P. 1
Perempuan di Parlemen? Mengapa Tidak?!

Perempuan di Parlemen? Mengapa Tidak?!

|Views: 44|Likes:
Published by alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2011

pdf

20

FIQIH MUSLIMAH
YOGI ARDHI/REPUBLIKA

TABLOID REPUBLIKA JUMAT, 2 OKTOBER 2009

Syarat Wanita Duduk di Parlemen
NAHDLATUL ULAMA
ahdlatul Ulama (NU) dalam fatwanya yang disepakati pada Konferensi Besar Syuriah NU di Surabaya pada 19 Maret 1957 memperbolehkan perempuan menjadi anggota parlemen, dengan syarat:

N

Perempuan di Parlemen,
Syeikh al-Qaradhawi berpendapat, seorang wanita Muslim boleh menjadi anggota parlemen.
ekan ini, anggota DPR RI terpilih masa bakti 20092014 resmi dilantik. Bahkan, anggota DPRD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota hasil Pemilu 2009 sudah dilantik. Sebagian dari anggota parlemen yang mewakili suara rakyat itu adalah perempuan. Apalagi UndangUndang mensyaratkan kuota 30 persen dari anggota parlemen adalah perempuan. Lalu bagaimana Islam memandang tampilnya kaum perempuan di parlemen? Wanita adalah manusia mukallaf (yang bertanggung jawab) sebagaimana halnya laki-laki. Mereka dituntut beribadah kepada Allah dan menegakkan agama-Nya. Baik lakilaki maupun perempuan dituntut menunaikan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mematuhi batas-batas-Nya, menyeru orang lain kepada agama-Nya, serta ber-amar ma'ruf nahyi munkar. Pada zaman Rasulullah SAW, kaum hawa sudah memainkan peran yang penting, sehingga suara yang pertama kali dikumandangkan untuk membenarkan dan mendukung Nabi SAW adalah suara wanita yakni Khadijah RA. Bahkan, orang yang mati syahid pertama adalah wanita, yaitu Sumayyah ibu Ammar RA. Ulama terkemuka Syeikh Yusuf al-Qaradhawi dalam buku bertajuk Fatwa-fatwa Kontemporer, mengatakan, janganlah menetapkan sesuatu melainkan dengan nash-nash yang sahih yang memberikan ketetapan. Syeikh al-Qaradhawi, mengungkapkan, saat ini kamus sekuler memperdagangkan persoalan wanita (mengangkat persoalan-persoalan wanita) dan mencoba mengaitkannya dengan Islam mengenai hal-hal yang sebenarnya Islam terlepas daripadanya. Misalnya, kata dia, Islam masih dipandang mendiskreditkan kaum wanita serta menyia-nyiakan kemampuan dan kodratnya, dengan alasan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi pada beberapa dekade terakhir, dan dengan alasan beberapa pendapat kaum ekstremis pada zaman sekarang. Menurut Syeikh al-Qaradhawi, ada sebagian orang yang masih menganggap duduknya wanita di parlemen adalah haram dan dosa. Padahal, kata dia, mengharamkan sesuatu itu tidak dapat dilakukan, kecuali dengan adanya dalil yang tidak samar lagi. Se-

Afifah (Bisa menjaga kehormatan diri) Ahli dalam bidangnya. Menutupi auratnya Mendapat izin dari yang berhak memberi izin Aman dari fitnah Tidak menjadikan sebab timbulnya munkar menurut syara.
Apabila tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, maka haram. Dan syuriah dengan kebijaksanaan serta persetujuan PB Syuriah NU berhak menariknya.

MENGAPA TIDAK?
dangkan, semua tindakan duniawi itu mubah, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Syeikh al-Qaradhawi berpendapat, seorang wanita Muslim boleh menjadi anggota parlemen. Syaratnya, kata dia, mereka tak bergaul bebas dengan laki-laki lain tanpa batas. Selain itu, anggota wanita yang duduk di parlemen juga tak boleh mengabaikan suami, anak-anak dan lingkungannya. Dengan duduk di parlemen, seorang perempuan bukan berarti diperbolehkan menyimpang dari kesopanan dalam berpakaian, berjalan, bergerak dan berbicara. Perempuan yang menjadi anggota parlemen, papar alQaradhawi, harus tetap menjaga adab-adab kesopanan sesuai dengan tuntunan syara'. Hal itu, menurutnya, tidak diragukan dan tidak dipertentangkan siapa pun. Adab-adab itu, tutur Syeikh al-Qaradhawi, harus dipenuhi seorang perempuan ketika beraktivitas di luar rumah, seperti di parlemen atau kampus. Menurut dia, negara-negara yang memelihara adab-adab Islam dituntut untuk memberikan tempat tertentu bagi kaum perempuan untuk duduk di parlemen, berupa baris khusus atau sudut khusus. Sehingga, mereka bisa menunaikan tugasnya dengan tenang dan terjauh dari fitnah-fitnah yang dikhawatirkan. c81

MUHAMMADIYAH
ada Muktamar XVII Muhammadiyah di Pancongan, Pekalongan, Jawa Tengah tahun 1972 diputuskan, bahwa hampir seluruh ajaran Islam tentang muamalat dunyawiyyah (urusan duniawi) mengandung unsurunsur politis dan ideologis. Muhammadiyah membolehkan kaum perempuan untuk menjadi anggota parlemen. Muhammadiyah mendorong kaum wanita ikut serta dan berjuang mencapai jumlah perwakilan yang memadai. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

P

P

Harus ada pembimbing politis dari setiap situasi yang dihadapi terutama yang menyangkut masalah kewanitaan, agar setiap wanita Islam memiliki kesadaran politik. Harus dipersiapkan kaderkader politik wanita Islam Dalam kerja sama dengan organisasi-organisasi lain, harus dapat menempatkan orang-orang yang sekiranya sanggup menjadi fa'il (pemeran). c81

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->