P. 1
UV-Vis

UV-Vis

|Views: 731|Likes:
Published by dinacute728031

More info:

Published by: dinacute728031 on Nov 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/28/2014

pdf

text

original

A.

JUDUL PERCOBAAN : PENENTUAN CAMPURAN DUA KOMPONEN HARI/TANGGAL PERCOBAAN : Kamis, 18 Nopember 2010 SELESAI PERCOBAAN TUJUAN PERCOBAAN • campurannya. : Kamis, 18 Nopember 2010 :

B. C. D.

Untuk menentukan konsentrasi permanganat dan dikromat dalam

E.

DASAR TEORI

:

Spektrofotometer UV-Vis adalah alat yang digunakan untuk mengukur serapan cahaya pada daerah UV (100-200 nm) dan daerah sinar tampak (200700 nm). Spektrofotometer UV-Vis juga digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif spesi kimia. Absorbansi spesies ini berlangsung dalam dua tahap yang pertama yaitu M + hv = M*, merupakan eksitasi spesies akibat absorpsi foton (hv) dengan waktu hidup terbatas (10-8-10-9 detik). Tahap kedua adalah relaksasi dengan berubahnya M* menjadi spesi baru dengan reaksi fotokimia. Absorbansi dalam daerah ultraviolet dan daerah tampak menyebabkan eksitasi elektron ikatan. Puncak absorbansi (λ
maks

) dapat dihubungkan dengan jenis ikatan-ikatan yang

ada dalam spesies. Spektroskopi absorpsi berguna untuk mengkarakterisasikan gugus fungsi dalam suatu molekul dan untuk analisis kuantitatif. Spesies yang mengabsorpsi dapat melakukan transisi yang meliputi (a) elektron, π , σ , n (b) elektron-elektron d dan f (c) transfer muatan elektron. Diagram berikut menunjukkan gambaran spektrum sinar tampak.

Warna-warna utama dari spektrum sinar tampak adalah: Warna Ungu Biru Panjang gelombang (nm) 380 - 435 435 - 500

Sian (biru pucat) 500 - 520 Hijau Kuning Oranye Merah 520 - 565 565 - 590 590 - 625 625 - 740

Dalam warna-warna tersebut tidak terdapat batas yang jelas. Kenyataannya, warna saling bercampur satu sama lain - lebih rumit dari diagram di atas. Spektrum elektromagnetik tidak hanya terbatas pada warna-warna yang dapat kita lihat. Sangat mungkin mendapatkan panjang gelombang yang lebih pendek dari sinar ungu atau lebih panjang dari sinar merah. Pada spektrum yang lebih lengkap, akan ditunjukkan ultra-ungu dan inframerah, tetapi dapat diperlebar lagi hingga sinar-x dan gelombang radio, diantara sinar yang lain. Diagram berikut menunjukkan gambaran posisi spektrum-spektrum tersebut.

Menentukan konsentrasi dengan kurva kalibrasi Dengan cara ini tidak perlu bertumpu pada nilai absorptivitas molar, reliabilitas hukum Beert-Lambert, bahkan dimensi sel larutan.Yang dilakukan adalah membuat seri larutan senyawa yang akan diamati dengan konsentrasi yang akurat. Konsentrasi seri larutan ini harus berada pada kisaran konsentrasi yang akan ditentukan - lebih encer dan lebih pekat dari konsentrasi yang diperkirakan. Dengan larutan yang berwarna hal ini tidak sulit. Anda cukup membuat beberapa larutan dengan warna yang lebih terang dan lebih gelap.Untuk masing-masing larutan, ditentukan absorbansinya pada panjang gelombang yang memberikan serapan paling kuat - gunakan wadah yang sama. Kemudian dibuat grafik antara absorbansi lawan konsentrasi. Ini merupakan kurva kalibrasi. Berdasarkan hukum Beet-Lambert, absorbansi sebanding dengan konsentrasi, dan diharapkan akan mendapatkan garis lurus. Hal ini berlaku pada larutan encer, dan kurang cocok pada larutan pekat, sehingga akan mendapatkan suatu kurva. Selama anda bekerja pada kisaran konsentarsi yang diamati, hal ini tidak terlalu dipermasalahkan. Untuk grafik yang paling baik, kurva kalibrasinya akan tampak seperti gambar berikut.

Ingat bahwa tidak perlu dibuat garis yang melewati titik nol. Jika hukum Beer-Lambert bekerja sempurna, garis tersebut akan melewati titik nol, tetapi tidak dapat menjamin hal ini untuk konsentrasi yang diamati. Kemudian harus dihitung absorbansi larutan yang tidak diketahui konsentrasinya pada panjang gelombang yang sama. Jika, sebagai contoh,

absorbansinya 0,600, sehingga dapat dibaca hubungannya dengan konsentrasi seperti pada grafik berikut.

Prinsip analisis kuantitatif adalah dengan cara menggunakan hukum Lamber-Beer. A = -log T = ε . b . C = a . b . C Keterangan: A = absorbansi T = transmitansi ε = absorptivitas molar, L cm-1. mol-1 (jika konsentrasi dalam satuan mol/liter) a = absorptivitas, L cm-1. gram-1 (jika konsentrasi dalam satuan gram/liter) b = panjang sel, cm C = konsentrasi. Komponen UV-Vis terdiri atas sumber radiasi yang stabil dan berkelanjutan (kontinyu); sistem lensa, cermin dan celah untuk membatasi, membuat paralel dan memfokuskan bekas sinar, monokromator untuk menyeleksi sinar menjadi panjang gelombang tertentu (sinar monokromatis), kontainer atau tempat sampel yang transparan bisa disebut dengan sel atau kuvet, detektor yang dirangkaikan dengan readout atau piranti baca untuk menangkap sinyal dari sinar yang masuk sesuai dengan intensitas cahayanya dan ditampilkan pada layar readout.

Langkah-langkah pengujian kuantitatif dengan spektroskopi UV-Vis: 1. Pembentukan warna (untuk pengukuran dengan sinar tampak) dan zat yang tidak berwarna atau warnanya kurang kuat. 2. Penentuan panjang gelombang maksimum 3. Pembuatan kurva kalibrasi 4. Pengukuran konsentrasi contoh. Untuk analisis kualitatif biasanya digunakan untuk penentuan panjang gelombang optimum berdasar pada absorbansi optimum dari senyawa-senyawa organik. Dikromat, Cr2O72-. Kromat merupakan logam yang berbentuk zat padat berwarna, yang menghasilkan larutan kuning bila lrut dalam air. Asam mineral encer, yaitu ion-ion hidrogen, kromat berubah menjadi dikromat; yang terakhir ini menghasilkan larutan yang berwarna merah jingga. Perubahan ini dibalikkan oleh alkali, yaitu ion-ion hidroksil. 2CrO42- + 2H+ ↔ Cr2O72- + H2O atau Cr2O72- + 2OH- ↔ 2CrO42- + H2O Kelarutan kromat dari logam alkali dan dari kalsium serta magnesium larutan dalam air; Strotium kromat larut sangat sedikit. Kebanyakan kromat logam-logam lain tak larut dalam air. Natrium, kalium dan amonium dikromat larut dalam air. Permanganat, MnO4-. Kelarutan semua permanganat larut dalam air, membentuk larutan ungu (lembayung-kemerahan). F. ALAT DAN BAHAN Alat-alat yang digunakan :
-

Labu Ukur 25 mL Pipet Ukur 10 ml Pro pipet Gelas Kimia 100 mL Botol Gelap Instrumen UV-Vis SHIMADZU 2 buah 10 buah

1 buah 1 buah

-

-

Bahan-bahan yang digunakan :
-

Larutan KMnO4 0,01 M Larutan K2Cr2O7 0,01 M Larutan Sampel (Campuran) Aquades CARA KERJA :

G.

a. Persiapan larutan baku

Larutan standar K2Cr2O7 - dipipet dengan pipet ukur dimasukkan dalam labu ukur diencerkan dengan aquades sampai tanda batas. Larutan baku K2Cr2O7 dengan konsentrasi 0,0002M; 0,0004M; 0,0006M; 0,0008; 0,0010M

Larutan standar KMnO4 - dipipet dengan pipet ukur - dimasukkan dalam labu ukur
- diencerkan dengan aquades -sampai tanda batas.

Larutan baku KMnO4 dengan konsentrasi 0,0001M; 0,0002M; 0,0003M; 0,0004; 0,0005M.

b. Penentuan panjang gelombang optimum

Larutan baku K2Cr2O7 dengan konsentrasi 0,0002M dan KMnO4 dengan konsentrasi 0,0001M
- diukur pada panjang gelombang 200-600 nm

- dibuat kurva serapan masing-masing larutan
- ditentukan λ
maks

masing-masing komponen.

λ

maks

c. Penentuan koefisien absorptivitas molar larutan standar

Larutan standar KMnO4 dan Larutan standar K2Cr2O7 - diukur pada panjang gelombang maksimum Mn dan Cr - dibuat kurva kalibrasi - ditentukan harga koefisien absorptivitas molar masing-masing larutan absorbansi
d. Penentuan konsentrasi KMnO4 dan K2Cr2O7

Larutan standar KMnO4 dan Larutan standar K2Cr2O7 - diukur pada panjang gelombang maksimum Mn dan Cr - dihitung konsentrasi masing-masing komponen campuran Konsentrasi campuran

Pengoprasian UV-Vis :
A. Persiapan alat

Menyalakan alat UV-Vis dan menyalakan komputer, kemudian membuka program UV probe (aplikasi untuk UV-Vis Shimadzu). Menekan tombol conect dan ditunggu hingga kalibrasi alat selesai. B. Membaca blanko Memasukkan dua kuvet yang telah diisi blanko ke tempat kuvet UVVis dan menutupnya. Kemudian menekan tombol “spectrum Module” dan menekan tombol “edit method tool”(tanda huruf M), kemudian menekan tombol “measurement” untuk menentukan range panjang gelombang, scan speed, sampling interval, dan scan mode). Lalu menekan tombol “instrumen paramater” pilih absorbansi dan tekan OK, kemudian tekan “baseline”, OK dan tunggu hingga proses scanning selesai.
C. Menentukan λ maks

Setelah pembacaan blanko selesai setelah itu mengambil kuvet yang ada dalam alat dan membuang isinya dan menganti dengan larutan sampel. Memasukkan lagi kuvet tersebut yang telah berisi sampel ke tempat kuvet UV-Vis, dan tutup ruang kuvet tersebut. Kemudian tekan tombol “start” dan tunggu hingga proses selesai. Menyimpan file spektra yang dihasilkan dan menentukan λ maks berdasarkan spektra yang dihasilkan. D. Membuat kurva standar Mengambil kuvet yang ada dalam alat dan membuang isinya dan mengantinya dengan blanko. Memasukkan lagi kuvet tersebut yang telah berisi blanko ke tempat kuvet UV-Vis, dan tutup ruang kuvet tersebut. Menekan tombol “photometric Module”. Maka dilayar akan muncul tampilan “standar table, standar kurve, sampel graph” tekan M dan tekan “wavelength” dan mengisi panjang gelombang maks, lalu menekan “Add”. Kemudian menekan tombol calibration dan mengisi data type (single point), WL (sesuai λ maks), unit (satuan konsentrasi larutan yang digunakan, ppm). Menekan tombol “instrumen Parameter” pilih “measuring mode” : absorbance. Kemudian menekan tombol “Close’, lalu “baseline” dan mengisi range

panjang gelombang untuk blanko. Mengisi “standar table” sampel ID : std_1 klik sel WL dan tekan “Read std” melakukan cara yang sama untuk standar yang selanjutnya, maka di layar akan tampil kurva standar. E. Menentukan konsentrasi sampel Mengambil kuvet dan mengisinya dengan sampel_1, kemudian isi sampel tabel : sampel ID: sampel_1 : klik di sel cons dan tekan tombol “read unk”. Maka akan muncul konsentrasi pada sampel. F. Mencetak hasil Menekan tombol “Report Generation” maka akan muncul tampilan teks object, kinetic object, report general toolbar, spectrum option, photometric objects dan dipilih objek yang akan dicetak. H. DATA PENGAMATAN

No.

Perlakuan Penyiapan Larutan Baku Mengencerkan larutan K2Cr2O7 0,01 M menjadi :

Hasil Pengamatan Sebelum Sesudah K2Cr2O7:Kuning jernih

0,0002 M, memasukkan 0,5 ml

kedalam labu ukur 25 ml, A. 1. menambahkan aquades sampai tanda batas, dicampur/dikocok hingga homogen.

Larutan : kuning muda jernih

0,0004 M yaitu memasukkan 1

ml K2Cr2O7 0,01 M kedalam labu ukur 25 ml, menambahkan aquades sampai tanda batas, kocok hingga homogen.

0,0006 M yaitu mamasukkan 1,5

ml K2Cr2O7 0,01 M kedalam labu ukur 25 ml, menambahkan aquades sampai tanda batas, dikocok sampai homogen.

0,0008 M yaitu memasukkan 2

ml K2Cr2O7 0,01 M kedalam labu ukur 25 ml, manambahkan aquades sampai tanda batas, dikocok sampai homogen.

0,001 M yaitu memasukkan 2,5

ml K2Cr2O7 0,01 M kedalam labu ukur 25 ml, manambahkan aquades sampai tanda batas, dikocok sampai homogen. Mengencerkan larutan KMnO4 0,01 M menjadi :

KMnO4:Ungu tua

0,0001 M yaitu memasukkan Larutan jernih : Ungu

0,25 ml KMnO4 0,01 M kedalam labu ukur 25 ml, manambahkan 2. aquades sampai tanda batas, dikocok sampai homogen.

0,0002 M yitu memasukkan 0,5

ml KMnO4 0,01 M kedalam labu ukur 25 ml, manambahkan aquades

B. Penentuan panjang gelombang optimum Konsentrasi KMnO4 Λ (nm) A Konentrasi K2Cr2O7 Λ (nm) A

527,419 nm = 527 nm

0,219

352,00 nm = 352 nm

2,036

C. Penentuan koefisien absorpsivitas molar larutan standar Pembuatan kurva kalibrasi larutan KMnO4 pada λ Mn = dan λ Cr = No. 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi KMnO4 0,0001 M 0,0002 M 0,0003 M 0,0004 M 0,0005 M A pada λ Mn 0,056 0,116 0,171 0,237 0,293 A pada λ Cr 0,232 0,245 0,262 0,358 0,394

Pembuatan kurva kalibrasi larutan standar K2Cr2O7 pada λ Mn = No. 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi K2Cr2O7 0,0002 M 0,0004 M 0,0006 M 0,0008 M 0,0010 M A pada λ Mn 0,057 0,057 0,060 0,064 0,066

dan λ Cr = A pada λ Cr 0,819 1,368 2,045 2,683 3,311

5. Pengukuran absorbans cuplikan

Absorban pada λ Cr Absorban pada λ Mn

: :

VIII. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada percobaan penentuan campuran dua komponen bertujuan untuk menentukan konsentrasi KMnO4 dan K2Cr2O7 dalam campurannya. Percobaan ini terdiri dari beberapa tahap yaitu: penyiapan larutan standar, penentuan panjang gelombang optimum, penentuan koefisien absorbtivitas molar larutan standar dan terakhir adalah penentuan konsentrasi KMnO4 dan K2Cr2O7 dalam campuran sampel. Pada tahap pertama adalah penyiapan dan pembuatan larutan standar. Dari larutan baku yang telah tersedia yaitu larutan KMnO4 0,01 M yang berwarna ungu dan larutan K2Cr2O7 0,01 M yang berwarna orange, dibuat masing-masing sederetan larutan standar sebagai berikut: Untuk larutan K2Cr2O7 = 0,0002 M; 0,0004 M; 0,0006 M; 0,0008 M; dan 0,001 M. Sedangkan untuk larutan KMnO4 = 0,0001 M; 0,0002 M; 0,0003 M; 0,0004 M; dan 0,0005 M. Pada proses pengenceran, larutan ini dibuat dari yang paling encer yaitu 0,0006 M untuk larutan K2Cr2O7 dan 0,0003 M untuk larutan KMnO4. Hal ini dilakukan karena hanya digunakan satu buah labu ukur untuk beberapa kali pengenceran. Sehingga dengan konsentrasi paling rendah maka tidak akan berpengaruh pada pengenceran dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Kemudian pada tahap kedua adalah penentuan panjang gelombang optimum. Dalam hal ini digunakan konsentrasi terendah untuk pengukuran absorbansi. Pengukuran absorbansi masing-masing larutan KMnO4 0,0003 M dan larutan K2Cr2O7 0,0006 M diukur pada rentang panjang gelombang 200-600 nm. Sebelum penentuan masing-masing panjang gelombang maksimum ( λ
maks

), dilakukan persiapan instrumen UV-Vis dan

pembacaan blanko untuk kalibrasi alat. PENGOPERASIAN UV-Vis SHIMADZU a. Persiapan : Menyalakan Instrumen UV-Vis Menyalakan Komputer Membuka Program UV Probe (Aplikasi untuk UV-Vis Shimadzu ) Menekan tombol conect

-

Menunggu hingga kalibrasi alat selesai Memasukkan 2 kuvet yang telah diisi blanko ke tempat kuvet UV-Vis dan menutupnya Menekan tombol ”Spektrum Module” Menekan tombol ”Edit Method Tool” (tanda huruf M) Menekan tombol “Measurement” untuk menentukan range panjang gelombang (200-600 nm), scan speed, sampling interval, dan scan mode 1

b. Pembacaan Blanko, yaitu dengan:

-

Menekan tombol “Instrumen Parameter” dan memilih Absorbansi Menekan tombol OK , Autozero Menekan tombol “Baseline” dan menekan tombol OK dan tunggu hasilnya hingga proses scanning selesai Setelah kedua langkah ini dilakukan selanjutnya adalah dengan

menentukan λ maks. Setelah pembacaan blanko selesai, kuvet yang berada didepan diambil sedangkan kuvet yang berada dibelakang berisi blanko tetap berada di tempatnya. Dalam penentuan panjang gelombang optimum ini digunakan konsentrasi yang paling tengah. Larutan yang pertama diukur adalah KMnO4 0,0003 M. Sebelum diukur, kuvet dibilas dengan larutan ini, kemudian memasukkan larutan KMnO4 0,0003 M ke dalam kuvet sampai tanda biru, kuvet dilap dengan tissu (cara mengelap harus satu arah). Kemudian dimasukkan dalam tempat kuvet (bagian kuvet yang bening diletakkan menghadap dengan arah datangnya cahaya). Setelah itu ruang kuvet ditutup. Kemudian menekan tombol ”Spektrum Module”, Edit Method Tool (tanda huruf M). Menekan tombol “Measurement” untuk menentukan range panjang gelombang (200-600 nm), scan speed, sampling interval, dan scan mode 1. Menekan tombol “Instrumen Parameter” dan memilih Absorbansi. Menekan tombol OK. Kemudian menekan tombol ”Start” dan tunggu hingga proses selesai. Dari layar komputer dihasilkan spektra, namun tidak terbaca titik optimumnya. Sehingga langkah yang dilakukan adalah Klik kanan, kemudian pilih

”Autoscale” untuk memperlihatkan spektra secara keseluruhan. Setelah itu klik kanan lagi pilih ”Crosshair” fungsinya untuk menentukan secara tepat titik optimum, Sehingga dapat diperoleh λ maks serta nilai Absorbansinya. Diperoleh

λ maks larutan KMnO4 0,0003 M berdasarkan spektra yang

dihasilkan yaitu 352 nm dengan nilai absorbansi 0,171. Kemudian menyimpan file spektra yang dihasilkan. Cara yang sama dilakukan untuk penentuan panjang gelombang larutan K2Cr2O7 0,0006 M. Namun sebelum diukur kuvet harus dibilas dulu dengan aquades kemudian dibilas lagi dengan larutan yang akan diukur absorbansinya. Diperoleh λ maks K2Cr2O7 0,0006 M sebesar 352 nm serta absorbansinya 2,045. Pada tahap ketiga adalah penentuan koefisien absorptivitas molar (ε) masing-masing larutan standar. Untuk menentukan nilai koefisien absorptivitas molar (ε) masing-masing larutan harus ditentukan dengan mengukur absorbansi larutan murni pada kedua panjang gelombang Mn dan Cr. Yaitu dengan membuat kurva standar. Yang pertama adalah dengan membuat kurva standar KMnO4 yang diukur pada panjang gelombang Mn dan Cr. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
- Mengambil kuvet yang berada di depan, dibuang diganti dengan blanko

lagi. Kuvet yang dibelakang tetap ditempat dan berisi larutan blanko. - Tekan tombol ”Photometric Module” maka di layar akan muncul tampilan ”Standar Table, sample table, standar kurve, Sample graph” (atau dengan mengaktifkan toolbar melalui menu view) - Menekan tombol Method Tool (tanda huruf M)
- Menekan tombol ”Wavelength” dan mengisi λmaks Mn = 389. Lalu

menekan tombol ”Add” - Menekan tombol ”Calibration” dan isikan data Type (multipoint), WL (untuk Mn = 389), Unit (satuan konsentrasi yang digunakan dan dipilih Molar /M)

- Kemudian menekan tombol ”Instrument Parameter” pilih ”Measuring

Mode” yaitu Absorbance - Menekan tombol ”Close” - Menekan tombol ”Baseline” dan mengisi range panjang gelombang (300400, interval yang paling mendekati) kemudian di autozero - Mengambil Kuvet depan, mengisi dengan standar 1 (yang paling rendah konsentrasinya) dan isi standar tabel : Sampel ID : std 1 , Concentration : 0,0001 M. Kemudian Klik di ”Wavelength”, menekan tombol ”Read std” dan seterusnya untuk larutan standar selanjutnya
- Kemudian larutan standar ini juga diukur pada λmaks Cr = 352 nm dan

Wavelength 300-400 nm dengan langkah seperti diatas
- Dilayar akan ditampilkan kurva standar KMnO4 diperoleh hasil

absorbansi sebagai berikut : Absorbansi Larutan KMnO4 pada λ Mn dan λ Cr Konsentrasi KMnO4 (M)A pada λMn A pada λCr 0,0001 0,102 0,134 0,0002 0,116 0,393 0,0003 0,523 0,494 0,0004 0,179 0,551 0,0005 0,666 0,656 Untuk membuat kurva standar K2Cr2O7, dengan langkah yang sama seperti diatas dengan mengukur masing-masing larutan standar (dari konsentrasi paling rendah) pada dua panjang gelombang λmaks Cr = 352,00 nm nm dan λ
maks

larutan KMnO4 = 527,419 nm. (Setiap pergantian pengukuran,

alat harus dikalibrasi terlebih dulu dengan larutan blanko seperti sebelumnya). Untuk pengukuran absorbansi larutan standar kuvet harus dibilas dengan blanko kemudian dibilas lagi dengan larutan yang akan diukur. Diperoleh data kurva larutan standar K2Cr2O7 pada λ Mn dan λ Cr Absorbansi Larutan K2Cr2O7 pada λ Mn dan λ Cr Konsentrasi (M) 0,0002 M K2Cr2O7 A pada A pada λMn 0,057 λCr 0,819

0,0004 M 0,057 1,368 0,0006 M 0,060 2,045 0,0008 M 0,064 2,683 0,001 M 0,057 0,819 Setelah diukur absorbansi masing-masing larutan murni pada dua panjang gelombang Mn dan Cr, maka dapat ditentukan nilai koefisien absorptivitas molar (ε) masing-masing larutan standar. Dengan menggunakan Hukum Lambert-Beer:
A = bC ε

Digunakan absorptivitas molar (ε) karena satuan konsentrasi yang digunakan adalah mol/L atau Molar Dimana : A = Absorbansi Larutan b = Tebal kuvet / Panjang Sel (1cm) ε = Koefisien Absorptivitas Molar (cm-1 mol-1 L) C = Konsentrasi (Molar atau mol/L) Berdasarkan perhitungan diperoleh : Untuk Larutan KMnO4
o o
ol ε Mn λ Mn = 1743 cm −1 m ol ε Mn λ Cr = 1647 cm −1 m
− 1 − 1

L

L

Untuk Larutan K2Cr2O7
o o
ol ε Cr λ Mn = 1585 cm −1 m ol ε Cr λ Cr = 3388 cm −1 m
− 1 − 1

L

L

Pada tahap terakhir yaitu penentuan konsentrasi KMnO4 dan K2Cr2O7 dalam campurannya. Pada tahap ini dilakukan pengukuran absorbansi larutan sample pada kedua panjang gelombang . Sampel yang kami dapatkan berupa larutan berwarna merah jernih, sample ini merupakan campuran dari larutan KMnO4 dan K2Cr2O7 dengan konsentrasi yang akan dicari. Cara pengukuran absorbansi sample dengan UV-Vis adalah sebagai berikut :
-

Mengambil kuvet depan, kemudian membilas dengan aquades/ blanko

dan membilas lagi dengan larutan sampel yang akan diukur, cara kerja

sama seperti sebelumnya, dan sel ”wavelength” diisi panjang gelombang

λ
-

maks

larutan KMnO4 = 389 nm.

Mengisi sampel tabel: Sampel ID : sampel 1, klik di sel Menekan tombol ”Read Unk” Diperoleh data absorbansi sampel yang diukur pada λ Mn
maks

”consentration”

maks

sebesar 1,081. Larutan sampel juga diukur pada panjang gelombang λ

Cr, diperoleh absorbansinya sebesar 0,509. Dari data yang diperoleh ini dapat dihitung konsentrasi KMnO4 dan K2Cr2O7 dalam campurannya. Dengan menggunakan hukum Lambert-Beer, perhitungan untuk campuran > 1 spesi adalah:
A= x bCx + y b Cy ε ε Aλ =Ax λ1 +Ay λ1 =εxλ1 b C x +εyλ1 b C y 1 Aλ =Ax λ2 + Ay λ2 =εxλ2 b C x +εyλ2 b C y 2

Dimana : x = Mn y = Cr

λ1 = λ Mn λ2 = λ Cr

Dari perhitungan diperoleh Konsentrasi KMnO4 dalam campuran sebesar 3,08x10-5 M, sedangkan konsentrasi K2Cr2O7 dalam campuran sebesar 4,353 x 10-4 M. IX. SIMPULAN Berdasarkan percobaan Penentuan Campuran dua Komponen antara KMnO4 dan K2Cr2O7 diperoleh hasil bahwa Konsentrasi KMnO4 dalam campuran sebesar 33,08x10-5 M, sedangkan konsentrasi K2Cr2O7 dalam campuran sebesar 4,353 x 10-4 M. Perhitungan konsentrasi diperoleh dengan menggunakan hukum Lambert-Beer, perhitungan untuk campuran > 1 spesi adalah:
A= x bCx + y b Cy ε ε Aλ =Ax λ1 +Ay λ1 =εxλ1 b C x +εyλ1 b C y 1 Aλ =Ax λ2 + Ay λ2 =εxλ2 b C x +εyλ2 b C y 2

X.

DAFTAR PUSTAKA Hadyana, P.A.1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. (Terjemahan dari Day, Jr, R.A. (1986).QuantitativeAnalysis. (ed.5). London: Prentice Hall.) Sm. Khopkar. 1990. Konsep Dasar Analitik. Jakarta : UI. Press. Soebagio. dkk. 2000. Kimia Analitik II. Malang: Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya. Tim kimia analitik III. 2008. Panduan Praktikum Kimia Analitik III Spektroskopi dan Kromatografi.Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Ke Lima Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.

Lampiran Dengan menggunakan Hukum Lambert-Beer:
A= x bCx + y b Cy ε ε Aλ =Ax λ1 +Ay λ1 =εxλ1 b C x +εyλ1 b C y 1 Aλ =Ax λ2 + Ay λ2 =εxλ2 b C x +εyλ2 b C y 2

Pada panjang gelombang (λ) 352nm: Cr λ 352 A=εbC ε = A/b.C ε = 2,045/(1 . 0,0006) ε = 3408 Mn λ 352 A=εbC ε = A/b.C ε = 0,262/(1 . 0,0003) ε = 873

Pada panjang gelombang (λ) 527 nm: Cr λ 527 A=εbC ε = A/b.C ε = 0,060/(1 . 0,0006) ε = 100 Mn λ 527 A=εbC ε = A/b.C ε = 0,171/(1 . 0,0003) ε = 570

Aλ campuran = εMn λ352 CMn + εCr λ352 CCr 1,424 = 3408 CCr + 873 CMn …….(1) Aλ campuran = εMn λ389 CMn + εCr λ389 CCr 0,636 = 1585 CCr + 1743 CMn …….(2) Eliminasi (1) dan (2) :

1,424 = 3388 CCr + 1647 CMn x 1743 0,636 = 1585 CCr + 1743 CMn x 1647 2482,032 = 5905284 CCr + 2870721 CMn 1047,492 = 2610495 CCr + 2870721 CMn 1434.54 = 3294789 CCr CCr = 0,0004353 = 4,353 x 10-4 ………(3)

Dari persamaan (3) didapatkan : 1,424 = 3388 CCr + 1647 CMn 1,424 = 3388 x 0,0004353 + 1647 CMn 1,424 = 1,4747964 + 1647 CMn CMn = 3,08x10-5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->