P. 1
Ekosistem Mangrove

Ekosistem Mangrove

|Views: 2,950|Likes:
Published by Amir Uddin
buku ekosistem mangrove
buku ekosistem mangrove

More info:

Published by: Amir Uddin on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

B.1. Pengertian Fauna Tanah

Fauna tanah adalah organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya
dihabiskan di dalam tanah (Wallwork, 1976; Kimmins, 1987). Suhardjono dan
Adisoemarto (1997) menyatakan bahwa, Arthropoda tanah adalah semua kelompok
binatang yang sebagian atau seluruh daur hidupnya bergantung kepada tanah karena
sumber pakannya terdapat di tanah. Jasad tanah yang dinyatakan oleh Poerwowidodo
(1992) adalah semua jasad hidup yang seluruh atau sebagian besar daur hidup dan
kegiatan untuk kelangsungan hidupnya dilakukan di dalam tanah. Kelompok ini
mencakup jasad tanah yang kasat mata dan jasad renik dari golongan binatang
misalnya protozoa dan tumbuhan misalnya bakteri. Wallwork (1976) melaporkan
adanya lima kelompok Arthrophoda yang sering ditemukan di tanah, yaitu:
Crustaceae, Myriapoda, Aptergyota, Arachnida dan beberapa Hexapoda.

14

B.2. Macam Fauna Tanah

Kelompok fauna tanah sangat banyak dan beraneka-ragam, mulai dari
Protozoa, Rotifera, Nematoda, Annelida, Mollusca, Arthropoda, hingga Vertebrata.
Fauna tanah dapat dikelompokkan atas dasar ukuran tubuhnya, kehadirannya di tanah,
habitat yang dipilihnya, yang mempengaruhi sistem tanah dan kegiatan makannya
(Suin, 2003; Hole, 1981).

a. Pengelompokan fauna tanah berdasarkan ukuran tubuh.

Berdasarkan ukuran tubuhnya, fauna tanah dikelompokkan menjadi: (1)
Mikrofauna, adalah kelompok yang berukuran tubuh berkisar antara 20 μ dan 200 μ,
misalnya: Protozoa, Acarina, Nematoda, Rotifera, dan Tardigrada, (2) Mesofauna,
adalah kelompok ukuran tubuh berkisar antara 200 μ dan 1 cm, contohnya adalah:
Acarina, Collembola, Nematoda, Rotifera, Araneida, larva serangga, dan Isopoda, (3)
Makrofauna, adalah kelompok yang berukuran tubuh lebih besar dari 1 cm, termasuk
pada kelompok ini adalah: Megascolesidae, Mollusca, Insecta, dan Vertebrata
(Wallwork. 1970; Brown, 1980; Kimmins, 1987). Sedangkan menurut Suhardjono dan
Adisoemarto (1997), berdasarkan ukuran tubuh fauna tanah dikelompokkan menjadi:
(1) Mikrofauna adalah kelompok binatang yang berukuran tubuh < 0.15 mm, seperti:
Protozoa dan stadia pradewasa beberapa kelompok lain misalnya Nematoda, (2)
Mesofauna adalah kelompok yang berukuran tubuh 0.16 - 10.4 mm dan merupakan
kelompok terbesar dibanding kedua kelompok lainnya, seperti: Insekta, Arachnida,
Diplopoda, Chilopoda, Nematoda, Mollusca, dan bentuk pradewasa dari beberapa
binatang lainnya seperti kaki seribu dan kalajengking; (3) Makrofauna adalah
kelompok binatang yang berukuran panjang tubuh >10.5 mm, seperti: Insekta,
Crustaceae, Chilopoda, Diplopoda, Mollusca, dan termasuk juga vertebrata kecil.

b. Pengelompokan fauna tanah berdasarkan kehadiran

Berdasarkan kehadiran fauna tanah dibagi atas kelompok transien, temporer,
periodik, dan permanen (Suin, 2003). Sedangkan Hole (1981) membagi binatang tanah ke
dalam enam kategori berdasarkan keberadaannya di dalam tanah, yakni: 1) Permanen,
yaitu fauna tanah yang seluruh daur hidupnya berada di dalam tanah, contohnya cacing
tanah dan Collembola, 2) Sementara, yaitu binatang tanah yang salah satu fase hidupnya
berada di tanah, sedangkan fase lainnya tidak atau secara berkala di tanah, contohnya

15

larva-larva serangga, 3) Periodik, yaitu binatang-binatang tanah yang sering berpindah-
pindah masuk dan keluar dari tanah, contohnya bentuk-bentuk aktif serangga, 4)
Bertukar-tukar, yaitu satu atau lebih generasi binatang yang berada di dalam tanah,
generasi lainnya hidup di atas tanah, contohnya Rhopalosiphoninus dan Biorhiza, 5)
Mendiami sementara, yaitu fase inaktif (telur, pupa, fase hibernasi) berada di tanah dan
fase aktif berada di atas tanah, contohnya serangga, 6) Kebetulan, yaitu binatang yang
jatuh atau tertiup angin dari tajuk dan masuk ke dalam tanah, contohnya larva serangga
dari tajuk pohon dan binatang permukaan yang jatuh ke dalam lubang tanah. Dari
pendapat Hole (1981) tersebut menurut Suhardjono (1997), dibedakan menjadi empat
kelompok saja, karena sebenarnya pembagian nomor 2, 4, dan 5 hampir serupa, yaitu
singgah (transit), sementara, berkala (periodik), dan menetap (permanen).

c. Pengelompokan fauna tanah berdasarkan tempat hidup pada lapisan tanah

Berdasarkan tempat hidupnya pada lapisan tanah, digolongkan sebagai : (1)
Epigon, yaitu fauna tanah yang hidup pada lapisan tumbuh-tumbuhan di permukaan
tanah, (2) Hemiedafon, hidup pada lapisan organik tanah, (3) Euedafon, yang hidup
pada lapisan mineral tanah (Suin, 2003).

d. Pengelompokan fauna tanah berdasarkan cara mempengaruhi sistem tanah

Menurut Hole (1981), binatang tanah dibagi menjadi dua golongan berdasarkan
caranya mempengaruhi sistem tanah, yaitu: (1). Binatang eksopedonik (mempengaruhi
dari luar tanah), golongan ini mencakup binatang-binatang berukuran besar, sebagian
besar tidak menghuni sistem tanah; meliputi kelas Mamalia, Aves, Reptilia, dan
Amphibia. (2) Binatang endopedonik (mempengaruhi dari dalam tanah), golongan ini
mencakup binatang-binatang berukuran kecil sampai sedang (θ < 1,0 cm), umumnya
tinggal di dalam sistem tanah dan mempengaruhi penampilannya dari sisi dalam,
meliputi kelas Hexapoda, Myriapoda, Arachnida, Crustacea, Tardigrada, Onychophora,
Oligochaeta, Hirudinea, dan Gastropoda.

e. Pengelompokan fauna tanah berdasarkan jenis makanan/cara makan.

Fauna tanah juga dibedakan berdasarkan jenis makanan, ada yang bersifat
herbivora, saprovora, fungivora, dan predator (Suin, 2003). Wallwork (1970), Brown

16

(1980), dan Borror, et al. (1996) membagi binatang tanah berdasarkan kebiasaan
makannya, yaitu:

1) Microphytic feeders, merupakan binatang pemakan tumbuhan mikro, seperti
spora dan lumut. Termasuk dalam kelompok ini adalah beberapa spesies
semut, Nematoda, Protozoa, dan beberapa Mollusca.
2) Saprophytic feeders, merupakan pemakan bahan organik (serasah segar,
setengah segar dan bahan organik yang telah melapuk), contohnya cacing
tanah, Millipoda, Isopoda, Acarina, dan Collembola. Termasuk di dalamnya
binatang tanah pemakan feses (coprophagous), pemakan kayu mati
(xylophagous) dan pemakan bangkai (necrophagous).
3) Phytophagous,
merupakan binatang pemakan tumbuhan (contohnya Mollusca
dan larva Lepidoptera), pemakan sistem perakaran (contohnya kumbang
Scarabidae, Lepidoptera, Mollusca dan jangkrik), pemakan bagian kayu
(contohnya beberapa jenis rayap dan larva Coleoptera).
4) Carnivora, termasuk dalam kelompok ini adalah predator (pemakan binatang
tanah lain) seperti Carabidae, Staphylinidae, laba-laba, kalajengking,
Centipede, beberapa Nematoda dan Mollusca.

B.3. Peran Fauna Tanah

Secara esensial semua fauna yang menghuni lingkungan hutan mempengaruhi
sifat-sifat tanah (Setiadi, 1989). Kehadiran jasad tanah yang beraneka ragam dengan
populasi optimum di ekosistem hutan tanaman sangat penting untuk melestarikan
kesinambungan dan kecukupan pasokan hara melalui keikutsertaannya dalam
menghancurkan dan menguraikan bahan organik (Poerwowidodo dan Haneda, 1998).
Fauna tanah berperan penting dalam menghancurkan dan menguraikan bahan
organik untuk memperoleh energi. Dengan demikian anasir hara dan senyawa lain
yang terbebaskan dapat berperan dalam daur kehidupan dan pengendalian aneka
fenomena di dalam tanah. Kehidupan dan kegiatannya yang khusus ini menjadikannya
sebagai salah satu faktor pembentuk tanah (Poerwowidodo, 1992). Selanjutnya Setiadi
(1989) menambahkan bahwa organisme tanah berperan penting di dalam
ekosistemnya, yaitu sebagai perombak bahan organik dan mensintesa kemudian
melepaskan kembali dalam bentuk bahan anorganik yang tersedia bagi tumbuh-

17

tumbuhan hijau. Dengan kata lain, dilihat dari fungsi, organisme tanah ini memainkan
peranan yang sangat penting dalam mempertahankan dinamika dan stabilitas
ekosistem alam.

Di dalam tanah telah diketahui bahwa komponen biotik memberikan
sumbangan terhadap proses aliran energi dari ekosistem setempat. Hal tersebut dicapai
karena kelompok biotis ini dapat melakukan penghancuran terhadap materi tumbuhan
dan hewan yang telah mati. Proses inilah yang dikenal dengan proses dekomposisi
atau perombakan (Burges and Raw, 1967). Serangga tanah berfungsi sebagai
perombak material tanaman dan penghancur kayu (Wallwork, 1976). Secara garis
besar proses perombakan berlangsung sebagai berikut; pertama-tama perombak yang
besar atau makrofauna meremah-remah substansi nabati yang telah mati, kemudian
materi ini akan melalui usus dan akhirnya menghasilkan butiran-butiran feses.
Butiran-butiran tersebut dapat dimakan oleh mesofauna dan atau makrofauna
pemakan kotoran, seperti cacing tanah yang hasil akhirnya akan dikeluarkan dalam
bentuk feses pula. Materi terakhir ini akan dirombak oleh mikroorganisme terutama
bakteri untuk diuraikan lebih lanjut. Selain dengan cara tersebut, dapat pula feses
dikonsumsi lebih dahulu oleh mikrofauna dengan bantuan enzim spesifik yang
terdapat dalam saluran pencernaannya. Penguraian akan menjadi lebih sempurna
apabila hasil ekskresi hewan ini dihancurkan dan diuraikan lebih lanjut oleh
mikroorganisme terutama bakteri hingga sampai pada proses mineralisasi. Melalui
proses tersebut, mikroorganisme yang telah mati akan menghasilkan garam-garam
mineral yang akan digunakan oleh tumbuh-tumbuhan lagi (Burges and Raw, 1967).

B.4. Pengaruh Tanah dan Vegetasi terhadap Keberadaan Fauna Tanah

Fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem tanah sehingga kehidupannya
sangat ditentukan oleh faktor fisik dan kimia tanah serta lingkungan di sekitarnya
(Suin, 2003). Menurut Szujecki (1987), faktor-faktor yang mempengaruhi
keberadaan serangga tanah di hutan, adalah: 1) struktur tanah berpengaruh pada
gerakan dan penetrasi; 2) kelembaban tanah dan kandungan hara berpengaruh
terhadap perkembangan dalam daur hidup; 3) suhu tanah mempengaruhi peletakan
telur; 4) cahaya dan tata udara mempengaruhi kegiatannya. Fauna tanah bereaksi
cepat terhadap perubahan di lingkungannya yang datang dari tanah itu sendiri, faktor

18

iklim atau akibat pengolahan tanah (Herbke, 1962; Brauns, 1968; Graff, 1971 dalam
Adianto, 1993).

Populasi fauna tanah umumnya meningkat pada tanah subur yang mampu
menyuplai nutrisi tetapi sifat kimiawi tanah biasanya kurang berpengaruh langsung
daripada sifat fisik tanah (Setiadi, 1989). Selain itu pula ditambahkan oleh Setiadi
(1989) bahwa kegiatan organisme tanah juga dipengaruhi oleh musim dan
kedalaman tanah, karena setiap organisme tanah mempunyai selang optimum untuk
pertumbuhannya. Kegiatan organisme tanah yang terbesar terjadi pada musim semi
dan gugur, menurun pada musim panas dan dingin serta kegiatan biasanya terpusat
di permukaan tanah (Setiadi, 1989).
Kedalaman lapisan tanah menentukan kadar bahan organik dan nitrogen.
Kadar bahan organik terbanyak ditemukan di lapisan atas setebal 20 cm, makin ke
bawah makin berkurang. Bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia tanah
dan meningkatkan aktifitas biota tanah. Sumber utama bahan organik tanah berupa
jaringan tumbuhan, sedangkan sumber kedua adalah hewan. Kandungan bahan
organik di dalam tanah dipengaruhi oleh keadaan iklim, terutama suhu dan curah
hujan. Kandungan kapur, erosi, tekstur, drainase dan vegetasi penutup tanah juga
dapat mempengaruhi penimbunan bahan organik tanah (Buckman dan Brady, 1982;
Foth, 1998).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->