P. 1
km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

km98a6ha3g1phordo8vs0emzrjl4oljf

|Views: 5,378|Likes:
Published by sutans5923

More info:

Published by: sutans5923 on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

Sections

Ada beberapa hal yang harus dibahas dalam bagian ini, dan menurut Hamilton dan Clare

(2003a:12, lihat juga Oliver, 2004) beberapa hal itu, di antaranya adalah:

1. Desain penelitian, misalnya rencana untuk melakukan penelitian dan melakukan penelitian

termasuk tahap-tahap yang dilakukan untuk memperlihatkan kerja keras. Ini didefinisikan

untuk penggunaan metode penelitian yang dipakai.

2. Siapa yang menjadi partisipan, dan bagaimana mereka dipilih. Kalau di negara yang

memerlukan ethics approval, bagian ini harus menyebutkan bagaimana ethics approval

diperoleh.

3. Detil mengenai data apa yang diperoleh dan bagaimana.

4. Bagaimana data diproses, dianalisis dan diusun. Bagian ini, menurut Oliver (2004) sebaiknya

dipaparkan dengan sejelas-jelasnya.

Petunjuk umum untuk menuliskan metodologi, menurut Hamilton dan Clare (2003a:13) adalah

bahwa proses pelakasanaan penelitian diterangkan dan dijustifikasi dengan cara yang akurat dan

pendekatan penelitian diterangkan. Dengan memberikan gambaran mengenai pelaksanaan

penelitian, tambah Hamilton dan Clare, maka penulis akan memungkinkan pembaca untuk

membuat penilaian mereka terhadap kredibilitas penelitian. Deskripsi seperti ini sangat penting

untuk penelitian kuantitatif yang mengandalkan replikasi penelitian untuk mengkonfirmasi

temuan.

231

Selain itu, menurut Kilbourn (2006), bagian metodologi bisa terdiri dari dua bagian. Bagian

pertama merupakan justifikasi terhadap pendekatan umum terhadap penelitian – justifikasi

seperti mengapa pendekatan experimental, survey, interpretive, kritis, dsb dianggap sebagai

metode yang paling tepat untuk penelitian itu. Bagian kedua bisa berisi pembahasan rinci

mengenai metode khusus tertentu yang akan digunakan dalam pengumpulan data, interpretasi

dan presentasi dari penelitian yang dilakukan.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu dijelaskan dalam bab metode penelitian, berdasarkan

penjelasan dari Swetnam (2000); Hamilton dan Clare (2003a); Calabrese (2006) dan Murray

(2002). Beberapa hal yang harus dipaparkan itu adalah sebagai berikut:

1. Mengapa metode penelitian tertentu dipilih.

Dalam hal ini, Hamilton dan Clare (2003a) mengatakan bahwa terlepas dari pendekatan

yang digunakan, penulis berkewajiban untuk menjelaskan dan menjustifikasi bagaimana

mereka melakukan penelitian. Laporan penelitian mempunyai bagian yang digunakan untuk

menerangkan bagaimana peneliti melakukan penelitian dan mnengapa melakukan dengan

cara itu.

Berkenaan dengan hal ini, dalam memaparkan metode penelitian atau apa yang disebut

dengan “research perspective” (Calabrese, 2006:39), kita sebaiknya menerangkan

boundaries atau cakupan penelitian yang dilakukan dan mengapa memilih metode itu. Hal

ini bisa dilihat dalam contoh berikut.

Contoh 1:

This research study was guided by phenomenological inquiry approach. Since this study aimed at

232

understanding the perceptions and experiences of teachers from their own point of view,
phenomenolohgy was an ideal guiding framework as it is committed to understanding
phenomenon from the actors perspectives … . In addition, phenomenological inquiry focuses on
the question , “ what is the structure and essence of experience of this phenomenon for these
people? (Patton, 1990) and the study sought to understand the structure and experiences of the
participants” (Wayubele, 2003:70, dikutip oleh Calabrese, 2006:39).

Contoh 2:

Based on the classification of research designs from Nunan (1992), this research can be
characterised as a qualitative program evaluation because in this study the researcher created
and then implemented a teaching program. In the course of the program, she evaluated the value
and the effectiveness of the program, through ongoing assessment of students‟ achievements
(done by herself and her colleague who was involved in this study) relevant to the objectives of
the program. This assessment was valuable “to assist the researcher in deciding whether the
teaching program needed to be modified or altered in any way so that objectives may be

achieved more effectively” (Nunan, 1992, p. 185).

However, this research also has similar characteristics to a case study. First, like a case study, it

was carried out in “a small scale, a single case” (Stake, 1985, p. 278). It “focused on one
particular instance of educational experience or practice” (Freebody, 2003, p. 81), that is, a
teaching program, where “the researcher acted as teacher” (Stake, 1995, p. 91). The second

characteristic, which constitutes the important aspect of case study, as Yin (1993, p. 32)
suggests, is that this research employed “multiple sources of evidence – converging from the
same set of issues” (Yin, 1993, p. 32) or “multiple data collections and analytic procedures”
(Freebody, 2003, p. 83) to allow for “in-depth study” (Ary, Jacobs and Razavieh 1972; Connole,
1993) or “down to earth” study (Cohen and Manion, 1985, see also Cohen, Manion and

Morrison, 2000). Multiple data gatherings aimed to enhance the construct validity of the study
(Yin, 1993, p. 39-40) and to gain more rounded and complete accounts to test the values and
effectiveness of the teaching program implemented in this study, as mentioned in the purpose of
the study above. The third characteristic is that this study used text analysis, which is another
method of qualitative case study (Travern, 2001; Freebody, 2003), using SFG, which provides a

powerful analytical tool, and constitutes “one of a variety of linguistic approaches that have
been well developed in the area of education” (Freebody, 2003, p. 185)
(Emilia, 2005:74-75).

Contoh dalam bahasa Indonesia dapat dilihat dalam ekstrak di bawah ini.

Metode penelitian yang kami pakai dalam penelitian ini adalah participatory action research (Carr &
Kemmis, 1986; Marshall & Rossman, 12006) dimana semua personil dalam penelitian mempunyai
peran serta status. Selain itu, penelitian ini mungkin bisa dikatakan sebagai alat untuk memberi
pencerahan pengalaman hidup, dalam hal ini mengajar dengan memberikan gambaran dan
mendukung adanya aksi, yakni perbaikan dalam pemahaman mengenai konsep serta prinsip dasar
pendekatan genre-based. Mengingat penelitian action research dan participatory action research
merupakam jenis penelitian yang mengandung taking action sebagai hal yang paling utama dalam
penelitiannya (Marschall & Rossman, 2006: 37-38), maka penelitian ini pun mengutamakan adanya
aksi yang ditujukan untuk perbaikan pengajaran bahasa Inggris dan pencapaian siswa dalam belajar
bahasa Inggris di tempat penelitian khususnya (Emilia, dkk, 2008).

2. Apa karakteristik dari populasi, sampel atau eksperimen. Dalam mendeskripsikan partisipan,

penulis hendaknya menjelaskan beberapa hal seperti gender, usia, suku atau etnik dan latar

belakang sosial ekonomi. Penulis, menurut Calabrase (2006:43) hendaknya menggunakan

233

deskripsi yang tepat sehingga memungkinkan pembaca membayangkan partisipan. Penulis

juga, tambah Calabrase, dengan mengutip Bradley dkk (1994), sebaiknya menggambarkan

cara atau proses memilih partisipan. Kalau partisipan drop out dari penelitian, maka penulis

sebaiknya menjelaskan berapa yang drop out dan alasannya. Contoh:

African America and European American females were asked to volunteer for this study, only if
they had already chosen a college major. Students participated in order to partially fulfill their
introductory psychology class requirements. Participation was considered voluntary, as other
options to complete class requirements were available. Demographic information pertaining to
the total sample (N=291) consisted of 133 African American females and 158 European
American females. Ages ranged from 17 to 47 years old. Participants in the age range of 18 to
19 years, comprised 81.8 % of the sample. Within the total sample, 239 (82.1 %) were
Freshwomen, 28 (9.6%) were Sophomores, 17 (5.8%) were Juniors, 4 (1.4 %) were Seniors, and

3 (1.0%) were in a continuing education program” (Bath, 2002:53, dikutip oleh Calabrese,

2006:44).

Contoh lain diambil dari disertasi penulis, yang bisa dipaparkan sebagai berikut:

The participants of this study were 18 semester six student teachers of a Bachelor degree (which
usually takes at least eight semesters) in the department, who voluntarily participated in the
study upon the researcher‟s giving information on the nature of the study and what was expected
of them (see Chapter 4, Section 4.2). Student teachers were chosen as they were considered to
have a potential to apply their learning from this program in their own teaching later. Moreover,
with the principles of CP adopted in this study, as discussed in Chapter 2, student teachers were
expected to learn “what teacher-students interactions in the classroom should look like, which
would then influence the interactions and power relations in the broader society” (Cummins,

1996, p. iii). This, as Cummins further argues, embodies an image of the society they will
graduate into and the kinds of contributions they are being enabled to make within the society.

The students involved in this study had taken the subjects Writing I to IV, offered in the
department, which mostly deal with writing paragraphs and some genres of writing (see
Appendix 1, about the syllabus of the teaching of writing in the research site). As argumentation
is difficult, as mentioned above, by selecting these students, the researcher hoped that the
materials or the tasks given in the class were in line with their English and writing capacities.

All participants were between 20-21 years of age. They were all Moslems, originally from the
Sundanese ethnic group in Indonesia, having Bahasa Sunda as their mother tongue. Bahasa
Indonesia is their second language and English is thus their foreign language. The class had
only two male students, which is common in language classes in all language departments in the
university. However, from a CL perspective, as revealed in interview data in Chapter 6, this is a
limitation of the study, as the class was not heterogeneous. A mixed-gendered class, with
students having different cultural backgrounds could have provided an ideal environment in

which the students “could test their own readings against those of others” (Janks, 2001, p. 149).

Another limitation, as will also be shown in the interview data, is that the class was much
smaller than regular classes in the research site and in other Indonesian contexts in general,
which will influence the reliability of the results of the study. Moreover, the class being
additional to the others and the voluntary-based participation may also mean that the students
were potentially more motivated, which again, affects the reliability of the results of the study.
The last limitation is to do with the class being set up specifically for the purpose of research.
From the perspective of classroom observation in ESL or EFL, it would have been much better if
the research had taken place in an ongoing and regular class (van Lier, 1988, p. 9). This is

because “in an ongoing class things are done along similar lines a number of times, and they

234

turn into routines in which all participants know what is likely to happen next” (van Lier, 1988,
p. 10), which can lead to “a natural and undisturbed lesson” (van Lier, 1988, p. 39)
(dikutip dari
Emilia, 2005:76-77).

Contoh lain dalam bahasa Indonesia dapat dilihat dalam ekstrak berikut:

Contoh 1:

Berkaitan dengan partisipan, partisipan dalam penelitian ini adalah seorang guru yang secara
sukarela dan direkomendasikan oleh pimpinan sekolah untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
dan satu kelas dari kelas 8 yang terdiri dari 42 siswa, yakni kelas 8B. Mengingat penelitian ini
merupakan penelitian tindakan kelas, maka guru, yang awalnya sebagai partisipan, bisa juga
dikatakan sebagai anggota tim peneliti (Emilia dkk, 2008).

Contoh 2:

Partisipan yang akan terlibat dalam penelitian dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori,
yakni:

Mahasiswa program studi pendidikan bahasa Inggris, baik yang masih kuliah atau sedang
menulis tesis maupun mereka yang sudah lulus (mahasiswa yang berpartisipasi
dalam penelitian ini diharapkan berjumlah 20-30 orang, mewakili berbagai tingkat
pencapaian mahasiswa, yakni kelompok low achiever - IPK <3, mid achiever - IPK
3-3,5, dan high achiever - IPK>3,5)
Semua dosen program studi pendidikan bahasa Inggris sekolah pascasarjana Universitas
pendidikan Indonesia;
Pimpinan sekolah pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Perlu diketahui bahwa partisipasi dalam penelitian ini akan bersifat sukarela atau voluntary-
based
(Emilia, 2007).

.

3. Instrumen apa yang akan dipakai. Bagian ini menerangkan secara lengkap mengenai

instrumen penelitan yang digunakan untuk mengumpulkan data (Calabrese, 2006:48). Bagian

ini, tambah Calabrese, mendeskripsikan masing-masing instrumen dengan referensi yang

tepat untuk mendukung penggunaan instrumen tertentu beserta validitas dan reliabilitasnya.

Bagian ini juga bisa memasukkan penelitian lain yang berkaitan dengan bidang yang diteliti

dan peneliti menggunakan instrumen yang sama untuk mengumpulkan data yang hampir

sama.

Contoh 1:

A demographic questionnaire was devised that includes questions regarding general
demographic information, i.e., age, gender, marital status, grade, major, ethnicity. This
instrument is found in Appendix C
(Calabrese, 2006:2).

235

Contoh 2:

As illustrated in Table …, two types of interview were employed: individual and focus group. …

A guided or semi-structured interview was used in both stages of interviews to enable the
researcher to get all information required (without forgetting a question), while at the same time
to permit the participants‟ freedom of responses and description to illustrate the concepts (Field
and Morse, 1985, p. 67). …

Questions asked in individual interviews in stage one can be seen in Appendix 18.1. Moreover,

the focus group only used some of the same questions, as students‟ responses had already
confirmed the students‟ main ideas in the individual interviews. Most questions were leading
questions and popular opinion about leading questions today is that “leading questions are not
that powerful” (Kvale, 1996, p. 157) (see also Merriam, 1998, p. 78-79; Cohen, Manion and
Morrison, 2000, p. 122). However, Kvale (1996) further argues for the importance of leading
questions, particularly in qualitative research, as saying:

The qualitative research interview is particularly well suited for employing leading questions to check repeatedly

the reliability of the interviewees‟ answers, as well as to verify the interviewer‟s interpretations. Thus, contrary to

popular opinion, leading questions do not always reduce the reliability of interviews, but may enhance it; rather
than being used too much, deliberately leading questions are today probably applied too little in qualitative
research interviews (1996, p. 158).

The questions used in stage two can be found in Appendix 18.4. There were only three main
questions asked in this interview. Each was to do with what the students remembered they
learnt in the program, what development they thought they gained, using samples of their texts
as a prompt, and what challenges they thought they would face in implementing a similar
teaching program in their own teaching later … (Emilia, 2005:81-84).

Kalau peneliti melakukan “pilot study” atau “preliminary study,” pilot study itu sebaiknya

dilaporkan. Pilot study, menurut Calabrese (2006:50) merupakan versi kecil atau uji coba

instrument untuk menguji atau menilai instrument atau precursor. Contoh:

All questions in the interview stage one were tried out with several students who were not involved in
the study, for suggestions and advice, particularly regarding whether the questions were ambiguous,
vague or confusing (Emilia, 2005:84).

4. Analisis data. Dalam bagian ini, penulis tesis atau disertasi seyogianya menerangkan

bagaimana data yang diperoleh dari berbagai teknik pengumpulan data dianalisis untuk

menjawab pertanyaan penelitian yang diformulasikan. Contoh pemaparan analisis data

kuantitatif dapat dilihat dalam dua kutipan berikut.

Contoh 1

“For the handgrip task a repeated measures (RM) multivariate analysis of Variance (MANOVA) was
employed with gender as a between subjects factor, and time intervals (15 second) nested within

236

three sensation variables nested within three clusters (i.e., physical, motivational and affective
sensations) as repeated factors and gender as a between subjects factor. For the cycle task a RM
MANOVA was employed with time intervals (30 sec) nested within three sensation variables as
repeated factors and genders as a between subjects factor. A hierachical linear regression analysis

was conducted to determine how much of the variance in “time to fatigue” was accounted for by
dispositional and task-specific factors.The significance level used in this study was p≤0.05”
(Hutcinson, 2004:29, dikutip oleh calabreses, 2006:55).

Contoh 2

Semua data yang diperoleh dari semua teknik pengumpulan data akan dianalisis secara bertahap.
Tesis akan dianalisis dengan cara-cara analisis teks seperti yang telah disarankan oleh teori analisis
teks akademik serta petunjuk analisis teks dari teoris genre dan berpikir kritis, yang juga relevan
dengan analisis wacana kritis, seperti yang telah dijelaskan di atas. Tesis dan tugas akan dianalisis
dengan menggunakan tata bahasa sistemik fungsional (sistemic functional grammar, SFG)
bersadarkan tiga sistem tatabahasa (Theme, Transitivity dan Mood) yang relevan dengan tiga
metafungsi bahasa (metafungsi textual, experiencial dan interpersonal) seperti yang telah ditegaskan
dalam linguistik sistemik fungsional (SFL). Analisis akan difokuskan pada struktur skema atau
struktur makro, dan ciri-ciri linguistik atau struktur mikro tesis dan tugas. Dari analisis ini, beberapa
disposisi berpikir kritis yang erat kaitannya dalam penulisan teks argumentatif (Ennis, 1992; Lipman,
2003) seperti tesis atau tugas akan di evaluasi. Analisis tesis atau tugas yang dibuat oleh mahasiswa
dianggap sangat relevan dalam penelitian ini, yang berusaha untuk menelisisk kesulitan mahasiswa
dalam menulis, khususnya menulis tesis di tingkat universitas. Pentingnya analisis teks yang dibuat
oleh mahasiswa untuk membantu mengidentifikasi kesulitan mahasiswa dalam menulis di tingkat
universitas telah diobservasi oleh beberapa penulis, seperi Jones, dkk (1989) dan Freebody (2003).

Jones dkk (1989: 260) mengatakan, “Analysis of student texts helps the teacher understand the

problems the students have in learning to write at the university level.” Berkaitan dengan analysis
teks yang menggunakan tatabahasa sistemik fungsional (SFG), untuk konteks bahasa Inggris sebagai
bahasa asing, Jones dkk (1989:260-261) melaporkan bahwa analisis seperti itu memungkinkan guru
menganalisis teks bukan dari tahap perkembangan bahasa atau pemerolehan bahasa tetapi dalam hal
where the students are in relation to the native speaker texts they aim to approximate” (Ibid).

Selain itu, data yang diperoleh dari kuesioner akan dianalisis dengan menggunakan tematik analisis
(Kvale, 1996; Merriam, 1998), yakni data akan dikategiorisasikan berdasarkan central theme atau
tema utama dari penelitiaan, sesuai dengan pertanyaan penelitian yang telah diformulasikan di atas.

Tearkhir, data dari interviu akan dianalisis secara bertahap. Pertama, data interviu akan ditranskripsi.
Selama pembuatan transkrip interviu, nama mahasiswa akan diganti dengan nama samaran untuk
menjamin objektivitas peneliti dalam menganalisis data lebih lanjut (Kvale, 1996). Setelah
ditranskripsi, data interviu akan dikembalikan kepada partisipan untuk menjamin bahwa transkripsi
memang betul-betul merefleksikan apa yang dimaksud oleh partisipan (Kvale, 1996) dan kalau
memungkinkan mendapatkan masukan dari partisipan (Connole, Smith & Wiseman, 1993:167).
Kemuan data interviu yang sudah ditranskripsi, seperti data kuesioner, akan dikategorisasikan ke
dalam tema utama penelitian, sesuai dengan pertanyaan penelitian yang telah diformulasikan. Setelah
itu data yang telah dikategorisasikan akan “dikondensed” untuk selanjutnya diinterpretasi,
dibandingkan dengan teori yang melatarbelakangi penelitian ini (Emilia, 2007 dalam proposal dan
laporan penelitian mengenai kesulitan mahasiswa dalam menulis tesis dalam bahasa Inggris).

Selain itu, dalam bab mengenai metodologi, kita harus memaparkan metode atau metode-

metode yang dipakai untuk mengetes hipotesis atau menjawab pertanyaan, dan mengapa kita

237

memakainya. Kita harus pertama kali mereviu metode penelitian yang dipakai dan

mengemukakan alasan mengapa memilih metode itu. Kadang-kadang bagian ini suka mudah

dilupakan karena ketika menulis tesis kita sudah dikerubuti oleh banyak macam metode

penelitian dan banyak hal yang berkaitan dengan penelitian, sehingga kita lupa untuk

mengatakan mengapa metode penelitian tertentu yang dipakai. Namun demikian, menurut

Evans dan Gruba, “pembaca tidak bisa membaca pikiran kita … Tidak akan ada penguji

yang cukup baik untuk mengatakan “Well I expect the candidate had good reasons for

selecting that particular method” (2002:90).

Berkaitan dengan metodologi, ada yang dinamakan dengan”triangulation” (Evans dan Gruba,

2002:91, Yin, 1984, 1993, 2003) sebagai cara untuk menjamin validitas penelitian. Triangulasi,

menurut Sydenstricker-Neto (1997) dan Trochim (2001), yang dikutip dalam Calabrese

(2006:60) didefinisikan sebagai berikut:

Triangulation is a qualitative process that tests the consistency of findings gathered through different
methods and sources of data, including field notes, artifacts, and transcripts.

Istilah triangulasi dipakai dalam penelitian kalau kita menggunakan lebih dari satu metode atau

jenis data untuk menjawab pertanyaan penelitian atau menguji hipotesa kita. Evans dan Gruba

(2002) mengatakan bahwa kita bisa melakukannya kalau kita mempunyai lebih dari satu hipotesa

atau pertanyaan penelitian, atau kalau pertanyaan penelitian “multi-faceted” sehingga metode

yang berbeda atau pendekatan yang berbeda diperlukan. Triangulasi sangat umum dalam

penelitian ilmu sosial. Istilah triangulasi dipakai dengan cara yang berbeda dalam penelitian yang

berbeda: Triangulasi data, triangulasi teori, triangulasi peneliti dan triangulasi metodologi

penelitian. Triangulasi, khususnya dalam penelitian kualitatif dapat meningkatkan validitas serta

“trustworthiness” (Calabreses, 2006; Silverman, 2006) dari penelitian.

238

Selain dari beberapa hal yang telah diuraikan di atas, ada beberapa hal lain yang perlu

diterangkan dalam Bab Metodologi penelitian. Beberapa hal ini berkaitan dengan Bias dan Error

atau kesalahan dalam melakukan penelitian. Berikut adalah contoh-contoh yang menunjukkan

bahwa bias atau error dalam penelitian disadari oleh peneliti.

Contoh 1:

The researcher also wrote observation notes immediately after each session while “the memory of the
observation was still fresh” (van Lier, 1988, p. 241). Observation notes focused on what was said and done
by both the researcher and the students in the “interactional setting” (Morrison, 1993, cited in Cohen,
Manion and Morrison, 2000, p. 305; Allwright, 1988). This aimed to help “increase the researcher‟s
sensitivity to her own classroom behaviour and its effects and influence on students” (Allwright, 1988, p.
77). Observation (and the collection of students‟ writing samples below) constituted a technique for
evaluating the program as “it provides objective measures of pre-to-post-training changes in students”
(Allwright, 1988, p. 260).

As no observation is value-free or theory-free (van Lier, 1988, p. 46; Fraenkel and Wallen, 2000, p. 538-
539), the researcher invited one of her colleagues, Mr Ari (pseudonym), to observe the class. This was
intended to enable the researcher “to check her observations against his”
(Fraenkel and Wallen, 2000, p.
539) and accordingly to promote the reliability of observations (Allwright, 1988; van Lier, 1988;
Shimahara, 1988) (Emilia, 2005:79).

Contoh 2:

“One of the advantages of participant observer approach is … . This same advantage can be construed as

a situation that might encourage bias in the researchers reporting of data and so must be balanced with
controls. Use of collaborative teacher researcher provides an insider who can challenge the interpretation
of the researcher. A constant check for rival hypothesis or negative instances also provides control. The
use of value free note taking with separate personal and analytical notes provides a more unbiased
approach.” (Mather, 2004:79, dikutip dalam Calabrese, 2006:58).

Contoh 3

In order to remove some of the bias in verbal reports toward pleasing the instructor as the researcher, who
was also the interviewer, … two weeks after the individual and focus group interviews in stage one, two
individual interviews were conducted with a mid and a high achiever, who had been interviewed

previously. These interviews were intended to test the reliability of the students‟ verbalisations. To allow

the students to express their ideas in a more elaborated way, these two interviews were conducted in

bahasa Indonesia by a researcher‟s colleague (Hyon, 2002) who did not participate in the teaching

program (Emilia, 2005:84).

239

Kesimpulan

Bab ini telah membahas beberapa hal yang berkaitan dengan penulisan Bab Metodologi

penelitian. Telah dipaparkan dalam bab ini bahwa segala hal berkaitan dengan metode

pelaksanaan penelitian seyogianya dibahas dan diinformasikan kepada pembaca supaya mereka

bisa melakukan replikasi penelitian kita.

Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan secara rinci dalam bab metodologi penelitian, terutama

berkaitan dengan metode atau desain penelitian, tempat dan partisipan penelitian, teknik

pengumpulan data dan instrumennya, serta analisis data.

Setelah memaparkan pengumpulan data, maka tahap selanjutnya dari proses menulis tesis atau

disertasi adalah memaparkan dan membahas data, yang posisinya dalam tesis atau disertasi

biasanya berada di Bab Empat. Untuk itu, Bab Sebelas dari buku ini akan membahas bagaimana

data yang telah diperoleh dipaparkan dan dianalisis dalam tesis atau disertasi, yang biasanya

disimpan dalam Bab Empat.

240

BAB 11: MENULIS BAB PEMAPARAN DAN PEMBAHASAN

DATA

Pendahuluan

Bab ini akan membahas salah satu bab dalam tesis atau disertasi yang paling penting dan juga

paling sulit, yakni menulis bab yang mempresentasikan dan menganalisis data. Akan

diperlihatkan dalam bab ini bahwa ada dua pendapat mengenai cara memaparkan data dan

pembahasan data. Beberapa pakar penulisan tesis dan disertasi menyarankan data dan interpretasi

atau analisis data dipisahkan. Tetapi ada juga yang menyatukan bab data dan presentasi data

seperti yang umum dipakai dalam bidang politik, hukum, pendidikan, dan sosiologi (lihat

pembahasan dalam Sternberg, 1988; Rudestam & Newton, 1992; Swales & Feak, 1994;2004;

Evans & Gruba, 2002).

Berkenaan dengan pemaparan dan interpretasi data di atas, bab ini akan menunjukkan bahwa

sebenarnya dari segi isi tidak ada perbedaan, tetapi dari segi keterbacaan, data yang dipaparkan

dan langsung dinterpretasi dalam satu bagian yang sama atau bab yang sama membuat alur tesis

atau disertasi menjadi lebih baik (Rudestam & Newton, 1992:79, lihat juga Sternberg, 1988;

Swales & Feak, 1994; 2004). Buku ini, seperti diperlihatkan dalam judul bab ini, didasari oleh

asumsi bahwa data dan pembahasannya disajikan dalam satu bab.

Pembahasan dalam bab ini akan dimulai dengan fungsi bab presentasi dan analisis data, dan

dilanjutkan dengan cara memaparkan dan membahas data, termasuk rhetorical move yang

biasanya muncul dalam bab ini, berdasarkan saran atau contoh-contoh yang diberikan oleh para

241

pakar penulisan tesis dan disertasi. Ciri-ciri linguistik atau contoh-contoh pernyataan yang biasa

muncul dalam bab ini pun akan diberikan.

Berikut adalah penjelsan mengenai setiap aspek yang berkaitan dengan pemaparan dan

pembahasan data.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->