P. 1
SUKU ABORIGIN

SUKU ABORIGIN

4.0

|Views: 4,725|Likes:
Published by BanyuGroup Cybernet
FORUM PELAJAR BanyuGroup Warnet DAN Celluler Jln. Wonoharjo-Sidomulyo No. 25 Pangandaran 46396 Phone : +6287826456567, +6285310252853.
FORUM PELAJAR BanyuGroup Warnet DAN Celluler Jln. Wonoharjo-Sidomulyo No. 25 Pangandaran 46396 Phone : +6287826456567, +6285310252853.

More info:

Published by: BanyuGroup Cybernet on Nov 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masa kini, orang di luar Australiaa tidak banyak mengetahui tentang

masyarakat dan kesenian Aborigin. Bahkan di Australia sendiri, masyarakat dan kesenian Aborigin kurang dihormati dan dilaksanakan secara umum. Ini tidak adil! Karena masyarakat dan kesenian Aborigin begitu rumit, menarik dan merupakan salah satu kesenian kuno di Oceania. Dari semua kesenian Aborigin, lukisan, musik dan tarian merupakan unsur utama kebudayaan dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Aborigin. Dalam tulisan ini dijelaskan lebih lanjut mengenai musik dan tarian, karena lebih mudah untuk dimengerti oleh masyarakat Internasional. Sedangkan pembahasan mengenai lukisan terlalu rumit untuk dijelaskan pada tulisan ini. Walaupun demikian, saya harap tulisan ini mendorong orang untuk mengetahui lebih lanjut tentang masyarakat dan kesenian Aborigin, dan menjadi permulaan untuk mempelajari tentang topik yang menarik ini.

B.

Pembahasan Masalah Kelompok Aborigin sudah menduduki Australia selama lebih dari empat

puluh ribu tahun. Mereka berasal dari Asia Tenggara, memasuki benua Australia dari utara. Pada waktu itu, Australia bersatu dengan pulau Irian. Memang, ada banyak kesamaan antara kebudayaan kuno Asia Tenggara dan kebudayaan Aborigin. Karena kelompok Aborigin terpencil dari kebudayaan yang berkembang di negeri lain, mereka harus mencari solusi untuk beradaptasi dengan lingkungan Australia yang unik dan keras . Oleh karena itu, kebudayaan Aborigin sangat dipengaruhi dengan lingkungan alam Australia, yaitu, pemandangan alam,
1

binatang, dan sebagainya. Karena luasnya Australia, menyebabkan kelompokkelompok Aborigin tersebar, dan menciptakan banyak suku yang berbeda-beda. Lagi pula, pada waktu orang Eropa datang di Australia, tidak ada suku Aborigin yang homogen. Suku-suku Aborigin sudah berbeda dalam aspek organisasi

sosial, kebudayaan, dan bahasanya. Misalnya, di Australia tengah, ada lebih dari seratus bahasa, dan beragam dialek. Tarian, musik, sistem keluarga, lukisan dan upacara-upacara semua berbeda dari satu suku dengan suku lain. Walaupun begitu, perbedaan ini tidak penting karena ada kesamaan pokok, dan suku-suku Aborigin sering berkerja sama untuk upacara-upacara,

perdagangan dan pernikahan. Dongeng-dongeng, lagu-lagu, sejarah lisan dan unsur kebudayaan lain juga tersebarkan jauh. Masa kini, variasi wilayah tetap ada: tidak hanya ada satu suku Aborigin, maka setiap suku Aborigin sering menekankan perbedaan dan identitasnya.

2

BAB II KEHIDUPAN SUKU ABORIGIN

A.

Sejarah Suku Aborigin

Kata

aborigin

dalam

bahasa

Inggris

mempunyai

arti

"penduduk

asli/penduduk pribumi",dan mulai digunakan sejak abad ke-17 untuk mengacu kepada penduduk asli Australia saat itu.Mereka berasal dari Asia Tenggara, memasuki benua Australia dari utara. Pada waktu itu,Australia bersatu dengan pulau Irian. Memang, ada banyak kesamaan antara kebudayaan kuno Asia Tenggara dan kebudayaan Aborigin. Suku Aborigin adalah suku Pribumi Australia. LOKASI Suku Aborigin tinggal dan memeliharatanah air Australia selama hampir 60.000 tahun dengan menggunakan sistem pemerintahan danhukum mereka sendiri. Konon, mereka menetap di benua terkecil itu selama ribuan tahun yang lalu. Tapi kemudian mereka tergeser oleh bangsa pendatang yang lebih cerdas´ berkulit putihdari Eropa. Secara fisik, suku Aborigin seperti orang-orang Papua : berkulit gelap dan berambutkeriting, tapi sekarang sudah mengalami perubahan, yakin berkulit kecoklat-coklatan danberambut ikal.Asal mulanya mereka mempunyai daratan yang sama. Para ilmuwan menyatakan, karena proses alam yang bergerak, daratan besar itu kemudian berpisah. Di sebelah selatan menjadi Australia. Sementara di daratan sebelah utara menjadi pulau Papua yang masuk wilayah Indonesia. Klop dengan nama Australia berasal dari kata Australis ´ yang dalam bahasa latin berarti Selatan´, sementara orang Belanda menyebut Australische ´ yang memiliki makna sama. Suku berkulit gelap itu kemudian terpisah.
3

Keduanya menjalani nasib sendiri-sendiri dinegara yang berbeda. Baik di Indonesia maupun Australia mereka sulit eksis karenaketerbelakangan. Rupanya, perbedaan warna kulit yang mencolok di daratan selatan menjadikansuku aborigin kurang berutung. Kaum pendatang di Australia yang berkulit putih mulus memperlakukan peduduk asli itu tidak sewajarnya. Di saat persemakmuran Australia berdiri pada1 Januari 1701 misalnya, suku aborigin dianggap bagian dari fauna! Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australia sebagai nomad yang dapatdiusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian. Hal ini berakibat fatal, yaituterputusnya bangsa aborigin dari tempat tinggal, air dan sumber hidupnya. Terlebih lagi dengankondisi mereka yang lemah akibat penyakit. Kondisi ini mengakibatkan populasi bangsa aborigin berkurang hingga 90% pada periode antara 1788 - 1900. Seluruh komunitas aborigin yang beradapada daerah yang cukup subur di bagian selatan bahkan punah tanpa jejak Suku Aborigin dan Torres Strait Islander adalah suku Pribumi Australia. Mereka sudah tinggal dan memlihara tanah air Australia selama hampir 60.000 tahun dengan menggunakan sistem pemerintahan dan hukum mereka sendiri. Konon, mereka menetap di benua terkecil itu selama ribuan tahun yang lalu. Tapi kemudian mereka tergeser oleh bangsa pendatang yang lebih “cerdas” berkulit putih dari Eropa. Secara fisik, suku Aborigin seperti orang-orang Papua : berkulit gelap dan berambut keriting, tapi sekarang sudah mengalami perubahan, yakin berkulit kecoklat-coklatan dan berambut ikal. Asal mulanya mereka mempunyai daratan yang sama. Para ilmuwan menyatakan, karena proses alam yang bergerak, daratan besar itu kemudian berpisah. Di sebelah selatan menjadi Australia. Sementara di daratan sebelah utara menjadi pulau Papua yang masuk wilayah Indonesia. Klop dengan nama Australia berasal dari kata “Australis” yang dalam bahasa latin berarti “Selatan”, sementara orang Belanda menyebut “Australische” yang memiliki makna sama. Suku berkulit gelap itu kemudian terpisah. Keduanya menjalani nasib sendiri-sendiri di negara yang berbeda. Baik di Indonesia maupun Australia mereka sulit eksis karena keterbelakangan. Rupanya, perbedaan warna
4

kulit yang mencolok di daratan selatan menjadikan suku aborigin kurang berutung. Kaum pendatang di Australia yang berkulit putih mulus memperlakukan peduduk asli itu tidak sewajarnya. Di saat persemakmuran Australia berdiri pada 1 Januari 1701 misalnya, suku aborigin dianggap bagian dari fauna!

Wuiih.. ini sih, bener-bener parah.. Namun pandangan Australia berangsur-angsur melunak dan memberikan ruang bagi penduduk asli tersebut setelah (konon) banyak melakukan pembunuhan. Caranya yang agak unik : Australia menetapkan politik asimilasi untuk mencampur dua jenis manusia yang memiliki warna kulit berbeda itu. Anak-anak aborigin dipisahkan dari keluarganya secara paksa kemudian di tempatkan di panti asuhan untuk “diputihkan”. Sebagian kemudian diasuh oleh si kulit putih sebagai pekerja atau pembantu. Anak laki-laki dipungut untuk dijadikan pekerja gratis di peternakan terpencil. Mereka dihukum berat ketika berbuat tidak salah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Sama seperti apartheid, rupanya nasib aborigin juga ditentukan oleh warna kulit. Dari sinilah muncul istilah “the stolen generation” yang membuat Perdana Menteri Australia sekarang, Kevin Rudd, meminta maaf. Di awal 2006, pemerintah Australia pernah melemparkan isu pemusnahan etnik pada penduduk Papua oleh Indonesia. Entah dari mana isu itu berkembang, media setempat mengopinikan secara besar-besaran. Herman Wanggai, pimpian sparatis Papua yang mendapat visa Australia mengatakan, ratusan ribu warga Papua telah dibantai habis. Meski pun berkata seperti itu, Wanggai tidak bisa membuktikan kata-katanya. Terlebih, ketika aktivis HAM menelusuri laporan tersebut juga tidak menemukan pembantaian. Banyak yang menduga, ini politik Australia untuk mendeskreditkan Indonesia di mata internasional. Australia seolah ingin menumpahkan “dosa” pada Indonesia atas perlakuan terhadap suku berkulit gelap itu. Karena tidak terbukti, tuduhan itu seolah menjadi bumerang bagi Australia atas perlakuan pada suku aborigin.Kayaknya Australia selalu cari masalah dengan Indonesia, ya.. Masih inget, Autralia kelurain warning travel (yang sebenarnya gak perlu) bagi warganya yang mau ke Indonesia!

5

B.

Asal Usul Suku Aborigin 1. Aborigin Di Australia Australia adalah negara terbesar ke-enam di dunia dari segi luasnya, lebih kecil bila dibandingkan dengan Rusia, Kanada, Cina, Amerika Serikat, dan Brasil. Australia adalah benua terkecil, sedangkan yang terbesar adalah Asia yang luasnya 44.614.000 km2. Manusia menghuni Australia sudah sejak lama sekali. Penghuni asli Australia disebut orang Aborijin. Dalam bahasa Latin kata 'aborigine' mempunyai arti 'dari awal mula'. Umumnya orang percaya bahwa mereka (aborijin) telah tinggal di Australia setidaknya selama 60.000 tahun. Beberapa bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa manusia telah menghuni Australia lebih dari 60.000 tahun yang lalu. Tampaknya beberapa orang Aborijin ini datang dari Asia Tenggara selama zaman es. Pada waktu itu permukaan laut lebih rendah daripada sekarang dan celah pemisah antara Australia dan Indonesia lebih sempit.

2.

Bangsa Aborigin Bangsa Aborigin adalah penduduk asli/awal benua Australia dan

kepulauan disekitarnya, termasuk juga mencakup Tasmania dan kepulauan selat Torres. Kata aborigin dalam bahasa Inggris mempunyai arti "penduduk asli/penduduk pribumi", dan mulai digunakan sejak abad ke-17 untuk mengacu kepada penduduk asli Australia saat itu. Saat ini belum ada teori yang jelas atau berterima tentang asal ras bangsa aborigin Australia. Meskipun mereka bermigrasi ke Australia melalui Asia Tenggara, namun tidak ada keterkaitan dengan populasi sukubangsa di Asia, dan juga dengan penduduk kepulauan yang berdekatan, seperti Melanesia dan Polinesia.

6

Saat pertama kali terjadi kontak dengan Eropa, diperkirakan terdapat sekitar 250.000 hingga 1 juta orang tinggal di Australia. Level populasi ini diperkirakan pula telah cukup stabil selama ribuan tahun.

3.

Sejak Hunian Orang Eropa Pada tahun 1770, James Cook mendarat di pantai timur Australia dan

mengambilalih daerah tersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya. Kolonisasi Inggris di Australia, yang dimulai pada tahun 1788, menjadi bencana besar bagi penduduk aborigin Australia. Wabah penyakit dari eropa, seperti cacar, campak dan influenza menyebar di daerah pendudukan. Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australia sebagai nomad yang dapat diusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian. Hal ini berakibat fatal, yaitu terputusnya bangsa aborigin dari tempat tinggal, air dan sumber hidupnya. Terlebih lagi dengan kondisi mereka yang lemah akibat penyakit. Kondisi ini mengakibatkan populasi bangsa aborigin berkurang hingga 90% pada periode antara 1788 - 1900. Seluruh komunitas aborigin yang berada pada daerah yang cukup subur di bagian selatan bahkan punah tanpa jejak. Sesudah tahun 1788, orang-orang Eropa secara sedikit demi sedikit mengambil alih seluruh Australia. Mereka dengan segera melebihi jumlah orang Aborijin Australia. Orang Eropa menganggap tanah Australia sebagai tanah yang luas dan umumnya kosong oleh karena itu, mereka menyebutnya terra nullius, yaitu tanah yang kosong. Orang Aborijin memandang segala hal secara berbeda. Mereka telah menempati Australia selama ribuan tahun. Bagi mereka, tanah mereka telah dijajah oleh orang Eropa dan tanah itu tidak lagi memiliki mereka. Pada tahun 1788, ketika orang Eropa mulai mendirikan daerah hunian di Australia, jumlah orang Aborijin mungkin berkisar antara 30.000 dan 1,5

7

juta orang. Suku-suku Aborijin harus memutuskan apakah mereka akan menolak atau menerima pendatang baru. Pada umumnya terjadi perlawanan dari orang Aborijin terhadap hunian orang Eropa dan seringkali perlawanan itu keras. Namun, orang Aborijin seringkali bekerja bagi orang Eropa sebagai pemandu, pembantu rumah tangga, pekerja pertanian, penjaga ternak, dan bahkan sebagai poli.

4.

Dampak Asimilasi a) Dampak Kesehatan Timbul penyakit baru yang menyebabkan wabah yang menyebabkan kematian banyak orang Aborijin. Obat bius, seperti tembakau dan alkohol juga diperkenalkan. Keduanya terus-menerus menimbulkan akibat yang serius terhadap kesehatan orang Aborijin. b) Pola Konsumsi Makanan baru, seperti tepung gandum dan gula juga punya andil dalam memperburuk kesehatan masyarakat Aborijin yang sudah terbiasa dengan makanan yang berbeda. c) Dampak Social Banyak orang Aborijin yang mulai pola hidup seperti orang eropa hal ini di fasilitasi oleh Pemerintah (colonial) memberikan pakaian dan makanan, bahkan perumahan kepada orang-orang Aborijin yang tidak mempunyai tempat tinggal. banyak orang Aborijin yang dipaksa tinggal di daerah suaka yang kecil atau di daerah misi gereja. Dalam upaya untuk membuat mereka menjadi lebih seperti orang Eropa, beribu-ribu anak Aborijin dilepaskan dari keluarga Aborijinnya untuk dibesarkan dengan cara Eropa. d) Dampak Kebudayaan Pada saat itu dianggap bahwa orang Aborijin akan lebih baik keadaannya jika hidupnya seperti cara orang Eropa. Namun, Dengan demikian, orang Aborijin Australia kehilangan kebebasan mereka dan kehidupannya menjadi sangat terkendalikan.

8

Mereka

benar-benar

mengalami

bahaya

kehilangan

kebudayaan mereka. Pemerintah menyadari keadaan orang Aborijin yang menyedihkan tersebut. Hal ini ternyata mempunyai dampak yang merusak bagi kehidupan orang Aborijin dan budayanya, dan masih dirasakan sampai sekarang. Sekarang kebijakan untuk "mengasimilasikan" orang Aborijin ke dalam budaya Eropa telah dihentikan. Sejak tahun 1960-an.

5.

Konflik Tasmania Dan Genosida

Di Tasmania konflik yang terjadi di antara para pemukim dari Eropa dan orang-orang Aborijin adalah yang paling serius. Semakin meningkatnya konflik tersebut akhirnya mendorong Pemerintah Kolonial untuk

menyatakan undang-undang darurat perang. Banyak orang Aborijin yang terbunuh dengan adanya sistem ini. Populasi Aborijin Tasmania menurun dari kira-kira 6,000 orang pada tahun 1803 menjadi kira-kira 500 orang pada tahun 1830. Orang-orang yang tersisa dipindahkan ke Pulau Flinders di Selat Bass. Sebagian dari orang-orang ini melakukan perkawinan silang dengan orang-orang Eropa, tetapi menjelang tahun 1976 tidak ada lagi orang Aborijin Tasmania yang masih hidup. Perburuan terhadap orang Aborigin sudah dilakukan sejak masa awal Australia-Eropa. Tujuan pertamanya adalah merebut tanah-tanah kaum Aborigin, untuk dijadikan lading pertanian dan peternakan para pendatang
9

Eropa. Di Tasmania, sebuah pulau di tenggara Australia, misalnya, lebih dari 1.200 orang Aborigin dibantai pada 1820. Suasananya, ketika itu, tak ubahnya perburuan binatang liar. Para korban, yang sebagian besar sama sekali tak bersenjata, ditembaki secara membabi buta, atau ditikam dengan kelewang. Tak peduli wanita atau anak-anak, orang uzur atau yang sudah menyatakan berserah diri. Segelintir sisa yang selamat lalu naik ke gunung-gunung batu, hidup sepenuhnya dari sedekah alam. Tapi, 17 tahun sebelumnya, beberapa pendatang Eropa sudah membunuh sejumlah Aborigin Tasmania di Ridson. Pada 1830, lebih dari 3.000 pendatang Eropa membentuk apa yang mereka sebut Black Line (Garis Hitam). Melalui garis imajiner ini, mereka berjuang untuk mengurung seluruh warga Aborigin Tasmania, dan

menggiring mereka ke Semenanjung Tasmania, jauh dari masyarakat pendatang. Upaya ini gagal. Namun, sejumlah warga Aborigin bisa dipindahkan ke Pulau Flinders. Para kolonialis tidak hanya datang membawa bedil, kelewang, dan nafsu membunuh. Mereka juga memboyong berbagai penyakit "modern", yang sebelumnya tak dikenal oleh orang Aborigin. Penyakit itu adalah influenza, cacar, campak, batuk rejan, dan -tentu saja- raja singa. Cacar, misalnya, berjangkit dengan buas di sekujur Victoria, New South Wales, Queensland, dan Australia Selatan, terutama pada periode 1829-1831. Setiap gubernur Australia dan pemerintah federal negeri itu hingga 1915 bercita-cita untuk mengucilkan orang Aborigin. Mereka melancarkan program "asimilasi", istilah eufimistis untuk pemusnahan. Menurut

program itu, orang Aborigin harus berasimilasi dengan "masyarakat normal", atau "mati sebagai ras". Masyarakat normal yang dimaksud tentulah masyarakat kulit putih.

10

6.

Titik Balik Masyarakat Aborigin Sejak tahun 1960-an situasinya berubah Orang Aborijin Australia

mempunyai kewarganegaraan penuh. Pemerintah Australia telah mulai berkonsultasi dengan masyarakat Aborijin mengenai kebutuhan mereka. Gaji, pendidikan, perumahan, layanan kesehatan, dan layanan kesejahteraan telah jauh dikembangkan. Namun, perbaikan ini tidak mengarah ke perbaikan mutu kehidupan orang Aborijin agar mencapai standar yang sama dengan orang Australia yang non-Aborijin.

7.

Rekonsiliasi Orang Aborogin dan Torres Strait Islander menderita kerugian besar

dan ketidakadilan setelah orang-orang Inggris bermukim di sini pada akhir abad ke 18. Banyak dari antara mereka yang menjadi korban penyakit yang dibawa oleh orangorang kolonial tersebut; banyak sekali dari suku pribumi ini yang direbut tanahnya; and sistem sosial serta kekeluargaan mereka menjadi terganggu dan hampir musnah. Sampai tahun 1960-an sedikit sekali pengakuan resmi yang diberikan pada kebudayaan serta sejarah orang Aborigin dan Torres Strait Islander atau pada hak serta tanggung jawab mereka sebagai warganegara. Walaupun Undang-undang Kebangsaan dan Kewarganegaraan / Nationality and Citizenship Act (1948) memberikan kewarganegaraan pada semua penduduk Australia, tidak semua suku pribumi Australia menerima semua hak politik, sosial dan ekonomi yang dinikmati orang Australia lainnya sampai lama setelahnya. Sejak tahun 1967 waktu suku Aborigin dan Torres Strait Islander menerima hak untuk memberikan suara pada semua pemilihan

Commonwealth, State dan Territory, suku pribumi Australia telah berjuang banyak untuk mencapai keadilan dan persamaan hak. Kebijakan Pemerintah tentang penentuan kebulatan tekad sendiri telah mendorong keterlibatan

11

suku pribumi dalam mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan mereka. Pada tahun 1991 Dewan Rekonsiliasi Aborigin dibentuk untuk mempromosikan Rekonsiliasi antara suku pribumi Australia dengan penduduk Australia lainnya. Untuk Dewan ini, tujuan Rekonsiliasi adalah: persatuan negara Australia yang menghormati tanah air kita; menghargai warisan suku Aborigin dan Torres Strait Islander; dan memberi keadilan serta persamaan hak pada semua orang. Pada tahun 1966 Parlemen Australia membuat pernyataan komitmen tentang persamaan hak bagi semua orang Australia. Ini termasuk komitmen dalam proses rekonsiliasi dengan suku Aborigin dan Torres Strait Islander – khususnya dalam mengatasi kerugian sosial dan ekonomi mereka. Pada bulan November 2000 pemerintah Australia dan semua pemerintah State dan Territory membuat komitmen untuk meneruskan dukungan mereka pada proses Rekonsiliasi dengan memperkecil kerugian yang dihadapi oleh suku pribumi Australia. Rekonsiliasi sekarang merupakan hal yang penting bagi masyarakat Australia. Ada banyak debat tentang apa arti rekonsiliasi, dan tentang bagaimana hal tersebut dapat dicapai di Australia. Proses menuju rekonsiliasi bukanlah suatu proses yang mudah, tapi Australia telah mengambil beberapa langkah penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Pendidikan merupakan bagian penting dari proses ini.

8.

Orang Aborijin Pada Masa Kini Penduduk Aborijin telah berkembang jumlahnya akhir-akhir ini dan

distribusinya telah banyak berubah. Penduduk Aborijin kira-kira 458.520 (2001) orang atau kira-kira 2% atau 460.000 sekitar 2,3% dari penduduk Australia yang berjumlah 20 juta (kompas, 2007). Mayoritas orang Aborijin sekarang tinggal di kota-kota. Beberapa orang Aborijin Australia telah

12

menikah dengan orang yang bukan Aborijin. Banyak anak-anak dari hasil pernikahan ini yang tetap tinggal dalam masyarakat Aborijin dan menganggap dirinya sebagai orang Aborijin. Banyak dari mereka yang dulunya terpisah dari keluarganya melalui kebijakan lama (untuk menggunakan cara Eropa) kemudian berupaya menyatu kembali dengan keluarganya. Jumlah populasi suku aborijin pada sensus penduduk tahun 2001.
        

New South Wales - 134,888 Queensland - 125,910 Western Australia - 65,931 Northern Territory - 56,875 Victoria - 27,846 South Australia - 25,544 Tasmania - 17,384 ACT - 3,909 Other Territories - 233

9.

Permasalahan Baru Kemiskinan lebih umum dijumpai di antara orang Aborijin daripada

orang Australia lainnya. Mereka mengalami:
    

tingkat pengangguran yang tinggi; pendapatan yang lebih rendah; harapan hidup yang lebih pendek; tingkat kematian bayi yang lebih tinggi; lebih banyak penyakit, seperti kencing-manis, kelainan dalam peredaran darah dan pernapasan, penyakit telinga dan kelainan mata;

keadaan perumahan yang berdesak-desakan, terutama di daerah pedesaan dan daerah terpencil.
13

10. Komitmen Pemerintah Pemerintah Australia berketetapan untuk memperbaiki situasi ini. Pemerintah mengakui bahwa perbaikan hanya akan dapat dicapai melalui perubahan dalam sikap masyarakat dan dengan mengakui hak-hak warganegara asli Australia tersebut. Perbaikan kesehatan dan perumahan dianggap sebagai hal yang sangat penting. Layanan pendidikan juga telah diberikan kepada orang-orang Aborijin. Bantuan pemerintah telah memungkinkan orang-orang Aborijin untuk memasuki semua tingkat pendidikan serta pendidikan tinggi dan pendidikan teknik. Di beberapa tempat, masyarakat Aborijin telah mendirikan sekolah-sekolah dengan dukungan pemerintah.

C.

Kehidupan Suku Aborogin

Mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dan ini sudah dipertahankan semenjak beribu-ribu tahun sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Mereka tidak mengenal pertanian, karena, disamping faktor lingkungan alam yang kurang mendukung untuk diolah menjadi lahan pertanian, juga disebabkan oleh tidak adanya bibit tanaman untuk pertanian. Kenyataan ini ternyata dapat mereka pertahankan dalam waktu yang lama, karena cara ini mereka anggap paling effesien dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan.

14

Orang Aborigin menganggap diri mereka adalah bahagian dari alam dan semua benda-benda alam seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, menurut mereka, mempunyai sifat yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam tradisi Aborigin sangat dipentingkan menjaga keharmonisan alam. Dalam mengumpulkan bahan makanan dan berburu mereka selalu menjaga

keseimbangan alam serta mampu memelihara sumber kehidupan. Sehingga dengan demikian persediaan sumber itu selalu terjamin. Menurut tradisi orang-orang Aborigin, tanah adalah merupakan bahagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Tanah adalah suatu yang bersifat sakral, pemilikan atas tanah adalah mutlak untuk menjaga keharmonisan jagad raya. Sebelum kedatangan orang Eropa, hampir semua daratan Australia telah dipatok menjadi wilayah-wilayah suci setiap suku Aborigin. Wilayah dan batasbatasnya (border) mereka ingat dengan baik melalui balada-balada, karena mereka memang tidak melakukan pencatatan tertulis untuk itu. Di wilayah-wilayah itulah mereka melakukan segala kegiatan mulai dari berburu, mengumpul bahan makanan dan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Setiap border biasanya didiami oleh satu suku Aborigin yang masing masing memiliki spesifikasi budaya dan bahasa yang berbeda-beda. 1. Kebudayaan Suku Aborigin

Etnik Aborigin, pemukim benua Australia, pada sekitar abad-abad kedatangan bangsa kulit putih (abad ke 18), diperkirakan berjumlah 300.000 orang. Mereka mendiami pantai-pantai utara dan timur serta lembah sungai Murray dan sebahagian kecil lainnya berada di Tasmania (Kitley, 1994;362). Tidak ada penjelasan yang lebih pasti tentang kapan pertama kali orang-orang Aborigin mulai menempati benua ini, namun yang dapat
15

dipastikan adalah bahwa mereka, sejauh yang dapat diketahui, merupakan pendatang paling awal di Australia yang datang dari belahan utara benua ini. Etnik Aborigin yang hidup di Australia ini mengembangkan kebudayaan sendiri berdasarkan kondisi lingkungan alam di mana mereka hidup. Mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dan ini sudah dipertahankan semenjak beribu-ribu tahun sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Mereka tidak mengenal pertanian, karena, disamping faktor lingkungan alam yang kurang mendukung untuk diolah menjadi lahan pertanian, juga disebabkan oleh tidak adanya bibit tanaman untuk pertanian. Kenyataan ini ternyata dapat mereka pertahankan dalam waktu yang lama, karena cara ini mereka anggap paling effesien dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan. Orang Aborigin menganggap diri mereka adalah bahagian dari alam dan semua benda-benda alam seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, menurut mereka, mempunyai sifat yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam tradisi Aborigin sangat dipentingkan menjaga

keharmonisan alam. Dalam mengumpulkan bahan makanan dan berburu mereka selalu menjaga keseimbangan alam serta mampu memelihara sumber kehidupan. Sehingga dengan demikian persediaan sumber itu selalu terjamin. Menurut tradisi orang-orang Aborigin, tanah adalah merupakan bahagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Tanah adalah suatu yang bersifat sakral, pemilikan atas tanah adalah mutlak untuk menjaga keharmonisan jagad raya. Sebelum kedatangan orang Eropa, hampir semua daratan Australia telah dipatok menjadi wilayah-wilayah suci setiap suku Aborigin. Wilayah dan batas-batasnya (border) mereka ingat dengan baik melalui balada-balada, karena mereka memang tidak melakukan pencatatan tertulis untuk itu. Di wilayah-wilayah itulah mereka melakukan segala kegiatan mulai dari berburu, mengumpul bahan makanan dan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Setiap border biasanya didiami oleh satu suku
16

Aborigin yang masing masing memiliki spesifikasi budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Orang-orang Aborigin memiliki sistem kepercayaan “dream time”. Mereka percaya kepada arwah nenek moyang dan percaya kepada kekuatankekuatan magic yang dimiliki oleh alam terutama binatang. Disamping itu mereka juga dikenal sebagai pembuat obat yang diolah dari sumber-sumber alam. Hidup orang-orang Aborigin dikenal sebagai serba upacara. Hal itu mereka anggap penting dalam setiap pelaksanaan pekerjaan seperti perkawinan, kematian, kelahiran dan sebagainya. Peranan orang tua sangat menentukan dalam sistem kehidupan orang-orang Aborigin. Dewan Orang Tua (Council of Elders) berperan terutama dalam menentukan perang antar suku, upacara kelahiran, sunatan (inisiasi), keuntungan, pembagian makanan dan upacara kematian. Nuansa sakral sangat dominan terlihat dalam kesenian Aborigin. Hal ini dibuktikan dengan ragam kesenian visual yang dihasilkan seperti lukisan, cukilan, goresan dan kerajinan menjalin serat (Kitley, 1994;391). Kebanyakan ekspressi kesenian itu dihubungkan dengan arwah para leluhur mereka. Cukilan pada batu dan kayu merupakan peninggalan kesenian dekoratif tertua seperti yang terdapat di kepulauan Melville dan Bathrust yang digunakan untuk dekorasi-dekorasi makam. Orang-orang Aborigin juga sangat dikenal dengan lukisan mereka. Yang paling spesifik dari lukisan itu adalah media lukis yang digunakan yaitu zat pewarna yang alamiah. Pewarna ini mereka olah sendiri dengan menggunakan bahanbahan murni dari alam (terutama tumbuh-tumbuhan).

17

2.

Kesenian dalam Masyarakat Aborigin Australia

Konsep kesenian bagi masyarakat tradisional Aborigin jauh berbeda dari konsep kesenian masyarakat Eropa. Dalam masyarakat Aborigin,

aktivitas seperti tarian, nyanyian, gambaran pasir, membuat perabot atau menenun keranjang tidak dianggap sebagai aktivitas berbeda seperti „Art and Design’ di Eropa. Semua aktivitas tersebut adalah bagian Dreaming dan kehidupan sehari-hari. Lagi pula, tidak ada konsepsi orang ahli

kesenian dan seniman, karena semua orang adalah seniman. Orang Aborigin secara tradisional mengunakan bahan alami yang tersedia untuk keseniannya. Di seluruh Australia, lukisan tanah dan gua serta lukisan badan dan dekorasi sangat penting dan memakai bermacammacam cara dan gaya. Tarian dan musik juga penting sekali bagi

masyarakat Aborigin sebagai ekspresi kesenian, dan juga dipengaruhi lingkungan alami. Masa kini, komunitas-komunitas Aborigin di seluruh Australia masih membuat lukisan serta menari dan main musik secara tradisional. Walalupun demikian, makin lama makin banyak kesenian Aborigin dipengaruhi teknik modern. Misalnya, cat akrilik dan kertas (bukan kulit kayu) digunakan untuk lukisan, dan tarian bisa dimainkan tidak hanya untuk tuntunan atau tontonan khusus Aborigin, tetapi juga untuk ditonton para wisatawan.

18

a) Musik Secara tradisional, untuk membuat musik baru, seorang Aborigin akan jalan-jalan (walkabout) dan mendengarkan bunyibunyi binatang – tidak hanya suaranya, tetapi juga bunyi gerakannya. Dia juga akan mendengarkan suara guntur, daun yang tertiup angin, dan aliran air. Inti suara ini terus dimainkan setelititelitinya dengan menggunakan didjeridoo dan alat musik lain. Alat musik orang Aborigin berbeda antara satu suku dengan suku lainnya. Walaupun demikian, bumerang, pentung, batang kayu, genderang, giring-giring kayu dan didgeridoo adalah alat musik biasa untuk hampir semua suku. Lagi pula, bertepuk tangan, hentakan kaki menambah musiknya. Untuk lagu-lagu Aborigin, sebuah lagu dinyanyikan sebagai seri yang terbuat dari beberapa syair pendek. Setiap syair ini

menceritakan tentang kejadian atau tempat yang ada hubungan dengan nenekmoyangnya. Sedangkan ada juga lagu upacara „penuh‟, yaitu lagunya khusus untuk menceritakan maksud tarian yang sedang dimainkan. Tetapi, karena Australia luas sekali,

banyak lagu tentang satu kejadian bisa berubah dari satu suku sampai satu suku lain. musiknya beda. Walaupun intinya sama, tarian atau

Makanya, walaupun seorang Aborigin yang

mengunjungi suku lain mungkin tidak bisa mengerti bahasa lokalnya, dia bisa mengerti cerita lagu dan tarian suku itu. b) Tarian Seperti musik, juga ada banyak gaya tarian antara suku-suku yang berbeda. Umumnya, orang menari dengan banyak gerakan tangan, kaki dan badan yang tetap, khususnya hentakan kaki. Penari yang paling pintar menari dihormati dan terkenal jauh dari tempat asalnya. Dalam upacara, ketika lagu rahasia dinyanyi, tarian menjadi kuat secara mistik. Penari dan alat-alat yang dipakai menjadi Walaupun unsurnya tidak
19

dipenuhi kekuatan gaib dan mistik.

berbahaya, jumlah tarian dan nyanyian menjadi kuat dan oleh sebab itu harus dihormati dan dilaksanakan dengan hati-hati. Upacara yang paling kuat memperbaiki lingkungan alam, dan kehidupan komunitas Aborigin. Makanya, tempat di mana upacara ini

dimainkan dianggap suci sekali dan seharusnya tidak diubah atau diperkembangan.

3.

Sistem Kepercayaan Suku Aborigin

Orang-orang Aborigin memiliki sistem kepercayaan "dream time". Mereka percaya kepada arwah nenek moyang dan percaya kepada kekuatankekuatan magic yang dimiliki oleh alam terutama binatang. Disamping itu mereka juga dikenal sebagai pembuat obat yang diolah dari sumber-sumber alam. Hidup orang-orang Aborigin dikenal sebagai serba upacara. Hal itu mereka anggap penting dalam setiap pelaksanaan pekerjaan seperti perkawinan, kematian, kelahiran dan sebagainya. Peranan orang tua sangat menentukan dalam sistem kehidupan orangorang Aborigin. Dewan Orang Tua (Council of Elders) berperan terutama dalam menentukan perang antar suku, upacara kelahiran, sunatan (inisiasi), keuntungan, pembagian makanan dan upacara kematian. Tingginya kehidupan spiritual bangsa Aborigin membuat mereka jadi obyek penelitianpaling top di dunia bagi para antropologi. Bangsa Aborigin punya kemampuan bermimpimengenai masa lalu dan masa depan bumi kita. Lukisan di bebatuan buah karya nenek moyangmereka menggambarkan sejarah umat manusia saat zaman batu. Kita bisa melihat rupa badak
20

raksasa, binatang purba yang sudah punah, dan binatang lain seperti Wombat dan Emu Aborigin adalah bangsa yang damai dan penuh kasih, demikian ujar dr.Ingfried.Mereka mampu berbuat hal-hal ajaib yang bagi kita tidak mungkin. Misalnya menyembuhkanorang sakit dengan cara yang tak mungkin dilakukan dokter lulusan perguruan tinggi manapun. Tangan penyembuh masuk begitu saja dalam tubuh si sakit. Ketika dikeluarkan, tak ada bekas luka apalagi darah yang tampak. Yang sakit langsung sembuh, tidak peduli sakit apa. Mereka bisa menempuh jarak ribuan kilometer dalam waktu 1 detik. Pernah ada seorang Aborigin asli yang dimasukkan sel sebuah penjara di kota Wyndam. Keesokan harinya diatampak segar bugar sedang meditasi di luar penjara. Padahal gembok dan rantai masih mengikat selnya tanpa ada kerusakan sedikit pun. Dia dimasukkan kembali ke dalam sel. Namun keesokan harinya terjadi hal yang sama. Orang Aborigin itu sudah ada di luar sel, tanpa berusaha melarikan diri kendati mampu. Berpuluh-puluh kali terjadi hal yang sama. Akhirnya saking kesalnya polisi Australia membebaskan sang Aborigin dari penjara. Beberapa ilmuwan antropologi yang meneliti bangsa Aborigin di pedalaman tengahbenua Australia menceritakan hal-hal yang mirip. Bangsa Aborigin asli itu bisa berjalan tanpacidera di tengah api yang menyala-nyala tanpa terbakar. Mereka mampu meniadakan gravitasdan terbang di udara begitu saja. Mereka juga mampu bertahan hidup dalam air selama berjamjam. Mereka bisa saling berkomunikasi dengan sesama Aborigin asli yang terpisah puluhan ribukilometer berbantuan pikiran saja. Alam materi bukan halangan bagi mereka.

4.

Bahasa Suku Aborigin Ada beberapa ratus bahasa dan dialek tradisional aborigin di benua

Australia. Kriol adalah yang

paling banyak digunakan. Bahasa ini

21

diperkirakan berkembang sebagai hasil darihubungan antara para pendatang asal Eropa dan suku Aborigin di Australia utara. Pertanyaan dari mana kata kanguru berasal, tak lepas dari si penemunya yakni Kapten James Cook Dialah orang yang dipercaya sebagai penemu benua Australia, dari dialahkemudian asal kata kangguru berasal. Ceritanya ketika sang Kapten sudah mendarat dan bertemudengan penduduk lokal Aborigin, ternyata sang Kapten juga memperhatikan, bahwa adabinatang yang bentuknya aneh. Karena itu sang Kapten pun bertanya: "What is the name of that creature?" Suku Aborigin yang tidak mengerti bahasa Inggris itu pun menjawab " Kangaroo" alias "Saya tidak tahu". Tetapi dasar sang Kapten juga tidak bisa berbahasa Aborigin, maka iajuga menganggukkan kepala, dan berujar: " That creature name is Kangaroo". "Dalam suku aborigin, hal biasa bila berbicara 10 bahasa. Jadi, jika berbicara tiga tidak luar biasa kesannya," Kendati demikian, penggunaan bahasa itu telah menurun hingga mencapaitaraf yang mengkhawatirkan, dari ratusan orang yang menggunakannya pada 200 tahun lalu saatkedatangan koloni Eropa. Kini pengguna bahwa itu tinggal 20 orang saja. Di sana hanya terdapatkurang dari 50 orang bertutur bahasa Banyjima Begitu pula kurang dari 10 pengguna bahasa Yinhawangka. Karena pernah dilarang menggunakan bahasa-bahasa asli kami, membuat bahasa-bahasa tersebut punah. Pada akhir abad ke-18, ketika para koloni mulai berdatangan dari Inggris, warga pribumiAustralia dapat berbicara hingga 250 bahasa berbeda, bersama dengan 500 hingga 600 dialek.Akan tetapi, kebijakan untuk memisahkan anak keturunan Aborigin dari keluarganya untuk kemudian berasimilasi dengan warga kulit putih, menciptakan "Perampokan Generasi",membinasakan bahasa dan budaya asli pada abad belakangan. Dalam beberapa kasus, anak-anak dilarang berbicara dalam bahasa ibu mereka di sekolahatau dalam misi-misi Kristiani. "Kadang orang-orang tua dari suku Aborigin berpikir bahwabahasa mereka dapat menghalangi
22

kemajuan

anak-anak

mereka.

Karena

itu,

mereka

pun

tidak

menggunakannya lagi," kata Profesor Michael Walsh, pakar bahasa pribumi kepada AFP. Kemudian yang terjadi adalah hilangnya suatu generasi, tempat orangtua masihmenggunakan bahasa mereka dengan ayah-ibu mereka, tetapi tidak lagi berbicara bahasa aslidengan anak-anak mereka, 5. Sistem Teknologi a) Tempat Tinggal

Mereka

beradaptasi

dengan

cepat

dalammenanggapi

perubahan iklim dan lingkungan, dan memodifikasi lanskap menggunakan api bilaperlu, dengan bahan-bahan dari pepohonan yang sederhana dan mereka hidup dalam harmonidan keseimbangan dengan perubahan musiman dan lingkungan. Atap tempat tinggal merekadapat pula dijadikan perahu water craft.

b) Alat Transportasi

Para arkeolog tidak menemukan kapan awalnya suku Aborigin memulai perjalanannya, namun penggunaan water craft yang dapat menyeberang sejauh 100-160 km dan melewati pulaupulau dapat mencapai ke wilayah yang lebih selatan atau tepatnya
23

di benua paling selatan yang kita sebut Australia, dapat menjadi bukti bahwa suku Aborigin menggunakan alat tersebut untuk melakukan perpindahan tempat tinggal. Suku Aborigin yang pertama kali menetap di Australia menemukan lingkungan yang lebih bagus darisaat ini.

c) Alat-Alat Rumah Tangga Seiring dengan perkembangan zaman, suku Aboriginmulai memproduksi alat-alat rumah tangga yang mereka butuhkan dan memanfaatkan bahan-bahan dasar yang ada di sekeliling mereka. Kayu, batu dan logam merupakan bahan dasar untuk membuat alatalat tersebut. Terutama kayu yang merupakan bahan dasar

pembuatan boomerangdan kano serta rakit. Selain itu, para pria dari suku Aborigin gemar untuk membuat jaring, alatpancing sederhana dan panah untuk memudahkan mereka dalam memburu binatang untuk alat-alat produktif mereka.

d) Pakaian

Suku Aborigin juga memanfaatkan kulit binatang untuk melindungi diri atau biasa disebut pakaian sebagai pelindung dari cuaca buruk dengan membuatkulit binatang tersebut menjadi sejenis atap . dan di padukan oleh lukisan-lukisan Tubuh untuk menakuti lawan dan biasanya mereka mengenakan bubuk warna putih untuk menghalangipanasnya matahari, dan warna-warna terang seperti merah untuk menakuti lawan. Biasanyamereka
24

melukis badan mereka dengan pola seperti bercak bintik-bintik yang dilukis oleh tanganmereka sendiri.

e) Senjata

Boomerang

merupakan

senjata

suku

aborigin

yang

merupakan penduduk asliAustralia. Sedangkan batu digunakan untuk membuat alat-alat senjata.Terkadang batu juga di gunakan untuk membuat alat memasak dan alat untuk menyalakan api.

f)

Makanan Sepanjang pantai perempuan memanen laut untuk berbagai makanantermasuk anjing laut, lobster, muttonfish, warreners dan whelks. Mereka juga terjebak burung,dikumpulkan emu, bebek, angsa, redbill dan telur muttonbird, dan diburu untuk hewan daratkecil termasuk kuskus, landak dan Bandicoot. Orang-orang menggunakan minyak dari landak,kuskus, muttonbird, segel dan penguin untuk melapisi kulit mereka sebagai lapisan tahan air dankehangatan terhadap kondisi cuaca ekstrim.

g) Mata Pencarian Pekerjaan sehari-hari sangat minimal. Kaum pria berburu dan para wanitamengumpulkan hasil buruan. Tak ada yang disimpan buat hari esok atau lusa. Mereka hiduphanya untuk satu hari itu. Mereka berburu hanya untuk mengenyangkan perut selama satu harisaja. Tak ada pertanian atau perkebunan.Masyarakat tinggal dalam kelompok-kelompok yang pekerjaannya hanya berburu, memancing dan mengumpulkan makanan. Mereka belum memiliki
25

mental seorang pekerja, karena yang mereka tahu adalah bagaimana untuk menyambung hidup. Namun pada akhirnyakarena perkembangan jaman, mereka mulai berekspansi ke wilayah lain. Binatang-binatang besar yang saat ini sudah punah dan makanan yang berlimpah beradadi beberapa bagian dari benua tersebut. Akan tetapi struktur tanah di Australia yang sebagian terdiri dari gurun pasir menyebabkan beberapa cara untuk mencari makanan seperti, berladang dan bertani mengalami kegagalan. Penduduk Aborigin sangat membatasi jumlah pengumpulan makanan karena tidak ingin merusak alam di daerah atau wilayah yang mereka diami, namun mereka telah mengetahui dengan jelas kapan, di mana, dan bagaimana cara untuk menemukan makanan dalam jumlah banyak. Karena wilayah Australia sebagian besar terdiri dari gurun pasir, maka suku Aborigin mengalami kesulitan dalan mencari air untuk hidup. Tidak jarang hal ini menimbulkan kematian bagi penduduk Aborigin akibat dehidrasi. Pada akhirnya mereka menemukan sumber mata air bersih dan secara bergotong-royong mereka mengalirkan air tersebut ke tempat tinggal mereka dan menyuburkan pepohonan dengan air tersebut.

6.

Organisasi Sosial Namun pandangan Australia berangsur-angsur melunak dan

memberikan ruang bagipenduduk asli tersebut setelah (konon) banyak melakukan pembunuhan. Caranya yang agak unik Australia menetapkan politik asimilasi untuk mencampur dua jenis manusia yang memilikiwarna kulit berbeda itu.Anak-anak aborigin dipisahkan dari keluarganya secara paksa kemudian di tempatkan dipanti asuhan untuk ³diputihkan´. Sebagian kemudian diasuh oleh si kulit putih sebagai pekerjaatau pembantu. Anak laki-laki dipungut untuk dijadikan pekerja gratis di peternakan

26

terpencil.Mereka dihukum berat ketika berbuat tidak salah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Sama seperti apartheid, rupanya nasib aborigin juga ditentukan oleh warna kulitBangsa Aborigin tidak mengenal ketua suku atau presiden, RT, RW, menteri dan semacamnya. Tak ada satupun orang yang berhak untuk bicara atas nama sukunya. Tak bolehada yang memutuskan atas nama kelompok. Setiap orang bertanggung-jawab ataskeberlangsungan hidup Aborigin dan pengetahuan rahasia hebat yang mereka miliki. Satu-satunya kepemilikan setiap orang Aborigin adalah pengetahuan tentang alam mimpi, di manaasal muasal bumi ini ditayangkan dan jalan takdir kehidupan setiap manusia di muka bumidiperlihatkan.Alam mimpi, nyanyian, dan tarian adalah basis makna eksistensi Aborigin. Semua saudara pria ayah dipanggil ayah, semua saudara wanita ibu dipanggil ibu. Fokus utama setiap hari adalah meditasi ke alam mimpi dan bermain dengan anak-anak. Pendidikan anak dan remaja adalah kewajiban semua orang dewasa. Balita sampai usia puber menikmati kebebasan sepenuhnya, juga dalam hal seks. Usai masa puber setiap anak diharuskan ikut ritual rahasia, menyelami misteri dunia impian di alam lain. Setelah itu mereka tidak lagi sebebas dulu. Pria dan wanita hidup secara monogami. Pasutri ya sampai mati.

27

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan Kehidupan Aborigin memang rumit tetapi menarik. Kita bisa melihat

bagaimana Dreaming mempengaruhi kebudayaan melalui kesenian. Kehidupan sehari-hari suku Aborigin berhubungan dengan keseniannya dalam banyak bentuk dan untuk berbagai fungsi. Upacara-upacara baik mistik maupun non mistik sangat penting untuk memperbarui dan memelihara hubungan dengan nenek moyang dan Dreaming. Walaupun masa kini masyarakat dan kesenian Aborigin sudah berubah dari yang tradisional, tetapi tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat luas Australia. Maka seharusnya kita menghormati dan memelihara kebudayaan Aborigin untuk anak cucu kita di masa depan.

B.

Saran Adapun saran yang dapat penulis sumbangkan pada kesempatan ini adalah

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membaca Dengan adanya makalah ini semoga para siswa dapat menambah pengetahuan tentang sejarah, dan seluk beluknya kehidupan suku Aborigin. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya dan para siswa pada umumnya. Khusus bagi kita semua yang ingin mengenal kebudayaan dari bangsa lain, khususnya suku Aborigin.

28

DAFTAR PUSTAKA

   

http://www.scribd.com/doc/44603776/Kerangka-Aborigin-tugasanthopologi http://www.indonesiaindonesia.com/f/83173-sejarah-suku-aborigin/ http://blogzpot.wordpress.com/2011/04/14/kebudayaan-australia-sukuaborigin/ www.docstoc.com/docs/25130312/SUKU-ABORIGIN

29

MAKALAH
SEJARAH SUKU ABORIGIN

Disusun Oleh: Mas Azist ( BanyuGroup Warnet dan Celluler )

FORUM PELAJAR BANYUGROUP WARNET DAN CELLULER Jln. Wonoharjo-Sidomulyo No. 25 Pangandaran 46396 Phone : +6287826456567, +6285310252853.

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->