3. Dimensi Kesusilaan Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi.

Akan tetapi, di dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat yang pantas jika di dalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung. Karena itu maka pengertian susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih. Dalam bahasa ilmiah sering digunakan dua macam istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). Kedua hal tersebut biasanya dikaitkan dengan persoalan hak dan kewajiban seperti telah disinggung pada A.2 d. orang yang berbuat jahat berarti melanggar hak orang lain dan dikatakan tidak beretika atau tidak bermoral. Sedangkan tidak sopan diartikan sebagai tidak beretiket. Jika etika dilanggar ada orang lain yang merasa dirugikan, sedangkan pelanggaran etiket hanya mengakibatkan ketidaksengajaan orang lain. Sehubungan dengan hal tersebut ada dua pendapat, yaitu : a. Golongan yang menganggap bahwa kesusilaan mencakup kedua-duanya. Etiket tidak usah dibedakan dari etika karena sama-sama dibutuhkan dalam kehidupan. Kedua-duanya bertalian erat. b. Golongan yang memandang bahwa etika perlu dibedakan dari etika, karena masingmasing mengandung kondisi yang tidak selamanya selalu sejalan. Orang yang sopan belum tentu baik, dalam arti tidak merugikan orang lain. Sebaliknya orang yang baik belum tentu halus dalam hal kesopanan. Kesopanan menjadi minyak pelincir dalam pergaulan hidup, sedang etika merupakan isinya. Kesopanan dan kebaikan masing-masing diperlukan demi keberhasilan hidup dalam bermasyarakat. Di dalam uraian ini kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia itu adalah makhluk susila. Drijakara mengartikan manusia susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan melaksanakan nilainilai tersebut dalam perbuatan. (Drijarkara, 1978 : 36-39). Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia kaerna mengandung makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan sebagainya, sheingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup. Dilihat asalnya dari mana nilai-nilai itu diproduk dibedakan atas tiga

namun keduanya harus bertumpu pada nilai theonom. Antara keduanya terdapat jarak yang perlu dijembatani. baru sampai kepada melakukannya. juga memiliki wawasan keilmuan yang cukup luas. Dalam praktek kehidupan sehari-hari banyak orang memahami nilai bahkan mungkin mengetahui banyak hal. nilai heteronom yang bersifat kolektif (kebaikan menurut kelompok). Lazimnya penilaian masyarakat terhadap kualitas kesusilaan seseorang tertuju kepada apa yang dibuatnya dan tidak semata-mata pada apa yang diniatkannya. karena memahami adalah kemampuan penalaran (kognitif). Sering niat baik sudah menggebu-gebu tetapi tidak sampai berkelanjutan pada perbuatan. dan memahami nilai-nilai. yaitu kesadaran dan pemahaman terhadap nilai dan kesanggupan melaksanakan nilai. Meskipun nilai otonom dan heteronom itu diperlukan. karena orang atau masyarakat hidup lekat dengan lingkungan tertentu yang memiliki sikon berbeda-beda. dan nilai keagamaan yaitu nilai yang berasal dari Tuhan. Dan apabila nilai sudah dipahami semestinya dilakukan. Artinya untuk dapat melakukan apa yang semestinya harus dilakukan. sedangkan bersedia melaksanakan adalah sikap (kemampuan afektif). yang masing-masing memiliki kondisi yang bereda. tetapi ternyata kurang atau tidak susila. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. untuk berikutnya menuju ke penginternalisasian (penyaturagaan) nilai-nilai kemudiam kemauan atau kesediaan untuk melaksanakan nilai-nilai. Pemahaman dan Pelaksanaan Nilai Selanjutnya. Dari memahami perlu meyakini. Jangankan antara memahami dan meaksanakan yang rentangannya begitu jauh. Kejadian seperti itu sangat wajar. sehingga niat buruk yang belum terlakukan (jika diketahui) sering masih dimaafkan. Tuhan adalah alpha dan omega (pemula dan tujuan akhir). tidak secara otomatis orang yang telah memahami nilai pasti melaksanakannya. Idealnya keduanya harus sinkron. yaitu : nilai otonom yang bersifat individual (kebaikan menurut pendapat seseorang). Yang terakhir ini merupakan sumber dari segenap nilai yang lain. Jadi. . terlebih dahulu orang harus mengetahui. antara niat (kesediaan untuk melaksanakan) dengan perbuatan (melaksanakan) yang rentangnya begitu dekat saja masih sering terjadi kesenjangan. menyadari.macam. dalam kenyataan hidup ada dua hal yang muncul dari persoalan nilai.

berkesinambungan.Berdasarkan uraian tersebut maka pendidikan kesusilaan meliputi rentangan yang luas penggarapannya. Dimensi Keberagaman Pada hakikatnya mausia adalah makhluk religius. Manusia . berlaku hukum “saya akan memberikan lebih daripada yang saya terima”. Sejak dahulu kala. mulai dari ranah kognitif yaitu dari mengetahui sampai kepada menginternalisasi nilai sam. Pada masyarakat kita. Konsekuensinya adalah sering memakan waktu panjang dalam pemrosesannya. pemahaman terhadap hak (secara objektif rasional) masih perlu ditanamkan tanpa mengabaikan kesadaran dan kesediaan melaksanakan kewajiban. Hal ini penting. meniati sampai kepada siap sedia untuk melakukan. Adanya pertimbangan yang selaras antara melaksanakan kewajiban dengan tuntutan terhadap hak (to give and to take) di dalam kehidupan menggambarkan kesusilaan yang sehat. sebelum manusia mengenal agama mereka telah percaya bahwa di luar alam yang dapat dijangkau dengan perantara alat indranya. Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandaran vertical manusia. Implikasi pedagogisnya ialah bahwa pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan kesediaan melakukan kewajiban di samping menerima hak pada peserta didik. dan memerlukan kesabaran serta ketekukan dari pihgak pendidik. tekanannya seharusnya diletakkan pada ranah afektif. Kemudian setelah ada agama maka manusia mulai menganutnya. sebab kepincangan antara keduanya bagaimanapun juga akan mengganggu suasana hidup yang sehat. dan memberikan korban-korban. Di dalam dunia pendidikan yang intinya adaah pelayanan. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut dicptakanlah mitos-mitos.pai kepada ranah afektif dari meyakini. menyediakan sesajen-sesajen. diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. 4. Meskipun demikian. Di muka telah disinggung dan hak. Sikap dan kebiasaan yang membudaya pada nenek moyang kita seperti itu dipandang sebagai embrio dari kehidupan manusia dalam beragama. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya. Misalnya untuk meminta sesuatu dari kekuatan-kekuatan tersebut dilakukan bermacam-macam upacara.

Kegitan di dalam pendidikan non-formal dan informal dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut. Dari kondisi “potensi” menjadi wujud aktualisasi terdapat rentangan proses yang mengundang pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya. Hal. 134 butir a.dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama. Pendapat Kohnstamm ini mengandung kebenaran dilihat dari segi kualitas hubungan antara pendidik dengan peserta didik. Manusia lahir telah dikaruniai dimensi hakikat manusia tetapi masih dalam wujud potensi. meskipun masih terbatas pada latihan kebiasaan (habit formation). Pesan-pesan agama harus tersalur dari hati ke hati. Pemerintah dengan berlandaskan pada GBHN memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum di sekolah mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi (Pelita V). Di sini pendidikan agama yang diberikan secara masal kurang sesuai (M. Kiranya tidak cukup jika pendidikan agama hanya ditempuh melalui pendidikan formal. Terpancar dari ketulusan serta kesungguhan hati orang tua dan menembus ke anak. di sini perlu ditekankan bahwa meskipun pengkajian agama melalui mata pelajaran agama ditingkatkan. 1972: 1415). Untuk itu pengkajian agama secara masal dapat dimanfaatkan misalnya pendidikan agama di sekolah. Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia Seperti telah berulangkali dikatakan. Ph. Kohnstamm berpendapat bahwa pendidikan agama seogianya menjadi tugas orang tua dalam lingkungan keluarga. Seseorang yang dilahirkan . Dalam hal ini orang tualah yang paling cocok sebagai pendidik karena ada hubungan darah dengan anak. namun tetap harus disadari bahwa pendidikan agama bukan semata-mata pelajaran agama hanya memberikan pengetahuan tentang agama. Jadi segisegi afektif harus diutamakan. karena pendidikan agama adalah persoalan afektif dan kata hati. 1). C. juga penanaman sikap dan kebiasaan dalam beragama dimulai sedini mungkin. Tetapi untuk pengembangan pengkajian lebih lanjut tentunya tidak dapat diserahkan hanya kepada orang tua. Di samping itu. belum teraktualisasi menjadi wujud kenyataan atau “aktualisasi”. Thayeb. sasaran pendidikan adalah manusia sehingga dengan sendirinya pengembangan dimensi hakikat manusia menjadi tugas pendidikan. Di samping itu mengembangkan kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa perlu mendapat perhatian (GBHN.

Optimisme ini timbul berkat pengaurh perkembangan iptek yang sangat pesat yang memberikan dampak kepada peningkatan perekaysaaan pendidikan melalui teknologi pendidikan. Jika seandainya manusia dapat hidup hanya dengan naluri maka tidak bedanya ia dengan hewan. Dari Wujud Dimensinya Keutuhan terjadi antara aspek jasmani dan rohani. Meskipun pendidikan itu pada dasarnya baik tetapi dalam pelaksanaannya mungkin saja bisa terjadi kesalahan-kesalahan yang laazimnya disebut salah didik. yaitu : 1. Meskipun diakui bahwa nilai manusia akhirnya ditentukan oleh kualitas berkembangnya aspek . Pengembangan aspek jasmaniah dan rohaniah dikatakan utuh jika keduanya mendapat pelayanan secara seimbang. antara aspek kognitif. memerlukan pendidikan untuk diproses menjadi seniman terkenal.dengan bakat seni misalnya. Hanya melalui pendidikan status hewani itu dapat diubah ke arah status manusiawi. dan 2. dan psikomotor. Hal demikian bisa terjadi karena pendidik itu adalah manusia biasa. Sehubungan dengan itu ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. afektif. Pengembangan yang Utuh Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua factor. Namun demikian kualitas dari hasil akhir pendidikan sebenarnya harus dipulangkan kemballi kepada peserta didik itu sendiri sebagai subjek sasaran pendidikan. seks. mempertahankan diri. dan keberagaman. Pengembangan yang utuh. a. yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidkan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya. kesusilaan. kesosialan. antara dimensi keindividualan. Selanjutnya pengembangna yang utuh dapat dilihat dari berbagai segi. Pengembangan yang tidak utuh 1. yaitu : wujud dimensi dan arahnya. Setiap manusia lahir dikaruniai “naluri” yaitu dorongan-dorongan yang alami (dorongan makan. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang sanggup menghantar subjek didik menjadi seperti dirinya sendiri selaku anggota masyarakat. Meskipun ada tendensi pandangan modern yang lebih cenderung memberikan tekanan lebih pada pengaurh factor lingkungan. yang tidak luput dari kelemahankelemahan. dan lain-lain).

Pengembangan domain kognitif. Keempat dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pengutamaan domain kognitif dengan mengabaikan pengembangan domain afektif. Segi positif yang ada ditingkatkan dan yang negatif dihambat. Pengembangan yang sehat terhadap dimensi kesosialan yang lazim disebut pengembangan horizontal membuka peluang terhadap ditingkatkannya hubungan sosial di antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungan fisik yang berarti memelihara kelestarian lingkungan di samping mengeksploaitasinya. kreatif. Karena gangguan fisik dapat berdampak pada kesmepurnaan perkembangan rohaniah. Pengembangan dimensi keindividualan. Dalam hal ini pengembangan dimensi keberagaman menjadi tumpuan dari ketiga dimensi yang disebut terdahulu. dinamis. Dari Arah Pengembangan Keutuhan pengembangan dimensi hakikat manusia dapat diarahkan kepada pengembangan dimensi keindividualan. ksosialan. terlalu memandang bagaimana kondisi fisiknya. kesusilaan. dan keberagaman secara terpadu. kesusilaan. dan psikomtor dikatakan utuh jika ketiga-tiganya mendapat pelayanan yang berimbang. aspek fisik tidak boleh diabaikan. berpendiann teguh. misalnya seperti yang terjadi pada kebanyakan sistem persekolahan dewasa ini hanya akan menciptakan orang-orang pintar yang tidak berwatak. tidak terjadi pengabaian terhadap salah satunya. bertenggang rasa. dan keberagaman dikatakan utuh jika semua dimensi tersebut mendapat layanan dengan baik. Pengembangan yang berarah konsentris ini bermakna memperbaiki diri atau meningkatkan martabat aku yang sekaligus juga membuka jalan ke arah bertemunya suatu pribadi dengan pribadi yang lain secara selaras tanpa mengganggu otonomi masing-masing. afektif. Pengembangan dimensi keindividualan serempak dengan . berwawasan luas. Jika dianalisis satu persatu gambarannya sebagai berikut : pengembangan yang sehat terhadap dimensi keindividualan memberi peluang pada seseorang untuk mengadakan eksplorasi terhadap potensi-potensi yang ada pada dirinya. baik kelebihannya maupun kekurangannya.rohaniahnya seperti pandai. b. namun demi keutuhan pengembangan. kesosialan.

Yang dimaksud adalah arah pengembangan dari jenjang yang rendah ke jenjang yang lebih tinggi. memahami. afektif. 2. Sebagai contoh pengembangan domain kognitif dari kemampuan mengetahui. kesosialan dan kesusilaan.kesosialan berarti membangun terwujudnya hakikat manusia sebagai makhluk monodualis. Perkembangan dimaksud mencakup yang bersifat horizontal (yang menciptakan keseimbangan) dan yang bersifat vertical (yang menciptakan ketinggian martabat manusia). Bukankah tidak adanya kesusilaan akan memisahkan hubungan antarmanusia? Pengembangan yang sehat terhadap dimensi keberagaman akan memberikan landasan dari arah pengembangan dimensi keindividualan. . Pengembangan yang berarah vertical ini penting. dan setersunya sampai kepada kemampuan mengevaluasi. Dengan demikian secara totalitas membentuk manusia yang utuh. Demikian pula secara vertical ada domain tingkah laku yang terabaikan penanganannya. Pengembangan ini disebut pengembangan vertical. Pengembangan domain kognitif. Hal ini menjadi jelas jika terjadi keadaan yang sebaliknya. misalnya dimensi kesosialan di dominasi oleh pengembangan dimensi keindividualan ataupun domain afektif didominasi oleh pengembangan domain kognitif. demi ketinggian martabat manusia sebagai makhluk. dan psikomotor di samping keselarasannya (perimbangan antara ketiganya) juga perlu diperhatikan arahnya. Pengembangan yang Tidak Utuh Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangani. Pengembangan yang sehat dari dimensi kesusilaan akan menopang pengembangan dan pertemuan dimensi keindividualan dan kesosialan. Dapat dsimpulkan bahwa pengembangan dimensi hakikat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan terpadu terhadap dimensi hakikat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selasar.

dan keseimbangan antara keduanya sekaligus batiniah. keserasian. kesehatan ataupun kepuasan batiniah seperti pendidikan. hlm. 24. Sosok Manusia Indonesia Seutuhnya Pengertian manusia utuh sudah digambarkan pada butir C.Pengembambangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantap. melainkan keselarasan. bukan hanya untuk golongan atau sebagian dari masyarakat. antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Hal ini berarti bahwa pembangunan itu tidak hanya mengejak kemajuan lahiriah. atau ras keadilan. Selanjutnya juga diartikan sebagai keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. dan juga keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dengan kebahagiaan di akhirat. sandang. rasa aman. keserasian hubungan antara bangsa-bangsa. bebas mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab. perumahan. Sosok manusia Indonesia seutuhnya telah dirumuskan di dalam GBHN mengenai arah pembangunan jangka panjang. seperti pangan.1. . Selanjutnya juga diartikan bahwa pembangunan itu merata di seluruh tanah air. Pengembangan semacam ini merupakan pengembangan yang patologis. D. antara sesama manusia. Dinyatkan bahwa pembangunan nasional dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.