DRAFT

MATERI TEKNIS
PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

( BUILDING CODE )

KABUPATEN ACEH BESAR

Dibuat atas kerjasama:

Universitas Syiah Kuala – Aceh Besar
dengan
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura Nomor 20 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110 Telepon (021) 727 99248

DAFTAR ISI
BAB I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.1. TINJAUAN ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI 1. Sejarah Kabupaten Aceh Besar 2. Sosial Budaya Masyarakat 3. Letak Gegrafis dan Administrasi 4. Hidrologi 5. Kependudukan 6. Perekonomian I..2. TINJAUAN ASPEK FISIK 1. Umum 2. Kondisi Fisik Wilayah sebelum Tsunami 3. Stuktur Kabupaten Aceh Besar 4. Bentang Alam Kabupaten Aceh Besar

BAGIAN II RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH II.1 REVIEW RTRW KOTA ACEH BESAR M ------- ISINYA SAMA DGN YANG DI BAB II 1. Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan wilayah Kabupaten 3. Komponen-komponen Utama RTRW 2002-2010 II.2. SKENARIO TATA RUANG 1. Pindah ke Lokasi Aman 2. Tetapa di Lokasi Semula STRATEGI PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH BESAR 1. Konsep Tata Ruang 2. Kegiatan yang Sifatnya Sederhana 3. Kegiatan yang sifatnya Intensif 4. Pelaksanaan Pembangunan 5. Peranan Fasilitas Sosial 6. Jumlah dan Bentuk Fasilitas 7. Pembangunan Iinfrastruktur ARAHAN 1. Zona 2. Zona 3. Zona 4. Zona PEMANFAATAN RUANG -------- ISINYA SAMA DGN YG BAB II Pantai Perikanan/Tambak Taman Kota Pemukiman

II.3.

II.4.

5. 6. 7. 8. 9. II.5.

Zona Zona Zona Zona Zona

Landmark dan Pusat Pemerintahan Kota Pemukiman Baru Pusat Bisnis dan Pemerintahan Pendidikan Tinggi Pertanian

STRUKTUR RUANG 1. Penajaman Aspek Geology 2. Penelitian Bangunanyang masih Berdiri tetapi sudah rusak 3. Site Plan atau Urban Design Kawasan Pusat Kota 4. Site Plan Penataan Ruang Daerah Buffer Zone 5. Konsilidasai Pertanahan di daerah yang paling Rusak akibat Gempa 6. Penyiapan Zona Regulasi 7. Penyiapan Building Code 8. Mendorong Proses Legillasi di DPRD BAGIAN III WILAYAH BENCANA GEMPA THUNAMI DAN BADAI III.1 PENGARUH TSUNAMI 1. Jangakauan Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami 2. Zonasi Kerusak,an 3. Arah Terjangan Gelombang III.2 III.3 III.4 ASPEK FISIK KABUPATEN ACEH BESAR KARAKTERISTIK KABUPATEN ACEH BESAR ZONASI FISIK

BAGIAN IV KETENTUAN UMUM DAN PENGERTIAN UMUM

BAGIAN V FUNGSI BANGUNAN GEDUNG

BAB II. KONSEP RENCANA TATA RUANGAN DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I.1. KEBIJAKAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG KABUPATEN/KOTA 1. Sistem Kota/kabupaten 2. Struktur Kota/kabupaten 3. Kawasan Non Budidaya 4. Kawasan Budidaya I.2. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG/KABUPATEN/KOTA 1. Mewujudkan penghidupan yang aman dan lebih baik; 2. Memberi pilihan kepada warga untuk bermukim; 3. Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana; 4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama; 5. Pendekatan penataan ruang partisipatif; 6. Memitigasi bencana; 7. Tata ruang memadukan pendekatan dari atas dan bawah; 8. Mengembalikan peran pemerintah daerah; 9. Perlindungan hak perdata warga; 10.Mempercepat proses administrasi pertanahan; 11.Pengaturan mengenai kompensasi; 12.Revitalisasi kegiatan ekonomi; 13.Mememulihkan daya dukun lingkungan; 14.Memulihkan sistem kelembagaan SDA dan LH; 15. Rehabilitasi strultur dan pola tata ruang; dan 16.Membangun kembali kota. ZONASI FISIK ACEH BESAR 1. Kawasan Lindung (Conservation, Zona V), 2. Kawasan Pengembangan Terbatas (Restricted Development Area, meliputi zona I, II, dan III), Kawasan Pengembangan (Promoted Development Area, zona IV). ARAHAN PEMANFAATAN RUANG ACEH BESAR 1. Zona pantai, 2. Zona perikanan/tambak, 3. Zona taman kota, 4. Zona permukiman, permukiman terbatas dan permukiman perkotaan, 5. Zona landmark dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar, 6. Zona permukiman baru bagi penduduk yang ingin pindah,

I.3

I.4.

I. REVISI RTRW 2002-2010 (Qanun No. Pengelolaan Kawasan Hijau & Kawasan Pemukiman 3. Pemukiman 2. Zona pertanian.7. Sistem Prasarana & Transportsai. Zona pendidikan tinggi.5.6. Arah Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota KOMPONEN UTAMA RTRW TH 2002-2010 1. Telekomunikasi. 8. dan 9. . Energi. Zona pusat bisnis dan pemerintahan provinsi dan fasilitas perkotaan berskala kota dan regional.3/2003) 1. Pengairan dan Prasarana Pengelolan Lingkungan I.

Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Moderen 88.2. Tampilan pada Rekonstruksi Bangunan dan Terhadapa Bangunan di Sekitarnya 66. Pengertian Umum 22. Teknis I. Tata Letak Bangunan BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.2. INTENSITAS BANGUNAN 11. Garis Sepadan Bangunan 5. Tata Urutan Ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang .1. Penentuan Letak Suatu daerah 22. Tampilan Arsitektur Bangunan bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat 44. Fungsi Bangunan 33. Tujuan BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. MAKSUD DAN TUJUAN 11. PERUNTUKAN. Luas Bangunan 4. Peruntukan Lokasi 22.BAB III PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BULDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1.1 ARSITEK BANGUNAN 11. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan dan Terhadap Bangunan di Sekitarnya 55. PENGERTIAN 11. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang untuk satu Bangunan 33. Tampilan Bangunan Terhadap Keserasian Lingkungan 77. Peruntukan Fungsi dan Klasifasi Bangunan 33. Klasifikasi Bangunan II. Umum 22. Maksud 22. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 11.

Kontruksi Baja 33. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan 1515.3 RUANG TERBUKA HIJAU 41. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya 1212. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan 1414. Ketentuan UPL dan UKL 33. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 55. Perletakan Pencahayaan Buatan III. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 71. Jenis Ruang Terbuka Hijau 63.2 TATA LETAK BANGUNAN 11. Persyaratan Umum 22. Fasiltas Parkir 82.3 STRUKTUR ATAS 11.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 11. Orientasi Tatanan Pemukiman 33. Tata Letak & Jarak Ruang pada Bangunan Utama 1111. Analisa Struktur 42. Pemisahan Jalan 93. Tata Letak Ruang dan Jarak Ruang pada Bangunan yang bercirikan lokal 1010. PERTANDAAN. Standar Teknis IV.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 11. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 22. Luas Maksimum dan Minimum III. Pengaturan Tata Letak Ruang dalam Satu Bangunan 1313. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipe III.2 PEMBEBANAN 31. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya III. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV.99.4 SIRKULASI. Persyaratan Perencanaan Struktur IV. Perletakan Saran Keamanan dan Lingkungan 104. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 44. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi . Kontruksi Beton 22. Kontruksi Kayu 44. Bentuk Tatanan Bangunan 22. Fungsi Ruang Terbuka Hijau 52.

Kompartemensasi dan Pemisahan 55. Keruntuhan Struktur 33. Metode Perbaikan Tanah IV. Prosedur dan Metoda Demolisi BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 66. Fungsi 22. Pemeriksaaan.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 11. Tangga Luar Bangunan 99.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 11.IV. Pemeriksaan dan Perawatan Bangunan IV. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 77. Ketentuan Teknis Pondasi 33. Pengujian dan Pemeliharaan Deteksi dan Alarm BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 88. Pengendalian Asap Kebakaran 44.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 11. Kriteria Demolisi 22.4 STRUKTUR BAWAH 11. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Kebakaran 66. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran .2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 11. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 44. Pesyaratan Kinerja VI. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 55.5 KEANDALAN STRUKTUR 11. Ketahanan Api dan Stabilitas 22. Keselamatan Struktur 22. Tipe Konstruksi Tahan Api 33. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Kebutuhan Jalan Keluar 33. Pemeriksaan. Proteksi Bukaan V. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 33. Pusat Pengendali Kebakaran 55. Persyaratan Keamanan 22. Sistem Pemadam Kebakaran 22. Perencanaan Umum 22.6 DEMOLISI STUKTUR 11.

1212. Injakan dan Tanjakan Tangga 1414. Lif Kebakaran 33. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 88. Lobby Bebas Asap 77. Atap sebagai Ruang Terbuka 1313. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 55. Balustrade 1717. 1111. Pintu Ayun 2020. Kapasitas Lif 22. Pengoperasian Gerendel Pintu 2121. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 66. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 33. Rambu pada Pintu VI.1 LIF 11.1010.3 KONTRUKSI JALAN KELUAR 11. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 1212. Pegangan Rambat pada Tangga 1818. Pintu 1919. Penerapan 22. 1414. TANDA ARAH KELUAR. SISTEM PERINGATAN BAHAYA . 1313. Sangkar Lif 66. Pengujian dan Pemeliharaan VII. Lif untuk Rumah Sakit 55. Saf Lif 77. Lebar Tangga 1010. Ambang Pintu 1616.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift Jumlah Orang Yang Ditampung VI. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar Pintu Keluar Horisontal Tangga. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 88. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 99. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 2222. Ramp Pejalan Kaki 1111. Pemeriksaan. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 44.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Instalasi Listrik 99. Bordes 1515.

1 INSTALANSI LISTRIK 11. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Penggunaan Pompa . Pemeriksaan. Perencanaan Sistem Plumbing 22. Jenis Gas 22. Pemeriksaan dan Pengujian X. Pengujian 44. Instalansi Penangkal Petir 33.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 11. 1 SISTEM PLAMBING 11.2 TANDA ARAH KELUAR VIII. PENANGKAL PETIR. Sistem Plambing Air Bersih 55. Sumber Daya Listrik 55. Beban Listrik 44. Jaringan Distribusi Gas Medik 33. Perencanaan Penangkal Petir 22. Sistem Penyediaan Air Bersih 33.2 INSTALANSI GAS MEDIK 11. Transformator Distribusi 66. Pemerikasaan dan Pengujian 77.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 11. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 22. Perencanaan Instalansi Listrik 22.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK.1 1SISTEM LAMPU DARURAT VIII.VIII. Pemeriksaan dan Pengujian BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Pemeliharaan IX. Sistem Penampungan Air Bersih 44. Instalansi Tata Suara 44. Jaringan Distribusi Gas Kota 33.2 INSTALANSI PENANGKAL PETIR 11. Instalansi Telepon 33. Jenis Gas 22. Pemeliharaan IX. MATV BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Jaringan Distribusi Listrik 33.

Pembunagan dan Pengelolaan Air Limbah 44.3 PENCAHAYAAN ALAMI XIII. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal 17 18 BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. KEBISINGAN DAN GETARAN . 2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 11. Kebutuhan Pengkondisian Udara 22. Sistem Penyediaan Air Panas 76.1 VENTILASI 11. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Timbulan Sampah 112.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN XIII. Sistem Penyaluran Air Limbah 55. Sistem Pengumpulan XI. Kelengkapan Diisekitar Bangunan Gedung 83. Pengujian dan Pemeliharaan XI.66. 5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 141.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KENYAMANAN. Pemeriksaan. Hidran Umum 152. Kelengkapan Dalam Bangunan 72. Kebutuhan Ventilasi 22. Potensi Reduksi 134. Konservaasi Energi 33. Pemeriksaan. 3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 61. MCK Umum 163. Sistem Distribusi Air Bersih 87. Ventilasi Alami 33. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Sumber Air Limbah 22. Persyaratan Saluran 94.2 PENGKONDISIAN UDARA 11. Sistem Plambing Air Limbah 33. Ventilasi Buatan XII. Pemeriksaan. 4 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 101.2 PENCAHAYAAN BUATAN XIII. Sistem Pewadahan 123. Perhitungan Beban BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII.

PERIJINAN BAB V PENUTUP LAMPIRAN .1 XIV. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG X. SANKSI XIII.5 KENYAMANAN TERMAL SIRKULASI UDARA PANDANGAN KEBISINGAN GETARAN BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG I. PENYELENGGARAAN III.XIV. PERAN SERTA MASYARAKAT XI.4 XIV. PENGERTIAN II. PEMBONGKARAN IX. PELESTARIAN VIII.2 XIV.3 XIV. PELAKSANAAN V. PENGAWASAN VI. PERENCANAAN IV. PEMANFAATAN VII. PEMBINAAN XII.

TSUNAMI. RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH III. DAN BADAI IV. WILAYAH BENCANA BAHAYA GEMPA. TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR II.BAB I: TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I. KETENTUAN UMUM PENGERTIAN UMUM V. FUNGSI BANGUNAN GEDUNG .

BAB II: KONSEP RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I. KETENTUAN UMUM / PENGERTIAN UMUM 2 .

bersosial-budaya. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Aceh Besar c. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya.BAB III: PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BUILDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR I. pembinaan. Teknis a. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Dinas Bangunan adalah Dinas Teknis di Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. termasuk struktur atap kaca. KETENTUAN UMUM I. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. d. 2. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal.1 PENGERTIAN 1. d. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingkat/lantai. c. Daerah adalah Kabupaten Aceh Besar b. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. kamar mandi. berusaha. dan kegiatan lainnya. Umum Dalam Gedung Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan ini yang dimaksud dengan: a. atau ruang dalam shaft. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotorankotoran dapur. di atas. b. ii. lorong ramp. tidak termasuk lorong tangga. Pengawas/Pemilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. di mana: i. iii. 3 .

s. k. 4 . m. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. q. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil g. Antar massa bangunan lainnya. n. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. i. Daerah Hijau Bangunan. v. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. seperti keagamaan. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. jaringan pipa gas dan sebagainya. Rencana saluran. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. j. ii. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. f. h. pendidikan. o. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. l. perbelanjaan. dsb.e. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. mengadakan pertemuan. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Batas lahan yang dikuasai. p. Bata tepi sungai/pantai. r. atau iv. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. olah raga. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. iii. u. rekreasi. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. jaringan tegangan tinggi listrik. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. t. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan.

w. memperbaiki. jj.prasarana saluran umum perkotaan. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. program tata bangunan dan lingkungan. Mendirikan Bangunan i. gg. bb. ii. x. Mendirikan. selain kamar untuk MCK dan dapur. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. hh.i. peralatan. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. ee. w. z. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan cc. memperluas. ff. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. dd. ruang ganti. y. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaanpekerjaan yang dimaksud pada butir 2. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. untuk tempat kegiatan manusia. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan 5 . yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. ii. aa. atau sejenisnya.

sehingga seimbang. integritas. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. serta persyaratan keandalan bangunan. 6 . Tinghat Ketahanan Api (TKA).kk. ii. ketentuan wujud bangunan. ii. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan lingkungan. Peruntukan dan Intensitas: i. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB.1 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan a. Tujuan Tujuan Pedoman Persyaratan Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. 2.1.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. ll. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. menjamin keselamatan pengguna. b. 2. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. iii. mm. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. masyarakat. yaitu Persyaratan Tata Bangunan dan lingkungan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. dan insulasi. dan budaya daerah. I. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. Maksud Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Aceh Besar. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. arsitektur dan pengendalian dampak lingkungan. serasi dan selaras dengan lingkungannya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Arsitektur dan Lingkungan: i.2 dalam ukuran waktu satuan menit.

menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. c. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak.iii. ii. b. Ketahanan terhadap Kebakaran dan Petir: i. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. aman. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat iii. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. iii. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. 2. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. ii. ii. Tanda arah Keluar. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia.2 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung a. ii. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. 7 . dan Sistem Peringatan Bahaya: i. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. Strukfur Bangunan: i. dan nyaman di dalam bangunan gedung. d. iv. Transportasl dalam Gedung: i. Pencahayean Darurat. e.

menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. ii. Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. iii. Instalasi Gas: i. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. Pencahayaan: i. j. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. h. Kebisingan dan Getaran: i. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjam di dalam in tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. ii. g. k.f. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. i. Sanitasi dalam Bangunan: i. Instalasi Listrik. iii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. 8 . menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. ii.

Kecamatan Darussalam : Limpok. Bayu.1 PERUNTUKAN FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Zona III (Kawasan Kepadatan Sedang) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Ulee Paya. Lamboro Kueh. Bak Seutui. Barabung. Kawasan Pengembangan (promoted development area) c. Tungkop dan Lam Keuneue. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Lambada. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. ii. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Lam Ateuk. Permukiman dengan kepadatan tinggi. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Kecamatan Seulimum : Ayon. Lamteuba Droi. 9 v. Blang Tingkeum. jarak dari pantai ke daratan 200 – 4000 m. Rinon. Zonafikasi Fisik Arahan Bangunan gedung yang akan didirikan di Kecamatan dan dalam wilayah Kecamatan harus diselenggarakan sesuai dengan arahan peruntukan yang diatur dalam pembagian zona sebagai berikut: a. Meunasah Tunong.1 a Pembagian Zona Zona I (Kawasan Kepadatan Rendah) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Zona II (Kawasan Kepadatan Tinggi) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Alue Raya. Gugob.2. Mangeu. Aneuk Paya. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Lamkuk. Batee Lhee.II. Lampaya dan Lamkruet. Kawasan Aquatic/Pesisir Terbangun Kepadatan Rendah (ZONA I): i. Lam Apeng dan Ateuk. Peruntukan Lokasi 1. Permukiman dengan kepadatan sedang 1. Umong Seuribee. Pulo Meurah. Seurapong. vi. b. Ujong Mesjid T. Lampante. Abee. iii. Lamcarak. iv. Melingge. .

Kueh. c. Lamcarak. Tanjong/Lamcok. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. dan Bukit Meusara. Lampante. Abee. dan Bukit Meusara. Ujong Mesjid T. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Weu ix. Kecamatan Seulimum : Ayon. meliputi Desa Lampaya. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Pulo Meurah. Lambaro Seubun. Lamteuba Droi. b. Rinon. Umong Seuribee. Kota Jantho : Janto Makmur. ii. Tungkop dan Lam Keuneue. Seurapong. Kecamatan Batussalam. Labui dan Lamujong. Lamgapang. Mangeu. Melingge. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. iv.vii. Blang Tingkeum. Batee Lhee. Meunasah Mesjid Lamlhom dan Meunasah Baro. Alue Raya. Lam Asan. Lamkuk. 10 . Janto. Bak Seutui. Rumpet dan Lamreng. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. vii. Ulee Paya. Lambada. Rumpet dan Lamreng. Kecamatan Lhoknga. Janto. Jantho Baru Desa. Lampaya dan Lamkruet. Lam Apeng dan Ateuk. Seubun Ayon. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Lamgapang. Barabung. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Gugob. Nusa. Kawasan Terbangun Kepadatan Tinggi (ZONA II): i. Lamgaboh. viii. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. v. viii. vi. Lam Ateuk. Meunasah Tunong. Aneuk Paya. Weu Raya. Meunasah Karieng. Lamboro Kueh. Kecamatan Darussalam : Limpok. iii. meliputi Desa Lampineung. ii. Weu ix. Jantho Baru Desa. Kawasan Terbangun Kepadatan Sedang (ZONA III): i. Bayu. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Seubun Keutapang. Kota Jantho : Janto Makmur.

pertokoan. Gampong Raya. meliputi Desa Lamboro angan dan Lamduroe. capeung Baroh. Jawie. Rumah tinggal deret iii. Gaseue. meliputi Desa Pudang Meunasah Cot. keamanan. Monmata. Buga. b. Keuneu Ue. Keunaloi. meliputi Desa Beuradeun. Lamjuhang. Kayee Adang. vi. Rumah tinggal tunggal ii. Seulimeum. 11 . baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. Lhieb. Pinto Khop. Alue Rindang dan Meunasah Baro. meliputi Desa Alue Gintong. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. fungsi sosial dan budaya. Keutapang. Baroh.iii. Bak Aghu. dan sejenisnya. keselamatan. vii. Lamjruen. dan fungsi khusus. Jeumpa. c. iv. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. Rumah tinggal susun iv. pusat perbelanjaan. Kecamatan Seulimum. Pasar Seulimeum. d. Kecamatan Lhong. e. Data. Lampisang Tunong. Bangunan perdagangan: pasar. Capeung Dayah. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. Seuneobok. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. dan sejenisnya. Rabo. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. umah tinggal vila v. Lamgeuriheu. meliputi Desa Ie Seu Um. Lampisang. Kecamatan Masjid Raya. Iboih Tunong. Iboih TanTanjong. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. kenyamanan. perkantoran niaga. Rumah tinggal asrama f. ii. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. kesehatan. lAmpisang Teugoh. keamanan. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Lampisang Dayah. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. Geunteut dan Baroh Kruengkala. dan sanitasi yang memadai. Kecamatan Darussalam. Kecamatan Peukan Bada. v. 2. mal. fungsi usaha. Lam Rukam dan Gurah. Fungsi Bangunan a.

halte bus. pura. gedung tempat parkir. Bangunan Industri : industri kecil. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. j. 3. poliklinik. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). Bangunan Penyimpanan: gudang. Dalam suatu persil. gereja. dan sejenisnya. dan sejenisnya. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. penginapan. iv. g. Bangunan Terminal: stasiun kereta. industri sedang. motel. dan sejenisnya h. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. vi. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. Bangunan peribadatan: mesjid. termasuk rumah deret. hostel. sosial dan budaya. bioskop. villa. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. sekolah lanjutan. & C. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. iv. yang masingmasing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. ii. rumah sakit klas A. keveling. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: i. B. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. Setiap bangunan gedung. gedung kesenian. i. atau (2) atu atau lebih bangunan hunian gandeng. iii. dan sejenisnya. rumah bersalin. kelenteng. pelaksanaan. sekolah dasar. atau 12 . Bangunan dengan fungsi umum. iii. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. terminal udara. bangunan reaktor. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. dan vihara. rumah taman. v.Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. dan sejenisnya. industri besar/berat. a. dan sejenisnya. terminal bus. unit town house . sekolah tinggi/universitas. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. Bangunan kebudayaan : museum. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. pelabuhan laut.

atau iii. pengurusan administrasi. diluar bangunan klas 6. atau 9. atau anak-anak. atau iii. panti untuk orang berumur. e. termasuk: ii. rumah tamu. g. tempat cuci umum. pengepakan. restoran. tempat potong rambut /salon. ruang penjualan. ruang pamer. 7. atau usaha komersial. bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. perakitan. c. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. 6. atau ii. Klas 4: Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. yaitu: 13 . atau ii. tempat parkir umum. atau iv. atau ii. Klas 8: Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. atau iv. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. kafe. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. i. losmen. perubahan. rumah tamu. ruang makan malam. cacat. ruang makan. bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. hostel. atau bengkel. atau v. f. bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. pasar. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. finishing. Klas 3:Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. rumah asrama.. 8 atau 9 dan erupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. d. Klas 9: Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. i. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan.b. 8. Klas 1b : rumah asrama/kost. termasuk: i. termasuk: i. h. 7. bar. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. perbaikan. gudang.

a. atau sejenisnya. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. yaitu . m. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. k. temmasuk bengkel kerja. elevasi 5 sampai dengan 15 meter LWS dan lebih dari 15 meter LWS. Klas 10: Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. Penentuan letak suatu daerah didasarkan tiga pertimbangan.2 INTENSITAS BANGUNAN 1.00 meter Low Water Sea (LWS) atau surut terendah. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Klas-klas 1a. antena. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. Klas 9b: bangunan pertemuan. atau sejenisnya. dan: i. b. ruang mesin lift. 1b. ii. J. dan b' laboratorium. Elevasi (e) muka tanah terhadap + 0. i. Elevasi terbagi dengan dalam tiga kelompok yaitu elevasi 0. kolam renang.Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. termasuk bagianbagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Jarak (j) dari garis pantai 14 .00 sampai dengan kurang dari 5 meter LWS. bangunan budaya atau sejenis. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II . 9b. Ruang-ruang pengolah. tonggak. carport. ii. ii. bangunan peribadatan. ruang mesin. hall. iii. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. 9a. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. Klas 10b: struktur yang berupa pagar.

dan air bersih. Nilai g sebesar 9. BTS.dan kawasan lindung pantai (dengan penanaman bakau. dan kelapa). (b) Sebagai zona untuk menempatan Tsunami Park Memorial Zone (TPMZ) yang berfungsi sebagai pusat wisata. dan pengembangan pengetahuan masyarakat tentang Tsunami. hutan bakau. c.4. Fungsi Lahan i. telekomunikasi.5 dengan acceleration maksimum masing-masing 0. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan tinggi atau 51 – 75 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Lahan untuk fasilitas umum. Misalnya gardu listrik.3g. namun boleh ditingkatkan kualitasnya.81 m2/detik. Zona 1 (1) Permukiman (a) Permukiman nelayan yang semula telah ada di zone ini tidak boleh diperluas.3g. penelitian. cemara. Peruntukan. 0. Zone gempa yang mungkin terjadi Berdasarkan zone gempa. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan a. Non Rumah Tinggal (a) Zone ini berfungsi untuk tambak. Zone II antara 5-20 km dan Zone III lebih dari 20 km. dsb. Zona 2 Permukiman (a) Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. 2. terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. sarana pemerintahan dan perdagangan skala kecamatan dan kota. dengan jumlah yang terbatas. (2) (1) 15 . (b) Kepadatan bangunan sangat rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). 0.Berdasarkan jarak yang diukur dari garis pantai. dapat dibagi atas tiga zone yaitu Zone I kurang dari 5 km. pusat informasi. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). rekreasi pantai.20 g. ii. (b) Kepadatan permukiman sedang didukung bangunan tahan gempa. (c) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan.25g dan Zone 6 dengan acceleration maksimum 0.15g. untuk bangunan non rumah : zone gempa dapat terbagi dalam dua bagian yaitu Zone 3. Untuk rumah tinggal zone gempa yang digunakan adalah Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. (c) Untuk menempatkan permukiman nelayan dengan jumlah yang terbatas atau dibawah 31 orang/ha.

dsb. pengendalian harga tanah. fungsi-fungsi semula didorong untuk dikembangkan. seperti pasar untuk tingkat kota yang menjual sayur. (c) Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai radius < 20 Km dari garis pantai. (f) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. SLTA. BTS. iii.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. telekomunikasi. misalnya kantor-kantor dinas. diklat. seperti SD. Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. dan Perguruan Tinggi. dan tinggi skala pelayanan di tingkat perkotaan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya dan pertokoan. (d) Untuk menempatkan industri-industri yang terkait dengan perikanan. (b) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). (e) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. dengan insentif keringanan pajak. seperti pasar untuk tingkat 16 . menengah. rental office. (e) Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. (d) Untuk menempatkan fasilitas untuk pendidikan dasar.(b) Bangunan tahan gempa. (b) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). SLTP. ikan. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). dsb. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan rendah atau 31 – 50 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung).terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. dan air bersih. kantor pemerintahan. dengan jumlah yang terbatas. Zone 3 (1) Permukiman (a) Permukiman masih dimungkinkan diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. serta kelengkapan dan kehandalan infrastruktur. (c) Untuk menempatkan perkantoran dan pelayanan umum dengan skala pelayanan tingkat perkotaan. Misalnya gardu listrik.

Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. Zone 1 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang semula telah ada dengan kepadatan yang sangat rendah (dibawah 31 jiwa/ha) pada kawasan budidaya ini tidak boleh dikembangkan. BTS. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Digunakan sebagai bangunan untuk sarana penelitian kelautan dan perikanan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya. navigasi. permukiman khusus hanya untuk nelayan tidak boleh ada bangunan rumah tinggal. atau ditambah baru hingga kawasan lindung (76-100 i. Zone 2 dan Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Di kawasan lindung tidak diperbolehkan ada bangunan rumah tinggal. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Bangunan non rumah tinggal yang berada di zone ini adalah untuk keperluan penelitian. ii. Bangunan pada Kawasan Budidaya i. konservasi. Zone 1 17 . ikan. Permukiman yang telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. b. diperluas atau ditambah baru. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Kawasan kepadatan sedang dipergunakan untuk keamanan dan mitigasi. telekomunikasi. dengan jumlah yang terbatas. cool storage. dan air bersih. Zone 2 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada pada kawasan lindung di kawasan kepadatan tinggi tidak boleh dikembangkan. (f) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. (g) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan.gampong yang menjual sayur. c. stasiun bahan bakar nelayan (Krueng Raya). Untuk permukiman yang dari semula telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. dsb. seperti tempat pendaratan ikan. Misalnya gardu listrik. diperluas. pelelangan ikan. dan bangunan-bangunan untuk pengawasan pantai. penempatan fasilitas untuk pelabuhan dan pembangkit energi. Bangunan Pada Kawasan Lindung (1) Perumahan dan Permukiman Pada kawasan ini tidak sesuai untuk lahan permukiman. pertambakan dan perikanan. konservasi. ii. keamanan. seperti drainase pada setiap pinggir jalan.

adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada tidak boleh dikembangkan/ diperluas/ ditambah baru. rumah tamu. hanya boleh ditingkatkan kualitasnya dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. unit town house. (2) Klas 9. termasuk rumah deret. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar Zone 1 Klasifikasi bangunan yang diperbolehkan berada pada zone ini 18 . Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. rumah taman. kesehatan. (2) Bangunan non rumah tinggal Bangunan untuk tujuan fasilitas pendidikan. bangunan air. hostel. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Klasifikasi Bangunan i. terbatas untuk kebutuhan di tingkat desa. pemeliharaan tambak. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. sosial dan pemerintahan skala kecamatan dan kota. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan.jiwa/ha). adalah (1) Klas 1. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. gardu pembangkit energi. villa. termasuk bengkel kerja. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. pendidikan. Bangunan Hunian Biasa. untuk keamanan. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Untuk bangunan komersial skala rumah tangga. iii. perdagangan. d. bangunan pompa. sosial dan budaya. ibadah. Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum.

Bangunan Hunian Campuran. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau sejenisnya. (b) Klas l0b : struktur yang berupa pagar. Bangunan Hunian Biasa. atau usaha komersial. (4) Klas 4. termasuk : (a) rumah asrama. atau (c) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. rumah tamu. atau (e) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawankaryawannya. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. losmen. (3) Klas 3. hostel. atau (d) panti untuk orang berumur. (2) Klas 2. adalah tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. cacat. atau sejenisnya. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. carport. antena. Zone 2 (1) Klas 1. pengurusan administrasi. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. atau 9. atau (b) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. 7. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. bangunan budaya atau sejenis. (3) Klas 10. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. (5) Klas 5. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Bangunan kantor. di luar bangunan klas 6. termasuk rumah deret. Bangunan hunian di luar bangunan klas 1 atau 2. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. unit town house. 8. rumah taman. bangunan peribadatan. tonggak.atau sekolah lanjutan. 19 . kolam renang. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau anak-anak. 7. villa. ii. hall. 6. rumah tamu. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api.

atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. perbaikan. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. adalah bangunan toko (a) (a) atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. bangunan budaya atau sejenis. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan : garasi pribadi. bangunan peribadatan. Bangunan Perdagangan. tonggak. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. atau sejenisnya. carport. tempat cuci umum. atau bengkel. Zone 3 (1) Klas 1. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. antena. atau (b) ruang makan malam. atau sejenisnya. (10) Klas 10. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. hall. Bangunan Penyimpanan/ Gudang adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. (7) Klas 7. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan 20 . (9) Klas 9. bar. restoran. pengepakan. perubahan. tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. ruang pamer. ruang penjualan. atau (b) gudang. termasuk: ruang makan. kafe. (b) Klas 9b: Bangunan pertemuan. (8) Klas 8. atau (d) pasar. perakitan. yaitu : (a) Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan.(6) Klas 6. termasuk : tempat parkir umum. atau (c) tempat potong rambut/ salon. kolam renang. iii. Bangunan Hunian Biasa. finishing. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. termasuk bengkel kerja. Bangunan Umum.

dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. termasuk rumah deret. antena. villa. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. Luas hunian untuk setiap orang 21 . Luas Bangunan a. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. ruang penjualan. Bangunan Umum. kafe. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. hall. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. perubahan. 3. kolam renang. tonggak. adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. unit town house. carport. termasuk bengkel kerja. (3) Klas 6. perbaikan. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. (5) Klas 9. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/ kost. atau sejenisnya. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. hostel. rumah taman. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. bangunan budaya atau sejenis. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. ruang pamer. Bangunan Perdagangan. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. (2) Klas 2. bar. atau (b) ruang makan malam. pengepakan. atau (c) tempat potong rambut/salon. restoran. bangunan peribadatan. atau bengkel. termasuk: (a) ruang makan. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. atau (d) pasar.suatu dinding tahan api. rumah tamu. atau sejenisnya. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. finishing. tempat cuci umum. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. (6) Klas 10. (4) Klas 8. perakitan.

Bangunan Non Rumah Tinggal Luas kavling minimum bangunan non-rumah tinggal menyesuaikan standar kebutuhan masing-masing klas bangunan. Kebutuhan luas kapling didasarkan atas: (1) kebutuhan luas hunian. Luas Lahan per Unit Bangunan i. ii. Zone 1 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu maksimum 40%. kerja. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. iii. Zone 3 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah rendah yaitu maksimum 60%. cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. makan. meliputi aktivitas tidur. Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling bangunan (KLB) i. kebijaksanaan intensitas pembangunan. ii. kakus. Permukiman Luas lahan per unit bangunan untuk setiap zone adalah sama. daya dukung lahan/ lingkungan. (3) kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang meliputi aspek pencahayaan. d. c. Kebutuhan luas kapling minimum untuk rumah yang dihuni oleh 3-4 orang adalah 90 m2. (2) keamanan. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Zone 1 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah. b. Luas lantai bawah bangunan terhadap luas kavling lahan (KDB) i. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Kebutuhan ruang per orang minimal adalah 9 m2. dengan lebar kavling miniumum 6 m. duduk. penghawaan.Luas hunian untuk setiap orang di setiap zone adalah sama. suhu udara dan kelembaban dalam ruangan serta pertimbangan pada kondisi tertentu dimungkinkan memenuhi standar ruang internasional (12 m2 per orang). Kebutuhan ruang perorang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. daya dukung lahan/ lingkungan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. mandi. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Zone 2 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu 60%-80%. yang disesuaikan dengan 22 .

Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 3 lantai. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Ketinggian maksimum bangunan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: i. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 2 lantai e. ii. i.persyaratan building envelop lahan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah tinggi f. perkembangan kota. perkembangan kota. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. sedangkan untuk bangunan non rumah tinggal menyesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan. perkembangan kota. daya dukung lahan/ lingkungan. Zone 1. Jumlah lantai baik rumah tinggal mau pun non rumah tinggal maksimal 3 lantai. Zone 2 Koefisien lantai bangunan untuk zone ini adalah sedang yang disesuaikan dengan persyaratan selubung bangunan. daya dukung lahan/ lingkungan. Jumlah lantai bangunan rumah tinggal tertinggi adalah 1 lantai hingga 2 lantai. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah rendah. Terhadap Keselamatan 23 . kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 4. Zone 3 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah yang disesuaikan dengan persyaratan building envelop lahan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Terhadap Keamanan Ketinggian bangunan harus disesuaikan dengan sistem struktur dan bahan konstruksi yang digunakan. Zone 3. ketahanan terhadap bahaya gempa dan aman terhadap jalur penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku ii. daya dukung lahan/ lingkungan. Zone 2. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai kecuali untuk ruang < 5 Km jumlah lantai maksimal 4 lantai pada tingkat kepadatan sedang. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman terhadap luas lahan satu cluster permukiman. iii. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai pada tingkat kepadatan tinggi. Ii. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. iii. iv. Ketinggian maksimum bangunan Ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan adalah 12 meter.

Garis sempadan bangunan pada klas jalan lingkungan perumahan kavling besar. iii. Garis Sempadan Bangunan a. persyaratan kemiringan atap untuk bahan penutup atap dan model atap (flat/ perisai/ pelana/ dsb). Rumah tinggal dan non rumah tinggal: i. Jalan Arteri. kavling sedang dan kavling kecil. struktur atap.80 m agar terjadi sirkulasi udara yang cukup dan kontinyu. yaitu minimum 8 meter dari batas Damija meliputi jalan yang menghubungkan kota seulimeum ke kota kemala (kabupaten Sigli) melalui kota Jantho. ii. yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija meliputi jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan antar desa. Kavling besar ( > 450 m) U U (1). kecuali bangunan yang dindingnya terbuka termasuk lantai panggung. Terhadap Daya Dukung Lingkungan Jumlah lantai bangunan dan koefisien lantai bangunan menyesuaikan Peraturan Daerah/ Qanun Ijin Mendirikan Bangunan dan/atau RDTRK/ RTRK/ RTBL setempat. Garis Sepadan Bangunan Berdasarkan Ukuran Daerah Milik Jalan (Damija) i. Terhadap Kesehatan Ketinggian minimum bangunan terkait dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit minimum = 2. kota Krueng Raya dengan kota Seulimuem dan Kota Krueng Raya dengan kota Sigli ( Ibukota kabupaten Sigli ). yaitu minimum sebesar 10 meter dari batas Damija. kecuali jalan setapak dan gang kebakaran b. 4. Sempadan muka minimum 8 m 24 . Jalan Lokal/Lingkungan. kota Jantho dengan Lamno. Jalan Kolektor. ruangan mendapat cukup cahaya langsung dan merata. iii. iv. dengan kota lhoong. meliputi jalan yang mnghubungkan kota-kota dipulau Sumatra antar provinsi dan dikabupaten Aceh Besar melalui perbatasan kabupaten pidie dan kabupaten Aceh Besar serta pelabuhan Malahayati ke kot a Aceh Besar. Jalan-jalan kampung dan lorong yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija. Untuk bangunan peruntukan dan konstruksi khusus dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan serta disesuaikan dengan jarak terhadap as jalan yang berdekatan dan selubung bangunan.Didasarkan atas kualitas konstruksi dan bahan bangunan yang dapat menjamin keamanan penghuninya terhadap bahaya kebakaran (waktu untuk menyelamatkan diri sebelum runtuh) sesuai ketentuan yang berlaku. iv.

(c) Lebar bahu jalan minimum 0. Jarak dengan batas persil minimum 4 m (3). i.50 meter. Persil kecil minimal 1 m jika atap samping tanpa teritisan dan 1. (2) Jalan Kendaraan (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 3. Jarak massa/blok bangunan dengan bangunan sekitarnya minimum 6 m dan 3 m dengan batas kapling (2). Sempadan samping minimum 3 m (3). d.75 meter. Sempadan samping minimum 2 m (2).Rumah berlantai 1 = 1.75 meter. (b) Lebar perkersan jalan minimal 1. jarak minimum antar bangunan = {(½ tinggi bangunan A + ½ tinggi bangunan B) /2} -1 meter.Rumah berlantai 2 = 2. Kavling kecil ( > 90 m2) (1). (3). Jalan Lokal Sekunder (1) Jalan Setapak (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 2 meter.75 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . (b) Lebar perkersan jalan minimal 3 meter. . kolektor. Jalan Lokal Sekunder II 25 . Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya (arteri. Persil sedang dan besar minimal 2 m (3). Jarak massa/blok bangunan satu lantai minimum 4 m Non rumah tinggal (1). U U ii.75 meter. Sempadan samping minimum 4 m Sempadan belakang 5 minimum U U ii. Garis sempadan bangunan terhadap batas-batas persil/kavling sendiri dan lingkungannya.5 m jika atap samping menggunakan teritisan (2). Rumah tinggal : (1).Rumah berlantai 1 = 1. i. Sempadan muka minimum 3 m U U c.(2).50 meter. Bangunan berdampingan tidak sama tinggi.Rumah berlantai 2 = 2. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Sempadan muka minimum 5 m (2). . (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .25 meter. lokal) Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya berlaku untuk semua zone. ii. Kavling sedang ( > 200m) (1). Bangunan dengan tinggi > 8 m = 1/2 tinggi bangunan dikurangi 1m (5). Bangunan dengan tinggi < 8 m = 3 m (4).20 meter. Sempadan belakang minimum 3 m iii.

(a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 5 meter. jaringan listrik tegangan tinggi. 26 . a. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya adalah sama untuk semua zone yaitu: i.50 meter. (b) Lebar perkersan jalan minimal 4. Berdasarkan PUIL 2000 (jarak ke kiri dan kanan dari tegangan tinggi (70 KV ke atas) sejauh 25 m) ii. iii.50 meter.50 meter. e. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk sungai besar (luas daerah pengaliran > 500 Km2) dan sungai kecil (luas daerah pengaliran < 500 Km2) ditentukan setiap ruas berdasarkan perhitungan teknis luar daerah pengaliran atau 20 – 100 meter. Jalan Kolektor Sekunder (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 7 meter. iii.Rumah berlantai 1 = 3. . mengacu pada : (1) SNI 04-6267. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran.50 meter. Sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan penyediaan listrik.50 meter.Rumah berlantai 2 = 3.Rumah berlantai 1 = 2. i. (c Lebar bahu jalan minimum 0.603-2002 tentang Istilah Kelistrikan-bab603: Pembangkitan Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik.50 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang disesuaikan dengan kondisi NAD. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya. iii. ii. Sungai bertanggul kawasan perkotaan minimal 10 hingga 15 meter dari pinggir sungai. Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Umum (2) SNI 04-8287.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 602: Pembangkitan (3) SNI 04-8287.50 meter.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 601: Pembangkitan. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . (c) Lebar bahu jalan minimum 0. (b) Lebar perkersan jalan minimal 5 meter. . Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan minimal 50 m dari luar kaki tanggul. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum. Garis sempadan bangunan terhadap jalan rel.Rumah berlantai 2 = 4.

Penetapan garis sempadan untuk sungai ini dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. (2) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter. kedalaman > 20 m minimal 30 m dari tepi sungai. v. diperlebar dan ditinggikan. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari 500 (lima ratus) Km2. (1) Sungai yang bertangggul di luar kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. vii. (1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu yang ditetapkan. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. 27 . Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. viii. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. tanggul dapat diperkuat. Garis sempadan sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ini sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter. (2) Untuk peningkatan fungsinya. (3) Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter.iv. kedalaman 3 – 20 m minimal 15 m dari tepi sungai. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. vi. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. minimal 10 meter dari tepi sungai. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. diperlebar dan ditinggikan. (2) Untuk peningkatan fungsinya. tanggul dapat diperkuat. (1) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. Macam sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan kedalaman < 3 m. garis sempadan dan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau. Zone 1 Minimal jarak dari bibir pantai 1. dan kawasan lindung lainnya. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 meter di sekitar mata air. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Jaringan drainase mengacu pada ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. ii. iv. Zone 2 dan Zone 3 Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah. Untuk mata air. Garis sempadan bangunan pada tepi danau. Zone 2 dan Zone 3 28 . g. v. ii. rawa dan tambak.I. dengan ketentuan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. kecuali pada kawasan yang sangat diperlukan bagi kepentingan umum. Untuk danau dan waduk.3 Th. Garis sempadan bangunan pada kawasan pesisir. i. lahan peresapan air. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R.000 m. kecuali bangunan non-rumah tinggal sesuai dengan standar dan peraturan daerah setempat atau Garis sempadan pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat ii. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan (1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan.ix. Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. Zone 1 Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter. h. Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah iii. Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Qanun tentang RTRW Aceh Besar No. waduk. waduk. Garis sempadan pantai. i. serta sungai yang tidak bertanggul yaitu sebesar 20 – 100 meter. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut Penetapan garis sempadan danau. 2003 sebagai berikut : i. (2) Segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggung jawab pengelola jalan. i.

Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota pada zone 3 dan zone 4, sekurang-kurangnya (minimal) = jarak sempadan bangunan terhadap pagar kavling 5. Tata Letak Bangunan

a. Bentuk tatanan bangunan dalam satu lingkungan pada arsitektur

b.

c.

d.

e.

tradisional NAD dan arsitektur lainnya yang ada. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah air tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Penambahan ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama/ lainnya harus mengikuti standar yang berlaku . Khusus untuk Zona Kawasan Aquatic hingga Kawasan Sedang, tidak diperkenankan menambah ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama. Orientasi tatanan permukiman terhadap kaidah agama, tradisi, topografi, orientasi matahari, arah angin, pola jalan, sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Posisi jalan utama lurus memanjang dari utara ke selatan, diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama timur-barat untuk menghindari angin kencang timur-barat dan agar rumah menghadap kiblat. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah, sebagai tempat bersosialisasi warga. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab); pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Sumur dapat digunakan bersama; sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum di bagian depan rumah.

29

III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
III.1 . ARSITEKTUR BANGUNAN

1. Pengertian Umum Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langitlangit adalah 2.80 meter. Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a. Kebutuhan luas per jiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 1. 1: Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat Standar per Luas untuk 3 (m2) jiwa Luas untuk 4 (m2) jiwa 2 Jiwa (m ) Unit Lahan (L) Unit Lahan (L) ruma Mini Efekti Ideal ruma Mini Efekti Ideal h h m f m f (Ambang batas) 21,6 60,0 72-90 200 28,8 60,0 72-90 200 7,2 (Indonesia) 27,0 60,0 72-90 200 36,0 60,0 72-90 200 9,0 (International) 36,0 60,0 48,0 60,0 12,0

Berdasarkan KEPMENKIMPRASWIL No 403/2002, rumah standar sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas kapling ideal, dalam arti memenuhi kebutuhan luas lahan untuk bangunan sederhana sehat baik sebelum maupun setelah dikembangkan. Secara garis besar perhitungan luas bangunan tempat tinggal dan luas kapling ideal yang memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan bangunan seperti berikut; kebutuhan ruang minimal menurut perhitungan dengan ukuran Standar Minimal adalah 9 m2, atau standar ambang dengan angka 7,2 m2 per orang .

30

Gambar 1.1 Luas Bangunan Rumah Sederhana Sehat dan Luas Lahan Efektif Diperhitungkan terhadap Kebutuhan Ruang Minimal dan Koordinasi Modular sehingga dicapai luas lahan efektif antara 72 m2 sampai dengan 90 m2 dengan variasi lebar dan muka lahan yang berbeda. 2. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang Untuk Satu Bangunan. Berikut ini kriteria standar kebutuhan minimal rumah mengacu dari Konsepsi Rumah Sederhana Sehat : a. memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK. b. memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan yang akan dilakukan yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serba guna. c. Bentuk generik atap selain pelana, dapat berbentuk lain (limasan, kerucut, dll) sesuai dengan tuntutan daerah, bila ada. d. Penghawaan dan pencahayaan alami pada rumah menggunakan bukaan yang memungkinkan sirkulasi silang udara dan masuknya sinar matahari. e. Kebutuhan standar minimal ruang tersebut memberi peluang pada penghuni untuk dapat mengembangkan ruang sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu melakukan pembongkaran bagian-bagian bangunan secara besar-besaran. Ruang -ruang yang perlu disediakan untuk satu rumah inti sekurangkurangnya terdiri dari : a 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. b. 1 ruang serbaguna merupakan kelengkapan rumah dimana di dalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan. c. 1 kamar mandi/ kakus/ cuci merupakan bagian dari ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi cuci dan kakus.

31

Ketiga ruang tersebut diatas merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan dasar, selain itu sebagai cikal bakal rumah sederhana sehat. Konsepsi cikal bakal dalam hal ini diwujudkan sebagai suatu Rumah Inti yang dapat tumbuh menjadi rumah sempurna yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta kesehatan penghuni, sehingga menjadi rumah sederhana sehat. Ukuran pembagian ruang dalam rumah tersebut berdasarkan pada satuan ukuran modular dan standar internasional untuk ruang gerak/ kegiatan manusia. Sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT-1 adalah sebagai berikut:: i.. Ruang Tidur : 3,00 m x 3,00 m ii. Serbaguna : 3,00 m x 3,00 m iii. Kamar mandi/kakus/cuci : 1,20 m x 1,50 m 3. Tampilan Arsitektur Bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat a. Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh Besar dapat berupa tektonika atau ragam hias dengan pola tumbuhan atau pola geometri Arsitektur Islam. b. Bentuk atap bisa pelana, perisai, atap datar, atau pun variasinya. c. Arah hadap (depan bangunan) disesuaikan dengan konfigurasi jalan. Bila jalan membujur utara – selatan, maka depan bangunan menghadap barat dan timur. d. Kakus sedapat mungkin tidak menghadap barat – timur (menghadap – membelakangi kiblat) e. Penyelesaian pada setiap bagian bangunan diupayakan agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh Besar. f. Pemakaian warna untuk seluruh bagian bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya agar lebih serasi secara visual. Warna yang umum dipakai untuk material dari beton adalah putih, krim, dan beberapa warna lainnya seperti hijau, coklat, biru, dan pastel. Untuk material lain seperti kayu, warnanya lebih bervariasi, sekali pun didominasi oleh warna coklat dan putih. Tampilan arsitektur tampang bangunan salah satunya dengan adanya ragam hias ornamen bermotif flora. Gambar 2.2 dan 2.3 dibawah ini menunjukkan tampan g rumah Aceh yang sarat ornamen.

32

Sedangkan untuk bangunan meunasah. batu inipun tidak ditanam dalam tanah tapi diletakkan di atas tanah. Penyelesaian pada setiap bangunan diupayakan agar agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh. Arah hadap bangunan disesuaikan dengan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter. dengan bentuk bangun denah persegi panjang. Orientasi bangunan meunasah dan bangunan rumah tinggal perlu dibedakan dengan pemahaman bahwa perlu dibedakan antara fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong (desa). jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deret lebih kurang dua setengah meter.Gambar 1. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 batang dengan diameter lebih kurang 33 cm. sebagai contoh orientasi bangunan dan bujur bangunan rumah tinggal dinyatakan melalui arah hadap kiblat. 33 . Pola bukaan pintu yang memberikan orientasi langkah kaki pada saat masuk atau keluar rumah dan perletakan WC yang sedapat mungkin tidak menghadap barat-timur karena akan menghadap atau membelakangi kiblat. tetapi didirikan di atas pondasi batu kali.2 Tampak Depan Rumah Aceh Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang didirikan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari kayu yang kuat. Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua lubang. Pola struktur yang digunakan adalah rumah panggung khas Aceh dengan bentuk atap pelana atau variannya.3 Tampak Samping Rumah Aceh Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh diarahkan menuju digunakannya ragam hias tumbuhan ataupun pola geometri ragam hias arsitektur Islam dalam tampilan bangunan rumah tinggal. Gambar 1. Tiang–tiang itu dihubungkan antara satu dengan lainnya dengan kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lubanglubang tiang tersebut. Tiang-tiang itu tidak ditanam ke dalam tanah. sedangkan tinggi keseluruhan bangunan lebih kurang lima meter.

4.Pemilihan warna untuk tampilan bangunan disesuaikan dengan adat Aceh yang juga dijiwai oleh kaidah-kaidah agama Islam. seperti pada penggunaan warna. tidak dibatasi. Rehabilitasi tampilan arsitektur pada rumah tinggal dan bangunan gedung sedapat mungkin diselaraskan dengan tampilan arsitektur di sekitarnya untuk keserasian lingkungan. Merekonstruksi yang berarti membangun kembali bangunan yang rusak akibat gempa tsunami dilakukan dengan kaidah-kaidah sesuai budaya lokal . Tampilan Arsitektur pada Rekonstruksi Bangunan. melainkan diarahkan menuju sebuah konsep berupa pengayaan ragam hias Aceh pada tampilan 34 . Rehabilitasi tampilan bangunan tidak diperbolehkan sampai melanggar garis sempadan bangunan 5. Tampilan bangunan untuk rekonstruksi diarahkan sedapat mungkin menggunakan Arsitektur Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Aceh Besar. tekstur. Gambar di bawah ini merupakan salah satu ilustrasi dari bangunan untuk rekonstruksi. Ilustrasi Bangunan untuk Rekonstruksi Dari gambar tampilan bangunan di atas terlihat bahwa tampilan bangunan rekonstruksi diarahkan pada sebuah konsep preservasi dan konservasi yang didasarkan atas kaidah arsitektur Islami dengan landasan budaya Aceh. Namun demikian. dan terhadap Bangunan disekitarnya. upaya untuk mengembangkan tampilan bangunan beserta inovasi dan daya kreasi masyarakat. bukan berarti masyarakat dilarang untuk membuat inovasi tampilan bangunan. dan penggunaan ornamen. melainkan diarahkan untuk memperkaya ragam hias pada tampilan. Namun demikian. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan. 4. pemakaian bahan/material. Gambar 1. dan terhadap Bangunan disekitarnya.

bintang dan bulan. awan. namun demikian harus memperhatikan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. compability.) . pintu dan jendela. Beberapa ragam hias. Misalnya konstruksi panggung bisa berupa kontsruksi beton atau pun baja. disediakan lahan yang cukup sebagai ruang terbuka hijau. Arah bujur bangunan rumah tinggal dan meunasah perlu dibedakan untuk membedakan fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong. adalah kejelasan struktur fisik sebagai orientasi 35 . a. 6.  View. Di antara kriteria tersebut yang berkaitan dengan wujud bangunan adalah :  Compability. yaitu kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. 7. seperti kolom. bahan dan material yang lebih modern. Tampilan Arsitektur Bangunan terhadap Keserasian Lingkungannya. tanaman peneduh (seperti Angsana. sebagaimana ragam hias bintang dan bulan menunjukkan simbol ke-Islaman. sebagian dinding dan sebagainya yang sifatnya ornamentasi tempelan. Bangunan tradisional atau rumah panggung di Aceh Besar dapat juga dibuat dengan teknologi konstruksi. Jenis tanaman yang ditanam dapat berupa tanaman hias (seperti jenis bunga-bungaan) . sense dan livability. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Modern. non measurable criteria dalam rancang kota terdiri dari access. Menurut Hamid Shirvani. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. ragam hias awan berarak (awan meucanek) menunjukkan lambang kesuburan dan motif tali berpintal (taloe meuputa) menunjukkan simbol bagi ikatan persaudaraan yang kuat untuk masyarakat Aceh. Pemakaian ragam hias tradisional pada bagian-bagian tertentu dari bangunan. bentuk dan tata letak massa. b. mangga. c. Ragam hias pada bangunan-bangunan Aceh pada dasarnya terdiri dari ragam hias yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora. tampil sebagai hiasan semata-mata. Diharapkan melalui upaya untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengayaan ragam hias pada tampilan bangunan dapat tercipta keseimbangan antara nilainilai sosial budaya Aceh terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa.bangunan. jambu. Pada bagian depan rumah (yang berbatasan dengan jalan). view. fauna. dan tanaman produktif lainnya. identity. Untuk bangunan bangunan Meunasah. tanpa meninggalkan kaidah tata ruang di dalamnya. dan tanaman produktif (seperti belimbing. namun beberapa ragam hias.

 Identity. seperti kolom. Bangunan rumah tinggal dengan konsep tradisional budaya Aceh dapat dibuat dengan teknologi konstruksi bahan dan material yang lebih modern. bentuk dan tata letak massa (compatibility) serta kejelasan struktur fisik sebagai orientasi (view) diterapkan melalui pemakaian ragam hias tradisional pada bagianbagian tertentu dari bangunan.6 Ilustrasi Tata Ruang Rumah Tinggal Rekonstruksi 36 .5 Ilustrasi Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Rekonstruksi Ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual (identity). diarahkan untuk dapat menampillkan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. adalah ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual Gambar 1. pintu dan jendela sebagian dinding dan sebagainya yang bersifat ornamentasi. 8. Tata Urutan Ruang-ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang Gambar 1. kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade.

Teras depan sebagai perwujudan serambi depan. iii. biasanya digunakan sebagai ruang publik. sholat berjamaah. Tata Letak Ruang-ruang pada Bangunan yang bercirikan Budaya Lokal. Untuk bangunan gedung : i. Batas-batas ruang yang masif dan personal dibutuhkan untuk ruang-ruang yang memerlukan privasi tinggi seperti ruang kepala. Untuk Rumah Tinggal : i. kaum wanita. maka perlu diperhatikan pola pemisahan antar ruang sehingga tidak menimbulkan kecenderungan terjadinya hubungan yang dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. acara adat. Ruang servis diletakkan pada bagian belakang bangunan. ruang pertemuan dan sejenisnya. Pada bangunan gedung : i Tata letak ruang sangat tergantung dari fungsi bangunan dimana untuk setiap fungsi bangunan memilki hirarki yang khas. Pada rumah tinggal : i. Ruang-ruang inti dan ruang pendukung lainnya disesuaikan dengan fungsi bangunan 9. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi privat yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas bersama seperti ruang santai keluarga.a. Ruang privat (kamar tidur) diletakkan berdampingan dengan ruang keluarga iii. ii. ii. sedapat mungkin diupayakan untuk menambah ruang privat (kamar tidur) yang mampu mewadahi privasi angggota keluarga khusus (orang tua. bisa sebagai bagian dari rumah induk maupun dibangun terpisah secara struktural. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi publik yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas seperti menerima tamu. 37 . Bagian depan bangunan sebagai perwujudan serambi depan. Jika rumah induk akan dikembangkan. ruang tidur tamu. berhubungan langsung dengan ruang tamu dan atau ruang keluarga ii. pengantin baru) b. iv. ii. b. a. Untuk memberikan nuansa budaya lokal (Aceh Besar).

sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. Ruang serbaguna yang bersifat semi privat digunakan sebagai ruang tempat beraktivitas bersama. kamar mandi/kakus terpisah dengan bangunan induk rumah. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. penempatan dapur disesuaikan dengan selera pemilik bangunan. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. v. sanitasi (MCK). Untuk bangunan gedung : i. 10. iv. Pada bangunan dari bahan kayu. ii.7 Tampak/potongan Rumah Tradisional Aceh ilustrasi di atas memberikan gambaran tentang pemisahan yang jelas dan tegas antara ruang serbaguna dengan ruang privat (ruang tidur) untuk orang tua dan kaum wanita. termasuk di dalamnya bangunan utilitas. iii. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. melihat tingkat bahayanya terhadap kebakaran. dimana terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. dapur dapat dibuat di luar rumah induk dan terpisah secara struktural. Untuk rumah tinggal : i. yang dibutuhkan untuk menjaga dan menjamin 38 . Pada bangunan dengan material beton. Sedangkan untuk rumah yang terletak di atas tanah (modern/bukan panggung). ruang untuk KM/WC diletakkan menyatu dengan bangunan induk. a. Perluasan bangunan rumah induk. maka pada saat awal pembuatan rumah induk. permanen atau pun semi permanen. b. seperti bersantai. dll.). Ruang serbaguna yang bersifat semi publik dapat pula dipakai untuk berbagai aktivitas seperti menerima tamu dan pula sebagai ruang tidur tamu. Ruang kamar mandi/wc bisa diibuat menyatu dalam rumah jika bangunan utama atau ruang kamar mandi/kakus terbuat dari dari beton dan bata. dengan memperhatikan KDB. shalat dan berjamaah dan acara-acara adat. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. pada Arsitektur Lokal dan Lingkungan Bangunan Lainnya. Pada rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu.Gambar 1. Tata Letak dan Jarak Ruang-ruang pada Bangunan Utama terhadap Bangunan-bangunan Penunjangnya (termasuk bangunan utilitas.

sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. Secara umum struktur bangunan utama (yang merupakan wadah kegiatan utama dalam rumah) harus mempunyai daya tahan terhadap gempa. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya terhadap Struktur Bangunan yang ada. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. keamanan. iv. iii.ii. termasuk penyandang cacat dan warga usia lanjut. Perluasan bangunan rumah induk. termasuk di dalamnya prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitar Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaikbaiknya sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Gambar 1. 39 . 11. maka pada saat awal pembuatan bangunan. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. KM/WC terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. kenyamanan. tetapi juga bisa dibangun terpisah secara struktural. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid.8 Perspektif Rumah Tradisional Aceh Pada gambar perspektif di atas menunjukkan letak rumah induk yang terpisah dari kamar mandi. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung Bangunan-bangunan penunjang bangunan. Perluasan bangunan induk. v. a. Dapur dapat dibuat di dalam rumah induk.

Yang harus diperhatikan adalah metoda sambungan antar bagian struktur bangunan lama dan baru. Pengaturan Tata Letak Ruang-ruang Dalam Satu Bangunan terhadap Pekarangan/halaman Bangunan dengan mempertimbangkan Keselarasan. maka yang dapat dimodifikasi adalah bagian yang bukan merupakan struktur utama. 13. Untuk kapling kecil. ditentukan garis sempadan bangunan depan dan belakang. 40 . struktur utama harus tahan gempa dengan variasi bahan berupa beton bertulang atau kayu kelas kuat yang memadai. bangunan dibangun tidak berhimpit dengan batas lahan. Jika bangunan rumah akan diperluas. Bagian lahan yang tidak terdapat bangunan harus disisakan untuk ruang terbuka hijau dan areal limpasan air hujan. maka struktur perluasan rumah dapat terpisah (tidak rigid dengan bangunan lama) atapun menyatu (rigid) dengan bangunan lama. Jika akan merubah tatanan ruang. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan sistem struktur yang berbeda. b.b. e. sedangkan samping bangunan diijinkan berimpit dengan bangunan tetangga tetapi terpisah secara struktural. melainkan bagian pengisi (non struktural) misalnya partisi di dalam bangunan. Disarankan untuk menghindari pemakaian bahan logam yang mudah berkarat (corosive material) pada daerah pantai yang dekat dengan laut. maka dapat dibuat menyatu dengan metoda sambungan yang tepat. maka struktur banguan baru harus dipisah dari struktur bangunan yang lama. c. e. melainkan pada tengah lahan sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. Untuk kapling yang luas. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan pola struktur yang sama dengan bangunan lama. Ruang-ruang di dalam bangunan harus cukup mendapat penerangan dan penghawaan alami. b. Pada bangunan rumah induk. c. 12. Keseimbangan dengan Lingkungannya. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan berdasarkan Klasifikasi Bangunannya a. Pemakaian bahan konstruksi baja dan besi diperkenankan dengan syarat memenuhi satandar konstruksi tahan gempa. d. d. Batas depan dan belakang bangunan harus mengikuti aturan garis sempadan yang berlaku dimana sangat bergantung pada lebar jalan yang ada di depannya. a. Keserasian. sehingga posisi ruang dalam selalu berhubungan dengan ruang luar di sekitarnya dalam jarak yang cukup untuk menjamin kecukupan pencahayaan dan penghawaan alami.

Atap. calsiboard. Keamanan. d. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Keselamatan dan Keawetan Bangunan a. penyekat ruang) dapat memakai bahan lainnya seperti papan. Pemakain material yang berbeda harus memperhatikan teknik penyambungan antar bahan jika menyangkut sistem struktur bangunan. sedangkan bangunan untuk servis (dapur dan KM/WC) lebih ditekankan pada aspek kualitas sanitasi lingkungan. asbes. 14. pada bagian atap vi. Kuda-kuda atap menggunakan bahan kayu iii. c. bahan penutup atap menggunakan daun rumbia ii.c. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan Dalam Satu Bangunan dengan memperhatikan Keserasian. Sedangkan untuk bagian pengisi non struktural (dinding luar. Bangunan rumah lebih ditekankan pada aspek struktural dan estetika. b. batako. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin juga dihindari dari bahan-bahan yang membayakan kesehatan penghuni dari pengaruh kimiawi. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. e. Berdasarkan studi dari Rumah Tradisional Aceh maka bahan bangunan yang biasa digunakan terdiri dari: i. Lantai dan dinding menggunakan papan kayu v. e. Sedangkan untuk bagian non struktural utama. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dengan persyaratan harus tahan gempa. Tiang dan balok menggunakan kayu yang kuat iv. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin menjamin keselamatan penghuni dari bahaya bencana alam. Sesederhana apapun bahan bangunannya. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dimana telah dipersyaratkan harus tahan gempa. f. Pondasi menggunakan batu kali. petir dan akibat kesalahan teknik pemanfaatan dan pemasangan bahan. untuk menghindari pengurangan kekuatan struktur utama bangunan. 41 . Untuk bagian non struktural utama. Khusus untuk bahan fibercement. sesek dan sebagainya. disaranakan untuk tidak dipakai pada dinding luar bangunan. Fungsi bangunan juga menentukan material yang akan dipakai. d. Ijuk digunakan sebagai bahan pengikat. maka yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kekuatan struktur. batu bata. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai stock cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. keamanan bangunan dan kenyamanan ruang dalam batas tertentu.

Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipenya berdasarkan Periode/ Gaya Arsitekturnya. f.. ii. e.2 TATA LETAK BANGUNAN 1. Sedangkan untuk bangunan gedung struktur atap terbuat dari bahan baja dengan bahan penutup atap berupa genteng. fibercement. Untuk lantai bangunan dapat berupa plat lantai beton ataupun dengan lantai papan rangka kayu. genteng seng. batako sampai dengan bahan yang ringan seperti papan kayu. a. Struktur kolom dan balok untuk bangunan rumah bisa berupa beton bertulang atau minimal kayu klas kuat II. Zone 1 dan Zone 3 i. mulai dari yang masif seperti batu-bata. hanya dibolehkan sebagai dinding pengisi di dalam bangunan (tidak berkaitan langsung dengan bagian luar). dan yang sejenis. a. Bangunan rumah panggung yang ada umumnya merupakan bangunan lama (sebelum 70-an) yang saat ini jumlahnya terbatas. seperti Kayu Meranti. dan/atau pada perairan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. Bentuk Tatanan Bangunan dalam Satu Lingkungan pada Arsitektur Tradisional NAD. III. Sedangkan bahan-bahan seperti gypsum. dan sejenis. Sedangkan pada bangunan gedung dengan jumlah lantai ≥ 2. tapak beton bertulang. Struktur atap untuk bangunan rumah memakai sistem rangka dengan bahan utama kayu dan penutup atap seng gelombang. d. g. c. multiplex. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Dinding luar dan dalam dapat memakai bahan pengisi.15. b. Bangunan gedung yang dibangun di atas (panggung). Secara umum adalah bangunan di atas tanah. fungsi lindung kawasan. Setiap lingkungan dengan luas 4 ha. atau bahan lain yang sejenis seperti metal sheet. Kayu Seumantok. h. sesek bambu. folding plat dan sejenisnya. Karakter struktur utama pada bangunan tradisional lebih didominasi oleh pemakaian balok kayu dengan sistem struktur rangka portal sederhana. struktur kolom dan balok harus terbuat dari beton bertulang dengan kuat tekan beton minimal f’c 20 Mpa. sekali pun tersebar di setiap desa. atau pun deck. Pada bangunan rumah yang berlantai 2 atau tiga memakai pondasi tapak beton bertulang. atau kombinasi dengan bor pile. Pondasi struktur utama pada bangunan rumah di atas tanah yang berlantai 1 berupa pondasi dangkal menerus (batu gunung). harus memiliki jalan darurat minimal selebar 3 m sebagai akses penyelamatan 42 . Sedangkan untuk bangunan gedung di atas dua lantai memakai pondasi sumuran. dan Arsitektur lainnya yang ada.

diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. fungsi lindung kawasan. Tradisi. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. d.250 jiwa perlu disediakan fasilitas pendidikan TK. 2. b. arah angin. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. bentuk jalan. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya a. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. harus memiliki jalan darurat diantara bangunannya sebagai akses penyelamatan bagi penghuni ketika terjadi bencana. Sumur dapat digunakan bersama. Taman Kanak-kanak (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. Orientasi Tatanan Permukiman terhadap kaidah Agama. 43 . c. a. Zone 2 i. Orientasi matahari. Bangunan boleh ditambah/ diperluas ke arah horisontal dan vertikal hingga mencapai KDB dan KLB yang dipersyaratkan masing-masing daerah. ii. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab). harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. Bangunan gedung yang dibangun di atas. b. Ketersediaan Bangunan Sekolah i. dan/atau pada lahan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. Topografi. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Setiap lingkungan dengan luas 6 ha.. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama Timur-Barat untuk menghindari angin kencang Timur-Barat dan agar rumah menghadap kiblat. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum dibagian depan rumah 3. sebagai tempat bersosialisasi warga. pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah.bagi penghuni ketika terjadi bencana. e.

SD. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1600 jiwa. (8) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. SMA/SLTA di 44 . (4) Sekolah Dasar terdiri dari 6 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 40 murid. (8) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan.(4) Sekolah taman kanak-kanak terdiri dari 2 ruang kelas dan ruang aula yang masing-masing ruang dapat menampung 35-40 murid usia 5-6 tahun. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah sekolah dasar adalah 2000m2. disamping fasilitas pendidikan TK yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SD. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah taman kanak-kanak adalah 500m2. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/ tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. SMP/SLTP. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. iii. Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Pertama (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. (6) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. (6) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (7) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok penduduk dan dapat digabung dengan taman/ tempat bermain dan lain-lain sehingga terjadi pengelompokan aktifitas. Sekolah Dasar (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. SMA/SLTA di dalam area komplek. yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMP. disamping fasilitas pendidikan TK. ii. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. (7) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan akan tetapi masih tetap berada ditengah-tengah penduduk. SMP/SLTP.

(2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. SMP yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMA. diperlukan fasilitas kesehatan untuk balita berupa posyandu. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi. Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Lanjutan Atas (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. SMP/SLTP. iii. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum b. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah posyandu adalah 60 m2. Posyandu (1) Berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anakanak usia balita. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. SD. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (4) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter.250 jiwa.dalam area komplek. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga atau sarana hunian/ rumah. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah balai pengobatan warga adalah 300 m2. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga. ii. diperlukan fasilitas kesehatan balai pengobatan warga.000 meter. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin 45 . (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. Balai Pengobatan Warga (1) Berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyebuhan (currative) tanpa perawatan. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. Ketersediaan Bangunan Layanan Kesehatan i. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. SMA/SLTA di dalam area komplek. disamping fasilitas pendidikan TK. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum iv.500 jiwa.

(2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30.000 jiwa. pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai 6 tahun. diperlukan fasilitas kesehatan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin. vi. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha/ apotik.000 jiwa. Puskesmas dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. iv. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan adalah 300 m2 (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.000 meter. (4) Jarak radius pencapaian adalah 4. Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30.500 meter. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas dan Balai Pengobatan adalah 1. (5) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120.(1) Berfungsi sebagai melayani ibu sebelum. selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin adalah 3. 46 . Tempat Praktek Dokter (1) Merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 5. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas dan Balai Pengobatan. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.000 jiwa. v.000 jiwa.000 m2. (3) Jarak radius pencapaian 1. diperlukan fasilitas kesehatan berupa tempat praktek dokter. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan.000 m2.

Gedung Bioskop (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 1. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 2. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 3.500 m2. Apotik/ Rumah Obat (1) Berfungsi melayani penduduk dalam pengadaan obatobatan. Balai Warga (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 2.000 jiwa (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 500 m2.vii. 47 . (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 250 m2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. ii. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah balai warga adalah 300 m2. diperlukan fasilitas kesehatan berupa apotik/ rumah obat. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah balai warga adalah 150 m2.500 jiwa.000 jiwa. Ketersediaan Tempat Ibadah i. Ketersediaan Fasilitas Sosial i. iv. d. Gedung Serbaguna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.000 jiwa. Gedung Serbaguna/ Karang Taruna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 30.000 jiwa.000 m2. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. c. Muesanah (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 1.000 m2.000m2. biasanya ada di setiap dusun. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha. baik untuk penyebuhan maupun pencegahan. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah apotik/ rumah obat adalah 250 m2. ii. diperlukan fasilitas ibadah berupa muesanah.

Sarana Ibadah Agama Lain (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Agama Katolik mengikuti paroki. iv. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 3. e.600 m2.lingkungan. (3) Kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid warga adalah 600 m2.500 jiwa. ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid lingkungan. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan berdekatan dengan pusat . (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. Agama Budha mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki lembaga masing-masing. (4) Kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid kecamatan. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 5. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120.000 jiwa.000 jiwa. v. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga. Masjid Warga (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid warga.400 m2. Masjid Lingkungan (Gampong) (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Warung 48 . termasuk ruang ibadah. iii. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. Masjid Kecamatan (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C).2 m2/ jamaah. Agama Hindu mengikuti adat. Ketersediaan Sarana Ekonomi i.(3) Luas lahan minimum untuk sebuah muesanah adalah 100 ii. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya.000 meter. m2.

alat rumah tangga serta pelayanan jasa seperti warnet. gula. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah warung adalah 100 m2. Pertokoan (1) Menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel. (c) os keamanan. tepung. beras. (6) Setiap pertokoan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan. daging. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. rempah-rempah dapur dan lain-lain.barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun. juga untuk pelayanan jasa perbengkelan. (b) Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. buah-buahan. ii. barang kelontong. wartel dan sebagainya.000 jiwa. (d) Sistem pemadam kebakaran. reparasi. Pusat Perbelanjaan Lingkungan (1) Menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur. iii. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) lingkungan dan mudah dicapai. pakaian. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan sub lingkungan dan mudah dicapai. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan lingkungan dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 6. ikan. pakaian. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pertokoan adalah 3. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 10. fotocopy dan sebagainya. barang-barang kelontong. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. alat-alat pendidikan. (c) Pos keamanan.000 m2. Pusat Perbelanjaan dan Niaga (1) Menjual kebutuhan sehari-hari. elektronik. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan.000 m2. unit-unit produksi yang tidak menimbulkan (1) Menjual 49 . (4) Jarak radius pencapaian adalah 2. teh. iv. bahan-bahan pakaian.000 jiwa.000 meter. (e) Mushola/ tempat ibadah.

Taman dan Makam i. Makam 50 . (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. (d) Sistem pemadam kebakaran. vi.000 meter. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 9.000 jiwa.000 jiwa. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan ditengah-tengah kelompok tetangga (lorong). Taman/ tempat bermain (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 2. Olah Raga. Taman dan Lapangan Olah raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 1. Taman dan Lapangan Olah Raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120.polusi. (e) Mushola/ tempat ibadah.000 m2. ii.000 m2.000 jiwa. tempat hiburan serta aktifitas niaga lainnya seperti kantor-kantor. f. (c) Pos keamanan. v. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120.250 m2. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di jalan utama dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. industri kecil dan lain-lain. (3) Lokasinya di jalan utama. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 36. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 24. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Ketersediaan Ruang Bermain. (3) Lokasinya sedapat mungkin berkelompok dengan sarana pendidikan. Jalur Hijau (1) Terletak menyebar ditepi jalan lingkungan.000 m2. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan pusat kegiatan lingkungan (dusun). (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 250 m2.500 jiwa. bank. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. Taman/ Tempat bermain Lingkungan (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. iii. iv.

Kawasan ini harus disertai dengan buffer sebagai perlindungan dari tsunami yaitu hutan mangrove kawasan sempadan pantai. Parkir dan ketetapan lainnya. ii. KLB. seperti pepohonan (misalnya Angsana). iii. keamanan. b. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. KDH. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum sesuai Qanun Tentang Bagunan Gedung no. ameniti maupun estetika. sosial. iii.(1) Setiap 10. (3) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. taman kota. 10 tahun 2004. Zone 2 i. kawasan pemanfaatan terbatas. peresapan air. Fungsi-fungsi ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan permukiman/ gampong. KDB. ekonomi. ekonomi. ameniti. ekonomi maupun estetika. Untuk perlindungan sungai. Berupa kawasan lindung. Zone 1 i.000 jiwa dengan standar kapling makam adalah 4 m2 (meliputi 2 m2 untuk makam dan 2 m2 untuk sirkulasi dan ruang terbuka.000-12. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kawasan pantai yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. a. kelapa. sirkulasi. pekarangan. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. mau pun estetika. sosial. iv. III. Syaratsyarat ini dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk 51 . dengan penanaman cemara. unsur-unsur estetik. Diperuntukkan untuk daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. dan jalan lingkar pulau yang memiliki ketinggian > 3 meter. sarana olah raga. perdu-perduan. dan tanaman lain yang sejenis. rumput-rumputan dan tanamantanaman hias. ii. (2) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). rekreasi dengan memperhatikan perencanaan kota yang ada.3 RUANG TERBUKA A HIJAU 1. Bangunan Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau Kawasan di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di lingkungan pemukiman/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis.

pohon-pohon menahun. pekarangan. dengan memperhatikan perencanaan kota yang telah ada. KDB.bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. Ruang Sempadan Bangunan i. Zone 3 i. KLB. peresapan air. tanah dan permukaan tanah. sirkulasi. (2) Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman. ekonomi maupun estetika. Jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai penanaman vegetasi penyangga berfungsi untuk kepentingan ekologis. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum 2. KDH. sungai. sarana olah raga. iii. (a) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. ameniti maupun estetika. c. hutan produksi. perdu-perduan. Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman dan ruang terbuka hijau pekarangan. ii. (4) Sebagai ruang transisi. (b) Syarat-syarat ruang terbuka hijau pekarangan dalam setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. ruang budidaya. sosial. dan tanaman hias. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. v. seperti pepohonan. Parkir dan ketetapan lainnya. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/ wilayah/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. (3) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). rumputrumputan. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. a. unsur-unsur estetik. rekreasi. Keserasian tersebut antara lain 52 . ekonomi. RTHP merupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota.

tiang bendera. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/ penanaman di atas tanah. iii. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roofgarden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Hijau Pada Bangunan i. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. c. b. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25 luas RTHP. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. bak sampah dan papan nama bangunan. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. ruang sempadan depan bangunan. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. ii. v. batang dan cabangnya rapuh. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Tata Tanaman i. jalur pejalan kaki. Tapak Basement i. dan kebijaksanaan daerah setempat. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. KDH minimal 10 pada daerah sangat padat/ padat. iv. 53 . tidak di dalam wadah/ container yang kedap air. vegetasi besar/ pohon. pagar.mencakup : pagar dan gerbang. tiang telepon di kedua sisi jalan/ ruas jalan yang dimaksud. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. ii. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. ketentuan teknis. bangunan penunjang seperti pos jaga. d. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. ii.

untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. a. Luas maksimum dan minimum dari jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Untuk lapangan minimal seukuran lapangan volley. bermain anak. Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. Zone 1 (1) Penghijauan di kawasan buffer zone. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/ gampong adalah sebagai berikut : i.ii. dari pinggir pantai hingga sejarak minimal 100 m sepanjang pesisir pantai ke arah daratan. iii. kolam peresapan air hujan. Taman dan lapangan berada di setiap satu lingkungan dusun. dll. Pekarangan rumah penduduk. (2) Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. seperti bermain bola. hutan lingkungan. Zone 2 (1) Pekarangan. kestabilan tanah/ wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. 54 . Taman-taman dan lapangan. hutan kelapa dan mangrove. (3) Taman-taman dan lapangan. dll. Zone 1 i. (2). (3). taman dan rekreasi ii. Untuk setiap Zone. 3. volley dan sepak bola.Ruang Sempadan Bangunan (4) Tata tanaman. taman (2) Tapak Basement (1) Hijau pada Bangunan iii. taman dan olah raga.Ruang Sempadan Bangunan termasuk pekarangan. Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jenis-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Di pinggir pantai. makam. termasuk hutan mangrove. dan kolam ikan. iv. taman permukiman terbatas. Zone 3 (1). ii. tambak-tambak. seperti bermain bola. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. air. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. volley. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut diatas.

Taman dibuat pada satu lingkungan lorong Ruang terbuka hijau pekarangan dibuat pada setiap persil bangunan rumah pada satu luasan permukiman/ gampong. iii. Taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong i. RTH taman dibuat dalam satu lingkungan lorong dan di sekitar meunasah. Makam berada di pinggir lingkungan. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong. Zone 3 ii. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong 55 . Hutan mangrove ditanam sepanjang pesisir pantai sebagai penyangga (buffer zone) dengan kedalaman lebih kurang 100 meter ke arah daratan. Dikelilingi ruang terbuka budidaya pertambakan/ pertanian. c. Zone 2 i. iv.iii. b.50% ii. iv.. iii. Ruang terbuka hijau ditempatkan di sekitar lokasi yang memiliki aktivitas tinggi dengan luas ruang terbuka terhadap luas gampong lebih kurang 30% .

Pintu masuk dan keluar bangunan tidak terhalang oleh ruang lain. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. dan jumlahnya. 1. b. dan/atau primer ke arah dataran yang lebih tinggi. dan/atau primer. 56 . Pintu masuk dan pintu keluar pada bangunan terdapat di dua sisi bangunan yang berbeda dan mudah dicapai dengan jumlah minimal 2 pintu. lokal) i. Zone 2 (1) Berbentuk pita dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. 1. kolektor. berada di bagian depan dan belakang bangunan dan mudah dijangkau. serta arahnya terhadap sirkulasi lingkungan. PERTANDAAN. ii. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. dan arahnya terhadap sirkulasi jalan kota/luar lingkungan yang menghubungkannya. dan/atau primer. (2). Terdapat sekurang-kurangnya 2 jalan keluar-masuk lingkungan ke arah zona lingkungan tetangganya. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. b. kolektor. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1.III.4 Fasilitas Parkir i. Terdapat Zone 1 (1) Terdapat sekurang-kurangnya 1 jalan keluar masuk lingkungan ke arah selatan (2) Lokasi mudah dicapai dari segala penjuru/semua sisi lingkungan.1 Lokasi pintu masuk dan keluar bangunan.3 Pola Sirkulasi Jalan Zone 1 dan Zone 3 (1) Berbentuk pita. Zone 2 dan Zone 3 (1). Lokasi mudah dicapai dari semua sisi lingkungan 1.2 Lokasi pintu masuk dan keluar lingkungan permukiman dan jumlahnya.4 SIRKULASI. a. kolektor. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. kolektor. Permukiman (a) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas tetangga dan lingkungannya. a. kolektor. lokal) ke arah Pola sirkulasi jalan berbentuk pita.

3. ii. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. Jalur jalan kendaraan harus dilengkapi dengan jalur hijau : (1) Untuk jalan masuk utama lingkungan kendaraan dua arah dipisahkan dengan median jalur hijau di tengahnya. ditempatkan pada pintu keluar – masuk gampong. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. dll. atau tergantung dari bentuk gampongnya. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. ruang terbuka hijau. Jalur jalan kendaraan harus terpisah dengan jalur pedestrian pejalan kaki. ii. (2) Untuk setiap jalan gang/ lingkungan dilengkapi jalur hijau pada sisi kiri dan kanan bahu jalan. 4. Sempadan Jalan (1) Pencahayaan buatan harus ada di sepanjang sempadan jalan dengan jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. ruang terbuka hijau dan sarana umum lainnya. memudahkan aksesibilitas.(b) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak diperboleh berada pada badan jalan. sarana umum lainnya di tiap zone mempunyai persyaratan yang sama yaitu sebagai berikut : i. Perletakan Sarana Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Sarana keamanan berupa Pos Jaga. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Pemisahan Jalan i. iii. 57 . penghijauan. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Bangunan non-rumah tinggal wajib menyediakan area parkir kendaraan yang proporsional terhadap luas lantai bangunan (sesuai standar teknis parkir yang berlaku) (2) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. pedestrian dan penghijauan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. (3) Luas. berada pada bagian pintu masuk keluar lingkungan. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. 2. misalnya bila gampong atau dusun terdapat jalur keluar masuk yang lebih dari satu. maka Pos Jaga bisa ditempatkan di salah satu pintu masuk-keluar atau keputusan dari musyawarah gampong. (4) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan.

pencahayaan buatan harus memperhatikan karakter lingkungan. (2) Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan. (4) Dalam perletakan pencahayaan buatan harus memperhatikan aspek pengoperasiaan dan pemeliharaan. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. (3) Dalam ruang terbuka hijau. dengan radius pelayanan maksimum 2 Km. balai pertemuan. (3) Harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. i. sesuai kebutuhan standar jenis ruang terbuka hijau. perkantoran dan bangunan tinggi lainnya dengan struktur yang kokoh dan dapat menampung orang banyak atau berupa bukit dengan lansekap yang baik bisa dijadikan sebagai bangunan penyelamat (b) Pada zona I tinggi lantai > 1. sehingga mudah dioperasikan dan mudah diperbaiki bila terjadi kerusakan. (c) Dapat dicapai dalam waktu paling lama 15 menit. silau visual yang tidak menarik dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan.5 meter atau bangunan berkolong/panggung untuk mengatasi pasangnya air. pencahayaan buatan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. ii. (5) Pencahayaan buatan harus ada di setiap persimpangan jalan yang dapat memberikan penerangan badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. Ruang Terbuka Hijau (1) Perletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. h. estetika amenity dan komponen promosi. Bangunan dan Jalur Penyelamat. Zone 2 (2) Bentuk (2) 58 . (3) Perletakkan pencahayaan buatan harus dapat memberikan penerangan pada badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. Bangunan Penyelamat (1) Zone 1 dan Zone 3 (a) Rumah ibadah (Mesjid). Sarana Umum Lainnya (1) Dapat memberikan penerangan ruang luar dengan menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. iii. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. (2) Harus memperhatikan karakter lingkungan. fungsi dan arsitektur bangunan.

Tidak diharuskan membangun bangunan penyelamat. (1). ii. Jalur Penyelamat Zone 1 dan Zone 3 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. Zone 2 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. (i) Jalan darurat merupakan jalan terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor yang bebas hambatan, dengan lebar badan jalan minimal 6 meter. (ii) Jalan keluar dari setiap kavling bangunan harus langsung ke jalan lingkungan dan jalan darurat minimal ada 1 buah tidak boleh melewati bangunan tetangganya. (3) Sirkulasi (a) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. (b) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya. (c) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa

(2).

59

elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. i. Pertandaan, dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Perletakan sarana keamanan dan keselamatan lingkungan. Perletakan tanda dan rambu lalu-lintas dan rambu keselamatan lingkungan. i. Penempatan signage, termasuk papan ikian/ reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik. ii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu, kepala daerah dapat mengatur pembatasan-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.

III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN
1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan

a. Setiap kegiatan dalam pembangunan permukiman di Kabupaten Aceh Besar yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diperhitungkan berdasarkan tingkat pembebasan lahan, daya dukung lahan meliputi daya dukung tanah, kapasitas resapan air tanah, tingkat bangunan per hektar, dan lain-lain, tingkat kebutuhan air sehari-hari, limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman, efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia), serta koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien luas bangunan (KLB). b Kewajiban melaksanakan kajian AMDAL tergantung masingmasing tipologi kota. c. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Kegiatan di Kabupaten Aceh Jaya yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut berpengaruh terhadap: i. Jumlah manusia terkena dampak. ii. Luas wilayah persebaran dampak. iii. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. iv. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.

60

v. Sifat kumulatif dampak. vi. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible-nya) dampak. 2. Ketentuan UPL dan UKL 1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 86 Tahun 2002. 2. Dalam UKL dan UPL harus diuraikan informasi mengenai: i. Identitas pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan; ii. Rencana usaha atau kegiatan meliputi nama, lokasi, skala usaha atau kegiatan, garis besar rencana usaha dan atau kegiatan; iii. Dampak lingkungan yang akan terjadi meliputi kegiatan yang menjadi sumber dampak, jenis dan besaran dampak serta hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak yang akan terjadi; iv. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan meliputi langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya menangani kedaan darurat, kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup dan tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan; v. Tanda tangan dan cap usaha dari penanggung jawab usaha atau kegiatan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Persyaratan bangunan i. Untuk mendirikan bangunan di Kabupaten Aceh Besar yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan memproduksi, mengolah bahan mudah meledak dan mudah terbakar, korosif, toksik (beracun), reaktif, dan infeksius dapat diberikan ijin apabila : (1) Merupakan daerah bebas banjir, dan (2) Jarak antara lokasi bangunan dan lokasi fasilitas umum minimal 50 meter. (3) Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/ jalan tol dan 50 meter untuk jalan lainnya; (4) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan;

61

ii.

iii.

iv.

v. vi.

(5) Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawan, mata air dan sumur penduduk; (6) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan lindung dan lain-lainnya). Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 L/detik atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapatkan ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna mengurangi limpasan air, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan saluran drainase tersier dan sekunder yang akan dihubungkan dengan saluran drainase primer untuk dibung ke badan air. Jika muka air tanah rendah maka dapat digunakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan guna menambah cadangan air tanah. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan 2 membangkitkan LHR ≥ 60 SMP per 1000 feet luas lantai, maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran drainase yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lampu lalu lintas. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan dan tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar. iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

62

d. (b) pengangkutan sampah basah dilakukan berdasarkan jenisnya (i) Sampah basah setiap hari atau maksimal setiap dua hari sekali untuk menjamin agar tidak timbul bau dan menjadi sarang penyakit. dan yang sejenisnya. ii. dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. daerah banjir. Sarana pengumpulan dan pengolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. bagi bangunan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. dengan memperhatikan keamanan. (ii) Sampah kering maksimal setiap tiga hari sekali agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. keselamatan dan kesehatan. c. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir a. dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. Pengelolaan Daerah Bencana a. e. c. 63 . Kegiatan konstruksi yang berpotensi menghasilkan debu harus melakukan penyiraman pada waktu tertentu untuk menghindari penyebaran debu yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.vi. 4. dengan memperhatikan keamanan. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dibatasi. b. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. keselamatan dan kesehatan lingkungan. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir a dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. Pembuangan Limbah Cair dan Padat i. atau dilarang membangun bangunan. (1) Sampah : (a) harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah harus dilengkapi sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang.

Persyaratan Bahan 64 . keawetan (durability) dan ketahanan terhadap kebakaran (fire resistance). STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Bangunan rumah tinggal lebih dari 1 lantai dikategorikan sebagai bangunan gedung. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai dengan zona gempanya).IV. kelayanan (serviceability). Persyaratan Perencanaan Struktur a. dan bebanbeban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur 2. 1. Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur (Bangunan non teknis / non engineering structures). Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Persyaratan struktur ini memberikan kriteria minimal untuk perlindungan jiwa dengan memperkecil kemungkinan terjadinya keruntuhan. Untuk itu struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan. b. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. Sedangkan yang dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis / engineering structures). Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar tercapai. Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keamanan (safety). harta benda dan masih dapat diperbaiki. misalnya terjadinya suatu gempa. Perencanaan struktur BG dan RT berdasarkan ketentuan ini tidak berarti mencegah sama sekali terjadinya kerusakan struktur maupun non-struktur apabila suatu gempa terjadi. Bangunan rumah tinggal di dalam pelaksanaan pembangunannya bisa dilakukan oleh pemilik dan dianjurkan didampingi oleh orang teknik yang mempunyai keahlian di bidang bangunan. c.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN Persyaratan struktur bangunan gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD bertujuan untuk memperkecil resiko kehilangan nyawa apabila keruntuhan struktur akibat pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar terjadi.

Untuk bangunan yang tidak beraturan. Ketidakteraturan struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari. pusat penyelamatan keadaan darurat. 3. ii. bangunan air minum. f. Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. e. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. b. iii. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI. a. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. lay-out bangunan diusahakan sejauh memungkinkan agar sederhana dan simetris. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama terjadinya suatu gempa. pusat pemadam kebakaran. c. maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. Persyaratan Detail Struktur Bangunan Gedung dan Rumah Tahan Gempa Persyaratan Lay-Out Bangunan i. diusahakan semaksimal mungkin menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan kandungan lokal. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi secara baik sesudah terjadinya suatu gempa. serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur. Kemungkinan terjadinya efek puntir pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya geser tambahan pada unsurunsur vertikal akibat gempa harus diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut. d. lay-out 65 . pengaruh gempa terhadapnya harus dianalisa secara dinamik. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Bahan struktur yang digunakan. iv. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. fasilitas radio dan televisi dan bangunan sejenis lainnya. pusat pembangkit tenaga. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga pengetesan yang berwenang.a. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami setelah suatu gempa terjadi. misalnya rumah sakit.

Semua bagian dari struktur harus diikat bersama. Perencanaan bangunan sejenis ini harus mempertimbangkan berbagai faktor akibat penggunaannya sebagai tempat evakuasi. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan apabila suatu gempa terjadi. termasuk elemen struktur dan nonstruktur. ii. 2.bangunan harus dibuat sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan sangat minimal. Standar Teknis 66 . termasuk beban tetap. sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail. yang bertujuan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian rupa. iv. misalnya pengaturan ruangan dan fasilitas penunjang lainnya serta kemungkinan adanya beban-beban tambahan akibat fungsinya sebagai tempat evakuasi. Persyaratan Monumen dan Bangunan Monumental i. c. b. gempa) dan beban khusus. Semua monumen dan bangunan monumental di NAD akan difungsikan juga sebagai tempat evakuasi apabila suatu gempa terjadi. Persyaratan Pendetailan Struktur i. beban sementara (angin. IV. Analisa Struktur Analisa Struktur harus dilakukan. ii. baik dalam bidang vertikal maupun horisontal. Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang tsunami. Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang telah direncanakan benar-benar terjadi. iii. PEMBEBANAN 1. arsitektur dan instalasi mesin dan listrik harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang memadai. sehingga berperilaku daktail. maka struktur BG dan RT dan semua elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian rupa. Setiap unsur sekunder.2. yang diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur pondasi. sehingga gaya-gaya dari semua elemen struktur.

b.3. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. c. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja d. SNI 1726. seperti a. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. g. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung. intensitas dan cara bekejanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. d. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. b. f. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti a. SNI 1727. SNI3430. IV. SNI-3976. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. SNI 2847. d. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. SNI-3449. Konstruksi Beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. 2. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. 67 . Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan.4. seperti: a. b. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. SNI2834. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja c. SNI2407.Penentuan mengenai jenis. e. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. c. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. 3. SNI-1729 b. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. seperti: a. SNI-1728. SNI-1734.

075 mm < ∅ < 2 mm (d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76. SNI1736.2 mm 68 . c. jika D/B > 10 Jenis Tanah : Lempung (clay) : ∅ < 0. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan Rumah dan Gedung. b.002 mm < ∅ < 0.002 mm (b) Lanau (silt) : 0. Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut.4. antara lain: a. e Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. SNI-23V4. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. SNI-2395 f. jika D/B < 4 . standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi.075mm (c) Pasir (sand) : 0. SNI-2405. Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10 (b) Pondasi semi dalam . Perencanan Umum a. d. SNI-1735. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. tata cara.4. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit.. IV. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. STRUKTUR BAWAH ii. Definisi i. b. SNI-1963. SNI-1745. i. 5. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. 1. jika 4 < D/B < 10 (c) Pondasi dalam. SNI239'7 h. SNI-2404. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Jenis Pondasi : (a) Pondasi dangkal . Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. g. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Termitisida.

25g . Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung – PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan 69 . 0. Jenis Pondasi dan Ukurannya Gambar 2. Sumber : American Association of state Hihgway and Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of Technology (MIT) Gambar 2. Differential Settlement Keterangan : L = panjang dasar pondasi dangkal B = lebar atau diameter pondasi D = kedalaman dasar pondasi dari muka tanah ∅ = diameter butiran solid tanah δ = differential settlement s = bentang antar pondasi/ kolom Zonifikasi Gempa : . 0.30g dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan b.Zona Gempa 3.1. Dimensi dan Material Pondasi Dimensi dan material pondasi tergantung pada : i. sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk cohesionless soil.Zona Gempa 6.20g .Zona Gempa 4.Zona Gempa 5.2. 0.15g . 0.Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil.

Bila tetap terjadi differential settlement maka besar amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar 0. d. Differential settlement antar pondasi tidak boleh terjadi. Penentuan Jenis Pondasi : Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi. Settlement Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada disekitarnya. (d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing capacity dan kekuatan material pondasi.002 – 0. Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) : Pada tanah kohesif : D = 1. (c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku Khusus untuk pemancangan tiang pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara.Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-17262002 ) ii. (b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal. untuk medium ke atas. kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah dilakukan soil improvement.003 setengah bentang bangunan (s). Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing capacity. Persyaratan Pondasi i Persyaratan penting pada pondasi dangkal : (a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton sloof.50 m dan B = 1 m. Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam : (a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and compression pile. i.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6). 2.70 m dan B = 0. (c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir dibawah pondasi minimum 30 cm. (b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan pemberian sejumlah anchor. Gempa dan (a) 70 .70 m c. (b) Pada tanah non kohesif : D = 0. Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat nasional dan/atau internasional iii.

1 . Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. dengan percepatan maksimum di batuan 0.a. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.( Pondasi setempat batu kali) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.b.2.a. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.30g Jenis Pondasi : A.b.2.2.a.1.1.2. (Pondasi setempat beton) ii. (Tiang Bor Beton) b. (Pondasi menerus batu kali) A.1. Tanah Tak Berkohesi i. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi: B.2.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : C. (Sumuran/ Caisson) C.(a) (b) (a) (b) Tanah Berkohesi i.e.2.a.2.3.1. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : B. (Pondasi menerus batu kali) A. 71 .b (Tiang Pancang Beton) C.b ( Pondasi menerus beton ) A.b ( Pondasi menerus beton) A. (Mikropile/minipile) atau B.a.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 . (Tiang Bor Beton) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi C. ( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton) c.1.a.b( Pondasi menerus beton ) A.1. (Tiang Bor Beton) B. Batuan i.1.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A. Mikropile/minipile B. (Pondasi setempat beton) a.1.1.b.2. (Pondasi setempat beton ii.a.. (Pondasi menerus batu kali) A.1.2.a.

( Tiang Baja/ Beton dipancang pada lapisan batu yang sudah dibor kemudian digrouting) 72 .1.a (Tiang Pancang Baja) (b) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi : C. (Tiang Pancang Pipa Baja) C. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi C.ii.b.2.d.1.

.

Untuk tanah swelling yang diganti setebal zona kembang susut. ii. (8) Metode pemadatan getar (vibroflotation) (9) Displacement by explosives (10) Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material ke dalam tanah (impregnation) . Kualifikasi Kontraktor c. (8) Metode lainnya yang sesuai.3. (2) Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain. i. Cement column. (6) Dynamic Compaction. Metode perbaikan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. gravel): (1) Preloading dan surcharge. Tanah Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah cohesive (silt. clay) : (1) Preloading dan surcharge. (3) Electro consolidation (4) Stone Column (5) Freezing. (6) Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal. Jenis Tanah b. (3) Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose. Tanah Non Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah non cohesive (sand. Lime Column. Biaya Relatif Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya. (5) Pembekuan air tanah (freezing). (2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose. untuk peat lapisan tanah yang diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0. Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait d. (7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive). Metode Perbaikan Tanah Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah. Dampak Terhadap Lingkungan e. (4) Stone Column. (7) Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus mengacu pada zona aktif.

Membrane yang terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan. Perkuatan batuan dapat mengurangi pergerakan struktur atau translasi. (5) Resin Coating Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan pelindung untuk batuan. dan tidak diterapkan lereng yang curam. Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas rendah jika disemprotkan pada permukaan. Batuan Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah batuan : (1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive. (3) Plastic Sheeting. iii. diletakkan di atas permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke dalam batuan. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. (2) Lean concrete atau slush grouting (a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi permukaan batuan.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts. Ketebalan shotcrete normalnya 2-3 in. Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada lereng dengan sudut kemiringan yang redah. beton atau bangunn dari batu. Consolidation grouting diterapkan pada masa batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan jumlah open joint yang dominan. rock anchor rock tendon). Bahan untuk grouting adalah campuran cemen dan pasir. (4) Bituminous Coating Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi.Metode lainnya yang sesuai. (b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan kemiringan kurang dari 450. Bituminous coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari. (6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock) Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di atas batuan. (8) Slope Geometry. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak batuan. (7) Consolidation grouting Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau kekuatan geser. Lembaran plastik seperti polyethylene. (11) 2 .

(b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa batuan.(9) (10) (11) (12) (13) Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat mengurangi gaya-gaya yang bekerja. Metode lainnya yang sesuai. caranya dengan shotcrete. Toe Berms Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh. dengan tidak tutup kemungkinan ada metode baru. Rock Anchor Perlindungan Terhadap Erosi Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang disebabkan proses pelapukan. 3 . Dewatering (a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng.

M e t o d e P e r b a ik a n T a n a h J e n is T a n a h No.2 0 .0 2 0 . Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung.1 0 .5 KEANDALAN STRUKTUR Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD harus mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur.0. Keselamatan Struktur a. c. beban perilaku manusia. Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.T a b e l. A 1 2 3 B C D E F G 1 2 H I J K L M N O P Q M e to d e ' P re lo a d in g S o il w e ig h t o n ly W it h ve r t ic a l d ra in s W it h n e t o f D r a i n a g e E le c t r o O s m o s e E le c t r o C o n s o lid a t i o n S t o n e C o lo u m n C e m e n t C o lo u m n F re e z i n g D y n a m i c C o m p a c ti o n C o m p a c t io n o n l y W it h H o riz o n t a l D r a i n a g e E x p lo s ive s V ib r o fl o t a t i o n Im p re g n a t i o n / G ro u t i n g S u b s t it u t io n S h o t c re t e L e a n c o n c re t e P la s t ic s h e e t i n g B it u m in o u s & re s i n c o a t in g G ro u t i n g R o c k re i n fo rc e m e n t • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • • •s / d • • • • • • • s / d• • • • • • • s / d• • • • • • • • • • • • •s / d • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • • s / d • • s / d• • • • • • • • • • • • • •s /d • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s / d • • • • • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • • • • • • K e rik ilP a s ir K a P a rs ir h a lu s n a u s La 10 2 1 0 . Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan.0 0 1 (D im e n s i o n a t m m ) T a n a h O r g aBnai k u a L e g e n d a : t n • Lem ah • S e d a n g • • P •e n t in g • 0 . dan harus dilakukan atau 4 .0 0 2 0 1 Lem pung 0 . maupun beban yang diakibatkan perilaku alam b. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur d.0 0 0 2 K u a l ifik a s i W a k tu D a m p a k t e rh a d B p y a a ia K o n t ra k tP e l a k s a nB e rnfu n g s i L i n g k u n g a n R e l a t i f or aa IV.

Keruntuhan Struktur a. beban akibat perilaku manusia. atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan. Pemeriksaan dan Perkuatan Bangunan Setelah Adanya Gempa a. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam. d. sambungan-sambungannya dan besarnya pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul bebannya. maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih akurat. c. maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur. kondisinya. Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri. b. c.didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai. b. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan. maupun bencana lainnya. seperti lingkungan yang korosif. gempa. Adanya pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi) dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam analisa keandalan. Apabila hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri. d. 2. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa. beban yang didukungnya akibat perilaku manusia. Pd T-11-2004-C. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi materialnya. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa). tidak mencukupi untuk memikul beban akibat berat sendiri. 3. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. dan atau beban yang diakibatkan 5 . Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada. beban akibat perilaku manusia. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada.

Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. Penyusunan prosedur. mekanikal. c. Struktur banguan sudah tidak andal. Prosedur. Perancangan komponen arsitektural. b. Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa No : Pd T-11-2004-C.perilaku alam (termasuk gempa). Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri. Kategori : Pedoman Teknik. Acuan yang Dipakai a. ii. metoda dan rencana demolisi struktur harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang sesuai. mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau ekonomis. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani. Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Prosedur dan Metoda Demolisi a. Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami 6 . Kategori : Pedoman Teknik Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural. masyarakat dan lingkungan b. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. 3. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi 2. e. No : Pd T-13-2004-C. dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. No : Pd T-12-2004-C. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila : a. maka perlu diadakan perkuatan struktur. b. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan elemen-elemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang disyaratkan IV.

j.d. Kategori : SNI. Kategori : Petunjuk Teknik Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali. f. Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa. Kategori : SNI. Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan. No: Pd T-14-2004-C. Kategori : SNI. Tata cara ini digunakan untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-struktur bangunan rumah dan gedung Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1727-1989. h. 7 . gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. Kategori : SNI. terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau. Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C. e. Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No : SNI 03-2847-1992. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989. k. Kategori : Pedoman Teknik. No : SNI 03-1726-2002. Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku. bukan keharusan. termasuk beban-beban hidup untuk atap miring. kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. Kategori : Petunjuk Teknik. Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. g. Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-3430-1994. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-1729-2002. Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : PtT-02-2000-C. i. l. Kategori : SNI. yang pemakaiannya optional. Kategori : SNI.

iii. ix. c.melindungi manusia dari sakit atau cedera akibat terjadinya kebakaran dalam bangunan maupun pada saat proses penyelamatan. antar kompartemen kebakaran yang berdekatan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF Persyaratan yang tercantum dalam bagian ini bertujuan untuk: . Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama terjadinya kebakaran. Persyaratan yang lebih detail mengenai sitem proteksi pasif dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. cukup waktu untuk keperluan evakuasi penghuni secara aman. ketinggian bangunan. iii. intensitas kebakaran.menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. ii. v. . yang sesuai dengan: i. kedekatan dengan bangunan lain. antar unit-unit hunian tunggal (hanya berlaku bagi bangunan kelas 2 atau 3. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi kebakaran untuk memadamkan api. dapat menghindari terjadinya kerusakan pada properti lainnya. 1. sehingga penghuni bangunan mempunyai cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara aman tanpa dihalangi oleh penyebaran api dan asap kebakaran. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. vi. ii. intervensi pasukan pemadam kebakaran.menghindari penyebaran kebakaran antar bangunan. iv. ukuran setiap kompartemen api. Ketahanan Api dan Stabilitas a. sehingga: i. iii. ii. sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan.melindungi benda atau barang lainnya terhadap kerusakan fisik akibat keruntuhan struktur bangunan saat terjadi kebakaran. beban api. . untuk memberikan kesempatan bagi petugas pemadam kebakaran untuk beroperasi. dan atau bagian kelas 4). antar bangunan. vii. Suatu bangunan harus dilindungi terhadap penyebaran kebakaran: i. fungsi atau penggunaan bangunan. viii. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. b. . tingkat bahaya api. iv. v. dan 8 .V.

Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. e. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. fungsi bangunan. atau potensial dapat meledak. iii. Tipe Konstruksi Tahan Api Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. iv. keruntuhan tersebut dapat dihindari. yang sesuai dengan: i. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. dan vi. intensitas kebakaran. Tipe A : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. sistem proteksi aktif. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. d. yaitu pada bukaan. waktu evakuasi ii. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. v. 9 . tingkat bahaya api. sesuai dengan: i. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. h. beban api. g. ukuran kompartemen. sampai dengan tingkat tertentu. iv. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. membatasi berkembangnya asap dan panas. elemen bangunan lainnya. fungsi atau penggunaan bangunan.x. ii. f. jumlah. 2. sambungan konstruksi. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. iii.

b. Tipe B : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api.4 Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. Spesifikasi detail ketiga jenis tipe konstruksi diatas dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV pasal 2. 3. c. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: 10 .

1 Tipe Konstruksi yang Diwajibkan KETINGGIAN Klas Bangunan (dalam jumlah 2. c.8. Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.6. 6.7. b. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. Tabel 2. 7. Kompartemenisasi dan Pemisahan a. Pemberlakuan. 11 . i.7. perambatan api dan asap. ii. ketentuan pada butir iii. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.atau Luassan 9a Lantai (kecuali Maksimum 30000 m3 21500 m3 12000 m3 daerah Volume perawatan pasien) i.3. kecuali seperti yang diijinkan pada butir iv. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5.9 5. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. dan ii. agar dapat: i.2 dan butir vi. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. Ukuran Maksimum dari Kompartemen Kebakaran Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi Bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 2 2 Klas 5 atau Maksimum 8000 m 5500 m 3000 m2 9b Luassan Lantai Maksimum 48000 m3 33500 m3 18000 m3 Volume Klas Maksimum 5000 m2 3500 m2 2000 m2 6. iv dan v di bawah tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler.8 lantai) 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C 4.2. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel 2. Batasan umum luas lantai. iii.Tabel 2.

atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. d. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling.2 di atas bila: i. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir v (1) di bawah yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. (2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir butir 5.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2) di atas.Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. ventilasi. iii. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel 2.ii.d. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. sungai.000 m3 dengan sistem sprinkler. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. atau: ii Bangunan dengan luasan melebihi 18. e. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir v (2). tanki air. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir butir v (2). tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. Bagian bangunan. (2) bangunan klas 5 s. 12 . asap dan gas beracun. ii. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.000 m2 atau 108. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. atau peralatan lift. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2). maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. i.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. iv.

h. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. pemisahan oleh dinding tahan api. shaft ventilasi. c. damper. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat 13 . dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. d. f. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir ii). Seluruh bukaan harus dilindungi. (4) di atas maka jalan tersebut dapat berlaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. Pada bangunan klas 2 dan 3. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. 5. dan . Proteksi Bukaan a. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. dan tertutup pada setiap lantai. g. b. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. ii. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa.(3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.d. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi ((1) s. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. Tangga dan lift pada satu shaft. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan.

dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. sambungan pengendali. kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. g. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. 14 . bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel 2. dan ii. iii. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 meter pada dinding yang sama.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai.000 mm2. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. dan iii. Pemisahan bukaan pada kompartemen kebakaran. yang bukan dari klas 10. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. f.dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi.3. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir (2) di atas. e. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. lubang tirai. atau (2) 1. bila luas lubang/ sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. maka tidak boleh menempati lebih dari ⅓ luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir 8) di bawah. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. ii. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators).

(2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Standar Industri Indonesia (SII).3 Jarak Antara Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran yang Berbeda Sudut terhadap Dinding Jarak Minimal Antara Bukaan 0o (dinding-dinding saling 6m berhadapan) Lebih dari 0o s. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. PUIL. a. i. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. ii. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. American Standard For Testing Material (ASTM). V. SNI 03-1745. 90o 4m o o Lebih dari 90 s. dan 15 .d. maka jalan masuk. jendela.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). Sistem hidran kebakaran (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Hidran Kebakaran i. Pintu.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.d. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Sistem Pemadam Kebakaran dalam Bentuk Sistem Plambing dan Alat Pemadam Ringan. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan.d. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. Bila diperlukan proteksi.Tabel 2. 135 3m o o Lebih dari 135 s. Sistem Pemadam Kebakaran harus memenuhi Kepmen PU no. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). 10/KPTS/2000 tentang ketentuan teknis bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. ii. persyaratan dan standarisasi yang berlaku dari National Fire Protection Association (NFPA).d. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. 45o 5m Lebih dari 45o s. dan terdapat regu pemadam kebakaran. 180 2m 180o atau lebih nol h.

tempat pompa harus terpisah dari bangunan. tahan cuaca. dan dengan konstruksi yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. (5) pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang : (a) mempunyai jalur keluar ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pada satuan peruntukan bengunan. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh saluran peruntukan bangunan. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). (b) 2(dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. dan jika dalam jarak m dari bangunan. asalkan ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. di mana: (a) bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor bakar. atau (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. 7. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 2 m. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. 6.(2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai kelas bangunannya. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. atau (b) bangunan kelas 5. atau (b) listrik yang dicatu dari generator darurat. (6) untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari : (a) 2 (dua) pompa. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. 16 .

sehingga setiap rumah dan bangunan dapat dijangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan. Sistem hose reel. Bila hidran kota tidak tersedia. sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan. Untuk hidran bangunan dengan ukuran selang 1½ inci atau kurang. Industri Dan Atau Campuran: Lingkungan tersebut harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tersedia sumber air berupa hidran lingkungan. kecuali pada satu unit hunian. (9). (10). harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Hose Reel i. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. pada bangunan yang dilengkapi dengan hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran di dalam bangunan. panjang selang minimum 30 meter. serta mampu menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit. sesuai dengan standar SNI 03-1745. b. Sistem hose reel harus disediakan : (1) untuk melayani seluruh bangunan. (2) melayani hanya lantai di mana alat ini ditempatkan. satu unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. (11). maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. (a) pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dilayani oleh hose reel tunggal yang 17 . serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. maka harus disediakan hidran halaman. di mana satu atau lebih hidran dalam dipasang. tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. ii. sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. Perdagangan. (8). atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang.(7) bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. yang dipasang dalam bangunan untuk pemadaman kebakaran oleh penghuni bangunan. (12). hidran untuk Lingkungan Perumahan.

ditempatkan: (a) di luar bangunan.0) kg/cm2.ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989.2. (7). (b). 7. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. (10). sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke hose reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. (6) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. (8). atau (d) kombinasi (a). Sistem Sprinkler 18 . sebuah katup yang memenuhi butir ((5). Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . yaitu antara (0. dilayani oleh hose reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat hose reel melayani seluruh unit hunian. (9). Pemakaian air asin tidak diizinkan. (5) Bila dihubungkan dengan meteran air. c. 6. (4) hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) di atas. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar.(d)) di atas harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. dan (b) pada bangunan kelas 5.5 . Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. (3) memiliki selang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian ruap untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). dan (c). (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.

berlaku: 1.000 m3 Bangunan Rumah Sakit Lebih dari 2 (dua) lantai Ruang pertemuan umum. luas lantai melebihi 2.000 m3.000 m3. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku.000 m2 dan volume 108.4. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2. selain ruang parkir Bila menampung lebih dari 40 terbuka.d.i. ii.luas lantai lebih dari 3. Semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.000 m2 dan volume 108. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (Kelas 6) Dalam kompartemen kebakaran dengan salah satu ketentuan berikut. 2.lapangan parkir terbuka tidak termasuk. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. Bangunan dengan resiko bahaya Pada kompartemen dengan salah kebakaran amat satu dari tinggi *) 2 (dua) persyaratan berikut. Ruang Luas panggung dan belakang pertunjukan.volume ruangan lebih dari 21. kendaraan.000 m2. panggung lebih dari 200 m2. Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis Bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua kelas bangunan: Pada bangunan yang tinggi termasuk lapangan parkir efektifnya terbuka dalam lebih dari 14 m atau jumlah bangunan campuran lantai lebih dari 4 lantai.500 m2 2. 19 .000 m3. berlaku: 1. SNI-3989. volume lebih dari 12. Teater. 9 dengan luas maksimum 18. Ruang parkir. Konstruksi Atrium Tiap bangunan ber-atrium Bangunan berukuran besar yang Ukuran kompartemen yang lebih terpisah besar mengikuti: Bangunan Kelas 5 s. b.

tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler.0) kg/cm2. harus: (a) berdiri sendiri. (7) Sistem sprinkler di ruang parkir Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-kelas.(2) Bangunanan bersprinkler. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. (8). maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler di daerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. ruang pertemuan umum atau semacamnya. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku. atau sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak disyaratkan. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan : setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi internal yang disyaratkan. dan klasifikasi bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. (4) Pasokan air.5 . jika : (a) sprinkler terpasang di seluruh bangunan. 20 . Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. dan setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinkler diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan. (3) Katup kontrol sprinkler. yaitu antara (0. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan : sebagian bangunan di pasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler.2. bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. luas bangunan yang disyaratkan menggunakan sprinkler. (6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper) Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater.

(11). dan tangki bertekanan sesuai syarat pada SNI3989. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang di seluruh bangunan.(9). jenis pipa yang sering dipakai pada pekerjaan instalasi hidran dan sprinkler harus sesuai dengan spesifikasi teknis. kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. Penempatan kepala sprinkler : didasarkan pada luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan. Komponen dari sistem sprinkler:Spesifikasi dan standard pipa harus dari jenis: • Pipa baja : • Pipa baja galbani (pipa putih) • Pipa besi tuang dengan flens • Pipa besi tuang dengan mof • Pipa tembaga dengan standar minimum klas menengah (medium). Schedule 40 (Sch 40) menunjukkan standar kemampuan menahan tekanan kerja sampai dengan 30 kg/cm2. Ukuran pipa dan perhitungan hidrolik sesuai dengan SNI3989. sesuai dengan SNI-3989. dan biasanya digunakan pipa baja karbon hitam (black steel pipe) dengan schedule 40. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. (10). e. Pemadam Api Ringan (PAR) i. (14). (12). Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. ii. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu 21 . Pipa Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. Pemakaian air asin tidak diizinkan. PAR memenuhi butir i. tangki gravitasi. (13). Luas lingkup maksimum disesuaikan dengan tingkat bahaya kebakaran. Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali : jaringan kota apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. d. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku.

SNI3985 dan SNI 03-3986-edisi terakhir mengenai Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: bangunan klas 1b bangunan klas 2.dipasang di dalam bangunan atau bagian yang dilayani oleh Hose Reel. 22 . dengan persyaratan khusus bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yangdigunakan sebagai : (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. (d) Detektor gas. 2. dan (2) PAR dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. (2) Detektor yang akan dipakai harus memenuhi spesifikasi teknis pada dokumen kontrak. dipasang pada bagian terdekat di atas kemungkinan timbul kebocoran gas. terdiri dari : fixed temperature detector. meliputi : merk detektor. bila terdapat balok dengan tinggi lebih dari 60 cm. temperature range. Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (SKBI) yang dikeluarkan oleh Departemen PU. (1) Beberapa jenis detektor yang dapat digunakan meliputi : (a) Detektor panas. sedangkan jenis gas lebih ringan dari udara jarak maksimum mendatar adalah 8 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan jarak maksimum dari langit-langit adalah 30 cm. dan bangunan klas 9a. kelembaban relatif. arus listrik (stand-by current). atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. terdiri dari : detektor asap optik. PUIL 2000. harus diperhatikan perbedaan berat gas dengan udara sebagai berikut : untuk jenis gas lebih berat dari udara jarak maksimum mendatar adalah 4 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan tinggi maksimum dari lantai adalah 30 cm. dan detektor asap ionisasi. SK Menteri PU tentang ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. b. (b) Detektor asap. dan sensitivitas. anak-anak atau orang cacat. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. tegangan operasi. khusus untuk pemasangan detektor gas. detektor kombinasi. (c) Detektor nyala api : detektor nyala api ultra violet dan detektor nyala api infra merah. rate-of-rise detector. Petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat detektor dan panel. Spesifikasi Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran i.

dan Sistem Peringatan Bahaya). Kabel harus memenuhi persyaratan PUIL 2000. (8) Tidak mudah terkena gangguan (9) Pada jalur arah lari yang normal ke bangunan (10) Terpasang di setiap lantai pada bangunan bertingkat (11) Setiap titik panggil manual dapat melayani luas maksimal 900 cm2 iv. iii.4 m dari lantai.5 mm2. dipasang dalam konduit PVC tipe “High Impact” dan fire reterdant. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menggunakan dan memasang alarm kebakaran adalah : (1) Bunyi dan irama yang khas hingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran (2) Frekuensi kerja alarm 500 . bila dipecahkan tidak membahayakan (3) Disediakan alat pemukul kaca (4) Berwarna merah (5) Mudah dicapai dan terlihat jelas (6) Dihubungkan dengan kelompok detektor (zone) yang meliputi daerah di mana titik panggil manual tersebut dipasang. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan pada bab 2. ii. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam memasang titik panggil manual (break glass) adalah : (1) Modol tombol tekan (2) Dilengkapi dengan kaca.1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara minimal 65 dB (A) (3) Lebih tinggi minimal 5 ddB (A) tingkat kekerasan suaranya pada ruangan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (4) Di ruang tidur. tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB (A) (5) Sifat irama alarm tidak menimbulkan kepanikan (6) Pada tempat-tempat khusus (misalnya : perawatan orang tuli dan sejenisnya) dipasang alarm visual (7) Terpasang pada lokasi panel kontrol dan panel bantu (8) Dapat menjangkau bagian ruangan dalam bangunan 23 . (7) Dipasang pada lintasan menuju keluar dengan ketinggian 1. Tanda Arah Keluar.(3) Jenis kabel yang lazim dipakai adalah kabel NYM 2 x 1.3 (mengenai Pencahayaan Darurat.4. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan di setiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku.

5 m Jarak Detektor A.. Tabel 2.(9) Dapat digunakan pula sebagai penuntun arah masuk bagi anggota kebakaran dari luar. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi.5 m ≥ 1. Dengan lubang udara masuk AC (supply air diffuser). (2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap.5 Jarak Pemasangan Detektor Detektor Detektor Detektor Panas Asap Gas ≥ 300 mm ≥ 100 mm ≥ 100 mm dari dinding dari dinding dari dinding ≤ 300 mm ≤ 300 mm dari langitdari langit≤ 300 mm langit langit dari langitlangit ≤ 7 m untuk ≤ 12 m untuk ≤ 12 m ruang efektif ruang efektif ≥ 10 m untuk ≤ 18 m untuk sirkulasi ruang sirkulasi ≥ 1. Penempatan Alat Pendeteksi Asap Pemasangan sistem deteksi disesuaikan dengan buku “Panduan Pemasangan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang diterbitkan oleh Departemen PU.5 Lihat gambar 2.6 Lihat gambar <1.3 B. Antar detektor pada langitlangit rata C. (3) ditempatkan kurang dari 1. v. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µ m. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. Dengan dinding dan langit-langit.5 m 900 mm secara 900 mm secara 900 mm secara 24 . dan (4) dipilih tipe foto-elektrik.4 Lihat gambar 2. E. Ket Lihat gambar 2.5% smoke obscuration/m.5 m ≥ 1.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran.5 m <1. (1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara.5 m <1. Dengan lubang udara balik AC (return air grille). Antar detektor Lihat gambar 2. D.

2.7 F. Gambar 2.pada atap bentuk gergaji. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu lintas atau sirkulasi dalam bangunan. horizontal dari puncak atap tertinggi.3. puncak atap dari gambar pada atap puncak 2. catatan : 1. Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktifitas yang sesuai dengan fungsi bangunan.8 bentuk atap pelana. horizontal dari puncak atap tertinggi horizontal dari puncak atap tertinggi 2.4. Jarak detektor pada langit-langit rata 25 . Jarak detektor dengan dinding dan langit-langit Gambar 2. Dari 100 mm dari 900 mm dari 900 mm Lihat puncak atap puncak atap.

Jarak detektor dengan lubang udara masuk AC Gambar 2.6.7.Gambar 2. Pemasangan detektor pada atap bentuk gergaji 26 . Jarak detektor dengan lubang udara balik AC Gambar 2.5.

garasi mobil . transformato r/ diesel 27 .0 ~ 3. Tabel berikut menunjukkan contoh pemilihan jenis detektor yang disesuaikan dengan fungsi ruangan.6 m 91 3.Gambar 2.6 ~ 7. Tabel 2.6 Fakor Pengali Jarak Detektor.2 m 84 4.2 ~ 7. Ketinggian langit.0 ~ 6.2 m 52 7.0 m 100 1.8.4 m 40 8.8 ~ 8.0 m 64 6.Faktor pengali langit (%) 0.6 ~ 4. Jarak detektor = ketinggian langit-langit x faktor pengali.8 m 46 7.6 m 58 6. Peralatan bangunan -Gudang material yang R.R.4 m 71 5. perjamuan .2 ~ 4.4 ~ 9. Pemasangan detektor pada atap pelana Catatan : jarak antara detektor menyesuaikan dengan tinggi langit-langit ruang efektif seperti pada tabel berikut.0 ~ 3.4 ~ 6.7 Contoh Pemilihan Jenis Detektor Sesuai Fungsi Ruangan Fixed RoR & Asap Nyala Api Gas Temperature kombinasi RoR~fixed temperature Dapur .0 m 34 Penempatan detektor harus sesuai dengan fungsi ruangan.8 m 77 4.8 ~ 5.restoran R. Tabel 2.

. resepsionis . yaitu: (a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung..R. 28 . AC . lift .Lobby . tamu . dan (b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.R. PABX . Penempatan detektor pada langit-langit yang terbagi oleh balokbalok vi.Koridor .Gudang mudah . Pemasangan.R. (2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yag berlaku. mesin . Batas Ambang (1) Sistem sampling harus memenuhi ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis.kamar tidur Ruang generator & transformator Laboratorium kimia .ruang sidang .R.R.R.Studio televisi R. pompa .Aula .Tangga .Shaft Perpustakaa n .Ruang yang terbakar berisi bahan Ruang yang mudah kontrol menimbulka instalasi n gas yang peralata mudah n vital terbakar Gambar 2.9.

iii. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran : (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v (Bangunan Terminal : stasiun kereta. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. ruang tanaman atau sejenisnya. dan sejenisnya) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan.8. Persyaratan umum i. ii. dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. bangunan klas 1 (bangunan hunian biasa) atau 10 (bangunan / struktur yang bukan hunian). pelabuhan laut) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. dan iii. rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakuasi/penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/jalan keluar. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2.. dan tidak 29 . sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka b.5. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia.10 m di atas level lantai. halte bus. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi (Bangunan Penyimpanan : gudang. termasuk di dalam satuan rumah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. pada saat terjadi kebakaran. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia.. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. dan ii. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel 2. terminal udara. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.3. gedung tempat parkir. ramp. ruang kompartemen sanitasi. Pengendalian Asap Kebakaran a. untuk selama tengang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengndalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada table 2. iv. atau ketentuan pada butir b. atau ketentuan pada butir b. terminal bus.

asap di antara kompartemen Untuk keperluan ketentuan ini.mensirkulasikan kebakaran. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. 30 .

Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir VI. atau c. setiap lantai di atas tinggi efektif 25m. Bila panjang koridor umum > 40 m. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomatis. 8. dan 4 1. Kelas 5. atau b. 8. 3. 2. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. atrium. KETENTUAN UMUM KELAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk : 1. 8.3 BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF > 25 M Kelas 2. maka: a.Tabel 2. 3. harus dibagi dengan interval < 40 m dengan konstruksi sesuai ketentuan V. Persyaratan Pengendalian Asap Kebakaran 1. 7 (bukan tempat parkir terbuka). BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Kelas 2. Kelas 5. 6. atau 2.1. bangunan kelas 9a yang lebih dari 2 lantai.3. atau b.8. kecuali bahan pelapis dari bahan yang tidak mudah terbakar. dan 4 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. lebih dari 2 lantai di bawah tanah. parkir) Kelas 9a 1. Jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka. dan 8b. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. 7 (bukan tempat parkir terbuka). 6. dan 2. dan 9b Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap (selain ruang / tempat terzona sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. dan 2. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. harus dilengkapi dengan : 1. dan 2. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. atau 9b. atau d. Sistem presurisasi otomatis. Sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 7. 6. Harus dilengkapi dengan alarm dan deteksi asap otomatis. harus dilengkapi dengan: 31 .

maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. termasuk jalan penghubung dan rampnya. Kelas 5. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. harus dipasang: 1. Bila > 2 lapis di bawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis 4. 8. Bila bangunan > 2 lantai. atau b.a. Sistem sesuai butir 2. Sistem detektor dan alarm asap. sistem alarm dan deteksi asap otomatis.i. 8. 7. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. harus dipasang: a. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis iii. Sistem sprinkler b. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 7. atau 2. 6. 32 . 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau 3. 3. atau 2. Kelas 5 atau 9b (sekolah) b. atau b. Sistem sprinkler Kelas 9a 1. atau 3. Sistem pengendali asap terzona. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Sistem sprinkler BASEMENT (selain ruang 1. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. atau 2. Kelas 6. dan 2. bila bangunan mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. Sistem presurisasi udara otomatis. bila basement mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. 6. maka : a. Sistem pengendali asap terzona. 8. atau ii. 8. atau 9b (selain sekolah). atau ii. Basement dengan luas > 2000 m2.b. Sistem pengendali asap terzona. atau 9b. Kelas 6. sistem sprinkler 3. Kelas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > parkir) 3 lantai. di atas harus dipasang. 7. dan 9b Pada bangunan : (selain ruang / tempat 1. harus / tempat parkir) dilengkapi dengan: a.

dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. atau ii. Bangunan 1 lantai. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. sistem peringatan kondisi darurat. Bangunan 2 lantai atau kurang. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. dipasang sistem sprinkler 2. toko dengan luas > 1000 m2 Kebakaran > 2000 m2. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen kebakaran Ruang / tempat parkir. dan 2. fungsi khusus bangunan c. dan terdapat selasar toko (selain pada ketentuan 3) yang tidak terlindung melayani > 1 membuka ke arah selasar terlindung. Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. Sistem pembuangan asap otomatis. Luas bangunan < 2000 m2. dan b. Kelas 6. KETENTUAN KHUSUS KELAS / BAGIAN PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN BANGUNAN Kelas 6. dipasang lubanglubang centilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. atau digunakan dalam bangunan d. sistem inter komunikasi darurat. termasuk ruang parkir bawah tanah. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3500 m2. karakter khusus bangunan b. harus dilengkapi Tidak terdapat selasar dengan : terlindung melayani > 1 a. atau toko b. harus 33 . Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api. ditetapkan pada butir 2. dipajang. Bila bangunan 1 lantai. yang membuka ke arah selasar terlindung. Bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Selasar terlindung. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan : a. atau c. Kompartemen 1. kecuali yang 2 Kebakaran > 2000 m . dan: i. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat kelas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/ penggunaa yang banyak. Setiap kompartemen mebakaran. Kompartemen 1. yang dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanis sesuai ketetentuan: 1. sistem deteksi dan alarm kebakaran.Ruang / tempat parkir Atrium 2. bila: a. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikut iketentuan 1.

di atas. atau lubang-lubang ventialsi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Sistem pembuangan asap otomatis. dan b. atau ii. harus dilengkapi dengan: a. 2. 3. bila bangunan 1 lantai.a. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen tidak harus mengikuti ketentuan 1. atau ii. dengan luas > 200 m2.toko Kelas 9b. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. 4. Bila luas bangunan > 3500 m2. harus dilengkapi dengan: i. Pada bangunan sekolah. 1. Bukan pada bangunan sekolah. atau iii. dan c. gereja. Bila bangunan 1 lantai. harus dilengkapi dengan: a. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. Sistem pembuang asap otomatis. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau sistem sprinkler. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. atau b. dan b. Bangunan klab malam. Sistem pembuang asap otomatis. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Bangunan theater atau tempat pertemuan / hall umum: a. diskotek. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3500 m2 dan bangunan 2 lantai atau kurang. dan b. bila bangunan 1 lantai. bila bangunan 1 lantai. termasuk theater kuliah dan komplek 34 . Sistem pembangunan asap otomatis. dan sejenisnya. luas lantai < 2000 m2. dipasang sistem sprinkler dan: i. gereja. dipasang sistem sprinkler. Bangunan pameran. 3. i. Sistem sprinkler. Bangunan Pertemuan dilengkapi dengan: a. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. atau b. Idem 1. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau ii. bila: a. Sistem pembuang asap otomatis. dengan luas > 300 m2. Bila luas bangunan 2000 ~ 3500 m2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. atau 2.

atau iii. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. 35 . Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap kelas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku.b. sifat penggunaan bangunan. Untuk sistem pengatur udara lainnya. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seeprti butir 4. kolam renang dan sejenisnya) selain dari gedung olah raga (indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1000. ruang senam. Persyaratan Untuk Bahaya Khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: tata letak bangunan. Bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. b. dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. ii. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. 6. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. dan b. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan.8 pada lampiran persyaratan kerja teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. Gereja. Sistem pembuang asap otomatis.auditorium: a. atau sistem sprinkler. d. v. Kompleks olahraga (termask hall olah raga. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a di atas adalah: i. ii. Bangunan pertemuan lainnya (di luar butir 3 dan 4 di atas): a. c. di atas. Masjid. vi. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel 2. i. atau ii. iii. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memnuhi ketentuan standar yang berlaku. bila bangunan 1 lantai. Selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2000 m2: i.

ventilasi dan lubang perawatan lainnya. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. untuk jendela.1. ii. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari 2 (dua) arah: arah pintu masuk di depan bangunan. Ukuran dan Sarana 36 . e. dilengkapi sarana alat pengendali. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaaan pada bab 2. c. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya ruang pengendali. Proteksi Pada Bukaan. ventilasi. Pintu Keluar i. Konstruksi Ruang Pusat Pengendali Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut ii. pembungkus atau sejenisnya. tidak digunakan bagi keperluan lain. seperti pada lantai. iv. pinu. alngit-langit dan dinding dalam. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. peralatan utilitas. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokokhan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. ii.2. di mana: i. saluran udara. iii. bahan lapis dan penutup. meubel. dan sejenisnya. harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. Pusat Pengendali Kebakaran a. iii. bukaan pada dinding. saluran. pipa. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yangt dilindungi terhadap api. panel kontrol. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30.1) 4. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bgi penghuni bangunan b. tidak boleh lewat ruang tersebut. (Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran –Sistem Proteksi Pasif –Proteksi Bukaan) d. sebuah ruang untuk pengendali dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penangangan kondisi darurat lainnya. konstruksi penutunya dari beton. telepon.

iii. dan: (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. dan (2) sistem keamanan bangunan. (3) jika dipasang peralatan tambahan. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas dan catu daya listrik. 37 . (4) mempunyai kipas. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara per-jamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. f.i. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangungan.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) di atas. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. Ventilasi dan pemasok daya. sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. genset darurat. sistem pengamatan. panel indikator lift. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. Sebagai tambahan. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (2) telepon sambungan langsung. ii. ii. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. (3) sebuah papan tulis dan sebuah papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1) Panel indikator kebakaran. kipas pengendali asap. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5).50 m2. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali.50 m. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m2 dari luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. saklear kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang 1. dan sistem manajemen. (2) jika hanya menampung peralatan minimum.

Tes head sprinkler secara acak (sample) pada satu atau beberapa titik head sprinkler dengan cara memanasi hingga i. Pemeriksaan Pemeriksaan sistem pemadam kebakaran bertujuan untuk memastikan instalasi dan pemasangan telah dilakukan dengan benar. Pilar hidran. iii. (2) Posisi sesuai dengan gambar kerja. (6) Kelengkapan kartu periksa berkala. 38 . i. iv. Siamese connection. Beberapa peralatan seperti motor bakar. PAR (Fire Extinguisher) (1) Jumlah PAR. (4) Jenis PAR sesuai kegunaan ruangan. (3) Pemasangan sesuai syarat yang ada. pompa pengendali sprinkler. material yang dipakai serta instalasi pemasangan sesuai dengan standar peraturan dan syarat-syarat yang berlaku. Head sprinkler telah dipasang dengan jumlah sesuai pada gambar kerja. ii. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Pemeriksaan. Beberapa hal yang harus diperiksa meliputi: Bahan dan material yang datang (check material on site). dan tingkat iluminasi di atas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. (5) Segel PAR. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketuka kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dBA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan di dalam bangunan. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat dicapai dari ruang pengendali tersebut. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan bantuannya. Tes tekan parsial instalasi pipa sprinkler dan hidran sebesar 2 x tekanan kerja atau sesuai spesifikasi. g. 5. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Pemadam Kebakaran a. Instalasi pipa sprinkler dan hidran. h. ii. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. Pengujian Pengujian terdiri dari . vii. Pemeriksaan terdiri dari urutan dan metode pelaksanaan. viii. vi. i. Kotak hidran dan perlengkapannya. b.(5) mempunyai catu daya lisatrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. iii. Hasil pemeriksaan dicatat pada daftar simak (check list) terlampir. Flow switch dengan membuka drain valve alarm kebakaran pada MCPFA lokal alarm harus aktif. v.

iv. 6. Tes tahanan isolasi kabel (megger test) menggunakan mega ohmeter atau megger. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. Tes hubung (loop test) menggunakan multi tester. v. (5) Buku catatan untuk mencatat kejadian atau kerusakan pada sistem. Ketentuan lain yang harus diperiksa adalah : (1) Gambar pemasangan sistem (shop drawing) (2) Petunjuk cara kerja dan pelayanan sistem. Tegangan catu daya cadangan (emergency power supply) harus secara otomatis mengambil pencatuan daya untuk sistem bila sumber catu daya utama padam. Pompa-pompa kebakaran : dilakukan pengujian terhadap karakteristik dan penampilan pada masing-masing pompa. Metoda kerja. ii. Pemeriksaan. 39 .mencapai temperatur pecah. Pengujian i. (6) Pelatihan/training untuk calon operator. v. Penggunaan bahan. Pelaksanaan pemasangan instalasi. besar tahanan harus ≥ 1 MΩ. vi. iii. Setelah pengujian dilakukan dan instalasi/ sistem dapat berfungsi dengan baik. Tujuan test ini adalah untuk mengukur tahanan isolasi kabel yang digunakan. Bila head sprinkler pecah alram kebakaran harus aktif. Hose reel dan nozzle pada kotak hidran : dilakukan pengujian terhadap kelancaran aliran air. Hasil pengukuran harus melebihi atau sama dengan standar yang telah ditentukan. maka pemeriksaan dan pengujian selanjutnya harus dilakukan bersama pihak instansi pemerintah setempat untuk mendapatkan Izin Penggunaan Bangunan dari pemerintah setempat. dan tekanan air harus memenuhi persyaratan. ii. Pemeriksaan i. Besarnya tekanan air yang keluar harus memenuhi persyaratan. iii. (4) Buku normal dari masing-masing komponen. iv. b. Berdasarkan buku “Pedoman Pemasangan Sistem Deteksi Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang dikeluarkan oleh Departemen PU. Tujuan pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa pada isntalasi kabel yang telah dikerjakan tidak terdapat hubung singkat (short circuir) yang disebabkan kabel cacat atau terkupas dari isolasinya. dll. (3) Petunjuk pemeliharaan sistem. Hasil pengujian juga dicatat pada daftar simak. Detektor-detektor yang bekerja harus diikuti dengan indikasi pada MCFPA. Pengujian fasilitas untuk memantau sistem komunikasi dan komponen serta lampu-lampu tanda pada MCFPA.

40 .

Akses ke dan dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. Butir 3) tersebut di atas tidak beriaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. Fungsi a. Fungsi tersebut pada butir 2) di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar. b. b. Butir 3) tersebut tidak berlaku juga untuk : i. dan memadai bagi semua orang. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. injakan dan akhiran injakan tangga. iii. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai/atap. d. iv. ii. harus dibuatkan penghalang yang : i menerus sepanjang area yang berbahaya. iii. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1 m atau lebih dari lantai/atap/ melalui bukaan pada dinding luar bangunan. kecuali tangga/ ramp di luar bangunan. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. c. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1.VI. (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. nyaman. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelematkan diri dengan aman tanpa merasakan keadaan darurat. dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. tangga/ ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ ramp. c. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. nyaman dan memadai. maka bangunan harus mempunyai antara lain : i. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. 41 . ii. aman. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan. e. mampu menjaga lintasan anak-anak. (3) Lantai hordes yang memadai untuk menghindari keletihan. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. Persyaratan kinerja : a.3 atau 4. 2.

Intervensi pasukan pemadam kebakaran h. tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. lantai. kecuali : i. 42 . Basement : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. Jumlah.5 m. c. f. Tinggi bangunan g. Kebutuhan Jalan Keluar a. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. KETENTUAN JALAN KELUAR 1. 2. Bangunan klas 2 s. Tangga. mobilitas dan karakter penghuni. atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. Bangunan klas 9 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada : i. ramp. Tangga. b. Jarak tempuh ii. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. c. mobilitas dan karakter lain dari penghuni ii. Fungsi bangunan iv. disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. ii. dimensi jalur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan : i. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan. balkon. VI. dan ii. 3 dan 4. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. 8 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebin dari 25 m. balustrade atau penghalang lainnya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh.2. Persyaratan Keamanan a. Fungsi bangunan iv. Butir h. Jumlah. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Jumlah. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. b.bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. iii. d. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. Fungsi bangunan iii. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan : i.d. sesuai dengan : i.

biia bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. f. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. ii. v. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke : i. Panggung terbuka : Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. 3. ii. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. atau ii. c. Bangunan klas 2 dan 3 i. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. selain area perawatan pasien. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. 1 jalan keluar. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. g. pada bangunan klas 9a : tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. iv. 4. iii. atau b. masing-masing merupakan bagian jalur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. e. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. sedikitnya 2 jalan keluar. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Bangunan klas 2 dan 3 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. Pintu masuk dan setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari : (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. Area perawatan pasien : Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. iii.setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: a.d. Bangunan klas 5 s. Jarak jalur menuju pintu keluar a. 43 .

e. b. f. Panggung Terbuka : jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbukua harus tidak lebih dari 60 m. Bangunan klas 9a : Area perawatan paien pada bangunan klas 9a.ii. 60 m. Pada bangunan klas 5 atau 6. untuk bangunan lainnya. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. berjarak tidak lebih dari : 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. Bangunan klas 5 s. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus : a. lobby. d. c. i. f dan : i. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. Gedung Pertemuan : Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. 5. e. c. Bagian bangunan klas 4 : Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. ramp. jarak ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih dari 20 m dari pintu keluar. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. b. berjarak tidak kurang dari 9 m. atau ii. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. Jarak meksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. ii. 45 m pada bangunan klas 9a. Dimensi/ukuran Pintu Keluar Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar : 44 . harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia.d. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. 6. bila : i. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 intu keluar tersedia. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. konstruksi ruang tersebut bebas asap. dan ii. 9 : Terkena aturan butir d. atau iii. dan ii. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. atau ruang sikulasi lainnya. memiiki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya tertindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. tersebut merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. d. i.

Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi : i. 750 mm. lebar bebas. ii. e. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. iii. ruang transisi atau yang sejenisnya. ii. (3) pintu keluar horisontal : 1250 mm. lebar pintu keluar: i. hall atau yang sejenisnya. pada kasus lain. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. i.2 m : 1200 mm. tinggi bebas seluruhnya harus tidak'kurang dari 2 m. atau 5) minus 250 mm.8 m . 7. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : i. jika membuka ke arah koridor dengan: (1) lebar koridor antara 1. 4). iv. (2) lebar koridor lebih dari 2.8 m pada lorong.8 m pada lorong. a. Lebar bebas. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir 2). c. d.2. lebar bebas. lebar bebas. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. g. Jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. atau ii. b. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. 1. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung.2 m : 1070 mm. lobby umum. komponen sanitasi. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. 1. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. b. atau ii. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. kecuali kalau pintu tersebut dari : i. atau ii. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. 3). atau melewati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut : 45 . 1m. lorong. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran.a. f. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. koridor. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. pada area perawatan pasien.

Pada bangunan klas 2. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka ke area tertutup yang : (a) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. diukur tegak lurus ke jalur lintasan.i. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus memputivai jelan lintasan menerus. Tangga/ramp. membuka ke pintu keluar yang di'solasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud : i. termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. (c) mempunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. dengan injakan dan tanjakan tangga dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan. Jika lebih dari dua akses pintu. 3 atau 4. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. dan memenuhi ketentuan teknis yang beriaku. Lintasan Melalui Tangga/ Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. ii bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. ke tempat: (1) ruang atau lantai.5 Kepmen 441/98 d. 9. (2) lintasan tanpa rintangan. b. yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan. ii. tidak lebih dari 20 m. jarak antara pintu ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melampaui : 46 . 8. (d) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dari 6 m. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang beriaku. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. TKA sedikitnya 60/60/60.I. ke jalan atau ruang terbuka. lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. e. Bagian dinding tersebut harus mempunyai : i.3 harus tersedia. menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. atau ii. c. parkir kendaraan atau sejenisnya.2. Bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. (b) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut.

bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran dalam bangunan. Jika pintu keluar yang disyaratkan menujju ke ruang terbuka. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar. bila arah tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.d 8 atau 9b. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. atau mana yang lebih lebar. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terietak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya.4.d. Pada bangunan kafs 5 s. Pada bangunan klas 2 atau 3. e. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. Pada bangunan klas 2. Pada bangunan klas 5 s. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju kejalan atau ruang terbuka atau ii. 47 . 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. tangga/ ramp ysng tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari i. 3 atau 9a. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka . tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. b. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat ketuar menuju ke jalan atau ruang terbuka melaiui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. dan bila periu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. 30 m dari salab satu dari dua pintu atau lorong keluar. atau ii.2. 10. 20 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau ii. 9. ii kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah f. atau tidak setinggi 1:14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab Vl. Pintu keluar harus tidak terhalang. bebas asap. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i. c.i. jalur lintasan menuju ke jalan hams : i. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. ii. c. menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. d. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dari 1 m.

dan satu dari lapis lantai tersebut terietak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. 48 . iii.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. iv. c. d. di luar bangunan. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. Pintu Keluar Horisontal a. ii. 11. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini. pada area parkir kendaraan atau atrium. 2 lantai.d. dan eskalator. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dari 500 orang. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila : i. b. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita. Ramp Atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. 0. atau ii.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a.C. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. c. Kasus selain butir b di atas. ramp atau eskalator tersebut pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. ii. Pada bangunan klas 9a.2. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. e. bangunan SD atau SLTP. 12. 3 lantai. b. Tangga. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. antara unit hunian tunggal. Pada bangunan klas 9b.1. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantsi yang dipisahkan oleh dinding tahan api. dan ii. dengan tidak kurang dari : i. 2. tidak harus menghubungkan lebih dari : i.

hall. 8 atau 9. kecuali bila diijinkan sesuai butir ii) atau iii) di atas. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. atau b. bila: i. lift. 13.2 sesuai jenis penghunian. koridor. eskalator. motor lif mempunyai luasan i. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. dan ii. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. service duct dan yang sejenis. 7. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. b. 6. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. atau c. 14. ii. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. tangga. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. iii. tidak lebih dari 100 m2. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. Peralatan dan Ruang Motor Lift Ruang a.d. ramp. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. 49 . tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. ii. lobby dan yang sejenis. dan luas lantai dengan: a. Bila ruang peralatan atau ruang. tata letak lantai tersebut.

café.ventilasi. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4.r. prosesing . hostel. kerja. laboratorium. SLTP Pertokoan. r. museum Bar.mall.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan m2/or Jenis Penggunaan ang Galeri seni. guesthouse Stadion indoor area Kios Dapur. bila terjadi kerusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api.Tabel VI.3 4 1 2 15 25 10 1 0. . level lainnya r.r. tunggu r. 3. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. listrik. baca. workshop .Proses manufaktur pabrik m2/or ang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 3 5 5 0. r. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. b. ruang pamer. 2. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. penjualan: Level langsung dari luar. manufaktur.r penyimpanan VI.staf pemeliharaan . peragaan. elktrikal.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. arcade Panggung penonton: daerah panggung kursi penonton R.5 1 4 2 30 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. dari material tidak mudah terbakar. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . motel. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 50 . pamer : r.3 1 30 1.boiler/sumbe tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : . kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD . r. tempat cuci Perpustakaan : . dll . gereja. penyimpanan .

Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. atau dengan konstruksi: a. 5. b.2. mempunyai TKA minimal 60/60/-. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. di setiap bukaan dari area hunian. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. c. 7. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. harus tidak ada hubungan langsung antara i.7 harus: a. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. b. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. maka harus: a. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon 6. baja dengan tebal minimal 6 mm c. di mana: i. mempunyai luas minimal 6 m2.setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. ii. d. beton bertulang atau beton prestressed. iii .Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam 51 . terbentang antar balok lantai. dan ii. kayu: i. b. atau ke bagian bawah langitlangit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. dan: a.

lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. iii. dan sejenisnya. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m.pedoman ini. gang. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. atau koridor. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. b. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. Ramp Pejalan Kaki a. 8. 10. ii. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. lebar bebas halangan. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Lebar Tangga a. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. kecuali untuk list langit-langit. gang. kecuali: i. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. seperti pegangan rambat (handrail). Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. lebar dan tinggi 52 . dan (3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. panel atau saluran distribusi. i. tidak harus disediakan dari tangga. lobby. bila peralatan dimaksud terdiri atas: (1) meter listrik. (2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. bila konstruksi yang menutup ramp. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis 9. b. iv. bebas halangan. bagian dari balustrade. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang disyaratkan. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. b. koridor.

b. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. tanjakan. Bordes a.ii. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. ii. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan.langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. 12. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. dan jumlah sesuai standar teknis. 15. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. Ambang Pintu 53 . b. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. injakan dan tanjakan konstan. d. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. b. c. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. atap tersebut harus a. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar.6 m dan panjangnya minimal 2. 1:8 untuk kasus lainnya c. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. 11. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. e. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. ii. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. 14. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a.4 iii. Bangunan klas 9a: i.7 m. b. 13. f. Meskipun dengan ketentuan butir a. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. di mana: i. b. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. ii. injakan. lebar minimal bordes 1.

mbang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. tangga. bila dibuat sesuai i. g. dan ii. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. b. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Balustrade. intu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka.ii. lantai. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. kecuali sekeliling panggung. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. ii. 54 . Balustrade a .ii. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. Balustrade pada: i. tangga. lantai. d. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. c. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. atap. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. f. bila: i. koridor. mesanin dan sejenisnya. balkon dan sejenisnya. e.i. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. koridor. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. Balustrade sesuai ketentuan butir e.Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. tangga atau balkon luar ii. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. 16. Bila menggunakan jeruji. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. asus lainnya i. iii. Tinggi balustrade: i. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. ramp. balkon. ii.i. kecuali tangga/ramp luar bangunan. lorong. balkon dan sejenisnya. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. tidak dibatasi dengan dinding. uang perawatan pasien bangunan klas 9a. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. b.iii dan g.

bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. harus dapat dibuka secara manual.17. kecuali: i. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. bukan pintu gulung. lorong atau ramp. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. i. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii. c. Pintu Ayun a. ii. 7. Ayunan harus searah akses keluar. melayani kompartemen saniter. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. 55 . ii. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. dibuat menerus 18. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. Bila terbuka sempurna. 20. termasuk bordes. c. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. bukan pintu berputar b. membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. bukan pintu sorong. Pegangan Rambat Pada Tangga a. b. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan c. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. dan harus: i. b. pintu dapat dibuka secara manual. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. 19. alarm kebakaran dan lainnya. kecuali: i. d.

iii. bangunan klas 9a b.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. 6. dengan tangan. 21. b. b. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. 56 . 7. kecuali bangunan sekolah. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. termasuk penyandang cacat. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. dan i. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. ii.2 m dari lantai.dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. hanya melayani: i. ii. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. Rambu. d. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. atau 8. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. VI. 3. tersedia sistem komunikasi internal. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Rambu Pada Pintu a. khususnya oleh pemilik. c. pada bangunan klas 9b. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. atau bagian klas 4.9 1. kecuali bila: a. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. 22. ii. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu.

2. 57 . Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

Pada bangunan-bangunan tidak bertingkat tetapi mempunyai perbedaan ketinggian lantai b. c.a. Penyediaan ramp pada bangunan-bangunan dan pelataran parkir menuju bangunan lain atau pedestrian . Penyediaan ramp pada jalan-jalan pejalan kaki dan dari pedestrian ke dalam bangunan.

Lift kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh Petugas Kebakaran.1 LIFT Persyaratan-persyaratan mengenai elevator (lift) harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk Pesawat Angkat Elevator. 2. e. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Kapasitas angkut lift barang yang diizinkan. e. Jumlah dan kapasitas lift harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. c. b. d. Untuk mengubah fungsi lift penumpang atau lift barang menjadi lift kebakaran. Kapasitas angkut lift penumpang yang diizinkan. harus menjadi kapasitas angkut dari lift yang dimaksud. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. Sumber daya listrik untuk lift kebakaran harus direncanakan dari dua sumber yang berbeda. Lift Kebakaran Persyaratan-persyaratan mengenai lift kebakaran harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran (DPK) tentang elevator (lift) untuk pelayanan kebakaran gedung. Peringatan Terhadap Pengurus Lift Pada Saat Terjadi kebakaran . harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. 1. c. d. a. Lift kebakaran. a. Pintu shaft lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan/ peraturan yang berlaku di Indonesia. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. 3. g. Kapasitas Lift Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. b. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (fire switch) terlebih dahulu. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Waktu tunggu lift. f. dapat berupa lift penumpang biasa atau lift barang yang dapat diatur. dan menggunakan kabel tahan api. Kecepatan dan ukuran sangkar lift kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku.VII. Persyaratan teknis dari lift yang digunakan sebagai lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

iii. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai dasar. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. Lift Untuk Rumah Sakit a. atau Gambar 2. Lift yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. huruf yang diukir atau ditatah langsung di permukaan bahan dinding. b.a.lift kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Satu atau beberapa lift harus dipasang sebagai lift pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan “ramp”.10 dan terdiri dari: i. huruf yang diukir. harus: i. telepon. Lift pasien yang dibutuhkan pada butir a. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar 2. berukuran cukup untuk meletakknya fasilitas kereta dorong (wheel stretcher) secara horisontal. Ditatah atau huruf timbul pada logam. mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 kg. atau ii. berupa bel listrik. kecuali ii. ii. misalnya: bangunan kelas 9a. Tanda peringatan harus dipasang di tempat yang mudah terbaca: i. 4. . dekat setiap tombol panggil untuk lift penumpang atau kelompok dari lift pada bangunan. bila diperlukan. dan dipasang tetap di dinding.10 Tanda Peringatan Lift Penumpang b. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung di tempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. 5. dan iii. kayu. plastik atau sejenisnya. Sangkar Lift Sangkar pada setiap lift harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar.

Jika mesin lift dan tali ditempatkan di lantai bawah. Dalam shaft lift dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lift. Pondasi harus menyangga berat mesin. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. c. iii. Balok diperhitungkan pada saat bandul mekanis (governor) bekerja. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. Bangunan ruang mesin lift harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Pengujian dan Pemeliharaan . pondasi untuk mesin. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Mesin Lift dan Ruang Mesin Llift a. b. b. iv. Semua bagian logam dari lift pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. b. d. Pemeriksaan. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah sejajar. lantai. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah semua gaya. atau di samping ruang luncur di lantai bawah. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Saf Lift a. Instalasi Listrik a. governor dan peralatan lain. dan penyangga di ruang mesin harus direncanakan dengan memenuhi: i. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap ruang mesin lift. 8.6. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Instalasi listrik untuk lift harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih atau sakelar otomatis. termasuk lantai ruang mesin. 9. peralatan lain dan lantai di atasnya. tromol tali. ii. ii. Balok. Untuk shaft lift yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. tromol. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lift. c. motor generator. iii. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban di bawah ini: i. panel kontrol. dengan beban sangkar lift. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). 7.

2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan pemeliharaan instalasi lift sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 032190-1991.a. b. . Instalasi lift yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. Prosedur pemeriksaan. salah satunya adalah ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk sistem penggunaan Eskalator (moving stair). pengujian. VII. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang.

e. b. mudah dibaca.1 SISTEM LAMPU DARURAT i. hall. ke ruang terbuka. d. atau iii. b.2 TANDA ARAH KELUAR 1. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. c. yaitu pada: i. jika mengngunakan sistem terpusat. atau iv. TANDA ARAH KELUAR. harus: a. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi dari kerusakan karena api dengan konstruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien. atau ii. 2. koridor. setiap lorong. pencahayaan darurat digunakan pada tanda “KELUAR”. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 dan kurang dari 300 m2 yang tidak terbuka: ke koridor. ii. Jelas. ke ruang yang mempunyai lampu darurat. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. 3. bangunan kelas 2 atau 3. . mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup.VIII. ke jalan raya. atau sejenisnya yang digunakan pasien. mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. Setiap lampu darurat harus: a. diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. bangunan kelas 9a. Sistem lampu darurat dipasang pada: a. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 300 m2 c. jalan lintas b. VIII. Setiap tanda “KELUAR” yang dibutuhkan. PENCAHAYAAN DARURAT. c. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. bekerja secara otomatis. 1. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.

sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannyua untuk meminimalkan kepanikan sesuai tipe dan kondisi pasien. atau ramp yang digunakan untuk keluar. di daerah bangsal perawatan. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari 3. kecuali bila sistemnya: langsung memberikan peringatan pada petugas. tangga yang tertutup. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju jalan raya atau ruang terbuka. dan d. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. atau ii. ii. atau sejenisnya. lorong. jalan keluar di balkon yang menuju keluar. dan: c. 2. Tanda Arah Keluar. 4. akomodasi untuk orang tua anak-anak. sistem alarm harus diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma.2. 5. Bangunan kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2: i. lobi. ii. ii. Bangunan kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari 2 lapis dan dipakai untuk: bagian rumah dari sekolah. 3. atau orang cacat. b. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m. dan Sistem Peringatan Bahaya. i. Jalan keluar horisontal. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. hall umum. 3. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai ke: i. Pintu dari tangga tertutup. . yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. Tanda “KELUAR” harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petudas. maka tanda keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. untuk sekolah. VIII. lorong atau ramp yang digunakan untuk keluar. hall. untuk gedung pertunjukan. Bangunan kelas 9b: i. Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan “KELUAR” pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai bab Pencahayaan Darurat. lorong. iii. tangga luar. ii. dan harus dipasang di atas atau di dekat setiap: a. Jika tanda “KELUAR” tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan.

.

Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. c. lingkungan. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. PENANGKAL PETIR. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. bagian bangunan dan instalasi lainnya. dengan frekuensi 50 Hertz. papan hubung bagi dan isinya. . DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. 3 fasa. tidak membahayakan. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. e. transformator dan peralatan lainnya. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya.IX. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. atau N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti. Biasanya kabel yang digunakan di sini adalah N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti (3 core). INSTALASI LISTRIK. dipelihara. ukuran dan kemampuan. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. dengan frekuensi 50 Hertz. Atau antara PTM dengan trafo. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik arus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketentuan: a. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. di antaranya penghantar. dan busduct dari berbagai tipe. jaringan distiribusi. dapat menggunakan ketentuan/standar dari negara lain atau badan internasional. Jaringan Distribusi Listrik a. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. d. papan hubung bagi dan beban listrik. mengganggu dan merugikan bagi manusia. Semua peralatan listrik. biasanya kabel yang digunakan adalah N2XSY – 12/20 kV inti tunggal x 3. b. i.1 INSTALASI LISTRIK 1. Kabel tegangan menengah digunakan pada bangunan tinggi. Kabel Tegangan Menengah Kabel dapat dipasang dengan 2 cara : ditanam atau tidak ditanam (di udara). seperti antara gardu PLN dengan Panel Tegangan Menengah (PTM).

i. Pentanahan/pembumian Pembumian dibagi dua. PUIL 2000) iii. (1) Pembumian sistem Pembumian sistem dibagi dua. harus dilengkapi dengan pengaman terhadap tusukan.6/1 kV) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan dengan tanah. Untuk pemasangan stop kontak di bawah.3. Papan hubung bagi dan alat ukur listrik diletakkan di dinding bagian depan rumah/bangunan yang aman terhadap air hujan atau diletakkan di halaman rumah dengan diberi pelindung terhadap hujan. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. . ii. (4) Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna. b. c. lift kebakaran. (Tabel : 313-1. pembumian sistem dan pembumian bodi. Tegangan menengah menggunakan Neutral Grounding Resistor (NGR) yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. Tegangan rendah menggunakan sistem solid ground (pembumian langsung) 2) Pembumian bodi. Ketentuan penghantar pengaman dapat dilihat pada PUIL 2000 (Tabel 312-1) iv. Jaringan yang melayani beban penting seperti pompa kebakaran. Pembumian dilakukan pada bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik.6/1 kV) mulai digunakan dari trafo ke PUTR dan seterusnya hingga ke setiap titik beban. sistem komunikasi darurat. sistem deteksi dan alarm kebakaran. lambang atau huruf seperti yang terdapat dalam tabel 2. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. (2) Kabel Tegangan Rendah (NYFGbY – 0. tombol. peralatan pengendali asap. sakelar.4. (3) Kabel Tegangan Rendah (NYM – 500 V) hanya digunakan untuk instalasi penerangan saja. pengecualian hanya diperbolehkan sesuai tabel 2. tegangan menengah dan tegangan rendah. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api (fire-ressistant cable). (Tabel : 701-1. Kabel Tegangan Rendah (1) Kabel Tegangan Rendah (NYY – 0. dan stop kontak diletakkan di tempat yang aman (daerah yang tidak lembab/kering) dan aman dari jangkauan anak-anak.ii. PUIL 2000) (5) Ketentuan Kapasitas Hantar Arus (KHA) penghantar fasanya. alat ukur. Tombol. NGR diposisikan di titik netral transformator.

3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang, faktor kebersamaan (coincidence factor) atau faktor ketidakbersamaan (diversity factor). 4. Sumber Daya listrik a. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak memungkinkan, dengan izin instansi yang bersangkutan, sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri, yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau normalisasi dari peraturan yang berlaku, di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pada umumnya lingkup pekerjaan instalasi pembangkit sendiri (genset) meliputi : pemasangan genset pada pondasi; pemasangan instalasi saluran pembuangan udara radiator (exhaust duct radiator); pemasangan peredam suara (sound attenuator); instalasi pipa bahan bakar minyak solar; pemasangan tangki bulanan (storage tank) dan tangki harian (daily tank); pemasangan pompa bahan bakar; instalasi kabel daya dan kabel kontrol dari terminal generator ke panel kontrol generator; pemasangan panel kontrol generator; pemasangan peredam suara ruang genset (sound proof). c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listriknya tidak boleh putus, harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila terjadi gangguan sumber utama. e. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3, secara otomatis. f. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lainlain. i. Peralatan tegangan menengah harus terpisah dari peralatan tegangan rendah, dengan jarak sesuai dengan SNI-0225. ii. Pengaturan jarak antara kabel telekomunikasi/kabel data dengan kabel power harus sesuai dengan SNI-0225.

iii. Peletakan kabel telekomunikasi/ kabel data yang berdekatan dengan kabel power harus dilindungi dengan screen atau konduit metalik yang diketanahkan. g. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. Transformator Distribusi Outdoor dan Indoor a. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. b. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup, dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran, maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Transformator distribusi yang berada di luar gedung bisa ditempatkan pada tiang atau di permukaan tanah/lantai. i. Transformator yang diletakkan di permukaan tanah/lantai harus dilindungi dengan pagar pelindung yang jaraknya terhadap transformator diatur sebagaimana dalam SNI-0225. ii. Transformator yang diletakkan pada tiang harus memiliki konstruksi sedemikan hingga kokoh dan tidak jatuh pada saat terjadi gempa berskala tinggi. e. Transformator harus dilengkapi dengan pendingin/ sistem pendingin transformator yang terdiri dari sistem pendingin secara alamiah (natural) atau dengan melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). f. Transformator tipe basah harus dilengkapi dengan alat pernafasan (breathing system) untuk mengurangi tekanan gas pada saat beban berlebih. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan tabung berisi kristal zat hygroskopis untuk mencegah kelembaban (humidity) yang dapat menurunkan nilai tegangan tembus minyak transformator. g. Transformator harus dilengkapi dengan peralatan proteksi; rele Buchholz, pengaman tekanan lebih (explosive membrane/pressure relief valve), rele tekanan lebih (sudden pressure relay), dan pengaman terhadap arus lebih. Transformator dengan daya lebih dari 10 MVA harus dilengkapi dengan rele diferensial (differential relay). Transformator dapat juga dilengkapi dengan rele tangki tanah, rele hubung tanah dan rele termis. 6. Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan

a. Instalasi listrik yang dipasang, sebelum dipergunakan, harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. i. Pemeriksaan yang dilakukan secara visual meliputi antara lain : (1) Jalur pipa konduit dan tekukan kabel tidak boleh patah. (2) Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator laas doop. (3) Jalur kabel di atas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas instalasi pipa untuk menghindari adanya tetesan air. (4) Kelengkapan komponen panel. (5) Sambungan dan terminasi kabel pada panel atau beban harus rapi dan tersambung dengan kuat. Kabel serabut atau berurat banyak (multicore) harus dilengkapi dengan sepatu kabel (cable shoe). (6) Untuk pemakaian kabel NYA harus dilindungi dengan pipa konduit atau fleksibel sampai ke titik beban atau panel. (7) Kabel di dalam panel ditata dengan rapi dan disediakan cadangan panjang kabel (spare) untuk mengantisipasi bila terjadi kesalahan terminasi, kabel masih cukup panjang untuk disambung pada terminal yang lain. (8) Titik-titik lampu posisinya harus sesuai dengan gambar. (9) Penggunaan warna kabel harus sesuai dengan PUIL 2000. ii. Pengujian dilakukan bersama dengan pihak yang berwenang dengan menggunakan pesawat uji yang telah dikalibrasi. Hasil pengujian direkam pada daftar simak dan didokumentasikan. (1) Pengujian instalasi penerangan meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi Besarnya tahanan isolasi minimum suatu instalasi kabel listrik adalah: (i) Berdasarkan PUIL 2000, yaitu sekurangkurangnya 1000Ω /volt tegangan nominal, dengan penegrtian bahwa arus bocor dari tiap bagian instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1mA per 100 m panjang instalasi. (ii) Berdasarkan peraturan IEE (Institution of Electrical Engineers) nilai minimum yang diperolehkan adalah 1 MΩ . Pengukuran dilakukan dengan megger. (b) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).

(c) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-netral, fasa-tanah) dengan multitester (d) Pengukuran arus beban untuk fasa R, S, T. (e) Pengujian nyala lampu dan baterai Ni-Cad pada lampu emergency. (f) Pengujian fungsi komponen-komponen panel : voltmeter, amperemeter, frekuensimeter, lampu indikator, saklar pilih (selector switch), circuit breaker, kontaktor, rele. (2) Pengujian instalasi tenaga meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan motor. (b) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-tanah) dengan multitester. (c) Arah putaran motor. (d) Pengukuran putaran (rpm) motor dengan tachometer. (e) Pengukuran arus starting dan running motor. (f) Tegangan fasa-fasa saat motor beroperasi. (3) Pengujian genset, meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan generator. (b) Pengukuran tegangan baterai dan pengecekan hubungan baterai. (c) Pengukuran motor dan pompa bahan bakar (d) Pengukuran tegangan generator (tegangan fasafasa, fasa-netral, fasa-tanah) (e) Pengujian beban 25%, 50%, 75%, 100%, 110%. (f) Fungsi panel kontrol generator dan interlock dengan sumber daya PLN. (g) Pengujian overspeed, emergency stop, low oil pressure, high water temperature. (h) Frekuensi generator. 7. Pemeliharaan a. Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang. c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. IX.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai resiko terkena sambaran petir, harus diberi instalasi penangkal petir.

harus mengacu pada rekomendasi dari badan internasional seperti IEC. jarak yang diukur melalui celah antara dua titik pada konduktor dan panjang l dari konduktor antara titik-titik tersebut harus memenuhi 3. d. Instalasi Penangkal Petir a. Sistem terminasi udara : Susunan sistem terminasi udara memadai jika persyaratan pada Tabel 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir. Konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga sedapat mungkin berhubungan langsung dengan konduktor terminasi udara.b. meskipun dibungkus dengan bahan insulasi. Bentuk lingkar harus dihindari. Sistem Konduktor Penyalur : Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya latu berbahaya. c. Konduktor penyalur harus dipasang lurus dan tegak sedemikian sehingga membentuk jalur terpendek dan paling langsung ke bumi. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. b. termasuk manusia yang ada di dalamnya. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. harus memperhatikan arsitektur bangunan. terhadap bahaya sambaran petir. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Hal-hal yang belum diatur di dalam peraturan tersebut di atas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. c. konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga dari titik sambaran ke bumi: (1) terdapat beberapa jalur arus paralel. dan instalasi lainnya.2 (Gambar 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir). Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. Konduktor penyalur tidak boleh dipasang pada talang atau pipa saluran air. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. (2) panjang jalur arus diusahakan seminimum mungkin. e. . Jika hal ini tidak mungkin. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Direkomendasikan agar konduktor penyalur ditempatkan sedemikian sehingga ada jarak antara konduktor penyalur tersebut dengan pintu atau jendela. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. 2.

Instalasi keseluruhan ii. bagian bangunan dan instalasi lain. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. IX. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. Bahan-bahan / material instalasi (jenis. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah : i. mengganggu dan merugikan lingkungan. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. 2. tidak membahayakan. Instalasi Telepon Instalasi Telepon a. c. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. . Secara berkala dilakukan pengukuran / pengujian terhadap EMC (Electromagnetic Compatibility). Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lain-lain. aman dan mudah dikerjakan. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harsu mudah diamati. tidak ada genangan air.3. dipelihara. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. b. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. b. Hasil pemeriksaan direkam pada suatu daftar simak (check list). kerusakankerusakan) yang meliputi : (1) Air terminal (2) Tiang penghujung (penyangga) (3) Penghantar penyalur petir (4) Elektroda pembumian (5) Penghantar penghubung (6) Sambungan-sambungan (7) dan lain-lain. Perencanaan Komunikasi Dalam Bentuk Telepon dan Data a. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a.

Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a di atas harus menggunakan sistem khusus. Car call (pemanggilan pengendara mobil). Instalasi Tata Suara a. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Background music (music pengantar). Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. Tidak boleh menggunakan cat dinding yang mudah mengelupas. e.80 m. Pembumian / pentanahan (grounding) Setiap peralatan utama (PABX / key telephone) harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian maksimum 5Ω yang diukur pada tanah dalam keadaan kering. b. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. 3. Ruang baterai sistem telepon harus bersih. ii. ii. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. ii. Biasanya dimulai dengan bunyi sirine dan dilanjutkan dengan pengumuman untuk segera meninggalkan gedung (All Call) iii. iv. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. ii.50 m x 0. d.b. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. Paging (pengumuman/ panggilan) : sistem paging di setiap lantai dapat menggunalan bantuan speaker selector. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. terang. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m ke atas. Ruang yang bersih. Sistem Tata Suara yang umum digunakan bangunan tinggi meliputi : i. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Emergency Paging (pengumuman darurat atau panggilan evakuasi). tenang. kedap debu.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. minimal berjarak 0. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. . iii. c.

Frequency response (Hz). Power consumption (Watt). Dimensi (mm) iii. Total harmonic distortion (%). Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi tata suara adalah : i. Speaker Selector : berfungsi untuk mengatur kelompok speaker yang ingin difungsikan. Distortion (%). Frequency response (Hz). ii . Power consumption (Watt). Radio Tuner : berfungsi untuk menangkap siaran radio AM dan FM. Alat ini harus memiliki kemampuan dapat memikul semua beban speaker yang dioperasikan serentak pada saat bersamaan (All Call). Output impedance (KΩ). S/N ratio (dB). Ouput impedance (KΩ). Frequncy (Hz). harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian sesuai spesifikasi yang ditentukan atau maksimum 5Ω yang diukur pada kondisi tanah dalam keadaan kering. e. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Frequency response (Hz). Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. Power consumption (Watt). Dimensi (mm). S/N ratio (dB). Noise level (dB). sehingga dihasilkan frekuensi tengah ekualisasi. Input Sensitivity (dB). Frequncy (Hz). Dimensi (mm). Equalizer center frequency (Hz). S/N ratio (dB). dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Frequency response (Hz). Peralatan utama tata suara. Alat ini juga harus dapat mengatur seluruh speaker dalam waktu bersamaan untuk difungsikan (All Call).CD Player . Power Amplifier : berfungsi sebagai penguat suara. iv. Frequency response (Hz). Dimensi (mm). . Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Voltage (Volt). Input level control (dB). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Playing system (auto reverse. manual). Total harmonic distortion (%). Input impedance (KΩ). Power bandwidth (Hz). serta dilengkapi dengan pengatur kuat suara. d. Input Sensitivity (dB). Stereo Graphic Equalizer : berfungsi untuk menyaring frekuensi yang tidak diinginkan. Frequency (Hz). Dynamic range (dB). Voltage (Volt). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Voltage (Volt). v. vi. Mixer Pre-Amplifier : berfungsi untuk menggabungkan dan mengontrol beberapa sumber suara.c. Casette Recorder Player . Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Output level (dB). Distortion (%). Voltage (Volt). atau terdiri dari kabel tahan api. vii. Power consumption (Watt). Frequncy (Hz).

microphone yang biasa digunakan adalah remote microphone tipe dinamik yang mampu menerima suara secara unidirectional dan dilengkapi dengan saklar / tombol pemilih. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Tipe. Voltage (Volt). Kabel : Kabel tata suara yang umum digunakan pada bangunan tinggi adalah : NYMHY 500V (biasa digunakan dari MDF ke TB maupun dari TB ke speaker. kapasitas terminal. NYY 0. Impedance (Ω). Semua kabel yang keluar / masuk dari peralatan utama harus melalui MDF. iMicrophone . Column Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam ruangan/indoor). jenis-jenis speaker yang biasa digunakan pada bangunan tinggi adalah : Ceiling Speaker (biasa digunakan pada area yang mempunyai plafon dan merupakan area operasional suatu bangunan). Frequency response (Hz). xiv .. Khusus microphone untuk car call dilengkapi dengan chime (alunan sesaat musik pengantar) sebelum pengmuman pemanggilan pengendara mobil dilakukan. Ketebalan pelat panel.Spesifikasi peralatan ini meliputi : Nominal impedance (Ω).MDF (Main Distribution Frame) dan TB (Terminal Box) : merupakan terminal penyambungan kabel sistem tata suara. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Input level (dB0). Jenis dan warna cat. Speaker . Dimensi (mm). Horn Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam atau luar ruangan/outdoor). Operating control. Sedangkan TB merupakan terminal distribusi setiap area atau setiap lantai. Dimensi (mm). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Dimensi (mm). Power consumption (Watt). Jumlah terminal penyambungan minimum harus sesuai kebutuhan. Sensitivity (dB). Jumlah speaker yang dilayani oleh attenuator tidak boleh melebihi kemampuan attenuator. Frequency (Hz). Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai kabel kontrol). xv. WallMounting Box Speaker (biasanya digunakan pada area yang tidak mempunyai plafon seperti tangga kebakaran atau ruangan lainnya yang tanpa langit-langit) xiii. Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai . Output level (dB). vocal). xi. Frequency response (Hz). ix.6/1 kV (biasa digunakan dari MDF ke TB. Dimensi (mm). Blower : berfungsi menjaga temperatur peralatan utama. xii.Attenuator : berfungsi mengatur kuat suara yang keluar dari speaker. Application (musical instrument. x.viii. Monitor Panel : berfungsi memonitor seluruh suara yang keluar dari amplifier serta memiliki alat ukur kuat suara speaker dan saklar pemilih.

data-data bangunan. peralatan. dan kabel dari mixer pre amplifier ke remote microphone. MA TV a. selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.Konduit : yang umum digunakan biasanya dari tipe high impact conduit. antara lain : PUIL 2000 yang berlaku. Socket outlet (1) Model . Kabelindo. Telkom. bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun. dan api dapat padam dengan sendirinya. peraturan daerah yang berlaku. Ukuran diameter dalam konduit adalah : DP ≥ DK 2 / 0. Dasar pemikiran dan perhitungan dalam perhitungan / perencanaan istalasi MA TV ini antara lain: TOR (Term of Reference). GIP (yang telah memiliki SII). dan material pelengkap dan pembantu lainnya mengikuti peraturan pemerintah yan gberlaku. Splitter (1) frequency band (MHz) (2) losses (dB) iii. xvi.5 DP = diameter dalam konduit (mm) DK = diameter luar kabel (mm) xvii. Perencanaan. 4. b. ex. Persyaratan untuk material instalasi. pelaksanaan. Kabel yang ada di atas rak harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties). d. kabel metal atau setaraf jenis kabel coaxial. tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan adalah minimum 1000Ω per 1 volt tegangan nominal. NYM 500 V (biasa digunakan dari TB ke speaker). Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari TB ke speaker/ attenuator. Kabel khusus sesuai standar pabrik digunakan dari mixer pre amplifier ke microphonee. Pipa : PVC (paralon). Konduit harus memenuhi syarat-syarat : tidak mudah terbakar. spesifikasi teknis. peraturan. c. SNI. Kabel : harus memenuhi SPLN/PT. tidak merambatkan api.kabel kontrol). Rak Kabel : dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang dilayani. dan standarisasi pabrik. SLI (Standar Listrik Indonesia). Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi MA TV adalah : i. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : (1) Frekuensi (Hz) (2) Gain (dB) (3) Gain control range (4) Hum modulation (dB) (5) power source ii. Booster Amplifier.

Instalasi MATV tidak boleh saling berhimpit (berdempetan) dengan instalasi listrik arus kuat. Pelaksanaan Instalasi i. Pemasangan peralata. outlet dan lainnya harus rapi & baik. Outlet TV vi .Equalizer e. Jadi harus terpisah satu sama lainnya.(2) Losses (dB) v. instalasi. iii. . Bila instalasi mengalami beban mekanis. ii. maka kabel/hantaran harus dilindungi dan dimasukkan ke dalam GIP.

pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter gas ke peralatan. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang sedcara otomatis mematikan aliran gas. iv. iii. INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). Rancangan sistem ditribusi gas pembakaran. Faktor diversifikasi (diversity factor). v. Berat jenis dari gas. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Gas Elpiji Gas elpiji. c. INSTALASI GAS MEDIK 1. b.I. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter gas) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2H6). vi. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi : a. X. 2. terdiri dari propane (C3H6) dan butane (C4H10). 3.X. ii. INSTALASI GAS X. Pada instalasi gas untuk pembakaran.2. Jenis Gas . b. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.

e. e. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Dipasok dari silinder. Dibangun dengan akses untuk memindahkan silinder. d. peralatan rawat gigi dan sebagainya. d. bebas minyak. sama atau kurang dari 5 mg/m3. c. e. Memenuhi persyaratan udara medik USP. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. f. d. b. d. Jaringan Distribusi Gas Medik a. (misalnya dengan uap air atau air panas) jika diperlukan. atau diperoleh dari rekonstitusi oksigen USP dan nitrogen kering NF. Vakum. keluar dan masuk lokasi. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. c. kontainer curah. sumber kompresor udara medik. harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Rancangan sistem distribusi gas medik. yang berukuran 1 mikron atau lebih. Harus dipanaskan dengan cara tidak langsung. Harus memenuhi SNI 04-0225-edisi terakhir atau standar lain seperti NFPA 70. lantai. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Udara tekan. Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan dengan cara lain. c. dan sebagainya. Kebutuhan gas medik harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk pasien rawat inap dan kebutuhan lain. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyrarat tanda kebocoran gas. Jika di dalam bangunan. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut: a.Jenis gas medik yang dimaksud adalah: a. pipa Nitrous Oksida dan pipa udara tekan. Kadar partikulat permanen. Gas Nitrous Oksida (N2O). c. harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding. Kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm. b. peralatan. Kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi. dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai ketahanan api 1 jam. 2. Jika di luar bangunan ruangan. seperti untuk ruang bedah orthopedi. langit-langit. Gas oksigen. untuk lokasi biasa. dengan peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih dari 152 cm (5 ft) di atas lantai untuk menghindari kerusakan fisik. . b. b.

g. Pengujian meliputi : pengujian kemampuan mempertahankan tekanan. dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang. dan penyangga. penuh atau kosong. pengujian katup. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. rantai. agar tidak roboh. h. 3. atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder. Ketentuan secara detail terdapat pada SNI 03-7011-2004 tentang Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Kesehatan . i. pengujian alarm. pengujian sambung-silang. baik terhubung maupun tidak terhubung. pengujian beda tekanan. Dilengkapi dengan rak. harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar. dan pengujian konsentrasi dan kemurnian gas medik. pemberian tekanan masingmasing pipa. pengujian tekanan kerja. pengujian kebersihan pipa/sistem pipa. Apabila disediakan rak. lemari. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan.

Kebutuhan air bersih pada rumah tinggal dapat diperoleh secara individual maupun secara komunal. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Sistem Penyediaan Air Bersih a. bangunan dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air bersih. Sumber Air Bersih i. tangki dan sumur penampungan air hujan dapat dilihat pada Lampiran 1. Air bersih harus tersedia secara kontinyu. b. . sedangkan untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia b. v. Untuk menjamin kontinyuitas persediaan air. Dalam hal air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum secara langsung maka kualitasnya harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII/ 2002. 3. Kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. Sumber air bersih pada bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). ii. ii. iv. iii. meliputi sistem air bersih. serta diperhitungkan berdasarkan standar. sumur pompa tangan. tidak mengganggu lingkungan. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. sumur bor. Sistem Penampungan Air Bersih a. Gambar tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1. sumur gali. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. Air bersih pada bangunan harus memenuhi persyaratan kualitas air bersih sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ MENKES/PER/ IX/ 1990. Perencanaan Sistem Plambing a. mata air atau sumber lain yang memenuhi persyaratan kualitas air bersih. 2. sumur gali. SANATASI DALAM GEDUNG XI. Kualitas air Bersih i. Gambar sumber-sumber air bersih.1 SISTEM PLAMBING 1.XI. petunjuk teknik.

baja. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. besi lapis galvanis atau tembaga. f. fiberglass dan kayu. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja dan tidak mengandung bahan beracun d. serta dilengkapi dengan lubang pemeriksaan. Pt T 21-2000-C. 5. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempattempat yang dapat menimbulkan pencemaran. e. pipa peluap. Gambar penempatan tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1 d. tidak mengganggu lingkungan serta diperhitungkan berdasarkan standar. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effisiensi yang maksimal . b.b. Tangki penampungan air bersih harus dilengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Tangki penampungan air bersih yang berkapasitas lebih dari 5 m3 harus dirancang agar tidak terjadi air diam (stagnant). Sistem plambing air bersih dimaksudkan untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan jumlah dan tekanan yang cukup. pipa penguras dan pipa ven. c. Sistem Plambing Air Bersih a. Penggunaan Pompa a. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Tangki penampung air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediaan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Bahan tangki dapat berupa beton. petunjuk teknik. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. e. f. Konstruksi dan bahan tangki penampungan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan.. perlengkapan bangunan. c. Fungsi tangki penampungan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. dan mengacu pada NSPM Kimpraswil No. PE (polietilena). Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya. 4. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air.

d. c. Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih yang dipanaskan dengan alat pemanas. Alat pemanas dapat bersifat lokal atau sentral. pipa isap dan pipa keluaran pompa. d. c.b. pompa dan peralatan plambing harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa pemasangan telah dilakukan dengan baik dan peralatan berjalan dengan baik. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem plambing air bersih meliputi : (i) Pengendalian kualitas air : (a) Pemeriksaan atas kadar sisa klor : (b )satu kali seminggu . Tiap sambungan pelanggan harus dilengkapi dengan meter air. Pengujian dan Pemeliharaan a. air didistribusikan melalui pipa menuju ke lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. Sistem Penyediaan Air panas a. Pipa distribusi terbuat dari bahan PVC. e. Sistem distribusi air bersih adalah sistem perpipaan yang menyediakan air bersih dari air PAM menuju ke pelanggan. 6. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. Gambar sambungan rumah dapat dilihat pada Lampiran 1. 8. maka harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kualitas sumbersumber air yang digunakan sebagai air bersih. b. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. b. c. 7. Pada setiap pemasangan pipa distribusi. f. Untuk menjamin kualitas air. Sistem Distribusi Air Bersih a. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. c. Bila pipa ditanam di bawah jalan atau lokasi yang menerima beban. Pemeriksaan. galvanis atau bahan lain yang mampu menahan tekanan air. b. Sistem distribusi air bersih harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan air bersih dengan jumlah dan tekanan yang cukup. Untuk penyediaan air panas secara sentral. Tata cara perancangan pipa air panas harus mengikuti pedoman plambing yang berlaku. PE. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. maka harus ada perlindungan terhadap pipa.

Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. . b. Air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya tidak boleh digabung dengan limbah pada butir i di atas. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. minuman bahan steril dan atau bahan sejenis lainnya. Setiap bangunan yang menghasilkan air limbah harus dilengkapi dengan plambing air limbah. Sumber Air Limbah a. Air limbah rumah tinggal dan non rumah tinggal berasal dari kegiatan sehari-hari. Sistem plambing air limbah dalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa vent untuk menetralisir tekanan udara di dalam saluran tersebut.4 ppm klor keseluruhan (d) Pemeriksaan atas kualitas air. b. Sistem Plambing Air Limbah a. dan lebih dari 0. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. c.2SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 1. f. satu kali setiap enam bulan (ii) Pemeriksaan tangki air (tangki air di bawah dan tangki air di atas) : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iii)Pemeriksaan sistem pipa : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iv)Pemeriksaan mesin-mesin : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih XII. Pembuangan dan Pengolahan Air Limbah a. d. 2. Pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak.(c) kadar sisa klor harus lebih dari 0. e. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang dialirkan. 3.1 ppm klor bebas. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak atau lemak.

5. Untuk daerah yang muka air tanahnya dangkal (kurang dari 1 m). Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-63792000. beton atau bahan lain yang kuat dan tidak mudah mengalami korosi serta tahan terhadap panas. e. Sistem pengaliran air limbah direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. e. Sistem penyaluran air limbah adalah jaringan perpipaan yang mengalirkan air limbah dari rumah tinggal atau non rumah tinggal menuju ke instalasi pengolah air limbah. serta yang mengandung radioaktif. Air limbah yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan air limbah dipompa. g. f. Pengolahan dilakukan dalam tangki septik yang kedap air dan dilengkapi dengan sumur resapan. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilakukan maka dapat menggunakan sistem pemompaan. d. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih paling dekat adalah 10 meter. maka harus dipilih pompa yang peruntukannya khusus untuk air limbah. c. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. Sistem Penyaluran Air Limbah a. pembuangan. b. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. Gambar tangki septik dan sumur resapan dapat dilihat pada Lampiran 2. Sistem pembuangan harus dilengkapi dengan perangkap bau sesuai dengan SNI 03-6379-2000. Pengujian dan Pemeliharaan a. pengolahan dan penyaluran air limbah untuk memastikan bahwa sistem telah terpasang dan berjalan dengan baik. harus ditangani secara khusus. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Letak tangki septik boleh dibelakang atau dimuka rumah. Jaringan pipa air limbah harus dirancang mampu mengalirkan air limbah dengan lancar dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. 4. PE. Lebih jelas tata letak dapat diihat di Lampiran. tergantung kemudahan pengaliran dari KM/WC dengan memperhatikan jarak minimum dari sumber air bersih disekitar lingkungan permukimannya. d. Bahan pipa adalah PVC. . Pemeriksaan. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan pada sistem plambing. Kapasitas aliran disesuaikan dengan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh penghuni rumah tinggal dan non rumah tinggal.b. c. tangki septik dibuat lebih tinggi dan resapan dibuat mengalir secara horisontal.

lapisan kedap air. Pemeriksaan penggantung pipa d. kebocoran dinding dan dasar bak (c) Apabila digunakan pompa penguras air buangan. Pembersihan bak penampung air buangan : Pembersihan dilakukan enam bulan sekali ii. hal-hal yang penting perlu dicatat dan disimpan sebagai dokumen/ arsip. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem pembuangan air limbah meliputi : Bak penampung air buangan (sump pit) : (a) Pemeriksaan bagian dalam (kotoran pada dinding. arus dan tegangan listrik. Kelengkapan Dalam Bangunan a. endapan. Pemeriksaan mesin-mesin Pemeriksaan pompa penguras bak penampung air buangan (sump pit) : i. tinggi muka air dan sebagainya ii. XI. saklar listrik. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama kegiatan pembersihan bak: Ventilasi dan penerangan yang memadai di dalam bak harus terjamin (b) Pemeriksaan atas kebersihan bak. kebisingan dan sebagainya ii. Pemeriksaan sistem pipa pembuangan : (a) Pipa pembuangan harus dibersihkan setiap 6 bulan sekali (b) Pemeriksaan dan pengujian celah udara (c) Pemeriksaan kelancaran aliran (d) Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat (e) Pemeriksaan kemiringan pipa (f) Pemeriksaan penggantung pipa c. Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat e. Pemeriksaan sekat poros dan kopling iii.3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 1. sebaiknya sampai lima tahun. i. Pemeriksaan sistem pipa vent : i. Pemeriksaan dan pembersihan kepala pipa tegak vent ii. dan sebagainya) (b) Pemeriksaan adanya kotoran terapung.i. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan b. Pemeriksaan kondisi operasinya (tekanan. dilakukan pula pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap pompa (d) Setelah kegiatan pembersihan selesai. (a) b. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. .

dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna. Khusus untuk bahan seng. e. maka dapat menggunakan sitem pemompaan d. b. Bahan saluran dapat berupa PVC. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebabsebab lain yang dapat diterima. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. beton. Harus cukup besar untuk melawan debit air maksimum dari daerah pengaliran secara efisien.c. besi dan baja. Di kedua sisi jalan harus disediakan saluran drainase/ selokan. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari selokan samping dan membuangnya. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Pemilihan dimensi fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. seng. g. Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut : i. f. Saluran ini merupakan bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpulan drainase. Gambar bangunan pelengkap drainase dapat dilihat pada Lampiran 3. iii. maka harus dilakukan caracara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal. c. c. fiberglass. ii. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. d. tetapi harus diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk tempat air keluar. pembagi. 3. pasangan tanah liat. Apabila saluran dibuat tertutup. 2. . Kelengkapan di Sekitar Bangunan Gedung a. Harus dibuat dengan tipe permanent. Dimensi setiap saluran harus sedemikian rupa yang disesuaikan dengan daerah pelayanannya. Kemiringan saluran harus dibuat. Persyaratan Saluran a. Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup b.

Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Berjarak > 10 m dari sumber air bersih atau air minum. Besaran timbulan sampah dihitung berdasarkan : jumlah penduduk dalam suatu kawasan permukiman atau berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukan. untuk melindungi dari gangguan binatang dan serangga. hotel. ii. timbulan sampah dan frekwensi pengumpulan sampah. e. toko/ ruko. Adapaun gambar pewadahan sampah (bak sampah) dapat dilihat pada Lampiran 4. dan Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Jika dalam bangunan baru tersebut mempunyai luas pekarangan yang cukup. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni.4. tidak mudah rusak. Penempatan wadah sampah individual ditempatkan di halaman muka rumah atau di halaman belakang khusus untuk sumber sampah dari hotel dan restoran. Penimbunan sampah di area pekarangan harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Pengujian. b. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1. Kriteria besaran timbulan sampah untuk rumah tinggal di Aceh adalah 2. Sumber sampah permukiman berasal dari : perumahan. XI. rumah makan dan fasilitas umum lainnya. Setiap hari wadah penimbunan harus ditutup dengan tanah penutup dari sekitar lokasi penimbunan atau bahan lain. Tempat pewadahan sampah harus terpisah antara sampah basah dan sampah kering. terbuat dari bahan kedap air. d. .4. mempunyai tutup. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sampah sementara harus dihitung berdasarkan jumlah penghuninya. c. sedangkan untuk non-rumah tinggal 24 L/unit/hari 2. b.1 L/orang/hari. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. c. dan pasangan bata atau beton. Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan dilengkapi dengan fasilitas pewadahan atau penampungan sampah sementara yang memadai. maka penampungan sampah dapat dilakukan dengan cara penimbunan di area pekarangannya. Sistem Pewadahan a. sekolah. plastik. pasar. Timbulan Sampah a. Pemeriksaan. jalan. harganya murah atau dapat dibuat sendiri oleh masyarakat dan mudah diangkut. tempat ibadah.

Gambar peralatan untuk pengumpulan sampah tercantum dalam Lampiran 4. 3. tidak dibuang ke wadah sampah atau tempat penampungan sementara. baik dengan pengumpulan langsung maupun tidak langsung. Pola pengumpulan langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan. iv. ii. kayu dan lain-lain dapat dibakar. seperti hutan dan padang ilalang. Sampah tersebut dapat dikumpulkan dalam wadah sampah yang terpisah dengan sampah yang akan dibuang. b.iii. Pembakaran sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Tidak dilakukan di daerah yang dekat dengan area yang mudah terbakar. frekwensi pembuangan dan periode waktu penggunaan lahan penimbunan tersebut. kertas. kaleng. Tidak merugikan lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat sekitar. Potensi Reduksi a. jumlah timbulan sampah. Wadah sampah harus ditempatkan di lokasi yang kering dan bebas dari pengaruh air hujan. aluminium. kardus. Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu. Tidak menimbulkan masalah pencemaran udara. dengan persyaratan mengacu pada Pedoman Teknik Tatacara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Dan Komunal No: Pd-T-15-2003 4. Gambar pola pengumpulan individu langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. Sistem Pengumpulan a. Jika belum tersedia sistem pewadahan sampah. hutan dan jauh dari lokasi yang menampung bahanbahan yang mudah meledak. c. . Pola pengumpulan sampah dibedakan atas pola pengumpulan langsung dan pola pengumpulan tidak langsung. sisa pembersihan tanaman. Dilakukan di daerah dengan kepadatan penduduk rendah. Ukuran volume penimbunan ditentukan berdasarkan f. c. Sampah basah (organik) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas dapat digunakan sebagai kompos. b. iii. maka sampah-sampah yang mudah terbakar seperti kertas. wadah plastik. dan lain-lain yang dapat di daur ulang bisa dimanfaatkan kembali. kertas koran. Sampah seperti botol bekas.

iii. Jumlah timbulan sampah > 0. d. Pola pengumpulan tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah. infeksius. iv. >15%. Sampah Beracun dan Berbahaya (B3) a. dan kegiatan rumah tangga. Pengumpulan menggunakan alat angkut bukan mesin seperti gerobak sampah. e. Bagi kondisi topografi pemukiman yang relatif datar . sedangkan untuk sampah kering (anorganik) dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Sifat utama dari sampah B3 adalah buangan yang mempunyai sifat mudah meledak. c. ii. . Gambar pola pengumpulan individu tidak langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. maksimal setiap 2 hari sekali. Teknis operasional pola pengumpulan langsung: Persyaratan : Dilakukan jika kondisi topografi bergelombang kemiringan ii. mudah terbakar. Alat pengumpul menggunakan mesin dan frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah. Teknis operasional pola pengumpulan tidak langsung : Persyaratan : i. korosif. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Lahan untuk lokasi tempat penampungan sampah sementara tersedia. dengan volume rata-rata alat angkut 1 sampai 2 m3. dibawa ke lokasi pemindahan (tempat pembuangan sampah sementara) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Sumber-sumber sampah B3 terutama berasal dari kegiatan industri. Sampah B3 ini tidak boleh dibuang langsung ke wadah sampah tetapi harus dipisahkan dan diolah tersendiri. Penentuan tempat penampungan sementara mengacu pada SNI no 19-2454-2002 v. becak dan lain-lain.i. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. maksimal setiap 2 hari sekali. dengan rata-rata kemiringan < 5%. 5. antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik).3 m3/hari. Penjadwalan pengumpulan dilakukan oleh instansi pengelola persampahan pemukiman mengacu pada SNI 03-3242-1994. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah (organik) setiap hari. f. reaktif dan beracun. b. iii. iv. rumah sakit. 18/1999 yang diperbaharui dengan PP no 85 tahun 1999. Sampah yang dikategorikan sebagai buangan beracun dan berbahaya telah diatur dalam PP no. v.

terdapat sumber air. Hidran Umum a. Perancangan hidran umum/ kran umum didasarkan atas kebutuhan yaitu setiap kran dapat melayani antara 30 L/orang/hari sampai dengan 50 L/orang/hari. kakus) umum dibangun di permukiman yang tidak tersedia fasilitas MCK pribadi. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum dapat dilihat pada Tabel 1. XI. dengan kapasitas yang ditentukan berdasarkan jumlah pemakai MCK. Untuk sumber air dari sumur gali atau sumur pompa tangan. Tabel 1. b. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. Tata cara perencanaan bangunan MCK umum mengacu pada SNI 03-2399-2002. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum Fasilitas dalam MCK umum (untuk pria dan wanita terpisah): . j. h. baik dari PAM atau sumur f. Pengolahan limbah dari MCK umum dilakukan menggunakan septik tank. Tata cara penanganan sampah B3 di daerah mengacu pada Keputusan 03/BAPEDAL/09/1995. c. lokasi mudah dijangkau d. Sistem plambing pada MCK umum mengikuti sistem plambing air bersih dan air limbah pada peraturan ini. cuci. Banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MCK umum untuk jumlah pemakai tertentu harus dapat menampung pelayanan pada jam-jam sibuk.5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 1. Pemilihan kokasi MCK umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: c. 2. Bangunan MCK umum harus dipisahkan antara MCK untuk orang laki-laki dengan MCK untuk orang perempuan. dapat dibangun di daerah yang sempit e.d. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-6379-2000. Penyediaan air bersih secara komunal dilayani melalui hidran umum. diperhitungkan setiap sumur harus dapat melayani 10 kepala keluarga. b. MCK Umum a. 10 meter. Sistem penyediaan air bersih komunal harus disediakan pada permukiman bila tidak tersedia sistem penyediaan air bersih secara individual. Gambar Hidran Umum tercantum pada Lampiran 5. i. g. MCK (mandi. Sedangkan gambar contoh tata letak MCK umum tercantum pada Lampiran 5. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih min.

maksimal setiap 2 hari sekali. Penyediaan secara komunal dapat dilakukan oleh instansi berwenang atau swadaya masyarakat maupun pihak swasta. c. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. Gambar wadah sampah komunal (kontainer sampah). tidak menganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya.80 81 – 100 101 – 120 121 – 160 161 . sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Wadah komunal ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber sampah. b. alat pengumpul.Jumlah pemakai (orang) 10 – 20 21 – 40 41 . di ujung gang atau jalan kecil. alat pengumpulan (pick up sampah). fasilitas umum dan jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. dan tempat penampungan sampah sementara sedangkan pengumpulan dan pembuangan akhir sampah bergabung dengan yang sudah ada. e. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal a. d. Pola pengumpulan komunal terdiri dari : pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung. dan sistem pengumpulan komunal dapat dilihat pada Lampiran 5. Bagi developer yang membangun + 80 rumah harus menyediakan wadah sampah. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). .200 Banyaknya ruangan Man Cuc Kaku di i s 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 4 4 4 5 4 4 5 6 4 6 6 3. f. Wadah komunal disediakan bagi pemukiman yang sulit dijangkau oleh alat angkut dan pemukiman yang tidak teratur.

dan : (1) Bangunan klas 2. ii. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. ke arah : (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. bukaan. 6. bukaan. (a) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sahitasi. (2) teras terbuka. ii. atau daerah yang terbuka ke atas. bukaa. 7. bukaan. (2) Bangunan kelas 5. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka : i. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.XII. (c) ruangan bersebelahan dengan jendela. Ventilasi Alami a. dan yang sejenis. atau b. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. (b) jendela. pelataran parkir.1 VENTILASI 1. Penerapan ventilasi alami. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini.6 m diatas lantai. 8 atau 9. Ventilasi alami sesuai dengan ketentuan ventilasi alami di bawah ini. 2. dengan jarak tidak lebih dari 3. jendela. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. bukaan. (b) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. pintu atau sarana lainnya dengan luas . dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 . Kebutuhan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai : a. pintu ventilasi. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. (a) Jendela. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi.

(a) Jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. ventilasi tidak kurang dari 10 (uas lantai kedua ruangan tersebut. (2) ruang makan umum atau restoran. (3) asrama pada bangunan Kelas 3. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: . iv. atau (3) harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. (2) pada bangunan Kelas 5. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. vi. koridor atau ruang lainnya. (c) Luas ventilasi' yang diatur pada butir (1) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. (a) jalan masuk harus melalui ruang antara. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yahg dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya : (1) Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4 . Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. v. (4) ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan : (1) jika berada dibawah lantai dasar. sekolah TK atau panggung terbuka). 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. (5) ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. 6.iii. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah : (1) dapur atau pantry. sekolah TK atau panggung terbuka). 7. (2) harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/ halaman dibawah lantai dasar.

Konservasi Energi a.8 MJ/jam untuk daya gas. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. d. dan miriir'a 8 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku.(1) sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang beriaku. toko. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistzm ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang beriaku. lebih dari : (a) 0. b.5 kW untuk daya listrik. jika : (1) setiap peralatan masak yang mempunyai : (a) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. Bilamana digunakan ventilasi buatan. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi. atau (2) sistem ventilasi alami permanen yang memadai. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI . f. (2) total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. vii. atau sebaliknya. rumah sakit. atau (b) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. c. Ventilasi Buatan a.2 PENGKONDISIAN UDARA 1. kantor. XII. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang beriaku. e. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. 2. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. 3. atau (b) 1. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara mateimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar.60 meter diatas lantai. pabrik.

sistem pompa dan pemipaan. pemilihan peralatan. Penetapan sistem dan peralatan. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. c. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. sistem kontrol. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. isolasi pemipaan. ii. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. Perhitungan Beban Pendinginan a. 3. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. dan standar teknis lain yang beriaku. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem fan. b. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. sistem distribusi udara. b. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. Dasar perancangan i. . iii. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku.

l. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dari fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. gallery. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. pencahayaan luar untuk monumen publik. (2) pintu keluar. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. h. fasilitas luar untuk olahraga. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan kualitas tampilan.XIII. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi : a. penyiaran televisi. pencahayaan di unit pengeboran. i. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. efektif dan sesuai dengan a. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. taman dan daerah bagian luar lainnya. d. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan bualan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan bebsn pendinginan bangunan.2. e. ruangan. g. pencahayaan khusus laboratorium. n. m. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. c. pencahayaan untuk pembuatan film. pencahayaan untuk rambu-rambu. k. seperti proses produksi dan penyimpanan. ruangan didalam bangunan. Kamar. museum dan monumen.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. XIII. 2.00 pagi. pencahayaan untuk pameran seni. (3) tempat bongkar muat barang.00 malam sampai jam 06. PENCAHAYAAN XIII. b. meliputi : kegiatan diluar bangunan. dsb. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. daerah luar bangunan. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. j. Kamar. jalan. b. . pencahayaan darurat yang secara otomatis "mati" selama operasi normal. c. seperti : (1) pintu masuk. f. klub malam. PENCAHAYAAN BUATAN 1.

6. Untuk fasilitas banyak bangunan. distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. 7. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. balas. Tingkat lluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang “Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung". mempunyai karakteristik . b. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan menggunakan sumber pencahayaan yang tepat. 5. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor alumunium anodized berkualitas tinggi. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. jenis reflektor yang efisien. 4. a. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. Pemanfaatan pencahayaan alami .3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. dan reflektor yang efisien. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 2. 3.kebutuhan ruangan. XIII. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic.

pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. baik dari sumber sinar mata langsung. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafon harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap grup yang melayani luasan 30 m2 atau kurang. 2. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu "KELUAR". Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus-menerus. langit yang cerah. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut : a. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan : a. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. b. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. obyek luar.Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. 3. d. Jika perlu. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama di dekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Penentuan besarnya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI2396 tentang Penerangan Alami Sianghari untuk Rumah dan Gedung. Pengendali harus digunakan . f. c. Pengendaiian silau pada bangunan. ekcuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. e. 1. b. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell).4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN Semua sistem pencahayaan. otomatis atau yang terprogram. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan/atau kaca ganda. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. XIII. c.

d. pertokoan. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang terletak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendaii untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. . Pengendali yang diprogram. Pengendali yang memerlukan operator yang leriatih. Letak pengendali harus mudah dicapai. Pengendali dipusatkan di lokasi . c. pasar swalayan. kecuali : a. e. Pengendali otomatis.sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. engendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/ dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. hotel dan rumah sakit. b. gedung dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). 2.yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor.

juga harus dapat menyediakan kenyamanan termal dalam ruang yang dapat menurunkan temperatur dan kelembaban. Baku Tingkat Kebisingan i. KENYAMANAN. 2. 4. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Arah bukaan c.2. XIV. Penggunaan jenis-jenis material dan jenis-jenis lapisan dinding untuk meredam kebisingan di dalam bangunan. Penyediaan ventilasi yang cukup disamping untuk memenuhi persyaratan kesehatan. 2. Perletakan bukaan pada bagian-bagian persimpangan jalan agar pengguna jalan saling dapat melihat sebelum tiba pada persimpangan. SIRKULASI UDARA 1. Perletakan dan penataan elemen-elemen alam dan buatan pada bagian bangunan maupun ruang luarnya untuk tujuan melindungi hak pribadi. a. Bukaan-bukaan sedapat mungkin diletakkan pada bidang dinding yang tidak terkena sinar matahari langsung untuk mengurangi perolehan panas dalam ruang. 2. ukaan ventilasi ditempatkan pada arah angin datang untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan udara dalam ruang.3 PANDANGAN 1. Perletakan elemen-elemen alam dan buatan untuk mengurangi/meredam kebisingan yang datang dari luar bangunan dan luar lingkungan. Jika bukaan diletakkan pada bagian dinding yang terkena sinar matahari langsung maka harus disediakan peneduh sinar matahari yang mencukupi. Pada Bidang Atap a. Ketinggian bukaan d. Luas bukaan pada bidang dinding b. makhluk lain dan . Luas Bukaan pada Bidang Atap b. Pada Bidang Dinding terhadap Pengaturan Suhu Udara dan Kelembaban Ruangan. 3.1 KENYAMANAN TERMAL 1. XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.XIV. KEBISINGAN 1.4. a. Posisi Bukaan 2. Arah bukaan c. Posisi Bukaan XIV.

Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang beriaku. ii. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut beriaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. 2. b. Baku Tingkat Getaran a. beriaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.5 GETARAN Penggunaan material dan sistem konstruksi bangunan untuk meredam getaran yang datang dari bangunan lain dan dari luar lingkungan. Salah satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. XIV. b. 1. makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. .lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan.

BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG
I. PENGERTIAN Definisi bangunan gedung sesuai dengan Ketentuan umum yang termuat dalam UU No 28 tentang Bangunan Gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 1. Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya. 2. Pembangunan bangunan gedung dapat dilakukan baik di tanah milik sendiri maupun di tanah milik pihak lain 3. Pembangunan bangunan gedung diatas tanah milik pihak lain dilakukan berdasar perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan pemilik bangunan gedung. 4. Pembangunan bangunan gedung dapat dilaksanakan setelah rencana teknis bangunan gedung disetujui oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan, kecuali bangunan gedung fungsi khusus. 5. Tata cara pengesahan rencana teknis bangunan gedung yang diatur lebih lanjut dalam Qanun. II. PENYELENGGARAAN Penyelenggara bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang meliputi pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. 1. Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran 2. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan administrative maupun persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung. 3. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan adiministratif dan persyaratan teknis tersebut diatas, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap. 4. Pelaksanaan pentahapan pemenuhan ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi social, budaya dan ekonomi masyarakat, meliputi: a. Persyaratan administrative

i. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah ii. Status kepemilikan bangunan gedung , dan iii. Izin mendirikan bangunan gedung b. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur, pondasi, struktur, sanitasi dan elektrikal 5. Penyelenggara a. Pemilik Bangunan Gedung Pemilik bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.

b. Pengguna Bangunan Gedung Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. c. Penyedia Jasa Konstruksi Penyedia jasa konstruksi adalah orang atau lembaga independen dan mandiri yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan konstruksi serta memiliki ijin di bidang pelaksanaan bangunan. Ketentuan mengenai jasa konstruksi mengikuti peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi. III. PERENCANAAN 1. Perencanaan adalah kegiatan penyusunan rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan fungsi dan persyaratan teknis yang ditetapkan, sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan pengawasan bangunan. 2. Rencana teknis bangunan gedung dapat terdiri atas rencanarencana teknis arsitektur, struktur dan konstruksi, mekanikal dan elektrikal, pertamanan, tata ruang dalam dan disiapkan oleh penyedia jasa perencanaan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan rencana kerja dan syaratsyarat administrative, syarat umum dan syarat teknis, rencana anggaran biaya pembangunan dan laporan perencanaan. 3. Persetujuan rencana teknis bangunan gedung dalam bentuk izin mendirikan bangunan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan asas kelayakan administrasi dan teknis, prinsip pelayanan prima serta tata laksana pemerintahan yang baik. 4. Perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan harus dilakukan oleh dan/atau atas persetujuan perencana teknis bangunan gedung, dan diajukan

terlebuh dahulu kepada instansi yang berwenang untuk mendapatkan pengesahan. 5 .Untuk bangunan gedung fungsi khusus izin mendirikan bangunannya disetujui oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah 6. Untuk bangunan gedung fungsi khusus, rencana teknisnya harus mendapatkan pertimbangan dari tim ahli terkait sebelum disetujui oleh instansi berwenang dalam pembinaan teknis bangunan gedung fungsi khusus. IV. PELAKSANAAN Adalah kegiatan pendirian, perbaikan, penambahan, perubahan atau pemugaran konstruksi bangunan gedung dan /atau instalasi dan/atau perlengkapan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang disusun. 1. Pendirian a. Mendirikan bangunan ialah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian, termasuk pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan bangunan itu. b. pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai dikerjakan setelah Dinas Kimpraswil menetapkan garis sepadan serta ketinggian permukaan tanah persil tempat bangunan bersangkutan akan dididirikan, sesuai dengan rencanan yang telah ditetapkan dalam IMB. c. Dinas Kimpraswil menunjukkan letak garis sepadan dan menandai ketinngian permukaan persil selambat-lambatnya 14 ( emapt belas ) hari setelah diserahkan IMB kepada pemohonnya; d. Bila setelah 14 (empat belas ) hari sesudah diserahkannya IMB Dinas Kimpraswil tidak melaksanakan tugasnya , pemohon IMB dapat mengajukan permohonan kepada gubernur agar dinas kimpraswil segera melakukan tugasnya. 2. Perbaikan 3. Penambahan 4. Perubahan Merubah bangunan ialah pekerjaan menggali dan/atau menambah bagian bangunan yang ada, termasuk pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut. 5. Pemugaran konstruksi a. Bangunan Gedung b. Instalasi c. Perlengkapan Bangunan

V. PENGAWASAN Adalah kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan gedung. 1. Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi a. Petugas Dinas Kimpraswil berwenang: i. memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja; ii. memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku atau standart yang berlaku. iii. memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan, demikian pula lat-alat yang diaanggap berbahaya serta merugikan kesehatan/keselamatan untuk pekerjaan tersebut b. Pemilik IMB wajib memberitahukan kepada Dinas Kimpraswil saat telah selesainya seluruh pekerjaan mendirikan bangunan tersebut dalam IMB, selambat-lambatnya 48 ( empat puluh delapan) jam setelah pekerjaan mendirikan bangunan itu selesai; c. Bila pekerjaan mendirikan bangunan menurut kenyataannya telah selesai dilaksanakan sesuai dengan IMB, Dinas Kimpraswil memberi surat keterangan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan kepada penerima IMB. d. Bila dalam jangka waktu 14 ( empat belas 0 hari setelah pemeberitahuan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan tidak ada pemeriksaan dari Dinas Kimpraswil, penerima IMB dapat meminta Gubernur untuk mememrintahkan agar Dinas Kimpraswil segera melaksanakan pemeriksaan. 2. Manajemen Konstruksi Pembangunan a. Pengawas pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan adalah perorangan atau badan hukum. b. Bilamana pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan adalah perseorangan, kepadanya diwajibkan memiliki ijin bekerja yang dikeluarkan oleh Gubernur. c. Pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan melaksanakan perintah dan bertanggungjawab kepada perencana bangunan dan pemilik IMB d. Tugas dan tanggungjawab pengawas pekerjaan mendirikan bangunan tidak dapat dipindah alihkan kepada pihak lain dengan bentuk atau cara apapun tanpa persetujuan dari pihak penerima IMB

VI.

PEMANFAATAN

khusunya bangunan umum wajib dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kelaikan fungsinya. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur.Adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan termasuk kegiatan pemeliharaan. Persyaratan administrative dan teknis untuk bangunan gedung adat. Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh tenaga/konsultan ahli yang telah diakreditasi setiap 5 ( lima) tahun sekali. b. Persyaratan teknis bangunan gedung tersebut diatas meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. c. perawatan dan pemeriksaaan secara berkala. Persyaratan (1) Status hak atas tanah. bangunan gedung darurat dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencanan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi social dan budaya setempat. Perawatan dan Pemeriksaan a. bangunan gedung semi permanen. b. Persyaratan Laik Fungsi a. b. pondasi. Dinas Kimpraswil mengadakan penelitian atas hasil pemeriksaan berkala tersebut diatas mengenai syarat-syarat adminstrasi maupun teknis. c. sanitasi dan elektrikal. d. . 1. dan (3) Izin mendirikan bangunan gedung ii. dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah (2) Status kepemilikan bangunan gedung . Persyaratan Teknis a. kesehatan. Pemeliharaan. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Yang dimaksud laik fungsi. Untuk bangunan yang telah ada. kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. Persyaratan administrative dan persyaratan teknis tersebut adalah: i. struktur. 3. serta persyaratan keselamatan. 2. yaitu berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan tata bangunan. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung dan Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk sertifikat laik fungsi bangunan gedung.

f. harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.d. d. Dinas Kimpraswil memberikan sertifikat laik fungsi apabila bangunan diperiksa telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. pemugaran serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memeperhatikan ketentuan perundang-undangan . Adalah kegiatan perawatan. VII. Perbaikan. 2. Kepala Dinas Kimpraswil dapat menghentikan penggunaan bangunan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan Sertifikat laik fungsi. petugas Dinas Kimpraswil dapat minta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan Sertifikat laik Fungsi beserta lampirannya. e. dilakukan oleh Pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan c. pemugaran. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. Dalam hal terjadi pada ketentuan diatas. dan pemanfaatan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya. e. maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam SLF. b. Perlindungan a. Gubernur/Dinas Kimpraswil akan mencabut Izin Mendirikan Bangunan yang telah diterbitkan. Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarikan. pemugaran. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian serta teknis perbaikan. PELESTARIAN 1. b. pemugaran dan pemanfaatannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan . Pengertian a. Dalam rangka pengawasan penggunaan bangunan. Pelaksanaan perbaikan. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan. g.

pemugaran. Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah UU tentang cagar Budaya. Perbaikan. 4. Pemanfaatan Bangunan Gedung dan lingkungan cagar Budaya a. b. c. dan kebudayaan termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. komponen. Pengertian a. Pelaksanaan perbaikan. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun atau mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 ( lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah. d. Bangunan gedung dapat dibongkar ditetapkan berdasarkan persetujuan Pemerintah daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. Pelaksanaan Perbaikan dan Pemugaran Perbaikan. atau bagianbagiannya. atau dapat dimanfaatkan sesuai potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan criteria yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah dan/ atau pemerintah. Pengkajian teknis bangunan gedung kecuali untuk rumah tinggal. pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestraikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula. Pengkaji teknis adalah orang. Adalah kegiatan membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung. PEMBONGKARAN 1.c. 3. bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarananya. ilmu pengetahuan. . Pelestarian Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok. perorangan atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. b. pemugaran dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan VIII. 5.

tujuan atau alas an membongkar bangunan. pemohon harus terlebih dahulu minta petunjuk tentang rencana membongkar bangunan kepada Dinas Kimpraswil yang meliputi: i. mendapatkan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah daerah karena bangunannya ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan. mengubah fungsi bangunan setelah mendapat izin tertulis dari Pemerintah Daerah. ii. persyaratan membongkar bangunan. vi. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya. hal-hal lain yang ddianggap perlu. b. mendapatkan surat ketetapan bangunan gedung dan/atau lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dari Pemerintah Daerah iv. pemilik bangunan gedung mempunyai hak: i. Tata Cara Pembongkaran a. Persyaratan Pembongkaran Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. ii. v. mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Daerah atas rencana teknis bangunan gedung yang telah memenuhi persyaratan. IX. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG 1. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan yang berlaku 3. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah iii. iii. 2. mendapatkan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan apabila bangunannnya dibongkar . c. Pengertian a. cara membongkar bangunan iv. Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasar rencana teknis pembongkaran yang disetujui oleh Pemerintah Daerah. tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki b. Sebelum mengajukan permohonan Izin Merobohkan Bangunan .e. Pemilik bangunan dapat mengajkan permohonan untuk membongkar bangunannya. Tidak memiliki izin mendirikan bangunan d.

b.oleh Pemerintah daerah atau pihak lain yang bukan diakibatkan oleh kesalahannya. Kewajiban pemilik dan Pengguna a. mengetahui tata cara/ proses penyelenggaraan bangunan gedung. d. e. membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Pengertian . ii. melengkapi pedoman / petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung. Hak Pemilik dan Pengguna a. mendapatkan keterangan tentang bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum X. f. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya. b. b. PERAN SERTA MASYARAKAT 1. c. 3. melaksanakan pemeriksaaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung. e. memiliki izin mendirikan bangunan iii. c. d. mendapatkan keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan pada lokasi dan/atau ruang tempat bangunan akan dibangun. mendapatkan keterangan tentang ketentuan bangunan gedung yang laik fungsi. meminta pengesahan dari Pemerintah daerah atas perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan bangunan. pemilik bangunan gedung mempunyai kewajiban: i. memperbaiki pemeriksaan secara berkala yang telah ditetapkan tidak laik fungsi. memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iv. memelihara dan /atau merawat bangunan gedung secara berkala. menyediakan rencana teknis bangunan gedung yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan fungsinya. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang telah disahkan dan dilakukan dalam batass waktu berlakunya izin mendirikan bangunan. 2. mendapatkan keterangan tentang ketentuan persyaratan keandalan bangunan gedung.

Penyampaian pendapat dan pertimbangan dapat melalui tim ahli bangunan gedung yang dibentuk oleh Pemerintah daerah atau melalui forum dialog dan dengar pendapat publik c. pasar. Melaksanakan Gugatan a. pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung. pemanfaatan. Adalah memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan. Setiap orang juga berperan dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku. 2. Adalah menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan. b. Menyampaikan Pendapat dan Pertimbangan Kepada Instansi yang Berwenang a. Memberi Masukan Kepada pemerintah Daerah a.a. b. Yang dimaksud dengan penyempurnaan adalah termasuk perbaikan Peraturan daerah tentang bangunan gedung sehingga sesuai dengan undang-undang /peraturan diatasnya. Memantau dan menjaga Ketertiban Penyelenggaraan a. Masyarakat adalah suatu kesatuan penduduk yang dikenal sebagai komunitas dimana ikatan social nya realtif masih erat. Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu. Gugatan perwakilan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan oleh perorangan atau kelompok orang yang mewakili para pihak yang dirugikan akibat adanya penyelenggaraan bangunan gedung yang mengganggu.bioskop. 3. Penyampaian pendapat tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang bersangkutan ikut memiliki dan bertanggungjawab dalam penataan bangunan dan lingkungannya 5. Apabila terjadi ketidaktertiban dalam pembangunan. pedoman dan standart teknis di bidang bangunan gedung b. masukan dan usulan kepada Pemerintah daerah b.atau membahayakan kepentingan umum. mal. merugikan dan. dan pemanfaat tempat umum lain. . Peran serta masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan proyek pembangunan b. 4. seperti dalam memanfaatkan fungsi bangunan gedung sebagai pengunjung pertokoan. rencana teknis bangunan gedung tertentu dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. masyarakat dapat menyampaikan laporan.merugikan atau menbahayakan.

c. 4. Pemberdayaan masyarakat yang belum mampu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bangunan gedung melalui upaya internalisasi. asosiasi perusahaan. Pemberdayaan dilakukan terhadap para penyelenggara bangunan gedung dan aparat Pemerintah Daerah untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. Sebagian penyelenggaraan dan pelaksanaan pembinaan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung.XI. b. Masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung sepeti masyarakat ahli. . kewajiban dan perannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. b. kewajiban dan peran para penyelenggara bangunan gedung dan aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan bangunan gedung. pemberdayaan dan pengawasan sehingga setiap penyelenggaraan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan tercapai keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya serta terwujudnya kepastian hukum. pedoman. Pembinaan dilakukan dalam rangka tata pemerintahan yang baik melalui kegiatan pengaturan. Pelaksanaan pembinaan oleh Pemerintah daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas pemerintahan daerah. asosiasi profesi. Pengaturan dilakukan dengan pelembagaan peraturan perundang-undangan. Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung a. Pemberdayaan adalah kegiatan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. d. Pembinaan Bangunan Gedung a. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah 3. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah b. Pengertian a. Pemberdayaan Masyarakat a. c. sosialisasi dan pelembagaan di tingkat masyarakat. PEMBINAAN 1. 2. b. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. petunjuk dan standar teknis bangunan gedung sampai dengan di daerah dan operasionalisasinya di masyarakat.

penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan iv. perintah pembongkaran bangunan gedung. pencabutan sertifikat laik fungsi bangunan gedung. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung. jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup. Dalam proses peradilan atas tindakan sanksi pidana tersebut diatas. penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung v.masyarakat pemilik dan pengguna bangunan gedung dan aparat pemerintah XII. ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% 9sepuluh per seratus) dari nilai bangunan.Sanksi administrative dapat berupa: i. ii. atau ix. SANKSI 1. peringatan tertulis ii. Pengertian a. pembatasan kegiatan pembangunan iii. pembekuan izin mendirikan bangunan gedung vi. Sanksi Pidana dapat berupa: i. Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. ancaman pidana penjara paling lama 5 ( lima )) tahun dan/atau denda paling banyak 20% ( dua puluh per seratus ) dari nilai bangunan gedung. b. iv. pembekuan sertifikat laik fungsi bangunan gedung viii. iii. jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain . .dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung dikenai sanksi adminitratif dan/atau sanksi pidana b. 2. dan /atau persyaratan. Bentuk Sanksi a. ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari nilai bangunan gedung. Sanksi Administratif adalah sanksi yang diberikan oleh administrator ( pemerintah) kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tanpa melalui proses peradilan karena tidak terpenuhinya ketentuan undang-undang. jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. pencabutan izin mendirikan bangunan gedung vii.

Pemberiaan Izin Bangunan a. PERIJINAN 1. atau nilai keseluruhan suatu bangunan gedung yang ditetapkan pada saat sanksi dikenakan bagi bangunan gedung yang telah berdiri. memperluas bangunan-bangunan yang telah ada. b. XIII. penerangan dan lain sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 meter. d. Jenis pengenaan sanksi ditentukan oleh berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan. pendirian bangunan-bangunan yang tidak permanen untuk pemeliharaan binatang-binatang jinak atau tanamantanaman dengan syarat-syarat : . mendirikan bangunan-bangunan permanen. Jika Kepala Dinas berkeberatan terhadap permohonan izin tersebut diatas. c. Izin bangunan diberikan berdasarkan keputusan Pemerintah Daerah b. mendirikan bangunan-bangunan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada. pemeliharaan bangunan-bangunan dengan tidak mengubah denah. c. b. Tata Cara Pengenaan Sanksi a. Tidak Diperlukan Izin Bangunan Izin Bangunan tidak diperlukan dalam hal: a. konstruksi maupun arsitektural dari bangunanbangunan semula yang telah mendapat izin. pelanggar dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% ( sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun c. Pemerintah Daerah dapat memberikan izin untuk: I. Selain pengenaan sanksi administrative sebagaimana jenisnya. Nilai bangunan gedung dalam ketentuan sanksi adalah nilai keseluruhan suatu bangunan pada saat sedang dibangun bagi yang sedang dalam proses pelaksanaan konstruksi. IV. II. III. membongkar bangunan-bangunan yang menurut pertimbangan Kepala Dinas tidak membahayakan. 2. d. maka persolannya akan dapat diajukan kepada H\gubernur untuk diputuskan. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. membuat lubang-lubang ventilasi. mendirikan bangunan-bangunan sementara yang diperlukan dalam pelaksanaan sesuatu pembangunan selama pekerjaan-pekerjaan itu dilaksanakan.3.

dilarang mendirikan bangunan: i. mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh izin selama mendirikan suatu bangunan 3.i. loefisien lantai bangunan. menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang bangunan gedung c. b. persetujuan/ izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya. gambar rencana bangunan. pertimbangan pemerintah daerah setempat. ii. Larangan Mendirikan/Mengubah Bangunan a. persyaratan-persyaratn perencanaan. ditempatkan dihalaman belakang ii. membuat kolam hias . i. ix. iii. x. iii.sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah yang ada d. Pemohon harus mengetahui tentang: jenis/peruntukan bangunan. . vii. iii. menyimpang dari rencamna pembangunan yang menjadi dasar pemberian izin bangunan. 4. koefisien dasar bangunan yang diizinkan. ii. b. persayaratan-persyaratan bangunan. Permohonan Izin Bangunan a. tiang bendera di halaman/ pekarangan rumah e. membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanen f. pelaksanaan dan pengawasan bangunan. dilarang mendirikan bangunan-bangunan diatas tanah orang lain tanpa izin pemiliknya atau kuasanya yang sah. i. mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah diperoleh izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan g. taman dan patung. viii. iv. garis sempadan yang berlaku. tidak mempunyai izin tertulis dari Pemerintah Daerah ( IMB). vi. jumlah lantai/lapis bangunan diatas/dibawah permukaan tanah yang diizinkan. ii. Permohonan Izin Mendirikan Bangunan harus dilampiri dengan: gambar situai. v. salinan atau fotocopi bukti pemilikan tanah. vi. v. menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari surat izin mendirikan bangunan. luas tidak melebihi 10 (sepuluh ) meter persegi dan tingginya tidak lebih dari 2 (dua) meter. luas lantai bangunan yang diizinkan. hal-hal lain yang dipandang perlu. koefisien daerah hijau. perhitungan struktur untuk bangunan bertingkat ( lebih dari 2 lantai) iv.

Izin mendirikan bangunan diberikan paling lambat 3 ( tiga) bulan setelah dikeluarkan surat izin sementara. b. bangunan akan mengganggu lalu lintas. Qanun Propinsi atau peraturan lainnya yang setingkat dengan Qanun tersebut diatas. adanya keberatan yang diajukan dan dibenarkan oleh Pemerintah. 7. Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Bea Balik Nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. f. Izin Mendirikan bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. Putusan Suatu Permohonan Izin Bangunan a . Pencabutan Izin Bangunan a. bangunan yang akan didirikan diatas/lokasi yang penggunaanya tidak sesuai dengan rencana kota yang sudah ditetapkan dalam RTRW. apabila bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitar. h. pemegang izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan. e. g. j. cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada. bertentangan dengan Undang-Undang. . 6. b. c. dalam waktu 6 ( enam) bulan setelah tanggal izin itu diberilkan. apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana Pemerintah. Penolakan Suatu Izin Bangunan a. izin yang telah diberikan itu kemudian ternyata didasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru.5. c. aliran air (air hujan). karena persyaratan-persyaratan dalam Peraturan Daerah ini tidak dipenuhi. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan dan pemohon belum memulai pelaksanaan pekerjaannnya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya. apabila bangunan yang akan didirikan tidak memenuhi persyaratan teknis bangunan. c. Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Kepala Dinas dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun. d. e. sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya. rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. d. i. Surat Izin Mendirikan Bangunan ditandatangani oleh Kepala Dinas atau pejabat lain yang ditunjuk. f. pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 ( tiga ) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan. b.

d. nama dan tempat tinggal yang berkepentingan atau kuasanya. Kepala Dinas membentuk Panitia untuk mempersiapkan penyelesaian permohonan banding itu f. ii. Permohonan banding harus memuat: i. iv. d. ii. . Permohonan Banding Kepada Kepala Daerah a. alas an-alasan yang menjadi dasar permohonan banding itu. Dalam keadaan luar biasa. Permohonan banding oleh yang berkepentingan dilakukan secara tertulis. Permohonan banding dikenakan terhadap: i. dari 8. Kepala Dinas dapat memperpanjang jangka waktu itu selama-lanya satu bulan. pernyataan keputusan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang rencana dan syarat-syarat yang disahkan. c. Keputusan penolakan atau pencabutan surat izin oleh Kepala Dinas. Keputusan kepala Dinas mengenai penetapan ketentuanketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut atau penetapan larangan. tanggal dan nomor keputusan yang dimohon banding. dalam jangka waktu satu bulan setelah dikirimkannya keputusan. iii. maka izin itu berlaku kembali. Jika pencabutan surat izin bangunan dinyatakan tidak beralasan oleh dan dengan suatu keputusan DPRD. b. e.

BAB V. KETENTUAN PENUTUP Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Babbab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI). tata cara. elemen. pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi. komponen. . serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. dan metode uji bangunan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful