P. 1
Askep Post Partum Blues

Askep Post Partum Blues

|Views: 2,655|Likes:
Published by Adrianus Medan

More info:

Published by: Adrianus Medan on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

ASKEP POST PARTUM BLUES By Adrianus RSUD.dr.TC.

Hillers Maumere BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Masa nifas adalah masa sejak selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan serta psikologis yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu. Dalam proses adaptasi pada masa post partum terdapat tiga metode yang meliputi “ immediate puerperineum “ yaitu 24 jam pertama setelah melahirkan, “ early puerperineum “ yaitu 24 jam hingga 1 minggu setelah melahirkan, “ late puerperineum “ yaitu setelah satu minggu samapi 6 minggu post partum. Perubahan psikologi merupakan hal yang normal terjadi pada seorang ibu yang baru melahirkan. Namun kadang-kadang terjadi perubahan psikologis yang abnormal. Gangguan psikologi pascapartum dibagi menjadi tiga kategori yaitu postpartum blues atau kesedihan pascapartum, depresi pascapartum nonpsikosis, dan psikosis pascapartum. Pada makalah ini kami akan membahas secara khusus mengenai postpartum blues.

1.2

Tujuan penulisan 1.2.1 Tujuan umum  Untuk mengetahui dan memahami lebih dalam lagi yang dimaksud dengan gangguan psikologis pada ibu masa postpartum khususnya postpartum blues.

Untuk mendapatkan gambaran umum secara teoritis konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan postpartum blues.

1.2.2 Tujuan khusus      Melakukan pengkajian pada klien dengan postpartum blues. Menganalisa data untuk merumuskan Diagnosa Keperawatan pada klien dengan postpartum blues. Membuat rencana Keperawatan pada klien dengan postpartum blues. Melaksanakan rencana keperawatan pada klien dengan

postpartum blues. Membuat pendokumentasian pada klien dengan post partum blues. 1.3 Manfaat penulisan Penulisan dan penyusunan makalah ini sangat bermanfaat bagi

perkembangan dunia keperawatan dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan terhadap klien dengan askep postpartum patologis ( postpartum blues ). 1.4 Sistematika penulisan Makalah ini disusun secara sistematik, yaitu : Bab I : Pendahuluan terdiri dari : Latar Belakang, Tujuan dan Manfaat Penulisan. Bab II : Tinjauan Pustaka terdiri dari : Defenisi, Etiologi, Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Diagnostik, Komplikasi, Penatalaksanaan, Prognosis dan Web of Caution. Bab III : Asuhan Keperawatan yang terdiri dari : Pengakajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi dan Rasionalisasi. Bab IV : Penutup yang terdiri dari : Kesimpulan dan Saran.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1

DEFENISI Postpartum Blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis refrensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut “ milk fever “ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, postpartum blues atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan atau pada saat fase taking in, cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan berlangsung dalam rentang waktu 14 hari atau dua minggu pasca persalinan. Post partum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu sekitar dua hari hingga 10 hari sejak kelahiran bayinya.

2.2

ETIOLOGI Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, namun banyak faktor yang diduga berperan dapat menyebabkan post partum blues, diantaranya :  Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesterone, prolaktin dan ekstradiol. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan depresi.  Faktor demografi yaitu umur dan paritas.

 Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.  Latar belakang psikososial ibu, seperti ; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa sebelumnya, social ekonomi serta keadekuatan dukungan social dari lingkungan ( suami, keluarga dan teman ). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga dan teman memberikan dukungan moril ( misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tang selama atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah ) selama ibu menjalani kehamilannya atau timbul permasalahan misalnya suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami, problem dengan orangtua dan mertua, problem dengan si sulung.  Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya. Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara 8 % sampai 12 % wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi postpartum jika mereka tertekan secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menekan. Ada juga pendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh beberapa faktor dari dalam dan luar individu. Penelitian dari Dirksen dan De Jonge Andriaansen ( 1985 ) menunjukan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang berbahaya bagi perkembangan anak dikemudian hari.

2.3

PATOFISIOLOGI
Post Partum Blues F. Hormonal

Estrogen

Progesterone

Prolaktin (+)/(-) Prolaktin Stimulant Kel,Susu Produksi Asi Cemas Resiko ggn proses menyusui

Oxitoksin (+)/(-) Kontraksi rahim + / Nyeri Partus lama Ggn pola tidur

Endorphin

Estrogen Enzym Monoamin e In aktifasi noradrenalin & serotonin Perubahan mood & depresi Anstabil koping individual Resiko Perubahan Emosional

Stimulan Kel,Susu Payudara >> & aereola melebar dan lbh gelap Tdk nyaman ( minder )

Rasa senang & mengurangi rasa nyeri

Rasa Bahagia

Resiko Perubahan peran menjadi ortu

F. Demografi ( usia )

F. Pengalaman dlm proses kehamilan dan persalinan

Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi

F. Latar belakang psikososial

Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga

F. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dgn bayinya

2.4

MANIFESTASI KLINIS Gejala-gejala post partum blues, sebagai berikut :         Cemas tanpa sebab. Menangis tanpa sebab. Tidak percaya diri. Tidak sabar. Sensitif, mudah tersinggung. Merasa kurang menyayangi bayinya. Tidak memperhatikan penampilan dirinya. Kurangnya menjaga kebersihan dirinya. Gejala fisiknya seperti : kesulitan bernafas, ataupun perasaan yang berdebar-debar.   Ibu merasa kesedihan, kecemasan yang berlebihan. Ibu merasa kurang diperhatikan oleh suami atauapun keluarga.

2.5

INSDIDEN Dalam dekade terakhir ini, bahyak peneliti dan klinis yang member perhatian khusus pada gejala psikolgis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut. Berbagai studi mengenai post partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26 % - 85 % yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

2.6

PENCEGAHAN Post partum blues dapat dicegah dengan cara :

a. Anjurkan ibu untuk merawat dirinya, yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalu memperhatikan si ibu. b. Menu makanan yang seimbang. c. Olahraga secara teratur. d. Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. e. Rencankan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami. f. Rekreasi.

2.7

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post partu blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa syntom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi post partum blues bila memenuhi kriteria dan gejala yang ada. Kekurangan hormone thyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa ( fatique ) ditemukan juga pada ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar thyroid yang sangat rendah. Skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah

merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan alat bantu. Endinburgh Postnatal Depression Scale ( EPDS ) merupakan kuesioner dengan validasi yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post partum blues. Kuesiner ini terdiri dari 10 ( sepuluh ) pertanyaan, dimana setiap pertanyaan memiliki 4 ( empat ) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit, nilai scoring lebih besar 12 ( dua belas ) memiliki sensitifitas 86 % dan nilai prediksi positif 73 % untuk mendiagnosis psot partum blues. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin

dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 ( dua ) minggu kemudian.

2.8

PENATALAKSANAAN Post-partum blues atau gangguan mentak pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang berjuang sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumbersumber lainnya untuk minta pertolongan, seringkali hanya mendapatkan saran untuk neristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai. Penangganan gangguan mental pasca-salin pada prinsippnya tidak berbeda dengan penangganan gangguan mentak pada momen-momen lainnya. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali merasa gembira mendapat pertolongan praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari,atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan dapat diberikan pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yangberpengalaman dalam bidang tersebut. Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penangganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut,

bahkan merujuk kepada para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu : dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masamasa tersebut serta penangganannya. Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi, membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru. Dalam penangganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Pengobatan medis, konseling, emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka miungkin pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan ditingkat perilaku, emosional, intelektual, social dan psikologis secara bersama-sama dengan melibatkan lingkungannya yaitu : suami, keluarga, dan juga teman dekatnya.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh perawat perinatal. Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku yang diharapkan dari gangguan tertentu. Rencana individu didasarkan pada karakteristik wanita dan keadaannya yang spesifik. Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut. 3.1.1 Pengkajian klien post-partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang baru. Pengkajiannya meliputi : a. Identitas klien Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical record, dan lain-lain. Dampak pengalaman melahirkan ; Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam upaya retropeksi diri ( Kondrat, 1987 ). Selama hamil ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka, hal-hal yang mencakup kelahiran pervaginam dan beberapa intervensi medis. Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang diharapkan ( misalnya induksi, anastesi epidural, kelahiran sesar ), orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.

b.

c.

Citra diri ibu Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri. Citra tubuh dan seksualitas ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam menjadi orangtua. Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah seringkali menimbulkan kekahwatiran pada orang tua baru. Ibu yang melahirkan bisa merasa enggan untuk memulai hubungan seksual karena merasa takut nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan menganggu penyembuhan jaringan perineum. Interaksi Orang Tua – Bayi Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evvaluasi interaksi orang tua dengan bayi baru. Respon orang tua terhadap kelahiran anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladaptive. Baik ibu maupun ayah menunjukan kedua jenis perilaku. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik. Kualitas keibuan ataau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan perlindungan anak. Tanda-tanda yang menunjukan ada atau tidaknya kualitas ini, terlihat segera setelah ibu melahirkan, saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan mereka. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dengan keterbatasan kemampuan mereka, respon social yang tidak matur, dan ketidakberdayaannya. Orang tua menunjukan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena kehadiran bayinya dank arena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan bersama anaknya, saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan kemudian menenangkan bayinya dan ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan bayi. Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orangtua tidak sesuai dengan kebutuhan bayinya. Mereka tidak dapat merasakan kesenangan dari kontak fisik dengan anak mereka. Bayi-bayi ini cendrung akan dapat diperlakukan kasar. Orang tua tidak merasa

d.

e.

tertarik untuk melihat anaknya. Tugas merawat anak seperti memandikan atau menganti pakaian dipandang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Orang tua tidak mampu membedakan cara berespon terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi, seperti rasa lapar, lelah keinginan untuk berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan melakukan kontak mata, tampaknya sukar bagi mereka untuk menerima anaknya sebagai anak yang sehat dan gembira. f. Struktur dan Fungsi Keluarga Komponen penting lain dalam pengkajian pasa pasien post aprtum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya, ibunya dengan keluarga lain, dan anak-anak lain. Perawat/bidan dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut sebelum keluar dari rumah sakit.

3.1.2 Sedangkan pengkajian dasar data klien menurut Marlynn E.Doeges ( 2001 ) adalah : a. Aktivitas / istirahat insomnia mungkin teramati. b. Sirkulasi : episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. c. Integritas Ego : peka rangsang, takut / menangis ( sering terlihat kira-kira 3 hari setelah kelahiran ). d. Eliminasi : dieresis diantara hari ke-2 dan ke-5. e. Makanan / cairan : kehilangan nafsu makam mungkin dikeluhkan hari-hari ke-3. f. Nyeri / ketidaknyamanan : nyeri tekan payudara / pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 sampai ke-5 pascapartum. g. Seksualitas : uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam pertama setelah kelahiran, menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. Lokhea rubra berlanjut sampai hari ke-2 dan ke-3 berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran tergantung pada posisi ( misalnya rekumben versus ambulasi berdiri ) dan aktivitas ( misalnya menyusui ). Payudara ; produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur biasanya pada hari ke-3, mungkin lebih dini, tergantung kapan menyusui dimulai.

3.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan pada klien post partum blues diantaranya adalah : a. Nyeri akut / ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis edema / pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal. b. Resiko gangguan proses menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur / karakteristik fisik payudara ibu. c. Resiko terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan pengaruh komplikasi fisik dan emosional. d. Resiko perubahan emosional yang tidak stabil pada ibu berhubungan dengan ketidakefektifan koping individu e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal dan psikologis ( sangat gembira, ansietas, kegirangan ), nyeri / ketidaknyamanan, proses persalinan dan kelahiran melelahkan. f. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang paparan informasi, kesalahan interprestasi, tidak mengenal sumber-sumber. g. Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga berhubungan dengan kecukupan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu dan tugas-tugas adaptif memungkinkan tujuan aktualisasi diri muncul ke permukaan. 3.3 Rencana Keperawatan a. Nyeri akut / ketidaknyamanan berhubungan dengan teruma mekanis, edema / pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal. Tujuan : Mengidentifikasi kebutuhan dan mengunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan. Intervensi Keperawatan : 1. Tentukan adanya, lokasi dan sifat ketidaknyamanan. R/ Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat. 2. Inspeksi perbaikan perineum dan epiostomi. R/ Dapat menunjukan trauma berlebihan pada jaringan perineal dan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi / intervensi lanjut.

3. Berikan kompres es pada perineum, khususnya selama 24 jam pertama setelah melahirkan. R/ Memberi anesthesia lokal, meningkatkan vasokontriksi, dan mengurangi edema dan vasodilatasi. 4. Berikan kompres panas lembab ( misalnya : rendam duduk / bak mandi ). R/ Meningkatkan sirkulasi pada perineum, meningkatkan oksigenasi dan nutrisi pada jaringan, menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan. 5. Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomy. R/ Pengunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stress dan tekanan langsung pada perineum. 6. Kolaborasi dalam pemberian obat analgesic 30-60 menit sebelum menyusui. R/ Memberikan kenyamanan, khususnya selama laktasi, bila afterpain paling hebat karena pelepasan oksitoksin. b. Resiko gangguan proses menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur / karakteristik fisik payudara ibu. Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang proses / situasi menyusui mendemonstrasikan teknik efektif dari menyusui, menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain. Intervensi Keperawatan : 1. Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya. R/ Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan mengembangkan rencana perawatan. 2. Tentukan system pendukung yang tersedia pada klien, dan sikap pasangan / keluarga. R/ Mempunyai dukungan yang cukup meningkatkan kesempatan untuk pengalaman menyusui dengan berhasil. 3. Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenai fisiologi dan keuntungan menyusui, perawatan putting dan payudara, kebutuhan diet khusus, dan factor-faktor yang memudahkan atau menganggu keberhasilan menyusui.

R/ Membantu menjamin suplai susu adekuat, mencegah putting pecah dan luka, memberikan kenyamanan, dan membuat peran ibu menyusui.

4. Demonstrasikan dan tinjau ulang teknik-teknik menyusui R/ Posisi yang tepat biasanya mencegah luka putting, tanpa memperhatikan lamanya menyusui. 5. Identifikasi sumber-sumber yang tersedia di masyarakat sesuai indikasi misalnya ; program kesehatan ibu dan anak ( KIA ). R/ Pelayanan ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan klien dan nutrisional. c. Resiko terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan pengaruh kompliksi fisik dan emosional. Tujuan : Mengungkapkan masalah dan pertanyaan tentang menjadi orang tua, mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realistis, dan secara aktif mulai melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat. Intervensi Keperawatan : 1. Kaji kekuatan, kelemahan, usia , status perkawianan, ketersediaan sumber pendukung dan latar belakang budaya. R/ Menidentifikasi factor-faktor resiko dan sumber-sumber pendukung, yang mempengaruhi kemampuan klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua. 2. Perhatikan respon klien/pasangan terhadap kelahiran dan peran menjadi orang tua. R/ Kemampuan klien untuk beradaptasi secara positif untuk menjadi orang tua mungkin dipengaruhi oleh reaksi ayah dengan kuat. 3. Evaluasi sifat dari menjadi orang tua secara emosi dan fisik yang pernah dialami klien/pengalaman selama kanak-kanak. R/ Peran menjadi orang tua dipelajari, dan individu memakai peran orang tua mereka sendiri menjadi model peran. 4. Tinjau ulang catatan intrapartum terhadap lamanya persalionan, adanya komplikasi dan peran pasangan pada persalinan. R/ Persalinan lama dan sulit, dapat secara sementara menurunkan energy fisik dan emosional yang perlu untuk mempelajari peran menjadi ibu dan dapat secara negative mempengaruhi menyusui.

5. Ecaluasi status fisik masa lalu dan saat ini dan kejadian komplikasi prenatal, intranatal dan pascapartal. R/ kejadian seperti persalinan praterm, hemoragi, infeksi,atau adanya komplikasi ibu dapat mempengaruhi kondisi psikologis klien. 6. Evaluasi kondisi bayi ; komunikasikan dengan staf perawatan sesuai dengan indikasi. R/ Ibu sering mengalami kesedihan karena mendapati bayinya tidak seperti bayi yang diharapkan. 7. Pantau dan dokiumentasikan interaksi klien/pasangan dengan bayi. R/ Beberapa ibu atau ayah mengalami kasih saying bermakna pada pertama kali ; selanjutnya, mereka dikenalkan pada bayi secara bertahap. 8. Anjurkan pasangan untuk mengunjungi dan mengendong bayi dan berpartisipasi terhadap aktifitas perawatan bayi sesuai izin. R/ Membantu meningkatkan ikatan dan mencegah perasaan putus asa. 9. Kolaborasi dalam merujuk untuk konseling bila keluarga beresiko tinggi terhadap masalah menjadi orang tua atau bila ikatan positif diantara klien/pasanngan dan bayi tidak terjadi. R/ perilaku menjadi orang tua yang negative dan ketidakefektifan koping memerlukan perbaikan melalui konseling, pemeliharaan atau bahkan psikoterapi yang lama. d. Resiko perubahan emosional yang tidak stabil pada ibu berhubungan dengan ketidakefektifan koping individu Tujuan : Mengungkapkan ansietas dan respon emosional, mengidentifikasi kekuatan individu dan kemampuan koping pribadi, mencari sumber-sumber yang tepat sesuai kebutuhan. Intervensi Keperawatan : 1. Kaji respon emosional klien selama prenatal dan periode inpartum dan persepsi klien tentang penampilannya selama persalinan. R/ Terhadap hubungan langsung antara penerimaan yang positif akan peran feminism dan keunikan fungsi feminism serta adaptasi yeng psositif terhadap kelahiran anak, menjadi ibu, dan menyusui. 2. Anjurkan diskusi oleh klien / pasangan tentang persepsi pengalaman kelahiran. R/ Membantu klien/pasangan bekerja melalui proses dan memperjelas realitas dari pengalaman fantasi.

3. Kaji terhadap gejala depresi yang fana ( perasaan sedih pascapartum ), pada hari ke-2 sampai ke-3 pasca partum ( misalnya, ansietas, menangis, kesedihan, konsentrasi yang buruk, dan depresi ringan atau berat ). R/ Sebanyak 80 % ibu-ibu mengalami depresi sementara atau perasaan emosi kecewa setelah melahirkan. 4. Evaluasi kemampuan koping masa lalu klien, latar belakang budaya, system pendukung, dan rencana untuk bantuan domestic pada saat pulang. R/ Membantu dalam mengkaji kemampuan klien untuk mengatasi stress. 5. Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk membantu klien mempelajari peran baru dan strategi untuk koping terhadap bayi baru lahir. R/ Keterampilan menjadi ibu/orang tua bukan secara insting tetapi harus dipelajari. 6. Anjurkan pengungkapan raa bersalah, kegagalan pribadi, atau keraguraguan tentang kemampuan menjadi orang tua. R/ Membantu pasangan mengevaluasi kekuatan dan area masalah secara realistis dan mengenali kebutuhan terhadap bantuan professional yang tepat. 7. Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok pendukungan menjadi orang tua, pelayanan social, kelompok komunitas, atau pelayanan perawat berkunjung. R/ Kira-kira 40% wanita dengan depresi pascapartum ringan mempunyai gejala-gejala yang menetap sampai 1 tahun dan dapat memerlukan evaluasi lanjut. e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal dan psikologis ( sangat gembira, ansietas dan kegirangan ), nyeri/ketidaknyamanan, proses persalinan dan kelahiran melelahkan. Tujuan : Menidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru, melaporkan peningkatan rasa sejaterah dan istirahat. Intervensi Keperawatan : 1. Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat. R/ Persalinan atau kelahiran yang lama dan sulit, khususnya bila ini terjadi malam meningkatkan tingakt kelelahan.

2. Kaji faktor-faktor, bila ada yang mempengaruhi istirahat. R/ Membantu meningkatkan istirahat, tidur dan relaksasi dan menurunkan rangsangan. 3. Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setelah kembali ke rumah. R/ Rencana yang kreatif yang membolehkan unruk tidur dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh. 4. Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai ASI. R/ Kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis, suplai ASI, dan penurunan reflex secara psikologis. 5. Kaji lingkungan rumah, dan bantuan di rumah. R/ Multipara dengan anak dirumah memerlukan tidur lebih banyak dirumah sakit untuk mengatasi kekurangan tidur dan memenuhi kebutuhannya. f. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang pemanjanan/mengingat, kesalahan interprestasi, tidak mengenal sumber-sumber. Tujuan : Mengungkapkan berhubungan dengan pemahaman perubahan fisiologis, kebutuhan individu, ahasil yang diharapkan, melakukan aktivitas / prosedur yang perlu menjelaskan alas analasan untuk tindakan. Intervensi Keperawatan : 1. Pastikan persepsi klien tentang persalinan dan kelahiran, lama persalinan, dan tingkat kelelahan klien. R/ Terhadap hubungan antara lama persalinan dan kemampuan untuk melakukan tanggung jawab tugas dan aktifitas-aktifitas perawatan diri/perawatan bayi. 2. Kaji persiapan klien dan motivasi untuk belajar. R/ Periode pascanatal dapat merupakan pengalaman ibu, maturasi, dan kompetensi. 3. Berikan informasi tentang perawatan diri, termasuk perawatan perineal dan hygiene, perubahan fisiologis. R/ Membantu mencegah infeksi, mempercepat pemulihan dan penyembuhan, dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan emosional.

4. Diskusikan kebutuhan seksualitas dan rencana untuk kontrasepsi. R/ Pasangan mungkin memerlukan kejelasan mengenaik ketersediaan metode kontrasepsi dan kenyataan bahwa kehamilan dapat terjadi bahkan sebelum kunjungan minggu ke-6. g. Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga berhubungan dengan kecakupan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu dan tugas-tugas adaptif. Tujuan : Mengungkapkan keinginan untuk melaksanakan tugas-tugas yang mengarah pada kerjasama dari anggota keluarga baru, mengekspresikan perasaan percaya diri dan kepuasan dengan terbentuknya kemajuan dan adaptasi. Intervensi Keperawatan : 1. Kaji hubungan anggota keluarga satu sama lain. R/ Perawat dapat membantu memberikan pengalaman positif di rumah sakit dan menyiapkan keluarga terhadap pertumbuhan melalui tahap-tahap perkembangan. 2. Anjurkan partisipasi seimbang dari orang tua pada perawatan bayi. R/ Fleksibilitas dan sensitifitas terhadap kebutuhan keluarga membantu mengembangkan harga diri dan rasa kompoten dalam perawatan bayi baru lahir setelah pulang. 3. Berikan bimbingan antisipasi mengenai perubahan emosi normal berkenaan dengan periode pasca partum. R/ Membantu menyiapkan pasangan untuk kemunkinan perubahan yang mereka alami, menurunkan stress dan meningkatkan koping positif. 4. Berikan informasi tertulis mengenai buku-buku yang dianjurkan untuk anak-anak (sibling ) tntang bayi baru. R/ Membantu mengidentifikasi dan mengtasi perasaan akan kemungkinan pergantian atau penolakan. 5. Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok orang tua pasca partum dikomunitas. R/ Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang membesarkan anak dan perkembangan anak.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan a. Post partum blues yaitu suatu perasaan bercampur aduk, merupakan kemurungan dan kesediahan. b. Penyebab post partum blues belum diketahui secara pasti. c. Penderita post partum blues dapat di deteksi melalui skrining yaitu dengan kuesioner yang berupa pertanyaan tentang rasa cemas. d. Asuhan keperawatan pada pasien post partum blues pada dasarnya harus holistic yaitu menyeluruh dari Bio-Psiko-Sosial-Spiritual dan melibatkan orang tua si anak yaitu ayah dan ibu si anak. 4.2 Saran Diharapkan makalah ini dapat menambauh pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk para pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan Health Education dalam perawatan depresi post partum blues.

DAFTAR PUSTAKA

Arjatmo T. ( 2001 ). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta: Gaya Baru. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad ( 1994 ), Obstetri Patologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, Bandung. Betz Cecily L, Sowden Linda A. ( 2002 ). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC. Bobak, Lowdermilk, Jensen. ( 2004 ). Buku Ajar : Keperawatan maternitas edisi 4. Jakarta: EGC. Hanifa Wikyasastro. ( 1997 ), Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta. Hacker Moore ( 1999 ), Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C.Geissler ( 2000 ), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Ngastiyah. (1997 ), Pedoman Anak Sakit. EGC, Jakarta. Sacharin Rosa M. ( 1996 ). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih Bahasa: Maulanny R.F. EGC, Jakarata.

MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA POST PARTUM BLUES

Disusun Oleh: ADRIANUS ERLINDA PATRISIA GAE YUSTINA DENSIANA BENEDIKTUS KAKI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROGRAM B FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NUSA NIPA MAUMERE 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->