P. 1
Contoh Proposal Ptk 1

Contoh Proposal Ptk 1

|Views: 1,017|Likes:
Published by Fauzan Sam

More info:

Published by: Fauzan Sam on Nov 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

A.

JUDUL PENELITIAN: Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa melalui Metode Bermain Peran pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 3 Padang B. BIDANG KAJIAN : Strategi Pembelajaran C. PENDAHULUAN Kemampuan berbahasa Indonesia merupakan kemampuan yang essensial bagi kehidupan manusia Indonesia. Tanpa menguasai bahasa Indonesia, warga negara Indonesia tidak akan mampu mengembangkan dirinya dan berperan serta dalam laju pembangunan bangsa, sebab bahasa utama untuk keperluan berkomunikasi adalah bahasa Indonesia. Di samping itu, seluruh informasi yang terkait dengan hal-hal formal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga menggunakan bahasa Indonesia. Urgensi pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia telah menempatkan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran wajib di SMK. Mata pelajaran ini harus ditempuh siswa semenjak kelas X s.d. kelas XII. Tujuan pembelajaran bahasa, Indonesia disesuaikan dengan esensi berbahasa sebagai kegiatan komunikasi. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa Indonesia mencakup pembelajaran keterampilan berkomunikasi yang terdiri atas menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Depdiknas, 2006). Keempat keterampilan tersebut hendaknya dikuasai siswa secara memadai. Salah satu keterampilan berbahasa Indonesia yang fungsional adalah keterampilan berbicara. Hal ini bukan hanya dikarenakan aktivitas siswa dalam mengikuti seluruh mata pelajaran pasti terkait dengan keterampilan siswa berbicara, tetapi juga dikarenakan oleh kepentingan kelembagaan. Artinya, tujuan. utama pendidikan di SMK Bisnis seperti SMK Negeri 3 Padang adalah menyiapkan tenaga siap pakai yang

1

2 memiliki keterampilan memadai untuk terlibat dalam dunia bisnis. Pada. kenyataannya, tidak ada satu jenis pun lapangan bisnis yang tidak menuntut kepemilikan keterampilan berbicara orang yang terlibat dalam dunia tersebut. Hal ini juga dikemukakan dalam penjelasan latar belakang pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), yaitu sebagai berikut ini. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran wajib. Melalui penguasaan kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia, peserta didik diarahkan, dibimbing, dan dibantu agar mampu berkomunikasi bahasa Indonesia secara baik dan benar. Pada era global, penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar merupakan syarat mutlak di dunia kerja. Kutipan di atas mengisyaratkan bahwa pembinaan keterampilan berkomunikasi, termasuk di dalamnya keterampilan berbicara bahasa Indonesia merupakan suatu keharusan. Oleh sebab itu, pengembangan dan pembinaan keterampilan berbicara bagi siswa SMK Negeri 3 Padang merupakan sesuatu yang sangat essensial. Sesuai dengan pengalaman di lapangan dalam membina keterampilan siswa kelas I SMK Negeri 3 Padang untuk berbahasa Indonesia melalui pelaksanaan mata pelajaran bahasa Indonesia, diidentifikasikan empat permasalahan yang terkait. Deskripsi singkat permasalahan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, siswa cenderung tidak memiliki keberanian yang memadai untuk mengunjukkan keterampilan berbicaranya ketika diberi tugas untuk menjawab pertanyaan lisan, menanggapi, dan mengajukan pertanyaan. Jika dipersentasekan, rata-rata siswa yang berani mengunjukkan keterampilan berbicaranya hanya 10 s.d 15%. Kedua, dalam berbicara ketika PBM bahasa Indonesia, siswa cenderung mencampuradukkan diksi bahasa Indonesia dengan bahasa daerah (bahasa, Minangkabau). Kecenderungan ini mengakibatkan komunikasi siswa-siswa dan siswa-guru tidak lancar.

sistem sintaktis bahasa Indonesia siswa dalam PBM cenderung tidak sesuai dengan kaidah sintaksis bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata satu dalam tuturan siswa itu cenderung dipengaruhi sistem sintaksis bahasa Minangkabau. dan (4) mengunjukkan kemampuan berbicara yang orisinil. Bu!" Berdasarkan hasil refleksi. Sebagai contoh. Metode pembelajaran tersebut hendaknya membuka peluang seluas-luasnya bagi siswa untuk (1) berinteraksi dengan siswa lain. Ketiga. gagasan.3 Ketiga. Indonesia cenderung belum standar. (2) berpusat pada pemecahan masalah komunikasi dalam kehidupan nyata. Kelima. Indonesia yang baik. bahasa. Pertama. siswa kurang diberi kebebasan untuk menyampaikan ide. atau emosinya dalam berbicara. tetapi sesuai dengan . pembelajaran keterampilan berbicara cenderung tidak dikaitkan dengan pembelajaran berinteraksi dengan mitra-tutur lain. /empat/. Sebagai contoh siswa cenderung mengucapkan. /enam/. Keempat. dirasa sangat mendesak untuk diadakan pembaharuan dalam metode pembelajaran keterampilan berbicara melalui penelitian tindakan kelas. siswa kurang diberi motivasi untuk mengunjukkan keterampilan berbicaranya. spontan. pembelajaran keterampilan berbicara cenderung tidak dikaitkan dengan pemecahan masalah yang bersifat orisinal. diperkirakan lima penyebab kekurangmampuan siswa berbicara dalam mengikuti PBM bahasa. siswa cenderung memvokalkan e keras yang seharusnya e lemah seperti dalam kata /mengapa/. Indonesia. sesuai dengan kemampuan dan minat siswa. (3) mengembangkan simpati dan empati dalam berkomunikasi. Berdasarkan hasil pengamatan dan refelksi di atas. baik dalam kelompok kecil maupun besar. dan sebagainya. pengucapan siswa dalam berbicara bahasa. pembelajaran keterampilan berbicara cenderung tidak mengembangkan rasa senang siswa mengikuti PBM. belum sesuai dengan pengucapan. "Tanyo ciek. Kedua. Keempat. "Tanya satu Bu!".

(2) peranan siswa dalam komunikasi. bentuk kata.4 lafal. 2007). Lingkungan mikro terdiri dari (1) tonjolan (salience). Lingkungan makro ialah (1) kealamian bahasa yang didengar. dkk dalam Language Two. Hal ini sesuai dengan tuntutan rumusan kompetensi dasar (KD) dalam KTSP SMKN 3 Padang Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. yaitu (1) melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat. “Apakah melalui metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas X-1 Jurusan Akutansi SMKN 3 Padang ?” Yang dimaksudkan keterampilan berbicara dalam penelitian ini adalah keterampilan berbicara bahasa Indonesia dalam konteks pembelajaran. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pendahuluan. diksi. . lancar. khususnya bahasa kedua dan bahasa asing. tepat. dan santun. intonasi. (2) balikan (feedback). dan (4) mengucapkan kalimat dengan jelas. Menurut Sumarsono (1999). (3) menggunakan kalimat yang baik. dan struktur sintaksis bahasa Indonesia. Berbicara bahasa Indonesia dalam konteks pembelajaran tidak sama dengan berbicara bahasa Indonesia dalam konteks sehari-hari atau di luar kelas. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH 1. yang mengutip pendapat Heidy Dulay. yaitu. diajukan rumusan permasalahan penelitian tindakan kelas ini. dan (3) frekuensi. ada empat lingkungan makro dan tiga lingkungan mikro yang bisa berpengaruh dalam pembelajaran bahasa. dan santun (KTSP SMKN 3 Padang. jeda. D. (2) memilih kata. bernalar. dan ungkapan yang tepat. dan (4) siapa yang menjadi model bahasa sasaran. (3) ketersediaan alat acuan untuk memperjelas makna. Metode pembelajaran yang memungkinkan hal-hal tersebut adalah bermain peran.

penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran keterampilan berbicara mampu memaksimalkan adanya lingkungan makro karena (1) bahasa yang digunakan siswa merupakan bahasa Indonesia yang akademis-alami sebab diungkapkan siswa secara spontan berdasarkan hasil pemecahan masalah. dan (4) acuan model berbahasa adalah guru dan pengalaman siswa. Metode-metode tersebut dilandasi oleh teori pembelajaran yang mengacu pada tiga prinsip. Sumbang saran dan diskusi tersebut mengandung tonjolan (salience). (3) kejelasan makna dapat dikembangkan sesuai dengan reaksi mitratutur ketika siswa bermain peran. Henry Guntur Tarigan (1990:295) menyatakan bahwa materi pembelajaran bahasa hendaknya memungkinkan penerapan metode- . Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Pemecahan Masalah Menurut Henry Guntur Tarigan (1990:285) metode pembelajaran bahasa yang relevan dengan hakikat bahasa adalah meto-de-metode pembelajaran bahasa komunikatif.5 Relevan dengan teori tersebut. balikan (feedback). Prinsip-prinsip tersebut adalah (1) prinsip komunikasi: kegiatankegiatan atau aktivitas-aktivitas yang melibatkan komunikasi nyata mampu mengembangkan proses pembelajaran. (b) prinsip tugas: kegiatan-kegiatan atau aktivitasaktivitas tempat dipakainya bahasa untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna mampu mengembangkan proses pembelajaran. 2. (2) masing-masing siswa memiliki dan mengunjukkan peran aktif tertentu sesuai dengan perannya masing-masing. dan (c) prinsip kebermaknaan: bahasa yang bermakna bagi pembelajar turut mengem-bangkan proses pembelajaran. dan penguatan frekuensi (frequence). sumbang saran serta diskusi yang dikembangkan guru—siswa setelah penerapan metode bermain peran juga merupakan contoh lingkungan mikro berbahasa yang kondusif. Selain itu.

Metode-metode tersebut mencakup metode permainan. yaitu memikirkan. langkah-langkah pembelajaran hingga pengevaluasian dan pemberian umpan-balik. (3) menggunakan kalimat yang baik. dapat dirumuskan tahap pembelajaran keterampilan berkomunikasi. (2) memilih kata. Berdasarkan uraian di atas. lancar. dan ungkapan yang tepat. dan (4) mengucapkan kalimat dengan jelas. Tahap ketiga adalah perumusan makna: siswa memaknai dan memerankan tokoh serta membawakan dialog-dialog yang sesuai dengan peran maupun kasus yang akan dimainperankan. Persentase keberhasilan terhadap capaian empat indikator utama tersebut adalah 75%. Tahap pertama adalah tahap komunikasi awal: guru dan siswa merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran. materi. tepat. kegiatan bermain peran ditindaklanjuti melalui sumbang-saran dan diskusi kelas berkaitan dengan pencapaian indikator pembelajaran yang sekaligus menjadi indikator keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini. termasuk di dalamnya keterampilan berbicara.6 metode yang relevan dengan tugas komunikasi. termasuk merancang dialog-dialog yang akan digunakan. Indikator keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini disesuaikan dengan rumusan-rumusan kompetensi dasar dalam KTSP SMKN 3 Padang Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas X. Tahap kedua adalah tahap penugasan: siswa menyepakati tugas komunikatif. dan santun. bentuk kata. merancang. dan komunikasi pasangan. dan santun. bermain peran. Pada tahap pemaknaan ini. yaitu (1) melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat. . adalah sebagai berikut. simulasi. dan menyiapkan pemeranan sesuai dengan kasus yang akan dimainperankan. bernalar.

TUJUAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) ini bertujuan untuk: a) Meningkatkan keterampilan siswa SMKN 3 Padang dalam berbicara dalam pembelajaran bahasa Indonesia. 2007) dikemukakan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia dimaksudkan agar siswa mampu menghadapi tantangan masa depan. MANFAAT HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pihak-pihak berikut ini. khususnya siswa-siswa SMKN 3 Padang untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa Indonesia. khususnya SMKN 3 Padang. F. KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA 1. untuk dapat meningkatkan keprofesionalan guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dan kemampuan siswa dalam berbicara. kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu sya- . terutama mengajarkan keterampilan berbicara. G. b) Meningkatkan kreativitas siswa SMKN3 Padang dalam berbicara dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia Dalam uraian latar belakang KTSP SMKN 3 Padang Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (SMKN 3 Padang. 1) Bagi siswa-siswa. Untuk menghadapi tantangan masa depan. 3) Bagi lembaga. 2) Bagi guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. khususnya peneliti sendiri untuk meningkatkan kinerjanya dalam mengajar.7 E.

Relevan dengan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. (8) setiap alat bantu para pembelajar diterima dengan baik. (10) penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima bila memang layak. (3) kontekstualisasi merupakan premis utama. (9) segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak awal. (6) latihan penubian (dril) diperbolehkan. Karena itu. (11) terjemahan boleh digunakan kalau dibutuhkan siswa atau mereka benar-benar memperoleh keuntungan dari itu. dikembangkan. atau makna yang memperbesar minat.8 rat keberhasilan bekerja. fungsi. (15) variasi linguistik merupakan konsep inti dalam pengurutan ditentukan oleh pertimbangan mengenai materi dan metodologi. pelajaran bahasa Indonesia dirancang. 1986:67) mengemukakan ciri-ciri pendekakatan komunikatif dengan mempertentangkannya dengan Metode Audiolingual yang tujuannya adalah untuk menjelaskan konsep pendekatan komunikatif itu. (4) belajar bahasa berarti berkomunikasi. yaitu memnumbuhkembangkan keterampilan berkomunikasi. (13) sistem linguistik bahasa target akan dapat dipelajari dengan sangat baik melalui usaha berkomunikasi. Brumfit dan Finocchiaro pada tahun 1983 (dalam Richards & Rodgers. (12) membaca dan menulis dapat dimulai sejak awal bila diinginkan. (5) komunikasi efektif dianjurkan. (17) guru menolong para pembelajar sedemikian rupa sehingga . serta diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik mampu berkomunikasi di dunia kerja secara efisien dan efektif. Ciri-ciri pendekatan komunikatif tersebut adalah sebagai berikut (1) makna merupakan hal yang terpenting. (7) ucapan yang dapat dipahami sangat diutamakan. (2) percakapan kalau digunakan harus berpusat di sekitar fungsi-fungsi komunikatif dan tidak dihafalkan secara normal. (14) kompetensi komunikatif merupakan tujuan. maka induk utama pendekatan pembelajaran bahasa adalah Pendekatan Komunikatif. tetapi jangan terlalu memberatkan. (16) isi.

lingkungan terdekat adalah lingkungan kelas. (2) berkeinginan agar bahasa yang digunakan selalu komunikatif. Jadi. lisan dan tulis.9 dapat mendorong mereka bekerja dengan bahasa itu. ketepatan dinilai dalam konteks bukan dalam keabstrakan. 1990: 201) mengemukakan bahwa ciriciri pembelajar sesuai dengan konsep pendekatan pembelajaran komunikatif adalah sebagai berikut: (1) selalu berkeinginan untuk menafsirkan sesuatu (tuturan bahasa) secara tepat. guru bukanlah penguasa tunggal dalam kelas. siswa dan lingkungan. Guru bukan satu-satunya pemberi informasi dan sumber belajar. dan (22) motivasi intrinsik akan muncul dari minat terhadap apa yang dikomunikasikan dengan bahasa itu. (3) pembelajar tidak merasa malu jika berbuat kesalahan dalam berkomunikasi. (19) kefasihan dan bahasa yang berterima merupakan tujuan utama. Berdasarkan konsep pendekatan komunikatif. Chandlin (dalam Tarigan. akan tetapi guru juga merupakan penerima informasi dari pembelajar. Rubin dan Thompson (dalam Tarigan. (20) para siswa diharapkan berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau pasangan. Sumber utama pembelajaran adalah guru. (18) bahasa diciptakan oleh individu sering melalui proses trial-error. (21) guru tidak dapat mengetahui secara tepat bahasa apa yang akan dipakai siswa. . (4) selalu menyesuaikan bentuk dan makna dalam berkomunikasi. (5) frekuensi latihan berbahasa relatif tinggi. yaitu (a) pemberi kemudahan dalam proses komunikasi antara sesama partisipan dalam kelas. pembelajaran didasarkan atas multisumber atau berbagai sumber belajar yang dapat didayagunakan. dan (6) selalu memantau ujarannya sendiri dan ujaran penutur lain untuk mengetahui apakah pola-pola bahasa yang dilahirkan tersebut berterima dalam masyarakat bahasa. 1990: 201) menyebutkan dua peran guru dalam proses belajar mengajar berdasarkan pendekatan komunikatif.

Berdasarkan uraian di atas. termasuk di dalamnya keterampilan berbicara. Kedua. 2. keterampilan berkomunikasi itu mencakup menyimak. Keterampilan berbahasa ini didahului oleh keterampilan menyimak. Pada masa anak-anak sebelum mereka terampil berbicara. dan pembelajar dalam proses belajar tersebut. dan pada saat ini pulalah keterampilan berbicara atau keterampilan berujar dipelajari/dimulai. dan pembelajaran lebih banyak dilakukan secara berkelompok karena kelompok akan memicu aktivitas komunikasi.10 dan antara patisipan dengan kegiatan pembelajaran serta teks atau materi. mereka lebih banyak mendengarkan/menyimak bunyi bahasa yang keluar dari mulut orang tua dan keluarganya. yaitu mengemban fungsi dan peran tertentu dalam berkomunikasi. Ketiga. yaitu sebagai pengorganisasi. peneliti. Pertama. berbicara. sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa. Pembelajaran Keterampilan Berbicara Berbicara merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. dan (b) sebagai partisipan mandiri dalam kelompok belajar mengajar. disimpulkan hal-hal berikut. materi pembelajaran bukan tujuan terpenting karena yang penting adalah penumbuhkembangan keterampilan berkomunikasi. membaca. pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk menumbuhkembangkan keterampilan siswa berkomunikasi. pembimbing dalam prosedur dan kegiatan pembelajaran. Implikasi dari kedua peran di atas menimbulkan peran-peran kecil lainnya. Pembelajaran empat keterampilan tersebut bersifat saling mempengaruhi dan saling terkait. Berbicara adalah keterampilan berbahasa yang berkembang pada diri manusia semenjak anakanak. dan menulis. Dalam pendekatan ini. Kalau . kedudukan antara guru – siswa relatif sama. maka pendekatan yang lazim digunakan adalah pendekatan komunikatif.

. Setelah anak dewasa. Lebih jauh lagi. Kedua keterampilan berbahasa ini biasanya dimiliki oleh anak melalui proses pembelajaran di sekolah. semantik. maka si anak tentulah satu-satu akan mengucapkan bunyi bahasa Indonesia pula. berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktorfaktor fisik. apakah pembicara memahami atau tidak. gagasan dan perasaan. Ketepatan melafalkan dan perkembangan kosa kata yang diperoleh anak dipengaruhi oleh kemampuan atau daya simak anak. Jika dalam keseharian orang tua dan keluarganya menggunakan bahasa Indonesia. maka kemampuan berbahasa berikutnya yang mereka miliki adalah membaca dan menulis. dan linguistik sedemikian ekstensif. Serta apakah pembicara dapat menyesuaikan diri/tidak ketika menyampaikan gagasannya. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan/ide-ide yang dikombinasikan. Berbicara merupakan suatu alat untuk menyampaikan gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar/penyimak. Berbicara sangat erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan menyimak anak. neurologis. serta menyampaikan pikiran. Menurut Tarigan (1983: 15) berbicara adalah kempuan mengucapkan bunyibunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan.11 yang mereka dengan setiap saat dari orang tua dan keluarganya adalah bunyi bahasa ibu. menyatakan. baik bahan pembicaraan maupun penyimaknya. psikologis. Berbicara bukanlah sekedar mengucapkan bunyi-bunyi atau kata-kata. maka si anak pun akan pandai satu-satu mengucapkan bunyi bahasa ibunya tersebut. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung.

Seorang pembicara mungkin menghendaki beberapa macam tindakan/reaksi fisik dari para pendengar. mengajak. Sebagai alat sosial ataupun sebagai alat perusahaan. pembicara berusaha untuk mempengaruhi keyakinan atau sikap mental/intelektual para pendengar untuk tujuan meyakinkan.12 secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial. dan (5) menyenangkan. menyakinkan. Dengan demikian reaksi yang diharapkan dari pendengar adalah timbulnya persesuaian pendapat atau keyakinan dan kepercayaan. maupun profesional maka pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum (Tarigan. Ketiga tujuan tersebut adalah (1) memberitahukan. (3) berbuat dan bertindak. menghibur. (4) memberitahukan. (2) menjamu. Menurut Keraf (1980:320). Reaksi/tindakan yang diharapkan dapat berbentuk “ya” atau . karena itu biasanya disertai bukti-bukti. Alat yang esensial dari pembicaraan ini adalah argumentasi. Kalau pembicaraan yang bertujuan umum menyakinkan. fakta-fakta dan contoh-contoh yang konkrit. melaporkan. mendesak. Setiap orang yang berbicara tentu punya tujuan yakni menyampaikan pikiran dan perasaan secara efektif (tujuan umum). Maka seyogyanyalah pembicara memahami benar segala sesuatu yang ingin disampaikan. (2) menyakinkan. Reaksi-reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan ilham/membakar emosi para pendengar. jika pembicara berusaha untuk memberi semangat. Mendorong. tujuan seseorang berbicara adalah (1) mendorong. 1983:16). serta (3) membujuk. membangkitkan kegairahan atau menekan perasaan yang kurang baik. serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian. Pembicara juga harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengaran sesuai dengan tujuan perorangan/pembicara (tujuan khusus).

dengan tujuan menyenangkan. pembicaraan seperti ini termasuk pembicaraan yang bersifat rekreatif. Pembicaraan yang bertujuan menyenangkan adalah pembicaraan dengan maksud menggembirakan orang yang mendengarkan pembicaraannya. Pembicaraan seperti ini biasanya terdapat pada jamuan-jamuan. Dasar dari tindakan tersebut adalah keyakinan yang mendalam atau terbakarnya emosi. atau perayaan-perayaan dan pertemuan gembira lainnya. pembicaraan dosen.13 melakukan sesuatu sesuai isi pembicaraan. Oleh karena itu dalam garis besarnya uraian semacam ini dapat berjalan sejajar dengan maksud umum pertama dan kedua di atas. Kesegaran dan orisinalitas memainkan pula peranannya dalam pembicaraan ini. Misalnya. menambah pengetahuan mereka tentang hal-hal yang kurang atau belum diketahui. Reaksi yang diharapkan dari jenis uraian ini adalah agar para pendengar mendapat pengertian yang tepat. . Reaksi-reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan minat dan kegembiraan pada hati pendengar. guru atau ahli yang menjelaskan cara menggunakan sesuatu. Jenis atau sifat pembicaraan ini adalah pembicaraan instruktif atau mengandung ajaran. Dengan demikian. Humor merupakan alat yang penting dalam penyajian lisan ini. ketiga jenis tujuan berbicara di atas disebut sebagai jenis pembicaraan/komposisi peruasif yang artinya tidak lain dari “membujuk/ mendorong”. Lain halnya dengan tujuan memberitahukan. pesta-pesta. karena pembicara ingin memberitahukan/menyampaikan sesuatu kepada pendengar agar mereka dapat mengerti tentang sesuatu hal atau memperluas bidang pengetahuan mereka. Oleh sebab itu. atau kedua-duanya.

14 Pelaksanaan suatu kegiatan berbicara didasari oleh delapan hal (Tarigan. Bahkan andaikata pun dipergunakan dua bahasa. Daerah itu mungkin tidak selalu mudah dikenal/ditentukan. 6) Berhubugan dengan masa kini. 5) Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada ling-kungannya dengan segara. Kedua pihak partisipan yang memberi dan menerima dalam pembicaraan saling bertukar sebagai pembicara dan penyimak. Atau oleh seseorang yang meninjau kembali pernyataan banknya. . 4) Merupakan suatu pertukaran antara partisipan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut ini. bahwa pita atau berkas itu telah mungkin berbuat demikian. namun pembicaraan menerima kecende-rungan untuk menemukan satu di antaranya. tentu saja merupakan salah satu kenyataan keunggulan budaya manusia. dan sebaliknya. 2) Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami bersama. namun saling pengertian. Hanya dengan bantuan berkas grafik material. Perilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dengan responsi yang nyata atau yang diharapkan dari sang penyimak. 1) Membutuhkan paling sedikit dua orang. pemahaman bersama itu tidak kurang pentingnya. 1983: 16). Tentu saja pembicaraan dapat dilakukan oleh satu orang dan hal ini sering terjadi. misalnya oleh orang yang sedang mempelajari bunyi-bunyi bahasa serta maknanya. bahasa dapat luput dari kekinian dan kesegeraan. 3) Menerima/mengakui suatu daerah referensi umum. Hal ini dapat dijadikan sebagai landasan penyusunan prinsip umum pembelajaran keterampilan berbicara.

suatu badan. namun sebaliknya tidak akan terjadi. perlu dipedomani bahwa pembelajaran berbicara adalah pembelajaran berkomunikasi. atau suatu organisasi. perlu dicermati apa dan bagaimana sebenarnya proses komunikasi tersebut. Sumber berita ini dapat perorangan. yakni pihak yang menyampaikan berita atau pesan. Komunikasi akan berhasil apabila mempunyai unsurunsur sebagai berikut. Berita dapat disampaikan secara langsung oleh komunikator kepada komunikan/resipiens melalui proses penyajian lisan yang disebut berbicara. dan disebut sebagai sumber berita. demikian menurut Brooks. kelompok. Suatu proses komunikasi akan terlaksana apabila komponen/unsur-unsur komunikasi ada di dalamnya. 8) Secara tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil. Oleh sebab itu. . Dan juga pesan dapat disampaikan secara tidak langsung oleh komunikator kepada komunikan/resipiens secara tertulis. kecuali bagi pantomim/gambar. Walaupun kegiata-kegiatan dalam pita audio-lingual dapat melepaskan gerak visual dan grafik materi. Keseluruhan lingkungan yang dapat dilambangkan oleh pembicaraan mencakup bukan hanya dunia nyata yang mengelilingi para pembicara tetapi secara tidak terbatas dunia gagasan yang lebih luas harus mereka masuki karena mereka dan manusia berbicara sebagai titik pertemuan kedua wilayah ini memerlukan penelaahan.15 7) Hanya melibatkan perlengkapan yang berhubungan dengan bunyi bahasa dan pendengaran. Selain itu. 1) Komunikator.

yakni alat yang digunakan untuk menata pesan yang disampaikan oleh komunikator dan untuk menata pesan yang sampai pada komunikan/resipiens. . kode-kode isyarat. telegram. gerak-gerik (mimik dan pantomimik). berita. buletin. komunikan/resipiens akan berusaha menafsirkan pesan yang disampaikan kepadanya sesuai dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki. 3) Media. berita. surat. mimik dan ekspresi. agar apa yang dimaksud komunikator sama dengan yang diterima/dipahami komunikan/resipiens. 4) Komunikan. Warta. telepon. dan bahasa. surat kabar.16 2) warta. yang ditunjang oleh gerakan. Sarana ini dapat berupa radio. komunikator diharapkan mampu menyesuaikan bahasa yang digunakannya dengan tingkat kemampuan berbahasa resipiensnya. Alat untuk menata pesan tersebut tentunya bahasa yang digunakan dalam komunikasi tersebut. suara (sirine). adalah obyek/sasaran dari kegiatan komunikasi. televisi. merupakan sarana atau saluran yang dipergunakan sebagai tempat berlalunya lambang-lambang tersebut. oleh komunikator adalah kepada komunikan/resipiens. Dalam suatu komunikasi. baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Komunikan adalah pihak yang menerima pesan disebut juga sebagai recipient (resipiens). atau pesan tersebut dapat berupa lambang. Jadi kesempurnaan komunikasi lisan/berbicara disertai dengan Body Language (BL) atau bahasa tubuh. Oleh karena itu dalam proses komunikasi. majalah. pesan atau berita itu berupa lambang bahasa/ujaran-ujaran. atau pesan yang Pesan disampaikan (massage/komunike). Dan media juga dapat diartikan sebagai medium. Dalam komunikasi lisan/berbicara. Bahasa yang digunakan ini haruslah bahasa yang sama-sama dimengerti oleh kedua belah pihak.

Hal itu juga dikemukakan Ermawati Arief (2003: 217) bahwa teknik bermain peran sangat baik dalam mendidik siswa menggunakan ragam-ragam bahasa. dan berbahasa sesuai dengan peranan orang yang diperankannya.17 Berdasarkan uraian teori di atas. Pesan yang baik dirumuskan dalam bahasa yang baik dan terstruktur. orang tua. pembelajaran keterampilan berbicara membutuhkan faktor pemicu yang berupa masalah yang akan dikomunikasikan. siswa bertindak. mitrabicara. Setiap tokoh yang diperankan menuntut karakteristik tertentu pula. Salah satu metode yang memungkinkan terwujudnya halhal tersebut adalah bermain peran. Misalnya sebagai guru. Cara berbicara orang tua tentu berbeda dengan cara berbicara anak-anak. Fungsi dan peranan seseorang menuntut cara berbicara dan berbahasa tertentu pula. disimpulkan hal-hal sebagai berikut. serta tujuan yang jelas. 3. dan (2) siswa menirukan gaya tokoh yang diidentifikasikan dengan ucapan yang mirip atau sama. pembelajaran keterampilan berbicara berarti juga pembelajaran memahami dan menerapkan unsur-unsur komunikasi. dan menulis. situasi komunikasi. Metode Bermain Peran Menurut Suyatno (2004:119) tujuan penggunaan metode bermain peran ada dua. polisi. yaitu (1) siswa dapat memerankan tokoh tertentu dengan ucapan yang tepat. . Untuk itu siswa hendaknya mampu memahami dan menerapkan peran sebagai komunikator (pembicara) dan komunikan (penyimak) yang mampu mengolah pesan secara baik dan mendayagunakan media secara tepat. pembelajaran keterampilan berbicara terkait erat dengan pembelajaran keterampilan menyimak. membaca. dan sebagainya. Pertama. berlaku. Dalam bermain peran. sedangkan penggunaan media yang tepat adalah media tubuh dan alat-alat ucap. Ketiga. Kedua. Cara berbicara penjual berbeda pula dengan cara berbicara pembeli.

(2) diksi atau pilihan kata. masing-masing kelompok bermain peran. masing-masing kelompok mendiskusikan permasalahan yang diberikan guru.18 Yang dimaksudkan dengan metode bermain peran adalam penelitian tindakan kelas ini bukan semata-mata mengembangkan kemampuan siswa meniru tokoh yang diidentifikasikan. Tentu saja. dan sang kakak menghendaki adiknya bekerja di perusahaannya. Permasalahan siswa itu bertambah rumit jika ternyata sang bapak menghendaki anaknya melanjutkan kuliah di jurusan tertentu. minat. dan kondisi siswa. (3) stuktur sintaksis yang digunakan. termasuk juga merancang dialogdialog yang akan dikemukakan dalam bermain peran. kakak. kelompok bukan hanya mengidentifikasikan anggotaanggota sesuai dengan apa yang akan diperankan. kelompok yang lain mengamatamati berkaitan dengan: (1) jeda. melanjutkan kuliah. sang ibu menghendaki anaknya menikah. atau mungkin menikah karena sudah memiliki kekasih. misalnya permasalahan tentang apa yang akan dikerjakan seorang siswa SMK setelah menamatkan sekolah. Untuk memicu siswa memikiran dan memecahkan masalah. ibu. Tidak ada satu kelmpok pun yang sama dengan kelompok lain. misalnya tokoh anak (siswa SMK). Langkah keempat. Ketika satu kelompok bermain peran. Dalam bediskusi. . apakah akan terjun ke dunia kerja. Tentu saja. permasalahan tersebut disesuaikan dengan kemampuan. karena tidak ada dialog yang harus dihafal maka masing-masing kelompok didorong untuk mengembangkan kreativitasnya. Langkah berikutnya adalah membagi siswa dalam kelompok sesuai dengan tokoh yang diidentifikasikan. satu kelompok terdiri atas empat anggota. dan (4) kelancaran. dan bapak. Jadi. guru akan memberikan suatu permasalahan. dan intonasi. Langkah ketiga. pelafalan.

Langkah ketujuh adalah penarikan simpulan. METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN 1. kelompok lainmenampilkan main peran dan kelompok-kelompok lainnya mengamat-amati. Tahap Penerapan Metode Bermain Peran Tahap Memotivasi Siswa Tahap Pemecahan Masalah Tahap Penyajian Bermain Peran Tahap Sumbang Saran 5 Tahap Simpulan dan Refleksi H. Siswa kurang diberi kebebasan untuk menyampaikan ide. Rangkuman kerangka pemikiran penelitian tindakan kelas sesuai dengan permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut. Siswa tidak berkesempatan secara memadai untuk berinteraksi dengan siswa lain dalam pembelajaran.19 Langkah kelima adalah sumbang saran. Guru dan siswa merefleksikan pembelajaran hari itu. Siswa tidak mengembangkan rasa senang dan berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Akhirnya. atau emosinya dalam berbicara. No 1 2 3 4 Permasalahan Siswa kurang termotivasi untuk mengunjukkan keterampilan berbicaranya. Dalam langkah ini. Guru bersama-sama siswa mengomentari tuturan dan cara bertutur kelompok yang sudah tampil. kembali diadakan sumbang saran untuk mengomentari penggunaan tuturan dan bahasa yang digunakan kelompok yang tampil. Sesudah itu. guru bekerja sama dengan siswa menyimpulkan pembelajaran. Langlah keenam. sesuai dengan kemampuan dan minat siswa. Siswa tidak berkesempatan secara memadai untuk mengaitkan pemecahan masalah yang bersifat orisinal. Jenis Penelitian . gagasan. langkah kesembilan adalah penutup dan pemberian tugas untuk pertemuan pembelajaran berikutnya. Langkah kedelapan adalah refleksi. Komentar dikaitkan dengan empat indikator di atas.

3. yang diawali dari upaya menemukan fakta melalui pengamatan. Metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk meneliti status sekelompok manusia. melakukan tindakan. 1993: 63). merencanakan. kemudian menemukan dan mengevaluasi temuan. Secara teoretis. 2. faktual. Prosedur Penelitian Penelitian tindakan adalah suatu analisis. “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan. siswa-siswa di kelas ini seharusnya telah memiliki keterampilan berbicara secara memadai karena kompetensi dasar berbicara sudah dikembangkan semenjak di tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Jumlah siswa di kelas ini adalah 29 orang. Menurut Arikunto (2006: 3).20 Sesuai dengan tujuan penelitian. jenis penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Apabila temuan belum meyakinkan maka dilakukan daur . Dalam penelitian ini tujuan penelitian deskripstif adalah membuat gambaran atau tulisan secara sistematis. untuk mendeskripsikan keterampilan berbicara siswa kelas X-1 Jurusan Akutansi SMKN 3 Padang melalui penerapan metode bermain peran. suatu sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa (Nazir. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa siswa kelas X-1 Jurusan Akutansi SMKN 3 Padang. Metode penelitian deskriptif ini digunakan sesuai dengan tujuan penelitiannya yaitu. yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama”. suatu objek. dan akurat mengenai fakta serta hubungan antarfenomena yang diteliti. suatu set kondisi.

pengobservasian dan pengevaluasian proses dan hasil tindakan (observation and avaluation). pelaksanakan tindakan (actions). Siklus I Refleksi Perencanaan Pengamatan Pelaksanaan Siklus II Refleksi Perencanaan Pengamatan Pelaksanaan ? Gambar 1 Siklus Penelitian Tindakan a. Yang dimaksukan dengan . Keempat tahap itu terus diulang sampai peneliti meyakini sudah ada perubahan positif aspek yang diberi tindakan tersebut. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus (daur ulang) yang menyeluruh dan bertujuan untuk memperbaiki praktik kependidikan. Kasus-kasus tersebut dibagi menjadi dua. Gambaran tentang siklus tindakan tersebut adalah sebagai berikut ini.21 ulang sebagaimana semula. Daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan kelas diawali dengan pengamatan dan perencanaan tindakan (planning). Siklus 1 1) Perencanaan (1) Merancang dan menulis kasus-kasus yang akan dimainperankan dan instrumen penelitian. dan pelaksanakan refleksi (reflection). yaitu kasus yang sangat sederhana dan kasus tingkat menengah.

dan kakak. Yang dimaksudkan dengan kasus menengah adalah kasus yang melibatkan lebih dari 2 orang pemeran dan permasalahannya cukup rumut. kasus seorang tamatan SMK yang dihadapkan pada pilihan (1) mencari pekerjaan. . 2) Tindakan Pelaksanaan tindakan dalam kelas disesuaikan dengan siklus yang telah direncanakan. (3) (4) (5) Merevisi kasus serta instrumen yang telah diujicobakan. Kasus itu melibatkan siswa yang menamatkan SMK. Sebagai contoh. atau (3) mengambil kursus keterampilan singkat.22 kasus yang sederhana adalah kasus yang hanya melibatkan dua orang pemeran dan mengungkanpkan permasalahan sederhana misalnya tentang perbedaaan pandangan cara berpakaian antara ibu dan anak. ke-4. (2) Mengujicobakan kasus main peran dan instrumen penelitian di kelas lain yang setingkat. Masing-masing tokoh memiliki pandangan berbeda terhadap kelanjutan masa depan siswa tadi. Merancang keseluruhan tindakan kepengajaran sesuai dengan hasil langkah ke-1 s. Menyiapkan media pendukung seperti gambar. bapak. ibu. (2) melanjutkan kuliah.d. (1) Guru mengkomunikasikan tujuan pembelajaran.

(9) (10) Guru menyimpulkan hasil pembelajaran. Sementara itu. (3) struktur kalimat. baik dunia hiburan (seperti drama. . (3) Guru membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil (satu kelompok beranggotakan dua orang). Guru dan siswa mengadakan refleksi pembelajaran. (8) Guru dan siswa merumuskan hasil pembelajaran berkaitan dengan peng-gunaan (1) jeda. dan (4) kelancaran. (2) diksi. Siswa mendiskusikan kasus tersebut sekaligus menyiapkan dialog dan peme-ranan. film) maupun dalam dunia kerja.23 (2) Bertanya jawab dengan siswa tentang penggunaan keterampilan berbicara dalam dunia nyata. (4) (5) Guru memberikan kasus sederhana untuk didiskusikan kelompok. (7) Guru dan siswa mendiskusikan pemeranan yang ditampilkan kelompok. (6) Guru menugasi beberapa kelompok untuk menampilkan hasil diskusinya dalam bentuk bermain peran. dan pelafalan. sinetron. Siswa lain mengamat-amati sesuai dengan format pengamatan yang diberikan guru. kolaborator berperan serta untuk mengamat-amati dan mencatat proses pembelajaran (pemberian tindakan). intonasi.

(3) insiatif siswa. pelaksanaan siklus ke-1 dan ke-2 dirancang sama. tetapi kasus yang akan diperankan siswa merupakan kasus yang lebih kompleks. (12) Guru dan kolaborator merancang siklus ke-2. Pada dasarnya. bentuk kata. serta (3) penutup yang berisi refleksi dan evaluasi pembelajaran. (2) kerja sama. dan ungkapan yang . Untuk itu. Observasi terhadap peran serta siswa dalam pembelajaran mencakup (1) antusias atau motivasi siswa. (2) memilih kata.24 (11) Guru dan kolaborator menganalisis hasil observasi proses pemberian pembelajaran dan merancang perbaikan pembelajaran yang perlu ditempuh pada siklus berikutnya. Evaluasi mencakup indikatorindikator pembelajaran yang mencakup keterampilan siswa dalam (1) melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat. 3) Observasi dan Evaluasi Observasi (pengamatan) dilakukan oleh kolaborator untuk mengamatamati (mengobservasi) dua hal. dan (4) respons siswa terhadap kelompok maupun terhadap kelas. pembelajaran pada siklus kedua akan melibatkan siswa dalam kelompokkelompok menengah (beranggotakan 4 – 5 orang). (2) kegiatan inti dari pengungkapan tujuan hingga pelaksanaan main peran dan tindaklanjutnya. yaitu proses pemberian tindakan atau pelaksanaan metode bermain peran dan peran serta siswa dalam pemnbelajaran tersebut. Evaluasi dilaksanakan oleh guru (peneliti). Observasi terhadap proses pembelajaran mencakup (1) kegiatan awal seperti pembukaan dan apersepsi.

lancar. c. dan santun. pembelajaran diarahkan untuk memperbaiki hal-hal yang belum tuntas pada siklus ke-1. (3) menggunakan kalimat yang baik. 4) Refleksi Refleksi terhadap capaian yang diperoleh pada siklus 1 didasarkan pada dua hal yaitu terhadap proses dan hasil pemberian tindakan atau hasil pembelajaran.25 tepat. baik untuk mengamat-amati proses pemberan tindakan maupun melaksanakan evaluasi dilampirkan pada proposal ini. yaitu sebagai berikut ini. dan santun. 1) Format Observasi . Acuan pokok untuk melakukan refleksi adalah peran serta siswa dalam pembelajaran serta hasil pembelajaran. Jika kriteria tersebut belum tercapai. bernalar. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data dalam penelitian ini terdiri atas empat jenis. tepat. kasus yang diberikan kepada siswa untuk diperankan lebih kompleks (melibatkan 3—5 orang siswa per kelompok) dibandingkan dengan kasus pada siklus ke-1 yang hanya melibatkan 2 orang siswa per kelompok. maka diadakan siklus ke-2. b. Seluruh instrumen. dan (4) mengucapkan kalimat dengan jelas. Siklus 2 Pada siklus kedua. Norma keberhasilan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 75% per individu (siswa) dan 75% per kelas (jika sebanyak 75% siswa telah mencapai ketuntasan belajar ≥ 75%). Selain itu.

2) Analisis Catatan Lapangan . 2) Catatan Lapangan Catatan lapangan merupakan jurnal harian peneliti yang ditulis secara bebas untuk mencatat setting pembelajaran yang telah dilaksanakan. Observasi dilakukan oleh observer (kolaborator). Tes tersebut dilaksanakan dalam bentuk on-going process menggunakan lembar pengamatan. Di samping itu. d.26 Format observasi digunakan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. juga digunakan untuk mengobservasi tingkat peran serta dan antusias siswa dalam pembelajaran. Teknik Analisis Data 1) Analisis Observasi Hasil observasi dianalisis dengan metode analisis deskriptif komparatif. Hal ini penting karena siswalah sebagai subjek yang paling berkepentingan untuk mengevaluasi atau menanggapi kekuatan dan kelemahan metode pembelajaran yang digunakan guru. 3) Angket Angket digunakan untuk mendapatkan informasi bagaimana persepsi siswa terhadap penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran keterampilan berbicara. 4) Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar pada setiap siklus.

5) Analisis Reflektif Analisis reflektif dilakukan untuk melihat pelaksanaan pembelajaran sehubungan dengan kepuasan peneliti dalam penelitian. Untuk melihat perbedaan hasil belajar setelah tindakan digunakan teknik perbedaan mean score. . 4) Analisis Hasil Belajar Analisis hasil belajar dianalisis dengan metode statistik deskriptif untuk melihat keberhasilan siswa dalam pembelajaran. I. yaitu minggu ke-3 Oktober – minggu ke-2 November 2007. JADWAL PELAKSANAAN Penelitian dilaksanakan selama 4 (tiga) pertemuan atau empat minggu sesuai dengan porsi waktu pembelajaran keterampilan berbicara dalam silabus. 3) Analisis Angket Analisis angket dilakukan dengan membuat kriteria berdasarkan skor yang diperoleh siswa dan digambarkan dalam bentuk tabulasi.27 Catatan lapangan dianalisis dengan cara pengelompokan dan ringkasan dalam bentuk pernyataan tentang kelemahan dan kebaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan penegertian bahwa usaha peneliti mencapai tujuan perlakuan dalam pembelajaran ”bagaimana” telah mencapai hasil ”seperti apa” serta bagaimana perlakuan dalam pembelajaran berikutnya.

Jakarta: Dirjen MPDM. 1986. Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMK/MAK. Suharsimi. “Pembelajaran Keterampilan Berbicara” (Buku Ajar). Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Ende-Flores: Nusa Indah Yayasan Kanisius. Jakarta: Rineka Cipta. Richadrs. . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. London: Cambridge Unversity Press. 2003. Metode Penelitian. 2006. Moh. Rodgers. Gorys. 1993. Depdiknas. Ermawati. Jakarta: Erlangga.28 DAFTAR KEPUSTAKAAN Arief. Nazir. and Theodore S. 1980. Arikunto. Padang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP. Jack C. Approachs and Methods in Language Teaching: A Description and Analisys. 2006. Komposisi. Keraf.

. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung: Angkasa. 2004. Bandung: Angkasa. Surabaya: Penerbit SIC. 2007. Tarigan. dkk.. Djago. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. 1990. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Lembaga Kependidikan.29 SMKN 3 Padang. Henry Guntur. 11 Desember 1999. Suyatno. . IALF Bali.. Berbicara: sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa... 1990. Tarigan.. “KTSP SMKN 3 Padang”. Sumarsono. 1983. Sisingamangaraja: Panitia Lokakarya BIPA Regional Bali III.. Metodologi Pengajaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan.. “Peranan Guru sebagai Lingkungan Belajar Bahasa Kedua” (Makalah yng disajikan dalam Lokakarya BIPA Regional Bali III.. .. 1999. Padang: SMKN3 Padang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->