P. 1
km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

|Views: 5,378|Likes:
Published by sutans5923

More info:

Published by: sutans5923 on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

Menulis kajian pustaka, menurut Thody (2006: 93-98) melaui satu proses, yang digambarkan

sebagai berikut:

Mencatat ------meringkas -------mengintegrasikan ------menganalisis -------mengkritisi

Gambar 9.2 proses penulisan kajian pustaka (Thody, 2006:93)

Masing-masing proses atau tahapan dalam penulisan tesis dan disertasi, menurut Thody (2006)

dapat diterangkan sebagai berikut.

Mencatat

Kegiatan ini dilakukan persis setelah kita membaca sebuah sumber. Dalam merekam sumber

maka semua informasi harus dimasukkan, tidak hanya pendapat atau isinya saja, tetapi juga

penulis, tahun terbit dan halaman serta penerbit dan kota diterbitkannya sumber itu. Kalau kita

gagal melakukan hal ini, maka, menurut Thody, nanti di draft akhir kita akan menemukan bahwa

kutipan yang penting, tidak mempunyai halaman, atau tidak tahu penerbitnya dan sebagainya.

Hal ini bisa memakan waktu lama, dan seperti akan dijelaskan di bawah dalam bab ini,

merupakan kegagalan yang sering dialami oleh penulis tesis dan disertasi dalam menulis kajian

pustaka.

Meringkas

202

Ketika kita mencatat, kita juga ingin memahami makna temuan buku atau bahan bacaan yang

dibaca dan hubungannya dengan penelitian yang kita lakukan. Ketika mencatat bahan bacaan,

kita sebaiknya tidak terlalu banyak membuat catatan, apalagi untuk mahasiswa doktor yang

diharapkan dapat membaca buku lebih dari 100, belum artikel jurnal dan lain sebagainya, bahkan

di beberapa institusi di Australia, misalnya, mahasiswa doktor yang mengambil Ph.D diharapkan

membaca sekitar 300 entri. Kalau dari satu entri mencatat 100 kata, maka penulis disertasi akan

dengan sangat cepat bisa menghasilkan 15000 kata setelah membaca banyak bahan bacaan.

Thody (2006) menyarankan bahwa mahasiswa cukup mencatat 150 kata atau satu paragraf atau

mungkin satu kalimat saja yang berkisar antara 20-30 kata.

Ketika mencatat, Thody (2006:94) juga menyarankan bahwa penulis:

1. Mencatat atau menulis dengan kata-kata sendiri. Dengan cara ini penulis bisa menghindari

plagiarisme dan mulai berinteraksi dengan informasi, yang merupakan pendahuluan dari

analisis dan kritik yang berhasil; atau

2. Kalau mencatat kata-kata yang ditulis di buku atau di bahan bacaan, maka catatan itu harus

diberi tanda kutip, dan dengan demikian, kita akan ingat bahwa kita akan perlu memparafrase

catatan itu dengan kata-kata kita kalau kita menulis versi terakhir dari tesis atau disertasi.

Kalau kita mau mempertahankannya verbatim, maka kita harus menuliskan sumbernya.

Meringkas, menurut Thody (2006:94) merupakan cara menulis kajian pustaka yang paling

sederhana, tetapi paling membosankan. Ringkasan merupakan listing atau daftar atau urutan dari

siapa mengatakan apa, satu persatu, dengan perbandingan yang implisit. Hal ini, menurut Thody,

203

bisa dipakai kalau kita menulis untuk tugas yang pendek atau jurnal yang hanya memberi ruang

sedikit untuk kajian pustaka.

Contoh kajian pustaka yang merupakan ringkasan yang diambil dari sebuah jurnal akademik

dapat dilihat di bawah ini.

A fundamental question regarding teaching professional ethics is can ethics actually be taught? Peppas
and Diskin (2001) in a study of the attitudes of university students regarding professional and
businessethics concluded that ethics teaching appeared not to promote significant differences in ethical
values compared with students who had not been taught ethics. However, Clakeburn (2002) and Haydon
(2000) argued that ethics should be taught because … Waldman (2000) stated that because all mature
professions have a well-developed code of ethics, this should … . In terms of how to include ethics teaching
within the curricula, Krawszyk (1997) described three approaches … [and] concluded that formal
lecturing did not appear to stimulate the development of moral judgement … . Wright (1995) identified a
number of factors that may have an impact on the effectiveness of … (Taylor et al, 2004:44, dikutip oleh

Thody, 2006:94).

Cara menulis kajian pustaka seperti di atas, seperti dikatakan oleh Clare (2003), merupakan cara

literature dominan, dan menurut Johnson (2003) kurang efektif karena membiarkan orang lain

mendominasi tulisan kita.

Mengintegrasikan

Setelah meringkas, kita perlu mengintegrasikan sumber bahan ringkasan yang dikutip. Kita harus

menyatukan dan membandingkan semua sumber yang telah dikutip satu dengan yang lain dan

disusun dalam satu kategori dengan pustaka lain yang berhubungan. Dalam tesis atau disertasi,

menurut Thody (2006) kategori biasanya dipaparkan dalam list (daftar) yang kemudian bisa

dibahas sepenuhnya nanti dalam bab kajian pustaka itu.

Contoh di bawah ini, merupakan daftar yang dikutip dari tesis tingkat Master oleh Thody

(2006:95).

Creating Teams

(i)

Team members to have a clear sense of self ... (Katzenbach and Smith, 1993:12).

204

(ii)

Team members must understand what the rest of the team can contribute … (Katzenbach and

Smith, 1993:12).

(iii)

A team must recognize where skills are lacking (Katzenbach and Smith, 1993:12) (dikutip
dari Thody, 2006:95).

Contoh lain adalah integrasi mengenai aspek berpikir kritis yang ditekankan dalam penelitian

yang dilakukan penulis (Emilia, 2005).

Other components essential to CT were also emphasized, such as: the issue, the question that is being
addressed (Diestler, 2001; Bowell and Kemp, 2002); the main or primary question the author asks and
then goes on to answer (Reichenbach, 2001; Bowell and Kemp, 2002); reason, the central point of an
argument, as it provides support for claims (Toulmin et al, 1984, Beyer, 1997, Diestler, 2001, p. 9), and it
is by means of reasoning that we extend and defend claims or knowledge (Lipman, 2003, p. 179); facts,
which is what actually happened, what is true (Glossary of CT: F-H, 2001), verifiable by empirical means,
distinguished from interpretation, inference, judgment (Picciotto, 2000) and opinions, something that may
be believed to be true, but questionable or debatable (Picciotto, 2000). Students‟ capacity to differentiate
facts and opinions in particular constitute a critical importance in academic discourse, as Hyland (1999, p.
106) suggests (Emilia, 2005:25).

Dalam mengintegrasikan teori atau pustaka yang dibaca, Rudestam dan Newton (1992:53)

menyarankan bahwa kita sebagai penulis tesis atau disertasi sebaiknya membuat Diagram Venn

untuk melihat persamaan dan perbedaan dari masing-masing referensi atau teori yang kita bahas.

Rudestam dan Newton menggambarkan proses mengintegrasi teori seperti terlihat dalam gambar

di bawah ini.

Gambar 9.3. Diagram Venn untuk memandu kajian pustaka
(Rudestam & Newton, 1992:53)

205

Kalau kita sudah mengintegrasikan teori yang kita baca, maka akan besar kemungkinan kita akan

menggunakan beberapa referensi untuk satu pernyataan yang kita tulis, seperti contoh di atas.

Misalnya:

Dalam teori berpikir kritis ada dua konssepsi, yakni konsepsi umum dan konsepsi subjek spesifik (lihat
Ennis, 1992; Perkins, 1992).

Menganalisis

Analisis merupakan proses pembagian informasi menjadi bagian-bagian konstituennya, sehingga

hubungan antara bagian-bagian itu jelas. Dalam masing-masing kategori, sumber yang kita kutip

dibahas berkaitan dengan berbagai tema, seperti:

-Konteks: Penulis tesis atau disertasi menggunakan kajian pustaka untuk menghubungkan

penelitiannya dengan waktu penelitian. Hal ini dapat dilihat dalam contoh berikut:

The central contention is that ... the creation and application of … standards presented a series of
„opportunities and dilemmas‟ (Bolam, 1997:278) [during] the latter part of the twentieth century] which
launched a still continuing revolution in education in England (Thody, 2000). (dikutip dari Brundett,
2003:10,14 dalam Thody, 2006:96).

-Istilah atau teori umum. Contoh berikut diambil dari jurnal terakreditasi, yang dikutip dari

Thody (2006:96).

We need to focus upon the ideology of male sexual needs (Mary McIntosh, 1978) … .
We need to explore masculinities …[including] an analysis of the masculinist state tied to the capital
accumulation prosess on the one hand and the myth of democratic legitimation on the other (O‟Neill,
1996:9, dikutip dari Thody, 2006:96).

-Temuan spesifik dari penelitian sebelumnya. Apa yang diteliti dan bagaimana? Apa hasil

penelitiannya? Sampel apa yang dipakai? Apakah temuan penelitian didukung dengan bukti?

Apakah kekurangan penelitian dinyatakan?

206

- Hubungan antara penelitian sebelumnya. Bagaimana penelitian sebelumnya berbeda atau

sama? Apakah penelitian-penelitian itu menggunakan konsep, metodologi dan terminilogi yang

hampir sama? Yang mana yang bersifat seminal? Berikut adalah contoh kajian pustaka yang

menunjukkan hubungan antara penelitian yang dilakukan sebelumnya.

It is a virtue of intrinsic properties that things affect other things. This is a widely held view in
contemporary metaphysics [Jackson et al., 1982; Amstrong, 1983; van Cleave, 1995] and it is shared by
Lewis himself (Langton, 2004:130) (dikutip dalam Thody, 2006:97).

- Hubungannya dengan penelitian kita. Bagaimana penelitian itu berbeda dengan penelitian kita,

mungkin dalam hal metode, dasar filosofisnya, sampel, fokus atau temuan penelitiannya. Hal

ini dapat dilihat dalam contoh berikut ini yang dikutip dari Thody (2006: 97).

One ... important point of difference between our study and that of Buckler and Zien is worth noting ... they

follow the path of students of symbols, myths and challenge change … . Our approach is different in that

we focused on stodry-telling (Barnett dan Storey, 1999: 7, dikutip dalam Thody, 2006:97)

Mengkritisi

Kritik merupakan kunci dari tulisan akademik mengingat kita mengevaluasi hasil karya orang

lain dan juga hasil karya kita sendiri (Thody, 2006:98). Kritik, menurut Thody dapat

didefinisikan seperti dalam Tabel 9.1 berikut ini.

Tabel 9.1 Definisi Kritik dalam Kajian Pustaka
(Sumber: Thody, 2006:98)

Bertanya ”apa yang tersembunyi di balik yang dimunculkan ... kepentingan siapa yang dilayani atau

diselamatkan dan dengan cara apa dalam kebijakan, praktek, budaya atau wacana (Knight, 2002:12).
Melibatkan pemberian kredence kepada argumen lain dan memperlihatkan seberapa banyak
dukungan yang ada untuk pendapat atau argumen selain yang kita pegang.
Kritik biasanya dinyatakan dengan cara yang sangat baik dan tidak destruktif, dengan kritik yang
didukung oleh bukti. Kritik hanya terbatas pada isi tulisan, bukan kepada kepribadian penulis.
Bersifat positif dan apresiatif, tetapi juga negatif dan tidak mendukung.
Berkaitan dengan bergabung dalam debat penelitian yang lebih luas dengan mereka yang mungkin
belum pernah kita temui (Balxter et al., 2001:230) tetapi yang terdiri dari masyarakat penelitian kita.
Skeptis dalam bersikap, berdasarkan kekhawatiran tentang temuan peneitian kita dan temuan
penelitian yang lain (Thody, 2006:98).

Contoh berikut yang diambil dari Thody (2006:98) mungkin bisa dijadikan sebagai model dalam

mengkritisi hasil karya orang lain, sesuai dengan petunjuk di Tabel 9.1 di atas.

207

So far, not much attention has been paid to the ideas of Daniel R. Headrick … Central to his wellknown
The Tools of Empire: Technology and European Imperialism in the Nineteenth Century is the assertion

that European imperialism resulted from a combination of appropriate motives and adequate means …
coupled with new technological means … Headrick technological dimensions is a welcome addition to the
imperialism debate, especially since the motives for expansion have been … given undue attention [in
other works] … Stressing the equal importance of the means of expansion seems to be particularly relevant

to the Dutch case. (Bossenbroek, 1995:27, dikutip dalam Thody, 2006:98).

Setelah kita melalui semua tahapan ini, maka ketika kita menulis bab kajiam pustaka kita bisa

dengan percaya diri mengatakan payung dari teori yang melatarbelakangi penelitian kita, dan

kita akan tahu persis, aspek apa dari teori yang ada itu yang akan menjadi fokus penelitian kita.

Sehingga di awal kajian pustaka kita bisa dengan percaya diri mengungkapkan argumen yang

menjadi penelitian kita seperti dalam contoh yang dipaparkan dalam Tabel 9.2 di bawah ini.

Tabel 9.2 Contoh pendahuluan dalam kajian pustaka

The study will be given shape by three main theories. The first broad theory is to do with the genre-based approach,
especially the systemic functional linguistic GBA as suggested by, among others Martin (1997), Derewienka (1990),
Gibbons (2002), Christie, Rothery, Martin (1994), Rothery (1996), Feez (2002); Feez and Joyce (1998) and others. The
model of the GBA to be the basis of the study will be particularly the one suggested by Feez (2002) and Gibbons (2002)
which consists of four stages, including: Building Knowledge of the Field, Modelling, The Joint Construction and the
Independent Construction Stages.

The second theory will be the critical thinking (CT) theory, particularly the concept of CT from the CT movement, as
suggested, among others by Lipman (2003), Ennis (1992), Moore and Parker (1995); Norris (1989, 1992); Paul (1991),
Paul et al (2002). One of the definitions of CT that will be employed in the study is that “CT is a careful, deliberate
determination of whether we should accept, reject, or suspend judgment about claim - and of the degree of confidence with
which we accept or reject it (Moore and Parker, 1995, p. 4). The definition of CT above reveals among others a
commitment to values of careful judgment, and of using objective factors to make decisions

The last theory that will give shape to the study will be the theory of critical literacy, especially the social theory of literacy,
as suggested by Heath (1983), Luke (1994), Luke and Freebody (1997), Comber (2002), Janks (2001), Johns (2002) and
the work under the umbrella of the critical language awareness (CLA) as developed in EFL contexts in Britain by Wallace
(1992). Under this theory, as suggested by Luke and Freebody (1997, p. 193), “writing and reading are social activities,
that is, we are always reading something, written by someone or writing something for someone. These others are always in
some relationship to us-often materially or symbolically unequal relationships of power but always relationships in which

versions of „ourselves‟ and „others‟ are implicated and constructed. Even those texts we read or write that come from or are

intended for people we do not know assemble versions of our identities and positions as readers - as men and women,
students and teachers, taxpayers and newspapers readers, and so forth. … “ (Emilia, 2006: 3).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->