P. 1
km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

|Views: 5,378|Likes:
Published by sutans5923

More info:

Published by: sutans5923 on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

Mahasiswa yang mengambil program pascasarjana, terutama mereka yang mengambil program

doktor, pada umumnya sudah bekerja dan berkeluarga, dan “sudah tidak muda lagi” (Wellington

dkk, 2005:4). Keputusan untuk mengambil program pascasarjana, baik program magister

maupun doktor tentu merupakan keputusan yang dibuat secara matang, melibatkan pertimbangan

berbagai pihak yang dekat dengan mereka, terutama keluarga, instansi tempat bekerja, dan

sebagainya.

12

Dengan kondisi mahasiswa yang umumnya sudah bekerja, maka sebelum mengambil program

pascasarjana, mahasiswa seyogianya memikirkan dengan matang bahwa “belajar sambil bekerja

itu bukan hal yang mudah, karena berarti harus bekerja ekstra” (Wellington dkk, 2005:16).

Dengan demikian, alasan yang dimiliki mahasiswa untuk mengambil program pascasarjana,

terutama program doktor, sangat berpengaruh terhadap apa yang dicari dan dihasilkan dari

program itu, dari pengalaman belajar sebagai mahasiswa magister atau doktoral. Khusus untuk

mahasiswa doktor, Wellington dkk (2005:17) menegaskan:

Enrolling for a doctorate is rarely a snap decision and, given the amount of time, effort, energy and
commitment that will be required on the part of the student and, often their family and friends, nor should it
be. This is not something to take up on a whim, since most doctorate take a minimum of three or four years
study to complete (depending on whether they are full or part-time programmes) and a substantial number
of people are finishing off into subsequent years.

Although it might sound something of a truism, in order to be successful on a doctoral programme, you
have really got to want to do it (Wellington, dkk, 2005:17).

Salah satu hal yang perlu dilakukan sebelum memulai menulis tesis atau disertasi, menurut

beberapa penulis (seperti Swetnam, 2000; Johnson, 2003; Roberts, 2004; Wellington, dkk,

2005), adalah self-assessment atau evaluasi diri. Dalam evaluasi diri ini, Swetnam (2000)

menyarankan kepada mahasiswa doktor, yang menurut penulis relevan juga untuk mahasiswa

magister, beberapa hal seperti yang ada dalam Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Pertanyaan Evaluasi Diri 1

1. Apakah kita mempunyai komitmen dan motivasi?
2. Apakah kita bisa mengatasi tuntutan pekerjaan dan juga keluarga?
3. Apakah kita mempunyai keterampilan membaca dan menulis?
4. Apakah kita bisa melakukan perjalanan dan kerja malam hari?
5. Apakah kita bisa membayar uang kuliah atau mendapatkan bantuan dana untuk kuliah?
6. Apakah kita bisa bekerja mandiri?
7. Apakah kita bisa merespon atau menanggapai tekanan dan deadline (batas waktu) untuk menyelesaikan
sesuatu)? (Swetnam, 2000:14)

Kalau pertanyaan di atas tampak terlalu “suram”, Swetnam (2000) menambahkan, bahwa kita

bisa mencoba pertanyaan seperti dalam Tabel 2.2 di bawah ini.

13

Tabel 2.2 Pertanyaan Evaluasi Diri 2

1. Apakah kita menantikan pengalaman yang menyenangkan dan menguntungkan?
2. Apakah kita ingin memperluas kemampuan berpikir kita?
3. Apakah kita ingin bertemu dengan orang-orang yang memberi semangat?
4. Apakah kita siap untuk meningkatkan kesempatan berkarir kita?
5. Apakah kita ingin merasa bangga dengan pencapaian atau prestasi kita?
(Swetnam, 2000:15).

Selain itu, dengan nada yang sama, yang ditujukan kepada mahasiswa doktor, yang sebenarnya

juga relevan untuk mahasiswa magister di Indonesia, Roberts (2004, lihat juga Lawton, 1997)

menyarankan bahwa sebelum mengambil program magister atau doktor, sebaiknya kita bertanya

tentang beberapa hal seperti di bawah ini:

1. Apa yang mau kita korbankan atau pengorbanan apa yang mau kita lakukan? Hal ini sangat

penting karena tidak ada keberhasilan, termasuk keberhasilan mencapai gelar magister atau

doktor, tanpa ada pengorbanan.

2. Apakah kita mau mengorbankan kesenangan sebentar untuk tujuan jangka panjang?

Menurut Roberts, menulis tesis, apalagi disertasi, seperti yang akan dipaparkan dalam bab-

bab selanjutnya dari buku ini, merupakan tugas yang demanding, banyak persyaratan,

memerlukan waktu yang lama, menghabiskan uang dan energi yang bisa mempengaruhi

segala aspek kehidupan kita. Roberts juga menegaskan bahwa menulis disertasi (dan juga

tesis) bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan antara kita dengan suami atau istri,

anak, kolega, atau teman, dan bisa mempengaruhi pelaksanaan tugas sehingga dapat

menimbulkan konflik antara kita dengan atasan kita.

Oleh karena itu, mahasiswa yang sedang menulis tesis atau disertasi seyogianyalah meminta

dukungan dan pengertian kepada orang-orang di sekelilingnya. Dalam hal ini, salah satu

saran yang diberikan oleh Bolker (1998) untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul

selama penulisan tesis dan disertasi tampaknya perlu diikuti. Yakni, kepada instansi tempat

14

bekerja, kita sebaiknya meminta untuk tidak diberi beban pekerjaan ekstra selama menulis

tesis atau disertasi. Kepada keluarga, mungkin sebaiknya minta izin untuk mempunyai kamar

yang berantakan, karena mungkin buku akan berserakan ketika kita yang sedang menulis

tesis atau disertasi membaca banyak referensi, dan meminta pengertian kalau kita

mengatakan ”tidak” atas ajakan-ajakan yang kurang relevan dengan penulisan tesis atau

disertasi. Demikian juga kepada kolega, kita hendaknya belajar mengatakan ”tidak” tanpa

ada rasa bersalah ketika kita diajak melakukan kegiatan yang kurang berkaitan dengan

penulisan tesis atau disertasi kita.

3. Seberapa lama kita bisa bertahan? Dalam hal ini, Roberts (2004) menyarankan bahwa kita

bertanya apakah kita bisa siap dengan stres yang biasanya mendampingi kemunduran dan

tuntutan ekstra dalam waktu kita.

Mengenai deadline, seperti yang diungkapkan oleh Swetnam di atas, Roberts (2004),

berdasarkan pengalamannya dalam membimbing mahasiswa doktor, mengatakan bahwa

sebagian mahasiswa memerlukan “deadlines” atau batas waktu untuk bekerja secara efektif.

Namun demikian, menurut Roberts, mahasiswa harus berkata kepada diri sendiri bahwa

menunggu sampai batas waktu untuk memulai menulis hasil penelitian akan menimbulkan stres

yang semestinya tidak dialami, dan membuat mereka lelah dan tidak kreatif. Hal ini juga bisa

berdampak terhadap kualitas tesis yang ditulis. Pentingnya menulis sejak dini akan dipaparkan

dalam beberapa bagian kemudian dari bab ini dan beberapa bab selanjutnya dari buku ini.

15

Selain dari memikirkan hal di atas, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi

diri, yakni gaya belajar atau learning styles (Smith, 2002:30). Menurut Smith ada empat macam

gaya belajar, yakni:

Activists: belajar dengan baik dimana mereka melibatkan diri dalam tugas yang diberikan

(melalui permainan dan simulasi, olah raga dalam tim, dan sebagainya). Gaya belajar

seperti ini biasanya belajar dengan praktek melakukan.

Reflectors: Belajar dengan baik dari aktivitas yang di dalamnya mereka mempunyai

kesempatan yang banyak untuk mereviu dan merefleksikan apa yang terjadi.

Theorists: Belajar dengan baik kalau apa yang dipelajari merupakan sebuah sistem,

model, konsep atau teori.

Pragmatists: Belajar dengan baik kalau ada hubungan yang jelas antara apa yang

dipelajari dengan masalah atau kesempatan dalam pekerjaan.

Setelah kita berusaha untuk menilai gaya belajar, kita bisa memikirkan kegiatan atau cara belajar

yang paling efektif untuk kita sehingga kita bisa menyelesaikan tesis dan disertasi dengan baik

dan tepat waktu.

Setelah kita mengevaluasi diri dengan cara bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di

astas, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah membangun rasa percaya diri, yang akan

dipaparkan di bawah ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->