P. 1
Makalah Penelitian Tindakan Kelas Metode Eksperimen

Makalah Penelitian Tindakan Kelas Metode Eksperimen

|Views: 1,056|Likes:
Published by Teguh Bobo Wibowo

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Teguh Bobo Wibowo on Nov 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN EKSPERIMEN

PADA PELAJARAN KIMIA SEBAGAI UPAYA
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA

I. PENDAHULUAN
Pada proses belajar mengajar, khususnya pembelajaran kimia
diharapkan tidak hanya memberikan kemampuan supaya siswa dapat
memecahkan soal-soal kimia, tetapi secara konkrit dapat membentuk cara
berpikir kritis, logis dapat memecahkan masalah dengan kreatif dan inovatif.
Untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut diperlukan langkah-
langkah agar tujuan yang ditetapkan dapat dicapai. Hal yang harus dilakukan
yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang cocok dan sesuai
dengan pokok bahasan yang disampaikan. Metode pembelajaran apa yang
cocok untuk membawa siswa memiliki kemampuan intelektual tinggi, sikap
ilmiah dan berhasil dalam belajar merupakan pertanyaan yang tidak mudah
untuk dijawab, karena masing-masing metode memiliki kelebihan dan
kekurangan.
Tidak ada satu metode pembelajaran yang cocok untuk semua
pembelajaran.
1
Metode pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan
tertentu tergantung pada kondisi masing-masing unsur yang terlibat dalam
proses belajar mengajar secara faktual. Mungkin untuk satu program
pembelajaran pada suatu saat dipandang lebih efektif penyampaiannya
dengan metode ceramah, pada saat lain mungkin diskusi kelompok, dan
pada saat lain mungkin tanya jawab.
Penggunaan metode pembelajaran yang tepat, yang bersifat
mengajak akan memberi kesempatan pada siswa untuk berperan aktif dalam
proses belajar mengajar sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan. Ketepatan penggunaan metode pembelajaran tersebut sangat

1
Dra. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), hlm, 2.
bergantung pada tujuan dan isi proses belajar mengajar dan kegiatan
mengajar.
2

Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih
berfokus pada guru sebagai nara sumber utama pengetahuan, kemudian
ekspositori menjadi pilihan utama metode pembelajaran. Pandangan
tersebut harus diubah, untuk itu diperlukan metode pembelajaran yang lebih
memberdayakan siswa yaitu metode pembelajaran yang mengharuskan
siswa tidak menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah metode pembelajaran yang
mendorong siswa mengkonstrusikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
3

Melalui landasan konstruktivisme,
4
metode pembelajaran eksperimen
dipromosikan menjadi alternatif dari pemecahan masalah tersebut, siswa
diharapkan belajar melalui mengalami, bukan menghafal.
Dari kondisi di atas, maka perlu diterapkannya metode-metode
pembelajaran yang mampu menjangkau ranah tujuan pendidikan. Tentunya
dalam pemilihan metode pembelajaran, seorang pendidik harus teliti dalam
menentukan metode mana yang akan digunakan dalam suatu pokok bahasan
tertentu. Dan metode pembelajaran eksperimen mencoba menjauhkan dari
sistem pembelajaran yang dititikberatkan pada hafalan. Oleh karena itu,
dalam makalah ini akan coba dibahas lebih lanjut penggunaan metode
pembelajaran eksperimen/praktikum pada pelajaran kimia guna
meningkatkan daya tangkap dan prestasi belajar siswa. Karena pada
pelajaran kimia lebih difokuskan agar siswa tidak hanya tahu, tetapi juga
pengetahuan tersebut juga dapat diejawantahkan dalam kehidupan sehari-
hari.

2
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 1989), hlm. 76.
3
Anita Lie, Coopertaive Learning, (Jakarta: Grasindo, 2004), hlm. 3.
4
Landasan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan
merevisinya apabila aturan-aturan tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan
mendapatkan menerapkan pengetahuan, merek aharus bekerja memecahkan masalah, menemukan
segala sesuatu untuk dirinya, berusaha susah payah dengan menggunakan ide-ide. Baca : Trianto,
M.Pd., Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik; Konsep, Landasan
Teoris-Praktis dan Implikasinya, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 13.
II. RUMUSAN MASALAH
Pelajaran kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan
pada jenjang pendidikan SMP dan SMA di Indonesia. Kimia merupakan
bagian dari sains yang mempelajari fenomena dan gejala alam secara
empiris, logis, sistematis dan rasional yang melibatkan proses dan sikap
ilmiah. Ketika belajar kimia, siswa akan dikenalkan tentang produk kimia
berupa materi, konsep, asas, teori, prinsip dan hukum-hukum kimia. Siswa
juga akan diajarkan untuk bereksperimen di dalam laboratorium atau di luar
laboratorium sebagai proses ilmiah untuk memahami berbagai materi
pembelajaran dalam kimia. Hal yang juga dikembangkan selama
berlangsungnya proses belajar mengajar kimia adalah sikap ilmiah seperti
jujur, obyektif, rasional, skeptis
5
, kritis, dan sebagainya. Selama ini,
antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran kimia di sekolah tidak seperti
mengikuti pelajaran lainnya. Mungkin bagi siswa, konsep dan prinsip kiimia
menjadi sulit dipahami dan dicerna oleh kebanyakan mereka. Hal ini
berdampak pada rendahnya minat siswa untuk belajar kimia. Masalah ini
merupakan salah satu masalah klasik yang kerap dijumpai oleh para guru
kimia di sekolah.
Ketidaksukaan pada pelajaran kimia, dapat berdampak pula pada
sikap siswa terhadap guru kimianya. Tidak sedikit guru kimia yang kurang
mendapat simpati dari para muridnya karena ketidakberhasilan siswa dalam
belajar kimia. Nilai yang buruk dalam tes formatif dan sumatif kimia
menempatkan guru sebagai penyebab kegagalan di mata siswa dan orang
tua. Sikap siswa akan sangat berbeda pada guru kesenian atau olah raga
misalnya, pelajaran yang menjadi favorit bagi kebanyakan siswa. Untuk itu,
guru perlu menerapkan metode-metode pembelajaran yang dapat

5
Skeptis merupakan sikap keragu-raguan yang dimiliki seseorang. Tetapi skeptisme disini
bukan sikap yang hanya pasrah pada keraguan tersebut. Skeptis yang dimaksud disini merupakan
suatu upaya yang dilakukan untuk melihat sesuatu secara menyeluruh sampai mendalam sehingga
kita dapat berpikir untuk memperoleh pengetahuan dari hal itu. Seperti yang dilakukan oleh
Descartes, dia menggunakan paham skeptisme hanya sebagai sebuah metode (skeptisme
metodologis). Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1996), hlm.
151.
menghasilkan belajar yang efektif, yaitu menyenangkan dan bermakna,
sehingga ketidaksukaan siswa pada mata pelajaran kimia dapat direduksi
perlahan-lahan. Salah satu metode yang diangkat dalam makalah ini adalah
metode eksperimen yang dijadikan alternatif untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa.

III. PEMBAHASAN
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan
perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan.
6
Belajar juga dapat
diartikan berusaha memperoleh kepandaian/ilmu, berlatih, atau berubahnya
tingkah laku/tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman..
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar antara lain:
7

1. Perubahan terjadi secara sadar
Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau
sekurang-kurangnya ia akan merasakan telah terjadi adanya suatu
perubahan dalam dirinya.
2. Perubahan dalam belajar
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi pada diri seseorang
berlangsung secara berkesinambungan tidak statis. Perubahan yang
terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi
kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.
3. Perubahan dalam belajar bersifat aktif dan positif
Pada perbuatan belajar, perubahan–perubahan itu senantiasa bertambah
dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan tingkah laku yang terjadi setelah belajar bersifat tetap dan
permanen

6
Dra. Roestiyah, Op.Cit., hlm. 14.
7
Drs. Eko Nuryanto Mardisusanto, Penelitian Tindakan Kelas; Peningkatan Prestasi Hasil
Belajar Siswa Kelas X SMA N 5 Semarang dengan Pendekatan Pembelajaran Berganti Pasangan
dalam Kelompok pada Pelajaran Kimia Materi Hidrokarbon, (Semarang: SMA 5 Semarang,
2007), hlm.7
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan tingkah laku terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai .
Perubahan belajar terarah kepada perubahan yang benar –benar disadari.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Jika seorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami
perubahan tingkah laku secara menyeluruh pada sikap, keterampilan dan
pengetahuan .
Jadi secara garis besar belajar merupakan proses perubahan perilaku
individu yang bersifat menetap dan merupakan hasil pengalaman dan
interaksi dengan lingkungannya. Pembelajaran merupakan proses
komunikasi transaksional timbal balik antar siswa dengan guru, siswa
dengan siswa, siswa dengan sumber belajar, pada lingkungan belajar tertentu
untuk sasaran tertentu. Belajar mempunyai tujuan antara lain :
1. Mempelajari ketrampilan dan pengetahuan tentang materi-materi
pelajaran secara spesifik;
2. Mengembangkan kemampuan konseptual umum, mampu menerapkan
konsep yang sama atau berkaitan dengan bidang lain;
3. Mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat
digunakan dalam segala tindakan kita.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka belajar harus efektif, yaitu
menyenangkan dan bermakna. Karena itu perlu dikembangkan pendekatan-
pendekatan pembelajaran, model-model pembelajaran dan metode-metode
pembelajaran yang dapat diterapkan pada peserta didik secara optimal
sehingga seluruh potensi peserta didik dapat digali sehingga berguna
dirinya, masyarakatnya dan bangsanya (memenuhi tujuan Pendidikan
Nasional). Dari berbagai macam metode mengajar yang ada, perlu diketahui
bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara
metode-metode yang lain. Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu
dengan segala kelebihan dan kelemahan masing masing. Suatu metode
mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi
dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang lain.
Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu materi
pembelajaran yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum
tentu berhasil dibawakan oleh guru lain. Karena itu, pada makalah ini, kami
hanya akan mengangkat satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan
untuk mata pelajaran Kimia agar dapat meningkatkan pemahaman siswa
sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat, yaitu metode eksperimen
A. Metode Eksperimen
Metode pembelajaran berbeda dengan strategi pembelajaran.
Terkadang kita masih bingung untuk membedakan antara metode
pembelajaran dengan strategi pembelajaran. Metode merupakan cara
yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat
digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran,
diantaranya; ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi,
laboratorium/praktikum/eksperimen, pengalaman lapangan,
brainstorming, debat, simposium, dan sebagainya. Sedangkan Strategi
pembelajaran diartikan sebagai pola dan urutan perbuatan guru murid di
dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar.
8
Strategi belajar mengajar
dengan demikian merupakan rencana dan cara-cara membawakan
pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan tujuan
pengajaran dapat dicapai secara efektif. Akhmad Sudrajat
mengemukakan “Strategy is a plan of operation achieving something,
and method is a way in achieving something”.
9
Dari sini jelas bahwa
strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran
tertentu. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan
untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya ceramah,
demonstrasi, diskusi, simulasi, percobaan/praktikum/laboratorium,

8
Drs. JJ. Hasibuan, DTP. Ed. dan Drs. Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 3.
9
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12
pengalaman lapangan (inquiry), brainstorming, debat, symposium, dan
sebagianya. Kemudian dilihat dari kegiatan pengolahan pesan/materi
maka strategio belajar mengajar dapat dibedakan menjadi dua jenis,
antara lain :
1. Strategi belajar mengajar ekspositori, guru mengolah secara tuntas
pesan/materi sebelum disampaikan di kelas sehingga peserta didik
tinggal menerima saja.
2. Strategi belajar mengajar heuristik, peserta didik mengolah sendiri
pesan/materi dengan pengarahan dari guru.
10

Eksperimen atau percobaan adalah suatu tuntutan dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan suatu
produk yang dapat dinikmati masyarakat. Eksperimen dilakukan orang
untuk mengetahui kebenaran suatu gejala dan dapat menguji dan
mengembangkannya menjadi suatu teori.
11
Kegiatan eksperimen yang
dilakukan siswa sekolah dasar merupakan kesempatan memiliki yang
dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri,
berfikir ilmiah dan rasional serta mengembangkan pengalamannya di
masa mendatang.
Metode eksperimen diartikan sebagai cara pembelajaran yang
melibatkan siswa dengan mengalami dan membuktikan sendiri proses
dan hasil eksperimen itu. Karena siswa belum mengetahui teori dasi
suatu permasalahan, maka harus melakukan kegiatan mengkaji,
menyelidiki, menyusun hipotesis, mencoba, menemukan secara induktif,
merumuskan, memeriksa, dan membuat simpulan tentang objek. Jadi
dalam menerima suatu berita kita harus mengetahui kebenaran dari
berita/informasi tersebut, apalagi berita/informasi dari orang fasik.
Sebagaimana diterangkan dalam Q.S. al-Qur’an ayat 6 :

10
Drs. JJ. Hasibuan, DTP. Ed. dan Drs. Moedjiono, Op. Cit., hlm. 4.
11
Dra. Roestiyah, Op.Cit., hlm. 80.
!¸¸!., _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¿¸| `¸´´,l> ´_¸.!· ¸|,.¸, ¦¡`.¸,. · ¿¦ ¦¡,,¸..
!.¯¡· ¸.¸>´ ¦¡>¸,`..· _ls !. `¸.l- · _,¸.¸.. . ¸_¸
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu
tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu. “
12


Karena siswa belum mengetahui teori dari suatu permasalahan,
maka harus melakukan kegiatan mengkaji, menyelidiki, menyusun
hipotesis, mencoba, menemukan secara induktif, merumuskan,
memeriksa, dan membuat simpulan tentang objek. Pembelajaran dengan
metode eksperimen dapat dilakukan secara individual atau secara
kelompok. Jika tujuannya untuk melatih belajar bekerja mandiri,
pembelajaran harus dilakukan secara individual. Belajar sendiri
memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan
kecepatannya. Hal ini menguntungkan siswa yang lambat belajarnya
dalam memahami materi, karena tidak terseret-seret oleh temannya yang
cepat belajarnya. Materi untuk belajar individual harus dipilih yang
sesuai dengan kemampuan siswa. Penjelasan dan perintah kepada siswa
kelas rendah sebaiknya diberikan secara lisan. Bagi siswa kelas tinggi,
informasi dan perintah dapat disampaikan secara tertulis pada lembar
kerja siswa. Untuk tujuan belajar kerjasama, pembelajaran dilaksanakan
secara kelompok.
Jika pembelajaran dengan metode eksperimen diberikan secara
kelompok, anggotanya cukup tiga atau lima siswa. Semua anggota
kelompok diusahakan agar benar-benar berperan aktif, dapat

12
Tim Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara
Penefsiran/Penerjemehan, 1971), hlm. 846.
bekerjasama, saling menunjang, dan bergotong-royong dalam
menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan.
Les Giblin menyatakan bahwa seseorang dapat mengingat 20% dari
yang didengar, 50% dari yang dilihat dan didengar, dan 90% dari yang
diperbuatnya.
13
Berdasarkan besarnya presentasi dari keadaan tersebut,
dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen merupakan metode yang
penting. Belajar melalui berbuat lebih baik daripada untuk mengerjakan
objek.
Metode eksperimen dapat juga digunakan untuk mengajarkan objek
langsung kimia melalui percobaan secara langsung. Dengan menggunakan
metode eksperimen semangat belajar siswa dapat ditingkatkan. Siswa
belajar berbuat, menghayati dan menghargai metode ilmiah, meningkatkan
kemampuannya dalam memecahkan masalah, serta melakukan analisis,
sintesis, dan evaluasi.
Adapun tujuan dari metode eksperimen ini adalah:
1. Agar siswa mampu menyimpulkan fakta-fakta, informasi atau data
yang diperoleh;
2. Melatih siswa merancang, mempersiapkan, melaksanakan, dan
melaporkan percobaan; dan
3. Melatih siswa menggunakan logika berfikir induktif untuk menarik
kesimpulan dan fakta, informasi atau data, yang terkumpul melalui
eksperimen.

B. Implementasi Metode Eksperimen pada Pembelajaran
Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan
fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan
untuk melatih keterampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang
maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam
dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa
diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi

13
Les Giblin, Skill With People, (Jakarta: PT. Gramedia, 2007), hlm. C.
pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga
perilaku yang inovatif dan kreatif. Pembelajaran dengan metode
eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep kimia sama
halnya dengan seorang ilmuwan kimia. Siswa belajar secara aktif dengan
mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan
menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama
pembelajaran.
Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu
mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-
persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga
siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah. Dengan eksperimn
siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang
dipelajarinya.
Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka
jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap
siswa.
2. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang
meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka
kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik
dan bersih.
3. Dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati
proses percobaan , maka perlu adanya waktu yang cukup lama,
sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang
dipelajari itu.
4. Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka
perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping
memperoleh pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga
kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam
memilih obyek eksperimen itu.
5. Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah
mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan social dan keyakinan
manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat,
sehingga masalah itu tidak biasa diadakan percobaan.
14

Prosedur eksperimen antara lain:
1. Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen, mereka
harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen.
2. Memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-
bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang
harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu
dicatat.
3. Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan
siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang
kesempurnaan jalannya eksperimen.
4. Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil
penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan
tes atau tanya jawab.
15

Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu
mengutarakan secara lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam
kehidupannya. Dengan kata lain , siswa memiliki kemampuan untuk
menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep
terkait dengan materi pembelajaran.
Keunggulan penggunaan metode eksperimen ini adalah:
1. Membuat siswa percaya pada kebenaran kesimpulan eksperimennya
daripada hanya menerima kata guru atau buku;
2. Siswa aktif terlibat mengumpulkan fakta, informasi, atau data yang
diperlukan melalui percobaan yang dilakukannya;
3. Dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode ilmiah dan
berpikir ilmiah;

14
Maria Ul;fah, Experimental Method, http://mariaulfah15,multiply.com/jurnal
15
Ibid.
4. Memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif,
realistis, dan menghilangkan verbalisme; dan
5. Hasil belajar menjadi kepemilikan siswa yang bertalian lama.
Sedangkan kelemahan metode eksperimen ini sebagai berikut:
1. Memerlukan peralatan eksperimen yang lengkap;
2. Dapat menghambat laju pembelajaran dalam penelitian yang
memerlukan waktu lama;
3. Menimbulkan kesulitan bagi guru dan siswa apabila kurang
berpengalaman dalam penelitian; dan
4. Kegagalan dan kesalahan dalam bereksperimen akan berakibat pada
kesalahan menyimpulkan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis pada semester 1
tahun ajaran 2008/2009, pada siswa kelas VII SMPI al-Azhar 14
Semarang pembelajaran dengan menggunakan Metode Eksperimen
terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini
menggunakan tindakan siklus I, kemudian adanya kekurangan pada
tindakan siklus I disempurnakan dengan tindakan siklus II. Dari hasil
tindakan siklus I dan Tindakan siklus II inilah terlihat dengan jelas
adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat signifikan dibanding
dengan hasil nilai ulangan pada materi pembelajaran sebelumnya dan mid
semester sebelum digunakannya metode eksperimen. Pada mid semester,
nilai rata-rata siswa 51,78. Berdasarkan data tersebut perlu diadakan
perbaikan pembelajaran, dengan menerapkan metode eksperimen sebagai
alternatif pemecahan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran
tujuannya untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SMPI al-Azhar 14
Semarang. Peningkatan kemampuan hasil belajar siswa pada siklus I ini
dapat diketahui dengan memperhatikan beberapa hal yang berkaitan
penguasaan konsep Sains-Kimia pada siswa khususnya pada materi
pembelajaran reaksi kimia mengenai sifat-sifat reaksi kimia. Rencana
pembelajaran pada siklus I difokuskan untuk mengatasi masalah yang
ditemukan pada saat observasi awal. Pada tahap observasi awal
ditemukan masalah bahwa (1) hasil belajar siswa sangat rendah dan jauh
dari kriteria ketuntasan (2) aktifitas siswa dikelas pada saat mengikuti
pelajaran kurang (3) efektifitas kelompok kurang (4) lemahnya
kemampuan siswa menyimpulkan hasil percobaan (5) partisipasi siswa
dalam diskusi kelas kurang. Bertitik tolak dari temuan masalah, guru dan
penulis menyusun rencana pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada
keaktifan siswa dan mempermudah siswa untuk menangkap konsep
materi, yaitu dengan menggunakan metode eksperimen. Pembelajaran ini
dilaksanakan secara berkelompok dengan tujuan untuk mengarahkan
siswa agar dapat saling bertukar informasi, selain itu siswa juga dapat
membangun kerangka berpikir siswa sehingga kegiatan bereksperimen
ini dapat dengan mudah dipahami oleh siswa.
Pada tindakan siklus I diperoleh kelulusan klasikal siswa 76%
(dengan nilai rata-rata 6,8) dan tingkat keaktifan siswa 90,7%. Setelah
tindakan siklus I dikerjakan, kemudian dilakukan evaluasi bahwa guru
tidak memberikan kesempatan bertanya kepada siswa sehingga apa yang
kurang dipahami oleh siswa tidak dapat ditanyakan secara langsung.
Kemudian peneliti bersama guru mencoba memperbaiki rencana
pembelajaran yang akan digunakan pada tindakan siklus II. Pada
tindakan siklus II diperoleh kelulusan klasikal siswa 80% (dengan nilai
rata-rata 7,0) dan tingkat keaktifan siswa 96%). Dari data tersebut bahwa
prestasi bealajar dan keaktifan siswa dapat meningkat dengan
menggunakan metode ekpereimen dalam penyampaian pelajaran kimia,
terutama materi pembelajaran reaksi kimia.
Berdasarkan hasil dari pengamatan penulis, angket respon siswa dan
respon dari guru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan metode eksperimen. Antara lain :
1. Membangkitkan semangat siswa agar aktif mengikuti kegiatan
dengan memberi pengarahan-pengarahan;
2. Memberi penjelasan dan arah yang jelas agar siswa merespon dengan
baik terhadap pembelajaran yang sedang dilaksanakan;
3. Memberi motivasi kepada siswa agar dapat mengambil manfaat yang
sebaik-baiknya dari pembelajaran yang sedang dilaksanakan;
4. Mengontrol aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran;
5. Menyarankan / memberi tugas baca dengan buku bacaan yang telah
ditetapkan dan menguasai materi yang ditetapkan.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari analisis penulis dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Pembelajaran Kimia dengan menggunakan metode pembelajaran
eksperimen dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam berkelompok,
mengerjakan tugas-tugas, dan berfikir bersama.
2. Pembelajaran Kimia dengan menggunakan metode pembelajaran
eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Respon siswa terhadap pembelajaran Kimia yang menggunakan
metode pembelajaran eksperimen adalah positif.
4. Metode pembelajaran eksperimen efektif digunakan pada
pembelajaran Kimia, terutama pada materi pembelajaran reaksi kimia.

V. PENUTUP
Demikian makalah ini yang dapat penulis sampaikan, tentunya
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka kritik dan saran yang
konstruktif sangat penulis harapkan dari pembaca demi sempurnanya
makalahh ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Terima kasih atas perhatian
dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Giblin, Les, Skill With People, Jakarta: PT. Gramedia, 2007.
Hasibuan, JJ., & Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2006.
Kattsoff, Louis O., Pengantar Filsafat, Yogyakarta : Tiara Wacana,
1996.
Lie, Anita, Coopertaive Learning, Jakarta: Grasindo, 2004.
Mardisusanto, Eko Nuryanto, Penelitian Tindakan Kelas; Peningkatan
Prestasi Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA N 5 Semarang dengan
Pendekatan Pembelajaran Berganti Pasangan dalam Kelompok
pada Pelajaran Kimia Materi Hidrokarbon, Semarang: SMA 5
Semarang, 2007.
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar ,Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001.
Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya, 1989.
Sudrajat, Akhmad, Pengertian Metode,
http://akhmadsudrajat.wordpress.com
Sungkowo, Pendekatan Konstektual, Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional, 2003.
Tim Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemah, Jakarta : Yayasan
Penyelenggara Penafsiran/Penerjemahan, 1971.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik; Konsep, Landasan Teoris-Praktis dan
Implikasinya, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007.
Ulfah, Maria, Experimental Method,
http://mariaulfah15,multiply.com/jurnal

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->