PENGERTIAN KAIDAH-KAIDAH ILMU TAFSIR Kaidah-kaidah tafsir dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah qawa’id

altafsir, terdiri dari dua kata yaitu qawa’id dan al-tafsir. Kata ‫ ﻗﻭﺍﻋﺩ‬merupakan bentuk jamak dari ‫ ﻗﺎﻋﺩﺓ‬yang berarti undang-undang, peraturan, dan asas. Secara istidah didefinisikan dengan undanng-undang, sumber, dasar yang digunakan secara umum yang mencakup semua yang partikular.[1] Adapun kata ‫ ﺍﻠﺗﻔﺴﻴﺮ‬secara bahasa berasal dari kata ‫ ﻓﺴﺮ -ﻴﻔﺴﺮ -ﺗﻔﺴﻴﺮ‬yang berarti mengungkapkan atau menampakkan.[2] Menurut al-Zarkasyi tafsir merupakan ilmu yang dengannya didapatkan pemahaman terhadap kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw mengenai penjelasan maknanya, serta pengambilan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya. Sedangkan menurut al-Zarqani arti tafsir adalah ilmu yang di dalamnya dibahas petunjuk-petunjuk al-Quran yang dimaksudkan oleh Allah swt dan diperoleh berdasarkan atas kemampuan manusia. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa ‫ ﻗﻭﺍﻋﺩﺍﻠﺗﻔﺴﻴﺮ‬adalah pedoman-pedoman yang disusun oleh ulama’ dengan kajian yang mendalam guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam memahami makna-makna al-Quran, hukumhukum, dan petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya.[3] 2.2 KAIDAH-KAIDAH ILMU TAFSIR Kaidah-kaidah ilmu tafsir Al-Quran sangat tinggi nilainya, dan manfaatnya juga sangat besar. Serta dapat membantu kita untuk memahami kalamullah dan dapat dijadikan penuntun untuk mendapatkan pemahaman yang sempurna. Kaidah-kaidah memberikan seseorang metode-metode menafsirkan Al-Quran dan merintis jalan kepada manhajj (sistem) pemahaman tentang Allah.[4] Secara ringkas kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Quran ada lima, yaitu kaidah quraniyah, kaidah sunnah, kaidah bahasa, kaidah ushul al-fiqh, dan kaidah ilmu pengetahuan. Berikut akan dijelaskan mengenai kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Quran satupersatu. 2.2.1 Kaidah Quraniyah Kaidah quraniyah ialah penafsiran al-Quran yang diambil oleh ulumul quran dari al-Quran. Beberapa kaidah yang lazim digunakan dalam menjelaskan kaidah quraniyah antara lain sebagai berikut: a. 5]‫]ﺍﻠﻌﺑﺮﺓﺑﻌﻤﻭﻢﺍﻠﻠﻔﻅﻻﺑﺧﺻﻭﺺﺍﻠﺴﺑﺐ‬ Maksudnya yaitu jika satu nas menggunakan redaksi yang bersifat umum, maka tidak ada pilihan lain selain menerapkan nas tersebut, sekalipun nas tersebut turun untuk menanggapi suatu peristiwa tertentu. Kaidah ini dipegang oleh mayoritas ulama dengan argumentasinya yang bervariatif.[6] Misalnya pada QS Al-Maidah: 38 ‫ﻭﺍﻠﺴﺎﺭﻕﻭﺍﻠﺴﺎﺭﻗﺔﻓﺎﻗﻄﻌﻭﺍﺍﻳﺩﻳﻬﻣﺎﺟﺯﺍﺀﺑﻣﺎﻛﺴﺑﺎﻧﻜﺎﻻﻣﻦﺍﷲﻭﺍﷲﻋﺯﻴﺯﺤﻜﻴﻢ‬

Misalnya QS Al-Baqarah: 32 ‫ﻗﺎﻠﻭﺍﺴﺑﺤﻧﻚﻻﻋﻠﻢﻠﻧﺎﺍﻻﻤﺎﻋﻠﻤﺗﻧﺎﺍﻧﻚﺍﻧﺖﺍﻠﻌﻠﻴﻢﺍﻠﺤﻜﻴﻢ‬ Artinya: Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau. Terhadap upaya Tuhan yang demikian. malaikat heran dan mengatakan: “Apakah Engkau akan menjadikan manusia sebagai khalifah. Maksudnya yaitu Allah swt Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Maksudnya yaitu Allah Maha Bijaksana maka apabila orang tersebut bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Dalam menanggapi ayat tersebut jumhur ulama terbagi menjadi dua. tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Kaidah yang bertalian dengan mutasyabihat dan muhkamat. dapat dipahami dengan mudah. takdir. dan ganjaran bagi mereka. Menerapkan langsung hukum tersebut tanpa memandang latar belakang dan sabab alnuzul. Maka demikian pula hendaknya kita sebagai manusia juga bisa memaafkan orang tersebut. maupun waktunya. Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya. yaitu: 1.ﺍﻧﻚﺍﻧﺖﺍﻠﻌﻠﻴﻢﺍﻠﺤﻜﻴﻢ‬ c. 2. baik kualitas peristiwa. surga. Kekeliruan pandangan malaikat ini digambarkan dalam ungkapan: ‫. Dia mengajarkan Adam nama-nama benda yang tidak diketahui malaikat.[7] Contoh ayat muhkamat adalah QS Al. sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ‫ﺜﻢﺍﺘﻴﻨﺎﻣﻮﺳﻰﺍﻠﻜﺘﺐﺘﻣﻣﺎﻣﺎﻋﺎﻰﺍﻠﺬﻱﺍﺣﺳﻥﻮﺘﻔﺼﻴﻼﻠﻜﻞﺸﻲﺀﻮﻫﺪﻯﻮﺭﺭﺣﻤﺔﻠﻌﻠﻬﻢﺑﻠﻘﺎﺀﺭﺑﻬﻢ ﻳﺆﻤﻨﻮﻥ‬ Artinya: Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan.Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. maka Allah akan mengampuni dan mengasihinya. tempat. padahal manusia sering membuat kerusakan dan saling membunuh?” untuk membuktikan kamahatahuan Tuhan. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. untuk . Kandungan suatu ayat yang memiliki keterkaitan dengan nama Allah menunjukkan bahwa hukum yang terkandung berkaitan dengan nama yang mulia.An’am: 154. Ayat tersebut merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya mengenai dialog Tuhan dengan para malaikat berkenaan dengan pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi. Ketidakmampuan malaikat dalam hal ini mengakui kemahatahuan Tuhan. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaibghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat. b. Sedangkan pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayatayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam. maka Ia memerintahkan memotong tangan pencuri dan menetapkan sanksi kepada orang-orang yang melampaui batas sebagai hukum. Mengetahui sebab nuzulnya kemudian menganalisa unsur-unsur yang melingkupinya. kesempurnaan hikmah-Nya dan membuktikan keterbatasannya. neraka dan lain-lain. pelaku. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

maka rasul merupakan sumber penjelas tentang makna-makna Al-Quran. Beliau tidak menafsirkan menurut akal pikiran. Menghimpun hadis yang pokok bahasannya sama. Oleh karena itu. Nabi Muhammad sebagai Rasul yang datang untuk menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan Tuhan.2. hamim.3 Kaidah Bahasa Al Quranul Karim diturunkan kepada umat manusia dengan berbahasa Arab. menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya. dan sebagainya. dhamir adalah lafazh yang digunakan sebagai pengganti. mengkaitkan yang mutlak kepada yang muqayyad. Hadis yang dimaksud dalam hal ini adalah hadis yang shahih. Dengan demikian penjelasan Nabi saw selalu dalam kerangka al-Quran. Dengan demikian. tetapi menurut wahyu Ilahi. akan didapatkan suatu pemahaman yang benar dan utuh berdasarkan suatu ketetapan bahwa hadis berfungsi manafsirkan alQuran dan menjelaskan maknanya. maupun orang ketiga (dhamir ghaib). 2. sebab banyak yang tidak tampak dalam bentuk nyatanya. Sedangkan contoh ayat mutasyabihat adalah huruf-huruf penggalan (al-huruf almuqatha’ah) yang terdapat pada awal surat. baik kata ganti untuk orang pertama (dhamir mutakallim). orang kedua (dhamir mukhattab).[9] Kaidah yang dipergunakan diantaranya ialah: Sunnah harus dipakai sesuai dengan petunjuk Al Quran. agar kamu memahaminya. sebab dilihat dari bentuknya memang terlihat ringkas dan kecil.[10]Sedangkan secara istilah.[12] Dalam bahasa Arab ism al- . a. alif-lam-ra. dan menkhususkan yang umum. Kata dhamir juga bisa diambil dari kata al-adhmar yang berarti tersembunyi.a.2 Kaidah Sunnah Berdasarkan QS An-Nahl ayat 44 dan 64. Hal ini dapat dibuktikan dalam QS Yusuf: 2 ‫ﺍﻨﺎﺍﻨﺰﻠﻨﻪﻗﺮﺍﻨﺎﻋﺮﺑﻴﺎﻠﻌﻠﻜﻢﺘﻌﻘﻠﻮﻥ‬ Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab. b. b. seperti lafad alif-lam-mim.[11] Al-Ta’rif dan Al-Tankir (Isim Ma’rifah dan Isim Nakirah) Secara terminologis para ahli bahasa (ahl an-nahw) mendefinisikan isim ma’rifah sebagai isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah jelas. berarti tidak ada jalan lain bagi umat Islam untuk memahaminya kecuali dengan menguasai dan memahami bahasa Arab. yaitu dengan cara mengembalikan kandungan yang mutasyabih kepada yang muhkam.2. Hal itu terbukti dengan tidak ditemukannya hadis shahih yang bertentangan dengan al-Quran. menjelaskan makna yang belum terungkap.[8] 2. Secara logika penjelasan itu tidak boleh bertentangan dengan al-Quran sebagai materi yang dijelaskannya. dan sebagainya. menjelaskan makna globalnya. Di antara kaidah-kaidah yang harus dipahami antara lain: Dhomir Secara bahasa dhamir berasal dari kata dasar al-dhumur yang berarti kurus kering. Dengan demikian.

dilakukan Nabi Musa karena ia merasa senang dengan pertanyaan yang dilontarkan Allah kepadanya. kenapa semula ia tampak kecil seperti benang. dan beberapa fungsi lainnya. pertanyaan itu seharusnya dijawab dengan menerangkan proses perubahan yang terjadi pada bulan tersebut. sebenarnya sudah mencukupi bagi si penanya dan sudah dapat dipahami. Jawaban lebih umum dari apa yang ditanyakan. [16] 2. Hal yang demikian. karena memang hal itu dianggap perlu. Ayat tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan yang disebutkan pada ayat sebelumnya. yaitu untuk bertelekan. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi ism al-ma’rifah adalah untuk menunjukkan bahwa kata yang bersangkutan adalah ma’ruf (diketahi) atau untuk ta. memukul daun. bukan seperti yang mereka pertanyakan. Kemudian. Jawaban menyimpang dari soal Misalnya: QS al-Baqarah: 189 ‫ﻳﺴﺄﻠﻮﻨﻚﻋﻋﻥﺍﻷﻫﻠﺔﻗﻞﻫﻲﻣﻮﺍﻗﻴﺖﻠﻠﻨﺎﺱﻮﻮﺍﻠﺤﺞ‬ Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. namun Nabi Musa menambahkan dalam jawabannya sesuatu yang terkait dengan fungsi tongkat tersebut. lalu ia menyusut kembali seperti keadaan seperti semula?[15] Secara logika. Namun terhadap pertanyaan yang demikian itu.rif. yaitu isim yang menujukkan sesuatu yang belum jelas pengertiannya.ma’rifah mempunyai peran penting. yaitu QS Thaha: 17 ‫ﻮﻤﺎﺘﻠﻚﺑﻴﻤﻨﻚﻴﺎﻤﻮﺳﻰ‬ Artinya: Apakah ini yang di tanganmu. pertanyaan itu oleh Nabi Musa dijawab bahwa yang ada di tangan kanannya adalah tongkat. As-Sual wa Al-Jawab Kaidah yang dipergunakan antara lain: 1. dan bagiku ada lain keperluan yang lain padanya.[13] Sedangkan yang dimaksud dengan ism al-nakirah merupakan kebalikan dari ism al-ma’rifah. sebenarnya Allah hanya mempertanyakan kepada Nabi Musa perihal apa yang ada di tangan kanannya. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. Dengan jawaban yang demikian. aku bertelekan padanya dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku.[18] . kemudian lama-kelamaan berubah sedikit demi sedikit menjadi purnama. Definisi lain menyebutkan bahwa ism al-nakirah adalah setiap isim yang pantas baginya kemasukkan alif-lam. [17] Misalnya: QS Thaha: 18 ‫ﻗﻞﻫﻲﻋﺼﺎﻱﺃﺘﻮﻜﺄﻋﻠﻴﻬﺎﻮﺃﻫﺶﺒﻬﺎﻋﻠﻰﻏﻨﻤﻲﻮﻠﻲﻓﻴﻬﺎﻤﺎﺭﺏﺃﺧﺭﻯ‬ Artinya: Berkata Musa: Ini adalah tongkatku. baik secara sintaksis maupun sistematis. Asbab al-Nuzul ayat ini adalah bahwa ada sekelompok orang yang menanyakan kepada Rasulullah saw tentang bulan sabit (al-ahillah).[14] c. dengan alasan untuk mengingatkan mereka bahwa yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah hikmah dari bulan sabit. hai Musa? Dalam ayat ini. jawaban yang diberikan al-quran kepada mereka adalah berupa penjelasan tentang hikmahnya.

[21] . Masing-masing kalimat ini mempunyai tempat tersendiri yang tidak bisa ditempai oleh yang lain. seperti dalam QS al-Hujurat:15 ‫ﺍﻨﻤﺎﺍﻟﻤﺆﻤﻨﻮﻥﺍﻟﺬﻴﻥﺍﻤﻨﻮﺑﷲﻮﺭﺴﻮﻟﻪﺛﻢﻟﻢﻴﺭﺗﺎﺑﻮﺍﻮﺟﺎﻫﺪﻮﺍﺑﺎﻣﻮﺍﻟﻬﻢﻮﺍﻧﻔﺴﻬﻢﻓﻲﺴﺑﻴﻞﷲﺍﻮﻟﺌﻚﻫﻢﺍﻟﺼﺪﻗﻮﻥ‬ Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mashdar Cara menunjukkan sesuatu yang diwajibkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan marfu’ ( _ ) dan cara menunjukkan sesuatu yang disunatkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan manshub ( _ ). Dan Allah mencintai orang-orang berbuat kebaikan. jawaban yang diberikan al-Quran tidak mencakup kedua hal dimaksud.[19] d.[20] e. yaitu: ‫ﻗﺎﻞﺍﻠﺬﻳﻥﻻﻳﺮﺟﻮﻥﻠﻘﺎﺀﻧﺎﺍﺋﺖﺑﻘﺮﺍﻥﻏﻳﺮﻫﺬﺍﺍﻮﺑﺪﻟﻪ‬ Artinya: Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami berkata: Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah. Misalnya tentang infaq yang diungkapkan dengan kalimat verbal (jumlah fi’liyah). yaitu yang terkait dengan perintah untuk menggantinya. dan jikalau tidak dapat maka disuruh untuk menggantinya. seperti dalam surah Ali ‘imran:134 ‫ﺍﻟﺬﻳﻥﻳﻨﻔﻘﻮﻥﻓﻰﺍﻟﺴﺮﺍﺀﻮﺍﻟﻀﺮﺍﺀﻮﺍﻟﻜﺎﻇﻤﻴﻥﺍﻟﻐﻴﻅﻮﺍﻟﻌﺎﻓﻴﻥﻋﻥﻥﺍﻟﻨﺎﺱﻮﷲﻴﺤﺐﺍﻟﻤﺤﺴﻨﻴﻥ‬ Artinya: (Yaitu) orang-orang yang berinfaq. Lain halnya dengan keimanan. apalagi untuk menciptakan pasti akan lebih sulit. kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Ayat tersebut merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang disebutkan sebelumnya (pada ayat yang sama). yaitu perintah untuk mendatangkan al-Quran yang lain. tetapi hanya terfokus pada satu hal. baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Jika mengganti saja sudah tidak mampu. ia mempunyai hakikat yang tetap berlangsung selama hal-hal yang menghendakinya masih ada. Hal ini dikarenakan infaq merupakan suatu perbuatan yang bersifat temporal yang terkadang ada dan terkadang tidak ada. Dalam ayat tersebut setidaknya ada dua pertanyaan pokok. Jawaban terhadap suatu pertanyaan yang diajukan bersifat lebih sempit cakupannya. Hal ini mengingat bahwa mengganti itu lebih mudah daripada menciptakan kembali. Contoh kalimat nominal (jumlah ismiyah) yaitu tentang keimanan.3. Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah Jumlah ismiyah atau kalimat nominal menunjukkan arti subut (tetap) dan istimrar (terus-menerus). Misalnya: QS Yunus: 15 ‫ﻗﻞﻤﺎﻴﻜﻮﻥﻠﻰﺃﻥﺃﺑﺪﻠﻪﻤﻥﺗﻠﻘﺎﺀﻧﻔﺴﻰ‬ Artinya: Katakanlah: Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Terhadap pertanyaan ini. Mereka itulah orang-orang yang benar. sedang jumlah fi’liyah atau kalimat verbal menunjukkan arti tajaddud (timbulnya sesuatu) dan hudus (temporal).

QS Al-Baqarah: 229 … ‫ﺍﻟﻃﻼﻕﻣﺭﺗﻦﻓﺈﻣﺴﺎﻙﺒﻣﻌﺭﻭﻑﺍﻭﺗﺴﺭﻳﺢﺑﺈﺣﺴﺎﻥ‬ Artinya: Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. 3. atau melepaskan dengan baik … Kata ‫( ﺇﻣﺴﺎﻙ‬menahan) dan ‫( ﺗﺴﺭﻳﺢ‬melepaskan) dengan bacaan marfu’ menunjukkan wajibnya ruju’ dan wajibnya cerai.4 Kaidah Ushul al-Fiqh Di antara kaidah-kaidah ini adalah: a. Mujmal dan Mubayyan. yaitu yang tidak menghabiskan semua apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan.[22] b. Manthuq dan Mafhum.Contoh: 1. Kaidah yang berkaitan dengan al-amr wa al-nahy Al-amr adalah tuntutan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan dari pihak yang lebih tinggi derajatnya kapada pihak yang lebih rendah. pengucapan lafazh itu sendirilah yang memberi jalan bagi kita untuk dapat mengerti maksud kandungannya sehingga tidak ada kemungkinan makna lain kecuali apa yang dapat dimengerti dari teks itu sendiri.2. yang kesemuanya masih sulit untuk ditentukan secara pasti mana yang lebih tepat untuknya. 2. [26] Sedangkan mafhum adalah sesuatu (makna) dari suatu lafazh yang ditunjukkan secara tersirat. Mujmal adalah lafazh yang mengandung dua makna atau lebih. Apabila Dia memuji terhadap diri-Nya atau kekasih-Nya dengan meniadakan kekurangan sedikit pun berarti menetapkan kesempurnaan. 2. Larangan berdusta berarti perintah berbuat jujur. maka pukullah batang leher mereka. Am dan Khash.. 2. Kata ‫( ﻓﻀﺭﺏﺍﻟﺭﻗﺎﺏ‬pukullah batang leher) dibaca manshub. QS Muhammad: 4 … ‫ﻓﺇﺫﺍﻟﻘﻴﺗﻢﺍﻟﺬﻴﻦﻛﻔﺭﻭﺍﻓﻀﺭﺏﺍﻟﺭﻗﺎﺏ‬ Artinya: Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang). Manthuq adalah sesuatu (makna) yang ditunjukkan oleh ucapan lafazh itu sendiri. menunjukkan sunah memukul kuduk orang kafir dalam keadaan perang. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik. Contoh: Allah memerintahkan berbuat adil berarti Dia melarang berbuat zalim. berarti penetapan sifat jujurnya. Sedangkan al-nahy merupakan kebalikan dari al-amr. .[25] Dengan kata lain. …. Am adalah lafazh yang mencakup seluruh satuan-satuan yang pantas baginya dan tidak terbatas dalam jumlah tertentu.[23] Sedangkan lafazh khash merupakan kebalikan dari lafazh am. [24] Sedangkan mubayyan merupakan penjelas terhadap lafazh yang masih mujmal pengertiannya. Penafian sifat kadzib Rasul saw. karena makna yang dikandung oleh lafazh tersebut sama-sama kuatnya. Kaidah-kaidah ushuli lainnya antara lain: 1. Apabila Allah swt memerintahkan sesuatu berarti melarang untuk melakukan sebaliknya.

38. juz. [3] M. 100-101. 56. [8] Sayyid Muhammad Husain al-Thabaththabai. hlm. 80. Alfatih Suryadilaga. [6] M. 5. hlm.mendefinisikannya sebagai suatu lafazh yang menunjukkan atas suatu hakikat dengan adanya batasan. Hal ini didasarkan atas prinsip al-Quran yang diturunkan sebagai rahmah li al-‘alamin. 1. Hakikat merupakan suatu lafazh yang tetap pada makna aslinya. hlm. 1976. Beirut: Dar Kitab al-Lubnan. Metodologi Ilmu Tafsir. Para ulama berpendapat mengenai kejadian manusia dari kata ‫ . 55. 1992.4. Muthlaq adalah suatu lafazh yang menunjukkan kepada satusatuan tertentu tetapi tanpa adanya pembatasan. Muthlaq dan Muqayyad.[27]Sedangkan majaz adalah lafazh yang digunakan untuk suatu arti. hlm. Ujung Pandang: LSKI. hlm. hlm. 1990. Manna’ al-Qaththan dalam Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an. [2] Abu al-Husain Ahmad. ‘Ulum al-Qur’an al-Karim. Semarang: Dina Utama. Yogyakarta: Teras. dkk. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir al-Quran. 1986.2. dan tidak ada taqdim (makna yang didahulukan) dan ta’khir (makna yang diakhirkan) di dalamnya. hlm. Pendapat tersebut didukung pula oleh ayat-ayat lain dalam al-Quran. [7] Penjelasan Al Quran tentang Surat Ali Imran: 7. jld. Metodologi Ilmu Tafsir. hlm. yang semua lafazh itu bukan diciptakan untuknya. 67.[28] 2. 2001. 13.ﻋﻟﻖ‬yaitu darah beku atau segumpal darah yang merupakan keadaan janin pada hari pertama kejadiannya. hlm. Tarjamah Jami’ud Durusil Arabiyyah. [4] Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di.[29] [1] Louis Ma’luf. hlm. 70 Kaidah Penafsiran Al-Qur’an. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam. [11] Syaikh Musthafa al-Ghalayaini. 277. 1991. . Contoh: ‫ . 463.ﺧﻟﻖﺍﻹﻧﺴﺎﻥﻣﻥﻋﻟﻖ‬Ayat tersebut mengungkapkan tentang penciptaan manusia. [9] Abd Muin Salim. Sedangkan yang dimaksud lafazh muqayyad adalah kebalikan dari lafazh muthlaq. Libanon: Mansyurat Muassasah Al-A’lamiy li al-Mathbu’at. 2005. [12] Ibid. 3. [10] Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.5 Kaidah Ilmu Pengetahuan Di samping kaidah-kaidah yang disebutkan di atas. Yogyakarta: Teras. Beirut: Dar al-Jail. seorang mufasir mesti memiliki ilmu pengetahuan lainnya. 219-220. Beirut: Dar al-Masyriq. dkk. 1989. Dengan demikian maka al-Quran akan senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. 1983. Alfatih Suryadilaga. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Mu’jam Maqayis al-Lughah. 2005. hlm. [5] Abd al-Mun’im al-Namr. dan didukung pula oleh beberapa hadis Rasul. seperti perubahan social dan ilmu pengetahuan lainnya. cet. Hakikat dan Majas. Dasar-Dasar Penafsiran Al-Quran. Jakarta: Pustaka Firdaus. Semarang: Asy-Syifa’. 4. 38.

1998. 1996. jld. hlm. 1996. [14] Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusy. 1996. hlm. 41. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 69. hlm. [21] M. hlm. hlm. 70. Yogyakarta: Teras. 1990. [25] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. hlm. 3. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. 2005.[13] Nor Ichwan. 2002. 3. 291. jld. [23] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. hlm. hlm. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Beirut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah. 127. 84. Alfatih Suryadilaga. Tarjamah Matan Alfiyah. 2002. [19] Ibid. hlm. hlm. [20] Manna’ Khalil al-Qattan. 2. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 2. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. [26] Nor Ichwan. Beirut: Dar al-Fikr. Metodologi Ilmu Tafsir. 35. 32. 2002. [24] Nor Ichwan. 68. hlm. [22] M. Jakarta: PT Al-Ma’arif. 2. Semarang: Pustaka Pelajar. Alfatih Suryadilaga. Semarang: Pustaka Pelajar. [17] Manna’ Khalil al-Qattan. 97. 77. jld. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. Alfatih Suryadilaga. 149. Beirut: Muassasah alKutub al-Tsaqafiyah. 2002. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. Yogyakarta: Teras. 2002. 291-292. 219. [18] Nor Ichwan. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. 1988. . Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Memahami Bahasa Al-Qur’an Refleksi atas Persoalan Linguistik. hlm. Semarang: Pustaka Pelajar. Beirut: Muassasah alKutub al-Tsaqafiyah. 2005. Asbab al-Nuzul. 2002. Semarang: Pustaka Pelajar. [28] Nor Ichwan. hlm. hlm. 78. [16] Nor Ichwan. 1998. Semarang: Pustaka Pelajar. hlm. [15] Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naisabury. Metodologi Ilmu Tafsir. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Semarang: Pustaka Pelajar. Metodologi Ilmu Tafsir. [29] M. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. hlm. [27] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i. 2005. hlm. Yogyakarta: Teras.