuk melalui jalan yang kanan atau jalan yang kiri. Anda tidak bersikap pasrah sambil berkata: “sudahlah aku tetap tinggal di rumah saja meski menderita sakit. dan jalan yang dapat membawa anda kepada kehancuran. padahal anda tahu kalau ajal telah ditentukan. Bahkan anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang ahli. tak mungkin anda dapat mengetahuinya. Sekarang anda di antara dua jalan: jalan yang membawa anda kepada keselamatan.

yang lebih pendek dan lebih aman. maka iapun seharusnya begitu pula dalam usahanya menuju akhirat. Tentu saja anda akan memilih jalan yang mulus. Bahkan jalan menuju akhirat lebih jelas. Jika orang menggunakan akalnya. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam perbuatan yang dilakukannya secara sadar. sedang yang kedua rusak. apabila anda mau bepergian ke suatu tempat dan dihadapan anda ada dua jalan. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan pilihannya untuk kepentingan dunia. maka akal itu menurut pengertian yang sebenarnya akan melindungi pemiliknya dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang bermanfaat dan membahagiakan. Padahal. lebih panjang dan mengerikan. . tidak pendek dan tidak aman. sebagai seorang mu’min seyogyanya akalnyalah yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya. Ini berkenaan dengan jalan yang visual.Qadha dan Qadar 24 memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa “itu takdirku” ? Untuk lebih jelasnya. sama saja dan tidak ada bedanya. maka jalan menuju akhirat tentu saja lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk kepentingan dunia. begitu juga dengan yang non visual. tidak memilih jalan yang tidak mulus. bukan terpaksa. Namun kadangkala hawa nafsulah yang berperan dan menguasai akal. lebih pendek dan lebih aman. Karena Allah  telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an dan melalui sabda Rasul-Nya . Yang satu mulus.

manusia mau berusaha untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya dan meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan janji Allah .HAKIM yang artinya: Maha Bijaksana yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana dalam keputusan-Nya. dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam. dan Allah  tidak akan menyalahi janji-Nya. Karena di antara asma Allah  adalah AL. Sifat hikmah Allah  tidak dapat menerima bila orang yang suka akan kesesatan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. dan Allah  Maha . tetapi kehendak yang senantiasa sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya. kecuali jika Allah  memperbaiki hatinya dan merubah kehendaknya. Dan Ahlussunnah Wal Jamaah mengimani bahwa kehendak Allah  tidak lepas dari hikmah kebijaksanaan-Nya. tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan kehendak Allah . yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya.Qadha dan Qadar 25 Namun kenyataannya. bukan kehendak yang mutlak dan absolut. Dan dengan sifat hikmah-Nya pula. Pembaca yang budiman Inilah yang menjadi ketetapan Ahlussunnah Wal Jamaah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab mereka. Allah  dengan sifat hikmah-Nya. menentukan hidayah bagi siapa yang di kehendaki-Nya yang menurut pengetahuan-Nya benar-benar menginginkan al-haq dan hatinya dalam istiqamah.

Namun. sifat hikmah-Nya menetapkan bahwa setiap sebab berkait erat dengan akibatnya. .Qadha dan Qadar 26 Kuasa atas segala sesuatu.

secara umum maupun terperinci. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya. Kedua: Al-kitabah (penulisan) Artinya: mengimani bahwa Allah  telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh mahfuzh. Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh Allah  dalam firman-Nya: . qadha’ dan qadar mempunyai empat tingkatan: Pertama: Al-‘Ilm (pengetahuan) Artinya: mengimani dan meyakini bahwa Allah  Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.Qadha dan Qadar 27 6 TINGKATAN QADHA’ DAN QADAR Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah. baik itu termasuk perbuatan-Nya sendiri atau perbuatan makhluk-Nya.

Dan ketika beliau ditanya: “mengapa kita mesti beramal dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah tertulis? beliapun menjawab: “beramallah kalian. Kemudian beliau membaca firman Allah: . kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu tertulis dalam sebuah kitab lauh mahfuzh. masingmasing akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya”. Dia firmankan kepadanya: tulislah!. apakah yang hendak kutulis? Allah  berfirman: Tulislah apa saja yang akan terjadi! maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat”.Qadha dan Qadar 28 “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Ketika Nabi Muhammad  ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat. (Al. sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah  mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Qalam itu berkata: ya Tuhanku. apakah sudah ditetapkan atau tidak ? beliau menjawab: “ sudah ditetapkan”. bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfuzh).Hajj:70). Sebagaimana dijelaskan pula oleh Rasulullah  dalam sabdanya:“ Pertama kali tatkala Allah  menciptakan qalam (pena).

Qadha dan Qadar 29 “Adapun orang yang memberikan hartanya (di jalan Allah) dan bertakwa. Oleh karena itu hendaklah anda berusaha. Dan Allah  telah menetapkan bahwa apa yang diperbuat-Nya. "Anda akan di mudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah ". yang terjadi atau tidak terjadi. maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar”. Firman Allah: .Masyiah (kehendak). Artinya: bahwa segala sesuatu. adalah dengan kehendak Allah . Sedangkan orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik. serta apa yang diperbuat para hamba-Nya juga atas kehendak-Nya. hal ini dinyatakan jelas dalam Al Qur’an Al Karim. sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad  kepada para sahabat.( Al Lail: 5 – 10). maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang mudah. di langit dan di bumi. Ketiga: Al. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik.

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Dan banyak pula ayat–ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan kehendak-Nya. Dalam ayat–ayat tersebut Allah  menjelaskan bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi dengan kehendak-Nya. (Al Baqarah: 253). Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehandaki-Nya”. ( At Takwir: 28 -29). “Jikalau Tuhanmu menghendaki. tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. niscaya mereka tidak mengerjakannya”.Tuhan semesta alam”.Qadha dan Qadar 30 “(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. ( Al – An’am : 112). Seperti firman Allah: . “Seandainya Allah menghendaki.

Sampai “kematian” lawan dari kehidupan itupun diciptakan. “Jikalau Tuhanmu menghendaki. tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu”. tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar (takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah  meliputi segala sesuatu.Firman Allah: . Keempat: Al – Khalq (penciptaan) Artinya: mengimani bahwa Allah pencipta segala sesuatu.Qadha dan Qadar 31 “Dan kalau Kami menghendaki niscaya akan Kami berikan kepada tiap–tiap jiwa petunjuk (bagi) nya”. Apa yang ada di langit dan di bumi Penciptanya tiada lain kecuali Allah .( As Sajdah: 13). (Huud: 118). Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Dan banyak lagi ayat–ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa yang diperbuat-Nya. Oleh karena itu. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah .

manusia dan hewan kesemuanya adalah ciptaan Allah. angin. Apabila perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya. seperti: sifat. gunung.( Al Mulk: 2). bintang. bulan. Akan tetapi mungkin saja ada orang yang merasa sulit memahami. itupun ciptaan Allah . supaya Dia menguji kamu. Jadi segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah . yaitu kehendak dan kemampuan. sungai. matahari. perubahan dan keadaan. memang demikian. bumi. Seperti langit. sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya dua faktor. Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari hasil perbuatan Allah adalah ciptaanNya. siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. Demikian pula apa yang terjadi untuk para makhluk ini. maka perlu diketahui bahwa yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah .Qadha dan Qadar 32 “Yang menjadikan hidup dan mati. bagaimana dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak kita ini adalah ciptaan Allah ? Jawabnya: ya.

tidak akan dia berbuat. Dan alhamdulillah hal ini sudah cukup jelas. Dan siapa yang menciptakan sebab dialah yang menciptakan akibatnya. Akan tetapi. tetapi tidak menghendaki. tetapi tidak mampu. yang berbuat kemaksiatan. karena andaikata dia menghendaki.Qadha dan Qadar 33 Allah . tentu manusia tidak akan berbuat. manusialah yang bersuci. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan. Dan hal ini tidak bertentangan apabila kita katakan bahwa manusia sebagai pelaku perbuatan. yang menunaikan zakat. Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk Allah . maka dengan ini dapat dikatakan bahwa yang menciptakan perbuatan manusia adalah Allah . hanya saja perbuatan ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang diciptakan oleh Allah . tidak akan terjadi suatu perbuatan. yaitu: kehendak dan kemampuan. yang berbuat ketaatan. yang melakukan shalat. . sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia maksudnya adalah bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena dua faktor. Jadi. yang melaksanakan ibadah haji dan umrah. Jika perbuatan manusia terjadi karena adanya kehendak yang mantap dan kemampuan yang sempurna. begitu pula andaikata dia mampu. sedangkan yang menciptakan kehendak dan kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah . yang berpuasa. pada hakikatnya manusialah yang berbuat.

Jadi api tidak dapat membakar dengan sendirinya. karena dia berbuat menurut kehendak dan kemauannya sendiri. Kekuatan api untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan kemampuan pada diri manusia untuk berbuat. akan terbakar hangus. sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya. ternyata beliau tidak mengalami luka bakar sedikitpun. tentu ketika nabi Ibrahim  dilemparkan ke dalam api. bahkan tetap dalam keadaan sehat walafiat. . pilihan dan tindakan. Akan tetapi. (Al Anbiya’: 69). tidak ada bedanya. maka secara hukum yang dinyatakan sebagai pelaku tindakan adalah manusia. Api tidak dapat membakar dengan sendirinya. Hanya saja.Qadha dan Qadar 34 Seperti halnya kita katakan: “api membakar” padahal yang menjadikan api dapat membakar adalah Allah . Karena manusia mempunyai kehendak. karena Allah  berfirman kepada api itu: “Hai api. jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”. Sehingga Nabi Ibrahim  tidak terbakar. Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. perasaan. tetapi Allah-lah yang menjadikan api tersebut mempunyai kekuatan untuk membakar.

rizki yang dia usahakan dan ajal yang dia khawatirkan. Dan setiap manusia dimudahkan menurut takdir yang ditentukan baginya. Kesemuanya adalah sama. .Qadha dan Qadar 35 7 PENUTUP Sebagai penutup. kami katakan bahwa seorang mu’min harus ridha kepada Allah  sebagai Tuhannya. dan termasuk kesempurnaan ridha-Nya yaitu mengimani adanya qadha dan qadar serta meyakini bahwa dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara amal yang dikerjakan manusia. sudah tertulis dan ditentukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful