P. 1
perlindungan hukum nasabah terhadap likuidasi bank dihubungkan dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan

perlindungan hukum nasabah terhadap likuidasi bank dihubungkan dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan

|Views: 1,253|Likes:
Published by Ade Didik Irawan
perlindungan hukum nasabah terhadap likuidasi bank dihubungkan dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan
perlindungan hukum nasabah terhadap likuidasi bank dihubungkan dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Ade Didik Irawan on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Pembangunan nasional memerlukan sumber pendanaan yang tidak kecil guna mencapai sasarannya: pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, kesempatan kerja distribusi pendapatan, dan lain-lain. sasaran ini terus di upayakan untuk di tingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu. upaya memperbaiki dan memperkuat sektor keuangan khususnya industri perbankan menjadi sangat penting. Sektor perbankan memiliki peran yang sangat vital, antara lain sebagai pengatur urat nadi perekonomian nasional. Lancarnya aliran uang sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan ekonomi. Kondisi sektor perbankan yang sehat dan kuat penting menjadi sasaran akhir dari kebijakan di sektor perbankan. Peran sektor perbankan dalam pembangunan juga dapat di lihat pada fungsinya sebagai alat transmisi kebijakan moneter. Disamping itu, perbankan merupakan alat yang sangat vital dalam menyelenggarakan transaksi pembayaran, baik nasional maupun internasional. Mengingat pentingnya fungsi ini, maka upaya menjaga kepercayaan masyarakat.

1

2

Terhadap perbankan menjadi bagian yang sangat penting untuk diperhatikan oleh bank.1 Bisnis perbankan merupakan bisnis yang penuh risiko, di samping menjanjikan keuntungan yang besar jika di kelola secara baik dan hati-hati.dikatakan sebagai bisnis penuh risiko karena aktivitasnya sebagian besar mengandalkan dana titipan masyarakat, baik dalam bentuk tabungan giro maupun deposito. Besarnya peran yang diperhatikan oleh sektor perbankan, bukan berarti membuka peluang sebebas-bebasnya bagi siapa saja untuk mendirikan, mengelola ataupun menjalankan bisnis perbankan tanpa di dukung dengan aturan perbankan yang baik dan sehat. pemerintah melalui otoritas keuangan dan perbankan berwenang menetapkan aturan dan bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha dan aktivitas perbankan oleh karenanya, kebijakan pemerintah disektor perbankan harus di arahkan pada upaya mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan kokoh. Hal ini mengingat kebijakan di bidang perbankan ini tidak lagi semata-mata memegang pernan penting dalam pengembangan infrasturktur keuangan dalam rangka mengatasi kesenjangan antara tabungan dan investasi, tetapi juga berperan penting dalam memelihara kesetabilan ekonomi makro melalui keterkaitannya dengan efektivitas kebijakan moneter 2 Pemerintah telah cukup mencurahkan perhatian pada penyempurnaan peraturan-peraturan hukum di bidang perbankan . Mulai dari undang-undang hingga
Adrian Sutedi, Hukum Perbankan Suatu Tinjauan Pencucian Uang, Merger, Likuidasi, dan Kepailitan.,Sinar Grafika, Jakarta 2007, hlm., 130 2 Ibid., hlm 131.
1

3

peraturan yang sifatnya teknis sudah cukup tersedia. Bahkan, peraturan yang berhubungan dengan prinsip kehati-hatian pun sudah sangat memadai. Namun demikian, kelengkapan peraturan terutama menyangkut prinsip kehati-hatian tidaklah cukup untuk dijadikan ukuran bahwa perbankan nasional lepas dari segala permasalahan. Buktinya sebagian besar bank nasional (khususnya bank swasta) merupakan bank bermasalah, yang satu persatu masuk pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) bahkan lebih tragis lagi beberapa bank swasta nasional terpaksa di likuidasi pada masa pemerintahan Sosilo Bambang Yhudhoyono.3 Salah satu contoh bank sawasta tersebut adalah Bank Century, laporan keuangan Bank Century pada rapat KSSK pada tanggal 20-21 November 2008 jam 00:11WIB – 05:00 WIB, dalam salinan notulensi rapat KSSK, inilah rincian dana yang telah di kucurkan oleh LPS dan penarikan dana nasabah di Bank Century, adalah sebagai berikut:4 1. Kucuran dana LPS (biaya penyelamatan): a. b. 20 Nov 2008 (saat penyelamatan): Rp 632 miliar Juli 2009 : Rp 6,76 triliun. (msh tersisa sekitar Rp 2 triliun di brangkas Century untuk memenuhi rasio kecukupan modal /CAR 8% yang di persyaratkan Bank Indonesia 2. Dana Nasabah (saat penyelamatan 20 November 2008)
Ibid. M. Muifti Mubarok Membongkar Kotak Hitam Century Gate, Java Pustaka Media Utama, Jakarta Selatan, 2010 hlm.,56.
4 3

4

a. b. c.

Yang dijamin pemerintah : Rp 5,6 triliun Di luar penjamin :3,4 triliun Dana nasabah yang dijamin di 18 bank yang terancam kolaps Rp 5,6 triliun + Rp 15 triliun = Rp 20,6 triliun

3. Penarikan dana nasabah a. b. Seblum penylamatan (1-20 November 2008) : Rp 1,2 triliun Setelah pnyelamatan (20 November 2008-31 Desember 2008): 1) Penarikan dana nasabah yang dijamin : Rp 3,5 triliun 2) Penarikan dana nasabah besar : 1 triliun.

Berdasarkan data-data di atas, dana yang harus dikeluarkan oleh LPS untuk penutupan Bank Century (Rp 20,6 triliun) jauh lebih besar dibandingkan biaya penyelamatan (6,7 triliun). Penarikan dana pasca penyelamatan, sebagian besar dilakukan oleh nasabah yang dijamin oleh pemerintah (simpanan di bawah Rp 2 miliar), yaitu sebesar Rp 3,5 triliun.5 Besarnya peran pengawasan oleh sektor perbankan, bukan berarti membuka peluang sebebas-bebasnya bagi siapa saja untuk mendirikan, mengelola ataupun menjalankan bisnis perbankan tanpa di dukung dengan aturan perbankan yang baik dan sehat. pemerintah melalui otoritas keuangan dan perbankan berwenang menetapkan aturan dan bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha dan ativitas perbankan oleh karenanya, kebijakan pemerintah disektor
5

Ibid .,hlm 58.

5

perbankan harus di arahkan pada upaya mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan kokoh. Hal ini mengingat kebijakan di bidang perbankan ini tidak lagi semata-mata memegang pernan penting dalam pengembangan infrasturktur keuangan dalam rangka mengatasi kesenjangan antara tabungan dan investasi, tetapi juga berperan penting dalam memelihara kesetabilan ekonomi makro melalui keterkaitannya dengan efektivitas kebijakan moneter. 6 Salah satu faktor yang membuat sistem perbankan nasional mengalami masalah likuidasi adalah akibat perilaku para pengelola dan pemilik bank yang cenderung mengekploitasi dan/atau mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam berusaha, disamping faktor penunjang lain, yakni lemahnya pengawasan dari bank Indonesia (BI).7 Sebagai tindak lanjut dari pencabutan ijin usaha, dilakukan pembubaran badan hukum bank tersebut melalui proses likuidasi bank tersebut menimbulkan domino effect antara lain di dahului dengan adanya rush di sektor perbankan

sehingga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional menjadi terpuruk.8 Berdasarkan uraian diatas, untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu kajian untuk melengkapi hal-hal yang belum tersentuh pengaturannya terkait dengan kewenangan Bank Indonesia melakukan pencabutan, pembubaran dan likuidasi bank, disamping tidak menutup kemungkinan memunculkan alternatif lain dalam penanganan bank bermasalah misalnya melalui sarana Undang-Undang Kepailitan,
6 7

Adrian Sutedi, Hukum Perbankan…,Op.Cit., hlm 131. Ibid. 8 Ibid., hlm 132.

6

yakni Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang No.1 Tahun 1998 tentang perubahan atas UndangUndang tentang kepailitan menjadi Undang-Undang (sekarang Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang kepailitan) Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional , pemerintah mengeluarkan jaminan kewajiban pembayaran bank umum atau dikenal dengan blanket guarantee yang merupakan financial safety net dengan keputusan presiden Nomor 26 Tahun 1998 dan Undang-Undang No.10 Tahun 1998 (Pasal 37) Atas dasar tersebut, peneliti mencoba meneliti tentang perlindungan nasabah terhadap likuidasi bank , yang di tuangkan ke dalam skripsi ini dengan judul : Perlindungan Hukum Nasabah Terhadap Likuidasi Bank Dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengidentifikasi hal-hal yang akan diteliti, sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaturan likuidasi bank menurut Undang-Undang Nomor10 Tahun 1998 tentang Perbankan ? 2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah bank yang di atur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan ?

7

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengaturan likuidasi bank menurut Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan. 2. Untuk mengetahui perlindungan nasabah apabila terjadi likuidasi bank yang tertuang dalam Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan. D. KegunaanPenelitian Kegunaan dari penelitian ini dapat di lihat dari 2 (dua) segi yaitu: 9 1. Kegunaan Teoritis Guna memberikan dan sumbangan pemikiran bagi pengembangan bidang ilmu hukum perbankan di bidang perlindungan nasabah berkenaan dengan masalah likuidasi bank, serta memberikan bahan referensi bagi kepentingan akademis dan juga sebagai tambahan bagi kepustakaan dalam bidang ilmu hukum. 2. Kegunaan Praktis

9

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta 2010, hlm.,

103.

8

a. Bagi nasabah menambah wawasan dan pengetahuan dalam segi kehati-hatiannya dalam memilih produk yang ditawarkan oleh bank b. Bagi peneliti, menambah wawasan dan pengetahuan dalam segi ilmu hukum perbankan. c. Bagi praktisi, memberikan informasi dan bahan masukan tentang pentingnya perlindungan nasabah terhadap likuidasi bank.

E.Kerangka Pemikiran Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan, bahwa “Negara Indonesia negara hukum”. Negara hukum dimaksud adalah negara yang menegakan supermasi hukum untuk menegakan kebenaran dan keadilan dan tidak ada kekuasaan yang tidak

dipertanggungjawabkan.10 Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan Negara Hukum ialah negara yang berediri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi terciptanya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari pada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Demikian pula

Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia,Panduan Pemasyarakatan UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (Sesuai dengnan Urutan Bab, Pasal dan ayat), Sekertaris Jendral MPR RI, Jakarta, 2010, hlm, 46

10

9

peraturan hukum yang sebenarnya hanya ada jika peraturan hukum itu mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup antar warga negaranya.11 Menurut Aristoteles yang memerintah dalam negara bukanlah manusia sebenarnya, melainkan fikiran yang adil, sedangkan penguasa sebenarnya hanya pemegang hukum dan keseimbangan saja. Kesusilaan yang akan menentukan baik tidaknya suatu peraturan undang-undang dan membuat undang-undang adalah sebagian dari kecakapan menjalankan pemerintahan negara. Oleh karena itu Menurut, bahwa yang penting adalah mendidik manusia menjadi warga negara yang baik, karena dari sikapnya yang adil akan terjamin kebahagiaan hidup warga negaranya.12 Secara umum, dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum, selalu berlakunya tiga prinsip dasar, yakni supermasi hukum (supremacy of law), kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law), dan penegakan hukum dengan cara tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). Supermasi hukum, artinya bahwa yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi di dalam negara adalah hukum (kedaulatan hukuum.13 Prinsip penting dalam negara hukum adalah perlindungan yang sama (equal protection) atau persamaan dalam hukum (equality before the law). Perbedaan perlakuan hukum hanya boleh jika ada alasan yang khusus, misalnya, anak-anak yang di bawah umur 17 tahun mempunyai hak yang berbeda dengan anak-anak yang di atas 17 tahun. Perbedaan ini ada alasan yang rasional. Tetapi perbedaan perlakuan
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Sinar Bakti, Jakarta 1988, hlm., 153. 12 Ibid., hlm,154. 13 Ibid., hlm 161.
11

10

tidak dibolehkan jika tanpa alasan yang logis, misalnya karena perbedaan warna kulit, gender agama dan kepercayaan, sekte tertentu dalam agama, atau perbedaan status seperti antara tuan tanah dan petani miskin. Meskipun demikian, perbedaan perlakuan tanpa alasan yang logis seperti ini sampai saat ini masih banyak terjadi di berbagai negara, termasuk di negara yang hukumnya sudah maju sekalipun.14 Mengenai konsep kesetaraan dihadapan hukum (equality before the law), menurut Dicey, Bahwa berlakunya Konsep kesetaraan dihadapan hukum (equality before the law), di mana semua orang harus tunduk kepada hukum, dan tidak seorang pun berada di atas hukum (above the law).15 Istilah due process of law mempunyai konotasi bahwa segala sesuatu harus dilakukan secara adil. Konsep due process of law sebenarnya terdapat dalam konsep hak-hak fundamental (fundamental rights) dan konsep kemerdekaan/kebebasaan yang tertib (ordered liberty).16 Konsep due process of law yang prosedural pada dasarnya didasari atas konsep hukum tentang “keadilan yang fundamental” (fundamental fairness). Perkembangan , due process of law yang prossedural merupakan suatu proses atau prosedur formal yang adil, logis dan layak, yang harus dijalankan oleh yang berwenang, misalnya dengan kewajiban membawa surat perintah yang sah, memberikan pemberitahuan yang pantas, kesempatan yang layak untuk membela diri termasuk memakai tenaga ahli seperti pengacara bila diperlukan, menghadirkan
14

Munir Fuady, Teori Negara Hukum Modern (Rehctstaat) ,Refika Aditama, Bandung 2009,

hlm., 207.
15 16

Ibid., hlm., 3. Ibid., hlm,46.

11

saksi-saksi yang cukup, memberikan ganti rugi yang layak dengan proses negosiasi atau musyawarah yang pantas, yang harus dilakukan manakala berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak dasar manusia, seperti hak untuk hidup, hak untuk kemerdekaan atau kebebasan (liberty), hak atas kepemilikan benda, hak mengeluarkan pendapat, hak untuk beragama, hak untuk bekerja dan mencari penghidupan yang layak, hak pilih, hak untukberpergian kemana dia suka, hak atas privasi, hak atas perlakuan yang sama (equal protection) dan hakhak fundamental lainnya.17 Sedangkan yang dimaksud dengan due process of law yang substansif adalah suatu persyaratan yuridis yang menyatakan bahwa pembuatan suatu peraturan hukum tidak boleh berisikan hal-hal yang dapat mengakibatkan perlakuan manusia secara tidak adil, tidak logis dan sewenang-wenang.18 Pasal 23 huruf D Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 menyebutkan bahwa negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 perubahan atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, disebutkan bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, dan untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia memiliki tugas

17 18

Ibid., hlm.,47. Ibid.

12

menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, dan mengawasi bank-bank. Undang-undang ini lahir setelah krisis karena sebelumnya berlaku Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Indonesia.19 Perbedaan yang mendasar yang terkait dengan penyelsaian krisis perbankan adalah, bahwa pada undang-undang sebelumnya secara kelembagaan Bank Indonesia berada di dalam pemerintah atau di bawah presiden sebagai kepala pemerintah dan di bawah Dewan Moneter yang diketuai oleh Menteri Keuangan dalam melakukan kebijakan moneter. Sementara itu, dengan undang-undang baru, Bank Indonesia berada di luar pemerintah, artinya tidak berada di bawah menteri kabinet dalam pemerintahan presiden, tetapi tetap dalam koordinasi presiden sebagai kepala negara. Perbedaan kewenangan yang mendasar terkait dengan penyelsaian likuidasi perbankan adalah bahwa kebijakan-kebijakan pengaturan dan pengawasan bank-bank termasuk penutupan bank harus berada dalam koordinasi menteri keuangan, termasuk hak untuk memberikan dan mencabut izin usaha bank berada pada menteri keuangan.20 Sementara itu, setelah undang-undang baru, koordinasi dengan Menteri Keuangan lebih dikaitkan, karena Departemen Keuangan yang merupakan otoritas

Kusumaningtuti, Peranan Hukum dalam Penyelsaian Krisis Perbankan di Indonesia, Raja Grafindo Persada Grafika 2009, Jakarta, hlm,162.
20

19

Ibid.

13

keuangan dan fiskal, sementara kebijakan pengaturan dan pengawasan sepenuhnya berada di Bank Indonesia, termasuk hak pemberian dan pencabutan izin usaha bank.21 Undang-Undang Perbankan Indonesia yaitu, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, kedudukan dan kapasitas Bank Indonesia di bidang perbankan diatur, yang terkait dengan penyelsaian likuidasi perbankan dan perlindungan nasabah adalah kedudukan Bank Indonesia dalam merekomendasi

kepada pemerintah untuk membentuk badan khusus yang bersifat sementara untuk menyehatkan perbankan sebagaimana diatur dalam pasal 37A undang-undang tersebut.22 Pengertian hukum dalam konteks terhadap likuidasi bank, dipergunakan sistem hukum dari Lawrence M Friedman. Teori ini menyebutkan, bahwa sistem hukum mengandung tiga faktor yaitu structur, substance, dan legal culture. Ketiga faktor tersebut saling terkait sehingga mewujudkan gambaran yang sebenarnya mengenai bagaimana suatu sistem hukum di suatu negara tersebut berfungsi.23 Mengenai structure, Friedman mengatakan bahwa sistem selalu berubah, tetapi bagian-bagian dari sistem tersebut berubah dengan kecepatan yang berbedabeda, dan tidak setiap bagian berubah secepat dan memiliki kepastian seperti bagian lainnya. Bagian-bagian ini memiliki pola jangka panjang bagian ini adalah aspekaspek dari sistem yang ada di sini pada waktu sebelumnya (atau bahkan ada sejak abad yang lalu) dan akan tetap ada dalam waktu yang lama di masa depan. Inilah
Ibid., hlm.162. Ibid., hlm.163. 23 M.Khozim, Lawrence M. Friedman Sistem Hukum Presfektif Ilmu Sosial, Nusa Media, Bandung, 2009, hlm 12.
22 21

14

struktur dari sistem hukum, yaitu kerangka atau cara kerja. Bagian tetap, yang memberikan sebuah bentuk dan definisi bagi keseluruhan sistem. Struktur sistem hukum ini terdiri dari beberapa elemen seperti : jumlah dan kapasitas pengadilan, yuridiksi (yaitu apa kasus yang mereka tangani, bagaimana, serta mengapa), dan bentuk banding dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya. Struktur juga berarti cara badan hukum berorganisasi, beberapa anggota yang duduk di komisi, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan (secara legal) oleh seorang presiden, prosedur apa yang harus diikuti oleh kepolisisan, dan lain sebagainya.struktur dapat dikatakan,sebagai sebuah bentuk lintas bagian dari sistem hukum sebuah bentuk visualisasi merekam sebuah peristiwa.24 Mengenai substance, Friedman mengatakan Substance adalah peraturan atau regulasi dalam arti yang sebenarnya, yaitu norma dan pola perilaku dari orang-orang yang berada dalam sistem. Ini adalah pertama-tama “hukum” dalam istilah populer, kenyataan bahwa batas kecepatan kendaran adalah lima puluh lima mil per jam, peratuaran yang dapat membuat seorang perampok masuk ke penjara, bahwa sesuai hukum seorang pembuat acara harus mencantumkan komposisi isi pada kemasan. Namun, hal ini juga, dengan kata lain “substansi”, bahwa polisi hanya menangkap pengemudi yang memacu kendaraannya tujuh puluh mil per jam. hal-hal seperti ini merupakan pola kerja dari hukum yang hidup. substance juga berarti “produk” yang di hasilkan, oleh orang–orang dalam sistem hukum, keputusan–keputusan yang di yang

24

Ibid.,hlm 202.

15

hasilkan oleh orang peraturan baru yang di ikuti. Penekanannya disini adalah pada hukum hidup, bukan sekedar peraturan pada buku-buku tentang hukum.25 Mengenai legal culture, Friedman mengatakan, legal culture adalah sikap orang-orang hukum dan sistem hukum , kepercayaan nilai-nilai ide-ide dan ekspresi mereka. Dengan kata lain, legal culture merupakan bagian dari budaya secara umum yang terkait dengan sistem hukum. Ide-ide dan opini ini dapat dikatakan adalah apa yang menentukan sebuah proses hukum berjalan. Legal culture, dalam pengertian lain, adalah iklim dari pemikiran sosial dan kekuatan social yang menentukan bagaimana hukum digunakan dihindari, disalah gunakan. Tanpa legal culture, sistem hukum menjadi statis, seperti seekor ikan mati didalam sebuah keranjang, bukan seperti seekor ikan yng berenang di laut. Setiap masyarakat, setiap negara, setiap komunitas, memiliki legal culture. Selalu ada sikap dan opini tentang hukum. Salah satu subkultur yang penting adalah legal culture dari para “insiders”, yaitu para hakim dan jaksa yang bekerja didalam sistem hukum itu sendiri. karena hukum menjadi kepentingan mereka, nilai-nilai dan sikap mereka menjadi penentu yang membedakan sistem.26 Ringkasnya pendapat tersebut mengemukakan bahwa structure mencakup sebagai lembaga yang diciptakan oleh sistem hukum. Substance mencakup segala hal yang di hasilkan oleh structure, sedangkan legal culture adalah mengenai siapa yang

25 26

Ibid.,hlm.377. Ibid., hlm.254.

16

menentukan struktur tersebut berjalan dan bagaimana structure dan substance tersebut akan digunakan.27 Perubahan kelembagaan dalam rangka penyelamatan sistem perbankan cara simultan akan memberikan pengaruh penyempurnaan sistem hukum yang berlaku, sementara unsur governance dalam pembangunan akan menentukan tingkat keberhasilan perubahan yang sedang dilaksanakan. Optimal atau kurang optimalnya peran hukum dalam program-program penyelesaian krisis perbankan dapat dikaji dari terpenuhi atau tidak terpenuhinya faktor-faktor yang menjadi kriteria, seperti penerapan hukum yang memadai, adanya pemerintahan yang bersih, serta adanya sistem pengaturan yang efisien, demokratis dan akuntabel. Kajian terhadap indikasi tidak berfungsinya hukum dengan baik merupakan kajian yang harus dilakukan secara mendalam guna menjawab permasalahan-permasalahan yang menghambat peranan hukum dalam pembangunan. Sementara itu, sejauh mana suatu sistem hukum diterapkan dalam suatu perekonomian dapat ditelaah dari interaksi tiga faktor yang disebut dengan struktur (kelembagaan), substansi (regulasi), dan budaya hukum (pandangan atau pemahaman masyarakat pelaku, pengguna, dan otoritas kebijakan).28 Faktor substansi atau regulasi yang menurut Friedman adalah actual rules, norma-norma, dan pola perilaku dari masyarakat di dalam sistem meliputi segala regulasi atau peraturan yang dapat menimbulkan implikasi dampak negatif atau

Kusumaningtuti.Peranan Hukum dalam Penyelsaian Perbankan di Indonesia, Rajagrafindo Persada, Jakarta 2009. hlm. 17. 28 Ibid.,

27

17

kerugian.29 Sistem perbankan, yang dimaksud dengan substansi adalah setiap regulasi dan kebijakan yang berkaitan dengan perizinan, kegiatan usaha dan pembubaran bank, baik yang diberlakukan secara individual maupun secara sistem. Dalam penyelsaian likudasi perbankan, yang disebut dengan substansi selain sama seperti pengertian dalam sistem perbankan juga segala ketentuan dan kebijakan yang terkait dengan penyelesaian likuidasi bank tersebut.30 Faktor budaya hukum, yang didefinisikan oleh Friedman sebagai perilaku/ sikap, kepercayaan, nilai-nilai pemikiran, dan harapan masyarakat terhadap hukum, mencakup mengenai siapa dan bagaimana dalam menentukan faktor struktur dan substansi hukum berjalan dan digunakan. Dalam budaya hukum dikenal teori yang membedakan formal law dan law in action. Formal law berarti suatu perangkat norma atau aturan yang dimuat dalam perundang-undangan atau dalam penyelsaian suatu kasus hukum sedangkan law in action adalah hukum yang di terapkan atau dilaksanakan oleh para pihak, pengacara, dan pengadilan.31 Interaksi ketiga faktor,yaitu struktur, substansi, dan budaya hukum, akan mencerminkan bagaimana peran hukum pada suatu kondisi di suatu negara. Telaahan terhadap interaksi ketiga faktor sistem hukum tersebut dapat memberikan gambaran apakah hukum berperan secara memadai atau tidak dalam penyelesaian persoalanpersoalan atau permasalahan.

Didik J.Rachbini, Ekonomi Politik – Kebijakan dan Setrategi Pembangunan, (Jakarta : Penerbit Granit , 2004 )hlm 23. 30 Kusumaningtuti.peranan…op.Cit.,hlm18. 31 Ibid.

29

18

Pada sistem perbankan Indonesia, bagian-bagian yang dapat dikelompokan dalam struktur, substansi, dan budaya hukum adalah sebagaimana diuraikan dibawah ini. Sistem perbankan, yang termasuk dalam struktur adalah institusi yang menjadi otoritas yang mengeluarkan peraturan-peraturan perbankan yang baik. Lazimnya bank sentral atau otoritas pengawasan perbankan merupakan merupakan bagian pokok dari sturktur. Setiap lembaga pemerintah atau non pemerintah yang memiliki kewenangan untuk menentukan berfungsinya sistem perbankan yang baik juga merupakan bagian dari struktur ini. Sistem perbankan Indonesia, pada awalnya yang termasuk dalam cakupan struktur adalah Bank Indonesia sebagai lembaga supervisi dan regulasi perbankan, Departemen Keuangan sebagai lembaga perizinan perbankan (sebelum Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 tenteng Perbankan) dan sebagai lembaga pemberi penjaminan pemerintah, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai lembaga penyehatan perbankan dan Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) sebagai lembaga yang merumuskan kebijakan yang terkait dengan restrukturisasi perbankan dalam rangka pemulihan krisis.32 Saat ini, cakupan struktur dalam praktik Perbankan Indonesia adalah Bank Indonesia (sebagai lembaga supervisi dan regulasi perbankan), Departemen Keuangan (sebagai lembaga penjaminan pemerintah ), dan KKSK (sebagai lembaga yang merumuskan kebijakan
32 Secara teori dalam restrukturisasi perbankan, yang termasuk dalam structure adalah hal-hal yang terkait dengan kerangka kelembagaannya .pembentukan otoritas tingkat tinggi yang di beri tuga untuk memastikan terdapatnya kebijakan yang konsisten di antara beberapa instansi pemerintah .institusi ini akan memperkuat setrategi restrukturisasi .lembaga-lembaga pengawasan sektor keuangan . agar efektif ,pejabat-pejabat wajib terus memiliki komitmen politik.Fakta menujukan bahwa pelaksanaan yang konsisten atas proses restrukturisasi yang kompleks menjadi sulit apabila tidak disertai dengan otoritas tunggal berikut mandate yang jelas .Institusi tersebut harus mendelegasikan sebagian besar masalah pelaksanaan pada lembaga –lembaga terkait yang secara tepat. ibid , hlm19.

19

yang terkait dengan restrukturisasi perbankan dalam rangka pemulihan krisis) Masih termasuk dalam struktur adalah pembentukan pengadilan khusus untuk menangani restrukturisasi bank dan perusahaan. Demikian pula dengan perlunya pembentukan panel abritase dan fasilitas-fasilitas lain yang berkaitan dengan penyelsaian perselisihan di bidang keuangan luar pengadilan. Oleh karena itu, Pengadilan Niaga yang dibentuk dalam rangka memfasilitasi perselisihan penyelsaian asset serta sebagai forum yudisial yang menyelsaikan perkara kepailitan merupakan bagian dari struktur ini. Demikian pula dengan forum-forum penyelsaian sengketa di luar pengadilan.33 Sistem perbankan, yang termasuk dalam substansi adalah setiap regulasi dan kebijakan yang berkaitan deng perizinan, kegiatan usaha, maupun pembubaran bankbank baik yang diberlakukan secara individual maupun secara kelompok. Pada awalnya, yang termasuk substansi dalam sistem perbankan Indonesia adalah setiap ketentuan yang tertulis maupun tidak tertulis yang berbentuk peraturan perundangan maupun berbentuk arahan dari pemerintah termasuk KKSK maupun dari Bank Indonesia atau BPPN. Berdasarkan restrukturisasi perbankan, yang termasuk substansi adalah aturan hukum yang akan digunakan untuk menyelsaikan bank-bank bermasalah seperti halnya likuidasi bank. Aturan tersebut harus didasarkan pada undang-undang, dan bila perlu, dibuat peraturan yang sifatnya mendesak peraturan tersebut sekurang-kurangnya memuat (a) hak untuk melakukan intervensi bank–bank yang lemah dan mendata penyertaan modal para pemegang saham ; (b) pengaturan
33

Ibid., hlm 20.

20

penilaian asset dan memindahkan hak kreditor dan kepemilikan property dalam rangka melaksanakan strategi restrukturisasi bank; (c) penyesuaian aturan-aturan akunting dan auditing serta aturan-aturan penilaian koleteral; (d) pemastian kelayakan kewajaran pemilik dan pengurusan bank; (e) kemungkinan masuknya investor asing; (f) penyusunan kriteria perizinan bank baru; (g) pembatasan ekspor kewajiban dalam valuta asing serta pinjaman pada pihak terkait dan (h) pemusatan pemberian kredit. Setelah dibubarkan BPPN, yang termasuk substansi pada sistem perbankan Indonesia saat ini hanya ketentuan yang di keluarkan pemerintah, KKSK dan Bank Indonesia.34 Sementara itu yang termasuk budaya hukum dalam sistem perbankan adalah hal-hal yang terkait dengan cara para aparat otoritas yang melaksanakan hukum perbankan maupun bagaimana para pengurus atau pemilik bank memahami, mematuhi, dan melaksanakan ketentuan serta kebijakan perbankan. Pada konteks ini, tidak terlepas pula aspek politik hukum yang mempengaruhi penerapan kebijakan dan ketentuan di bidang perbankan demikian pula dengan sistem perbankan Indonesia, yang termasuk dalam budaya hukum adalah segala kebiasaan dan perilaku otoritas perbankan dan bank-bank beserta aparatnya dalam melaksanakan kebijakan operasi perbankan. Termasuk budaya hukum dalam restrukturisasi perbankan adalah kultur yang tidak mendukung kelancaran atau keberhasilan restrukturisasi perbankan seperti praktik korupsi, kolusi, dan koronisme. Sudut pandang kepentingan stabilitas

34

Ibid.

21

keuangan, praktik korupsi yang merajalela akan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan dan akan menurunkan investasi. 35 Berkaitan dengan teori perlindungan hukum terhadap nasabah, penulis mengambil pendapat dari Marulak Pradede mengemukakan bahwa dalam sistem perbankan Indonesia, mengenai perlindungan terhadap nasabah penyimpan dana, dapat dilakukan melalui 2 teori yaitu, teori perlindungan secara impilisit (implicit deposit protection), dan teori perlindungan secara eksplisit (Explicit deposit protection).36 Mengenai teori perlindungan secara implisit (implicit deposit protection), yaitu perlindungan yang dihasilkan oleh pengawasan dan pembinaan bank yang efektif, yang dapat menghindarkan terjadinya kebangkrutan bank. Perlindungan ini yang diperoleh melalui: (1) peraturan perundang-undangan dibidang perbankan, (2) perlindungan yang dihasilkan oleh pengawasan dan pembinaan yang efektif, yang dilakukan oleh Bank Indonesia, (3) upaya menjaga kelangsungan usaha bank sebagai sebuah lembaga pada khususnya dan perlindungan terhadap sistem perbankan pada umumnya, (4) memelihara tingkat kesehatan bank, (5) melakukan usaha sesuai

Oleh karena itu , ada beberapa persyaratan minimal yang di perlukan untuk tidak mendorong praktik korupsi seperti (a) batas maksimum kredit kepada setiap debitor sesuai dengan standar internasional ;(b) larangan bagi kegiatan manipulasi pasar; dan (c) self dealfing . pengaturan yang memberikan perlindungan terhadap kepemilikan sejalan dengan upaya peningkatan kepercayaan dalam sistem keuangan ,perlu dilaksanakan secara efektif . Joseph J. Norton , Financial Sector Reform and International Financial Crises :The Legal Challenges, The London Institute of International Baking, Finance & Development Law , Great Britain 1988, hlm .28. 36 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Pernada Media grup, Jakarta 2011, hlm., 145

35

22

dengan prinsip kehati-hatian, (6) cara pemberian kredit yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah, dan (7) menyediakan informasi risiko pada nasabah.37 Mengenai teori perlindungan secara eksplisit (Explicit deposit protection), yaitu perlindungan melalui pembentukan suatu lembaga yang menjamin simpanan masyarakat, sehingga apabila bank mengalami kegagalan, lembaga tersebut yang akan mengganti dana masyarakat yang disimpan pada bank yang gagal tersebut, perlindungan ini diperoleh melalui pembentukan lemabaga yang menjamin simpanan masyarakat, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden RI Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan terhadap Kewajiban Bank Umum.38

F. Metode Penelitian Dalam pembuatan skripsi ini, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode dan data sebagai berikut :

1. Spesifikasi Penelitian Dalam penelitian hukum ini peneliti menggunakan spesifikasi penelitian deskritif analitis yaitu menggambarkan serta menguraikan semua data yang diperoleh dari hasil studi kepustakaan yang berkaitan dengan judul penulisan hukum yang secara jelas dan rinci kemudian dianalisis guna menjawab permasalahan yang diteliti.

37 38

Ibid Ibdi., hlm 146.

23

2. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang penulis pergunakan dalam penyusunan penulisan hukum ini adalah penelitian yuridis normatif atau penelitian hukum kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier39. Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian terhadap asas-asas hukum yang dikomaparasikan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Indonesia khususnya berhubungan dengan perlindungan nasabah terhadap likuidasi Bank yang dituangkan dalam kasus Bank Century.

3. Tahap Penelitian Tahap penelitian yang penulis pergunakan dalam penelitisn ini berupa pengumpulan data sekunder, yaitu data atau informasi hasil penelaahan dokumen penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya, bahan kepustakaan seperti buku-buku, literatur, Koran, majalah, jurnal, artikel internet, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, maupun arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas.40

39 40

Abdul Kadir. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti, Bandung. 2004. hlm101 Ibid., hlm 67.

24

Menurut Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji menyatakan bahwa suatu penelitian hukum normatif mengandalkan pada penggunaan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier. 41 a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, dalam pembuatan skripsi ini bahan hukum yang akan di gunakan adalah UndangUndang Nomor. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan , Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, dan KUHPerdata, KUHPidana. b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, atau pendapat pakar hukum. c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus(hukum), ensiklopedia.

4.Teknik Pengumpulan Data. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah merupakan penelaahan peraturan perundang- undangan yang terkait serta buku-buku atau literatur sebagai bahan

Soerjono Soekanto dan Srimantudji, Penelitian Hukum Normative Suatu Tinjauan Singkat .Rajagrafindo Persada ,Jakarta 2001, hlm 13.

41

25

bacaan. Menurut Soejono Soekanto studi kepustakaan ini menelaah bahan-bahan hukum yang pokok yaitu undang-undang dalam arti materiil dan formal, hukum kebiasaan dan hukum adat yang tercatat, yurisprudensi yang konstan, traktat dan doktrin. Juga bahan-bahan yang dinamakan dokumen seperti autobiografi yang konprohensif, surat-surat pribadi, buku harian dan memori, surat kabar dan majalah, dokumen-dokumen pemerintah dan cerita-cerita rakyat.42

5. Metode Analisis Data Mengenai kegiatan analisis data dalam penelitian ini peneliti

mengklasifikasikan pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan, karya tulis para sarjana serta dokumen penunjang lainnya ke dalam kategori yang tepat. Setelah analisis data selesai, peneliti akan menyajikan hasilnya secara deskritif analisi yaitu dengan jalan menuturkan dan menggambarkan serta menganalisis hasil penelitian guna menemukan titik permasalahan yang deteliti.

6. Lokasi Penelitian Penelitian ini peneliti memilih lokasi penelitian di perpustakaan Universitas Subang

42

Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988, hlm. 246.

26

BAB II TINJAUAN TENTANG PERBANKAN BERDASARKAN HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA

A. Pengertian Hukum Perbankan Apabila kita menelusuri sejarah dari terminologi ”bank”, kita temukan bahwa kata bank berasal dari bahasa italy “banca”, yang berarti bence, yaitu suatu tempat duduk. Sebab, pada zaman pertengahan pihak bankir italy yang memberikan pinjaman-pinjaman melakukan usahanya tersebut dengan duduk di bangku-bangku di

26

27

halaman pasar.43 Sementara itu Munir Fuady menyatakan, bahwa hukum yang mengatur masalah perbankan disebut hukum perbankan (banking law), yakni seperangkat kaidah hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan,

yurisprudensi, doktrin, dan lain-lain sumber hukum, yang mengatur masalah-masalah perbankan sebagai lembaga dan aspek kegiatannya sehari-hari, rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh suatu bank, perilaku petugas-petugasnya, hak, kewajiban tugas dan tanggung jawab para pihak yang tersangkut dengan bisnis perbankan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bank, eksistensi perbankan, dan lain-lain yang berkenan dengan dunia perbankan.44 Sedangkan Hermansyah menyatakan, bahwa bertitik tolak dari pengertian perbankan sebagai segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara, dan proses melaksanakan kegiatan usahanya, maka pada prinsipnya hukum perbankan adalah keseluruhan norma-norma tertulis maupun norma-norma tidak tertulis yang mengatur tentag bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara, dan proses melaksanakan kegiatan usahanya. Norma-norma tertulis dimaksud adalah seluruh peraturan perundangundangan yang mengatur menganai bank, sedangkan norma-norma yang tidak tertulis adalah seluruh peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai bank,

43

Munir Fuady., Hukum Perbankan Modern kesatu , Citra Aditya Bakti, Bandung 2003, Djoni S. Gazali dan Rachmadi Usman., Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta 2010,

hlm.,13.
44

hlm 2.

28

sedangkan norma-norma yang tidak tertulis adalah hal-hal atau kebiasaan-kebiasaan yang timbul dalam praktik perbankan.45 Pengertian yang senada dikemukakan pula Tan Kamello menyatakan bahwa jika hukum perbankan diartikan dengan Undang-Undang Perbankan, maka diperoleh batasan bahwa hukum perbankan adalah sekumpulan peraturan hukum yang mengatur segala hal yang menyangkut tentang bank, baik kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan usaha bank. Namun jika dilihat dalam prespektif sistem sebagai entitas, maka hukum perbankan adalah sekumpulan peraturan hukum yang merupakan satu kesatuan yang masing-masing unsurnya

berkaitan satu sama lain dan bekerja sama secara aktif untuk mencapai tujuan keseluruhan dari hukum perbankan. Unsur sistem hukum perbankan yang dimaksudkan adalah peratuaran hukum (norma), asas-asas hukum, dan pengertianpengertian hukum yang terdapat di dalamnya. Unsur hukum tersebut dibangun di atas tertib hukum, sehingga terdapat keharmonisan di dalam atau di luarnya, dan dapat dihindarkan adanya tumpang tindih (overlapping) di antara unsur-unsur yuridis tersebut. Kalau terjadi konflik mengenai persoalan perbankan, maka solusinya adalah melalui asas hukum yang terdapat dalam sistem hukum perbankan itu sendiri.46 Dari pendapat-pendapat di atas, kiranya dapat di rumuskan pengertian hukum perbankan itu, yaitu kumpulan ketentuan hukum, yang meliputi peraturan hukum (norma) dan asas-asas hukum, struktur hukum dan budaya hukum yang mengatur

45 46

Ibid. Ibid ., hlm 3.

29

segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.47 Pengertian perbankan menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.48 Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak ( Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan ).49

B.

Sumber Hukum Perbankan. Setelah mendapat gambaran pengertian hukum perbankan sebagaimana

diuraikan di atas, maka tidak dapatlah dikesampingkan perlunya pemahaman terhadap sumber-sumber hukum yang ada dalam sistem hukum perbankan, yaitu sumber hukum dalam arti formal dan sumber hukum dari arti materiil. Sumber hukum formal dalam Hukum Perbankan Indonesia tidak hanya terbatas pada sumber hukum tertulis, dimungkinkan adanya sumber hukum yang tidak tertulis meskipun sangat sedikit, mengingat hukum perbankan itu sendiri lebih mengedepankan positifistik. Berbicara mengenai sumber hukum formal di Indonesia,
47 48

Ibid. Sentosa Sembiring., Hukum Perbanka, Mandar Maju, Bandung 2008, hlm 1. 49 Ibid., hlm 2.

30

maka kita akan selalu menempatkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber utama. Kita selanjutnya bisa mengurut sumber hukum formal mengenai bidang perbankan tersebut, sebagai berikut: 50 1. Undang-Undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 23 huruf D beserta amandemennya. 2. Undang-Undang pokok di Bidang Perbankan dan undang-undang pendukung sektor ekonomi dan sektor lainya yang terkait, seperti : a. Peraturan pokok, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan beserta perubahannya, yakni Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia beserta perubahannya, yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. b. Peraturan pendukung yaitu baik Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum dagang maupun Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta undang-undang lainnya yang berkaitan dan banyak hubungannya dengan kegiatan perbankan, misalnya: 1) Undang-Undang yang mengatur badan usaha atau lembaga

yang berkaitan dengan perbankan, seperti Undang-Undang Nomor 49 Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara; Undang-Undang

50

Muhamad Djumhana., Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung 2006,

hlm.6

31

Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian; Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara; serta Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan penundaan kewajiban Pembayaran Utang 2) Undang-undang pengesahan yang berkaitan dengan perjanjian

internasional, baik di bidang perbankan maupun bidang ekonomi, seperti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing Trade Organization. 3) Undang-undang yang mengatur kegiatan ekonomi lainya,

seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukuar Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang beserta perubahannya, yaitu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003; Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. 4) Undang-undang yang berkaitan dengan jaminan, seperti

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. 3. Peraturan Pemerintah

32

a. Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Perbankan seperti: 1) Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1998 tentang Program

Rekapitulasi Bank Umum. 2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1999 tentang ketentuan

dan Tata Cara Pembukaan Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, dan Kantor Perwakilan dari Bank yang berkedudukan di luar negeri. 3) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 tentang

Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank. 4) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1999 tentang Merger,

Konsolidasi, dan akuisisi Bank. 5) Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1999 tentang

Pembelian Saham Bank Umum. 6) Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1999 tentang

Pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 1992 tentang Bank Umum sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1998, Peraturan Pemerintah 71 Tahun 1992 tentang Bank Perkereditan Rakyat, dan peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. 7) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun

2005 tentang Modal Awal Lembaga Penjamin Simpanan.

33

8)

Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2005 tentang

Penjaminan Simpanan Nasabah Bank Berdasarkan Prinsip Syariah b. Peraturan pemerintah pelaksanaan dari undang-undang yang berkaitan dengan kegiatan perbankan termaksud dalam angka 5 diatas, seperti: 1) Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1994 tentang Pajak

Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia. 2) Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1998 tentang

Perusahaan Perseroan (persero) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2001 3) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998 tentang

Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas 4) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2005 tentang

Penghitungan Jumlah Hak Suara Kreditur 5) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2005 tentang Modal

Awal Lembaga Penjamin Simpanan 6) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman

Daerah. c. Peraturan Presiden (Perpres),51 misalnya:

Istilah Peraturan Presiden menggantikan keputusan Presiden sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.

51

34

1) Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1972 tentang Penerimaan Kredit Luar negeri 2) Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1984 tentang Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia. 3) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2005 tentang Pengakhiran Jaminan Pemerintah terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkeriditan Rakyat. 4) Dan peraturan presiden lainnya. d. Peraturan lainnya yang dikeluarkan oleh institusi pemerintah yang tidak langsung mengurus perbankan, tetapi peraturannya memuat ketentuan yang erat dengan kegiatan perbankan atau secara langsung mengatur kegiatan perbankan, misalnya, Peraturan Menteri Dalam Negeri yang mengatur Perbankan Milik Pemerintah Daerah dan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal, contoh peraturan tentang Persetujuan Bank Umum sebagai Kustodian.

C. Pengaturan Perlindungan Nasabah Bank Likuidasi dalam Hukum Perbankan Indonesia. Salah satu aspek penting dalam bahasan hubungan hukum antara nasabah dengan bank adalah perjanjian antara keduanya, yang biasanya dibuat secara sepihak oleh bank. Seiring dengan perkembangan hukum dan masuknya hukum dari negara

35

Anglo Saxon, maka perjanjian sebagaimana diatur dalam KUHPerdata Pasal 1320 tentang syarat syahnya perjanjian yang dianut oleh Indonesia yaitu meliputi :52

1.Sepakat mereka mengikat dirinya. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya mengandung makna bahwa para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat atau ada persesuaian kemauan atau saling menyetujui kehendak masing-masing, yang dilahirkan oleh para pihak dengan tidak ada paksaan, kekeliruan dan penipuan.53 Persetujuan mana dapat dinyatakan secara tegas maupun secara diam-diam. Persoalan yang sering dikemukakan dalam hubungan ini adalah, kapan saja kesepakatan itu terjadi. Persoalan ini sebenarnya tidak akan timbul jika para pihak yang membuat perjanjian itu pada suatu saat bersama-sama berada di satu tempat dan disitulah dicapai kata sepakat. Akan tetapi, nyatanya dalam pergaulan hukum di masyarakat tidak selalu demikian, melainkan banyak perjanjian terjadi antara pihak melalui surat menyurat, sehingga menimbulkan persoalan kapan saatnya kesepakatan itu terjadi. Hal ini penting dipersoalkan sebab untuk perjanjian-perjanjian yang tunduk pada asas konsesualitas, saat terjadi kesepakatan merupakan saat terjadinya perjanjian. Ada empat teori yang mencoba memberikan penyelsaian persoalan itu: a.
52

Uiting theorie (teori saat melahirkan kemauan).
Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Alumin, Bandung 2004,

hlm., 205. Paksaan (dwang) dan penipuan (bedrog) merupakan 3 hal yang mengakibatkan kesepakatan tidak sempurna (Pasal 1321KUHPidana).
53

36

Menurut teori ini perjanjian terjadi apabila atas penawaran telah dilahirkan kemauan menerimanya dari pihak lain. Mulai menulis surat penerimaan b. Verzend theorie (teori saat mengirim surat penerimaan) Menurut teori ini perjanjian terjadi pada saat surat penerimaan dikirimkan kepada si penawar. c. Ontavangs theorie (teori saat menerima surat penerimaan) menurut teori ini perjanjian terjadi pada saat menerima surat penerimaan sampai di alamat si penawar. d. Vernemings theorie (teori saat mengetahui surat penerimaan) Menurut teori ini perjanjian baru terjadi, apabila si penawar telah membuka dan membaca surat penerimaan itu. Subekti dalam bukunya Hukum Perjanjian menyatakan bahwa menurut ajaran yang lazim dianut sekarang perjanjian harus dianggap dilahirkan pada saat dimana pihak yang melakukkan penawaran (efferete) menerima yang termaktub dalam surat tersebut, sebab detik itulah dapat dianggap sebagai detik lahirnya kesepakatan. Bahwasanya mungkin ia tidak membaca surat itu, hal itu menjadi tanggungjawabnya sendiri. Surat itu dianggap sepantasnya membaca surat-surat yang diterimanya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Menurut Wirjono Prodjodikoro, Ontavangs theorie dan Vernemings theorie dapat disatukan sedemikian rupa, yaitu dalam keadaan biasa perjanjian harus dianggap terjadi pada saat surat penerimaan sampai pada alamat penawar (ontavangs

37

theorie), tetapi dalam keadaan luar biasa kepada sipenawar diberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa itu tidak mungkin dapat mengetahui isi surat penerimaan pada saat surat itu sampai dialamtnya, melainkan baru beberapa hari kemudian atau beberapa bulan kemudian, misalnya karena berpergian atau sakit keras. Persoalan kapan lahirnya perjanjian betapapun juga adalah sangat penting untuk diketahui dan ditetapkan, berhubung undangan yang mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan perjanjian, beralihnya risiko dalam perjanjian, tempat lainnya dan ditutupnya perjanjian dan sebagainya. Persoalan kapan lahirnya perjanjian betapapun juga adalah sangat penting untuk diketahui dan ditetapkan, yang mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan perjanjian, beralihnya risiko dalam perjanjian, tempat lainnya dan ditutupnya perjanjian. Persoalan lain dalam hubungan ini yang sering juga diperbincangkan adalah, seandainya kata-kata penawaran yang dikeluarkan lewat alat komunikasi itu tidak cocok dengan apa yang sebetulnya diinginkan oleh orang yang mengeluarkan penawaran itu, sedangkan dipihak lain telah mempercayainya dan menyesuaikan dirinya dengan pernyataan yang keliru itu, apakah disini terjadi perjanjian Menurut wils theorie (teori kemauan), tidak terjadi perjanjian perjanjian tetapi pihak yang mengeluarkan pernyataan tersebut tidak terlepas baegitu saja dari tanggung jawab atas akibat-akibat yang timbul karena pernyataan yang dikeluarkan tapi keliru. Sehingga dalam hal ini ia diwajibkan untuk membayar ganti kerugian kepada siapa

38

yang menderita kerugian akibat tindakannya mengeluarkan pernyataan meskipun tidak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan menurut vertrouwens theorie (teori kepercayaan), telah terjadi perjanjian. Sebab kemauan yang masih tersimpan dalam hati sanubari artinya belum dinyatakan belum diatur oleh hukum. Hukum hanya mengatur apa-apa yang lahir dan dilahirkan yakni segala yang tampak dari tingkah laku orang seorang dalam pergaulan hidup di tengah-tengah masyarakat. Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa sepanjang tidak ada dugaan pernyataan itu keliru melainkan sepantasnya dapat dianggap melahirkan keinginan orang yang mengeluarkan pernyataan itu, vertrouwens thorie (teori kepercayaan) yang dipakai.

2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian Cakap (bekwaam) merupakan syarat umum untuk dapat melakukan perbuatan hukum secara sah yaitu harus sudah dewasa, sehat akal pikiran dan tidak dilarang oleh suatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuiatan tertentu. Orang yang kurang sehat akal pikiranya, dalam hukum perdata Barat hanya mereka yang telah berada di bawah pengampuan saja yang dianggap tidak dapat melakukan perbuatan hukum secara sah. Sedangkan orang-orang yang kurang atau tidak sehat akal pikirannya yang tidak berada di bawah pengampuan (curatele) tidak demikian, perbuatan hukum yang dilakukannya tidak dapat dikatakan tidak sah kalau hanya didasarkan Pasal 1320 Ayat (2) BW. Akan tetapi, perbuatan hukum itu dapat

39

dibantah dengan alasan tidak sempurnanya kesepakatan yang diperlukan, juga untuk sahnya perjanjian sebagaimana ditentukan Pasal 1320 Ayat (1) BW. Dilihat dari sudut rasa keadilan memang benar-benar perlu bahwa orang yang membuat perjanjian yang nantinya akan terikat oleh perjanjian yang dibuatnya itu harus benar-benar mempunyai kemampuan untuk menginsyafi segala tanggung jawab yang bakal dipikulnya karena perbuatannya. Sedangkan bila dilihat dari sudut ketertiban umum, karena orang yang membuat perjanjian mempertaruhkan kekayaannya, sehingga sudah seharusnya orang tersebut sungguh-sungguh berhak berbuat bebas terhadap harta kekayaannya. Tegasnya syarat kecakapan untuk membuat suatu perjanjian ini mengandung kesadaran untuk melindungi baik bagi dirinya dan bagi miliknya maupun dalam hubungan keselamatan keluarganya.

3. Suatu Hal tertentu Suatu hal tertentu dalam perjanjian adalah barang yang menjadi obyek suatu perjanjian ini harus tertentu, setidak-tidaknya harus ditentukan jenisnya, sedangkan jumlahnya tidak perlu ditentukan, asalkan saja kemudian dapat ditentukan atau diperhitungkan. Selanjutnya dalam Pasal 1334 Ayat (1) BW ditentukan bahwa barang-barang yang baru akan ada kemudian hari juga dapat menjadi obyek suatu perjanjian.

40

Menurut Wirjono Prodjodikoro, zbarang yang belum ada yang dijadikan obyek perjanjian tersebut bisa dalam pengertian mutlak (absolut) dan bisa dalam pengertian relatif (nisib). Belum ada dalam pengertian mutlak misalnya, perjanjian jual beli beras, beras yang diperjual-belikan sudah terwujud beras, pada saat perjanjian diadakan masih milik orang lain, tetapi akan menjadi milik penjual. Namun menurut Pasal 1344 Ayat (2) BW barang-barang yang akan masuk hak warisan seseorang karena yang lain akan meninggal dunia dilarang dijadikan obyek suatu perjanjian, kendatipun hal itu dengan kesepakatan orang yang akan meninggal dunia dan akan meninggalkan barang-barang warisan. Adanya laranngan ini karena menjadikan barang yang akan diwarisi itu dihibahkan oleh calon suami kepada calon isteri dalam perjanjian kawin atau oleh pihak ketiga kepada calon suami atau calon isteri, ini diperkenankan. Kemudian dalam Pasal 1322 BW ditentukan bahwa barang-barang yang dapat dijadikan obyek perjanjian hanyalah barang-barang yang dapat diperdagangkan. Lazimnya barang-barang yang dipergunakan untuk kepentingan umum dianggap sebagai barang-barang diluar perdagangan, sehingga tidak bisa dijadikan obyek perjanjian.

4. Suatu sebab yang halal Suatu sebab yang halal merupakan syarat yang keempat untuk sahnya perjanjian. Mengenai syarat ini Pasal 1335 BW menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab,

41

atau telah dibuat karena suatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan. Ternyata pembentuk undang-undang membayangkan tiga macam perjanjian mungkin terjadi yakni (1) perjanjian yang tanpa sebab, (2) perjanjian dengan suatu sebab yang palsu atau terlarang, dan (3) perjanjian dengan suatu sebab yang halal. Persoalan pokok dalam hal ini adalah apakah pengertian perkataan sebab itu sebenarnya, dari sejumlah interpretasi dan penjelasan para ahli dapat disimpulkan bahwa pengertian perkataan sebab itu adalah sebagai berikut: a. perkataan sebab sebagai salah satu syarat perjanjian

adalah sebab dalam pengertian ilmu pengetahuan hukum yang berbeda dengan pengertian ilmu pengetahuan lainnya. b. Perkataan sebab itu bukan pula motif (desakan jiwa

yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tertentu) karena motif adalah soal bathin yang tidak diperdulikan oleh hukum.Perkataan sebab secara letterlijk berasal dari perkataan oorzak (bahasa Belanda) atau causa (bahasa Latin) yang menurut riwayatnya bahwa yang dimaksud dengan perkataan itu dalam perjanjian adalah tujuann yakni apa yang dimaksudkan oleh kedua ppihak dengan mengadakan perjanjjian. Perkataan lain kata sebab berarti isi perjanjian itu sendiri.

42

c.

Kemungkinan perjanjian tanpa sebab yang dibayangkan

dalam Pasal 1335 BW adalah suatu kemungkinan yang tidak akan terjadi, karena perjanjian itu sendiri adalah isi bukan tempat yang harus diisi. Kemudian yang perlu mendapat perhatian dalam hubungan ini adalah apa yang dinyatakan Pasal 1336 BW, bahwa jika tidak dinyatakan sesuatu sebab, tetapi ada sesuatu sebab yang halal, ataupun jika sebab yang lain dari pada yang dinyatakan persetujuan namun demikian sah.54 Oleh para ahli dikatakan bahwa kata sebab dalam Pasal 1336 BW itu adalah kejadian menyebabkan adanya hutang, misalnya perjanjian jual beli barang atau perjanjian perjanjian peminjaman uang dan sebagainya. Sehingga yang dimaksud dengan persetujuan dalam Pasal 1336 BW itu tidak lain adalah surat pengakuan hutang bukan perjanjiannya sendiri. Oleh karena itu, surat pengakuan hutang yang menyebutkan sebabnya (causanya) dinamakan cautio discerta. Sedangkan yang tidak menyebutkan sebabnya (causanya) dinamakan cautioindiscreta.55 Akhirnya, Pasal 1337 BW menentukan bahwa sesuatu sebab dalam perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang kesusilaan dan ketertiban umum. Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu perjanjian pada umumnya sebagaimana dikhendaki Pasal 1320 BW. Untuk perjanjian. Perdamaian (Pasal11851 Ayat (2) BW), perjanjian tentang besarnya bunga Pasal 1767 Ayat (3) BW. 56
54 55

Ibid., hlm., 212 Ibid. 56 Ibid.

43

Pasal 1320 KHUPerdata selama ini mengalami pergeseran. Di antara pergeseran dalam pembuatan perjanjian adalah perjanjian antara produsen dan konsumen yang salah satunya adalah antara bank dengan nasabah. Hal ini tercermin dalam Pasal 18 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen selengkapnya berbunyi sebagai berikut:57 Ayat 1: pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan, dilarang membuat atau mencantumkan klaausula baku pada setiap dokumen dan atau perjanjian apabila:58 1. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha 2. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen; 3. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli oleh konsumen 4. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen. 5. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen

Try Widiyono, Aspek Hukum Operasional Perbankan di Indonesia, Gahlia Indonesia, Bogor 2006 hlm 66. 58 Ibid., hlm 67.

57

44

6. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa; 7. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen secara angsuran. Ayat 2: pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau yang pengungkapannya.59 Adapun langkah nyata dari Bank Indonesia dalam perlindungan nasabah saat ini sudah semakin terlihat, diantaranya, menempatkan perlindungan nasabah sebagai salah satu pilar perbankan nasional. Menyangkut pengaturan pun sudah terlihat dengan diterbitkannya beberapa peraturan yang secara fokus untuk melindungi nasabah, diantaranya:60 a. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/7/PBI/2006 tentang penyelesaian pengaduan Nasabah. b. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/5/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Mediasi Perbankan. Berdasarkan dua peraturan perundang-undangan khusus di atas yang materinya ditujukan untuk perlindungan nasabah, maka sudah menjadi keharusan

59 60

Ibid. Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan…, op.Cit., hlm 343.

45

bagi kita untuk menghargainya atas upaya tersebut. Namun begitu, masyarakat masih mengharapkan lebih baik lagi kiprah Bank Indonesia dalam rangka melindungi konsumen tersebut.61 Seiring dengan peratuaran Bank Indonesia yang telah dibuat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan sekaligus melindungi hak-hak penyimpan dana, akhirnya pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan terhadap Kewjiban Pembayaran Bank Umum dan Keputusan Presiden nomor 193 Tahun 1998 tentang Program Penjaminan Bank Perkeriditan Rakyat, yang pada intinya memberi perlindungan hukum secara langsung kepada nasabah penyimpan dana terhadap kegagalan Bank Umum maupun BPR dalam memenuhi kewajibannya.62

D. Asas-Asas Hukum Perbankan dan Tujuannya Bahwa dalam memahami asas hukum perbankan, dengan sendirinya harus terlebih dahulu juga mempunyai pemahaman materi asas hukum pokoknya, seperti asas hukum administrasi negara dan hukum tata negara, asas hukum perdata, asas hukum pidana, dan juga asas hukum Islam, serta asas hukum Internasional. Uraian untuk itu semua khusus dalam bingkai permasalahan yang berkaitan langsung dengan lembaga atau industri perbankan.63

Ibid. Djoni S.Gazali dan Rachmadi Usman, Hukum perbankan…, op.Cit., hlm 568. 63 Muhamad Djumhana, Asas-asas Hukum Perbankan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung 2008, hlm., 235.
62

61

46

1. Asas Hukum Umum Perbankan Indonesia a. Asas-asas Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara yang Terkait dengan Operasional Perbankan Gambaran untuk memahami keterkaitan antara hukum tata negara dan perbankan, perlu terlebih dahulu memahami mengenai hubungan lembaga kenegaraan dengan hukum tata negara. Kelembagaan itu sendiri mengandung pengertian sebagai seperangkat peraturan yang menyangkut hak dan kewajiban. Salah satu pendapat yang dapat menggambarkan kondisi tersebut, yaitu pendapatnya Van Vollenhoven, dia mengatakan bahwa:64 ”badan-badan kenegaraan tanpa hukum tata negara adalah lumpuh karena mereka tidak diberi kekuasaan atau kekuasaannya itu tidak menentu dan badan kenegraan tanpa hukum administrasi negara adalah bebas karena mereka dapat menggunakan kekuasaannya itu sekehendak hatinya saja.” Gambaran pendapat tersebut menunjukan bahwa badan-badan kenegaraan itu memperoleh wewenangnya dari hukum tata negara dan badan-badan kenegaraan itu menggunakan wewenangnya itu harus berdasarkan atau sesuai dengan hukum administrasi negara (asas negara hukum).65 Berpijak pada pengertian-pengertian tersebut di atas, maka ruang lingkup kelembagaan dari sudut pandang administrasi negara menyangkut hal-hal berikut: 66 1) Kelembagaan adalah kreasi manusia, beberapa bagian penting kelembagaan adalah hasil akhir dari kegiatan manusia yang dilakukan secara sadar.
64 65

Ibid., hlm 236. Ibid., 66 Ibid., hlm 237.

47

2) Kumpulan individu, karena itu kelembagaan dirumuskan dan diputuskan bersama-sama bukan secara perorangan. 3) Dimensi waktu, dapat diaplikasikan dalam situasi yang berulang dalam suatu dimensi waktu. 4) Dimensi tempat, lingkungan fisik adalah salah satu determinan penting dalam aransemen dan pembentukan struktur kelembagaan 5) Aturan main dan norma, anggota masyarakat harus mengerti rumusanrumusan yang mewarnai semua tingkah laku dan norma yang dianut dalam kelembagaan tersebut. 6) Sistem pemantauan dan penegakan aturan.aturan main dan norma harus dipantau dan di tegakan oleh suatu badan yang kompeten atau oleh masyarakat secara internal. 7) Hierarki dan jaringan, bagian dari hierarki dan jaringan atau sistem kelembagaan yang lebih kompleks. 8) konsekuensi kelembagaan, kelembagaan meningkatkan rutinitas dan memiliki pengaruh bagi terciptanya suatu pola interaksi yang stabil. Hal-hal di atas penting dipahami guna mendukung pemahaman yang lebih komperhensif atas seluruh permasalahan yang berkaitan dengan kelembagaan dan hubungannya dengan aspek yang menjadi bidang garapan dari lemabaga tersebut.67

67

Ibid.

48

Kelembagaan negara atau pemerintahan yang berkaitan dengan perbankan dan diatur langsung dalam konstitusi, yaitu lembaga bank sentral. Undang-Undang Dasar 1945, diatur sebagai berikut : ”Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang”.68 Undang-undang pelaksanaan dari amanat ketentuan konstitusi tersebut, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Ketentuan yang mengatur bank sentral, baik susunan kedudukan,

kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya semuanya paling tidak berpijak pada asas-asas sebagai berikut :69 1) asas pemisahan secara organisasional antara jabatan yang menjabatnya dan pikiran, pandangan hidup, perasaan, kepentingan pribadi tidak boleh dicampuradukan dengan tugas, fungsi, dan kewajiban jabatan. 2) Asas persamaan ketundukan pada hukum, yang menyatakan bahwa pejabat penguasa negara (sebagai pemegang policy pemerintah) jika berbuat atau bertindak diluar batas-batas tugas dan wewenang jabatannya (jika sedang tidak berdinas) berkedudukan sama

dalam/terhadap hukum, seperti setiap warga masyarakat biasa.

68 69

Ketentuan Pasal 23D Undang-Undang Dasar 1945 amandemen keempat. Ibid., hlm 238

49

3) Asas pemisahan kas, yang menyatakan, bahwa harta kekayaan pribadi (kas pribadi) dipisah secara tegas dari harta benda/kekayaan negara (kas negara) Ketiga asas tersebut memberikan landasan kepada bank sentral dalam kedudukannya sebagai suatu lembaga. fungsinya memelihara kestabilan nilai rupiah, maka Bank Indonesia mempunyai tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter ; mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; serta mengatur dan mengawasi bank. Bank indonesia dengan otoritas moneter yang independen, saat ini tidak lagi memberikan kredit program, tetapi dalam menjalankan tugas dan fungsinya dapat mengakomodasi prinsip-prinsip yariah kegiatannya.70Bank Indonesia dalam menjalankan tugas pengaturan dan pengawasan bank,71 berwenang untuk menetapkan peraturan dan perizinan bagi kelembagaan dan kegiatan usaha bank serta mengenakan sanksi terhadap bank.72 Bank Indonesia sebagai lembaga negara yang independen berada di luar pemerintahan, mandiri bebas dari campur tangan pemerintah dan/atau pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.73 Bank Indonesia sebagai lemabaga mandiri, namun harus didasari dan memenuhi prinsip pertanggungjawaban kepada masyarakat (akuntabilitas publik)
Lihat pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 71 Dalam hal pengawasan bank, maka Bank Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia akan menyerahkannya kepada lembaga yang akan dibentuk kemudia dan akan dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2002. Ketentuan tersebut diubah waktunya melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004, menjadi selambat-lambatnya 31 Desember 2010. 72 Lihat ketentuan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia 73 Lihat ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
70

50

bahwa Bank Indonesia dituntut untuk transparan dalam menetapkan kebijakannya serta terbuka bagi pengawasan oleh masyarakat.74 Bank Indonesia tersebut hadir dan dibentuk guna dapat mengorganisasi, serta mengoperasionalisasikan kebijakan publik (public policy) di bidang perbankan dan moneter. Kedudukan seperti itu, maka kebijakan yang diambilnya dapat berupa bentuk penetapan-penetapan yang bersifat beschiking, seperti contohnya pemberian izin usaha jasa perbankan atau pencabutan izin, itu semua merupakan bagian dari suatu putusan tata usaha negara sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2004.75 Pembahasan hukum perbankan yang bersentuhan dengan hukum administrasi negara, maka konsep dan pengertian kewenangan atau wewenang dasar kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum dalam suatu jabatan yang berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat menyangkut bidang perbankan.76 Namun, demikian juga dapat berkaitan dengan kedudukan pejabat administrasi negara sebagai nasabah di mana kewenangan pengeluaran atau pengelolaan uang negara/daerah yang menggunakan jasa perbankan harus diperhatikan si pejabat tersebut, apakah berwenang atau tidak.77

Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.239. Ibid.,hlm. 240. 76 Pelayanan yang diberikan oleh pejabat kepada masyarakat menyangkut bidang perbankan, yaitu menyangkut perizinan untuk berusaha di bidang perbankan. 77 Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.240
75

74

51

Kedudukan sebagai nasabah, maka pada lembaga tata usaha negara tersebut melekat asas hukum administrasi negara yang berhubungan dengan pelayanan perbankan, diantaranya, yaitu sebagai berikut:78 1) Asas bahwa terhadap benda-benda public tidak dapat diletakan sita jaminan, asas tersebut telah diterapkan dalam ketentuan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara: “Pihak mana pun dilarang melakukan penyitaan terhadap : a) Uang atau surat berharga milik negara/daerah, baik yang berada pada instansi pemerintah maupun pada pihak ketiga; b) Uang yang harus disetor oleh pihak ketiga kepada negara/daerah; c) Barang bergerak milik negara/daerah, baik yang berada pada instansi pemerintah maupun pada pihak ketiga d) Barang tidak bergerak dan hak kebendaan lainnya milik

negara/daerah; e) Barang milik pihak ketiga yang dikuasai oleh negara/daerah yang diperlukan untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan 2) asas bahwa negara selalu harus dianggap akan selalu mampu membayar (solvable). Berdasarkan asas-asas tersebut di atas, yang berkaitan dengan perbankan, diantaranya, bahwa bank yang diberi kepercayaan menyimpan uang atau surat

Lihat uraian dari philipus M. Hadjon, et al., Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan Kelima, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997, hlm, 375

78

52

berharga milik negara/daerah tidak boleh memberikan izin untuk penyitaan milik negara /daerah yang disimpannya apabila ada permohonan dari pihak mana pun, bahkan uang yang masih dalam proses untuk diserahkan kepada negara /daerah pun tidak boleh dihentikan proses pemindahbukuannya. Negara/daerah selalu harus dianggap akan selalu mampu membayar (solvable), dengan demikian negara/daerah merupakan nasabah yang mudah dikenali.79

b. Asas-asas Hukum Perdata yang Terkait dengan Operasional Perbankan Asas hukum perdata yang terkait dengan operasional perbankan sangatlah banyak karena kegiatan perbankan pada dasarnya lebih besar keperdataannya. Asas hukum perdata yang sangat besar keterkaitannya dengan perbankan, yaitu asas-asas hukum perikatan. Perikatan hukum merupakan bagian dari operasional perbankan, maka asas hukum perikatan telah menyatu dalam kegiatan operasional perbankan sehingga dengan sendirinya menjadi bagian dari pembahasan asas hukum perbankan pula.80 Keberadaan asas hukum perikatan tersebut dikenali, baik dalam operasional perbankan konvensional maupun operasional perbankan syariah. Paling utama dalam suatu perikatan atau perjanjian, yaitu syarat sahnya suatu perikatan atau perjanjian

79 80

Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm 241. Ibid.

53

tersebut. Berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata, perikatan atau perjanjian harus memenuhi empat syarat yaitu:81 1) Sepakat (consensus), yaitu ada perizinan yang bebas dari orang-orang yang mengikatkan diri serta harus mempunyai kemauan yang bebas untuk meningkatkan diri dan kemauan itu harus dinyatakan, baik dengan tegas maupun secara diam-diam. 2) Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian (capacity) 3) Suatu hal tertentu yang diperjanjikan (certainty of terms), dalam suatu perikatan atau perjanjian objeknya haruslah suatu hal atau suatu barang yang cukup jelas atau tertentu, agar dapat menetapkan kewajiban para pihak. 4) Suatu sebab yang halal (consideration), tujuan yang dikehendaki/isi dari perjanjian yang dilakukan oleh kedua pihak harus ada/jelas. Syarat pertama dan kedua di atas merupakan syarat subjektif, yang berarti apabila suatu perikatan atau perjanjian tidak memenuhi kedua syarat tersebut, perikatan atau perjanjian tersebut dapat dibatalkan, sebaliknya, syarat ketiga dan keempat diatas merupakan syarat objektif, yang berarti apabila suatu perikatan atau perjanjian tersebut batal demi hukum dan sejak semula dianggap tidak terjadi perjanjian.82

81

Riduan Syahrani , Seluk-beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004, Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,242

hlm., 205.
82

54

Selain asas perikatan sebagaimana tercantum dalam KUHPerdata, ada juga dikenal beberapa contoh asas dalam perikatan lainnya yang tidak termuat dalam peraturan perundang-undangan, diantaranya:83 1) asas kebebasan berkontrak asas kebebasan berkontrak merupakan asas kebebasan para pihak untuk menentukan isi perjanjian, setelah Perang Dunia Kedua dan terutama menjelang akhir abad ke-20 ini sudah banyak diubah oleh peraturan-peraturan hukum administrasi negara sehingga hukum kontrak di bidang bisnis kini tidak lagi dapat dikatakan tunduk sepenuhnya pada asas kebebasan berkontrak dalam hukum perdata, unsur kepentingan umum dan hukum administrasi negara.84ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata, dinyatakan bahwa ”semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Sesuai dengan asas pokok dari suatu perjanjian, yakni asas kebebasan berkontrak (freedom of contract), yaitu adanya kebebasan untuk membuat suatu perjanjian apa saja asalkan dibuat secara sah dan akibatnya, perjanjian tersebut akan mengikat mereka yang membuatnya seperti suatu undangundang. Hubungan dengan perjanjian kredit maka pihak-pihak yang akan mengikatkan diri dalam perjanjian kredit, maka pihak-pihak yang akan mengikatkan diri dalam perjanjian kredit tersebut dapat mendasarkan perjanjian yang akan dibuatnya pada ketentuan-ketentuan yang ada pada Buku
Ibid. Hardjin Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Indonesia dan Common Law, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1996, hlm., 38.
84 83

55

III KUH Perdata dan peratuaran perundang-undangan lainnya yang mengatur perkreditan, juga oleh apa yang secara khusus disepakati oleh kedua belah pihak. Perkembangan asas kebebasan berkontrak ini, kemudian mendapat pengaruh dari peraturan ekonomi yang memuat ketentuan yang bersifat memaksa, yang ditujukan untuk menyeimbangkan kemampuan pihak-pihak pelaku ekonomi secara lebih adil dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang berdasarkan asas pemerataan. Pengaruhnya sangat terasa apabila ada suatu ketentuan dari pemerintah yang menyatakan apa yang harus disepakati, ataupun persyaratan lainnya untuk melengkapi suatu perjanjian yang dibuat. Pembatasan-pembatasan terhadap kebebasan berkontrak yang dikeluarkan oleh pemerintah, haruslah dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang setingkat dengan undang-undang ataupun peraturan pengganti undang-undang (perpu) tidak boleh dalam bentuk peraturan pemerintah . hal demikian mengingat karena kebebasan berkontrak diatur dalam undang-undang (KUH Perdata), ketentuan yang membatasi kebebasan berkontrak pun harus setingkat dengan KUH perdata, tidak boleh tingkatannya di bawah undangundang. Pendapat seperti itu terungkap dari pendapatnya Dr. Sutan Remi Sjahdeini, S.H., yang lengkapnya sebagai berikut :85 ”Asas kebebasan berkontrak eksistensinya diakui oleh peraturan perundang-undangan yang bertingkat undang-undang, yaitu KUH
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang seimbang bagi para pihak dalam Perjanjian kredit di Indonsia, Institut Bankir Indonesia Jakarta 1993, hlm., 300
85

56

Perdata, maka hanya undang-undang atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang (misalnya keputusan menteri) hanya dapat mengatur pelaksanaan dari pembatasan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh suatu undang-undang atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut dan bukannya menetapkan pembatasan itu sendiri.” 2) Asas itikad baik (te goeder trouw, in good faith)86 Menurut Hardijan Rusli, S.H., unsur-unsur itikad baik dan kepatutan itu ada jika tidak melakukan segala sesuatu yang tidak masuk akal. Putusan-putusan pengadilan common law juga banyak yang menekankan bahwa pelaksanaan suatu perjanjian harus dilakukan dengan itikad baik (good faith). Beliau selanjutnya menjelaskan itikad baik ini, dengan mengambil contoh aturan yang berasal dari negara common law, Restatment Second, section 205 menyatakan bahwa : “Every contract imposes upon each party a duty of good faith and fair dealing in its performance and enforcement. (setiap perjanjian membebankan kepada masing-masing pihak suatu kewajiban untuk melaksanakan perjanjian secara itikad baik dan transaksi adil)”. Keterangan atas section 205 ini memberikan contoh tentang tiada itikad baik (bad faith) dalam hal terdapat : menghindar dari maksud/ tujuan transaksi; kurang aktif dan berkurangnya perhatian; melakukan perbuatan yang baik dengan sengaja; kesewenangan dalam menentukan isi perjanjian; ikut campur tangan atau gagal bekerja sama dalam prestasi pihak lawannya.

86

Hardjin Rusli Hukum Perjanjian…Op. Cit., hlm,119-120.

57

Asas ini tercantum dalam Pasal 1313 jo. Pasal 1320 KUH Perdata yang berbunyi:87 “suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.” Dan “Untuk sahnya persetujuan-persetujuan diperlukan empat syarat yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal.”

c. Asas-asas Hukum Pidana yang Terkait dengan Operasional Perbankan Hukum perbankan tidak akan terlepas dari kaidah-kaidah yang secara khusus memerhatikan kepentingan umum, juga menyangkut kaidah-kaidah tertentu yang secara khusus memerhatikan kepentingan umum, juga menyangkut kaidah-kaidah tertentu yang memuat sanksi guna mendorong ditaatinya ketentuan tersebut sehingga akan terkait dengan hukum pidana, jadi, sangat wajar pula apabila menguraikan mengenai asas-asas hukum pidana yang terkait dengan ruang lingkup bidang perbankan.88 pembahasan asas-asas hukum pidana ini, maka perlu pemahamn awal mengenai tindak pidana atau dalam istilah belanda disebut straf. Tindak pidana suatu konsep yuridis, yang berarti tingkah laku manusia yang dapat dihukum berdasarkan
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio. KitabUndang-Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Bandung 1992, hlm 338,339. 88 Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,246
87

58

hukum pidana. Menurut Prof.Simon, straf ialah ”het leed, door de strafwet als gevolg aan de overtrading van de norm verbode, dat aan den schuldige bij rechtelijk vonnis wordt opgelegd,” yang artinya straf adalah “suatu penderitaan yang oleh undangundang pidana telah dikaitkan dengan pelanggaran terhadap suatu norma yang dengan suatu putusan hakim telah dijatuhkan bagi seseorang yang bersalah. Menurut Moeljatno disebutkan bahwa : ”Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, asal saja dalam pada itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan ( yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditujukan kepada pertimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkannya.89 Rumusan di atas seperti itu, kemudian kita mengenal lagi pembedaan antara kejahatan dan pelanggaran. Juga tidak kalah pentingnya pengenalan unsur-unsur suatu tindak pidana, yang meliputi kelakuan dan akibat; hal aihwal, atau keadaan yang menyertai perbuatannya; keadaan yang memberatkan pidana; unsur melawan hukum yang objektif dan unsur melawan hukum yang subjektif. Tindak pidana dapat dibedakan antara kejahatan (misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen). Menurut Moeljatno, pada masa sekarang pembedaan antara kejahatan dan pelanggaran didasarkan pada pembedaan kuantitatif (soal berat atau entengnya ancaman pidana).90 Penentuan dalam peraturan terhadap perbuatan seseorang termasuk kejahatan atau bukan didasarkan atas penafsiran masyarakat yang
89 90

Moeljatno, Azas-azasHukum Pidana, Bina aksara, Jakarta, 1983, hlm 63. Ibid., hlm. 73

59

tentunya akan berbeda menurut waktu dan tempat, jadi bisa terjadi perbuatan satu abad yang lalu merupakan kejahatan, sekarang tidak lagi (atau sebalinya) atau perbuatan yang di negara X dianggap sebagai kejahatan, tetapi di negara Y justru sebaliknya. Jadi, pada prinsipnya kejahatan bersifat subjektif dan relatif bergantung pada waktu, tempat, dan masyarakat yang bersangkutan. Demikianlah kejahatan di indonesia ditentukan oleh norma-norma hukum pidana positif Indonesia masyarakat Indonesia sekarang ini.91 Tindak pidana selain dibedakan dalam kejahatan dan pelanggaran, biasanya dalam teori dan praktik dibedakan pula, antara lain, dalam delik dolus (kesengjaan) dan delik culpa (kelalaian); delik commissionis, yaitu delik yang terdiri dari melakukan sesuatu (berbuat sesuatau) perbuatan yang dilarang oleh aturan pidana dan delik omissi, yaitu melalaikan kewajiban untuk melakukan sesuatu; delik biasa dan delik yang dikualifikasi (dikhususkan); serta delik terus berlanjut dan tidak berlanjut.92 Mengenai masalah tindak pidana ini pula, perlu diperhatikan mengenai pelaksanaan undang-undang dan perintah jabatan. Ketentuan pasal 50 KUHP menyebutkan:93 ”Barang siapa melakukan perbuatan untuk melksanakan ketentuan undangundang tidak dipidana.” Sedangkan Pasal 51 Ayat (1) KUHP, menyebutkan:94
91 92

Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,247. Ibid., hlm248. 93 Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta 2005, hlm 24. 94 Ibid.

60

”Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang wenang tidak dipidana.” Penerapan suatu ketentuan pidana harus di dasarkan pada pemenuhan unsurunsur yang terdapat dalam ketentuan termaksud yang dilanggarnya. Namun, selanjutnya tetap harus diperhatikan pula apakah ada hal yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. Hal-hal penghapus seperti itu mungkin terdapat di dalam undang-undang, namun mungkin juga terdapat diluar undangundang.Hubungan ini, yurisprudensi Indonesia telah menganutnya, sebagaimana terdapat dalam Keputusan Mahkamah Agung tanggal 8 januari 1966 dalam suatu perkara penggelapan yang diakukan oleh seorang pegawai negeri. Dalam bukunya Hukum dan Hukum Pidana, Sudarto menguraikan bahwa: 95 “Mahkamah Agung membenarkan pendapat dari Pengadilan Tinggi Jakarta, yang mengatakan bahwa “sesuatu tindakan pada umumnya dapat hilang sifatnya sebagai melawan hukum bukan hanya berdasarkan sesuatu ketentuan dalam perundang-undangan, melainkan juga berdasarkan asas-asas keadilan atau asas-asas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum”. Oleh Pengadilan Tinggi Jakarta, asas-asas ini, misalnya, negara tidak dirugikan, kepentingan umum dilayani, dan terdakwa sendiri tidak mendapat untung. Maka dalam perkara tersebut meskipun terdapat telah melakukan perbuatan yang secara formil telah memenuhi rumusan delik yang berupa penggelapan ialah sengaja memiliki barang orang lain yang ada padanya bukan karena kejahatan, namun karena terdapat ketiga faktor tersebut, maka sifat melawan hukumnya perbuatan itu hapus sehingga ia harus dilepas dari segala tuntutan hukum. Jadi, jelas dalam perkara ini pengadilan menganut ajaran sifat melawahn hukum yang materiil…” Memperhatikan uraian tersebut diatas, menunjukkan bahwa asas-asas hukum tersebut dapat dipakai dalam praktik peradilan dan itu harus menjadi pedoman semua penegak hukum, jangan terlalu legisme terpaku pada peratuarn perundang-undangan
95

Sudarto,Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung 1990, hlm 101.

61

tertulis semata,namun juga harus menerima dan menggali rasa keadilan masyarakat. Kondisi seperti itu sangat diharapkan oleh Achmad Ali. dapat terwujud di negara kita.96 Pendapat di atas, dalam kehidupan perbankan sebenarnya juga sangat diharapkan, yaitu bahwa semua stakeholder perbankan, taat pada aturan tidak sematamata taat karena takut sanksi, tetapi harus karena menganggap aturan hukum itu memang mempunyai tujuan yang baik sesuai dengan nilai kehidupan. Prinsip ketaatan pada hukum untuk dunia perbankanmerupakan nilai yang harus melekat pada pribadi setiap individu perbankan sehingga prinsip ini penaatannya telah menjadi standar internasional dan diterapkan dengan adanya pejabat pengawas kepatuhan pada peraturan perundang-undangan.97 Secara kasat mata dari pengalaman terdahulu ternyata dirasakan dan menjadi pemahaman kita bersama bahwa ada keterbatasan pengaruh dari sanksi hukum tersebut, keterbatasan demikian termasuk dari sanksi pidana itu sendiri. Ahli hukum pidana mengatakan “The limit of criminal sanction”, hal itu berarti bahwa kita tidak boleh terlalu mengharapkan ketaatan orang pada suatu peraturan perundangundangan hanya dengan mengandalkan pada sanksi pidana semata meskipun juga tidak boleh mengatakan bahwa sanksi pidana itu tidak ada artinya.98 Sejalan dengan pandangan di atas, maka pengenaan sanksi pidana hanya dilaksankan apabila upaya lain (sanksi perdata atau administrasi, seperti sanksi biaya
96 97

Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,249. Ibid.,hlm. 250. 98 Ibid.

62

paksa penegakan hukum) sudah tidak memadai lagi sehingga sanksi pidana mempunyai fungsi yang subsider. Di dalamnya mengandung sifat bahwa pidana tersebut hendaknya dipakai sebagai obat terakhir (ultimum remedium) dan konsekuensinya pengenaannya harus memerhatikan dengan seksama, persyaratannya harus tepat dan kuat alasannya.persyaratan demikian ditetapkan oleh pembentuk peraturan perundang-undangan dan para ahli (doktrin), sedangkan para pejabat penegak hukumnya harus mempedomani serta memerhatikan persyaratan tersebut.99 Sesuai dengan definisi hukum dari meliputi pula proses penegakannya. “Penegakan dan pentaatan peraturan hanya dapat dijalankan apabila ada organ yang menjadi pelaksananya. Dengan demikian, maka sanksi itu akan dapat dilaksanakan apabila ada organ yang menjalankan untuk pentaatannya.” Sejalan dengan itu, Max Weber berpendapat bahwa:100 “Suatu tatnan bisa disebut sebagai hukum apabila secara eksternal ia dijamin oleh kemungkinan bahwa paksaan (fisik atau psikologis), yang ditujukan untuk mematuhi tatanan atau menindak pelanggaran, akan diterapkan oleh suatu perangkat terdiri dari orang-orang yang khusus menyiapkan diri untuk melakukan tugas-tugas tersebut.” Sependapat dengan pandangan Max Weber di atas, maka dalam rangka penegakan hukum diperlukan organ tertentu yang menjalankan fungsi tersebut, dalam industri perbankan di Indonesia, organ tersebut sementara ini, di antaranya, berada pada fungsi Bank Indonesia selain juga pada lembaga penegak hukum lainnya.101 Mochtar Kusumaatmadja hukum itu

99

Ibid. Satijpto Rahardjo, Ilmu Hukum,Citra Aditya Bakti, Bandung 1993, hlm., 263 101 Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,251.
100

63

Dasar pemahaman di atas, maka ada beberapa asas hukum pidana yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan perbankan, yaitu menyangkut perbuatan serta pelakunya:102

1) Asas nulu poena Asas nulu poena suatu asas yang menurut sifatnya harus terdapat dalam setiap peraturan perundang-undangan pidana sebagaimana diatur dalam perjanjian Roma Tahun 1950, asas ini merupakan asas legalitas, di antaranya, yaitu dikenal asas nullum crimen sine lege dan asas nulla poena sine culpa (culpa dalam arti luas meliputi kesengajaan dan kealpaan); 2) Asas presumption of innocence asas praduga tidak

bersalah serta asas kesalahan (culpabilitas). Asas praduga tidak bersalah hakikatnya, yaitu bahwa tidak seorang pun dapat dijatuhi sanksi pidana, kecuali diberi kesempatan untuk membuktikan ketidakbersalahannya; 3) Asas pembuktian terbalik (retroaktif)

Asas pembuktian terbalik yaitu asas yang mewajibkan kepada pihak yang disangka membuktikan ketidakbersalahnya; 4) Asas ultimum remedium (obat yang terakhir)

102

Ibid., hlm., 251.

64

Asas ultimum remedium (obat yang terakhir) maksudnya apabila tidak perlu sekali, hendaknya jangan menggunakan pidana sebagai sarana, asas tersebut melekat pada pengertian straf atau pidana, dalam pengertian bahwa jika tindakan yang diputuskan oleh hakim boleh dipandang sebagai obat, asas ini ingin mengatakan bahwa, hendaklah obat yang diberikan itu jangan sampai membuat penyakitnya itu menjadi semakin parah. Tidak berlebihan apabila melihat kenyataan seperti itu, Roeslan Saleh mengemukakan bahwa dalam menggunakan hukum pidana kita harus bersikap menahan diri, di samping teliti sekali. Menahan diri dan teliti, baik dalam bidang perundang-undangan maupun dalam bidang penerapan pidana dan pelaksanaannya. Asas-asas tersebut di atas, baru sebagian dari asas-asas hukum yang terdapat di dalam ruang lingkup hukum pidana. Pandangan Sudarto103 asas-asas tersebut

merupakan nilai-nilai yang berkedudukan lebih tinggi dari peraturan perundangundangan. Jika ada peraturan yang tidak memenuhi asas-asas atau nilai-nilai yang dipegang oleh suatu masyarakat, peraturan itu bisa dikatakan dibuat dengan sewenang-wenang dan sangat mungkin peraturan itu sukar, bahkan tidak dapat dijalankan.104 Ilustrasi keterkaitan asas-asas hukum pidana dengan pengelolaan kegiatan perbankan, yaitu mengenal tanggung jawab dan pengenaan sanksi (pemidanaan) dari dan terhadap pihak-pihak yang berhubungan dengan operasional perbankan ataupun

103 104

Satijpto Rahardjo, Ilmu… Op.Cit., hlm., 24. Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,252.

65

pihak terkait lainnya. Tanggung jawab dari pejabat bank, termasuk kepada pribadinya apabila dia melakukan tindakan dengan cara yang secara moral tercela atau bertindak dengan itikad buruk, lalai dan sembrono, dan melanggar hukum, hal tersebut dalam kasus-kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Ada beberapa sanksi mengancam untuk dikenakan terhadap pihak-pihak yang melakukan kelalaian dan penyimpangan ketentuan peraturan perundang-undangan perbankan, yaitu di antaranya, beberapa pelanggaran yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan undang-undang perubahannya, di antaranya :105 1) kejahatan berupa mendirikan usaha bank tanpa izin atau bank gelap (Pasal 46) 2) Kejahatan tentang pembocoran rahasia bank, yaitu pembocoran rahasia bank oleh anggota dewan komisaris, direksi, pegawai bank, atau pihak terafiliasi lainnya (Pasal 47 Ayat (2)), atau sebaliknya mereka sengaja tidak memberikan keterangan yang menjadi kewajibannya berupa pembukuan informasi yang dimaksud sebagai rahasia bank untuk kepentingan tertentu sesuai undang-undang (Pasal 47 A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan). 3) Kejahatan berupa tindakan dari mereka, yaitu anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan dan informasi kepada Bank Indonesia (Pasal 48 Ayat (1)).
105

Ibid. hlm., 253.

66

kejahatan tindakan dari anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja : “membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam laporan maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank.” Kejahatan window dressing (Pasal 49 Ayat (1) huruf a). 4) Kejahatan tindakan dari anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja: “menghilangkan atau tidak memasukan atau menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi, atau rekening suatu bank.”(Pasal 49 Ayat (1) huruf b)”. 5) Kejahatan tindakan dari anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja : “Mengubah, menghaburkan, menyembunyikan, menghapus, atau menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi, atau rekening suatu bank atau dengan sengaja mengubah, mengaburkan, menghilangkan, menyebunyikan, menghapus, atau menghilangkan catatan pembukuan tersebut.” 6) Kejahatan tindakan dari anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja : “Meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui untuk menerima suatu imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan uang, atau barang berharga, untuk keuntungan pribadinya atau untuk keuntungan keluarganya, dalam rangka mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagi orang lain dalam memperoleh uang muka, bank garansi, atau fasilitas kredit dari bank, atau dalam rangka pembelian atau pendiskontoan oleh bank atas surat-surat wesel, surat promes, cek, dan kertas dagang atau bukti kewajiban lainnya, ataupun dalam

67

rangka memberikan persetujuan bagi orang lain untuk melaksanakan penarikan dana yang melebihi batas kreditnya pada bank .” (Pasal 49 Ayat (2) huruf a). 7) kejahatan tindakan dari anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang sengan sengaja: “Tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank tehadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank.” (pasal 49 Ayat (2) huruf b). 8) pihak terafliasi yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank diancam dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak 6 miliar rupiah (Pasal 50). Selain perbuatan-perbuatan yang tercantum di atas, satu perbuatan penting lainnya, yang pelanggarannya merupakan suatu tindak pidana di bidang perbankan, yaitu pelanggaran yang diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, serta peraturan perundang-undangan lainnya.106 Dimensi bentuk tindak pidana perbankan bisa berupa tindak kejahatan seseorang terhadap bank, bank terhadap bank lain, ataupun bank terhadap perorangan sehingga bank dapat menjadi, baik korban ataupun pelaku. Adapun dimensi ruang tindak pidana perbankan tidak terbatas pada suatu tempat tertentu. Ia bisa melewati batas-batas teritorial suatu negara. Begitu pula dimensi waktu, ia bisa terjadi seketika,

106

Ibid, hlm., 255.

68

bisa juga berlangsung beberapa lama. Sedangkan ruang lingkup terjadinya tindak pidana perbankan dapat terjadi pada keseluruhan lingkup kehidupan dunia perbankan atau yang sangat berkaitan dengan kegiatan perbankan dan lebih luasnya mencakup juga lembaga keuangan lainnya. Sementara ketentuan yang dapat dilanggarnya, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis juga meliputi norma-norma kebiasaan pada bidang perbankan, tetapi semua itu tetap harus sudah diatur sanksi pidananya, lingkup pelaku dari tindak pidana perbankan dapat dilakukan, baik oleh perorangan maupun badan hukum (korporasi).107 Sanksi-sanksi merupakan bagian penutup yang penting di dalam hukum, pada umumnya tidak ada gunanya memasukkan kewajiban-kewajiban atau laranganlarangan bagi masyarakat, manakala aturan-aturan tingkah laku itu tidak dapat dipaksakan (apabila diperlukan). Adanya sanksi merupakan suatu pengejawantahan dari salah satu tanda hukum, seperti yang diungkapkan oleh L. Pospisil, yaitu di antaranya berupa adanya sanksi, yakni bahwa keputusan-keputusan dari pihak yang berkuasa harus dikuatkan dengan sanksi yang didasarkan pada kekuasaan masyarakat yang nyata.108 Menurut Hoefnagels, bahwa memberikan sanksi merupakan suatu proses pembangkitan semangat dan pencelaan untuk tujuan agar seseorang berorientasi atau menyesuaikan diri dengan suatu norma atau peraturan perundang-undangan yang

107 108

Ibid. Ibid.

69

berlaku. Hakikat sanksi, yaitu menyerukan untuk tertib. Jenis sanksi yang dapat dikenakan terhadap suatu perbuatan:109 1) Sanksi pidana. 2) Sanksi administrasi: a) paksaan pemerintahan (bestuursdwang); b) penarikan kembali keputusan (ketetapan yang menguntungkan

(izin, keringanan,pembayaran, dan subsidi); c) Pengenaan denda administratif; d) Pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwansom) Jenis sanksi sebagaiman disebutkan tersebut di atas merupakan

pengelompokan yang utama. Namun, demikian pula bahwa tidak setiap kaidah disertai dengan sanksi. Kaidah tanpa sanksi disebut leximperfecta, contoh ketentuan yang tercantum dalam Pasal 298 KUH Perdata, yaitu setiap anak harus menghormati orang tuanya.110 Perundang-undangan administrasi juga dapat memuat sanksi pidana. Peters Moster menyebutnya dengan “hukum pidana pemerintahan”, Peters Moster dalam hubungan ini menyebut “instrumentalisasi” hukum pidana.111 Sejalan dengan pendapat tersebut diatas, maka peraturan daerah juga dapat memuat sanksi pidana, melalui sanksi-sanksi itulah kita dapat berharap untuk mendorong anggota masyarakat agar bertingkah laku sesuai dengan peraturan tersebut. Penentuan pidana
Ibid, hlm.,256. Ibid. 111 Roeslan Saleh, Dari Lembaran Kepustakaan Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 1990, hlm., 147.
110 109

70

demikian adalah untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu keadaan sosial ekonomi, kesehatan masyarakat, keamanan lalu lintas, dan sebagainya. Keadaan demikian membawa konsekuensi perlunya tindak penyidikan jika terjadi suatu pelanggaran.112 Sanksi pidana ini merupakan ketentuan yang tidak mutlak harus selalu ada dalam peraturan perundang-undangan. Menurut Maria Farida Indrati Suprapto bahwa kadang-kadang ketentuan pidana ini diperlukan bagi suatu peraturan perundangundangan.113 Asas bahwa pidana harus seimbang dengan berat ringannya perbuatan yang telah dilakukan. Dengan demikian, dalam merumuskan ketentuan lamanya pidana atau banyak nya denda, perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan, baik berupa keresahan masyarakat maupun kerugian yang besar atau motif tindak pidana (perbankan) yang dilakukan.114 Praktik perbankan yang menyimpang dari peraturan perundang-undangan di bidang perbankan sepanjang ketentuan tersebut dianggap sebagai kendala yang dapat merugikan kepentingannya, bahkan pemilik/pengurus bank memanfaatkan celah ketentuan yang ada sehingga pada akhirnya menyebabkan bank berada pada kondisi yang tidak sehat. Disamping itu, pemilik/pengurus bank dalam menjalankan praktik operasionalnya sering kali mengabaikan prinsip kehati-hatian. Keadaan tersebut semakin memburuk dengan lemahnya kondisi internal sektor perbankan, terutama

Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,256. Maria Farida Indrati Suprapto, Ilmu Perundang-undangan Dasar-Dasar dan Pembentukannya, Kansius, Yogyakarta 2000, hlm., 163. 114 Soedarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung 1993, hlm., 37.
113

112

71

sebagai dampak dari lemahnya manajemen dan terjadinya konsentrasi kredit pada suatu sektor/kelompok usaha tertentu saja.115 Kondisi tersebut di atas dapat dimaklumi karena perkembangan kehidupan masyarakat yang begitu cepat sebagai hasil dan proses pelaksanaan pembangunan di segala bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, keamanan, dan budaya telah membawa pula dampak negatif berupa peningkatan kualitas dan kuantitas berbagai macam kejahatan yang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat. Dengan demikian, upaya penegakan hukum yang terintegrasi, terkoordinasi, dan dengan mengaktualisasikan secara optimal seluruh potensi pada faktor-faktor yang memepengaruhi upaya penegakan hukum, menjadi agenda utama pembangunan hukum nasional. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, dibentuklah Unit Khusus Investigasi Perbankan (UKIP) yang semula disebut Tim Investigasi Penyimpangan di Bidang Perbankan (TIPER) pada tanggal 31 Desember 1998. pada tanggal 31 Agustus 1999, melalui Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 1/3/PDG/1999, tentang Organisasi Sektor Perbankan TIPPER diubah menjadi UKIP. Selanjutnya, PDG Nomor 1/3/PDG/1999ini dicabut dan disempurnakan dengan Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 3/1/PDG/2001tanggal 27 April 2001 tentang Organisasi Sektor Perbankan.116 Secara umum, pembentukan UKIP bertujuan untuk meningkatkan ketaatan bank terhadap peraturan perundang-undangan di bidang perbankan mengungkap

115 116

Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,257. Ibid., hlm., 258.

72

dengan jelas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di bidang perbankan sehingga dapat ditemukan akar permasalahan yang ada serta dapat dilakukan tindakan represif yang tepat. Di samping tujuan dimaksud, keberadaan UKIP ini juga diharapkan memberikan dampak preventif berupa announcement effect terhadap

dunia perbankan bahwa sejak saat ini penegakan hukum (law enfrocment) telah dijalankan termasuk law enfocement yang memiliki aspek pidana. Hal ini sejalan dengan tugas Bank Indonesia dalam membentuk sistem perbankan yang sehat untuk memenuhi tujuan Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai tukar rupiah. Sistem perbankan yang sehat ini dapat dicapai apabila perbankan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan didukung oleh integritas sumber daya manusia yang bergerak di bidang perbankan itu sendiri.117

2. Asas Hukum Khusus Perbankan Indonesia Menurut Sudikno Mertokusumo bahwa asas hukum khusus berfungsi dalam bidang yang lebih sempit. Dengan memerhatikan pendapat demikian, maka di dalam hukum perbankan terdapat asas hukum khusus yang berlaku secara tersendiri pada bidang khusus, yaitu perbankan, seperti asas kehati-hatian.118 Asas hukum khusus yang bersifat regulative dalam perbankan di Indonesia, dapat ditemukan pada peraturan perundang-undangan di bidang perbankan UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan serta peraturan perubahannya, yaitu

117 118

Ibid. ibid., hlm. 259.

73

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan memiliki asas, yaitu asas demokrasi ekonomi dan prinsip kehati-hatian. Asas-asas tersebut untuk perbankan syariah, dirasakan belumlah mencukupi, perbankan syariah memerlukan asas-asas yang lebih luas dalam kegiatan usahanya, yaitu di antaranya, tidak mengandung unsur riba, maysir, dan gharar, serta menjunjung tinggi asas keadilan.119

a. Asas Khusus di bidang Perkreditan Penggunaan istilah tersebut sangat tepat karena kredit dari asal kata “crede” yang dalam bahasa Latin, artinya percaya dengan bentuk past participle-nya “creditus”. Hal itu memperjelas bahwa kepercayaan merupakan unsur utama sehingga terjadinya hubungan antara para pihak (yaitu hubungan debitur dengan kreditor), dan itu dapat terjadi apabila kreditor mempercayai debitur akan kemampuannya untuk memenuhi kewajiban mengembalikan pinjamannya atau kemampuannya untuk memenuhi prestasi suatu perikatan yang dibuatnya. Berdasarkan gambaran seperti diatas, maka tidak mustahil apabila ada yang mendefinisikan kredit tersebut, sebagai berikut : “kredit ialah suatu reputasi yang dimiliki seseorang, yang memungkinkan ia bisa memperoleh uang, barang-barang, atau buruh tenaga kerja, dengan jalan

119

Ibid.

74

menukarkannya dengan suatu janji untuk membayarkannya di suatu waktu yang akan datang”.120 Unsur pertama dan utama dari kredit, yaitu unsur kepercayaan. Unsur yang lainnya bersifat sebagai suatu penunjang dari unsur pertama dan utama tersebut, dalam arti unsur tersebut berguna dalam rangka pertimbangan yang menyeluruh dalam mendapatkan atau memperoleh keyakinan dan kepercayaan untuk terjadinya suatu hubungan atau perikatan hukum dalam bidang perkeriditan tersebut.121 Kredit dilihat dari sisi unsur keuntungan, maka pandangan antara kreditor dan debitur secara jelas mempunyai perbedaan, namun mereka terikat dalam satu kepentingan atas kondisi yang ada, maksudnya bahwa dari sisi kreditor kegiatan kredit, yaitu untuk mengambil keuntungan dari modalnya dengan mengharapkan kontra prestasi, sedangkan dari pandangan debitur, yaitu bahwa kredit tersebut memberikan bantuan bagi dirinya untuk menutupi kebutuhannya dan menjadi beban itu merupakan kewajiban baginya yang berupa utang. Sebaliknya, dari sisi si penerima pembayaran di masa depan (kreditor), maka hal itu merupakan klaim terhadap orang untuk membayar kepadanya.122

b. Asas Hukum Khusus di bidang Kerahasiaan Bank Rahasia bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan dan hal-hal lain dari nasabah bank yang menurut kelaziman dunia perbankan tidak boleh
M.Rachmat Firdaus S.E., teori dan Analisis kredit, PT Purna Sarana Lingga Utama, Bandung 1985, hlm 12. 121 Muhamad Djumhana, Asas…Op.Cit., hlm.,261. 122 Ibid.
120

75

secara terbuka diungkapkan kepada pihak masyarakat. Hubungan ini, yang menurut kelaziman wajib dirahasiakan oleh bank adalah seluruh data dan informasi mengenai segalasesuatu yang berhubungan dengan keuangan, dan hal-hal lain dari orang dan badan yang diketahui oleh bank karena kegiatan usahanya.123 Ketentuan rahasia bank diperlukan karena perbankan harus melindungi nasabahnya. Bank yang membocorkan informasi yang dikategorikan rahasia bank layak dikenakan sanksi berat. Meskipun begitu, ketentuan itu tidaklah bisa kaku serta ketat tanpa kekecualian. Ketentuan itu dapat dikesampingkan saat kepentingan umum (masyarakat)tampak bakal dirugikan oleh oknum tertentu. Di sinilah terlihat bahwa kepentingan masyarakat harus dilindungi, yaitu perbankan bukanlah lembaga yang bisa dijadikan tempat untuk penyalahgunaan kewenangan atau tempat kerja sama mereka yang melanggar hukum.124 Tinjauan teori tentang rahasia bank menunjukan ada dua pendapat yaitu : 1) teori rahasia bank bersifat mutlak, yaitu bahwa bank berkewajiban menyimpan rahasia nasabah yang diketahui oleh bank karena kegiatan usahanya dalam keadaan apa pun, biasa atau dalam keadaan luar biasa 2) teori yang kedua adalah bank bersifat nisbi, yaitu bahwa bank diperbolehkan membuka rahasia nasabahnya jika untuk suatu kepentingan mendesak, misalnya, demi kepentingan negara.

123 124

Ibid., hlm.,271 Ibid., hlm., 274.

76

c. Asas Prudential Principle (Prinsip Kehati-hatian) Menurut ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dikemukakan, bahwa Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan Demokrasi Ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Ketentuan ini, menunjukan bahwa prinsip kehati-hatian salah satu asas terpenting yang wajib diterapkan atau dilaksanakan oleh bank dalam menjalankan kegiatan usahanya.125 Prinsip kehati-hatian tersebut mengharuskan pihak bank untuk selalu berhatihati dalam menjalankan kegiatan usahanya, dalam arti harus selalu konsisten dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan di bidang perbankan berdasarkan profesionalisme dan itikad baik.126 Berkaitan dengan Prinsip kehati-hatian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 2 diatas kita dapat menemukan pasal lain didalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang mempertegaskan kembali mengenai pentingnya prinsip kehati-hatian itu diterapkan dalam setiap kegiatan usaha bank, yakni dalam Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.127 Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengemukakan bahwa: “Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengagn ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuidasi, rentabilitas,
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Pernada Media Grup, Jakarta 2011, hlm.,146. 126 Ibid., hlm 147. 127 Ibid.
125

77

solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian”. Berdasarkan ketentuan Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan di atas, maka tidak ada alasan apa pun juga bagi pihak bank untuk tidak menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kegiatan usahanya dan wajib menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian. Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengandung arti, bahwa segala perbuatan dan kebijaksanaan yang dibuat dalam rangka melakukan kegiatan usahanya harus senantiasa berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Selanjutnya ketentuan Pasal 29 Ayat (3) terkandung arti perlunya diterapkan prinsip kehati-hatian dalam rangka penyaluran kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah kepada nasabah debitor. Selengkapnya ketentuan tersebut mengemukakan bahwa:128 Pasal 29 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan:129 “Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang memercayakan dananya kepada bank”. Ketentuan Pasal 29 Ayat (2) dan Ayat (3) di atas tentu berhubungan erat dengan ketentuan Pasal 29 Ayat (4), karena bertujuan untuk melindungi kepentingan

128 129

Ibid. Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan…Op.Cit., hlm., 665.

78

nasabah penyimpan dan simpanannya. Adapun ketentuan tersebut menyatakan bahwa:130 Pasal 29 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan:131 “Untuk kepentingan nasabah, bank wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan terjadinya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank”. d. Asas Fiduciary Relation Principle (asas kepercayaan) Asas kepercayaan adalah suatu asas yang melandasi hubungan antara bank dan nasabah bank. Bank berusaha dari dana masyarakat yang disimpan berdasarkan kepercayaan, sehingga setiap bank perlu menjaga kesehatan banknya dengan tetap memelihara dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Prinsip kepercayaan diatur dalam Pasal 29 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.132 Pasal 29 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan: “Untuk kepentingan nasabah, bank wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan terjadinya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank”.

e. Asas Seccrecy Principle (asas kerahasiaan)

Hermansyah, Hukum Perbankan… Op.Cit., hlm.,148. Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan…Op.Cit., hlm., 665. 132 Neni Sri Imaniyati, PengantrHukum Perbankan Indonesia, Refika Aditama, Bandung 2010, hlm.,16.
131

130

79

Prinsip kerahasiaan bank diatur dalam pasal 40 sampai dengan Pasal 47 A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Menurut Pasal 40 bank wajib merahasikan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. Namun dalam ketentuan tersebut kewajiban merahasiakan itu bukan tanpa pengecualian. Kewajiban merahasiakan itu dikecualikan untuk dalam hal-hal untuk kepentingan pajak, penyelsaian utang piutang bank yang sudah diserahkan kepada badan Urusan Piutang dan Lelang/Panitia Urusan Piutang Negara (UPLN/PUPN), untuk kepentingan pengadilan perakara pidana, dalam perkara perdata antar bank dengan nasabah, hanya memberikan tukar-menukar informasi antar bank.133

3. Pengertian Likuidasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia di artikan likuidasi adalah proses membubarkan perusahaan sebagai badan hukum yang meliputi pembayaran kewajiban kepada para kreditor dan pembagian harta yang tersisa kepada para pemagang saham (persero).134 Kemudian menurut Kamus Hukum Ekonomi yang di terbitkan Elips Project, liquidation adalah pembubaran perusahaan diikuti dengan proses penjualan harta perusahaan, penagihan piutang, pelunasan utang, serta penyelsaian sisa harta atau utang antara para pemegang saham. Sedangkan Zainal Asikin menyebutkan bahwa

133 134

Ibid.,hlm 17. Djoni S. Gazali dan Rachmadin Usman., Hukum..., opCit., hlm 531.

80

likuidasi adalah suatu tindakan untuk untuk membubarkan suatu perusahaan atau badan hukum.135 Berikutnya Van Schilfgaarde dan Doorhout Mess dalam bukunya Van de BV en de NV dan Nederlands Handels en Failissementrecht mengemukakan sebagai berikut: “Likuidasi (pembubaran) adalah penghentian kegiatan Perseroan Terbatas sebagai akibat dari berakhirnya tujuan perseroan. Pembubaran tidak mempunyai arti identik dengan “berakhirnya” eksistensi perseroan. Perseroan adalah subjek hukum, memiliki aktivia dan pasiva. Setelah pembubarannya diucapkan, eksistensinya tetap “ada dengan catatan bahwa posisinya itu dalam stadium likuidasi (pembubaran). Hak yang dimilikinya harus direalisasikan dan kewajiban yang dipikulnya wajib dipenuhi. Perseroan Terbatas itu ada sepanjang diperlukan untuk pemberesan”.136 Menurut Adrian Sutedi likuidasi bank adalah cara atau proses untuk menyelesaikan hak dan kewajiban bank.137 Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan terdapat dalam Pasal 37 Ayat (2) dan Ayat (3), maka pengertian dari istilah ”likuidasi” tidak terbatas kepada pencabutan izin usaha bank, tetapi lebih luas lagi, termasuk tindakan pembubaran (outbinding) badan hukum bank dan penyelsaian atau pemberesan (verifying) seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat dibubarkannya badan hukum bank tersebut.138

4 . Pengaturan Likuidasi Bank di Indonesia

135 136

Ibid. Ibid. 137 Adrian Sutedi , Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta 2007, hlm., 139 138 Djoni S. Gazali dan Rachmadi Usman., Hukum.... op.Cit., hlm 531.

81

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengatur masalah likuidasi bank, maka dalam hal ini Bank Indonesia dapat melakukan tindakan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dapat dilakukan secara alternatif ataupun kumulatif sesuai dengan kondisi bank yang bersangkutan, yaitu meliputi langkah-langkah berupa saran-saran dan langkah tindakan yang lebih aktif.139 a. Langkah saran-saran, yang ditujukan kepada pemegang saham dan pengurus, yaitu agar:140 1) Pemegang saham menambah modal. 2) Pemegang saham mengganti dewan komisaris dan/atau direksi bank. 3) Bank menghapus bukukan kredit yang macet dan memperhitungkan kerugian kerugian bank dengan modalnya. 4) Bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain. 5) Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban. b. langkah aktif dengan tindakan lain yang sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, seperti:141 1) Penyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain 2) Menjual sebagian harta atau seluruh harta dan atau kewajiban bank kepada bank lain. Menyangkut pencabutan izin usaha kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri maksudnya adalah pencabutan izin pembukaan kantornya jadi bukan pencabutan izin usaha sebagai badan hukum bank. Menurut ketentuan Pasal 22 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 tentang
139 140

Muhamad Djumhana, Hukum perbankan ... op.Cit., hlm 242. Ibid.,243. 141 Ibid.

82

Pencabutan Izin usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank, Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha kantor cabang tersebut dalam hal:142 1) kantor cabang yang bersangkutan berada dalam keadaan yang membahayakan kelangsungan usahanya dan atau sistem perbankan 2) kantor cabang yang bersangkutan ditutup atas permintaan kantor pusatnya 3) izin usaha kantor pusat bank yang bersangkutan dicabut dan atau dilikuidasi oleh otoritas yang berwenang di negara asal bank tersebut. Apabila terjadi pencabutan izin usaha kantor cabang tersebut, diberitahukan kepada bank yang bersangkutan dan otoritas negara asal serta diumumkan dalam surat kabar harian yang mempunyai peredaran luas. Selain itu, bagi bank yang telah dicabut izin usahanya tersebut berlaku ketentuan bahwa seluruh harta kantor cabang yang bersangkutan diutamakan untuk pembayaran seluruh kewajibannya di Indonesia dan kantor pusat bank yang bersangkutan bertanggung jawab atas pemenuhan kewajiban kantor cabangnya di Indonesia.143 Bank Indonesia dalam rangka melaksankan kelanjutan dari akibat pencabutan izin usaha tersebut, menyerahkannya kepada tim penyelesai. Tim tersebut memiliki hak, kewajiban, dan kewenangan, seperti halnya tim likuidasi. Tim tersebut bekerja paling lambat dua tahun sejak terbentuknya apabila menyelsaikan bank yang dicabut izinnya karena kantor cabang bank yang bersangkutan berada dalam keadaan yang membahayakan kelangsungan usahanya dan atau sistem perbankan atau karena kantor cabang bank yang bersangkutan ditutup atas permintaan kantor pusatnya. Sedangkan apabila kantor cabang yang bersangkutan dicabut izinnya karena dilikuidasi, jangka waktu tugas tim penyelsai selama lima tahun.144

142 143

Ibid.,hlm 245. Ibid. 144 Ibid.

83

BAB III PROSES LIKUIDASI BANK DALAM HUKUM PERBANKAN INDONESIA

A. Prosedur dan Cara-Cara Melakukan Likuidasi Bank terhadap Perbankan di Indonesia Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, agar sistem perbankan dapat berperan secara maksimal dalam perekonomian nasional, maka arah kebijakan di sektor perbankan bertujuan agar hanya bank yang sehat saja yang dapat terus eksis berusaha dalam sektor perbankan nasional, sedangkan bank yang mengalami “kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya dan tidak

83

84

diselamatkan lagi, dan/atau “keadaan suatu bank yang membahayakan sistem perbankan”, maka bank tersebut harus keluar dari sistem perbankan (exit policy).145 Apabila terjadi kondisi sistem bank yang membahayakan, maka Bank Indonesia, secara atributif, diberi kewenangan oleh undang-undang untuk mencabut izin usaha bank yang bersangkutan. Namun demikian, dalam praktiknya, pencabutan izin usaha bank adalah pilihan keputusan yang terakhir. Pasal 37 ayat (1) UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengamantkan agar Bank Indonesia terlebih dahulu mengupayakan tindakan penyelamatan bank yang mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya sebelum bank yang bersangkutan harus “exit” dari sistem perbankan. Apabila tindakan penyelamatan yang telah diupayakan belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bank dan/atau menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan sistem perbankan maka barulah suatu bank harus keluar dari sistem perbankan. Bahkan, pada masa masih eksisnya Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), masih ada proses penyehatan sistem perbankan melalui tahap Bank Beku Operasional (BBO) dan Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU) yang hasilnya adalah bank hasil merger dan bank yang direkomendasikan untuk dicabut izin usahanya.146 Dibentuknya Lembaga Penjamin Simpanan, apabila tindakan penyehatan yang ditempuh Bank Indonesia atas dasar Pasal 37 Ayat (1) Undang-Undang

145 146

Adrian Sutedi , Hukum...., op.Cit., hlm 137. Ibid., hlm 138.

85

Perbankan tidak berhasil, maka Lembaga Penjamin Simpanan masih dimungkinkan untuk melakukan tindakan penyelamatan terhadap bank dimaksud. Lembaga Penjamin Simpanan ini juga dimaksudkan untuk menjamin simpanan uang para nasabah di bank.147 Disebutkan dalam ketentuan Pasal 21 Ayat (2) dan(3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bahwa LPS melakukan penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik setelah Bank Indonesia menyerahkan penyelsaiannya kepada LPS dan melakukan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik setelah Komite Koordinasi menyerahkan penanganannya kepada LPS. Kemudian dalam ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan ditetapkan, bahwa penyelsaian atau penanganan bank gagal tersebut dilakukan oleh LPS dengan cara sebagai berikut:148 1. penyelsaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik dilakukan dengan melakukan penyelamatan atau tidak melakukan penyelamatan terhadap bank gagal di maksud; 2. penanganan bank gagal yang berdampak sistemik dilakukan dengan melakukan penyelamatan yang mengikutsertakan pemegang saham lama atau tanpa mengikutsertakan pemegang saham lama. Pada prinsipnya keputusan untuk melakukan penyelamatan atau tidak melakukan penyelamatan suatu bank gagal ditetapkan oleh LPS, dengan minimal didasarkan kepada perkiraan biaya penyelamatan dan perkiraan biaya tidak

147 148

Ibid. Djoni S.Gazali dan Rachmadi Usman, Hukum..., op.Cit., hlm 540.

86

melakuakn penyelamatan bank gagal. Selain itu diperkirakan setelah diselamatkan, bank gagal tadi masih menunjukan prospek usaha yang baik.149 Ditegaskan dalam ketentuan Pasal 31 juncto Pasal 16 Ayat (4) serta dihubungkan dengan penjelasannya dari Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, bahwa dalam hal tidak terpenuhinya persyaratan penyelamatan bank gagal dimaksud atau LPS memutuskan untuk tidak melanjutkan proses penyelamtan, maka LPS meminta pencabutan izin usaha bank dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Apabila izin usaha bank dicabut oleh Bank Indonesia, maka selambat-lambatnya dalam waktu lima hari kerja sejak izin usaha bank dicabut, LPS melaksanakan pembayaran klaim penjaminan kepada nasabah penyimpan bank yang dicabut izin usahanya. Jadi, LPS tidak melanjutkan penyelamatan bank gagal apabila dalam proses penyelamatan tersebut LPS menemukan biaya penyelamatan jauh lebih besar dari perkiraan biaya penyelamatan pada saat keputusan penyelamatan ditetapkan.150 Ketentuan dalam Pasal 43 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan mengatur bahwa LPS akan bertindak sebagai “likuidator” dalam proses likuidasi bank gagal oleh LPS, yaitu usahanya, LPS melakukan likuidasi bank gagal yang dicabut izin usahanya, LPS melakukan tindakan sebagai berikut :151

149 150

Ibid. Ibid., hlm 541. 151 Ibid., hlm 542.

87

a. Melakukan kewenangan mengambil alih dan menjalankan segala hak dan wewenang pemagang saham, termasuk hak dan wewenang Rapat Umum pemegang Saham dalam rangka proses likuidasi b. Memberikan talangan untuk pembayaran gaji pegawai yang terutang dan talangan pesangon pegawai sebesar jumlah minimum pesangon sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan c. Melakukan tindakan yang diperlukan dalam rangka pengamanan aset bank sebelum proses likuidasi dimulai; dan d. Memutuskan pembubaran badan hukum bank, membentuk tim likuidasi, dan menyatakan status bank sebagai bank dalam likuidasi, berdasarkan kewenangan LPS. Secara yuridis sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, maka terhitung sejak izin usaha suatu bank dicabut, segala hak dan wewenang pemegang saham, termasuk hak dan wewenang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) diambil alih oleh LPS. Oleh karena itu, dengan diambilalihnya hak dan wewenang RUPS, maka LPS segera memutuskan hal-hal sebagai berikut :152 a. b. c. d. pembubaran badan hukum bank pembentukan tim likuidasi penetapan status bank sebagai “Bank Dalam Likuidasi”; dan penonaktifan seluruh Direksi dan Dewan Komisaris

Menurut ketentuan dalam Pasal 6 Ayat (2) Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 02/PLPS/2008, keputusan LPS sebagai mana dimaksud di atas menjadi keputusan LPS sebagai mana dimaksud di atas menjadi keputusan RUPS dan dimuat dalam risalah RUPS yang dibuat dalam Akta Notaris. Pelaksanaan proses likuidasi suatu bank yang dicabut izin usahanya diawali dengan pembubaran badan

152

Ibid.

88

hukum bank melalui RUPS nya diawali dengan pembubaran badan hukum bank melalui RUPS dan pembentukan tim likuidasi oleh LPS. Setelah LPS melalui RUPS memutuskan pembubaran badan hukum bank, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 45 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, maka keputusan pembubaran badan hukum bank tersebut wajib:153 a. Didaftarkan dalam daftar perusahaan dan di panitera pengadilan negeri yang meliputi tempat kedudukan bank yang bersangkutan b. Diumumkan dalam Berita negara Republik Indonesia dan 2 (dua) surat kabar harian yang mempunyai peredaran luas. Pengumuman tersebut memuat pula pernyataan bahwa seluruh aset bank dalam likuidasi berada dalam tanggung jawab dan pengurusan tim likuidasi; dan c. Diberitahukan kepada instansi yang berwenang. Menurut ketentuan dalam Pasal 7 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 02/PLPS/2008, maka sejak keputusan RUPS mengenai pembubaran badan hukum bank tersebut, maka bank disebut sebagai “Bank Dalam Likuidasi” dan wajib mencantumkan kata “Dalam Likuidasi disingkat “DL” setelah penulisan nama bank. Berkaitan dengan pembubaran badan hukum bank, ketentuan dalam Pasal 18 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 02/PLPS/2008 menentukan sebagai berikut:154 a. Tim likuidasi dalam rangka melaksanakan tindakan pembubaran badan hukum bank adalah sebagai berikut :
153 154

Ibid., hlm 543. Ibid.

89

1) memberitahukan kepada semua kreditor mengenai pembubaran badan hukum bank dalam Berita Negara Republik Indonesia dan 2 (dua) surat kabar harian yang mempunyai peredaran luas; dan 2) memberitahukan pembubaran badan hukum bank kepada instansi yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku . b. Tindakan pemberitahuan yang dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal pembubaran badan hukum banknya. c. Pemberitahuan kepada kreditor dimaksud harus memuat 1) pembubaran badan hukum bank dan dasar hukumnya; 2) nama dan alamat tim likuidasi 3) tata cara pengajuan tagihan; dan 4) jangka waktu pengajuan tagihan d. jangka waktu pengajuan tagihan adalah 60 (enam puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal pengumuman pembubaran badan hukum dari bank dimaksud. Pembentukan tim likuidasi oleh LPS melalui RUPS hendaknya dilakukan sesaat sebelum LPS melalui RUPS hendaknya dilakukan sesaat sebelum LPS melalui RUPS mengambil keputusan pembubaran badan hukum bank yang dicabut izin usahanya. Tim likuidasi ini dibentuk dalam rangka melaksanakan fungsi melikuidasi bank yang dicabut izin usahanya dan yang telah dibubarkan badan hukumnya dengan cara melakukan pemeberesan aset dan kewajiban bank dimaksud. Jangka waktu penyelsaian pelaksanaan likuidasi bank oleh tim likuidasi ditegaskan dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, yaitu untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal pembentukan tim likuidasi dan dapat diperpanjang oleh LPS paling lama 2 (dua) kali masingmasing paling lama 1 (satu) tahun. Jadi, dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun pelaksanaan likuidasi bank oleh tim likuidasi harus sudah dapat diselsaikan. Dengan sendirinya pengawasan atas pelaksanaan likuidasi bank dilakukan oleh LPS.

90

Demikian ditentukan dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.155 Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan salah satu unsur dari tim likuidasi dapat berasal dari salah satu anggota pengurus atau pemegang saham bank yang bersangkutan. Menurut ketentuan dalam Pasal 44 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, bahwa dalam hal diperlukan, salah satu anggota direksi, dewan komisaris, atau pemegang saham lama dapat ditunjuk sebagai anggota tim likuidasi. Artinya, susunan keanggotaan tim likuidasi dimungkinkan gabungan pihak luar dan dalam bank yang dicabut izin usahanya.156 Demi efisiensi, maka Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan menentukan batas maksimal jumlah keanggotaan tim likuidasi, yaitu sebanyak-banyaknya 9 (sembiln) orang sebagai tim likuidasi sebagaimana telah ditentukan dalam Pasal 44 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Tim likuidasi sebaiknya duduk orang-orang yang mempunyai keahlian tertentu yang sangat diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan likuidasi. Sekurang-kurangnya dalam tim likuidasi ada ahli hukum (lawyer), akuntan penilai (appraiser) dan bankir yang berpengalaman operasional perbankan (commercial banker).157

155 156

Ibid., hlm 544. Ibid. 157 Ibid., hlm 545.

91

Sehubungan dengan susunan keanggotaan tim likuidasi, ketentuan dalam Pasal 12 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 02/PLPS/2008 menetapkan sebagai berikut:158 1) Anggota tim likuidasi untuk setiap bank dalam likuidasi paling banyak 9

(sembilan) orang, di antaranya ditetapkan sebagai ketua tim likuidasi. Ketua tim likuidasi berwenang untuk bertindak mewakili tim likuidasi. 2) Penetapan jumlah anggota tim likuidasi ditetapkan dengan

mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan likuidasi bank. Maka dalam hal diperlukan salah satu anggota Direksi, Dewan Komisaris, atau pemegang saham dapat ditunjuk sebagai anggota tim likuidasi dengan mempertimbangkan pemahaman atas permasalahan yang terjadi pada

bank,bersikap kooperatif, dan tidak mempunyai benturan kepentingan. 3) Penunjukan tim likuidasi dilakukan dengan mempertimbangkan integritas

dan kompetensi calon anggota tim likuidasi. Sesama anggota tim likuidasi dan antara anggota tim likuidasi dengan tenaga pendukung tim likuidasi tidak boleh memiliki hubungan keluarga ke atas, ke bawah, dan kesamping sampai dengan derajat pertama. 4) LPS dapat memberhentikan anggota tim likuidasi sebelum jangka waktu

penugasan tim likuidasi berakhir apabila anggota tim likuidasi a) b)
158

tidak menjalankan tugas dengan baik; melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan;

Ibid., hlm 546.

92

c) d)

mengundurkan diri; atau berhalangan tetap

Sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan Pasal 46 Ayat (2) dan Ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, bahwa dengan terbentuknya tim likuidasi, tanggungjawab dan kepengurusan bank dalam likuidasi dilakukan oleh tim likuidasi. Tim likuidasi dalam melaksanakan tugasnya berwenang mewakili bank dalam likuidasi di dalam dan diluar pengadilan dalam segala hal yang berkaitan dalam penyelsaian hak dan kewajiban bank tersebut. Tim likuidasi dengan persetujuan LPS dapat menggunakan jasa pengacara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.159 Hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan wewenang tim likuidasi bank dalam likuidasi lebih lanjut dirinci dalam ketentuan Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 20 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 02/PLPS/2008, yang menetapkan sebagai berikut:160 Tim likuidasi mempunyai tugas sebagai berikut: a. bank; b. c. menyelsaikan hal-hal yang berkaitan dengan pegawai bank melakukan pemeberesan aset dan kewajiban bank menyelsaikan hal-hal yang berkaitan dengan pembubaran badan hukum

159 160

Ibid., hlm548. Ibid.

93

d.

menyampaikan laporan berkala dan laporan insidentil apabila diperlukan

kepada LPS e. f. melakukan pertanggungjawaban pelaksanaan likuidasi bank; melakukan penyelsaian atas kewajiban dari pihak-pihak yang melakukan

kelalaian dan/atau perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank; g. melakukan tugas lainnya yang dianggap perlu untuk melaksanakan

proses likuidasi; dan h. membantu kelancaran pelaksanaan penjaminan simpanan.

Tim likuidasi dalam rangka melAksanakan tugasnya berwenang : b) melakukan perundingan dan tindakan lainnya dalam rangka penjualan aset dan penagihan piutang terhadap para debitur termasuk pemberian potongan utang (haircut) sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh RUPS dan peraturan yang berlaku; c) melakukan perundingan dan pembayaran kewajiban kepada para kreditor; d) mempekerjakan pegawai, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar bank dalam likuidasi, sebagai tenaga pendukung tim likuidasi e) menunjuk pihak lain untuk membantu pelaksanaan likuidasi bank, antara lain perusahaan penilai, konsultan hukum, dan advokat f) melakukan pemanggilan kepada para kreditor meminta pembatalan kepada pengadilan niaga atas segala perbuatan hukum bank yang

94

mengakibatkan berkurangnya aset atau bertambahnya kewajiban bank, yang dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum pencabutan izin usaha bank, kecuali perbuatan hukum bank yang wajib dilakukan berdasarkan undang-undang. g) Mewakili bank dalam likuidasi dalam segala hal yang berkaitan dengan penyelsaian hak dan kewajiban bank tersebut baik di dalam maupun di luar pengadilan h) Melakukan tindakan lain yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan likuidasi bank 4. Dalam rangka mempekerjakan pegawai sebagai tenaga pendukung dan penunjukan pihak lain, tim likuidasi wajib mempertimbangakan: b. efisiensi dalam pelaksanaan likuidasi c. keahlian; dan d. kemampuan keuangan bank dalam likuidasi untuk membayar honor 5. Dalam rangka pemberesan asset dan kewajiban suatu bank yang dilikuidasi, tim likuidasi melaksanakan tindakan sebagai berikut : a. melakukan pembayaran biaya kantor b. menyelsaikan masalah yang berkaitan dengan pegawai bank yang dicabut izin usahanya, yaitu : 1) memproses pemutusan hubungan kerja dengan pegawai;

95

2)

membuat daftar gaji pegawai yang masih terutang sampai

dengan tanggal pemutusan hubungan kerja, dengan mengajukan daftar tersebut kepada LPS untuk mendapat persetujuan pembayaran; 3) membayar gaji pegawai terutang dengan menggunakan dana

talangan dari LPS, setelah mendapat persetujuan LPS 4) membuat daftar pesangon pegawai yang jumlahnya diatur

dalam peraturan perundang-undangan, dan mengajukan daftar tersebut kepada LPS untuk mendapat persetujuan pembayaran; dan 5) melakukan pembayaran pesangon pegawai dengan

menggunakan dana talangan dari LPS, setelah mendapat persetujuan LPS. c. membantu kelancaran pelaksanaan penjaminan simpanan nasabah, antara lain: 1) membantu proses verifikasi simpanan nasabah; dan 2) memberikan data dan informasi yang diperlukan oleh LPS dan bank Bagaimana cara melikuidasi suatu bank telah diatur dalam ketentuan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, yang menetapkan bahwa likuidasi suatu bank dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:161 a. Dilakukan dengan cara pencairan asset dan/atau penagihan piutang kepada para debitur diikuti dengan pembayaran kewajiban bank kepada para kreditor dari hasil pencairan dan/atau penagihan tersebut; atau b. Dilakukan dengan cara pengalihan asset dan kewajiban bank kepada pihak lain berdasarkan persetujuan LPS.

161

Ibid., hlm 551.

96

Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 mengatur pula mengenai bagaimana cara-cara likuidasi bank. Menurut ketentuan dalam Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun1999, bahwa likuidasi bank dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :162 a. Dilakukan dengan cara pencairan harta dan atau penagihan piutang kepada para debitur, diikuti dengan pembayaran kewajiban bank kepada para kreditor dari hasil pencairan dan/atau penagihan tersebut; atau b. Dilakukan dengan cara pengalihan seluruh harta dan kewajiban bank kepada pihak lain yang disetujui Bank Indonesia, yaitu pengalihan atau penjualan aset dan kewajiban bank secara paket (bulk). Dari ketentuan di atas dapat diketahui terdapat dua cara untuk melakukan likuidasi bank, yaitu pertama, dilakukan dengan cara pencairan aset dan/atau penagihan piutang diikuti dengan pembayaran kewajiban bank; dan kedua, dilakukan dengan cara pengalihan seluruh aset dan kewajiban bank kepada pihak lain. Di antara kedua cara ini, pada umumnya cara yang pertama yang sering dipilih untuk melakukan likuidasi bank dari pada cara yang kedua.163

B. Dampak Status Hukum Direksi dan Dewan Komisaris Bank dalam Likuidasi terhadap Perbankan di Indonesia Sejak terbentuknya tim likuidasi, anggota direksi dan dewan komisaris dari Bank dalam likuidasi dinonaktifkan sampai selesainya pelaksanaan likuidasi banknya. Pasal 47 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang

Lembaga Penjamin Simpanan ditentukan bahwa sejak terbentuknya tim likuidasi,
162 163

Ibid. Ibid., hlm 552.

97

direksi dan dewan komisaris bank dalam likuidasi menjadi nonaktif namun demikian mereka masih mempunyai kewajiban dan larangan tertentu dalam rangka pemenuhan kelancaran tugas tim likuidasi, tidak terkecuali pegawai dan mantan pegawai bank dalam likuidasi, yaitu berkewajiban untuk setiap saat membantu memberikan segala data dan informasi yang diperlukan oleh tim likuidasi. Ditentukan pula bahwa pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris, dan pegawai dan mantan pegawai bank dalam likuidasi dilarang secara langsung atau tidak langsung menghambat proses likuidasi. Demikian kewajiban dan larangan pemegang saham, direksi, dewan komisaris, dan pegawai dan mantan pegawai bank dalam likuidasi selama proses likuidasi di tentukan dalam ketentuan Pasal 47 ayat (2) dan ayt (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.164 Kewajiban dan larangan mana dipertegaskan lagi dalam ketentuan Pasal 8 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 02/PLPS/ 2008, yang menetapkan sebagai berikut.165 a. Dengan terbentuknya tim likuidasi: 1) Seluruh tanggung jawab dan kepengurusan bank dalam

likuidasi dilaksanakan oleh tim likuidasi; dan 2) Direksi dan dewan Komisaris: a) menjadi nonaktif, kecuali untuk menyelsaikan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1);

164 165

Ibid., hlm 547. Ibid.

98

b) tidak diperkenankan mengundurkan diri sebelum likuidasi bank selesai, kecuali atas persetujuan LPS; dan c) tidak berhak menerima penghasilan dalam bentuk apapun dari bank dalam likuidasi b. pemegang saham, direksi, dewan komisaris, serta pegawai dan mantan

pegawai bank dalam likuidasi berkewajiban untuk setiap saat membantu memberikan segala data dan informasi selain itu, dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, anggota tim likuidasi, baik secara sendiri-sendiri atau bersama dilarang melakukan tindakan untuk keuntungan diri sendiri atau pihak lain yang tidak berhak, dan bertanggung jawab secara pribadi apabila dalam melaksanakan tugasnya melakukan pelanggaran.166 BAB IV PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH BANK LIKUIDASI DI HUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERBANKAN

A. Pelaksanaan Bank Likuidasi terhadap Nasabah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, yang memiliki kewenangan untuk menerbitkan dan mencabut izin usaha bank adalah Menteri Keuangan berdasarkan rekomendasi dari Bank Indonesia. Berdasarkan pengalaman tersebut, dan beberapa negara lain, tampaknya kegiatan perbankan tidak
166

Ibid., hlm 548.

98

99

bisa seluruhnya diserahkan kepada mekanisme pasar, karena kenyataannya pasar tidak selalu mampu membetulkan dirinya sendiri (self correcting) bila terjadi sesuatu diluar dugaan.167 Oleh karena itu, dukungan kontrol terhadap aktivitas perbankan oleh BI dengan kewajiban melaksanakan prinsip kehati-hatian merupakan solusi terbaik dalam rangka menjaga dan mempertahankan eksistensi perbankan, yang pada akhirnya akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada industri perbankan itu sendiri.168 Demikianlah kemudian bagian Umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dinyatakan, agar pembinaan dan pengawasan bank dapat terlaksana secara efektif, kewenangan dan tanggung jawab mengenai perizinan bank, yang semula berada di Mentri keuangan, menjadi berada pada Pimpinan Bank Indonesia sehingga Bank Indonesia memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang utuh untuk menetapkan perizinan, pembinaan, dan pengawasan bank serta pengenaan sanksi terhadap bank yang tidak mematuhi peraturan perbankan yang berlaku.169 Ditutupnya kegiatan usaha bank telah memberikan dampak kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank. Salah satu upaya untuk tetap

mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan, yaitu melalui asuransi deposito yang dalam pengertian Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan disebut sebagai Lembaga Penjamin Simpanan.Lembaga ini merupakan suatu badan hukum yang menyelenggarakan kegiatan penjaminan atas
Heru Supratomo., Analisis Ekonomi terhadap Hukum Perbankan”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 1/1997, Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, Jakarta, hlm. 63. 168 Adrian Sutedi., Hukum Perbankan…Op. Cit., hlm. 131 169 Ibid., hlm 132.
167

100

simpanan nasabah penyimpan, melalui skim asuransi, dana penyangga, atau skim lainnya. Melihat tujuannya maka lembaga tersebut sangat diperlukan dalam rangka melindungi kepentingan nasabah serta usaha untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan.170 Indonesia Lembaga Penjamin Simpanan ini baru dikenal pada tahun 1973 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1973 tentang Jaminan Simpanan Uang pada bank. Latar belakang dikeluarkannya peraturan tersebut, yaitu untuk meningkatkan minat masyarakat berhubungan denngan lembaga

perbankan.Ketentuan Peraturan Pemerintah mengenai Asuransi Deposito tersebut sangatlah ideal, yaitu:171 1. semua bank kecuali bank asing diwajibkan mejaminkan simpanan uang pihak ketiga, baik yang berupa giro, deposito, maupun tabungan. 2. penyelenggara jaminan, yaitu Bank Indonesia, dengan tugas menjamin simpanan uang pihak ketiga yang terdaftar pada bank terjamin atas nama perorangan, perkumpulan, dan tabungan milik pemerintah dan bank; memungut permi jaminan, dan bertindak sebagai pengampu dan atau likuidator. Adapun jumlah yang dijamin terbatas, setinggi-tingginya Rp.1.000.000,00.tetapi dewan moneter dapat mengubah jumlah besarnya yang dijamin tersebut, sedangkan premi jaminan ditentukan 5 per mil/tahun dengan diperhitungkan terhadap
Lembaga Penjamin Simpanan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, baru dapat terlaksana pembentukannya pada tahun 2004 dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Muhamad Djumhana., Hukum Perbankan…Op. Cit., hlm. 142. 171 Ibid., hlm. 143.
170

101

seluruh jumlah simpanan pada bank terjamin. Namun, sayangnya ketentuan mengenai jaminan simpanan (asuransi deposito) belum pernah dilaksanakan.172 Penyelenggaraan lembaga asuransi deposito sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1973 secara yuridis didasarkan atas ketentuan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral dan ketentuan Pasal 31 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan. Adapun pelaksana dari lembaga asuransi deposito ini adalah Bank Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada pemikiran agar efektivitas dan efisiensi dari penyelenggaraan usaha termaksud dapat lebih terjamin jika pelaksanaannya dikaitkan dengan kewenangan yang telah diberikan kepada Bank Indonesia melelui ketentuan Pasa 31 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan, yaitu untuk mengetur dan menjaga likuiditas dan solvabiolitas bank.173 Kegiatan lemabaga penjaminan tersebut ternyata tidak efektif, bahkan sepertinya tidak dilaksankan. Keberadaan lembaga tersebut tidak dilanjutkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sehingga sewaktu terjadinya likuidasi empat belas bank pada bulan November 1997 tidak dapat diselsaikan oleh suatu lembaga penjamin sehingga mengakibatkan turunnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan. Hal demikian disadari oleh pemerintah sehingga tidak lama kemudian pemerintah melakukan pembayaran uang nasabah dari bank yang terlikuidasi, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 26

172 173

Ibid. Ibid., hlm.144.

102

Tahun 1998 tentang Jaminan terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum. Tindakan demikian merupakan tindakan pemerintah yang bersifat cash program, ditujukan untuk menghindarkan semakin buruknya perekonomian nasional. Penjaminan pembayaran dana nasabah sebagaimana diatur dalam keputusan presiden tersebut bersifat sementara hanya berlangsung sampai 26 Januari 2000. Langkah konkret lainnya dalam rangka menunjang maksud dari Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998, maka pemerintah membentuk perusahaan perseroan (persero) di bidang penjaminan kewajiban bank sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 1998 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (persero) di bidang Penjaminan Kewajiban Bank tanggal 22 April 1998. Maksud dan tujuan dari didirikannya perusahaan tersebut, yaittu untuk menyelenggarakan:174 1. 2. 3. 4. penjaminan Pendirian persero yang bergerak di bidang penjaminan tersebut sangatlah mempunyai nilai startegis yang tinggi dalam rangka penyehatan perbankan. Namun, saat ini gerak dan kegiatan usaha dari persero tersebut belum menampakan Penjaminan simpanan masyarakat pada bank; Penjaminan kewajiban bank lainnya di luar simpanan; Pemupukan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan; Usaha-Usaha lain yang menunjang kegiatan dalam rangka

174

Ibid.

103

sebagaimana diharapkan. Hal itu mungkin karena gerak mereka belum memiliki sandaran aturannya di dalam peraturan perbankan.175 Sejalan dengan program perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan dilandasi kesadaran begitu pentingnya sandaran hukum mengenai Lembaga Penjamin Simpanan (asuransi deposito) maka pada UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998 diatur adanya kewajiban setiap bank untuk menjamin dana masyarakat. Ktentuan Pasal 37B mengatur:176 1. Setiap bank wajib menjamin dana masyarakat yang disimpan

pada bank yang bersangkutan. 2. 3. Pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan. mekanisme Penjaminan dana masyarakat dan

kelembagaannya akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah Pokok-pokok yang akan diatur dalam peraturan pemerintah akan memuat, antara lain, pemebentukan lembaga penjamin; struktur organisasi; pilihan skim penjaminan, dan kewajiban bank untuk menjadi anggota. Skim yang dapat digunakan pleh Lembaga Penjamin Simpanan ini dapat berupa: skim dana bersama, skim asuransi, dan skim lainnya yang disetujui oleh Bank Indonesia.177 Langkah-langkah penjaminan oleh pemerintah dengan model penjaminan seluruh kewajiban bank (balnket guarantee), seperti yang dilakukan oleh pemerintah pada saat lalu, sudah tidak dapat dilaksanakn. Akhirnya pada tahun 2004 dibentuk
175 176

Ibid., hlm145. Ibid. 177 Ibid.

104

Lembaga Penjamin Simpanan berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, yang kemudian di antaranya ditindaklanjuti dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2005 tentang Modal Awal Lembaga Penjamin Simpanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2005 tentang penjaminan Simpanan Nasabah Bank Bedasarkan Prinsip Syariah.178 Lembaga Penjamin Simpanan merupakan badan hukum yang mempunyai kedudukan sebagai lembaga yang independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksankan tugas dan wewenangnya. Fungsi dari Lembaga Penjamin Simpanan, yaitu merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan; merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelsaian bank gagal (bank resolution) yang tidak berdampak sistemik.179 Berdasarkan dalam rangka melaksankan tugas sebagaimana di atas, Lembaga Penjamin Simpanan mempunyai wewenang:180 1. penjaminan 2. menetapkan dan memungut kontribusi pada Menetapkan dan memungut premi

saat bank pertama kali menjadi peserta. 3. kewajiban LPS melakukan pengelolaan kekayaan dan

Ibid. Ibid.,hlm. 146. 180 Lihat ketentuan Pasal 6 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.
179

178

105

4.

mendapatkan data simpanan nasabh, data

kesehatan bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar kerahasiaan bank. 5. melakuakan rekonsiliasi, verifikasi, dan/atau

konfirmasi atas data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank. 6. pembayaran klaim. 7. menunjuk, menguasakan, dan/atau menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan

menugaskan pihak lain untuk bertindak bagi kepentingan dan /atau atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas tertentu 8. Melakukan penyuluhan kepada bank dan

masyarakat tentang penjaminan simpanan; dan 9. menjatuhkan sanksi administratif. Selain kewenangan di atas, Lembaga Penjamin Simpanan juga dapat melakuakan penyelsaian dan penanganan bank gagal, yaitu meliputi pengambilalihan dan menjalankan segala hak dan wewenang pemegang saham, termasuk hak dan wewenang RUPS; menguasai dan mengelola aset dan kewajiban bank gagal yang diselamatkan, meninjau ulang, membatalkan, mengakhiri, dan atau mengubah setiap kontrak yang mengikat bank gagal yang diselamatkan dengan pihak ketiga yang

106

merugikan bank; serta menjual dan/atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan debitur dan/atau kewajiban bank tanpa persetujuan kreditur.181 Kewenangan yang dimiliki Lembaga Penjamin Simpanan tersebut

dimaksudkan agar dengan dilakukannya pengambilalihan segala hak dan wewenang pemagang saham, termasuk hak dan wewenang RUPS, LPS dapat melakuakn pemberesan aset dan kewajiban dari bank yang dicabut izinnya oleh Lembaga Pengawas Perbankan (untuk saat ini oleh Bank Indonesia). Kewenangan melakukan pemberesan aset dan kewajiban dimaksudkan untuk memaksimalkan pengembalian (recovery) dana penjaminan. Disamping itu, dengan kewenangan yang sama LPS dapat melakukan pengelolaan dan pengurusan bank yang diputuskan untuk diselamatkan.182 Lembaga Penjamin Simpanan dapat menguasai, mengelola, dan melakukan tindakan kepemilikan seperti halnya sebagai pemilik. Sedangkan dalam hal peninjauan ulang, pembatalan, pengakhiran, dan/atau perubahan kontrak oleh LPS tersebut menimbulkan kerugian bagi suatu pihak. Pihak tersebut hanya dapat menutut penggantian yang tidak melebihi nilai manfaat yang telah diperoleh dari kontrak dimaksud setelah terlebih dahulu membuktikan secara nyata dan jelas kerugian yang dialaminya.183 Seluruh kewenangan yang cukup besar yang dimiliki Lembaga Penjamin Simpanan karena fungsinya yang sangat penting dari lembaga tersebut, yaitu
181 182

Ibid., hlm147. Ibid. 183 Ibid.

107

menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelsaian atau penanganan bank-gagal. Fungsi yang berat tersebut diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan dapat meminimumkan risiko yang membebani anggaran negara atau risiko yang menimbulkan moral hazard.184 Beberapa cara usaha pelaksanan bank dalam mengatasi likuidasi antara lain:185 1. Merger ini dimaksudkan adalah sebagai suatu ”fusi”

atau ”absorpsi” dari suatu benda atau hak kepada benda atau hak lainnya. Undang-Undang Perseroan Terbatas menggunakan istilah

”penggabungan” untuk pengertian merger ini. Secara umum dapat dikatakan, bahwa dalam hal ini, fusi atau absorpsi teraebut dilakukan oleh suatu subjek yang kurang penting dengan subjek lain yang lebih penting. Subjek yang kurang penting tersebut kemudian membubarkan diri Berdasarkan uraian di atas, merger perusahaan bank berarti 2 (dua)

perusahaan melakukan fusi, dimana salah satu diantaranya akan lenyap (dibubarkan) 2. Akuisisi adalah perbuatan memiliki harta benda

tertentu. Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas menggunakan istilah “pengambilalihan” untuk pengertian akuisisi ini. Adapun yang

dimaksudkan akuisisi dalam hubungannya dengan perusahaan bank adalah

184 185

Ibid., hlm148. Munir Fuady., Hukum Perbankan…Op. Cit., hlm.35.

108

suatu pengambilalihan kepentingan pengontrol (controlling interest) dalam perusahaan bank lain. Kata akuisisi mengandung makna ”memiliki” atau ”mengambi alih” (take over), maka untuk dapat dikatakan akuisisi perusahaan dalam arti pengambilalihan saham, pengambilalihan tersebut mestilah paling tidak pengambil alihnya dapat menjadi pemegang suara yang peling besar, sehingga dapat memutus sendiri tanpa ikut campur pihak pemegang saham lain, misalnya dengan mayoritas biasa (simple majority), yaitu minimal 51% (lima puluh satu persen) dari seluruh saham perusahaan yang diambiil alih. Berbeda dengan merger, pada kasus akuisis, tidak ada perusahaan bannk yang melebur ke perusahaan lainnya. Jadi, setelah terjadi akuisisi, kedua perusahaan bank masih tetap exsit, hanya kepemilikannya yang telah berubah. 3. Konsolidasi, Undang-Undang Perseroan Terbatas

menggunakan istilah “peleburan” untuk pengertian konsolidasi ini. Pranata ”konsolidasi ini kurang populer dalam praktek dan kurang banyak diminati orang. Konsolidasi perusahaan bank terjadi jika sebuah perusahaan bank baru dibentuk untuk mengambil alih net-aset dari 2 (dua) perusahaan bank lainnya yang telah dikombinasi.

109

Konsolidasi adalah suatu proses dimana 2 (dua) atau lebih perusahaan bank meleburkan diri dan dalam proses tersebut juga dibentuk suatu perusahaan bank baru, yang mengambil alih aset-aset dan mengasumsi (mengambil alih) kewajiban dari kedua atau lebih perusahaan bank yang meleburkan diri tersebut.

B. Pelaksanaan Perlindungan Nasabah terhadap Bank Likuidasi Pada tanggal 22 September 2004 disahkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan sebagai dasar hukum pemerintah untuk membentuk Lemabaga Penjamin Simpanan sebagai pengganti program penjamin pemerintah. Undang-undang Lembaga Penjamin Simpanan itu ditetapkan penjaminan simpanan nasabah bank, yang diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan dapat meminimumkan risiko yang membebani anggaran negara atau risiko yang menimbulkan moral hazard. Penjamin simpanan nasabah bank tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang dibentuk oleh pemerintah sebagai badan hukum berdasarkan undang-undang Lembaga Penjamin Simpanan. LPS sendiri memiliki dua fungsi yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelsaian atau penanganan bank gagal.186 Penjaminan simpanan nasabah bank yang dilakukan LPS bersifat terbatas tetapi dapat mencakup sebanyak-banyaknya nasabah. Setiap bank yang menjalankan usahanya di Indonesia diwajibkan untuk menjadi peserta penjaminan dan membayar
186

Djoni S. Gazali dan Rachmadi Usman., Hukum Perbankan…Op. Cit., hlm.573

110

premi penjaminan. Apabila bank tidak dapat melanjutkan usahanya dan harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar simpanan setiap nasabah bank tersebut terlebih dahulu sampai jumlah tertentu. Adapun simpanan yang tidak dijamin akan diselsaikan melelui proses likuidasi bank.187 Pemebentukan LPS ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Ketentuan dalam Pasal 37 B Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan menetapkan bahwa setiap bank wajib menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan. Untuk menjamin simpanan masyarakat dibentuk Lemabaga Penjamin Simpanan (LPS) yang berbentuk badan hukum dan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pembentukan LPS terasebut dimaksudkan untuk melindungi kepentingan nasabah dan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada bank.188 Indonesia dalam rangka untuk mendukung sistem perbankan nasional yang sehat dan stabil, maka dilakukan penyempurnaan terhadap program penjaminan simpanan nasabah bank dengan membentuk suatu lembaga yang independent yang diberi tugas dan wewenang untuk melaksanakan program penjaminan simpanan nasabah bank dimaksud yaitu LPS. Pembentukan LPS ini merupakan pelaksanaan amanat dari ketentuan dalam Pasal 37 B Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992

187 188

Ibid. Ibid.

111

sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.189 Pendirian LPS, idealnya dengan kewenangan sebagaimana dimiliki oleh Federal Deposit Insurance (FDIC),190 pembentukan lembaga penjamin simpanan haruslah berdasarkan undang-undang. Pasal 37B Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan tersebut, dilaksanakan dengan undang-undang, yaitu UndangUndang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.191 Ketentuan dalam Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan fungsi dan tugas LPS. Fungsi LPS adalah menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Kemudian Pasal 96 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan, bahwa LPS melaksankan fungsi penjaminan tersebut bagi bank berdasarkan prinsip syariah, yang lebih lanjut ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.192

Ibid., hlm 574. Misi Federal Deposit Insurance (FDIC) adalah memelihara stabilitas dari sistem keuangan negara dengan cara mengasuransikan para deposan bank dan mengurangi gangguangangguan terhadap ekonomi negara yang disebabkan oleh karena kegagalan –kegagalan yang dialami oleh perbankan. Ibid.,hlm 574. 191 Ibid.,hlm.575 192 Ibid.
190

189

112

1. Nasabah

Identifikasi Nasabah dan Prinsip Mengenal

perlindungan terhadap nasabah menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, terdapat dalam Pasal 29 Ayat (2),(3), dan (4) tentang prinsip kehati-hatian yang mengharuskan pihak bank untuk selalu konsisten dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan di bidang perbankan berdasarkan profesionalisme dan itikad baik.193 Ketentuan Pasal 29 Ayat (2),(3) dan (4) antara lain:194 (2) Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehatihatian. (3) Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank. (4) untuk kepentingan nasabah, bank wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi nasabah yang dilakukan nasabah. Ketentuan prinsip mengenal nasabah (know your customer principles) ini perlu dikemukakan, karena seluruh nasabah, apa pun jenisnya dan dalam transaksi apa pun yang dilakukan dengan bank, wajib dilakukan identifikasi oleh bank berdasarkan prinsip mengenal nasabah, dengan demikian, baik bank maupun nasabah mengetahui aspek hukum berkaitan dengan hal dimaksud pada akhirnya kedua belah

193 194

Hermansyah., Hukum Perbankan…Op. Cit., hlm. 146. Muhamad Djumhana., Hukum Perbankan… Op.Cit., hlm.665

113

pihak dapat memahami fungsi dan kewajiban masing-masing dalam bertransaksi dengan bank.195 Banyak aspek yang terkandung dalam prinsip mengenal nasabah. Namun demikian, dalam hal ini pokok-pokok yang perlu diperhatikan berkaitan dengan hal dimaksud di atas. Apabila berkehendak untuk mengkaji lebih dalam berkaitan dengan prinsip mengenal nasabah, paling tidak mengetahui ketentuan yang mengatur.196 e. Dasar ketentuan mengenal nasabah Ketentuan yeng mengatur mengenai prinsip mengenal nasabah (know your customer principles) khusus di bidang perbankan, antara lain sebagai berikut:197 a. Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/10/PBI/2001 tentang penerapan prinsip mengenal nasabah sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 5/23/2003. b. Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/23/PBI/2001 tentang Perubahan atau PBI Nomor 3/10/PBI/2001tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah

(KnowYour Customer Principles) c. Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/21/PBI/2003 tentang Perubahan kedua atas PBI Nomor 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principle) d. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/29/PBI/DPNP/2001 tentang Pedoman Standar Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah.

195 196

Try Widiyono., Aspek Hukum…Op.Cit., hlm. 77. Ibid. 197 Ibid.

114

e. Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/23/PBI/2003 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principle) bagi Bank Perkeriditan Rakyat. f. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 5/32/DPNP/2003 tentang Perubahan atas SE BI nomor 3/29/DPNP/2001 tanggal 13 Desember 2004 tentang Pedoman Standar Penerapan Prinsip mengenal nasabah. g. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/19/DPBPR/2004 tentang Pedoman Standar Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your

CustomerPrinciples) bagi Bank Perkeriditan Rakyat. f. Identifikasi Nasabah dan Persyaratan NPWP Bagi lembaga keuangan, termasuk bank, wajib melakukan identifikasi terhadap nasabah, yang antara lain mengenai identitas diri dan buktinya, keuangan serta motif transaksi, dan lain-lain yang diformulasikan dalam CIF (Customer Identification File) atau file data nasabah yang disimpan pada bank.198 Kewajiban identifikasi nasabah ini tidak dibedakan antara nasabah apapun, apakah nasabah giro, tabungan dan atau kredit. Khusus untuk working customer (nasabah lepas/nasabah yang tidak mempunyai rekening di bank ) terdapat ketentuan yang lebih lunak, yaitu bagi nasabah lepas yang nilai transaksinya tidak melebihi Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah) atau nilai yang setara dengan itu (vide Pasal 17 Peraturan Bank Indonesia Nomor 3 /10/PBI/2001 tanggal 18 juni 2001 tentang

198

Ibid., hlm 78.

115

Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah misalnya dalam transaksi transfer dan atau travele’ss cheque.199 Penerimaan nasabah secara garis besar dibagi menjadi dua golongan, yaitu untuk rekening perorangan dan rekening badan.200 a. 1) Rekening Perorangan pengisian formulir standar yang ditetapkan oleh bank

sekurang-kurangnya memuat hal-hal berikut. a) Nama, tempat dan tanggal lahir, alamat serta kewarganegaraan yang dibuktikan dengan karu tanda penduduk (KTP), SIM atau paspor dan dilengkapi dengan informasi mengenai alamat tinggal tetap apabila berbeda dengan paspor, dibuktikan dengan Kartu Izin menetap Sementara (KIMS/KITAS) atau Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). b) Alamat dan norma telpon tempat bekerja yang dilengkapi dengan keterangan mengenai kegiatan usaha perusahaan /instansi tempat bekerja. c) Keterangan mengenai pekerjaan dan penghasilan. Dalam hal calon nasabah tidak memiliki pekerjaan, maka data yang diperlukan adalah sumber pendapatan d) Keterangan mengenai sumber dan tujuan penggunaan dana. e) Spesimen tanda tangan. 2) apabila diperlukan, bank dapat meminta informasi lain.

199 200

Ibid. Ibid.

116

3)

Khusus untuk calon nasabah yang melakukan pembukaan

rekening melalui telpon, surat-menyurat atau electronic banking wajib melakukan pertemuan dengan calon nasabah sebelum pembukaan rekening tersebut. 4) Persyaratan tersebut berlaku juga untuk pembukaan rekening

joint account dan calon nasabah selaku perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain (beneficial owner) berupa berikut ini: a) perorangan: informasi sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perorangan, bukti penugasan atau kewenangan bertindak dan kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner. b) Badan: informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perusahaan, kecuali lembaga pemerintah, lembaga Internasional dan perwakilan negara asing, bukti penugasan atau kewenangan bertindak, dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili perusahaan, dokumen identitas pemegang saham pengendali perusahaan dan pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari benefical owner. b. 1) Badan Perusahaan yng tergolong kecil

Berdasar ketentuan KYC tidak diatur mengenai klasifikasi suatu perusahaan termasuk golongan perusahaan kecil atau besar. Oleh karena itu, besar dan

117

kecilnya perusahaan tersebut dapat diatur dalam lkebijakan prinsip mengenal nasabah yang ditetapkan oleh direksi bank yang bersangkutan, serta kelengkapannya seperti berikut ini a) sekurang-kurangnya mengisi formulir standar, yang memuat

(1) status hukum dari usaha serta bukti akta pendirian dan anggaran dasar; (2) izin usaha ( antara lain SIUP, SITU) (3) nama, sepesimen tanda tangan dan kuasa kepada pihak yang ditunjuk (4) alamat perusahaan, nomor telpon dan atau nomor faksimili (5) keterangan mengenai sumber dan tujuan penggunaan dana (6) negara asal dalam hal perusahaan dimaksud berbentuk badan hukum asing b) Bank dapat meminta tambahan dokumen lain dan dapat

meminta informasi kepada calon nasabah mengenai hubungan dengan bank lain. c) Persyaratan tersebut berlaku juga untuk pembukaan rekening

joint account dan calon nasabah selaku perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain (beneficial owner). Dalam hal ini, bank wajib meminta informasi berkaitan dengan beneficial owner , yang pada prinsipnya sebagaimana telah diuraikan diatas. 2) Perusahaan yang tergolong besar

118

Untuk perusahaan yang tergolong besar, pengisian formulir sebagaimana uraian data untuk perusahaan yang tergolong kecil, namun terdapat penambahan. a) Persetujuan dari pejabat bank yang khusus menangani

nasabah besar, yang mempunyai risiko tinggi atau yang dimiliki oleh penyelenggara negara. b) Adanya NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) bagi nasabah

yang diwajibkan untuk memiliki NPWP. Apabila saat mengajukan permohonan belum memiliki NPWP, maka calon nasabah wajib membuat pernyataan bahwa yang bersangkutan merupakan pihak yang tidak wajib memiiki NPWP. c) Adanya laporan keuangan atau deskripsi bidang usaha yang

mencakup profil pelanggan, alamat tempat kegiatan usaha dan nomor telpon d) Struktur manajemen e) Dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili

perusahaan (misalnya KTP, Paspor atau SIM) f) bertindak g) Keterangan sumber serta penggunaan dana dan tujuan Nama, Spesimen tanda tangan dan kuasa/kewenangan

penggunaan dana.

119

h)

Persyaratan tersebut berlaku juga untuk pembukaan rekening

joint account dan calon nasabah selaku perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain (benifical owner). Dalam hal ini, bank wajib meminta informasi berkaitan dengan benefical owner, yang pada prinsipnya sebagaimana telah diuraikan di atas 3) negara asing Untuk lembaga pemerintah, lembaga internasional dan perwakilan negara asing wajib mengisi formulir standar yang sekurang-kurangnya memuat a) nama dan sepesimen tanda tangan yang harus dibuktikan Lembaga Pemerintah, lembaga Internasional, dan perwakilan

dengan identitas berupa KTP, paspor atau SIM. b) Surat penunjukan bagi pihak yang berwenang mewakili

lembaga dalam melakukan hubungan usaha dengan bank. c) Keterangan mengenai asal negara lembaga dimaksud dan

keterangan mengenai sumber dan tujuan penggunaan dana apabila diperlukan. 4) Bank Bank wajib mengisi formulir standar, yang minimal memuat: a) b) akta pendirian, anggaran dasar atau dokumen sejenis izin usaha dari instansi yang berwenang

120

c)

nama dan specimen tanda tangan dan kuasa atau surat

penujukan kepada pihak lain yang ditunjuk d) alamat usaha.

Adapun pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Penerapan Pasal 18 Ayat (1) dan (2) tersebut paling tidak akan nampak pada formulir-formulir yang digunakan dalam melakukan transaksi antar bank dengan nasabah. Guna memberikan kemudahan bagi nasabah perbankan dalam membuat perjanjian dengan bank sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Perlindungan Konsumen, maka bank telah menyediakan berbagai jenis formulir, baik dalam bidang dana, bidang jasa maupun dalam bidang kredit. Penyediaan formulir oleh bank tersebut dalam Undang-Undang Perlindungan konsumen disebut sebagai klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah

dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatau dokumen dan atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.201 Banyak alasan untuk menjawab bahwa bank selalu menyediakan formulir untuk setiap hubungan hukum dengan nasabah. Hal ini dengan alasan berikut ini:202 1. Untuk mempercepat sistem pelayanan sebab tidak mungkin setiap nasabah harus membuat dan menegosiasikan setiap transaksi dengan bank.

201 202

Try Widiyono, Aspek Hukum… Op.cit., hlm. 67 Ibid., hlm 68.

121

2. Formulir tersebut antara lain memuat berbagai peraturan penting yang berkaitan dan berlaku dalam hubungan hukum antara nasabah dangan bank. 3. Memudahkan nasabah mengetahui peraturan apa saja dan mana saja yang berlaku dalam hubungan hukum dengan bank 4. Tidak semua pegawai bank mengetahui mengenai hukum yang berlaku atas suatu produk. Dengan penyediaan formulir yang dibuat oleh bagian hukum, maka pegawai lain di kantor cabang dapat dengan mudah menyediakan formulir tanpa harus berkonsultasi pada bagian hukum. Hal ini membantu mempercepat pelayanan. 5. Fungsi bank sebagai intermediary dengan formulir yang dibuat secara hatihati tersebut dapat mengamankan dana masyarakat yang dikelola bank Formulir-formulir tersebut seluruhnya dibuat secara sepihak olehh bank akan tetapi, pada formulir tertentu, misalnya formulir aplikasi permohonan

pemindahbukuan atau transfer bagi nasabah-nasabah korporasi (nasabah besar) dimungkinkan untuk membuat aplikasi formulir tersendiri, yang dibuat oleh nasabah yang bersangkutan, dengan syarat formulir tersebut dapat diterima oleh bank. Artinya, atas formulir yang dibuat nasabah, bank berhak untuk menolak penggunaan formulir tersebut. Formulir-formulir yang dibolehkan biasanya formulir untuk trnsaksi yang mengandung risiko kecil yang memang dibolehkan oleh formulir perjanjian pada produk tersebut. Dengan demikian hakikatnya seluruh formulir yang

122

digunakan dalam hubungan hukum antara nasabah dengan bank selalu menggunakan formulir yang disediakan secara sepihak oleh bank.203 Perubahan suatu formulir adalah kewenangan direksi. Oleh karena itu, untuk mengubah suatu klasula baku yang telah dibuat dan disediakan oleh bank harus melalui persetujuan direksi. Sulit bagi seorang nasabah, apalagi nasabah ritel untuk mengusulkan suatu perubahan atas klasula baku yang telah dibuat dan disediakan bank untuk nasabah, walaupun hakikatnya dimungkinkan.204 Formulir tersebut mendapat perhatian dalam uraian ini karena beberapa hal sebagai berikut:205 b. Dasar hubungan hukum antara nasabah dengan bank

akan tercermin dalam perjanjian yang mereka buat. Perjanjian tersebut selalu dibuat dan disediakan secara sepihak oleh bank. Hal ini memungkinkan bahwa bank membuat formulir-formulir perjanjian tersebut tidak seimbang, yang dapat merugikan konsumen/nasabah. Sebagai pembuat draft perjanjian yang tidak melibatkan nasabah, bank secara manusiawi akan cenderung protektif terhadap dirinya sendiri. Hal ini menyangkut segi kepraktisan karena tidak mungkin bank membuat perjanjian yang berbeda-beda antara nasabah yang satu dengan yang lain. c. umumnya
203 204

nasabah yang akan berhubungan dengan bank pada tidak memperhatikan isi dari formulir-formulir yang akan

Ibid. Ibid., hlm 69. 205 Ibid.

123

ditandatanganinya. Mereka percaya pada bank atau paling tidak “tidak kuasa” untuk menolak formulir yang disodorkan oleh bank karena tidak mungkin nasabah membuat draft perjanjian tersebut. d. nasabah tidak mendapatkan informasi yang

cukupbmengenai isi formulir tersebut. Nasabah sering tidak memahami dengan maksud dan isi dari formulir atau perjanjian yang dibuat secara sepihak oleh bank. Tulisan-tulisan sangat kecil dan rumit untuk dipahami, sehingga ketika terjadi dispute, nasabah mungkin akan dirugikan. Secara yuridis formal, dalam membuat suatu perjanjian harus memenuhi asas perjanjian sebagai syarat sahnya suatu perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu sepakat mereka yang mengikatkan diri, kecakapan untuk membuat perikatan, suatu hal tertentu dan suatu sebab halal disamping itu, terdapat asas lain dalam perjanjian, yaitu asas-asas kesetaraan dalam berkontrak. Fenomena kedudukan pelaku usaha dan konsumen adalah agar terdapat suatu perjanjian yang seimbang antarkonsumen dan produsen berdasarkan asas kesetaraan berkontrak.206 Terdapat beberapa hal yang mengakibatkan lembaga perbankan tidak dapat menjalankan undang-undang tersebut, dalam arti bahwa apabila ketentuan dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dijalankan, maka akan sangat memberatkan lembaga perbankan. Memperhatikan kondisi tersebut, terdapat persoalan yang seakan-akan lembaga perbankan tidak mengindahkan hukum positif, yakni Undang-Undang Perlindungan konsumen karena
206

Ibid.

124

perjanjian yang dibuat antara nasabah dengan bank seharusnya tunduk kepada Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Hal demikian merupakan kenyataan yang kita rasakan sehari-hari dalam hubungan dengan bank. Fakta tersebut memberikan indikasi adanya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh bank dalam membuat perjanjian dengan nasabah. Sebagai hukum positif, Undang-Undang Perlindungan Konsumen bersifat memaksa dan dapat dipertahankan kepada siapa pun. Dengan adanyapelanggaran yang dilakukan oleh bank terhadap Pasal 18 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, berarti secara sosiologis terdapat “permasalahan” hukum, baik dari segi pembuatan dan atau dari segi

pelaksanaannya.207 Sifat bank yang mempunyai karakteristik berbeda dengan industri lain juga dijelaskan melalui beberapa asas dan pikiran serta perundang-undangan penjelasan ini berkaitan dengan alasan yang menjadi dasar argument oleh bank untuk menyimpangi ketentuan tersebut. Persoalan yang sering timbul dalam aplikasi Pasal 18 Ayat dan 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah perbedaan persepsi antara kedua belah pihak untuk menetapkan keseimbangan dalam berkontrak. Oleh karena itu, sering terjadi dalam suatu kontrak, terdapat anggapan subjektif bahwa perjanjian tersebut kurang atau tidak terpenuhinya keseimbangan. Hal ini dapat dilihat apabila seseorang akan berhubungan hukum dengan bank, maka nasabah /calon nasabah tersebut wajib menerima “klausula baku” yang dibuat secara sepihak oleh bank. Hal tersebut menyebabkan adanya
207

Ibid., hlm 70.

125

ketimpangan dalam perjanjian antara nasabah dengan bank, dimana nasabah sering dirugikan oleh perjanjian yang dibuat dengan pihak perbankan. Pihak nasabah sering tidak berdaya untuk mengoreksi “Klausula Baku” yang disodorkan oleh bank. Pihak nasabah tanpa pikir panjang akan menandatangani “Klausula Baku” tersebut dengan berbagai alasan, antara lain tulisannya kecil-kecil, bahasanya sulit dimengerti, terlalu rumit, tidak memahami isi “klausula Baku” tersebut, tidak sempat membaca, dan lain-lain.208 Akan tetapi, dengan alasan apa pun, setelah ditandatangani kedua belah pihak, antara nasabah dengan bank, maka hakikatnya perjanjian tersebut berlaku bagi kedua belah pihak sebagai undang-undang. Hal ini berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Pasal ini sebagai asas facta sun servanda.209 Sebagai pegangan arah dalam penjelasan sub bab ini, perlu diperhatikan beberapa batasan-batasan atas pengertian-pengertian dasar berikut ini:210 1) pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan

usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi (Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen).
208 209

Ibid. Ibid. 210 Ibid., hlm 71.

126

2)

Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan

syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen (Pasal 1 Ayat 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen). 3) Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau

jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, kleluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Penjelasan pasal ini menyatakan, didalam kepustakaan ekonomi dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemakai akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses produksi suatu produk lainnya. Pengertian konsumen dalam undang-undang ini adalah konsumen akhir. Permasalahan berkaitan dengan pengertian konsumen akhir ini bagi bank masih dapat diperdebatkan, apakah konsumen bank yang berbentuk kredit nonkonsumtif merupakan dan termasuk pengertian akhir atau bukan, karena debitur tidak menggunakan kredit yang diterimanya tersebut tidak untuk diri sendiri, tetapi untuk pihak lain. Sluijter yang uraiannya dikutip oleh Sjahdeni mengemukakan bahwa perjanjian baku bukan perjanjian, sebab kedudukan pengusaha itu (yang berhadapan dengan konsumen) adalah seperti pembentuk undang-undang swasta

127

(legi particuliere wetgever), sedangkan Pitlo menyatakan bahwa perjanjian baku sebagai perjanjian paksa (dwangcontract).211 Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pengertian klausula baku, dengan pertimbangan bahwa definisi klausula baku tersebut telah dinyatakan dalam undangundang, maka dalam pembahasan ini kita akan menggunakan pengertian formal sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang perlindungan konsumen. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagai hukum positif memang dapat dipertahankan kepada siapa pun. Akan tetapi, secara sosiologis dan analisis, suatu undang-undang harus memperhatikan segi-segi tersebut.212 Disamping itu, benturan terhadap berbagai perundang-undangan yang berlaku bagi bank harus disinkronkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tersebut. Hal demikian bertolak kepada azas bahwa bank is different, sehingga memerlukan kekhususan dalam aturan yang menyangkut perlindungan nasabahnya. Perlu dikemukakan, bahwa berdasarkan Pasal 1 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen beserta penjelasannya tersebut diatas, dinyatakan bahwa konsumen dalam undang-undang perlindungan konsumen beserta penjelasannya tersebut diatas, dinyatakan bahwa konsumen dalam undang-undang perlindungan konsumen adalah konsumen akhir. Sehubungan dengan hal tersebut timbul pertanyaan, apakah bank dalam memberikan

211 212

Ibid. Ibid., hlm 72.

128

kredit tersebut termasuk dalam kualifikasi konsumen akhir? Pertanyaan ini perlu dikemukakan, sebab kredit yang diberikan kepada nasabah hakikatnya dipergunakan oleh nasabah, antara lain untuk kegiatan proyek dan atau investasi dan atau modal kerja. Kredit tersebut dipergunakan oleh debitur dapat ditafsirkan sebagai bagian dari proses produksi. Jika hal ini benar dianggap sebagai proses produksi, maka sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 1 Ayat (2) dan penjelasannya, nasabah demikian bukan termasuk konsumen sebagaimana dimaksud dalam undang-undang perlindungan konsumen dan dengan demikian hubungan hukum antar nasabah dengan debitur tersebut tidak tunduk kepada undang-undang perlindungan konsumen.213

2. Nasabah Meninggal Dunia Keadaan Tidak Berdaya serta Keadaan Tidak Hadir a. Nasabah Meninggal Dunia 1) Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Permasalahan lain berkaitan dengan rekening simpanan adalah apabila nasabah penyimpan meninggal dunia. Pada saat nasabah dari rekening giro, tabungan deposito, sertifikat deposito (negotiable certificate deposit), save deposit box, simpanan pada kustodi; traveler’s cheque, kecuali TC blangko, dan lain-lain dengan

213

Ibid.

129

berbagai variasi dari masing-masing produk tersebut meninggal dunia, maka pada saat itu juga harta simpanannya pada bank beralih kepada ahli waris.214

2) Dasar Hukum dan Dokumen Pengambilan Simpanan Sampai dengan saat ini, belum ada kesatuan pendapat mengenai ketentuan yang mengatur/menyatakan jenis/bentuk dokumen apa yang berlaku sebagai suatu bukti tentang penetapan ahli waris. Salah satu referensi sebagai dasar hukum untuk pengambilan simpanan nasabah pada bank adalah Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan dari Mahkamah Agung 1994 jo. Surat Mahkamah Agung RI No. KMA/1036/X/1994. Sekalipun berlakunya ketentuan tersebut masih dapat diperdebatkan, status hukum dari buku tersebut berkaitan dengan kekuatan hukum publik, namun terdapat pihak yang menginterpretasikan kekuatan publik terletak pada surat Mahkamah Agung yang menegaskan bahwa agar bank dapat mempedomani ketentuan tersebut dalam pengambilan simpanan nasabahnya pada bank yang bersangkutan. Hal demikian tidak mengherankan bahwa beberapa bank besar di Indonesia mempedomani Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan dari Mahkamah Agung tersebut, hal ini dapat dilihat dari persyaratan nasabah yang meninggal dan ahli warisnya hendak mengambil simpanan.215

214

Try Widiyono ., Aspek Hukum…Op. Cit., hlm141
215

Ibid., hlm.143.

130

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pengambilan rekenning pada bank adalah surat keterangan yang dibuat oleh ahli waris sendiri dan tanda tangannya disahkan oleh notaris atau pejabat lain yang disebut dalam Pasal 1 Staatblad 1916 Nomor 46, antara lain dari ketua pengadilan negeri atau hakim yang ditunjuk atau akta yang dibuat oleh notaris, khusus bagi golongan Timur Asing Tionghoa, sesuai Staatblad 1917 Nomor 129 berlaku diseluruh RI sejak tanggal 1 September 1925. Sekalipun tetap disadari bahwa dokumen hukum yang menjadi dasar hukum tersebut masih dapat diperdebatkan.216 Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam kenyataan dimasyarakat terdapat dokumen lain sebagai bukti ahli waris yang diterbitkan oleh lemabaga yang berwenang, misalnya fatwa pengadilan agama mengenai ahli waris; penetapan pengadilan negeri mengenai ahli waris; keputusan pengadilan negeri atau keputusan penngadilan agama; akta pertolonganpembagian warisan dari pengadilan agama; dan lain sebagainya. Dokumen-dokumen ini juga merupakan dokumen penting sebagai bukti dari ahli waris yang sah.217 Sehubungan dengan adanya berbagai dokumen tersebut, maka untuk penanganan warisan yang ada pada bank (khusus nasabah penyimpan), bukti ahli waris dapat dipilih salah satu sebagaimana telah diuraikan. Artinya dokumen tersebut dapat berupa dokumen sebagaimana diuarikan pada Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan dari Mahakamah Agung atau memilih salah satu

216 217

Ibid. Ibid., hlm.144.

131

dari dokumen yang diterbitkan oleh lembaga tersebut. Dokumen tersebut tentunya masih dilengkapi dengan berbagai dokumen lain sebagai pendukung, misalnya akta kematian pewaris, hubungan hukum dengan pewaris, apakah menerima warisan berdasarkan undang-undang (ab intestato) atau berdasarkan wasiat (testamentair).218 Bagi bank, tentunya terdapat kebijakan bahwa persyaratan pengambilan warisan berupa simpanan yang masih ada di bank tersebut tidak digeneralisasi. Artinya, simpanan-simpanan yang nominalnya relatif kecil seyogyianya cukup dilengkapi dengan dokumen lain sebagai pendukung, misalnya akta kematian pewaris, hubungan hukum dengan pewaris, KTP, dan lain sebagainya.219

3) Akibat Hukum Meninggalnya Nasabah Akibat meninggalnya seseorang, maka terdapat hal-hal yang berkaitan dengan hukum yang perlu diperhatikan.220 a) Surat kuasa yang diterbitkan oleh pewaris kepada bank semasa

hidupnya, termasuk standing instruction, baik yang dibuat secara nota riil maupun di bawah tangan menjadi berakhir demi hukum, sesuai ketentuan Pasal 1813 KUHPerdata, kecuali surat kuasa yang secara tegas

menyampingkan pasal tersebut sehingga surat kuasa demikian masih tetap berlaku sesuai isinya.

218 219

Ibid. Ibid. 220 Ibid.

132

b)

Hak untuk keuntungan rekening pewaris tetap dibukukan dan

merupakan bagian dari harta peninggalan. Jika pewaris mempunyai kewajiban kepada bank, maka pada saat bank memutuskan membayar harta peninggalan yang dimaksud, kewajiban pewaris yang bersangkutan wajib

diperhitungkan/diselsaikan terlebih dahulu. c) Ahli waris yang tidak cakap hukum harus diwakili oleh wali atau

kuratornya, dengan penjelasan: (2) wali anak yang belum dewasa secara otomatis walinya

adalah orang tua yang hidup terlama (masih hidup). Jika kedua orang tuanya telah meninggal dunia, maka wali anak tersebuut harus dimintakan penetapan wali kepada pengadilan negeri. (3) Kurator adalah wakil dari orang dewasa tidak cakap

hukum, yang penujukannya berdasarkan penetapan dari pengadilan negeri. d) Untuk rekening yang menggunakan nama pewaris QQ maka berlaku

ketentuan sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan rekening QQ e) Cek dan bilyet giro yang telah diterbitkan/ditandatangani sebelum

pewaris meninggal dibayarkan, sepanjang memenuhi persyaratan mengenai berlakunya cek dan bilyet giro. f) Apabila pewaris adalah nasabah debitur, maka hubungan kredit antara

nasabah debitur tersebut dengan bank berakhir dan kewajiban debitur beralih

133

kepada ahli waris dan selanjutnya diberlakukan ketentuan-ketentuan perkreditan yang berlaku pada bank. g) Pengertian wali ini agar diperhatikan dan dapat berpedoman pada

uraian mengenai wali yang dibahas/dikemukakan pada pembahasan subab rekening.

b. Keadaan Tidak Berdaya Keadaan tidak berdaya bagi pemilik rekening simpanan adalah keadaan di mana seseorang pemilik rekening simpanan pada suatu bank mengalami yang parah dan menyebabkan yang bersangkutan tidak mampu untuk melakukan tindakan dan atau perbuatan hukum tertentu, khususnya untuk melakukan perintah kepada bank dalam transaksi tertentu. Perintah-perintah kepada bank dalam transaksi yang menyangkut suatu rekening wajib dilakukan melalui sarana dan menurut cara yang diterima dan disetujui oleh nasabah pada saat pembukaan rekening dan atau adanya pengembangan fitur produk.Sehubungan dengan pemilik rekening tersebut sakit berat, maka tindakan hukum untuk memberikan perintah kepada bank tersebut tidak mampu dilakukan oleh pemilik rekening. Pada sisi lain, simpanan yang terdapat pada bank atas nama orang yang sakit parah tersebut akan digunakan oleh keluarganya untuk membiayai ongkos berobat yang bersangkutan.221 Peristiwa di atas, tentunya dilematis, yaitu pemilik rekening tidak dapat melakukan penarikan dana (karena keadaan dirinya yang sakit parah). Keluarganya,
221

Ibid., hlm145.

134

sekalipun anak, suami atau istri si sakit, tidak mungkin juga untuk melakukan penarikan simpanannya karena yang bersangkutan tidak berwenang di sisi lain dana tersebut diperlukan untuk membiayai pemilik rekening yang sakit tersebut. Ketidakberdayaan nasabah penyimpan ini, antara lain karena sakit parah, keadaan dungu atau sakit otak (gila/tidak waras ingatan).222 Pasal 433 KUHPerdaata menyatakan bahwa setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap harus ditaruh di bawah pengampu, pun jika ia kadang-kadang cakap mempergunakan pikirannya. Selanjutnya, Pasal 434 Ayat 1 menyatakan, setiap keluarga sedarah berhak meminta pengampuan seorang keluarga sedarahnya, berdasarkan atas keadaannya dungu, sakit otak atau mata gelap. Sedangkan dalam Pasal 434 Ayat 3 dalam hal yang satu dan yang lain, seorang suami atau istri boleh meminta pengampuan akan istri atau suaminya. Pasal 436 KUHPerdata segala permintaan akan pengampuan harus di majukan kepada pengadilan negeri, yang mana dalam daerah hukumnya orang yang dimintakan pengampuannya berdiam.223 Sehubungan dengan ketentuan tersebut, dalam hal terdapat nasabah penyimpan yang mengalami keadaan yang tidak berdaya, maka bank dapat memberlakukan ketentuan tersebut dalam menyelsaikan permasalahannya, Sekalipun dalam ketentuan itu hanya mengatur mengenai keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap, tetapi dalam praktik (berdasarkan pengalaman penulis untuk memutuskan

222 223

Ibid., hlm. 146. Ibid.

135

pencairan simpanan di cabang), hakim bersedia mengeluarkan penetapan orang tersebut dan sekaligus menunjuk istrinya yang masih sehat sebagai pengampu suaminya yang sedang sakit berat. Hal ini karena dalam KUHPerdata tidak terdapat ketentuan yang tegas mengenai masalah ini. Atas hal tersebut, hakim atas permohonan pihak-pihak yang berkepentingan harus dapat memberikan solusi hukum. Atas dasar hal ini, maka hakim mengeluarkan penerapan pengampuan untuk orang yang sakit tidak berdaya dan sekaligus menunjuk keluarganya sebagai pengampu guna bertindak untuk dan atas nama pihak yang tidak berdaya dalam melakukan transaksi kepada bank, termasuk pemindah bukuan, transfer, penarikan, dan bahkan penutupan rekening simpanan pihak yang tidak berdaya itu pada bank.224 Oleh karena itu, bank harus meminta kepada keluarga dari pemilik rekening simpanan yang sakit tersebut apabila dimungkinkan dilakukan oleh suami atau istri yang masih sehat suatu penetapan hakim pengadilan negeri yang menyatakan bahwa pemilik rekening tidak dapat melakuakn perbuatan hukum untuk memberikan perintah kepada bank karena sakit parah. Apabila permohonan tersebut sekaligus diminta kepada hakim untuk menetapkan juga pihak yang berwenang untuk mewakili si sakit dalam melakukan perbuatan hukum untuk memberikan perintah apa pun juga kepada bank berkaitan dengan transaksi rekening si sakit. Pada umumnya pihak yang memohon untuk ditetapkan oleh hakim mewakili si sakit adalah istri atau suami si sakit atau anak. Atas dasar penetapan penngadilan tersebut maka pihak bank dapat

224

Ibid.

136

menerima perintah dari pihak yang diberi kuasa mewakili si sakit untuk melakukan perbuatan hukum berkaitan dengan rekening simpanan si sakit.225 Apabila keluarga dari pemilik rekening yang sakit tersebut akan memberikan surat keterangan dokter dan atau keterangan rumah sakit kepada bank yang menyatakan bahwa pemilik rekening dalam kondisi sakit parah dan tidak dapat melakukan perbuatan hukum sehingga dapat diwakili oleh keluarganya. Apabila bank menerima data ini saja, seharusnya bank menolak perintah dari keluarga si sakit tersebut karena rumah sakit atau dokter bukanlah lembaga yang dapat menetapkan seseorang dalam keadaan tidak dapat melakuakn perbuatan hukum tertentu hanyalah hakim pengadilan. Rumah sakit atau dokter dalam hal ini hanya berwenang menetapkan cakap atau tidak cakap. Namun demikian, tentunya hakim pengadilan dalam menetapkan atau menerima permohonan keluarga si sakit akan memperhatikan keterangan dari pihak rumah sakit/dokter.226 Sering sekali dihadapi oleh lembaga perbankan, yaitu keadaan di mana nasabah simpanan (nasabah dana) dan nasabah-nasabah lain yang tidak diketahui lagi tempat tinggalnya. Permasalahan demikian, bagi lembaga perbankan akan mengalami kesulitan hendak dikemanakan dana atau barang tersebut akan diserahkan. Secara sederhana memang dana atau atau barang milik nasabah tersebut dapat diserahkan kepada Balai Harta Peninggalan setelah meminta penetapan pengadilan, tetapi prosedur demikian bagi bank akan mengalami kesulitan, terutama adanya biaya yang

225 226

Ibid., hlm. 147. Ibid.

137

dikeluarkan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, bagi lembaga perbankan sering kali mengambil kebijakan sendiri-sendiri.227 Pasal 463 KUHPerdata pada intinya mengatur bahwa apabila orang tersebut tidak memberikan kuasa pada seseorang dan terdapat kepentingan-kepentingan yang harus diurus, maka atas permintaan orang yang berkepentingan atau atas permintaan jaksa, hakim untuk sementara dapat memerintahkan Balai Harta Peninggalan (Weeskamer) untuk mengurus kepentingan-kepentingan orang yang tidak hadir itu dan dimana perlu mewakili orang yang tidak hadir tersebut.228 Kekayaan orang yang bepergian itu tidak begitu besar, maka atas permintaan atau tuntutan seperti di atas atau dengan menyimpang dari permintaan atau tuntutan itu karena jabatan, pengadilan negeri, baik dengan penetapan seperti tersebut di atas atau penetapan lebih lanjut, berkuasa memerintahkan pengurus harta kekayaan dan perwakilan kepentingan-kepentingan sesorang atau lebih dari keluarga sedarah atau semenda dari yang tidak hadir, yang ditunjuk oleh pengadilan atau kepada isteri atau suaminya, dengan kewajiban satu-satunya ialah apabila si tak hadir tersebut pulang kembali, keluarga, istri atau suami tadi harus mengembalikan kepadanya harta kekayaan itu setelah dikurangi dengan segala utang yang sementara itu telah dilunasinya dan tanpa hasil-hasil atau pendapatanya.229 Pasal 464 KUHPerdata menyatakan, Balai Harta Peninggalan jika perlu setelah mengadakan penyegelan, wajib membuat daftar lengkap dari segala harta
227 228

Ibid. Ibid., hlm.148. 229 Ibid.

138

kekayaan yang pengurusnya dipercayakan kepadanya. Selanjutnya harus diindahkan peraturan-peraturan mengenai pengurusan harta kekayaan anak belum dewasa, kecuali pengadilan memerintahkan lain.230 Pasal 465 menyatakan bahwa Balai Harta Peninggalan wajib tiap tahun memberikan perhitungan tanggung jawab kepada jaksa pada pengadilan yang mengangkatnya dan memperlihatkan seluruh efek-efek dan surat-surat yang berkaitan dengan kepengurusannya. Perhitungan tersebut, jaksa boleh memajukan usul kepada pengadilan untuk kepentingan si tidak hadir.231 Pasal 467 KUHPerdata yang pada intinya menyatakaan bahwa jika seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya dan tidak memberi kuasa kepada seseorang untuk mengurus harta kekayannya, maka setelah lewat waktu 5 tahun setelah diperoleh kabar terakhir yang membuktikan bahwa ia masih hidup, atas permintaan pihak yang berkepentingan dan setelah memperoleh ijin dari pengadilan negeri boleh dipanggil untuk menghadap di muka pengadilan, jika belum juga hadir, diualngi kembali sampai dengan tiga kali. Apabila setelah pemanggilan ketiga kali tidak datang menghadap, maka atas tuntutan jaksa, pengadilan dapat menyatakan dugaan hukum bahwa ia telah meninggal dunia.232 Pasal 470 KUHPerdata menyatakan bahwa dalam hal orang yang tidak hadir tersebut meninggalkan suatu penguasaan mengurus kepentingan-kepentingannya, maka harus ditunggu salama 10 (sepuluh) tahun sejak diterimanya kabar terakhir,
230 231

Ibid. Ibid. 232 Ibid.,hlm.149

139

barulah dapat diajukan permintaan oleh para pihak yang berkepentingan dan setelah memperoleh izin dari pengadilan tempat tinggal yang ditinggalkan, dapat meminta hakim agar yang bersangkutan dianggap telah meninggal dunia. Sebelumnya, hakim terlebih dahulu wajib melakukan pemanggilan guna menghadap dimuka pengadilan yang sama yang berlaku selama tenggang waktu 3 (tiga) bulan atau lebih. Pemanggilan tersebut bisa diulangi sampai 3 (tiga) kali. Pernyataan tentang kematian atas dugaan harus diumumkan dengan surat kabar yang sama dalam mana segala pemanggilan telah diiklankan.233 Pembagian warisan orang yang tidak hadir. Berdasarkan Pasal 484 KUHPerdata, setelah lewat 30 tahun, terhitung mulai hari dan tanggal surat pernyataan yang dikeluarkan oleh hakim atau apabila orang yang dianggap telah meninggal tersebut, seandainya masih hidup dan telah berumur 100 tahun, maka para ahli waris dapat mengadakan suatu pembagian warisan yang tetap. 234

233 234

Ibid. Ibid.

140

BAB V Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan 1. Bahwa pengaturan likuidasi bank terdapat dalam Pasal 37 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, maka dalam hal ini Bank Indonesia dapat melakukan tindakan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dapat dilakukan secara alternatif ataupun kumulatif sesuai dengan kondisi bank yang bersangkutan, yaitu meliputi langkah-langkah berupa saransaran dan langkah lebih aktif, dan apabila Bank Indonesia tidak bisa melakukan tindakan penyehatan bank tidak berhasil, maka Lembaga Penjamin Simpanan masih dimungkinkan untuk melakukan tindakan penyelamatan terhadap bank dimaksud. Lembaga Penjamin Simpanan ini juga dimaksudkan untuk menjamin simpanan uang para nasabah di bank yang disebutkan dalam ketentuan Pasal 21 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan 2. Mengenai perlindungan nasabah, antara nasabah dengan bank

dibentuknya LPS ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Ketentuan dalam Pasal 37 B Undang-Undang Nomor 7 Tahun

139

141

1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan menetapkan bahwa setiap bank wajib menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan. Untuk menjamin simpanan masyarakat dibentuk Lemabaga Penjamin Simpanan (LPS) yang berbentuk badan hukum dan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Fungsi badan hukum LPS untuk melindungi dana para nasabah yang disimpan di bank yang terlikuidasi, selain itu juga pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, terdapat dalam Pasal 29 Ayat (2), (3), dan (4) tentang prinsip kehati-hatian yang mengharuskan pihak bank untuk selalu konsisten dalam melaksankan peratuaran perundang-undangan di bidang perbankan berdasarkan profesionalisme dan itikad baik.

B. Saran 1. Berdasarkan konteks penyelsaian likuidasi bank, perangkat aturan perlu dilengkapi dengan dasar hukum dan landasan operasional yang khusus diperuntukan bagi pelaksanaan program penyelsaian likuidasi bank. Peraturan yang diterapkan dalam situasi dan kondisi khusus atau darurat selayaknya berbeda dengan peraturan yang diberlakukan pada situasi normal. Landasan ketentuan tersebut hendaknya memerhatikan gradasi hierarki peraturan perundang-undangan sehingga mendukung kelancaran penerapannya. Penerapan good governance di segi regulasi berupa proses penerapan dan penegakan hukum yang baik, struktur

142

pemerintahan yang bersih, sistem pengaturan yang efisien demokratis, dan dapat dipertanggungjawabkan merupakan faktor-faktor penting yang diperlukan dalam penyelsaian krisis perbankan. Hasil pembahasan juga menyarankan suatu regulasi dapat dikatakan kuat apabila memiliki atau didukung oleh: a. unsur filsafat yang memadai b. perimbangan ilmu pengetahuan c. unsur pertimbangan ekonomi d. unsur objective atau sasaran yang jelas e. kesuaian dengan ketentuan dasar yang lebih tinggi; dan f. pemenuhan kaidah-kaidah legal drafting. 2. Mengenai konteks perlindungan nasabah pemerintah terutama Bank Indonesia dalam menjalankan tugas dan fungsi harus menjaga integritas dan itikad baik dari pihak bank tehadap nasabah yang selama ini masih menguntungkan pihak bank terutama adanya klausula baku dari pihak bank diberlakukan terhadap para nasabah

143

DAFTAR PUSTAKA

Buku : Adrian Sutedi, HUkum Perbankan Suatu Tinjauan Pencucian Uang, Merger, Likuidasi, dan Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta 2007. Bambang Soesatyo, skandal Gila Bank Century, Ufuk Press, Jakarta, 2010. Didik J.Rachbini, Ekonomi Politik – Kebijakan dan Setrategi Pembangunan, Granit Jakarta, 2004. Djoni S Gazali, Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta 2010. Djony Edward, BLBI Extraordinary Crime Satu Analisis Historis dan Kebijakan, Liks, Yogyakarta2010. Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta 2011. Kusumaningtuti, Peran Hukum dalam Penyelsaian Krisis Perbankan di Indonesia, Rajawali Pres, Jakarta 2009. Mangsa Agustinus Sipthar, Persoalan-Persoalan Perbankan Indonesi, Gorga Media, Jakarta 2007. M.Khozim, Lawrence M. Friedman Sistem Hukum Presfektif Ilmu Sosial, Nusa Media, Bandung, 2009. Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung,2006. Muhamad Djumhana, Asas-asas Hukum PerbankanIndonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008. Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Sinar Bakti, Jakarta 1988, hlm., 154.

142

144

M. Mufti Mubarok, Membongkar Kotak Hitam Century gate, Java Pustaka Media Utama, Surabaya, 2010 Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988. Munir Fuady, Hukum Perbankan Modern Buku kesatu dan Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung 2004. Munir Fuady, Teori Negara Hukum Modern (Rehctstaat) ,Refika Aditama, Bandung 2009. Neni Sri Imniyati, Pengantar Hukum Perbankan Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2010 Adulkadir Muhamad, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya, Bandung 2004. Riduan Syahrani, Seluk-Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung 2004. Sentosa Sembiring, Hukum Perbankan, Mandar Maju, Bandung 2008. Soerjono dan Abdurahman, Metode Penelitian Hukum, Renika cipta, Jakarta 2003. Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta 2010. Soerjono soekanto dan srimantudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan singkat .raja grafindo persada ,Jakarta 2001. Try Widiyono, Aspek Hukum Operasional Produk Perbankan Simpanan jasa dan Kredit, Gahlia Indonesia, Bogor 2006. Widjantoro, Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia, Grafiti, Jakarta, 2003. Jurnal : Heru Supratomo., Analisis Ekonomi terhadap Hukum Perbankan”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 1/1997, Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, Jakarta, hlm. 63.

145

Peraturan Perundang-undangan : Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan perubahan atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbanakan Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan Undang-Undang Nompr.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan, yakni Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang tentang kepailitan menjadi Undang-Undang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->