BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya setiap manusia memiliki nafsu dan akal fikiran. Itu yang membedakan dengan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang lain. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Untuk mangaktualisasikan berkah dari Tuhan yang berupa nafsu dan fikiran ini manusia bisa merealisasikannya dengan saling cinta-mencintai, sayangmenyayangi dan saling menjaga satu sama lainnya. Dalam hubungannya antara manusia yang satu dan manusia yang lain tentu harus ada norma-norma atau nilai-nilai yang harus dipatuhi. Manusia tidak lantas bebas berbuat apa saja dengan manusia yang lain. Sebagai contoh, untuk dapat dikatakan atau diakui dalam hubungannya sebagai suami dan isteri, manusia harus mensahkannya dengan perkawinan. Dan kemudian mendaftarkan perkawinannya tersebut sehingga perkawinan tersebut memperoleh kepastian hukum. Baik dari segi agama maupun dari segi hukum. Manusia itu tidak akan berkembang tanpa adanya perkawinan, karena dengan adanya perkawinan menyebabkan adanya keturunan dan keturunan menimbulkan keluarga yang berkembang menjadi kerabat dan akhirnya menjadi masyarakat. Namun suatu saat dalam hubungan keluarga pasti ada saja yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Perkawinan bisa saja putus di tengah jalan. Dan hal itu disebabkan oleh para pihak sendiri maupun oleh pihak lain atau pihak ke-3.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, bagaimanakah Putusnya Perkawinan dan Apa akibatnya Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ?

1

Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Tafsir Fakhru’r Razi jilid III hlm 189. Kitaabu’l Fiqh ala mazahibi’l Arbaah jilid IV hlm 1 dan seterusnya. perbedaan para imam ini dianggap penting oleh karena akan mengakibatkan berkenaan. bahkan hidup bersama ini yang kemudian melahirkan anak keturunan mereka merupakan sendi yang utama bagi pembentukan Negara dan bangsa. sebaliknya rusak dan kacaunya hidup bersama yang bernama keluarga ini akan menimbulkan rusak dan kacaunya bangunan masyarakat.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2 .Kamal Mochtar. Perikatan perkawinan sangat penting di dalam pergaulan masyarakat. perkataan perkawinan berasal dari kata “kawin” yang merupakan terjemahan dari bahasa arab “nikah”. Fakhru’r. sedangkan Imam Abu Hanifah mengartikan “wathaa” atau “setubuh”. Imam AsySyafi’i misalnya memberi pengertian “nikah” itu dengan “mengadakan perjanjia perikatan”.1 Dalam penggunaan sehari-hari kata “nikah” lebih banyak dipakai dalam pengertian yang terakhir yaitu dalam arti kiasan. Juga lihat Abdur Rahman Al Jazairi. Penerbitan Bulan Bintang Jakarta. Cetakan pertama 1974. Pengertian “nikah” sebagai suatu perjanjian perikatan sesungguhnya adalah suatu pengertian dalam ruang lingkup undang-undang. razi. Di samping kata nikah dalam bahasa arab lazim juga dipergunakan kata “ziwaaj” untuk maksud yang sama. sedangkan dalam arti kiasan berarti “akad” atau “mengadakan perjanjian perkawinan”. hlm 11 2 Ibid.H dalam bukunya Hukum Orang dan Keluarga mengatakan bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama ini menentukan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat dan Negara.S. Pengertian Perkawinan Dari sudut ilmu bahasa.3 Menurut Undang-undang sendiri pengertian Perkawinan merupakan ikatan 1 berbedanya pendapat dalam masalah-masalah lain yang Lihat Drs.2 para ahli ilmu “fiqh” sendiri yaitu para imam masih berbeda pendapat tentang arti kias tersebut apakah dalam pengertian “wathaa” atau “aqad” sebagaimana yang disebut di atas. Perkataan nikah mengandung 2 pengertian yaitu dalam arti yang sebenarnya (haqiqat) dan arti kiasan (majaaz). 3 Soedaryo Soimin . Seperti diketahui. Lebih lengkap lihat: Ibnu’I Humam Fat-hu’I Qadir jilid II hlm 357. Dalam pengertian yang sebenarnya kata “nikah” itu berarti “berkumpul”.

4 BAB III PEMBAHASAN 4 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 3 .lahir batin antara seorang pri dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

6 5 Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 199 Kitab Undang-undang Hukum Perdata 6 4 . Karena keadaan tidak hadirnya salah seorang suami isteri selama sepuluh tahun diikuti dengan perkawinan baru sesudah itu suami atau isterinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam bagian ke lima bab delapan belas. 207-232a dan 233-249. yaitu : 1. d. Atas Keputusan Pengadilan. Diatur juga dalam Bab V Peraturan Pemerintah No. 2. c. Pasal 38 sampai dengan Pasal 41 Undang-undang Perkawinan. Karena putusan hakim setelah adanya perpisahan meja dan tempat tidur dan pendaftaran putusnya perkawinan itu dalam register catatan sipil. Perceraian. Karena perceraian sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam bagian ketiga bab ini.Putusnya Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pada dasarnya dilakukannya suatu perkawinan adalah bertujuan untuk selama-lamanya. Putusnya perkawinan serta akibatnya di atur dalam Bab VIII. Menurut Pasal 38 Undang-Undang Perkawinan perkawinan dapat putus dikarenakan tiga hal. sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian kedua bab ini. Pasal 14 sampai dengan Pasal 36. dan 3.5 Sementara menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenai putusnya perkawinan diatur dalam Pasal 199. 9 tahun 1975 tentang Tata Cara Perceraian. Pasal 199 menerangkan putusnya perkawinan disebabkan: a. Tetapi ada sebab-sebab tertentu yang mengakibatkan perkawinan tidak dapat diteruskan. b. Kematian. 200-206b. Karena meninggal dunia.

Dengan putusnya perkawinan karena kematian maka terbukanya hak mewaris dari ahli waris. Kematian dalam hal perkawinan merupakan suatu peristiwa meninggalnya salah satu pihak atau kedua pihak yang menjadi subjek hukum dalam perkawinan. hutang-hutang dan penunaian wasiat. Yogyakarta. maka dikhawatirkan kemudian hari akan menimbulkan sengketa di antara ahli waris. setelah harta yang ditinggalkan itu diambil untuk berbagai kepentingan. UII Press. Konsep Kewarisan Bilateral Hazairin. hasilnya juga banyak membawa bencana dan persengketaan dengan para penerima waris. banyak mempengaruhi kehidupan seseorang dengan orang lain. jika dalam pembagiannya tidak transparan dan hanya berdasarkan kekuatan hukum yang tidak jelas. Kewarisan adalah ilmu yang berhubungan dengan harta milik. Putusnya Perkawinan Karena Kematian Kematian merupakan suatu peristiwa alam yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. 21 5 . Kematian ini tentu mengakibatkan akibat hukum. Harta itu merupakan sisa atau hasil bersih. Harta peninggalan bersifat lebih umum sedangkan harta warisan lebih khusus karena 7 Abdul Ghofur Anshori. 39 8 Ibid.1. Masalah kewarisan merupakan aspek yang sangat penting dalam ajaran agama islam. hal. Kematian suami/istri tentunya akan mengakibatkan perkawinan putus sejak terjadinya kematian.7 Sementara harta warisan adalah benda yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yang menjadi hak ahli waris. yang dipergunakan untuk membedakan harta warisan dengan harta peninggalan.8 Penambahan kalimat “setelah harta yang ditinggalkan itu diambil untuk berbagai kepentingan” menunjukkan adanya penyempitan definisi. Apabila perkawinan putus disebabkan meninggalnya salah satu pihak maka harta benda yang diperoleh selama perkawinan akan beralih kepada keluarga yang ditinggalkan dengan cara diwariskan. seperti biaya perawatan jenazah. seperti yang terjadi dalam budaya jahiliyah. Filsafat Hukum Kewarisan Islam. hal. Tahun 2005. hukum waris yang dipedomani tidak memenuhi unsur keadilan.

berhak mendapatkan harta peninggalan.harta warisan juga dapat disebut dengan harta benda jika tidak dipotong dengan dengan tiga kepentingan seperti biaya perawatan jenazah. yang akibat lebih jauh adalah terjadinya perceraian. Dalam hal hidupnya waris. 2. Menurut Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-undang Perkawinan terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengajukan perceraian. Tidak ada penghalang kewarisan.. 6 . Berkaitan dengan bayi yang masih berada dalam kandungan akan dibahas secara khusus. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan batasan mengenai istilah perceraian. yaitu: a. Berdasarkan ketentuan Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Perkawinan ditentukan bahwa Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak yang mana untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat rukun sebagai suami isteri. Putusnya Perkawinan karena Perceraian Dalam kenyataannya prinsip-prinsip berumah tangga sering kali tidak dilaksanakan. sehingga suami dan isteri tidak lagi merasa tenang dan tenteram serta hilang rasa kasih sayang dan tidak lagi saling cinta mencintai satu sama lain. para ahli waris yang benar-benar hiduplah di saat kematian muwaris. hutang-hutang dan penunaian wasiat. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk. dalam hal ini ahli waris tidak mempunyai halangan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan-ketentuan tentang penghalang kewarisan yang telah ditentukan. pemadat.

c. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak lain. Pentingnya pencatatan ini adalah untuk memenuhi Pasal 34 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang menentukan bahwa perceraian dianggap terjadi beserta segala akibat-akibat hukumnya terhitung sejak pendaftaran. b. Pasal 221 KUH Perdata yang menentukan setiap salinan putusan perceraian yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap harus didaftarkan pada instansi berwenang guna dicatatkan oleh Pejabat Pencatat pada buku register perceraian. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat selama perkawinan berlangsung.penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.9 Kepada mereka yang mengakhiri perkawinannya akan diberikan akta perceraian sebagai bukti berakhirnya perkawinan mereka. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga. Akta perceraian ditandatangani oleh panitera kepala. kecuali bagi mereka yang beragama Islam terhitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang telah berkekuatan hukum tetap. e. f. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama dua tahun beturutturut. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri. Selanjutnya dalam Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan disebutkan beberapa hal akibat hukum putusnya perkawinan yang dikarenakan oleh perceraian : a.tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya. d. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik 9 Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 7 .

bilamana dalam kenyataan suami tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. 8 . Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. semata-mata berdasarkan kepentingan anak. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri. b.anak-anaknya. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/ atau menentukan kewajiban bagi bekas isteri. semata-mata berdasarkan kepentingan anak. c. Pengadilan dapat menentukan bahwa isteri ikut memikul biaya tersebut. bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak . Kemudian dalam Pasal 209 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan beberapa alasan yang mengakibatkan terjadinya perceraian. meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad jahat 10 Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. bilaman bapak dalam kenyataannya tidak dapat memberi kewajiban tersebut pengadilan dapat menentukan bahwa ikut memikul biaya tersebut. bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak. Pengadilan memberi keputusan. Mantan suami bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. Mantan suami atau isteri berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. c. b. 10 Pasal di atas memberikan pengertian bahwa : a. b. Pengadilan memberikan keputusan. zinah. yaitu: a.

nafkah iddah dan harta bersama suami istri. Gugatan hadhanah. dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku pada gugat 9 . melukai berat atau menganiaya. penghukuman dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau dengan hukuman yang lebih berat. produk putusannya bukan memberikan izin kepada suami untuk mengikrarkan talak. yang demikian sehingga membahayakan jiwa pihak yang dilukai atau dianiaya. dapat diajukan bersama-sama dengan cerai gugat. Cerai gugat diajukan oleh istri yang petitumnya memohon agar Pengadilan Agama memutuskan perkawinan Penggugat dengan Tergugat. Pemeriksaan dan penyelesaian cerai gugat yang diajukan istri atas dasar alasan suami zina. istri dalam gugatannya dapat mengajukan gugatan provisi. Dalam perkara cerai gugat. nafkah anak. begitu pula suami yang mengajukan rekonvensi dapat pula mengajukan gugatan provisi tentang hal-hal yang diatur dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Selama proses pemeriksaan cerai gugat sebelum sidang pembuktian. riddah (keluar dari agama Islam). Cerai talak diajukan oleh pihak suami yang petitumnya memohon untuk diizinkan menjatuhkan talak terhadap istrinya. suami dapat mengajukan rekonvensi mengenai penguasaan anak dan harta bersama.c. yang diucapkan setelah perkawinan. nafkah istri. mut'ah. atau sehingga mengakibatkan luka-luka yang membahayakan. Perceraian dapat terjadi karena talak dan gugatan perceraian. Cerai talak yang diajukan oleh suami yang telah. dilakukan oleh si suami atau si isteri terhadap isteri atau suaminya. akan tetapi talak dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. Mengenai Talak telah diatur dalam Pasal 117-122 KHI yang menentukan talak adalah ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. d.

Dalam hal perkawinan putus karena perceraian. Putusnya perkawinan atas putusan pengadilan juga bisa terjadi karena adanya permohonan dari salah satu pihak suami atas istri atau para anggota keluarga yang tidak setuju dengan perkawinan yang dilangsungkan oleh kedua calon mempelai. sehingga perlu diambil langkah-langkah terhadap perkawinan orang tersebut. atau atas dasar putusan Pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap bahwa suaminya melakukan tindak pidana zina. Tujuannya adalah untuk melindungi 10 . Akhirnya Perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan. maka harta diatur menurut hukumnya masing-masing. bagi suami-isteri. ataupun karena isteri yang menggugat cerai atau memohon hak talak sebab sighat taklik talak. Atas permohonan ini pengadilan memperbolehkan perkawinan yang telah berlangsung dengan alasan bertentangan dengan syara’ atau perkawinan tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan baik dalam UndangUndang perkawinan maupun menurut hukum agama. namun harus tetap dilakukan di depan pengadilan. baik itu karena suami yang menjatuhkan cerai (talak). Perceraian membawa akibat yang luas bagi perkawinan. 3. harta kekayaan perkawinan maupun bagi anakanak yang dilahirkan dalam perkawinan tersebut. Putusnya Perkawinan karena Putusan Pengadilan Putusnya perkawinan karena putusan pengadilan dapat terjadi. Penjelasan pasal tersebut menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “hukumnya masing-masing” adalah hukum agama. hukum adat dan hukum-hukum positif yang lain. perkawinan yang putus karena perceraian dianggap sah apabila diucapkan seketika oleh suami. karena adanya seseorang yang meninggalkan tempat kediamana bersama. Putusnya Perkawinan atas Putusan Pengadilan dapat terjadi apabila dilakukan di depan Pengadilan Agama. untuk kepentingan keluarga yang ditinggalkan. yaitu dilakukan pembuktian dengan saksi atau sumpah pemutus. Meskipun dalam agama Islam.cerai biasa.

setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha mendamaikan kedua belah pihak. kekuasaan orang tua atas anak yang masih di bawah umur tetap berjalan.11 11 Pasal 298 “Tiap-tiap anak. Dalam pasal 39 ayat 1 disebutkan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan. dalam umur berapapun juga. Dalam hal ini kekuasaan orang tua menurut Undang-undang No. Dan harus diterima oleh para pihak. maka perceraian harus melalui saluran lembaga Pengadilan. maka ketentuan ini berlaku juga bagi mereka yang beragama Islam. Si bapak dan si ibu keduanya berwajib memelihara dan mendidik sekalian anak mereka yang belum dewasa. 1 tahun 1974 bersifat tungga. Sehubungan dengan adanya ketentuan bahwa perceraian harus dilakukan di depan sidang Pengadilan. semata-mata berdasarkan kepentingan anak. Ketika suatu saat ada perselisihan mengenai hak penguasaan atas anak. Terhadap anak-anak yang telah 11 . Kehilangan hak untuk memangku kekuasaan orang tua atau untuk menjadi wali tak membebaskan mereka dari kewajiban. Walaupun pada dasarnya hukum Islam tidak menentukan bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan sidang Pengadilan namun karena ketentuuan ini lebih banyak mendatangkan kebaikan bagi kedua belah pihak maka sudah sepantasnya apabila orang Islam wajib mengikuti ketentuan ini.segala hak dan kewajiban yang timbul sebagai akibat hukum perceraian itu. berwajib menaruh kehormatan dan kesegaran terhadap bapak dan ibunya. sedangkan bagi pemeluk agama non Islam proses dan penyelesaiannya dilakukan di depan Pengadilan Negeri. memberi tunjangan-tunjangan dalam keseimbangan dengan pendapatan mereka. walaupun telah terjadi perceraian. 299). tidak berubah menjadi perwalian seperti pengaturan dalam KUH Perdata (pasal 298. Artinya. & tahun 1989 tentang Peradilan Agama). namun demi menghindarkan tindakan sewenangwenang terutama dari pihak suami dan juga demi kepastian hukum. Perceraian bagi pemeluk agama Islam proses dan penyelesaiannya dilakukan di depan Pengadilan Agama (Undangundang N0. Walaupun perceraian itu adalah urusan pribadi baik atas kehendak bersama maupun kehendak salah satu pihak yang seharusnya tidak perlu adanya campur-tangan dari Pemerintah. Akibat perceraian baik bapak atau ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. maka Pengadilan akan memberikan keputusannya. guna membiayai pemeliharaan dan pendidikan itu.

tiap-tiap anak. sampai ia menjadi dewasa.Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat atau berdasarkan pertimbangan bahaya yang mungkin ditimbulkan.  Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin terpeliharanya barangbarang yang menjadi hak bersama suami-isteri atau barang-barang yang menjadi hak isteri (pasal 24 PP No. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan / atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isterinya (pasal 41) Perwalian tidak timbul setelah terjadinya perceraian. yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua. Pengadilan dapat:  Menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami. Mereka yang di bawah kekuasaan orang tua adalah anak sah yang belum genap berumur 18 tahun. pewalian menurut Undang-undang Perkawinan ialah bagi anak yang belum mencapai usia genap 18 tahun atau belum melangsungkan perkawinan. pengadilan dapat menentukan bawhwa ibu ikut memikul biaya tersebut. tetap bernaung di bawah kekuasaan mereka. berlakulah ketentuan-ketentuan tercantum dalam bagian ketiga bab ini” Pasal 299 “Sepanjang perkawinan bapak dan ibu. sekadar mereka tidak dibebaskan atau dipecat dari kekuasaan itu” 12 . Pengadilan dapat mengizinkan suami-isteri tersebut untuk tidak tinggal dalam satu rumah. apabila bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat. dewasa. 9 tahun 1975) Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu.  Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak.

Untuk mangaktualisasikan berkah dari Tuhan yang berupa nafsu dan fikiran ini manusia bisa merealisasikannya dengan saling cinta-mencintai. sayang-menyayangi dan saling menjaga satu sama lainnya.BAB IV SIMPULAN DAN SARAN Pada hakekatnya setiap manusia memiliki nafsu dan akal fikiran. Dalam hubungannya antara manusia yang satu dan manusia yang lain tentu harus ada norma-norma atau nilai-nilai yang harus 13 .

Yogyakarta. BAB V DAFTAR PUSTAKA Abdul Ghofur Anshori. Manusia tidak lantas bebas berbuat apa saja dengan manusia yang lain. Meskipun dalam suatu perkawinan kelak akan terjadi banyak masalah. UII Press. Sebagai contoh. yaitu : 1. Perkawinan perkawinan dapat putus dikarenakan tiga hal. Baik dari segi agama maupun dari segi hukum. manusia harus mensahkannya dengan perkawinan. Kita tidak bisa menolaknya. untuk dapat dikatakan atau diakui dalam hubungannya sebagai suami dan isteri. Karena kematian adalah hak prerogatif Tuhan. dan 3. Dan hal itu disebabkan oleh para pihak sendiri maupun oleh pihak lain. tetapi alangkah lebih baiknya kalau permasalahan itu masih bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Dan kemudian mendaftarkan perkawinannya tersebut sehingga perkawinan tersebut memperoleh kepastian hukum. Atas Keputusan Pengadilan. Perceraian. Tahun 2005 14 . Filsafat Hukum Kewarisan Islam. 2. Kecuali memang perkawinan itu putus disebabkan oleh kematian. jangan pernah berfikiran Pemutusan perkawinan adalah jalan satu-satunya. Kematian. Konsep Kewarisan Bilateral Hazairin. Perkawinan bisa saja putus di tengah jalan. Namun suatu saat dalam hubungan keluarga pasti ada saja yang berjalan tidak sesuai dengan rencana.dipatuhi.

Soedaryo. Kitaabu’l Fiqh ala mazahibi’l Arbaah jilid IV Mochtar. 103 Soimin. Soemiyati.Jakarta:Sinar Grafika. Yogyakarta. Drs. razi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 15 . Fakhru’r.H. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. hal. Liberty. Ibnu’I Humam Fat-hu’I Qadir jilid II hlm 357. Penerbitan Bulan Bintang Jakarta.1992. Tahun 2004.Kamal.Hukum Orang dan Keluarga. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijke Wetboek / BW) Ny.Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. S. Cetakan pertama 1974. Tafsir Fakhru’r Razi jilid III hlm 189.Abdur Rahman Al Jazairi.