DRAFT

MATERI TEKNIS
PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

( BUILDING CODE )

KABUPATEN ACEH BESAR

Dibuat atas kerjasama:

Universitas Syiah Kuala – Aceh Besar
dengan
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura Nomor 20 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110 Telepon (021) 727 99248

DAFTAR ISI
BAB I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.1. TINJAUAN ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI 1. Sejarah Kabupaten Aceh Besar 2. Sosial Budaya Masyarakat 3. Letak Gegrafis dan Administrasi 4. Hidrologi 5. Kependudukan 6. Perekonomian I..2. TINJAUAN ASPEK FISIK 1. Umum 2. Kondisi Fisik Wilayah sebelum Tsunami 3. Stuktur Kabupaten Aceh Besar 4. Bentang Alam Kabupaten Aceh Besar

BAGIAN II RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH II.1 REVIEW RTRW KOTA ACEH BESAR M ------- ISINYA SAMA DGN YANG DI BAB II 1. Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan wilayah Kabupaten 3. Komponen-komponen Utama RTRW 2002-2010 II.2. SKENARIO TATA RUANG 1. Pindah ke Lokasi Aman 2. Tetapa di Lokasi Semula STRATEGI PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH BESAR 1. Konsep Tata Ruang 2. Kegiatan yang Sifatnya Sederhana 3. Kegiatan yang sifatnya Intensif 4. Pelaksanaan Pembangunan 5. Peranan Fasilitas Sosial 6. Jumlah dan Bentuk Fasilitas 7. Pembangunan Iinfrastruktur ARAHAN 1. Zona 2. Zona 3. Zona 4. Zona PEMANFAATAN RUANG -------- ISINYA SAMA DGN YG BAB II Pantai Perikanan/Tambak Taman Kota Pemukiman

II.3.

II.4.

5. 6. 7. 8. 9. II.5.

Zona Zona Zona Zona Zona

Landmark dan Pusat Pemerintahan Kota Pemukiman Baru Pusat Bisnis dan Pemerintahan Pendidikan Tinggi Pertanian

STRUKTUR RUANG 1. Penajaman Aspek Geology 2. Penelitian Bangunanyang masih Berdiri tetapi sudah rusak 3. Site Plan atau Urban Design Kawasan Pusat Kota 4. Site Plan Penataan Ruang Daerah Buffer Zone 5. Konsilidasai Pertanahan di daerah yang paling Rusak akibat Gempa 6. Penyiapan Zona Regulasi 7. Penyiapan Building Code 8. Mendorong Proses Legillasi di DPRD BAGIAN III WILAYAH BENCANA GEMPA THUNAMI DAN BADAI III.1 PENGARUH TSUNAMI 1. Jangakauan Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami 2. Zonasi Kerusak,an 3. Arah Terjangan Gelombang III.2 III.3 III.4 ASPEK FISIK KABUPATEN ACEH BESAR KARAKTERISTIK KABUPATEN ACEH BESAR ZONASI FISIK

BAGIAN IV KETENTUAN UMUM DAN PENGERTIAN UMUM

BAGIAN V FUNGSI BANGUNAN GEDUNG

BAB II. KONSEP RENCANA TATA RUANGAN DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I.1. KEBIJAKAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG KABUPATEN/KOTA 1. Sistem Kota/kabupaten 2. Struktur Kota/kabupaten 3. Kawasan Non Budidaya 4. Kawasan Budidaya I.2. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG/KABUPATEN/KOTA 1. Mewujudkan penghidupan yang aman dan lebih baik; 2. Memberi pilihan kepada warga untuk bermukim; 3. Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana; 4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama; 5. Pendekatan penataan ruang partisipatif; 6. Memitigasi bencana; 7. Tata ruang memadukan pendekatan dari atas dan bawah; 8. Mengembalikan peran pemerintah daerah; 9. Perlindungan hak perdata warga; 10.Mempercepat proses administrasi pertanahan; 11.Pengaturan mengenai kompensasi; 12.Revitalisasi kegiatan ekonomi; 13.Mememulihkan daya dukun lingkungan; 14.Memulihkan sistem kelembagaan SDA dan LH; 15. Rehabilitasi strultur dan pola tata ruang; dan 16.Membangun kembali kota. ZONASI FISIK ACEH BESAR 1. Kawasan Lindung (Conservation, Zona V), 2. Kawasan Pengembangan Terbatas (Restricted Development Area, meliputi zona I, II, dan III), Kawasan Pengembangan (Promoted Development Area, zona IV). ARAHAN PEMANFAATAN RUANG ACEH BESAR 1. Zona pantai, 2. Zona perikanan/tambak, 3. Zona taman kota, 4. Zona permukiman, permukiman terbatas dan permukiman perkotaan, 5. Zona landmark dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar, 6. Zona permukiman baru bagi penduduk yang ingin pindah,

I.3

I.4.

.6. Zona pusat bisnis dan pemerintahan provinsi dan fasilitas perkotaan berskala kota dan regional.5. Arah Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota 2. REVISI RTRW 2002-2010 (Qanun No. Energi.3/2003) 1. Zona pertanian. Telekomunikasi. Sistem Prasarana & Transportsai. Zona pendidikan tinggi.7. Pengairan dan Prasarana Pengelolan Lingkungan I. Pemukiman 2. 8. Pengelolaan Kawasan Hijau & Kawasan Pemukiman 3. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota KOMPONEN UTAMA RTRW TH 2002-2010 1. dan 9. I.

2.1 ARSITEK BANGUNAN 11. Tampilan pada Rekonstruksi Bangunan dan Terhadapa Bangunan di Sekitarnya 66. Teknis I. PERUNTUKAN. Maksud 22. Tata Urutan Ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang . Tata Letak Bangunan BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. INTENSITAS BANGUNAN 11. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 11. Penentuan Letak Suatu daerah 22. Tujuan BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Luas Bangunan 4. Umum 22.2. Pengertian Umum 22. Klasifikasi Bangunan II. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Moderen 88. Peruntukan Fungsi dan Klasifasi Bangunan 33. Fungsi Bangunan 33. Peruntukan Lokasi 22.1. 1. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan dan Terhadap Bangunan di Sekitarnya 55. Garis Sepadan Bangunan 5.BAB III PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BULDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. Tampilan Arsitektur Bangunan bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat 44. MAKSUD DAN TUJUAN 11. Tampilan Bangunan Terhadap Keserasian Lingkungan 77. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang untuk satu Bangunan 33. PENGERTIAN 11.

Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Perletakan Pencahayaan Buatan III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 11. Persyaratan Perencanaan Struktur IV. Kontruksi Baja 33.4 SIRKULASI. Bentuk Tatanan Bangunan 22. Jenis Ruang Terbuka Hijau 63. Perletakan Saran Keamanan dan Lingkungan 104. Fasiltas Parkir 82. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan 1414.3 RUANG TERBUKA HIJAU 41. Pengaturan Tata Letak Ruang dalam Satu Bangunan 1313. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya III. Tata Letak Ruang dan Jarak Ruang pada Bangunan yang bercirikan lokal 1010. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 44.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 11. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 55. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipe III. Analisa Struktur 42. Persyaratan Umum 22. Kontruksi Beton 22. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan 1515. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 22. Standar Teknis IV.2 TATA LETAK BANGUNAN 11. Orientasi Tatanan Pemukiman 33. Kontruksi Kayu 44. Luas Maksimum dan Minimum III. Tata Letak & Jarak Ruang pada Bangunan Utama 1111. Ketentuan UPL dan UKL 33. PERTANDAAN. Pemisahan Jalan 93.2 PEMBEBANAN 31.99. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi .3 STRUKTUR ATAS 11. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 71. Fungsi Ruang Terbuka Hijau 52. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya 1212.

Proteksi Bukaan V.5 KEANDALAN STRUKTUR 11. Kriteria Demolisi 22.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 11. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Kebakaran 66. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 66. Pemeriksaan dan Perawatan Bangunan IV. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Fungsi 22. Pemeriksaaan. Pengendalian Asap Kebakaran 44.4 STRUKTUR BAWAH 11. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 55.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 11. Keruntuhan Struktur 33. Keselamatan Struktur 22.IV. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran . Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 44. Metode Perbaikan Tanah IV. Ketahanan Api dan Stabilitas 22. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 77. Pesyaratan Kinerja VI. Ketentuan Teknis Pondasi 33. Tipe Konstruksi Tahan Api 33. Persyaratan Keamanan 22. Kompartemensasi dan Pemisahan 55. Kebutuhan Jalan Keluar 33. Pengujian dan Pemeliharaan Deteksi dan Alarm BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI.6 DEMOLISI STUKTUR 11. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 33. Tangga Luar Bangunan 99.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 11. Pusat Pengendali Kebakaran 55. Pemeriksaan. Sistem Pemadam Kebakaran 22. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 88. Prosedur dan Metoda Demolisi BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Perencanaan Umum 22.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 11.

Lebar Tangga 1010. Pengujian dan Pemeliharaan VII. Sangkar Lif 66. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 99. Kapasitas Lif 22. Penerapan 22. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 66. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift Jumlah Orang Yang Ditampung VI. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 44. TANDA ARAH KELUAR. Pegangan Rambat pada Tangga 1818. Rambu pada Pintu VI. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 2222.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII.1 LIF 11. Pintu Ayun 2020. Injakan dan Tanjakan Tangga 1414. Pintu 1919.1010. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 55. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 33. Saf Lif 77. 1313. Ramp Pejalan Kaki 1111. 1414. Pengoperasian Gerendel Pintu 2121. SISTEM PERINGATAN BAHAYA . Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar Pintu Keluar Horisontal Tangga. Lif Kebakaran 33. Pemeriksaan. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 1212. Bordes 1515. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Ambang Pintu 1616. Atap sebagai Ruang Terbuka 1313.3 KONTRUKSI JALAN KELUAR 11. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 88. Instalasi Listrik 99. Balustrade 1717. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 88. 1111. Lobby Bebas Asap 77. Lif untuk Rumah Sakit 55. 1212.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT.

DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Pemeriksaan. Instalansi Telepon 33. Pemerikasaan dan Pengujian 77. 1 SISTEM PLAMBING 11. Sistem Penampungan Air Bersih 44. Perencanaan Instalansi Listrik 22.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 22. Beban Listrik 44. Sumber Daya Listrik 55.VIII. Instalansi Penangkal Petir 33.2 INSTALANSI GAS MEDIK 11.2 TANDA ARAH KELUAR VIII.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 11. Jenis Gas 22. Jaringan Distribusi Gas Kota 33.2 INSTALANSI PENANGKAL PETIR 11.1 1SISTEM LAMPU DARURAT VIII. Transformator Distribusi 66. Sistem Penyediaan Air Bersih 33. Instalansi Tata Suara 44. MATV BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Perencanaan Penangkal Petir 22. Jaringan Distribusi Gas Medik 33.1 INSTALANSI LISTRIK 11. Pemeriksaan dan Pengujian BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Sistem Plambing Air Bersih 55. Pengujian 44. Jenis Gas 22. Perencanaan Sistem Plumbing 22. PENANGKAL PETIR.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 11. Pemeliharaan IX. Pemeliharaan IX. Penggunaan Pompa . Pemeriksaan dan Pengujian X. Jaringan Distribusi Listrik 33.

Pengujian dan Pemeliharaan XI.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN XIII. MCK Umum 163. Hidran Umum 152. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Kelengkapan Dalam Bangunan 72. Ventilasi Buatan XII. Pemeriksaan.1 VENTILASI 11. Sistem Pewadahan 123. Sumber Air Limbah 22. 5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 141. Pemeriksaan. Sistem Pengumpulan XI. Pembunagan dan Pengelolaan Air Limbah 44. 2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 11. Ventilasi Alami 33.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KENYAMANAN. Sistem Penyaluran Air Limbah 55. Perhitungan Beban BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Kelengkapan Diisekitar Bangunan Gedung 83.2 PENCAHAYAAN BUATAN XIII. Sistem Distribusi Air Bersih 87. Kebutuhan Pengkondisian Udara 22. Kebutuhan Ventilasi 22. Sistem Plambing Air Limbah 33. KEBISINGAN DAN GETARAN .2 PENGKONDISIAN UDARA 11. Konservaasi Energi 33. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal 17 18 BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Persyaratan Saluran 94. Potensi Reduksi 134. Timbulan Sampah 112.66.3 PENCAHAYAAN ALAMI XIII. Pemeriksaan. 4 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 101. 3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 61. Sistem Penyediaan Air Panas 76.

PENGAWASAN VI.5 KENYAMANAN TERMAL SIRKULASI UDARA PANDANGAN KEBISINGAN GETARAN BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG I. SANKSI XIII.1 XIV. PEMANFAATAN VII. PEMBINAAN XII. PENGERTIAN II. PENYELENGGARAAN III. PERENCANAAN IV.4 XIV.2 XIV. PELAKSANAAN V.3 XIV. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG X. PERIJINAN BAB V PENUTUP LAMPIRAN .XIV. PERAN SERTA MASYARAKAT XI. PEMBONGKARAN IX. PELESTARIAN VIII.

BAB I: TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I. KETENTUAN UMUM PENGERTIAN UMUM V. FUNGSI BANGUNAN GEDUNG . DAN BADAI IV. WILAYAH BENCANA BAHAYA GEMPA. RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH III. TSUNAMI. TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR II.

BAB II: KONSEP RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I. KETENTUAN UMUM / PENGERTIAN UMUM 2 .

di atas. tidak termasuk lorong tangga. KETENTUAN UMUM I. berusaha. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingkat/lantai. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. Umum Dalam Gedung Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan ini yang dimaksud dengan: a. iii. Teknis a. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. 2. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. d. 3 . ii. c. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotorankotoran dapur. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya.BAB III: PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BUILDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR I. Dinas Bangunan adalah Dinas Teknis di Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. atau ruang dalam shaft. termasuk struktur atap kaca. Pengawas/Pemilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. di mana: i. dan kegiatan lainnya. d. pembinaan. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Aceh Besar c. Daerah adalah Kabupaten Aceh Besar b. kamar mandi. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. b. lorong ramp. bersosial-budaya. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap.1 PENGERTIAN 1.

u. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Antar massa bangunan lainnya. Rencana saluran. t. perbelanjaan. v. q. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. o. seperti keagamaan. Bata tepi sungai/pantai. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. pendidikan. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. jaringan tegangan tinggi listrik. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. p. olah raga. j. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia.e. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. k. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Batas lahan yang dikuasai. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. jaringan pipa gas dan sebagainya. 4 . s. atau iv. n. ii. mengadakan pertemuan. dsb. r. Daerah Hijau Bangunan. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. m. i. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. h. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. iii. rekreasi. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. l. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. f. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil g. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan.

mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan.prasarana saluran umum perkotaan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. bb. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. ff. peralatan. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. aa. Mendirikan Bangunan i. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota.w. untuk tempat kegiatan manusia. selain kamar untuk MCK dan dapur. x. jj. ii. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. y. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan cc. dd. z. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. ii. ee. gg. atau sejenisnya. program tata bangunan dan lingkungan. memperbaiki. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaanpekerjaan yang dimaksud pada butir 2.i. Mendirikan. ruang ganti. w. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. hh. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan 5 . dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. memperluas. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines).

serta persyaratan keandalan bangunan. 2. Maksud Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Aceh Besar. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. mm. Tinghat Ketahanan Api (TKA). Tujuan Tujuan Pedoman Persyaratan Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. arsitektur dan pengendalian dampak lingkungan. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah.1. ll.1 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan a. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. iii. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. integritas. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. menjamin keselamatan pengguna. 6 . sehingga seimbang. ii. ketentuan wujud bangunan. 2.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. yaitu Persyaratan Tata Bangunan dan lingkungan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. ii.kk. I.2 dalam ukuran waktu satuan menit. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. b. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. dan lingkungan. dan insulasi. dan budaya daerah. Peruntukan dan Intensitas: i. masyarakat. Arsitektur dan Lingkungan: i. serasi dan selaras dengan lingkungannya.

menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat iii. Tanda arah Keluar. Transportasl dalam Gedung: i. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. iii.2 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung a. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur.iii. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. Ketahanan terhadap Kebakaran dan Petir: i. b. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. aman. ii. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. 2. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. ii. 7 . Strukfur Bangunan: i. Pencahayean Darurat. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. c. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. d. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. ii. iv. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. dan nyaman di dalam bangunan gedung. ii. e. ii. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman.

ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. menjam di dalam in tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. k. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup.f. i. iii. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. h. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. Sanitasi dalam Bangunan: i. Instalasi Gas: i. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. ii. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. j. iii. Instalasi Listrik. ii. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin terwujudnya kebersihan. ii. ii. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. g. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. 8 . Kebisingan dan Getaran: i. Pencahayaan: i.

jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. . Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Ulee Paya. Lampante. Lam Ateuk. Alue Raya. jarak dari pantai ke daratan 200 – 4000 m. Ujong Mesjid T. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Kecamatan Seulimum : Ayon. Lamkuk. Kecamatan Lhong : Lamsujen. vi. Permukiman dengan kepadatan sedang 1. Permukiman dengan kepadatan tinggi. Tungkop dan Lam Keuneue. Pulo Meurah.1 PERUNTUKAN FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Abee. Blang Tingkeum. ii. Melingge. Zona II (Kawasan Kepadatan Tinggi) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Bak Seutui.1 a Pembagian Zona Zona I (Kawasan Kepadatan Rendah) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Peruntukan Lokasi 1. Meunasah Tunong. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Seurapong. Kecamatan Darussalam : Limpok. 9 v. Lampaya dan Lamkruet. Lam Apeng dan Ateuk. Lamcarak. Kawasan Aquatic/Pesisir Terbangun Kepadatan Rendah (ZONA I): i.2. Lambada. iii. Bayu. Gugob. Mangeu. Barabung.II. Kawasan Pengembangan (promoted development area) c. Rinon. Aneuk Paya. Zonafikasi Fisik Arahan Bangunan gedung yang akan didirikan di Kecamatan dan dalam wilayah Kecamatan harus diselenggarakan sesuai dengan arahan peruntukan yang diatur dalam pembagian zona sebagai berikut: a. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Lamteuba Droi. iv. Batee Lhee. Zona III (Kawasan Kepadatan Sedang) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Lamboro Kueh. b. Umong Seuribee.

Labui dan Lamujong. Weu Raya. Kecamatan Darussalam : Limpok. Meunasah Tunong. Lamgapang. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Batee Lhee. Kecamatan Seulimum : Ayon. iv. Meunasah Karieng. viii. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. Bak Seutui. Lambaro Seubun. Lam Apeng dan Ateuk. Bayu. Rumpet dan Lamreng. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Seubun Ayon. Melingge. ii. Lamteuba Droi. Kecamatan Batussalam. Seubun Keutapang. Umong Seuribee. vii. Ulee Paya. Lamcarak. Janto. Weu ix. 10 . Pulo Meurah. Kawasan Terbangun Kepadatan Sedang (ZONA III): i. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. v. Jantho Baru Desa. b. Lampante. dan Bukit Meusara. Mangeu. Alue Raya. Kecamatan Lhoknga. Ujong Mesjid T. Aneuk Paya. ii. c. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. dan Bukit Meusara. Weu ix. Gugob. Lamkuk. Rumpet dan Lamreng. Lampaya dan Lamkruet. meliputi Desa Lampineung. Rinon. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Nusa. Seurapong. Kueh. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Lamboro Kueh. Kawasan Terbangun Kepadatan Tinggi (ZONA II): i. Kota Jantho : Janto Makmur. iii. Janto. Abee. Blang Tingkeum. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. vi. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. viii. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. Jantho Baru Desa. Lam Ateuk. Tanjong/Lamcok. meliputi Desa Lampaya. Barabung. Lambada. Tungkop dan Lam Keuneue. Kota Jantho : Janto Makmur.vii. Lamgapang. Lamgaboh. Lam Asan. Meunasah Mesjid Lamlhom dan Meunasah Baro.

meliputi Desa Beuradeun. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. Kayee Adang. dan sejenisnya. Rumah tinggal susun iv. Alue Rindang dan Meunasah Baro. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. fungsi usaha. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. Keuneu Ue. capeung Baroh. Gaseue. Lam Rukam dan Gurah. keselamatan. mal. v. Jawie. Rumah tinggal tunggal ii. dan sanitasi yang memadai. meliputi Desa Ie Seu Um. Buga. d. Bangunan perdagangan: pasar. Monmata. meliputi Desa Alue Gintong. Capeung Dayah. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya.iii. dan sejenisnya. e. meliputi Desa Lamboro angan dan Lamduroe. Iboih Tunong. Rumah tinggal deret iii. pertokoan. Fungsi Bangunan a. c. meliputi Desa Pudang Meunasah Cot. pusat perbelanjaan. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. iv. Iboih TanTanjong. Rabo. vi. Keutapang. Kecamatan Seulimum. Pinto Khop. Lampisang Tunong. Geunteut dan Baroh Kruengkala. ii. Kecamatan Lhong. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. vii. Gampong Raya. Rumah tinggal asrama f. Kecamatan Masjid Raya. Baroh. dan fungsi khusus. kesehatan. fungsi sosial dan budaya. 2. keamanan. lAmpisang Teugoh. Lamjuhang. Lamjruen. keamanan. b. Lamgeuriheu. Seulimeum. Jeumpa. perkantoran niaga. Kecamatan Peukan Bada. kenyamanan. Pasar Seulimeum. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Data. Keunaloi. 11 . Lampisang Dayah. Bak Aghu. Kecamatan Darussalam. Lampisang. umah tinggal vila v. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Seuneobok. Lhieb.

Bangunan kebudayaan : museum. & C. terminal bus. termasuk rumah deret. gedung kesenian. bioskop. dan sejenisnya h. gereja. Setiap bangunan gedung. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. keveling.Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. Bangunan Industri : industri kecil. v. Bangunan peribadatan: mesjid. rumah sakit klas A. iii. unit town house . sekolah dasar. atau (2) atu atau lebih bangunan hunian gandeng. dan sejenisnya. pelaksanaan. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. yang masingmasing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. dan sejenisnya. hostel. dan vihara. dan sejenisnya. sosial dan budaya. iii. rumah taman. penginapan. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. 3. sekolah tinggi/universitas. a. pura. pelabuhan laut. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. atau 12 . g. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. B. poliklinik. Bangunan dengan fungsi umum. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. dan sejenisnya. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. rumah bersalin. terminal udara. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. vi. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. kelenteng. iv. sekolah lanjutan. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: i. Dalam suatu persil. gedung tempat parkir. industri besar/berat. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. j. villa. Bangunan Terminal: stasiun kereta. dan sejenisnya. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. halte bus. industri sedang. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. bangunan reaktor. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). iv. i. Bangunan Penyimpanan: gudang. ii. motel.

Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. atau ii. pengurusan administrasi. ruang penjualan. d. tempat potong rambut /salon. bar. Klas 4: Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. perbaikan.. termasuk: i. atau ii. atau v. atau ii. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. Klas 8: Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. restoran. perakitan. g. 7. termasuk: ii.b. atau iv. tempat cuci umum. f. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. h. ruang makan malam. i. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. diluar bangunan klas 6. c. bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. ruang makan. Klas 3:Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. 7. gudang. rumah tamu. ruang pamer. finishing. atau usaha komersial. i. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. yaitu: 13 . kafe. e. cacat. atau iii. perubahan. losmen. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. 8. Klas 1b : rumah asrama/kost. bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. tempat parkir umum. rumah asrama. termasuk: i. pasar. atau iii. rumah tamu. Klas 9: Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. 8 atau 9 dan erupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. panti untuk orang berumur. atau 9. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. pengepakan. 6. atau bengkel. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. atau iv. atau anak-anak. hostel.

Ruang-ruang pengolah. ruang mesin lift. Klas 10: Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. bangunan budaya atau sejenis. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. 9b. 9a. yaitu . ii. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. dan b' laboratorium. m. bangunan peribadatan. Elevasi (e) muka tanah terhadap + 0.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. temmasuk bengkel kerja. a. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. Penentuan letak suatu daerah didasarkan tiga pertimbangan. J. i.00 meter Low Water Sea (LWS) atau surut terendah. b. atau sejenisnya. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. Klas-klas 1a.00 sampai dengan kurang dari 5 meter LWS.Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II . hall. atau sejenisnya. carport. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. ruang mesin. antena. k. Jarak (j) dari garis pantai 14 . elevasi 5 sampai dengan 15 meter LWS dan lebih dari 15 meter LWS. iii. kolam renang. Klas 9b: bangunan pertemuan. ii. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. Elevasi terbagi dengan dalam tiga kelompok yaitu elevasi 0. dan: i. ii. 1b. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. tonggak. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. termasuk bagianbagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium.

0.25g dan Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. (b) Kepadatan permukiman sedang didukung bangunan tahan gempa. 2. namun boleh ditingkatkan kualitasnya. dan air bersih. (b) Sebagai zona untuk menempatan Tsunami Park Memorial Zone (TPMZ) yang berfungsi sebagai pusat wisata. Fungsi Lahan i. Untuk rumah tinggal zone gempa yang digunakan adalah Zone 6 dengan acceleration maksimum 0. rekreasi pantai. 0.81 m2/detik. Non Rumah Tinggal (a) Zone ini berfungsi untuk tambak.dan kawasan lindung pantai (dengan penanaman bakau. untuk bangunan non rumah : zone gempa dapat terbagi dalam dua bagian yaitu Zone 3. hutan bakau. (b) Kepadatan bangunan sangat rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). Peruntukan. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan a. terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. ii. dapat dibagi atas tiga zone yaitu Zone I kurang dari 5 km. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan tinggi atau 51 – 75 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Lahan untuk fasilitas umum.5 dengan acceleration maksimum masing-masing 0. (c) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. Zona 1 (1) Permukiman (a) Permukiman nelayan yang semula telah ada di zone ini tidak boleh diperluas. telekomunikasi.3g. BTS. Misalnya gardu listrik. penelitian.15g. dan pengembangan pengetahuan masyarakat tentang Tsunami. dan kelapa). cemara. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). Zona 2 Permukiman (a) Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. Nilai g sebesar 9. dsb.3g. c.4. Zone II antara 5-20 km dan Zone III lebih dari 20 km. (c) Untuk menempatkan permukiman nelayan dengan jumlah yang terbatas atau dibawah 31 orang/ha. Zone gempa yang mungkin terjadi Berdasarkan zone gempa. pusat informasi.Berdasarkan jarak yang diukur dari garis pantai. sarana pemerintahan dan perdagangan skala kecamatan dan kota.20 g. (2) (1) 15 . dengan jumlah yang terbatas.

fungsi-fungsi semula didorong untuk dikembangkan. dan air bersih. serta kelengkapan dan kehandalan infrastruktur. dengan insentif keringanan pajak. Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. ikan. pengendalian harga tanah. (e) Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. Misalnya gardu listrik. dan Perguruan Tinggi. dsb. rental office. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. (d) Untuk menempatkan fasilitas untuk pendidikan dasar. seperti pasar untuk tingkat 16 . diklat. misalnya kantor-kantor dinas. dengan jumlah yang terbatas.(b) Bangunan tahan gempa. BTS. Zone 3 (1) Permukiman (a) Permukiman masih dimungkinkan diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. dan tinggi skala pelayanan di tingkat perkotaan.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. dan kebutuhan rumah tangga lainnya dan pertokoan. (f) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. iii. kantor pemerintahan. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan rendah atau 31 – 50 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). SLTP. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). (e) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. (b) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). menengah. SLTA. (d) Untuk menempatkan industri-industri yang terkait dengan perikanan. telekomunikasi. (b) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). seperti pasar untuk tingkat kota yang menjual sayur. (c) Untuk menempatkan perkantoran dan pelayanan umum dengan skala pelayanan tingkat perkotaan. seperti SD. dsb. (c) Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai radius < 20 Km dari garis pantai.

(f) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. diperluas. Zone 2 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada pada kawasan lindung di kawasan kepadatan tinggi tidak boleh dikembangkan. permukiman khusus hanya untuk nelayan tidak boleh ada bangunan rumah tinggal. ii. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Digunakan sebagai bangunan untuk sarana penelitian kelautan dan perikanan. dan air bersih. navigasi. dengan jumlah yang terbatas. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Bangunan non rumah tinggal yang berada di zone ini adalah untuk keperluan penelitian. Misalnya gardu listrik. Untuk permukiman yang dari semula telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. dan bangunan-bangunan untuk pengawasan pantai. (g) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. diperluas atau ditambah baru. Zone 1 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang semula telah ada dengan kepadatan yang sangat rendah (dibawah 31 jiwa/ha) pada kawasan budidaya ini tidak boleh dikembangkan. c. seperti tempat pendaratan ikan. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. stasiun bahan bakar nelayan (Krueng Raya). Bangunan pada Kawasan Budidaya i. Zone 2 dan Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Di kawasan lindung tidak diperbolehkan ada bangunan rumah tinggal. b. ii. Bangunan Pada Kawasan Lindung (1) Perumahan dan Permukiman Pada kawasan ini tidak sesuai untuk lahan permukiman. Permukiman yang telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. Zone 1 17 . cool storage. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. BTS. atau ditambah baru hingga kawasan lindung (76-100 i. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Kawasan kepadatan sedang dipergunakan untuk keamanan dan mitigasi. dan kebutuhan rumah tangga lainnya. pelelangan ikan. konservasi.gampong yang menjual sayur. penempatan fasilitas untuk pelabuhan dan pembangkit energi. ikan. konservasi. dsb. keamanan. pertambakan dan perikanan. telekomunikasi.

sosial dan pemerintahan skala kecamatan dan kota. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar Zone 1 Klasifikasi bangunan yang diperbolehkan berada pada zone ini 18 . yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. termasuk rumah deret. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. rumah tamu. Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. perdagangan. terbatas untuk kebutuhan di tingkat desa. villa. bangunan pompa. unit town house. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. d. pendidikan. rumah taman. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. gardu pembangkit energi. (2) Klas 9.jiwa/ha). hanya boleh ditingkatkan kualitasnya dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. iii. ibadah. (2) Bangunan non rumah tinggal Bangunan untuk tujuan fasilitas pendidikan. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Untuk bangunan komersial skala rumah tangga. bangunan air. untuk keamanan. Bangunan Hunian Biasa. adalah (1) Klas 1. sosial dan budaya. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada tidak boleh dikembangkan/ diperluas/ ditambah baru. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. kesehatan. hostel. pemeliharaan tambak. Klasifikasi Bangunan i. termasuk bengkel kerja.

adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. atau sejenisnya. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. hall. (5) Klas 5. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. (4) Klas 4. bangunan budaya atau sejenis. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau sejenisnya. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. (3) Klas 10. antena. Bangunan Hunian Campuran. (3) Klas 3. cacat. di luar bangunan klas 6. atau usaha komersial. Bangunan kantor. Bangunan Hunian Biasa. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. rumah taman. termasuk : (a) rumah asrama. bangunan peribadatan. atau (d) panti untuk orang berumur. 8. Zone 2 (1) Klas 1. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. (2) Klas 2. atau (e) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawankaryawannya. carport. atau (c) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. hostel. rumah tamu. atau 9.atau sekolah lanjutan. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. 6. Bangunan hunian di luar bangunan klas 1 atau 2. 19 . (b) Klas l0b : struktur yang berupa pagar. rumah tamu. kolam renang. unit town house. adalah tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. 7. atau anak-anak. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. 7. ii. pengurusan administrasi. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. losmen. termasuk rumah deret. atau (b) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. tonggak. villa.

Bangunan Penyimpanan/ Gudang adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. kolam renang. termasuk bengkel kerja. atau (b) ruang makan malam. carport. hall. (8) Klas 8. (9) Klas 9. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan 20 . Zone 3 (1) Klas 1. termasuk : tempat parkir umum. yaitu : (a) Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. (7) Klas 7. atau (d) pasar. perubahan. Bangunan Perdagangan. bar. iii. restoran. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. bangunan budaya atau sejenis. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. adalah bangunan toko (a) (a) atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. pengepakan. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan : garasi pribadi. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. atau (c) tempat potong rambut/ salon. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. atau (b) gudang. atau sejenisnya. tempat cuci umum. Bangunan Hunian Biasa. perbaikan. antena. ruang pamer. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. atau bengkel. (b) Klas 9b: Bangunan pertemuan. atau sejenisnya. (10) Klas 10. Bangunan Umum. tonggak. finishing. kafe. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel.(6) Klas 6. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. perakitan. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. bangunan peribadatan. termasuk: ruang makan. ruang penjualan. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum.

perakitan. kafe. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. bangunan budaya atau sejenis. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. 3. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. ruang penjualan. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. carport. antena. unit town house. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. bar. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. rumah taman. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. Luas Bangunan a. tempat cuci umum. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. atau sejenisnya. bangunan peribadatan. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. atau (d) pasar. Bangunan Umum. perbaikan. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/ kost. hostel. (5) Klas 9. (4) Klas 8. kolam renang. finishing. termasuk rumah deret. restoran. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. (3) Klas 6. tonggak. Bangunan Perdagangan. pengepakan. (6) Klas 10. (2) Klas 2. ruang pamer. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. termasuk: (a) ruang makan.suatu dinding tahan api. atau (c) tempat potong rambut/salon. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau (b) ruang makan malam. Luas hunian untuk setiap orang 21 . adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. perubahan. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. villa. rumah tamu. hall. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. termasuk bengkel kerja. atau bengkel. atau sejenisnya. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik.

Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. suhu udara dan kelembaban dalam ruangan serta pertimbangan pada kondisi tertentu dimungkinkan memenuhi standar ruang internasional (12 m2 per orang). iii. cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Zone 1 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah. Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling bangunan (KLB) i. yang disesuaikan dengan 22 . Kebutuhan luas kapling minimum untuk rumah yang dihuni oleh 3-4 orang adalah 90 m2. d. daya dukung lahan/ lingkungan. Zone 2 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu 60%-80%. Kebutuhan ruang perorang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Zone 3 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah rendah yaitu maksimum 60%. dengan lebar kavling miniumum 6 m. kerja. (3) kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang meliputi aspek pencahayaan.Luas hunian untuk setiap orang di setiap zone adalah sama. penghawaan. meliputi aktivitas tidur. kakus. b. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 1 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu maksimum 40%. Kebutuhan ruang per orang minimal adalah 9 m2. Luas Lahan per Unit Bangunan i. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Bangunan Non Rumah Tinggal Luas kavling minimum bangunan non-rumah tinggal menyesuaikan standar kebutuhan masing-masing klas bangunan. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Luas lantai bawah bangunan terhadap luas kavling lahan (KDB) i. ii. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. duduk. ii. (2) keamanan. mandi. daya dukung lahan/ lingkungan. Permukiman Luas lahan per unit bangunan untuk setiap zone adalah sama. makan. c. Kebutuhan luas kapling didasarkan atas: (1) kebutuhan luas hunian.

Ketinggian maksimum bangunan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: i. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah rendah. iii. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Zone 3. Ii. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah tinggi f. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. ii. perkembangan kota. daya dukung lahan/ lingkungan. iv. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Zone 1. Ketinggian maksimum bangunan Ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan adalah 12 meter. daya dukung lahan/ lingkungan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 2 Koefisien lantai bangunan untuk zone ini adalah sedang yang disesuaikan dengan persyaratan selubung bangunan. Luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman terhadap luas lahan satu cluster permukiman. Zone 3 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah yang disesuaikan dengan persyaratan building envelop lahan. ketahanan terhadap bahaya gempa dan aman terhadap jalur penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku ii. Jumlah lantai baik rumah tinggal mau pun non rumah tinggal maksimal 3 lantai. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 2 lantai e.persyaratan building envelop lahan. i. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Terhadap Keselamatan 23 . daya dukung lahan/ lingkungan. sedangkan untuk bangunan non rumah tinggal menyesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan. perkembangan kota. Zone 4. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai kecuali untuk ruang < 5 Km jumlah lantai maksimal 4 lantai pada tingkat kepadatan sedang. Jumlah lantai bangunan rumah tinggal tertinggi adalah 1 lantai hingga 2 lantai. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai pada tingkat kepadatan tinggi. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 3 lantai. Zone 2. kebijaksanaan intensitas pembangunan. perkembangan kota. Terhadap Keamanan Ketinggian bangunan harus disesuaikan dengan sistem struktur dan bahan konstruksi yang digunakan. iii.

yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija meliputi jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan antar desa. Sempadan muka minimum 8 m 24 . Rumah tinggal dan non rumah tinggal: i. ii. iii. Garis Sempadan Bangunan a. kavling sedang dan kavling kecil. 4. yaitu minimum 8 meter dari batas Damija meliputi jalan yang menghubungkan kota seulimeum ke kota kemala (kabupaten Sigli) melalui kota Jantho. ruangan mendapat cukup cahaya langsung dan merata. Jalan Kolektor. iv. meliputi jalan yang mnghubungkan kota-kota dipulau Sumatra antar provinsi dan dikabupaten Aceh Besar melalui perbatasan kabupaten pidie dan kabupaten Aceh Besar serta pelabuhan Malahayati ke kot a Aceh Besar. Jalan Lokal/Lingkungan. Garis Sepadan Bangunan Berdasarkan Ukuran Daerah Milik Jalan (Damija) i. yaitu minimum sebesar 10 meter dari batas Damija. Garis sempadan bangunan pada klas jalan lingkungan perumahan kavling besar. dengan kota lhoong.80 m agar terjadi sirkulasi udara yang cukup dan kontinyu. iii. Terhadap Daya Dukung Lingkungan Jumlah lantai bangunan dan koefisien lantai bangunan menyesuaikan Peraturan Daerah/ Qanun Ijin Mendirikan Bangunan dan/atau RDTRK/ RTRK/ RTBL setempat. persyaratan kemiringan atap untuk bahan penutup atap dan model atap (flat/ perisai/ pelana/ dsb). kecuali jalan setapak dan gang kebakaran b. Jalan Arteri. kota Jantho dengan Lamno. Terhadap Kesehatan Ketinggian minimum bangunan terkait dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit minimum = 2. Untuk bangunan peruntukan dan konstruksi khusus dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan serta disesuaikan dengan jarak terhadap as jalan yang berdekatan dan selubung bangunan.Didasarkan atas kualitas konstruksi dan bahan bangunan yang dapat menjamin keamanan penghuninya terhadap bahaya kebakaran (waktu untuk menyelamatkan diri sebelum runtuh) sesuai ketentuan yang berlaku. iv. kota Krueng Raya dengan kota Seulimuem dan Kota Krueng Raya dengan kota Sigli ( Ibukota kabupaten Sigli ). struktur atap. Jalan-jalan kampung dan lorong yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija. kecuali bangunan yang dindingnya terbuka termasuk lantai panggung. Kavling besar ( > 450 m) U U (1).

20 meter. (c) Lebar bahu jalan minimum 0.Rumah berlantai 1 = 1. Kavling kecil ( > 90 m2) (1). . Persil kecil minimal 1 m jika atap samping tanpa teritisan dan 1. Persil sedang dan besar minimal 2 m (3). i.50 meter. Bangunan dengan tinggi < 8 m = 3 m (4). Sempadan samping minimum 2 m (2). (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Jarak massa/blok bangunan dengan bangunan sekitarnya minimum 6 m dan 3 m dengan batas kapling (2). Jarak massa/blok bangunan satu lantai minimum 4 m Non rumah tinggal (1). (2) Jalan Kendaraan (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 3. Rumah tinggal : (1).75 meter. kolektor. Sempadan samping minimum 3 m (3). (3). Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya (arteri. .Rumah berlantai 2 = 2.75 meter. (b) Lebar perkersan jalan minimal 3 meter.(2). Jarak dengan batas persil minimum 4 m (3). d. lokal) Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya berlaku untuk semua zone.Rumah berlantai 2 = 2. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Bangunan berdampingan tidak sama tinggi. i. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .5 m jika atap samping menggunakan teritisan (2). Sempadan muka minimum 5 m (2).25 meter. ii.Rumah berlantai 1 = 1. Sempadan muka minimum 3 m U U c. Jalan Lokal Sekunder (1) Jalan Setapak (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 2 meter. Jalan Lokal Sekunder II 25 . Garis sempadan bangunan terhadap batas-batas persil/kavling sendiri dan lingkungannya.75 meter. Sempadan samping minimum 4 m Sempadan belakang 5 minimum U U ii. Sempadan belakang minimum 3 m iii.50 meter. Kavling sedang ( > 200m) (1). U U ii. Bangunan dengan tinggi > 8 m = 1/2 tinggi bangunan dikurangi 1m (5).75 meter. jarak minimum antar bangunan = {(½ tinggi bangunan A + ½ tinggi bangunan B) /2} -1 meter. (b) Lebar perkersan jalan minimal 1.

(a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 5 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . e. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya. mengacu pada : (1) SNI 04-6267. (c Lebar bahu jalan minimum 0. iii. jaringan listrik tegangan tinggi. ii. 26 . (b) Lebar perkersan jalan minimal 5 meter. Sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan penyediaan listrik.603-2002 tentang Istilah Kelistrikan-bab603: Pembangkitan Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 601: Pembangkitan.50 meter.Rumah berlantai 1 = 2. (b) Lebar perkersan jalan minimal 4. i. iii. Jalan Kolektor Sekunder (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 7 meter.50 meter.Rumah berlantai 1 = 3. Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Umum (2) SNI 04-8287. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan minimal 50 m dari luar kaki tanggul. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum. iii. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya adalah sama untuk semua zone yaitu: i. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang disesuaikan dengan kondisi NAD. .50 meter. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. Sungai bertanggul kawasan perkotaan minimal 10 hingga 15 meter dari pinggir sungai. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. a.50 meter. .50 meter.50 meter.Rumah berlantai 2 = 4.50 meter.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 602: Pembangkitan (3) SNI 04-8287. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk sungai besar (luas daerah pengaliran > 500 Km2) dan sungai kecil (luas daerah pengaliran < 500 Km2) ditentukan setiap ruas berdasarkan perhitungan teknis luar daerah pengaliran atau 20 – 100 meter.Rumah berlantai 2 = 3. Garis sempadan bangunan terhadap jalan rel. Berdasarkan PUIL 2000 (jarak ke kiri dan kanan dari tegangan tinggi (70 KV ke atas) sejauh 25 m) ii.

Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. Macam sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih. (2) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. tanggul dapat diperkuat. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan kedalaman < 3 m. kedalaman > 20 m minimal 30 m dari tepi sungai.iv. (2) Untuk peningkatan fungsinya. 27 . Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. vii. (1) Sungai yang bertangggul di luar kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. (1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. tanggul dapat diperkuat. (1) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. viii. diperlebar dan ditinggikan. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. Penetapan garis sempadan untuk sungai ini dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. kedalaman 3 – 20 m minimal 15 m dari tepi sungai. (3) Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter. vi. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. Garis sempadan sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ini sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari 500 (lima ratus) Km2. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu yang ditetapkan. minimal 10 meter dari tepi sungai. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. v. (2) Untuk peningkatan fungsinya. dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. diperlebar dan ditinggikan. garis sempadan dan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

ii. i. i. lahan peresapan air. i. (2) Segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggung jawab pengelola jalan. kecuali bangunan non-rumah tinggal sesuai dengan standar dan peraturan daerah setempat atau Garis sempadan pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat ii. iv. Zone 1 Minimal jarak dari bibir pantai 1. waduk. rawa dan tambak. Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota. kecuali pada kawasan yang sangat diperlukan bagi kepentingan umum. Garis sempadan bangunan pada kawasan pesisir. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut Penetapan garis sempadan danau. Zone 2 dan Zone 3 Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Garis sempadan bangunan pada tepi danau. Zone 1 Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. Garis sempadan pantai. Zone 2 dan Zone 3 28 .I. ii.ix. Untuk mata air. Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Qanun tentang RTRW Aceh Besar No. Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah iii. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R. dengan ketentuan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. v. Untuk danau dan waduk. 2003 sebagai berikut : i. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 meter di sekitar mata air.3 Th. dan kawasan lindung lainnya. serta sungai yang tidak bertanggul yaitu sebesar 20 – 100 meter.000 m. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan (1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. h. Jaringan drainase mengacu pada ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. waduk. g.

Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota pada zone 3 dan zone 4, sekurang-kurangnya (minimal) = jarak sempadan bangunan terhadap pagar kavling 5. Tata Letak Bangunan

a. Bentuk tatanan bangunan dalam satu lingkungan pada arsitektur

b.

c.

d.

e.

tradisional NAD dan arsitektur lainnya yang ada. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah air tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Penambahan ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama/ lainnya harus mengikuti standar yang berlaku . Khusus untuk Zona Kawasan Aquatic hingga Kawasan Sedang, tidak diperkenankan menambah ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama. Orientasi tatanan permukiman terhadap kaidah agama, tradisi, topografi, orientasi matahari, arah angin, pola jalan, sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Posisi jalan utama lurus memanjang dari utara ke selatan, diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama timur-barat untuk menghindari angin kencang timur-barat dan agar rumah menghadap kiblat. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah, sebagai tempat bersosialisasi warga. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab); pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Sumur dapat digunakan bersama; sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum di bagian depan rumah.

29

III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
III.1 . ARSITEKTUR BANGUNAN

1. Pengertian Umum Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langitlangit adalah 2.80 meter. Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a. Kebutuhan luas per jiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 1. 1: Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat Standar per Luas untuk 3 (m2) jiwa Luas untuk 4 (m2) jiwa 2 Jiwa (m ) Unit Lahan (L) Unit Lahan (L) ruma Mini Efekti Ideal ruma Mini Efekti Ideal h h m f m f (Ambang batas) 21,6 60,0 72-90 200 28,8 60,0 72-90 200 7,2 (Indonesia) 27,0 60,0 72-90 200 36,0 60,0 72-90 200 9,0 (International) 36,0 60,0 48,0 60,0 12,0

Berdasarkan KEPMENKIMPRASWIL No 403/2002, rumah standar sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas kapling ideal, dalam arti memenuhi kebutuhan luas lahan untuk bangunan sederhana sehat baik sebelum maupun setelah dikembangkan. Secara garis besar perhitungan luas bangunan tempat tinggal dan luas kapling ideal yang memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan bangunan seperti berikut; kebutuhan ruang minimal menurut perhitungan dengan ukuran Standar Minimal adalah 9 m2, atau standar ambang dengan angka 7,2 m2 per orang .

30

Gambar 1.1 Luas Bangunan Rumah Sederhana Sehat dan Luas Lahan Efektif Diperhitungkan terhadap Kebutuhan Ruang Minimal dan Koordinasi Modular sehingga dicapai luas lahan efektif antara 72 m2 sampai dengan 90 m2 dengan variasi lebar dan muka lahan yang berbeda. 2. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang Untuk Satu Bangunan. Berikut ini kriteria standar kebutuhan minimal rumah mengacu dari Konsepsi Rumah Sederhana Sehat : a. memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK. b. memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan yang akan dilakukan yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serba guna. c. Bentuk generik atap selain pelana, dapat berbentuk lain (limasan, kerucut, dll) sesuai dengan tuntutan daerah, bila ada. d. Penghawaan dan pencahayaan alami pada rumah menggunakan bukaan yang memungkinkan sirkulasi silang udara dan masuknya sinar matahari. e. Kebutuhan standar minimal ruang tersebut memberi peluang pada penghuni untuk dapat mengembangkan ruang sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu melakukan pembongkaran bagian-bagian bangunan secara besar-besaran. Ruang -ruang yang perlu disediakan untuk satu rumah inti sekurangkurangnya terdiri dari : a 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. b. 1 ruang serbaguna merupakan kelengkapan rumah dimana di dalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan. c. 1 kamar mandi/ kakus/ cuci merupakan bagian dari ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi cuci dan kakus.

31

Ketiga ruang tersebut diatas merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan dasar, selain itu sebagai cikal bakal rumah sederhana sehat. Konsepsi cikal bakal dalam hal ini diwujudkan sebagai suatu Rumah Inti yang dapat tumbuh menjadi rumah sempurna yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta kesehatan penghuni, sehingga menjadi rumah sederhana sehat. Ukuran pembagian ruang dalam rumah tersebut berdasarkan pada satuan ukuran modular dan standar internasional untuk ruang gerak/ kegiatan manusia. Sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT-1 adalah sebagai berikut:: i.. Ruang Tidur : 3,00 m x 3,00 m ii. Serbaguna : 3,00 m x 3,00 m iii. Kamar mandi/kakus/cuci : 1,20 m x 1,50 m 3. Tampilan Arsitektur Bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat a. Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh Besar dapat berupa tektonika atau ragam hias dengan pola tumbuhan atau pola geometri Arsitektur Islam. b. Bentuk atap bisa pelana, perisai, atap datar, atau pun variasinya. c. Arah hadap (depan bangunan) disesuaikan dengan konfigurasi jalan. Bila jalan membujur utara – selatan, maka depan bangunan menghadap barat dan timur. d. Kakus sedapat mungkin tidak menghadap barat – timur (menghadap – membelakangi kiblat) e. Penyelesaian pada setiap bagian bangunan diupayakan agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh Besar. f. Pemakaian warna untuk seluruh bagian bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya agar lebih serasi secara visual. Warna yang umum dipakai untuk material dari beton adalah putih, krim, dan beberapa warna lainnya seperti hijau, coklat, biru, dan pastel. Untuk material lain seperti kayu, warnanya lebih bervariasi, sekali pun didominasi oleh warna coklat dan putih. Tampilan arsitektur tampang bangunan salah satunya dengan adanya ragam hias ornamen bermotif flora. Gambar 2.2 dan 2.3 dibawah ini menunjukkan tampan g rumah Aceh yang sarat ornamen.

32

3 Tampak Samping Rumah Aceh Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh diarahkan menuju digunakannya ragam hias tumbuhan ataupun pola geometri ragam hias arsitektur Islam dalam tampilan bangunan rumah tinggal. tetapi didirikan di atas pondasi batu kali. Sedangkan untuk bangunan meunasah. jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deret lebih kurang dua setengah meter. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 batang dengan diameter lebih kurang 33 cm. sebagai contoh orientasi bangunan dan bujur bangunan rumah tinggal dinyatakan melalui arah hadap kiblat. Pola bukaan pintu yang memberikan orientasi langkah kaki pada saat masuk atau keluar rumah dan perletakan WC yang sedapat mungkin tidak menghadap barat-timur karena akan menghadap atau membelakangi kiblat. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter. dengan bentuk bangun denah persegi panjang. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. batu inipun tidak ditanam dalam tanah tapi diletakkan di atas tanah. Penyelesaian pada setiap bangunan diupayakan agar agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh. Gambar 1.Gambar 1. Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua lubang.2 Tampak Depan Rumah Aceh Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang didirikan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari kayu yang kuat. Tiang-tiang itu tidak ditanam ke dalam tanah. Tiang–tiang itu dihubungkan antara satu dengan lainnya dengan kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lubanglubang tiang tersebut. Arah hadap bangunan disesuaikan dengan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Orientasi bangunan meunasah dan bangunan rumah tinggal perlu dibedakan dengan pemahaman bahwa perlu dibedakan antara fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong (desa). 33 . Pola struktur yang digunakan adalah rumah panggung khas Aceh dengan bentuk atap pelana atau variannya. sedangkan tinggi keseluruhan bangunan lebih kurang lima meter.

Namun demikian. dan penggunaan ornamen. dan terhadap Bangunan disekitarnya. bukan berarti masyarakat dilarang untuk membuat inovasi tampilan bangunan. Ilustrasi Bangunan untuk Rekonstruksi Dari gambar tampilan bangunan di atas terlihat bahwa tampilan bangunan rekonstruksi diarahkan pada sebuah konsep preservasi dan konservasi yang didasarkan atas kaidah arsitektur Islami dengan landasan budaya Aceh. Tampilan bangunan untuk rekonstruksi diarahkan sedapat mungkin menggunakan Arsitektur Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Aceh Besar. upaya untuk mengembangkan tampilan bangunan beserta inovasi dan daya kreasi masyarakat. tidak dibatasi. dan terhadap Bangunan disekitarnya. Namun demikian. 4. Gambar 1. Rehabilitasi tampilan bangunan tidak diperbolehkan sampai melanggar garis sempadan bangunan 5. seperti pada penggunaan warna. Rehabilitasi tampilan arsitektur pada rumah tinggal dan bangunan gedung sedapat mungkin diselaraskan dengan tampilan arsitektur di sekitarnya untuk keserasian lingkungan.4. melainkan diarahkan menuju sebuah konsep berupa pengayaan ragam hias Aceh pada tampilan 34 . tekstur. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan.Pemilihan warna untuk tampilan bangunan disesuaikan dengan adat Aceh yang juga dijiwai oleh kaidah-kaidah agama Islam. melainkan diarahkan untuk memperkaya ragam hias pada tampilan. Gambar di bawah ini merupakan salah satu ilustrasi dari bangunan untuk rekonstruksi. Merekonstruksi yang berarti membangun kembali bangunan yang rusak akibat gempa tsunami dilakukan dengan kaidah-kaidah sesuai budaya lokal . Tampilan Arsitektur pada Rekonstruksi Bangunan. pemakaian bahan/material.

mangga. tanaman peneduh (seperti Angsana. compability. dan tanaman produktif (seperti belimbing. Jenis tanaman yang ditanam dapat berupa tanaman hias (seperti jenis bunga-bungaan) . view. Untuk bangunan bangunan Meunasah. adalah kejelasan struktur fisik sebagai orientasi 35 . Bangunan tradisional atau rumah panggung di Aceh Besar dapat juga dibuat dengan teknologi konstruksi. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. dan tanaman produktif lainnya. Di antara kriteria tersebut yang berkaitan dengan wujud bangunan adalah :  Compability. yaitu kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. bentuk dan tata letak massa.  View. Beberapa ragam hias. Arah bujur bangunan rumah tinggal dan meunasah perlu dibedakan untuk membedakan fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong. b. c. sebagaimana ragam hias bintang dan bulan menunjukkan simbol ke-Islaman. sense dan livability. Tampilan Arsitektur Bangunan terhadap Keserasian Lingkungannya.bangunan. pintu dan jendela. sebagian dinding dan sebagainya yang sifatnya ornamentasi tempelan. non measurable criteria dalam rancang kota terdiri dari access. bintang dan bulan. jambu. a. Pemakaian ragam hias tradisional pada bagian-bagian tertentu dari bangunan. Pada bagian depan rumah (yang berbatasan dengan jalan). namun demikian harus memperhatikan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. 7. Misalnya konstruksi panggung bisa berupa kontsruksi beton atau pun baja. fauna. bahan dan material yang lebih modern. Menurut Hamid Shirvani. seperti kolom.) . tanpa meninggalkan kaidah tata ruang di dalamnya. namun beberapa ragam hias. tampil sebagai hiasan semata-mata. Diharapkan melalui upaya untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengayaan ragam hias pada tampilan bangunan dapat tercipta keseimbangan antara nilainilai sosial budaya Aceh terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Modern. 6. Ragam hias pada bangunan-bangunan Aceh pada dasarnya terdiri dari ragam hias yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora. disediakan lahan yang cukup sebagai ruang terbuka hijau. awan. identity. ragam hias awan berarak (awan meucanek) menunjukkan lambang kesuburan dan motif tali berpintal (taloe meuputa) menunjukkan simbol bagi ikatan persaudaraan yang kuat untuk masyarakat Aceh.

6 Ilustrasi Tata Ruang Rumah Tinggal Rekonstruksi 36 . Identity. diarahkan untuk dapat menampillkan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. bentuk dan tata letak massa (compatibility) serta kejelasan struktur fisik sebagai orientasi (view) diterapkan melalui pemakaian ragam hias tradisional pada bagianbagian tertentu dari bangunan. pintu dan jendela sebagian dinding dan sebagainya yang bersifat ornamentasi.5 Ilustrasi Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Rekonstruksi Ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual (identity). Tata Urutan Ruang-ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang Gambar 1. seperti kolom. Bangunan rumah tinggal dengan konsep tradisional budaya Aceh dapat dibuat dengan teknologi konstruksi bahan dan material yang lebih modern. 8. adalah ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual Gambar 1.

Batas-batas ruang yang masif dan personal dibutuhkan untuk ruang-ruang yang memerlukan privasi tinggi seperti ruang kepala. Jika rumah induk akan dikembangkan. Ruang servis diletakkan pada bagian belakang bangunan. sedapat mungkin diupayakan untuk menambah ruang privat (kamar tidur) yang mampu mewadahi privasi angggota keluarga khusus (orang tua. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi publik yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas seperti menerima tamu. pengantin baru) b. ii. Teras depan sebagai perwujudan serambi depan. a. Untuk Rumah Tinggal : i. sholat berjamaah. kaum wanita. iii.a. ruang tidur tamu. bisa sebagai bagian dari rumah induk maupun dibangun terpisah secara struktural. Untuk memberikan nuansa budaya lokal (Aceh Besar). acara adat. berhubungan langsung dengan ruang tamu dan atau ruang keluarga ii. Bagian depan bangunan sebagai perwujudan serambi depan. Untuk bangunan gedung : i. 37 . Ruang-ruang inti dan ruang pendukung lainnya disesuaikan dengan fungsi bangunan 9. iv. maka perlu diperhatikan pola pemisahan antar ruang sehingga tidak menimbulkan kecenderungan terjadinya hubungan yang dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. b. Pada rumah tinggal : i. ii. ii. Ruang privat (kamar tidur) diletakkan berdampingan dengan ruang keluarga iii. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi privat yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas bersama seperti ruang santai keluarga. ruang pertemuan dan sejenisnya. Tata Letak Ruang-ruang pada Bangunan yang bercirikan Budaya Lokal. biasanya digunakan sebagai ruang publik. Pada bangunan gedung : i Tata letak ruang sangat tergantung dari fungsi bangunan dimana untuk setiap fungsi bangunan memilki hirarki yang khas.

untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. dapur dapat dibuat di luar rumah induk dan terpisah secara struktural. Pada bangunan dari bahan kayu. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. seperti bersantai. melihat tingkat bahayanya terhadap kebakaran.Gambar 1. Sedangkan untuk rumah yang terletak di atas tanah (modern/bukan panggung). Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. sanitasi (MCK). terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. penempatan dapur disesuaikan dengan selera pemilik bangunan. Untuk rumah tinggal : i. ii. Ruang serbaguna yang bersifat semi publik dapat pula dipakai untuk berbagai aktivitas seperti menerima tamu dan pula sebagai ruang tidur tamu. a. Ruang serbaguna yang bersifat semi privat digunakan sebagai ruang tempat beraktivitas bersama. iii. pada Arsitektur Lokal dan Lingkungan Bangunan Lainnya. v. Pada rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu. dll. dengan memperhatikan KDB. yang dibutuhkan untuk menjaga dan menjamin 38 . Tata Letak dan Jarak Ruang-ruang pada Bangunan Utama terhadap Bangunan-bangunan Penunjangnya (termasuk bangunan utilitas. kamar mandi/kakus terpisah dengan bangunan induk rumah. dimana terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. maka pada saat awal pembuatan rumah induk.7 Tampak/potongan Rumah Tradisional Aceh ilustrasi di atas memberikan gambaran tentang pemisahan yang jelas dan tegas antara ruang serbaguna dengan ruang privat (ruang tidur) untuk orang tua dan kaum wanita. ruang untuk KM/WC diletakkan menyatu dengan bangunan induk. permanen atau pun semi permanen. shalat dan berjamaah dan acara-acara adat. Perluasan bangunan rumah induk. Pada bangunan dengan material beton. 10. b. iv. Untuk bangunan gedung : i. Ruang kamar mandi/wc bisa diibuat menyatu dalam rumah jika bangunan utama atau ruang kamar mandi/kakus terbuat dari dari beton dan bata.). jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. termasuk di dalamnya bangunan utilitas. Untuk mengantisipasi keamanan struktur.

Secara umum struktur bangunan utama (yang merupakan wadah kegiatan utama dalam rumah) harus mempunyai daya tahan terhadap gempa. KM/WC terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. kenyamanan. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. Gambar 1. Perluasan bangunan rumah induk. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. Perluasan bangunan induk. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. termasuk penyandang cacat dan warga usia lanjut. 39 . v.ii. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung Bangunan-bangunan penunjang bangunan. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya terhadap Struktur Bangunan yang ada. tetapi juga bisa dibangun terpisah secara struktural. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. iv. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. iii. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. keamanan. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. a. termasuk di dalamnya prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitar Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaikbaiknya sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Dapur dapat dibuat di dalam rumah induk. maka pada saat awal pembuatan bangunan.8 Perspektif Rumah Tradisional Aceh Pada gambar perspektif di atas menunjukkan letak rumah induk yang terpisah dari kamar mandi. 11.

Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan pola struktur yang sama dengan bangunan lama. Keseimbangan dengan Lingkungannya. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan sistem struktur yang berbeda. Pengaturan Tata Letak Ruang-ruang Dalam Satu Bangunan terhadap Pekarangan/halaman Bangunan dengan mempertimbangkan Keselarasan. d. Jika akan merubah tatanan ruang. Untuk kapling yang luas. struktur utama harus tahan gempa dengan variasi bahan berupa beton bertulang atau kayu kelas kuat yang memadai. 13. a. maka dapat dibuat menyatu dengan metoda sambungan yang tepat. 12. bangunan dibangun tidak berhimpit dengan batas lahan. c. d. sedangkan samping bangunan diijinkan berimpit dengan bangunan tetangga tetapi terpisah secara struktural. Batas depan dan belakang bangunan harus mengikuti aturan garis sempadan yang berlaku dimana sangat bergantung pada lebar jalan yang ada di depannya. Pada bangunan rumah induk. Keserasian. Untuk kapling kecil. melainkan bagian pengisi (non struktural) misalnya partisi di dalam bangunan. melainkan pada tengah lahan sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. Ruang-ruang di dalam bangunan harus cukup mendapat penerangan dan penghawaan alami. maka struktur banguan baru harus dipisah dari struktur bangunan yang lama. sehingga posisi ruang dalam selalu berhubungan dengan ruang luar di sekitarnya dalam jarak yang cukup untuk menjamin kecukupan pencahayaan dan penghawaan alami. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan berdasarkan Klasifikasi Bangunannya a. maka struktur perluasan rumah dapat terpisah (tidak rigid dengan bangunan lama) atapun menyatu (rigid) dengan bangunan lama. e. c. b. Jika bangunan rumah akan diperluas. Yang harus diperhatikan adalah metoda sambungan antar bagian struktur bangunan lama dan baru. e. Pemakaian bahan konstruksi baja dan besi diperkenankan dengan syarat memenuhi satandar konstruksi tahan gempa. maka yang dapat dimodifikasi adalah bagian yang bukan merupakan struktur utama. Bagian lahan yang tidak terdapat bangunan harus disisakan untuk ruang terbuka hijau dan areal limpasan air hujan. ditentukan garis sempadan bangunan depan dan belakang.b. Disarankan untuk menghindari pemakaian bahan logam yang mudah berkarat (corosive material) pada daerah pantai yang dekat dengan laut. b. 40 .

c. pada bagian atap vi. Lantai dan dinding menggunakan papan kayu v. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin juga dihindari dari bahan-bahan yang membayakan kesehatan penghuni dari pengaruh kimiawi. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Untuk bagian non struktural utama. keamanan bangunan dan kenyamanan ruang dalam batas tertentu. Khusus untuk bahan fibercement. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Sesederhana apapun bahan bangunannya. Kuda-kuda atap menggunakan bahan kayu iii. Sedangkan untuk bagian pengisi non struktural (dinding luar. maka yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kekuatan struktur. 41 . calsiboard. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin menjamin keselamatan penghuni dari bahaya bencana alam. petir dan akibat kesalahan teknik pemanfaatan dan pemasangan bahan. f. e. batako. Sedangkan untuk bagian non struktural utama. d. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dimana telah dipersyaratkan harus tahan gempa. Tiang dan balok menggunakan kayu yang kuat iv. Fungsi bangunan juga menentukan material yang akan dipakai. penyekat ruang) dapat memakai bahan lainnya seperti papan. Atap. 14.c. Ijuk digunakan sebagai bahan pengikat. disaranakan untuk tidak dipakai pada dinding luar bangunan. Keamanan. Pemakain material yang berbeda harus memperhatikan teknik penyambungan antar bahan jika menyangkut sistem struktur bangunan. d. b. sesek dan sebagainya. Keselamatan dan Keawetan Bangunan a. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dengan persyaratan harus tahan gempa. untuk menghindari pengurangan kekuatan struktur utama bangunan. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai stock cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. Bangunan rumah lebih ditekankan pada aspek struktural dan estetika. asbes. bahan penutup atap menggunakan daun rumbia ii. sedangkan bangunan untuk servis (dapur dan KM/WC) lebih ditekankan pada aspek kualitas sanitasi lingkungan. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Pondasi menggunakan batu kali. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan Dalam Satu Bangunan dengan memperhatikan Keserasian. Berdasarkan studi dari Rumah Tradisional Aceh maka bahan bangunan yang biasa digunakan terdiri dari: i. batu bata. e.

Sedangkan untuk bangunan gedung di atas dua lantai memakai pondasi sumuran. sesek bambu.2 TATA LETAK BANGUNAN 1. h. dan/atau pada perairan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. e. Sedangkan pada bangunan gedung dengan jumlah lantai ≥ 2. fibercement. dan sejenis. Sedangkan untuk bangunan gedung struktur atap terbuat dari bahan baja dengan bahan penutup atap berupa genteng. genteng seng. c. atau pun deck. tapak beton bertulang. Struktur kolom dan balok untuk bangunan rumah bisa berupa beton bertulang atau minimal kayu klas kuat II. dan Arsitektur lainnya yang ada. Bentuk Tatanan Bangunan dalam Satu Lingkungan pada Arsitektur Tradisional NAD. folding plat dan sejenisnya. atau bahan lain yang sejenis seperti metal sheet. Untuk lantai bangunan dapat berupa plat lantai beton ataupun dengan lantai papan rangka kayu. Setiap lingkungan dengan luas 4 ha. Secara umum adalah bangunan di atas tanah. Sedangkan bahan-bahan seperti gypsum. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Bangunan rumah panggung yang ada umumnya merupakan bangunan lama (sebelum 70-an) yang saat ini jumlahnya terbatas. struktur kolom dan balok harus terbuat dari beton bertulang dengan kuat tekan beton minimal f’c 20 Mpa. harus memiliki jalan darurat minimal selebar 3 m sebagai akses penyelamatan 42 . Bangunan gedung yang dibangun di atas (panggung). d. III. batako sampai dengan bahan yang ringan seperti papan kayu. a. b. sekali pun tersebar di setiap desa. Zone 1 dan Zone 3 i.15.. seperti Kayu Meranti. dan yang sejenis. fungsi lindung kawasan. hanya dibolehkan sebagai dinding pengisi di dalam bangunan (tidak berkaitan langsung dengan bagian luar). atau kombinasi dengan bor pile. Pondasi struktur utama pada bangunan rumah di atas tanah yang berlantai 1 berupa pondasi dangkal menerus (batu gunung). Kayu Seumantok. mulai dari yang masif seperti batu-bata. a. Karakter struktur utama pada bangunan tradisional lebih didominasi oleh pemakaian balok kayu dengan sistem struktur rangka portal sederhana. ii. Struktur atap untuk bangunan rumah memakai sistem rangka dengan bahan utama kayu dan penutup atap seng gelombang. Pada bangunan rumah yang berlantai 2 atau tiga memakai pondasi tapak beton bertulang. f. multiplex. Dinding luar dan dalam dapat memakai bahan pengisi. g. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipenya berdasarkan Periode/ Gaya Arsitekturnya.

. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Orientasi Tatanan Permukiman terhadap kaidah Agama. 43 . diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). b. bentuk jalan. Taman Kanak-kanak (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). fungsi lindung kawasan. harus memiliki jalan darurat diantara bangunannya sebagai akses penyelamatan bagi penghuni ketika terjadi bencana. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya a.bagi penghuni ketika terjadi bencana. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. c.250 jiwa perlu disediakan fasilitas pendidikan TK. Topografi. Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama Timur-Barat untuk menghindari angin kencang Timur-Barat dan agar rumah menghadap kiblat. Tradisi. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. Orientasi matahari. ii. pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. sebagai tempat bersosialisasi warga. Setiap lingkungan dengan luas 6 ha. Ketersediaan Bangunan Sekolah i. arah angin. e. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah. Bangunan boleh ditambah/ diperluas ke arah horisontal dan vertikal hingga mencapai KDB dan KLB yang dipersyaratkan masing-masing daerah. sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum dibagian depan rumah 3. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. 2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab). (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. d. b. Zone 2 i. Bangunan gedung yang dibangun di atas. Sumur dapat digunakan bersama. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). a. dan/atau pada lahan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan.

(3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/ tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. Sekolah Dasar (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (7) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok penduduk dan dapat digabung dengan taman/ tempat bermain dan lain-lain sehingga terjadi pengelompokan aktifitas. disamping fasilitas pendidikan TK. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. (4) Sekolah Dasar terdiri dari 6 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 40 murid. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMP. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah sekolah dasar adalah 2000m2. (8) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan. iii. ii. Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Pertama (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1600 jiwa. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (6) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (6) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. SD. SMA/SLTA di 44 . SMP/SLTP. (7) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan akan tetapi masih tetap berada ditengah-tengah penduduk. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. disamping fasilitas pendidikan TK yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SD. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah taman kanak-kanak adalah 500m2.(4) Sekolah taman kanak-kanak terdiri dari 2 ruang kelas dan ruang aula yang masing-masing ruang dapat menampung 35-40 murid usia 5-6 tahun. SMA/SLTA di dalam area komplek. (8) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. SMP/SLTP.

(5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya.500 jiwa. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah posyandu adalah 60 m2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. SMP yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMA. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum b. (4) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. SMA/SLTA di dalam area komplek. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga atau sarana hunian/ rumah. Balai Pengobatan Warga (1) Berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyebuhan (currative) tanpa perawatan. disamping fasilitas pendidikan TK. SD. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah balai pengobatan warga adalah 300 m2. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. Ketersediaan Bangunan Layanan Kesehatan i. berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi.dalam area komplek. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum iv. diperlukan fasilitas kesehatan untuk balita berupa posyandu. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Lanjutan Atas (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. ii. iii. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. diperlukan fasilitas kesehatan balai pengobatan warga. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid.000 meter. SMP/SLTP. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin 45 . Posyandu (1) Berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anakanak usia balita.250 jiwa.

(3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan adalah 300 m2 (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil.(1) Berfungsi sebagai melayani ibu sebelum. pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai 6 tahun. iv.000 m2. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha/ apotik. vi. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan.000 m2. selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya. Puskesmas dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas dan Balai Pengobatan. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin adalah 3. 46 . diperlukan fasilitas kesehatan berupa tempat praktek dokter.000 meter.000 jiwa. (5) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (4) Jarak radius pencapaian adalah 4. Tempat Praktek Dokter (1) Merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 5. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan.000 jiwa. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan.000 jiwa.000 jiwa. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas dan Balai Pengobatan adalah 1. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. diperlukan fasilitas kesehatan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin.500 meter. (3) Jarak radius pencapaian 1. v.

Ketersediaan Tempat Ibadah i. Gedung Bioskop (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120. Gedung Serbaguna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.000 m2. iv. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 1. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 250 m2. Muesanah (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 3.000m2. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha. baik untuk penyebuhan maupun pencegahan. d.500 m2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. diperlukan fasilitas kesehatan berupa apotik/ rumah obat. ii. 47 . Gedung Serbaguna/ Karang Taruna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 30.000 jiwa. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah balai warga adalah 300 m2. Ketersediaan Fasilitas Sosial i. diperlukan fasilitas ibadah berupa muesanah.000 m2. Apotik/ Rumah Obat (1) Berfungsi melayani penduduk dalam pengadaan obatobatan. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah balai warga adalah 150 m2.000 jiwa.000 jiwa. biasanya ada di setiap dusun. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 1. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah apotik/ rumah obat adalah 250 m2. ii.500 jiwa. c. Balai Warga (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 2.000 jiwa (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 500 m2.vii. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 2. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.

(4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 3. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. m2. ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. e.600 m2. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan berdekatan dengan pusat . (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2.000 jiwa. iv. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid lingkungan. Masjid Warga (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C).(3) Luas lahan minimum untuk sebuah muesanah adalah 100 ii. iii. Masjid Lingkungan (Gampong) (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (4) Kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya.000 meter. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid warga adalah 600 m2. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid warga. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 5. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid kecamatan. Masjid Kecamatan (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). termasuk ruang ibadah. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter.lingkungan. Sarana Ibadah Agama Lain (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Agama Katolik mengikuti paroki.000 jiwa.400 m2. Agama Hindu mengikuti adat. v. Agama Budha mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki lembaga masing-masing. Ketersediaan Sarana Ekonomi i. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. Warung 48 .2 m2/ jamaah.500 jiwa. (3) Kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1.

(2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. (4) Jarak radius pencapaian adalah 2. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan sub lingkungan dan mudah dicapai. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. barang-barang kelontong. pakaian. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. daging. beras. wartel dan sebagainya. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter.000 jiwa. Pusat Perbelanjaan Lingkungan (1) Menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur. (6) Setiap pertokoan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan. alat rumah tangga serta pelayanan jasa seperti warnet. iii. buah-buahan. iv. pakaian. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30.000 meter. alat-alat pendidikan. fotocopy dan sebagainya. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) lingkungan dan mudah dicapai.000 m2. juga untuk pelayanan jasa perbengkelan. ikan. (d) Sistem pemadam kebakaran. Pusat Perbelanjaan dan Niaga (1) Menjual kebutuhan sehari-hari. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 10. tepung. (c) os keamanan. bahan-bahan pakaian.barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah warung adalah 100 m2. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan lingkungan dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. (e) Mushola/ tempat ibadah. rempah-rempah dapur dan lain-lain. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 6. barang kelontong.000 m2. elektronik. (b) Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga. teh.000 jiwa. reparasi. ii. Pertokoan (1) Menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pertokoan adalah 3. gula. (c) Pos keamanan. unit-unit produksi yang tidak menimbulkan (1) Menjual 49 .

500 jiwa. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. Taman/ Tempat bermain Lingkungan (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa.000 jiwa. iv.250 m2. v. bank. Jalur Hijau (1) Terletak menyebar ditepi jalan lingkungan. Taman dan Makam i. (d) Sistem pemadam kebakaran. ii. Taman dan Lapangan Olah Raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 9. vi. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan ditengah-tengah kelompok tetangga (lorong). iii.000 meter. Makam 50 . (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter.000 m2. (c) Pos keamanan. Taman dan Lapangan Olah raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. industri kecil dan lain-lain.000 jiwa. (3) Lokasinya sedapat mungkin berkelompok dengan sarana pendidikan. Ketersediaan Ruang Bermain. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. tempat hiburan serta aktifitas niaga lainnya seperti kantor-kantor.polusi. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan pusat kegiatan lingkungan (dusun). (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 250 m2. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 24. (3) Lokasinya di jalan utama.000 m2.000 jiwa. (e) Mushola/ tempat ibadah. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 1. Taman/ tempat bermain (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 2. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di jalan utama dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1.000 m2. f. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 36. Olah Raga.

b. sosial. ameniti. 10 tahun 2004. Berupa kawasan lindung. ekonomi. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.000-12. perdu-perduan. Zone 2 i. sarana olah raga. seperti pepohonan (misalnya Angsana). ekonomi maupun estetika. KLB. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kawasan pantai yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. pekarangan. sirkulasi. dan jalan lingkar pulau yang memiliki ketinggian > 3 meter. III. ii. kawasan pemanfaatan terbatas. iii. ameniti maupun estetika. rekreasi dengan memperhatikan perencanaan kota yang ada. Kawasan ini harus disertai dengan buffer sebagai perlindungan dari tsunami yaitu hutan mangrove kawasan sempadan pantai. mau pun estetika.(1) Setiap 10. taman kota. Syaratsyarat ini dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk 51 . keamanan. dengan penanaman cemara. ekonomi.3 RUANG TERBUKA A HIJAU 1. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. KDB. dan tanaman lain yang sejenis. unsur-unsur estetik. sosial. ii. (3) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. Diperuntukkan untuk daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. (2) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). rumput-rumputan dan tanamantanaman hias. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum sesuai Qanun Tentang Bagunan Gedung no. Untuk perlindungan sungai. Parkir dan ketetapan lainnya. Bangunan Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau Kawasan di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di lingkungan pemukiman/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis.000 jiwa dengan standar kapling makam adalah 4 m2 (meliputi 2 m2 untuk makam dan 2 m2 untuk sirkulasi dan ruang terbuka. a. peresapan air. KDH. iv. iii. Zone 1 i. Fungsi-fungsi ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan permukiman/ gampong. kelapa.

sirkulasi. dan tanaman hias. rumputrumputan. KDH. dengan memperhatikan perencanaan kota yang telah ada. pohon-pohon menahun. seperti pepohonan. a. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. iii. c. KLB. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. ameniti maupun estetika. (3) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai penanaman vegetasi penyangga berfungsi untuk kepentingan ekologis.bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. pekarangan. Keserasian tersebut antara lain 52 . sosial. sarana olah raga. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. perdu-perduan. ii. (2) Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman. Jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. peresapan air. unsur-unsur estetik. ekonomi. (4) Sebagai ruang transisi. (a) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. rekreasi. Zone 3 i. hutan produksi. tanah dan permukaan tanah. Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman dan ruang terbuka hijau pekarangan. RTHP merupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. KDB. v. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/ wilayah/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. ekonomi maupun estetika. sungai. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum 2. Ruang Sempadan Bangunan i. Parkir dan ketetapan lainnya. ruang budidaya. (b) Syarat-syarat ruang terbuka hijau pekarangan dalam setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau.

ii. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. jalur pejalan kaki. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. batang dan cabangnya rapuh.mencakup : pagar dan gerbang. iii. tidak di dalam wadah/ container yang kedap air. v. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roofgarden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. ii. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25 luas RTHP. KDH minimal 10 pada daerah sangat padat/ padat. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. ketentuan teknis. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Hijau Pada Bangunan i. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/ penanaman di atas tanah. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. d. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. ii. dan kebijaksanaan daerah setempat. tiang bendera. c. iv. Tapak Basement i. tiang telepon di kedua sisi jalan/ ruas jalan yang dimaksud. Tata Tanaman i. 53 . ruang sempadan depan bangunan. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. bangunan penunjang seperti pos jaga. bak sampah dan papan nama bangunan. b. pagar. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. vegetasi besar/ pohon.

taman dan rekreasi ii. Untuk setiap Zone. bermain anak. (2) Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. taman (2) Tapak Basement (1) Hijau pada Bangunan iii.Ruang Sempadan Bangunan termasuk pekarangan. Taman-taman dan lapangan. seperti bermain bola. Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jenis-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. dll. Taman dan lapangan berada di setiap satu lingkungan dusun. a.Ruang Sempadan Bangunan (4) Tata tanaman. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. taman dan olah raga. ii. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Zone 3 (1). termasuk hutan mangrove. Zone 1 (1) Penghijauan di kawasan buffer zone. Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. volley dan sepak bola. Di pinggir pantai. Pekarangan rumah penduduk. 3. jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/ gampong adalah sebagai berikut : i. Luas maksimum dan minimum dari jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. volley. Zone 1 i. iii. (2). kestabilan tanah/ wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. air. (3) Taman-taman dan lapangan. hutan lingkungan. dll. 54 . hutan kelapa dan mangrove. taman permukiman terbatas. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. dari pinggir pantai hingga sejarak minimal 100 m sepanjang pesisir pantai ke arah daratan. Untuk lapangan minimal seukuran lapangan volley. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut diatas.ii. iv. (3). Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. makam. Zone 2 (1) Pekarangan. seperti bermain bola. tambak-tambak. kolam peresapan air hujan. dan kolam ikan.

iv. Zone 3 ii. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong 55 . Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong.iii. Taman dibuat pada satu lingkungan lorong Ruang terbuka hijau pekarangan dibuat pada setiap persil bangunan rumah pada satu luasan permukiman/ gampong. b. iv. iii.50% ii. Hutan mangrove ditanam sepanjang pesisir pantai sebagai penyangga (buffer zone) dengan kedalaman lebih kurang 100 meter ke arah daratan. Makam berada di pinggir lingkungan.. Taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong i. RTH taman dibuat dalam satu lingkungan lorong dan di sekitar meunasah. Zone 2 i. iii. Dikelilingi ruang terbuka budidaya pertambakan/ pertanian. Ruang terbuka hijau ditempatkan di sekitar lokasi yang memiliki aktivitas tinggi dengan luas ruang terbuka terhadap luas gampong lebih kurang 30% . c.

2 Lokasi pintu masuk dan keluar lingkungan permukiman dan jumlahnya. lokal) ke arah Pola sirkulasi jalan berbentuk pita. (2). Pintu masuk dan keluar bangunan tidak terhalang oleh ruang lain. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. b. a. Zone 2 dan Zone 3 (1). dan/atau primer. lokal) i. kolektor. kolektor. PERTANDAAN. Terdapat Zone 1 (1) Terdapat sekurang-kurangnya 1 jalan keluar masuk lingkungan ke arah selatan (2) Lokasi mudah dicapai dari segala penjuru/semua sisi lingkungan. b.4 SIRKULASI. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. kolektor. kolektor. Permukiman (a) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas tetangga dan lingkungannya. 1. Terdapat sekurang-kurangnya 2 jalan keluar-masuk lingkungan ke arah zona lingkungan tetangganya. dan jumlahnya.4 Fasilitas Parkir i. Pintu masuk dan pintu keluar pada bangunan terdapat di dua sisi bangunan yang berbeda dan mudah dicapai dengan jumlah minimal 2 pintu. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. Zone 2 (1) Berbentuk pita dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. dan/atau primer. 56 .1 Lokasi pintu masuk dan keluar bangunan. Lokasi mudah dicapai dari semua sisi lingkungan 1. dan arahnya terhadap sirkulasi jalan kota/luar lingkungan yang menghubungkannya. ii. a. 1. kolektor. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. berada di bagian depan dan belakang bangunan dan mudah dijangkau. serta arahnya terhadap sirkulasi lingkungan. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. dan/atau primer ke arah dataran yang lebih tinggi.3 Pola Sirkulasi Jalan Zone 1 dan Zone 3 (1) Berbentuk pita.III. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1.

3. ruang terbuka hijau dan sarana umum lainnya. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Bangunan non-rumah tinggal wajib menyediakan area parkir kendaraan yang proporsional terhadap luas lantai bangunan (sesuai standar teknis parkir yang berlaku) (2) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. misalnya bila gampong atau dusun terdapat jalur keluar masuk yang lebih dari satu. ii. Sempadan Jalan (1) Pencahayaan buatan harus ada di sepanjang sempadan jalan dengan jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. pedestrian dan penghijauan. sarana umum lainnya di tiap zone mempunyai persyaratan yang sama yaitu sebagai berikut : i. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. 2. ii. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. dll. Perletakan Sarana Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Sarana keamanan berupa Pos Jaga. atau tergantung dari bentuk gampongnya. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. 4. Jalur jalan kendaraan harus terpisah dengan jalur pedestrian pejalan kaki. 57 .(b) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak diperboleh berada pada badan jalan. ruang terbuka hijau. Pemisahan Jalan i. memudahkan aksesibilitas. penghijauan. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. berada pada bagian pintu masuk keluar lingkungan. ditempatkan pada pintu keluar – masuk gampong. (2) Untuk setiap jalan gang/ lingkungan dilengkapi jalur hijau pada sisi kiri dan kanan bahu jalan. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. maka Pos Jaga bisa ditempatkan di salah satu pintu masuk-keluar atau keputusan dari musyawarah gampong. iii. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. Jalur jalan kendaraan harus dilengkapi dengan jalur hijau : (1) Untuk jalan masuk utama lingkungan kendaraan dua arah dipisahkan dengan median jalur hijau di tengahnya. (4) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. (3) Luas.

sesuai kebutuhan standar jenis ruang terbuka hijau. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. Zone 2 (2) Bentuk (2) 58 . ii. balai pertemuan. i. Sarana Umum Lainnya (1) Dapat memberikan penerangan ruang luar dengan menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. iii. (2) Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan. Bangunan Penyelamat (1) Zone 1 dan Zone 3 (a) Rumah ibadah (Mesjid). h. (3) Perletakkan pencahayaan buatan harus dapat memberikan penerangan pada badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. (2) Harus memperhatikan karakter lingkungan. Ruang Terbuka Hijau (1) Perletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. Bangunan dan Jalur Penyelamat. silau visual yang tidak menarik dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. pencahayaan buatan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. sehingga mudah dioperasikan dan mudah diperbaiki bila terjadi kerusakan. perkantoran dan bangunan tinggi lainnya dengan struktur yang kokoh dan dapat menampung orang banyak atau berupa bukit dengan lansekap yang baik bisa dijadikan sebagai bangunan penyelamat (b) Pada zona I tinggi lantai > 1. (3) Harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. (c) Dapat dicapai dalam waktu paling lama 15 menit. (3) Dalam ruang terbuka hijau. (4) Dalam perletakan pencahayaan buatan harus memperhatikan aspek pengoperasiaan dan pemeliharaan. (5) Pencahayaan buatan harus ada di setiap persimpangan jalan yang dapat memberikan penerangan badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. estetika amenity dan komponen promosi. dengan radius pelayanan maksimum 2 Km. fungsi dan arsitektur bangunan.5 meter atau bangunan berkolong/panggung untuk mengatasi pasangnya air.pencahayaan buatan harus memperhatikan karakter lingkungan. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity.

Tidak diharuskan membangun bangunan penyelamat. (1). ii. Jalur Penyelamat Zone 1 dan Zone 3 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. Zone 2 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. (i) Jalan darurat merupakan jalan terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor yang bebas hambatan, dengan lebar badan jalan minimal 6 meter. (ii) Jalan keluar dari setiap kavling bangunan harus langsung ke jalan lingkungan dan jalan darurat minimal ada 1 buah tidak boleh melewati bangunan tetangganya. (3) Sirkulasi (a) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. (b) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya. (c) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa

(2).

59

elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. i. Pertandaan, dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Perletakan sarana keamanan dan keselamatan lingkungan. Perletakan tanda dan rambu lalu-lintas dan rambu keselamatan lingkungan. i. Penempatan signage, termasuk papan ikian/ reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik. ii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu, kepala daerah dapat mengatur pembatasan-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.

III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN
1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan

a. Setiap kegiatan dalam pembangunan permukiman di Kabupaten Aceh Besar yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diperhitungkan berdasarkan tingkat pembebasan lahan, daya dukung lahan meliputi daya dukung tanah, kapasitas resapan air tanah, tingkat bangunan per hektar, dan lain-lain, tingkat kebutuhan air sehari-hari, limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman, efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia), serta koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien luas bangunan (KLB). b Kewajiban melaksanakan kajian AMDAL tergantung masingmasing tipologi kota. c. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Kegiatan di Kabupaten Aceh Jaya yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut berpengaruh terhadap: i. Jumlah manusia terkena dampak. ii. Luas wilayah persebaran dampak. iii. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. iv. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.

60

v. Sifat kumulatif dampak. vi. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible-nya) dampak. 2. Ketentuan UPL dan UKL 1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 86 Tahun 2002. 2. Dalam UKL dan UPL harus diuraikan informasi mengenai: i. Identitas pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan; ii. Rencana usaha atau kegiatan meliputi nama, lokasi, skala usaha atau kegiatan, garis besar rencana usaha dan atau kegiatan; iii. Dampak lingkungan yang akan terjadi meliputi kegiatan yang menjadi sumber dampak, jenis dan besaran dampak serta hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak yang akan terjadi; iv. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan meliputi langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya menangani kedaan darurat, kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup dan tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan; v. Tanda tangan dan cap usaha dari penanggung jawab usaha atau kegiatan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Persyaratan bangunan i. Untuk mendirikan bangunan di Kabupaten Aceh Besar yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan memproduksi, mengolah bahan mudah meledak dan mudah terbakar, korosif, toksik (beracun), reaktif, dan infeksius dapat diberikan ijin apabila : (1) Merupakan daerah bebas banjir, dan (2) Jarak antara lokasi bangunan dan lokasi fasilitas umum minimal 50 meter. (3) Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/ jalan tol dan 50 meter untuk jalan lainnya; (4) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan;

61

ii.

iii.

iv.

v. vi.

(5) Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawan, mata air dan sumur penduduk; (6) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan lindung dan lain-lainnya). Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 L/detik atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapatkan ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna mengurangi limpasan air, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan saluran drainase tersier dan sekunder yang akan dihubungkan dengan saluran drainase primer untuk dibung ke badan air. Jika muka air tanah rendah maka dapat digunakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan guna menambah cadangan air tanah. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan 2 membangkitkan LHR ≥ 60 SMP per 1000 feet luas lantai, maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran drainase yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lampu lalu lintas. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan dan tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar. iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

62

Daerah sebagaimana dimaksud pada butir a dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. Pembuangan Limbah Cair dan Padat i. dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. daerah banjir. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah harus dilengkapi sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. 4. dibatasi. keselamatan dan kesehatan lingkungan. Sarana pengumpulan dan pengolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. bagi bangunan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir a. atau dilarang membangun bangunan. dengan memperhatikan keamanan. 63 . c. b. (b) pengangkutan sampah basah dilakukan berdasarkan jenisnya (i) Sampah basah setiap hari atau maksimal setiap dua hari sekali untuk menjamin agar tidak timbul bau dan menjadi sarang penyakit. (1) Sampah : (a) harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. e. dan yang sejenisnya. Pengelolaan Daerah Bencana a. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. dengan memperhatikan keamanan. keselamatan dan kesehatan. Kegiatan konstruksi yang berpotensi menghasilkan debu harus melakukan penyiraman pada waktu tertentu untuk menghindari penyebaran debu yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. (ii) Sampah kering maksimal setiap tiga hari sekali agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. ii.vi. c. d.

kelayanan (serviceability). Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keamanan (safety). Persyaratan Perencanaan Struktur a. dan bebanbeban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur 2. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai dengan zona gempanya). Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar tercapai. c. misalnya terjadinya suatu gempa. harta benda dan masih dapat diperbaiki.IV. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Sedangkan yang dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis / engineering structures). b. Persyaratan struktur ini memberikan kriteria minimal untuk perlindungan jiwa dengan memperkecil kemungkinan terjadinya keruntuhan. Perencanaan struktur BG dan RT berdasarkan ketentuan ini tidak berarti mencegah sama sekali terjadinya kerusakan struktur maupun non-struktur apabila suatu gempa terjadi. 1. Bangunan rumah tinggal lebih dari 1 lantai dikategorikan sebagai bangunan gedung. Untuk itu struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan. Bangunan rumah tinggal di dalam pelaksanaan pembangunannya bisa dilakukan oleh pemilik dan dianjurkan didampingi oleh orang teknik yang mempunyai keahlian di bidang bangunan. Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur (Bangunan non teknis / non engineering structures). keawetan (durability) dan ketahanan terhadap kebakaran (fire resistance). Persyaratan Bahan 64 .1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN Persyaratan struktur bangunan gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD bertujuan untuk memperkecil resiko kehilangan nyawa apabila keruntuhan struktur akibat pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar terjadi. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur.

Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI. iii. pusat pemadam kebakaran. iv. diusahakan semaksimal mungkin menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan kandungan lokal. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga pengetesan yang berwenang. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama terjadinya suatu gempa.a. b. c. pusat penyelamatan keadaan darurat. serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur. pusat pembangkit tenaga. Bahan struktur yang digunakan. d. fasilitas radio dan televisi dan bangunan sejenis lainnya. lay-out bangunan diusahakan sejauh memungkinkan agar sederhana dan simetris. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi secara baik sesudah terjadinya suatu gempa. maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. 3. a. ii. e. Ketidakteraturan struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. misalnya rumah sakit. Untuk bangunan yang tidak beraturan. pengaruh gempa terhadapnya harus dianalisa secara dinamik. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. bangunan air minum. lay-out 65 . Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami setelah suatu gempa terjadi. Kemungkinan terjadinya efek puntir pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya geser tambahan pada unsurunsur vertikal akibat gempa harus diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Persyaratan Detail Struktur Bangunan Gedung dan Rumah Tahan Gempa Persyaratan Lay-Out Bangunan i. f. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait.

Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang tsunami. Perencanaan bangunan sejenis ini harus mempertimbangkan berbagai faktor akibat penggunaannya sebagai tempat evakuasi.bangunan harus dibuat sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan sangat minimal. sehingga berperilaku daktail. termasuk elemen struktur dan nonstruktur. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan apabila suatu gempa terjadi. Semua bagian dari struktur harus diikat bersama. PEMBEBANAN 1. Setiap unsur sekunder. sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail. baik dalam bidang vertikal maupun horisontal. Semua monumen dan bangunan monumental di NAD akan difungsikan juga sebagai tempat evakuasi apabila suatu gempa terjadi.2. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian rupa. Persyaratan Pendetailan Struktur i. Standar Teknis 66 . b. maka struktur BG dan RT dan semua elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian rupa. Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang telah direncanakan benar-benar terjadi. 2. c. iii. IV. yang bertujuan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. ii. arsitektur dan instalasi mesin dan listrik harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang memadai. yang diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur pondasi. gempa) dan beban khusus. ii. Persyaratan Monumen dan Bangunan Monumental i. beban sementara (angin. termasuk beban tetap. sehingga gaya-gaya dari semua elemen struktur. misalnya pengaturan ruangan dan fasilitas penunjang lainnya serta kemungkinan adanya beban-beban tambahan akibat fungsinya sebagai tempat evakuasi. Analisa Struktur Analisa Struktur harus dilakukan. iv.

Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. g. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. SNI3430.Penentuan mengenai jenis. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti a. b. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja d. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja c. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. c. SNI2834. intensitas dan cara bekejanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. 3. e. SNI 1726. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-1729 b. 2. seperti a.3. SNI-3449. Konstruksi Beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. SNI-1728. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung. SNI2407. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. seperti: a. SNI-3976. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. IV. STRUKTUR ATAS 1. b. 67 . SNI-1734. d. SNI 2847. f. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. SNI 1727. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.4. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. c. b. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. d. seperti: a.

jika 4 < D/B < 10 (c) Pondasi dalam. SNI-1735. SNI1736. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. g. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-1963. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut.2 mm 68 . Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2404. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. d. b. STRUKTUR BAWAH ii. Jenis Pondasi : (a) Pondasi dangkal . SNI-2405. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.075 mm < ∅ < 2 mm (d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76. jika D/B > 10 Jenis Tanah : Lempung (clay) : ∅ < 0.002 mm < ∅ < 0. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan Rumah dan Gedung. e Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10 (b) Pondasi semi dalam . Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-23V4. IV.075mm (c) Pasir (sand) : 0.. c. 1. jika D/B < 4 . i. Definisi i. SNI239'7 h.4. tata cara. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. Perencanan Umum a. SNI-2395 f. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Termitisida. antara lain: a.002 mm (b) Lanau (silt) : 0. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. b. SNI-1745. 5.4. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi.

0.Zona Gempa 5. 0. Differential Settlement Keterangan : L = panjang dasar pondasi dangkal B = lebar atau diameter pondasi D = kedalaman dasar pondasi dari muka tanah ∅ = diameter butiran solid tanah δ = differential settlement s = bentang antar pondasi/ kolom Zonifikasi Gempa : . Dimensi dan Material Pondasi Dimensi dan material pondasi tergantung pada : i. Jenis Pondasi dan Ukurannya Gambar 2.Zona Gempa 3. 0. sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk cohesionless soil.25g . Sumber : American Association of state Hihgway and Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of Technology (MIT) Gambar 2.Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil.30g dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan b.20g .Zona Gempa 4.1.Zona Gempa 6.15g . 0. Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung – PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan 69 .2.

Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam : (a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and compression pile. Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) : Pada tanah kohesif : D = 1. Settlement Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada disekitarnya. Gempa dan (a) 70 . (b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan pemberian sejumlah anchor.50 m dan B = 1 m.002 – 0. kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah dilakukan soil improvement. i. 2. Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing capacity.003 setengah bentang bangunan (s). Persyaratan Pondasi i Persyaratan penting pada pondasi dangkal : (a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton sloof.70 m dan B = 0. (b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal. (b) Pada tanah non kohesif : D = 0. untuk medium ke atas. (c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir dibawah pondasi minimum 30 cm. (d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing capacity dan kekuatan material pondasi. Penentuan Jenis Pondasi : Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi. (c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku Khusus untuk pemancangan tiang pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara.Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-17262002 ) ii.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6).70 m c. Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat nasional dan/atau internasional iii. Differential settlement antar pondasi tidak boleh terjadi. Bila tetap terjadi differential settlement maka besar amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar 0. d.

( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton) c.a. 71 . Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : B. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi: B.1.a.2. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.a.1. Mikropile/minipile B. (Pondasi setempat beton) a.30g Jenis Pondasi : A.3.2.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A. Batuan i.1.b ( Pondasi menerus beton) A.2. (Pondasi menerus batu kali) A.e.b. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A.( Pondasi setempat batu kali) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.1 . (Sumuran/ Caisson) C.1.a. (Tiang Bor Beton) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi C.b.a. (Pondasi setempat beton) ii.1.a.a.1. (Pondasi menerus batu kali) A.b (Tiang Pancang Beton) C. (Mikropile/minipile) atau B.b ( Pondasi menerus beton ) A.1.b( Pondasi menerus beton ) A. (Tiang Bor Beton) b.1. (Pondasi menerus batu kali) A. dengan percepatan maksimum di batuan 0. (Tiang Bor Beton) B. (Pondasi setempat beton ii.2.1.1.2.2.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : C. Tanah Tak Berkohesi i.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 .2.2.a.b..2.(a) (b) (a) (b) Tanah Berkohesi i.

b.( Tiang Baja/ Beton dipancang pada lapisan batu yang sudah dibor kemudian digrouting) 72 .ii.1.d.2.a (Tiang Pancang Baja) (b) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi : C. (Tiang Pancang Pipa Baja) C.1. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi C.

.

Biaya Relatif Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya. (2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose. i. (5) Pembekuan air tanah (freezing). (4) Stone Column. Lime Column. ii. (8) Metode pemadatan getar (vibroflotation) (9) Displacement by explosives (10) Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material ke dalam tanah (impregnation) . untuk peat lapisan tanah yang diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Tanah Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah cohesive (silt. Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait d. Metode Perbaikan Tanah Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah. gravel): (1) Preloading dan surcharge. Metode perbaikan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. Untuk tanah swelling yang diganti setebal zona kembang susut. (3) Electro consolidation (4) Stone Column (5) Freezing.3. (6) Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal. (8) Metode lainnya yang sesuai. (7) Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus mengacu pada zona aktif. (6) Dynamic Compaction. (3) Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose. Jenis Tanah b. Cement column. Kualifikasi Kontraktor c. clay) : (1) Preloading dan surcharge. (7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive). (2) Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain. Tanah Non Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah non cohesive (sand. Dampak Terhadap Lingkungan e.

(6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock) Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di atas batuan. (4) Bituminous Coating Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi. Ketebalan shotcrete normalnya 2-3 in. (8) Slope Geometry.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts. diletakkan di atas permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke dalam batuan. Bahan untuk grouting adalah campuran cemen dan pasir. Batuan Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah batuan : (1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. (5) Resin Coating Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan pelindung untuk batuan. beton atau bangunn dari batu. Lembaran plastik seperti polyethylene. Perkuatan batuan dapat mengurangi pergerakan struktur atau translasi. Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas rendah jika disemprotkan pada permukaan. (2) Lean concrete atau slush grouting (a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi permukaan batuan. Membrane yang terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan.Metode lainnya yang sesuai. (7) Consolidation grouting Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau kekuatan geser. Consolidation grouting diterapkan pada masa batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan jumlah open joint yang dominan. Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada lereng dengan sudut kemiringan yang redah. (b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan kemiringan kurang dari 450. (11) 2 . (3) Plastic Sheeting. Bituminous coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari. dan tidak diterapkan lereng yang curam. rock anchor rock tendon). iii. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak batuan.

3 .(9) (10) (11) (12) (13) Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat mengurangi gaya-gaya yang bekerja. Dewatering (a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng. caranya dengan shotcrete. (b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa batuan. Rock Anchor Perlindungan Terhadap Erosi Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang disebabkan proses pelapukan. dengan tidak tutup kemungkinan ada metode baru. Toe Berms Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh. Metode lainnya yang sesuai.

Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan.2 0 .0 0 2 0 1 Lem pung 0 . Keselamatan Struktur a. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.0 0 0 2 K u a l ifik a s i W a k tu D a m p a k t e rh a d B p y a a ia K o n t ra k tP e l a k s a nB e rnfu n g s i L i n g k u n g a n R e l a t i f or aa IV. c.0 0 1 (D im e n s i o n a t m m ) T a n a h O r g aBnai k u a L e g e n d a : t n • Lem ah • S e d a n g • • P •e n t in g • 0 . maupun beban yang diakibatkan perilaku alam b. A 1 2 3 B C D E F G 1 2 H I J K L M N O P Q M e to d e ' P re lo a d in g S o il w e ig h t o n ly W it h ve r t ic a l d ra in s W it h n e t o f D r a i n a g e E le c t r o O s m o s e E le c t r o C o n s o lid a t i o n S t o n e C o lo u m n C e m e n t C o lo u m n F re e z i n g D y n a m i c C o m p a c ti o n C o m p a c t io n o n l y W it h H o riz o n t a l D r a i n a g e E x p lo s ive s V ib r o fl o t a t i o n Im p re g n a t i o n / G ro u t i n g S u b s t it u t io n S h o t c re t e L e a n c o n c re t e P la s t ic s h e e t i n g B it u m in o u s & re s i n c o a t in g G ro u t i n g R o c k re i n fo rc e m e n t • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • • •s / d • • • • • • • s / d• • • • • • • s / d• • • • • • • • • • • • •s / d • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • • s / d • • s / d• • • • • • • • • • • • • •s /d • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s / d • • • • • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • • • • • • K e rik ilP a s ir K a P a rs ir h a lu s n a u s La 10 2 1 0 .1 0 .5 KEANDALAN STRUKTUR Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD harus mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur. beban perilaku manusia. M e t o d e P e r b a ik a n T a n a h J e n is T a n a h No.0. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur d. dan harus dilakukan atau 4 . Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri.T a b e l.0 2 0 .

Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri. beban yang didukungnya akibat perilaku manusia. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan. Pd T-11-2004-C. atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan. maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur. kondisinya. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi materialnya. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa). dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam. 3. c. b. 2. Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya. Adanya pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi) dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam analisa keandalan. b. Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada.didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. beban akibat perilaku manusia. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. beban akibat perilaku manusia. d. maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih akurat. Apabila hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri. seperti lingkungan yang korosif. dan atau beban yang diakibatkan 5 . pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. c. d. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa. gempa. Pemeriksaan dan Perkuatan Bangunan Setelah Adanya Gempa a. Keruntuhan Struktur a. maupun bencana lainnya. tidak mencukupi untuk memikul beban akibat berat sendiri. sambungan-sambungannya dan besarnya pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul bebannya.

b. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan elemen-elemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang disyaratkan IV. Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri. e. mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa.perilaku alam (termasuk gempa). mekanikal. 3. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi 2. Prosedur dan Metoda Demolisi a. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. metoda dan rencana demolisi struktur harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang sesuai. No : Pd T-12-2004-C. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani. maka perlu diadakan perkuatan struktur. Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran. dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini. ii. Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan. masyarakat dan lingkungan b. b. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila : a. Perancangan komponen arsitektural.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. Kategori : Pedoman Teknik. dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. Struktur banguan sudah tidak andal. Kategori : Pedoman Teknik Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural. Penyusunan prosedur. Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami 6 . dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau ekonomis. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Acuan yang Dipakai a. Prosedur. No : Pd T-13-2004-C. Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa No : Pd T-11-2004-C. Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. c.

Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. No : SNI 03-1726-2002. 7 . gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. i. l. Kategori : SNI. Kategori : Petunjuk Teknik Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali. Kategori : SNI. Kategori : SNI. Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No : SNI 03-2847-1992. No: Pd T-14-2004-C. h. Kategori : Pedoman Teknik. Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : PtT-02-2000-C. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa. Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C. Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung. f. kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-1729-2002.d. Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan. Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku. termasuk beban-beban hidup untuk atap miring. k. bukan keharusan. Tata cara ini digunakan untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-struktur bangunan rumah dan gedung Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1727-1989. Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-3430-1994. Kategori : SNI. Kategori : Petunjuk Teknik. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989. Kategori : SNI. g. Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. Kategori : SNI. j. e. terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau. yang pemakaiannya optional.

ketinggian bangunan. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V.melindungi benda atau barang lainnya terhadap kerusakan fisik akibat keruntuhan struktur bangunan saat terjadi kebakaran.menghindari penyebaran kebakaran antar bangunan. iii. iv. intensitas kebakaran. iii. beban api. kedekatan dengan bangunan lain. vii. . vi. . b. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama terjadinya kebakaran. Ketahanan Api dan Stabilitas a. dan 8 . ii. sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. ix. viii. c. iii. untuk memberikan kesempatan bagi petugas pemadam kebakaran untuk beroperasi. 1. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. ii. intervensi pasukan pemadam kebakaran. dan atau bagian kelas 4). v. tingkat bahaya api.melindungi manusia dari sakit atau cedera akibat terjadinya kebakaran dalam bangunan maupun pada saat proses penyelamatan. Suatu bangunan harus dilindungi terhadap penyebaran kebakaran: i. yang sesuai dengan: i. cukup waktu untuk keperluan evakuasi penghuni secara aman. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi kebakaran untuk memadamkan api. sehingga penghuni bangunan mempunyai cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara aman tanpa dihalangi oleh penyebaran api dan asap kebakaran. . v. iv. sehingga: i.V. dapat menghindari terjadinya kerusakan pada properti lainnya.1 SISTEM PROTEKSI PASIF Persyaratan yang tercantum dalam bagian ini bertujuan untuk: . antar unit-unit hunian tunggal (hanya berlaku bagi bangunan kelas 2 atau 3. ukuran setiap kompartemen api. Persyaratan yang lebih detail mengenai sitem proteksi pasif dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. fungsi atau penggunaan bangunan. ii.menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. antar bangunan. antar kompartemen kebakaran yang berdekatan.

dan vi. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. g. sistem proteksi aktif. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. 2. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. e. fungsi atau penggunaan bangunan. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan.x. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. keruntuhan tersebut dapat dihindari. iii. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. atau potensial dapat meledak. sambungan konstruksi. sesuai dengan: i. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. jumlah. yaitu pada bukaan. Tipe A : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. sampai dengan tingkat tertentu. fungsi bangunan. iii. beban api. yang sesuai dengan: i. ukuran kompartemen. v. f. tingkat bahaya api. Tipe Konstruksi Tahan Api Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. elemen bangunan lainnya. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. iv. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. d. ii. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. intensitas kebakaran. iv. waktu evakuasi ii. membatasi berkembangnya asap dan panas. 9 . h.

4 Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Spesifikasi detail ketiga jenis tipe konstruksi diatas dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV pasal 2. Tipe B : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. 3. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: 10 . c.b.

Ukuran Maksimum dari Kompartemen Kebakaran Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi Bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 2 2 Klas 5 atau Maksimum 8000 m 5500 m 3000 m2 9b Luassan Lantai Maksimum 48000 m3 33500 m3 18000 m3 Volume Klas Maksimum 5000 m2 3500 m2 2000 m2 6. c. perambatan api dan asap.7. Batasan umum luas lantai. agar dapat: i. Pemberlakuan.1 Tipe Konstruksi yang Diwajibkan KETINGGIAN Klas Bangunan (dalam jumlah 2.7. Tabel 2. ketentuan pada butir iii. ii. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. b. 11 . bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.8.9 5. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. iii.2 dan butir vi. 6.2. kecuali seperti yang diijinkan pada butir iv. dan ii. 7.3. iv dan v di bawah tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel 2.atau Luassan 9a Lantai (kecuali Maksimum 30000 m3 21500 m3 12000 m3 daerah Volume perawatan pasien) i. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5.8 lantai) 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C 4. Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. Kompartemenisasi dan Pemisahan a.6.Tabel 2. i. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.

ii. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. asap dan gas beracun. i. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. (2) bangunan klas 5 s. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2).d. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir v (2). e. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. (2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir butir 5. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2) di atas. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. Bagian bangunan. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel 2. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.2 di atas bila: i.000 m2 atau 108. 12 . (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. atau peralatan lift. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir butir v (2). yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir v (1) di bawah yang lebamya tidak kurang dari 18 meter.000 m3 dengan sistem sprinkler. sungai. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. atau: ii Bangunan dengan luasan melebihi 18. iii. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut.ii. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. d. ventilasi. iv. tanki air. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.

Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. dan . (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi ((1) s. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. ii. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. b. (4) di atas maka jalan tersebut dapat berlaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. damper. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. Pada bangunan klas 2 dan 3. h. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir ii). pemisahan oleh dinding tahan api. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). c. Seluruh bukaan harus dilindungi. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. dan tertutup pada setiap lantai.d. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. shaft ventilasi. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. 5. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka.(3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga dan lift pada satu shaft. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat 13 . g. f. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Proteksi Bukaan a. d.

e. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. dan iii. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir (2) di atas. maka tidak boleh menempati lebih dari ⅓ luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. g. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. ii. yang bukan dari klas 10. dan ii. kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. atau (2) 1. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. f.3. bila luas lubang/ sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel 2. 14 . dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir 8) di bawah. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 meter pada dinding yang sama. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators).dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. Pemisahan bukaan pada kompartemen kebakaran. lubang tirai.000 mm2. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. sambungan pengendali. iii. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama.

dan terdapat regu pemadam kebakaran. a. Standar Industri Indonesia (SII). Bila diperlukan proteksi. Sistem Pemadam Kebakaran harus memenuhi Kepmen PU no. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. 135 3m o o Lebih dari 135 s. Pintu. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2.d. 180 2m 180o atau lebih nol h. V. dan 15 . American Standard For Testing Material (ASTM). maka jalan masuk. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan.Tabel 2.d. PUIL. 10/KPTS/2000 tentang ketentuan teknis bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). Sistem Pemadam Kebakaran dalam Bentuk Sistem Plambing dan Alat Pemadam Ringan. persyaratan dan standarisasi yang berlaku dari National Fire Protection Association (NFPA). (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. i. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku.3 Jarak Antara Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran yang Berbeda Sudut terhadap Dinding Jarak Minimal Antara Bukaan 0o (dinding-dinding saling 6m berhadapan) Lebih dari 0o s. 45o 5m Lebih dari 45o s. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. SNI 03-1745. ii. Sistem hidran kebakaran (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. jendela. 90o 4m o o Lebih dari 90 s. Hidran Kebakaran i. ii.d.d.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.

atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai kelas bangunannya. atau (b) listrik yang dicatu dari generator darurat. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh saluran peruntukan bangunan. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor bakar. 7. (b) 2(dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. di mana: (a) bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4. kecuali pada satuan peruntukan bengunan. dan jika dalam jarak m dari bangunan. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. tahan cuaca. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. (5) pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang : (a) mempunyai jalur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dan dengan konstruksi yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. atau (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. (6) untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. atau (b) bangunan kelas 5. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 2 m. 6. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. 16 . asalkan ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari : (a) 2 (dua) pompa. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat.(2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan.

(12). ii. tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. Industri Dan Atau Campuran: Lingkungan tersebut harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tersedia sumber air berupa hidran lingkungan. serta mampu menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit. (8). (11). serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. Sistem hose reel harus disediakan : (1) untuk melayani seluruh bangunan. Hose Reel i. di mana satu atau lebih hidran dalam dipasang. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Untuk hidran bangunan dengan ukuran selang 1½ inci atau kurang. (a) pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dilayani oleh hose reel tunggal yang 17 . b. (2) melayani hanya lantai di mana alat ini ditempatkan. sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. (9). satu unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4.(7) bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. Perdagangan. maka harus disediakan hidran halaman. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. Bila hidran kota tidak tersedia. yang dipasang dalam bangunan untuk pemadaman kebakaran oleh penghuni bangunan. sehingga setiap rumah dan bangunan dapat dijangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan. panjang selang minimum 30 meter. sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan. pada bangunan yang dilengkapi dengan hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran di dalam bangunan. kecuali pada satu unit hunian. hidran untuk Lingkungan Perumahan. (10). untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. Sistem hose reel. sesuai dengan standar SNI 03-1745. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang.

atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . (4) hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) di atas. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. dilayani oleh hose reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat hose reel melayani seluruh unit hunian. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. dan (b) pada bangunan kelas 5. (3) memiliki selang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian ruap untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan. yaitu antara (0. (9). sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap.(d)) di atas harus dipasang pada sambungan ke saluran utama.5 . atau (d) kombinasi (a). Sistem Sprinkler 18 .ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. (b).2. 7.0) kg/cm2. (7). Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . (6) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. (10). Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. 6. c. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. ditempatkan: (a) di luar bangunan. Pemakaian air asin tidak diizinkan. (5) Bila dihubungkan dengan meteran air. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke hose reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. sebuah katup yang memenuhi butir ((5). dan (c). kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. (8). maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm.

yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (Kelas 6) Dalam kompartemen kebakaran dengan salah satu ketentuan berikut.500 m2 2.4. 9 dengan luas maksimum 18. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.d. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2. 2. berlaku: 1. Teater. SNI-3989.000 m2 dan volume 108. Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis Bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua kelas bangunan: Pada bangunan yang tinggi termasuk lapangan parkir efektifnya terbuka dalam lebih dari 14 m atau jumlah bangunan campuran lantai lebih dari 4 lantai.000 m2.000 m3. luas lantai melebihi 2. Semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. b.luas lantai lebih dari 3.volume ruangan lebih dari 21. Ruang Luas panggung dan belakang pertunjukan.000 m2 dan volume 108.000 m3.000 m3. berlaku: 1. Konstruksi Atrium Tiap bangunan ber-atrium Bangunan berukuran besar yang Ukuran kompartemen yang lebih terpisah besar mengikuti: Bangunan Kelas 5 s. kendaraan.i.lapangan parkir terbuka tidak termasuk. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. panggung lebih dari 200 m2. Ruang parkir.000 m3 Bangunan Rumah Sakit Lebih dari 2 (dua) lantai Ruang pertemuan umum. Bangunan dengan resiko bahaya Pada kompartemen dengan salah kebakaran amat satu dari tinggi *) 2 (dua) persyaratan berikut. selain ruang parkir Bila menampung lebih dari 40 terbuka. 19 . ii. volume lebih dari 12.

(7) Sistem sprinkler di ruang parkir Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-kelas. ruang pertemuan umum atau semacamnya. (8). (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. (3) Katup kontrol sprinkler.(2) Bangunanan bersprinkler.5 . atau sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak disyaratkan.2. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler di daerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. jika : (a) sprinkler terpasang di seluruh bangunan. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. dan klasifikasi bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. harus: (a) berdiri sendiri. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan : setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi internal yang disyaratkan. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. (4) Pasokan air. luas bangunan yang disyaratkan menggunakan sprinkler. yaitu antara (0. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. 20 . atau: (b) dalam hal sebagian bangunan : sebagian bangunan di pasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . (6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper) Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater.0) kg/cm2. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku. bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. dan setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinkler diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya.

jenis pipa yang sering dipakai pada pekerjaan instalasi hidran dan sprinkler harus sesuai dengan spesifikasi teknis. Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali : jaringan kota apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989.(9). SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu 21 . ii. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . Luas lingkup maksimum disesuaikan dengan tingkat bahaya kebakaran. Ukuran pipa dan perhitungan hidrolik sesuai dengan SNI3989. (12). Komponen dari sistem sprinkler:Spesifikasi dan standard pipa harus dari jenis: • Pipa baja : • Pipa baja galbani (pipa putih) • Pipa besi tuang dengan flens • Pipa besi tuang dengan mof • Pipa tembaga dengan standar minimum klas menengah (medium). (11). (13). dan tangki bertekanan sesuai syarat pada SNI3989. e. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. Pemakaian air asin tidak diizinkan. (14). sesuai dengan SNI-3989. d. dan biasanya digunakan pipa baja karbon hitam (black steel pipe) dengan schedule 40. tangki gravitasi. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Schedule 40 (Sch 40) menunjukkan standar kemampuan menahan tekanan kerja sampai dengan 30 kg/cm2. Pemadam Api Ringan (PAR) i. PAR memenuhi butir i. Penempatan kepala sprinkler : didasarkan pada luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan. Pipa Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang di seluruh bangunan. kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. (10).

dan (2) PAR dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. meliputi : merk detektor. terdiri dari : detektor asap optik. PUIL 2000. 2. (d) Detektor gas. SK Menteri PU tentang ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. 22 . sedangkan jenis gas lebih ringan dari udara jarak maksimum mendatar adalah 8 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan jarak maksimum dari langit-langit adalah 30 cm. arus listrik (stand-by current). SNI3985 dan SNI 03-3986-edisi terakhir mengenai Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis. harus diperhatikan perbedaan berat gas dengan udara sebagai berikut : untuk jenis gas lebih berat dari udara jarak maksimum mendatar adalah 4 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan tinggi maksimum dari lantai adalah 30 cm. kelembaban relatif. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Spesifikasi Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran i. dan detektor asap ionisasi. Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (SKBI) yang dikeluarkan oleh Departemen PU. (b) Detektor asap. dengan persyaratan khusus bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yangdigunakan sebagai : (1) bagian hunian dari bangunan sekolah.dipasang di dalam bangunan atau bagian yang dilayani oleh Hose Reel. dan sensitivitas. b. detektor kombinasi. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. khusus untuk pemasangan detektor gas. dan bangunan klas 9a. terdiri dari : fixed temperature detector. (1) Beberapa jenis detektor yang dapat digunakan meliputi : (a) Detektor panas. anak-anak atau orang cacat. tegangan operasi. (2) Detektor yang akan dipakai harus memenuhi spesifikasi teknis pada dokumen kontrak. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: bangunan klas 1b bangunan klas 2. Petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat detektor dan panel. bila terdapat balok dengan tinggi lebih dari 60 cm. (c) Detektor nyala api : detektor nyala api ultra violet dan detektor nyala api infra merah. temperature range. dipasang pada bagian terdekat di atas kemungkinan timbul kebocoran gas. rate-of-rise detector.

dan Sistem Peringatan Bahaya).4 m dari lantai. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. Tanda Arah Keluar. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan pada bab 2.5 mm2. (8) Tidak mudah terkena gangguan (9) Pada jalur arah lari yang normal ke bangunan (10) Terpasang di setiap lantai pada bangunan bertingkat (11) Setiap titik panggil manual dapat melayani luas maksimal 900 cm2 iv. iii. ii. tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB (A) (5) Sifat irama alarm tidak menimbulkan kepanikan (6) Pada tempat-tempat khusus (misalnya : perawatan orang tuli dan sejenisnya) dipasang alarm visual (7) Terpasang pada lokasi panel kontrol dan panel bantu (8) Dapat menjangkau bagian ruangan dalam bangunan 23 . Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam memasang titik panggil manual (break glass) adalah : (1) Modol tombol tekan (2) Dilengkapi dengan kaca.4.(3) Jenis kabel yang lazim dipakai adalah kabel NYM 2 x 1. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan di setiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. Kabel harus memenuhi persyaratan PUIL 2000. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menggunakan dan memasang alarm kebakaran adalah : (1) Bunyi dan irama yang khas hingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran (2) Frekuensi kerja alarm 500 . (7) Dipasang pada lintasan menuju keluar dengan ketinggian 1.1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara minimal 65 dB (A) (3) Lebih tinggi minimal 5 ddB (A) tingkat kekerasan suaranya pada ruangan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (4) Di ruang tidur. dipasang dalam konduit PVC tipe “High Impact” dan fire reterdant.3 (mengenai Pencahayaan Darurat. bila dipecahkan tidak membahayakan (3) Disediakan alat pemukul kaca (4) Berwarna merah (5) Mudah dicapai dan terlihat jelas (6) Dihubungkan dengan kelompok detektor (zone) yang meliputi daerah di mana titik panggil manual tersebut dipasang.

4 Lihat gambar 2. Dengan dinding dan langit-langit.5 m ≥ 1. Dengan lubang udara balik AC (return air grille).5% smoke obscuration/m. D. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. Tabel 2. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. Dengan lubang udara masuk AC (supply air diffuser).5 m ≥ 1.5 Jarak Pemasangan Detektor Detektor Detektor Detektor Panas Asap Gas ≥ 300 mm ≥ 100 mm ≥ 100 mm dari dinding dari dinding dari dinding ≤ 300 mm ≤ 300 mm dari langitdari langit≤ 300 mm langit langit dari langitlangit ≤ 7 m untuk ≤ 12 m untuk ≤ 12 m ruang efektif ruang efektif ≥ 10 m untuk ≤ 18 m untuk sirkulasi ruang sirkulasi ≥ 1.. dan (4) dipilih tipe foto-elektrik.6 Lihat gambar <1. Antar detektor Lihat gambar 2. (2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. Ket Lihat gambar 2. Penempatan Alat Pendeteksi Asap Pemasangan sistem deteksi disesuaikan dengan buku “Panduan Pemasangan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang diterbitkan oleh Departemen PU. Antar detektor pada langitlangit rata C. (3) ditempatkan kurang dari 1.5 m 900 mm secara 900 mm secara 900 mm secara 24 . jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µ m. (1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara.5 m <1.3 B.5 m Jarak Detektor A.5 m <1. v.(9) Dapat digunakan pula sebagai penuntun arah masuk bagi anggota kebakaran dari luar. E.5 Lihat gambar 2.

Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktifitas yang sesuai dengan fungsi bangunan.7 F.3. Gambar 2. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu lintas atau sirkulasi dalam bangunan. horizontal dari puncak atap tertinggi horizontal dari puncak atap tertinggi 2. catatan : 1.8 bentuk atap pelana. puncak atap dari gambar pada atap puncak 2.pada atap bentuk gergaji. Dari 100 mm dari 900 mm dari 900 mm Lihat puncak atap puncak atap. 2. Jarak detektor dengan dinding dan langit-langit Gambar 2. horizontal dari puncak atap tertinggi. Jarak detektor pada langit-langit rata 25 .4.

Pemasangan detektor pada atap bentuk gergaji 26 .7. Jarak detektor dengan lubang udara balik AC Gambar 2. Jarak detektor dengan lubang udara masuk AC Gambar 2.5.6.Gambar 2.

Faktor pengali langit (%) 0.4 ~ 6. Jarak detektor = ketinggian langit-langit x faktor pengali. Peralatan bangunan -Gudang material yang R.2 ~ 7.6 Fakor Pengali Jarak Detektor.6 ~ 4.8 m 77 4.8 ~ 8.7 Contoh Pemilihan Jenis Detektor Sesuai Fungsi Ruangan Fixed RoR & Asap Nyala Api Gas Temperature kombinasi RoR~fixed temperature Dapur . Tabel 2.R.Gambar 2.6 ~ 7.2 m 52 7.0 ~ 3. Tabel 2.8.garasi mobil .6 m 91 3. perjamuan . transformato r/ diesel 27 .8 ~ 5.2 m 84 4.4 ~ 9.0 ~ 3.restoran R.8 m 46 7. Pemasangan detektor pada atap pelana Catatan : jarak antara detektor menyesuaikan dengan tinggi langit-langit ruang efektif seperti pada tabel berikut.0 ~ 6.4 m 71 5.0 m 34 Penempatan detektor harus sesuai dengan fungsi ruangan. Tabel berikut menunjukkan contoh pemilihan jenis detektor yang disesuaikan dengan fungsi ruangan.0 m 64 6.2 ~ 4.4 m 40 8. Ketinggian langit.6 m 58 6.0 m 100 1.

dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. Penempatan detektor pada langit-langit yang terbagi oleh balokbalok vi. dan (b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. Pemasangan.Aula .R.Shaft Perpustakaa n .R. tamu .Lobby .ruang sidang .R.R.. PABX . AC . (2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yag berlaku. 28 . pompa . Batas Ambang (1) Sistem sampling harus memenuhi ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. lift .Studio televisi R.Ruang yang terbakar berisi bahan Ruang yang mudah kontrol menimbulka instalasi n gas yang peralata mudah n vital terbakar Gambar 2.kamar tidur Ruang generator & transformator Laboratorium kimia .R.. resepsionis . mesin .Gudang mudah .R. yaitu: (a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung.Tangga .Koridor .9.

iii. Pengendalian Asap Kebakaran a.3. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel 2. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengndalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada table 2.. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. terminal bus.10 m di atas level lantai. perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. dan iii. ii. bangunan klas 1 (bangunan hunian biasa) atau 10 (bangunan / struktur yang bukan hunian). ruang tanaman atau sejenisnya. Persyaratan umum i. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran : (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v (Bangunan Terminal : stasiun kereta. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakuasi/penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/jalan keluar. pelabuhan laut) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap. dan ii.. ruang kompartemen sanitasi. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka b. ramp. termasuk di dalam satuan rumah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. atau ketentuan pada butir b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.5. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama.8. iv. dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. gedung tempat parkir. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. untuk selama tengang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi (Bangunan Penyimpanan : gudang. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. pada saat terjadi kebakaran. halte bus. atau ketentuan pada butir b. dan tidak 29 . terminal udara. dan sejenisnya) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya.

setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah.mensirkulasikan kebakaran. asap di antara kompartemen Untuk keperluan ketentuan ini. 30 .

Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Kelas 2. bangunan kelas 9a yang lebih dari 2 lantai. Harus dilengkapi dengan alarm dan deteksi asap otomatis. 7.3 BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF > 25 M Kelas 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir VI. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomatis. 6. dan 4 1. Kelas 5.8. Bila panjang koridor umum > 40 m. 3. atau 9b. 2. Sistem presurisasi otomatis. atau d.3. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. 3. parkir) Kelas 9a 1. harus dilengkapi dengan: 31 .1. 6. kecuali bahan pelapis dari bahan yang tidak mudah terbakar. dan 2. harus dilengkapi dengan : 1. KETENTUAN UMUM KELAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk : 1. Jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka.Tabel 2. atau b. dan 9b Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap (selain ruang / tempat terzona sesuai ketentuan yang berlaku. Persyaratan Pengendalian Asap Kebakaran 1. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. atau 2. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. dan 2. dan 2. maka: a. Kelas 5. dan 4 1. harus dibagi dengan interval < 40 m dengan konstruksi sesuai ketentuan V. setiap lantai di atas tinggi efektif 25m. atrium. 6. 8. lebih dari 2 lantai di bawah tanah. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau b. 8. atau c. 8. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. dan 8b. Sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku.

atau 9b. Bila bangunan > 2 lantai. Sistem pengendali asap terzona. 6. Sistem sprinkler Kelas 9a 1.b. atau b. Basement dengan luas > 2000 m2. harus dipasang: a. 32 .a. Sistem sesuai butir 2. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 8. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis 4.i. harus / tempat parkir) dilengkapi dengan: a. Sistem pengendali asap terzona. 8. Sistem presurisasi udara otomatis. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. sistem sprinkler 3. 8. atau 2. bila bangunan mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. 6. atau 3. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 9b (selain sekolah). maka : a. 7. Sistem sprinkler b. atau 2. 8. dan 9b Pada bangunan : (selain ruang / tempat 1. atau ii. atau ii. Kelas 6. Sistem pengendali asap terzona. Sistem sprinkler BASEMENT (selain ruang 1. dan 2. Kelas 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis iii. Kelas 5. maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Kelas 5 atau 9b (sekolah) b. di atas harus dipasang. Kelas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > parkir) 3 lantai. atau 3. Bila > 2 lapis di bawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. termasuk jalan penghubung dan rampnya. 7. 3. atau 2. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. bila basement mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. harus dipasang: 1. 7. atau b. Sistem detektor dan alarm asap.

Bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Kompartemen 1. sistem peringatan kondisi darurat. dipajang. Luas bangunan < 2000 m2. Kompartemen 1. kecuali yang 2 Kebakaran > 2000 m . Bila bangunan 1 lantai. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat kelas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/ penggunaa yang banyak. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3500 m2. dipasang lubanglubang centilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. sistem deteksi dan alarm kebakaran.Ruang / tempat parkir Atrium 2. karakter khusus bangunan b. atau digunakan dalam bangunan d. Kelas 6. Setiap kompartemen mebakaran. dan b. toko dengan luas > 1000 m2 Kebakaran > 2000 m2. Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. termasuk ruang parkir bawah tanah. dan: i. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. dan terdapat selasar toko (selain pada ketentuan 3) yang tidak terlindung melayani > 1 membuka ke arah selasar terlindung. atau toko b. dipasang sistem sprinkler 2. atau ii. dan 2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikut iketentuan 1. KETENTUAN KHUSUS KELAS / BAGIAN PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN BANGUNAN Kelas 6. harus 33 . Sistem pembuangan asap otomatis. Bangunan 1 lantai. yang dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanis sesuai ketetentuan: 1. sistem inter komunikasi darurat. Bangunan 2 lantai atau kurang. harus dilengkapi Tidak terdapat selasar dengan : terlindung melayani > 1 a. ditetapkan pada butir 2. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen kebakaran Ruang / tempat parkir. atau c. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan : a. yang membuka ke arah selasar terlindung. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. Selasar terlindung. fungsi khusus bangunan c. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. bila: a.

Sistem pembuangan asap otomatis. atau ii. dan c.a. Bila luas bangunan > 3500 m2. atau sistem sprinkler. 1. termasuk theater kuliah dan komplek 34 . bila bangunan 1 lantai. atau 2. Sistem pembangunan asap otomatis. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen tidak harus mengikuti ketentuan 1. dengan luas > 300 m2. gereja. Sistem pembuang asap otomatis. Bila bangunan 1 lantai. harus dilengkapi dengan: a. dipasang sistem sprinkler dan: i. di atas. dan b. bila bangunan 1 lantai. atau b. atau lubang-lubang ventialsi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Bangunan klab malam. Sistem pembuang asap otomatis. Bangunan theater atau tempat pertemuan / hall umum: a. Sistem sprinkler. Pada bangunan sekolah. harus dilengkapi dengan: a. luas lantai < 2000 m2. atau ii. Idem 1. harus dilengkapi dengan: i. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. dan sejenisnya. 2. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bangunan pameran. i. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. dan b. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. gereja. Sistem pembuang asap otomatis. bila bangunan 1 lantai. dipasang sistem sprinkler. atau ii. atau b. bila: a. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3.toko Kelas 9b. dengan luas > 200 m2. atau iii. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan Pertemuan dilengkapi dengan: a. dan b. 3. Bila luas bangunan 2000 ~ 3500 m2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3500 m2 dan bangunan 2 lantai atau kurang. 3. Bukan pada bangunan sekolah. diskotek. 4. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.

iii. Bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. ii.8 pada lampiran persyaratan kerja teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a di atas adalah: i. Gereja. atau sistem sprinkler. Selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2000 m2: i. Kompleks olahraga (termask hall olah raga. di atas. 6. d. bila bangunan 1 lantai. ii. i. vi. dan b. v. kolam renang dan sejenisnya) selain dari gedung olah raga (indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1000. b. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Masjid. ruang senam. sifat penggunaan bangunan. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel 2. Bangunan pertemuan lainnya (di luar butir 3 dan 4 di atas): a. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini.b. 35 . Untuk sistem pengatur udara lainnya. Sistem pembuang asap otomatis. atau ii. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seeprti butir 4. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memnuhi ketentuan standar yang berlaku. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap kelas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Persyaratan Untuk Bahaya Khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: tata letak bangunan. atau iii. c. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.auditorium: a.

Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. telepon. bahan lapis dan penutup. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut ii. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. saluran. panel kontrol. harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. peralatan utilitas. tidak digunakan bagi keperluan lain. e. pembungkus atau sejenisnya. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokokhan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yangt dilindungi terhadap api. konstruksi penutunya dari beton. di mana: i. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaaan pada bab 2. iv. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut.1) 4. seperti pada lantai. sebuah ruang untuk pengendali dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penangangan kondisi darurat lainnya. dan sejenisnya. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya ruang pengendali. untuk jendela. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. c. meubel. Pintu Keluar i. Pusat Pengendali Kebakaran a. ii. tidak boleh lewat ruang tersebut. pinu. dilengkapi sarana alat pengendali. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bgi penghuni bangunan b. iii. bukaan pada dinding. pipa. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. (Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran –Sistem Proteksi Pasif –Proteksi Bukaan) d. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran.1. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. Konstruksi Ruang Pusat Pengendali Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah.2. alngit-langit dan dinding dalam. Proteksi Pada Bukaan. Ukuran dan Sarana 36 . saluran udara. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari 2 (dua) arah: arah pintu masuk di depan bangunan. iii. ii. ventilasi.

Sebagai tambahan. (3) jika dipasang peralatan tambahan. ii. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara per-jamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang 1. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. dan (2) sistem keamanan bangunan. (2) telepon sambungan langsung.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) di atas. panel indikator lift. iii. (2) jika hanya menampung peralatan minimum. sistem pengamatan. 37 . dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. dan sistem manajemen. genset darurat. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas dan catu daya listrik.50 m. dan: (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1) Panel indikator kebakaran. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. (4) mempunyai kipas. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. saklear kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. (3) sebuah papan tulis dan sebuah papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m2 dari luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. ii. sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. Ventilasi dan pemasok daya. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). f.50 m2. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. kipas pengendali asap. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangungan.i. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat.

g. (3) Pemasangan sesuai syarat yang ada. material yang dipakai serta instalasi pemasangan sesuai dengan standar peraturan dan syarat-syarat yang berlaku. Tes head sprinkler secara acak (sample) pada satu atau beberapa titik head sprinkler dengan cara memanasi hingga i. dan tingkat iluminasi di atas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. Pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dicatat pada daftar simak (check list) terlampir. Head sprinkler telah dipasang dengan jumlah sesuai pada gambar kerja. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Pemadam Kebakaran a. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan bantuannya. v. (2) Posisi sesuai dengan gambar kerja. Pilar hidran. pompa pengendali sprinkler. Pengujian Pengujian terdiri dari . vi. iv. vii. (5) Segel PAR. i. Beberapa peralatan seperti motor bakar. iii. h. PAR (Fire Extinguisher) (1) Jumlah PAR. Siamese connection. (6) Kelengkapan kartu periksa berkala. iii. Kotak hidran dan perlengkapannya. Tes tekan parsial instalasi pipa sprinkler dan hidran sebesar 2 x tekanan kerja atau sesuai spesifikasi. Beberapa hal yang harus diperiksa meliputi: Bahan dan material yang datang (check material on site). i. Pemeriksaan terdiri dari urutan dan metode pelaksanaan. Flow switch dengan membuka drain valve alarm kebakaran pada MCPFA lokal alarm harus aktif. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketuka kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dBA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan di dalam bangunan. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Pemeriksaan Pemeriksaan sistem pemadam kebakaran bertujuan untuk memastikan instalasi dan pemasangan telah dilakukan dengan benar. 38 . tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat dicapai dari ruang pengendali tersebut. ii. ii. b.(5) mempunyai catu daya lisatrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. (4) Jenis PAR sesuai kegunaan ruangan. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. 5. Instalasi pipa sprinkler dan hidran. viii.

Metoda kerja. Tegangan catu daya cadangan (emergency power supply) harus secara otomatis mengambil pencatuan daya untuk sistem bila sumber catu daya utama padam. Detektor-detektor yang bekerja harus diikuti dengan indikasi pada MCFPA. Tujuan test ini adalah untuk mengukur tahanan isolasi kabel yang digunakan. (4) Buku normal dari masing-masing komponen. v. dan tekanan air harus memenuhi persyaratan. Pemeriksaan. Setelah pengujian dilakukan dan instalasi/ sistem dapat berfungsi dengan baik. dll. vi. v. Hasil pengujian juga dicatat pada daftar simak. Bila head sprinkler pecah alram kebakaran harus aktif. Hose reel dan nozzle pada kotak hidran : dilakukan pengujian terhadap kelancaran aliran air. ii. Ketentuan lain yang harus diperiksa adalah : (1) Gambar pemasangan sistem (shop drawing) (2) Petunjuk cara kerja dan pelayanan sistem. Pengujian fasilitas untuk memantau sistem komunikasi dan komponen serta lampu-lampu tanda pada MCFPA. (6) Pelatihan/training untuk calon operator. maka pemeriksaan dan pengujian selanjutnya harus dilakukan bersama pihak instansi pemerintah setempat untuk mendapatkan Izin Penggunaan Bangunan dari pemerintah setempat. Besarnya tekanan air yang keluar harus memenuhi persyaratan. (3) Petunjuk pemeliharaan sistem. b. Hasil pengukuran harus melebihi atau sama dengan standar yang telah ditentukan. Pemeriksaan i. Pompa-pompa kebakaran : dilakukan pengujian terhadap karakteristik dan penampilan pada masing-masing pompa. besar tahanan harus ≥ 1 MΩ. iii. Tujuan pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa pada isntalasi kabel yang telah dikerjakan tidak terdapat hubung singkat (short circuir) yang disebabkan kabel cacat atau terkupas dari isolasinya. Pelaksanaan pemasangan instalasi. Tes tahanan isolasi kabel (megger test) menggunakan mega ohmeter atau megger. Pengujian i. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. Penggunaan bahan. (5) Buku catatan untuk mencatat kejadian atau kerusakan pada sistem. iv.mencapai temperatur pecah. iii. iv. Tes hubung (loop test) menggunakan multi tester. 6. 39 . Berdasarkan buku “Pedoman Pemasangan Sistem Deteksi Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang dikeluarkan oleh Departemen PU. ii.

40 .

c. maka bangunan harus mempunyai antara lain : i. d. Persyaratan kinerja : a. harus dibuatkan penghalang yang : i menerus sepanjang area yang berbahaya. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. b. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai/atap. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. aman. nyaman dan memadai. nyaman. injakan dan akhiran injakan tangga. e. kecuali tangga/ ramp di luar bangunan. c. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1 m atau lebih dari lantai/atap/ melalui bukaan pada dinding luar bangunan. Butir 3) tersebut di atas tidak beriaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. ii. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Fungsi tersebut pada butir 2) di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Fungsi a.3 atau 4. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelematkan diri dengan aman tanpa merasakan keadaan darurat. 2. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. (3) Lantai hordes yang memadai untuk menghindari keletihan. iii. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ ramp. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. Butir 3) tersebut tidak berlaku juga untuk : i. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya.VI. b. Akses ke dan dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. tangga/ ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. 41 . dan memadai bagi semua orang. iii. ii. iv. mampu menjaga lintasan anak-anak. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar.

Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Jumlah. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. f.2. atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. Bangunan klas 9 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada : i. 3 dan 4. VI.d. KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Butir h. mobilitas dan karakter penghuni. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. Jarak tempuh ii. Kebutuhan Jalan Keluar a. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. dan ii. Bangunan klas 2 s.bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan : i. Fungsi bangunan iv. ramp. Intervensi pasukan pemadam kebakaran h. 8 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebin dari 25 m. iii. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan.5 m. c. Fungsi bangunan iii. b. sesuai dengan : i. b. balustrade atau penghalang lainnya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. Persyaratan Keamanan a. Jumlah. Fungsi bangunan iv. c. lantai. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. Tangga. Tangga. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. Basement : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. 2. Tinggi bangunan g. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. ii. kecuali : i. disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. dimensi jalur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan : i. 42 . mobilitas dan karakter lain dari penghuni ii. d. Jumlah. balkon.

e. Jarak jalur menuju pintu keluar a. c. v. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke : i. 4. Area perawatan pasien : Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: a. sedikitnya 2 jalan keluar. ii. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan.setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. ii. 3. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. biia bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. f. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. Bangunan klas 5 s. g. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Bangunan klas 2 dan 3 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. iii. 43 . selain area perawatan pasien. masing-masing merupakan bagian jalur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. atau b. Panggung terbuka : Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. iii. 1 jalan keluar. atau ii. Bangunan klas 2 dan 3 i. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya.d. pada bangunan klas 9a : tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. iv. Pintu masuk dan setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari : (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka.

dan ii. berjarak tidak lebih dari : 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 6. bila : i. f. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus : a. berjarak tidak kurang dari 9 m. c. atau ruang sikulasi lainnya. untuk bangunan lainnya. e. Gedung Pertemuan : Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. Bagian bangunan klas 4 : Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. dan ii. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. i. konstruksi ruang tersebut bebas asap. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. ii. Pada bangunan klas 5 atau 6. e. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih dari 20 m dari pintu keluar. jarak ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. ramp. 5. Bangunan klas 9a : Area perawatan paien pada bangunan klas 9a. b. b. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 intu keluar tersedia. tersebut merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. c. i. Jarak meksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. memiiki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya tertindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. Dimensi/ukuran Pintu Keluar Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar : 44 . 60 m. 45 m pada bangunan klas 9a. d. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. f dan : i.ii. Bangunan klas 5 s. lobby. Panggung Terbuka : jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbukua harus tidak lebih dari 60 m. atau ii. d. atau iii.d. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. 9 : Terkena aturan butir d.

atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. lebar bebas. lebar bebas.2. 750 mm. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. 3).8 m . koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. c. 1. a. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. atau 5) minus 250 mm. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung. atau melewati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut : 45 . Lebar bebas. b.2 m : 1070 mm. atau ii. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : i. lebar bebas. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir 2). pada area perawatan pasien. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. d. koridor. komponen sanitasi. pada kasus lain. Jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. (2) lebar koridor lebih dari 2.2 m : 1200 mm. lobby umum. 7. hall atau yang sejenisnya. ii. ii. 1. (3) pintu keluar horisontal : 1250 mm. tinggi bebas seluruhnya harus tidak'kurang dari 2 m. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. atau ii. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. iv. f. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang.8 m pada lorong. ruang transisi atau yang sejenisnya. iii. lebar pintu keluar: i.a. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. 1m. b. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi : i.8 m pada lorong. i. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. lorong. jika membuka ke arah koridor dengan: (1) lebar koridor antara 1. kecuali kalau pintu tersebut dari : i. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. 4). atau ii. e. g.

membuka ke pintu keluar yang di'solasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud : i. dan memenuhi ketentuan teknis yang beriaku. dengan injakan dan tanjakan tangga dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. Bagian dinding tersebut harus mempunyai : i.2. menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. Pada bangunan klas 2. ii bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus memputivai jelan lintasan menerus.I. (b) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. 9. ke jalan atau ruang terbuka. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran.i. 3 atau 4. (2) lintasan tanpa rintangan. tidak lebih dari 20 m. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang beriaku. 8. b. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. Tangga/ramp. (d) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dari 6 m. c. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan. yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. ii. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. parkir kendaraan atau sejenisnya.3 harus tersedia. atau ii. (c) mempunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian.5 Kepmen 441/98 d. jarak antara pintu ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melampaui : 46 . TKA sedikitnya 60/60/60. ke tempat: (1) ruang atau lantai. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka ke area tertutup yang : (a) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. Bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. Lintasan Melalui Tangga/ Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. e. Jika lebih dari dua akses pintu. termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m.

10. Pada bangunan kafs 5 s.d. d. jalur lintasan menuju ke jalan hams : i. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. e. Jika pintu keluar yang disyaratkan menujju ke ruang terbuka. ii kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran dalam bangunan.d 8 atau 9b. b. 20 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. Pada bangunan klas 2 atau 3. tangga/ ramp ysng tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari i. tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. 9. ii. atau tidak setinggi 1:14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab Vl. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar. atau mana yang lebih lebar. atau ii. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat ketuar menuju ke jalan atau ruang terbuka melaiui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terietak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. c.2. Pintu keluar harus tidak terhalang. 3 atau 9a. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka . Pada bangunan klas 2.i. bila arah tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. Pada bangunan klas 5 s. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju kejalan atau ruang terbuka atau ii. 30 m dari salab satu dari dua pintu atau lorong keluar. bebas asap. 47 . 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8.4. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dari 1 m. dan bila periu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. c. atau ii. arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah f.

pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita. ii. dan ii. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila : i.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. Ramp Atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. c. pada area parkir kendaraan atau atrium. dengan tidak kurang dari : i. Pada bangunan klas 9b. di luar bangunan. dan eskalator.d. 3 lantai.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. dan satu dari lapis lantai tersebut terietak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. iii. e. Pintu Keluar Horisontal a. 11. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantsi yang dipisahkan oleh dinding tahan api. iv. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama.2. ii. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. b.1. 12. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. tidak harus menghubungkan lebih dari : i. atau ii. 0. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. Tangga. c. Pada bangunan klas 9a. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. Kasus selain butir b di atas. 48 . antara unit hunian tunggal. 2. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini. 2 lantai. b. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dari 500 orang.C. ramp atau eskalator tersebut pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. bangunan SD atau SLTP. d.

tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. ii. Peralatan dan Ruang Motor Lift Ruang a. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. 8 atau 9. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. ii. tangga. b. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. dan luas lantai dengan: a. atau b. 13. bila: i. atau c. tidak lebih dari 100 m2. 49 . service duct dan yang sejenis. iii. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. kecuali bila diijinkan sesuai butir ii) atau iii) di atas. koridor. dan ii.d. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. lift. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. 6. eskalator. Bila ruang peralatan atau ruang. lobby dan yang sejenis. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. motor lif mempunyai luasan i.2 sesuai jenis penghunian. 7. ramp. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. hall. 14. tata letak lantai tersebut.

ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r.r. .boiler/sumbe tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. pamer : r. tempat cuci Perpustakaan : . r. level lainnya r. 2. penyimpanan . Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 50 .mall.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. listrik. SLTP Pertokoan. gereja. ruang pamer. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . 3.r penyimpanan VI. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD . manufaktur. r. guesthouse Stadion indoor area Kios Dapur.5 1 4 2 30 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. baca. arcade Panggung penonton: daerah panggung kursi penonton R. workshop . peragaan. motel.ventilasi. dll . kerja. dari material tidak mudah terbakar.3 4 1 2 15 25 10 1 0. museum Bar.3 1 30 1. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : .Tabel VI. hostel.r. laboratorium.Proses manufaktur pabrik m2/or ang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 3 5 5 0. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. café. elktrikal.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan m2/or Jenis Penggunaan ang Galeri seni.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . r. b. prosesing . Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16.r. bila terjadi kerusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. penjualan: Level langsung dari luar. tunggu r.staf pemeliharaan .

Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon 6. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI.7 harus: a. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. c. beton bertulang atau beton prestressed. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas.setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. atau ke bagian bawah langitlangit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. di mana: i. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. terbentang antar balok lantai. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. 5. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. d. mempunyai TKA minimal 60/60/-. kayu: i. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. maka harus: a. atau dengan konstruksi: a. baja dengan tebal minimal 6 mm c.2. b.Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. iii . Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. mempunyai luas minimal 6 m2. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. b. di setiap bukaan dari area hunian. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. dan ii. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam 51 . dan: a. harus tidak ada hubungan langsung antara i. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. ii. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. b. 7.

pedoman ini. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. kecuali untuk list langit-langit. panel atau saluran distribusi. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. b. gang. Lebar Tangga a. bagian dari balustrade. b. lebar dan tinggi 52 . tidak harus disediakan dari tangga. dan sejenisnya. i. 8. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis 9. kecuali: i. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang disyaratkan. lobby. seperti pegangan rambat (handrail). Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. gang. bebas halangan. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. bila konstruksi yang menutup ramp. ii. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. koridor. dan (3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. 10. (2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. iv. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. b. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. atau koridor. lebar bebas halangan. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. iii. Ramp Pejalan Kaki a. bila peralatan dimaksud terdiri atas: (1) meter listrik. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a.

injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. b. d.6 m dan panjangnya minimal 2.ii. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. c. Bordes a. 13. b. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes.langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. 14. ii. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. b.4 iii. 12. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. 1:8 untuk kasus lainnya c. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. b. ii. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. 11. injakan. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. f. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. dan jumlah sesuai standar teknis. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. 15. ii. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. di mana: i. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. lebar minimal bordes 1. e. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. atap tersebut harus a. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. b. Meskipun dengan ketentuan butir a. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. tanjakan.7 m. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. injakan dan tanjakan konstan. Bangunan klas 9a: i. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. Ambang Pintu 53 . tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin.

balkon dan sejenisnya. Balustrade. Balustrade a . b. asus lainnya i. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. koridor. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. bila: i. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. lorong. koridor.ii. lantai. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. mbang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. g. tangga. balkon dan sejenisnya. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. Tinggi balustrade: i. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. mesanin dan sejenisnya. iii. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. e. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. uang perawatan pasien bangunan klas 9a. 54 . Balustrade pada: i. bila dibuat sesuai i. Balustrade sesuai ketentuan butir e. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. f. tidak dibatasi dengan dinding. balkon. kecuali tangga/ramp luar bangunan. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. ii. c.i. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m.Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. Bila menggunakan jeruji. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat.ii. tangga atau balkon luar ii. kecuali sekeliling panggung.iii dan g. intu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. 16. ii. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. ramp.i. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. d. tangga. atap. lantai. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. b. dan ii.

8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. Ayunan harus searah akses keluar. pintu dapat dibuka secara manual. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. ii. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. lorong atau ramp. Bila terbuka sempurna. 19. dan harus: i. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. c. dibuat menerus 18. bukan pintu berputar b. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. harus dapat dibuka secara manual. kecuali: i. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. Pegangan Rambat Pada Tangga a.17. dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii. bukan pintu gulung. 55 . b. kecuali: i. bukan pintu sorong. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. alarm kebakaran dan lainnya. 20. termasuk bordes. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. 7. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. c. melayani kompartemen saniter. i. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan c. membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. b. d. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. ii. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Pintu Ayun a. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik.

untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. b. khususnya oleh pemilik. Rambu Pada Pintu a.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm.dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. VI.9 1. 22. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. 3. ii. 6. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. 7. kecuali bila: a. tersedia sistem komunikasi internal. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. ii. ii.2 m dari lantai. b. 56 . melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. c. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. dan i. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. 21. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. d. pada bangunan klas 9b. kecuali bangunan sekolah. termasuk penyandang cacat. bangunan klas 9a b. iii. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. hanya melayani: i. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. atau bagian klas 4. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. dengan tangan. Rambu. atau 8.

Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.2. 57 .

Penyediaan ramp pada bangunan-bangunan dan pelataran parkir menuju bangunan lain atau pedestrian . Pada bangunan-bangunan tidak bertingkat tetapi mempunyai perbedaan ketinggian lantai b. Penyediaan ramp pada jalan-jalan pejalan kaki dan dari pedestrian ke dalam bangunan. c.a.

TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Kapasitas Lift Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. Sumber daya listrik untuk lift kebakaran harus direncanakan dari dua sumber yang berbeda. harus menjadi kapasitas angkut dari lift yang dimaksud. Peringatan Terhadap Pengurus Lift Pada Saat Terjadi kebakaran . 2. 3. Kapasitas angkut lift barang yang diizinkan. Jumlah dan kapasitas lift harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. g. Lift Kebakaran Persyaratan-persyaratan mengenai lift kebakaran harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran (DPK) tentang elevator (lift) untuk pelayanan kebakaran gedung. Kapasitas angkut lift penumpang yang diizinkan. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. a. Untuk mengubah fungsi lift penumpang atau lift barang menjadi lift kebakaran. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. d. c.1 LIFT Persyaratan-persyaratan mengenai elevator (lift) harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk Pesawat Angkat Elevator. b. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh Petugas Kebakaran. dan menggunakan kabel tahan api. Lift kebakaran. b. e. d. Pintu shaft lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan/ peraturan yang berlaku di Indonesia. e. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (fire switch) terlebih dahulu. Lift kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. c.VII. dapat berupa lift penumpang biasa atau lift barang yang dapat diatur. Waktu tunggu lift. f. 1. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Persyaratan teknis dari lift yang digunakan sebagai lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Kecepatan dan ukuran sangkar lift kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. a.

10 Tanda Peringatan Lift Penumpang b. Lift yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. dekat setiap tombol panggil untuk lift penumpang atau kelompok dari lift pada bangunan.lift kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Ditatah atau huruf timbul pada logam. berupa bel listrik. atau ii. Lift Untuk Rumah Sakit a. kayu.a. mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 kg. b. misalnya: bangunan kelas 9a. . bila diperlukan. berukuran cukup untuk meletakknya fasilitas kereta dorong (wheel stretcher) secara horisontal. ii. dan dipasang tetap di dinding. harus: i. dan iii. 5. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai dasar. Tanda peringatan harus dipasang di tempat yang mudah terbaca: i. plastik atau sejenisnya. kecuali ii. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar 2. iii. atau Gambar 2.10 dan terdiri dari: i. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. telepon. 4. Lift pasien yang dibutuhkan pada butir a. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung di tempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. Satu atau beberapa lift harus dipasang sebagai lift pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan “ramp”. Sangkar Lift Sangkar pada setiap lift harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. huruf yang diukir. huruf yang diukir atau ditatah langsung di permukaan bahan dinding.

Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. b. Bangunan ruang mesin lift harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. 9. c. dengan beban sangkar lift. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap ruang mesin lift. b. dan penyangga di ruang mesin harus direncanakan dengan memenuhi: i. lantai. governor dan peralatan lain.6. iv. iii. Semua bagian logam dari lift pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. panel kontrol. Balok. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. motor generator. Balok diperhitungkan pada saat bandul mekanis (governor) bekerja. ii. c. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah sejajar. Pemeriksaan. 8. Mesin Lift dan Ruang Mesin Llift a. Instalasi Listrik a. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban di bawah ini: i. Pengujian dan Pemeliharaan . ii. tromol. Saf Lift a. termasuk lantai ruang mesin. atau di samping ruang luncur di lantai bawah. pondasi untuk mesin. Untuk shaft lift yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. Instalasi listrik untuk lift harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih atau sakelar otomatis. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Jika mesin lift dan tali ditempatkan di lantai bawah. b. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah semua gaya. iii. tromol tali. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lift. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Dalam shaft lift dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lift. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. 7. peralatan lain dan lantai di atasnya. Pondasi harus menyangga berat mesin. d.

sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. pengujian. Instalasi lift yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. b. .2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. VII.a. dan pemeliharaan instalasi lift sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 032190-1991. Prosedur pemeriksaan. salah satunya adalah ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk sistem penggunaan Eskalator (moving stair).

Jelas. . ii. jika mengngunakan sistem terpusat. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. Setiap tanda “KELUAR” yang dibutuhkan. VIII. d. e. jalan lintas b. mudah dibaca. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 300 m2 c. b. ke ruang terbuka. 1. koridor. TANDA ARAH KELUAR. atau iii. atau iv. Setiap lampu darurat harus: a. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi dari kerusakan karena api dengan konstruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60.2 TANDA ARAH KELUAR 1. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup. c. mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. b. yaitu pada: i. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 dan kurang dari 300 m2 yang tidak terbuka: ke koridor.VIII. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. hall. bekerja secara otomatis. ke ruang yang mempunyai lampu darurat. atau sejenisnya yang digunakan pasien. Sistem lampu darurat dipasang pada: a. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. ke jalan raya. harus: a. bangunan kelas 2 atau 3. bangunan kelas 9a.1 SISTEM LAMPU DARURAT i. 3. 2. c. PENCAHAYAAN DARURAT. setiap lorong. pencahayaan darurat digunakan pada tanda “KELUAR”. atau ii. diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan.

yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2. 2. untuk sekolah. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai ke: i.2. Pintu dari tangga tertutup. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. Bangunan kelas 9b: i. lorong. . atau sejenisnya. i. Bangunan kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2: i. 3. hall. untuk gedung pertunjukan. Bangunan kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari 2 lapis dan dipakai untuk: bagian rumah dari sekolah.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. ii. kecuali bila sistemnya: langsung memberikan peringatan pada petugas. b. Jika tanda “KELUAR” tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. atau ii. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju jalan raya atau ruang terbuka. dan harus dipasang di atas atau di dekat setiap: a. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petudas. Jalan keluar horisontal. dan: c. lorong. sistem alarm harus diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. dan Sistem Peringatan Bahaya. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m. atau ramp yang digunakan untuk keluar. ii. 4. lobi. Tanda Arah Keluar. akomodasi untuk orang tua anak-anak. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannyua untuk meminimalkan kepanikan sesuai tipe dan kondisi pasien. tangga luar. tangga yang tertutup. 3. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. ii. di daerah bangsal perawatan. dan d. Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan “KELUAR” pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai bab Pencahayaan Darurat. iii. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari 3. lorong atau ramp yang digunakan untuk keluar. VIII. maka tanda keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. Tanda “KELUAR” harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. 5. hall umum. ii. jalan keluar di balkon yang menuju keluar. atau orang cacat.

.

Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Kabel tegangan menengah digunakan pada bangunan tinggi. dapat menggunakan ketentuan/standar dari negara lain atau badan internasional. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. b. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. c. 3 fasa. . Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. transformator dan peralatan lainnya. bagian bangunan dan instalasi lainnya. Biasanya kabel yang digunakan di sini adalah N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti (3 core). Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Semua peralatan listrik. dipelihara. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. dengan frekuensi 50 Hertz. tidak membahayakan. biasanya kabel yang digunakan adalah N2XSY – 12/20 kV inti tunggal x 3. d. jaringan distiribusi. atau N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti. ukuran dan kemampuan. papan hubung bagi dan beban listrik. Kabel Tegangan Menengah Kabel dapat dipasang dengan 2 cara : ditanam atau tidak ditanam (di udara). Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketentuan: a. lingkungan. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. papan hubung bagi dan isinya. e. dan busduct dari berbagai tipe.IX.1 INSTALASI LISTRIK 1. INSTALASI LISTRIK. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. dengan frekuensi 50 Hertz. i. mengganggu dan merugikan bagi manusia. Atau antara PTM dengan trafo. di antaranya penghantar. seperti antara gardu PLN dengan Panel Tegangan Menengah (PTM). Jaringan Distribusi Listrik a. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik arus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. PENANGKAL PETIR.

alat ukur. (3) Kabel Tegangan Rendah (NYM – 500 V) hanya digunakan untuk instalasi penerangan saja. harus dilengkapi dengan pengaman terhadap tusukan. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api (fire-ressistant cable). sistem komunikasi darurat. pembumian sistem dan pembumian bodi. b. sakelar. (4) Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna. lambang atau huruf seperti yang terdapat dalam tabel 2. lift kebakaran.3. (2) Kabel Tegangan Rendah (NYFGbY – 0. Untuk pemasangan stop kontak di bawah. tombol. i. ii.ii. Tegangan menengah menggunakan Neutral Grounding Resistor (NGR) yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. (Tabel : 313-1. Tombol. NGR diposisikan di titik netral transformator. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. Tegangan rendah menggunakan sistem solid ground (pembumian langsung) 2) Pembumian bodi. (Tabel : 701-1. . peralatan pengendali asap. Kabel Tegangan Rendah (1) Kabel Tegangan Rendah (NYY – 0. pengecualian hanya diperbolehkan sesuai tabel 2. Ketentuan penghantar pengaman dapat dilihat pada PUIL 2000 (Tabel 312-1) iv. (1) Pembumian sistem Pembumian sistem dibagi dua.6/1 kV) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan dengan tanah. Jaringan yang melayani beban penting seperti pompa kebakaran.6/1 kV) mulai digunakan dari trafo ke PUTR dan seterusnya hingga ke setiap titik beban. PUIL 2000) iii. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. dan stop kontak diletakkan di tempat yang aman (daerah yang tidak lembab/kering) dan aman dari jangkauan anak-anak.4. PUIL 2000) (5) Ketentuan Kapasitas Hantar Arus (KHA) penghantar fasanya. Pentanahan/pembumian Pembumian dibagi dua. Pembumian dilakukan pada bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik. Papan hubung bagi dan alat ukur listrik diletakkan di dinding bagian depan rumah/bangunan yang aman terhadap air hujan atau diletakkan di halaman rumah dengan diberi pelindung terhadap hujan. tegangan menengah dan tegangan rendah. sistem deteksi dan alarm kebakaran. c.

3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang, faktor kebersamaan (coincidence factor) atau faktor ketidakbersamaan (diversity factor). 4. Sumber Daya listrik a. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak memungkinkan, dengan izin instansi yang bersangkutan, sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri, yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau normalisasi dari peraturan yang berlaku, di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pada umumnya lingkup pekerjaan instalasi pembangkit sendiri (genset) meliputi : pemasangan genset pada pondasi; pemasangan instalasi saluran pembuangan udara radiator (exhaust duct radiator); pemasangan peredam suara (sound attenuator); instalasi pipa bahan bakar minyak solar; pemasangan tangki bulanan (storage tank) dan tangki harian (daily tank); pemasangan pompa bahan bakar; instalasi kabel daya dan kabel kontrol dari terminal generator ke panel kontrol generator; pemasangan panel kontrol generator; pemasangan peredam suara ruang genset (sound proof). c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listriknya tidak boleh putus, harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila terjadi gangguan sumber utama. e. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3, secara otomatis. f. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lainlain. i. Peralatan tegangan menengah harus terpisah dari peralatan tegangan rendah, dengan jarak sesuai dengan SNI-0225. ii. Pengaturan jarak antara kabel telekomunikasi/kabel data dengan kabel power harus sesuai dengan SNI-0225.

iii. Peletakan kabel telekomunikasi/ kabel data yang berdekatan dengan kabel power harus dilindungi dengan screen atau konduit metalik yang diketanahkan. g. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. Transformator Distribusi Outdoor dan Indoor a. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. b. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup, dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran, maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Transformator distribusi yang berada di luar gedung bisa ditempatkan pada tiang atau di permukaan tanah/lantai. i. Transformator yang diletakkan di permukaan tanah/lantai harus dilindungi dengan pagar pelindung yang jaraknya terhadap transformator diatur sebagaimana dalam SNI-0225. ii. Transformator yang diletakkan pada tiang harus memiliki konstruksi sedemikan hingga kokoh dan tidak jatuh pada saat terjadi gempa berskala tinggi. e. Transformator harus dilengkapi dengan pendingin/ sistem pendingin transformator yang terdiri dari sistem pendingin secara alamiah (natural) atau dengan melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). f. Transformator tipe basah harus dilengkapi dengan alat pernafasan (breathing system) untuk mengurangi tekanan gas pada saat beban berlebih. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan tabung berisi kristal zat hygroskopis untuk mencegah kelembaban (humidity) yang dapat menurunkan nilai tegangan tembus minyak transformator. g. Transformator harus dilengkapi dengan peralatan proteksi; rele Buchholz, pengaman tekanan lebih (explosive membrane/pressure relief valve), rele tekanan lebih (sudden pressure relay), dan pengaman terhadap arus lebih. Transformator dengan daya lebih dari 10 MVA harus dilengkapi dengan rele diferensial (differential relay). Transformator dapat juga dilengkapi dengan rele tangki tanah, rele hubung tanah dan rele termis. 6. Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan

a. Instalasi listrik yang dipasang, sebelum dipergunakan, harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. i. Pemeriksaan yang dilakukan secara visual meliputi antara lain : (1) Jalur pipa konduit dan tekukan kabel tidak boleh patah. (2) Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator laas doop. (3) Jalur kabel di atas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas instalasi pipa untuk menghindari adanya tetesan air. (4) Kelengkapan komponen panel. (5) Sambungan dan terminasi kabel pada panel atau beban harus rapi dan tersambung dengan kuat. Kabel serabut atau berurat banyak (multicore) harus dilengkapi dengan sepatu kabel (cable shoe). (6) Untuk pemakaian kabel NYA harus dilindungi dengan pipa konduit atau fleksibel sampai ke titik beban atau panel. (7) Kabel di dalam panel ditata dengan rapi dan disediakan cadangan panjang kabel (spare) untuk mengantisipasi bila terjadi kesalahan terminasi, kabel masih cukup panjang untuk disambung pada terminal yang lain. (8) Titik-titik lampu posisinya harus sesuai dengan gambar. (9) Penggunaan warna kabel harus sesuai dengan PUIL 2000. ii. Pengujian dilakukan bersama dengan pihak yang berwenang dengan menggunakan pesawat uji yang telah dikalibrasi. Hasil pengujian direkam pada daftar simak dan didokumentasikan. (1) Pengujian instalasi penerangan meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi Besarnya tahanan isolasi minimum suatu instalasi kabel listrik adalah: (i) Berdasarkan PUIL 2000, yaitu sekurangkurangnya 1000Ω /volt tegangan nominal, dengan penegrtian bahwa arus bocor dari tiap bagian instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1mA per 100 m panjang instalasi. (ii) Berdasarkan peraturan IEE (Institution of Electrical Engineers) nilai minimum yang diperolehkan adalah 1 MΩ . Pengukuran dilakukan dengan megger. (b) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).

(c) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-netral, fasa-tanah) dengan multitester (d) Pengukuran arus beban untuk fasa R, S, T. (e) Pengujian nyala lampu dan baterai Ni-Cad pada lampu emergency. (f) Pengujian fungsi komponen-komponen panel : voltmeter, amperemeter, frekuensimeter, lampu indikator, saklar pilih (selector switch), circuit breaker, kontaktor, rele. (2) Pengujian instalasi tenaga meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan motor. (b) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-tanah) dengan multitester. (c) Arah putaran motor. (d) Pengukuran putaran (rpm) motor dengan tachometer. (e) Pengukuran arus starting dan running motor. (f) Tegangan fasa-fasa saat motor beroperasi. (3) Pengujian genset, meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan generator. (b) Pengukuran tegangan baterai dan pengecekan hubungan baterai. (c) Pengukuran motor dan pompa bahan bakar (d) Pengukuran tegangan generator (tegangan fasafasa, fasa-netral, fasa-tanah) (e) Pengujian beban 25%, 50%, 75%, 100%, 110%. (f) Fungsi panel kontrol generator dan interlock dengan sumber daya PLN. (g) Pengujian overspeed, emergency stop, low oil pressure, high water temperature. (h) Frekuensi generator. 7. Pemeliharaan a. Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang. c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. IX.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai resiko terkena sambaran petir, harus diberi instalasi penangkal petir.

jarak yang diukur melalui celah antara dua titik pada konduktor dan panjang l dari konduktor antara titik-titik tersebut harus memenuhi 3. Sistem Konduktor Penyalur : Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya latu berbahaya. Sistem terminasi udara : Susunan sistem terminasi udara memadai jika persyaratan pada Tabel 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir. terhadap bahaya sambaran petir. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir.2 (Gambar 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir). Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Konduktor penyalur harus dipasang lurus dan tegak sedemikian sehingga membentuk jalur terpendek dan paling langsung ke bumi. meskipun dibungkus dengan bahan insulasi. dan instalasi lainnya. Jika hal ini tidak mungkin. Instalasi Penangkal Petir a. Konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga sedapat mungkin berhubungan langsung dengan konduktor terminasi udara.b. (2) panjang jalur arus diusahakan seminimum mungkin. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Hal-hal yang belum diatur di dalam peraturan tersebut di atas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. d. b. c. harus memperhatikan arsitektur bangunan. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. 2. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. . Bentuk lingkar harus dihindari. konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga dari titik sambaran ke bumi: (1) terdapat beberapa jalur arus paralel. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. Konduktor penyalur tidak boleh dipasang pada talang atau pipa saluran air. harus mengacu pada rekomendasi dari badan internasional seperti IEC. c. Direkomendasikan agar konduktor penyalur ditempatkan sedemikian sehingga ada jarak antara konduktor penyalur tersebut dengan pintu atau jendela. termasuk manusia yang ada di dalamnya. e.

2. c. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Hasil pemeriksaan direkam pada suatu daftar simak (check list). b. b. bagian bangunan dan instalasi lain. mengganggu dan merugikan lingkungan. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lain-lain. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Instalasi keseluruhan ii. tidak membahayakan.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. Instalasi Telepon Instalasi Telepon a. dipelihara. IX.3. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harsu mudah diamati. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. tidak ada genangan air. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. kerusakankerusakan) yang meliputi : (1) Air terminal (2) Tiang penghujung (penyangga) (3) Penghantar penyalur petir (4) Elektroda pembumian (5) Penghantar penghubung (6) Sambungan-sambungan (7) dan lain-lain. Bahan-bahan / material instalasi (jenis. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah : i. . Perencanaan Komunikasi Dalam Bentuk Telepon dan Data a. aman dan mudah dikerjakan. Secara berkala dilakukan pengukuran / pengujian terhadap EMC (Electromagnetic Compatibility). Instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala.

Tidak boleh menggunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Ruang baterai sistem telepon harus bersih. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m ke atas. Paging (pengumuman/ panggilan) : sistem paging di setiap lantai dapat menggunalan bantuan speaker selector. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. c. ii. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. minimal berjarak 0. e. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. Instalasi Tata Suara a. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. kedap debu. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Car call (pemanggilan pengendara mobil). d.80 m. . terang. Pembumian / pentanahan (grounding) Setiap peralatan utama (PABX / key telephone) harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian maksimum 5Ω yang diukur pada tanah dalam keadaan kering. ii. iii. iv. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1.b.50 m x 0. Emergency Paging (pengumuman darurat atau panggilan evakuasi). tenang. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Sistem Tata Suara yang umum digunakan bangunan tinggi meliputi : i. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Ruang yang bersih. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a di atas harus menggunakan sistem khusus. ii. Biasanya dimulai dengan bunyi sirine dan dilanjutkan dengan pengumuman untuk segera meninggalkan gedung (All Call) iii. b. ii. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. 3. Background music (music pengantar).

Frequncy (Hz).CD Player . Dynamic range (dB). v. S/N ratio (dB). Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. Equalizer center frequency (Hz). Power consumption (Watt). Dimensi (mm). Stereo Graphic Equalizer : berfungsi untuk menyaring frekuensi yang tidak diinginkan. e. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Output level (dB). vii. Input level control (dB). Frequency response (Hz). harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian sesuai spesifikasi yang ditentukan atau maksimum 5Ω yang diukur pada kondisi tanah dalam keadaan kering. dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Input Sensitivity (dB). Distortion (%). manual). Power consumption (Watt). Power consumption (Watt). Voltage (Volt). Voltage (Volt). Voltage (Volt). Frequency response (Hz). . Distortion (%). Power Amplifier : berfungsi sebagai penguat suara. Peralatan utama tata suara. Power bandwidth (Hz).c. S/N ratio (dB). Power consumption (Watt). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Voltage (Volt). sehingga dihasilkan frekuensi tengah ekualisasi. Radio Tuner : berfungsi untuk menangkap siaran radio AM dan FM. Frequency (Hz). Frequncy (Hz). Speaker Selector : berfungsi untuk mengatur kelompok speaker yang ingin difungsikan. Input Sensitivity (dB). Output impedance (KΩ). Dimensi (mm). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Ouput impedance (KΩ). Total harmonic distortion (%). Alat ini harus memiliki kemampuan dapat memikul semua beban speaker yang dioperasikan serentak pada saat bersamaan (All Call). iv. Mixer Pre-Amplifier : berfungsi untuk menggabungkan dan mengontrol beberapa sumber suara. S/N ratio (dB). Input impedance (KΩ). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Frequency response (Hz). Playing system (auto reverse. d. serta dilengkapi dengan pengatur kuat suara. vi. atau terdiri dari kabel tahan api. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Frequency response (Hz). Dimensi (mm). Frequency response (Hz). Total harmonic distortion (%). Noise level (dB). Frequncy (Hz). Alat ini juga harus dapat mengatur seluruh speaker dalam waktu bersamaan untuk difungsikan (All Call). Casette Recorder Player . ii . Dimensi (mm) iii. Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi tata suara adalah : i.

Sensitivity (dB). WallMounting Box Speaker (biasanya digunakan pada area yang tidak mempunyai plafon seperti tangga kebakaran atau ruangan lainnya yang tanpa langit-langit) xiii. Operating control.Spesifikasi peralatan ini meliputi : Nominal impedance (Ω). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Tipe. Dimensi (mm). jenis-jenis speaker yang biasa digunakan pada bangunan tinggi adalah : Ceiling Speaker (biasa digunakan pada area yang mempunyai plafon dan merupakan area operasional suatu bangunan). Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai kabel kontrol).MDF (Main Distribution Frame) dan TB (Terminal Box) : merupakan terminal penyambungan kabel sistem tata suara. Khusus microphone untuk car call dilengkapi dengan chime (alunan sesaat musik pengantar) sebelum pengmuman pemanggilan pengendara mobil dilakukan. Frequency (Hz). Speaker . xi.. Horn Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam atau luar ruangan/outdoor). Dimensi (mm). xii. Monitor Panel : berfungsi memonitor seluruh suara yang keluar dari amplifier serta memiliki alat ukur kuat suara speaker dan saklar pemilih. x. iMicrophone . Dimensi (mm). vocal). Column Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam ruangan/indoor). Voltage (Volt). Semua kabel yang keluar / masuk dari peralatan utama harus melalui MDF. Blower : berfungsi menjaga temperatur peralatan utama. Jumlah terminal penyambungan minimum harus sesuai kebutuhan.viii. Power consumption (Watt).6/1 kV (biasa digunakan dari MDF ke TB. Frequency response (Hz). kapasitas terminal. xiv . xv. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Dimensi (mm).Attenuator : berfungsi mengatur kuat suara yang keluar dari speaker. Frequency response (Hz). Jumlah speaker yang dilayani oleh attenuator tidak boleh melebihi kemampuan attenuator. Impedance (Ω). NYY 0. Kabel : Kabel tata suara yang umum digunakan pada bangunan tinggi adalah : NYMHY 500V (biasa digunakan dari MDF ke TB maupun dari TB ke speaker. Output level (dB). microphone yang biasa digunakan adalah remote microphone tipe dinamik yang mampu menerima suara secara unidirectional dan dilengkapi dengan saklar / tombol pemilih. Application (musical instrument. ix. Sedangkan TB merupakan terminal distribusi setiap area atau setiap lantai. Ketebalan pelat panel. Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai . Jenis dan warna cat. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Input level (dB0).

pelaksanaan. 4. peraturan daerah yang berlaku. Pipa : PVC (paralon). NYM 500 V (biasa digunakan dari TB ke speaker). spesifikasi teknis. dan standarisasi pabrik. tidak merambatkan api. xvi. Rak Kabel : dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang dilayani. SNI. data-data bangunan. selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. dan kabel dari mixer pre amplifier ke remote microphone. Ukuran diameter dalam konduit adalah : DP ≥ DK 2 / 0. tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan adalah minimum 1000Ω per 1 volt tegangan nominal. Kabel : harus memenuhi SPLN/PT. SLI (Standar Listrik Indonesia). Booster Amplifier. MA TV a.5 DP = diameter dalam konduit (mm) DK = diameter luar kabel (mm) xvii. Telkom. GIP (yang telah memiliki SII). peraturan. Kabel khusus sesuai standar pabrik digunakan dari mixer pre amplifier ke microphonee. c. b. Socket outlet (1) Model . Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi MA TV adalah : i. bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun. dan material pelengkap dan pembantu lainnya mengikuti peraturan pemerintah yan gberlaku. Perencanaan. Persyaratan untuk material instalasi. dan api dapat padam dengan sendirinya.Konduit : yang umum digunakan biasanya dari tipe high impact conduit. d. Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari TB ke speaker/ attenuator.kabel kontrol). ex. Kabelindo. Splitter (1) frequency band (MHz) (2) losses (dB) iii. Konduit harus memenuhi syarat-syarat : tidak mudah terbakar. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : (1) Frekuensi (Hz) (2) Gain (dB) (3) Gain control range (4) Hum modulation (dB) (5) power source ii. kabel metal atau setaraf jenis kabel coaxial. peralatan. Kabel yang ada di atas rak harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties). Dasar pemikiran dan perhitungan dalam perhitungan / perencanaan istalasi MA TV ini antara lain: TOR (Term of Reference). antara lain : PUIL 2000 yang berlaku.

outlet dan lainnya harus rapi & baik. Outlet TV vi . Instalasi MATV tidak boleh saling berhimpit (berdempetan) dengan instalasi listrik arus kuat. instalasi.Equalizer e. . iii. Bila instalasi mengalami beban mekanis. Pemasangan peralata. Pelaksanaan Instalasi i.(2) Losses (dB) v. ii. maka kabel/hantaran harus dilindungi dan dimasukkan ke dalam GIP. Jadi harus terpisah satu sama lainnya.

Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. b. terdiri dari propane (C3H6) dan butane (C4H10). Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Jenis Gas . X. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. vi. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. iv. iii. 2. v. INSTALASI GAS MEDIK 1. Faktor diversifikasi (diversity factor).X. ii. 3. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2H6). harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang sedcara otomatis mematikan aliran gas. INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. INSTALASI GAS X. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Berat jenis dari gas. Rancangan sistem ditribusi gas pembakaran. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi : a. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut.I. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. b. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter gas ke peralatan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Gas Elpiji Gas elpiji. c. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter gas) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Pada instalasi gas untuk pembakaran.2.

Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyrarat tanda kebocoran gas. e. Gas Nitrous Oksida (N2O). Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan dengan cara lain. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Kebutuhan gas medik harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk pasien rawat inap dan kebutuhan lain. Memenuhi persyaratan udara medik USP. seperti untuk ruang bedah orthopedi. b. d. lantai. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Vakum. Jika di dalam bangunan. harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding. c. harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut: a. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. keluar dan masuk lokasi. c. c. Jika di luar bangunan ruangan. Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. kontainer curah. Jaringan Distribusi Gas Medik a. yang berukuran 1 mikron atau lebih.Jenis gas medik yang dimaksud adalah: a. sama atau kurang dari 5 mg/m3. peralatan. Kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm. . untuk lokasi biasa. atau diperoleh dari rekonstitusi oksigen USP dan nitrogen kering NF. Harus dipanaskan dengan cara tidak langsung. f. (misalnya dengan uap air atau air panas) jika diperlukan. Harus memenuhi SNI 04-0225-edisi terakhir atau standar lain seperti NFPA 70. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. d. pipa Nitrous Oksida dan pipa udara tekan. b. Rancangan sistem distribusi gas medik. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Dipasok dari silinder. langit-langit. Gas oksigen. Kadar partikulat permanen. e. Kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi. sumber kompresor udara medik. dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai ketahanan api 1 jam. c. Udara tekan. e. d. Dibangun dengan akses untuk memindahkan silinder. dengan peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih dari 152 cm (5 ft) di atas lantai untuk menghindari kerusakan fisik. bebas minyak. dan sebagainya. b. b. 2. d.

pengujian alarm. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. rantai. baik terhubung maupun tidak terhubung. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan. pemberian tekanan masingmasing pipa. agar tidak roboh. pengujian sambung-silang. pengujian beda tekanan. harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar. Apabila disediakan rak. pengujian kebersihan pipa/sistem pipa. atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder. dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang. lemari. h. i. Dilengkapi dengan rak. Ketentuan secara detail terdapat pada SNI 03-7011-2004 tentang Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Kesehatan . dan penyangga. 3. dan pengujian konsentrasi dan kemurnian gas medik. pengujian katup. Pengujian meliputi : pengujian kemampuan mempertahankan tekanan. penuh atau kosong.g. pengujian tekanan kerja.

mata air atau sumber lain yang memenuhi persyaratan kualitas air bersih. Kualitas air Bersih i. Sistem Penyediaan Air Bersih a. petunjuk teknik.XI. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. tangki dan sumur penampungan air hujan dapat dilihat pada Lampiran 1. v. bangunan dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air bersih. 3. serta diperhitungkan berdasarkan standar. iv. Sumber Air Bersih i. Untuk menjamin kontinyuitas persediaan air. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia b. Kebutuhan air bersih pada rumah tinggal dapat diperoleh secara individual maupun secara komunal. . ii. meliputi sistem air bersih. Sumber air bersih pada bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Gambar sumber-sumber air bersih. sumur gali. SANATASI DALAM GEDUNG XI. b. iii. Air bersih harus tersedia secara kontinyu. sumur pompa tangan. Sistem Penampungan Air Bersih a. 2. sedangkan untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Gambar tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1.1 SISTEM PLAMBING 1. Perencanaan Sistem Plambing a. Air bersih pada bangunan harus memenuhi persyaratan kualitas air bersih sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ MENKES/PER/ IX/ 1990. Kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. sumur gali. tidak mengganggu lingkungan. ii. Dalam hal air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum secara langsung maka kualitasnya harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII/ 2002. sumur bor.

4. Konstruksi dan bahan tangki penampungan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. petunjuk teknik. dan mengacu pada NSPM Kimpraswil No. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. tidak mengganggu lingkungan serta diperhitungkan berdasarkan standar. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. pipa penguras dan pipa ven. perlengkapan bangunan. c. Tangki penampungan air bersih yang berkapasitas lebih dari 5 m3 harus dirancang agar tidak terjadi air diam (stagnant). Gambar penempatan tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1 d. serta dilengkapi dengan lubang pemeriksaan. Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effisiensi yang maksimal . fiberglass dan kayu. besi lapis galvanis atau tembaga. Sistem plambing air bersih dimaksudkan untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan jumlah dan tekanan yang cukup. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. baja. f. Tangki penampungan air bersih harus dilengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja dan tidak mengandung bahan beracun d.. Fungsi tangki penampungan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. pipa peluap. b. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempattempat yang dapat menimbulkan pencemaran. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. Penggunaan Pompa a. e. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Sistem Plambing Air Bersih a. e. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. f. c. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Bahan tangki dapat berupa beton. Tangki penampung air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediaan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. 5. Pt T 21-2000-C.b. PE (polietilena).

b. Bila pipa ditanam di bawah jalan atau lokasi yang menerima beban. Tiap sambungan pelanggan harus dilengkapi dengan meter air. e. d. Sistem distribusi air bersih adalah sistem perpipaan yang menyediakan air bersih dari air PAM menuju ke pelanggan. Gambar sambungan rumah dapat dilihat pada Lampiran 1. 6. PE. Sistem Distribusi Air Bersih a. f. b. 7. maka harus ada perlindungan terhadap pipa. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Sistem distribusi air bersih harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan air bersih dengan jumlah dan tekanan yang cukup. c. Pipa distribusi terbuat dari bahan PVC. Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih yang dipanaskan dengan alat pemanas. Pada setiap pemasangan pipa distribusi. Untuk menjamin kualitas air. Untuk penyediaan air panas secara sentral. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Tata cara perancangan pipa air panas harus mengikuti pedoman plambing yang berlaku. pompa dan peralatan plambing harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa pemasangan telah dilakukan dengan baik dan peralatan berjalan dengan baik. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Pengujian dan Pemeliharaan a.b. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem plambing air bersih meliputi : (i) Pengendalian kualitas air : (a) Pemeriksaan atas kadar sisa klor : (b )satu kali seminggu . b. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. galvanis atau bahan lain yang mampu menahan tekanan air. Sistem Penyediaan Air panas a. c. c. maka harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kualitas sumbersumber air yang digunakan sebagai air bersih. Alat pemanas dapat bersifat lokal atau sentral. d. Pemeriksaan. air didistribusikan melalui pipa menuju ke lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. 8. c.

harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. minuman bahan steril dan atau bahan sejenis lainnya. Sistem Plambing Air Limbah a. e. 2. b. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunannya dan sifat cairan yang akan dialirkan.(c) kadar sisa klor harus lebih dari 0. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia.2SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 1. Air limbah rumah tinggal dan non rumah tinggal berasal dari kegiatan sehari-hari. f. Sistem plambing air limbah dalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa vent untuk menetralisir tekanan udara di dalam saluran tersebut. dan lebih dari 0.4 ppm klor keseluruhan (d) Pemeriksaan atas kualitas air.1 ppm klor bebas. . d. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang dialirkan. Sumber Air Limbah a. satu kali setiap enam bulan (ii) Pemeriksaan tangki air (tangki air di bawah dan tangki air di atas) : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iii)Pemeriksaan sistem pipa : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iv)Pemeriksaan mesin-mesin : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih XII. Pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. b. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. 3. c. Air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya tidak boleh digabung dengan limbah pada butir i di atas. Pembuangan dan Pengolahan Air Limbah a. Setiap bangunan yang menghasilkan air limbah harus dilengkapi dengan plambing air limbah. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak atau lemak.

b. tergantung kemudahan pengaliran dari KM/WC dengan memperhatikan jarak minimum dari sumber air bersih disekitar lingkungan permukimannya. harus ditangani secara khusus. Lebih jelas tata letak dapat diihat di Lampiran. g. Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan air limbah dipompa. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Air limbah yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. d. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. Pemeriksaan. Pengolahan dilakukan dalam tangki septik yang kedap air dan dilengkapi dengan sumur resapan. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan pada sistem plambing. Untuk daerah yang muka air tanahnya dangkal (kurang dari 1 m). c. Pengujian dan Pemeliharaan a. maka harus dipilih pompa yang peruntukannya khusus untuk air limbah. pengolahan dan penyaluran air limbah untuk memastikan bahwa sistem telah terpasang dan berjalan dengan baik. e. Jaringan pipa air limbah harus dirancang mampu mengalirkan air limbah dengan lancar dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. . Sistem penyaluran air limbah adalah jaringan perpipaan yang mengalirkan air limbah dari rumah tinggal atau non rumah tinggal menuju ke instalasi pengolah air limbah. b. pembuangan. d. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-63792000. beton atau bahan lain yang kuat dan tidak mudah mengalami korosi serta tahan terhadap panas. Bahan pipa adalah PVC. Sistem pengaliran air limbah direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. f. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilakukan maka dapat menggunakan sistem pemompaan. Letak tangki septik boleh dibelakang atau dimuka rumah. serta yang mengandung radioaktif. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. c. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih paling dekat adalah 10 meter. Sistem pembuangan harus dilengkapi dengan perangkap bau sesuai dengan SNI 03-6379-2000. 5. PE. 4. Sistem Penyaluran Air Limbah a. Gambar tangki septik dan sumur resapan dapat dilihat pada Lampiran 2. e. Kapasitas aliran disesuaikan dengan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh penghuni rumah tinggal dan non rumah tinggal. tangki septik dibuat lebih tinggi dan resapan dibuat mengalir secara horisontal.

endapan. Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat e. Kelengkapan Dalam Bangunan a. kebocoran dinding dan dasar bak (c) Apabila digunakan pompa penguras air buangan. hal-hal yang penting perlu dicatat dan disimpan sebagai dokumen/ arsip. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem pembuangan air limbah meliputi : Bak penampung air buangan (sump pit) : (a) Pemeriksaan bagian dalam (kotoran pada dinding. Pemeriksaan kondisi operasinya (tekanan. (a) b. saklar listrik. . XI. dan sebagainya) (b) Pemeriksaan adanya kotoran terapung. lapisan kedap air. Pemeriksaan dan pembersihan kepala pipa tegak vent ii. kebisingan dan sebagainya ii. sebaiknya sampai lima tahun. Pembersihan bak penampung air buangan : Pembersihan dilakukan enam bulan sekali ii. tinggi muka air dan sebagainya ii. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.i.3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 1. Pemeriksaan sistem pipa vent : i. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan b. Pemeriksaan sistem pipa pembuangan : (a) Pipa pembuangan harus dibersihkan setiap 6 bulan sekali (b) Pemeriksaan dan pengujian celah udara (c) Pemeriksaan kelancaran aliran (d) Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat (e) Pemeriksaan kemiringan pipa (f) Pemeriksaan penggantung pipa c. dilakukan pula pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap pompa (d) Setelah kegiatan pembersihan selesai. i. Pemeriksaan penggantung pipa d. Pemeriksaan mesin-mesin Pemeriksaan pompa penguras bak penampung air buangan (sump pit) : i. arus dan tegangan listrik. Pemeriksaan sekat poros dan kopling iii. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama kegiatan pembersihan bak: Ventilasi dan penerangan yang memadai di dalam bak harus terjamin (b) Pemeriksaan atas kebersihan bak.

Dimensi setiap saluran harus sedemikian rupa yang disesuaikan dengan daerah pelayanannya. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. c. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. iii. . 3. maka harus dilakukan caracara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Di kedua sisi jalan harus disediakan saluran drainase/ selokan. beton. fiberglass.c. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebabsebab lain yang dapat diterima. Bahan saluran dapat berupa PVC. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung. seng. pembagi. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. maka dapat menggunakan sitem pemompaan d. c. g. Harus cukup besar untuk melawan debit air maksimum dari daerah pengaliran secara efisien. pasangan tanah liat. f. Kemiringan saluran harus dibuat. Kelengkapan di Sekitar Bangunan Gedung a. Persyaratan Saluran a. ii. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna. Harus dibuat dengan tipe permanent. Saluran ini merupakan bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpulan drainase. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal. Pemilihan dimensi fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. e. Khusus untuk bahan seng. Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut : i. Apabila saluran dibuat tertutup. 2. tetapi harus diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk tempat air keluar. Gambar bangunan pelengkap drainase dapat dilihat pada Lampiran 3. besi dan baja. Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup b. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari selokan samping dan membuangnya. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. b. d.

Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan dilengkapi dengan fasilitas pewadahan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Setiap hari wadah penimbunan harus ditutup dengan tanah penutup dari sekitar lokasi penimbunan atau bahan lain. dan Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. maka penampungan sampah dapat dilakukan dengan cara penimbunan di area pekarangannya. b. sekolah. harganya murah atau dapat dibuat sendiri oleh masyarakat dan mudah diangkut. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. mempunyai tutup. Adapaun gambar pewadahan sampah (bak sampah) dapat dilihat pada Lampiran 4. Kriteria besaran timbulan sampah untuk rumah tinggal di Aceh adalah 2. Pemeriksaan.4. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1. plastik. pasar. Besaran timbulan sampah dihitung berdasarkan : jumlah penduduk dalam suatu kawasan permukiman atau berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukan. dan pasangan bata atau beton. Timbulan Sampah a. d. Penempatan wadah sampah individual ditempatkan di halaman muka rumah atau di halaman belakang khusus untuk sumber sampah dari hotel dan restoran. Sistem Pewadahan a. c. Penimbunan sampah di area pekarangan harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. timbulan sampah dan frekwensi pengumpulan sampah. Berjarak > 10 m dari sumber air bersih atau air minum. XI. b. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. tempat ibadah. toko/ ruko. Pengujian. Jika dalam bangunan baru tersebut mempunyai luas pekarangan yang cukup. e. jalan. c.1 L/orang/hari.4. untuk melindungi dari gangguan binatang dan serangga. terbuat dari bahan kedap air. hotel. sedangkan untuk non-rumah tinggal 24 L/unit/hari 2. Tempat pewadahan sampah harus terpisah antara sampah basah dan sampah kering. . tidak mudah rusak. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sampah sementara harus dihitung berdasarkan jumlah penghuninya. rumah makan dan fasilitas umum lainnya. ii. Sumber sampah permukiman berasal dari : perumahan.

sisa pembersihan tanaman. aluminium. Tidak menimbulkan masalah pencemaran udara. iii. dan lain-lain yang dapat di daur ulang bisa dimanfaatkan kembali. Pola pengumpulan langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan. Gambar peralatan untuk pengumpulan sampah tercantum dalam Lampiran 4. b. Pembakaran sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. . Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu. c. jumlah timbulan sampah. Sampah seperti botol bekas. kertas koran. Jika belum tersedia sistem pewadahan sampah. b. frekwensi pembuangan dan periode waktu penggunaan lahan penimbunan tersebut. Tidak merugikan lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat sekitar. seperti hutan dan padang ilalang. Ukuran volume penimbunan ditentukan berdasarkan f. Sampah basah (organik) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas dapat digunakan sebagai kompos. kardus. Dilakukan di daerah dengan kepadatan penduduk rendah. 3. tidak dibuang ke wadah sampah atau tempat penampungan sementara. maka sampah-sampah yang mudah terbakar seperti kertas. kertas. hutan dan jauh dari lokasi yang menampung bahanbahan yang mudah meledak. Sistem Pengumpulan a. ii. Gambar pola pengumpulan individu langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. c. iv. Wadah sampah harus ditempatkan di lokasi yang kering dan bebas dari pengaruh air hujan.iii. Potensi Reduksi a. Tidak dilakukan di daerah yang dekat dengan area yang mudah terbakar. baik dengan pengumpulan langsung maupun tidak langsung. Pola pengumpulan sampah dibedakan atas pola pengumpulan langsung dan pola pengumpulan tidak langsung. kaleng. wadah plastik. Sampah tersebut dapat dikumpulkan dalam wadah sampah yang terpisah dengan sampah yang akan dibuang. kayu dan lain-lain dapat dibakar. dengan persyaratan mengacu pada Pedoman Teknik Tatacara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Dan Komunal No: Pd-T-15-2003 4.

iv. dengan rata-rata kemiringan < 5%. c. becak dan lain-lain. sedangkan untuk sampah kering (anorganik) dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. dan kegiatan rumah tangga. Gambar pola pengumpulan individu tidak langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. f. Bagi kondisi topografi pemukiman yang relatif datar . korosif. maksimal setiap 2 hari sekali. .i. Jumlah timbulan sampah > 0. dibawa ke lokasi pemindahan (tempat pembuangan sampah sementara) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. dengan volume rata-rata alat angkut 1 sampai 2 m3. Teknis operasional pola pengumpulan langsung: Persyaratan : Dilakukan jika kondisi topografi bergelombang kemiringan ii. Sampah yang dikategorikan sebagai buangan beracun dan berbahaya telah diatur dalam PP no. Sifat utama dari sampah B3 adalah buangan yang mempunyai sifat mudah meledak. 5. Penjadwalan pengumpulan dilakukan oleh instansi pengelola persampahan pemukiman mengacu pada SNI 03-3242-1994. mudah terbakar. 18/1999 yang diperbaharui dengan PP no 85 tahun 1999. Pola pengumpulan tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah. Lahan untuk lokasi tempat penampungan sampah sementara tersedia. ii. rumah sakit. antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Pengumpulan menggunakan alat angkut bukan mesin seperti gerobak sampah. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). reaktif dan beracun. Teknis operasional pola pengumpulan tidak langsung : Persyaratan : i.3 m3/hari. iii. iv. sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Penentuan tempat penampungan sementara mengacu pada SNI no 19-2454-2002 v. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. >15%. b. Sampah B3 ini tidak boleh dibuang langsung ke wadah sampah tetapi harus dipisahkan dan diolah tersendiri. iii. e. maksimal setiap 2 hari sekali. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah (organik) setiap hari. v. Sumber-sumber sampah B3 terutama berasal dari kegiatan industri. Alat pengumpul menggunakan mesin dan frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah. d. Sampah Beracun dan Berbahaya (B3) a. infeksius.

10 meter. diperhitungkan setiap sumur harus dapat melayani 10 kepala keluarga. Tata cara perencanaan bangunan MCK umum mengacu pada SNI 03-2399-2002. h. lokasi mudah dijangkau d. Sistem plambing pada MCK umum mengikuti sistem plambing air bersih dan air limbah pada peraturan ini. Tabel 1. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum Fasilitas dalam MCK umum (untuk pria dan wanita terpisah): . g. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-6379-2000. c.5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 1. Banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MCK umum untuk jumlah pemakai tertentu harus dapat menampung pelayanan pada jam-jam sibuk. dengan kapasitas yang ditentukan berdasarkan jumlah pemakai MCK. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih min. 2. Tata cara penanganan sampah B3 di daerah mengacu pada Keputusan 03/BAPEDAL/09/1995. MCK Umum a. dapat dibangun di daerah yang sempit e. terdapat sumber air. Untuk sumber air dari sumur gali atau sumur pompa tangan. Sedangkan gambar contoh tata letak MCK umum tercantum pada Lampiran 5. baik dari PAM atau sumur f. j. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. b.d. Penyediaan air bersih secara komunal dilayani melalui hidran umum. Pemilihan kokasi MCK umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: c. Pengolahan limbah dari MCK umum dilakukan menggunakan septik tank. MCK (mandi. Sistem penyediaan air bersih komunal harus disediakan pada permukiman bila tidak tersedia sistem penyediaan air bersih secara individual. kakus) umum dibangun di permukiman yang tidak tersedia fasilitas MCK pribadi. XI. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum dapat dilihat pada Tabel 1. Perancangan hidran umum/ kran umum didasarkan atas kebutuhan yaitu setiap kran dapat melayani antara 30 L/orang/hari sampai dengan 50 L/orang/hari. b. i. Bangunan MCK umum harus dipisahkan antara MCK untuk orang laki-laki dengan MCK untuk orang perempuan. Hidran Umum a. cuci. Gambar Hidran Umum tercantum pada Lampiran 5.

Bagi developer yang membangun + 80 rumah harus menyediakan wadah sampah. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). dan tempat penampungan sampah sementara sedangkan pengumpulan dan pembuangan akhir sampah bergabung dengan yang sudah ada. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. Penyediaan secara komunal dapat dilakukan oleh instansi berwenang atau swadaya masyarakat maupun pihak swasta. fasilitas umum dan jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. Pola pengumpulan komunal terdiri dari : pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung. dan sistem pengumpulan komunal dapat dilihat pada Lampiran 5. c. . sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. Wadah komunal disediakan bagi pemukiman yang sulit dijangkau oleh alat angkut dan pemukiman yang tidak teratur. alat pengumpulan (pick up sampah). Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal a. di ujung gang atau jalan kecil. f.Jumlah pemakai (orang) 10 – 20 21 – 40 41 . d.200 Banyaknya ruangan Man Cuc Kaku di i s 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 4 4 4 5 4 4 5 6 4 6 6 3. e. Gambar wadah sampah komunal (kontainer sampah). maksimal setiap 2 hari sekali. alat pengumpul. tidak menganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. Wadah komunal ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber sampah. b.80 81 – 100 101 – 120 121 – 160 161 .

ii. 2.6 m diatas lantai. bukaan. bukaan. pintu ventilasi. bukaan. (a) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sahitasi. Penerapan ventilasi alami. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. 6. Ventilasi Alami a. (2) Bangunan kelas 5. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. 8 atau 9. (2) teras terbuka. (a) Jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas .XII. pelataran parkir.1 VENTILASI 1. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka : i. (c) ruangan bersebelahan dengan jendela. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. dengan jarak tidak lebih dari 3. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. Kebutuhan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai : a. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Ventilasi alami sesuai dengan ketentuan ventilasi alami di bawah ini. ke arah : (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. bukaan. ii. atau b. atau daerah yang terbuka ke atas. (b) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. dan yang sejenis. dan : (1) Bangunan klas 2. (b) jendela. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. bukaa. 7. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 . jendela.

(2) harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/ halaman dibawah lantai dasar. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. 7. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah : (1) dapur atau pantry. (4) ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. atau (3) harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. (2) pada bangunan Kelas 5. v. sekolah TK atau panggung terbuka). (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. (3) asrama pada bangunan Kelas 3. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: . 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. (a) Jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. iv. vi. (5) ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan : (1) jika berada dibawah lantai dasar.iii. (c) Luas ventilasi' yang diatur pada butir (1) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. sekolah TK atau panggung terbuka). (a) jalan masuk harus melalui ruang antara. (2) ruang makan umum atau restoran. 6. ventilasi tidak kurang dari 10 (uas lantai kedua ruangan tersebut. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yahg dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya : (1) Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4 . dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. koridor atau ruang lainnya.

5 kW untuk daya listrik. f. pabrik. 2. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang beriaku. jika : (1) setiap peralatan masak yang mempunyai : (a) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. Bilamana digunakan ventilasi buatan. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian.8 MJ/jam untuk daya gas. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistzm ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. atau (b) 1. lebih dari : (a) 0. minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI . Ventilasi Buatan a.2 PENGKONDISIAN UDARA 1. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. dan miriir'a 8 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. XII. kantor. 3.60 meter diatas lantai.(1) sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang beriaku. d. vii. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. e. toko. c. (2) total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. atau (b) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. atau (2) sistem ventilasi alami permanen yang memadai. b. atau sebaliknya. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi. rumah sakit. Konservasi Energi a. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara mateimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang beriaku.

(1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem fan. pemilihan peralatan. isolasi pemipaan. 3. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. Perhitungan Beban Pendinginan a. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. sistem distribusi udara. b. iii. c. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. Penetapan sistem dan peralatan. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. . ii. sistem kontrol. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. dan standar teknis lain yang beriaku. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. sistem pompa dan pemipaan. Dasar perancangan i. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku.tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. b. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi.

reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. jalan.XIII. seperti : (1) pintu masuk. c. PENCAHAYAAN BUATAN 1. Kamar. b. ruangan didalam bangunan. m. ruangan. (3) tempat bongkar muat barang. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. h. museum dan monumen.2. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan kualitas tampilan. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi : a. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan.00 pagi. 2. g. pencahayaan di unit pengeboran. pencahayaan luar untuk monumen publik. . pencahayaan khusus laboratorium. d. e. (2) pintu keluar. seperti proses produksi dan penyimpanan. daerah luar bangunan. j. pencahayaan darurat yang secara otomatis "mati" selama operasi normal. pencahayaan untuk pameran seni. Kamar.00 malam sampai jam 06. f. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dari fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. n. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. efektif dan sesuai dengan a. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. c. XIII. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. penyiaran televisi. gallery. PENCAHAYAAN XIII. i. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan bualan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan bebsn pendinginan bangunan. klub malam. meliputi : kegiatan diluar bangunan. taman dan daerah bagian luar lainnya. pencahayaan untuk rambu-rambu. l. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. dsb. pencahayaan untuk pembuatan film. fasilitas luar untuk olahraga. b. k.

sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. Tingkat lluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang “Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung". Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. 7. XIII. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. 2. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan menggunakan sumber pencahayaan yang tepat. 3. distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan.kebutuhan ruangan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. a. balas. 6. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. mempunyai karakteristik . kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. 5. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Untuk fasilitas banyak bangunan. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. jenis reflektor yang efisien. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. 4. dan reflektor yang efisien. b. Pemanfaatan pencahayaan alami . Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor alumunium anodized berkualitas tinggi.

e. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). baik dari sumber sinar mata langsung. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafon harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. Jika perlu. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut : a. d. b. Penentuan besarnya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI2396 tentang Penerangan Alami Sianghari untuk Rumah dan Gedung. Pengendali harus digunakan . kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan/atau kaca ganda.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN Semua sistem pencahayaan. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu "KELUAR". 2. 1. ekcuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. 3. harus dilengkapi dengan pengendali manual. XIII. c. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama di dekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus-menerus. obyek luar. f. langit yang cerah. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan : a. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. otomatis atau yang terprogram. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap grup yang melayani luasan 30 m2 atau kurang. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Pengendaiian silau pada bangunan. c.Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. b.

. e. pasar swalayan.yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. Pengendali yang memerlukan operator yang leriatih. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang terletak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendaii untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. d.sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/ dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. Pengendali yang diprogram. Pengendali dipusatkan di lokasi . kecuali : a. Pengendali otomatis. 2. c. b. Letak pengendali harus mudah dicapai. pertokoan. gedung dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). engendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. hotel dan rumah sakit.

KEBISINGAN DAN GETARAN XIV. Perletakan elemen-elemen alam dan buatan untuk mengurangi/meredam kebisingan yang datang dari luar bangunan dan luar lingkungan. 2. XIV. Arah bukaan c. Luas Bukaan pada Bidang Atap b. SIRKULASI UDARA 1. Penggunaan jenis-jenis material dan jenis-jenis lapisan dinding untuk meredam kebisingan di dalam bangunan.2. Penyediaan ventilasi yang cukup disamping untuk memenuhi persyaratan kesehatan. Pada Bidang Atap a. Ketinggian bukaan d. KENYAMANAN. a. Baku Tingkat Kebisingan i. 2. Posisi Bukaan XIV. juga harus dapat menyediakan kenyamanan termal dalam ruang yang dapat menurunkan temperatur dan kelembaban. 3. Arah bukaan c.3 PANDANGAN 1. KEBISINGAN 1. Luas bukaan pada bidang dinding b. ukaan ventilasi ditempatkan pada arah angin datang untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan udara dalam ruang. Pada Bidang Dinding terhadap Pengaturan Suhu Udara dan Kelembaban Ruangan. Bukaan-bukaan sedapat mungkin diletakkan pada bidang dinding yang tidak terkena sinar matahari langsung untuk mengurangi perolehan panas dalam ruang. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia.1 KENYAMANAN TERMAL 1. Perletakan bukaan pada bagian-bagian persimpangan jalan agar pengguna jalan saling dapat melihat sebelum tiba pada persimpangan. makhluk lain dan . XIV. 4. Jika bukaan diletakkan pada bagian dinding yang terkena sinar matahari langsung maka harus disediakan peneduh sinar matahari yang mencukupi.4. Perletakan dan penataan elemen-elemen alam dan buatan pada bagian bangunan maupun ruang luarnya untuk tujuan melindungi hak pribadi.XIV. a. Posisi Bukaan 2. 2.

lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan. . b. Salah satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. ii. makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. Baku Tingkat Getaran a. beriaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut beriaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. XIV. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang beriaku. 2.5 GETARAN Penggunaan material dan sistem konstruksi bangunan untuk meredam getaran yang datang dari bangunan lain dan dari luar lingkungan. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. 1. b.

BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG
I. PENGERTIAN Definisi bangunan gedung sesuai dengan Ketentuan umum yang termuat dalam UU No 28 tentang Bangunan Gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 1. Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya. 2. Pembangunan bangunan gedung dapat dilakukan baik di tanah milik sendiri maupun di tanah milik pihak lain 3. Pembangunan bangunan gedung diatas tanah milik pihak lain dilakukan berdasar perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan pemilik bangunan gedung. 4. Pembangunan bangunan gedung dapat dilaksanakan setelah rencana teknis bangunan gedung disetujui oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan, kecuali bangunan gedung fungsi khusus. 5. Tata cara pengesahan rencana teknis bangunan gedung yang diatur lebih lanjut dalam Qanun. II. PENYELENGGARAAN Penyelenggara bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang meliputi pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. 1. Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran 2. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan administrative maupun persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung. 3. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan adiministratif dan persyaratan teknis tersebut diatas, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap. 4. Pelaksanaan pentahapan pemenuhan ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi social, budaya dan ekonomi masyarakat, meliputi: a. Persyaratan administrative

i. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah ii. Status kepemilikan bangunan gedung , dan iii. Izin mendirikan bangunan gedung b. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur, pondasi, struktur, sanitasi dan elektrikal 5. Penyelenggara a. Pemilik Bangunan Gedung Pemilik bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.

b. Pengguna Bangunan Gedung Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. c. Penyedia Jasa Konstruksi Penyedia jasa konstruksi adalah orang atau lembaga independen dan mandiri yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan konstruksi serta memiliki ijin di bidang pelaksanaan bangunan. Ketentuan mengenai jasa konstruksi mengikuti peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi. III. PERENCANAAN 1. Perencanaan adalah kegiatan penyusunan rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan fungsi dan persyaratan teknis yang ditetapkan, sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan pengawasan bangunan. 2. Rencana teknis bangunan gedung dapat terdiri atas rencanarencana teknis arsitektur, struktur dan konstruksi, mekanikal dan elektrikal, pertamanan, tata ruang dalam dan disiapkan oleh penyedia jasa perencanaan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan rencana kerja dan syaratsyarat administrative, syarat umum dan syarat teknis, rencana anggaran biaya pembangunan dan laporan perencanaan. 3. Persetujuan rencana teknis bangunan gedung dalam bentuk izin mendirikan bangunan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan asas kelayakan administrasi dan teknis, prinsip pelayanan prima serta tata laksana pemerintahan yang baik. 4. Perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan harus dilakukan oleh dan/atau atas persetujuan perencana teknis bangunan gedung, dan diajukan

terlebuh dahulu kepada instansi yang berwenang untuk mendapatkan pengesahan. 5 .Untuk bangunan gedung fungsi khusus izin mendirikan bangunannya disetujui oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah 6. Untuk bangunan gedung fungsi khusus, rencana teknisnya harus mendapatkan pertimbangan dari tim ahli terkait sebelum disetujui oleh instansi berwenang dalam pembinaan teknis bangunan gedung fungsi khusus. IV. PELAKSANAAN Adalah kegiatan pendirian, perbaikan, penambahan, perubahan atau pemugaran konstruksi bangunan gedung dan /atau instalasi dan/atau perlengkapan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang disusun. 1. Pendirian a. Mendirikan bangunan ialah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian, termasuk pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan bangunan itu. b. pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai dikerjakan setelah Dinas Kimpraswil menetapkan garis sepadan serta ketinggian permukaan tanah persil tempat bangunan bersangkutan akan dididirikan, sesuai dengan rencanan yang telah ditetapkan dalam IMB. c. Dinas Kimpraswil menunjukkan letak garis sepadan dan menandai ketinngian permukaan persil selambat-lambatnya 14 ( emapt belas ) hari setelah diserahkan IMB kepada pemohonnya; d. Bila setelah 14 (empat belas ) hari sesudah diserahkannya IMB Dinas Kimpraswil tidak melaksanakan tugasnya , pemohon IMB dapat mengajukan permohonan kepada gubernur agar dinas kimpraswil segera melakukan tugasnya. 2. Perbaikan 3. Penambahan 4. Perubahan Merubah bangunan ialah pekerjaan menggali dan/atau menambah bagian bangunan yang ada, termasuk pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut. 5. Pemugaran konstruksi a. Bangunan Gedung b. Instalasi c. Perlengkapan Bangunan

V. PENGAWASAN Adalah kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan gedung. 1. Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi a. Petugas Dinas Kimpraswil berwenang: i. memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja; ii. memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku atau standart yang berlaku. iii. memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan, demikian pula lat-alat yang diaanggap berbahaya serta merugikan kesehatan/keselamatan untuk pekerjaan tersebut b. Pemilik IMB wajib memberitahukan kepada Dinas Kimpraswil saat telah selesainya seluruh pekerjaan mendirikan bangunan tersebut dalam IMB, selambat-lambatnya 48 ( empat puluh delapan) jam setelah pekerjaan mendirikan bangunan itu selesai; c. Bila pekerjaan mendirikan bangunan menurut kenyataannya telah selesai dilaksanakan sesuai dengan IMB, Dinas Kimpraswil memberi surat keterangan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan kepada penerima IMB. d. Bila dalam jangka waktu 14 ( empat belas 0 hari setelah pemeberitahuan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan tidak ada pemeriksaan dari Dinas Kimpraswil, penerima IMB dapat meminta Gubernur untuk mememrintahkan agar Dinas Kimpraswil segera melaksanakan pemeriksaan. 2. Manajemen Konstruksi Pembangunan a. Pengawas pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan adalah perorangan atau badan hukum. b. Bilamana pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan adalah perseorangan, kepadanya diwajibkan memiliki ijin bekerja yang dikeluarkan oleh Gubernur. c. Pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan melaksanakan perintah dan bertanggungjawab kepada perencana bangunan dan pemilik IMB d. Tugas dan tanggungjawab pengawas pekerjaan mendirikan bangunan tidak dapat dipindah alihkan kepada pihak lain dengan bentuk atau cara apapun tanpa persetujuan dari pihak penerima IMB

VI.

PEMANFAATAN

dan (3) Izin mendirikan bangunan gedung ii. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.Adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan termasuk kegiatan pemeliharaan. Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh tenaga/konsultan ahli yang telah diakreditasi setiap 5 ( lima) tahun sekali. Persyaratan administrative dan teknis untuk bangunan gedung adat. Untuk bangunan yang telah ada. bangunan gedung darurat dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencanan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi social dan budaya setempat. Persyaratan (1) Status hak atas tanah. kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. b. b. Dinas Kimpraswil mengadakan penelitian atas hasil pemeriksaan berkala tersebut diatas mengenai syarat-syarat adminstrasi maupun teknis. kesehatan. 3. perawatan dan pemeriksaaan secara berkala. Persyaratan Teknis a. Persyaratan administrative dan persyaratan teknis tersebut adalah: i. sanitasi dan elektrikal. 1. Pemeliharaan. 2. Persyaratan Laik Fungsi a. khusunya bangunan umum wajib dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kelaikan fungsinya. c. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung dan Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk sertifikat laik fungsi bangunan gedung. dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah (2) Status kepemilikan bangunan gedung . yaitu berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan tata bangunan. c. bangunan gedung semi permanen. . d. Yang dimaksud laik fungsi. serta persyaratan keselamatan. Perawatan dan Pemeriksaan a. Persyaratan teknis bangunan gedung tersebut diatas meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. b. pondasi. struktur.

b. Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarikan. 2. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan . Pelaksanaan perbaikan. d. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. pemugaran dan pemanfaatannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. dilakukan oleh Pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan c. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan. f. harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemugaran. Dalam hal terjadi pada ketentuan diatas. maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam SLF. VII. pemugaran serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. b. e. dan pemanfaatan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya. Pengertian a. Kepala Dinas Kimpraswil dapat menghentikan penggunaan bangunan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan Sertifikat laik fungsi. Gubernur/Dinas Kimpraswil akan mencabut Izin Mendirikan Bangunan yang telah diterbitkan. petugas Dinas Kimpraswil dapat minta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan Sertifikat laik Fungsi beserta lampirannya. PELESTARIAN 1. dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memeperhatikan ketentuan perundang-undangan . Dalam rangka pengawasan penggunaan bangunan. Perlindungan a. pemugaran.d. e. Perbaikan. g. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian serta teknis perbaikan. Dinas Kimpraswil memberikan sertifikat laik fungsi apabila bangunan diperiksa telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. Adalah kegiatan perawatan.

pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestraikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula. Pelaksanaan Perbaikan dan Pemugaran Perbaikan. komponen. Perbaikan. atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun atau mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 ( lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah. 5. PEMBONGKARAN 1. c. d. . 3. pemugaran dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan VIII. Pelaksanaan perbaikan. b. Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah UU tentang cagar Budaya. pemugaran.c. perorangan atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pemanfaatan Bangunan Gedung dan lingkungan cagar Budaya a. ilmu pengetahuan. dan kebudayaan termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. Pengkaji teknis adalah orang. Adalah kegiatan membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung. Pelestarian Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok. Pengkajian teknis bangunan gedung kecuali untuk rumah tinggal. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. atau bagianbagiannya. 4. bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarananya. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. Bangunan gedung dapat dibongkar ditetapkan berdasarkan persetujuan Pemerintah daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. atau dapat dimanfaatkan sesuai potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan criteria yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah dan/ atau pemerintah. b. Pengertian a.

hal-hal lain yang ddianggap perlu. b. c. mendapatkan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah daerah karena bangunannya ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan. iii. 2.e. Tata Cara Pembongkaran a. Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasar rencana teknis pembongkaran yang disetujui oleh Pemerintah Daerah. tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki b. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan yang berlaku 3. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah iii. ii. mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Daerah atas rencana teknis bangunan gedung yang telah memenuhi persyaratan. mengubah fungsi bangunan setelah mendapat izin tertulis dari Pemerintah Daerah. Tidak memiliki izin mendirikan bangunan d. v. mendapatkan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan apabila bangunannnya dibongkar . Sebelum mengajukan permohonan Izin Merobohkan Bangunan . pemohon harus terlebih dahulu minta petunjuk tentang rencana membongkar bangunan kepada Dinas Kimpraswil yang meliputi: i. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya. persyaratan membongkar bangunan. cara membongkar bangunan iv. Pemilik bangunan dapat mengajkan permohonan untuk membongkar bangunannya. IX. Pengertian a. ii. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG 1. vi. pemilik bangunan gedung mempunyai hak: i. mendapatkan surat ketetapan bangunan gedung dan/atau lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dari Pemerintah Daerah iv. tujuan atau alas an membongkar bangunan. Persyaratan Pembongkaran Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung.

mendapatkan keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan pada lokasi dan/atau ruang tempat bangunan akan dibangun. c. ii. mendapatkan keterangan tentang ketentuan bangunan gedung yang laik fungsi. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. menyediakan rencana teknis bangunan gedung yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan fungsinya. melaksanakan pemeriksaaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya. meminta pengesahan dari Pemerintah daerah atas perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan bangunan. melengkapi pedoman / petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung. b. e. mendapatkan keterangan tentang ketentuan persyaratan keandalan bangunan gedung. Pengertian . iv. b. Kewajiban pemilik dan Pengguna a. 3. memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. c. e. Hak Pemilik dan Pengguna a. membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki. memiliki izin mendirikan bangunan iii. pemilik bangunan gedung mempunyai kewajiban: i. memelihara dan /atau merawat bangunan gedung secara berkala. PERAN SERTA MASYARAKAT 1. memperbaiki pemeriksaan secara berkala yang telah ditetapkan tidak laik fungsi. mengetahui tata cara/ proses penyelenggaraan bangunan gedung.oleh Pemerintah daerah atau pihak lain yang bukan diakibatkan oleh kesalahannya. 2. atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum X. b. d. f. d. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang telah disahkan dan dilakukan dalam batass waktu berlakunya izin mendirikan bangunan. mendapatkan keterangan tentang bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan.

pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung. b. merugikan dan. Yang dimaksud dengan penyempurnaan adalah termasuk perbaikan Peraturan daerah tentang bangunan gedung sehingga sesuai dengan undang-undang /peraturan diatasnya. pasar.atau membahayakan kepentingan umum. Penyampaian pendapat tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang bersangkutan ikut memiliki dan bertanggungjawab dalam penataan bangunan dan lingkungannya 5. Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu. Gugatan perwakilan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan oleh perorangan atau kelompok orang yang mewakili para pihak yang dirugikan akibat adanya penyelenggaraan bangunan gedung yang mengganggu. 4.merugikan atau menbahayakan. Masyarakat adalah suatu kesatuan penduduk yang dikenal sebagai komunitas dimana ikatan social nya realtif masih erat. Peran serta masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan proyek pembangunan b. masukan dan usulan kepada Pemerintah daerah b. .a. mal. 2. Menyampaikan Pendapat dan Pertimbangan Kepada Instansi yang Berwenang a. dan pemanfaat tempat umum lain. pemanfaatan. b. pedoman dan standart teknis di bidang bangunan gedung b. rencana teknis bangunan gedung tertentu dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.bioskop. masyarakat dapat menyampaikan laporan. Melaksanakan Gugatan a. seperti dalam memanfaatkan fungsi bangunan gedung sebagai pengunjung pertokoan. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dapat melalui tim ahli bangunan gedung yang dibentuk oleh Pemerintah daerah atau melalui forum dialog dan dengar pendapat publik c. Adalah menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan. Apabila terjadi ketidaktertiban dalam pembangunan. Memantau dan menjaga Ketertiban Penyelenggaraan a. Setiap orang juga berperan dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku. 3. Adalah memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan. Memberi Masukan Kepada pemerintah Daerah a.

b. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah 3. Pemberdayaan dilakukan terhadap para penyelenggara bangunan gedung dan aparat Pemerintah Daerah untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. Pembinaan Bangunan Gedung a. asosiasi perusahaan. Masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung sepeti masyarakat ahli. Pemberdayaan masyarakat yang belum mampu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bangunan gedung melalui upaya internalisasi. pemberdayaan dan pengawasan sehingga setiap penyelenggaraan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan tercapai keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya serta terwujudnya kepastian hukum. b. c. Pelaksanaan pembinaan oleh Pemerintah daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas pemerintahan daerah. Pembinaan dilakukan dalam rangka tata pemerintahan yang baik melalui kegiatan pengaturan. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah b. Pengaturan dilakukan dengan pelembagaan peraturan perundang-undangan. 2.XI. c. Pengertian a. 4. b. Sebagian penyelenggaraan dan pelaksanaan pembinaan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung. petunjuk dan standar teknis bangunan gedung sampai dengan di daerah dan operasionalisasinya di masyarakat. pedoman. Pemberdayaan adalah kegiatan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. sosialisasi dan pelembagaan di tingkat masyarakat. d. kewajiban dan perannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. kewajiban dan peran para penyelenggara bangunan gedung dan aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Pemberdayaan Masyarakat a. . asosiasi profesi. PEMBINAAN 1. Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung a.

ii. SANKSI 1. ancaman pidana penjara paling lama 5 ( lima )) tahun dan/atau denda paling banyak 20% ( dua puluh per seratus ) dari nilai bangunan gedung. Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang.dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung dikenai sanksi adminitratif dan/atau sanksi pidana b. pembatasan kegiatan pembangunan iii. Pengertian a. iii. pembekuan izin mendirikan bangunan gedung vi. Dalam proses peradilan atas tindakan sanksi pidana tersebut diatas. iv. hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung. peringatan tertulis ii. penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan iv. perintah pembongkaran bangunan gedung. 2.Sanksi administrative dapat berupa: i. pencabutan izin mendirikan bangunan gedung vii. pencabutan sertifikat laik fungsi bangunan gedung. . pembekuan sertifikat laik fungsi bangunan gedung viii. Bentuk Sanksi a. dan /atau persyaratan. atau ix. ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari nilai bangunan gedung. penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung v. jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup. jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. Sanksi Pidana dapat berupa: i. b. ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% 9sepuluh per seratus) dari nilai bangunan.masyarakat pemilik dan pengguna bangunan gedung dan aparat pemerintah XII. Sanksi Administratif adalah sanksi yang diberikan oleh administrator ( pemerintah) kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tanpa melalui proses peradilan karena tidak terpenuhinya ketentuan undang-undang. jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain .

PERIJINAN 1. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. c. XIII. c. mendirikan bangunan-bangunan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada. Selain pengenaan sanksi administrative sebagaimana jenisnya. Tata Cara Pengenaan Sanksi a. Tidak Diperlukan Izin Bangunan Izin Bangunan tidak diperlukan dalam hal: a. membuat lubang-lubang ventilasi. Jika Kepala Dinas berkeberatan terhadap permohonan izin tersebut diatas. mendirikan bangunan-bangunan permanen. b. memperluas bangunan-bangunan yang telah ada. membongkar bangunan-bangunan yang menurut pertimbangan Kepala Dinas tidak membahayakan. pelanggar dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% ( sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun c. 2. atau nilai keseluruhan suatu bangunan gedung yang ditetapkan pada saat sanksi dikenakan bagi bangunan gedung yang telah berdiri. Jenis pengenaan sanksi ditentukan oleh berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan. penerangan dan lain sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 meter. Izin bangunan diberikan berdasarkan keputusan Pemerintah Daerah b. II. d. Pemberiaan Izin Bangunan a. b. maka persolannya akan dapat diajukan kepada H\gubernur untuk diputuskan. IV. pendirian bangunan-bangunan yang tidak permanen untuk pemeliharaan binatang-binatang jinak atau tanamantanaman dengan syarat-syarat : . d. III. Nilai bangunan gedung dalam ketentuan sanksi adalah nilai keseluruhan suatu bangunan pada saat sedang dibangun bagi yang sedang dalam proses pelaksanaan konstruksi.3. konstruksi maupun arsitektural dari bangunanbangunan semula yang telah mendapat izin. pemeliharaan bangunan-bangunan dengan tidak mengubah denah. Pemerintah Daerah dapat memberikan izin untuk: I. mendirikan bangunan-bangunan sementara yang diperlukan dalam pelaksanaan sesuatu pembangunan selama pekerjaan-pekerjaan itu dilaksanakan.

perhitungan struktur untuk bangunan bertingkat ( lebih dari 2 lantai) iv. Pemohon harus mengetahui tentang: jenis/peruntukan bangunan. pelaksanaan dan pengawasan bangunan. koefisien daerah hijau. iii. vii. luas lantai bangunan yang diizinkan. Larangan Mendirikan/Mengubah Bangunan a. ii. iv. vi. iii. vi. b. tiang bendera di halaman/ pekarangan rumah e. ii. persayaratan-persyaratan bangunan. v. ditempatkan dihalaman belakang ii. menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari surat izin mendirikan bangunan. garis sempadan yang berlaku. membuat kolam hias . salinan atau fotocopi bukti pemilikan tanah. 4. mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh izin selama mendirikan suatu bangunan 3. jumlah lantai/lapis bangunan diatas/dibawah permukaan tanah yang diizinkan. hal-hal lain yang dipandang perlu. koefisien dasar bangunan yang diizinkan. i. x. persyaratan-persyaratn perencanaan. Permohonan Izin Mendirikan Bangunan harus dilampiri dengan: gambar situai.sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah yang ada d.i. iii. ix. v. Permohonan Izin Bangunan a. viii. tidak mempunyai izin tertulis dari Pemerintah Daerah ( IMB). menyimpang dari rencamna pembangunan yang menjadi dasar pemberian izin bangunan. b. persetujuan/ izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya. i. ii. taman dan patung. membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanen f. mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah diperoleh izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan g. pertimbangan pemerintah daerah setempat. loefisien lantai bangunan. dilarang mendirikan bangunan: i. menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang bangunan gedung c. dilarang mendirikan bangunan-bangunan diatas tanah orang lain tanpa izin pemiliknya atau kuasanya yang sah. luas tidak melebihi 10 (sepuluh ) meter persegi dan tingginya tidak lebih dari 2 (dua) meter. gambar rencana bangunan. .

7. Putusan Suatu Permohonan Izin Bangunan a .5. sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan dan pemohon belum memulai pelaksanaan pekerjaannnya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya. cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada. pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 ( tiga ) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan. bangunan akan mengganggu lalu lintas. Izin Mendirikan bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. Qanun Propinsi atau peraturan lainnya yang setingkat dengan Qanun tersebut diatas. apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana Pemerintah. bangunan yang akan didirikan diatas/lokasi yang penggunaanya tidak sesuai dengan rencana kota yang sudah ditetapkan dalam RTRW. e. apabila bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitar. b. b. adanya keberatan yang diajukan dan dibenarkan oleh Pemerintah. . c. b. d. f. Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Bea Balik Nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Surat Izin Mendirikan Bangunan ditandatangani oleh Kepala Dinas atau pejabat lain yang ditunjuk. c. 6. rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. h. g. f. Penolakan Suatu Izin Bangunan a. pemegang izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan. bertentangan dengan Undang-Undang. Pencabutan Izin Bangunan a.Izin mendirikan bangunan diberikan paling lambat 3 ( tiga) bulan setelah dikeluarkan surat izin sementara. karena persyaratan-persyaratan dalam Peraturan Daerah ini tidak dipenuhi. Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Kepala Dinas dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun. e. aliran air (air hujan). i. c. d. izin yang telah diberikan itu kemudian ternyata didasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru. j. apabila bangunan yang akan didirikan tidak memenuhi persyaratan teknis bangunan. dalam waktu 6 ( enam) bulan setelah tanggal izin itu diberilkan.

c. pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang rencana dan syarat-syarat yang disahkan. Kepala Dinas dapat memperpanjang jangka waktu itu selama-lanya satu bulan.d. Keputusan kepala Dinas mengenai penetapan ketentuanketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut atau penetapan larangan. Permohonan banding dikenakan terhadap: i. b. Jika pencabutan surat izin bangunan dinyatakan tidak beralasan oleh dan dengan suatu keputusan DPRD. pernyataan keputusan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. e. dalam jangka waktu satu bulan setelah dikirimkannya keputusan. d. Permohonan banding oleh yang berkepentingan dilakukan secara tertulis. iii. Permohonan Banding Kepada Kepala Daerah a. Kepala Dinas membentuk Panitia untuk mempersiapkan penyelesaian permohonan banding itu f. ii. . Permohonan banding harus memuat: i. dari 8. nama dan tempat tinggal yang berkepentingan atau kuasanya. maka izin itu berlaku kembali. ii. Keputusan penolakan atau pencabutan surat izin oleh Kepala Dinas. alas an-alasan yang menjadi dasar permohonan banding itu. iv. Dalam keadaan luar biasa. tanggal dan nomor keputusan yang dimohon banding.

BAB V. komponen. tata cara. dan metode uji bangunan. . KETENTUAN PENUTUP Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Babbab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI). elemen. serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful