P. 1
BC-Kab Aceh Besar

BC-Kab Aceh Besar

|Views: 391|Likes:
Published by Rara Itu Julis

More info:

Published by: Rara Itu Julis on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2013

pdf

text

original

DRAFT

MATERI TEKNIS
PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

( BUILDING CODE )

KABUPATEN ACEH BESAR

Dibuat atas kerjasama:

Universitas Syiah Kuala – Aceh Besar
dengan
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura Nomor 20 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110 Telepon (021) 727 99248

DAFTAR ISI
BAB I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.1. TINJAUAN ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI 1. Sejarah Kabupaten Aceh Besar 2. Sosial Budaya Masyarakat 3. Letak Gegrafis dan Administrasi 4. Hidrologi 5. Kependudukan 6. Perekonomian I..2. TINJAUAN ASPEK FISIK 1. Umum 2. Kondisi Fisik Wilayah sebelum Tsunami 3. Stuktur Kabupaten Aceh Besar 4. Bentang Alam Kabupaten Aceh Besar

BAGIAN II RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH II.1 REVIEW RTRW KOTA ACEH BESAR M ------- ISINYA SAMA DGN YANG DI BAB II 1. Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan wilayah Kabupaten 3. Komponen-komponen Utama RTRW 2002-2010 II.2. SKENARIO TATA RUANG 1. Pindah ke Lokasi Aman 2. Tetapa di Lokasi Semula STRATEGI PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH BESAR 1. Konsep Tata Ruang 2. Kegiatan yang Sifatnya Sederhana 3. Kegiatan yang sifatnya Intensif 4. Pelaksanaan Pembangunan 5. Peranan Fasilitas Sosial 6. Jumlah dan Bentuk Fasilitas 7. Pembangunan Iinfrastruktur ARAHAN 1. Zona 2. Zona 3. Zona 4. Zona PEMANFAATAN RUANG -------- ISINYA SAMA DGN YG BAB II Pantai Perikanan/Tambak Taman Kota Pemukiman

II.3.

II.4.

5. 6. 7. 8. 9. II.5.

Zona Zona Zona Zona Zona

Landmark dan Pusat Pemerintahan Kota Pemukiman Baru Pusat Bisnis dan Pemerintahan Pendidikan Tinggi Pertanian

STRUKTUR RUANG 1. Penajaman Aspek Geology 2. Penelitian Bangunanyang masih Berdiri tetapi sudah rusak 3. Site Plan atau Urban Design Kawasan Pusat Kota 4. Site Plan Penataan Ruang Daerah Buffer Zone 5. Konsilidasai Pertanahan di daerah yang paling Rusak akibat Gempa 6. Penyiapan Zona Regulasi 7. Penyiapan Building Code 8. Mendorong Proses Legillasi di DPRD BAGIAN III WILAYAH BENCANA GEMPA THUNAMI DAN BADAI III.1 PENGARUH TSUNAMI 1. Jangakauan Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami 2. Zonasi Kerusak,an 3. Arah Terjangan Gelombang III.2 III.3 III.4 ASPEK FISIK KABUPATEN ACEH BESAR KARAKTERISTIK KABUPATEN ACEH BESAR ZONASI FISIK

BAGIAN IV KETENTUAN UMUM DAN PENGERTIAN UMUM

BAGIAN V FUNGSI BANGUNAN GEDUNG

BAB II. KONSEP RENCANA TATA RUANGAN DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I.1. KEBIJAKAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG KABUPATEN/KOTA 1. Sistem Kota/kabupaten 2. Struktur Kota/kabupaten 3. Kawasan Non Budidaya 4. Kawasan Budidaya I.2. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG/KABUPATEN/KOTA 1. Mewujudkan penghidupan yang aman dan lebih baik; 2. Memberi pilihan kepada warga untuk bermukim; 3. Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana; 4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama; 5. Pendekatan penataan ruang partisipatif; 6. Memitigasi bencana; 7. Tata ruang memadukan pendekatan dari atas dan bawah; 8. Mengembalikan peran pemerintah daerah; 9. Perlindungan hak perdata warga; 10.Mempercepat proses administrasi pertanahan; 11.Pengaturan mengenai kompensasi; 12.Revitalisasi kegiatan ekonomi; 13.Mememulihkan daya dukun lingkungan; 14.Memulihkan sistem kelembagaan SDA dan LH; 15. Rehabilitasi strultur dan pola tata ruang; dan 16.Membangun kembali kota. ZONASI FISIK ACEH BESAR 1. Kawasan Lindung (Conservation, Zona V), 2. Kawasan Pengembangan Terbatas (Restricted Development Area, meliputi zona I, II, dan III), Kawasan Pengembangan (Promoted Development Area, zona IV). ARAHAN PEMANFAATAN RUANG ACEH BESAR 1. Zona pantai, 2. Zona perikanan/tambak, 3. Zona taman kota, 4. Zona permukiman, permukiman terbatas dan permukiman perkotaan, 5. Zona landmark dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar, 6. Zona permukiman baru bagi penduduk yang ingin pindah,

I.3

I.4.

Pengelolaan Kawasan Hijau & Kawasan Pemukiman 3. Zona pusat bisnis dan pemerintahan provinsi dan fasilitas perkotaan berskala kota dan regional. Telekomunikasi. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota KOMPONEN UTAMA RTRW TH 2002-2010 1.5. 8.3/2003) 1. Zona pertanian. Zona pendidikan tinggi. I.6. . Pengairan dan Prasarana Pengelolan Lingkungan I. Sistem Prasarana & Transportsai.7. dan 9. Pemukiman 2. REVISI RTRW 2002-2010 (Qanun No. Arah Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota 2. Energi.

Luas Bangunan 4.2. Penentuan Letak Suatu daerah 22. Peruntukan Fungsi dan Klasifasi Bangunan 33. Klasifikasi Bangunan II. Tampilan pada Rekonstruksi Bangunan dan Terhadapa Bangunan di Sekitarnya 66. Garis Sepadan Bangunan 5. Tampilan Bangunan Terhadap Keserasian Lingkungan 77.1 ARSITEK BANGUNAN 11. PENGERTIAN 11.1. PERUNTUKAN. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Moderen 88. 1. Maksud 22. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan dan Terhadap Bangunan di Sekitarnya 55. Teknis I. Umum 22. Peruntukan Lokasi 22. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang untuk satu Bangunan 33. Tujuan BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Tata Letak Bangunan BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Pengertian Umum 22. MAKSUD DAN TUJUAN 11. INTENSITAS BANGUNAN 11. Fungsi Bangunan 33.2.BAB III PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BULDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 11. Tampilan Arsitektur Bangunan bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat 44. Tata Urutan Ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang .

Fungsi Ruang Terbuka Hijau 52.4 SIRKULASI. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan 1515. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya 1212. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 44. Kontruksi Beton 22. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 71. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipe III. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan 1414. Perletakan Pencahayaan Buatan III. Fasiltas Parkir 82. Kontruksi Kayu 44.99. Pengaturan Tata Letak Ruang dalam Satu Bangunan 1313. Pemisahan Jalan 93. Ketentuan UPL dan UKL 33. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi .2 TATA LETAK BANGUNAN 11. Luas Maksimum dan Minimum III. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Bentuk Tatanan Bangunan 22. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 22. Analisa Struktur 42. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya III. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 55. Tata Letak Ruang dan Jarak Ruang pada Bangunan yang bercirikan lokal 1010. Persyaratan Perencanaan Struktur IV.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 11.3 STRUKTUR ATAS 11. Kontruksi Baja 33.2 PEMBEBANAN 31.3 RUANG TERBUKA HIJAU 41. Perletakan Saran Keamanan dan Lingkungan 104. Persyaratan Umum 22. Orientasi Tatanan Pemukiman 33. PERTANDAAN. Jenis Ruang Terbuka Hijau 63.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 11. Tata Letak & Jarak Ruang pada Bangunan Utama 1111. Standar Teknis IV.

Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Sistem Pemadam Kebakaran 22. Tipe Konstruksi Tahan Api 33. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 55.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 11.6 DEMOLISI STUKTUR 11.IV. Pengujian dan Pemeliharaan Deteksi dan Alarm BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Metode Perbaikan Tanah IV. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 66. Kriteria Demolisi 22. Fungsi 22. Perencanaan Umum 22.4 STRUKTUR BAWAH 11. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 77.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 11. Prosedur dan Metoda Demolisi BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Kebutuhan Jalan Keluar 33. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran . Keselamatan Struktur 22. Pemeriksaan dan Perawatan Bangunan IV.5 KEANDALAN STRUKTUR 11. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 44. Persyaratan Keamanan 22. Pemeriksaaan. Kompartemensasi dan Pemisahan 55. Tangga Luar Bangunan 99. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 88. Pengendalian Asap Kebakaran 44. Proteksi Bukaan V. Pesyaratan Kinerja VI. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 33.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 11. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Kebakaran 66. Keruntuhan Struktur 33. Pusat Pengendali Kebakaran 55. Ketahanan Api dan Stabilitas 22. Pemeriksaan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 11. Ketentuan Teknis Pondasi 33.

Lebar Tangga 1010. Ramp Pejalan Kaki 1111. 1212. Bordes 1515. 1414. Saf Lif 77. Rambu pada Pintu VI. Pengujian dan Pemeliharaan VII. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 99. Balustrade 1717. Injakan dan Tanjakan Tangga 1414. 1313. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 2222.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Lobby Bebas Asap 77. Pintu Ayun 2020.1 LIF 11. Ambang Pintu 1616. SISTEM PERINGATAN BAHAYA . Lif untuk Rumah Sakit 55. Pintu 1919. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 33. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 66. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 88. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 55.3 KONTRUKSI JALAN KELUAR 11. Kapasitas Lif 22. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 44. Pemeriksaan. Sangkar Lif 66.1010. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar Pintu Keluar Horisontal Tangga. Pegangan Rambat pada Tangga 1818. Pengoperasian Gerendel Pintu 2121. TANDA ARAH KELUAR. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift Jumlah Orang Yang Ditampung VI. Penerapan 22. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Atap sebagai Ruang Terbuka 1313.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Lif Kebakaran 33. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 1212. 1111. Instalasi Listrik 99. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 88.

2 TANDA ARAH KELUAR VIII. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Jenis Gas 22. Pemeriksaan.2 INSTALANSI PENANGKAL PETIR 11. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 22.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 11. Pemerikasaan dan Pengujian 77. Pemeriksaan dan Pengujian BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Transformator Distribusi 66. Pemeliharaan IX.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK.1 INSTALANSI LISTRIK 11. Perencanaan Penangkal Petir 22. Jaringan Distribusi Gas Kota 33. Sistem Penampungan Air Bersih 44. Jaringan Distribusi Gas Medik 33. PENANGKAL PETIR. Pemeriksaan dan Pengujian X. MATV BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Penggunaan Pompa . Perencanaan Instalansi Listrik 22.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 11.VIII. Pemeliharaan IX. 1 SISTEM PLAMBING 11. Instalansi Telepon 33. Sistem Penyediaan Air Bersih 33. Perencanaan Sistem Plumbing 22.1 1SISTEM LAMPU DARURAT VIII. Sistem Plambing Air Bersih 55. Instalansi Tata Suara 44. Jenis Gas 22. Jaringan Distribusi Listrik 33. Beban Listrik 44. Pengujian 44. Sumber Daya Listrik 55. Instalansi Penangkal Petir 33.2 INSTALANSI GAS MEDIK 11.

1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN XIII. MCK Umum 163. Timbulan Sampah 112. Perhitungan Beban BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII.66. Sistem Pengumpulan XI. 3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 61.1 VENTILASI 11. Pembunagan dan Pengelolaan Air Limbah 44. Pemeriksaan. Pemeriksaan. Sumber Air Limbah 22.2 PENGKONDISIAN UDARA 11. Sistem Distribusi Air Bersih 87. Sistem Penyaluran Air Limbah 55. Kebutuhan Ventilasi 22. Kelengkapan Dalam Bangunan 72. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Kebutuhan Pengkondisian Udara 22. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Sistem Pewadahan 123.2 PENCAHAYAAN BUATAN XIII. Pemeriksaan. Hidran Umum 152. 5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 141.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KENYAMANAN. Ventilasi Alami 33. 4 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 101. Sistem Plambing Air Limbah 33. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Potensi Reduksi 134. Konservaasi Energi 33. 2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 11. Persyaratan Saluran 94.3 PENCAHAYAAN ALAMI XIII. Sistem Penyediaan Air Panas 76. Kelengkapan Diisekitar Bangunan Gedung 83. KEBISINGAN DAN GETARAN . Ventilasi Buatan XII. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal 17 18 BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.

HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG X.2 XIV. PENGERTIAN II. PEMANFAATAN VII. PEMBINAAN XII.5 KENYAMANAN TERMAL SIRKULASI UDARA PANDANGAN KEBISINGAN GETARAN BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG I.1 XIV. PENGAWASAN VI. PELESTARIAN VIII. PENYELENGGARAAN III. PERIJINAN BAB V PENUTUP LAMPIRAN . PERENCANAAN IV.3 XIV. PEMBONGKARAN IX.4 XIV. PERAN SERTA MASYARAKAT XI. SANKSI XIII. PELAKSANAAN V.XIV.

FUNGSI BANGUNAN GEDUNG . TSUNAMI. WILAYAH BENCANA BAHAYA GEMPA. KETENTUAN UMUM PENGERTIAN UMUM V. RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH III.BAB I: TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I. TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR II. DAN BADAI IV.

KETENTUAN UMUM / PENGERTIAN UMUM 2 .BAB II: KONSEP RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I.

Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. iii. Teknis a. b. Dinas Bangunan adalah Dinas Teknis di Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. berusaha. ii. di atas. bersosial-budaya. 2.BAB III: PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BUILDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR I.1 PENGERTIAN 1. d. c. dan kegiatan lainnya. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Aceh Besar c. pembinaan. atau ruang dalam shaft. Pengawas/Pemilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. tidak termasuk lorong tangga. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. KETENTUAN UMUM I. termasuk struktur atap kaca. Umum Dalam Gedung Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan ini yang dimaksud dengan: a. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingkat/lantai. Daerah adalah Kabupaten Aceh Besar b. 3 . di mana: i. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. kamar mandi. lorong ramp. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotorankotoran dapur. d.

Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. f. o.e. j. Batas lahan yang dikuasai. atau iv. Daerah Hijau Bangunan. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. k. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. perbelanjaan. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. q. ii. jaringan pipa gas dan sebagainya. Rencana saluran. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. p. jaringan tegangan tinggi listrik. rekreasi. s. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. u. h. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. Antar massa bangunan lainnya. m. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. pendidikan. iii. r. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. l. n. dsb. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil g. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. mengadakan pertemuan. olah raga. t. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. i. Bata tepi sungai/pantai. v. 4 . seperti keagamaan.

Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Mendirikan. aa. program tata bangunan dan lingkungan. w. untuk tempat kegiatan manusia. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. ii. Mendirikan Bangunan i. ruang ganti. selain kamar untuk MCK dan dapur. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. bb. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. z. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.i. memperbaiki. jj. dd. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. memperluas. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. atau sejenisnya. ii. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. ee. hh. x. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan 5 . seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan cc. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. peralatan.prasarana saluran umum perkotaan.w. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. y. gg. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaanpekerjaan yang dimaksud pada butir 2. ff.

Arsitektur dan Lingkungan: i. integritas. sehingga seimbang. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Tujuan Tujuan Pedoman Persyaratan Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. masyarakat. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. I. ii. mm. serasi dan selaras dengan lingkungannya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. dan lingkungan. Tinghat Ketahanan Api (TKA). 2.1 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan a. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. yaitu Persyaratan Tata Bangunan dan lingkungan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. ii. serta persyaratan keandalan bangunan. 2. b. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. ketentuan wujud bangunan. Maksud Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Aceh Besar. menjamin keselamatan pengguna. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.kk.1. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V.2 dalam ukuran waktu satuan menit. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. 6 . Peruntukan dan Intensitas: i. dan insulasi. arsitektur dan pengendalian dampak lingkungan. iii. dan budaya daerah. ll.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.

(2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. c. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. ii. apabila terjadi keadaan darurat. 7 . menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. b. ii. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Tanda arah Keluar.2 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung a. e. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. iii. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pencahayean Darurat. Ketahanan terhadap Kebakaran dan Petir: i. Strukfur Bangunan: i. iv. dan nyaman di dalam bangunan gedung. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. 2. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. ii. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. d.iii. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. ii. Transportasl dalam Gedung: i. aman. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat iii. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran.

iii. Instalasi Gas: i. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. Sanitasi dalam Bangunan: i. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. ii. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. g. i. iii. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. Kebisingan dan Getaran: i. Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. k. iii. h. ii.f. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. j. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. 8 . ii. ii. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. ii. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. menjam di dalam in tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Instalasi Listrik. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. Pencahayaan: i. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.

PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Kawasan Pengembangan (promoted development area) c. Zonafikasi Fisik Arahan Bangunan gedung yang akan didirikan di Kecamatan dan dalam wilayah Kecamatan harus diselenggarakan sesuai dengan arahan peruntukan yang diatur dalam pembagian zona sebagai berikut: a. Abee. Lampaya dan Lamkruet. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Lam Ateuk. Rinon. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. . Alue Raya. Aneuk Paya. 9 v. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Lambada. jarak dari pantai ke daratan 200 – 4000 m. Permukiman dengan kepadatan sedang 1. Permukiman dengan kepadatan tinggi. Ulee Paya. Kawasan Aquatic/Pesisir Terbangun Kepadatan Rendah (ZONA I): i. b. Tungkop dan Lam Keuneue. Umong Seuribee. Barabung.1 PERUNTUKAN FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Kecamatan Darussalam : Limpok. Bayu. Lamcarak. Lamteuba Droi. Lamkuk. ii. Bak Seutui. Meunasah Tunong. Lampante. Blang Tingkeum. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Seurapong. iii. Zona II (Kawasan Kepadatan Tinggi) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. iv.1 a Pembagian Zona Zona I (Kawasan Kepadatan Rendah) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Zona III (Kawasan Kepadatan Sedang) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Ujong Mesjid T.2. Melingge. Pulo Meurah. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Mangeu. Gugob. Kecamatan Seulimum : Ayon. Batee Lhee. Peruntukan Lokasi 1. Lamboro Kueh.II. vi. Lam Apeng dan Ateuk.

Meunasah Mesjid Lamlhom dan Meunasah Baro. Kota Jantho : Janto Makmur. Melingge. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Lam Asan. Kecamatan Seulimum : Ayon. Jantho Baru Desa. Bayu. Lam Apeng dan Ateuk. Seubun Ayon. Lambaro Seubun. c. Tanjong/Lamcok. Lam Ateuk. ii. Kecamatan Lhoknga. Nusa. Ulee Paya. Rumpet dan Lamreng. Gugob. v. Lamgapang. meliputi Desa Lampaya. iv. Lambada. Kawasan Terbangun Kepadatan Tinggi (ZONA II): i. dan Bukit Meusara. Alue Raya. Pulo Meurah. 10 . Lamteuba Droi. vi. Abee. Kecamatan Darussalam : Limpok. Lamgapang. Meunasah Tunong. Lampante. Rinon. Bak Seutui. Barabung. viii. Aneuk Paya. b. Seubun Keutapang. Kueh. Tungkop dan Lam Keuneue.vii. Rumpet dan Lamreng. Lamboro Kueh. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Batee Lhee. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Janto. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. vii. Lamcarak. Mangeu. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Meunasah Karieng. Seurapong. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Ujong Mesjid T. meliputi Desa Lampineung. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Janto. viii. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Lamgaboh. dan Bukit Meusara. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Lampaya dan Lamkruet. Weu Raya. Kota Jantho : Janto Makmur. Weu ix. Labui dan Lamujong. Umong Seuribee. Kecamatan Batussalam. Lamkuk. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Jantho Baru Desa. Weu ix. iii. Blang Tingkeum. Kawasan Terbangun Kepadatan Sedang (ZONA III): i. ii.

kenyamanan. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Keuneu Ue. Kecamatan Peukan Bada. dan sanitasi yang memadai. Keutapang. Geunteut dan Baroh Kruengkala. Monmata. v. dan sejenisnya. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. meliputi Desa Pudang Meunasah Cot. pusat perbelanjaan. vii. Lamgeuriheu. Pasar Seulimeum. Jawie. Lampisang. Kecamatan Lhong. mal. dan fungsi khusus. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. dan sejenisnya. Iboih TanTanjong. kesehatan. Bak Aghu. Gampong Raya. 2. Lamjruen. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Iboih Tunong. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. Rumah tinggal susun iv. pertokoan. iv. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. fungsi sosial dan budaya. Buga. Lamjuhang. Alue Rindang dan Meunasah Baro. b. Rumah tinggal deret iii. Bangunan perdagangan: pasar. perkantoran niaga. Capeung Dayah. Jeumpa. fungsi usaha. Lampisang Tunong. meliputi Desa Ie Seu Um. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. c. d. keamanan. e. keselamatan. Rumah tinggal asrama f. Data. meliputi Desa Lamboro angan dan Lamduroe. ii. keamanan. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung.iii. Lampisang Dayah. Fungsi Bangunan a. Lhieb. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. Kecamatan Seulimum. Rumah tinggal tunggal ii. 11 . Pinto Khop. Baroh. capeung Baroh. umah tinggal vila v. vi. Seulimeum. meliputi Desa Beuradeun. Keunaloi. Kecamatan Masjid Raya. Seuneobok. lAmpisang Teugoh. Gaseue. Rabo. meliputi Desa Alue Gintong. Kayee Adang. Lam Rukam dan Gurah. Kecamatan Darussalam.

industri sedang. sosial dan budaya. terminal udara. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. pura. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. terminal bus.Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. dan sejenisnya h. bangunan reaktor. sekolah dasar. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. dan sejenisnya. & C. poliklinik. rumah sakit klas A. atau 12 . ii. penginapan. 3. pelaksanaan. iv. Setiap bangunan gedung. Bangunan dengan fungsi umum. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. termasuk rumah deret. v. dan sejenisnya. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. dan sejenisnya. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. dan sejenisnya. sekolah lanjutan. vi. Bangunan kebudayaan : museum. Bangunan Penyimpanan: gudang. gedung kesenian. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. iv. gereja. hostel. i. motel. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). dan vihara. j. keveling. iii. atau (2) atu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. pelabuhan laut. rumah bersalin. kelenteng. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. gedung tempat parkir. g. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. sekolah tinggi/universitas. dan sejenisnya. B. Bangunan peribadatan: mesjid. a. Dalam suatu persil. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. halte bus. villa. rumah taman. yang masingmasing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. industri besar/berat. iii. Bangunan Terminal: stasiun kereta. Bangunan Industri : industri kecil. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: i. unit town house . bioskop.

i. perakitan. d. hostel. ruang penjualan. g. c. 6. ruang makan malam. h. Klas 4: Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. pasar. panti untuk orang berumur. atau v. losmen. perubahan. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. atau iii. Klas 9: Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. gudang. 8 atau 9 dan erupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. rumah tamu. ruang makan. perbaikan. Klas 1b : rumah asrama/kost. atau anak-anak. rumah asrama. pengurusan administrasi. 8. Klas 3:Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. pengepakan. diluar bangunan klas 6. 7. f. restoran. i.b. atau ii. atau iii. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau usaha komersial. termasuk: i. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. cacat.. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. termasuk: i. atau iv. tempat potong rambut /salon. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. tempat cuci umum. bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. atau iv. atau bengkel. 7. rumah tamu. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. finishing. atau ii. termasuk: ii. ruang pamer. atau 9. atau ii. yaitu: 13 . Klas 8: Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. e. kafe. bar. tempat parkir umum.

tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. b. carport. ii. atau sejenisnya. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. yaitu . antena.00 sampai dengan kurang dari 5 meter LWS. atau sejenisnya. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Jarak (j) dari garis pantai 14 . iii. hall. ruang mesin lift. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II . i. elevasi 5 sampai dengan 15 meter LWS dan lebih dari 15 meter LWS. Elevasi (e) muka tanah terhadap + 0. Ruang-ruang pengolah. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. dan: i. bangunan peribadatan. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. J. 9a. termasuk bagianbagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. tonggak. ii. k. ruang mesin. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. a. bangunan budaya atau sejenis. temmasuk bengkel kerja. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. Elevasi terbagi dengan dalam tiga kelompok yaitu elevasi 0. dan b' laboratorium. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Klas 10: Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. Klas-klas 1a.00 meter Low Water Sea (LWS) atau surut terendah. Klas 9b: bangunan pertemuan. ii. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. m. kolam renang.Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. 9b. 1b. Penentuan letak suatu daerah didasarkan tiga pertimbangan.

dapat dibagi atas tiga zone yaitu Zone I kurang dari 5 km. dan air bersih. Non Rumah Tinggal (a) Zone ini berfungsi untuk tambak. 2.dan kawasan lindung pantai (dengan penanaman bakau. rekreasi pantai. sarana pemerintahan dan perdagangan skala kecamatan dan kota. 0. (2) (1) 15 . Zona 2 Permukiman (a) Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat.3g. cemara. dsb. Fungsi Lahan i. penelitian. (b) Sebagai zona untuk menempatan Tsunami Park Memorial Zone (TPMZ) yang berfungsi sebagai pusat wisata.4. Misalnya gardu listrik. ii. (b) Kepadatan permukiman sedang didukung bangunan tahan gempa. Nilai g sebesar 9.Berdasarkan jarak yang diukur dari garis pantai. terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. Zona 1 (1) Permukiman (a) Permukiman nelayan yang semula telah ada di zone ini tidak boleh diperluas.25g dan Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. hutan bakau. pusat informasi. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan tinggi atau 51 – 75 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Lahan untuk fasilitas umum.20 g. namun boleh ditingkatkan kualitasnya. Zone II antara 5-20 km dan Zone III lebih dari 20 km. c. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan a.81 m2/detik.15g. Peruntukan. 0.3g. Zone gempa yang mungkin terjadi Berdasarkan zone gempa. telekomunikasi. (c) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. dan pengembangan pengetahuan masyarakat tentang Tsunami. dengan jumlah yang terbatas. dan kelapa).5 dengan acceleration maksimum masing-masing 0. (b) Kepadatan bangunan sangat rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). BTS. Untuk rumah tinggal zone gempa yang digunakan adalah Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. (c) Untuk menempatkan permukiman nelayan dengan jumlah yang terbatas atau dibawah 31 orang/ha. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). untuk bangunan non rumah : zone gempa dapat terbagi dalam dua bagian yaitu Zone 3.

terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. seperti SD. SLTA. rental office. (d) Untuk menempatkan fasilitas untuk pendidikan dasar. fungsi-fungsi semula didorong untuk dikembangkan. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan rendah atau 31 – 50 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). Misalnya gardu listrik. dan tinggi skala pelayanan di tingkat perkotaan. (b) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). (e) Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. dan air bersih. dan Perguruan Tinggi. SLTP.(b) Bangunan tahan gempa. pengendalian harga tanah. kantor pemerintahan. dengan jumlah yang terbatas. seperti pasar untuk tingkat kota yang menjual sayur. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. dsb. ikan. (e) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. (f) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. (d) Untuk menempatkan industri-industri yang terkait dengan perikanan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya dan pertokoan. (b) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). Zone 3 (1) Permukiman (a) Permukiman masih dimungkinkan diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. BTS. diklat. (c) Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai radius < 20 Km dari garis pantai. dsb.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. misalnya kantor-kantor dinas. telekomunikasi. (c) Untuk menempatkan perkantoran dan pelayanan umum dengan skala pelayanan tingkat perkotaan. dengan insentif keringanan pajak. serta kelengkapan dan kehandalan infrastruktur. menengah. iii. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). seperti pasar untuk tingkat 16 .

BTS. seperti tempat pendaratan ikan. dengan jumlah yang terbatas. Bangunan pada Kawasan Budidaya i. dsb. (f) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. c. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. Zone 1 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang semula telah ada dengan kepadatan yang sangat rendah (dibawah 31 jiwa/ha) pada kawasan budidaya ini tidak boleh dikembangkan. permukiman khusus hanya untuk nelayan tidak boleh ada bangunan rumah tinggal. konservasi. atau ditambah baru hingga kawasan lindung (76-100 i. diperluas. dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Permukiman yang telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. Misalnya gardu listrik. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Bangunan non rumah tinggal yang berada di zone ini adalah untuk keperluan penelitian. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Kawasan kepadatan sedang dipergunakan untuk keamanan dan mitigasi. dan air bersih. penempatan fasilitas untuk pelabuhan dan pembangkit energi. Zone 1 17 .gampong yang menjual sayur. navigasi. pelelangan ikan. cool storage. ii. b. telekomunikasi. Zone 2 dan Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Di kawasan lindung tidak diperbolehkan ada bangunan rumah tinggal. keamanan. ii. dan bangunan-bangunan untuk pengawasan pantai. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Digunakan sebagai bangunan untuk sarana penelitian kelautan dan perikanan. (g) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. stasiun bahan bakar nelayan (Krueng Raya). pertambakan dan perikanan. Bangunan Pada Kawasan Lindung (1) Perumahan dan Permukiman Pada kawasan ini tidak sesuai untuk lahan permukiman. ikan. Zone 2 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada pada kawasan lindung di kawasan kepadatan tinggi tidak boleh dikembangkan. diperluas atau ditambah baru. konservasi. Untuk permukiman yang dari semula telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya.

(2) Klas 9. hostel. Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. hanya boleh ditingkatkan kualitasnya dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. rumah taman. untuk keamanan. unit town house. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada tidak boleh dikembangkan/ diperluas/ ditambah baru. sosial dan pemerintahan skala kecamatan dan kota. (2) Bangunan non rumah tinggal Bangunan untuk tujuan fasilitas pendidikan. Bangunan Hunian Biasa. terbatas untuk kebutuhan di tingkat desa. pendidikan.jiwa/ha). pemeliharaan tambak. sosial dan budaya. villa. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. bangunan pompa. perdagangan. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. kesehatan. rumah tamu. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar Zone 1 Klasifikasi bangunan yang diperbolehkan berada pada zone ini 18 . atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. termasuk bengkel kerja. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. adalah (1) Klas 1. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Untuk bangunan komersial skala rumah tangga. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. termasuk rumah deret. bangunan air. Klasifikasi Bangunan i. iii. ibadah. d. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. gardu pembangkit energi.

19 . yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. (b) Klas l0b : struktur yang berupa pagar. (3) Klas 3. rumah tamu. villa. (4) Klas 4. bangunan budaya atau sejenis. antena. ii. di luar bangunan klas 6. Bangunan kantor. 7. Bangunan Hunian Campuran. hostel. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. tonggak. unit town house. (2) Klas 2. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. Zone 2 (1) Klas 1. atau sejenisnya. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. 6. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain.atau sekolah lanjutan. atau (d) panti untuk orang berumur. rumah tamu. atau anak-anak. (5) Klas 5. 8. termasuk rumah deret. cacat. atau sejenisnya. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. (3) Klas 10. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. atau usaha komersial. 7. atau (e) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawankaryawannya. termasuk : (a) rumah asrama. pengurusan administrasi. losmen. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. rumah taman. hall. atau 9. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. Bangunan Hunian Biasa. carport. adalah tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. bangunan peribadatan. atau (b) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. atau (c) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. kolam renang. Bangunan hunian di luar bangunan klas 1 atau 2.

iii. perakitan. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. kolam renang. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan : garasi pribadi. carport. atau (c) tempat potong rambut/ salon. atau (b) gudang. bangunan peribadatan. (b) Klas 9b: Bangunan pertemuan. kafe. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan 20 . tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. bar. atau bengkel. antena. termasuk bengkel kerja. termasuk : tempat parkir umum. pengepakan. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. restoran. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. tempat cuci umum. perubahan. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. bangunan budaya atau sejenis. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Bangunan Penyimpanan/ Gudang adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. (8) Klas 8. ruang penjualan. perbaikan. finishing. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. Bangunan Umum. (7) Klas 7. ruang pamer. Bangunan Perdagangan. (9) Klas 9. atau (d) pasar. atau sejenisnya. atau sejenisnya. termasuk: ruang makan. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Zone 3 (1) Klas 1. adalah bangunan toko (a) (a) atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau (b) ruang makan malam. hall. tonggak. yaitu : (a) Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan.(6) Klas 6. Bangunan Hunian Biasa. (10) Klas 10. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas.

Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. restoran. (4) Klas 8. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. Bangunan Perdagangan. tonggak. hostel. termasuk: (a) ruang makan. perakitan. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/ kost. carport. tempat cuci umum. bangunan budaya atau sejenis. perbaikan. termasuk bengkel kerja. (2) Klas 2. atau sejenisnya. atau sejenisnya. rumah taman. ruang pamer. termasuk rumah deret. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. villa. kafe. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. bar. pengepakan. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. kolam renang. (5) Klas 9. (6) Klas 10. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Bangunan Umum. Luas hunian untuk setiap orang 21 . atau (b) ruang makan malam. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. unit town house. atau (d) pasar. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel.suatu dinding tahan api. finishing. hall. 3. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. perubahan. adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. rumah tamu. Luas Bangunan a. atau bengkel. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. ruang penjualan. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. bangunan peribadatan. (3) Klas 6. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. antena. atau (c) tempat potong rambut/salon.

Luas Lahan per Unit Bangunan i. ii. Kebutuhan ruang per orang minimal adalah 9 m2. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. mandi.Luas hunian untuk setiap orang di setiap zone adalah sama. d. Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling bangunan (KLB) i. makan. kakus. ii. (2) keamanan. penghawaan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Bangunan Non Rumah Tinggal Luas kavling minimum bangunan non-rumah tinggal menyesuaikan standar kebutuhan masing-masing klas bangunan. b. daya dukung lahan/ lingkungan. Kebutuhan luas kapling didasarkan atas: (1) kebutuhan luas hunian. (3) kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang meliputi aspek pencahayaan. dengan lebar kavling miniumum 6 m. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. daya dukung lahan/ lingkungan. c. Zone 1 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu maksimum 40%. Luas lantai bawah bangunan terhadap luas kavling lahan (KDB) i. Kebutuhan luas kapling minimum untuk rumah yang dihuni oleh 3-4 orang adalah 90 m2. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 1 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah. cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. suhu udara dan kelembaban dalam ruangan serta pertimbangan pada kondisi tertentu dimungkinkan memenuhi standar ruang internasional (12 m2 per orang). yang disesuaikan dengan 22 . duduk. Kebutuhan ruang perorang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Zone 2 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu 60%-80%. meliputi aktivitas tidur. kebijaksanaan intensitas pembangunan. kerja. iii. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Zone 3 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah rendah yaitu maksimum 60%. Permukiman Luas lahan per unit bangunan untuk setiap zone adalah sama.

Jumlah lantai bangunan > 4 lantai kecuali untuk ruang < 5 Km jumlah lantai maksimal 4 lantai pada tingkat kepadatan sedang. iv. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah tinggi f. Terhadap Keselamatan 23 . Zone 2 Koefisien lantai bangunan untuk zone ini adalah sedang yang disesuaikan dengan persyaratan selubung bangunan. daya dukung lahan/ lingkungan. Zone 1. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah rendah. Jumlah lantai bangunan rumah tinggal tertinggi adalah 1 lantai hingga 2 lantai. ii. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. ketahanan terhadap bahaya gempa dan aman terhadap jalur penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku ii. perkembangan kota. Ketinggian maksimum bangunan Ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan adalah 12 meter. Luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman terhadap luas lahan satu cluster permukiman. iii. perkembangan kota. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 2 lantai e. Zone 3 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah yang disesuaikan dengan persyaratan building envelop lahan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Zone 4. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Jumlah lantai baik rumah tinggal mau pun non rumah tinggal maksimal 3 lantai. kebijaksanaan intensitas pembangunan. iii. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. sedangkan untuk bangunan non rumah tinggal menyesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan. Terhadap Keamanan Ketinggian bangunan harus disesuaikan dengan sistem struktur dan bahan konstruksi yang digunakan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Ketinggian maksimum bangunan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: i.persyaratan building envelop lahan. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai pada tingkat kepadatan tinggi. Zone 2. perkembangan kota. i. daya dukung lahan/ lingkungan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. daya dukung lahan/ lingkungan. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 3 lantai. Zone 3. Ii.

iii. iv.Didasarkan atas kualitas konstruksi dan bahan bangunan yang dapat menjamin keamanan penghuninya terhadap bahaya kebakaran (waktu untuk menyelamatkan diri sebelum runtuh) sesuai ketentuan yang berlaku. Jalan Kolektor. Garis Sempadan Bangunan a. kota Jantho dengan Lamno.80 m agar terjadi sirkulasi udara yang cukup dan kontinyu. yaitu minimum 8 meter dari batas Damija meliputi jalan yang menghubungkan kota seulimeum ke kota kemala (kabupaten Sigli) melalui kota Jantho. Garis Sepadan Bangunan Berdasarkan Ukuran Daerah Milik Jalan (Damija) i. Garis sempadan bangunan pada klas jalan lingkungan perumahan kavling besar. Sempadan muka minimum 8 m 24 . Terhadap Daya Dukung Lingkungan Jumlah lantai bangunan dan koefisien lantai bangunan menyesuaikan Peraturan Daerah/ Qanun Ijin Mendirikan Bangunan dan/atau RDTRK/ RTRK/ RTBL setempat. ii. kecuali bangunan yang dindingnya terbuka termasuk lantai panggung. Jalan-jalan kampung dan lorong yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija. kota Krueng Raya dengan kota Seulimuem dan Kota Krueng Raya dengan kota Sigli ( Ibukota kabupaten Sigli ). persyaratan kemiringan atap untuk bahan penutup atap dan model atap (flat/ perisai/ pelana/ dsb). Rumah tinggal dan non rumah tinggal: i. yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija meliputi jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan antar desa. yaitu minimum sebesar 10 meter dari batas Damija. kavling sedang dan kavling kecil. Terhadap Kesehatan Ketinggian minimum bangunan terkait dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit minimum = 2. ruangan mendapat cukup cahaya langsung dan merata. Kavling besar ( > 450 m) U U (1). iv. struktur atap. Untuk bangunan peruntukan dan konstruksi khusus dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan serta disesuaikan dengan jarak terhadap as jalan yang berdekatan dan selubung bangunan. Jalan Arteri. dengan kota lhoong. kecuali jalan setapak dan gang kebakaran b. Jalan Lokal/Lingkungan. iii. meliputi jalan yang mnghubungkan kota-kota dipulau Sumatra antar provinsi dan dikabupaten Aceh Besar melalui perbatasan kabupaten pidie dan kabupaten Aceh Besar serta pelabuhan Malahayati ke kot a Aceh Besar. 4.

(2) Jalan Kendaraan (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 3. lokal) Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya berlaku untuk semua zone.(2). Sempadan samping minimum 3 m (3). kolektor. Jarak dengan batas persil minimum 4 m (3). Bangunan dengan tinggi < 8 m = 3 m (4). Jarak massa/blok bangunan dengan bangunan sekitarnya minimum 6 m dan 3 m dengan batas kapling (2). Bangunan dengan tinggi > 8 m = 1/2 tinggi bangunan dikurangi 1m (5).Rumah berlantai 2 = 2.25 meter. Jarak massa/blok bangunan satu lantai minimum 4 m Non rumah tinggal (1). (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Bangunan berdampingan tidak sama tinggi.50 meter. . .75 meter. Sempadan samping minimum 4 m Sempadan belakang 5 minimum U U ii. jarak minimum antar bangunan = {(½ tinggi bangunan A + ½ tinggi bangunan B) /2} -1 meter. Sempadan belakang minimum 3 m iii.75 meter. U U ii.Rumah berlantai 1 = 1.75 meter.5 m jika atap samping menggunakan teritisan (2). (b) Lebar perkersan jalan minimal 1. Kavling sedang ( > 200m) (1). (b) Lebar perkersan jalan minimal 3 meter.50 meter.75 meter. (3). Sempadan muka minimum 3 m U U c. Persil sedang dan besar minimal 2 m (3).Rumah berlantai 1 = 1.Rumah berlantai 2 = 2. Persil kecil minimal 1 m jika atap samping tanpa teritisan dan 1. ii. i. i. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Rumah tinggal : (1). Jalan Lokal Sekunder (1) Jalan Setapak (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 2 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya (arteri. Kavling kecil ( > 90 m2) (1). Garis sempadan bangunan terhadap batas-batas persil/kavling sendiri dan lingkungannya. Jalan Lokal Sekunder II 25 .20 meter. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. d. Sempadan muka minimum 5 m (2). Sempadan samping minimum 2 m (2).

26 .50 meter.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 601: Pembangkitan. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum.Rumah berlantai 2 = 3.603-2002 tentang Istilah Kelistrikan-bab603: Pembangkitan Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik.50 meter. Berdasarkan PUIL 2000 (jarak ke kiri dan kanan dari tegangan tinggi (70 KV ke atas) sejauh 25 m) ii. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya adalah sama untuk semua zone yaitu: i. mengacu pada : (1) SNI 04-6267. jaringan listrik tegangan tinggi. . iii. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan minimal 50 m dari luar kaki tanggul. Garis sempadan bangunan terhadap jalan rel.50 meter. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. ii. Sungai bertanggul kawasan perkotaan minimal 10 hingga 15 meter dari pinggir sungai.(a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 5 meter. (c Lebar bahu jalan minimum 0. (b) Lebar perkersan jalan minimal 4. i.50 meter.Rumah berlantai 1 = 3. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk sungai besar (luas daerah pengaliran > 500 Km2) dan sungai kecil (luas daerah pengaliran < 500 Km2) ditentukan setiap ruas berdasarkan perhitungan teknis luar daerah pengaliran atau 20 – 100 meter. (b) Lebar perkersan jalan minimal 5 meter. Berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang disesuaikan dengan kondisi NAD. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya. . (c) Lebar bahu jalan minimum 0.Rumah berlantai 1 = 2.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 602: Pembangkitan (3) SNI 04-8287. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . iii. iii.50 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .50 meter. a.50 meter. e.Rumah berlantai 2 = 4. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Umum (2) SNI 04-8287. Jalan Kolektor Sekunder (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 7 meter. Sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan penyediaan listrik.

kedalaman 3 – 20 m minimal 15 m dari tepi sungai. diperlebar dan ditinggikan. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. viii. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan kedalaman < 3 m. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. v.iv. vi. Penetapan garis sempadan untuk sungai ini dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu yang ditetapkan. (2) Untuk peningkatan fungsinya. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. tanggul dapat diperkuat. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. Macam sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih. Garis sempadan sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ini sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter. (2) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter. (1) Sungai yang bertangggul di luar kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. minimal 10 meter dari tepi sungai. (3) Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. 27 . (2) Untuk peningkatan fungsinya. tanggul dapat diperkuat. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. diperlebar dan ditinggikan. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari 500 (lima ratus) Km2. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. (1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. vii. kedalaman > 20 m minimal 30 m dari tepi sungai. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. (1) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. garis sempadan dan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Garis sempadan bangunan pada tepi danau. ii. i. rawa dan tambak. kecuali pada kawasan yang sangat diperlukan bagi kepentingan umum. 2003 sebagai berikut : i. Garis sempadan pantai. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut Penetapan garis sempadan danau. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan (1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. dengan ketentuan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R. g. Untuk danau dan waduk. Untuk mata air. Zone 1 Minimal jarak dari bibir pantai 1. Garis sempadan bangunan pada kawasan pesisir.3 Th. lahan peresapan air.000 m. (2) Segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggung jawab pengelola jalan. Zone 2 dan Zone 3 Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah. h. ii. Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah iii. v. i. kecuali bangunan non-rumah tinggal sesuai dengan standar dan peraturan daerah setempat atau Garis sempadan pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat ii. serta sungai yang tidak bertanggul yaitu sebesar 20 – 100 meter. iv. waduk. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 meter di sekitar mata air. Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota. i. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Jaringan drainase mengacu pada ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. Zone 1 Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter.ix. dan kawasan lindung lainnya. Zone 2 dan Zone 3 28 . Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Qanun tentang RTRW Aceh Besar No. waduk.I.

Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota pada zone 3 dan zone 4, sekurang-kurangnya (minimal) = jarak sempadan bangunan terhadap pagar kavling 5. Tata Letak Bangunan

a. Bentuk tatanan bangunan dalam satu lingkungan pada arsitektur

b.

c.

d.

e.

tradisional NAD dan arsitektur lainnya yang ada. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah air tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Penambahan ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama/ lainnya harus mengikuti standar yang berlaku . Khusus untuk Zona Kawasan Aquatic hingga Kawasan Sedang, tidak diperkenankan menambah ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama. Orientasi tatanan permukiman terhadap kaidah agama, tradisi, topografi, orientasi matahari, arah angin, pola jalan, sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Posisi jalan utama lurus memanjang dari utara ke selatan, diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama timur-barat untuk menghindari angin kencang timur-barat dan agar rumah menghadap kiblat. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah, sebagai tempat bersosialisasi warga. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab); pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Sumur dapat digunakan bersama; sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum di bagian depan rumah.

29

III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
III.1 . ARSITEKTUR BANGUNAN

1. Pengertian Umum Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langitlangit adalah 2.80 meter. Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a. Kebutuhan luas per jiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 1. 1: Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat Standar per Luas untuk 3 (m2) jiwa Luas untuk 4 (m2) jiwa 2 Jiwa (m ) Unit Lahan (L) Unit Lahan (L) ruma Mini Efekti Ideal ruma Mini Efekti Ideal h h m f m f (Ambang batas) 21,6 60,0 72-90 200 28,8 60,0 72-90 200 7,2 (Indonesia) 27,0 60,0 72-90 200 36,0 60,0 72-90 200 9,0 (International) 36,0 60,0 48,0 60,0 12,0

Berdasarkan KEPMENKIMPRASWIL No 403/2002, rumah standar sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas kapling ideal, dalam arti memenuhi kebutuhan luas lahan untuk bangunan sederhana sehat baik sebelum maupun setelah dikembangkan. Secara garis besar perhitungan luas bangunan tempat tinggal dan luas kapling ideal yang memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan bangunan seperti berikut; kebutuhan ruang minimal menurut perhitungan dengan ukuran Standar Minimal adalah 9 m2, atau standar ambang dengan angka 7,2 m2 per orang .

30

Gambar 1.1 Luas Bangunan Rumah Sederhana Sehat dan Luas Lahan Efektif Diperhitungkan terhadap Kebutuhan Ruang Minimal dan Koordinasi Modular sehingga dicapai luas lahan efektif antara 72 m2 sampai dengan 90 m2 dengan variasi lebar dan muka lahan yang berbeda. 2. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang Untuk Satu Bangunan. Berikut ini kriteria standar kebutuhan minimal rumah mengacu dari Konsepsi Rumah Sederhana Sehat : a. memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK. b. memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan yang akan dilakukan yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serba guna. c. Bentuk generik atap selain pelana, dapat berbentuk lain (limasan, kerucut, dll) sesuai dengan tuntutan daerah, bila ada. d. Penghawaan dan pencahayaan alami pada rumah menggunakan bukaan yang memungkinkan sirkulasi silang udara dan masuknya sinar matahari. e. Kebutuhan standar minimal ruang tersebut memberi peluang pada penghuni untuk dapat mengembangkan ruang sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu melakukan pembongkaran bagian-bagian bangunan secara besar-besaran. Ruang -ruang yang perlu disediakan untuk satu rumah inti sekurangkurangnya terdiri dari : a 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. b. 1 ruang serbaguna merupakan kelengkapan rumah dimana di dalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan. c. 1 kamar mandi/ kakus/ cuci merupakan bagian dari ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi cuci dan kakus.

31

Ketiga ruang tersebut diatas merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan dasar, selain itu sebagai cikal bakal rumah sederhana sehat. Konsepsi cikal bakal dalam hal ini diwujudkan sebagai suatu Rumah Inti yang dapat tumbuh menjadi rumah sempurna yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta kesehatan penghuni, sehingga menjadi rumah sederhana sehat. Ukuran pembagian ruang dalam rumah tersebut berdasarkan pada satuan ukuran modular dan standar internasional untuk ruang gerak/ kegiatan manusia. Sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT-1 adalah sebagai berikut:: i.. Ruang Tidur : 3,00 m x 3,00 m ii. Serbaguna : 3,00 m x 3,00 m iii. Kamar mandi/kakus/cuci : 1,20 m x 1,50 m 3. Tampilan Arsitektur Bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat a. Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh Besar dapat berupa tektonika atau ragam hias dengan pola tumbuhan atau pola geometri Arsitektur Islam. b. Bentuk atap bisa pelana, perisai, atap datar, atau pun variasinya. c. Arah hadap (depan bangunan) disesuaikan dengan konfigurasi jalan. Bila jalan membujur utara – selatan, maka depan bangunan menghadap barat dan timur. d. Kakus sedapat mungkin tidak menghadap barat – timur (menghadap – membelakangi kiblat) e. Penyelesaian pada setiap bagian bangunan diupayakan agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh Besar. f. Pemakaian warna untuk seluruh bagian bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya agar lebih serasi secara visual. Warna yang umum dipakai untuk material dari beton adalah putih, krim, dan beberapa warna lainnya seperti hijau, coklat, biru, dan pastel. Untuk material lain seperti kayu, warnanya lebih bervariasi, sekali pun didominasi oleh warna coklat dan putih. Tampilan arsitektur tampang bangunan salah satunya dengan adanya ragam hias ornamen bermotif flora. Gambar 2.2 dan 2.3 dibawah ini menunjukkan tampan g rumah Aceh yang sarat ornamen.

32

dengan bentuk bangun denah persegi panjang. Tiang–tiang itu dihubungkan antara satu dengan lainnya dengan kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lubanglubang tiang tersebut. Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua lubang. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 batang dengan diameter lebih kurang 33 cm. Pola struktur yang digunakan adalah rumah panggung khas Aceh dengan bentuk atap pelana atau variannya.2 Tampak Depan Rumah Aceh Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang didirikan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari kayu yang kuat.Gambar 1.3 Tampak Samping Rumah Aceh Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh diarahkan menuju digunakannya ragam hias tumbuhan ataupun pola geometri ragam hias arsitektur Islam dalam tampilan bangunan rumah tinggal. jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deret lebih kurang dua setengah meter. Gambar 1. Penyelesaian pada setiap bangunan diupayakan agar agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh. sebagai contoh orientasi bangunan dan bujur bangunan rumah tinggal dinyatakan melalui arah hadap kiblat. 33 . batu inipun tidak ditanam dalam tanah tapi diletakkan di atas tanah. Sedangkan untuk bangunan meunasah. tetapi didirikan di atas pondasi batu kali. Orientasi bangunan meunasah dan bangunan rumah tinggal perlu dibedakan dengan pemahaman bahwa perlu dibedakan antara fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong (desa). Arah hadap bangunan disesuaikan dengan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Tiang-tiang itu tidak ditanam ke dalam tanah. sedangkan tinggi keseluruhan bangunan lebih kurang lima meter. Pola bukaan pintu yang memberikan orientasi langkah kaki pada saat masuk atau keluar rumah dan perletakan WC yang sedapat mungkin tidak menghadap barat-timur karena akan menghadap atau membelakangi kiblat. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter. arah bujur bangunan adalah utara-selatan.

4. Gambar 1. Rehabilitasi tampilan bangunan tidak diperbolehkan sampai melanggar garis sempadan bangunan 5. Tampilan bangunan untuk rekonstruksi diarahkan sedapat mungkin menggunakan Arsitektur Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Aceh Besar. Rehabilitasi tampilan arsitektur pada rumah tinggal dan bangunan gedung sedapat mungkin diselaraskan dengan tampilan arsitektur di sekitarnya untuk keserasian lingkungan. melainkan diarahkan untuk memperkaya ragam hias pada tampilan. Merekonstruksi yang berarti membangun kembali bangunan yang rusak akibat gempa tsunami dilakukan dengan kaidah-kaidah sesuai budaya lokal . Namun demikian. upaya untuk mengembangkan tampilan bangunan beserta inovasi dan daya kreasi masyarakat. pemakaian bahan/material. dan terhadap Bangunan disekitarnya. dan penggunaan ornamen. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan. Tampilan Arsitektur pada Rekonstruksi Bangunan. melainkan diarahkan menuju sebuah konsep berupa pengayaan ragam hias Aceh pada tampilan 34 . Gambar di bawah ini merupakan salah satu ilustrasi dari bangunan untuk rekonstruksi. tidak dibatasi. seperti pada penggunaan warna. Namun demikian.Pemilihan warna untuk tampilan bangunan disesuaikan dengan adat Aceh yang juga dijiwai oleh kaidah-kaidah agama Islam. bukan berarti masyarakat dilarang untuk membuat inovasi tampilan bangunan. dan terhadap Bangunan disekitarnya. tekstur. Ilustrasi Bangunan untuk Rekonstruksi Dari gambar tampilan bangunan di atas terlihat bahwa tampilan bangunan rekonstruksi diarahkan pada sebuah konsep preservasi dan konservasi yang didasarkan atas kaidah arsitektur Islami dengan landasan budaya Aceh. 4.

tampil sebagai hiasan semata-mata. sebagaimana ragam hias bintang dan bulan menunjukkan simbol ke-Islaman. 7. namun beberapa ragam hias. yaitu kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. non measurable criteria dalam rancang kota terdiri dari access. Bangunan tradisional atau rumah panggung di Aceh Besar dapat juga dibuat dengan teknologi konstruksi.  View. a. jambu. Untuk bangunan bangunan Meunasah. Di antara kriteria tersebut yang berkaitan dengan wujud bangunan adalah :  Compability. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. Tampilan Arsitektur Bangunan terhadap Keserasian Lingkungannya. pintu dan jendela. fauna. sense dan livability. Diharapkan melalui upaya untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengayaan ragam hias pada tampilan bangunan dapat tercipta keseimbangan antara nilainilai sosial budaya Aceh terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. mangga. compability. ragam hias awan berarak (awan meucanek) menunjukkan lambang kesuburan dan motif tali berpintal (taloe meuputa) menunjukkan simbol bagi ikatan persaudaraan yang kuat untuk masyarakat Aceh. tanpa meninggalkan kaidah tata ruang di dalamnya. Arah bujur bangunan rumah tinggal dan meunasah perlu dibedakan untuk membedakan fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong. bentuk dan tata letak massa. sebagian dinding dan sebagainya yang sifatnya ornamentasi tempelan. bintang dan bulan. 6. tanaman peneduh (seperti Angsana. seperti kolom. disediakan lahan yang cukup sebagai ruang terbuka hijau. Ragam hias pada bangunan-bangunan Aceh pada dasarnya terdiri dari ragam hias yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora. namun demikian harus memperhatikan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. Misalnya konstruksi panggung bisa berupa kontsruksi beton atau pun baja. bahan dan material yang lebih modern. adalah kejelasan struktur fisik sebagai orientasi 35 . Pemakaian ragam hias tradisional pada bagian-bagian tertentu dari bangunan. Beberapa ragam hias. b. dan tanaman produktif lainnya. Jenis tanaman yang ditanam dapat berupa tanaman hias (seperti jenis bunga-bungaan) . Pada bagian depan rumah (yang berbatasan dengan jalan). awan. Menurut Hamid Shirvani.) . c. identity. view.bangunan. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Modern. dan tanaman produktif (seperti belimbing.

8. seperti kolom.6 Ilustrasi Tata Ruang Rumah Tinggal Rekonstruksi 36 . Tata Urutan Ruang-ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang Gambar 1. Identity.5 Ilustrasi Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Rekonstruksi Ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual (identity). pintu dan jendela sebagian dinding dan sebagainya yang bersifat ornamentasi. bentuk dan tata letak massa (compatibility) serta kejelasan struktur fisik sebagai orientasi (view) diterapkan melalui pemakaian ragam hias tradisional pada bagianbagian tertentu dari bangunan. adalah ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual Gambar 1. kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. Bangunan rumah tinggal dengan konsep tradisional budaya Aceh dapat dibuat dengan teknologi konstruksi bahan dan material yang lebih modern. diarahkan untuk dapat menampillkan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya.

ruang pertemuan dan sejenisnya. ruang tidur tamu. Untuk Rumah Tinggal : i.a. Untuk memberikan nuansa budaya lokal (Aceh Besar). Batas-batas ruang yang masif dan personal dibutuhkan untuk ruang-ruang yang memerlukan privasi tinggi seperti ruang kepala. biasanya digunakan sebagai ruang publik. Bagian depan bangunan sebagai perwujudan serambi depan. Ruang-ruang inti dan ruang pendukung lainnya disesuaikan dengan fungsi bangunan 9. Jika rumah induk akan dikembangkan. Untuk bangunan gedung : i. Teras depan sebagai perwujudan serambi depan. acara adat. Pada bangunan gedung : i Tata letak ruang sangat tergantung dari fungsi bangunan dimana untuk setiap fungsi bangunan memilki hirarki yang khas. Tata Letak Ruang-ruang pada Bangunan yang bercirikan Budaya Lokal. 37 . Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi publik yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas seperti menerima tamu. a. ii. kaum wanita. b. maka perlu diperhatikan pola pemisahan antar ruang sehingga tidak menimbulkan kecenderungan terjadinya hubungan yang dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. sholat berjamaah. bisa sebagai bagian dari rumah induk maupun dibangun terpisah secara struktural. iv. pengantin baru) b. ii. Pada rumah tinggal : i. Ruang privat (kamar tidur) diletakkan berdampingan dengan ruang keluarga iii. iii. berhubungan langsung dengan ruang tamu dan atau ruang keluarga ii. Ruang servis diletakkan pada bagian belakang bangunan. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi privat yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas bersama seperti ruang santai keluarga. sedapat mungkin diupayakan untuk menambah ruang privat (kamar tidur) yang mampu mewadahi privasi angggota keluarga khusus (orang tua. ii.

Pada bangunan dengan material beton. Untuk rumah tinggal : i. Untuk bangunan gedung : i. 10. a. kamar mandi/kakus terpisah dengan bangunan induk rumah. b. seperti bersantai. Perluasan bangunan rumah induk. melihat tingkat bahayanya terhadap kebakaran. penempatan dapur disesuaikan dengan selera pemilik bangunan. dapur dapat dibuat di luar rumah induk dan terpisah secara struktural.7 Tampak/potongan Rumah Tradisional Aceh ilustrasi di atas memberikan gambaran tentang pemisahan yang jelas dan tegas antara ruang serbaguna dengan ruang privat (ruang tidur) untuk orang tua dan kaum wanita. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. iii. dimana terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. termasuk di dalamnya bangunan utilitas. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. Pada bangunan dari bahan kayu. iv. permanen atau pun semi permanen. Tata Letak dan Jarak Ruang-ruang pada Bangunan Utama terhadap Bangunan-bangunan Penunjangnya (termasuk bangunan utilitas. dengan memperhatikan KDB. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. ruang untuk KM/WC diletakkan menyatu dengan bangunan induk. Sedangkan untuk rumah yang terletak di atas tanah (modern/bukan panggung). jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. ii. Pada rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu. maka pada saat awal pembuatan rumah induk. Ruang kamar mandi/wc bisa diibuat menyatu dalam rumah jika bangunan utama atau ruang kamar mandi/kakus terbuat dari dari beton dan bata.). Ruang serbaguna yang bersifat semi publik dapat pula dipakai untuk berbagai aktivitas seperti menerima tamu dan pula sebagai ruang tidur tamu. pada Arsitektur Lokal dan Lingkungan Bangunan Lainnya. v. sanitasi (MCK). Ruang serbaguna yang bersifat semi privat digunakan sebagai ruang tempat beraktivitas bersama. shalat dan berjamaah dan acara-acara adat. yang dibutuhkan untuk menjaga dan menjamin 38 . dll.Gambar 1.

tetapi juga bisa dibangun terpisah secara struktural. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. a. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. v. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung Bangunan-bangunan penunjang bangunan. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. keamanan. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. 39 . Secara umum struktur bangunan utama (yang merupakan wadah kegiatan utama dalam rumah) harus mempunyai daya tahan terhadap gempa. iv. KM/WC terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. 11. Gambar 1. Perluasan bangunan induk. Dapur dapat dibuat di dalam rumah induk. maka pada saat awal pembuatan bangunan. iii. termasuk di dalamnya prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitar Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaikbaiknya sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya terhadap Struktur Bangunan yang ada. termasuk penyandang cacat dan warga usia lanjut. kenyamanan.ii.8 Perspektif Rumah Tradisional Aceh Pada gambar perspektif di atas menunjukkan letak rumah induk yang terpisah dari kamar mandi. Perluasan bangunan rumah induk.

Jika bangunan rumah akan diperluas. c. maka yang dapat dimodifikasi adalah bagian yang bukan merupakan struktur utama. d. sehingga posisi ruang dalam selalu berhubungan dengan ruang luar di sekitarnya dalam jarak yang cukup untuk menjamin kecukupan pencahayaan dan penghawaan alami. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan pola struktur yang sama dengan bangunan lama. d. 13. Batas depan dan belakang bangunan harus mengikuti aturan garis sempadan yang berlaku dimana sangat bergantung pada lebar jalan yang ada di depannya. maka struktur banguan baru harus dipisah dari struktur bangunan yang lama. Keserasian. ditentukan garis sempadan bangunan depan dan belakang. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan berdasarkan Klasifikasi Bangunannya a. melainkan pada tengah lahan sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. struktur utama harus tahan gempa dengan variasi bahan berupa beton bertulang atau kayu kelas kuat yang memadai. Untuk kapling kecil. a. melainkan bagian pengisi (non struktural) misalnya partisi di dalam bangunan. Pengaturan Tata Letak Ruang-ruang Dalam Satu Bangunan terhadap Pekarangan/halaman Bangunan dengan mempertimbangkan Keselarasan. Untuk kapling yang luas. sedangkan samping bangunan diijinkan berimpit dengan bangunan tetangga tetapi terpisah secara struktural. e. Pemakaian bahan konstruksi baja dan besi diperkenankan dengan syarat memenuhi satandar konstruksi tahan gempa. bangunan dibangun tidak berhimpit dengan batas lahan. c. b. 12. Jika akan merubah tatanan ruang. Bagian lahan yang tidak terdapat bangunan harus disisakan untuk ruang terbuka hijau dan areal limpasan air hujan. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan sistem struktur yang berbeda. Ruang-ruang di dalam bangunan harus cukup mendapat penerangan dan penghawaan alami. Yang harus diperhatikan adalah metoda sambungan antar bagian struktur bangunan lama dan baru. e. maka struktur perluasan rumah dapat terpisah (tidak rigid dengan bangunan lama) atapun menyatu (rigid) dengan bangunan lama. Pada bangunan rumah induk. b. maka dapat dibuat menyatu dengan metoda sambungan yang tepat. Disarankan untuk menghindari pemakaian bahan logam yang mudah berkarat (corosive material) pada daerah pantai yang dekat dengan laut. Keseimbangan dengan Lingkungannya. 40 .b.

asbes. d. Untuk bagian non struktural utama. Sedangkan untuk bagian pengisi non struktural (dinding luar. penyekat ruang) dapat memakai bahan lainnya seperti papan. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. b. 14. batu bata.c. Bangunan rumah lebih ditekankan pada aspek struktural dan estetika. Fungsi bangunan juga menentukan material yang akan dipakai. Berdasarkan studi dari Rumah Tradisional Aceh maka bahan bangunan yang biasa digunakan terdiri dari: i. Atap. sedangkan bangunan untuk servis (dapur dan KM/WC) lebih ditekankan pada aspek kualitas sanitasi lingkungan. Sedangkan untuk bagian non struktural utama. Keamanan. f. keamanan bangunan dan kenyamanan ruang dalam batas tertentu. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin juga dihindari dari bahan-bahan yang membayakan kesehatan penghuni dari pengaruh kimiawi. pada bagian atap vi. Lantai dan dinding menggunakan papan kayu v. d. bahan penutup atap menggunakan daun rumbia ii. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai stock cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. maka yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kekuatan struktur. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan Dalam Satu Bangunan dengan memperhatikan Keserasian. c. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dimana telah dipersyaratkan harus tahan gempa. batako. Sesederhana apapun bahan bangunannya. petir dan akibat kesalahan teknik pemanfaatan dan pemasangan bahan. Pondasi menggunakan batu kali. Khusus untuk bahan fibercement. Kuda-kuda atap menggunakan bahan kayu iii. sesek dan sebagainya. calsiboard. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. e. disaranakan untuk tidak dipakai pada dinding luar bangunan. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin menjamin keselamatan penghuni dari bahaya bencana alam. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dengan persyaratan harus tahan gempa. Ijuk digunakan sebagai bahan pengikat. Keselamatan dan Keawetan Bangunan a. Tiang dan balok menggunakan kayu yang kuat iv. untuk menghindari pengurangan kekuatan struktur utama bangunan. Pemakain material yang berbeda harus memperhatikan teknik penyambungan antar bahan jika menyangkut sistem struktur bangunan. e. 41 .

genteng seng. fungsi lindung kawasan. struktur kolom dan balok harus terbuat dari beton bertulang dengan kuat tekan beton minimal f’c 20 Mpa. Bentuk Tatanan Bangunan dalam Satu Lingkungan pada Arsitektur Tradisional NAD. Secara umum adalah bangunan di atas tanah. Bangunan gedung yang dibangun di atas (panggung). folding plat dan sejenisnya. mulai dari yang masif seperti batu-bata. batako sampai dengan bahan yang ringan seperti papan kayu.. Pondasi struktur utama pada bangunan rumah di atas tanah yang berlantai 1 berupa pondasi dangkal menerus (batu gunung). Struktur kolom dan balok untuk bangunan rumah bisa berupa beton bertulang atau minimal kayu klas kuat II. f. sekali pun tersebar di setiap desa. tapak beton bertulang. Sedangkan pada bangunan gedung dengan jumlah lantai ≥ 2. Dinding luar dan dalam dapat memakai bahan pengisi. Bangunan rumah panggung yang ada umumnya merupakan bangunan lama (sebelum 70-an) yang saat ini jumlahnya terbatas. d.2 TATA LETAK BANGUNAN 1. a. Pada bangunan rumah yang berlantai 2 atau tiga memakai pondasi tapak beton bertulang. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipenya berdasarkan Periode/ Gaya Arsitekturnya. dan Arsitektur lainnya yang ada. Zone 1 dan Zone 3 i. fibercement. Setiap lingkungan dengan luas 4 ha. harus memiliki jalan darurat minimal selebar 3 m sebagai akses penyelamatan 42 . multiplex. Karakter struktur utama pada bangunan tradisional lebih didominasi oleh pemakaian balok kayu dengan sistem struktur rangka portal sederhana. Struktur atap untuk bangunan rumah memakai sistem rangka dengan bahan utama kayu dan penutup atap seng gelombang. Kayu Seumantok. hanya dibolehkan sebagai dinding pengisi di dalam bangunan (tidak berkaitan langsung dengan bagian luar). atau pun deck. Sedangkan bahan-bahan seperti gypsum. e. atau bahan lain yang sejenis seperti metal sheet. Sedangkan untuk bangunan gedung struktur atap terbuat dari bahan baja dengan bahan penutup atap berupa genteng. g. sesek bambu. a. c. Sedangkan untuk bangunan gedung di atas dua lantai memakai pondasi sumuran. dan sejenis. III. ii. h. atau kombinasi dengan bor pile. seperti Kayu Meranti. dan yang sejenis.15. b. dan/atau pada perairan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Untuk lantai bangunan dapat berupa plat lantai beton ataupun dengan lantai papan rangka kayu.

b. Bangunan gedung yang dibangun di atas. Topografi. b. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). fungsi lindung kawasan. arah angin. a. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. 43 . Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Taman Kanak-kanak (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Orientasi matahari. Sumur dapat digunakan bersama. Zone 2 i. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. ii. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab). d. sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum dibagian depan rumah 3. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya a.250 jiwa perlu disediakan fasilitas pendidikan TK. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah. 2. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). harus memiliki jalan darurat diantara bangunannya sebagai akses penyelamatan bagi penghuni ketika terjadi bencana. Setiap lingkungan dengan luas 6 ha. Orientasi Tatanan Permukiman terhadap kaidah Agama. Bangunan boleh ditambah/ diperluas ke arah horisontal dan vertikal hingga mencapai KDB dan KLB yang dipersyaratkan masing-masing daerah.. sebagai tempat bersosialisasi warga. e. Tradisi.bagi penghuni ketika terjadi bencana. Ketersediaan Bangunan Sekolah i. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. c. dan/atau pada lahan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama Timur-Barat untuk menghindari angin kencang Timur-Barat dan agar rumah menghadap kiblat. bentuk jalan.

Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Pertama (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. (8) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah sekolah dasar adalah 2000m2. disamping fasilitas pendidikan TK yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SD. ii. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. SMP/SLTP. (8) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan. Sekolah Dasar (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. SMA/SLTA di dalam area komplek. (7) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok penduduk dan dapat digabung dengan taman/ tempat bermain dan lain-lain sehingga terjadi pengelompokan aktifitas. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah taman kanak-kanak adalah 500m2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1600 jiwa. SMP/SLTP. (6) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/ tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. SMA/SLTA di 44 .(4) Sekolah taman kanak-kanak terdiri dari 2 ruang kelas dan ruang aula yang masing-masing ruang dapat menampung 35-40 murid usia 5-6 tahun. (4) Sekolah Dasar terdiri dari 6 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 40 murid. disamping fasilitas pendidikan TK. yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMP. SD. (7) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan akan tetapi masih tetap berada ditengah-tengah penduduk. (6) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. iii.

Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin 45 . Posyandu (1) Berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anakanak usia balita. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum iv. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah balai pengobatan warga adalah 300 m2. SMA/SLTA di dalam area komplek. Balai Pengobatan Warga (1) Berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyebuhan (currative) tanpa perawatan. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum b. diperlukan fasilitas kesehatan balai pengobatan warga. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga atau sarana hunian/ rumah. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. SMP yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMA. Ketersediaan Bangunan Layanan Kesehatan i. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah posyandu adalah 60 m2.500 jiwa. Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Lanjutan Atas (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. disamping fasilitas pendidikan TK.dalam area komplek. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2.000 meter. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. diperlukan fasilitas kesehatan untuk balita berupa posyandu. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. iii. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. SD.250 jiwa. SMP/SLTP. berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (4) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. ii.

(2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30.000 m2.000 meter. selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya. Tempat Praktek Dokter (1) Merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 5. Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas dan Balai Pengobatan.000 jiwa.500 meter. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.000 jiwa.000 m2. iv. (3) Jarak radius pencapaian 1.(1) Berfungsi sebagai melayani ibu sebelum.000 jiwa. 46 . (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas dan Balai Pengobatan adalah 1. diperlukan fasilitas kesehatan berupa tempat praktek dokter. diperlukan fasilitas kesehatan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin. vi. (5) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha/ apotik.000 jiwa. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin adalah 3. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan adalah 300 m2 (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. v. Puskesmas dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan. pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai 6 tahun. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 4. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30.

baik untuk penyebuhan maupun pencegahan.000 jiwa. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. 47 .500 jiwa. d. Ketersediaan Tempat Ibadah i. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah balai warga adalah 150 m2.vii. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha. c. iv. Gedung Serbaguna/ Karang Taruna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 30. biasanya ada di setiap dusun. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 1.000 m2. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 3.000 m2. Ketersediaan Fasilitas Sosial i. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 2. Gedung Serbaguna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.000 jiwa. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah balai warga adalah 300 m2. diperlukan fasilitas ibadah berupa muesanah. Gedung Bioskop (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.500 m2.000 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. Apotik/ Rumah Obat (1) Berfungsi melayani penduduk dalam pengadaan obatobatan. Muesanah (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C).000m2. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 250 m2. ii. Balai Warga (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 2. diperlukan fasilitas kesehatan berupa apotik/ rumah obat. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 1. ii.000 jiwa (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 500 m2. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah apotik/ rumah obat adalah 250 m2.

000 meter.500 jiwa. iv.(3) Luas lahan minimum untuk sebuah muesanah adalah 100 ii. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid warga. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid kecamatan. v. m2. Ketersediaan Sarana Ekonomi i.000 jiwa. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1.000 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30.400 m2. Masjid Warga (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (5) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. iii. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid lingkungan. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (4) Kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya. Agama Hindu mengikuti adat. Warung 48 . (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga.600 m2.2 m2/ jamaah. e. Agama Budha mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki lembaga masing-masing. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan berdekatan dengan pusat . (3) Kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1. ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 3. Sarana Ibadah Agama Lain (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Agama Katolik mengikuti paroki. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid warga adalah 600 m2.lingkungan. Masjid Kecamatan (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). termasuk ruang ibadah. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 5. Masjid Lingkungan (Gampong) (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter.

000 meter. juga untuk pelayanan jasa perbengkelan. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. unit-unit produksi yang tidak menimbulkan (1) Menjual 49 . iii. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pertokoan adalah 3. (b) Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga. barang kelontong. (c) os keamanan. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 10. wartel dan sebagainya. alat-alat pendidikan. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. pakaian.barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan.000 m2. (e) Mushola/ tempat ibadah. (6) Setiap pertokoan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 6. barang-barang kelontong. gula. Pertokoan (1) Menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel. buah-buahan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. daging. beras. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. ikan. rempah-rempah dapur dan lain-lain. elektronik. (d) Sistem pemadam kebakaran. Pusat Perbelanjaan Lingkungan (1) Menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur. (4) Jarak radius pencapaian adalah 2. tepung. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah warung adalah 100 m2. reparasi. ii. fotocopy dan sebagainya. pakaian.000 jiwa. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan lingkungan dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. iv. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan sub lingkungan dan mudah dicapai. alat rumah tangga serta pelayanan jasa seperti warnet.000 m2.000 jiwa. bahan-bahan pakaian. (c) Pos keamanan. Pusat Perbelanjaan dan Niaga (1) Menjual kebutuhan sehari-hari. teh. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) lingkungan dan mudah dicapai.

iii.000 jiwa. (c) Pos keamanan. bank. v. (e) Mushola/ tempat ibadah. f. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 9.000 meter. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Makam 50 . (3) Lokasinya di jalan utama.500 jiwa. Jalur Hijau (1) Terletak menyebar ditepi jalan lingkungan. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan pusat kegiatan lingkungan (dusun). Taman/ Tempat bermain Lingkungan (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di jalan utama dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. vi. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120.000 m2.000 jiwa. Taman dan Lapangan Olah raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30.000 m2. Ketersediaan Ruang Bermain. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. Taman dan Makam i. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 1. (d) Sistem pemadam kebakaran.000 m2. ii. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan ditengah-tengah kelompok tetangga (lorong). (3) Lokasinya sedapat mungkin berkelompok dengan sarana pendidikan. Olah Raga.250 m2. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 24. industri kecil dan lain-lain.polusi. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 36. iv.000 jiwa. Taman/ tempat bermain (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 2. Taman dan Lapangan Olah Raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. tempat hiburan serta aktifitas niaga lainnya seperti kantor-kantor. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 250 m2.

perdu-perduan. Kawasan ini harus disertai dengan buffer sebagai perlindungan dari tsunami yaitu hutan mangrove kawasan sempadan pantai. sosial. Zone 1 i. b. KDB. ameniti. Diperuntukkan untuk daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. sirkulasi. dan jalan lingkar pulau yang memiliki ketinggian > 3 meter. sarana olah raga. kawasan pemanfaatan terbatas. 10 tahun 2004. sosial. pekarangan. KLB. mau pun estetika. ii. ekonomi. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. (3) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. ekonomi. rekreasi dengan memperhatikan perencanaan kota yang ada. iii. taman kota. Parkir dan ketetapan lainnya. (2) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Untuk perlindungan sungai. ii. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kawasan pantai yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. peresapan air. KDH. dan tanaman lain yang sejenis.000 jiwa dengan standar kapling makam adalah 4 m2 (meliputi 2 m2 untuk makam dan 2 m2 untuk sirkulasi dan ruang terbuka. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum sesuai Qanun Tentang Bagunan Gedung no. ameniti maupun estetika. Bangunan Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau Kawasan di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di lingkungan pemukiman/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. rumput-rumputan dan tanamantanaman hias.3 RUANG TERBUKA A HIJAU 1. Fungsi-fungsi ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan permukiman/ gampong. kelapa. iv. dengan penanaman cemara. a. unsur-unsur estetik.000-12. Berupa kawasan lindung. seperti pepohonan (misalnya Angsana). iii. keamanan. Zone 2 i. Syaratsyarat ini dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk 51 . III. ekonomi maupun estetika.(1) Setiap 10.

sungai. seperti pepohonan. sarana olah raga. ii. Jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. dengan memperhatikan perencanaan kota yang telah ada. rekreasi. pohon-pohon menahun. Ruang Sempadan Bangunan i. KDH. (3) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). c. Parkir dan ketetapan lainnya. peresapan air. (a) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman dan ruang terbuka hijau pekarangan. unsur-unsur estetik. RTHP merupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. perdu-perduan. Keserasian tersebut antara lain 52 . ekonomi maupun estetika. KDB. Zone 3 i. iii.bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. (4) Sebagai ruang transisi. KLB. rumputrumputan. (b) Syarat-syarat ruang terbuka hijau pekarangan dalam setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. v. ruang budidaya. pekarangan. tanah dan permukaan tanah. ekonomi. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/ wilayah/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. ameniti maupun estetika. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum 2. a. hutan produksi. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. (2) Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman. sosial. sirkulasi. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai penanaman vegetasi penyangga berfungsi untuk kepentingan ekologis. dan tanaman hias. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.

Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/ penanaman di atas tanah. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roofgarden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25 luas RTHP. ketentuan teknis. ii. tiang telepon di kedua sisi jalan/ ruas jalan yang dimaksud. iii. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. pagar. Tata Tanaman i. bak sampah dan papan nama bangunan. 53 . c. v. ii. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. b. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. tidak di dalam wadah/ container yang kedap air. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. Hijau Pada Bangunan i. bangunan penunjang seperti pos jaga. dan kebijaksanaan daerah setempat. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. vegetasi besar/ pohon. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. batang dan cabangnya rapuh. iv. Tapak Basement i.mencakup : pagar dan gerbang. ii. ruang sempadan depan bangunan. d. jalur pejalan kaki. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. KDH minimal 10 pada daerah sangat padat/ padat. tiang bendera.

Ruang Sempadan Bangunan termasuk pekarangan. 54 . dan kolam ikan. (3) Taman-taman dan lapangan. (2). Zone 1 i. dll. dll. taman permukiman terbatas. volley.ii. iii. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. volley dan sepak bola. taman dan rekreasi ii. kestabilan tanah/ wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. dari pinggir pantai hingga sejarak minimal 100 m sepanjang pesisir pantai ke arah daratan. iv. Zone 1 (1) Penghijauan di kawasan buffer zone. Untuk lapangan minimal seukuran lapangan volley. Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jenis-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. ii. 3. Zone 2 (1) Pekarangan. (3). seperti bermain bola. Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut diatas. a. air. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Taman-taman dan lapangan. hutan lingkungan. hutan kelapa dan mangrove. bermain anak. termasuk hutan mangrove. makam. taman dan olah raga. Pekarangan rumah penduduk. seperti bermain bola. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. Luas maksimum dan minimum dari jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. Taman dan lapangan berada di setiap satu lingkungan dusun. tambak-tambak. Untuk setiap Zone. (2) Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. kolam peresapan air hujan. taman (2) Tapak Basement (1) Hijau pada Bangunan iii. jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/ gampong adalah sebagai berikut : i. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Di pinggir pantai.Ruang Sempadan Bangunan (4) Tata tanaman. Zone 3 (1).

Hutan mangrove ditanam sepanjang pesisir pantai sebagai penyangga (buffer zone) dengan kedalaman lebih kurang 100 meter ke arah daratan. Dikelilingi ruang terbuka budidaya pertambakan/ pertanian. iii. Zone 3 ii.50% ii. iv. Taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong i. Taman dibuat pada satu lingkungan lorong Ruang terbuka hijau pekarangan dibuat pada setiap persil bangunan rumah pada satu luasan permukiman/ gampong.. RTH taman dibuat dalam satu lingkungan lorong dan di sekitar meunasah. Ruang terbuka hijau ditempatkan di sekitar lokasi yang memiliki aktivitas tinggi dengan luas ruang terbuka terhadap luas gampong lebih kurang 30% . b. iv. Zone 2 i. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong. iii. c.iii. Makam berada di pinggir lingkungan. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong 55 .

Terdapat Zone 1 (1) Terdapat sekurang-kurangnya 1 jalan keluar masuk lingkungan ke arah selatan (2) Lokasi mudah dicapai dari segala penjuru/semua sisi lingkungan. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. kolektor. kolektor. b. Zone 2 dan Zone 3 (1). kolektor. 1. Permukiman (a) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas tetangga dan lingkungannya. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. kolektor. Pintu masuk dan keluar bangunan tidak terhalang oleh ruang lain.4 SIRKULASI. Pintu masuk dan pintu keluar pada bangunan terdapat di dua sisi bangunan yang berbeda dan mudah dicapai dengan jumlah minimal 2 pintu. a. Terdapat sekurang-kurangnya 2 jalan keluar-masuk lingkungan ke arah zona lingkungan tetangganya. serta arahnya terhadap sirkulasi lingkungan. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. dan arahnya terhadap sirkulasi jalan kota/luar lingkungan yang menghubungkannya. ii. b. PERTANDAAN. 1. (2). Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. dan/atau primer ke arah dataran yang lebih tinggi.1 Lokasi pintu masuk dan keluar bangunan. dan jumlahnya. dan/atau primer.3 Pola Sirkulasi Jalan Zone 1 dan Zone 3 (1) Berbentuk pita. Zone 2 (1) Berbentuk pita dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. kolektor. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal.2 Lokasi pintu masuk dan keluar lingkungan permukiman dan jumlahnya. 56 . a. lokal) ke arah Pola sirkulasi jalan berbentuk pita. dan/atau primer.III. berada di bagian depan dan belakang bangunan dan mudah dijangkau. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. lokal) i.4 Fasilitas Parkir i. Lokasi mudah dicapai dari semua sisi lingkungan 1.

2. ruang terbuka hijau. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija.(b) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak diperboleh berada pada badan jalan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. (3) Luas. Jalur jalan kendaraan harus terpisah dengan jalur pedestrian pejalan kaki. Perletakan Sarana Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Sarana keamanan berupa Pos Jaga. 3. Pemisahan Jalan i. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. maka Pos Jaga bisa ditempatkan di salah satu pintu masuk-keluar atau keputusan dari musyawarah gampong. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. berada pada bagian pintu masuk keluar lingkungan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. misalnya bila gampong atau dusun terdapat jalur keluar masuk yang lebih dari satu. pedestrian dan penghijauan. dll. (4) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Bangunan non-rumah tinggal wajib menyediakan area parkir kendaraan yang proporsional terhadap luas lantai bangunan (sesuai standar teknis parkir yang berlaku) (2) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. ditempatkan pada pintu keluar – masuk gampong. memudahkan aksesibilitas. (2) Untuk setiap jalan gang/ lingkungan dilengkapi jalur hijau pada sisi kiri dan kanan bahu jalan. Jalur jalan kendaraan harus dilengkapi dengan jalur hijau : (1) Untuk jalan masuk utama lingkungan kendaraan dua arah dipisahkan dengan median jalur hijau di tengahnya. 4. 57 . ii. penghijauan. Sempadan Jalan (1) Pencahayaan buatan harus ada di sepanjang sempadan jalan dengan jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. ruang terbuka hijau dan sarana umum lainnya. atau tergantung dari bentuk gampongnya. sarana umum lainnya di tiap zone mempunyai persyaratan yang sama yaitu sebagai berikut : i. ii. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. iii.

Sarana Umum Lainnya (1) Dapat memberikan penerangan ruang luar dengan menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. sehingga mudah dioperasikan dan mudah diperbaiki bila terjadi kerusakan. silau visual yang tidak menarik dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. ii. (3) Dalam ruang terbuka hijau. estetika amenity dan komponen promosi. i.pencahayaan buatan harus memperhatikan karakter lingkungan. balai pertemuan. (c) Dapat dicapai dalam waktu paling lama 15 menit. Zone 2 (2) Bentuk (2) 58 . fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. (4) Dalam perletakan pencahayaan buatan harus memperhatikan aspek pengoperasiaan dan pemeliharaan. Ruang Terbuka Hijau (1) Perletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. (2) Harus memperhatikan karakter lingkungan. fungsi dan arsitektur bangunan. sesuai kebutuhan standar jenis ruang terbuka hijau. iii. perkantoran dan bangunan tinggi lainnya dengan struktur yang kokoh dan dapat menampung orang banyak atau berupa bukit dengan lansekap yang baik bisa dijadikan sebagai bangunan penyelamat (b) Pada zona I tinggi lantai > 1. pencahayaan buatan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. dengan radius pelayanan maksimum 2 Km. (5) Pencahayaan buatan harus ada di setiap persimpangan jalan yang dapat memberikan penerangan badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. Bangunan dan Jalur Penyelamat. Bangunan Penyelamat (1) Zone 1 dan Zone 3 (a) Rumah ibadah (Mesjid). (3) Harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. (2) Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan. (3) Perletakkan pencahayaan buatan harus dapat memberikan penerangan pada badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. h.5 meter atau bangunan berkolong/panggung untuk mengatasi pasangnya air.

Tidak diharuskan membangun bangunan penyelamat. (1). ii. Jalur Penyelamat Zone 1 dan Zone 3 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. Zone 2 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. (i) Jalan darurat merupakan jalan terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor yang bebas hambatan, dengan lebar badan jalan minimal 6 meter. (ii) Jalan keluar dari setiap kavling bangunan harus langsung ke jalan lingkungan dan jalan darurat minimal ada 1 buah tidak boleh melewati bangunan tetangganya. (3) Sirkulasi (a) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. (b) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya. (c) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa

(2).

59

elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. i. Pertandaan, dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Perletakan sarana keamanan dan keselamatan lingkungan. Perletakan tanda dan rambu lalu-lintas dan rambu keselamatan lingkungan. i. Penempatan signage, termasuk papan ikian/ reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik. ii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu, kepala daerah dapat mengatur pembatasan-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.

III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN
1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan

a. Setiap kegiatan dalam pembangunan permukiman di Kabupaten Aceh Besar yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diperhitungkan berdasarkan tingkat pembebasan lahan, daya dukung lahan meliputi daya dukung tanah, kapasitas resapan air tanah, tingkat bangunan per hektar, dan lain-lain, tingkat kebutuhan air sehari-hari, limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman, efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia), serta koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien luas bangunan (KLB). b Kewajiban melaksanakan kajian AMDAL tergantung masingmasing tipologi kota. c. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Kegiatan di Kabupaten Aceh Jaya yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut berpengaruh terhadap: i. Jumlah manusia terkena dampak. ii. Luas wilayah persebaran dampak. iii. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. iv. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.

60

v. Sifat kumulatif dampak. vi. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible-nya) dampak. 2. Ketentuan UPL dan UKL 1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 86 Tahun 2002. 2. Dalam UKL dan UPL harus diuraikan informasi mengenai: i. Identitas pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan; ii. Rencana usaha atau kegiatan meliputi nama, lokasi, skala usaha atau kegiatan, garis besar rencana usaha dan atau kegiatan; iii. Dampak lingkungan yang akan terjadi meliputi kegiatan yang menjadi sumber dampak, jenis dan besaran dampak serta hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak yang akan terjadi; iv. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan meliputi langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya menangani kedaan darurat, kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup dan tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan; v. Tanda tangan dan cap usaha dari penanggung jawab usaha atau kegiatan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Persyaratan bangunan i. Untuk mendirikan bangunan di Kabupaten Aceh Besar yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan memproduksi, mengolah bahan mudah meledak dan mudah terbakar, korosif, toksik (beracun), reaktif, dan infeksius dapat diberikan ijin apabila : (1) Merupakan daerah bebas banjir, dan (2) Jarak antara lokasi bangunan dan lokasi fasilitas umum minimal 50 meter. (3) Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/ jalan tol dan 50 meter untuk jalan lainnya; (4) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan;

61

ii.

iii.

iv.

v. vi.

(5) Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawan, mata air dan sumur penduduk; (6) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan lindung dan lain-lainnya). Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 L/detik atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapatkan ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna mengurangi limpasan air, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan saluran drainase tersier dan sekunder yang akan dihubungkan dengan saluran drainase primer untuk dibung ke badan air. Jika muka air tanah rendah maka dapat digunakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan guna menambah cadangan air tanah. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan 2 membangkitkan LHR ≥ 60 SMP per 1000 feet luas lantai, maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran drainase yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lampu lalu lintas. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan dan tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar. iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

62

Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. atau dilarang membangun bangunan. Kegiatan konstruksi yang berpotensi menghasilkan debu harus melakukan penyiraman pada waktu tertentu untuk menghindari penyebaran debu yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Pengelolaan Daerah Bencana a. 63 . dengan memperhatikan keamanan. keselamatan dan kesehatan lingkungan. dengan memperhatikan keamanan. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah harus dilengkapi sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang.vi. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir a. dibatasi. (b) pengangkutan sampah basah dilakukan berdasarkan jenisnya (i) Sampah basah setiap hari atau maksimal setiap dua hari sekali untuk menjamin agar tidak timbul bau dan menjadi sarang penyakit. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir a dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. daerah banjir. dan yang sejenisnya. c. (ii) Sampah kering maksimal setiap tiga hari sekali agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Sarana pengumpulan dan pengolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. c. d. bagi bangunan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. e. (1) Sampah : (a) harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Pembuangan Limbah Cair dan Padat i. keselamatan dan kesehatan. 4. ii. dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. b. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.

c.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN Persyaratan struktur bangunan gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD bertujuan untuk memperkecil resiko kehilangan nyawa apabila keruntuhan struktur akibat pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar terjadi. Perencanaan struktur BG dan RT berdasarkan ketentuan ini tidak berarti mencegah sama sekali terjadinya kerusakan struktur maupun non-struktur apabila suatu gempa terjadi. Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keamanan (safety). harta benda dan masih dapat diperbaiki. Untuk itu struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan. misalnya terjadinya suatu gempa. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. Bangunan rumah tinggal lebih dari 1 lantai dikategorikan sebagai bangunan gedung. Persyaratan struktur ini memberikan kriteria minimal untuk perlindungan jiwa dengan memperkecil kemungkinan terjadinya keruntuhan. 1. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai dengan zona gempanya). STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. kelayanan (serviceability). Sedangkan yang dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis / engineering structures). keawetan (durability) dan ketahanan terhadap kebakaran (fire resistance). Persyaratan Perencanaan Struktur a.IV. b. Persyaratan Bahan 64 . Bangunan rumah tinggal di dalam pelaksanaan pembangunannya bisa dilakukan oleh pemilik dan dianjurkan didampingi oleh orang teknik yang mempunyai keahlian di bidang bangunan. Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar tercapai. Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur (Bangunan non teknis / non engineering structures). dan bebanbeban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur 2.

iii.a. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga pengetesan yang berwenang. ii. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. diusahakan semaksimal mungkin menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan kandungan lokal. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Ketidakteraturan struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari. d. maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. f. bangunan air minum. Persyaratan Detail Struktur Bangunan Gedung dan Rumah Tahan Gempa Persyaratan Lay-Out Bangunan i. a. iv. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. pusat pemadam kebakaran. Kemungkinan terjadinya efek puntir pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya geser tambahan pada unsurunsur vertikal akibat gempa harus diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami setelah suatu gempa terjadi. misalnya rumah sakit. lay-out 65 . pengaruh gempa terhadapnya harus dianalisa secara dinamik. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi secara baik sesudah terjadinya suatu gempa. serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur. c. Untuk bangunan yang tidak beraturan. pusat pembangkit tenaga. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI. e. lay-out bangunan diusahakan sejauh memungkinkan agar sederhana dan simetris. fasilitas radio dan televisi dan bangunan sejenis lainnya. Bahan struktur yang digunakan. b. pusat penyelamatan keadaan darurat. 3. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama terjadinya suatu gempa. Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan.

bangunan harus dibuat sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan sangat minimal. termasuk beban tetap. yang bertujuan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. ii. Semua bagian dari struktur harus diikat bersama. iv. b. Perencanaan bangunan sejenis ini harus mempertimbangkan berbagai faktor akibat penggunaannya sebagai tempat evakuasi. sehingga gaya-gaya dari semua elemen struktur. maka struktur BG dan RT dan semua elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian rupa. sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail. termasuk elemen struktur dan nonstruktur. Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang tsunami. arsitektur dan instalasi mesin dan listrik harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang memadai. c. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian rupa. misalnya pengaturan ruangan dan fasilitas penunjang lainnya serta kemungkinan adanya beban-beban tambahan akibat fungsinya sebagai tempat evakuasi. ii. 2.2. yang diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur pondasi. sehingga berperilaku daktail. Analisa Struktur Analisa Struktur harus dilakukan. IV. gempa) dan beban khusus. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan apabila suatu gempa terjadi. iii. Semua monumen dan bangunan monumental di NAD akan difungsikan juga sebagai tempat evakuasi apabila suatu gempa terjadi. Persyaratan Pendetailan Struktur i. Persyaratan Monumen dan Bangunan Monumental i. Standar Teknis 66 . baik dalam bidang vertikal maupun horisontal. beban sementara (angin. Setiap unsur sekunder. PEMBEBANAN 1. Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang telah direncanakan benar-benar terjadi.

g. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja c. SNI 1726. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. e. SNI2834. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal.3. SNI-1729 b. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. SNI-1728. d. 3. seperti: a. seperti: a. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. c. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. SNI-1734. c. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. f. b. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. SNI 2847. 67 . SNI-3449. SNI 1727. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti a. d. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. intensitas dan cara bekejanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku.4. SNI3430. SNI-3976. IV. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. b. b. SNI2407.Penentuan mengenai jenis. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja d. 2. seperti a. Konstruksi Beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.

Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan Rumah dan Gedung. i. STRUKTUR BAWAH ii. SNI-1735. tata cara. SNI-1745. 1. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. b. SNI-2405. SNI1736. jika D/B < 4 . Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Termitisida.075 mm < ∅ < 2 mm (d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76.4. Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-23V4. antara lain: a.4.2 mm 68 . c. SNI-1963. SNI-2395 f. IV. SNI239'7 h.075mm (c) Pasir (sand) : 0. Definisi i. SNI-2404. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin.002 mm (b) Lanau (silt) : 0. d. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. jika D/B > 10 Jenis Tanah : Lempung (clay) : ∅ < 0. b..002 mm < ∅ < 0. Perencanan Umum a. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Jenis Pondasi : (a) Pondasi dangkal . g. e Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10 (b) Pondasi semi dalam . Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. jika 4 < D/B < 10 (c) Pondasi dalam. 5.

25g .15g .Zona Gempa 5. Sumber : American Association of state Hihgway and Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of Technology (MIT) Gambar 2.Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil.Zona Gempa 3. 0. Differential Settlement Keterangan : L = panjang dasar pondasi dangkal B = lebar atau diameter pondasi D = kedalaman dasar pondasi dari muka tanah ∅ = diameter butiran solid tanah δ = differential settlement s = bentang antar pondasi/ kolom Zonifikasi Gempa : .2. 0. Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung – PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan 69 .30g dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan b. 0. 0.Zona Gempa 4. sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk cohesionless soil. Dimensi dan Material Pondasi Dimensi dan material pondasi tergantung pada : i.20g .Zona Gempa 6. Jenis Pondasi dan Ukurannya Gambar 2.1.

Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing capacity.70 m c. Gempa dan (a) 70 . untuk medium ke atas. Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat nasional dan/atau internasional iii. Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam : (a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and compression pile.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6). kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah dilakukan soil improvement.50 m dan B = 1 m. (c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku Khusus untuk pemancangan tiang pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara. Penentuan Jenis Pondasi : Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi. i. (b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal. Differential settlement antar pondasi tidak boleh terjadi. d. (c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir dibawah pondasi minimum 30 cm. Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) : Pada tanah kohesif : D = 1.Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-17262002 ) ii. (b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan pemberian sejumlah anchor. (b) Pada tanah non kohesif : D = 0. Persyaratan Pondasi i Persyaratan penting pada pondasi dangkal : (a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton sloof. 2. Bila tetap terjadi differential settlement maka besar amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar 0.70 m dan B = 0. (d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing capacity dan kekuatan material pondasi. Settlement Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada disekitarnya.002 – 0.003 setengah bentang bangunan (s).

2.1.a. (Pondasi menerus batu kali) A.1. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi: B.1.a.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : C.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 .b (Tiang Pancang Beton) C. (Mikropile/minipile) atau B.b ( Pondasi menerus beton) A.2.2.1 . Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.30g Jenis Pondasi : A. Mikropile/minipile B.2.1. Batuan i.2.a.b. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : B.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A. (Pondasi setempat beton) a.2.1.a. 71 .2.2.1. (Sumuran/ Caisson) C.1.2. (Tiang Bor Beton) b.a.1.1.(a) (b) (a) (b) Tanah Berkohesi i. (Pondasi menerus batu kali) A. ( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton) c. dengan percepatan maksimum di batuan 0.( Pondasi setempat batu kali) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.a. Tanah Tak Berkohesi i.e.1. (Pondasi menerus batu kali) A.b. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. (Pondasi setempat beton ii.a.b.3. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.a. (Pondasi setempat beton) ii.b ( Pondasi menerus beton ) A. (Tiang Bor Beton) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi C.. (Tiang Bor Beton) B.b( Pondasi menerus beton ) A.

1.ii.( Tiang Baja/ Beton dipancang pada lapisan batu yang sudah dibor kemudian digrouting) 72 .b.a (Tiang Pancang Baja) (b) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi : C.d.1. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi C. (Tiang Pancang Pipa Baja) C.2.

.

Lime Column. clay) : (1) Preloading dan surcharge. (3) Electro consolidation (4) Stone Column (5) Freezing. (6) Dynamic Compaction. (5) Pembekuan air tanah (freezing). Tanah Non Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah non cohesive (sand. i. (7) Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus mengacu pada zona aktif. Biaya Relatif Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya. Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait d. (7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive). ii. Tanah Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah cohesive (silt. (6) Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal. (4) Stone Column. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. (2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose. Jenis Tanah b. Dampak Terhadap Lingkungan e. Metode perbaikan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. Cement column. Kualifikasi Kontraktor c.3. untuk peat lapisan tanah yang diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0. (2) Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain. (3) Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose. (8) Metode pemadatan getar (vibroflotation) (9) Displacement by explosives (10) Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material ke dalam tanah (impregnation) . gravel): (1) Preloading dan surcharge. Untuk tanah swelling yang diganti setebal zona kembang susut. (8) Metode lainnya yang sesuai. Metode Perbaikan Tanah Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah.

dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Membrane yang terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan. (2) Lean concrete atau slush grouting (a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi permukaan batuan. (8) Slope Geometry. Batuan Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah batuan : (1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive. (6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock) Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di atas batuan. beton atau bangunn dari batu. Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada lereng dengan sudut kemiringan yang redah. Consolidation grouting diterapkan pada masa batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan jumlah open joint yang dominan. diletakkan di atas permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke dalam batuan. Lembaran plastik seperti polyethylene. iii. (b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan kemiringan kurang dari 450.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts. rock anchor rock tendon). Bituminous coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari. Ketebalan shotcrete normalnya 2-3 in.Metode lainnya yang sesuai. Perkuatan batuan dapat mengurangi pergerakan struktur atau translasi. dan tidak diterapkan lereng yang curam. Bahan untuk grouting adalah campuran cemen dan pasir. (7) Consolidation grouting Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau kekuatan geser. Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas rendah jika disemprotkan pada permukaan. (5) Resin Coating Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan pelindung untuk batuan. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak batuan. (11) 2 . (3) Plastic Sheeting. (4) Bituminous Coating Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi.

(b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa batuan. 3 . Toe Berms Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh. dengan tidak tutup kemungkinan ada metode baru. Rock Anchor Perlindungan Terhadap Erosi Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang disebabkan proses pelapukan.(9) (10) (11) (12) (13) Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat mengurangi gaya-gaya yang bekerja. caranya dengan shotcrete. Metode lainnya yang sesuai. Dewatering (a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng.

0 0 2 0 1 Lem pung 0 . dan harus dilakukan atau 4 .0. Keselamatan Struktur a.0 2 0 .0 0 1 (D im e n s i o n a t m m ) T a n a h O r g aBnai k u a L e g e n d a : t n • Lem ah • S e d a n g • • P •e n t in g • 0 .2 0 . A 1 2 3 B C D E F G 1 2 H I J K L M N O P Q M e to d e ' P re lo a d in g S o il w e ig h t o n ly W it h ve r t ic a l d ra in s W it h n e t o f D r a i n a g e E le c t r o O s m o s e E le c t r o C o n s o lid a t i o n S t o n e C o lo u m n C e m e n t C o lo u m n F re e z i n g D y n a m i c C o m p a c ti o n C o m p a c t io n o n l y W it h H o riz o n t a l D r a i n a g e E x p lo s ive s V ib r o fl o t a t i o n Im p re g n a t i o n / G ro u t i n g S u b s t it u t io n S h o t c re t e L e a n c o n c re t e P la s t ic s h e e t i n g B it u m in o u s & re s i n c o a t in g G ro u t i n g R o c k re i n fo rc e m e n t • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • • •s / d • • • • • • • s / d• • • • • • • s / d• • • • • • • • • • • • •s / d • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • • s / d • • s / d• • • • • • • • • • • • • •s /d • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s / d • • • • • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • • • • • • K e rik ilP a s ir K a P a rs ir h a lu s n a u s La 10 2 1 0 .0 0 0 2 K u a l ifik a s i W a k tu D a m p a k t e rh a d B p y a a ia K o n t ra k tP e l a k s a nB e rnfu n g s i L i n g k u n g a n R e l a t i f or aa IV.T a b e l. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur d. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan. beban perilaku manusia. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. maupun beban yang diakibatkan perilaku alam b. Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri. c.5 KEANDALAN STRUKTUR Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD harus mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.1 0 . Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. M e t o d e P e r b a ik a n T a n a h J e n is T a n a h No.

dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam. dan atau beban yang diakibatkan 5 . Keruntuhan Struktur a. Apabila hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri. c. 2. Pd T-11-2004-C. b. maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur. b. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi materialnya. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan. d. seperti lingkungan yang korosif.didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. tidak mencukupi untuk memikul beban akibat berat sendiri. kondisinya. d. Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri. maupun bencana lainnya. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya. Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada. Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai. maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih akurat. beban yang didukungnya akibat perilaku manusia. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa. Pemeriksaan dan Perkuatan Bangunan Setelah Adanya Gempa a. Adanya pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi) dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam analisa keandalan. pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa). 3. atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada. c. gempa. sambungan-sambungannya dan besarnya pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul bebannya. beban akibat perilaku manusia. beban akibat perilaku manusia.

dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau ekonomis. 3. ii. Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan. e.perilaku alam (termasuk gempa). Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa No : Pd T-11-2004-C. Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran. dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. Prosedur dan Metoda Demolisi a. mekanikal. b. Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami 6 . metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. Struktur banguan sudah tidak andal.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. Kategori : Pedoman Teknik Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural. b. Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri. mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa. Acuan yang Dipakai a. c. masyarakat dan lingkungan b. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi 2. Prosedur. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan elemen-elemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang disyaratkan IV. dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini. No : Pd T-13-2004-C. Penyusunan prosedur. Perancangan komponen arsitektural. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila : a. metoda dan rencana demolisi struktur harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang sesuai. No : Pd T-12-2004-C. maka perlu diadakan perkuatan struktur. Kategori : Pedoman Teknik.

Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan. kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. f. Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : PtT-02-2000-C. e. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-1729-2002. termasuk beban-beban hidup untuk atap miring. No: Pd T-14-2004-C. terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau. Kategori : Petunjuk Teknik Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali. Kategori : SNI. bukan keharusan. 7 . Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No : SNI 03-2847-1992. gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. Kategori : SNI. Kategori : Petunjuk Teknik. Kategori : SNI. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa. yang pemakaiannya optional. l. j. k. Kategori : SNI. Kategori : SNI. Kategori : SNI. Tata cara ini digunakan untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-struktur bangunan rumah dan gedung Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1727-1989. Kategori : Pedoman Teknik. h. Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-3430-1994. Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989. Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung. Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku. No : SNI 03-1726-2002.d. g. Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. i.

c. antar unit-unit hunian tunggal (hanya berlaku bagi bangunan kelas 2 atau 3. sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. dapat menghindari terjadinya kerusakan pada properti lainnya. sehingga penghuni bangunan mempunyai cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara aman tanpa dihalangi oleh penyebaran api dan asap kebakaran.menghindari penyebaran kebakaran antar bangunan. ukuran setiap kompartemen api. Ketahanan Api dan Stabilitas a. v. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi kebakaran untuk memadamkan api. ii. viii.melindungi manusia dari sakit atau cedera akibat terjadinya kebakaran dalam bangunan maupun pada saat proses penyelamatan. . ketinggian bangunan. vi. sehingga: i. intervensi pasukan pemadam kebakaran. 1.menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. untuk memberikan kesempatan bagi petugas pemadam kebakaran untuk beroperasi. dan atau bagian kelas 4). iii.V. dan 8 . vii. v. cukup waktu untuk keperluan evakuasi penghuni secara aman. intensitas kebakaran. iii. iv. ii. ix. iv. yang sesuai dengan: i. ii. Suatu bangunan harus dilindungi terhadap penyebaran kebakaran: i. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. kedekatan dengan bangunan lain. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama terjadinya kebakaran. . Persyaratan yang lebih detail mengenai sitem proteksi pasif dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. iii. antar bangunan. b. tingkat bahaya api. fungsi atau penggunaan bangunan. beban api.melindungi benda atau barang lainnya terhadap kerusakan fisik akibat keruntuhan struktur bangunan saat terjadi kebakaran.1 SISTEM PROTEKSI PASIF Persyaratan yang tercantum dalam bagian ini bertujuan untuk: . antar kompartemen kebakaran yang berdekatan. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. .

Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. 2. fungsi bangunan. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. ukuran kompartemen. sesuai dengan: i.x. waktu evakuasi ii. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Tipe Konstruksi Tahan Api Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. membatasi berkembangnya asap dan panas. yaitu pada bukaan. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. fungsi atau penggunaan bangunan. 9 . mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. beban api. tingkat bahaya api. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. g. v. dan vi. sampai dengan tingkat tertentu. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. d. atau potensial dapat meledak. e. iv. sambungan konstruksi. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. elemen bangunan lainnya. iii. iii. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. h. sistem proteksi aktif. keruntuhan tersebut dapat dihindari. jumlah. f. yang sesuai dengan: i. Tipe A : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. intensitas kebakaran. iv. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. ii. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api.

4 Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. c. 3.b. Spesifikasi detail ketiga jenis tipe konstruksi diatas dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV pasal 2. Tipe B : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: 10 .

atau Luassan 9a Lantai (kecuali Maksimum 30000 m3 21500 m3 12000 m3 daerah Volume perawatan pasien) i. dan ii.3. i.Tabel 2. agar dapat: i. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.9 5.7. 11 . iv dan v di bawah tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. 6. Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. kecuali seperti yang diijinkan pada butir iv. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. b. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. iii. Kompartemenisasi dan Pemisahan a. 7.8.6. Pemberlakuan. ii. ketentuan pada butir iii. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. Batasan umum luas lantai.7. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.2. Ukuran Maksimum dari Kompartemen Kebakaran Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi Bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 2 2 Klas 5 atau Maksimum 8000 m 5500 m 3000 m2 9b Luassan Lantai Maksimum 48000 m3 33500 m3 18000 m3 Volume Klas Maksimum 5000 m2 3500 m2 2000 m2 6. perambatan api dan asap. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel 2. c. Tabel 2.8 lantai) 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C 4.1 Tipe Konstruksi yang Diwajibkan KETINGGIAN Klas Bangunan (dalam jumlah 2.2 dan butir vi.

atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. e. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir v (1) di bawah yang lebamya tidak kurang dari 18 meter.000 m2 atau 108.ii. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. tanki air. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. iv. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.2 di atas bila: i. atau: ii Bangunan dengan luasan melebihi 18. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. sungai. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2) di atas. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. i. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel 2. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir v (2). Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. atau peralatan lift. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. d.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium.d.000 m3 dengan sistem sprinkler. asap dan gas beracun. 12 . ventilasi. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. ii. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2). iii. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir butir v (2). dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. (2) bangunan klas 5 s. Bagian bangunan. (2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir butir 5. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan.Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api.

(4) di atas maka jalan tersebut dapat berlaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. dan tertutup pada setiap lantai. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. c.d. d. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. ii. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. Tangga dan lift pada satu shaft. shaft ventilasi. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir ii). dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. pemisahan oleh dinding tahan api. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. Proteksi Bukaan a. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. g. b. 5. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. Pada bangunan klas 2 dan 3. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. dan . Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. h. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat 13 . (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi ((1) s.(3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. damper. f. Seluruh bukaan harus dilindungi.

ii.000 mm2. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir 8) di bawah. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. atau (2) 1.dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. maka tidak boleh menempati lebih dari ⅓ luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. bila luas lubang/ sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir (2) di atas. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel 2. iii. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 meter pada dinding yang sama. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. yang bukan dari klas 10. dan ii. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. dan iii. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. e. 14 .3. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. Pemisahan bukaan pada kompartemen kebakaran. g. lubang tirai. sambungan pengendali. f.

Bila diperlukan proteksi. dan terdapat regu pemadam kebakaran. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. a. PUIL. 45o 5m Lebih dari 45o s. Pintu. jendela. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. i. ii. V. 135 3m o o Lebih dari 135 s. American Standard For Testing Material (ASTM). ii.3 Jarak Antara Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran yang Berbeda Sudut terhadap Dinding Jarak Minimal Antara Bukaan 0o (dinding-dinding saling 6m berhadapan) Lebih dari 0o s. 180 2m 180o atau lebih nol h.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.d. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan.d. Hidran Kebakaran i. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-.Tabel 2. Sistem Pemadam Kebakaran dalam Bentuk Sistem Plambing dan Alat Pemadam Ringan. Sistem hidran kebakaran (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku.d. maka jalan masuk. Sistem Pemadam Kebakaran harus memenuhi Kepmen PU no.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). SNI 03-1745. dan 15 . Standar Industri Indonesia (SII). atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2.d. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). 90o 4m o o Lebih dari 90 s. persyaratan dan standarisasi yang berlaku dari National Fire Protection Association (NFPA). 10/KPTS/2000 tentang ketentuan teknis bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.

asalkan ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. tahan cuaca. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari : (a) 2 (dua) pompa. dan jika dalam jarak m dari bangunan. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa.(2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. 7. 16 . atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai kelas bangunannya. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). dan dengan konstruksi yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor bakar. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. di mana: (a) bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. atau (b) bangunan kelas 5. 6. (b) 2(dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh saluran peruntukan bangunan. kecuali pada satuan peruntukan bengunan. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 2 m. atau (b) listrik yang dicatu dari generator darurat. (5) pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang : (a) mempunyai jalur keluar ke jalan atau ruang terbuka. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. (6) untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. atau (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis.

Industri Dan Atau Campuran: Lingkungan tersebut harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tersedia sumber air berupa hidran lingkungan. (11). dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. Hose Reel i. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. di mana satu atau lebih hidran dalam dipasang. (8). Untuk hidran bangunan dengan ukuran selang 1½ inci atau kurang. pada bangunan yang dilengkapi dengan hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran di dalam bangunan. yang dipasang dalam bangunan untuk pemadaman kebakaran oleh penghuni bangunan. maka harus disediakan hidran halaman. (10). panjang selang minimum 30 meter. sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. (2) melayani hanya lantai di mana alat ini ditempatkan. satu unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. kecuali pada satu unit hunian. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. hidran untuk Lingkungan Perumahan. ii. (12). Perdagangan. (9). Sistem hose reel harus disediakan : (1) untuk melayani seluruh bangunan. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. b. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung.(7) bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. sesuai dengan standar SNI 03-1745. serta mampu menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit. sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan. Bila hidran kota tidak tersedia. sehingga setiap rumah dan bangunan dapat dijangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan. (a) pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dilayani oleh hose reel tunggal yang 17 . Sistem hose reel.

7. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). dilayani oleh hose reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat hose reel melayani seluruh unit hunian. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . dan (b) pada bangunan kelas 5. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. (9).2. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . sebuah katup yang memenuhi butir ((5). kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. Pemakaian air asin tidak diizinkan. (4) hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) di atas. ditempatkan: (a) di luar bangunan. (3) memiliki selang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian ruap untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar.5 . (7).ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. dan (c). (8). Sistem Sprinkler 18 . (6) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. (5) Bila dihubungkan dengan meteran air. (10).(d)) di atas harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. 6.0) kg/cm2. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. c. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke hose reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. atau (d) kombinasi (a). maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. yaitu antara (0. (b).

000 m3.lapangan parkir terbuka tidak termasuk. b. SNI-3989.000 m2. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2. 9 dengan luas maksimum 18. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. 2. berlaku: 1.500 m2 2.luas lantai lebih dari 3.000 m2 dan volume 108. panggung lebih dari 200 m2. ii. Ruang parkir. Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis Bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua kelas bangunan: Pada bangunan yang tinggi termasuk lapangan parkir efektifnya terbuka dalam lebih dari 14 m atau jumlah bangunan campuran lantai lebih dari 4 lantai. volume lebih dari 12. Konstruksi Atrium Tiap bangunan ber-atrium Bangunan berukuran besar yang Ukuran kompartemen yang lebih terpisah besar mengikuti: Bangunan Kelas 5 s. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (Kelas 6) Dalam kompartemen kebakaran dengan salah satu ketentuan berikut. berlaku: 1. Semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. luas lantai melebihi 2. Bangunan dengan resiko bahaya Pada kompartemen dengan salah kebakaran amat satu dari tinggi *) 2 (dua) persyaratan berikut.000 m2 dan volume 108.volume ruangan lebih dari 21.000 m3. Ruang Luas panggung dan belakang pertunjukan. kendaraan. Teater.4.000 m3.d.i.000 m3 Bangunan Rumah Sakit Lebih dari 2 (dua) lantai Ruang pertemuan umum. 19 . selain ruang parkir Bila menampung lebih dari 40 terbuka.

dan klasifikasi bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku.0) kg/cm2. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan : setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi internal yang disyaratkan. (4) Pasokan air. atau sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak disyaratkan. ruang pertemuan umum atau semacamnya. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler di daerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. yaitu antara (0. (8).5 .2. jika : (a) sprinkler terpasang di seluruh bangunan. (3) Katup kontrol sprinkler. 20 . (6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper) Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. dan setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinkler diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan.(2) Bangunanan bersprinkler. harus: (a) berdiri sendiri. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. luas bangunan yang disyaratkan menggunakan sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan : sebagian bangunan di pasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. (7) Sistem sprinkler di ruang parkir Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-kelas.

(14). Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . d. jenis pipa yang sering dipakai pada pekerjaan instalasi hidran dan sprinkler harus sesuai dengan spesifikasi teknis. Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali : jaringan kota apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. (10). (11). Pemadam Api Ringan (PAR) i. (13). dan tangki bertekanan sesuai syarat pada SNI3989. PAR memenuhi butir i. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. Ukuran pipa dan perhitungan hidrolik sesuai dengan SNI3989. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang di seluruh bangunan. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu 21 . jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Luas lingkup maksimum disesuaikan dengan tingkat bahaya kebakaran. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi.(9). dan biasanya digunakan pipa baja karbon hitam (black steel pipe) dengan schedule 40. Penempatan kepala sprinkler : didasarkan pada luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan. Pemakaian air asin tidak diizinkan. ii. e. sesuai dengan SNI-3989. Pipa Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. Komponen dari sistem sprinkler:Spesifikasi dan standard pipa harus dari jenis: • Pipa baja : • Pipa baja galbani (pipa putih) • Pipa besi tuang dengan flens • Pipa besi tuang dengan mof • Pipa tembaga dengan standar minimum klas menengah (medium). (12). kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. tangki gravitasi. Schedule 40 (Sch 40) menunjukkan standar kemampuan menahan tekanan kerja sampai dengan 30 kg/cm2.

SK Menteri PU tentang ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. (c) Detektor nyala api : detektor nyala api ultra violet dan detektor nyala api infra merah. PUIL 2000. terdiri dari : fixed temperature detector. Petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat detektor dan panel. (1) Beberapa jenis detektor yang dapat digunakan meliputi : (a) Detektor panas. dipasang pada bagian terdekat di atas kemungkinan timbul kebocoran gas. temperature range. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. dengan persyaratan khusus bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yangdigunakan sebagai : (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. khusus untuk pemasangan detektor gas. 2. b. meliputi : merk detektor. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. detektor kombinasi. anak-anak atau orang cacat. dan detektor asap ionisasi. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: bangunan klas 1b bangunan klas 2. arus listrik (stand-by current). tegangan operasi. (d) Detektor gas. Spesifikasi Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran i. (2) Detektor yang akan dipakai harus memenuhi spesifikasi teknis pada dokumen kontrak. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. harus diperhatikan perbedaan berat gas dengan udara sebagai berikut : untuk jenis gas lebih berat dari udara jarak maksimum mendatar adalah 4 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan tinggi maksimum dari lantai adalah 30 cm. sedangkan jenis gas lebih ringan dari udara jarak maksimum mendatar adalah 8 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan jarak maksimum dari langit-langit adalah 30 cm. rate-of-rise detector. (b) Detektor asap. dan sensitivitas.dipasang di dalam bangunan atau bagian yang dilayani oleh Hose Reel. SNI3985 dan SNI 03-3986-edisi terakhir mengenai Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis. 22 . bila terdapat balok dengan tinggi lebih dari 60 cm. dan (2) PAR dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. kelembaban relatif. terdiri dari : detektor asap optik. Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (SKBI) yang dikeluarkan oleh Departemen PU. dan bangunan klas 9a.

(3) Jenis kabel yang lazim dipakai adalah kabel NYM 2 x 1. ii. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara.3 (mengenai Pencahayaan Darurat. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan pada bab 2. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menggunakan dan memasang alarm kebakaran adalah : (1) Bunyi dan irama yang khas hingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran (2) Frekuensi kerja alarm 500 . dipasang dalam konduit PVC tipe “High Impact” dan fire reterdant.4. bila dipecahkan tidak membahayakan (3) Disediakan alat pemukul kaca (4) Berwarna merah (5) Mudah dicapai dan terlihat jelas (6) Dihubungkan dengan kelompok detektor (zone) yang meliputi daerah di mana titik panggil manual tersebut dipasang.5 mm2.1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara minimal 65 dB (A) (3) Lebih tinggi minimal 5 ddB (A) tingkat kekerasan suaranya pada ruangan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (4) Di ruang tidur. (7) Dipasang pada lintasan menuju keluar dengan ketinggian 1. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan di setiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. dan Sistem Peringatan Bahaya). (8) Tidak mudah terkena gangguan (9) Pada jalur arah lari yang normal ke bangunan (10) Terpasang di setiap lantai pada bangunan bertingkat (11) Setiap titik panggil manual dapat melayani luas maksimal 900 cm2 iv. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan. iii.4 m dari lantai. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam memasang titik panggil manual (break glass) adalah : (1) Modol tombol tekan (2) Dilengkapi dengan kaca. Tanda Arah Keluar. tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB (A) (5) Sifat irama alarm tidak menimbulkan kepanikan (6) Pada tempat-tempat khusus (misalnya : perawatan orang tuli dan sejenisnya) dipasang alarm visual (7) Terpasang pada lokasi panel kontrol dan panel bantu (8) Dapat menjangkau bagian ruangan dalam bangunan 23 . Kabel harus memenuhi persyaratan PUIL 2000.

.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µ m. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.5 Lihat gambar 2.(9) Dapat digunakan pula sebagai penuntun arah masuk bagi anggota kebakaran dari luar.5% smoke obscuration/m.3 B.5 m Jarak Detektor A.5 Jarak Pemasangan Detektor Detektor Detektor Detektor Panas Asap Gas ≥ 300 mm ≥ 100 mm ≥ 100 mm dari dinding dari dinding dari dinding ≤ 300 mm ≤ 300 mm dari langitdari langit≤ 300 mm langit langit dari langitlangit ≤ 7 m untuk ≤ 12 m untuk ≤ 12 m ruang efektif ruang efektif ≥ 10 m untuk ≤ 18 m untuk sirkulasi ruang sirkulasi ≥ 1. v. Tabel 2. E. Dengan dinding dan langit-langit.6 Lihat gambar <1. Dengan lubang udara balik AC (return air grille).4 Lihat gambar 2.5 m <1. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi.5 m 900 mm secara 900 mm secara 900 mm secara 24 .5 m <1. Ket Lihat gambar 2.5 m ≥ 1. (2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. Antar detektor pada langitlangit rata C. Antar detektor Lihat gambar 2.5 m ≥ 1. (1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. D. dan (4) dipilih tipe foto-elektrik. (3) ditempatkan kurang dari 1. Penempatan Alat Pendeteksi Asap Pemasangan sistem deteksi disesuaikan dengan buku “Panduan Pemasangan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang diterbitkan oleh Departemen PU. Dengan lubang udara masuk AC (supply air diffuser).

horizontal dari puncak atap tertinggi.4. 2. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu lintas atau sirkulasi dalam bangunan.8 bentuk atap pelana. puncak atap dari gambar pada atap puncak 2.7 F. Gambar 2. catatan : 1.3. Jarak detektor pada langit-langit rata 25 .pada atap bentuk gergaji. horizontal dari puncak atap tertinggi horizontal dari puncak atap tertinggi 2. Dari 100 mm dari 900 mm dari 900 mm Lihat puncak atap puncak atap. Jarak detektor dengan dinding dan langit-langit Gambar 2. Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktifitas yang sesuai dengan fungsi bangunan.

6.5. Jarak detektor dengan lubang udara masuk AC Gambar 2. Pemasangan detektor pada atap bentuk gergaji 26 . Jarak detektor dengan lubang udara balik AC Gambar 2.7.Gambar 2.

2 m 84 4.restoran R.0 ~ 3.4 m 40 8.8.0 m 100 1.7 Contoh Pemilihan Jenis Detektor Sesuai Fungsi Ruangan Fixed RoR & Asap Nyala Api Gas Temperature kombinasi RoR~fixed temperature Dapur .0 ~ 6.4 m 71 5.6 Fakor Pengali Jarak Detektor.2 m 52 7.2 ~ 4. Ketinggian langit.Faktor pengali langit (%) 0.0 m 64 6.6 ~ 4. transformato r/ diesel 27 .garasi mobil .6 ~ 7.4 ~ 9.8 ~ 8. Tabel 2.Gambar 2. perjamuan .0 ~ 3.6 m 91 3. Peralatan bangunan -Gudang material yang R.4 ~ 6.8 m 77 4.6 m 58 6.R. Tabel berikut menunjukkan contoh pemilihan jenis detektor yang disesuaikan dengan fungsi ruangan. Tabel 2. Pemasangan detektor pada atap pelana Catatan : jarak antara detektor menyesuaikan dengan tinggi langit-langit ruang efektif seperti pada tabel berikut.0 m 34 Penempatan detektor harus sesuai dengan fungsi ruangan. Jarak detektor = ketinggian langit-langit x faktor pengali.8 ~ 5.8 m 46 7.2 ~ 7.

Lobby . Pemasangan..R. pompa . yaitu: (a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung.R. dan (b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.Koridor . (2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yag berlaku.Tangga .Ruang yang terbakar berisi bahan Ruang yang mudah kontrol menimbulka instalasi n gas yang peralata mudah n vital terbakar Gambar 2. lift .Shaft Perpustakaa n . AC .kamar tidur Ruang generator & transformator Laboratorium kimia . tamu .R. mesin . dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis.Studio televisi R. Batas Ambang (1) Sistem sampling harus memenuhi ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan.9.R. PABX . 28 .R.Gudang mudah .R.ruang sidang .Aula .. resepsionis . Penempatan detektor pada langit-langit yang terbagi oleh balokbalok vi.

ruang kompartemen sanitasi. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. Pengendalian Asap Kebakaran a. iv. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. dan sejenisnya) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. atau ketentuan pada butir b. pada saat terjadi kebakaran.. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel 2. Persyaratan umum i. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengndalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada table 2. terminal udara. ramp. dan ii. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi (Bangunan Penyimpanan : gudang. rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakuasi/penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/jalan keluar.3. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. termasuk di dalam satuan rumah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. dan iii. terminal bus.10 m di atas level lantai. ruang tanaman atau sejenisnya. atau ketentuan pada butir b. dan tidak 29 . atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. pelabuhan laut) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap. bangunan klas 1 (bangunan hunian biasa) atau 10 (bangunan / struktur yang bukan hunian). ii. halte bus. iii. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2.. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka b.5. dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. gedung tempat parkir.8. perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran : (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v (Bangunan Terminal : stasiun kereta. untuk selama tengang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan.

setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. asap di antara kompartemen Untuk keperluan ketentuan ini.mensirkulasikan kebakaran. 30 .

dan 2. dan 8b. atau c. lebih dari 2 lantai di bawah tanah. 7. Bila panjang koridor umum > 40 m.1. Harus dilengkapi dengan alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem presurisasi otomatis. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. Sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. kecuali bahan pelapis dari bahan yang tidak mudah terbakar. bangunan kelas 9a yang lebih dari 2 lantai. atau d.8.Tabel 2. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Kelas 2. 3. 7 (bukan tempat parkir terbuka). 8. atau b. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. maka: a. 6. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomatis. atau 2. setiap lantai di atas tinggi efektif 25m. atau b. Jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka. 6. atau 9b. Kelas 5. 2. 8. harus dibagi dengan interval < 40 m dengan konstruksi sesuai ketentuan V. dan 2. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 6. 3.3 BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF > 25 M Kelas 2. dan 9b Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap (selain ruang / tempat terzona sesuai ketentuan yang berlaku.3. atrium. KETENTUAN UMUM KELAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk : 1. dan 4 1. dan 4 1. harus dilengkapi dengan: 31 . Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Kelas 5. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. harus dilengkapi dengan : 1. Persyaratan Pengendalian Asap Kebakaran 1. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir VI. 8. 7 (bukan tempat parkir terbuka). termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. parkir) Kelas 9a 1. dan 2.

Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. bila basement mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. atau 3. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. Kelas 6. Kelas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > parkir) 3 lantai.b. Sistem presurisasi udara otomatis. 6. 6.i. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. atau ii. termasuk jalan penghubung dan rampnya. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan.a. 32 . Kelas 5. 7. harus dipasang: a. Basement dengan luas > 2000 m2. Kelas 5 atau 9b (sekolah) b. 8. 7. 8. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis 4. maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau 9b. Sistem sprinkler BASEMENT (selain ruang 1. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. Sistem pengendali asap terzona. atau 3. atau 9b (selain sekolah). Bila > 2 lapis di bawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Bila bangunan > 2 lantai. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Sistem sprinkler b. Sistem sesuai butir 2. maka : a. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 2. 8. Sistem detektor dan alarm asap. Sistem sprinkler Kelas 9a 1. atau 2. harus dipasang: 1. atau b. Kelas 6. Sistem pengendali asap terzona. harus / tempat parkir) dilengkapi dengan: a. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis iii. dan 2. atau ii. atau b. bila bangunan mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. dan 9b Pada bangunan : (selain ruang / tempat 1. di atas harus dipasang. Sistem pengendali asap terzona. 7. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau 2. 3. 8. sistem sprinkler 3.

Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3500 m2. atau digunakan dalam bangunan d. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. KETENTUAN KHUSUS KELAS / BAGIAN PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN BANGUNAN Kelas 6. dipasang lubanglubang centilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. sistem peringatan kondisi darurat. kecuali yang 2 Kebakaran > 2000 m . ditetapkan pada butir 2. karakter khusus bangunan b. Sistem pembuangan asap otomatis. Kompartemen 1. atau ii. bila: a. yang membuka ke arah selasar terlindung. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen kebakaran Ruang / tempat parkir. sistem deteksi dan alarm kebakaran. toko dengan luas > 1000 m2 Kebakaran > 2000 m2. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api. harus 33 . Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikut iketentuan 1. Selasar terlindung. dan 2. Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler.Ruang / tempat parkir Atrium 2. Kelas 6. Bangunan 1 lantai. Bila bangunan 1 lantai. dan: i. Luas bangunan < 2000 m2. dan terdapat selasar toko (selain pada ketentuan 3) yang tidak terlindung melayani > 1 membuka ke arah selasar terlindung. Bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat kelas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/ penggunaa yang banyak. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan : a. termasuk ruang parkir bawah tanah. Kompartemen 1. Bangunan 2 lantai atau kurang. dipasang sistem sprinkler 2. atau toko b. harus dilengkapi Tidak terdapat selasar dengan : terlindung melayani > 1 a. dipajang. atau c. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. fungsi khusus bangunan c. sistem inter komunikasi darurat. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. Setiap kompartemen mebakaran. yang dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanis sesuai ketetentuan: 1. dan b.

atau iii. 4. 3. Sistem sprinkler. atau b. Bangunan Pertemuan dilengkapi dengan: a. Sistem pembuang asap otomatis. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. Bangunan klab malam. dengan luas > 300 m2. atau lubang-lubang ventialsi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. dengan luas > 200 m2. dan c. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. bila: a. Sistem pembangunan asap otomatis. atau 2. harus dilengkapi dengan: i. Sistem pembuang asap otomatis. atau sistem sprinkler. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. gereja. Sistem pembuang asap otomatis. Sistem pembuangan asap otomatis. bila bangunan 1 lantai. Bangunan theater atau tempat pertemuan / hall umum: a. dan b. i. luas lantai < 2000 m2. harus dilengkapi dengan: a. bila bangunan 1 lantai. di atas. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.a. dipasang sistem sprinkler dan: i. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. termasuk theater kuliah dan komplek 34 . dan sejenisnya. gereja. Bila luas bangunan 2000 ~ 3500 m2. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3500 m2 dan bangunan 2 lantai atau kurang.toko Kelas 9b. Idem 1. atau ii. Bila bangunan 1 lantai. Bila luas bangunan > 3500 m2. Bangunan pameran. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. harus dilengkapi dengan: a. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. Pada bangunan sekolah. dipasang sistem sprinkler. atau ii. bila bangunan 1 lantai. dan b. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen tidak harus mengikuti ketentuan 1. atau b. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. 2. Bukan pada bangunan sekolah. atau ii. 1. 3. dan b. diskotek.

ruang senam. 35 . Untuk sistem pengatur udara lainnya. atau sistem sprinkler. Sistem pembuang asap otomatis. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memnuhi ketentuan standar yang berlaku.8 pada lampiran persyaratan kerja teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. v. iii. kolam renang dan sejenisnya) selain dari gedung olah raga (indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1000. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. Masjid. d. atau iii. Bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. vi. Selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2000 m2: i. sifat penggunaan bangunan.auditorium: a. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap kelas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. ii. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau ii. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel 2. c. 6. Kompleks olahraga (termask hall olah raga. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. b. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seeprti butir 4. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a di atas adalah: i. i. Gereja. Bangunan pertemuan lainnya (di luar butir 3 dan 4 di atas): a. bila bangunan 1 lantai. Persyaratan Untuk Bahaya Khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: tata letak bangunan. dan b. dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. ii. di atas. sifat dan jumlah bahan yang disimpan.b.

dilengkapi sarana alat pengendali. (Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran –Sistem Proteksi Pasif –Proteksi Bukaan) d. tidak boleh lewat ruang tersebut. sebuah ruang untuk pengendali dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penangangan kondisi darurat lainnya.1. Pintu Keluar i. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. Pusat Pengendali Kebakaran a. pipa. seperti pada lantai. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari 2 (dua) arah: arah pintu masuk di depan bangunan. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokokhan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yangt dilindungi terhadap api. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. konstruksi penutunya dari beton. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. tidak digunakan bagi keperluan lain. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. Konstruksi Ruang Pusat Pengendali Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. Proteksi Pada Bukaan. di mana: i. ii. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. untuk jendela. iii. pembungkus atau sejenisnya. saluran. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bgi penghuni bangunan b. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaaan pada bab 2. saluran udara. c.1) 4. bukaan pada dinding. harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. panel kontrol. iv. pinu. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut ii. e. bahan lapis dan penutup. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. telepon. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. ventilasi. ii. alngit-langit dan dinding dalam. Ukuran dan Sarana 36 . iii. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya ruang pengendali. meubel.2. dan sejenisnya. peralatan utilitas.

sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali.50 m2. (3) jika dipasang peralatan tambahan. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangungan. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang 1. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. sistem pengamatan. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m2 dari luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. 37 . dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. f. genset darurat. kipas pengendali asap. ii. Sebagai tambahan. dan (2) sistem keamanan bangunan. panel indikator lift. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (2) jika hanya menampung peralatan minimum. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara per-jamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. (3) sebuah papan tulis dan sebuah papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. ii. iii. dan sistem manajemen. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1) Panel indikator kebakaran. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. (4) mempunyai kipas. (2) telepon sambungan langsung.50 m.i.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) di atas. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). sakelar pengendali jarak jauh untuk gas dan catu daya listrik. saklear kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. dan: (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. Ventilasi dan pemasok daya. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat.

Pemeriksaan Pemeriksaan sistem pemadam kebakaran bertujuan untuk memastikan instalasi dan pemasangan telah dilakukan dengan benar. vi. ii. h. Beberapa hal yang harus diperiksa meliputi: Bahan dan material yang datang (check material on site). Pilar hidran. ii. Pengujian Pengujian terdiri dari . Head sprinkler telah dipasang dengan jumlah sesuai pada gambar kerja. viii. iv. PAR (Fire Extinguisher) (1) Jumlah PAR. v. material yang dipakai serta instalasi pemasangan sesuai dengan standar peraturan dan syarat-syarat yang berlaku. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat dicapai dari ruang pengendali tersebut. Hasil pemeriksaan dicatat pada daftar simak (check list) terlampir. vii. pompa pengendali sprinkler. Siamese connection. Pemeriksaan terdiri dari urutan dan metode pelaksanaan. 38 . Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketuka kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dBA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan di dalam bangunan. (5) Segel PAR. (4) Jenis PAR sesuai kegunaan ruangan. iii. g. (3) Pemasangan sesuai syarat yang ada. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. (2) Posisi sesuai dengan gambar kerja. Flow switch dengan membuka drain valve alarm kebakaran pada MCPFA lokal alarm harus aktif.(5) mempunyai catu daya lisatrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. Instalasi pipa sprinkler dan hidran. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan bantuannya. Kotak hidran dan perlengkapannya. iii. Pemeriksaan. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Pemadam Kebakaran a. 5. Beberapa peralatan seperti motor bakar. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. b. i. Tes head sprinkler secara acak (sample) pada satu atau beberapa titik head sprinkler dengan cara memanasi hingga i. i. (6) Kelengkapan kartu periksa berkala. Tes tekan parsial instalasi pipa sprinkler dan hidran sebesar 2 x tekanan kerja atau sesuai spesifikasi. dan tingkat iluminasi di atas meja kerja tak kurang dari 400 Lux.

besar tahanan harus ≥ 1 MΩ. Pompa-pompa kebakaran : dilakukan pengujian terhadap karakteristik dan penampilan pada masing-masing pompa. Tes hubung (loop test) menggunakan multi tester. iii. Pemeriksaan. (6) Pelatihan/training untuk calon operator. Hasil pengujian juga dicatat pada daftar simak. ii. v. dan tekanan air harus memenuhi persyaratan. Pengujian fasilitas untuk memantau sistem komunikasi dan komponen serta lampu-lampu tanda pada MCFPA. (4) Buku normal dari masing-masing komponen. Penggunaan bahan. (5) Buku catatan untuk mencatat kejadian atau kerusakan pada sistem.mencapai temperatur pecah. iv. vi. Detektor-detektor yang bekerja harus diikuti dengan indikasi pada MCFPA. b. Hasil pengukuran harus melebihi atau sama dengan standar yang telah ditentukan. Berdasarkan buku “Pedoman Pemasangan Sistem Deteksi Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang dikeluarkan oleh Departemen PU. Tegangan catu daya cadangan (emergency power supply) harus secara otomatis mengambil pencatuan daya untuk sistem bila sumber catu daya utama padam. 6. dll. Setelah pengujian dilakukan dan instalasi/ sistem dapat berfungsi dengan baik. iii. 39 . (3) Petunjuk pemeliharaan sistem. Pengujian i. Besarnya tekanan air yang keluar harus memenuhi persyaratan. Tujuan pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa pada isntalasi kabel yang telah dikerjakan tidak terdapat hubung singkat (short circuir) yang disebabkan kabel cacat atau terkupas dari isolasinya. Pelaksanaan pemasangan instalasi. Ketentuan lain yang harus diperiksa adalah : (1) Gambar pemasangan sistem (shop drawing) (2) Petunjuk cara kerja dan pelayanan sistem. ii. Hose reel dan nozzle pada kotak hidran : dilakukan pengujian terhadap kelancaran aliran air. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. Bila head sprinkler pecah alram kebakaran harus aktif. maka pemeriksaan dan pengujian selanjutnya harus dilakukan bersama pihak instansi pemerintah setempat untuk mendapatkan Izin Penggunaan Bangunan dari pemerintah setempat. v. Tujuan test ini adalah untuk mengukur tahanan isolasi kabel yang digunakan. Metoda kerja. Pemeriksaan i. iv. Tes tahanan isolasi kabel (megger test) menggunakan mega ohmeter atau megger.

40 .

nyaman.3 atau 4. dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. iii. kecuali tangga/ ramp di luar bangunan. dan tekanan orang pada penghalang tersebut.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. d. ii. Fungsi a. Akses ke dan dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar. dan memadai bagi semua orang. 41 . maka bangunan harus mempunyai antara lain : i. Butir 3) tersebut tidak berlaku juga untuk : i. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ ramp. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1 m atau lebih dari lantai/atap/ melalui bukaan pada dinding luar bangunan.VI. tangga/ ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. e. nyaman dan memadai. Fungsi tersebut pada butir 2) di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. b. ii. Butir 3) tersebut di atas tidak beriaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. c. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. (3) Lantai hordes yang memadai untuk menghindari keletihan. iii. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. harus dibuatkan penghalang yang : i menerus sepanjang area yang berbahaya. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai/atap. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelematkan diri dengan aman tanpa merasakan keadaan darurat. aman. (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. mampu menjaga lintasan anak-anak. iv. Persyaratan kinerja : a. c. 2. b. injakan dan akhiran injakan tangga. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan.

Butir h. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. Bangunan klas 9 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada : i. Jumlah. ii. Fungsi bangunan iv. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. f. c. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. sesuai dengan : i. d. 42 . KETENTUAN JALAN KELUAR 1.d. Fungsi bangunan iv. ramp. b. tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Tangga. atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m.bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. Persyaratan Keamanan a. mobilitas dan karakter penghuni. Tangga. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. dimensi jalur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan : i. Tinggi bangunan g. iii. VI. Jarak tempuh ii. kecuali : i. lantai. 8 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebin dari 25 m. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Jumlah. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. b. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. mobilitas dan karakter lain dari penghuni ii. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan : i. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. balkon. balustrade atau penghalang lainnya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh. Basement : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Kebutuhan Jalan Keluar a. c. dan ii. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. Intervensi pasukan pemadam kebakaran h.2. 3 dan 4. Fungsi bangunan iii.5 m. disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Bangunan klas 2 s. 2. Jumlah. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6.

1 jalan keluar. Bangunan klas 5 s. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. 43 . f. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke : i. c. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. ii. biia bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. atau ii. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. iii. e. selain area perawatan pasien. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. iii. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. iv. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. masing-masing merupakan bagian jalur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: a. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. Area perawatan pasien : Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Bangunan klas 2 dan 3 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. Bangunan klas 2 dan 3 i.setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. ii. pada bangunan klas 9a : tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. Jarak jalur menuju pintu keluar a. v. 3. atau b.d. Pintu masuk dan setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari : (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. sedikitnya 2 jalan keluar. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. 4. Panggung terbuka : Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. g.

bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. ramp. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif.ii. e. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. tersebut merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus : a. ii. b. memiiki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya tertindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. Bangunan klas 5 s. 45 m pada bangunan klas 9a. lobby. Jarak meksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. jarak ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. 6. atau ii. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Bagian bangunan klas 4 : Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. atau ruang sikulasi lainnya. i. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih dari 20 m dari pintu keluar. atau iii. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 intu keluar tersedia. 9 : Terkena aturan butir d. d. dan ii. Dimensi/ukuran Pintu Keluar Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar : 44 . untuk bangunan lainnya. b. berjarak tidak lebih dari : 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. 60 m. berjarak tidak kurang dari 9 m. konstruksi ruang tersebut bebas asap. i. dan ii. d. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. f dan : i. Panggung Terbuka : jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbukua harus tidak lebih dari 60 m. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. bila : i. Gedung Pertemuan : Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. f. c. Pada bangunan klas 5 atau 6. e. c. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. 5.d. Bangunan klas 9a : Area perawatan paien pada bangunan klas 9a. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m.

bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. lebar pintu keluar: i. ii. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. kecuali kalau pintu tersebut dari : i. Lebar bebas.2 m : 1200 mm. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. i.8 m pada lorong. g. atau ii. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. e. b. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : i. b. pada area perawatan pasien. 7.2 m : 1070 mm. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. jika membuka ke arah koridor dengan: (1) lebar koridor antara 1. (2) lebar koridor lebih dari 2. atau ii. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir 2). koridor. pada kasus lain. hall atau yang sejenisnya. komponen sanitasi.8 m pada lorong. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. 750 mm. lebar bebas. lebar bebas. 1m. d. f.a. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi : i. 3). iii. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. (3) pintu keluar horisontal : 1250 mm. atau ii. tinggi bebas seluruhnya harus tidak'kurang dari 2 m. ruang transisi atau yang sejenisnya. iv. lorong. 1.2. lobby umum. 1. 4). Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung. c. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. Jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. a. lebar bebas.8 m . atau melewati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut : 45 . atau 5) minus 250 mm. ii.

termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m.i. e. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. Pada bangunan klas 2. jarak antara pintu ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melampaui : 46 . pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang beriaku. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan. yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. dan memenuhi ketentuan teknis yang beriaku. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar.3 harus tersedia. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka ke area tertutup yang : (a) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. 8. ii.2. Bagian dinding tersebut harus mempunyai : i.I. ii bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. dengan injakan dan tanjakan tangga dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan. membuka ke pintu keluar yang di'solasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud : i. (d) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dari 6 m. atau ii. Jika lebih dari dua akses pintu. parkir kendaraan atau sejenisnya.5 Kepmen 441/98 d. menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus memputivai jelan lintasan menerus. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. (2) lintasan tanpa rintangan. (c) mempunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. b. (b) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. Tangga/ramp. c. Bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. ke tempat: (1) ruang atau lantai. 9. TKA sedikitnya 60/60/60. tidak lebih dari 20 m. 3 atau 4. Lintasan Melalui Tangga/ Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. ke jalan atau ruang terbuka. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud.

40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar. Pada bangunan kafs 5 s. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. ii. menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka.4. 3 atau 9a. c. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i. e. bila arah tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.2. Pada bangunan klas 5 s. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. c. atau mana yang lebih lebar. bebas asap. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat ketuar menuju ke jalan atau ruang terbuka melaiui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. jalur lintasan menuju ke jalan hams : i. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran dalam bangunan. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dari 1 m. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka . d.d 8 atau 9b. 30 m dari salab satu dari dua pintu atau lorong keluar. Pintu keluar harus tidak terhalang. 20 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 47 . b. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. atau ii.d. ii kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju kejalan atau ruang terbuka atau ii. Jika pintu keluar yang disyaratkan menujju ke ruang terbuka. atau tidak setinggi 1:14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab Vl. 9. tangga/ ramp ysng tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari i. Pada bangunan klas 2. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terietak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya.i. Pada bangunan klas 2 atau 3. dan bila periu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau ii. tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. 10. arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah f.

pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. atau ii. dan ii. b. 48 . bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. Pintu Keluar Horisontal a. 11. e. Pada bangunan klas 9a. b. dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. iii. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal. Ramp Atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. 2 lantai. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila : i. c. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama.1. antara unit hunian tunggal. dan eskalator. pada area parkir kendaraan atau atrium. ii. 0. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. di luar bangunan. Tangga. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantsi yang dipisahkan oleh dinding tahan api. bangunan SD atau SLTP. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai.2.C. Kasus selain butir b di atas. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. d. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini. ii. tidak harus menghubungkan lebih dari : i. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dari 500 orang.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. ramp atau eskalator tersebut pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. Pada bangunan klas 9b.d. dan satu dari lapis lantai tersebut terietak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. iv. dengan tidak kurang dari : i.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. c. 12. 3 lantai. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. 2.

ii. 14. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. lobby dan yang sejenis.2 sesuai jenis penghunian. ramp. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. tidak lebih dari 100 m2. 49 . mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. 7. iii. 6. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. service duct dan yang sejenis. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. Bila ruang peralatan atau ruang. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. 8 atau 9. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. 13. tangga. kecuali bila diijinkan sesuai butir ii) atau iii) di atas. b. bila: i. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. ii. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2.d. tata letak lantai tersebut. eskalator. dan ii. lift. motor lif mempunyai luasan i. hall. atau b. atau c. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. Peralatan dan Ruang Motor Lift Ruang a. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. dan luas lantai dengan: a. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. koridor.

r. 3. tunggu r.5 1 4 2 30 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. r. peragaan. r. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. tempat cuci Perpustakaan : . SLTP Pertokoan. level lainnya r. listrik. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD . r.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. prosesing . kerja. baca.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . dari material tidak mudah terbakar. motel. laboratorium.3 4 1 2 15 25 10 1 0. guesthouse Stadion indoor area Kios Dapur. bila terjadi kerusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : . ruang pamer.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan m2/or Jenis Penggunaan ang Galeri seni. penyimpanan .r. manufaktur. penjualan: Level langsung dari luar.3 1 30 1. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 50 . b. museum Bar. café.staf pemeliharaan . sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: .mall. pamer : r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. hostel. gereja.r. workshop .Proses manufaktur pabrik m2/or ang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 3 5 5 0.ventilasi. 2. elktrikal.r penyimpanan VI. arcade Panggung penonton: daerah panggung kursi penonton R. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. .boiler/sumbe tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r.Tabel VI. dll .

Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. atau dengan konstruksi: a. harus tidak ada hubungan langsung antara i. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. atau ke bagian bawah langitlangit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit.2. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. di mana: i. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon 6.setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. iii . luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. mempunyai TKA minimal 60/60/-. beton bertulang atau beton prestressed. maka harus: a. b.7 harus: a. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. d. dan ii. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. c. b. baja dengan tebal minimal 6 mm c. kayu: i. terbentang antar balok lantai. ii. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam 51 . Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. b. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. 7. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. 5. di setiap bukaan dari area hunian. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. dan: a. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. mempunyai luas minimal 6 m2.

dan (3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. iv. seperti pegangan rambat (handrail). Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan.pedoman ini. tidak harus disediakan dari tangga. b. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. kecuali: i. 10. dan sejenisnya. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. 8. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. gang. Ramp Pejalan Kaki a. Lebar Tangga a. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. bebas halangan. kecuali untuk list langit-langit. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang disyaratkan. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis 9. lobby. lebar dan tinggi 52 . bila peralatan dimaksud terdiri atas: (1) meter listrik. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. b. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. koridor. atau koridor. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. gang. panel atau saluran distribusi. ii. bagian dari balustrade. b. i. (2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. lebar bebas halangan. bila konstruksi yang menutup ramp. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. iii.

mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. dan jumlah sesuai standar teknis.6 m dan panjangnya minimal 2. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. lebar minimal bordes 1.langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. ii. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. injakan. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. ii. b. b. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. injakan dan tanjakan konstan. f.7 m. tanjakan. b. d. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. c.4 iii. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. Bordes a. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. e. di mana: i.ii. 1:8 untuk kasus lainnya c. 11. Bangunan klas 9a: i. Ambang Pintu 53 . 15. Meskipun dengan ketentuan butir a. b. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. 12. atap tersebut harus a. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. 13. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. b. ii. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. 14. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii.

lorong. ii. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g.Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. koridor. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. Balustrade. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. Balustrade sesuai ketentuan butir e. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. d. Balustrade pada: i. c.ii. mesanin dan sejenisnya. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. lantai.i. balkon dan sejenisnya. mbang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. lantai.ii. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. uang perawatan pasien bangunan klas 9a. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. 16. ii. tangga. dan ii. tidak dibatasi dengan dinding.i. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. bila dibuat sesuai i. 54 . ramp. tangga atau balkon luar ii. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. f. koridor. balkon dan sejenisnya. iii. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. kecuali tangga/ramp luar bangunan. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. atap. Tinggi balustrade: i. bila: i. tangga. Bila menggunakan jeruji. kecuali sekeliling panggung. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. asus lainnya i. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. e. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m.iii dan g. b. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. balkon. g. b. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Balustrade a . intu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka.

Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan c. kecuali: i. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. Pintu Ayun a. Ayunan harus searah akses keluar. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. Pegangan Rambat Pada Tangga a. b. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. dan harus: i. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. 19. c. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. b. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. 20. 55 . ii. bukan pintu berputar b. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Bila terbuka sempurna. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. harus dapat dibuka secara manual. dibuat menerus 18. lorong atau ramp. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. bukan pintu gulung. d. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. alarm kebakaran dan lainnya. dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. i. kecuali: i. melayani kompartemen saniter. ii. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. pintu dapat dibuka secara manual. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. bukan pintu sorong. c. 7. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii.17. termasuk bordes.

ii. dan i. b.2 m dari lantai. atau 8. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. hanya melayani: i. termasuk penyandang cacat. 21. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. VI. iii. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. khususnya oleh pemilik. Rambu Pada Pintu a. kecuali bila: a. ii. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. 3.dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. d. kecuali bangunan sekolah. 7. b. 6. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. tersedia sistem komunikasi internal. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. c. pada bangunan klas 9b. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. 22. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. 56 . melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Rambu. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan.9 1.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. dengan tangan. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. atau bagian klas 4. ii. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. bangunan klas 9a b. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5.

57 . Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.2.

a. Penyediaan ramp pada jalan-jalan pejalan kaki dan dari pedestrian ke dalam bangunan. c. Penyediaan ramp pada bangunan-bangunan dan pelataran parkir menuju bangunan lain atau pedestrian . Pada bangunan-bangunan tidak bertingkat tetapi mempunyai perbedaan ketinggian lantai b.

Kapasitas angkut lift penumpang yang diizinkan. e. f. e. c. Jumlah dan kapasitas lift harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. 2. harus menjadi kapasitas angkut dari lift yang dimaksud. 1. c. Untuk mengubah fungsi lift penumpang atau lift barang menjadi lift kebakaran. Kecepatan dan ukuran sangkar lift kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. b.VII.1 LIFT Persyaratan-persyaratan mengenai elevator (lift) harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk Pesawat Angkat Elevator. d. a. Waktu tunggu lift. Persyaratan teknis dari lift yang digunakan sebagai lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Peringatan Terhadap Pengurus Lift Pada Saat Terjadi kebakaran . a. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. 3. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Pintu shaft lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan/ peraturan yang berlaku di Indonesia. g. d. Lift kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Lift Kebakaran Persyaratan-persyaratan mengenai lift kebakaran harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran (DPK) tentang elevator (lift) untuk pelayanan kebakaran gedung. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Kapasitas angkut lift barang yang diizinkan. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh Petugas Kebakaran. dapat berupa lift penumpang biasa atau lift barang yang dapat diatur. dan menggunakan kabel tahan api. Sumber daya listrik untuk lift kebakaran harus direncanakan dari dua sumber yang berbeda. Kapasitas Lift Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. Lift kebakaran. b. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (fire switch) terlebih dahulu.

yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai dasar. Tanda peringatan harus dipasang di tempat yang mudah terbaca: i.10 Tanda Peringatan Lift Penumpang b. atau ii. huruf yang diukir.10 dan terdiri dari: i. harus: i. kecuali ii. . huruf yang diukir atau ditatah langsung di permukaan bahan dinding. ii. berukuran cukup untuk meletakknya fasilitas kereta dorong (wheel stretcher) secara horisontal. misalnya: bangunan kelas 9a. Sangkar Lift Sangkar pada setiap lift harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. Ditatah atau huruf timbul pada logam. dan iii. atau Gambar 2. mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 kg. bila diperlukan. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar 2. plastik atau sejenisnya. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung di tempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. kayu. b. dan dipasang tetap di dinding. Satu atau beberapa lift harus dipasang sebagai lift pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan “ramp”. Lift yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. 5. 4. dekat setiap tombol panggil untuk lift penumpang atau kelompok dari lift pada bangunan. berupa bel listrik. Lift pasien yang dibutuhkan pada butir a. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran.lift kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Lift Untuk Rumah Sakit a.a. iii. telepon.

Dalam shaft lift dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lift. governor dan peralatan lain. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah semua gaya. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban di bawah ini: i. tromol tali. dengan beban sangkar lift. Pondasi harus menyangga berat mesin. Balok diperhitungkan pada saat bandul mekanis (governor) bekerja. iii. Jika mesin lift dan tali ditempatkan di lantai bawah. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. b. panel kontrol. peralatan lain dan lantai di atasnya. Semua bagian logam dari lift pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. tromol. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. motor generator. Mesin Lift dan Ruang Mesin Llift a. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lift. ii. Balok. iv. d. b. Untuk shaft lift yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. atau di samping ruang luncur di lantai bawah. Pengujian dan Pemeliharaan . Bangunan ruang mesin lift harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. dan penyangga di ruang mesin harus direncanakan dengan memenuhi: i. Saf Lift a. 9. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. termasuk lantai ruang mesin. Pemeriksaan. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. 7. ii. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. iii. b. 8. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap ruang mesin lift. pondasi untuk mesin. Instalasi listrik untuk lift harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih atau sakelar otomatis. c. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah sejajar. lantai. Instalasi Listrik a. c.6.

sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. pengujian. Prosedur pemeriksaan. . Instalasi lift yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis.a. salah satunya adalah ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk sistem penggunaan Eskalator (moving stair). b. dan pemeliharaan instalasi lift sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 032190-1991. VII.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

mudah dibaca. pencahayaan darurat digunakan pada tanda “KELUAR”. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. Jelas. atau sejenisnya yang digunakan pasien. c. jalan lintas b. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup. diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. bangunan kelas 9a. c. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi dari kerusakan karena api dengan konstruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. harus: a. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. bekerja secara otomatis. koridor. hall. ii. ke ruang yang mempunyai lampu darurat.2 TANDA ARAH KELUAR 1. atau iv. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien. ke ruang terbuka. atau iii. b.VIII. 1. atau ii. TANDA ARAH KELUAR. b. 3. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 dan kurang dari 300 m2 yang tidak terbuka: ke koridor. Setiap lampu darurat harus: a. setiap lorong. e. 2. bangunan kelas 2 atau 3. Setiap tanda “KELUAR” yang dibutuhkan. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 300 m2 c.1 SISTEM LAMPU DARURAT i. . dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. VIII. PENCAHAYAAN DARURAT. yaitu pada: i. Sistem lampu darurat dipasang pada: a. jika mengngunakan sistem terpusat. ke jalan raya. d. mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.

untuk gedung pertunjukan. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. ii. di daerah bangsal perawatan. ii. 3. atau orang cacat. VIII. lorong. dan d. dan harus dipasang di atas atau di dekat setiap: a. Bangunan kelas 9b: i. tangga yang tertutup. 3. Tanda Arah Keluar. lorong.2. ii. 2. 5. atau sejenisnya. hall. Bangunan kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2: i. Tanda “KELUAR” harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan “KELUAR” pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai bab Pencahayaan Darurat. tangga luar. b. untuk sekolah. i. lorong atau ramp yang digunakan untuk keluar. dan Sistem Peringatan Bahaya. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. jalan keluar di balkon yang menuju keluar. ii. iii. kecuali bila sistemnya: langsung memberikan peringatan pada petugas. atau ii. Jika tanda “KELUAR” tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. sistem alarm harus diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. 4. dan: c. Bangunan kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari 2 lapis dan dipakai untuk: bagian rumah dari sekolah. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari 3. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai ke: i. . Jalan keluar horisontal. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2. hall umum. Pintu dari tangga tertutup. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannyua untuk meminimalkan kepanikan sesuai tipe dan kondisi pasien. akomodasi untuk orang tua anak-anak. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju jalan raya atau ruang terbuka. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. atau ramp yang digunakan untuk keluar. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petudas.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. maka tanda keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. lobi.

.

IX. seperti antara gardu PLN dengan Panel Tegangan Menengah (PTM). papan hubung bagi dan isinya. jaringan distiribusi. biasanya kabel yang digunakan adalah N2XSY – 12/20 kV inti tunggal x 3. dan busduct dari berbagai tipe. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. Kabel Tegangan Menengah Kabel dapat dipasang dengan 2 cara : ditanam atau tidak ditanam (di udara). Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketentuan: a. PENANGKAL PETIR. i. Kabel tegangan menengah digunakan pada bangunan tinggi. tidak membahayakan. INSTALASI LISTRIK. mengganggu dan merugikan bagi manusia. Biasanya kabel yang digunakan di sini adalah N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti (3 core). 3 fasa. dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak. transformator dan peralatan lainnya. dengan frekuensi 50 Hertz. c. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik arus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya. lingkungan. dapat menggunakan ketentuan/standar dari negara lain atau badan internasional. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Atau antara PTM dengan trafo. dipelihara. d. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. e. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. atau N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti. Jaringan Distribusi Listrik a. di antaranya penghantar. b. . ukuran dan kemampuan. papan hubung bagi dan beban listrik.1 INSTALASI LISTRIK 1. bagian bangunan dan instalasi lainnya. Semua peralatan listrik. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku.

sakelar. lift kebakaran. tombol.6/1 kV) mulai digunakan dari trafo ke PUTR dan seterusnya hingga ke setiap titik beban.6/1 kV) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan dengan tanah. sistem komunikasi darurat. pembumian sistem dan pembumian bodi. Untuk pemasangan stop kontak di bawah. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. alat ukur. Jaringan yang melayani beban penting seperti pompa kebakaran. Pembumian dilakukan pada bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik. (Tabel : 313-1. Ketentuan penghantar pengaman dapat dilihat pada PUIL 2000 (Tabel 312-1) iv. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. Tombol. (Tabel : 701-1. NGR diposisikan di titik netral transformator. Pentanahan/pembumian Pembumian dibagi dua.ii. pengecualian hanya diperbolehkan sesuai tabel 2. PUIL 2000) iii. lambang atau huruf seperti yang terdapat dalam tabel 2. (2) Kabel Tegangan Rendah (NYFGbY – 0. dan stop kontak diletakkan di tempat yang aman (daerah yang tidak lembab/kering) dan aman dari jangkauan anak-anak. peralatan pengendali asap. Tegangan menengah menggunakan Neutral Grounding Resistor (NGR) yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. Kabel Tegangan Rendah (1) Kabel Tegangan Rendah (NYY – 0. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api (fire-ressistant cable).3. c. Papan hubung bagi dan alat ukur listrik diletakkan di dinding bagian depan rumah/bangunan yang aman terhadap air hujan atau diletakkan di halaman rumah dengan diberi pelindung terhadap hujan. . PUIL 2000) (5) Ketentuan Kapasitas Hantar Arus (KHA) penghantar fasanya. sistem deteksi dan alarm kebakaran. ii. (1) Pembumian sistem Pembumian sistem dibagi dua. i. harus dilengkapi dengan pengaman terhadap tusukan. (3) Kabel Tegangan Rendah (NYM – 500 V) hanya digunakan untuk instalasi penerangan saja. b. tegangan menengah dan tegangan rendah. (4) Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas.4. Tegangan rendah menggunakan sistem solid ground (pembumian langsung) 2) Pembumian bodi.

3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang, faktor kebersamaan (coincidence factor) atau faktor ketidakbersamaan (diversity factor). 4. Sumber Daya listrik a. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak memungkinkan, dengan izin instansi yang bersangkutan, sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri, yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau normalisasi dari peraturan yang berlaku, di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pada umumnya lingkup pekerjaan instalasi pembangkit sendiri (genset) meliputi : pemasangan genset pada pondasi; pemasangan instalasi saluran pembuangan udara radiator (exhaust duct radiator); pemasangan peredam suara (sound attenuator); instalasi pipa bahan bakar minyak solar; pemasangan tangki bulanan (storage tank) dan tangki harian (daily tank); pemasangan pompa bahan bakar; instalasi kabel daya dan kabel kontrol dari terminal generator ke panel kontrol generator; pemasangan panel kontrol generator; pemasangan peredam suara ruang genset (sound proof). c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listriknya tidak boleh putus, harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila terjadi gangguan sumber utama. e. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3, secara otomatis. f. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lainlain. i. Peralatan tegangan menengah harus terpisah dari peralatan tegangan rendah, dengan jarak sesuai dengan SNI-0225. ii. Pengaturan jarak antara kabel telekomunikasi/kabel data dengan kabel power harus sesuai dengan SNI-0225.

iii. Peletakan kabel telekomunikasi/ kabel data yang berdekatan dengan kabel power harus dilindungi dengan screen atau konduit metalik yang diketanahkan. g. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. Transformator Distribusi Outdoor dan Indoor a. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. b. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup, dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran, maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Transformator distribusi yang berada di luar gedung bisa ditempatkan pada tiang atau di permukaan tanah/lantai. i. Transformator yang diletakkan di permukaan tanah/lantai harus dilindungi dengan pagar pelindung yang jaraknya terhadap transformator diatur sebagaimana dalam SNI-0225. ii. Transformator yang diletakkan pada tiang harus memiliki konstruksi sedemikan hingga kokoh dan tidak jatuh pada saat terjadi gempa berskala tinggi. e. Transformator harus dilengkapi dengan pendingin/ sistem pendingin transformator yang terdiri dari sistem pendingin secara alamiah (natural) atau dengan melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). f. Transformator tipe basah harus dilengkapi dengan alat pernafasan (breathing system) untuk mengurangi tekanan gas pada saat beban berlebih. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan tabung berisi kristal zat hygroskopis untuk mencegah kelembaban (humidity) yang dapat menurunkan nilai tegangan tembus minyak transformator. g. Transformator harus dilengkapi dengan peralatan proteksi; rele Buchholz, pengaman tekanan lebih (explosive membrane/pressure relief valve), rele tekanan lebih (sudden pressure relay), dan pengaman terhadap arus lebih. Transformator dengan daya lebih dari 10 MVA harus dilengkapi dengan rele diferensial (differential relay). Transformator dapat juga dilengkapi dengan rele tangki tanah, rele hubung tanah dan rele termis. 6. Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan

a. Instalasi listrik yang dipasang, sebelum dipergunakan, harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. i. Pemeriksaan yang dilakukan secara visual meliputi antara lain : (1) Jalur pipa konduit dan tekukan kabel tidak boleh patah. (2) Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator laas doop. (3) Jalur kabel di atas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas instalasi pipa untuk menghindari adanya tetesan air. (4) Kelengkapan komponen panel. (5) Sambungan dan terminasi kabel pada panel atau beban harus rapi dan tersambung dengan kuat. Kabel serabut atau berurat banyak (multicore) harus dilengkapi dengan sepatu kabel (cable shoe). (6) Untuk pemakaian kabel NYA harus dilindungi dengan pipa konduit atau fleksibel sampai ke titik beban atau panel. (7) Kabel di dalam panel ditata dengan rapi dan disediakan cadangan panjang kabel (spare) untuk mengantisipasi bila terjadi kesalahan terminasi, kabel masih cukup panjang untuk disambung pada terminal yang lain. (8) Titik-titik lampu posisinya harus sesuai dengan gambar. (9) Penggunaan warna kabel harus sesuai dengan PUIL 2000. ii. Pengujian dilakukan bersama dengan pihak yang berwenang dengan menggunakan pesawat uji yang telah dikalibrasi. Hasil pengujian direkam pada daftar simak dan didokumentasikan. (1) Pengujian instalasi penerangan meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi Besarnya tahanan isolasi minimum suatu instalasi kabel listrik adalah: (i) Berdasarkan PUIL 2000, yaitu sekurangkurangnya 1000Ω /volt tegangan nominal, dengan penegrtian bahwa arus bocor dari tiap bagian instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1mA per 100 m panjang instalasi. (ii) Berdasarkan peraturan IEE (Institution of Electrical Engineers) nilai minimum yang diperolehkan adalah 1 MΩ . Pengukuran dilakukan dengan megger. (b) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).

(c) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-netral, fasa-tanah) dengan multitester (d) Pengukuran arus beban untuk fasa R, S, T. (e) Pengujian nyala lampu dan baterai Ni-Cad pada lampu emergency. (f) Pengujian fungsi komponen-komponen panel : voltmeter, amperemeter, frekuensimeter, lampu indikator, saklar pilih (selector switch), circuit breaker, kontaktor, rele. (2) Pengujian instalasi tenaga meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan motor. (b) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-tanah) dengan multitester. (c) Arah putaran motor. (d) Pengukuran putaran (rpm) motor dengan tachometer. (e) Pengukuran arus starting dan running motor. (f) Tegangan fasa-fasa saat motor beroperasi. (3) Pengujian genset, meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan generator. (b) Pengukuran tegangan baterai dan pengecekan hubungan baterai. (c) Pengukuran motor dan pompa bahan bakar (d) Pengukuran tegangan generator (tegangan fasafasa, fasa-netral, fasa-tanah) (e) Pengujian beban 25%, 50%, 75%, 100%, 110%. (f) Fungsi panel kontrol generator dan interlock dengan sumber daya PLN. (g) Pengujian overspeed, emergency stop, low oil pressure, high water temperature. (h) Frekuensi generator. 7. Pemeliharaan a. Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang. c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. IX.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai resiko terkena sambaran petir, harus diberi instalasi penangkal petir.

e. Hal-hal yang belum diatur di dalam peraturan tersebut di atas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. meskipun dibungkus dengan bahan insulasi. Sistem terminasi udara : Susunan sistem terminasi udara memadai jika persyaratan pada Tabel 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. termasuk manusia yang ada di dalamnya. terhadap bahaya sambaran petir. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. Direkomendasikan agar konduktor penyalur ditempatkan sedemikian sehingga ada jarak antara konduktor penyalur tersebut dengan pintu atau jendela. harus memperhatikan arsitektur bangunan. jarak yang diukur melalui celah antara dua titik pada konduktor dan panjang l dari konduktor antara titik-titik tersebut harus memenuhi 3. Konduktor penyalur tidak boleh dipasang pada talang atau pipa saluran air. d. c. . Jika hal ini tidak mungkin. Konduktor penyalur harus dipasang lurus dan tegak sedemikian sehingga membentuk jalur terpendek dan paling langsung ke bumi.b. Sistem Konduktor Penyalur : Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya latu berbahaya. 2.2 (Gambar 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir). b. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Bentuk lingkar harus dihindari. harus mengacu pada rekomendasi dari badan internasional seperti IEC. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga dari titik sambaran ke bumi: (1) terdapat beberapa jalur arus paralel. c. (2) panjang jalur arus diusahakan seminimum mungkin. Instalasi Penangkal Petir a. dan instalasi lainnya. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga sedapat mungkin berhubungan langsung dengan konduktor terminasi udara.

maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. mengganggu dan merugikan lingkungan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. kerusakankerusakan) yang meliputi : (1) Air terminal (2) Tiang penghujung (penyangga) (3) Penghantar penyalur petir (4) Elektroda pembumian (5) Penghantar penghubung (6) Sambungan-sambungan (7) dan lain-lain. Instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. b. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. Hasil pemeriksaan direkam pada suatu daftar simak (check list). Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Instalasi keseluruhan ii. IX. bagian bangunan dan instalasi lain. Bahan-bahan / material instalasi (jenis. Perencanaan Komunikasi Dalam Bentuk Telepon dan Data a. aman dan mudah dikerjakan. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. dipelihara. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. b. tidak membahayakan. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Instalasi Telepon Instalasi Telepon a. Secara berkala dilakukan pengukuran / pengujian terhadap EMC (Electromagnetic Compatibility).3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. . tidak ada genangan air. c. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lain-lain. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harsu mudah diamati.3. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. 2. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah : i.

d. b. Car call (pemanggilan pengendara mobil). Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Ruang baterai sistem telepon harus bersih. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. terang. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. iii. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. ii.b. e. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. ii. 3. Ruang yang bersih.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. ii. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. Paging (pengumuman/ panggilan) : sistem paging di setiap lantai dapat menggunalan bantuan speaker selector. iv. Sistem Tata Suara yang umum digunakan bangunan tinggi meliputi : i. c. minimal berjarak 0. kedap debu. ii. Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m ke atas. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. . Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a di atas harus menggunakan sistem khusus.80 m. Biasanya dimulai dengan bunyi sirine dan dilanjutkan dengan pengumuman untuk segera meninggalkan gedung (All Call) iii. Tidak boleh menggunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Pembumian / pentanahan (grounding) Setiap peralatan utama (PABX / key telephone) harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian maksimum 5Ω yang diukur pada tanah dalam keadaan kering. Instalasi Tata Suara a. tenang.50 m x 0. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Emergency Paging (pengumuman darurat atau panggilan evakuasi). Background music (music pengantar).

vi. Mixer Pre-Amplifier : berfungsi untuk menggabungkan dan mengontrol beberapa sumber suara. d. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Casette Recorder Player . Stereo Graphic Equalizer : berfungsi untuk menyaring frekuensi yang tidak diinginkan. Alat ini juga harus dapat mengatur seluruh speaker dalam waktu bersamaan untuk difungsikan (All Call). Power consumption (Watt). Distortion (%). S/N ratio (dB). . Frequency response (Hz). Frequncy (Hz). ii . S/N ratio (dB). Speaker Selector : berfungsi untuk mengatur kelompok speaker yang ingin difungsikan. Power Amplifier : berfungsi sebagai penguat suara. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. Power consumption (Watt). Dimensi (mm). Dynamic range (dB). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Frequency response (Hz). Total harmonic distortion (%). Voltage (Volt). Input impedance (KΩ). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Output level (dB). Noise level (dB). Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi tata suara adalah : i.c. Distortion (%). Ouput impedance (KΩ). Frequncy (Hz). serta dilengkapi dengan pengatur kuat suara. harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian sesuai spesifikasi yang ditentukan atau maksimum 5Ω yang diukur pada kondisi tanah dalam keadaan kering. e. Frequncy (Hz). Frequency response (Hz). Voltage (Volt). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Frequency response (Hz). Alat ini harus memiliki kemampuan dapat memikul semua beban speaker yang dioperasikan serentak pada saat bersamaan (All Call). vii. Power bandwidth (Hz). Total harmonic distortion (%). Input Sensitivity (dB). Radio Tuner : berfungsi untuk menangkap siaran radio AM dan FM. Power consumption (Watt). dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Dimensi (mm). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Dimensi (mm) iii. manual). Input level control (dB). Power consumption (Watt). S/N ratio (dB). v. Playing system (auto reverse.CD Player . Input Sensitivity (dB). Frequency response (Hz). Output impedance (KΩ). Equalizer center frequency (Hz). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Voltage (Volt). Dimensi (mm). Peralatan utama tata suara. atau terdiri dari kabel tahan api. Voltage (Volt). iv. sehingga dihasilkan frekuensi tengah ekualisasi. Frequency (Hz).

Jumlah speaker yang dilayani oleh attenuator tidak boleh melebihi kemampuan attenuator.6/1 kV (biasa digunakan dari MDF ke TB. Kabel : Kabel tata suara yang umum digunakan pada bangunan tinggi adalah : NYMHY 500V (biasa digunakan dari MDF ke TB maupun dari TB ke speaker. xii. x. Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai kabel kontrol). Speaker . Spesifikasi peralatan ini meliputi : Input level (dB0). Semua kabel yang keluar / masuk dari peralatan utama harus melalui MDF. NYY 0. Sensitivity (dB). Dimensi (mm). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Dimensi (mm). Operating control. Frequency response (Hz). Power consumption (Watt). xiv . ix. Blower : berfungsi menjaga temperatur peralatan utama. Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai . xv.Attenuator : berfungsi mengatur kuat suara yang keluar dari speaker.Spesifikasi peralatan ini meliputi : Nominal impedance (Ω). Jenis dan warna cat.. Sedangkan TB merupakan terminal distribusi setiap area atau setiap lantai. Horn Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam atau luar ruangan/outdoor). Output level (dB).MDF (Main Distribution Frame) dan TB (Terminal Box) : merupakan terminal penyambungan kabel sistem tata suara.viii. Column Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam ruangan/indoor). Application (musical instrument. Frequency (Hz). Dimensi (mm). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Tipe. microphone yang biasa digunakan adalah remote microphone tipe dinamik yang mampu menerima suara secara unidirectional dan dilengkapi dengan saklar / tombol pemilih. jenis-jenis speaker yang biasa digunakan pada bangunan tinggi adalah : Ceiling Speaker (biasa digunakan pada area yang mempunyai plafon dan merupakan area operasional suatu bangunan). Jumlah terminal penyambungan minimum harus sesuai kebutuhan. xi. Voltage (Volt). Frequency response (Hz). Dimensi (mm). WallMounting Box Speaker (biasanya digunakan pada area yang tidak mempunyai plafon seperti tangga kebakaran atau ruangan lainnya yang tanpa langit-langit) xiii. kapasitas terminal. Impedance (Ω). iMicrophone . vocal). Monitor Panel : berfungsi memonitor seluruh suara yang keluar dari amplifier serta memiliki alat ukur kuat suara speaker dan saklar pemilih. Ketebalan pelat panel. Khusus microphone untuk car call dilengkapi dengan chime (alunan sesaat musik pengantar) sebelum pengmuman pemanggilan pengendara mobil dilakukan.

spesifikasi teknis. tidak merambatkan api. peralatan. Rak Kabel : dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang dilayani. Dasar pemikiran dan perhitungan dalam perhitungan / perencanaan istalasi MA TV ini antara lain: TOR (Term of Reference). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : (1) Frekuensi (Hz) (2) Gain (dB) (3) Gain control range (4) Hum modulation (dB) (5) power source ii. xvi. kabel metal atau setaraf jenis kabel coaxial. antara lain : PUIL 2000 yang berlaku. Splitter (1) frequency band (MHz) (2) losses (dB) iii. ex.Konduit : yang umum digunakan biasanya dari tipe high impact conduit. bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun. SLI (Standar Listrik Indonesia).5 DP = diameter dalam konduit (mm) DK = diameter luar kabel (mm) xvii. dan material pelengkap dan pembantu lainnya mengikuti peraturan pemerintah yan gberlaku. peraturan daerah yang berlaku. Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari TB ke speaker/ attenuator. Booster Amplifier. peraturan. b. Kabel khusus sesuai standar pabrik digunakan dari mixer pre amplifier ke microphonee. Pipa : PVC (paralon). Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi MA TV adalah : i. MA TV a. Telkom. Perencanaan. NYM 500 V (biasa digunakan dari TB ke speaker). tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan adalah minimum 1000Ω per 1 volt tegangan nominal. d. Ukuran diameter dalam konduit adalah : DP ≥ DK 2 / 0. dan kabel dari mixer pre amplifier ke remote microphone. selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. GIP (yang telah memiliki SII). Socket outlet (1) Model . Persyaratan untuk material instalasi. Kabel yang ada di atas rak harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties). dan standarisasi pabrik. SNI. Kabelindo.kabel kontrol). data-data bangunan. Konduit harus memenuhi syarat-syarat : tidak mudah terbakar. dan api dapat padam dengan sendirinya. pelaksanaan. 4. c. Kabel : harus memenuhi SPLN/PT.

iii. Pelaksanaan Instalasi i. .(2) Losses (dB) v. instalasi. ii. Instalasi MATV tidak boleh saling berhimpit (berdempetan) dengan instalasi listrik arus kuat. outlet dan lainnya harus rapi & baik.Equalizer e. Bila instalasi mengalami beban mekanis. Outlet TV vi . Pemasangan peralata. maka kabel/hantaran harus dilindungi dan dimasukkan ke dalam GIP. Jadi harus terpisah satu sama lainnya.

I. iv. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter gas) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang.2. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Faktor diversifikasi (diversity factor).X. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang sedcara otomatis mematikan aliran gas. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Gas Elpiji Gas elpiji. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Pada instalasi gas untuk pembakaran. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. b. Berat jenis dari gas. ii. INSTALASI GAS X. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. b. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi : a. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Rancangan sistem ditribusi gas pembakaran. X. iii. terdiri dari propane (C3H6) dan butane (C4H10). 2. c. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2H6). Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter gas ke peralatan. vi. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. 3. INSTALASI GAS MEDIK 1. v. INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Jenis Gas . Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan.

Jenis gas medik yang dimaksud adalah: a. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. pipa Nitrous Oksida dan pipa udara tekan. Gas oksigen. e. c. Dibangun dengan akses untuk memindahkan silinder. peralatan. Harus dipanaskan dengan cara tidak langsung. atau diperoleh dari rekonstitusi oksigen USP dan nitrogen kering NF. dengan peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih dari 152 cm (5 ft) di atas lantai untuk menghindari kerusakan fisik. dan sebagainya. Dipasok dari silinder. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut: a. dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai ketahanan api 1 jam. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Memenuhi persyaratan udara medik USP. kontainer curah. e. yang berukuran 1 mikron atau lebih. Rancangan sistem distribusi gas medik. d. lantai. d. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Jika di dalam bangunan. Gas Nitrous Oksida (N2O). Kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. f. d. keluar dan masuk lokasi. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm. Jaringan Distribusi Gas Medik a. Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan dengan cara lain. Kadar partikulat permanen. d. b. harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Jika di luar bangunan ruangan. c. b. (misalnya dengan uap air atau air panas) jika diperlukan. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Vakum. Udara tekan. c. untuk lokasi biasa. . Kebutuhan gas medik harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk pasien rawat inap dan kebutuhan lain. bebas minyak. Harus memenuhi SNI 04-0225-edisi terakhir atau standar lain seperti NFPA 70. b. harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding. b. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyrarat tanda kebocoran gas. peralatan rawat gigi dan sebagainya. sumber kompresor udara medik. e. sama atau kurang dari 5 mg/m3. langit-langit. 2. c.

pemberian tekanan masingmasing pipa. agar tidak roboh. dan penyangga. lemari.g. rantai. harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar. baik terhubung maupun tidak terhubung. pengujian beda tekanan. Ketentuan secara detail terdapat pada SNI 03-7011-2004 tentang Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Kesehatan . Pengujian meliputi : pengujian kemampuan mempertahankan tekanan. pengujian sambung-silang. 3. h. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. pengujian katup. i. dan pengujian konsentrasi dan kemurnian gas medik. Dilengkapi dengan rak. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan. atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder. pengujian alarm. dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang. Apabila disediakan rak. pengujian kebersihan pipa/sistem pipa. penuh atau kosong. pengujian tekanan kerja.

v. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. serta diperhitungkan berdasarkan standar. Air bersih pada bangunan harus memenuhi persyaratan kualitas air bersih sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ MENKES/PER/ IX/ 1990. Kebutuhan air bersih pada rumah tinggal dapat diperoleh secara individual maupun secara komunal. Dalam hal air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum secara langsung maka kualitasnya harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII/ 2002. sumur pompa tangan. petunjuk teknik. bangunan dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air bersih. iv. 2. sumur bor. Sumber Air Bersih i. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. ii. sumur gali.1 SISTEM PLAMBING 1. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. sedangkan untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. ii. SANATASI DALAM GEDUNG XI. Untuk menjamin kontinyuitas persediaan air. Kualitas air Bersih i. Gambar sumber-sumber air bersih. . 3. mata air atau sumber lain yang memenuhi persyaratan kualitas air bersih. Perencanaan Sistem Plambing a. Sistem Penyediaan Air Bersih a. tidak mengganggu lingkungan. iii. Kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. Sumber air bersih pada bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). b. sumur gali.XI. Gambar tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1. Sistem Penampungan Air Bersih a. meliputi sistem air bersih. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. Air bersih harus tersedia secara kontinyu. tangki dan sumur penampungan air hujan dapat dilihat pada Lampiran 1. Untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia b.

penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. serta dilengkapi dengan lubang pemeriksaan. Gambar penempatan tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1 d. PE (polietilena).b. Konstruksi dan bahan tangki penampungan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. besi lapis galvanis atau tembaga. Tangki penampungan air bersih yang berkapasitas lebih dari 5 m3 harus dirancang agar tidak terjadi air diam (stagnant). Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effisiensi yang maksimal . 4. tidak mengganggu lingkungan serta diperhitungkan berdasarkan standar. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.. c. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. perlengkapan bangunan. Bahan tangki dapat berupa beton. f. dan mengacu pada NSPM Kimpraswil No. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. Tangki penampungan air bersih harus dilengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Sistem plambing air bersih dimaksudkan untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan jumlah dan tekanan yang cukup. baja. fiberglass dan kayu. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. Fungsi tangki penampungan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. Penggunaan Pompa a. Pt T 21-2000-C. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja dan tidak mengandung bahan beracun d. petunjuk teknik. b. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempattempat yang dapat menimbulkan pencemaran. f. Tangki penampung air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediaan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Sistem Plambing Air Bersih a. pipa penguras dan pipa ven. c. pipa peluap. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. 5. e. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. e.

Pengujian dan Pemeliharaan a.b. Sistem Distribusi Air Bersih a. Sistem distribusi air bersih adalah sistem perpipaan yang menyediakan air bersih dari air PAM menuju ke pelanggan. d. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. f. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem plambing air bersih meliputi : (i) Pengendalian kualitas air : (a) Pemeriksaan atas kadar sisa klor : (b )satu kali seminggu . c. Untuk penyediaan air panas secara sentral. Gambar sambungan rumah dapat dilihat pada Lampiran 1. 6. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. d. b. c. Sistem Penyediaan Air panas a. maka harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kualitas sumbersumber air yang digunakan sebagai air bersih. maka harus ada perlindungan terhadap pipa. pipa isap dan pipa keluaran pompa. e. PE. c. Alat pemanas dapat bersifat lokal atau sentral. Tiap sambungan pelanggan harus dilengkapi dengan meter air. 7. Sistem distribusi air bersih harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan air bersih dengan jumlah dan tekanan yang cukup. b. Pipa distribusi terbuat dari bahan PVC. galvanis atau bahan lain yang mampu menahan tekanan air. c. b. Pemeriksaan. pompa dan peralatan plambing harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa pemasangan telah dilakukan dengan baik dan peralatan berjalan dengan baik. 8. Untuk menjamin kualitas air. Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih yang dipanaskan dengan alat pemanas. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Pada setiap pemasangan pipa distribusi. Bila pipa ditanam di bawah jalan atau lokasi yang menerima beban. air didistribusikan melalui pipa menuju ke lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. Tata cara perancangan pipa air panas harus mengikuti pedoman plambing yang berlaku.

b. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak atau lemak.4 ppm klor keseluruhan (d) Pemeriksaan atas kualitas air. e. minuman bahan steril dan atau bahan sejenis lainnya. Air limbah rumah tinggal dan non rumah tinggal berasal dari kegiatan sehari-hari. Sistem plambing air limbah dalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa vent untuk menetralisir tekanan udara di dalam saluran tersebut. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi.1 ppm klor bebas. Setiap bangunan yang menghasilkan air limbah harus dilengkapi dengan plambing air limbah. dan lebih dari 0. Sumber Air Limbah a. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang dialirkan. b.2SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 1. Pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. f. c. Sistem Plambing Air Limbah a. Pembuangan dan Pengolahan Air Limbah a. Air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya tidak boleh digabung dengan limbah pada butir i di atas. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. d.(c) kadar sisa klor harus lebih dari 0. 3. 2. satu kali setiap enam bulan (ii) Pemeriksaan tangki air (tangki air di bawah dan tangki air di atas) : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iii)Pemeriksaan sistem pipa : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iv)Pemeriksaan mesin-mesin : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih XII. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. .

Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan air limbah dipompa. Pengolahan dilakukan dalam tangki septik yang kedap air dan dilengkapi dengan sumur resapan. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilakukan maka dapat menggunakan sistem pemompaan.b. Sistem penyaluran air limbah adalah jaringan perpipaan yang mengalirkan air limbah dari rumah tinggal atau non rumah tinggal menuju ke instalasi pengolah air limbah. Air limbah yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. PE. Gambar tangki septik dan sumur resapan dapat dilihat pada Lampiran 2. Pengujian dan Pemeliharaan a. Sistem pengaliran air limbah direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. tangki septik dibuat lebih tinggi dan resapan dibuat mengalir secara horisontal. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih paling dekat adalah 10 meter. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. harus ditangani secara khusus. . serta yang mengandung radioaktif. e. c. d. beton atau bahan lain yang kuat dan tidak mudah mengalami korosi serta tahan terhadap panas. Pemeriksaan. tergantung kemudahan pengaliran dari KM/WC dengan memperhatikan jarak minimum dari sumber air bersih disekitar lingkungan permukimannya. f. g. 4. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan pada sistem plambing. Lebih jelas tata letak dapat diihat di Lampiran. maka harus dipilih pompa yang peruntukannya khusus untuk air limbah. Sistem Penyaluran Air Limbah a. pengolahan dan penyaluran air limbah untuk memastikan bahwa sistem telah terpasang dan berjalan dengan baik. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-63792000. d. Sistem pembuangan harus dilengkapi dengan perangkap bau sesuai dengan SNI 03-6379-2000. Bahan pipa adalah PVC. c. Kapasitas aliran disesuaikan dengan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh penghuni rumah tinggal dan non rumah tinggal. b. 5. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Letak tangki septik boleh dibelakang atau dimuka rumah. Untuk daerah yang muka air tanahnya dangkal (kurang dari 1 m). Jaringan pipa air limbah harus dirancang mampu mengalirkan air limbah dengan lancar dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. pembuangan. e.

Pemeriksaan kondisi operasinya (tekanan. Pemeriksaan mesin-mesin Pemeriksaan pompa penguras bak penampung air buangan (sump pit) : i. . hal-hal yang penting perlu dicatat dan disimpan sebagai dokumen/ arsip. (a) b. Pemeriksaan penggantung pipa d. saklar listrik. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan b. XI. Pemeriksaan sistem pipa vent : i. arus dan tegangan listrik. dilakukan pula pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap pompa (d) Setelah kegiatan pembersihan selesai.3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 1. Pemeriksaan dan pembersihan kepala pipa tegak vent ii. Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat e. lapisan kedap air. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. i. Pemeriksaan sekat poros dan kopling iii. Kelengkapan Dalam Bangunan a. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama kegiatan pembersihan bak: Ventilasi dan penerangan yang memadai di dalam bak harus terjamin (b) Pemeriksaan atas kebersihan bak. kebocoran dinding dan dasar bak (c) Apabila digunakan pompa penguras air buangan. endapan. Pemeriksaan sistem pipa pembuangan : (a) Pipa pembuangan harus dibersihkan setiap 6 bulan sekali (b) Pemeriksaan dan pengujian celah udara (c) Pemeriksaan kelancaran aliran (d) Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat (e) Pemeriksaan kemiringan pipa (f) Pemeriksaan penggantung pipa c. kebisingan dan sebagainya ii.i. dan sebagainya) (b) Pemeriksaan adanya kotoran terapung. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem pembuangan air limbah meliputi : Bak penampung air buangan (sump pit) : (a) Pemeriksaan bagian dalam (kotoran pada dinding. Pembersihan bak penampung air buangan : Pembersihan dilakukan enam bulan sekali ii. tinggi muka air dan sebagainya ii. sebaiknya sampai lima tahun.

dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna. beton. iii. Bahan saluran dapat berupa PVC. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebabsebab lain yang dapat diterima. Khusus untuk bahan seng. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari selokan samping dan membuangnya. d. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. Pemilihan dimensi fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. besi dan baja. ii. g. maka harus dilakukan caracara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Kelengkapan di Sekitar Bangunan Gedung a. e. 2. seng. Persyaratan Saluran a. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. b.c. Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup b. c. c. Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut : i. Saluran ini merupakan bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpulan drainase. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung. Harus cukup besar untuk melawan debit air maksimum dari daerah pengaliran secara efisien. Di kedua sisi jalan harus disediakan saluran drainase/ selokan. Gambar bangunan pelengkap drainase dapat dilihat pada Lampiran 3. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal. fiberglass. f. pembagi. 3. Apabila saluran dibuat tertutup. pasangan tanah liat. tetapi harus diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk tempat air keluar. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. . Dimensi setiap saluran harus sedemikian rupa yang disesuaikan dengan daerah pelayanannya. Harus dibuat dengan tipe permanent. Kemiringan saluran harus dibuat. maka dapat menggunakan sitem pemompaan d.

maka penampungan sampah dapat dilakukan dengan cara penimbunan di area pekarangannya. b. Penimbunan sampah di area pekarangan harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Adapaun gambar pewadahan sampah (bak sampah) dapat dilihat pada Lampiran 4.1 L/orang/hari. Kriteria besaran timbulan sampah untuk rumah tinggal di Aceh adalah 2. d. . tidak mudah rusak. Berjarak > 10 m dari sumber air bersih atau air minum. jalan. timbulan sampah dan frekwensi pengumpulan sampah. hotel. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. rumah makan dan fasilitas umum lainnya. dan Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Pemeriksaan. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan dilengkapi dengan fasilitas pewadahan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Setiap hari wadah penimbunan harus ditutup dengan tanah penutup dari sekitar lokasi penimbunan atau bahan lain. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sampah sementara harus dihitung berdasarkan jumlah penghuninya. sedangkan untuk non-rumah tinggal 24 L/unit/hari 2. Pengujian. terbuat dari bahan kedap air. pasar. Penempatan wadah sampah individual ditempatkan di halaman muka rumah atau di halaman belakang khusus untuk sumber sampah dari hotel dan restoran. Tempat pewadahan sampah harus terpisah antara sampah basah dan sampah kering. tempat ibadah.4. toko/ ruko. harganya murah atau dapat dibuat sendiri oleh masyarakat dan mudah diangkut. b. c. Timbulan Sampah a. ii. e. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Sumber sampah permukiman berasal dari : perumahan. sekolah. untuk melindungi dari gangguan binatang dan serangga. Sistem Pewadahan a. c.4. plastik. Besaran timbulan sampah dihitung berdasarkan : jumlah penduduk dalam suatu kawasan permukiman atau berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukan. Jika dalam bangunan baru tersebut mempunyai luas pekarangan yang cukup. dan pasangan bata atau beton. XI. mempunyai tutup.

maka sampah-sampah yang mudah terbakar seperti kertas. Pola pengumpulan langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan. c. kayu dan lain-lain dapat dibakar. kardus. Tidak merugikan lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat sekitar. Sampah tersebut dapat dikumpulkan dalam wadah sampah yang terpisah dengan sampah yang akan dibuang. Sampah basah (organik) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas dapat digunakan sebagai kompos. sisa pembersihan tanaman. aluminium. Tidak menimbulkan masalah pencemaran udara. iv. kertas koran. Ukuran volume penimbunan ditentukan berdasarkan f. Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu. Gambar peralatan untuk pengumpulan sampah tercantum dalam Lampiran 4. c. b. 3. Gambar pola pengumpulan individu langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. Pola pengumpulan sampah dibedakan atas pola pengumpulan langsung dan pola pengumpulan tidak langsung. . b. Sistem Pengumpulan a. seperti hutan dan padang ilalang. dan lain-lain yang dapat di daur ulang bisa dimanfaatkan kembali. Jika belum tersedia sistem pewadahan sampah. Sampah seperti botol bekas. Wadah sampah harus ditempatkan di lokasi yang kering dan bebas dari pengaruh air hujan. Pembakaran sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. tidak dibuang ke wadah sampah atau tempat penampungan sementara. Dilakukan di daerah dengan kepadatan penduduk rendah.iii. iii. Tidak dilakukan di daerah yang dekat dengan area yang mudah terbakar. Potensi Reduksi a. hutan dan jauh dari lokasi yang menampung bahanbahan yang mudah meledak. baik dengan pengumpulan langsung maupun tidak langsung. ii. kaleng. dengan persyaratan mengacu pada Pedoman Teknik Tatacara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Dan Komunal No: Pd-T-15-2003 4. jumlah timbulan sampah. kertas. wadah plastik. frekwensi pembuangan dan periode waktu penggunaan lahan penimbunan tersebut.

rumah sakit. v. antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah (organik) setiap hari. Pola pengumpulan tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). . reaktif dan beracun. Pengumpulan menggunakan alat angkut bukan mesin seperti gerobak sampah. dan kegiatan rumah tangga. Jumlah timbulan sampah > 0. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. mudah terbakar. Alat pengumpul menggunakan mesin dan frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah. e. Sumber-sumber sampah B3 terutama berasal dari kegiatan industri. Teknis operasional pola pengumpulan tidak langsung : Persyaratan : i. f. dengan volume rata-rata alat angkut 1 sampai 2 m3. >15%. Gambar pola pengumpulan individu tidak langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. iv. Lahan untuk lokasi tempat penampungan sampah sementara tersedia. korosif. maksimal setiap 2 hari sekali. iii. Penentuan tempat penampungan sementara mengacu pada SNI no 19-2454-2002 v. becak dan lain-lain. dibawa ke lokasi pemindahan (tempat pembuangan sampah sementara) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. 5. iv. Teknis operasional pola pengumpulan langsung: Persyaratan : Dilakukan jika kondisi topografi bergelombang kemiringan ii. 18/1999 yang diperbaharui dengan PP no 85 tahun 1999. dengan rata-rata kemiringan < 5%. Bagi kondisi topografi pemukiman yang relatif datar . Sifat utama dari sampah B3 adalah buangan yang mempunyai sifat mudah meledak.3 m3/hari. iii. d. Sampah yang dikategorikan sebagai buangan beracun dan berbahaya telah diatur dalam PP no. Penjadwalan pengumpulan dilakukan oleh instansi pengelola persampahan pemukiman mengacu pada SNI 03-3242-1994. maksimal setiap 2 hari sekali.i. Sampah B3 ini tidak boleh dibuang langsung ke wadah sampah tetapi harus dipisahkan dan diolah tersendiri. c. infeksius. Sampah Beracun dan Berbahaya (B3) a. ii. b. sedangkan untuk sampah kering (anorganik) dapat dilakukan setiap 3 hari sekali.

lokasi mudah dijangkau d.5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 1. Tata cara perencanaan bangunan MCK umum mengacu pada SNI 03-2399-2002. Gambar Hidran Umum tercantum pada Lampiran 5. cuci. Penyediaan air bersih secara komunal dilayani melalui hidran umum. Hidran Umum a. baik dari PAM atau sumur f. g. dapat dibangun di daerah yang sempit e. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum Fasilitas dalam MCK umum (untuk pria dan wanita terpisah): . Pemilihan kokasi MCK umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: c. MCK (mandi. MCK Umum a. Bangunan MCK umum harus dipisahkan antara MCK untuk orang laki-laki dengan MCK untuk orang perempuan. Sistem penyediaan air bersih komunal harus disediakan pada permukiman bila tidak tersedia sistem penyediaan air bersih secara individual. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih min. Untuk sumber air dari sumur gali atau sumur pompa tangan. Sedangkan gambar contoh tata letak MCK umum tercantum pada Lampiran 5. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-6379-2000. XI. 2. Perancangan hidran umum/ kran umum didasarkan atas kebutuhan yaitu setiap kran dapat melayani antara 30 L/orang/hari sampai dengan 50 L/orang/hari. dengan kapasitas yang ditentukan berdasarkan jumlah pemakai MCK. j. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum dapat dilihat pada Tabel 1. terdapat sumber air. b. Tata cara penanganan sampah B3 di daerah mengacu pada Keputusan 03/BAPEDAL/09/1995. Tabel 1. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. i. c. Pengolahan limbah dari MCK umum dilakukan menggunakan septik tank. 10 meter. kakus) umum dibangun di permukiman yang tidak tersedia fasilitas MCK pribadi. diperhitungkan setiap sumur harus dapat melayani 10 kepala keluarga. Banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MCK umum untuk jumlah pemakai tertentu harus dapat menampung pelayanan pada jam-jam sibuk.d. Sistem plambing pada MCK umum mengikuti sistem plambing air bersih dan air limbah pada peraturan ini. h. b.

fasilitas umum dan jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. alat pengumpul.200 Banyaknya ruangan Man Cuc Kaku di i s 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 4 4 4 5 4 4 5 6 4 6 6 3.Jumlah pemakai (orang) 10 – 20 21 – 40 41 . e. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. c. dan tempat penampungan sampah sementara sedangkan pengumpulan dan pembuangan akhir sampah bergabung dengan yang sudah ada. Pola pengumpulan komunal terdiri dari : pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung. Penyediaan secara komunal dapat dilakukan oleh instansi berwenang atau swadaya masyarakat maupun pihak swasta. Wadah komunal disediakan bagi pemukiman yang sulit dijangkau oleh alat angkut dan pemukiman yang tidak teratur. tidak menganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya.80 81 – 100 101 – 120 121 – 160 161 . . d. maksimal setiap 2 hari sekali. b. dan sistem pengumpulan komunal dapat dilihat pada Lampiran 5. Wadah komunal ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber sampah. alat pengumpulan (pick up sampah). Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). f. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal a. Gambar wadah sampah komunal (kontainer sampah). sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. di ujung gang atau jalan kecil. Bagi developer yang membangun + 80 rumah harus menyediakan wadah sampah.

dan : (1) Bangunan klas 2. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku.XII. bukaan. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. (a) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sahitasi. bukaan. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi.6 m diatas lantai. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. (a) Jendela. ii. (2) Bangunan kelas 5. (b) jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas . Ventilasi alami sesuai dengan ketentuan ventilasi alami di bawah ini. 6. pelataran parkir. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini.1 VENTILASI 1. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. ii. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka : i. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. dengan jarak tidak lebih dari 3. ke arah : (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. 8 atau 9. Penerapan ventilasi alami. atau b. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. bukaan. 2. pintu ventilasi. jendela. bukaa. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. (2) teras terbuka. bukaan. (b) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. dan yang sejenis. 7. Kebutuhan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai : a. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 . (c) ruangan bersebelahan dengan jendela. atau daerah yang terbuka ke atas. Ventilasi Alami a.

6. (c) Luas ventilasi' yang diatur pada butir (1) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. koridor atau ruang lainnya. iv. (2) pada bangunan Kelas 5. sekolah TK atau panggung terbuka). (a) Jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah : (1) dapur atau pantry. atau (3) harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. v. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan : (1) jika berada dibawah lantai dasar. (5) ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. ventilasi tidak kurang dari 10 (uas lantai kedua ruangan tersebut. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yahg dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya : (1) Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4 . sekolah TK atau panggung terbuka). 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. vi. (3) asrama pada bangunan Kelas 3. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. (2) ruang makan umum atau restoran. (2) harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/ halaman dibawah lantai dasar. (a) jalan masuk harus melalui ruang antara. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: .iii. (4) ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. 7. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman.

sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni.5 kW untuk daya listrik. Konservasi Energi a. c.2 PENGKONDISIAN UDARA 1. 2. lebih dari : (a) 0. atau sebaliknya. f. Bilamana digunakan ventilasi buatan.8 MJ/jam untuk daya gas.(1) sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang beriaku. atau (b) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. rumah sakit. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai.60 meter diatas lantai. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang beriaku. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang beriaku. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. pabrik. atau (2) sistem ventilasi alami permanen yang memadai. b. e. XII. d. 3. jika : (1) setiap peralatan masak yang mempunyai : (a) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. atau (b) 1. toko. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistzm ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Ventilasi Buatan a. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. (2) total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara mateimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. dan miriir'a 8 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. vii. minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI . kantor. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya.

(2) Semua saluran udara harus direncanakan. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. sistem kontrol. Penetapan sistem dan peralatan. Perhitungan Beban Pendinginan a. sistem distribusi udara. dan standar teknis lain yang beriaku. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. b. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. Dasar perancangan i. isolasi pemipaan. b. . (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem fan. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. pemilihan peralatan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. ii. 3. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. c. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. sistem pompa dan pemipaan. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. iii. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan.tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.

k. seperti proses produksi dan penyimpanan. h. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. daerah luar bangunan. penyiaran televisi. pencahayaan di unit pengeboran. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi : a. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. PENCAHAYAAN BUATAN 1. 2.00 malam sampai jam 06. l.2. fasilitas luar untuk olahraga. pencahayaan khusus laboratorium. g. pencahayaan luar untuk monumen publik. Kamar. XIII. efektif dan sesuai dengan a. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dari fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. pencahayaan untuk pameran seni. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. taman dan daerah bagian luar lainnya. n. ruangan.XIII. b. Kamar. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan bualan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan bebsn pendinginan bangunan. ruangan didalam bangunan. (3) tempat bongkar muat barang. pencahayaan untuk rambu-rambu. m.00 pagi. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. museum dan monumen.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. pencahayaan untuk pembuatan film. b. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. pencahayaan darurat yang secara otomatis "mati" selama operasi normal. seperti : (1) pintu masuk. klub malam. e. i. j. . dsb. PENCAHAYAAN XIII. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan kualitas tampilan. meliputi : kegiatan diluar bangunan. c. f. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. d. gallery. c. (2) pintu keluar. jalan.

2. a. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan. 4. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor alumunium anodized berkualitas tinggi. b. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. balas. 5. dan reflektor yang efisien. 3.kebutuhan ruangan. Tingkat lluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang “Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung". 6. Pemanfaatan pencahayaan alami .3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. mempunyai karakteristik . Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Untuk fasilitas banyak bangunan. XIII. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. jenis reflektor yang efisien. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan menggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. 7.

Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu "KELUAR". pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. 1. c. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Pengendali harus digunakan . Penentuan besarnya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI2396 tentang Penerangan Alami Sianghari untuk Rumah dan Gedung. Jika perlu. e. otomatis atau yang terprogram. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap grup yang melayani luasan 30 m2 atau kurang. XIII. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. b. c. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafon harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. langit yang cerah. f. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus-menerus. b. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut : a. 2. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan/atau kaca ganda. d. obyek luar.Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. 3. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama di dekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. ekcuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell).4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN Semua sistem pencahayaan. baik dari sumber sinar mata langsung. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan : a. Pengendaiian silau pada bangunan. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur.

b. Pengendali yang memerlukan operator yang leriatih. . 2. kecuali : a. Pengendali dipusatkan di lokasi . pasar swalayan. e. engendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Pengendali yang diprogram. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/ dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. hotel dan rumah sakit. d. Letak pengendali harus mudah dicapai. Pengendali otomatis.sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. gedung dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). c. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang terletak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendaii untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. pertokoan.yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor.

Arah bukaan c. Posisi Bukaan 2. KENYAMANAN. Luas Bukaan pada Bidang Atap b. Jika bukaan diletakkan pada bagian dinding yang terkena sinar matahari langsung maka harus disediakan peneduh sinar matahari yang mencukupi. 2. Perletakan bukaan pada bagian-bagian persimpangan jalan agar pengguna jalan saling dapat melihat sebelum tiba pada persimpangan. 3. XIV. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. a. KEBISINGAN 1. SIRKULASI UDARA 1. 2. 2. Ketinggian bukaan d. Arah bukaan c. Penyediaan ventilasi yang cukup disamping untuk memenuhi persyaratan kesehatan. makhluk lain dan . Posisi Bukaan XIV.1 KENYAMANAN TERMAL 1. 4. juga harus dapat menyediakan kenyamanan termal dalam ruang yang dapat menurunkan temperatur dan kelembaban. Baku Tingkat Kebisingan i. ukaan ventilasi ditempatkan pada arah angin datang untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan udara dalam ruang. Perletakan elemen-elemen alam dan buatan untuk mengurangi/meredam kebisingan yang datang dari luar bangunan dan luar lingkungan. Pada Bidang Dinding terhadap Pengaturan Suhu Udara dan Kelembaban Ruangan.XIV. Perletakan dan penataan elemen-elemen alam dan buatan pada bagian bangunan maupun ruang luarnya untuk tujuan melindungi hak pribadi. Penggunaan jenis-jenis material dan jenis-jenis lapisan dinding untuk meredam kebisingan di dalam bangunan. Luas bukaan pada bidang dinding b.4. Bukaan-bukaan sedapat mungkin diletakkan pada bidang dinding yang tidak terkena sinar matahari langsung untuk mengurangi perolehan panas dalam ruang. KEBISINGAN DAN GETARAN XIV. a.3 PANDANGAN 1. XIV.2. Pada Bidang Atap a.

lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. 1. Salah satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku.5 GETARAN Penggunaan material dan sistem konstruksi bangunan untuk meredam getaran yang datang dari bangunan lain dan dari luar lingkungan. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang beriaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan. 2. Baku Tingkat Getaran a. beriaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. XIV. ii. b. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut. . maka untuk usaha atau kegiatan tersebut beriaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. b. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan. makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan.

BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG
I. PENGERTIAN Definisi bangunan gedung sesuai dengan Ketentuan umum yang termuat dalam UU No 28 tentang Bangunan Gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 1. Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya. 2. Pembangunan bangunan gedung dapat dilakukan baik di tanah milik sendiri maupun di tanah milik pihak lain 3. Pembangunan bangunan gedung diatas tanah milik pihak lain dilakukan berdasar perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan pemilik bangunan gedung. 4. Pembangunan bangunan gedung dapat dilaksanakan setelah rencana teknis bangunan gedung disetujui oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan, kecuali bangunan gedung fungsi khusus. 5. Tata cara pengesahan rencana teknis bangunan gedung yang diatur lebih lanjut dalam Qanun. II. PENYELENGGARAAN Penyelenggara bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang meliputi pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. 1. Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran 2. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan administrative maupun persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung. 3. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan adiministratif dan persyaratan teknis tersebut diatas, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap. 4. Pelaksanaan pentahapan pemenuhan ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi social, budaya dan ekonomi masyarakat, meliputi: a. Persyaratan administrative

i. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah ii. Status kepemilikan bangunan gedung , dan iii. Izin mendirikan bangunan gedung b. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur, pondasi, struktur, sanitasi dan elektrikal 5. Penyelenggara a. Pemilik Bangunan Gedung Pemilik bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.

b. Pengguna Bangunan Gedung Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. c. Penyedia Jasa Konstruksi Penyedia jasa konstruksi adalah orang atau lembaga independen dan mandiri yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan konstruksi serta memiliki ijin di bidang pelaksanaan bangunan. Ketentuan mengenai jasa konstruksi mengikuti peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi. III. PERENCANAAN 1. Perencanaan adalah kegiatan penyusunan rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan fungsi dan persyaratan teknis yang ditetapkan, sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan pengawasan bangunan. 2. Rencana teknis bangunan gedung dapat terdiri atas rencanarencana teknis arsitektur, struktur dan konstruksi, mekanikal dan elektrikal, pertamanan, tata ruang dalam dan disiapkan oleh penyedia jasa perencanaan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan rencana kerja dan syaratsyarat administrative, syarat umum dan syarat teknis, rencana anggaran biaya pembangunan dan laporan perencanaan. 3. Persetujuan rencana teknis bangunan gedung dalam bentuk izin mendirikan bangunan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan asas kelayakan administrasi dan teknis, prinsip pelayanan prima serta tata laksana pemerintahan yang baik. 4. Perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan harus dilakukan oleh dan/atau atas persetujuan perencana teknis bangunan gedung, dan diajukan

terlebuh dahulu kepada instansi yang berwenang untuk mendapatkan pengesahan. 5 .Untuk bangunan gedung fungsi khusus izin mendirikan bangunannya disetujui oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah 6. Untuk bangunan gedung fungsi khusus, rencana teknisnya harus mendapatkan pertimbangan dari tim ahli terkait sebelum disetujui oleh instansi berwenang dalam pembinaan teknis bangunan gedung fungsi khusus. IV. PELAKSANAAN Adalah kegiatan pendirian, perbaikan, penambahan, perubahan atau pemugaran konstruksi bangunan gedung dan /atau instalasi dan/atau perlengkapan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang disusun. 1. Pendirian a. Mendirikan bangunan ialah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian, termasuk pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan bangunan itu. b. pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai dikerjakan setelah Dinas Kimpraswil menetapkan garis sepadan serta ketinggian permukaan tanah persil tempat bangunan bersangkutan akan dididirikan, sesuai dengan rencanan yang telah ditetapkan dalam IMB. c. Dinas Kimpraswil menunjukkan letak garis sepadan dan menandai ketinngian permukaan persil selambat-lambatnya 14 ( emapt belas ) hari setelah diserahkan IMB kepada pemohonnya; d. Bila setelah 14 (empat belas ) hari sesudah diserahkannya IMB Dinas Kimpraswil tidak melaksanakan tugasnya , pemohon IMB dapat mengajukan permohonan kepada gubernur agar dinas kimpraswil segera melakukan tugasnya. 2. Perbaikan 3. Penambahan 4. Perubahan Merubah bangunan ialah pekerjaan menggali dan/atau menambah bagian bangunan yang ada, termasuk pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut. 5. Pemugaran konstruksi a. Bangunan Gedung b. Instalasi c. Perlengkapan Bangunan

V. PENGAWASAN Adalah kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan gedung. 1. Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi a. Petugas Dinas Kimpraswil berwenang: i. memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja; ii. memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku atau standart yang berlaku. iii. memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan, demikian pula lat-alat yang diaanggap berbahaya serta merugikan kesehatan/keselamatan untuk pekerjaan tersebut b. Pemilik IMB wajib memberitahukan kepada Dinas Kimpraswil saat telah selesainya seluruh pekerjaan mendirikan bangunan tersebut dalam IMB, selambat-lambatnya 48 ( empat puluh delapan) jam setelah pekerjaan mendirikan bangunan itu selesai; c. Bila pekerjaan mendirikan bangunan menurut kenyataannya telah selesai dilaksanakan sesuai dengan IMB, Dinas Kimpraswil memberi surat keterangan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan kepada penerima IMB. d. Bila dalam jangka waktu 14 ( empat belas 0 hari setelah pemeberitahuan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan tidak ada pemeriksaan dari Dinas Kimpraswil, penerima IMB dapat meminta Gubernur untuk mememrintahkan agar Dinas Kimpraswil segera melaksanakan pemeriksaan. 2. Manajemen Konstruksi Pembangunan a. Pengawas pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan adalah perorangan atau badan hukum. b. Bilamana pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan adalah perseorangan, kepadanya diwajibkan memiliki ijin bekerja yang dikeluarkan oleh Gubernur. c. Pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan melaksanakan perintah dan bertanggungjawab kepada perencana bangunan dan pemilik IMB d. Tugas dan tanggungjawab pengawas pekerjaan mendirikan bangunan tidak dapat dipindah alihkan kepada pihak lain dengan bentuk atau cara apapun tanpa persetujuan dari pihak penerima IMB

VI.

PEMANFAATAN

c. dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah (2) Status kepemilikan bangunan gedung . dan (3) Izin mendirikan bangunan gedung ii. Pemeliharaan. sanitasi dan elektrikal. Persyaratan administrative dan teknis untuk bangunan gedung adat.Adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan termasuk kegiatan pemeliharaan. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung dan Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk sertifikat laik fungsi bangunan gedung. kesehatan. 1. c. yaitu berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan tata bangunan. kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur. serta persyaratan keselamatan. khusunya bangunan umum wajib dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kelaikan fungsinya. Persyaratan (1) Status hak atas tanah. b. bangunan gedung darurat dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencanan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi social dan budaya setempat. b. Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh tenaga/konsultan ahli yang telah diakreditasi setiap 5 ( lima) tahun sekali. b. d. Persyaratan Teknis a. pondasi. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. perawatan dan pemeriksaaan secara berkala. Persyaratan Laik Fungsi a. 2. Perawatan dan Pemeriksaan a. Persyaratan administrative dan persyaratan teknis tersebut adalah: i. struktur. . Yang dimaksud laik fungsi. 3. Persyaratan teknis bangunan gedung tersebut diatas meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. Dinas Kimpraswil mengadakan penelitian atas hasil pemeriksaan berkala tersebut diatas mengenai syarat-syarat adminstrasi maupun teknis. bangunan gedung semi permanen. Untuk bangunan yang telah ada.

Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan . Kepala Dinas Kimpraswil dapat menghentikan penggunaan bangunan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan Sertifikat laik fungsi. Pengertian a. dilakukan oleh Pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan c. pemugaran. f. Adalah kegiatan perawatan. Dinas Kimpraswil memberikan sertifikat laik fungsi apabila bangunan diperiksa telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. pemugaran dan pemanfaatannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.d. Dalam rangka pengawasan penggunaan bangunan. Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarikan. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian serta teknis perbaikan. petugas Dinas Kimpraswil dapat minta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan Sertifikat laik Fungsi beserta lampirannya. maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam SLF. harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. g. b. Gubernur/Dinas Kimpraswil akan mencabut Izin Mendirikan Bangunan yang telah diterbitkan. Dalam hal terjadi pada ketentuan diatas. 2. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memeperhatikan ketentuan perundang-undangan . Perlindungan a. PELESTARIAN 1. e. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan. b. dan pemanfaatan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya. pemugaran serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. pemugaran. e. Pelaksanaan perbaikan. VII. d. Perbaikan.

d. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. perorangan atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. PEMBONGKARAN 1. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. 4. Perbaikan. 3. atau bagianbagiannya. Pelestarian Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok. Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah UU tentang cagar Budaya. Pengkaji teknis adalah orang. pemugaran. Pemanfaatan Bangunan Gedung dan lingkungan cagar Budaya a.c. atau dapat dimanfaatkan sesuai potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan criteria yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah dan/ atau pemerintah. Bangunan gedung dapat dibongkar ditetapkan berdasarkan persetujuan Pemerintah daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarananya. Pelaksanaan perbaikan. komponen. b. 5. Pelaksanaan Perbaikan dan Pemugaran Perbaikan. Adalah kegiatan membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung. pemugaran dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan VIII. dan kebudayaan termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. c. atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun atau mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 ( lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah. Pengkajian teknis bangunan gedung kecuali untuk rumah tinggal. b. pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestraikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula. . Pengertian a. ilmu pengetahuan.

Persyaratan Pembongkaran Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. pemohon harus terlebih dahulu minta petunjuk tentang rencana membongkar bangunan kepada Dinas Kimpraswil yang meliputi: i. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan yang berlaku 3. Pemilik bangunan dapat mengajkan permohonan untuk membongkar bangunannya. mendapatkan surat ketetapan bangunan gedung dan/atau lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dari Pemerintah Daerah iv. mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Daerah atas rencana teknis bangunan gedung yang telah memenuhi persyaratan. b. Pengertian a. Tidak memiliki izin mendirikan bangunan d. pemilik bangunan gedung mempunyai hak: i. ii. IX. mendapatkan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan apabila bangunannnya dibongkar . dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya. iii. Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasar rencana teknis pembongkaran yang disetujui oleh Pemerintah Daerah. mengubah fungsi bangunan setelah mendapat izin tertulis dari Pemerintah Daerah. 2. v. tujuan atau alas an membongkar bangunan. Sebelum mengajukan permohonan Izin Merobohkan Bangunan .e. hal-hal lain yang ddianggap perlu. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG 1. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah iii. tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki b. c. cara membongkar bangunan iv. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. persyaratan membongkar bangunan. mendapatkan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah daerah karena bangunannya ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan. ii. Tata Cara Pembongkaran a. vi.

melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang telah disahkan dan dilakukan dalam batass waktu berlakunya izin mendirikan bangunan. d. 3. b. menyediakan rencana teknis bangunan gedung yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan fungsinya. d. mendapatkan keterangan tentang ketentuan persyaratan keandalan bangunan gedung. c. mendapatkan keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan pada lokasi dan/atau ruang tempat bangunan akan dibangun. memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum X. meminta pengesahan dari Pemerintah daerah atas perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan bangunan. 2. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya. Pengertian . mengetahui tata cara/ proses penyelenggaraan bangunan gedung. melengkapi pedoman / petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung. f. c. memelihara dan /atau merawat bangunan gedung secara berkala. PERAN SERTA MASYARAKAT 1. b. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. iv. e. Kewajiban pemilik dan Pengguna a. e. membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki. melaksanakan pemeriksaaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung. memperbaiki pemeriksaan secara berkala yang telah ditetapkan tidak laik fungsi. Hak Pemilik dan Pengguna a. pemilik bangunan gedung mempunyai kewajiban: i. ii. b.oleh Pemerintah daerah atau pihak lain yang bukan diakibatkan oleh kesalahannya. mendapatkan keterangan tentang ketentuan bangunan gedung yang laik fungsi. mendapatkan keterangan tentang bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. memiliki izin mendirikan bangunan iii.

Penyampaian pendapat dan pertimbangan dapat melalui tim ahli bangunan gedung yang dibentuk oleh Pemerintah daerah atau melalui forum dialog dan dengar pendapat publik c. Masyarakat adalah suatu kesatuan penduduk yang dikenal sebagai komunitas dimana ikatan social nya realtif masih erat. Gugatan perwakilan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan oleh perorangan atau kelompok orang yang mewakili para pihak yang dirugikan akibat adanya penyelenggaraan bangunan gedung yang mengganggu. seperti dalam memanfaatkan fungsi bangunan gedung sebagai pengunjung pertokoan. Memantau dan menjaga Ketertiban Penyelenggaraan a. mal. Memberi Masukan Kepada pemerintah Daerah a.atau membahayakan kepentingan umum. dan pemanfaat tempat umum lain.a. masyarakat dapat menyampaikan laporan. Apabila terjadi ketidaktertiban dalam pembangunan. Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu. 2. 4. Adalah memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan. Setiap orang juga berperan dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku. 3. Menyampaikan Pendapat dan Pertimbangan Kepada Instansi yang Berwenang a. . pemanfaatan. rencana teknis bangunan gedung tertentu dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. pedoman dan standart teknis di bidang bangunan gedung b. Yang dimaksud dengan penyempurnaan adalah termasuk perbaikan Peraturan daerah tentang bangunan gedung sehingga sesuai dengan undang-undang /peraturan diatasnya. pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung. pasar. Peran serta masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan proyek pembangunan b. masukan dan usulan kepada Pemerintah daerah b. Melaksanakan Gugatan a.merugikan atau menbahayakan. b. Adalah menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan. merugikan dan.bioskop. b. Penyampaian pendapat tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang bersangkutan ikut memiliki dan bertanggungjawab dalam penataan bangunan dan lingkungannya 5.

Pemberdayaan adalah kegiatan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. kewajiban dan perannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. 4. b. pemberdayaan dan pengawasan sehingga setiap penyelenggaraan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan tercapai keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya serta terwujudnya kepastian hukum. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. asosiasi profesi. Pelaksanaan pembinaan oleh Pemerintah daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas pemerintahan daerah. Masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung sepeti masyarakat ahli. 2. sosialisasi dan pelembagaan di tingkat masyarakat. b. Pembinaan dilakukan dalam rangka tata pemerintahan yang baik melalui kegiatan pengaturan. c. petunjuk dan standar teknis bangunan gedung sampai dengan di daerah dan operasionalisasinya di masyarakat. Pemberdayaan Masyarakat a. Pengertian a. Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung a. Pembinaan Bangunan Gedung a. Pemberdayaan dilakukan terhadap para penyelenggara bangunan gedung dan aparat Pemerintah Daerah untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. d. b. asosiasi perusahaan. Pemberdayaan masyarakat yang belum mampu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bangunan gedung melalui upaya internalisasi. . pedoman.XI. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah 3. c. Sebagian penyelenggaraan dan pelaksanaan pembinaan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah b. Pengaturan dilakukan dengan pelembagaan peraturan perundang-undangan. kewajiban dan peran para penyelenggara bangunan gedung dan aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan bangunan gedung. PEMBINAAN 1.

dan /atau persyaratan. b.Sanksi administrative dapat berupa: i. ii. Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung. perintah pembongkaran bangunan gedung.masyarakat pemilik dan pengguna bangunan gedung dan aparat pemerintah XII. penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan iv. SANKSI 1. jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari nilai bangunan gedung. Pengertian a. . Sanksi Pidana dapat berupa: i. atau ix. ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% 9sepuluh per seratus) dari nilai bangunan. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. pembekuan sertifikat laik fungsi bangunan gedung viii. pencabutan izin mendirikan bangunan gedung vii. pencabutan sertifikat laik fungsi bangunan gedung. penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung v. jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup. pembatasan kegiatan pembangunan iii. iii. peringatan tertulis ii. jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain . iv.dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung dikenai sanksi adminitratif dan/atau sanksi pidana b. Dalam proses peradilan atas tindakan sanksi pidana tersebut diatas. Bentuk Sanksi a. Sanksi Administratif adalah sanksi yang diberikan oleh administrator ( pemerintah) kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tanpa melalui proses peradilan karena tidak terpenuhinya ketentuan undang-undang. ancaman pidana penjara paling lama 5 ( lima )) tahun dan/atau denda paling banyak 20% ( dua puluh per seratus ) dari nilai bangunan gedung. pembekuan izin mendirikan bangunan gedung vi. 2.

II. Selain pengenaan sanksi administrative sebagaimana jenisnya. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. konstruksi maupun arsitektural dari bangunanbangunan semula yang telah mendapat izin. XIII. Pemerintah Daerah dapat memberikan izin untuk: I. b. Nilai bangunan gedung dalam ketentuan sanksi adalah nilai keseluruhan suatu bangunan pada saat sedang dibangun bagi yang sedang dalam proses pelaksanaan konstruksi. membuat lubang-lubang ventilasi. c.3. b. d. III. memperluas bangunan-bangunan yang telah ada. d. Pemberiaan Izin Bangunan a. penerangan dan lain sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 meter. Tidak Diperlukan Izin Bangunan Izin Bangunan tidak diperlukan dalam hal: a. 2. PERIJINAN 1. maka persolannya akan dapat diajukan kepada H\gubernur untuk diputuskan. mendirikan bangunan-bangunan sementara yang diperlukan dalam pelaksanaan sesuatu pembangunan selama pekerjaan-pekerjaan itu dilaksanakan. membongkar bangunan-bangunan yang menurut pertimbangan Kepala Dinas tidak membahayakan. IV. Jika Kepala Dinas berkeberatan terhadap permohonan izin tersebut diatas. Tata Cara Pengenaan Sanksi a. Jenis pengenaan sanksi ditentukan oleh berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan. Izin bangunan diberikan berdasarkan keputusan Pemerintah Daerah b. mendirikan bangunan-bangunan permanen. mendirikan bangunan-bangunan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada. pelanggar dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% ( sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun c. atau nilai keseluruhan suatu bangunan gedung yang ditetapkan pada saat sanksi dikenakan bagi bangunan gedung yang telah berdiri. pendirian bangunan-bangunan yang tidak permanen untuk pemeliharaan binatang-binatang jinak atau tanamantanaman dengan syarat-syarat : . c. pemeliharaan bangunan-bangunan dengan tidak mengubah denah.

i. Pemohon harus mengetahui tentang: jenis/peruntukan bangunan. ii. v. dilarang mendirikan bangunan: i.sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah yang ada d. ditempatkan dihalaman belakang ii. viii. persyaratan-persyaratn perencanaan. vi. tiang bendera di halaman/ pekarangan rumah e. menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari surat izin mendirikan bangunan. perhitungan struktur untuk bangunan bertingkat ( lebih dari 2 lantai) iv. pelaksanaan dan pengawasan bangunan. dilarang mendirikan bangunan-bangunan diatas tanah orang lain tanpa izin pemiliknya atau kuasanya yang sah. menyimpang dari rencamna pembangunan yang menjadi dasar pemberian izin bangunan.i. garis sempadan yang berlaku. pertimbangan pemerintah daerah setempat. gambar rencana bangunan. jumlah lantai/lapis bangunan diatas/dibawah permukaan tanah yang diizinkan. ii. persayaratan-persyaratan bangunan. b. membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanen f. Larangan Mendirikan/Mengubah Bangunan a. loefisien lantai bangunan. koefisien daerah hijau. v. iii. membuat kolam hias . ii. x. 4. salinan atau fotocopi bukti pemilikan tanah. persetujuan/ izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya. b. tidak mempunyai izin tertulis dari Pemerintah Daerah ( IMB). iii. Permohonan Izin Bangunan a. Permohonan Izin Mendirikan Bangunan harus dilampiri dengan: gambar situai. . iii. koefisien dasar bangunan yang diizinkan. luas tidak melebihi 10 (sepuluh ) meter persegi dan tingginya tidak lebih dari 2 (dua) meter. hal-hal lain yang dipandang perlu. i. iv. ix. mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah diperoleh izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan g. menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang bangunan gedung c. vii. vi. luas lantai bangunan yang diizinkan. taman dan patung. mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh izin selama mendirikan suatu bangunan 3.

pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 ( tiga ) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan. d. Surat Izin Mendirikan Bangunan ditandatangani oleh Kepala Dinas atau pejabat lain yang ditunjuk. Izin Mendirikan bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. pemegang izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan. b. aliran air (air hujan). b.Izin mendirikan bangunan diberikan paling lambat 3 ( tiga) bulan setelah dikeluarkan surat izin sementara. j. adanya keberatan yang diajukan dan dibenarkan oleh Pemerintah. e. Penolakan Suatu Izin Bangunan a. cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada. . rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. bangunan akan mengganggu lalu lintas. c. bertentangan dengan Undang-Undang. dalam waktu 6 ( enam) bulan setelah tanggal izin itu diberilkan. apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana Pemerintah. Putusan Suatu Permohonan Izin Bangunan a . apabila bangunan yang akan didirikan tidak memenuhi persyaratan teknis bangunan. sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya. e. Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Bea Balik Nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. i. h. f. Pencabutan Izin Bangunan a. 6. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan dan pemohon belum memulai pelaksanaan pekerjaannnya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya.5. d. bangunan yang akan didirikan diatas/lokasi yang penggunaanya tidak sesuai dengan rencana kota yang sudah ditetapkan dalam RTRW. Qanun Propinsi atau peraturan lainnya yang setingkat dengan Qanun tersebut diatas. b. c. 7. Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Kepala Dinas dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun. g. f. izin yang telah diberikan itu kemudian ternyata didasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru. c. karena persyaratan-persyaratan dalam Peraturan Daerah ini tidak dipenuhi. apabila bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitar.

alas an-alasan yang menjadi dasar permohonan banding itu. tanggal dan nomor keputusan yang dimohon banding. dari 8. ii. b.d. c. Permohonan banding harus memuat: i. Keputusan kepala Dinas mengenai penetapan ketentuanketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut atau penetapan larangan. Kepala Dinas membentuk Panitia untuk mempersiapkan penyelesaian permohonan banding itu f. nama dan tempat tinggal yang berkepentingan atau kuasanya. dalam jangka waktu satu bulan setelah dikirimkannya keputusan. Kepala Dinas dapat memperpanjang jangka waktu itu selama-lanya satu bulan. Permohonan banding dikenakan terhadap: i. . e. pernyataan keputusan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. maka izin itu berlaku kembali. Jika pencabutan surat izin bangunan dinyatakan tidak beralasan oleh dan dengan suatu keputusan DPRD. d. Keputusan penolakan atau pencabutan surat izin oleh Kepala Dinas. ii. pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang rencana dan syarat-syarat yang disahkan. Permohonan banding oleh yang berkepentingan dilakukan secara tertulis. Dalam keadaan luar biasa. Permohonan Banding Kepada Kepala Daerah a. iii. iv.

dan metode uji bangunan. serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. tata cara. komponen. KETENTUAN PENUTUP Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Babbab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI). elemen.BAB V. . pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->