P. 1
Laporan KP Di PKN

Laporan KP Di PKN

|Views: 2,051|Likes:
Published by YunanArdhiFaisal

More info:

Published by: YunanArdhiFaisal on Nov 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1.Latar Belakang
  • 1.2.2. Tujuan
  • 1.3.Lokasi Kerja Praktek
  • 1.4.Ruang Lingkup Kerja Praktek
  • 1.5.1. BAB I PENDAHULUAN
  • 1.5.2. BAB II DASAR TEORI
  • 1.5.3. BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
  • 1.5.4. BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK
  • 1.5.5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
  • 2.1.Pengenalan Batubara
  • 2.2.1.Posisi geoteknik
  • 2.2.2.Keadaan topografi daerah
  • 2.2.3.Iklim daerah
  • 2.2.4.Proses penurunan cekungan sedimentasi
  • 2.2.5.Umur geologi
  • 2.2.6.Jenis tumbuh-tumbuhan
  • 2.2.7.Dekomposisi
  • 2.2.8.Sejarah setelah pengendapan
  • 2.2.9.Struktur geologi
  • 2.2.10.Metamorfosa organik
  • 2.3.1.Coal proximate
  • 2.3.2.Coal ultimate
  • 2.3.3.Coal maceral
  • 2.4.1.ASTM Classification
  • 2.4.2.Seyler’s Classification
  • 2.4.3.Ralston’s Classification
  • 2.4.4.ECE Classification (Economic Commission for Europe)
  • 2.4.5.International Classification for Lignite
  • 2.7.1.Tahap Pemboran
  • 2.7.3.Tahap perekeman data Elektrik Logging
  • 3.1.Profil Perusahaan
  • 3.2. Produksi Batubara
  • 3.3. Struktur Organisasi Perusahaan
  • 4.1.Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan
  • 4.2.1. Peralatan Kerja Wellsite
  • 4.2.2. Peralatan Pemboran
  • 4.4.1 Lingkup Pekerjaan
  • 4.4.2.1 Rig Set Up
  • 4.4.2.2 Drilling
  • 4.4.2.3 Deskripsi Cutting
  • 4.4.2.4 Perekaman Data e-logging
  • 4.4.2.6 Rig Down dan Moving
  • 5.1 Kesimpulan

DRAFT LAPORAN KERJA PRAKTEK

PERANAN WELLSITE GEOLOGIST DALAM EKSPLORASI BATUBARA
(SENGKELAMI PROJECT, KELUBIR MINE OPERATION, PT. PESONA KHATULISTIWA NUSANTARA)

DIENAN FIRDAUS 11/12/2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Kerja Praktek merupakan salah satu mata kuliah wajib yang ada pada kurikulum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, dimana mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat melalui perkuliahan pada dunia pekerjaan yang berhubungan dengan dunia geologi. Tempat pelaksanaan kerja praktek geologi dapat bermacam-macam, bisa di bidang industri seperti industri logam, industri energi maupun pada lembaga ilmu pengetahuan, pada lembaga survey, serta lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan dunia geologi. Pada kesempatan ini penulis

melaksanakan kerja praktek di bidang pertambangan, tepatnya pertambangan batubara yang terletak di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Seiring dengan terus melonjaknya harga bahan bakar minyak, kini permintaan konsumen akan batubara sebagai sumber energi terus meningkat, terutama digunakan pada pembengkit listrik, industri pengolahan logam, pabrik semen, dan industri besar lainnya. Pembentukan batubara sendiri merupakan proses alamiah yang membutuhkan waktu hingga jutaan tahun, sehingga batubara dapat digolongkan sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable natural resources). Keterdapatan Batubara di Indonesia sendiri terutama pada Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Sebelum dapat menambang batubara tentunya harus diketahui terlebih dahulu cadangan dan jenis batubara pada suatu daerah, apakah ekonomis atau tidak untuk ditambang. Untuk itu harus dilakukan tahap eksplorasi yang meliputi survey awal dan survey terperinci. Survey awal adalah melakukan studi pustaka untuk mengetahui regional geologi daerah yang akan ditambang dan melakukan pemetaan permukaan (surface mapping) untuk mengetahui sebaran serta arah kemiringan lapisan batubara. Survey terperinci dilakukan dengan melakukan pemboran dengan kedalaman hingga mencapai bottom dari lapisan batubara. Yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan logging geofisika. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai

2

posisi dan kondisi batubara di bawah permukaan serta hubunganya dengan litologi di sekitarnya. Setelah tahap survey terlaksana baru kemudian dilakukan analiasis cadangan dan mutu batubara, apakah ekonomis untuk ditambang atau tidak.

1.2. Maksud dan Tujuan 1.2.1. Maksud Maksud dari dilaksanakanya kerja praktek ini adalah untuk terlibat langsung dalam peranan dan pekerjaan seorang geologist di bidang pertambangan batubara. 1.2.2. Tujuan Tujuan dari dilaksanakannya kerja praktek ini adalah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai pekerjaan seorang geologist di perusahaan, dalam hal ini sebagai seorang wellsite geologist.

1.3. Lokasi Kerja Praktek Lokasi kerja praktek dilakukan di PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara yang berlokasi di desa Kelubir dan sekitarnya, kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur.

1.4. Ruang Lingkup Kerja Praktek Kerja Praktek yang dilakukan kali ini termasuk dalam tahap eksplorasi lanjutan, yaitu berkaitan dengan rencana perluasan areal tambang berdasarkan data yang sudah ada. Pekerjaan yang dilakukan disini adalah sebagai wellsite geologist, yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap suatu titik pemboran (borehole). Ruang lingkup pekerjaanya adalah mendeskripsisikan sample batuan yang keluar dari lubang bor yang berupa cutting dan core sample, serta memberikan keputusan mengenai total depth lubang bor, apabila terjadi permasalahan teknis pada saat pemboran berlangsung, dan penentuan lokasi titik pemboran berikutnya.

3

5. BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK  Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan  Peralatan Pekerjaan Yang Digunakan  Jadwal Pekerjaan Yang Dilakukan  Pelaksanaan Pekerjaan 4 .5. Adapun sistematika penulisannya sebagai berikut.1. BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN  Profil Perusahaan  Bidang Pekerjaan Perusahaan  Organisasi Perusahaan 1. BAB I PENDAHULUAN  Latar Belakang  Maksud dan Tujuan  Lokasi Kerja Praktek  Ruang Lingkup Kerja Praktek  Sistematika Laporan Kerja Praktek  Metodologi Program Kerja Praktek 1.3. Sistematika Laporan Kerja Praktek Dalam penulisan laporan kerja praktek dibagi menjadi beberapa bab yang menunjang kegiatan selama kerja praktek.1.4.5.5. 1.2.5. BAB II DASAR TEORI  Pengenalan Batubara  Proses Pembentukan Batubara  Material Penyusun Batubara  Kualitas dan Klasifikasi Batubara  Lingkungan Pengendapan Batubara  Tahapan Penambangan Batubara  Wellsite Geologist Dalam Tahapan Eksplorasi 1.

6.5.5. Metodologi Program Kerja Praktek Prosedur dalam melaksanakan kerja praktek dilakukan dalam beberapa tahapan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Setelah mendapatkan surat persetujuan dari perusahaan kemudian mahasiswa melakukan regristrasi ke bidang akademik jurusan bahwa telah diterima kerja praktek di suatu perusahaan.1. Dimulai dari pembuatan proposal pengajuan kerja praktek yang kemudian dikirimkan ke perusahaan yang disertai surat pengantar dari pihak jurusan. Setelah semua prosedur dan persyaratan dipenuhi kemudaian mahasiswa siap melakukan kerja praktek di lokasi dan waktu sesuai keputusan perusahaan 5 .

N (nitrogen). S (sulphur). sehingga membentuk suatu sediment atau batuan organik yang sekarang disebut batubara. Akibatnya sisa tumbuhan tersebut akan terus mengendap membentuk suatu sediment fossil tumbuhan yang selanjutnya mengalami perubahan fisik dan biokimia serta dipengaruhi oleh waktu . H (hydrogen). gas bumi dan panas bumi. keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C (carbon).1. 2. 6 . arang kayu dapat dibuat sebagai rekayasa dan hasil inovasi manusia selama jangka waktu yang pendek sedangkan batubara terbentuk oleh proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Komposisi utama batubara serupa dengan komposisi kimia arang kayu. karena diuraikan oleh bakteri pengurai. O (oxygen). kemudaian jatuh ke tanah yang kering. sungai. Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan. Akan tetapi apabila suatu tumbuhan atau pohon yang sudah mati kemudian jatuh di daerah yang berair seperti rawa. atau danau. Karena batubara terbentuk oleh proses alam . Perbedaannya.BAB II DASAR TEORI 2. Proses Pembentukan Batubara Apabila ada suatu tumbuhan atau pohon yang mati. dan temperature. maka tumbuhan tersebut akan membusuk dan akhirnya hilang tidak meninggalkan sisa organik. maka banyak parameter yang akan berpengaruh pada pembentukan batubara. Hal ini dikarenakan batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami proses pembatubaraan (coalification). maka tumbuhan tersebut tidak akan mengalami pembusukan secara sempurna.2. dan P (phospor). Pengenalan Batubara Batubara merupakan salah satu sumber energi disamping minyak. karena pada kedalaman tertentu bakteri tidak lagi bisa menguraikan tumbuhan tersebut baik bakteri aerob maupun anaerob. tekanan.

Dalam proses pembentukan batubara tersebut terdapat dua teori penting yang menjelaskan tentang pembentukan batubara. Pada level lebih bawah lagi yang aktif adalah bakteri anaereob. Teori drift menjelaskan bahwa batubara terbentuk didaerah yang bukan merupakan daerah dimana tumbuhan pembentuk batubara tersebut berasal. Pada prinsipnya perubahan fisik tersebut merupakan pemerasan 7 . Teori insitu menjelaskan bahwa batubara terbentuk di daerah dimana tumbuhan tersebut berasal atau dengan kata lain endapan batubara tersebut berada di hutan atau di daerah bekas hutan tumbuhan yang membentuk batubara tersebut. Tumbuhan atau pohon yang sudah mati. yaitu teori insitu dan teori drift. bahkan mati. dan perubahan fisik pun terjadi pada peat tersebut. Perubahan yang cepat terjadi pada top 0. Pada kedalaman ini berat akumulasi peat menyebabkan tekanan bertambah. Proses coalification tersebut dimulai dari Peat sampai Antrasit. kemudian terbawa oleh air (banjir). Batubara yang terbentuk dengan teori insitu hanya terjadi di hutan basah atau daerah hutan yang berawa karena di daerah seperti ini beberapa jenis bakteri pengurai tidak aktif. Bakteri ini biasanya aktif sampai kedalaman 10 m. di bawah kedalaman tersebut perubahan yang terjadi adalah perubahan kimia seperti polymerisasi. Sedangkan di daerah hutan kering. pembusukan terjadi sempurna sehingga tidak ada material organik yang tersisa kecuali mineral yang kembali ke tanah dan pada kondisi in tumbuhan yang mati tersebut tidak akan menjadi batubara.5 meter dimana pada kedalaman ini bakteri aerob yang aktif dan menguraikan vegetasi tersebut. reaksi reduksi dan lain-lain. Pada tahap ini terjadi perubahan secara biokimia atau perubahan diagenetik. Bakteri ini mengkonsumsi oksigen dari molekul organik.Proses pembentukan batubara terjadi beberapa tahap. Proses atau tahap pertama pembentukan batubara adalah pembentukan Peat atau yang disebut dengan Peatification. dan tahapantahapan tersebut disebut Coalification. kemudian terendapkan di delta-delta sungai atau didalam danau purba sehingga pembusukan tumbuhan tersebut tidak sempurna dan akhirnya membentuk fossil tumbuhan yang kemudian menjadi batubar dengan teori drift.

Kandungan Carbon pada lapisan bagian atas bertambah agak cepat seiring dengan terjadinya pembusukan pada zat-zat selulosa. diikuti dengan menurunya nilai Volatile matter yang cukup drastis. Selama transisi dari Lignite ke sub-bituminous menghasilakan produk dari reaksi coalification yaitu moisture. Penurunan porositas ini disebabkan oleh terjadinya kompresi lapisan batubara tersebut oleh berat dari overburden. Pada batubara high volatile bituminous kelanjutan tahap coalification ditunjukan dengan terus berkurangnya oxygen dan moisture yang menghasilkan naiknya nilai kalori. Sedangkan kenaikan carbon (daf) nya adalah dari 85% sampai 90%. 8 .kelebihan air dari endapan peat tersebut. Penurunan volatile matter (daf) pada transisi ini mencapai lebih dari 14 % 40 %. Penurunan porositas menyebabkan penurunan pula pada kandungan moisture. dan gas methan dalam jumlah yang kecil yang merupakan hasil pembusukan sisa-sisa lignin. Penurunan kandungan moisture pada proses ini tercatat sekitar 1 % untuk setiap kedalaman 10m. Sedangkan pada transisi dari Lignite ke sub-bituminou terjadi penurunan moisture 1 % untuk setiap kedalaman 100-200 m. terjadi penurunan porositas secara drastis. Pada transisi dari Peat ke Lignite dan selanjutnya ke sub-bituminous. Pada Lignite moisture berkurang sampai 4 % untuk setiap kedalaman 100m. Perubahan transisi dari biuminous ke antrasit.carbon dioksida. Perubahan ini disebabkan oleh terjadinya perubahan kimia dalam molekul batubara.

Oleh karena itu tempat tersebut mempunyai topografi yang relatif lebih rendah dibanding daerah yang 9 .2. Proses tektonik ini dapat pula diikuti oleh perlipatan perlapisan batuan ataupun patahan.2. kualitas betubara yang dihasilkan akan semakin baik. Proses ini akan berpengaruh terhadap penyebaran batubara yang terbentuk. Makin dekat cekungan sedimentasi batubara terbentuk atau terakumulasi terhadap posisi kegiatan tektonik lempeng. Posisi geoteknik Posisi geoteknik adalah letak suatu tempat yang merupakan cekungan sedimentasi yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya tektonik lempeng.2. Adanya gaya-gaya tektonik ini akan mengakibatkan cekungan sedimentasi menjadi lebih luas apabila terjadi penurunan dasar cekungan. Siklus pembentukan batubara Proses pembentukan batubara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi di alam. atau menjadi lebih sempit apabila terjadi penaikan dasar cekungan. suatu cekungan sedimentasi akan dapat terbagi menjadi dua atau lebih sub cekungan sedimentasi dengan luasan yang relatif kecil.1.1.Gambar 1. Apabiala proses ini terjadi. 2. Keadaan topografi daerah Daerah tempat tumbuhan berkembang biak merupakan daerah yang relatif tersedia air. faktor-faktor tersebut antara lain : 2.

akan terbentuk penambahan luas permukaan tempat tanaman mampu hidup dan berkembang. 2. Dalam hitungan waktu geologi.4. disamping tersedianya sinar matahari sepanjang waktu. 2. Di indonesia. Iklim daerah Iklim berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. batubara didapatkan pada cekungan sedimentasi yang berumur tersier (70 juta tahun yang lalu). Di daerah beriklim tropis dengan curah hujan silih berganti sepanjang tahun. makin banyak tanaman yang tumbuh.2.3. Kebanyakan luas tanaman yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh iklim akan menentukan penyebaran dan ketebalan batubara yang terbentuk. 70 tahun yang lalu masih dianggap terlalu muda dibandingkan dengan jaman karbon. Proses penurunan cekungan sedimentasi Cekungan sedimentasi di alam bersifat dinamis.2. merupakan tempat yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman. Maka dari itu di daerah yang memiliki iklim tropis pada masa lampau sangat dimungkinkan didapatkan endapan batubara dengan jumlah banyak.mengeliliginya. 2. Umur geologi Jaman karbon (kurang lebih 350 juta tahun yang lalu) diyakini merupakan awal munculnya tumbuh-tumbuhan di dunia untuk pertama kalinya. Di indonesia batubara yang memiliki nilai ekonomis untuk ditambang terdapat pada cekungan sedimentasi yang berumur tersier dengan luasan ratusan hingga ribuan hektar terutama di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Oleh karena itu banyak yang mengatakan bahwa batubara Indonesia adalah batubara muda 10 .2.5. Apabila proses penurunan dasar cekungan sedimentasi lebih sering terjadi. Selain itu penurunan dasar cekungan akan mengakibatkan terbentuknya lapisan batubara yang cukup tebal. sehingga makin banyak terdapat bahan pembentuk batubara. Makin luas daerah dengan topografi relatif rendah. artinya dasar cekungan akan mengalami proses penurunan atau pengangkatan.

Batubara yang terbentuk dari tanaman yang keras dan berumur tua akan lebih baik dibandingkan dengan batubara yang terbentuk dari tanaman yang berbentuk semak dan hanya berumur semusim. merupakan faktor penentu terbentuknya berbagai type batubara. Dari proses diatas terjadi perubahan dari kayu menjadi lignit dan batubara berbitumen. Penting untuk dipahami bahwa tua-mudanya batubara adalah ditentukan oleh umur pembentukan batubara tersebut. maka akan terhindar oleh proses 11 . Dekomposisi Dekomposisi flora merupakan bagian dari transformasi biokimia dari organik merupakan titik awal untuk seluruh alterasi. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti celulosa. karbon monoksida (CO) dan methan (CH4). Kecepatan pembentukan gambut tergantung pada kecepatan perkembangan tumbuhan dan proses pembusukan. sisa tumbuhan akan mengalami perubahan baik secara fisik maupun kimiawi. Hal ini tidak ada hubungannya dengan banyaknya Antrasit yang ditemukan di daerah Sumatra. 2.2. 2. proses degradasi biokimia lebih berperan. Pertumbuhan dari flora terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim dan topografi tertentu. Bila tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat.7. Sedangkan coal rank ditentukan oleh kualitas batubara tersebut. Setelah tumbuhan mati. Dalam pertumbuhan gambut.6.(young age coal). protoplasma dan pati. Jenis tumbuh-tumbuhan Flora merupakan unsur utama pembentuk batubara.2. Dalam suasana kekurangan oksigen terjadi proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H2O) dan sebagian unsur karbon akan hilang dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Akibat pelepasan unsur atau senyawa tersebut jumlah relatif unsur karbon akan bertambah. Proses pembusukan (decay) akan terjadi oleh kerja mikrobiologi (bakteri anaerob).

tetapi terjadi proses disintegrasi atau penguraian oleh mikrobiologi. Struktur geologi Terbentuknya batubara pada cekungan batubara umumnya mengalami deformasi oleh gaya tektonik. 2. 2. Panas yang ditimbulkan selama terjadinya proses perlipatan. Proses ini akan dipercepat apabila dalam cekungan tempat batubara tersebut berada terjadi mroses intrusi magmatis.2.2.pembusukan. Metamorfosa organik Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah penimbunan atau penguburan oleh sedimen baru. Proses ini menyebabkan terjadinya perubahan gambut 12 . Makin dekat posisi cekungan sedimentasi terhadap posisi geoteknik yang selalu dinamis akan mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan letak batubara berada. 2.2. Pada tingkat ini proses degradasi biokimia tidak berperan lagi tetapi lebih didominasi oleh proses dinamokimia. Oleh sebab itu pencarian batubara bermutu baik diarahkan pada daerah geosinklin atau geantiklin karena kedua daerah tersebut diyakini kegiatan tektonik berjalan cukup intensif.9. Apabila dinamika geoteknik memungkinkan terbentuk lipatan pada lapisan batuan yang mengandung batubara. yang akan menghasilkan lapisan batubara dengan bentuk tertentu. dan proses intrusi magmatis akan mempercepat terjadinya proses coalification. secara teoritis akan meningkatkan mutu batubara. Selama waktu itu pula proses geokimia dan metamorfisme organik akan ikut berperan dalam mengubah gambut menjadi batubara. Sejarah setelah pengendapan Sejarah cekungan tempat terjadi pembentukan batubara salah satu faktor faktor diantaranya ditentukan oleh posisi cekungan sedimentasi tersebut terhadap posisi geoteknik. dan terjadi proses pensesaran. Semakin banyak perlipatan dan pensesaran terjadi di dalam cekungan sedimentasi yang mengandung batubara.10. proses ini akan mempercepat terbentuknya batubara dengan rank yang lebih tinggi. pensesaran.8.

CH4 dan gas lainnya) serta bertambahnya prosentase karbon padat. Tekanan dapat disebabkan oleh lapisan sedimen penutup yang sangat tebal atau karena tektonik. 13 . CO. oksigen dan zat terbang (seperti CO2. belerang dan kandungan abu. Selama proses ini terjadi pengurangan air lembab.menjadi batubara dalam berbagai mutu. Perubahan mutu batubara diakibatkkan oleh faktor tekanan dan waktu.

Komponen batubara secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu Moisture/air. Lihat ilustrasi gambar dibawah ini : Kalau Batubara dimisalkan sebagi batang atau tabung. dll. dan Organik. Mineral Matter. Bagian. Komponen Penyusun Batubara Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara.2.2.3. lignin. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat. maka bagian – bagian komponen batubara adalah sebagai berikut : Gambar 2.bagian komponen batubara 14 .

1. juga dapat digolongkan lagi menjadi beberapa golongan substansi sepeti Proximate. Sulfur. tetapi unsur organiknya dibagi berdasarkan unsur pembentuk organik tersebut.3. Unsur. Kemudian Nitrogen. Oleh karena itu peringkat batubara dapat dilihat dengan penurunan Vlatile matter. Hidrogen. dan semakin tinggi juga fixed carbon dan semakin rendah Volatile Matter yang diperoleh.unsur pembentuk organik batubara terdiri dari Total Carbon. Nitrogen dan Sulfur. sedangkan fixed carbon berasal dari gugus rantai carbon yang kuat seperti gugus aromatik.Substansi batubara selain seperti yang diilustrasikan diatas. Volatile matter biasanya berasal dari struktur alifatik carbon yang mudah putus dengan thermal dekomposisi. dan Maceral. Sedangkan bagian organik batubara yang tetap pada pemanasan tersebut digolongkan sebagai Fixed Carbon atau karbon tetap. 15 . Bagian Organik yang menguap atau terurai ketika batubara dipanaskan tanpa oksigen pada temperature 900o Celsius digolongkan sebagai Volatile Matter. 2. 2. Coal proximate Batubara dapat dibagi menjadi 4 bagian dalam proximate. unsur moisture dan mineral matter tetap. Semakin tinggi peringkat batubara semakin besar jumlah carbon yang membentuk aromatik. Ultimate. dimana pada bagian organik batubara dibagi lagi menjadi 2 berdasarkan sifat penguapan atau keteruraian dengan pemanasan pada suhu tertentu dan waktu tertentu. Kemudian Hidrogen (tidak termasuk hidrogen yang berasal dari air atau moisture.3. baik yang berasal gugus alifatik maupun yang berasal dari gugus aromatik. dan Oksigen. Coal ultimate Pada penggolongan batubara ultimate. Dalam penentuannya Oksigen tidak secara langsung ditentukan melainkan dengan cara mengurangkan unsur organik yang 100% dikurangi dengan Carbon.2.

lemak dan minyak. unsur moisture dan mineral matter tetap. Coal maceral Pada penggolongan Coal Maceral. atau dahan. Suberinite. akan tetapi unsur organiknya dibagi berdasarkan substansi pembentuk batubara yang terdiri dari 3 golongan atau grup maceral yaitu Vitrinite. Exinite atau liptinite. Inertinite ini biasanya memiliki kadar carbon yang tinggi.3. tangkai. tidak tercantum diatas. hydrogen yang rendah serta derajat aromatisisty yang tinggi. Grup maceral ini didasarkan pada fosil atau bahan pembentuk batubara seperti daun. spora. dan Inertinite. dan lain-lain. cutikula (yang terdapat pad permukaan daun) lilin/parafin. dan sering dikorelasikan dengan nilai volatile matter seperti yang terdapat pada ASTM standard. Charring atau oksidasi pada saat proses pembentukan batubara berlangsung merupakan proses yang membedakan substansi Vitrinite dan Inertinite. cabang. Liptinite berasal dari spora.2. resin. Maceral ini berasal dari batang pohon. Nilai reflectan dari Vitrinite dijadikan penentu peringkat batubara. Fungsi dari maceral ini sebenarnya untu mencegah pengeringan pada tanaman. dan pada permukaan akar. Fusinite sering juga disebut sebagai “mother of charcoal” karena diidentikan dengan 16 . akar batang. cutikula. batang dan buah buahan. daun. Yang membedakannya adalah historikal pembentukannya yang disebut fusination.  Inertinite Material pembentuk inertinite sebenarnya sama dengan pembentuk Vitrinite.  Vitrinite Vitrinite adalah maceral yang paling domonant dalam batubara. hanya terdapat pada batubara tersier.3. alga. Maceral ini berasal dari substansi semacam gabus yang terdapat pada kulit kayu. dan akar tumbuhan pembentuk batubara.  Exinite atau liptinite Seperti namanya.

Maka dari itu perlu dilakukan pengujian terhadap sampel batubara yang sudah didapat dari data pemboran. seperti batubara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak. analisa ultimat. seperti Hardgrove Grindability Index. Batubara dengan mutu yang rendah. Kualitas dan Klasifikasi Batubara Hasil dari analisa dan pengujian contoh batubara digunakan oleh Geologis eksplorasi untuk mengevaluasi apakah deposit batubara memiliki potensi untuk mensuplai pasar yang telah ada dan yang akan datang . Tingkat perubahan yang dialami batubara. dan feasibility study apakah layak untuk melakukan operasi penambangan pada cadangan batubara tersebut. dan dengan demikian kandungan energinya rendah. yang terdiri dari . Batubara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca.4. Batubara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak. Handling. dari gambut sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan dan memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai „tingkat mutu‟ batubara.terjadinya forest fire pda saat dekomposisi batubara. 2. Batubara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah. nilai kalori 17 . seperti analisa proksimat. Relative Density. Sizing  Analysis.  Pengujian kimia. Antrasit adalah batubara dengan mutu yang paling baik dan dengan demikian memiliki kandungan karbon dan energi yang lebih tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih rendah Pengujian yang dilakukan digunakan untuk menentukan karakteristik batubara sesuai dengan peringkat (rank) dan potensi pemanfaatannya. Float & Sink Test. Pada batubara Indonesia Maseral dari grup inertinite seperti sclerotinite banyak ditemukan dan biasanya berasal dari sisa-sisa atau fosil fungi.  Pengujian fisik.

3. sedangkan grafik kecil menggambarkan hubungan calorific value (dmmf) dengan % volatile matter (dmmf) dan % moisture (adb). 2. fly ash properties.1. fixed carbon (dmmf) dan calorific value (dmmf) sebagai patokan. Lignite mempergunakan calorific value (dmmf) sebagai patokan.Batubara yang jatuh di atas band disebut per-hydrous sedangkan yang jatuh di bawahnya disebut sub-hyrous.  Evaluasi Petrografik.4. Pengujian pemanfaatan batubara thermal. 18 . crucible swelling number dan rasio O/H=8. fixed carbon (dmmf) merupakan patokan utama. 2. Seyler’s Classification Ralston‟s mempergunakan hasil analisa ultimate yang sudah dinormalisasi (C + H + O = 100). ASTM Classification Sistem klasifikasi ini mempergunakan volatile matter (dmmf). Klasifikasi ini ditampilkan dalam bentuk beberapa grafik kecil yang bertumpu pada grafik utama. sedangkan volatile matter (dmmf) sebagai patokan kedua. Grafik utama menghubungkan % carbon (dmmf) dengan % hydrogen (dmmf). Ditengah grafik tersebut terdapat band yang menggambarkan yang menggambarkan area dimana 95% batubara inggris akan berada serta menunjukkan jenisnya. Ada beberapa sistem klasifikasi yang biasanya digunakan untuk menentukan rank suatu batubara yaitu : 2. Ditampilkan dalam bentuk triaxial plot. trace element. Ralston’s Classification System klasifikasi ini mempergunakan % carbon (dmmf) dan % hydrogen (dmmf) sebagai dasar utama.4. Bituminous mempergunakan volatile matter (dmmf) sebagai patokan kedua.2. Band yang terdapat pada triaxial plot tersebut ialah area dimana batubara berada. seperti ash fusion. ash analysis  untuk elemen mayor dan elemen mikro. Untuk anthracite.4. menggambarkan % oxygen (dmmf). Seyler‟s chart ini tidak cocok untuk low rank coal.

group dan sub-group.2.ash free) lebih kecil dari 5700 cal/g. Classification by Type on the Basis of Total Moisture content and Tar Yield”. Mengelompokkan batubara yang mempunyai heating value (moist. Tar yield diukur dengan Gray-King Assay. Dimana sistem ini membagi rank atau golongan batubara menjadi beberapa kelas seperti dibawah ini: 19 . dimana batubara didestilasi dan hasilnya berupa gas. Tar yield mempunyai korelasi dengan hydrogen dan pengukuran ini cukup baik sebagai indicator komposisi petrographic. ECE Classification (Economic Commission for Europe) ECE membuat system klasifikasi yang dapat dipergunakan secara luas. 2.4. terutama coal group dan coal sub-group yang menjelaskan perilaku batubara jika dipanaskan secara perlahan maupun secara cepat sehingga dapat memberikan gambaran kemungkinan penggunaannya.4.5. Coal group mempergunakan Gray-king coke type atau maximum dilatation pada Audibert-Arnu dilatometer test sebagai patokan. cairan. Sistem ini mampu menunjukkan coal rank dan potensi penggunaannya.Sistem ini mengelompokkan batubara dalam class. Batubara dikelompokkan dalam coal class dengan patokan total moisture dan coal group dengan patokan tar yield. International Classification for Lignite ISO 2960:1974 “Brown Coals and Lignites. sedangkan coal sub-group mempergunakan crucible swelling number dan Roga test sebagai patokan. pada tahun 1965 yang kemudian menjadi standar international. air. Pada tahun 1988 sistem ini dirubah dengan lebih menekankan pada pengukuran petrographic.4. Coal class mempergunakan calorific value atau volatile matter sebagai patokan. tar dan char dilaporkan dalam persen. Diantara sistem klasifikasi diatas yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi ASTM (American Society for Testing and Material).

Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa). Lingkungan Pengendapan Batubara Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. 1983) 2.. Akibat pengaruhpengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi. Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatnya (ASTM. ketebalan.Tabel 2. dan kualitas batubara. Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral. 20 . 1981. komposisi.5.1. op cit Wood et al.

backbarrier strand plain. channel. high TPI. high sulphur transgressive : mainly bright coals. 1992) Environment Gravelly braid plain Subenvironment Bars. low sulphur Sandy braid plain Bars. mainly dull coals. lagunal. medium TPI. floodplains and basins. raised bogs Coal Characteristics mainly dull coals. Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain. point bars. raised bogs. swamp. channel. channel. swamp. high sulphur regressive : mainly dull coals. deltaik. swamps. lagoons. overbank plains. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai. alluvial valley and upper delta plain. low sulphur Alluvial valley and upper delta plain channels. Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2. lower delta plain. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda. mouth bar. raised bogs mainly bright coals. low sulphur Lower delta plain Delta front. fens. overbank plains. high GI. low GI. tidal inlets.1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai.Menurut Diessel (1984. swamp. fans and marshes Backbarrier strand plain Off-. Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara(Diesel. low to medium TPI. fens. and marshes Estuary channels. low TPI and GI. dan estuary. medium to high TPI. swamps. low sulphur mainly bright coals. atau juga fluviatil. op cit Susilawati . near-.2. and backshore. medium to low TPI. high to very high GI. splays. sandy braid plain. tidal flats. low to medium GI. medium to high GI. fens and marshes mainly bright coal with high GI and medium TPI 21 .

paralel lamination. 1998). Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers. batulempung. graded bedding. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. crevase. flood plain. dan bioturbasi. Pada saat terjadi banjir. dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. dan batulempung juga umum ditemukan. channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination. ripple lamination.Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. dan batubara berlapis. Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut. batulanau. 22 . Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding. Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. splay. dan swamp. Laminasi batupasir. Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau. Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen. levee.

Pembersihan lahan (land clearing) Kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang mulai dari semak belukar hingga pepohonan yang berukuran besar. Namun bila materialnya merupakan material kuat. dll. maka terlebih dahulu dilakukan pembongkaran dengan peledakan (blasting) 23 . stockpile.4. 2. 1985). Hal tersebut bergantung pada perencanaan dari perusahaan.6.6. sehingga tanah pucuk ini dapat diguanakan dan ditanami kembali untuk kegiatan reklamasi.Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Tahapan Penambangan Batubara Tahapan kegiatan penambangan batubara yang diterapkan untuk tambang terbuka adalah sebagai berikut : 2. Alat yang biasa digunakan adalah buldozer ripper dan dengan menggunakan bantuan mesin potong chainsaw untuk menebang pohon dengan diameter lebih besar dari 30 cm.6. Pengupasan Tanah Pucuk (top soil) Maksud pemindahan tanah pucuk adalah untuk menyelamatkan tanah tersebut agar tidak rusak sehingga masih mempunyai unsur tanah yang masih asli. Pada tahap ini akan dibangun jalan tambang (acces road).6. 2.3. Pengupasan Tanah Penutup (stripping overburden) Bila material tanah penutup merupakan material lunak (soft rock) maka tanah penutup tersebut akan dilakukan penggalian bebas. 2. Persiapan Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan dalam tahap penambangan. 2.1.2. Tanah pucuk yang dikupas tersebut akan dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara atau langsung di pindahkan ke timbunan. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen.6. Kegiatan ini bertujuan mendukung kelancaran kegiatan penambangan.

Kegiatn ini dimaksudkan agar pit bekas tambang tidak meninggalkan lubang yang besar dan digunakan untuk rehabilitasi lahan pasca tambang.7. 2.8.kemudian dilakukan kegiatan penggalian. 2. serta pengotor lain yang berupa agen pengendapan (air permukaan. Selanjutnya dilakukan kegiatan coal getting hingga pemuatan ke alat angkutnya.5.6.6. Untuk lapisan batubara yang keras. air hujan.6. 2. Pengupasan parting (parting removal) Parting batubara yang memisahkan dua lapisan atau lebih batubara peerlu dipindahkan agar tidak mengganggu dalam penambangan batubara. 2. Penambangan Batubara (coal getting) Untuk melakukan penambangan batubara (coal getting) itu sendiri. Backfilling (dari tempat penyimpanan sementara) Tanah penutup maupun tanah pucuk yang sebelumnya disimpan di tempat penyimpanan sementara akan diangkut kembali ke daerah yang telah tertambang (mined out).9. maka terlebih dahulu dilakukan penggaruan. Tanah penutup yang akan dijadikan material backfilling biasanya akan ditimbun ke penimbunan sementara pada saat taambang baru dibuka. longsoran).6. kegiatan lanjutan adalah pengangkutan batubara (coal hauling) dari lokasi tambang (pit) menuju stockpile atau langsung ke unit pengolahan. Pengangkutan Batubara (coal hauling) Setelah dilakukan kegiatan coal getting. Penimbunan Tanah Penutup (overburden removal) Tanah penutup dapat ditimbun dengan dua cara yaitu backfilling dan penimbunan langsung. Maksud dari kegiatan coal cleaning ini adalah untuk membersihkan pengotor yang berasal dari permukaan batubara (face batubara) yang berupa material sisa tanah penutup yang masih tertinggal sedikit. 24 . Peledakan yang akan dilakukan perlu dirancang sedemikian rupa hingga sesuai dengan produksi yang diinginkan. 2. terlebih dahulu dilakukan kegiatan coal cleaning.6.6.

  Memiliki pengetahuan tentang ilmu geologi Mengerti tentang tahapan eksplorasi batubara 25 . akan dijelaskan peranan seorang wellsite geologist dalam eksplorasi pemboran batubara yang dilakukan oleh suatu perusahaan.6. dan penebaran tanah pucuk diatas disposal overburden yang telah di backfilling. salah satu tahapan yang memegang peranan penting adalah tahapan pemboran awal. 2. dengan tanaman yang sesuai atau hampir sama seperti pada saat tambang belum dibuka.11.7.2. Penghijauan (reclamation) Merupakan proses untuk penanaman kembali lahan bekas tambang. baik terhadap pit yang sedang aktif maupun pit yang telah ditambang. Berdasarkan hal tersebut. Kontrol (monitoring) Kegiatan ini ditujukan untuk pemantauan terhadap aplikasi rencana awal penambangan. timbunan.6.6. Dilihat dari jenis pekerjaan yang dilakukan maka seorang wellsite geologi harus memiliki kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan di lapangan.12. Oleh karena itu. 2. kontrol akan dilakukan terhadap lereng tambang.10. dimana pada tahapan ini diperlukan adanya pengawasan lapangan yang merupakan peranan seorang wellsite geologist. Wellsite geologist merupakan seorang pengawas lapangan yang bertugas dan bertanggung jawab mengawasi suatu lokasi pemboran dalam suatu kegiatan eksplorasi pemboran demi kelancaran pemboran tersebut. Adapun beberapa kemampuan umum yang perlu dimiliki oleh seorang wellsite geologi. agar daerah bekas tambang dapat ditanami kembali untuk pemulihan lingkungan hidup (reclamation). ataupun lingkungan. pembentukan. maka peranan seorang wellsite geologist dalam kelancaran pemboran sangat dibutuhkan. perataan. Wellsite Geologist Dalam Tahapan Eksplorasi batubara Pada tahapan eksplorasi. Perataan dan Rehabilitasi Tanah (spreading) Terdiri dari pekerjaan penimbunan. 2.

26 .   Memahami teori-teori tentang batubara Mengenal kondisi lapangan (lokasi penelitian) Memahami tentang standart operational prosedur (SOP) perusahaan sebagai wellsite geologi.

Diagram alir kerja Wellsite Geologist Data Geologist Rencana Aktivitas Kerja Mobilisasi Lapangan Penentuan titik Pemboran Setup Rig Drilling & Diskripsi cutting / coring logging Compare Data Drlling dan Logging Coal Recovery >90% Sampling Batubara Redrill Coal Recovery <90% Data Lapangan Packing Sample Sample Delivery Test Laboratory Pengambilan koordinat lubang bor Report 27 .

Pemboran vertikal yaitu pemboran yang arahnya relatif tegak lurus dengan permukaan bumi. Umumnya dilakukan untuk pemboran pada batuan yang relatif keras dan pengambilan contoh batuan dalam kondisi disturb (kondisi terganggu). yaitu: 1. Tahap Pemboran Salah satu jenis kegiatan dalam eksplorasi untuk penyelidikan di bawah permukaan bumi adalah pemboran. peranan seorang wellsite geologist dibagi dalam beberapa tahapan. Pemboran dengan menggunakan sistem tumbukan (percussion drilling). yaitu : 2. Pemboran dengan menggunakan sistem putaran (rotari drilling). 2. Umumnya dilakukan untuk pemboran pada batuan / tanah yang relatif lunak dan pengambilan contoh batuan dalam kondisi undisturb (kondisi tidak terganggu). keras dan pengambilan contoh batuan dalam kondisi disturb dan undisturb (kondisi terganggu dan kondisi tidak terganggu). pemboran dibagi menjadi beberapa jenis.1.  Berdasarkan arahnya. di antaranya :  Berdasarkan metode penetrasi lapisan batuan dan jenis mesin yang digunakan. Maksud dan tujuan kegiatan pemboran dalam eksplorasi geologi adalah :  Untuk mengetahui jenis dan urutan lapisan batuan  Untuk mengetahui adanya indikasi geologi struktur  Untuk mengambil sample yang diperlukan dalam eksplorasi geologi Proses pemboran memiliki beberapa macam kategori yang ditinjau dari beberapa aspek. pemboran dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Pemboran dengan menggunakan sistem campuran antara rotary drilling dengan sistem tumbukan (percussion drilling). 28 .Dalam kegiatana eksplorasi.7. 3. Umumnya dilakukan untuk pemboran pada batuan atau tanah yang relatif lunak .

2. Pemboran dangkal (shallow drilling).yaitu: 1. Dalam tahapan pemboran. Penentuan Titik Bor Tahapan awal yang dilakukan oleh wellsite geologist dalam proses pemboran adalah menentukan lokasi titik bor yang akan dilakukan proses pemboran. 3. yaitu pemboran yang dilakukan dengan kedalaman pemboran mencapai 51 meter atau lebih. yaitu pemboran yang dilakukan dengan tidak mengambil sample batuan. dan elevasinya atas persetujuan geoevaluator site. yaitu penentuan titik bor. Pemboran horisontal yaitu pemboran yang arahnya relatif sejajar dengan permukaan bumi. yaitu pemboran yang dilakukan dengan mengambil semua sample batuan. Pemboran directional yaitu pemboran yang arahnya ditentukan berdasarkan arah tertentu. Pemboran open hole. Pemboran touch coring. pengawasan proses pemboran. 2. 2. tugas dan peranan seorang wellsite geologist antara lain. Pemboran dalam (deep drilling). pemboran dibagi menjadi tiga jenis. 3. dan penentuan pemindahan lokasi/titik bor : 1. yaitu pemboran yang dilakukan dengan kedalaman pemboran antara 30 sampai 50 meter. Dalam 29 . dimana pemboran coring hanya dilakukan pada lapisan batuan yang diinginkan. pemboran dibagi dua jenis. yaitu pemboran yang merupakan kombinasi antara pemboran open hole dengan pemboran coring. Pemboran full coring. nomor titik bor. dimana data yang data pemboran ini berdasarkan deskripsi cutting yang diambil permeternya. Penentuan titik bor ini diinstruksikan oleh wellsite geologist kepada juru bor (driller) berdasarkan data yang sudah ada di GPS dan data survei yang meliputi letak.  Berdasarkan kedalaman penetrasi.  Berdasarkan metode pengambilan sampel batuan. bahkan kurang dari 30m. yaitu: 1.

Penentuan pemindahan lokasi/titik bor Setelah proses pemboran pada suatu titik bor selesai. serta memastikan semua peralatan pemboran berfungsi dengan baik. Pengawasan Proses Pemboran Pada eksplorasi pemboran batubara di suatu perusahaan. kegiatan pemboran dilaksanakan oleh pihak kontaktor. 30 . Peralatan pemboran yang berfungsi dengan baik akan menunjang kelancaran proses pemboran dan keamanan dalam prose pemboran. 2. Adapun suatu titik bor dianggap telah selesai apabila hasil pemboran (dalam hal ini sampel batubara yang diperoleh) telah memenuhi ketentuan atau standar yang telah ditentukan. Dimana terdiri atas 1 orang operator (driller) dan 3 orang sebagai pembantu operator (drilling crew).penentuan titik bor terkadang terdapat ketidaksesuaian antara data survei pada GPS dengan kondisi di lapangan. maka wellsite geologist memberikan perintah dimulainya pemboran. Wellsite Geologist berhak pula untuk menghentikan atau meneruskan proses pemboran dengan berbagai alasan teknis atau dalam keadaan yang tidak aman. maka selanjutnya wellsite geologist bertanggungjawab memberikan perintah kepada operator/juru bor untuk melakukan pemboran di lokasi/titik bor yang baru. Berdasarkan hal tersebut. Dalam pelaksanaannya seorang operator pemboran wajib menjalankan keputusan seorang wellsite geologist. yaitu berupa nilai “coal recovery”. Selama pemboran berlangsung menjadi tugas seorang Wellsite geologist merekam dan mengawasi setiap hal yang terjadi menyangkut proses pemboran. Kegiatan pemboran yang dilaksanakan membutuhkan paling sedikitnya 4 orang untuk menjalankan aktifitas pemboran batubara tersebut. 3. maka wellsite geologist dituntut untuk memperbaiki penetuan titik bor tersebut. Dimana standar yang biasa digunakan adalah nilai coal recovery dalam range 90 – 100 %. Apabila penentuan suatu titik bor selesai. jadi dengan kata lain seorang operator pemboran bertanggung jawab kepada wellsite geologist yang sedang bertugas di lokasi pemboran tersebut.

conchoidal. e. Metode ini berupa metode pemboran yang merupakan kombinasi antara pemboran open hole dengan pemboran coring. Pada saat pemboran open hole. sub conchoidal. uneven. b. Tingkat kelapukan.2. istilah yang dipakai even. Dalam proses pegeboran ini seorang wellsite geologist harus mengambil semua data tentang pemboran. Kilap (luster/bright). adalah warna yang terlihat dipermukaan dengan mata telanjang.7. maka wellsite geologist harus melakukan beberapa analisa untuk memutuskan apakah lokasi/titik bor tersebut harus dilakukan pemboran kembali (redrill) atau dinyatakan selesai. istilah ini dinyatakan dalam prosentase. Tahap pengambilan data dan sampel pemboran Proses pemboran yang diawasi oleh wellsite geologist pada tahapan eksplorasi yang sering dilakukan pada saat ini termasuk dalam pemboran dengan metode touch coring.Jika hasil pemboran tidak memenuhi nilai coal recovery yang ditentukan. Gores (streak). 2. wellsite geologist harus mendiskripsi kan cutting yang keluar dari lobang pemboran tiap meternya. flat. Pecahan (fracture). misal : bright 60% Pemerian pada litologi selain batubara yang perlu diperhatikan adalah : 31 . Adapun parameter pendeskripsian yang biasa dilakukan oleh wellsite geologist pada tahap eksplorasi. yaitu : Pemerian pada batubara yang perlu diperhatikan adalah : a. adalah warna dari batubara yang telah digores menjadi serbuk. c. Pendeskripsian cutting yang dilakukan wellsite geologist didasarkan atas parameter yang telah ditentukan atau berdasarkan standar yang ditentukan oleh perusahaan. dimana pemboran coring hanya dilakukan pada lapisan batuan yang diinginkan. Warna (color). d.

Istilah – istilah yang dipakai adalah terpilah baik (butir – butir sama besar). g. Istilah – istilah yang dipakai adalah : . Istilah kemas terbuka digunakan untuk butiran yang tidak saling bersentuhan.rounded (membundar) . Warna (color) lithologi b. Kemas (fabric).angular (menyudut0 . oksida besi atau mineral lempung. yaitu porositas sangat baik (very good). d. Massa dasar terbentuk bersama fragmen pada saat sedimentasi. adalah tingkat kelengkungan dari setiap fragmen butiran.a. Porositas.sub angular (menyudut tanggung) e. sedang (fair). Besar butir (grain size). dan kemas tertutup untuk butiran yang saling bersentuhan. 32 . dapat berupa silika. adalah sifat hubungan antar butir. buruk (poor) diuji dengan meneteskan cairan. Kebulatan (roundness). baik (good). adalah tingkat keseragaman besar butir. Pemilahan (sorting). Dalam hal ini dapat dipakai istilah – istilah yang kualitatif yang merupakan fungsi daya serap batuan terhadap cairan. dapat berupa bahan semen atau butiran yang lebih halus. Massa dasar (matrix) adalah massa dimana butiran/fragmen berada dalam satu kesatuan. Semen terbentuk pada saat pembentukan batuan. adalah perbandingan antara jumlah volume rongga dan volume keseluruhan dari satu batuan. karbonat. terpilah sedang dan terpilah buruk. adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan).sub rounded (membundar tanggung) . kesatuannya di dalam satu massa dasar atau di antara semennya. Skala pembatasan yang dipakai adalah “Skala Wentworth”.wellrounded (membundar baik) . f. Semen dan Massa Dasar (matrix) Semen adalah bahan yang mengikat butiran. c.

maka selanjutnya dilakukan coring untuk mengambil sampel batubara yang diinginkan. Struktur Sedimen Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer. d. maka digunakan suatu alat yang dinamakan core barel. Beberapa struktur sedimen hanya dapat diamati pada satu atau beberapa satuan perlapisan. tidak dengan cara yang bisa merusak core di dalam inner split. Untuk mengambil inti/core batuan.h. misalnya : memukul core barrel c.60 m maka dimana satu kali proses penangkapan atau pengambilan inti/core batuan dengan menggunakan core barrel biasanya disebut satu run. yaitu struktur yang terbentuk pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Perlapisan beragam dari yang tipis (laminasi) sampai tebal. Perlapisan dapat ditunjukkan oleh perbedaan besar butir atau warna dari bahan penyusunannya. panjang maksimal inti/core batuan yang dapat tertangkap yaitu 1. Panjang core sampel langsung diukur untuk mengetahui recovery core sampel. Melakukan pencatatan kedalaman (interval) “run” setiap kemajuan coring b. Adapun tugas wellsite geologist dalam tahap pengambilan sampel batubara adalah sebagai berikut : a. Biasanya dalam satu penangkapan inti/core batuan dengan menggunakan core barel. Setelah kegiatan pengeboran open hole sampai pada kedalaman yang diinginkan atau sudah sampai pada lapisan batubara. Core sampel yang berada dalam tabung core barel dikeluarkan bersama – sama dengan tabung split. Melakukan pengukuran panjang core pada tabung inner split setiap kemajuan coring (run).60 m. Kegiatan eksplorasi pemboran batubara yang menggunakan core barel dengan kapasitas 1. Inner split dikeluarkan dari tabung split dengan cara menyemprot memakai pompa air. 33 .

f. Melakukan deskripsi terhadap core batubara dan non batubara. 34 .Panjang core sampel yg didapat Recovery core sampel = Panjang coring yg dilakukan e. Penyusunan core sampel dimulai dari ujung pojok kiri (top/roof) dan seterusnya menyambung dari top/roof sampai bottom/floor. k. Core box diberi tanda atau kode nomor lokasi bor.  Tentukan bagian roof dan bagian floor. tanda panah dalam box menunjukkan arah cara meletakan sampel i. Satu core box dibuat untuk total kedalaman 5 meter. X 100 % 1 meter Top/roof 1 2 3 4 5 Bottom/floor Gambar : Core Box (pandangan atas). g. Kondisi core sampel maupun core box harus dalam keadaan aman. Melakukan pengambilan sampel batubara  Lakukan deskripsi/pemerian sampel secara megaskopis dengan teliti dan benar. j. Membungkus core batubara dengan plastik “wrap” dan letakkan pada tempat yang terhindar dari cahaya matahari langsung dengan tujuan tetap menjaga kelembaban inti/core sample. Core sampel yang sudah dikeluarkan kemudian diletakkan pada core box (kotak core). panjang 1 meter lebar disuaikan. interval kedalaman bor dan nomor box. Core box dibuat sesuai dengan ukuran core sampel. h.

 Sampel langsung dibawa ke camp atau tempat yang sudah disediakan sebelum dibawa ke laboratorium. nomor kode lokasi bor. Jika lokasi dekat dengan laboratorium sampel dapat langsung dibawa ke lab. parting ikut disampel.  Masukkan kartu sampel pada plastik sesuai dengan nomor sampel. interval loss sampel) pada kartu sampel. sampel tidak boleh kehujanan atau rusak karena dapat mengurangi keakurasi hasil analisa. nomor bag (plastik sampel) berapa dari total bag berapa. ada parting atau tidak.  Masing – masing plastik sampel (bag) dijadikan satu sesuai dengan nomor lokasi bor atau sesuai dengan satu lapisan dan diikat dengan kuat dan benar supaya tidak berhamburan atau tercecer dan memudahkan untuk pengecekan ulang. 35 . bagian per bagian sesuai dengan nomor bagian (ply).  Tulis nomor sampel. menggunakan tali yang sudah disediakan. interval sampel.  Tulis interval sampel pada buku deskripsi. Pastikan dengan teliti dan benar. nomor bag berapa dari bag berapa.  Tentukan batas panjang bagian sampel (ply) dan jumlah sampel yang akan diambil. tebal sampel. tebal sampel. interval sampel. Kartu sampel tidak boleh kontak langsung dengan sampel (kartu sampel dilapisi plastik supaya tidak tembus uap air atau rusak).  Siapkan plastik sampel dan tulis nomor kode lokasi bor dan nomor sampel. ada yang loss atau tidak sebagai pertimbangan untuk menentukan panjang pembagian sampel (ply by ply) yang akan diambil.  Ambil dan masukkan sampel pada plastik sampel.  Dari tempat lokasi pengambilan sampel sampai dengan laboratorium.  Ikat plastik sampel dengan kuat dan benar sesuai petunjuk. lokasi pengambilan sampel. Sampel tidak boleh terkontaminasi dengan kotoran atau sampel lain. tulis remarks (misal : sampel lapuk.

00 M : 01 OF 02 : 2 BAG 2. seorang wellsite geologist dapat mengetahui dan memperoleh data sebagai berikut :   Jenis litologi. dan caliper serta 36 .00 M : 3. core lost.  Perbandingan ketebalan batubara dari data elektrik logging dengan data pemboran Parameter yang digunakan dalam perekaman dan pengukuran data electric logging terdiri atas empat (4) parameter untuk pemboran dalam (deep drilling) yaitu : gamma ray.kesalahan yang disebabkan dari kesalahan teknik pemboran (adanya water lost. sebagai pendamping pelaksana kegiatan pemboran.Gambar Contoh penulisan kartu sampel PT. Sehingga untuk mengantisipasi hal-hal tersebut maka digunakanlah elektrik logging dalam perekaman data.  Lapisan pengotor (parting).7. dan sebagainya) maupun disebabkan hal lainnya.00 to 18. Dengan metode Logging Geofisika Elektrik Logging. PESONA KHATULISTIWA NUSANTARA Sample No Bore Hole Location Sample Interval Sample Thickness Bag Remarks : 01 : PKN-11-S_020 : SENGKELAMI : 15. resistivity. Tahap perekeman data Elektrik Logging Perekaman data secara manual kadang kala kelihatannya kurang akurat dikarenakan dalam kegiatan pemboran biasanya sering terjadi kesalahan. Sedangkan data yang diperlukan memerlukan keakuratan yang baik untuk dijadikan data penunjang dalam evaluasi dan tahapan eksploitasi (penambangan). baik batubara maupun batuan pengapitnya.3. density. Kedalaman dan ketebalan lapisan seam batubara. Dengan metode geofisika tersebut pengambilan data lapangan bisa menjadi lebih akurat walaupun tidak secara detail.

dimana batubara mempunyai massa jenis dan sifat (kerapatan) yang besar dibandingkan dengan batuan lainnya sepert limestone. Untuk defleksi dari batuan lempung tersebut simpangan mengarah ke kanan dari diagram. Dimana ditetapkan bahwa untuk perhitungan top batubara ditentukan 1/3 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan lithologi lain di atasnya dan untuk perhitungan bottom batubara ditentukan 1/3 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan lithologi lain di bawahnya. mudstone. 2. Metode kerja dari elektrik logging ini didasarkan pada massa jenis dan sifat kerapatan yang dikandung oleh lapisan batuan. dan sandstone. density. Electric Logging Density Electric logging density merupakan suatu pengukuran yang berfungsi untuk mengukur kerapatan elektron pada suatu lapisan batuan. Electric Logging Gamma Ray Elektrik logging ini berfungsi untuk menentukan lithologi batuan berdasarkan unsur radioaktif. Untuk penentuan top dan bottom batubara untuk mengukur ketebalan dari data density yaitu dengan cara menentukan 1/2 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan lithologi lain di atasnya (untuk perhitungan top batubara) dan 1/2 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan litologi lain di bawahnya (untuk bottom batubara) 37 . Shale dan batulempung (mudstone) mempunyai tingkat radioaktif yang tinggi dibanding batupasir (sandstone) dan batubara (coal). 1. Sedangkan batubara yang mempunyai tingkat radioaktif yang kecil maka arah dari defleksi simpangan mengarah ke kiri diagram.dua (2) parameter untuk pemboran dangkal (shallow drilling) yaitu hanya gamma ray. Adapun cara penentuan top dan bottom batubara untuk penentuan ketebalan mengacu pada BPB Company.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui progres pemboran yang dikerjakan di suatu titik pemboran. harus dilaksanakan dengan baik.3. Electric Logging Resistivity Electric logging resistivity didasarkan pada porositas dari tahanan jenis yang diselidiki. Seorang wellsite geologist bertanggungjawab penuh akan kesempurnaan dan kelengkapan laporan yang akan dibuat.3. yaitu : a. maka tahapan akhir yang harus dilaksanakan oleh seorang wellsite geologist. 2. Hal-hal 38 . Untuk batubara merupakan jenis batuan yang mempunyai porositas paling rendah dibandingkan dibandingkan dengan batuan yang lainnya. Tahap Pelaporan Data Setelah melakukan beberapa tahapan dari seluruh rangkaian tahapan eksplorasi. Laporan harian ini berisi tentang segala jenis kegiatan yang dilakukan di titik pemboran yang menyangkut tentang pemboran dalam satu hari. Untuk batuan dengan porositas tinggi akan mempunyai tahanan jenis rendah dan sebaliknya. yaitu tahapan pelaporan data. Tahap ini meliputi pelaporan dari seluruh rangkaian tahapan eksplorasi. Adapun jenis laporan yang menjadi tanggung jawab seorang wellsite geologist untuk dikerjakan dan diselesaikan antara lain. mulai dari tahap pemboran sampai dengan tahap pengambilan/perekaman data. sehingga batubara mempunyai tahanan jenis yang tinggi. Laporan harian / Daily report Laporan harian ini merupakan laporan yang wajib dibuat oleh seorang wellsit geologist setiap harinya. Tahap pelaporan data ini nantinya akan menghasilkan suatu laporan yang mencakup seluruh rangkaian pemboran eksplorasi pada suatu titik/lokasi bor. berupa tahap pemboran dan tahap pengambilan data. Oleh karena itu.7. Dimana laporan tersebut selanjutnya diserahkan kepada supervisor lapangan yang bertanggung jawab atas keseluruhan pemboran di area tersebut. tahapan-tahapan sebelumnya.

 Wellsite geologist yang bertugas disertakan dengan paraf.  Unit mesin bor yang digunakan. list sampel dan berita acara pemboran.  Nama operator bor (driller) yang bertugas di lokasi/titik bor yang diawasi. b. Beberapa hal yang perlu dimasukkan dalam berita acara pemboran adalah sebagai berikut : 1. adanya masalah (trouble). Hari. 3. seperti break time (istirahat). 2.  Setiap kegiatan lainnya yang terjadi yang berhubungan dengan proses pemboran. adanya kecelakaan kerja (accident). tanggal. Dalam berita acara pemboran seorang Wellsite geologist harus melaporkan semua hal yang sudah dilakukan dalam kegiatan pemboran. Lokasi dan nomor titik bor.  Waktu dimulainya (start) pemboran dan waktu dihentikannya (finish) pemboran pada hari tersebut. Laporan akhir pemboran Laporan akhir pemboran dibuat apabila kegiatan di suatu titik pemboran telah selesai dilakukan.  Interval dan tebal coring (apabila pada hari tersebut dilakukan proses coring).  Tanggal dan waktu kerja. dan lainnya.  Kedalaman penetrasi pemboran pada proses open hole. Pembuatan laporan akhir ini merupakan gabungan dari laporan-laporan harian yang telah dibuat. dan waktu mulai pemboran dan selesai pemboran. Unit bor 39 .yang perlu dimasukkan dalam laporan harian adalah sebagai berikut :  Nomor titik bor yang diawasi. Laporan akhir pemboran ini terdiri dari log bore secara keseluruhan.

8. Total meteran non coring. 7. 9. Menulis nama wellsite yang disertakan dengan tanda tangan yang diketahui oleh seorang coordinator site 40 . Total meteran coring. Jarak moving ke titik selanjutnya 12. Interval batubara. 5. 6. Pemakaian polymer.4. Total core recovery. Waktu selesai melakukan pillot hole 13. Total kedalaman pemboran. 10. terdiri dari kedalaman dan ketebalan batubara. 11. Total coal recovery.

Kelubir (KLB) 6.150 ha di sebelah Utara.536 ha di sebelah Selatan dan Sekayan (SKY) 12. PT. Bhakti Energy Persada (BEP) yang juga merupakan sebuah perusahaan batubara. PKN Total area konsesi PT PKN adalah seluas 23. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) adalah perusahaan pertambangan batubara yang berproduksi di Kabupaten Bulungan. Adaro Energy. Namun pada tanggal 21 Desember 2010 telah disetujui penyerahan manajemen PT. Berjarak sekitar 500 km di utara kota Balikpapan. dimana pendiri dan pemegang saham mayoritasnya juga memegang saham mayoritas di PT. Kelubir (18. 41 . Energy Nusa Mandiri. Provinsi Kalimanatn Timur di bawah kontrak kerja PKP2B generasi ke 3.Profil Perusahaan PT.646 ha yang terbagi menjadi tiga lokasi yang berbeda. Mangkupadi (MKP) 4. dengan rincian .1 Peta Lokasi Kerja PT.518 jt.BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3. Total cadangan yang diperkirakan sebesar 119. BEP ke PT.1. PKN dari PT.960 ha di antara keduanya. PKN berdiri sejak tahun 1995 dan merupakan anak perusahaan dari PT. salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia.758 juta ton. Gambar 3. yaitu di .

Sekayan (88.2%) dan tingkat kelembapan tinggi/high moisture (43%) sehingga dapat disebut sebagai batubara yang ramah lingkungan. kadar belerang rendah/ low sulphur (less than 0. ton ) dan Mangkupadi ( 12. ton ).2 kualitas batubara produksi PT PKN dari blok Kelubir dan Sekayan 42 .2. Sejalan dengan visi perusahaan yang berbunyi : “To be a World Class Coal Mining Enterprise that Extracts and Adds Value to the Coal for the Benefit of the Mankind” maka hingga saat ini PT PKN terus meningkatkan kinerjanya dalam hal produksi. pengembangan sosial sekitar tambang.400 – 3. Langkah selanjutnya dari PT PKN adalah mengembangkan blok Sekayan seoptimal mungkin. Produksi batubara pertama dimulai pada bulan September 2009. dan pengapalan hasil produksi pertamanya pada bulan Desember 2009.ton) . Kontrak penjualan batubara PT PKN meliputi pasar domestik dan internasional. Sedangkan untuk mutu batubaranya. hasil produksi PT PKN termasuk kelas Lignite (brown coal) dengan calorivic value 3. Hingga saat ini yang telah selesai tahap eksplorasi adalah blok Kelubir dan blok Sekayan. Berikut detil dari mutu batubara yang diproduksi oleh PT PKN : * Fixed Carbon by difference ** CV adb determined on stated IM Gambar 3.758 juta ton. manajemen.366 jt.600 kcal/kg (gar). kadar abu rendah / low ash (average 4%). Produksi Batubara Seperti yang telah disampaikan di atas.974 jt. bahwa total cadangan batubara yang diperkirakan sebesar 119. serta rehabilitasi lingkungan. 3. mengingat jumlah cadangan terbesar berada di blok tersebut.

Kemudian batubara dibawa menggunakan dump truk ke tempat penampungan sementara (Stock Pile). Produksi batubara di PT PKN ditargetkan semakin meningkat hingga tahun 2021.3 bagan produksi batubara di PT PKN dan Rencana produksi hingga tahun 2021 3. Barge Loading. Gambar 3. Struktur Organisasi Perusahaan 43 . Setelah selesai proses crushing kemudian dengan menggunakan ban berjalan (conveyor) batubara di muat ke ponton. Tahapan coal getting adalah usaha untuk mengambil seam batubara menggunakan ekskavator dan menempatkan di Dump Truck. Crushing. perjalanan dari pit menuju stock pile disebut Hauling. batubara siap di kapalkan ke konsumen.3.Secara sekilas. Proses ini disebut Crushing. Setelah proses loading pontonn selesai. Kemudian di stock pile batubara dimasukkan ke mesin penghancur (crusher) dengan ukuran tertentu sesuai keinginan konsumen. tahapan produksi batubara di PT PKN meliputi Coal Getting. Hauling. dan Barging.

yaitu peralatan kerja wellsite dan peralatan kerja pemboran. Adapun pengetahuan yang harus dimilki antara lain :  Pengetahuan akan dasar-dasar ilmu geologi  Pengetahuan mengenai tahapan-tahapan eksplorasi  Pengetahuan dasar mengenai batubara dan klasifikasinya  Pengetahuan navigasi dan mengenali daerah di sekitar titik pemboran  Pengetahuan akan metoda pemngambilan data-data pemboran yang sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure)  Pengetahuan akan cara-cara perlakuan terhadap sample batuan yang keluar dari lubang bor.2.1.Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan Jenis pekerjaan yang dilakukakan pada kerja praktek kali ini adalah sebagai seorang wellsite geologist .BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK 4. Pekerjaan yang dilakukan adalah sebagai pengawas lapangan selama kegiatan pemboran berlangsung. 4. Keberadaan seorang wellsite geologist di lokasi pemboran sangat penting untuk menunjang kelancaran proses pemboran itu sendiri. Mengingat pentingnya peranan tersebut. Sedangkan peralatan pemboran merupakan 44 . diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang baik untuk menunjang tanggung jawab seorang wellsite geologist. Peralatan kerja wellsite merupakan peralatan kerja yang disediakan perusahaan untuk kelancaran kinerja seorang wellsite geologi dalam merekam data lapangan.  Penguasaan ilmu komunikasi yang baik serta jiwa kepemimpinan yang mencukupi.Peralatan Pekerjaan Yang Digunakan Peralatan yang mendukung kinerja seorang wellsite geologi dibagi menjadi 2.

4. Adapun rincian alatnya sebagai berikut.1.serangkaian alat bor yang disediakan oleh kontraktor pemboran yang bekerjasama dengan pihak perusahaan. Peralatan Kerja Wellsite                  Lembar Log Bor Permanent dan Board Marker Core box Pipa PVC diameter 4” Penggaris Papan sampel Plastik wrap Kamera digital Helm safety Sepatu safety Kantong sampel untuk cutting dan core sample Pita warna Cutter Clip board Buku catatan lapangan GPS Meteran 45 .2.

adalah menara yang menyangga keseluruhan sistem gerak dari mesin bor. Menara bor memastikan lubang yang dibuat tetap lurus. Untuk rangkaian alat pemboran kali ini (rig). Peralatan Pemboran Sebagai seorang pengawas kegiatan pemboran. dengan kemampuan untuk mengebor hingga kedalaman antara 100-150m.2. digunakan Tipe Jackro 175. seorang wellsite geologist juga harus mengerti mengenai jenis dan fungsi masing-masing rangkaian alat pemboran.4. 46 . Hal ini berguna agar pada saat terjadi kendala teknis wellsite geologist dapat memberikan keputusan yang cepat dan bijaksana.1 Serangkaian alat bor yang disebut rig Mesin bor tersebut terdiri atas serangkaian alat-alat dan mesin penggerak yang bekerja saling sinergis satu sama lain. Gambar 4.2. di bagian bawah menara disangga oleh pondasi yang berupa dua batang besi yang terpasang secara paralel. Adapun alat-alat tersebut adalah sebagai berikut :  Menara Bor.

Untuk jenis pipa pemboran kali ini digunakan pipa AW. pipa yang agar dapat lainnya. Pipa terbuat dari baja.5 meter. adalah pipa yang digunakan untuk membuat lubang bor. disambungkan Gambar 4. sebagai tempat terpasangnya drill bit. dan sebagai saluran untuk menembakkan lumpur pemboran ke dalam lubang bor.3 Tumpukan pipa bor jenis AW 47 . dengan diameter 3 inchi dan panjang pipa 1.2 Gambar di atas menunjukkan menara bor yang siap di rangkai  Pipa Bor. dan terdapat ulir pada bagian pangkal dengan dan ujungnya.Gambar 4.

4 Rotary yang memutar pipa bor. sistem perputaran pada rotary dikontrol oleh gerakan hidrolis yang terhubung pada tuas (handle). Gambar 4. yang dioperasikan oleh juru bor.  Orbit. Mata Bor.4 Mata Bor  Rotary. adalah alat untuk menaik turunkan meja putar. Gambar 4. dikendalikan oleh juru bor. biasa disebut core bit. dikontrol menggunakan handle oleh juru bor. alat untuk memutar pipa pemboran. Putaran orbit mengakibatkan gerakan naik –turun pada meja putar. pada poros tersebut terdapat dua buah gear yang tersambung melalui rantai ke meja putar. mata bor yang digunakan disini ada dua macam yaitu yang digunakan untuk membuat open hole dan mata bor yang digunakan untuk membuat core sample. Orbit menempel pada sebuah poros besi di ujung menara bor. sistem kerjanya secara hidrolis. 48 .

7 Safety 49 .Gambar 4.5 Orbit terhubung langsung ke poros pada menara bor. namun fungsi utamanya adalah untuk mengamankan agar pipa bor tidak tenggelam ke dasar lubang.6 Juru Bor mengendalikan laju pemboran melalui handle. Terdapat dua buah tuas.  Safety. yang pertama terhubung ke rotary dan yang kedua pada orbit. alat untuk mencabut pipa pemboran. alat untuk mengendalikan pipa bor.  Handle. Gambar 4. Gambar 4.

Oil Cooler, alat untuk mendinginkan cairan hidrolik, menjaga agar sistem hidolik tetap stabil. Alat ini berbentuk balok besi yang berisi air.

Gambar 4.8 Oil Cooler

Oil Filter, alat untuk menyaring kotoran-kotoran yang terbawa bersama cairan hidrolis. Menghindarkan

kerusakan mesin.

Gambar 4.9 Filter Oli

50

Hidraulyc Pump, pomba hidrolis yang mendorong cairan hidrolis. Tenaga dorongan pompa ini dihasilkan oleh perputaran turbin yang tersambung dengan mesin diesel.

Gambar 4.10 Pompa Hidrolis

Core Barrel, adalah alat untuk mengambil core sample atau biasa disebut sebagai metode coring. Dalam penggunaanya maka pada ujung core barrel dipasangkan dengan core bit. Alat ini berbentuk tabung berongga dengan panjang 1.5-2m, sehingga ketika core barrel terus turun maka sample batuan akan dengan sendirinya masuk kedalam. Di dalam core barrel terdapat tabung yang dapat dibagi menjadi dua dan menjadi tempat melekatnya core sample, yaitu split.

Gambar 4.11 Core barrel

51

Selang Air, selang air sangat penting perananya dalam proses pemboran, sebab dalam pelaksanaanya pemboran selalu membutuhkan air. Hal pertama yang dicari oleh driller ketika melakukan survey titik pemboran adalah ketersediaan air, jika letak air cukup jauh dari titik pemboran, diperlukan selang yang panjang. Selang yang dipakai kali ini ada yang mencapai panjang 250m.

Gambar 4.12 Selang

Mesin Diesel, mesin ini digunakan sebagai penggerak utama dalam sistem hidrolis. Merk mesin diesel kali ini adalaha YANMAR TF85MLYS-di.

Gambar 4.12 Mesin diesel

52

adalah mesin yang digunakan untuk menembakkan lumpur pemboran ke dalam lubang bor.00 WITA menuju titik bor yang telah diberikan tanggung jawab oleh koordinator lapangan. hal ini dikarenakan pemboran tidak berhenti sebab pihak perusahaan mengejar target data hasil pemboran untuk segera dianalisis. Lumpur pemboran diambil dari bak sirkulasi. Kegiatan pekerjaan dilakukan pagi hari yang dimulai dari pukul 07. Pemboran berlangsung sampai pukul 17.13 Mesin Water Flush 4. Merk mesin yang digunakan kali ini adalah YAMAHA MT-110 Gambar 4.Jadwal Pekerjaan Yang Dilakukan Kerja praktek dilakukan setiap hari tanpa libur dalam arti 1 minggu penuh. Mesin Water Flush.00 WITA dengan asumsi keadaan pemboran tidak mengalami trouble.3. maka waktu kerja menyesuaikan kondisi permasalahan yang terjadi 53 . Fungsi utamanya adalah untuk menembah laju pemboran. jika terjadi trouble pada saat pemboran berlangsung.

yakni remahremah batuan yang hancur oleh mata bor.4. Pada lokasi pengeboran. secara umum yaitu sebagai pengawas jalannya proses pemboran. seorang wellsite geologist bertindak sebagai pengawas jalannya aktivitas pemboran serta memperhatikan faktor keselamatan orang-orang di lokasi pemboran. sedangkan mata bor yang digunakan adalah drill bit. Pada saat selesai proses pemboran. yaitu : Open Hole. Proses pemboran sendiri terbagi menjadi 3. hasil yang dideskripsi berupa cutting. wellsite geologist harus menentukan titik pemboran berikutnya guna kelancaran proses moving alat-alat pemboran. Tidak hanya itu.4. pencatatan data yang baik sangat dibutuhkan oleh perusahaan. menggunakan alat yang disebut core barrel. Setelah selesai deskripsi juga harus melakukan sampling batubara dan juga untuk keperluan geologi teknik.4. dan Full Coring. seorang wellsite geologist juga harus mendeskripsikan cutting dan core sample yang keluar dari lubang bor. Metode Full Coring adalah metode untuk mengambil semua sample batuan yang ada pada lubang bor (core sample).2 Deskripsi Pekerjaan Pekerjaan yang dilakukan pada kerja praktek kali ini adalah sebagai wellsite geologist. Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan pemboran dalam untuk mendapatkan data sebaran batubara.1 Lingkup Pekerjaan Ruang Lingkup Pekerjaan pada kerja praktek kali ini yaitu peranan wellsite geologist dalam eksplorasi batubara. Pemboran Open Hole yakni melakukan pemboran menerus tanpa mengambil core sample.Pelaksanaan Pekerjaan 4. Mata bor yang 54 .4. Touch Coring. 4. Eksplorasi yang dimaksud kali ini adalah eksplorasi lanjutan dalam rangka perluasan areal tambang. Menjadi pengawa pada saat proses e-logging juga merupakan tugas dari seorang wellsite geologist. dengan kata lain seorang wellsite geologist memastikan proses pengeboran berjalan lancar.

Adapun deskripsi pekerjaan wellsite geologist pada masing-masing tahap pengeboran akan dijelaskan pada sub-bab di bawah ini : 4. Hal yang tak kalah penting dalam rig set-up adalah pencarian lokasi keterdapatan air yang cukup untuk kegiatan pemboran. Air merupakan hal yang vital dalam kegiatan pemboran.digunakan adalah core bit.2. rawa.4. air untuk pemboran dapat diambil dari sungai. kegiatan ini dilakukan oleh kru pemboran dan dengan diawasi oleh wellsite geologist. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah mendirikan menara bor. pembuatan bak sirkulasi. baik berupa core sample maupun cutting. Yang pertama dibuat adalah Open Hole untuk mengetahui roof dari batubara. Kronologi tiap-tiap proses pemboran juga harus dicatat dalam Daily Drilling Progress. Sedangkan metode Touch Coring merupakan metode gabungan antara keduanya. intinya adalah pengkondisian lingkungan rig. Kemudian dilanjutkan dengan coring untuk mendapatkan sample batubara hingga mencapai bagian floor-nya. Oleh sebab itu pemahaman mengenai kondisi untuk keperluan logging 55 . Untuk jenis mesin bor yang digunakan kali ini adalah mesin JACKRO 175 yang mampu mencapai kedalaman 100-150m. Setelah itu dibuatkan lubang kantongan maksimal sedalam 5 m geofisika.1 Rig Set Up Adalah tahap paling awal pada rangkaian kegiatan pemboran. hal ini dengan maksud agar perusahaan mengetahui sejauh mana dan bagaimana kondisi proses pengeboran telah berlangsung. Data lithologi tersebut dicatat dalam kertas bore log. parit dan sebagainya. Setiap proses pemboran berlangsung seorang wellsite geologist harus mendeskripsikan jenis batuan yang keluar dari lubang bor. perangkaian mesin-mesin dengan rig. Rig Set Up adalah tahap pendirian rig di lokasi pemboran.

Pemboran baru dapat dimulai ketika wellsite telah menyerahkan surat mulai pemboran kepada driller/juru bor.4. wellsite harus selalu berada di dekat rig. dan sebagainya. meskipun driller sudah berpengalaman. agar pemboran berjalan lancar. tergantung jauh dekatnya sumber air tersebut.2 Drilling Setelah proses rig set-up selesai. Selama proses pemboran. kemudian airnya disalurkan ke rig menggunakan selang berdiameter 1 ich yang panjangnya dapat mencapai ratusan meter. dilanjutkan dengan proses pemboran (drilling).2. misalnya water loss. pipa terjepit. swelling. Di sini dibutuhkan pemahaman yang baik akan prosedur pemboran batubara dan juga kemampuan 56 . Selain itu juga wellsite dapat segera menghubungi Supervisor yang Geologist jika ada permasalahan mendadak mengakibatkan proses pemboran terhambat. Air diambil pada sumbernya menggunakan mesin pomba diesel SANCHIN. tujuannya adalah untuk mengawasi jalannya pemboran.14 Proses Rig Set-Up 4. usahakan agar lumpurnya tidak mencemari ladang maupun sumber air yang digunakan oleh penduduk lokal.sekitar titik bor sangat penting bagi seorang wellsite geologist. Gambar 4. Yang harus diperhatikan pada saat rig set-up adalah ketika titik bor berada di dekat ladang penduduk.

semen pengikat. ukuran butir.2.4. tujuannya adalah untuk mengetahui susuna stratigrafi di daerah tersebut. Aspek-aspek yang harus dideskripsi antara lain jenis batuan. warna. mineral penyusun dan kandungan mineral lain. kekerasan. wellsite juga harus mendeskripsikan litologi apa saja yang ada di dalam lubang bor.3 Deskripsi Cutting Pada saat pemboran berlangsung. Cutting adalah remah-remah batuan yang hancur oleh gerusan mata bor. misalnya RQD (Rock 57 . Sedangkan core sample adalah conto inti batuan yang didapat dengan menngunakan core barrel. Gambar 4. dip. Deskripsi cutting dilakukan setiap penambahan kedalaman sebesar 1 meter. Faktor keselamatan pekerja di sekitar rig juga menjadi tanggung jawab wellsite.15 Berbagai macam kondisi pada saat proses Drilling 4.berkomunikasi yang baik. tujuan deskripsinya sama. antara lain jenis batuan. ukuran butir. elastisitas. Kita dapat mendeskripsikan dua macam. Serbuk cutting keluar bersama air pemboran dalam bentuk lumpur. mineral penyusun dan kandungan fossil. hanya saja deskripsi core sample akan menjadi lebih detail. perlu juga dideskripsi mengenai sifat-sifat geologi tekniknya. warna. Selain dari ciri-ciri lithologinya. yaitu cutting dan core sample.

Setiap hasil core sample keluar perlu dihitung recoverynya.16 (a) cutting .4 Perekaman Data e-logging Setelah pemboran mencapai floor dari seam batubara yang ditarget. dan wellsite telah selesai melalkukan pencatatan data litologi dan melakukan foto sampel.Quality Designation). dibandingkan dengan pencatatan cutting yang sering terlambat naik ke permukaan. pecahan dan sifat fisik lainnya seperti parting. maka proses selanjutnya adalah perekaman data e-logging atau logging geofisika. Hasil pencatatan tersebut dituliskan dalam kertas bore log. yaitu warna. Metode ini bertujuan untuk melakukan perekaman data stratigrafi yang ada di titik tersebut secara lebih akurat. bone coal. dan sebagainya. clay band. Untuk conto inti batubara juga perlu di deskripsi.2.4. belahan. sedangkan untuk core sample harus dimasukkan ke dalam core box. Gambar 4. (b) core sample 4. Prinsip yang dipakai adalah menembakkan unsur-unsur radioaktif ke dalam formasi kemudian pantulannya direkam 58 . cerat. kekerasan. hal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah panjang conto inti yang hancur tergerus (core loss). Untuk sample cutting bisa dimasukkan di dalam plastik.

resistivity dan caliper. Winch Controller. yang berfungsi mengikat cutting. kemudian sebelum pipa bor dicabut diadakan proses flushing. hal ini bertujuan untuk membersihkan lubang bor dari cutting yang masih tertinggal. Data yang terbaca oleh sensor di dalam probe kemudian ditransfer ke RecsaLog Data Logger. Winch. Untuk proses flushing ini. sebuah alat untuk membaca data sensor dan mengubahnya menjadi kurva-kurva log geofisika. Alat-alat logging geofisika terdiri atas probe. yang diatur oleh logger melalui winch controller. Dari alat RecsaLog tersebut. density. yang nantinya untuk dianalisis oleh geologist. terlebih dahulu driller mempersiapkan lubang kantongan untuk probe sedalam 5 meter di bawah floor batubara. Maksudnya agar probe tidak terjepit di dalam lubang. lumpur pemboran dicampur dengan Polymer. karena hal tersebut akan sangat berbahaya mengingat unsur radiokatif yang ada di dalamnya.oleh sensor. Di dalam probe terdapat 4 sensor yang membaca pantulan dari gamma ray. Baru setelah selesai flushing pipa bor dicabut semua dan siap untuk dilakukan e-logging. Pertama-tama logger menurunkan probe sampai kedalaman maksimum di bawah floor batubara. 59 . dan seperangkat komputer. RecsaLog Data Logger. Untuk menggerakkan probe masuk-keluar lubang digunakan winch. kemudian perlahanlahan probe dinaikkan sembari sensornya membaca pabtulanpantulan radioaktif yang ada. Probe adalah alat untuk menembakkan unsur radiokatif ke dalam formasi. Sebelum pencatatn logging geofisika dimulai. di ujung probe terdapat unsur radiokatif berbentuk batang. radioaktif. disambungkan ke komputer dan datanya diolah dengan piranti lunak bawaan dari alat RecsaLog tersebut. yaitu menembakkan lumpur pemboran ke dalam lubang bor.

wellsite menjadi saksi dari pelaksanaan proses e-logging tersebut. Hasil printout dari pembacaann data logging dibagi dalam dua skala. misalnya total depth. Skala yang pertama hanya untuk menyantumkan posisi dan ketebalan batubaranya saja.Kehadiran wellsite geologist pada saat proses perekaman data geofisika sangat penting.18 Logger sedang mempersiapkan peralatan perekaman data logging geofisika 60 . Gambar 4. top and bottom of coal. yaitu skala 1 : 20 dan skala 1 : 100. wellsite harus memberitahukan informasi-informasi mengenai lubang bor kepada logger. sedangkan skala 1 : 100 untuk melihat formasi secara keseluruhan.17 Logging Crew memasukkan Probe ke dalam Lubang Bor Gambar 4. Dalam berita acara logging. dan formasi penyusunnya.

Perbandingan antara tebal batubara berdasarkan elogging dengan tebal batubara berdasarkan panjang core sample disebut coal recovery.2. Sangat penting untuk menjaga sample batubara tetap dalam kondisi aslinya. dan bottom seperti pengambilan sampel pada batubara clean coal. maka wellsite membandingkanya dengan data yang diperoleh melalui core sample. maka tugas berikutnya adalah melakukan sampling batubara. Berikut ini adalah aturan pengambilan sample batubara ply by ply :  Pengambilan sampel batubara tanpa parting (clean coal) Untuk bagian ats (top) dan bawah (bottom) dipotong 0.20 meter harus diambil ply tersendiri. Bone coal diperlakukan sebagai parting.6 Sampling Batubara Sehabis perekaman data e-logging selesai.25 m. coal recovery minimal adalah 90%. yang kemudian sample tersebut akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.4. Untuk batubara bagian tengah dengan ketebalan > 1 meter dibagi dengan ketebalan ply masing-masing sama rata. Maksimum ketebalan batubara bagian tengah adalah 1 meter.  Pengambilan sampel batubara dengan parting >0.20 meter Parting dengan ketebalan >0.4. untuk standar perusahaan. Jika memang sudah memenuhi sarat. tebal masing-masing ply dibagi sama rata.batubara bagian atas dan bawah parting dipisahkan dengan ketentuan ply to. Kemudian bagian tengah (midlle) apabila lebih besar dari 1 meter. maka harus segera dimasukkan ke dalam kantong plastik. 61 . Hasil sample akan dimasukkan ke dalam kantong plastik menurut aturan ply by ply. intinya harus terlindung dari gangguan luar. midlle. Jika tidak memenuhi standar tersebut maka harus dilakukan redrill atau pengeboran ulang.

kronologi proses pemboran. Pengambilan sampel batubara dengan parting <0.20 meter tidak perlu disampling terpisah dan disatukan dengan ply batubara. maka wellsite membuat berita acara pengeboran yang kemudian ditandatangani oleh driller dan wellsite. Surat tersebut berisi data-data mengenai pemboran. Sampel batubara yang sudah dibungkus dengan plastik wrap 4.2. Surat tersebut menandai selesainya pemboran di titik 62 .19. serta permasalahan teknis yang ada. Setelah semua sampel batubara dibagi per ply kemudian sampel dibungkus dengan plastik wrap dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong sampel.6 Rig Down dan Moving Jika semua proses di atas telah selesai.20 meter Parting dengan tebal > 0. Gambar 4.4. Metode pengambilan sampel sama dengan pengambilan sampel batubara tanpa parting. Sebelumnya kantong sampel harus ditandai dengan kertas sampel yang menunjukkan keterangan sampel tiap ply. meliputi total depth. Tetapi apabila parting yang ada akan mempengaruhi kualitas batubara maka harus dipisahkan menjadi sampel tersendiri.

proses moving menggunakan dozer. Gambar 4.20 Proses rig Down 63 . kru pengeboran merapikan peralatannya agar nanti mudah dalam proses moving. Dalam proses ini. tentu saja berdasarkan petunjuk dari wellsite.tersebut. sedangkan jika menggunakan rig-set kecil maka cukup dipikul saja ke titik selanjutnya. Jika menggunakan alat rig skala besar. maka driller dan anggotanya mulai membongkar rig satu persatu. proses ini disebut dengan rig down. Moving adalah proses memindahkan alat pengeboran ke titik berikutnya.

5. serta pengalaman untuk melihat langsung proses penambangan batubara. Selain pemahaman di atas. ponco. mengawasi prose logging geofisika. melalui kegiatan kerja praktek ini mahasiswa juga mendapatkan banyak pengalaman. botol minum. rawa-rawa. dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang Wellsite Geologist memiliki peranan yang penting dalam eksplorasi batubara. maka peranan wellsite geologist juga penting bagi perusahaan. tepatnya di bidang pemboran. Peran tersebut antara lain mengawasi jalannya kegiatan pemboran.1 Saran Saran yang dapat diberikan untuk rekan-rekan yang ingin melaksanankan kerja praktek di konsesi pertambangan batubara antara lain :  Menjaga kesehatan jasmani dan mempersiapkan mental sebelum turun langsung ke lapangan. anatara lain pengalaman menjadi pemimpin operasional pemboran. sebab seringkali lokasi pemboran berada di medan yang berat. bersosialisasi dengan penduduk lokal. menentukan titik pemoran berikutnya.BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan atas pelaksanaan kegiatan kerja praktek yang telahh dilakukan. dan sebagainya  Selalu persiapkan peralatan lapangan seperti tas. deskripsi dan pencatatan data stratigrafi melalui conto inti dan cutting. misalkan hutan yang belum pernah dijamah. dan pembuatan laporan progres pemboran. menjelajahi hutan rimba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan kerja prakek ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan serta soft skill mahasiswa. dan sebagainya 64 . Data pemboran merupakan data yang penting bagi perusahaan dann menentukan jumlah cadangan serta mutu batubara yang akan ditambang.

karena bisa menambah ilmu yang tidak didapat melalui perkuliahan. helm.  Jangan sungkan untuk bertanya kepada pembimbing yang ditunjuk dari perusahaan. Tak lupa pula untuk berperilaku safety.  Bertutur kata yang santun. serta bersosialisasi yang baik kepada para karyawan di pertambangan dan juga kepada penduduk lokal. supaya lebih cepat memahami pekerjaan yang dilaksanakan.  Siapkan materi-materi penunjang studi. 65 . dan sepatu boot ketika berada di areal tambang. karena dimanapun kita pergi kita selalu membawa nama almamater. Memperhatikan faktor keselamatan kerja dengan senantiasa memakai Alat Pelindung Diri.

Jangan sungkan untuk bertanya kepada pembimbing yang ditunjuk dari perusahaan. • • Siapkan materi-materi penunjang studi. Tak lupa pula untuk berperilaku safety. 66 . supaya lebih cepat memahami pekerjaan yang dilaksanakan. serta bersosialisasi yang baik kepada para karyawan di pertambangan dan juga kepada penduduk lokal. dan sepatu boot ketika berada di areal tambang. karena bisa menambah ilmu yang tidak didapat melalui perkuliahan. • Bertutur kata yang santun. karena dimanapun kita pergi kita selalu membawa nama almamater. helm.• Memperhatikan faktor keselamatan kerja dengan senantiasa memakai Alat Pelindung Diri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->