P. 1
Skripsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Metode Eksperimen SMP

Skripsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Metode Eksperimen SMP

|Views: 2,323|Likes:
Published by Teguh Bobo Wibowo

More info:

Published by: Teguh Bobo Wibowo on Nov 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada proses belajar mengajar, khususnya pelajaran kimia diharapkan
tidak hanya memberikan kemampuan supaya siswa dapat memecahkan
soal-soal kimia, tetapi secara konkrit dapat membentuk cara berpikir kritis,
logis dapat memecahkan masalah dengan kreatif dan inovatif. Pelajaran
kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada jenjang
pendidikan SMP dan SMA di Indonesia. Kimia merupakan bagian dari
sains yang mempelajari fenomena dan gejala alam secara empiris, logis,
sistematis dan rasional yang melibatkan proses dan sikap ilmiah. Ketika
belajar kimia, siswa akan dikenalkan tentang produk kimia berupa materi,
konsep, asas, teori, prinsip dan hukum-hukum kimia. Siswa juga akan
diajarkan untuk bereksperimen di dalam laboratorium atau di luar
laboratorium sebagai proses ilmiah untuk memahami berbagai materi
pembelajaran dalam kimia. Hal yang juga dikembangkan selama
berlangsungnya proses belajar mengajar kimia adalah sikap ilmiah seperti
jujur, obyektif, rasional, skeptis
1
, kritis, dan sebagainya.
Selama ini, antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran kimia di
sekolah tidak seperti mengikuti pelajaran lainnya. Bagi siswa, konsep dan
prinsip kimia menjadi sulit dipahami dan dicerna oleh kebanyakan mereka.
Hal ini berdampak pada rendahnya minat siswa untuk belajar kimia.
Masalah ini merupakan salah satu masalah klasik yang kerap dijumpai
oleh para guru kimia di sekolah. Ditambah pula kebiasaan guru yang lebih

1
Skeptis merupakan sikap keragu-raguan yang dimiliki seseorang. Tetapi skeptis disini
bukan sikap yang hanya pasrah pada keraguan tersebut. Skeptis yang dimaksud disini merupakan
suatu upaya yang dilakukan untuk melihat sesuatu secara menyeluruh sampai mendalam sehingga
kita dapat berpikir untuk memperoleh pengetahuan dari hal itu. Seperti halnya yang dilakukan oleh
Descartes, dia menggunakan paham skeptisme hanya sebagai sebuah metode (skeptisme
metodologis). Lihat : Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1996),
hlm. 151.
1
2
sibuk memfokuskan pada siswa dengan rumus-rumus yang tidak mudah
dipahami. Sains yang sebenarnya bisa dieksplorasi dari keseharian anak-
anak, malah menjadi semakin berjarak dan tidak menarik. Dengan hal ini
siswa masih enggan untuk senantiasa mempelajari sains secara konsisten,
sehingga penguasaan sains pada diri siswa di Indonesia masih kurang. Ini
juga senada dengan riset yang dilakukan oleh Programme of International
Students Assessment pada acara Science Competencies for Tommorow’s
World bulan Desember 2007 yang menjelaskan kondisi siswa Indonesia
pada usia 15 tahun (SMP) yang dibedakan menjadi 5 level.
2
Siswa di
Indonesia pada level 1 (siswa yang mempunyai pengetahuan sains
terbatas) terdapat 61,1%, level 2 (siswa yang bisa melakukan penelitian
sederhana) 27,5%, level 3 (siswa yang mampu mengidentifikasi masalah-
masalah ilmiah) 9,5%, level 4 (siswa yang dapat memanfaatkan sains
dalam kehidupan) 1,4%. Bahkan siswa Indonesia belum ada sama sekali
yang menembus level tertinggi, dimana siswa mampu mengidentifikasi,
menjelaskan, serta mengaplikasikan pengetahuan dan sains dalam berbagai
situasi kehidupan yang kompleks secara konsisten.
Ketidaksukaan pada pelajaran kimia, dapat berdampak pula pada
sikap siswa terhadap guru kimianya. Tidak sedikit guru kimia yang kurang
mendapat simpati dari para muridnya karena ketidakberhasilan siswa
dalam belajar kimia. Nilai yang jelek dalam tes formatif dan sumatif kimia
menempatkan guru sebagai penyebab kegagalan di mata siswa dan orang
tua. Sikap siswa akan sangat berbeda pada guru kesenian atau olah raga
misalnya, pelajaran yang menjadi favorit bagi kebanyakan siswa. Untuk
itu, guru perlu menerapkan metode-metode pembelajaran yang dapat
menghasilkan belajar yang efektif, yaitu menyenangkan dan bermakna,
sehingga ketidaksukaan siswa pada pelajaran kimia dapat direduksi
perlahan-lahan.

2
Ester Lince Napitupulu, Belajar Sains Jadi Asyik dan Menyenangkan, Kompas , edisi 23
Februari 2009.
3
Tidak ada satu metode pembelajaran yang cocok untuk semua
pembelajaran.
3
Hal senada juga dikemukakan oleh Nasution, bahwa tiap
jenis belajar menginginkan cara belajar dan metode yang khas.
4
Tidak ada
satu metode pembelajaran yang serasi bagi semua jenis belajar. Metode
pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan tertentu tergantung pada
kondisi masing-masing unsur yang terlibat dalam proses belajar mengajar
secara faktual. Mungkin untuk satu program pembelajaran pada suatu saat
dipandang lebih efektif penyampaiannya dengan metode ceramah, pada
saat lain mungkin diskusi kelompok, dan pada saat lain mungkin tanya
jawab.
Penggunaan metode pembelajaran yang tepat, yang bersifat
mengajak akan memberi kesempatan pada siswa untuk berperan aktif
dalam proses belajar mengajar sehingga dapat menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan. Ketepatan penggunaan metode pembelajaran
tersebut sangat bergantung pada tujuan dan isi proses belajar mengajar dan
kegiatan mengajar.
5

Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas
masih berfokus pada guru sebagai nara sumber utama pengetahuan,
kemudian ekspositori menjadi pilihan utama metode pembelajaran.
Pandangan tersebut harus diubah, untuk itu diperlukan metode
pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa yaitu metode
pembelajaran yang mengharuskan siswa tidak menghafal fakta-fakta,
tetapi sebuah metode pembelajaran yang mendorong siswa
mengkonstrusikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
6
Melalui

3
Dra. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), hlm, 2.

4
Prof. Dr. S. Nasution, Teknologi Pendidikan, (Bandung : Jemmars, 1982), hlm. 64.
5
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 1989), hlm. 76.
6
Anita Lie, Coopertaive Learning, (Jakarta: Grasindo, 2004), hlm. 3.
4
landasan konstruktivisme,
7
metode pembelajaran eksperimen
dipromosikan menjadi alternatif dari pemecahan masalah tersebut, siswa
diharapkan belajar melalui mengalami, bukan menghafal.
Metode pembelajaran eksperimen merupakan metode pembelajaran
yang menempatkan peserta didik sebagai subyek yang aktif.
8
Metode
pembelajaran eksperimen melibatkan secara maksimal seluruh
kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, logis,
analitis, kritis melalui eksperimen.
Metode pembelajaran eksperimen memang lebih mudah diterapkan
pada siswa SMP. Pada usia ini siswa lebih condong untuk mencari tahu
apa yang belum mereka ketahui. Karena mempunyai rasa keingintahuan
dan daya fantasi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh masa transisi
kedewasaan yang melekat pada diri mereka sehingga hal ini terjadi. Tetapi
terkadang, beberapa sekolah kurang memperhatikan hal tersebut. Tak
jarang beberapa sekolah tidak pernah mengadakan kegiatan praktikum
yang terapkan pada kegiatan belajar di sekolah. Di lain pihak, memang
sarana dan prasarana sekolah yang kurang terpenuhi. Tetapi terkadang
guru juga masih enggan menggunakan metode tersebut lantaran malas
untuk mempersiapkan bahan ajar.
Pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap proses belajar
mengajar yang dilakukan oleh guru-guru kimia di SMPI al-Azhar 14
Semarang menunjukkan kecenderungan masih berorientasinya proses
pembelajaran pada materi yang ada pada buku teks. Apalagi pelajaran
kimia ini baru diterapkan pada kurikulum SMP semenjak kurikulum 2006.
Adanya kecenderungan mempertahankan dan membangkitkan

7
Landasan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan
merevisinya apabila aturan-aturan tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan
mendapatkan menerapkan pengetahuan, merek aharus bekerja memecahkan masalah, menemukan
segala sesuatu untuk dirinya, berusaha susah payah dengan menggunakan ide-ide. Lihat : Trianto,
M.Pd., Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik; Konsep, Landasan
Teoris-Praktis dan Implikasinya, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 13.
8
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasisi Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
2004), hlm. 2234.
5
keberhasilannya dalam pembelajaran siswa di masa lampau serta enggan
menerima dan melaksanakan sesuatu yang baru secara konsisten bila yang
baru tersebut menuntut pemikiran dan kegiatan yang lebih dibandingkan
dengan cara yang biasa dilakukan.
Berikut ini data nilai siswa kelas VII pada mid semester sebelum
penelitian. Data tersebut sebelum diadakan remidi bagi yang belum tuntas
KKM.
Tabel 1.1. Nilai Mid Semester Mata Pelajaran Sains Kimia Sebelum Penelitian

No

Kelas
Jumlah
siswa
Hasil Prestasi Belajar Tuntas
KKM
Sebelum
Remidi
Terendah Tertinggi
Rata-
rata
1
2
3
4
VII - A
VII - B
VII - C
VII - D
25
26
26
27
28
27
21
21
82
72
76
76
58,12
50,2
51,8
47,0
24,0%
3,8%
15,4%
3,7%
Ket . Tuntas KKM yang ditetapkan sekolah 70
Beranjak dari hasil prestasi belajar yang sangat rendah di atas maka
peneliti berusaha mencari inovasi menggunakan metode pembelajaran
yang dapat memotivasi belajar siswa agar dapat meningkatkan hasil
prestasi belajarnya.
Dengan penggunaan metode pembelajaran eksperimen lebih khusus
pada materi pembelajaran reaksi kimia diharapkan dapat menghasilkan
sebuah perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan dari hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya baik
mengenai sikap, keterampilan dan pengetahuan, serta prestasi belajar
siswa dapat meningkat sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan oleh
sekolah. Karena pada materi pembelajaran reaksi kimia mempunyai tujuan
agar siswa mampu memahami berbagai sifat dalam perubahan kimia,
sehingga metode pembelajaran eksperimen diharapkan mampu membantu
siswa dalam memahami konsep reaksi kimia dalam kehidupan sehari-hari.
6
B. Identifikasi Masalah
Masalah yang timbul dalam penelitian ini teridentifikasi sebagai berikut.
1. Penerapan metode pembelajaran terkadang tidak sesuai dengan materi
pembelajaran yang akan diajarkan;
2. Partisipasi dan adaptasi dari siswa dalam proses pembelajaran masih
kurang;
3. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih belum optimal,
terutama menyangkut tugas yang harus dilaksanakan;
4. Guru masih enggan untuk menggunakan metode pembelajaran yang
dirasa terlalu merepotkan guru;
5. Penggunaan metode pembelajaran yang dilakukan guru kurang variatif;

C. Pembatasan Istilah
Agar diperoleh pengertian dan pemikiran yang sama, penulis perlu
menegaskan beberapa istilah atau pengertian dalam judul skripsi ini.
Adapun pengertian yang perlu penulis jelaskan sebagai berikut :
1. Efektivitas
Kata efektivitas berasal dari kata efektif yang artinya keadaan
berpengaruh, keberhasilan (tentang usaha, tindakan). Efektivitas
menunjukkan taraf tercapainya suatu tujuan. Suatu usaha dikatakan
efektif apabila usaha itu mencapai tujuannya. Adapun yang dimaksud
efektivitas dalam penelitian ini adalah keberhasilan pembelajaran
dengan menggunakan metode pembelajaran eksperimen pada mata
pelajaran kimia materi pembelajaran reaksi kimia pada siswa kelas VII
SMPI al-Azhar 14 Semarang. Indikator keberhasilannya dapat dilihat
dari prestasi belajar kimia siswa yang diperoleh setelah pembelajaran
menggunakan metode pembelajaran eksperimen. Selain prestasi belajar,
efektivitas penggunaan metode pembelajaran eksperimen ini juga dilihat
dari aktivitas siswa selama pembelajaran.


7
2. Metode Pembelajaran Eksperimen
Menurut Akhmad Sudrajat, method is a way in achieving
something.
9
Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang
digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat
digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran,
diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5)
percobaan/ laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming;
(8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Eksperimen atau percobaan merupakan suatu tuntutan dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan
suatu produk yang dapat dinikmati masyarakat. Eksperimen dilakukan
orang untuk mengetahui kebenaran suatu gejala dan dapat menguji dan
mengembangkannya menjadi suatu teori. Kegiatan eksperimen yang
dilakukan siswa sekolah dasar merupakan kesempatan memiliki yang
dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri,
berpikir ilmiah dan rasional serta mengembangkan pengalamannya di
masa mendatang.
Metode pembelajaran eksperimen diartikan sebagai cara
pembelajaran yang melibatkan siswa dengan mengalami dan
membuktikan sendiri proses dan hasil eksperimen itu. Karena siswa
belum mengetahui teori dari suatu permasalahan, maka harus
melakukan kegiatan mengkaji, menyelidiki, menyusun hipotesis,
mencoba, menemukan secara induktif, merumuskan, memeriksa, dan
membuat simpulan tentang objek.
3. Prestasi Belajar
Prestasi belajar diartikan sebagai penguasaan pengetahuan atau
keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya

9
Akhmad Sudrajat, 2008, /artikel online/, Metode Pembelajaran, ,
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ diunduh tanggal 9 Desember 2008.
8
ditunjukkan dengan nilai yang diberikan oleh guru.
10
Prestasi belajar
yang diteliti di dalam penelitian ini yaitu prestasi belajar kognitif kimia
siswa kelas VII semester I SMPI al-Azhar 14 Semarang Tahun
Pelajaran 2008/2009 pokok bahasan reaksi kimia yang dilihat dari hasil
post-tes. Sedangkan prestasi belajar afektif dan psikomotor dilihat dari
aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran.
4. Kimia
Kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (sains)
yang mempelajari tentang sifat, struktur materi, komposisi materi,
perubahan, dan energi yang menyertai perubahan materi.
11
Kimia tidak
dapat dipandang sebagai pusat ilmu pengetahuan, sebab kimia
merupakan bagian ilmu pengetahuan (sains) yang bersinggungan
dengan biologi dan fisika, bahkan dengan geografi fisik.
5. Reaksi Kimia
Reaksi kimia adalah tindakan yang terjadi pada perubahan kimia,
yaitu perubahan materi yang menyangkut struktur dalam molekul suatu
zat. Dalam reaksi kimia sifat zat yang bereaksi berubah, demikian pula
terjadi perubahan tenaga, misalnya kalor akan diserap dan dibebaskan.
Reaksi kimia secara sederhana adalah perubahan yang terjadi pada suatu
zat apabila direaksikan atau dicampurkan dengan zat lain.

D. Perumusan Masalah
1. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut :
“Apakah penggunaan metode pembelajaran eksperimen efektif sebagai
metode pembelajaran kimia materi pembelajaran reaksi kimia pada
siswa kelas VII SMPI al-Azhar 14 Semarang ?”



10
Tirtonegoro Sutratinah, Anak Supernormal dan Program Pendidikan, (Jakarta: Bina
Aksara, 1984), hlm. 43.
11
Unggul Sudarmo, Kimia untuk SMA Kelas X, (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 2.
9
2. Bentuk Tindakan untuk Memecahkan Masalah
Bentuk tindakan untuk memecahkan masalahnya adalah dengan
menerapkan metode pembelajaran eksperimen pada siswa kelas VII-A
SMPI al-Azhar 14 Semarang pada materi pembelajaran reaksi kimia.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan, sebagai berikut.
Bagi Siswa SMPI al-Azhar 14 Semarang:
a. kompetensi siswa di bidang kimia, khususnya pada materi pembelajaran
reaksi kimia dapat dicapai;
b. hasil belajar siswa kelas VII-A SMPI al-Azhar 14 Semarang dalam mata
pelajaran kimia khususnya materi pembelajaran reaksi kimia dapat
meningkat;
c. penerapan metode pembelajaran eksperimen dapat dikembangkan atau
diterapkan pada siswa kelas-kelas yang lain.
Bagi Guru SMPI al-Azhar 14 Semarang:
a. adanya inovasi metode pembelajaran kimia dari dan oleh guru dalam
melakukan kegiatan belajar mengajar;
b. merupakan sumbangan pemikiran dan pengabdian guru dalam turut
serta mencerdaskan kehidupan anak bangsa melalui profesi yang
ditekuninya;
c. adanya penelitian ini maka terjalin kerjasama atau kolaborasi sesama
guru pelajaran kimia di SMPI al-Azhar 14 Semarang;
d. adanya kesadaran dan motivasi bagi guru agar dapat mengembangkan
kualitas dalam pembelajaran.
Bagi Pihak SMPI al-Azhar 14 Semarang:
a. melalui peningkatan kualitas pembelajaran SMPI al-Azhar 14 Semarang
maka diharapkan dapat meningkatkan peringkat SMPI al-Azhar 14
Semarang.




10
BAB II
IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN EKSPERIMEN
PADA MATERI PEMBELAJARAN REAKSI KIMIA SEBAGAI
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA

A. Landasan Teori
1. Belajar dan Mengajar
Secara umum Roestiyah mengartikan belajar sebagai proses
perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan.
12

Belajar juga dapat diartikan berusaha memperoleh kepandaian/ilmu,
berlatih, atau berubahnya tingkah laku/tanggapan yang disebabkan oleh
pengalaman. Selain itu beberapa tokoh juga mendefinisikan belajar itu
sendiri, seperti Ernest R. Hilgard. Pada bukunya yang berjudul Theories
of Learning, menjelaskan definisi belajar sebagai berikut :
“Learning is the process by which an activity originates or is
changed through training procedures (whether is the laboratory or
in the natural environment) as distinguished from changes by
factors not attribute to training”
13


Pada definisi di atas dijelaskan bahwa belajar berhubungan dengan
perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang
disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu,
dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar
kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan
sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).
Gagne juga menjelaskan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi
stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian
rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum mengalami

12
Dra. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001)., hlm. 14.

13
Drs. H. Abu Ahmadi, Cara Belajar yang Mandiri dan Sukses, (Solo : CV. Aneka, 1993),
hlm. 20.
10
11
situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi seperti tadi.
14

Sedangkan Morgan, mengemukakan belajar sebagai setiap perubahan
yang relatif permanen dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil
dari latihan atau pengalaman. Serta Witherington mengartikan belajar
sebagai suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri
sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap,
kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.
Selain itu, belajar juga diartikan sebagai perubahan tingkah laku
pada hati (jiwa) pelajar berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki
menuju perubahan baru.
15
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat
diartikan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang
berlangsung terus-menerus (pengalaman) sehingga menyamgkut aspek
fisik maupun psikis, seperti pemecahan suatu masalah/berpikir,
keterampilan, kecakapan, kebiasaan atau sikap.
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar antara lain:
16

a. Perubahan terjadi secara sadar
Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau
sekurang-kurangnya ia akan merasakan telah terjadi adanya suatu
perubahan dalam dirinya.
b. Perubahan dalam belajar
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi pada diri seseorang
berlangsung secara berkesinambungan tidak statis. Perubahan yang
terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna
bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.


14
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm.
84.

15
Sholeh Abdul Azis dan Abdul Azis Abdul Mazid, Tarbiyah wa Turuqit Tadris, (Mesir:
Darul Ma’arif, 1979), hlm. 169.
16
Drs. Eko Nuryanto Mardisusanto, Penelitian Tindakan Kelas; Peningkatan Prestasi
Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA N 5 Semarang dengan Pendekatan Pembelajaran Berganti
Pasangan dalam Kelompok pada Pelajaran Kimia Materi Hidrokarbon, (Semarang: SMA 5
Semarang, 2007), hlm.7

12
c. Perubahan dalam belajar bersifat aktif dan positif
Pada perbuatan belajar, perubahan–perubahan itu senantiasa bertambah
dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan tingkah laku yang terjadi setelah belajar bersifat tetap dan
permanen
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan tingkah laku terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai .
Perubahan belajar terarah kepada perubahan yang benar –benar
disadari.
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Jika seorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami
perubahan tingkah laku secara menyeluruh pada sikap, keterampilan
dan pengetahuan .
Belajar merupakan tindakan dan perilaku yang kompleks. Sebagai
tindakan, maka belajar hanya dapat dialami oleh siswa sendiri. Bila siswa
belajar, maka akan terjadi perubahan mental, di samping itu juga terjadi
perubahan jasmani pada diri siswa.
17
Perkembangan mental siswa dapat
terjadi bila; Pertama, pertumbuhan jasmani telah siap (sebagai ilustrasi,
perkembangan berbahasa terjadi setelah alat-alat berbicara dan berpikir
siap berfungsi). Kedua, individu belajar, baik atas dorongan sendiri
ataupun dorongan dari lingkungan sekitar. Dari sisi perkembangan
individu, perkembangan mental dengan belajar bersifat mendorong
(sebagai ilustrasi, siswa kelas X SMA yang mendapatkan nilai sedang
pada mata pelajaran kimia. Semula ia segan belajar kimia karena mata
pelajaran kimia sangat sulit. Setelah ia mendapatkan penjelasan bahwa
kimia sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari dan untuk belajar di
perguruan tinggi, siswa tersebut bersemangat dalam belajar kimia. Nilai

17
Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta : Departemen
Pendidikan & Kebudayaan dengan Rineka Cipta, 2006), hlm. 6.
13
kimianya menjadi baik, dan ia makin bertambah semangat, rajin, dan
disiplin belajar).
Pengertian mengajar secara sederhana adalah upaya menyampaikan
bahan pelajaran pada siswa. Mengajar dalam arti luas adalah segala
upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa
untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah
dirumuskan.
18
Dengan demikian pembelajaran (proses belajar-mengajar)
merupakan usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang
mengoptimalkan kegiatan belajar.
Adapun prinsip-prinsip umum yang harus dijadikan pegangan guru
dalam melakukan pembelajaran adalah sebagai berikut.
19

a. Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari bahan
yang akan diajarkan. Oleh karena itu, tingkat kemampuan siswa
sebelum pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat
kemampuan semacam ini disebut entry behavior. Entry behavior dapat
diketahui diantaranya dengan melakukan pre test. Hal ini sangat
penting agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
b. Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Bahan pelajaran yang bersifat praktis berhubungan dengan situasi
kehidupan. Hal ini dapat menarik minat, sekaligus dapat memotivasi
belajar.
c. Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa.
Ada perbedaan individual dalam kesanggupan belajar. Setiap individu
mempunyai kemampuan potensial seperti bakat dan inteligensi yang
berbeda antara satu dengan yang lainnya. Apa yang dapat dipelajari
seseorang secara tepat, mungkin tidak dapat dilakukan oleh orang lain
dengan cara yang sama. Oleh karena itu, mengajar harus
memperhatikan perbedaan tingkat kemampuan masing-masing siswa.

18
Drs. H. Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2002), hlm. 12.
19
Dr. Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 7.
14
d. Kesiapan (readliness) dalam belajar sangat penting dijadikan landasan
dalam mengajar.
Kesiapan adalah kapasitas (kemampuan potensial) baik secara fisik
maupun mental untuk melakukan sesuatu. Apabila siswa siap untuk
melakukan pembelajaran, hasil belajar dapat diperoleh dengan baik.
Sebaliknya bila tidak siap, tidak akan diperoleh hasil yang baik. Oleh
karena itu, pembelajaran dilakukan kalau individu mempunyai
kesiapan.
e. Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa.
Tujuan pembelajaran merupakan rumusan tentang perubahan perilaku
apa yang diperoleh setelah pembelajaran. Apabila tujuan pembelajaran
diketahui, siswa mempunyai motivasi untuk belajar.
f. Mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar.
Belajar harus bertahap dan meningkat. Oleh karena itu, dalam
mengajar haruslah mempersiapkan bahan yang bersifat gradual, yaitu :
1) dari sederhana kepada kompleks (rumit);
2) dari konkret kepada yang abstrak;
3) dari umum (general) kepada yang
4) dari yang sudah diketahui kepada yang tidak diketahui (konsep
yang bersifat abstrak);
5) dengan menggunakan prinsip induksi kepada deduksi. Atau
sebaliknya;
6) sering menggunakan reinforcement (penguatan).
2. Strategi dan Metode Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah pola dan urutan perbuatan guru-murid
di dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar.
20
Strategi pembelajaran
dengan demikian rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar
segala prinsip dasar dapat terlaksana dan tujuan pengajaran dapat dicapai
secara efektif. Akhmad Sudrajat mengemukakan “Strategy is a plan of

20
Drs. JJ. Hasibuan, DTP. Ed. dan Drs. Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 3.
15
operation, and method is a way in achieving something”.
21
Dari sini jelas
bahwa strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikan digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran diantaranya; ceramah,
demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium/praktikum/eksperimen,
pengalaman lapangan (inquiry), brainstorming, debat, simposium, dan
sebagainya. Dilihat dari kegiatan pengolahan pesan/materi maka strategi
pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua jenis.
a. Strategi pembelajaran ekspositori, guru mengolah secara tuntas
pesan/materi sebelum disampaikan di kelas sehingga peserta didik
tinggal menerima saja.
b. Strategi pembelajaran heuristik, peserta didik mengolah sendiri
pesan/materi dengan pengarahan dari guru.
22

3. Metode Pembelajaran Eksperimen
Karena siswa belum mengetahui teori dari suatu permasalahan,
maka harus melakukan kegiatan mengkaji, menyelidiki, menyusun
hipotesis, mencoba, menemukan secara induktif, merumuskan,
memeriksa, dan membuat simpulan tentang objek. Pembelajaran dengan
metode eksperimen dapat dilakukan secara individual atau secara
kelompok. Jika tujuannya untuk melatih belajar bekerja mandiri,
pembelajaran harus dilakukan secara individual. Belajar sendiri
memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan
kecepatannya. Hal ini menguntungkan siswa yang lambat belajarnya
dalam memahami materi, karena tidak terseret-seret oleh temannya yang
cepat belajarnya. Materi untuk belajar individual harus dipilih yang
sesuai dengan kemampuan siswa. Penjelasan dan perintah kepada siswa
kelas rendah sebaiknya diberikan secara lisan. Bagi siswa kelas tinggi,
informasi dan perintah dapat disampaikan secara tertulis pada lembar

21
Akhmad Sudrajat, 2008, /artikel online/, Metode Pembelajaran, ,
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ diunduh tanggal 9 Desember 2008.
22
Ibid.
16
kerja siswa. Untuk tujuan belajar kerjasama, pembelajaran dilaksanakan
secara kelompok.
Eksperimen atau percobaan adalah suatu tuntutan dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan suatu
produk yang dapat dinikmati masyarakat. Eksperimen dilakukan orang
untuk mengetahui kebenaran suatu gejala dan dapat menguji dan
mengembangkannya menjadi suatu teori.
23
Kegiatan eksperimen yang
dilakukan siswa sekolah dasar merupakan kesempatan memiliki yang
dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri,
berfikir ilmiah dan rasional serta mengembangkan pengalamannya di
masa mendatang.
Metode pembelajaran eksperimen diartikan sebagai cara
pembelajaran yang melibatkan siswa dengan mengalami dan
membuktikan sendiri proses dan hasil eksperimen itu. Karena siswa
belum mengetahui teori dari suatu permasalahan, maka harus melakukan
kegiatan mengkaji, menyelidiki, menyusun hipotesis, mencoba,
menemukan secara induktif, merumuskan, memeriksa, dan membuat
simpulan tentang objek. Jadi dalam menerima suatu berita kita harus
mengetahui kebenaran dari berita/informasi tersebut, apalagi
berita/informasi dari orang fasik. Sebagaimana diterangkan dalam Q.S.
al-Hujaraat ayat 6 :
!¸¸!., _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¿¸| `¸´´,l> ´_¸.!· ¸|,.¸, ¦¡`.¸,. · ¿¦ ¦¡,,¸.. !.¯¡·
¸. ¸>´ ¦¡>¸,`..· _ls !. `¸.l- · _,¸.¸... ¸_¸
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu
tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa

23
Dra. Roestiyah, Op.Cit., hlm. 80.
17
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu. “
24


Les Giblin menyatakan bahwa seseorang dapat mengingat 10% dari
yang dibaca, 20% dari yang didengar, 30% dari yang dilihat, 50% dari
yang dilihat dan didengar, 70% dari yang dikatakan, dan 90% dari yang
dilakukannya.
25
Berdasarkan besarnya presentasi dari keadaan tersebut,
dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran eksperimen merupakan
metode yang penting. Belajar melalui berbuat lebih baik daripada untuk
mengerjakan objek. Terkait dengan hal tersebut, guru perlu memahami
modus atau pola pengalaman belajar siswa dan kemungkinan hasil belajar
yang dicapainya, dalam “Kerangka Kerucut Pengalaman” (gambar 1).








Gambar 1: Kerangka Kerucut Pengalaman

Metode pembelajaran eksperimen dapat juga digunakan untuk
mengajarkan objek langsung melalui percobaan secara langsung. Dengan
menggunakan metode pembelajaran eksperimen semangat belajar siswa
dapat ditingkatkan. Siswa belajar berbuat, menghayati dan menghargai
metode ilmiah, meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan
masalah, serta melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi. Jika
pembelajaran dengan metode pembelajaran eksperimen diberikan secara

24
Tim Penerjemah al-Qur’an, al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara
Penafsiran/Penerjemehan, 1971), hlm. 846.
25
Les Giblin, Skill With People, (Jakarta: PT. Gramedia, 2007), hlm. C.
baca
dengar
lihat
lihat dan dengar
katakan
lakukan
Yang diingat
10%
20%
30%
50%
70%
90%
Modus
Verbal
Visual
Berbuat
18
kelompok, anggotanya cukup tiga atau empat siswa. Semua anggota
kelompok diusahakan agar benar-benar berperan aktif, dapat bekerjasama,
saling menunjang, dan bergotong-royong dalam menyelesaikan tugas
kelompok yang diberikan.
Adapun tujuan dari metode pembelajaran eksperimen ini adalah:
a. agar siswa mampu menyimpulkan fakta-fakta, informasi atau data yang
diperoleh;
b. melatih siswa merancang, mempersiapkan, melaksanakan, dan
melaporkan percobaan; dan
c. melatih siswa menggunakan logika berfikir induktif untuk menarik
kesimpulan dan fakta, informasi atau data, yang terkumpul melalui
eksperimen.
Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
a. Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka
jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap
siswa.
b. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang
meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka
kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan
bersih.
c. Dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati
proses percobaan , maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga
mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.
d. Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka perlu
diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh
pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga kematangan jiwa dan
sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen
itu.
e. Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah mengenai
kejiwaan, beberapa segi kehidupan sosial dan keyakinan manusia.
19
Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga
masalah itu tidak biasa diadakan percobaan.
26

Prosedur eksperimen antara lain:
a. perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen, mereka harus
memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen.
b. memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan
yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus
dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat.
c. selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa.
Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang
kesempurnaan jalannya eksperimen.
d. setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian
siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya
jawab.
27

Keunggulan penggunaan metode eksperimen ini adalah:
a. membuat siswa percaya pada kebenaran kesimpulan eksperimennya
daripada hanya menerima kata guru atau buku;
b. siswa aktif terlibat mengumpulkan fakta, informasi, atau data yang
diperlukan melalui percobaan yang dilakukannya;
c. dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode ilmiah dan
berpikir ilmiah;
d. memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif,
realistis, dan menghilangkan verbalisme; dan
e. hasil belajar menjadi kepemilikan siswa yang bertalian lama.
Adapun kelemahan metode eksperimen ini adalah:
a. memerlukan peralatan eksperimen yang lengkap;
b. dapat menghambat laju pembelajaran dalam eksperimen yang
memerlukan waktu lama;

26
Maria Ulfah, 2009, /artikel online/, Experimental Method,
http://mariaulfah,ExperimentalMethod,multiply.com/jurnal/ diunduh 21 Januari 2009.
27
Dra. Roestiyah, Op.Cit., hlm. 81.
20
c. menimbulkan kesulitan bagi guru dan siswa apabila kurang
berpengalaman dalam penelitian; dan
d. kegagalan dan kesalahan dalam bereksperimen akan berakibat pada
kesalahan menyimpulkan.
4. Prestasi Belajar
Prestasi belajar dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Prestasi
adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dan
sebagainya. Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian.ilmu,
berlatih, atau berubahnya tingkah laku/tanggapan yang disebabkan oleh
pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri
seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam
berpikir, bersikap, dan berbuat. Sedangkan prestasi belajar adalah
penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata
pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai yang diberikan oleh guru.
28

Prestasi belajar kimia adalah suatu hasil yang dicapai oleh peserta didik
setelah ia menjalani proses belajar yang berupa nilai yang meliputi nilai
afektif, kognitif, dan psikomotorik dalam bidang ilmu kimia. Prestasi
belajar bergantung pada banyak faktor, akan tetapi tidak semua faktor
mempunyai pengaruh yang sama besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar siswa dibedakan menjadi faktor internal dan faktor
eksternal.
29

a. Faktor Intern (dari dalam), yaitu faktor yang dapat mempengaruhi hasil
belajar yang berasal dari diri seseorang yang sedang belajar itu sendiri.
Faktor intern meliputi:
1) Faktor fisiologis
Faktor fisiologis berhubungan erat dengan kesehatan fisik dan
kondisi fisiologis ini umumnya berpengaruh terhadap prestasi
belajar anak didik. Anak didik yang belajar dalam keadaan segar

28
Tirtonegoro Sutratinah, Anak Supernormal dan Program Pendidikan, (Jakarta: Bina
Aksara, 1984), hlm. 43.
29
Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono, Op.Cit., hlm. 236.
21
jasmaninya akan berbeda prestasi belajarnya daripada anak didik
yang belajar dalam keadaan lemah.
2) Faktor psikologis
Faktor yang perlu diperhatikan yang berhubungan dengan hal ini
adalah anak didik harus mempunyai kesiapan mental untuk
menghadapi tugas yang harus dipelajari. Beberapa faktor psikologis
yang dapat mempengaruhi proses dan prestasi belajar adalah tingkat
kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi, dan kemampuan kognitif.
b. Faktor Ekstern (dari luar), yaitu faktor yang berasal dari luar diri anak
didik yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor ekstern meliputi:
1) Faktor lingkungan
Proses belajar mengajar faktor lingkungan juga memegang peranan
penting, karenanya harus mendapat perhatian.
2) Faktor instrumen
Yaitu faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai
dengan prestasi belajar yang diharapkan, meliputi: kurikulum,
program guru atau tenaga pengajar, sarana, fasilitas, dan sebagainya.
5. Reaksi Kimia
Perubahan Materi
Berbagai perubahan materi kita temukan dalam kehidupan sehari-
hari. Misalnya, es mencair, air menguap, kertas terbakar, besi berkarat,
atau makanan menjadi basi. Berbagai macam perubahan materi dapat
digolongkan ke dalam perubahan fisis atau perubahan kimia. Perubahan
fisis adalah perubahan yang tidak menghasilkan zat baru, pada perubahan
fisis, hakikat zat tidak berubah, yang berubah hanya bentuk atau
wujudnya. Sebaliknya, pada perubahan kimia terbentuk zat baru.
30

Berikut ini diberikan beberapa contoh perubahan fisis dan kimia dalam
kehidupan sehari-hari maupun dalam industry.
Contoh perubahan fisis:
a. es mencair

30
Michael Purba, Kimia 2000: Untuk SMU Kelas 1, (Jakarta : Erlangga, 2000), hlm. 33.
22
b. air menguap
c. lilin meleleh
d. beras digiling menjadi tepung
e. lampu pijar menyala
f. kawat nikrom dibakar hingga berpijar
g. mencuci pakaian dengan sabun
h. memisahkan bensin dari minyak bumi
i. memisahkan oksigen dari udara
j. membuat meja dari balok kayu
Contoh perubahan kimia:
a. kertas terbakar
b. besi berkarat
c. lilin menyala/.terbakar
d. beras dimasak menjadi nasi
e. lampu petromaks menyala
f. pita magnesium dibakar hingga berpijar
g. mengelantang pakaian dengan pemutih
h. membuat plastik dari minyak bumi
i. membuat pupuk urea dari amonia
j. membuat sabun dari minyak kelapa

Ketika mengamati proses perubahan wujud es yang mencair atau air
menguap. Proses itu tidak menghasilkan zat baru . Es, air, dan uap air
adalah air (H
2
O). Es adalah air dalam bentuk padatan, sedangkan uap air
adalah air dalam bentuk gas. Demikian juga halnya dengan lilin yang
meleleh, tidak berbentuk zat baru. Lilin yang meleleh itu segera kembali
menjadi lilin padat jika didinginkan. Berbeda halnya jika perhatikan
kertas yang dibakar (menjadi abu) atau besi yang berkarat (menjadi karat
besi). Pada kedua itu terbentuk zat baru. Abu tertentu berbeda dari kertas
dan karat besi tidaklah sama dengan besi.

23
Ciri-ciri Reaksi Kimia
Pada kehidupan sehari-hari, banyak terjadi reaksi kimia. Biasanya
manusia tidak pernah menyadari akan adanya reaksi kimia di sekitarnya,
bahkan pada tubuh manusia sendiri. Nasi yang dimakan dan dikunyah
oleh mulut mengalami reaksi kimia. Tanaman dapat tumbuh karena
adanya proses fotosintesis di dalamnya yang melibatkan reaksi kimia.
Batang besi yang awalnya mengkilap, keras, dan dapat ditempa dapat
berubah menjadi rapuh, berwarna kuning kecokelatan, dan tidak dapat
ditempa akibat perkaratan. Karat terbentuk karena adanya reaksi kimia
antara besi dengan uap air di udara.
Reaksi kimia yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dapat diamati
dari beberapa perubahan. Setiap reaksi kimia mempunyai ciri-ciri, yaitu
terbentuknya endapan, perubahan warna, perubahan suhu dan terbentuk
gas.
31
Berikut ini adalah beberapa ciri yang dapat diamati pada suatu
reaksi kimia.
a. Terbentuk endapan
Dua jenis larutan yaitu kalium bromida (KBr) dari perak nitrat
(AgNO
3
) apabila dicampurkan akan menghasilkan reaksi kimia.
Reaksi antara larutan kalium bromida dan perak nitrat tersebut
menghasilkan endapan yang berwarna putih. Endapan yang terbentuk
merupakan zat baru yaitu perak bromida (AgBr). Reaksi antara kalium
bromida dan perak nitrat dapat dituliskan dlm persamaan berikut:
) ( ) ( ) ( ) (
3 3
aq KNO s AgBr aq AgNO aq KBr + ÷÷ ÷ +
Dari persamaan di atas diketahui bahwa reaksi antara kalium bromida
(KBr) dan perak nitrat (AgNO
3
) menghasilkan perak bromida (AgBr)
dan kalium nitrat (KNO
3
). Keterangan “aq” pada KBr, AgNO
3
, dan
KNO
3
menyatakan bahwa ketiga zat tersebut merupakan larutan (aq=
aqueous= larutan). Sedangkan keterangan “s” pada AgBr menyatakan
bahwa zat tersebut merupakan padatan (s= solid= padat).

31
Kania Purnama Dewi, Sains Kimia Kelas IX, (Jakarta: Pelangi Indonesia, 2006), hlm. 2.
24
Pada reaksi kimia di atas, endapan terbentuk karena perak bromida
(AgBr) tidak larut dalam air. Dalam suatu reaksi kimia, umumnya
endapan akan terbentuk apabila salah satu hasil reaksi tdh dapat larut
dalam air. Tidak semua reaksi kimia akan terbnetu endapan karena
terkadang semua hasil reaksi dapat larut dalam air.
b. Terjadinya Perubahan Warna
Ciri lain yang dapat diamati pada sebuah reaksi kimia adalah
perubahan warna. Misalnya pada reaksi antara kalium kromat
(K
2
CrO
4
) dan perak nitrat (AgNO
3
). Larutan kalium kromat berwarna
kuning sedangkan larutan perak nitrat tidak berwarna (bening).
Apabila larutan kalium kromat diteteskan ke dalam larutan perak nitrat
maka akan terjadi reaksi berikut:
) ( 2 ) ( ) ( 2 ) (
3 4 2 3 4 2
aq KNO s CrO Ag aq AgNO aq CrO K + ÷÷ ÷ +
Hasil reaksi antara kalium kromat dan perak nitrat merupakan larutan
yang berwarna orange. Reaksi kimia yang menimbulkan perubahan
warna juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya perubahan
warna yang terjadi pada buah yang mulai matang. Warna buah yang
semula hijau dapat berubah menjadi kuning, jingga, atau merah.
Reaksi ini melibatkan enzim-enzim yang terdapat di dalamnya.
Reaksi yang melibatkan enzim semacam ini dinamakan sebagai
reaksi enzimatis.
c. Terbentuk Gas
Perubahan kimia yang terjadi juga dapat ditandai dengan timbulnya
gas. Contohnya jika kalsium karbonat direaksikan dengan larutan asam
klorida, maka akan terbentuk gas karbon dioksida. Persamaan reaksi
tersebut adalah sebagai berikut:
) ( ) ( ) ( ) ( 2 ) (
2 2 2 3
g CO l O H aq CaCl aq HCl s CaCO + + ÷÷ ÷ +
Pada persamaan di atas, gas karbon dioksida terlihat sebagai
gelembung udara yang terbentuk apabila padatan kalsium karbonat
25
bereaksi dengan asam klorida. Sedangkan kalsium klorida larut di
dalam air.
Jika kita jeli mengamati kejadian sehari-hari, kita dapat mengetahui
berbagai reaksi kimia yang menghasilkan gas. Misalnya pada reaksi
kimia yang terjadi pada pembusukan makanan dan juga pada proses
pembakaran. Kedua proses tersebut melibatkan reaksi kimia yang
dapat ditandai dengan timbulnya gas.
Proses pematangan buah-buahan juga melibatkan suatu reaksi kimia
yang menimbulkan gas. Jenis gas yang timbul pada pematangan buah
ini adalah gas etilen (C
2
H
2
). Gas ini menyebabkan terjadinya
perubahan enzim dalam buah sehingga membuat menjadi matang.
Terkadang pematangan buah juga dipercepat dengan menempatkan
bongkahan karbit dalam suatu kantong bersama buah yang akan
dimatangkan, misalnya: pisang. Hlm ini disebabkan karbit
memproduksi gas etilen.
d. Terjadi Perubahan Suhu
Pada reaksi kimia, umumnya terjadi perbedaan suhu antara zat-zat
yang bereaksi (reaktan) dengan zat-zat hasil reaksi (produk).
Perubahan suhu dalam suatu reaksi kimia ada dua macam, yaitu
eksoterm dan endoterm.
Reaksi eksoterm terjadi bila zat hasil reaksi suhunya lebih tinggi dari
zat-zat yang bereaksi. Oleh karena itu suhu akhir reaksi lebih tinggi
daripada suhu awal reaksi. Contoh reaksi eksoterm adalah
pembakaran, reaksi netralisasi, dan penambahan air pada larutan
asam pekat. Sedangkan reaksi endoterm terjadi bila zat hasil reaksi
suhunya lebih rendah daripada zat-zat yang bereaksi. Pada reaksi
endoterm, suhu kahir lebih rendah daripada suhu awal reaksi. Contoh
reaksi endoterm adalah reaksi antara urea dengan air. Bila urea
direaksikan dengan air maka akan terjadi penurunan suhu. Hal
tersebut dapat dibuktikan dengan memasukkan urea ke dalam
26
kantong plastik dan mencampurkannya dengan air. Setelah beberapa
saat kantong tersebut akan menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

B. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikiran yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis
tindakan dalam penelitian ini adalah :
“Metode pembelajaran eksperimen efektif untuk diterapkan pada proses
pembelajaran di kelas VII SMPI al-Azhar 14 Semarang pada materi
pembelajaran reaksi kimia.”
































27
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas penggunaan
metode pembelajaran eksperimen untuk pelajaran kimia materi
pembelajaran reaksi kimia pada siswa kelas VII SMPI al-Azhar 14
Semarang. Serta memberikan pengertian kepada guru bahwa metode
pembelajaran eksperimen efektif dan relevan untuk diterapkan dapam
pembelajaran.

B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober – 22 Nopember
2008. Adapun tempat yang digunakan untuk penelitian bertempat di SMPI
al-Azhar 14 Semarang.

C. Variabel Penelitian
Variabel adalah faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau
gejala yang diteliti.
32
F.N. Kerlinger mengatakan variabel sebagai sebuah
konsep, sedangkan Sutrisno Hadi mendefinisikan variabel sebagai gejala
yang bervariasi. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel bebas (independent variable),
33
yaitu metode pembelajaran
eksperimen.
b. Variabel terikat (dependent variable), yaitu prestasi belajar siswa
SMPI al-Azhar 14 Semarang kelas VII pada materi pembelajaran
reaksi kimia.


32
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rajawali Press, 1992), hlm. 72.
33
Merupakan variabel yang menyebabkan/mempengaruhi terjadinya prestasi belajar.
Lihat : Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2006), Cet. 12, hlm. 119.
27
28
D. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. McNiff
mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bentuk
penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri yang hasilnya
dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan sekolah, dan
pengembangan keahlian mengajar.
34
Dalam penelitian tindakan kelas ini,
merujuk pada metode Kurt Lewin yang menunjuk empat komponen pokok
penelitian tindakan kelas yaitu: 1) perencanaan (planning), 2) tindakan
(acting), 3) observasi (observing), dan 4) refleksi (reflecting).
35
Metode
Kurt Lewin dapat digambarkan sebagai berikut:



Gambar 2: Alur tindakan kelas menurut metode Kurt Lewin
Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, yaitu:
 Siklus I : metode pembelajaran eksperimen dengan sub materi
pembelajaran perubahan materi.
 Siklus II : metode pembelajaran eksperimen dengan submateri
pembelajaran reaksi kimia.
Yang setiap siklusnya meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Kegiatan Pendahuluan (Pra Siklus)
Kegiatan ini diawali dengan ide yang merupakan harapan yang ingin
dicapai dalam penelitian, berdasarkan temuan dan analisa data. Pada
tahap ini dilakukan penyusunan rencana pembelajaran antara peneliti
dengan kolaborator, yang pada penelitian ini adalah guru sains kimia
yang ada di SMPI al-Azhar 14. Dari diskusi yang dilakukan setelah
melakukan pengamatan proses belajar siswa didapatkan bahwa yang
menyebabkan nilai siswa rendah yaitu motivasi siswa yang kurang,
dikarenakan siswa bosan menerima pembelajaran yang monoton.

34
Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M.Pd., Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: PT.
Wacana Prima, 2008), hlm. 4.
35
Zainal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Yrama Widya, 2008), hlm. 30.
Planning Acting Observing Reflecting
29
2. Siklus I
Pada siklus pertama ini mengambil sub materi perubahan zat,
selanjutnya disebut tindakan I.
a. Perencanaan tindakan I
Materi yang akan disampaikan pada tindakan I adalah perubahan
materi dengan topik:
1) menentukan ciri-ciri dan identifikasi perubahan zat (perubahan
kimia dan perubahan fisika).
Tujuan pembelajaran pada tindakan I adalah:
1) siswa diharapkan dapat mengetahui ciri-ciri sifat kimia dan
sifat fisika (perubahannya);
2) siswa diharapkan dapat mengidentifikasi perubahan kimia dan
perubahan fisika yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum melaksanakan pembelajaran, ada beberapa hal yang perlu
dilaksanakan, antara lain:
1) guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);
2) guru menyusun petunjuk praktikum/kerja;
3) guru mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
untuk praktikum.
b. Pelaksanaan tindakan I
1) Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, siswa
mengingat kembali pengetahuan awal (prakonsepsi) tentang
sifat-sifat dan perubahan zat yang dibimbing oleh guru. Dengan
mengeksplorasi benda konkret secara langsung dari
pengalamannya yang telah diperoleh sebelumnya. Siswa diajak
menyelesaikan masalah tersebut dengan langkah-langkah
sebagai berikut.
a) Siswa memahami penjelasan guru tentang langkah-langkah
eksperimen;
b) Guru membagi tugas eksperimen secara kelompok, yang
terdiri dari 5 siswa per kelompok ;
30
c) Siswa melakukan eksperimen sesuai dengan petunjuk kerja
sesuai bimbingan guru sebagai fasilitator;
d) Siswa menganalisis hasil eksperimen mengenai jenis-jenis
perubahan fisika dan kimia, dan mendiskusikannya serta
mempresentasikan hasil eksperimen tersebut;
e) Siswa mengecek ulang hasil eksperimennya masing-masing
dan memperbaiki eksperimen yang salah dan
menyimpulkannya.
2) Guru memberikan pemantapan pemahaman siswa melalui
tugas/latihan/bahan diskusi.
3) Guru memberikan evaluasi akhir tindakan I.
c. Observasi tindakan I
Selama pembelajaran berlangsung kolaborator mengamati guru
mengajar dan mencatat semua aktivitas siswa dengan
menggunakan lembar observasi.
d. Refleksi tindakan I
Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan baik data hasil
evaluasi maupun data hasil observasi. Data yang diamati antara
lain; hasil post-test siswa, keaktifan siswa selama pembelajaran,
serta kinerja guru dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil deskripsi
tersebut dapat diambil simpulan apakah subjek penelitian telah
memahami konsep perubahan zat atau belum. Berdasarkan hasil
analisis data tersebut, barulah dapat disimpulkan apakah tindakan
perlu dilanjutkan atau tidak. Jika tujuan pembelajaran sudah
tercapai, maka tindakan bisa dihentikan. Akan tetapi jika belum
tercapai, maka tindakan dapat dilanjutkan dengan tindakan
selanjutnya.. Sehingga pada siklus ini subjek penelitian benar-
benar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.



31
3. Siklus II
Pada siklus kedua ini mengambil sub materi reaksi kimia, selanjutnya
disebut tindakan II.
a. Perencanaan tindakan II
Materi yang akan disampaikan pada tindakan II adalah reaksi kimia
dengan topik:
1) Reaksi-reaksi kimia yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari;
2) Ciri-ciri yang terjadi pada reaksi kimia.
Tujuan pembelajaran pada tindakan II adalah:
1) Siswa diharapkan dapat mengetahui reaksi-reaksi kimia yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari;
2) Siswa diharapkan dapat mengidentifikasi ciri-ciri yang terjadi
dalam reaksi kimia.
Sebelum melaksanakan pembelajaran, ada beberapa hal yang perlu
dilaksanakan, antara lain:
1) Guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);
2) Guru menyusun petunjuk praktikum/kerja;
3) Guru mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
untuk praktikum.
b. Pelaksanaan tindakan II
1) Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, siswa
mengingat kembali pengetahuan awal (prakonsepsi) tentang
reaksi kimia yang dibimbing oleh guru. Dengan
mengeksplorasi benda konkret secara langsung dari
pengalamannya yang telah diperoleh sebelumnya. Siswa diajak
menyelesaikan masalah tersebut dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a) Siswa memahami penjelasan guru tentang langkah-langkah
eksperimen;
b) Guru membagi tugas eksperimen secara kelompok, yang
berdasarkan dari hasil evaluasi siklus I;
32
c) Siswa melakukan eksperimen reaksi kimia sesuai dengan
petunjuk kerja di bawah bimbingan guru sebagai fasilitator;
d) Siswa menganalisis hasil eksperimen cirri-ciri yang terjadi
pada reaksi kimia dan mendiskusikannya serta
mempresentasikan hasil eksperimen tersebut;
e) Siswa mengecek ulang hasil eksperimennya masing-masing
dan memperbaiki eksperimen yang salah dan
menyimpulkannya.
2) Guru memberikan pemantapan pemahaman siswa melalui
tugas/latihan/bahan diskusi.
3) Guru memberikan evaluasi akhir tindakan II.
4) Selanjutnya untuk kegiatan observasi dan refleksi pada siklus II
akan mengikuti kegiatan observasi dan refleksi pada siklus I.
Tahap-tahap penelitian yang telah diuraikan di atas dapat dipersingkat
menggunakan alur tindakan pada gambar 3.

E. Populasi, Sampel, danTeknik Pengambilan Sampel
Pengertian populasi adalah keseluruhan kelompok subjek
penelitian.
36
Adapun yang dimaksud sebagai populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas VII semester I SMPI al-Azhar 14 Semarang
tahun ajaran 2008/2009.
Menurut Suharsimi Arikunto, sampel adalah sebagian atau wakil
dari populasi yang diteliti.
37
Pengambilan sampel dalam penelitian ini
dilakukan dengan teknik cluster sampling, yaitu secara acak dipilih satu
kelas sebagai sampel. Menurut Jamesh Mc. Millan and Sally Schumacher
menegaskan definisi random sampling sebagai berikut:
“Cluster sampling is the technique where the researcher identifies
convenient, naturally occurring group units, such as neighborhoods,

36
Bruce W Tuckman, Conducting Educational Research, (London: Harcourt Brace
Jovanovich, 1972), 2
nd
, hlm. 107.
37
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2002), Cet. 12, hlm. 109.
33
schools, districts, or regions, not individual subjects, and then
randomly selects some of these units for the study”
38


Sehingga didapatkan kelas VII-A sebagai sampel dari penelitian ini.
Adapun dasar pemikiran dari random sampling adalah bahwa semua
anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dimasukkan
sebagai anggota sampel.
39
Sebenarnya tidak ada ketetapan mutlak berapa
persen suatu sampel harus diambil dari populasi. Tidak ada ketetapan yang
mutlak itu, sehingga tidak perlu menimbulkan keragu-raguan pada seorang
peneliti. Suatu hal yang justru perlu diperhatikan adalah keadaan
homogenitas populasi.
40
Homogenitas populasi ini diambil berdasarkan
nilai USBN (Ujian Sekolah Bestandart Nasional) dari siswa.

F. Teknik Pengumpulan Data
Data diambil dari siswa , teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1. Metode Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi adalah pengambilan
data yang melalui dokumen-dokumen.
41
Metode ini digunakan untuk
mendapatkan data siswa dan data nilai kimia ulangan siswa pada
materi pembelajaran sebelumnya yang menjadi populasi.
2. Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang
digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
42

Tes yang digunakan untuk memperoleh data yaitu pre test maupun tes

38
Jamesh Mc. Millan and Sally Schumacher, Research in Education; A Conceptual
Introduction, (London: Longman, 2001), hlm. 173
39
Prof. Drs. Sutrisno Hadi, MA., Metodologi Research; Jilid 3, (Yogyakarta: Andi,
2004). hlm. 336.
40
Ibid., Jilid 1, hlm. 81.
41
Amirul Hadi dan Haryanto, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Pustaka
Setia, 2005), hlm. 110.
42
Suharsimi Arikunto, Op. Cit., 1998, Cet. 11, hlm. 150.
34
pada setiap akhir tindakan untuk memperoleh data tentang pemahaman
siswa terhadap materi yang dipelajari.
Tes ini untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam mengikuti
pembelajaran. Hasilnya digunakan sebagai acuan untuk melihat
kemajuan siswa dalam mengikuti pembelajaran, serta untuk
menganalisis dan merefleksi tindakan selanjutnya. Hasil pekerjaan
siswa dianalisis untuk menentukan letak kesulitan dalam penyelesaian
soal materi.
3. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang digunakan melalui pengamatan
yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek
dengan menggunakan keseluruhan alat indera.
43
Observasi digunakan
untuk mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru. Observasi ini
bertujuan untuk mengetahui kesesuaian tindakan dengan perencanaan
dan mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan
yang dikehendaki. Observasi dilakukan oleh pengamat dengan
menggunakan lembar observasi. Alat yang digunakan dalam
mengadakan observasi dalam penelitian ini adalah daftar cek
(checklist). Daftar cek merupakan bentuk skala yang berisi sejumlah
pernyataan singkat yang harus direspon dengan dibubuhkan tanda cek
(√).
44
Penggunaan daftar cek sangat luas bisa untuk mengukur
pendapat, persepsi, kegiatan, kebiasaan, pengalaman, juga untuk
mengidentifikasi sesuatu. Pada daftar cek semua gejala yang akan atau
mungkin akan muncul pada suatu subyek yang menjadi obyek suatu
penelitian, didaftar secermat mungkin sesuai dengan masalah yang
diteliti, juga disediakan kolom cek yang digunakan selama observasi.
45

Berdasarkan butir (item) yang ada pada daftar cek, bila suatu gejala

43
Ibid., hlm. 149
44
Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidkan, (Bandung : Program
Pasca Sarjana UPI kerjasama dengan Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 228
45
Drs. H. Muhammad Ali, Penelitian Kependidikan; Prosedur dan Strategi, (Bandung :
Angkasa, 1987), hlm. 92.
35
muncul dibubuhkan tanda cek (√) pada kolom yang tersedia. Hal ini
memungkinkan dapat dengan mudah diamatinya seluruh gejala yang
muncul sesuai dengan data yang dibutuhkan. Dalam setiap kolom yang
diberi tanda cek (√) mendapatkan dengan point 1, sedangkan yang
tidak diberi tanda cek (√) mendapatkan dengan point 0. Adapun lembar
observasi yang digunakan berupa lembar kinerja guru dalam proses
pembelajaran dan lembar keaktifan siswa selama pembelajaran.
4. Metode Angket
Metode angket sering digunakan untuk mengumpulkan data. Angket
memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul
data. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka angket harus melalui
prosedur. Prosedur yang harus dilalui, sebagai berikut:
a. merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan angket;
b. mengidentifikasi variabel yang akan dijadikan sasaran angket;
c. menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih
spesifik dan tunggal;
d. menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk
menentukan teknik analisisnya.
46


G. Metode Penyusunan Instrumen
1. Penyusunan Instrumen Pengajaran
Penyusunan instrumen pengukuran dapat dilakukan dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
a. menentukan materi (materi dalam penelitian ini adalah pengajaran
kimia materi pembelajaran reaksi kimia);
b. menentukan alokasi waktu (waktu yang disediakan untuk
mengerjakan soal adalah 80 menit);
c. menentukan bentuk tes (bentuk soal berupa soal-soal obyektif yang
berbentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban);

46
Suharsimi Arikunto, Op. Cit., 2006, Cet. 13, hlm. 225
36
d. membuat kisi-kisi soal, dengan mencantumkan jenjang atau
tingkatan soal, ruang lingkup bahan pelajaran dan tujuan pelajaran;
e. membuat perangkat tes, yaitu dengan menulis butir soal dengan
lingkup dan jenjang yang disesuaikan dengan kisi-kisi yang telah
dibuat, menulis petunjuk.pedoman mengerjakan soal, serta
membuat kunci jawaban;
f. mengujicobakan instrumen; dan
g. menganalisis hasil uji coba, dalam hal validitas, realibilitas, tingkat
kesukaran dan daya pembeda.
2. Analisis Uji Instrumen
Perangkat tes yang sudah tersusun rapi, kemudian diujicobakan kepada
siswa yang sudah mendapatkan pengajaran materi pembelajaran reaksi
kimia. Adapun analisis yang digunakan dalam pengujian instrumen ini
meliputi validitas, realibilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda.
a. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran menunjukkan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Sebuah tes atau soal dikatakan valid
apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Teknik
yang digunakan untuk mengetahui kevalidan soal adalah teknik
Korelasi Product Moment.
47

} ) ( }{ ) ( {
) )( (
2 2 2 2
Y Y N X X N
Y X XY N
r
xy
¿ ÷ ¿ ¿ ÷ ¿
¿ ¿ ÷ ¿
=
Keterangan : r
xy
= Koefisien korelasi antara variabel X dan Y, dua
variabel yang dikorelasikan.
Untuk mengetahui apakah butir soal yang digunakan valid
digunakan kriteria:
Perangkat tes valid jika r
xy
≥ r
tabel

Berdasarkan uji coba soal dengan menggunakan rumus Korelasi
Product Moment diperoleh masing-masing soal pada taraf

47
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2002), hlm. 72.
37
kepercayaan 5% dengan N = 30 diperoleh r
tabel
0,361 dengan
ketentuan r
xy
sama atau lebih besar dari r
tabel
maka instrumen
tersebut valid. Dapat diketahui dari 10 soal dan 20 soal pada siklus
I dan II ternyata hasil hitungan tiap soal menunjukkan angka lebih
besar dari r
tabel
, sehingga dengan demikian seluruh soal adalah
valid. (hasil hitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9
dan 10)
b. Realibilitas
Suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika
tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian
realibilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes.
Rumus yang digunakan adalah KR-20.
48

|
|
.
|

\
|
×
÷
÷ |
.
|

\
|
÷
=
t
V k
M k M
k
k
r
) (
1
1
11

Keterangan :
r
11
= realibilitas tes secara keseluruhan
N = banyaknya responden
M = rata-rata skor total
=
N
Y ¿

k = banyaknya butir soal
V
t
= varian total
=
N
N
Y
Y
2
2
) ( ¿
÷ ¿

Kemudian r
11
dikontruksikan ke tabel r-produk momen dengan
taraf kepercayaan 5%, jika r
11
> r
tabel
maka instrumen reliabel.
Berdasarkan perhitungan diperoleh r
11
= 0,8244 dengan taraf
kepercayaan 5% dan N = 30 diperoleh r
tabel
= 0,6692, dapat
diketahui bahwa dari 10 soal dan 20 soal pada siklus I dan II

48
Ibid., hlm. 100.
38
ternyata hasil hitungan tiap soal menunjukkan angka lebih besar
dari r
tabel
, sehingga dengan demikian seluruh soal adalah reliabel.
(hasil hitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9 dan
10).
c. Tingkat kesukaran
Ditinjau dari tingkat kesukaran, soal yang baik adalah soal yang
tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu
mudah tidak merangsang siswa untuk memecahkannya, sedangkan
soal yang telalu sukar dapat menyebabkan siswa cepat putus asa
dan tidak mau mencoba lagi karena itu di luar kemampuan mereka.
Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal
disebut indeks kesukaran (difficulty index).Di dalam istilah
evaluasi, indeks kesukaran diberi simbol P. singkatan dari
proporsi.
49
Rumus mencari proporsi sebagai berikut :
JS
B
P =
Keterangan :
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria :
0,00 – 0,10 = sangat sukar
0,11 – 0,30 = sukar
0,31 – 0,70 = sedang
0,71 – 0,90 = mudah
> 0,90 = sangat mudah
Berdasarkan uji coba 10 soal untuk siklus I didapatkan soal-soal
yang mudah dan sedang. Soal dengan kategori mudah hanya pada
soal nomor 10, dan soal dengan kategori sedang yaitu nomor 1, 2,
3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Sedangkan pada uji coba 20 soal untuk siklus

49
Ibid., hlm. 207.
39
II didapatkan soal-soal yang mudah dan sedang. Soal dengan
kategori mudah pada soal nomor 5 , 9, dan 12, sedangkan soal
dengan kategori sedang yaitu nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 10, 11, 13,
14, 15,16, 17, 18, 19 dan 20. (hasil hitungan selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran 9 dan 10).
d. Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk
membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi)
dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah).
50

Rumus mencari datya pembeda (nilai D) sebagai berikut:
B A
B
B
A
A
P P
J
B
J
B
D ÷ = ÷ =
Keterangan :
J = jumlah peserta tes
J
A
= banyaknya peserta kelompok atas
J
B
= banyaknya peserta kelompok bawah
B
A
= banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar soal
itu dengan benar
B
B
= banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar
soal itu dengan benar
Kriteria :
0,00 – 0,20 = jelek
0,21 – 0,40 = cukup
0,41 – 0,70 = baik
0,71 – 1,00 = baik sekali
nilai negatif = tidak baik
Berdasarkan uji coba 10 soal untuk siklus I didapatkan soal-soal
yang cukup dan baik. Soal dengan kategori cukup yaitu soal nomor
2, 3, 4, 5, dan 6, sedangkan soal dengan kategori baik yaitu nomor
1, 7, 8, 9, dan 10. Dan pada uji coba 20 soal untuk siklus II

50
Ibid., hlm. 211.
40
didapatkan soal-soal yang cukup ,baik dan baik sekali. Soal dengan
kategori cukup yaitu soal nomor 2, 3, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 16, 18 dan
20, soal dengan kategori baik yaitu nomor 1, 4, 8, 12, 13, 15, 17
dan 19, sedangkan soal dengan kategori baik sekali yaitu pada
nomor 14. (hasil hitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 9 dan 10).
H. Analisa Data
1. Uji Homogenitas
Sebelum dilakukan penelitian, populasi harus dalam keadaan homogen
agar dalam pengambilan sampel dapat digunakan teknik random
sampling. Data yang digunakan untuk uji ini adalah nilai USBN (Ujian
Sekolah Bestandart Nasional) dari siswa yang digunakan sebagai tes
masuk SMPI al-Azhar 14 Semarang. Uji ini dilakukan uji Bartlett
dengan rumus sebagai berikut :
X
2
= ln 10 { B - ∑ ( n
i
– 1 ) log S
i
2
}
Dengan;
B = log S
2
∑ ( n
i
– 1 )
S
2
=
) 1 (
) 1 (
2
÷ ¿
÷ ¿
i
i i
n
S n

Keterangan :
S
2
= varians gabungan dari semua populasi
S
i
2
= varians masing-masing kelompok
Kriteria pengujian, jika X
2
hitung
≤ X
2
tabel
dengan dk = k – 1 dan peluang
(1-α) maka sampel dalam keadaan homogen.
51

Berdasarkan perhitungan diperoleh X
2
hitung
= 3,6053 dengan taraf
kepercayaan 5% dan dk = (k – 1) = 3 diperoleh X
2
tabel
= 7,8147. Dari
hasil hitungan ternyata menunjukkan X
2
hitung
< X
2
tabel
, sehingga dengan
demikian bahwa populasi dalam keadaan homogen. (hasil hitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2).
2. Kelulusan Klasikal

51
Prof. DR. Sudjana, Metode Statistika, (Bandung : Tarsito, 2002), hlm. 263.
41
Persentase kelulusan siswa secara klasikal dihitung dengan rumus :
% 100
% 70
×
¿
> ¿
=
siswa seluruh
konsep menguasai yang siswa
klasikal Kelulusan
Kriteria :
0 – 25 % = jelek
25 – 50 % = kurang
51 – 75 % = cukup
76 – 100 % = baik
3. Data Observasi Aktivitas Siswa
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengetahui keaktifan
siswa selama pembelajaran sebagai berikut:
 menghitung jumlah tanda cek untuk masing-masing siswa;
 menentukan kategori keaktifan siswa dengan parameter yang telah
ditentukan;
 menghitung rata-rata skor keaktifan siswa; dan
 menghitung tingkat keaktifan secara klasikal.
Untuk mengetahui hasil persentase tiap aktivitas yang diperoleh siswa
diukur melalui rumus sebagai berikut :
% 100 % ×
¿
=
N
faktorial

52

Keterangan :
∑ faktorial = jumlah skor tiap aktivitas
N = jumlah skor maksimal seluruh aktivitas
Keterangan :
Rendah = 1
Sedang = 2
Tinggi = 3

Kriteria :

52
Maulida Hayati, 2007, /artikel online/, Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa
Kelas I SMP Negeri 1 Danau Panggang Melalui Kuis Numbered-Head-Together,
http://www.jurnalpendidikan.go.id/penelitian/kooperatif?=19./ diunduh tanggal 27 Oktober 2008.
42
< 39% = sangat kurang
40%-55% = kurang
56%-65% = sedang
66%-79% = tinggi
80%-100%= sangat tinggi
4. Data Observasi Kinerja Guru
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penilaian kinerja adalah
sebagai berikut:
- identifikasi semua aspek penting;
- tuliskan semua kemampuan khusus yang diperlukan;
- usahakan kemampuan yang akan dinilai dapat teramati dan tidak
terlalu banyak;
- urutkan kemampuan yang akan dinilai berdasarkan urutan yang
akan diamati;
- penilaian kinerja dapat menggunakan instrumen daftar cek
(checklist) atau skala rentang (rating scale).
53

Data kinerja guru dianalisis dengan rumus sebagai berikut:
% 100 % × =
N
n

Keterangan:
n = jumlah skor empiris
N = jumlah skor ideal
Kriteria penilaian:
Baik = > 85%
Sedang = 60% - 84%
Kurang = < 60%
I. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian ini sebagai berikut:

53
Masnur Muslich, KTSP; Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstektual, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2008), hlm. 96.
43
a. sekurang-kurangnya 76% dari jumlah siswa memperoleh nilai sains
kimia pada materi pembelajaran reaksi kimia >70, sesuai dengan KKM
pelajaran sains kimia SMPI al-Azhar 14 Semarang;
b. keaktifan siswa klasikal dalam mengikuti pembelajaran sekurang-
kurangnya 66%.











Sudah
(penelitian sudah
dapat dihentikan)
Belum






Belum
(penelitian dilanjutkan
dengan siklus berikutnya)
Sudah

Gambar 3: Alur tindakan pada penelitian
Ide awal
Temuan dan analisis fakta
SIKLUS I
Tindakan I
- Perencanaan tindakan
- Pelaksanaan tindakan
- Observasi tindakan
- Refleksi tindakan
Apakah tujuan tercapai ?
SIKLUS II
Tindakan II
- Perencanaan tindakan
- Pelaksanaan tindakan
- Observasi tindakan
- Refleksi tindakan
Apakah tujuan tercapai ?
Penulisan laporan
44
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui
efektivitas penggunaan metode pembelajaran eksperimen terhadap hasil
belajar siswa kelas VII SMPI al-Azhar 14 Semarang pada materi
pembelajaran reaksi kimia diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa setelah memperoleh pembelajaran materi
pembelajaran reaksi kimia berupa post test. Nilai post test siswa
diporeleh dari masing-masing siklus (2 pertemuan). Ringkasan nilai
post test siswa dapat dilihat pada Tabel 4.1 (Lampiran 11) sebagai
berikut.
Tabel 4.1. Pembagian Persentase Nilai Post Test Siswa SMPI al-Azhar 14
Semarang pada Materi Pembelajaran Reaksi Kimia
Siklus
Nilai Rata-
rata
∑ Siswa
yang Tuntas
Kelulusan
Klasikal
Kriteria
I 6,8 19 76% Baik
II 7,0 20 80% Baik

Dari Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata post test
siswa pada siklus I adalah 6,8 dengan persentase kelulusan siswa yang
tuntas sebesar 76%, berarti ada 6 siswa yang belum tuntas. Sedangkan
pada siklus II nilai rata-rata post test siswa adalah 7,0 dengan persentase
kelulusan siswa 80%, berarti ada 5 siswa yang belum tuntas. Sesuai
dengan KKM yang ditentukan oleh SMPI al-Azhar 14 Semarang yaitu
7,0, maka ketuntasan siswa secara klasikal pada siklus I dan II termasuk
dalam kriteria baik (data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 11).


45
2. Hasil Angket Tanggapan Siswa
Untuk mengetahui seberapa besar tanggapan siswa terhadap
metode pembelajaran eksperimen, maka siswa diberikan angket
tanggapan siswa sesudah melakukan pembelajaran. Ringkasan dari hasil
analisis angket tanggapan siswa dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Tabel
4.3 (Lampiran 15).
Tabel 4.2. Hasil Analisis Data Angket Tanggapan Siswa SMPI al-Azhar 14
Semarang pada Materi Pembelajaran Reaksi Kimia
No Pertanyaan
Siswa yang Menjawab
Persentase
“Ya” “Tidak”
1 24 1 96%
2 23 2 92%
3 0 `100 0%
4 4 21 16%
5 23 2 92%
6 15 10 60%
7 3 22 12%
8 2 23 8%
9 23 2 92%
10 5 20 20%
11 10 15 40%
12 25 0 100%
Ket. Jumlah responden 25 siswa
Dalam angket yang digunakan untuk mengetahui tanggapan
siswa, adapun pertanyaan-pertanyaan yang digunakan menyangkut
mulai hal-hal yang berkenaan dengan gambaran siswa mengenai metode
pembelajaran eksperimen sampai dengan motivasi belajar siswa. Dari
tabel dapat diketahui bahwa:
a. ada 24 siswa yang mengatakan bahwa penggunaan metode
pembelajaran eksperimen sesuai dengan materi pembelajaran yang
dipelajari;
46
b. ada 23 siswa mengatakan bahwa mereka tertarik dengan
menggunakan metode eksperimen. Karena mereka berpendapat
metode eksperimen menarik;
c. tidak ada siswa yang menjadi malas belajar setelah penerapan
metode pembelajaran eksperimen dalam pembelajaran;
d. ada 4 siswa yang mengatakan bahwa mereka tidak senang
menggunakan metode eksperimen dikarenakan metode eksperimen
sulit dan membosankan;
e. 23 siswa mengatakan bahwa mereka terbantu dengan penggunaan
metode pembelajaran eksperimen, karena dengan menggunakan
metode pembelajaran eksperimen materi akan lebih mudah
dipahami;
f. ada 15 siswa menyukai suasana kelas saat pembelajaran berlangsung
dengan menggunakan metode pembelajaran eksperimen.;
g. ada 3 siswa yang mengatakan bahwa mereka belum memahami
materi yang dipelajari dengan menggunakan metode pembelajaran
eksperimen dikarenakan siswa tersebut belum tertarik dengan
metode eksperimen;
h. ada 2 siswa yang mengatakan bahwa mereka lebih tertarik dengan
menggunakan metode sebelumnya. Karena mereka mengaggap
masih kesulitan untuk menggunakan metode pembelajaran
eksperimen. Hal ini disebabkan karena siswa tersebut masih suka
jika dalam pembelajaran terus didampingi oleh guru (tanpa adanya
timbal balik);
i. ada 23 siswa yang mengatakan senang menggunakan metode
pembelajaran eksperimen dalam pembelajaran, karena menarik;
j. ada 5 siswa yang mengatakan bahwa penggunaan metode
pembelajaran eksperimen tidak sesuai dengan materi pembelajaran
yang dipelajari;
47
k. ada 10 siswa yang mengatakan bahwa mereka tidak menyukai
suasana kelas dikarenakan banyak siswa yang ramai dan itu semua
menganggu situasi pembelajaran;
l. semua siswa mengatakan bahwa akan lebih rajin belajar dengan
menggunakan metode eksperimen, walaupun ada beberapa siswa
yang mengemukakan belum tertarik pada metode pembelajaran
eksperimen.
Tabel 4.3. Kriteria Tanggapan Siswa dari Hasil Analisis Data Angket
Tanggapan Siswa SMPI al-Azhar 14 Semarang pada Materi
Pembelajaran Reaksi Kimia
No Kriteria Jumlah Persentase
1 Tinggi 12 siswa 48%
2 Sedang 9 siswa 36%
3 Rendah 4 siswa 16%
Total 25 siswa 100%

Dari Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa tanggapan siswa terhadap
pembelajaran yang dilakukan cukup tinggi. Hal ini terlihat dari 25
siswa, 12 siswa mempunyai tanggapan yang tinggi dan 9 siswa
mempunyai tanggapan yang sedang terhadap pembelajaran. Dan hanya
4 siswa yang mempunyai tanggapan rendah (data selengkapnya dapat
dilihat pada Lampiran 15).
3. Hasil Observasi Aktivitas siswa
Hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung
mengalami peningkatan dari tiap pertemuan. Aktivitas siswa merupakan
pengamalan aspek afektif dan psikomotor. Aktivitas siswa pada aspek
afektif yang dapat diamati dalam penelitian ini meliputi; kemauan
(keberanian) untuk bertanya dengan inisiatif sendiri/ ditunjuk, kemauan
(keberanian) untuk menjawab pertanyaan dengan inisiatif sendiri/
ditunjuk, dan perhatian yang dilakukan siswa saat kegiatan penjelasan
guru. Sedangkan aktivitas siswa pada aspek psikomotor meliputi;
kecermatan siswa melakukan percobaan/ praktikum, antusias siswa
48
dalam mengikuti percobaan/ praktikum, dan keaktifan siswa untuk
berinteraksi dengan guru dan teman kelompok. Ringkasan hasil analisis
obesrvasi siswa tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.4 (Lampiran 13).
Tabel 4.4. Hasil Observasi Aktivitas Siswa SMPI al-Azhar 14 Semarang pada
Materi Pembelajaran Reaksi Kimia
Siklus Rendah Sedang Tinggi Persentase
I 12 Siswa 11 Siswa 2 Siswa 53,3%
II 0 Siswa 3 Siswa 22 Siswa 96,0%
Ket. Hasil observasi aktivitas siswa diambil dari pengamatan yang dilakukan
oleh observer 1 dan observer II (nilai rata-rata keduanya).
Dari Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa aktivitas siswa pada siklus I
dan II mengalami peningkatan dari 53,3% menjadi 96,0%. Pada siklus I
dan II, keaktifan siswa masing-masing termasuk dalam kriteria kurang
dan sangat tinggi (data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 13).
4. Hasil Observasi Kinerja Guru
Kinerja guru yang diamati dalam penelitian ini meliputi semua
kegiatan yang dilakukan guru setiap pertemuan mulai dari kegiatan
pendahuluan , inti, dan penutup. Ringkasan hasil observasi kinerja guru
dapat dilihat pada Tabel 4.5 (Lampiran 14).
Tabel 4.5. Hasil Analisis Observasi Kinerja Guru SMPI al-Azhar 14 Semarang
pada Materi Pembelajaran Reaksi Kimia
No Keterangan Siklus I Siklus II
1. Jumlah skor 9 10
2. Persentase 90% 100%
3. Kriteria Baik Baik
Ket. Hasil observasi kinerja guru diambil dari pengamatan yang dilakukan
oleh observer 1 dan observer II (nilai rata-rata keduanya).
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa kinerja guru pada siklus
I mempunyai persentase 90% dengan kriteria baik. Pada siklus I guru
kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Sedangkan
kinerja guru pada siklus II meningkat menjadi 100% dengan kriteria
baik (data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 14). Perbedaan
kinerja guru pada siklus I dengan II adalah aktivitas guru yang belum
49
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau
mengemukakan gagasannya. Kinerja guru yang baik ini dikarenakan
guru sudah mengenal metode pembelajaran eksperimen, jadi tidak
membutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan metode tersebut.
5. Hasil Tanggapan Guru
Berdasarkan hasil tanggapan dan masukan guru terhadap metode
pembelajaran eksperimen dalam pembelajaran yang diperoleh dari hasil
jurnal guru bahwa penerapan metode pembelajaran eksperimen pada
materi pembelajaran reaksi kimia sangat baik dikarenakan dengan
penerapan metode pembelajaran eksperimen siswa dapat membuktikan
obyek yang dipelajari secara langsung sehingga siswa menjadi tertarik,
antusias, termotivasi, dan menjadikan hasil belajar yang dicapai oleh
siswa optimal. Bahkan beliau (guru) tertarik untuk menggunakan
metode pembelajaran eksperimen pada pembelajaran berikutnya.
(Lampiran 16).

B. Pembahasan
Berdasarkan kajian awal nilai mid semester pelajaran sains kimia di
kelas VII semester gasal tahun pelajaran 2008/2009 menunjukkan hasil
yang masih rendah (lihat pada Tabel 1.1), pembelajaran masih berlangsung
satu arah, siswa kurang aktif, masih sedikit siswa yang bertanya meskipun
guru telah memberikan kesempatan untuk bertanya, kadang siswa lebih
suka bermain sendiri, mengganggu teman lain saat pembelajaran
berlangsung. Hal tersebut terjadi karena siswa kurang tertarik dengan
penyampaian materi yang kurang bervariasi dan sarana prasarana
pembelajaran yang kurang dimanfaatkan secara optimal, sehingga hasil
belajar belum tercapai secara maksimal. Oleh karena itu dalam penelitian
ini diterapkan suatu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan
kompetensi siswa, siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, meningkatkan
motivasi siswa, serta siswa memperoleh pengalaman belajar yang berarti.
50
Metode pembelajaran eksperimen dalam penelitian ini diterapkan
pada materi pembelajaran reaksi kimia. Dimana siswa diharapkan bisa
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi, baik perubahan fisika
maupun kimia, serta mempu mengetahui ciri-ciri yang terjadi pada reaksi
kimia. Kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran ini antara lain
siswa melakukan pengamatan, penyelidikan, tanya jawab, diskusi, dan
melaporkan hasil kegiatan, melalui kegiatan tersebut diarahkan untuk
berpikir konstruktivisme. Dengan demikian diharapkan siswa dapat
mengetahui dan memahami konsep atau prinsip melalui
pengalaman/percobaan sendiri, sehingga pengetahuan dan keterampilan
yang dimiliki siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta melainkan
hasil percobaan/percobaan mereka sendiri. Siswa mendapatkan kebenaran
suatu konsep melalui pengalaman yang konkrit sesuai objek yang telah
dilihatnya dalam pengamatan. Pengalaman tersebut memberikan wawasan,
pemahaman, dan teknik-teknik yang sulit untuk dipaparkan melalui
pembelajaran ceramah (ekspositori) saja. Sedangkan melalui kegiatan
percobaan dan diskusi, siswa dapat membahas dan membuktikan hasil
pengamatan. Dalam hal ini, guru dalam pembelajaran berfungsi sebagai
fasilitator (pemberi kemudahan dalam belajar) sehingga guru harus dapat
mengubah pola tindakan peran siswa dalam pembelajaran dari konsumen
gagasan (seperti menyalin, mendengar, menghafal) menjadi peran produsen
gagasan (seperti bertanya, menjawab, meneliti, mengemukakan pendapat).
54

Selain itu guru juga menjadi motivator yang memotivasi siswa agar terlibat
secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Kegiatan yang dilakukan guru selama pembelajaran menggunakan
metode pembelajaran eksperimen berlangsung dikelompokkan menjadi tiga
kegiatan yaitu awal (apersepsi), inti, dan akhir (penutup). Kegiatan awal
meliputi memberikan motivasi dengan mengajak siswa untuk
mengekplorasi aktivitas siswa selama sehari-hari yang berkaitan dengan

54
Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif
dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 36.
51
pembelajaran, terutama tentang reaksi-reaksi kimia serta menjelaskan
kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai pembelajaran pada materi
pembelajaran reaksi kimia.
Kegiatan inti dilakukan sesuai langkah-langkah pembelajaran
menggunakan metode pembelajaran eksperimen yaitu pembentukan
kelompok sesuai dengan hasil nilai mid semester, mengorientasikan siswa
untuk belajar dengan menyampaikan permasalahan kepada siswa berkenaan
dengan materi reaksi kimia, memberikan pengarahan kepada siswa tentang
kegiatan praktikum yang dilakukan, membimbing siswa melakukan
pengamatan tentang reaksi kimia, diskusi kelompok sesuai dengan hasil
pengamatan masing-masing tiap kelompok, dan menyimpulkan hasil
pengamatan yang dilakukan dalam melakukan praktikum reaksi-reaksi
kimia dalam kelompoknya masing-masing.
Kegiatan ini diakhiri dengan mengajak siswa untuk berdiskusi dan
menyimpulkan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Siswa
menyampaikan hasil pengamatan dengan berbagai macam karakter sesuai
dengan kelompoknya. Guru mencoba untuk membimbing dan mengarahkan
untuk menyimpulkan dengan menampung dan menyamakan persepsi dari
masing-masing siswa. Sehingga siswa mengetahui benda-benda yang
termasuk perubahan kimia adalah ketika kertas dibakar, besi yang berkarat,
serta ketika sumbu pada lilin dibakar. Sedangkan air yang menguap, proses
es mencair, beras yang ditumbuk, serta gula yang dilarutkan dalam air
merupakan perubahan fisika karena masih terdapat zat penyusunya dengan
mengidetifikasi lewat penglihatan, sentuhan, dan rasa. Pada praktikum yang
kedua didapatkan kesimpulan bahwa ciri-ciri yang terjadi pada reaksi kimia
antara lain terjadi perubahan warna, timbulnya endapan, timbul gas, dan ada
perubahan suhu (endotermis dan eksotermis).
Sedangkan pelaksanaan evaluasi dilaksanakan di setiap akhir siklus,
yaitu tiap siklus terdapat 1 pertemuan. Hasil kinerja guru diperoleh dari
pengamatan dalam setiap pertemuan (siklus) karena tiap kegiatan
merupakan kegiatan inti dari penelitian ini. Kinerja guru yang diamati
52
merupakan tugas-tugas guru yang meliputi; kemampuan mengajara,
kemampuan, dan penguasaan materi pelajaran.
55
Kegiatan ini dimulai dari
kegiatan pendahuluan (mengabsen siswa, menyampaikan apersepsi dan
memotivasi siswa, menyampaikan indikator), kegiatan inti
(mengorganisasikan siswa ke dalam kegiatan pembelajaran, membimbing
siswa dalam melakukan percobaan, memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab
pertanyaan dan berpendapat, menciptakan suasana pembelajaran yang
menyenangkan), dan kegiatan penutup (membimbing siswa menyimpulkan
materi pelajaran, melaksanakan evaluasi). Berdasarkan hasil observasi
kinerja guru pada siklus I dan II yaitu sebesar 90%(baik) dan 100% (baik)
(Lampiran 14). Hasil kinerja guru pada siklus I dan II terlihat baik
(optimal), karena guru sudah mengetahui metode pembelajaran eksperimen
jadi guru tidak membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan
penggunaan metode pembelajaran eksperimen. Dari siklus I dan II
didapatkan hasil yang baik, tetapi hal yang paling disoroti adalah sikap guru
dalam memberikan kesempatan kepda siswa untuk bertanya kepada guru
hal yang belum mereka pahami. Sehingga siswa tidak dapat menyampaikan
gagasan maupun keganjalan yang ada pada mereka. Hal ini dikhawatirkan
siswa lebih cenderung untuk menerima apa adanya sesuai dengan yang
disampaikan guru. Namun meskipun banyak guru yang sudah memahami
metode pembelajaran eksperimen, tetapi mereka banyak juga yang masih
enggan menggunakan metode pembelajaran eksperimen karena mereka
tidak mau terlalu direpotkan dengan persiapan pembelajaran. Karena dalam
metode pembelajaran eksperimen membutuhkan persiapan yang cukup.
Faktor yang sangat berpengaruh pada keberhasilan pembelajaran adalah
guru, karena guru dapat mengelola komponen-komponen pembelajaran
yang lain sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain itu

55
Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M.Pd., Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Wacana
Prima, 2008), hlm. 114.
53
hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar
siswa yang diajarnya.
56

Pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran
eksperimen yang dilaksanakan melalui percobaan dan pengamatan di bawah
kondisi yang telah diatur. Dengan pembelajaran ini siswa mempunyai
kesempatan untuk mengalami, melakukan, mengamati, membuktikan,
menganalisa, dan menarik kesimpulan dari hasil kegiatan. Karakteristik dari
penggunaan metode pembelajaran eksperimen ini adalah sebagian
perencanaan dibuat oleh guru sedangkan siswa ditugaskan untuk
menemukan konsep dan prinsip dari konsep yang dipelajari. Pada
penggunaan metode pembelajaran ini guru berperan sebagai fasilitator,
motivator, pendorong kreativitas, dan pembimbing.
57
Sedangkan para siswa
didorong untuk mencari pengetahuannya sendiri bukan dijejali dengan
pengetahuan.
Tanggapan siswa dalam proses pembelajaran diketahui dari hasil
angket yang dibagikan kepada siswa setelah pembelajaran menggunakan
metode pembelajaran eksperimen. Dari hasil angket tersebut diperoleh data
siswa bahwa semua siswa sudah mengetahui dan pernah menggunakan
metode pembelajaran eksperimen pada pelajaran lainnya, meskipun masih
sederhana. Ada beberapa siswa (2 siswa) yang kurang tertarik terhadap
penerapan metode pembelajaran eksperimen, hal ini dikarenakan mereka
menganggap metode pembelajaran eksperimen terlalu sulit untuk
menguasai pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Mereka masih
senang ketika pembelajaran dilakukan oleh guru saja, sehingga siswa pada
status konsumen pembelajaran. Sehingga siswa tersebut masih enggan
untuk melakukan praktikum/eksperimen, dan mereka kurang menguasai
konsep dari materi yang dipelajari. Meskipun dari hasil angket terjadi
kurang singkron antara jawaban siswa antara penyataan satu dengan yang
lain, tetapi secara keseluruhan mereka memberikan tanggapan yang positif

56
Masnur Muslich, KTSP; Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstektual, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2008), hlm. 91.
57
Ibid., hlm. 37.
54
terhadap metode pembelajaran eksperimen dan mereka tetap termotivasi
untuk belajar mandiri sehingga dapat mengetahui konsep secara
menyeleruh yang dilakukan dengan cara pengamatan sendiri(hasil
rekapitulasi angket tanggapan siswa dapat dilihat pada Lampiran 15).
Pembelajaran akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang ada pada
diri siswa, adanya motivasi belajar yang tinggi diharapkan dapat
berpengaruh pada pencapaian hasil belajar siswa yang optimal. Fungsi
motivasi itu sendiri adalah mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan,
sebagai pengaruh, dan sebagai penggerak.
Perubahan suatu motivasi akan merubah pula wujud, bentuk, dan
hasil belajar. Ada tidaknya motivasi seorang individu untuk belajar sangat
berpengaruh dalam proses aktivitas siswa itu sendiri. Beberapa kajian telah
menemukan bahwa ketika para siswa bekerja bersama-sama untuk meraih
sebuah tujuan kelompok, membuat mereka mengekpresikan norma-norma
yang baik dalam melakukan apa pun yang diperlukan untuk keberhasilan
pribadi maupun kelompok.
58
Aktivitas siswa yang menjadi penilaian dalam
penelitian ini meliputi memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru,
antusias mengikuti percobaan/ praktikum, cermat melakukan percobaan/
praktikum, bertanya (inisiatif sendiri/ ditunjuk), menjawab pertanyaan
(inisiatif sendiri/ ditunjuk), dan aktif berinteraksi dengan guru dan teman
kelompok (diskusi). Pada hal ini ranah afektif dan psikomotor dapat
terpenuhi, sehingga siswa tidak hanya dihadapkan pada ranah kognitif saja.
Ranah afektif dan psikomotor dapat kita ketahui dari kegiatan praktikum
yang siswa lakukan. Pada praktikum, siswa dituntut untuk berinteraksi
dengan lingkungan- dalam hal ini di dalam laboratorium- dengan
menggunakan alat dan bahan dalam merancang peralatan praktikum dan
melakukan percobaan secara cermat. Berdasarkan hasil analisis diperoleh
data aktivitas siswa pada siklus I dan II yaitu sebesar 53,3% (kurang) dan
96,0% (sangat tinggi) (Lampiran 13). Peningkatan aktivitas belajar siswa ini
dipengaruhi oleh motivasi dan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran.

58
Robert E Slavin, Cooperative Learning, (Bandung: Nusa Media, 2008), hlm. 35.
55
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan
kesempatan kepada siswa untuk belajar sendiri atau melakukan aktivitas
sendiri.
59
Hal ini sesuai dengan penggunaan metode pembelajaran
eksperimen, dimana dalam pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk
mencari dan membuktikan sendiri konsep melalui pengamatan dan
pengalamannya sendiri. Keaktifan siswa pada siklus I kurang sehingga
perlu adanya perubahan rencana pembelajaran yang dilakukan oleh
observer dan guru pada saat evaluasi guna diterapkan pada siklus II,
dikarenakan jumlah siswa tiap kelompok terlalu banyak (5 siswa). Sehingga
tiap kelompok lebih didominasi siswa-siswa yang aktif, dan siswa yang
kurangb aktif belum mendapatkankan kesempatan untuk berinteraksi
dengan kelompoknya selama praktikum.
Proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran
eksperimen juga berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.
Berdasarkan evaluasi (post test) yang dilakukan setelah dilakukan
pembelajaran menggunakan metode pembelajaran eksperimen, terlihat
bahwa terjadi peningkatan yang sangat siginifikan terhadap hasil belajar
pada mid semester. Hasil nilai rata-rata post test pada siklus I sebesar 6,8
dengan kelulusan klasikal sebesar 76%, sedangkan pada siklus II sebesar
7,0 dengan kelulusan klasikal sebesar 80%. Pada siklus I dan II, hasil
belajar siswa termasuk kriteria baik (Lampiran 11). Hal ini juga sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Mawar Setyorini (43014010028)
pada materi pembelajaran koloid. Dari penelitian ini didapatkan nilai post-
test siswa pada siklus I dengan rata-rata 55,9 (tingkat ketuntasan 5%) dan
pada siklus II dengan rata-rata 85,9 (dengan tingkat ketuntasan 97,5%).
60

Hasil belajar siswa yang diperoleh pada pembelajaran menggunakan
metode pembelajaran eksperimen lebih efektif dibandingkan dengan
pembelajaran menggunakan metode pembelajaran ekspositori (dapat dilihat

59
Masnur Muslich, Op.Cit., hlm. 75.
60
Mawar Setyorini, 4301401038, Skripsi, Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran
Kimia Materi Koloid pada Kelas XI Semester II dengan Penggunaan Metode Eksperimen dan
Diskusi, (Semarang: FMIPA UNNES, 2006), hlm. 50.
56
perbandingan pada tabel 1.1 dengan tabel 4.1). Hal ini disebabkan karena
pembelajaran dengan metode pembelajaran eksperimen dimana siswa diberi
kesempatan untuk mengetahui dan membuktikan sendiri hal-hal yang
berhubungan (integrated) melalui kerangka pengamatan dan
pengalamannya sendiri sendiri sehingga akan meningkatkan potensi
intelektual siswa. Selain itu dengan metode pembelajaran eksperimen dapat
menumbuhkan kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir,
menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan
kemampuan dan pengetahuan mereka.
61
Pembelajaran menggunakan
metode pembelajaran eksperimen dapat meningkatkan motivasi, aktivitas,
dan hasil belajar siswa, hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran
ini dapat dipergunakan dengan baik pada materi pembelajaran reaksi kimia
sehingga dapat diterapkan oleh guru dalam materi pembelajaran yang lain.
Metode pembelajaran eksperimen dapat diterapkan dengan baik
dalam materi pembelajaran reaksi kimia dapat dilihat dari hasil angket
siswa (angket tanggapan siswa) dan guru tentang penggunaan metode
pembelajaran eksperimen melalui angket siswa dan jurnal guru (Lampiran
15 dan 16). Hasil tanggapan siswa dan guru menyatakan bahwa penggunaan
metode pembelajaran eksperimen yang telah berlangsung selama
pembelajaran menunjukkan ketertarikan siswa dan guru terhadap
pembelajaran. Dari tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diambil
dari angket siswa terlihat jelas bahwa sebagian besar siswa mempunyai
tanggapan yang cukup tinggi. Hanya ada 4 siswa (16%) yang mempunyai
tanggapan rendah (Tabel 4.3). Siswa yang mempunyai tanggapan rendah
masih beranggapan bahwa pembelajaran semestinya harus sesuai dengan
bahan ajar yang ditentukan dari sebuah teks saja. Siswa hanya mengehui
kesimpulan saja tanpa mengetahui proses pengetahuan itu. Dengan
penggunaan metode pembelajaran eksperimen ini memungkinkan siswa
bertambah pengetahuannya tentang praktikum yang dilakukan, karena
dengan adanya penelitian ini diharapkan siswa yang belum paham akan

61
Robert E Slavin, Op.Cit., hlm. 5.
57
berusaha untuk menjadi paham sehingga menjadi lebih terampil dari
sebelumnya dan tentunya akan mempermudah penguasaan materi sehingga
prestasinya akan meningkat. Gambaran sikap siswa terhadap penggunaan
metode pembelajaran eksperimen juga diteliti oleh Catur Ekawati
(4314000028), yaitu dengan menggunakan instrument angket. Angket yang
digunakan berisi bagaimana tanggapan siswa terhadap praktikum, respon
evaluatif (sikap senang/ tidak senang) siswa, kesiapan seiswa dengan
memahami petunjuk praktikum, keaktifan siswa dan perasaan mendukung/
tidak mendukung terhadap keterampilan praktikum tersebut.
62

Dengan penggunaan metode pembelajaran eksperimen siswa dapat
melihat objek pembelajaran secara konkrit sehingga siswa tertarik dan
antusias. Siswa yang sebelumnya suka bermain sendiri dan mengganggu
teman lain saat pembelajaran berlangsung setelah diterapkan metode
pembelajaran eksperimen dalam pembelajaran kegemarannya bermain
dapat tersalurkan dengan melakukan percobaan, pengamatan, diskusi,
presentasi dan tanya jawab.
Selama observasi pada siklus I yang dilakukan oleh observer I dan II
didapatkan permasalahan yang menyebabkan keaktifan siswa kurang
sehingga harus dilakukan penyempurnaan pada siklus II. Hal ini terlihat
pada siklus I bahwa nilai post-test (ranah kognitif) siswa termasuk kategori
baik, akan tetapi aktivitas (ranah afektif dan psikomotor) siswa masih
kurang. Hal ini dikarenakan siswa masih enggan melakukan percobaan
secara bersama. Siswa lebih senang menunggu hasil dari kelompoknya dan
tidak terlibat secara aktif di dalam kelompoknya, serta hanya mendengarkan
kesimplan yang dibahas bersama sebagai bekal pengetahuannya. Melihat
hal ini, peneliti (observer I) bersama kolaborator (observer II) dan guru
kimia berusaha untuk membuat rencana pembelajaran secara efektif yang
tidak hanya bertumpu pada hasil tes (afektif) saja, akan tetapi aktivitas

62
Catur Ekawati, 4314000028, Skripsi, Pengaruh Sikap Siswa Terhadap Keterampilan
Praktikum pada Proses Belajar Mengajar Kimia Siswa Kelas X Materi Pokok Larutan Elektrolit
dan Non Elektrolit SMA Islam Sultan Agung I Semarang Tahun Ajaran 2004/2005, (Semarang:
FMIPA UNNES, 2005)hlm. 55.
58
siswa dalam pengembangan pengetahuan juga terlibat. Sehingga siswa
secara sepenuhnya memahami sebuah konsep materi yang dipelajari. Hal-
hal yang menyebabkan perbedaan pada hasil post-test dengan keaktifan
siswa sebagai berikut.
- Persiapan guru belum optimal, sehingga kesiapan siswa masih kurang.
Karena siswa belum diberitahu secara jelas tentang pembelajaran yang
akan dilakukan;
- Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya,
sehingga terkesan pembelajaran berlajan searah;
- Terlalu banyaknya anggota dalam masing-masing kelompok (5 siswa),
sehingga kurang efektif. Hal ini mengakibatkan siswa lebih bergantung
pada teman sekelompok. Oleh karena itu dari hasil evaluasi bahwa
jumlah anggota dalam masing-masing kelompok dikurangi menjadi 3-
4 siswa. Hal ini dimaksudkan supaya semua anggota kelompok terlibat
aktif aktif dan bertanggung jawab dalam kelompoknya pada proses
pembelajaran.
Pada saat evaluasi, observer dan guru mendiskusikan permasalahan
yang terjadi pada siklus I dan merancang rencana pembelajaran untuk siklus
II. Sehingga diharapkan pada siklus II pembelajaran berjalan secara efektif.
Meskipun siswa gaduh karena aktivitas siswa dalam melakukan praktikum,
tetapi guru harus dapat menguasai keadaan. Guru harus selalu memantau
aktivitas siswa agar aktivitas siswa tidak berlebihan dan sesuai dengan
tujuan dari pembelajaran.
Penggunaan metode pembelajaran eksperimen mempunyai
kelebihan karena berlangsung secara ilmiah dalam bentuk siswa mengalami
melalui percobaan dan pengamatan sendiri, tidak hanya mendapatkan
transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hal ini akan memperkuat daya
ingat siswa pada materi pembelajaran yang telah disampaikan di kelas dan
dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa yang tinggi sehingga akan
berpengaruh terhadap prestasi belajar.
59
Akan tetapi ada juga hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pengimplementasikan metode pembelajaran eksperimen kepada siswa SMP
kelas VII (masa transisi). Seorang guru harus cermat dalam mengawasi
segala aktivitas siswa dalam menjalankan praktikum, sehingga sangat
penting sekali setiap laboratorium perlu adanya seorang laboran (petugas
laboratorium) agar dapat membantu guru dalam pengawasan aktivitas di
laboratorium. Selain itu seorang guru dalam menyampaikan apersepsi
kepada siswa harus dengan hal-hal yang menarik, agar siswa lebih tertarik
untuk melakukan praktikum dengan senang dan baik. Karena siswa masih
beranggapan bahwa kimia berhubungan dengan hal-hal yang berbahaya.
Dalam penelitian ini ada beberapa yang harus dikaji lebih lanjut
untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Adapun keterbatasan dari
penelitian ini sebagai berikut.
- Kurangnya kesiapan pihak peneliti dengan guru dalam segi persiapan
pembelajaran;
- Masih belum lengkapnya alat dan bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran praktikum, sehingga diharapkan lebih bisa
memaksimalkan kinerja dari laboran;
- Penguasaan kelas di laboratorium masih terbatas. Oleh karena itu perlu
adanya kesiapan guru yang lebih detail.















60
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap penerapan
metode pembelajaran eksperimen pada materi pembelajaran reaksi kimia di
kelas VII-A SMPI al-Azhar 14 Semarang dapat disimpulkan bahwa:
1. prestasi belajar siswa meningkat dari sebelum
penelitian (mid semester) dan setelah penelitian. Begitu juga pada waktu
penelitian, nilai rata-rata siswa siklus I sebesar 6,8 meningkat menjadi
7,0 pada siklus II. Kelulusan klasikal kelas tersebut juga meningkat, dari
76% pada siklus I menjadi 80% pada siklus II. Hal ini menunjukkan
hasil yang signifikan dibandingkan dengan hasil mid semester (Lihat
perbandingan Tabel 1.1 dan Tabel 4.1);
2. metode pembelajaran eksperimen dapat
meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini
terlihat aktivitas siswa dari siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan, yaitu sebesar 53,3% meningkat menjadi 96%. Metode
pembelajaran eksperimen dapat menumbuhkan aktivitas siswa dalam
pembelajaran.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diberikan saran sebagai
berikut.
1. Guru perlu menggunakan metode pembelajaran
eksperimen dalam pembelajaran pada materi pembelajaran reaksi kimia
untuk saat ini dan seterusnya untuk meningkatkan pemahaman siswa;
2. Perlu adanya penambahan sarana prasarana yang
mendukung dalam penggunaan metode pembelajaran eksperimen untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah;
61
3. Untuk mengatasi kendala-kendala dalam
menggunakan metode pembelajaran eksperimen, maka rencana
pembelajaran harus dipersiapkan secara cermat.

C. Penutup
Syukur alhamdulillah atas berkat rahmat dan hidayah Allah SWT,
skripsi yang sederhana ini dapat tersusun dengan baik. Peneliti sadar bahwa
dalam penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan, maka peneliti
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak untuk
penyempurnaan skripsi.
Peneliti mengucapkan terima kasih atas partisipasi dari semua pihak
yang turut mendukung penyusunan skripsi ini sehingga dapat tersusun
dengan baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
berkepentingan, terutama bagi peneliti demi menciptakan suasana
pendidikan Indonesia yang berkualitas, bermoral, dan bermartabat. Amin.


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->