Ciri-Ciri Golongan Muttaqin (1

)
Ayat berikutnya menerangkan sifat-sifat dan karakter orang-orang muttaqin, yaitu sifat kaum mu'minin terdahulu di Madinah, yang merupakan sifat-sifat tulus orang-orang beriman dari ummat ini pada setiap masa.

َ ُِ ْ ُ َ ِ ّ َ َ ُ ِ ْ ُ ْ ُ َْ َ َ ّ ِ َ َ َ ّ َ ُ ِ َُ ِ ْ َ ْ ِ َ ُِ ْ ُ َ ِ ّ ‫الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلة ومما رزقناهم ينفقون﴿٣﴾والذين يؤمنون‬ َ ُ ِ ُ ْ ُ ِ َ ِ ْ ِ َ َ ِْ َ ْ ِ َ ِ ْ ُ َ َ َ ْ َِ َ ِ ْ ُ َ ِ ‫بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك وبالخرة هم يوقنون‬
”(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(4)dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. Al-Baqarah: 3-4) Ciri pertama bagi orang-orang muttaqin ialah kesatuan perasaan yang positif dan aktif. Suatu kesatuan yang menghimpun di dalam jiwa mereka iman kepada yang ghaib dengan menunaikan kewajban, iman kepada rasul secara keseluruhan, dan sesudah itu yakin akan adanya kehidupan akhirat. Inilah kelengkapan yang menjadi ciri khas aqidah Islam, menjadi ciri khas jiwa yang beriman dengan aqidah ini, yang layak menjadi aqidah terakhir untuk diterima oleh semua manusia, dan untuk menjaga kemanusiaan seluruhnya, agar manusia dapat hidup dibawah naungannya dengan segenap perasaannya dan manhaj (sistem) hidupnya secara sempurna, mencakup perasaan dan amal, iman serta peraturan. Kalau kita rinci ciri pertama orang yang taqa ini sesuai masing-masing kata yang menjadi bahan bentukannya, maka terungkaplah bagi kita betapa kata-kata ini mengandung nilai yang asasi bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.

ِ ْ َ ْ ِ َ ُِ ْ ُ َ ِ ّ ‫الذين يؤمنون بالغيب‬
Mereka yang beriman kepada yang ghaib. Maka tidak ada yang dapat menghalangi perasaannya untuk mengadakan hubungan antara ruh mereka dan kekuatan Terbesar yang menjadi sumbernya, dan menjadi sumber alam semesta ini. Tidak ada yang menghalangi antara ruhnya dan apa yang ada dibalik sesuatu yang dirasakan ini yang berupa hakikat-hakikat, kekuatan-kekuatan, potensipotensi, ciptaan-ciptaan dan semesta yang maujud. Iman kepada yang ghaib merupakan palang pintu yang dilewati oleh manusia, melewati tingkat binatang yang hanya mengerti apa yang dicapai panca inderanya saja, menuju martabat manusia yang mengerti bahwa yang ada ini lebih besar dan lebih lengkap daripada bingkai kecil terbatas yang bisa dicapai panca indera itu, dimana ia hanya sebagai sarana untuk mengembangkan panca indera menuju ke alam lebih luas. Inilah suatu peralihan yang memiliki pengaruh yang besar di dalam pikiran manusia terhadap hakikat wujud semesta, hakikat wujud darinya, dan hakikat kekuatan lepas di alam

Maka. untuk bekerja dan berkarya. ia harus menyerahkan perkara ghaib kepada kekuatan lain yang bukan kekuatan akal. dan sibuk dengan sesuatu yang ia tidak diciptakan untuknya. tidak diberi kemampuan untuk meliputinya. Apabila akal manusia telah menerima aksioma pertama bahwa sesuatu yang terbatas tidak dapat mencapai sesuatu yang mutlak (tidak terbatas). dia dapat menerima kesimpulan bahwa untuk mencapai sesuatu yang mutlak itu adalah mustahil. orang yang hidup di dalam bingkai kecil yang cuma sebatas apa yang dapat dicapai panca inderanya saja. mengembangkan dan memperindah kehidupan ini. Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap kehidupannya di muka bumi. Ia diserahi kehidupan praktis yang dekat ini. . Gagal karena ia mempergunakan alat yang dciptakan untuk lapangan ini. dan menjadi asal-muasal wujudnya. bahwa tidak dapatnya dicapai sesuatu yang tak diketahui itu bukan berarti meniadakan keberadaan sesuatu yang tersembunyi di dalam keghaiban. yang ghaib dan yang nyata. serta tidak mempercayai perkara ghaib yang tidak dapat dicapai akal ini. Adapun usaha untuk memahami apa yang ada dibalik alam nyata ini dengan menggunakan akal yang terbatas kemampuannya sesuai dengan keterbatasan bumi dan kehidupan diatasnya. tanpa memiliki sandaran dari ruh yang mendapatkan ilham dan mata hati yang terbuka. Dan juga dia merasa bahwa dibalik alam yang nyata dan tidak nyata terdapat hakikat yang lebih besar dari alam semesta ini. dan merupakan ciri pertama dari sifat-sifat orang-orang muttaqin. Dan. dan gagal karena ia telah berlaku sewenang-wenang mempergunakan akal yang tidak diciptakan untuk hal-hal seperti ini. seperti ini menjadi hiasan hidup orang-orang beriman. yang menjadi sumber alam. bahwa disana ada kekuatan dan pengaturan. maka usaha ini pertama mengalami kegagalan dan akhirnya sia-sia. yaitu hakikat Dzat Ilahi yang tidak dapat dicapai oleh pandangan mata dan tidak dapat digapai oleh akal pikiran manusia. Hendaklah diperoleh ilmunya tentang hal itu dari Yang Maha Mengetahui semua yang tampak dan yang tidak tampak. melampaui batas. maka demi menghormati logika itu sendiri. tidaklah sama dengan orang yang hidup di alam besar yang dicapai dengan mata dan pandangan batinnya. Menghormati logika akal. Sesungguhnya kemampuan pikiran yang diberikan kepada manusia adalah untuk menegakkan kekhalifahan di muka bumi. Dengan demikian. dan tidak ada gunanya sama sekali kalau ia menggunakannya untuk itu. yang memperoleh gema dan isyarat-isyaratnya di dalam suara dan lubuk hatinya. Ia merasa bahwa jangkauannya lebih luas dalam masa dan tempat daripada segala sesuatu yang dicapai pikirannya dalam usianya yang terbatas. serta meninggalkan urusan ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikirannya. untuk memandangnya dan merenungkannya. dengan menggunakan potensi ruhaninya untuk berhubungan secara langsung dengan alam semesta dan Sang Maha Pencipta.semesta ini. Dengan demikian. terpeliharalah kemampuan pikiran manusia yang terbatas jangkauannya itu dari bertindak sewenang-wenang. Juga berpengaruh terhadap perasaannya kepada alam dan apa yang ada dibalik alam semesta ini.

keterpurukan adalah bagi orang-orang yang terpuruk dan terjungkal. perasaan rabbaniyah. mereka menundukkan wajahnya kepada Alalh. َ َ ّ َ ُ ِ َُ ‫ويقيمون الصلة‬ “yang mendirikan shalat”. karena itu dijadikanlah sifat khusus itu untuk mereka. Akan tetapi. Dan. َ ُِ ُ ْ ُ َْ َ َ ّ ِ َ ‫ومما رزقناهم ينفقون‬ . ِ ْ َ ْ ِ َ ُِ ْ ُ َ ِ ّ ‫الذين يؤمنون بالغيب‬ “orang-orang yang beriman kepada yang ghaib” Segala puji bagi Allah atas segala nikmatNya. yang keberadaannya tidak lain hanya untuk sesuatu yang dapat dicapai panca indera saja. Mereka menghadapkan dan mengarahkan ibadah kepada Allah yang Maha Esa saja. Hati yang bersujud kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan berhubungan dengan Zat yang Wajib Wujudnya. hal ini menjadi faktor penting dalam pembinaan kepribadian dan menjadikannya memiliki persepsi rabbaniyah. ingin mengembalikan manusia ke titik terendah. Semua ini menjadi sumber kekuatan hatinya. bukan kepada sesama hamba. tidak menyembah kepada sesama hamba dan tidak menyembah kepada materi (harta benda). golongan materialistis pada zaman sekarang ini. dan perilaku rabbaniyah yang selalu disertai dengan bimbingan rabbaniyah. Dengan demikian meningkatlah derajat mereka.Ciri-Ciri Golongan Muttaqin (2) Iman kepada yang ghaib merupakan persimpangan jalan dalam mengangkat martabat manusia dari dunia binatang. dan dia mendapatkan bagi hidupnya tujuan yang lebih tinggi daripada berkutat di dirinya lebih kuat dari makhluk lain karena ia berhubungan dengan Pencipta makhluk-makhluk ini. sebagaimana ia menjadi sumber baginya untuk menjauhi dosa dan berbuat taqwa. Dan mereka menamakannya sebagai kemajuan. padahal itu sebenarnya adalah keterpurukan yang Allah melindungi orang-orang mu'min daripadanya. sebagaimana golongan materialistis dalam setiap zaman. Mereka menghadapkan diri kepada Pemiliki kekuatan mutlak yang tak terbatas. ke dunia binatang.

Infak disini mencakup zakat dan sedekah. dan pengawal rombongan iman di muka bumi hingga akhir zaman. dan segala sesuatu yang dinafkahkan untuk kebaikan dan kebajikan. Nilai semua ini tercermin dalam pembersihan jiwanya dari penyakit bakhil dan penyuciannya dengan melakukan amal shalih. dan jiwa. lemah dan terbatas. Juga. bukan untuk bertengkar dan berperang. dan keesaan Yang Disembah. karena infak merupakan pokok yang menyeluruh. bukan diantara kuku. fanatisme yang menetang agama. kesatuan agamanya. Nilainya lagi ialah menjadikan kehidupan sebagai lapangan untuk saling menolong. timbulnya solidaritas sosialnya dengan sesama makhluk Allah. menimbulkan perasaan di dalam hati mereka bahwa mereka hidup diantara hati. kesatuan rasul-rasulnya. Nilai ialah kebersihan ruh dari fanatisme yang tercela. yang dikhususkan oleh nash-nash zakat namun tidak menghabiskan semuanya. dan orang-orang yang beriman . Ini merupakan sifay yang sangat tepat bagi umat Islam. dan sebagai pemelihara warisan aqidah dan warisan kenabian itu. Nah. Infak telah disyariatkan sebelum disyariahkannya zakat. wajah. Nilai sifat ini adalah adanya perasaan tentang kesatuan manusia. merasa sama-sama unsur manusia. untuk memberikan rasa aman kepada yang tak berdaya. Diriwayatkan di dalam hadits Rasulullah SAW dengan isnadnya dari Fatimah binti Qais. bukan hasil ciptaan dirinya sendiri. Sejak awal mereka mengerti bahwa harta yang ada ditangan mereka itu adalah rezeki dari Allah. dan merasakan persaudaraan dengan sesama manusia. pewaris nubuwwah sejak fajar kemanusiaan. (HR at-Tirmidzi) Ditetapkannya prinsip ini secara menyeluruh adalah yang dimaksudkan dalam nash diwajibkannya zakat. pencakar dan taring. pewaris aqidah samawiyah. “Sesungguhnya pada harta itu terdapat kewajiban selain zakat”.“Dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka”. µ ‫والذين يؤمنون بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك‬ َ ِْ َ ِ َ ِ ُ َ َ َ ْ َِ َ ِ ُ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ِ ّ َ “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu”. dari pengakuan terhadap nikmat rezeki ini maka ia ingin membagi kebaikan dengan semua makhluk.

yang dari semua itu disusun suatu kesatuan yang teratur dan rapi. Nilainya adalah perasaan tenang dan tenteram terhadap pemeliharaan dan perlindungan Allah kepada kemanusiaan sepanjang masa dan generasi. amalan dan pembalasan. tidak diciptakan tanpa guna. permulaan dan tempat kembali. bagaikan bintang yang tetap bersinar menjadi petunjuk dalam kegelapan. Setiap sifat dari sifat-sifat ini -sebagaimana kita lihat. dengan orang yang merasa bahwa kehidupan di muka bumi ini hanyalah sasaran ujian yang akan mengantarkannya untuk mendapatkan pembalasan. hingga menghilangkan hijab-hijab pendinding antara dia dan segala . yang menghubungkan manusia dengan Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan. agar hati menjadi tenang. ketika sedang sendirian maupun dihadapan banyak orang.. Suatu pemeliharaan yang tampak jelas dalam pengutusan para rasul dan risalah dengan satu agama dan satu petunjuk. Maka “takwa” adalah perasaan di dalam hati. tidak dibiarkan tak bermakna. kondisi dan nurani.”. Oleh karena itulah. Ini merupakan pamungkas sifat-sifat itu.kepada agama yang benar. Takwa juga menjernihkan ruh. dan bahwa kehidupan yang hakiki adalah di alam sana. “Yakin kepada kehidupan akhirat” merupakan persimpangan jalan antara orang yang hidup dalam batas dinding indra yang tertutup. Antara orang yang merasa bahwa kehidupan di bumi ini merupakan segala baginya di alam semesta ini. Sifatsifat ini tersusun secara rapi dan saling mengisi. dalam kehidupan akhirat. Juga menimbulkan perasaan akan adanya keadilan mutlak yang dinantikan. Nilainya ialah merasa bangga dan mulia dengan petunjuk yang tetap berlaku meskipun hari terus berganti dan masa terus bertukar. Pamungkas yang menghubungkan dunia dengan akhirat.. semua itu menjadi sifat golongan muttaqin (orang-orang yang bertakwa). dan orang yang hidup dalam alam yang lapang membentang.memiliki nilai tersendiri bagi kehidupan manusia. perasaan tiada goncang. yang menimbulkan perasaan kepada manusia bahwa dia tidak dicampakkan dengan sia-sia. ‫وبالخرة هم يوقنون‬ َ ُِ ُ ْ ُ ِ َ ِ ْ َِ “Dan mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. penyatu perasaan batin dan tindakan lahir. timbul kembali semangatnya untuk beramal shalih. timbul kembali harapannya untuk mendapatkan keadilan dan rahmat Allah setelah perjalanan hidup usai. dibalik kehidupan dunia yang terbatas bingkainya ini. sumber arah perjalanan dan amalan.

Disamping ketakwaan dan iman kepada yang gaib. Karena. Karena itu. Sehingga. (QS. dan di dalamnya bertemu yang dikenal dan yang tidak dikenal. maka hilanglah sekatsekat antara yang lahir dan yang batin. Begitulah gambaran jamaah muslimin yang ada di Madinah pada waktu itu. ditetapkanlah bahwa. *** . Allah menjadi beberapa urusan besar dimuka bumi dan di dalam kehidupan seluruh ummat manusia. µ‫أو ٰلئك عل ٰى هدى من ربهم وأو ٰلئك هم المفلحون‬ َ ُ ِْ ُ ْ ُ ُ َ ِ َُ ْ ِ ّ ّ ّ ً ُ ََ َ ِ ُ “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orang yang beruntung”.sesuatu yang meliputi alam gaib dan alam nyata. Kemudian kelapangan hati terhadap rombongan iuman yang berurat berakar. juga terdapat suatu bentuk ibadah yang telah dipilihkan oleh Allah dan dijadikannya sebagai tali penghubung antara hamba dengan Rabbnya. sebagai wujud pengakuan terhadap keindahan nikmat Allah dan rasa persaudaraan sesama manusia. berhubunganlah ruh dengan perkara ghaib dan merasa tenang dengannya. besar dalam arti sesungguhnya dengan implementasi iman diantara mereka. Al-Baqarah: 5) Begitulah mereka mendapat petunjuk. iman kepada yang ghaib pada waktu itu menjadi buah amaliah hilangnya sekat dan dinding yang menutupi. Jamaah tersebut dengan sifatsifatnya ini merupakan sesuatu yang besar. sifat “kedermawanan” dengan memberikan sebagian rezeki kepada orang lain. Dan selanjutnya merasa yakin akan adanya kehidupan akhirat dengan tidak ragu dan tidak bimbang. Dan apabila ruh telah jernih. dengan jamah ini. dan begitulah mereka mendapat keberuntungan. dan semua risalah. yang terdiri dari angkatan awal (as-sabiqunal awwalun). Selanjutnya. kaum muhajirin dan kaum Anshar. dan merasakan adanya unsur-unsur kekerabatan bagi semua mukmin. Karena itu. yang diketahui dan yang tidak diketahui. Dan jalan petunjuk dan keberuntungan inilah jalan yang dibentangkan. semua nabi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful