DRAFT

MATERI TEKNIS
PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

( BUILDING CODE )

KABUPATEN ACEH BESAR

Dibuat atas kerjasama:

Universitas Syiah Kuala – Aceh Besar
dengan
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura Nomor 20 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110 Telepon (021) 727 99248

DAFTAR ISI
BAB I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.1. TINJAUAN ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI 1. Sejarah Kabupaten Aceh Besar 2. Sosial Budaya Masyarakat 3. Letak Gegrafis dan Administrasi 4. Hidrologi 5. Kependudukan 6. Perekonomian I..2. TINJAUAN ASPEK FISIK 1. Umum 2. Kondisi Fisik Wilayah sebelum Tsunami 3. Stuktur Kabupaten Aceh Besar 4. Bentang Alam Kabupaten Aceh Besar

BAGIAN II RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH II.1 REVIEW RTRW KOTA ACEH BESAR M ------- ISINYA SAMA DGN YANG DI BAB II 1. Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan wilayah Kabupaten 3. Komponen-komponen Utama RTRW 2002-2010 II.2. SKENARIO TATA RUANG 1. Pindah ke Lokasi Aman 2. Tetapa di Lokasi Semula STRATEGI PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH BESAR 1. Konsep Tata Ruang 2. Kegiatan yang Sifatnya Sederhana 3. Kegiatan yang sifatnya Intensif 4. Pelaksanaan Pembangunan 5. Peranan Fasilitas Sosial 6. Jumlah dan Bentuk Fasilitas 7. Pembangunan Iinfrastruktur ARAHAN 1. Zona 2. Zona 3. Zona 4. Zona PEMANFAATAN RUANG -------- ISINYA SAMA DGN YG BAB II Pantai Perikanan/Tambak Taman Kota Pemukiman

II.3.

II.4.

5. 6. 7. 8. 9. II.5.

Zona Zona Zona Zona Zona

Landmark dan Pusat Pemerintahan Kota Pemukiman Baru Pusat Bisnis dan Pemerintahan Pendidikan Tinggi Pertanian

STRUKTUR RUANG 1. Penajaman Aspek Geology 2. Penelitian Bangunanyang masih Berdiri tetapi sudah rusak 3. Site Plan atau Urban Design Kawasan Pusat Kota 4. Site Plan Penataan Ruang Daerah Buffer Zone 5. Konsilidasai Pertanahan di daerah yang paling Rusak akibat Gempa 6. Penyiapan Zona Regulasi 7. Penyiapan Building Code 8. Mendorong Proses Legillasi di DPRD BAGIAN III WILAYAH BENCANA GEMPA THUNAMI DAN BADAI III.1 PENGARUH TSUNAMI 1. Jangakauan Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami 2. Zonasi Kerusak,an 3. Arah Terjangan Gelombang III.2 III.3 III.4 ASPEK FISIK KABUPATEN ACEH BESAR KARAKTERISTIK KABUPATEN ACEH BESAR ZONASI FISIK

BAGIAN IV KETENTUAN UMUM DAN PENGERTIAN UMUM

BAGIAN V FUNGSI BANGUNAN GEDUNG

BAB II. KONSEP RENCANA TATA RUANGAN DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I.1. KEBIJAKAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG KABUPATEN/KOTA 1. Sistem Kota/kabupaten 2. Struktur Kota/kabupaten 3. Kawasan Non Budidaya 4. Kawasan Budidaya I.2. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG/KABUPATEN/KOTA 1. Mewujudkan penghidupan yang aman dan lebih baik; 2. Memberi pilihan kepada warga untuk bermukim; 3. Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana; 4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama; 5. Pendekatan penataan ruang partisipatif; 6. Memitigasi bencana; 7. Tata ruang memadukan pendekatan dari atas dan bawah; 8. Mengembalikan peran pemerintah daerah; 9. Perlindungan hak perdata warga; 10.Mempercepat proses administrasi pertanahan; 11.Pengaturan mengenai kompensasi; 12.Revitalisasi kegiatan ekonomi; 13.Mememulihkan daya dukun lingkungan; 14.Memulihkan sistem kelembagaan SDA dan LH; 15. Rehabilitasi strultur dan pola tata ruang; dan 16.Membangun kembali kota. ZONASI FISIK ACEH BESAR 1. Kawasan Lindung (Conservation, Zona V), 2. Kawasan Pengembangan Terbatas (Restricted Development Area, meliputi zona I, II, dan III), Kawasan Pengembangan (Promoted Development Area, zona IV). ARAHAN PEMANFAATAN RUANG ACEH BESAR 1. Zona pantai, 2. Zona perikanan/tambak, 3. Zona taman kota, 4. Zona permukiman, permukiman terbatas dan permukiman perkotaan, 5. Zona landmark dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar, 6. Zona permukiman baru bagi penduduk yang ingin pindah,

I.3

I.4.

Zona pertanian. Telekomunikasi.7. Pengelolaan Kawasan Hijau & Kawasan Pemukiman 3.3/2003) 1. 8. Zona pusat bisnis dan pemerintahan provinsi dan fasilitas perkotaan berskala kota dan regional. Arah Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota 2. I. . Pemukiman 2. Sistem Prasarana & Transportsai. Energi. dan 9.6. Pengairan dan Prasarana Pengelolan Lingkungan I. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota KOMPONEN UTAMA RTRW TH 2002-2010 1.5. Zona pendidikan tinggi. REVISI RTRW 2002-2010 (Qanun No.

Peruntukan Lokasi 22. Fungsi Bangunan 33. PENGERTIAN 11. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 11. Garis Sepadan Bangunan 5.BAB III PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BULDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. Penentuan Letak Suatu daerah 22. MAKSUD DAN TUJUAN 11. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan dan Terhadap Bangunan di Sekitarnya 55. Umum 22. Klasifikasi Bangunan II.1 ARSITEK BANGUNAN 11.1.2. Tujuan BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. INTENSITAS BANGUNAN 11. Tampilan Arsitektur Bangunan bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat 44. Peruntukan Fungsi dan Klasifasi Bangunan 33. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang untuk satu Bangunan 33. Maksud 22. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Moderen 88. PERUNTUKAN. Pengertian Umum 22. Tata Letak Bangunan BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Tata Urutan Ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang . 1. Tampilan Bangunan Terhadap Keserasian Lingkungan 77. Tampilan pada Rekonstruksi Bangunan dan Terhadapa Bangunan di Sekitarnya 66.2. Teknis I. Luas Bangunan 4.

Jenis Ruang Terbuka Hijau 63. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 22.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 11. Luas Maksimum dan Minimum III. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi . Kontruksi Kayu 44. Pemisahan Jalan 93. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 55. Analisa Struktur 42.2 TATA LETAK BANGUNAN 11. Kontruksi Beton 22. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 44. PERTANDAAN.3 STRUKTUR ATAS 11. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya III. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan 1414. Pengaturan Tata Letak Ruang dalam Satu Bangunan 1313.3 RUANG TERBUKA HIJAU 41. Persyaratan Umum 22. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipe III. Bentuk Tatanan Bangunan 22. Perletakan Saran Keamanan dan Lingkungan 104.99. Persyaratan Perencanaan Struktur IV. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 71. Orientasi Tatanan Pemukiman 33. Tata Letak & Jarak Ruang pada Bangunan Utama 1111. Tata Letak Ruang dan Jarak Ruang pada Bangunan yang bercirikan lokal 1010. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya 1212. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan 1515.4 SIRKULASI.2 PEMBEBANAN 31.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 11. Kontruksi Baja 33. Standar Teknis IV. Perletakan Pencahayaan Buatan III. Ketentuan UPL dan UKL 33. Fasiltas Parkir 82. Fungsi Ruang Terbuka Hijau 52.

Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Kebakaran 66. Fungsi 22.5 KEANDALAN STRUKTUR 11. Keruntuhan Struktur 33. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 44. Keselamatan Struktur 22. Kebutuhan Jalan Keluar 33. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 55. Proteksi Bukaan V. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 66. Persyaratan Keamanan 22. Tipe Konstruksi Tahan Api 33.IV.6 DEMOLISI STUKTUR 11. Kriteria Demolisi 22. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 88. Perencanaan Umum 22. Pusat Pengendali Kebakaran 55. Pemeriksaan. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran . Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 33. Pemeriksaaan.4 STRUKTUR BAWAH 11. Pengujian dan Pemeliharaan Deteksi dan Alarm BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 11. Sistem Pemadam Kebakaran 22.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 11. Ketentuan Teknis Pondasi 33. Metode Perbaikan Tanah IV. Pemeriksaan dan Perawatan Bangunan IV. Ketahanan Api dan Stabilitas 22. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 77.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 11. Pesyaratan Kinerja VI. Kompartemensasi dan Pemisahan 55.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 11. Pengendalian Asap Kebakaran 44. Tangga Luar Bangunan 99. Prosedur dan Metoda Demolisi BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V.

Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 1212. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 88. Lif Kebakaran 33.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. 1313. Penerapan 22. Instalasi Listrik 99. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar Pintu Keluar Horisontal Tangga. Sangkar Lif 66. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 2222.3 KONTRUKSI JALAN KELUAR 11. 1212.1010. Pemeriksaan. Lif untuk Rumah Sakit 55. Saf Lif 77. SISTEM PERINGATAN BAHAYA . Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 55. Pintu 1919. Ramp Pejalan Kaki 1111. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 99. Lebar Tangga 1010.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Rambu pada Pintu VI. Injakan dan Tanjakan Tangga 1414. Bordes 1515. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 33. TANDA ARAH KELUAR.1 LIF 11. Ambang Pintu 1616. 1111. Lobby Bebas Asap 77. Pengujian dan Pemeliharaan VII. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 88. Pintu Ayun 2020. 1414. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 66. Pengoperasian Gerendel Pintu 2121. Atap sebagai Ruang Terbuka 1313. Kapasitas Lif 22. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Pegangan Rambat pada Tangga 1818. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 44. Balustrade 1717. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift Jumlah Orang Yang Ditampung VI.

Pemeriksaan dan Pengujian X. Sumber Daya Listrik 55. Transformator Distribusi 66.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 11. Pemerikasaan dan Pengujian 77. Sistem Penyediaan Air Bersih 33. Perencanaan Sistem Plumbing 22. PENANGKAL PETIR. Pemeriksaan.2 INSTALANSI GAS MEDIK 11. Beban Listrik 44. Jaringan Distribusi Listrik 33. Instalansi Telepon 33.2 INSTALANSI PENANGKAL PETIR 11.1 INSTALANSI LISTRIK 11. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 22. Jenis Gas 22.1 1SISTEM LAMPU DARURAT VIII. Jaringan Distribusi Gas Kota 33.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Instalansi Tata Suara 44. Sistem Plambing Air Bersih 55. Jaringan Distribusi Gas Medik 33. Pemeriksaan dan Pengujian BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Sistem Penampungan Air Bersih 44. Pemeliharaan IX.VIII. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Perencanaan Penangkal Petir 22. Instalansi Penangkal Petir 33.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 11. Pengujian 44. 1 SISTEM PLAMBING 11. Perencanaan Instalansi Listrik 22. Pemeliharaan IX.2 TANDA ARAH KELUAR VIII. Penggunaan Pompa . Jenis Gas 22. MATV BAGIAN X INSTALANSI GAS X.

Sistem Pengumpulan XI. Sistem Pewadahan 123.2 PENCAHAYAAN BUATAN XIII. Sistem Penyaluran Air Limbah 55. Pemeriksaan. Pemeriksaan. KEBISINGAN DAN GETARAN . Kelengkapan Dalam Bangunan 72. 5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 141.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KENYAMANAN. Timbulan Sampah 112. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Hidran Umum 152.1 VENTILASI 11. Konservaasi Energi 33. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Sistem Distribusi Air Bersih 87. Sistem Penyediaan Air Panas 76. Sumber Air Limbah 22. Kelengkapan Diisekitar Bangunan Gedung 83. 3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 61.3 PENCAHAYAAN ALAMI XIII.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN XIII.2 PENGKONDISIAN UDARA 11. Kebutuhan Ventilasi 22. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal 17 18 BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Pemeriksaan. Ventilasi Buatan XII. Sistem Plambing Air Limbah 33. Kebutuhan Pengkondisian Udara 22. Perhitungan Beban BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Pembunagan dan Pengelolaan Air Limbah 44. 4 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 101. Ventilasi Alami 33. 2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 11. Potensi Reduksi 134. MCK Umum 163. Persyaratan Saluran 94.66. Pengujian dan Pemeliharaan XI.

PEMANFAATAN VII. PELESTARIAN VIII.1 XIV. PENGAWASAN VI. PERIJINAN BAB V PENUTUP LAMPIRAN . PENGERTIAN II. PEMBONGKARAN IX. PEMBINAAN XII. PELAKSANAAN V.4 XIV.3 XIV.XIV. PERAN SERTA MASYARAKAT XI.5 KENYAMANAN TERMAL SIRKULASI UDARA PANDANGAN KEBISINGAN GETARAN BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG I.2 XIV. PENYELENGGARAAN III. PERENCANAAN IV. SANKSI XIII. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG X.

FUNGSI BANGUNAN GEDUNG . DAN BADAI IV. TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR II. RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH III. TSUNAMI. WILAYAH BENCANA BAHAYA GEMPA. KETENTUAN UMUM PENGERTIAN UMUM V.BAB I: TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.

BAB II: KONSEP RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I. KETENTUAN UMUM / PENGERTIAN UMUM 2 .

ii. berusaha. d. d. Pengawas/Pemilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. kamar mandi. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. Daerah adalah Kabupaten Aceh Besar b. pembinaan. 2.1 PENGERTIAN 1. atau ruang dalam shaft. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingkat/lantai. Umum Dalam Gedung Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan ini yang dimaksud dengan: a. c. iii. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. b. tidak termasuk lorong tangga. 3 . Teknis a. dan kegiatan lainnya. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotorankotoran dapur. lorong ramp. di atas. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. di mana: i. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Aceh Besar c. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. bersosial-budaya. Dinas Bangunan adalah Dinas Teknis di Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. termasuk struktur atap kaca.BAB III: PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BUILDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR I. KETENTUAN UMUM I. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya.

ii. iii. seperti keagamaan. dsb. atau iv. t. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. p. m. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. r. Rencana saluran. jaringan tegangan tinggi listrik. o. f. Daerah Hijau Bangunan. Antar massa bangunan lainnya. mengadakan pertemuan. u. 4 . Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. q. Bata tepi sungai/pantai. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. rekreasi. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan.e. i. h. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. l. jaringan pipa gas dan sebagainya. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Batas lahan yang dikuasai. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. pendidikan. v. k. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil g. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. j. n. olah raga. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. s. perbelanjaan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.

memperluas. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. ee. ii. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. dd. jj. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan cc. y. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. ff. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. bb.prasarana saluran umum perkotaan. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Mendirikan Bangunan i. x. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. selain kamar untuk MCK dan dapur. atau sejenisnya. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. ruang ganti. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. aa. program tata bangunan dan lingkungan. ii. gg. Mendirikan.i. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan 5 .w. memperbaiki. w. z. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaanpekerjaan yang dimaksud pada butir 2. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. hh. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. untuk tempat kegiatan manusia. peralatan.

Tinghat Ketahanan Api (TKA). sehingga seimbang. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V.2 dalam ukuran waktu satuan menit. mm. integritas. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung.1. serasi dan selaras dengan lingkungannya. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. menjamin keselamatan pengguna. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. ii. yaitu Persyaratan Tata Bangunan dan lingkungan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan.kk. arsitektur dan pengendalian dampak lingkungan. I. iii. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. dan lingkungan. ketentuan wujud bangunan. Tujuan Tujuan Pedoman Persyaratan Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. Arsitektur dan Lingkungan: i. serta persyaratan keandalan bangunan. ii. 2. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. b. dan insulasi.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. masyarakat. Maksud Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Aceh Besar. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.1 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan a. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. 2. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. dan budaya daerah. Peruntukan dan Intensitas: i. ll. 6 . menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.

menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. ii. Tanda arah Keluar. d. dan nyaman di dalam bangunan gedung. Transportasl dalam Gedung: i. ii. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Pencahayean Darurat. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. c. aman. iii. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. 7 . menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. Ketahanan terhadap Kebakaran dan Petir: i. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.2 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung a. 2. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran.iii. b. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. iv. e. ii. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat iii. Strukfur Bangunan: i. apabila terjadi keadaan darurat.

k. iii. iii. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. Pencahayaan: i. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjam di dalam in tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. menjamin terwujudnya kebersihan. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. h. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.f. Sanitasi dalam Bangunan: i. Instalasi Listrik. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. 8 . menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. ii. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. Kebisingan dan Getaran: i. Instalasi Gas: i. j. ii. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. iii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. g. i. ii.

jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. vi.2. Blang Tingkeum. Lamboro Kueh. Bayu. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Zonafikasi Fisik Arahan Bangunan gedung yang akan didirikan di Kecamatan dan dalam wilayah Kecamatan harus diselenggarakan sesuai dengan arahan peruntukan yang diatur dalam pembagian zona sebagai berikut: a.1 a Pembagian Zona Zona I (Kawasan Kepadatan Rendah) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Lampante. Lamteuba Droi. Batee Lhee. Umong Seuribee. iii. Lamcarak. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Meunasah Tunong. Kawasan Pengembangan (promoted development area) c. . Mangeu. Aneuk Paya. Seurapong. Abee. Zona II (Kawasan Kepadatan Tinggi) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Gugob. Permukiman dengan kepadatan sedang 1. Kecamatan Seulimum : Ayon.1 PERUNTUKAN FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. iv. Pulo Meurah. Lampaya dan Lamkruet. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Ujong Mesjid T. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Lamkuk.II. Rinon. Kawasan Aquatic/Pesisir Terbangun Kepadatan Rendah (ZONA I): i. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Peruntukan Lokasi 1. jarak dari pantai ke daratan 200 – 4000 m. Melingge. Ulee Paya. ii. Lam Ateuk. Bak Seutui. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Kecamatan Darussalam : Limpok. Barabung. b. Permukiman dengan kepadatan tinggi. Lambada. Lam Apeng dan Ateuk. Alue Raya. 9 v. Tungkop dan Lam Keuneue. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Zona III (Kawasan Kepadatan Sedang) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi.

vi. Kecamatan Seulimum : Ayon. Janto. Seurapong. Kota Jantho : Janto Makmur. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. viii. Lamgaboh. Umong Seuribee. Rinon. dan Bukit Meusara. Pulo Meurah. Lamteuba Droi. Weu ix. Lamcarak. Kawasan Terbangun Kepadatan Tinggi (ZONA II): i. Weu Raya. Lam Apeng dan Ateuk. Barabung. iv. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. v. dan Bukit Meusara. Bak Seutui. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Lampaya dan Lamkruet.vii. Lambaro Seubun. Gugob. Seubun Ayon. Labui dan Lamujong. Kueh. c. Tungkop dan Lam Keuneue. Tanjong/Lamcok. Bayu. Lamgapang. Kecamatan Batussalam. Lam Asan. meliputi Desa Lampineung. Meunasah Tunong. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Jantho Baru Desa. Seubun Keutapang. Nusa. 10 . Lamkuk. Jantho Baru Desa. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. ii. Blang Tingkeum. Ulee Paya. b. Mangeu. Lambada. Kota Jantho : Janto Makmur. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Ujong Mesjid T. Abee. Kecamatan Lhoknga. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Kawasan Terbangun Kepadatan Sedang (ZONA III): i. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Aneuk Paya. iii. Lamboro Kueh. viii. Batee Lhee. vii. Meunasah Mesjid Lamlhom dan Meunasah Baro. Lam Ateuk. Alue Raya. Rumpet dan Lamreng. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. meliputi Desa Lampaya. ii. Rumpet dan Lamreng. Kecamatan Darussalam : Limpok. Meunasah Karieng. Weu ix. Lampante. Melingge. Janto. Lamgapang. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang.

Rabo. 2. meliputi Desa Ie Seu Um. meliputi Desa Alue Gintong. Kecamatan Darussalam. Rumah tinggal susun iv. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Bak Aghu. Lamgeuriheu. Buga. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. d. umah tinggal vila v. Jawie. ii. Iboih Tunong. keamanan. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. kesehatan. pusat perbelanjaan. fungsi usaha. pertokoan. lAmpisang Teugoh. Rumah tinggal deret iii. capeung Baroh. Lampisang Dayah. vii. Bangunan perdagangan: pasar. dan sejenisnya. Capeung Dayah. dan sejenisnya. Lam Rukam dan Gurah. keselamatan. e. vi. Geunteut dan Baroh Kruengkala. perkantoran niaga. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Monmata. Seulimeum. Gampong Raya. b. Kecamatan Seulimum. Alue Rindang dan Meunasah Baro. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. Lamjruen. dan sanitasi yang memadai. meliputi Desa Pudang Meunasah Cot. Fungsi Bangunan a. mal. fungsi sosial dan budaya. Rumah tinggal tunggal ii. Seuneobok. Pasar Seulimeum. Keutapang. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. Iboih TanTanjong. Baroh. c. Keuneu Ue. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. Jeumpa. Lampisang Tunong. Rumah tinggal asrama f. meliputi Desa Lamboro angan dan Lamduroe.iii. 11 . kenyamanan. Gaseue. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. iv. Lamjuhang. Kecamatan Masjid Raya. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. Data. Kayee Adang. keamanan. Lampisang. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Kecamatan Peukan Bada. Lhieb. Keunaloi. Kecamatan Lhong. v. meliputi Desa Beuradeun. dan fungsi khusus. Pinto Khop.

halte bus. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). i. penginapan. yang masingmasing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. atau (2) atu atau lebih bangunan hunian gandeng. iv. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. j. Dalam suatu persil. vi. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. termasuk rumah deret. Bangunan Terminal: stasiun kereta. terminal bus. dan sejenisnya. bangunan reaktor. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. rumah bersalin. sekolah lanjutan. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. iv. gereja. terminal udara. poliklinik. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. industri besar/berat. industri sedang. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. iii. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: i. motel. kelenteng. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. rumah sakit klas A. dan sejenisnya. bioskop. villa. B. gedung tempat parkir. keveling. Bangunan kebudayaan : museum. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. dan sejenisnya. dan sejenisnya h. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. Bangunan dengan fungsi umum. dan vihara. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. g. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. hostel. dan sejenisnya. gedung kesenian. pelaksanaan. sekolah tinggi/universitas. rumah taman. Bangunan peribadatan: mesjid. a. atau 12 . pura.Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. Bangunan Penyimpanan: gudang. v. unit town house . ii. sekolah dasar. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. & C. pelabuhan laut. Setiap bangunan gedung. 3. sosial dan budaya. iii. dan sejenisnya. Bangunan Industri : industri kecil.

h. atau iii. atau bengkel. ruang makan. bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. atau iv. tempat parkir umum. 7. d. 6. bar. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. kafe. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. 7. ruang penjualan. bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. rumah tamu. Klas 4: Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5.. i. atau ii. atau 9. atau iii. tempat potong rambut /salon. pengepakan. atau usaha komersial. i. restoran. gudang. pengurusan administrasi. ruang makan malam. c. Klas 3:Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. atau iv. cacat. Klas 8: Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Klas 9: Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau ii. pasar. atau ii. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. losmen. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. perbaikan. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. perubahan. termasuk: i. rumah tamu. e. finishing. hostel. diluar bangunan klas 6. f. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau anak-anak. termasuk: ii. perakitan. panti untuk orang berumur. 8. rumah asrama. termasuk: i. g.b. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. 8 atau 9 dan erupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. tempat cuci umum. yaitu: 13 . atau v. Klas 1b : rumah asrama/kost. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. ruang pamer.

termasuk bagianbagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. i. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. yaitu . ii. m. hall. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. Elevasi terbagi dengan dalam tiga kelompok yaitu elevasi 0. bangunan budaya atau sejenis. bangunan peribadatan. ruang mesin. Klas 9b: bangunan pertemuan. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. carport. iii. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. ii. Ruang-ruang pengolah. J. tonggak. 1b. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. Klas 10: Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II .2 INTENSITAS BANGUNAN 1. atau sejenisnya. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. Jarak (j) dari garis pantai 14 .Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. atau sejenisnya.00 sampai dengan kurang dari 5 meter LWS. antena. ruang mesin lift. 9b. Penentuan letak suatu daerah didasarkan tiga pertimbangan. Klas-klas 1a. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. ii. kolam renang. b. 9a. Elevasi (e) muka tanah terhadap + 0. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain.00 meter Low Water Sea (LWS) atau surut terendah. temmasuk bengkel kerja. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. dan b' laboratorium. k. a. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. elevasi 5 sampai dengan 15 meter LWS dan lebih dari 15 meter LWS. dan: i.

2. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). cemara. BTS. rekreasi pantai. (b) Kepadatan bangunan sangat rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). Zona 1 (1) Permukiman (a) Permukiman nelayan yang semula telah ada di zone ini tidak boleh diperluas. dan pengembangan pengetahuan masyarakat tentang Tsunami. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan a. Non Rumah Tinggal (a) Zone ini berfungsi untuk tambak. c.4.25g dan Zone 6 dengan acceleration maksimum 0.5 dengan acceleration maksimum masing-masing 0. Nilai g sebesar 9. 0. namun boleh ditingkatkan kualitasnya. untuk bangunan non rumah : zone gempa dapat terbagi dalam dua bagian yaitu Zone 3. terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. Peruntukan. dapat dibagi atas tiga zone yaitu Zone I kurang dari 5 km. (c) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan.dan kawasan lindung pantai (dengan penanaman bakau. (b) Sebagai zona untuk menempatan Tsunami Park Memorial Zone (TPMZ) yang berfungsi sebagai pusat wisata. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan tinggi atau 51 – 75 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Lahan untuk fasilitas umum. hutan bakau.15g.3g. (2) (1) 15 . Fungsi Lahan i. (b) Kepadatan permukiman sedang didukung bangunan tahan gempa. Zona 2 Permukiman (a) Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. ii.20 g.81 m2/detik. 0. dsb. Misalnya gardu listrik. telekomunikasi. penelitian. dengan jumlah yang terbatas.Berdasarkan jarak yang diukur dari garis pantai. Zone gempa yang mungkin terjadi Berdasarkan zone gempa. (c) Untuk menempatkan permukiman nelayan dengan jumlah yang terbatas atau dibawah 31 orang/ha. Zone II antara 5-20 km dan Zone III lebih dari 20 km. Untuk rumah tinggal zone gempa yang digunakan adalah Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. sarana pemerintahan dan perdagangan skala kecamatan dan kota.3g. dan kelapa). pusat informasi. dan air bersih.

(c) Untuk menempatkan perkantoran dan pelayanan umum dengan skala pelayanan tingkat perkotaan. serta kelengkapan dan kehandalan infrastruktur. dengan insentif keringanan pajak. pengendalian harga tanah.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. dan tinggi skala pelayanan di tingkat perkotaan. rental office. telekomunikasi. ikan. (d) Untuk menempatkan fasilitas untuk pendidikan dasar. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). dan air bersih. misalnya kantor-kantor dinas. (f) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. seperti pasar untuk tingkat 16 . SLTP. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan rendah atau 31 – 50 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). SLTA. dan Perguruan Tinggi. (b) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). seperti pasar untuk tingkat kota yang menjual sayur. diklat. (d) Untuk menempatkan industri-industri yang terkait dengan perikanan. (c) Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai radius < 20 Km dari garis pantai. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. Zone 3 (1) Permukiman (a) Permukiman masih dimungkinkan diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. dsb. (b) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung).(b) Bangunan tahan gempa. (e) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya dan pertokoan.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. Misalnya gardu listrik. kantor pemerintahan. menengah. dsb. BTS. dengan jumlah yang terbatas. fungsi-fungsi semula didorong untuk dikembangkan. (e) Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. iii. Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. seperti SD.

ii. dengan jumlah yang terbatas. keamanan. c. dan kebutuhan rumah tangga lainnya. atau ditambah baru hingga kawasan lindung (76-100 i. ii. ikan. penempatan fasilitas untuk pelabuhan dan pembangkit energi. (g) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. dan bangunan-bangunan untuk pengawasan pantai.gampong yang menjual sayur. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Kawasan kepadatan sedang dipergunakan untuk keamanan dan mitigasi. cool storage. dan air bersih. Permukiman yang telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. b. Untuk permukiman yang dari semula telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Digunakan sebagai bangunan untuk sarana penelitian kelautan dan perikanan. konservasi. pertambakan dan perikanan. Zone 2 dan Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Di kawasan lindung tidak diperbolehkan ada bangunan rumah tinggal. dsb. Bangunan pada Kawasan Budidaya i. konservasi. diperluas atau ditambah baru. (f) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. diperluas. stasiun bahan bakar nelayan (Krueng Raya). Zone 1 17 . Misalnya gardu listrik. Zone 2 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada pada kawasan lindung di kawasan kepadatan tinggi tidak boleh dikembangkan. seperti tempat pendaratan ikan. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. BTS. telekomunikasi. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. Zone 1 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang semula telah ada dengan kepadatan yang sangat rendah (dibawah 31 jiwa/ha) pada kawasan budidaya ini tidak boleh dikembangkan. Bangunan Pada Kawasan Lindung (1) Perumahan dan Permukiman Pada kawasan ini tidak sesuai untuk lahan permukiman. pelelangan ikan. permukiman khusus hanya untuk nelayan tidak boleh ada bangunan rumah tinggal. navigasi. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Bangunan non rumah tinggal yang berada di zone ini adalah untuk keperluan penelitian.

kesehatan.jiwa/ha). pendidikan. sosial dan budaya. villa. Bangunan Hunian Biasa. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar Zone 1 Klasifikasi bangunan yang diperbolehkan berada pada zone ini 18 . Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. unit town house. Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada tidak boleh dikembangkan/ diperluas/ ditambah baru. hanya boleh ditingkatkan kualitasnya dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Untuk bangunan komersial skala rumah tangga. (2) Klas 9. rumah tamu. iii. rumah taman. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. bangunan pompa. Klasifikasi Bangunan i. ibadah. bangunan air. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. d. terbatas untuk kebutuhan di tingkat desa. untuk keamanan. perdagangan. gardu pembangkit energi. termasuk bengkel kerja. hostel. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. termasuk rumah deret. sosial dan pemerintahan skala kecamatan dan kota. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. adalah (1) Klas 1. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. pemeliharaan tambak. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. (2) Bangunan non rumah tinggal Bangunan untuk tujuan fasilitas pendidikan.

cacat. tonggak. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau (b) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. unit town house. Bangunan Hunian Campuran. 6. hostel. atau (e) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawankaryawannya. 7. kolam renang. adalah tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau sejenisnya. atau 9. Bangunan hunian di luar bangunan klas 1 atau 2. (b) Klas l0b : struktur yang berupa pagar. di luar bangunan klas 6. rumah taman. (2) Klas 2. termasuk rumah deret.atau sekolah lanjutan. (5) Klas 5. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. 19 . Bangunan Hunian Biasa. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau (c) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. 8. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. villa. bangunan budaya atau sejenis. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. losmen. rumah tamu. (3) Klas 3. carport. (4) Klas 4. atau (d) panti untuk orang berumur. atau anak-anak. 7. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. ii. rumah tamu. atau usaha komersial. atau sejenisnya. hall. pengurusan administrasi. Bangunan kantor. Zone 2 (1) Klas 1. antena. bangunan peribadatan. (3) Klas 10. termasuk : (a) rumah asrama.

iii. (b) Klas 9b: Bangunan pertemuan. bangunan budaya atau sejenis. Bangunan Hunian Biasa. Bangunan Perdagangan. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. atau (b) gudang. perakitan. Bangunan Penyimpanan/ Gudang adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. termasuk bengkel kerja. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. hall. (8) Klas 8. Bangunan Umum. perbaikan. antena. tempat cuci umum. kolam renang. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. (10) Klas 10. ruang penjualan. termasuk: ruang makan. bangunan peribadatan. bar. termasuk : tempat parkir umum. atau sejenisnya. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. atau bengkel. (9) Klas 9. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau sejenisnya. tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. carport. atau (b) ruang makan malam. ruang pamer. tonggak. Zone 3 (1) Klas 1. finishing. pengepakan.(6) Klas 6. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan : garasi pribadi. atau (d) pasar. kafe. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. perubahan. (7) Klas 7. adalah bangunan toko (a) (a) atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. yaitu : (a) Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. restoran. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan 20 . termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. atau (c) tempat potong rambut/ salon.

Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. kafe. perubahan. perakitan. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. rumah taman. (3) Klas 6. pengepakan. kolam renang. atau (c) tempat potong rambut/salon. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. unit town house. Luas hunian untuk setiap orang 21 . termasuk rumah deret. tempat cuci umum. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/ kost. atau (d) pasar. perbaikan. atau bengkel. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. hall. bangunan peribadatan. rumah tamu. adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. Bangunan Umum. villa. restoran. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. termasuk: (a) ruang makan. atau sejenisnya. finishing. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. (2) Klas 2. tonggak. Luas Bangunan a. antena. (5) Klas 9. atau sejenisnya. bar. termasuk bengkel kerja. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau (b) ruang makan malam.suatu dinding tahan api. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. (4) Klas 8. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. 3. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. Bangunan Perdagangan. hostel. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. ruang pamer. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. bangunan budaya atau sejenis. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. ruang penjualan. (6) Klas 10. carport.

serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. daya dukung lahan/ lingkungan. Bangunan Non Rumah Tinggal Luas kavling minimum bangunan non-rumah tinggal menyesuaikan standar kebutuhan masing-masing klas bangunan. Kebutuhan ruang per orang minimal adalah 9 m2. Kebutuhan luas kapling minimum untuk rumah yang dihuni oleh 3-4 orang adalah 90 m2. kerja. Kebutuhan ruang perorang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Luas Lahan per Unit Bangunan i. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. iii. ii. duduk. suhu udara dan kelembaban dalam ruangan serta pertimbangan pada kondisi tertentu dimungkinkan memenuhi standar ruang internasional (12 m2 per orang). Zone 1 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah. Zone 2 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu 60%-80%. d. ii. Zone 1 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu maksimum 40%. (3) kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang meliputi aspek pencahayaan. cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. mandi. Permukiman Luas lahan per unit bangunan untuk setiap zone adalah sama. yang disesuaikan dengan 22 . Luas lantai bawah bangunan terhadap luas kavling lahan (KDB) i. kebijaksanaan intensitas pembangunan. makan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan.Luas hunian untuk setiap orang di setiap zone adalah sama. kebijaksanaan intensitas pembangunan. dengan lebar kavling miniumum 6 m. kakus. meliputi aktivitas tidur. (2) keamanan. Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling bangunan (KLB) i. Zone 3 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah rendah yaitu maksimum 60%. daya dukung lahan/ lingkungan. c. Kebutuhan luas kapling didasarkan atas: (1) kebutuhan luas hunian. b. penghawaan.

Luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman terhadap luas lahan satu cluster permukiman. daya dukung lahan/ lingkungan.persyaratan building envelop lahan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Ketinggian maksimum bangunan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: i. Zone 3. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai pada tingkat kepadatan tinggi. Terhadap Keselamatan 23 . Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 3 lantai. Jumlah lantai bangunan rumah tinggal tertinggi adalah 1 lantai hingga 2 lantai. daya dukung lahan/ lingkungan. iii. perkembangan kota. Jumlah lantai baik rumah tinggal mau pun non rumah tinggal maksimal 3 lantai. Terhadap Keamanan Ketinggian bangunan harus disesuaikan dengan sistem struktur dan bahan konstruksi yang digunakan. perkembangan kota. perkembangan kota. Ketinggian maksimum bangunan Ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan adalah 12 meter. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 2 Koefisien lantai bangunan untuk zone ini adalah sedang yang disesuaikan dengan persyaratan selubung bangunan. sedangkan untuk bangunan non rumah tinggal menyesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah tinggi f. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. ii. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai kecuali untuk ruang < 5 Km jumlah lantai maksimal 4 lantai pada tingkat kepadatan sedang. Zone 4. Ii. ketahanan terhadap bahaya gempa dan aman terhadap jalur penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku ii. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 2 lantai e. i. Zone 2. Zone 3 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah yang disesuaikan dengan persyaratan building envelop lahan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah rendah. daya dukung lahan/ lingkungan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Zone 1. iv. iii.

ii. Jalan-jalan kampung dan lorong yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija. meliputi jalan yang mnghubungkan kota-kota dipulau Sumatra antar provinsi dan dikabupaten Aceh Besar melalui perbatasan kabupaten pidie dan kabupaten Aceh Besar serta pelabuhan Malahayati ke kot a Aceh Besar. kecuali bangunan yang dindingnya terbuka termasuk lantai panggung. Sempadan muka minimum 8 m 24 . Jalan Arteri. iv.Didasarkan atas kualitas konstruksi dan bahan bangunan yang dapat menjamin keamanan penghuninya terhadap bahaya kebakaran (waktu untuk menyelamatkan diri sebelum runtuh) sesuai ketentuan yang berlaku. yaitu minimum 8 meter dari batas Damija meliputi jalan yang menghubungkan kota seulimeum ke kota kemala (kabupaten Sigli) melalui kota Jantho. Kavling besar ( > 450 m) U U (1). dengan kota lhoong. Terhadap Kesehatan Ketinggian minimum bangunan terkait dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit minimum = 2. iii. kecuali jalan setapak dan gang kebakaran b. persyaratan kemiringan atap untuk bahan penutup atap dan model atap (flat/ perisai/ pelana/ dsb). Untuk bangunan peruntukan dan konstruksi khusus dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan serta disesuaikan dengan jarak terhadap as jalan yang berdekatan dan selubung bangunan. ruangan mendapat cukup cahaya langsung dan merata. kota Jantho dengan Lamno. Terhadap Daya Dukung Lingkungan Jumlah lantai bangunan dan koefisien lantai bangunan menyesuaikan Peraturan Daerah/ Qanun Ijin Mendirikan Bangunan dan/atau RDTRK/ RTRK/ RTBL setempat. Rumah tinggal dan non rumah tinggal: i. 4. struktur atap.80 m agar terjadi sirkulasi udara yang cukup dan kontinyu. Garis Sempadan Bangunan a. yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija meliputi jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan antar desa. Jalan Lokal/Lingkungan. kota Krueng Raya dengan kota Seulimuem dan Kota Krueng Raya dengan kota Sigli ( Ibukota kabupaten Sigli ). Garis Sepadan Bangunan Berdasarkan Ukuran Daerah Milik Jalan (Damija) i. iv. Jalan Kolektor. Garis sempadan bangunan pada klas jalan lingkungan perumahan kavling besar. iii. kavling sedang dan kavling kecil. yaitu minimum sebesar 10 meter dari batas Damija.

75 meter.25 meter. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. U U ii.75 meter.5 m jika atap samping menggunakan teritisan (2). Kavling kecil ( > 90 m2) (1). Sempadan muka minimum 5 m (2). (b) Lebar perkersan jalan minimal 1. . . Garis sempadan bangunan terhadap batas-batas persil/kavling sendiri dan lingkungannya. d. i. Kavling sedang ( > 200m) (1). (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Bangunan berdampingan tidak sama tinggi. Bangunan dengan tinggi > 8 m = 1/2 tinggi bangunan dikurangi 1m (5).50 meter. ii.75 meter.Rumah berlantai 1 = 1. Jarak massa/blok bangunan satu lantai minimum 4 m Non rumah tinggal (1). Jalan Lokal Sekunder (1) Jalan Setapak (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 2 meter. Bangunan dengan tinggi < 8 m = 3 m (4). kolektor. (b) Lebar perkersan jalan minimal 3 meter. lokal) Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya berlaku untuk semua zone. (3). Persil sedang dan besar minimal 2 m (3). Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya (arteri. Jarak massa/blok bangunan dengan bangunan sekitarnya minimum 6 m dan 3 m dengan batas kapling (2). Sempadan samping minimum 2 m (2). i. Jarak dengan batas persil minimum 4 m (3). (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .Rumah berlantai 2 = 2.50 meter.Rumah berlantai 1 = 1. Sempadan samping minimum 4 m Sempadan belakang 5 minimum U U ii. Persil kecil minimal 1 m jika atap samping tanpa teritisan dan 1. Rumah tinggal : (1).20 meter. Sempadan belakang minimum 3 m iii.75 meter.(2). Jalan Lokal Sekunder II 25 . (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Sempadan muka minimum 3 m U U c.Rumah berlantai 2 = 2. Sempadan samping minimum 3 m (3). (2) Jalan Kendaraan (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 3. jarak minimum antar bangunan = {(½ tinggi bangunan A + ½ tinggi bangunan B) /2} -1 meter.

. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya. mengacu pada : (1) SNI 04-6267.603-2002 tentang Istilah Kelistrikan-bab603: Pembangkitan Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .50 meter. a. Garis sempadan bangunan terhadap jalan rel. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk.Rumah berlantai 1 = 2. jaringan listrik tegangan tinggi.50 meter. Sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan penyediaan listrik. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya adalah sama untuk semua zone yaitu: i. Berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang disesuaikan dengan kondisi NAD.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 601: Pembangkitan. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk sungai besar (luas daerah pengaliran > 500 Km2) dan sungai kecil (luas daerah pengaliran < 500 Km2) ditentukan setiap ruas berdasarkan perhitungan teknis luar daerah pengaliran atau 20 – 100 meter.50 meter. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. (b) Lebar perkersan jalan minimal 5 meter. Berdasarkan PUIL 2000 (jarak ke kiri dan kanan dari tegangan tinggi (70 KV ke atas) sejauh 25 m) ii.Rumah berlantai 1 = 3. iii. iii.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 602: Pembangkitan (3) SNI 04-8287. e. (b) Lebar perkersan jalan minimal 4. i. (c Lebar bahu jalan minimum 0. 26 . kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum.50 meter. iii. Sungai bertanggul kawasan perkotaan minimal 10 hingga 15 meter dari pinggir sungai.Rumah berlantai 2 = 3.50 meter. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan minimal 50 m dari luar kaki tanggul. ii.Rumah berlantai 2 = 4. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .50 meter.(a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 5 meter.50 meter. Jalan Kolektor Sekunder (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 7 meter. . Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Umum (2) SNI 04-8287.

(2) Untuk peningkatan fungsinya. Garis sempadan sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ini sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter. v. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. tanggul dapat diperkuat. kedalaman 3 – 20 m minimal 15 m dari tepi sungai. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan kedalaman < 3 m. (2) Untuk peningkatan fungsinya. (1) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. diperlebar dan ditinggikan. viii. kedalaman > 20 m minimal 30 m dari tepi sungai. Macam sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih. diperlebar dan ditinggikan. (2) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter. garis sempadan dan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. (1) Sungai yang bertangggul di luar kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. (3) Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. Penetapan garis sempadan untuk sungai ini dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. (1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari 500 (lima ratus) Km2. 27 . tanggul dapat diperkuat. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. minimal 10 meter dari tepi sungai. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu yang ditetapkan.iv. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. vii. dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. vi. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan.

Garis sempadan bangunan pada kawasan pesisir. Zone 1 Minimal jarak dari bibir pantai 1. i. Untuk danau dan waduk. rawa dan tambak. h. Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Qanun tentang RTRW Aceh Besar No. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. v. (2) Segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggung jawab pengelola jalan.I.ix.3 Th. ii. g. Garis sempadan pantai.000 m. 2003 sebagai berikut : i. iv. Zone 2 dan Zone 3 28 . garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 meter di sekitar mata air. Jaringan drainase mengacu pada ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut Penetapan garis sempadan danau. serta sungai yang tidak bertanggul yaitu sebesar 20 – 100 meter. waduk. i. Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah iii. Zone 2 dan Zone 3 Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah. dan kawasan lindung lainnya. Zone 1 Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter. waduk. dengan ketentuan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R. Garis sempadan bangunan pada tepi danau. ii. kecuali pada kawasan yang sangat diperlukan bagi kepentingan umum. i. Untuk mata air. Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan (1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. kecuali bangunan non-rumah tinggal sesuai dengan standar dan peraturan daerah setempat atau Garis sempadan pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat ii. lahan peresapan air.

Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota pada zone 3 dan zone 4, sekurang-kurangnya (minimal) = jarak sempadan bangunan terhadap pagar kavling 5. Tata Letak Bangunan

a. Bentuk tatanan bangunan dalam satu lingkungan pada arsitektur

b.

c.

d.

e.

tradisional NAD dan arsitektur lainnya yang ada. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah air tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Penambahan ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama/ lainnya harus mengikuti standar yang berlaku . Khusus untuk Zona Kawasan Aquatic hingga Kawasan Sedang, tidak diperkenankan menambah ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama. Orientasi tatanan permukiman terhadap kaidah agama, tradisi, topografi, orientasi matahari, arah angin, pola jalan, sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Posisi jalan utama lurus memanjang dari utara ke selatan, diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama timur-barat untuk menghindari angin kencang timur-barat dan agar rumah menghadap kiblat. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah, sebagai tempat bersosialisasi warga. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab); pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Sumur dapat digunakan bersama; sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum di bagian depan rumah.

29

III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
III.1 . ARSITEKTUR BANGUNAN

1. Pengertian Umum Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langitlangit adalah 2.80 meter. Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a. Kebutuhan luas per jiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 1. 1: Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat Standar per Luas untuk 3 (m2) jiwa Luas untuk 4 (m2) jiwa 2 Jiwa (m ) Unit Lahan (L) Unit Lahan (L) ruma Mini Efekti Ideal ruma Mini Efekti Ideal h h m f m f (Ambang batas) 21,6 60,0 72-90 200 28,8 60,0 72-90 200 7,2 (Indonesia) 27,0 60,0 72-90 200 36,0 60,0 72-90 200 9,0 (International) 36,0 60,0 48,0 60,0 12,0

Berdasarkan KEPMENKIMPRASWIL No 403/2002, rumah standar sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas kapling ideal, dalam arti memenuhi kebutuhan luas lahan untuk bangunan sederhana sehat baik sebelum maupun setelah dikembangkan. Secara garis besar perhitungan luas bangunan tempat tinggal dan luas kapling ideal yang memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan bangunan seperti berikut; kebutuhan ruang minimal menurut perhitungan dengan ukuran Standar Minimal adalah 9 m2, atau standar ambang dengan angka 7,2 m2 per orang .

30

Gambar 1.1 Luas Bangunan Rumah Sederhana Sehat dan Luas Lahan Efektif Diperhitungkan terhadap Kebutuhan Ruang Minimal dan Koordinasi Modular sehingga dicapai luas lahan efektif antara 72 m2 sampai dengan 90 m2 dengan variasi lebar dan muka lahan yang berbeda. 2. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang Untuk Satu Bangunan. Berikut ini kriteria standar kebutuhan minimal rumah mengacu dari Konsepsi Rumah Sederhana Sehat : a. memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK. b. memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan yang akan dilakukan yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serba guna. c. Bentuk generik atap selain pelana, dapat berbentuk lain (limasan, kerucut, dll) sesuai dengan tuntutan daerah, bila ada. d. Penghawaan dan pencahayaan alami pada rumah menggunakan bukaan yang memungkinkan sirkulasi silang udara dan masuknya sinar matahari. e. Kebutuhan standar minimal ruang tersebut memberi peluang pada penghuni untuk dapat mengembangkan ruang sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu melakukan pembongkaran bagian-bagian bangunan secara besar-besaran. Ruang -ruang yang perlu disediakan untuk satu rumah inti sekurangkurangnya terdiri dari : a 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. b. 1 ruang serbaguna merupakan kelengkapan rumah dimana di dalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan. c. 1 kamar mandi/ kakus/ cuci merupakan bagian dari ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi cuci dan kakus.

31

Ketiga ruang tersebut diatas merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan dasar, selain itu sebagai cikal bakal rumah sederhana sehat. Konsepsi cikal bakal dalam hal ini diwujudkan sebagai suatu Rumah Inti yang dapat tumbuh menjadi rumah sempurna yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta kesehatan penghuni, sehingga menjadi rumah sederhana sehat. Ukuran pembagian ruang dalam rumah tersebut berdasarkan pada satuan ukuran modular dan standar internasional untuk ruang gerak/ kegiatan manusia. Sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT-1 adalah sebagai berikut:: i.. Ruang Tidur : 3,00 m x 3,00 m ii. Serbaguna : 3,00 m x 3,00 m iii. Kamar mandi/kakus/cuci : 1,20 m x 1,50 m 3. Tampilan Arsitektur Bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat a. Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh Besar dapat berupa tektonika atau ragam hias dengan pola tumbuhan atau pola geometri Arsitektur Islam. b. Bentuk atap bisa pelana, perisai, atap datar, atau pun variasinya. c. Arah hadap (depan bangunan) disesuaikan dengan konfigurasi jalan. Bila jalan membujur utara – selatan, maka depan bangunan menghadap barat dan timur. d. Kakus sedapat mungkin tidak menghadap barat – timur (menghadap – membelakangi kiblat) e. Penyelesaian pada setiap bagian bangunan diupayakan agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh Besar. f. Pemakaian warna untuk seluruh bagian bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya agar lebih serasi secara visual. Warna yang umum dipakai untuk material dari beton adalah putih, krim, dan beberapa warna lainnya seperti hijau, coklat, biru, dan pastel. Untuk material lain seperti kayu, warnanya lebih bervariasi, sekali pun didominasi oleh warna coklat dan putih. Tampilan arsitektur tampang bangunan salah satunya dengan adanya ragam hias ornamen bermotif flora. Gambar 2.2 dan 2.3 dibawah ini menunjukkan tampan g rumah Aceh yang sarat ornamen.

32

sedangkan tinggi keseluruhan bangunan lebih kurang lima meter. Orientasi bangunan meunasah dan bangunan rumah tinggal perlu dibedakan dengan pemahaman bahwa perlu dibedakan antara fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong (desa). Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua lubang. Tiang-tiang itu tidak ditanam ke dalam tanah. Sedangkan untuk bangunan meunasah. 33 .Gambar 1. Arah hadap bangunan disesuaikan dengan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deret lebih kurang dua setengah meter. dengan bentuk bangun denah persegi panjang. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 batang dengan diameter lebih kurang 33 cm.3 Tampak Samping Rumah Aceh Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh diarahkan menuju digunakannya ragam hias tumbuhan ataupun pola geometri ragam hias arsitektur Islam dalam tampilan bangunan rumah tinggal. Pola struktur yang digunakan adalah rumah panggung khas Aceh dengan bentuk atap pelana atau variannya. tetapi didirikan di atas pondasi batu kali. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. Tiang–tiang itu dihubungkan antara satu dengan lainnya dengan kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lubanglubang tiang tersebut. Penyelesaian pada setiap bangunan diupayakan agar agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh. Pola bukaan pintu yang memberikan orientasi langkah kaki pada saat masuk atau keluar rumah dan perletakan WC yang sedapat mungkin tidak menghadap barat-timur karena akan menghadap atau membelakangi kiblat. Gambar 1. sebagai contoh orientasi bangunan dan bujur bangunan rumah tinggal dinyatakan melalui arah hadap kiblat.2 Tampak Depan Rumah Aceh Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang didirikan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari kayu yang kuat. batu inipun tidak ditanam dalam tanah tapi diletakkan di atas tanah.

pemakaian bahan/material. bukan berarti masyarakat dilarang untuk membuat inovasi tampilan bangunan. Merekonstruksi yang berarti membangun kembali bangunan yang rusak akibat gempa tsunami dilakukan dengan kaidah-kaidah sesuai budaya lokal . dan terhadap Bangunan disekitarnya. upaya untuk mengembangkan tampilan bangunan beserta inovasi dan daya kreasi masyarakat. Gambar di bawah ini merupakan salah satu ilustrasi dari bangunan untuk rekonstruksi. Rehabilitasi tampilan bangunan tidak diperbolehkan sampai melanggar garis sempadan bangunan 5. Gambar 1. Namun demikian. tidak dibatasi. dan terhadap Bangunan disekitarnya. melainkan diarahkan untuk memperkaya ragam hias pada tampilan. tekstur. dan penggunaan ornamen. Tampilan bangunan untuk rekonstruksi diarahkan sedapat mungkin menggunakan Arsitektur Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Aceh Besar. Rehabilitasi tampilan arsitektur pada rumah tinggal dan bangunan gedung sedapat mungkin diselaraskan dengan tampilan arsitektur di sekitarnya untuk keserasian lingkungan.Pemilihan warna untuk tampilan bangunan disesuaikan dengan adat Aceh yang juga dijiwai oleh kaidah-kaidah agama Islam. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan. seperti pada penggunaan warna. 4. Ilustrasi Bangunan untuk Rekonstruksi Dari gambar tampilan bangunan di atas terlihat bahwa tampilan bangunan rekonstruksi diarahkan pada sebuah konsep preservasi dan konservasi yang didasarkan atas kaidah arsitektur Islami dengan landasan budaya Aceh. melainkan diarahkan menuju sebuah konsep berupa pengayaan ragam hias Aceh pada tampilan 34 . Namun demikian.4. Tampilan Arsitektur pada Rekonstruksi Bangunan.

tampil sebagai hiasan semata-mata. dan tanaman produktif lainnya. Jenis tanaman yang ditanam dapat berupa tanaman hias (seperti jenis bunga-bungaan) . dan tanaman produktif (seperti belimbing. tanpa meninggalkan kaidah tata ruang di dalamnya. 6. view. tanaman peneduh (seperti Angsana. bintang dan bulan. awan.) . Misalnya konstruksi panggung bisa berupa kontsruksi beton atau pun baja. Tampilan Arsitektur Bangunan terhadap Keserasian Lingkungannya. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Modern. 7. ragam hias awan berarak (awan meucanek) menunjukkan lambang kesuburan dan motif tali berpintal (taloe meuputa) menunjukkan simbol bagi ikatan persaudaraan yang kuat untuk masyarakat Aceh. Pada bagian depan rumah (yang berbatasan dengan jalan).bangunan. Untuk bangunan bangunan Meunasah. fauna. Di antara kriteria tersebut yang berkaitan dengan wujud bangunan adalah :  Compability. Menurut Hamid Shirvani. bahan dan material yang lebih modern. b. a. sense dan livability. Pemakaian ragam hias tradisional pada bagian-bagian tertentu dari bangunan. yaitu kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. Ragam hias pada bangunan-bangunan Aceh pada dasarnya terdiri dari ragam hias yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora. Arah bujur bangunan rumah tinggal dan meunasah perlu dibedakan untuk membedakan fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong. non measurable criteria dalam rancang kota terdiri dari access. Beberapa ragam hias. compability. disediakan lahan yang cukup sebagai ruang terbuka hijau. sebagian dinding dan sebagainya yang sifatnya ornamentasi tempelan. pintu dan jendela. sebagaimana ragam hias bintang dan bulan menunjukkan simbol ke-Islaman. Bangunan tradisional atau rumah panggung di Aceh Besar dapat juga dibuat dengan teknologi konstruksi. identity. c. Diharapkan melalui upaya untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengayaan ragam hias pada tampilan bangunan dapat tercipta keseimbangan antara nilainilai sosial budaya Aceh terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. bentuk dan tata letak massa. namun beberapa ragam hias. mangga.  View. adalah kejelasan struktur fisik sebagai orientasi 35 . seperti kolom. namun demikian harus memperhatikan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. jambu.

Tata Urutan Ruang-ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang Gambar 1. Identity. pintu dan jendela sebagian dinding dan sebagainya yang bersifat ornamentasi. bentuk dan tata letak massa (compatibility) serta kejelasan struktur fisik sebagai orientasi (view) diterapkan melalui pemakaian ragam hias tradisional pada bagianbagian tertentu dari bangunan. diarahkan untuk dapat menampillkan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. seperti kolom. Bangunan rumah tinggal dengan konsep tradisional budaya Aceh dapat dibuat dengan teknologi konstruksi bahan dan material yang lebih modern. 8. adalah ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual Gambar 1.5 Ilustrasi Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Rekonstruksi Ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual (identity).6 Ilustrasi Tata Ruang Rumah Tinggal Rekonstruksi 36 . kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade.

a. kaum wanita. Ruang-ruang inti dan ruang pendukung lainnya disesuaikan dengan fungsi bangunan 9. Batas-batas ruang yang masif dan personal dibutuhkan untuk ruang-ruang yang memerlukan privasi tinggi seperti ruang kepala. Pada rumah tinggal : i. Ruang servis diletakkan pada bagian belakang bangunan. Ruang privat (kamar tidur) diletakkan berdampingan dengan ruang keluarga iii. pengantin baru) b. Tata Letak Ruang-ruang pada Bangunan yang bercirikan Budaya Lokal. ruang tidur tamu. sholat berjamaah. iii. bisa sebagai bagian dari rumah induk maupun dibangun terpisah secara struktural. acara adat. Untuk Rumah Tinggal : i. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi privat yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas bersama seperti ruang santai keluarga. iv. maka perlu diperhatikan pola pemisahan antar ruang sehingga tidak menimbulkan kecenderungan terjadinya hubungan yang dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Jika rumah induk akan dikembangkan. Teras depan sebagai perwujudan serambi depan. Untuk memberikan nuansa budaya lokal (Aceh Besar).a. Bagian depan bangunan sebagai perwujudan serambi depan. sedapat mungkin diupayakan untuk menambah ruang privat (kamar tidur) yang mampu mewadahi privasi angggota keluarga khusus (orang tua. ii. 37 . Pada bangunan gedung : i Tata letak ruang sangat tergantung dari fungsi bangunan dimana untuk setiap fungsi bangunan memilki hirarki yang khas. Untuk bangunan gedung : i. ii. ii. biasanya digunakan sebagai ruang publik. ruang pertemuan dan sejenisnya. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi publik yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas seperti menerima tamu. berhubungan langsung dengan ruang tamu dan atau ruang keluarga ii. b.

Tata Letak dan Jarak Ruang-ruang pada Bangunan Utama terhadap Bangunan-bangunan Penunjangnya (termasuk bangunan utilitas. 10. melihat tingkat bahayanya terhadap kebakaran. dll. dapur dapat dibuat di luar rumah induk dan terpisah secara struktural. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. yang dibutuhkan untuk menjaga dan menjamin 38 . seperti bersantai. b. ruang untuk KM/WC diletakkan menyatu dengan bangunan induk. Sedangkan untuk rumah yang terletak di atas tanah (modern/bukan panggung). Pada rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu. Pada bangunan dengan material beton. iii. dengan memperhatikan KDB. iv. Perluasan bangunan rumah induk. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid.7 Tampak/potongan Rumah Tradisional Aceh ilustrasi di atas memberikan gambaran tentang pemisahan yang jelas dan tegas antara ruang serbaguna dengan ruang privat (ruang tidur) untuk orang tua dan kaum wanita. v. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. penempatan dapur disesuaikan dengan selera pemilik bangunan. ii. Untuk bangunan gedung : i. a. maka pada saat awal pembuatan rumah induk. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. Untuk rumah tinggal : i. Pada bangunan dari bahan kayu. kamar mandi/kakus terpisah dengan bangunan induk rumah. Ruang serbaguna yang bersifat semi publik dapat pula dipakai untuk berbagai aktivitas seperti menerima tamu dan pula sebagai ruang tidur tamu.Gambar 1. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. sanitasi (MCK). Untuk mengantisipasi keamanan struktur.). termasuk di dalamnya bangunan utilitas. dimana terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. shalat dan berjamaah dan acara-acara adat. Ruang kamar mandi/wc bisa diibuat menyatu dalam rumah jika bangunan utama atau ruang kamar mandi/kakus terbuat dari dari beton dan bata. pada Arsitektur Lokal dan Lingkungan Bangunan Lainnya. permanen atau pun semi permanen. Ruang serbaguna yang bersifat semi privat digunakan sebagai ruang tempat beraktivitas bersama.

maka pada saat awal pembuatan bangunan. a. KM/WC terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. termasuk di dalamnya prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitar Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaikbaiknya sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. 39 . v. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung Bangunan-bangunan penunjang bangunan. Perluasan bangunan rumah induk. Dapur dapat dibuat di dalam rumah induk. iv. Perluasan bangunan induk. keamanan.8 Perspektif Rumah Tradisional Aceh Pada gambar perspektif di atas menunjukkan letak rumah induk yang terpisah dari kamar mandi. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. Gambar 1. 11. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya terhadap Struktur Bangunan yang ada. termasuk penyandang cacat dan warga usia lanjut.ii. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. kenyamanan. Secara umum struktur bangunan utama (yang merupakan wadah kegiatan utama dalam rumah) harus mempunyai daya tahan terhadap gempa. tetapi juga bisa dibangun terpisah secara struktural. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. iii.

sedangkan samping bangunan diijinkan berimpit dengan bangunan tetangga tetapi terpisah secara struktural. c. Jika akan merubah tatanan ruang. maka struktur banguan baru harus dipisah dari struktur bangunan yang lama. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan sistem struktur yang berbeda. Untuk kapling kecil. struktur utama harus tahan gempa dengan variasi bahan berupa beton bertulang atau kayu kelas kuat yang memadai. melainkan bagian pengisi (non struktural) misalnya partisi di dalam bangunan. Yang harus diperhatikan adalah metoda sambungan antar bagian struktur bangunan lama dan baru. a. d. Pengaturan Tata Letak Ruang-ruang Dalam Satu Bangunan terhadap Pekarangan/halaman Bangunan dengan mempertimbangkan Keselarasan. e. maka struktur perluasan rumah dapat terpisah (tidak rigid dengan bangunan lama) atapun menyatu (rigid) dengan bangunan lama.b. Batas depan dan belakang bangunan harus mengikuti aturan garis sempadan yang berlaku dimana sangat bergantung pada lebar jalan yang ada di depannya. melainkan pada tengah lahan sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan pola struktur yang sama dengan bangunan lama. maka yang dapat dimodifikasi adalah bagian yang bukan merupakan struktur utama. maka dapat dibuat menyatu dengan metoda sambungan yang tepat. 12. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan berdasarkan Klasifikasi Bangunannya a. e. Untuk kapling yang luas. Pada bangunan rumah induk. 40 . Disarankan untuk menghindari pemakaian bahan logam yang mudah berkarat (corosive material) pada daerah pantai yang dekat dengan laut. Pemakaian bahan konstruksi baja dan besi diperkenankan dengan syarat memenuhi satandar konstruksi tahan gempa. 13. bangunan dibangun tidak berhimpit dengan batas lahan. d. ditentukan garis sempadan bangunan depan dan belakang. Keseimbangan dengan Lingkungannya. Keserasian. Ruang-ruang di dalam bangunan harus cukup mendapat penerangan dan penghawaan alami. c. Bagian lahan yang tidak terdapat bangunan harus disisakan untuk ruang terbuka hijau dan areal limpasan air hujan. b. sehingga posisi ruang dalam selalu berhubungan dengan ruang luar di sekitarnya dalam jarak yang cukup untuk menjamin kecukupan pencahayaan dan penghawaan alami. Jika bangunan rumah akan diperluas. b.

batu bata.c. bahan penutup atap menggunakan daun rumbia ii. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Keselamatan dan Keawetan Bangunan a. Lantai dan dinding menggunakan papan kayu v. Sedangkan untuk bagian pengisi non struktural (dinding luar. disaranakan untuk tidak dipakai pada dinding luar bangunan. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan Dalam Satu Bangunan dengan memperhatikan Keserasian. Khusus untuk bahan fibercement. d. f. Pondasi menggunakan batu kali. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai stock cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Keamanan. d. maka yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kekuatan struktur. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin juga dihindari dari bahan-bahan yang membayakan kesehatan penghuni dari pengaruh kimiawi. Sesederhana apapun bahan bangunannya. 14. Untuk bagian non struktural utama. e. penyekat ruang) dapat memakai bahan lainnya seperti papan. Pemakain material yang berbeda harus memperhatikan teknik penyambungan antar bahan jika menyangkut sistem struktur bangunan. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin menjamin keselamatan penghuni dari bahaya bencana alam. Fungsi bangunan juga menentukan material yang akan dipakai. c. 41 . pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. e. pada bagian atap vi. Bangunan rumah lebih ditekankan pada aspek struktural dan estetika. Kuda-kuda atap menggunakan bahan kayu iii. untuk menghindari pengurangan kekuatan struktur utama bangunan. Ijuk digunakan sebagai bahan pengikat. sesek dan sebagainya. Tiang dan balok menggunakan kayu yang kuat iv. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dengan persyaratan harus tahan gempa. petir dan akibat kesalahan teknik pemanfaatan dan pemasangan bahan. batako. keamanan bangunan dan kenyamanan ruang dalam batas tertentu. b. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dimana telah dipersyaratkan harus tahan gempa. Atap. Berdasarkan studi dari Rumah Tradisional Aceh maka bahan bangunan yang biasa digunakan terdiri dari: i. asbes. calsiboard. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Sedangkan untuk bagian non struktural utama. sedangkan bangunan untuk servis (dapur dan KM/WC) lebih ditekankan pada aspek kualitas sanitasi lingkungan.

a. struktur kolom dan balok harus terbuat dari beton bertulang dengan kuat tekan beton minimal f’c 20 Mpa. Pada bangunan rumah yang berlantai 2 atau tiga memakai pondasi tapak beton bertulang. ii. folding plat dan sejenisnya.2 TATA LETAK BANGUNAN 1. Untuk lantai bangunan dapat berupa plat lantai beton ataupun dengan lantai papan rangka kayu. dan/atau pada perairan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. tapak beton bertulang. Bangunan rumah panggung yang ada umumnya merupakan bangunan lama (sebelum 70-an) yang saat ini jumlahnya terbatas. multiplex. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. batako sampai dengan bahan yang ringan seperti papan kayu. Sedangkan bahan-bahan seperti gypsum. genteng seng. h. Sedangkan pada bangunan gedung dengan jumlah lantai ≥ 2. atau pun deck. Sedangkan untuk bangunan gedung di atas dua lantai memakai pondasi sumuran. d. Struktur kolom dan balok untuk bangunan rumah bisa berupa beton bertulang atau minimal kayu klas kuat II. Kayu Seumantok. fibercement. harus memiliki jalan darurat minimal selebar 3 m sebagai akses penyelamatan 42 . hanya dibolehkan sebagai dinding pengisi di dalam bangunan (tidak berkaitan langsung dengan bagian luar). dan Arsitektur lainnya yang ada. Sedangkan untuk bangunan gedung struktur atap terbuat dari bahan baja dengan bahan penutup atap berupa genteng. fungsi lindung kawasan. Bentuk Tatanan Bangunan dalam Satu Lingkungan pada Arsitektur Tradisional NAD. seperti Kayu Meranti. Struktur atap untuk bangunan rumah memakai sistem rangka dengan bahan utama kayu dan penutup atap seng gelombang. Pondasi struktur utama pada bangunan rumah di atas tanah yang berlantai 1 berupa pondasi dangkal menerus (batu gunung).15. atau bahan lain yang sejenis seperti metal sheet. dan yang sejenis. sekali pun tersebar di setiap desa. Bangunan gedung yang dibangun di atas (panggung).. dan sejenis. c. g. III. a. mulai dari yang masif seperti batu-bata. Dinding luar dan dalam dapat memakai bahan pengisi. Karakter struktur utama pada bangunan tradisional lebih didominasi oleh pemakaian balok kayu dengan sistem struktur rangka portal sederhana. Secara umum adalah bangunan di atas tanah. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipenya berdasarkan Periode/ Gaya Arsitekturnya. sesek bambu. e. Setiap lingkungan dengan luas 4 ha. atau kombinasi dengan bor pile. f. b. Zone 1 dan Zone 3 i.

Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya.250 jiwa perlu disediakan fasilitas pendidikan TK. Orientasi Tatanan Permukiman terhadap kaidah Agama. Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama Timur-Barat untuk menghindari angin kencang Timur-Barat dan agar rumah menghadap kiblat. a.bagi penghuni ketika terjadi bencana. bentuk jalan. sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum dibagian depan rumah 3. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya a. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. d. Setiap lingkungan dengan luas 6 ha. Taman Kanak-kanak (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). 43 . (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. Sumur dapat digunakan bersama. b.. c. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. Topografi. b. arah angin. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. Tradisi. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). ii. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab). dan/atau pada lahan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). harus memiliki jalan darurat diantara bangunannya sebagai akses penyelamatan bagi penghuni ketika terjadi bencana. e. Bangunan gedung yang dibangun di atas. sebagai tempat bersosialisasi warga. Orientasi matahari. 2. Zone 2 i. fungsi lindung kawasan. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah. Ketersediaan Bangunan Sekolah i. Bangunan boleh ditambah/ diperluas ke arah horisontal dan vertikal hingga mencapai KDB dan KLB yang dipersyaratkan masing-masing daerah. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1.

SMA/SLTA di dalam area komplek. SD. (8) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. iii.(4) Sekolah taman kanak-kanak terdiri dari 2 ruang kelas dan ruang aula yang masing-masing ruang dapat menampung 35-40 murid usia 5-6 tahun. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. Sekolah Dasar (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). SMA/SLTA di 44 . (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. SMP/SLTP. (7) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan akan tetapi masih tetap berada ditengah-tengah penduduk. SMP/SLTP. (7) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok penduduk dan dapat digabung dengan taman/ tempat bermain dan lain-lain sehingga terjadi pengelompokan aktifitas. yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMP. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1600 jiwa. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. (8) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah taman kanak-kanak adalah 500m2. (6) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. (6) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah sekolah dasar adalah 2000m2. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/ tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Pertama (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. disamping fasilitas pendidikan TK yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SD. ii. disamping fasilitas pendidikan TK. (4) Sekolah Dasar terdiri dari 6 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 40 murid.

Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum iv.000 meter. diperlukan fasilitas kesehatan untuk balita berupa posyandu. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum b. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga. Posyandu (1) Berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anakanak usia balita. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. SMP/SLTP. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2.250 jiwa. ii. SMA/SLTA di dalam area komplek. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. Balai Pengobatan Warga (1) Berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyebuhan (currative) tanpa perawatan. Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Lanjutan Atas (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. SD. (4) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. SMP yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMA. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah posyandu adalah 60 m2.500 jiwa. iii. disamping fasilitas pendidikan TK. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin 45 . (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah balai pengobatan warga adalah 300 m2. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga atau sarana hunian/ rumah. berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi. diperlukan fasilitas kesehatan balai pengobatan warga. Ketersediaan Bangunan Layanan Kesehatan i. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1.dalam area komplek.

46 . iv. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha/ apotik. selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan.000 m2. Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas dan Balai Pengobatan. v.000 meter.000 m2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. (4) Jarak radius pencapaian adalah 4. Tempat Praktek Dokter (1) Merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 5.000 jiwa.000 jiwa. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai 6 tahun. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan adalah 300 m2 (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (5) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.000 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30.000 jiwa. diperlukan fasilitas kesehatan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin. vi. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin adalah 3. Puskesmas dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas dan Balai Pengobatan adalah 1. diperlukan fasilitas kesehatan berupa tempat praktek dokter. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. (3) Jarak radius pencapaian 1.500 meter.(1) Berfungsi sebagai melayani ibu sebelum.

47 . (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 3.000 m2.000 jiwa. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 250 m2. Gedung Bioskop (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120. iv. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah apotik/ rumah obat adalah 250 m2.000 jiwa (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 500 m2. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. d. Gedung Serbaguna/ Karang Taruna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 30. Gedung Serbaguna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120. Ketersediaan Tempat Ibadah i. ii. ii. baik untuk penyebuhan maupun pencegahan. diperlukan fasilitas kesehatan berupa apotik/ rumah obat. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah balai warga adalah 150 m2.vii.500 jiwa. diperlukan fasilitas ibadah berupa muesanah. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah balai warga adalah 300 m2. Ketersediaan Fasilitas Sosial i.000 jiwa. c.000 jiwa.000m2. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha. Balai Warga (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. Muesanah (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Apotik/ Rumah Obat (1) Berfungsi melayani penduduk dalam pengadaan obatobatan. biasanya ada di setiap dusun. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 2.500 m2. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 1.000 m2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 1.

(4) Kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya. e. Agama Hindu mengikuti adat.000 meter. iii.400 m2. Masjid Warga (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. v. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 3. Ketersediaan Sarana Ekonomi i. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. termasuk ruang ibadah. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan berdekatan dengan pusat . diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid kecamatan.000 jiwa.(3) Luas lahan minimum untuk sebuah muesanah adalah 100 ii. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. Agama Budha mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki lembaga masing-masing. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid lingkungan. Masjid Kecamatan (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. iv. m2. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 5.000 jiwa. Warung 48 . Sarana Ibadah Agama Lain (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Agama Katolik mengikuti paroki. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga.500 jiwa. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid warga adalah 600 m2. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid warga. (3) Kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1.600 m2.2 m2/ jamaah. Masjid Lingkungan (Gampong) (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (5) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya.lingkungan. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.

rempah-rempah dapur dan lain-lain. teh. ikan. Pusat Perbelanjaan dan Niaga (1) Menjual kebutuhan sehari-hari. iv. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 10. Pertokoan (1) Menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel. fotocopy dan sebagainya. pakaian. bahan-bahan pakaian. iii. (6) Setiap pertokoan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan.000 meter. buah-buahan. (b) Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga. pakaian. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 6.barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun. (4) Jarak radius pencapaian adalah 2. barang-barang kelontong. tepung. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pertokoan adalah 3. (e) Mushola/ tempat ibadah. daging. ii.000 m2.000 jiwa. Pusat Perbelanjaan Lingkungan (1) Menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan sub lingkungan dan mudah dicapai. (c) Pos keamanan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. alat rumah tangga serta pelayanan jasa seperti warnet. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan lingkungan dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum.000 m2. wartel dan sebagainya. reparasi. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. elektronik. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. (d) Sistem pemadam kebakaran.000 jiwa. gula. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. barang kelontong. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) lingkungan dan mudah dicapai. unit-unit produksi yang tidak menimbulkan (1) Menjual 49 . beras. alat-alat pendidikan. juga untuk pelayanan jasa perbengkelan. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah warung adalah 100 m2. (c) os keamanan.

iii. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 1. Ketersediaan Ruang Bermain.500 jiwa. (d) Sistem pemadam kebakaran. Jalur Hijau (1) Terletak menyebar ditepi jalan lingkungan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di jalan utama dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum.000 jiwa. Olah Raga. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. (e) Mushola/ tempat ibadah. Taman/ tempat bermain (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 2. bank.000 m2. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 9. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. Makam 50 . (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 24. Taman dan Makam i. f. (3) Lokasinya di jalan utama.000 m2. (3) Lokasinya sedapat mungkin berkelompok dengan sarana pendidikan. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan pusat kegiatan lingkungan (dusun).250 m2. ii.000 jiwa.000 meter.000 m2. iv. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 250 m2. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. v. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. Taman/ Tempat bermain Lingkungan (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. industri kecil dan lain-lain. Taman dan Lapangan Olah Raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. vi.polusi. tempat hiburan serta aktifitas niaga lainnya seperti kantor-kantor.000 jiwa. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan ditengah-tengah kelompok tetangga (lorong). (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 36. Taman dan Lapangan Olah raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. (c) Pos keamanan.

perdu-perduan. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. kelapa.3 RUANG TERBUKA A HIJAU 1. Zone 1 i. peresapan air. b. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. Zone 2 i. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum sesuai Qanun Tentang Bagunan Gedung no. seperti pepohonan (misalnya Angsana). sosial.(1) Setiap 10. dan tanaman lain yang sejenis. Syaratsyarat ini dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk 51 . pekarangan.000 jiwa dengan standar kapling makam adalah 4 m2 (meliputi 2 m2 untuk makam dan 2 m2 untuk sirkulasi dan ruang terbuka. III. sarana olah raga. iv. rekreasi dengan memperhatikan perencanaan kota yang ada. Bangunan Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau Kawasan di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di lingkungan pemukiman/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. (3) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB.000-12. keamanan. ameniti maupun estetika. (2) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). dan jalan lingkar pulau yang memiliki ketinggian > 3 meter. Parkir dan ketetapan lainnya. iii. a. ii. sosial. Untuk perlindungan sungai. taman kota. Fungsi-fungsi ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan permukiman/ gampong. Berupa kawasan lindung. Diperuntukkan untuk daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. ekonomi. dengan penanaman cemara. ekonomi maupun estetika. KDB. KDH. Kawasan ini harus disertai dengan buffer sebagai perlindungan dari tsunami yaitu hutan mangrove kawasan sempadan pantai. iii. 10 tahun 2004. sirkulasi. ameniti. unsur-unsur estetik. kawasan pemanfaatan terbatas. ii. KLB. mau pun estetika. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kawasan pantai yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. rumput-rumputan dan tanamantanaman hias. ekonomi.

perdu-perduan. rumputrumputan. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. (2) Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman. ekonomi maupun estetika. Keserasian tersebut antara lain 52 . (a) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. sirkulasi. dan tanaman hias. a. (b) Syarat-syarat ruang terbuka hijau pekarangan dalam setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. ameniti maupun estetika. Ruang Sempadan Bangunan i.bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. KLB. sungai. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum 2. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. peresapan air. KDH. c. Zone 3 i. pekarangan. rekreasi. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/ wilayah/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. (4) Sebagai ruang transisi. iii. Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman dan ruang terbuka hijau pekarangan. hutan produksi. v. pohon-pohon menahun. ekonomi. RTHP merupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. Parkir dan ketetapan lainnya. ii. ruang budidaya. KDB. seperti pepohonan. Jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. dengan memperhatikan perencanaan kota yang telah ada. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai penanaman vegetasi penyangga berfungsi untuk kepentingan ekologis. (3) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). unsur-unsur estetik. sosial. tanah dan permukaan tanah. sarana olah raga.

vegetasi besar/ pohon. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. jalur pejalan kaki. tiang telepon di kedua sisi jalan/ ruas jalan yang dimaksud. Hijau Pada Bangunan i. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. pagar. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Tata Tanaman i. iii. b. Tapak Basement i. bangunan penunjang seperti pos jaga. 53 . KDH minimal 10 pada daerah sangat padat/ padat. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. bak sampah dan papan nama bangunan. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roofgarden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. d. batang dan cabangnya rapuh. ii. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. iv. ii. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. ketentuan teknis. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25 luas RTHP. ruang sempadan depan bangunan. v. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/ penanaman di atas tanah.mencakup : pagar dan gerbang. c. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. ii. tiang bendera. dan kebijaksanaan daerah setempat. tidak di dalam wadah/ container yang kedap air. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik.

Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. Untuk setiap Zone. makam. Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jenis-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. volley dan sepak bola. seperti bermain bola. Taman dan lapangan berada di setiap satu lingkungan dusun. Luas maksimum dan minimum dari jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. taman permukiman terbatas. kestabilan tanah/ wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. volley. Zone 1 i. Zone 2 (1) Pekarangan.ii. taman dan rekreasi ii. 3. Untuk lapangan minimal seukuran lapangan volley.Ruang Sempadan Bangunan (4) Tata tanaman. Zone 1 (1) Penghijauan di kawasan buffer zone. dan kolam ikan. (2). Pekarangan rumah penduduk. a. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. 54 . kolam peresapan air hujan. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. (2) Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. hutan kelapa dan mangrove. (3). Di pinggir pantai. taman (2) Tapak Basement (1) Hijau pada Bangunan iii. ii. air. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. dll. termasuk hutan mangrove. dll. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. iii. Taman-taman dan lapangan. Zone 3 (1).Ruang Sempadan Bangunan termasuk pekarangan. hutan lingkungan. dari pinggir pantai hingga sejarak minimal 100 m sepanjang pesisir pantai ke arah daratan. taman dan olah raga. iv. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. (3) Taman-taman dan lapangan. bermain anak. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut diatas. tambak-tambak. seperti bermain bola. jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/ gampong adalah sebagai berikut : i.

Makam berada di pinggir lingkungan. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong 55 . Dikelilingi ruang terbuka budidaya pertambakan/ pertanian.50% ii.. c. Taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong i. Zone 3 ii.iii. iii. iii. Taman dibuat pada satu lingkungan lorong Ruang terbuka hijau pekarangan dibuat pada setiap persil bangunan rumah pada satu luasan permukiman/ gampong. RTH taman dibuat dalam satu lingkungan lorong dan di sekitar meunasah. iv. b. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong. Zone 2 i. Ruang terbuka hijau ditempatkan di sekitar lokasi yang memiliki aktivitas tinggi dengan luas ruang terbuka terhadap luas gampong lebih kurang 30% . Hutan mangrove ditanam sepanjang pesisir pantai sebagai penyangga (buffer zone) dengan kedalaman lebih kurang 100 meter ke arah daratan. iv.

Zone 2 dan Zone 3 (1). b. dan/atau primer. dan/atau primer. serta arahnya terhadap sirkulasi lingkungan. b. kolektor. Lokasi mudah dicapai dari semua sisi lingkungan 1. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal.3 Pola Sirkulasi Jalan Zone 1 dan Zone 3 (1) Berbentuk pita.2 Lokasi pintu masuk dan keluar lingkungan permukiman dan jumlahnya. ii. Pintu masuk dan pintu keluar pada bangunan terdapat di dua sisi bangunan yang berbeda dan mudah dicapai dengan jumlah minimal 2 pintu. lokal) ke arah Pola sirkulasi jalan berbentuk pita. dan arahnya terhadap sirkulasi jalan kota/luar lingkungan yang menghubungkannya. lokal) i.III. berada di bagian depan dan belakang bangunan dan mudah dijangkau. Permukiman (a) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas tetangga dan lingkungannya. Zone 2 (1) Berbentuk pita dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. dan jumlahnya. kolektor. kolektor. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. Terdapat Zone 1 (1) Terdapat sekurang-kurangnya 1 jalan keluar masuk lingkungan ke arah selatan (2) Lokasi mudah dicapai dari segala penjuru/semua sisi lingkungan. 1. Terdapat sekurang-kurangnya 2 jalan keluar-masuk lingkungan ke arah zona lingkungan tetangganya. a. 1. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. (2).1 Lokasi pintu masuk dan keluar bangunan. dan/atau primer ke arah dataran yang lebih tinggi. PERTANDAAN.4 SIRKULASI. a. Pintu masuk dan keluar bangunan tidak terhalang oleh ruang lain. kolektor.4 Fasilitas Parkir i. kolektor. 56 .

4. (3) Luas. dll. Sempadan Jalan (1) Pencahayaan buatan harus ada di sepanjang sempadan jalan dengan jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. ii. 2. ruang terbuka hijau dan sarana umum lainnya. ii. pedestrian dan penghijauan. misalnya bila gampong atau dusun terdapat jalur keluar masuk yang lebih dari satu. Perletakan Sarana Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Sarana keamanan berupa Pos Jaga. Pemisahan Jalan i. memudahkan aksesibilitas. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Bangunan non-rumah tinggal wajib menyediakan area parkir kendaraan yang proporsional terhadap luas lantai bangunan (sesuai standar teknis parkir yang berlaku) (2) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan.(b) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak diperboleh berada pada badan jalan. 57 . (2) Untuk setiap jalan gang/ lingkungan dilengkapi jalur hijau pada sisi kiri dan kanan bahu jalan. Jalur jalan kendaraan harus terpisah dengan jalur pedestrian pejalan kaki. (4) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. maka Pos Jaga bisa ditempatkan di salah satu pintu masuk-keluar atau keputusan dari musyawarah gampong. atau tergantung dari bentuk gampongnya. penghijauan. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. sarana umum lainnya di tiap zone mempunyai persyaratan yang sama yaitu sebagai berikut : i. Jalur jalan kendaraan harus dilengkapi dengan jalur hijau : (1) Untuk jalan masuk utama lingkungan kendaraan dua arah dipisahkan dengan median jalur hijau di tengahnya. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. iii. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. ditempatkan pada pintu keluar – masuk gampong. berada pada bagian pintu masuk keluar lingkungan. ruang terbuka hijau. 3.

Bangunan Penyelamat (1) Zone 1 dan Zone 3 (a) Rumah ibadah (Mesjid). h. Ruang Terbuka Hijau (1) Perletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. (3) Perletakkan pencahayaan buatan harus dapat memberikan penerangan pada badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. (2) Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan. pencahayaan buatan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. iii. sehingga mudah dioperasikan dan mudah diperbaiki bila terjadi kerusakan. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. perkantoran dan bangunan tinggi lainnya dengan struktur yang kokoh dan dapat menampung orang banyak atau berupa bukit dengan lansekap yang baik bisa dijadikan sebagai bangunan penyelamat (b) Pada zona I tinggi lantai > 1.pencahayaan buatan harus memperhatikan karakter lingkungan. i. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. Bangunan dan Jalur Penyelamat. Zone 2 (2) Bentuk (2) 58 .5 meter atau bangunan berkolong/panggung untuk mengatasi pasangnya air. fungsi dan arsitektur bangunan. (5) Pencahayaan buatan harus ada di setiap persimpangan jalan yang dapat memberikan penerangan badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. (c) Dapat dicapai dalam waktu paling lama 15 menit. sesuai kebutuhan standar jenis ruang terbuka hijau. estetika amenity dan komponen promosi. dengan radius pelayanan maksimum 2 Km. ii. (3) Dalam ruang terbuka hijau. (3) Harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. balai pertemuan. silau visual yang tidak menarik dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. Sarana Umum Lainnya (1) Dapat memberikan penerangan ruang luar dengan menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. (4) Dalam perletakan pencahayaan buatan harus memperhatikan aspek pengoperasiaan dan pemeliharaan. (2) Harus memperhatikan karakter lingkungan.

Tidak diharuskan membangun bangunan penyelamat. (1). ii. Jalur Penyelamat Zone 1 dan Zone 3 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. Zone 2 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. (i) Jalan darurat merupakan jalan terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor yang bebas hambatan, dengan lebar badan jalan minimal 6 meter. (ii) Jalan keluar dari setiap kavling bangunan harus langsung ke jalan lingkungan dan jalan darurat minimal ada 1 buah tidak boleh melewati bangunan tetangganya. (3) Sirkulasi (a) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. (b) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya. (c) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa

(2).

59

elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. i. Pertandaan, dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Perletakan sarana keamanan dan keselamatan lingkungan. Perletakan tanda dan rambu lalu-lintas dan rambu keselamatan lingkungan. i. Penempatan signage, termasuk papan ikian/ reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik. ii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu, kepala daerah dapat mengatur pembatasan-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.

III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN
1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan

a. Setiap kegiatan dalam pembangunan permukiman di Kabupaten Aceh Besar yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diperhitungkan berdasarkan tingkat pembebasan lahan, daya dukung lahan meliputi daya dukung tanah, kapasitas resapan air tanah, tingkat bangunan per hektar, dan lain-lain, tingkat kebutuhan air sehari-hari, limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman, efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia), serta koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien luas bangunan (KLB). b Kewajiban melaksanakan kajian AMDAL tergantung masingmasing tipologi kota. c. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Kegiatan di Kabupaten Aceh Jaya yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut berpengaruh terhadap: i. Jumlah manusia terkena dampak. ii. Luas wilayah persebaran dampak. iii. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. iv. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.

60

v. Sifat kumulatif dampak. vi. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible-nya) dampak. 2. Ketentuan UPL dan UKL 1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 86 Tahun 2002. 2. Dalam UKL dan UPL harus diuraikan informasi mengenai: i. Identitas pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan; ii. Rencana usaha atau kegiatan meliputi nama, lokasi, skala usaha atau kegiatan, garis besar rencana usaha dan atau kegiatan; iii. Dampak lingkungan yang akan terjadi meliputi kegiatan yang menjadi sumber dampak, jenis dan besaran dampak serta hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak yang akan terjadi; iv. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan meliputi langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya menangani kedaan darurat, kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup dan tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan; v. Tanda tangan dan cap usaha dari penanggung jawab usaha atau kegiatan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Persyaratan bangunan i. Untuk mendirikan bangunan di Kabupaten Aceh Besar yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan memproduksi, mengolah bahan mudah meledak dan mudah terbakar, korosif, toksik (beracun), reaktif, dan infeksius dapat diberikan ijin apabila : (1) Merupakan daerah bebas banjir, dan (2) Jarak antara lokasi bangunan dan lokasi fasilitas umum minimal 50 meter. (3) Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/ jalan tol dan 50 meter untuk jalan lainnya; (4) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan;

61

ii.

iii.

iv.

v. vi.

(5) Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawan, mata air dan sumur penduduk; (6) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan lindung dan lain-lainnya). Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 L/detik atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapatkan ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna mengurangi limpasan air, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan saluran drainase tersier dan sekunder yang akan dihubungkan dengan saluran drainase primer untuk dibung ke badan air. Jika muka air tanah rendah maka dapat digunakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan guna menambah cadangan air tanah. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan 2 membangkitkan LHR ≥ 60 SMP per 1000 feet luas lantai, maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran drainase yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lampu lalu lintas. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan dan tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar. iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

62

dengan memperhatikan keamanan. dibatasi. Sarana pengumpulan dan pengolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Pengelolaan Daerah Bencana a. d. (1) Sampah : (a) harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. keselamatan dan kesehatan lingkungan. dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. dan yang sejenisnya. e. 4. ii. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir a. dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. Kegiatan konstruksi yang berpotensi menghasilkan debu harus melakukan penyiraman pada waktu tertentu untuk menghindari penyebaran debu yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. c. b. keselamatan dan kesehatan. (b) pengangkutan sampah basah dilakukan berdasarkan jenisnya (i) Sampah basah setiap hari atau maksimal setiap dua hari sekali untuk menjamin agar tidak timbul bau dan menjadi sarang penyakit. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah harus dilengkapi sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang.vi. dengan memperhatikan keamanan. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir a dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. atau dilarang membangun bangunan. Pembuangan Limbah Cair dan Padat i. c. 63 . (ii) Sampah kering maksimal setiap tiga hari sekali agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. bagi bangunan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. daerah banjir. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana.

kelayanan (serviceability). Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur (Bangunan non teknis / non engineering structures). Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai dengan zona gempanya). misalnya terjadinya suatu gempa. Bangunan rumah tinggal di dalam pelaksanaan pembangunannya bisa dilakukan oleh pemilik dan dianjurkan didampingi oleh orang teknik yang mempunyai keahlian di bidang bangunan. Untuk itu struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan. harta benda dan masih dapat diperbaiki. Bangunan rumah tinggal lebih dari 1 lantai dikategorikan sebagai bangunan gedung.IV. b. Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keamanan (safety). Persyaratan struktur ini memberikan kriteria minimal untuk perlindungan jiwa dengan memperkecil kemungkinan terjadinya keruntuhan. Persyaratan Perencanaan Struktur a. Perencanaan struktur BG dan RT berdasarkan ketentuan ini tidak berarti mencegah sama sekali terjadinya kerusakan struktur maupun non-struktur apabila suatu gempa terjadi. dan bebanbeban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur 2.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN Persyaratan struktur bangunan gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD bertujuan untuk memperkecil resiko kehilangan nyawa apabila keruntuhan struktur akibat pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar terjadi. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Persyaratan Bahan 64 . c. Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar tercapai. 1. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. keawetan (durability) dan ketahanan terhadap kebakaran (fire resistance). Sedangkan yang dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis / engineering structures).

a. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. fasilitas radio dan televisi dan bangunan sejenis lainnya. iii. misalnya rumah sakit. pusat penyelamatan keadaan darurat. iv. serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur. bangunan air minum. Kemungkinan terjadinya efek puntir pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya geser tambahan pada unsurunsur vertikal akibat gempa harus diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut. Persyaratan Detail Struktur Bangunan Gedung dan Rumah Tahan Gempa Persyaratan Lay-Out Bangunan i. pusat pemadam kebakaran. pusat pembangkit tenaga. b. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. lay-out bangunan diusahakan sejauh memungkinkan agar sederhana dan simetris. diusahakan semaksimal mungkin menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan kandungan lokal. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. ii. Ketidakteraturan struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari. Untuk bangunan yang tidak beraturan. Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga pengetesan yang berwenang. f. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama terjadinya suatu gempa.a. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami setelah suatu gempa terjadi. maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. pengaruh gempa terhadapnya harus dianalisa secara dinamik. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi secara baik sesudah terjadinya suatu gempa. 3. c. e. d. lay-out 65 . Bahan struktur yang digunakan. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI.

Persyaratan Monumen dan Bangunan Monumental i. baik dalam bidang vertikal maupun horisontal. Perencanaan bangunan sejenis ini harus mempertimbangkan berbagai faktor akibat penggunaannya sebagai tempat evakuasi. Setiap unsur sekunder. gempa) dan beban khusus. maka struktur BG dan RT dan semua elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian rupa. Semua bagian dari struktur harus diikat bersama. c. iv. beban sementara (angin. Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang tsunami. termasuk elemen struktur dan nonstruktur. yang bertujuan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian rupa. ii. sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail. Persyaratan Pendetailan Struktur i. IV. iii.2.bangunan harus dibuat sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan sangat minimal. PEMBEBANAN 1. Analisa Struktur Analisa Struktur harus dilakukan. ii. Semua monumen dan bangunan monumental di NAD akan difungsikan juga sebagai tempat evakuasi apabila suatu gempa terjadi. misalnya pengaturan ruangan dan fasilitas penunjang lainnya serta kemungkinan adanya beban-beban tambahan akibat fungsinya sebagai tempat evakuasi. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan apabila suatu gempa terjadi. 2. Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang telah direncanakan benar-benar terjadi. b. yang diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur pondasi. arsitektur dan instalasi mesin dan listrik harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang memadai. sehingga berperilaku daktail. termasuk beban tetap. sehingga gaya-gaya dari semua elemen struktur. Standar Teknis 66 .

Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. SNI 1726. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja c. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti a. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. 67 . SNI 2847. b. f. b. SNI-3449. 3. 2. c. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. c. seperti: a. IV. SNI-1734. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja d. seperti: a. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung. g. d. SNI2834. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. SNI-1728. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-3976. Konstruksi Beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.4. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. SNI3430. SNI 1727.Penentuan mengenai jenis. b. intensitas dan cara bekejanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. seperti a. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. SNI-1729 b. d. e. SNI2407.3. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi.

antara lain: a. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-1745.075mm (c) Pasir (sand) : 0.075 mm < ∅ < 2 mm (d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76. STRUKTUR BAWAH ii. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin.. SNI-1735. SNI-23V4. tata cara. Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. IV. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. c. SNI-1963.4. b. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. 1. SNI-2405. d. Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. Perencanan Umum a. b. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan Rumah dan Gedung. 5. e Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. i. Jenis Pondasi : (a) Pondasi dangkal . Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.002 mm (b) Lanau (silt) : 0. SNI-2404. jika D/B > 10 Jenis Tanah : Lempung (clay) : ∅ < 0. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis.4. g. SNI239'7 h. SNI-2395 f.002 mm < ∅ < 0. jika 4 < D/B < 10 (c) Pondasi dalam. Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10 (b) Pondasi semi dalam . jika D/B < 4 .2 mm 68 . SNI1736. Definisi i. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Termitisida.

20g . 0.30g dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan b. Sumber : American Association of state Hihgway and Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of Technology (MIT) Gambar 2. 0.Zona Gempa 5.25g . Differential Settlement Keterangan : L = panjang dasar pondasi dangkal B = lebar atau diameter pondasi D = kedalaman dasar pondasi dari muka tanah ∅ = diameter butiran solid tanah δ = differential settlement s = bentang antar pondasi/ kolom Zonifikasi Gempa : .1.Zona Gempa 6.Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil.Zona Gempa 4. Dimensi dan Material Pondasi Dimensi dan material pondasi tergantung pada : i. Jenis Pondasi dan Ukurannya Gambar 2. 0.Zona Gempa 3.2.15g . Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung – PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan 69 . 0. sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk cohesionless soil.

Bila tetap terjadi differential settlement maka besar amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar 0. (b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6). Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing capacity.70 m dan B = 0. untuk medium ke atas. Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) : Pada tanah kohesif : D = 1.003 setengah bentang bangunan (s). (b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan pemberian sejumlah anchor. (c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir dibawah pondasi minimum 30 cm. Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam : (a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and compression pile. Penentuan Jenis Pondasi : Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi.70 m c. kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah dilakukan soil improvement. (c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku Khusus untuk pemancangan tiang pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara. Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat nasional dan/atau internasional iii. (b) Pada tanah non kohesif : D = 0. (d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing capacity dan kekuatan material pondasi.Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-17262002 ) ii. d. Differential settlement antar pondasi tidak boleh terjadi.002 – 0. i. 2. Persyaratan Pondasi i Persyaratan penting pada pondasi dangkal : (a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton sloof.50 m dan B = 1 m. Gempa dan (a) 70 . Settlement Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada disekitarnya.

.2. (Pondasi setempat beton ii.1. (Sumuran/ Caisson) C. Tanah Tak Berkohesi i.1. (Tiang Bor Beton) b.2. dengan percepatan maksimum di batuan 0.a.1.( Pondasi setempat batu kali) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.a.1. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi: B. Batuan i.2.b ( Pondasi menerus beton ) A. Mikropile/minipile B.1.b (Tiang Pancang Beton) C. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. 71 .1. (Tiang Bor Beton) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi C.a. (Mikropile/minipile) atau B.b.a. (Pondasi menerus batu kali) A.b.1 .e.2.2.b ( Pondasi menerus beton) A.a.a.1. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.a. ( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton) c.2.30g Jenis Pondasi : A.2. (Pondasi setempat beton) ii.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 .1.a.2.b( Pondasi menerus beton ) A.1. (Pondasi menerus batu kali) A. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : B.(a) (b) (a) (b) Tanah Berkohesi i.2.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.1.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : C.b. (Tiang Bor Beton) B. (Pondasi menerus batu kali) A. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. (Pondasi setempat beton) a.3.

2. (Tiang Pancang Pipa Baja) C.d.b. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi C.1.( Tiang Baja/ Beton dipancang pada lapisan batu yang sudah dibor kemudian digrouting) 72 .1.a (Tiang Pancang Baja) (b) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi : C.ii.

.

i. Tanah Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah cohesive (silt. (8) Metode pemadatan getar (vibroflotation) (9) Displacement by explosives (10) Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material ke dalam tanah (impregnation) . Dampak Terhadap Lingkungan e. Cement column. (8) Metode lainnya yang sesuai. Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait d. (2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose. Lime Column. Kualifikasi Kontraktor c. (6) Dynamic Compaction. (6) Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal. Biaya Relatif Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya. (4) Stone Column. (2) Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain. (3) Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose. clay) : (1) Preloading dan surcharge. Untuk tanah swelling yang diganti setebal zona kembang susut. (7) Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus mengacu pada zona aktif. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Metode perbaikan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. (5) Pembekuan air tanah (freezing).3. Metode Perbaikan Tanah Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah. (3) Electro consolidation (4) Stone Column (5) Freezing. ii. gravel): (1) Preloading dan surcharge. Jenis Tanah b. untuk peat lapisan tanah yang diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0. Tanah Non Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah non cohesive (sand. (7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive).

(3) Plastic Sheeting. dan tidak diterapkan lereng yang curam. Perkuatan batuan dapat mengurangi pergerakan struktur atau translasi. (2) Lean concrete atau slush grouting (a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi permukaan batuan. Bituminous coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari. (4) Bituminous Coating Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi. Lembaran plastik seperti polyethylene. Consolidation grouting diterapkan pada masa batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan jumlah open joint yang dominan. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak batuan. (8) Slope Geometry. (5) Resin Coating Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan pelindung untuk batuan. Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas rendah jika disemprotkan pada permukaan. iii. Ketebalan shotcrete normalnya 2-3 in. Bahan untuk grouting adalah campuran cemen dan pasir. diletakkan di atas permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke dalam batuan. (7) Consolidation grouting Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau kekuatan geser. Membrane yang terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan.Metode lainnya yang sesuai. (b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan kemiringan kurang dari 450. (11) 2 . beton atau bangunn dari batu. rock anchor rock tendon). dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada lereng dengan sudut kemiringan yang redah.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts. Batuan Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah batuan : (1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive. (6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock) Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di atas batuan.

Toe Berms Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh.(9) (10) (11) (12) (13) Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat mengurangi gaya-gaya yang bekerja. (b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa batuan. Dewatering (a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng. caranya dengan shotcrete. Metode lainnya yang sesuai. dengan tidak tutup kemungkinan ada metode baru. 3 . Rock Anchor Perlindungan Terhadap Erosi Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang disebabkan proses pelapukan.

Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan.0 0 2 0 1 Lem pung 0 . Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. A 1 2 3 B C D E F G 1 2 H I J K L M N O P Q M e to d e ' P re lo a d in g S o il w e ig h t o n ly W it h ve r t ic a l d ra in s W it h n e t o f D r a i n a g e E le c t r o O s m o s e E le c t r o C o n s o lid a t i o n S t o n e C o lo u m n C e m e n t C o lo u m n F re e z i n g D y n a m i c C o m p a c ti o n C o m p a c t io n o n l y W it h H o riz o n t a l D r a i n a g e E x p lo s ive s V ib r o fl o t a t i o n Im p re g n a t i o n / G ro u t i n g S u b s t it u t io n S h o t c re t e L e a n c o n c re t e P la s t ic s h e e t i n g B it u m in o u s & re s i n c o a t in g G ro u t i n g R o c k re i n fo rc e m e n t • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • • •s / d • • • • • • • s / d• • • • • • • s / d• • • • • • • • • • • • •s / d • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • • s / d • • s / d• • • • • • • • • • • • • •s /d • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s / d • • • • • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • • • • • • K e rik ilP a s ir K a P a rs ir h a lu s n a u s La 10 2 1 0 .5 KEANDALAN STRUKTUR Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD harus mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur.1 0 .0 2 0 .0 0 1 (D im e n s i o n a t m m ) T a n a h O r g aBnai k u a L e g e n d a : t n • Lem ah • S e d a n g • • P •e n t in g • 0 .T a b e l. Keselamatan Struktur a.2 0 . sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur d.0. M e t o d e P e r b a ik a n T a n a h J e n is T a n a h No. maupun beban yang diakibatkan perilaku alam b. Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri. c. beban perilaku manusia.0 0 0 2 K u a l ifik a s i W a k tu D a m p a k t e rh a d B p y a a ia K o n t ra k tP e l a k s a nB e rnfu n g s i L i n g k u n g a n R e l a t i f or aa IV. dan harus dilakukan atau 4 .

Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai. 3. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi materialnya. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan. Pd T-11-2004-C. beban yang didukungnya akibat perilaku manusia. b. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. 2. maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur. Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri. Keruntuhan Struktur a. sambungan-sambungannya dan besarnya pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul bebannya. seperti lingkungan yang korosif. atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan. c. Apabila hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri.didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. beban akibat perilaku manusia. beban akibat perilaku manusia. Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Adanya pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi) dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam analisa keandalan. gempa. kondisinya. dan atau beban yang diakibatkan 5 . tidak mencukupi untuk memikul beban akibat berat sendiri. b. d. c. maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih akurat. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa). Pemeriksaan dan Perkuatan Bangunan Setelah Adanya Gempa a. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya. pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa. maupun bencana lainnya. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada. d.

Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. mekanikal. Kategori : Pedoman Teknik Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Perancangan komponen arsitektural. c. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan elemen-elemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang disyaratkan IV. e. No : Pd T-13-2004-C. b. maka perlu diadakan perkuatan struktur. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi 2. Kategori : Pedoman Teknik. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau ekonomis. 3. Acuan yang Dipakai a. b. dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini. Prosedur. mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa. Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa No : Pd T-11-2004-C. Penyusunan prosedur. Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri. Struktur banguan sudah tidak andal. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila : a. metoda dan rencana demolisi struktur harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang sesuai. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. ii. Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan. Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani. Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami 6 . No : Pd T-12-2004-C. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. masyarakat dan lingkungan b. Prosedur dan Metoda Demolisi a.perilaku alam (termasuk gempa).6 DEMOLISI STRUKTUR 1.

No : SNI 03-1726-2002. l. terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau. Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C. Kategori : SNI. Kategori : Pedoman Teknik. kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. termasuk beban-beban hidup untuk atap miring. Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa. Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-3430-1994. Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. k. Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan. j. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989. f. Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung. Kategori : Petunjuk Teknik Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali. 7 . Tata cara ini digunakan untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-struktur bangunan rumah dan gedung Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1727-1989. bukan keharusan. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. Kategori : SNI. Kategori : Petunjuk Teknik. g. h. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-1729-2002. Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku. e. Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : PtT-02-2000-C. i.d. Kategori : SNI. Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No : SNI 03-2847-1992. No: Pd T-14-2004-C. Kategori : SNI. Kategori : SNI. yang pemakaiannya optional. Kategori : SNI.

dan 8 . ketinggian bangunan. dapat menghindari terjadinya kerusakan pada properti lainnya. viii.1 SISTEM PROTEKSI PASIF Persyaratan yang tercantum dalam bagian ini bertujuan untuk: . dan atau bagian kelas 4). antar kompartemen kebakaran yang berdekatan. ix.melindungi benda atau barang lainnya terhadap kerusakan fisik akibat keruntuhan struktur bangunan saat terjadi kebakaran.menghindari penyebaran kebakaran antar bangunan. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama terjadinya kebakaran. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. ii.V. c. intensitas kebakaran.menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. 1. Ketahanan Api dan Stabilitas a. iv. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. ukuran setiap kompartemen api. vi. iii. b. tingkat bahaya api. cukup waktu untuk keperluan evakuasi penghuni secara aman. beban api. v. ii. intervensi pasukan pemadam kebakaran. vii. Persyaratan yang lebih detail mengenai sitem proteksi pasif dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. antar bangunan. iv. sehingga: i. . antar unit-unit hunian tunggal (hanya berlaku bagi bangunan kelas 2 atau 3. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi kebakaran untuk memadamkan api. yang sesuai dengan: i. sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. . sehingga penghuni bangunan mempunyai cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara aman tanpa dihalangi oleh penyebaran api dan asap kebakaran. . ii. v. Suatu bangunan harus dilindungi terhadap penyebaran kebakaran: i.melindungi manusia dari sakit atau cedera akibat terjadinya kebakaran dalam bangunan maupun pada saat proses penyelamatan. fungsi atau penggunaan bangunan. iii. kedekatan dengan bangunan lain. iii. untuk memberikan kesempatan bagi petugas pemadam kebakaran untuk beroperasi.

intensitas kebakaran. dan vi. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. sesuai dengan: i. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. waktu evakuasi ii. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. ii. fungsi bangunan. fungsi atau penggunaan bangunan. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. sampai dengan tingkat tertentu. tingkat bahaya api. Tipe Konstruksi Tahan Api Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. Tipe A : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. e. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. jumlah. elemen bangunan lainnya. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. yaitu pada bukaan. iii. d. beban api. membatasi berkembangnya asap dan panas. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. sambungan konstruksi. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. h. yang sesuai dengan: i. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. v. f. keruntuhan tersebut dapat dihindari. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. sistem proteksi aktif. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. iv. atau potensial dapat meledak. ukuran kompartemen. 9 .x. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. iii. iv. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. g. 2.

Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api.b. Spesifikasi detail ketiga jenis tipe konstruksi diatas dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV pasal 2.4 Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: 10 . c. 3. Tipe B : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam.

6. 11 . iii. Batasan umum luas lantai. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. perambatan api dan asap.3. agar dapat: i. Ukuran Maksimum dari Kompartemen Kebakaran Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi Bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 2 2 Klas 5 atau Maksimum 8000 m 5500 m 3000 m2 9b Luassan Lantai Maksimum 48000 m3 33500 m3 18000 m3 Volume Klas Maksimum 5000 m2 3500 m2 2000 m2 6. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. iv dan v di bawah tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. kecuali seperti yang diijinkan pada butir iv. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10.8 lantai) 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C 4.atau Luassan 9a Lantai (kecuali Maksimum 30000 m3 21500 m3 12000 m3 daerah Volume perawatan pasien) i. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel 2. b. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5.7. 7.2. Pemberlakuan. Tabel 2. Kompartemenisasi dan Pemisahan a. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. ii.2 dan butir vi. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. c. i.9 5.7. Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. dan ii.Tabel 2.6. ketentuan pada butir iii.8.1 Tipe Konstruksi yang Diwajibkan KETINGGIAN Klas Bangunan (dalam jumlah 2.

d. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. ii. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. i.Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara.000 m3 dengan sistem sprinkler. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir v (1) di bawah yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.000 m2 atau 108. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir butir v (2). (2) bangunan klas 5 s. iii. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. sungai.ii. e. (2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir butir 5. ventilasi. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan.2 di atas bila: i. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel 2. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. d. Bagian bangunan.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. atau peralatan lift. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2). iv. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. atau: ii Bangunan dengan luasan melebihi 18. asap dan gas beracun. tanki air. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2) di atas. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir v (2).000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. 12 .

d. shaft ventilasi. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. dan . atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. dan tertutup pada setiap lantai. b. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. pemisahan oleh dinding tahan api. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi ((1) s. f. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. ii. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. damper. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga dan lift pada satu shaft. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya.(3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. Seluruh bukaan harus dilindungi. Proteksi Bukaan a. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. g. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. c. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir ii). Pada bangunan klas 2 dan 3. (4) di atas maka jalan tersebut dapat berlaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya.d. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat 13 . 5. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. h.

bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. ii. atau (2) 1. g. f. Pemisahan bukaan pada kompartemen kebakaran. sambungan pengendali. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir (2) di atas. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan.000 mm2. dan ii. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel 2. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. bila luas lubang/ sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. maka tidak boleh menempati lebih dari ⅓ luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. yang bukan dari klas 10. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 meter pada dinding yang sama.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). e.dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir 8) di bawah. lubang tirai.3. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. 14 . dan iii. iii. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan.

PUIL. V.d.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Hidran Kebakaran i. Standar Industri Indonesia (SII). 45o 5m Lebih dari 45o s. persyaratan dan standarisasi yang berlaku dari National Fire Protection Association (NFPA). dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. Bila diperlukan proteksi. American Standard For Testing Material (ASTM). dan 15 . a. Sistem hidran kebakaran (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Sistem Pemadam Kebakaran dalam Bentuk Sistem Plambing dan Alat Pemadam Ringan. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. maka jalan masuk. 180 2m 180o atau lebih nol h. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan.Tabel 2. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. ii. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. 10/KPTS/2000 tentang ketentuan teknis bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.d. 90o 4m o o Lebih dari 90 s. dan terdapat regu pemadam kebakaran. SNI 03-1745. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). ii. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-.d.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup).d.3 Jarak Antara Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran yang Berbeda Sudut terhadap Dinding Jarak Minimal Antara Bukaan 0o (dinding-dinding saling 6m berhadapan) Lebih dari 0o s. Sistem Pemadam Kebakaran harus memenuhi Kepmen PU no. jendela. Pintu. i. 135 3m o o Lebih dari 135 s.

(3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari : (a) 2 (dua) pompa. tahan cuaca. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai kelas bangunannya. di mana: (a) bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor bakar. (6) untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh saluran peruntukan bangunan. 7. 16 . (5) pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang : (a) mempunyai jalur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dan jika dalam jarak m dari bangunan. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. atau (b) listrik yang dicatu dari generator darurat. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua).(2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. asalkan ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. atau (b) bangunan kelas 5. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. kecuali pada satuan peruntukan bengunan. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 2 m. 6. dan dengan konstruksi yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. atau (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. (b) 2(dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa.

atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. di mana satu atau lebih hidran dalam dipasang. satu unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. (8). (2) melayani hanya lantai di mana alat ini ditempatkan. serta mampu menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. (a) pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dilayani oleh hose reel tunggal yang 17 . ii. Bila hidran kota tidak tersedia. sehingga setiap rumah dan bangunan dapat dijangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan. sesuai dengan standar SNI 03-1745. sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan. kecuali pada satu unit hunian. (9).(7) bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. panjang selang minimum 30 meter. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. Perdagangan. (10). Industri Dan Atau Campuran: Lingkungan tersebut harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tersedia sumber air berupa hidran lingkungan. (12). Sistem hose reel. Sistem hose reel harus disediakan : (1) untuk melayani seluruh bangunan. b. maka harus disediakan hidran halaman. (11). tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. hidran untuk Lingkungan Perumahan. Hose Reel i. Untuk hidran bangunan dengan ukuran selang 1½ inci atau kurang. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. pada bangunan yang dilengkapi dengan hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran di dalam bangunan. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. yang dipasang dalam bangunan untuk pemadaman kebakaran oleh penghuni bangunan.

Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . (5) Bila dihubungkan dengan meteran air. 7. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). (3) memiliki selang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian ruap untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan.0) kg/cm2. 6. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke hose reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. sebuah katup yang memenuhi butir ((5). (b).ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut.5 . Pemakaian air asin tidak diizinkan. Sistem Sprinkler 18 . (10). Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap.(d)) di atas harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. yaitu antara (0. dan (b) pada bangunan kelas 5. dan (c). c. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. ditempatkan: (a) di luar bangunan. atau (d) kombinasi (a).2. (6) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. (8). (4) hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) di atas. dilayani oleh hose reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat hose reel melayani seluruh unit hunian. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. (9). (7).

berlaku: 1. Bangunan dengan resiko bahaya Pada kompartemen dengan salah kebakaran amat satu dari tinggi *) 2 (dua) persyaratan berikut. kendaraan. 19 .d. Konstruksi Atrium Tiap bangunan ber-atrium Bangunan berukuran besar yang Ukuran kompartemen yang lebih terpisah besar mengikuti: Bangunan Kelas 5 s.000 m2. berlaku: 1. SNI-3989.000 m3 Bangunan Rumah Sakit Lebih dari 2 (dua) lantai Ruang pertemuan umum.000 m3.500 m2 2. volume lebih dari 12. b. ii. Ruang parkir. panggung lebih dari 200 m2.lapangan parkir terbuka tidak termasuk. Teater. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.i.000 m3.000 m2 dan volume 108. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. 9 dengan luas maksimum 18. 2. Ruang Luas panggung dan belakang pertunjukan. Semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. selain ruang parkir Bila menampung lebih dari 40 terbuka.000 m2 dan volume 108. luas lantai melebihi 2. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2.000 m3.volume ruangan lebih dari 21.4. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (Kelas 6) Dalam kompartemen kebakaran dengan salah satu ketentuan berikut. Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis Bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua kelas bangunan: Pada bangunan yang tinggi termasuk lapangan parkir efektifnya terbuka dalam lebih dari 14 m atau jumlah bangunan campuran lantai lebih dari 4 lantai.luas lantai lebih dari 3.

Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . (8). (7) Sistem sprinkler di ruang parkir Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-kelas. luas bangunan yang disyaratkan menggunakan sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku.5 .(2) Bangunanan bersprinkler. dan klasifikasi bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. 20 . dan setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinkler diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan.0) kg/cm2. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. (3) Katup kontrol sprinkler. (4) Pasokan air. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan : setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi internal yang disyaratkan. bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. (6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper) Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler di daerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. jika : (a) sprinkler terpasang di seluruh bangunan. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan : sebagian bangunan di pasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. harus: (a) berdiri sendiri. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. atau sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak disyaratkan. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. yaitu antara (0. ruang pertemuan umum atau semacamnya.2.

d. (10). Ukuran pipa dan perhitungan hidrolik sesuai dengan SNI3989. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang di seluruh bangunan. Pemadam Api Ringan (PAR) i. Schedule 40 (Sch 40) menunjukkan standar kemampuan menahan tekanan kerja sampai dengan 30 kg/cm2. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali : jaringan kota apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. PAR memenuhi butir i. tangki gravitasi. (13).(9). kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. Penempatan kepala sprinkler : didasarkan pada luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu 21 . (12). jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Luas lingkup maksimum disesuaikan dengan tingkat bahaya kebakaran. Pemakaian air asin tidak diizinkan. sesuai dengan SNI-3989. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . (14). dan tangki bertekanan sesuai syarat pada SNI3989. jenis pipa yang sering dipakai pada pekerjaan instalasi hidran dan sprinkler harus sesuai dengan spesifikasi teknis. (11). Komponen dari sistem sprinkler:Spesifikasi dan standard pipa harus dari jenis: • Pipa baja : • Pipa baja galbani (pipa putih) • Pipa besi tuang dengan flens • Pipa besi tuang dengan mof • Pipa tembaga dengan standar minimum klas menengah (medium). ii. Pipa Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. e. dan biasanya digunakan pipa baja karbon hitam (black steel pipe) dengan schedule 40.

dan sensitivitas. 22 . rate-of-rise detector. sedangkan jenis gas lebih ringan dari udara jarak maksimum mendatar adalah 8 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan jarak maksimum dari langit-langit adalah 30 cm. dan (2) PAR dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. b. harus diperhatikan perbedaan berat gas dengan udara sebagai berikut : untuk jenis gas lebih berat dari udara jarak maksimum mendatar adalah 4 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan tinggi maksimum dari lantai adalah 30 cm. (d) Detektor gas. arus listrik (stand-by current). terdiri dari : detektor asap optik. temperature range. bila terdapat balok dengan tinggi lebih dari 60 cm. dan detektor asap ionisasi. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. PUIL 2000. meliputi : merk detektor. (2) Detektor yang akan dipakai harus memenuhi spesifikasi teknis pada dokumen kontrak. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. (1) Beberapa jenis detektor yang dapat digunakan meliputi : (a) Detektor panas. terdiri dari : fixed temperature detector. dengan persyaratan khusus bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yangdigunakan sebagai : (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (SKBI) yang dikeluarkan oleh Departemen PU. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: bangunan klas 1b bangunan klas 2. Spesifikasi Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran i. detektor kombinasi. anak-anak atau orang cacat. (b) Detektor asap. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. dipasang pada bagian terdekat di atas kemungkinan timbul kebocoran gas. SK Menteri PU tentang ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. tegangan operasi. (c) Detektor nyala api : detektor nyala api ultra violet dan detektor nyala api infra merah. SNI3985 dan SNI 03-3986-edisi terakhir mengenai Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis. 2.dipasang di dalam bangunan atau bagian yang dilayani oleh Hose Reel. kelembaban relatif. Petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat detektor dan panel. khusus untuk pemasangan detektor gas. dan bangunan klas 9a.

Tanda Arah Keluar.5 mm2. (8) Tidak mudah terkena gangguan (9) Pada jalur arah lari yang normal ke bangunan (10) Terpasang di setiap lantai pada bangunan bertingkat (11) Setiap titik panggil manual dapat melayani luas maksimal 900 cm2 iv. tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB (A) (5) Sifat irama alarm tidak menimbulkan kepanikan (6) Pada tempat-tempat khusus (misalnya : perawatan orang tuli dan sejenisnya) dipasang alarm visual (7) Terpasang pada lokasi panel kontrol dan panel bantu (8) Dapat menjangkau bagian ruangan dalam bangunan 23 . maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. (7) Dipasang pada lintasan menuju keluar dengan ketinggian 1. Kabel harus memenuhi persyaratan PUIL 2000.3 (mengenai Pencahayaan Darurat. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan pada bab 2. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan di setiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. iii.(3) Jenis kabel yang lazim dipakai adalah kabel NYM 2 x 1. dan Sistem Peringatan Bahaya). Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam memasang titik panggil manual (break glass) adalah : (1) Modol tombol tekan (2) Dilengkapi dengan kaca. ii.1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara minimal 65 dB (A) (3) Lebih tinggi minimal 5 ddB (A) tingkat kekerasan suaranya pada ruangan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (4) Di ruang tidur. dipasang dalam konduit PVC tipe “High Impact” dan fire reterdant.4 m dari lantai. bila dipecahkan tidak membahayakan (3) Disediakan alat pemukul kaca (4) Berwarna merah (5) Mudah dicapai dan terlihat jelas (6) Dihubungkan dengan kelompok detektor (zone) yang meliputi daerah di mana titik panggil manual tersebut dipasang. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menggunakan dan memasang alarm kebakaran adalah : (1) Bunyi dan irama yang khas hingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran (2) Frekuensi kerja alarm 500 . atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan.4.

4 Lihat gambar 2.5% smoke obscuration/m. E. (1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara.5 m ≥ 1. Dengan lubang udara balik AC (return air grille). Penempatan Alat Pendeteksi Asap Pemasangan sistem deteksi disesuaikan dengan buku “Panduan Pemasangan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang diterbitkan oleh Departemen PU. v. (2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap.3 B. Tabel 2.5 m ≥ 1. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. Antar detektor pada langitlangit rata C.5 Jarak Pemasangan Detektor Detektor Detektor Detektor Panas Asap Gas ≥ 300 mm ≥ 100 mm ≥ 100 mm dari dinding dari dinding dari dinding ≤ 300 mm ≤ 300 mm dari langitdari langit≤ 300 mm langit langit dari langitlangit ≤ 7 m untuk ≤ 12 m untuk ≤ 12 m ruang efektif ruang efektif ≥ 10 m untuk ≤ 18 m untuk sirkulasi ruang sirkulasi ≥ 1.5 m Jarak Detektor A. dan (4) dipilih tipe foto-elektrik.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran.5 m 900 mm secara 900 mm secara 900 mm secara 24 . D. (3) ditempatkan kurang dari 1. Antar detektor Lihat gambar 2.5 m <1. Dengan dinding dan langit-langit.5 m <1. Dengan lubang udara masuk AC (supply air diffuser).5 Lihat gambar 2..(9) Dapat digunakan pula sebagai penuntun arah masuk bagi anggota kebakaran dari luar. Ket Lihat gambar 2. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µ m.6 Lihat gambar <1.

8 bentuk atap pelana.3. 2. Jarak detektor dengan dinding dan langit-langit Gambar 2. horizontal dari puncak atap tertinggi horizontal dari puncak atap tertinggi 2. Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktifitas yang sesuai dengan fungsi bangunan. puncak atap dari gambar pada atap puncak 2. Dari 100 mm dari 900 mm dari 900 mm Lihat puncak atap puncak atap.7 F. catatan : 1. Jarak detektor pada langit-langit rata 25 .4. horizontal dari puncak atap tertinggi. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu lintas atau sirkulasi dalam bangunan.pada atap bentuk gergaji. Gambar 2.

Pemasangan detektor pada atap bentuk gergaji 26 .6.7.5. Jarak detektor dengan lubang udara balik AC Gambar 2.Gambar 2. Jarak detektor dengan lubang udara masuk AC Gambar 2.

6 Fakor Pengali Jarak Detektor.6 m 58 6.8 m 77 4. Pemasangan detektor pada atap pelana Catatan : jarak antara detektor menyesuaikan dengan tinggi langit-langit ruang efektif seperti pada tabel berikut.restoran R.2 ~ 4.2 ~ 7.0 ~ 3. Jarak detektor = ketinggian langit-langit x faktor pengali.8 ~ 8.8. Peralatan bangunan -Gudang material yang R.0 m 100 1.garasi mobil .2 m 52 7. Tabel berikut menunjukkan contoh pemilihan jenis detektor yang disesuaikan dengan fungsi ruangan.6 m 91 3.Gambar 2.0 ~ 3. Tabel 2.4 m 40 8.8 m 46 7.R.0 m 34 Penempatan detektor harus sesuai dengan fungsi ruangan.0 ~ 6.8 ~ 5. Tabel 2.2 m 84 4.6 ~ 7.7 Contoh Pemilihan Jenis Detektor Sesuai Fungsi Ruangan Fixed RoR & Asap Nyala Api Gas Temperature kombinasi RoR~fixed temperature Dapur .4 ~ 9.6 ~ 4.Faktor pengali langit (%) 0. Ketinggian langit.0 m 64 6. transformato r/ diesel 27 .4 ~ 6.4 m 71 5. perjamuan .

pompa .kamar tidur Ruang generator & transformator Laboratorium kimia . Pemasangan.9. yaitu: (a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. Batas Ambang (1) Sistem sampling harus memenuhi ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. PABX .Shaft Perpustakaa n .Ruang yang terbakar berisi bahan Ruang yang mudah kontrol menimbulka instalasi n gas yang peralata mudah n vital terbakar Gambar 2. Penempatan detektor pada langit-langit yang terbagi oleh balokbalok vi.Tangga . AC .Gudang mudah . tamu . resepsionis . 28 .Lobby . mesin .Studio televisi R.R.R.R.R...R. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. lift .Koridor .R. (2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yag berlaku.Aula .ruang sidang . dan (b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.

gedung tempat parkir. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel 2. ramp. rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakuasi/penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/jalan keluar. bangunan klas 1 (bangunan hunian biasa) atau 10 (bangunan / struktur yang bukan hunian).10 m di atas level lantai. Pengendalian Asap Kebakaran a. perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi (Bangunan Penyimpanan : gudang. untuk selama tengang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. ruang tanaman atau sejenisnya. terminal udara.3. pada saat terjadi kebakaran. termasuk di dalam satuan rumah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. dan ii. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. iii. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengndalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada table 2. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. dan sejenisnya) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. pelabuhan laut) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap... ruang kompartemen sanitasi. atau ketentuan pada butir b. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. dan iii. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran : (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v (Bangunan Terminal : stasiun kereta. Persyaratan umum i. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. iv. dan tidak 29 .8. halte bus. atau ketentuan pada butir b.5. terminal bus. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. ii.

asap di antara kompartemen Untuk keperluan ketentuan ini. 30 . setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah.mensirkulasikan kebakaran.

3. KETENTUAN UMUM KELAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk : 1. Persyaratan Pengendalian Asap Kebakaran 1. 8. atau b. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Kelas 2. 6.3 BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF > 25 M Kelas 2. 2. dan 2. atau 9b. dan 2. kecuali bahan pelapis dari bahan yang tidak mudah terbakar. harus dilengkapi dengan: 31 . dan 8b. Harus dilengkapi dengan alarm dan deteksi asap otomatis. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. Jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomatis. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. harus dilengkapi dengan : 1. Kelas 5. 3. maka: a. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. lebih dari 2 lantai di bawah tanah. bangunan kelas 9a yang lebih dari 2 lantai.1. atau c. Bila panjang koridor umum > 40 m. atau b. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir VI. dan 4 1. Sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku.Tabel 2. 6. 6.8. parkir) Kelas 9a 1. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atrium. dan 9b Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap (selain ruang / tempat terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 7. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. 3. atau d. dan 4 1. harus dibagi dengan interval < 40 m dengan konstruksi sesuai ketentuan V. 8. dan 2. setiap lantai di atas tinggi efektif 25m. Sistem presurisasi otomatis. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. Kelas 5. 8. atau 2.

atau 9b (selain sekolah). 32 . atau 9b. 8. Sistem pengendali asap terzona. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis 4. 7. maka : a. Sistem sprinkler Kelas 9a 1. dan 9b Pada bangunan : (selain ruang / tempat 1. atau b. Sistem sprinkler BASEMENT (selain ruang 1. 8. 8. 6. 3. termasuk jalan penghubung dan rampnya. Sistem presurisasi udara otomatis. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Sistem pengendali asap terzona. 6. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis iii. Kelas 5 atau 9b (sekolah) b. harus dipasang: 1. Kelas 6. Kelas 6.i. Kelas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > parkir) 3 lantai. Sistem pengendali asap terzona. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Bila > 2 lapis di bawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. 7. atau ii. Bila bangunan > 2 lantai. bila basement mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. atau ii. harus dipasang: a. di atas harus dipasang. harus / tempat parkir) dilengkapi dengan: a. atau 2. Kelas 5. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. Sistem sprinkler b. Basement dengan luas > 2000 m2. atau 3. atau b.a. atau 2. 8. dan 2. atau 2. Sistem detektor dan alarm asap. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. atau 3. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. sistem sprinkler 3. 7. bila bangunan mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i.b. Sistem sesuai butir 2.

Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api. atau toko b. dan b. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. dan: i. bila: a. atau digunakan dalam bangunan d.Ruang / tempat parkir Atrium 2. Kompartemen 1. sistem deteksi dan alarm kebakaran. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikut iketentuan 1. dan terdapat selasar toko (selain pada ketentuan 3) yang tidak terlindung melayani > 1 membuka ke arah selasar terlindung. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. fungsi khusus bangunan c. Kompartemen 1. Bila bangunan 1 lantai. Sistem pembuangan asap otomatis. termasuk ruang parkir bawah tanah. yang dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanis sesuai ketetentuan: 1. karakter khusus bangunan b. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan : a. sistem inter komunikasi darurat. sistem peringatan kondisi darurat. dipajang. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. atau ii. Bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. toko dengan luas > 1000 m2 Kebakaran > 2000 m2. Kelas 6. Setiap kompartemen mebakaran. dipasang lubanglubang centilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. harus dilengkapi Tidak terdapat selasar dengan : terlindung melayani > 1 a. Selasar terlindung. dan 2. Bangunan 1 lantai. yang membuka ke arah selasar terlindung. ditetapkan pada butir 2. harus 33 . Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat kelas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/ penggunaa yang banyak. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3500 m2. dipasang sistem sprinkler 2. kecuali yang 2 Kebakaran > 2000 m . KETENTUAN KHUSUS KELAS / BAGIAN PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN BANGUNAN Kelas 6. Luas bangunan < 2000 m2. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen kebakaran Ruang / tempat parkir. Bangunan 2 lantai atau kurang. atau c.

atau 2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. 3. Bangunan theater atau tempat pertemuan / hall umum: a. Bangunan Pertemuan dilengkapi dengan: a. harus dilengkapi dengan: a. Bangunan pameran. atau b. Sistem sprinkler. atau sistem sprinkler. dan c. gereja. atau iii. Bila luas bangunan > 3500 m2.toko Kelas 9b. atau ii. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3500 m2 dan bangunan 2 lantai atau kurang. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. 1. dipasang sistem sprinkler dan: i. Pada bangunan sekolah. dan b. atau ii. termasuk theater kuliah dan komplek 34 . harus dilengkapi dengan: a. Sistem pembuang asap otomatis. dengan luas > 200 m2. bila bangunan 1 lantai. 3. Bangunan klab malam. dengan luas > 300 m2. i. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. bila bangunan 1 lantai. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. luas lantai < 2000 m2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Sistem pembuang asap otomatis. Sistem pembuang asap otomatis. di atas. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bila luas bangunan 2000 ~ 3500 m2. 4. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. bila: a. dan b. 2. Bukan pada bangunan sekolah. atau lubang-lubang ventialsi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.a. dan sejenisnya. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. diskotek. Sistem pembuangan asap otomatis. Bila bangunan 1 lantai. bila bangunan 1 lantai. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen tidak harus mengikuti ketentuan 1. dan b. harus dilengkapi dengan: i. atau b. Sistem pembangunan asap otomatis. gereja. Idem 1. dipasang sistem sprinkler.

Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap kelas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. i. atau sistem sprinkler. ii. atau iii. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a di atas adalah: i. d. di atas. Selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2000 m2: i. sifat penggunaan bangunan. Kompleks olahraga (termask hall olah raga. Bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis.8 pada lampiran persyaratan kerja teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. Untuk sistem pengatur udara lainnya. Masjid. atau ii. Sistem pembuang asap otomatis. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seeprti butir 4. bila bangunan 1 lantai. Persyaratan Untuk Bahaya Khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: tata letak bangunan. c. dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan.auditorium: a.b. vi. 6. v. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. iii. kolam renang dan sejenisnya) selain dari gedung olah raga (indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1000. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel 2. ii. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. 35 . ruang senam. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Gereja. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memnuhi ketentuan standar yang berlaku. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. b. dan b. Bangunan pertemuan lainnya (di luar butir 3 dan 4 di atas): a.

Konstruksi Ruang Pusat Pengendali Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah.2. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya ruang pengendali. alngit-langit dan dinding dalam. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokokhan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. tidak digunakan bagi keperluan lain. bukaan pada dinding. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. untuk jendela. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. ii. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. Pintu Keluar i.1. c. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari 2 (dua) arah: arah pintu masuk di depan bangunan. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. dilengkapi sarana alat pengendali. ventilasi. bahan lapis dan penutup. peralatan utilitas. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut ii. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. pembungkus atau sejenisnya. (Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran –Sistem Proteksi Pasif –Proteksi Bukaan) d. panel kontrol. telepon. konstruksi penutunya dari beton. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bgi penghuni bangunan b. seperti pada lantai. meubel. pinu. Pusat Pengendali Kebakaran a. e. Ukuran dan Sarana 36 . dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yangt dilindungi terhadap api. iii. iii. sebuah ruang untuk pengendali dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penangangan kondisi darurat lainnya. Proteksi Pada Bukaan. di mana: i. saluran. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran.1) 4. iv. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaaan pada bab 2. dan sejenisnya. saluran udara. tidak boleh lewat ruang tersebut. pipa. ii. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran.

i. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangungan.50 m2. ii. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang 1. sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. kipas pengendali asap. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (3) jika dipasang peralatan tambahan. dan: (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. dan sistem manajemen. Sebagai tambahan. panel indikator lift. iii. dan (2) sistem keamanan bangunan. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. 37 . sakelar pengendali jarak jauh untuk gas dan catu daya listrik. (2) jika hanya menampung peralatan minimum. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara per-jamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka.50 m. sistem pengamatan. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1) Panel indikator kebakaran.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) di atas. ii. f. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m2 dari luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. (2) telepon sambungan langsung. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. saklear kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. genset darurat. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. (3) sebuah papan tulis dan sebuah papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). (4) mempunyai kipas. Ventilasi dan pemasok daya. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan.

(4) Jenis PAR sesuai kegunaan ruangan. viii. b. i. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan bantuannya. (3) Pemasangan sesuai syarat yang ada. Head sprinkler telah dipasang dengan jumlah sesuai pada gambar kerja. v. Pemeriksaan Pemeriksaan sistem pemadam kebakaran bertujuan untuk memastikan instalasi dan pemasangan telah dilakukan dengan benar. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. 38 . h. i. ii. g. Tes head sprinkler secara acak (sample) pada satu atau beberapa titik head sprinkler dengan cara memanasi hingga i. Kotak hidran dan perlengkapannya. iii. vii. iv. material yang dipakai serta instalasi pemasangan sesuai dengan standar peraturan dan syarat-syarat yang berlaku. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat dicapai dari ruang pengendali tersebut. Pemeriksaan terdiri dari urutan dan metode pelaksanaan. iii. Siamese connection. ii. Hasil pemeriksaan dicatat pada daftar simak (check list) terlampir. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Pemadam Kebakaran a. Instalasi pipa sprinkler dan hidran. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketuka kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dBA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan di dalam bangunan. PAR (Fire Extinguisher) (1) Jumlah PAR. (6) Kelengkapan kartu periksa berkala. 5. vi. (5) Segel PAR.(5) mempunyai catu daya lisatrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. pompa pengendali sprinkler. Flow switch dengan membuka drain valve alarm kebakaran pada MCPFA lokal alarm harus aktif. Pemeriksaan. Beberapa hal yang harus diperiksa meliputi: Bahan dan material yang datang (check material on site). Tes tekan parsial instalasi pipa sprinkler dan hidran sebesar 2 x tekanan kerja atau sesuai spesifikasi. Beberapa peralatan seperti motor bakar. Pilar hidran. Pengujian Pengujian terdiri dari . dan tingkat iluminasi di atas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. (2) Posisi sesuai dengan gambar kerja.

Detektor-detektor yang bekerja harus diikuti dengan indikasi pada MCFPA. ii. Ketentuan lain yang harus diperiksa adalah : (1) Gambar pemasangan sistem (shop drawing) (2) Petunjuk cara kerja dan pelayanan sistem. Tujuan test ini adalah untuk mengukur tahanan isolasi kabel yang digunakan. (3) Petunjuk pemeliharaan sistem. (5) Buku catatan untuk mencatat kejadian atau kerusakan pada sistem. Besarnya tekanan air yang keluar harus memenuhi persyaratan. (4) Buku normal dari masing-masing komponen. iii. Penggunaan bahan. v. besar tahanan harus ≥ 1 MΩ.mencapai temperatur pecah. Hose reel dan nozzle pada kotak hidran : dilakukan pengujian terhadap kelancaran aliran air. ii. dan tekanan air harus memenuhi persyaratan. maka pemeriksaan dan pengujian selanjutnya harus dilakukan bersama pihak instansi pemerintah setempat untuk mendapatkan Izin Penggunaan Bangunan dari pemerintah setempat. 39 . Pelaksanaan pemasangan instalasi. Hasil pengujian juga dicatat pada daftar simak. Tes tahanan isolasi kabel (megger test) menggunakan mega ohmeter atau megger. iv. Pompa-pompa kebakaran : dilakukan pengujian terhadap karakteristik dan penampilan pada masing-masing pompa. Pemeriksaan i. Berdasarkan buku “Pedoman Pemasangan Sistem Deteksi Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang dikeluarkan oleh Departemen PU. Pengujian fasilitas untuk memantau sistem komunikasi dan komponen serta lampu-lampu tanda pada MCFPA. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. Setelah pengujian dilakukan dan instalasi/ sistem dapat berfungsi dengan baik. v. Hasil pengukuran harus melebihi atau sama dengan standar yang telah ditentukan. Tujuan pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa pada isntalasi kabel yang telah dikerjakan tidak terdapat hubung singkat (short circuir) yang disebabkan kabel cacat atau terkupas dari isolasinya. dll. Bila head sprinkler pecah alram kebakaran harus aktif. b. Metoda kerja. Pemeriksaan. iv. Tes hubung (loop test) menggunakan multi tester. Pengujian i. vi. iii. Tegangan catu daya cadangan (emergency power supply) harus secara otomatis mengambil pencatuan daya untuk sistem bila sumber catu daya utama padam. (6) Pelatihan/training untuk calon operator. 6.

40 .

SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. kecuali tangga/ ramp di luar bangunan. injakan dan akhiran injakan tangga. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. tangga/ ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. iv. c. 2. nyaman. nyaman dan memadai. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelematkan diri dengan aman tanpa merasakan keadaan darurat. (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. maka bangunan harus mempunyai antara lain : i. d. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan. e. ii. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1 m atau lebih dari lantai/atap/ melalui bukaan pada dinding luar bangunan. Fungsi a. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai/atap. dan memadai bagi semua orang. aman. ii. b. Butir 3) tersebut tidak berlaku juga untuk : i. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar. Butir 3) tersebut di atas tidak beriaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. iii. Akses ke dan dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. iii. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. b.VI. (3) Lantai hordes yang memadai untuk menghindari keletihan. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. Fungsi tersebut pada butir 2) di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. c. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ ramp. Persyaratan kinerja : a. dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan.3 atau 4. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. mampu menjaga lintasan anak-anak. 41 . harus dibuatkan penghalang yang : i menerus sepanjang area yang berbahaya.

ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. sesuai dengan : i. d. 3 dan 4. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan : i.d. kecuali : i.5 m. mobilitas dan karakter lain dari penghuni ii. Bangunan klas 9 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada : i. KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Jumlah. VI. Basement : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. 8 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebin dari 25 m. f. Fungsi bangunan iv. Fungsi bangunan iv. Tangga. Persyaratan Keamanan a. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan.bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. c. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. 2. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. dan ii. mobilitas dan karakter penghuni. Bangunan klas 2 s. Fungsi bangunan iii. Intervensi pasukan pemadam kebakaran h. balkon. iii. Jumlah. b. Butir h. lantai. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. b. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii.2. atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. Tangga. dimensi jalur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan : i. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Jarak tempuh ii. ii. Tinggi bangunan g. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. ramp. 42 . Kebutuhan Jalan Keluar a. c. Jumlah. balustrade atau penghalang lainnya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh.

setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. 3. 1 jalan keluar. e. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan.setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Bangunan klas 2 dan 3 i. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: a. iii. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. iii. g. Area perawatan pasien : Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. ii. masing-masing merupakan bagian jalur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. ii. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. iv. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke : i. Bangunan klas 5 s. selain area perawatan pasien. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. atau b. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Bangunan klas 2 dan 3 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. biia bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. 43 . Panggung terbuka : Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. v. atau ii. Pintu masuk dan setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari : (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. pada bangunan klas 9a : tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. Jarak jalur menuju pintu keluar a.d. f. c. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. 4. sedikitnya 2 jalan keluar.

b. atau ii. 6. c. untuk bangunan lainnya. 5. d. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 intu keluar tersedia. bila : i. Gedung Pertemuan : Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. dan ii. lobby. Panggung Terbuka : jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbukua harus tidak lebih dari 60 m. atau iii. memiiki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya tertindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. 9 : Terkena aturan butir d. i. d. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. dan ii. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih dari 20 m dari pintu keluar. f. 45 m pada bangunan klas 9a. berjarak tidak kurang dari 9 m. b. 60 m. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. c. ramp. Bangunan klas 5 s. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia.d. tersebut merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. Dimensi/ukuran Pintu Keluar Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar : 44 . Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. Bangunan klas 9a : Area perawatan paien pada bangunan klas 9a. berjarak tidak lebih dari : 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. e. atau ruang sikulasi lainnya. Pada bangunan klas 5 atau 6. i. ii. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus : a. Jarak meksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. jarak ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. Bagian bangunan klas 4 : Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. e. konstruksi ruang tersebut bebas asap. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor.ii. f dan : i.

bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi.8 m pada lorong. hall atau yang sejenisnya. kecuali kalau pintu tersebut dari : i. c. f.a. lebar bebas. jika membuka ke arah koridor dengan: (1) lebar koridor antara 1. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. lebar bebas. 1. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir 2). Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung. iii. komponen sanitasi. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. 4). Jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. i. pada kasus lain. koridor. iv. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. lobby umum. tinggi bebas seluruhnya harus tidak'kurang dari 2 m. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. ruang transisi atau yang sejenisnya.8 m . (3) pintu keluar horisontal : 1250 mm. e. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi : i. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. 750 mm. 7. lebar pintu keluar: i. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. atau ii. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga.8 m pada lorong. 3). kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : i. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. g.2 m : 1070 mm. ii. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. 1.2. atau ii. 1m. d. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. atau melewati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut : 45 . b.2 m : 1200 mm. lebar bebas. (2) lebar koridor lebih dari 2. atau ii. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. lorong. pada area perawatan pasien. a. Lebar bebas. ii. b. atau 5) minus 250 mm.

yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. ii bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. parkir kendaraan atau sejenisnya.I. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan. jarak antara pintu ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melampaui : 46 . tidak lebih dari 20 m. 9. Lintasan Melalui Tangga/ Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 3 atau 4. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. (2) lintasan tanpa rintangan. ii. c.3 harus tersedia. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus memputivai jelan lintasan menerus. ke tempat: (1) ruang atau lantai. menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. Bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran.2.5 Kepmen 441/98 d. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka ke area tertutup yang : (a) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. Pada bangunan klas 2. b. Bagian dinding tersebut harus mempunyai : i. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. membuka ke pintu keluar yang di'solasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud : i. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang beriaku. Tangga/ramp. yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. atau ii. (d) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dari 6 m. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. 8. e. (c) mempunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian. termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. dan memenuhi ketentuan teknis yang beriaku. Jika lebih dari dua akses pintu.i. (b) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. dengan injakan dan tanjakan tangga dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan. ke jalan atau ruang terbuka. TKA sedikitnya 60/60/60.

Pada bangunan kafs 5 s. e. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. ii. 20 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i. 30 m dari salab satu dari dua pintu atau lorong keluar. 9. 3 atau 9a. dan bila periu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. tangga/ ramp ysng tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari i.d 8 atau 9b. arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah f. bebas asap. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka . atau ii. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 47 . c. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terietak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. bila arah tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. 10. atau ii. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan.4.i. tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat ketuar menuju ke jalan atau ruang terbuka melaiui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. c. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar.d. Pada bangunan klas 2 atau 3. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. Pintu keluar harus tidak terhalang.2. jalur lintasan menuju ke jalan hams : i. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dari 1 m. ii kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. Pada bangunan klas 5 s. b. atau tidak setinggi 1:14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab Vl. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju kejalan atau ruang terbuka atau ii. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran dalam bangunan. d. atau mana yang lebih lebar. Jika pintu keluar yang disyaratkan menujju ke ruang terbuka. Pada bangunan klas 2.

2. ramp atau eskalator tersebut pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. Ramp Atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal. ii. dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. Pada bangunan klas 9a. c. 12. 2. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. Kasus selain butir b di atas. 3 lantai. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. dan ii.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. dan satu dari lapis lantai tersebut terietak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. dan eskalator.1. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. b. d. 0. dengan tidak kurang dari : i. b. atau ii. Pintu Keluar Horisontal a. e. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. bangunan SD atau SLTP. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita. 2 lantai. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila : i. Tangga.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dari 500 orang. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini. pada area parkir kendaraan atau atrium. ii. tidak harus menghubungkan lebih dari : i. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. c. iv.C. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. 11.d. iii. di luar bangunan. antara unit hunian tunggal. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. Pada bangunan klas 9b. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantsi yang dipisahkan oleh dinding tahan api. 48 .

tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. Bila ruang peralatan atau ruang. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. b. atau c. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 6. ramp.d. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. ii. hall. bila: i. lobby dan yang sejenis. eskalator.2 sesuai jenis penghunian. dan ii. koridor. dan luas lantai dengan: a. tata letak lantai tersebut. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. kecuali bila diijinkan sesuai butir ii) atau iii) di atas. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. 14. ii. iii. Peralatan dan Ruang Motor Lift Ruang a. 13. lift. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. atau b. motor lif mempunyai luasan i. 7. tangga. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. 8 atau 9. tidak lebih dari 100 m2. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. service duct dan yang sejenis. 49 .

r. level lainnya r. penyimpanan . tunggu r.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. . Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 50 .Tabel VI. b. bila terjadi kerusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. laboratorium. 2.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . arcade Panggung penonton: daerah panggung kursi penonton R. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: .r. r. baca. ruang pamer. elktrikal.3 1 30 1. manufaktur. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD . Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. peragaan.5 1 4 2 30 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. pamer : r.ventilasi. dari material tidak mudah terbakar. dll .staf pemeliharaan . ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : .r. prosesing .r.mall. kerja. SLTP Pertokoan.r penyimpanan VI. café. 3. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. museum Bar. tempat cuci Perpustakaan : . gereja. workshop . penjualan: Level langsung dari luar. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4.3 4 1 2 15 25 10 1 0.Proses manufaktur pabrik m2/or ang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 3 5 5 0. listrik.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan m2/or Jenis Penggunaan ang Galeri seni. hostel. r.boiler/sumbe tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. guesthouse Stadion indoor area Kios Dapur. motel.

b. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku.2. di mana: i. dan: a. mempunyai luas minimal 6 m2. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. 5. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. b. mempunyai TKA minimal 60/60/-. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam 51 . Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka.7 harus: a. dan ii. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. harus tidak ada hubungan langsung antara i. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. iii . atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. b. terbentang antar balok lantai. 7. c. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon 6. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. atau ke bagian bawah langitlangit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. di setiap bukaan dari area hunian. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. atau dengan konstruksi: a. baja dengan tebal minimal 6 mm c. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar.setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. maka harus: a. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. beton bertulang atau beton prestressed. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. kayu: i.Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. d. ii.

b. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. 10. seperti pegangan rambat (handrail). b. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. bila konstruksi yang menutup ramp. kecuali untuk list langit-langit. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. bagian dari balustrade. bebas halangan. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Lebar Tangga a. iii. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. atau koridor. b. 8. iv. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. kecuali: i. ii. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. lebar bebas halangan. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m.pedoman ini. gang. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis 9. dan sejenisnya. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Ramp Pejalan Kaki a. lobby. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. koridor. panel atau saluran distribusi. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang disyaratkan. dan (3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. (2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. tidak harus disediakan dari tangga. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. lebar dan tinggi 52 . Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. i. gang. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. bila peralatan dimaksud terdiri atas: (1) meter listrik. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga.

14. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. b. b. injakan dan tanjakan konstan. dan jumlah sesuai standar teknis. Meskipun dengan ketentuan butir a. Ambang Pintu 53 . TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp.6 m dan panjangnya minimal 2.4 iii. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. lebar minimal bordes 1. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. d. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. 13. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. tanjakan. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. 15. c. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i.langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. injakan. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. di mana: i. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. b. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. e. b. ii. Bangunan klas 9a: i. f. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. b. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai.7 m. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. 12. 1:8 untuk kasus lainnya c. 11. Bordes a. ii. atap tersebut harus a. ii.ii. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran.

balkon. ramp. Bila menggunakan jeruji. bila: i. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. tidak dibatasi dengan dinding. b. Tinggi balustrade: i. Balustrade a . tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. balkon dan sejenisnya. d. g. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. tangga. 16. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m.i. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. koridor. balkon dan sejenisnya. ii. lantai. Balustrade sesuai ketentuan butir e. c. bila dibuat sesuai i. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. iii. b. kecuali tangga/ramp luar bangunan. atap. tangga. tangga atau balkon luar ii. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. asus lainnya i. dan ii. Balustrade pada: i. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. intu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. kecuali sekeliling panggung. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. lantai. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. Balustrade.iii dan g.Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. mesanin dan sejenisnya.ii. koridor. uang perawatan pasien bangunan klas 9a.ii. lorong. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f.i. ii. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. f. e. mbang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. 54 .

7. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp.17. ii. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan c. Ayunan harus searah akses keluar. b. dibuat menerus 18. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. harus dapat dibuka secara manual. 19. Pegangan Rambat Pada Tangga a. kecuali: i. d. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. bukan pintu gulung. dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. 20. lorong atau ramp. 55 . alarm kebakaran dan lainnya. Pintu Ayun a. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii. Bila terbuka sempurna. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. bukan pintu sorong. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. dan harus: i. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. c. pintu dapat dibuka secara manual. kecuali: i. melayani kompartemen saniter. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. ii. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. i. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. bukan pintu berputar b. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. termasuk bordes. b. c. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga.

untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. kecuali bangunan sekolah.2 m dari lantai. pada bangunan klas 9b. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. hanya melayani: i. ii. dan i. iii. c. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. 7. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. Rambu Pada Pintu a. 22. tersedia sistem komunikasi internal. ii. Rambu. b. 21.dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. atau 8. 3. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. khususnya oleh pemilik. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. 6. termasuk penyandang cacat. dengan tangan. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. d. VI. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. bangunan klas 9a b. kecuali bila: a. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. b.9 1. atau bagian klas 4. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. ii. 56 .

2. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. 57 .

Penyediaan ramp pada jalan-jalan pejalan kaki dan dari pedestrian ke dalam bangunan. c. Pada bangunan-bangunan tidak bertingkat tetapi mempunyai perbedaan ketinggian lantai b.a. Penyediaan ramp pada bangunan-bangunan dan pelataran parkir menuju bangunan lain atau pedestrian .

dan menggunakan kabel tahan api. a. c.VII. Jumlah dan kapasitas lift harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Lift kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. Sumber daya listrik untuk lift kebakaran harus direncanakan dari dua sumber yang berbeda. e. Kapasitas angkut lift barang yang diizinkan. e. 2. Lift Kebakaran Persyaratan-persyaratan mengenai lift kebakaran harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran (DPK) tentang elevator (lift) untuk pelayanan kebakaran gedung. Untuk mengubah fungsi lift penumpang atau lift barang menjadi lift kebakaran. g. a. Persyaratan teknis dari lift yang digunakan sebagai lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. 1. Kecepatan dan ukuran sangkar lift kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Kapasitas angkut lift penumpang yang diizinkan. Lift kebakaran. dapat berupa lift penumpang biasa atau lift barang yang dapat diatur. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (fire switch) terlebih dahulu. b. 3. c. harus menjadi kapasitas angkut dari lift yang dimaksud. b.1 LIFT Persyaratan-persyaratan mengenai elevator (lift) harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk Pesawat Angkat Elevator. Kapasitas Lift Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. Waktu tunggu lift. Pintu shaft lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan/ peraturan yang berlaku di Indonesia. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh Petugas Kebakaran. Peringatan Terhadap Pengurus Lift Pada Saat Terjadi kebakaran . tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. d. f. d.

Lift yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. harus: i. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. . yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai dasar.a. Ditatah atau huruf timbul pada logam.10 dan terdiri dari: i. telepon. berupa bel listrik. huruf yang diukir atau ditatah langsung di permukaan bahan dinding. atau Gambar 2. Sangkar Lift Sangkar pada setiap lift harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. 4. Satu atau beberapa lift harus dipasang sebagai lift pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan “ramp”. 5. kayu. huruf yang diukir. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar 2. atau ii. Lift pasien yang dibutuhkan pada butir a. mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 kg. bila diperlukan. b. misalnya: bangunan kelas 9a. berukuran cukup untuk meletakknya fasilitas kereta dorong (wheel stretcher) secara horisontal. dan iii. Tanda peringatan harus dipasang di tempat yang mudah terbaca: i. dan dipasang tetap di dinding. plastik atau sejenisnya. dekat setiap tombol panggil untuk lift penumpang atau kelompok dari lift pada bangunan. iii. Lift Untuk Rumah Sakit a. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung di tempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. ii. kecuali ii.10 Tanda Peringatan Lift Penumpang b.lift kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang.

c. dengan beban sangkar lift. ii. b. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap ruang mesin lift. iii. 8. Saf Lift a. c. Instalasi Listrik a. tromol tali. termasuk lantai ruang mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah sejajar. b. Pondasi harus menyangga berat mesin. Balok. pondasi untuk mesin. dan penyangga di ruang mesin harus direncanakan dengan memenuhi: i. Balok diperhitungkan pada saat bandul mekanis (governor) bekerja. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban di bawah ini: i. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah semua gaya. ii. d. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. iv. motor generator. lantai. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lift. Mesin Lift dan Ruang Mesin Llift a. peralatan lain dan lantai di atasnya. governor dan peralatan lain. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. tromol.6. Bangunan ruang mesin lift harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. atau di samping ruang luncur di lantai bawah. panel kontrol. Untuk shaft lift yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. Jika mesin lift dan tali ditempatkan di lantai bawah. Instalasi listrik untuk lift harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih atau sakelar otomatis. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Dalam shaft lift dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lift. iii. 9. b. Pemeriksaan. 7. Semua bagian logam dari lift pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Pengujian dan Pemeliharaan .

pengujian. Prosedur pemeriksaan. salah satunya adalah ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk sistem penggunaan Eskalator (moving stair). VII. b.a. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. Instalasi lift yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. dan pemeliharaan instalasi lift sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 032190-1991. .2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

koridor. jalan lintas b. Setiap lampu darurat harus: a. mudah dibaca. d. ke jalan raya. atau iii. atau sejenisnya yang digunakan pasien. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup. 2. b. Jelas. hall. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 300 m2 c. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi dari kerusakan karena api dengan konstruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. pencahayaan darurat digunakan pada tanda “KELUAR”. b. yaitu pada: i. c. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. ke ruang terbuka.VIII. mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.2 TANDA ARAH KELUAR 1. diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan.1 SISTEM LAMPU DARURAT i. . dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 dan kurang dari 300 m2 yang tidak terbuka: ke koridor. setiap lorong. bekerja secara otomatis. 1. Setiap tanda “KELUAR” yang dibutuhkan. Sistem lampu darurat dipasang pada: a. harus: a. bangunan kelas 9a. atau iv. VIII. e. ii. PENCAHAYAAN DARURAT. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. 3. bangunan kelas 2 atau 3. jika mengngunakan sistem terpusat. TANDA ARAH KELUAR. c. atau ii. ke ruang yang mempunyai lampu darurat.

Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m. 3. Pintu dari tangga tertutup. ii. b. atau orang cacat. dan harus dipasang di atas atau di dekat setiap: a. lorong atau ramp yang digunakan untuk keluar. . Bangunan kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2: i. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannyua untuk meminimalkan kepanikan sesuai tipe dan kondisi pasien. atau ramp yang digunakan untuk keluar. lorong. Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan “KELUAR” pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai bab Pencahayaan Darurat. ii. 3. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. hall. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. iii. Bangunan kelas 9b: i. sistem alarm harus diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju jalan raya atau ruang terbuka. ii. tangga luar. dan Sistem Peringatan Bahaya. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai ke: i. maka tanda keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. dan d. untuk gedung pertunjukan.2. atau sejenisnya. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2. kecuali bila sistemnya: langsung memberikan peringatan pada petugas. i. hall umum. Tanda “KELUAR” harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. Jika tanda “KELUAR” tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari 3.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. 4. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petudas. atau ii. 5. Bangunan kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari 2 lapis dan dipakai untuk: bagian rumah dari sekolah. lorong. VIII. di daerah bangsal perawatan. Jalan keluar horisontal. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. untuk sekolah. tangga yang tertutup. Tanda Arah Keluar. akomodasi untuk orang tua anak-anak. lobi. 2. dan: c. ii. jalan keluar di balkon yang menuju keluar.

.

bagian bangunan dan instalasi lainnya. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. biasanya kabel yang digunakan adalah N2XSY – 12/20 kV inti tunggal x 3.IX. c. atau N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik arus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. lingkungan. ukuran dan kemampuan. dapat menggunakan ketentuan/standar dari negara lain atau badan internasional. b. dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. e. Atau antara PTM dengan trafo. dipelihara. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak. papan hubung bagi dan isinya. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. papan hubung bagi dan beban listrik. Semua peralatan listrik. tidak membahayakan. Kabel tegangan menengah digunakan pada bangunan tinggi. di antaranya penghantar. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. . Jaringan Distribusi Listrik a. i. INSTALASI LISTRIK. mengganggu dan merugikan bagi manusia. dengan frekuensi 50 Hertz.1 INSTALASI LISTRIK 1. transformator dan peralatan lainnya. d. jaringan distiribusi. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. seperti antara gardu PLN dengan Panel Tegangan Menengah (PTM). Biasanya kabel yang digunakan di sini adalah N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti (3 core). 3 fasa. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketentuan: a. dan busduct dari berbagai tipe. PENANGKAL PETIR. Kabel Tegangan Menengah Kabel dapat dipasang dengan 2 cara : ditanam atau tidak ditanam (di udara). Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya.

pembumian sistem dan pembumian bodi. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. PUIL 2000) iii. Tegangan rendah menggunakan sistem solid ground (pembumian langsung) 2) Pembumian bodi. Ketentuan penghantar pengaman dapat dilihat pada PUIL 2000 (Tabel 312-1) iv. alat ukur. tegangan menengah dan tegangan rendah. b. pengecualian hanya diperbolehkan sesuai tabel 2. (2) Kabel Tegangan Rendah (NYFGbY – 0. sakelar. c. sistem deteksi dan alarm kebakaran. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api (fire-ressistant cable). Tegangan menengah menggunakan Neutral Grounding Resistor (NGR) yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. tombol.4.ii. Untuk pemasangan stop kontak di bawah. lambang atau huruf seperti yang terdapat dalam tabel 2. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. ii. Jaringan yang melayani beban penting seperti pompa kebakaran. Pentanahan/pembumian Pembumian dibagi dua. PUIL 2000) (5) Ketentuan Kapasitas Hantar Arus (KHA) penghantar fasanya. harus dilengkapi dengan pengaman terhadap tusukan. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. . (1) Pembumian sistem Pembumian sistem dibagi dua. i. sistem komunikasi darurat.3. Kabel Tegangan Rendah (1) Kabel Tegangan Rendah (NYY – 0. (3) Kabel Tegangan Rendah (NYM – 500 V) hanya digunakan untuk instalasi penerangan saja. (Tabel : 313-1. peralatan pengendali asap. Papan hubung bagi dan alat ukur listrik diletakkan di dinding bagian depan rumah/bangunan yang aman terhadap air hujan atau diletakkan di halaman rumah dengan diberi pelindung terhadap hujan. dan stop kontak diletakkan di tempat yang aman (daerah yang tidak lembab/kering) dan aman dari jangkauan anak-anak.6/1 kV) mulai digunakan dari trafo ke PUTR dan seterusnya hingga ke setiap titik beban. lift kebakaran. (4) Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna. Pembumian dilakukan pada bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik. Tombol. (Tabel : 701-1. NGR diposisikan di titik netral transformator.6/1 kV) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan dengan tanah.

3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang, faktor kebersamaan (coincidence factor) atau faktor ketidakbersamaan (diversity factor). 4. Sumber Daya listrik a. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak memungkinkan, dengan izin instansi yang bersangkutan, sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri, yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau normalisasi dari peraturan yang berlaku, di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pada umumnya lingkup pekerjaan instalasi pembangkit sendiri (genset) meliputi : pemasangan genset pada pondasi; pemasangan instalasi saluran pembuangan udara radiator (exhaust duct radiator); pemasangan peredam suara (sound attenuator); instalasi pipa bahan bakar minyak solar; pemasangan tangki bulanan (storage tank) dan tangki harian (daily tank); pemasangan pompa bahan bakar; instalasi kabel daya dan kabel kontrol dari terminal generator ke panel kontrol generator; pemasangan panel kontrol generator; pemasangan peredam suara ruang genset (sound proof). c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listriknya tidak boleh putus, harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila terjadi gangguan sumber utama. e. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3, secara otomatis. f. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lainlain. i. Peralatan tegangan menengah harus terpisah dari peralatan tegangan rendah, dengan jarak sesuai dengan SNI-0225. ii. Pengaturan jarak antara kabel telekomunikasi/kabel data dengan kabel power harus sesuai dengan SNI-0225.

iii. Peletakan kabel telekomunikasi/ kabel data yang berdekatan dengan kabel power harus dilindungi dengan screen atau konduit metalik yang diketanahkan. g. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. Transformator Distribusi Outdoor dan Indoor a. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. b. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup, dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran, maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Transformator distribusi yang berada di luar gedung bisa ditempatkan pada tiang atau di permukaan tanah/lantai. i. Transformator yang diletakkan di permukaan tanah/lantai harus dilindungi dengan pagar pelindung yang jaraknya terhadap transformator diatur sebagaimana dalam SNI-0225. ii. Transformator yang diletakkan pada tiang harus memiliki konstruksi sedemikan hingga kokoh dan tidak jatuh pada saat terjadi gempa berskala tinggi. e. Transformator harus dilengkapi dengan pendingin/ sistem pendingin transformator yang terdiri dari sistem pendingin secara alamiah (natural) atau dengan melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). f. Transformator tipe basah harus dilengkapi dengan alat pernafasan (breathing system) untuk mengurangi tekanan gas pada saat beban berlebih. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan tabung berisi kristal zat hygroskopis untuk mencegah kelembaban (humidity) yang dapat menurunkan nilai tegangan tembus minyak transformator. g. Transformator harus dilengkapi dengan peralatan proteksi; rele Buchholz, pengaman tekanan lebih (explosive membrane/pressure relief valve), rele tekanan lebih (sudden pressure relay), dan pengaman terhadap arus lebih. Transformator dengan daya lebih dari 10 MVA harus dilengkapi dengan rele diferensial (differential relay). Transformator dapat juga dilengkapi dengan rele tangki tanah, rele hubung tanah dan rele termis. 6. Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan

a. Instalasi listrik yang dipasang, sebelum dipergunakan, harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. i. Pemeriksaan yang dilakukan secara visual meliputi antara lain : (1) Jalur pipa konduit dan tekukan kabel tidak boleh patah. (2) Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator laas doop. (3) Jalur kabel di atas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas instalasi pipa untuk menghindari adanya tetesan air. (4) Kelengkapan komponen panel. (5) Sambungan dan terminasi kabel pada panel atau beban harus rapi dan tersambung dengan kuat. Kabel serabut atau berurat banyak (multicore) harus dilengkapi dengan sepatu kabel (cable shoe). (6) Untuk pemakaian kabel NYA harus dilindungi dengan pipa konduit atau fleksibel sampai ke titik beban atau panel. (7) Kabel di dalam panel ditata dengan rapi dan disediakan cadangan panjang kabel (spare) untuk mengantisipasi bila terjadi kesalahan terminasi, kabel masih cukup panjang untuk disambung pada terminal yang lain. (8) Titik-titik lampu posisinya harus sesuai dengan gambar. (9) Penggunaan warna kabel harus sesuai dengan PUIL 2000. ii. Pengujian dilakukan bersama dengan pihak yang berwenang dengan menggunakan pesawat uji yang telah dikalibrasi. Hasil pengujian direkam pada daftar simak dan didokumentasikan. (1) Pengujian instalasi penerangan meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi Besarnya tahanan isolasi minimum suatu instalasi kabel listrik adalah: (i) Berdasarkan PUIL 2000, yaitu sekurangkurangnya 1000Ω /volt tegangan nominal, dengan penegrtian bahwa arus bocor dari tiap bagian instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1mA per 100 m panjang instalasi. (ii) Berdasarkan peraturan IEE (Institution of Electrical Engineers) nilai minimum yang diperolehkan adalah 1 MΩ . Pengukuran dilakukan dengan megger. (b) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).

(c) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-netral, fasa-tanah) dengan multitester (d) Pengukuran arus beban untuk fasa R, S, T. (e) Pengujian nyala lampu dan baterai Ni-Cad pada lampu emergency. (f) Pengujian fungsi komponen-komponen panel : voltmeter, amperemeter, frekuensimeter, lampu indikator, saklar pilih (selector switch), circuit breaker, kontaktor, rele. (2) Pengujian instalasi tenaga meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan motor. (b) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-tanah) dengan multitester. (c) Arah putaran motor. (d) Pengukuran putaran (rpm) motor dengan tachometer. (e) Pengukuran arus starting dan running motor. (f) Tegangan fasa-fasa saat motor beroperasi. (3) Pengujian genset, meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan generator. (b) Pengukuran tegangan baterai dan pengecekan hubungan baterai. (c) Pengukuran motor dan pompa bahan bakar (d) Pengukuran tegangan generator (tegangan fasafasa, fasa-netral, fasa-tanah) (e) Pengujian beban 25%, 50%, 75%, 100%, 110%. (f) Fungsi panel kontrol generator dan interlock dengan sumber daya PLN. (g) Pengujian overspeed, emergency stop, low oil pressure, high water temperature. (h) Frekuensi generator. 7. Pemeliharaan a. Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang. c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. IX.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai resiko terkena sambaran petir, harus diberi instalasi penangkal petir.

normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. meskipun dibungkus dengan bahan insulasi. termasuk manusia yang ada di dalamnya. konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga dari titik sambaran ke bumi: (1) terdapat beberapa jalur arus paralel. jarak yang diukur melalui celah antara dua titik pada konduktor dan panjang l dari konduktor antara titik-titik tersebut harus memenuhi 3. c. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. 2. b. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan.2 (Gambar 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir). harus memperhatikan arsitektur bangunan.b. Bentuk lingkar harus dihindari. Sistem Konduktor Penyalur : Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya latu berbahaya. Instalasi Penangkal Petir a. dan instalasi lainnya. terhadap bahaya sambaran petir. Konduktor penyalur tidak boleh dipasang pada talang atau pipa saluran air. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. . (2) panjang jalur arus diusahakan seminimum mungkin. c. e. Konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga sedapat mungkin berhubungan langsung dengan konduktor terminasi udara. Konduktor penyalur harus dipasang lurus dan tegak sedemikian sehingga membentuk jalur terpendek dan paling langsung ke bumi. Sistem terminasi udara : Susunan sistem terminasi udara memadai jika persyaratan pada Tabel 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir. Jika hal ini tidak mungkin. d. harus mengacu pada rekomendasi dari badan internasional seperti IEC. Hal-hal yang belum diatur di dalam peraturan tersebut di atas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Direkomendasikan agar konduktor penyalur ditempatkan sedemikian sehingga ada jarak antara konduktor penyalur tersebut dengan pintu atau jendela.

aman dan mudah dikerjakan. Secara berkala dilakukan pengukuran / pengujian terhadap EMC (Electromagnetic Compatibility). Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Hasil pemeriksaan direkam pada suatu daftar simak (check list). mengganggu dan merugikan lingkungan. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. IX. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah : i. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lain-lain. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. 2.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harsu mudah diamati. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. bagian bangunan dan instalasi lain. c. dipelihara. Instalasi Telepon Instalasi Telepon a. kerusakankerusakan) yang meliputi : (1) Air terminal (2) Tiang penghujung (penyangga) (3) Penghantar penyalur petir (4) Elektroda pembumian (5) Penghantar penghubung (6) Sambungan-sambungan (7) dan lain-lain. tidak membahayakan. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. b. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. . b. Instalasi keseluruhan ii. Bahan-bahan / material instalasi (jenis. Perencanaan Komunikasi Dalam Bentuk Telepon dan Data a. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. tidak ada genangan air.3.

serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan.50 m x 0. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Paging (pengumuman/ panggilan) : sistem paging di setiap lantai dapat menggunalan bantuan speaker selector. b. minimal berjarak 0. d. . e. ii. Biasanya dimulai dengan bunyi sirine dan dilanjutkan dengan pengumuman untuk segera meninggalkan gedung (All Call) iii. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a di atas harus menggunakan sistem khusus. iv. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m ke atas.80 m. Background music (music pengantar). ii. ii. Ruang yang bersih. kedap debu. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. 3.b. c. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Tidak boleh menggunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. Instalasi Tata Suara a. Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. ii. Pembumian / pentanahan (grounding) Setiap peralatan utama (PABX / key telephone) harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian maksimum 5Ω yang diukur pada tanah dalam keadaan kering. Sistem Tata Suara yang umum digunakan bangunan tinggi meliputi : i. terang. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. iii. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Car call (pemanggilan pengendara mobil). Emergency Paging (pengumuman darurat atau panggilan evakuasi). Ruang baterai sistem telepon harus bersih. tenang.

Peralatan utama tata suara. Frequency response (Hz). Input impedance (KΩ). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Dimensi (mm). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Frequency response (Hz). Frequncy (Hz). Casette Recorder Player .c. Stereo Graphic Equalizer : berfungsi untuk menyaring frekuensi yang tidak diinginkan. Input Sensitivity (dB). S/N ratio (dB). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Output level (dB). Playing system (auto reverse. Alat ini juga harus dapat mengatur seluruh speaker dalam waktu bersamaan untuk difungsikan (All Call). Speaker Selector : berfungsi untuk mengatur kelompok speaker yang ingin difungsikan. Mixer Pre-Amplifier : berfungsi untuk menggabungkan dan mengontrol beberapa sumber suara. e. vi. Voltage (Volt). S/N ratio (dB). atau terdiri dari kabel tahan api. Output impedance (KΩ). Noise level (dB). Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. d. . Power consumption (Watt). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Frequency response (Hz). Distortion (%). Distortion (%). Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi tata suara adalah : i. Power consumption (Watt). Power consumption (Watt). Frequency response (Hz). Dimensi (mm). Total harmonic distortion (%). harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian sesuai spesifikasi yang ditentukan atau maksimum 5Ω yang diukur pada kondisi tanah dalam keadaan kering. Input Sensitivity (dB). dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Power bandwidth (Hz). Radio Tuner : berfungsi untuk menangkap siaran radio AM dan FM. Dimensi (mm). sehingga dihasilkan frekuensi tengah ekualisasi. manual). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Voltage (Volt). Total harmonic distortion (%). vii. S/N ratio (dB). Input level control (dB). Dynamic range (dB). serta dilengkapi dengan pengatur kuat suara. Voltage (Volt). v. Voltage (Volt). Frequncy (Hz). Power Amplifier : berfungsi sebagai penguat suara. Power consumption (Watt). Dimensi (mm) iii. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Frequency response (Hz).CD Player . Frequency (Hz). iv. Alat ini harus memiliki kemampuan dapat memikul semua beban speaker yang dioperasikan serentak pada saat bersamaan (All Call). Ouput impedance (KΩ). Equalizer center frequency (Hz). ii . Frequncy (Hz).

Dimensi (mm). xii. Impedance (Ω). Voltage (Volt). kapasitas terminal. Dimensi (mm). vocal).Spesifikasi peralatan ini meliputi : Nominal impedance (Ω). Monitor Panel : berfungsi memonitor seluruh suara yang keluar dari amplifier serta memiliki alat ukur kuat suara speaker dan saklar pemilih. Jenis dan warna cat. Semua kabel yang keluar / masuk dari peralatan utama harus melalui MDF. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Tipe.. xi. Dimensi (mm). ix.Attenuator : berfungsi mengatur kuat suara yang keluar dari speaker. WallMounting Box Speaker (biasanya digunakan pada area yang tidak mempunyai plafon seperti tangga kebakaran atau ruangan lainnya yang tanpa langit-langit) xiii. Khusus microphone untuk car call dilengkapi dengan chime (alunan sesaat musik pengantar) sebelum pengmuman pemanggilan pengendara mobil dilakukan. Speaker . Kabel : Kabel tata suara yang umum digunakan pada bangunan tinggi adalah : NYMHY 500V (biasa digunakan dari MDF ke TB maupun dari TB ke speaker. jenis-jenis speaker yang biasa digunakan pada bangunan tinggi adalah : Ceiling Speaker (biasa digunakan pada area yang mempunyai plafon dan merupakan area operasional suatu bangunan).viii.MDF (Main Distribution Frame) dan TB (Terminal Box) : merupakan terminal penyambungan kabel sistem tata suara. xv. Sensitivity (dB). Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai kabel kontrol). Jumlah terminal penyambungan minimum harus sesuai kebutuhan. Operating control. Frequency response (Hz). Power consumption (Watt). iMicrophone . NYY 0. Horn Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam atau luar ruangan/outdoor). Blower : berfungsi menjaga temperatur peralatan utama. Frequency response (Hz). Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai . xiv .6/1 kV (biasa digunakan dari MDF ke TB. Jumlah speaker yang dilayani oleh attenuator tidak boleh melebihi kemampuan attenuator. Sedangkan TB merupakan terminal distribusi setiap area atau setiap lantai. Application (musical instrument. Frequency (Hz). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Dimensi (mm). Ketebalan pelat panel. Column Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam ruangan/indoor). x. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Input level (dB0). Output level (dB). microphone yang biasa digunakan adalah remote microphone tipe dinamik yang mampu menerima suara secara unidirectional dan dilengkapi dengan saklar / tombol pemilih.

kabel kontrol). Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi MA TV adalah : i. Pipa : PVC (paralon). Kabel : harus memenuhi SPLN/PT.Konduit : yang umum digunakan biasanya dari tipe high impact conduit. xvi. peraturan. data-data bangunan. d. b. peraturan daerah yang berlaku. peralatan. Kabel khusus sesuai standar pabrik digunakan dari mixer pre amplifier ke microphonee. 4. SLI (Standar Listrik Indonesia). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : (1) Frekuensi (Hz) (2) Gain (dB) (3) Gain control range (4) Hum modulation (dB) (5) power source ii.5 DP = diameter dalam konduit (mm) DK = diameter luar kabel (mm) xvii. SNI. Persyaratan untuk material instalasi. Konduit harus memenuhi syarat-syarat : tidak mudah terbakar. dan standarisasi pabrik. GIP (yang telah memiliki SII). bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun. pelaksanaan. NYM 500 V (biasa digunakan dari TB ke speaker). ex. dan kabel dari mixer pre amplifier ke remote microphone. Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari TB ke speaker/ attenuator. Ukuran diameter dalam konduit adalah : DP ≥ DK 2 / 0. dan material pelengkap dan pembantu lainnya mengikuti peraturan pemerintah yan gberlaku. spesifikasi teknis. MA TV a. selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Perencanaan. Socket outlet (1) Model . Kabel yang ada di atas rak harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties). dan api dapat padam dengan sendirinya. Telkom. kabel metal atau setaraf jenis kabel coaxial. antara lain : PUIL 2000 yang berlaku. Dasar pemikiran dan perhitungan dalam perhitungan / perencanaan istalasi MA TV ini antara lain: TOR (Term of Reference). tidak merambatkan api. Splitter (1) frequency band (MHz) (2) losses (dB) iii. Rak Kabel : dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang dilayani. Booster Amplifier. Kabelindo. tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan adalah minimum 1000Ω per 1 volt tegangan nominal. c.

ii. Pelaksanaan Instalasi i. Outlet TV vi . instalasi. Bila instalasi mengalami beban mekanis.Equalizer e. Pemasangan peralata. outlet dan lainnya harus rapi & baik. iii. Instalasi MATV tidak boleh saling berhimpit (berdempetan) dengan instalasi listrik arus kuat. Jadi harus terpisah satu sama lainnya. .(2) Losses (dB) v. maka kabel/hantaran harus dilindungi dan dimasukkan ke dalam GIP.

v. ii. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Pada instalasi gas untuk pembakaran. X. INSTALASI GAS X. INSTALASI GAS MEDIK 1. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2H6). Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. c. Panjang pipa dan jumlah sambungan. b. iii. terdiri dari propane (C3H6) dan butane (C4H10). vi. Berat jenis dari gas. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang sedcara otomatis mematikan aliran gas. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. 2. Jaringan Distribusi Gas Kota a. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter gas) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. 3. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. b. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi : a. Jenis Gas . Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Gas Elpiji Gas elpiji. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter gas ke peralatan.X. Faktor diversifikasi (diversity factor). Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut.I. iv.2. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). Rancangan sistem ditribusi gas pembakaran.

atau diperoleh dari rekonstitusi oksigen USP dan nitrogen kering NF. e. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan dengan cara lain. Jaringan Distribusi Gas Medik a. harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. langit-langit. c. e. peralatan. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Jika di luar bangunan ruangan. bebas minyak. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang.Jenis gas medik yang dimaksud adalah: a. Udara tekan. Gas oksigen. untuk lokasi biasa. . 2. c. seperti untuk ruang bedah orthopedi. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Rancangan sistem distribusi gas medik. Kadar partikulat permanen. Dipasok dari silinder. b. f. Kebutuhan gas medik harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk pasien rawat inap dan kebutuhan lain. b. Memenuhi persyaratan udara medik USP. Gas Nitrous Oksida (N2O). c. lantai. d. d. dan sebagainya. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. b. Vakum. Harus memenuhi SNI 04-0225-edisi terakhir atau standar lain seperti NFPA 70. b. d. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. sama atau kurang dari 5 mg/m3. dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai ketahanan api 1 jam. sumber kompresor udara medik. keluar dan masuk lokasi. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyrarat tanda kebocoran gas. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut: a. Kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm. e. Kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi. Harus dipanaskan dengan cara tidak langsung. Jika di dalam bangunan. kontainer curah. c. Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. (misalnya dengan uap air atau air panas) jika diperlukan. pipa Nitrous Oksida dan pipa udara tekan. d. Dibangun dengan akses untuk memindahkan silinder. dengan peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih dari 152 cm (5 ft) di atas lantai untuk menghindari kerusakan fisik. harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. yang berukuran 1 mikron atau lebih.

pemberian tekanan masingmasing pipa. dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang. baik terhubung maupun tidak terhubung. h. lemari. 3. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial.g. pengujian kebersihan pipa/sistem pipa. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan. agar tidak roboh. pengujian katup. rantai. pengujian alarm. Apabila disediakan rak. Dilengkapi dengan rak. penuh atau kosong. atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder. i. pengujian tekanan kerja. pengujian sambung-silang. harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar. Pengujian meliputi : pengujian kemampuan mempertahankan tekanan. dan pengujian konsentrasi dan kemurnian gas medik. Ketentuan secara detail terdapat pada SNI 03-7011-2004 tentang Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Kesehatan . dan penyangga. pengujian beda tekanan.

Untuk menjamin kontinyuitas persediaan air. SANATASI DALAM GEDUNG XI. . Gambar sumber-sumber air bersih. 3. mata air atau sumber lain yang memenuhi persyaratan kualitas air bersih. iv. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai.1 SISTEM PLAMBING 1. petunjuk teknik. Kebutuhan air bersih pada rumah tinggal dapat diperoleh secara individual maupun secara komunal. Air bersih harus tersedia secara kontinyu. tangki dan sumur penampungan air hujan dapat dilihat pada Lampiran 1. bangunan dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air bersih. ii. sumur gali. Air bersih pada bangunan harus memenuhi persyaratan kualitas air bersih sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ MENKES/PER/ IX/ 1990. Sumber air bersih pada bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Sumber Air Bersih i. sumur gali. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Dalam hal air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum secara langsung maka kualitasnya harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII/ 2002. v. serta diperhitungkan berdasarkan standar.XI. Perencanaan Sistem Plambing a. b. Sistem Penampungan Air Bersih a. tidak mengganggu lingkungan. ii. iii. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. meliputi sistem air bersih. sumur pompa tangan. 2. sumur bor. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. Kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. Gambar tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1. Sistem Penyediaan Air Bersih a. Kualitas air Bersih i. sedangkan untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia b.

pipa peluap. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. 4. Tangki penampungan air bersih yang berkapasitas lebih dari 5 m3 harus dirancang agar tidak terjadi air diam (stagnant). mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja dan tidak mengandung bahan beracun d. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. 5. Fungsi tangki penampungan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. e. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya. fiberglass dan kayu. Tangki penampungan air bersih harus dilengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Pt T 21-2000-C. Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effisiensi yang maksimal . baja. petunjuk teknik. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Konstruksi dan bahan tangki penampungan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. f.b. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. b. perlengkapan bangunan. pipa penguras dan pipa ven. Penggunaan Pompa a. Sistem Plambing Air Bersih a. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. dan mengacu pada NSPM Kimpraswil No. c. e. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Tangki penampung air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediaan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. serta dilengkapi dengan lubang pemeriksaan. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempattempat yang dapat menimbulkan pencemaran. Sistem plambing air bersih dimaksudkan untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan jumlah dan tekanan yang cukup. Bahan tangki dapat berupa beton.. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. besi lapis galvanis atau tembaga. Gambar penempatan tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1 d. c. PE (polietilena). f. tidak mengganggu lingkungan serta diperhitungkan berdasarkan standar.

d. galvanis atau bahan lain yang mampu menahan tekanan air. Sistem distribusi air bersih adalah sistem perpipaan yang menyediakan air bersih dari air PAM menuju ke pelanggan. air didistribusikan melalui pipa menuju ke lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. b. 7. b. 6. maka harus ada perlindungan terhadap pipa. f. c. Untuk menjamin kualitas air. Pemeriksaan. Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih yang dipanaskan dengan alat pemanas. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. c. Untuk penyediaan air panas secara sentral. 8. d. Alat pemanas dapat bersifat lokal atau sentral. Sistem distribusi air bersih harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan air bersih dengan jumlah dan tekanan yang cukup. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. maka harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kualitas sumbersumber air yang digunakan sebagai air bersih. Sistem Distribusi Air Bersih a. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem plambing air bersih meliputi : (i) Pengendalian kualitas air : (a) Pemeriksaan atas kadar sisa klor : (b )satu kali seminggu . Pipa distribusi terbuat dari bahan PVC. b. c. pompa dan peralatan plambing harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa pemasangan telah dilakukan dengan baik dan peralatan berjalan dengan baik. Pengujian dan Pemeliharaan a. Bila pipa ditanam di bawah jalan atau lokasi yang menerima beban. Gambar sambungan rumah dapat dilihat pada Lampiran 1. e. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Sistem Penyediaan Air panas a. PE. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Pada setiap pemasangan pipa distribusi. Tiap sambungan pelanggan harus dilengkapi dengan meter air. c. Tata cara perancangan pipa air panas harus mengikuti pedoman plambing yang berlaku.b.

4 ppm klor keseluruhan (d) Pemeriksaan atas kualitas air. . Pembuangan dan Pengolahan Air Limbah a. Sumber Air Limbah a. 3. b. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. minuman bahan steril dan atau bahan sejenis lainnya.2SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 1. dan lebih dari 0. Pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak.(c) kadar sisa klor harus lebih dari 0. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. e. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang dialirkan. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak atau lemak. satu kali setiap enam bulan (ii) Pemeriksaan tangki air (tangki air di bawah dan tangki air di atas) : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iii)Pemeriksaan sistem pipa : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iv)Pemeriksaan mesin-mesin : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih XII. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. Air limbah rumah tinggal dan non rumah tinggal berasal dari kegiatan sehari-hari. 2.1 ppm klor bebas. b. d. f. Air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya tidak boleh digabung dengan limbah pada butir i di atas. Setiap bangunan yang menghasilkan air limbah harus dilengkapi dengan plambing air limbah. Sistem plambing air limbah dalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa vent untuk menetralisir tekanan udara di dalam saluran tersebut. c. Sistem Plambing Air Limbah a.

Air limbah yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. Pemeriksaan. 4. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. Sistem Penyaluran Air Limbah a. Letak tangki septik boleh dibelakang atau dimuka rumah. PE. harus ditangani secara khusus. Bahan pipa adalah PVC. Pengujian dan Pemeliharaan a. Sistem pengaliran air limbah direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. beton atau bahan lain yang kuat dan tidak mudah mengalami korosi serta tahan terhadap panas. Lebih jelas tata letak dapat diihat di Lampiran. Kapasitas aliran disesuaikan dengan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh penghuni rumah tinggal dan non rumah tinggal. e. Gambar tangki septik dan sumur resapan dapat dilihat pada Lampiran 2. pembuangan. c. Pengolahan dilakukan dalam tangki septik yang kedap air dan dilengkapi dengan sumur resapan. tergantung kemudahan pengaliran dari KM/WC dengan memperhatikan jarak minimum dari sumber air bersih disekitar lingkungan permukimannya. Untuk daerah yang muka air tanahnya dangkal (kurang dari 1 m). f. b. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilakukan maka dapat menggunakan sistem pemompaan. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih paling dekat adalah 10 meter. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan pada sistem plambing. d. maka harus dipilih pompa yang peruntukannya khusus untuk air limbah. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-63792000. d. 5. Sistem pembuangan harus dilengkapi dengan perangkap bau sesuai dengan SNI 03-6379-2000. e. pengolahan dan penyaluran air limbah untuk memastikan bahwa sistem telah terpasang dan berjalan dengan baik. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. . serta yang mengandung radioaktif. c. Sistem penyaluran air limbah adalah jaringan perpipaan yang mengalirkan air limbah dari rumah tinggal atau non rumah tinggal menuju ke instalasi pengolah air limbah. Jaringan pipa air limbah harus dirancang mampu mengalirkan air limbah dengan lancar dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. tangki septik dibuat lebih tinggi dan resapan dibuat mengalir secara horisontal. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan air limbah dipompa. g.b.

Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. saklar listrik. Pemeriksaan mesin-mesin Pemeriksaan pompa penguras bak penampung air buangan (sump pit) : i. Pemeriksaan penggantung pipa d. Pemeriksaan sistem pipa vent : i. kebocoran dinding dan dasar bak (c) Apabila digunakan pompa penguras air buangan. Pemeriksaan dan pembersihan kepala pipa tegak vent ii. Kelengkapan Dalam Bangunan a. Pemeriksaan kondisi operasinya (tekanan. dan sebagainya) (b) Pemeriksaan adanya kotoran terapung. lapisan kedap air. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan b.i. i. Pemeriksaan sekat poros dan kopling iii. Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat e. .3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 1. arus dan tegangan listrik. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem pembuangan air limbah meliputi : Bak penampung air buangan (sump pit) : (a) Pemeriksaan bagian dalam (kotoran pada dinding. (a) b. Pembersihan bak penampung air buangan : Pembersihan dilakukan enam bulan sekali ii. dilakukan pula pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap pompa (d) Setelah kegiatan pembersihan selesai. tinggi muka air dan sebagainya ii. endapan. XI. Pemeriksaan sistem pipa pembuangan : (a) Pipa pembuangan harus dibersihkan setiap 6 bulan sekali (b) Pemeriksaan dan pengujian celah udara (c) Pemeriksaan kelancaran aliran (d) Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat (e) Pemeriksaan kemiringan pipa (f) Pemeriksaan penggantung pipa c. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama kegiatan pembersihan bak: Ventilasi dan penerangan yang memadai di dalam bak harus terjamin (b) Pemeriksaan atas kebersihan bak. sebaiknya sampai lima tahun. kebisingan dan sebagainya ii. hal-hal yang penting perlu dicatat dan disimpan sebagai dokumen/ arsip.

disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. Gambar bangunan pelengkap drainase dapat dilihat pada Lampiran 3. Di kedua sisi jalan harus disediakan saluran drainase/ selokan. iii. b. Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup b. besi dan baja. Harus cukup besar untuk melawan debit air maksimum dari daerah pengaliran secara efisien.c. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung. Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut : i. g. 3. Saluran ini merupakan bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpulan drainase. dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna. Khusus untuk bahan seng. pasangan tanah liat. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebabsebab lain yang dapat diterima. Kelengkapan di Sekitar Bangunan Gedung a. seng. d. f. 2. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. . besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. maka harus dilakukan caracara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. pembagi. Harus dibuat dengan tipe permanent. Kemiringan saluran harus dibuat. e. Pemilihan dimensi fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. c. beton. maka dapat menggunakan sitem pemompaan d. Persyaratan Saluran a. Bahan saluran dapat berupa PVC. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Dimensi setiap saluran harus sedemikian rupa yang disesuaikan dengan daerah pelayanannya. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal. Apabila saluran dibuat tertutup. c. fiberglass. tetapi harus diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk tempat air keluar. ii. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari selokan samping dan membuangnya.

4. Tempat pewadahan sampah harus terpisah antara sampah basah dan sampah kering. Timbulan Sampah a. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. maka penampungan sampah dapat dilakukan dengan cara penimbunan di area pekarangannya. plastik. e. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1. Jika dalam bangunan baru tersebut mempunyai luas pekarangan yang cukup. ii. jalan. Adapaun gambar pewadahan sampah (bak sampah) dapat dilihat pada Lampiran 4. terbuat dari bahan kedap air. c. tempat ibadah. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Pemeriksaan. sedangkan untuk non-rumah tinggal 24 L/unit/hari 2.4. mempunyai tutup. rumah makan dan fasilitas umum lainnya. tidak mudah rusak. dan pasangan bata atau beton. d. Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan dilengkapi dengan fasilitas pewadahan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Berjarak > 10 m dari sumber air bersih atau air minum. Penimbunan sampah di area pekarangan harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Setiap hari wadah penimbunan harus ditutup dengan tanah penutup dari sekitar lokasi penimbunan atau bahan lain. b. untuk melindungi dari gangguan binatang dan serangga. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sampah sementara harus dihitung berdasarkan jumlah penghuninya. b. Sumber sampah permukiman berasal dari : perumahan.1 L/orang/hari. dan Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. . Kriteria besaran timbulan sampah untuk rumah tinggal di Aceh adalah 2. harganya murah atau dapat dibuat sendiri oleh masyarakat dan mudah diangkut. Besaran timbulan sampah dihitung berdasarkan : jumlah penduduk dalam suatu kawasan permukiman atau berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukan. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. c. Pengujian. pasar. hotel. Penempatan wadah sampah individual ditempatkan di halaman muka rumah atau di halaman belakang khusus untuk sumber sampah dari hotel dan restoran. timbulan sampah dan frekwensi pengumpulan sampah. toko/ ruko. Sistem Pewadahan a. sekolah. XI.

Potensi Reduksi a. sisa pembersihan tanaman. kayu dan lain-lain dapat dibakar. wadah plastik. b. tidak dibuang ke wadah sampah atau tempat penampungan sementara. Pembakaran sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. c. seperti hutan dan padang ilalang. Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu. Pola pengumpulan langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan. Tidak merugikan lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat sekitar. Pola pengumpulan sampah dibedakan atas pola pengumpulan langsung dan pola pengumpulan tidak langsung. . b. Wadah sampah harus ditempatkan di lokasi yang kering dan bebas dari pengaruh air hujan. baik dengan pengumpulan langsung maupun tidak langsung. iii. kaleng.iii. c. frekwensi pembuangan dan periode waktu penggunaan lahan penimbunan tersebut. Sampah tersebut dapat dikumpulkan dalam wadah sampah yang terpisah dengan sampah yang akan dibuang. kertas. Sampah basah (organik) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas dapat digunakan sebagai kompos. Sampah seperti botol bekas. dengan persyaratan mengacu pada Pedoman Teknik Tatacara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Dan Komunal No: Pd-T-15-2003 4. kardus. maka sampah-sampah yang mudah terbakar seperti kertas. Sistem Pengumpulan a. Tidak dilakukan di daerah yang dekat dengan area yang mudah terbakar. kertas koran. aluminium. Gambar peralatan untuk pengumpulan sampah tercantum dalam Lampiran 4. Tidak menimbulkan masalah pencemaran udara. iv. Dilakukan di daerah dengan kepadatan penduduk rendah. dan lain-lain yang dapat di daur ulang bisa dimanfaatkan kembali. Gambar pola pengumpulan individu langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. jumlah timbulan sampah. 3. Ukuran volume penimbunan ditentukan berdasarkan f. hutan dan jauh dari lokasi yang menampung bahanbahan yang mudah meledak. ii. Jika belum tersedia sistem pewadahan sampah.

Sifat utama dari sampah B3 adalah buangan yang mempunyai sifat mudah meledak. 5. Teknis operasional pola pengumpulan tidak langsung : Persyaratan : i. Gambar pola pengumpulan individu tidak langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. Sampah Beracun dan Berbahaya (B3) a. >15%. dibawa ke lokasi pemindahan (tempat pembuangan sampah sementara) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Teknis operasional pola pengumpulan langsung: Persyaratan : Dilakukan jika kondisi topografi bergelombang kemiringan ii. maksimal setiap 2 hari sekali. infeksius. iii. Sampah yang dikategorikan sebagai buangan beracun dan berbahaya telah diatur dalam PP no. Bagi kondisi topografi pemukiman yang relatif datar . reaktif dan beracun. e.i. Sumber-sumber sampah B3 terutama berasal dari kegiatan industri. Pengumpulan menggunakan alat angkut bukan mesin seperti gerobak sampah. sedangkan untuk sampah kering (anorganik) dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. d. rumah sakit. Penjadwalan pengumpulan dilakukan oleh instansi pengelola persampahan pemukiman mengacu pada SNI 03-3242-1994. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. Jumlah timbulan sampah > 0. Alat pengumpul menggunakan mesin dan frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah. antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). iii. . c. becak dan lain-lain. Penentuan tempat penampungan sementara mengacu pada SNI no 19-2454-2002 v. ii. Pola pengumpulan tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah. Sampah B3 ini tidak boleh dibuang langsung ke wadah sampah tetapi harus dipisahkan dan diolah tersendiri. iv. b. dengan rata-rata kemiringan < 5%. dan kegiatan rumah tangga. 18/1999 yang diperbaharui dengan PP no 85 tahun 1999. f. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah (organik) setiap hari. maksimal setiap 2 hari sekali. dengan volume rata-rata alat angkut 1 sampai 2 m3. Lahan untuk lokasi tempat penampungan sampah sementara tersedia.3 m3/hari. iv. mudah terbakar. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. v. korosif.

Sistem plambing pada MCK umum mengikuti sistem plambing air bersih dan air limbah pada peraturan ini. Pengolahan limbah dari MCK umum dilakukan menggunakan septik tank. lokasi mudah dijangkau d. baik dari PAM atau sumur f. c. MCK (mandi. Sedangkan gambar contoh tata letak MCK umum tercantum pada Lampiran 5. cuci. terdapat sumber air. Bangunan MCK umum harus dipisahkan antara MCK untuk orang laki-laki dengan MCK untuk orang perempuan. j. Sistem penyediaan air bersih komunal harus disediakan pada permukiman bila tidak tersedia sistem penyediaan air bersih secara individual. Gambar Hidran Umum tercantum pada Lampiran 5. Untuk sumber air dari sumur gali atau sumur pompa tangan. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih min. Tata cara perencanaan bangunan MCK umum mengacu pada SNI 03-2399-2002. Perancangan hidran umum/ kran umum didasarkan atas kebutuhan yaitu setiap kran dapat melayani antara 30 L/orang/hari sampai dengan 50 L/orang/hari. b. 2. 10 meter. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. kakus) umum dibangun di permukiman yang tidak tersedia fasilitas MCK pribadi. XI. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum Fasilitas dalam MCK umum (untuk pria dan wanita terpisah): . Tata cara penanganan sampah B3 di daerah mengacu pada Keputusan 03/BAPEDAL/09/1995. Pemilihan kokasi MCK umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: c. MCK Umum a.d. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-6379-2000. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum dapat dilihat pada Tabel 1. Penyediaan air bersih secara komunal dilayani melalui hidran umum. diperhitungkan setiap sumur harus dapat melayani 10 kepala keluarga. dapat dibangun di daerah yang sempit e. Tabel 1. dengan kapasitas yang ditentukan berdasarkan jumlah pemakai MCK. Banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MCK umum untuk jumlah pemakai tertentu harus dapat menampung pelayanan pada jam-jam sibuk. h. i. b. g.5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 1. Hidran Umum a.

f.200 Banyaknya ruangan Man Cuc Kaku di i s 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 4 4 4 5 4 4 5 6 4 6 6 3. e. dan tempat penampungan sampah sementara sedangkan pengumpulan dan pembuangan akhir sampah bergabung dengan yang sudah ada. dan sistem pengumpulan komunal dapat dilihat pada Lampiran 5. Bagi developer yang membangun + 80 rumah harus menyediakan wadah sampah. d. Wadah komunal ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber sampah.Jumlah pemakai (orang) 10 – 20 21 – 40 41 . Wadah komunal disediakan bagi pemukiman yang sulit dijangkau oleh alat angkut dan pemukiman yang tidak teratur. Penyediaan secara komunal dapat dilakukan oleh instansi berwenang atau swadaya masyarakat maupun pihak swasta. di ujung gang atau jalan kecil. tidak menganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. fasilitas umum dan jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. b. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal a. c. alat pengumpul.80 81 – 100 101 – 120 121 – 160 161 . Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Gambar wadah sampah komunal (kontainer sampah). maksimal setiap 2 hari sekali. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. . Pola pengumpulan komunal terdiri dari : pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung. alat pengumpulan (pick up sampah).

ii. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. 2. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. bukaan. bukaa. 8 atau 9.XII. (2) teras terbuka. dengan jarak tidak lebih dari 3. dan : (1) Bangunan klas 2. atau daerah yang terbuka ke atas. atau b. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 .1 VENTILASI 1. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. bukaan. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. Ventilasi alami sesuai dengan ketentuan ventilasi alami di bawah ini. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. pelataran parkir. Penerapan ventilasi alami. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. pintu atau sarana lainnya dengan luas . bukaan. Ventilasi Alami a. Kebutuhan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai : a. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai kedua ruangan tersebut. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka : i.6 m diatas lantai. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. (2) Bangunan kelas 5. ke arah : (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. (b) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. 7. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. pintu ventilasi. (a) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sahitasi. dan yang sejenis. bukaan. (b) jendela. (c) ruangan bersebelahan dengan jendela. 6. (a) Jendela. ii.

(2) ruang makan umum atau restoran. (5) ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. (3) asrama pada bangunan Kelas 3. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan : (1) jika berada dibawah lantai dasar. atau (3) harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah : (1) dapur atau pantry. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. vi. (a) jalan masuk harus melalui ruang antara. (a) Jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yahg dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya : (1) Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4 . (2) harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/ halaman dibawah lantai dasar. 6. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. (2) pada bangunan Kelas 5. 7. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1.iii. ventilasi tidak kurang dari 10 (uas lantai kedua ruangan tersebut. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. sekolah TK atau panggung terbuka). (c) Luas ventilasi' yang diatur pada butir (1) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. (4) ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. v.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: . sekolah TK atau panggung terbuka). koridor atau ruang lainnya. iv.

8 MJ/jam untuk daya gas. atau (b) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi. jika : (1) setiap peralatan masak yang mempunyai : (a) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. 2. b. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. atau sebaliknya.2 PENGKONDISIAN UDARA 1. 3. atau (2) sistem ventilasi alami permanen yang memadai. (2) total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara mateimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. rumah sakit. pabrik. f.5 kW untuk daya listrik.(1) sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang beriaku. XII. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang beriaku. minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI . atau (b) 1. toko. Ventilasi Buatan a. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang beriaku. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. Konservasi Energi a. Bilamana digunakan ventilasi buatan.60 meter diatas lantai. kantor. dan miriir'a 8 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. vii. c. lebih dari : (a) 0. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistzm ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. e. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. d.

isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. sistem pompa dan pemipaan. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. sistem distribusi udara. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. isolasi pemipaan. dan standar teknis lain yang beriaku. Perhitungan Beban Pendinginan a. ii. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. 3. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. . c. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. iii. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem fan. Dasar perancangan i. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. sistem kontrol. b. Penetapan sistem dan peralatan. b. pemilihan peralatan. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan.tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. (2) Semua saluran udara harus direncanakan.

pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. g. pencahayaan darurat yang secara otomatis "mati" selama operasi normal. pencahayaan khusus laboratorium. taman dan daerah bagian luar lainnya.2. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. PENCAHAYAAN BUATAN 1. e. h. c. daerah luar bangunan. Kamar. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dari fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. seperti : (1) pintu masuk. d. (3) tempat bongkar muat barang. penyiaran televisi. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi : a. c. (2) pintu keluar. fasilitas luar untuk olahraga. m.00 malam sampai jam 06. b. l. j. f. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. jalan. dsb. k. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan kualitas tampilan. pencahayaan untuk pameran seni. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan bualan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan bebsn pendinginan bangunan. pencahayaan luar untuk monumen publik. pencahayaan di unit pengeboran. XIII. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. ruangan didalam bangunan. pencahayaan untuk pembuatan film. ruangan. efektif dan sesuai dengan a. Kamar. museum dan monumen. seperti proses produksi dan penyimpanan. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. . pencahayaan untuk rambu-rambu. gallery. klub malam. meliputi : kegiatan diluar bangunan. b. PENCAHAYAAN XIII. 2.00 pagi.XIII. n. i.

3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan. XIII. Untuk fasilitas banyak bangunan. 7. 2. 5. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. b. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor alumunium anodized berkualitas tinggi. balas. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan menggunakan sumber pencahayaan yang tepat. jenis reflektor yang efisien. mempunyai karakteristik . Tingkat lluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang “Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung".kebutuhan ruangan. 3. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. Pemanfaatan pencahayaan alami . dan reflektor yang efisien. a. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. 4. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 6. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut.

Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan : a. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Pengendaiian silau pada bangunan. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut : a. obyek luar. otomatis atau yang terprogram. 2. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. XIII. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu "KELUAR". b. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafon harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. c. 1. Penentuan besarnya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI2396 tentang Penerangan Alami Sianghari untuk Rumah dan Gedung. Jika perlu.Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. harus dilengkapi dengan pengendali manual. 3. langit yang cerah. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. b. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Pengendali harus digunakan . c. e. d. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap grup yang melayani luasan 30 m2 atau kurang. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama di dekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN Semua sistem pencahayaan. baik dari sumber sinar mata langsung. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan/atau kaca ganda. ekcuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. f. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus-menerus.

hotel dan rumah sakit.yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. . Pengendali yang memerlukan operator yang leriatih. 2. b. Pengendali dipusatkan di lokasi . d. Letak pengendali harus mudah dicapai. kecuali : a. gedung dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). engendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Pengendali otomatis. c. pasar swalayan. Pengendali yang diprogram. pertokoan.sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang terletak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendaii untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. e. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/ dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut.

Perletakan elemen-elemen alam dan buatan untuk mengurangi/meredam kebisingan yang datang dari luar bangunan dan luar lingkungan. 4. XIV. Perletakan dan penataan elemen-elemen alam dan buatan pada bagian bangunan maupun ruang luarnya untuk tujuan melindungi hak pribadi. Ketinggian bukaan d. Perletakan bukaan pada bagian-bagian persimpangan jalan agar pengguna jalan saling dapat melihat sebelum tiba pada persimpangan.4. XIV. Pada Bidang Dinding terhadap Pengaturan Suhu Udara dan Kelembaban Ruangan. Posisi Bukaan XIV. SIRKULASI UDARA 1. 3. Arah bukaan c. KEBISINGAN 1. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. juga harus dapat menyediakan kenyamanan termal dalam ruang yang dapat menurunkan temperatur dan kelembaban. a. Baku Tingkat Kebisingan i. KENYAMANAN. Posisi Bukaan 2.2. 2. a. Pada Bidang Atap a. 2.1 KENYAMANAN TERMAL 1.3 PANDANGAN 1. Arah bukaan c. Luas bukaan pada bidang dinding b. Luas Bukaan pada Bidang Atap b. Penggunaan jenis-jenis material dan jenis-jenis lapisan dinding untuk meredam kebisingan di dalam bangunan. Bukaan-bukaan sedapat mungkin diletakkan pada bidang dinding yang tidak terkena sinar matahari langsung untuk mengurangi perolehan panas dalam ruang. KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.XIV. ukaan ventilasi ditempatkan pada arah angin datang untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan udara dalam ruang. Penyediaan ventilasi yang cukup disamping untuk memenuhi persyaratan kesehatan. makhluk lain dan . 2. Jika bukaan diletakkan pada bagian dinding yang terkena sinar matahari langsung maka harus disediakan peneduh sinar matahari yang mencukupi.

maka untuk usaha atau kegiatan tersebut beriaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Baku Tingkat Getaran a. b. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan. b. ii. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang beriaku. Salah satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. 1. 2. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut. XIV.5 GETARAN Penggunaan material dan sistem konstruksi bangunan untuk meredam getaran yang datang dari bangunan lain dan dari luar lingkungan. beriaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. .

BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG
I. PENGERTIAN Definisi bangunan gedung sesuai dengan Ketentuan umum yang termuat dalam UU No 28 tentang Bangunan Gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 1. Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya. 2. Pembangunan bangunan gedung dapat dilakukan baik di tanah milik sendiri maupun di tanah milik pihak lain 3. Pembangunan bangunan gedung diatas tanah milik pihak lain dilakukan berdasar perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan pemilik bangunan gedung. 4. Pembangunan bangunan gedung dapat dilaksanakan setelah rencana teknis bangunan gedung disetujui oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan, kecuali bangunan gedung fungsi khusus. 5. Tata cara pengesahan rencana teknis bangunan gedung yang diatur lebih lanjut dalam Qanun. II. PENYELENGGARAAN Penyelenggara bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang meliputi pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. 1. Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran 2. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan administrative maupun persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung. 3. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan adiministratif dan persyaratan teknis tersebut diatas, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap. 4. Pelaksanaan pentahapan pemenuhan ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi social, budaya dan ekonomi masyarakat, meliputi: a. Persyaratan administrative

i. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah ii. Status kepemilikan bangunan gedung , dan iii. Izin mendirikan bangunan gedung b. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur, pondasi, struktur, sanitasi dan elektrikal 5. Penyelenggara a. Pemilik Bangunan Gedung Pemilik bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.

b. Pengguna Bangunan Gedung Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. c. Penyedia Jasa Konstruksi Penyedia jasa konstruksi adalah orang atau lembaga independen dan mandiri yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan konstruksi serta memiliki ijin di bidang pelaksanaan bangunan. Ketentuan mengenai jasa konstruksi mengikuti peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi. III. PERENCANAAN 1. Perencanaan adalah kegiatan penyusunan rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan fungsi dan persyaratan teknis yang ditetapkan, sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan pengawasan bangunan. 2. Rencana teknis bangunan gedung dapat terdiri atas rencanarencana teknis arsitektur, struktur dan konstruksi, mekanikal dan elektrikal, pertamanan, tata ruang dalam dan disiapkan oleh penyedia jasa perencanaan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan rencana kerja dan syaratsyarat administrative, syarat umum dan syarat teknis, rencana anggaran biaya pembangunan dan laporan perencanaan. 3. Persetujuan rencana teknis bangunan gedung dalam bentuk izin mendirikan bangunan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan asas kelayakan administrasi dan teknis, prinsip pelayanan prima serta tata laksana pemerintahan yang baik. 4. Perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan harus dilakukan oleh dan/atau atas persetujuan perencana teknis bangunan gedung, dan diajukan

terlebuh dahulu kepada instansi yang berwenang untuk mendapatkan pengesahan. 5 .Untuk bangunan gedung fungsi khusus izin mendirikan bangunannya disetujui oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah 6. Untuk bangunan gedung fungsi khusus, rencana teknisnya harus mendapatkan pertimbangan dari tim ahli terkait sebelum disetujui oleh instansi berwenang dalam pembinaan teknis bangunan gedung fungsi khusus. IV. PELAKSANAAN Adalah kegiatan pendirian, perbaikan, penambahan, perubahan atau pemugaran konstruksi bangunan gedung dan /atau instalasi dan/atau perlengkapan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang disusun. 1. Pendirian a. Mendirikan bangunan ialah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian, termasuk pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan bangunan itu. b. pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai dikerjakan setelah Dinas Kimpraswil menetapkan garis sepadan serta ketinggian permukaan tanah persil tempat bangunan bersangkutan akan dididirikan, sesuai dengan rencanan yang telah ditetapkan dalam IMB. c. Dinas Kimpraswil menunjukkan letak garis sepadan dan menandai ketinngian permukaan persil selambat-lambatnya 14 ( emapt belas ) hari setelah diserahkan IMB kepada pemohonnya; d. Bila setelah 14 (empat belas ) hari sesudah diserahkannya IMB Dinas Kimpraswil tidak melaksanakan tugasnya , pemohon IMB dapat mengajukan permohonan kepada gubernur agar dinas kimpraswil segera melakukan tugasnya. 2. Perbaikan 3. Penambahan 4. Perubahan Merubah bangunan ialah pekerjaan menggali dan/atau menambah bagian bangunan yang ada, termasuk pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut. 5. Pemugaran konstruksi a. Bangunan Gedung b. Instalasi c. Perlengkapan Bangunan

V. PENGAWASAN Adalah kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan gedung. 1. Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi a. Petugas Dinas Kimpraswil berwenang: i. memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja; ii. memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku atau standart yang berlaku. iii. memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan, demikian pula lat-alat yang diaanggap berbahaya serta merugikan kesehatan/keselamatan untuk pekerjaan tersebut b. Pemilik IMB wajib memberitahukan kepada Dinas Kimpraswil saat telah selesainya seluruh pekerjaan mendirikan bangunan tersebut dalam IMB, selambat-lambatnya 48 ( empat puluh delapan) jam setelah pekerjaan mendirikan bangunan itu selesai; c. Bila pekerjaan mendirikan bangunan menurut kenyataannya telah selesai dilaksanakan sesuai dengan IMB, Dinas Kimpraswil memberi surat keterangan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan kepada penerima IMB. d. Bila dalam jangka waktu 14 ( empat belas 0 hari setelah pemeberitahuan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan tidak ada pemeriksaan dari Dinas Kimpraswil, penerima IMB dapat meminta Gubernur untuk mememrintahkan agar Dinas Kimpraswil segera melaksanakan pemeriksaan. 2. Manajemen Konstruksi Pembangunan a. Pengawas pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan adalah perorangan atau badan hukum. b. Bilamana pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan adalah perseorangan, kepadanya diwajibkan memiliki ijin bekerja yang dikeluarkan oleh Gubernur. c. Pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan melaksanakan perintah dan bertanggungjawab kepada perencana bangunan dan pemilik IMB d. Tugas dan tanggungjawab pengawas pekerjaan mendirikan bangunan tidak dapat dipindah alihkan kepada pihak lain dengan bentuk atau cara apapun tanpa persetujuan dari pihak penerima IMB

VI.

PEMANFAATAN

2. Persyaratan administrative dan persyaratan teknis tersebut adalah: i. Persyaratan (1) Status hak atas tanah. Dinas Kimpraswil mengadakan penelitian atas hasil pemeriksaan berkala tersebut diatas mengenai syarat-syarat adminstrasi maupun teknis. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur. khusunya bangunan umum wajib dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kelaikan fungsinya. 3. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. 1. perawatan dan pemeriksaaan secara berkala. Persyaratan administrative dan teknis untuk bangunan gedung adat. Yang dimaksud laik fungsi. Persyaratan Teknis a. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung dan Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk sertifikat laik fungsi bangunan gedung. sanitasi dan elektrikal. Persyaratan Laik Fungsi a. Untuk bangunan yang telah ada. pondasi. serta persyaratan keselamatan. dan (3) Izin mendirikan bangunan gedung ii. . dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah (2) Status kepemilikan bangunan gedung . bangunan gedung darurat dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencanan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi social dan budaya setempat. Perawatan dan Pemeriksaan a. struktur. b. kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. yaitu berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan tata bangunan. c. Pemeliharaan. b. bangunan gedung semi permanen. b. Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh tenaga/konsultan ahli yang telah diakreditasi setiap 5 ( lima) tahun sekali. d. c. Persyaratan teknis bangunan gedung tersebut diatas meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. kesehatan.Adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan termasuk kegiatan pemeliharaan.

Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian serta teknis perbaikan. Adalah kegiatan perawatan. f. Dalam rangka pengawasan penggunaan bangunan. VII. Perbaikan. Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarikan. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan. petugas Dinas Kimpraswil dapat minta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan Sertifikat laik Fungsi beserta lampirannya. maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam SLF. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan . Pengertian a. e. Gubernur/Dinas Kimpraswil akan mencabut Izin Mendirikan Bangunan yang telah diterbitkan. Dinas Kimpraswil memberikan sertifikat laik fungsi apabila bangunan diperiksa telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. g. Kepala Dinas Kimpraswil dapat menghentikan penggunaan bangunan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan Sertifikat laik fungsi. pemugaran serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. pemugaran. dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memeperhatikan ketentuan perundang-undangan . e. Perlindungan a. b. Pelaksanaan perbaikan. b. Dalam hal terjadi pada ketentuan diatas.d. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. dilakukan oleh Pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan c. harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemugaran. PELESTARIAN 1. pemugaran dan pemanfaatannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. 2. d. dan pemanfaatan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya.

Pelaksanaan Perbaikan dan Pemugaran Perbaikan. perorangan atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pemanfaatan Bangunan Gedung dan lingkungan cagar Budaya a. Perbaikan. atau bagianbagiannya. Adalah kegiatan membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung. pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestraikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula. c. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. PEMBONGKARAN 1. Pelestarian Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok. b.c. Pengkaji teknis adalah orang. . Pelaksanaan perbaikan. atau dapat dimanfaatkan sesuai potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan criteria yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah dan/ atau pemerintah. Bangunan gedung dapat dibongkar ditetapkan berdasarkan persetujuan Pemerintah daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun atau mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 ( lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah. Pengkajian teknis bangunan gedung kecuali untuk rumah tinggal. b. 4. ilmu pengetahuan. dan kebudayaan termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. 3. d. Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah UU tentang cagar Budaya. 5. komponen. Pengertian a. bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarananya. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. pemugaran. pemugaran dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan VIII.

dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya. ii. tujuan atau alas an membongkar bangunan. b. 2. IX. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. hal-hal lain yang ddianggap perlu. Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasar rencana teknis pembongkaran yang disetujui oleh Pemerintah Daerah. pemohon harus terlebih dahulu minta petunjuk tentang rencana membongkar bangunan kepada Dinas Kimpraswil yang meliputi: i. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan yang berlaku 3. mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Daerah atas rencana teknis bangunan gedung yang telah memenuhi persyaratan. Tata Cara Pembongkaran a. persyaratan membongkar bangunan. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah iii.e. Pengertian a. mendapatkan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah daerah karena bangunannya ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG 1. Tidak memiliki izin mendirikan bangunan d. Persyaratan Pembongkaran Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki b. iii. v. ii. Sebelum mengajukan permohonan Izin Merobohkan Bangunan . c. Pemilik bangunan dapat mengajkan permohonan untuk membongkar bangunannya. cara membongkar bangunan iv. pemilik bangunan gedung mempunyai hak: i. mendapatkan surat ketetapan bangunan gedung dan/atau lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dari Pemerintah Daerah iv. mengubah fungsi bangunan setelah mendapat izin tertulis dari Pemerintah Daerah. vi. mendapatkan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan apabila bangunannnya dibongkar .

c.oleh Pemerintah daerah atau pihak lain yang bukan diakibatkan oleh kesalahannya. memperbaiki pemeriksaan secara berkala yang telah ditetapkan tidak laik fungsi. b. e. mendapatkan keterangan tentang bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. iv. 3. f. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. melaksanakan pemeriksaaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung. mengetahui tata cara/ proses penyelenggaraan bangunan gedung. membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki. meminta pengesahan dari Pemerintah daerah atas perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan bangunan. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang telah disahkan dan dilakukan dalam batass waktu berlakunya izin mendirikan bangunan. mendapatkan keterangan tentang ketentuan bangunan gedung yang laik fungsi. memiliki izin mendirikan bangunan iii. menyediakan rencana teknis bangunan gedung yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan fungsinya. Kewajiban pemilik dan Pengguna a. e. melengkapi pedoman / petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung. d. b. pemilik bangunan gedung mempunyai kewajiban: i. atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum X. ii. Pengertian . d. memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. c. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya. mendapatkan keterangan tentang ketentuan persyaratan keandalan bangunan gedung. mendapatkan keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan pada lokasi dan/atau ruang tempat bangunan akan dibangun. memelihara dan /atau merawat bangunan gedung secara berkala. Hak Pemilik dan Pengguna a. PERAN SERTA MASYARAKAT 1. 2. b.

Adalah menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan. pasar. Setiap orang juga berperan dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku. mal.atau membahayakan kepentingan umum. Masyarakat adalah suatu kesatuan penduduk yang dikenal sebagai komunitas dimana ikatan social nya realtif masih erat. 4. Peran serta masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan proyek pembangunan b. Memantau dan menjaga Ketertiban Penyelenggaraan a. . b. Penyampaian pendapat tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang bersangkutan ikut memiliki dan bertanggungjawab dalam penataan bangunan dan lingkungannya 5. Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dapat melalui tim ahli bangunan gedung yang dibentuk oleh Pemerintah daerah atau melalui forum dialog dan dengar pendapat publik c. Menyampaikan Pendapat dan Pertimbangan Kepada Instansi yang Berwenang a. masyarakat dapat menyampaikan laporan. Melaksanakan Gugatan a. Gugatan perwakilan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan oleh perorangan atau kelompok orang yang mewakili para pihak yang dirugikan akibat adanya penyelenggaraan bangunan gedung yang mengganggu. pedoman dan standart teknis di bidang bangunan gedung b. Adalah memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan. 2. pemanfaatan. dan pemanfaat tempat umum lain. rencana teknis bangunan gedung tertentu dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. seperti dalam memanfaatkan fungsi bangunan gedung sebagai pengunjung pertokoan. masukan dan usulan kepada Pemerintah daerah b. Apabila terjadi ketidaktertiban dalam pembangunan.merugikan atau menbahayakan. b. merugikan dan. Yang dimaksud dengan penyempurnaan adalah termasuk perbaikan Peraturan daerah tentang bangunan gedung sehingga sesuai dengan undang-undang /peraturan diatasnya. 3. pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung.a. Memberi Masukan Kepada pemerintah Daerah a.bioskop.

c. kewajiban dan peran para penyelenggara bangunan gedung dan aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan bangunan gedung. b. Pemberdayaan masyarakat yang belum mampu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bangunan gedung melalui upaya internalisasi. sosialisasi dan pelembagaan di tingkat masyarakat. Pengaturan dilakukan dengan pelembagaan peraturan perundang-undangan. Pembinaan dilakukan dalam rangka tata pemerintahan yang baik melalui kegiatan pengaturan. Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung a. Pelaksanaan pembinaan oleh Pemerintah daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas pemerintahan daerah. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. Pembinaan Bangunan Gedung a. Masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung sepeti masyarakat ahli. kewajiban dan perannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. petunjuk dan standar teknis bangunan gedung sampai dengan di daerah dan operasionalisasinya di masyarakat. Pemberdayaan Masyarakat a. PEMBINAAN 1. . 2. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah 3. pemberdayaan dan pengawasan sehingga setiap penyelenggaraan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan tercapai keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya serta terwujudnya kepastian hukum. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah b. asosiasi perusahaan. pedoman. Pemberdayaan dilakukan terhadap para penyelenggara bangunan gedung dan aparat Pemerintah Daerah untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. d. Pemberdayaan adalah kegiatan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak.XI. b. asosiasi profesi. Pengertian a. b. c. 4. Sebagian penyelenggaraan dan pelaksanaan pembinaan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung.

iv. Pengertian a. Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. iii. Sanksi Administratif adalah sanksi yang diberikan oleh administrator ( pemerintah) kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tanpa melalui proses peradilan karena tidak terpenuhinya ketentuan undang-undang.Sanksi administrative dapat berupa: i. ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari nilai bangunan gedung. penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan iv. pembatasan kegiatan pembangunan iii. jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain . pencabutan sertifikat laik fungsi bangunan gedung. dan /atau persyaratan. penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung v. SANKSI 1. peringatan tertulis ii. perintah pembongkaran bangunan gedung. atau ix. pencabutan izin mendirikan bangunan gedung vii. ii.dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung dikenai sanksi adminitratif dan/atau sanksi pidana b. pembekuan sertifikat laik fungsi bangunan gedung viii. hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung. jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup. ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% 9sepuluh per seratus) dari nilai bangunan. 2. . pembekuan izin mendirikan bangunan gedung vi.masyarakat pemilik dan pengguna bangunan gedung dan aparat pemerintah XII. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. Dalam proses peradilan atas tindakan sanksi pidana tersebut diatas. ancaman pidana penjara paling lama 5 ( lima )) tahun dan/atau denda paling banyak 20% ( dua puluh per seratus ) dari nilai bangunan gedung. Bentuk Sanksi a. Sanksi Pidana dapat berupa: i. jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. b.

penerangan dan lain sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 meter. Jika Kepala Dinas berkeberatan terhadap permohonan izin tersebut diatas. membongkar bangunan-bangunan yang menurut pertimbangan Kepala Dinas tidak membahayakan. mendirikan bangunan-bangunan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada. atau nilai keseluruhan suatu bangunan gedung yang ditetapkan pada saat sanksi dikenakan bagi bangunan gedung yang telah berdiri. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. memperluas bangunan-bangunan yang telah ada. b. pelanggar dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% ( sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun c. III. Nilai bangunan gedung dalam ketentuan sanksi adalah nilai keseluruhan suatu bangunan pada saat sedang dibangun bagi yang sedang dalam proses pelaksanaan konstruksi. c. IV. Selain pengenaan sanksi administrative sebagaimana jenisnya. II. Pemerintah Daerah dapat memberikan izin untuk: I. mendirikan bangunan-bangunan sementara yang diperlukan dalam pelaksanaan sesuatu pembangunan selama pekerjaan-pekerjaan itu dilaksanakan. 2. PERIJINAN 1. Pemberiaan Izin Bangunan a. Tata Cara Pengenaan Sanksi a. konstruksi maupun arsitektural dari bangunanbangunan semula yang telah mendapat izin. d. b. XIII. Tidak Diperlukan Izin Bangunan Izin Bangunan tidak diperlukan dalam hal: a. Jenis pengenaan sanksi ditentukan oleh berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan. d.3. maka persolannya akan dapat diajukan kepada H\gubernur untuk diputuskan. mendirikan bangunan-bangunan permanen. pemeliharaan bangunan-bangunan dengan tidak mengubah denah. membuat lubang-lubang ventilasi. pendirian bangunan-bangunan yang tidak permanen untuk pemeliharaan binatang-binatang jinak atau tanamantanaman dengan syarat-syarat : . c. Izin bangunan diberikan berdasarkan keputusan Pemerintah Daerah b.

dilarang mendirikan bangunan-bangunan diatas tanah orang lain tanpa izin pemiliknya atau kuasanya yang sah. taman dan patung. x. i. ix. gambar rencana bangunan. ii. membuat kolam hias . v. Permohonan Izin Bangunan a. salinan atau fotocopi bukti pemilikan tanah. mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah diperoleh izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan g. 4. loefisien lantai bangunan. . b. luas lantai bangunan yang diizinkan. jumlah lantai/lapis bangunan diatas/dibawah permukaan tanah yang diizinkan. persyaratan-persyaratn perencanaan. menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari surat izin mendirikan bangunan. dilarang mendirikan bangunan: i. Larangan Mendirikan/Mengubah Bangunan a. tiang bendera di halaman/ pekarangan rumah e. koefisien dasar bangunan yang diizinkan. hal-hal lain yang dipandang perlu. garis sempadan yang berlaku. iii. persayaratan-persyaratan bangunan. ditempatkan dihalaman belakang ii. persetujuan/ izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya. vii. ii. Pemohon harus mengetahui tentang: jenis/peruntukan bangunan. iv. iii. vi. i. menyimpang dari rencamna pembangunan yang menjadi dasar pemberian izin bangunan. pelaksanaan dan pengawasan bangunan. vi. b.sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah yang ada d. menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang bangunan gedung c. iii. koefisien daerah hijau. mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh izin selama mendirikan suatu bangunan 3. pertimbangan pemerintah daerah setempat. ii.i. Permohonan Izin Mendirikan Bangunan harus dilampiri dengan: gambar situai. luas tidak melebihi 10 (sepuluh ) meter persegi dan tingginya tidak lebih dari 2 (dua) meter. perhitungan struktur untuk bangunan bertingkat ( lebih dari 2 lantai) iv. tidak mempunyai izin tertulis dari Pemerintah Daerah ( IMB). viii. v. membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanen f.

Izin mendirikan bangunan diberikan paling lambat 3 ( tiga) bulan setelah dikeluarkan surat izin sementara. dalam waktu 6 ( enam) bulan setelah tanggal izin itu diberilkan. bangunan yang akan didirikan diatas/lokasi yang penggunaanya tidak sesuai dengan rencana kota yang sudah ditetapkan dalam RTRW. Penolakan Suatu Izin Bangunan a. b. cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada. g. adanya keberatan yang diajukan dan dibenarkan oleh Pemerintah. e. f. pemegang izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan. pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 ( tiga ) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan. d. Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Kepala Dinas dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun. rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana Pemerintah. d. bertentangan dengan Undang-Undang. apabila bangunan yang akan didirikan tidak memenuhi persyaratan teknis bangunan. izin yang telah diberikan itu kemudian ternyata didasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru. aliran air (air hujan). sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya. 6. f. karena persyaratan-persyaratan dalam Peraturan Daerah ini tidak dipenuhi. bangunan akan mengganggu lalu lintas. c. Qanun Propinsi atau peraturan lainnya yang setingkat dengan Qanun tersebut diatas. apabila bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitar. Putusan Suatu Permohonan Izin Bangunan a . h. i. e. Pencabutan Izin Bangunan a. b. Izin Mendirikan bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. .5. Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Bea Balik Nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan dan pemohon belum memulai pelaksanaan pekerjaannnya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya. 7. c. c. b. Surat Izin Mendirikan Bangunan ditandatangani oleh Kepala Dinas atau pejabat lain yang ditunjuk. j.

maka izin itu berlaku kembali. iii. Kepala Dinas dapat memperpanjang jangka waktu itu selama-lanya satu bulan. Kepala Dinas membentuk Panitia untuk mempersiapkan penyelesaian permohonan banding itu f. Permohonan Banding Kepada Kepala Daerah a. Permohonan banding dikenakan terhadap: i. Keputusan penolakan atau pencabutan surat izin oleh Kepala Dinas. Keputusan kepala Dinas mengenai penetapan ketentuanketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut atau penetapan larangan. e. Permohonan banding oleh yang berkepentingan dilakukan secara tertulis.d. ii. tanggal dan nomor keputusan yang dimohon banding. Jika pencabutan surat izin bangunan dinyatakan tidak beralasan oleh dan dengan suatu keputusan DPRD. Permohonan banding harus memuat: i. alas an-alasan yang menjadi dasar permohonan banding itu. dalam jangka waktu satu bulan setelah dikirimkannya keputusan. c. iv. nama dan tempat tinggal yang berkepentingan atau kuasanya. pernyataan keputusan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. b. pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang rencana dan syarat-syarat yang disahkan. dari 8. d. . ii. Dalam keadaan luar biasa.

elemen. . serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. KETENTUAN PENUTUP Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Babbab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI). pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi. tata cara. dan metode uji bangunan.BAB V. komponen.