Filsafat Islam Di Iran

Ahmad Fadhil November 2007-Februari 2008 saya mendapat kesempatan mengunjungi Negeri Para Mulla, Iran. Di perpustakaan asrama tempat saya tinggal, saya melihat sebuah buku Al-Islam wa Iran, j. 3, karya asy-Syahid Ayatullah Murtadha al-Muthahhari, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Hadi al-Yusufi al-Gharvi, dan diterbitkan oleh Munazhzhamah al-I’lam al-Islami Qism al-‘Alaqat ad-Dauliyah, Tehran, cet. 1, 1405/1985. Saya tertarik, lalu menerjemahkan sebagian isinya yang berkaitan dengan filsafat Islam di Iran. Berikut hasilnya. Peran Iran dalam Transmisi Filsafat ke Bahasa Arab Perkembangan filsafat Islam dimulai dengan penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia, India, dan lain-lain pada abad ke-2 Hijriah. Banyak pendapat seputar awal penerjemahan dan transmisi ilmu-ilmu asing ke dalam bahasa Arab, seperti kedokteran, matematika, filsafat, dan lain-lain. Ibnu an-Nadim di dalam al-Fihrist mengatakan, “Pekerjaan ini dimulai atas perintah Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Dia memerintahkan untuk mendatangkan para filsuf Yunani yang tinggal di kota Iskandariah, Mesir, dan telah fasih berbahasa Arab, untuk menerjemahkan buku-buku ilmiah dari bahasa Yunani dan Qibthi ke dalam bahasa Arab. Inilah awal transmisi di dalam Islam.” Penerjemahan buku-buku filsafat, tidak diragukan lagi, dimulai pada masa Abbasiyah, seperti halnya banyak ilmu, keterampilan, sastera, dan akhlak. Tidak ada buku filsafat yang diterjemahkan dari bahasa Persia, karena buku-buku berbahasa Persia yang diterjemahkan adalah yang berkaitan dengan sastra, sejarah, astronomi, dan fisika. Ibnu an-Nadim, di berbagai tempat di dalam al-Fihrist, menyebutkan berbagai buku berbahasa Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan tidak ada satupun yang berkaitan dengan filsafat. Satu-satunya buku filsafat yang diterjemahkan dari bahasa Pahlevi adalah satu bagian dari logika Aristoteles yang sebelumnya telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Pahlevi oleh Abdullah bin al-Muqaffa’. Sebagaimana tidak ada buku filsafat yang diterjemahkan dari bahara Iran, juga tidak ada orang Iran yang menerjemahkan logika dan filsafat dari bahasa Suryani dan Yunani. Tapi, karena penerjemahan buku-buku Persia (dalam bidang apa pun) ke bahasa Arab adalah salah satu sumbangan bangsa Iran bagi peradaban islam, maka pantas kiranya disebutkan di sini

Demikianlah peran Iran dalam proses penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab. karena kalau kita telah mengenal banyak buku yang menceritakan thabaqat fuqaha. Ishaq bin Yazid (penerjemah Ikhtiyarnameh). Tapi kita dapat menyebutkan thabaqat filsuf berdasarkan hubungan gurumurid serta orang-orang sezaman bagi masing-masing thabaqah. Ini adalah usaha pertama. Amr bin al-Farkhan. Jibilah bin Salim (sekreratis Hisyam bin Abd al-Malik). Sebagian dari mereka—terutama . Bahram bin Mardansyah. tapi sekedar menjadi murid bagi orang-orang sebelum mereka atau sekadar sezaman. Ali bin Ziyad at-Tamimi. Hisyam bin al-Qasim. Zadawaih bin Syahawaih al-Ashfahani. Shalih bin Abd ar-Rahman (sekretaris al-Hajjaj dan penerjemah diwan-diwan Pahlevi ke dalam bahasa Arab). Peran Iran dalam Pengembangan Filsafat Islam Ayatollah Murtadha al-Muthahari mengatakan. Musa bin Khalid. meskipun tidak ada seorang pun dari mereka berasal dari Iran. Muhammad bin Jaham al-Barmaki. nyaris belum ada buku dalam bidang filsafat. Selanjutnya kita akan membahas para filsuf yang berasal dari Iran pada masa Islam. “Meniliti perkembangan filsafat secara kronologis tidaklah mudah. Hasan bin Musa an-Noubekhti.” Yang dimaksud oleh al-Muthahari dengan para filsuf pada masa Islam adalah orangorang yang menggeluti filsafat dalam iklim yang Islami. Muhammad bin Bahram bin Mithyar alAshfahani. Hasan bin Sahl.nama-nama para penerjemah buku-buku berbahasa Persia k dalam bahasa Arab. baik berperan dalam pengajaran bagi generasi setelahnya atau tidak. Ahmad bin Musa al-Baladziri: sejarahwan kondang. Abdullah bin al-Muqaffa’: penerjemah Logika Aristoteles. Musa bin Isa alKurdi. Yusuf bin Khalid. Salim (Direktur Bait al-Hikmah). Beliau mengatakan. dan Abdullah bin Ali (penerjemah buku-buku India dari bahasa Persia ke dalam bahasa Arab). Khadaenameh yang merupakan sumber dan rujukan utama bagi buku Shahnameh karya al-Firdausi dan Kalilah wa Dumnah yang diterjemahkan ke bahasa Persia dari buku berbahasa India pada masa Anushirwan. Abu Sahl al-Fadhl bin Noubekhti: direktur Bait al-Hikmah pada masa Harun arRasyid dan al-Makmun.” Hal ini beliau buktikan dengan usahanya membuat daftar bibliografis yang berisi paparan tentang thabaqat pada filsuf pada masa Islam dari periode pertama hingga sekarang. “Saham Iran dalam filsafat Islam lebih besar daripada dalam bidang-bidang ilmu yang lain. sebagaimana dipaparkan oleh Ibnu an-Nadim di dalam al-Fihrist.

Ibnu an-Nadim membuat sistematika buku-buku al-Kindi dalam berbagai bidang. Pada saat itu. Belakangan ini. Dia adalah murid senior al-Kindi. Dia asli Arab. Abu Ma’syar al-Balkhi. astronomi. hingga akidah. mengatakan bahwa al-Kindi adalah satu dari empat penerjemah resmi di Bait al-Hikmah. beberapa peneliti Barat menilainya sebagai satu dari 12 raksasa yang paling berpengaruh bagi akal umat manusia. kedokteran. Murid-murid al-Kindi 1. Para penerjemah resmi yang sezaman dengannya adalah al-Husain bin Ishaq dan Abd al-Masih bin Na’imah al-Hamashi. Al-Kindi adalah anak didik dirinya sendiri. Ia adalah salah seorang terkemuka sejarah dan salah satu bintang pada periode awal Islam. Bahkan. Masa al-Kindi memang masih merupakan masa penerjemahan atau pengaraban filsafat. mulai dari logika. sezaman dengan al-Makmun dan al-Muktashim billah. Thabaqah 1 Filsafat Islam bermula dengan Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi yang dijuluki Failasuf al-‘Arab. Karena itu. Mereka menceritakan bahwa al-Kindi belajar di Bashrah dan Baghdad. Ia menulis sekitar 270 risalah. murid al-Kindi. yang memiliki pandangan dan pendapat sendiri. “Buku ini diterjemahkan olh Abd al-Masih dan disunting oleh Abu Yusuf Ya’qub al-Kindi. muslim atau non muslim. Tapi al-Kindi sendiri adalah seorang filsuf yang mumpuni dan memiliki pendapat yang mandiri. Di dalam pendahuluan buku Uthulujiya terdapat keterangan. Thabaqah 2 Thabaqah ini terdiri dari dua kelompok. beberapa manuskrip al-Kindi telah ditemukan dan dipublikasikan. Lahir tahun 218 dan terbunuh tahun 286 oleh al- . kita tidak mengenal seorang pun filsafat di kedua kota itu. Tapi. geometri. seperti Yahudi. al-Kindi dapat disebut sebagai pokok dari mata rantai para filsuf pada masa Islam dan tidak ada thabaqah atau mata rantai yang mendahuluinya. atau atheis (minimal dalam pandangan sebagian ulama). yaitu murid-murid al-Kindi dan orang-orang di luar Madrasah al-Kindi. Para penulis buku sejarah tidak menceritakan seorang pun. filsafat. Abu al-‘Abbas Ahmad bin ath-Thayyib as-Sarkhasi. matematika. baik sebelum zamannya maupun setelahnya.pada periode pertama—adalah non muslim. Nasrani. Dari buku-buku itu diketahui bahwa al-Kindi jauh lebih besar daripada yang telah diperkirakan sebelumnya. Beberapa peneliti meragukan apakah al-Kindi juga seorang penerjemah.

karena rentang waktu di antara keduanya adalah 46 tahun. Fadha’il Makkah. Gharib al-Quran. Abu Zaid Ahmad bin Sahl al-Balkhi. Abu Ma’syar Ja’far bin Muhammad al-Balkhi. Di antaranya al-Masalik wa alMamalik dalam geografi. Dia juga menulis buku tentang hubungan pilar-pilar dan prinsip-prinsip filsafat satu sama lainnya. Ada yang menganggapnya sebanding dengan al-Jahizh. 1. Nuzhum al-Quran. Dia adalah seorang pujangga dan filsuf. sehingga kalau bukan karena usahanya ini. Ibnu an-Nadim di dalam al-Fihrist dan Ibnu al-Qifthi di dalam Tarikh al-Hukama tidak menyebutkan Abu Zaid al-Balkhi berguru kepada al-Kindi. Ibnu an-Nadim menggolongkannya sebagai pujangga dan menyebutkan buku-buku filsafatnya di antara buku-buku sastera. . Jadi kemungkinan besar ia berguru secara tidak langsung. Henry Corbin menulis.” 1. Ia juga dituduh atheis dan kafir. dinyatakan di dalam Mu’jam al-Udaba bahwa al-Balkhi wafat dalam usia 87 atau 88 tahun. Abu Zaid al-Balkhi diakui sebagai pujangga muslimin kelas satu. maka kecil kemungkinan ia berguru kepada al-Kindi yang meninggal sekitar tahun 258. Qawari’ al-Quran. dan lain-lain. Boleh jadi ini adalah kajian geografi pertama dalam Islam. bahkan lebih tinggi. usia al-Balkhi ketika al-Kindi wafat adalah 13 tahun. “Dia menciptakan alfabet yang disempurnakan oleh Hamzah al-Ishfahani …. Sayangnya. Tapi. serta buku tentang aturan debat dialektis. Dengan demikian. Tapi. Tapi. Ketika memaparkan biografi Muhammad bin Zakariya ar-Razi (seorang dokter). tanpa menjelaskan apakah alBalkhi ini Abu Zaid al-Balkhi atau bukan. Selain posisinya yang tinggi di dalam dunia filsafat. Pada usia ini kecil kemungkinan al-Balkhi telah berguru kepada al-Kindi. Ada kemungkinan al-Balkhi ini seorang Syiah. Dia juga memberikan informasi-informasi yang sangat berharga dalam tema istilah-istilah Ruwaqiyyin (Stoicism) dalam bahasa Arab. jika al-Balkhi meninggal pada tahun 322.Qasim bin Ubaidillah. menteri al-Mu’tadhid billah al-‘Abbasi. maka kaum Stoicisme akan habis tertelan oleh sejarah. Ibnu an-Nadim merangkan bahwa ar-Razi belajar filsafat kepada al-Balkhi. para penulis sejarah generasi belakangan sepakat mengenai hal ini. Ibnu Abi Ushaibiah mengatakan bahwa as-Sarkhasi menulis 54 buku dan risalah. Ibnu an-Nadim mengaku melihat banyak buku tulisan tangan al-Balkhi dalam berbagai bidang ilmu yang masih berbentuk outline dan belum disempurnakan. tidak ada satu pun yang tersisa sekarang. Nampaknya mereka merujuk pada Mu’jam al-Udaba karya Yaqut al-Hamawi. kecuali jika kita mengasumsikan al-Balkhi berumur lebih dari 100 tahun. Ibnu an-Nadim menyebutkan buku-buku non filsafat al-Balkhi dengan judul Syara’i’ al-Adyan.

Zarnab Bukan murid-murid al-Kindi 1. Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi. Salmawaih. 5. Thabaqah 5 1.Pada awalnya dia adalah seorang ahli hadits yang memusuhi al-Kindi dan filsafat. Tapi tidak dapat diragukan bahwa al-Farabi. dan matematika. Yahya bin ‘Adi. Lalu al-Kindi berupaya memikat hatinya pada filsafat dan para filsuf. Abu al-‘Abbas Muhammad bin Muhammad an-Naisaburi al-Iransyahri. Nafthawaih. Thabaqah 4 Pada periode ini tidak terlalu banyak nama yang disebut. . Abu Nashr bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Thurkhan al-Farabi. dan Ibnu Karnib memiliki murid-murid. Abu Ishaq Ibrahim al-Quwairi. 2. 4. Ikhwan ash-Shafa wa Khillan al-Wafa. 3. Abu Sulaiman Muhammad bin Thahir bin Bahram as-Sijistani al-Manthiqi (murid Yahya bin ‘Adi) 2. pada akhirnya al-Balkhi termasuk dalam lingkaran murid-murid al-Kindi 1. 2. Hasnawaih. Yohana bin Hailan. Abu Ahmad bin Abu al-Husain Ishaq bin Ibrahim bin Zaid. Abu Bisyr. Thabaqah 3 Ada lima tokoh terkenal pada periode ini: 1. hingga Abu Ma’syar al-Balkhi berminat mempelajarinya. hanya saja kita belum mendapat informasi yang valid tentang mereka. Abu Bisyir Matta bin Yunus. Ibnu an-Nadim menjelaskan. Abu Yahya Ibrahim al-Marwazi. Di antaranya: 1. 2. astonomi. Abu al-Hasan al-Amiri an-Naisaburi. Dabis bin Muhammad bin Yazid. Abu al-Husain Syahid bin al-Husain al-Balkhi. 2. 4. 3.

4. Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni al-Khawarizmi. 3. Abu al-Hasan al-Anbari. Abu ‘Ubaid ‘Abd al-Wahid al-Juzjani. 2. Abu al-Hasan Bahmaniyar bin Marzban al-Azarbaijani. Abu al-Hasan Mukhtar bin Hasan ‘Abdan bin Sa’dan bin Bathlan alBaghdadi an-Nashrani (terkenal dengan julukan Ibnu Bathlan). 4. Thabaqah 7 Filsuf pada thabaqah ini terbagi menjadi dua kelompok: murid-murid Ibnu Sina dan selain murid Ibnu Sina. Abu Manshur Husain bin Thahir bin Zilah al-Ashfahani. . Abu al-Faraj ibn Hindu. Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina. Abu Ali al-Hasan bin al-Hasan (al-Husain) bin al-Haitsam al-Bashari. 5. Abu al-Faraj ibn ath-Thayyib al-‘Iraqi al-Baghdadi. karena tidak ada thabaqah dngan jumlah filsuf lebih banyak dan lebih besar daripada thabaqah ini. Abu al-‘Abbas Fadhl bin Muhammad al-Lukuri al-Marwi. 3. 6. Kelompok pertama: 1. Abu Abdillah al-Faqih al-Ma’shumi. Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub Miskawaih ar-Razi. 2. Hujjah al-Haqq Abu al-Fath ‘Umar bin Ibrahim al-Khayyami an-Naisaburi.3. 4. Thabaqah 6 Thabaqah ini dapat disebut sebagai thabaqah para jenius. 2. Thabaqah 8 Thabaqah murid dari murid Ibnu Sina: 1. 1. ‘Ali bin Ridhwan al-Mishri. 3. 3. Abu al-Hasan Sa’id bin Hibatullah bin al-Husain. 4. 2. Abu ‘Abdillah an-Natili. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad alGhazali ath-Thusi. Kelompok kedua: 1. Abu al-Khair Hasan bin Suwar.

3. 4. 3. 3. Farid ad-Din Damad an-Naisaburi. Al-Qadhi Zain ad-Din ‘Amr bin Sahlan as-Sawiji (terkenal dengan julukan Ibnu Sahlan). 7. 6. Muhammad bin ‘Abd as-Salam al-Anshari al-Mardi (al-Mardini). 3. Afdhal ad-Din al-Ghailani ‘Umar bin Ghailan. 2. Al-Qadhi Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd al-Andalusi. 5. Afdhal ad-Din al-Marqi al-Kasyani (Baba Afdhal). Syaraf ad-Din Muhammad al-Ilaqi. Fakhr ad-Din Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain ar-Razi. 2. Abu al-Hakam al-Maghribi al-Andalusi. 2. Quthb ad-Din Ibrahim bin ‘Ali bin Muhammad as-Salami. 2. Thabaqah 10 1. Thabaqah 13 . Majd ad-Din al-Jili. Muhammad bin Abu Thahir ath-Thabasi al-Marwazi. Shadr ad-Din Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Ali bin al-Haritsani asSarkhasi.Thabaqah 9 1. Abu Bakar Muhammad bin ‘Abd al-Malik bin Thufail al-Andalusi. Syams ad-Din ‘Abd al-Hamid bin ‘Isa Khasrusyahi. Thabaqah 11 1. Syekh Syihab ad-Din Yahya bin Habasy bin Mirk as-Suhrawardi az-Zanjani. 6. 4. Thabaqah 12 1. Abu al-Futuh Najm ad-Din Ahmad bin Muhammad as-Sirri (terkenal dengan julukan Ibnu ash-Shalah). Abu Bakar bin Muhammad bin Yahya ash-Sha’igh al-Andalusi (terkenal dengan julukan Ibnu Bajah). Abu al-Barakat Hibatullah bin ‘Ali (Ya’la) Milka al-Baghdadi. 5.

2. 2. Thabaqah 19. 3. Al-Allamah Jalal ad-Din Muhammad bin As’ad ad-Din ad-Dawwani. ‘Ali bin Muhammad as-Samarqandi al-Qusyji. Sayyid al-Hukama Muhammad bin Ibrahim al-Husaini ad-Dasytaki asy-Syirazi. Thabaqah 18 1. 3. 2. Sa’d ad-Din Mas’ud bin ‘Umar bin Abdullah at-Taftazani. Muhy ad-Din Guskanari. 3. . Thabaqah 14 1. 3. 4. Kamal ad-Din Maitsam bin Maitsam al-Bahrani. Qawam ad-Din al-Karbali. Thabaqah 15 1. Quthb ad-Din Muhammad bin Muhammad bin Abu Ja’far ar-Razi. As-Sayyid ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali al-Jurjani. Thabaqah 17 1. 2. Najm ad-Din ‘Ali bin ‘Umar al-Katibi al-Qazwini. 4. Syams ad-Din Muhammad bin Mubarakshah al-Marwi. Atsir ad-Din Mifdhal bin ‘Umar al-Abhari. 3.1. 2. Al-Hasan bin Muhammad bin Syarafshah al-‘Alawi al-Husaini alAstraabadi. Al-Hasan bin Yusuf bin al-Muthahhir al-Hilli. Thabaqah 16 1. Sa’d ad-Din As’ad ad-Dawwani ayah dari al-Muhaqqiq Jalal ad-Din ad-Dawwani. Al-Qadhi ‘Adhd ad-Din ‘Abd ar-Rahman al-Iji asy-Syirazi. 2. Khawwajah Nashir ad-Din Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi. Al-Khawwajah Hasan Shah al-Baqqal. Quthb ad-Din Mahmud bin Mas’ud bin Mushlih asy-Syirazi.

5. 3. Thabaqah 22 1. Al-Maula Rajab ‘Ali at-Tibrizi al-Ashfahani. . Thabaqah 20 1. Al-Maula ‘Abdullah al-Yazdi. Mahmud an-Nirizi. Al-Mir Muhammad Baqir Damad. Ghiyats ad-Din Manshur ad-Dasytaki Ibnu as-Sayyid Shadr adDasytaki. 5. Al-Maula Habibullah al-Bagh Nawi asy-Syirazi. Al-Qadhi Kamal ad-Din al-Mibadi al-Yazdi. 2. Al-Khawwajah Afdhal ad-Din Turkah. Syams ad-Din al-Asykuri. Al-Maula Muhsin al-Faidh al-Kasyani. 4. As-Sayyid Ahmad al-‘Amili ibnu Khal. Sulthan al-‘Ulama al-Amili. 4. Muhammad bin Ibrahim al-Qawwami asy-Syirazi (Mulla Shadra). Al-Maula Husain al-Alihi al-Ardabili bin al-Khawwajah Syaraf ad-Din ‘Abd al-Haqq al-Ardabili. 2. As-Sayyid Amir Fadhlullah al-Astraabadi. Al-Hakim Dawud bin ‘Umar al-Anthaki al-Mishri. 2. Mir Abu al-Qasim Fandaraski. 3. Thabaqah 23 1. 3. 7. 3. Asy-Syaikh Baha ad-Din Muhammad bin al-Husain bin ‘Abd ashShamad al-‘Amili.1. 2. Thabaqah 21 1. Rafi’ ad-Din Muhammad Haidar al-Husaini ath-Thabathabai an-Naini. Jamal ad-Din Mahmud asy-Syirazi. 6. 5. 4. Syams ad-Din Muhammad al-Khufri asy-Syirazi. Syams ad-Din al-Gailani. 2. 3. Al-Maula ‘Abd ar-Razzaq al-Lahiji.

Agha Husain al-Khunsari. 5. Mirza Hasan an-Nuri bin Maula ‘Ali an-Nuri. 3. Al-Mirza Mahdi bin al-Mirza Hidayatullah asy-Syahid al-Masyhadi. Thabaqah 28 1. Al-Hajj al-Maula Ahmad an-Naraqi. Muhammad Rafi’ Virzadeh. 4.4. 3. 3. Mirza Abu al-Qasim al-Husaini al-Khatun Abadi. Thabaqah 25 1. Al-Maula ‘Ali an-Nuri al-Mazandari al-Ashfahani. Al-Maula Mihrab al-Gailani. Al-Maula ‘Abdullah az-Zanuzi. 5. Jamal ad-Din al-Khunsari. Maula Muhammad Shadiq al-Urdustani. Al-Maula Muhammad at-Tangabani. 3. Al-Mirza Muhammad Taqi al-Massi. 4. Al-Maula Muhammad Baqir al-Muhaqqiq as-Sabzawari. 2. 2. 2. Al-Maula Muhammad Ja’far al-Langgarudi al-Lahiji. Qawam ad-Din Muhammad ar-Razi. 2. Agha Muhammad al-Baidabadi al-Gailani al-Ashfahani. 2. . Al-Maula Ismail bin al-Maula Muhammad Sami’ ad-Darb Kusyki alIshfahani. Thabaqah 27 1. Thabaqah 24 1. Thabaqah 26 1. Al-Maula Ismail al-Khajui. 4. Thabaqah 29 1. Al-Maula Mahdi an-Naraqo al-Kasyani. Muhammad bin Sa’id bin Muhammad Mufid al-Qumi.

Mirza Abu al-Hasan Jaluh. Al-Maula Abd al-Karim Khabusyani (al-Qujani). 7. Mirza Hasan al-Kirmansyahi. Asy-Syaikh Muhammad Ibrahim ath-Thahrani. Al-Maula Ghulam Husain Syaikh al-Islam al-Masyhadi. Al-Hajj al-Maula Ismail al-Arif al-Bajanurdi. Agha Ali az-Zanuzi (Agha Hakim/Agha Ali al-Mudarris) 22. . Mirza Agha Hakim ad-Darabi. Mirza Husain as-Sabziwari. 2. Al-Mirza Abbas asy-Syirazi ad-Darabi. Al-Hajj Mirza Husain al-‘Alawi as-Sabziwari. As-Sayyid Abd ar-Rahim as-Sabziwari. Thabaqah 30 1. Al-Mirza Hasyim al-Asykuri ar-Risyti. 13. 17. Thabaqah 31 1. Asy-Syaikh Ali al-Fadhil at-Tibti. Asy-Syaikh Muhammad Ridha al-Burughni.5. 6. Asy-Syaikh Abd al-Husain. Al-Hajj Mirza Abu Thalib az-Zanjani. 11. 20. 10. 12. Al-Hajj al-Maula Hadi as-Sabziwari. Mirza Syihabuddin an-Nirizi asy-Syirazi. Mirza Muhammad al-Hakim al-Alihi. 8. Al-Hakim Abbas ad-Darabi. 3. Al-Mirza Abd al-Ghafur ad-Darabi. Murid-muridnya: 1. 5. 4. Mirza Muhammad al-Yazdi. 19. As-Sayyid Abu al-Qasim al-Musawi. 3. Asy-Syaikh Ibrahim as-Sabziwari. 9. Al-Maula Agha al-Qazwini. 15. 2. 4. Agha Muhammad Ridha al-Hakim al-Qumsyahi. 18. 14. 23. 21. Al-Mirza Muhammad as-Sarwaqudi. Al-Maula Muhammad ash-Shabbagh. 16.

Al-Hajj Mirza Husain al-Alawi as-Sabzawari. Al-Akhun al-Maula Muhammad al-Kasyi. As-Sayyid Agha Mirza Muhammad Ali asy-Syah Abadi ath-Thahrani al-Ishafahani. Bahan Pustaka: Al-Islam wa Iran. Al-Hajj asy-Syaikh Abd an-Nabi an-Nuri. 1405/1985. 8. 11. 7. Thabaqah 32 1. Al-Mirza Muhammad as-Sarwaqadi al-Masyhadi. . Tehran. j. 12. 9. 4. Asy-Syaikh Ghulam Husain Syaikh al-Islam al-Khurasani. 13.5. Muhammad Hadi al-Yusufi al-Gharvi. cet. As-Sayyid Muhammad Kazhim al-‘Ashshar. Agha Mirza Thahir at-Tankayini. Asy-Syaikh Muhammad Taqi al-Amili. Agha Sayyid Husain al-Badkubai. 5. Al-Mirza Ali Akbar al-Hukmi al-Yazdi al-Qumi. h. Munazhzhamah al-I’lam al-Islami Qism al-‘Alaqat adDauliyah. 9. Al-Mirza al-Askari asy-Syahidi al-Masyhadi. Thabaqah 33 Thabaqah guru-guru Ayatollah Murtadha al-Muthahhari. 11. Asy-Syaikh Muhammad al-Khurasani al-Ganabadi. As-Sayyid Agha Mirza Mahdi al-Isytiyani. Al-Hajj Agha Mirza Ahmad al-isytiyani. Al-Maula Muhammad al-Haidaji az-Zanjani. 6. 1. asy-Syahid Ayatullah Murtadha al-Muthahhari. Al-Hajj asy-Syaikh Muhammad Husain al-Gharwi al-ishfahani. 114-184. As-Sayyid Ali al-Mujtahid al-Kazruni asy-Syirazi. Al-Hajj asy-Syaikh Abbas Ali al-Fadhil al-Khurasani. Asy-Syaikh Muhammad Husain al-Fadhil at-Tuni. 10. 3. 14. 7. 3. 2. Agha Mirza Muhammad Baqir. 6. Jihan Girkhan al-Qasyqai. terj. 13. 12. As-Sayyid Abu al-Hasan ar-Rafi’i al-Qazwini. 8. 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful