P. 1
km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

|Views: 5,378|Likes:
Published by sutans5923

More info:

Published by: sutans5923 on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

Sections

Dalam proses menulis tesis atau disertasi, seperti dikatakan oleh Murray (2002), Glatthorn &

Joyner (2005) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti yang akan dibahas berikut ini.

Tujuan dan Pembaca

Tujuan dan pembaca merupakan kunci dalam setiap tindakan komunikasi (Murray, 2002).

Apapun yang dikatakan, dan tidak dikatakan sangat ditentukan oleh pembaca dan tujuan dari

komunikasi yang kita lakukan. Tujuan komunikasi dari menulis tesis atau disertasi, seperti

dikatakan oleh Glatthorn dan Joyner (2005: 5, lihat juga Paltridge, 2005 untuk pembahasan yang

hampir sama) adalah melaporkan hasil penelitian. Kita tidak menulis untuk membujuk atau

menghibur, atau mengekspresikan perasaan, tetapi untuk menginformasikan.

105

Dengan fungsi ini, maka sangatlah jelas, bahwa kualitas utama dari tesis adalah kejelasan, bukan

kreativitas, walaupun, seperti dikatakan beberapa kali sebelumnya, unsur kreativitas penulis juga

berperan dalam membantu menciptakan tulisan yang berterima. Pentingnya memahami tujuan

penulisan tesis dan disertasi, juga ditegaskan oleh Cantor (1993: 1) di awal penjelasannya

mengenai penulisan teks akademik. Cantor mengukuhkan bahwa Penulis teks akademik yang

berhasil mempunyai tujuan yang jelas untuk pembaca. Mereka tahu mengapa mereka menulis

dan penerbitan apa yang bisa dilakukan untuk karir mereka”. Dengan mengutip Hanson (1987),

Cantor menambahkan bahwa kejelasan dari tujuan menulis memberi penulis energi, semangat

dan ketekunan yang merupakan faktor yang menggiring keberhasilan.

Berkaitan dengan pembaca untuk penulisan tesis atau disertasi, Murray (2002) menyebutkan tiga

kelompok pembaca: Pembaca primer, sekunder dan pembaca segera atau pembaca pertama atau

“immediate reader”.

Pembaca primer adalah komunitas ilmiah (scholarly community). Dalam hal ini, Glatthorn dan

Joyner (2005: 6) mengatakan bahwa “The dissertation (thesis) is a report or research intended

primarily for scholarly audience”. Pembaca ini menentukan standar dan juga mungkin

menentukan agenda penelitian. Orang yang bekerja di bidang yang kita tulis adalah pembaca

yang akan paling tertarik dengan tulisan kita. Tentu mereka juga akan merupakan pembaca yang

paling kritis. Secara realistis, bagaimanapun bagusnya tulisan kita, sebaiknya kita berharap untuk

mendapatkan kritik yang positif maupun negatif tentang tulisan kita.

106

Pembaca sekunder adalah penguji eksternal. Menurut Murray (2002), penulis tesis atau disertasi

sebaiknya melihat penguji dari luar (khususnya bagi penguji disertasi kalau dalam konteks

pendidikan di Indonesia) sebagai wakil dari masyarakat ilmiah dari pada sebagai seseorang

dengan standar idiosinkrasi, walaupun hal ini ada unsur benarnya juga. Dengan memposisikan

penguji eksternal seperti ini, maka kita akan bisa membuat penguji sebagai target dari tulisan

kita. Dalam beberapa hal, menurut Glatthorn dan Joyner (2005) pembaca ini merupakan

pembaca paling penting dari tesis atau disertasi yang ditulis. Sementara pembaca lain mungkin

hanya membaca sekilas saja tesis kita, pembaca ini akan menguji tesis kita dari halaman ke

halaman tesis atau disertasi kita.

Pembaca segera (Immediate Audience) bagi tesis atau disertasi yang dibuat oleh mahasiswa

pascasarjana adalah tentu pembimbing. Menurut Murray (2002:70) dalam mengatakan peran

pembimbing bagi mahasiswa doktoral khususnya, yang juga relevan untuk mahasiswa magister

adalah bahwa, “Supervisors have a responsibility to read your work and give you feedback on it

within a reasonable length of time, throughout your doctorate”. Masalah peran pembimbing dan

peran feedback masing-masing dapat dilihat kembali di Bab Tiga dan Empat.

Selain dari pembaca di atas mahasiswa disarankan juga untuk mencari pembaca ideal, yakni

seorang pembaca yang suportif tapi kritis untuk tesis atau disertasi yang ditulisnya, dan dia juga

sekaligus merupakan orang yang akan memberi dukungan dan juga masukan bagi tesis atau

disertasi yang dituli.

Strategi “three part structure” dalam menulis tesis dan disertasi

107

Untuk menambah kejelasan dari setiap bagian dalam tesis atau disertasi, maka perlu ditekankan

strategi three part structure (Thomas, 2000, Christie dalam komunikasi pribadi dengan penulis,

dan lihat juga Martin, 1992; Martin & Rose, 2003) dalam menulis setiap bagian tesis atau

disertasi. Hal ini meliputi “telling them what you are going to tell them (mengatakan apa yang

akan dibahas), telling them (membahasnya) and telling them what you have told them (dan

mengatakan kembali apa yang telah dibahas)”. Strategi ini, menurut Thomas bisa dipakai

sebagai struktur dalam komunikasi tulisan maupun lisan, seperti kuliah.

Selain dari strategi three part structure di atas, yang berkaitan dengan struktur organisasi tesis

atau disertasi, ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan penulisan

kalimat, yakni berkaitan dengan cara penulisan argumen atau pernyataan supaya argumen atau

pernyataan yang ditulis dapat diterima. Pentingnya kemampuan menulis argumen telah

dikemukakan oleh para pakar berpikir kritis dan teori menulis (lihat Bizzell, 1992; a,b, 2003)

yang mengatakan bahwa bagaimanapun bagusnya hasil temuan penelitian, bahkan di bidang sain

sekalipun, kalau peneliti tidak dapat menuliskannya dalam argumen yang dapat diterima, maka

temuan penelitian itu tidak akan bisa dikenal dan berkembang. Kemampuan menulis argumen,

menurut Bizzell (1992, lihat juga Bazerman, 1988; Kelly & Bazerman, 2003) memainkan peran

yang menentukan dalam wacana akademik. Dengan mengutip Thomas Kuhn, Bizzell

menegaskan:

One could not say that a theory prevailed because it was presented in discourse so transparent that the
convincing power of the evidence supporting the theory was conveyed in the most unfiltered way. Rather,
one would have to say that a theory prevailed because it and its supporting evidence were presented in
discourse that argued the way scientists were prepared by training, by their socialization to their
discipline, to hear a position argued (
Bizzell, 1992: 9).

108

Senada dengan Bizzell, Paltridge dan Stairfield (2007:52) mengatakan bahwa penulis tesis atau

disertasi perlu memahami bahwa tulisan mereka akan dievaluasi oleh pembacanya, khususnya

oleh penguji dalam hal pernyataan atau argumen yang mereka buat. Untuk itu, menurut

Paltridge dan Stairfield, penulis tesis dan disertasi perlu menggunakan hedging dalam tesis atau

disertasinya. Hedging akan dibahas berikut ini.

Hedging

Hedging memainkan peranan yang sangat penting dalam penulisan tesis dan disertasi dalam

bahasa Inggris, khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Dengan mengutip Mullins dan

Kiley (2002:385), Paltridge dan Stairfield menegaskan:

Experienced examiners are careful to check for links between the Introduction, in which students state
their intentions, and the conclusion where the intentions should have been realized. Moderating their
claims becomes very important as they should neither “boost” their claims too strongly, or overgeneralise,
nor should they fail to make them with the appropriate force to convince the reader of the value of the
claim being made. This is where the linguistic resources known as “hedges” becomes extremely important
to the second language thesis writers as they learn how to adjust the strength of their claims in relation to
their audience and communicative purpose (2007:52).

Perlunya penggunaan hedging dalam tesis atau disertasi juga telah dibahas oleh beberapa penulis

dan peneliti (lihat Hyland, 2000b, 2003, 2004; Murray, 2002; Cooley & Lewcowicz, 2003;

Glatthorn & Joyner, 2005:144; Lim, 2005; Kamler & Thomson, 2006; Paltridge & Stairfield,

2007). Mereka menyarankan bahwa penulis teks akademik harus menyeimbangkan dengan tepat

antara keyakinan atau percaya diri dengan tentativeness (lihat Glatthorn dan Joyner, 2005; Lim,

2005). Cooley dan Lewkowicz (2003:78) mengemukakan dua alasan utama mengapa peneliti

perlu menggunakan hedging dalam melaporkan penelitiannya. Kedua alasan itu adalah:

1. Peneliti perlu rendah hati (modest). Penelitian atau experimen yang telah kita lakukan

mungkin tidak bisa memberikan jawaban yang pasti terhadap pertanyaan penelitian yang

kita kemukakan atau tidak merupakan penjelasan satu-satunya untuk temuan yang kita

amati. Kalau kita tidak menunjukkan kerendahan hati, kita akan tampak sombong dan

109

cenderung mengabaikan pembaca. Dengan rendah hati, kita mengakui bahwa temuan kita

hanya salah satu poin saja dari dari bidang ilmu atau pengetahuan yang begitu besar dan

luas.

2. Kita perlu berhati-hati dalam mencegah rasa malu karena bisa saja kita terbukti salah

setelah kita membuat pernyataan yang terlalu kuat. Kehati-hatian juga bisa melindungi

reputasi kita dan juga pembimbing. Kalau penelitian selanjutnya, berdasarkan temuan

atau teknologi baru menunjukkan bahwa interpretasi kita pada kenyataannya tidak

benar, kita akan sangat malu kalau kita telah menyatakan bahwa temuan kita merupakan

jawaban yang pasti (Cooley & Lewkowicz, 2003:78).

Banyak penulis disertasi, seperti dilaporkan Glatthorn dan Joyner (2005), yang terjebak untuk

mengklaim terlalu banyak. Misalnya dengan mengatakan bahwa masalah yang mereka teliti

merupakan masalah yang paling penting, kebutuhannya paling mendesak, penelitiannya

membuktikan bahwa tidak diragukan lagi temuannya benar. Untuk menghindari ini, menurut

Glatthorn & Joyner (2005) dan Hyland (2000a,b), penulis tesis dan disertasi sebaiknya

menggunakan bahasa “tentativeness” seperti di bawah ini:

it is likely that …
it seems obvious here …
one tentative conclusion that might be drawn… .
It might be suggested that …

Hedging, menurut Hyland (2000b; 2004) mengindikasikan fakta bahwa penulis teks akademik

tidak hanya mengkomunikasikan gagasan atau ide, tetapi juga sikap penulis terhadap gagasan itu

dan juga terhadap pembaca (2000b:83). Penyataan yang memakai hedging memberi ruang

kepada pembaca untuk negosiasi, dan menandai pernyataan yang sifatnya provisional

110

(2000b:85). Hyland, berdasarkan analisis teks akademik dari berbagai disiplin ilmu,

mengklasifikasikan hedging ke dalam tiga kelompok:

Content-oriented hedges: memperhalus hubungan antara isi yang bersifat proposisional dan

konsepsi masyarakat wacana tertentu mengenai bagaimana dunia eksternal itu. Jenis hedging ini

juga disebut sebagai “writer-oriented hedges” mengingat dalam hal ini penulis perlu membuat

pernyataan seakurat mungkin dalam tesis atau disertasinya untuk mengantisipasi pandangan yang

berlawanan dengan yang ditulis. Jenis hedging ini tumpang tindih dengan jenis hedging

accuracy- oriented seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Contohnya:

These may possibly correspond to nucleation on the substrate surface …
This effect implies that each $100 change in welfare benefits is associated …
Another conceivable reason for this decrease could be a change in …
(Hyland, 2000b:84).

Accuracy-oriented hedges: Hedging yang memungkinkan penulis untuk menyatakan

pernyataannya dengan presisi yang lebih besar dalam bidang yang sering rancu dan tidak pasti.

Jenis hedging ini sangat penting untuk menyatakan pernyataan yang kurang meyakinkan dengan

indikasi reliabilitas yang tepat.

Contohnya:

The analysis assumed that the component was soldered on an … .
Freezing-induced dieback is a plausible explanation … .
The design above suggests specific requirements …
… it seems likely that they have a reduced sallience … .
One possibility is that these communities, may all have similar community … (Hyland, 2000b85).

Reader-oriented hedges menyatakan dimensi interpersonal ketimbang dimensi epistemnik dari

negosiasi pengetahuan. Contohnya:

But I believe that the evidence presented so far is enough to make the case …
… we suggest that some of these differences may be attributable to changes in …
In conclusion it is my contention that …
(Hyland, 2000b:85).

111

Jadi, hedging, menurut Hyland (2000b) merupakan ciri yang penting dari tulisan akademik

karena hedging memungkinkan kita membuat pernyataan dengan presisi yang tepat, kehati-

hatian dan juga modesty (kerendahan hati).

Walaupun memberikan saran yang sama dengan Hyland (2000b), tentang penggunaan hedging

dalam tulisan, Glatthorn dan Joyner (2005) dan para penulis lain dalam teori berpikir kritis,

sepeti Reichenbach (2001) juga menyaraknan jangan terlalu banyak menggunakan tentativenss

dengan menggunakan qualifier dalam setiap pernyataan. Dalam hal ini, Glatthorn dan Joyner

(2005) memberikan contoh sebagai berikut:

Terlalu percaya diri: The study proves that schools are loosely coupled systems.

Terlalu tentative: One conclusion that might be drawn from this study is that this particular
school, on the basis of this investigation, seemed to have elements of
organisational structure that might enable to be characterised in general as a
loosely coupled system,” although there were clearly aspects of tight coupling
manifest in certain parts of the system.

Pernyataan yang lebih baik: The findings suggest that most of the organisational element of
this school were only loosely linked, so that it might be generally characterised as

“loosely coupled” (Glatthorn & Joyner, 2005:1440).

Murray (2002:234) juga menyarankan beberapa contoh bagaimana menggunakan hedging

sebagai cara yang diterima yang memungkinkan kita mengklaim keberhasilan tanpa berkata-kata

banyak, seperti dalam pernyataan-pernyataan berikut:

This suggests that: …The findings show that …
The limitations of the study were. ….
Although there were limitations in … there were nevertjheles interesting …. (Murray, 2002:234).

Selain itu, menurut Glatthorn dan Joyner (2005; lihat juga Johnson, 2003), tesis atau disertasi

harus memberi kesan bahwa “The writer is an informed and knowledgable person who knowws

the norms and convenstions of the profession, who has done some interesting and useful

112

research, but who has the good sense to be suitably modest about it” (2005:143). Untuk

mencapai hal ini, menurut Glatthorn dan Joyner, ada beberapa saran sebagai berikut:

1. Berusaha untuk menulis dengan jelas. Tulisan akademik yang baik adalah “lucid”, bahkan

untuk orang yang tidak ahli dalam bidang yang ditulisnya sekalipun. Kejelasan berkaitan

dengan cara menyusun kalimat sehingga setiap bagian dari apa yang ditulis berkaitan satu

sama lain. Kejelasan juga berkaitan dengan memilih kata sehingga kata-kata itu dapat

dimengerti dengan mudah. Kejelasan juga muncul ketika kita menyusun setiap bagian

dengan cara sistematik dan membuat susunan itu jelas kepada pembaca. Menurut Thody

(2006), “The scientific style has seemingly unassailable logic and clarity which demonstrate

analytical, synthetic and critical thinking, the hallmark of a good academic”.

Salah satu cara yang sering dipakai oleh para penulis handal untuk membuat tulisannya jelas

bagi pembaca, seperti dilaporkan oleh Hyland (2000) adalah menggunakan “signposts”

(Hyland, 2000b:48) untuk membantu pembaca memahami argumennya. Menurut Hyland,

penulis mempunyai tugas untuk memberikan pernyataan transisi ketika bergerak dari satu

gagasan ke gagasan lain dan secara teratur menempatkan tanda dalam teks sehingga pembaca

dapat melihat bagaimana penulis menjadikan teksnya sebagai satu kesatuan yang

berkesinambungan. Tanda ini disebut sebagai “metadiscourse marker” (Hyland, 2003:48)

dan berfungsi secara eksplisit mengorganisasikan teks dan memberikan komentar tentang

teks itu dengan menggunakan berbagai ciri linguistik sebagai berikut:

Sequencing points: mengurutkan gagasan: first, second, next, last (pertama,

kedua, terakhir)

113

Connecting ideas: menghubungkan gagasan: however, therefore, on the other

hand) (namun demikian, untuk itu, di sisi lain)

Showing what the writer is doing: memperlihatkan apa yang dilakukan oleh

penulis: to summarise, in conclusion, for example) (Singkatnya, kesimpulannya,

misalnya)

Reviewing and previewing parts of the text (mereviu dan menyatakan terlebih

dahulu bagian-bagian dari teks yang ditulis): in the last section we … , here we

will address … ) (Dalam bagian terakhir dari tulisan ini kita telah …, Dalam

bagian ini kita akan membahas … )

Commenting on content (mengomentari isi): You may not agree that ..., it is

surprising that … (Anda mungkin tidak setuju bahwa …, Sangat mengejutkan

bahwa … ) (Hyland, 2003:48).

2. Memperhatikan kedewasaan atau “maturity” (Glatthorn & Joyner, 2005) dalam setiap kalimat

yang dibuat. Hal ini juga berkaitan dengan kejelasan dan harus diseimbangkan antara

kejelasan dan kedewasaan pernyataan. Mungkin kita bisa menulis dengan cara yang

sederhana yang akan jelas dan mudah dibaca, tetapi ada kemungkinan bahwa tulisan kita

akan tampak kurang matang (immature) untuk pembaca disertasi kita.

3. Memperlihatkan sense of formality. Tulisan disertasi atau tesis merupakan tulisan formal,

sehingga selalu ada ekspektasi bahwa kita menulis tidak dengan cara informal atau coloquial.

Dalam bahasa Inggris, misalnya, contraction sebaiknya tidak digunakan, seperti “He isn‟t, it

didn‟t, they haven‟t” dan sebagainya (lihat juga saran dari Thomas & Brubaker, 2000;

Burton, 2002).

114

Mereka yang menulis dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asing, seperti mahasiswa di

Indonesia, mungkin memerlukan bantuan ekstra dari para pembimbingnya tentang tulisan

yang mereka buat. Supaya pembimbing dapat segera memberikan bantuan yang diperlukan,

seperti telah dikatakan dalam beberapa bagian sebelumnya dari buku ini, kita sebaiknya

segera menyerahkan tulisannya kepada pembimbing dari awal masa penulisan tesis atau

disertasinya. Dengan demikian, kita dapat segera memperoleh feedback tentang tulisan kita.

Berkaitan dengan feedback, Johnson (2003:53) menulis:

Getting feedback on writing assignments gives beginning writers a sense of audience. Here they are able
to see how the writing plays inside the head of a reader. Also other people are often able to help generate
idea that might not have been considered.

Pembahasan mengenai peran feedback dalam tulisan mahasiswa dapat dilihat kembali di Bab

Empat dari buku ini.

4. Membaca tulisan yang baik. Hal ini akan membantu penulis awal untuk memulai

memikirkan bentuk, struktur dan gaya yang dipakai oleh penulis lain, mengembangkan

perbendaharaan kata dan membantu menggali pemahaman mengenai tata bahasa.

5. Menyimak orang lain yang berbicara dengan baik. Hal ini juga akan membantu

mengembangkan perbendaharaan kata dan memberikan contoh yang berkaitan dengan

bentuk dan struktur kalimat.

6. Menulis sebanyak dan sesering mungkin. Mengorganisasikan gagasan, menuliskannya dalam

satu kesatuan yang utuh dalam kertas, dan menulis merupakan cara tercepat dan paling

efektif untuk mengembangkan keterampilan menulis. Menurut Johnson, orang tidak akan

bisa menjadi penulis yang baik tanpa banyak melakukan latihan (2003:53). “Menulis dimulai

dengan mengatakan sesuatu dan keterampilan untuk mengatakannya” (Hamilton & Clare,

115

2003a:1). Keterampilan untuk mengatakan sesuatu dalam tulisan ini tidak bisa muncul secara

tiba-tiba, tetapi didapat melalui latihan.

Pentingnya menulis juga dirasakan oleh para penulis buku teks (lihat Richardson, Morgan &

Fleener, 2006:332) yang mengatakan bahwa menulis sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai

alat evaluasi laporan penelitian, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman.

Ricahrdson, Morgan dan Fleener (2006:332) menegaskan:

We learn more about our field of knowledge as we wrote this book. We discovered ways to express the
information that we wanted to share, with readers; before we draftted this text, we did not know all
that we would write. In a similar way, readers learn as they read. Because both reading and writing
can assist comprehension (2006:332).

7. Menggunakan bahasa yang objektif dan subjektif. Dalam tulisan akademik biasanya penulis

menggunakan objective stance (Johnson, 2003:33). Namun demikian, ada juga saat ketika

penulis sangat tepat menggunakan subjective stance. Objektif berarti impartial atau tidak

memihak. Walaupun mungkin pendapat kita sangat subjektif, menurut Johnson, sebaiknya

kita berusaha untuk membiarkan gagasan dan informasi yang berbicara untuk mereka

sendiri. Kita sebaiknya tampak sebagai pemberi informasi yang tidak bias, dan hal ini dapat

membantu menciptakan makalah yang jauh lebih kuat.

Berkaitan dengan objektivitas, Mauch dan Park (2003:261) mengatakan bahwa penulis harus

objektif baik terhadap pekerjaannya maupun terhadap pekerjaan orang lain. Objetivitas,

menurut Mauch dan Park merupakan syarat dari bisa dipercaya atau tidaknya apa yang kita

tulis.

116

Berikut adalah contoh dari Johnson (2003:33-34) mengenai beberapa pernyataan yang dapat

dikatakan efektif dan kurang efektif dalam tulisan akademik berdasarkan objektivitasnya:

Pernyataan kurang efektif: In my opinion, the Wizard of Oz is the best movie ever made. I really like
the story line because it is so well developed. And who can forget all the
memorable characters? The music and dance numbers are fantastic and
help to produce an effect which I found very enjoyable
(Johnson, 2003:33-
34 ).

Pernyataan lebih efektif: The Wizard of Oz is a classic movie. The story line is strong, the characters
are well developed, and the music and dance numbers add greatly to the
overall effect (Johnson, 2003:33-34).

Selain itu, Johnson (2003) juga menyarankan bahwa tulisan akademik juga harus

menghindari beberapa pernyataan sebagai berikut:

“Letter to the editor syndrome”: yang kadang-kadang dimulai dengan pernyataan yang

bersifat menghakimi dan kata-kata buzzword (kata baru yang mulai sering dipakai) secara

emosional. Gaya penulisan ini melemahkan argumen yang kita tulis dan hanya meyakinkan

mereka saja yang memang sudah yakin. “Those who agree with your position will continue

to agree, while those who have a different position will be put off” (2003:33). Contohnya:

Pernyataan yang kurang efektif: I really believe that congress should pass an amendment against the
disgusting act of burning the American flag. This outrageous
behaviour is an insult to our brave men and women who have died
for our great nation.
Pernyataan yang lebih efektif: Congress should pass an amendment against flag burning out of
respect for those who have died in the service of our country.

Pernyataan yang mengandung nilai atau Value Statements (Johnson, 2003:34). Dalam

pernyataan seperti ini, peneliti biasanya mengatakan keyakinannya tanpa memberikan

dukungan terhadap pernyataannya. Walaupun pernyataan itu memang merefleksikan

keyakinan atau nilai yang dianut oleh penulis, pernyataan itu bisa dibuat lebih kuat dengan

menghilangkan “value words” seperti: must, should dan need to be. Pernyataan yang kita

117

buat akan lebih baik kalau kita hanya mengatakan gagasan dan mendukung gagasan itu.

Misalnya:

Pernyataan yang kurang efektif: Teachers really should use ability groups.

Pernyataan yang lebih efektif: Using ability groups helps teachers meet the needs of
the students
.

Pernyataan kurang efektif: A study by Smith (1998) reveals a startling statistic:
students spend an average of only ten minutes a day in
authentic reading materials.

Pernyataan yang lebih efektif: A study by Smith (1998) showed that students spend an
average of 10 minutes a day in authentic reading
experiences. Increasing this substantially will enhance

students‟ reading ability.

Pernyataan yang kurang efektif: Educators need to recognize other forms of
intelligence
.

Pernyataan yang lebih efektif: Recognising other forms of intelligence will help
educators develop the full potential of all their students.

8. Memahami perbedaan bahasa lisan dan tulisan (Johnson, 2003: 38). Bahasa tulisan

berbeda dengan bahasa lisan dalam banyak hal. Bahasa tulisan, seperti dikatakan oleh

Tannen (1984; 2001); Halliday (1985b); Kress (1985, 1989); Eggins (1994), bersifat

permanen dan dengan salah satu hakekatnya itu, bahasa tulisan lebih elaborate dan lebih

tersusun. Menulis memungkinkan kita untuk menguji pikiran kita, sehingga tulisan kita

bisa diuji, dianalisis, dibentuk, dievaluasi, diedit, dipilih, dan disusun sebelum tulisan itu

diberikan. Sekali tulisan itu diberikan, maka pikiran kita akan beku sejalan dengan waktu.

Mengingat bahasa tulisan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang mungkin jauh dengan

kita, baik dari segi jarak maupun dari segi waktu atau pemahamannya dengan apa yang

kita tulis, seperti dikatakan oleh Kress (1982,1985), maka penulis dituntut untuk menulis

118

dengan sejelas-jelasnya supaya pembaca bisa memahami tulisan kita. Hal ini, menurut

Kress merupakan salah satu faktor yang membuat menulis sulit.

Bahasa lisan tidak permanen dan sering mengandung interaksi dengan manusia lainya.

Bahasa lisan mengandung kalimat yang pendek, kurang formal, dan tidak terorganisasi

dengan baik seperti bahasa tulisan. Kelebihan dari bahasa lisan adalah kita bisa melihat

audience, menilai reaksi mereka terhadap kata-kata yang kita ucapkan, dan membuat

penyesuaian dengan segera. Kelemahan dari bahasa lisan adalah bahwa bahasa itu

membuat kata-kata kita terbang di udara tanpa ada kesempatan untuk menguji atau

membetulkannya (Johnson, 2003:37). Selain itu, mengingat bahasa lisan itu dipakai

dengan orang-orang yang memiliki shared context dengan kita, maka kita tidak perlu

membuat pernyataan yang lengkap yang jelas karena karena lawan bicara sudah

memahami apa yang kita maksud. Hal ini membuat bahasa lisan tidak sesulit bahasa

tulisan (lihat Kress, 1982, 1985).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->