P. 1
Tesis-23507023-Udin

Tesis-23507023-Udin

|Views: 404|Likes:
Published by Ardian Eko Wahono

More info:

Published by: Ardian Eko Wahono on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

Sections

  • I.1 Latar Belakang
  • I.2 Rumusan Masalah
  • I.3 Tujuan
  • I.4 Ruang Lingkup
  • I.5 Metode Penelitian
  • I.6 Sistematika Pembahasan
  • II.1 Demokrasi
  • II.2 Pemilihan Umum (Pemilu)
  • II.3 Pemungutan Suara
  • II.4.1 E-Vox
  • II.4.2 e-VOTE
  • II.4.3 MarkPledge
  • II.4.4 Sistem E-Voting Terpusat
  • II.5.1 Pengertian Umum Web
  • II.5.2 Keamanan Web
  • III.1 Analisis Perbandingan terhadap Sistem Lain
  • III.2.1 Kebutuhan Fungsional
  • III.2.2 Kebutuhan Non Fungsional
  • III.3.1 Aktor
  • III.3.2 Proses
  • III.4 Aspek Sistem E-Voting
  • III.5 Keamanan Sistem E-Voting
  • IV.1 Model Teknologi Web-Vote
  • IV.2 Model Hukum Web-Vote
  • IV.3 Model Sosial Web-Vote
  • IV.4 Model Prosedur Operasional Web-Vote
  • V.1.1 Perancangan Kelas
  • V.1.2 Perancangan Basis Data
  • V.1.3 Perancangan Interaksi Sistem
  • V.2.1 Pengujian Prototype
  • V.2.2 Pengujian Model
  • VI.1 Kesimpulan
  • VI.2 Saran

http://www.gangsir.

com

PEMBUATAN MODEL E-VOTING BERBASIS WEB (STUDI KASUS PEMILU LEGISLATIF DAN PRESIDEN INDONESIA)

TESIS
Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung

Oleh

MUHAMMAD SHALAHUDDIN NIM: 23507023 (Program Magister Informatika)

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2009

http://www.gangsir.com

PEMBUATAN MODEL E-VOTING BERBASIS WEB (STUDI KASUS PEMILU LEGISLATIF DAN PRESIDEN INDONESIA)

Oleh

Muhammad Shalahuddin NIM: 23507023
(Program Magister Informatika)

Institut Teknologi Bandung

Menyetujui Bandung, 26 Juni 2009

Pembimbing

Dr.Ing.M.Sukrisno Mardiyanto NIP. 130938170

http://www.gangsir.com

ABSTRAK PEMBUATAN MODEL E-VOTING BERBASIS WEB (STUDI KASUS PEMILU LEGISLATIF DAN PRESIDEN INDONESIA)
Oleh

Muhammad Shalahuddin NIM : 23507023 (Program Magister Informatika)
Pemilihan umum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi. Pemungutan suara adalah bagian penting dari proses pemilihan umum. Saat ini proses pemungutan suara di Indonesia masih dilakukan dengan cara konvensional yaitu menggunakan media kertas suara. Electronic voting atau biasa disebut e-voting adalah alat proses demokrasi pada masa depan untuk melakukan proses pemungutan suara dengan memanfaatkan teknologi informasi. Penelitian tentang e-voting dimulai sejak abad 18, ketika Thomas Alfa Edison menerima paten tentang “electronic voting device”. Kegiatan penelitian terkait evoting meningkat pesat sejak tahun 1990an sampai sekarang. Saat ini sudah banyak negara yang memanfaatkan teknologi e-voting, misalnya Brazil, Jepang, Estonia, dan lain-lain. Ada bermacam-macam teknologi yang digunakan dalam mengembangkan evoting tersebut, misalnya e-voting melalui World Wide Web (WWW). Permasalahan utama yang dihadapi oleh e-voting sampai saat ini adalah masalah keamanan sehingga masih banyak negara yang belum memanfaatkan e-voting. Pembuatan model e-voting pada tesis ini difokuskan pada teknologi berbasis web karena teknologi tersebut mudah dalam pengaksesannya. Faktor keamanan teknologi web sekarang ini juga sudah cukup baik. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya transaksi internet misalnya transaksi keuangan melalui web. Model yang dihasilkan pada tesis ini diberi nama Web-Vote. Model Web-Vote adalah model e-voting berbasis web yang terdiri dari empat macam sudut pandang, yaitu sudut pandang teknologi, hukum, sosial, dan prosedur operasional. Model yang dihasilkan tersebut bersifat spesifik untuk pemilihan umum di Indonesia. Hasil pengujian membuktikan bahwa model yang dihasilkan mampu memenuhi persyaratan e-voting yang baik. Selain model, pada tesis ini juga dilakukan pembuatan prototype. Prototype tersebut mengimplementasikan regulasi mengenai pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden di Indonesia. Hasil pengujian prototype membuktikan bahwa berjalan dengan baik dan memenuhi kebutuhan fungsional yang ada. Kata kunci: pemilihan umum, e-voting, web, model, Web-Vote, prototype.

that is technology. Security factor for web based technology is good enough because nowadays a lot of transactions using internet. Web-Vote. That prototype is implement regulation of Indonesian legislative and president election. Nowadays.gangsir. Nowadays.com ABSTRACT MODELING WEB BASED E-VOTING (CASE STUDY INDONESIAN LEGISLATIVE AND PRESIDENT ELECTION) by Muhammad Shalahuddin NIM : 23507023 (Informatics Master Program) Election is unseparate part of Indonesia as democratic nation. Voting is an important part of election. Keywords: election. a lot of countries have already used evoting. Web-Vote model is a spesific model for election in Indonesia. for example e-voting over World Wide Web (WWW). There are kinds of technology that used in e-voting. social. when Thomas Alfa Edison received patent for an “electronic voting device”. Web-Vote model is a web based e-voting model that consist of four points of view. Modeling e-voting in this thesis is focus on a web based technology because that technology easy to access. The biggest problem of e-voting is security so many countries not yet using e-voting. model. web. law. this thesis is also produced prototype.http://www. social. Model that produced in this thesis is called Web-Vote. Japan. law. and operational procedure. Besides of model. . Researchs about e-voting increase rapidly since1990s until now. Prototype testing result proved that prototype run correctly and can fulfill functional requirements. operational procedure. technology. e-voting. Electronic voting or usually called e-voting is the future democratic tools to execute information technology supported voting process. Testing result prove that Web-Vote model can fullfil e-voting criterion. Estonia. for example internet banking. for example Brazil. Researchs about e-voting have begun since 18th century. etc. Indonesia are still using conventional voting model by paper ballot.

i . Institut Teknologi Bandung.http://www. Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh tesis haruslah seizin Direktur Program Pascasarjana.gangsir. dan terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HaKI yang berlaku di Institut Teknologi Bandung.com PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS Tesis S2 yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Institut Teknologi Bandung. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat. tetapi pengutipan atau peringkasan hanya dapat dilakukan seizin pengarang dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.

http://www.com Tesis ini dipersembahkan kepada Gadiza Mutia S. dan Rosa Ariani S. ii .gangsir.

kerja sama. dan pemikiran yang telah diberikan. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan program magister Magister Informatika di Institut Teknologi Bandung. 1. 6.com KATA PENGANTAR Segala puji syukur bagi Allah SWT atas rahmat yang dilimpahkan-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan pembuatan laporan tesis yang berjudul “Pembuatan Model E-voting Berbasis Web (Studi Kasus Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden Indonesia)”.gangsir. terima kasih atas segala kemudahan yang diberikan. Bapak Achmad Imam Kristijantoro selaku dosen penguji pada proposal dan sidang tesis ini. Istriku Rosa Ariani Sukamto dan anakku Gadiza Mutia Shalahuddin. dan finansial sehingga tesis ini dapat terselesaikan. 3. Ibu Ayu Purwarianti selaku dosen penguji pada pra sidang tesis ini. dan seluruh staf Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. 2. 7. terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Sastramihardja selaku dosen mata kuliah tesis. terima kasih atas dukungan moral. Oleh karena itu. Ibu Nurhayati. Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada nama-nama yang tercantum di bawah atas bantuan yang diberikan. Bapak M. terima kasih sudah menjadi dosen wali yang baik untuk kami.http://www. terima kasih atas masukannya khususnya masukan mengenai perbaikan judul tesis ini. terima kasih atas waktu. Temanku Andik Taufiq atas segala bantuan moral. 9. Ibu Christine Suryadi selaku dosen penguji pada sidang tesis ini. tenaga. 10. bantuan. terima kasih atas saran yang diberikan untuk perbaikan isi tesis ini. iii . Bapak Husni S. Sukrisno Mardiyanto selaku dosen pembimbing yang sangat baik hati. Laporan tesis ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Bapak Kridanto Surendro selaku dosen wali. Teman-teman seperjuangan angkatan 2007 yang berjuang bersama-sama untuk menyelesaikan kuliah dan tesis khususnya para pejuang wisuda juli 2009. Bapak Ade Taryat. 5. 4. material. kasih sayang dan semuanya yang sudah diberikan padaku. terima kasih atas masukannya dalam penyusunan tesis ini. Institut Teknologi Bandung lainnya. 8.

Berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam pembuatan tesis ini. dan semua pihak yang terkait.http://www. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan tetapi Penulis berharap semoga Laporan Tesis ini dapat bermanfaat bagi Penulis.gangsir. pembaca. Bandung.com 11. Semoga tesis ini mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan. 26 Juni 2009 Penulis iv .

....................................................................... viii DAFTAR TABEL.....1 II................................4.................ix DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ............................................................II-1 Demokrasi ...........2 II........................5 I...............................................................................................5.............................................................4..........3 II................... III-1 v ............................................................................................... I-3 Metode Penelitian ...4 II.............................................................................................1 I..................................................................iv PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS ............................ I-1 Latar Belakang ................................................................................................II-15 Pengertian Umum Web...................................................................................................... I-2 Tujuan ..........com DAFTAR ISI ABSTRAK.............................................................1 PENDAHULUAN ................................................. iii DAFTAR ISI...................................................................................................................... I-3 Ruang Lingkup..........................................................................................................II-14 Web ........4....5 II......6 BAB II II......................http://www.........................2 II.. I-4 Sistematika Pembahasan..3 II..................................................................................................................................II-2 Pemungutan Suara ............................................4 II....................II-1 Pemilihan Umum (Pemilu) ........................................................................................................................................................................................................2 I................1 II.........................................................................................................................................................................................5.............. vii DAFTAR GAMBAR DAN ILUSTRASI...........................................................................................................II-16 ANALISIS ..........................................................................i KATA PENGANTAR ...................................................................................................................................................II-10 MarkPledge .................................................. III-1 Analisis Perbandingan terhadap Sistem Lain ......................II-15 Keamanan Web...........................................................................................................................II-12 Sistem E-Voting Terpusat..........II-9 e-VOTE.2 BAB III III........................II-6 E-Vox........................................................................................................................................4 I......................................................x BAB I I...............................................v DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................gangsir......................................1 II.......................................................II-5 E-Voting............3 I............................. I-4 TINJAUAN PUSTAKA .........4.... I-1 Rumusan Masalah.............................. iii ABSTRACT.........................

............. V-3 Pengujian..................................................................................1 VI................................... III-11 MODEL WEB-VOTE ...............................................................................................1.....................................................................................5 BAB IV IV... VI-1 Saran ........................1 V......................1 Aktor ...................................................4 III.......................................................................2 Aspek Sistem E-Voting........................................................ VI-1 DAFTAR REFERENSI ..............................................................3........................................................................................................................... III-6 III......................... III-7 III..................................................................... III-4 III... IV-1 Model Teknologi Web-Vote ......2............1 IV........................2 Analisis Kebutuhan.............3 IV.............................. V-2 Perancangan Basis Data.gangsir................................................2...........................................................................................................................................................................2...com III.....................................................................................................2 IV...........................4 BAB V V..................................................... III-6 III...2 Kebutuhan Non Fungsional ....................... V-1 Perancangan Kelas ..................1....................................3....................................................................... V-4 PENUTUP.....................................................................http://www............................... V-4 Pengujian Model ..........................................3 V...... III-3 III............... VI-1 Kesimpulan ..............xiv vi ...................................................................1 V...1.............. V-1 Prototype ................................... IV-7 PROTOTYPE DAN PENGUJIAN....................... III-10 Keamanan Sistem E-Voting................................................................................... V-3 Perancangan Interaksi Sistem ..........2 V......2...... III-5 III........................... xii DAFTAR PUSTAKA ................2 Proses .........................................................................1 V..................................................................................2 BAB VI VI................................ IV-4 Model Sosial Web-Vote..............................................................................................3 Analisis Proses ....... V-4 Pengujian Prototype ...............................................1 Kebutuhan Fungsional ................ IV-6 Model Prosedur Operasional Web-Vote............................. IV-2 Model Hukum Web-Vote ........................2 V..................................

F-1 Lampiran G Rancangan Basis Data ................... I-1 Lampiran J Hasil Pengujian Prototype .................... e-VOTE.................................C-1 Lampiran D Diagram Kelas President .................................. MarkPledge................................................................................................. H-1 Lampiran I Contoh Antarmuka Pengguna ............. D-1 Lampiran E Diagram Kelas Legislative.......................................................................................................................E-1 Lampiran F Diagram Kelas Result ...........................................................................................................................................................................................................................http://www................com DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Perbandingan Sistem E-Vox.... G-1 Lampiran H Sitemap ......................B-1 Lampiran C Diagram Kelas Includes....................................................J-1 vii ....................................................... dan Sistem E-Voting Terpusat............................................................................. A-1 Lampiran B Diagram Kelas Admin ........................gangsir................................................................................

............................. III-11 Gambar IV-1 Model Umum Web-Vote..............................II-18 Gambar III-1 Use case pemilihan umum.........................................................com DAFTAR GAMBAR DAN ILUSTRASI Gambar II-1 Pihak yang terkait Pemilu [19].......................................................................................................................................http://www..................................................................................................................................II-15 Gambar II-6 Karakteristik Keamanan Sistem.............................................................................................. III-7 Gambar III-2 Karakteristik Sistem E-voting.............................................. IV-2 Gambar IV-4 Konversi Sistem............................................... IV-1 Gambar IV-2 Desain Umum Sistem ................... V-2 viii ................................................ IV-6 Gambar IV-5 Alur Pelaksanaan Pemungutan Suara...........................................................................................................II-10 Gambar II-3 Arsitektur Sistem e-VOTE [7] ...................II-12 Gambar II-5 Arsitektur Sistem E-voting Terpusat [8] ......... IV-8 Gambar V-1 Package Sistem Web-Vote ..II-11 Gambar II-4 Arsitektur Sistem MarkPledge [1] ..........................................................................gangsir.............................................................................................................................................. IV-2 Gambar IV-3 Desain E-voting Server...II-5 Gambar II-2 Arsitektur Sistem E-Vox [8] .......

................. III-9 Tabel III-5 Deskripsi use case melihat hasil pemilihan........... III-9 Tabel III-7 Deskripsi use case memantau data pemilih............................................................................................................ III-8 Tabel III-4 Deskripsi use case menjumlahkan pilihan . III-8 Tabel III-3 Deskripsi use case memasukkan pilihan .http://www..................... III-8 Tabel III-2 Deskripsi use case login .............................................. III-9 Tabel III-6 Deskripsi use case logout .................................................................................................... III-10 ix ....gangsir.............................. III-9 Tabel III-8 Deskripsi use case validasi data hasil perhitungan................................................................com DAFTAR TABEL Tabel III-1 Deskripsi use case validasi data pemilih ....................................................................

KPU 7. Badan Pengawas Pemilu. Sebuah aplikasi yang digunakan untuk memberikan kemudahan dalam pemahaman model sistem yang dikembangkan tanpa harus mengembangkan seluruh sistem yang ada. MPR Partai 9. yaitu lembaga 3.gangsir.com DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN No. Pemilihan Umum yaitu proses untuk memilih wakil rakyat maupun kepala negara yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Untuk kepada daerah tingkat satu maka disebut DPRD 1 dan untuk daerah tingkat dua disebut DPRD 2. DPRD. Dewan Perwakilan Rakyat. yaitu komisi yang ditunjuk pemerintah sebagai penyelenggara pemilihan umum. Dewan Perwakilan Daerah. yaitu lembaga legislatif setingkat kepala daerah. Istilah Abstain Banwaslu Penjelasan Tidak memilih satupun calon yang ada. Majelis Permusyawaratan Rakyat. 8. yaitu badan yang ditunjuk pemerintah untuk bertugas melakukan pengawasan jalannya pemilihan umum. 1. Pemilu legislatif Prototype x . 11. Pemilu 10.http://www. DPD 4. yaitu wakil rakyat yang duduk di lembaga MPR yang bukan berasal dari partai politik. 5. dan DPD. 2. Pemilihan umum untuk memilih anggota DPR. DPR DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. legislatif setingkat presiden. yaitu lembaga pemerintahan tertinggi di Indonesia. Komisi Pemilihan Umum. Sekumpulan orang yang bergabung dalam satu wadah organisasi politik yang mempunyai kesamaan visi dan misi mengenai cara pandang tentang politik dan pemerintahan. 6.

16. Aplikasi untuk mengakses halaman web yang disimpan pada web server. 18. Tempat Pemungutan Suara. Biasanya sebuah TPS dibangun untuk mencakup beberapa RT/RW. Web Web browser Web server 17. yaitu tempat di mana masyarakat dapat melakukan proses pemberian suara. 15.com No. Istilah RI Penjelasan Republik Indonesia yaitu negara Indonesia yang dalam tesis ini dijadikan studi kasus untuk penerapan model sistem yang dikembangkan. 12.gangsir. Web-Vote WWW xi . TPS 14. Aplikasi yang menyimpan halaman web yang dapat diakses oleh pengguna menggunakan web browser. World Wide Web atau sering juga disebut dengan web saja yaitu sebuah sistem yang saling terkait menggunakan dokumen hypertext yang diakses melalui jaringan internet. 13. Lihat WWW. Nama model e-voting berbasis web yang dihasilkan pada tesis ini.http://www.

Hal ini menyebabkan jika terjadi kerusakan terhadap kertas suara. Sulitnya perhitungan kembali jika terjadi ketidakpercayaan terhadap hasil perhitungan suara. propinsi (pemilihan gubernur dan anggota DPRD 1). 5. Hal tersebut dipicu adanya ketidakpercayaan terhadap hasil perhitungan suara. Tidak ada salinan terhadap kertas suara. pelaksanaan pemilihan umum dilakukan mulai dari tingkat desa (pemilihan kepala desa). I-1 . sampai tingkat pemerintah pusat (presiden dan anggota DPR). dari 226 daerah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah terjadi konflik mencapai 20 daerah lebih [15]. Proses pemungutan dan penghitungan suara secara konvensional tersebut mempunyai beberapa kelemahan. Mereka kemudian mencoblos atau mencontreng (√) kertas suara dan kemudian memasukkan ke kotak suara. 1. panitia pemilihan umum sudah tidak mempunyai bukti yang lain. Di Indonesia.gangsir. 2. Kurang akuratnya hasil perhitungan suara. Menurut data pada tahun 2005. Lambatnya proses penghitungan suara. Rawan konflik. sering kali muncul perdebatan mengenai sah atau tidaknya sebuah kertas suara. Di Indonesia. proses pemungutan suara dengan cara mencontreng (√). Karena proses pemungutan suara dilakukan dengan pencoblosan kertas suara. 3. Mulai Pemilu Legislatif tahun 2009. Setelah proses pemungutan suara selesai. proses penghitungan suara biasanya membutuhkan waktu sampai beberapa minggu. Pemilihan umum di Indonesia masih dilakukan secara manual.http://www. Pemilihan umum di Indonesia saat ini sering menimbulkan konflik.1 Latar Belakang Pemilihan umum merupakan bagian pada suatu proses demokrasi. Warga yang mempunyai hak pilih datang ke tempat pemungutan suara pada saat hari pemilihan. Indonesia adalah salah satu negara demokrasi yang melaksanakan pemilihan umum setiap lima tahun sekali. kota / kabupaten (pemilihan walikota / bupati dan anggota DPRD tingkat 2). 4.com BAB I PENDAHULUAN I. Berikut ini beberapa kelemahan proses secara konvensional tersebut. kemudian dilakukan penghitungan suara.

Teknologi berbasis web mempunyai kelebihan utama dalam hal kemudahan akses dan biaya yang jauh lebih murah.gangsir. gaji panitia pengawas. Pemilihan suara secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi elektronik (e-voting) saat ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk menggantikan pemilihan umum secara konvensional yang sekarang ini digunakan. misalnya persyaratan mengenai kerahasiaan (privacy). maka muncullah gagasan untuk melaksanakan pemilihan umum dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada khususnya teknologi berbasis web. Jika kelemahan-kelemahan tersebut tidak dapat untuk diatasi maka e-voting tidak akan memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemilihan secara konvensional. solusi e-voting lebih difokuskan pada pemanfaatan teknologi berbasis web. I.com 6.4 triliun untuk pelaksanaan pemilihan umum tahun 2009 sampai dengan tahun 2014 [14]. belum ada solusi lengkap baik secara teori maupun praktek yang mampu mengatasi permasalahan tersebut [16].http://www. pemerintah telah menyetujui anggaran pemilu mencapai Rp 10. Hal ini sangat penting karena pemanfaatan teknologi berbasis web juga memunculkan adanya kelemahan-kelemahan baru. dan lain-lain. kejujuran (fairness). Permasalahan utama yang dihadapi dalam e-voting adalah terkait dengan faktor keamanan. Penelitian mengenai e-voting telah dilakukan lebih dari 20 tahun. distribusi kertas suara. Anggaran yang sangat besar tersebut digunakan untuk proses pencetakan kertas suara. Apa syarat e-voting agar mampu digunakan untuk menggantikan pemilihan umum secara konvensional.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam tesis ini adalah sebagai berikut: 1. dan lain-lain. Pada penelitian e-voting ini. Besarnya anggaran yang dilalukan untuk melakukan proses pemungutan suara. I-2 . Dengan banyaknya permasalahan tersebut. yaitu lembaga pemerintah yang bertugas melakukan pelaksanaan pemiliham umum di Indonesia. Sampai saat ini. Hal ini juga didukung dengan semakin luasnya jaringan komunikasi dan biaya komunikasi yang semakin murah. Berdasarkan data terakhir KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Prototype tersebut juga digunakan untuk melakukan pengujian terhadap model yang dihasilkan.3 Tujuan Tujuan dari tesis ini adalah membuat model e-voting berbasis web yang memenuhi syarat agar mampu menggantikan pemilihan umum secara konvensional yang selama ini digunakan di Indonesia. Model e-voting yang dihasilkan adalah e-voting berbasis web dan spesifik untuk pemilihan umum di Indonesia. 3. Prototype menggunakan studi kasus pemilihan umum anggota legislatif (DPR.http://www. I. I. 4. DPRD tingkat 2.gangsir. I-3 . Bagaimana model e-voting berbasis web yang memenuhi persyaratan e-voting yang baik serta mampu menutup kelemahan yang muncul pada pemilihan umum konvensional. prototype hanya digunakan untuk mempermudah dalam pemahaman mengenai model konseptual. DPR tingkat 1. 4. 2. Penelitian tersebut dilakukan pada tesis Iyus Supriadi. dan DPD) serta pemilihan umum presiden. Penelitian terkait tahap pelaksanaan sebelum proses pemungutan suara misalnya pembuatan DPT (Daftar Pemilih Tetap) dan tahap setelah perhitungan suara misalnya penentuan pemenang pemilihan umum dilakukan pada penelitan yang terpisah. Fokus utama dalam tesis ini adalah pada model konseptual e-voting. 3. Bagaimana melakukan pengujian terhadap model e-voting yang telah dibuat.com 2. E-voting yang dikembangkan adalah mulai dari tahap pemungutan suara sampai dengan perhitungan suara. Bagaimana membuat prototype yang mampu merepresentasikan model e-voting yang telah dihasilkan.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup dari tesis ini adalah sebagai berikut: 1.

serta bab VI Penutup. 3. 8. 7. Metode yang dipergunakan dalam Tesis ini adalah sebagai berikut: 1. Bab III Analisis berisi analisis kebutuhan dan syarat e-voting berbasis web. bab V Implementasi dan Pengujian.5 Metode Penelitian Tesis yang dilakukan adalah berupa penelitian dan mengimplementasikannya dalam sebuah program. Studi literatur yang berkaitan dengan mekanisme e-voting dengan cara mempelajari sistem e-voting yang telah dikembangkan sebelumnya dan mempelajari penerapan sistem e-voting yang telah dilakukan pada beberapa negara. Analisis kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fungsional dan non fungsional. I-4 . ruang lingkup tesis. tujuan tesis.http://www. penerapan e-voting pada beberapa negara dan beberapa contoh sistem e-voting yang telah dikembangkan sebelumnya. Analisis masalah dan kebutuhan e-voting berbasis web. rumusan masalah tesis. Pembuatan model konseptual e-voting. Analisis hasil penerapan e-voting pada negara lain. bab IV Desain Sistem. Pembuatan prototype untuk mengimplementasikan model yang telah dibuat. Analisis sistem lain yang telah dikembangkan. 2. I. 4. 6. bab II Tinjauan Pustaka. serta teknologi berbasis web yang dijadikan dasar sistem e-voting. Bab II Tinjuan Pustaka berisi penjelasan mengenai demokrasi dan keterkaitannya dengan voting (pemungutan suara).6 Sistematika Pembahasan Laporan tesis ini terdiri dari enam buah bab yaitu bab I Pendahuluan. Bab I Pendahuluan berisi penjelasan mengenai latar belakang pemilihan topik tesis. Perbaikan dan penarikan kesimpulan.com I. 5. dan metode penelitian yang dilakukan selama pembuatan tesis. Pengujian terhadap model secara umum termasuk juga prototype.gangsir. bab III Analisis.

Selain itu bab ini juga berisi hasil pengujian terhadap prototype tersebut dan juga pembuktian terhadap model Web-Vote yang telah I-5 .http://www.com Bab IV Model Web-Vote berisi mengenai perancangan model e-voting berbasis web. basis data. didefinisikan sebelumnya. Perancangan model tersebut disesuaikan dengan hasil analisis yang telah diperoleh pada bab sebelumnya. Bab VI Penutup berisi kesimpulan dan saran terkait dengan isi tesis ini. dan antar muka prototype e-voting berbasis web.gangsir. Bab V Prototype dan Pengujian berisi mengenai rancangan kelas.

akan dijelaskan mengenai keterhubungan antara demokrasi (democracy). rule) [2].com BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas tinjauan pustaka terkait dengan e-voting. pemungutan suara (voting). 4. Penjelasan mengenai e-voting akan disertai beberapa contoh penelitian terkait e-voting yang telah dilakukan saat ini. Demokrasi berasal bahasa Yunani yaitu demokratia. 1. Ada yang menganut demokrasi liberal. Distribusi pendapat secara adil. beberapa kota di Yunani. mantan ketua MPR RI. II-1 . dan sosial demokrasi. Persamaan di depan hukum. Indonesia adalah salah satu negara penganut paham demokrasi sesuai dengan pernyataan pada UUD1945 pasal 1 ayat 2 yang menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat [17].1 Demokrasi Demokrasi (democracy) saat ini dianut oleh banyak negara di dunia karena dianggap sebagai sebuah tatanan sosio-politik yang ideal [2]. monarkhi konstitusional. dan pemungutan suara berbasis elektronik (e-voting). pemilihan umum (election). Menurut Amien Rais. 3. Pertama. sebuah negara disebut sebagai negara demokrasi jika memenuhi kriteria sebagai berikut. Partisipasi dalam pembuatan keputusan. telah menganut bentuk pemerintahan tersebut.gangsir. Pada bab ini juga dijelaskan mengenai teknologi web yang menjadi dasar teknologi e-voting pada tesis ini. Konsep demokrasi sebagai sebuah bentuk pemerintahan telah berkembang sejak jaman Yunani kuno. demokrasi pancasila. II. demos berarti rakyat (people) dan kratos berarti kekuatan. Pada sekitar abad 5 – 4 sebelum Masehi. salah satunya adalah Athena. Demokrasi mempunyai pengertian yang ambigu dan tidak tunggal.http://www. Setiap negara mempunyai karakteristik yang berbeda dalam menerapkan konsep demokrasi. 2. Pembahasan mengenai web akan difokuskan pada faktor keamanan pada teknologi web. kekuasaan (strength. Kesempatan pendidikan yang sama.

Hak untuk protes [2].2 Pemilihan Umum (Pemilu) Pemilihan Umum (Pemilu) atau dalam bahasa inggris disebut election adalah cara yang digunakan untuk mewujudkan partisipasi rakyat dalam pemerintahan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Mengindahkan tata karma politik. 8.http://www. Pemilihan umum sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suatu negara demokrasi. 7. Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung. Berikut ini adalah isi pasal tersebut. 2. Mantan sekretaris jenderal PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) atau UN (United Nations) pernah mengatakan bahwa pemilihan umum merupakan elemen utama dari demokrasi sebagai sebuah cara masyarakat untuk mengambil keputusan [10]. Kebebasan beragama. Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat. II. Dewan Perwakilan Daerah. bab VIIB tentang Pemilihan Umum. Kebebasan persuratkabaran. jujur. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.com 5. Pemilu secara tegas diatur pada UUD 1945 perubahan III. 3. Di Indonesia. umum. d. b. 1. 10. c. Kebebasan individu. 6. 9. rahasia. Pemilu merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan bernegara. dan adil setiap lima tahun sekali. pasal 22E. Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.gangsir. hampir semua negara demokrasi melaksanakan pemilihan umum. Kebebasan berkumpul. bebas. Ketersediaan dan keterbukaan informasi. Pemilihan umum adalah proses pemilihan wakil rakyat di parlemen dan kepala pemerintahan berdasarkan suara terbanyak. Semangat kerja sama. Peraturan tertinggi mengenai pemilu diatur dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 hasil amandemen. Kebebasan mengeluarkan pendapat. Empat macam kebebasan. II-2 . yaitu: a.

dan mandiri. DPRD Provinsi. Masa tenang. Pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia melibatkan beberapa pihak.com 4. Pencalonan anggota DPR. Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional. Masa kampanye. jujur. 1. Penetapan peserta Pemilu. dan mandiri. Pemilu di Indonesia menganut asas langsung. dan DPRD Kabupaten/Kota [18]. rahasia. tetap. Dewan Perwakilan Daerah. Penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan. Pendaftaran peserta Pemilu. Pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. DPD. II-3 . 2.gangsir. DPD. 5. Pelaksanaan Pemilu diselenggarakan dalam beberapa tahapan sebagai berikut. DPRD Provinsi. Pemungutan dan penghitungan suara. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dinyatakan pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 1. bebas. 8. 9. 6. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih. dan adil [18]. 3. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah perseorangan. Berikut ini adalah penjelasan setiap bagian pada gambar II-1 Pihak yang terkait Pemilu. Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang [17]. 4. umum. 6. dan DPRD Kabupaten/Kota.http://www. 7. 5. Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional. Penetapan hasil Pemilu. Gambar II-1 menunjukkan pihak-pihak pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum sesuai dengan Undang-Undang No 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. 10. tetap. Pengucapan sumpah / janji anggota DPR.

6. Pemilih adalah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun atau telah / sudah pernah menikah dan tidak sedang dicabut hak pilihnya. d. 10. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) adalah kelompok yang dibentuk oleh PPLN untuk menyelenggarakan pemungutan suara di tempat pemungutan suara di luar negeri. Pada pemilihan presiden / wakil presiden. 3. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) adalah kelompok yang dibentuk oleh PPS untuk menyelenggarakan pemungutan suara di tempat pemungutan suara. b. Peserta Pemilu ada beberapa macam. 4. Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) adalah badan yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh Indonesia. KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota adalah penyelenggara Pemilu ditingkat provinsi dan kabupaten/kota. DPRD tingkat 1. Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota adalah panitia yang dibentuk oleh Banwaslu untuk mengawasi penyelenggaran Pemilu di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. peserta Pemilu adalah wakil partai politik. 9. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) adalah panitia yang dibentuk oleh KPU Kabupaten/Kota untuk menyelenggarakan Pemilu di tingkat kecamatan. Pada Pemilu anggota DPD. Sedangkan pada pemilihan kepala daerah / wakil kepala daerah. II-4 .com 2.gangsir. Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) adalah panitia yang dibentuk oleh KPU untuk menyelenggarakan Pemilu di luar negeri. c. 8. Pada pemilihan anggota DPR.http://www. 11. dan DPRD tingkat 2 peserta Pemilu adalah partai politik. a. Panwaslu Kecamatan adalah panitia yang dibentuk oleh Panwaslu Kabupaten/Kota untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di tingkat kecamatan. 5. Panitia Pemungutan Suara (PPS) adalah panitia yang dibentuk oleh KPU Kabupaten/Kota untuk menyelenggarakan Pemilu di tingkat desa/kelurahan. 13. peserta Pemilu adalah perorangan. peserta Pemilu adalah wakil partai politik atau perorangan. 12. Pengawas Pemilu Lapangan adalah petugas yang dibentuk oleh Panwaslu Kecamatan untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di desa/kelurahan. 7.

4. Secara umum. Kertas suara dimasukkan ke dalam kotak suara (ballot box). Salah satu jari pemilih diberi tanda dengan tinta sebagai penanda bahwa pemilih tersebut telah melakukan pemungutan suara.gangsir. di banyak negara. Kartu pemilih ini digunakan sebagai tanda bahwa calon pemilih telah terdaftar sebagai calon pemilih. Calon pemilih datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). Berikut ini adalah urutan proses pada saat pemungutan suara di Indonesia. 2. Proses pemungutan suara di Indonesia masih menggunakan cara manual.3 Pemungutan Suara Pemungutan suara (voting) adalah salah satu tahap pelaksanaan pemilihan umum. yaitu menggunakan kertas suara. pemungutan suara dilaksanakan secara rahasia pada tempat yang khusus dipersiapkan untuk pelaksanaan pemungutan suara. 1. Calon pemilih memberikan kartu pemilih. Calon pemilih mengambil kertas suara (ballot) dan kemudian melakukan pencoblosan di dalam bilik suara.com Gambar II-1 Pihak yang terkait Pemilu [19] II. II-5 . 5. TPS adalah tempat melakukan pemungutan suara yang disediakan oleh panitia pemilihan umum.http://www. 3.

Tingkat pendidikan masyarakat secara umum masih cukup rendah sehingga penerapan teknologi baru membutuhkan biaya dan waktu yang cukup besar untuk melakukan sosialisasi agar masyarakat mampu menggunakannya. Mereka tidak senang apabila penggunaan sistem evoting akan menjadikan proses pemilihan umum semakin transparan sehingga kedudukan mereka di pemerintahan akan terancam. 8. Kertas suara dikeluarkan dari kotak suara dan kemudian dihitung bersama-sama dengan diawasi oleh saksi dari berbagai pihak antara lain panitia dan perwakilan partai politik. Setelah waktu untuk memasukkan suara selesai. Belum ada sistem e-voting yang keamanannya sudah benar-benar teruji. sudah banyak penelitian pemanfaatan elektronik pada proses pemungutan suara menggantikan proses pemungutan suara secara manual. Selain beberapa alasan di atas. Konversi dari sistem lama (manual) ke sistem baru (e-voting) membutuhkan usaha yang cukup besar. Proses pemungutan suara secara manual menggunakan kertas suara sampai saat ini masih digunakan di Indonesia dan negara-negara lain yang belum menggunakan sistem e-voting. Pemerintah perlu melakukan sosialisasi sistem baru agar masyarakat mau mengadopsi sistem baru.4 E-Voting Seiring dengan perkembangan jaman. Hasil perhitungan tersebut kemudian dikirimkan ke kantor KPU untuk dilakukan rekapitulasi hasil pemungutan suara. II. 3. 4. 1. ada prasangka negatif mengenai keengganan pemerintah mengadopsi sistem e-voting. 7. Prasangka negatif tersebut khususnya terkait dengan transparansi atau keterbukaan. Teknologi tersebut disebut e-voting. E-voting adalah proses pemungutan suara yang II-6 .http://www. maka kemudian dilakukan perhitungan suara. 2.gangsir. Berikut ini adalah beberapa alasan yang mungkin mendasari suatu negara tetap menggunakan sistem pemungutan suara secara manual. Pada beberapa negara dengan tingkat korupsi yang cukup tinggi seperti Indonesia masalah transparansi merupakan hal yang sering dihindari oleh para aparat pemerintah yang korup.com 6.

pada 1 Juni 1869 Thomas A. sistem e-voting telah digunakan pada proses pemilihan umum dengan skala yang lebih tinggi.http://www. Kemudian pada tahun 1998.000 yang tersebar di seluruh bagian negara [6]. Berikut ini adalah beberapa contoh negara yang telah memanfaatkan teknologi e-voting. Penelitian terkait e-voting yang memanfaatkan teknologi informasi mulai banyak bermunculan pada tahun 1990an. tetapi teknologi tersebut tidak pernah digunakan karena anggota Kongres belum siap untuk menggunakannnya [13]. E-voting saat ini lebih dikhususkan pada pemanfaatan teknologi informasi khususnya jaringan internet pada pelaksanaan pemungutan suara. lebih dari 100 juta penduduk Brazil memasukkan suara mereka menggunakan mesin e-voting yang berjumlah lebih dari 400. Pelaksanaan e-voting di kota tersebut serupa dengan pelaksanaan e-voting di Brazil dengan menggunakan mesin e-voting pada setiap TPS [12]. Penelitian mengenai e-voting telah berlangsung cukup lama.317 orang. Seiring dengan perkembangan jaman. Estonia Estonia adalah sebuah negara di Eropa dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa.000 orang.gangsir. Edison menerima paten dari pemerintah Amerika untuk sebuah “electronic vote recorder” yang akan digunakan pada Kongres. Pada tahun 2007. Pemanfaatan e-voting sudah mulai dilakukan pada beberapa negara. Brazil telah mulai memperkenalkan sistem e-voting pada awal tahun 1990an pada kota-kota dengan penduduk sekitar 200. Brazil Brazil adalah salah satu negara yang masuk sepuluh besar jumlah penduduk terbesar di dunia selain Indonesia. ada pergeseran makna terkait e-voting.000 penduduk kota. Estonia telah menjadi negara pertama di dunia yang berhasil memanfaatkan teknologi e-voting berbasis internet II-7 .com memanfaatkan elektronik. Penggunaan e-voting tersebut cukup sukses karena diikuti oleh 96% warga kota tersebut dari total 25. Jepang Jepang mulai memanfaatkan e-voting secara resmi pada tahun 2002 pada pemerintah lokal kota Niimi. Estonia telah berhasil memanfaatkan teknologi e-voting berbasis internet pada tahun 2005 pada Pemilu lokal dengan jumlah warga yang memanfaatkan teknologi tersebut sebanyak 9. Pada tahun 2002. 2. 3. 1. Keberhasilan Brazil tersebut menunjukkan bahwa negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar juga telah mampu memanfaatkan sistem e-voting. Sebagai contoh.

Amerika. Selain ketiga negara di atas. 4. Perancis. Masih ada kekhawatiran yang cukup besar terkait dengan keamanan sistem e-voting. Jumlah warga negara yang memanfaatkan teknologi tersebut adalah 30. II-8 . semua suara yang valid dihitung dengan tepat. dan suara yang tidak valid tidak boleh dihitung. Democracy (demokrasi) yaitu hanya calon pemilih yang memenuhi syarat berhak untuk memilih dan setiap pemilih hanya berhak untuk memasukkan suaranya satu kali. Verifiability yaitu setiap orang dapat membuktikan bahwa tidak ada manipulasi terhadap hasil perhitungan.com untuk melakukan Pemilu secara nasional. Accuracy (akurasi) yaitu ketepatan hasil perhitungan suara. sebenarnya masih banyak negara lain yang sudah mulai memanfaatkan e-voting dalam proses pemungutan suara antara lain India. Penelitian terkait e-voting masih terus dilakukan sampai sekarang. Privacy (privasi) yaitu tidak seorang pun yang dapat menghubungkan seseorang dengan hasil pilihannya. Irlandia. Ketepatan ini meliputi tidak ada satupun pihak yang diperbolehkan mengubah suara yang telah masuk. Brazil dan Estonia adalah contoh negara yang telah berani memanfaatkan teknologi e-voting untuk pemilihan umum nasional. Jadi aspek ini berkaitan erat dengan aspek security (keamanan). Uncoercibility yaitu tidak adanya paksaan kepada pemilih dalam menentukan pilihannya. Ada bermacam-macam teknologi yang digunakan dalam mengembangkan e-voting tersebut. Jadi warga bebas memilih akan melakukan pemungutan suara menggunakan teknologi e-voting berbasis internet maupun menggunakan TPS. 2. 1. Berikut ini beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu sistem e-voting. 6. Agar tidak terjadi maka pemilih harus tidak dapat membuktikan hasil pilihannya kepada orang lain (receipt freeness). pemerintah Estonia juga tempat pemungutan suara (TPS) seperti biasa.http://www. Robustness yaitu tidak ada gangguan yang menghalangi pelaksanaan pemungutan suara. 3.275 orang.gangsir. Pada saat pemanfaatan teknologi e-voting berbasis internet. 5. belum bersifat nasional. Seperti halnya negara Jepang. dan lain-lain. hampir semua negara tersebut memanfaatkan teknologi e-voting masih dalam tingkat pemilihan umum lokal.

4.http://www. 8. Pemilih tidak perlu menggunakan otentikasi lainnya. Sistem E-Vox mempunyai kelebihan dalam kemudahan akses oleh pemilih. Counter digunakan untuk menghitung hasil pemungutan suara. Pemilih hanya membutuhkan username (identitas pemilih) dan password untuk dapat mengakses sistem tersebut. Sistem E-Vox secara umum mempunyai desain yang cukup sederhana. Herschberg pada tesis yang berjudul Secure Electronic Voting Over the World Wide Web tahun 1997 [8]. 1. II. dan voter applet. Pada sub bab berikut akan dijelaskan mengenai beberapa contoh penelitian terkait dengan sistem e-voting. Administrator memverifikasi data pemilih dan memberikan tanda bahwa surat suara yang telah masuk tersebut sah. Administrator kemudian mengirimkan kembali surat suara tersebut ke pemilih setelah diberi tanda (setelah waktu pemungutan suara selesai.com 7.1 E-Vox E-Vox adalah sebuah sistem e-voting yang dikembangkan oleh Mark A. Surat suara kemudian dikirimkan ke administrator menggunakan jaringan yang aman. Pemilih memilih kandidat yang diinginkan yang telah dienkripsi menggunakan voter applet. Fairness yaitu setiap orang tidak dapat mengetahui hasil pemilihan sebelum proses pemilihan selesai dan dilakukan perhitungan suara. Penanganan keamanan sistem ditangani secara internal dan tidak menyulitkan calon pemilih dalam mengoperasikan sistem tersebut. Verifiable participation yaitu mampu membuktikan apakah seseorang telah melakukan pemungutan suara atau belum [11]. Administrator memverifikasi bahwa pemilih mempunyai hak untuk memilih. 2. administrator. Desain proses sistem E-Vox dapat dilihat pada gambar II-2. 3. Anonymizer adalah modul yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan data pemilih. anonymizer. Sistem tersebut terdiri dari empat buah modul utama yaitu counter. Berikut ini penjelasan proses yang dilakukan pada sistem E-Vox tersebut. Dan terakhir adalah voter applet yang digunakan sebagai antar muka langsung ke pemilih. administrator II-9 .gangsir.

dan melakukan validasi sebuah sistem e-voting berbasis internet. e-VOTE mempunyai tujuan untuk membuat desain. II-10 .2 e-VOTE Sistem e-VOTE adalah sebuah sistem voting berbasis internet. 7.gangsir. dan tanda dari administrator). mengumpulkan suara. Semua surat suara diterima anonymous server sebelum waktu pemungutan suara selesai. 5. Surat suara tersebut kemudian dikirimkan ke anonymous server. dan melakukan perhitungan hasil suara. validasi pemilih. Sistem ini meliputi registrasi pemilih.http://www. 8. e-VOTE adalah sebuah proyek yang dilakukan oleh konsursium terdiri dari universitas-universitas dan perusahaanperusahaan IT di Eropa pada tahun 2000. counter memberikan tanda bahwa proses telah berhasil dilakukan ke modul anonymizer dan kemudian diteruskan ke voter applet. Gambar II-2 Arsitektur Sistem E-Vox [8] II. Surat suara yang terkumpul dihitung setelah mengkonfirmasi tanda yang diberikan oleh administrator. Pemilih memverifikasi tanda dari administrator dan kemudian membuka surat suara tersebut. Setelah selesai. mengembangkan. surat suara yang telah dienkripsi.com mempublikasikan daftar nama pemilih. 4.4. 6.

gangsir. pemilihan pada internal organisasi. dan jejak pendapat. Gambar II-3 adalah contoh model arsitektur umum sistem e-VOTE. Web server adalah aplikasi di sisi server yang mengelola aplikasi e-voting yang akan diakses oleh pemilih menggunakan web browser. dan lain-lain. referendum. Pada dokumen tesis ini. Sistem e-VOTE mempunyai kelebihan mengenai banyaknya pilihan arsitektur sistem yang bisa digunakan. otentikasi menggunakan kartu chip. Web browser adalah aplikasi untuk mengakses web server yang berisi aplikasi evoting.com Sistem e-VOTE terdiri dari empat macam domain aplikasi yang berbeda yaitu pemilihan umum.http://www. Misalnya. otentikasi dengan dua password. sistem e-VOTE yang dibahas hanya pada modul pemilihan umum karena karakteristiknya paling sesuai dengan model yang dikembangkan pada tesis ini. II-11 . 1. proses penanganan otentikasi calon pemilih ada banyak alternatif yang bisa digunakan. alternatif tersebut antara lain otentikasi dengan satu password. Pada contoh model yang digunakan sebagai perbandingan saat ini adalah salah satu bentuk umum arsitektur sistem e-VOTE. Jadi web browser menjadi suatu e-voting front end yang berinteraksi langsung dengan pemilih. Gambar II-3 Arsitektur Sistem e-VOTE [7] Berikut ini adalah penjelasan setiap komponen dari Gambar II-3 Arsitektur Sistem eVOTE. 2. Setiap domain aplikasi tersebut mempunyai requirement dan arsitektur sistem yang berbeda-beda.

dan pemeriksaan daftar suara yang telah masuk. Daftar calon pemilih tersebut akan dimasukkan ke modul CA dan modul Message board untuk membuktikan apakah calon pemilih yang masuk tersebut telah terdaftar atau belum. Administrative client adalah komputer client untuk kegiatan administratif yang hanya digunakan apabila kegiatan administratif tersebut tidak dilakukan otomatis pada Message board. Voting Machine adalah mesin yang digunakan untuk melakukan proses pemungutan suara. II. 7. pemeriksaan daftar pemilih.gangsir. 5. Secara umum.3 MarkPledge MarkPledge adalah sistem e-voting yang dikembangkan oleh Andrew Neff sekitar tahun 2000.4. Registration client adalah berisi daftar calon pemilih. Message board adalah bagian server yang berfungsi untuk mengumpulkan dan menghitung suara yang telah masuk. Gambar II-4 Arsitektur Sistem MarkPledge [1] Berikut ini adalah penjelasan setiap bagian pada arsitektur sistem MarkPledge sesuai gambar II-4. 4.com 3. II-12 . Certification Authority (CA) adalah modul yang berfungsi untuk memeriksa apakah calon pemilih mempunyai hak akses untuk memilih atau tidak. sistem MarkPledge mempunyai arsitektur seperti pada Gambar II-4.http://www. 6. Tally server adalah bagian server untuk melakukan dekripsi terhadap hasil pemungutan suara setelah proses pemungutan suara selesai dilakukan. 1. Kegiatan adminstratif tersebut antara lain perhitungan suara secara manual.

sebuah tempat yang terjaga privasinya. Dan jika tidak. Pada paper yang ditulis oleh Ben Adida [1] membahas mengenai jaminan terhadap hasil penghitungan suara pada skema voting system MarkPledge. Suara yang masuk akan diverifikasi oleh bagian helper untuk menentukan valid atau tidaknya surat suara tersebut. 3. Dan yang kedua adalah memastikan bahwa surat suara yang masuk dihitung dengan benar sesuai pilihan yang ada pada surat suara. 6. Pemilih memasukkan sebuah password yang digunakan untuk membuka surat suara yang telah dienkripsi. maka pemilih harus kembali memasukkan suara pilihannya. Helper adalah bagian yang bertugas memverifikasi surat suara apakah surat suara yang masuk valid atau tidak. Mesin membuat surat suara dijital berisi hasil pilihan pemilih yang telah dienkripsi. 8. Jika surat suara tersebut valid maka proses akan dilanjutkan ke bagian berikutnya.com 2. 7. 4.http://www. Pemilih memasukkan suara pilihannya ke mesin voting. Pertama adalah memastikan bahwa tidak ada manipulasi terhadap pilihan yang sudah masuk pada surat suara. 2. 3. Suara yang telah ditambahkan data dummy tersebut kemudian dikirimkan ke modul bulletin board. 5. Modul ini bertugas untuk mengumpulkan surat suara dijital dan kemudian menghitungnya setelah waktu pemungutan suara berakhir. Mesin mengirimkan surat suara yang telah dienkripsi dan kemudian pemilih menerima receipt (bukti hasil pilihan) [4]. Bulletin board adalah modul yang digunakan untuk mengumpulkan data suara yang telah masuk dan melakukan perhitungan hasil pemungutan suara. Salah satu bagian yang sangat penting pada sebuah sistem pemungutan suara (voting) adalah verifikasi terhadap hasil pemungutan suara.gangsir. Mesin menampilkan password tersebut dan juga menambahkan data dummy yang digunakan untuk melindungi privasi pemilih. dan kemudian mengaktifkan mesin voting (voting machine). 1. Ada dua hal yang penting yang harus diverifikasi. Pemilih masuk ke bilik pemungutan suara. Berikut ini adalah proses yang terjadi pada saat pelaksanaan pemungutan suara menggunakan sistem MarkPledge. II-13 .

Sistem di TPS dibagi menjadi beberapa proses sebagai berikut. 1.gangsir. a. Sistem yang dikembangkan tersebut membahas lebih mendalam mengenai cara menangani faktor keamanan data khususnya terkait masalah kerahasiaan data. Sistem ini menggunakan kartu pemilihan. Metode pertama adalah universal verifiability.http://www. Pemilih melakukan pendaftaran ulang pada bagian registrasi di TPS. Gambar II-5 berisi mengenai arsitektur sistem e-voting terpusat. Pemilih memperoleh kartu suara yang datanya telah dienkripsi dan kemudian melakukan inisiasi kartu. b. II. 2. Receipt tersebut berisi bukti bahwa suara yang telah dimasukkan tidak dimanipulasi dan pemilih dapat melakukan pengecekan pada bulletin board.4. Metode yang digunakan untuk mengatasi faktor tersebut adalah dengan melakukan kriptografi. yaitu sebuah kartu kecil yang mempunyai chip memory dan digunakan sebagai media penyimpanan suara yang dapat digunakan untuk perhitungan suara secara manual.com Ada dua macam metode yang digunakan dalam memastikan terhadap hasil penghitungan suara. c. Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. II-14 . Institut Teknologi Bandung [8]. Setelah semua suara masuk ke bulletin board maka semua orang dapat memastikan bahwa data orang yang telah memasukkan pilihan sesuai dengan data suara yang masuk. Pada metode ini semua orang dapat memverifikasi bahwa hanya pemilih yang terdaftar yang memasukkan suara dan suara yang masuk dihitung dengan benar.4 Sistem E-Voting Terpusat Sistem E-Voting Terpusat adalah sistem yang dikembangkan oleh Philip Anderson Hutapea pada tahun 2009 sebagai bagian dari tugas akhir program studi Informatika. Metode kedua adalah ballot casting assurance. Pada metode ini hanya pemilih yang dapat memverifikasi sendiri bahwa surat suara yang dimasukkan dihitung sesuai dengan pilihan yang dia masukkan. Cara yang dilakukan adalah pada saat memilih pemilih memperoleh receipt. Sistem melakukan validasi kartu suara yang dimasukkan oleh pemilih. Secara umum sistem dibagi menjadi dua bagian utama yaitu sistem yang berada di TPS (Tempat Pemungutan Suara) dan sistem di KPU (Komisi Pemilihan Umum). Berikut ini adalah penjelasan alur pada skema pelaksanaan sistem e-voting tersebut.

1 Pengertian Umum Web World Wide Web (WWW) atau biasa disebut web adalah sebuah sistem yang saling terkait menggunakan dokumen hypertext yang diakses melalui jaringan internet.http://www.5 Web II. II-15 . dan file multimedia lainnya dapat diakses menggunakan web browser. banyak standar yang digunakan.5. video.com d. gambar. Berikut ini adalah beberapa standar yang sangat sering digunakan dalam teknologi web. Hal ini mendorong perkembangan penggunaan teknologi web dengat sangat pesat. Sebuah halaman web yang berisi teks. Sistem menyimpan suara yang masuk. Selain beberapa standar di bawah.gangsir. sebenarnya masih banyak standar lain yang digunakan. Pada tahun 1993. Gambar II-5 Arsitektur Sistem E-voting Terpusat [8] II. Pemilih melakukan pengisian suara. Dalam pemanfaatan teknologi web tersebut. komputer-komputer yang berada di TPS akan mengirimkan data suara tersebut ke KPU melalui jaringan komputer yang aman. Web pertama kali muncul pada awal tahun 1991 yang dikembangkan oleh Tim Berners-Lee. Setelah pelaksanaan pemungutan suara selesai. e. 3. teknologi web menjadi teknologi yang bebas digunakan oleh siapa saja tanpa biaya apapun.

com • HTML (HyperText Markup Language) atau XHTML (eXtended HTML). • Setelah web browser menerima paket yang dikirim oleh web server. • HTTP (HyperText Transfer Protocol). gambar. Standar ini adalah markup language untuk mendefinisikan struktur dan interpretasi dokumen hypertext yang dikeluarkan oleh W3C (World Wide Web Consortium) yang dikepalai oleh Tim Berners-Lee. misalnya protokol HTTP. • • Pertama adalah mengakses suatu halaman web dengan memasukkan URI dari halaman tersebut pada web browser. Banyak komputer melakukan akses pada jaringan yang sama menimbulkan kerawanan II-16 . DNS adalah sebuah basis data global terdistribusi yang menyimpan data seluruh nama web server. maka web server kemudian memberikan balasan sesuai permintaan web browser tersebut dengan protokol tertentu.2 Keamanan Web Aspek keamanan (security) merupakan aspek yang sangat penting dalam penggunaan web. Standar ini dikeluarkan oleh IETF (Internet Engineering Task Force). • • CSS (Cascading Style Sheets). Standar ini digunakan untuk memberikan spesifikasi bagaimana web browser dan server saling mengenali dan berkomunikasi. Secara umum cara kerja web adalah sebagai berikut. Standar ini adalah standar stylesheets yang dikeluarkan oleh W3C untuk mengatur tampilan pada suatu halaman web. baik berupa dokumen hypertext.http://www.5.gangsir. Web browser kemudian mengakses web server sesuai dengan URI yang telah dimasukkan. II. maka web browser kemudian menerjemahkan isi paket tersebut dan menampilkannya ke layar sesuai dengan spesifikasi paket tersebut. URI (Uniform Resource Identifier). atau sumber lainnya. • Setelah permintaan dari web browser sampai ke web server. Jika URI yang dimasukkan tadi masih menggunakan nama web server (belum menggunakan IP address) maka nama web server tersebut harus diubah menjadi sebuah IP adress menggunakan DNS (Domain Name System). Standar ini adalah sebuah sistem umum yang digunakan untuk mengakses suatu sumber di internet.

Demikian juga dengan sistem e-voting. baik sistem operasi. Serangan ini dilakukan dengan cara mengambil alih koneksi yang terjadi antara komputer client dan server. 4. 3. Berikut ini adalah beberapa macam serangan terhadap suatu jaringan internet. Sniffing. misalnya sistem perbankan dan e-commerce harus mempunyai tingkat keamanan yang tinggi karena resiko yang dihadapi cukup besar apabila ada penyusup. Serangan cara ini dilakukan dengan cara menyusupkan orangorang agar mempunyai hak akses terhadap sistem tersebut untuk menghancurkan sistem maupun melakukan pencurian data [5]. Serangan tipe ini dilakukan dengan cara menyerang kelemahan-kelemahan sistem tersebut. sistem basis data. Back door. II-17 . sistem ini harus mempunyai tingkat keamanan yang tinggi karena jika sistem ini berhasil ditembus maka akan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Scanning. Meskipun tingkat keamanan sistem tidak ada yang sempurna. Tidak ada suatu perangkat lunak yang sempurna. Tipe serangan ini dilakukan untuk membuat sistem tidak mampu memberikan layanan kembali. Denial of Service (DoS). Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan pada sistem. 1. 7. 6. Pihak yang tidak bertanggung jawab mencoba melakukan akses secara langsung pada komputer server. saat ini telah banyak sistem-sistem yang memanfaatkan jaringan internet khususnya teknologi web. Serangan ini digunakan untuk mengetahui informasi yang dipertukarkan antara komputer client dan server. Tingkat keamanan sebuah sistem sangat tergantung pada tingkat kepentingan sistem tersebut. Pihak yang tidak bertanggung jawab mencoba mempelajari dan mengenali jaringan dan sistem yang digunakan. maupun sistem yang kita kembangkan. Social engineering. Physical. maka hal tersebut akan mempermudah mereka dalam merusak sistem.gangsir.com dalam pemanfaatan web. 5.http://www. Hijacking. Tidak ada sebuah sistem mempunyai tingkat keamanan yang sempurna. Berikut ini adalah beberapa cara untuk meingkatkan keamanan sistem. 2. Jika mereka telah menguasainya. Pemilihan teknologi web tersebut karena web mempunyai kelebihan dalam hal kemudahan akses dari mana saja hanya menggunakan web browser.

http://www.gangsir.com 1. Penggunaan VPN (Virtual Private Network) dapat digunakan untuk membatasi pihak-pihak yang diperbolehkan untuk mengakses jaringan [5]. Mereka harus mengetahui bagaimana cara untuk menjaga keamanan sistem sesuai dengan hak akses yang mereka miliki terhadap sistem. dan sistem lainnya. 4. Pengamanan dilakukan dengan cara mengatur lalu lintas jaringan. Education. Firewall. 3. misalnya pengamanan pada ruang server dengan penjagaan satpam. Meningkatkan keamanan aplikasi yang digunakan baik sistem operasi. maupun administrator dengan sistem merupakan hal yang sangat penting. Application security. Gambar II-6 Karakteristik Keamanan Sistem Penentuan tingkat keamanan sebuah sistem yang terhubung ke jaringan internet sangat tergantung pada karakteristik sistem tersebut. Pemahaman mengenai sistem yang digunakan merupakan hal yang penting untuk dimiliki agar mampu melakukan pengamanan dari sudut pandang aplikasi. Pengamanan dilakukan langsung secara fisik. 2. Pembelajaran bagi semua pihak yang terkait baik pengguna. Phisycal security. sistem basis data. Gambar II-6 Karakteristik Keamanan Sistem II-18 .

Sistem tersebut harus mampu menyeimbangkan antara availability (ketersediaan layanan). Sebagai contoh sistem pada ISP (Internet Service Provider) akan lebih fokus pada availability. maupun jaringan. dan confidentiality (kerahasiaan data) sesuai dengan karakteristiknya [5]. dan sistem keuangan akan lebih fokus pada integrity. perangkat lunak.com menunjukkan karakteristik umum keamanan sistem pada jaringan serta kecenderungan sistem ISP.http://www. sistem militer lebih fokus pada confidentiality. Karakteristik sistem tersebut akan mempengaruhi desain sistem baik dari sudut pandang perangkat keras. dan keuangan terhadap karakteristik tersebut.gangsir. II-19 . integrity (integritas data). militer.

Sedangkan Sistem E-voting Terpusat dijadikan acuan karena sistem tersebut merupakan sistem yang telah dikembangkan sebelumnya di ITB (Institut Teknologi Bandung). Aktor tersebut akan menjadi acuan dalam pembuatan diagram use case dari model e-voting yang akan dikembangkan. III. eVOTE. Jika surat suara tersebut valid maka Administrator akan memberikan tanda pada surat suara tersebut sehingga surat suara tersebut bisa masuk proses selanjutnya. Pada sistem E-Vox faktor keamanan ditangani oleh sebuah modul bernama Administrator. Kedua hal tersebut merupakan faktor yang sangat penting agar suatu sistem e-voting dapat berjalan dengan baik dan diterima oleh masyarakat. Pemilihan ketiga sistem pertama tersebut sebagai tinjauan pustaka dalam tesis ini karena sistem tersebut mempunyai model yang serupa dan bisa dijadikan acuan dalam pembuatan model e-voting berbasis web. Sedangkan untuk III-1 . Untuk menjaga security dan privacy.com BAB III ANALISIS Bab ini membahas mengenai analisis kebutuhan terkait e-voting.4.1 Analisis Perbandingan terhadap Sistem Lain Pada Bab II. serta analisis mengenai aktor yang terlibat dalam sistem e-voting. MarkPledge. Analisis tersebut meliputi analisis terhadap sistem lain yang dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan model.http://www. keempat sistem tersebut menggunakan metode yang berbeda-beda. E-Voting telah disebutkan beberapa contoh sistem e-voting yang telah dikembangkan. Keempat sistem tersebut mempunyai fokus pembahasan pada hal yang sama yaitu security (keamanan) dan privacy (kerahasiaan). Modul tersebut bertugas untuk melakukan validasi terhadap surat suara yang masuk. Pengembangan model e-voting berbasis web ini diharapkan dapat memberikan kelanjutan mengenai penelitian sistem e-voting di ITB. analisis kebutuhan baik fungsional maupun non-fungsional. Pada tesis ini hanya disebutkan empat buah contoh sistem yaitu E-Vox. Sebenarnya selain keempat sistem itu masih banyak lagi sistem e-voting yang telah dikembangkan maupun telah digunakan di berbagai negara.gangsir. dan Sistem E-voting Terpusat.

Sistem MarkPledge lebih menekankan pada verifikasi terhadap hasil perhitungan suara. Sistem ini menggunakan metode batch processing. validasi pemilih dilakukan dua kali oleh modul yang berbeda. Sedangkan masalah kerahasiaan data. yaitu teknologi web. Sistem ini sangat menekankan mengenai metode kriptografi yang digunakan. Modul tersebut berfungsi untuk menyamarkan surat suara yang masuk. Selain itu. Universal verifiability adalah verifikasi yang dapat dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap hasil suara sedangkan ballot casting assurance adalah verifikasi hasil perhitungan suara yang dilakukan oleh pemilih (setiap pemilih hanya dapat melakukan verifikasi terhadap surat suaranya masing-masing). penanganan faktor keamanan dan kerahasiaan data dilakukan pada modul yang berada di TPS. Selain itu. Penanganan kerahasiaan data sudah menjadi bagian yang terintegrasi dalam modul-modul e-VOTE. Pada sistem tersebut. Kedua sistem tersebut melibatkan aktor-aktor yang hampir sama. data disimpan pada komputer TPS. Dari beberapa sudut pandang yang berbeda dapat dibuat kesimpulan bahwa sistem E-Vox mempunyai kelebihan dalam kejelasan mengenai aliran data antar modul.gangsir.com menangani masalah kerahasiaan. dan kemudian pada saat penghitungan suara data tersebut dikirimkan ke komputer KPU. sistem e-VOTE juga menggunakan teknologi yang sama. Modul tersebut adalah Registration Client dan CA (Certification Authority). e-VOTE tidak melakukan penanganan secara khusus dengan modul tersebut.http://www. verifikasi perhitungan suara dilakukan dengan dua macam cara yaitu universal verifiability dan ballot casting assurance. sistem ini juga baik dalam menjaga kerahasiaan data hasil pemilihan dengan adanya modul Anonymizer. penanganan faktor keamanan dan kerahasiaan data secara khusus tidak tampak dalam arsitekturnya. Pada Sistem E-voting Terpusat. E-Vox melakukan penanganan khusus menggunakan modul Anonymizer. Sistem menggunakan suatu kartu kecil yang menggunakan chip memory untuk penyimpanan suara. Pada sistem MarkPledge. Sistem e-VOTE mempunyai kelebihan dalam kemiripan dengan sistem pemilihan umum yang berlaku di Indonesia saat ini. III-2 . Pada sistem e-VOTE.

Portability adalah kemudahan dalam pengaksesan sistem khususnya terkait dengan faktor waktu dan lokasi pengaksesan. III. Usability adalah kebutuhan non fungsional terkait dengan kemudahan penggunaan sistem atau perangkat lunak oleh user. Perbandingan Sistem E-Vox. sedangkan sistem e-voting terpusat bersifat batch processing. 2. perangkat keras. MarkPledge. Pada tesis ini. Portability. model difokuskan pada penggunaan teknologi web sehingga prosesnya bersifat real time. 4. Perangkat atau teknologi tersebut meliputi perangkat lunak. Sistem e-voting terpusat tersebut mempunyai karakteristik yang cukup berbeda dengan model yang akan dikembangkan pada tesis ini.gangsir. Hal ini sangat diperlukan agar hasil perhitungan suara dapat diterima oleh semua pihak dan mampu meminimalisir tindakan anarkis akibat ketidakpuasan terhadap hasil perhitungan suara yang sering terjadi di Indonesia. sistem MarkPledge. Reliability yaitu kebutuhan terkait kehandalan sistem atau perangkat lunak termasuk juga faktor keamanan (security) sistem. kebutuhan non fungsional suatu perangkat lunak terdiri dari empat macam.2 Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan (requirement) sistem e-voting terdiri dari dua tipe kebutuhan yaitu kebutuhan fungsional dan kebutuhan non fungsional. serta perangkat atau teknologi yang digunakan untuk mengakses. 3. Supportability adalah kebutuhan terkait dengan dukungan dalam penggunaan sistem atau perangkat lunak.com Sistem MarkPledge mempunyai kelebihan dalam verifikasi hasil suara. Sedangkan sistem e-voting terpusat secara khusus memfokuskan diri pada penanganan masalah keamanan. e-VOTE. Perbandingan secara lebih jelas dalam bentuk tabel antara sistem E-Vox. yaitu: 1. dan perangkat jaringan. Sistem ini menggunakan kartu dengan chip memory untuk mengatasi masalah keamanan tersebut. Usability. dan E-Voting Terpusat. Reliability. sistem e-VOTE. Secara umum. III-3 .http://www. Supportability. dan sistem e-voting terpusat yang dikembangkan oleh Philip Anderson Hutapea dapat dilihat pada Lampiran A.

III-4 . Kebutuhan ini harus memenuhi persyaratan democracy yaitu seorang pemilih hanya berhak memasukkan suara sebanyak satu kali. Selain itu seorang pemilih tidak dapat membuktikan hasil pilihannya. FR-02.com Berikut ini adalah kebutuhan (requirement) sistem e-voting baik kebutuhan fungsional maupun kebutuhan non fungsional. FR-04. 4. 3.2. FR-03. Kebutuhan ini sesuai dengan persyaratan verifiability. Sistem harus dapat menampilkan rekapitulasi data hasil pemilihan. 1. Sistem harus mampu melakukan verifikasi data pemilih (voter) pemilihan umum dan mencatat status pemilih apakah telah melakukan proses pemungutan suara atau belum. 5. Sistem harus dapat menampilkan data hasil pemilihan secara detail. Kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan verifiable participation. FR-05. yaitu pemilihan legislatif (anggota DPR atau DPRD1 atau DPRD 2 dan anggota DPD) dan pemilihan kepala negara atau kepala daerah. Selain itu kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan fairness. Kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan receipt freeness. Pemilih dapat memasukkan pilihannya ke dalam sistem. Data hasil perhitungan suara harus harus dapat diverifikasi dan dibuktikan bahwa tidak ada manipulasi terhadap hasil perhitungan suara. 6. Sistem harus dapat menjumlahkan hasil pemilihan. III. FR-06. Kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan privacy yaitu hasil pemungutan suara harus tidak dapat dihubungkan dengan siapa yang melakukan pemilihan.gangsir. 2.1 Kebutuhan Fungsional Kebutuhan fungsional sistem e-voting adalah sebagai berikut. Sistem harus dapat membuktikan apakah seseorang telah melakukan proses pemilihan atau belum. tetapi kerahasisaan pemilih tetap terjaga. Kebutuhan fungsional dan non fungsional tersebut harus memenuhi persyaratan e-voting yang disebutkan pada bab II. FR-01. Sistem harus mampu memfasilitasi proses pemilihan umum di Indonesia yang terbagi menjadi dua tahap. Setiap orang tidak boleh mengetahui hasil perhitungan suara sebelum proses pemungutan suara selesai dilakukan.http://www.

Aspek keamanan (security) harus terjamin. Memfasilitasi pemilih yang sebenarnya mempunyai hak pilih namun mempunyai keterbatasan secara fisik.2 Kebutuhan Non Fungsional Kebutuhan non fungsional sistem e-voting adalah sebagai berikut.2.http://www. FR-07. NR-02. Kebutuhan ini harus memenuhi dengan persyaratan e-voting yaitu accuracy. NR-03. Penyelenggara dan pengawas dapat melakukan validasi hasil perhitungan suara. b.com 7. perangkat lunak client. 2. NR-01. Pada tahun-tahun sebelumnya. Validasi tersebut digunakan untuk membuktikan bahwa hasil perhitungan suara dilakukan dengan tepat atau akurat. Keamanan sistem ini harus mampu menjamin integritas (integrity) dan kerahasiaan (privacy) data. Jadi sistem evoting tersebut harus mempunyai perangkat lunak server. dan jaringan secara fisik juga harus benar-benar terjaga. Reliability a. Usability a. NR-04. Selain keamanan data.gangsir. b. Antarmuka dan mekanisme tersebut harus menyerupai mekanisme pemilihan umum secara konvensional seperti yang masih berjalan saat ini agar mempermudah proses pembelajaran. perangkat keras server. III. client. keamanan server. perangkat keras client. Sistem e-voting mempunyai tampilan (antarmuka) dan mekanisme pemungutan suara yang mudah untuk dipahami. 1. dan perangkat jaringan yang handal. Sistem harus dapat berjalan terus tanpa kegagalan akses selama proses pemungutan suara sampai dengan perhitungan hasil. pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos sedangkan pada tahun 2009 pemilihan dilakukan dengan cara mencontreng (√). III-5 . pemerintah Indonesia membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit hanya untuk melakukan sosialisasi perubahan mekanisme pemilihan umum tahun 2009. Sebagai perbandingan.

Banwaslu bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan dan validasi agar pelaksanaan pemilihan umum dapat memenuhi asas pemilihan umum yaitu langsung. NR-05.gangsir. III-6 . Portability a.1 Aktor Pelaksanaan proses pemungutan suara di Indonesia melibatkan 4 aktor utama. KPU bertanggung jawab untuk melaksanakan pelaksanaan pemilu dengan langsung. bebas. 4. NR-09. Wakil partai atau perseorangan untuk pemilihan presiden dan wakil presiden. Penyelanggara pemilu di Indonesia dilakukan oleh KPU maupun elemen-elemen di bawahnya. Sesuai penjelasan pada Bab II-2.3. Sistem e-voting harus mempunyai dokumen manual penggunaan. jujur. 3. antara lain sebagai berikut.http://www. Perseorangan untuk pemilihan anggota DPD. dan adil. 2. Pemilih adalah warga negara Indonesia yang telah mempunyai hak untuk memilih (berusia 17 tahun ke atas atau telah menikah) dan tidak dicabut hak pilihnya. rahasia.com 3. peserta pemilu ada tiga macam. umum. Pemilih berkewajiban untuk melakukan proses pemilihan dan berhak untuk mengetahui bahwa tidak ada manipulasi terhadap hasil pemilihan. umum. Sistem e-voting harus mempunyai dokumentasi teknis. DPRD tingkat 1. Pengawas pemilu di Indonesia dilakukan oleh Banwaslu dan elemen-elemen di bawahnya. Penyelenggara pemilu. 4. NR-08. jujur. bebas. Berikut ini adalah aktor-aktor yang terlibat dalam pelaksanaan pemungutan suara: 1. b. Sistem dapat diakses dari berbagai lokasi. dan DPRD tingkat 2. Peserta pemilu. a. Perangkat client yang digunakan mengakses sistem dapat bermacam-macam jenis baik dari segi perangkat lunak maupun perangkat keras yang digunakan. c. Pengawas pemilu. c. NR-06. rahasia. b. III. Peserta pemilu mempunyai kepentingan agar tidak terjadi kecurangan yang dapat merugikan mereka. dan adil. Ada dukungan teknis jika diperlukan. Pemilih. Partai politik untuk pemilihan anggota DPR. NR-07.3 Analisis Proses III. b. Supportability a.

http://www.gangsir.com

III.3.2 Proses Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas yang terjadi selama pelaksaaan pemungutan suara dan melibatkan ke empat aktor yang telah disebutkan sebelumnya. Proses-proses tersebut akan digambarkan keterkaitannya dengan aktor menjadi sebuah diagram use case. Pada diagram use case di bawah, proses yang ditampilkan hanya proses yang menjadi bagian dari sistem e-voting sesuai dengan pendefinisian kebutuhan fungsional yang telah disebutkan pada sub bab III.2.1 Kebutuhan Fungsional. Sebenarnya proses yang terjadi selama pelaksanaan pemilihan umum masih ada banyak aktivitas lainnya, tetapi hal tersebut bukan menjadi bagian dari sistem e-voting sehingga tidak masuk dalam pembahasan.

Gambar III-1 Use case pemilihan umum

III-7

http://www.gangsir.com

Berikut ini adalah penjelasan setiap use case pada gambar III-1 Use Case Pemilihan Umum di atas. Penjelasan tersebut meliputi kode use case, kebutuhan fungsional yang terkait dengan use case tersebut, deskripsi use case, dan kemudian kondisi sebelum (precondition) serta kondisi sesudah (postcondition) proses tersebut dilakukan.

Tabel III-1 Deskripsi use case validasi data pemilih

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi

Keterangan Validasi data pemilih UC-01 FR-01, FR-02

Penyelenggara (KPU) melakukan validasi terhadap data pemilih yang akan ikut serta pemungutan suara. Precondition Data pemilih telah tersedia. Postcondition Data pemilih yang akan mengikuti pemungutan suara telah dinyatakan valid.
Tabel III-2 Deskripsi use case login

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi Precondition Postcondition

Keterangan Login UC-02 FR-02 Pemilih melakukan login untuk mengakses sistem e-voting. Data pemilih telah tersedia dan telah dinyatakan valid. Jika login berhasil maka pemilih berhak mengakses sistem evoting, dan jika gagal maka pemilih tidak diperbolehkan mengakses sistem e-voting.
Tabel III-3 Deskripsi use case memasukkan pilihan

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi Precondition

Keterangan Memasukkan pilihan UC-03 FR-03

Pemilih memasukkan pilihan sesuai yang diharapkan. Data peserta (partai atau perseorangan) yang akan dipilih telah tersedia. Pemilih telah melakukan login. Postcondition Data hasil pilihan tersimpan.

III-8

http://www.gangsir.com Tabel III-4 Deskripsi use case menjumlahkan pilihan

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi

Keterangan Menjumlahkan pilihan UC-04 FR-04

Sistem melakukan penjumlahan hasil pilihan yang telah dimasukkan oleh para pemilih. Precondition Data hasil pilihan telah dimasukkan oleh para pemilih Waktu proses pemilihan telah selesai. Postcondition Proses perhitungan suara telah selesai dilakukan.
Tabel III-5 Deskripsi use case melihat hasil pemilihan

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi

Keterangan Melihat hasil pemilihan UC-05 FR-05, FR-06

Pemilih, pengawas, dan peserta dapat melihat atau memantau hasil perhitungan suara. Precondition Proses pemilihan telah selesai. Proses perhitungan suara telah selesai dilakukan. Postcondition Hasil perhitungan suara ditampilkan.
Tabel III-6 Deskripsi use case logout

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi Precondition Postcondition

Keterangan Logout UC-06 FR-02 Pemilih melakukan logout setelah selesai memasukkan suara Pemilih telah melakukan login Session dihapus
Tabel III-7 Deskripsi use case memantau data pemilih

Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi

Keterangan Memantau data pemilih UC-07 FR-02

Penyelenggara dapat memantau data para pemilih yang telah memberikan suaranya. Precondition Postcondition Jumlah pemilih yang telah melakukan pemungutan suara telah diketahui.

III-9

sebuah sistem khususnya terkait dengan teknologi akan berjalan dengan baik apabila sistem tersebut sesuai dengan kondisi sosial masyarakat yang ada. Hukum. 1. Oleh karena itu. Aspek hukum merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada sistem evoting. Penggunaan teknologi selain memberikan banyak peluang baru misalnya terkait dengan biaya yang lebih murah. ada beberapa aspek yang harus juga diperhatikan. Padahal. Selain itu. Penerapan sistem e-voting tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada penyesuaian hukum yang berlaku dengan sistem e-voting yang akan diterapkan.com Tabel III-8 Deskripsi use case validasi data hasil perhitungan Atribut Nama Kode Kebutuhan fungsional Deskripsi Keterangan Validasi data hasil perhitungan UC-08 FR-07 Penyelenggara dan pengawas dapat melakukan validasi terhadap hasil perhitungan suara Precondition Proses perhitungan suara telah selesai dilakukan Postcondition Data hasil perhitungan suara dinyatakan valid III. Aspek sosial sering kali terabaikan dalam pembahasan suatu sistem e-voting.4 Aspek Sistem E-Voting Selain analisis kebutuhan sistem e-voting yang telah dilakukan sebelumnya. Sistem e-voting digunakan sebagai perwujudan untuk menegakkan demokrasi pada suatu negara sehingga penerapannya harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Teknologi. penggunaan teknologi juga memunculkan ancaman baru khususnya terkait dengan keamanan data hasil pemilihan. Berikut ini adalah beberapa aspek yang mempengaruhi suatu sistem e-voting dapat berjalan dengan baik. Aspek ini sangat mempengaruhi pelaksanaan e-voting.http://www. 2. waktu yang lebih cepat. Misalnya ada sebuah sistem e-voting yang memenuhi hampir semua persyaratan yang ada tidak diterima oleh masyarakat karena sistem tersebut mensyaratkan III-10 . banyak penelitian tentang e-voting yang memfokuskan pada aspek keamanan (security). ketepatan hasil penghitungan suara. Sosial. Aspek teknologi merupakan aspek yang paling menonjol pada sistem evoting jika dibandingkan dengan sistem voting secara manual. 3.gangsir. Dengan pemanfaatan teknologi menunculkan celah-celah keamanan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pemungutan suara secara manual. dan lain sebagainya.

khususnya sistem berbasis web yang ada pada sub bab II. Kontrol akses terhadap perangkat lunak termasuk pengelolaan password untuk mengakses sistem dan sistem operasi. Prosedur ini meliputi operasi sistem secara manual. III.http://www. dan lain sebagainya. sistem e-voting mempunyai karakteristik yang sama seperti sistem keuangan seperti yang ditunjukkan pada gambar III-2. Prosedur operasional merupakan prosedur pengoperasian sistem e-voting. Kecenderungan tersebut karena integritas data pada sistem e-voting merupakan bagian yang paling penting agar sistem e-voting mampu memberikan hasil sesuai harapan. 4. Kontrol akses terhadap perangkat keras.com prosedur pemakaian yang rumit padahal tingkat pendidikan masyarakat masih cukup rendah. proteksi terhadap sistem secara fisik.5 Keamanan Sistem E-Voting Berdasarkan karakteristik keamanan sistem. 1. Gambar III-2 Karakteristik Sistem E-voting Berikut ini adalah aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam mengelola keamanan sistem e-voting.2 mengenai Keamanan Web. a. Sistem e-voting mempunyai titik berat keamanan sistem pada bagian integrity (integritas data).gangsir.5. III-11 . Jadi analisis mengenai syarat apa yang lebih penting bagi masyarakat tersebut sangat diperlukan agar sistem e-voting dapat diterima dan berjalan dengan baik. Kontrol akses terhadap sistem. Prosedur operasional. b.

Kontrol akses terhadap jaringan komunikasi.gangsir. Keamanan lokasi tempat penyimpanan server sistem e-voting. 4. Keamanan lokasi tempat melakukan pemungutan suara. III-12 . 2. Keamanan terkait instalasi perangkat lunak dan sistem operasi. Perlindungan dari aplikasi jahat misalnya virus. b.com c. c. Memanfaatkan jaringan komunikasi yang aman misalnya menggunakan VPN (Virtual Private Network). dll. Keamanan sistem secara fisik. d. Pengawasan terhadap akses yang diberikan. b. Keamanan dan integritas data. b. Keamanan jaringan sistem. a. a. 3. Melakukan enkripsi jika memanfaatkan jaringan yang dapat diakses publik.http://www. a. Keamanan perangkat lunak sistem. trojan horse.

Pada bab ini.gangsir. Aspek tersebut adalah aspek teknologi.com BAB IV MODEL WEB-VOTE Bab ini membahas mengenai model sistem e-voting yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil analisis pada bab sebelumnya. model sistem akan dilakukan dari sudut pandang teknologi. Gambar IV-1 menunjukkan gambar model Web-Vote secara umum. hukum.http://www. dan prosedur operasional. hukum. Model Web-Vote adalah model e-voting berbasis web untuk memenuhi kebutuhan pemilihan umum legislatif maupun presiden di Indonesia. Pada bab sebelumnya (bab III. sosial. Gambar IV-1 Model Umum Web-Vote IV-1 . Penjelasan lebih detail setiap bagian pada model Web-Vote dapat dilihat pada sub bab-sub bab berikutnya. sosial. dan prosedur operasional.4 tentang Aspek Sistem E-voting) telah disebutkan aspek-aspek yang sangat berpengaruh agar sistem evoting dapat berjalan lancar dan memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Model sistem e-voting yang dikembangkan pada tesis ini diberi nama “Web-Vote”.

Jaringan komunikasi data yang dilewati antara client dan server harus dipastikan aman misalnya menggunakan VPN (Virtual Private Network). Secara umum. 1.http://www.com IV.gangsir. Jika data antara username dan password telah sesuai. Sistem e-voting beserta seluruh datanya di simpan pada komputer server. Gambar IV-3 Desain E-voting Server Berikut ini penjelasan mengenai setiap modul pada gambar IV-3 mengenai desain e-voting server. Modul Authentication. Pada gambar IV-3 tentang Desain E-voting Server dapat dilihat desain server sistem e-voting secara lebih detail. hanya berupa web browser biasa seperti Internet Explorer. Mozilla Firefox. Gambar IV-2 Desain Umum Sistem Pada sistem e-voting berbasis web. Kemudian sistem tersebut dapat diakses dari komputer client dengan menggunakan web browser. Modul untuk menangani permintaan login dari komputer client. Pada bagian client. Google Chrome atau web browser lainnya. desain sistem e-voting adalah berbasis client dan server seperti pada gambar IV-2 Desain Umum Sistem karena sistem e-voting ini berbasis web. terdapat beberapa fungsi yang harus ditangani. Sedangkan bagian server. bagian yang menonjol adalah pada bagian server.1 Model Teknologi Web-Vote Faktor teknologi adalah faktor yang paling menonjol pada sistem e-voting. maka kemudian IV-2 . Opera. Safari.

Hasil pemungutan suara harus melalui modul Anonymizer terlebih dahulu sebelum data hasil pemilihan disimpan. Jadi selain pemilih. Basis data Voter harus memenuhi persyaratan sebagai berikut. a. Sebelum pelaksanaan pemilihan umum berlangsung. a. 2.com dilakukan pengecekan status pemilih. Detail hasil pemungutan suara tidak dapat dihubungkan dengan data pemilih. Data pemilih valid. Basis data Voting result harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.http://www. Menyimpan data terkait status pemilih apakah telah melakukan proses pemungutan suara atau belum. Modul ini digunakan untuk menyamarkan data surat suara yang masuk. penyelenggara (KPU) harus memastikan bahwa data yang disimpan pada basis data voter benar-benar valid. Pemilih (voter) akan memilih peserta (candidate) sesuai yang mereka inginkan. 2. a. Basis data Candidate harus memenuhi persyaratan sebagai berikut. Modul Counter. Modul Anonymizer. Basis data ini berisi data pemilih (voter) yang telah dinyatakan valid dan berhak mengikuti pemilihan umum. 3. IV-3 .gangsir. Data kandidat valid. 4. 3. tidak ada seorangpun yang mengetahui pilihan yang dimasukkan oleh pemilih. Data surat suara yang telah disamarkan harus tetap valid dan merepresentasikan hasil pemilihan umum yang benar. Modul ini digunakan untuk menghitung hasil surat suara yang telah masuk setelah proses pemungutan suara selesai dilakukan. Berisi data kandidat calon anggota legislatif dan calon presiden. b. b. b. Jika pemilih sudah melakukan pemungutan suara maka pemilih tidak berhak mengakses modul selanjutnya. Berikut ini penjelasan mengenai setiap basis data pada gambar VI-3 mengenai desain evoting server. Basis data ini berisi data peserta (candidate) pemilihan umum yang akan dipilih oleh pemilih. Basis data Candidate. Basis data Voting result. Berisi data detail hasil pemungutan suara. 1. Basis data ini berisi data surat suara yang telah masuk. Basis data Voter. Modul Ballot casting. Modul ini digunakan untuk menangani proses pemungutan suara.

Dasar hukum berisi sistem e-voting harus mempunyai dasar hukum yang jelas sehingga hasil yang diperoleh mempunyai kekuatan hukum yang jelas. yaitu Dasar Hukum dan Materi Hukum. 2. 6. Sistem evoting minimal diatur oleh peraturan setingkat undang-undang (UU). 3. model hukum Web-Vote dibagi menjadi dua bagian. Calon pemilih (voter) melakukan permintaan login dengan memasukkan username dan password melalui komputer client. Jadi hasil pemilihan umum yang diperoleh dengan sistem e-voting dapat diakui dan digunakan. Penyelenggara pemilihan umum (KPU) dan pengawas pemilihan umum (Banwaslu) harus melakukan validasi data hasil perhitungan suara dengan membandingkan antara jumlah suara yang telah masuk dengan jumlah pemilih yang telah melakukan proses pemungutan suara. Jika telah sesuai. Cara kerja modul anonymizer adalah modul ini akan memberikan nomor acak dan unik (berbeda untuk setiap pemilih).2 Model Hukum Web-Vote Secara umum. Modul ballot casting akan mengambil data peserta pemilihan umum dari basis data candidate. Modul ini akan menghitung suara yang tersimpan dalam basis data voting result setelah periode pemungutan suara selesai dilakukan. maka modul anonymizer akan menyamarkan data pemilih sehingga tidak dapat ditelusuri pilihan apa yang telah dimasukkan oleh pemilih tersebut. dan kemudian nomor tersebut yang akan disimpan ke basis data voting result beserta pilihannya. IV. pemilih dapat memastikan bahwa suara yang dia masukkan telah benarbenar dihitung dan tidak ada manipulasi terhadap surat suara yang telah masuk. Proses yang terakhir adalah proses perhitungan suara oleh modul counter. 5. 4. 1.http://www. Jadi ketika proses penghitungan suara telah dilakukan. Pemilih mengakses modul ballot casting untuk memasukkan pilihannya.gangsir. maka pemilih berhak untuk mengakses modul selanjutnya. Setelah pemilih menentukan pilihannya. IV-4 .com Berikut ini adalah penjelasan langkah-langkah yang terjadi pada e-voting server. Modul anonymizer tersebut akan memberikan receipt (bukti) bahwa pemilih telah memasukkan suaranya. Kemudian pemilih memperoleh receipt (bukti) yang berisi nomor acak tersebut. Modul Authentication akan memeriksa apakah data username dan password yang dimasukkan tersebut telah sesuai dengan basis data voter.

Pihak penyelenggara harus melakukan validasi terhadap data pemilih yang disimpan dalam basis data voter. Pengaturan hak akses terhadap komputer client. Komputer server e-voting hanya boleh diakses oleh perwakilan pihak penyelenggara (KPU). d. a. pihak penyelenggara bersama pihak pengawas harus memastikan bahwa komputer client berjalan dengan baik dan dapat digunakan untuk mengakses server e-voting.com Sedangkan Materi Hukum berisi tentang isi materi hukum terkait sistem e-voting. dan jaringan yang akan digunakan pada pelaksanaan sistem e-voting. IV-5 . KPU sebagai penyelenggara pemilihan umum dan Banwaslu sebagai pengawas pemilihan umum harus menunjuk masing-masing wakil mereka untuk mengakses sistem e-voting.http://www. Pengaturan hak akses terhadap jaringan internet. Setiap pengaksesan ke komputer server harus dilakukan pengawasan oleh pihak pengawas (Banwaslu). 2. a. b. 3.gangsir. Jaringan internet yang digunakan untuk komunikasi antara komputer server dan client sistem e-voting harus benar-benar aman. client. Pengaturan hak akses terhadap komputer server e-voting. Sebelum pelaksanaan pemungutan suara. b. pihak penyelenggara bersama pihak pengawas harus memastikan bahwa komputer server berjalan dengan baik dan basis data voting result masih kosong. 1. Sebelum pelaksanaan pemungutan suara. a. Server e-voting hanya dapat diakses oleh komputer client yang telah tersedia di TPS (Tempat Pemungutan Suara). c. Sistem evoting hanya boleh diakses oleh perwakilan dari KPU dan pada saat pengaksesan harus selalu dalam pengawasan perwakilan Banwaslu yang telah ditunjuk. Berikut ini adalah mekanisme pengaturan akses terhadap komputer server.

RW (Rukun Warga). dan penyuluhan langsung ke masyarakat melalui perwakilan dari kelurahan.3 Model Sosial Web-Vote Faktor sosial sering kali terlupakan pada desain suatu sistem.com IV.gangsir. Gambar IV-4 Konversi Sistem Berikut ini adalah penjelasan dari setiap metode tersebut. 1. IV-6 . internet). Gambar IV-4 Konversi Sistem menunjukkan perbedaan antara keempat metode tersebut. 2. Konversi dilakukan pada seluruh bagian organisasi dan dilakukan secara paralel. Konversi hanya dilakukan pada sebagian tempat atau sub organisasi (menggunakan pilot project atau proyek percontohan) dan dilakukan secara paralel (ada overlapping antara sistem lama dan sistem baru). Prosedur pelaksanaan pemilihan umum menggunakan sistem e-voting dibuat serupa dengan sistem konvensional yang telah dilakukan sebelumnya agar memudahkan masyarakat dalam belajar dan mengurangi resistensi terhadap sistem yang baru. radio. Berikut ini adalah faktor-faktor sosial yang harus diperhatikan agar sistem e-voting dapat berjalan dengan baik.http://www. konversi sistem dari sistem lama ke sistem baru ada empat macam metode. media elektronik (televisi. atau RT (Rukun Tetangga). Kegiatan sosialisasi sistem baru harus dilakukan ke semua lapisan masyarakat melalui media cetak (surat kabar). Cara konversi sistem dan cara sosialisasi sering kali kurang diperhatikan pada awal pengembangan sistem. Secara umum.

Konversi dilakukan pada sebagian tempat atau sub organisasi dan dilakukan secara langsung. Konversi sistem pemilihan umum dari konvensional ke sistem e-voting sebaiknya menggunakan metode pertama. Penerapan sistem e-voting di Indonesia pada tahap pertama sebaiknya diprioritaskan pada masyarakat dengan kriteria sebagai berikut. Prosedur pengoperasian sistem e-voting pada bagain server dan jaringan yang menghubungkan client dengan server sudah cukup tercakup dalam desain hukum sistem yang telah dijelaskan pada sub bab IV. Cara ini dipilih IV-7 . IV. Sistem e-voting berbasis web sebenarnya memungkinkan untuk diakses dari mana saja dan dengan komputer dengan spesifikasi standar asalkan komputer tersebut mempunyai web browser.4 Model Prosedur Operasional Web-Vote Model prosedur operasional sistem adalah desain mengenai cara pengoperasian sistem evoting pada saat proses pemungutan suara. Jadi sistem lama langsung tidak terpakai. Namun. Penguasaan mengenai teknologi informasi khususnya internet cukup baik.2 Model Hukum Sistem. • • • • Pendidikan relatif tinggi. pada desain prosedur operasional sistem ini hak akses sistem e-voting dibatasi hanya boleh diakses dari komputer-komputer yang berada di TPS. digantikan oleh sistem yang baru. minimal setingkat SLTA (Sekolah Lanjut Tingkat Atas). Tinggal di daerah perkotaan yang mempunyai akses informasi dan khususnya informasi melalui internet cukup baik. 4.com 3. Gambar IV-4 menunjukkan prosedur operasional sistem pada bagian client. Jadi masyarakat yang masih berpendidikan rendah dan kurang mengenal teknologi tidak dipaksakan secara langsung untuk mengadopsi sistem baru. Masyarakat bebas memilih akan menggunakan pemungutan suara secara konvensional maupun menggunakan sistem e-voting. Masyarakat yang cukup terbuka dalam menerima hal-hal yang baru khususnya halhal yang berkaitan dengan teknologi baru.gangsir. Konversi dilakukan pada seluruh organisasi dan dilakukan secara langsung. yaitu metode yang menggunakan proyek percontohan dan dilakukan secara paralel.http://www.

Negara-negara tersebut rata-rata membutuhkan dua sampai tiga periode pemilihan umum agar sistem e-voting dapat diterapkan secara nasional. Pertama calon pemilih memasuki pintu masuk TPS.http://www. Dengan tingkat pendidikan dan kesejahteraan yang tinggi. 1. Setelah memasuki pintu masuk.com agar teknologi ini bisa diadopsi dengan baik oleh masyarakat dan dengan tingkat resistensi sekecil mungkin. Pintu masuk dan pintu keluar TPS dibedakan. sistem e-voting berbasis web ini diharapkan dapat diakses dari mana saja.gangsir. Cara adopsi secara bertahap dipilih sesuai dengan pengalaman implementasi sistem evoting yang telah dilakukan oleh negara lain. Pada bagian pendaftaran ini akan dilakukan pengecekan apakah calon pemilih tersebut telah IV-8 . Pada perkembangan ke depannya. Gambar IV-5 Alur Pelaksanaan Pemungutan Suara Berikut ini adalah alur pergerakan pemilih (voter) pada saat pelaksanaan pemungutan suara seperti pada Gambar IV-5. jadi calon pemilih tidak boleh masuk dari pintu keluar. calon pemilih akan melakukan pendaftaran. Hal tersebut mungkin tercapai apabila tingkat pendidikan dan kesejahteraan penduduk Indonesia sudah cukup tinggi. peluang untuk munculnya praktek jual beli suara dapat diminimalisir.

b. Pemilih kemudian mencatat kode tersebut untuk mengecek apakah hasil pilihan yang telah dia masukkan telah tersimpan dan tidak ada manipulasi terhadap hasil pilihan setelah tahap perhitungan hasil suara selesai dilakukan. c.com terdaftar sebagai calon pemilih. pemilih kemudian memilih calon anggota legislatif atau partai. Setelah calon pemilih dinyatakan telah terdaftar dan belum melakukan pemungutan suara maka dia berhak untuk mengikuti tahap selanjutnya. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut. Setelah pemilih selesai melakukan pemungutan suara baik menggunakan metode konvensional maupun menggunakan sistem e-voting harus melalui tahap Pencatatan terlebih dahulu sebelum keluar TPS. pemilih memasukkan kertas suara tersebut ke dalam kotak suara. Dia berhak memilih untuk melakukan pemungutan suara secara konvensional maupun menggunakan sistem e-voting. d.gangsir. b. 3. Setelah pemilih berhasil melakukan login. calon anggota DPD. Pelaksanaan pemungutan suara dengan metode konvensional terdiri dari tiga tahapan yang harus dilalui. Pemilih kemudian menyimpan hasil pilihan tersebut. Setelah selesai melakukan pencoblosan atau pencontrengan. Berikut ini tahaptahap yang dilakukan selama mengakses sistem e-voting. a. pemilih harus memasukkan data username dan password untuk melakukan login. pemilih harus memastikan bahwa kertas suara yang dia ambil dalam kondisi baik dan tidak cacat. c. Pemilih mengambil kertas suara. Pelaksanaan pemungutan suara menggunakan sistem e-voting. yaitu tahap pemungutan suara. Pertama sebelum mengakses sistem e-voting yang ada di server. Selain itu juga dilakukan pengecekan apakah dia telah mengikuti pemungutan suara atau belum. 4. atau calon kepala pemerintahan sesuai dengan pilihannya.http://www. Pemilih melakukan pencoblosan atau pencontrengan pada kertas suara di dalam bilik suara. a. e. Sistem kemudian membangkitkan kode yang unik untuk setiap pemilih sebagai bukti pemilih telah memasukkan pilihannya. 2. Kode tersebut digunakan untuk menyamarkan data pilihan yang telah dimasukkan oleh pemilih. Pada saat pengambilan kertas suara. Data pemilih akan dicatat telah melakukan IV-9 .

gangsir.http://www. Jari pemilih diberi tanda dengan tinta. seperti yang telah dilakukan pada pemilu-pemilu sebelumnya di Indonesia.com pemungutan suara sehingga dia tidak akan bisa melakukan pemungutan suara kembali baik ditempat semula maupun di TPS lainnya. IV-10 . sebagai tanda bahwa dia telah melakukan proses pemungutan suara.

Pembuatan prototype berisi dua macam hal yaitu perancangan kelas dan perancangan interaksi sistem. Pemilihan umum legislatif meliputi pemilihan anggota DPR. bab ini juga berisi pengujian terhadap prototype maupun model sistem yang telah dihasilkan pada bab IV. V. Modul president Modul president digunakan untuk melakukan pemungutan suara pada pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Modul ini dapat diakses secara bebas oleh masyarakat melalui jaringan internet. Modul ini hanya dapat diakses pada saat pemilihan umum legislatif di TPS-TPS. anggota DPRD tingkat 1. Pembuatan prototype digunakan untuk mempermudah dalam pemahaman model yang telah dijelaskan pada bab IV. 1. 2. V-1 .1 Prototype Prototype Web-Vote terdiri dari empat buah modul.com BAB V PROTOTYPE DAN PENGUJIAN Bab ini membahas mengenai implementasi pembuatan prototype sistem e-voting berbasis web. Modul ini hanya dapat diakses pada saat pemilihan umum presiden di TPS-TPS. Modul result Modul result digunakan untuk melihat hasil perhitungan suara setelah proses pemungutan suara selesai dilakukan. Berikut ini adalah modul-modul yang ada pada prototype dan penjelasan dari setiap modul tersebut. Selain itu. Sedangkan pengujian model digunakan untuk membuktikan bahwa model yang telah diutarakan pada bab IV sudah memenuhi kebutuhan fungsional maupun non fungsional hasil analisis pada bab III. Modul legislative Modul legislative digunakan untuk melakukan pemungutan suara pada pemilihan umum legislatif. dan anggota DPD. Pengujian prototype digunakan untuk membuktikan bahwa prototype yang dikembangkan telah sesuai dengan hasil analisis kebutuhan fungsional yang dinyatakan dalam bentuk diagram use case pada bab III. anggota DPRD tingkat 2.http://www. 3.gangsir.

Gambar V-1 berisi paket-paket (packages) yang ada pada sistem Web-Vote. Kelas control merupakan kelas yang bertugas melakukan manipulasi terhadap kelas lain.1. Pencatatan tersebut dimaksudkan untuk menghindari seseorang melakukan pemungutan suara lebih dari satu kali. Rancangan kelas yang ada pada gambar V-1 merupakan tinjauan logik (logical view). Modul ini hanya boleh diakses oleh panitia pemilihan umum (anggota KPU di TPS) dan selalu dalam pengawasan anggota pengawas pemilihan umum (Banwaslu) untuk menghindari praktek kecurangan. yaitu kelas entity. Gambar V-1 Package Sistem Web-Vote V-2 . menggambarkan kelas-kelas konseptual yang membangun sistem dan keterhubungan antara kelas-kelas konseptual. Sedangkan kelas boundary adalah kelas yang menghubungkan dengan sistem lain dan termasuk juga menghubungkan dengan tampilan pada layar. Kelas konseptual tersebut dibagi menjadi tiga tipe kelas.1 Perancangan Kelas Sub bab ini berisi rancangan kelas pada prototype sistemWeb-Vote. Kelas entity adalah kelas yang hanya mengetahui hal-hal terkait kelas itu sendiri. Sedangkan bagi pemilih yang memilih dengan menggunakan e-voting datanya langsung tercatat dalam sistem.http://www. kelas control. V.gangsir. Tinjauan logik bersifat statik.com 4. dan kelas boundary. Modul admin Modul admin adalah modul tambahan yang digunakan oleh panitia di TPS-TPS untuk mencatat para pemilih yang melakukan pemungutan suara secara konvensional menggunakan kertas suara.

4. Perancangan basis data sistem Web-Vote dapat dilihat pada Lampiran G. Perancangan sitemap sistem Web-Vote dapat dilihat pada Lampiran H.3 Perancangan Interaksi Sistem Sub bab ini berisi rancangan interaksi pada prototype sistem Web-Vote. 5. admin . V.http://www. 2. Kedua adalah perancangan antarmuka. president . Detail diagram kelas dari setiap package dapat dilihat pada Lampiran B tentang diagram kelas admin. perancangan antarmuka digunakan untuk menunjukkan antarmuka sistem ke pengguna. dan lampiran F tentang diagram kelas result. V. lampiran E tentang diagram kelas legislative. includes .Package ini digunakan untuk menangani modul result.1. legislative .Package ini digunakan untuk menangani kelas-kelas entity. Pertama adalah perancangan sitemap. V-3 . lampiran C tentang diagram kelas includes. lampiran D tentang diagram kelas president. Lampiran I berisi beberapa contoh bentuk tampilan atau antarmuka sistem Web-Vote.2 Perancangan Basis Data Sub bab ini berisi rancangan basis data pada prototype sistem Web-Vote. perancangan sitemap digunakan untuk menunjukkan alur interaksi sistem Web-Vote. Rancangan basis data mengacu pada hasil perancangan kelas yang telah didefinisikan sebelumnya.1.Package ini digunakan untuk menangani modul president. 1.com Berikut ini adalah penjelasan dari setiap package yang ada pada sistem Web-Vote. result .Package ini berisi kelas-kelas yang menangani modul admin. Rancangan interaksi tersebut terdiri dari dua macam bagian.Package ini digunakan untuk menangani modul legislative. Perancangan basis data disesuaikan dengan kelas-kelas bertipe entity yang telah didefinisikan sebelumnya.gangsir. Kelas-kelas tersebut bertugas untuk melakukan akses ke basis data dan memanipulasi data pada basis data 3.

Sistem harus mampu melakukan verifikasi data pemilih (voter) pemilihan umum dan mencatat status pemilih apakah telah melakukan proses pemungutan suara atau belum.com V. Pembuktian: Pembuatan modul legislative dan modul president secara terpisah telah mengakomodasi kebutuhan tersebut. Pengujian tersebut dilakukan dengan cara membuat test case (kasus uji) sesuai dengan diagram use case.1 Pengujian Prototype Pengujian prototype digunakan untuk membuktikan bahwa prototype yang dikembangkan telah sesuai dengan hasil analisis kebutuhan fungsional yang dinyatakan dalam bentuk diagram use case pada bab III.gangsir. modul legislative sudah tidak dapat diakses kembali pada saat periode pemungutan suara presiden. 1. V.2 Pengujian V. Pengujian prototype dilakukan secara black box testing. Berikut ini adalah validasi model terhadap kebutuhan fungsional yang telah didefinisikan pada bab III. FR-01. Begitu juga sebaliknya. Modul legislative dan modul president hanya dapat diakses sesuai dengan waktu pemungutan suara masing-masing. 2. modul president belum dapat diakses.2. Kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan verifiable participation.2 Pengujian Model Pengujian model digunakan untuk membuktikan bahwa model yang telah diutarakan pada bab IV sudah memenuhi kebutuhan fungsional maupun non fungsional hasil analisis pada bab III.2. yaitu pemilihan legislatif (anggota DPR atau DPRD1 atau DPRD 2 dan anggota DPD) dan pemilihan kepala negara atau kepala daerah. hanya untuk membuktikan hasil eksekusi program sesuai dengan harapan. Pembuktian: V-4 .http://www. Sistem harus mampu memfasilitasi proses pemilihan umum di Indonesia yang terbagi menjadi dua tahap. Hasil pengujian prototype dapat dilihat pada Lampiran J. FR-02. Jadi pada saat pemungutan suara legislative. Sistem harus dapat membuktikan apakah seseorang telah melakukan proses pemilihan atau belum. yaitu pengujian fungsional tanpa memperhatikan alur eksekusi program.

Pembuktian: Setiap suara yang masuk akan dicatat dalam sistem.com Pada model ini. Sistem harus dapat menjumlahkan hasil pemilihan. Data password tersebut diperoleh pada saat pendataan calon pemilih untuk melakukan pembuatan DPT (Daftar Pemilih Tetap). Suara tersebut kemudian akan dihitung dan ditampilkan hasil rekapitulasinya. Pembuktian: Setelah pemilih melakukan pemungutan suara. FR-03. Model ini tidak menangani tahapan tersebut. Pemilih dapat memasukkan pilihannya ke dalam sistem. setiap akan keluar dari lokasi TPS datanya langsung dicatat. Setelah pemilih tersebut selesai melakukan pemungutan suara. 3. Jadi dengan mengasumsikan bahwa kerahasiaan data password yang diperoleh tersebut terjaga dengan baik. verifikasi hanya dilakukan dengan calon pemilih memasukkan data nomor identitas diri (nomor KTP atau Kartu Tanda Penduduk) dan password. maka hanya calon pemilih yang berhak saja yang dapat mengakses sistem ini. Kebutuhan ini harus memenuhi persyaratan democracy yaitu seorang pemilih hanya berhak memasukkan suara sebanyak satu kali. 4. Kode tanda terima tersebut bersifat unik untuk setiap pilihan. dia sudah tidak boleh memasukkan data kembali. dia dapat melakukan pengecekan apakah suara yang telah dia masukkan tersebut benar-benar tercatat di sistem dan tidak ada manipulasi dengan cara memasukkan kode tanda terima yang telah dia peroleh. Setiap pemilih yang telah melakukan pemungutan suara datanya telah dicatat sehingga apabila pemilih tersebut mengakses kembali sistem e-voting. Jadi setelah pemilih tersebut keluar dari lokasi TPS maka pemilih tersebut tidak akan diperbolehkan masuk kembali karena pada pintu masuk TPS dilakukan pemeriksaan.http://www. Bagi pemilih yang melakukan pemungutan suara dengan cara konvensional. dia memperoleh kode acak sebagai tanda terima bahwa pemilih telah melakukan pemungutan suara. Jadi untuk membuktikan apakah sistem berhasil dalam menjumlahkan hasil pemilihan maka dapat dilihat pada pembuktian terkait rekapitulasi data hasil pemilihan. DPT adalah daftar pemilih tetap yang berhak melakukan pemilihan umum. V-5 .gangsir. jika seseorang telah melakukan pemungutan suara maka dia tidak berhak masuk ke lokasi TPS kembali. FR-04.

Selain itu kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan fairness. Pembuktian: Penyelenggara dan pengawas dapat memverifikasi data hasil pemungutan suara dengan cara melakukan pengecekan terhadap detail suara yang masuk serta dengan V-6 . Pembuktian: Setelah pemilih melakukan pemilihan dan memperoleh nomor tanda terima. Penyelenggara dan pengawas dapat melakukan validasi hasil perhitungan suara. 6. sehingga penyelenggara dapat mengatur waktu kapan modul tersebut dapat diakses.gangsir.com 5. dan jumlah pemilih sesuai dengan data yang masuk maka data hasil rekapitulasi dapat dianggap valid. Kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan receipt freeness. FR-07. Sistem harus dapat menampilkan data hasil pemilihan secara detail. FR-05. Sistem harus dapat menampilkan rekapitulasi data hasil pemilihan. Sistem yang menampilkan rekapitulasi data hanya boleh diakses jika proses pemungutan suara telah selesai. Jika detail data yang dimunculkan itu valid. Pembuktian: Rekapitulasi data dapat dibuktikan dengan melihat hasil detail dari data pemilihan serta dengan membandingkan hasil pemilihan dengan jumlah pemilih yang telah melakukan proses pemilihan. Jadi setiap orang tidak dapat membuktikan hasil pemilihan seseorang. Setiap orang tidak boleh mengetahui hasil perhitungan suara sebelum proses pemungutan suara selesai dilakukan. FR-06. Kebutuhan ini harus sesuai dengan persyaratan privacy yaitu hasil pemungutan suara harus tidak dapat dihubungkan dengan siapa yang melakukan pemilihan. Kebutuhan ini sesuai dengan persyaratan verifiability. Pada prototype yang dihasilkan. proses penampilan rekapitulasi data ditangani oleh modul yang berbeda. nomor tanda terima tersebut pada basis data tidak mempunyai keterkaitan apapun dengan identitas pemilih. Validasi tersebut digunakan untuk membuktikan bahwa hasil perhitungan suara dilakukan dengan tepat atau akurat. 7. tetapi kerahasisaan pemilih tetap terjaga. Data hasil perhitungan suara harus harus dapat diverifikasi dan dibuktikan bahwa tidak ada manipulasi terhadap hasil perhitungan suara. Selain itu seorang pemilih tidak dapat membuktikan hasil pilihannya. Kebutuhan ini harus memenuhi dengan persyaratan e-voting yaitu accuracy.http://www.

sistem ini harus menggunakan perangkat keras. perangkat lunak. Reliability a. NR-02. sistem tersebut juga harus mempunyai sistem cadangan sehingga jika sistem pertama tidak bisa digunakan. 1.com membandingkan kesesuaian jumlah data yang masuk dengan jumlah pemilih yang telah melakukan proses pemilihan.gangsir. NR-03. b. Contoh desain antarmuka sistem Web-Vote dapat dilihat pada Lampiran I. Pembuktian: Jika sistem ini digunakan. Pembuktian: Metode pemilihan umum ini masih mengadopsi aturan-aturan yang berlaku saat jika. Pembuktian: Tampilan antarmuka pada prototype yang telah dibuat.http://www. V-7 . Selain itu. Aspek keamanan (security) harus terjamin. Keamanan sistem ini harus mampu menjamin integritas (integrity) dan kerahasiaan (privacy) data. b. maka sistem cadangan tersebut langsung menggantikannya. Sistem harus dapat berjalan terus tanpa kegagalan akses selama proses pemungutan suara sampai dengan perhitungan hasil. NR-04. disesuaikan dengan tampilan pemungutan suara menggunakan kertas suara. client. Sistem e-voting mempunyai tampilan (antarmuka) dan mekanisme pemungutan suara yang mudah untuk dipahami. dan jaringan secara fisik juga harus benar-benar terjaga. dan jaringan yang tingkat kegagalannya mendekati nol. jika pemilih mempunyai keterbatasan fisik maka pemilih tersebut berhak didampingi oleh orang yang dia percayai untuk melakukan proses pemungutan suara. 2. NR-01. Memfasilitasi pemilih yang sebenarnya mempunyai hak pilih namun mempunyai keterbatasan secara fisik. Selain keamanan data. Usability a. keamanan server. Berikut ini adalah validasi model terhadap kebutuhan non fungsional yang telah didefinisikan pada bab III.

misalnya Internet Explorer 7 dan Mozilla Firefox 3 yang digunakan pada saat pengujian. Portability a. Sistem dapat diakses dari berbagai lokasi. dan jaringan komunikasi yang aman. Secara umum web browser dapat dijalankan di berbagai spesifikasi perangkat keras komputer standar dan juga di bermacam-macam sistem operasi misalnya Windows XP. Sedangkan dari sudut pandang teknologi. NR-06. Kedua web browser tersebut merupakan web browser yang paling umum digunakan di seluruh dunia dan dapat dijalankan pada komputer dengan spesifikasi standar. Jadi selama komputer client dapat mengakses jaringan internet dan berhak mengakses server Web-Vote maka sistem tersebut masih dapat diakses.com Pembuktian: Integritas dan kerahasiaan data dijaga dengan cara membatasi hak akses terhadap sistem baik secara fisik maupun non fisik dengan mekanisme pengaturan mengenai hukum dan prosedur kerja sistem yang telah didefinisikan pada bab IV. 3. Pembuktian: Sistem Web-Vote dapat diakses dari beberapa macam web browser yang tersedia di pasaran.gangsir. dan lain-lain.http://www. MacOS. misalnya yang telah digunakan pada pengujian adalah Internet Explorer 7 dan Mozilla Firefox 3. Windows Vista. Linux Ubuntu. sistem ini dapat diakses dari semua lokasi. Perangkat client yang digunakan mengakses sistem dapat bermacam-macam jenis baik dari segi perangkat lunak maupun perangkat keras yang digunakan. Pembuktian: Sistem Web-Vote dapat diakses dari bermacam-macam web browser. b. Sedangkan pada saat melihat hasil perhitungan suara. V-8 . sistem ini hanya dapat diakses di KPU-KPU untuk proses pemilihan umumnya. Tetapi pada desain Web-Vote ini. clienti. NR-05. integritas dan kerahasiaan dijamin dengan pemanfaatan server.

gangsir. Pembuktian: Pada pembuatan model e-voting ini. Pembuktian: Dukungan teknis harus diberikan jika model ini benar-benar diimplementasikan. c. NR-07. Sistem e-voting harus mempunyai dokumentasi teknis. Supportability a.com 4. NR-09. Pembuktian: Pada pembuatan model e-voting ini. dokumen teknis masih belum dibuat karena sistem yang dikembangkan masih bersifat prototype. NR-08. Tetapi karena hasil akhir dari tesis ini hanya sebuah model maka hal-hal terkait dukungan teknis masih belum bisa dibuktikan. dokumen manual penggunaan sistem masih belum dibuat. b.http://www. V-9 . Sistem e-voting harus mempunyai dokumen manual penggunaan. Ada dukungan teknis jika diperlukan.

Jika model Web-Vote akan digunakan untuk kasus-kasus e-voting yang lain misalnya pada pemilihan kepala daerah. VI-1 . uncoercibility. 1. dan prosedur operasional. sistem Web-Vote harus memenuhi persyaratan terkait accuracy. dan prosedur operasional.http://www. 1. fairness. maka harus dilakukan penyesuaian terlebih dahulu khususnya terkait faktor hukum. Model sistem Web-Vote sudah mencakup semua aspek yang terkait dengan empat faktor yang mempengaruhi. Model e-voting yang dihasilkan adalah model yang bersifat spesifik untuk pemilihan umum di Indonesia. verifiablity. VI. privacy. hukum.com BAB VI PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan mengenai pembuatan model e-voting yang telah dilakukan serta saran untuk perbaikan dan pengembangan selanjutnya dari model yang telah dihasilkan tersebut. sosial. robustness. sosial. referendum. Prototype dibangun berdasarkan ketentuan pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden di Indonesia. Secara umum. yaitu proses pemilihan masih dilaksanakan di TPS-TPS agar adaptasi masyarakat dengan sistem baru lebih mudah. dan verifiable participation. 2. Pengembangan dan pemanfaatan e-voting berbasis web masih jarang jika dibandingkan dengan sistem e-voting terpusat. democracy. Pada sudut pandang prosedur operasional model Web-Vote. 4. yaitu faktor teknologi. 3. dll. secara umum fokus pembahasan dititikberatkan pada faktor teknologi. VI. Pada penelitian-penelitian lain terkait e-voting.1 Kesimpulan Kesimpulan dari tesis ini adalah sebagai berikut.2 Saran Saran yang diberikan dari tesis ini adalah sebagai berikut.gangsir. teknologi web masih dimanfaatkan sebagai suatu sistem e-voting terpusat. Pembuatan model sistem Web-Vote dilakukan dengan cara melakukan perbandingan beberapa sistem e-voting yang telah dikembangkan sebelumnya.

3. Penerapan sistem e-voting sebaiknya mulai diterapkan pada pemilihan umum daerah sesuai model sosial sistem Web-Vote.gangsir. keunggulan teknologi web dalam kemudahan pengaksesan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Fokus penelitian teknologi e-voting sebaiknya diarahkan ke teknologi berbasis web karena teknologi tersebut lebih murah dan mudah dalam penerapannya. 4. Dunia perbankan sudah berhasil menerapkan transaksi keuangan berbasis internet sehingga secara dari sudut pandang keamanan. Jika sistem e-voting terpusat pada TPS-TPS sudah diterapkan pada masyarakat dan masyarakat sudah mampu mengadopsi teknologi tersebut.com 2. VI-2 . Dengan demikian. teknologi web sudah terbukti cukup handal.http://www. maka penerapan sistem evoting sebaiknya mulai diarahkan kepada akses sistem e-voting secara bebas melalui jaringan internet.

id. Mark A. 10 11 12 13 14 Krimmer. Murata.http://www. Emmanuel. Springer. Herschberg. Bradley. H. United States. dkk (2007) : E-Voting in Brazil – The Risks to Democracy. Ben dan C.20071109111175. Massachusetts Institute of Technology.gangsir. Japan. Massachusetts Institute of Technology. Rofiuddin (2007) : Sumber Dana Pemilu Nasional dan Daerah Diusulkan Terpisah. Richard T. Jose Rodrigues. The University of Tokyo. (1997) : Secure Electronic Voting Over the World Wide Web. University of Maryland. Federal University of Paraiba. Hutapea. (2000) : Electronic Voting. Bandung. Grabow. Robert. Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. United States. Capabilities and Limitations. xii . Springer. http://www. Carback III. Rivest. dkk (2001) : Mission Critical Internet Security. Institut Teknologi Bandung. United States. Ronald L. Firdaus (2007) : Demokrasi Konstitusional. dkk. dkk (2007) : Internet-Voting: Opportunity or Threat for Democracy. Benoist. Pascasarjana Unpad.tempointeraktif.html. Massachusetts Institute of Technology. Filho. Takuji. Costas dkk (2002) : Secure Electronic Voting: Trends and Perspectives. Kluwer Academic Publishers. (2002) : Consolidated Prototype 1 Documentation. Dunsmore. University of Essen. Arifin. Andrew Neff (2006) : Ballot Casting Assurance. Kanada. Syngress.com/hg/nasional/2007/11/09/brk. dkk (2007) : The Development of Remote E-Voting Around the World: A Review of Roads and Directions. Lambrinoudakis. (2008) : Security Innovations in the Punchscan Voting System. (2002) : Universal Design for E-Voting System in Japan. Brazil dan Acadia University. Program Studi Informatika. Philip Anderson (2009) : Pembangunan Model “Sistem E-Voting Terpusat” Studi Kasus: Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat.com DAFTAR REFERENSI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Adida.

gangsir. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.tempointeractive. T. http://www.2005061562551.com 15 Rusydi. dkk (2007) : A Verifiable Multi Authority E-Voting Scheme for Real World Environment.html.http://www. 19 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 perubahan IV.com/hg/nasional/2005/06/15/brk.id. 16 17 18 Taghavi. xiii . Ibnu (2005) : Mendagri : KPUD Sumber Konflik Pilkada. Dewan Perwakilan Daerah. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Springer.

Pender.gangsir. Wolter (2006) : Acceptance of Voting Technology: Between Confidence and Trust. Benaloh. United States. Pieters. O’Reilly. Springer. McGraw-Hill. Herrnson. Springer. Calandrino. Ben dan Amnon Ta-Shma (2007) : Bare-Handed Electronic Voting with Preprocessing. Tom (2003) : UML Bible. Pressman. Paul S.com DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ahlir. United States. University of Maryland. Josh (2006) : Simple Verifiable Elections. Michael Jesse dan James A. Schardt (2003) : UML 2 for Dummies. Hall. Chonoles. Hiroki dan Keiji Takeda (2007) : The Security Analysis of e-Voting in Japan. (2007) : Machine-Assisted Election Auditing. Princeton University. John Wiley and Sons. Roger S. Daniel dan Dan S. United States. Joseph Lorenzo (2007) : Contractual Barriers to Transparency in Electronic Voting. (2006) : The Importance of Usability Testing of Voting Systems. Tel-Aviv University. dkk. Rice University. Israel. University of California. dkk. (2001) : Software Engineering: A Practitioner's Approach.http://www. Sandler. Hungry Minds. Microsoft Research. Si Sinan (2003) : Learning UML. Joseph A. United States. Wallach (2007) : Casting Votes in the Auditorium. Riva. Hisamitsu. xiv .

gangsir. MarkPledge. penanganan dilakukan oleh modul Registration Client dan Certification Authority (CA) Tidak ada metode khusus untuk verifikasi hasil Menggunakan metode universal verifiability dan ballot casting assurance Real time Java applet Mempunyai metode verifikasi data yang bagus E-Voting Terpusat Fokus pada faktor keamanan. pemilu di Indonesia A-1 . Verifikasi hasil Tidak ada metode khusus untuk verifikasi hasil e-VOTE MarkPledge Ada banyak alternatif. e-VOTE.com Lampiran A Perbandingan Sistem E-Vox. Security (keamanan Security ditangani secara data) dan privacy spesifik oleh modul Administrator dan privacy (kerahasiaan data) ditangani secara spesifik oleh modul Anonymizer 2. 5. sesuai dengan model yang akan dikembangkan Batch Java desktop Studi kasus mirip. dan sistem E-Voting Terpusat. Kriteria E-Vox 1. No. Faktor keamanan ditangani oleh kelas SymmetricEncryt dan EnkripKartu Tidak ada metode khusus untuk verifikasi hasil 3. MarkPledge.http://www. pada Tidak ada modul khusus yang menangani contoh model yang diacu. Pemrosesan data Platform Kelebihan Real time Java applet Penanganan security dan privacy jelas terlihat Real time Berbasis web Berbasis web. dan Sistem E-Voting Terpusat Tabel di bawah berisi perbandingan antara sistem E-Vox. e-VOTE. 4.

2. Pengubahan status tersebut hanya boleh dilakukan oleh admin.http://www. Tabel B . Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat admin melakukan proses mengubah status. Kelas yang menangani proses logout pada modul admin. 4.1 Penjelasan diagram kelas admin No. 1. Kelas yang menangani proses pengubahan status pemilih.gangsir. Nama Kelas HalamanLogin Tipe Boundary Deskripsi Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat menangani proses login admin. Kelas yang menangani proses login pada modul admin. Login Logout UbahStatus Control Control Control B-1 .com Lampiran B Diagram Kelas Admin Lampiran B berisi diagram kelas dari package admin pada prototype Web-Vote yang telah disebutkan pada bab V. Gambar B . 5. dari sebelumnya belum melakukan proses pemilihan menjadi telah melakukan proses pemilihan. HalamanUbahStatus Boundary 3. Gambar B-1 adalah gambar diagram kelas yang ada di dalam package admin pada sistem Web-Vote.1 Diagram kelas admin Penjelasan dari setiap kelas di atas dapat dilihat pada tabel B-1.

C-2. Gambar C-1 adalah gambar diagram kelas yang ada di dalam package includes pada sistem Web-Vote.com Lampiran C Diagram Kelas Includes Lampiran C berisi diagram kelas dari package includes pada prototype Web-Vote yang telah disebutkan pada bab V. Kelas untuk menangani pengaksesan data pemilih. 2.1 Penjelasan diagram kelas includes No.http://www. Entity C-1 . 1. dan C-3. Nama Kelas Administrator Pemilih Tipe Entity Deskripsi Kelas untuk menangani pengaksesan data administrator. Tabel C .gangsir. Gambar C .1 Diagram kelas includes Penjelasan dari setiap kelas di atas dapat dilihat pada tabel C-1.

Kelas untuk menangani pengaksesan data capres (calon presiden). 7.2 Penjelasan diagram kelas includes (lanjutan) No.gangsir.http://www. Kelas untuk menangani pengaksesan data provinsi. Kelas untuk menangani pengaksesan dan penyimpanan data hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 1. Kelas untuk menangani pengaksesan data daerah pemilihan DPR. CalegDPR HasilDPR Entity Entity 12. Kelas untuk menangani pengaksesan data daerah pemilihan DPRD tingkat 1. 11. 6. 4. 14. 9. 13. Entity Entity Entity Entity Entity Entity 10. Kelas untuk menangani pengaksesan data calon anggota DPRD tingkat 2. 16. Kelas untuk menangani pengaksesan dan penyimpanan data hasil pemilihan anggota DPD. 8. Nama Kelas Kota Provinsi Partai Capres HasilPresiden CalegDPD HasilDPD Tipe Entity Deskripsi Kelas untuk menangani pengaksesan data kota. Kelas untuk menangani pengaksesan dan penyimpanan data hasil pemilihan presiden. DapilDPR CalegDPRD1 HasilDPRD1 Entity Entity Entity 15. Kelas untuk menangani pengaksesan dan penyimpanan data hasil pemilihan anggota DPR.com Tabel C . DapilDPRD1 CalegDPRD2 Entity Entity C-2 . Kelas untuk menangani pengaksesan data calon anggota DPD. Kelas untuk menangani pengaksesan data calon anggota DPRD tingkat 1. Kelas untuk menangani pengaksesan data calon anggota DPR. 3. 5. Kelas untuk menangani pengaksesan data partai.

DapilDPRD2 Entity C-3 .http://www. Nama Kelas HasilDPRD2 Tipe Entity Deskripsi Kelas untuk menangani pengaksesan dan penyimpanan data hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 2.com Tabel C . Kelas untuk menangani pengaksesan data daerah pemilihan DPRD tingkat 2. 18. 17.3 Penjelasan diagram kelas includes (lanjutan 2) No.gangsir.

HalamanPresiden Boundary 3.com Lampiran D Diagram Kelas President Lampiran D berisi diagram kelas dari package president pada prototype Web-Vote yang telah disebutkan pada bab V. 2. Kelas yang menangani proses login pada modul president.1 Diagram kelas president Penjelasan dari setiap kelas di atas dapat dilihat pada tabel D-1. Gambar D-1 adalah gambar diagram kelas yang ada di dalam package president pada sistem Web-Vote. Nama Kelas HalamanLogin Tipe Boundary Deskripsi Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat menangani proses login calon pemilih pemungutan suara presiden.gangsir. Gambar D . Login Logout Presiden Control Control Control D-1 . “Tanda terima” tersebut berisi nomor acak yang digunakan sebagai bukti bahwa pemilih telah memasukkan suara. Kelas yang menangani proses logout pada modul president. Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melakukan pemungutan suara calon presiden. 4.http://www. 5. 1.1 Penjelasan diagram kelas president No. Tabel D . Kelas yang menangani proses pemungutan suara presiden dan kemudian jika proses pemungutan suara telah dilakukan maka kelas ini akan menghasilkan “tanda terima”.

Gambar E-1 adalah gambar diagram kelas yang ada di dalam package legislative pada sistem Web-Vote. dan tabel E-3. Tabel E .http://www.com Lampiran E Diagram Kelas Legislative Lampiran E berisi diagram kelas dari package legislative pada prototype Web-Vote yang telah disebutkan pada bab V. Gambar E .1 Diagram kelas legislative Penjelasan dari setiap kelas di atas dapat dilihat pada tabel E-1. Nama Kelas HalamanLogin Tipe Boundary Deskripsi Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat menangani proses login calon pemilih pemungutan suara legislatif (DPR. E-2. HalamanDPR Boundary E-1 .gangsir.1 Penjelasan diagram kelas legislative No. 2. DPRD tingkat 2. Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melakukan pemungutan suara calon anggota DPR. 1. DPRD tingkat 1. dan DPD).

Nama Kelas HalamanDPRD1 Tipe Boundary Deskripsi Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melakukan pemungutan suara calon anggota DPR tingkat 1. 7. HalamanDPD Boundary 6.com Tabel E . Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melakukan pemungutan suara calon anggota DPD.2 Penjelasan diagram kelas legislative (lanjutan 1) No. DPRD1 Control E-2 . HalamanDPRD2 Boundary 5.http://www. Login Logout DPR Control Control Control 9. “Tanda terima” tersebut berisi nomor acak yang digunakan sebagai bukti bahwa pemilih telah memasukkan suara. Kelas yang menangani proses logout pada modul legislative. 8. Kelas yang menangani proses login pada modul legislative. “Tanda terima” tersebut berisi nomor acak yang digunakan sebagai bukti bahwa pemilih telah memasukkan suara. Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melakukan pemungutan suara calon anggota DPR tingkat 2. 4. Kelas yang menangani proses pemungutan suara anggota DPR dan kemudian jika proses pemungutan suara telah dilakukan maka kelas ini akan menghasilkan “tanda terima”.gangsir. Kelas yang menangani proses pemungutan suara anggota DPRD tingkat 1 dan kemudian jika proses pemungutan suara telah dilakukan maka kelas ini akan menghasilkan “tanda terima”. 3.

“Tanda terima” tersebut berisi nomor acak yang digunakan sebagai bukti bahwa pemilih telah memasukkan suara.gangsir.com Tabel E .http://www. 10. DPD Control E-3 . Kelas yang menangani proses pemungutan suara anggota DPD dan kemudian jika proses pemungutan suara telah dilakukan maka kelas ini akan menghasilkan “tanda terima”. “Tanda terima” tersebut berisi nomor acak yang digunakan sebagai bukti bahwa pemilih telah memasukkan suara.3 Penjelasan diagram kelas legislative (lanjutan 2) No. 11. Nama Kelas DPRD2 Tipe Control Deskripsi Kelas yang menangani proses pemungutan suara anggota DPRD tingkat 2 dan kemudian jika proses pemungutan suara telah dilakukan maka kelas ini akan menghasilkan “tanda terima”.

1 Diagram kelas result Penjelasan dari setiap kelas di atas dapat dilihat pada tabel F-1 dan F-2. Tabel F . HalamanHasilPemilu Boundary .1 Penjelasan diagram kelas result No. Gambar F-1 adalah gambar diagram kelas yang ada di dalam package result pada sistem Web-Vote. HalamanTandaTerima Tipe Boundary Deskripsi Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melakukan pengecekan apakah tanda terima yang dimiliki telah dicatat dengan benar di sistem Web-Vote.com Lampiran F Diagram Kelas Result Lampiran F berisi diagram kelas dari package result pada prototype Web-Vote yang telah disebutkan pada bab V.http://www. Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna pada saat pemilih akan melihat hasil pemilihan umum baik legislatif maupun presiden. Gambar F . Nama Kelas 1. F-1 2.gangsir.

gangsir.2 Penjelasan diagram kelas result (lanjutan) No.com Tabel F .http://www. Kelas yang menangani proses menampilkan data hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 1. CekTandaTerima Control 5. 4. Kelas ini dapat menampilkan data rekapitulasi maupun data rincian. Kelas yang menangani proses menampilkan data hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 2. Kelas ini dapat menampilkan data rekapitulasi maupun data rincian. Nama Kelas 3. HasilDPD Control 9. Kelas yang menangani proses menampilkan data hasil pemilihan anggota DPD. HalamanDaftarPemilih Tipe Boundary Deskripsi Kelas yang bertugas mengelola antarmuka ke pengguna saat pengguna akan melihat daftar siapa saja pemilih yang telah melakukan proses pemungutan suara. HasilPresiden Control 10. Kelas yang menangani proses menampilkan daftar pemilih yang telah terdaftar termasuk status pemilih tersebut apakah telah melakukan proses pemilihan atau belum. HasilDPRD1 Control 7. HasilDPRD2 Control 8. Kelas ini dapat menampilkan data rekapitulasi maupun data rincian. HasilDPR Control 6. Kelas ini dapat menampilkan data rekapitulasi maupun data rincian. DaftarPemilih Control F-2 . Kelas yang menangani proses menampilkan data hasil pemilihan presiden. Kelas yang menangani proses pengecekan tanda terima apakah tanda terima tersebut telah dicatat dengan benar atau belum Kelas yang menangani proses menampilkan data hasil pemilihan anggota DPR. Kelas ini dapat menampilkan data rekapitulasi maupun data rincian.

Gambar G-1 menunjukkan CDM sistem Web-Vote secara umum.gangsir.http://www. Atribut yang digambarkan pada gambar G-1 hanya atribut yang merupakan primary key untuk mempermudah dalam pembacaan diagram. Gambar G . G-1 . Perancangan basis data tersebut digambarkan dalam bentuk CDM (Conceptual Data Model).1 CDM Sistem Web-Vote Penjelasan dari setiap tabel pada gambar G-1 beserta seluruh atribut lainnya dapat dilihat pada tabel G-1 sampai dengan tabel G-3.com Lampiran G Rancangan Basis Data Lampiran G berisi hasil perancangan basis data sistem Web-Vote beserta penjelasan dari setiap bagian pada diagram tersebut.

Tabel ini terkait dengan tabel provinsi karena setiap calon anggota DPD harus berkaitan dengan daerah pemilihan tertentu. Tabel yang menyimpan data calon anggota DPRD tingkat 2. 3.http://www. Tabel yang menyimpan data daerah pemilihan anggota DPR. Tabel ini berkaitan dengan daerah pemilihan anggota DPR dan asal partai calon anggota DPR 2. Daerah pemilihan anggota DPD langsung terkait dengan provinsi karena pembagian daerah pemilihan anggota DPD sesuai dengan pembagian provinsi di Indonesia. Tabel yang menyimpan data nama calon presiden dan wakil presiden.com Tabel G .gangsir. G-2 . Tabel yang menyimpan data daerah pemilihan anggota DPRD tingkat 1. Tabel yang menyimpan data calon anggota DPR. Tabel yang menyimpan data calon anggota DPD. Tabel administrator username (pk) password caleg_dpd id_caleg_dpd (pk) nama_caleg_dpd id_provinsi (fk) Deskripsi Tabel yang menyimpan data username dan password administrator yang berhak untuk mengubah status pemilih secara manual. 7. 8. 5. Tabel ini berkaitan dengan daerah pemilihan anggota DPRD tingkat 2 dan asal partai calon anggota DPRD tingkat 2. 1. Tabel yang menyimpan data calon anggota DPRD tingkat 1. Tabel ini berkaitan dengan daerah pemilihan anggota DPRD tingkat 1 dan asal partai calon anggota DPRD tingkat 1. 6. caleg_dpr id_caleg_dpr(pk) nama_caleg_dpr id_dapil_dpr (fk) id_partai (fk) caleg_dprd1 id_caleg_dprd1(pk) nama_caleg_dprd1 id_dapil_dprd1 (fk) id_partai (fk) caleg_dprd2 id_caleg_dprd2(pk) nama_caleg_dprd2 id_dapil_dprd2 (fk) id_partai (fk) capres id_capres (pk) nama_capres nama_cawapres dapil_dpr id_dapil_dpr (pk) nama_dapil_dpr dapil_dprd1 id_dapil_dprd1 (pk) nama_dapil_dprd1 id_provinsi (fk) 4.1 Penjelasan CDM Sistem Web-Vote No.

Tabel yang berisi data kota di Indonesia 11. Tabel yang berisi hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 1. Primary key dari tabel ini adalah kode acak yang dibangkitkan sebagai bukti tanda terima yang diperoleh pemilih. 12.com Tabel G . Tabel yang berisi hasil pemilihan presiden. G-3 . Primary key dari tabel ini adalah kode acak yang dibangkitkan sebagai bukti tanda terima yang diperoleh pemilih. 16. Tabel yang berisi hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 2. 14. Tabel yang berisi hasil pemilihan anggota DPR.gangsir. Tabel yang berisi data partai peserta pemilihan umum di Indonesia. Primary key dari tabel ini adalah kode acak yang dibangkitkan sebagai bukti tanda terima yang diperoleh pemilih.2 Penjelasan CDM Sistem Web-Vote (Lanjutan 1) No. Tabel dapil_dprd2 id_dapil_dprd2 (pk) nama_dapil_dprd2 id_kota (fk) hasil_dpd tdterima_dpd (pk) id_caleg_dpd (fk) hasil_dpr tdterima_dpr (pk) id_caleg_dpr (fk) hasil_dprd1 tdterima_dprd1 (pk) id_caleg_dprd1 (fk) hasil_dprd2 tdterima_dprd2 (pk) id_caleg_dprd2 (fk) hasil_presiden tdterima_presiden (pk) id_capres (fk) kota id_kota (pk) nama_kota id_provinsi (fk) partai id_partai (pk) nama_partai Deskripsi Tabel yang menyimpan data daerah pemilihan anggota DPRD tingkat 2. 15. 13. Tabel yang berisi hasil pemilihan anggota DPD. 9.http://www. Primary key dari tabel ini adalah kode acak yang dibangkitkan sebagai bukti tanda terima yang diperoleh pemilih. Primary key dari tabel ini adalah kode acak yang dibangkitkan sebagai bukti tanda terima yang diperoleh pemilih. 10.

provinsi. 18. daerah pemilihan anggota DPR. dan daerah pemilihan anggota DPRD tingkat 2 sesuai dengan wilayah pemilihan calon pemilih. daerah pemilihan anggota DPRD tingkat 1. Pada tabel ini juga berisi mengenai status pemilihan. Tabel yang berisi data provinsi di Indonesia. 17. Tabel pemilih id_pemilih (pk) nama_pemilih id_provinsi (fk) id_kota (fk) id_dapil_dpr (fk) id_dapil_dprd1 (fk) id_dapil_dprd2 (fk) status provinsi id_provinsi nama_provinsi Deskripsi Tabel yang berisi data pemilih tetap. apakah sudah melakukan pemungutan suara atau belum.com Tabel G .gangsir. G-4 .3 Penjelasan CDM Sistem Web-Vote (Lanjutan 2) No.http://www. Tabel ini juga terkait dengan kota.

2 Sitemap Web-Vote H-1 .com Lampiran H Sitemap Lampiran H berisi gambar sitemap sistem Web-Vote beserta penjelasan dari setiap bagian pada sitemap tersebut.gangsir. Gambar H-1 menunjukkan sitemap sistem Web-Vote secara umum. Gambar H .http://www.

anggota DPRD tingkat 2. 15. 10. 5. H-2 . Modul president: bagian untuk menangani proses pemilihan presiden. Hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 1: bagian untuk menampilkan daftar hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 1 dalam bentuk rinci maupun rekapitulasi. Pemilihan anggota DPR: bagian untuk menangani proses pemilihan anggota DPR termasuk juga membangkitkan kode tanda terima. dan anggota DPD. Modul legislative: bagian untuk menangani proses pemilihan anggota DPR. 2. 7. 3. Hasil pemilihan anggota DPD: bagian untuk menampilkan daftar hasil pemilihan anggota DPD dalam bentuk rinci maupun rekapitulasi.com Berikut ini adalah penjelasan dari setiap bagian yang ada pada gambar sitemap Web-Vote pada gambar H-1. 16. Pemilihan anggota DPR tingkat 2: bagian untuk menangani proses pemilihan anggota DPRD tingkat 2 termasuk juga membangkitkan kode tanda terima. Daftar hasil: bagian untuk menampilkan daftar hasil pemilihan umum. 8. 11. Modul result: bagian untuk menangani pengaksesan daftar pemilih. 4. daftar hasil. 1. 14. anggota DPRD tingkat 1. Hasil pemilihan anggota DPR: bagian untuk menampilkan daftar hasil pemilihan anggota DPR dalam bentuk rinci maupun rekapitulasi. Daftar pemilih: bagian untuk menampilkan daftar pemilih beserta status pemilihan (sudah memilih atau belum memilih). 6. 13.gangsir. Hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 2: bagian untuk menampilkan daftar hasil pemilihan anggota DPRD tingkat 2 dalam bentuk rinci maupun rekapitulasi. dan penanganan proses untuk mengecek tanda terima. Pemilihan anggota DPR tingkat 1: bagian untuk menangani proses pemilihan anggota DPRD tingkat 1 termasuk juga membangkitkan kode tanda terima. 9. Hasil pemilihan anggota presiden: bagian untuk menampilkan daftar hasil pemilihan presiden dalam bentuk rinci maupun rekapitulasi. Pemilihan presiden: bagian untuk menangani proses pemilihan presiden termasuk juga membangkitkan kode tanda terima. Modul admin: bagian untuk menangani perubahan status pemilih. 12.http://www. Pemilihan anggota DPD: bagian untuk menangani proses pemilihan anggota DPD termasuk juga membangkitkan kode tanda terima.

com 17.gangsir. 18. Ubah status pemilih: bagian untuk mengubah status pemilih yang telah melakukan proses pemungutan suara secara konvensional menggunakan kertas suara.http://www. Cek tanda terima: bagian untuk mengecek apakah hasil pilihan yang dimasukkan sesuai dengan hasil pilihan yang dicatat oleh sistem. H-3 .

http://www.gangsir.com

Lampiran I Contoh Antarmuka Pengguna
Lampiran I berisi beberapa contoh antarmuka pengguna prototype sistem Web-Vote. Contoh antarmuka ini digunakan untuk memberikan gambaran bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem Web-Vote. Gambar I-1 menunjukkan contoh tampilan untuk pemilihan anggota DPR. Model tampilan ini dibuat menyerupai dengan tampilan pada kertas suara meskipun cara interaksinya sedikit berbeda. Jika pada kertas suara memilih dengan mencontreng, maka pada Web-Vote dengan memilih radio button dan kemudian menekan tombol “pilih” atau dengan menekan tombol “abstain” jika tidak memilih sama sekali. Model pemilihan untuk pemilihan anggota DPRD tingkat 1 dan anggota DPRD tingkat 2 tampilannya sama seperti gambar di bawah. Sedangkan untuk pemilihan anggota DPD sedikit berbeda karena pada anggota DPD tidak terdapat gambar partai politik.

Gambar I - 1 Antarmuka pemilihan anggota DPR

Gambar I-2 adalah tampilan untuk pemilihan presiden. Tampilannya juga dibuat menyerupai tampilan pada kertas suara. Cara pemilihannya juga sama seperti pada pemilihan anggota DPR, yaitu dengan memilih radio button kemudian menekan tombol “pilih” atau menekan tombol “abstain” jika tidak memilih sama sekali. I-1

http://www.gangsir.com

Gambar I - 2 Antarmuka pemilihan presiden

Gambar I-3 adalah tampilan konfirmasi bahwa hasil pilihan akan disimpan. Halaman ini juga menampilkan kode tanda terima yang dibangkitkan secara acak sebagai bukti bahwa pemilih telah melakukan proses pemilihan. Kode ini bisa digunakan untuk melakukan pengecekan apakah pilihan yang dimasukkan dicatat dengan benar oleh sistem.

Gambar I - 3 Antarmuka konfirmasi hasil pilihan

Gambar I-4 adalah gambar yang menunjukkan hasil pemilihan umum. Antarmuka hasil pemilihan anggota DPR, pemilihan anggota DPRD tingkat 1, pemilihan anggota DPRD tingkat 2, pemilihan anggota DPD, dan pemilihan presiden mempunyai bentuk yang sama. Pada contoh tersebut yang diambil adalah hasil rekapitulasi pemilihan umum untuk anggota I-2

http://www.gangsir.com

DPRD tingkat 2. Jika pengguna ingin melihat hasil detail pilihan yang berisi seluruh kode tanda terima yang telah melakukan pilihan dapat dilakukan dengan cara mengakses hyperlink yang ada pada bagian total suara. Contoh tampilan detail hasil pemilihan umum dapat dilihat pada gambar I-5.

Gambar I - 4 Antarmuka rekapitulasi hasil pemilihan umum

Gambar I - 5 Antarmuka detail hasil pemilihan umum

I-3

• Pemilih berhasil melakukan pemilihan anggota DPR. DPRD tingkat 1. J-1 . UC-02.gangsir.com Lampiran J Hasil Pengujian Prototype Lampiran J berisi hasil pengujian terhadap prototype.1 Hasil pengujian prototype No. Lolos • Pemilih berhasil melakukan pemilihan presiden. • Pemilih memperoleh kode tanda terima sebagai bukti pemilih telah melakukan proses pemungutan suara legislatif. UC-02. 1. UC-03. dan DPD. Pemilih melakukan pengecekan UC-05. Sistem menampilkan data hasil pilihan secara detail yang Lolos berisi daerah pilihan pemilih serta kandidat calon anggota legislatif yang dipilih. 2. pemilihan anggota legislatif UC-06 Hasil yang diharapkan Status • Pemilih hanya berhak memasukkan data sesuai dengan Lolos daerah pilihan pemilih. Kasus uji Use case terkait Pemilih melakukan proses UC-01. Pemilih melakukan pemilihan presiden proses UC-01. UC-08 tanda terima pemilihan anggota legislatif Pemilih melakukan pengecekan UC-05. Tabel J .http://www. • Pemilih memperoleh kode tanda terima sebagai bukti pemilih telah melakukan proses pemungutan suara presiden. DPRD tingkat 2. UC-08 tanda terima pemilihan presiden 4. UC-06 3. Tabel J-1 dan tabel J-2 berisi hasil pengujian tersebut. Pengujian tersebut dilakukan dengan cara membuat test case (kasus uji) sesuai dengan diagram use case pada bab III. UC-03. Sistem menampilkan data hasil pilihan kandidat calon Lolos presiden yang dipilih.

dan DPD) yang bersangkutan.2 Hasil pengujian prototype (lanjutan) No. UC-08 pemungutan suara presiden Admin mengubah status pemilih UC-01 Hasil yang diharapkan Status Sistem menampilkan data seluruh pemilih yang telah Lolos terdaftar termasuk data status pemilih tersebut apakah telah melakukan proses pemungutan suara atau belum. Kasus uji Use case terkait Panitia (KPU) melihat daftar UC-01. Sistem menampilkan data rekapitulasi hasil perhitungan Lolos suara pemilihan presiden. DPRD tingkat 1. UC-05. UC-05. UC-05.com Tabel J . UC-05. UC-08 pemungutan suara anggota legislatif Pemilih melihat detail hasil UC-04. UC-07 pemilih Pemilih melihat rekapitulasi hasil UC-04. UC-08 pemungutan suara presiden Pemilih melihat detail hasil UC-04. 5. Sistem menampilkan semua kode tanda terima yang memilih Lolos kandidat calon anggota legislatif (DPR.http://www. 7. 6. dan DPD) sesuai dengan kategori. J-2 . 8. Sistem menampilkan semua kode tanda terima yang memilih Lolos kandidat calon presiden yang bersangkutan.gangsir. Sistem menampilkan data rekapitulasi hasil perhitungan Lolos suara pemilihan anggota legislatif (DPR. DPRD tingkat 1. 9. DPRD tingkat 2. UC-08 pemungutan suara anggota legislatif Pemilih melihat rekapitulasi hasil UC-04. DPRD tingkat 2. Status pemilih berhasil diubah menjadi sudah melakukan Lolos proses pemungutan suara. 10.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->