MAKNA LAILATUL QADR Oleh : Nurcholish Madjid Salah satu momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum

beriman ialah Lailatul Qadr (Laylat-u ‘l-Qadr) dalam bulan Ramadan. Sama halnya dengan berbagai momen keagamaan seperti Maulid, Isra’ Mi‘raj, Nuzulul Qur’an, dan dua hari raya, Lailatul Qadr menghasilkan bentuk-bentuk tertentu tradisi budaya keagamaan. Di sebagian daerah negeri kita ini, seperti Jawa Timur, Lailatul Qadr menghasilkan tradisi selamatan “maleman” pada tanggal-tanggal ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Selamatan itu dibarengi dengan tradisi “oncoran”, yaitu kelompok anak muda yang masing-masing membawa obor untuk dibawa keliling desa, seolah-olah hendak membawa cahaya kebenaran kepada penduduk desa itu karena datangnya Lailatul Qadr. Di tempat-tempat lain tentu ada bentuk-bentuk tradisinya sendiri, yang semuanya mengungkapkan betapa pentingnya malam yang kudus itu. Ditilik dari maraknya tradisi budaya keagamaan itu, maka jelas ada sesuatu yang harus kita pahami lebih jauh, mendalam dan luas tentang Lailatul Qadr. Karena perjalanan waktu yang panjang, banyak sekali budaya keagamaan yang akhirnya kosong dari makna dan tinggal sebagai kebiasaan lahiri dan formal saja. Pernyataan ini bukanlah usaha untuk mengecilkan arti suatu budaya keagamaan. Setiap masyarakat memerlukan prasarana perlambangan untuk menguatkan makna-makna hidup yang lebih mendalam. Tetapi perlambang yang sudah menfosil dan berubah menjadi seolah-olah tujuan dalam dirinya sendiri akan muspra, tanpa guna. Karena itu berikut ini kita akan coba melihat lebih jauh makna Lailatul Qadr dan hikmahnya bagi manusia dan kemanusiaan. Pengertian Secara harfiah, Lailatul Qadr berarti “Malam Penentuan” atau “Malam Kepastian”, jika kata-kata qadr difahami sebagai sama asal dengan kata-kata taqdîr. Tetapi ada juga yang mengartikan Lailatul Qadr dengan “Malam Kemahakuasaan”, yakni kemahakuasaan Tuhan, jika kata-kata qadr difahami sebagai sama asal dengan kata-kata al-Qadîr, yang artinya “Yang Maha Kuasa”, salah satu sifat Tuhan. Sudah tentu kedua pengertian itu tidak bertentangan-meskipun pengertian yang pertama lebih umum dianut orang. Kedua pengertian itu saling melengkapi. Dalam al-Qur’an penyebutan dan gambaran ringkas tentang Lailatul Qadr itu dikaitkan dengan malam diturunkannya al-Qur’an, yaitu dalam surat al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah turunkan dia (al-Qur’an) pada Lailatul Qadr, Dan apakah yang membuat engkau tahu apa itu Lailatul Qadr? Lailatul Qadr adalah lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka, membawa segala perkara; Damailah dia (Malam itu) hingga terbit fajar”. Jadi disebutkan bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan atau sekitar delapan puluh tahun (kurang lebih umur maksimal manusia). Hal itu demikian karena pada malam itu para malaikat turun, begitu juga Ruh (yang dalam hal ini ialah Ruh Kudus atau Jibril, malaikat pembawa wahyu Tuhan). Mereka turun dengan membawa ketentuan tentang segala perkara bagi seluruh alam, khususnya umat manusia. Malam itu adalah suatu kedamaian, hingga terbit fajar di pagi hari.

yaitu hari dua pasukan tentera bertemu (berperang). Perang Badar disebut “hari yang menentukan” (yawm al-furqân) karena perang itu adalah yang pertamakali dialami Nabi s. Malam diturunkannya al-Qur’an juga disebutkan di bagian lain dalam alQur’an sebagai Malam yang diberkati (Laylah Mubârakah). yang biasa disebut sebagai malam Nuzûl-u ‘l-Qur’ân pada tanggal 17 Ramadan (yang kebetulan adalah juga tanggal Proklamasi Kemerdekaan). Tafsir Ibn Katsir. menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan “hari yang menentukan” itu ialah hari perang Badar. jika kamu memang beriman kepada Allah dan kepada sesuatu yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari yang menentukan. Juga berdasarkan berbagai sumber. atas yang palsu (al-bâthil). Yang sedikit menjadi persoalan ialah. yang dimaksud ialah diturunkannya al-Qur’an itu dalam bentuk keseluruhannya secara utuh dan sempurna dari al-Lawh al-Mahfûzh (“Loh Mahfuzh”-“Papan Yang Terjaga”) ke Bayt al-‘Izzah (Wisma Kemuliaan) di langit terendah (langit dunia). karib-kerabat Rasul. Tapi karena kemenangan telak tersebut. dan kaum beriman para pengikut beliau. dan malam itu ada dalam bulan Ramadan: “Bulan Ramadan. bertemu dalam pertempuran. secara rinci menurut kejadian-kejadian historis masa beliau selama dua puluh tiga tahun. berdasarkan berbagai sumber. dan teguhlah faham-faham palsu. maka Nabi . syirik. sebagai petunjuk bagi umat manusia. muslim dan musyrik. bahwa apa saja yang kamu dapati sebagai harta rampasan perang. Pada perang Badar itulah dua pasukan. Jadi firman Allah itu menjelaskan ketentuan tentang bagaimana harta rampasan perang harus dibagi-bagi dan siapa saja yang berhak.Pengertian seperti di atas itu adalah yang paling umum dipegang kaum Muslim. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Menurut Ibn ‘Abbas sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibn Katsir.w. “Dan ketahuilah.w. bapak modernisme Islam di Indonesia. yaitu hari ketika dua pasukan bertemu dalam pertempuran”. tauhid. orang-orang miskin. maka pupuslah sudah agama yang mereka bela dan tegakkan. Ketentuan itu harus diterima oleh kaum beriman. dan sebagai penjelasan-penjelasan tentang petunjuk (yang telah lalu) dan pembeda (antara mana yang benar dan mana yang salah)”. jika memang mereka beriman kepada Allah dan kepada sesuatu yang diturunkan oleh-Nya kepada Nabi saw “pada hari yang menentukan. Seandainya dalam perang itu Nabi dan kaum beriman kalah.a. khususnya kemusyrikan. kita harus meneliti pengertian masing-masing ungkapan atau istilah dalam surat al-Qadr itu. Konon yang memilih tanggal itu sebagai Hari Nuzûl-u ‘l-Qur’ân adalah Haji Agus Salim. karena ada tradisi nasional untuk memperingati secara resmi malam diturukannya al-Qur’an itu. tanggal berapa Lailatul Qadr dan Laylah Mubârakah itu dalam bulan Ramadan? Bagi bangsa Indonesia hal ini menjadi lebih menarik. anak-anak yatim. Rasul-Nya. maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah. dengan kemenangan yang telak. serta orang yang dalam perjalanan. kemenangan yang benar (al-haqq). Pertama ialah ungkapan bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadr itu. dengan persetujuan Bung Karno. Tetapi untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam. lalu diturunkan kepada Nabi s. Dalam menentukan pilihannya itu agaknya Haji Agus Salim merujuk kepada sebuah firman dalam al-Qur’an.a. yang padanya diturunkan al-Qur’an. Ibn Katsir mengatakan bahwa perang Badar itu terjadi pada hari Jum‘at tanggal 17 Ramadan (Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga hari Jum‘at!).

firman Allah : “Ia turunkan malaikat dengan wahyu dari perintah-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki dari para hamba-Nya: “Hendaklah kamu beri peringatan bahwa tiada Tuhan melainkan Aku. Pengertian “rûh” sebagai wahyu Ilâhî itu lebih jelas lagi dari firman Allah. mengartikan “rûh” dalam firman itu tidaklah sebagai Ruh Kudus atau malaikat Jibril. adalah juga Lailatul Qadr. tetapi terus-menerus melakukannya dalam lima malam hari-hari terakhir bulan Puasa yang penuh barkah itu. malam Nuzulul Qur’an. dengan pertolongan Allah swt. Namun adanya perbedaan tersebut ada baiknya dicari “penyelesaiannya”. bahwa yang benar selamanya akan menang. Isyarat A. Yang menarik ialah bahwa Nabi saw tidak menjelaskan dengan rinci malam yang mana dari malam-malam ganjil itu yang sesungguhnya malam Lailatul Qadr. Muhammad Asad. berdasarkan keterangan Nabi saw dalam hadis. Yusuf Ali itu terjadi karena ia menerangkan apa makna alFurqân (penentu atau pembeda antara yang benar dan yang palsu) dengan melakukan rujukan silang (cross reference) kepada ayat-ayat di tempat lain dalam al-Qur’an. Tetapi karena perbedaan tersebut itu. Sebab telah terbukti membawa hikmah yang amat bermakna bagi kehidupan nasional kita. Jika benar demikian itu. yaitu bahwa Nuzulul Qur’an adalah berbeda dengan Lailatul Qadr! Sudah tentu tradisi peringatan resmi Nuzulul Qur’an itu adalah baik sekali. sehingga “tidak mengganggu”. maka di negeri kita ada sesuatu yang amat unik (tidak terdapat di negeri Islam lain manapun juga). mungkin dalam pengertian seperti diajukan oleh Ibn ‘Abbas terkutip di atas. bahwa Lailatul Qadr adalah salah satu malam dari malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam surat al-Qadr yang diterjemahkan di atas terbaca ayat yang terjemahannya “Pada malam itu. Tetapi A. maka sesungguhnya tanggal 17 Ramadan. Baginya. Tafsir Ibn Katsir mengesankan pengertian bahwa yang diturunkan Allah pada perang Badar ialah ketentuan tentang pembagian harta rampasan perang. dan yang palsu selamanya akan kalah. seorang penerjemah al-Qur’an ke dalam Bahasa Inggris dengan komentar yang diakui paling absah oleh Dunia Islam. mengisyaratkan bahwa memang yang diturunkan Allah pada “hari yang menentukan” (Yawm-u ‘l-Furqân) itu adalah alQur’an itu sendiri.dan kaum beriman telah berhasil memastikan. bukan al-Qur’an itu sendiri secara keseluruhannya. pengertian ini menjadi jelas dalam kaitannya dengan makna perkataan “rûh” dan “amr” di beberapa ayat lain dalam al-Qur’an. bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku". Lagi-lagi di sini ada sedikit perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan “rûh” dan “amr” (“segala perkara”). Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh dari perintah Kami. Sikap Nabi ini ditafsirkan sebagai suatu hikmah agar kaum Muslim tidak mengkhususkan ibadat banyak-banyak hanya dalam satu malam tertentu saja. Agaknya ada perbedaan tafsiran tentang apa yang sebenarnya yang diturukan Allah pada “hari yang menentukan” atau perang Badar sebagaimana disebutkan dalam firman terkutip di atas. Hal ini menjadi berbeda dengan yang umum sekali dipercayai kaum Muslim. Misalnya. turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka. Karena itu. melainkan “wahyu Ilâhî” itu sendiri atau “ilham Ilâhî” (bagi yang bukan nabi) dalam artian yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. membawa segala perkara”.a. akan tetapi . seorang penerjemah dan penafsir al-Qur’an yang juga sangat tinggi otoritasnya. Sejarah Nabi s.w dan kaum beriman selanjutnya membuktikan hal itu semua. karena itu harus dipertahankan. engkau dahulu tidak pernah mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman. Yusuf Ali.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menyekat antara diri seseorang dan hatinya. Ini jelas sekali jika dikaitkan dengan apa arti kehadiran al-Qur’an bagi umat manusia. al-Qur’an tidak hanya mempengaruhi dan membawa perubahan kepada kaum Muslim saja. Berdasarkan itu semua maka Muhammad Asad. yaitu al-Qur’an. yang dalam hal ini ialah menerima. Asad juga menerangkan. memberi kehidupan kepada hati yang mati dalam kebodohan (tidak tahu yang benar dan yang palsu). Dikaitkan dengan hikmah perbedaan pandangan tentang kapan sebenarnya Lailatul Qadr itu dalam bulan Ramadan. dengan merujuk kepada Zamakhsyari (seorang otoritas klasik). yang dikemukakan oleh A. yang dapat diartikan tidak secara harfiah melainkan sebagai simbolisasi bahwa Lailatul Qadr itu “mengatasi waktu” (transcends Time). khususnya sejarah agama-agama. dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan”. memahami. jelas menunjukkan pengertian “wahyu Ilâhî” yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Apalagi jika disebut bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan. ketika orang bersangkutan memiliki kesiapan ruhani yang bersih untuk menerima wahyu Ilahi itu. dan Ibn Katsir. demikian: ”Wahai orang-orang yang beriman.Kami jadikannya cahaya yang dengan itu Kami membimbing siapa saja yang Kami kehendaki di antara para hamba Kami. Yusuf Ali. Sesungguhnyalah engkau memberi petunjuk ke jalan yang lurus”. yang dianugerahkan untuk membimbing manusia kepada kehidupan ruhani yang lebih intensif. Lailatul Qadr memang merupakan “Malam Penentuan” dan “Malam Kemahakuasaan Allah”. bahwa wahyu Ilahi itu adalah sesuatu. bahwa perkataan “rûh” yang secara harfiah berarti “jiwa” (atau “sukma”) itu. Jadi kalau dalam Lailatul Qadr itu disebutkan para malaikat dan roh turun dengan membawa segala perintah. dan dalam agama wahyu itu mempunyai fungsi seperti roh untuk badan. Razi. dalam . melainkan secara langsung atau tidak langsung juga mempengaruhi dan membawa perubahan kepada seluruh umat manusia. dengan merujuk kepada Thabari. menurut penafsiran di atas itu artinya ialah turunnya wahyu Ilahi yang mencakup segala perintah Allah dan yang membawa kepada vitalitas spiritual umat manusia. Sementara itu. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah. karena sebagai Malam Penentuan dan Malam Kemahakuasaan Tuhan yang telah melenyapkan gelapnya kebodohan. dengan Wahyu-Nya. dalam konteks ayat kedua terkutip di atas. Selanjutnya. karena wahyu itu. Karena itu Lailatul Qadr adalah momen agung yang amat menentukan hidup manusia seumur hidup (sampai seribu bulan atau delapan puluh tahun). seperti halnya dengan roh atau jiwa. sambutlah Allah dan Rasul-Nya apabila Dia menyeru kamu kepada sesuatu yang menghidupkan kamu. yang memberi kehidupan spiritual kepada manusia dengan jelas disebutkan dalam al-Qur’an. seperti roh. ada penafsiran mistis yang menarik sekali. atau keterangan Nabi saw sendiri yang agaknya sengaja tidak dengan spesifik menunjukkan kapan itu sebenarnya. menghayati dan mengamalkan al-Qur’an. Zamakhsyari. Lailatul Qadr bagi Umat Manusia Dengan pengertian-pengertian di atas itu. memberi makna bahwa istilah “rûh” dalam alQur’an sering digunakan dalam pengertian “wahyu Ilâhî”. maka Yusuf Ali lebih menafsirkannya sebagai momen mistis.

berupa keyakinan yang diperbaharui dan diperteguh. Speed on their mystic Message of Mercy. karena kebahagiaan yang diwujudkannya adalah abadi. Sampai tiba saatnya masa yang fana ini memberi tempat Kepada hari penuh keagungan dari suatu dunia abadi! Penutup Dari semua momen dalam hidup manusia. Lailatul Qadr yang demikian itu. mencari Lailatul Qadr yang mungkin dianugerahkan Allah khusus baginya-sama dengan turunnya para malaikat dan “rûh” kepadanya yang membawa segala petunjuk kebenaran Ilahi dan kedamaian hidup selama-lamanya. dan memberkati setiap relung Dan sudut hati manusia! Semua ruang Terpukau dalam daulat Damai sempurna.a. mungkin bahkan diketemukan untuk pertama kalinya dalam hidup. dan sebagai pengantar kepada terjemah dan komentarnya kepada surat al-Qadr. Untuk pandangannya ini. bagi pribadi bersangkutan. demikian: Blessed indeed is the Night of Power! When the Mercy of God’s Revelation breaks through The darkness of the human soul! All the Powers. Lailatul Qadr dalam bulan Ramadan dapat mewujudkan suasana batin pribadi yang suci dan damai. Lailatul Qadr yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah “Momen Penentuan” bagi manusia dan kemanusian universal. of the world divine. Yusuf Ali menggubah syair yang indah sekali. sebagai “malam penentuan” dan “malam kemahakuasaan Tuhan”.w. dari dunia Ilâhî. sebanding dengan Lailatul Qadr. dalam bulan suci Ramadan yang penuh barkah. By God’s command. tidak menyebutkan kapan tepatnya malam itu. Atas perintah Allah. agar setiap pribadi. Sungguh diberkati Lailatul Qadr Ketika Rahmat Wahyu Ilâhî menembus Kegelapan sukma manusia! Semua Kekuatan malaikat. . sebagai pertanda “intervensi Ilahi” kepada pribadi bersangkutan.semua perkara. tentang kebenaran dan kesucian. Karena itu akan mempengaruhi seluruh hidupnya sepanjang umur. sehingga saatnya pudapat berbeda-beda dari seseorang ke orang lain. Maka Nabi s. Momen itu selalu dibarengi dengan suasana damai dan bahagia. Karena itu agama memberi arahan. Bergegas dalam Pesan mistik Kasih mereka. kurang lebih. Momen itu dapat disebut sebagai “Momen Penentuan”. memang mengatasi sang waktu. tentu ada satu momen yang menentukan hidup seseorang sepanjang umurnya. and bless every nook And corner of the heart! All jars Are stilled in the reign supreme of Peace. Until this mortal night gives place To the glorious day of an immortal world! Terjemahnya. yang merupakan dampak keruhanian karena merasakan hadirnya kebenaran yang ditemukan. Bersamaan dengan itu. Dan dapat sangat pribadi. sebagai malam mistis penuh barkah keruhanian yang hening dan damai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful