P. 1
Putusnya Perkawinan

Putusnya Perkawinan

|Views: 856|Likes:
Published by Sigit Budhiarto

More info:

Published by: Sigit Budhiarto on Nov 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya setiap manusia memiliki nafsu dan akal fikiran. Itu yang membedakan dengan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang lain. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Untuk mangaktualisasikan berkah dari Tuhan yang berupa nafsu dan fikiran ini manusia bisa merealisasikannya dengan saling cinta-mencintai, sayangmenyayangi dan saling menjaga satu sama lainnya. Dalam hubungannya antara manusia yang satu dan manusia yang lain tentu harus ada norma-norma atau nilai-nilai yang harus dipatuhi. Manusia tidak lantas bebas berbuat apa saja dengan manusia yang lain. Sebagai contoh, untuk dapat dikatakan atau diakui dalam hubungannya sebagai suami dan isteri, manusia harus mensahkannya dengan perkawinan. Dan kemudian mendaftarkan perkawinannya tersebut sehingga perkawinan tersebut memperoleh kepastian hukum. Baik dari segi agama maupun dari segi hukum. Manusia itu tidak akan berkembang tanpa adanya perkawinan, karena dengan adanya perkawinan menyebabkan adanya keturunan dan keturunan menimbulkan keluarga yang berkembang menjadi kerabat dan akhirnya menjadi masyarakat. Namun suatu saat dalam hubungan keluarga pasti ada saja yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Perkawinan bisa saja putus di tengah jalan. Dan hal itu disebabkan oleh para pihak sendiri maupun oleh pihak lain atau pihak ke-3.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, bagaimanakah Putusnya Perkawinan dan Apa akibatnya Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ?

1

Penerbitan Bulan Bintang Jakarta. Imam AsySyafi’i misalnya memberi pengertian “nikah” itu dengan “mengadakan perjanjia perikatan”.1 Dalam penggunaan sehari-hari kata “nikah” lebih banyak dipakai dalam pengertian yang terakhir yaitu dalam arti kiasan. hlm 11 2 Ibid. perbedaan para imam ini dianggap penting oleh karena akan mengakibatkan berkenaan.S. sebaliknya rusak dan kacaunya hidup bersama yang bernama keluarga ini akan menimbulkan rusak dan kacaunya bangunan masyarakat. Dalam pengertian yang sebenarnya kata “nikah” itu berarti “berkumpul”. Seperti diketahui. 3 Soedaryo Soimin . sedangkan Imam Abu Hanifah mengartikan “wathaa” atau “setubuh”. sedangkan dalam arti kiasan berarti “akad” atau “mengadakan perjanjian perkawinan”. 2 . Tafsir Fakhru’r Razi jilid III hlm 189.2 para ahli ilmu “fiqh” sendiri yaitu para imam masih berbeda pendapat tentang arti kias tersebut apakah dalam pengertian “wathaa” atau “aqad” sebagaimana yang disebut di atas. Kitaabu’l Fiqh ala mazahibi’l Arbaah jilid IV hlm 1 dan seterusnya. Perikatan perkawinan sangat penting di dalam pergaulan masyarakat.H dalam bukunya Hukum Orang dan Keluarga mengatakan bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama ini menentukan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat dan Negara.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Fakhru’r. Lebih lengkap lihat: Ibnu’I Humam Fat-hu’I Qadir jilid II hlm 357.3 Menurut Undang-undang sendiri pengertian Perkawinan merupakan ikatan 1 berbedanya pendapat dalam masalah-masalah lain yang Lihat Drs. perkataan perkawinan berasal dari kata “kawin” yang merupakan terjemahan dari bahasa arab “nikah”. Juga lihat Abdur Rahman Al Jazairi. Pengertian Perkawinan Dari sudut ilmu bahasa. Di samping kata nikah dalam bahasa arab lazim juga dipergunakan kata “ziwaaj” untuk maksud yang sama. Pengertian “nikah” sebagai suatu perjanjian perikatan sesungguhnya adalah suatu pengertian dalam ruang lingkup undang-undang. Cetakan pertama 1974.Kamal Mochtar. razi. bahkan hidup bersama ini yang kemudian melahirkan anak keturunan mereka merupakan sendi yang utama bagi pembentukan Negara dan bangsa.Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Perkataan nikah mengandung 2 pengertian yaitu dalam arti yang sebenarnya (haqiqat) dan arti kiasan (majaaz).

lahir batin antara seorang pri dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.4 BAB III PEMBAHASAN 4 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 3 .

yaitu : 1. 200-206b. dan 3. Karena meninggal dunia. Diatur juga dalam Bab V Peraturan Pemerintah No. Karena putusan hakim setelah adanya perpisahan meja dan tempat tidur dan pendaftaran putusnya perkawinan itu dalam register catatan sipil. d.Putusnya Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pada dasarnya dilakukannya suatu perkawinan adalah bertujuan untuk selama-lamanya. Tetapi ada sebab-sebab tertentu yang mengakibatkan perkawinan tidak dapat diteruskan. Pasal 38 sampai dengan Pasal 41 Undang-undang Perkawinan. Karena perceraian sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam bagian ketiga bab ini. 207-232a dan 233-249. Atas Keputusan Pengadilan. Perceraian. Pasal 14 sampai dengan Pasal 36. c. 2.6 5 Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 199 Kitab Undang-undang Hukum Perdata 6 4 . Karena keadaan tidak hadirnya salah seorang suami isteri selama sepuluh tahun diikuti dengan perkawinan baru sesudah itu suami atau isterinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam bagian ke lima bab delapan belas. 9 tahun 1975 tentang Tata Cara Perceraian. Menurut Pasal 38 Undang-Undang Perkawinan perkawinan dapat putus dikarenakan tiga hal. Kematian. sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian kedua bab ini. Putusnya perkawinan serta akibatnya di atur dalam Bab VIII. Pasal 199 menerangkan putusnya perkawinan disebabkan: a. b.5 Sementara menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenai putusnya perkawinan diatur dalam Pasal 199.

Harta itu merupakan sisa atau hasil bersih. Masalah kewarisan merupakan aspek yang sangat penting dalam ajaran agama islam. yang dipergunakan untuk membedakan harta warisan dengan harta peninggalan. jika dalam pembagiannya tidak transparan dan hanya berdasarkan kekuatan hukum yang tidak jelas. 21 5 . maka dikhawatirkan kemudian hari akan menimbulkan sengketa di antara ahli waris.8 Penambahan kalimat “setelah harta yang ditinggalkan itu diambil untuk berbagai kepentingan” menunjukkan adanya penyempitan definisi. Kematian dalam hal perkawinan merupakan suatu peristiwa meninggalnya salah satu pihak atau kedua pihak yang menjadi subjek hukum dalam perkawinan. Apabila perkawinan putus disebabkan meninggalnya salah satu pihak maka harta benda yang diperoleh selama perkawinan akan beralih kepada keluarga yang ditinggalkan dengan cara diwariskan. Dengan putusnya perkawinan karena kematian maka terbukanya hak mewaris dari ahli waris. Kematian suami/istri tentunya akan mengakibatkan perkawinan putus sejak terjadinya kematian.7 Sementara harta warisan adalah benda yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yang menjadi hak ahli waris. Kematian ini tentu mengakibatkan akibat hukum. hukum waris yang dipedomani tidak memenuhi unsur keadilan. Harta peninggalan bersifat lebih umum sedangkan harta warisan lebih khusus karena 7 Abdul Ghofur Anshori. Yogyakarta. seperti biaya perawatan jenazah. Konsep Kewarisan Bilateral Hazairin. hasilnya juga banyak membawa bencana dan persengketaan dengan para penerima waris. UII Press. Kewarisan adalah ilmu yang berhubungan dengan harta milik. 39 8 Ibid. hutang-hutang dan penunaian wasiat. banyak mempengaruhi kehidupan seseorang dengan orang lain. Putusnya Perkawinan Karena Kematian Kematian merupakan suatu peristiwa alam yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. hal.1. seperti yang terjadi dalam budaya jahiliyah. Filsafat Hukum Kewarisan Islam. Tahun 2005. hal. setelah harta yang ditinggalkan itu diambil untuk berbagai kepentingan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Perkawinan ditentukan bahwa Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak yang mana untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat rukun sebagai suami isteri. yang akibat lebih jauh adalah terjadinya perceraian. Tidak ada penghalang kewarisan.harta warisan juga dapat disebut dengan harta benda jika tidak dipotong dengan dengan tiga kepentingan seperti biaya perawatan jenazah. Dalam hal hidupnya waris. berhak mendapatkan harta peninggalan. pemadat. hutang-hutang dan penunaian wasiat. yaitu: a. 6 . 2. Putusnya Perkawinan karena Perceraian Dalam kenyataannya prinsip-prinsip berumah tangga sering kali tidak dilaksanakan. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk. Berkaitan dengan bayi yang masih berada dalam kandungan akan dibahas secara khusus.. para ahli waris yang benar-benar hiduplah di saat kematian muwaris. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan batasan mengenai istilah perceraian. Menurut Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-undang Perkawinan terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengajukan perceraian. dalam hal ini ahli waris tidak mempunyai halangan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan-ketentuan tentang penghalang kewarisan yang telah ditentukan. sehingga suami dan isteri tidak lagi merasa tenang dan tenteram serta hilang rasa kasih sayang dan tidak lagi saling cinta mencintai satu sama lain.

Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga. f. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama dua tahun beturutturut. Akta perceraian ditandatangani oleh panitera kepala. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik 9 Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 7 . Pentingnya pencatatan ini adalah untuk memenuhi Pasal 34 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang menentukan bahwa perceraian dianggap terjadi beserta segala akibat-akibat hukumnya terhitung sejak pendaftaran.penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat selama perkawinan berlangsung. kecuali bagi mereka yang beragama Islam terhitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang telah berkekuatan hukum tetap. Pasal 221 KUH Perdata yang menentukan setiap salinan putusan perceraian yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap harus didaftarkan pada instansi berwenang guna dicatatkan oleh Pejabat Pencatat pada buku register perceraian.9 Kepada mereka yang mengakhiri perkawinannya akan diberikan akta perceraian sebagai bukti berakhirnya perkawinan mereka. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak lain. Selanjutnya dalam Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan disebutkan beberapa hal akibat hukum putusnya perkawinan yang dikarenakan oleh perceraian : a. b. d. e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri.tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya. c.

semata-mata berdasarkan kepentingan anak. 10 Pasal di atas memberikan pengertian bahwa : a.anak-anaknya. Pengadilan dapat menentukan bahwa isteri ikut memikul biaya tersebut. b. yaitu: a. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri. b. semata-mata berdasarkan kepentingan anak. bilamana dalam kenyataan suami tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/ atau menentukan kewajiban bagi bekas isteri. 8 . b. bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak . Mantan suami atau isteri berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak. Pengadilan memberi keputusan. Kemudian dalam Pasal 209 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan beberapa alasan yang mengakibatkan terjadinya perceraian. Mantan suami bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. bilaman bapak dalam kenyataannya tidak dapat memberi kewajiban tersebut pengadilan dapat menentukan bahwa ikut memikul biaya tersebut. c. zinah. c. meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad jahat 10 Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Pengadilan memberikan keputusan.

Cerai gugat diajukan oleh istri yang petitumnya memohon agar Pengadilan Agama memutuskan perkawinan Penggugat dengan Tergugat. nafkah anak. nafkah iddah dan harta bersama suami istri. penghukuman dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau dengan hukuman yang lebih berat.c. atau sehingga mengakibatkan luka-luka yang membahayakan. Perceraian dapat terjadi karena talak dan gugatan perceraian. Dalam perkara cerai gugat. akan tetapi talak dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku pada gugat 9 . dapat diajukan bersama-sama dengan cerai gugat. riddah (keluar dari agama Islam). nafkah istri. begitu pula suami yang mengajukan rekonvensi dapat pula mengajukan gugatan provisi tentang hal-hal yang diatur dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. suami dapat mengajukan rekonvensi mengenai penguasaan anak dan harta bersama. Pemeriksaan dan penyelesaian cerai gugat yang diajukan istri atas dasar alasan suami zina. melukai berat atau menganiaya. Selama proses pemeriksaan cerai gugat sebelum sidang pembuktian. istri dalam gugatannya dapat mengajukan gugatan provisi. Cerai talak yang diajukan oleh suami yang telah. Cerai talak diajukan oleh pihak suami yang petitumnya memohon untuk diizinkan menjatuhkan talak terhadap istrinya. produk putusannya bukan memberikan izin kepada suami untuk mengikrarkan talak. Gugatan hadhanah. mut'ah. dilakukan oleh si suami atau si isteri terhadap isteri atau suaminya. d. yang diucapkan setelah perkawinan. yang demikian sehingga membahayakan jiwa pihak yang dilukai atau dianiaya. Mengenai Talak telah diatur dalam Pasal 117-122 KHI yang menentukan talak adalah ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan.

untuk kepentingan keluarga yang ditinggalkan. baik itu karena suami yang menjatuhkan cerai (talak). hukum adat dan hukum-hukum positif yang lain. Dalam hal perkawinan putus karena perceraian. Putusnya perkawinan atas putusan pengadilan juga bisa terjadi karena adanya permohonan dari salah satu pihak suami atas istri atau para anggota keluarga yang tidak setuju dengan perkawinan yang dilangsungkan oleh kedua calon mempelai. perkawinan yang putus karena perceraian dianggap sah apabila diucapkan seketika oleh suami. karena adanya seseorang yang meninggalkan tempat kediamana bersama.cerai biasa. Putusnya Perkawinan atas Putusan Pengadilan dapat terjadi apabila dilakukan di depan Pengadilan Agama. Putusnya Perkawinan karena Putusan Pengadilan Putusnya perkawinan karena putusan pengadilan dapat terjadi. bagi suami-isteri. 3. sehingga perlu diambil langkah-langkah terhadap perkawinan orang tersebut. harta kekayaan perkawinan maupun bagi anakanak yang dilahirkan dalam perkawinan tersebut. namun harus tetap dilakukan di depan pengadilan. atau atas dasar putusan Pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap bahwa suaminya melakukan tindak pidana zina. Akhirnya Perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan. Penjelasan pasal tersebut menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “hukumnya masing-masing” adalah hukum agama. maka harta diatur menurut hukumnya masing-masing. Atas permohonan ini pengadilan memperbolehkan perkawinan yang telah berlangsung dengan alasan bertentangan dengan syara’ atau perkawinan tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan baik dalam UndangUndang perkawinan maupun menurut hukum agama. Meskipun dalam agama Islam. Tujuannya adalah untuk melindungi 10 . yaitu dilakukan pembuktian dengan saksi atau sumpah pemutus. ataupun karena isteri yang menggugat cerai atau memohon hak talak sebab sighat taklik talak. Perceraian membawa akibat yang luas bagi perkawinan.

maka ketentuan ini berlaku juga bagi mereka yang beragama Islam. 1 tahun 1974 bersifat tungga. Dalam pasal 39 ayat 1 disebutkan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan. dalam umur berapapun juga. maka perceraian harus melalui saluran lembaga Pengadilan. Walaupun perceraian itu adalah urusan pribadi baik atas kehendak bersama maupun kehendak salah satu pihak yang seharusnya tidak perlu adanya campur-tangan dari Pemerintah. & tahun 1989 tentang Peradilan Agama). sedangkan bagi pemeluk agama non Islam proses dan penyelesaiannya dilakukan di depan Pengadilan Negeri. Artinya. walaupun telah terjadi perceraian. tidak berubah menjadi perwalian seperti pengaturan dalam KUH Perdata (pasal 298. guna membiayai pemeliharaan dan pendidikan itu. berwajib menaruh kehormatan dan kesegaran terhadap bapak dan ibunya. Terhadap anak-anak yang telah 11 . Dan harus diterima oleh para pihak. Sehubungan dengan adanya ketentuan bahwa perceraian harus dilakukan di depan sidang Pengadilan.segala hak dan kewajiban yang timbul sebagai akibat hukum perceraian itu. Kehilangan hak untuk memangku kekuasaan orang tua atau untuk menjadi wali tak membebaskan mereka dari kewajiban. semata-mata berdasarkan kepentingan anak. setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha mendamaikan kedua belah pihak. memberi tunjangan-tunjangan dalam keseimbangan dengan pendapatan mereka. Perceraian bagi pemeluk agama Islam proses dan penyelesaiannya dilakukan di depan Pengadilan Agama (Undangundang N0. Ketika suatu saat ada perselisihan mengenai hak penguasaan atas anak.11 11 Pasal 298 “Tiap-tiap anak. namun demi menghindarkan tindakan sewenangwenang terutama dari pihak suami dan juga demi kepastian hukum. Akibat perceraian baik bapak atau ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. maka Pengadilan akan memberikan keputusannya. 299). Dalam hal ini kekuasaan orang tua menurut Undang-undang No. kekuasaan orang tua atas anak yang masih di bawah umur tetap berjalan. Si bapak dan si ibu keduanya berwajib memelihara dan mendidik sekalian anak mereka yang belum dewasa. Walaupun pada dasarnya hukum Islam tidak menentukan bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan sidang Pengadilan namun karena ketentuuan ini lebih banyak mendatangkan kebaikan bagi kedua belah pihak maka sudah sepantasnya apabila orang Islam wajib mengikuti ketentuan ini.

apabila bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. pengadilan dapat menentukan bawhwa ibu ikut memikul biaya tersebut. sekadar mereka tidak dibebaskan atau dipecat dari kekuasaan itu” 12 .Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat atau berdasarkan pertimbangan bahaya yang mungkin ditimbulkan. tiap-tiap anak. Pengadilan dapat mengizinkan suami-isteri tersebut untuk tidak tinggal dalam satu rumah. sampai ia menjadi dewasa. Pengadilan dapat:  Menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami. dewasa. Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan / atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isterinya (pasal 41) Perwalian tidak timbul setelah terjadinya perceraian. tetap bernaung di bawah kekuasaan mereka. pewalian menurut Undang-undang Perkawinan ialah bagi anak yang belum mencapai usia genap 18 tahun atau belum melangsungkan perkawinan. yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua.  Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin terpeliharanya barangbarang yang menjadi hak bersama suami-isteri atau barang-barang yang menjadi hak isteri (pasal 24 PP No. Mereka yang di bawah kekuasaan orang tua adalah anak sah yang belum genap berumur 18 tahun.  Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak. berlakulah ketentuan-ketentuan tercantum dalam bagian ketiga bab ini” Pasal 299 “Sepanjang perkawinan bapak dan ibu. 9 tahun 1975) Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu.

sayang-menyayangi dan saling menjaga satu sama lainnya. Untuk mangaktualisasikan berkah dari Tuhan yang berupa nafsu dan fikiran ini manusia bisa merealisasikannya dengan saling cinta-mencintai. Dalam hubungannya antara manusia yang satu dan manusia yang lain tentu harus ada norma-norma atau nilai-nilai yang harus 13 .BAB IV SIMPULAN DAN SARAN Pada hakekatnya setiap manusia memiliki nafsu dan akal fikiran.

dan 3. 2. tetapi alangkah lebih baiknya kalau permasalahan itu masih bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Dan hal itu disebabkan oleh para pihak sendiri maupun oleh pihak lain. Karena kematian adalah hak prerogatif Tuhan. Filsafat Hukum Kewarisan Islam. Namun suatu saat dalam hubungan keluarga pasti ada saja yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. jangan pernah berfikiran Pemutusan perkawinan adalah jalan satu-satunya. UII Press. Kecuali memang perkawinan itu putus disebabkan oleh kematian. Manusia tidak lantas bebas berbuat apa saja dengan manusia yang lain. Yogyakarta. Perkawinan perkawinan dapat putus dikarenakan tiga hal. Atas Keputusan Pengadilan. Kematian. Dan kemudian mendaftarkan perkawinannya tersebut sehingga perkawinan tersebut memperoleh kepastian hukum. Kita tidak bisa menolaknya. Konsep Kewarisan Bilateral Hazairin. yaitu : 1. BAB V DAFTAR PUSTAKA Abdul Ghofur Anshori. untuk dapat dikatakan atau diakui dalam hubungannya sebagai suami dan isteri. Meskipun dalam suatu perkawinan kelak akan terjadi banyak masalah. Sebagai contoh. Perceraian. Tahun 2005 14 . Baik dari segi agama maupun dari segi hukum. manusia harus mensahkannya dengan perkawinan. Perkawinan bisa saja putus di tengah jalan.dipatuhi.

hal. 103 Soimin.H. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 15 . Soedaryo. Ibnu’I Humam Fat-hu’I Qadir jilid II hlm 357. razi. Penerbitan Bulan Bintang Jakarta. Drs.Hukum Orang dan Keluarga. S.1992.Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Tahun 2004. Kitaabu’l Fiqh ala mazahibi’l Arbaah jilid IV Mochtar.Jakarta:Sinar Grafika. Tafsir Fakhru’r Razi jilid III hlm 189. Soemiyati. Cetakan pertama 1974. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. Fakhru’r.Abdur Rahman Al Jazairi.Kamal. Liberty. Yogyakarta. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijke Wetboek / BW) Ny.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->