PENGERTIAN KAIDAH-KAIDAH ILMU TAFSIR Kaidah-kaidah tafsir dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah qawa’id

altafsir, terdiri dari dua kata yaitu qawa’id dan al-tafsir. Kata ‫ ﻗﻭﺍﻋﺩ‬merupakan bentuk jamak dari ‫ ﻗﺎﻋﺩﺓ‬yang berarti undang-undang, peraturan, dan asas. Secara istidah didefinisikan dengan undanng-undang, sumber, dasar yang digunakan secara umum yang mencakup semua yang partikular.[1] Adapun kata ‫ ﺍﻠﺗﻔﺴﻴﺮ‬secara bahasa berasal dari kata ‫ ﻓﺴﺮ -ﻴﻔﺴﺮ -ﺗﻔﺴﻴﺮ‬yang berarti mengungkapkan atau menampakkan.[2] Menurut al-Zarkasyi tafsir merupakan ilmu yang dengannya didapatkan pemahaman terhadap kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw mengenai penjelasan maknanya, serta pengambilan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya. Sedangkan menurut al-Zarqani arti tafsir adalah ilmu yang di dalamnya dibahas petunjuk-petunjuk al-Quran yang dimaksudkan oleh Allah swt dan diperoleh berdasarkan atas kemampuan manusia. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa ‫ ﻗﻭﺍﻋﺩﺍﻠﺗﻔﺴﻴﺮ‬adalah pedoman-pedoman yang disusun oleh ulama’ dengan kajian yang mendalam guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam memahami makna-makna al-Quran, hukumhukum, dan petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya.[3] 2.2 KAIDAH-KAIDAH ILMU TAFSIR Kaidah-kaidah ilmu tafsir Al-Quran sangat tinggi nilainya, dan manfaatnya juga sangat besar. Serta dapat membantu kita untuk memahami kalamullah dan dapat dijadikan penuntun untuk mendapatkan pemahaman yang sempurna. Kaidah-kaidah memberikan seseorang metode-metode menafsirkan Al-Quran dan merintis jalan kepada manhajj (sistem) pemahaman tentang Allah.[4] Secara ringkas kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Quran ada lima, yaitu kaidah quraniyah, kaidah sunnah, kaidah bahasa, kaidah ushul al-fiqh, dan kaidah ilmu pengetahuan. Berikut akan dijelaskan mengenai kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Quran satupersatu. 2.2.1 Kaidah Quraniyah Kaidah quraniyah ialah penafsiran al-Quran yang diambil oleh ulumul quran dari al-Quran. Beberapa kaidah yang lazim digunakan dalam menjelaskan kaidah quraniyah antara lain sebagai berikut: a. 5]‫]ﺍﻠﻌﺑﺮﺓﺑﻌﻤﻭﻢﺍﻠﻠﻔﻅﻻﺑﺧﺻﻭﺺﺍﻠﺴﺑﺐ‬ Maksudnya yaitu jika satu nas menggunakan redaksi yang bersifat umum, maka tidak ada pilihan lain selain menerapkan nas tersebut, sekalipun nas tersebut turun untuk menanggapi suatu peristiwa tertentu. Kaidah ini dipegang oleh mayoritas ulama dengan argumentasinya yang bervariatif.[6] Misalnya pada QS Al-Maidah: 38 ‫ﻭﺍﻠﺴﺎﺭﻕﻭﺍﻠﺴﺎﺭﻗﺔﻓﺎﻗﻄﻌﻭﺍﺍﻳﺩﻳﻬﻣﺎﺟﺯﺍﺀﺑﻣﺎﻛﺴﺑﺎﻧﻜﺎﻻﻣﻦﺍﷲﻭﺍﷲﻋﺯﻴﺯﺤﻜﻴﻢ‬

Misalnya QS Al-Baqarah: 32 ‫ﻗﺎﻠﻭﺍﺴﺑﺤﻧﻚﻻﻋﻠﻢﻠﻧﺎﺍﻻﻤﺎﻋﻠﻤﺗﻧﺎﺍﻧﻚﺍﻧﺖﺍﻠﻌﻠﻴﻢﺍﻠﺤﻜﻴﻢ‬ Artinya: Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau. pelaku. baik kualitas peristiwa.Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. 2. takdir. Sedangkan pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayatayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam. Kekeliruan pandangan malaikat ini digambarkan dalam ungkapan: ‫. tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya. Menerapkan langsung hukum tersebut tanpa memandang latar belakang dan sabab alnuzul. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaibghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat. tempat.ﺍﻧﻚﺍﻧﺖﺍﻠﻌﻠﻴﻢﺍﻠﺤﻜﻴﻢ‬ c. Kandungan suatu ayat yang memiliki keterkaitan dengan nama Allah menunjukkan bahwa hukum yang terkandung berkaitan dengan nama yang mulia. dan ganjaran bagi mereka. kesempurnaan hikmah-Nya dan membuktikan keterbatasannya. Maksudnya yaitu Allah swt Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. ‫ﺜﻢﺍﺘﻴﻨﺎﻣﻮﺳﻰﺍﻠﻜﺘﺐﺘﻣﻣﺎﻣﺎﻋﺎﻰﺍﻠﺬﻱﺍﺣﺳﻥﻮﺘﻔﺼﻴﻼﻠﻜﻞﺸﻲﺀﻮﻫﺪﻯﻮﺭﺭﺣﻤﺔﻠﻌﻠﻬﻢﺑﻠﻘﺎﺀﺭﺑﻬﻢ ﻳﺆﻤﻨﻮﻥ‬ Artinya: Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan. Maksudnya yaitu Allah Maha Bijaksana maka apabila orang tersebut bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Maka demikian pula hendaknya kita sebagai manusia juga bisa memaafkan orang tersebut. dapat dipahami dengan mudah. untuk . maka Ia memerintahkan memotong tangan pencuri dan menetapkan sanksi kepada orang-orang yang melampaui batas sebagai hukum.[7] Contoh ayat muhkamat adalah QS Al. yaitu: 1. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. malaikat heran dan mengatakan: “Apakah Engkau akan menjadikan manusia sebagai khalifah. Dia mengajarkan Adam nama-nama benda yang tidak diketahui malaikat. Ketidakmampuan malaikat dalam hal ini mengakui kemahatahuan Tuhan. neraka dan lain-lain. Ayat tersebut merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya mengenai dialog Tuhan dengan para malaikat berkenaan dengan pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi. Terhadap upaya Tuhan yang demikian. b. maka Allah akan mengampuni dan mengasihinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. surga. padahal manusia sering membuat kerusakan dan saling membunuh?” untuk membuktikan kamahatahuan Tuhan. Kaidah yang bertalian dengan mutasyabihat dan muhkamat.An’am: 154. Dalam menanggapi ayat tersebut jumhur ulama terbagi menjadi dua. Mengetahui sebab nuzulnya kemudian menganalisa unsur-unsur yang melingkupinya. sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. maupun waktunya.

Kata dhamir juga bisa diambil dari kata al-adhmar yang berarti tersembunyi. Secara logika penjelasan itu tidak boleh bertentangan dengan al-Quran sebagai materi yang dijelaskannya. sebab dilihat dari bentuknya memang terlihat ringkas dan kecil. sebab banyak yang tidak tampak dalam bentuk nyatanya.2 Kaidah Sunnah Berdasarkan QS An-Nahl ayat 44 dan 64.[12] Dalam bahasa Arab ism al- . menjelaskan makna yang belum terungkap. baik kata ganti untuk orang pertama (dhamir mutakallim). alif-lam-ra. b. maupun orang ketiga (dhamir ghaib). yaitu dengan cara mengembalikan kandungan yang mutasyabih kepada yang muhkam. Hal ini dapat dibuktikan dalam QS Yusuf: 2 ‫ﺍﻨﺎﺍﻨﺰﻠﻨﻪﻗﺮﺍﻨﺎﻋﺮﺑﻴﺎﻠﻌﻠﻜﻢﺘﻌﻘﻠﻮﻥ‬ Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab. mengkaitkan yang mutlak kepada yang muqayyad.2.[11] Al-Ta’rif dan Al-Tankir (Isim Ma’rifah dan Isim Nakirah) Secara terminologis para ahli bahasa (ahl an-nahw) mendefinisikan isim ma’rifah sebagai isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah jelas. dhamir adalah lafazh yang digunakan sebagai pengganti.[10]Sedangkan secara istilah. orang kedua (dhamir mukhattab). seperti lafad alif-lam-mim.2. Sedangkan contoh ayat mutasyabihat adalah huruf-huruf penggalan (al-huruf almuqatha’ah) yang terdapat pada awal surat. dan sebagainya. hamim. Menghimpun hadis yang pokok bahasannya sama.[9] Kaidah yang dipergunakan diantaranya ialah: Sunnah harus dipakai sesuai dengan petunjuk Al Quran.[8] 2. agar kamu memahaminya. Oleh karena itu. menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya. menjelaskan makna globalnya. berarti tidak ada jalan lain bagi umat Islam untuk memahaminya kecuali dengan menguasai dan memahami bahasa Arab. dan menkhususkan yang umum. Dengan demikian penjelasan Nabi saw selalu dalam kerangka al-Quran. maka rasul merupakan sumber penjelas tentang makna-makna Al-Quran. Hal itu terbukti dengan tidak ditemukannya hadis shahih yang bertentangan dengan al-Quran.3 Kaidah Bahasa Al Quranul Karim diturunkan kepada umat manusia dengan berbahasa Arab. Nabi Muhammad sebagai Rasul yang datang untuk menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan Tuhan. Hadis yang dimaksud dalam hal ini adalah hadis yang shahih.a. Dengan demikian. Di antara kaidah-kaidah yang harus dipahami antara lain: Dhomir Secara bahasa dhamir berasal dari kata dasar al-dhumur yang berarti kurus kering. Dengan demikian. tetapi menurut wahyu Ilahi. 2. dan sebagainya. akan didapatkan suatu pemahaman yang benar dan utuh berdasarkan suatu ketetapan bahwa hadis berfungsi manafsirkan alQuran dan menjelaskan maknanya. b. a. Beliau tidak menafsirkan menurut akal pikiran.

ma’rifah mempunyai peran penting. Dengan jawaban yang demikian. Definisi lain menyebutkan bahwa ism al-nakirah adalah setiap isim yang pantas baginya kemasukkan alif-lam.[13] Sedangkan yang dimaksud dengan ism al-nakirah merupakan kebalikan dari ism al-ma’rifah.[18] . [16] 2. baik secara sintaksis maupun sistematis. namun Nabi Musa menambahkan dalam jawabannya sesuatu yang terkait dengan fungsi tongkat tersebut. lalu ia menyusut kembali seperti keadaan seperti semula?[15] Secara logika. pertanyaan itu seharusnya dijawab dengan menerangkan proses perubahan yang terjadi pada bulan tersebut. sebenarnya Allah hanya mempertanyakan kepada Nabi Musa perihal apa yang ada di tangan kanannya. dan bagiku ada lain keperluan yang lain padanya. Jawaban menyimpang dari soal Misalnya: QS al-Baqarah: 189 ‫ﻳﺴﺄﻠﻮﻨﻚﻋﻋﻥﺍﻷﻫﻠﺔﻗﻞﻫﻲﻣﻮﺍﻗﻴﺖﻠﻠﻨﺎﺱﻮﻮﺍﻠﺤﺞ‬ Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. pertanyaan itu oleh Nabi Musa dijawab bahwa yang ada di tangan kanannya adalah tongkat. jawaban yang diberikan al-quran kepada mereka adalah berupa penjelasan tentang hikmahnya. kemudian lama-kelamaan berubah sedikit demi sedikit menjadi purnama. bukan seperti yang mereka pertanyakan. Kemudian. hai Musa? Dalam ayat ini. dilakukan Nabi Musa karena ia merasa senang dengan pertanyaan yang dilontarkan Allah kepadanya.[14] c. Ayat tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan yang disebutkan pada ayat sebelumnya. Namun terhadap pertanyaan yang demikian itu. dan beberapa fungsi lainnya. As-Sual wa Al-Jawab Kaidah yang dipergunakan antara lain: 1. yaitu QS Thaha: 17 ‫ﻮﻤﺎﺘﻠﻚﺑﻴﻤﻨﻚﻴﺎﻤﻮﺳﻰ‬ Artinya: Apakah ini yang di tanganmu. Asbab al-Nuzul ayat ini adalah bahwa ada sekelompok orang yang menanyakan kepada Rasulullah saw tentang bulan sabit (al-ahillah). sebenarnya sudah mencukupi bagi si penanya dan sudah dapat dipahami. [17] Misalnya: QS Thaha: 18 ‫ﻗﻞﻫﻲﻋﺼﺎﻱﺃﺘﻮﻜﺄﻋﻠﻴﻬﺎﻮﺃﻫﺶﺒﻬﺎﻋﻠﻰﻏﻨﻤﻲﻮﻠﻲﻓﻴﻬﺎﻤﺎﺭﺏﺃﺧﺭﻯ‬ Artinya: Berkata Musa: Ini adalah tongkatku. yaitu isim yang menujukkan sesuatu yang belum jelas pengertiannya. memukul daun. Hal yang demikian. aku bertelekan padanya dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi ism al-ma’rifah adalah untuk menunjukkan bahwa kata yang bersangkutan adalah ma’ruf (diketahi) atau untuk ta. karena memang hal itu dianggap perlu. kenapa semula ia tampak kecil seperti benang. dengan alasan untuk mengingatkan mereka bahwa yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah hikmah dari bulan sabit. yaitu untuk bertelekan. Jawaban lebih umum dari apa yang ditanyakan.rif.

Contoh kalimat nominal (jumlah ismiyah) yaitu tentang keimanan. jawaban yang diberikan al-Quran tidak mencakup kedua hal dimaksud. seperti dalam surah Ali ‘imran:134 ‫ﺍﻟﺬﻳﻥﻳﻨﻔﻘﻮﻥﻓﻰﺍﻟﺴﺮﺍﺀﻮﺍﻟﻀﺮﺍﺀﻮﺍﻟﻜﺎﻇﻤﻴﻥﺍﻟﻐﻴﻅﻮﺍﻟﻌﺎﻓﻴﻥﻋﻥﻥﺍﻟﻨﺎﺱﻮﷲﻴﺤﺐﺍﻟﻤﺤﺴﻨﻴﻥ‬ Artinya: (Yaitu) orang-orang yang berinfaq. seperti dalam QS al-Hujurat:15 ‫ﺍﻨﻤﺎﺍﻟﻤﺆﻤﻨﻮﻥﺍﻟﺬﻴﻥﺍﻤﻨﻮﺑﷲﻮﺭﺴﻮﻟﻪﺛﻢﻟﻢﻴﺭﺗﺎﺑﻮﺍﻮﺟﺎﻫﺪﻮﺍﺑﺎﻣﻮﺍﻟﻬﻢﻮﺍﻧﻔﺴﻬﻢﻓﻲﺴﺑﻴﻞﷲﺍﻮﻟﺌﻚﻫﻢﺍﻟﺼﺪﻗﻮﻥ‬ Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dikarenakan infaq merupakan suatu perbuatan yang bersifat temporal yang terkadang ada dan terkadang tidak ada. Dalam ayat tersebut setidaknya ada dua pertanyaan pokok. baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. ia mempunyai hakikat yang tetap berlangsung selama hal-hal yang menghendakinya masih ada. yaitu: ‫ﻗﺎﻞﺍﻠﺬﻳﻥﻻﻳﺮﺟﻮﻥﻠﻘﺎﺀﻧﺎﺍﺋﺖﺑﻘﺮﺍﻥﻏﻳﺮﻫﺬﺍﺍﻮﺑﺪﻟﻪ‬ Artinya: Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami berkata: Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah. Lain halnya dengan keimanan.[19] d. kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Dan Allah mencintai orang-orang berbuat kebaikan. Masing-masing kalimat ini mempunyai tempat tersendiri yang tidak bisa ditempai oleh yang lain. Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah Jumlah ismiyah atau kalimat nominal menunjukkan arti subut (tetap) dan istimrar (terus-menerus). Misalnya tentang infaq yang diungkapkan dengan kalimat verbal (jumlah fi’liyah).3. Jika mengganti saja sudah tidak mampu. Mereka itulah orang-orang yang benar. Misalnya: QS Yunus: 15 ‫ﻗﻞﻤﺎﻴﻜﻮﻥﻠﻰﺃﻥﺃﺑﺪﻠﻪﻤﻥﺗﻠﻘﺎﺀﻧﻔﺴﻰ‬ Artinya: Katakanlah: Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Ayat tersebut merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang disebutkan sebelumnya (pada ayat yang sama). apalagi untuk menciptakan pasti akan lebih sulit. yaitu perintah untuk mendatangkan al-Quran yang lain. Hal ini mengingat bahwa mengganti itu lebih mudah daripada menciptakan kembali. Mashdar Cara menunjukkan sesuatu yang diwajibkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan marfu’ ( _ ) dan cara menunjukkan sesuatu yang disunatkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan manshub ( _ ). yaitu yang terkait dengan perintah untuk menggantinya.[21] . dan jikalau tidak dapat maka disuruh untuk menggantinya. tetapi hanya terfokus pada satu hal.[20] e. Jawaban terhadap suatu pertanyaan yang diajukan bersifat lebih sempit cakupannya. Terhadap pertanyaan ini. sedang jumlah fi’liyah atau kalimat verbal menunjukkan arti tajaddud (timbulnya sesuatu) dan hudus (temporal).

3. 2. yaitu yang tidak menghabiskan semua apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan.[23] Sedangkan lafazh khash merupakan kebalikan dari lafazh am. atau melepaskan dengan baik … Kata ‫( ﺇﻣﺴﺎﻙ‬menahan) dan ‫( ﺗﺴﺭﻳﺢ‬melepaskan) dengan bacaan marfu’ menunjukkan wajibnya ruju’ dan wajibnya cerai. 2. Kata ‫( ﻓﻀﺭﺏﺍﻟﺭﻗﺎﺏ‬pukullah batang leher) dibaca manshub. karena makna yang dikandung oleh lafazh tersebut sama-sama kuatnya. …. Penafian sifat kadzib Rasul saw. Contoh: Allah memerintahkan berbuat adil berarti Dia melarang berbuat zalim. menunjukkan sunah memukul kuduk orang kafir dalam keadaan perang. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik.4 Kaidah Ushul al-Fiqh Di antara kaidah-kaidah ini adalah: a.Contoh: 1. Kaidah-kaidah ushuli lainnya antara lain: 1. [26] Sedangkan mafhum adalah sesuatu (makna) dari suatu lafazh yang ditunjukkan secara tersirat.[22] b.[25] Dengan kata lain. Apabila Allah swt memerintahkan sesuatu berarti melarang untuk melakukan sebaliknya. Larangan berdusta berarti perintah berbuat jujur. Kaidah yang berkaitan dengan al-amr wa al-nahy Al-amr adalah tuntutan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan dari pihak yang lebih tinggi derajatnya kapada pihak yang lebih rendah. Sedangkan al-nahy merupakan kebalikan dari al-amr. [24] Sedangkan mubayyan merupakan penjelas terhadap lafazh yang masih mujmal pengertiannya. Mujmal adalah lafazh yang mengandung dua makna atau lebih. QS Muhammad: 4 … ‫ﻓﺇﺫﺍﻟﻘﻴﺗﻢﺍﻟﺬﻴﻦﻛﻔﺭﻭﺍﻓﻀﺭﺏﺍﻟﺭﻗﺎﺏ‬ Artinya: Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang). Mujmal dan Mubayyan. berarti penetapan sifat jujurnya. 2. maka pukullah batang leher mereka. . Am dan Khash. Apabila Dia memuji terhadap diri-Nya atau kekasih-Nya dengan meniadakan kekurangan sedikit pun berarti menetapkan kesempurnaan.2.. Manthuq dan Mafhum. pengucapan lafazh itu sendirilah yang memberi jalan bagi kita untuk dapat mengerti maksud kandungannya sehingga tidak ada kemungkinan makna lain kecuali apa yang dapat dimengerti dari teks itu sendiri. Am adalah lafazh yang mencakup seluruh satuan-satuan yang pantas baginya dan tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Manthuq adalah sesuatu (makna) yang ditunjukkan oleh ucapan lafazh itu sendiri. QS Al-Baqarah: 229 … ‫ﺍﻟﻃﻼﻕﻣﺭﺗﻦﻓﺈﻣﺴﺎﻙﺒﻣﻌﺭﻭﻑﺍﻭﺗﺴﺭﻳﺢﺑﺈﺣﺴﺎﻥ‬ Artinya: Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. yang kesemuanya masih sulit untuk ditentukan secara pasti mana yang lebih tepat untuknya.

Dengan demikian maka al-Quran akan senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Jakarta: Pustaka Firdaus. 3.ﻋﻟﻖ‬yaitu darah beku atau segumpal darah yang merupakan keadaan janin pada hari pertama kejadiannya. Beirut: Dar Kitab al-Lubnan.mendefinisikannya sebagai suatu lafazh yang menunjukkan atas suatu hakikat dengan adanya batasan. 1989. Sedangkan yang dimaksud lafazh muqayyad adalah kebalikan dari lafazh muthlaq. Yogyakarta: Teras. Beirut: Dar al-Masyriq. [11] Syaikh Musthafa al-Ghalayaini. 1986. hlm. dkk. hlm. [12] Ibid. 463. 67. Alfatih Suryadilaga. hlm. 1983. 80. 38. Muthlaq dan Muqayyad. 4. seperti perubahan social dan ilmu pengetahuan lainnya.[27]Sedangkan majaz adalah lafazh yang digunakan untuk suatu arti. jld. 2001.2. hlm. Pendapat tersebut didukung pula oleh ayat-ayat lain dalam al-Quran. Mu’jam Maqayis al-Lughah. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. 1992. hlm.[28] 2. dan tidak ada taqdim (makna yang didahulukan) dan ta’khir (makna yang diakhirkan) di dalamnya.4. hlm. 1. 13. 100-101. 219-220. ‘Ulum al-Qur’an al-Karim. [7] Penjelasan Al Quran tentang Surat Ali Imran: 7. [2] Abu al-Husain Ahmad. [9] Abd Muin Salim. Alfatih Suryadilaga. Hakikat merupakan suatu lafazh yang tetap pada makna aslinya. Metodologi Ilmu Tafsir. juz. Hakikat dan Majas. Libanon: Mansyurat Muassasah Al-A’lamiy li al-Mathbu’at. [8] Sayyid Muhammad Husain al-Thabaththabai. 5. Tarjamah Jami’ud Durusil Arabiyyah. cet. dkk. Metodologi Ilmu Tafsir. Hal ini didasarkan atas prinsip al-Quran yang diturunkan sebagai rahmah li al-‘alamin. 277. 2005. 38. 2005.ﺧﻟﻖﺍﻹﻧﺴﺎﻥﻣﻥﻋﻟﻖ‬Ayat tersebut mengungkapkan tentang penciptaan manusia. Dasar-Dasar Penafsiran Al-Quran. dan didukung pula oleh beberapa hadis Rasul. 55. 56. [10] Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin. yang semua lafazh itu bukan diciptakan untuknya. hlm. Contoh: ‫ . hlm. Beirut: Dar al-Jail. [5] Abd al-Mun’im al-Namr. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir al-Quran. seorang mufasir mesti memiliki ilmu pengetahuan lainnya. Yogyakarta: Teras. Semarang: Asy-Syifa’. [4] Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di. 1990. 1991. Manna’ al-Qaththan dalam Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an. [3] M. Muthlaq adalah suatu lafazh yang menunjukkan kepada satusatuan tertentu tetapi tanpa adanya pembatasan.5 Kaidah Ilmu Pengetahuan Di samping kaidah-kaidah yang disebutkan di atas. Ujung Pandang: LSKI. hlm. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam.[29] [1] Louis Ma’luf. 70 Kaidah Penafsiran Al-Qur’an. hlm. . Para ulama berpendapat mengenai kejadian manusia dari kata ‫ . [6] M. Semarang: Dina Utama. hlm. 1976.

2005. Metodologi Ilmu Tafsir. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. hlm. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. hlm. 2002. jld. Semarang: Pustaka Pelajar.[13] Nor Ichwan. 77. Tarjamah Matan Alfiyah. Beirut: Muassasah alKutub al-Tsaqafiyah. Semarang: Pustaka Pelajar. [18] Nor Ichwan. Alfatih Suryadilaga. 69. 1996. hlm. hlm. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. [22] M. 2002. Jakarta: PT Al-Ma’arif. [19] Ibid. Metodologi Ilmu Tafsir. 219. [26] Nor Ichwan. hlm. hlm. Yogyakarta: Teras. 2. hlm. 291-292. [20] Manna’ Khalil al-Qattan. 78. Metodologi Ilmu Tafsir. hlm. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. 41. 1998. 3. 70. Semarang: Pustaka Pelajar. jld. Alfatih Suryadilaga. . 84. 2005. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Semarang: Pustaka Pelajar. Alfatih Suryadilaga. Semarang: Pustaka Pelajar. [29] M. 2002. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 2005. [28] Nor Ichwan. Asbab al-Nuzul. 1998. 149. 1996. 1996. 2002. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. jld. Yogyakarta: Teras. 35. 2002. hlm. 291. hlm. hlm. Semarang: Pustaka Pelajar. [17] Manna’ Khalil al-Qattan. [23] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. 68. [21] M. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. [27] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. hlm. hlm. Beirut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah. 2. 97. hlm. 1990. hlm. [24] Nor Ichwan. 1988. 2. Beirut: Dar al-Fikr. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 32. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 3. [15] Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naisabury. hlm. 2002. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. [14] Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusy. Yogyakarta: Teras. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. hlm. Beirut: Muassasah alKutub al-Tsaqafiyah. [16] Nor Ichwan. [25] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. 127. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful