P. 1
Modul Sumur Dalam (Deep Well)

Modul Sumur Dalam (Deep Well)

|Views: 8,198|Likes:
Published by bangunismansyah

More info:

Published by: bangunismansyah on Nov 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2015

pdf

text

original

LAMPIRAN

MODUL NOMOR SUMUR DALAM TANGGAL
Daftar isi

PERMEN PU TENTANG PENYELENGGARAAN SPAM BUKAN JARINGAN PERPIPAAN 01/PRT/M/2009 25 FEBRUARI 2009

Daftar isi..............................................................................................................................i Prakata................................................................................................................................i Pendahuluan.......................................................................................................................ii 1Ruang lingkup...................................................................................................................1 2Acuan normatif ................................................................................................................1 3Istilah dan definisi ............................................................................................................1 4Perencanaan ....................................................................................................................3 Ketentuan umum................................................................................................................3 Ketentuan teknis ................................................................................................................3 5Pelaksanaan konstruksi....................................................................................................4 Persiapan pekerjaan...........................................................................................................4 Pekerjaan sumur uji..........................................................................................................11 Pekerjaan sumur produksi................................................................................................14 6Pengoperasian................................................................................................................17 Persiapan.............................................................................................................17 Pelaksanaan ........................................................................................................17 Pengaturan debit pompa......................................................................................17 Kelembagaan.......................................................................................................17 Administrasi.........................................................................................................18 7Pemeliharaan .................................................................................................................18 Lampiran A.......................................................................................................................19 Contoh gambar-gambar....................................................................................................19 Lampiran B.......................................................................................................................23 Contoh perhitungan uji pemompaan.................................................................................23

Prakata
Menindaklanjuti Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), disusunlah suatu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
i

(Permen PU) tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Bukan Jaringan Perpipaan (SPAM BJP). Permen PU ini mencakup seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM BJP yaitu perencanaan pengembangan SPAM, pelaksanaan konstruksi, pengelolaan SPAM, pemeliharaan dan rehabilitasi SPAM, serta pemantauan dan evaluasi SPAM. Selain batang tubuh yang bersifat pengaturan, Permen PU ini dilengkapi pula dengan 13 (tiga belas) lampiran yang bersifat teknis, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lampiran I Lampiran II Lampiran III Lampiran IV Lampiran V Lampiran VI Lampiran VII Lampiran VIII Lampiran IX 10. Lampiran X 11. Lampiran XI 12. Lampiran XII : : : : : : : : : : : : Modul hidran umum; Modul terminal air; Modul mobil tangki air; Modul penampungan air hujan; Modul perlindungan mata air; Modul sumur dalam; Modul sumur pompa tangan; Modul sumur gali; Modul instalasi pengolahan air minum sederhana; Modul saringan rumah tangga; Modul destilator surya atap kaca; dan Modul instalasi pengolahan air minum dengan reverse osmosis.

Lampiran VI mengenai Modul Sumur Dalam ini disusun untuk melengkapi pengaturan teknis yang terdapat dalam batang tubuh Permen PU. Penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Modul PMA bertujuan untuk memberikan petunjuk bagi para pengguna dalam penyelenggaraan modul PMA agar menghasilkan air minum yang sesuai dengan standar yang berlaku dan agar prasarana dan sarana air minum terpelihara dengan baik sehingga dapat melayani kebutuhan air minum kepada masyarakat secara berkesinambungan. Modul ini disusun oleh Panitia Teknis Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri PU tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM BJP yang telah dirumuskan dan melalui rapat teknis ada tanggal 23 Juli 2008 di Bandung. Rapat teknis ini dihadiri oleh wakil-wakil produsen, konsumen, asosiasi, lembaga penelitian, perguruan tinggi serta instansi terkait.

Pendahuluan
Peraturan Pemerintah (PP) No. 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), memberikan suatu pedoman baik kepada Pemerintah Pusat maupun
ii

Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan SPAM. Dengan PP tersebut diharapkan kualitas teknis penyelenggaraan dan pelayanan air minum kepada masyarakat dari tahap perencanaan, pelaksanaan konstruksi sampai pemanfaatan dan pengelolaan memenuhi standar yang di tetapkan. Pengembangan SPAM bertujuan membangun, memperluas dan meningkatkan sistem fisik (teknis) dan non-fisik (kelembagaan, keuangan dan peran serta masyarakat) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menjadi lebih baik. Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 2005 juga mengatur SPAM melalui Jaringan Perpipaan dan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan (BJP). Penyelenggaraan SPAM BJP seperti disebutkan diatas, termasuk upaya-upaya masyarakat memperoleh air minum melalui bangunan perlindungan mata air, bangunan penampung air hujan, sumur dalam, sumur dangkal (sumur gali dan sumur pompa tangan), instalasi pengolahan air minum sederhana, instalasi saringan rumah tangga, instalasi dengan destilator surya atap kaca, dan instalasi pengolahan air minum dengan reverse osmosis, dengan unit pelayanan berupa hidran umum, terminal air/mobil tangki air, dan sambungan rumah. Selain itu penyediaan air minum dapat juga melalui instalasi air minum dalam kemasan, termasuk air minum isi ulang. Pedoman penyelenggaraan SPAM BJP perlu disediakan mengingat kondisi geografis, topografis, geologis, dan sumber daya manusia di setiap wilayah berbeda sehingga dalam perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pengelolaan dan rehabilitasi, perlu diatur melalui Permen PU tentang SPAM BJP. Modul sumur dalam ini disusun sebagai pegangan pada penyelenggara pembangunan dan perencana prasarana SPAM BJP dengan modul sumur dalam. Modul ini memuat perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pengelolaan (temasuk didalamnya pengoperasian, kelembagaan dan administrasi), dan pemeliharaan modul sumur dalam. Modul ini disusun berdasarkan materi teknis yang telah disusun pada TA 2006 oleh Direktorat Pengembangan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum melalui Pekerjaan Kegiatan Teknis Tata Cara Perencanaan dan Pelaksanaan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan.

iii

Modul sumur dalam
1 Ruang lingkup Modul ini menentukan kriteria, ketentuan teknis, perhitungan, data, dan tahapan yang diperlukan dalam perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pengelolaan (temasuk didalamnya pengoperasian, kelembagaan dan administrasi), dan pemeliharaan modul sumur dalam. 2 Acuan normatif

AISI 316, Stainless steel alloy AISI 329, Stainless steel alloys specifications AISI 304, Stainless steel DIN EN 1706, Alluminium and alluminium allyos – castings – chemical compositions and mechanical properties IEC 34-5, Rotating electrical machines 3 Istilah dan definisi

3.1 air baku air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum 3.2 air minum air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan 3.3 air tanah bebas air tanah yang tidak tertutup oleh lapisan kedap air 3.4 air tanah dalam air tanah bebas yang terdapat di dalam tanah dengan kedalaman muka air tanah lebih besar dari 20 meter atau air tanah yang terdapat di dalam akuifer terkekang (yang dibatasi pada bagian atas dan bawah oleh lapisan kedap air) 3.5 akuifer terkekang air tanah yang berada diantara dua lapisan kedap air 3.6 debit optimum aman debit terbaik yang dihasilkan oleh sumur dalam 1 dari 24

3.7 debit pompa banyaknya air atau volume air yang dipindahkan dalam satuan waktu tertentu pada saat pompanya dioperasikan 3.8 efisiensi pompa perbandingan antara daya yang dihasilkan pompa menurut katalog yang ada dengan daya yang dihasilkan pompa sebenarnya. 3.9 flow meter untuk mengukur debit air yang keluar dari pompa 3.10 head pompa jumlah atau tinggi yang diukur dari tinggi air dinamis keudara terbuka secara vertikal 3.11 manometer suatu alat untuk mengukur tekanan air dalam pipa pada rangkaian sistem perpipaan pompa 3.12 muka air tanah kedalaman muka air di dalam sumur yang dihitung dari permukaan tanah 3.13 pemeliharaan kegiatan perawatan dan perbaikan unsur-unsur sarana secara rutin dan berkala yang bertujuan untuk menjaga agar prasarana dan sarana air minum dapat diandalkan kelangsungannya 3.14 pengoperasian rangkaian kegiatan mulai dari dari persiapan untuk melakukan operasi menjalankan sistem penyediaan air minum untuk menghasilkan air minum 3.15 pengoperasian pompa rangkaian kegiatan operasi pemompaan, mulai dari persiapan, pemeriksaan, menghidupkan, mengendalikan, mengawasi dan pada saat poma dijalankan serta kegiatan pengamanan setelah pompa dimatikan 3.16 penyediaan air minum kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif

kebutuhan

masyarakat

agar

3.17 pipa jambang/casing pipa yang dipasang dalam lubang bor yang bahannya dapat dari besi, plastik atau serat (fibre) dan berfungsi untuk menahan keruntuhan dinding sumur 2 dari 24

3.18 pipa saringan pipa yang konstruksinya punya bukaan tertentu yang diletakan pada lapisan-lapisan pembawa air dengan fungsinya sebagai pipa-pipa tempat masuknya air dari lapisan pemboran atau akuifer 3.19 pompa usaha suatu alat yang digunakan untuk memindahkan air dari suatu tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi dan digerakkan oleh penggerak yang bisa dari tenaga listrik atau mekanis 3.20 sistem pemompaan suatu kesatuan pompa yang terdiri dari popa dan pipa-pipa beserta peralatan sambunagn dan alat penggeraknya yang menjadi satu kesatuan dengan pompanya, serta dapat dilalui air yang dipompanya, mulai dari titik hisap sampai dengan titik keluarnya air di udara terbuka 3.21 sistem penyediaan air minum bukan jaringan perpipaan selanjutnya disebut SPAM BJP merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum baik bersifat individual, kelompok masyarakat, maupun komunal yang unit distribusinya dengan atau tanpa perpipaan terbatas dan sederhana, dan tidak termasuk dalam SPAM dengan jaringan perpipaan 3.22 sumur dalam bangunan/konstruksi sumur dengan kedalaman lebih dari 25 meter 3.23 tinggi hisap beda tinggi antara muka air yang dipompa dengan tinggi porosnya yang diukur vertikal 3.24 tinggi tekan beda tinggi antara poros pompa dan tinggi dari titik keluarnya air di udara terbuka yang diukur vertikal 4 Perencanaan

Ketentuan umum Ketentuan umum meliputi: Dalam melakukan survei air tanah untuk sarana air minum harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku; b. Memiliki izin dan rekomendasi pengambilan air tanah dari instansi yang berwenang dan masyarakat sekitar; c. Memiliki persyaratan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku; d. Harus dilakukan oleh tenaga ahli bersertifikat.
a.

Ketentuan teknis 3 dari 24

Ketentuan teknis meliputi: a. Perencanaan teknis harus mengacu pada ketentuan yang berlaku; b. Penentuan titik pemboran sumur dalam mengacu pada hasil survei geolistrik; c. Jarak terhadap sumur dalam lainnya yang telah ada harus lebih dari 800 meter; d. Pembuatan sumur dalam harus dimulai dengan pembuatan sumur uji/eksplorasi untuk menentukan kuantitas, kualitas dan kontinuitas air sesuai yang direncanakan; e. Apabila butir c terpenuhi maka dapat dilanjutkan dengan pembuatan sumur produksi; f. Apabila butir c tidak terpenuhi maka pembuatan sumur produksi tidak dapat dilanjutkan dan harus mencari titik pemboran yang lain berdasarkan hasil survei geolistrik; g. Kuantitas tanah yang dapat diambil harus aman, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan, apabila memungkinkan masih dapat dikembangkan lagi; h. Kualitas air tanah dalam harus memenuhi kualitas air baku untuk air minum; i. Evaluasi potensi air tanah dalam harus mengikuti ketentuan yang berlaku; j. Persyaratan yang harus dipenuhi: 1) Debit tidak melebihi kapasitas pompa yang sesuai dengan diameter sumur; 2) Pumping water level tidak lebih rendah dengan rata-rata permukaan air laut untuk akuifer di daerah pantai; 3) Kecepatan masuk air ke saringan tidak lebih dari 3 cm/detik atau sesuai persyaratan yang dikeluarkan oleh pabrik; 4) Permukaan air dinamis pemompaan tidak akan melebihi posisi bagian atas. 5 Pelaksanaan konstruksi

Persiapan pekerjaan Pekerjaan persiapan dilakukan setelah seluruh perizinan diperoleh dan sudah mendapat persetujuan dari pemberi tugas (dinyatakan dengan SPK). Seluruh pekerjaan persiapan ini harus dilaporkan kepada pemberi tugas untuk mendapatkan persetujuan melaksanakan pekerjaan selanjutnya.
5.1.1 a.

Persiapan lokasi

Luas area/lokasi tersebut minimal 15 x 10 m2 atau lebih dan sebaiknya terletak di tepi jalan, agar mudah dijangkau oleh alat-alat berat. Apabila diperlukan dilakukan pembuatan jalan masuk sesuai dengan kebutuhan untuk jenis mesin bor yang digunakan. b. Peletakan sumur dalam pada area/lokasi yang sudah dipersiapkan (sudah dibebaskan) dan lakukan pembersihan dan pematangan tanah di lokasi pekerjaan. c. Tentukan sumber air untuk keperluan pengeboran. d. Lokasi tersebut sebaiknya dilewati oleh fasilitas jalur PLN (yang cukup besar), apabila tidak maka siapkan genset yang memadai. e. Pagari lokasi kerja apabila diperlukan.
5.1.2

Persiapan pengeboran

Persiapan pengeboran meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Dokumen perencanaan tentang titik pengeboran harus sudah siap dan telah disetujui oleh semua pihak. b. Semua peralatan dan material disiapkan di dekat lokasi titik pemboran yang sudah ditentukan. c. Peralatan yang digunakan disebutkan dalam Tabel 1. 4 dari 24

Tabel 1 Peralatan yang digunakan dalam pembuatan sumur dalam No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
d.

Nama/merk/tahun Mesin bor Drill road Bit (mata bor) Drill collar & stabilizer Compressor Pompa lumpur Pompa subsible Genset Welding told set Tackle Cangkul/linggis Table set Kunci pipa Alat pancing Logging unit Pelurus/dummy Mud balance Marsh Funnel Kotak sample Angsang sample Kantong sample Drum Slang Jetting nozzle Air lift tool

Spesifikasi ..... ton ........ Rotari/widia/wing ...... ton 20 bar 200 psi 5 & 10 L/dt, 50 m 60 PK 130 Amp 50 ton -

Jumlah 1 200 m 15 1 1 1 2 1 1 1 2 1 unit 2 buah 2 buah 1 unit 1 1 1 unit 3 unit 3 pack 6 buah ..... meter ..... buah

Keterangan Max. dril 250 m dengan φ 200 mm φ 89 mm, 105 mm φ 100 - 300 Double stroke

φ 300 mm Automatic self recording

200 liter φ = ..... baja

φ = 75 mm

Material yang digunakan harus berada dalam kondisi baik. Daftar material yang digunakan sesuai Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 2 Daftar material habis pakai No 1 2 3 4 5 6 Nama bahan Bentonite Solar Semen Pasir Plastik ATK Spesifikasi standard Jumlah ..... zak ..... liter ..... zak ..... m3 ..... m2 1 set

tebal

Tabel 3 Daftar material untuk konstruksi No 1 Nama bahan Pipa ..... Spesifikasi medium Jumlah ..... m ..... m Keterangan φ ...... mm φ ...... mm

5 dari 24

2 3

Screen/saringan Reducer

SS Med

..... m ..... m ..... bh

φ ...... mm φ ...... mm φ ..... x φ ..... mm

Tabel 3 Daftar material untuk konstruksi (lanjutan) No 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
e.

Nama bahan Dop Gravel dia. 2 – 5 mm Centralizer Kawat Besi beton STTP Plank Pipa conductor Plinkud Cat Kawat las/ lem Lain-lain

Spesifikasi Med Andesit/rounded Plat besi Galvanit Standar φ 10 mm standar steel steel Standar besi Standar besi Standar

Jumlah ..... bh ..... bh ..... m3 ..... bh ..... bh ..... roll ..... m ..... kg ..... bh ..... bh ..... kg ..... kg ..... dos

φ φ φ φ φ

Keterangan ..... mm ..... mm ..... mm s/d φ ..... mm ..... mm ..... mm

φ ..... mm φ ..... mm

Spesifikasi teknis alat bor ditentukan sesuai dengan kedalaman dan diameter lubang bor yang direncanakan dan ditentukan berdasarkan kondisi geologisnya. Pemilihan peralatan bor ditentukan berdasarkan Tabel 4. Tabel 4 Pemilihan jenis peralatan bor berdasarkan formasi batuan Mesin bor Formasi Tumbuk (untuk formasi urai, perlu diikuti casing) Putar Putar Putar tumbuk Keterangan ecepatan penetrasi tinggi ecepatan penetrasi rendah sedang
-

Alufial pasir dan lempung urai lunak

1) Jika tidak Jika terdapat terdapat lempung yang kondisi mengambang artesis, digunakan boulder, polimer lempung 2) yang Jika dijumpai mengembang kondisi artesis gunakan bentonit

K

K

T idak direkomendasikan

Endapan gunung api, selang seling breksi-tufa dan lava, urai sampai kompak

(untuk formasi urai, perlu diikuti casing)

1) Jika terdapat lempung yang mengambang digunakan polimer 2) Jika dijumpai kondisi artesis

Jika yang terdapat kondisi artesis, boulder, lempung yang mengembang

-

6 dari 24

gunakan bentonit Endapan (perlu 1) Dengan gunung api, casing dan bentonit jika selang seling boiler yang tidak terlalu dengan pasir, sesuai banyak boulder urai sampai dengan 2) Casing kompak ukuran mungkin boulder) diperlukan Tabel 4 Pemilihan jenis peralatan bor berdasarkan formasi batuan (lanjutan) Mesin bor Formasi Batu gamping sementasi sedang, keras Batu gamping dengan selingan lempung, agak urai konsolidasi sedang Tumbuk Putar Sirkulasi udara tekan atau foam 1) Gunakan polimer jika terdapat lempung yang mengembang 2) Gunakan bentonit (+ polimer) jika agak urai dan kondisi artesis kuat 3) Dapat digunakan udara atau foam jika kompak Hanya untuk lapisan lapuk kuat atau tertekan Putar Putar tumbuk Untuk batu gamping keras Keterangan

Batu baku (granit, andesit, besalt sekik, dll) sangat keras dan kompak

(Hanya untuk lapisan yang lapuk)

-

Jika tidak terdapat kondisi artesis, boulder, lempung yang mengembang

f.

Pemilihan mata bor disesuaikan dengan jenis litologi atau formasi yang akan ditembus dan kecepatan putar yang diinginkan Tabel 5 Jenis mata bor yang disarankan untuk beberapa formasi

Lanau, serpih Jenis dan Lempung lanau diameter mata lengket pasiran bor dll, lunak urai 330mm-500

Lanau pasiran serpih, sedang keras, kapur lunak dll

Batu pasir sedang keras lanau pasiran keras

Batu pasir Serpih, sangat lanau keras, keras-brite kwarsit batu batu gamping gamping, terkekang anhidrid

7 dari 24

mm (13 inchi –20) inchi) Orang Zublin Rock (Rolling Cutter) 100-130 100-160 100-130 100-160 125-200 100-175 100-200 125-175 60-125 40-60 40-150

Tabel 5 Jenis mata bor yang disarankan untuk beberapa formasi (lanjutan) Lanau, serpih Jenis dan Lempung lanau diameter mata lengket pasiran bor dll, lunak urai 250 mm-330 mm (10 inchi– 13 inchi Orang Disc Zublin Rock (Rolling Cutter) 120 mm-250 mm (5 inchi– 10 inchi Orang Zublin Rock (Rolling Cutter)
Catatan: − − − − − g. Kecepatan putaran minimum adalah lapisan/formal datar; Kecepatan putar maksimum untuk formasi datar atau miring; Pembebanan maksimum pada mata bor yang diijinkan dapat dilakukan; Formasi datar dan beban minimum untuk lapisan yang memiliki kemiringan curam; Jenis mata bor seperti contoh dalam lapisan;

Lanau pasiran serpih, sedang keras, kapur lunak dll

Batu pasir sedang keras lanau pasiran keras

Batu pasir Serpih, sangat lanau keras, keras-brite kwarsit batu batu gamping gamping, terkekang anhidrid

100-175 125-175

100-130 100-130 125-200 150-300 125-200 100-250 80-120 40-80 60-150

125-200 150-200

100-200 100-150 150-300 150-225 100-250 150-200 80-125 40-100 60-200

Pada umumnya ada dua jenis alat bor yaitu alat bor jenis top drive dan alat bor jenis rotary table. Peralatan bor yang digunakan harus berada dalam kondisi baik. Peralatan bor yang digunakan terdiri dari: 8 dari 24

h.

Motor pompa minimum 3 PK; Mata bor untuk lapisan tanah biasa sampai dengan tanah cadas dengan diameter antara 2–5inchi; 3) Pipa bor dengan diameter antara ¾ - 1½ inchi; 4) Selang hisap, selang hantar dan saringan. Pelaksanaan pengeboran dilakukan oleh ahli pengeboran bersertifikat (master drill) dan dibantu oleh tenaga pendukung sesuai keperluan, seperti dijelaskan pada Tabel 6.
1) 2)

Tabel 6 Spesifikasi personil yang menangani pembuatan sumur dalam No Spesialisasi Pengalaman Keterangan

1 Master bor Min. 5 tahun STM/D3/D4 dan sertifikat GTL 2 Welder/Tukang Las Min. 5 tahun STM Tabel 6 Spesifikasi personil yang menangani pembuatan sumur dalam (lanjutan) No 3 4 5 6 7
i.

Spesialisasi Wellsite geologist Geophysicist Mekanikal Elektrikal Pembantu (5 orang) Penjaga malam (2 orang)

Pengalaman Min. 3 tahun Min. 3 tahun Min. 3 tahun Min. 3 tahun

Keterangan S1/S2 S1/S2 D3/S1 SD/SMP/SMA Penduduk setempat yang ditunjuk oleh pemerintah setempat

Buat kolam penampung air berukuran panjang 0,75m, lebar 0,75m dan dalam 0,50m di dekat lokasi; j. Gali lubang untuk memulai pengeboran dengan linggis sedalam 0,25m dan diameter 0,30m; k. Buat kolam pengendapan dengan ukuran panjang 0,50m, lebar 0,50m dan dalam 0,40m untuk pemeriksaan lapisan tanah yang dibor; l. Buat saluran dengan lebar 0,25m dan dalam 0,25m yang menghubungkan lubang pemboran dengan kolam pengendapan dan menghubungkan kolam pengendapan dengan kolam penampung; m. Isi kolam penampung dengan air sampai penuh; n. Alat bor jenis top drive dipersiapkan sebagai berikut: 1) Sambungkan salah satu ujung pipa bor dengan mata bor tanah biasa, sedang ujung yang lain disambungkan dengan swivel head pada motor pemutar; 2) Sambungkan salah satu ujung slang hantar dengan swivel head dan ujung yang lain disambungkan pada motor pompa; 3) Pasang salah satu ujung slang hisap pada motor pompa sedang ujung lain disambungkan dengan motor pompa; 4) Pasang salah satu ujung slang hisap pada motor pompa sedang ujung lain pasangkan pada saringan dan masukkan ke dalam kolam penampung; 5) Masukkan rangkaian pipa bor ke dalam lubang pendahuluan, dan siapkan bangku dekat lubang bor; 6) Periksa dan isi dahulu dengan air, oli dan bahan bakar motor pompa sebelum dihidupkan; 7) Periksa bahan bakar motor pemutar bor.

9 dari 24

Gambar 1 - Contoh pemasangan alat bor jenis top drive
o.

Alat bor jenis rotary table dipersiapkan sebagai berikut: 1) Motor pemutar dinaikkan dengan jalan memutar stir yang tersedia sampai kira-kira sepanjang pipa bor; 2) Pipa bor yang sudah dipasang mata bor dipasang pada swivel head dan diputar untuk memasukkan pipa bor; 3) Pasang salah satu ujung slang hantar pada swivel head dan ujung slang yang lain dipasang pada motor pompa II. Slang penghisap motor pompa II, disambung slang penghantar motor pompa I; 4) Slang hisap pada motor pompa I yang sudah ada saringannya dimasukkan ke dalam kolam penampung air.

Gambar 2 - Contoh pemasangan alat bor jenis rotary table 10 dari 24

p. Untuk alat bor jenis lain dipersiapkan sesuai dengan prosedur yang sesuai dengan ketentuan. Pekerjaan sumur uji
1.1

Pelaksanaan pengeboran pandu (pilot hole)

Pengeboran dilakukan dengan mata bor (bit) berukuran ∅100 mm hingga kedalaman yang direncanakan. Selama pengerjaan pengeboran harus dilakukan pengambilan contoh batuan (keratan bor) setiap meter kedalaman dan dimasukkan ke dalam kantong contoh batuan (kantong plastik berukuran 2 kg) serta dideskripsi dan dianalisa. Hasil analisa dituangkan ke dalam format log bor (lengkap dengan simbol-simbol dan deskripsinya). Pekerjaan ini menjadi tanggung jawab wellsite geologist. Pelaksanaan pengeboran dapat dilakukan dengan menggunakan alat tanpa katrol dan alat bor dengan katrol.
a. Pelaksanaan pengeboran dengan alat bor tanpa katrol

1) Motor pompa dihidupkan, apabila sudah menghisap air dan semburan airnya sudah keluar melalui lobang pemboran maka motor pemutar dihidupkan, pergunakanlah bangku untuk memudahkan menghidupkan mesin. 2) Apabila motor pemutar sudah hidup tetapi pipa bor belum memutar maka perbesar gas. Pipa bor akan memutar dan turun sedikit demi sedikit. 3) Pemboran diteruskan sambil dinaik turunkan supaya kotoran atau lumpur terangkat semua. Setelah pipa pertama masuk, motor pemutar dimatikan dahulu baru motor pompanya. Tahan pipa bor yang sudah masuk dengan kunci trimo atau tang buaya (vice grip) dan buka swivel head dengan jalan memutarbesi pemutar yang dimasukkan pada lubang pada bagian atas swivel head. 4) Sambung pipa bor pertama dengan pipa bor berikutnya kemudian naik ke ats bangku sambil membawa motor yang ada swivel headnya, masukkan pipa bor yang sudah disambungkan pada pipa pertama dan putar dengan besi pemutar. 5) Mesin pompa dihidupkan lagi dan setelah air keluar dari lobang pemboran, maka motor pemutar dihidupkan. 6) Begitu seterusnya sambil dilihat lapisan-lapisan tanah yang keluar setipa ganti mata bor. Apabila diperkirakan sudah mencapai air tanah, pemboran dihentikan. Motor dihidupkan terus untuk menguras lumpur. Setelah bersih pipa bor dicabut dan sumur bor siap untuk pekerjaan berikutnya
b. Pelaksanaan pemboran dengan alat bor dengan katrol 1) Motor pompa dihidupkan kemudian motor pompa II, dan

apabila air sudah keluar/semburan airnya sudah baik, motor putar dihidupkan, kalau putaran kurang kekuatan gas diperbesar 2) Motor pemutar yang sudah memutar pipa bor perlahanlahan kita turunkan dengan memutar stir yang ada pada dudukan motor pemutar, sampai pipa bor yang pertama masuk semua 3) Setelah pipa bor pertama masuk, disambung lagi dengan pipa bor berikutnya, begitu sampai mendapatkan lapisan air tanah yang kita kehendaki, yaitu dengan adanya pasir hitam pada lapisan–lapisan tanah yang keluar yang dilihat secara terus-menerus dari semburan air yang keluar dari lubang sumur 4) Apabila sudah sampai lapisan air tanah pengeboran dilanjutkan kira-kira dua batang pipa bor, kemudian dihentikan 5) Untuk pemasangan pipa selubung pemboran diulangi dengan memakai mata bor pembesar mata bor ∅5” untuk pipa selubung ∅4” 6) Pemboran selesai, maka siaplah lubang bor untuk pekerjaan selanjutnya. 11 dari 24

1.2

Pelaksanaan pengujian lapisan tanah (electrical well logging)

Apabila berdasarkan analisa pembuatan pilot hole disimpulkan terdapat potensi air tanah maka pekerjaan logging dapat segera dikerjakan. Pelaksanaan logging harus dikerjakan dengan hati-hati dan teliti sehingga alat logging dapat bekerja secara optimal dan didapat rekaman data-data lubang bor dengan akurat. Hasil rekaman geofisika lubang bor (logging) kemudian dikorelasikan dengan data log bor untuk setiap meter kedalaman dan dianalisa. Selanjutnya dilakukan pembuatan perencanaan terinci (detail design) konstruksi sumur dalam. Namun, apabila tidak ada potensi air tanah maka pekerjaan logging tidak perlu dilakukan dan pilot hole harus ditutup serta dibuatkan berita acaranya. Pengujian electrical well loging dimaksudkan untuk menentukan kedudukan lapisan batuan pada sumur dalam tersebut terutama lapisan pembawa air secara tepat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemasangan saringan. Pelaksanaan pengukuran pada penampang sumur bor ini dengan metoda tahanan jenis (resistivity) dan metoda potential diri (self potential).
a. Metode tahanan jenis (resistivity)

Metoda ini digunakan untuk mengetahui kedudukan lapisan yang berada di dalam lubang bor berdasarkan harga tahanan jenis setiap lapisan batuan di dalam sumur secara langsung, juga digunakan sebagai perbandingan bagi pengukuran metoda lainnya, seperti Gamma Ray dan lainnya. Hasil pencatatan metoda ini untuk lapisan yang sama pada umumnya merupakan kebalikan dari hasil metoda Gamma. Artinya lapisan yang pada umumnya bertahanan jenis tinggi, mempunyai radiasi gamma yang rendah, sedangkan lapisan lempung pada umumnya ketahanan jenis rendah mempunyai radiasi gamma yang tinggi. Pengetesan dilakukan sebelum pipa casing dipasang dan pengukuran dilakukan dari mulai dasar sumur sampai ke permukaan tanah, karena hasilnya lebih sempurna. Satuan yang digunakan pada metoda ini adalah Ohm–meter. b. Self potential/potensial diri Prinsip dari metoda ini adalah untuk mengetahui harga potential yang ditimbulkan oleh batuan itu sendiri. Penyelidikan dengan metoda ini adalah untuk membedakan akuiferakuifer yang asin dan yang tawar. Hasil pengukuran dengan menggunakan metoda ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran tahanan jenis. Apabila harga tahanan jenis tinggi sedang harga dari self potential ini menunjukkan kenaikan harga, maka kemungkinan besar akuifer tersebut mengandung garam yang tinggi. Jika harga tahanan jenis tinggi dan harga self potensial menunjukkan penurunan harga, maka akuifer tersebut ditafsirkan sebagai air tawar. Alat yang digunakan adalah Minivolt.
1.3

Uji pemompaan sumur dalam

Sebelum uji pemompaan sumur dalam dilakukan, harus dilakukan pengenceran lumpur di dalam lubang bor dengan cara melakukan injeksi air bersih ke dalam lubang bor sehingga cairan di dalam lubang bor benar-benar bersih dari cairan lumpur pemboran. Apabila cairan lumpur pengeboran di dalam lubang bor sudah bersih, maka tahapan konstruksi bisa dikerjakan dengan cara hati-hati dan harus teliti dan akurat. Pengawasan dilakukan secara ketat agar peletakan posisi saringan tidak salah letak, serta sistem penyambungan antar pipa, antar saringan dan antara pipa dan saringan dilakukan/dikerjakan dengan sempurna. Untuk pipa besi/galvanis yang penyambungannya dengan cara dilas, maka bagian sambungan harus diperkuat dengan besi beton dan diberi lapisan anti karat/coating. Seluruh perpipaan harus lurus vertikal, apabila terdapat ketidaklurusan maka konstruksi harus diulang. Pipa piezometer diletakkan sejajar menempel di luar pipa jambang. 12 dari 24

Pumping test adalah suatu cara untuk melakukan pengujian kapasitas air tanah agar dapat disadap didalam bangunan pengambilan/sumur. Untuk pemanfaatan air dari sumur bor yang telah dikerjakan perlu diadakan uji sumur atau Pumping Test dimana dari hasil uji ini diharapkan didapat gambaran kondisi dari permukaan air tanah sebelum dilakukan pengambilan air dilakukan uji pemompaan. a. Uji pemompaan dilakukan dengan maksud untuk memperoleh data primer dengan cara melakukan pengukuran tinggi muka air tanah secara langsung di lapangan selama dilakukan pemompaan, kemudian dilanjutkan dengan kondisi hidogeologinya; b. Tujuan uji pemompaan ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan lapisan pembawa air (akuifer) dengan kondisi sumur bor berdasarkan parameter yang diperoleh dari hasil pemompaan, sehingga pemanfaatan air baku yang bersumber dari air bawah tanah dilaksanakan dengan tetap mempertahankan kondisi lingkungan di sekitar sumur bor; c. Uji pemompaan dilakukan dengan terlebih dahulu mengistirahatkan dari pemompaan sebelumnya selama 24 jam. Dibuat catatan mulai dari tanggal, jam dan penggunaan besar pompa. Adapun tahapan yang harus dikerjakan adalah sebagai berikut: a. Step Draw Down Test (Pengujian bertahap) Pengujian ini dilakukan dengan kapasitas pemompaan bertingkat hingga mencapai kapasitas yang ideal (3 sampai 4 tahap). Tiap-tiap tahap pemompaan dilakukan selama 2 jam secara terus menerus dan dilanjutkan dengan tingkat pemompaan berikutnya tanpa menunggu selang. b. Long periode test Pengujian ini dilakukan dengan kapasitas tetap secara terus menerus selama 2 x 24 jam. Pada akhir pemompaan harus diambil contoh airnya dan dianalisa laboratorium. c. Recovery test Kegiatan ini dilakukan sesaat setelah long periode test selesai, jadi tanpa selang waktu. Urut-urutan atau prosedur pekerjaan uji pemompaan sumur dalam adalah sebagai berikut: a. Step draw down test 1) Sebelum pompa dijalankan, muka air statis di dalam sumur harus diukur dan dicatat; 2) Pemompaan dilakukan bertahap dari 2,5 liter/detik, 5 liter/detik, 10 liter/detik dan seterusnya. Tiap tahap lamanya 2 jam atau lebih; 3) Besarnya debit pemompaan diatur seteliti mungkin sesuai dengan yang dikehendaki; 4) Muka air dalam sumur diukur tiap 1 menit selama 5 menit, tiap 5 menit antara 5 sampai 60 menit, kemudian tiap 10 menit antara 60 – 100 menit; 5) Setelah tahap pertama pemompaan uji selesai dilakukan, maka kapasitas pemompaan dinaikkan ke tahap pemompaan berikutnya dan prosedur pengukuran sama dengan tahap yang pertama tersebut; b. time draw down test 1) Kapasitas pemompaan besar 2,5–5 liter/detik atau tergantung pada pertimbangan teknis dari step test maksimum yang dapat dipakai. Lamanya pengujian adalah 1 x 24 jam; 2) Tinggi muka air dalam sumur diukur dan dicatat; 3) Untuk waktu 2 jam pertama, agar diikuti cara pengukuran seperti pada step draw down test; 4) Pengukuran tinggi muka air di dalam sumur selanjutnya dilakukan tiap selang 30 menit sampai 1 x 24 jam harus terus menerus; 5) Waktu pada saat pemompaan dimulai dan jam-jam pada saat dilakukan pengukuran harus dicatat dengan betul dan teliti; c. recovery test 13 dari 24

Pelaksanaan recovery test segera dimulai setelah time draw down selesai dan pada saat pompa berhenti; 2) Selama 15 menit pertama pengukuran terhadap kambuhnya muka air di dalam sumur dilakukan setiap selang 1 menit; 3) Selama 2 jam berikutnya, pengukuran muka air dilakukan tiap selang 30 menit; 4) Tes ini terus dilakukan sampai muka air kembali sama seperti sebelum dimulai time draw down test di atas; d. Pengolahan dan analisis data Dalam menganalisa data uji pemompaan, baik pengukuran surutan maupun kambuhnya muka air tanah ini, dipergunakan Metoda Jacob dan Theiss. Metoda Jacob dipergunakan untuk menganalisis data surutan dan Metoda Theiss untuk menganalisa data kambuh.
1)

Kapasitas jenis sumur adalah besaran head sumur persatuan penurunan muka air tanah, yang biasanya dinyatakan dalam m3/hari/meter atau liter/detik/meter. Persamaan empiris untuk menghitung kapasitas jenis sumur menggunakan rumus Jacob adalah sebagai berikut:

Q = S

5,463 × T 2,25 Tt .........................................................................................................(1) LOG r 2S

Keterangan: Q/S adalah kapasitas jenis sumur liter/detik/meter Q adalah debit pemompaan liter/detik S adalah penurunan muka air tanah dalam meter t adalah waktu pemompaan dalam detik r adalah tranmisivitas, m2/hari s adalah koefisien kandungan (storage coeficient) tanpa satuan untuk aliran tanah (steady state flow satuan equilibrium) pada akuifer t dapat dihitung dengan persamaan:
T = log R / r 1,36 ( H 2 − h 2 )

.......................................................................................................(2)

Keterangan: R adalah radius kerucut draw down dalam meter r adalah radius sumur dalam meter H adalah muka air tanah diukur dari dasar akuifer diukur dalam meter h adalah muka air tanah pada waktu pemompaan diukur dari dasar akuifer dalam meter T adalah transmivisitas (m2/hari) = k x b K adalah koefisien permeabilitas (m/hari) b adalah ketebalan akuifer dalam meter * Untuk aliran lunak pada kondisi akuifer terkekang (confined) Apabila berdasarkan hasil uji pemompaan didapatkan rekomendasi debit aman yang sesuai dengan yang direncanakan (safe yield) maka pekerjaan dapat dilanjutkan dengan pembesaran lubang sumur uji untuk membuat sumur produksi. Apabila terjadi gangguan pada saat pemompaan uji, maka pengujian harus diulang. Oleh karena itu, peralatan harus dalam kondisi berfungsi dengan baik dan harus teliti. Pekerjaan sumur produksi 14 dari 24

Pembesaran lubang sumur (reaming), pemasangan perpipaan dan perlengkapan Pelaksanaan pekerjaan pembesaran lubang sumur (reaming) dikerjakan berdasarkan gambar detail desain konstruksi sumur dalam. Bersamaan dengan pekerjaan reaming, juga dilaksanakan pekerjaan pemasangan perpipaan dan perlengkapan yang harus dipasang, antara lain DOP, reducer, centrilizer, piezometer, dan sebagainya. Hasil reaming dikontrol dengan pelurus agar lubang tidak bengkok. Konstruksi sumur dalam terdiri dari: a. Pipa jambang (casing): 1) Bahan pipa baja atau bahan lain seperti PVC, fiberglass reinforced plastic (FRP) dan GIP atau sejenis dengan spesifikasi mampu untuk menahan tekanan dari dinding tanah dan/atau batuan 2) Pipa jambang dibuat muncul minimal 50 cm di atas lantai beton pengaman 3) Diameter pipa jambang minimal 4 inchi b. Pipa buta Bahan untuk pipa buta adalah pipa baja atau bahan lain seperti PVC, FRP dan GIP atau yang sejenis dengan spesifikasi mampu untuk menahan tekanan dari dinding tanah dan/atau batuan c. Pipa saringan 1) Tipe saringan atau screen adalah “Wire Wound Continuous Slot” on “Rod Base” yaitu berbentuk kawat yang melingkar pada penyangga (rod base) dengan jarak kawat yang sama 2) Spesifikasi teknis pipa saringan adalah: a) Bukaan (25-40)% tergantung jenis material pada akuifer b) Jumlah rod base 20-36 buah kawat penyangga c) Jumlah rod base 20-36 buah kawat penyangga d) Tebal kawat yang umum dipakai berkisar antara (2–2,5) mm
Catatan: Pipa jambang, pipa buta dan pipa saringan dapat dibuat dari jenis PVC, FRP dan GIP yang dibuat oleh pabrik sesuai dengan persyaratan yang ditentukan

Pemasangan pompa benam dan perlengkapannya (clear water submersible deep well pump) Spesifikasi sistem dan perlengkapan pompa benam meliputi: a. Pompa 1) Penggunaan : Air minum/bersih pada temperatur 45ºC dan dipakai pada sumur dalam 2) Kapasitas dan head : Sesuai dengan kebutuhan 3) Situasi : Vertikal 4) Jenis Pompa : Pompa benam bertingkat banyak, sedang bentuk impeller sentrifugal atau semi aksial/mix flow 5) Batas kecepatan putar: Tidak lebih dari 3.000 rpm 6) Efisiensi : Harus tinggi dan lebar curva pada kondisi yang diminta. 7) Katup searah : Menggunakan ring karet dan berikut dudukannya b. Motor Benam 1) Jenis : Motor Listrik AC, tiga phasa squiral cage dan dapat berfungsi dengan baik terbenam dalam air (submersble motor) 2) Tingkat Proteksi : IP 68 (IEC 34-5/144). 15 dari 24

3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Tingkat isolasi Tegangan Cos Diameter Efisiensi Putaran Poros/rotor Konstruksi Sistem start

: : : : : : :

F atau H (IEC pulb 85) 220/380 Volt, 50 Hz lebih dari 0.8 lebih dari 90% tidak lebih dari 3.000 rpm Batang dinamis pada rotor Star Delta (Y) atau menggunakan auto transformer, untuk motor berkapasitas dibawah 5 KW, dapat digunakan “Direct On Line” (DOL)

c. Material 1) Rumah impeller dan Impeller

: Baja Tahan karat Grade AISI 316 atau Bronze Cn SN 5 Zd Pb (DIN 1706-2, DIN 1096.01) 2) Poros pompa dan motor : Baja Tahan Karat Grade AISI 316 atau AISI 329 3) Mur Baut dan Ring : Baja Tahan Karat Grade AISI 316 atau AISI 329 4) ” Motor Casing ” : Baja Tahan Karat Grade AISI 304 atau AISI 316 5) Kabel Listrik : Neopren 6) Bantalan atau ” bearing” : Bronze atau Tungsten Karbide atau Karbon Keramik d. Perpipaan, perlengkapan perpipaan, dan perlengkapan pompa benam 1) Sistem perpipaan pompa sumur dalam ini harus sesuai dengan gambar yang pada dasarnya terdiri dari pipa naik, kepala sumur (well head), perlengkapan perpipaan, katup sekat (gate valve), flow meter, manometer dan lain-lainnya; 2) Pipa naik (rising pipe) harus terbuat dari baja tahan karat sesuai dengan AISI 316 dengan ketebalan 4 mm; 3) Flens terbuat dari baja tahan karat sesuai dengan AISI 316 sedang dimensi flens sesuai dengan NEN 316; 4) Konstruksi kepala sumur (well head) harus sesuai dengan gambar dan terbuat dari baja tahan karat AISI 316; 5) Elektroda las yang dipakai pada pengelasan bahan baja tahan karat haruslah yang sesuai; 6) Semua mur, baut dan ring yang pakai harus terbuat dari baja tahan karat AISI 316; 7) Panjang dan dimensi kabel listrik disesuaikan dengan letak pompa; 8) Semua sistem perpipaan yang mengunakan baja tahan karat tidak perlu dilapisi cat (coating). Penyelesaian sumur Untuk mencegah terjadinya runtuhan dinding lubang sumur bor maka segera dilakukan store gravel. Kerikil dengan ukuran butir 2–5mm yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam lubang bor di luar casing secara perlahan-lahan. Secara bersamaan dilakukan pemompaan air yang ada di dalam jambang sehingga gravel dapat masuk kedalam lubang bor dengan mudah dan dapat tertata dengan baik sampai dengan posisi yang dianjurkan. Segera setelah pelaksanaan store gravel cukup, maka ke dalam casing dituangkan larutan STTP (20%) sebanyak ± 30L–60L sesuai dengan kedalaman sumur dan jumlah panjang saringan yang dipasang. Larutan tersebut didiamkan selama lebih dari 12 jam dan lubang ditutup agar tidak kemasukan air atau benda lain. Sehari setelah larutan STTP dituangkan ke dalam sumur maka pekerjaan pembersihan sumur dapat dilakukan. Ada beberapa cara dalam rangka pembersihan/pencucian sumur antara lain: a. Air lift (kecil) Air lift dimaksudkan melakukan peniupan udara dari kompresor sumur (dari kedalaman total sampai ke permukaan) dengan menggunakan drill road (stang bor) sebagai penghantar dengan maksud agar terjadi gejolak cairan di dalam sumur, oleh karena itu 16 dari 24

diharapkan tidak ada air yang keluar dari lubang sumur bagian atas. Hal ini bisa dicapai dengan penyetelan kompressor secara bertahap dan secukupnya dengan waktu menerus selama 30 menit. b. Water jetting (Penyemburan air) Water jetting dimaksudkan melakukan penyemburan air dalam posisi saringan di dalam sumur dengan pemompaan air bersih bertekanan tinggi, dengan menggunakan alat jetting 4 nouzel berputar dan naik turun di posisi seluruh saringan yang terpasang. Kegiatan ini dilakukan sampai seluruh saringan bersih dari kotoran/lumpur yang menyumbat. c. Air lift (besar) dan water jetting Pekerjaan/kegiatan ini dilakukan bergantian tiap 30 menit sampai dengan tidak ada lagi kotoran yang keluar dari casing. Selama pekerjaan ini perlu penambahan gravel sehingga susunan gravel bisa lebih tertata secara padat sehingga konstruksi sumur dapat terjaga dari keruntuhan. Konstruksi sumur dalam harus dilengkapi dengan: a. Grouting dan pondasi (sesuai gambar konstruksi) b. Sumur harus ditutup dengan flang (sesuai dengan gambar konstruksi) termasuk pipa piezometer dilengkapi dengan dop. c. Pengecatan sumur. 6 Pengoperasian

Persiapan a. Periksa sistem kelistrikan, kondisi kabel-kabel dan rangkaian kelistrikannya termasuk saklarnya (Switch ON/OFF) b. Periksa kondisi fungsi manometer serta katu-katup lainnya. c. Periksa flow meter dan pastikan tidak ada kebocoran. d. Periksa persediaan bahan-bahan penunjang dan sumber energi yang dipakai. Pelaksanaan a. b. Hidupkan motor pompa dengan menekan tombol ”ON”. Periksa tekanan air pada manometer, bila melebihi tekanan kerja pompa atur katup sesuai dengan tekanan yang dikehendaki. c. Periksa ampermeter pada panel listrik kendali pompa, bila melebihi nilai masimum atur dengan bukaan katup ke arah kebalikan dari membuka katup, sampai diperoleh nilai amper dibawah maksimum. d. Penghentian operasi pompa dengan cara otomatis dan manual. Pengaturan debit pompa a. keluaran pompa; b. Apabila debit air kurang dari yang dikehendaki tambah bukaan katup tekanan sampai sesuai dengan debit yang dikehendaki tercapai; c. Apabila dengan mengatur bukaan katup debit tercapai, maka lakukan pemeriksaan terhadap pompa, dijaga agar debit air yang keluar tetap konstan. Kelembagaan 17 dari 24 Baca angka pada alat ukur debit yang terpasang pada sistem

a.

Bila PAH digunakan secara komunal, pengelola adalah individu atau kelompok yang ditunjuk oleh masyarakat pengguna PAH. b. Pengelola bertanggungjawab terhadap keberlangsungan pelayanan PAH. c. Pekerjaan yang dilaksanakan secara swakelola oleh masyarakat seperti penggalian/urugan tanah, pembuatan konstruksi bak PAH, pemasangan pipa harus dilaksanakan dibawah pengawasan tenaga ahli/pendamping teknis/PDAM. d. Pembagian air minum kepada pemakai sesuai dengan jadual yang telah disepakati. Administrasi a. tersedia. b. Retribusi dan jadwal penarikan retribusi ditentukan oleh pengelola dan disetujui oleh masyarakat pengguna PAH. Pemeliharaan a. Pelaksanaan pemeliharaan sumur dalam mengikuti ketentuan yang berlaku b. Pembersihan sumur dalam dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut: 1) Metoda Aliran balik (reflux method) Masukkan sejumlah air kembali kedalam sumur dalam dan pastikan ada pembersihan 2) Swabbing Method Untuk membersihkan sumur dengan mengeluarkan material penyebab mampatnya saringan dilakukan dengan menggunakan alat berbentuk piston karet yang diturunkan dengan kabel kebawah. Metoda ini sering digunakan untuk pembersihan sumur. 3) Mengangkat dan menurunkan posisi pompa dan dalam operasi ini dapat membantu mengeluarkan meterial yang ada pada saringan. Tetapi harus diperhatikan beda tinggi air dalam sumur dan dibantu dengan tekanan yang berbeda. 4) Dengan metoda high rate jetting Untuk membersihkan material yang menyumbat saringan dapat dilakukan dengan menggunakan pompa tekanan tinggi. c. Pemecahan masalah yang terjadi pada sumur dalam disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 7 Pemecahan masalah pada modul sumur dalam Permasalahan 1. Pada saat pemompaan ada pasir yang terbawa 2. Debit pompa berkurang karena clogging 3. Saringan tersumbat material Solusi 1. Kurangi daya hisap pompa untuk mengurangi terjadinya kerusakan pada pompa 2. Perlu suatu cara teknis khusus yang dikerjakan oleh ahlinya 3. Lakukan pembersihan saringan dengan metode Aliran balik (reflux method), Swabbing Method, high 18 dari 24 Catat setiap pembagian air dalam buku catatan yang telah

7

4. Saringan tersumbat bakteri 5. Terjadi guncangan dalam sumur 6. Terjadi pencemaran

rate jetting, dan mengangkat dan menurunkan posisi pompa 4. Pembersihan dengan memasukkan asam-klorida 5. Lakukan pembersihan secara berkala 6. Periksa dan perbaiki terjadinya infiltrasi dari permukaan di sekitar casing sumur, penggenangan air di sekitar sumur, atau kemungkinan ada kebocoran pada penutup sumur

Lampiran A Contoh gambar-gambar

19 dari 24

Gambar A.1 - Contoh bangunan pengambilan air tanah dalam

20 dari 24

KONSTRUKSI SUMUR BOR

Gambar A.2 - Konstruksi sumur dalam

21 dari 24

Gambar 4 : Perlengkapan Alat Bor Hydradrill P.200

Gambar A.3 - Perlengkapan alat bor

22 dari 24

Lampiran B Contoh perhitungan uji pemompaan
Tabel B.1 Parameter akuifer (contoh) Data Surutan Kambuh T (m²/hari) 6,2 20,7 Metoda analisis Jacob Theiss

Harga keterusan (T-Transmissivity), adalah kemampuan suatu akifer untuk meneruskan air dan dinyatakan dalam banyaknya air dalam suatu waktu (m³/jam) yang mengalir melalui suatu penampang tegak lapisan akuifer selebar satu meter dengan landaian hidrolika sebesar seratus persen, satuannya adalah m² /hari. a. meter T Recovery Berdasarkan karva Jacob Method didalam delta T = 6.2 = ( Konstanta Transmissivity x debit (m³/hari)/ delta T (m) = ( 0.183 x 216m³ / hari) 6.2 m = 6.375 m²/ hari

b. Berdasarkan kurva Theiss Method didapat Δ T= 20.7 meter T Drawdown = Konstanta transmissivity x debit (m³/hari) / ΔT(m) = (0.183x216m³/hari) / 20.7 m = 1. 910 m² / hari Harga rata-rata (T) pada sumur tersebut diatas sebesar T ( rata-rata) = (T Recovery + draw down)/ 2 = (6.375 + 1.910)/2 = 4.143 m²/ hari Qs merupakan jumlah air yang dapat diambil setiap satuan waktu (m³/jam) apabila muka air tanah didalam sumur bor diturunkan satu satuan panjang (m) pada saat yang sama. Dinyatakan dengan satuan volume per waktu dibagi satuan panang (m³/hari/m). Qs = Debit (m³/jam)/ muka air dinamik – muka air statik. Qs = 216 m³/hari/ 30.80-18.40 m = 17.419 m³/hari /m c. Debit aman Perhitungan debit aman (save yield) sumur bor dilakukan berdasarkan atas hasil analisis uji pemompaan dengan debit tetap dimana rumusnya sebagai berikut. Q aman = 50% x { Qs x ( screen teratas – muka air tanah statis)

23 dari 24

0

1

2

Kambuhan, S, (meter )

3

S = 2 .5 m
4

Q = 2 0 lt r./ d e t. ( 1 ,7 2 8 m 3 / h a r i ) 2 .3 . Q T =   4 S'

5

= 1 2 6 , 5 m 2 / h a ri

6

7 1 2 3 5 10 20 t / t' 30 50 100 2 00 300 500

Gambar B.1 - Contoh perhitungan koefisien transmisivitas dari kurva
kambuhan (Recovery) - rasio t/t', dimana t = waktu dari mulai pemompaan, t' = waktu dari pemompaan dihentikan.

0

1

2

Draw down (meter )

3

S = 2.5 m
4

Q = 2 0 ltr./d e t. ( 1 ,7 2 8 m 3 /h ar i ) 2 .3 .Q T =   4 S' = 1 2 1,6 m 2 / ha ri

5

6

7 2 3 5 10 20 30 50 100 200 300 500

W a k tu s e te la h p e m o m p a a n d im u la i ( m e n it ) .

Gambar B.2 - Contoh perhitungan koefisien transmisivitas dari kurva draw/down - waktu.

24 dari 24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->