DRAFT

MATERI TEKNIS
PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

( BUILDING CODE )

KABUPATEN ACEH BESAR

Dibuat atas kerjasama:

Universitas Syiah Kuala – Aceh Besar
dengan
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura Nomor 20 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110 Telepon (021) 727 99248

DAFTAR ISI
BAB I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.1. TINJAUAN ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI 1. Sejarah Kabupaten Aceh Besar 2. Sosial Budaya Masyarakat 3. Letak Gegrafis dan Administrasi 4. Hidrologi 5. Kependudukan 6. Perekonomian I..2. TINJAUAN ASPEK FISIK 1. Umum 2. Kondisi Fisik Wilayah sebelum Tsunami 3. Stuktur Kabupaten Aceh Besar 4. Bentang Alam Kabupaten Aceh Besar

BAGIAN II RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH II.1 REVIEW RTRW KOTA ACEH BESAR M ------- ISINYA SAMA DGN YANG DI BAB II 1. Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan wilayah Kabupaten 3. Komponen-komponen Utama RTRW 2002-2010 II.2. SKENARIO TATA RUANG 1. Pindah ke Lokasi Aman 2. Tetapa di Lokasi Semula STRATEGI PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH BESAR 1. Konsep Tata Ruang 2. Kegiatan yang Sifatnya Sederhana 3. Kegiatan yang sifatnya Intensif 4. Pelaksanaan Pembangunan 5. Peranan Fasilitas Sosial 6. Jumlah dan Bentuk Fasilitas 7. Pembangunan Iinfrastruktur ARAHAN 1. Zona 2. Zona 3. Zona 4. Zona PEMANFAATAN RUANG -------- ISINYA SAMA DGN YG BAB II Pantai Perikanan/Tambak Taman Kota Pemukiman

II.3.

II.4.

5. 6. 7. 8. 9. II.5.

Zona Zona Zona Zona Zona

Landmark dan Pusat Pemerintahan Kota Pemukiman Baru Pusat Bisnis dan Pemerintahan Pendidikan Tinggi Pertanian

STRUKTUR RUANG 1. Penajaman Aspek Geology 2. Penelitian Bangunanyang masih Berdiri tetapi sudah rusak 3. Site Plan atau Urban Design Kawasan Pusat Kota 4. Site Plan Penataan Ruang Daerah Buffer Zone 5. Konsilidasai Pertanahan di daerah yang paling Rusak akibat Gempa 6. Penyiapan Zona Regulasi 7. Penyiapan Building Code 8. Mendorong Proses Legillasi di DPRD BAGIAN III WILAYAH BENCANA GEMPA THUNAMI DAN BADAI III.1 PENGARUH TSUNAMI 1. Jangakauan Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami 2. Zonasi Kerusak,an 3. Arah Terjangan Gelombang III.2 III.3 III.4 ASPEK FISIK KABUPATEN ACEH BESAR KARAKTERISTIK KABUPATEN ACEH BESAR ZONASI FISIK

BAGIAN IV KETENTUAN UMUM DAN PENGERTIAN UMUM

BAGIAN V FUNGSI BANGUNAN GEDUNG

BAB II. KONSEP RENCANA TATA RUANGAN DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I.1. KEBIJAKAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG KABUPATEN/KOTA 1. Sistem Kota/kabupaten 2. Struktur Kota/kabupaten 3. Kawasan Non Budidaya 4. Kawasan Budidaya I.2. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG/KABUPATEN/KOTA 1. Mewujudkan penghidupan yang aman dan lebih baik; 2. Memberi pilihan kepada warga untuk bermukim; 3. Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana; 4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama; 5. Pendekatan penataan ruang partisipatif; 6. Memitigasi bencana; 7. Tata ruang memadukan pendekatan dari atas dan bawah; 8. Mengembalikan peran pemerintah daerah; 9. Perlindungan hak perdata warga; 10.Mempercepat proses administrasi pertanahan; 11.Pengaturan mengenai kompensasi; 12.Revitalisasi kegiatan ekonomi; 13.Mememulihkan daya dukun lingkungan; 14.Memulihkan sistem kelembagaan SDA dan LH; 15. Rehabilitasi strultur dan pola tata ruang; dan 16.Membangun kembali kota. ZONASI FISIK ACEH BESAR 1. Kawasan Lindung (Conservation, Zona V), 2. Kawasan Pengembangan Terbatas (Restricted Development Area, meliputi zona I, II, dan III), Kawasan Pengembangan (Promoted Development Area, zona IV). ARAHAN PEMANFAATAN RUANG ACEH BESAR 1. Zona pantai, 2. Zona perikanan/tambak, 3. Zona taman kota, 4. Zona permukiman, permukiman terbatas dan permukiman perkotaan, 5. Zona landmark dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar, 6. Zona permukiman baru bagi penduduk yang ingin pindah,

I.3

I.4.

Sistem Prasarana & Transportsai. Pengairan dan Prasarana Pengelolan Lingkungan I. Energi.3/2003) 1. REVISI RTRW 2002-2010 (Qanun No. dan 9.6. Pemukiman 2. Zona pendidikan tinggi. Pengelolaan Kawasan Hijau & Kawasan Pemukiman 3. I.7. 8. Telekomunikasi. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota KOMPONEN UTAMA RTRW TH 2002-2010 1.5. . Arah Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota 2. Zona pertanian. Zona pusat bisnis dan pemerintahan provinsi dan fasilitas perkotaan berskala kota dan regional.

Tampilan Bangunan Terhadap Keserasian Lingkungan 77.2. Tata Letak Bangunan BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 11. Tujuan BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Pengertian Umum 22. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Moderen 88. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan dan Terhadap Bangunan di Sekitarnya 55. Klasifikasi Bangunan II. PENGERTIAN 11. PERUNTUKAN.2.1. INTENSITAS BANGUNAN 11. Maksud 22. Umum 22.BAB III PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BULDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1. Fungsi Bangunan 33. Luas Bangunan 4. Tampilan Arsitektur Bangunan bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat 44. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang untuk satu Bangunan 33. Penentuan Letak Suatu daerah 22. Tampilan pada Rekonstruksi Bangunan dan Terhadapa Bangunan di Sekitarnya 66.1 ARSITEK BANGUNAN 11. Peruntukan Lokasi 22. Tata Urutan Ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang . Garis Sepadan Bangunan 5. MAKSUD DAN TUJUAN 11. Teknis I. Peruntukan Fungsi dan Klasifasi Bangunan 33.

Perletakan Saran Keamanan dan Lingkungan 104.3 STRUKTUR ATAS 11.99. PERTANDAAN. Standar Teknis IV. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 22.3 RUANG TERBUKA HIJAU 41. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 44. Jenis Ruang Terbuka Hijau 63. Analisa Struktur 42. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya III.4 SIRKULASI. Pemisahan Jalan 93.2 TATA LETAK BANGUNAN 11. Tata Letak & Jarak Ruang pada Bangunan Utama 1111. Persyaratan Umum 22. Luas Maksimum dan Minimum III. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya 1212. Ketentuan UPL dan UKL 33. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 71. Pengaturan Tata Letak Ruang dalam Satu Bangunan 1313. Fasiltas Parkir 82.2 PEMBEBANAN 31. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipe III.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 11. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan 1515. Kontruksi Kayu 44. Orientasi Tatanan Pemukiman 33.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 11. Bentuk Tatanan Bangunan 22. Fungsi Ruang Terbuka Hijau 52. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan 1414. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi . Persyaratan Perencanaan Struktur IV. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 55. Perletakan Pencahayaan Buatan III. Tata Letak Ruang dan Jarak Ruang pada Bangunan yang bercirikan lokal 1010. Kontruksi Beton 22. Kontruksi Baja 33.

4 STRUKTUR BAWAH 11. Pengujian dan Pemeliharaan Deteksi dan Alarm BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 55.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 11. Tangga Luar Bangunan 99. Proteksi Bukaan V. Perencanaan Umum 22. Metode Perbaikan Tanah IV. Pusat Pengendali Kebakaran 55. Sistem Pemadam Kebakaran 22. Tipe Konstruksi Tahan Api 33. Pemeriksaaan. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 44. Keruntuhan Struktur 33. Kriteria Demolisi 22. Prosedur dan Metoda Demolisi BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 33.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 11. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran . Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 66. Pemeriksaan dan Perawatan Bangunan IV. Persyaratan Keamanan 22.IV.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 11. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Kebakaran 66. Kebutuhan Jalan Keluar 33. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 88. Kompartemensasi dan Pemisahan 55. Ketahanan Api dan Stabilitas 22. Pemeriksaan. Pesyaratan Kinerja VI. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 77.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 11. Pengendalian Asap Kebakaran 44. Keselamatan Struktur 22. Ketentuan Teknis Pondasi 33.6 DEMOLISI STUKTUR 11. Fungsi 22.5 KEANDALAN STRUKTUR 11.

Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 66. Bordes 1515. Pegangan Rambat pada Tangga 1818. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 55. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 99. Pengoperasian Gerendel Pintu 2121. 1414. Saf Lif 77. 1313.1 LIF 11. Pemeriksaan. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 88. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 44.3 KONTRUKSI JALAN KELUAR 11. Ambang Pintu 1616. Lif untuk Rumah Sakit 55. Kapasitas Lif 22. Sangkar Lif 66. Atap sebagai Ruang Terbuka 1313. Pintu 1919. Lobby Bebas Asap 77. Ramp Pejalan Kaki 1111. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 2222. Penerapan 22. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 44.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. 1111. Instalasi Listrik 99. TANDA ARAH KELUAR. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 88. Lif Kebakaran 33. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 1212. Pengujian dan Pemeliharaan VII.1010. Pintu Ayun 2020. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift Jumlah Orang Yang Ditampung VI. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 33. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar Pintu Keluar Horisontal Tangga. SISTEM PERINGATAN BAHAYA . Balustrade 1717. Lebar Tangga 1010.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Injakan dan Tanjakan Tangga 1414. 1212. Rambu pada Pintu VI.

VIII. Instalansi Telepon 33. Instalansi Penangkal Petir 33. Pengujian 44. Penggunaan Pompa . Instalansi Tata Suara 44. Pemeliharaan IX. Pemeriksaan. Jenis Gas 22. Pemeliharaan IX. Pemeriksaan dan Pengujian BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI.2 INSTALANSI GAS MEDIK 11. Jenis Gas 22. Sistem Penyediaan Air Bersih 33. Jaringan Distribusi Gas Medik 33. Jaringan Distribusi Gas Kota 33.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 11. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Sistem Penampungan Air Bersih 44.1 1SISTEM LAMPU DARURAT VIII.1 INSTALANSI LISTRIK 11. Perencanaan Penangkal Petir 22. 1 SISTEM PLAMBING 11. MATV BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Perencanaan Instalansi Listrik 22. PENANGKAL PETIR. Pemerikasaan dan Pengujian 77.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 22. Perencanaan Sistem Plumbing 22.2 TANDA ARAH KELUAR VIII. Beban Listrik 44. Pemeriksaan dan Pengujian X. Transformator Distribusi 66.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 11. Sumber Daya Listrik 55. Jaringan Distribusi Listrik 33. Sistem Plambing Air Bersih 55.2 INSTALANSI PENANGKAL PETIR 11.

Ventilasi Buatan XII. Timbulan Sampah 112. Sistem Pengumpulan XI. Konservaasi Energi 33. Sistem Pewadahan 123. Pengujian dan Pemeliharaan XI.66. Pembunagan dan Pengelolaan Air Limbah 44. 4 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 101. Kelengkapan Dalam Bangunan 72. KEBISINGAN DAN GETARAN . Sistem Distribusi Air Bersih 87.1 VENTILASI 11. 3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 61. Sistem Penyediaan Air Panas 76. Potensi Reduksi 134. Hidran Umum 152.2 PENGKONDISIAN UDARA 11. Kebutuhan Ventilasi 22. Ventilasi Alami 33.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KENYAMANAN. Kelengkapan Diisekitar Bangunan Gedung 83.3 PENCAHAYAAN ALAMI XIII. Pemeriksaan. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal 17 18 BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.2 PENCAHAYAAN BUATAN XIII. Kebutuhan Pengkondisian Udara 22. Pemeriksaan. 2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 11. Pengujian dan Pemeliharaan XI.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN XIII. Sistem Penyaluran Air Limbah 55. 5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 141. MCK Umum 163. Sistem Plambing Air Limbah 33. Pemeriksaan. Persyaratan Saluran 94. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Sumber Air Limbah 22. Perhitungan Beban BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII.

PERENCANAAN IV. PERAN SERTA MASYARAKAT XI.1 XIV. PEMANFAATAN VII.XIV. PELAKSANAAN V. PELESTARIAN VIII. PENGERTIAN II.3 XIV. PEMBONGKARAN IX.4 XIV.5 KENYAMANAN TERMAL SIRKULASI UDARA PANDANGAN KEBISINGAN GETARAN BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG I. PENGAWASAN VI. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG X. PEMBINAAN XII. PERIJINAN BAB V PENUTUP LAMPIRAN .2 XIV. PENYELENGGARAAN III. SANKSI XIII.

DAN BADAI IV. KETENTUAN UMUM PENGERTIAN UMUM V. TSUNAMI. TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR II. WILAYAH BENCANA BAHAYA GEMPA. RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH III.BAB I: TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I. FUNGSI BANGUNAN GEDUNG .

BAB II: KONSEP RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I. KETENTUAN UMUM / PENGERTIAN UMUM 2 .

pembinaan.BAB III: PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BUILDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR I. tidak termasuk lorong tangga. 3 . ii. dan kegiatan lainnya. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. d. d. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Aceh Besar c. Teknis a. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. KETENTUAN UMUM I. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. iii. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. Umum Dalam Gedung Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan ini yang dimaksud dengan: a. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. di mana: i. kamar mandi. termasuk struktur atap kaca. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotorankotoran dapur. 2. b. c. berusaha. Pengawas/Pemilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. lorong ramp. Dinas Bangunan adalah Dinas Teknis di Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. atau ruang dalam shaft. Daerah adalah Kabupaten Aceh Besar b. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingkat/lantai. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. di atas. bersosial-budaya.1 PENGERTIAN 1.

rekreasi. 4 . iii. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. pendidikan. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. ii. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. atau iv. s. seperti keagamaan. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. jaringan pipa gas dan sebagainya. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. olah raga. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia.e. u. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. o. v. perbelanjaan. i. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. p. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil g. n. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. k. Antar massa bangunan lainnya. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. mengadakan pertemuan. m. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. t. r. q. dsb. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. l. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. Rencana saluran. Daerah Hijau Bangunan. jaringan tegangan tinggi listrik. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. j. Bata tepi sungai/pantai. h. f. Batas lahan yang dikuasai.

w. bb.i. y. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. ii. ruang ganti. memperbaiki. ii. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. z. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. x. untuk tempat kegiatan manusia. Mendirikan Bangunan i. program tata bangunan dan lingkungan. gg. selain kamar untuk MCK dan dapur. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan cc. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan 5 . Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). peralatan.prasarana saluran umum perkotaan. ee. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota.w. atau sejenisnya. hh. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaanpekerjaan yang dimaksud pada butir 2. aa. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. memperluas. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. dd. ff. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. jj. Mendirikan. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada.

menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.1. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. ll. I. dan budaya daerah. masyarakat. menjamin keselamatan pengguna. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan.2 dalam ukuran waktu satuan menit. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. 2. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. dan lingkungan. Peruntukan dan Intensitas: i. sehingga seimbang. ii. mm. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. ketentuan wujud bangunan. ii. 2. integritas. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan insulasi. b. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. Tinghat Ketahanan Api (TKA). Tujuan Tujuan Pedoman Persyaratan Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis.kk. serasi dan selaras dengan lingkungannya.1 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan a. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Maksud Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Aceh Besar. arsitektur dan pengendalian dampak lingkungan. yaitu Persyaratan Tata Bangunan dan lingkungan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. iii. Arsitektur dan Lingkungan: i. serta persyaratan keandalan bangunan. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. 6 .

(3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. c. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur.2 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung a. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. dan nyaman di dalam bangunan gedung. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat iii. Tanda arah Keluar. b. ii. e. Pencahayean Darurat. 2. d. Ketahanan terhadap Kebakaran dan Petir: i. ii. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. aman. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat.iii. 7 . khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. ii. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. ii. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. iv. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Strukfur Bangunan: i. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. Transportasl dalam Gedung: i. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. ii.

ii. i. Sanitasi dalam Bangunan: i. ii. j. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. menjam di dalam in tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. 8 . iii. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. ii. iii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Pencahayaan: i. h. g. k. Instalasi Listrik.f. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. iii. Kebisingan dan Getaran: i. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. ii. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. Instalasi Gas: i.

Zonafikasi Fisik Arahan Bangunan gedung yang akan didirikan di Kecamatan dan dalam wilayah Kecamatan harus diselenggarakan sesuai dengan arahan peruntukan yang diatur dalam pembagian zona sebagai berikut: a. 9 v.2. Meunasah Tunong. Abee. Kecamatan Lhong : Lamsujen.II. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. ii. Kawasan Pengembangan (promoted development area) c. Lam Apeng dan Ateuk. Mangeu. Lambada. Alue Raya. Rinon. Lampante.1 a Pembagian Zona Zona I (Kawasan Kepadatan Rendah) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi.1 PERUNTUKAN FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Kawasan Aquatic/Pesisir Terbangun Kepadatan Rendah (ZONA I): i. Kecamatan Darussalam : Limpok. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Aneuk Paya. Lam Ateuk. Seurapong. Pulo Meurah. Lampaya dan Lamkruet. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Lamkuk. jarak dari pantai ke daratan 200 – 4000 m. Tungkop dan Lam Keuneue. vi. Gugob. Permukiman dengan kepadatan tinggi. b. . Ulee Paya. iv. Lamteuba Droi. Barabung. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Kecamatan Seulimum : Ayon. Zona III (Kawasan Kepadatan Sedang) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Lamcarak. iii. Lamboro Kueh. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Batee Lhee. Peruntukan Lokasi 1. Melingge. Blang Tingkeum. Bayu. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Ujong Mesjid T. Umong Seuribee. Bak Seutui. Zona II (Kawasan Kepadatan Tinggi) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Permukiman dengan kepadatan sedang 1.

Weu ix. vi. Lampante. dan Bukit Meusara. viii. Meunasah Mesjid Lamlhom dan Meunasah Baro. Kecamatan Lhoknga. Seubun Ayon. Janto. Kota Jantho : Janto Makmur. Lamteuba Droi. Umong Seuribee. vii. Seubun Keutapang. Batee Lhee. iii. Abee. Kecamatan Darussalam : Limpok. Lam Asan. Kota Jantho : Janto Makmur. Jantho Baru Desa. Lampaya dan Lamkruet. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Lam Ateuk. Melingge. Weu Raya. Meunasah Karieng. dan Bukit Meusara. Lamboro Kueh. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Lambaro Seubun. Mangeu. Rumpet dan Lamreng. Kecamatan Seulimum : Ayon. Pulo Meurah. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Gugob. Weu ix. Kecamatan Batussalam. Seurapong. Kawasan Terbangun Kepadatan Tinggi (ZONA II): i. Rumpet dan Lamreng. Lamgapang. Lamkuk. b. meliputi Desa Lampineung. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. v. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Blang Tingkeum. 10 . Alue Raya. Bak Seutui. Barabung. Lamgapang. Lam Apeng dan Ateuk. viii. Kueh. Kawasan Terbangun Kepadatan Sedang (ZONA III): i.vii. Tanjong/Lamcok. Lamcarak. ii. Rinon. Jantho Baru Desa. Lambada. c. Lamgaboh. Tungkop dan Lam Keuneue. Ulee Paya. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Aneuk Paya. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Nusa. Bayu. Labui dan Lamujong. Janto. Meunasah Tunong. ii. Ujong Mesjid T. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. iv. meliputi Desa Lampaya.

dan sejenisnya. Lampisang. Rabo. Rumah tinggal susun iv. Kecamatan Lhong. Rumah tinggal deret iii. Keunaloi. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. d. meliputi Desa Lamboro angan dan Lamduroe. Geunteut dan Baroh Kruengkala. dan sejenisnya. e. kenyamanan. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. Data. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. ii. Keutapang. mal. pertokoan. perkantoran niaga. v. vi. dan sanitasi yang memadai. Lamgeuriheu. Lhieb. Lamjuhang. Kayee Adang. Capeung Dayah. Lamjruen. Kecamatan Seulimum. Bangunan perdagangan: pasar. meliputi Desa Ie Seu Um. fungsi usaha. meliputi Desa Alue Gintong. Rumah tinggal asrama f. Iboih TanTanjong. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. keselamatan. Iboih Tunong. lAmpisang Teugoh. Pinto Khop. Kecamatan Masjid Raya.iii. vii. capeung Baroh. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Fungsi Bangunan a. Seuneobok. kesehatan. 2. Gaseue. Kecamatan Peukan Bada. Jawie. Keuneu Ue. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. 11 . umah tinggal vila v. Baroh. Lampisang Dayah. Kecamatan Darussalam. Pasar Seulimeum. Seulimeum. c. Bak Aghu. Jeumpa. Alue Rindang dan Meunasah Baro. Buga. b. meliputi Desa Beuradeun. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. keamanan. Lampisang Tunong. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. fungsi sosial dan budaya. pusat perbelanjaan. Lam Rukam dan Gurah. meliputi Desa Pudang Meunasah Cot. Monmata. Rumah tinggal tunggal ii. dan fungsi khusus. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. iv. Gampong Raya. keamanan. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah.

Bangunan kebudayaan : museum. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. a. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. 3. pura. villa. iii. dan sejenisnya h. Bangunan Penyimpanan: gudang. atau (2) atu atau lebih bangunan hunian gandeng. g. ii.Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. rumah sakit klas A. Bangunan Industri : industri kecil. industri besar/berat. v. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. motel. bioskop. sosial dan budaya. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. halte bus. dan sejenisnya. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. Bangunan peribadatan: mesjid. termasuk rumah deret. j. & C. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: i. iv. penginapan. terminal bus. gereja. bangunan reaktor. i. Setiap bangunan gedung. dan sejenisnya. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. gedung kesenian. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. rumah bersalin. sekolah dasar. vi. keveling. Bangunan dengan fungsi umum. dan sejenisnya. dan sejenisnya. poliklinik. hostel. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. pelaksanaan. industri sedang. sekolah lanjutan. sekolah tinggi/universitas. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. dan sejenisnya. unit town house . gedung tempat parkir. atau 12 . iv. yang masingmasing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. pelabuhan laut. kelenteng. dan vihara. Bangunan Terminal: stasiun kereta. B. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. Dalam suatu persil. rumah taman. terminal udara. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. iii. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use).

Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. Klas 9: Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. termasuk: i. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. termasuk: ii. pengurusan administrasi. atau anak-anak. h. Klas 8: Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. i. rumah tamu. i. 7. Klas 4: Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. yaitu: 13 . atau usaha komersial. c. bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. restoran. g. atau ii. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. perakitan. tempat potong rambut /salon. e. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Klas 1b : rumah asrama/kost. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. atau bengkel. atau ii. gudang. kafe. termasuk: i. 8. ruang makan malam. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. hostel. d. bar. diluar bangunan klas 6. finishing. cacat. bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah.b. atau iv. rumah tamu. ruang penjualan. perbaikan. Klas 3:Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. tempat cuci umum. rumah asrama. 6. bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. f. ruang makan. atau iii. ruang pamer. 8 atau 9 dan erupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau 9. panti untuk orang berumur. atau iv. atau ii.. atau iii. tempat parkir umum. 7. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. atau v. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. pasar. losmen. pengepakan. perubahan.

dan: i. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. ii. 9b. elevasi 5 sampai dengan 15 meter LWS dan lebih dari 15 meter LWS. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. Elevasi (e) muka tanah terhadap + 0. Penentuan letak suatu daerah didasarkan tiga pertimbangan. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Ruang-ruang pengolah. a.00 meter Low Water Sea (LWS) atau surut terendah. atau sejenisnya. ii. yaitu .00 sampai dengan kurang dari 5 meter LWS. iii. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya.Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. atau sejenisnya. carport. Klas 10: Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. 9a. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. 1b. termasuk bagianbagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Klas 9b: bangunan pertemuan.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. tonggak. i. Elevasi terbagi dengan dalam tiga kelompok yaitu elevasi 0. antena. bangunan budaya atau sejenis. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. b. kolam renang. ruang mesin. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. Jarak (j) dari garis pantai 14 . J. k. m. ii. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. temmasuk bengkel kerja. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. bangunan peribadatan. ruang mesin lift. hall. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II . dan b' laboratorium. Klas-klas 1a. Klas 10b: struktur yang berupa pagar.

15g. Zona 1 (1) Permukiman (a) Permukiman nelayan yang semula telah ada di zone ini tidak boleh diperluas. dan kelapa). ii. (c) Untuk menempatkan permukiman nelayan dengan jumlah yang terbatas atau dibawah 31 orang/ha.81 m2/detik. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan tinggi atau 51 – 75 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Lahan untuk fasilitas umum. hutan bakau. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). (b) Kepadatan bangunan sangat rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung).Berdasarkan jarak yang diukur dari garis pantai. Zona 2 Permukiman (a) Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat.20 g. dsb. pusat informasi. Peruntukan. c. Misalnya gardu listrik. 0. dapat dibagi atas tiga zone yaitu Zone I kurang dari 5 km. Fungsi Lahan i.3g. sarana pemerintahan dan perdagangan skala kecamatan dan kota. Zone II antara 5-20 km dan Zone III lebih dari 20 km. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan a. (2) (1) 15 . untuk bangunan non rumah : zone gempa dapat terbagi dalam dua bagian yaitu Zone 3. BTS. terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. dan pengembangan pengetahuan masyarakat tentang Tsunami. dan air bersih. Untuk rumah tinggal zone gempa yang digunakan adalah Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. (c) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. penelitian.25g dan Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. rekreasi pantai. (b) Kepadatan permukiman sedang didukung bangunan tahan gempa. cemara. Nilai g sebesar 9.3g. Non Rumah Tinggal (a) Zone ini berfungsi untuk tambak. 0. 2.4. Zone gempa yang mungkin terjadi Berdasarkan zone gempa. namun boleh ditingkatkan kualitasnya. dengan jumlah yang terbatas. (b) Sebagai zona untuk menempatan Tsunami Park Memorial Zone (TPMZ) yang berfungsi sebagai pusat wisata.dan kawasan lindung pantai (dengan penanaman bakau.5 dengan acceleration maksimum masing-masing 0. telekomunikasi.

(f) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. pengendalian harga tanah. fungsi-fungsi semula didorong untuk dikembangkan. dsb. menengah. telekomunikasi. (d) Untuk menempatkan industri-industri yang terkait dengan perikanan. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). Misalnya gardu listrik. BTS. iii. dan tinggi skala pelayanan di tingkat perkotaan. SLTP. dan Perguruan Tinggi. misalnya kantor-kantor dinas. seperti pasar untuk tingkat kota yang menjual sayur.(b) Bangunan tahan gempa. (e) Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. (b) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). (c) Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai radius < 20 Km dari garis pantai. dengan insentif keringanan pajak. ikan. (b) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). kantor pemerintahan. (c) Untuk menempatkan perkantoran dan pelayanan umum dengan skala pelayanan tingkat perkotaan. Zone 3 (1) Permukiman (a) Permukiman masih dimungkinkan diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan rendah atau 31 – 50 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). dsb. Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. seperti SD.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. dan air bersih. seperti pasar untuk tingkat 16 . SLTA.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. diklat. (e) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya dan pertokoan. dengan jumlah yang terbatas. rental office. serta kelengkapan dan kehandalan infrastruktur. (d) Untuk menempatkan fasilitas untuk pendidikan dasar.

stasiun bahan bakar nelayan (Krueng Raya). Zone 2 dan Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Di kawasan lindung tidak diperbolehkan ada bangunan rumah tinggal. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. c. keamanan. (f) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. cool storage. permukiman khusus hanya untuk nelayan tidak boleh ada bangunan rumah tinggal. Permukiman yang telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. Bangunan Pada Kawasan Lindung (1) Perumahan dan Permukiman Pada kawasan ini tidak sesuai untuk lahan permukiman.gampong yang menjual sayur. b. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Digunakan sebagai bangunan untuk sarana penelitian kelautan dan perikanan. konservasi. dsb. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Bangunan non rumah tinggal yang berada di zone ini adalah untuk keperluan penelitian. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Kawasan kepadatan sedang dipergunakan untuk keamanan dan mitigasi. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. dengan jumlah yang terbatas. (g) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. ii. BTS. Zone 2 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada pada kawasan lindung di kawasan kepadatan tinggi tidak boleh dikembangkan. Zone 1 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang semula telah ada dengan kepadatan yang sangat rendah (dibawah 31 jiwa/ha) pada kawasan budidaya ini tidak boleh dikembangkan. navigasi. ii. pelelangan ikan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya. diperluas. penempatan fasilitas untuk pelabuhan dan pembangkit energi. Zone 1 17 . dan bangunan-bangunan untuk pengawasan pantai. Bangunan pada Kawasan Budidaya i. diperluas atau ditambah baru. dan air bersih. Untuk permukiman yang dari semula telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. Misalnya gardu listrik. telekomunikasi. konservasi. atau ditambah baru hingga kawasan lindung (76-100 i. seperti tempat pendaratan ikan. pertambakan dan perikanan. ikan.

Klasifikasi Bangunan i. pemeliharaan tambak. hostel. kesehatan. d. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. villa. perdagangan. sosial dan pemerintahan skala kecamatan dan kota. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. termasuk rumah deret. iii. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Untuk bangunan komersial skala rumah tangga. bangunan air. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. untuk keamanan. Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada tidak boleh dikembangkan/ diperluas/ ditambah baru. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. rumah tamu. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. adalah (1) Klas 1. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar Zone 1 Klasifikasi bangunan yang diperbolehkan berada pada zone ini 18 . Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. gardu pembangkit energi. terbatas untuk kebutuhan di tingkat desa. Bangunan Hunian Biasa. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. ibadah. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. bangunan pompa. (2) Bangunan non rumah tinggal Bangunan untuk tujuan fasilitas pendidikan. (2) Klas 9.jiwa/ha). rumah taman. hanya boleh ditingkatkan kualitasnya dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. unit town house. termasuk bengkel kerja. sosial dan budaya. pendidikan. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng.

atau (d) panti untuk orang berumur. Zone 2 (1) Klas 1. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. termasuk rumah deret. hall. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. ii. Bangunan kantor. unit town house. atau usaha komersial. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. 7. bangunan peribadatan. Bangunan Hunian Biasa.atau sekolah lanjutan. villa. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. 19 . atau anak-anak. rumah taman. carport. rumah tamu. hostel. cacat. kolam renang. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. (5) Klas 5. tonggak. atau (e) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawankaryawannya. adalah tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. antena. Bangunan hunian di luar bangunan klas 1 atau 2. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. rumah tamu. atau (c) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. 7. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. (3) Klas 3. pengurusan administrasi. 8. di luar bangunan klas 6. (4) Klas 4. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau sejenisnya. Bangunan Hunian Campuran. (b) Klas l0b : struktur yang berupa pagar. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. termasuk : (a) rumah asrama. atau 9. 6. bangunan budaya atau sejenis. (2) Klas 2. atau sejenisnya. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau (b) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. losmen. (3) Klas 10.

yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan 20 . ruang penjualan. termasuk: ruang makan. (10) Klas 10. hall. (8) Klas 8. termasuk bengkel kerja. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. kafe. ruang pamer. termasuk : tempat parkir umum. bar. adalah bangunan toko (a) (a) atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. iii. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium.(6) Klas 6. Bangunan Perdagangan. atau (c) tempat potong rambut/ salon. perubahan. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. (7) Klas 7. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. bangunan peribadatan. pengepakan. tempat cuci umum. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. perbaikan. Bangunan Umum. atau bengkel. Zone 3 (1) Klas 1. Bangunan Hunian Biasa. (9) Klas 9. atau sejenisnya. atau sejenisnya. finishing. atau (b) ruang makan malam. tonggak. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. restoran. perakitan. atau (d) pasar. (b) Klas 9b: Bangunan pertemuan. kolam renang. yaitu : (a) Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. carport. Bangunan Penyimpanan/ Gudang adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. bangunan budaya atau sejenis. antena. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan : garasi pribadi. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. atau (b) gudang.

atau bengkel. rumah taman. kolam renang. Luas hunian untuk setiap orang 21 . (3) Klas 6. pengepakan. bangunan budaya atau sejenis. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. (5) Klas 9. atau sejenisnya. Luas Bangunan a. ruang pamer. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. perubahan. atau sejenisnya. finishing. 3. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. kafe. antena. termasuk: (a) ruang makan. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. restoran. atau (b) ruang makan malam. carport. bar. tempat cuci umum. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. (2) Klas 2. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. hall. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. termasuk bengkel kerja. unit town house. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. tonggak. bangunan peribadatan. (4) Klas 8. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/ kost. adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. perakitan. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. rumah tamu. villa. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. Bangunan Perdagangan. atau (d) pasar. atau (c) tempat potong rambut/salon. termasuk rumah deret. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah.suatu dinding tahan api. hostel. (6) Klas 10. ruang penjualan. Bangunan Umum. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. perbaikan. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi.

dengan lebar kavling miniumum 6 m. Kebutuhan luas kapling didasarkan atas: (1) kebutuhan luas hunian. suhu udara dan kelembaban dalam ruangan serta pertimbangan pada kondisi tertentu dimungkinkan memenuhi standar ruang internasional (12 m2 per orang). Zone 1 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu maksimum 40%. duduk. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. c. penghawaan. b. Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling bangunan (KLB) i. kerja. Bangunan Non Rumah Tinggal Luas kavling minimum bangunan non-rumah tinggal menyesuaikan standar kebutuhan masing-masing klas bangunan.Luas hunian untuk setiap orang di setiap zone adalah sama. Luas Lahan per Unit Bangunan i. Luas lantai bawah bangunan terhadap luas kavling lahan (KDB) i. Zone 1 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Zone 2 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu 60%-80%. daya dukung lahan/ lingkungan. cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. iii. kakus. yang disesuaikan dengan 22 . Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. daya dukung lahan/ lingkungan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. ii. ii. makan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Kebutuhan ruang perorang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Kebutuhan luas kapling minimum untuk rumah yang dihuni oleh 3-4 orang adalah 90 m2. mandi. Kebutuhan ruang per orang minimal adalah 9 m2. d. Permukiman Luas lahan per unit bangunan untuk setiap zone adalah sama. (3) kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang meliputi aspek pencahayaan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. (2) keamanan. meliputi aktivitas tidur. Zone 3 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah rendah yaitu maksimum 60%.

serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. daya dukung lahan/ lingkungan. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai pada tingkat kepadatan tinggi. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah tinggi f. iii. Jumlah lantai baik rumah tinggal mau pun non rumah tinggal maksimal 3 lantai. Ketinggian maksimum bangunan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: i. Zone 3. Ketinggian maksimum bangunan Ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan adalah 12 meter. Zone 1. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 3 lantai. Zone 2. perkembangan kota. perkembangan kota. Zone 2 Koefisien lantai bangunan untuk zone ini adalah sedang yang disesuaikan dengan persyaratan selubung bangunan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Terhadap Keselamatan 23 . iv. i. Terhadap Keamanan Ketinggian bangunan harus disesuaikan dengan sistem struktur dan bahan konstruksi yang digunakan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Ii. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. ii. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 2 lantai e. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah rendah. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. perkembangan kota. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 4. Zone 3 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah yang disesuaikan dengan persyaratan building envelop lahan. ketahanan terhadap bahaya gempa dan aman terhadap jalur penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku ii. sedangkan untuk bangunan non rumah tinggal menyesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan.persyaratan building envelop lahan. Jumlah lantai bangunan rumah tinggal tertinggi adalah 1 lantai hingga 2 lantai. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai kecuali untuk ruang < 5 Km jumlah lantai maksimal 4 lantai pada tingkat kepadatan sedang. daya dukung lahan/ lingkungan. Luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman terhadap luas lahan satu cluster permukiman. daya dukung lahan/ lingkungan. iii.

kecuali jalan setapak dan gang kebakaran b. ruangan mendapat cukup cahaya langsung dan merata. Terhadap Daya Dukung Lingkungan Jumlah lantai bangunan dan koefisien lantai bangunan menyesuaikan Peraturan Daerah/ Qanun Ijin Mendirikan Bangunan dan/atau RDTRK/ RTRK/ RTBL setempat. Jalan Arteri. Jalan Kolektor. yaitu minimum 8 meter dari batas Damija meliputi jalan yang menghubungkan kota seulimeum ke kota kemala (kabupaten Sigli) melalui kota Jantho. kavling sedang dan kavling kecil. Rumah tinggal dan non rumah tinggal: i. Untuk bangunan peruntukan dan konstruksi khusus dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan serta disesuaikan dengan jarak terhadap as jalan yang berdekatan dan selubung bangunan. Garis Sepadan Bangunan Berdasarkan Ukuran Daerah Milik Jalan (Damija) i. iv. kota Krueng Raya dengan kota Seulimuem dan Kota Krueng Raya dengan kota Sigli ( Ibukota kabupaten Sigli ). kecuali bangunan yang dindingnya terbuka termasuk lantai panggung. Terhadap Kesehatan Ketinggian minimum bangunan terkait dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit minimum = 2. iii. struktur atap. Jalan Lokal/Lingkungan. iv. Garis sempadan bangunan pada klas jalan lingkungan perumahan kavling besar. kota Jantho dengan Lamno. yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija meliputi jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan antar desa. 4. Garis Sempadan Bangunan a. Kavling besar ( > 450 m) U U (1). Jalan-jalan kampung dan lorong yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija. persyaratan kemiringan atap untuk bahan penutup atap dan model atap (flat/ perisai/ pelana/ dsb). dengan kota lhoong. iii. meliputi jalan yang mnghubungkan kota-kota dipulau Sumatra antar provinsi dan dikabupaten Aceh Besar melalui perbatasan kabupaten pidie dan kabupaten Aceh Besar serta pelabuhan Malahayati ke kot a Aceh Besar. Sempadan muka minimum 8 m 24 . yaitu minimum sebesar 10 meter dari batas Damija.80 m agar terjadi sirkulasi udara yang cukup dan kontinyu.Didasarkan atas kualitas konstruksi dan bahan bangunan yang dapat menjamin keamanan penghuninya terhadap bahaya kebakaran (waktu untuk menyelamatkan diri sebelum runtuh) sesuai ketentuan yang berlaku. ii.

Garis sempadan bangunan terhadap batas-batas persil/kavling sendiri dan lingkungannya. Sempadan belakang minimum 3 m iii. . Jarak massa/blok bangunan satu lantai minimum 4 m Non rumah tinggal (1). (b) Lebar perkersan jalan minimal 1.75 meter. Sempadan muka minimum 3 m U U c. Rumah tinggal : (1). Persil sedang dan besar minimal 2 m (3). (b) Lebar perkersan jalan minimal 3 meter. Sempadan samping minimum 3 m (3). Bangunan dengan tinggi < 8 m = 3 m (4). i.Rumah berlantai 2 = 2. Jalan Lokal Sekunder II 25 . Sempadan samping minimum 4 m Sempadan belakang 5 minimum U U ii. Bangunan dengan tinggi > 8 m = 1/2 tinggi bangunan dikurangi 1m (5).Rumah berlantai 1 = 1. Kavling sedang ( > 200m) (1).25 meter. Sempadan muka minimum 5 m (2). jarak minimum antar bangunan = {(½ tinggi bangunan A + ½ tinggi bangunan B) /2} -1 meter.75 meter. (2) Jalan Kendaraan (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 3. d. Sempadan samping minimum 2 m (2). (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . kolektor. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. (3). i. Jarak massa/blok bangunan dengan bangunan sekitarnya minimum 6 m dan 3 m dengan batas kapling (2). Jarak dengan batas persil minimum 4 m (3).75 meter.Rumah berlantai 2 = 2.(2). Bangunan berdampingan tidak sama tinggi. Jalan Lokal Sekunder (1) Jalan Setapak (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 2 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .50 meter.20 meter. lokal) Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya berlaku untuk semua zone. Persil kecil minimal 1 m jika atap samping tanpa teritisan dan 1. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Kavling kecil ( > 90 m2) (1).75 meter. U U ii. . ii.Rumah berlantai 1 = 1.50 meter.5 m jika atap samping menggunakan teritisan (2). Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya (arteri.

(c) Lebar bahu jalan minimum 0.Rumah berlantai 2 = 3.50 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . 26 .(a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 5 meter. Sungai bertanggul kawasan perkotaan minimal 10 hingga 15 meter dari pinggir sungai. Berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang disesuaikan dengan kondisi NAD.Rumah berlantai 1 = 3.50 meter.50 meter. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan minimal 50 m dari luar kaki tanggul.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 602: Pembangkitan (3) SNI 04-8287. Jalan Kolektor Sekunder (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 7 meter. i. Berdasarkan PUIL 2000 (jarak ke kiri dan kanan dari tegangan tinggi (70 KV ke atas) sejauh 25 m) ii.50 meter.603-2002 tentang Istilah Kelistrikan-bab603: Pembangkitan Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik.50 meter. Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Umum (2) SNI 04-8287. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. ii.50 meter. Sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan penyediaan listrik. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. .Rumah berlantai 2 = 4. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum. jaringan listrik tegangan tinggi. mengacu pada : (1) SNI 04-6267. (b) Lebar perkersan jalan minimal 4. iii.Rumah berlantai 1 = 2. a. (b) Lebar perkersan jalan minimal 5 meter. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya. iii. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk sungai besar (luas daerah pengaliran > 500 Km2) dan sungai kecil (luas daerah pengaliran < 500 Km2) ditentukan setiap ruas berdasarkan perhitungan teknis luar daerah pengaliran atau 20 – 100 meter.50 meter. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya adalah sama untuk semua zone yaitu: i. iii.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 601: Pembangkitan. e. . Garis sempadan bangunan terhadap jalan rel. (c Lebar bahu jalan minimum 0.

kedalaman 3 – 20 m minimal 15 m dari tepi sungai. diperlebar dan ditinggikan. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. 27 . (2) Untuk peningkatan fungsinya. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. (3) Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. (1) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. minimal 10 meter dari tepi sungai. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan kedalaman < 3 m. tanggul dapat diperkuat. v. Penetapan garis sempadan untuk sungai ini dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. kedalaman > 20 m minimal 30 m dari tepi sungai. (2) Untuk peningkatan fungsinya. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu yang ditetapkan. vi. Garis sempadan sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ini sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. diperlebar dan ditinggikan.iv. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari 500 (lima ratus) Km2. garis sempadan dan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. vii. (1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. Macam sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih. (2) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. tanggul dapat diperkuat. (1) Sungai yang bertangggul di luar kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. viii.

waduk. g. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R. Zone 2 dan Zone 3 28 . Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. v.I. Untuk mata air. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut Penetapan garis sempadan danau. Untuk danau dan waduk. iv. dengan ketentuan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. Garis sempadan bangunan pada tepi danau. Garis sempadan pantai. Zone 1 Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter. rawa dan tambak. i. lahan peresapan air. kecuali pada kawasan yang sangat diperlukan bagi kepentingan umum. dan kawasan lindung lainnya.ix. Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah iii. (2) Segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggung jawab pengelola jalan. i.3 Th. i. Jaringan drainase mengacu pada ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku.000 m. Zone 2 dan Zone 3 Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah. ii. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau. ii. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan (1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. Garis sempadan bangunan pada kawasan pesisir. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 meter di sekitar mata air. waduk. serta sungai yang tidak bertanggul yaitu sebesar 20 – 100 meter. kecuali bangunan non-rumah tinggal sesuai dengan standar dan peraturan daerah setempat atau Garis sempadan pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat ii. Zone 1 Minimal jarak dari bibir pantai 1. h. Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Qanun tentang RTRW Aceh Besar No. 2003 sebagai berikut : i. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota.

Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota pada zone 3 dan zone 4, sekurang-kurangnya (minimal) = jarak sempadan bangunan terhadap pagar kavling 5. Tata Letak Bangunan

a. Bentuk tatanan bangunan dalam satu lingkungan pada arsitektur

b.

c.

d.

e.

tradisional NAD dan arsitektur lainnya yang ada. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah air tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Penambahan ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama/ lainnya harus mengikuti standar yang berlaku . Khusus untuk Zona Kawasan Aquatic hingga Kawasan Sedang, tidak diperkenankan menambah ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama. Orientasi tatanan permukiman terhadap kaidah agama, tradisi, topografi, orientasi matahari, arah angin, pola jalan, sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Posisi jalan utama lurus memanjang dari utara ke selatan, diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama timur-barat untuk menghindari angin kencang timur-barat dan agar rumah menghadap kiblat. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah, sebagai tempat bersosialisasi warga. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab); pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Sumur dapat digunakan bersama; sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum di bagian depan rumah.

29

III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
III.1 . ARSITEKTUR BANGUNAN

1. Pengertian Umum Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langitlangit adalah 2.80 meter. Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a. Kebutuhan luas per jiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 1. 1: Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat Standar per Luas untuk 3 (m2) jiwa Luas untuk 4 (m2) jiwa 2 Jiwa (m ) Unit Lahan (L) Unit Lahan (L) ruma Mini Efekti Ideal ruma Mini Efekti Ideal h h m f m f (Ambang batas) 21,6 60,0 72-90 200 28,8 60,0 72-90 200 7,2 (Indonesia) 27,0 60,0 72-90 200 36,0 60,0 72-90 200 9,0 (International) 36,0 60,0 48,0 60,0 12,0

Berdasarkan KEPMENKIMPRASWIL No 403/2002, rumah standar sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas kapling ideal, dalam arti memenuhi kebutuhan luas lahan untuk bangunan sederhana sehat baik sebelum maupun setelah dikembangkan. Secara garis besar perhitungan luas bangunan tempat tinggal dan luas kapling ideal yang memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan bangunan seperti berikut; kebutuhan ruang minimal menurut perhitungan dengan ukuran Standar Minimal adalah 9 m2, atau standar ambang dengan angka 7,2 m2 per orang .

30

Gambar 1.1 Luas Bangunan Rumah Sederhana Sehat dan Luas Lahan Efektif Diperhitungkan terhadap Kebutuhan Ruang Minimal dan Koordinasi Modular sehingga dicapai luas lahan efektif antara 72 m2 sampai dengan 90 m2 dengan variasi lebar dan muka lahan yang berbeda. 2. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang Untuk Satu Bangunan. Berikut ini kriteria standar kebutuhan minimal rumah mengacu dari Konsepsi Rumah Sederhana Sehat : a. memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK. b. memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan yang akan dilakukan yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serba guna. c. Bentuk generik atap selain pelana, dapat berbentuk lain (limasan, kerucut, dll) sesuai dengan tuntutan daerah, bila ada. d. Penghawaan dan pencahayaan alami pada rumah menggunakan bukaan yang memungkinkan sirkulasi silang udara dan masuknya sinar matahari. e. Kebutuhan standar minimal ruang tersebut memberi peluang pada penghuni untuk dapat mengembangkan ruang sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu melakukan pembongkaran bagian-bagian bangunan secara besar-besaran. Ruang -ruang yang perlu disediakan untuk satu rumah inti sekurangkurangnya terdiri dari : a 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. b. 1 ruang serbaguna merupakan kelengkapan rumah dimana di dalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan. c. 1 kamar mandi/ kakus/ cuci merupakan bagian dari ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi cuci dan kakus.

31

Ketiga ruang tersebut diatas merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan dasar, selain itu sebagai cikal bakal rumah sederhana sehat. Konsepsi cikal bakal dalam hal ini diwujudkan sebagai suatu Rumah Inti yang dapat tumbuh menjadi rumah sempurna yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta kesehatan penghuni, sehingga menjadi rumah sederhana sehat. Ukuran pembagian ruang dalam rumah tersebut berdasarkan pada satuan ukuran modular dan standar internasional untuk ruang gerak/ kegiatan manusia. Sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT-1 adalah sebagai berikut:: i.. Ruang Tidur : 3,00 m x 3,00 m ii. Serbaguna : 3,00 m x 3,00 m iii. Kamar mandi/kakus/cuci : 1,20 m x 1,50 m 3. Tampilan Arsitektur Bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat a. Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh Besar dapat berupa tektonika atau ragam hias dengan pola tumbuhan atau pola geometri Arsitektur Islam. b. Bentuk atap bisa pelana, perisai, atap datar, atau pun variasinya. c. Arah hadap (depan bangunan) disesuaikan dengan konfigurasi jalan. Bila jalan membujur utara – selatan, maka depan bangunan menghadap barat dan timur. d. Kakus sedapat mungkin tidak menghadap barat – timur (menghadap – membelakangi kiblat) e. Penyelesaian pada setiap bagian bangunan diupayakan agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh Besar. f. Pemakaian warna untuk seluruh bagian bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya agar lebih serasi secara visual. Warna yang umum dipakai untuk material dari beton adalah putih, krim, dan beberapa warna lainnya seperti hijau, coklat, biru, dan pastel. Untuk material lain seperti kayu, warnanya lebih bervariasi, sekali pun didominasi oleh warna coklat dan putih. Tampilan arsitektur tampang bangunan salah satunya dengan adanya ragam hias ornamen bermotif flora. Gambar 2.2 dan 2.3 dibawah ini menunjukkan tampan g rumah Aceh yang sarat ornamen.

32

Sedangkan untuk bangunan meunasah. 33 . batu inipun tidak ditanam dalam tanah tapi diletakkan di atas tanah. jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deret lebih kurang dua setengah meter. Gambar 1. tetapi didirikan di atas pondasi batu kali. Pola struktur yang digunakan adalah rumah panggung khas Aceh dengan bentuk atap pelana atau variannya.Gambar 1. Tiang–tiang itu dihubungkan antara satu dengan lainnya dengan kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lubanglubang tiang tersebut. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. sebagai contoh orientasi bangunan dan bujur bangunan rumah tinggal dinyatakan melalui arah hadap kiblat. Penyelesaian pada setiap bangunan diupayakan agar agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh.2 Tampak Depan Rumah Aceh Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang didirikan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari kayu yang kuat. Orientasi bangunan meunasah dan bangunan rumah tinggal perlu dibedakan dengan pemahaman bahwa perlu dibedakan antara fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong (desa). Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua lubang.3 Tampak Samping Rumah Aceh Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh diarahkan menuju digunakannya ragam hias tumbuhan ataupun pola geometri ragam hias arsitektur Islam dalam tampilan bangunan rumah tinggal. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter. dengan bentuk bangun denah persegi panjang. sedangkan tinggi keseluruhan bangunan lebih kurang lima meter. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 batang dengan diameter lebih kurang 33 cm. Tiang-tiang itu tidak ditanam ke dalam tanah. Arah hadap bangunan disesuaikan dengan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Pola bukaan pintu yang memberikan orientasi langkah kaki pada saat masuk atau keluar rumah dan perletakan WC yang sedapat mungkin tidak menghadap barat-timur karena akan menghadap atau membelakangi kiblat.

bukan berarti masyarakat dilarang untuk membuat inovasi tampilan bangunan. dan penggunaan ornamen. seperti pada penggunaan warna. Namun demikian. melainkan diarahkan menuju sebuah konsep berupa pengayaan ragam hias Aceh pada tampilan 34 . dan terhadap Bangunan disekitarnya. Merekonstruksi yang berarti membangun kembali bangunan yang rusak akibat gempa tsunami dilakukan dengan kaidah-kaidah sesuai budaya lokal . upaya untuk mengembangkan tampilan bangunan beserta inovasi dan daya kreasi masyarakat. Rehabilitasi tampilan bangunan tidak diperbolehkan sampai melanggar garis sempadan bangunan 5. dan terhadap Bangunan disekitarnya. Gambar di bawah ini merupakan salah satu ilustrasi dari bangunan untuk rekonstruksi. Namun demikian. tidak dibatasi. Gambar 1. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan.Pemilihan warna untuk tampilan bangunan disesuaikan dengan adat Aceh yang juga dijiwai oleh kaidah-kaidah agama Islam. melainkan diarahkan untuk memperkaya ragam hias pada tampilan. Ilustrasi Bangunan untuk Rekonstruksi Dari gambar tampilan bangunan di atas terlihat bahwa tampilan bangunan rekonstruksi diarahkan pada sebuah konsep preservasi dan konservasi yang didasarkan atas kaidah arsitektur Islami dengan landasan budaya Aceh. Rehabilitasi tampilan arsitektur pada rumah tinggal dan bangunan gedung sedapat mungkin diselaraskan dengan tampilan arsitektur di sekitarnya untuk keserasian lingkungan. Tampilan bangunan untuk rekonstruksi diarahkan sedapat mungkin menggunakan Arsitektur Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Aceh Besar. Tampilan Arsitektur pada Rekonstruksi Bangunan.4. tekstur. 4. pemakaian bahan/material.

mangga. pintu dan jendela. Arah bujur bangunan rumah tinggal dan meunasah perlu dibedakan untuk membedakan fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong. adalah kejelasan struktur fisik sebagai orientasi 35 . seperti kolom. compability. sebagaimana ragam hias bintang dan bulan menunjukkan simbol ke-Islaman. awan. namun demikian harus memperhatikan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. dan tanaman produktif lainnya. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. ragam hias awan berarak (awan meucanek) menunjukkan lambang kesuburan dan motif tali berpintal (taloe meuputa) menunjukkan simbol bagi ikatan persaudaraan yang kuat untuk masyarakat Aceh. tampil sebagai hiasan semata-mata. tanaman peneduh (seperti Angsana. dan tanaman produktif (seperti belimbing. Misalnya konstruksi panggung bisa berupa kontsruksi beton atau pun baja. Tampilan Arsitektur Bangunan terhadap Keserasian Lingkungannya. Pemakaian ragam hias tradisional pada bagian-bagian tertentu dari bangunan.bangunan. b. Untuk bangunan bangunan Meunasah. sebagian dinding dan sebagainya yang sifatnya ornamentasi tempelan. Diharapkan melalui upaya untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengayaan ragam hias pada tampilan bangunan dapat tercipta keseimbangan antara nilainilai sosial budaya Aceh terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. sense dan livability.  View. c. Beberapa ragam hias. jambu. yaitu kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Modern. bintang dan bulan. a. namun beberapa ragam hias. non measurable criteria dalam rancang kota terdiri dari access. tanpa meninggalkan kaidah tata ruang di dalamnya. identity. fauna. Menurut Hamid Shirvani. bahan dan material yang lebih modern. Pada bagian depan rumah (yang berbatasan dengan jalan). Bangunan tradisional atau rumah panggung di Aceh Besar dapat juga dibuat dengan teknologi konstruksi. 6. Jenis tanaman yang ditanam dapat berupa tanaman hias (seperti jenis bunga-bungaan) .) . view. 7. bentuk dan tata letak massa. disediakan lahan yang cukup sebagai ruang terbuka hijau. Ragam hias pada bangunan-bangunan Aceh pada dasarnya terdiri dari ragam hias yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora. Di antara kriteria tersebut yang berkaitan dengan wujud bangunan adalah :  Compability.

seperti kolom. Bangunan rumah tinggal dengan konsep tradisional budaya Aceh dapat dibuat dengan teknologi konstruksi bahan dan material yang lebih modern. bentuk dan tata letak massa (compatibility) serta kejelasan struktur fisik sebagai orientasi (view) diterapkan melalui pemakaian ragam hias tradisional pada bagianbagian tertentu dari bangunan. Identity.6 Ilustrasi Tata Ruang Rumah Tinggal Rekonstruksi 36 . pintu dan jendela sebagian dinding dan sebagainya yang bersifat ornamentasi.5 Ilustrasi Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Rekonstruksi Ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual (identity). Tata Urutan Ruang-ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang Gambar 1. adalah ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual Gambar 1. diarahkan untuk dapat menampillkan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. 8.

acara adat. Pada bangunan gedung : i Tata letak ruang sangat tergantung dari fungsi bangunan dimana untuk setiap fungsi bangunan memilki hirarki yang khas. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi publik yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas seperti menerima tamu. sedapat mungkin diupayakan untuk menambah ruang privat (kamar tidur) yang mampu mewadahi privasi angggota keluarga khusus (orang tua.a. iv. berhubungan langsung dengan ruang tamu dan atau ruang keluarga ii. ruang pertemuan dan sejenisnya. ii. Ruang servis diletakkan pada bagian belakang bangunan. Untuk Rumah Tinggal : i. maka perlu diperhatikan pola pemisahan antar ruang sehingga tidak menimbulkan kecenderungan terjadinya hubungan yang dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. biasanya digunakan sebagai ruang publik. Tata Letak Ruang-ruang pada Bangunan yang bercirikan Budaya Lokal. ii. Ruang privat (kamar tidur) diletakkan berdampingan dengan ruang keluarga iii. Jika rumah induk akan dikembangkan. bisa sebagai bagian dari rumah induk maupun dibangun terpisah secara struktural. a. b. Ruang-ruang inti dan ruang pendukung lainnya disesuaikan dengan fungsi bangunan 9. Teras depan sebagai perwujudan serambi depan. Untuk bangunan gedung : i. Pada rumah tinggal : i. pengantin baru) b. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi privat yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas bersama seperti ruang santai keluarga. iii. ii. Untuk memberikan nuansa budaya lokal (Aceh Besar). 37 . Bagian depan bangunan sebagai perwujudan serambi depan. ruang tidur tamu. kaum wanita. sholat berjamaah. Batas-batas ruang yang masif dan personal dibutuhkan untuk ruang-ruang yang memerlukan privasi tinggi seperti ruang kepala.

Ruang serbaguna yang bersifat semi publik dapat pula dipakai untuk berbagai aktivitas seperti menerima tamu dan pula sebagai ruang tidur tamu. kamar mandi/kakus terpisah dengan bangunan induk rumah. Ruang kamar mandi/wc bisa diibuat menyatu dalam rumah jika bangunan utama atau ruang kamar mandi/kakus terbuat dari dari beton dan bata. permanen atau pun semi permanen. b.Gambar 1. pada Arsitektur Lokal dan Lingkungan Bangunan Lainnya. iii. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. maka pada saat awal pembuatan rumah induk. Pada rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu. dengan memperhatikan KDB. Perluasan bangunan rumah induk. Untuk rumah tinggal : i. Tata Letak dan Jarak Ruang-ruang pada Bangunan Utama terhadap Bangunan-bangunan Penunjangnya (termasuk bangunan utilitas. Pada bangunan dengan material beton. 10. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. melihat tingkat bahayanya terhadap kebakaran. ruang untuk KM/WC diletakkan menyatu dengan bangunan induk. dapur dapat dibuat di luar rumah induk dan terpisah secara struktural. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. seperti bersantai. Ruang serbaguna yang bersifat semi privat digunakan sebagai ruang tempat beraktivitas bersama. dimana terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur.). sanitasi (MCK).7 Tampak/potongan Rumah Tradisional Aceh ilustrasi di atas memberikan gambaran tentang pemisahan yang jelas dan tegas antara ruang serbaguna dengan ruang privat (ruang tidur) untuk orang tua dan kaum wanita. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. a. Pada bangunan dari bahan kayu. iv. v. ii. dll. Untuk bangunan gedung : i. yang dibutuhkan untuk menjaga dan menjamin 38 . termasuk di dalamnya bangunan utilitas. Sedangkan untuk rumah yang terletak di atas tanah (modern/bukan panggung). shalat dan berjamaah dan acara-acara adat. penempatan dapur disesuaikan dengan selera pemilik bangunan.

jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung Bangunan-bangunan penunjang bangunan.ii. Perluasan bangunan induk. tetapi juga bisa dibangun terpisah secara struktural. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. 11. maka pada saat awal pembuatan bangunan. termasuk di dalamnya prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitar Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaikbaiknya sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. v. iv. Gambar 1. Secara umum struktur bangunan utama (yang merupakan wadah kegiatan utama dalam rumah) harus mempunyai daya tahan terhadap gempa. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. Dapur dapat dibuat di dalam rumah induk.8 Perspektif Rumah Tradisional Aceh Pada gambar perspektif di atas menunjukkan letak rumah induk yang terpisah dari kamar mandi. iii. keamanan. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. KM/WC terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. termasuk penyandang cacat dan warga usia lanjut. kenyamanan. 39 . untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. a. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya terhadap Struktur Bangunan yang ada. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. Perluasan bangunan rumah induk.

b. sehingga posisi ruang dalam selalu berhubungan dengan ruang luar di sekitarnya dalam jarak yang cukup untuk menjamin kecukupan pencahayaan dan penghawaan alami. bangunan dibangun tidak berhimpit dengan batas lahan. Keserasian. d. ditentukan garis sempadan bangunan depan dan belakang. 12. Ruang-ruang di dalam bangunan harus cukup mendapat penerangan dan penghawaan alami. maka struktur banguan baru harus dipisah dari struktur bangunan yang lama. Batas depan dan belakang bangunan harus mengikuti aturan garis sempadan yang berlaku dimana sangat bergantung pada lebar jalan yang ada di depannya. c. e. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan pola struktur yang sama dengan bangunan lama. melainkan bagian pengisi (non struktural) misalnya partisi di dalam bangunan. a. Jika akan merubah tatanan ruang. Pengaturan Tata Letak Ruang-ruang Dalam Satu Bangunan terhadap Pekarangan/halaman Bangunan dengan mempertimbangkan Keselarasan. sedangkan samping bangunan diijinkan berimpit dengan bangunan tetangga tetapi terpisah secara struktural. maka yang dapat dimodifikasi adalah bagian yang bukan merupakan struktur utama. maka dapat dibuat menyatu dengan metoda sambungan yang tepat. struktur utama harus tahan gempa dengan variasi bahan berupa beton bertulang atau kayu kelas kuat yang memadai. d. Untuk kapling yang luas. Yang harus diperhatikan adalah metoda sambungan antar bagian struktur bangunan lama dan baru. Pada bangunan rumah induk. Bagian lahan yang tidak terdapat bangunan harus disisakan untuk ruang terbuka hijau dan areal limpasan air hujan. 40 . Untuk kapling kecil. Keseimbangan dengan Lingkungannya. e. Pemakaian bahan konstruksi baja dan besi diperkenankan dengan syarat memenuhi satandar konstruksi tahan gempa. maka struktur perluasan rumah dapat terpisah (tidak rigid dengan bangunan lama) atapun menyatu (rigid) dengan bangunan lama. c. b. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan sistem struktur yang berbeda. Disarankan untuk menghindari pemakaian bahan logam yang mudah berkarat (corosive material) pada daerah pantai yang dekat dengan laut. melainkan pada tengah lahan sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. 13. Jika bangunan rumah akan diperluas.b. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan berdasarkan Klasifikasi Bangunannya a.

disaranakan untuk tidak dipakai pada dinding luar bangunan. Sesederhana apapun bahan bangunannya. asbes. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Bangunan rumah lebih ditekankan pada aspek struktural dan estetika. Kuda-kuda atap menggunakan bahan kayu iii. sedangkan bangunan untuk servis (dapur dan KM/WC) lebih ditekankan pada aspek kualitas sanitasi lingkungan. petir dan akibat kesalahan teknik pemanfaatan dan pemasangan bahan. d. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan Dalam Satu Bangunan dengan memperhatikan Keserasian. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Tiang dan balok menggunakan kayu yang kuat iv. Ijuk digunakan sebagai bahan pengikat. Lantai dan dinding menggunakan papan kayu v. Fungsi bangunan juga menentukan material yang akan dipakai.c. Sedangkan untuk bagian non struktural utama. d. Pondasi menggunakan batu kali. penyekat ruang) dapat memakai bahan lainnya seperti papan. f. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dengan persyaratan harus tahan gempa. keamanan bangunan dan kenyamanan ruang dalam batas tertentu. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai stock cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin menjamin keselamatan penghuni dari bahaya bencana alam. e. Sedangkan untuk bagian pengisi non struktural (dinding luar. Keamanan. untuk menghindari pengurangan kekuatan struktur utama bangunan. Untuk bagian non struktural utama. bahan penutup atap menggunakan daun rumbia ii. pada bagian atap vi. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin juga dihindari dari bahan-bahan yang membayakan kesehatan penghuni dari pengaruh kimiawi. c. calsiboard. Khusus untuk bahan fibercement. b. Berdasarkan studi dari Rumah Tradisional Aceh maka bahan bangunan yang biasa digunakan terdiri dari: i. batako. Keselamatan dan Keawetan Bangunan a. sesek dan sebagainya. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dimana telah dipersyaratkan harus tahan gempa. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. 41 . 14. Pemakain material yang berbeda harus memperhatikan teknik penyambungan antar bahan jika menyangkut sistem struktur bangunan. batu bata. e. maka yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kekuatan struktur. Atap.

Bangunan rumah panggung yang ada umumnya merupakan bangunan lama (sebelum 70-an) yang saat ini jumlahnya terbatas. dan sejenis. dan yang sejenis. d. f. e. atau kombinasi dengan bor pile. Pada bangunan rumah yang berlantai 2 atau tiga memakai pondasi tapak beton bertulang. g. Setiap lingkungan dengan luas 4 ha. III. Sedangkan untuk bangunan gedung di atas dua lantai memakai pondasi sumuran. c. struktur kolom dan balok harus terbuat dari beton bertulang dengan kuat tekan beton minimal f’c 20 Mpa. Sedangkan bahan-bahan seperti gypsum. batako sampai dengan bahan yang ringan seperti papan kayu. genteng seng. mulai dari yang masif seperti batu-bata. Zone 1 dan Zone 3 i. fibercement. Secara umum adalah bangunan di atas tanah. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipenya berdasarkan Periode/ Gaya Arsitekturnya. hanya dibolehkan sebagai dinding pengisi di dalam bangunan (tidak berkaitan langsung dengan bagian luar). Sedangkan pada bangunan gedung dengan jumlah lantai ≥ 2. dan/atau pada perairan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. Struktur atap untuk bangunan rumah memakai sistem rangka dengan bahan utama kayu dan penutup atap seng gelombang.. h. Dinding luar dan dalam dapat memakai bahan pengisi. sesek bambu.2 TATA LETAK BANGUNAN 1. Pondasi struktur utama pada bangunan rumah di atas tanah yang berlantai 1 berupa pondasi dangkal menerus (batu gunung). multiplex. dan Arsitektur lainnya yang ada. Bentuk Tatanan Bangunan dalam Satu Lingkungan pada Arsitektur Tradisional NAD. atau bahan lain yang sejenis seperti metal sheet. Untuk lantai bangunan dapat berupa plat lantai beton ataupun dengan lantai papan rangka kayu.15. Kayu Seumantok. a. fungsi lindung kawasan. ii. sekali pun tersebar di setiap desa. tapak beton bertulang. b. seperti Kayu Meranti. folding plat dan sejenisnya. Bangunan gedung yang dibangun di atas (panggung). atau pun deck. Sedangkan untuk bangunan gedung struktur atap terbuat dari bahan baja dengan bahan penutup atap berupa genteng. harus memiliki jalan darurat minimal selebar 3 m sebagai akses penyelamatan 42 . a. Struktur kolom dan balok untuk bangunan rumah bisa berupa beton bertulang atau minimal kayu klas kuat II. Karakter struktur utama pada bangunan tradisional lebih didominasi oleh pemakaian balok kayu dengan sistem struktur rangka portal sederhana. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan.

Sumur dapat digunakan bersama.. e. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. ii. Topografi. b. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. Bangunan gedung yang dibangun di atas. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya a. Tradisi. 43 . diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). sebagai tempat bersosialisasi warga. pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). 2. bentuk jalan.bagi penghuni ketika terjadi bencana. harus memiliki jalan darurat diantara bangunannya sebagai akses penyelamatan bagi penghuni ketika terjadi bencana. dan/atau pada lahan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. fungsi lindung kawasan. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Ketersediaan Bangunan Sekolah i. b. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. arah angin. Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama Timur-Barat untuk menghindari angin kencang Timur-Barat dan agar rumah menghadap kiblat. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. d. Bangunan boleh ditambah/ diperluas ke arah horisontal dan vertikal hingga mencapai KDB dan KLB yang dipersyaratkan masing-masing daerah. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Orientasi matahari. Zone 2 i. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab). Setiap lingkungan dengan luas 6 ha. c. sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum dibagian depan rumah 3. sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. a.250 jiwa perlu disediakan fasilitas pendidikan TK. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Taman Kanak-kanak (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Orientasi Tatanan Permukiman terhadap kaidah Agama.

(2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1600 jiwa. SMP/SLTP. SD. disamping fasilitas pendidikan TK yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SD. (6) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMP. (7) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan akan tetapi masih tetap berada ditengah-tengah penduduk. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah sekolah dasar adalah 2000m2. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. SMP/SLTP. (6) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. Sekolah Dasar (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). SMA/SLTA di dalam area komplek. (8) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan. (8) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. ii.(4) Sekolah taman kanak-kanak terdiri dari 2 ruang kelas dan ruang aula yang masing-masing ruang dapat menampung 35-40 murid usia 5-6 tahun. (7) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok penduduk dan dapat digabung dengan taman/ tempat bermain dan lain-lain sehingga terjadi pengelompokan aktifitas. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah taman kanak-kanak adalah 500m2. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. iii. disamping fasilitas pendidikan TK. SMA/SLTA di 44 . Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Pertama (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/ tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. (4) Sekolah Dasar terdiri dari 6 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 40 murid.

000 meter. Ketersediaan Bangunan Layanan Kesehatan i. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah balai pengobatan warga adalah 300 m2. diperlukan fasilitas kesehatan untuk balita berupa posyandu. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah posyandu adalah 60 m2. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum b. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. SD. SMP yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMA. ii. iii. berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. disamping fasilitas pendidikan TK.500 jiwa. SMP/SLTP. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum iv. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga. Posyandu (1) Berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anakanak usia balita. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. Balai Pengobatan Warga (1) Berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyebuhan (currative) tanpa perawatan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Lanjutan Atas (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa.250 jiwa. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin 45 . (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1.dalam area komplek. SMA/SLTA di dalam area komplek. diperlukan fasilitas kesehatan balai pengobatan warga. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga atau sarana hunian/ rumah. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2.

000 jiwa. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha/ apotik. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan adalah 300 m2 (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. Puskesmas dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit.000 jiwa. selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas dan Balai Pengobatan adalah 1. iv. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.500 meter.000 m2. diperlukan fasilitas kesehatan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan.(1) Berfungsi sebagai melayani ibu sebelum. Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil.000 m2. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas dan Balai Pengobatan. (3) Jarak radius pencapaian 1. v. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. vi.000 meter. (5) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.000 jiwa. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin adalah 3. pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai 6 tahun. Tempat Praktek Dokter (1) Merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 5. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. diperlukan fasilitas kesehatan berupa tempat praktek dokter. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (4) Jarak radius pencapaian adalah 4. 46 .000 jiwa.

ii. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah apotik/ rumah obat adalah 250 m2. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 2. baik untuk penyebuhan maupun pencegahan. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. iv. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha. Balai Warga (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 2.500 jiwa. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 1. diperlukan fasilitas ibadah berupa muesanah. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. Muesanah (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Apotik/ Rumah Obat (1) Berfungsi melayani penduduk dalam pengadaan obatobatan. Gedung Bioskop (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.500 m2.000 jiwa (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 500 m2. Ketersediaan Tempat Ibadah i. biasanya ada di setiap dusun. Ketersediaan Fasilitas Sosial i.vii.000 jiwa. 47 . diperlukan fasilitas kesehatan berupa apotik/ rumah obat. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah balai warga adalah 150 m2.000 m2. c.000 m2.000 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah balai warga adalah 300 m2. ii.000m2. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 250 m2. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 3. Gedung Serbaguna/ Karang Taruna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 1.000 jiwa. d. Gedung Serbaguna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.

000 jiwa.400 m2. termasuk ruang ibadah. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid warga.2 m2/ jamaah.600 m2. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 3.(3) Luas lahan minimum untuk sebuah muesanah adalah 100 ii. v. (4) Kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. iv. Masjid Lingkungan (Gampong) (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. m2. (3) Kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1. e. Ketersediaan Sarana Ekonomi i. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid warga adalah 600 m2.000 jiwa. Masjid Kecamatan (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid kecamatan. Agama Hindu mengikuti adat.lingkungan.000 meter. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 5. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. Sarana Ibadah Agama Lain (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Agama Katolik mengikuti paroki. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid lingkungan. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga. Masjid Warga (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). iii. Agama Budha mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki lembaga masing-masing. Warung 48 .500 jiwa. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan berdekatan dengan pusat . (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2.

juga untuk pelayanan jasa perbengkelan. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) lingkungan dan mudah dicapai. iii. (d) Sistem pemadam kebakaran. ikan. pakaian. elektronik. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. fotocopy dan sebagainya.000 m2.barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. Pusat Perbelanjaan Lingkungan (1) Menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur.000 jiwa. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah warung adalah 100 m2. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. rempah-rempah dapur dan lain-lain. daging. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pertokoan adalah 3.000 m2. iv. tepung. (e) Mushola/ tempat ibadah. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 10. reparasi. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 2. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan lingkungan dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan sub lingkungan dan mudah dicapai. barang kelontong. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. teh. wartel dan sebagainya. (c) Pos keamanan. barang-barang kelontong. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 6. unit-unit produksi yang tidak menimbulkan (1) Menjual 49 . Pusat Perbelanjaan dan Niaga (1) Menjual kebutuhan sehari-hari. alat-alat pendidikan. Pertokoan (1) Menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel. buah-buahan. (b) Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga. ii. gula. bahan-bahan pakaian. beras. (6) Setiap pertokoan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan. (c) os keamanan. pakaian.000 meter.000 jiwa. alat rumah tangga serta pelayanan jasa seperti warnet.

000 meter. iii. (d) Sistem pemadam kebakaran. Olah Raga.000 m2. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 1. f. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di jalan utama dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Taman/ Tempat bermain Lingkungan (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. iv. Taman dan Makam i. vi. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Makam 50 . (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan ditengah-tengah kelompok tetangga (lorong). Taman dan Lapangan Olah raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 24.000 m2. industri kecil dan lain-lain.000 jiwa. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. Taman dan Lapangan Olah Raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. (e) Mushola/ tempat ibadah. (3) Lokasinya di jalan utama. v. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan pusat kegiatan lingkungan (dusun). Jalur Hijau (1) Terletak menyebar ditepi jalan lingkungan.000 jiwa. Ketersediaan Ruang Bermain. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 9. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 250 m2. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 36. (3) Lokasinya sedapat mungkin berkelompok dengan sarana pendidikan. Taman/ tempat bermain (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 2. ii.250 m2. (c) Pos keamanan.000 jiwa. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120.000 m2. bank.500 jiwa.polusi. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. tempat hiburan serta aktifitas niaga lainnya seperti kantor-kantor.

pekarangan. KDH. perdu-perduan. taman kota. ii. KDB. Zone 2 i.3 RUANG TERBUKA A HIJAU 1. ii. sirkulasi.000 jiwa dengan standar kapling makam adalah 4 m2 (meliputi 2 m2 untuk makam dan 2 m2 untuk sirkulasi dan ruang terbuka. ekonomi. Untuk perlindungan sungai. (3) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. sosial. III. Syaratsyarat ini dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk 51 . ekonomi maupun estetika. ameniti. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kawasan pantai yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. ekonomi. a. kawasan pemanfaatan terbatas. Diperuntukkan untuk daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. b. unsur-unsur estetik. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum sesuai Qanun Tentang Bagunan Gedung no. iii. Berupa kawasan lindung. dengan penanaman cemara. peresapan air. Parkir dan ketetapan lainnya. iii. mau pun estetika. sarana olah raga. dan jalan lingkar pulau yang memiliki ketinggian > 3 meter. Bangunan Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau Kawasan di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di lingkungan pemukiman/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. ameniti maupun estetika. rekreasi dengan memperhatikan perencanaan kota yang ada.(1) Setiap 10. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. rumput-rumputan dan tanamantanaman hias. 10 tahun 2004. Fungsi-fungsi ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan permukiman/ gampong. dan tanaman lain yang sejenis. sosial. iv. keamanan. Kawasan ini harus disertai dengan buffer sebagai perlindungan dari tsunami yaitu hutan mangrove kawasan sempadan pantai. seperti pepohonan (misalnya Angsana). baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.000-12. Zone 1 i. kelapa. KLB. (2) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).

sosial. ekonomi maupun estetika. tanah dan permukaan tanah. ekonomi. RTHP merupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. rekreasi. Jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. c. ii. perdu-perduan. peresapan air. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum 2. ruang budidaya. Ruang Sempadan Bangunan i. Parkir dan ketetapan lainnya. dengan memperhatikan perencanaan kota yang telah ada. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. sungai. dan tanaman hias. unsur-unsur estetik. a. sirkulasi. rumputrumputan. v. KDH. pekarangan. hutan produksi. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. sarana olah raga. (b) Syarat-syarat ruang terbuka hijau pekarangan dalam setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai penanaman vegetasi penyangga berfungsi untuk kepentingan ekologis. (3) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). iii. pohon-pohon menahun. Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman dan ruang terbuka hijau pekarangan.bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Zone 3 i. KLB. (a) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. ameniti maupun estetika. (2) Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. KDB. seperti pepohonan. Keserasian tersebut antara lain 52 . Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/ wilayah/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. (4) Sebagai ruang transisi.

jalur pejalan kaki.mencakup : pagar dan gerbang. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. tidak di dalam wadah/ container yang kedap air. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. iii. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. c. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roofgarden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Tata Tanaman i. ruang sempadan depan bangunan. v. b. dan kebijaksanaan daerah setempat. Hijau Pada Bangunan i. ii. vegetasi besar/ pohon. 53 . pagar. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. bak sampah dan papan nama bangunan. tiang telepon di kedua sisi jalan/ ruas jalan yang dimaksud. ketentuan teknis. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/ penanaman di atas tanah. bangunan penunjang seperti pos jaga. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. batang dan cabangnya rapuh. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. ii. tiang bendera. Tapak Basement i. iv. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. ii. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. KDH minimal 10 pada daerah sangat padat/ padat. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25 luas RTHP. d.

dll. iv.Ruang Sempadan Bangunan termasuk pekarangan. Untuk setiap Zone. Zone 1 (1) Penghijauan di kawasan buffer zone. kolam peresapan air hujan. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. hutan lingkungan. volley. taman dan rekreasi ii. Taman dan lapangan berada di setiap satu lingkungan dusun. seperti bermain bola. hutan kelapa dan mangrove. ii. iii. Taman-taman dan lapangan. seperti bermain bola. Zone 2 (1) Pekarangan. 54 . taman (2) Tapak Basement (1) Hijau pada Bangunan iii. dan kolam ikan. taman permukiman terbatas. tambak-tambak. Zone 1 i. makam. Luas maksimum dan minimum dari jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong.Ruang Sempadan Bangunan (4) Tata tanaman. Zone 3 (1). Pekarangan rumah penduduk. a. dari pinggir pantai hingga sejarak minimal 100 m sepanjang pesisir pantai ke arah daratan. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. bermain anak. (3). Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. dll. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut diatas. jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/ gampong adalah sebagai berikut : i. taman dan olah raga. kestabilan tanah/ wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jenis-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. (2). 3. volley dan sepak bola. (2) Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung.ii. termasuk hutan mangrove. Untuk lapangan minimal seukuran lapangan volley. Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. (3) Taman-taman dan lapangan. air. Di pinggir pantai.

iv. iv.iii. Hutan mangrove ditanam sepanjang pesisir pantai sebagai penyangga (buffer zone) dengan kedalaman lebih kurang 100 meter ke arah daratan. iii. iii. Taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong i. RTH taman dibuat dalam satu lingkungan lorong dan di sekitar meunasah. Ruang terbuka hijau ditempatkan di sekitar lokasi yang memiliki aktivitas tinggi dengan luas ruang terbuka terhadap luas gampong lebih kurang 30% .50% ii. Zone 3 ii. Makam berada di pinggir lingkungan. Zone 2 i. b. Dikelilingi ruang terbuka budidaya pertambakan/ pertanian. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong 55 . Taman dibuat pada satu lingkungan lorong Ruang terbuka hijau pekarangan dibuat pada setiap persil bangunan rumah pada satu luasan permukiman/ gampong.. c. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong.

1 Lokasi pintu masuk dan keluar bangunan. serta arahnya terhadap sirkulasi lingkungan. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. berada di bagian depan dan belakang bangunan dan mudah dijangkau. 1. Zone 2 dan Zone 3 (1). Terdapat Zone 1 (1) Terdapat sekurang-kurangnya 1 jalan keluar masuk lingkungan ke arah selatan (2) Lokasi mudah dicapai dari segala penjuru/semua sisi lingkungan. PERTANDAAN. b.4 SIRKULASI. (2). dan/atau primer ke arah dataran yang lebih tinggi. Pintu masuk dan keluar bangunan tidak terhalang oleh ruang lain. a. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. kolektor.3 Pola Sirkulasi Jalan Zone 1 dan Zone 3 (1) Berbentuk pita. 1. b. a.4 Fasilitas Parkir i. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. dan/atau primer. 56 . lokal) i. kolektor. kolektor. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. kolektor. Terdapat sekurang-kurangnya 2 jalan keluar-masuk lingkungan ke arah zona lingkungan tetangganya. Pintu masuk dan pintu keluar pada bangunan terdapat di dua sisi bangunan yang berbeda dan mudah dicapai dengan jumlah minimal 2 pintu. dan jumlahnya. dan arahnya terhadap sirkulasi jalan kota/luar lingkungan yang menghubungkannya.III. dan/atau primer. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. Lokasi mudah dicapai dari semua sisi lingkungan 1. kolektor. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan.2 Lokasi pintu masuk dan keluar lingkungan permukiman dan jumlahnya. Zone 2 (1) Berbentuk pita dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. lokal) ke arah Pola sirkulasi jalan berbentuk pita. ii. Permukiman (a) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas tetangga dan lingkungannya.

ditempatkan pada pintu keluar – masuk gampong. berada pada bagian pintu masuk keluar lingkungan. atau tergantung dari bentuk gampongnya. ii. pedestrian dan penghijauan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. Jalur jalan kendaraan harus dilengkapi dengan jalur hijau : (1) Untuk jalan masuk utama lingkungan kendaraan dua arah dipisahkan dengan median jalur hijau di tengahnya. memudahkan aksesibilitas. (4) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. Pemisahan Jalan i. ii. 3. Jalur jalan kendaraan harus terpisah dengan jalur pedestrian pejalan kaki. ruang terbuka hijau dan sarana umum lainnya. 57 . Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Bangunan non-rumah tinggal wajib menyediakan area parkir kendaraan yang proporsional terhadap luas lantai bangunan (sesuai standar teknis parkir yang berlaku) (2) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. sarana umum lainnya di tiap zone mempunyai persyaratan yang sama yaitu sebagai berikut : i. 4. Sempadan Jalan (1) Pencahayaan buatan harus ada di sepanjang sempadan jalan dengan jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan.(b) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak diperboleh berada pada badan jalan. iii. penghijauan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. 2. Perletakan Sarana Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Sarana keamanan berupa Pos Jaga. misalnya bila gampong atau dusun terdapat jalur keluar masuk yang lebih dari satu. dll. (2) Untuk setiap jalan gang/ lingkungan dilengkapi jalur hijau pada sisi kiri dan kanan bahu jalan. maka Pos Jaga bisa ditempatkan di salah satu pintu masuk-keluar atau keputusan dari musyawarah gampong. (3) Luas. ruang terbuka hijau.

sehingga mudah dioperasikan dan mudah diperbaiki bila terjadi kerusakan. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. iii. (c) Dapat dicapai dalam waktu paling lama 15 menit. h. (3) Perletakkan pencahayaan buatan harus dapat memberikan penerangan pada badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik.5 meter atau bangunan berkolong/panggung untuk mengatasi pasangnya air. perkantoran dan bangunan tinggi lainnya dengan struktur yang kokoh dan dapat menampung orang banyak atau berupa bukit dengan lansekap yang baik bisa dijadikan sebagai bangunan penyelamat (b) Pada zona I tinggi lantai > 1. pencahayaan buatan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. (3) Dalam ruang terbuka hijau. sesuai kebutuhan standar jenis ruang terbuka hijau. Sarana Umum Lainnya (1) Dapat memberikan penerangan ruang luar dengan menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. dengan radius pelayanan maksimum 2 Km. (5) Pencahayaan buatan harus ada di setiap persimpangan jalan yang dapat memberikan penerangan badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. balai pertemuan. (2) Harus memperhatikan karakter lingkungan. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. silau visual yang tidak menarik dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. Bangunan Penyelamat (1) Zone 1 dan Zone 3 (a) Rumah ibadah (Mesjid). i. Bangunan dan Jalur Penyelamat. ii.pencahayaan buatan harus memperhatikan karakter lingkungan. (3) Harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. estetika amenity dan komponen promosi. fungsi dan arsitektur bangunan. Ruang Terbuka Hijau (1) Perletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. (4) Dalam perletakan pencahayaan buatan harus memperhatikan aspek pengoperasiaan dan pemeliharaan. Zone 2 (2) Bentuk (2) 58 . (2) Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan.

Tidak diharuskan membangun bangunan penyelamat. (1). ii. Jalur Penyelamat Zone 1 dan Zone 3 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. Zone 2 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. (i) Jalan darurat merupakan jalan terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor yang bebas hambatan, dengan lebar badan jalan minimal 6 meter. (ii) Jalan keluar dari setiap kavling bangunan harus langsung ke jalan lingkungan dan jalan darurat minimal ada 1 buah tidak boleh melewati bangunan tetangganya. (3) Sirkulasi (a) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. (b) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya. (c) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa

(2).

59

elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. i. Pertandaan, dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Perletakan sarana keamanan dan keselamatan lingkungan. Perletakan tanda dan rambu lalu-lintas dan rambu keselamatan lingkungan. i. Penempatan signage, termasuk papan ikian/ reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik. ii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu, kepala daerah dapat mengatur pembatasan-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.

III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN
1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan

a. Setiap kegiatan dalam pembangunan permukiman di Kabupaten Aceh Besar yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diperhitungkan berdasarkan tingkat pembebasan lahan, daya dukung lahan meliputi daya dukung tanah, kapasitas resapan air tanah, tingkat bangunan per hektar, dan lain-lain, tingkat kebutuhan air sehari-hari, limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman, efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia), serta koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien luas bangunan (KLB). b Kewajiban melaksanakan kajian AMDAL tergantung masingmasing tipologi kota. c. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Kegiatan di Kabupaten Aceh Jaya yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut berpengaruh terhadap: i. Jumlah manusia terkena dampak. ii. Luas wilayah persebaran dampak. iii. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. iv. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.

60

v. Sifat kumulatif dampak. vi. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible-nya) dampak. 2. Ketentuan UPL dan UKL 1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 86 Tahun 2002. 2. Dalam UKL dan UPL harus diuraikan informasi mengenai: i. Identitas pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan; ii. Rencana usaha atau kegiatan meliputi nama, lokasi, skala usaha atau kegiatan, garis besar rencana usaha dan atau kegiatan; iii. Dampak lingkungan yang akan terjadi meliputi kegiatan yang menjadi sumber dampak, jenis dan besaran dampak serta hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak yang akan terjadi; iv. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan meliputi langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya menangani kedaan darurat, kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup dan tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan; v. Tanda tangan dan cap usaha dari penanggung jawab usaha atau kegiatan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Persyaratan bangunan i. Untuk mendirikan bangunan di Kabupaten Aceh Besar yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan memproduksi, mengolah bahan mudah meledak dan mudah terbakar, korosif, toksik (beracun), reaktif, dan infeksius dapat diberikan ijin apabila : (1) Merupakan daerah bebas banjir, dan (2) Jarak antara lokasi bangunan dan lokasi fasilitas umum minimal 50 meter. (3) Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/ jalan tol dan 50 meter untuk jalan lainnya; (4) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan;

61

ii.

iii.

iv.

v. vi.

(5) Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawan, mata air dan sumur penduduk; (6) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan lindung dan lain-lainnya). Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 L/detik atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapatkan ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna mengurangi limpasan air, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan saluran drainase tersier dan sekunder yang akan dihubungkan dengan saluran drainase primer untuk dibung ke badan air. Jika muka air tanah rendah maka dapat digunakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan guna menambah cadangan air tanah. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan 2 membangkitkan LHR ≥ 60 SMP per 1000 feet luas lantai, maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran drainase yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lampu lalu lintas. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan dan tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar. iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

62

Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. (ii) Sampah kering maksimal setiap tiga hari sekali agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. keselamatan dan kesehatan lingkungan. 4. dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun.vi. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah harus dilengkapi sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. (b) pengangkutan sampah basah dilakukan berdasarkan jenisnya (i) Sampah basah setiap hari atau maksimal setiap dua hari sekali untuk menjamin agar tidak timbul bau dan menjadi sarang penyakit. d. bagi bangunan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir a. dan yang sejenisnya. atau dilarang membangun bangunan. Pembuangan Limbah Cair dan Padat i. ii. c. dengan memperhatikan keamanan. (1) Sampah : (a) harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Sarana pengumpulan dan pengolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. 63 . keselamatan dan kesehatan. c. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir a dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dengan memperhatikan keamanan. dibatasi. Kegiatan konstruksi yang berpotensi menghasilkan debu harus melakukan penyiraman pada waktu tertentu untuk menghindari penyebaran debu yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. Pengelolaan Daerah Bencana a. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. e. b. daerah banjir.

kelayanan (serviceability). keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. dan bebanbeban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur 2. 1.IV. misalnya terjadinya suatu gempa. Persyaratan struktur ini memberikan kriteria minimal untuk perlindungan jiwa dengan memperkecil kemungkinan terjadinya keruntuhan. Sedangkan yang dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis / engineering structures). c. keawetan (durability) dan ketahanan terhadap kebakaran (fire resistance). b. Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keamanan (safety). Bangunan rumah tinggal lebih dari 1 lantai dikategorikan sebagai bangunan gedung. Bangunan rumah tinggal di dalam pelaksanaan pembangunannya bisa dilakukan oleh pemilik dan dianjurkan didampingi oleh orang teknik yang mempunyai keahlian di bidang bangunan. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai dengan zona gempanya).1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN Persyaratan struktur bangunan gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD bertujuan untuk memperkecil resiko kehilangan nyawa apabila keruntuhan struktur akibat pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar terjadi. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Perencanaan struktur BG dan RT berdasarkan ketentuan ini tidak berarti mencegah sama sekali terjadinya kerusakan struktur maupun non-struktur apabila suatu gempa terjadi. Untuk itu struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan. harta benda dan masih dapat diperbaiki. Persyaratan Bahan 64 . Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur (Bangunan non teknis / non engineering structures). Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar tercapai. Persyaratan Perencanaan Struktur a.

Ketidakteraturan struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari. d. pengaruh gempa terhadapnya harus dianalisa secara dinamik. bangunan air minum. c. b. 3. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI. pusat pemadam kebakaran. a. misalnya rumah sakit. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama terjadinya suatu gempa. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. lay-out 65 . fasilitas radio dan televisi dan bangunan sejenis lainnya. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi secara baik sesudah terjadinya suatu gempa. Untuk bangunan yang tidak beraturan. Kemungkinan terjadinya efek puntir pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya geser tambahan pada unsurunsur vertikal akibat gempa harus diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut. pusat penyelamatan keadaan darurat. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan.a. f. serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur. Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. e. iii. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga pengetesan yang berwenang. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami setelah suatu gempa terjadi. pusat pembangkit tenaga. Persyaratan Detail Struktur Bangunan Gedung dan Rumah Tahan Gempa Persyaratan Lay-Out Bangunan i. Bahan struktur yang digunakan. ii. diusahakan semaksimal mungkin menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan kandungan lokal. lay-out bangunan diusahakan sejauh memungkinkan agar sederhana dan simetris. maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. iv.

baik dalam bidang vertikal maupun horisontal. termasuk beban tetap. sehingga gaya-gaya dari semua elemen struktur. Standar Teknis 66 . sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail. maka struktur BG dan RT dan semua elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian rupa.2. sehingga berperilaku daktail. iv. Semua bagian dari struktur harus diikat bersama. c. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan apabila suatu gempa terjadi. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian rupa. Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang telah direncanakan benar-benar terjadi. Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang tsunami. b. PEMBEBANAN 1. Analisa Struktur Analisa Struktur harus dilakukan. gempa) dan beban khusus. termasuk elemen struktur dan nonstruktur. Setiap unsur sekunder. ii. Perencanaan bangunan sejenis ini harus mempertimbangkan berbagai faktor akibat penggunaannya sebagai tempat evakuasi. Persyaratan Monumen dan Bangunan Monumental i. Persyaratan Pendetailan Struktur i. iii. IV.bangunan harus dibuat sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan sangat minimal. misalnya pengaturan ruangan dan fasilitas penunjang lainnya serta kemungkinan adanya beban-beban tambahan akibat fungsinya sebagai tempat evakuasi. yang bertujuan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. ii. beban sementara (angin. Semua monumen dan bangunan monumental di NAD akan difungsikan juga sebagai tempat evakuasi apabila suatu gempa terjadi. 2. yang diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur pondasi. arsitektur dan instalasi mesin dan listrik harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang memadai.

g. SNI 1726. SNI2834. SNI 2847. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu.Penentuan mengenai jenis. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. f. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. c. SNI-3449. SNI3430. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. SNI2407. 3. 67 . Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. 2. d. SNI-1729 b. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja d. SNI-3976. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal.3. Konstruksi Beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. IV. e. c. seperti a. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. SNI-1728. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. SNI 1727. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. b. seperti: a. d. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja c. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. b. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti a. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. b. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung.4. SNI-1734. intensitas dan cara bekejanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. seperti: a.

STRUKTUR BAWAH ii. tata cara. Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. IV. e Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin.075mm (c) Pasir (sand) : 0. Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10 (b) Pondasi semi dalam . SNI-1735. jika 4 < D/B < 10 (c) Pondasi dalam. Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut.2 mm 68 . Definisi i. SNI-1745. SNI-1963. Perencanan Umum a. c. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Termitisida. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. 5. b.002 mm < ∅ < 0. SNI239'7 h. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan Rumah dan Gedung.4. i. antara lain: a. Jenis Pondasi : (a) Pondasi dangkal .002 mm (b) Lanau (silt) : 0. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. 1. SNI-2405.075 mm < ∅ < 2 mm (d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76. SNI-2395 f. jika D/B > 10 Jenis Tanah : Lempung (clay) : ∅ < 0. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-23V4. SNI-2404. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi.4. d. Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus a.. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. jika D/B < 4 . SNI1736. b. g. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.

Dimensi dan Material Pondasi Dimensi dan material pondasi tergantung pada : i.Zona Gempa 6. 0.Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil. Sumber : American Association of state Hihgway and Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of Technology (MIT) Gambar 2.25g .15g . Differential Settlement Keterangan : L = panjang dasar pondasi dangkal B = lebar atau diameter pondasi D = kedalaman dasar pondasi dari muka tanah ∅ = diameter butiran solid tanah δ = differential settlement s = bentang antar pondasi/ kolom Zonifikasi Gempa : .20g .Zona Gempa 5. 0. 0.1. 0.2. sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk cohesionless soil. Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung – PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan 69 . Jenis Pondasi dan Ukurannya Gambar 2.Zona Gempa 4.30g dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan b.Zona Gempa 3.

70 m dan B = 0. (b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan pemberian sejumlah anchor. d. (c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku Khusus untuk pemancangan tiang pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara.70 m c. Persyaratan Pondasi i Persyaratan penting pada pondasi dangkal : (a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton sloof. (c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir dibawah pondasi minimum 30 cm. 2.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6). Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing capacity. Settlement Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada disekitarnya.003 setengah bentang bangunan (s). Bila tetap terjadi differential settlement maka besar amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar 0. Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat nasional dan/atau internasional iii. kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah dilakukan soil improvement. untuk medium ke atas. (b) Pada tanah non kohesif : D = 0. Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam : (a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and compression pile. Differential settlement antar pondasi tidak boleh terjadi.Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-17262002 ) ii. i. (b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal.002 – 0. Penentuan Jenis Pondasi : Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi. Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) : Pada tanah kohesif : D = 1.50 m dan B = 1 m. Gempa dan (a) 70 . (d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing capacity dan kekuatan material pondasi.

( Pondasi setempat batu kali) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.2.1.1.b ( Pondasi menerus beton) A.3. (Tiang Bor Beton) B.1.a. (Mikropile/minipile) atau B.2.1.2. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. (Sumuran/ Caisson) C..1. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. (Pondasi menerus batu kali) A.e.2.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : C.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.2.a. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : B.b. Mikropile/minipile B.30g Jenis Pondasi : A.b (Tiang Pancang Beton) C.2. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. (Pondasi setempat beton) ii.a.a.1. (Tiang Bor Beton) b. dengan percepatan maksimum di batuan 0. ( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton) c.2.1.2. (Pondasi menerus batu kali) A. 71 . Batuan i.b. Tanah Tak Berkohesi i. (Pondasi menerus batu kali) A.1. (Tiang Bor Beton) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi C.1.(a) (b) (a) (b) Tanah Berkohesi i.a.2.b ( Pondasi menerus beton ) A.a. (Pondasi setempat beton) a.b( Pondasi menerus beton ) A.a.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 . (Pondasi setempat beton ii.a.1 .b.1. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi: B.

Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi C.( Tiang Baja/ Beton dipancang pada lapisan batu yang sudah dibor kemudian digrouting) 72 .ii.1.2.d. (Tiang Pancang Pipa Baja) C.1.b.a (Tiang Pancang Baja) (b) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi : C.

.

(2) Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain. Jenis Tanah b. Kualifikasi Kontraktor c. (6) Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal. Cement column.3. Dampak Terhadap Lingkungan e. clay) : (1) Preloading dan surcharge. (5) Pembekuan air tanah (freezing). Metode Perbaikan Tanah Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah. (2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose. (6) Dynamic Compaction. ii. untuk peat lapisan tanah yang diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0. (7) Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus mengacu pada zona aktif. Untuk tanah swelling yang diganti setebal zona kembang susut. Metode perbaikan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. gravel): (1) Preloading dan surcharge. Tanah Non Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah non cohesive (sand. (7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive). (4) Stone Column. (3) Electro consolidation (4) Stone Column (5) Freezing. i. Lime Column. Biaya Relatif Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya. Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait d. (8) Metode pemadatan getar (vibroflotation) (9) Displacement by explosives (10) Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material ke dalam tanah (impregnation) . (8) Metode lainnya yang sesuai. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Tanah Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah cohesive (silt. (3) Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose.

Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada lereng dengan sudut kemiringan yang redah. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak batuan. Ketebalan shotcrete normalnya 2-3 in. Batuan Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah batuan : (1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts. Perkuatan batuan dapat mengurangi pergerakan struktur atau translasi. Bahan untuk grouting adalah campuran cemen dan pasir. (b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan kemiringan kurang dari 450. (6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock) Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di atas batuan. Lembaran plastik seperti polyethylene. (7) Consolidation grouting Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau kekuatan geser. iii. rock anchor rock tendon). (4) Bituminous Coating Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi. Consolidation grouting diterapkan pada masa batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan jumlah open joint yang dominan. (8) Slope Geometry. (2) Lean concrete atau slush grouting (a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi permukaan batuan. Bituminous coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari. beton atau bangunn dari batu. diletakkan di atas permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke dalam batuan. Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas rendah jika disemprotkan pada permukaan. (3) Plastic Sheeting.Metode lainnya yang sesuai. dan tidak diterapkan lereng yang curam. (11) 2 . dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. (5) Resin Coating Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan pelindung untuk batuan. Membrane yang terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan.

(9) (10) (11) (12) (13) Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat mengurangi gaya-gaya yang bekerja. Dewatering (a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng. Metode lainnya yang sesuai. Toe Berms Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh. caranya dengan shotcrete. dengan tidak tutup kemungkinan ada metode baru. Rock Anchor Perlindungan Terhadap Erosi Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang disebabkan proses pelapukan. (b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa batuan. 3 .

A 1 2 3 B C D E F G 1 2 H I J K L M N O P Q M e to d e ' P re lo a d in g S o il w e ig h t o n ly W it h ve r t ic a l d ra in s W it h n e t o f D r a i n a g e E le c t r o O s m o s e E le c t r o C o n s o lid a t i o n S t o n e C o lo u m n C e m e n t C o lo u m n F re e z i n g D y n a m i c C o m p a c ti o n C o m p a c t io n o n l y W it h H o riz o n t a l D r a i n a g e E x p lo s ive s V ib r o fl o t a t i o n Im p re g n a t i o n / G ro u t i n g S u b s t it u t io n S h o t c re t e L e a n c o n c re t e P la s t ic s h e e t i n g B it u m in o u s & re s i n c o a t in g G ro u t i n g R o c k re i n fo rc e m e n t • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • • •s / d • • • • • • • s / d• • • • • • • s / d• • • • • • • • • • • • •s / d • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • • s / d • • s / d• • • • • • • • • • • • • •s /d • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s / d • • • • • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • • • • • • K e rik ilP a s ir K a P a rs ir h a lu s n a u s La 10 2 1 0 .2 0 .0.0 0 2 0 1 Lem pung 0 . maupun beban yang diakibatkan perilaku alam b. beban perilaku manusia.1 0 .0 0 1 (D im e n s i o n a t m m ) T a n a h O r g aBnai k u a L e g e n d a : t n • Lem ah • S e d a n g • • P •e n t in g • 0 . dan harus dilakukan atau 4 .T a b e l. Keselamatan Struktur a.5 KEANDALAN STRUKTUR Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD harus mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. c.0 0 0 2 K u a l ifik a s i W a k tu D a m p a k t e rh a d B p y a a ia K o n t ra k tP e l a k s a nB e rnfu n g s i L i n g k u n g a n R e l a t i f or aa IV. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.0 2 0 . harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan. M e t o d e P e r b a ik a n T a n a h J e n is T a n a h No. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur d. Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri.

dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa). maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih akurat. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi materialnya. sambungan-sambungannya dan besarnya pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul bebannya. beban akibat perilaku manusia. Keruntuhan Struktur a. kondisinya.didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada. dan atau beban yang diakibatkan 5 . c. b. tidak mencukupi untuk memikul beban akibat berat sendiri. 2. pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai. c. Pemeriksaan dan Perkuatan Bangunan Setelah Adanya Gempa a. beban yang didukungnya akibat perilaku manusia. beban akibat perilaku manusia. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam. Adanya pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi) dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam analisa keandalan. gempa. b. d. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya. d. seperti lingkungan yang korosif. maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur. Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa. 3. Apabila hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan. Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada. Pd T-11-2004-C. maupun bencana lainnya.

Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa No : Pd T-11-2004-C. metoda dan rencana demolisi struktur harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang sesuai. maka perlu diadakan perkuatan struktur. b. ii. Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan. Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. No : Pd T-12-2004-C. dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini.perilaku alam (termasuk gempa). Kategori : Pedoman Teknik Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan elemen-elemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang disyaratkan IV. Prosedur. Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. Penyusunan prosedur. Perancangan komponen arsitektural. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Kategori : Pedoman Teknik. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi 2. Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran. c. 3. Prosedur dan Metoda Demolisi a. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. masyarakat dan lingkungan b. dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa. Struktur banguan sudah tidak andal. No : Pd T-13-2004-C. Acuan yang Dipakai a. mekanikal. e. b. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila : a. Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami 6 . dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau ekonomis.

Kategori : SNI. yang pemakaiannya optional. f. terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau. Kategori : Petunjuk Teknik.d. No : SNI 03-1726-2002. k. j. Kategori : SNI. Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-3430-1994. Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : PtT-02-2000-C. Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan. gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-1729-2002. g. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. h. kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. No: Pd T-14-2004-C. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989. Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. Kategori : Petunjuk Teknik Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali. Tata cara ini digunakan untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-struktur bangunan rumah dan gedung Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1727-1989. Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C. Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku. termasuk beban-beban hidup untuk atap miring. Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung. Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa. Kategori : SNI. l. Kategori : SNI. Kategori : SNI. Kategori : Pedoman Teknik. Kategori : SNI. i. Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No : SNI 03-2847-1992. e. bukan keharusan. 7 .

vi. Ketahanan Api dan Stabilitas a. 1. ii. Suatu bangunan harus dilindungi terhadap penyebaran kebakaran: i. iii. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. c. b. iv. Persyaratan yang lebih detail mengenai sitem proteksi pasif dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. viii. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi kebakaran untuk memadamkan api.melindungi benda atau barang lainnya terhadap kerusakan fisik akibat keruntuhan struktur bangunan saat terjadi kebakaran.1 SISTEM PROTEKSI PASIF Persyaratan yang tercantum dalam bagian ini bertujuan untuk: . sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. iv. untuk memberikan kesempatan bagi petugas pemadam kebakaran untuk beroperasi. sehingga penghuni bangunan mempunyai cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara aman tanpa dihalangi oleh penyebaran api dan asap kebakaran. v. cukup waktu untuk keperluan evakuasi penghuni secara aman. vii.menghindari penyebaran kebakaran antar bangunan. antar unit-unit hunian tunggal (hanya berlaku bagi bangunan kelas 2 atau 3. . antar kompartemen kebakaran yang berdekatan. . dan atau bagian kelas 4). sehingga: i. intensitas kebakaran.melindungi manusia dari sakit atau cedera akibat terjadinya kebakaran dalam bangunan maupun pada saat proses penyelamatan. ii. v. ukuran setiap kompartemen api. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. ii. intervensi pasukan pemadam kebakaran. fungsi atau penggunaan bangunan. yang sesuai dengan: i. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama terjadinya kebakaran. . beban api. iii. ketinggian bangunan.V. dapat menghindari terjadinya kerusakan pada properti lainnya. iii. ix. tingkat bahaya api. dan 8 . kedekatan dengan bangunan lain.menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. antar bangunan.

dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. jumlah. iv. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. sampai dengan tingkat tertentu. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. iv. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. keruntuhan tersebut dapat dihindari. yang sesuai dengan: i. sistem proteksi aktif. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. d. 2. v. iii. f. sesuai dengan: i. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi.x. elemen bangunan lainnya. dan vi. membatasi berkembangnya asap dan panas. g. Tipe A : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. beban api. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. e. ukuran kompartemen. ii. tingkat bahaya api. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. intensitas kebakaran. h. yaitu pada bukaan. fungsi bangunan. Tipe Konstruksi Tahan Api Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. iii. 9 . Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. waktu evakuasi ii. atau potensial dapat meledak. sambungan konstruksi. fungsi atau penggunaan bangunan. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran.

Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Spesifikasi detail ketiga jenis tipe konstruksi diatas dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV pasal 2. Tipe B : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam.4 Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000.b. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: 10 . 3. c.

Batasan umum luas lantai. Pemberlakuan. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. b.2 dan butir vi.7. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.atau Luassan 9a Lantai (kecuali Maksimum 30000 m3 21500 m3 12000 m3 daerah Volume perawatan pasien) i. Tabel 2.9 5.1 Tipe Konstruksi yang Diwajibkan KETINGGIAN Klas Bangunan (dalam jumlah 2. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel 2. kecuali seperti yang diijinkan pada butir iv. ii.6. agar dapat: i. i.2. iii.3.7.8 lantai) 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C 4. 11 . menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. iv dan v di bawah tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler.8. 6. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. dan ii. c.Tabel 2. 7. Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. perambatan api dan asap. Kompartemenisasi dan Pemisahan a. ketentuan pada butir iii. Ukuran Maksimum dari Kompartemen Kebakaran Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi Bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 2 2 Klas 5 atau Maksimum 8000 m 5500 m 3000 m2 9b Luassan Lantai Maksimum 48000 m3 33500 m3 18000 m3 Volume Klas Maksimum 5000 m2 3500 m2 2000 m2 6.

sungai.d. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2) di atas. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. tanki air. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. iv. d.000 m3 dengan sistem sprinkler. asap dan gas beracun.ii. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. (2) bangunan klas 5 s. atau: ii Bangunan dengan luasan melebihi 18. ventilasi. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir v (1) di bawah yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. (2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir butir 5. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel 2.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut.000 m2 atau 108. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. atau peralatan lift. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir v (2). i. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. iii. 12 . maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.2 di atas bila: i. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. Bagian bangunan. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir butir v (2). maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2). tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. e. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. ii.

atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya.(3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. ii. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. pemisahan oleh dinding tahan api. Tangga dan lift pada satu shaft. h. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling.d. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. damper. g. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). d. 5. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. dan tertutup pada setiap lantai. f. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat 13 . Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. Seluruh bukaan harus dilindungi. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. shaft ventilasi. c. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir ii). maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. b. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Pada bangunan klas 2 dan 3. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. (4) di atas maka jalan tersebut dapat berlaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. Proteksi Bukaan a. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi ((1) s. dan .

dan iii. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. yang bukan dari klas 10.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir (2) di atas. atau (2) 1. sambungan pengendali. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. g. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. f. e.3. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil.dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. 14 . Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 meter pada dinding yang sama.000 mm2. dan ii. lubang tirai. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir 8) di bawah. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel 2. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. Pemisahan bukaan pada kompartemen kebakaran. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. iii. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. maka tidak boleh menempati lebih dari ⅓ luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). bila luas lubang/ sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. ii. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan.

maka jalan masuk. 45o 5m Lebih dari 45o s. 135 3m o o Lebih dari 135 s.d. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. i. American Standard For Testing Material (ASTM). Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. PUIL. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). jendela. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). Sistem Pemadam Kebakaran dalam Bentuk Sistem Plambing dan Alat Pemadam Ringan.d. dan 15 . Pintu. 90o 4m o o Lebih dari 90 s. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/.d. persyaratan dan standarisasi yang berlaku dari National Fire Protection Association (NFPA). ii. V. ii. 180 2m 180o atau lebih nol h. 10/KPTS/2000 tentang ketentuan teknis bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. dan terdapat regu pemadam kebakaran. SNI 03-1745. Sistem Pemadam Kebakaran harus memenuhi Kepmen PU no. Sistem hidran kebakaran (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku.3 Jarak Antara Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran yang Berbeda Sudut terhadap Dinding Jarak Minimal Antara Bukaan 0o (dinding-dinding saling 6m berhadapan) Lebih dari 0o s. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan.Tabel 2. Standar Industri Indonesia (SII). a.d. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Hidran Kebakaran i. Bila diperlukan proteksi.

(5) pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang : (a) mempunyai jalur keluar ke jalan atau ruang terbuka. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. (b) 2(dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. kecuali pada satuan peruntukan bengunan. 6. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor bakar. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. (6) untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. atau (b) bangunan kelas 5.(2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. atau (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. 7. 16 . dan dengan konstruksi yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. dan jika dalam jarak m dari bangunan. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 2 m. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai kelas bangunannya. tahan cuaca. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari : (a) 2 (dua) pompa. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh saluran peruntukan bangunan. asalkan ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. atau (b) listrik yang dicatu dari generator darurat. di mana: (a) bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua).

(10). sesuai dengan standar SNI 03-1745. tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. Bila hidran kota tidak tersedia. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. yang dipasang dalam bangunan untuk pemadaman kebakaran oleh penghuni bangunan. pada bangunan yang dilengkapi dengan hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran di dalam bangunan. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. (2) melayani hanya lantai di mana alat ini ditempatkan. di mana satu atau lebih hidran dalam dipasang. (8). Hose Reel i. ii.(7) bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. kecuali pada satu unit hunian. Untuk hidran bangunan dengan ukuran selang 1½ inci atau kurang. sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. (9). panjang selang minimum 30 meter. Industri Dan Atau Campuran: Lingkungan tersebut harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tersedia sumber air berupa hidran lingkungan. (12). satu unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. maka harus disediakan hidran halaman. Sistem hose reel. (11). (a) pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dilayani oleh hose reel tunggal yang 17 . serta mampu menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit. hidran untuk Lingkungan Perumahan. Perdagangan. b. Sistem hose reel harus disediakan : (1) untuk melayani seluruh bangunan. sehingga setiap rumah dan bangunan dapat dijangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan.

Pemakaian air asin tidak diizinkan. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. ditempatkan: (a) di luar bangunan. (b). (6) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. (8).0) kg/cm2. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . c. sebuah katup yang memenuhi butir ((5). (9). atau (d) kombinasi (a). atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989.5 . (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . (3) memiliki selang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian ruap untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). (4) hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) di atas. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. 7. (7). dan (c). (5) Bila dihubungkan dengan meteran air.(d)) di atas harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. yaitu antara (0. Sistem Sprinkler 18 .ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut.2. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke hose reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. 6. dilayani oleh hose reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat hose reel melayani seluruh unit hunian. (10). dan (b) pada bangunan kelas 5.

9 dengan luas maksimum 18. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.d.4. Ruang parkir. selain ruang parkir Bila menampung lebih dari 40 terbuka.volume ruangan lebih dari 21. SNI-3989.000 m2 dan volume 108. luas lantai melebihi 2.000 m3. berlaku: 1. panggung lebih dari 200 m2. berlaku: 1. b. 2. volume lebih dari 12.000 m2 dan volume 108. Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis Bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua kelas bangunan: Pada bangunan yang tinggi termasuk lapangan parkir efektifnya terbuka dalam lebih dari 14 m atau jumlah bangunan campuran lantai lebih dari 4 lantai. Ruang Luas panggung dan belakang pertunjukan.500 m2 2. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. ii.000 m3 Bangunan Rumah Sakit Lebih dari 2 (dua) lantai Ruang pertemuan umum. 19 .luas lantai lebih dari 3. Semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. Konstruksi Atrium Tiap bangunan ber-atrium Bangunan berukuran besar yang Ukuran kompartemen yang lebih terpisah besar mengikuti: Bangunan Kelas 5 s.000 m3. kendaraan. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (Kelas 6) Dalam kompartemen kebakaran dengan salah satu ketentuan berikut.000 m3.lapangan parkir terbuka tidak termasuk. Teater. Bangunan dengan resiko bahaya Pada kompartemen dengan salah kebakaran amat satu dari tinggi *) 2 (dua) persyaratan berikut.i.000 m2.

dan klasifikasi bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan : sebagian bangunan di pasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. (6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper) Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler di daerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. (4) Pasokan air. (7) Sistem sprinkler di ruang parkir Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-kelas. harus: (a) berdiri sendiri.(2) Bangunanan bersprinkler. jika : (a) sprinkler terpasang di seluruh bangunan. dan setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinkler diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala .5 . atau sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak disyaratkan. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan : setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi internal yang disyaratkan. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku.0) kg/cm2. 20 . (8). ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air.2. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. luas bangunan yang disyaratkan menggunakan sprinkler. yaitu antara (0. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. (3) Katup kontrol sprinkler. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. ruang pertemuan umum atau semacamnya. bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler.

d. Komponen dari sistem sprinkler:Spesifikasi dan standard pipa harus dari jenis: • Pipa baja : • Pipa baja galbani (pipa putih) • Pipa besi tuang dengan flens • Pipa besi tuang dengan mof • Pipa tembaga dengan standar minimum klas menengah (medium). tangki gravitasi. Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali : jaringan kota apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. dan biasanya digunakan pipa baja karbon hitam (black steel pipe) dengan schedule 40. Pemadam Api Ringan (PAR) i. Pipa Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. sesuai dengan SNI-3989. Ukuran pipa dan perhitungan hidrolik sesuai dengan SNI3989. Schedule 40 (Sch 40) menunjukkan standar kemampuan menahan tekanan kerja sampai dengan 30 kg/cm2. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. dan tangki bertekanan sesuai syarat pada SNI3989. ii. jenis pipa yang sering dipakai pada pekerjaan instalasi hidran dan sprinkler harus sesuai dengan spesifikasi teknis. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989.(9). (13). e. Penempatan kepala sprinkler : didasarkan pada luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan. (12). kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. (11). SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu 21 . Luas lingkup maksimum disesuaikan dengan tingkat bahaya kebakaran. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. PAR memenuhi butir i. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang di seluruh bangunan. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Pemakaian air asin tidak diizinkan. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. (10). Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . (14).

(1) Beberapa jenis detektor yang dapat digunakan meliputi : (a) Detektor panas. meliputi : merk detektor. kelembaban relatif. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: bangunan klas 1b bangunan klas 2. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. (b) Detektor asap. harus diperhatikan perbedaan berat gas dengan udara sebagai berikut : untuk jenis gas lebih berat dari udara jarak maksimum mendatar adalah 4 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan tinggi maksimum dari lantai adalah 30 cm. Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (SKBI) yang dikeluarkan oleh Departemen PU. temperature range. dipasang pada bagian terdekat di atas kemungkinan timbul kebocoran gas. detektor kombinasi. terdiri dari : fixed temperature detector. dan detektor asap ionisasi. tegangan operasi. dan (2) PAR dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. SNI3985 dan SNI 03-3986-edisi terakhir mengenai Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis. b. dengan persyaratan khusus bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yangdigunakan sebagai : (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. khusus untuk pemasangan detektor gas. rate-of-rise detector. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat detektor dan panel. 2. PUIL 2000. 22 . (c) Detektor nyala api : detektor nyala api ultra violet dan detektor nyala api infra merah. bila terdapat balok dengan tinggi lebih dari 60 cm. (2) Detektor yang akan dipakai harus memenuhi spesifikasi teknis pada dokumen kontrak. anak-anak atau orang cacat. dan sensitivitas. SK Menteri PU tentang ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. dan bangunan klas 9a. sedangkan jenis gas lebih ringan dari udara jarak maksimum mendatar adalah 8 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan jarak maksimum dari langit-langit adalah 30 cm. (d) Detektor gas.dipasang di dalam bangunan atau bagian yang dilayani oleh Hose Reel. terdiri dari : detektor asap optik. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. Spesifikasi Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran i. arus listrik (stand-by current).

dipasang dalam konduit PVC tipe “High Impact” dan fire reterdant. (7) Dipasang pada lintasan menuju keluar dengan ketinggian 1.5 mm2.4 m dari lantai. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan di setiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menggunakan dan memasang alarm kebakaran adalah : (1) Bunyi dan irama yang khas hingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran (2) Frekuensi kerja alarm 500 .(3) Jenis kabel yang lazim dipakai adalah kabel NYM 2 x 1. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam memasang titik panggil manual (break glass) adalah : (1) Modol tombol tekan (2) Dilengkapi dengan kaca. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara.4.3 (mengenai Pencahayaan Darurat. iii. Kabel harus memenuhi persyaratan PUIL 2000. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan pada bab 2. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan.1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara minimal 65 dB (A) (3) Lebih tinggi minimal 5 ddB (A) tingkat kekerasan suaranya pada ruangan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (4) Di ruang tidur. bila dipecahkan tidak membahayakan (3) Disediakan alat pemukul kaca (4) Berwarna merah (5) Mudah dicapai dan terlihat jelas (6) Dihubungkan dengan kelompok detektor (zone) yang meliputi daerah di mana titik panggil manual tersebut dipasang. ii. dan Sistem Peringatan Bahaya). (8) Tidak mudah terkena gangguan (9) Pada jalur arah lari yang normal ke bangunan (10) Terpasang di setiap lantai pada bangunan bertingkat (11) Setiap titik panggil manual dapat melayani luas maksimal 900 cm2 iv. tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB (A) (5) Sifat irama alarm tidak menimbulkan kepanikan (6) Pada tempat-tempat khusus (misalnya : perawatan orang tuli dan sejenisnya) dipasang alarm visual (7) Terpasang pada lokasi panel kontrol dan panel bantu (8) Dapat menjangkau bagian ruangan dalam bangunan 23 . Tanda Arah Keluar.

5 m ≥ 1.5 m ≥ 1. Dengan lubang udara masuk AC (supply air diffuser).4 Lihat gambar 2.5 m <1. (1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara.5 m 900 mm secara 900 mm secara 900 mm secara 24 . (3) ditempatkan kurang dari 1.3 B. Antar detektor pada langitlangit rata C. Antar detektor Lihat gambar 2. Ket Lihat gambar 2.5 m <1.5% smoke obscuration/m.(9) Dapat digunakan pula sebagai penuntun arah masuk bagi anggota kebakaran dari luar..50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µ m. Penempatan Alat Pendeteksi Asap Pemasangan sistem deteksi disesuaikan dengan buku “Panduan Pemasangan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang diterbitkan oleh Departemen PU. Dengan dinding dan langit-langit. D.5 Jarak Pemasangan Detektor Detektor Detektor Detektor Panas Asap Gas ≥ 300 mm ≥ 100 mm ≥ 100 mm dari dinding dari dinding dari dinding ≤ 300 mm ≤ 300 mm dari langitdari langit≤ 300 mm langit langit dari langitlangit ≤ 7 m untuk ≤ 12 m untuk ≤ 12 m ruang efektif ruang efektif ≥ 10 m untuk ≤ 18 m untuk sirkulasi ruang sirkulasi ≥ 1. E. (2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. v.5 m Jarak Detektor A. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. Tabel 2. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.5 Lihat gambar 2.6 Lihat gambar <1. Dengan lubang udara balik AC (return air grille). dan (4) dipilih tipe foto-elektrik.

horizontal dari puncak atap tertinggi horizontal dari puncak atap tertinggi 2.3. Gambar 2. 2.7 F.8 bentuk atap pelana.pada atap bentuk gergaji. Jarak detektor dengan dinding dan langit-langit Gambar 2.4. puncak atap dari gambar pada atap puncak 2. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu lintas atau sirkulasi dalam bangunan. Jarak detektor pada langit-langit rata 25 . Dari 100 mm dari 900 mm dari 900 mm Lihat puncak atap puncak atap. Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktifitas yang sesuai dengan fungsi bangunan. horizontal dari puncak atap tertinggi. catatan : 1.

5. Pemasangan detektor pada atap bentuk gergaji 26 . Jarak detektor dengan lubang udara balik AC Gambar 2.Gambar 2. Jarak detektor dengan lubang udara masuk AC Gambar 2.6.7.

restoran R.garasi mobil .8 ~ 8.2 m 84 4.8. Pemasangan detektor pada atap pelana Catatan : jarak antara detektor menyesuaikan dengan tinggi langit-langit ruang efektif seperti pada tabel berikut.Gambar 2.8 m 46 7.6 ~ 4.2 ~ 4.4 m 71 5.6 Fakor Pengali Jarak Detektor.7 Contoh Pemilihan Jenis Detektor Sesuai Fungsi Ruangan Fixed RoR & Asap Nyala Api Gas Temperature kombinasi RoR~fixed temperature Dapur . Tabel 2.4 ~ 9.0 ~ 3. perjamuan .0 ~ 3.0 m 100 1.0 ~ 6. Peralatan bangunan -Gudang material yang R.6 m 58 6. Ketinggian langit. transformato r/ diesel 27 .8 m 77 4.0 m 34 Penempatan detektor harus sesuai dengan fungsi ruangan.R.2 m 52 7. Tabel 2.0 m 64 6.4 m 40 8.6 m 91 3.8 ~ 5.2 ~ 7. Tabel berikut menunjukkan contoh pemilihan jenis detektor yang disesuaikan dengan fungsi ruangan.6 ~ 7.4 ~ 6. Jarak detektor = ketinggian langit-langit x faktor pengali.Faktor pengali langit (%) 0.

kamar tidur Ruang generator & transformator Laboratorium kimia .R.R.R.R..Ruang yang terbakar berisi bahan Ruang yang mudah kontrol menimbulka instalasi n gas yang peralata mudah n vital terbakar Gambar 2. dan (b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.Aula .9.Lobby .Shaft Perpustakaa n . lift . 28 .ruang sidang . PABX . Batas Ambang (1) Sistem sampling harus memenuhi ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. pompa .R. tamu . mesin .R.Tangga . (2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yag berlaku. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. resepsionis ..Studio televisi R. Penempatan detektor pada langit-langit yang terbagi oleh balokbalok vi.Gudang mudah . AC .Koridor . Pemasangan. yaitu: (a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung.

pada saat terjadi kebakaran. perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. termasuk di dalam satuan rumah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakuasi/penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/jalan keluar. dan ii. ramp. atau ketentuan pada butir b. dan tidak 29 . untuk selama tengang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. terminal udara.. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel 2. bangunan klas 1 (bangunan hunian biasa) atau 10 (bangunan / struktur yang bukan hunian).8. pelabuhan laut) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap. ruang kompartemen sanitasi. ruang tanaman atau sejenisnya. Pengendalian Asap Kebakaran a. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. dan iii. atau ketentuan pada butir b. gedung tempat parkir. dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. ii. Persyaratan umum i.5. terminal bus.10 m di atas level lantai. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi (Bangunan Penyimpanan : gudang. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia.3. halte bus. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas.. iv. dan sejenisnya) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran : (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v (Bangunan Terminal : stasiun kereta. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengndalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada table 2. iii. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka b. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i.

30 .mensirkulasikan kebakaran. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. asap di antara kompartemen Untuk keperluan ketentuan ini.

termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a.Tabel 2. dan 8b. 8. dan 4 1. 6. 8. dan 2. Bila panjang koridor umum > 40 m. atau b. harus dilengkapi dengan: 31 .1. 6. atrium.3 BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF > 25 M Kelas 2. parkir) Kelas 9a 1.3. maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. KETENTUAN UMUM KELAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk : 1. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomatis. Harus dilengkapi dengan alarm dan deteksi asap otomatis. Kelas 5. atau 2. atau b. Sistem presurisasi otomatis. 8. Jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka. dan 9b Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap (selain ruang / tempat terzona sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Kelas 2. bangunan kelas 9a yang lebih dari 2 lantai. kecuali bahan pelapis dari bahan yang tidak mudah terbakar. dan 2. Kelas 5. Persyaratan Pengendalian Asap Kebakaran 1. dan 4 1. 6. atau 9b. dan 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir VI. 3. lebih dari 2 lantai di bawah tanah. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau c. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. 3. harus dilengkapi dengan : 1. 7. 7 (bukan tempat parkir terbuka). harus dibagi dengan interval < 40 m dengan konstruksi sesuai ketentuan V. Sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 2. setiap lantai di atas tinggi efektif 25m. atau d.8.

Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. harus dipasang: 1. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. Sistem sesuai butir 2. 8. atau b. atau 3. maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau 2. termasuk jalan penghubung dan rampnya. atau b. Kelas 5. 7. Sistem sprinkler BASEMENT (selain ruang 1. di atas harus dipasang. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. 3. 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis 4. harus dipasang: a. Bila > 2 lapis di bawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau 3. Kelas 6.b. Sistem pengendali asap terzona. Sistem presurisasi udara otomatis. atau 9b (selain sekolah). bila bangunan mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. Kelas 5 atau 9b (sekolah) b. 8. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis iii. atau 2. atau 2. Sistem pengendali asap terzona. harus / tempat parkir) dilengkapi dengan: a. atau 9b. Kelas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > parkir) 3 lantai. Sistem detektor dan alarm asap.i. Kelas 6. maka : a. 7. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. dan 9b Pada bangunan : (selain ruang / tempat 1. 7 (bukan tempat parkir terbuka). 32 . Sistem sprinkler b. Basement dengan luas > 2000 m2. 7. 8. 8. dan 2. sistem sprinkler 3. atau ii. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. Sistem pengendali asap terzona. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 6. bila basement mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. atau ii. Bila bangunan > 2 lantai. Sistem sprinkler Kelas 9a 1.a.

Setiap kompartemen mebakaran. Bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Bangunan 1 lantai. dan: i.Ruang / tempat parkir Atrium 2. termasuk ruang parkir bawah tanah. harus 33 . persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan : a. bila: a. dan b. atau c. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. ditetapkan pada butir 2. yang dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanis sesuai ketetentuan: 1. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3500 m2. dipasang lubanglubang centilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikut iketentuan 1. Kompartemen 1. dan 2. harus dilengkapi Tidak terdapat selasar dengan : terlindung melayani > 1 a. sistem deteksi dan alarm kebakaran. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. dipasang sistem sprinkler 2. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat kelas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/ penggunaa yang banyak. yang membuka ke arah selasar terlindung. karakter khusus bangunan b. KETENTUAN KHUSUS KELAS / BAGIAN PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN BANGUNAN Kelas 6. Bangunan 2 lantai atau kurang. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. atau ii. atau toko b. Bila bangunan 1 lantai. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api. Kelas 6. toko dengan luas > 1000 m2 Kebakaran > 2000 m2. atau digunakan dalam bangunan d. Sistem pembuangan asap otomatis. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen kebakaran Ruang / tempat parkir. Kompartemen 1. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. Luas bangunan < 2000 m2. sistem peringatan kondisi darurat. kecuali yang 2 Kebakaran > 2000 m . dipajang. dan terdapat selasar toko (selain pada ketentuan 3) yang tidak terlindung melayani > 1 membuka ke arah selasar terlindung. Selasar terlindung. sistem inter komunikasi darurat. fungsi khusus bangunan c.

atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen tidak harus mengikuti ketentuan 1. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Sistem sprinkler. dan sejenisnya. bila bangunan 1 lantai. i. 1. dan b. bila: a. termasuk theater kuliah dan komplek 34 . atau ii. bila bangunan 1 lantai. Bangunan theater atau tempat pertemuan / hall umum: a. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan pameran. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3500 m2 dan bangunan 2 lantai atau kurang. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. harus dilengkapi dengan: a. dengan luas > 300 m2. Sistem pembuang asap otomatis. 3. Bila luas bangunan > 3500 m2. 4. Sistem pembuang asap otomatis. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dipasang sistem sprinkler. harus dilengkapi dengan: a. Sistem pembuang asap otomatis. gereja. Bangunan Pertemuan dilengkapi dengan: a. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. diskotek. dan b. atau iii. gereja. Sistem pembuangan asap otomatis. Bila bangunan 1 lantai. dan c.a. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Bukan pada bangunan sekolah. Bangunan klab malam.toko Kelas 9b. luas lantai < 2000 m2. Pada bangunan sekolah. di atas. atau b. atau b. dipasang sistem sprinkler dan: i. atau ii. Sistem pembangunan asap otomatis. atau 2. 2. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. dan b. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. bila bangunan 1 lantai. 3. dengan luas > 200 m2. Idem 1. Bila luas bangunan 2000 ~ 3500 m2. atau lubang-lubang ventialsi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. harus dilengkapi dengan: i. atau sistem sprinkler.

ruang senam. sifat penggunaan bangunan. kolam renang dan sejenisnya) selain dari gedung olah raga (indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1000. sifat dan jumlah bahan yang disimpan.b. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap kelas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. b. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. atau iii. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel 2. iii.8 pada lampiran persyaratan kerja teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. atau ii.auditorium: a. Masjid. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memnuhi ketentuan standar yang berlaku. Sistem pembuang asap otomatis. ii. dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. c. 35 . Bangunan pertemuan lainnya (di luar butir 3 dan 4 di atas): a. di atas. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. i. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. Persyaratan Untuk Bahaya Khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: tata letak bangunan. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Untuk sistem pengatur udara lainnya. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seeprti butir 4. Kompleks olahraga (termask hall olah raga. ii. 6. vi. Selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2000 m2: i. bila bangunan 1 lantai. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. atau sistem sprinkler. v. d. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a di atas adalah: i. dan b. Gereja.

iii. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut ii. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. saluran. sebuah ruang untuk pengendali dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penangangan kondisi darurat lainnya. pembungkus atau sejenisnya. (Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran –Sistem Proteksi Pasif –Proteksi Bukaan) d. untuk jendela.1) 4. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. bukaan pada dinding. telepon. c. tidak digunakan bagi keperluan lain. ii. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bgi penghuni bangunan b. dilengkapi sarana alat pengendali. di mana: i. saluran udara. panel kontrol. Proteksi Pada Bukaan. alngit-langit dan dinding dalam. iv. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yangt dilindungi terhadap api. Konstruksi Ruang Pusat Pengendali Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. bahan lapis dan penutup. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. pinu. iii. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. pipa.1. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya ruang pengendali. peralatan utilitas. Pusat Pengendali Kebakaran a. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. Ukuran dan Sarana 36 . Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari 2 (dua) arah: arah pintu masuk di depan bangunan. meubel. Pintu Keluar i. tidak boleh lewat ruang tersebut. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokokhan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. konstruksi penutunya dari beton. seperti pada lantai. ventilasi. e. ii. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. dan sejenisnya.2. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaaan pada bab 2.

(3) sebuah papan tulis dan sebuah papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dan sistem manajemen.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) di atas. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120.i. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang 1. (4) mempunyai kipas. f. (2) telepon sambungan langsung.50 m2. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m2 dari luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. dan: (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara per-jamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. Sebagai tambahan. panel indikator lift. kipas pengendali asap. dan (2) sistem keamanan bangunan. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas dan catu daya listrik.50 m. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangungan. (2) jika hanya menampung peralatan minimum. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. ii. saklear kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. 37 . Ventilasi dan pemasok daya. sistem pengamatan. (3) jika dipasang peralatan tambahan. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1) Panel indikator kebakaran. genset darurat. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. ii. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. iii.

Pemeriksaan terdiri dari urutan dan metode pelaksanaan. Head sprinkler telah dipasang dengan jumlah sesuai pada gambar kerja. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketuka kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dBA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan di dalam bangunan. (5) Segel PAR. Beberapa hal yang harus diperiksa meliputi: Bahan dan material yang datang (check material on site). v. Pengujian Pengujian terdiri dari . g. b. Siamese connection. Flow switch dengan membuka drain valve alarm kebakaran pada MCPFA lokal alarm harus aktif. (6) Kelengkapan kartu periksa berkala. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan bantuannya. dan tingkat iluminasi di atas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. h. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat dicapai dari ruang pengendali tersebut. vi. Instalasi pipa sprinkler dan hidran. Pemeriksaan. 5. Tes head sprinkler secara acak (sample) pada satu atau beberapa titik head sprinkler dengan cara memanasi hingga i. iii. ii. Hasil pemeriksaan dicatat pada daftar simak (check list) terlampir.(5) mempunyai catu daya lisatrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. Beberapa peralatan seperti motor bakar. iv. i. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Pemadam Kebakaran a. (3) Pemasangan sesuai syarat yang ada. viii. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. 38 . Kotak hidran dan perlengkapannya. i. PAR (Fire Extinguisher) (1) Jumlah PAR. Pilar hidran. Tes tekan parsial instalasi pipa sprinkler dan hidran sebesar 2 x tekanan kerja atau sesuai spesifikasi. Pemeriksaan Pemeriksaan sistem pemadam kebakaran bertujuan untuk memastikan instalasi dan pemasangan telah dilakukan dengan benar. (2) Posisi sesuai dengan gambar kerja. (4) Jenis PAR sesuai kegunaan ruangan. material yang dipakai serta instalasi pemasangan sesuai dengan standar peraturan dan syarat-syarat yang berlaku. vii. pompa pengendali sprinkler. ii. iii.

Tujuan pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa pada isntalasi kabel yang telah dikerjakan tidak terdapat hubung singkat (short circuir) yang disebabkan kabel cacat atau terkupas dari isolasinya. Detektor-detektor yang bekerja harus diikuti dengan indikasi pada MCFPA. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. Bila head sprinkler pecah alram kebakaran harus aktif. Berdasarkan buku “Pedoman Pemasangan Sistem Deteksi Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang dikeluarkan oleh Departemen PU. (4) Buku normal dari masing-masing komponen. dan tekanan air harus memenuhi persyaratan. v. Tes tahanan isolasi kabel (megger test) menggunakan mega ohmeter atau megger. Setelah pengujian dilakukan dan instalasi/ sistem dapat berfungsi dengan baik. iii.mencapai temperatur pecah. Tegangan catu daya cadangan (emergency power supply) harus secara otomatis mengambil pencatuan daya untuk sistem bila sumber catu daya utama padam. Hose reel dan nozzle pada kotak hidran : dilakukan pengujian terhadap kelancaran aliran air. (6) Pelatihan/training untuk calon operator. Tes hubung (loop test) menggunakan multi tester. Pelaksanaan pemasangan instalasi. Pemeriksaan. 6. maka pemeriksaan dan pengujian selanjutnya harus dilakukan bersama pihak instansi pemerintah setempat untuk mendapatkan Izin Penggunaan Bangunan dari pemerintah setempat. vi. iv. Hasil pengujian juga dicatat pada daftar simak. Penggunaan bahan. iii. (3) Petunjuk pemeliharaan sistem. Besarnya tekanan air yang keluar harus memenuhi persyaratan. Ketentuan lain yang harus diperiksa adalah : (1) Gambar pemasangan sistem (shop drawing) (2) Petunjuk cara kerja dan pelayanan sistem. Hasil pengukuran harus melebihi atau sama dengan standar yang telah ditentukan. dll. v. Pengujian i. iv. ii. Pompa-pompa kebakaran : dilakukan pengujian terhadap karakteristik dan penampilan pada masing-masing pompa. Pemeriksaan i. (5) Buku catatan untuk mencatat kejadian atau kerusakan pada sistem. Metoda kerja. Tujuan test ini adalah untuk mengukur tahanan isolasi kabel yang digunakan. besar tahanan harus ≥ 1 MΩ. 39 . b. Pengujian fasilitas untuk memantau sistem komunikasi dan komponen serta lampu-lampu tanda pada MCFPA. ii.

40 .

Akses ke dan dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ ramp. Fungsi tersebut pada butir 2) di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. maka bangunan harus mempunyai antara lain : i. ii. iii. iii. 41 . SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Fungsi a. e. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelematkan diri dengan aman tanpa merasakan keadaan darurat. tangga/ ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. 2. c. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. nyaman dan memadai. iv. Persyaratan kinerja : a. aman.3 atau 4. kecuali tangga/ ramp di luar bangunan. dan memadai bagi semua orang.VI. c. dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1 m atau lebih dari lantai/atap/ melalui bukaan pada dinding luar bangunan. ii.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. Butir 3) tersebut di atas tidak beriaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. (3) Lantai hordes yang memadai untuk menghindari keletihan. harus dibuatkan penghalang yang : i menerus sepanjang area yang berbahaya. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. d. b. b. (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. Butir 3) tersebut tidak berlaku juga untuk : i. nyaman. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai/atap. mampu menjaga lintasan anak-anak. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. injakan dan akhiran injakan tangga. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp.

kecuali : i. VI. Tangga. b. mobilitas dan karakter penghuni. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. d. Jumlah. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. b. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. Fungsi bangunan iv. sesuai dengan : i.bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan.d.5 m. 42 . ii. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. Tinggi bangunan g. Jumlah. disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Fungsi bangunan iv. c. 8 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebin dari 25 m. Intervensi pasukan pemadam kebakaran h. atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan : i. f. 2. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. 3 dan 4. dan ii. Butir h. lantai.2. balustrade atau penghalang lainnya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh. balkon. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. ramp. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. Jarak tempuh ii. KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Tangga. Bangunan klas 2 s. Bangunan klas 9 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada : i. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Kebutuhan Jalan Keluar a. Basement : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. c. Jumlah. Persyaratan Keamanan a. iii. Fungsi bangunan iii. mobilitas dan karakter lain dari penghuni ii. dimensi jalur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan : i.

atau b. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. iii. ii. ii. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke : i. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. e. iii. 43 . f. Pintu masuk dan setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari : (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. 3. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. Bangunan klas 2 dan 3 i. selain area perawatan pasien. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Bangunan klas 2 dan 3 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. Area perawatan pasien : Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: a. masing-masing merupakan bagian jalur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3.d. v. Panggung terbuka : Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. Jarak jalur menuju pintu keluar a. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. c. Bangunan klas 5 s. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. 1 jalan keluar. g. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. 4. biia bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. pada bangunan klas 9a : tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat.setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. atau ii. sedikitnya 2 jalan keluar. iv.

Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus : a. Jarak meksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. i. tersebut merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia.d. konstruksi ruang tersebut bebas asap. Panggung Terbuka : jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbukua harus tidak lebih dari 60 m. lobby. e. Bagian bangunan klas 4 : Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. untuk bangunan lainnya. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. b. 9 : Terkena aturan butir d. e. ii. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. atau ii. berjarak tidak kurang dari 9 m. f dan : i. bila : i.ii. dan ii. c. ramp. atau iii. b. 45 m pada bangunan klas 9a. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. memiiki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya tertindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar : 44 . jarak ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. Bangunan klas 9a : Area perawatan paien pada bangunan klas 9a. Bangunan klas 5 s. 60 m. atau ruang sikulasi lainnya. d. 5. i. f. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 intu keluar tersedia. d. Pada bangunan klas 5 atau 6. berjarak tidak lebih dari : 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. Gedung Pertemuan : Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih dari 20 m dari pintu keluar. dan ii. c.

lebar bebas. f. 7. c. lebar pintu keluar: i. jika membuka ke arah koridor dengan: (1) lebar koridor antara 1.8 m pada lorong. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang.2 m : 1200 mm. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi : i.2 m : 1070 mm. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. pada area perawatan pasien. atau ii. atau ii. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : i. b. pada kasus lain. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. e. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. kecuali kalau pintu tersebut dari : i. ii. 4). 1m. 3). koridor. lebar bebas.8 m . ii. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. g. komponen sanitasi. tinggi bebas seluruhnya harus tidak'kurang dari 2 m. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. lebar bebas. Jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. lorong. i. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. atau melewati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut : 45 . iii. Lebar bebas.2. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir 2). koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. a. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. iv. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. (3) pintu keluar horisontal : 1250 mm.a. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. d. atau ii. (2) lebar koridor lebih dari 2. 750 mm. lobby umum. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang.8 m pada lorong. b. hall atau yang sejenisnya. 1. ruang transisi atau yang sejenisnya. atau 5) minus 250 mm. 1. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai.

9. Tangga/ramp.3 harus tersedia. (2) lintasan tanpa rintangan. ii. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. b. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan. menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. jarak antara pintu ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melampaui : 46 . c. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. (b) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka ke area tertutup yang : (a) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. atau ii. membuka ke pintu keluar yang di'solasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud : i. (c) mempunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang beriaku. Bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. Jika lebih dari dua akses pintu. ii bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V.i. (d) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dari 6 m. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. dan memenuhi ketentuan teknis yang beriaku. yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus memputivai jelan lintasan menerus. dengan injakan dan tanjakan tangga dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan.I.2. ke jalan atau ruang terbuka.5 Kepmen 441/98 d. Bagian dinding tersebut harus mempunyai : i. parkir kendaraan atau sejenisnya. tidak lebih dari 20 m. Lintasan Melalui Tangga/ Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. Pada bangunan klas 2. TKA sedikitnya 60/60/60. e. ke tempat: (1) ruang atau lantai. 8. 3 atau 4.

atau ii. 30 m dari salab satu dari dua pintu atau lorong keluar. Pada bangunan klas 2. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar. jalur lintasan menuju ke jalan hams : i. Pada bangunan klas 5 s. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran dalam bangunan. ii. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini.4. Pada bangunan klas 2 atau 3. b. d.i. atau tidak setinggi 1:14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab Vl. tangga/ ramp ysng tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari i. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka . ii kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. 20 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka.2. atau ii. e.d 8 atau 9b. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat ketuar menuju ke jalan atau ruang terbuka melaiui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. atau mana yang lebih lebar. tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah f. Pintu keluar harus tidak terhalang. bila arah tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. 47 .d. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i. 9. c. Pada bangunan kafs 5 s. Jika pintu keluar yang disyaratkan menujju ke ruang terbuka. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terietak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. dan bila periu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. 3 atau 9a. 10. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju kejalan atau ruang terbuka atau ii. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dari 1 m. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. c. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. bebas asap.

dan eskalator. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. 12. Pada bangunan klas 9b. iii. c. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. 3 lantai. Pintu Keluar Horisontal a. Tangga. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. bangunan SD atau SLTP. iv. di luar bangunan. 2.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. Ramp Atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. 2 lantai.2. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dari 500 orang. dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan.C. pada area parkir kendaraan atau atrium. c. Pada bangunan klas 9a. antara unit hunian tunggal. tidak harus menghubungkan lebih dari : i. 48 . Kasus selain butir b di atas.d. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal. atau ii. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila : i. dengan tidak kurang dari : i. ii. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantsi yang dipisahkan oleh dinding tahan api. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita. dan satu dari lapis lantai tersebut terietak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka.1. 11. dan ii. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. ii. d. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. b. e. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. ramp atau eskalator tersebut pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. b.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. 0.

tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. dan luas lantai dengan: a. bila: i. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. hall. ii. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. ramp. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. Bila ruang peralatan atau ruang. dan ii. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. 6. koridor. b. lobby dan yang sejenis. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. iii. 49 . atau c. 14.d. 8 atau 9. tidak lebih dari 100 m2. lift. 7. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. kecuali bila diijinkan sesuai butir ii) atau iii) di atas. tata letak lantai tersebut. eskalator. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. tangga. service duct dan yang sejenis. atau b. 13. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. ii. Peralatan dan Ruang Motor Lift Ruang a.2 sesuai jenis penghunian. motor lif mempunyai luasan i. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan.

bila terjadi kerusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. tempat cuci Perpustakaan : . dll . café.mall. level lainnya r. r. listrik. 3. tunggu r. penyimpanan . ruang pamer.Tabel VI. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. elktrikal. 2. arcade Panggung penonton: daerah panggung kursi penonton R.r. telepon Kolam renang Teater dan Hall R.r. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. motel. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. baca. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 50 . museum Bar.5 1 4 2 30 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD .2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan m2/or Jenis Penggunaan ang Galeri seni.r. pamer : r. kerja. gereja. . SLTP Pertokoan. laboratorium. guesthouse Stadion indoor area Kios Dapur.3 1 30 1.3 4 1 2 15 25 10 1 0. hostel. r.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. peragaan. prosesing . sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: .Proses manufaktur pabrik m2/or ang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 3 5 5 0. penjualan: Level langsung dari luar. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : . workshop .5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . manufaktur. r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4.ventilasi.r penyimpanan VI.boiler/sumbe tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. b.staf pemeliharaan . dari material tidak mudah terbakar.

diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. baja dengan tebal minimal 6 mm c. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. mempunyai TKA minimal 60/60/-.Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar.setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam 51 . Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. beton bertulang atau beton prestressed. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. terbentang antar balok lantai. b. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. di mana: i. d. c. dan: a. mempunyai luas minimal 6 m2. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon 6. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. ii. 7. b. dan ii. atau ke bagian bawah langitlangit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran.7 harus: a. harus tidak ada hubungan langsung antara i. 5. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. atau dengan konstruksi: a. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. maka harus: a. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. di setiap bukaan dari area hunian. kayu: i. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar.2. b. iii . yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4.

kecuali untuk list langit-langit. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis 9. lebar dan tinggi 52 . seperti pegangan rambat (handrail). i. b. kecuali: i. lebar bebas halangan. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. bagian dari balustrade. tidak harus disediakan dari tangga. panel atau saluran distribusi. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api.pedoman ini. lobby. bila konstruksi yang menutup ramp. iv. 8. Ramp Pejalan Kaki a. Lebar Tangga a. ii. bila peralatan dimaksud terdiri atas: (1) meter listrik. gang. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. dan sejenisnya. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. 10. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang disyaratkan. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. atau koridor. iii. dan (3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. b. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. b. gang. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. bebas halangan. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. koridor. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. (2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut.

ii.6 m dan panjangnya minimal 2. c.7 m. Bangunan klas 9a: i. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. 11. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. tanjakan. injakan. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI.ii. di mana: i.4 iii. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. injakan dan tanjakan konstan. b. d. atap tersebut harus a. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. Meskipun dengan ketentuan butir a. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. ii. 15. lebar minimal bordes 1.langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. 13. 12. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. Ambang Pintu 53 . b. b. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. 14. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. 1:8 untuk kasus lainnya c. b. Bordes a. b. f. e. ii. dan jumlah sesuai standar teknis. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran.

i. Balustrade pada: i.Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. bila: i. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. tangga. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. tidak dibatasi dengan dinding. uang perawatan pasien bangunan klas 9a. lantai. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. kecuali sekeliling panggung. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. tangga atau balkon luar ii. e. Bila menggunakan jeruji. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. b. intu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. d. dan ii.iii dan g. koridor. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. kecuali tangga/ramp luar bangunan. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. tangga. Balustrade. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. bila dibuat sesuai i. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. ramp. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. 54 . asus lainnya i. lorong. iii. balkon. mbang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8.i.ii. balkon dan sejenisnya. g. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. ii. balkon dan sejenisnya. f. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. 16. Tinggi balustrade: i. koridor. mesanin dan sejenisnya. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan.ii. lantai. b. atap. ii. Balustrade sesuai ketentuan butir e. c. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Balustrade a . atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m.

kecuali: i. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. Pintu Ayun a. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. dibuat menerus 18. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan c. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. kecuali: i. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. ii. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. bukan pintu gulung. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. 7. bukan pintu berputar b.17. Bila terbuka sempurna. termasuk bordes. d. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii. c. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. 19. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. lorong atau ramp. Ayunan harus searah akses keluar. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Pegangan Rambat Pada Tangga a. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. b. bukan pintu sorong. melayani kompartemen saniter. ii. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. harus dapat dibuka secara manual. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. b. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. i. 20. dan harus: i. 55 . membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. pintu dapat dibuka secara manual. c. alarm kebakaran dan lainnya.

kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. d.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. 6. 3. atau 8. 22. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. VI. ii. Rambu. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. Rambu Pada Pintu a. tersedia sistem komunikasi internal. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. b. bangunan klas 9a b. 7. kecuali bangunan sekolah. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. hanya melayani: i. c. atau bagian klas 4. dan i. 56 . unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu.2 m dari lantai.9 1. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. termasuk penyandang cacat. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. khususnya oleh pemilik. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. dengan tangan. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. ii. iii.dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. pada bangunan klas 9b. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ii. b. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. kecuali bila: a. 21.

57 . Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.2.

a. Penyediaan ramp pada bangunan-bangunan dan pelataran parkir menuju bangunan lain atau pedestrian . Pada bangunan-bangunan tidak bertingkat tetapi mempunyai perbedaan ketinggian lantai b. Penyediaan ramp pada jalan-jalan pejalan kaki dan dari pedestrian ke dalam bangunan. c.

1 LIFT Persyaratan-persyaratan mengenai elevator (lift) harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk Pesawat Angkat Elevator. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut.VII. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. a. d. Kapasitas angkut lift barang yang diizinkan. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh Petugas Kebakaran. Lift kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. 1. Lift kebakaran. Pintu shaft lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan/ peraturan yang berlaku di Indonesia. Untuk mengubah fungsi lift penumpang atau lift barang menjadi lift kebakaran. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. e. e. f. harus menjadi kapasitas angkut dari lift yang dimaksud. dan menggunakan kabel tahan api. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. Kapasitas angkut lift penumpang yang diizinkan. Peringatan Terhadap Pengurus Lift Pada Saat Terjadi kebakaran . 3. Sumber daya listrik untuk lift kebakaran harus direncanakan dari dua sumber yang berbeda. d. dapat berupa lift penumpang biasa atau lift barang yang dapat diatur. Kecepatan dan ukuran sangkar lift kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Waktu tunggu lift. Lift Kebakaran Persyaratan-persyaratan mengenai lift kebakaran harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran (DPK) tentang elevator (lift) untuk pelayanan kebakaran gedung. Kapasitas Lift Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. c. Persyaratan teknis dari lift yang digunakan sebagai lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (fire switch) terlebih dahulu. b. Jumlah dan kapasitas lift harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. a. g. 2. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. b. c.

sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar 2. atau Gambar 2. kayu. huruf yang diukir atau ditatah langsung di permukaan bahan dinding. . bila diperlukan. dekat setiap tombol panggil untuk lift penumpang atau kelompok dari lift pada bangunan. telepon.lift kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Ditatah atau huruf timbul pada logam. Satu atau beberapa lift harus dipasang sebagai lift pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan “ramp”. 4. Lift Untuk Rumah Sakit a. harus: i. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. dan iii. 5. ii.10 Tanda Peringatan Lift Penumpang b. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung di tempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. b. Lift pasien yang dibutuhkan pada butir a. mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 kg. plastik atau sejenisnya. berukuran cukup untuk meletakknya fasilitas kereta dorong (wheel stretcher) secara horisontal. dan dipasang tetap di dinding. misalnya: bangunan kelas 9a. kecuali ii. atau ii.a. Lift yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. Sangkar Lift Sangkar pada setiap lift harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar.10 dan terdiri dari: i. Tanda peringatan harus dipasang di tempat yang mudah terbaca: i. berupa bel listrik. iii. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai dasar. huruf yang diukir.

dan penyangga harus direncanakan sesuai beban di bawah ini: i. governor dan peralatan lain. Jika mesin lift dan tali ditempatkan di lantai bawah. b. Balok. iii. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah semua gaya. Instalasi Listrik a. atau di samping ruang luncur di lantai bawah. tromol.6. c. dengan beban sangkar lift. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap ruang mesin lift. pondasi untuk mesin. iv. motor generator. Instalasi listrik untuk lift harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih atau sakelar otomatis. panel kontrol. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. tromol tali. Saf Lift a. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Pemeriksaan. 7. Mesin Lift dan Ruang Mesin Llift a. dan penyangga di ruang mesin harus direncanakan dengan memenuhi: i. ii. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah sejajar. ii. termasuk lantai ruang mesin. b. Pondasi harus menyangga berat mesin. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lift. b. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. d. Pengujian dan Pemeliharaan . Semua bagian logam dari lift pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Dalam shaft lift dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lift. Bangunan ruang mesin lift harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Balok diperhitungkan pada saat bandul mekanis (governor) bekerja. iii. 9. 8. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). lantai. peralatan lain dan lantai di atasnya. c. Untuk shaft lift yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya.

a. VII. salah satunya adalah ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk sistem penggunaan Eskalator (moving stair). pengujian. dan pemeliharaan instalasi lift sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 032190-1991. b. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. .2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. Instalasi lift yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. Prosedur pemeriksaan.

ke ruang terbuka. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 300 m2 c. c. Jelas. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 dan kurang dari 300 m2 yang tidak terbuka: ke koridor. VIII. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup. bangunan kelas 9a.1 SISTEM LAMPU DARURAT i. 3. ke ruang yang mempunyai lampu darurat. Sistem lampu darurat dipasang pada: a. c. bekerja secara otomatis. Setiap lampu darurat harus: a. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. jalan lintas b. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien. diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan.VIII. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. hall. 2. mudah dibaca. . mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. koridor. harus: a. setiap lorong. bangunan kelas 2 atau 3. pencahayaan darurat digunakan pada tanda “KELUAR”. atau sejenisnya yang digunakan pasien. d. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.2 TANDA ARAH KELUAR 1. ii. Setiap tanda “KELUAR” yang dibutuhkan. jika mengngunakan sistem terpusat. 1. TANDA ARAH KELUAR. e. b. atau iv. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi dari kerusakan karena api dengan konstruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. yaitu pada: i. b. atau ii. PENCAHAYAAN DARURAT. ke jalan raya. atau iii.

maka tanda keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai ke: i. Bangunan kelas 9b: i. sistem alarm harus diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari 3. VIII. dan d.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. hall. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannyua untuk meminimalkan kepanikan sesuai tipe dan kondisi pasien. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. ii. akomodasi untuk orang tua anak-anak. untuk gedung pertunjukan. iii. tangga luar. Bangunan kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2: i. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. Tanda “KELUAR” harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. jalan keluar di balkon yang menuju keluar. ii. Jalan keluar horisontal. 5. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. ii. b. lorong. dan harus dipasang di atas atau di dekat setiap: a. Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan “KELUAR” pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai bab Pencahayaan Darurat. ii. .2. Jika tanda “KELUAR” tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. lorong. atau orang cacat. atau ii. dan Sistem Peringatan Bahaya. tangga yang tertutup. i. 4. Tanda Arah Keluar. Pintu dari tangga tertutup. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju jalan raya atau ruang terbuka. 3. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petudas. lobi. dan: c. atau ramp yang digunakan untuk keluar. hall umum. atau sejenisnya. Bangunan kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari 2 lapis dan dipakai untuk: bagian rumah dari sekolah. di daerah bangsal perawatan. lorong atau ramp yang digunakan untuk keluar. untuk sekolah. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m. kecuali bila sistemnya: langsung memberikan peringatan pada petugas. 2. 3.

.

maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. i. Biasanya kabel yang digunakan di sini adalah N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti (3 core). Kabel tegangan menengah digunakan pada bangunan tinggi. 3 fasa. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketentuan: a. bagian bangunan dan instalasi lainnya. Atau antara PTM dengan trafo. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. e. dengan frekuensi 50 Hertz. atau N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti. di antaranya penghantar. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. dipelihara. Kabel Tegangan Menengah Kabel dapat dipasang dengan 2 cara : ditanam atau tidak ditanam (di udara). dapat menggunakan ketentuan/standar dari negara lain atau badan internasional. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. d. ukuran dan kemampuan. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. INSTALASI LISTRIK. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. seperti antara gardu PLN dengan Panel Tegangan Menengah (PTM). Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. Semua peralatan listrik. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik arus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran.1 INSTALASI LISTRIK 1. papan hubung bagi dan beban listrik. PENANGKAL PETIR. . papan hubung bagi dan isinya. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak. Jaringan Distribusi Listrik a. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. jaringan distiribusi. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya. dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati.IX. b. mengganggu dan merugikan bagi manusia. lingkungan. dan busduct dari berbagai tipe. transformator dan peralatan lainnya. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. tidak membahayakan. c. biasanya kabel yang digunakan adalah N2XSY – 12/20 kV inti tunggal x 3.

6/1 kV) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan dengan tanah. Tegangan menengah menggunakan Neutral Grounding Resistor (NGR) yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. (2) Kabel Tegangan Rendah (NYFGbY – 0. alat ukur.6/1 kV) mulai digunakan dari trafo ke PUTR dan seterusnya hingga ke setiap titik beban. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. (1) Pembumian sistem Pembumian sistem dibagi dua. lift kebakaran. Ketentuan penghantar pengaman dapat dilihat pada PUIL 2000 (Tabel 312-1) iv. dan stop kontak diletakkan di tempat yang aman (daerah yang tidak lembab/kering) dan aman dari jangkauan anak-anak. i. PUIL 2000) iii. Pentanahan/pembumian Pembumian dibagi dua. Pembumian dilakukan pada bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik.3. tombol. Untuk pemasangan stop kontak di bawah. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api (fire-ressistant cable). dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. (3) Kabel Tegangan Rendah (NYM – 500 V) hanya digunakan untuk instalasi penerangan saja. peralatan pengendali asap. ii. (Tabel : 701-1. NGR diposisikan di titik netral transformator. . dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. Tegangan rendah menggunakan sistem solid ground (pembumian langsung) 2) Pembumian bodi. sakelar. Papan hubung bagi dan alat ukur listrik diletakkan di dinding bagian depan rumah/bangunan yang aman terhadap air hujan atau diletakkan di halaman rumah dengan diberi pelindung terhadap hujan. sistem deteksi dan alarm kebakaran. c. sistem komunikasi darurat. PUIL 2000) (5) Ketentuan Kapasitas Hantar Arus (KHA) penghantar fasanya. harus dilengkapi dengan pengaman terhadap tusukan. Jaringan yang melayani beban penting seperti pompa kebakaran. b. lambang atau huruf seperti yang terdapat dalam tabel 2. (4) Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna. tegangan menengah dan tegangan rendah. Tombol.4. (Tabel : 313-1.ii. Kabel Tegangan Rendah (1) Kabel Tegangan Rendah (NYY – 0. pembumian sistem dan pembumian bodi. pengecualian hanya diperbolehkan sesuai tabel 2.

3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang, faktor kebersamaan (coincidence factor) atau faktor ketidakbersamaan (diversity factor). 4. Sumber Daya listrik a. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak memungkinkan, dengan izin instansi yang bersangkutan, sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri, yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau normalisasi dari peraturan yang berlaku, di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pada umumnya lingkup pekerjaan instalasi pembangkit sendiri (genset) meliputi : pemasangan genset pada pondasi; pemasangan instalasi saluran pembuangan udara radiator (exhaust duct radiator); pemasangan peredam suara (sound attenuator); instalasi pipa bahan bakar minyak solar; pemasangan tangki bulanan (storage tank) dan tangki harian (daily tank); pemasangan pompa bahan bakar; instalasi kabel daya dan kabel kontrol dari terminal generator ke panel kontrol generator; pemasangan panel kontrol generator; pemasangan peredam suara ruang genset (sound proof). c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listriknya tidak boleh putus, harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila terjadi gangguan sumber utama. e. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3, secara otomatis. f. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lainlain. i. Peralatan tegangan menengah harus terpisah dari peralatan tegangan rendah, dengan jarak sesuai dengan SNI-0225. ii. Pengaturan jarak antara kabel telekomunikasi/kabel data dengan kabel power harus sesuai dengan SNI-0225.

iii. Peletakan kabel telekomunikasi/ kabel data yang berdekatan dengan kabel power harus dilindungi dengan screen atau konduit metalik yang diketanahkan. g. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. Transformator Distribusi Outdoor dan Indoor a. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. b. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup, dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran, maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Transformator distribusi yang berada di luar gedung bisa ditempatkan pada tiang atau di permukaan tanah/lantai. i. Transformator yang diletakkan di permukaan tanah/lantai harus dilindungi dengan pagar pelindung yang jaraknya terhadap transformator diatur sebagaimana dalam SNI-0225. ii. Transformator yang diletakkan pada tiang harus memiliki konstruksi sedemikan hingga kokoh dan tidak jatuh pada saat terjadi gempa berskala tinggi. e. Transformator harus dilengkapi dengan pendingin/ sistem pendingin transformator yang terdiri dari sistem pendingin secara alamiah (natural) atau dengan melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). f. Transformator tipe basah harus dilengkapi dengan alat pernafasan (breathing system) untuk mengurangi tekanan gas pada saat beban berlebih. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan tabung berisi kristal zat hygroskopis untuk mencegah kelembaban (humidity) yang dapat menurunkan nilai tegangan tembus minyak transformator. g. Transformator harus dilengkapi dengan peralatan proteksi; rele Buchholz, pengaman tekanan lebih (explosive membrane/pressure relief valve), rele tekanan lebih (sudden pressure relay), dan pengaman terhadap arus lebih. Transformator dengan daya lebih dari 10 MVA harus dilengkapi dengan rele diferensial (differential relay). Transformator dapat juga dilengkapi dengan rele tangki tanah, rele hubung tanah dan rele termis. 6. Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan

a. Instalasi listrik yang dipasang, sebelum dipergunakan, harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. i. Pemeriksaan yang dilakukan secara visual meliputi antara lain : (1) Jalur pipa konduit dan tekukan kabel tidak boleh patah. (2) Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator laas doop. (3) Jalur kabel di atas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas instalasi pipa untuk menghindari adanya tetesan air. (4) Kelengkapan komponen panel. (5) Sambungan dan terminasi kabel pada panel atau beban harus rapi dan tersambung dengan kuat. Kabel serabut atau berurat banyak (multicore) harus dilengkapi dengan sepatu kabel (cable shoe). (6) Untuk pemakaian kabel NYA harus dilindungi dengan pipa konduit atau fleksibel sampai ke titik beban atau panel. (7) Kabel di dalam panel ditata dengan rapi dan disediakan cadangan panjang kabel (spare) untuk mengantisipasi bila terjadi kesalahan terminasi, kabel masih cukup panjang untuk disambung pada terminal yang lain. (8) Titik-titik lampu posisinya harus sesuai dengan gambar. (9) Penggunaan warna kabel harus sesuai dengan PUIL 2000. ii. Pengujian dilakukan bersama dengan pihak yang berwenang dengan menggunakan pesawat uji yang telah dikalibrasi. Hasil pengujian direkam pada daftar simak dan didokumentasikan. (1) Pengujian instalasi penerangan meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi Besarnya tahanan isolasi minimum suatu instalasi kabel listrik adalah: (i) Berdasarkan PUIL 2000, yaitu sekurangkurangnya 1000Ω /volt tegangan nominal, dengan penegrtian bahwa arus bocor dari tiap bagian instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1mA per 100 m panjang instalasi. (ii) Berdasarkan peraturan IEE (Institution of Electrical Engineers) nilai minimum yang diperolehkan adalah 1 MΩ . Pengukuran dilakukan dengan megger. (b) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).

(c) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-netral, fasa-tanah) dengan multitester (d) Pengukuran arus beban untuk fasa R, S, T. (e) Pengujian nyala lampu dan baterai Ni-Cad pada lampu emergency. (f) Pengujian fungsi komponen-komponen panel : voltmeter, amperemeter, frekuensimeter, lampu indikator, saklar pilih (selector switch), circuit breaker, kontaktor, rele. (2) Pengujian instalasi tenaga meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan motor. (b) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-tanah) dengan multitester. (c) Arah putaran motor. (d) Pengukuran putaran (rpm) motor dengan tachometer. (e) Pengukuran arus starting dan running motor. (f) Tegangan fasa-fasa saat motor beroperasi. (3) Pengujian genset, meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan generator. (b) Pengukuran tegangan baterai dan pengecekan hubungan baterai. (c) Pengukuran motor dan pompa bahan bakar (d) Pengukuran tegangan generator (tegangan fasafasa, fasa-netral, fasa-tanah) (e) Pengujian beban 25%, 50%, 75%, 100%, 110%. (f) Fungsi panel kontrol generator dan interlock dengan sumber daya PLN. (g) Pengujian overspeed, emergency stop, low oil pressure, high water temperature. (h) Frekuensi generator. 7. Pemeliharaan a. Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang. c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. IX.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai resiko terkena sambaran petir, harus diberi instalasi penangkal petir.

b. Bentuk lingkar harus dihindari. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. Sistem Konduktor Penyalur : Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya latu berbahaya. Hal-hal yang belum diatur di dalam peraturan tersebut di atas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. meskipun dibungkus dengan bahan insulasi. c. Konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga sedapat mungkin berhubungan langsung dengan konduktor terminasi udara. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga dari titik sambaran ke bumi: (1) terdapat beberapa jalur arus paralel. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. Jika hal ini tidak mungkin. Direkomendasikan agar konduktor penyalur ditempatkan sedemikian sehingga ada jarak antara konduktor penyalur tersebut dengan pintu atau jendela. harus mengacu pada rekomendasi dari badan internasional seperti IEC. Konduktor penyalur harus dipasang lurus dan tegak sedemikian sehingga membentuk jalur terpendek dan paling langsung ke bumi. Instalasi Penangkal Petir a. (2) panjang jalur arus diusahakan seminimum mungkin. termasuk manusia yang ada di dalamnya. 2.b. . dan instalasi lainnya. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir.2 (Gambar 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir). Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. e. jarak yang diukur melalui celah antara dua titik pada konduktor dan panjang l dari konduktor antara titik-titik tersebut harus memenuhi 3. c. terhadap bahaya sambaran petir. d. Sistem terminasi udara : Susunan sistem terminasi udara memadai jika persyaratan pada Tabel 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir. Konduktor penyalur tidak boleh dipasang pada talang atau pipa saluran air. harus memperhatikan arsitektur bangunan.

Instalasi keseluruhan ii. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. kerusakankerusakan) yang meliputi : (1) Air terminal (2) Tiang penghujung (penyangga) (3) Penghantar penyalur petir (4) Elektroda pembumian (5) Penghantar penghubung (6) Sambungan-sambungan (7) dan lain-lain. Perencanaan Komunikasi Dalam Bentuk Telepon dan Data a. aman dan mudah dikerjakan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah : i. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. c. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harsu mudah diamati. b. IX. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. b. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Bahan-bahan / material instalasi (jenis. bagian bangunan dan instalasi lain. 2. Hasil pemeriksaan direkam pada suatu daftar simak (check list). Secara berkala dilakukan pengukuran / pengujian terhadap EMC (Electromagnetic Compatibility). Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan.3. tidak membahayakan. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. tidak ada genangan air. dipelihara. Instalasi Telepon Instalasi Telepon a. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. mengganggu dan merugikan lingkungan. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lain-lain.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. . maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala.

ii. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1.80 m. Biasanya dimulai dengan bunyi sirine dan dilanjutkan dengan pengumuman untuk segera meninggalkan gedung (All Call) iii. d. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a di atas harus menggunakan sistem khusus. Car call (pemanggilan pengendara mobil). Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m ke atas. e. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. Emergency Paging (pengumuman darurat atau panggilan evakuasi). sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Ruang baterai sistem telepon harus bersih. 3. Sistem Tata Suara yang umum digunakan bangunan tinggi meliputi : i.50 m x 0. Tidak boleh menggunakan cat dinding yang mudah mengelupas. minimal berjarak 0. ii. Instalasi Tata Suara a. ii. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. . terang. ii. c. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. b. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i.b. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. iv. Background music (music pengantar). iii. Ruang yang bersih. kedap debu. Paging (pengumuman/ panggilan) : sistem paging di setiap lantai dapat menggunalan bantuan speaker selector. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. Pembumian / pentanahan (grounding) Setiap peralatan utama (PABX / key telephone) harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian maksimum 5Ω yang diukur pada tanah dalam keadaan kering. tenang.

Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Frequency response (Hz). d. sehingga dihasilkan frekuensi tengah ekualisasi. dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Voltage (Volt). vii. Dimensi (mm) iii. Input impedance (KΩ). Distortion (%). Distortion (%). S/N ratio (dB). Frequency (Hz). Frequncy (Hz). Voltage (Volt). harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian sesuai spesifikasi yang ditentukan atau maksimum 5Ω yang diukur pada kondisi tanah dalam keadaan kering. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. Dimensi (mm). Equalizer center frequency (Hz). Frequency response (Hz). Frequency response (Hz). Dynamic range (dB). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Power consumption (Watt). Frequncy (Hz). Voltage (Volt). Voltage (Volt). Alat ini harus memiliki kemampuan dapat memikul semua beban speaker yang dioperasikan serentak pada saat bersamaan (All Call).c. Input Sensitivity (dB). Power consumption (Watt). vi. Output impedance (KΩ). Dimensi (mm). Power consumption (Watt). manual). S/N ratio (dB). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB).CD Player . ii . Spesifikasi peralatan ini meliputi : Frequency response (Hz). Input Sensitivity (dB). Power bandwidth (Hz). Frequency response (Hz). Ouput impedance (KΩ). Casette Recorder Player . . Frequncy (Hz). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Output level (dB). Alat ini juga harus dapat mengatur seluruh speaker dalam waktu bersamaan untuk difungsikan (All Call). Noise level (dB). S/N ratio (dB). Playing system (auto reverse. iv. e. Peralatan utama tata suara. Mixer Pre-Amplifier : berfungsi untuk menggabungkan dan mengontrol beberapa sumber suara. atau terdiri dari kabel tahan api. serta dilengkapi dengan pengatur kuat suara. Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi tata suara adalah : i. Speaker Selector : berfungsi untuk mengatur kelompok speaker yang ingin difungsikan. Stereo Graphic Equalizer : berfungsi untuk menyaring frekuensi yang tidak diinginkan. Total harmonic distortion (%). Total harmonic distortion (%). v. Radio Tuner : berfungsi untuk menangkap siaran radio AM dan FM. Power consumption (Watt). Input level control (dB). Dimensi (mm). Power Amplifier : berfungsi sebagai penguat suara.

xiv .6/1 kV (biasa digunakan dari MDF ke TB. Jumlah terminal penyambungan minimum harus sesuai kebutuhan. Frequency response (Hz). Khusus microphone untuk car call dilengkapi dengan chime (alunan sesaat musik pengantar) sebelum pengmuman pemanggilan pengendara mobil dilakukan. Voltage (Volt). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Tipe.Spesifikasi peralatan ini meliputi : Nominal impedance (Ω). Dimensi (mm). Dimensi (mm). microphone yang biasa digunakan adalah remote microphone tipe dinamik yang mampu menerima suara secara unidirectional dan dilengkapi dengan saklar / tombol pemilih..Attenuator : berfungsi mengatur kuat suara yang keluar dari speaker. Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai kabel kontrol). Sensitivity (dB). xv. Output level (dB). Dimensi (mm). Impedance (Ω). Frequency response (Hz). x. Jumlah speaker yang dilayani oleh attenuator tidak boleh melebihi kemampuan attenuator. NYY 0. kapasitas terminal. Jenis dan warna cat.MDF (Main Distribution Frame) dan TB (Terminal Box) : merupakan terminal penyambungan kabel sistem tata suara. ix. Sedangkan TB merupakan terminal distribusi setiap area atau setiap lantai. iMicrophone . Power consumption (Watt).viii. Blower : berfungsi menjaga temperatur peralatan utama. Application (musical instrument. xi. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Input level (dB0). jenis-jenis speaker yang biasa digunakan pada bangunan tinggi adalah : Ceiling Speaker (biasa digunakan pada area yang mempunyai plafon dan merupakan area operasional suatu bangunan). Speaker . WallMounting Box Speaker (biasanya digunakan pada area yang tidak mempunyai plafon seperti tangga kebakaran atau ruangan lainnya yang tanpa langit-langit) xiii. vocal). Semua kabel yang keluar / masuk dari peralatan utama harus melalui MDF. Monitor Panel : berfungsi memonitor seluruh suara yang keluar dari amplifier serta memiliki alat ukur kuat suara speaker dan saklar pemilih. Frequency (Hz). xii. Ketebalan pelat panel. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Dimensi (mm). Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai . Kabel : Kabel tata suara yang umum digunakan pada bangunan tinggi adalah : NYMHY 500V (biasa digunakan dari MDF ke TB maupun dari TB ke speaker. Horn Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam atau luar ruangan/outdoor). Column Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam ruangan/indoor). Operating control.

peraturan daerah yang berlaku. Persyaratan untuk material instalasi. bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun.5 DP = diameter dalam konduit (mm) DK = diameter luar kabel (mm) xvii. Kabel : harus memenuhi SPLN/PT. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : (1) Frekuensi (Hz) (2) Gain (dB) (3) Gain control range (4) Hum modulation (dB) (5) power source ii. Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari TB ke speaker/ attenuator. Splitter (1) frequency band (MHz) (2) losses (dB) iii. dan material pelengkap dan pembantu lainnya mengikuti peraturan pemerintah yan gberlaku.kabel kontrol). Booster Amplifier. Ukuran diameter dalam konduit adalah : DP ≥ DK 2 / 0. NYM 500 V (biasa digunakan dari TB ke speaker). ex. data-data bangunan. Konduit harus memenuhi syarat-syarat : tidak mudah terbakar. SLI (Standar Listrik Indonesia). tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan adalah minimum 1000Ω per 1 volt tegangan nominal. spesifikasi teknis. Dasar pemikiran dan perhitungan dalam perhitungan / perencanaan istalasi MA TV ini antara lain: TOR (Term of Reference). c. dan api dapat padam dengan sendirinya. MA TV a. tidak merambatkan api. Kabelindo. 4. Socket outlet (1) Model . GIP (yang telah memiliki SII). Kabel yang ada di atas rak harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties). peralatan.Konduit : yang umum digunakan biasanya dari tipe high impact conduit. Kabel khusus sesuai standar pabrik digunakan dari mixer pre amplifier ke microphonee. Pipa : PVC (paralon). pelaksanaan. xvi. Perencanaan. d. dan standarisasi pabrik. Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi MA TV adalah : i. antara lain : PUIL 2000 yang berlaku. peraturan. Rak Kabel : dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang dilayani. selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. SNI. kabel metal atau setaraf jenis kabel coaxial. dan kabel dari mixer pre amplifier ke remote microphone. Telkom. b.

Jadi harus terpisah satu sama lainnya. Instalasi MATV tidak boleh saling berhimpit (berdempetan) dengan instalasi listrik arus kuat. Pelaksanaan Instalasi i. ii. instalasi.(2) Losses (dB) v. Outlet TV vi . . iii. maka kabel/hantaran harus dilindungi dan dimasukkan ke dalam GIP. Pemasangan peralata.Equalizer e. outlet dan lainnya harus rapi & baik. Bila instalasi mengalami beban mekanis.

Gas Elpiji Gas elpiji. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi : a. INSTALASI GAS MEDIK 1. Rancangan sistem ditribusi gas pembakaran.X. ii. Panjang pipa dan jumlah sambungan. vi. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. b. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.2. X. 2. 3. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter gas) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya.I. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. v. iv. INSTALASI GAS X. terdiri dari propane (C3H6) dan butane (C4H10). Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2H6). Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Berat jenis dari gas. Jenis Gas . Pada instalasi gas untuk pembakaran. Faktor diversifikasi (diversity factor). c. b. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang sedcara otomatis mematikan aliran gas. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter gas ke peralatan. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. iii.

Kebutuhan gas medik harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk pasien rawat inap dan kebutuhan lain. Memenuhi persyaratan udara medik USP. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut: a. Jika di dalam bangunan. sumber kompresor udara medik. lantai. Udara tekan. Dibangun dengan akses untuk memindahkan silinder. c. e. sama atau kurang dari 5 mg/m3. f. (misalnya dengan uap air atau air panas) jika diperlukan. d. pipa Nitrous Oksida dan pipa udara tekan. . Vakum. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyrarat tanda kebocoran gas. harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. c. b. b. b. d. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. bebas minyak.Jenis gas medik yang dimaksud adalah: a. Kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi. Jaringan Distribusi Gas Medik a. d. c. atau diperoleh dari rekonstitusi oksigen USP dan nitrogen kering NF. Kadar partikulat permanen. Rancangan sistem distribusi gas medik. harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding. dengan peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih dari 152 cm (5 ft) di atas lantai untuk menghindari kerusakan fisik. c. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. langit-langit. d. dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai ketahanan api 1 jam. Harus dipanaskan dengan cara tidak langsung. keluar dan masuk lokasi. Gas Nitrous Oksida (N2O). e. kontainer curah. e. Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. b. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. yang berukuran 1 mikron atau lebih. Kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm. peralatan. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Gas oksigen. Jika di luar bangunan ruangan. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan dengan cara lain. Dipasok dari silinder. Harus memenuhi SNI 04-0225-edisi terakhir atau standar lain seperti NFPA 70. dan sebagainya. 2. untuk lokasi biasa. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang.

pengujian sambung-silang. Apabila disediakan rak. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan. harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar. i. pengujian kebersihan pipa/sistem pipa. h.g. Dilengkapi dengan rak. lemari. Ketentuan secara detail terdapat pada SNI 03-7011-2004 tentang Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Kesehatan . dan penyangga. agar tidak roboh. penuh atau kosong. pengujian tekanan kerja. pengujian alarm. dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang. atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. dan pengujian konsentrasi dan kemurnian gas medik. pemberian tekanan masingmasing pipa. Pengujian meliputi : pengujian kemampuan mempertahankan tekanan. pengujian katup. rantai. pengujian beda tekanan. 3. baik terhubung maupun tidak terhubung.

Dalam hal air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum secara langsung maka kualitasnya harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII/ 2002. tidak mengganggu lingkungan. Untuk menjamin kontinyuitas persediaan air. b. sumur gali.XI. Gambar sumber-sumber air bersih. ii. serta diperhitungkan berdasarkan standar. sumur pompa tangan. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. Kualitas air Bersih i. 3. Gambar tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. sumur gali. mata air atau sumber lain yang memenuhi persyaratan kualitas air bersih.1 SISTEM PLAMBING 1. SANATASI DALAM GEDUNG XI. tangki dan sumur penampungan air hujan dapat dilihat pada Lampiran 1. sumur bor. Sistem Penampungan Air Bersih a. Perencanaan Sistem Plambing a. Untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia b. v. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. bangunan dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air bersih. 2. meliputi sistem air bersih. . Kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. petunjuk teknik. Kebutuhan air bersih pada rumah tinggal dapat diperoleh secara individual maupun secara komunal. Sumber Air Bersih i. sedangkan untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. iii. iv. Air bersih pada bangunan harus memenuhi persyaratan kualitas air bersih sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ MENKES/PER/ IX/ 1990. Sumber air bersih pada bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Air bersih harus tersedia secara kontinyu. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. ii. Sistem Penyediaan Air Bersih a.

harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. b. perlengkapan bangunan. 4. tidak mengganggu lingkungan serta diperhitungkan berdasarkan standar. Gambar penempatan tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1 d. petunjuk teknik. besi lapis galvanis atau tembaga. dan mengacu pada NSPM Kimpraswil No. Pt T 21-2000-C. c. pipa penguras dan pipa ven. f. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. PE (polietilena). Sistem plambing air bersih dimaksudkan untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan jumlah dan tekanan yang cukup. pipa peluap. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan.b. 5. Penggunaan Pompa a. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. c. f. Sistem Plambing Air Bersih a. Konstruksi dan bahan tangki penampungan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempattempat yang dapat menimbulkan pencemaran. baja. e. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya. Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effisiensi yang maksimal . Fungsi tangki penampungan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. Tangki penampungan air bersih yang berkapasitas lebih dari 5 m3 harus dirancang agar tidak terjadi air diam (stagnant). e. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. serta dilengkapi dengan lubang pemeriksaan. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya.. fiberglass dan kayu. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja dan tidak mengandung bahan beracun d. Tangki penampung air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediaan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Bahan tangki dapat berupa beton. Tangki penampungan air bersih harus dilengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar.

maka harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kualitas sumbersumber air yang digunakan sebagai air bersih. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Untuk menjamin kualitas air. PE. Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih yang dipanaskan dengan alat pemanas. f. b. Pada setiap pemasangan pipa distribusi. c. Gambar sambungan rumah dapat dilihat pada Lampiran 1. d. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. 7. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Sistem Distribusi Air Bersih a. Tata cara perancangan pipa air panas harus mengikuti pedoman plambing yang berlaku. maka harus ada perlindungan terhadap pipa. air didistribusikan melalui pipa menuju ke lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. Sistem distribusi air bersih harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan air bersih dengan jumlah dan tekanan yang cukup. Pemeriksaan. c. c. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Tiap sambungan pelanggan harus dilengkapi dengan meter air. pompa dan peralatan plambing harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa pemasangan telah dilakukan dengan baik dan peralatan berjalan dengan baik. galvanis atau bahan lain yang mampu menahan tekanan air. c. 8. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. Bila pipa ditanam di bawah jalan atau lokasi yang menerima beban. e. b. Pipa distribusi terbuat dari bahan PVC.b. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem plambing air bersih meliputi : (i) Pengendalian kualitas air : (a) Pemeriksaan atas kadar sisa klor : (b )satu kali seminggu . 6. d. b. Pengujian dan Pemeliharaan a. Sistem distribusi air bersih adalah sistem perpipaan yang menyediakan air bersih dari air PAM menuju ke pelanggan. Untuk penyediaan air panas secara sentral. Alat pemanas dapat bersifat lokal atau sentral. Sistem Penyediaan Air panas a.

e. Sumber Air Limbah a. Air limbah rumah tinggal dan non rumah tinggal berasal dari kegiatan sehari-hari. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. Pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. b. b. Setiap bangunan yang menghasilkan air limbah harus dilengkapi dengan plambing air limbah.(c) kadar sisa klor harus lebih dari 0. 3. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak atau lemak. Sistem Plambing Air Limbah a. 2. Pembuangan dan Pengolahan Air Limbah a. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan.2SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 1. minuman bahan steril dan atau bahan sejenis lainnya. Air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya tidak boleh digabung dengan limbah pada butir i di atas. Sistem plambing air limbah dalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa vent untuk menetralisir tekanan udara di dalam saluran tersebut.4 ppm klor keseluruhan (d) Pemeriksaan atas kualitas air. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang dialirkan. . d. dan lebih dari 0. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. c.1 ppm klor bebas. f. satu kali setiap enam bulan (ii) Pemeriksaan tangki air (tangki air di bawah dan tangki air di atas) : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iii)Pemeriksaan sistem pipa : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iv)Pemeriksaan mesin-mesin : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih XII. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunannya dan sifat cairan yang akan dialirkan.

Pengolahan dilakukan dalam tangki septik yang kedap air dan dilengkapi dengan sumur resapan. Letak tangki septik boleh dibelakang atau dimuka rumah. Sistem pengaliran air limbah direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. Sistem Penyaluran Air Limbah a. 5. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan pada sistem plambing. PE. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilakukan maka dapat menggunakan sistem pemompaan. maka harus dipilih pompa yang peruntukannya khusus untuk air limbah. e. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Pengujian dan Pemeliharaan a. g.b. pengolahan dan penyaluran air limbah untuk memastikan bahwa sistem telah terpasang dan berjalan dengan baik. tangki septik dibuat lebih tinggi dan resapan dibuat mengalir secara horisontal. b. beton atau bahan lain yang kuat dan tidak mudah mengalami korosi serta tahan terhadap panas. 4. f. . Untuk daerah yang muka air tanahnya dangkal (kurang dari 1 m). Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan air limbah dipompa. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. harus ditangani secara khusus. Gambar tangki septik dan sumur resapan dapat dilihat pada Lampiran 2. Kapasitas aliran disesuaikan dengan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh penghuni rumah tinggal dan non rumah tinggal. Sistem penyaluran air limbah adalah jaringan perpipaan yang mengalirkan air limbah dari rumah tinggal atau non rumah tinggal menuju ke instalasi pengolah air limbah. Lebih jelas tata letak dapat diihat di Lampiran. d. serta yang mengandung radioaktif. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. c. tergantung kemudahan pengaliran dari KM/WC dengan memperhatikan jarak minimum dari sumber air bersih disekitar lingkungan permukimannya. Air limbah yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. Sistem pembuangan harus dilengkapi dengan perangkap bau sesuai dengan SNI 03-6379-2000. Pemeriksaan. e. Bahan pipa adalah PVC. c. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih paling dekat adalah 10 meter. d. pembuangan. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-63792000. Jaringan pipa air limbah harus dirancang mampu mengalirkan air limbah dengan lancar dan tidak menimbulkan bau tidak sedap.

Pemeriksaan sistem pipa vent : i. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama kegiatan pembersihan bak: Ventilasi dan penerangan yang memadai di dalam bak harus terjamin (b) Pemeriksaan atas kebersihan bak. kebocoran dinding dan dasar bak (c) Apabila digunakan pompa penguras air buangan. kebisingan dan sebagainya ii. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem pembuangan air limbah meliputi : Bak penampung air buangan (sump pit) : (a) Pemeriksaan bagian dalam (kotoran pada dinding. Pemeriksaan sekat poros dan kopling iii. Pemeriksaan kondisi operasinya (tekanan. dan sebagainya) (b) Pemeriksaan adanya kotoran terapung. i. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan penggantung pipa d. arus dan tegangan listrik. saklar listrik. Pemeriksaan dan pembersihan kepala pipa tegak vent ii. Pemeriksaan mesin-mesin Pemeriksaan pompa penguras bak penampung air buangan (sump pit) : i. sebaiknya sampai lima tahun. lapisan kedap air. dilakukan pula pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap pompa (d) Setelah kegiatan pembersihan selesai. Pemeriksaan sistem pipa pembuangan : (a) Pipa pembuangan harus dibersihkan setiap 6 bulan sekali (b) Pemeriksaan dan pengujian celah udara (c) Pemeriksaan kelancaran aliran (d) Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat (e) Pemeriksaan kemiringan pipa (f) Pemeriksaan penggantung pipa c. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan b. endapan.3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 1. hal-hal yang penting perlu dicatat dan disimpan sebagai dokumen/ arsip. . (a) b. Kelengkapan Dalam Bangunan a. Pembersihan bak penampung air buangan : Pembersihan dilakukan enam bulan sekali ii. Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat e. XI.i. tinggi muka air dan sebagainya ii.

Harus cukup besar untuk melawan debit air maksimum dari daerah pengaliran secara efisien. Pemilihan dimensi fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup b. e. dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna. seng. maka harus dilakukan caracara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Dimensi setiap saluran harus sedemikian rupa yang disesuaikan dengan daerah pelayanannya. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal. b. d. Di kedua sisi jalan harus disediakan saluran drainase/ selokan. c. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari selokan samping dan membuangnya. besi dan baja. c. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebabsebab lain yang dapat diterima. Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut : i. Kelengkapan di Sekitar Bangunan Gedung a. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung. Apabila saluran dibuat tertutup. pembagi. Kemiringan saluran harus dibuat. 3. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. pasangan tanah liat. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Saluran ini merupakan bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpulan drainase. beton. fiberglass. g. tetapi harus diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk tempat air keluar. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. maka dapat menggunakan sitem pemompaan d. Harus dibuat dengan tipe permanent. iii. Bahan saluran dapat berupa PVC. Gambar bangunan pelengkap drainase dapat dilihat pada Lampiran 3.c. 2. ii. Khusus untuk bahan seng. Persyaratan Saluran a. f. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. .

b. Penimbunan sampah di area pekarangan harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Sumber sampah permukiman berasal dari : perumahan. c. pasar. tempat ibadah. jalan. harganya murah atau dapat dibuat sendiri oleh masyarakat dan mudah diangkut. Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan dilengkapi dengan fasilitas pewadahan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Sistem Pewadahan a. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. untuk melindungi dari gangguan binatang dan serangga. . b. plastik. mempunyai tutup. sekolah.4. Pengujian. Kriteria besaran timbulan sampah untuk rumah tinggal di Aceh adalah 2. ii. Penempatan wadah sampah individual ditempatkan di halaman muka rumah atau di halaman belakang khusus untuk sumber sampah dari hotel dan restoran. tidak mudah rusak.1 L/orang/hari. XI. dan pasangan bata atau beton. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Berjarak > 10 m dari sumber air bersih atau air minum. terbuat dari bahan kedap air. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. d. e. toko/ ruko. dan Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Jika dalam bangunan baru tersebut mempunyai luas pekarangan yang cukup.4. hotel. rumah makan dan fasilitas umum lainnya. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sampah sementara harus dihitung berdasarkan jumlah penghuninya. timbulan sampah dan frekwensi pengumpulan sampah. sedangkan untuk non-rumah tinggal 24 L/unit/hari 2. Tempat pewadahan sampah harus terpisah antara sampah basah dan sampah kering. c. Besaran timbulan sampah dihitung berdasarkan : jumlah penduduk dalam suatu kawasan permukiman atau berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukan. maka penampungan sampah dapat dilakukan dengan cara penimbunan di area pekarangannya. Pemeriksaan. Timbulan Sampah a. Setiap hari wadah penimbunan harus ditutup dengan tanah penutup dari sekitar lokasi penimbunan atau bahan lain. Adapaun gambar pewadahan sampah (bak sampah) dapat dilihat pada Lampiran 4.

dengan persyaratan mengacu pada Pedoman Teknik Tatacara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Dan Komunal No: Pd-T-15-2003 4. dan lain-lain yang dapat di daur ulang bisa dimanfaatkan kembali. Tidak dilakukan di daerah yang dekat dengan area yang mudah terbakar. 3. Potensi Reduksi a. Tidak menimbulkan masalah pencemaran udara. frekwensi pembuangan dan periode waktu penggunaan lahan penimbunan tersebut. Ukuran volume penimbunan ditentukan berdasarkan f. Sistem Pengumpulan a. b. maka sampah-sampah yang mudah terbakar seperti kertas. . sisa pembersihan tanaman. kertas koran. wadah plastik. jumlah timbulan sampah. kaleng. iii. tidak dibuang ke wadah sampah atau tempat penampungan sementara. kertas. Gambar pola pengumpulan individu langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. baik dengan pengumpulan langsung maupun tidak langsung. kardus. iv. ii.iii. kayu dan lain-lain dapat dibakar. c. seperti hutan dan padang ilalang. c. Pola pengumpulan sampah dibedakan atas pola pengumpulan langsung dan pola pengumpulan tidak langsung. Gambar peralatan untuk pengumpulan sampah tercantum dalam Lampiran 4. hutan dan jauh dari lokasi yang menampung bahanbahan yang mudah meledak. Jika belum tersedia sistem pewadahan sampah. Tidak merugikan lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat sekitar. Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu. Sampah tersebut dapat dikumpulkan dalam wadah sampah yang terpisah dengan sampah yang akan dibuang. Pola pengumpulan langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan. Sampah seperti botol bekas. b. Dilakukan di daerah dengan kepadatan penduduk rendah. aluminium. Pembakaran sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Sampah basah (organik) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas dapat digunakan sebagai kompos. Wadah sampah harus ditempatkan di lokasi yang kering dan bebas dari pengaruh air hujan.

Sampah yang dikategorikan sebagai buangan beracun dan berbahaya telah diatur dalam PP no. Alat pengumpul menggunakan mesin dan frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah. korosif. dengan volume rata-rata alat angkut 1 sampai 2 m3. dengan rata-rata kemiringan < 5%. maksimal setiap 2 hari sekali. v. c. Sumber-sumber sampah B3 terutama berasal dari kegiatan industri. iii. Pola pengumpulan tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah. Teknis operasional pola pengumpulan tidak langsung : Persyaratan : i. Sifat utama dari sampah B3 adalah buangan yang mempunyai sifat mudah meledak. Penjadwalan pengumpulan dilakukan oleh instansi pengelola persampahan pemukiman mengacu pada SNI 03-3242-1994. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). reaktif dan beracun. Sampah B3 ini tidak boleh dibuang langsung ke wadah sampah tetapi harus dipisahkan dan diolah tersendiri. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. sedangkan untuk sampah kering (anorganik) dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Bagi kondisi topografi pemukiman yang relatif datar . Pengumpulan menggunakan alat angkut bukan mesin seperti gerobak sampah. . Lahan untuk lokasi tempat penampungan sampah sementara tersedia. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. d. iii. Penentuan tempat penampungan sementara mengacu pada SNI no 19-2454-2002 v. e. iv. iv. Jumlah timbulan sampah > 0. dibawa ke lokasi pemindahan (tempat pembuangan sampah sementara) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. mudah terbakar. ii. Gambar pola pengumpulan individu tidak langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. becak dan lain-lain. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah (organik) setiap hari. infeksius. maksimal setiap 2 hari sekali. Teknis operasional pola pengumpulan langsung: Persyaratan : Dilakukan jika kondisi topografi bergelombang kemiringan ii. antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). rumah sakit. 18/1999 yang diperbaharui dengan PP no 85 tahun 1999. >15%. 5. f. dan kegiatan rumah tangga.3 m3/hari. b.i. Sampah Beracun dan Berbahaya (B3) a.

kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. Gambar Hidran Umum tercantum pada Lampiran 5. Pengolahan limbah dari MCK umum dilakukan menggunakan septik tank. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih min. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum dapat dilihat pada Tabel 1. b. cuci. b. MCK (mandi. baik dari PAM atau sumur f. Hidran Umum a. Untuk sumber air dari sumur gali atau sumur pompa tangan. Sedangkan gambar contoh tata letak MCK umum tercantum pada Lampiran 5. 10 meter. Sistem plambing pada MCK umum mengikuti sistem plambing air bersih dan air limbah pada peraturan ini. h. Pemilihan kokasi MCK umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: c. Bangunan MCK umum harus dipisahkan antara MCK untuk orang laki-laki dengan MCK untuk orang perempuan. Tata cara penanganan sampah B3 di daerah mengacu pada Keputusan 03/BAPEDAL/09/1995. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-6379-2000. terdapat sumber air. 2. lokasi mudah dijangkau d. g. dapat dibangun di daerah yang sempit e.5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 1. Penyediaan air bersih secara komunal dilayani melalui hidran umum. dengan kapasitas yang ditentukan berdasarkan jumlah pemakai MCK. diperhitungkan setiap sumur harus dapat melayani 10 kepala keluarga. Tata cara perencanaan bangunan MCK umum mengacu pada SNI 03-2399-2002. Tabel 1. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum Fasilitas dalam MCK umum (untuk pria dan wanita terpisah): . kakus) umum dibangun di permukiman yang tidak tersedia fasilitas MCK pribadi.d. Sistem penyediaan air bersih komunal harus disediakan pada permukiman bila tidak tersedia sistem penyediaan air bersih secara individual. i. MCK Umum a. Perancangan hidran umum/ kran umum didasarkan atas kebutuhan yaitu setiap kran dapat melayani antara 30 L/orang/hari sampai dengan 50 L/orang/hari. Banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MCK umum untuk jumlah pemakai tertentu harus dapat menampung pelayanan pada jam-jam sibuk. j. c. XI.

. e. d. alat pengumpul. fasilitas umum dan jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. dan tempat penampungan sampah sementara sedangkan pengumpulan dan pembuangan akhir sampah bergabung dengan yang sudah ada.200 Banyaknya ruangan Man Cuc Kaku di i s 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 4 4 4 5 4 4 5 6 4 6 6 3. Gambar wadah sampah komunal (kontainer sampah). tidak menganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. alat pengumpulan (pick up sampah). Bagi developer yang membangun + 80 rumah harus menyediakan wadah sampah. dan sistem pengumpulan komunal dapat dilihat pada Lampiran 5. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal a. c. Wadah komunal ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber sampah. Wadah komunal disediakan bagi pemukiman yang sulit dijangkau oleh alat angkut dan pemukiman yang tidak teratur. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. Pola pengumpulan komunal terdiri dari : pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung. di ujung gang atau jalan kecil. Penyediaan secara komunal dapat dilakukan oleh instansi berwenang atau swadaya masyarakat maupun pihak swasta.Jumlah pemakai (orang) 10 – 20 21 – 40 41 .80 81 – 100 101 – 120 121 – 160 161 . b. f. maksimal setiap 2 hari sekali. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali.

(b) jendela. dan : (1) Bangunan klas 2. ii. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 . dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. Ventilasi Alami a. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. (a) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sahitasi. bukaan. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. 7. ii. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. dan yang sejenis. atau daerah yang terbuka ke atas. (2) teras terbuka. (c) ruangan bersebelahan dengan jendela. 2. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. bukaan. 8 atau 9. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka : i. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. jendela. bukaa. (b) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. ke arah : (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai.6 m diatas lantai. Ventilasi alami sesuai dengan ketentuan ventilasi alami di bawah ini. dengan jarak tidak lebih dari 3.XII. bukaan. Penerapan ventilasi alami. Kebutuhan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai : a. (2) Bangunan kelas 5.1 VENTILASI 1. 6. atau b. pintu atau sarana lainnya dengan luas . bukaan. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. (a) Jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. pintu ventilasi. pelataran parkir.

(2) pada bangunan Kelas 5. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. (5) ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. (3) asrama pada bangunan Kelas 3. 7.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. 6. sekolah TK atau panggung terbuka). koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. (a) jalan masuk harus melalui ruang antara. (4) ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yahg dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya : (1) Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4 . koridor atau ruang lainnya. vi. (a) Jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. (c) Luas ventilasi' yang diatur pada butir (1) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya.iii. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan : (1) jika berada dibawah lantai dasar. iv. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. (2) harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/ halaman dibawah lantai dasar. (2) ruang makan umum atau restoran. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: . Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah : (1) dapur atau pantry. v. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. atau (3) harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. ventilasi tidak kurang dari 10 (uas lantai kedua ruangan tersebut. sekolah TK atau panggung terbuka). 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis.

dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang beriaku. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi. f. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang beriaku. d. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. lebih dari : (a) 0.60 meter diatas lantai.2 PENGKONDISIAN UDARA 1. dan miriir'a 8 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara mateimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku.5 kW untuk daya listrik. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian.8 MJ/jam untuk daya gas. XII. 3. atau (2) sistem ventilasi alami permanen yang memadai. atau (b) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam.(1) sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang beriaku. atau sebaliknya. b. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. kantor. jika : (1) setiap peralatan masak yang mempunyai : (a) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. toko. atau (b) 1. (2) total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. Bilamana digunakan ventilasi buatan. pabrik. 2. rumah sakit. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistzm ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. e. minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI . c. Konservasi Energi a. Ventilasi Buatan a. vii.

dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. b. isolasi pemipaan. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan.tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. c. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. pemilihan peralatan. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. b. . Penetapan sistem dan peralatan. ii. Perhitungan Beban Pendinginan a. dan standar teknis lain yang beriaku. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. 3. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. sistem distribusi udara. sistem kontrol. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. Dasar perancangan i. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. sistem pompa dan pemipaan. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem fan. iii. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh.

ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. e. pencahayaan khusus laboratorium. c. (2) pintu keluar. i. g. pencahayaan luar untuk monumen publik.00 malam sampai jam 06. j. 2. seperti proses produksi dan penyimpanan.2. fasilitas luar untuk olahraga. pencahayaan untuk pameran seni. . XIII. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi : a. PENCAHAYAAN BUATAN 1. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. pencahayaan di unit pengeboran. h. PENCAHAYAAN XIII. efektif dan sesuai dengan a. meliputi : kegiatan diluar bangunan.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. museum dan monumen. k.00 pagi.XIII. ruangan didalam bangunan. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan kualitas tampilan. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. b. Kamar. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. jalan. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. dsb. klub malam. penyiaran televisi. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. Kamar. pencahayaan darurat yang secara otomatis "mati" selama operasi normal. daerah luar bangunan. l. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. ruangan. d. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan bualan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan bebsn pendinginan bangunan. c. taman dan daerah bagian luar lainnya. pencahayaan untuk rambu-rambu. b. m. gallery. seperti : (1) pintu masuk. pencahayaan untuk pembuatan film. f. (3) tempat bongkar muat barang. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. n. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dari fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel.

Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor alumunium anodized berkualitas tinggi. 2. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan.kebutuhan ruangan. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. 6. dan reflektor yang efisien. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. mempunyai karakteristik . Pemanfaatan pencahayaan alami . a. XIII. 4. Untuk fasilitas banyak bangunan. balas. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. Tingkat lluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang “Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung".3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. b. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. jenis reflektor yang efisien. 7. 5. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan menggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 3. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan.

Pengendali harus digunakan . 1. langit yang cerah. b. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan/atau kaca ganda. ekcuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus-menerus. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap grup yang melayani luasan 30 m2 atau kurang.Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafon harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. XIII. c. d.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN Semua sistem pencahayaan. Pengendaiian silau pada bangunan. Jika perlu. 3. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan : a. Penentuan besarnya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI2396 tentang Penerangan Alami Sianghari untuk Rumah dan Gedung. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu "KELUAR". 2. c. f. harus dilengkapi dengan pengendali manual. obyek luar. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama di dekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. otomatis atau yang terprogram. e. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut : a. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). b. baik dari sumber sinar mata langsung.

pasar swalayan. kecuali : a. Letak pengendali harus mudah dicapai. 2. c. d. gedung dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/ dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. pertokoan. e. Pengendali otomatis. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang terletak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendaii untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. hotel dan rumah sakit. Pengendali yang diprogram.yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. Pengendali yang memerlukan operator yang leriatih. .sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. b. Pengendali dipusatkan di lokasi . engendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan.

4. a. Pada Bidang Atap a. ukaan ventilasi ditempatkan pada arah angin datang untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan udara dalam ruang. Jika bukaan diletakkan pada bagian dinding yang terkena sinar matahari langsung maka harus disediakan peneduh sinar matahari yang mencukupi. Penyediaan ventilasi yang cukup disamping untuk memenuhi persyaratan kesehatan.1 KENYAMANAN TERMAL 1. XIV. KENYAMANAN. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. SIRKULASI UDARA 1. KEBISINGAN 1.3 PANDANGAN 1.XIV. 2. 2. juga harus dapat menyediakan kenyamanan termal dalam ruang yang dapat menurunkan temperatur dan kelembaban. KEBISINGAN DAN GETARAN XIV. Perletakan dan penataan elemen-elemen alam dan buatan pada bagian bangunan maupun ruang luarnya untuk tujuan melindungi hak pribadi. Luas Bukaan pada Bidang Atap b. Posisi Bukaan 2. 2. a. Posisi Bukaan XIV. Luas bukaan pada bidang dinding b. Penggunaan jenis-jenis material dan jenis-jenis lapisan dinding untuk meredam kebisingan di dalam bangunan. Baku Tingkat Kebisingan i. Arah bukaan c.2.4. Ketinggian bukaan d. Perletakan elemen-elemen alam dan buatan untuk mengurangi/meredam kebisingan yang datang dari luar bangunan dan luar lingkungan. makhluk lain dan . Pada Bidang Dinding terhadap Pengaturan Suhu Udara dan Kelembaban Ruangan. XIV. Perletakan bukaan pada bagian-bagian persimpangan jalan agar pengguna jalan saling dapat melihat sebelum tiba pada persimpangan. Arah bukaan c. 3. Bukaan-bukaan sedapat mungkin diletakkan pada bidang dinding yang tidak terkena sinar matahari langsung untuk mengurangi perolehan panas dalam ruang.

Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan. b. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut. ii. XIV. 1.lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. .5 GETARAN Penggunaan material dan sistem konstruksi bangunan untuk meredam getaran yang datang dari bangunan lain dan dari luar lingkungan. Baku Tingkat Getaran a. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang beriaku. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut beriaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. Salah satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. 2. beriaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan.

BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG
I. PENGERTIAN Definisi bangunan gedung sesuai dengan Ketentuan umum yang termuat dalam UU No 28 tentang Bangunan Gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 1. Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya. 2. Pembangunan bangunan gedung dapat dilakukan baik di tanah milik sendiri maupun di tanah milik pihak lain 3. Pembangunan bangunan gedung diatas tanah milik pihak lain dilakukan berdasar perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan pemilik bangunan gedung. 4. Pembangunan bangunan gedung dapat dilaksanakan setelah rencana teknis bangunan gedung disetujui oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan, kecuali bangunan gedung fungsi khusus. 5. Tata cara pengesahan rencana teknis bangunan gedung yang diatur lebih lanjut dalam Qanun. II. PENYELENGGARAAN Penyelenggara bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang meliputi pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. 1. Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran 2. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan administrative maupun persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung. 3. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan adiministratif dan persyaratan teknis tersebut diatas, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap. 4. Pelaksanaan pentahapan pemenuhan ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi social, budaya dan ekonomi masyarakat, meliputi: a. Persyaratan administrative

i. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah ii. Status kepemilikan bangunan gedung , dan iii. Izin mendirikan bangunan gedung b. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur, pondasi, struktur, sanitasi dan elektrikal 5. Penyelenggara a. Pemilik Bangunan Gedung Pemilik bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.

b. Pengguna Bangunan Gedung Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. c. Penyedia Jasa Konstruksi Penyedia jasa konstruksi adalah orang atau lembaga independen dan mandiri yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan konstruksi serta memiliki ijin di bidang pelaksanaan bangunan. Ketentuan mengenai jasa konstruksi mengikuti peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi. III. PERENCANAAN 1. Perencanaan adalah kegiatan penyusunan rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan fungsi dan persyaratan teknis yang ditetapkan, sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan pengawasan bangunan. 2. Rencana teknis bangunan gedung dapat terdiri atas rencanarencana teknis arsitektur, struktur dan konstruksi, mekanikal dan elektrikal, pertamanan, tata ruang dalam dan disiapkan oleh penyedia jasa perencanaan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan rencana kerja dan syaratsyarat administrative, syarat umum dan syarat teknis, rencana anggaran biaya pembangunan dan laporan perencanaan. 3. Persetujuan rencana teknis bangunan gedung dalam bentuk izin mendirikan bangunan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan asas kelayakan administrasi dan teknis, prinsip pelayanan prima serta tata laksana pemerintahan yang baik. 4. Perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan harus dilakukan oleh dan/atau atas persetujuan perencana teknis bangunan gedung, dan diajukan

terlebuh dahulu kepada instansi yang berwenang untuk mendapatkan pengesahan. 5 .Untuk bangunan gedung fungsi khusus izin mendirikan bangunannya disetujui oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah 6. Untuk bangunan gedung fungsi khusus, rencana teknisnya harus mendapatkan pertimbangan dari tim ahli terkait sebelum disetujui oleh instansi berwenang dalam pembinaan teknis bangunan gedung fungsi khusus. IV. PELAKSANAAN Adalah kegiatan pendirian, perbaikan, penambahan, perubahan atau pemugaran konstruksi bangunan gedung dan /atau instalasi dan/atau perlengkapan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang disusun. 1. Pendirian a. Mendirikan bangunan ialah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian, termasuk pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan bangunan itu. b. pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai dikerjakan setelah Dinas Kimpraswil menetapkan garis sepadan serta ketinggian permukaan tanah persil tempat bangunan bersangkutan akan dididirikan, sesuai dengan rencanan yang telah ditetapkan dalam IMB. c. Dinas Kimpraswil menunjukkan letak garis sepadan dan menandai ketinngian permukaan persil selambat-lambatnya 14 ( emapt belas ) hari setelah diserahkan IMB kepada pemohonnya; d. Bila setelah 14 (empat belas ) hari sesudah diserahkannya IMB Dinas Kimpraswil tidak melaksanakan tugasnya , pemohon IMB dapat mengajukan permohonan kepada gubernur agar dinas kimpraswil segera melakukan tugasnya. 2. Perbaikan 3. Penambahan 4. Perubahan Merubah bangunan ialah pekerjaan menggali dan/atau menambah bagian bangunan yang ada, termasuk pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut. 5. Pemugaran konstruksi a. Bangunan Gedung b. Instalasi c. Perlengkapan Bangunan

V. PENGAWASAN Adalah kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan gedung. 1. Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi a. Petugas Dinas Kimpraswil berwenang: i. memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja; ii. memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku atau standart yang berlaku. iii. memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan, demikian pula lat-alat yang diaanggap berbahaya serta merugikan kesehatan/keselamatan untuk pekerjaan tersebut b. Pemilik IMB wajib memberitahukan kepada Dinas Kimpraswil saat telah selesainya seluruh pekerjaan mendirikan bangunan tersebut dalam IMB, selambat-lambatnya 48 ( empat puluh delapan) jam setelah pekerjaan mendirikan bangunan itu selesai; c. Bila pekerjaan mendirikan bangunan menurut kenyataannya telah selesai dilaksanakan sesuai dengan IMB, Dinas Kimpraswil memberi surat keterangan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan kepada penerima IMB. d. Bila dalam jangka waktu 14 ( empat belas 0 hari setelah pemeberitahuan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan tidak ada pemeriksaan dari Dinas Kimpraswil, penerima IMB dapat meminta Gubernur untuk mememrintahkan agar Dinas Kimpraswil segera melaksanakan pemeriksaan. 2. Manajemen Konstruksi Pembangunan a. Pengawas pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan adalah perorangan atau badan hukum. b. Bilamana pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan adalah perseorangan, kepadanya diwajibkan memiliki ijin bekerja yang dikeluarkan oleh Gubernur. c. Pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan melaksanakan perintah dan bertanggungjawab kepada perencana bangunan dan pemilik IMB d. Tugas dan tanggungjawab pengawas pekerjaan mendirikan bangunan tidak dapat dipindah alihkan kepada pihak lain dengan bentuk atau cara apapun tanpa persetujuan dari pihak penerima IMB

VI.

PEMANFAATAN

Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh tenaga/konsultan ahli yang telah diakreditasi setiap 5 ( lima) tahun sekali. dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah (2) Status kepemilikan bangunan gedung . . kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Persyaratan administrative dan teknis untuk bangunan gedung adat.Adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan termasuk kegiatan pemeliharaan. Untuk bangunan yang telah ada. yaitu berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan tata bangunan. pondasi. Perawatan dan Pemeriksaan a. struktur. c. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung dan Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk sertifikat laik fungsi bangunan gedung. perawatan dan pemeriksaaan secara berkala. Yang dimaksud laik fungsi. Dinas Kimpraswil mengadakan penelitian atas hasil pemeriksaan berkala tersebut diatas mengenai syarat-syarat adminstrasi maupun teknis. dan (3) Izin mendirikan bangunan gedung ii. kesehatan. Persyaratan teknis bangunan gedung tersebut diatas meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. sanitasi dan elektrikal. Persyaratan administrative dan persyaratan teknis tersebut adalah: i. Persyaratan (1) Status hak atas tanah. b. c. 1. bangunan gedung darurat dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencanan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi social dan budaya setempat. 2. Persyaratan Laik Fungsi a. khusunya bangunan umum wajib dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kelaikan fungsinya. bangunan gedung semi permanen. Persyaratan Teknis a. b. b. Pemeliharaan. d. 3. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur. serta persyaratan keselamatan.

dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memeperhatikan ketentuan perundang-undangan . Adalah kegiatan perawatan. Kepala Dinas Kimpraswil dapat menghentikan penggunaan bangunan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan Sertifikat laik fungsi. Pelaksanaan perbaikan. VII. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. Perbaikan. PELESTARIAN 1. pemugaran. pemugaran dan pemanfaatannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. e. e.d. Dalam hal terjadi pada ketentuan diatas. petugas Dinas Kimpraswil dapat minta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan Sertifikat laik Fungsi beserta lampirannya. b. Gubernur/Dinas Kimpraswil akan mencabut Izin Mendirikan Bangunan yang telah diterbitkan. f. pemugaran serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. Dinas Kimpraswil memberikan sertifikat laik fungsi apabila bangunan diperiksa telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. b. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan . Pengertian a. harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemugaran. Perlindungan a. Dalam rangka pengawasan penggunaan bangunan. 2. d. dilakukan oleh Pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan c. Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarikan. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian serta teknis perbaikan. g. maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam SLF. dan pemanfaatan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan.

Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah UU tentang cagar Budaya. ilmu pengetahuan. Pengkajian teknis bangunan gedung kecuali untuk rumah tinggal. Bangunan gedung dapat dibongkar ditetapkan berdasarkan persetujuan Pemerintah daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. atau dapat dimanfaatkan sesuai potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan criteria yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah dan/ atau pemerintah. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. 5. pemugaran dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan VIII. dan kebudayaan termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. b. c. d. Adalah kegiatan membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. pemugaran. b. pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestraikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula. 4. komponen. 3.c. Pelaksanaan Perbaikan dan Pemugaran Perbaikan. Pemanfaatan Bangunan Gedung dan lingkungan cagar Budaya a. Pelestarian Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok. Pengertian a. atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun atau mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 ( lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah. atau bagianbagiannya. perorangan atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarananya. Perbaikan. PEMBONGKARAN 1. . Pengkaji teknis adalah orang. Pelaksanaan perbaikan.

tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki b. iii. vi. c. pemohon harus terlebih dahulu minta petunjuk tentang rencana membongkar bangunan kepada Dinas Kimpraswil yang meliputi: i. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah iii. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya. ii. hal-hal lain yang ddianggap perlu. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan yang berlaku 3. b. tujuan atau alas an membongkar bangunan. IX. Pengertian a. Persyaratan Pembongkaran Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. mengubah fungsi bangunan setelah mendapat izin tertulis dari Pemerintah Daerah. v. 2. persyaratan membongkar bangunan. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG 1. Tata Cara Pembongkaran a.e. mendapatkan surat ketetapan bangunan gedung dan/atau lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dari Pemerintah Daerah iv. Tidak memiliki izin mendirikan bangunan d. Pemilik bangunan dapat mengajkan permohonan untuk membongkar bangunannya. ii. mendapatkan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan apabila bangunannnya dibongkar . Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasar rencana teknis pembongkaran yang disetujui oleh Pemerintah Daerah. pemilik bangunan gedung mempunyai hak: i. mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Daerah atas rencana teknis bangunan gedung yang telah memenuhi persyaratan. cara membongkar bangunan iv. mendapatkan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah daerah karena bangunannya ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Sebelum mengajukan permohonan Izin Merobohkan Bangunan .

mengetahui tata cara/ proses penyelenggaraan bangunan gedung. 3. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang telah disahkan dan dilakukan dalam batass waktu berlakunya izin mendirikan bangunan. melengkapi pedoman / petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung. Hak Pemilik dan Pengguna a. Pengertian . iv. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya. d. melaksanakan pemeriksaaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung. PERAN SERTA MASYARAKAT 1. e. ii.oleh Pemerintah daerah atau pihak lain yang bukan diakibatkan oleh kesalahannya. memiliki izin mendirikan bangunan iii. memperbaiki pemeriksaan secara berkala yang telah ditetapkan tidak laik fungsi. b. c. mendapatkan keterangan tentang bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. c. mendapatkan keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan pada lokasi dan/atau ruang tempat bangunan akan dibangun. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. meminta pengesahan dari Pemerintah daerah atas perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan bangunan. atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum X. mendapatkan keterangan tentang ketentuan bangunan gedung yang laik fungsi. e. membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki. b. Kewajiban pemilik dan Pengguna a. memelihara dan /atau merawat bangunan gedung secara berkala. pemilik bangunan gedung mempunyai kewajiban: i. d. f. memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. 2. mendapatkan keterangan tentang ketentuan persyaratan keandalan bangunan gedung. b. menyediakan rencana teknis bangunan gedung yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan fungsinya.

masukan dan usulan kepada Pemerintah daerah b. masyarakat dapat menyampaikan laporan. 3. Memberi Masukan Kepada pemerintah Daerah a. . Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu. seperti dalam memanfaatkan fungsi bangunan gedung sebagai pengunjung pertokoan. pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung. Memantau dan menjaga Ketertiban Penyelenggaraan a. Apabila terjadi ketidaktertiban dalam pembangunan. Setiap orang juga berperan dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Peran serta masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan proyek pembangunan b.merugikan atau menbahayakan. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dapat melalui tim ahli bangunan gedung yang dibentuk oleh Pemerintah daerah atau melalui forum dialog dan dengar pendapat publik c. rencana teknis bangunan gedung tertentu dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. 4. Gugatan perwakilan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan oleh perorangan atau kelompok orang yang mewakili para pihak yang dirugikan akibat adanya penyelenggaraan bangunan gedung yang mengganggu. Yang dimaksud dengan penyempurnaan adalah termasuk perbaikan Peraturan daerah tentang bangunan gedung sehingga sesuai dengan undang-undang /peraturan diatasnya. Adalah memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan. Penyampaian pendapat tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang bersangkutan ikut memiliki dan bertanggungjawab dalam penataan bangunan dan lingkungannya 5. Melaksanakan Gugatan a. b.a. mal. pasar.bioskop. dan pemanfaat tempat umum lain. 2. merugikan dan. b. pedoman dan standart teknis di bidang bangunan gedung b.atau membahayakan kepentingan umum. pemanfaatan. Menyampaikan Pendapat dan Pertimbangan Kepada Instansi yang Berwenang a. Masyarakat adalah suatu kesatuan penduduk yang dikenal sebagai komunitas dimana ikatan social nya realtif masih erat. Adalah menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan.

Sebagian penyelenggaraan dan pelaksanaan pembinaan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah b. .XI. sosialisasi dan pelembagaan di tingkat masyarakat. Pembinaan dilakukan dalam rangka tata pemerintahan yang baik melalui kegiatan pengaturan. c. b. 2. Masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung sepeti masyarakat ahli. pedoman. asosiasi perusahaan. asosiasi profesi. Pemberdayaan Masyarakat a. petunjuk dan standar teknis bangunan gedung sampai dengan di daerah dan operasionalisasinya di masyarakat. Pemberdayaan masyarakat yang belum mampu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bangunan gedung melalui upaya internalisasi. Pelaksanaan pembinaan oleh Pemerintah daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas pemerintahan daerah. c. 4. Pembinaan Bangunan Gedung a. Pengertian a. b. kewajiban dan peran para penyelenggara bangunan gedung dan aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan bangunan gedung. pemberdayaan dan pengawasan sehingga setiap penyelenggaraan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan tercapai keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya serta terwujudnya kepastian hukum. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. Pemberdayaan adalah kegiatan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung a. d. b. kewajiban dan perannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Pengaturan dilakukan dengan pelembagaan peraturan perundang-undangan. Pemberdayaan dilakukan terhadap para penyelenggara bangunan gedung dan aparat Pemerintah Daerah untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah 3. PEMBINAAN 1.

Dalam proses peradilan atas tindakan sanksi pidana tersebut diatas. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. SANKSI 1. Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. Pengertian a. jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup. Sanksi Administratif adalah sanksi yang diberikan oleh administrator ( pemerintah) kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tanpa melalui proses peradilan karena tidak terpenuhinya ketentuan undang-undang. ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% 9sepuluh per seratus) dari nilai bangunan. . hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung. pembekuan sertifikat laik fungsi bangunan gedung viii. Bentuk Sanksi a.Sanksi administrative dapat berupa: i. jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain . peringatan tertulis ii. pembekuan izin mendirikan bangunan gedung vi. atau ix. b. pencabutan izin mendirikan bangunan gedung vii. ancaman pidana penjara paling lama 5 ( lima )) tahun dan/atau denda paling banyak 20% ( dua puluh per seratus ) dari nilai bangunan gedung.dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung dikenai sanksi adminitratif dan/atau sanksi pidana b. Sanksi Pidana dapat berupa: i. ii. penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung v.masyarakat pemilik dan pengguna bangunan gedung dan aparat pemerintah XII. 2. iv. dan /atau persyaratan. pembatasan kegiatan pembangunan iii. iii. penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan iv. ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari nilai bangunan gedung. pencabutan sertifikat laik fungsi bangunan gedung. jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. perintah pembongkaran bangunan gedung.

c.3. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. IV. Jika Kepala Dinas berkeberatan terhadap permohonan izin tersebut diatas. III. memperluas bangunan-bangunan yang telah ada. Selain pengenaan sanksi administrative sebagaimana jenisnya. Pemerintah Daerah dapat memberikan izin untuk: I. pemeliharaan bangunan-bangunan dengan tidak mengubah denah. membuat lubang-lubang ventilasi. d. maka persolannya akan dapat diajukan kepada H\gubernur untuk diputuskan. d. atau nilai keseluruhan suatu bangunan gedung yang ditetapkan pada saat sanksi dikenakan bagi bangunan gedung yang telah berdiri. Izin bangunan diberikan berdasarkan keputusan Pemerintah Daerah b. PERIJINAN 1. b. b. Jenis pengenaan sanksi ditentukan oleh berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan. pelanggar dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% ( sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun c. penerangan dan lain sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 meter. XIII. Tata Cara Pengenaan Sanksi a. membongkar bangunan-bangunan yang menurut pertimbangan Kepala Dinas tidak membahayakan. II. konstruksi maupun arsitektural dari bangunanbangunan semula yang telah mendapat izin. Pemberiaan Izin Bangunan a. Tidak Diperlukan Izin Bangunan Izin Bangunan tidak diperlukan dalam hal: a. c. pendirian bangunan-bangunan yang tidak permanen untuk pemeliharaan binatang-binatang jinak atau tanamantanaman dengan syarat-syarat : . mendirikan bangunan-bangunan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada. 2. mendirikan bangunan-bangunan sementara yang diperlukan dalam pelaksanaan sesuatu pembangunan selama pekerjaan-pekerjaan itu dilaksanakan. mendirikan bangunan-bangunan permanen. Nilai bangunan gedung dalam ketentuan sanksi adalah nilai keseluruhan suatu bangunan pada saat sedang dibangun bagi yang sedang dalam proses pelaksanaan konstruksi.

hal-hal lain yang dipandang perlu. viii. loefisien lantai bangunan. iii. tiang bendera di halaman/ pekarangan rumah e. pelaksanaan dan pengawasan bangunan. vii. persetujuan/ izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya. menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang bangunan gedung c. jumlah lantai/lapis bangunan diatas/dibawah permukaan tanah yang diizinkan. Permohonan Izin Bangunan a. dilarang mendirikan bangunan-bangunan diatas tanah orang lain tanpa izin pemiliknya atau kuasanya yang sah. luas lantai bangunan yang diizinkan. persyaratan-persyaratn perencanaan. membuat kolam hias . perhitungan struktur untuk bangunan bertingkat ( lebih dari 2 lantai) iv. vi. b. . ix. b. membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanen f. Permohonan Izin Mendirikan Bangunan harus dilampiri dengan: gambar situai. vi. gambar rencana bangunan. pertimbangan pemerintah daerah setempat. mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh izin selama mendirikan suatu bangunan 3. tidak mempunyai izin tertulis dari Pemerintah Daerah ( IMB). iii. garis sempadan yang berlaku. v. iii. persayaratan-persyaratan bangunan. i.sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah yang ada d. dilarang mendirikan bangunan: i. x. ii. iv. mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah diperoleh izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan g. 4.i. i. salinan atau fotocopi bukti pemilikan tanah. v. ii. taman dan patung. Pemohon harus mengetahui tentang: jenis/peruntukan bangunan. ii. luas tidak melebihi 10 (sepuluh ) meter persegi dan tingginya tidak lebih dari 2 (dua) meter. menyimpang dari rencamna pembangunan yang menjadi dasar pemberian izin bangunan. menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari surat izin mendirikan bangunan. Larangan Mendirikan/Mengubah Bangunan a. ditempatkan dihalaman belakang ii. koefisien dasar bangunan yang diizinkan. koefisien daerah hijau.

f.Izin mendirikan bangunan diberikan paling lambat 3 ( tiga) bulan setelah dikeluarkan surat izin sementara. Penolakan Suatu Izin Bangunan a. dalam waktu 6 ( enam) bulan setelah tanggal izin itu diberilkan. Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Bea Balik Nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana Pemerintah. apabila bangunan yang akan didirikan tidak memenuhi persyaratan teknis bangunan. bangunan akan mengganggu lalu lintas.5. b. karena persyaratan-persyaratan dalam Peraturan Daerah ini tidak dipenuhi. pemegang izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan. b. j. e. apabila bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitar. Izin Mendirikan bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. aliran air (air hujan). . b. c. Surat Izin Mendirikan Bangunan ditandatangani oleh Kepala Dinas atau pejabat lain yang ditunjuk. e. 7. Qanun Propinsi atau peraturan lainnya yang setingkat dengan Qanun tersebut diatas. adanya keberatan yang diajukan dan dibenarkan oleh Pemerintah. f. i. pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 ( tiga ) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan. Putusan Suatu Permohonan Izin Bangunan a . c. Pencabutan Izin Bangunan a. d. h. cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada. 6. Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Kepala Dinas dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun. rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan dan pemohon belum memulai pelaksanaan pekerjaannnya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya. sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya. d. izin yang telah diberikan itu kemudian ternyata didasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru. bangunan yang akan didirikan diatas/lokasi yang penggunaanya tidak sesuai dengan rencana kota yang sudah ditetapkan dalam RTRW. bertentangan dengan Undang-Undang. c. g.

ii. . c. pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang rencana dan syarat-syarat yang disahkan. Keputusan kepala Dinas mengenai penetapan ketentuanketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut atau penetapan larangan. tanggal dan nomor keputusan yang dimohon banding. Jika pencabutan surat izin bangunan dinyatakan tidak beralasan oleh dan dengan suatu keputusan DPRD. pernyataan keputusan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. maka izin itu berlaku kembali.d. Dalam keadaan luar biasa. Keputusan penolakan atau pencabutan surat izin oleh Kepala Dinas. e. b. Permohonan banding harus memuat: i. dalam jangka waktu satu bulan setelah dikirimkannya keputusan. alas an-alasan yang menjadi dasar permohonan banding itu. dari 8. Permohonan banding oleh yang berkepentingan dilakukan secara tertulis. d. iii. Kepala Dinas dapat memperpanjang jangka waktu itu selama-lanya satu bulan. Permohonan Banding Kepada Kepala Daerah a. iv. Kepala Dinas membentuk Panitia untuk mempersiapkan penyelesaian permohonan banding itu f. ii. Permohonan banding dikenakan terhadap: i. nama dan tempat tinggal yang berkepentingan atau kuasanya.

komponen. . pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi.BAB V. KETENTUAN PENUTUP Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Babbab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI). elemen. dan metode uji bangunan. tata cara. serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful