P. 1
Filsafat Pendidikan Dalam Keluarga

Filsafat Pendidikan Dalam Keluarga

|Views: 713|Likes:
Published by Ariani Shobirin

More info:

Published by: Ariani Shobirin on Nov 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Makalah filsafat pendidikan dalam keluarga ini saya tulis karena saya terinspirasi oleh sebuah artikel yang mengutarakan tema "Pendidikan Dimulai dari Keluarga". Sebagai seorang wanita yang baru saja menikah, saya merasa masih begitu banyak ilmu yang harus saya pelajari, masih terlalu banyak hal yang belum saya mengerti. Saya tidak ingin, jika nanti tiba saatnya Allah memberikan amanah buah hati dalam kehidupan rumah tangga kami, saya belum mempunyai bekal yang cukup untuk mendidiknya sebagai insan yang madani. Keluarga, dalam terminologi sosial sebagaimana dikemukakan Robert MZ. Lawang, dipahami sebagai kelompok orang-orang yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan, darah atau adopsi; yang membentuk satu rumah tangga; yang berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan melalui peran-perannya sendiri sebagai anggota keluarga; dan yang mempertahankan kebudayaan masyarakat yang berlaku umum, atau bahkan menciptakan kebudayaan sendiri. Apa pentingnya pendidikan dalam keluarga ? Akan sangat banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Namun kita akan mengambil satu poin saja, bahwa pendidikan dalam keluarga menjadi pondasi untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia. “Mengapa keluarga dapat dikatakan sebagai batu pertama untuk membangun negara?” demikian pertanyaan Husain Muhammad Yusuf mengawali pembahasan tentang Posisi Keluarga dalam Negara. “Sebab”, tulisnya, “Sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai, maka sejauh itu pula negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya”. Tak bisa disangkal lagi bahwa pendidikan bermula dari rumah, bukan dari sekolah. Bahkan, meminjam istilah Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam teori Quantum Learningnya, pembelajaran masa kecil di rumah adalah saat-saat

1

yang amat menyenangkan. Mereka menyebut contoh belajar berjalan pada anak usia satu tahun. Kendati dengan tertatih dan berkali-kali jatuh, toh anak pada akhirnya mampu berjalan, tanpa merasa ada kegagalan, suatu hal yang amat berbeda dengan pembelajaran orang dewasa. Fungsi edukatif dalam keluarga menjadi sedemikian vital untuk mempersiapkan masa depan bangsa dan negara. Khalid Ahmad Asy Syantuh menyebutkan, pendidikan merupakan sarana perombakan yang fundamental. “Sebab”, katanya, “ia mampu merombak jiwa manusia dari akar-akarnya”. Seluruh anggota keluarga harus mendapatkan sentuhan pendidikan untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi potensi, pengembangan kepribadian, peningkatan kapasitas diri menuju batas-batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan. Adapun tujuan tertinggi dari proses pendidikan, menurut Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibany, bisa dirumuskan dengan beberapa rumusan berikut: perwujudan diri, persiapan untuk kewarganegaraan yang baik, pertumbuhan yang menyeluruh dan terpadu, serta persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian, pendidikan dalam keluarga tengah menyiapkan anggotanya mencapai tujuan tertinggi tersebut, atau dalam bahasa Muhammad Quthb diistilahkan dengan ungkapan ringkas, “manusia yang baik”.

2

Plato. bunga mawar yang berbau harum. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. dan Aristoteles. seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan. kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) 3 . yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? Kualitatif. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Kuantitatif. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. 2. Pada masanya.BAB II ONTOLOGI PENDIDIKAN KELUARGA Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani.

bersama iman Islam. tetap sentral tempatnya dalam kehidupan orang dari segenap kelas sosial. Dimana ada manusia pastilah ada keluarga yang melahirkan. ilmu teknik dan sebagainya). Dalam perspektif teologis hanya ada dua orang yang lahir tidak dari sebuah sistem keluarga. ilmu kedokteran. Kenapa demikian besar perhatian Islam? untuk bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan satu sama lain baik dalam hal kebutuhan 4 . Perubahan yang terjadi pada abad ke-19 dan khususnya abad ke-20 sangat membebani unit ini. Konsep keluarga sudah setua sejarah kehidupan manusia. Adam sebagai manusia pertama yang berjenis kelamin laki-laki dan Hawa sebagai manusia kedua yang berjenis kelamin perempuan. dan politik orang. namun keluarga. Keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. merawat serta mendidiknya meskipun dalam waktu yang amat singkat. Dua orang inilah yang berusaha dari awal sekali untuk mengembangkan konsep keluarga atas petunjuk Tuhan. Adam dan Hawa melakukan semacam kesepakatan dan berkomitmen (mitsaqan galiza) biologis maupun kebutuhan emosional.• • tunggal (one) jamak (many) Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi. ekonomi. Selama beribu-ribu tahun. Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Keluarga dalam Perspektif Filsafat Islam Unit sosial dasar masyarakat Islam adalah keluarga. keluarga merupakan fokus utama identitas emosional. ilmu budaya. keluarga dapat dilihat secara kiasan sebagai raganya. fisika. sosiologi. dan di segenap negara Muslim. Jika Islam dapat digambarkan sebagai jiwa masyarakat Islam. dalam konteks desa dan kota.

sesungguhnya Allah telah mengasihinya berkat kasih sayangnya kepada kedua anaknya”. Kedua kurma itu dimakan anaknya sampai habis. Allah memerintahkan : “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan neraka”. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Diberilah oleh anak-anaknya masing-masing satu. “Harta dan anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia”. Bila pondasi ini kuat. Jelas. Aisyah memberikan tiga potong kurma kepada wanita itu. dan diberikannya masing-masing sebelah kepada kedua anaknya. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Sebaliknya bila tercerai berai ikatan keluarga dan kerusakan meracuni anggota-anggotanya maka dampaknya terlihat pada masyarakat bagaimana kegoncangan melanda dan rapuh sehingga tidak diperoleh rasa aman. 5 . Sang ibu membelah kurma (bagiannya) menjadi dua. Ini merupakan sifat manusia yang dibawanya sejak lahir. Tiba-tiba Nabi Muhammad SAW datang. lurus agama dan akhlak anggota maka akan kuat pula masyarakat dan akan terwujud keamanan yang didambakan. anak adalah amanat Allah. lalu diberitahu oleh Aisyah tentang hal itu. lalu mereka menoleh ke arah ibunya. At-Tahriim : 6) Kewajiban itu dapat dilaksanakan dengan mudah dan wajar karena orang tua memang mencintai anaknya. tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. dan yang satu lagi untuknya. (Q.S. (Al-Kahfi : 46) Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua anaknya yang masih kecil. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Apakah yang mengherankanmu dari kejadian itu. Manusia diciptakan manusia mempunyai sifat mencintai anaknya.Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata pertama untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yg diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Filsafat Islam Dalam ajaran agama Islam.

18 dan ayat ke 19. dan (2) kewajiban itu wajar (natural) karena Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anaknya. Makna tentang pembinaan tauhid. seperti yang termaktub dalam QS Lukman ayat 12 sampai 19. niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). maka kita akan menemukan beberapa point-point penting diantaranya adalah : 1. Pembinan jiwa orang tua di jelaskan dalam Surat Luqman ayat 12 : “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman. 15. di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” 3. Luqman Ayat 13 : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya. Dalam surat tersebut pembinaan akidah pada anak terdapat dalam empat buah ayat yaitu ayat 14. maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Mengenai pembinaan akidah ini. Agama Islam secara jelas mengingatkan para orang tua untuk berhati hati dalam memberikan pola asuh dan memberikan pembinaan keluarga sakinah. Pembinaan tauhid kepada anak. sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezhaliman yang besar”. dan barangsiapa yang tidak bersyukur. 6 . yaitu “Bersyukurlah kepada Allah. janganlah kamu mempersekutukan Allah. Pembinaan jiwa orang tua. Luqman Ayat 16 : “(Lukman berkata) : “Hai anakku. Surat Luqman memberikan gambaran yang begitu jelas.Uraian diatas menegaskan bahwa (1) wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah). Pembinaan akidah anak. sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi. Dan apabila kita kemudian kaji isi ayat diatas. dan berada dalam batu atau di langit atau dalam bumi. maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. 2.

membawa pengaruh terhadap lingkungan pendidikan selanjutnya. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang patut diutamakan. Tujuan dalam pendidikan keluarga atau rumah tangga ialah agar anak mampu berkembang secara maksimal yang meliputi seluruh aspek perkembangan yaitu jasmani. Untuk ayat ke 16 telah disebutkan pada point ke dua. baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dari hadist nabi tersebut tergambarkan bagaimana pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga. Dimana dalam hal ini keluarga berperan untuk membentuk pribadi anaknya ke arah yang lebih baik.4. Pembinaan sosial pada anak dalam keluarga. Ingatlah selalu kepada apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya: “Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah. Mereka mengatakan bahwa apa-apa yang terjadi dalam pendidikan keluarga. Pembinaan jiwa sosial anak.” Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. (H. Maka ibubapanyalah yang menasranikanatau menyahudikan atau memajusikannya”. dijelaskan dalam surat Luqman ini melalui ayat ke 16 dan ayat ke 17. Yang bertindak sebagai pendidik dalam rumah tangga ialah ayah dan ibu si anak. Sedangkan ayat ke 17 dari surat Luqman berbunyi : “Hai anakku. 7 . Bukhari Muslim). dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Keluarga dikatakan sebagai lingkungan pendidikan pertama karena setiap anak dilahirkan ditengah-tengah keluarga dan mendapat pendidikan yang pertama di dalam keluarga.R. akal dan ruhani. Para ahli sependapat bahwa betapa pentingnya pendidikan keluarga ini. Dikatakan utama karena pendidikan yang terjadi dan berlangsung dalam keluarga ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pendidikan anak selanjutnya.

Jadi. metode induktif. Secara teori tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa bahan yang disajikan dalam pendidikan keluarga adalah masalah keterampilan. peranan. secara efektif dan memuaskan. dan pengetahuan dasar. Anak dapat dibentuk sekehendak 8 . Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. selaras dengan kedudukannya dalam keluarga itu.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Kehidupan Keluarga atau Famili Life Education. sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Tiga Teori yang Melandasi Pendidikan (a) Teori Tabularasa (John Locke dan Francis Bacon) Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all characters).BAB III EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN KELUARGA Epistemologi. kerohanian. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. misalnya tentang apa itu pengetahuan. pendidikan bertujuan agar masing-masing anggota keluarga dapat melaksanakan fungsi. macamnya. metode kontemplatis dan metode dialektis. metode deduktif. sifat. dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. Dalam Undang-Undang RI No. bagaimana karakteristiknya. dan jenis pengetahuan. pengandaian-pengandaian. metode positivisme. dan tanggung jawabya dengan baik. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. diantaranya.

William Stern. Nativus (latin) berarti karena kelahiran. adalah pembentukan kebiasaan. Kedua teori tersebut ternyata berat sebelah. telah memadukan kedua teori itu menjadi satu teori yang disebut teori konvergensi. oleh sebab itu tugas pendidik adalah menghantarkan 9 . Maka dari itu. Namun pembawaan yang sifatnya potensial itu harus dikembangkan melalui pengaruh lingkungan. Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak dilahirkan sudah mempunyai berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. termasuk lingkungan pendidikan. atau sifatsifat yang turun-temurun. Behaviorisme tidak mengakui adanya pembawaan dan keturunan. Semua Pendidikan. untuk mengambil kebenaran dari keduanya. yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera.pendidiknya. yaitu menurut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungan seorang anak. Aliran Pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran pesimisme. ahli ilmu jiwa bangsa Jerman. Pembawaan anak-anak itu ada baik dan ada yang buruk. Di sini kekuatan ada pada pendidik. Pendidikan tidak perlu dan tidak berkuasa apa-apa. Sedangkan yang menganut empirisme dan teori tabularasa disebut aliran optimisme. Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empirisme. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan anak. (b) Teori Navitisme (Schopenhauer) Lawan dari empirisme ialah nativisme. Kaum behavioris juga berpendapat senada dengan teori tabularasa itu. Diakui bahwa anak lahir telah memiliki potensi yang berupa pembawaan. yaitu pembawaan dan lingkungan. (c) Teori Konvergensi (William Stern) Menurut teori konvergensi hasil pendidikan anak dipengaruhi oleh dua faktor. Kedua teori tersebut ada benarnya dan ada pula yang tidak benarnya. menurut behaviorisme.

yang sudah menjadi tujuan negara itu sendiri. Demikian juga. Jadi. keluarga. atau lalai. misalnya karena kurang mampu. dan pendidikan itu harus pula sesuai dengan kesejahteraan umum. disitulah negara. bila kekuatan orang tua – baik material maupun moral – tidak dapat mencukupi. negara berhak dan berkewajiban melindungi anak-anak. Tetapi. dan bangsanya. nusa. dan sebagian dari pendidikan sosial . jelas di sini bahwa hak orang-orang itu tidak mutlak. hak itu bukan karena kedudukannya sebagai orang tua. Hak itu terikat oleh hukum alam dan hukum Tuhan. sesuai dengan dasar-dasar dan tujuan negara itu sendiri. Apabila perlu – misalnya. harus membantu orang tua dengan jalan mendirikan sekolahsekolah dan badan-badan sosial lainnya. Tetapi. namun hanya untuk menambah yang kurang saja. hak orang tua itu dicabut (gila dan sebagainya) – negara harus berusaha memberikan pendidikan kepada si anak. pengajaran. hak negara yang demikian (turut campur tangan) tidak untuk menduduki tempat orang tua. tidak sanggup. melainkan karena kekuasaan yang menjadi milik negara untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsanya. sesuai dengan tujuannya. Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi warga negaranya. yaitu mengatur kehidupan umum menurut ukuran-ukuran yang sehat sehingga menjadi bantuan bagi pendidikan keluarga dan dapat mencegah apa-apa yang merugikan perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya. Hak negara terhadap pengajaran dan pendidikan juga diterimanya dari Tuhan (bukan negara polisi atau totaliter). seperti hak orang tua terhadap anaknya. masyarakat. perkumpulan anak-anak). yang sedapat-dapatnya mendekati pendidikan 10 . Apabila keluarga tidak mungkin lagi melaksanakan pendidikan seluruhnya (misalnya pendidikan kecerdasan.perkembangan semaksimal mungkin potensi anak sehingga kelak menjadi orang yang berguna bagi diri.

Variasi itu antara lain menekankan pada akal dan rasio pada rasionalisme atau sebaliknya pada ilham untuk irasionalisme. tidak perlu menjadikan anak milik negara. juga untuk memimpin dan mendirikan sekolahsekolah yang diperlukan untuk mendidik pegawai-pegawai dan tentaranya. negara harus berusaha dan memberi kesempatan agar semua warga negara mempunyai pengetahuan cukup tentang kewajibankewajiban sebagai warga negara dan sebagai anggota bangsa yang mempunyai tingkat perkembangan jasmani dan rohani yang cukup. berikut ini akan saya uraikan beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini. dan tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan yang berlaku di negara yang bersangkutan. Terdapat variasi pendapat beserta namanya masing-masing dalam aliran ini seperti spiritualisme. yang diperlukan untuk kesejahteraan umum (pendidikan kewarganegaraan). Aliran Filsafat Pendidikan Agar uraian tentang filsafat pendidikan itu menjadi lebih lengkap. dan sebagainya. dan lain-alain. Aliran itu ialah : 1. Meskipun terjadi variasi pendapat tersebut. rasionalisme. neokantianisme. namun pada umunya aliran itu menekankan bahwa pendidikan merupakan kegiatan intelektual untuk membangkitkan ide-ide yang masih laten. Lebih lanjut. Filsafat pendidikan idealisme.keluarga si anak atau menyerahkan anak itu pada keluarga lain. anatara lain melalui introspeksi 11 . Ide sebagai gagasan kejiwaan itulah sebagai kebenararan atau nilai sejati yang absolut dan abadi. Apa yang dianggap kebenaran realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai kebenaran berfilsafat spiritual atau mental. menegaskan bahwa hakekat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Negara berhak memiliki sendiri apa yang perlu untuk pemerintahan dan untuk menjamin keamanan. asal pemimpin ini tidak mengurangi hak-hak orang tua.

Filsafat pendidikan pragmatisme. orang tua berfungsi membantu anggota keluarganya mencari dan menemukan kebenaran. merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus dinilai dari segi kegunaan pragtis. 3. Perbedaanya ialah perenialisme menekankan keabadian teori kehikmatan yaitu : • • • Pengetahuan yang benar (truth) Keindahan (beauty) Kecintaan kepada kebaikan (goodness) Konsep pendidikan itu bersifat abadi. dengan kata lain paham ini menyatakan yang berfaedah itu harus benar. yaitu kemampuan berpikir. Tokohnya antara lain Brameld. 12 . karena hakekat Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususkan Prinsip pendidikan antara lain: a. Kebenaran seperti itulah yang esensial. 4. bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. b. yang lain adalah suatu kebenaran secara kebetulan saja. atau ukuran kebenaran didasarkan pada kemanfaatan dari sesuatu itu kepada manusia . 2. Inilah bukti bahwa kebudayaan ini merupakan suatu kebenaran yang esensial. Kebenaran yang esensial itu ialah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin yang dikenal dengan nama Great Book. Buku ini sudah berabad-abad lamanya mampu membentuk manusia–manusia berkaliber internasional. manusia tak pernah berubah. Filsafat pendidikan paranialisme dan esensialisme. yakni keduanya membela kurikulum tradisonal yang berpusat pada pelajaran yang pokokpokok (subject centered). Oleh karena itu sebagai laboratorium peradaban. makluk manusia yang uni. Filsafat pendidikan esensialisme. keindahan dan kehidupan yang luhur.dan tanya jawab.

kemasyarakatan secara sendiri-sendiri sebagai 13 . e. d. sebenarnya. Kebenaran abadi itu ajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar (basic subject).c. Tujuan belajar adalah mengenal kebenaran abadi dan Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan universal. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini. Filasafat pendidikan rekonstruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Tetapi haruslah memelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan. 5. Dengan demikian tidak setiap individu dan kelompok akan memecahkan progresivisme.

Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori). Dalam istilah lain. • • Filsafat Etika dalam Pendidikan Aksiologi sebagai cabang filsafat dapat kita bedakan menjadi 2 yaitu : 1. ilmu kesusilaan yang memuat dasar untuk berbuat susila. Sedangkan moral pelaksanaannya dalam kehidupan. Etika dan Pendidikan Istilah etika berasal dari kata “ethos” (Yunani) yang berarti adat kebiasaan. pembahasan secara teoritis tentang nilai. Etika merupakan teori tentang nilai. yang berarti teori tentang nilai. Pertanyaan di wilayah ini menyangkut.BAB IV AKSIOLOGI PENDIDIKAN KELUARGA Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Jadi. 14 . etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan perbuatan manusia. antara lain: • • Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional? (filsafat etika). juga berarti kebiasaan. Cara memandangnya dari sudut baik dan tidak baik. para ahli yang bergerak dalam bidang etika menyebutkan dengan moral. berasal dari bahasa Yunani. etika merupakan filsafat tentang perilaku manusia.

2. Terwujudnya kondisi mental-moral dan spritual religius menjadi target arah pengembangan sistem pendidikan keluarga Islam. mandiri dan kreatif. Ini berarti pendidikan keluarga diorientasikan pada upaya menciptakan suatu kepribadian yang mantap dan dinamis. bentuk dsb. Estetika dan Pendidikan Estetika merupakan nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman kita yang berhubungan dengan seni. sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih untuk mempertahankan kebenaran. pola. yakni dengan menggunakan pendekatan etik-moral. dengan tetap memperhatikan dan memperlakukan anggota keluarga sesuai dengan potensi dasar yang dimiliki serta latar belakang sosio budaya masing-masing. Hasilhasil ciptaan seni didasarkan atas prinsip-prinsip yang dapat dikelompokkan sebagai rekayasa.Filsafat Pendidikan Keluarga Islam dan Etika Pendidikan Antara ilmu (pendidikan) dan etika memiliki hubungan erat. diperlukan keberanian moral. dimana setiap persoalan keluarga coba dilihat dari perspektif yang mengikut sertakan kepentingan masing-masing pihak anggota keluarga. Oleh sebab itu -berdasarkan pada pendekatan etik moral. Tidak hanya pada anak. 15 . melainkan pada seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan keluarga. Sangat sulit membayangkan perkembangan iptek tanpa adanya kendali dari nilai-nilai etika agama.pendidikan keluarga harus berbentuk proses pengarahan perkembangan kehidupan dan keberagamaan pada seluruh anggota keluarga ke arah idealitas kehidupan Islami. Masalah moral tidak bisa dilepaskan dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran. Untuk itulah kemudian ada rumusan pendekatan konseptual yang dapat dipergunakan sebagai jalan pemecahannya.

3. Seni sebagai ekspresi yang sebenarnya tentang pengalaman. berseni (sesuai dengan Islam). akan tetapi terjadi proses pembelajaran bersama sebagai wujud kesadaran kosmopolis manusia terhadap alam. Namun. dimana setiap persoalan keluarga coba dilihat dari perspektif yang mengikutsertakan kepentingan masing-masing pihak anggota keluarga. Kendatipun ada kekuatan dominasi karena otoritas kepemimpinan laki-laki (suami) dalam rumah tangga. Seni sebagai alat kesenangan. Di rumah tak sekadar terjadi transformasi pengetahuan secara sepihak dan searah dari suami kepada isteri dan anak-anak. maka dalam pendidikan keluarga hendaklah nilai estetika menjadi patokan penting dalam proses pengembagan pendidikan yakni dengan menggunakan pendekatan estetis-moral. tetapi tidak boleh mengarah kepada prosesi pendidikan yang melakukan praktik dehumanisasi. lebih jauh dari itu. Seni sebagai penembusan terhadap realitas. selain pengalaman. Dalam wacana pendidikan keluarga. Ini berarti pendidikan keluarga diorientasikan pada upaya menciptakan suatu kepribadian yang kreatif. 2.Filsafat Pendidikan Keluarga Islam dan Estetika Pendidikan Adapun yang mendasari hubungan antara filsafat pendidikan keluarga Islam dan estetika pendidikan adalah lebih menitik beratkan kepada “predikat” keindahan yang diberikan pada hasil seni. karena akan memudahkan untuk 16 . Dalam pendidikan keluarga sebagaimana diungkapkan oleh Randall dan Buchler mengemukakan ada tiga interpretasi tentang hakikat seni: 1. yang terjadi haruslah sebuah pemberdayaan yang aktif. dimana segala aspek potensi kemanusiaan harus terberdayakan. Model Pendidikan Keluarga Pendidikan dalam keluarga yang baik adalah yang bersifat integratif. Model interaksi yang dibangun dalam keluarga sangat menentukan model pendidikan yang terjadi di dalamnya. Keluarga hendaknya memiliki hubungan yang akrab dan intim satu dengan yang lain.

Komitmen iman yang tertanam pada diri setiap anggota keluarga akan memungkinkannya mengembangkan potensi fitrah dan beragam bakat. Seorang pejabat akan menunaikan amanah dengan benar. pendidikan moral. Akan tetapi model yang dipilih tentu yang akan membawa anggota keluarga menuju nilai kebaikan optimal mereka. Akan tetapi keintiman hubungan saja tidak cukup. Setiap orang merasa dirinya berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan. pendidikan emosi (psikis). yaitu pendidikan iman. tidak menyalahgunakan wewenang walaupun ada banyak kesempatan ditemui. pertimbangan waktu dan kondisi. diperlukan juga perangkat lainnya berupa metoda. Tuhan Yang Maha Membalas perbuatan manusia. karena merasa diawasi oleh Tuhan. Yang dimaksud dengan keimanan adalah keyakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Ada delapan sisi yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan integratif dalam keluarga. Nilai-nilai keimanan harus dijadikan perhatian utama dalam membentuk imunitas keluarga dalam menghadapi arus globalisasi. perlu mendapat perhatian dalam keluarga. Tuhan Yang Maha Adil dalam memberikan hukuman dan pembalasan. Seorang ayah akan bekerja dengan benar untuk menghidupi keluarganya karena merasa diawasi oleh Tuhan Yang Maha Melihat. Tuhan Yang Maha Mengetahui segala apa yang tampak dan tersembunyi. a) Pendidikan Iman Pendidikan iman merupakan pondasi yang kokoh bagi seluruh bagianbagian pendidikan.proses penyerapan nilai-nilai. pendidikan sosial. Penanaman nilai-nilai 17 . Pendidikan iman ini yang akan membentuk kecerdasan spiritual. pendidikan intelektual. dan pendidikan politik. pendidikan seksual. Perasaan bertuhan menjadi sebuah landasan imunitas bagi semua manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Segala sisi yang memungkinkan hasil pendidikan menjadi lebih baik. Tuhan Yang Maha Melihat perbuatan manusia. Inilah hakikat iman yang paling fundamental. Bukan model pendidikan yang akan mematikan potensi dan memandulkan bakat mereka. pendidikan fisik.

Setiap agama memiliki doktrin moral. Pada saat masyarakat mengalami proses degradasi moral. agar kehidupan yang terbangun dapat berada dalam jalan yang benar. Keluarga dibiasakan dan dilatih untuk mentaati hukum dan aturan dari Tuhan. Pendidikan dalam keluarga juga tidak cukup sebatas upaya preventif terhadap munculnya ketidakbaikan. keimanan juga membentuk pemikiran dan cara pandang yang khas. Pada hakekatnya moral adalah ukuranukuran nilai yang telah diterima oleh suatu komunitas. setelah memiliki landasan kokoh berupa iman. b) Pendidikan Moral Pendidikan moral akan menjadi bingkai kehidupan manusia. Pendidikan moral sangat penting membiasakan kebiasaan yang baik dalam hubungan antara 18 . setiap budaya masyarakat juga memiliki standar nilai moral. Sebagai manusia beragama.keimanan dalam keluarga merupakan pengamalan Pancasila khususnya sila pertama. semestinya dituntut memandang segala sesuatu dengan cara pandang yang bertuhan. Pragmatisme dan perbuatan fatalistik yang banyak dilakukan masyarakat saat menghadapi kesulitan hidup. merupakan contoh pemikiran dan cara pandang yang mengabaikan ketuhanan. keluarga maupun masyarakat dan bangsa. yang apabila itu diaplikasikan akan menyebabkan munculnya kecerdasan moral pada indiviudu. patokan-patokan atau kumpulan peraturan baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. yaitu manusia dalam memandang segala sesuatu dengan perspektif ketuhanan. Eksplorasi optimal terhadap potensi-potensi kebaikan harus dimunculkan secara seimbang dalam keluarga. Apabila iman sudah tertanam dengan kuat. Semua hukum dan aturan yang diberikan oleh Tuhan untuk manusia adalah untuk kebaikan kehidupan manusia dan menghindarkan manusia dari kerusakan. Moral berupa ajaran-ajaran atau wejangan. maka penguatan moralitas melalui pendidikan keluarga menjadi semakin signifikan kemanfaatannya. akan melahirkan pula kepatuhan manusia terhadap hukum dan aturan yang datang dari Tuhan. Lebih jauh lagi.

empati dan keterampilan sosial. digugurkan oleh munculnya konsep atau paradigma kecerdasan lain yang ikut menentukan terhadap kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Misalnya ajaran agar berlaku baik kepada tetangga. sedangkan aspek moral lebih bernuansa membangun kesadaran bertindak. kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi. orang-orang yang hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi. c) Pendidikan Emosi Pendidikan emosi (psikis) membentuk berbagai karakter positif kejiwaan. tidak mudah percaya kepada orang lain. lebih bercorak ajaran moral daripada hukum. Menurut Goleman. paradigma lama tentang anggapan bahwa IQ (Intelligence/Intelectual Quotient) sebagai satusatunya tolok ukur kecerdasan. Memasuki abad 21. menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri. cenderung menarik diri. motivasi diri. karena cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala. pengendalian diri. namun juga oleh faktor etika moral atau akhlak. kelembutan. mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan. dan seterusnya. Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya. Kalau hukum mengatur dengan sangat detail tentang ketentuan pelaksanaan dan pelanggaran. seperti keberanian. tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami stress. terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. kejujuran. terlalu kritis. sulit bergaul. sikap optimistik. rewel. Karakter ini akan menjadi daya dorong manusia melakukan hal-hal terbaik bagi urusan dunia dan akhiratnya. kemandirian. dan antara manusia dengan alam dan lingkungannya. Menurut Goleman. maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. 19 . Karena perbuatan baik manusia tidak hanya diatur dan digerakkan oleh faktor hukum. mudah frustrasi. yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan dan kesuksesan kinerja Sumber Daya Manusia.manusia dengan manusia yang lainnya.

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu. ataupun gerakan unjuk rasa mahasiswa yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan. maupun dengan kegiatan olah raga yang teratur. serta meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. e) Pendidikan Intelektual Perilaku anarkistis di sekitar kita tampak marak yang ditandai dengan amuk massa. sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: men sana in corporesano. d) Pendidikan Fisik Pendidikan fisik atau pendidikan jasmani tak kalah penting untuk mendapat perhatian. pola istirahat. pola kegiatan. bugar dan kuat. Di antara tujuan pendidikan fisik adalah mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang tepat. dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat. Di antara metoda pendidikan fisik dalam keluarga adalah pembiasaan pola hidup sehat. memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan”.Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut emotional quotient (EQ) sebagai “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain. termasuk kekuatan fisik agar tubuh menjadi sehat. baik dari segi pola makan.” Artinya. tingkah suporter sepak bola sampai tawuran antarsiswa dan mahasiswa. baik dalam hal fisik. Robert Gensemer mengistilahkan pendidikan jasmani sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa. mental. Emosi massa seakan mudah tersulut. serta emosional. Keluarga harus menampakkan berbagai kekuatan. Keluarga adalah lembaga pertama dalam mengembangkan pendidikan fisik ini bagi seluruh anggota keluarga. akal sehat seakan hilang dalam 20 .

f) Pendidikan Sosial Pendidikan sosial bermaksud menumbuhkan kepribadian sosial anggota keluarga. selain sekolah yang tentu sangat berperan dalam proses pematangan intelektual. melakukan pertimbangan-pertimbangan yang logis. diperlukan pula penggunaan metode pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran dapat terintegrasi dengan baik. Selain itu. Dengan demikian. agar mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dan menebarkan 21 . Menciptakan kematangan intelektual adalah tugas keluarga dengan lingkungan yang kondusif. sistematis. Tak terkecuali berlaku bagi kelompok masyarakat elite dan berpendidikan. Kita membutuhkan pendidikan yang mampu memoles nalar sehat masyarakat kita. dan efisien. moral. baik intelektual maupun emosional. Jadi. artinya kematangan. dapat menerima kritikan orang lain. dan mampu menguasai gramatikal bahasa. selain sisi iman. seorang intelektual mampu melahirkan gagasan-gagasan baru. kematangan intelektual dinilai dari seberapa jauh seseorang menggunakan intelegensinya. Ranah intelektual harus menjadi perhatian dalam proses pendidikan integratif dalam keluarga. calon mahasiswa perguruan tinggi di Jerman dituntut telah mencapai hochschulreife. sedangkan bahasa sebagai sarana bertutur dan menulis. Selain itu. Pendidikan dalam keluarga berorientasi pada kematangan intelektual. Menurut AS. agar anggota keluarga memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai kondisi dalam kehidupan dengan nalar yang sehat dan matang. Secara konseptual. “intellectual is having or showing good reasoning power”. agar dapat menempuh studi akademis. kematangan intelektual dapat dibentuk terutama lewat matematika dan bahasa. maupun emosional. Hornby. Matematika dapat memberikan cara bernalar logis dan kritis. Jika belajar dari negara Jerman.budaya kita yang dulu terkenal santun. bukan dari tingkat perkembangan mentalnya. seseorang yang mempunyai kematangan intelektual adalah orang yang mampu menghadapi segala persoalan dengan nalar logika.

karena telah meminimalisir interaksi sosial. tidak banyak keluar rumah. Padahal keasyikan semacam itu membuatnya kehilangan kecerdasan sosial yang sangat diperlukan dalam kehidupan. Namun. anak yang disibukkan dengan dunianya sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sering menyebabkan dehumanisasi. handphone. Kecerdasan intelektual memang sangat penting untuk terus dikembangkan.kontribusi positif bagi upaya perbaikan masyarakat. asyik dengan kecanggihan teknologi. baik itu playstation. Anak mengurung diri di rumah atau kamar. kecerdasan yang tidak kalah pentingnya adalah kecerdasan sosial. atau benda teknologi lainnya. sehingga orang tua merasa tidak khawatir anaknya akan terkena pengaruh buruk dari pergaulan di luar rumah. komputer. Pendidikan sosial memunculkan solidaritas sosial yang pada gilirannya akan mengoptimalkan peran sosial seluruh anggota keluarga. 22 . Banyak kenyataan dalam kehidupan keseharian.

Apabila salah dalam pendidikan awalnya. Seluruh anggota keluarga harus mendapatkan sentuhan pendidikan untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi potensi. Misalnya tersedianya air minum yang sehat. ventilasi udara berjalan 23 . Demikian juga halnya dengan pendidikan dan penerapan nilai-nilai yang berkaitan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja perlu kita tanamkan sejak dini dalam keluarga. sehingga hal ini akan menjadi suatu kebiasaan bagi para anggota keluarga untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. peralatan dan kondisi yang mendukung terciptanya kesehatan yang setinggi-tingginya. pencahayaan rumah yang cukup. bahwa di antara fungsi besar dalam sebuah keluarga adalah fungsi edukatif atau pendidikan.BAB V BUDAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DALAM KELUARGA Seperti dijelaskan di atas. Selain itu tidak dapat diragukan lagi bahwa salah satu pentingnya pendidikan dalam keluarga adalah bahwa pendidikan ini nantinya akan menjadi pondasi untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia. pendidikan sejak dini tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam keluarga dapat menjadi investasi bagi masa depannya. bahkan sampai pada saatnya nanti harus bekerja dalam suatu lingkungan pekerjaan. perabot dapur yang bersih. pengembangan kepribadian. peningkatan kapasitas diri menuju batas-batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan. Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada keluarga perlu memperhatikan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan rumah. Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula. Hygiene dan sanitasi lingkungan rumah akan meningkatkan status kesehatan fisik dan psikis para penghuni rumah. Hygiene dan sanitasi lingkungan rumah sangat dipengaruhi oleh perilaku para penghuni rumah. Hygiene rumah tangga menekankan pada tersedianya unsur. Dengan kata lain. peluang untuk terjadi berbagai distorsi pada diri anak akan lebih tinggi.

disinilah peran kedua orang tua. Sebagaimana dalam sebuah perusahaan. tidak membiarkan kondisi lantai yang licin. 24 . lantai yang bersih dan tidak licin. pemisahan sampah dan membuang sampah pada tempatnya. cara memasak yang sehat. dan lain-lain. Sanitasi lingkungan rumah berkaitan erat dengan upaya nyata dari penghuni rumah dalam bentuk perilaku hidup yang sehat di lingkungan rumah. beliau segera mematikannya dan membuangnya ke tempat sampah. Upaya hygiene rumah tangga saling berhubungan secara serasi dan seimbang dengan sanitasi lingkungan rumah. Salah satu proses pendidikan atau pengajaran yang cepat adalah dengan memberikan contoh langsung kepada anggota keluarga tentang hal-hal yang harus dan tidak seharusnya dilakukan. Hal ini tentu saja akan memberi motivasi tersendiri bagi para pekerja yang melihatnya. tidak memberikan HP pada anak secara bebas.lancar. tidak menidurkan anak di depan TV yang sedang hidup. bahwa merekapun harus melakukan hal yang serupa. sehingga akan dapat meningkatkan kinerja atau performance dari segala aspek. Suami saya pernah menceritakan suatu kejadian. menjalankan nilai-nilai Kesehatan dan Keselamatan Kerja sejak dini dan dari hal terkecil di lingkungan kerja. Perilaku-perilaku tersebut di atas harus dibiasakan dalam rumah tangga dan orangtua yaitu bapak dan ibu harus secara sadar memberikan contoh yang benar kepada anggota keluarganya. atasanlah yang harus memberikan contoh kepada para pekerjanya. penghematan energi air dan listrik. Misal perilaku membuang sampah. perilaku menjaga kebersihan rumah dan pekarangan sekitar rumah. tidak membuang pembalut wanita ke WC. pembuatan apotek hidup dan upaya penghijauan di sekitar rumah. bahwa ada seorang atasannya ketika melihat sebuah puntung rokok yang masih menyala di lingkungan kerjanya. kamar tidur yang tidak gelap dan lembab dan lain-lain. Contohnya: tidak meninggalkan atau menggantung baju kotor di kamar atau di kamar mandi.

3. seperti termaktub dalam Q. yaitu pendidikan iman. Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada keluarga perlu memperhatikan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan rumah yang kemudian akan dapat meningkatkan status kesehatan fisik dan psikis para penghuni rumah. 2. maka peluang unuk terjadi berbagai distorsi pada diri anak akan lebih tinggi. Pendidikan dan penerapan nilai-nilai yang berkaitan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja perlu kita tanamkan sejak dini dalam keluarga. pendidikan seksual. pendidikan emosi (psikis). Secara umum. dan pembinaan jiwa sosial anak. Fungsi edukatif dalam keluarga adalah hal yang sangat penting guna mengantarkan seluruh anggota keluarga menuju optimalisasi potensi.BAB VI KESIMPULAN 1. apabila salah dalam pendidikan awalnya. Ada delapan sisi yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan integratif dalam keluarga. Dalam Filsafat Islam. anak adalah amanah Allah yang wajib dipertanggungjawabkan. pembinaan dalam keluarga adalah berupa pembinaan jiwa orang tua. sehingga akan menjadi suatu kebiasaan bagi para anggota keluarga untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 4. Hygiene dan sanitasi 25 . peningkatan kapasitas diri menuju batas-batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan. pendidikan fisik. pendidikan sosial.S Al-Lukman : 12-19. pendidikan intelektual. pendidikan moral. pembinaan tauhid anak. inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anggota keluarga. pengembangan kepribadian. Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula. dan pendidikan politik. pembinaan akidah anak. Pendidikan dalam keluarga yang baik adalah yang bersifat integratif. dimana segala aspek potensi kemanusiaan harus diberdayakan.

lingkungan rumah sangat dipengaruhi oleh perilaku para penghuni rumah. Hygiene rumah tangga menekankan pada tersedianya unsur. Sedangkan Sanitasi lingkungan rumah berkaitan erat dengan upaya nyata dari penghuni rumah dalam bentuk perilaku hidup yang sehat di lingkungan rumah. 26 . peralatan dan kondisi yang mendukung terciptanya kesehatan yang setinggi-tingginya.

Permasalahan. 2. Pendidikan dan Pembelajaran (Teori. Takariawan.DAFTAR PUSTAKA 1. (http://fadlibae. Cahyadi. 2010. Landasan Filsafat dalam Pendidikan. 2005. Wordpress.com/2010/03/24/landasan-filsafat-dalampendidikan/. Malang : UMM Press. Pendidikan Dimulai dari Keluarga.com.wordpress. dan Praktek). diakses tanggal 28 Oktober 2011). Soetopo. Fadly. Hendyat. 2011.__________ 27 . 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->