P. 1
ddst

ddst

|Views: 128|Likes:
Published by doraemon tembem

More info:

Published by: doraemon tembem on Nov 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

PENGARUH PELATIHAN TENTANG DDST TERHADAP KOMPETENSI PENDIDIK PAUD DALAM PEMANTAUAN PERKEMBANGAN ANAK PRA SEKOLAH

Heru Santoso Wahito Nugroho, Agung Suharto, Nana Usnawati ABSTRAK Masa usia dini merupakan periode kritis dalam perkembangan anak, sehingga diperlukan upaya pengembangan secara menyeluruh dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan mental, intelektual, emosional, moral dan sosial yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Upaya pengembangan tersebut dapat dilaksanakan melalui lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), berupa penerapan curriculum plus dalam bidang pemantauan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Pelatihan tentang Denver Developmental Screening Test (DDST) terhadap kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik serta perilaku pendidik PAUD dalam pemantauan perkembangan anak pra sekolah. Selain itu, juga pengaruh pelatihan terhadap perkembangan anak pra sekolah. Penelitian pra eksperimental ini menggunakan rancangan pre test-post test tanpa kelompok kontrol. Sampel (34 orang) diambil dari populasi pendidik PAUD Darul Falah Sukorejo Ponorogo yang selanjutnya dilatih metode DDST. Dari populasi anak pra sekolah, diambil sampel (102 anak) untuk diukur tingkat perkembangan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan tentang DDST secara signifikan dapat meningkatkan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik serta perilaku pendidik PAUD dalam pemantauan perkembangan anak pra sekolah. Selain itu, pelatihan juga berpengaruh positif yaitu meningkatkan perkembangan anak pra sekolah. Disarankan agar DDST tetap diterapkan sebagai metode pemantauan perkembangan anak (sebagai curriculum plus), penggunaan DDST diperluas, serta dilakukan penelitian lanjutan tentang penggunaan DDST. Kata kunci: DDST, kompetensi kognitif, kompetensi afektif, kompetensi psikomotorik, perilaku, perkembangan PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Perkembangan kecerdasan anak sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berusia 4 tahun, 80% terjadi ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai titik kulminasi ketika anak berusia sekitar 18 tahun (Jalal, 2002:5-6) Hasil penelitian Balitbang Depdiknas Tahun 1999 menduga tingginya angka mengulang di kelas awal SD (kelas I: 13% dan kelas II:8%) akibat lemahnya pembinaan anak pada masa usia dini. Berarti ada korelasi positif antara pendidikan prasekolah yang diperoleh dengan kesiapan anak masuk sekolah, padahal berdasarkan data Depdiknas Tahun 2000 jumlah anak usia 4-6 tahun yang tertampung di TK dan RA masingmasing 1,6 juta (12%) dan 0,4 juta (5%). Jelas bahwa pendidikan anak prasekolah yang sangat penting, dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat (Jalal, 2002:12). Idealnya PAUD harus mampu memberikan mutu dan kemasan produk layanan yang baik. Kemasan produk layanan dapat diperbaiki dengan menerapkan curriculum plus, yaitu pembelajaran tambahan yang tidak diatur dalam kurikulum standar (Yunianto, 2002:87). Penerapan curriculum plus memerlukan dukungan tenaga kependidikan berkualitas, yang masih menjadi permasalahan di negara kita, sebagaimana yang disampaikan oleh Moleong (2002) bahwa rendahnya pengakuan profesional tenaga kependidikan cukup banyak terjadi karena rendahnya profesionalisme tenaga kependidikan, terlebih lagi pada PAUD (Redaksi Buletin PADU, 2002: 6) Hasil studi pendahuluan (Maret 2006) di PAUD Yayasan Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo menunjukkan bahwa PAUD tersebut telah menerapkan kurikulum standar, namun belum

menerapkan pemantauan perkembangan anak dengan standar tertentu, karena belum memiliki program curriculum plus, serta belum memiliki tenaga pendidik yang memadai untuk menerapkan curriculum plus dalam bidang perkembangan anak. Hasil studi pendahuluan lanjutan (MeiJuni 2007) menunjukkan bahwa cukup banyak anak yang memiliki perkembangan dalam kategori suspek (15,7%), selebihnya (84,3%) berada dalam kategori normal. 1.2 Rumusan Masalah 1. Adakah pengaruh positif pelatihan tentang DDST terhadap kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD? 2. Adakah pengaruh positif pelatihan tentang DDST terhadap perilaku pendidik PAUD? 3. Adakah pengaruh positif pelatihan tentang DDST terhadap perkembangan anak pra sekolah? 1.3Tujuan Penelitian 1. Menganalisis pengaruh pelatihan tentang DDST terhadap kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD 2. Menganalisis pengaruh pelatihan tentang DDST terhadap perilaku pendidik PAUD 3. Menganalisis pengaruh pelatihan tentang DDST terhadap perkembangan anak pra sekolah 1.4 Manfaat Penelitian 1. Menjadi salah satu komponen pengembangan curriculum plus PAUD. 2. Sebagai stimulus bagi penelitian selanjutnya mengenai pemantauan perkembangan anak pra sekolah. TINJAUAN PUSTAKA 2.1Pelatihan dan Pengembangan SDM Bernandin dan Joyce (1993) dalam Gomes (1995:197) menyatakan bahwa pelatihan adalah setiap usaha memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggungjawabnya, atau satu pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Pelatihan yang efektif harus mencakup pengalaman belajar,

aktifitas-aktifitas yang terencana dan dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan yang diidentifikasi. Menurut Gomes (1995:209-212), ada 5 tingkatan evaluasi pelatihan yaitu: 1. Reaction, yang diukur dengan kuesioner tentang kepuasan terhadap pelatih, materi, isi, bahan, lingkungan dan sebagainya. 2. Learning, yaitu test tentang penguasaan konsep, pengetahuan dan ketrampilan yang diberikan selama pelatihan. Evaluasi hasil pembelajaran mengacu pada tujuan pembelajaran. Bloom (1956) dalam Winkel (1996:244-254) mengklasifikasikan secara lengkap tujuan pembelajaran, dalam 3 ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Menurut Purwanto (1996), faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu: a. Lingkungan (lingkungan alam dan lingkungan sosial). b. Instrumen pendidikan (kurikulum, guru, fasilitas dan manajemen pendidikan) c. Fisiologi (kondisi fisik dan indera) d. Psikologi (minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif). 3. Behaviors, yaitu membandingkan perilaku peserta sebelum dan sesudah pelatihan. 4. Organizational results, yaitu menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. 5. Cost effectivity, yaitu mengetahui besarnya biaya yang digunakan untuk pelatihan dan apakah besarnya biaya tersebut sepadan dengan biaya yang timbul dari permasalahan yang dialami oleh organisasi. 2.2Perkembangan Anak Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang kompleks, dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan berhubungan dengan diferensiasi sel-sel, jaringan-jaringan, organ-organ dan sistem-sistem organ tubuh yang mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. (Soetjiningsih, 1995:1). Soetjiningsih (1995:2) menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi

perkembangan sekaligus mempengaruhi pertumbuhan yaitu: 1. Faktor genetik 2. Faktor lingkungan, yang terbagi atas: a. Lingkungan prenatal (gizi ibu hamil, mekanis, toksin, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas dan anoksia embrio) b. Lingkungan postnatal, terdiri atas: 1) Lingkungan biologis (ras, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme dan hormon) 2) Faktor fisik (cuaca, musim dan kondisi geografis, sanitasi, keadaan rumah dan radiasi) 3) Faktor psikososial (stimulasi, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar, kelompok sebaya, stress, sekolah, cinta dan kasih sayang serta kualitas interaksi antara anak dan orangtua) 4) Faktor keluarga dan adat istiadat, (pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, jumlah saudara, jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah tangga, kepribadian orangtua, adat istiadat, norma dan tabutabu, agama, urbanisasi serta kehidupan politik).

4. Sektor motorik kasar (duduk, jalan, gerakan otot-otot besar). 2.4Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini Depkes RI (2002:3-4) mendefinisikan Pendidikan Anak Usia Dini sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak usia dini yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan dasar dan kehidupan tahap berikutnya. Kegiatan bertujuan mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. (Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini Depkes RI, 2002:4) Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Depkes RI (2002:5-8) mendasarkan pelaksanaan menu pembelajaran pada pendekatan-pendekatan yaitu: berorientasi pada kebutuhan anak, belajar melalui bermain, kreatif dan inovatif, lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu, mengembangkan ketrampilan hidup, menggunakan berbagai media dan sumber belajar, pembelajaran yang berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak dan stimulasi terpadu 2.5Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konsep penelitian disusun berdasarkan model pelatihan sumberdaya manusia menurut Gomes (1995), serta model pembelajaran menurut Purwanto (1996).

2.3 DDST Sebagai Metode
Pemantauan Perkembangan Anak Frankenburg and Dodds (1996) dalam Ismail dkk. (2004) mengemukakan bahwa Denver II sebagai revisi dari DDST yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1967, dibuat untuk menolong petugas kesehatan menemukan secara dini masalah penyimpangan perkembangan potensi anak berumur 0 sampai dengan kurang dari 6 tahun. Denver II terdiri atas 125 item yang disusun dalam formulir menjadi 4 sektor yaitu: 1. Sektor personal sosial (penyesuaian diri di masyarakat dan kebutuhan pribadi. 2. Sektor motorik halus-adaptif (koordinasi mata-tangan, memainkan dan menggunakan benda-benda kecil, pemecahan masalah. 3. Sektor bahasa (mendengar, mengerti dan menggunakan bahasa).

afektif dan psikomotorikMateri Post test pembelajaran DDST Hasil belajar Formulir DDST -Kognitif Peralatan DDST -Afektif Whiteboard set -Psikomotorik LCD Projector set Perilaku Nominal Perkembangan anak 0: Sebelum pelatihan Pelatihan tentang 1: Setelah pelatihan DDST 2Kompetensi Pre test kognitif pendidik PAUD dalam Hasil belajar pemantauan -Kognitif perkembangan -Afektif anak pra sekolah -Psikomotorik Hasil jawaban Perilaku pendidik PAUD Perkembangan anak Pengambilan terhadap 15 item sampel tes tentang DDSTSoal jenis obyektifInterval Psikologi (0-15)3Kompetensi Minat afektif pendidik Kecerdasan PAUD dalam Motivasi pemantauan Kemampuan perkembangan kognitif anak pra sekolah Hasil jawaban Fisologi pendidik PAUD Kondisi fisik terhadap 15 item Kondisi indera pertanyaan tentang sikap Lingkungan terhadap Lingkungan alam pemanfaatan DDST Lingkungan sosial untuk pemantauan perkembangan anak pra sekolah Kuesioner tentang sikap dengan Skala LikertInterval (Skor standar T)4Kompetensi psikomotor pendidik PAUD dalam pemantauan perkembangan anak pra sekolahHasil
3.4 Polulasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah Pendidik PAUD Darul Falah Sukorejo Ponorogo (35 orang) dan anak pra sekolah di PAUD Darul Falah Sukorejo Ponorogo (120 orang). Besar sampel masing-masing adalah 32 pendidik dan 92 anak yang diambil dengan teknik simple random sampling. 3.5Variabel dan Definisi Operasional 2.6 Hipotesis Penelitian 1. Pelatihan tentang DDST berpengaruh positif terhadap kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD 2. Pelatihan tentang DDST berpengaruh positif terhadap perilaku pendidik PAUD 3. Pelatihan tentang DDST berpengaruh positif terhadap perkembangan anak pra sekolah METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimental dengan rancangan pre test-post test tanpa kelompok kontrol.

Reactio n (Reaksi) Learning (Hasil belajar) Kompetensi kognitif Kompetensi afektif Kompetensi psikomotorik Behavio r (Perilak u)
Organizat ional results (Dampak bagi

1. Pelatihan

tentang DDST adalah kegiatan pembelajaran tentang DDST kepada pendidik PAUD, mencakup domain kognitif, afektif dan psikomotorik dengan instrumen: materi DDST, formulir DDST, peralatan DDST dan LCD Projector set. 2. Kompetensi kognitif pendidik PAUD adalah hasil jawaban pendidik PAUD terhadap 15 item tes tipe obyektif tentang DDST 3. Kompetensi afektif pendidik PAUD adalah hasil jawaban pendidik PAUD terhadap 15 item kuesioner tentang sikap terhadap pemanfaatan DDST untuk pemantauan perkembangan anak pra sekolah 4. Kompetensi psikomotorik pendidik PAUD adalah hasil observasi dengan alat check list tentang keterampilan pendidik PAUD dalam menggunakan DDST untuk pemantauan perkembangan anak pra sekolah 5. Perilaku Pendidik PAUD adalah hasil observasi dengan alat lembar observasi terhadap perilaku pendidik PAUD dalam pemantauan perkembangan anak pra sekolah secara terstandar 6. Perkembangan anak pra sekolah adalah hasil pemeriksaan DDST menggunakan formulir Denver II dan peralatan DDST 3.6Pengumpulan dan Analisis Data

organis asi)

Cost effectivi ty (Efektifi tas biaya)

Cost effectivi ty (Efektifi tas biaya)

Data diperoleh dengan instrumen training set dan teaching set, tes tipe obyektif, kuesioner sikap, check list psikomotor, lembar observasi perilaku serta formulir dan peralatan DDST. Analisis data penelitian menggunakan metode statistik deskriptif dan metode statistik analitik sebagai berikut.
No 1 2 3 4 5 Variabel Kompetensi kognitif pendidik PAUD Kompetensi afektif pendidik PAUD Kompetensi psikomotor pendidik PAUD Perilaku Pendidik PAUD Perkembangan anak pra sekolah Hipotesis Deskripsi data -Mean -Mean -Mean Distribusi frekuensi Distribusi frekuensi Penyajia n Diagram Garis Diagram Garis Diagram Garis Histogra m Histogra m

KOMPETENSI KOGNITIF
15 10 5 0

11.4706 5.0882 SEBELUM SESUDAH

Hasil One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan data terdistribusi normal. Hasil Paired Samples T-Test adalah -17,571 dengan p=0,000, sehingga Ho ditolak, berarti ada perbedaan mean secara bermakna antara sebelum dan sesudah pelatihan. Dengan pelatihan, kompetensi kognitif pendidik PAUD mengalami peningkatan bermakna.
KOMPETENSI AFEKTIF
80.0000 60.0000 40.0000 20.0000 0.0000

No 1

2

3

Uji Penggant i Pelatihan Paired -skala Wilcoxo tentang DDST SamplesT interval/ n berpengaruh -Test rasio Signed positif terhadap -distribusi Rank kompetensi normal Test kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD Pelatihan Cohcran Skala tentang DDST Test nominal berpengaruh dikotom positif terhadap us perilaku pendidik PAUD Pelatihan McNemar Skala tentang DDST Test nominal berpengaruh dikotom positif terhadap us perkembangan anak pra sekolah

Uji Terpilih Syarat

41.2126

58.7865

SEBELUM

SESUDAH

Hasil One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan data terdistribusi normal. Hasil Paired Samples T-Test adalah -4,836 dengan p=0,000, sehingga Ho ditolak, berarti ada perbedaan mean secara bermakna antara sebelum dan sesudah pelatihan. Dengan pelatihan, kompetensi afektif pendidik PAUD mengalami peningkatan bermakna.
KOMPETENSI PSIKOMOTORIK
20 10 0

17.5000 0 SEBELUM

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengumpulan data sebelum dan sesudah pelatihan meliputi: kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor pendidik PAUD, perilaku pendidik PAUD dan perkembangan anak pra sekolah. 4.1 Kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD

SESUDAH

Hasil One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan data tidak terdistribusi normal sehingga sehingga tidak memenuhi syarat untuk T-Test. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test adalah -5,119 dengan p=0,000, sehingga Ho ditolak, berarti ada perbedaan mean rank antara sebelum dan sesudah pelatihan. Dengan pelatihan, kompetensi psikomotorik

pendidik PAUD mengalami peningkatan bermakna. 4.2 Perilaku Pendidik PAUD
40 35 30 25 20 15 10 5 0 34 34

18 16

0 SEBELUM 1 BLN SESUDAH

0 2 BLN SESUDAH

Melakukan

Tidak Melakukan

dalam Winkel (1996) tujuan pembelajaran meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Perbedaan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD antara sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi secara berarti. Kondisi keberhasilan di atas dapat menjadikan motivasi bagi para pendidik PAUD untuk menampilkan perilaku pemantauan perkembangan anak, sebagaimana disampaikan oleh Zainul dan Nasution (2005:11) bahwa keberhasilan tes dapat menjadi motivasi mempertahankan dan meningkatkan hasilnya.

Hasil Cochran Test menunjukkan nilai 51,059 dengan p=0,000, dengan demikian Ho ditolak, berarti pelatihan tentang DDST berpengaruh positif terhadap perilaku pendidik PAUD. 4.3 Perkembangan anak pra sekolah
150 100 50 0 SEBELUM SESUDAH 86 16 98

1.2 Pengaruh

pelatihan tentang DDST terhadap perilaku pendidik PAUD

4

Norm al

Suspek

Hasil McNemar Test menunjukkan p=0,000, dengan demikian Ho ditolak, berarti pelatihan tentang DDST berpengaruh positif terhadap perkembangan anak pra sekolah. PEMBAHASAN

1.1 Pengaruh

pelatihan tentang DDST terhadap kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik pendidik PAUD

Zainul dan Nasution (2005:35) menjelaskan bahwa perbedaan antara pre test dan post test berhubungan dengan kualitas proses belajar dan mengajar. Jika proses belajar mengajar baik, maka terdapat perbedaan yang besar antara hasil post test dengan hasil pre test. Gomes (1995), menjelaskan bahwa hasil belajar dalam pelatihan, merupakan salah satu aspek yang harus dievaluasi. Dalam hal ini, menurut Bloom (1956)

Merril (1971:10) dalam Gafur (1986:22) menjelaskan bahwa pengajaran adalah suatu kegiatan di mana seseorang diubah atau dikontrol, dengan maksud ia dapat bertingkah laku atau bereaksi terhadap kondisi tertentu. Jelaslah bahwa pelatihan sebagai salah satu bentuk dari pembelajaran bertujuan untuk mengubah perilaku peserta. Jika obyek pembelajaran yang digarap adalah DDST, maka diharapkan peserta berperilaku menerapkan DDST sebagai metode pemantauan perkembangan anak pra sekolah. Adanya perbedaan perilaku antara sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan bahwa pelatihan efektif untuk mengubah perilaku pendidik PAUD, sebagaimana disampaikan oleh Gomes (1995) bahwa evaluasi perilaku dilakukan dengan membandingkan perilaku peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Hal di atas penting artinya bagi organisasi, sebagaimana disampaikan oleh Sinaga dan Hadiati (2001:14-15) bahwa manusia sebagai salah satu unsur dalam manajemen memegang peran yang sangat penting, bahkan tercapainya tujuan organisasi sangat ditentukan oleh usaha manusia.

1.3 Pengaruh

pelatihan tentang DDST terhadap perkembangan anak pra sekolah

Menurut Soetjiningsih (1995:9) stimulasi berpengaruh terhadap perkembangan anak. Agar anak

berkembang lebih cepat, diperlukan stimulasi secara terarah dan teratur serta motivasi belajar yang dibangun sejak dini dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar misalnya melalui sekolah. Peran sekolah akan semakin bermakna jika didukung oleh curriculum plus sebagaimana penjelasan Yunianto (2002:87) bahwa curriculum plus merupakan kegiatan pembelajaran tambahan yang tidak diatur dalam kurikulum standar untuk meningkatkan kemasan produk layanan. Adanya pengaruh positif pelatihan tentang DDST terhadap perkembangan anak pra sekolah, menunjukkan bahwa pelatihan secara efektif berdampak pada kualitas layanan organisasi. Dengan demikian, pelatihan telah berdampak positif pada aspek organizational results, sebagaimana disampaikan oleh Gomes (1995) bahwa organizational results merupakan dampak pelatihan terhadap kelompok kerja secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pendidikan Anak Usia dini. 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia dini (Menu Pembelajaran Generik). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Frankenburg WK, Dodds Josiah B. 2004. Pemantauan Perkembangan, Denver II. Penerjemah: Ismail Djauhar dkk. Yogyakarta: Sub Bagian Pediatri Sosial/Tumbuh Kembang, Bagian Ilmu Kesehatan Anak/INSKA, Fakultas Kedokteran UGM/RSUP Dr. Sardjito Gafur A. 1986. Desain Instruksional (Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar dan Mengajar). Solo: Tiga Serangkai.

Gomes FC. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit Andi. Jalal Fasli. 2002. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya PADU. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Usia dini. Edisi III. Jakarta: Direktorat PADU Depdiknas. Jalal Fasli. 2002. Pendidikan Anak Usia dini, Pendidikan Yang Mendasar. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Usia dini. Edisi Perdana. Jakarta: Direktorat PADU Depdiknas. Redaksi Buletin Padu. 2002. Menata Sistem Menuju Gerakan Masyarakat. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Usia dini. Edisi III. Jakarta: Direktorat PADU Depdiknas. Rilantono LI. 2002. Konsep Pengasuhan dan Pengembangan Anak Usia dini. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Usia dini. Edisi Perdana. Jakarta: Direktorat PADU Depdiknas. Sinaga AM, Hadiati S. 2001. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Yunianto Eko. 2002. Cara Mudah Mendirikan dan Menyelenggarakan Lembaga PADU. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Usia dini. Edisi III. Jakarta: Direktorat PADU Depdiknas. Winkel WS.1996. Psikologi Pengajaran. Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Zainul A dan Nasution N. 2005. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->