DRAFT

MATERI TEKNIS
PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

( BUILDING CODE )

KABUPATEN ACEH BESAR

Dibuat atas kerjasama:

Universitas Syiah Kuala – Aceh Besar
dengan
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura Nomor 20 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110 Telepon (021) 727 99248

DAFTAR ISI
BAB I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I.1. TINJAUAN ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI 1. Sejarah Kabupaten Aceh Besar 2. Sosial Budaya Masyarakat 3. Letak Gegrafis dan Administrasi 4. Hidrologi 5. Kependudukan 6. Perekonomian I..2. TINJAUAN ASPEK FISIK 1. Umum 2. Kondisi Fisik Wilayah sebelum Tsunami 3. Stuktur Kabupaten Aceh Besar 4. Bentang Alam Kabupaten Aceh Besar

BAGIAN II RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH II.1 REVIEW RTRW KOTA ACEH BESAR M ------- ISINYA SAMA DGN YANG DI BAB II 1. Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten 2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan wilayah Kabupaten 3. Komponen-komponen Utama RTRW 2002-2010 II.2. SKENARIO TATA RUANG 1. Pindah ke Lokasi Aman 2. Tetapa di Lokasi Semula STRATEGI PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH BESAR 1. Konsep Tata Ruang 2. Kegiatan yang Sifatnya Sederhana 3. Kegiatan yang sifatnya Intensif 4. Pelaksanaan Pembangunan 5. Peranan Fasilitas Sosial 6. Jumlah dan Bentuk Fasilitas 7. Pembangunan Iinfrastruktur ARAHAN 1. Zona 2. Zona 3. Zona 4. Zona PEMANFAATAN RUANG -------- ISINYA SAMA DGN YG BAB II Pantai Perikanan/Tambak Taman Kota Pemukiman

II.3.

II.4.

5. 6. 7. 8. 9. II.5.

Zona Zona Zona Zona Zona

Landmark dan Pusat Pemerintahan Kota Pemukiman Baru Pusat Bisnis dan Pemerintahan Pendidikan Tinggi Pertanian

STRUKTUR RUANG 1. Penajaman Aspek Geology 2. Penelitian Bangunanyang masih Berdiri tetapi sudah rusak 3. Site Plan atau Urban Design Kawasan Pusat Kota 4. Site Plan Penataan Ruang Daerah Buffer Zone 5. Konsilidasai Pertanahan di daerah yang paling Rusak akibat Gempa 6. Penyiapan Zona Regulasi 7. Penyiapan Building Code 8. Mendorong Proses Legillasi di DPRD BAGIAN III WILAYAH BENCANA GEMPA THUNAMI DAN BADAI III.1 PENGARUH TSUNAMI 1. Jangakauan Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami 2. Zonasi Kerusak,an 3. Arah Terjangan Gelombang III.2 III.3 III.4 ASPEK FISIK KABUPATEN ACEH BESAR KARAKTERISTIK KABUPATEN ACEH BESAR ZONASI FISIK

BAGIAN IV KETENTUAN UMUM DAN PENGERTIAN UMUM

BAGIAN V FUNGSI BANGUNAN GEDUNG

BAB II. KONSEP RENCANA TATA RUANGAN DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I.1. KEBIJAKAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG KABUPATEN/KOTA 1. Sistem Kota/kabupaten 2. Struktur Kota/kabupaten 3. Kawasan Non Budidaya 4. Kawasan Budidaya I.2. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG/KABUPATEN/KOTA 1. Mewujudkan penghidupan yang aman dan lebih baik; 2. Memberi pilihan kepada warga untuk bermukim; 3. Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana; 4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama; 5. Pendekatan penataan ruang partisipatif; 6. Memitigasi bencana; 7. Tata ruang memadukan pendekatan dari atas dan bawah; 8. Mengembalikan peran pemerintah daerah; 9. Perlindungan hak perdata warga; 10.Mempercepat proses administrasi pertanahan; 11.Pengaturan mengenai kompensasi; 12.Revitalisasi kegiatan ekonomi; 13.Mememulihkan daya dukun lingkungan; 14.Memulihkan sistem kelembagaan SDA dan LH; 15. Rehabilitasi strultur dan pola tata ruang; dan 16.Membangun kembali kota. ZONASI FISIK ACEH BESAR 1. Kawasan Lindung (Conservation, Zona V), 2. Kawasan Pengembangan Terbatas (Restricted Development Area, meliputi zona I, II, dan III), Kawasan Pengembangan (Promoted Development Area, zona IV). ARAHAN PEMANFAATAN RUANG ACEH BESAR 1. Zona pantai, 2. Zona perikanan/tambak, 3. Zona taman kota, 4. Zona permukiman, permukiman terbatas dan permukiman perkotaan, 5. Zona landmark dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar, 6. Zona permukiman baru bagi penduduk yang ingin pindah,

I.3

I.4.

Zona pendidikan tinggi. Pengelolaan Kawasan Hijau & Kawasan Pemukiman 3. Energi.6. Zona pusat bisnis dan pemerintahan provinsi dan fasilitas perkotaan berskala kota dan regional. Pemukiman 2. Arah Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota 2. Zona pertanian. I.5. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota KOMPONEN UTAMA RTRW TH 2002-2010 1. Pengairan dan Prasarana Pengelolan Lingkungan I. Sistem Prasarana & Transportsai. REVISI RTRW 2002-2010 (Qanun No. dan 9. . 8.7. Telekomunikasi.3/2003) 1.

1 ARSITEK BANGUNAN 11.2. Fungsi Bangunan 33. Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Moderen 88. Tata Letak Bangunan BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang untuk satu Bangunan 33. PENGERTIAN 11. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 11. Pengertian Umum 22. Tampilan Bangunan Terhadap Keserasian Lingkungan 77. Klasifikasi Bangunan II. Garis Sepadan Bangunan 5.2. Peruntukan Fungsi dan Klasifasi Bangunan 33.1. Tampilan Arsitektur Bangunan bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat 44. Tujuan BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Penentuan Letak Suatu daerah 22. PERUNTUKAN. Tata Urutan Ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang . Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan dan Terhadap Bangunan di Sekitarnya 55. Teknis I. Luas Bangunan 4. 1. Peruntukan Lokasi 22. Tampilan pada Rekonstruksi Bangunan dan Terhadapa Bangunan di Sekitarnya 66. INTENSITAS BANGUNAN 11.BAB III PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BULDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. MAKSUD DAN TUJUAN 11. Umum 22. Maksud 22.

4 SIRKULASI. Analisa Struktur 42. PERTANDAAN.3 STRUKTUR ATAS 11. Persyaratan Perencanaan Struktur IV.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 11.2 TATA LETAK BANGUNAN 11. Perletakan Saran Keamanan dan Lingkungan 104. Perletakan Pencahayaan Buatan III. Fungsi Ruang Terbuka Hijau 52. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 22. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 55. Standar Teknis IV. Bentuk Tatanan Bangunan 22. Kontruksi Kayu 44.2 PEMBEBANAN 31. Jenis Ruang Terbuka Hijau 63. Kontruksi Beton 22. Pemisahan Jalan 93. Fasiltas Parkir 82. Orientasi Tatanan Pemukiman 33. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 44. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi . Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya 1212. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 71. Tata Letak & Jarak Ruang pada Bangunan Utama 1111.99. Kontruksi Baja 33. Luas Maksimum dan Minimum III. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan 1414. Ketentuan UPL dan UKL 33. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Tata Letak Ruang dan Jarak Ruang pada Bangunan yang bercirikan lokal 1010.3 RUANG TERBUKA HIJAU 41.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 11. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya III. Persyaratan Umum 22. Pengaturan Tata Letak Ruang dalam Satu Bangunan 1313. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipe III. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan 1515.

Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 44. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Tangga Luar Bangunan 99.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 11. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Kebakaran 66. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 66. Persyaratan Keamanan 22. Pesyaratan Kinerja VI. Pengujian dan Pemeliharaan Deteksi dan Alarm BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Keselamatan Struktur 22. Kompartemensasi dan Pemisahan 55. Pemeriksaaan. Sistem Pemadam Kebakaran 22.5 KEANDALAN STRUKTUR 11. Fungsi 22. Pemeriksaan dan Perawatan Bangunan IV.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 11. Kriteria Demolisi 22.4 STRUKTUR BAWAH 11. Keruntuhan Struktur 33. Prosedur dan Metoda Demolisi BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Pengendalian Asap Kebakaran 44. Proteksi Bukaan V. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 88.6 DEMOLISI STUKTUR 11.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 11. Pusat Pengendali Kebakaran 55. Ketentuan Teknis Pondasi 33. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran . Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 33. Perencanaan Umum 22. Kebutuhan Jalan Keluar 33. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 55. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 77.IV. Metode Perbaikan Tanah IV. Tipe Konstruksi Tahan Api 33.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 11. Ketahanan Api dan Stabilitas 22. Pemeriksaan.

Ambang Pintu 1616.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 44. Pengujian dan Pemeliharaan VII. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 33. Pegangan Rambat pada Tangga 1818. Kapasitas Lif 22. Lif Kebakaran 33. Penerapan 22. Pemeriksaan.1010. Bordes 1515. TANDA ARAH KELUAR.3 KONTRUKSI JALAN KELUAR 11. Atap sebagai Ruang Terbuka 1313.1 LIF 11. Saf Lif 77.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Instalasi Listrik 99. 1414. Sangkar Lif 66. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 99. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 88. Pengoperasian Gerendel Pintu 2121. 1212. Lebar Tangga 1010. Rambu pada Pintu VI. Ramp Pejalan Kaki 1111. SISTEM PERINGATAN BAHAYA . Injakan dan Tanjakan Tangga 1414. Pintu 1919. Lobby Bebas Asap 77. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 88. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar Pintu Keluar Horisontal Tangga. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 2222. Lif untuk Rumah Sakit 55. 1313. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 44. Pintu Ayun 2020. Balustrade 1717. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 1212. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 55. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 66. 1111. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift Jumlah Orang Yang Ditampung VI.

Instalansi Tata Suara 44. Jenis Gas 22.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 11. Pemeriksaan.2 INSTALANSI PENANGKAL PETIR 11.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 11. MATV BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Perencanaan Sistem Plumbing 22. Instalansi Penangkal Petir 33. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 22. Transformator Distribusi 66. 1 SISTEM PLAMBING 11. Perencanaan Instalansi Listrik 22. Sistem Penampungan Air Bersih 44. Sistem Penyediaan Air Bersih 33. Pemeriksaan dan Pengujian X.VIII. Sistem Plambing Air Bersih 55.1 1SISTEM LAMPU DARURAT VIII. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX.1 INSTALANSI LISTRIK 11. Pemerikasaan dan Pengujian 77. Pengujian 44.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK.2 TANDA ARAH KELUAR VIII. Perencanaan Penangkal Petir 22. PENANGKAL PETIR. Sumber Daya Listrik 55. Instalansi Telepon 33. Jenis Gas 22. Beban Listrik 44. Pemeliharaan IX. Penggunaan Pompa . Pemeriksaan dan Pengujian BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Jaringan Distribusi Gas Medik 33.2 INSTALANSI GAS MEDIK 11. Pemeliharaan IX. Jaringan Distribusi Listrik 33. Jaringan Distribusi Gas Kota 33.

Sistem Plambing Air Limbah 33. MCK Umum 163. Pembunagan dan Pengelolaan Air Limbah 44.2 PENGKONDISIAN UDARA 11. Sumber Air Limbah 22. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Ventilasi Buatan XII. Sistem Distribusi Air Bersih 87. Timbulan Sampah 112. Pengujian dan Pemeliharaan XI. Sistem Pengumpulan XI. Konservaasi Energi 33. Pemeriksaan. Potensi Reduksi 134.3 PENCAHAYAAN ALAMI XIII. 4 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 101. Sistem Penyediaan Air Panas 76. 2 SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 11.2 PENCAHAYAAN BUATAN XIII.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN XIII. KEBISINGAN DAN GETARAN . 5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 141. Pemeriksaan. Hidran Umum 152. 3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 61.1 VENTILASI 11. Perhitungan Beban BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Pengujian dan Pemeliharaan XI.66. Sistem Pewadahan 123. Kelengkapan Dalam Bangunan 72. Pemeriksaan. Kebutuhan Ventilasi 22. Ventilasi Alami 33. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal 17 18 BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Kelengkapan Diisekitar Bangunan Gedung 83.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KENYAMANAN. Sistem Penyaluran Air Limbah 55. Kebutuhan Pengkondisian Udara 22. Persyaratan Saluran 94.

4 XIV.3 XIV.1 XIV. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG X. PEMANFAATAN VII. PENGERTIAN II. PERAN SERTA MASYARAKAT XI.5 KENYAMANAN TERMAL SIRKULASI UDARA PANDANGAN KEBISINGAN GETARAN BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG I. PEMBONGKARAN IX. PERIJINAN BAB V PENUTUP LAMPIRAN . PENGAWASAN VI.2 XIV.XIV. PERENCANAAN IV. PELESTARIAN VIII. SANKSI XIII. PENYELENGGARAAN III. PELAKSANAAN V. PEMBINAAN XII.

RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH III. DAN BADAI IV. KETENTUAN UMUM PENGERTIAN UMUM V. WILAYAH BENCANA BAHAYA GEMPA. FUNGSI BANGUNAN GEDUNG . TSUNAMI.BAB I: TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR I. TIPOLOGI KABUPATEN ACEH BESAR II.

BAB II: KONSEP RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR BAGIAN I. KETENTUAN UMUM / PENGERTIAN UMUM 2 .

Pengawas/Pemilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. KETENTUAN UMUM I. bersosial-budaya. Daerah adalah Kabupaten Aceh Besar b. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Aceh Besar c. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotorankotoran dapur. b. 3 . pembinaan. 2. tidak termasuk lorong tangga. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap.1 PENGERTIAN 1. iii. lorong ramp. d. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. c. Dinas Bangunan adalah Dinas Teknis di Daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. kamar mandi. d. ii. termasuk struktur atap kaca. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal.BAB III: PERSYARATAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG (BUILDING CODE) KABUPATEN ACEH BESAR I. dan kegiatan lainnya. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. atau ruang dalam shaft. di atas. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingkat/lantai. di mana: i. berusaha. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Teknis a. Umum Dalam Gedung Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan ini yang dimaksud dengan: a.

dsb. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. f. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan.e. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. jaringan tegangan tinggi listrik. Rencana saluran. o. j. r. t. rekreasi. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. mengadakan pertemuan. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil g. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. perbelanjaan. Bata tepi sungai/pantai. pendidikan. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. s. q. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Batas lahan yang dikuasai. iii. v. olah raga. Antar massa bangunan lainnya. h. l. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. atau iv. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. k. u. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. ii. 4 . Daerah Hijau Bangunan. m. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. seperti keagamaan. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. i. p. n. jaringan pipa gas dan sebagainya. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan.

Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaanpekerjaan yang dimaksud pada butir 2. ee. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. untuk tempat kegiatan manusia. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. hh. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan cc. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. memperbaiki. memperluas. Mendirikan Bangunan i. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. jj. gg. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan 5 . Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. ruang ganti. z. ff.i. bb. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain.prasarana saluran umum perkotaan. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. x. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. peralatan. aa. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. y. selain kamar untuk MCK dan dapur. dd. w. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. ii. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). atau sejenisnya. ii. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. program tata bangunan dan lingkungan. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Mendirikan.w. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada.

2. dan lingkungan. serta persyaratan keandalan bangunan. ll. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan insulasi.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Tujuan Tujuan Pedoman Persyaratan Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. yaitu Persyaratan Tata Bangunan dan lingkungan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. mm. Maksud Pedoman Persyaratan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Aceh Besar. arsitektur dan pengendalian dampak lingkungan.1 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan a. I.kk. ii. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. menjamin keselamatan pengguna. Arsitektur dan Lingkungan: i. 2. dan budaya daerah. ii. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. b. Tinghat Ketahanan Api (TKA). iii. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. sehingga seimbang. Peruntukan dan Intensitas: i.2 dalam ukuran waktu satuan menit. 6 . menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.1. integritas. ketentuan wujud bangunan. serasi dan selaras dengan lingkungannya. masyarakat. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah.

aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. c. Ketahanan terhadap Kebakaran dan Petir: i. 2. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Strukfur Bangunan: i. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak.iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. ii. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran.2 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung a. dan nyaman di dalam bangunan gedung. ii. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. 7 . menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Tanda arah Keluar. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat iii. apabila terjadi keadaan darurat. aman. iv. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. b. e. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. d. Pencahayean Darurat. Transportasl dalam Gedung: i. ii. iii. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api.

Instalasi Listrik. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. h. Pencahayaan: i. ii. Instalasi Gas: i. i. ii. Kebisingan dan Getaran: i. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. ii. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. ii. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. iii. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. ii. g. menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. j. iii. ii. menjam di dalam in tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. 8 . menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. Sanitasi dalam Bangunan: i. k. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik.f. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir.

Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Ujong Mesjid T. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Zonafikasi Fisik Arahan Bangunan gedung yang akan didirikan di Kecamatan dan dalam wilayah Kecamatan harus diselenggarakan sesuai dengan arahan peruntukan yang diatur dalam pembagian zona sebagai berikut: a. Kawasan Pengembangan (promoted development area) c. Peruntukan Lokasi 1. Zona III (Kawasan Kepadatan Sedang) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi.1 a Pembagian Zona Zona I (Kawasan Kepadatan Rendah) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi. Melingge. Zona II (Kawasan Kepadatan Tinggi) Tempat-tempat dengan ketinggian rendah > 5 m dpl pasang tertinggi.2. jarak dari pantai ke daratan > 4000 m. Lamteuba Droi. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Bak Seutui. ii. Tungkop dan Lam Keuneue. Kecamatan Darussalam : Limpok. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Pulo Meurah. Ulee Paya. Alue Raya. iii. Umong Seuribee. Meunasah Tunong. Rinon. Lam Apeng dan Ateuk. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. Lampante. Mangeu. Permukiman dengan kepadatan sedang 1. Lamkuk. Barabung. vi. Lampaya dan Lamkruet. Permukiman dengan kepadatan tinggi. Kecamatan Seulimum : Ayon. jarak dari pantai ke daratan 200 – 4000 m. Lamboro Kueh. b. Batee Lhee. Seurapong. Gugob. Abee. .II. Lamcarak. iv. Lam Ateuk.1 PERUNTUKAN FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Aneuk Paya. 9 v. Blang Tingkeum. Kawasan Aquatic/Pesisir Terbangun Kepadatan Rendah (ZONA I): i. Bayu. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Lambada. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria.

dan Bukit Meusara. Barabung. Mangeu. iii. Kecamatan Seulimum : Ayon. Aneuk Paya. Lamteuba Droi. Lambada. dan Bukit Meusara. vi.vii. Lam Apeng dan Ateuk. Lamgapang. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. viii. Ulee Paya. Meunasah Tunong. Abee. Janto. Lamcarak. c. Seurapong. Lampaya dan Lamkruet. Miruk Lam Reudeup dan Klieng Meuria. ii. Lamkuk. Jantho Baru Desa. meliputi Desa Lampineung. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Lamboro Kueh. meliputi Desa Lampaya. Kecamatan Krueng Barona Jaya : Meunasah Baktrieng. Kecamatan Lhoknga. 10 . Seubun Keutapang. Kueh. Kecamatan Lhong : Lamsujen. Kecamatan Batussalam. Weu ix. Teungoh Geunteut dan Tunong Kruengkala. Lamgaboh. viii. Kota Jantho : Janto Makmur. b. Lambaro Seubun. Lam Ateuk. Meunasah Mesjid Lamlhom dan Meunasah Baro. Kota Jantho : Janto Makmur. Batee Lhee. Alue Raya. Kawasan Terbangun Kepadatan Sedang (ZONA III): i. Meunasah Karieng. Lamgapang. Kecamatan Batussalam : Klieng Cot Aron. Kecamatan Darussalam : Limpok. Rumpet dan Lamreng. Melingge. Seubun Ayon. Rinon. Umong Seuribee. Nusa. Kecamatan Lhoknga : Naga Umbang. iv. Tanjong/Lamcok. Kecamatan Pulo Aceh : Blang Situngkoh. ii. Blang Tingkeum. Tungkop dan Lam Keuneue. Gugob. Janto. Lam Asan. Weu Raya. Ujong Mesjid T. Kawasan Terbangun Kepadatan Tinggi (ZONA II): i. Kecamatan Darul Imarah : Lampeneurut. Pulo Meurah. Lampante. Weu ix. Bayu. Bak Seutui. v. Labui dan Lamujong. vii. Jantho Baru Desa. Rumpet dan Lamreng.

meliputi Desa Pudang Meunasah Cot. Seulimeum. Lam Rukam dan Gurah. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. Kecamatan Lhong.iii. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. meliputi Desa Lamboro angan dan Lamduroe. 2. Keunaloi. Lampisang. dan sanitasi yang memadai. Gaseue. Data. Keuneu Ue. Rumah tinggal susun iv. Buga. dan sejenisnya. Lampisang Dayah. 11 . keamanan. b. Jeumpa. Monmata. meliputi Desa Alue Gintong. c. d. Alue Rindang dan Meunasah Baro. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. fungsi sosial dan budaya. Bangunan perdagangan: pasar. dan fungsi khusus. v. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. fungsi usaha. Pinto Khop. Capeung Dayah. Geunteut dan Baroh Kruengkala. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. mal. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Jawie. Bak Aghu. Lamjruen. keselamatan. Baroh. Lamgeuriheu. perkantoran niaga. Lamjuhang. Rabo. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. Keutapang. vii. pusat perbelanjaan. vi. Rumah tinggal asrama f. kesehatan. meliputi Desa Ie Seu Um. Pasar Seulimeum. Rumah tinggal deret iii. capeung Baroh. Kecamatan Darussalam. umah tinggal vila v. Gampong Raya. lAmpisang Teugoh. keamanan. dan sejenisnya. Fungsi Bangunan a. e. pertokoan. Iboih Tunong. meliputi Desa Beuradeun. Seuneobok. ii. Kayee Adang. iv. kenyamanan. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Kecamatan Peukan Bada. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Iboih TanTanjong. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. Kecamatan Masjid Raya. Rumah tinggal tunggal ii. Lampisang Tunong. Lhieb. Kecamatan Seulimum.

vi. Dalam suatu persil. kelenteng. & C. bangunan reaktor. sosial dan budaya. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. j. Bangunan peribadatan: mesjid. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. atau (2) atu atau lebih bangunan hunian gandeng. dan sejenisnya. gedung kesenian. halte bus. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. rumah bersalin.Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. atau 12 . pura. hostel. yang masingmasing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. unit town house . pelaksanaan. iv. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. dan sejenisnya. ii. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. Bangunan Penyimpanan: gudang. dan sejenisnya. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). iii. dan vihara. gedung tempat parkir. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. Bangunan dengan fungsi umum. Setiap bangunan gedung. a. rumah taman. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: i. dan sejenisnya. rumah sakit klas A. motel. termasuk rumah deret. v. terminal udara. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. sekolah dasar. 3. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. terminal bus. sekolah lanjutan. Bangunan kebudayaan : museum. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. sekolah tinggi/universitas. Bangunan Industri : industri kecil. dan sejenisnya h. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. pelabuhan laut. bioskop. industri sedang. poliklinik. dan sejenisnya. gereja. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. villa. keveling. g. Bangunan Terminal: stasiun kereta. B. penginapan. iv. iii. i. industri besar/berat.

diluar bangunan klas 6. perubahan. atau ii. 8 atau 9 dan erupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. 7. yaitu: 13 . rumah tamu. kafe. atau v. 7. d. Klas 4: Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. atau iii. i. Klas 3:Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. hostel. g. tempat cuci umum. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. 8. bar. bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. atau bengkel. c. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah.b. bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. ruang penjualan. pasar. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. Klas 1b : rumah asrama/kost. 6. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel.. perakitan. restoran. gudang. ruang makan. ruang pamer. perbaikan. h. cacat. finishing. tempat potong rambut /salon. atau usaha komersial. termasuk: i. atau 9. termasuk: ii. termasuk: i. Klas 9: Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. pengepakan. losmen. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. atau ii. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. Klas 8: Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. panti untuk orang berumur. atau ii. f. atau iv. atau anak-anak. rumah asrama. atau iv. tempat parkir umum. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau iii. ruang makan malam. e. pengurusan administrasi. i. rumah tamu.

Penentuan letak suatu daerah didasarkan tiga pertimbangan. tonggak. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. atau sejenisnya. 1b. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah.00 sampai dengan kurang dari 5 meter LWS. Elevasi terbagi dengan dalam tiga kelompok yaitu elevasi 0.Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. hall. dan: i. atau sejenisnya. bangunan budaya atau sejenis. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. J. ii. 9b. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. temmasuk bengkel kerja. iii. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. Elevasi (e) muka tanah terhadap + 0. kolam renang. a. ii. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. Klas-klas 1a. dan b' laboratorium. yaitu . k. termasuk bagianbagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. m. 9a. b. i.00 meter Low Water Sea (LWS) atau surut terendah. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II . klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. Ruang-ruang pengolah.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. bangunan peribadatan. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Jarak (j) dari garis pantai 14 . ii. antena. elevasi 5 sampai dengan 15 meter LWS dan lebih dari 15 meter LWS. ruang mesin lift. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. carport. Klas 10: Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. ruang mesin. Klas 9b: bangunan pertemuan.

dan kelapa). Zona 1 (1) Permukiman (a) Permukiman nelayan yang semula telah ada di zone ini tidak boleh diperluas. 0. terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. cemara. (b) Kepadatan bangunan sangat rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). Zona 2 Permukiman (a) Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal).81 m2/detik. namun boleh ditingkatkan kualitasnya. dsb. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan tinggi atau 51 – 75 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Lahan untuk fasilitas umum. Fungsi Lahan i.3g. ii. c. (2) (1) 15 . Non Rumah Tinggal (a) Zone ini berfungsi untuk tambak. 2. pusat informasi.3g. Misalnya gardu listrik. telekomunikasi.15g. hutan bakau. (c) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan.5 dengan acceleration maksimum masing-masing 0.Berdasarkan jarak yang diukur dari garis pantai.4. penelitian. dan air bersih. dengan jumlah yang terbatas. (b) Kepadatan permukiman sedang didukung bangunan tahan gempa. Peruntukan. BTS. sarana pemerintahan dan perdagangan skala kecamatan dan kota. rekreasi pantai. Nilai g sebesar 9.dan kawasan lindung pantai (dengan penanaman bakau. dan pengembangan pengetahuan masyarakat tentang Tsunami. Untuk rumah tinggal zone gempa yang digunakan adalah Zone 6 dengan acceleration maksimum 0.25g dan Zone 6 dengan acceleration maksimum 0.20 g. (b) Sebagai zona untuk menempatan Tsunami Park Memorial Zone (TPMZ) yang berfungsi sebagai pusat wisata. dapat dibagi atas tiga zone yaitu Zone I kurang dari 5 km. (c) Untuk menempatkan permukiman nelayan dengan jumlah yang terbatas atau dibawah 31 orang/ha. 0. untuk bangunan non rumah : zone gempa dapat terbagi dalam dua bagian yaitu Zone 3. Zone II antara 5-20 km dan Zone III lebih dari 20 km. Zone gempa yang mungkin terjadi Berdasarkan zone gempa. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan a.

BTS. fungsi-fungsi semula didorong untuk dikembangkan. serta kelengkapan dan kehandalan infrastruktur. pengendalian harga tanah. Zone 3 (1) Permukiman (a) Permukiman masih dimungkinkan diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. (d) Untuk menempatkan permukiman dengan kepadatan rendah atau 31 – 50 orang/ha (2) Non Rumah Tinggal (a) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). (d) Untuk menempatkan fasilitas untuk pendidikan dasar. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. dan Perguruan Tinggi. (b) Kepadatan bangunan rendah didukung bangunan tahan gempa/ bangunan tradisional (panggung). dengan insentif keringanan pajak. rental office. (e) Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. iii. dan air bersih. Untuk menempatkan fasilitas komersial dengan jumlah yang sangat terbatas. seperti pasar untuk tingkat 16 .(b) Bangunan tahan gempa. seperti pasar untuk tingkat kota yang menjual sayur.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. kantor pemerintahan. (d) Untuk menempatkan industri-industri yang terkait dengan perikanan. dan kebutuhan rumah tangga lainnya dan pertokoan. telekomunikasi. dengan jumlah yang terbatas. (b) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). SLTP. Misalnya gardu listrik. menengah. (c) Perencanaan sistem drainase yang handal (kanal). SLTA. dsb. seperti SD. misalnya kantor-kantor dinas. (c) Untuk menempatkan perkantoran dan pelayanan umum dengan skala pelayanan tingkat perkotaan. (e) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan.terutama pada daerah yang mempunyai elevasi < 5 meter LWS. ikan. diklat. dsb. (f) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. dan tinggi skala pelayanan di tingkat perkotaan. (c) Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai radius < 20 Km dari garis pantai.

stasiun bahan bakar nelayan (Krueng Raya). navigasi. telekomunikasi. pelelangan ikan. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Digunakan sebagai bangunan untuk sarana penelitian kelautan dan perikanan. Zone 1 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang semula telah ada dengan kepadatan yang sangat rendah (dibawah 31 jiwa/ha) pada kawasan budidaya ini tidak boleh dikembangkan. Zone 1 17 . (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Kawasan kepadatan sedang dipergunakan untuk keamanan dan mitigasi. ii. dan air bersih. diperluas atau ditambah baru. Permukiman yang telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. Misalnya gardu listrik. seperti tempat pendaratan ikan. ii. Untuk permukiman yang dari semula telah ada akan direlokasi ke kawasan budidaya. Zone 2 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada pada kawasan lindung di kawasan kepadatan tinggi tidak boleh dikembangkan. c. dsb. atau ditambah baru hingga kawasan lindung (76-100 i. permukiman khusus hanya untuk nelayan tidak boleh ada bangunan rumah tinggal. (g) Untuk menempatkan berbagai utilitas perkotaan. BTS. Bangunan Pada Kawasan Lindung (1) Perumahan dan Permukiman Pada kawasan ini tidak sesuai untuk lahan permukiman.gampong yang menjual sayur. dengan jumlah yang terbatas. cool storage. b. Zone 2 dan Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Di kawasan lindung tidak diperbolehkan ada bangunan rumah tinggal. pertambakan dan perikanan. diperluas. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. seperti drainase pada setiap pinggir jalan. penempatan fasilitas untuk pelabuhan dan pembangkit energi. keamanan. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Bangunan non rumah tinggal yang berada di zone ini adalah untuk keperluan penelitian. konservasi. konservasi. dan kebutuhan rumah tangga lainnya. dan bangunan-bangunan untuk pengawasan pantai. (f) Untuk menempatkan fasilitas pelayanan kota lainnya seperti yang berkaitan dengan kelistrikan. ikan. Bangunan pada Kawasan Budidaya i.

hostel. (2) Klas 9. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Bangunan Hunian Biasa. Zone 3 (1) Perumahan dan Permukiman Permukiman yang ada tidak boleh dikembangkan/ diperluas/ ditambah baru. untuk keamanan. (2) Bangunan Non Rumah Tinggal Untuk bangunan komersial skala rumah tangga. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. Permukiman yang ada hanya boleh ditingkatkan kualitasnya. sosial dan pemerintahan skala kecamatan dan kota. ibadah. kesehatan. pendidikan. hanya boleh ditingkatkan kualitasnya dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan.jiwa/ha). pemeliharaan tambak. bangunan pompa. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. termasuk bengkel kerja. rumah tamu. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar Zone 1 Klasifikasi bangunan yang diperbolehkan berada pada zone ini 18 . (2) Bangunan non rumah tinggal Bangunan untuk tujuan fasilitas pendidikan. villa. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. iii. bangunan air. d. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. perdagangan. adalah (1) Klas 1. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. Bangunan Umum adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. terbatas untuk kebutuhan di tingkat desa. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. sosial dan budaya. termasuk rumah deret. unit town house. gardu pembangkit energi. Klasifikasi Bangunan i. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. rumah taman.

di luar bangunan klas 6. rumah taman. villa. 8. atau sejenisnya.atau sekolah lanjutan. kolam renang. termasuk : (a) rumah asrama. atau usaha komersial. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa : (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. (4) Klas 4. atau (e) bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawankaryawannya. losmen. atau (d) panti untuk orang berumur. bangunan budaya atau sejenis. ii. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/kost. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. tonggak. antena. (5) Klas 5. atau (c) bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. Bangunan kantor. atau anak-anak. atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. pengurusan administrasi. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut. Zone 2 (1) Klas 1. Bangunan Hunian Campuran. hostel. adalah tempat tinggal yang berada di dalam suatu bangunan klas 5. (3) Klas 10. Bangunan hunian di luar bangunan klas 1 atau 2. carport. hall. (b) Klas l0b : struktur yang berupa pagar. atau 9. 7. 7. bangunan peribadatan. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. (3) Klas 3. (2) Klas 2. 19 . rumah tamu. Bangunan Hunian Biasa. termasuk rumah deret. cacat. atau sejenisnya. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. rumah tamu. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. atau (b) bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. 6. unit town house.

iii. Bangunan Perdagangan. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. tempat cuci umum. atau sejenisnya. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. termasuk: ruang makan. kolam renang. (10) Klas 10. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. hall. finishing. atau (c) tempat potong rambut/ salon. Bangunan Hunian Biasa. bangunan peribadatan. perakitan. bangunan budaya atau sejenis. perbaikan. ruang pamer. carport. Bangunan Umum. atau bengkel. (7) Klas 7. tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. Zone 3 (1) Klas 1. atau (d) pasar. tonggak. atau (b) ruang makan malam. adalah bangunan toko (a) (a) atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. termasuk bengkel kerja. kafe. adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau sejenisnya. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan 20 . atau (ii) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. antena. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. perubahan. pengepakan. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. (8) Klas 8. Bangunan Penyimpanan/ Gudang adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. bar. termasuk : tempat parkir umum. (b) Klas 9b: Bangunan pertemuan. yaitu : (a) Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. (9) Klas 9. adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan : (a) Klas la : bangunan hunian tunggal yang berupa (i) satu rumah tunggal termasuk rumah panggung. atau (b) gudang. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. ruang penjualan.(6) Klas 6. restoran. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan : garasi pribadi.

adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. yaitu : (a) Klas 9a : bangunan perawatan kesehatan. pengepakan. Tetapi tidak termasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. bangunan peribadatan. Luas hunian untuk setiap orang 21 . toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau (b) ruang makan malam. Bangunan Perdagangan. (5) Klas 9. (b) Klas 9b : Bangunan pertemuan. termasuk rumah deret. perbaikan. adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. atau (c) tempat potong rambut/salon. ruang pamer. ruang penjualan. atau sejenisnya. atau (b) Klas 1b : rumah asrama/ kost. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Bangunan Umum. Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. antena. adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian : (a) Klas l0a : bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. Bangunan Laboratorium/ Industri/ Pabrik. rumah tamu.suatu dinding tahan api. (2) Klas 2. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. (4) Klas 8. termasuk bengkel kerja. (6) Klas 10. restoran. villa. hostel. perubahan. unit town house. (3) Klas 6. atau bengkel. rumah taman. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. kolam renang. hall. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. atau (d) pasar. 3. (b) Klas l0b : struktur yang berupa-pagar. bangunan budaya atau sejenis. bar. termasuk: (a) ruang makan. Luas Bangunan a. kafe. carport. adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. perakitan. tempat cuci umum. tonggak. atau sejenisnya. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. finishing.

daya dukung lahan/ lingkungan. Kebutuhan luas kapling minimum untuk rumah yang dihuni oleh 3-4 orang adalah 90 m2. ii. duduk. Bangunan Non Rumah Tinggal Luas kavling minimum bangunan non-rumah tinggal menyesuaikan standar kebutuhan masing-masing klas bangunan. iii. suhu udara dan kelembaban dalam ruangan serta pertimbangan pada kondisi tertentu dimungkinkan memenuhi standar ruang internasional (12 m2 per orang). (2) keamanan. dengan lebar kavling miniumum 6 m. kakus. Kebutuhan ruang per orang minimal adalah 9 m2. Zone 1 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah. meliputi aktivitas tidur. ii. Luas lantai bawah bangunan terhadap luas kavling lahan (KDB) i. cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. mandi. penghawaan. (3) kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang meliputi aspek pencahayaan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. makan. c. yang disesuaikan dengan 22 . serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling bangunan (KLB) i. Kebutuhan luas kapling didasarkan atas: (1) kebutuhan luas hunian.Luas hunian untuk setiap orang di setiap zone adalah sama. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Permukiman Luas lahan per unit bangunan untuk setiap zone adalah sama. kebijaksanaan intensitas pembangunan. daya dukung lahan/ lingkungan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. d. Kebutuhan ruang perorang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Koefisien ini disesuaikan dengan perkembangan kota. Zone 2 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu 60%-80%. Luas Lahan per Unit Bangunan i. Zone 1 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah sangat rendah yaitu maksimum 40%. kerja. b. Zone 3 Koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kavling/ blok peruntukan adalah rendah yaitu maksimum 60%.

Luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman terhadap luas lahan satu cluster permukiman. Ketinggian maksimum bangunan Ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan adalah 12 meter. perkembangan kota. kebijaksanaan intensitas pembangunan. iv. daya dukung lahan/ lingkungan. ii. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 3 lantai. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai pada tingkat kepadatan tinggi. daya dukung lahan/ lingkungan. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. i. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. iii. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah sangat rendah. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah tinggi f. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Ii. iii. sedangkan untuk bangunan non rumah tinggal menyesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan. Bangunan-bangunan yang diperuntukkan sebagai escape facilities minimal 2 lantai e. Jumlah lantai bangunan rumah tinggal tertinggi adalah 1 lantai hingga 2 lantai. ketahanan terhadap bahaya gempa dan aman terhadap jalur penerbangan sesuai ketentuan yang berlaku ii. perkembangan kota.persyaratan building envelop lahan. Zone 2. Zone 2 Koefisien lantai bangunan untuk zone ini adalah sedang yang disesuaikan dengan persyaratan selubung bangunan. Zone 1. Zone 3. daya dukung lahan/ lingkungan. Jumlah lantai bangunan > 4 lantai kecuali untuk ruang < 5 Km jumlah lantai maksimal 4 lantai pada tingkat kepadatan sedang. Ketinggian maksimum bangunan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: i. Jumlah lantai baik rumah tinggal mau pun non rumah tinggal maksimal 3 lantai. perkembangan kota. Zone 4. Kebutuhan luas seluruh bangunan dalam satu cluster lingkungan permukiman adalah rendah. Terhadap Keselamatan 23 . Terhadap Keamanan Ketinggian bangunan harus disesuaikan dengan sistem struktur dan bahan konstruksi yang digunakan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Zone 3 Luas seluruh lantai bangunan terhadap luas kavling lahan (KLB) untuk zone ini adalah rendah yang disesuaikan dengan persyaratan building envelop lahan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan.

Garis sempadan bangunan pada klas jalan lingkungan perumahan kavling besar. dengan kota lhoong. iii. persyaratan kemiringan atap untuk bahan penutup atap dan model atap (flat/ perisai/ pelana/ dsb). kecuali bangunan yang dindingnya terbuka termasuk lantai panggung. Rumah tinggal dan non rumah tinggal: i. kota Krueng Raya dengan kota Seulimuem dan Kota Krueng Raya dengan kota Sigli ( Ibukota kabupaten Sigli ). kavling sedang dan kavling kecil. Jalan-jalan kampung dan lorong yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija. ruangan mendapat cukup cahaya langsung dan merata. meliputi jalan yang mnghubungkan kota-kota dipulau Sumatra antar provinsi dan dikabupaten Aceh Besar melalui perbatasan kabupaten pidie dan kabupaten Aceh Besar serta pelabuhan Malahayati ke kot a Aceh Besar. Garis Sempadan Bangunan a. Jalan Lokal/Lingkungan. yaitu minimum sebesar 10 meter dari batas Damija. Terhadap Kesehatan Ketinggian minimum bangunan terkait dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit minimum = 2. kota Jantho dengan Lamno. Jalan Arteri. Kavling besar ( > 450 m) U U (1). iv. struktur atap. yaitu minimum 8 meter dari batas Damija meliputi jalan yang menghubungkan kota seulimeum ke kota kemala (kabupaten Sigli) melalui kota Jantho. yaitu minimum sebesar 4 meter dari batas Damija meliputi jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan antar desa. ii. kecuali jalan setapak dan gang kebakaran b. Untuk bangunan peruntukan dan konstruksi khusus dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan serta disesuaikan dengan jarak terhadap as jalan yang berdekatan dan selubung bangunan.80 m agar terjadi sirkulasi udara yang cukup dan kontinyu. Garis Sepadan Bangunan Berdasarkan Ukuran Daerah Milik Jalan (Damija) i. Sempadan muka minimum 8 m 24 . 4. Jalan Kolektor. iv. iii.Didasarkan atas kualitas konstruksi dan bahan bangunan yang dapat menjamin keamanan penghuninya terhadap bahaya kebakaran (waktu untuk menyelamatkan diri sebelum runtuh) sesuai ketentuan yang berlaku. Terhadap Daya Dukung Lingkungan Jumlah lantai bangunan dan koefisien lantai bangunan menyesuaikan Peraturan Daerah/ Qanun Ijin Mendirikan Bangunan dan/atau RDTRK/ RTRK/ RTBL setempat.

kolektor. Bangunan berdampingan tidak sama tinggi.75 meter. (3). Sempadan muka minimum 5 m (2).Rumah berlantai 2 = 2. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Sempadan samping minimum 4 m Sempadan belakang 5 minimum U U ii. Persil kecil minimal 1 m jika atap samping tanpa teritisan dan 1.20 meter.Rumah berlantai 1 = 1. Bangunan dengan tinggi < 8 m = 3 m (4). Bangunan dengan tinggi > 8 m = 1/2 tinggi bangunan dikurangi 1m (5). Jalan Lokal Sekunder II 25 . i.50 meter. i. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. Jarak massa/blok bangunan satu lantai minimum 4 m Non rumah tinggal (1). (b) Lebar perkersan jalan minimal 3 meter.75 meter.25 meter. Sempadan belakang minimum 3 m iii. Persil sedang dan besar minimal 2 m (3). Jalan Lokal Sekunder (1) Jalan Setapak (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 2 meter. Sempadan samping minimum 2 m (2). (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: . Kavling kecil ( > 90 m2) (1). Garis sempadan bangunan terhadap batas-batas persil/kavling sendiri dan lingkungannya.75 meter. .5 m jika atap samping menggunakan teritisan (2).(2). U U ii. d.50 meter. (2) Jalan Kendaraan (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 3. Jarak dengan batas persil minimum 4 m (3).Rumah berlantai 1 = 1. . (c) Lebar bahu jalan minimum 0. (b) Lebar perkersan jalan minimal 1. Sempadan samping minimum 3 m (3). jarak minimum antar bangunan = {(½ tinggi bangunan A + ½ tinggi bangunan B) /2} -1 meter.75 meter.Rumah berlantai 2 = 2. Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya (arteri. Rumah tinggal : (1). Jarak massa/blok bangunan dengan bangunan sekitarnya minimum 6 m dan 3 m dengan batas kapling (2). ii. Kavling sedang ( > 200m) (1). lokal) Garis sempadan bangunan berdasarkan klas jalannya berlaku untuk semua zone. Sempadan muka minimum 3 m U U c.

mengacu pada : (1) SNI 04-6267. (c Lebar bahu jalan minimum 0. Berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang disesuaikan dengan kondisi NAD. Jalan Kolektor Sekunder (a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 7 meter.50 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .603-2002 tentang Istilah Kelistrikan-bab603: Pembangkitan Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik. Berdasarkan PUIL 2000 (jarak ke kiri dan kanan dari tegangan tinggi (70 KV ke atas) sejauh 25 m) ii.Rumah berlantai 2 = 4. Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik-Umum (2) SNI 04-8287.50 meter. jaringan listrik tegangan tinggi.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 602: Pembangkitan (3) SNI 04-8287. . Sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan penyediaan listrik. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya. .(a) Jalan ini mempunyai lebar badan jalan minimal 5 meter. iii.50 meter.Rumah berlantai 1 = 2.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan-Bab 601: Pembangkitan.50 meter. (d) Garis sempadan bangunan terhadap jalan ini minimum sesuai dengan Peraturan Daerah setempat adalah: .50 meter. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk sungai besar (luas daerah pengaliran > 500 Km2) dan sungai kecil (luas daerah pengaliran < 500 Km2) ditentukan setiap ruas berdasarkan perhitungan teknis luar daerah pengaliran atau 20 – 100 meter.50 meter.Rumah berlantai 1 = 3. ii. iii. iii.Rumah berlantai 2 = 3. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Sungai bertanggul kawasan perkotaan minimal 10 hingga 15 meter dari pinggir sungai. Garis sempadan bangunan terhadap jalan rel.50 meter. e. Garis sempadan bangunan pada kawasan pinggir sungai berdasarkan klas (lebar) sungainya adalah sama untuk semua zone yaitu: i. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum. 26 . a. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan minimal 50 m dari luar kaki tanggul. i. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. (c) Lebar bahu jalan minimum 0. (b) Lebar perkersan jalan minimal 5 meter. (b) Lebar perkersan jalan minimal 4.

(2) Untuk peningkatan fungsinya. (1) Sungai yang bertangggul di luar kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. 27 . maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. tanggul dapat diperkuat. maka lahan yang diperlukan untuk peningkatan fungsi tanggul harus dibebaskan. (2) Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari 500 (lima ratus) Km2. kedalaman 3 – 20 m minimal 15 m dari tepi sungai. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. tanggul dapat diperkuat. (3) Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter. vii. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan. Garis sempadan sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ini sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter. (1) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan mempunyai garis sempadan sungai sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.iv. garis sempadan dan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Penetapan garis sempadan untuk sungai ini dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan kedalaman < 3 m. vi. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu yang ditetapkan. Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan. v. viii. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan. dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. diperlebar dan ditinggikan. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. (2) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter. yang dapat berakibat bergesernya letak garis sempadan sungai. minimal 10 meter dari tepi sungai. Macam sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : (1) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih. (1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter. kedalaman > 20 m minimal 30 m dari tepi sungai. diperlebar dan ditinggikan. (2) Untuk peningkatan fungsinya. (3) Kecuali lahan yang berstatus tanah negara.

waduk. Zone 1 Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter. iv. Garis sempadan bangunan pada kawasan pesisir. g. ii. dan kawasan lindung lainnya. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut Penetapan garis sempadan danau. Jaringan drainase mengacu pada ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah iii. rawa dan tambak. Zone 1 Minimal jarak dari bibir pantai 1.000 m. dengan ketentuan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. Untuk mata air. Zone 2 dan Zone 3 Tidak menggusur RTH dan di luar kawasan lindung yang ditetapkan masing-masing daerah. serta sungai yang tidak bertanggul yaitu sebesar 20 – 100 meter. (2) Segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggung jawab pengelola jalan. Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan (1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. v. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota. lahan peresapan air. waduk. h. Garis sempadan pantai. ii.I. Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Qanun tentang RTRW Aceh Besar No. i.3 Th. 2003 sebagai berikut : i. garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 meter di sekitar mata air. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. kecuali bangunan non-rumah tinggal sesuai dengan standar dan peraturan daerah setempat atau Garis sempadan pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat ii. Garis sempadan bangunan pada tepi danau. i.ix. mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R. kecuali pada kawasan yang sangat diperlukan bagi kepentingan umum. Untuk danau dan waduk. Zone 2 dan Zone 3 28 . i.

Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota pada zone 3 dan zone 4, sekurang-kurangnya (minimal) = jarak sempadan bangunan terhadap pagar kavling 5. Tata Letak Bangunan

a. Bentuk tatanan bangunan dalam satu lingkungan pada arsitektur

b.

c.

d.

e.

tradisional NAD dan arsitektur lainnya yang ada. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah air tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Penambahan ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama/ lainnya harus mengikuti standar yang berlaku . Khusus untuk Zona Kawasan Aquatic hingga Kawasan Sedang, tidak diperkenankan menambah ruang maupun membangun rumah baru termasuk bagi anak perempuan yang telah menikah/ untuk perempuan yang merupakan keturunan dari wanita yang sama. Orientasi tatanan permukiman terhadap kaidah agama, tradisi, topografi, orientasi matahari, arah angin, pola jalan, sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. Posisi jalan utama lurus memanjang dari utara ke selatan, diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama timur-barat untuk menghindari angin kencang timur-barat dan agar rumah menghadap kiblat. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah, sebagai tempat bersosialisasi warga. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab); pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). Sumur dapat digunakan bersama; sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum di bagian depan rumah.

29

III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
III.1 . ARSITEKTUR BANGUNAN

1. Pengertian Umum Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian, kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langitlangit adalah 2.80 meter. Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: a. Kebutuhan luas per jiwa b. Kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK) c. Kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK) d. Kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 1. 1: Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat Standar per Luas untuk 3 (m2) jiwa Luas untuk 4 (m2) jiwa 2 Jiwa (m ) Unit Lahan (L) Unit Lahan (L) ruma Mini Efekti Ideal ruma Mini Efekti Ideal h h m f m f (Ambang batas) 21,6 60,0 72-90 200 28,8 60,0 72-90 200 7,2 (Indonesia) 27,0 60,0 72-90 200 36,0 60,0 72-90 200 9,0 (International) 36,0 60,0 48,0 60,0 12,0

Berdasarkan KEPMENKIMPRASWIL No 403/2002, rumah standar sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas kapling ideal, dalam arti memenuhi kebutuhan luas lahan untuk bangunan sederhana sehat baik sebelum maupun setelah dikembangkan. Secara garis besar perhitungan luas bangunan tempat tinggal dan luas kapling ideal yang memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan bangunan seperti berikut; kebutuhan ruang minimal menurut perhitungan dengan ukuran Standar Minimal adalah 9 m2, atau standar ambang dengan angka 7,2 m2 per orang .

30

Gambar 1.1 Luas Bangunan Rumah Sederhana Sehat dan Luas Lahan Efektif Diperhitungkan terhadap Kebutuhan Ruang Minimal dan Koordinasi Modular sehingga dicapai luas lahan efektif antara 72 m2 sampai dengan 90 m2 dengan variasi lebar dan muka lahan yang berbeda. 2. Kebutuhan Jumlah Pengembangan Ruang Untuk Satu Bangunan. Berikut ini kriteria standar kebutuhan minimal rumah mengacu dari Konsepsi Rumah Sederhana Sehat : a. memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK. b. memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan yang akan dilakukan yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serba guna. c. Bentuk generik atap selain pelana, dapat berbentuk lain (limasan, kerucut, dll) sesuai dengan tuntutan daerah, bila ada. d. Penghawaan dan pencahayaan alami pada rumah menggunakan bukaan yang memungkinkan sirkulasi silang udara dan masuknya sinar matahari. e. Kebutuhan standar minimal ruang tersebut memberi peluang pada penghuni untuk dapat mengembangkan ruang sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu melakukan pembongkaran bagian-bagian bangunan secara besar-besaran. Ruang -ruang yang perlu disediakan untuk satu rumah inti sekurangkurangnya terdiri dari : a 1 ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindung dari cuaca. Bagian ini merupakan ruang yang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. b. 1 ruang serbaguna merupakan kelengkapan rumah dimana di dalamnya dilakukan interaksi antara keluarga dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ruang ini terbentuk dari kolom, lantai dan atap, tanpa dinding sehingga merupakan ruang terbuka namun masih memenuhi persyaratan minimal untuk menjalankan fungsi awal dalam sebuah rumah sebelum dikembangkan. c. 1 kamar mandi/ kakus/ cuci merupakan bagian dari ruang servis yang sangat menentukan apakah rumah tersebut dapat berfungsi atau tidak, khususnya untuk kegiatan mandi cuci dan kakus.

31

Ketiga ruang tersebut diatas merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan dasar, selain itu sebagai cikal bakal rumah sederhana sehat. Konsepsi cikal bakal dalam hal ini diwujudkan sebagai suatu Rumah Inti yang dapat tumbuh menjadi rumah sempurna yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta kesehatan penghuni, sehingga menjadi rumah sederhana sehat. Ukuran pembagian ruang dalam rumah tersebut berdasarkan pada satuan ukuran modular dan standar internasional untuk ruang gerak/ kegiatan manusia. Sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT-1 adalah sebagai berikut:: i.. Ruang Tidur : 3,00 m x 3,00 m ii. Serbaguna : 3,00 m x 3,00 m iii. Kamar mandi/kakus/cuci : 1,20 m x 1,50 m 3. Tampilan Arsitektur Bercirikan Lokalitas dan Tradisi Setempat a. Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh Besar dapat berupa tektonika atau ragam hias dengan pola tumbuhan atau pola geometri Arsitektur Islam. b. Bentuk atap bisa pelana, perisai, atap datar, atau pun variasinya. c. Arah hadap (depan bangunan) disesuaikan dengan konfigurasi jalan. Bila jalan membujur utara – selatan, maka depan bangunan menghadap barat dan timur. d. Kakus sedapat mungkin tidak menghadap barat – timur (menghadap – membelakangi kiblat) e. Penyelesaian pada setiap bagian bangunan diupayakan agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh Besar. f. Pemakaian warna untuk seluruh bagian bangunan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya agar lebih serasi secara visual. Warna yang umum dipakai untuk material dari beton adalah putih, krim, dan beberapa warna lainnya seperti hijau, coklat, biru, dan pastel. Untuk material lain seperti kayu, warnanya lebih bervariasi, sekali pun didominasi oleh warna coklat dan putih. Tampilan arsitektur tampang bangunan salah satunya dengan adanya ragam hias ornamen bermotif flora. Gambar 2.2 dan 2.3 dibawah ini menunjukkan tampan g rumah Aceh yang sarat ornamen.

32

sebagai contoh orientasi bangunan dan bujur bangunan rumah tinggal dinyatakan melalui arah hadap kiblat.2 Tampak Depan Rumah Aceh Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang didirikan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari kayu yang kuat.3 Tampak Samping Rumah Aceh Pemakaian ornamentasi budaya lokal Aceh diarahkan menuju digunakannya ragam hias tumbuhan ataupun pola geometri ragam hias arsitektur Islam dalam tampilan bangunan rumah tinggal.Gambar 1. Pola struktur yang digunakan adalah rumah panggung khas Aceh dengan bentuk atap pelana atau variannya. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter. batu inipun tidak ditanam dalam tanah tapi diletakkan di atas tanah. Gambar 1. Pola bukaan pintu yang memberikan orientasi langkah kaki pada saat masuk atau keluar rumah dan perletakan WC yang sedapat mungkin tidak menghadap barat-timur karena akan menghadap atau membelakangi kiblat. tetapi didirikan di atas pondasi batu kali. Tiang-tiang itu tidak ditanam ke dalam tanah. Sedangkan untuk bangunan meunasah. Penyelesaian pada setiap bangunan diupayakan agar agar mudah dalam perawatan dan pembersihan sebagai cerminan pola hidup bersih dan sehat masyarakat Aceh. sedangkan tinggi keseluruhan bangunan lebih kurang lima meter. 33 . arah bujur bangunan adalah utara-selatan. jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deret lebih kurang dua setengah meter. Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua lubang. Orientasi bangunan meunasah dan bangunan rumah tinggal perlu dibedakan dengan pemahaman bahwa perlu dibedakan antara fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong (desa). dengan bentuk bangun denah persegi panjang. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 batang dengan diameter lebih kurang 33 cm. Tiang–tiang itu dihubungkan antara satu dengan lainnya dengan kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lubanglubang tiang tersebut. Arah hadap bangunan disesuaikan dengan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami.

melainkan diarahkan untuk memperkaya ragam hias pada tampilan. dan terhadap Bangunan disekitarnya. seperti pada penggunaan warna. upaya untuk mengembangkan tampilan bangunan beserta inovasi dan daya kreasi masyarakat. Ilustrasi Bangunan untuk Rekonstruksi Dari gambar tampilan bangunan di atas terlihat bahwa tampilan bangunan rekonstruksi diarahkan pada sebuah konsep preservasi dan konservasi yang didasarkan atas kaidah arsitektur Islami dengan landasan budaya Aceh. Namun demikian. pemakaian bahan/material. Tampilan Arsitektur pada Rekonstruksi Bangunan. melainkan diarahkan menuju sebuah konsep berupa pengayaan ragam hias Aceh pada tampilan 34 . Merekonstruksi yang berarti membangun kembali bangunan yang rusak akibat gempa tsunami dilakukan dengan kaidah-kaidah sesuai budaya lokal . tidak dibatasi. bukan berarti masyarakat dilarang untuk membuat inovasi tampilan bangunan. Rehabilitasi tampilan arsitektur pada rumah tinggal dan bangunan gedung sedapat mungkin diselaraskan dengan tampilan arsitektur di sekitarnya untuk keserasian lingkungan. Gambar di bawah ini merupakan salah satu ilustrasi dari bangunan untuk rekonstruksi. Tampilan Arsitektur pada Rehabilitasi Bangunan. dan penggunaan ornamen. Namun demikian.4. Tampilan bangunan untuk rekonstruksi diarahkan sedapat mungkin menggunakan Arsitektur Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Aceh Besar. 4. tekstur. Gambar 1.Pemilihan warna untuk tampilan bangunan disesuaikan dengan adat Aceh yang juga dijiwai oleh kaidah-kaidah agama Islam. dan terhadap Bangunan disekitarnya. Rehabilitasi tampilan bangunan tidak diperbolehkan sampai melanggar garis sempadan bangunan 5.

Arah bujur bangunan rumah tinggal dan meunasah perlu dibedakan untuk membedakan fungsi bangunan dan penanda kawasan gampong. namun beberapa ragam hias. 6. tampil sebagai hiasan semata-mata. view. Untuk bangunan bangunan Meunasah. Ragam hias pada bangunan-bangunan Aceh pada dasarnya terdiri dari ragam hias yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora.) . Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Modern. sebagaimana ragam hias bintang dan bulan menunjukkan simbol ke-Islaman. c. arah bujur bangunan adalah utara-selatan. tanpa meninggalkan kaidah tata ruang di dalamnya. Pada bagian depan rumah (yang berbatasan dengan jalan). bentuk dan tata letak massa. yaitu kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. bahan dan material yang lebih modern. ragam hias awan berarak (awan meucanek) menunjukkan lambang kesuburan dan motif tali berpintal (taloe meuputa) menunjukkan simbol bagi ikatan persaudaraan yang kuat untuk masyarakat Aceh. fauna. Pemakaian ragam hias tradisional pada bagian-bagian tertentu dari bangunan. b. adalah kejelasan struktur fisik sebagai orientasi 35 . Jenis tanaman yang ditanam dapat berupa tanaman hias (seperti jenis bunga-bungaan) . Bangunan tradisional atau rumah panggung di Aceh Besar dapat juga dibuat dengan teknologi konstruksi.  View. identity. compability. Misalnya konstruksi panggung bisa berupa kontsruksi beton atau pun baja. dan tanaman produktif (seperti belimbing. Di antara kriteria tersebut yang berkaitan dengan wujud bangunan adalah :  Compability. disediakan lahan yang cukup sebagai ruang terbuka hijau. mangga. sense dan livability.bangunan. pintu dan jendela. namun demikian harus memperhatikan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya. Tampilan Arsitektur Bangunan terhadap Keserasian Lingkungannya. Beberapa ragam hias. Menurut Hamid Shirvani. tanaman peneduh (seperti Angsana. jambu. Diharapkan melalui upaya untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengayaan ragam hias pada tampilan bangunan dapat tercipta keseimbangan antara nilainilai sosial budaya Aceh terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. non measurable criteria dalam rancang kota terdiri dari access. seperti kolom. sebagian dinding dan sebagainya yang sifatnya ornamentasi tempelan. dan tanaman produktif lainnya. a. 7. bintang dan bulan. awan.

Bangunan rumah tinggal dengan konsep tradisional budaya Aceh dapat dibuat dengan teknologi konstruksi bahan dan material yang lebih modern. Tata Urutan Ruang-ruang berdasarkan Kedekatan Fungsi Ruang Gambar 1. seperti kolom. Identity.5 Ilustrasi Penerapan Tampilan Arsitektur Tradisional/Lokal terhadap Bangunan Rekonstruksi Ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual (identity).6 Ilustrasi Tata Ruang Rumah Tinggal Rekonstruksi 36 . adalah ciri khas bangunan berdasarkan nilai arsitektural yang menjadikan bangunan bisa dipahami secara visual Gambar 1. 8. bentuk dan tata letak massa (compatibility) serta kejelasan struktur fisik sebagai orientasi (view) diterapkan melalui pemakaian ragam hias tradisional pada bagianbagian tertentu dari bangunan. pintu dan jendela sebagian dinding dan sebagainya yang bersifat ornamentasi. kesesuaian bangunan ditinjau dari karakter fasade. diarahkan untuk dapat menampillkan makna setiap ornamentasi yang diambil agar sesuai dengan penempatannya.

iv. bisa sebagai bagian dari rumah induk maupun dibangun terpisah secara struktural. Ruang servis diletakkan pada bagian belakang bangunan. sedapat mungkin diupayakan untuk menambah ruang privat (kamar tidur) yang mampu mewadahi privasi angggota keluarga khusus (orang tua. pengantin baru) b. b. Batas-batas ruang yang masif dan personal dibutuhkan untuk ruang-ruang yang memerlukan privasi tinggi seperti ruang kepala. ii. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi publik yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas seperti menerima tamu. Terdapat ruang serbaguna yang sifatnya semi privat yang dapat dipakai untuk berbagai aktifitas bersama seperti ruang santai keluarga. iii. Jika rumah induk akan dikembangkan. ruang pertemuan dan sejenisnya. 37 . ii. a. Untuk memberikan nuansa budaya lokal (Aceh Besar). Untuk Rumah Tinggal : i. Untuk bangunan gedung : i. Ruang-ruang inti dan ruang pendukung lainnya disesuaikan dengan fungsi bangunan 9. Pada bangunan gedung : i Tata letak ruang sangat tergantung dari fungsi bangunan dimana untuk setiap fungsi bangunan memilki hirarki yang khas. ruang tidur tamu. Bagian depan bangunan sebagai perwujudan serambi depan. biasanya digunakan sebagai ruang publik. Pada rumah tinggal : i. Ruang privat (kamar tidur) diletakkan berdampingan dengan ruang keluarga iii. berhubungan langsung dengan ruang tamu dan atau ruang keluarga ii. kaum wanita.a. acara adat. Tata Letak Ruang-ruang pada Bangunan yang bercirikan Budaya Lokal. ii. maka perlu diperhatikan pola pemisahan antar ruang sehingga tidak menimbulkan kecenderungan terjadinya hubungan yang dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Teras depan sebagai perwujudan serambi depan. sholat berjamaah.

ii. yang dibutuhkan untuk menjaga dan menjamin 38 . shalat dan berjamaah dan acara-acara adat. 10. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. dapur dapat dibuat di luar rumah induk dan terpisah secara struktural. Untuk bangunan gedung : i. Ruang kamar mandi/wc bisa diibuat menyatu dalam rumah jika bangunan utama atau ruang kamar mandi/kakus terbuat dari dari beton dan bata. v. iv. maka pada saat awal pembuatan rumah induk. dengan memperhatikan KDB.7 Tampak/potongan Rumah Tradisional Aceh ilustrasi di atas memberikan gambaran tentang pemisahan yang jelas dan tegas antara ruang serbaguna dengan ruang privat (ruang tidur) untuk orang tua dan kaum wanita. Pada rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu. ruang untuk KM/WC diletakkan menyatu dengan bangunan induk. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. Untuk mengantisipasi keamanan struktur. a. Ruang serbaguna yang bersifat semi privat digunakan sebagai ruang tempat beraktivitas bersama. Sedangkan untuk rumah yang terletak di atas tanah (modern/bukan panggung). Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. penempatan dapur disesuaikan dengan selera pemilik bangunan. melihat tingkat bahayanya terhadap kebakaran. seperti bersantai. dimana terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. pada Arsitektur Lokal dan Lingkungan Bangunan Lainnya.). permanen atau pun semi permanen. sanitasi (MCK). Perluasan bangunan rumah induk. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. Tata Letak dan Jarak Ruang-ruang pada Bangunan Utama terhadap Bangunan-bangunan Penunjangnya (termasuk bangunan utilitas. kamar mandi/kakus terpisah dengan bangunan induk rumah. Pada bangunan dengan material beton. dll. Ruang serbaguna yang bersifat semi publik dapat pula dipakai untuk berbagai aktivitas seperti menerima tamu dan pula sebagai ruang tidur tamu. b. termasuk di dalamnya bangunan utilitas.Gambar 1. Pada bangunan dari bahan kayu. iii. Untuk rumah tinggal : i.

Untuk mengantisipasi keamanan struktur. KM/WC terletak di belakang rumah induk dengan jarak yang cukup aman dari sumur. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. Secara umum struktur bangunan utama (yang merupakan wadah kegiatan utama dalam rumah) harus mempunyai daya tahan terhadap gempa.8 Perspektif Rumah Tradisional Aceh Pada gambar perspektif di atas menunjukkan letak rumah induk yang terpisah dari kamar mandi. iii. tetapi juga bisa dibangun terpisah secara struktural. Dapur dapat dibuat di dalam rumah induk.ii. Tatanan Ruang Dalam dan Pengembangannya terhadap Struktur Bangunan yang ada. iv. terutama terhadap jarak bangunan dengan batas lahan dan bangunan tetangga. Perluasan bangunan induk. maka pada saat awal pembuatan bangunan. termasuk di dalamnya prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitar Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaikbaiknya sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. 39 . Perluasan bangunan rumah induk. termasuk penyandang cacat dan warga usia lanjut. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung Bangunan-bangunan penunjang bangunan. untuk mencegah kerusakan parah pada saat gempa akibat sambungan struktur lama dan struktur baru yang tidak rigid. keamanan. v. a. kenyamanan. sudah dipikirkan bentuk perluasan yang memungkinkan di masa mendatang. Gambar 1. jika sifatnya semi permanen maka sebaiknya terpisah secara struktural. 11.

struktur utama harus tahan gempa dengan variasi bahan berupa beton bertulang atau kayu kelas kuat yang memadai. e. d. sedangkan samping bangunan diijinkan berimpit dengan bangunan tetangga tetapi terpisah secara struktural. e.b. maka struktur banguan baru harus dipisah dari struktur bangunan yang lama. b. Bagian lahan yang tidak terdapat bangunan harus disisakan untuk ruang terbuka hijau dan areal limpasan air hujan. Keserasian. 13. 12. maka yang dapat dimodifikasi adalah bagian yang bukan merupakan struktur utama. Batas depan dan belakang bangunan harus mengikuti aturan garis sempadan yang berlaku dimana sangat bergantung pada lebar jalan yang ada di depannya. sehingga posisi ruang dalam selalu berhubungan dengan ruang luar di sekitarnya dalam jarak yang cukup untuk menjamin kecukupan pencahayaan dan penghawaan alami. Keseimbangan dengan Lingkungannya. Penggunaan Jenis-jenis Material Bangunan berdasarkan Klasifikasi Bangunannya a. Pemakaian bahan konstruksi baja dan besi diperkenankan dengan syarat memenuhi satandar konstruksi tahan gempa. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan pola struktur yang sama dengan bangunan lama. melainkan pada tengah lahan sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. maka dapat dibuat menyatu dengan metoda sambungan yang tepat. Disarankan untuk menghindari pemakaian bahan logam yang mudah berkarat (corosive material) pada daerah pantai yang dekat dengan laut. Jika bangunan rumah akan diperluas. Jika bangunan akan diperluas dengan bahan dan sistem struktur yang berbeda. Pengaturan Tata Letak Ruang-ruang Dalam Satu Bangunan terhadap Pekarangan/halaman Bangunan dengan mempertimbangkan Keselarasan. a. Jika akan merubah tatanan ruang. c. Untuk kapling kecil. d. melainkan bagian pengisi (non struktural) misalnya partisi di dalam bangunan. c. b. bangunan dibangun tidak berhimpit dengan batas lahan. Untuk kapling yang luas. maka struktur perluasan rumah dapat terpisah (tidak rigid dengan bangunan lama) atapun menyatu (rigid) dengan bangunan lama. Ruang-ruang di dalam bangunan harus cukup mendapat penerangan dan penghawaan alami. 40 . Pada bangunan rumah induk. ditentukan garis sempadan bangunan depan dan belakang. Yang harus diperhatikan adalah metoda sambungan antar bagian struktur bangunan lama dan baru.

Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin menjamin keselamatan penghuni dari bahaya bencana alam. e. Sedangkan untuk bagian pengisi non struktural (dinding luar. e. c. asbes. calsiboard. d. Penggunaan Kombinasi Material Bangunan Dalam Satu Bangunan dengan memperhatikan Keserasian. Keselamatan dan Keawetan Bangunan a. batu bata. Tiang dan balok menggunakan kayu yang kuat iv. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dimana telah dipersyaratkan harus tahan gempa. f. Keamanan. maka yang tidak boleh diabaikan adalah faktor kekuatan struktur. Pondasi menggunakan batu kali. Bangunan rumah lebih ditekankan pada aspek struktural dan estetika. Bahan bangunan yang dipakai sedapat mungkin juga dihindari dari bahan-bahan yang membayakan kesehatan penghuni dari pengaruh kimiawi. Berdasarkan studi dari Rumah Tradisional Aceh maka bahan bangunan yang biasa digunakan terdiri dari: i. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Atap. Sedangkan untuk bagian non struktural utama. Fungsi bangunan juga menentukan material yang akan dipakai.c. Penggunaan material diprioritaskan pada aspek struktur utama dengan persyaratan harus tahan gempa. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. penyekat ruang) dapat memakai bahan lainnya seperti papan. pemakaian bahan diarahkan pada bahan yang mudah didapat. Pemakain material yang berbeda harus memperhatikan teknik penyambungan antar bahan jika menyangkut sistem struktur bangunan. Kuda-kuda atap menggunakan bahan kayu iii. sesek dan sebagainya. 14. keamanan bangunan dan kenyamanan ruang dalam batas tertentu. Sesederhana apapun bahan bangunannya. batako. bahan penutup atap menggunakan daun rumbia ii. Khusus untuk bahan fibercement. Lantai dan dinding menggunakan papan kayu v. d. petir dan akibat kesalahan teknik pemanfaatan dan pemasangan bahan. b. Untuk bagian non struktural utama. mudah perawatan dan cukup ketersediaannya di pasaran sebagai stock cadangan untuk perbaikan bila terjadi kerusakan. sedangkan bangunan untuk servis (dapur dan KM/WC) lebih ditekankan pada aspek kualitas sanitasi lingkungan. pada bagian atap vi. Ijuk digunakan sebagai bahan pengikat. 41 . untuk menghindari pengurangan kekuatan struktur utama bangunan. disaranakan untuk tidak dipakai pada dinding luar bangunan.

sekali pun tersebar di setiap desa. struktur kolom dan balok harus terbuat dari beton bertulang dengan kuat tekan beton minimal f’c 20 Mpa.15. folding plat dan sejenisnya. g. Bentuk Tatanan Bangunan dalam Satu Lingkungan pada Arsitektur Tradisional NAD. Kayu Seumantok. Untuk lantai bangunan dapat berupa plat lantai beton ataupun dengan lantai papan rangka kayu. a. Sedangkan bahan-bahan seperti gypsum.2 TATA LETAK BANGUNAN 1. genteng seng. dan sejenis. d. mulai dari yang masif seperti batu-bata. III. Dinding luar dan dalam dapat memakai bahan pengisi. Sistem Konstruksi Bangunan dan Tipe-tipenya berdasarkan Periode/ Gaya Arsitekturnya. atau pun deck. Sedangkan untuk bangunan gedung di atas dua lantai memakai pondasi sumuran. h. ii. Karakter struktur utama pada bangunan tradisional lebih didominasi oleh pemakaian balok kayu dengan sistem struktur rangka portal sederhana. hanya dibolehkan sebagai dinding pengisi di dalam bangunan (tidak berkaitan langsung dengan bagian luar).. sesek bambu. fungsi lindung kawasan. Secara umum adalah bangunan di atas tanah. Bangunan rumah panggung yang ada umumnya merupakan bangunan lama (sebelum 70-an) yang saat ini jumlahnya terbatas. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. atau kombinasi dengan bor pile. Bangunan gedung yang dibangun di atas (panggung). tapak beton bertulang. b. Pada bangunan rumah yang berlantai 2 atau tiga memakai pondasi tapak beton bertulang. Setiap lingkungan dengan luas 4 ha. Pondasi struktur utama pada bangunan rumah di atas tanah yang berlantai 1 berupa pondasi dangkal menerus (batu gunung). Sedangkan pada bangunan gedung dengan jumlah lantai ≥ 2. Struktur kolom dan balok untuk bangunan rumah bisa berupa beton bertulang atau minimal kayu klas kuat II. a. seperti Kayu Meranti. fibercement. multiplex. f. c. dan yang sejenis. dan Arsitektur lainnya yang ada. atau bahan lain yang sejenis seperti metal sheet. Struktur atap untuk bangunan rumah memakai sistem rangka dengan bahan utama kayu dan penutup atap seng gelombang. dan/atau pada perairan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. batako sampai dengan bahan yang ringan seperti papan kayu. Sedangkan untuk bangunan gedung struktur atap terbuat dari bahan baja dengan bahan penutup atap berupa genteng. Zone 1 dan Zone 3 i. harus memiliki jalan darurat minimal selebar 3 m sebagai akses penyelamatan 42 . e.

a. Tradisi.. Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Orientasi matahari. d. sebagai tempat bersosialisasi warga. (3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. arah angin. 2. b.250 jiwa perlu disediakan fasilitas pendidikan TK. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. Taman Kanak-kanak (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. Topografi. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1.bagi penghuni ketika terjadi bencana. Ketersediaan Sarana Dasar Bangunan dan Lingkungannya a. fungsi lindung kawasan. b. Satu lingkungan perumahan perlu dilengkapi meunasah. Zone 2 i. Bangunan gedung yang dibangun di atas. sungai dan elemen-elemen alam dan buatan lain yang membentuknya. sumur/ KM di bagian belakang rumah dan sumur untuk minum dibagian depan rumah 3. Sumur dapat digunakan bersama. harus dipisahkan dengan jalan darurat diantaranya sebagai akses penyelamatan bagi semua rumah. bentuk jalan. Orientasi Tatanan Permukiman terhadap kaidah Agama. diikuti dengan gang-gang kecil (lorong). Posisi jalan utama lurus memanjang dari Utara ke Selatan. Pembangunan sebaiknya dimulai pada hari baik bulan Kamariah (Arab). c. e. 43 . Setiap lingkungan dengan luas 6 ha. Bangunan boleh ditambah/ diperluas ke arah horisontal dan vertikal hingga mencapai KDB dan KLB yang dipersyaratkan masing-masing daerah. Ketersediaan Bangunan Sekolah i. pada tanggal tengak dari bulan naik (tanggal 1-15) dengan upacara pernyejuk (peusijuk) oleh imam (teungku meunasah). ii. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. harus memiliki jalan darurat diantara bangunannya sebagai akses penyelamatan bagi penghuni ketika terjadi bencana. dan/atau pada lahan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. Deretan bangunan tidak boleh bergandengan semua dalam satu lorong. Bangunan rumah berbanjar dalam arah yang sama Timur-Barat untuk menghindari angin kencang Timur-Barat dan agar rumah menghadap kiblat.

(3) Dalam setiap RT perlu disediakan taman/ tempat bermain anak yang berfungsi sebagai faktor pengikat lingkungan di samping warung. (6) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. iii. (4) Sekolah Dasar terdiri dari 6 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 40 murid. Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Pertama (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. disamping fasilitas pendidikan TK yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SD. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. ii. SMA/SLTA di dalam area komplek. SMP/SLTP. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah sekolah dasar adalah 2000m2. disamping fasilitas pendidikan TK. SD. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. SMA/SLTA di 44 . (8) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMP. (6) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. SMP/SLTP. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1600 jiwa. (7) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok penduduk dan dapat digabung dengan taman/ tempat bermain dan lain-lain sehingga terjadi pengelompokan aktifitas. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter.(4) Sekolah taman kanak-kanak terdiri dari 2 ruang kelas dan ruang aula yang masing-masing ruang dapat menampung 35-40 murid usia 5-6 tahun. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. Sekolah Dasar (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). (8) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan. (7) Lokasinya sebaiknya jangan menyeberang jalan penghubung atau jalan poros lingkungan akan tetapi masih tetap berada ditengah-tengah penduduk. (5) Luas lahan minimum untuk sebuah taman kanak-kanak adalah 500m2.

(4) Jarak radius pencapaian adalah 1. SMP/SLTP. (3) Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari 3 ruang kelas yang dilengkapi dengan ruang-ruang kepelengkapan lain dan tiap-tiap ruang kelas dapat menampung 30 murid. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 1. SMA/SLTA di dalam area komplek. (5) Jarak radius pencapaian adalah 1000 meter. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya.000 meter. Posyandu (1) Berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anakanak usia balita. diperlukan fasilitas kesehatan balai pengobatan warga. disamping fasilitas pendidikan TK. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga. (6) Tempat dapat bergabung dengan balai warga atau sarana hunian/ rumah. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah balai pengobatan warga adalah 300 m2. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum iv. Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Lanjutan Atas (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan sekolah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 4800 jiwa. (4) Luas lahan minimum untuk sebuah SMP/SLTP adalah 9000 m2. (4) Jarak radius pencapaian adalah 500 meter. Namun setidaknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum b.250 jiwa. Balai Pengobatan Warga (1) Berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyebuhan (currative) tanpa perawatan.dalam area komplek. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah posyandu adalah 60 m2. SD. diperlukan fasilitas kesehatan untuk balita berupa posyandu. Ketersediaan Bangunan Layanan Kesehatan i. SMP yang tersedia perlu juga disediakan fasilitas pendidikan SMA.500 jiwa. ii. iii. berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi. (6) Apabila mau diadakan penghematan area maka dapat disatukan areanya dengan SD. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin 45 .

(1) Berfungsi sebagai melayani ibu sebelum. iv. (5) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya. pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai 6 tahun. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. Puskesmas dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. 46 . (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.000 jiwa. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan.000 jiwa.000 m2. (4) Jarak radius pencapaian adalah 4. Tempat Praktek Dokter (1) Merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 5. Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan (1) Berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil. (3) Jarak radius pencapaian 1. vi.500 meter. diperlukan fasilitas kesehatan Puskesmas dan Balai Pengobatan. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120.000 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas Pembantu dan Balai Pengobatan adalah 300 m2 (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Puskesmas dan Balai Pengobatan adalah 1. diperlukan fasilitas kesehatan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin.000 meter. diperlukan fasilitas kesehatan berupa tempat praktek dokter. v. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha/ apotik.000 m2.000 jiwa. (5) Lokasi dapat bergabung dalam lokasi kantor kecamatan. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) / Klinik Bersalin adalah 3.

Muesanah (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C).000m2.vii.000 jiwa (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 500 m2. Ketersediaan Tempat Ibadah i.500 m2.000 jiwa. Apotik/ Rumah Obat (1) Berfungsi melayani penduduk dalam pengadaan obatobatan. d.000 jiwa.000 m2. ii. biasanya ada di setiap dusun. ii. (5) Lokasi dapat bergabung dengan rumah tinggal/ tempat usaha. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 3. Gedung Serbaguna/ Karang Taruna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 30. diperlukan fasilitas ibadah berupa muesanah. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 2. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna/ karang taruna adalah 250 m2. (2) Luas lahan minimum untuk sebuah balai warga adalah 300 m2. 47 . (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung bioskop adalah 1. Ketersediaan Fasilitas Sosial i. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. Balai Warga (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 2. diperlukan fasilitas kesehatan berupa apotik/ rumah obat. Gedung Bioskop (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120. iv. baik untuk penyebuhan maupun pencegahan. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah gedung serbaguna adalah 1. (3) Luas lantai minimum untuk sebuah balai warga adalah 150 m2. Gedung Serbaguna (1) Lingkup pelayanan untuk kawasan permukiman dengan jumlah penduduk 120.000 jiwa. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. (4) Lokasinya sebaiknya dapat dijangkau dengan kendaraan umum. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah apotik/ rumah obat adalah 250 m2.500 jiwa. c.000 m2.

v. m2.lingkungan. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan berdekatan dengan pusat . iv. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid kecamatan. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid lingkungan. ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. Masjid Warga (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Masjid Lingkungan (Gampong) (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). Agama Hindu mengikuti adat.600 m2. (4) Lokasinya dapat dijangkau dengan kendaraan umum.(3) Luas lahan minimum untuk sebuah muesanah adalah 100 ii. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah kelompok tetangga. termasuk ruang ibadah. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter.500 jiwa. Ketersediaan Sarana Ekonomi i. (4) Kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 3.000 meter.000 jiwa. Masjid Kecamatan (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C). e. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 2. (5) Lokasinya sebaiknya di tengah-tengah kelompok tetangga dan tidak menyeberang jalan raya. Agama Budha mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki lembaga masing-masing.000 jiwa. diperlukan fasilitas ibadah berupa masjid warga. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 120. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid warga adalah 600 m2. (3) Luas lahan minimum untuk sebuah masjid lingkungan adalah 5.2 m2/ jamaah. iii.400 m2. Sarana Ibadah Agama Lain (1) Sesuai Standar Perencanaan bangunan ibadah (Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Pt T-11-2000-C) (2) Agama Katolik mengikuti paroki. (2) Untuk suatu lingkungan permukiman dengan jumlah penduduk 30. Warung 48 . (3) Kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1.

ii. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pertokoan adalah 3. ikan. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 10.000 meter. pakaian.000 jiwa. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 6. tepung. Pusat Perbelanjaan Lingkungan (1) Menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur. (e) Mushola/ tempat ibadah. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. buah-buahan. reparasi. (4) Jarak radius pencapaian adalah 2. (c) Pos keamanan. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. (b) Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga. unit-unit produksi yang tidak menimbulkan (1) Menjual 49 . daging. Pertokoan (1) Menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel. elektronik. Pusat Perbelanjaan dan Niaga (1) Menjual kebutuhan sehari-hari. gula. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) lingkungan dan mudah dicapai. alat-alat pendidikan.barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun. (6) Setiap pertokoan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan. beras. (d) Sistem pemadam kebakaran. barang kelontong. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan lingkungan dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum.000 m2. juga untuk pelayanan jasa perbengkelan. wartel dan sebagainya. (c) os keamanan. iii.000 jiwa. teh. pakaian. fotocopy dan sebagainya. iv. barang-barang kelontong.000 m2. alat rumah tangga serta pelayanan jasa seperti warnet. bahan-bahan pakaian. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah warung adalah 100 m2. rempah-rempah dapur dan lain-lain. (5) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di tengah-tengah (pusat) kegiatan sub lingkungan dan mudah dicapai.

(2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 24. (3) Lokasinya sedapat mungkin berkelompok dengan sarana pendidikan. (4) Lokasinya sebaiknya ditempatkan di jalan utama dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. vi. tempat hiburan serta aktifitas niaga lainnya seperti kantor-kantor. v. (3) Luas lahan minimal untuk sebuah pusat perbelanjaan lingkungan adalah 36. Olah Raga.000 m2. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan ditengah-tengah kelompok tetangga (lorong). bank. f. (5) Setiap pusat perbelanjaan lingkungan harus dilengkapi : (a) Tempat parkir kendaraan sudah termasuk kebutuhan luas tanah. (c) Pos keamanan. Ketersediaan Ruang Bermain. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 1. Taman/ Tempat bermain Lingkungan (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 250 jiwa.250 m2.000 jiwa.000 jiwa. ii. Taman/ tempat bermain (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 2. (4) Jarak radius pencapaian adalah 100 meter. (3) Lokasinya sebaiknya ditempatkan pusat kegiatan lingkungan (dusun).polusi. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 250 m2. (b) Terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. (4) Jarak radius pencapaian adalah 1.000 m2. iv. iii.000 jiwa. (d) Sistem pemadam kebakaran. (2) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120. Jalur Hijau (1) Terletak menyebar ditepi jalan lingkungan. industri kecil dan lain-lain. Taman dan Lapangan Olah raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 30. Makam 50 .000 m2. (e) Mushola/ tempat ibadah. Taman dan Makam i. (2) Luas lahan minimal untuk sebuah taman/ tempat bermain lingkungan adalah 9. Taman dan Lapangan Olah Raga (1) Untuk melayani kawasan pemukiman dengan jumlah penduduk 120.000 meter. (3) Lokasinya di jalan utama.500 jiwa.

ameniti. a. ii. unsur-unsur estetik. sosial. ekonomi. ekonomi. Zone 2 i. (3) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. Kawasan ini harus disertai dengan buffer sebagai perlindungan dari tsunami yaitu hutan mangrove kawasan sempadan pantai. sarana olah raga. Untuk perlindungan sungai. rekreasi dengan memperhatikan perencanaan kota yang ada. Syaratsyarat ini dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk 51 . dengan penanaman cemara. Berupa kawasan lindung. iii. KLB. 10 tahun 2004. pekarangan. dan jalan lingkar pulau yang memiliki ketinggian > 3 meter. Diperuntukkan untuk daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum sesuai Qanun Tentang Bagunan Gedung no. keamanan. iii.3 RUANG TERBUKA A HIJAU 1. dan tanaman lain yang sejenis. perdu-perduan. KDB. ekonomi maupun estetika. kelapa. Zone 1 i.000-12. ameniti maupun estetika. taman kota. kawasan pemanfaatan terbatas. (2) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). seperti pepohonan (misalnya Angsana). iv. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Fungsi-fungsi ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan permukiman/ gampong. III. b.(1) Setiap 10. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kawasan pantai yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. Bangunan Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau Kawasan di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di lingkungan pemukiman/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis.000 jiwa dengan standar kapling makam adalah 4 m2 (meliputi 2 m2 untuk makam dan 2 m2 untuk sirkulasi dan ruang terbuka. KDH. ii. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. sosial. rumput-rumputan dan tanamantanaman hias. sirkulasi. Parkir dan ketetapan lainnya. mau pun estetika. peresapan air.

sosial. KDB. Parkir dan ketetapan lainnya. ameniti maupun estetika. (4) Sebagai ruang transisi. peresapan air. RTHP merupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. tanah dan permukaan tanah. dan tanaman hias. (3) Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). seperti pepohonan. Zone 3 i. sungai. (a) Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. ruang budidaya. pekarangan. sarana olah raga. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai penanaman vegetasi penyangga berfungsi untuk kepentingan ekologis. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Ruang Terbuka Hijau di Zone ini adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/ wilayah/ halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. ekonomi. pohon-pohon menahun. rumputrumputan. unsur-unsur estetik. hutan produksi. c. rekreasi. KLB. Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman dan ruang terbuka hijau pekarangan. v. dengan memperhatikan perencanaan kota yang telah ada. sirkulasi. KDH. (2) Kawasan permukiman ini perlu menyediakan ruang terbuka hijau taman. a. iii. Koefisien Dasar Hijau (KDH) dipersyaratkan minimum 30 % pada bangunan umum 2. ii. berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. ekonomi maupun estetika. Ruang Sempadan Bangunan i.bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. perdu-perduan. (b) Syarat-syarat ruang terbuka hijau pekarangan dalam setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Keserasian tersebut antara lain 52 .

tiang bendera. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. jalur pejalan kaki. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. ii. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. ketentuan teknis. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. bangunan penunjang seperti pos jaga. ii. Tapak Basement i. KDH minimal 10 pada daerah sangat padat/ padat. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roofgarden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. 53 . dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. vegetasi besar/ pohon. c. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. iv. v. tiang telepon di kedua sisi jalan/ ruas jalan yang dimaksud. batang dan cabangnya rapuh. ruang sempadan depan bangunan. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. Hijau Pada Bangunan i. iii. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25 luas RTHP. tidak di dalam wadah/ container yang kedap air. ii. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. dan kebijaksanaan daerah setempat. bak sampah dan papan nama bangunan. pagar. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/ penanaman di atas tanah. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. d. Tata Tanaman i.mencakup : pagar dan gerbang. b. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan.

hutan kelapa dan mangrove. iii. kestabilan tanah/ wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Luas maksimum dan minimum dari jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/gampong. (2) Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung.Ruang Sempadan Bangunan (4) Tata tanaman. Taman-taman dan lapangan. hutan lingkungan. Zone 2 (1) Pekarangan. seperti bermain bola. (3) Taman-taman dan lapangan. Zone 3 (1). untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. bermain anak. Untuk lapangan minimal seukuran lapangan volley. untuk kegiatan olah raga dan permainan anak-anak. termasuk hutan mangrove. Pekarangan rumah penduduk. Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jenis-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Taman dan lapangan berada di setiap satu lingkungan dusun. Jalan dan penghijauan di pinggir jalan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Untuk setiap Zone. dll. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut diatas. dan kolam ikan.Ruang Sempadan Bangunan termasuk pekarangan. kolam peresapan air hujan. 54 . Di pinggir pantai. taman dan olah raga. 3. dari pinggir pantai hingga sejarak minimal 100 m sepanjang pesisir pantai ke arah daratan. makam. dll. seperti bermain bola. Zone 1 i. taman (2) Tapak Basement (1) Hijau pada Bangunan iii. volley dan sepak bola. taman permukiman terbatas. volley. a. ii. (2). (3). air. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. tambak-tambak. Zone 1 (1) Penghijauan di kawasan buffer zone. jenis-jenis ruang terbuka hijau yang perlu disediakan dalam satu lingkungan permukiman/ gampong adalah sebagai berikut : i. taman dan rekreasi ii. iv.ii.

Taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong i. iii.. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong. Dikelilingi ruang terbuka budidaya pertambakan/ pertanian.iii. Taman dibuat pada satu lingkungan lorong Ruang terbuka hijau pekarangan dibuat pada setiap persil bangunan rumah pada satu luasan permukiman/ gampong. c. b. iv. iii. Ruang terbuka hijau taman dibuat pada setiap satu lingkungan lorong 55 . Ruang terbuka hijau ditempatkan di sekitar lokasi yang memiliki aktivitas tinggi dengan luas ruang terbuka terhadap luas gampong lebih kurang 30% . Zone 3 ii.50% ii. Makam berada di pinggir lingkungan. RTH taman dibuat dalam satu lingkungan lorong dan di sekitar meunasah. Hutan mangrove ditanam sepanjang pesisir pantai sebagai penyangga (buffer zone) dengan kedalaman lebih kurang 100 meter ke arah daratan. Zone 2 i. iv.

kolektor. dan arahnya terhadap sirkulasi jalan kota/luar lingkungan yang menghubungkannya. Permukiman (a) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas tetangga dan lingkungannya.1 Lokasi pintu masuk dan keluar bangunan. Lokasi mudah dicapai dari semua sisi lingkungan 1. kolektor. dan/atau primer. dan/atau primer ke arah dataran yang lebih tinggi. Zone 2 dan Zone 3 (1). dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. Pintu masuk dan keluar bangunan tidak terhalang oleh ruang lain.2 Lokasi pintu masuk dan keluar lingkungan permukiman dan jumlahnya. dan/atau primer. 1.4 SIRKULASI. b. ii. b. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. Terdapat sekurang-kurangnya 2 jalan keluar-masuk lingkungan ke arah zona lingkungan tetangganya.3 Pola Sirkulasi Jalan Zone 1 dan Zone 3 (1) Berbentuk pita. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1.III. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. lokal) ke arah Pola sirkulasi jalan berbentuk pita. lokal) i. serta arahnya terhadap sirkulasi lingkungan. (2) Pola cluster dan cul de sac terhubung dengan jalan penyelamatan (utama lingkungan. a. kolektor. PERTANDAAN. kolektor. 1. Terdapat Zone 1 (1) Terdapat sekurang-kurangnya 1 jalan keluar masuk lingkungan ke arah selatan (2) Lokasi mudah dicapai dari segala penjuru/semua sisi lingkungan. Pintu masuk dan pintu keluar pada bangunan terdapat di dua sisi bangunan yang berbeda dan mudah dicapai dengan jumlah minimal 2 pintu. 56 . (2). Zone 2 (1) Berbentuk pita dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. kolektor. dari jalan lingkungan terhubung langsung ke jalan lokal. a. berada di bagian depan dan belakang bangunan dan mudah dijangkau.4 Fasilitas Parkir i. dan jumlahnya.

iii. (2) Untuk setiap jalan gang/ lingkungan dilengkapi jalur hijau pada sisi kiri dan kanan bahu jalan. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Jalur jalan kendaraan harus terpisah dengan jalur pedestrian pejalan kaki. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan. ii. ditempatkan pada pintu keluar – masuk gampong. memudahkan aksesibilitas. ruang terbuka hijau dan sarana umum lainnya. atau tergantung dari bentuk gampongnya. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. Jalur jalan kendaraan harus dilengkapi dengan jalur hijau : (1) Untuk jalan masuk utama lingkungan kendaraan dua arah dipisahkan dengan median jalur hijau di tengahnya. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. pedestrian dan penghijauan. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. misalnya bila gampong atau dusun terdapat jalur keluar masuk yang lebih dari satu. Perletakan Sarana Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Sarana keamanan berupa Pos Jaga. (3) Luas. sarana umum lainnya di tiap zone mempunyai persyaratan yang sama yaitu sebagai berikut : i. Pemisahan Jalan i. dll. (4) Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. 57 . 4. maka Pos Jaga bisa ditempatkan di salah satu pintu masuk-keluar atau keputusan dari musyawarah gampong. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. 2. Sempadan Jalan (1) Pencahayaan buatan harus ada di sepanjang sempadan jalan dengan jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. berada pada bagian pintu masuk keluar lingkungan. ruang terbuka hijau. 3. penghijauan. Bangunan Non Rumah Tinggal (1) Bangunan non-rumah tinggal wajib menyediakan area parkir kendaraan yang proporsional terhadap luas lantai bangunan (sesuai standar teknis parkir yang berlaku) (2) Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki.(b) Parkir kendaraan pada bangunan rumah tinggal tidak diperboleh berada pada badan jalan. ii. Perletakan pencahayaan buatan pada sempadan jalan.

dengan radius pelayanan maksimum 2 Km.pencahayaan buatan harus memperhatikan karakter lingkungan. (3) Perletakkan pencahayaan buatan harus dapat memberikan penerangan pada badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. (2) Harus memperhatikan karakter lingkungan. ii. (2) Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan. Sarana Umum Lainnya (1) Dapat memberikan penerangan ruang luar dengan menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. sehingga mudah dioperasikan dan mudah diperbaiki bila terjadi kerusakan. Zone 2 (2) Bentuk (2) 58 . Bangunan Penyelamat (1) Zone 1 dan Zone 3 (a) Rumah ibadah (Mesjid). h.5 meter atau bangunan berkolong/panggung untuk mengatasi pasangnya air. (3) Dalam ruang terbuka hijau. (c) Dapat dicapai dalam waktu paling lama 15 menit. pencahayaan buatan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. balai pertemuan. (5) Pencahayaan buatan harus ada di setiap persimpangan jalan yang dapat memberikan penerangan badan jalan dan sempadan jalan dengan baik dengan menghindari penerangan yang berlebihan dan silau visual yang tidak menarik. iii. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. Bangunan dan Jalur Penyelamat. fungsi dan arsitektur bangunan dan estetika amenity. silau visual yang tidak menarik dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. (3) Harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum. fungsi dan arsitektur bangunan. i. Ruang Terbuka Hijau (1) Perletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter. (4) Dalam perletakan pencahayaan buatan harus memperhatikan aspek pengoperasiaan dan pemeliharaan. sesuai kebutuhan standar jenis ruang terbuka hijau. perkantoran dan bangunan tinggi lainnya dengan struktur yang kokoh dan dapat menampung orang banyak atau berupa bukit dengan lansekap yang baik bisa dijadikan sebagai bangunan penyelamat (b) Pada zona I tinggi lantai > 1. estetika amenity dan komponen promosi.

Tidak diharuskan membangun bangunan penyelamat. (1). ii. Jalur Penyelamat Zone 1 dan Zone 3 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. Zone 2 (a) Untuk mempercepat evakuasi penduduk menghindari bahaya Tsunami, perlu diimanfaatkan fungsi jalan yang ada atau membuat jalan evakuasi baru. Untuk zona ini jalur yang bisa dipakai dengan posisi yang tegak lurus dengan pantai. (b) Selain jalan tersebut perlu diusulkan jalan baru dengan prinsip melintang atau tegak lurus terhadap kemiringan lahan ataupun daerah aliran air yang bisa berupa jalan lokal. (c) Jalan utama lingkungan tersebut harus terhubung baik dengan jalan lokal, kolektor maupun arteri, dengan lebar badan jalan bebas hambatan dua jalur minimum 12 meter. (i) Jalan darurat merupakan jalan terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor yang bebas hambatan, dengan lebar badan jalan minimal 6 meter. (ii) Jalan keluar dari setiap kavling bangunan harus langsung ke jalan lingkungan dan jalan darurat minimal ada 1 buah tidak boleh melewati bangunan tetangganya. (3) Sirkulasi (a) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. (b) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya. (c) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa

(2).

59

elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. i. Pertandaan, dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Perletakan sarana keamanan dan keselamatan lingkungan. Perletakan tanda dan rambu lalu-lintas dan rambu keselamatan lingkungan. i. Penempatan signage, termasuk papan ikian/ reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik. ii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu, kepala daerah dapat mengatur pembatasan-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.

III.5 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN
1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan

a. Setiap kegiatan dalam pembangunan permukiman di Kabupaten Aceh Besar yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting harus dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Diperhitungkan berdasarkan tingkat pembebasan lahan, daya dukung lahan meliputi daya dukung tanah, kapasitas resapan air tanah, tingkat bangunan per hektar, dan lain-lain, tingkat kebutuhan air sehari-hari, limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman, efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia), serta koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien luas bangunan (KLB). b Kewajiban melaksanakan kajian AMDAL tergantung masingmasing tipologi kota. c. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Kegiatan di Kabupaten Aceh Jaya yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut berpengaruh terhadap: i. Jumlah manusia terkena dampak. ii. Luas wilayah persebaran dampak. iii. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. iv. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.

60

v. Sifat kumulatif dampak. vi. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible-nya) dampak. 2. Ketentuan UPL dan UKL 1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 86 Tahun 2002. 2. Dalam UKL dan UPL harus diuraikan informasi mengenai: i. Identitas pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan; ii. Rencana usaha atau kegiatan meliputi nama, lokasi, skala usaha atau kegiatan, garis besar rencana usaha dan atau kegiatan; iii. Dampak lingkungan yang akan terjadi meliputi kegiatan yang menjadi sumber dampak, jenis dan besaran dampak serta hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak yang akan terjadi; iv. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan meliputi langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya menangani kedaan darurat, kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup dan tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan; v. Tanda tangan dan cap usaha dari penanggung jawab usaha atau kegiatan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Persyaratan bangunan i. Untuk mendirikan bangunan di Kabupaten Aceh Besar yang menurut fungsinya menggunakan, menyimpan memproduksi, mengolah bahan mudah meledak dan mudah terbakar, korosif, toksik (beracun), reaktif, dan infeksius dapat diberikan ijin apabila : (1) Merupakan daerah bebas banjir, dan (2) Jarak antara lokasi bangunan dan lokasi fasilitas umum minimal 50 meter. (3) Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/ jalan tol dan 50 meter untuk jalan lainnya; (4) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan;

61

ii.

iii.

iv.

v. vi.

(5) Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawan, mata air dan sumur penduduk; (6) Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan lindung dan lain-lainnya). Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 L/detik atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapatkan ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna mengurangi limpasan air, maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan saluran drainase tersier dan sekunder yang akan dihubungkan dengan saluran drainase primer untuk dibung ke badan air. Jika muka air tanah rendah maka dapat digunakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan guna menambah cadangan air tanah. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan 2 membangkitkan LHR ≥ 60 SMP per 1000 feet luas lantai, maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran drainase yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lampu lalu lintas. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan dan tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar. iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

62

dengan memperhatikan keamanan. Pembuangan Limbah Cair dan Padat i. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. e. dibatasi. dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. keselamatan dan kesehatan lingkungan. Kegiatan konstruksi yang berpotensi menghasilkan debu harus melakukan penyiraman pada waktu tertentu untuk menghindari penyebaran debu yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. c. Pengelolaan Daerah Bencana a. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir a dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. d. (ii) Sampah kering maksimal setiap tiga hari sekali agar tidak terjadi penumpukan sampah yang mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Sarana pengumpulan dan pengolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. ii. atau dilarang membangun bangunan. (1) Sampah : (a) harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. (b) pengangkutan sampah basah dilakukan berdasarkan jenisnya (i) Sampah basah setiap hari atau maksimal setiap dua hari sekali untuk menjamin agar tidak timbul bau dan menjadi sarang penyakit. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah harus dilengkapi sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. c. 4. dan yang sejenisnya. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. keselamatan dan kesehatan. b. dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.vi. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. bagi bangunan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. daerah banjir. 63 . Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir a. dengan memperhatikan keamanan.

b. c. kelayanan (serviceability). Sedangkan yang dimaksud Bangunan gedung adalah bangunan yang didalam proses pembangunannya memerlukan perhitungan struktur (Bangunan teknis / engineering structures). harta benda dan masih dapat diperbaiki. Untuk itu struktur BG dan RT beserta elemen-elemen strukturnya harus direncanakan mempunyai kekenyalan (daktilitas) yang memadai untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan. Yang dimaksud dengan Bangunan rumah tinggal adalah bangunan yang di dalam proses pembangunannya tidak memerlukan perhitungan struktur (Bangunan non teknis / non engineering structures). Persyaratan Perencanaan Struktur a. Struktur BG dan RT harus direncanakan mampu memikul semua beban dan atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Persyaratan struktur ini memberikan kriteria minimal untuk perlindungan jiwa dengan memperkecil kemungkinan terjadinya keruntuhan. keawetan (durability) dan ketahanan terhadap kebakaran (fire resistance). 1. Bangunan rumah tinggal lebih dari 1 lantai dikategorikan sebagai bangunan gedung. Persyaratan Bahan 64 . Bangunan rumah tinggal di dalam pelaksanaan pembangunannya bisa dilakukan oleh pemilik dan dianjurkan didampingi oleh orang teknik yang mempunyai keahlian di bidang bangunan.IV. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Struktur BG dan RT harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga apabila kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar tercapai. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain : beban gempa yang mungkin terjadi sesuai dengan zona gempanya).1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN Persyaratan struktur bangunan gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD bertujuan untuk memperkecil resiko kehilangan nyawa apabila keruntuhan struktur akibat pembebanan maksimum yang direncanakan benar-benar terjadi. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. dan bebanbeban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur 2. Perencanaan struktur BG dan RT berdasarkan ketentuan ini tidak berarti mencegah sama sekali terjadinya kerusakan struktur maupun non-struktur apabila suatu gempa terjadi. misalnya terjadinya suatu gempa. Struktur BG dan RT harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keamanan (safety).

ii. Bahan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Kemungkinan terjadinya efek puntir pada bangunan yang tidak beraturan yang dapat menimbulkan gaya geser tambahan pada unsurunsur vertikal akibat gempa harus diperhitungkan pada perencanaan struktur tersebut. fasilitas radio dan televisi dan bangunan sejenis lainnya. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. c. bangunan air minum. e. Untuk memperkecil pengaruh gaya yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami setelah suatu gempa terjadi. serta mampu bertahan terhadap gaya-gaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan/ pelaksanaan dan gaya-gaya yang mungkin bekerja selama masa layan struktur. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. lay-out bangunan diusahakan sejauh memungkinkan agar sederhana dan simetris. Untuk menjamin perilaku struktur yang menguntungkan selama terjadinya suatu gempa. d. a. misalnya rumah sakit. iii. Ketentuan tersebut diatas harus diperhatikan terutama sekali untuk perencanaan bangunan yang diharapkan tetap berfungsi secara baik sesudah terjadinya suatu gempa. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. Bahan struktur yang digunakan. pusat pemadam kebakaran. f. pengaruh gempa terhadapnya harus dianalisa secara dinamik. Bahan struktur yang dipakai harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI. pusat penyelamatan keadaan darurat. pusat pembangkit tenaga. b. iv. maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. Terpenuhinya persyaratan keamanan ini harus dibuktikan dengan melakukan pengetesan bahan yang bersangkutan di lembaga pengetesan yang berwenang.a. Persyaratan Detail Struktur Bangunan Gedung dan Rumah Tahan Gempa Persyaratan Lay-Out Bangunan i. Ketidakteraturan struktur baik dalam arah vertikal maupun horisontal (misalnya loncatan bidang muka dan perubahan kakuan tingkat) yang berlebihan sejauh memungkinkan harus dihindari. diusahakan semaksimal mungkin menggunakan dan menyesuaikan bahan baku dengan memanfaatkan kandungan lokal. 3. lay-out 65 . Untuk bangunan yang tidak beraturan.

yang bertujuan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. Semua monumen dan bangunan monumental di NAD akan difungsikan juga sebagai tempat evakuasi apabila suatu gempa terjadi. Persyaratan Pendetailan Struktur i. IV. gempa) dan beban khusus. termasuk elemen struktur dan nonstruktur. Perencanaan bangunan sejenis ini harus mempertimbangkan berbagai faktor akibat penggunaannya sebagai tempat evakuasi. sehingga gaya-gaya dari semua elemen struktur. Lokasi terbentuknya sendi plastis yang disyaratkan untuk keperluan pemencaran energi harus dipilih dan diberi pendetailan sedemikian rupa. Semua bagian dari struktur harus diikat bersama.2. Untuk menjamin tercapainya pola keruntuhan yang diharapkan apabila suatu gempa terjadi. Standar Teknis 66 . b. Setiap unsur sekunder. sehingga berperilaku daktail. arsitektur dan instalasi mesin dan listrik harus ditambat erat kepada struktur BG dan RT dengan alat penambat yang daktail dan mempunyai kekuatan tambat yang memadai. iii. sehingga elemen struktur tersebut berperilaku daktail. Bangunan yang memiliki bentuk massa memanjang diarahkan tegak lurus terhadap garis pantai atau dan dengan gubahan massa yang tidak menentang potensi bahaya gelombang tsunami. maka struktur BG dan RT dan semua elemennya harus direncanakan dan diberi pendetailan sedemikian rupa. baik dalam bidang vertikal maupun horisontal. Persyaratan Monumen dan Bangunan Monumental i. PEMBEBANAN 1. iv. termasuk beban tetap.bangunan harus dibuat sedemikian rupa agar efek gelombang tsunami terhadap bangunan sangat minimal. 2. beban sementara (angin. misalnya pengaturan ruangan dan fasilitas penunjang lainnya serta kemungkinan adanya beban-beban tambahan akibat fungsinya sebagai tempat evakuasi. Sedangkan unsur-unsur lainnya harus diberi kekuatan cadangan yang memadai untuk menjamin agar mekanisme pemencaran energi yang telah direncanakan benar-benar terjadi. ii. c. Analisa Struktur Analisa Struktur harus dilakukan. yang diakibatkan adanya gempa dapat diteruskan sampai struktur pondasi. ii.

IV. seperti a. d. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. SNI2407.4. SNI-1728. SNI 1726. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. g. SNI2834. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. f. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. seperti: a. Tata Cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja c. b. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja d. seperti: a. 67 . c. SNI 2847. b.Penentuan mengenai jenis. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti a. intensitas dan cara bekejanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. SNI3430. Tata Cara Perencanaan binding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-1734. 3. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. d. e.3. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Konstruksi Beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. SNI-3449. 2. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. c. STRUKTUR ATAS 1. SNI 1727. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara/ Pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. SNI-3976. b. Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. SNI-1729 b. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung.

Tata Cara Pencegahan Rayap pada pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu bangunan yang harus dipenuhi. Tata Cara Perancaangan Bangunan Sederhana Tahan Angin.2 mm 68 . Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancanaan Bangunan Rumah dan Gedung. b. SNI-23V4.002 mm < ∅ < 0. Perencanaan Konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli sturktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. tata cara.075mm (c) Pasir (sand) : 0. 5. Definisi i. SNI-2404. Dikatakan setempat bila L/B < 10 dan menerus bila L/B > 10 (b) Pondasi semi dalam . SNI-1963.4. jika D/B < 4 . SNI239'7 h. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. jika 4 < D/B < 10 (c) Pondasi dalam. Konstruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. g. IV. antara lain: a. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Jenis Pondasi : (a) Pondasi dangkal .002 mm (b) Lanau (silt) : 0.4. STRUKTUR BAWAH ii.075 mm < ∅ < 2 mm (d) Kerikil (gravel) : 2 mm < ∅ < 76. c. SNI-2405. jika D/B > 10 Jenis Tanah : Lempung (clay) : ∅ < 0. 1.. i. SNI1736. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. Perencanan Umum a. b. SNI-1745. e Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. SNI-1735. d. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2395 f. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Termitisida. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi.

Beban kerja ( Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung – PPIUG Tahun 1981 dan Tata Cara Perencanaan 69 . 0.1. Dimensi dan Material Pondasi Dimensi dan material pondasi tergantung pada : i. Differential Settlement Keterangan : L = panjang dasar pondasi dangkal B = lebar atau diameter pondasi D = kedalaman dasar pondasi dari muka tanah ∅ = diameter butiran solid tanah δ = differential settlement s = bentang antar pondasi/ kolom Zonifikasi Gempa : .Zona Gempa 6. Sumber : American Association of state Hihgway and Transportation (AASHTO) & Massachusetts Institute of Technology (MIT) Gambar 2. 0.30g dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan dengan perecepatan maksimum di batuan b.20g .Zona Gempa 3. Jenis Pondasi dan Ukurannya Gambar 2.Lempung (clay) dan Lanau (silt) termasuk cohesive soil.15g . sedangkan pasir (sand) dan kerikil (gravel) termasuk cohesionless soil.Zona Gempa 5. 0.2.25g . 0.Zona Gempa 4.

Jenis dan kepadatan tanah yang dituangkan dalam bentuk bearing capacity. (b) Harus ada interkoneksi antara sloof dan pondasi dengan pemberian sejumlah anchor. untuk medium ke atas.70 m dan B = 0. Persyaratan Pondasi i Persyaratan penting pada pondasi dangkal : (a) Antar kolom dan atau antar pondasi harus diberi balok beton sloof. (c) Dimensi dan kedalaman pondasi harus dihitung berdasarkan ketentuan yang berlaku Khusus untuk pemancangan tiang pondasi pada batuan harus menggunakan hydraulic hammer dengan kapasitas > 12 ton atau yang setara. (c) Sekeliling pondasi harus diberi lapisan pasir padat yang bergradasi baik dan berbutir kasar dengan ketebalan pasir dibawah pondasi minimum 30 cm.003 setengah bentang bangunan (s). d. Persyaratan penting pada pondasi semi dalam dan dalam : (a) Tiang harus diperhitungkan sebagai extension and compression pile. Penentuan Jenis Pondasi : Lihat Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Zoning Karakteristik Tanah/ Batuan dan Tabel Jenis Pondasi.002 – 0. kedalaman dan lebar dasar pondasi harus diperhitungkan terhadap kondisi tanah asli yang sudah diperbaiki atau telah dilakukan soil improvement. Differential settlement antar pondasi tidak boleh terjadi. 2. (d) Dimensi pondasi harus diperhitungkan terhadap aspek bearing capacity dan kekuatan material pondasi.70 m c.Untuk kondisi very soft dan soft clay (NSPT = 0 s/d 6). Dihitung berdasarkan metode-metode standart tingkat nasional dan/atau internasional iii. (b) Pada tanah non kohesif : D = 0. i. Settlement Penurunan pondasi yang terjadi baik immediate maupun consolidation settlement harus tidak mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan itu sendiri maupun struktur bangunan yang sudah ada disekitarnya. Gempa dan (a) 70 .Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-17262002 ) ii. (b) Tiang harus mampu menerima gaya vertikal dan horisontal.50 m dan B = 1 m. Safety factor terhadap bearing capacity > 5 Kedalaman dan lebar dasar pondasi dangkal minimum untuk kategori rumah tinggal dengan N SPT < 15 ( tanah lunak) : Pada tanah kohesif : D = 1. Bila tetap terjadi differential settlement maka besar amplitudo yang diijinkan untuk jenis struktur rumah tinggal sebesar 0.

1.b (Tiang Pancang Beton) C.( Pondasi setempat batu kali) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.3.1. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. Untuk Bangunan Gedung < 2 lantai termasuk Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : B. (Tiang Bor Beton) B.b. (Pondasi menerus batu kali) A.c (Tiang pancang beton tanpa mandrel) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : C.2.a.b.1. dengan percepatan maksimum di batuan 0.a. (Pondasi setempat beton) ii.b. ( Tiang Pancang Baja Profil dgn Beton) c.1.2.b ( Pondasi menerus beton ) A.a. (Pondasi menerus batu kali) A.e. Untuk Bangunan Gedung < Rumah Tinggal (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi : A. (Mikropile/minipile) atau B.b ( Pondasi menerus beton) A.1.30g Jenis Pondasi : A.a. (Sumuran/ Caisson) C.(a) (b) (a) (b) Tanah Berkohesi i.a.1.2. Mikropile/minipile B.2.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 Jenis Pondasi : A.( Pondasi setempat batu kali) (b) Zona Gempa 6 . Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi: B. Tanah Tak Berkohesi i.a.b( Pondasi menerus beton ) A.2.1.2. (Pondasi setempat beton ii.2. (Tiang Bor Beton) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi C.1.2.a. Batuan i.1 .1. 71 . (Pondasi menerus batu kali) A.a.2.1. (Tiang Bor Beton) b. (Pondasi setempat beton) a..

ii. (Tiang Pancang Pipa Baja) C.1.1.a (Tiang Pancang Baja) (b) Zona Gempa 5 dan 6 Jenis Pondasi : C.( Tiang Baja/ Beton dipancang pada lapisan batu yang sudah dibor kemudian digrouting) 72 . Untuk Bangunan Gedung Bertingkat Lebih dari 3 lantai (a) Zona Gempa 3 dan 4 Jenis Pondasi C.2.d.b.

.

(8) Metode lainnya yang sesuai. (3) Electro consolidation (4) Stone Column (5) Freezing. (5) Pembekuan air tanah (freezing). Untuk tanah swelling yang diganti setebal zona kembang susut. (2) Preloading yang dikombinasikan dengan vertical drain. i. Jenis Tanah b. Biaya Relatif Perbaikan tanah perlu dilakukan apabila ternyata tanah tersebut tidak memenuhi syarat ditinjau dari aspek daya dukung dan stabilitasnya. (3) Preloading yang dikombinasikan dengan metode electro osmose. (8) Metode pemadatan getar (vibroflotation) (9) Displacement by explosives (10) Metoda injeksi atau mempenetrasikan sesuatu zat/ material ke dalam tanah (impregnation) . (2) Preloading dikombinasikan dengan electro osmose. untuk peat lapisan tanah yang diganti setebal lapisan tanah yang mengalami σ = 0. clay) : (1) Preloading dan surcharge. gravel): (1) Preloading dan surcharge. Metode Perbaikan Tanah Lihat Tabel Metode Perbaikan Tanah. (6) Dynamic compaction dengan atau tanpa drainase horisontal. Tanah Non Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah non cohesive (sand. (7) Substitution yaitu mengganti tanah yang jelek dengan yang lebih memenuhi syarat Ketebalan tanah yang diganti harus mengacu pada zona aktif. (4) Stone Column. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Metode perbaikan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. Waktu pelaksanaan dan berfungsinya metode terkait d. ii. (6) Dynamic Compaction. Cement column. Lime Column. Dampak Terhadap Lingkungan e. Tanah Cohesive Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah cohesive (silt. Kualifikasi Kontraktor c.3. (7) Pemadatan dengan cara peledakan (explosive).

Membrane yang terbentuk melindungi batuan dari udara dan air permukaan. (2) Lean concrete atau slush grouting (a) Slush grouting digunakan untuk melapisi dan melindungi permukaan batuan. Lembaran-lembaran plastik diterapkan pada lereng dengan sudut kemiringan yang redah. iii. Ketebalan shotcrete normalnya 2-3 in. diletakkan di atas permukaan pondasi untuk mencegah aliran air permukaan ke dalam batuan. (3) Plastic Sheeting.Perkuatan batuan dengan menggunakan rock bolts. (7) Consolidation grouting Consoildation grouting adalah penyuntikkan semen ke dalam masa batuan untuk meningkatkan modulus deformasi dan atau kekuatan geser. (6) Perkuatan Batuan ( = Reinforcement Rock) Digunakan untuk menahan stabilitas struktur yang didirikan di atas batuan. rock anchor rock tendon).Metode lainnya yang sesuai. Perkuatan batuan dapat mengurangi pergerakan struktur atau translasi. Lembaran plastik seperti polyethylene. Bentuknya berupa selaput / membrane dengan permeabilitas rendah jika disemprotkan pada permukaan. dengan tidak menutup kemungkinan adanya metode yang lebih baru. Bituminous coating ( = pelapisan bituminous) tidak tahan lama dan biasanya tidak efektif lagi bila sudah lebih dari 2 – 3 hari. (b) Perlindungan dengan menggunakan slush grouting dan lean concrete dibatasi pada permukaan horinsontal dan kemiringan kurang dari 450. (8) Slope Geometry. Bahan untuk grouting adalah campuran cemen dan pasir. Consolidation grouting diterapkan pada masa batuan yang memiliki fraktur (retak) yang banyak dengan jumlah open joint yang dominan. Batuan Beberapa alternatif perbaikan tanah yang tepat untuk jenis tanah batuan : (1) Shotcrete yaitu menyemprotkan beton sebagai lapisan perlindungan pada bahan pondasi yang sensitive. (5) Resin Coating Jenis resin sintetis dibuat untuk digunakan sebagai lapisan pelindung untuk batuan. Campuran ini dimasukkan dalam retak-retak batuan. dan tidak diterapkan lereng yang curam. (4) Bituminous Coating Bituminous atau semprotan aspal yang digunakan terdiri dari campuran aspal dan minyak tanah yang didestilasi. beton atau bangunn dari batu. (11) 2 .

(9) (10) (11) (12) (13) Mengurangi ketinggian lereng dan atau sudut kemiringan dapat mengurangi gaya-gaya yang bekerja. 3 . dengan tidak tutup kemungkinan ada metode baru. Metode lainnya yang sesuai. Rock Anchor Perlindungan Terhadap Erosi Metode ini untuk mencegah kehilangan masa batuan yang disebabkan proses pelapukan. caranya dengan shotcrete. Toe Berms Toe berms membuktikan tahanan pasif dapat meningkatkan stabilitas lereng yang mempunyai potensi bidang runtuh. (b) External Drain : saluran drainase permukaan atau eksternal direncanakan untuk mengumpulkan aliran air permukaan dan membuangnya dari lereng sebelum meresap kedalam masa batuan. Dewatering (a) Internal drain : Pemasangan internal drain dapat mengurangi tinggi muka air tanah dalam lereng.

Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung.0 2 0 . harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Keselamatan struktur tergantung kepada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya akibat berat sendiri. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur d. c.1 0 .0.0 0 1 (D im e n s i o n a t m m ) T a n a h O r g aBnai k u a L e g e n d a : t n • Lem ah • S e d a n g • • P •e n t in g • 0 .0 0 0 2 K u a l ifik a s i W a k tu D a m p a k t e rh a d B p y a a ia K o n t ra k tP e l a k s a nB e rnfu n g s i L i n g k u n g a n R e l a t i f or aa IV. maupun beban yang diakibatkan perilaku alam b.5 KEANDALAN STRUKTUR Bangunan Gedung (BG) dan Rumah Tinggal (RT) yang dibangun di NAD harus mempunyai keandalan struktur dengan pertimbangan Keselamatan Struktur dan Kemungkinan Keruntuhan Struktur. M e t o d e P e r b a ik a n T a n a h J e n is T a n a h No. beban perilaku manusia.T a b e l. Keselamatan Struktur a. dan harus dilakukan atau 4 . Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. A 1 2 3 B C D E F G 1 2 H I J K L M N O P Q M e to d e ' P re lo a d in g S o il w e ig h t o n ly W it h ve r t ic a l d ra in s W it h n e t o f D r a i n a g e E le c t r o O s m o s e E le c t r o C o n s o lid a t i o n S t o n e C o lo u m n C e m e n t C o lo u m n F re e z i n g D y n a m i c C o m p a c ti o n C o m p a c t io n o n l y W it h H o riz o n t a l D r a i n a g e E x p lo s ive s V ib r o fl o t a t i o n Im p re g n a t i o n / G ro u t i n g S u b s t it u t io n S h o t c re t e L e a n c o n c re t e P la s t ic s h e e t i n g B it u m in o u s & re s i n c o a t in g G ro u t i n g R o c k re i n fo rc e m e n t • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • s / d• • • • • • •s / d • • • • • • • s / d• • • • • • • s / d• • • • • • • • • • • • •s / d • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • • s / d • • s / d• • • • • • • • • • • • • •s /d • • •s /d • • • s / d• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •s / d • • • • • • •s / d • • • • • • • • • • • • • • s / d• • • • • • • • • • K e rik ilP a s ir K a P a rs ir h a lu s n a u s La 10 2 1 0 .0 0 2 0 1 Lem pung 0 .2 0 .

Pemeriksaan dan Perkuatan Bangunan Setelah Adanya Gempa a. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang tidak diharapkan. 3. Dari hasil pemeriksaan dilanjutkan dengan evaluasi kekuatan struktur BG dan RT dengan memakai kapasitas elemen yang ada. maupun bencana lainnya. beban yang didukungnya akibat perilaku manusia. pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Pd T-11-2004-C. Adanya pengaruh dari lingkungan yang bersifat merugikan (misalnya korosi) dimana struktur BG dan RT berada perlu diperhitungkan dalam analisa keandalan.didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. beban akibat perilaku manusia. Sebaliknya apabila dari hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan bahwa kekuatan struktur BG dan RT yang ada. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam (termasuk gempa). c. dan atau beban yang diakibatkan 5 . b. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan pemanfaatannya. Keruntuhan struktur adalah diakibatkan oleh ketidakandalan suatu sistem atau komponen struktur untuk memikul beban sendiri. Setelah terjadinya suatu gempa semua struktur BG dan RT yang masih berdiri harus diperiksa dan dievaluasi secara visual yang meliputi materialnya. kondisinya. b. sambungan-sambungannya dan besarnya pergeseran serta kesatuan struktur elemen-elemen struktur pemikul bebannya. maka struktur BG dan RT dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan tanpa perlu adanya perkuatan struktur. Apabila hasil evaluasi struktur BG dan RT menunjukkan kekuatan struktur BG dan RT yang ada masih mampu memikul beban akibat berat sendiri. dan atau beban yang diakibatkan perilaku alam. tidak mencukupi untuk memikul beban akibat berat sendiri. d. c. Apabila hasil pemeriksaan visual dirasakan belum memadai. gempa. Ketidakandalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Khusus untuk keperluan pemeriksaan kerusakan bangunan beton bertulang setelah terjadinya gempa dapat mengacu kepada pedoman teknis pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa. seperti lingkungan yang korosif. Ketidakandalan akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. d. beban akibat perilaku manusia. atau adanya pengaruh lingkungan yang bersifat merugikan. maka perlu dilakukan pengetesan lebih lanjut (misalnya non-destructive testing) untuk mendapatkan data kerusakan akibat gempa yang lebih akurat. 2. Keruntuhan Struktur a.

perilaku alam (termasuk gempa).6 DEMOLISI STRUKTUR 1. 3. Struktur banguan sudah tidak andal. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi 2. mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa. Kategori : Pedoman Teknik Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. metoda dan rencana demolisi struktur harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat yang sesuai. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila : a. Penyusunan prosedur. b. masyarakat dan lingkungan b. dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini. Acuan yang Dipakai a. Adanya perubahan peruntukan lokasi/ fungsi bangunan. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. No : Pd T-13-2004-C. maka perlu diadakan perkuatan struktur. Prosedur dan Metoda Demolisi a. Kategori : Pedoman Teknik Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural. mekanikal. b. No : Pd T-12-2004-C. Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau ekonomis. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami 6 . e. c. Perancangan komponen arsitektural. Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri. Kategori : Pedoman Teknik. dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. ii. Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa No : Pd T-11-2004-C. Perkuatan struktur BG dan RT dapat dilakukan dengan menghubungkan elemen-elemen struktur yang ada dan atau dengan menambah elemen-elemen struktur baru untuk memperbaiki aliran beban (load path) dan meningkatkan kekuatan struktur BG dan RT sampai ketingkat yang disyaratkan IV. Prosedur.

Kategori : SNI. Tata Cara Teknik Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung No : SNI 03-3430-1994. h. Kategori : Petunjuk Teknik Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan / perlengkapan dapat berfungsi kembali. Tata Cara Perencanaan Rumah Sederhana Tahan Gempa No : PtT-02-2000-C. Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. j. Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan. bukan keharusan. f. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. No: Pd T-14-2004-C. kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. i. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1734-1989. Kategori : Petunjuk Teknik. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung No : SNI 03-1729-2002. g. terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau. e. Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung No : SNI 03-2847-1992. l. Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. Tata Cara Perbaikan Kerusakan Bangunan Perumahan Rakyat Akibat Gempa Bumi No : Pt-T-04-2000-C. yang pemakaiannya optional. No : SNI 03-1726-2002. Kategori : SNI. Kategori : SNI. Kategori : Pedoman Teknik. Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung. k. Kategori : SNI. termasuk beban-beban hidup untuk atap miring. Tata cara ini digunakan untuk menentukan syarat-syarat perencanaan struktur gedung secara umum dan untuk penentuan pengaruh gempa rencana untuk struktur-struktur bangunan rumah dan gedung Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung No : SNI 03-1727-1989.d. Kategori : SNI. gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa. Kategori : SNI. 7 .

intensitas kebakaran. v. iii. iv. beban api. vii.V. iii. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. antar unit-unit hunian tunggal (hanya berlaku bagi bangunan kelas 2 atau 3. v. vi.melindungi benda atau barang lainnya terhadap kerusakan fisik akibat keruntuhan struktur bangunan saat terjadi kebakaran. dapat menghindari terjadinya kerusakan pada properti lainnya. untuk memberikan kesempatan bagi petugas pemadam kebakaran untuk beroperasi.menghindari penyebaran kebakaran antar bangunan. iii. ukuran setiap kompartemen api. iv. c. sehingga penghuni bangunan mempunyai cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara aman tanpa dihalangi oleh penyebaran api dan asap kebakaran. Suatu bangunan harus dilindungi terhadap penyebaran kebakaran: i. antar kompartemen kebakaran yang berdekatan. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. 1. Ketahanan Api dan Stabilitas a. ix. b. . ketinggian bangunan. dan 8 . cukup waktu untuk keperluan evakuasi penghuni secara aman. antar bangunan. intervensi pasukan pemadam kebakaran. . fungsi atau penggunaan bangunan. ii.menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang dilakukan petugas pemadam kebakaran. yang sesuai dengan: i. dan atau bagian kelas 4). Persyaratan yang lebih detail mengenai sitem proteksi pasif dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000.1 SISTEM PROTEKSI PASIF Persyaratan yang tercantum dalam bagian ini bertujuan untuk: . ii. sehingga: i. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi kebakaran untuk memadamkan api. . Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama terjadinya kebakaran. tingkat bahaya api. kedekatan dengan bangunan lain.melindungi manusia dari sakit atau cedera akibat terjadinya kebakaran dalam bangunan maupun pada saat proses penyelamatan. ii. sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. viii.

sistem proteksi aktif. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. fungsi atau penggunaan bangunan. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. iv. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. sambungan konstruksi. sampai dengan tingkat tertentu. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. beban api. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. atau potensial dapat meledak. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. 9 . Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. waktu evakuasi ii. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. fungsi bangunan. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. f.x. yang sesuai dengan: i. iii. membatasi berkembangnya asap dan panas. sesuai dengan: i. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. yaitu pada bukaan. g. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. keruntuhan tersebut dapat dihindari. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. iv. d. iii. 2. Tipe Konstruksi Tahan Api Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. dan vi. elemen bangunan lainnya. ukuran kompartemen. tingkat bahaya api. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. h. Tipe A : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. v. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. intensitas kebakaran. ii. e. jumlah.

b.4 Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. 3. Spesifikasi detail ketiga jenis tipe konstruksi diatas dapat dilihat pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab IV pasal 2. Tipe B : Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: 10 . c.

tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. b. iv dan v di bawah tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler.8. ketentuan pada butir iii.8 lantai) 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C 4. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. iii. Kompartemenisasi dan Pemisahan a. perambatan api dan asap. Pemberlakuan. i. 7. Ukuran Maksimum dari Kompartemen Kebakaran Klasifikasi Bangunan Tipe Konstruksi Bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 2 2 Klas 5 atau Maksimum 8000 m 5500 m 3000 m2 9b Luassan Lantai Maksimum 48000 m3 33500 m3 18000 m3 Volume Klas Maksimum 5000 m2 3500 m2 2000 m2 6. kecuali seperti yang diijinkan pada butir iv. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel 2. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. agar dapat: i. 6.3.2 dan butir vi.1 Tipe Konstruksi yang Diwajibkan KETINGGIAN Klas Bangunan (dalam jumlah 2.7. c.7. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. ii. Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. 11 .Tabel 2. Tabel 2.atau Luassan 9a Lantai (kecuali Maksimum 30000 m3 21500 m3 12000 m3 daerah Volume perawatan pasien) i.9 5.6. Batasan umum luas lantai.2. dan ii. mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang berdekatan. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.

(2) bangunan klas 5 s. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir v (2). maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.000 m2 atau 108. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2). dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir butir v (2).2 di atas bila: i. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. e. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. tanki air. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. iv. atau peralatan lift. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. d. ii.000 m3 dengan sistem sprinkler. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel 2.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. Bagian bangunan. iii. 12 . Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. sungai. i.ii. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108.Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir (1) atau (2) di atas. asap dan gas beracun. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya.d. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir v (1) di bawah yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. atau: ii Bangunan dengan luasan melebihi 18. ventilasi. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. (2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir butir 5.

h. b.(3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir ii). Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. ii. g. (4) di atas maka jalan tersebut dapat berlaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi ((1) s. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya.d. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. d. 5. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Seluruh bukaan harus dilindungi. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. damper. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. pemisahan oleh dinding tahan api. Proteksi Bukaan a. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. dan tertutup pada setiap lantai. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. dan . shaft ventilasi. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat 13 . Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. c. Pada bangunan klas 2 dan 3. Tangga dan lift pada satu shaft. f. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai.

berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. lubang tirai. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10.000 mm2. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). dan iii. bila luas lubang/ sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir (2) di atas. yang bukan dari klas 10. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 meter pada dinding yang sama. ii. sambungan pengendali. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. g. atau (2) 1. Pemisahan bukaan pada kompartemen kebakaran. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir 8) di bawah. kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. maka tidak boleh menempati lebih dari ⅓ luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. dan ii.3. f. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45.dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel 2. iii. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. e. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. 14 .

180 2m 180o atau lebih nol h. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. PUIL. Sistem Pemadam Kebakaran dalam Bentuk Sistem Plambing dan Alat Pemadam Ringan. Sistem hidran kebakaran (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Bila diperlukan proteksi. maka jalan masuk. i. Hidran Kebakaran i. SNI 03-1745.d. a. 135 3m o o Lebih dari 135 s.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.3 Jarak Antara Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran yang Berbeda Sudut terhadap Dinding Jarak Minimal Antara Bukaan 0o (dinding-dinding saling 6m berhadapan) Lebih dari 0o s. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis).d.d. jendela.d. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Pintu. Standar Industri Indonesia (SII). 10/KPTS/2000 tentang ketentuan teknis bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. ii. V. Sistem Pemadam Kebakaran harus memenuhi Kepmen PU no. 90o 4m o o Lebih dari 90 s. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. persyaratan dan standarisasi yang berlaku dari National Fire Protection Association (NFPA). American Standard For Testing Material (ASTM). jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. ii.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. dan terdapat regu pemadam kebakaran. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. 45o 5m Lebih dari 45o s. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. dan 15 .Tabel 2.

maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. (b) 2(dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh saluran peruntukan bangunan. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor bakar. dan jika dalam jarak m dari bangunan. asalkan ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari : (a) 2 (dua) pompa. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai kelas bangunannya. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. atau (b) listrik yang dicatu dari generator darurat. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 2 m. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. atau (b) bangunan kelas 5. kecuali pada satuan peruntukan bengunan. (5) pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang : (a) mempunyai jalur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dan dengan konstruksi yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. 6.(2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). di mana: (a) bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4. 7. atau (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. (6) untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. 16 . atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. tahan cuaca. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai di mana ada jalur keluar.

untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. hidran untuk Lingkungan Perumahan. b. (2) melayani hanya lantai di mana alat ini ditempatkan. kecuali pada satu unit hunian. satu unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. sehingga setiap rumah dan bangunan dapat dijangkau oleh pancaran air unit pemadam kebakaran dari jalan lingkungan. di mana satu atau lebih hidran dalam dipasang. Perdagangan. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. (9).(7) bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. sesuai dengan standar SNI 03-1745. Industri Dan Atau Campuran: Lingkungan tersebut harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tersedia sumber air berupa hidran lingkungan. ii. (12). (a) pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dilayani oleh hose reel tunggal yang 17 . (10). sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan. Bila hidran kota tidak tersedia. (11). pada bangunan yang dilengkapi dengan hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran di dalam bangunan. serta mampu menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit. maka harus disediakan hidran halaman. sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. Sistem hose reel harus disediakan : (1) untuk melayani seluruh bangunan. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. Sistem hose reel. yang dipasang dalam bangunan untuk pemadaman kebakaran oleh penghuni bangunan. (8). serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. panjang selang minimum 30 meter. Untuk hidran bangunan dengan ukuran selang 1½ inci atau kurang. Hose Reel i. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku.

dilayani oleh hose reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat hose reel melayani seluruh unit hunian. 7.(d)) di atas harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. yaitu antara (0. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.5 . dan (b) pada bangunan kelas 5.2. (10). atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. (7). (3) memiliki selang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian ruap untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. (9). (6) Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. (5) Bila dihubungkan dengan meteran air. sebuah katup yang memenuhi butir ((5). Sistem Sprinkler 18 .ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut.0) kg/cm2. (b). sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. (4) hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) di atas. dan (c). atau (d) kombinasi (a). 6. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . Pemakaian air asin tidak diizinkan. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). ditempatkan: (a) di luar bangunan. (8). 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. c. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke hose reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja .

yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (Kelas 6) Dalam kompartemen kebakaran dengan salah satu ketentuan berikut. volume lebih dari 12.000 m3. panggung lebih dari 200 m2. Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis Bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua kelas bangunan: Pada bangunan yang tinggi termasuk lapangan parkir efektifnya terbuka dalam lebih dari 14 m atau jumlah bangunan campuran lantai lebih dari 4 lantai. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. Ruang parkir.4.000 m2 dan volume 108.luas lantai lebih dari 3.000 m3.d. 9 dengan luas maksimum 18. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. SNI-3989. Bangunan dengan resiko bahaya Pada kompartemen dengan salah kebakaran amat satu dari tinggi *) 2 (dua) persyaratan berikut. 19 . Semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. Teater. luas lantai melebihi 2. selain ruang parkir Bila menampung lebih dari 40 terbuka.500 m2 2. berlaku: 1. kendaraan.000 m3 Bangunan Rumah Sakit Lebih dari 2 (dua) lantai Ruang pertemuan umum. b.volume ruangan lebih dari 21. 2. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2. ii. berlaku: 1.000 m2 dan volume 108.lapangan parkir terbuka tidak termasuk.i. Konstruksi Atrium Tiap bangunan ber-atrium Bangunan berukuran besar yang Ukuran kompartemen yang lebih terpisah besar mengikuti: Bangunan Kelas 5 s. Ruang Luas panggung dan belakang pertunjukan.000 m3.000 m2.

ruang pertemuan umum atau semacamnya. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. harus: (a) berdiri sendiri. 20 .(2) Bangunanan bersprinkler. (3) Katup kontrol sprinkler.5 .2. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. (4) Pasokan air. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan : setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi internal yang disyaratkan.0) kg/cm2. yaitu antara (0. bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. jika : (a) sprinkler terpasang di seluruh bangunan. dan setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinkler diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan. (6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper) Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. Catu air bagi sistem harus mempunyai tekanan yang cukup untuk mencapai titik terjauh instalasi kepala . harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan ruang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. (8). luas bangunan yang disyaratkan menggunakan sprinkler. atau sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak disyaratkan. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. (7) Sistem sprinkler di ruang parkir Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-kelas. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku. dan klasifikasi bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan : sebagian bangunan di pasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler di daerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir.

kecuali di dalam unit hunian bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian bangunan kelas 4. d. jenis pipa yang sering dipakai pada pekerjaan instalasi hidran dan sprinkler harus sesuai dengan spesifikasi teknis. Komponen dari sistem sprinkler:Spesifikasi dan standard pipa harus dari jenis: • Pipa baja : • Pipa baja galbani (pipa putih) • Pipa besi tuang dengan flens • Pipa besi tuang dengan mof • Pipa tembaga dengan standar minimum klas menengah (medium).(9). Pipa Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. Luas lingkup maksimum disesuaikan dengan tingkat bahaya kebakaran. Penempatan kepala sprinkler : didasarkan pada luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektif terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. dan tangki bertekanan sesuai syarat pada SNI3989. sesuai dengan SNI-3989. (13). kecuali bila tidak ada penyediaan air lain pada waktu terjadinya kebakaran dengan syarat harus segera dibilas dengan air bersih. (14). Pemakaian air asin tidak diizinkan. (10). e. Aliran sumber catu air untuk harus mencukupi untuk dapat mengalirkan air sekurang-kurangnya (40-200) liter/menit per kepala menurut jenis dan tingkat bahaya kebakaran yang diproteksi. Schedule 40 (Sch 40) menunjukkan standar kemampuan menahan tekanan kerja sampai dengan 30 kg/cm2. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang di seluruh bangunan. Pemadam Api Ringan (PAR) i. Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali : jaringan kota apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. (12). jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu 21 . Ukuran pipa dan perhitungan hidrolik sesuai dengan SNI3989. Perlindungan pipa : Pipa harus diilndungi terhadap korosi dan gempa bumi sesuai ketentuan pada SNI-3989. PAR memenuhi butir i. Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan lain yang dapat mengganggu kerja . tangki gravitasi. dan biasanya digunakan pipa baja karbon hitam (black steel pipe) dengan schedule 40. (11). ii.

(1) Beberapa jenis detektor yang dapat digunakan meliputi : (a) Detektor panas. rate-of-rise detector. Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (SKBI) yang dikeluarkan oleh Departemen PU. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. dan (2) PAR dari jenis bukan kelas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. detektor kombinasi. Petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat detektor dan panel. bila terdapat balok dengan tinggi lebih dari 60 cm. SNI3985 dan SNI 03-3986-edisi terakhir mengenai Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis. (d) Detektor gas. kelembaban relatif. PUIL 2000. meliputi : merk detektor. dan sensitivitas. (2) Detektor yang akan dipakai harus memenuhi spesifikasi teknis pada dokumen kontrak. terdiri dari : detektor asap optik. (b) Detektor asap. (c) Detektor nyala api : detektor nyala api ultra violet dan detektor nyala api infra merah. tegangan operasi. anak-anak atau orang cacat. 22 . SK Menteri PU tentang ketentuan Pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. b. harus diperhatikan perbedaan berat gas dengan udara sebagai berikut : untuk jenis gas lebih berat dari udara jarak maksimum mendatar adalah 4 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan tinggi maksimum dari lantai adalah 30 cm. dan detektor asap ionisasi. terdiri dari : fixed temperature detector. arus listrik (stand-by current). dipasang pada bagian terdekat di atas kemungkinan timbul kebocoran gas. sedangkan jenis gas lebih ringan dari udara jarak maksimum mendatar adalah 8 meter dari kemungkinan timbul kebocoran dan jarak maksimum dari langit-langit adalah 30 cm. dengan persyaratan khusus bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yangdigunakan sebagai : (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. 2. khusus untuk pemasangan detektor gas. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia.dipasang di dalam bangunan atau bagian yang dilayani oleh Hose Reel. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. dan bangunan klas 9a. Spesifikasi Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran i. temperature range. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: bangunan klas 1b bangunan klas 2.

Tanda Arah Keluar.3 (mengenai Pencahayaan Darurat. ii. iii.5 mm2. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menggunakan dan memasang alarm kebakaran adalah : (1) Bunyi dan irama yang khas hingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran (2) Frekuensi kerja alarm 500 . dan Sistem Peringatan Bahaya). Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan pada bab 2.(3) Jenis kabel yang lazim dipakai adalah kabel NYM 2 x 1. tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB (A) (5) Sifat irama alarm tidak menimbulkan kepanikan (6) Pada tempat-tempat khusus (misalnya : perawatan orang tuli dan sejenisnya) dipasang alarm visual (7) Terpasang pada lokasi panel kontrol dan panel bantu (8) Dapat menjangkau bagian ruangan dalam bangunan 23 .1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara minimal 65 dB (A) (3) Lebih tinggi minimal 5 ddB (A) tingkat kekerasan suaranya pada ruangan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (4) Di ruang tidur. (8) Tidak mudah terkena gangguan (9) Pada jalur arah lari yang normal ke bangunan (10) Terpasang di setiap lantai pada bangunan bertingkat (11) Setiap titik panggil manual dapat melayani luas maksimal 900 cm2 iv. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam memasang titik panggil manual (break glass) adalah : (1) Modol tombol tekan (2) Dilengkapi dengan kaca.4 m dari lantai. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi internal tidak dipersyaratkan. bila dipecahkan tidak membahayakan (3) Disediakan alat pemukul kaca (4) Berwarna merah (5) Mudah dicapai dan terlihat jelas (6) Dihubungkan dengan kelompok detektor (zone) yang meliputi daerah di mana titik panggil manual tersebut dipasang. dipasang dalam konduit PVC tipe “High Impact” dan fire reterdant.4. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan di setiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. Kabel harus memenuhi persyaratan PUIL 2000. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. (7) Dipasang pada lintasan menuju keluar dengan ketinggian 1.

Penempatan Alat Pendeteksi Asap Pemasangan sistem deteksi disesuaikan dengan buku “Panduan Pemasangan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang diterbitkan oleh Departemen PU. Dengan lubang udara masuk AC (supply air diffuser). (2) ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap.. Dengan dinding dan langit-langit. (3) ditempatkan kurang dari 1.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. Antar detektor pada langitlangit rata C. Tabel 2. Dengan lubang udara balik AC (return air grille).5 m Jarak Detektor A.5 m ≥ 1. v.5 m <1.5 m <1. D.5 Lihat gambar 2.4 Lihat gambar 2. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. E.5 m ≥ 1.5 Jarak Pemasangan Detektor Detektor Detektor Detektor Panas Asap Gas ≥ 300 mm ≥ 100 mm ≥ 100 mm dari dinding dari dinding dari dinding ≤ 300 mm ≤ 300 mm dari langitdari langit≤ 300 mm langit langit dari langitlangit ≤ 7 m untuk ≤ 12 m untuk ≤ 12 m ruang efektif ruang efektif ≥ 10 m untuk ≤ 18 m untuk sirkulasi ruang sirkulasi ≥ 1.6 Lihat gambar <1.5 m 900 mm secara 900 mm secara 900 mm secara 24 . atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. (1) dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara.(9) Dapat digunakan pula sebagai penuntun arah masuk bagi anggota kebakaran dari luar.5% smoke obscuration/m. dan (4) dipilih tipe foto-elektrik. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µ m.3 B. Ket Lihat gambar 2. Antar detektor Lihat gambar 2.

Jarak detektor dengan dinding dan langit-langit Gambar 2. Jarak detektor pada langit-langit rata 25 .3. Dari 100 mm dari 900 mm dari 900 mm Lihat puncak atap puncak atap.7 F. horizontal dari puncak atap tertinggi.8 bentuk atap pelana. catatan : 1. Ruang sirkulasi adalah ruang yang hanya dipergunakan untuk lalu lintas atau sirkulasi dalam bangunan.4. Gambar 2. Ruang efektif adalah ruang yang dipergunakan untuk menampung aktifitas yang sesuai dengan fungsi bangunan. horizontal dari puncak atap tertinggi horizontal dari puncak atap tertinggi 2.pada atap bentuk gergaji. puncak atap dari gambar pada atap puncak 2. 2.

Gambar 2. Jarak detektor dengan lubang udara masuk AC Gambar 2.5. Pemasangan detektor pada atap bentuk gergaji 26 .7.6. Jarak detektor dengan lubang udara balik AC Gambar 2.

Faktor pengali langit (%) 0. Tabel berikut menunjukkan contoh pemilihan jenis detektor yang disesuaikan dengan fungsi ruangan.6 ~ 4.Gambar 2.0 m 100 1. Pemasangan detektor pada atap pelana Catatan : jarak antara detektor menyesuaikan dengan tinggi langit-langit ruang efektif seperti pada tabel berikut.4 m 40 8.2 ~ 4.6 ~ 7.0 m 64 6.6 m 91 3.4 ~ 6.0 ~ 3.8 ~ 8.6 m 58 6.8 m 77 4.8.2 m 84 4.4 m 71 5. Tabel 2.6 Fakor Pengali Jarak Detektor.0 ~ 6. perjamuan . Ketinggian langit.2 ~ 7.0 ~ 3.4 ~ 9.R.7 Contoh Pemilihan Jenis Detektor Sesuai Fungsi Ruangan Fixed RoR & Asap Nyala Api Gas Temperature kombinasi RoR~fixed temperature Dapur . Tabel 2.8 ~ 5.0 m 34 Penempatan detektor harus sesuai dengan fungsi ruangan. Peralatan bangunan -Gudang material yang R. Jarak detektor = ketinggian langit-langit x faktor pengali. transformato r/ diesel 27 .restoran R.garasi mobil .2 m 52 7.8 m 46 7.

. pompa . lift . yaitu: (a) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung.Studio televisi R. Penempatan detektor pada langit-langit yang terbagi oleh balokbalok vi. resepsionis .9. 28 .Gudang mudah .Shaft Perpustakaa n .R. tamu . dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis.ruang sidang . mesin . AC .Tangga .Lobby .kamar tidur Ruang generator & transformator Laboratorium kimia . Batas Ambang (1) Sistem sampling harus memenuhi ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan.R. dan (b) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.Koridor .Ruang yang terbakar berisi bahan Ruang yang mudah kontrol menimbulka instalasi n gas yang peralata mudah n vital terbakar Gambar 2.. PABX .R.R.R. Pemasangan.Aula . (2) Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yag berlaku.R.

iv. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka b. ruang kompartemen sanitasi. atau ketentuan pada butir b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. dan tidak 29 . setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi (Bangunan Penyimpanan : gudang. Pengendalian Asap Kebakaran a. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel 2.8. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. terminal udara. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. termasuk di dalam satuan rumah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. halte bus. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. atau ketentuan pada butir b.5. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. gedung tempat parkir. rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakuasi/penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/jalan keluar. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengndalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada table 2. pelabuhan laut) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. terminal bus. ramp.. pada saat terjadi kebakaran.10 m di atas level lantai. bangunan klas 1 (bangunan hunian biasa) atau 10 (bangunan / struktur yang bukan hunian)..3. ruang tanaman atau sejenisnya. ii. dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. dan ii. dan iii. dan sejenisnya) harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran : (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v (Bangunan Terminal : stasiun kereta. iii. Persyaratan umum i. untuk selama tengang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan.

30 .mensirkulasikan kebakaran. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. asap di antara kompartemen Untuk keperluan ketentuan ini.

Sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. atau c. harus dilengkapi dengan: 31 . 8. setiap lantai di atas tinggi efektif 25m.Tabel 2. harus dibagi dengan interval < 40 m dengan konstruksi sesuai ketentuan V. harus dilengkapi dengan : 1. dan 8b. 6. 3. 8. Bila panjang koridor umum > 40 m. 7 (bukan tempat parkir terbuka). termasuk setiap jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomatis. dan 4 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. lebih dari 2 lantai di bawah tanah. Harus dilengkapi dengan alarm dan deteksi asap otomatis. 6. Jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka. 6.3. Kelas 5. KETENTUAN UMUM KELAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk : 1. atau b. dan 2.8. atrium. 7.1. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Kelas 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir VI. atau b. termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. 3. Persyaratan Pengendalian Asap Kebakaran 1. Sistem presurisasi otomatis. 8. 7 (bukan tempat parkir terbuka). 2.3 BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF > 25 M Kelas 2. atau 9b. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. dan 9b Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap (selain ruang / tempat terzona sesuai ketentuan yang berlaku. parkir) Kelas 9a 1. Kelas 5. dan 4 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran. kecuali bahan pelapis dari bahan yang tidak mudah terbakar. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. bangunan kelas 9a yang lebih dari 2 lantai. maka: a. atau d. atau 2. dan 2. dan 2.

Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. Kelas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > parkir) 3 lantai. 7. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan kelas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan kelas 5. 8. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis 4. 7 (bukan tempat parkir terbuka). sistem sprinkler 3. Sistem detektor dan alarm asap. Kelas 6. Sistem sesuai butir 2. Sistem sprinkler BASEMENT (selain ruang 1. Kelas 5 atau 9b (sekolah) b. harus / tempat parkir) dilengkapi dengan: a. Sistem pengendali asap terzona. atau 2. 6. 7. atau b. Sistem sprinkler Kelas 9a 1. Kelas 6. dan 9b Pada bangunan : (selain ruang / tempat 1. atau 3. atau ii. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Kelas 5. 8. Sistem pengendali asap terzona. Basement dengan luas > 2000 m2.b. atau ii. atau 9b. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau 2. 8. 8. 7. atau b. dan 2. Bila > 2 lapis di bawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. Sistem pengendali asap terzona. Sistem sprinkler b. Bila bangunan > 2 lantai. harus dipasang: 1.a. Sistem presurisasi udara otomatis. 32 . bila basement mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. atau 3. atau 2. harus dipasang: a. maka : a. termasuk jalan penghubung dan rampnya. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis iii.i. atau 9b (selain sekolah). bila bangunan mempunyai lebih dari satu kompartemen kebakaran. 6. di atas harus dipasang. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. 3.

atau toko b. sistem inter komunikasi darurat. yang dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanis sesuai ketetentuan: 1. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3500 m2. atau digunakan dalam bangunan d. fungsi khusus bangunan c. Luas bangunan < 2000 m2. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. toko dengan luas > 1000 m2 Kebakaran > 2000 m2. dan: i. Kompartemen 1. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat kelas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/ penggunaa yang banyak. bila: a. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikut iketentuan 1. Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. KETENTUAN KHUSUS KELAS / BAGIAN PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN BANGUNAN Kelas 6. dan terdapat selasar toko (selain pada ketentuan 3) yang tidak terlindung melayani > 1 membuka ke arah selasar terlindung. Selasar terlindung. Bangunan 1 lantai. sistem peringatan kondisi darurat. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen kebakaran Ruang / tempat parkir. Kompartemen 1. atau ii. dipajang. karakter khusus bangunan b. dipasang lubanglubang centilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. termasuk ruang parkir bawah tanah. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api. harus 33 . ditetapkan pada butir 2. dan 2. dan b. Setiap kompartemen mebakaran. sistem deteksi dan alarm kebakaran. dipasang sistem sprinkler 2. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan.Ruang / tempat parkir Atrium 2. Bila bangunan 1 lantai. kecuali yang 2 Kebakaran > 2000 m . Kelas 6. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan : a. yang membuka ke arah selasar terlindung. atau c. harus dilengkapi Tidak terdapat selasar dengan : terlindung melayani > 1 a. Bangunan 2 lantai atau kurang. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. Sistem pembuangan asap otomatis. Bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka.

2. diskotek. Sistem pembuang asap otomatis. atau b. dengan luas > 300 m2. Bukan pada bangunan sekolah. Bila bangunan 1 lantai. bila bangunan 1 lantai. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3500 m2 dan bangunan 2 lantai atau kurang. atau ii. atau lubang-lubang ventialsi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. 3. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Sistem pembuang asap otomatis. bila bangunan 1 lantai. Sistem pembangunan asap otomatis. termasuk theater kuliah dan komplek 34 . bila: a. atau ii. Bangunan pameran. Bangunan klab malam. atau ii. dipasang sistem sprinkler dan: i. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan theater atau tempat pertemuan / hall umum: a. atau iii. di atas. luas lantai < 2000 m2. harus dilengkapi dengan: i. harus dilengkapi dengan: a. atau 2. dan b. 3. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. i. dan c. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. bila bangunan 1 lantai. dipasang sistem sprinkler. atau b. Bila luas bangunan 2000 ~ 3500 m2. Idem 1. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Sistem pembuang asap otomatis. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Sistem pembuangan asap otomatis. 1. 4. Bila luas bangunan > 3500 m2. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. atau sistem sprinkler. dan sejenisnya. dan b. Bangunan Pertemuan dilengkapi dengan: a. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dengan luas > 200 m2. gereja.toko Kelas 9b.a. Pada bangunan sekolah. harus dilengkapi dengan: a. dan b. gereja. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen tidak harus mengikuti ketentuan 1. Sistem sprinkler.

Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap kelas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Masjid. bila bangunan 1 lantai. b. Kompleks olahraga (termask hall olah raga. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. di atas. ii.auditorium: a. 35 . Persyaratan Untuk Bahaya Khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: tata letak bangunan. sifat penggunaan bangunan. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a di atas adalah: i. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel 2. c. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memnuhi ketentuan standar yang berlaku.8 pada lampiran persyaratan kerja teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. ruang senam. Sistem pembuang asap otomatis.b. ii. vi. atau sistem sprinkler. atau ii. Selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2000 m2: i. kolam renang dan sejenisnya) selain dari gedung olah raga (indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1000. d. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seeprti butir 4. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. Bangunan pertemuan lainnya (di luar butir 3 dan 4 di atas): a. iii. v. atau iii. dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. i. Gereja. Bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. 6. Untuk sistem pengatur udara lainnya. dan b. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis.

pipa. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. untuk jendela. dilengkapi sarana alat pengendali. Proteksi Pada Bukaan. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. telepon. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yangt dilindungi terhadap api. iii. Pusat Pengendali Kebakaran a. ii. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya ruang pengendali. saluran. bahan lapis dan penutup.2. ventilasi. bukaan pada dinding. konstruksi penutunya dari beton. Konstruksi Ruang Pusat Pengendali Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. pinu. harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. alngit-langit dan dinding dalam. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bgi penghuni bangunan b. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaaan pada bab 2. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. peralatan utilitas. c. tidak boleh lewat ruang tersebut. (Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran –Sistem Proteksi Pasif –Proteksi Bukaan) d. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. Ukuran dan Sarana 36 . sebuah ruang untuk pengendali dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penangangan kondisi darurat lainnya. ii. dan sejenisnya.1) 4. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari 2 (dua) arah: arah pintu masuk di depan bangunan. di mana: i. Pintu Keluar i. tidak digunakan bagi keperluan lain. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. saluran udara. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokokhan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. pembungkus atau sejenisnya. meubel.1. seperti pada lantai. panel kontrol. iii. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut ii. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. e. iv.

sakelar pengendali jarak jauh untuk gas dan catu daya listrik. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. iii. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1) Panel indikator kebakaran. Ventilasi dan pemasok daya. dan (2) sistem keamanan bangunan. (3) jika dipasang peralatan tambahan. (2) telepon sambungan langsung. kipas pengendali asap. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. saklear kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran.50 m2. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang 1. ii. genset darurat. 37 .50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) di atas. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. panel indikator lift. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali.50 m. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. ii. dan: (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangungan. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m2 dari luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. (4) mempunyai kipas. Sebagai tambahan. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (3) sebuah papan tulis dan sebuah papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. (2) jika hanya menampung peralatan minimum. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat.i. sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara per-jamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. dan sistem manajemen. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. sistem pengamatan. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). f.

Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Instalasi pipa sprinkler dan hidran. iv. ii. vi. g. viii. Tes head sprinkler secara acak (sample) pada satu atau beberapa titik head sprinkler dengan cara memanasi hingga i. Head sprinkler telah dipasang dengan jumlah sesuai pada gambar kerja. vii. material yang dipakai serta instalasi pemasangan sesuai dengan standar peraturan dan syarat-syarat yang berlaku. i. pompa pengendali sprinkler. (5) Segel PAR. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Pemadam Kebakaran a. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketuka kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dBA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan di dalam bangunan. h. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. b. PAR (Fire Extinguisher) (1) Jumlah PAR. Beberapa peralatan seperti motor bakar. i. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat dicapai dari ruang pengendali tersebut. Pemeriksaan. (3) Pemasangan sesuai syarat yang ada. Kotak hidran dan perlengkapannya. Pemeriksaan Pemeriksaan sistem pemadam kebakaran bertujuan untuk memastikan instalasi dan pemasangan telah dilakukan dengan benar. Siamese connection. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan bantuannya. (4) Jenis PAR sesuai kegunaan ruangan. Pengujian Pengujian terdiri dari . Pemeriksaan terdiri dari urutan dan metode pelaksanaan. iii. 38 . (6) Kelengkapan kartu periksa berkala. iii. dan tingkat iluminasi di atas meja kerja tak kurang dari 400 Lux.(5) mempunyai catu daya lisatrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. v. Beberapa hal yang harus diperiksa meliputi: Bahan dan material yang datang (check material on site). ii. Flow switch dengan membuka drain valve alarm kebakaran pada MCPFA lokal alarm harus aktif. (2) Posisi sesuai dengan gambar kerja. Tes tekan parsial instalasi pipa sprinkler dan hidran sebesar 2 x tekanan kerja atau sesuai spesifikasi. Pilar hidran. 5. Hasil pemeriksaan dicatat pada daftar simak (check list) terlampir.

ii. (3) Petunjuk pemeliharaan sistem. Pelaksanaan pemasangan instalasi. Metoda kerja. Pemeriksaan. Ketentuan lain yang harus diperiksa adalah : (1) Gambar pemasangan sistem (shop drawing) (2) Petunjuk cara kerja dan pelayanan sistem.mencapai temperatur pecah. ii. v. (5) Buku catatan untuk mencatat kejadian atau kerusakan pada sistem. (4) Buku normal dari masing-masing komponen. dll. iii. Pompa-pompa kebakaran : dilakukan pengujian terhadap karakteristik dan penampilan pada masing-masing pompa. Tujuan pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa pada isntalasi kabel yang telah dikerjakan tidak terdapat hubung singkat (short circuir) yang disebabkan kabel cacat atau terkupas dari isolasinya. Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran a. iv. Bila head sprinkler pecah alram kebakaran harus aktif. Tujuan test ini adalah untuk mengukur tahanan isolasi kabel yang digunakan. b. Tes tahanan isolasi kabel (megger test) menggunakan mega ohmeter atau megger. iv. v. Tegangan catu daya cadangan (emergency power supply) harus secara otomatis mengambil pencatuan daya untuk sistem bila sumber catu daya utama padam. Berdasarkan buku “Pedoman Pemasangan Sistem Deteksi Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung” yang dikeluarkan oleh Departemen PU. Hasil pengukuran harus melebihi atau sama dengan standar yang telah ditentukan. Pengujian i. maka pemeriksaan dan pengujian selanjutnya harus dilakukan bersama pihak instansi pemerintah setempat untuk mendapatkan Izin Penggunaan Bangunan dari pemerintah setempat. besar tahanan harus ≥ 1 MΩ. (6) Pelatihan/training untuk calon operator. Pengujian fasilitas untuk memantau sistem komunikasi dan komponen serta lampu-lampu tanda pada MCFPA. Detektor-detektor yang bekerja harus diikuti dengan indikasi pada MCFPA. Hose reel dan nozzle pada kotak hidran : dilakukan pengujian terhadap kelancaran aliran air. Tes hubung (loop test) menggunakan multi tester. iii. 6. vi. 39 . Besarnya tekanan air yang keluar harus memenuhi persyaratan. Hasil pengujian juga dicatat pada daftar simak. Pemeriksaan i. Setelah pengujian dilakukan dan instalasi/ sistem dapat berfungsi dengan baik. Penggunaan bahan. dan tekanan air harus memenuhi persyaratan.

40 .

harus dibuatkan penghalang yang : i menerus sepanjang area yang berbahaya. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1 m atau lebih dari lantai/atap/ melalui bukaan pada dinding luar bangunan.VI. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Fungsi a. (3) Lantai hordes yang memadai untuk menghindari keletihan. dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. b. 2. iii. mampu menjaga lintasan anak-anak. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar. nyaman dan memadai. b. iv. c.3 atau 4. iii. Akses ke dan dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. Fungsi tersebut pada butir 2) di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelematkan diri dengan aman tanpa merasakan keadaan darurat. Persyaratan kinerja : a. 41 . kecuali tangga/ ramp di luar bangunan. e. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. d. ii. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. c. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. Butir 3) tersebut di atas tidak beriaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. tangga/ ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. dan memadai bagi semua orang. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ ramp. ii. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. maka bangunan harus mempunyai antara lain : i. Butir 3) tersebut tidak berlaku juga untuk : i. injakan dan akhiran injakan tangga. nyaman. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai/atap. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. aman.

mobilitas dan karakter lain dari penghuni ii. f. tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. lantai. 2. Intervensi pasukan pemadam kebakaran h. Jumlah. Kebutuhan Jalan Keluar a.d. Tinggi bangunan g. balustrade atau penghalang lainnya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh. 8 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebin dari 25 m. 42 . Jumlah.bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. mobilitas dan karakter penghuni. disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m.2. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. Basement : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. iii. VI. dan ii. Bangunan klas 9 : Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada : i. b. Tangga. KETENTUAN JALAN KELUAR 1. balkon. Jumlah. dimensi jalur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan : i. Persyaratan Keamanan a. ramp.5 m. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Butir h. d. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. c. sesuai dengan : i. Tangga. Fungsi bangunan iv. c. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. ii. Fungsi bangunan iv. kecuali : i. Fungsi bangunan iii. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan : i. b. Bangunan klas 2 s. 3 dan 4. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Jarak tempuh ii.

1 jalan keluar. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: a. Bangunan klas 5 s. iv. 43 . ii. e. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. atau b. selain area perawatan pasien. Jarak jalur menuju pintu keluar a. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. pada bangunan klas 9a : tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat.setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. biia bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. ii. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke : i. iii. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. 4. c. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Bangunan klas 2 dan 3 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. g. v.d. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. f. masing-masing merupakan bagian jalur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. atau ii. Panggung terbuka : Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. Bangunan klas 2 dan 3 i. sedikitnya 2 jalan keluar. iii. 3. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. Pintu masuk dan setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari : (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Area perawatan pasien : Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka.

konstruksi ruang tersebut bebas asap. b. dan ii. c. tersebut merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 intu keluar tersedia. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. i. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus : a. i. b. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. Bangunan klas 9a : Area perawatan paien pada bangunan klas 9a. Panggung Terbuka : jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbukua harus tidak lebih dari 60 m. atau ii. 9 : Terkena aturan butir d. 5. atau ruang sikulasi lainnya. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. Pada bangunan klas 5 atau 6. d. ii. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih dari 20 m dari pintu keluar. Gedung Pertemuan : Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. berjarak tidak kurang dari 9 m. lobby. e. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. e. ramp. atau iii.d. Bagian bangunan klas 4 : Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. dan ii. f dan : i. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. Jarak meksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. jarak ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. untuk bangunan lainnya. Bangunan klas 5 s. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. 60 m. 45 m pada bangunan klas 9a. memiiki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya tertindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. c. d. f. berjarak tidak lebih dari : 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3.ii. Dimensi/ukuran Pintu Keluar Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar : 44 . 6. bila : i.

jika membuka ke arah koridor dengan: (1) lebar koridor antara 1. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. pada kasus lain. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. lebar bebas. d.2. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. atau 5) minus 250 mm.2 m : 1070 mm.2 m : 1200 mm. pada area perawatan pasien. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. atau ii. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang.8 m pada lorong. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. hall atau yang sejenisnya. b. lobby umum. iii.8 m . atau ii. tinggi bebas seluruhnya harus tidak'kurang dari 2 m. lebar bebas. (3) pintu keluar horisontal : 1250 mm. 1. Jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. atau ii. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. b. lebar pintu keluar: i. 3). ii. a. Lebar bebas.a. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. lebar bebas. g. 1m. e. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. komponen sanitasi. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. (2) lebar koridor lebih dari 2. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. ii.8 m pada lorong. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung. kecuali kalau pintu tersebut dari : i. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. c. f. 7. 4). i. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi : i. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari : i. iv. 750 mm. 1. atau melewati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut : 45 . ruang transisi atau yang sejenisnya. lorong. koridor. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir 2).

(b) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. Tangga/ramp. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus memputivai jelan lintasan menerus. termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. jarak antara pintu ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melampaui : 46 . yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. Pada bangunan klas 2. Lintasan Melalui Tangga/ Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. e. ii bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. 8. Jika lebih dari dua akses pintu. diukur tegak lurus ke jalur lintasan.I.5 Kepmen 441/98 d. (2) lintasan tanpa rintangan. lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. (d) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dari 6 m. 3 atau 4. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. dengan injakan dan tanjakan tangga dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan.2. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. ke tempat: (1) ruang atau lantai. parkir kendaraan atau sejenisnya.i. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan. Bagian dinding tersebut harus mempunyai : i. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang beriaku. tidak lebih dari 20 m. Bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. TKA sedikitnya 60/60/60. atau ii. ke jalan atau ruang terbuka.3 harus tersedia. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka ke area tertutup yang : (a) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. (c) mempunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian. ii. 9. b. dan memenuhi ketentuan teknis yang beriaku. membuka ke pintu keluar yang di'solasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud : i. c.

atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. atau ii. 10. Pada bangunan kafs 5 s. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i. arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah f.2. ii kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar.d 8 atau 9b. 3 atau 9a. Jika pintu keluar yang disyaratkan menujju ke ruang terbuka. menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. 30 m dari salab satu dari dua pintu atau lorong keluar. bila arah tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka .4. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. Pintu keluar harus tidak terhalang. d. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju kejalan atau ruang terbuka atau ii. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. bebas asap. dan bila periu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. tangga/ ramp ysng tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari i. atau ii. 47 . Pada bangunan klas 5 s. c. e. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat ketuar menuju ke jalan atau ruang terbuka melaiui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dari 1 m. Pada bangunan klas 2 atau 3. atau mana yang lebih lebar. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau tidak setinggi 1:14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab Vl. c. 20 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka.d. b. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terietak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. ii. 9. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran dalam bangunan. Pada bangunan klas 2.i. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. jalur lintasan menuju ke jalan hams : i.

iv.2.1. 2. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. dengan tidak kurang dari : i. Pintu Keluar Horisontal a. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini. 48 . iii. b. dan satu dari lapis lantai tersebut terietak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. atau ii. b. 3 lantai. Ramp Atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai. ii. pada area parkir kendaraan atau atrium. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita. di luar bangunan. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dari 500 orang. 0. Pada bangunan klas 9b. Tangga. Kasus selain butir b di atas. dan eskalator.C. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. bangunan SD atau SLTP. d. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. c. tidak harus menghubungkan lebih dari : i. 2 lantai. ramp atau eskalator tersebut pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. 11. dan ii. e. Pada bangunan klas 9a. antara unit hunian tunggal.d. ii. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. c. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila : i. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantsi yang dipisahkan oleh dinding tahan api.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. 12.

Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. atau b. service duct dan yang sejenis. koridor. 49 . motor lif mempunyai luasan i. bila: i. tidak lebih dari 100 m2. tata letak lantai tersebut. dan ii. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. 7. cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. 13. atau c. b. ramp. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. lobby dan yang sejenis. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. 14. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan.d. dan luas lantai dengan: a. hall.2 sesuai jenis penghunian. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. tangga. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. Bila ruang peralatan atau ruang. eskalator. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. ii. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. lift. Peralatan dan Ruang Motor Lift Ruang a. kecuali bila diijinkan sesuai butir ii) atau iii) di atas. ii. iii. 8 atau 9. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 6.

manufaktur. laboratorium.r. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. dll . hostel. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : . bila terjadi kerusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. dari material tidak mudah terbakar.staf pemeliharaan . level lainnya r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 50 .boiler/sumbe tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r.Proses manufaktur pabrik m2/or ang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 3 5 5 0. r. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. motel. pamer : r.Tabel VI. tunggu r. tempat cuci Perpustakaan : .3 1 30 1.r penyimpanan VI.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan m2/or Jenis Penggunaan ang Galeri seni. 3. workshop . b.mall. penjualan: Level langsung dari luar. baca. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. peragaan. r.3 4 1 2 15 25 10 1 0. arcade Panggung penonton: daerah panggung kursi penonton R. prosesing . listrik.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. penyimpanan . r. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD . ruang pamer.ventilasi.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .5 1 4 2 30 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. elktrikal. 2. gereja. museum Bar. guesthouse Stadion indoor area Kios Dapur.r. café. SLTP Pertokoan. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a.r. kerja. .

5. ii. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. terbentang antar balok lantai. b. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. c. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. d. dan ii. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon 6. di mana: i. kayu: i.7 harus: a. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam 51 . maka harus: a. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. b. mempunyai TKA minimal 60/60/-. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. baja dengan tebal minimal 6 mm c. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. dan: a. atau dengan konstruksi: a. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap.setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai.2. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. atau ke bagian bawah langitlangit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. mempunyai luas minimal 6 m2. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar.Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. di setiap bukaan dari area hunian. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. b. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. beton bertulang atau beton prestressed. 7. harus tidak ada hubungan langsung antara i. iii .

koridor. dan sejenisnya. panel atau saluran distribusi.pedoman ini. kecuali: i. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. iv. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. seperti pegangan rambat (handrail). bila peralatan dimaksud terdiri atas: (1) meter listrik. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. b. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. bagian dari balustrade. b. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang disyaratkan. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. b. dan (3) motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. iii. i. 8. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. tidak harus disediakan dari tangga. Lebar Tangga a. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. 10. (2) panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. gang. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. Ramp Pejalan Kaki a. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. atau koridor. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis 9. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. gang. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. ii. lebar bebas halangan. kecuali untuk list langit-langit. lobby. bebas halangan. bila konstruksi yang menutup ramp. lebar dan tinggi 52 . Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga.

disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. b. 12. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp.langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. di mana: i. ii. b. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°.4 iii. tanjakan. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. lebar minimal bordes 1. Meskipun dengan ketentuan butir a. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. d. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. b. Bangunan klas 9a: i. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. c. 13. 15. ii. 14. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. e. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. b. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. b.6 m dan panjangnya minimal 2.7 m. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. Ambang Pintu 53 . f. injakan. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. Bordes a. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes.ii. atap tersebut harus a. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. dan jumlah sesuai standar teknis. ii. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. 11. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. 1:8 untuk kasus lainnya c. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. injakan dan tanjakan konstan. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60.

balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. tidak dibatasi dengan dinding.ii. Bila menggunakan jeruji. 16. lantai. b. lantai. koridor. ii.iii dan g. balkon dan sejenisnya. lorong. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. kecuali tangga/ramp luar bangunan. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Tinggi balustrade: i. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m.i. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. tangga atau balkon luar ii. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. e. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. g. dan ii. uang perawatan pasien bangunan klas 9a. Balustrade.Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. d. Balustrade sesuai ketentuan butir e. iii. ramp. f. 54 . tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. bila dibuat sesuai i. Balustrade pada: i. mbang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah.ii. bila: i. tangga. atap. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. Balustrade a . ii. tangga. b. balkon dan sejenisnya. balkon. intu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. kecuali sekeliling panggung. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. koridor. c. mesanin dan sejenisnya. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8.i. asus lainnya i. harus mengikuti ketentuan butir f dan g.

b. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. c.17. d. Bila terbuka sempurna. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. Pintu Ayun a. Ayunan harus searah akses keluar. i. bukan pintu berputar b. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. harus dapat dibuka secara manual. termasuk bordes. dibuat menerus 18. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. b. bukan pintu gulung. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. kecuali: i. ii. Pegangan Rambat Pada Tangga a. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. bukan pintu sorong. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. c. 19. pintu dapat dibuka secara manual. 55 . Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. 7. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. 20. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii. dan harus: i. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan c. kecuali: i. dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. ii. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. lorong atau ramp. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. alarm kebakaran dan lainnya. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. melayani kompartemen saniter.

kecuali bila: a. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. 21. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. 6. pada bangunan klas 9b. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. 22. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. dengan tangan. 7. ii. 56 . dan i. tersedia sistem komunikasi internal. c. VI. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. b. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. 3. termasuk penyandang cacat. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. atau bagian klas 4. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. bangunan klas 9a b. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan.2 m dari lantai.dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. khususnya oleh pemilik. ii. Rambu Pada Pintu a. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. atau 8. ii.9 1.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. kecuali bangunan sekolah. d. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. hanya melayani: i. iii. Rambu. b. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran.

Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. 57 .2.

Penyediaan ramp pada bangunan-bangunan dan pelataran parkir menuju bangunan lain atau pedestrian . Penyediaan ramp pada jalan-jalan pejalan kaki dan dari pedestrian ke dalam bangunan. Pada bangunan-bangunan tidak bertingkat tetapi mempunyai perbedaan ketinggian lantai b. c.a.

tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. e. d. Lift kebakaran. Kapasitas Lift Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. a. 2. Sumber daya listrik untuk lift kebakaran harus direncanakan dari dua sumber yang berbeda. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh Petugas Kebakaran. g. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Jumlah dan kapasitas lift harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan. f. Lift kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. b. d.1 LIFT Persyaratan-persyaratan mengenai elevator (lift) harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk Pesawat Angkat Elevator. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (fire switch) terlebih dahulu. Kapasitas angkut lift barang yang diizinkan. harus menjadi kapasitas angkut dari lift yang dimaksud. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. 3. Peringatan Terhadap Pengurus Lift Pada Saat Terjadi kebakaran . b.VII. c. dapat berupa lift penumpang biasa atau lift barang yang dapat diatur. Kapasitas angkut lift penumpang yang diizinkan. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Pintu shaft lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan/ peraturan yang berlaku di Indonesia. dan menggunakan kabel tahan api. 1. Persyaratan teknis dari lift yang digunakan sebagai lift kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Untuk mengubah fungsi lift penumpang atau lift barang menjadi lift kebakaran. Lift Kebakaran Persyaratan-persyaratan mengenai lift kebakaran harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran (DPK) tentang elevator (lift) untuk pelayanan kebakaran gedung. Kecepatan dan ukuran sangkar lift kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. e. Waktu tunggu lift. a. c.

dan dipasang tetap di dinding. mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 kg. b. Lift yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. dan iii. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai dasar.10 Tanda Peringatan Lift Penumpang b. . 5. Lift pasien yang dibutuhkan pada butir a. bila diperlukan. Tanda peringatan harus dipasang di tempat yang mudah terbaca: i. plastik atau sejenisnya. berupa bel listrik. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar 2. dekat setiap tombol panggil untuk lift penumpang atau kelompok dari lift pada bangunan. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung di tempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. atau ii.10 dan terdiri dari: i. iii. atau Gambar 2. huruf yang diukir atau ditatah langsung di permukaan bahan dinding. Satu atau beberapa lift harus dipasang sebagai lift pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan “ramp”. misalnya: bangunan kelas 9a. 4. kecuali ii.lift kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. kayu. Ditatah atau huruf timbul pada logam. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. berukuran cukup untuk meletakknya fasilitas kereta dorong (wheel stretcher) secara horisontal.a. huruf yang diukir. telepon. ii. Lift Untuk Rumah Sakit a. harus: i. Sangkar Lift Sangkar pada setiap lift harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar.

Instalasi Listrik a. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap ruang mesin lift. dan penyangga di ruang mesin harus direncanakan dengan memenuhi: i. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Untuk shaft lift yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. b. motor generator. tromol. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. tromol tali. c. pondasi untuk mesin. governor dan peralatan lain. Saf Lift a. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Semua bagian logam dari lift pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). 8. iii. b. Pemeriksaan. panel kontrol. Balok diperhitungkan pada saat bandul mekanis (governor) bekerja. atau di samping ruang luncur di lantai bawah. lantai. d. iv. b. 9.6. dengan beban sangkar lift. Instalasi listrik untuk lift harus dilengkapi dengan pengaman arus lebih atau sakelar otomatis. Bangunan ruang mesin lift harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. termasuk lantai ruang mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah semua gaya. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. c. Balok. iii. Dalam shaft lift dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lift. peralatan lain dan lantai di atasnya. Pondasi harus menyangga berat mesin. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban di bawah ini: i. Jika mesin lift dan tali ditempatkan di lantai bawah. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lift. ii. Pengujian dan Pemeliharaan . 7. Mesin Lift dan Ruang Mesin Llift a. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah sejajar. ii.

Prosedur pemeriksaan. b. dan pemeliharaan instalasi lift sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 032190-1991. VII. Instalasi lift yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. . pengujian. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang.2 TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. salah satunya adalah ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja RI tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk sistem penggunaan Eskalator (moving stair).a.

Sistem lampu darurat dipasang pada: a. atau sejenisnya yang digunakan pasien. Setiap lampu darurat harus: a. 1. TANDA ARAH KELUAR. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. b. yaitu pada: i. 3. koridor. Setiap tanda “KELUAR” yang dibutuhkan. ii.1 SISTEM LAMPU DARURAT i. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 dan kurang dari 300 m2 yang tidak terbuka: ke koridor.2 TANDA ARAH KELUAR 1.VIII. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. bekerja secara otomatis. bangunan kelas 2 atau 3. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup. setiap lorong. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 300 m2 c. Jelas. 2. ke ruang yang mempunyai lampu darurat. . mudah dibaca. ke ruang terbuka. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. VIII. harus: a. ke jalan raya. atau iii. jika mengngunakan sistem terpusat. atau iv. c. jalan lintas b. pencahayaan darurat digunakan pada tanda “KELUAR”. atau ii. diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. hall. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi dari kerusakan karena api dengan konstruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. bangunan kelas 9a. e. d. b. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. c. PENCAHAYAAN DARURAT.

2. ii. atau orang cacat. Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan “KELUAR” pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai bab Pencahayaan Darurat. Jika tanda “KELUAR” tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. atau ramp yang digunakan untuk keluar. hall umum. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai ke: i. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju jalan raya atau ruang terbuka. tangga luar. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua.2. hall. Tanda Arah Keluar. Bangunan kelas 9b: i. Bangunan kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari 2 lapis dan dipakai untuk: bagian rumah dari sekolah. ii. atau ii. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannyua untuk meminimalkan kepanikan sesuai tipe dan kondisi pasien. dan harus dipasang di atas atau di dekat setiap: a. dan d. di daerah bangsal perawatan. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. 3. lorong. lobi. dan: c. akomodasi untuk orang tua anak-anak. sistem alarm harus diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2. 5. jalan keluar di balkon yang menuju keluar. VIII. 4. iii. untuk gedung pertunjukan. Pintu dari tangga tertutup. atau sejenisnya. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. maka tanda keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. ii. 3. dan Sistem Peringatan Bahaya. b. lorong atau ramp yang digunakan untuk keluar. ii. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petudas. Tanda “KELUAR” harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. untuk sekolah. lorong. Bangunan kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari 2: i. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari 3. Jalan keluar horisontal. . i. kecuali bila sistemnya: langsung memberikan peringatan pada petugas. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. tangga yang tertutup.

.

Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. i. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. c. Jaringan Distribusi Listrik a. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. di antaranya penghantar. mengganggu dan merugikan bagi manusia. bagian bangunan dan instalasi lainnya. jaringan distiribusi. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan.IX. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketentuan: a. dapat menggunakan ketentuan/standar dari negara lain atau badan internasional.1 INSTALASI LISTRIK 1. e. dengan frekuensi 50 Hertz. Biasanya kabel yang digunakan di sini adalah N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti (3 core). ukuran dan kemampuan. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak. papan hubung bagi dan isinya. seperti antara gardu PLN dengan Panel Tegangan Menengah (PTM). tidak membahayakan. Kabel tegangan menengah digunakan pada bangunan tinggi. . 3 fasa. Kabel Tegangan Menengah Kabel dapat dipasang dengan 2 cara : ditanam atau tidak ditanam (di udara). Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. dan busduct dari berbagai tipe. PENANGKAL PETIR. dengan frekuensi 50 Hertz. atau N2XSEFGby – 12/20 kV 3 inti. Semua peralatan listrik. lingkungan. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya. transformator dan peralatan lainnya. INSTALASI LISTRIK. d. Atau antara PTM dengan trafo. b. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. biasanya kabel yang digunakan adalah N2XSY – 12/20 kV inti tunggal x 3. dipelihara. papan hubung bagi dan beban listrik. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik arus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran.

ii. Ketentuan penghantar pengaman dapat dilihat pada PUIL 2000 (Tabel 312-1) iv.3. sistem komunikasi darurat. b. sistem deteksi dan alarm kebakaran. PUIL 2000) iii. Tombol. tegangan menengah dan tegangan rendah. . dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. Kabel Tegangan Rendah (1) Kabel Tegangan Rendah (NYY – 0. Pentanahan/pembumian Pembumian dibagi dua. Untuk pemasangan stop kontak di bawah. i. (Tabel : 701-1. c. Pembumian dilakukan pada bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik. Jaringan yang melayani beban penting seperti pompa kebakaran. alat ukur. pengecualian hanya diperbolehkan sesuai tabel 2. lift kebakaran. Papan hubung bagi dan alat ukur listrik diletakkan di dinding bagian depan rumah/bangunan yang aman terhadap air hujan atau diletakkan di halaman rumah dengan diberi pelindung terhadap hujan.6/1 kV) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan dengan tanah. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. (4) Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna. NGR diposisikan di titik netral transformator. harus dilengkapi dengan pengaman terhadap tusukan. tombol. PUIL 2000) (5) Ketentuan Kapasitas Hantar Arus (KHA) penghantar fasanya. ii. Tegangan rendah menggunakan sistem solid ground (pembumian langsung) 2) Pembumian bodi. (2) Kabel Tegangan Rendah (NYFGbY – 0. sakelar.6/1 kV) mulai digunakan dari trafo ke PUTR dan seterusnya hingga ke setiap titik beban. dan stop kontak diletakkan di tempat yang aman (daerah yang tidak lembab/kering) dan aman dari jangkauan anak-anak. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api (fire-ressistant cable).4. (Tabel : 313-1. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. Tegangan menengah menggunakan Neutral Grounding Resistor (NGR) yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. lambang atau huruf seperti yang terdapat dalam tabel 2. (3) Kabel Tegangan Rendah (NYM – 500 V) hanya digunakan untuk instalasi penerangan saja. (1) Pembumian sistem Pembumian sistem dibagi dua. pembumian sistem dan pembumian bodi. peralatan pengendali asap.

3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang, faktor kebersamaan (coincidence factor) atau faktor ketidakbersamaan (diversity factor). 4. Sumber Daya listrik a. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak memungkinkan, dengan izin instansi yang bersangkutan, sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri, yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau normalisasi dari peraturan yang berlaku, di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pada umumnya lingkup pekerjaan instalasi pembangkit sendiri (genset) meliputi : pemasangan genset pada pondasi; pemasangan instalasi saluran pembuangan udara radiator (exhaust duct radiator); pemasangan peredam suara (sound attenuator); instalasi pipa bahan bakar minyak solar; pemasangan tangki bulanan (storage tank) dan tangki harian (daily tank); pemasangan pompa bahan bakar; instalasi kabel daya dan kabel kontrol dari terminal generator ke panel kontrol generator; pemasangan panel kontrol generator; pemasangan peredam suara ruang genset (sound proof). c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listriknya tidak boleh putus, harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila terjadi gangguan sumber utama. e. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3, secara otomatis. f. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lainlain. i. Peralatan tegangan menengah harus terpisah dari peralatan tegangan rendah, dengan jarak sesuai dengan SNI-0225. ii. Pengaturan jarak antara kabel telekomunikasi/kabel data dengan kabel power harus sesuai dengan SNI-0225.

iii. Peletakan kabel telekomunikasi/ kabel data yang berdekatan dengan kabel power harus dilindungi dengan screen atau konduit metalik yang diketanahkan. g. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. Transformator Distribusi Outdoor dan Indoor a. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. b. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup, dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran, maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Transformator distribusi yang berada di luar gedung bisa ditempatkan pada tiang atau di permukaan tanah/lantai. i. Transformator yang diletakkan di permukaan tanah/lantai harus dilindungi dengan pagar pelindung yang jaraknya terhadap transformator diatur sebagaimana dalam SNI-0225. ii. Transformator yang diletakkan pada tiang harus memiliki konstruksi sedemikan hingga kokoh dan tidak jatuh pada saat terjadi gempa berskala tinggi. e. Transformator harus dilengkapi dengan pendingin/ sistem pendingin transformator yang terdiri dari sistem pendingin secara alamiah (natural) atau dengan melengkapi transformator dengan sirip-sirip (radiator). f. Transformator tipe basah harus dilengkapi dengan alat pernafasan (breathing system) untuk mengurangi tekanan gas pada saat beban berlebih. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan tabung berisi kristal zat hygroskopis untuk mencegah kelembaban (humidity) yang dapat menurunkan nilai tegangan tembus minyak transformator. g. Transformator harus dilengkapi dengan peralatan proteksi; rele Buchholz, pengaman tekanan lebih (explosive membrane/pressure relief valve), rele tekanan lebih (sudden pressure relay), dan pengaman terhadap arus lebih. Transformator dengan daya lebih dari 10 MVA harus dilengkapi dengan rele diferensial (differential relay). Transformator dapat juga dilengkapi dengan rele tangki tanah, rele hubung tanah dan rele termis. 6. Pemeriksaan, Pengujian dan Pemeliharaan

a. Instalasi listrik yang dipasang, sebelum dipergunakan, harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. i. Pemeriksaan yang dilakukan secara visual meliputi antara lain : (1) Jalur pipa konduit dan tekukan kabel tidak boleh patah. (2) Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator laas doop. (3) Jalur kabel di atas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas instalasi pipa untuk menghindari adanya tetesan air. (4) Kelengkapan komponen panel. (5) Sambungan dan terminasi kabel pada panel atau beban harus rapi dan tersambung dengan kuat. Kabel serabut atau berurat banyak (multicore) harus dilengkapi dengan sepatu kabel (cable shoe). (6) Untuk pemakaian kabel NYA harus dilindungi dengan pipa konduit atau fleksibel sampai ke titik beban atau panel. (7) Kabel di dalam panel ditata dengan rapi dan disediakan cadangan panjang kabel (spare) untuk mengantisipasi bila terjadi kesalahan terminasi, kabel masih cukup panjang untuk disambung pada terminal yang lain. (8) Titik-titik lampu posisinya harus sesuai dengan gambar. (9) Penggunaan warna kabel harus sesuai dengan PUIL 2000. ii. Pengujian dilakukan bersama dengan pihak yang berwenang dengan menggunakan pesawat uji yang telah dikalibrasi. Hasil pengujian direkam pada daftar simak dan didokumentasikan. (1) Pengujian instalasi penerangan meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi Besarnya tahanan isolasi minimum suatu instalasi kabel listrik adalah: (i) Berdasarkan PUIL 2000, yaitu sekurangkurangnya 1000Ω /volt tegangan nominal, dengan penegrtian bahwa arus bocor dari tiap bagian instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1mA per 100 m panjang instalasi. (ii) Berdasarkan peraturan IEE (Institution of Electrical Engineers) nilai minimum yang diperolehkan adalah 1 MΩ . Pengukuran dilakukan dengan megger. (b) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).

(c) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-netral, fasa-tanah) dengan multitester (d) Pengukuran arus beban untuk fasa R, S, T. (e) Pengujian nyala lampu dan baterai Ni-Cad pada lampu emergency. (f) Pengujian fungsi komponen-komponen panel : voltmeter, amperemeter, frekuensimeter, lampu indikator, saklar pilih (selector switch), circuit breaker, kontaktor, rele. (2) Pengujian instalasi tenaga meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan motor. (b) Pengukuran tegangan listrik (tegangan fasa-fasa, fasa-tanah) dengan multitester. (c) Arah putaran motor. (d) Pengukuran putaran (rpm) motor dengan tachometer. (e) Pengukuran arus starting dan running motor. (f) Tegangan fasa-fasa saat motor beroperasi. (3) Pengujian genset, meliputi : (a) Pengukuran tahanan isolasi belitan generator. (b) Pengukuran tegangan baterai dan pengecekan hubungan baterai. (c) Pengukuran motor dan pompa bahan bakar (d) Pengukuran tegangan generator (tegangan fasafasa, fasa-netral, fasa-tanah) (e) Pengujian beban 25%, 50%, 75%, 100%, 110%. (f) Fungsi panel kontrol generator dan interlock dengan sumber daya PLN. (g) Pengujian overspeed, emergency stop, low oil pressure, high water temperature. (h) Frekuensi generator. 7. Pemeliharaan a. Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang. c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. IX.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai resiko terkena sambaran petir, harus diberi instalasi penangkal petir.

harus memperhatikan arsitektur bangunan. b. meskipun dibungkus dengan bahan insulasi. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga sedapat mungkin berhubungan langsung dengan konduktor terminasi udara. dan instalasi lainnya. Konduktor penyalur harus dipasang lurus dan tegak sedemikian sehingga membentuk jalur terpendek dan paling langsung ke bumi. harus mengacu pada rekomendasi dari badan internasional seperti IEC. Jika hal ini tidak mungkin.b. e. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. 2. Sistem terminasi udara : Susunan sistem terminasi udara memadai jika persyaratan pada Tabel 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir. termasuk manusia yang ada di dalamnya. jarak yang diukur melalui celah antara dua titik pada konduktor dan panjang l dari konduktor antara titik-titik tersebut harus memenuhi 3. d. Bentuk lingkar harus dihindari. c. terhadap bahaya sambaran petir. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. c. Hal-hal yang belum diatur di dalam peraturan tersebut di atas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. Instalasi Penangkal Petir a. Sistem Konduktor Penyalur : Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya latu berbahaya. konduktor penyalur harus disusun sedemikian sehingga dari titik sambaran ke bumi: (1) terdapat beberapa jalur arus paralel.2 (Gambar 1 SNI 03-7014 tentang Prinsip Umum Proteksi Bangunan Terhadap Petir). Direkomendasikan agar konduktor penyalur ditempatkan sedemikian sehingga ada jarak antara konduktor penyalur tersebut dengan pintu atau jendela. (2) panjang jalur arus diusahakan seminimum mungkin. . Konduktor penyalur tidak boleh dipasang pada talang atau pipa saluran air. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku.

3. mengganggu dan merugikan lingkungan. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. b. tidak ada genangan air. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. aman dan mudah dikerjakan. IX. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. Hasil pemeriksaan direkam pada suatu daftar simak (check list). 2. Instalasi keseluruhan ii. Perencanaan Komunikasi Dalam Bentuk Telepon dan Data a. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan.3 INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektromagnetik dan lain-lain. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah : i. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harsu mudah diamati. dipelihara. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. bagian bangunan dan instalasi lain. kerusakankerusakan) yang meliputi : (1) Air terminal (2) Tiang penghujung (penyangga) (3) Penghantar penyalur petir (4) Elektroda pembumian (5) Penghantar penghubung (6) Sambungan-sambungan (7) dan lain-lain. Instalasi Telepon Instalasi Telepon a. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Bahan-bahan / material instalasi (jenis. b. . tidak membahayakan. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. c. Secara berkala dilakukan pengukuran / pengujian terhadap EMC (Electromagnetic Compatibility). Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak.

serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Pembumian / pentanahan (grounding) Setiap peralatan utama (PABX / key telephone) harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian maksimum 5Ω yang diukur pada tanah dalam keadaan kering. d. Sistem Tata Suara yang umum digunakan bangunan tinggi meliputi : i. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. . minimal berjarak 0. Instalasi Tata Suara a. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m ke atas. Car call (pemanggilan pengendara mobil). e. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Biasanya dimulai dengan bunyi sirine dan dilanjutkan dengan pengumuman untuk segera meninggalkan gedung (All Call) iii. ii. ii. iii. Berdasarkan pustaka terbitan Departemen Permukimam dan Prasarana Wilayah. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a di atas harus menggunakan sistem khusus. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. c.b. terang. 3. Ruang baterai sistem telepon harus bersih. Tidak boleh menggunakan cat dinding yang mudah mengelupas. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. ii. ii. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. iv. Paging (pengumuman/ panggilan) : sistem paging di setiap lantai dapat menggunalan bantuan speaker selector. Ruang yang bersih. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan : i. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon.80 m. tenang. b. Background music (music pengantar). sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. Emergency Paging (pengumuman darurat atau panggilan evakuasi). kedap debu. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja.50 m x 0.

Dimensi (mm) iii. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Alat ini juga harus dapat mengatur seluruh speaker dalam waktu bersamaan untuk difungsikan (All Call). Casette Recorder Player . Noise level (dB). Power consumption (Watt). S/N ratio (dB). Peralatan utama tata suara. Ouput impedance (KΩ). Alat ini harus memiliki kemampuan dapat memikul semua beban speaker yang dioperasikan serentak pada saat bersamaan (All Call). dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Radio Tuner : berfungsi untuk menangkap siaran radio AM dan FM. Output impedance (KΩ). Voltage (Volt). Input level control (dB). sehingga dihasilkan frekuensi tengah ekualisasi. Dimensi (mm). Input Sensitivity (dB). Voltage (Volt). Frequncy (Hz). . serta dilengkapi dengan pengatur kuat suara. Stereo Graphic Equalizer : berfungsi untuk menyaring frekuensi yang tidak diinginkan. Power consumption (Watt). Frequency response (Hz). Voltage (Volt). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Frequency response (Hz). d. Power consumption (Watt). Dimensi (mm).CD Player . Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi tata suara adalah : i. Frequency response (Hz). atau terdiri dari kabel tahan api. Power Amplifier : berfungsi sebagai penguat suara. manual). ii . Input impedance (KΩ). iv. Distortion (%). Input Sensitivity (dB). Total harmonic distortion (%). Power consumption (Watt). Dynamic range (dB). vii. v.c. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Voltage (Volt). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Output level (dB). Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : Frequency response (Hz). Frequency response (Hz). S/N ratio (dB). Mixer Pre-Amplifier : berfungsi untuk menggabungkan dan mengontrol beberapa sumber suara. Dimensi (mm). harus ditanahkan terpisah dari pembumian listrik dan penangkal petir dengan tahanan pembumian sesuai spesifikasi yang ditentukan atau maksimum 5Ω yang diukur pada kondisi tanah dalam keadaan kering. Frequncy (Hz). Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya. Distortion (%). Speaker Selector : berfungsi untuk mengatur kelompok speaker yang ingin difungsikan. Playing system (auto reverse. S/N ratio (dB). vi. Power bandwidth (Hz). Equalizer center frequency (Hz). Frequency (Hz). e. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Output power (dB). Frequncy (Hz). Total harmonic distortion (%).

xi. Operating control. Semua kabel yang keluar / masuk dari peralatan utama harus melalui MDF. Jumlah speaker yang dilayani oleh attenuator tidak boleh melebihi kemampuan attenuator. xii. microphone yang biasa digunakan adalah remote microphone tipe dinamik yang mampu menerima suara secara unidirectional dan dilengkapi dengan saklar / tombol pemilih. Horn Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam atau luar ruangan/outdoor). vocal). jenis-jenis speaker yang biasa digunakan pada bangunan tinggi adalah : Ceiling Speaker (biasa digunakan pada area yang mempunyai plafon dan merupakan area operasional suatu bangunan). Dimensi (mm). Voltage (Volt). Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai kabel kontrol).6/1 kV (biasa digunakan dari MDF ke TB. Speaker .viii. x. Impedance (Ω). ix. Blower : berfungsi menjaga temperatur peralatan utama. NYY 0. xv. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Input level (dB0). iMicrophone . Sensitivity (dB). xiv . Frequency (Hz). WallMounting Box Speaker (biasanya digunakan pada area yang tidak mempunyai plafon seperti tangga kebakaran atau ruangan lainnya yang tanpa langit-langit) xiii.MDF (Main Distribution Frame) dan TB (Terminal Box) : merupakan terminal penyambungan kabel sistem tata suara.Spesifikasi peralatan ini meliputi : Nominal impedance (Ω). Khusus microphone untuk car call dilengkapi dengan chime (alunan sesaat musik pengantar) sebelum pengmuman pemanggilan pengendara mobil dilakukan.. Frequency response (Hz). Dimensi (mm). Sedangkan TB merupakan terminal distribusi setiap area atau setiap lantai. Jumlah terminal penyambungan minimum harus sesuai kebutuhan. Power consumption (Watt).Attenuator : berfungsi mengatur kuat suara yang keluar dari speaker. Frequency response (Hz). Ketebalan pelat panel. Spesifikasi peralatan ini meliputi : Tipe. Jenis dan warna cat. Kabel : Kabel tata suara yang umum digunakan pada bangunan tinggi adalah : NYMHY 500V (biasa digunakan dari MDF ke TB maupun dari TB ke speaker. Output level (dB). kapasitas terminal. Column Speaker (biasa digunakan pada area parkir dalam ruangan/indoor). Spesifikasi peralatan ini meliputi : Dimensi (mm). Monitor Panel : berfungsi memonitor seluruh suara yang keluar dari amplifier serta memiliki alat ukur kuat suara speaker dan saklar pemilih. Dimensi (mm). Application (musical instrument. Kabel ini juga dapat digunakan dari microphone ke speaker selector sebagai .

Beberapa peralatan yang digunakan pada instalasi MA TV adalah : i. Kabel yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari TB ke speaker/ attenuator. Perencanaan. Kabel : harus memenuhi SPLN/PT. Splitter (1) frequency band (MHz) (2) losses (dB) iii. peraturan daerah yang berlaku. SNI. bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun. data-data bangunan. Spesifikasi yang perlu diperhatikan antara lain : (1) Frekuensi (Hz) (2) Gain (dB) (3) Gain control range (4) Hum modulation (dB) (5) power source ii. Kabel yang ada di atas rak harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties). tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan adalah minimum 1000Ω per 1 volt tegangan nominal. NYM 500 V (biasa digunakan dari TB ke speaker). antara lain : PUIL 2000 yang berlaku.kabel kontrol). Pipa : PVC (paralon). c. dan material pelengkap dan pembantu lainnya mengikuti peraturan pemerintah yan gberlaku. kabel metal atau setaraf jenis kabel coaxial. dan standarisasi pabrik. Kabel khusus sesuai standar pabrik digunakan dari mixer pre amplifier ke microphonee.5 DP = diameter dalam konduit (mm) DK = diameter luar kabel (mm) xvii. peraturan. Booster Amplifier. GIP (yang telah memiliki SII). Socket outlet (1) Model . tidak merambatkan api. pelaksanaan. Kabelindo. Persyaratan untuk material instalasi. dan api dapat padam dengan sendirinya. 4. SLI (Standar Listrik Indonesia). Rak Kabel : dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang dilayani. spesifikasi teknis. d. Ukuran diameter dalam konduit adalah : DP ≥ DK 2 / 0. Dasar pemikiran dan perhitungan dalam perhitungan / perencanaan istalasi MA TV ini antara lain: TOR (Term of Reference). Telkom. xvi. Konduit harus memenuhi syarat-syarat : tidak mudah terbakar. b. dan kabel dari mixer pre amplifier ke remote microphone.Konduit : yang umum digunakan biasanya dari tipe high impact conduit. peralatan. ex. selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. MA TV a.

Pelaksanaan Instalasi i. outlet dan lainnya harus rapi & baik.Equalizer e. Bila instalasi mengalami beban mekanis. Jadi harus terpisah satu sama lainnya. instalasi. iii.(2) Losses (dB) v. Pemasangan peralata. maka kabel/hantaran harus dilindungi dan dimasukkan ke dalam GIP. Instalasi MATV tidak boleh saling berhimpit (berdempetan) dengan instalasi listrik arus kuat. Outlet TV vi . . ii.

Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Jenis Gas . iv. ii. X.2. Gas Elpiji Gas elpiji. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter gas ke peralatan. 3. INSTALASI GAS X. b. 2. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. v. b. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang sedcara otomatis mematikan aliran gas. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). Faktor diversifikasi (diversity factor). INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi : a. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan.X. Berat jenis dari gas. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter gas) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang.I. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2H6). vi. INSTALASI GAS MEDIK 1. terdiri dari propane (C3H6) dan butane (C4H10). iii. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Pada instalasi gas untuk pembakaran. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Rancangan sistem ditribusi gas pembakaran. c.

b. Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan dengan cara lain. Gas oksigen. bebas minyak. langit-langit. Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. .Jenis gas medik yang dimaksud adalah: a. Jika di luar bangunan ruangan. keluar dan masuk lokasi. Harus dipanaskan dengan cara tidak langsung. b. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. c. atau diperoleh dari rekonstitusi oksigen USP dan nitrogen kering NF. Kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi. Jaringan Distribusi Gas Medik a. Gas Nitrous Oksida (N2O). dan pintu sekurang-kurangnya mempunyai ketahanan api 1 jam. yang berukuran 1 mikron atau lebih. kontainer curah. e. Udara tekan. seperti untuk ruang bedah orthopedi. e. c. d. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. d. dan sebagainya. untuk lokasi biasa. Harus memenuhi SNI 04-0225-edisi terakhir atau standar lain seperti NFPA 70. Vakum. e. f. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Kebutuhan gas medik harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk pasien rawat inap dan kebutuhan lain. dengan peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih dari 152 cm (5 ft) di atas lantai untuk menghindari kerusakan fisik. Kadar partikulat permanen. Rancangan sistem distribusi gas medik. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyrarat tanda kebocoran gas. Instalasi gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. b. d. harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding. peralatan. lantai. Jika di dalam bangunan. harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar. Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan berikut: a. Kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm. pipa Nitrous Oksida dan pipa udara tekan. d. Dipasok dari silinder. Dibangun dengan akses untuk memindahkan silinder. sumber kompresor udara medik. b. c. 2. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. (misalnya dengan uap air atau air panas) jika diperlukan. c. Memenuhi persyaratan udara medik USP. sama atau kurang dari 5 mg/m3.

atau pengikat lainnya untuk mengamankan masing-masing silinder. Ketentuan secara detail terdapat pada SNI 03-7011-2004 tentang Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Kesehatan . Dilengkapi dengan rak. i. agar tidak roboh. Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial. Apabila disediakan rak. Pengujian meliputi : pengujian kemampuan mempertahankan tekanan. pengujian alarm. pengujian beda tekanan. baik terhubung maupun tidak terhubung. harus dibuat dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar. dan penyangga. pengujian tekanan kerja. pengujian kebersihan pipa/sistem pipa. pengujian sambung-silang. penuh atau kosong. lemari. pengujian katup. dan pengujian konsentrasi dan kemurnian gas medik. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan. dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang. 3.g. h. rantai. pemberian tekanan masingmasing pipa.

Untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia b. sedangkan untuk bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. iii. Gambar tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1. Perencanaan Sistem Plambing a. Kualitas air Bersih i. serta diperhitungkan berdasarkan standar. ii. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. 2. Air bersih pada bangunan harus memenuhi persyaratan kualitas air bersih sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ MENKES/PER/ IX/ 1990. Gambar sumber-sumber air bersih. Sistem Penampungan Air Bersih a. petunjuk teknik.XI. ii. sumur gali. . Kebutuhan air bersih pada rumah tinggal dapat diperoleh secara individual maupun secara komunal. meliputi sistem air bersih. iv. sumur bor. Sistem Penyediaan Air Bersih a. Kebutuhan air bersih untuk rumah tinggal berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. bangunan dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air bersih. Air bersih harus tersedia secara kontinyu.1 SISTEM PLAMBING 1. Sumber Air Bersih i. Sumber air bersih pada bangunan rumah tinggal dan non rumah tinggal harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Dalam hal air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum secara langsung maka kualitasnya harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII/ 2002. v. Untuk menjamin kontinyuitas persediaan air. SANATASI DALAM GEDUNG XI. tangki dan sumur penampungan air hujan dapat dilihat pada Lampiran 1. sumur gali. mata air atau sumber lain yang memenuhi persyaratan kualitas air bersih. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. sumur pompa tangan. tidak mengganggu lingkungan. b. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. 3.

kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Gambar penempatan tangki penampungan air bersih dapat dilihat pada Lampiran 1 d.. dan mengacu pada NSPM Kimpraswil No. Penggunaan Pompa a. baja. c. b. f. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja dan tidak mengandung bahan beracun d. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempattempat yang dapat menimbulkan pencemaran. pipa peluap. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. perlengkapan bangunan. PE (polietilena). Pt T 21-2000-C. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. Sistem plambing air bersih dimaksudkan untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan jumlah dan tekanan yang cukup. tidak mengganggu lingkungan serta diperhitungkan berdasarkan standar. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Tangki penampung air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediaan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Bahan tangki dapat berupa beton. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya. Tangki penampungan air bersih yang berkapasitas lebih dari 5 m3 harus dirancang agar tidak terjadi air diam (stagnant). Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan.b. Konstruksi dan bahan tangki penampungan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. Fungsi tangki penampungan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. f. pipa penguras dan pipa ven. c. Tangki penampungan air bersih harus dilengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. 4. 5. serta dilengkapi dengan lubang pemeriksaan. besi lapis galvanis atau tembaga. e. Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effisiensi yang maksimal . Sistem Plambing Air Bersih a. fiberglass dan kayu. e. petunjuk teknik. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan.

Untuk menjamin kualitas air. pipa isap dan pipa keluaran pompa. d. Sistem Distribusi Air Bersih a. pompa dan peralatan plambing harus dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa pemasangan telah dilakukan dengan baik dan peralatan berjalan dengan baik. Pengujian dan Pemeliharaan a. Tiap sambungan pelanggan harus dilengkapi dengan meter air. c. Sistem Penyediaan Air panas a. air didistribusikan melalui pipa menuju ke lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. c. maka harus ada perlindungan terhadap pipa. c. Alat pemanas dapat bersifat lokal atau sentral. d. f. Untuk penyediaan air panas secara sentral. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Bila pipa ditanam di bawah jalan atau lokasi yang menerima beban. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Gambar sambungan rumah dapat dilihat pada Lampiran 1. Sistem distribusi air bersih adalah sistem perpipaan yang menyediakan air bersih dari air PAM menuju ke pelanggan. e. galvanis atau bahan lain yang mampu menahan tekanan air. maka harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kualitas sumbersumber air yang digunakan sebagai air bersih.b. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem plambing air bersih meliputi : (i) Pengendalian kualitas air : (a) Pemeriksaan atas kadar sisa klor : (b )satu kali seminggu . c. 8. b. Pemeriksaan. 7. Sistem distribusi air bersih harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan air bersih dengan jumlah dan tekanan yang cukup. b. Pipa distribusi terbuat dari bahan PVC. PE. 6. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. b. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. Tata cara perancangan pipa air panas harus mengikuti pedoman plambing yang berlaku. Pada setiap pemasangan pipa distribusi. Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih yang dipanaskan dengan alat pemanas.

Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. Air limbah rumah tinggal dan non rumah tinggal berasal dari kegiatan sehari-hari. e. b. satu kali setiap enam bulan (ii) Pemeriksaan tangki air (tangki air di bawah dan tangki air di atas) : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iii)Pemeriksaan sistem pipa : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih (iv)Pemeriksaan mesin-mesin : (a) Satu kali setahun (b) Dilakukan oleh pegawai terlatih XII. Sistem plambing air limbah dalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa vent untuk menetralisir tekanan udara di dalam saluran tersebut. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. dan lebih dari 0.4 ppm klor keseluruhan (d) Pemeriksaan atas kualitas air. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. 2. f. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak atau lemak. Pembuangan dan Pengolahan Air Limbah a.2SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH 1. Setiap bangunan yang menghasilkan air limbah harus dilengkapi dengan plambing air limbah.(c) kadar sisa klor harus lebih dari 0.1 ppm klor bebas. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang dialirkan. Sistem Plambing Air Limbah a. Sumber Air Limbah a. b. Air limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya tidak boleh digabung dengan limbah pada butir i di atas. c. . 3. minuman bahan steril dan atau bahan sejenis lainnya. d. Pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi.

f. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilakukan maka dapat menggunakan sistem pemompaan.b. b. Jaringan pipa air limbah harus dirancang mampu mengalirkan air limbah dengan lancar dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih paling dekat adalah 10 meter. maka harus dipilih pompa yang peruntukannya khusus untuk air limbah. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. 4. c. d. g. Pemeriksaan. beton atau bahan lain yang kuat dan tidak mudah mengalami korosi serta tahan terhadap panas. pengolahan dan penyaluran air limbah untuk memastikan bahwa sistem telah terpasang dan berjalan dengan baik. Sistem pembuangan harus dilengkapi dengan perangkap bau sesuai dengan SNI 03-6379-2000. Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan air limbah dipompa. Air limbah yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. Gambar tangki septik dan sumur resapan dapat dilihat pada Lampiran 2. Sistem Penyaluran Air Limbah a. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. pembuangan. Pengolahan dilakukan dalam tangki septik yang kedap air dan dilengkapi dengan sumur resapan. serta yang mengandung radioaktif. Pengujian dan Pemeliharaan a. Bahan pipa adalah PVC. harus ditangani secara khusus. d. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-63792000. tergantung kemudahan pengaliran dari KM/WC dengan memperhatikan jarak minimum dari sumber air bersih disekitar lingkungan permukimannya. e. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan pada sistem plambing. Letak tangki septik boleh dibelakang atau dimuka rumah. Kapasitas aliran disesuaikan dengan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh penghuni rumah tinggal dan non rumah tinggal. c. tangki septik dibuat lebih tinggi dan resapan dibuat mengalir secara horisontal. . sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. e. 5. Untuk daerah yang muka air tanahnya dangkal (kurang dari 1 m). Lebih jelas tata letak dapat diihat di Lampiran. Sistem pengaliran air limbah direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. PE. Sistem penyaluran air limbah adalah jaringan perpipaan yang mengalirkan air limbah dari rumah tinggal atau non rumah tinggal menuju ke instalasi pengolah air limbah.

Pemeriksaan kondisi operasinya (tekanan. Pembersihan bak penampung air buangan : Pembersihan dilakukan enam bulan sekali ii. . dan sebagainya) (b) Pemeriksaan adanya kotoran terapung. arus dan tegangan listrik.3 SISTEM PENYALURAN AIR HUJAN 1. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama kegiatan pembersihan bak: Ventilasi dan penerangan yang memadai di dalam bak harus terjamin (b) Pemeriksaan atas kebersihan bak. saklar listrik. Pemeriksaan sistem pipa vent : i. Pemeriksaan untuk pemeliharaan sistem pembuangan air limbah meliputi : Bak penampung air buangan (sump pit) : (a) Pemeriksaan bagian dalam (kotoran pada dinding. i. XI. Kelengkapan Dalam Bangunan a. Pemeriksaan penggantung pipa d. hal-hal yang penting perlu dicatat dan disimpan sebagai dokumen/ arsip. dilakukan pula pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap pompa (d) Setelah kegiatan pembersihan selesai. sebaiknya sampai lima tahun. Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat e. endapan. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (a) b. Pemeriksaan dan pembersihan kepala pipa tegak vent ii.i. kebocoran dinding dan dasar bak (c) Apabila digunakan pompa penguras air buangan. lapisan kedap air. kebisingan dan sebagainya ii. Pemeriksaan sekat poros dan kopling iii. Pemeriksaan mesin-mesin Pemeriksaan pompa penguras bak penampung air buangan (sump pit) : i. Pemeriksaan sistem pipa pembuangan : (a) Pipa pembuangan harus dibersihkan setiap 6 bulan sekali (b) Pemeriksaan dan pengujian celah udara (c) Pemeriksaan kelancaran aliran (d) Pemeriksaan kebocoran dan pencegahan karat (e) Pemeriksaan kemiringan pipa (f) Pemeriksaan penggantung pipa c. tinggi muka air dan sebagainya ii. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan b.

Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebabsebab lain yang dapat diterima. Dimensi setiap saluran harus sedemikian rupa yang disesuaikan dengan daerah pelayanannya. Harus dibuat dengan tipe permanent. dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna. f. Pemilihan dimensi fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. besi dan baja. 2. Khusus untuk bahan seng. d. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. maka dapat menggunakan sitem pemompaan d.c. . beton. iii. Gambar bangunan pelengkap drainase dapat dilihat pada Lampiran 3. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari selokan samping dan membuangnya. Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut : i. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Di kedua sisi jalan harus disediakan saluran drainase/ selokan. c. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung. Kemiringan saluran harus dibuat. seng. g. tetapi harus diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk tempat air keluar. Bahan saluran dapat berupa PVC. ii. Persyaratan Saluran a. pembagi. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. c. e. fiberglass. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal. Saluran ini merupakan bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpulan drainase. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. pasangan tanah liat. b. Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup b. Apabila saluran dibuat tertutup. maka harus dilakukan caracara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Harus cukup besar untuk melawan debit air maksimum dari daerah pengaliran secara efisien. Kelengkapan di Sekitar Bangunan Gedung a. 3.

Adapaun gambar pewadahan sampah (bak sampah) dapat dilihat pada Lampiran 4. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1. . Jika dalam bangunan baru tersebut mempunyai luas pekarangan yang cukup. plastik. c. Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan dilengkapi dengan fasilitas pewadahan atau penampungan sampah sementara yang memadai. dan pasangan bata atau beton. b. b. Sumber sampah permukiman berasal dari : perumahan. pasar. maka penampungan sampah dapat dilakukan dengan cara penimbunan di area pekarangannya. Kriteria besaran timbulan sampah untuk rumah tinggal di Aceh adalah 2. d. Setiap hari wadah penimbunan harus ditutup dengan tanah penutup dari sekitar lokasi penimbunan atau bahan lain. XI. sekolah. Besaran timbulan sampah dihitung berdasarkan : jumlah penduduk dalam suatu kawasan permukiman atau berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukan. Timbulan Sampah a. tidak mudah rusak. Pemeriksaan. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sampah sementara harus dihitung berdasarkan jumlah penghuninya. tempat ibadah. Penempatan wadah sampah individual ditempatkan di halaman muka rumah atau di halaman belakang khusus untuk sumber sampah dari hotel dan restoran. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. rumah makan dan fasilitas umum lainnya. c. e. ii. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni.4.1 L/orang/hari. dan Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. sedangkan untuk non-rumah tinggal 24 L/unit/hari 2. mempunyai tutup. timbulan sampah dan frekwensi pengumpulan sampah. Tempat pewadahan sampah harus terpisah antara sampah basah dan sampah kering. Pengujian. Penimbunan sampah di area pekarangan harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. untuk melindungi dari gangguan binatang dan serangga. jalan. Berjarak > 10 m dari sumber air bersih atau air minum. terbuat dari bahan kedap air.4. Sistem Pewadahan a. hotel. toko/ ruko. harganya murah atau dapat dibuat sendiri oleh masyarakat dan mudah diangkut.

Tidak merugikan lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat sekitar. b. frekwensi pembuangan dan periode waktu penggunaan lahan penimbunan tersebut. iv. kayu dan lain-lain dapat dibakar. Sistem Pengumpulan a. Pembakaran sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut : i. Tidak dilakukan di daerah yang dekat dengan area yang mudah terbakar. b. dan lain-lain yang dapat di daur ulang bisa dimanfaatkan kembali. dengan persyaratan mengacu pada Pedoman Teknik Tatacara Pemasangan Dan Pengoperasian Komposter Rumah Tangga Dan Komunal No: Pd-T-15-2003 4. c. kertas koran. sisa pembersihan tanaman. jumlah timbulan sampah. c.iii. Ukuran volume penimbunan ditentukan berdasarkan f. hutan dan jauh dari lokasi yang menampung bahanbahan yang mudah meledak. Tidak menimbulkan masalah pencemaran udara. wadah plastik. ii. Sampah seperti botol bekas. maka sampah-sampah yang mudah terbakar seperti kertas. tidak dibuang ke wadah sampah atau tempat penampungan sementara. Jika belum tersedia sistem pewadahan sampah. Pola pengumpulan langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan. . Sampah basah (organik) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas dapat digunakan sebagai kompos. aluminium. iii. 3. Sampah tersebut dapat dikumpulkan dalam wadah sampah yang terpisah dengan sampah yang akan dibuang. seperti hutan dan padang ilalang. kardus. Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu. Wadah sampah harus ditempatkan di lokasi yang kering dan bebas dari pengaruh air hujan. Gambar pola pengumpulan individu langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. Dilakukan di daerah dengan kepadatan penduduk rendah. Gambar peralatan untuk pengumpulan sampah tercantum dalam Lampiran 4. kertas. kaleng. baik dengan pengumpulan langsung maupun tidak langsung. Pola pengumpulan sampah dibedakan atas pola pengumpulan langsung dan pola pengumpulan tidak langsung. Potensi Reduksi a.

5. Alat pengumpul menggunakan mesin dan frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah. iv. dibawa ke lokasi pemindahan (tempat pembuangan sampah sementara) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Penjadwalan pengumpulan dilakukan oleh instansi pengelola persampahan pemukiman mengacu pada SNI 03-3242-1994. Bagi kondisi topografi pemukiman yang relatif datar . Pengumpulan menggunakan alat angkut bukan mesin seperti gerobak sampah. b.3 m3/hari. korosif. >15%. maksimal setiap 2 hari sekali.i. dan kegiatan rumah tangga. becak dan lain-lain. e. . sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. reaktif dan beracun. ii. f. Pola pengumpulan tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing sumber sampah. mudah terbakar. maksimal setiap 2 hari sekali. Teknis operasional pola pengumpulan tidak langsung : Persyaratan : i. Lahan untuk lokasi tempat penampungan sampah sementara tersedia. c. v. iii. rumah sakit. sedangkan untuk sampah kering (anorganik) dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. d. Sampah Beracun dan Berbahaya (B3) a. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. 18/1999 yang diperbaharui dengan PP no 85 tahun 1999. Sumber-sumber sampah B3 terutama berasal dari kegiatan industri. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah (organik) setiap hari. dengan volume rata-rata alat angkut 1 sampai 2 m3. Gambar pola pengumpulan individu tidak langsung dapat dilihat pada Lampiran 4. Penentuan tempat penampungan sementara mengacu pada SNI no 19-2454-2002 v. Sifat utama dari sampah B3 adalah buangan yang mempunyai sifat mudah meledak. Teknis operasional pola pengumpulan langsung: Persyaratan : Dilakukan jika kondisi topografi bergelombang kemiringan ii. dengan rata-rata kemiringan < 5%. iv. Sampah B3 ini tidak boleh dibuang langsung ke wadah sampah tetapi harus dipisahkan dan diolah tersendiri. Jumlah timbulan sampah > 0. Sampah yang dikategorikan sebagai buangan beracun dan berbahaya telah diatur dalam PP no. infeksius. antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). iii. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik).

Pemilihan kokasi MCK umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: c. c. Tata cara penanganan sampah B3 di daerah mengacu pada Keputusan 03/BAPEDAL/09/1995. b. kecuali tersedia saluran air limbah umum kota. terdapat sumber air. MCK (mandi. Untuk sumber air dari sumur gali atau sumur pompa tangan. h. Sedangkan gambar contoh tata letak MCK umum tercantum pada Lampiran 5.d. Tata cara perencanaan bangunan MCK umum mengacu pada SNI 03-2399-2002. MCK Umum a. Pengolahan limbah dari MCK umum dilakukan menggunakan septik tank. Jarak tangki septik dan resapan dengan sumber air bersih min. Tata cara perencanaan tangki septik dan resapan mengacu pada SNI-03-6379-2000. i. kakus) umum dibangun di permukiman yang tidak tersedia fasilitas MCK pribadi. diperhitungkan setiap sumur harus dapat melayani 10 kepala keluarga. j. 10 meter. Sistem penyediaan air bersih komunal harus disediakan pada permukiman bila tidak tersedia sistem penyediaan air bersih secara individual. Sistem plambing pada MCK umum mengikuti sistem plambing air bersih dan air limbah pada peraturan ini. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum Fasilitas dalam MCK umum (untuk pria dan wanita terpisah): . Penyediaan air bersih secara komunal dilayani melalui hidran umum. 2. Tabel 1. Hidran Umum a. lokasi mudah dijangkau d. Perancangan hidran umum/ kran umum didasarkan atas kebutuhan yaitu setiap kran dapat melayani antara 30 L/orang/hari sampai dengan 50 L/orang/hari. cuci. b. baik dari PAM atau sumur f. Banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MCK umum untuk jumlah pemakai tertentu harus dapat menampung pelayanan pada jam-jam sibuk. XI.5 SISTEM SANITASI KOMUNAL 1. Bangunan MCK umum harus dipisahkan antara MCK untuk orang laki-laki dengan MCK untuk orang perempuan. dengan kapasitas yang ditentukan berdasarkan jumlah pemakai MCK. Gambar Hidran Umum tercantum pada Lampiran 5. Banyaknya ruangan pada satu kesatuan MCK umum dapat dilihat pada Tabel 1. g. dapat dibangun di daerah yang sempit e.

alat pengumpul. Bagi developer yang membangun + 80 rumah harus menyediakan wadah sampah. di ujung gang atau jalan kecil. f. e. Pola pengumpulan komunal terdiri dari : pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung. Wadah komunal disediakan bagi pemukiman yang sulit dijangkau oleh alat angkut dan pemukiman yang tidak teratur. Penyediaan secara komunal dapat dilakukan oleh instansi berwenang atau swadaya masyarakat maupun pihak swasta. . sedangkan untuk sampah kering dapat dilakukan setiap 3 hari sekali. alat pengumpulan (pick up sampah). b. Wadah komunal ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber sampah. c.80 81 – 100 101 – 120 121 – 160 161 . fasilitas umum dan jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Komunal a. maksimal setiap 2 hari sekali. Gambar wadah sampah komunal (kontainer sampah). d.200 Banyaknya ruangan Man Cuc Kaku di i s 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 4 4 4 5 4 4 5 6 4 6 6 3. dan sistem pengumpulan komunal dapat dilihat pada Lampiran 5. Frekwensi pengumpulan untuk sampah basah setiap hari. tidak menganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. Frekwensi pengumpulan dilakukan terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik).Jumlah pemakai (orang) 10 – 20 21 – 40 41 . dan tempat penampungan sampah sementara sedangkan pengumpulan dan pembuangan akhir sampah bergabung dengan yang sudah ada.

2.1 VENTILASI 1. (2) Bangunan kelas 5. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka : i. pintu atau sarana lainnya dengan luas . 7. Kebutuhan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai : a. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. (b) jendela.6 m diatas lantai. atau daerah yang terbuka ke atas. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. pintu ventilasi. Ventilasi Alami a. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. bukaan.XII. bukaan. ii. jendela. (c) ruangan bersebelahan dengan jendela. dengan jarak tidak lebih dari 3. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. (b) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai kedua ruangan tersebut. dan yang sejenis. (2) teras terbuka. Penerapan ventilasi alami. dan : (1) Bangunan klas 2. Ventilasi alami sesuai dengan ketentuan ventilasi alami di bawah ini. ke arah : (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. bukaan. (a) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sahitasi. (a) Jendela. bukaan. ii. pelataran parkir. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3 . pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5 dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. atau b. 6. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. 8 atau 9. bukaa.

kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: . sekolah TK atau panggung terbuka). harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. iv. (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. (5) ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. v. atau (3) harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. (2) harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/ halaman dibawah lantai dasar. ventilasi tidak kurang dari 10 (uas lantai kedua ruangan tersebut. vi. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan : (1) jika berada dibawah lantai dasar. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. sekolah TK atau panggung terbuka). (2) pada bangunan Kelas 5.iii. 6. (2) ruang makan umum atau restoran. (c) Luas ventilasi' yang diatur pada butir (1) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. (a) jalan masuk harus melalui ruang antara. 7. (4) ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. (3) asrama pada bangunan Kelas 3. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah : (1) dapur atau pantry. (a) Jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yahg dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya : (1) Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4 . (b) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. koridor atau ruang lainnya. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1.

dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang beriaku. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang beriaku. vii. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara mateimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistzm ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. XII.60 meter diatas lantai. b. pabrik. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi. dan miriir'a 8 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. d. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. rumah sakit. c. lebih dari : (a) 0. atau (2) sistem ventilasi alami permanen yang memadai. atau sebaliknya. jika : (1) setiap peralatan masak yang mempunyai : (a) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. atau (b) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam.5 kW untuk daya listrik. 2. Konservasi Energi a. f. atau (b) 1. Bilamana digunakan ventilasi buatan. Ventilasi Buatan a. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. (2) total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak.(1) sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang beriaku. 3.2 PENGKONDISIAN UDARA 1. e. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. toko. kantor.8 MJ/jam untuk daya gas. minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI . Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku.

c. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. . Dasar perancangan i. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. sistem kontrol. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. pemilihan peralatan. Penetapan sistem dan peralatan. sistem pompa dan pemipaan. sistem distribusi udara. ii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. iii. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem fan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. b. b. Perhitungan Beban Pendinginan a. dan standar teknis lain yang beriaku. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. isolasi pemipaan. 3. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.

m. seperti : (1) pintu masuk. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. f. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini.2. dsb. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. e. ruangan. ruangan didalam bangunan. fasilitas luar untuk olahraga. g. c. k. (2) pintu keluar. pencahayaan untuk pameran seni. seperti proses produksi dan penyimpanan. pencahayaan darurat yang secara otomatis "mati" selama operasi normal. jalan.00 pagi. taman dan daerah bagian luar lainnya. PENCAHAYAAN BUATAN 1. Kamar. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan bualan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan bebsn pendinginan bangunan. pencahayaan khusus laboratorium. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dari fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. pencahayaan di unit pengeboran. pencahayaan luar untuk monumen publik. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi : a. museum dan monumen. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. b. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi.00 malam sampai jam 06. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. h. . PENCAHAYAAN XIII. n.XIII. d. klub malam. daerah luar bangunan. pencahayaan untuk pembuatan film. XIII. j. b. (3) tempat bongkar muat barang. gallery. c. penyiaran televisi. i. Kamar. meliputi : kegiatan diluar bangunan. 2. pencahayaan untuk rambu-rambu. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan kualitas tampilan. efektif dan sesuai dengan a.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. l.

3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. dan reflektor yang efisien. b. 3. 5. Pemanfaatan pencahayaan alami . Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Untuk fasilitas banyak bangunan. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. balas. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. 4. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan menggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor alumunium anodized berkualitas tinggi. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Tingkat lluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang “Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung". Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. XIII. jenis reflektor yang efisien. distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidaknyamanan karena silau atau pantulan. mempunyai karakteristik . a. 7. 6. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung.kebutuhan ruangan. 2. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan.

ekcuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan/atau kaca ganda. baik dari sumber sinar mata langsung. d. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan : a. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). harus dilengkapi dengan pengendali manual. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. langit yang cerah. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN Semua sistem pencahayaan. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Jika perlu. b. otomatis atau yang terprogram. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafon harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. c. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. obyek luar. f. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus-menerus. e. Pengendaiian silau pada bangunan. Penentuan besarnya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI2396 tentang Penerangan Alami Sianghari untuk Rumah dan Gedung. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap grup yang melayani luasan 30 m2 atau kurang. 1. 3. c. Pengendali harus digunakan . b. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu "KELUAR". Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut : a.Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama di dekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. 2. XIII.

hotel dan rumah sakit.sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Pengendali yang memerlukan operator yang leriatih. b. d.yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. engendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. c. 2. pertokoan. . Letak pengendali harus mudah dicapai. Pengendali yang diprogram. Pengendali dipusatkan di lokasi . Pengendali otomatis. kecuali : a. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/ dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. pasar swalayan. e. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang terletak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendaii untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. gedung dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat).

XIV. KENYAMANAN.1 KENYAMANAN TERMAL 1. a. SIRKULASI UDARA 1. Perletakan bukaan pada bagian-bagian persimpangan jalan agar pengguna jalan saling dapat melihat sebelum tiba pada persimpangan. Baku Tingkat Kebisingan i. juga harus dapat menyediakan kenyamanan termal dalam ruang yang dapat menurunkan temperatur dan kelembaban. Arah bukaan c. Perletakan dan penataan elemen-elemen alam dan buatan pada bagian bangunan maupun ruang luarnya untuk tujuan melindungi hak pribadi. KEBISINGAN DAN GETARAN XIV. 2. 3. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Arah bukaan c. Pada Bidang Dinding terhadap Pengaturan Suhu Udara dan Kelembaban Ruangan. Luas Bukaan pada Bidang Atap b.3 PANDANGAN 1. KEBISINGAN 1. a. 2. Luas bukaan pada bidang dinding b. Penggunaan jenis-jenis material dan jenis-jenis lapisan dinding untuk meredam kebisingan di dalam bangunan. 2. Posisi Bukaan XIV. 4. Pada Bidang Atap a. makhluk lain dan . Penyediaan ventilasi yang cukup disamping untuk memenuhi persyaratan kesehatan.4. Ketinggian bukaan d.XIV. Bukaan-bukaan sedapat mungkin diletakkan pada bidang dinding yang tidak terkena sinar matahari langsung untuk mengurangi perolehan panas dalam ruang. XIV. ukaan ventilasi ditempatkan pada arah angin datang untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan udara dalam ruang.2. Perletakan elemen-elemen alam dan buatan untuk mengurangi/meredam kebisingan yang datang dari luar bangunan dan luar lingkungan. Jika bukaan diletakkan pada bagian dinding yang terkena sinar matahari langsung maka harus disediakan peneduh sinar matahari yang mencukupi. Posisi Bukaan 2.

Baku Tingkat Getaran a. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut beriaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. XIV. 1. 2. . Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan. beriaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. ii. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang beriaku. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan.5 GETARAN Penggunaan material dan sistem konstruksi bangunan untuk meredam getaran yang datang dari bangunan lain dan dari luar lingkungan. makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. b.lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. Salah satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. maka untuk usaha atau kegiatan tersebut.

BAB IV TATA LAKSANA BANGUNAN GEDUNG
I. PENGERTIAN Definisi bangunan gedung sesuai dengan Ketentuan umum yang termuat dalam UU No 28 tentang Bangunan Gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 1. Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya. 2. Pembangunan bangunan gedung dapat dilakukan baik di tanah milik sendiri maupun di tanah milik pihak lain 3. Pembangunan bangunan gedung diatas tanah milik pihak lain dilakukan berdasar perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan pemilik bangunan gedung. 4. Pembangunan bangunan gedung dapat dilaksanakan setelah rencana teknis bangunan gedung disetujui oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan, kecuali bangunan gedung fungsi khusus. 5. Tata cara pengesahan rencana teknis bangunan gedung yang diatur lebih lanjut dalam Qanun. II. PENYELENGGARAAN Penyelenggara bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang meliputi pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi bangunan gedung, dan pengguna bangunan gedung. 1. Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran 2. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan administrative maupun persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung. 3. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan adiministratif dan persyaratan teknis tersebut diatas, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap. 4. Pelaksanaan pentahapan pemenuhan ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi social, budaya dan ekonomi masyarakat, meliputi: a. Persyaratan administrative

i. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah ii. Status kepemilikan bangunan gedung , dan iii. Izin mendirikan bangunan gedung b. Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur, pondasi, struktur, sanitasi dan elektrikal 5. Penyelenggara a. Pemilik Bangunan Gedung Pemilik bangunan gedung adalah orang, badan hukum, kelompok orang, atau perkumpulan yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.

b. Pengguna Bangunan Gedung Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. c. Penyedia Jasa Konstruksi Penyedia jasa konstruksi adalah orang atau lembaga independen dan mandiri yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan konstruksi serta memiliki ijin di bidang pelaksanaan bangunan. Ketentuan mengenai jasa konstruksi mengikuti peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi. III. PERENCANAAN 1. Perencanaan adalah kegiatan penyusunan rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan fungsi dan persyaratan teknis yang ditetapkan, sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan pengawasan bangunan. 2. Rencana teknis bangunan gedung dapat terdiri atas rencanarencana teknis arsitektur, struktur dan konstruksi, mekanikal dan elektrikal, pertamanan, tata ruang dalam dan disiapkan oleh penyedia jasa perencanaan yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail pelaksanaan rencana kerja dan syaratsyarat administrative, syarat umum dan syarat teknis, rencana anggaran biaya pembangunan dan laporan perencanaan. 3. Persetujuan rencana teknis bangunan gedung dalam bentuk izin mendirikan bangunan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan asas kelayakan administrasi dan teknis, prinsip pelayanan prima serta tata laksana pemerintahan yang baik. 4. Perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan harus dilakukan oleh dan/atau atas persetujuan perencana teknis bangunan gedung, dan diajukan

terlebuh dahulu kepada instansi yang berwenang untuk mendapatkan pengesahan. 5 .Untuk bangunan gedung fungsi khusus izin mendirikan bangunannya disetujui oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah 6. Untuk bangunan gedung fungsi khusus, rencana teknisnya harus mendapatkan pertimbangan dari tim ahli terkait sebelum disetujui oleh instansi berwenang dalam pembinaan teknis bangunan gedung fungsi khusus. IV. PELAKSANAAN Adalah kegiatan pendirian, perbaikan, penambahan, perubahan atau pemugaran konstruksi bangunan gedung dan /atau instalasi dan/atau perlengkapan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang disusun. 1. Pendirian a. Mendirikan bangunan ialah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian, termasuk pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan bangunan itu. b. pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai dikerjakan setelah Dinas Kimpraswil menetapkan garis sepadan serta ketinggian permukaan tanah persil tempat bangunan bersangkutan akan dididirikan, sesuai dengan rencanan yang telah ditetapkan dalam IMB. c. Dinas Kimpraswil menunjukkan letak garis sepadan dan menandai ketinngian permukaan persil selambat-lambatnya 14 ( emapt belas ) hari setelah diserahkan IMB kepada pemohonnya; d. Bila setelah 14 (empat belas ) hari sesudah diserahkannya IMB Dinas Kimpraswil tidak melaksanakan tugasnya , pemohon IMB dapat mengajukan permohonan kepada gubernur agar dinas kimpraswil segera melakukan tugasnya. 2. Perbaikan 3. Penambahan 4. Perubahan Merubah bangunan ialah pekerjaan menggali dan/atau menambah bagian bangunan yang ada, termasuk pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut. 5. Pemugaran konstruksi a. Bangunan Gedung b. Instalasi c. Perlengkapan Bangunan

V. PENGAWASAN Adalah kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan gedung. 1. Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi a. Petugas Dinas Kimpraswil berwenang: i. memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja; ii. memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku atau standart yang berlaku. iii. memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan, demikian pula lat-alat yang diaanggap berbahaya serta merugikan kesehatan/keselamatan untuk pekerjaan tersebut b. Pemilik IMB wajib memberitahukan kepada Dinas Kimpraswil saat telah selesainya seluruh pekerjaan mendirikan bangunan tersebut dalam IMB, selambat-lambatnya 48 ( empat puluh delapan) jam setelah pekerjaan mendirikan bangunan itu selesai; c. Bila pekerjaan mendirikan bangunan menurut kenyataannya telah selesai dilaksanakan sesuai dengan IMB, Dinas Kimpraswil memberi surat keterangan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan kepada penerima IMB. d. Bila dalam jangka waktu 14 ( empat belas 0 hari setelah pemeberitahuan tentang selesainya pekerjaan mendirikan bangunan tidak ada pemeriksaan dari Dinas Kimpraswil, penerima IMB dapat meminta Gubernur untuk mememrintahkan agar Dinas Kimpraswil segera melaksanakan pemeriksaan. 2. Manajemen Konstruksi Pembangunan a. Pengawas pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan adalah perorangan atau badan hukum. b. Bilamana pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan adalah perseorangan, kepadanya diwajibkan memiliki ijin bekerja yang dikeluarkan oleh Gubernur. c. Pengawas pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan melaksanakan perintah dan bertanggungjawab kepada perencana bangunan dan pemilik IMB d. Tugas dan tanggungjawab pengawas pekerjaan mendirikan bangunan tidak dapat dipindah alihkan kepada pihak lain dengan bentuk atau cara apapun tanpa persetujuan dari pihak penerima IMB

VI.

PEMANFAATAN

kesehatan. 1. Persyaratan administrative dan teknis untuk bangunan gedung adat. Suatu bangunan gedung dinyatakan laik fungsi apabila telah dilakukan pengkajian teknis terhadap pemenuhan seluruh persyaratan teknis bangunan gedung dan Pemerintah Daerah mengesahkannya dalam bentuk sertifikat laik fungsi bangunan gedung. Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh tenaga/konsultan ahli yang telah diakreditasi setiap 5 ( lima) tahun sekali. Persyaratan (1) Status hak atas tanah. bangunan gedung semi permanen. 2.Adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan termasuk kegiatan pemeliharaan. bangunan gedung darurat dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencanan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi social dan budaya setempat. . Persyaratan teknis Lihat lampiran dari bidang arsitektur. khusunya bangunan umum wajib dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kelaikan fungsinya. serta persyaratan keselamatan. c. Dinas Kimpraswil mengadakan penelitian atas hasil pemeriksaan berkala tersebut diatas mengenai syarat-syarat adminstrasi maupun teknis. d. Persyaratan teknis bangunan gedung tersebut diatas meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. Perawatan dan Pemeriksaan a. 3. Persyaratan administrative dan persyaratan teknis tersebut adalah: i. b. pondasi. dan (3) Izin mendirikan bangunan gedung ii. b. kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan. dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah (2) Status kepemilikan bangunan gedung . Yang dimaksud laik fungsi. Pemeliharaan. b. Persyaratan Laik Fungsi a. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Untuk bangunan yang telah ada. Persyaratan Teknis a. sanitasi dan elektrikal. yaitu berfungsinya seluruh atau sebagian dari bangunan gedung yang dapat menjamin dipenuhinya persyaratan tata bangunan. perawatan dan pemeriksaaan secara berkala. c. struktur.

PELESTARIAN 1. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. d. Dalam rangka pengawasan penggunaan bangunan. b. Pengertian a. g. dilakukan oleh Pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan c.d. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian serta teknis perbaikan. Perbaikan. petugas Dinas Kimpraswil dapat minta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan Sertifikat laik Fungsi beserta lampirannya. harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dinas Kimpraswil memberikan sertifikat laik fungsi apabila bangunan diperiksa telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. pemugaran dan pemanfaatannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pelaksanaan perbaikan. pemugaran serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. e. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan. Perlindungan a. f. VII. dan pemanfaatan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya. maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam SLF. Kepala Dinas Kimpraswil dapat menghentikan penggunaan bangunan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan Sertifikat laik fungsi. Penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan . Adalah kegiatan perawatan. dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah dengan memeperhatikan ketentuan perundang-undangan . Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarikan. e. b. pemugaran. pemugaran. Dalam hal terjadi pada ketentuan diatas. Gubernur/Dinas Kimpraswil akan mencabut Izin Mendirikan Bangunan yang telah diterbitkan. 2.

c. Pengkajian teknis bangunan gedung kecuali untuk rumah tinggal. pemugaran dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan VIII. ilmu pengetahuan. atau bagianbagiannya. dan kebudayaan termasuk nilai arsitektur dan teknologinya. perorangan atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pengkaji teknis adalah orang. 4. komponen. atau sisa-sisanya yang berumur paling sedikit 50 (lima puluh) tahun atau mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 ( lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting sejarah. Peraturan perundang-undangan yang terkait adalah UU tentang cagar Budaya. Pelestarian Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berupa kesatuan atau kelompok. Pelaksanaan Perbaikan dan Pemugaran Perbaikan. 3. Perbaikan. Pemanfaatan Bangunan Gedung dan lingkungan cagar Budaya a. pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilindungi dan dilestraikan harus dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanan sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya semula. b. b. bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarananya. Pengertian a. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. perlindungan serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya. Pelaksanaan perbaikan. Bangunan gedung dapat dibongkar ditetapkan berdasarkan persetujuan Pemerintah daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis.c. PEMBONGKARAN 1. . d. Adalah kegiatan membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung. 5. pemugaran. atau dapat dimanfaatkan sesuai potensi pengembangan lain yang lebih tepat berdasarkan criteria yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah dan/ atau pemerintah.

Tidak memiliki izin mendirikan bangunan d. c. hal-hal lain yang ddianggap perlu. IX. Sebelum mengajukan permohonan Izin Merobohkan Bangunan . mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Daerah atas rencana teknis bangunan gedung yang telah memenuhi persyaratan. Persyaratan Pembongkaran Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. cara membongkar bangunan iv. Pemilik bangunan dapat mengajkan permohonan untuk membongkar bangunannya. persyaratan membongkar bangunan. tujuan atau alas an membongkar bangunan. mendapatkan surat ketetapan bangunan gedung dan/atau lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dari Pemerintah Daerah iv. tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki b. mendapatkan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan apabila bangunannnya dibongkar . mengubah fungsi bangunan setelah mendapat izin tertulis dari Pemerintah Daerah. v. HAK DAN KEWAJIBAN PEMILIK DAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG 1. pemilik bangunan gedung mempunyai hak: i. Pengertian a. Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasar rencana teknis pembongkaran yang disetujui oleh Pemerintah Daerah. Tata Cara Pembongkaran a. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan yang berlaku 3. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. b.e. pemohon harus terlebih dahulu minta petunjuk tentang rencana membongkar bangunan kepada Dinas Kimpraswil yang meliputi: i. vi. ii. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya. iii. ii. 2. mendapatkan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah daerah karena bangunannya ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah iii.

memelihara dan /atau merawat bangunan gedung secara berkala. d.oleh Pemerintah daerah atau pihak lain yang bukan diakibatkan oleh kesalahannya. mendapatkan keterangan tentang ketentuan bangunan gedung yang laik fungsi. melaksanakan pemeriksaaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung. f. iv. membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki. mendapatkan keterangan tentang ketentuan persyaratan keandalan bangunan gedung. ii. melengkapi pedoman / petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung. b. Hak Pemilik dan Pengguna a. b. melaksanakan pembangunan bangunan gedung sesuai dengan rencana teknis yang telah disahkan dan dilakukan dalam batass waktu berlakunya izin mendirikan bangunan. c. memiliki izin mendirikan bangunan iii. PERAN SERTA MASYARAKAT 1. meminta pengesahan dari Pemerintah daerah atas perubahan rencana teknis bangunan gedung yang terjadi pada tahap pelaksanaan bangunan. Pengertian . e. e. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya. mendapatkan keterangan tentang bangunan gedung dan/atau lingkungan yang harus dilindungi dan dilestarikan. 3. 2. c. b. d. atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum X. menyediakan rencana teknis bangunan gedung yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan fungsinya. Kewajiban pemilik dan Pengguna a. memperbaiki pemeriksaan secara berkala yang telah ditetapkan tidak laik fungsi. mendapatkan keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan pada lokasi dan/atau ruang tempat bangunan akan dibangun. memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. pemilik bangunan gedung mempunyai kewajiban: i. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung. mengetahui tata cara/ proses penyelenggaraan bangunan gedung.

Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu. pemanfaatan. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dapat melalui tim ahli bangunan gedung yang dibentuk oleh Pemerintah daerah atau melalui forum dialog dan dengar pendapat publik c. Adalah memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan. pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung. Melaksanakan Gugatan a. Peran serta masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan proyek pembangunan b. Setiap orang juga berperan dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku.atau membahayakan kepentingan umum. Memberi Masukan Kepada pemerintah Daerah a.bioskop. 4. dan pemanfaat tempat umum lain. 2. mal. Yang dimaksud dengan penyempurnaan adalah termasuk perbaikan Peraturan daerah tentang bangunan gedung sehingga sesuai dengan undang-undang /peraturan diatasnya. Penyampaian pendapat tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang bersangkutan ikut memiliki dan bertanggungjawab dalam penataan bangunan dan lingkungannya 5. masukan dan usulan kepada Pemerintah daerah b. Memantau dan menjaga Ketertiban Penyelenggaraan a. Menyampaikan Pendapat dan Pertimbangan Kepada Instansi yang Berwenang a. seperti dalam memanfaatkan fungsi bangunan gedung sebagai pengunjung pertokoan. 3. Apabila terjadi ketidaktertiban dalam pembangunan.merugikan atau menbahayakan. b. merugikan dan. pedoman dan standart teknis di bidang bangunan gedung b. Adalah menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan. rencana teknis bangunan gedung tertentu dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Masyarakat adalah suatu kesatuan penduduk yang dikenal sebagai komunitas dimana ikatan social nya realtif masih erat. b. pasar.a. Gugatan perwakilan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan oleh perorangan atau kelompok orang yang mewakili para pihak yang dirugikan akibat adanya penyelenggaraan bangunan gedung yang mengganggu. masyarakat dapat menyampaikan laporan. .

asosiasi perusahaan. Pemberdayaan masyarakat yang belum mampu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bangunan gedung melalui upaya internalisasi. PEMBINAAN 1. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. c. Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung a. Pemberdayaan Masyarakat a. d.XI. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah 3. pedoman. b. petunjuk dan standar teknis bangunan gedung sampai dengan di daerah dan operasionalisasinya di masyarakat. kewajiban dan perannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. asosiasi profesi. Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah b. Pengaturan dilakukan dengan pelembagaan peraturan perundang-undangan. Pembinaan dilakukan dalam rangka tata pemerintahan yang baik melalui kegiatan pengaturan. pemberdayaan dan pengawasan sehingga setiap penyelenggaraan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan tercapai keandalan bangunan gedung sesuai dengan fungsinya serta terwujudnya kepastian hukum. kewajiban dan peran para penyelenggara bangunan gedung dan aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Pemberdayaan adalah kegiatan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak. c. Pembinaan Bangunan Gedung a. 4. sosialisasi dan pelembagaan di tingkat masyarakat. Pengertian a. b. Masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung sepeti masyarakat ahli. Sebagian penyelenggaraan dan pelaksanaan pembinaan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat yang terkait dengan bangunan gedung. Pelaksanaan pembinaan oleh Pemerintah daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas pemerintahan daerah. . 2. b. Pemberdayaan dilakukan terhadap para penyelenggara bangunan gedung dan aparat Pemerintah Daerah untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan hak.

peringatan tertulis ii. 2. penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan iv. jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain . ii. Sanksi Administratif adalah sanksi yang diberikan oleh administrator ( pemerintah) kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tanpa melalui proses peradilan karena tidak terpenuhinya ketentuan undang-undang. Pengertian a. jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup.Sanksi administrative dapat berupa: i. Sanksi Pidana dapat berupa: i. SANKSI 1. pembekuan sertifikat laik fungsi bangunan gedung viii. ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% 9sepuluh per seratus) dari nilai bangunan. Bentuk Sanksi a. pencabutan sertifikat laik fungsi bangunan gedung. iii. Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi. ancaman pidana penjara paling lama 5 ( lima )) tahun dan/atau denda paling banyak 20% ( dua puluh per seratus ) dari nilai bangunan gedung. pembekuan izin mendirikan bangunan gedung vi. perintah pembongkaran bangunan gedung. iv. dan /atau persyaratan. pembatasan kegiatan pembangunan iii. penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung v. b. ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak 15% (lima belas per seratus) dari nilai bangunan gedung.dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung dikenai sanksi adminitratif dan/atau sanksi pidana b. .masyarakat pemilik dan pengguna bangunan gedung dan aparat pemerintah XII. atau ix. pencabutan izin mendirikan bangunan gedung vii. Dalam proses peradilan atas tindakan sanksi pidana tersebut diatas. hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang.

konstruksi maupun arsitektural dari bangunanbangunan semula yang telah mendapat izin. pemeliharaan bangunan-bangunan dengan tidak mengubah denah. b. Pemerintah Daerah dapat memberikan izin untuk: I. d. mendirikan bangunan-bangunan yang sesuai dengan Peraturan Daerah yang ada. pelanggar dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% ( sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun c. maka persolannya akan dapat diajukan kepada H\gubernur untuk diputuskan. Tata Cara Pengenaan Sanksi a. Pemberiaan Izin Bangunan a. membongkar bangunan-bangunan yang menurut pertimbangan Kepala Dinas tidak membahayakan. atau nilai keseluruhan suatu bangunan gedung yang ditetapkan pada saat sanksi dikenakan bagi bangunan gedung yang telah berdiri. mendirikan bangunan-bangunan permanen. III. c. b. 2. Nilai bangunan gedung dalam ketentuan sanksi adalah nilai keseluruhan suatu bangunan pada saat sedang dibangun bagi yang sedang dalam proses pelaksanaan konstruksi. mendirikan bangunan-bangunan sementara yang diperlukan dalam pelaksanaan sesuatu pembangunan selama pekerjaan-pekerjaan itu dilaksanakan. Tidak Diperlukan Izin Bangunan Izin Bangunan tidak diperlukan dalam hal: a. PERIJINAN 1. c.3. d. XIII. pendirian bangunan-bangunan yang tidak permanen untuk pemeliharaan binatang-binatang jinak atau tanamantanaman dengan syarat-syarat : . penerangan dan lain sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 meter persegi dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 meter. membuat lubang-lubang ventilasi. Jika Kepala Dinas berkeberatan terhadap permohonan izin tersebut diatas. memperluas bangunan-bangunan yang telah ada. Selain pengenaan sanksi administrative sebagaimana jenisnya. IV. Pengenaan sanksi tidak berarti membebaskan pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dari kewajibannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang. Jenis pengenaan sanksi ditentukan oleh berat dan ringannya pelanggaran yang dilakukan. Izin bangunan diberikan berdasarkan keputusan Pemerintah Daerah b. II.

menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari surat izin mendirikan bangunan. b. membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanen f. tiang bendera di halaman/ pekarangan rumah e. dilarang mendirikan bangunan: i. gambar rencana bangunan. dilarang mendirikan bangunan-bangunan diatas tanah orang lain tanpa izin pemiliknya atau kuasanya yang sah. tidak mempunyai izin tertulis dari Pemerintah Daerah ( IMB). ix. viii. iii. salinan atau fotocopi bukti pemilikan tanah. jumlah lantai/lapis bangunan diatas/dibawah permukaan tanah yang diizinkan. taman dan patung. i. membuat kolam hias . 4. Larangan Mendirikan/Mengubah Bangunan a. mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh izin selama mendirikan suatu bangunan 3. ii. vii. persetujuan/ izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya. vi. v. luas tidak melebihi 10 (sepuluh ) meter persegi dan tingginya tidak lebih dari 2 (dua) meter. persyaratan-persyaratn perencanaan. i. . garis sempadan yang berlaku. ii. Permohonan Izin Bangunan a. koefisien dasar bangunan yang diizinkan. ii. iii. Permohonan Izin Mendirikan Bangunan harus dilampiri dengan: gambar situai. b. perhitungan struktur untuk bangunan bertingkat ( lebih dari 2 lantai) iv. hal-hal lain yang dipandang perlu. loefisien lantai bangunan. koefisien daerah hijau. x. luas lantai bangunan yang diizinkan.sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah yang ada d. pertimbangan pemerintah daerah setempat. vi. iv. Pemohon harus mengetahui tentang: jenis/peruntukan bangunan. menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang bangunan gedung c. iii. ditempatkan dihalaman belakang ii. persayaratan-persyaratan bangunan. mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah diperoleh izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan g. menyimpang dari rencamna pembangunan yang menjadi dasar pemberian izin bangunan. pelaksanaan dan pengawasan bangunan. v.i.

c. Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Kepala Dinas dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun. cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada. bangunan yang akan didirikan diatas/lokasi yang penggunaanya tidak sesuai dengan rencana kota yang sudah ditetapkan dalam RTRW. apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana Pemerintah. j. 6. d. h. izin yang telah diberikan itu kemudian ternyata didasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru. g. Izin Mendirikan bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya. apabila bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitar. c. b. e. bertentangan dengan Undang-Undang. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan dan pemohon belum memulai pelaksanaan pekerjaannnya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya. f. b. dalam waktu 6 ( enam) bulan setelah tanggal izin itu diberilkan.5. karena persyaratan-persyaratan dalam Peraturan Daerah ini tidak dipenuhi. d. c. e. bangunan akan mengganggu lalu lintas. Pencabutan Izin Bangunan a. Putusan Suatu Permohonan Izin Bangunan a . pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 ( tiga ) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan. f. Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Bea Balik Nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. apabila bangunan yang akan didirikan tidak memenuhi persyaratan teknis bangunan. b. adanya keberatan yang diajukan dan dibenarkan oleh Pemerintah. 7. . i.Izin mendirikan bangunan diberikan paling lambat 3 ( tiga) bulan setelah dikeluarkan surat izin sementara. Penolakan Suatu Izin Bangunan a. Surat Izin Mendirikan Bangunan ditandatangani oleh Kepala Dinas atau pejabat lain yang ditunjuk. Qanun Propinsi atau peraturan lainnya yang setingkat dengan Qanun tersebut diatas. pemegang izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan. aliran air (air hujan).

Permohonan banding harus memuat: i. Permohonan Banding Kepada Kepala Daerah a. ii. b. alas an-alasan yang menjadi dasar permohonan banding itu. e. pernyataan keputusan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. . Jika pencabutan surat izin bangunan dinyatakan tidak beralasan oleh dan dengan suatu keputusan DPRD. dari 8. iv. Keputusan kepala Dinas mengenai penetapan ketentuanketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut atau penetapan larangan. ii. dalam jangka waktu satu bulan setelah dikirimkannya keputusan. d. iii. Keputusan penolakan atau pencabutan surat izin oleh Kepala Dinas. c. Kepala Dinas membentuk Panitia untuk mempersiapkan penyelesaian permohonan banding itu f.d. tanggal dan nomor keputusan yang dimohon banding. Permohonan banding oleh yang berkepentingan dilakukan secara tertulis. Permohonan banding dikenakan terhadap: i. Dalam keadaan luar biasa. pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang rencana dan syarat-syarat yang disahkan. nama dan tempat tinggal yang berkepentingan atau kuasanya. Kepala Dinas dapat memperpanjang jangka waktu itu selama-lanya satu bulan. maka izin itu berlaku kembali.

dan metode uji bangunan. . KETENTUAN PENUTUP Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Babbab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI). serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. tata cara. komponen.BAB V. elemen. pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful