Kompilasi Permasalahan

Direktorat Perjanjian Ekonomi Sosial dan Budaya
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri 2008

TOR DEPLU MENGENAI STUDI TENTANG SISTEM HUKUM SUATU NEGARA TERKAIT DENGAN PROSES PENGESAHAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL SERTA PENGOLAHAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL OLEH SUATU NEGARA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
* TOR ini dilengkapi dengan “Diskusi Professor Ko Swan Sik dengan Bapak Damos Dumoli Agusman berkaitan dengan TOR DEPLU mengenai Studi Tentang Sistem Hukum Suatu Negara Terkait dengan Proses Pengesahan dan Pemberlakuan Perjanjian Internasional serta Pengolahan Naskah Perjanjian Internasional oleh suatu Negara dan Organisasi Internasional”

Permasalahan yang lahir dari Praktek Negara RI tentang Internasional yang perlu mendapatkan penjelasan akademis:

Perjanjian

1. Dalam kaitannya dengan hubungan perjanjian internasional dengan hukum nasional, apakah Indonesia menganut faham monisme atau dualisme? 2. Apakah perjanjian internasional perlu di definisi ulang sehingga mencakup semua perjanjian yang bersifat transnasional? 3. 4. Apakah loan agreements adalah perjanjian internasional? Apakah nomenclauture membedakan bobot juridis suatu perjanjian internasional?

5. Apakah lembaga negara di luar eksekutif (MA, BPK, DPR) dapat membuat perjanjian internasional? 6. Apakah Sekjen ASEAN dapat membuat perjanjian dengan negara ketiga atas nama angota ASEAN?

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM DINAMIKA GLOBAL 1. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi, mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Sekalipun Literarur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten, namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Perkembangan antar bangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan dan intensitas pembuatan perjanjian internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya.

2.

3.

Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur dalam Pasal 11 UUD 1945, yang kemudian diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional oleh Pemerintah RI. Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional.

4.

PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME? 5. Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukum nasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme, dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjian internasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untuk mengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan. Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikan dasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.

Komentar Prof. Swan Sik:

Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasional Indonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari sudut tata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2 sebagai berikut: (a) HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungan sistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluar dan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan ini berkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN (transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalam lingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagai HN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukan hubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori) (b) HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagai keseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“diinkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun dengan mempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untuk diterapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.

Beberapa ahli berpandangan bahwa sebaiknya ketiga jurusan itu bisa dipakai dengan menggunakan parameter kepentingan nasional secara kasus per kasus. yang satu mengecualikan UUD dari pengutamaan HI. atau dgn jalan undang-undang. diatas dapat ditentukan secara berbeda-beda. Ada HN yang menentukan pilihan tsb. sehingga dapat diharapkan ada keputusan2 hakim yang mengutarakan pendapatnya tentang ada (tidak)-nya “pengecualian2” demikian. dan yang lain bahkan menempatkan UUD pun dibawah HI. tapi apa yang HN pilih yang akan menentukan jurusan”. maupun di hukum PI yang berlaku untuk Indonesia. Artinya. They deny the theory but their thinking reflect the theory. Sayang sukar untuk diketahui praktek hakim karena masih belum adanya kebijakan pengumuman luas keputusan2 hakim (selain dari pemberitaan2 wartawan disurat kabar). Pilihan antara ketiga kemungkinan tsb. Petunjuk paling jelas sebenarnya dapat dilihat dalam praktik peradilan (“yurisprudensi” dalam arti-kata umum). Staatsblad 1847:23) yang berbunyi: “Wewenang hakim dan daya pelaksanaan keputusan hakim dan akta otentik dibatasi oleh pengecualian2 hukum internasional. Saya sendiri berpendapat bahwa ”bukan jurusan yang menentukan apa yang HN pilih.(c) HI dianggap tidak hanya ter-inkorporasi dalam lingkungan HN. atau pemerintah pusat) Disamping itu ada kemungkinan diadakannya perbedaan antara HI tertulis (perjanjian internasional) dan HI tak tertulis (hukum kebiasaan) dalam penerapan pilihan sistem. seperti pasal 22a “Ketentuan2 umum perundang-undangan” (Algemene bepalingen van wetgeving. jika kepentingan nasonal (national interest) menuntut. terdapat suatu pertanyaan critical. yaitu ”apakah suatu negara mutlak memilih salah satu jurusan tersebut”. Dalam jurusan ini terdapat dua variasi. para ahli Indonesia menolak menggunakan teori monisme-dualisme dalam menjelaskan hubungan HI dan HN namun tanpa sengaja pandangan mereka tentang hubungan ini selalu dilatarbelakangi oleh salah satu aliran ini. Sikap tata hukum Indonesia (HN) terhadap berlakunya HI dalam lingkungan HN sebagai keseluruhan belum jelas. maka ketiga jurusan itu bisa dipakai secara bergantian. Jika HN telah menetapkan status hubungan ini maka warna jurusan akan terlihat dan teridentifikasi. sehingga mendahului HN yang berlawanan dengannya. Kesulitan yang saya hadapi adalah. baik yang bersumber di hukum kebiasaan. HN Indonesia tidak perlu terjebak dengan berbagai jurusan tsb namun tetap diperlukan adanya sikap (”legal provisions”) dalam HN Indonesia yang menentukan apa status HI dalam HN (hubungan HI dan HN). di Konstitusinya.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dari hasil diskusi dengan para ahli hukum Indonesia. atau melalui tundakan2 berdasarkan otoritas pejabat hukum (misalnya hakim. . Bahkan dari zaman kolonial masih ada ketentuan yang berdasarkan peraturan2 peralihan masih berlaku. Dalam konteks ini mereka tidak menginginkan HN Indonesia memilih jurusan dan membiarkan ketiganya applicable dalam setiap kasus.” Berdasarkan ketentuan ini hakim wajib menguji wewenangnya terhadap HI. bahkan diakui sebagai hukum yang bertingkat lebih tinggi.

yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut.Saya sendiri keberatan jika parameter kepentingan nasional selalu dipakai untuk menentukan pemilihan jurusan karena akan menciptakan ketidakpastian hukum dan prinsip predictability yang menjadi fundasi suatu sistem hukum. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasanaliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Indikasi kearah monisme misalnya tercermin dari: . Perundang2an bersangkutan mungkin “mengatur lebih lanjut” (ToR dengan tepat menggunakan istilah “implementasi”). terhadap suatu negara) diperlukan seperangkat tindakan pejabat hukum HN (ratifikasi) yang dalam hal ini bertindak baik dalam fungsi HN maupun fungsi HI. apakah dilakukan secara “silent”? (tanpa memerlukan penetapan oleh HN?) *** 6. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. dapat saya simpulkan bahwa pandangan mereka terhadap hubungan HI dan HN mengarah pada memilih salah satu jurusan teori. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. dan belum terlihat adanya pandangan yang diluar dari ketiga jurusan tsb. Apakah tindakan2 tersebut juga berakibat PI bersangkutan berlaku dalam lingkungan HN (lihat catatan diatas) adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh HN. Pertanyaan saya: dapatkan suatu negara memilih ketiga jurusan tersebut? Jika dapat. tidak per se merupakan bukti bahwa RI menganut dualisme. Dari pandangan para ahli hukum Indonesia. Praktek Indonesia justru tidak konsisten dalam masalah ini. Adanya perundangundangan yang mengatur hal2 sama dengan apa yang telah diatur pula dalam suatu PI yang berlaku untuk RI. Swan Sik: Syarat keberlakuan PI untuk lingkungan HN ditetapkan oleh HI (ada tidaknya PI yang relevan untuk RI) dan HN (ketentuan status PI tsb.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Memang tidak terdapat indikasi tegas apa yang dianut oleh Indonesia dalam masalah hubungan HI dan H. dalam bentuk tegas ataupun sebagai hasil penafsiran (contoh: oleh hakim). dalam lingkungan HN). Agar PI mengikat suatu negara (berlaku. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. dari sudut HI. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional.

J. should sebagai UU yang mentransformasikan UNCLOS 1982. Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1. yang diatur Perjanjian Internasional adalah: setiap perjanjian diTanah Kedubes Saudi Arabia: Fatwa MA oleh Langsung Merujuk Padadan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. maka terdapat beberapa kriteria kebiasaan internasional secara oleh universal” suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan UU Nomor 24 Tahun tentang Perjanjian Internasional. UU No. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”treaty room”. 5. Klausula yang dimuat dalam suatu UU yang meratifikasi suatu Perjanjian Internasional (dan oleh organisasi internasional) adalah:PI selalu memuat kalimat: asli (PI) Inggris “An ”Salinan naskahAgreementdalam bahasa between dan terjemahannya dalam bahasa International concluded States and International Indonesia sebagaimana and governed by international Law. praktek Indonesia juga mengindikasikan dualisme misalnya dalam praktek penerapan UNCLOS 1982. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai Perjanjian Internasional dan bahkan diratifikasi melalui UU Nomor 1 Tahun 1963. PASAL 22A AB: KEKUASAAN HAKIM DIBATASI OLEH PENGECUALIAN-PENGECUALIAN  “governed by international law”((diatur dalam hukum internasional serta OLEH HI menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik)  whatever form. 8) 9) . Judicial review MK tentang UU No. Sebelum lahirnya UU ini. 17/1985adalah meratifikasi by international tidak mencabut UU Perpu 4/1960 perdebatan akademis. Namun dilain pihak. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. 6/1996. organisasi hukum internasional. Bagaimana mengidentifikasi bahwa UU No.Penjelasan Pasal 13 UU No. Kelompok ini masih menganggap perlu adanya 11. di bidang hukum perdata. Menurut kelompok ini UU/Perpres ini Pakar hukum D.6/1996 sendiri dapat b. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan UU/Perpres yang internasional yang PI dimaksud. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional tidak luput dari kerancuan ini. Praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya UU No. whether embodied Organizations in written formterlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari in a Undang-Undang ini. UU NO 39/1999 tentang HAM: Ketentuan hukum internasional yang telah diterima yaitu: negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum  an International Agreement nasional.” 7) Perjanjian Internasional berdasarkan Konvensi Wina 1969 (dan 1986) tentang Hukum 2. Dalam rangka dualisme. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merujuk langsung pada “praktek dan dasar yang harus dipenuhi Dari pengertian hukum ini. Pandangan dualisme ini is governed by international oleh Kelompok ahli hukum perundangcreate legal relations tampaknya juga didukung law? undangan Indonesia yang menolak untuk mengkategorikan UU/Perpres yang meratifikasi utatu PI sebagai Harris perundang-undangan. 1/1982 dimaksud dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yangdalam prakteknya dapat diterapkan langsung tanpa ada UU tentang Diplomatik/Konsuler. Kasus Sengketa bidang hukum publik. bahwa perjanjian mentransformasikan menjadi lingkup UU ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang diatur dalam hukum Jurisprudensi Indonesia sendiri hak dan kewajiban sehingga hukum publik dan bukan internasional serta menimbulkanbelum berkembang di bidang belum memberikan kontribusi untuk pengembangan doktrin hubungan HI dan HN. UU ini baru dicabut oleh UU No. or in two or more related instruments and whatever its single instrument particular designation” 3. hanya jubah untuk menyatakan persetujuan DPR/Presiden dan bukan merupakan UU/Perpres dalam pengertian perundang-undangan. 17/1985 tidak dianggap bertentangan dengan UU Perpu a. Perjanjian yang dibuat dengan NGO juga dianggap sebagai Perjanjian internasional. Konvensi Wina 1961 internasional. Dalam hal ini. UU No. the intention of the Parties? 4/1960 karena karakter dualisme. 12. produksendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. Apakah dari: law” juga masih menimbulkan tentang Perairan Indonesia. atau subjek hukum internasional lain. the Subject-Matter of the agreement? dianggap there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to c. 4. 24/2000 tentang PI: ”Penempatan peraturan perundangundangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan THEY? TREATIES: WHAT AREagar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia.  by Subject of International Law  in Written Form 6. suatu dokumen yang ”governed UNCLOS 1982 10.

.

Pertanyaan yang kita hadapi yalah apakah pilihan demikian masih mungkin bagi RI. Tercantumnya judul ini boleh jadi oleh karena pembuat UU secara prinsip tidak sudi memperbolehkan perjanjian pinjaman/hibah antarnegara/organisasi internasional diperlakukan sebagai perjanjian yang dikuasai suatu HN. perumus UU No.13. sehingga menganggap semua perjanjian baik perdata maupun public adalah treaty dalam pengertian . perlu disetujui UU. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. antar negara maupun antar perusasahaan multinasional. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apakah perjanjian internasional perlu didefinisikan kembali. 24/2000 pada waktu itu tidak dibekali oleh pemahaman tentang definisi perjanjian internasional. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. Kalangan publik Indonesia telah menggunakan istilah perjanjian internasional secara popular yang mencakup seluruh perjanjian yang bersifat lintas negara baik publilk maupun perdata (kontrak internasional). 14. Sebaliknya tercantumnya judul tersebut juga boleh jadi melulu disebabkan kehendak pembuat UU 24/2000 bahwa perjanjian pinjaman/hibah. karena materinya. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. pilihan para fihak (negara atau organisasi internasional) tentang penempatan (G-to-G) loan agreement mereka dilingkungan HI atau HN adalah pilihan politik (kebutuhan dan kepentingan) dan tidak merupakan persoalan teoretis juridis. Swan Sik: Dilihat dari sudut umum. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. dilingkungan HN atau HI (lihat juga catatan atas ayat 16). Tafsiran terakhir ini lebih2 masuk akal apabila ternyata praktek Indonesia setelah diundangkannya UU 24/2000 masih tetap kadang2 memuat klausula tentang “governing law” (lihat ToR ayat 24)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dilihat dari historis pembuatan UU No 24/2000. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasan aliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. dengan adanya UU 24/2000 pasal 10 judul (f). Dalam hal ini persetujuan dengan UU itu dapat saja ditafsirkan lepas dari hal penempatan perjanjian tsb.

24/2000 tetapi untuk kelompok kedua tidak perlu diberlakukan. pilihan hukum tentang loan agreements tetap menjadi persoalan juridis teoritis karena “theoretically” loan agreement bukan merupakan domain dari hukum internasional. 16. 24/2000 selalu dianggap sebagai treaty sekalipun governed by HN. ILC sendiri dalam drafting Vieanna Convnetion 1969 menempatkan loan agreements sebagai “subject to a national law”.Konvensi Wina 1969. yaitu governed by international law dan governed by national law. Pertanyaan critical adalah apakah norma HI sudah cukup “adequate” dan available untuk mengatur tentang loan agreements. b. Deplu mengusulkan agar dalam RUU ini dibedakan antara kedua jenis perjanjian ini sehingga dapat diketahui rejim UU apa yang akan diberlakukan. Saat ini terjadi perdebatan yang sangat intensif antara Deplu dengan Depkeu/Bapenas tentang status loan agreements dalam RUU tentang Pinjaman/Hibah. Untuk itu sejak tahun 2006. Praktek negara (termasuk IBRD) yang cenderung menggunakan HI sebagai governing law adalah karena konstelasi politik internasional dewasa ini beranggapan “governed by international law” lebih secured dari pada “governed by a national law”. their terms. perjanjian perdata internasional biasa yang governed by other than international law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan UU tersebut. dalam rangka pembuatan RUU tentang Pinjaman/Hibah telah diupayakan untuk membedakan perjanjian pinjaman menjadi dua jenis. misalnya penetapan loan interest. Untuk kelompok pertama diterapkan UU No. Mereka enggan menggunakan pengadilan nasional dan HN untuk penyelesaian conflict. Menurut saya. Sehingga loan agreement pada waktu itu oleh perumus UU No. perjanjian internasional publik governed by international law seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata. Dalam praktek. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. Akibatnya. yaitu: a. *** 15. Dalam konteks pemahaman yang keliru inilah loan agreements dirumuskan dalam UU No. maka berdasarkan UU No. . 24/2000. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang mendindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. Akibatnya. Sehingga mereka menggunakan “treaty” dari pada “contract”. hal ini tidak dapat dipertahankan karena acapkali muncul loan agreements yang governed by HN namun “dipaksakan” untuk dikategorikan sebagai PI berdasarkan UU No. 24/2000 tidak lagi diberi ruang bagi adanya loan agreement governed by HN. 24/2000.

Dalam pembahasan RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. yang tentunya membutuhkan ratifikasi sebelum pemberlakuannya. 19. 18. perjanjian pinjaman (loan agreements) adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional.17. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional jelas mengkategorikan perjanjian pinjaman sebagai perjanjian per definisi UU ini yaitu perjanjian governed by international law. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan akademis tentang apakah persetujuan DPR dalam kontek UU APBN identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan UU (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional?. Seperti diketahui bahwa UU tentang APBN bukanlah UU untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan UU untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman.  Komentar Prof. 21. UU Nomor 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam Pasal 23 (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. Pasal 16 PP Nomor 2 Tahun 2006 menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. Swan Sik: . ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Selain itu. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut Pasal 10 (f) UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan UU dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam UU tersendiri. Dalam kaitan ini. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya UU APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Dalam praktek Indonesia. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. apakah lembaga ratifikasi seperti yang dikenal dalam hukum tatanegara telah mengalami pergeseran makna? 20. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Konsekuensinya. Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun PP Nomor 2 Tahun 2006 (bahkan dalam RUU Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa.

Jika loan agreement itu tidak treaty (governing law adalah HN) maka UU 24/2000 tidak apply. SHOULD THEY BE DISTINGUISHED? 22. content perjanjian merupakan tolok ukur ketimbang namanya.  Komentar Damos Dumoli Melihat kompleksitas masalah ini maka sampai saat ini DPR belum memberikan posisi apa pun tentang hal ini. . Apakah ini dapat dianggap telah memenuhi syarat tersebut dipasal 23(1) UU 17/2003 dan pasal 10 UU 24/2000 merupakan soal penafsiran yang dapat dijawab oleh praktek hubungan pemerintah-DPR. walaupun tanpa perincian sumber pinjaman demikian.  Komentar Prof. Pertanyaan saya adalah apakah persetujuan DPR (in advance) identik dengan ratifikasi? Mengingat karakter ratifikasi adalah “confirming the act that already taken by the executive” maka persetujuan in advance bukan ratifikasi. Dalam hal ini. UU 24/2000 tidak mengatur persetujuan in advance karena tidak dikenal dalam hukum perjanjian internasional. artinya PP 2/2006 can apply.  Komentar Prof. Secara tradisional bentuk dan nama perjanjian (nomenclature) tidak relevan untuk dibedakan karena apa pun namanya tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang di dalam suatu perjanjian internasional. Swan Sik: Salah satu hal yang masih tetap tanpa ketegasan yalah konsekwensi bermacam. maka DEPLU telah memberikan penafsiran bahwa loan agreement menurut UU 24/2000 adalah “treaty”. Sebaiknya pemerintah mencari ketegasan dengan jalan memancing pernyataan azas dari fihak DPR. Treaty dan Agreement akan dianggap lebih mengikat ketimbang MOU. dan dengan demikian pasal 16 PP 2/2006 bertentangan dengan UU. dunia diplomasi cenderung memberikan bobot yang berbeda untuk setiap nomenclature. Swan Sik: Cara persetujuan DPR seperti yang disebut di ayat 18 diatas pada hakekatnya merupakan persetujuan terlebih dahulu (in advance) atau “pemberian wewenang” untuk mengadakan pinjaman sampai batas tertentu.Menurut tafsiran yang manapun.macam sebutan yang dipakai dalam praktek untuk perjanjian2 antar-negara/organisasi internasional. Namun demikian. NOMENCLATURE. dengan (dan selama) adanya UU 24/2000 pemerintah tidak mungkin mengadakan perjanjian pinjaman yang mulai berlaku sejak saat ditandatangani. Namun demikian Depkeu menyatakan pasal 16 PP 2/2006 tidak bertentangan dengan UU karena sudah ada persetujuan dari DPR dalam bentuk UU APBN.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Untuk menyelesaikan problem ini.

Perkembangan hukum perjanjian internasional juga ditandai dengan adanya perbedaan praktek Negara mengenai nomenclature MoU. Gejala ini telah memicu pertanyaan yang bersifat akademis yaitu apakah dewasa ini pemerintah suatu negara yang selama ini dikenal sebagai pemangku fungsi representation of states tidak lagi menjadi lembaga tunggal untuk membuat perjanjian internasional? . namun menurut terkaan saya masalahnya tetap terbuka)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Praktek Indonesia dalam pembuatan PI dengan negara-negara lain sangat inkonsisten. sayang sekali dalam bahasa Belanda: “De verplichting in het volkenrecht” [Kewajiban dalam hukum internasional] . 24. Masalah ini sayang sekali terlalu luas (dan spekulatif) untuk dijadikan objek catatan singkat. Praktek internasional termasuk Indonesia juga ditandai dengan maraknya pembuatan perjanjian internasional oleh lembaga di luar eksektif seperti MA.Yang dimaksudkan yalah apakah penggunaan istilah tertentu berakibat berbeda dalam bidang keberlakuan hukumnya. BPK dan DPR. APAKAH LEMBAGA NEGARA DI LUAR EKSEKUTIF DAPAT MEMBUAT PERJANJIAN INTERNASIONAL? 26. Untuk kebutuhan praktis. 23. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti khususnya tentang implikasinya dalam hukum nasional. Bagaimanapun persoalan ini sekali-kali tidak semata-mata soal nomenclatur. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya mengikat seperti treaties. Petunjuk utama jika menghadapi persoalan bersangkutan yalah tafsiran segala faktor yang memain peranan dalam terjadinya “perjanjian” bersangkutan. Adanya pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktek beberapa Negara akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. Ada praktek Negara. khususnya pada Negara-negara common law system yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. (Masalah tersebut pernah saya bahas sebagai judul pidato inaugurasi saya pada tahun 1990. 25. Dinamika dalam masalah nomenclature ini menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dunia praktisi tentang apakah diperlukan adanya tingkat hirarki perjanjian internasional berdasarkan namanya. Pandangan para negotiators selalu terjebak pada mind setting bahwa MOU lebih rendah dari agreement dan agreement lebih rendah dari Treaty. Pustaka mengenai masalah ini pasti telah banyak berkembang sejak saat itu. melainkan soal usaha politik antar-negara untuk menghindari keterikatan pada kewajiban hukum tanpa mengaku maksud tersebut.

 Komentar Prof. dan hanya mengindikasikan bahwa masalah ini akan diatur lebih lanjut dalam perangkat implementasi. Kenapa pertanyaan full power muncul? Karena non-ekeskutif tidak mengakui Menteri Luar Negeri sebagai bagian dari eksekutif mengeluarkan full power bagi mereka.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Secara traditional. artinya perjanjian antara subjek2 internasional bersangkutan. Namun ASEAN Charter tidak secara rinci mengatur mengenai treaty making power of ASEAN. maka kemudian muncul pertanyaan tentang lembaga full powers. Adanya pembagian kekuasaan negara yang semakin ketat di Indonesia menimbulkan implikasi bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga non-eksekutif bukan merupakan urusan eksekutif sehingga perjanjian yang dibuat oleh mereka bukan tanggung jawab eksekutif. Begitu pula pertanyaan tentang full powers kelihatannya tidak relevan benar (lihat dibawah catatan atas ayat 32/37). tidak ada halangan terhadap praktek demikian. Seiring dengan maraknya perjanjian internasional oleh lembaga non-eksekutif. ASEAN telah memiliki konstitusi barunya (ASEAN Charter) yang akan memberikan landasan hukum bagi aktivitas ASEAN baik dari segi internal maupun eksternal. Dalam HN. Aspek lain yang kelihatannya kadang-kadang menimbulkan pertanyaan dalam kepustakaan yang tidak jelas terjawab. Swan Sik: Bagi HI yang menentukan yalah apakah ada suatu PI. Swan Sik: . eksekutif adalah the legitimate representive of states. Dalam hal ini. dan sekali-kali bukannya alat(-alat) perlengkapannya. Sejauh pimpinan negara mengizinkan lembaga2 kenegaraan lain daripada Eksekutif mengadakan PI dan sejauh fihak lainnya menerimanya. Treaty making power merupakan salah satu isu dasar yang lazim diatur dalam konstitusi setiap organisasi internasional sebagai bagian dari paragraf tentang external relations. kedudukan Menlu sebagai pejabat khas dalam hukum internasional tidak dikenal 27. apakah Menlu lazim mengeluarkan full powers kepada lembagai non-eksekutif? ASEAN’S TREATY MAKING POWER 28. Mereka mengklaim tidak perlu memperoleh kuasa dari pemerintah. Yang berbeda dari kebiasaan hanya pejabat pelaksananya. yalah apakah sifat (PI atau tidak) dan apakah akibat hukum (menurut tata hukum mana) dari perjanjian2 yang kadang-kadang diadakan antara lembaga dan alat perlengkapan badan2 hukum tingkat rendahan (contoh: antara kota-kota) dari negara berbeda. Perjanjian ini diberi nama “administrative agreements”.  Komentar Prof. biasa negara. Hasilnya yang dituju tetap suatu PI.

Dalam EU dikenal adanya Mix Agreements. sehingga soal full powers tidak timbul. Saya telah membuat catatan khusus tentang issue ini yang akan saya sampaikan secara terpisah. DPR tidak “mengesahkan perbuatan hukum oleh subjek hukum internasional lain” melainkan mengesahkan perbuatan yang bersifat perbuatan hukum RI berdasarkan pemberian wewenang (“surat kuasa”) tersebut tadi. atau (2) berdasarkan pemberian wewenang khusus oleh para negara anggauta secara insidental. Dalam konstruksi seperti digambarkan diatas fihak lain itu percaya. Selanjutnya tindakan tersebut dapat (1) berdasarkan suatu ketentuan khusus dalam naskah “anggaran dasar” ASEAN.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Treaty making power of ASEAN telah menjadi persoalan dalam praktek ASEAN dalam membuat perjanjian. Apakah full powers oleh negara itu kepada Sekretaris Jenderal ASEAN adalah full powers yang dimaksud oleh Vienna Convnetion 1969? 2. dimana negara anggota akan turut membubuhkan tanda tangan jika bagian dari perjanjian dengan EU tersebut adalah wewenang negara anggota. Jika negara itu ingin “terminate atau amandement perjanjian itu. Dari sudut HI tiada halangan apapun (ayat 37) terhadap acara demikian. . para negara yang berdaulat berkuasa penuh untuk “memberi kuasa” kepada subyek hukum lain. Pertanyaan yang muncul jika Sekjen ASEAN menandatangani PI atas nama negara anggota adalah: 1. Apa yang dilakukan oleh ASEAN adalah hanya untuk kebutuhan praktis. atau (2) tegas atas nama para negara anggauta. European Union yang sudah demikian terintegrasi tidak pernah suatu negara anggota memberi mandate kepada Presiden Komisi untuk bertindak atas nama negara tersebut mengikatkan diri dengan pihak lain. Pemberian wewenang demikian tidak selalu ternyata dari naskah yang diumumkan. menerima dan mengaku (recognition!!) wewenang Sekretariat ASEAN. Pengeluaran Surat Kuasa Resmi (Full Powers) adalah untuk kepentingan fihak lainnya (counterpart) dalam perjanjian agar fihak ini memperoleh kepastian bahwa si wakil RI bersangkutan memang “disuruh” RI dan perbuatannya memang di”tanggung” RI.[Catatan ini dibuat tanpa penelitian data perjanjian di ASEAN Documents Series] Pembuatan perjanjian dengan fihak ketiga yang dilakukan (ditandatangani) oleh Sekretariat/Sekjen atau “pejabat salah-satu anggauta” dapat (1) tegas atas nama ASEAN. Permasalahannya adalah. Dalam hal adanya keperluan ratifikasi. Praktek ASEAN dalam hal ini tidak didasarkan pada prinsip hukum perjanjian internasional bahwa “consent to be bound” harus dinyatakan oleh negara itu sendiri. dapatkan dilakukan tanpa melalui consent dari Sekretaris Jenderal ASEAN? . atau (3) tanpa ketegasan demikian.

b. Hubungan antara seluruh anggota ASEAN dengan pihak ketiga dimana status negara anggota adalah sebagai subjek hukum internasional yang berdiri sendiri. Dalam kaitan ini. ASEAN juga telah membuat berbagai perjanjian dalam kedudukannya sebagai a distinct subject separated from its members yang biasanya menggunakan istilah ASEAN Secretariat. dalam kaitannya dengan ASEAN sebagai subjek hukum internasional. 32. Sekalipun judul perjanjian itu menggunakan isitilah ASEAN namun pada hakekatnya perjanjian dimaksud adalah perjanjian antara negaranegara anggota secara individu dengan organisasi/negara ketiga (perjanjian multilateral). yaitu Perjanjian dengan Pihak Ketiga yang mengikat seluruh Negara anggota ASEAN tetapi ditandatangani oleh oleh Sekjen ASEAN/Pejabat salah satu anggota untuk dan atas nama Negara-negara anggota. bertindak sebagai organisasi internasional as a distinct subject separated from its members 31. Hubungan antara ASEAN sebagai subjek hukum internasional (biasanya ASEAN Secretariat) dengan pihak ketiga. dapatkah dilakukan sendiri tanpa melalui Sekjen ASEAN? . yang terlepas dari Negara anggotanya. Namun demikian.29. 33. 7 March 1980. Praktek ASEAN dalam hubungan eksternalnya sudah sangat intensif dan dapat dibedakan atas dua perspektif: a. Dalam perjanjian ini yang membuat perjanjian dengan EEC adalah setiap dan semua negara anggota dan bukan ASEAN sebagai a distinct subject separated from its members. Hal ini tercermin dari participation clause-nya serta pihak yang menandatangani perjanjian dimaksud yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN secara individual seperti pada the Cooperation Agreement between the Member Countries of ASEAN and the EEC. ASEAN sebagai collective members telah banyak membuat perjanjian dengan negara/organisasi internasional lain. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa materi yang diperjanjikan bukan merupakan ruang lingkup atau wewenang ASEAN sebagai suatu organisasi yang berdiri sendiri namun terletak pada negara-negara anggotanya. dapatkah DPR mengesahkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum internasional lain? Jika perjanjian itu membutuhkan full power apakah lazim Menteri Luar Negeri memberikan full power kepada subjek asing? Jika negara anggota ingin menarik diri dari perjanjian semacam ini. Dilain pihak. praktek ASEAN juga menunjukkan adanya beberapa perjanjian yang tampaknya agak menyimpang dari prinsip hukum umum yang berlaku. dapatkah subjek hukum internasional lain melakukan tindakan express to be bound by a treaty atas nama subjek hukum internasional lainnya? Jika perjanjian tersebut memerlukan ratifikasi. Penandatanganan oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota terhadap perjanjian menimbulkan beberapa pertanyaan akademis tentang kekuatan mengikat perjanjian tersebut terhadap negara anggota. Sedangkan EEC. Kedudukan ASEAN dalam kaitan ini adalah sebagai organisasi internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional oleh Organisasi Internasional. Istilah ASEAN dalam hal ini hanya digunakan untuk merujuk setiap Negara anggota sebagai collective members. 30.

Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. DR. Sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No. Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan berbagai Perjanjian Internasional. Indonesia menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Presiden. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. MOHD. Menurut faham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Nasional. Hukum Internasional merupakan Hukum Nasional untuk “Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia.. termasuk didalamnya Perjanjian Internasional. 1978 dan 1986. Undangundang yang berkaitan dengan Hukum Internasional. Sekarang Indonesia mempunyai Undang-Undang mengenai Perjanjian Internasional yakni Undang-Undang No. Negara akan mengutamakan Hukum Internasional atau Hukum Nasional? Permasalahan pengutamaan dapat diselesaikan dengan menggunakan paham (teori) dalam hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Hakekat Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Nasional. Namun secara logika paham dualisme akan mengutamakan Hukum Nasional dan mengabaikan Hukum Internasional. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang benar-benar terpisah. 1975 dan 1979. Menurut paham dualisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. 1969. seperti Undang-Undang No.PROF. Hal ini mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian Internasional di ranah Hukum Nasional. UUD 1945 tidak mencantumkan satu pasal pun yang mengatur status tersebut. Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan 1945. Pada tahun 1969. yang tunduk pada Hukum Internasional. urusan luar negeri. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Hukum Nasional tunduk pada Hukum Internasional dalam arti Hukum Nasional harus sesuai dengan Hukum Internasional. Pasal 11 dan 13 UUD 1945. Pengutamaan mungkin pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA) Pengantar Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak mudah untuk menemukan kaidah hukum yang mengatur tentang status Hukum Internasional dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional RI. dan bagaimana Indonesia menerapkan Hukum Internasional. paham ini cenderung mengabaikan Hukum Internasional. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. 1973. SH. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. BURHAN TSANI. Indonesia menetapkan bahwa Presiden mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan menerima duta dan konsul. yang ada kaitannya dengan Hukum Internasional. sudah mengadakan interaksi dengan Negara maupun Organisasi Internasional. Berdasarkan paham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Internasional. Berdasarkan paham monisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan bagian yang saling berkaitan dari satu sistem hukum pada umumnya. yang juga masih berupa Hukum Kebiasaan Internasional. Permasalahan yang mungkin masih relevan untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan dan bahkan pertentangan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang No. Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah dibandingkan dengan Hukum Internasional. . Hukum Internasional merupakan kelanjutan Hukum Nasional. 24 Tahun 2000.” Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Hukum Diplomatik. 1963. Dikenal ada dua paham yaitu dualisme dan monisme. mengatur mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan pengangkatan serta penerimaan duta dalam ranah Hukum Nasional. Hukum tentang hubungan diplomatik dan konsuler dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru tahun 1961. MH. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional juga tidak mencantumkan pasal tersendiri yang mengatur status tersebut. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional.

Pengesahan yang dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia. secara formal dan substantif. Dalam praktek pilihan pengutamaan pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Tidak ada transformasi. Untuk sepenuhnya menggunakan teori transformasi perlu dilampirkan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi yang termuat dalam perjanjian yang bersangkutan. yang bersumber dari Perjanjian Internasional ada dua teori. Teori transformasi mendasarkan diri pada pendapat pandangan positivis. Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang yang ada sekarang. Teori ini berlaku untuk penerapan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Prosedur yang dilaksanakan merupakan bagian dari keseluruhan proses pembuatan Perjanjian Internasional yang bersangkutan. Indonesia menganut paham monisme. ditentukan oleh preferensi etnis atau preferensi politis. Indonesia cenderung pada monisme dengan pengutamaan Hukum Internasional. Pengesahan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Hukum Internasional yang bersumber dari Perjanjian Internasional dapat diterapkan di dalam Hukum Nasional apabila sudah dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Nasional. bahwa aturanaturan Hukum Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum Nasional. Indonesia secara diamdiam menerima bahwa perjanjian yang bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum Nasional.Dimungkinkan ada monisme yang menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar dengan Hukum Internasional. bukan dalam bentuk perundang-undangan formal mengenai substansi perjanjian yang bersangkutan. Indonesia dapat dianggap ingin menggunakan teori transformasi. Untuk dapat diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. Yang dilakukan hanya merupakan kelanjutan (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan yang tunggal. Berdasarkan teori transformasi. Dalam penerapan Hukum Internasional. Hubungan antara keduanya saling melengkapi. hak untuk menentukan: 1. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Demikian juga sebaliknya. Menurut teori inkorporasi Hukum Internasional dapat diterapkan dalam Hukum Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. Berdasarkan praktek. yaitu teori transformasi dan teori delegasi. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan sistem hukum yang benar-benar terpisah. Hukum Internasional dianggap sudah menyatu ke dalam Hukum Nasional. Bertumpu pada pengakuan Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. Ratifikasi merupakan bagian prosedur pembentukan Hukum Internasional yang dituangkan dalam perjanjian yang bersangkutan. cara bagaimana ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional. Nampaknya Indonesia cenderung menggunakan teori delegasi. Hal ini tercermin dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang Terorisme Bonn. aturan-aturan konstitusional Hukum Internasional mendelegasikan kepada masingmasing konstitusi Negara. Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Syarat-syarat konstitusional hukum nasional hanya merupakan bagian dari satu kesatuan mekanisme penciptaan (pembuatan) hukum. 2. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi Hukum Nasional. Pasal 2 instrumen pengesahan telah menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang bersangkutan dalam Hukum Nasional Indonesia. Perjanjian Internasional yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah aslinya. Bagi pandangan yang mempunyai sikap politis nasionalis. yang dimulai dengan penutupan (persetujuan) suatu Perjanjian Internasional. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Hukum Internasional tidak mewajibkan bahwa suatu Negara harus menganut paham dualisme atau monisme. delegasi. Tidak ada penciptaan (pembuatan) aturan hukum atau Hukum Nasional yang benar-benar baru. Akan tetapi perjanjian yang disahkan dilampirkan begitu saja seperti aslinya. Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian Internasional yang berlakunya memerlukan ratifikasi. dan secara struktur merupakan sistem hukum yang berbeda. Menurut teori delegasi. belum ada ketentuan (pasal). Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Indonesia belum pernah membuat perundang-undangan yang mengatur substansi perjanjian yang telah ditandatangani. Prosedur dan metode yang digunakan Negara merupakan suatu kelanjutan proses. kapan ketentuan Perjanjian Internasional berlaku dalam Hukum Nasional. Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimanakah penerapan Hukum Internasional dalam ranah Hukum Nasional Indonesia. Sebaliknya bagi pandangan yang simpatik pada Internasionalisme. . merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Nasional untuk memperoleh instrumen ratifikasi. yang diperlukan prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. dan inkorporasi. yaitu teori transformasi. Indonesia nampak tidak sepenuhnya menggunakan teori transformasi. yang secara tersendiri menentukan sikap Indonesia. akan mengutamakan Hukum Nasional. akan mengutamakan Hukum Internasional. Mengenai hal ini ada beberapa teori yang dikenal dalam Hukum Internasional. Dalam penerapan PerjanjianPerjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi.

. Penutup Praktek-praktek yang tidak ajeg dan simpang siur yang mengakibatkan permasalahan perlu diluruskan. dilandaskan pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. PROF. Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. BURHAN TSANI.Keterikatan Indonesia pada Perjanjian Internasional yang bersangkutan. Hasil pelurusan dirumuskan dengan baik dan disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada semua pengelola Negara dan Warga Negara. Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada.. MOHD. DR. Apabila Indonesia sudah menjadi Negara pihak. Indonesia wajib melaksanakannya dengan itikad baik dan melakukan penyesuaian perundang-undangannya dengan Perjanjian Internasional yang sudah berlaku secara definitif. SH. MH.

dan yang memuat tekad mereka untuk bertindak kearah keinginan dan sesuai dengan hasrat tersebut. pendiri Foundation for the Development of International Law in Asia dan anggota Instituut de Droit International. maka tata hukum yang berlaku di masyarakat bersangkutan memberi kekuatan hukum padanya dengan menetapkan perjanjian itu setaraf dengan undang-undang. Pengantar Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan analisa persoalan hukum tertentu (spesifik/ kongkrit). . Sebaliknya. Guna lebih jelas lihat Black Law’s Dictionary. ditambah syarat kewenangan pelaku tersebut untuk mengadakan perjanjian yang berkekuatan hukum. yang mencerminkan hasrat mereka. Istilah “perjanjian” menggambarkan adanya kesepakatan antara anggota masyarakat tentang suatu keadaan yang mereka inginkan. Kenisbian lain yaitu ketergantungan keabsahan perjanjian dari kedudukan para pelakunya sebagai subyek hukum 1 tata hukum bersangkutan. berarti bahwa isi kesepakatan itu dijadikan hak dan kewajiban para pihaknya yang berunsur khusus sebagai berikut: apabila si pengemban kewajibannya tidak memenuhi kewajibannya. berlakunya hukum dalam batas-batas suatu tata hukum tertentu menampilkan pertanyaan tentang keterbatasan ruang lingkup daya hukum yang terkait pada kesepakatan. melainkan kadang-kadang juga menunjukkan sifat nisbi berbagai pengertian dan azas sekitar PI. dan bersumber pada pengertian perjanjian internasional (PI). Ternyata berbagai kenisbian dan kesamaran melekat padanya. Disamping itu. tata hukum mengenal Pacta sunt servanda merupakan adagium dari Bahasa Latin yang pada umumnya ditafisrkan sebagai “perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya”. artinya membebaninya dengan akibat-akibat (hukum) tertentu tanpa persetujuannya. Uraian singkat ini cukup mutlak dan terang bunyinya. maka tata hukum “menghukum”nya. Apabila kesepakatan ini tercapai dan disertai kesungguhan para pihak. Diantaranya. tetapi tidak mencukupi sebagai penjelasan konsep perjanjian. apalagi mencoba menyajikan pemecahan persoalan demikian. Penulis juga tidak bermaksud mencoba menyajikan risalah teori hukum apapun. Penetapan kesepakatan sebagai perjanjian dalam arti huku. sesuai dengan seruan azas terkenal dalam bahasa asing kuno: pacta sunt servanda1. tulisan ini semata-mata merupakan renungan tentang berbagai ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari.BEBERAPA ASPEK KENISBIAN DAN INTERNASIONAL Oleh Ko Swan Sik* KESAMARAN PERJANJIAN * Penulis adalah mantan Guru Besar Erasmus Universiteit Rotterdam (19881996). Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tidak hanya melekat karena kekurang jelasannya. Demikianlah bunyi Pasal 1338 KUHPer (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) lama (sejauh kitab undang-undang ini masih kita akui sebagai sumber hukum berlaku).

Mungkinkah si perancang naskah undang-undang tersebut terjebak kekhilafan yang tersirat dalam penggunaan istilah “hukum internasional publik” sebagai “lawan” “hukum perdata internasional”? Di lingkungan (hukum) internasional (atau “dalam rangka tata hukum internasional”) yang tidak mengenal hubungan antara subyek-penguasa dan subyek yang tunduk pada kekuasaan. Meskipun kelihatannya cukup jelas. pembatasan mana biasanya bersangkut paut dengan sendi-sendi kemayarakatan bersangkutan. melainkan akibat pemakaian perkataan dalam arti kata berganda. yang sudah 2 memenuhi syarat-syarat yang menurut perkiraan kita menjadikannya Perjanjian 3 Pasal 2 ayat (1) ini berbunyi: 1. Sifat Normatif Hukum dan Sangkalannya Tadi telah pernah disebut Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina 1969. seperti kini juga terdapat di Pasal 1 judul (3) UU 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Ternyata bahwa yang menjadi buah aturan Konvensi adalah “perjanjian internasional yang diadakan antara negara . hal mana kita ingat betul dari setiap permulaan tahun kuliah apabila kita mencoba menerangkan kepada para mahasiswa hakekat mata pelajaran yang mereka ikuti. tulisan ini hanya akan mencurahkan perhatian kepada perjanjian golongan pertama dan kenisbian dan kesamaran yang melekat padanya. namun bagaimanakah kita dapat tetapkan bahwa suatu perjanjian yang kita hadapi itu memang “governed by international law” seperti yang disyaratkan Pasal 2 ayat 1 (a) Konvensi Wina 1969 2 tentang Hukum Perjanjian Internasional? Ada kalanya yang kita maksudkan dengan istilah PI adalah perjanjian yang para pihaknya bertindak dalam lingkungan hukum nasional (HN) (tanpa mempedulikan apakah mereka itu asal mulanya diciptakan sebagai subyek HI ataupun sebagai subyek HN) tapi dengan mata perjanjian yang bersifat lintas batas suatu negara dan oleh karena itu disebut “internasional”. Kita tahu bahwa keragu-raguan itu bukan akibat kurang jelasnya pencipta pengertian. tetapi para pihaknya pun masing-masing bertindak dari lingkungan HN berbeda. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation. pertentangan (hukum) antara publik – perdata sebenarnya tidak berlaku (tidak dapat diterapkan). Ini berarti bahwa sekalipun kita jelas menghadapi perjanjian antar negara. . For the purpose of the present Convention: (a) ‘treaty’ means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law. Kenisbian tersebut terdapat juga di bidang PI yang merupakan golongan khusus dari pengertian perjanjian yang lebih luas.. Kata “internasional” pertama digunakan untuk merujuk pada perjanjian antara para aktor yang bertindak selaku subyek hukum internasional (HI) dan oleh karena itu khusus berlaku dalam lingkungan HI.. yang kata sifatnya “internasional” tidak berarti tunggal. Marilah kini kita meneliti beberapa kenisbian dan kesamaran khusus mengenai PI. tampillah pengertian dan istilah “perjanjian internasional”... “Internasional” Terhadap latar belakang tersebut di atas. yaitu istilah “publik”. Sebagai contoh patut diajukan pertanyaan apakah ada perbedaan hukum antara PI tentang pinjaman uang antar-negara dan PI tentang persekutuan militer.3 Kita dapat (meskipun syukur jarang terjadi) menambah kerumitan di lapangan PI golongan belakangan ini apabila tidak hanya obyek perjanjiannya melintas-batas.”. ketika kita menitikberatkan keperluan menentukan apakah yang kita hadapi itu benar perjanjian yang dikuasai Hukum Internasional.pembatasan-pembatasan mengenai pokok persoalan (“obyek”) perjanjian. dan yang dikuasai oleh hukum internasional . Patut kiranya disini ditambah sekedar catatan sampingan tentang pemakaian istilah lain yang adakalanya terlihat dalam hubungan ini. Sesuai tafsiran undangan Editor jurnal ini.

di lingkungan internasional. Apakah makna anak kalimat ini? Mengingat sifatnya. akan tetapi sistem demikian hanya mengacu pada bentuk dan tata cara kelakuan dan tidak bersangkut-paut dengan sifat normatif dari hak/kewajiban yang termuat dalam perjanjian bersangkutan. dimana kelakuan belakangan ini merupakan “cogent motive for action” pihak pertama. adat istiadat. dan moralitas. tidak mustahil pihak yang dikecewakan membalas dengan menuntut apa yang diharapkan dan bahkan menuntut ganti kerugian. Apabila dalam keadaan demikian kelakuan pihak yang satu itu ternyata tidak terjadi. sistem-sistem ini semuanya ditujukan kepada pribadi manusia dan tidak mengenal kaidah-kaidah pelaksanaan untuk memberlakukannya dan menerapkannya pada hubungan antar negara. Namun. dan dalam hubungan ini kadang-kadang terdengar pula istilah “perjanjian tidak mengikat” (“non-binding agreements”) yang agak aneh bunyinya dan biasanya dimaksudkan sebagai “perjanjian yang tidak mengikat dari sudut hukum” (legally non-binding agreements). maksud tujuannya dan konteks pembuatannya. Soalnya ialah bahwa hingga kini belum ada uraian yang memberi penjelasan memuaskan tentang bagimana sebenarnya isi sistem normatif politik demikian itu dan sejauh mana sistem tersebut berbeda dari sistem hukum.Internasional asli. bahkan mengenyampingkan. Dalam perbincangan tentang hubungan-hubungan internasional. Sehingga timbullah pertanyaan apakah kiranya ada “sistem politik” yang bersifat normatif dan menguasai kelakukan dan yang merupakan alternatif di samping sistem hukum. kita masih juga perlu memeriksa apakah benar “dikuasai Hukum Internasional”. Hal mana berarti bahwa satu-satunya dugaan tentang maksud dan arti anak kalimat tadi yang masuk akal adalah bahwa si perancang membayangkan kemungkinan adanya perjanjian antar negara. kadang-kadang kita menghadapi perjanjian-perjanjian antar negara yang dianggap tidak memuat kewajiban hukum melainkan “hanya memuat kewajiban politik”. Contoh tersohor perjanjian yang kadar hukumnya terang-terangan disangkal adalah Akta Terakhir Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Helsinki Final Act 1975) yang meliputi negaranegara Eropa Barat maupun Eropa Timur termasuk Uni Soviet dan Amerika Serikat dan Kanada (yang hingga kini masih berlaku di negara-negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Sentral yang . Memang ilmu politik mengenal dan memperhatikan keadaan dimana kelakuan tertentu pihak yang satu dapat diduga dan diharapkan sebagai akibat kelakuan tertentu pihak yang lain. Kita dapat bayangkan berbagai sistem normatif yang berlaku bagi kelakuan manusia selain sistem hukum. satu dan lain menurut kehendak dan pilihan para pihak tersebut. tanpa perhatian. hal-hal yang mengenai perjanjian di lingkungan HN. semua ini tanpa melalui ataupun berdasarkan alasan hukum. misalnya agama. kadang terdengar istilah “perjanjian politik” untuk membedakannya dari perjanjian yang dikuasai hukum. yang dapat dikuasai oleh “sesuatu” yang lain (bukan HN) daripada HI. Sistem apakah yang kita dapat bayangkan di sini? Istilah “dikuasai” di anak kalimat tersebut tentu berarti “dikuasai” sistem (hukum internasional) yang mengaitkan ciri normatif kepada kesepakatan antara para pihak perjanjian. Memang. dapatlah kita bertolak dari anggapan bahwa Konvensi tersebut khusus mengacu pada perjanjian di lingkungan internasional. bertentangan dengan apa yang diharapkan. Kadang-kadang disebut sistem “kesopanan kemasyarakatan” yang menguasai hubungan-hubungan internasional.

No party to any such treaty or international agreement which has not been registered in accordance with the provisions of paragraph I of this Article may invoke that treaty or agreement before any organ of the United Nations. memuat aturan penegakan hak-hak yang diakui (“without legal remedies”). mirip dengan. Lembaga inipun belum sanggup menyajikan jawaban yang memuaskan. ini mengacu pada tidak tercapainya kesepakatan. “Sesuai dengan” peraturan ini. bukan kesamaran perjanjian. perlu dibedakan dari naskah-naskah yang disepakati oleh para pihak namun yang jelas tidak dimaksudkan sebagai sumber hak/kewajiban melainkan sematamata sebagai rumusan pendirian dan tekad masing-masing (yang “kebetulan” sesuai) mengenai hal tertentu. Latar belakang cara yang dipakai ini ialah Pasal 102 Piagam PBB 4 yang mewajibkan setiap PI yang diikutsertai negara anggota untuk didaftarkan pada Sekretariat untuk keperluan penerbitannya (di UN Treaty Series). Hal ini ditegaskan secara agak aneh namun jelas. Keraguan tentu sangat menyolok apabila para peserta berbeda pendapat tentang maksud naskah mereka. Persoalan kewajiban perjanjian yang tidak berkadar hukum ini bahkan pernah dijadikan judul penelitian di kalangan Institut Hukum Internasional (Instituut de Droit Internasional) di tahuntahun 1970an dan 1980an. yang tidak. dan bahkan memutuskan pada 1983 untuk menangguhkan penyelidikannya sambil menunggu perkembangan-perkembangan yang membawa bahan-bahan baru. Sumber Hak dan Kewajiban dan Sangkalannya Dalam menetapkan perjanjian-perjanjian mana yang dikuasai olehnya. Every treaty and every international agreement entered into by any Member of the United Nations after the present Charter comes into force shall as soon as possible be registered with the Secretariat and published by it. 1983) . Lihat Annuaire de l’Institut de droit international jilid 60-I (persidangan Cambridge. as would be the case were it a matter of a treaty or international agreement under the aforesaid Article”. Kenisbian dan kesamaran yang penulis sebut disini dan yang kadang agak kurang tepat diberi nama “hukum lemah” (soft law). fenomena usaha-usaha “perundang-undangan internasional” dalam bentuk perjanjian-perjanjian multilateral.sama sekali bukan merupakan bagian dari Eropa). Akan tetapi. yang boleh dikatakan mencerminkan anggapan umum dan dengan demikian dapat dianggap berlaku sebagai HI umum. Negara-negara Barat menitikberatkan bahwa Akta tersebut bukan PI yang mengikat menurut hukum. walaupun mungkin tetap perlu dibedakan dari. kadangkadang mengenai perbaikan kedudukan manusia pribadi di pelbagai lapangan. berarti bahwa bentuk PI tidak ada relevansinya bagi HI dan tidak mempengaruhi kadar hukum 4 5 Ketentuan Pasal 102 ini berbunyi : 1. Ketentuan ini. Konvensi Wina dalam Pasal 2 ayat 1 judul (a) dengan tegas menyatakan bahwa PI dapat saja termuat dalam satu atau lebih dari satu dokumen dan dapat saja diberi nama apapun. Akta Helsinki memuat ketentuan yang memohon si Tuan Rumah (Finlandia) untuk “transmit to the Secretary-General of the United Nations the text of this Final Act (untuk disosialisasikan di antara negara anggota PBB) which is not eligible for registration under Article 102 of the Charter of the United Nations. setidak-tidaknya belum. yang mengenai kewajiban kelakuan yang unsur hukumnya disangkal. Terlihat disini fenomena hukum “pincang” yang “tidak sempurna”. 2.5 Pokok persoalan fenomena tersebut.

Demikianlah tafsiran yang selayaknya diberi kepada istilah “treaties in simplified form” yang kita kenal dari praktek diplomasi dan yang dapat berbentuk. Kadar Hak dan Kewajiban Sangkalan kadar hukum yang merupakan pokok persoalan di atas tadi tidak dapat disamakan dan tidak boleh dicampuradukkan dengan gejala lain. suatu naskah sebagai hasil komunikasi (secara bagaimanapun) antara para pihak dapat saja dibuat dengan tujuan berlainan. Contoh lain ialah kabar tentang wawancara dengan Presiden AS pada bulan April 2005 tentang hubungan AS dengan Afghanistan setelah pemilihan presiden di negeri itu. antara lain. 6 Tidak lama berselang Edy Prasetyono (CSIS) dilaporkan (Hukum Online 11 Juni 2006) pernah mengutarakan pendiriannya bahwasanya dokumen kesepakatan yang melahirkan organisasi ASEAN tidak mengikat. “Pernyataan Bersama” (joint statement). Ia menitikberatkan bahwa hubungan strategis tidak mengharuskan pengaturannya dalam perjanjian resmi melainkan cukup diatur dalam bentuk pertukaran surat atau dalam suatu Memorandum of Understanding. hal ini tidak berarti bahwa nama yang diberikan kepada naskah dan rumusan pengertian-pengertian dan istilah yang dipakai dalam naskah tidak penting. Meskipun harus diakui bahwa naskah Deklarasi tersebut memang kurang sesuai dengan bentuk lazim naskah pendirian organisasi. tanpa tersiratnya janji yang bersifat hukum. apalagi jika disertai acara-acara klasik seperti syarat ratifikasi (persetujuan keterikatan) dan/atau kesepakatan untuk mendaftarkannya di Sekretariat PBB sesuai Pasal 102 maka kesamaran tentang maksud para pihak boleh dikatakan dapat tercegah. seperti kata “treaty” dalam bahasa Inggris. oleh karena nama dan rumusan itu merupakan sumber interpretasi tentang maksud para pihak dan makna dokumen bersangkutan mengenai hak dan kewajiban masing-masing. Inilah. Tapi bentuk dan acara demikian tidak merupakan syarat untuk menegaskan sifat hukum isinya. . Apabila naskah diberi nama menurut kebiasaan tradisional di bidang PI. Akan tetapi. pertukaran surat. Beliau mengaitkan pandangan ini dengan kebijakan para pihak bersangkutan untuk ‘hanya menggunakan’ nama ‘Deklarasi Bangkok 1967 ‘. Ada kalanya naskah dimaksudkan sebagai penetapan hak / kewajiban masing-masing dengan kekuatan hukum. Sebaliknya. bagaimanapun resmi dan mulia sifatnya. Alternatif selanjutnya ialah pengumuman belaka. Sebagai contoh yang cukup ekstrim. namun dipakai sebagai sumber hak dan kewajiban. naskah yang disepakati dapat dimaksudkan sebagai pernyataan penetapan tekad para pihak tentang kelakuan mereka di masa yang akan datang. Tidak termuatnya ciri-ciri terkenal demikian sama sekali tidak membenarkan kesimpulan bahwa para pihak tidak menghendaki dokumen kesepakatan mereka merupakan sumber hak/kewajiban hukum. yaitu keanekaragaman jenis (hak dan) kewajiban yang kadar hukumnya tidak diragukan. Tanpa menerangkan alasan-alasan apakah yang menyebabkan kecondongan tersebut. Tadi telah disebut istilah “Communiqué”. tentang (biasanya hanya sebagian dari) apa yang diperbincangkan antara para pihak dan hasil kesepakatannya. misalnya.isinya. bahkan “Nota Kesepahaman” (memorandum of understanding). kiranya penyangkalan unsur keterikatan dalam comtoh ini patut dipertanyakan. makna kebebasan bentuk yang diakui Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina. Disamping itu.6 Pembuatan naskah sebagai hasil perundingan dapat mengacu ke berbagai tujuan. Tadi kita telah menjumpai fenomena perjanjian dengan hak/kewajibannya yang dikuasai sistem normatif yang tidak bersifat hukum atau suatu “sistem pengharapan” berdasarkan tindakan timbal balik. meskipun “Pernyataan Bersama” kadang-kadang lebih disukai. ada kalanya dipilih bentuk “Communiqué” yang sebenarnya berarti tidak lebih daripada “penerangan khalayak ramai tentang sesuatu yang terjadi”.

apalagi bila ditetapkan pula bahwa tindakan itu harus terlaksana dalam tenggang waktu yang tertentu. hal mana penulis sangsikan. sehingga timbullah keraguan cukup mendalam tentang dimana letak sebenarnya garis batas antara pelaksanaan dan pelanggarannya. Ada sebagian peneliti yang mencari sebab kebijakan demikian di bidang adat-istiadat di bagianbagian dunia yang segan menitikberatkan secara tajam hak dan kewajiban masing-masing pihak. kewajiban ternyata begitu longgar dan kadar keharusannya menjadi demikian rendah. Istilah “hukum lemah” kiranya lebih tepat untuk menggambarkan kewajiban yang diakui sifat hukumnya namun memberi kelonggaran demikian banyaknya sehingga sukar menentukan garis batas antara memenuhi dan melanggar kewajiban. sifatnya keras apabila tindakan itu dirumuskan secara sangat tegas dan spesifik. misalnya. Antara kewajiban-kewajiban kita dapat membedakan kewajiban yang “keras” dan yang “lunak”. dengan mempertimbangkan keadaan menurut penilaian si pengemban kewajiban. kewajiban dapat saja dirumuskan sebagai kewajiban untuk berusaha. tetap terdapat cukup banyak gejala dalam praktek PI yang menimbulkan pelbagai pertanyaan tentang kelakuan dan tindakan ataupun hasil usaha yang merupakan isi sebenarnya kewajiban bersangkutan. 7 Lihat. 1996 (A/51/10) Pasal 19-21.7 Meskipun demikian. Itulah sebabnya perhatian yang cukup besar dicurahkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB kepada penggolongan dan pembedaan antara berbagai jenis kewajiban hukum selama sebagian besar waktu perencanaan naskah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan negara melawan hukum. Tadi telah kita bertemu dengan istilah “hukum lemah” yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat kewajiban yang tidak jelas apakah memang dimaksudkan sebagai kewajiban hukum. sesuai dengan kemampuan si pengemban kewajiban. versi 1996.Pengertian sempurna tentang hakekat suatu kewajiban hukum merupakan syarat penting untuk dapat menetapkan apakah kewajiban itu dapat dinilai telah dipenuhi atau justru dilanggar. Kami mencatat disana bahwa penggunaan istilah dalam rangka itu rasanya kurang tepat oleh karena kesamaran disana mengenai batas antara hukum dan bukan-hukum. kita perlu mencurahkan perhatian khusus kepada soal kejelasan atau sebaliknya kesamaran yang kadang-kadang melekat pada rumusan suatu kewajiban. . Oleh karena itu. Dalam golongan kewajiban untuk melakukan sesuatu (obligation of conduct). untuk mencoba mencapai sesuatu. misalnya. Namun. seperti memilih bermacam nama yang menghindari kata perjanjian. Sebaliknya. Kesamaran tetap terdapat bila. Draft Articles on State Responsibility. Report of the ILC. dugaan itu ternyata tidak tepat. Dalam hal demikian. Kita dapat saja mengira bahwa kesamaran demikian tidak dapat timbul dalam hak kewajiban untuk mencapai suatu hasil usaha tertentu (kewajiban hasil usaha/obligation of result). kewajiban bersangkutan mengharuskan menghasilkan suatu “keadaan yang bermanfaat” bagi sesuatu. 48th session. Meskipun perlu diakui bahwa di lapangan HI yang bersifat khas itu pertimbangan-pertimbangan “tidak langsung” memainkan peranan yang jauh lebih besar di bidang perjanjian daripada di lingkungan HN. Bayangkanlah kewajiban untuk mencegah terjadinya sesuatu.

sehingga gejala yang dibayangkan disini tidak terjadi. atau boleh. mengizinkan ataupun menyetujui (meskipun tidak melarang) pembuatan perjanjian demikian. cukup membuat pelik. Haruskah kita menarik kesimpulan bahwa perjanjian semacam itu tidak bersifat “internasional” dalam arti kata lazim sehingga tidak tunduk pada hukum internasional mengenai PI melainkan harus dianggap dikuasai HN? Di samping itu. mengingat bahwa perjanjian demikian itu tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu perjanjian HN?! Karangan singkat ini bukan tempatnya untuk menyelidiki persoalan ini secara panjang-lebar. Aktor kemasyarakatan yang tidak diakui sebagai subyek HI tidak dengan sendirinya tidak dapat mengadakan PI sehingga perjanjian hasil kesepakatannya tidak pernah dapat dianggap bersifat PI. Ada kalanya diadakan perjanjian antara alat-alat perlengkapan dari negara-negara berbeda. Sebaliknya perjanjian antara para aktor yang jelas subyek HI tidak otomatis bersifat PI. Tentu ada negara dimana hubungan lintas batas demikian antara alatalat perlengkapan ataupun kesatuan negara teritorial dilarang oleh hukumnya. cukup banyak negara-negara dimana hal demikian dapat terjadi dan perjanjian-perjanjian demikian ternyata memenuhi kebutuhan bersama dibidang pemerintahan dan pengaturan kemasyarakatan setempat. meskipun seluruh acara pembuatannya tidak sesuai dengan acara yang lazim untuk PI dan semata-mata oleh karena aktor yang mengadakannya merupakan sebagian dari bangunan kenegaraan? Ataukah perjanjian demikian itu hanya mengikat para instansi bersangkutan di lingkungan HN? Tapi jika demikian. tata hukum manakah yang menguasainya. khususnya bab 2 yang berkepala “The ‘Act of the State’ under International Law” yang Pasal 5-nya berbunyi: 8 UU No. antara lain kedudukan para pihaknya sebagai subyek hukum. yang tidak khusus ataupun langsung berwenang dan bertugas di lapangan hubungan luar negeri atau antara kesatuan-kesatuan teritorial sesuai sistem otonomi daerah (seperti kota atau propinsi) negara masing-masing. Namun. meskipun demikian keluhan salah satu Dirjen Deplu tentang ”banyak perjanjian luar negeri yang dilakukan daerah kurang efektif”. Kesepakatan dan perjanjian demikian itu mengenai salah satu kebijakan di bidang tugas mereka. seperti kita sempat menjumpai tadi.Pihak Perjanjian dalam Kenyataan dan Pihak Perjanjian Menurut Hukum: Gejala “Perjanjian Administrasi” Penggolongan suatu perjanjian sebagai PI atau sebagai kategori lain menunjuk pada dikuasainya oleh HI atau hukum lain (atau. sama sekali tidak dikuasai hukum). 37/1999 tidak memuat sebutan kemungkinan ini. Bayangkan sekarang perjanjian antara aktor yang tidak jelas kedudukannya sebagai subyek HI namun bertindak dalam rangka hukum publik di negaranya. siapakah yang selayaknya dianggap sebagai pihak perjanjian? Haruskah negara-negara bersangkutan. Akan tetapi. oleh karena mereka dapat saja di samping itu bertindak selaku subyek HN. biarpun tidak tegas menyuruh. dianggap terikat padanya. Penggolongan itu didasarkan berbagai kriteria. disamakan dengan PI? Tetapi para pelakunya pada umumnya tidak merupakan (artinya: tidak diakui oleh negara bersangkutan sebagai) subyek HI (pengecualian boleh terjadi di negara federal tertentu). terutama di kawasan-kawasan yang terletak saling berdekatan namun di negara yang berlainan. Apakah perjanjian itu harus. mungkin disinipun kita dapat belajar dan mencari sandaran (meskipun hanya secara tidak langsung) di naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum 2001. Kompas 7 Agustus 2006.8 Timbullah pertanyaan apa sebenarnya kedudukan hukum perjanjian demikian yang kadang-kadang disebut “perjanjian administrasi”. .

Akan tetapi. the conduct of any State organ acting in that capacity shall be considered an act of that State under international law.” Keberlakuan di Lingkungan Hukum Nasional Perbedaan antara tata HI dan tata HN menyebabkan timbulnya kenisbian tentang makna PI. sekalipun yakin akan . Kebijakan ini berdasarkan sangkalan perbedaan antara hukum tak tertulis (“kebiasaan”) yang tercipta di suasana nasional dan internasional. Hal yang kita perlukan untuk memberi jawaban ialah adanya penetapan. dan yang melalui jalan itu juga menghasilkan keberlakuan HI tak tertulis di lingkungan nasional. undang-undang biasa. judicial or any other functions. an organ includes any person or body which has that status in accordance with the internal law of the State. meskipun tentu hanya sejauh HI bersangkutan dapat ada relevansinya dalam lingkungan HI (relevansi demikian tidak ada dalam HI yang memang kita kenal ajaran-ajaran tentang kesatuan hukum internasional dan nasional (monisme) dan sebaliknya tentang perbedaan dan pemisahan mutlak antara kedua sistem hukum itu (dualisme). khususnya PI. yaitu dengan “mengizinkan” isi HI berlaku di lingkungan HN tanpa merubah sifat internasionalnya. Tata HN dapat saja menyangkal mutlak segala peranan dan pengaruh HI terhadap HN. tata HN dapat juga pada azasnya mengakui kemungkinan peranan dan pengaruh itu. misalnya keputusan-keputusan hakim. seperti di sistem mazhab hukum common law yang menggolongkan HI tak tertulis ini sebagai “law of the land”. dimana HN ternyata tidak melakukan pilihan tegas (eksplisit). dan berpendirian bahwa pembuat hukum nasional merupakan satu-satunya yang berwenang mengadakan peraturan tentang hal apapun yang perlu diatur hukum di lingkungan HN. yang berakibat HI itu berlaku di lingkungan HN. dikembangkan dalam bentuk hukum kebiasaan yang penerapannya terlihat dalam keputusan-keputusan konkrit. executive. dilingkungannya. atau “pilihan”m yang dibuat oleh hukum nasional tentang kedudukan dan peranan HI. atau. Jalan yang lain perlu ditempuh apabila tata HN. (2) For the purposes of paragraph 1. tanpa tindakan apapun dari pihak penguasa negara. whatever position it holds in the organization of the State. Persoalan ini perlu dikaji dan dijawab oleh masing-masing tata HN sendiri. ajaran-ajaran muluk ini tidak menghidangkan jawaban langsung apapun atas pertanyaan yang kita hadapi dalam dunia “hukum yang berlaku” (“hukum positif”). Pilihan demikian dapat berwujud tanpa atau melalui suatu tindakan hukum tegas dari tata HN bersangkutan yang termuat di undang-undang dasar. atau dengan mengundangkan isi tersebut sebagai HN dalam bentuk perundang-undangan HN pula. and whatever its character as an organ of the central government or of a territorial unit of the State. Jalan yang satu ialah secara “membuka pintu” bagi HI. pengakuan mana dapat diutarakan menurut dua cara. Sebaliknya.“(1) For the purposes of the present articles. berhubung dengan persoalan kedudukan dan keberlakuan HI (atau khususnya PI) di lingkungan HN. Perbandingan antara sistem-sistem HN menunjuk dua jalan yang dapat dilalui dalam penerapan kebijakan cara pertama tadi. Kebijakan “pintu terbuka” dapat juga hanya diterapkan sejauh mengenai HI tak tertulis yang biasanya bertepatan dengan HI yang “umum berlaku”. whether the organ exercises legislative.

dan kelayakan ini lebih-lebih menyolok apabila kita memandang perjanjian itu sebagai sumber hak dan kewajiban timbal-balik antar para pihaknya. Hubungan-hubungan kemasyarakatan itu mengenai bermacam-macam aspek kehidupan yang mencerminkan cita-cita kemasyarakatan. namun tidak bersifat antar negara. dan yang bersifat baik lintas batas maupun tidak. sesuai dengan bertambah padatnya hubungan-hubungan kemasyarakatan internasional di pelbagai lapangan (“globalisme”) dan sejajar dengan perkembangan itu. merupakan soal penting bagi penegak hukum nasional. di lingkungan HN-nya. PI tidak selalu bersifat timbal balik. seluruhnya atau sebagian. dengan hak pihak yang satu terhadap pihak yang lain tergabung dengan hak pihak kedua ini terhadap pihak pertama. Ruang Lingkup Azas Keterbatasan Berlakunya Antar-Pihak Titik tolak di bidang hukum perjanjian adalah bahwa perjanjian itu mencerminkan kesepakatan antara pihak-pihaknya tentang apa yang mereka inginkan. Di samping itu. ataupun “hanya” memberlakukan isi HI di lingkungan HN sejauh (“diubah”) bentuk dan sifatnya menjadi HN. Dengan demikian. UU persetujuan PI (yang di praktek politik Indonesia disamakan dengan “ratifikasi”) kadang dipakai untuk keperluan ini. Azas ini kelihatannya memang cukup layak. timbullah dan bertambahlah kebutuhan akan pengaturan hubungan-hubungan yang menyentuh pelbagai masyarakat nasional. pemberlakuan isi HI di lingkungan HN memerlukan pembuatan HN yang tegas memuat ataupun setidaknya tegas mengundangkan isi HI bersangkutan sebagai HN (transformasi). Sebagai alternatif kedua cara “pemberian izin” kepada HI tersebut kita kenal kebijakan menolak secara mutlak keberlakuan HI dalam tata HN. dan sebagainya. seperti ketentuan dalam UUD atau perundangan biasa. perjanjian tidak mengakibatkan keuntungan maupun kewajiban bagi pihak ketiga). PI dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai kesamaan dalam menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan nasionalnya. pemberantasan penyakit. menganggap perlu adanya suatu tindakan HN tegas agar mencapai hasil itu. Kadang-kadang. Dalam rangka ini. Memang disini tidak ada alasan untuk memberi peranan apapun kepada pihak ketiga. Dalam hal PI. kebijakan berbeda itu juga memain peranan dalam penetapan kedudukan hirarki kaidah-kaidah hukum yang berasal internasional dan nasional yang termasuk kewenangan tersebut. hubungan-hubungan keluarga.perlunya penerapan isi HI di lingkungan HN. Pertanyaan yang kadang timbul adalah: dapatkah dan bolehkah PI yang berlaku antar negara AB-C-D (yang menyajikan peraturan bersama tentang perlindungan hak-hak azasi manusia. Akan tetapi. tanpa “mengubah” sifatnya sebagai HIM. Dalam rumusan ini tersirat penetapan bahwa siapapun yang tidak ikut menyepakatinya dengan sendirinya tidak terikat padanya (pacta tertiis nec nocent nec prosunt. seperti hak azasi manusia. yang kewenangannya di bidang penerapan hukum terbatas pada hukum yang berlaku di lingkungan hukum nasionalnya. dan makin lama makin banyak. atau kemasyarakatan tertentu itu di masing-masing lingkungan hukum . Soal ya atau tidaknya tata hukum nasional memberlakukan HI.

maka mereka itu tentu bebas untuk mengubahnya. terhadap penerapan isi perjanjian tadi di lingkungan HN negara-negara A. maka negara D tetap tidak dapat dipaksa berdasarkan hukum untuk menyesuaikan kebijakan dalam lingkungan HN-nya dengan perjanjian tadi. yaitu terjadinya kesepakatan antara negaranegara sebagai subyek HI yang berdaulat. tapi pihak berperkara itu kebetulan berkewarganegaraan negara X. Akan tetapi. melainkan merupakan kesepakatan (antar negara) untuk menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan kemasyarakatan tertentu secara sama dan serupa di masingmasing lingkungan HN-nya. Jika isi perjanjian tidak lagi memenuhi kehendak bersama para pihaknya. Azas ini mengacu pada aspek primer PI. ia juga tidak berwenang untuk berkeberatan. misalnya. dan oleh karena itu . yang bersifat normatif dan tidak memaksa dalam arti kata hukum alam. Sebaliknya. gagasan pengubahan sepihak adalah sesuatu yang mutlak bertentangan dengan gagasan perjanjian. dapat saja dilanggar. Jika obyek perjanjian terdiri dari. berdasarkan alasan tidak ikut sertanya sebagai pihak perjanjian. ciri inti tata hukum adalah. Ruang Lingkup Azas Pacta Sunt Servanda Azas ini merupakan inti dan hakekat pengertian perjanjian. Dalam contoh belakangan ini. perjanjian bersangkutan tidak mengenai hak-kewajiban antar negara yang timbal balik. Sebaliknya. termasuk PI. . maka negara D tidak dapat dipaksa menurut hukum untuk menyesuaikan kelakuannya dengan persekutuan tersebut. atau berisi aturan bersama tentang pemindahan perselisihan perdata tertentu dari kewenangan pengadilan kekuasaan pewasitan) diterapkan bila orang yang tersangkut dalam perkara HAM itu berkewarganegaraan negara E? Dan bagaimanakah apabila antara pihak hubungan internasional perdata ada yang berkewarganegaraan negara F? Atau apabila ada pihak berpekara digugat di pengadilan negara A untuk tunduk pada acara pewasitan sesuai dengan PI yang mengatur pewasitan. Tentu kewajiban yang terisi dalam azas ini. bahwa pelanggaran demikian oleh tata hukum dikaitkan pada akibat-akibat tertentu tanpa persetujuan si pelanggar. berhakkah negara X dengan alasan “memberi perlindungan diplomatik” kepada warganya atau dengan alasan lain menolak penerapan PI tersebut? Disini kadang tampak kemungkinan adanya suatu salah mengerti tentang makna azas pacta tertiis. Akan tetapi. Negara D tidak terikat pada perjanjian A-B-C. Disini terletaklah batas ruang lingkup azas pacta tertiis tersebut tadi. tidak dapat diwajibkan tunduk pada isi perjanjian tersebut tanpa persetujuannya sebagai negara berdaulat. apabila obyek perjanjian terdiri dari kesepakatan tertentu untuk menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu secara sama di lingkungan HN masing-masing pihak perjanjian. B atau C jika penerapan demikian menyentuh suatu unsur yang berkaitan dengan negara D itu. sedang kewajiban asal tetap berlaku. keadaan ini tentu tidak mengurangi kewenangan negara D untuk mengajukan keberatan terhadap penerapan perjanjian itu berdasarkan alasan-alasan lain. hak dan kewajiban timbal balik antar negara untuk bertindak bersama sebagai persekutuan militer. seperti telah pernah disebut tadi.merupakan peraturan bersama untuk persoalan-persoalan yang bersangkut dengan adopsi lintas batas. Namun.

berbeda dari perjanjian di lingkungan HN. PI berada di lingkungan HI yang tidak mengenal organisasi masyarakat lengkap dengan dasar dan pucuknya. Pada umumnya. Unsur kebebasan kehendak sebagai inti perjanjian dengan demikian menjadi nisbi dalam hal PI. unsur pembagian kekuatan. pada hakekatnya merupakan hasil pergulatan kekuatan-kekuatan di masyarakat. Wewenang menetapkan hukum. dijaga. tata hukum dikuasai. seluruhnya pada dasarnya tergantung pada subyek hukum sendiri. ia menyalahkan orang yang tidak dapat atau tidak mau mengakui bahwa zaman dan keadaan dapat saja berganti (dengan akibat kemungkinan perlunya hukum berganti pula). namun biasa ditindak oleh penegak hukum dan pada umumnya tidak merupakan faktor yang dapat mengurangi azas-azas yang berdasarkan hakekat perjanjian. terdapat (atau setidak-tidaknya: seharusnya terdapat) alat dan organisasi penegak hukum yang cukup lengkap dan kuat untuk menghadapi dan “menghukum” pelanggaran demikian sehingga dapat tertekan terjadinya. Apa lagi. Oleh karena itu. Lain halnya di lingkungan HI yang berbeda secara mendalam dibanding dengan keadaan nasional. Di lingkungan HN. yaitu kedaulatan negara. ancaman unsu kekerasan di bidang perjanjian perdata. Akan tetapi. perlu diperhatikan dan diperhitungkan. ketika presiden AS mengutarakan kesimpulannya bahwa AS tidak lagi berkepentingan dengan adanya Anti-Ballistic Missile Treaty 1972 (ABM Treaty) dan bahwa ia mempertimbangkan mengakhirinya. kenisbian PI ternyata sekali dari kejadian beberapa waktu yang lalu. lihatlah ketentuan Pasal 9 dari naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum. sehingga dalam perbincangan hukum. Sebaliknya. yaitu kewenangan politik hukum. dan diatur oleh penguasa atau alat kekuasaan yang benar-benar berkuasa terhadap masyarakat lingkungan HN-nya. maklumlah kekurangan dunia pengertian-pengertian dibanding kompleksitas kenyataan hidup jika menghadapi keadaan seperti negara Libanon dimana kekuasaan dan kekuatan sebenarnya yang membela kedaulatan negara terhadap dunia luar untuk sebagian besar berada di tangan organisasi di luar rangka pemerintah. terutama pada negara. sekalipun dapat saja terjadi. sejauh terjadi di lingkungan HN. termasuk yang akibat kekerasan. Ketika ditanya tentang niat tersebut. . baik hukum nasional maupun hukum internasional. Bedanya. di lingkungan HN pergulatan itu tersalur melalui bermacam bangunan organisasi dan penjagaan dan pembagian kewenangan. termasuk pemegang kekuasaan pusatnya dan alat perlengkapan penegak hukumnya yang berwenang dan nyatanya mampu menjaga dan mempertahankan hukum secara memaksa.Kemungkinan melanggar kewajiban hukum dapat dipandang sebagai kenisbian hukum pada umumnya dan tidak khusus mengenai pengertian perjanjian. berdasarkan titik tolak HI. di lingkungan HI aturan hukum hampir seluruhnya semata-mata merupakan buah hasil pergulatan kekuatan antara para subyek hukumnya yang kebebasannya hampir mutlak. Kekuasaan ini dipegang secara monopoli dan mutlak (ingatlah julukan “negara gagal” bagi keadaan sebaliknya). Dilihat dari sudut ini. Namun. sehingga seakan-akan disublimasi dan dapat menghindari bentrokan-bentrokan yang merusak kestabilan masyarakat. Pengaruh Kekerasan Menurut pengertian intinya. Dalam rangka ini. dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihamnya dan oleh karena itu tidak dapat lain daripada berdasarkan kehendak bebas. 2001.

Pasal 52 Konvensi Wina) untuk mencapai perubahan isi perjanjian bersangkutan. yang kadangkadang diiringi tuntutan pembatalannya. yaitu Pasal 51-52. keinginan yang “sesuai rasa keadilan” itu sukar disesuaikan dengan kerangka bangunan tata HI yang belum mengenal larangan mempergunakan daya kekuatan dalam hubungan antar negara untuk menetapkan hak dan kewajiban antar mereka. yang kemudian disahkan (!) dalam “perjanjian perdamaian” atau perjanjian lain. baik di lapangan penerapan hukum praktis maupun di lapangan akademik. Berlatar belakang ini. Pasal 51 menentukan bahwa “persetujuan” demikian “tanpa akibat hukum apapun”. mengenal ketentuan-ketentuan tentang peranan kekerasan di bidang PI. sehingga perjanjian-perjanjian itu seringkali terus terang menguntungkan yang kuat dan merugikan si lemah. Istilah tersebut kebanyakan mengacu kepada perjanjian yang pernah diadakan di zaman lampau antara negara-negara Barat yang biasanya lebih kuat dengan kerajaan-kerajaan atau lain kesatuan kenegaraan di luar kawasan dunia Barat yang umumnya lebih lemah. penggunaan kekuasaan (perang) untuk mencapai keinginan terhadap subyek lain.Di pustaka sejarah politik internasional terkenal istilah “perjanjian tidak seimbang”. artinya sebagai akibat. yang dapat kita anggap mencerminkan HI tentang PI menurut keadaan perkembangannya yang paling baru. kekerasan yang dipakai terhadap pribadi pejabat yang mewakili negara bersangkutan. Kita patut ingat bahwa sebelum terbentuknya tata hukum yang kita kenal semasa pasca Perang Dunia Kedua dalam bentuk piagam PBB termasuk larangan kekerasanya. Kekerasan terhadap pribadi seseorang cukup jelas. bagi kita semua. kesamaran dan pertanyaan di bidang lembaga perjanjian internasional yang memerlukan penelitian dan penyelidikan seperlunya. Penutup Mudah-mudahan tulisan singkat ini berhasil menambah keyakinan akan tersimpulnya pelbagai kenisbian. Multi interpretasi pengertian-pengertian yang digunakan di kalimat ini menunjuk pada kadar kenisbian cukup tinggi. . Konvensi Wina. setidak-tidaknya jauh lebih jelas daripada Pasal 52 yang menetapkan bahwa suatu perjanjian yang terjadi dengan memakai “ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan azas-azas HI yang termuat di Piagam PBB”. Pasal 51 mengatur hal persetujuan negara untuk mengikat diri pada perjanjian yang diperoleh dengan. Keinginan yang cukup legitimasi namun tanpa dasar hukum itu hanya dapat tercapai dengan cara penggemblengan kekuatan yang cukup besar dan segala cara meyakinkan lainnya (kecuali paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Timbullah pertanyaan apakah perjanjian-perjanjian demikian dapat dibatalkan ataupun dianggap batal demi hukum. kita condong berkesimpulan bahwa keinginan membatalkan perjanjian “tak seimbang” demi hukum akan gagal. Bagi keadaan demikian. tata HI bahkan mengizinkan. setidak-tidaknya tidak melarang. Dilihat dari sudut kenyataan lingkungan HI seperti kita uraikan tadi.

menurut teori incorporation. mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional. . yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda. Hukum Kontrak Internasional. baru dapat diterapkan dan menjadi hukum nasional. Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme. perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat internasionalnya (keasliannya). perjanjian internsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional. PT RajaGrafindo Persada. namun diterapkan dalam suasana hukum nasional. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan pelaksanaan. Sementara itu. 2006: hal. Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme. yangmengajarkan bahwa hukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada umumnya. Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist system.186 s/d 205 Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu negara peserta. sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam hukum nasionalnya. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada. Menurut pandangan kaum dualisme.PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK* DALAM SUASANA * Dari buku Syahmin AK. Menurut teori adoption. kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional. ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional. perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian internasional. Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation. perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect) dalam suasana nasional.

Mochtar Kusumaatmdja. statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional. melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional. Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional. . 9 10 Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian.10 Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat. Jika penerapannya melanggar hukum internasional. jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya. baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara. yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting? Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional. kita harus meninjau kembali hukum konstitusi.Cit. asas lex posterior derogat lege priori akan diterapkan.9 Selanjutnya. UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut. yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini. suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggaran tersebut. Op. Dalam hal ini. ataupun hukum interasional atau praktik. maka dapat muncul permasalahannya. pemberlakuan perjanjian internasional.87. Kadangkadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil. yaitu UUD 1945. hlm. bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas.. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona. Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional. terutama perjanjian yan Dalam oleh diwariskan pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing.Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri.

hlm.34 Tahun 1981.. Sebaliknya. tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No. dengan dikeluarkannya Keppres No. Konvensi Jenewa 1927 Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu.. yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara sebagai perorangan.kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat.” Dari pendapat Prof.. Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa.87.. apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada tanggal 7 Juni 1959.... D. jelas kiranya bahwa dalam memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu perjanjian internasional. . Akan tetapi. dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu.. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini 11 Ibid. Prof.11 “.” Meskipun demikian. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan Arbitrase Asing 1. Undang Nasional mutlak dipelukan. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut. UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya. kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana.Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945. beliau juga mengingatkan sebagai berikut. mengenai sikap Indonesia terhadap perjanjian ini. Mochtar Kusumaatmadja di atas..bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita. “.. yakni langsung menganggap diri kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undangundang pelaksana. pengundangan dalam Undangmasalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas.

persekutuan (aliansi) pemberian bantuan. Ltd. Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan penelitian tentang succession of state ini adalah D. Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969. baik bilateral maupun multilateral. London.12 sebelum Konvensi New York 1958 ini dinyatakan berlaku. hlm. Remadja Karya. . Dengan kata lain.14 Sehubungan dengan hal tersebut. Sementara itu. suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian yuridis dan pergantian menurut kenyataan. akan beralih kepada penggantinya. yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah. hlm. Mac Millan & Co..131. Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK. serta dispositive. penggantinya. di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri.13 Akan tetapi.196. aneksasi. Perjanjian ini 12 13 14 15 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40. sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat. Connel. dan State Succession and Problems of Treaty Interpretation. 1986). dan State Sucession in Municipal Law and Internasional. Contoh perjanjian yang bersifat politis adalah perjanjian persahabatan.. dan lain sebagainya. (Bandung CV Armico. Syahmin AK. Perjanjian demikian tidak Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian yang bersifat polotis.P. 1988). dapat juga karena sesi. dekolonisasi. misalnya perjanjian ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase luar negeri. konfederasi. dan mulai tanggal 5 Agustus 1981. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di antaranya ialah: The Law of State Succession. masih berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara pengganti (sucessor state). Lihat Lampiran II buku ini Staatsblad Tahun 1933 No.6 dan seterusnya. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internsional (Bandung: CV. atau negara kesatuan. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan.15 Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan karena dekolonisasi. Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi. Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi? Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties..dengan cara accescion.O.

dan lain sebgainya. meskipun telah terjadi suksesi negara. Doktrin ini juga disebut free choice doktrine. setelah pemutusan perjanjian KMB. doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. misalnya pernjanjian pangkalan militer. Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie. Namun. Ternyata dalam praktiknya. Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara dapat berjalan dengan lancar. kemudian disertai dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda. perjanjian perbatasan. sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian . dua doktrin yang populer yang dapat dipakai menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan suksesi negara. universal. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap mengikat negara tersbut. meskipun negara tersebut.membebani suatu wilayah dengan status hukum. dan ditindaklanjuti dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949). bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights doctrine dan clean state doctrine. Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut perjanjian peralihan. Menurut acquired rights doctrine. hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti beralih kepada negara yang menggantikannya. Teori ini juga disebut dengan teori Sementara itu. sendiri mengadakan perjanjian Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah dengan Kerajaan Belanda. Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam Dalam untuk penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul praktik yang berbeda-beda. hukum internasional. ada Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas. mulai dari perjanjian perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berbeda-beda. Indonesia Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947).

Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par.a) Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan.17 Sementara itu. bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun 1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement). Keppres No. Pasal 11 dan Pasal 12 (1. Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195620. Article 12 par.internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950.19 Kembali lepada persoalan. Pasal 12 ayat (1. meskipun telah terjadi suksesi negara. di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan Belanda. (1) a boundary established by treaty.a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti. Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2.33 Tahun 1950. menyatakan tidak 16 17 18 19 20 Lihat. . The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates.(3) merumuskan sebagai berikut. Pasal 12 (3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1.2).16 Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978. or (2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary. kemudian dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak Kerajaan Belanda. Konvensi Wina Tahun 1978. Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu. Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not as such affect.a) merumuskan: fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes boundary.2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku. Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956. ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah Irian Barat. (2.18 Jadi. Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional.

1931). 95. 12727.terikat lagi pada Perjanjian KMB. maka persetujuan internasional 21 Budi Lazurusdi dan Syahmin AK. antara lain adalah: a. hlm. “…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku untuk negara kita. yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: “…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda.” Kembali pada persoalan. tidak secara otomatis berlaku. 2 tanggal 10 Oktober 1945. kecuali mengenai perbatasan. .. sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berlandaskan pada UU No. Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa 1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. b. March 19. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva. sesuai dengan prosedur 21 dalam hukum perjanjian internasional. untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. Op. Oleh karena itu. March 19 1931). Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar. c. selama Republik Indonesia secara tegas menyatakan demikian. dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan Penetapan Presiden No. Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o. Sudargo Gautama sebagai berikut. Cit. 1931). dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB) Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof. Setelah pemutusan terhadap perjanjian KMB. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with Cheques and Protocol (Geneva March 19.. 13 tahun 1956.

Sekali lagi penulis tegaskan bahwa adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut. hlm.yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan tetap berlaku. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu. agaknya Prof. keppres tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum yang ditimbulkannya. Cit. Indonesia menjadi peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981. 68 . Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini. Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di Indonesia. yaitu sebagai berikut. 22 Sudargo Gautama.” Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state. Op. 2.. “Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar. tanggal 5 Agustus 1981. di mana klausul arbitrase tercakup di dalamnya. Asikin Kusumaatmadja. Aksesi ini didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981. Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja. Pendapat kedua dianut oleh Prof. Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights. atau juga disebut dengan teori universal. yaitu reciprocity principles (asas perberlakuan secara timbal balik). Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing. Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di atas masing-masing mempunyai pendukungnya.”22 Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka.

Dr. Mr. diperlukan peraturan pelaksanaan. 34 tahun 1981. Mahkamah berpendapat perlu adanya peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan. sebuah keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. berlainan dengan undang-undang yang menentukan. Menurut beliau. yang berarti bahwa ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia. Beliau memberikan sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin mengikuti status hukum sang ibu.”23 Sebaliknya. 23 Sudargo Gautama. . Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi konvensi melalui Keppres No. khususnya Prof. Untuk itu. Dr. 57.. Lengkapnya Mahkamah menyatakan sebagai berikut. Sudargo Gautama. permohonan pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima. namun dengan adanya perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya. Peraturan pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan. ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas. 34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981 dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri. hlm. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. “Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. Ibid. kepada Pengadilan Negeri yang mana. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar hukum ternama.Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958. ternyata dalam pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri muncul. Prof.

Jadi. yang memegang kendali utama dan sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dan menetapkan arbitrasenya. Masalah pertama. Kehendak pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri. peran kontrol inilah yang diemban oleh pemerintah.Menurut hemat penulis. apakah suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan. sekaligus menjawab dua masalah penafsiran hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang. Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut dihormati dan dilaksanakan. pengenalan terhadap lembaga arbitrase saja masih minim sekali. serta kesepakatan untuk melaksanakan segala keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan. sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Memang untuk para pengusaha di Indonesia. tetapi juga di kalangan perguruan tinggi. Bukan saja bagi kalangan pengusaha. yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990. sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua. Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu. masalah keputusan hakim arbitrase asing di Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul arbitrase. Di tanah air. tampaknya komitmen dan taraf pemahaman. Sementara itu. penghargaan terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa komersial mereka. Jadi. badan peradilan manakah yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim arbitrase asing tersebut? . Peran pemerintah disini sudah jelas. peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak.

peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari Keppres No. menurut hemat kami. yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dengan demikian. 34 Tahun 1981. Oleh karena itu. Mengulangi pernyataan sebelumnya. sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia. bila pemerintah menganggap perlu. baik Konvensi New York 1958. tanggal 5 Agustus 1981. Akibatnya praktik negara kita sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi. dapat dibuatkan aturan pelaksanaan. 2826. dan telah dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai dengan konvensi ketatanegaraan. dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah (cq. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional Indonesia yang mengatur. tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu. 2826 dalam praktiknya belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. dapat disimpulkan di sini bahwa keppres pun. . Namun.Masalah pertama. 34 tahun 1981. Akhirnya. bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. maupun keppresnya sendiri tidak mengatur tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi dari para ahli hukum kita. telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1990 itu dimungkinkan. Masalah kedua. pelaksanaan Surat Presiden No.

.. sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum. LL. Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi. Komar Kantaatmadja S. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknya adalah negara. DEPLU. ”Tapi negara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”. whether embodied . kepada penulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasional pada tahun 1986. LL. Dr. Kasus judicial review ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensi Indonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjian internasional. perjanjian internasional adalah: “An International Agreement concluded between States and International Organizations in written form and governed by International Law. Distorsi publik ini pulalah yang mendorong lahirnya klaim bahwa Production Sharing Contracts (PSC) antara Pemerintah RI adalah ”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya judicial review terhadap UndangUndang No.APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman* * Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof. Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu issue kontroversi dalam literatur hukum perjanjian internasional. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi pada tahun 2007. Komar Kantaadmaja. penulis masih belum dapat menemukan jawabannya. Perdebatan sengit bahkan berlangsung pula dalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. S.H. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU.M.M. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull. Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasional guna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa. Pemahaman publik tentang apa itu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popular yaitu perjanjian yang bersifat lintas batas. lanjut beliau dengan tersenyum. demikian pertanyaan Almarhum Prof. Menurut Konvensi ini.H. DR. ”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”.

dan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara.in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” Selanjutnya. Dari pengertian hukum ini. depends on the subject-matter and the intention of the parties (ILC Draft and Commentary. definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. yaitu: ● ● ● ● ● an International Agreement. There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations.e. 1967). Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang merumuskan sebagai setiap perjanjian di bidang hukum publik. suatu dokumen disebut sebagai ”Governed by International Law” jika memenuhi dua elemen. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 1962). by Subject of International Law. “Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik). atau subjek hukum internasional lain. Whatever Form. Intended to create obligations and legal relations. yaitu “intended to create obligations and legal relations under international law: a. yang diatur oleh hukum internasional. . They could be in the form of a “Joint Statement”. in Written Form. There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i. loan agreements” (Report of the ILC Special Rapporteur. or “MOU”. …Under International Law. organisasi internasional. maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. b. Parameter tentang ”Governed by International Law” merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya di kalangan praktisi namun juga akademisi.

Setelah lahirnya Undang-Undang No.J. diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”Treaty Room”.Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah ”Governed by International Law” juga masih menimbulkan perdebatan akademis. merupakan jurisprudensi landmark bagi perkembangan hukum perjanjian internasional di Indonesia. atau should there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to create legal relations is governed by international law? Pakar hukum D. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata. beberapa anggota DPR mempermasalahkan bahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RI” dianggap bertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan . Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 1 Tahun 1963. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masih terdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan “Governed by International Law”. sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh Pemerintah RI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loan agreements”. sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini. dimana penulis juga terlibat untuk mewakili pemerintah. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. Namun praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Apakah hal ini dapat ditarik dari the intention of the Parties? the Subject-Matter of the agreement?. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional dan bahkan diratifikasi melalui Undang-Undang No. Dalam kasus ini. Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagai perjanjian internasional. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas). Undang-Undang No. Keputusan MK terhadap judicial review Undang-Undang No.

tidak termasuk Perjanjian Internasional yang merupakan ruang lingkup pasal 11 UUD 1945. The Proper Law of Loans concluded by International Persons: A Restatement and Forecast. dan karena itu permohonan Pemohon sepanjang mengenai hal tersebut tidak cukup beralasan”. Secara konvensional. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Mahkamah Konstitusi dalam judical review ini telah melakukan koreksi terhadap distorsi yang terjadi dalam opini public tentang apa itu perjanjian internasional. Status loan agreements juga menjadi kontroversi dalam perspektif definisi perjanjian internasional. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) UU Migas. 1962). Konstitusi menyatakan: “Meskipun bunyi pasal 11 ayat (2) UUD 1945 menyebut. Akibatnya. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata (lihat Georges R. Hal ini disebabkan adanya pergeseran tentang governing law yang mendasari perjanjian-perjanjian pinjaman. dan dengan demikian bukan perjanjian internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (dan UU No. Delaume. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional). American Journal of International Law. Vol. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan DPR”. Oleh karenanya. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. “perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. 56. kami dapat menyetujui pendapat Pemerintah dan ahli yang diajukan bahwa perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian internasional sebagaimana diartikan dalam pasal 1 dan 2 Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian (Law of Treaties) dan pasal 2 ayat (1) huruf a Konvensi Wina tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional. perjanjian pinjaman dikenal sebagai perjanjian perdata internasional dan tunduk pada hukum nasional tertentu sehingga status perjanjian ini bukanlah perjanjian internasional ”Governed by International Law”. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang Mahkamah .mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara.

Undang-Undang No. sehingga penetapan status perjanjian diserahkan pada intepretasi di kemudian hari manakala terjadi sengketa. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam pasal 23 ayat (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. Namun di lain pihak. dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang No. perjanjian perdata internasional biasa yang ”Governed by other than International Law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan Undang-Undang No. banyak perjanjian pinjaman seperti halnya perjanjian komersial lainnya yang tidak secara tegas menyebutkan governing law. Namun perlu ditekankan bahwa persetujuan DPR dalam konteks Undang-Undang APBN tidak identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Undang-Undang APBN bukanlah Undang-Undang untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan Undang-Undang untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.mengindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. b. Dalam hal ini. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. perbuatan Pemerintah RI by International Law” seperti yang a. Di lain pihak pengesahan/ratifikasi adalah lembaga hukum ketatanegaraan tentang pengesahan oleh legislatif atas perbuatan hukum pemerintah RI sesuai dengan Hukum Perjanjian Internasional. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut pasal 10 huruf f Undang-Undang No. 24 Tahun . 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan Undang-Undang dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri. yaitu: perjanjian internasional publik ”Governed 2000 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. dan.

terikat pada perjanjian itu. Dalam praktek. Departemen Luar Negeri akan menyampaikan notifikasi “telah terpenuhinya prosedur konstitusional/ internal” setelah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Departemen Keuangan perihal itu. wewenang penandatanganan Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri berada pada Menteri Keuangan. secara juridis formal. adanya persetujuan DPR dalam APBN tidak dapat meniadakan persyaratan ratifikasi sebagaimana ditetapkan oleh pasal 10 huruf f Undang-Undang No. Persetujuan DPR pada Undang-Undang APBN adalah terhadap perjanjian yang akan dan belum ditandatangani oleh Pemerintah RI sedangkan persetujuan dalam konteks pengesahan/ratifikasi adalah terhadap perjanjian yang sudah ditandatangani. Menurut pasal 15 Peraturan Pemerintah tersebut. maka posisi Departemen Luar Negeri pada setiap perjanjian pinjaman kategori ini selalu mengupayakan klausula tentang dipenuhinya terlebih dahulu prosedur konstitusional/internal sebelum berlakunya perjanjian. Sedangkan pengertian persetujan DPR pada Undang-Undang APBN bukanlah mengesahkan perjanjian yang sudah ditandatangani melainkan menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. Dengan demikian. Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang pada hakekatnya mengatur tentang Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah Luar Negeri. kecuali secara tegas dinyatakan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman/Hibah Luar Negeri ini.yang menandatangani suatu perjanjian disahkan dengan Undang-Undang (dengan demikian melalui persetujuan DPR) sehingga Indonesia secara resmi. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam Undang-Undang . 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Selain itu. berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. dalam rangka akuntabilitas juridis serta untuk mengamankan kepentingan hukum khususnya kewajiban pengesahan dengan Undang-Undang. Itulah sebabnya. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Dalam prakteknya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Pada Peraturan Pemerintah ini tidak terdapat aturan yang mengindikasikan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah harus mendapat persetujuan DPR.

Loan Agreements yang dibuat oleh Indonesia selama ini adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh Undang-Undang No. Dalam definisi tentang Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri pada Rancangan UndangUndang ini. yang dalam hal ini mungkin Bank Swasta Asing. beberapa negara seperti Jerman dan Loan Agreement dengan International Fund for Agriculture Development tahun 2000 menginginkan agar perjanjian pinjaman ini mengambil format perjanjian internasional yang tunduk pada Konvensi Wina 1969. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional hanya mengatur tentang perjanjian pinjaman per definisi Undang-Undang ini yaitu perjanjian “Governed by International Law”. termasuk prosedur ratifikasi berdasarkan pasal 10. sehingga prosedur Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Undang-Undang No. Terlebih lagi. Sehingga untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Menteri (dalam hal ini Menteri Luar Negeri) mendelegasikan kepada Menteri Keuangan”. “Dalam hal pinjaman luar negeri. dalam pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri ditandatangani oleh Menteri Keuangan sedangkan menurut penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang No. Namun di pihak lain. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. Akibat tidak adanya penegasan juridis dari Rancangan Undang-Undang. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 2 Tahun 2006 (bahkan dalam Rancangan Undang-Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun Peraturan Pemerintah No. akan terjadi konflik kewenangan antara substansi dan format yaitu Menteri Keuangan yang memiliki kewenangan atas pinjaman luar negeri dengan kewenangan Menteri Luar Negeri yang memiliki wewenang untuk membuat perjanjian internasional itu sendiri. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UndangUndang No.No. Lembaga-lembaga ini jelas bukan Subjek Hukum Internasional dan dengan demikian perjanjian pinjaman dengan . diindikasikan bahwa Pemerintah RI dapat membuat perjanjian dengan pemberi pinjaman. Lembaga Keuangan Non-Pemerintah Asing. Dalam praktek Indonesia. 24 Tahun 2000 harus diterapkan. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. serta Lembaga Donor Swasta lainnya. perjanjian pinjaman dapat merupakan perjanjian internasional dan juga dapat berupa perjanjian perdata internasional.

perlu pula diperhatikan bahwa praktek negara tentang judul suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. of Letter of Agreement. Dewasa ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti Joint Statement. They enumerate the commitments to which the Parties have consented. 1978: a. Letter Demarche. In order to ascertain whether an agreement of that kind has been concluded. Final Act. 24 Tahun 2000. convention. ICJ Qatar/Bahrain Case. They constitute an international agreement.lembaga-lembaga ini bukan merupakan perjanjian yang menjadi lingkup Undang-Undang No. they do not merely give an account of discussions and summarize points of agreement and disagreement. They thus create rights and obligations in international law for the Parties. Charter. Sekalipun Konvensi Wina dan jurisprudensi tidak menempatkan judul dokumen sebagai faktor penentu. Having signed such a text. Pada sisi lain terdapat pula kecenderungan pada publik opini untuk menggunakan parameter nomenklatur atau judul dokumen sebagai faktor penentu untuk menetapkan dokumen itu sebagai perjanjian internasional. Qatar and Saudi Arabia. b. adalah perjanjian internasional sedangkan agreed minutes. like the exchanges of letters of December 1987. constitute an international agreement creating rights and obligations for the Parties. The Court concludes that the Minutes of 25 December 1990. Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik). Joint Declaration. Memorandum of Cooperation. Dengan demikian maka setiap dokumen yang berjudul treaty. Letter of Intent. Protocol. Understanding. Memorandum . the Court must have regard above all to its actual terms and to the particular circumstances in which it was drawn up. 1990”. d. of Memorandum Agreement. record of discussion bukan perjanjian internasional. of Aide Memoire. Process Verbal. the Foreign Minister of Bahrain is not in a position subsequently to say that he intended to subscribe only to a "statement recording a political understanding” and not to an international agreement”. The Minutes are not a simple record of a meeting. memberikan petunjuk bahwa untuk menetapkan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional tidak harus dilihat dari judul perjanjian. Side Letter. c. MOU. 1994. ICJ merujuk pada The ICJ Aegean Sea Continental Shelf. Dalam tanggapannya terhadap “Minutes signed by Foreign Ministers of Bahrain. Minutes of Meeting. ICJ menyatakan bahwa Minutes ini adalah perjanjian internasional. agreement.

seperti Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding) merupakan salah satu model dokumen yang memiliki sifat khas/typical. Dalam hal ini. pengelompokan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. Praktek di Indonesia misalnya. Terdapat praktek negara. atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan perjanjian internasional lainnya. khususnya pada negara-negara common law system. sekalipun tidak mengikat secara hukum cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MOU yang kemudian diikuti dengan Arrangements. Sekalipun Undang-Undang No.Cooperation. namun apabila ditelaah lebih lanjut. Record of Understandings. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak menyepakatinya. Adanya pengertian MOU yang non-legally binding dalam praktek beberapa negara akan . yang berpandangan bahwa MOU adalah nonlegally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian tersebut memiliki bobot kerjasama yang berbeda tingkatannya dengan perjanjian internasional lainnya. atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam perjanjian. Para ahli berpendapat bahwa istilah MOU digunakan dengan alasan politis yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement yang dinilai lebih formal dan mengikat. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam. Selain itu terdapat kecenderungan dalam praktek negara-negara. Exchange of Notes. misalnya lebih cenderung menggunakan “Agreement” sebagai instrumen payung dan kemudian MOU serta Arrangements untuk instrumen turunannya. sekalipun tidak konsisten. Selain itu. terdapat pula kecenderungan umum dalam praktek Indonesia bahwa dalam setiap pembuatan perjanjian yang bersifat teknis antar sektor harus didahului dengan pembuatan perjanjian payung. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MOU) memiliki daya mengikat seperti Treaties. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak mempermasalahkan judul atau nomenklatur. namun praktek Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi tertentu. Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk kepentingan conveniences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat. jika terdapat kebutuhan lain maka suatu perjanjian dapat saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian payung.

Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan politik terhadap investor asing. Untuk kebutuhan praktis. khususnya pada negara-negara common law. Dengan demikian. pengertian non-legally binding belum menjadi concern yang berarti bagi Indonesia. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti. Status hukum MOU semacam ini masih menjadi perdebatan. sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasional. Jika diteliti lebih dalam seluruh dokumen yang tersimpan pada Treaty Room berdasarkan materi perjanjian (the merits of the documents). maka pada hakekatnya dapat dilakukan klasifikasi sbb: . Dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini. Metode yang digunakan dalam praktek Indonesia untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional masih belum konsisten.menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. Secara umum pengertian ini selalu diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MOU melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang lazim dilakukan terhadap perjanjian internasional. Istilah MOU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk yang lebih informal dari ”kontrak” atau ”perjanjian” dalam hubungan perdata nasional. Perlu pula dicermati bahwa MOU sudah menjadi instrumen yang digunakan dalam hubungan kerjasama antar wilayah dalam kerangka otonomi daerah di Indonesia. Pengertian MOU oleh otonomi daerah merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk “Perjanjian Kerjasama” yang bersifat mengikat. Dari sisi hukum nasional. Pemerintah Daerah juga sudah mulai menggunakan format MOU untuk merefleksikan jaminan Pemerintah Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di daerah itu. Hal ini terlihat dari pola sistem penyimpanan perjanjian (depository system) yang ternyata menyimpan pada Treaty Room Departemen Luar Negeri semua dokumen sepanjang ditandatangani oleh Pemerintah RI tanpa melihat apakah dokumen tersebut memenuhi semua elemen sebagai suatu perjanjian. pengertian nonlegally binding memiliki implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dijadikan alat pembuktian serta di-enforce oleh pengadilan.

b. Agreement. c. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat. agreed minutes. etc). . Extradition. etc). MOU’s. sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi. Border Treaties. Dari uraian diatas maka praktek Indonesia juga ternyata tidak luput dari dinamika tersebut.a. declarations. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Multilateral Convention. mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. etc). Perjanjian yang memiliki karakter internasional tetapi tidak tunduk pada hukum internasional publik (loan agreements. Dokumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum (joint statements. procurement contracts. Exchange of Notes. Perjanjian seperti yang didefinisikan oleh Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations 1986 serta Undang-Undang No. Sekalipun literatur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten. namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif.

2005. “International Law”. Diehl. No. “International Law”. Chirelstein. 2005. Cambridge University Press. “Status of Treaties in Domestic Legal System: A Policy Analysis”. Clifford J. Malcolm N. Vol. 1998. “Cases and Materials on International Law”. Sweet & Maxwell. Martinus Nijhoff Publishers. “The European Union and the International Law of Treaties”. Delano Verwey. London: Lynne Rienner Publishers. Hynning. The University of Chicago Law Review.BIBLIOGRAPHY John H Jackson. DEPLU. “Pengantar Hukum Internasional”. “Treaty Law for the Private Practitioner”. 1992). Cambridge University Press. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. Ltd. Mochtar Kusumaatmadja. Damos Dumoli Agusman. Jan Klabbers. Shaw. AJIL. M. New York: Foundation Press. London. Inc. 86. Vol. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Grotius Publication. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. 2003. 2006. 1996. Bina Cipta. D. 2 (Apr. 1975. Antonio Cassese. "Concepts and Case Analysis in the Law of Contracts”.N. 23. “International Law”. Syahmin AK. 2004. Shaw. Charlotte Ku & Paul F. Harris. 2000. “The Concept of Treaty in International Law”. “Hukum Kontrak Internasional”. 1997. 2006. Rebecca Wallace. Cambridge University Press. “Modern Treaty Law and Practice”. . 310-340. pp. Anthony Aust. J. “International Law”. 1991. “Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional”. “International Law: Classic and Contemporary Readings”. London: Sweet & Maxwell. 2001. Oxford. Marvin A.

Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak.JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati. Perjanjian internasional . Latar Belakang Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalah dengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain. Indonesia karena denganpemerintah negara negara-negara subyek lain.KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI . Februari 2006. volume 3. nomor 1. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasional yang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional. Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional hukum yang antara sangat Pemerintah penting. Dengan meningkatnya intensitas hubungan dan interdependensi antarnegara. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR. et. organisasi internasional dan subyek hukum lainnya. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. al* *Diambil dari Jurnal Konstitusi. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan mengikat dengan hukum internasional lainnya. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut.

Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalam hal diajukan kehadapan MK? 4. 24 Surat Presiden No. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. Oleh sebab itu. Untuk itu melalui Surat Presiden No. tanggal 22 Agustus 1960. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. . organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subyek hukum internasional lainnya.yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang. Dalam penelitian ini. Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkan perjanjian internasional jika dibatalkan ole MK? Proses Pengesahan Perjanjian Internasional Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia? 2. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuan DPR. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. akan dibahas pokok permasalahan sbb: 1. 24 tahun 2000. Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK? 3. Sebelum adanya UU No. 2826/HK/1960.24 Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. yang ditujukan kepada Ketua DPR. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut.

4. Ketentuan Umum b. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. memerlukan surat uasa (Full Powers). Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Lembaran Negara RI Tahun 2000 No. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian.perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). 24 tahun 2000. yaitu: 1. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional. Ketentuan peralihan h. 2. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. adapun isi yang diatur adalah25: a. Pembuatan perjanjian internasional c. Pemberlakuan perjanjian internasional e. Dalam UU tersebut. 25 26 Indonesia (a).26 Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah presiden dan menteri. Selain itu juga ada perjanjian. Aksesi. Pengesahan perjanjian internasional d. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Pasal 7 . Pengakhiran perjanjian internasional g.Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UU No. Penerimaan atau penyetujuan. Penyimpangan perjanjian internasional f. 185 Ibid. yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut. UU No. Ketentuan Penutup Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional. 3. Ratifikasi.

DPR dapat meminta pertanggungjawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. perdamaian. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e. dinyataka bahwa. Pasal 10 . perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR.28 Pengesahan dengan UU memerlukan persetujuan DPR. masalah politik. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak. internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam UU. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. Pasal 9 Ibid. 24 tahun 2000. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia tidakserta merta.27 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan UU atau Keppres. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia 27 28 29 30 31 Ibid.29 Pengesahan dengan Keppres hanya perlu pemberitahuan ke DPR. baik departemen maupun non-departemen. pembentukan kaidah hukum baru f. kedualatan atau hak berdaulat negara d. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional. 24 tahun 2000. “Pengesahan perjanjian internasional sebagaiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. dan keamanan negara b. Pasal 11 Ibid. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UU No. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme. Pasal 10 Ibid. pertahanan. dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa.31 Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang. Pasal 8 Ibid. pinjaman dan/atau hibah luar negeri.30 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui UU apabila berkenaan dengan: a.Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah.

Pasal 10. budaya. dan d. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. diratifikasi melalui UU dan Keppres. biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. pertanian. Perjanjian internasional seperti ini dapat langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/ nota diplomatic. 24 tahun 2000. 98. penerangan kesehatan. atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. 24 tahun 2003 tentang MK. pada Pasal 10 dinyatakan bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk: a. Lembaran Negara RI tahun 2003 No. Apakah MK Berwenang Menguji UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional? Menurut UU No. memutus pembubaran partai politik. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.memandang hukum nasional dan hukum interasional sebagai dua sitem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian yang termasuk kedalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan. social. kehutanan dan kerjasama antar propinsi atau kota. menguji UU terhadap UUD 1945 b. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat UU yang lebih spesifik mengenai perjanjian internasional yang diratifikasi. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. maka selanjutnya Indonesia harus membuat UU yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam UU yang lebih spesifik. . pariwisata. UU ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. contoh Indonesia meratifikasi ICCPR melalui UU. 24 tahun 2003 tentang MK. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 c. UU No. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum32 32 Indonesia (b). Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya. UU ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut.

Pasal 8 Ibid. Pasal 8 ayat (2) Ibid. terjemahan. Hal lain adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dan lebih spesifik dari muatan UU secara umum. RUU. (3) pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. Pasal 12 ayat (3) Indonesia (c). (4) wilayah negara dan pembagian daerah. Untuk keperluan pembahsan RUU di DPR.37 DPR mulai membahas RUU dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden diterima. hak asasi manusia. 53.36 mengajukan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional yang telah disiapkan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. menyiapkan salinan naskah perjanjian. dalam Pasal 8. atau rancangan Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. Pasal 12 Ibid. lembaga pemprakarsa yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah. 24 tahun 2000 mengenai hal apa saja dari perjanjian internasional yang disahkan dalam UU. Beberapa hal yang sama adalah mengenai kedaulatan. wilayah negara dan masalah keuangan negara. UU No. Hal ini relevan karena dalam melakukan ratifikasi terhadap suatu perjanjian internasional adalah melalui UU. Sesuai dengan UU No. Sehingga tidak adanya suatu perbedaan antara UU ratifikasi perjanjian internasional dan UU pada umumnya dilihat dari sudut muatan materi UU. (2) hak dan kewajiban warga negara. Pasal 20 . baik departemen maupun nondepartemen.33 Selanjutnya selain dari yang berkaitan dengan UUD 1945 adalah diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. menteri atau pimpinan 33 34 35 36 37 Indonesia (c). dan (6) keuangan negara. Lembaran Negara RI tahun 2004 NO.Dengan demikian salah satu kewenangan dari MK yang perlu digaris-bawahi adalah mengenai menguji UU terhadap UUD 1945. Dalam surat tersebut Presiden menegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR. disebutkan bahwa materi muatan yang harus diatur dalam UU berisi hal-hal yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi (1) hak-hak asasi manusia.35 Pengajuan disampaikan pengesahan kepada perjanjian internasional Presiden dilakukan melalui Menteri untuk Presiden. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. (5) kewarganegaraan dan kependudukan.34 Hal ini sama dengan ketentuan dalam UU No.

40 Setiap UU atau Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara RI. Pasal 32. Lembaga penyimpanan selanjutnya memberitahukan semua pihak bahwa perjanjian tersebut telah menerima piagam pengesahan dari salah satu pihak.39 Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden. 38 39 40 41 42 43 Ibid.41 Menteri menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan pemerintah RI pada suatu perjanjian internasional untuk dipertukarkan dengan negara-negara pihak dalam perjanjian internasional atau disimpan oleh negara atau lembaga penyimpanan pada organisasi internasional.5. Tingkattingkat pembicaraan dilakukan dalam rapat komisi/ panitia/ alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. pemerintah dapat membuat perjanjian internasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatic.Praktek ini berlaku bagi perjanjian multilateral yang memiliki banyak pihak. Tata cara pembahasan RUU tersebut diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPR. UU ini dapat diajukan ke MK. Penempatan peraturan perundang-undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam Lembaran Negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara. Pasal 37 Indonesia (a). Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan.6.43 Disamping perjanjian internasional yang disahkan melalui UU atau Keppres. Ibid. diampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi UU.42 Lembaga penyimpanan (depositary) merupakan negara atau organisasi internasional yang ditunjuk atau disebut secara tegas dalam surat perjanjian untuk menyimpan piagam pengesahan perjanjian internasional. Pasal 14 Ibid. . Pasal 14 Ibid. Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. muatan dan isi serta proses pembentukan dari UU pengesahan perjanjian internasional tidak berbeda dengan UU lainnya. atau melalui cara lain sesuai kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam perjanjian. Secara struktur. Oleh karena itu. ayat 1. dan 7 Ibid.lembaga pemrakarsa 38 memperbanyak naskah RUU tersebut dalam jumlah yang diperlukan.

24 tahun 2003. bukan gugatan. Rumusan ini merujuk pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . Yang termasuk sebagai ini adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan yang sama dapat tampil sebagai pemohon. Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama. Persyaratan legal standing dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam UU. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian UU. Dimana bagian yang terpenting adalah legal standing dari pemohon dalam mengajukan permohonannya. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut UU untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada MK.Tatacara Pengajuan Permohonan Pengujian UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional ke MK Dalam perkara permohonan pengujian UU Pengesahan Perjanjian Internasional. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya UU yang dipersoalkan. maka prosedur pengajuan yang digunakan tidaklah berbeda dengan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan Mahkamah tentang pengajuan permohonan. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversaria atau contentious yang berkenaan dengan pihakpihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata maupun tata usaha negara. b.46 Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI ynag diatur dalam UU. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan.47 a. melainkan permohonan. Oleh sebab itu perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. sebenarnya tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke MK dan menjadi pemohon. asalkan dapat membuktikan dirinya memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk menjadi pemohon. Dengan demikian. Dalam berperkara di MK. subjek hukum yang mengajukan disebut sebagai pemohon. Dalam hukum acara MK yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No.44 Adanya kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata45 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. yang bunyinya sbb: Perorangan warganegara Indonesia. Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet poiny d’action. UU yang digugat adalah UU yang mengkat umum terhadap segenap warga negara. Dalam hal ini adalah kepentingan pemohon dalam mengajukan permohonan termaksud. 44 45 46 47 Semua perkara konstitusi di MK disebut sebagai perkara permohonan.

e. maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. berdasarkan pertimbangan hukum Putusan Perkara No. 006/PUU-III/2005. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan. b. Seperti telah diuraikan di atas. b. Hal Badan hukum public atau privat. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945. Kemudian. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya UU yang dimohonkan pengujian.c. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. (iii) badan hukum public atau privat. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Dua criteria dimaksud adalah:50 a. Mahkamah telah menentukan lima persyaratan mengenai kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu UU sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK. 2005. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di MK. c. yaitu: a. atau (iv) lembaga negara. 81-82 . Konstitusi Press: Jakarta. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat khusus dan actual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi.49 yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan WNI (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). melainkan juga mencakup pengertian lainnya secara luas. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu UU yang dimohonkan pengujian. Dari penjelasan-penjelasan di atas. d. besar kemungkinan badan hukum tidak hanya mencakup pengertian public/privat saja. maka dapat diketahui bahwa setiap pemohon haruslah: 48 49 50 Dengan berkembangnya ilmu hukum di masa modern ini.48 Lembaga Negara. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. hal. d. Maruarar Siahaan. Maksudnya adalah lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas.

kelima criteria tersebut masih bersifat abstrak. Untuk itu dalam kaitannya dengan permohonan yang diajukan ke mahkamah. . Jika kelima criteria ini tidak dapat dipenuhi secara kumulatif. Uraian ini harus secara jelas dan tegas yang pada pokoknya akan menunjukkan hubungan hukum antara pemohon dengan materi permohonan yang hendak diajukan. bahwa apabila permohonan yang bersangkutan kelak dikabulkan. bahwa adanya atau timbulnya kerugian dimaksud memang terbukti mempunyai hubungan sebab akibat atau hubungan kausal dengan berlakunya UU yang dimaksud. belum memperhitungkan pokok permohonannya. bahwa subjek hukum dimaksud memang mempunyai hak-hak atau kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Untuk itu secara khusus perihal legal standing harus menjadi perhatian Mahkamah. dalam pelaksanaannya. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. Karena. Bagaimana penilaiannya oleh hakim sangat tergantung kepada kasus konkretnya di lapangan. 2. maka yang bersangkutan memang dapat dipastikan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan perkara ke MK. Sudah tentu. 4. Untuk dinyatakan memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan. 5. penilaian mengenai legal standing ini baru mengantarkan pemohon kepada keabsahannya sebagai pemohon. atau bersifat kumulatif secara mutlak. maka pemohon harus menguraikan dengan jelas mengenai anggapan tentang hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan dengan berlakunya UU a quo. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. Mahkamah perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan legal standing ini. salah satu dari keempat kelompok subjek hukum tersebut di atas.1. maka kerugian konstitusional yang bersangkutan memang dapat dipulihkan kembali dengan dibatalkannya UU dimaksud. dalam permohonannya pemohonharus menjelaskan kedudukan hukum pemohon dalam perkara yang diajuakan. bahwa hak atau kewenangan konstitusional yang bersangkutan memang telah dirugikan atau dilanggar oleh berlakunya UU atau bagian dari UU yang dipersoalkannya itu. mengingat dampak kekuatan mengikatnya tidak saja terhadap keberlakuan UU tersebut akan tetapi juga dalam pergaulan internasional. 3. kelima kriteria itu kadang-kadang tidak diterapkan secara kaku.

Apabila dalam permohonan tidak dinyatakan . Dalam pengujian formalitas UU pengesahan perjanjian internasional. Permohonan putusan Mahkamah dalam petitum penting untuk dinyatakan dalam permohonan yang diajukan. Hal ini terkait dengan proses keikutsertaan Indonesia sebagai pihak dalam perjanjian internasional. hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam menjatuhkan putusan atas perkara a quo. apakah itu materiil atau formil. sebagaimana yang disebutkan dalam UU Perjanjian Internasional. dalam perkara pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. kiranya menjadi perhatian khusus Mahkamah dalam memeriksa dan memutus perkara ini adalah terkait dengan pengujian atas pembentukan UU a quo. Dalam kaitannya dengan pengajuan pengujian formil. Dalam hal ini harus diperhatikan bagaimana dengan keikutsertaan keterwakilan Indonesia pemerintah dalam perjanjian dalam internasional tersebut. Dalam petitumnya pemohon dalam permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional. dimana harus dilihat siapa yang mewakili pemerintah Indonesia? Apa dasar keterweakilan pemerintah Indonesia? Hal ini terkait dengan surat kuasa yang diemban oleh wakil Indonesia dalam proses perjanjian internasional tersebut. Hal ini akan terkait dengan sejauh mana wewenang wakil pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan proses keikutsertaan dalam perjanjian internasional. keterwakilan pemerintah dalam perjanjian internasional tersebut dan proses pengesahan perjanjian internasional menjadi UU. Terkait Indonesia perjanjian tersebut.Materi pengajuan yang hendak dimohonkan ke mahkamah juga harus menyebutkan dengan jelas perihal permohonan pengujian formil atau pengujian materiil. Hal ini adalah untuk menjawab pertanyaan perihal bentuk pengesahannya apakah UU ratifikasi atau aksesi atau penerimaan. menyatakan bahwa UU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam hal ini pemohon harus menguraikan dengan jelas yang berisi uraian perihal permohonan yang hendak diajukan. Hal lain yang harus juga diperhatikan dalam kaitannya dengan permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional adalah apa bentuk UU pengesahan tersebut. Hal ini akan terkait dengan bentuk keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Uraian ini akan menjadi gambaran yang jelas bagi hakim dalam menilai materi permohonan yang diajukan. masalah proses perundingan atau negosiasi. pemeriksaan tidak hanya terkait dengan proses pembentukan di DPR akan tetapi harus juga dijadikan perhatian perihal proses keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional.

maka hal ini harus menjadi perhatian dalam pemeriksaan pendahuluan dan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki permohonannya. Dalam hal pengujian UU pengesahan perjanjian internasional dapat menimbulkan penafsiran sebagai bentuk pembatalan sepihak (denunciation) dari keikutsertaan Indonesia. Dalam memberikan keputusan yang terkait dengan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional.petitumnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah jika perjanjian internasional yang disahkan oleh UU . perjanjian internasional tersebut secara keseluruhan. Dalam hal ini harus diperhatikan. pasl dan/ atau bagian yang bertentangan dengan UUD 1945. karena Indonesia tidak dapat menarik diri dari perjanjian tersebut jika tidak ada pasal yang mengatur mengenai pe. Kesemua aspek tersebut akan menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan yang akan dibuat oleh Mahkamah dalam memutus permohonan a quo. hal ini juga harus diperhatikan oleh Mahkamah. maka pengujian dilakukan berkaitan dengan materi muatan dalam ayat. Meskipun dengan pembatalan UU pengesahan perjanjian internasional tidak secara serta merta menghilangkan keikutsertaan Indonesia dalam pergaulan internasional.batalan sepihak atau penangguhan keikutsertaan dalam perjanjian tersebut. Dampak Pembatalan UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional Dampak dari pembatalan UU tersebut tidak hanya akan bersifat nasional tetapi juga bersifat internasional. juga harus dipertimbangkan dampak yang akan timbul dari dikabulkannya permohonan tersebut. Kerena pengujian UU pengesahan perjanjian internasional memiliki dimensi yang tidak saja bersifat nasional namun juga internasional. Hal ini penting bagi Indonesia. Walaupun dalam Konvensi Wina Article 46 dinyatakan bahwa negara peserta dari suatu perjanjian internasional dapat membatalkan keikutsertaannya dalam perjanjian jika pelanggaran terhadap perjanjian tersebut merupakan suatu tindakan yang memang sesuai dengan internal law of fundamental importance. dimana apakah pernyataan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat atas materi muatan yang diperiksa dan diputus mahkamah akan dapat dikategorisasi sebagai pembatalan sepihak atau tidak. Dalam hal permohonan yang diajukan adalah pengujian materiil UU pengesahan perjanjian internasional. Dalam hal ini harus diperhatikan dengan baik terkait dengan materi muatan yang menjadi dasar pengujian materiil yang diajukan. yaitu apakah dalam perjanjian internasional tersebut dimungkinkan untuk melakukan pembatalan sepihak atau penangguhan.

. Mengenai pembatalan perjanjian yang diakibatkan oleh dibatalkannya suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional oleh MK tidak termasuk dalam faktor-faktor yang menjadikan perjanjian menjadi batal atau ditangguhkan. Berlainan jika pengunduran diri atau pembatalan tidak diatur dalam perjanjian internasional. yang harus dihormati oleh negara-negara lainnya. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia mundur dari keanggotaan PBB pad Desmber 1964.dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan UUD 1945. Hal berbeda jika hal ini diatur dalam perjanjian internasional. PBB tidak ingin mengulangi pengalaman LBB yang dilemahkan oleh pengunduran diri beberapa anggotanya pada tahun 1938. menetapkan bahwa pembatalan atau pernyataan tidak terikat terhadap perjanjian ini berlaku satu tahun sejak pemberitahuan mengenai pernyataan tersebut diterima oleh Dewan Federasi Swiss. Seperti halnya di dalam Piagam PBB. negara peserta diberikan kesempatan untuk memutuskan apakah akan menjadi pihak dalam perjanjian internasional atau tidak. Maka pernyataan untuk terikat dalam perjanjian internasional tersebut merupakan suatu itikad baik. hal ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. Dengan demikian Indonesia sebenarnya tidak pernah keluar dari PBB. dalam Pasl 63 mengenai Perbaikan Keadaan Luka dan Sakit di Medan Perang di darat. Konvensi Wina menyatakan hal di atas karena dalam prosedur ratifikasi. jika pengunduran diri atau penangguhan untuk terikat terhadap perjanjian tidak diatur. Pada saat Indonesia ingin kembali menjadi anggota PBB. seperti halnya dalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Indonesia diwajibkan membayar segala kewajiban selama ketidak aktifannya di PBB. Hal ini berlainan dengan LBB yang mengatur mengenai pengunduran diri dari LBB. Namun dalam hal ini dapat dimasukkan dalam pembatalan atau penangguhan secara sepihak ini tidak akan menjadi masalah jika pengunduran diri diatur dalam suatu perjanjian internasional. pengunduran diri Indonesia di PBB dihitung sejak pernyataan mundur Indonesia di PBB. Dengan demikian pembatalan suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional yang dilakukan oleh MK tidak selalu menjadikan Indonesia lepas dari keterikatannya yang telah dinyatakan oleh Indonesia terhadap perjanjian tersebut. dengan menyesuaikan perjanjian internasional tersebut dengan konstitusi negaranya.

yaitu teori voluntarisme. Dalam memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori. dan teori objektivis[2] yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya. New Delhi. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya. Berbeda dengan .) di Faculty of Law.) di School of Social Science. saling berdampingan dan terpisah. Karena peran dari hukum nasional negara-negara dalam memberikan pengaruh dalam kancah hubungan internasional mengangkat pentingnya isu bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional dari sudut pandang praktis.A. Latar Belakang Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional. Hal ini dapat dilihat dari interaksi masyarakat internasional dimana peran negara sangat penting dan mendominasi hubungan internasional.PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA Oleh Pan Mohamad Faiz* * Penulis adalah mahasiswa program Master of Comparative Law (M.[1] yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara.[3] Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. University of Delhi dan program Master of Political Science (M. IGNOU.L.C. I.

Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional. .[5] Maka sebagai akibat dari teori dualisme ini adalah kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada perangkat hukum yang lain. Sumber hukum. Struktur hukum. II. subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik. Dengan demikian dalam teori dualisme tidak ada hirarki antara hukum nasional dan hukum internasional karena dua perangkat hukum ini tidak saja berbeda dan tidak bergantung satu dengan yang lain tetapi juga terlepas antara satu dengan yang lainnya. hukum nasional bersumber pada kemauan negara. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara. 3.pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum. 4. sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional.[6] Karena itu dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasional memerlukan transformasi menjadi hukum nasional. 2. Teori Keberlakuan Hukum Internasional A.[4] Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: 1. sedangkan pada hukum internasional adalah negara. yang mungkin adalah renvoi. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. Subjek hukum internasional. Kenyataan. pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. Akibat lain adalah tidak mungkin adanya pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut.

paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional. Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1. dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara. Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara.[10] Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional. Monisme dengan primat hukum nasional. . Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara.B.[8] Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. 2. hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis.[9] Monisme dengan primat hukum internasional. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional.[7] Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional.

2. hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas. Kebiasaan Internasional. Dengan demikian Pasal 38 Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional. yang pada saat ini tercantum dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 1945. dengan demikian hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan dihadapannya adalah: 1.III. termasuk organisasi internasional dan negara-negara. 4. Pada Konvensi Den Haag XII.[11] Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal.[13] Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan sangat pesat. karena tidak tercapainya minimum ratifikasi. 3. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan untuk menetapkan hukum. tertanggal 18 Oktober 1907.[12] Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk mengakibatkan hukum tertentu. yang mendirikan Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam Mahkamah Internasional Permanen. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan Kapal tidak pernah terbentuk. Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Wina) 1969. Perjanjian Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional. Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920. Menurut sumber tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum internasional. yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan Piagam Mahkamah Internasional. rinsip Hukum Umum. Perjanjian Internasional. ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional. Pasal 7. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 .

3. Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. accord.[15] Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan. protokol. penandatanganan dan ratifikasi. Hal ini biasanya berdasarkan alasan adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara. Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional. Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan. 4. arrangement. pakta (pact). piagam (statute). Sedangkan golongan kedua lebih sederhana.[14] Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty). deklarasi. 2. konvensi (convention). covenant. yaitu perundingan dan penandatanganan.Januari 1980. sebagai berikut: 1. Dalam perundingan multilateral.[16] Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua tahap. Proses pembentukan Perjanjian Internasional. menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan perjanjian internasional. kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. sehingga memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan perjanjian mana yang tidak di Indonesia. Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda dengan perjanjian internasional. proses penerimaan . charter. Dalam perundingan bilateral. modus vivendi. Selanjutnya apa yang menjadi ukuran suatu perjanjian mana yang termasuk golongan yang penting. perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang cepat. Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional. dan lain-lain.[17] Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). Dalam Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga diratifikasi menjadi hukum nasional. Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalahmasalah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional.

2826/HK/1960.(acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. . Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan undang-undang.[18] Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/accession/acceptance/approval). kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945.[19] Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau keputusan presiden. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. Untuk perjanjian multilateral. penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. IV. Pengesahan Perjanjian Internasional di Indonesia Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. Untuk itu melalui Surat Presiden No. Penandatanganan : merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya. tertanggal 22 Agustus 1960. 5. Sebelum adanya Undang-Undang No. yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.

Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah: • • • • • • • • Ketentuan Umum Pembuatan Perjanjian Internasional Pengesahan Perjanjian Internasional Pemberlakuan Perjanjian Internasional Penyimpanan Perjanjian Internasional Pengakhiran Perjanjian Internasional Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup[20]

Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional; 2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian; 3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan (approval) yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut; 4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).[21] Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah Presiden dan Menteri. Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada

dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian interansional tersebut. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.

internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang.[22] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang atau keputusan Presiden.[23] Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan DPR.[24] Pengesahan dengan keputusan Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.[25] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: • • • • • • masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara; kedaulatan atau hak berdaulat negara; hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pembentukan kaidah hukum baru; pinjaman dan/atau hibah luar negeri.[26]

Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional, perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun 2000. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24 tahun 2000, dinyatakan bahwa: ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang

hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui undang-undang dan keputusan presiden. Undang-undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih spesifik. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional seperti ini dapat lansung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya, pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. *** Catatan: Tulisan ini merupakan resume dari salah satu hasil penelitian yang dibuat penulis bersama tim lainnya dalam "Pengujian Undang-undang yang Mensahkan Perjanjian Internasional".

cit. Para pemuka aliran ini adalah Triepel dan Anziloti. 11th ed. [2] Teori ini menghendaki adanya suatu norma hukum yang merupakan dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional. hal 61 [9] Ibid [10] Ibid. Alumi. Aliran ini pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia.. cit. Jakarta 2003. cit. Kelsen dan Verdross) [11] Ibid. hal 62. Butterworths. Akhir dari puncak kaidah hukum terdapat kaidah dasar (Grundnorm) yang tidak dapat lagi dikembalikan pada suatu kaidah yang lebih tinggi.. Pengantar Hukum Internasional. [8] Op. [7] Ibid. Alumni. hal 64. hal 117 . USA. Kelsen dianggap sebagai bapak dari mazhab Wina. 1984. Pengantar Hukum Internasional. yang mempengaruhi teori Objektivis ini. hal 29 [13] Op. Bandung 2003. hal 57-56. hal 114 [12] Shearer. [3] Mochtar Kusumaatmadja. hal 65.Endnotes: [1] Teori-teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional itu pasa kehendak negara ini merupakan pencerminan dari teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai pemikiran ilmu hukum di Eropa pada abad ke 19.. Starke’s International Law. [6] Loc. Paham ini dikembangkan oleh mazhab Wina (Kunz. hal 56 [4] I A Shearer. [5] Mochtar Kusumaatmadja.

Pasal 10 . [21] Ibid. Pasal 7. 5. Lihat: Catatan Kaki No. [19] Loc. [22] Ibid. hal 119 [16] Ibid [17] Ibid [18] Surat Presiden No. cit.[14] Vienna Convention on the Law of Treaties. [20] Indonesia (a). cit. Pasal 9 [24] Ibid. Vienna 1969 [15] Op. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. tanggal 22 Agustus 1960. Pasal 11 [26] Ibid.. 2826/HK/1960. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185. Pasal 10 [25] Ibid. Undang-undang No. Pasal 8 [23] Ibid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful