PENUNTUN PRAKTIKUM ANALISIS ORGANIK

D3 ANALIS KIMIA

Disusun oleh : Jamaludin Al Anshori, S.Si.

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK PROGRAM D3
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2007

PENUNTUN PRAKTIKUM ANALISIS ORGANIK
D3 ANALIS KIMIA

Disusun oleh :

Jamaludin Al Anshori, S.Si.

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK PROGRAM D3 JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG, APRIL 2007 Diketahui oleh: Kepala Laboratorium Organik D3 Penyusun

Dr. Achmad Zainuddin, MS. NIP. 131 654 085

Jamaludin Al Anshori, S.Si. NIP. 132 306 074

i KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Keselamatan kerja di laboratorium merupakan hal penting yang harus selalu diperhatikan oleh mahasiswa dan asisten. Semua percobaan kimia sangat berbahaya apabila tidak hati – hati. Lakukanlah percobaan sesuai dengan

penuntun percobaan yang telah didiskusikan. Petunjuk Umum 1. Selama kerja di laboratorium, mata selalu dilindungi dari percikan zat kimia yang berbahaya. 2. Praktikan harus memakai sepatu, dan jas laboratorium. Bagi yang berambut panjang, diikat ke belakang, hati-hati terbakar oleh Bunsen atau terkena zat kimia. 3. Dilarang merokok, makan, dan minum, selama bekerja di laboratorium. Setiap zat kimia adalah berbahaya. 4. Tidak diperkenankan meninggalkan percobaan yang sedang berlangsung tanpa dijaga. Percobaan harus sesuai dengan prosedur. Jangan main-main di laboratorium. 5. Tas buku disimpan dalam rak yang disediakan. Tidak boleh disimpan di atas meja praktikum. 6. Percobaan yang mengeluarkan gas, harus dilakukan di lemari asam/alat pengisap pada posisi ON. Hindari menghisap uap/gas beracun. 7. Biasakan mengenal sifat-sifat kimia zat yang akan digunakan. 8. Periksa kelengkapan alat-alat gelas yang pecah harus diganti dengan ukuran barang dan kualitas sama.

gunakan obat yang dianjurkan 5. Mata langsung dicuci dengan air yang banyak . Jika kulit terkena zat kimia . segera lakukan tindakan dengan memindahkan penderita ke tempat aman dan sesuai dengan tingkat kecelakaan. 2. Sikat. . Bila diperlukan. Perlindungan / pencuci mata Shower emergency Alat pemadam kebakaran Alat P3K / kotak obat 3. Luka sayat . Semua kecelakaan harus dilaporkan lengkap kepada dosen penanggung jawab praktikum. Cuci kulit dengan menggunakan air sebanyak mungkin. Menangani Kecelakaan Bila terjadi kecelakaan di laboratorium.ii 9. Harus diketahui dengan jelas tempat dan cara menggunakan alat – alat keselamatan berikut . Bila merasa sakit atau iritasi. beberapa hal yang perlu dilakukan : 1. sabun kebersihan. dan gas selalu diperiksa sebelum meninggalkan laboratorium. bila perlu gunakan shower. sekurang-kurangnya 10-15 menit Jika ada iritasi atau kemerah-merahan segera periksakan ke dokter 4. kran air. Jika mata terkena zat kimia .

Untuk luka bakar yang lebih parah. simpan air es ke bagian yang terasa sakit. . 6. dicuci dengan air dan segera ditutup dengan pembalut luka. Selama bekerja di laboratorium. Untuk luka bakar yang kecil. Luka bakar . segera diperiksa ke dokter. stop pendarahan dengan menekan / mengikat dengan kain bersih. Jika luka sayat cukup parah.iii Luka sayat kecil. Jangan gunakan apapun di atas bagian yang terbakar. segera diperiksa ke dokter. kecuali analgesik setempat. luka sayat harus tertutup baik.

................................................ ESTER DAN ETER . iv PERCOBAAN I KARBON DAN HIDROKARBON JENUH ................... 1 PERCOBAAN II HIDROKARBON TAK JENUH........... 13 PERCOBAAN VI ASAM HIDROKSI....... KETON............................................ KETON DAN ASAM KARBOKSILAT AROMATIK.. FENOL ................................................ ALKOHOL.... DAN POLIKARBOKSILAT ............... 15 PERCOBAAN VII BENZEN DAN HASIL SUBSTITUSINYA.......................................................................................................................................................................................................... 29 .. i DAFTAR ISI .... 9 PERCOBAAN V IKATAN TAK JENUH............... ASAM KETO................................. 26 DAFTAR PUSTAKA ....................... POLIALKOHOL...... HALOFORM...... 17 PERCOBAAN VIII ALDEHIDA ........... 21 PERCOBAAN IX UJI FITOKIMIA TUMBUHAN ............. 5 PERCOBAAN IV ASAM LEMAK DAN ESTER .......... 3 PERCOBAAN III ALDEHID........... DAN KARBOHIDRAT ...............................                                                                                                                             iv  DAFTAR ISI KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM .................................................................

Kedalam tabung dimasukkan campuran bubuk arang kayu dan sedikit bubuk seng Oksida. b. . keluar gas yang mudah terbakar. Berapa berat arang yang dibutuhkan untuk mendapat reaksi yang sempurna? 4. 2. Diketahui BA Cu= 63. Disiapkan labu 50 mL yang terbuat dari gelas pyrex. C= 12. warna. lalu ditutup. Filtrat yang diperoleh tidak atau berkurang warnanya. Dipanaskan dalam tabung gelas yang sukar meleleh. Sepotong Kayu Tusan dalam labu pyrex yang diberi sumbat gabus dengan pipa gelas penyalur gas dipanaskan di atas kassa. Suatu campuran bubuk arang kayu dicampurkan dengan oksida logam. Sepotong arang kayu dalam tabung reaksi yang berisi air dipanaskan. Pada permukaan arang keluar gelembung-gelembung gas yang berasal dari udara yang di absorbsi oleh arang. Setelah dingin campuran reaksi dipindahkan ke atas sepotong kertas. Kita menjumpai butir-butir logam tembaga. kalau perlu dengan bantuan gas oksigen). sifat terhadap nyala api). Hitunglah volume gas yang terbentuk dari 1 gram Tembaga Oksida yang dibakar. Anggur merah dimasak dengan norit (karbon aktif) dan kemudian disaring dengan kertas saring berlipat.  1  PERCOBAAN I KARBON DAN HIDROKARBON JENUH 1. Kemudiaan tabung dipijar. yang dilengkapi dengan pipa penyalur gas.5.5. Perhatikan gas yang keluar (bau. Kayu mengarang. Gas yang keluar di alirkan ke dalam tabung yang berisi larutan air kapur. BJ CuO= 6.4. O= 16. a. arang yang terbentuk kemudian dipanaskan kuat (api yang besar. Dari pipa. C=1. 3. Mulut tabung-tabung ditutup dengan gabus yang telah dilengkapi dengan pipa gelas berbentuk 2 lengkungan. Terbentuk gas karbon dioksida (CO2) yang dapat dibuktikan dengan mengalirkannya kedalam tabung yang berisi air kapur (Ca(OH)2).

  2  Terbentuk gas karbon monoksida (CO). Dan kemudian timbul nyala hijau dari uap tembaga (II) klorida. . Hitung gas yang terbentuk dari 1 gram zat ZnO yang dibakar. Dan diketahui BA Zn= 65. Mula-mula terbakar atom karbon yang memberi nyala kuning. Gas ini ditampung dalam tabung yang berisi air dan gas dapat dinyalakan. Percobaan Beilstain Pijarkan kawat Pt dengan tembaga oksida diisi pada “Loop” sampai nyala tidak berwarna. Setelah dingin ujung kawat dicelupkan atau ditetesi sedikit Kloroform dan dipanaskan diatas nyala bagian luar. 5. Campuran jangan terlalu sedikit. BJ ZnO= 81. karena gas yang mula-mula terbentuk harus dilepaskan.

  3  PERCOBAAN II HIDROKARBON TAK JENUH. Beberapa saat kemudian garam tembaga (II) sulfat memisah atau mengendap sebagai garam tembaga (II) sulfat terhidratasi ( CuSO4. Nyala yang terbentuk khas asetilen. etina) Ke dalam labu 250 mL leher panjang yang dilengkapi dengan pipa gas dan corong yang bertangkai panjang (ujung tangkai harus sampai ke dasar labu). 2. dimasukkan dengan hati-hati sepotong kecil kalsium karbida (CaC2) melalui corong kemudian labu diisi air sampai setengah penuh. b. .5H2O ). Mendeteksi Air dalam Etanol a. Kedalam sebuah tabung reaksi yang berisi etanol dan mengandung sedikit air dimasukkan tenbaga (II) sulfat anhidrat. Salah satu tabung yang telah terisi penuh dengan gas dibakar. ESTER DAN ETER 1. lalu dialiri. Terbentuk tembaga karbida ( CuC2 ) yang berwarna merah coklat. Kemudian isi tabung ini dipindahkan ke dalam salah satu tabung yang telah berisi gas (harus dijaga jangan sekali-kali botol tambaga (I) klorida kemasukkan gas asetilen). a. Setelah beberapa lama warna air brom menghilang. b. c. Ke dalam tabung reaksi yang kosong dimasukkan sedikit bubuk tembaga (I) klorida. Sebuah tabung reaksi diisi dengan sedikit air brom. Baru kemudian asetilen yang terbentuk ditampung diatas air dalam dua tabung reaksi (tabung-tabung sebelumnya telah diisi air). Menarik Air dengan Garam Kalium Karbonat. ALKOHOL. Air yang telah mengandung gas asetilen bereaksi dengan tembaga (I) klorida yang larut dan terbentuk endapan coklat. Reaksi Terhadap Etuna (Asetilen. Udara yang keluar pertama dibuang. Untuk mengalirkan gas ini pakai pipa yang sampai ke dasar tabung.

lalu dikocok dengan cukup banyak (± 1 g) garamgaram kalium karbonat anhidrat. Alkohol encer tersebut sebanyak 1 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi. ii. Kemudian tabung dicelup dalam tangas air 80 – 100oC selama kurang lebih 15 menit. Setelah dingin campuran dituangkan kedalam beaker yang berisi 50 mL air. . diuji dengan mencelupkan batang gelas kedalamnya dan membakarnya pada nyala api. Suhu Kelarutan Kritis ( Critical Solution Temperature ) Kedalam sebuah tabung reaksi yang kering dimasukkan 2 mL Petroleum Eter dan etanol 96%. Dengan pemanasan sedikit. Terjadi endapan putih barium sulfat. Filtrat ini mengandung barium etil sulfat. Alkohol berkadar tinggi memisah pada bagian atas campuran dibuktikan dengan sifat mudah terbakar. Suhu dimana kedua cairan dalam jumlah yang sama dapat bercampur sempurna disebut suhu kelarutan kritis.  4  Alkohol encer kurang dari 50% v/v. Kedua cairan bercampur tidak sempurna. lalu dihangatkan terjadi penyabunan ester dan terbentuk endapan barium sulfat. c. Pada tabung a tambahkan asam sulfat encer beberapa tetes. tidak dapat terbakar. Apabila didinginkan kedua cairan memisah kembali. Campuran dinetralkan terhadap kertas kongo dengan tepung barium karbonat ( warna kertas berubah menjadi merah ). Pada tabung b tambahkan asam klorida encer. i. 3. tabung dibagi dalam 2 tabung a dan b. Endapan barium sulfat dan sisa barium karbonat disaring dengan kertas saring ( dipusingkan ) sampai mendapat cairan filtrat ( cairan induk ) jernih. Pembuatan Etil Ester dengan Asam Sulfat Kedalam tabung reaksi yang telah diisi 3 mL etanol 96% dengan hati-hati ditambahkan sedikit demi sedikit 3 mL asam sulfat pekat. cairan dalam tabung dapat bercampur sempurna. Lalu tabung didinginkan.

  5  PERCOBAAN III ALDEHID. KETON. lalu dipanaskan di atas tangas air (70o). Pembuatan etanal (asetaldehida) Ke dalam labu destilasi yang dilengkapi dengan corong pisah. HALOFORM 1. Reaksi Cermin Perak Sediakan satu tabung reaksi yang baru (belum pernah dipakai). terbentuk harsa aldehida yang berwarna kuning jingga. etanol dan air. setelah beberapa menit terbentuk cermin perak yang menempel di dinding tabung. tanpa pemanasan lagi. Satu milliliter destilat dalam tabung reaksi dicampur dengan 2 ml larutan Fehling. dimasukkan 20 ml asam sulfat encer (38%). Ke dalam tabung yang telah berisi larutan perak hidroksida beramoniak dimasukkan ½ ml destilat. Dalam corong pisah dimasukkan larutan natrium bikromat. b. Etanal ditampung dalam air. Pengujian etanal : a. Kalu perak yang terbentuk tidak menempel artinya tabung burang bersih.7 %. Labu di atas kasa dipanaskan dengan api kecil (pemanasan lemah) sambil meneteskan dengan lambat larutan corong. Setelah campuran mendidih. Pereaksi Fehling adalah campuran dari 1 bagian volume Fehling I (CuSO4) dan 1 bagian volume Fehling II (garam seignette) c. lalu dipanaskan. penetesan dipercepat dengan tetap mempertahankan campuran tetap mendidih. Setetes dari destilat ditambahkan pada 1 ml larutan natrium hidroksida. Mula – mula terjadi endapan larutan ammonia terbentuk tepat melarut. dan etanal terbentuk dan terdestilasi melalui pendingin. . sampai campuran dalam labu mendidih. lalu ke dalamnya ditetesi larutan ammonia encer ½ %. Terbentuk endapan tembaga (I) hidroksida Cu2(OH)2 yang berwarna kuning atau tembaga oksida yang berwarna merah. Ke dalam tabung dimasukkan 1 ml larutan perak nitrat 1.

Terbentuk endapan yang berwarna kuning sampai merah. Terbentuk warna merah. Aseton (propanon) a.  6  d.am tabung reaksi dicampur dengan larutan Fuchsin yang telah dihilangkan warnanya dengan belerang dioksida. . pada suhu kamar terbentuk kloroform sebagai tetesan keruh di dasar tabung. Cium baunya. Kloral hidrat a. Beberapa buah kristal kloral hidrat ditambahkan ke dalam tabung varu yang telah berisi 1 ml larutan perak hidroksida beramoniak di atas. Cermin perak terbentuk pada suhu kamar. lalu didiamkan. 3. Tabung dikocok. e. Buat larutan jenuh larutan natrium bisulfate dalam air. Buatlah larutan pereaksi perak hidroksida beramoniak seperti pada 1. Pembentukan Kloroform Beberapa Kristal kloralhidrat dimasukkan ke dalam tabung yang berisi larutan natrium hidroksida 2 N. Setetes larutan dimasukkan ke dalam tabung berisi beberapa tetes aseton. Pereaksi warna Schiff Sebagian destilat dal. Ke dalam tabung reaksi yang berisi ( 200 mg) kloral hidrat ditambahkan sedikit 1 ml asam sulfat pekat. Terjadi pemisahan kloral. Terbentuk endapan Kristal.c di atas. c. Cium baunya. b. Larutan Fehling Ke dalam tabung yang berisi 1 ml larutan fehling dimasukkan sedikit Kristal kloral hidrat. 2. Tidak terjadi pendamaran (harsa). Lakukan percobaan terhadap larutan Fuchsin yang tellah dihilangkan warnanya. Tidak terjadi warna merah. d.

a. HgS hitam. warna menjadi ungu.4 dinitro). lalu panaskan sedikit. 5.5 ml aseton diteteskan pereaksi 2. C6H12O5. Reaksi yang serupa diberikan oleh aseton dengan campuran sama banyak fenilhidrazin dan larutan natrium asetat.4 dinitrofenilhidrazin dalam asam fosfat. 100 ml air. Kepala filtrat ditambahkan larutan amoniak sulfide (NH4)2S. Perlu dicuci dengan air. Kalau kloroform yang terbentuk tidak kelihatan sebagai tetesan di dasar labu. Labu dipanaskan hati – hati sampai destilat mengandung campuran kloroform. c. Klor dalam kloroform dibuktikan dengan mutiara temaga oksida (Beiistein) b. 50 g kaporit CaO(Cl)2. membuktikan kelarutan senyawa merkuri yang terbentuk. dan 10 ml aseton. Kemudian ditambahkan larutan natrium hidroksida encer (1%) setets demi setetes sampai warna iodium hilang. Terhadap etanol Setetes etanol dalam tabung reaksi diencerkan dengan 1 ml air. artinya aseton yang terdestilasi terlalu banyak. Ke dalam tabung reaksi yang berisi 0. Larutan disaring. Hg3). kemudian dicuci dengan larutan air untuk menghilangkan basa. Kloroform Disiapkan labu destilasi 1 L lengkap dengan pendingin. Iodum pindah ke lapisan kloroform. Ke dalam tabung tambahkan 5 tetes larutan iodium (Kl3). Warna iodoform . Endapan merkurioksida yang terbentuk akan larut kalau ditambah aseton (terbentuk trimerkuriaseton hidrat. Ke dalam labu dimasukkan berturut – turut. useton dan klor. Kloroform dimasukkan ke dalam tabung berisi air iodium. Buat merkurioksida kuning (HgO) yang baru dengan jalan menambahkan larutan kalium hidroksida berlebih (reaksi alkalis) pada beberapa tetes larutan sublimat (HgCl2). Terbentuk endapan fenilhidrazin (2.  7  b. Reaksi Iodoform a. terbentuk endapan merkuri sulfide. 4.

selanjutnya lakukan reaksi iodoform seperti di atas. Lihat Kristal yang terbentuk di bawah mikroskop.  8  segera timbul. c. CHI3 tetapi yang terbentuk adalah nitrogen triiodida (NI3) yang berwarna hitam. terbentuk iodoform yang kadang – kadang disertai sedikit nitrogen triiodida terbentuk sebentar. Catatan : Sebagai pengganti natrium hidroksida dipergunakan ammonia untuk membedakan etanol dan aseton. kemudian seluruh larutan penuh dengan Kristal. lakukan seperti 5c. Terhadap aseton Setetes aseton diencerkan dengan 1 ml seperti di atas (5a). b. . d. Ulangi percobaan 5a. larutan natrium hidroksida diganti dengan larutan ammonium hidroksida 5%. Tidak terbentuk iodoform. Ulangi percobaan 5b.

b. Penyabunan Mentega Dalam cawan porselin diameter 20 cm dimasukkan 5 g mentega (bukan margarin) dan 40 ml larutan natrium hidroksida 30%.  9  PERCOBAAN 4 ASAM LEMAK DAN ESTER 1. Campuran dipanaskan hati-hati dan lemak di atas pemanas. (jangan sekali-kali dipergunakan termometer untuk mengaduk). Pada tabung kedua ditambahkan larutan timah asetat (Pb asetat). Setelah diaduk selama kurang lebih 5 menit pada suhu 70-80ºC. Tabung dikocok baik-baik sambil . sabun dicuci beberapa kali dengan air suling. Terbentuk endapan garam kalsium asam lemak tinggi. Sisa sabun dimasukkan ke dalam labu destilasi. Pada tabung pertama ditambahkan larutan kalsium klorida. tambahkan ke dalam campuran 3-4 ml etanol. tidak terjadi pemisahan minyak). suhu dipertahankan pada 70-80ºC. Aduk dengan batang pengaduk. Asam butirat yang terbentuk dibuktikan sebagai berikut : Sedikit destilat dalam tabung dicampur dengan beberapa tetes etanol dan beberapa tetes asam sulfat pekat. Setelah lemak meleleh. encerkan dengan air. Campuran didestalisasi. Lapisan air dibuang. Cawan dan isinya dimasukkan ke dalam beker yang berisi air dingin. Larutan dibagi dua masing-masing dimasukkan dalam tabung reaksi. cairannya tepat tidak mendidih. Terbentuk endapan garam timah asam lemak. Pasang termometer dalam campuran. penyabunan telah selesai (dibuktikan dengan mengambil sedikit contoh. a. Lapisan sabun membeku di atas setelah dingin. diasamkan dengan 30 ml larutan asam sulfat 10% sampai pH kurang lebih 3 (kertas kongo berwarna biru). Destilat bereaksi asam dan berbau asam butirat. Jangan diaduk. Sabun diambil sedikit dimasukkan ke dalam beker kecil dan dilarutkan ke dalam air.

terjadi pendinginan cepat. dikeringkan di atas kertas saring. Kemudian dimasukkan dalam gelas piala kecil. Satu bagian pertama destilat dikocok dengan sedikit merkuri oksida kuning (HgO). c. dan ditentukan titik leburnya : 50-60ºC. Pemanasan selanjutnya memisah logam merkuri (Hg) sementara gas karbon dioksida dibebaskan dibuktikan dengan mengalirkannya ke dalam air kapur selama pemanasan. Larutan dituangkan pada cawan porselein. Setelah selesai destilasi. Destilat dibagi dalam 3 tabung reaksi. Asam lemak tinggi mengkristal dengan segera. Sewaktu memanaskan tabung. Sisa ini adalah asam lemak tinggi yang tidak menguap (tidak terdestilasi). dan asam format dibuktikan sebagai berikut : a. Dengan hati-hati (api kecil) labu dipanaskan sampai terdestilasi asam format dan gas karbondioksida dibebaskan. mulutnya jangan diarahkan kemuka/kemata anda! Kemudian pindahkan isi tabung ke tabung yang lain. . Filtrat dipanaskan sebentar.  10  dipanaskan perlahan-lahan. Tercium bau harum butil butirat yang spesifik. Destilat awal ditampung dalam tabung reaksi yang berisi air kapur. Lapisan yang padat diambil. 2. dan segera disaring . Asam Format (asam semut) Ke dalam labu destilasi 50 ml dimsukkan 5 ml gliserin pekat dan 1 g asam oksalat (berlebih). dan asam palmitat pada 62ºC. Kristal-kristal berbentuk jarum. Campuran sisa reaksi disaring dan filtrat yang sudah dingin mengandung asam format dibuktikan seperti di atas. Mulamula terbentuk endapan putih merkuri form. biarkan sisanya menjadi dingin. kemudian diganti dengan tabung yang berisi air. kemudian dicuci dengan air dan etanol. Asam stearat meleleh pada 69ºC. ditambahkan sedikit etanol sampai tepat larut sempurna dengan bantuan pemanasan. (Tabung selama pemanasan tabung reaksi dipegang horizontal).

Dalam tabung reaksi yang berisi 1 ml larutan asam format encer ditambahkan serbuk logam magnesium. Gas karbon monoksida yang terbentuk ditampung di atas air dan dinyalakan. larutan menjadi berwarna merah darah. Tambahkan lagi larutan ammonia 3/4 % sampai larutan bereaksi alkalis terhadap lakmus. Amati perubahan warna pada setiap tabung. 6. 3. 4. Pada tabung pertama (asam format). Kemudian ke dalam setiap tabung dimasukkan sedikit bubuk kalium permaganat. Ke dalam sebuah tabung reaksi yang berisi sedikit garam natrium asetat anhidrat.  11  b. kemudian berubah menjadi endapan besi oksida berwarna kuning coklat. Sifat ini menjadi nampak pada semua asam lemak tinggi jenuh. Pada larutan ini ditambahkan beberapa tetes larutan besi (III) klorida. Dengan menambahkan setetes asam format. cairan menjadi tidak berwarna disebabkan terjadi reaksi redoks. Pada tabung kedua (asam cuka) tidak ada perubahan warna karena tidak terjadi reaksi. Tabung . Siapkan labu dasar bulat 50ml yang dilengkapi dengan pipa pengalir gas. Masing-masing tabung diisi dengan sedikit asam formiat atau garamnya dan asam asetat atau garamnya. Larutan berwarna dipanaskan mula-mula terbentuk endapan garam basa berwarna putih. Disediakan dua tabung reaksi. larutan bereaksi asam kembali. Membedakan asam format dan asam asetat. Labu dipanaskan di atas tangas pasir. dilarutkan dengan campuran etanol asam sulfat pekat (1:1). Destilat dalam tabung kedua dinetralkan dengan hati-hati. lalu kedua tabung dipanaskan. 5. Baunya dapat dicium. Ke dalam labu dimasukkan 1 g asam format persediaan dan asam sulfat pekat sampai semua asam larut. Kemudian ke dalamnya ditambahkan larutan amonia 5% sampai larutan bereaksi alkalis. Asam semut tereduksi menjadi metanal (formaldehida) yang keluar sebagai gas.

ester ini dapat dikenal dari baunya. . terbentuk garam besi (III) asetat. 7. Larutan menjadi berwarna merah darah. Ke dalam sebuah tabung yang berisi sedikit larutan natrium asetat ditambah beberapa tetes larutan besi (II) klorida. Apabila larutan dipanaskan. mula-mula terbentuk garam basa kemudian berubah menjadi besi oksida.  12  dipanaskan dengan hati-hati. terbentuk ester etilasetat.

Ke dalam tabung lain yang berisi larutan asam oleat dalam etanol ditambahkan 5 tetes larutan brom dalam karbon disulfide. Gliserol (gliserin. Propenol (alilalkohol) dan propenol (akrolein) Kedalam sebuah labu destilasi dimasukkan berturut-turut sedikit asam oksalat anhidrida (asam oksalat bebas air) dan 5 ml gliserol spissum (kental.dan kalau di panaskan ke l. Beberapa tetes destilat dapat menghilangkan warna larutan air brom b.Terjadi pemisahan mangan oksida berwarna coklat. 3. Ke dalam tabung yang berisi destilat dimasukkan beberapa tetes asam kromat 2. POLIALKOHOL.Tabung dihangatkan.Warna brom hilang.uar ester formil oksalat dan gas karbon dioksida. Sepotong kecil logam natrium di dalam tabung reaksi diteteskan etanol sampai terbentuk natrium etanoat yang memisah. bebas air).karena itu destilat beberapa menit pertama harus di pisahkan.  13  PERCOBAAN V IKATAN TAK JENUH.karbon dioksida dan air. Asam Oleat (bedakan dengan asam elaidat) a. kemudian dilakukan uji terhadap alilalkohol : a. Asam format ikut terdestilasi. Destilat terakhir ditampung. propantiol) a. Pembentukan kristal natrium gliserolat. Ke dalam tabung yang berisi larutan asam oleat dalam etanol ditambahkan 5 tetes larutan kalium permanganat alkalis. b.Kalau di panaskan pada suhu yang tinggi terbentuk alilalkohol.Kedalam tabung yang . DAN POLIKARBOKSILAT 1. tambahkan lagi beberapa tetes etanol sampai endapan tepat larut (Etanol tidak boleh berlebih). Terbentuk ester gliserol oksalat.Terbentuk larutan enoat yang pekat.

Ke dalam larutan di atas ditambahkan 3 tetes asam sulfat pekat (95%-97%). kemudian campuran dalam tabung dididihkan di atas tangas air selama 2 menit.larutan kalium permanganate dalam asam sulfat encer. Kemudian labu dipanaskan di atas nyala api bebas. Tabung dikocok. dicuci dengan metanol. 5. lalu dikeringkan antara dua lapis kertas saring. Setelah reaksi berlangsung keluar gas karbon dioksida yang dapat dibuktikan dengan air kapur.  14  berisi larutan enoat pekat ditambahkan 1 tetes gliserol spissum. Dalam beberapa menit ke luar kristal natrium gliserolat. ester dimetil oksalat memisah sebagai jarum. Terbentuk kompleks tembaga (II) hidroksida polialkohol yang larut. larutan menjadi berwarna biru tua. Setelah beberapa lama terbentuk endapan yang lebih banyak. lalu ditanbah ammonium hidroksida pekat sampai terbentuk endapan aksamida putih. Endapan yang sudah kering dilarutkan dalam air secukupnya. Pembentukan ester dimetil oksalat dan oksamida Sedikit asam oksalat anhidrat dimasukkan ke dalam tabung reaksi. kemudian dilarutkan dengan kurag lebih 3mL metanol absolute. Setelah dingin (kurang lebih 1 menit kemudian). Endapan disaring. 4.lalu tabung dikocok. Kompleks tembaga (II) hidroksida polialkohol Ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan encer gliserol ditambahkan beberapa tetes larutan tembaga sulfat dan larutan natrium hidroksida. b. .jarum putih. Oksida asam oksalat dengan kalium permanganate dalam suasana asam Ke dalam sebuah labu dasar bulat yang telah dilengkapi dengan pipa penyalur gas dimasukkan berturut-turut sedikit asam oksalat.

  15  PERCOBAAN VI ASAM HIDROKSI. Pembentukan gas karbon dioksida dan karbon monoksida Di persiapkan seperangkat labu dasar bulat yang mempunyai penyalur gas dan di hubungkan dengan sebuah botol pencuci yang berisi air barit.5 b. Pembentukan asam aseton dikarboksilat Dalam tabung reaksi sedikit asam sitrat di larutkan dalam sedikit air dan dipanaskan di atas penangas air. Ke dalam labu destilasi dimasukkan berturut-turut 5 ml asam laktat. Labu di panaskan pertama-tama keluar air kemudian menyusul campuran asam format dan etanal (asetaldehida). Terbentuk senyawa (ikatan) kompleks tembaga yang larut berwarna biru tua b. sedang gas karbon monoksida di teruskan dan di tampung di atas air dan dapat di bakar seperti pada percobaan VI. Kedalam labu di masukan 2 g asam sitrat dan 5 ml asam sulfat pekat. dan 50 ml asam sulfat 20%. Terbentuk gas karbon dioksida dan karbon monoksida. Asam Sitrat a. Kedalamnya ditambahkan larutan hangat kalium permanaganat secukupnya sehingga terbentuk mangan dioksida . Kompleks tembaga yang larut Ke dalam tabung reaksi yang telah berisi sedikit larutan asam laktat ditambahkan beberapa tetes larutan tembaga sulfat dan beberapa tetes larutan natrium hidroksida secukupnya sampai campuran bereaksi alkalis. Aldehida dapat di buktikan dengan pereaksi schiff (percobaan III) 2. Asam Laktat (Asam Susu) a. Labu di panaskan di atas penangas pasir. DAN KARBOHIDRAT 1. ASAM KETO. Tabung berisi barit mengikat gas karbon dioksida. Pembentukan asam format dan etanol Dipersiapkan seperangkat alat destilasi untuk kapasitas ± 100 ml.

Pembentukan kompleks kalsium sitrat yang larut Kedalam tabung reaksi yang telah di isi beberapa tetes larutan jenuh natrium sulfat di tambahkan satu atau dua tetes larutan kalsium klorida. Terbentuk endapan kalsium sulfat. Terbentuk kristal iodoform berwarna kuning membuktikan peda reaksi di atas telah terbentuk asam aseton dikarboksilat. Endapan dibagi dalam dua tabung: − Pada tabung pertama tambahkan larutan natrium nitrat sampai endapan terlarut (membentuk kompleks) − Pada tabung kedua tambahkan air sampai volume sama dengan tabung pertama. Endapan masih ada. Campuran di saring. Tabung dikocok. Pembentukan kalsium sitrat Kedalam tabung yang berisi larutan asam sitrat ditambahkan larutan kalsium laktat berlebih. Filtrat di reaksikan dengan larutan iodium dalam air (Larutan KI3). c. Filtrat dipanaskan. kemudian ditambahkan larutan natrium hidroksida sampai campuran bereaksi alkalis campuran disaring. perlahan-lahan mengendap kalsium sitrat. d. Senyawa ini lebih sukar larut dalam keadaan panas dari pada keadaan dingin. .  16  berwarna coklat. dan setelah beberapa lama terbentuk senyawa kalsium sitrat yang larut. Ke dalam tabung.

Hati-hati.  17  PERCOBAAN VII BENZEN DAN HASIL SUBSTITUSINYA. didalam air mengendap ke dasar. Terbentuk nitrobenzen berupa butir-butir minyak berwarna kuning. kadalam tabung diteteskan benzene murni (bebasa tiofen). Tidak timbul endapan kalium bromida. jangan ada benzene yang tumpah diluar tabung. Halogen yang terikat kepada inti benzen umumnya tidak reaktif. Beberapa tetes bromo benzen didalam tabung reaksi dengan 1 ml larutan kalium etanoat dipanaskan. b. Pada penetesan selanjutnya pemanasan lemah untuk memperoleh larutan homogeny dari asam benzene . Kalau pada percobaan diatas bromobenzen diganti dengan benzilklorida. Halogen yang terikat kepada rantai samping aromatik umumnya sangat reaktif. Kedalam ditambahkan air sampai penuh. tabung didinginkan ke dalam air. Sambil terus menerus dikocok. 4. 2. FENOL 1. Benzen Sulfonat Ke dalam tabung reaksi yang berisi 1 ml benzen diteteskan dengan hati-hati 1 ml asam sulfat berasap (mengandung 5 – 10% SO3). Benzen Ke dalam dicampurkan 1 ml benzene dan 1 ml air suling. Kalau suhu naik diatas 600C. Asam sulfat yang mulamula ditambahkan mudah larut dalam benzen. Benzene mengapung diatas air dan dapat dibakar dengan nyala berjelaga. Nitobenzen Dibuat campuran dalam tabung reaksi yang terdiri dari satu bagian berat asam nitrat dan dua bagian berat asam sulfat pekat. Kedua cairan tidak bercampur. karena ini pun dapat menyala. maka terbentuk endapan kalium klorida. Nitrobenzen berbau amandel. 3. Bromobenzen dan benzilklorida a.

campuran reaksi diteteskan perlahan ke dalam beker yang berisi barium karbonat halus (yang telah digerus). ditambahkan barium karbonat lagi. Diperoleh filtrat yang jernih. b. Destilat ditampung dalam beberapa tabung lalu dilakukan reaksi berikut : a.4 didepan sebagian diuapkan dalam kui. campuran reaksi dicampur dengan 20 ml air. Kepada beberapa mililiter destilat ditambahkan beberapa tetes air brom.  18  sulfonat. Larutan air brom pada tetes pertama hilang warnanya karena larutan masih mengandung sulfur dioksida. diperiksan keasamannya pH. Apabila netralisai belum sempurna. Setelah sebagian besar air menguap. Pereaksi larutan besi (III) klorida. Kalium fenolat yang terbentuk larut. Fenol liquefaktum dan fenolat Kedalam sebuah tabung reaksi dimasukkan 0. Campuran diasamkan dengan asam sulfat encer sampai bereaksi asam. mengandung garam barium sulfonat. Kemudian kui dipanaskan perlahan sampai campuran melebur/meleleh. Setelah dingin.5 gram fenol dan 1 ml air. Periksa dengan lakmus. Fenol Filtrat yang mengandung barium benzene sulfonat pada percobaan VII.4. 6. Terbentuk 2 lapisan : satu lapisan fenol mengandung air (fenolum lequefaktum) dan satu lapisan lain satu larutan fenol dalm air. campuran dimasak. Setelah campuran dingin kembali. Setelah semua campuran reaksi bercampur dengan barium karbonat.6 tribromfenol. 5. Setelah campuran bereaksi netral. lalu disaring atau disentrifugasi. Terbentuk endapan 2. kedalam kui ditambahkan 15 butir pellet kalium hidroksida dan diaduk semua bercampur sempurna. Kemudian . Labu dipanaskan sampai fenol terdestilasi bersam uap air. kemudian dipindahkan kedalam labu destilasi. Beberapa tetes destilat dalam tabung dengan satu tetes larutan besi (III) klorida member warna ungu disebabkan ikatan fenol.

Campuran dikocok. Terbentuk suatu larutan jernih natrium fenolat. Krista kuinhidron berlarut dan terbentuk kuinon. Resorsinol (resorsin. Fenol bermartabat dua a. iv. terjadi oksidasi hdrokuinon menjadi kuinon yang berwarna kuning dan bau yang menyengat. Logam perak memisah (sifat reduksi dari hidrokuinon). Terbentuk natrium hidrogenkarbonat yang larut dalm air.  19  campuran dalam tabung dikocok dengan tetes larutan natrium hidroksida. Sedikit larutan hidrokuinon pada lempeng tetes ditambahkan 1 – 2 tetes larutan perak nitrat. dan memisah fenol dan air menjadi keruh. Kedalam tabung reaksi yang berisi 10 tetes larutan hidrokuinon ditambahkan setetes larutan besi (III) klorida. iii.C6H4O2) berwarna hijau gelap. Pada penambah larutan besi (III) klorida berlebih. . membentuk warna ungu. Kedalam larutan natrium fenolat dialirkan gas karbondioksida. Beberapa tetes larutan hdrokuinon dalam tabung reaksi dicampur dengan beberap tetes larutan besi (III) klorida. maka mula-mula akan timbul Kristal kuinhidron (C6H4(OH)2. Larutan resorsinol dalam lempeng tetes dengan setetes larutan besi (III) klorida. b. ii. Larutan hidrokuinon kalau dibuat alkalis berubah menjadi coklat karena oksidasi udara. Bandingkan dengan 5c. 7.3 – dihidroksibenzen atau m – dihdroksibenzen) i.4 – dihidroksibenzen atau p – dihidroksibnenzen) i. ii. Larutan resorsinol dalam lempeng tetes dengan beberapa etes air brom memberikan endapan tribromoresorsinol. 1. Hidrokuinon (1.

ii.3 – trihidroksibenzen) i. Pirogalol (1. . Memisah logam perak. Fenol bermartabat tiga a. Setets larutan pirogalol diatas lempeng tetes diberikan setetes larutan perak nitrat.  20  8. Setets larutan pirogalol diatas lempeng tetes diberikan setetes larutan perak nitrat. Memisah logam perak.2.

Kristal ini dapat disublimasi. 10 tetes larutan benzaldehida pekat . Labu dipanaskan sedikit. Campurkan masing-masing 1 ml larutan Fehling I dan Fehling II . Terbentuk segera cermin perak di dinding tabung. Ke dalam sebuah tabung reaksi yang baru (belum pernah dipakai) dimasukkan beberapa tetes larutan perak beramoniak. e. Ke dalam tabung pertama dimasukkan 2 tetes larutan benzaldehida dan kedalam tabung kedua 2 tetes larutan glukosa. c. Kemudian ke dalam tabung dimasukkan berturut-turut 1 tetes benzaldehida dan tiga tetes larutan natriun hidroksida encer. Terbentuk . b. Reaksi Cannizaro Ke dalam tabung yang berisi 1 ml larutan kalium hidroksida alkohol dimasukkan 3 tetes larutan benzaldehida pekat. maka memisah perlahan sedikit benzoaseton yang berwarna kuning. kemudian campuran dibagi sama banyak kedalam 2 tabung reaksi. KETON DAN ASAM KARBOKSILAT AROMATIK 1. Kemudian didinginkan. Nyala api dibesarkan. Masing-masing tabung dipanaskan. Benzaldehida a. Setelah kira-kira setengah jam dipanaskan tebentuk Kristal-kristal putih. Tabung dikocok. Pada tabung pertama tidak terjadi perubahan sedangkan pada tabung kedua terjadi perubahan (reduksi). Dibenzolaseton Ke dalam sebuah labu dimasukkan 10 tetes aseton. masak campuran Selama 30 menit. 10 ml air. dan 2 tetes larutan natrium hidroksida encer. 5 ml etanol.  21  PERCOBAAN VIII ALDEHIDA . Reaksi Benzoat Setetes larutan pekat benzaldehida di atas gelas arloji dioksidasi hingga terbentuk asam benzoat. Terbentuk benzilalkohol dan garam kalsium benzoat (mengendap) d.

Asam Salisilat a. Kedalam campuran reasi ditambahkan beberapa tetes air sampai semua amonium klorida larut sedang benzamida tetap tinggal sebagai endapan putih. Perbedaan fenol dan asam salisilat Buat larutan asam salisilat dan larutan fenol dalam etanol. Asam Benzoat a. ii. Kepada sedikit endapan sisa dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa asam hidroklorida pekat.  22  endapan dibenzoaseton. Reaksi warna dengan larutan besi (III) klorida Setetes asam salisilat di atas lempeng tetes direaksikan dengan 1 tetes larutan besi (III) klorida. 3. Terbentuk senyawa molekuler dibenzoaseton sukar larut. Terjadi reaksi yang hebat dan terbentuk endapan putih benzamida dan garam amonium klorida. Terbentuk warna ungu yang disebabkan gugus fenol. Satu tetes masing-masing larutan dimasukkan dalam dua lubang lempeng tetes. b. lalu dicampur dengan 2-3 tetes asam sulfat pekat. Percobaan ini harus dilakukan di lemari asam. 2. Terbentuk warna merah. setelah disaring dikeringkan diatas kertas saring dan dilakukan percobaan sebagai berikut: i. Benzamida Setetes benzoilklorida ditambahkan ke dalam tabung yang berisi 3 tetes ammonia pekat. b. Tercium bau etilbenzoat. Seluruh isi tabung dituang ke tabung lain yang berisi air. Sedikit endapan di atas lempeng tetes ditetesi asam sulfat pekat. Ke dalam larutan asam salisilat dalam etanol ditambahkan 1 tetes . Tabung dipanaskan sebentar. Endapan . Ester etilbenzoat Didalam sebuah tabung reaksi dilarutkan beberpa milligram asam benzoat dalam beberapa tetes etanol.

4. Retort dipanaskan mula-mula di atas tangas pasir 1400C sehingga air air keluar.4-trihidroksi benzoate) a. Memisah logam perak. 4. maka terbentuk warna ungu. Lalu tabung dipanaskan. Adapter dicelupkan kedalam tabung berisi air kapur. c. dibebaskan gas karbondioksida dan terbentuk pirogalol yang terdestilasi ( biasanya tertahan pada ujung adapter). . Ke dalam larutan di atas ditambahkan 3 tetes asam sulfat pekat. e.6-tribromofenol dan gas karbondioksida dikeluarkan. Asam Galat (Gallic acid. Terbentuk 2. Kemudian api diperbesar sehingga asam galat meleleh (225-250 oC). Ke dalam larutan fenol dalam etanol juga ditambahkan 1 tetes larutan besi (III) klorida. dan air cucian dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu dilakuakan reaksi sebagai berikut: i. tidak terjadi peribahan warna. Tercium bau gandapura. Tribromofenol Beberapa tetes larutan asam salisilat dalam tabung direaksikan dengan beberapa tetes air brom. Garam barium salisilat basa Ke dalam tabung yang berisi beberapa tetes larutan jenuh asam salisilat yang masih hangat ditambahkan beberapa tetes larutan jenuh barium hidroksida dampai larutan bereaksi alkalis (periksa dengan kertas lakmus). Metilsalisilat (minyak gandapura) Beberapa milligram asam salisilat dalam tabung reaksi dilarutkan dalam sedikit metanol. dimasukkan asam galat. Kemudian isi tabung di tuang ke beaker glass yang telah berisi air. Pembentukan pirolalol Kedalam sebuah retort yang dilengkapi dengan penampung (adapter).4. Adapter dicuci . Asam 3. d. Setelah beberapa detik mengendap garam barium salisilat basa. Kepada beberapa tetes larutan perak beramoniak beberapa tetes larutan pirogalol.  23  larutan besi (III) klorida.

b. Campuran dikocok. dikocoh beberapa detik atau dialiri udara dari compressor. Campuran reaksi dengan sangat hati-hati dituang ke dalam beaker kecil yang berisi sedikit air. Mula-mula terbentuk larutan berwarna merah (ion bermartabat dua). maka . Ftalat anhidrida Beberapa milligram asam ftalat dimasukkan di dalam gelas arloji. Apabila penambahan asam diteruskan. i. Satu milliliter larutan asam galat di dalam tabung reaksi terbuka. terbentuk ion fenoftalein bermuatan negatif tiga. Fenoftalein Beberapa milligram fenol dan ftalat anhidrida dicampur dalam tabung. Cairan menjadi tidak berwarna. ii. Kepada larutan di atas dengan hati-hati ditambahkan larutan asam klorida encer. Terbentuk warna biru hitam. 5.  24  ii. Gelas arloji dipanaskan perlahan . Setetes larutan pirogalol di atas lempeng tetes direaksikan dengan 1 tetes larutan besi (III) sulfat. Warna larutan berubah menjadi cokelat disebabkan reaksi oksidasi. lalu ditambahkan 3 tetes asam sulfat pekat. kemudian larutan dibuat alkalis dengan larutan natrium hisroksida. d. Ion perak tereduksi. Terbentuk campuran berwarna jingga. lalu di tutup dengan kertas saring diperforasi (berlubang-lubang). Campuran dipanaskan. Terbebtuk larutan berwarna merah ungu menunjukkan ion fenoftalein bermuatan negatif dua. terbentuk warna biru hitam. b. Beberapa tetes larutan fenoftalein alkalis(merah ungu) dibasakan lagi dengan larutan natriumhidroksida pekat. dan menyublim ftalat anhidrida. Asam Ftalat (pthalatic acid) a. c. Satu tetes larutan asam galat di atas pelat tetes direaksikan dengan 1 tetes larutan besi (III) klorida. Beberapa tetes larutan asam galat di dalam tabung reaksi direaksikan dengan beberapa tetes larutan perah beramoniak.

i. c. Terbentuk tetrabromofluoresceinat. lalu ditambah dua tetes asam sulfat pekat. lalu dikocok kuat-kuat. dan terbentuk larutan berfluoresensi hijau merah. Fluoresein (Fluoroscein) Didalam tabung dicampur beberapa milligram ftalat anhidrida dan resorsinol. . Ke dalam larutan larutan asam diambahkan beberapa tetes air brom berlebih . Memisah fluorescein sebagai padatan yang berwarna kuning.  25  terbentuk larutan yang tidak berwarna (terbentuk molekul fenoftalein yang tidak terionisasi). Tabung dipanaskan dengan hati-hati campuran dituang ke beaker glass kecil berisi air sedikit. Tertabromofluoreseinat Beberapa tetes larutan natrium fluoroscein di dalam tabung direaksikan dengan beberapa tetes larutan asam klorida sampai larutan suasana asam. Padatan yang berwarna kuning dilarutkan dalam larutan natriun hidroksida encer.

Dragendorff. Beberapa pereaksi alkaloid dicantumkan pada table berikut ini: Nama Bouchardat Dragendorff Ecolle Gold chloride Hager krautssss Marme Mayer Platinum chloride Senyawa Iodine-potassium iodide Bismuth potassium iodide Silicontungstic acid Chororauric acid Picric acid Iodine-zinc chloroiodide Cadmium potassium iodide Potassium mercuric iodide Chloroplatinic acid . Seperti pereaksi Wagner. Hal ini biasanya sukar untuk mengikuti aturan umum kelarutan untuk kelas zat penyusun tumbuhan karena di sini biasanya zat yang ada dalam tumbuhan keras dipengaruhi oleh kelarutan.1%. dan Scheibler. Selanjutnya residu harus selalu diperiksa dengan bermacam-macam pelarut untuk ditentukan apakah terjadi fenomena kelarutan yang tidak normal.  26  PERCOBAAN IX UJI FITOKIMIA TUMBUHAN Pendahuluan Metoda yang digunakan dalam fitokimia haruslah (a) sederhana (b) cepat (c) menggunakan peralatan yang sedikit dan (d) selektif untuk kelas dari senyawaan yang akan dipelajari.001% sampai 0. yang edektif dalam mendeteksi banyak jenis alkaloid pada konsentrasi dari 0. Ada 20 pereaksi pengendapan yang telah didaftarkan dan mereka memiliki spesifikasi dan kepekaan. Salah satu dari pertimbangan yang pokok dan paling utama di dalam merancang suatu prosedur screening fitokimia adalah persiapan bahan pelarut yang sesuai. endapan alkaloidal dan semprotan atau pereaksi celup. Deteksi Senyawa Alkaloid Ada dua tipe pereaksi yang tersedia.

. Bila buih yang dihasilkan pada percobaan ini sedikit. 2-4 garam tanaman segar ditaruh didalam mortar lalu ditambahkan dengan kloroform lalu campuran diaduk selama 1 menit. yang dapat bertahan selama beberpa menit. Ini tidak dapat digunakan untuk membedakan antara steroidal dan triterpenoid.  27  Scheibler Sonnenschein Valser Wagner Phosphotungstic acid Ammoniun phosphomolybdate Potassium merciruc iodide Iodine-potassium iodide Bismuth antimony iodide Bromauric acid Bromoplatinic acid Bromothallic acid Picrolonic acid Sodium tatraphenylboron Trinitroresolcinol Tes Tabung. asam pada tumbuhan. Adanya buih seperti sarang lebah selama 30 menit setelah pengocokkan tersebut membuktikan adanya saponin. Beberapa tetes ekstrak asam ini diuji dengan pereaksi Mayer dan pereaksi lain yang memungkinkan untuk alkaloid. Dasaring dengan corong pisah. bias disebabkan karena protein. (b) dalam media air mereka akan menghasilkan buih seperti sarang lebah selama 30 menit selama pengocokkan larutan dan (c) mereka menghasilkan ciri reaksi warna pada uji Liebermann-Burchard. Ekstraksi alkaloidnya dari kloroform dengan cara mengocok larutan dan ditambahkan 0. atau konsentrasi saponin yang cukup rendah. Mendeteksi Saponin Saponin memiliki beberapa karakteristik yang dapat digunakan sebagai dasar untuk uji yang sederhana. Spot Tes Culvenor dan Fitzgerald pernah menguraikan peralatan yang sederhana dapat diletakkan di lapangan untuk digunakan dalam menguji sample dalam material tumbuhan untuk alkaloid. (a) mereka mampu untuk digunakan dalam hemolisis sel darah merah.5 ml asam sulfat 2N dab lapisan asamnya dipisahkan.

dan politerpenoid. Materi yang diperoleh adalah triturated dengan eter. Ekstrak diuapkan dan residu diuji dengan uji Liebermann-Burchard. Bagaimana cara membedakan antara streroid dengan triterpenoid dengan pereaksi LB dan tentukan mekanisme reaksi yang terjadi! 7. Bagaimana cara membuat pereaksi untuk mendeteksi alkaloida? 5.  28  Uji Liebermann-Burchard bias digunakan untuk menguji adanya steroidal dan tritepenoid. Jika uji ini positif. Bila berwarna merah. Jelaskan dua tipe pereaksi yang digunakan! 4. merah muda atau ungu berarti merupakan triterpenoid. Apakah uji LB dapat digunakan untuk terpenoid seperti monoterpenoid. pembentukkan endapan menandakan adanya saponin. eter yang tidak larut dalam air dihidrolisis dengan HCl encer 2N. Jelaskan dengan singkat! 2. Prosedur berikut telah digunakan untuk mendeteksi saponin dan/atau triterpenoid bebesa atau streroid: 5-20 g sample direaksikan dengan etanol mendidih dan saring ekstraknya sampai kering. namun bila warna yang dihasilkan hijau atau biri maka merupakan steroid. Bagaimana cara mendeteksi saponin dalam tumbuhan! . Uji Liebermann-Burchard Sejumlah kecil materi yang akan diuji ditempatkan pada sebuah temapt dan ditetesi dengan asam asetat anhidrat dan diaduk dengan batang pengaduk. Tentukan mekanisme reaksi terpenoid dan pereaksi LB! 3. Residunya dibuihkan dengan uji LiebermannBurchard. sesquiterpenoid. Bagainama cara menentukan alkaloid dari tumbuhan. Sebutkan macam-macam alkaloid yang banya terdapat pada tumbuhan! 6. Ditambahkan beberapa tetes asam sulfat dan lihat perubahan warna yang terjadi. Pertanyaan 1.

A. F. B. and Wilcox. R. M. New Jersey. P. Smith.. John Wiley and Sons. Experimental Organic Chemistry.. Vogel’s Textbook Of Practical Organic Chemistry. Englewood Cliffs. Prentice-Hall. Furniss. F. New York. G. Hannaford... S. 1989. A Small-Scale Approach.  29  DAFTAR PUSTAKA Brian S. A. Longman Scientific And Technical. C. 2nd edition. W... 1995. Tatchell.. J. 5th edition. Wilcox. Jr. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful