BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Peradaban manusia seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, tentunya membuat manusia semakin memiliki pola piker yang berkembang dan modern, hal ini lah yang kemudian menimbulkan ke khawatiran bahwa pola piker yang modern tersebut lah yang akan menjerumuskan manusia kedalam prilaku buruk dan melupakan normanorma yang ada. Oleh karena manusia perlu tetap berpegang terhadap norma-norma agama agar tetap dalam batasan pergaulan yang baik. Selain itu hal lain yang tidak bisa dipisahkan dari manusia adalah budaya dan adat istiadat, yang mana kedua hal ini sangat berhubungan secara emosional maupun spiritual terhadap kepribadian dan tingkah laku manusia tersebut. Adat istiadat bisa sangat melekat pada seseorang karena adat istiadat sangat berkaitan dengan leluhur manusia tersebut yang kemudian sangat berkaitan dengan budaya kehidupan sehari-hari baik itu tingkah laku maupun ritual-ritual yang bisaa dilakukan. Namun perlu kita telaah lebih dalam apakah kebudayaan dan adat istiadat tersebut bertentangan dengan norma agama Islam yang menjadi landasan dan pedoman hidup kita. Hal ini memang kerap menjadi polemik dikehidupan sehari-hari. Namun sebagai umat muslim yang taat

c) Bagaimana umat islam menanggapi perbedaan tersebut secara rasional dan juga kritis dengan menimbulkan sikap toleransi yang tinggi.hendaknya kita tetap berpegang terhadap ajaran Islam yang utuh. 1. 1.2 Tujuan Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran dan mengkaji lebih dalam sejauh mana kebudayaan bangsa Indonesia yang sangat beragam sesuai dengan ajaran Islam yang berkembang dan memberikan wawasan bagaimanakah kita sebagai umat Islam menyikapi perbedaaan tersebut tanpa menimbulkan gesekangesekan di masyarakat. Adapun jika ada kebudayaan yang sejalan dengan ajaran Islam dapat pula kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.3 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari topik makalah ini adalah sebagai berikut : a) Hubungan kebudayaan dan adat istiadat bangsa dengan ajaran Islam yang berkembang dimasyarakat. . b) Apakah kebudayaan dan adat istiadat tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang ada.

1 Kebudayaan Islam Dalam bahasa Inggris. religius. sedangkan ”peradaban” identik dengan istilah civilization. melainkan melalui proses penciptaan (khalq). Proses ini tidak sekali jadi. beserta segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Dalam perspektif Islam. Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian.BAB II PEMBAHASAN 2. dan kata tamaddun atau hadharah yang bisaa diartikan dengan peradaban. penyempurnaan (taswiyyah) dengan cara memberikan ukuran dan hukum tertentu (taqdir). Aspek pertama didasarkan pada metode-metode ilmiah dan kemampuan rasio. dan aspek kedua. dan juga diberikan petunjuk (hidayah). komponen . Kebudayaan lebih bersifat sosiologis dan antropologis. dan pemikiran metafisik. didasarkan pada ajaran Islam yang normatif. pemahaman subyektif. nilai. dibedakan antara kata tsaqafah yang merupakan terjemahan dari kebudayaan. ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial. Kebudayaan Islam dapat dibagi menjadi dua aspek. kata ”kebudayaan” merupakan terjemahan dari kata culture. kebudayaan dikembangkan dalam dunia manusia. norma. dan lain-lain. berkaitan pula dengan kenyataan penciptaan oleh Allah. yaitu: komponen ”batiniyah” yang merupakan esensi ajaran tauhid. Demikian pula dalam bahasa Arab. Islam sebagai agama haq disusun atas dasar tiga komponen.

keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu. Heddy S. Bahkan menurut Hegel. tata hukum. sebagai jawaban atas panggilan ilahi. sedang kebudayaan merupakan karya manusia. tatanegara. Keyakinan ini disebut Iman. kesenian. bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya. seperti Pater Jan Bakker. dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya. MA bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan. A. 2. karena para ahli Antropologi mengatakan bahwa manusia mempunyai akal-pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan yang . dan komponen ”muamalah” yang merupakan ekspresi dari din al-Islam.”simbolik” yang merupakan bentuk ibadah yang bersifat internal. Putra. Sebaliknya sebagian ahli. sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Adapun menurut para ahli Antropologi. karena menurutnya. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : mengapa manusia cenderung memelihara kebudayaan. berpikir dan bertindak ? Apakah yang mendorong mereka untuk selalu merubah alam dan lingkungan ini menjadi lebih baik ? Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamik ilahi.2 Sejauh Mana Islam Berpengaruh Sebagai Budaya Bangsa Untuk mengetahui sejauh mana agama Islam berpengaruh sebagai budaya bangsa. dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan. dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. dari manakah desakan yang menggerakkan manusia untuk berkarya. Hal itu.

Berbagai tingkah laku keagamaan. yeng menganggap bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri. Untuk melihat manusia dan kebudayaannya.ayat dari kitab suci. . melainkan oleh interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut. Ini sangat terlihat jelas di dalam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “( Allah)-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.masing agama. Dan kelompok ketiga.bukanlah diatur oleh ayat. yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina ( . Kelompok kedua. masih menurut ahli antropogi. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing. Pendapat ini diwakili olehHegel. Dari keterangan di atas.digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol agama. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting. dapat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan. Mereka hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada. Islam tidaklah memandangnya dari satu sisi saja. Di sinilah. menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. yang di wakili oleh Pater Jan Bakker. Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakan sumber kebudayaaan atau dengan kata lain bahwa kebudayaan merupakan bentuk nyata dari agama itu sendiri. bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia.

Dan juga menciptakan Syetan atau Iblis yang hanya bisa berbuat jahat . selain memberikan bekal. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa manusia ini mempunyai dua pembisik . . Sedangkan manusia. agar manusia mampu menggunakan kenikmatan tersebut untuk beribadat dan berbuat baik di muka bumi ini. Kedua unsur yang terdapat dalam tubuh manusia tersebut. sebagi aplikasi dari unsur ruh yang ditiupkan Allah. Allah swt juga menciptakan makhluk yang bernama Malaikat. sebaliknya ketika manusia berbuat asusila. yang hanya mampu mengerjakan perbuatan baik saja. Ketika manusia melakukan kebajikan dan perbuatan baik. karena diciptakan dari unsur cahaya. sebagaimana tersebut di atas. merupakan gabungan dari unsur dua makhluk tersebut. Islam mengakui bahwa budaya merupakan hasil karya manusia. maka unsur malaikatlah yang menang. pembisik dari malaikat . Allah juga memberikan petunjuk dan pedoman. Di sini. penglihatan dan hati. berpikir dan menciptakan suatu kebudayaan. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya “ Selain menciptakan manusia.air mani ). Sedang agama adalah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. kemauan dan kemampuan yang berupa pendengaran. maka unsur syetanlah yang menang. karena diciptkan dari api. sebagai aplikasi dari unsur tanah. bermaksiat dan membuat kerusakan di muka bumi ini. Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya. saling bertentangan dan tarik menarik. Oleh karena itu. dan pembisik dari syetan.

pasal 32. Prinsip semacam ini. sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan. untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. berasal dari agama. Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Sampai disini. Teori seperti ini. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah.Yaitu suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat. nampaknya lebih dekat dengan apa yang dinyatakan Hegeldi atas. mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia. Dengan demikian. berkemajuan. mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri. walaupun secara praktik dan perinciannya . sebagaimana telah diterangkan di atas. sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara Indonesia.3 Sikap Islam terhadap kebudayaan Bangsa Islam. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya. norma dan pedoman. datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat. 2. akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya.

Menentukan bentuk bangunan Masjid.terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. keluarga wanita bisaanya. 2. Dalam kaidah fiqh disebutkan : “ al adatu muhakkamatun “ artinya bahwa adat istiadat dan kebisaaan suatu masyarakat. Dalam Islam budaya itu syah-syah saja. dimana agama Islam sangat memiliki pandangan yang dewasa terhadap kebudayaan. mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum. karena Islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yang harus diberikan kepada wanita. menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab. kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan. Dalam penjelasan UUD pasal 32. bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syareat. dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri. budaya dan persatuan. umpamanya. Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam. serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia “. seperti . . yang merupakan bagian dari budaya manusia.4 Kebudayaan bangsa kaitannya dengan ajaran Islam Islam sangat terbuka terhadap budaya yang berkembang dimasyarakat. di dalam masyarakat Aceh. oleh karena itu islam telah membagi budaya menjadi tiga macam : 1. Tetapi yang perlu dicatat.

seperti lafadh “ talbiyah “ yang sarat dengan kesyirikan. Islam datang untuk meronstruksi budaya tersebut. Kemudian di “ rekonstruksi” sehingga menjadi Islami. Untuk hal-hal yang sudah ditetapkan ketentuan dan kreterianya di dalam Islam. maka adat istiadat dan kebisaaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Contoh lain adalah kebudayaan Arab untuk melantukan syair-syair Jahiliyah. thowaf di Ka’bah dengan telanjang. ataupun arsitektur Jawa yang berbentuk Joglo. Contoh yang paling jelas.dibolehkan memakai arsitektur Persia. . maka dibolehkan dengan dasar kaidah di atas. 2. adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam . menjadi bentuk “ Ibadah” yang telah ditetapkan aturan-aturannya. karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dengan seorang kafir. Oleh Islam kebudayaan tersebut tetap dipertahankan. Pernyataan seperti itu tidak benar. Sebagai contoh adalah apa yang di tulis olehAhmad Baaso dalam sebuah harian yang menyatakan bahwa menikah antar agama adalah dibolehkan dalam Islam dengan dalil “ al adatu muhakkamatun“ karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat. Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam. tetapi direkonstruksi isinya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Di daerah Toraja. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Tengah dengan budaya “tiwah“ . Pihak penyelenggara harus menyediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar . . sebuah upacara pembakaran mayat. Seperti.3. karena disaksikan oleh para penduduk dari desadesa dalam daerah yang luas. dalam “ tiwah” ini dilakukan pemakaman jenazah yang berbentuk perahu lesung lebih dahulu. Yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita. Jawa tengah. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam. Kemudian kalau sudah tiba masanya. Bedanya. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. jenazah tersebut akan digali lagi untuk dibakar. yaitu berupa makanan yang dipersembahkan kepada Rosul Allah dan tumpeng lain yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menurut masyarakat setempat merupakan penguasa Lautan selatan ( Samudra Hindia ). Mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “. budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali. dan secara besar-besaran. untuk memakamkan orang yan meninggal. Lain lagi yang dilakukan oleh masyarakat Cilacap. Upacara ini berlangsung sampai seminggu atau lebih. Biaya tersebut digunakan untuk untuk mengadakan hewan kurban yang berupa kerbau. juga memerlukan biaya yang besar.

. karena tradisi masyarakat bisa saja berupa kebatilan yang telah disepakati. salah satu ulama besar madzhab hanafi mengatakan : “ Sesungguhnya nash-nash syareat jauh lebih kuat daripada tradisi masyarakat. dan persatuan. Dan juga. Islam melarangnya. maka tidak mungkin mengandung sebuah kebatilan. Sedang nash syareat. serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan kebudayaan bangsa yang Indonesia. setelah terbukti ke-autentikannya. sedang nash syare’at mengikat manusia secara keseluruhan.malam lebaran. karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab. karena tradisi dibolehkan melalui perantara nash. Dalam hal ini al Kamal Ibnu al Himam. sebaliknya derajat justru merupakan Karena menurunkan kemanusiaan. Dan karena tradisi. seperti apa yang dilakukan sebagian masyarakat kita hari ini. sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “ apa yang dinyatakan oleh kaum muslimin baik. mengandung ajaran yang menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menghinakan manusia yang sudah meninggal dunia. sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya.Hal-hal di atas merupakan sebagian contoh kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. yang mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus pada malam. maka nash jauh lebih kuat. hanyalah mengikat masyarakat yang menyakininya. maka sesuatu itu baik “ .

2.5 Sikap umat islam terhadap kebudayaan dan adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.Dari situ. Sebagai umat muslim yang beradab kita sudah sepatutnya menghargai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Dr. Jakarta. sikap kita sebagai muslim yang baik adalah menghormati orang lain yang melakukan kegiatan tersebut tetapi kita juga harus istiqomah agar tidak ikut-ikutan kedalam kebudayaan tersebut yang bertentangan dengan ajaran agama islam. sudah banyak tragedy . Selain itu umat islam juga harus kritis tapi tetap sopan artinya kita harus berani menyuarakan bahwa kebudayaan tersebut bertentangan dengan ajaran agama islam tetapi tetap menghargai perasaan orang lain hal ini mencegah terjadinya gesekan-gesekan yang sangat mungkin terjadi hal ini sebagai langkah edukasi (dakwah) yang dapat dilakukan agar hal tersebut dapat tercegah. adalah tidak benar. bahwa Islam tidak boleh memusuhi atau merombak kultur lokal. tapi harus memposisikannya sebagai ayat-ayat Tuhan di dunia ini atau fikih tidak memadai untuk memahami seni. dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina. Mengapa hal ini menjadi sangat penting? Karena seperti yang telah kita ketahui sendiri bahwa di Indonesia isu yang berkaitan dengan agama dan perbedaan agama memang sangat sensitive sekali. Abdul Hadi WM. dalam hal ini menyikapi adanya kebudayaan yang kita temui dan hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama islam.

oleh karena itu hal seperti ini juga harus kita hindari agar kita bisa tetap hidup berdampingan dengan rasa toleransi yang tinggi.yang terjadi yang akar masalahnya hanya karena perbedaan agama dan kebudayaan. .

BAB III PENUTUP 3. Poso dab di Banda Aceh. Hal ini memang menjadi cirri khas bangsa Indonesia. dimana hal tersebut telah beberapa kali terjai di Indonesia seperti yang terjadi di Ambon. Ada beberapa budaya bangsa Indonesia yang sesuai dengan kaidah agama islam dan budaya tersebut harus kita terapkan dikehidupan sehari-hari wujud kecintaan kita terhadap tanah air. Namun jika kaitannya dengan budaya dan adat istiadat yang tidak sesuai dengan islam kita harus bersikap kritis tetapi tetap memiliki toleransi. Oleh karena itu kita sebagai umat islam harus bersikap kritis dan memandang secara terbuka perebedaan yang ada dimasyarakat.1 Kesimpulan Dari bahasan yang telah diuraikan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya adat dan budayanya. beberapa daerah di Indonesia masih memegang teguh budayanya dan masih menjalankan ritual budayanya. agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bentrokan yang berawal dari perbedaan kebudayaan dan keyakinan. . Namun ada beberapa dari budaya tersebut yang bertentangan dengan nilai-nilai agama islam dan menjus kedalam perbuatan musyrik. Sehingga dalam kehidupan beragama dapat sejalan dengan kehidupan berbangsa.

dalam menyikapi perbedaan tersebut. . Harapannya adalah agar kebudayaan yang berkembang di lingkungan kita semuanya sesuai dengan kaidah – kaidah agama islam.Kita sebagai umat islam pun harus secara rasional. karena hal ini berhubungan dengan aspek paling penting dalam kehidupan yaitu aspek agama yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.

SZY`W^SV SZY SS^ S_SSZ SSZ SS^WZS\W^TWVSSZ SYSSVSZ WTaVS SSZ [W S^WZS `a S _W\W^` Z aYS S^a_ `S ZVS^ SYS^ `ST_S`W`S\Va\TW^VS\ZYSZVWZYSZ^S_S`[W^SZ_ SZY`ZYY   .

       W_\aSZ S^ TSS_SZ SZY `WS Va^SSZ VS`S_ `S VS\S` WZYST W_\aSZTScS ZV[ZW_SW^a\SSZ WYS^S SZY_SZYS`S SSVS`VSZ TaVS SZ STWTW^S\SVSW^SV ZV[ZW_SS_WWYSZY`WYaTaVS SZ S VSZS_WZSSZSZ^`aSTaVS SZ S SZWSZYWZSVU^^S_ TSZY_S ZV[ZW_S SaZ SVS TWTW^S\S VS^ TaVS S `W^_WTa` SZY TW^`WZ`SZYSZVWZYSZZSZSSYSS_SVSZWZa_WVSS\W^TaS`SZ a_ ^ .

W S^WZS `a `S _WTSYS aS` _S S^a_ TW^_S\ ^`_ VSZ WSZVSZY _WUS^S `W^TaS \W^WTWVSSZ SZY SVS VS_ S^SS` VS TWTW^S\STaVS STSZY_S ZV[ZW_S SZY _W_aSVWZYSZSVS SYSS_S VSZ TaVS S `W^_WTa` S^a_ `S `W^S\SZ VWVa\SZ _WS^S^ caaV WUZ`SSZ`S`W^SVS\`SZSS^ SaZSS`SZZ SVWZYSZTaVS SVSZ SVS`_`SVS` SZY`VS_W_aSVWZYSZ_S`SS^a_TW^_S\^`_`W`S\ `W`S\ W `[W^SZ_ SYS^ `VS `W^SV SS SZY `VS VZYZSZ _W\W^`TWZ`^[SZ SZYTW^ScSVS^\W^TWVSSZWTaVS SSZVSZW SZSZ VSZS S `W^_WTa` `WS TWTW^S\S S `W^S V ZV[ZW_S _W\W^` SZY `W^SV V T[Z [_[ VST V SZVS UW WZYYS VSS WVa\SZ TW^SYSSVS\S`_WSSZVWZYSZWVa\SZTW^TSZY_S  .

`S _WTSYS aS` _S \aZ S^a_ _WUS^S ^S_[ZS VSS WZ S\ \W^TWVSSZ`W^_WTa`S^WZSSZTW^aTaZYSZVWZYSZS_\W\SZY\WZ`ZY VSSWVa\SZ S`aS_\WSYSS SZYWZSV\WV[SZVa\TSYaS` SZa_S S^S\SZZ S SVSS SYS^ WTaVS SSZ SZY TW^WTSZY V ZYaZYSZ`S_WaSZ S_W_aSVWZYSZSVSÊSVSSYSS_S        .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful