P. 1
makalah pbl 29

makalah pbl 29

|Views: 348|Likes:
Published by Morina Rhe

More info:

Published by: Morina Rhe on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Trauma kapitis merupakan penyebab yang sering bagi morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Kecelakaan di jalan raya masih bertanggung jawab bagi lebih dari setengah cedera ini dan merupakan penyebab utama kematian pada pasien di bawah usia 45 tahun. Lebih dari 70% pasien yang terlibat dalam kecelakaan tersebut menderita trauma pada kepala.1,2 Data korban kecelakaan di Indonesia pada tahun 1997 tercatat sekitar 34.000 orang, pada tahun 1999 korban kecelakaan sekitar 47.000 orang. Jika pada tahun 1997 korban yang meninggal mencapai 12.500 orang, di tahun 1999-2002 mencapai 10.000-15.000 orang setiap tahunnya.9 Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya.2 Mandibula cenderung mengalami fraktur saat terjadi cedera karena posisinya yang menonjol. Ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula, yaitu cara tertutup/ konservatif dan terbuka/ pembedahan. Pada tehnik tertutup, reduksi fraktur dan imobilisasi mandibula dicapai dengan jalan menempatkan peralatan fiksasi maksilomandibular. Pada prosedur terbuka, bagian yang fraktur dibuka dengan pembedahan, dan segmen direduksi dan difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat atau plat.12

1

BAB II ISI

2.1 ANAMNESIS Pada tiap penderita penyakit saraf harus pula dijajaki adanya keluhan atau kelainan di bawah ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut 3 : a. Nyeri kepala : Apakah anda menderita sakit kepala? Bagaimana sifatnya, dalam bentuk serangan atau terus menerus? Di mana lokasinya? Apakah progesif, makin lama makin berat atau makin sering? b. Muntah : Apakah disertai rasa mual atau tidak? Apakah muntah ini tiba-tiba, mendadak, seolah-olah isi perut dicampakkan keluar (proyektil)? c. Vertigo : Pernahkan anda merasakan seolah sekeliling ada bergerak, berputar atau anda merasa diri anda yang bergerak atau berputar? Apakah disertai rasa mual atau muntah? Apakah disertai tinitus? d. Gangguan penglihatan (visus) : Apakah ketajaman penglihatan anda menurun pada satu atau kedua mata? Apakah anda melihat dobel (ganda)? e. Pendengaran f. Saraf otak lainnya : Adakah perubahan pada pendengaran anda? Adakah tinitus? : Adakah ganguan pada penciuman, pengecapan, salivasi, lakrimasi, dan perasaan di wajah? Apakah bicara jadi cadel? Apakah suara anda berubah, jadi serak, atau bindeng atau jadi mengecil? Apakah sulit menelan? g. Fungsi luhur : bagaimana dengan memori? Apakah anda jadi pelupa? Apakah anada menjadi sukar

2

mengemukakan isi pikiran anda atau memahami pembicaraan orang lain? h. Kesadaran : Pernahkah anda mendadak kehilangan kesadaran, tidak mengetahui apa yang terjadi sekitar anda? Pernahkah anda merasa lemah dan seperti mau pingsan? i. Motorik : Adakah bagian tubuh anda yang menjadi lemah atau lumpuh? Adakah gerakan anda pada bagian tubuh atau ekstremitas badan yang abnormal dan tidak dapat anda kendalikan? j. Sensibilitas : Adakah perubahan atau gangguan perasaan pada bagian tubuh atau ekstremitas. Adakah rasa baal, semutan, seperti ditusuk, seperti dibakar? Di mana tempatnya? Apakah rasa tersebut menjalar? h. Saraf otonom : Bagaimana buang air kecil, buang air besar? Adakah retensio atau inkontinensia urin atau alvi? Pada penderita dengan kesadaran menurun atau koma harus dilakukan pemeriksaan yang sistematis. Hal ini akan menghemat waktu dan menghindari kesalahan dan pemeriksaan laboratorium yang tidak perlu. Pada anamnesis, harus ditanyakan kepada orang yang mengetahui (allo-anamnesis) apakah ada 3: a. trauma kepala b. gangguan konvulsif (kejang), epilepsi c. diabetes mellitus, pengobatan dengan obat hipoglikemi, insulin d. penyakit ginjal, hati, jantung, paru e. perubahan mengenai suasana hati dan tingkah laku, pikiran, depresi f. penggunaan obat atau penyalahgunaan zat g. gejala kelumpuhan

3

10 2.1 Penilaian kesadaran Bila kesadaran ditinjau secara mendalam.2. dan kemampuan berkomunikasi. kemampuan motorik. Nilai dari apa yang diucapkan. 10 a.2 PEMERIKSAAN 2. dengan tidak ada pembatasan antara normal dan abnormal fleksi. Kesadaran dapat didefinisikan sebagai keadaan yang mencerminkan pengintegrasian semua impuls aferen dan impuls eferen.2. Dengan cara ini turun naiknya tingkat kesadaran dapat diukur dengan naik turunnya tingkat kemampuan ketiga aspek tersebut. Kewaspadaan seseorang menunjuk pada derajat kesadaran.1 Pemeriksaan Fisik Manajemen pada individu pasien dengan cedera kepala. maka kesadaran ternyata mempunyai dua segi.6 Glasgow Coma Scale menyediakan kerangka kerja untuk menggambarkan keadaan pasien dalam tiga aspek tanggap: membuka mata. Perbedaan antara gerakan-gerakan ini bisa sulit untuk membuat suatu penetapan dan jarang berguna dalam memantau pasien individu. dan dipikirkan merujuk kepada kualitas kesadaran.1.2. namun harus relevan dengan prognosis. Glasgow Coma Score adalah suatu indeks buatan. respon verbal. Penilaian kesadaran berdasarkan metode Glasgow Coma Scale: Metode ini diciptakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien secara obyektif dari tiga aspek yaitu kemampuan membuka mata. yaitu segi derajat dan segi kualitas kesadaran. Dalam uraian pertama skala untuk penggunaan umum. dikerjakan. dan formulasi dari guidelines bersadarkan pada level kesadaran pasien. masingmasing bertingkat sesuai untuk meningkatkan penurunan nilai. diperoleh dengan menambahkan nilai untuk tiga tanggapan. Penilainnya adalah sebagai berikut 8: 4 . dan respon motorik. respon motorik hanya memiliki lima pilihan.

Atas perintah .Menghindar .Reaksi setempat : ada gerakan menghindar terhadap rangsangan yang diberikan di beberapa tempat (5) .1.Terhadap nyeri . Kemampuan membuka kelopak mata (K) . waktu. endorotasi bahu dan pronasi lengan bawah (2) .kata-kata tak berarti : seperti berteriak dan tidak 5 .Tidak bereaksi : dapat membuka mata sendiri secara spontan (4) : membuka mata hanya bila diajak berbicara (3) : membuka mata bila diberi rangsang nyeri (2) : tidak membuka mata dengan rangsang apapun (1) 2.jawaban kacau : berorientasi baik akan tempat. Kemampuan motorik (M).Menurut perintah : dapat melakukan gerak sesuai dengan perintah (6) . Kemampuan berkomunikasi (B) . dan orang (5) : jawaban yang kacau terhadap pertanyaan kita (4) .Spontan .Orientasi baik .Ekstensi terhadap nyeri : gerakan fleksi cepat disertai abduksi bahu (4) : fleksi lengan disertai aduksi bahu (3) : ekstensi lengan disertai aduksi.Fleksi abnormal .Tak bereaksi : tak ada gerakan dengan rangsangan cukup kuat (1) 3. pada lengan yang sehat .

dan menilai terapi yang diberikan.2. prognosis.1. hipoglikemia. hipotensi. Pemeriksaan harus mencakup 3: 6 .2 Pemeriksaan tanda vital Segera periksa dan beri tindakan untuk mencegah atau mengatasi 5H.tak bersuara : (1) Tabel 1. yaitu: hipoksia otak.merintih/ mengerang: suara rintihan/ erangan melulu (2) .8 2. dan herniasi di otak. Glasgow Coma Scale Keuntungan metode ini adalah kita dapat menilai derajat kesadaran secara kualitatif dan kuantitatif sehingga dapat kita gunakan untuk keperluan riset.menanggapi pembicaraan kita (3) . hipertermi.

1. Setelah itu lakukan pemeriksaan gerakan mandibula. Perhatikan tanda trauma. Pada palpasi bisa dilakukan palpasi kranium. kulit kepala untuk melihat adanya lesi atau massa.17 2.4. Pastikan bahwa jalan nafas terbuka dan pasien dapat bernafas.2.2. Periksa jalan nafas. harus ada sirkulasi darah untuk menyampaikan oksigen dan glukosa ke otak. Kepala. hematom di kulit kepala. dan pembengkakan. jantung. Pada inspeksi yang dapat dilihat antara lain: ukuran dan kontur kranium. 2.2. Gejala vital. Penemuan-penemuan dipastikan dengan palpasi. Otak membutuhkan pasokan oksigen yang kontinu. demikian juga glukosa. perdarahan di liang telinga dan hidung. kontak mata dan ekspresi mata.1 Pemeriksaan Pada Kepala Pemeriksaan fisik kepala dimulai dengan inspeksi kepala.2 Pemeriksaan pada fraktur mandibula Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan pertama – tama melakukan inspeksi menyeluruh untuk melihat adanya deformitas pada muka. waktu untuk memulihkan pernafasan dan sirkulasi darah adalah singkat. konfigurasi dan simetri.2. ciri-ciri rambut dan kulit. keadaan respirasi dan sirkulasi. sel-sel otak akan mati dalam waktu 5 menit.1. dan kadar dekstrosa yang diberikan harus cukup untuk nutrisi otak. c. tekstur rambut dan turgor kulit. di sekitar mata. Langkah berikut yang dilakukan adalah dengan mencoba merasakan tulang rahang dengan palpasi pada pasien. paru.4 Pemeriksaan Khusus 2. Toraks.1. b. Tanpa oksigen. Perhatikan tanda trauma.a. semua kelainan yang terlihat. penonjolan tulang. memar.3 Pemeriksaan Umum3 a. Jadi. abdomen.1. dan ekstremitas 2. Setelah itu 7 . Kulit.4. Karena itu.

bikuspid dan simfisis seringkali tidak jelas. sebab dengan foto panoramik kita dapat melihat keseluruhan tulang mandibula dalam satu foto. orbital dan seluruh pilar penopang kraniofasial baik horizontal maupun vertikal. oklusal. Pasien dapat diminta untuk menggigit untuk melihat apakah ada maloklusi atau tidak.7 8 .2.dilanjutkan dengan memeriksa bagian dalam mulut.7 2. CT-scan dapat membantu untuk melihat adanya fraktur lain pada daerah wajah termasuk os frontal.2 Pemeriksaan Penunjang 2. Setelah itu dapat dilakukan pemeriksaan stabilitas tulang mandibula dengan meletakkan spatel lidah di antara gigi dan lihat apakah pasien dapat menahan spatel lidah tersebut.2. Foto oblik lateral dapat membantu mendiagnosa fraktur ramus. Namun regio kondilus. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah dengan foto rontgen polos. angulus dan korpus posterior. Foto oklusal mandibula dapat memperlihatkan adanya diskrepansi pada sisi medial dan lateral fraktur korpus mandibula. regio simfisis dan alevolar. Namun pemeriksaan ini memberikan gambaran yang kurang detail untuk melihat temporo-mandibular joint. angulus.2. kompleks naso-ethmoid-orbital. Pemeriksaan CT-scan juga dapat digunakan untuk membantu diagnosa fraktur mandibula. korpus maupun simfisis. Dapat dilakukan untuk melihat posisi oblik lateral. posteoanterior dan periapikal. Radiologi pada rahang bawah Untuk pemeriksaan penunjang. yang paling penting untuk dilakukan adalah adalah rontgen panoramik.1 Pemeriksaan radiologi a. CT-scan juga ideal untuk melihat adanya fraktur kondilus. Posisi posteroanterior (PA) Caldwell dapat memperlihatkan adanya dislokasi medial atau lateral dari fraktur ramus.

jatuh. infeksi tulang. goresan.b. bebatuan atau benda kasar lainnya. adanya tanda-tanda kelainan neurologis.3. curiga trauma tembus. Nyeri timbul karena 9 . CT Scan memungkinkan visualisasi isi intrakranial dengan diagnosis selanjutnya dari massa (secara spesifik hematom) ekstradural. Penyebabnya cepat yang disebabkan oleh mikroorganisme yang biasanya tidak berbahaya. akibat benturan dengan benda keras.1 Trauma kapitis Cedera kepala (trauma capitis) adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala. Reaksi peradangan akan terjadi apabila jaringan terputus. fraktur tulang tengkorak. sulit menilai pasien.1.1.3 DIAGNOSIS 2. Vulnus laseratum terjadi akibat kekerasan benda tumpul. neoplasma.13 2. Pemeriksaan radiologi pada trauma kepala Indikasi untuk rontgen tengkorak pada cedera kepala antara lain: hilang kesadaran atau amnesia. Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan atau inflamasi. serta mengakibatkan gangguan neurologis. Dalam k eadaan ini ada peluang besar timbulnya infeksi yang sangat hebat. yakni luka atau rusaknya jaringan kulit luar. subdural.1 Diagnosis Kerja 2.3.1 2. dan kerusakan jaringan otak itu sendiri. seperti aspal jalan.3. robekan selaput otak. kebocoran LCS. dan penyakit degenerasi. kelainan kongenital. intreserebrum. k ecelakaan. s ehingga kontuinitas jaringan terputus.2 Vunus laseratum Vulnus Laceratum sering disertai luka lecet (excoriasis).15 Foto polos tengkorak penting dalam penyaringan trauma.

Setelah diyakini bersih.kulit mengalami luka infeksi sehingga terjadi kerusakan jaringan. a.3 Fraktur mandibula 10 . Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir 2.Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan ebih lama. tepi luka dipertautkan (4-7 hari). b.Secondary Intention Healing (penyembuhan lukasekunder) yaitu luka yang tidak m engalami penyembuhan primer.1. c. Apabila nyeri di atas hal ini dapat mengakibatkan g angguan rasa nyaman Tipe Penyembuhan luka Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka. Luka ini biasanya tetap terbuka. d a n yeri yang berlanjut istirahat atau tidur terganggu dan terjadi ketertiban gerak. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. dimana pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang.3.selsel yang rusak akan membentuk zat kimia sehingga akan m enurunkan ambang stimulus terhadap reseptor mekano sensitif dan hernosenssitif.

mempunyai kelemahan pada banyak tempat.12 Keluhan subyektif yang berkaitan dengan fraktur mandibula biasanya adalah rasa sakit. angulus mandibulae (pertemuan antara korpus dan ramus). Palpasi pada tepi-tepi mandibula mungkin bisa menunjukkan deformitas seperti tangga apabila udem dan hematom tidak parah. Anatomi mandibula Mandibula cenderung mengalami fraktur saat terjadi cedera karena posisinya yang menonjol.12 2.12 Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. kesulitan atau ketidakmampuan untuk mengunyah. Daerah pada mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. tetapi tetap saja regio angulus mandibulae dan mentalis merupakan daerah yang paling sering menjadi fraktur. pembengkakan bisa terjadi baik pada bagian yang mengalami taruma dan (jika berbeda) bagian yang fraktur.7 Mandibula merupakan sasaran pukulan atau benturan. Mandibula yang mengalami atropi.2 Diagnosis Banding Jenis-jenis trauma kapitis yang menimbulkan kelainan neurologik disebabkan oleh : 11 .3. Tergantung pada kondisi fraktur (sudah lama terjadi atau baru saja). dan daerah mentalis.Gambar 1.

Setelah kesadaran pulih kembali. dan intermediate. yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif.a. yang bisa berupa refleks Babinsky yang positif dan kelumpuhan U. countrecoup. Kontusio serebri Lesi kontusio bisa terjadi tanpa adanya dampak yang berat. muntah. Timbulnya lesi kontusio di daerah-daerah dampak coup.N. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat. menimbulkan gejala defisit neurologi. kematian tersebut tidak disebabkan oleh beratnya lesi kontusio tetapi karena komplikasi kardio-pulmonal.M. si penderita biasanya menunjukkan gambaran ’organic brain syndrome’ Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanismemekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas. Karena itu otak membentang batang otak terlampau kuat. sehingga terdapat vasoparalisis. Gangguangangguan di susunan kardio-pulmonal pada trauma kapitis bisa terjadi melalui mekanisme seperti berikut. dan gangguan pernafasan bisa timbul. Kontusio serebri yang tidak terlampau berat bisa berakhir dengan kematian beberapa hari setelah mengidap kecelakaan. sehingga menimbulkan blokade reversibel terhadap lintasan asendens retikularis difus. Akibat blokade itu otak tidak mendapat input aferen dan karena itu kesadaran hilang selama blokade reversibel berlangsung. yang penting untuk terjadinya lesi kontusio ialah adanya akselerasi kepala. autoregulasi pembuluh darah serebral terganggu. Pada umumnya. atau menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif ikut terlibat. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Sistem vaskular bisa ikut terkena secara langsung 12 . maka rasa mual.

Keadaan buruk ini akan lebih fatal.4 b. Hemoragia subdural Hematoma subdural/ subdural hematoma (SDH) merupakan kelainan bedah saraf umum yang sering memerlukan intervensi bedah. Keadaan demikian mengakibatkan takikardia yang lebih memperburuk curah jantung lagi. SDH adalah jenis perdarahan intrakranial yang terjadi di 13 .karena perdarahan ataupun trauma langsung pada jantung. Penderita dengan kontusio serebri pada hari pertama masih tidak sadar. Keadaan ini bisa menjurus ke hemodilusi bila penderita diberi cairan melalui infus tanpa plasma atau darah. Sebagai reaksi tubuh. Komplikasi yang memperberat keadaan terlukis di atas disebabkan oleh karena terjadinya asidosis. refleks batuk dan menelan mungkin belum pulih juga. Penderita dengan kontusio bisa memperlihatkan sindrom metabolik lain. Gambaran klinis yang mencerminkan keadaan tersebut di atas ialah koma dengan tanda-tanda syok dan hiperpireksia. volume sirkulasi ditambah dengan cairan yang berasal dari lingkungan ekstraselular. mudah terjadi depresi pernafasan PO2 dengan arterial bronkopneumonia aspirasi. yang lebih mengurangi aliran darah ke otak. sebagai manifestasi ikut terkenanya hipotalamus. Juga karena asidosis blood brain barrier mengalami kerusakan dan timbulah edema serebri. jika jantung ikut terkena trauma juga. Gangguan yang akan menyusulnya ialah tekanan osmotik dan O2 (PO2) menurun. Karena keadaan yang tidak menguntungkan itu. pernafasan terganggu. sehingga output jantung menjadi lebih kecil dan tekanan vena sentral meninggi. sehingga menurun dan PCO2 meningkat.

Yang seringkali berdarah ialah bridging veins. sesuai dengan distribusi bridging veins. Karena perdarahan subdural sering disebabkan oleh perdarahan vena. mungkin menjadi faktor penyebabnya. SDH biasanya disebabkan oleh trauma tetapi dapat spontan atau disebabkan oleh suatu prosedur. Antikoagulasi. Perdarahan vena biasanya berhenti karena tamponade hematom sendiri. berbulan-bulan bahkan ada kalanya juga bisa lebih dari dua tahun. seperti pungsi lumbal. Setelah 5 sampai 7 hari hematom mulai mengadakan reorganisasi yang akan terselesaikan dalam 10 sampai 20 hari. Darah yang diserap meninggalkan jaringan yang kaya dengan pembuluh darah. Namun demikian.bawah duramater dan mungkin terkait dengan cedera otak lainnya. latent interval itu bukannya berarti bahwa si penderita sama sekali bebas dari keluhan. masalah ini terjadi akibat terbendungnya darah di atas permukaan otak. yang menimbulkan hiperosmolaritas hematom subdural dan dengan demikian bisa terulang lagi timbulnya perdarahan kecil-kecil dan pembentukan suatu kantong subdural yang penuh dengan cairan dan sisa darah. 19 Hemoragi subdural mungkin sekali selalu disebabkan oleh trauma kapitis walaupun traumanya mungkin tidak berarti (trauma pada orang tua) sehingga tidak terungkap oleh anamnesis. Masa tanpa keluhan itu dinamakan latent interval dan bisa berlangsung bermingguminggu. Sebenarnya dalam latent interval kebanyakan penderita 14 . maka darah yang terkumpul berjumlah hanya 100-200cc saja. misalnya heparin atau warfarin (Coumadin). Pada dasarnya. Keluhan bisa timbul langsung setelah hematom subdural terjadi atau jauh setelah mengidap trauma kapitis. karena tarikan ketika terjadi pada permukaan lateral dan atas hemisferium dan sebagian di daerah temporal. Di situ bisa timbul lagi perdarahan-perdarahan kecil.

4 Gambar 2. 15 . menentukan pengobatan dan mungkin juga mempengaruhi hasilnya. hemiparesis ringan. serta kondisi neurologis pasien. baru pada saat itulah terhitung mula tibanya manifestasi hematom subdural. ada kalanya epilepsi fokal dengan adanya tanda-tanda papiledema. Tetapi apabila di samping itu timbul gejala-gejala yang mencerminkan adanya proses desak ruang intrakranial. lokasi. apakah terjadinya akut. Faktor-faktor ini. subakut.hematom subdural mengeluh tentang sakit kepala atau pening. Bila proses kejadian tidak diketahui. Sebuah hematoma subdural sisi kiri akut SDH biasanya ditandai berdasarkan ukuran. gambaran hematoma pada CT scan atau MRI dapat membantu menentukan kapan hematoma terjadi. atau kronis). hemiparestesia. seperti umumnya penderita kontusio serebri juga mengeluh setelah mengidap trauma kapitis. dan lama terjadinya (misalnya. SDH sering diklasifikasikan berdasarkan jangka waktu yang telah berlalu dari waktu terjadinya (jika diketahui) untuk diagnosis. Gejala-gejala tersebut bisa berupa kesadaran yang makin menurun. organic brain syndrome.

atau stroke. alkoholisme. SDH akut kurang dari 72 jam dan hyperdense dibandingkan dengan otak pada CT scan. sebuah SDH yang tidak terkait dengan cedera otak yang mendasari kadang-kadang disebut sebuah SDH sederhana atau murni. Tingkat keparahan cedera difus parenkim mempunyai korelasi kuat (korelasi inverse) dengan hasil pasien. hidrosefalus. Subakut SDH adalah 3-20 hari lamanya dan isodense atau hypodense dibandingkan dengan otak. Adanya atrofi otak atau hilangnya jaringan otak karena sebab apapun. Dalam kenyataan ini. Dalam sebuah penelitian. seperti usia tua. Sebagian kecil kasus kronis SDH berasal 16 . SDH dapat berbentuk gabungan seperti ketika perdarahan akut telah terjadi menjadi SDH kronis. Kronis SDH adalah 21 hari (3 minggu) atau lebih lama dan hypodense dibandingkan dengan otak. dapat memberikan ruang yang meningkat antara dura dan permukaan otak mana hygroma subdural dapat terbentuk atau traksi pada vena yang menjembatani span kesenjangan antara permukaan kortikal dan dura atau sinus vena. sedangkan istilah yang rumit telah diterapkan untuk SDH di mana cedera yang signifikan dari otak yang mendasari juga telah diidentifikasi. Hygromas mungkin terbentuk setelah cairan di arakhnoid memungkinkan cerebrospinal fluid (CSF) untuk terkumpul di ruang subdural. Namun. Sebuah hygroma subdural mungkin karena itu juga terjadi setelah trauma kepala. 82% pasien koma dengan SDH akut telah memar parenkim.Umumnya. mereka seringkali tanpa gejala.

Sering kali. SDH bisa menjadi mematikan dengan meningkatkan tekanan dalam otak. pembuluh darah robek adalah vena yang menghubungkan permukaan kortikal otak ke sinus dural (disebut sebagai vena bridging). dan herniasi otak. mungkin tanpa memar otak yang terkait. infark. pembuluh darah korteks. Suatu SDH akut karena arteri cortical pecah dapat berhubungan dengan hanya cedera kepala ringan. perdarahan sekunder. Dalam sebuah penelitian. terutama vena bridging. menyebabkan perubahan patologis dari jaringan otak (herniations otak). baik arteri vena atau kecil. dapat rusak oleh cedera langsung atau robekan. Cedera kepala primer juga dapat menyebabkan hematoma otak berhubungan atau memar. Cedera otak sekunder dapat meliputi edema. Atau. Dua tipe umum dari herniasi otak termasuk 17 .dari kasus SDH akut yang telah memburuk karena kurangnya perawatan. arteri cortical pecah ditemukan berada sekitar fisura sylvian. Pada orang lanjut usia. merobek pembuluh darah. Hematoma subdural akut Mekanisme biasa yang menghasilkan hematoma subdural akut (SDH) adalah dampak berkecepatan tinggi untuk tengkorak. dan menyebar aksonal cedera. Seperti massa lainnya yang memperluas di dalam tengkorak. pembuluh darah bridging mungkin sudah meregang karena atrofi otak (penyusutan yang terjadi dengan usia). perdarahan subarachnoid. Hal ini menyebabkan jaringan otak untuk mempercepat atau melambat relatif terhadap struktur dural tetap.

menyebabkan iskemia dan edema dan meningkatkan menyebabkan lingkaran peristiwa patofisiologi. herniasi Subfalcial dapat menyebabkan infark otak melalui kompresi dari arteri serebral anterior. Pencairan 18 . dan herniasi transtentorial dapat menyebabkan suatu infark melalui kompresi dari arteri serebral posterior. tekanan pada batang otak menyebabkan migrasi ke bawah. yang dimulai sebagai pemisahan dalam antarmuka dura-arakhnoid. Pembuluh darah yang pecah kemudian tumbuh menjadi membran. Sel berkembang biak di sekitar perbatasan dural koleksi ini CSF untuk menghasilkan sebuah neomembrane. banjir Duret dan kematian. mengakibatkan menurunkan lebih lanjut perdarahan aliran ICP. Air mata ini pembuluh darah penting yang memasok batang otak. SDH kronis juga dapat berkembang dari pencairan dari SDH akut. Hematoma subdural kronis Kronis SDHs mungkin mulai sebagai hygroma subdural.subfalcial (cingulate gyrus) herniasi dan transtentorial (uncal) herniasi. Transtentorial herniasi juga berhubungan dengan tekanan pada saraf kranial ketiga. menyebabkan reaktivitas menurun dan kemudian dilatasi pupil ipsilateral. mengakibatkan pertumbuhan SDH kronis. mungkin setan Peningkatan tekanan intrakranial (ICP) juga dapat serebral. terutama yang relatif tanpa gejala. Dengan herniasi transtentorial progresif. yang kemudian diisi oleh CSF. Pada pembuluh darah ini dapat terjadi perdarahan dan menjadi sumber darah ke ruang.

atau melalui mekanisme terpisah kalsifikasi (Atkinson. Jika tidak diresorpsi. bisa timbul fraktur yang 19 . b. memperbesar hematoma. menarik lebih banyak cairan ke dalam ruang subdural. kapal dalam membran yang mengelilingi hematoma dapat perdarahan berulang kali.biasanya terjadi setelah 1-3 minggu. dengan hematoma hypodense muncul pada CT scan. hematom epidural Akibat trauma kapitis tengkorak bisa retak. ialah fraktur linear. Jika gaya destruktifnya lebih kuat. Fraktur yang paling ringan. SDH kronis yang terbentuk dari SDHs akut mungkin memiliki membran antara dura dan hematoma pada 1 minggu dan antara otak dan hematoma pada 3 minggu. Beberapa SDH kronis juga bisa membesar dari gradien osmotik. Sebagaimana dinyatakan di atas. pembuluh rapuh baru dapat tumbuh ke dalam membran. 2003). Hemoragia epidural Gambar 3.

bisa dijumpai 20 . maka darah bisa keluar dan membentuk hematom subperiostal dan sifat tengkorak bagaikan kotak tertutup sudah tidak berlaku lagi. tetapi kemudian menjadi lebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran cahaya. menyebabkan tekanan intra kranial yang akan cepat meningkat. perdarahan epidural akan cepat menimbulkan gejala-gejala. Lebih-lebih lagi jika tidak terdapat fraktur tengkorak. Juga tergantung pada arteri atau vena yang pecah maka penimbunan darah ekstravasal bisa terjadi secara cepat atau perlahan-lahan. Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran yang menurun secara progesif. Inilah tanda bahwa herniasi tentorial sudah menjadi kenyataan. Sesuai dengan sifat dari tengkorak yang merupakan kotak tertutup. Gejala-gejala yang timbul akibat perdarahan epidural menyusun sindrom kompresi serebral traumatik akut. atau fraktur impresi yang dengan kepingan tulangnya menusuk ke dalam ataupun fraktur yang merobek dura dan sekaligus melukai jaringan otak (laserasio). Gejala-gejala respirasi yang bisa timbul berikutnya. pembuluh darah bisa pecah juga karena gaya kompresi yang timbul akibat dampak. mencerminkan tahap-tahap disfungsi rostrokaudal batang otak. Apabila tidak terjadi fraktur. maka perdarahan epidural tanpa fraktur. Pada perdarahan epidural akibat pecahnya arteri dengan atau tanpa fraktur linear ataupun stelata. manifestasi neurologik akan terjadi beberapa jam setelah trauma kapitis. Jika ada fraktur.berupa bintang (stelatum). Pupil pada sisi perdarahan pertama-tama sempit. Pada tahap kesadaran sebelum stupor atau koma. Pembuluh darah yang berada di bawah fraktur tulang tengkorak bisa ikut terluka sehingga menimbulkan perdarahan.

4 d.4. Hemoragia intraserebral. Tekanan intrakranial itu meruapakan jumlah total dari tekanan volume jaringan otak. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa hematom hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja. Jika penderita dengan perdarahan akan direorganisasi dengan pembentukan gliosis dan kavitasi. Tekanan intrakranial yang merupakan suatu konstanta itu. Hanya dekompresi bisa menyelamatkan keadaan.1 Patofisiologi trauma kepala Tengkorak dapat dianggap sebagai kotak yang tertutup dengan tekanan dalamnya yang tidak boleh berubah-ubah. volume cairan serebrospinal. Yang tersebut belakangan berkorelasi dengan dampak pada oksiput dan yang pertama berasosiasi dengan tamparan dari samping.4 PATOFISIOLOGI 2. Kebanyakan dari perdarahan intra lobus temporalis justru ditemukan pada sisi dampak.hemiparesis atau serangan epilepsi fokal. pada waktu-waktu tertentu akan mengalami lonjakan karena peningkatan volume salah satu unsur tersebut di atas. Perdarahan semacam itu sering terdapat di lobus temporalis dan frontalis. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena. dan volume darah intrakranial. 21 . Lesi-lesi tersebut terjadi karena berbagai gaya destruktif trauma.4 2.

sehingga terjadi gelembung-gelembung udara yang mengakibatkan terjadinya lubang-lubang (kavitasi) pada jaringan otak. sedangkan tekanan negatif bisa menyedot udara dari darah atau cairan serebrospinal. 22 . lonjakan tekanan intrakranial terjadi dalam milidetik. Kemudian tempat yang cekung itu bergoyang naik turun (osilasi) tiga empat kali untuk selanjutnya menjadi rata kembali seperti pada keadaan sehat semula dalam waktu 5 mdetik. Tekanan positif mengakibatkan kompresi terhadap jaringan otak. namun yang belum mengakibatkan fraktur pada tengkorak binatang percobaan. Pada eksperimen. yaitu dampak yang menjadi cekung sejenak untuk kemudian menjadi rata kembali seperti keadaan semula. Maka. Keadaan ini dijumpai pada trauma kapitis yang mengakibatkan indentasi. bisa menimbulkan identasi selama 5 mdetik. tekanan positif yang berselingan dengan tekanan negatif. Osilasi indentasi itu menimbulkan pada daerah di bawah tempat yang terpukul. Mekanisme trauma kepala Pada taruma kapitis. indentasi dapat diteliti dengan cermat. sehingga mekanisme kompensasi untuk menurunkan tekanan intrakranial belum sempat bekerja. para trauma kapitis bisa terdapat tekana positif dan negatif setempat. Pukulan yang cukup keras.Gambar 4.

maka pada tempat di bawah dampak terdapat : (a) tekanan positif akibat indentasi ditambah dengan (b) tekanan positif yang dihasilkan oleh akselerasi tengkorak ke arah dampak dan penggeseran otak ke arah yang berlawanan. gaya kompresi di bawah dampak adalah cukup besar untuk menimbulkan lesi. maka pada tempat dampak (seketika terjadi de-akselerasi). Penggeseran otak merupakan hasil akselerasi tengkorak dan kelebamam otak. tanpa kerusakan pada duramater. 23 . Di seberang dampak tidak terdapat gaya kompresi. Apabila badan jatuh ke belakang dan oksiput terdampar pada lantai. Sumasi kedua tekanan positif itu bisa merupakan gaya kompresi yang destruktif. sehingga timbul lesi kontusio ”countrecoup”. yaitu : (1) akselerasi tengkorak ke arah dampak. pada trauma kapitis. Lesi tersebut bisa berupa perdarahan pada permukaan otak yang berbentuk titik-titik besar atau kecil. Penghentian akselerasi secara mendadak dinamakan deakselerasi. Lesi kontusio di bawah dampak disebut lesi kontusio ”coup”. Kepala yang jatuh mengalami akselerasi. dengan dampak pada oksiput. di seberang tempat dampak terdapat : (1) tekanan negatif akibat akselerasi kepala yang ketika itu juga akan ditiadakan oleh (2) tekanan positif yang diakibatkan oleh penggeseran seluruh otak. dan (2) penggeseran otak ke arah yang berlawanan dengan arah dampak primer. Apabila akselerasi kepala disebabkan oleh pukulan pada oksiput.Gerakan cepat yang terjadi secara mendadak dinamakan akselerasi. Sementara itu. terjadi 2 kejadian. dan deakselerasi terjadi pada waktu kepala terbanting pada tanah atau lantai. Maka dari itu. sehingga di situ tidak terdapat lesi. Pada trauma kapitis. didapati keadaan sebagai berikut: tekanan negatif selama kepala berakselerasi dan tekanan positif seketika terjadi deakselerasi. Pada waktu akselerasi berlangsung. maka lesi itu dinamakan lesi kontusio ”countrecoup”. sehingga pada sisi dampak itu tidak terdapat tekanan positif akibat akselerasi kepala ditambah dengan tekanan positif akibat pergeseran otak karena kelebaman. terdapat akselerasi dan deakselerasi kepala. Jika di situ terjadi lesi. dan dinamakan lesi kontusio.

5. sesudah sadar. pusing.5 MANIFESTASI KLINIS 2. berupa perubahan posisi rahang yg menyebabkan maloklusi atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas 2. Tetapi faktanya ialah bahwa akibat akselerasi linear dan rotatorik terdapat lesi kontusio ”coup”. Kepala yang berada di ujung leher. perdarahan subdural akan timbul. Pergerakan rahang yang abnormal.5. 2. deakselerasi dan pergeseran otak bersumasi. Maka dari itu lesi-lesi yang bisa terjadi dinamakan juga lesi kontusio ”coup” dan ”countrecoup”. terdapat amnesia retrograd e. 2. tentu saja tidak selalu mengalami akselerasi linear pada waktu terdampar atau jatuh. sebagaimana dibahas di atas bersifat linear. Pergeseran otak pada akselerasi dan deakselerasi linear serta rotatorik.2 Gejala klinik pada penderita fraktur mandibula7 : 1. pada pemeriksaan tidak terdapat gejala kelainan neurologik lainnya. Karena itu.1 Gejala klinik yang biasanya terdapat pada penderita komosio serebri5: a. dapat terlihat bila penderita 24 . Yang disebut lesi kontusio intermediate ialah lesi yang berada diantara lesi coup dan contrecoup. tanda-tanda vital dapat normal atau menurun c. Vena-vena tersebut dinamakan brigding veins. pada akselerasi rotarik adalah sukar untuk dijelaskan secara rinci. bisa menarik dan memutuskan vena-vena yang menjembatani selaput araknoidea dan dura. Kebanyakan dari pembuluh darah tersebut berada di daerah sekitar fisura Sylvii dan pada kedua belah sisi sinus sagitalis superior. Bagaimana cara tekanan positif akibat akselerasi. mungkin terdapat gejala subyektif seperti nyeri kepala. ”countrecoup”. dan ”intermediate”. dan muntah d. Bahkan akselerasi yang seringkali dialami oleh kepala akibat trauma kapitis ialah akselerasi rotarik. pingsan tidak lebih dari 10 menit b.Akselerasi kepala dan pergeseran otak yang bersangkutan. Dislokasi.

jika diperlukan. Asimetris ukuran pupil dan reaksi berkurang menjadi cahaya dapat menunjukkan cedera otak baik dari cedera difus atau intra-kranial heamatoma. Tingkat keparahan cedera kepala dapat didasarkan pada nilai GCS awal. bagaimanapun. terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan mulut 2. 7. Laserasi yg terjadi pada daerah gusi. Asimetri gerakan ekstremitas dapat 25 . Pemeriksaan neurologis dimulai dengan penilaian tingkat kesadaran pasien menggunakan GCS. Ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya juga dinilai. mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur. Pada cedera kepala Sangat penting adalah kebutuhan untuk memperlakukan korban seperti jika ada cedera tulang belakang leher yang tidak stabil sebelum mencoba intubasi endotrakeal.menggerakkan rahangnya. 3.D isability. Seorang pasien dengan GCS 8 atau kurang membutuhkan penilaian anestesi mendesak sebagai kompromi saluran udara dan / atau ventilasi paru berkurang mungkin.6 PENATALAKSANAAN 2. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur. 5. Antara 5 dan 10% dari cedera kepala memiliki keterkaitan dengan cedera tulang belakang servikal. 6.6.1 Penatalaksanaan kegawatdaruratan a. Ini juga mungkin. Rasa sakit pada saat rahang digerakkan 4. Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran dari ujung tulang yang fraktur bila rahang digerakkan. mengindikasikan cedera terisolasi ke orbit dan saraf kranial yang terkait. Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan 8.

penutupan luka. denyut nadi dan laju pernafasan juga sangat penting tidak hanya untuk menjamin stabilitas kardiorespirasi pasien. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi). fraktur senyawa dan memar.6. diabetes mellitus) dan keberadaan alkohol dan obat-obatan lainnya yang dapat mempengaruhi tingkat kesadaran adalah penting untuk memastikan. Tindakan Antiseptik. A. disebut juga etakridin (rivanol) 26 . keterlambatan dalam perawatan. riwayat kesehatan sebelumnya pasien (misalnya epilepsi. penjahitan luka. 2)Halogendan senyawanya 3)Oksidansia 4) Logam berat dan g aramnya 5) Asam borat. s ebagai bakteriostatik l emah (konsentrasi3%).2 Penatalaksanaan pada vulnus laseratum18 Dalam m anajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka. b.membantu dalam mendiagnosis lesi intra-kranial yang mendasarinya.1. 6) Basa ammonium kuartener. Untuk melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau l arutan antiseptik s eperti: 1) Alkohol. prinsipnyau ntuk mensucihamakan kulit. termasuk pemeriksaan menyeluruh kulit kepala pasien untuk laserasi. Pengamatan pada tekanan darah. tetapi juga untuk menunjukkan mungkin keterlibatan otak. Eksposur pasien untuk memeriksa untuk luka lain kemudian dibuat. sifatnya bakterisidakuat dan cepat (efektif). tindakan antiseptik.11 2. pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan. Mekanisme dan saat cedera. pembalutan. pembersihan luka..

Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan m enghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu rawat dan biaya perawatan. Normal s aline atau disebut juga NaCl0. Pembersihan Luka Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalahmeninangkatkan. Pembalutan Pertimbangan dalam m enutup dan m embalut luka sangat tergantung pada kondisi luka. menghindari terjadinya infeksi.Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian luka. . Penutupan Luka Adalah mengupayakan f. Pemilihan cairan dalam pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka. sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan. m engupayakan l ingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan.9%. memperbaiki dan mempercepat prosespenyembuhan luka. 2)H ilangkan semua benda asingdaneksisi semua jaringan mati. Selain larutan antiseptik yang t elah dijelaskan diatas ada cairan pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal Saline. e. 3)Ber ikanantiseptik 4) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesilokal 5) Bila perlu lakukan penutupan luka d. m engalami infeksi serta berumur kurang m ahal. Penjahitan luka Luka bersih dan diyakini tidak dari 8 jam boleh dijahit primer. non toksik dan tidak c. m embuang jaringan 1) Irigasi dengan y a n g n ekrosis dan debris s ebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk Beberapalangkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka yaitu : membuang jaringan m ati dan benda asing. Cairan ini merupakan cairan yang bersifat fisiologis. 27 k ondisi lingkungan yang baik pada luka sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal. infeksi.

Auskultasi meliputi pemeriksaan suara kedua sisi paru-paru sama atau tidak.6. Pastikan jalan nafas bersih. 28 .1. l okasi luka. Hentikan perdarahan pada kulit kepala dengan tekanan langsung jika memungkinkan. Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien. PemberianAntibiotik Prinsipnya padalu ka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau k otor maka perlu diberikan antibiotik. BREATHING DAN VENTILASI Inspeksi dada meliputi pergerakkan dada. h. Lakukan intubasi atau cricotirotomy jika ada indikasi. Pengangkatan Jahitan Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan l agi. Monitor saturasi oksigen pasien dengan menggunakan pulse oksimetri. Pemberian cairan harus dibatasi bila ada trauma kepala. k esehatan. bila tidak dicurigai ada gangguan servikal atau jaw thurst. SIRKULASI DAN KONTROL PERDARAHAN Kaji capillary refill.g. nadi dan warna kulit. bila dicurigai ada gangguan servikal dan bersihkan benda asing dari mulut. Usahakan PO2 lebih dari 95%. Palpasi dilakukan untuk mencari adanya deformitas pada dada.3 Penatalaksanaan trauma kapitis9: PRIMARY SURVEY AIRWAY DAN C-SPINE CONTROL Pasang collar neck untuk imobilisasi cervikal. Bila pasien shock lakukan resusitasi cairan terlebih dahulu. 2. sikap penderita dan adanya infeksi. usia. Waktu pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti. apabila ditemukan gangguan tangani dengan cara chin lift. frekuensi pernafasan dan kualitas pernafasannya (dalam atau dangkal).

response to Painful stimuli. SECONDARY SURVEY Survey sekunder dilakukan setelah survey primer dan setelah resusitasi telah ditangani. kebocoran LCS. Survey sekunder berisi pemeriksaan lengkap pasien. tanda-tanda neurologis yang patologik. periksa tiap bagian secara sistemik termasuk pemeriksaan tanda-tanda vital. Hindari pemberian cairan yang berlebihan apabila dicurigai ada peningkatan TIK.6. atau Unresponsive. Membran timpani harus dievaluasi untuk mengetahui perdarahan. otorrhea. fraktur terbuka tulang tengkorak. pupil. pasien mungkin memiliki riwayat periode kehilangan kesadaran. 2. Pada cedera kepala ringan. Pemeriksaan kepala meliputi tidak ada depresi tulang tengkorak. hati-hati hipotermi.Cairan intravena harus adekuat untuk mempertahankan tekanan darah. Mata harus diinspeksi untuk hematom periorbital. EXPOSURE Buka seluruh baju pasien lihat ada tidaknya luka. Amnesia retrograd terhadap peristiwa sebelum kecelakaan cukup signifikan. tanda lateralisasi yang lain dan tingkat kesadaran menggunakan skala AVPU: Alert. atau rhinorrhea (CSF keluar dari telinga atau hidung).4 Penatalaksanaan pada trauma kepala Pada cedera kepala ringan. ini semua mengindikasikan adanya fraktur tulang basis crania. response to Verbal stimuli.2 Medika mentosa 2. mulai dengan memeriksa kepala dan dilanjutkan sampai ke ujung kaki. dan area mastoid harus diinspeksi untuk melihat adanya ekimosis.6. DISABILITY Selalu lakukan penilaian GCS. indikasi untuk rontgen kepala antara lain: adanya hilang kesadaran atau amnesia. curiga trauma 29 .

Tehnik terbuka dan tertutup tidaklah selalu dilakukan tersendiri.14 2. tanda-tanda neurologis atau sakit kepala. Pada prosedur terbuka. sulit menilai pasien. sulit menilai pasien. yaitu cara tertutup/ konservatif dan terbuka/ pembedahan. 30 .6. menetapnya tanda-tanda neurologis atau kebingungan lebih dari 12 jam. bagian yang fraktur dibuka dengan pembedahan. dan segmen direduksi dan difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat atau plat.tembus. atau muntah. Pada tehnik tertutup. pin ditelusupkan ke dalam kedua segmen untuk mendaatkan tempat perlekatan alat penghubung (coneccting appliance). Pendekatan tertutup dan terbuka ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. Indikasi untuk merujuk ke bagian bedah saraf antara lain apabila didapati tanda-tanda berikut: fraktur tengkorak + bingung/ penurunan GCS. fraktur tengkorak. terdapat perburukan. Pada tehnik fiksasi skeletal eksternal. yang bisa dibuat dari logam atau akrilik. reduksi fraktur dan imobilisasi mandibula dicapai dengan jalan menempatkan peralatan fiksasi maksilomandibular. tanda-tanda neurologis fokal atau kejang. Pendekatan ketiga adalah merupakan modifikasi dari tehnik terbuka yaitu metode fiksasi skeletal eksternal. kondisi sosial yang tidak adekuat atau tidak ada orang dewasa yang dapat mengawasi pasien.5 Penatalaksanaan pada fraktur mandibula a. Reduksi tertutup sangat sesuai untuk penatalaksanaan kebanyakan fraktur mandibular dan secara spesifik diindikasikan untuk kasus di mana gigi terdapat pada semua segmen atau segmen edentulus di sebelah proksimal dengan pergeseran hanya sedikit. keuntungan dan kekurangan. terdapat masalah medis yang menyertai. koma setelah resusitasi. yang menjembatani bagian-bagian fraktur dan menstabilkan segmen tanpa melakukan imobilisasi mandibula. Reduksi tertutup. fraktur tekanan pada tengkorak. tetapi kadang-kadang dikombinasikan. Indikasi rawat pada cedera kepala ringan antara lain: adanya kebingungan pada pasien atau GCS menurun. curiga cedera terbuka pada otak. Semua metode perawatan tersebut masing-masing mempunyai indikasi.

aplikasi dingin dan petnjuk diet. Untuk melakukan reduksi terbuka pada fraktur mandibula bisa melalui kulit atau oral. reduksi biasanya dilakukan dengan memanipulasi. fraktur parasimfisis yang bergeser distabilisasi pada tepi bawah melalui jalan masuk yang diperoleh dengan membuka simfisis Tindakan pasca bedah. Reduksi terbuka bisa memperpendek masa fiksasi meksilomandibular. Perawatan pendukung pasca bedah terdiri atas analgesik. kemudian melakukan reduksi dan imobilisasi segmen yang lain secara digital atau manual. dilakukan pertama kali dengan menggunakan elastik atau kawat dan kemudian memasang elastik yang cukup kuat tarikannya terhadap segmen yang pergeserannya lebih banyak. Antibiotik dan perawatan intraoral yang baik memberikan tambahan pada pendekatan peroral. Secara teknis. Reduksi tulang peroral dari fraktur mandibula sering dilakukan untuk mengendalikan fragmen edentulus proksimal yang bergeser. setiap daerah pada mandibula dapat dicapai dan dirawat secara efektif secara oral kecuali pada daerah subkondilar. Apabila suatu fraktur belum lama terjadi.Fiksasi maksilomandibular dilakukan dengan menggunakan elastik atau kawat untuk menghubungkan loop (lug) arch bar atau alat maksilar dan mandibular yang lain. yakni kurang dari 72-96 jam. Reduksi tulang peroral. stabilisasi dari elemen yang tidak bergeser atau hanya bergeser sedikit. dan pembukaan percobaan yang dilakukan pada minggu keempat atau kelima kadang-kadang dilakukan untuk 31 . Reduksi terbuka. Fraktur parasimfisis ini dirawat dengan pengawatan transalveolar pada tepi atas. maka dianjurkan untuk melakukan imobilisasi segmen yang pergeserannya sedikit dahulu. apabila gigi di dekat garus fraktur tidak ada. Apabila suatu segmen mengalami pergeseran cukup banyak. dan bila diindikasikan ditambah dengan antibiotik. Situasi ini umumnya berupa fraktur yang melalui alveolus gigi molar ketiga yang impaksi/ erupsi sebagian. Rontgen pasca reduksi dan pasca imobilisasi perlu dilakukan. Pada situasi tipikal yang lain. Pada fraktur yang sudah lama terjadi. Reduksi terbuka pada simfisis.

Sebagaimana telah diuraikan dalam persoalan acute confulsional state akibat kontusio dan komosio serebri. Pada umumnya. serangan kejang dalam masa 24 jam setelah mengidap trauma kapitis jarang menjadi pertanda bahwa epilepsi post-trauma kapitis akan timbul. Sebaliknya. sehingga bertindak sebagai fokus epileptogen. Tetapi akhirnya gejala-gejalanya bisa hilang 32 . Suatu fakta yang sukar diterangkannya ialah bahwa 50% dari epilepsi post trauma kapitis sembuh secara spontan dalam waktu 10 tahun. menyebabkan rasa sakit.16 2. mengganggu fungsi bicara. Indikasi melakukan reduksi pada maloklusi mandibula adalah mengembalikan mandibula ke fungsi normalnya. jaringan parut meningoserebral dibentuk dan difusi asetil kolin melalui permukaan hemisferium terbendung oleh sikatrik itu difusi asetilkolin itu merupakan suatu proses fisiologik yang terkait pada proses biokimia yang mendasari tahap-tahap kesadaran. serangan kejang yang timbul beberapa bulan atau tahun setelah mengidap trauma kapitis biasanya merupakan serangan pertama epilepsi post trauma kapitis.12 Pada maloklusi mandibula. Pada saat sendi temporomandibular mengalami dislokasi. dan mulut tidak bisa menutup dengan sempurna. terutama pada anak yang masih muda.6. sehingga manifestasinya berupa epilepsi fokal atau hemiparesis. 75% dari epilepsi setelah mengidap kecelakaan dan 50% dari epilepsi post trauma kapitis menjadi kenyataan dalam waktu 2 tahun setelah mengidap kecelakaan dan 50 % epilepsi post trauma kapitis berkembang dalam waktu 6 bulan pasca trauma. sedangkan yang sisanya mudah terkelola dengan antikonvulsan. Dalam periode itu. keadaan organic brain syndrome bisa berlangsung lama.mengetahui derajat kesembuhan klinis. maka sel-sel korteks serebri di perbatasan sikatriks mudah melepaskan muatan elektriknya. Karena penimbunan asetilkolin bebas di bawah sikatrik.6 Penatalaksanaan kelanjutan pada pasien trauma kepala Trauma kapitis pada orang dewasa bisa menimbulkan lesi iritatif ataupun paralitik. condilus mandibula akan tampak ke depan.

Gambaran klinis neurosis tersebut seragam dan terdiri dari sakit kepala. cepat capek. Suatu fakta yang tidak bisa disangkal ialah bahwa orang-orang yang sebelum mengidap komosio serebri sudah memperlihatkan sifat-sifat neurotik. cepat tersinggung. atau kerusakan otak tambahan dengan banyak episode komosio. daya konsentrasi menurun dan inteligensi berkurang. adalah sukar untuk dianggap sebagai gejala sisa organik. Upaya yang dilakukan yaitu pencegahan sebelum peristiwa terjadinya kecelakaan lalu lintas seperti untuk mencegah faktor-faktor yang menunjang 33 . Tetapi neurosis yang berkembang pada penderita yang hanya mengidap komosio serebri belaka (tidak memperlihatkan gejala-gejala neurologik). Kebocoran ini berhenti spontan dengan elevasi kepala setelah beberapa hari pada 85% pasien. Sebaliknya suatu sindrom yang dinamakan neurosis posttrauma kapitis. sindrom pasca comosio. selamanya menjadi lebih neurotik setelah mengalami komosio.sama sekali. pusing. 14 Komplikasi yang dapat terjadi pada cedera kepala berat adalah kebocoran cairan serebrospinal dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan terjadi pada 2-6 % pasien dengan cedera kepala tertutup. Drainase lumbal dapat mempercepat proses ini. serangan kejang.8 PENCEGAHAN Upaya pencegahan cedera kepala pada dasarnya adalah suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang berakibat trauma. Walaupun pasien ini memiliki risiko meningitis yang meningkat. pemberian antibiotik profilaksis masih kontroversial.4 2. bisa berlarut-larut sampai puluhan tahun. Sindrom neurosis post trauma kapitis masih bisa dianggap sebagai manifestasi organik.7 KOMPLIKASI Komplikasi pada komosio serebri meliputi perdarahan intrakranial.2 2.

bertujuan untuk mengidentifiskasi dan mengobati 34 . Bertujuan untuk mempertahankan hidup selama pengangkatan dan evakuasi pasien. Prognosis cedera kepala15 Prognosis berhubungan dengan derajat kesadaran saat tiba di rumah sakit. dan memakai helm. GCS saat tiba Mortalitas 15 1% 8-12 5% <8 40% Tabel 2.3 2. memakai sabuk pengaman. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan. angka mortalitas pada trauma kepala BAB III PENUTUP Cedera adalah salah satu masalah kesehatan yang paling serius. Yang kedua adalah survey primer yang dilakukan di rumah sakit oleh tim kecelakaan dan kegawatdaruratan. di tepi jalan yang diberikan oleh paramedis atau tim medis pada tempat kejadian. yaitu pertolongan pertama.13 Prinsip penatalaksanaa trauma mayor dibagi menjadi dua. Distribusi cidera kepala terutama melibatkan kelompok usia produktif antara 15-44 tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki dibandingkan dengan perempuan.9 PROGNOSIS a.terjadinya cedera seperti pengatur lalu lintas. Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian akibat trauma.

2000. h. dan daerah mentalis. Daerah pada mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. 4. Fraktur 19 November 2010. Tergantung pada kondisi fraktur (sudah lama terjadi atau baru saja).513-16. editors.12 Keluhan subyektif yang berkaitan dengan fraktur mandibula biasanya adalah rasa sakit. Sabitson. Wiwik Setiowulan. pembengkakan bisa terjadi baik pada bagian yang mengalami taruma dan (jika berbeda) bagian yang fraktur.248-260. Budi Sampurna. Kedaruratan medik. yaitu cara tertutup/ konservatif dan terbuka/ pembedahan. 3th ed. Jakarta: Penerbit EGC. tetapi tetap saja regio angulus mandibulae dan mentalis merupakan daerah yang paling sering menjadi fraktur. sistem pernafasan. Jakarta: Media Aesculapius. kesulitan atau ketidakmampuan untuk mengunyah. Tanggal . bertujuan untuk mengindentifikasi dan menilai semua trauma mayor. h. Neurologi klinik pemeriksaan fisik dan mental. Kapita selekta kedokteran. dan kardiovaskular dan melakukan pemeriksaan radiologi tulang. h.com/doc/33453545/FRAKTUR-MANDIBULA#.h. 2008. Diunduh dari http://www.495-496. Buku ajar ilmu bedah. 5.trauma yang mengancam hidup pada jalan nafas. Neurologi klinis dalam praktek umum. h. 2009.5-11.h. Mandibula yang mengalami atropi. angulus mandibulae (pertemuan antara korpus dan ramus).12 DAFTAR PUSTAKA 1. 3. 1994. mempunyai kelemahan pada banyak tempat. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat.12 Ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. Priguna Sidharta. Suprohaita. 6. Mahar Mardjono. Neurologi klinis dasar. 35 Mandibula. 2.scribd. Wardhani WI. Arif Mansjoer. Jakarta: Binarupa Aksara. 7. Agus Purwadianto. Jakarta: FKUI. 2008. Lumbantobing SM.3-5. Sementara survey sekunder kemungkinan oleh staf spesialis bedah.15 Mandibula merupakan sasaran pukulan atau benturan.96-97. 2009. Palpasi pada tepi-tepi mandibula mungkin bisa menunjukkan deformitas seperti tangga apabila udem dan hematom tidak parah. Priguna Sidharta. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat.

diunduh head dari injury. 1996. Bidang penerbitan yayasan diabetes Indonesia. http://www. hal 61-62. Greenberg MI.Edinb.com. Emergency procedures. Jastremski. Surabaya: Penerbit Erlangga. Borley NR. Mardi Santoso.id/bitstream/123456789/16495/4/Chapter%20II.uk/journal/vol46_3/4630005. h. 46. Surabaya: Erlangga. http://repository. Penuntun neurologi. 9. At a glance ilmu bedah. Subdural hematom. 19.23. 15.R.613. Penalver. management http://www. Guideline 46: Early Management of Patients with a head injury. Buku ajar praktis bedah mulut.sign.com/doc/35183213/Teorivulnus-laseratum-luka-robek. Soemarmo Markam. J. Agustus of 2000. Modern no.com/?q=node/11 10.ac.8. 2007.236-250. 16.uk/guidelines/fulltext/46/index. 13. 36 . Jakarta: Penerbit EGC.htm.282-85. Vulnus laseratum. Diunduh dari http://www. Mexico: 1992. Jakarta: 1992. 20 November 2010. editors.rcsed.agddinkes. Binarupa Aksara.pdf 14.html. Jakarta: 2004.90-93. 2007. http://www. Teks-atlas kedokteran kedaruratan. Hendrickson RG. Mark Silverberg.medscape.Surg. 18.scribd. h. Grace PA.ac. h. Trauma Kapitis.usu. Saunders Company. 150-153 12. Diunduh dari emedicine. 46. Dumas. SIGN Publication 11. Pedersen GW. h. 17. h.ac. Pemeriksaan fisik diagnosis.Coll. June 2001..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->