PENGERTIAN KAIDAH-KAIDAH ILMU TAFSIR Kaidah-kaidah tafsir dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah qawa’id

altafsir, terdiri dari dua kata yaitu qawa’id dan al-tafsir. Kata ‫ ﻗﻭﺍﻋﺩ‬merupakan bentuk jamak dari ‫ ﻗﺎﻋﺩﺓ‬yang berarti undang-undang, peraturan, dan asas. Secara istidah didefinisikan dengan undanng-undang, sumber, dasar yang digunakan secara umum yang mencakup semua yang partikular.[1] Adapun kata ‫ ﺍﻠﺗﻔﺴﻴﺮ‬secara bahasa berasal dari kata ‫ ﻓﺴﺮ -ﻴﻔﺴﺮ -ﺗﻔﺴﻴﺮ‬yang berarti mengungkapkan atau menampakkan.[2] Menurut al-Zarkasyi tafsir merupakan ilmu yang dengannya didapatkan pemahaman terhadap kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw mengenai penjelasan maknanya, serta pengambilan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya. Sedangkan menurut al-Zarqani arti tafsir adalah ilmu yang di dalamnya dibahas petunjuk-petunjuk al-Quran yang dimaksudkan oleh Allah swt dan diperoleh berdasarkan atas kemampuan manusia. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa ‫ ﻗﻭﺍﻋﺩﺍﻠﺗﻔﺴﻴﺮ‬adalah pedoman-pedoman yang disusun oleh ulama’ dengan kajian yang mendalam guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam memahami makna-makna al-Quran, hukumhukum, dan petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya.[3] 2.2 KAIDAH-KAIDAH ILMU TAFSIR Kaidah-kaidah ilmu tafsir Al-Quran sangat tinggi nilainya, dan manfaatnya juga sangat besar. Serta dapat membantu kita untuk memahami kalamullah dan dapat dijadikan penuntun untuk mendapatkan pemahaman yang sempurna. Kaidah-kaidah memberikan seseorang metode-metode menafsirkan Al-Quran dan merintis jalan kepada manhajj (sistem) pemahaman tentang Allah.[4] Secara ringkas kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Quran ada lima, yaitu kaidah quraniyah, kaidah sunnah, kaidah bahasa, kaidah ushul al-fiqh, dan kaidah ilmu pengetahuan. Berikut akan dijelaskan mengenai kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Quran satupersatu. 2.2.1 Kaidah Quraniyah Kaidah quraniyah ialah penafsiran al-Quran yang diambil oleh ulumul quran dari al-Quran. Beberapa kaidah yang lazim digunakan dalam menjelaskan kaidah quraniyah antara lain sebagai berikut: a. 5]‫]ﺍﻠﻌﺑﺮﺓﺑﻌﻤﻭﻢﺍﻠﻠﻔﻅﻻﺑﺧﺻﻭﺺﺍﻠﺴﺑﺐ‬ Maksudnya yaitu jika satu nas menggunakan redaksi yang bersifat umum, maka tidak ada pilihan lain selain menerapkan nas tersebut, sekalipun nas tersebut turun untuk menanggapi suatu peristiwa tertentu. Kaidah ini dipegang oleh mayoritas ulama dengan argumentasinya yang bervariatif.[6] Misalnya pada QS Al-Maidah: 38 ‫ﻭﺍﻠﺴﺎﺭﻕﻭﺍﻠﺴﺎﺭﻗﺔﻓﺎﻗﻄﻌﻭﺍﺍﻳﺩﻳﻬﻣﺎﺟﺯﺍﺀﺑﻣﺎﻛﺴﺑﺎﻧﻜﺎﻻﻣﻦﺍﷲﻭﺍﷲﻋﺯﻴﺯﺤﻜﻴﻢ‬

baik kualitas peristiwa. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. kesempurnaan hikmah-Nya dan membuktikan keterbatasannya. Kandungan suatu ayat yang memiliki keterkaitan dengan nama Allah menunjukkan bahwa hukum yang terkandung berkaitan dengan nama yang mulia.ﺍﻧﻚﺍﻧﺖﺍﻠﻌﻠﻴﻢﺍﻠﺤﻜﻴﻢ‬ c. yaitu: 1. maka Allah akan mengampuni dan mengasihinya.Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. dapat dipahami dengan mudah. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Terhadap upaya Tuhan yang demikian. malaikat heran dan mengatakan: “Apakah Engkau akan menjadikan manusia sebagai khalifah. Ayat tersebut merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya mengenai dialog Tuhan dengan para malaikat berkenaan dengan pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi. Ketidakmampuan malaikat dalam hal ini mengakui kemahatahuan Tuhan. padahal manusia sering membuat kerusakan dan saling membunuh?” untuk membuktikan kamahatahuan Tuhan. ‫ﺜﻢﺍﺘﻴﻨﺎﻣﻮﺳﻰﺍﻠﻜﺘﺐﺘﻣﻣﺎﻣﺎﻋﺎﻰﺍﻠﺬﻱﺍﺣﺳﻥﻮﺘﻔﺼﻴﻼﻠﻜﻞﺸﻲﺀﻮﻫﺪﻯﻮﺭﺭﺣﻤﺔﻠﻌﻠﻬﻢﺑﻠﻘﺎﺀﺭﺑﻬﻢ ﻳﺆﻤﻨﻮﻥ‬ Artinya: Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan. pelaku. sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia mengajarkan Adam nama-nama benda yang tidak diketahui malaikat. Dalam menanggapi ayat tersebut jumhur ulama terbagi menjadi dua. Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya. Maksudnya yaitu Allah swt Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Misalnya QS Al-Baqarah: 32 ‫ﻗﺎﻠﻭﺍﺴﺑﺤﻧﻚﻻﻋﻠﻢﻠﻧﺎﺍﻻﻤﺎﻋﻠﻤﺗﻧﺎﺍﻧﻚﺍﻧﺖﺍﻠﻌﻠﻴﻢﺍﻠﺤﻜﻴﻢ‬ Artinya: Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau. maka Ia memerintahkan memotong tangan pencuri dan menetapkan sanksi kepada orang-orang yang melampaui batas sebagai hukum. dan ganjaran bagi mereka.An’am: 154. takdir. untuk . Kaidah yang bertalian dengan mutasyabihat dan muhkamat. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaibghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat. b. 2. Menerapkan langsung hukum tersebut tanpa memandang latar belakang dan sabab alnuzul. Mengetahui sebab nuzulnya kemudian menganalisa unsur-unsur yang melingkupinya. Sedangkan pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayatayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam. surga. Maka demikian pula hendaknya kita sebagai manusia juga bisa memaafkan orang tersebut.[7] Contoh ayat muhkamat adalah QS Al. Kekeliruan pandangan malaikat ini digambarkan dalam ungkapan: ‫. Maksudnya yaitu Allah Maha Bijaksana maka apabila orang tersebut bertaubat dan kembali ke jalan Allah. neraka dan lain-lain. maupun waktunya. tempat.

Beliau tidak menafsirkan menurut akal pikiran. 2. Oleh karena itu.2 Kaidah Sunnah Berdasarkan QS An-Nahl ayat 44 dan 64. seperti lafad alif-lam-mim. berarti tidak ada jalan lain bagi umat Islam untuk memahaminya kecuali dengan menguasai dan memahami bahasa Arab. sebab dilihat dari bentuknya memang terlihat ringkas dan kecil. maupun orang ketiga (dhamir ghaib). Secara logika penjelasan itu tidak boleh bertentangan dengan al-Quran sebagai materi yang dijelaskannya. Menghimpun hadis yang pokok bahasannya sama. a.[9] Kaidah yang dipergunakan diantaranya ialah: Sunnah harus dipakai sesuai dengan petunjuk Al Quran. Nabi Muhammad sebagai Rasul yang datang untuk menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan Tuhan. menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya. dhamir adalah lafazh yang digunakan sebagai pengganti. Dengan demikian penjelasan Nabi saw selalu dalam kerangka al-Quran. menjelaskan makna yang belum terungkap.[10]Sedangkan secara istilah. Di antara kaidah-kaidah yang harus dipahami antara lain: Dhomir Secara bahasa dhamir berasal dari kata dasar al-dhumur yang berarti kurus kering. dan sebagainya. dan sebagainya. Hal ini dapat dibuktikan dalam QS Yusuf: 2 ‫ﺍﻨﺎﺍﻨﺰﻠﻨﻪﻗﺮﺍﻨﺎﻋﺮﺑﻴﺎﻠﻌﻠﻜﻢﺘﻌﻘﻠﻮﻥ‬ Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab.3 Kaidah Bahasa Al Quranul Karim diturunkan kepada umat manusia dengan berbahasa Arab.a. akan didapatkan suatu pemahaman yang benar dan utuh berdasarkan suatu ketetapan bahwa hadis berfungsi manafsirkan alQuran dan menjelaskan maknanya. Dengan demikian.[11] Al-Ta’rif dan Al-Tankir (Isim Ma’rifah dan Isim Nakirah) Secara terminologis para ahli bahasa (ahl an-nahw) mendefinisikan isim ma’rifah sebagai isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah jelas.2.2. agar kamu memahaminya. Hadis yang dimaksud dalam hal ini adalah hadis yang shahih. b. dan menkhususkan yang umum.[12] Dalam bahasa Arab ism al- . orang kedua (dhamir mukhattab). b. mengkaitkan yang mutlak kepada yang muqayyad. Dengan demikian. maka rasul merupakan sumber penjelas tentang makna-makna Al-Quran. Hal itu terbukti dengan tidak ditemukannya hadis shahih yang bertentangan dengan al-Quran. Kata dhamir juga bisa diambil dari kata al-adhmar yang berarti tersembunyi.[8] 2. alif-lam-ra. menjelaskan makna globalnya. tetapi menurut wahyu Ilahi. sebab banyak yang tidak tampak dalam bentuk nyatanya. yaitu dengan cara mengembalikan kandungan yang mutasyabih kepada yang muhkam. baik kata ganti untuk orang pertama (dhamir mutakallim). hamim. Sedangkan contoh ayat mutasyabihat adalah huruf-huruf penggalan (al-huruf almuqatha’ah) yang terdapat pada awal surat.

[17] Misalnya: QS Thaha: 18 ‫ﻗﻞﻫﻲﻋﺼﺎﻱﺃﺘﻮﻜﺄﻋﻠﻴﻬﺎﻮﺃﻫﺶﺒﻬﺎﻋﻠﻰﻏﻨﻤﻲﻮﻠﻲﻓﻴﻬﺎﻤﺎﺭﺏﺃﺧﺭﻯ‬ Artinya: Berkata Musa: Ini adalah tongkatku. Hal yang demikian.[14] c. Asbab al-Nuzul ayat ini adalah bahwa ada sekelompok orang yang menanyakan kepada Rasulullah saw tentang bulan sabit (al-ahillah). dilakukan Nabi Musa karena ia merasa senang dengan pertanyaan yang dilontarkan Allah kepadanya. yaitu isim yang menujukkan sesuatu yang belum jelas pengertiannya. Ayat tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan yang disebutkan pada ayat sebelumnya. aku bertelekan padanya dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku. kenapa semula ia tampak kecil seperti benang. Namun terhadap pertanyaan yang demikian itu. yaitu untuk bertelekan. Jawaban lebih umum dari apa yang ditanyakan.rif. Definisi lain menyebutkan bahwa ism al-nakirah adalah setiap isim yang pantas baginya kemasukkan alif-lam. Dengan jawaban yang demikian. sebenarnya Allah hanya mempertanyakan kepada Nabi Musa perihal apa yang ada di tangan kanannya. Kemudian. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi ism al-ma’rifah adalah untuk menunjukkan bahwa kata yang bersangkutan adalah ma’ruf (diketahi) atau untuk ta. sebenarnya sudah mencukupi bagi si penanya dan sudah dapat dipahami.ma’rifah mempunyai peran penting.[18] . jawaban yang diberikan al-quran kepada mereka adalah berupa penjelasan tentang hikmahnya. hai Musa? Dalam ayat ini. bukan seperti yang mereka pertanyakan. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. dan bagiku ada lain keperluan yang lain padanya. dengan alasan untuk mengingatkan mereka bahwa yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah hikmah dari bulan sabit. memukul daun. As-Sual wa Al-Jawab Kaidah yang dipergunakan antara lain: 1. kemudian lama-kelamaan berubah sedikit demi sedikit menjadi purnama. pertanyaan itu oleh Nabi Musa dijawab bahwa yang ada di tangan kanannya adalah tongkat. Jawaban menyimpang dari soal Misalnya: QS al-Baqarah: 189 ‫ﻳﺴﺄﻠﻮﻨﻚﻋﻋﻥﺍﻷﻫﻠﺔﻗﻞﻫﻲﻣﻮﺍﻗﻴﺖﻠﻠﻨﺎﺱﻮﻮﺍﻠﺤﺞ‬ Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. yaitu QS Thaha: 17 ‫ﻮﻤﺎﺘﻠﻚﺑﻴﻤﻨﻚﻴﺎﻤﻮﺳﻰ‬ Artinya: Apakah ini yang di tanganmu. dan beberapa fungsi lainnya. [16] 2. karena memang hal itu dianggap perlu. baik secara sintaksis maupun sistematis. lalu ia menyusut kembali seperti keadaan seperti semula?[15] Secara logika. namun Nabi Musa menambahkan dalam jawabannya sesuatu yang terkait dengan fungsi tongkat tersebut.[13] Sedangkan yang dimaksud dengan ism al-nakirah merupakan kebalikan dari ism al-ma’rifah. pertanyaan itu seharusnya dijawab dengan menerangkan proses perubahan yang terjadi pada bulan tersebut.

Dan Allah mencintai orang-orang berbuat kebaikan. Contoh kalimat nominal (jumlah ismiyah) yaitu tentang keimanan.[21] . kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Masing-masing kalimat ini mempunyai tempat tersendiri yang tidak bisa ditempai oleh yang lain. ia mempunyai hakikat yang tetap berlangsung selama hal-hal yang menghendakinya masih ada. yaitu: ‫ﻗﺎﻞﺍﻠﺬﻳﻥﻻﻳﺮﺟﻮﻥﻠﻘﺎﺀﻧﺎﺍﺋﺖﺑﻘﺮﺍﻥﻏﻳﺮﻫﺬﺍﺍﻮﺑﺪﻟﻪ‬ Artinya: Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami berkata: Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah. baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Hal ini dikarenakan infaq merupakan suatu perbuatan yang bersifat temporal yang terkadang ada dan terkadang tidak ada. Misalnya: QS Yunus: 15 ‫ﻗﻞﻤﺎﻴﻜﻮﻥﻠﻰﺃﻥﺃﺑﺪﻠﻪﻤﻥﺗﻠﻘﺎﺀﻧﻔﺴﻰ‬ Artinya: Katakanlah: Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri.[20] e. Misalnya tentang infaq yang diungkapkan dengan kalimat verbal (jumlah fi’liyah). Mashdar Cara menunjukkan sesuatu yang diwajibkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan marfu’ ( _ ) dan cara menunjukkan sesuatu yang disunatkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan manshub ( _ ). yaitu yang terkait dengan perintah untuk menggantinya.[19] d. Lain halnya dengan keimanan. Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah Jumlah ismiyah atau kalimat nominal menunjukkan arti subut (tetap) dan istimrar (terus-menerus). Dalam ayat tersebut setidaknya ada dua pertanyaan pokok. yaitu perintah untuk mendatangkan al-Quran yang lain. tetapi hanya terfokus pada satu hal. Jika mengganti saja sudah tidak mampu. apalagi untuk menciptakan pasti akan lebih sulit. Ayat tersebut merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang disebutkan sebelumnya (pada ayat yang sama). sedang jumlah fi’liyah atau kalimat verbal menunjukkan arti tajaddud (timbulnya sesuatu) dan hudus (temporal). seperti dalam QS al-Hujurat:15 ‫ﺍﻨﻤﺎﺍﻟﻤﺆﻤﻨﻮﻥﺍﻟﺬﻴﻥﺍﻤﻨﻮﺑﷲﻮﺭﺴﻮﻟﻪﺛﻢﻟﻢﻴﺭﺗﺎﺑﻮﺍﻮﺟﺎﻫﺪﻮﺍﺑﺎﻣﻮﺍﻟﻬﻢﻮﺍﻧﻔﺴﻬﻢﻓﻲﺴﺑﻴﻞﷲﺍﻮﻟﺌﻚﻫﻢﺍﻟﺼﺪﻗﻮﻥ‬ Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. seperti dalam surah Ali ‘imran:134 ‫ﺍﻟﺬﻳﻥﻳﻨﻔﻘﻮﻥﻓﻰﺍﻟﺴﺮﺍﺀﻮﺍﻟﻀﺮﺍﺀﻮﺍﻟﻜﺎﻇﻤﻴﻥﺍﻟﻐﻴﻅﻮﺍﻟﻌﺎﻓﻴﻥﻋﻥﻥﺍﻟﻨﺎﺱﻮﷲﻴﺤﺐﺍﻟﻤﺤﺴﻨﻴﻥ‬ Artinya: (Yaitu) orang-orang yang berinfaq. Jawaban terhadap suatu pertanyaan yang diajukan bersifat lebih sempit cakupannya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Terhadap pertanyaan ini. jawaban yang diberikan al-Quran tidak mencakup kedua hal dimaksud. Hal ini mengingat bahwa mengganti itu lebih mudah daripada menciptakan kembali. dan jikalau tidak dapat maka disuruh untuk menggantinya.3.

. karena makna yang dikandung oleh lafazh tersebut sama-sama kuatnya. QS Muhammad: 4 … ‫ﻓﺇﺫﺍﻟﻘﻴﺗﻢﺍﻟﺬﻴﻦﻛﻔﺭﻭﺍﻓﻀﺭﺏﺍﻟﺭﻗﺎﺏ‬ Artinya: Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang). (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik. berarti penetapan sifat jujurnya.[23] Sedangkan lafazh khash merupakan kebalikan dari lafazh am. Larangan berdusta berarti perintah berbuat jujur. yaitu yang tidak menghabiskan semua apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan. Mujmal adalah lafazh yang mengandung dua makna atau lebih. 2. yang kesemuanya masih sulit untuk ditentukan secara pasti mana yang lebih tepat untuknya. Kata ‫( ﻓﻀﺭﺏﺍﻟﺭﻗﺎﺏ‬pukullah batang leher) dibaca manshub.[25] Dengan kata lain. Am dan Khash.4 Kaidah Ushul al-Fiqh Di antara kaidah-kaidah ini adalah: a. [26] Sedangkan mafhum adalah sesuatu (makna) dari suatu lafazh yang ditunjukkan secara tersirat. Sedangkan al-nahy merupakan kebalikan dari al-amr. 3. Apabila Allah swt memerintahkan sesuatu berarti melarang untuk melakukan sebaliknya. …. Kaidah-kaidah ushuli lainnya antara lain: 1. [24] Sedangkan mubayyan merupakan penjelas terhadap lafazh yang masih mujmal pengertiannya. Am adalah lafazh yang mencakup seluruh satuan-satuan yang pantas baginya dan tidak terbatas dalam jumlah tertentu.Contoh: 1. Mujmal dan Mubayyan. Contoh: Allah memerintahkan berbuat adil berarti Dia melarang berbuat zalim. menunjukkan sunah memukul kuduk orang kafir dalam keadaan perang. atau melepaskan dengan baik … Kata ‫( ﺇﻣﺴﺎﻙ‬menahan) dan ‫( ﺗﺴﺭﻳﺢ‬melepaskan) dengan bacaan marfu’ menunjukkan wajibnya ruju’ dan wajibnya cerai. . Apabila Dia memuji terhadap diri-Nya atau kekasih-Nya dengan meniadakan kekurangan sedikit pun berarti menetapkan kesempurnaan. pengucapan lafazh itu sendirilah yang memberi jalan bagi kita untuk dapat mengerti maksud kandungannya sehingga tidak ada kemungkinan makna lain kecuali apa yang dapat dimengerti dari teks itu sendiri.2. Manthuq adalah sesuatu (makna) yang ditunjukkan oleh ucapan lafazh itu sendiri. Penafian sifat kadzib Rasul saw.[22] b. 2. QS Al-Baqarah: 229 … ‫ﺍﻟﻃﻼﻕﻣﺭﺗﻦﻓﺈﻣﺴﺎﻙﺒﻣﻌﺭﻭﻑﺍﻭﺗﺴﺭﻳﺢﺑﺈﺣﺴﺎﻥ‬ Artinya: Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. Manthuq dan Mafhum. Kaidah yang berkaitan dengan al-amr wa al-nahy Al-amr adalah tuntutan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan dari pihak yang lebih tinggi derajatnya kapada pihak yang lebih rendah. 2. maka pukullah batang leher mereka.

ﺧﻟﻖﺍﻹﻧﺴﺎﻥﻣﻥﻋﻟﻖ‬Ayat tersebut mengungkapkan tentang penciptaan manusia. 55. [11] Syaikh Musthafa al-Ghalayaini. Contoh: ‫ . juz. ‘Ulum al-Qur’an al-Karim. Ujung Pandang: LSKI. 2005. 56. 3. Dasar-Dasar Penafsiran Al-Quran. hlm.[28] 2. hlm.4. hlm. Muthlaq dan Muqayyad. Hakikat merupakan suatu lafazh yang tetap pada makna aslinya. Alfatih Suryadilaga.mendefinisikannya sebagai suatu lafazh yang menunjukkan atas suatu hakikat dengan adanya batasan. 1991. Mu’jam Maqayis al-Lughah. 1983. Sedangkan yang dimaksud lafazh muqayyad adalah kebalikan dari lafazh muthlaq. 13. cet.[27]Sedangkan majaz adalah lafazh yang digunakan untuk suatu arti. 277. Para ulama berpendapat mengenai kejadian manusia dari kata ‫ . 219-220.2. [4] Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di. Beirut: Dar al-Masyriq. 2001. Manna’ al-Qaththan dalam Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an. [12] Ibid. 5. 80. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an.[29] [1] Louis Ma’luf. Beirut: Dar Kitab al-Lubnan. 1986. 70 Kaidah Penafsiran Al-Qur’an. Semarang: Dina Utama. Semarang: Asy-Syifa’. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir al-Quran. hlm. [9] Abd Muin Salim. dan didukung pula oleh beberapa hadis Rasul. yang semua lafazh itu bukan diciptakan untuknya. Beirut: Dar al-Jail. . Alfatih Suryadilaga. 38.ﻋﻟﻖ‬yaitu darah beku atau segumpal darah yang merupakan keadaan janin pada hari pertama kejadiannya. Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Teras. hlm. 463. Dengan demikian maka al-Quran akan senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. 2005. 1976. 67. seorang mufasir mesti memiliki ilmu pengetahuan lainnya. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1989. 1990. Yogyakarta: Teras. [2] Abu al-Husain Ahmad. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam. 38. dkk. hlm. Hakikat dan Majas. Pendapat tersebut didukung pula oleh ayat-ayat lain dalam al-Quran. Muthlaq adalah suatu lafazh yang menunjukkan kepada satusatuan tertentu tetapi tanpa adanya pembatasan. dkk. 1992. [8] Sayyid Muhammad Husain al-Thabaththabai. [7] Penjelasan Al Quran tentang Surat Ali Imran: 7.5 Kaidah Ilmu Pengetahuan Di samping kaidah-kaidah yang disebutkan di atas. [3] M. hlm. hlm. hlm. [5] Abd al-Mun’im al-Namr. hlm. seperti perubahan social dan ilmu pengetahuan lainnya. hlm. 4. [6] M. Hal ini didasarkan atas prinsip al-Quran yang diturunkan sebagai rahmah li al-‘alamin. jld. Tarjamah Jami’ud Durusil Arabiyyah. [10] Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin. dan tidak ada taqdim (makna yang didahulukan) dan ta’khir (makna yang diakhirkan) di dalamnya. Metodologi Ilmu Tafsir. Libanon: Mansyurat Muassasah Al-A’lamiy li al-Mathbu’at. 1. 100-101.

[23] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 149. 1990. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. 2. Beirut: Muassasah alKutub al-Tsaqafiyah. [15] Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naisabury. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Asbab al-Nuzul. 2002. 127. hlm. hlm. hlm. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 219. 291. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. [16] Nor Ichwan. Alfatih Suryadilaga. Alfatih Suryadilaga. [22] M. Semarang: Pustaka Pelajar. 291-292. Beirut: Muassasah alKutub al-Tsaqafiyah. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr. hlm. hlm. hlm. [18] Nor Ichwan. hlm. 3. hlm. 68. Semarang: Pustaka Pelajar. 97. jld. [29] M. Metodologi Ilmu Tafsir. 2002. 2. jld. hlm. [26] Nor Ichwan. 1998. 2002. Semarang: Pustaka Pelajar. Jakarta: PT Al-Ma’arif. [21] M. [28] Nor Ichwan. 41. jld. [24] Nor Ichwan. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 2005. Beirut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah. Tarjamah Matan Alfiyah. hlm. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. 77. hlm. Yogyakarta: Teras. 1996. 1996. 2002. [20] Manna’ Khalil al-Qattan. [25] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. 84. 3. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 1998. Semarang: Pustaka Pelajar. 69. 78. hlm. Metodologi Ilmu Tafsir. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. hlm. Semarang: Pustaka Pelajar. . hlm. 2002. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. 35. [17] Manna’ Khalil al-Qattan. 1988. 2005. [19] Ibid. [14] Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusy. Metodologi Ilmu Tafsir. [27] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. 2002. hlm. hlm. 2005. hlm.[13] Nor Ichwan. 32. Alfatih Suryadilaga. Yogyakarta: Teras. Yogyakarta: Teras. 1996. 70. Semarang: Pustaka Pelajar. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful