Kompilasi Permasalahan

Direktorat Perjanjian Ekonomi Sosial dan Budaya
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri 2008

TOR DEPLU MENGENAI STUDI TENTANG SISTEM HUKUM SUATU NEGARA TERKAIT DENGAN PROSES PENGESAHAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL SERTA PENGOLAHAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL OLEH SUATU NEGARA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
* TOR ini dilengkapi dengan “Diskusi Professor Ko Swan Sik dengan Bapak Damos Dumoli Agusman berkaitan dengan TOR DEPLU mengenai Studi Tentang Sistem Hukum Suatu Negara Terkait dengan Proses Pengesahan dan Pemberlakuan Perjanjian Internasional serta Pengolahan Naskah Perjanjian Internasional oleh suatu Negara dan Organisasi Internasional”

Permasalahan yang lahir dari Praktek Negara RI tentang Internasional yang perlu mendapatkan penjelasan akademis:

Perjanjian

1. Dalam kaitannya dengan hubungan perjanjian internasional dengan hukum nasional, apakah Indonesia menganut faham monisme atau dualisme? 2. Apakah perjanjian internasional perlu di definisi ulang sehingga mencakup semua perjanjian yang bersifat transnasional? 3. 4. Apakah loan agreements adalah perjanjian internasional? Apakah nomenclauture membedakan bobot juridis suatu perjanjian internasional?

5. Apakah lembaga negara di luar eksekutif (MA, BPK, DPR) dapat membuat perjanjian internasional? 6. Apakah Sekjen ASEAN dapat membuat perjanjian dengan negara ketiga atas nama angota ASEAN?

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM DINAMIKA GLOBAL 1. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi, mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Sekalipun Literarur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten, namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Perkembangan antar bangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan dan intensitas pembuatan perjanjian internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya.

2.

3.

Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur dalam Pasal 11 UUD 1945, yang kemudian diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional oleh Pemerintah RI. Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional.

4.

PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME? 5. Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukum nasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme, dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjian internasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untuk mengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan. Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikan dasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.

Komentar Prof. Swan Sik:

Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasional Indonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari sudut tata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2 sebagai berikut: (a) HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungan sistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluar dan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan ini berkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN (transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalam lingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagai HN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukan hubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori) (b) HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagai keseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“diinkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun dengan mempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untuk diterapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.

. Dalam konteks ini mereka tidak menginginkan HN Indonesia memilih jurusan dan membiarkan ketiganya applicable dalam setiap kasus. yang satu mengecualikan UUD dari pengutamaan HI. Jika HN telah menetapkan status hubungan ini maka warna jurusan akan terlihat dan teridentifikasi. Staatsblad 1847:23) yang berbunyi: “Wewenang hakim dan daya pelaksanaan keputusan hakim dan akta otentik dibatasi oleh pengecualian2 hukum internasional. sehingga mendahului HN yang berlawanan dengannya. para ahli Indonesia menolak menggunakan teori monisme-dualisme dalam menjelaskan hubungan HI dan HN namun tanpa sengaja pandangan mereka tentang hubungan ini selalu dilatarbelakangi oleh salah satu aliran ini. sehingga dapat diharapkan ada keputusan2 hakim yang mengutarakan pendapatnya tentang ada (tidak)-nya “pengecualian2” demikian. atau dgn jalan undang-undang. atau pemerintah pusat) Disamping itu ada kemungkinan diadakannya perbedaan antara HI tertulis (perjanjian internasional) dan HI tak tertulis (hukum kebiasaan) dalam penerapan pilihan sistem.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dari hasil diskusi dengan para ahli hukum Indonesia. They deny the theory but their thinking reflect the theory. Sikap tata hukum Indonesia (HN) terhadap berlakunya HI dalam lingkungan HN sebagai keseluruhan belum jelas. HN Indonesia tidak perlu terjebak dengan berbagai jurusan tsb namun tetap diperlukan adanya sikap (”legal provisions”) dalam HN Indonesia yang menentukan apa status HI dalam HN (hubungan HI dan HN). Dalam jurusan ini terdapat dua variasi. maka ketiga jurusan itu bisa dipakai secara bergantian. diatas dapat ditentukan secara berbeda-beda. terdapat suatu pertanyaan critical. baik yang bersumber di hukum kebiasaan. jika kepentingan nasonal (national interest) menuntut. seperti pasal 22a “Ketentuan2 umum perundang-undangan” (Algemene bepalingen van wetgeving. Saya sendiri berpendapat bahwa ”bukan jurusan yang menentukan apa yang HN pilih. Pilihan antara ketiga kemungkinan tsb. Beberapa ahli berpandangan bahwa sebaiknya ketiga jurusan itu bisa dipakai dengan menggunakan parameter kepentingan nasional secara kasus per kasus. Bahkan dari zaman kolonial masih ada ketentuan yang berdasarkan peraturan2 peralihan masih berlaku. tapi apa yang HN pilih yang akan menentukan jurusan”. yaitu ”apakah suatu negara mutlak memilih salah satu jurusan tersebut”. Artinya.(c) HI dianggap tidak hanya ter-inkorporasi dalam lingkungan HN.” Berdasarkan ketentuan ini hakim wajib menguji wewenangnya terhadap HI. dan yang lain bahkan menempatkan UUD pun dibawah HI. Petunjuk paling jelas sebenarnya dapat dilihat dalam praktik peradilan (“yurisprudensi” dalam arti-kata umum). bahkan diakui sebagai hukum yang bertingkat lebih tinggi. maupun di hukum PI yang berlaku untuk Indonesia. Kesulitan yang saya hadapi adalah. Sayang sukar untuk diketahui praktek hakim karena masih belum adanya kebijakan pengumuman luas keputusan2 hakim (selain dari pemberitaan2 wartawan disurat kabar). di Konstitusinya. atau melalui tundakan2 berdasarkan otoritas pejabat hukum (misalnya hakim. Ada HN yang menentukan pilihan tsb.

dari sudut HI. Agar PI mengikat suatu negara (berlaku. Perundang2an bersangkutan mungkin “mengatur lebih lanjut” (ToR dengan tepat menggunakan istilah “implementasi”). Swan Sik: Syarat keberlakuan PI untuk lingkungan HN ditetapkan oleh HI (ada tidaknya PI yang relevan untuk RI) dan HN (ketentuan status PI tsb. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. Praktek Indonesia justru tidak konsisten dalam masalah ini. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Memang tidak terdapat indikasi tegas apa yang dianut oleh Indonesia dalam masalah hubungan HI dan H. Apakah tindakan2 tersebut juga berakibat PI bersangkutan berlaku dalam lingkungan HN (lihat catatan diatas) adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh HN. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof.Saya sendiri keberatan jika parameter kepentingan nasional selalu dipakai untuk menentukan pemilihan jurusan karena akan menciptakan ketidakpastian hukum dan prinsip predictability yang menjadi fundasi suatu sistem hukum. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. Dari pandangan para ahli hukum Indonesia. Indikasi kearah monisme misalnya tercermin dari: . dan belum terlihat adanya pandangan yang diluar dari ketiga jurusan tsb. dalam bentuk tegas ataupun sebagai hasil penafsiran (contoh: oleh hakim). terhadap suatu negara) diperlukan seperangkat tindakan pejabat hukum HN (ratifikasi) yang dalam hal ini bertindak baik dalam fungsi HN maupun fungsi HI. dalam lingkungan HN). tidak per se merupakan bukti bahwa RI menganut dualisme. apakah dilakukan secara “silent”? (tanpa memerlukan penetapan oleh HN?) *** 6. Adanya perundangundangan yang mengatur hal2 sama dengan apa yang telah diatur pula dalam suatu PI yang berlaku untuk RI. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. dapat saya simpulkan bahwa pandangan mereka terhadap hubungan HI dan HN mengarah pada memilih salah satu jurusan teori. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasanaliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Pertanyaan saya: dapatkan suatu negara memilih ketiga jurusan tersebut? Jika dapat.

should sebagai UU yang mentransformasikan UNCLOS 1982. 12. UU NO 39/1999 tentang HAM: Ketentuan hukum internasional yang telah diterima yaitu: negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum  an International Agreement nasional. the intention of the Parties? 4/1960 karena karakter dualisme.6/1996 sendiri dapat b. organisasi hukum internasional. suatu dokumen yang ”governed UNCLOS 1982 10.” 7) Perjanjian Internasional berdasarkan Konvensi Wina 1969 (dan 1986) tentang Hukum 2. 1/1982 dimaksud dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yangdalam prakteknya dapat diterapkan langsung tanpa ada UU tentang Diplomatik/Konsuler. Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. Sebelum lahirnya UU ini. Klausula yang dimuat dalam suatu UU yang meratifikasi suatu Perjanjian Internasional (dan oleh organisasi internasional) adalah:PI selalu memuat kalimat: asli (PI) Inggris “An ”Salinan naskahAgreementdalam bahasa between dan terjemahannya dalam bahasa International concluded States and International Indonesia sebagaimana and governed by international Law. 1. Judicial review MK tentang UU No. 24/2000 tentang PI: ”Penempatan peraturan perundangundangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan THEY? TREATIES: WHAT AREagar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”treaty room”. UU No. Menurut kelompok ini UU/Perpres ini Pakar hukum D. 6/1996. produksendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 17/1985adalah meratifikasi by international tidak mencabut UU Perpu 4/1960 perdebatan akademis. maka terdapat beberapa kriteria kebiasaan internasional secara oleh universal” suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan UU Nomor 24 Tahun tentang Perjanjian Internasional.Penjelasan Pasal 13 UU No. 4. atau subjek hukum internasional lain. Bagaimana mengidentifikasi bahwa UU No. Dalam rangka dualisme. Konvensi Wina 1961 internasional. 17/1985 tidak dianggap bertentangan dengan UU Perpu a. Kelompok ini masih menganggap perlu adanya 11. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan UU/Perpres yang internasional yang PI dimaksud. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional tidak luput dari kerancuan ini. bahwa perjanjian mentransformasikan menjadi lingkup UU ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang diatur dalam hukum Jurisprudensi Indonesia sendiri hak dan kewajiban sehingga hukum publik dan bukan internasional serta menimbulkanbelum berkembang di bidang belum memberikan kontribusi untuk pengembangan doktrin hubungan HI dan HN. Namun dilain pihak. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merujuk langsung pada “praktek dan dasar yang harus dipenuhi Dari pengertian hukum ini. hanya jubah untuk menyatakan persetujuan DPR/Presiden dan bukan merupakan UU/Perpres dalam pengertian perundang-undangan. or in two or more related instruments and whatever its single instrument particular designation” 3. Perjanjian yang dibuat dengan NGO juga dianggap sebagai Perjanjian internasional. praktek Indonesia juga mengindikasikan dualisme misalnya dalam praktek penerapan UNCLOS 1982. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. 8) 9) . Dalam hal ini. PASAL 22A AB: KEKUASAAN HAKIM DIBATASI OLEH PENGECUALIAN-PENGECUALIAN  “governed by international law”((diatur dalam hukum internasional serta OLEH HI menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik)  whatever form. UU No. yang diatur Perjanjian Internasional adalah: setiap perjanjian diTanah Kedubes Saudi Arabia: Fatwa MA oleh Langsung Merujuk Padadan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. Kasus Sengketa bidang hukum publik. Pandangan dualisme ini is governed by international oleh Kelompok ahli hukum perundangcreate legal relations tampaknya juga didukung law? undangan Indonesia yang menolak untuk mengkategorikan UU/Perpres yang meratifikasi utatu PI sebagai Harris perundang-undangan. whether embodied Organizations in written formterlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari in a Undang-Undang ini. UU ini baru dicabut oleh UU No. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai Perjanjian Internasional dan bahkan diratifikasi melalui UU Nomor 1 Tahun 1963. 5. Apakah dari: law” juga masih menimbulkan tentang Perairan Indonesia.J. di bidang hukum perdata.  by Subject of International Law  in Written Form 6. Praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya UU No. the Subject-Matter of the agreement? dianggap there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to c.

.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apakah perjanjian internasional perlu didefinisikan kembali. perumus UU No. dengan adanya UU 24/2000 pasal 10 judul (f). Pertanyaan yang kita hadapi yalah apakah pilihan demikian masih mungkin bagi RI. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. Swan Sik: Dilihat dari sudut umum. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. Sebaliknya tercantumnya judul tersebut juga boleh jadi melulu disebabkan kehendak pembuat UU 24/2000 bahwa perjanjian pinjaman/hibah. Dalam hal ini persetujuan dengan UU itu dapat saja ditafsirkan lepas dari hal penempatan perjanjian tsb. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional.13. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasan aliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. karena materinya. Tafsiran terakhir ini lebih2 masuk akal apabila ternyata praktek Indonesia setelah diundangkannya UU 24/2000 masih tetap kadang2 memuat klausula tentang “governing law” (lihat ToR ayat 24)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dilihat dari historis pembuatan UU No 24/2000. Kalangan publik Indonesia telah menggunakan istilah perjanjian internasional secara popular yang mencakup seluruh perjanjian yang bersifat lintas negara baik publilk maupun perdata (kontrak internasional). 14. 24/2000 pada waktu itu tidak dibekali oleh pemahaman tentang definisi perjanjian internasional. Tercantumnya judul ini boleh jadi oleh karena pembuat UU secara prinsip tidak sudi memperbolehkan perjanjian pinjaman/hibah antarnegara/organisasi internasional diperlakukan sebagai perjanjian yang dikuasai suatu HN. antar negara maupun antar perusasahaan multinasional. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. dilingkungan HN atau HI (lihat juga catatan atas ayat 16). yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. perlu disetujui UU. pilihan para fihak (negara atau organisasi internasional) tentang penempatan (G-to-G) loan agreement mereka dilingkungan HI atau HN adalah pilihan politik (kebutuhan dan kepentingan) dan tidak merupakan persoalan teoretis juridis. sehingga menganggap semua perjanjian baik perdata maupun public adalah treaty dalam pengertian .

Untuk kelompok pertama diterapkan UU No. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. Untuk itu sejak tahun 2006. perjanjian perdata internasional biasa yang governed by other than international law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan UU tersebut. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang mendindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. 24/2000 selalu dianggap sebagai treaty sekalipun governed by HN. Sehingga mereka menggunakan “treaty” dari pada “contract”. 24/2000 tidak lagi diberi ruang bagi adanya loan agreement governed by HN. Sehingga loan agreement pada waktu itu oleh perumus UU No. Pertanyaan critical adalah apakah norma HI sudah cukup “adequate” dan available untuk mengatur tentang loan agreements. Praktek negara (termasuk IBRD) yang cenderung menggunakan HI sebagai governing law adalah karena konstelasi politik internasional dewasa ini beranggapan “governed by international law” lebih secured dari pada “governed by a national law”. *** 15. hal ini tidak dapat dipertahankan karena acapkali muncul loan agreements yang governed by HN namun “dipaksakan” untuk dikategorikan sebagai PI berdasarkan UU No. yaitu: a. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata. 24/2000. b. Akibatnya. Dalam praktek. Mereka enggan menggunakan pengadilan nasional dan HN untuk penyelesaian conflict. dalam rangka pembuatan RUU tentang Pinjaman/Hibah telah diupayakan untuk membedakan perjanjian pinjaman menjadi dua jenis. pilihan hukum tentang loan agreements tetap menjadi persoalan juridis teoritis karena “theoretically” loan agreement bukan merupakan domain dari hukum internasional.Konvensi Wina 1969. Dalam konteks pemahaman yang keliru inilah loan agreements dirumuskan dalam UU No. Akibatnya. yaitu governed by international law dan governed by national law. . 16. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. Saat ini terjadi perdebatan yang sangat intensif antara Deplu dengan Depkeu/Bapenas tentang status loan agreements dalam RUU tentang Pinjaman/Hibah. maka berdasarkan UU No. Deplu mengusulkan agar dalam RUU ini dibedakan antara kedua jenis perjanjian ini sehingga dapat diketahui rejim UU apa yang akan diberlakukan. 24/2000. their terms. perjanjian internasional publik governed by international law seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan. Menurut saya. misalnya penetapan loan interest. ILC sendiri dalam drafting Vieanna Convnetion 1969 menempatkan loan agreements sebagai “subject to a national law”. 24/2000 tetapi untuk kelompok kedua tidak perlu diberlakukan.

untuk perjanjian pinjaman kategori ini. apakah lembaga ratifikasi seperti yang dikenal dalam hukum tatanegara telah mengalami pergeseran makna? 20.  Komentar Prof. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. 21. perjanjian pinjaman (loan agreements) adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional.17. Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun PP Nomor 2 Tahun 2006 (bahkan dalam RUU Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. Dalam kaitan ini. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya UU APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Seperti diketahui bahwa UU tentang APBN bukanlah UU untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan UU untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional jelas mengkategorikan perjanjian pinjaman sebagai perjanjian per definisi UU ini yaitu perjanjian governed by international law. Swan Sik: . Pasal 16 PP Nomor 2 Tahun 2006 menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. 18. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut Pasal 10 (f) UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan UU dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam UU tersendiri. UU Nomor 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam Pasal 23 (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan akademis tentang apakah persetujuan DPR dalam kontek UU APBN identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan UU (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional?. Konsekuensinya. yang tentunya membutuhkan ratifikasi sebelum pemberlakuannya. Dalam pembahasan RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Dalam praktek Indonesia. Selain itu. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. 19.

Treaty dan Agreement akan dianggap lebih mengikat ketimbang MOU. Namun demikian.  Komentar Damos Dumoli Melihat kompleksitas masalah ini maka sampai saat ini DPR belum memberikan posisi apa pun tentang hal ini.Menurut tafsiran yang manapun. Namun demikian Depkeu menyatakan pasal 16 PP 2/2006 tidak bertentangan dengan UU karena sudah ada persetujuan dari DPR dalam bentuk UU APBN. content perjanjian merupakan tolok ukur ketimbang namanya. . Jika loan agreement itu tidak treaty (governing law adalah HN) maka UU 24/2000 tidak apply. Pertanyaan saya adalah apakah persetujuan DPR (in advance) identik dengan ratifikasi? Mengingat karakter ratifikasi adalah “confirming the act that already taken by the executive” maka persetujuan in advance bukan ratifikasi. Sebaiknya pemerintah mencari ketegasan dengan jalan memancing pernyataan azas dari fihak DPR. maka DEPLU telah memberikan penafsiran bahwa loan agreement menurut UU 24/2000 adalah “treaty”.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Untuk menyelesaikan problem ini. dan dengan demikian pasal 16 PP 2/2006 bertentangan dengan UU. dengan (dan selama) adanya UU 24/2000 pemerintah tidak mungkin mengadakan perjanjian pinjaman yang mulai berlaku sejak saat ditandatangani. UU 24/2000 tidak mengatur persetujuan in advance karena tidak dikenal dalam hukum perjanjian internasional. artinya PP 2/2006 can apply. dunia diplomasi cenderung memberikan bobot yang berbeda untuk setiap nomenclature.  Komentar Prof. walaupun tanpa perincian sumber pinjaman demikian. Secara tradisional bentuk dan nama perjanjian (nomenclature) tidak relevan untuk dibedakan karena apa pun namanya tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang di dalam suatu perjanjian internasional. Dalam hal ini. NOMENCLATURE. Apakah ini dapat dianggap telah memenuhi syarat tersebut dipasal 23(1) UU 17/2003 dan pasal 10 UU 24/2000 merupakan soal penafsiran yang dapat dijawab oleh praktek hubungan pemerintah-DPR. Swan Sik: Salah satu hal yang masih tetap tanpa ketegasan yalah konsekwensi bermacam.  Komentar Prof.macam sebutan yang dipakai dalam praktek untuk perjanjian2 antar-negara/organisasi internasional. SHOULD THEY BE DISTINGUISHED? 22. Swan Sik: Cara persetujuan DPR seperti yang disebut di ayat 18 diatas pada hakekatnya merupakan persetujuan terlebih dahulu (in advance) atau “pemberian wewenang” untuk mengadakan pinjaman sampai batas tertentu.

Pustaka mengenai masalah ini pasti telah banyak berkembang sejak saat itu. 24. 23. Perkembangan hukum perjanjian internasional juga ditandai dengan adanya perbedaan praktek Negara mengenai nomenclature MoU. Gejala ini telah memicu pertanyaan yang bersifat akademis yaitu apakah dewasa ini pemerintah suatu negara yang selama ini dikenal sebagai pemangku fungsi representation of states tidak lagi menjadi lembaga tunggal untuk membuat perjanjian internasional? . Untuk kebutuhan praktis.Yang dimaksudkan yalah apakah penggunaan istilah tertentu berakibat berbeda dalam bidang keberlakuan hukumnya. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya mengikat seperti treaties. melainkan soal usaha politik antar-negara untuk menghindari keterikatan pada kewajiban hukum tanpa mengaku maksud tersebut. Ada praktek Negara. BPK dan DPR. Praktek internasional termasuk Indonesia juga ditandai dengan maraknya pembuatan perjanjian internasional oleh lembaga di luar eksektif seperti MA. Adanya pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktek beberapa Negara akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. Bagaimanapun persoalan ini sekali-kali tidak semata-mata soal nomenclatur. Petunjuk utama jika menghadapi persoalan bersangkutan yalah tafsiran segala faktor yang memain peranan dalam terjadinya “perjanjian” bersangkutan. khususnya pada Negara-negara common law system yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. Dinamika dalam masalah nomenclature ini menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dunia praktisi tentang apakah diperlukan adanya tingkat hirarki perjanjian internasional berdasarkan namanya. APAKAH LEMBAGA NEGARA DI LUAR EKSEKUTIF DAPAT MEMBUAT PERJANJIAN INTERNASIONAL? 26. Masalah ini sayang sekali terlalu luas (dan spekulatif) untuk dijadikan objek catatan singkat. sayang sekali dalam bahasa Belanda: “De verplichting in het volkenrecht” [Kewajiban dalam hukum internasional] . namun menurut terkaan saya masalahnya tetap terbuka)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Praktek Indonesia dalam pembuatan PI dengan negara-negara lain sangat inkonsisten. 25. Pandangan para negotiators selalu terjebak pada mind setting bahwa MOU lebih rendah dari agreement dan agreement lebih rendah dari Treaty. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti khususnya tentang implikasinya dalam hukum nasional. (Masalah tersebut pernah saya bahas sebagai judul pidato inaugurasi saya pada tahun 1990.

 Komentar Agusman: Damos Dumoli Secara traditional. Seiring dengan maraknya perjanjian internasional oleh lembaga non-eksekutif. Dalam HN. Sejauh pimpinan negara mengizinkan lembaga2 kenegaraan lain daripada Eksekutif mengadakan PI dan sejauh fihak lainnya menerimanya. yalah apakah sifat (PI atau tidak) dan apakah akibat hukum (menurut tata hukum mana) dari perjanjian2 yang kadang-kadang diadakan antara lembaga dan alat perlengkapan badan2 hukum tingkat rendahan (contoh: antara kota-kota) dari negara berbeda. Aspek lain yang kelihatannya kadang-kadang menimbulkan pertanyaan dalam kepustakaan yang tidak jelas terjawab.  Komentar Prof. kedudukan Menlu sebagai pejabat khas dalam hukum internasional tidak dikenal 27. Swan Sik: Bagi HI yang menentukan yalah apakah ada suatu PI. Swan Sik: . biasa negara. Treaty making power merupakan salah satu isu dasar yang lazim diatur dalam konstitusi setiap organisasi internasional sebagai bagian dari paragraf tentang external relations. maka kemudian muncul pertanyaan tentang lembaga full powers. artinya perjanjian antara subjek2 internasional bersangkutan. Komentar Prof. dan hanya mengindikasikan bahwa masalah ini akan diatur lebih lanjut dalam perangkat implementasi. Kenapa pertanyaan full power muncul? Karena non-ekeskutif tidak mengakui Menteri Luar Negeri sebagai bagian dari eksekutif mengeluarkan full power bagi mereka. Mereka mengklaim tidak perlu memperoleh kuasa dari pemerintah. Hasilnya yang dituju tetap suatu PI. Perjanjian ini diberi nama “administrative agreements”. Namun ASEAN Charter tidak secara rinci mengatur mengenai treaty making power of ASEAN. Yang berbeda dari kebiasaan hanya pejabat pelaksananya. Adanya pembagian kekuasaan negara yang semakin ketat di Indonesia menimbulkan implikasi bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga non-eksekutif bukan merupakan urusan eksekutif sehingga perjanjian yang dibuat oleh mereka bukan tanggung jawab eksekutif. Begitu pula pertanyaan tentang full powers kelihatannya tidak relevan benar (lihat dibawah catatan atas ayat 32/37). Dalam hal ini. apakah Menlu lazim mengeluarkan full powers kepada lembagai non-eksekutif? ASEAN’S TREATY MAKING POWER 28. eksekutif adalah the legitimate representive of states. dan sekali-kali bukannya alat(-alat) perlengkapannya. tidak ada halangan terhadap praktek demikian. ASEAN telah memiliki konstitusi barunya (ASEAN Charter) yang akan memberikan landasan hukum bagi aktivitas ASEAN baik dari segi internal maupun eksternal.

. Pengeluaran Surat Kuasa Resmi (Full Powers) adalah untuk kepentingan fihak lainnya (counterpart) dalam perjanjian agar fihak ini memperoleh kepastian bahwa si wakil RI bersangkutan memang “disuruh” RI dan perbuatannya memang di”tanggung” RI. Praktek ASEAN dalam hal ini tidak didasarkan pada prinsip hukum perjanjian internasional bahwa “consent to be bound” harus dinyatakan oleh negara itu sendiri. dapatkan dilakukan tanpa melalui consent dari Sekretaris Jenderal ASEAN? . dimana negara anggota akan turut membubuhkan tanda tangan jika bagian dari perjanjian dengan EU tersebut adalah wewenang negara anggota. Dari sudut HI tiada halangan apapun (ayat 37) terhadap acara demikian. Jika negara itu ingin “terminate atau amandement perjanjian itu. menerima dan mengaku (recognition!!) wewenang Sekretariat ASEAN. para negara yang berdaulat berkuasa penuh untuk “memberi kuasa” kepada subyek hukum lain. Dalam konstruksi seperti digambarkan diatas fihak lain itu percaya. DPR tidak “mengesahkan perbuatan hukum oleh subjek hukum internasional lain” melainkan mengesahkan perbuatan yang bersifat perbuatan hukum RI berdasarkan pemberian wewenang (“surat kuasa”) tersebut tadi. Apakah full powers oleh negara itu kepada Sekretaris Jenderal ASEAN adalah full powers yang dimaksud oleh Vienna Convnetion 1969? 2.[Catatan ini dibuat tanpa penelitian data perjanjian di ASEAN Documents Series] Pembuatan perjanjian dengan fihak ketiga yang dilakukan (ditandatangani) oleh Sekretariat/Sekjen atau “pejabat salah-satu anggauta” dapat (1) tegas atas nama ASEAN. Pertanyaan yang muncul jika Sekjen ASEAN menandatangani PI atas nama negara anggota adalah: 1. European Union yang sudah demikian terintegrasi tidak pernah suatu negara anggota memberi mandate kepada Presiden Komisi untuk bertindak atas nama negara tersebut mengikatkan diri dengan pihak lain. Pemberian wewenang demikian tidak selalu ternyata dari naskah yang diumumkan. Apa yang dilakukan oleh ASEAN adalah hanya untuk kebutuhan praktis. Selanjutnya tindakan tersebut dapat (1) berdasarkan suatu ketentuan khusus dalam naskah “anggaran dasar” ASEAN. Dalam hal adanya keperluan ratifikasi.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Treaty making power of ASEAN telah menjadi persoalan dalam praktek ASEAN dalam membuat perjanjian. sehingga soal full powers tidak timbul. Permasalahannya adalah. atau (2) berdasarkan pemberian wewenang khusus oleh para negara anggauta secara insidental. atau (3) tanpa ketegasan demikian. Saya telah membuat catatan khusus tentang issue ini yang akan saya sampaikan secara terpisah. atau (2) tegas atas nama para negara anggauta. Dalam EU dikenal adanya Mix Agreements.

Hubungan antara ASEAN sebagai subjek hukum internasional (biasanya ASEAN Secretariat) dengan pihak ketiga. yaitu Perjanjian dengan Pihak Ketiga yang mengikat seluruh Negara anggota ASEAN tetapi ditandatangani oleh oleh Sekjen ASEAN/Pejabat salah satu anggota untuk dan atas nama Negara-negara anggota. dapatkah dilakukan sendiri tanpa melalui Sekjen ASEAN? . b. ASEAN juga telah membuat berbagai perjanjian dalam kedudukannya sebagai a distinct subject separated from its members yang biasanya menggunakan istilah ASEAN Secretariat. 7 March 1980. Dalam perjanjian ini yang membuat perjanjian dengan EEC adalah setiap dan semua negara anggota dan bukan ASEAN sebagai a distinct subject separated from its members. Namun demikian. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa materi yang diperjanjikan bukan merupakan ruang lingkup atau wewenang ASEAN sebagai suatu organisasi yang berdiri sendiri namun terletak pada negara-negara anggotanya. dapatkah DPR mengesahkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum internasional lain? Jika perjanjian itu membutuhkan full power apakah lazim Menteri Luar Negeri memberikan full power kepada subjek asing? Jika negara anggota ingin menarik diri dari perjanjian semacam ini. bertindak sebagai organisasi internasional as a distinct subject separated from its members 31. Hal ini tercermin dari participation clause-nya serta pihak yang menandatangani perjanjian dimaksud yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN secara individual seperti pada the Cooperation Agreement between the Member Countries of ASEAN and the EEC. yang terlepas dari Negara anggotanya. 32. dapatkah subjek hukum internasional lain melakukan tindakan express to be bound by a treaty atas nama subjek hukum internasional lainnya? Jika perjanjian tersebut memerlukan ratifikasi. Kedudukan ASEAN dalam kaitan ini adalah sebagai organisasi internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional oleh Organisasi Internasional. dalam kaitannya dengan ASEAN sebagai subjek hukum internasional. Dalam kaitan ini. ASEAN sebagai collective members telah banyak membuat perjanjian dengan negara/organisasi internasional lain. Penandatanganan oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota terhadap perjanjian menimbulkan beberapa pertanyaan akademis tentang kekuatan mengikat perjanjian tersebut terhadap negara anggota. Praktek ASEAN dalam hubungan eksternalnya sudah sangat intensif dan dapat dibedakan atas dua perspektif: a. Sedangkan EEC. 30.29. Sekalipun judul perjanjian itu menggunakan isitilah ASEAN namun pada hakekatnya perjanjian dimaksud adalah perjanjian antara negaranegara anggota secara individu dengan organisasi/negara ketiga (perjanjian multilateral). praktek ASEAN juga menunjukkan adanya beberapa perjanjian yang tampaknya agak menyimpang dari prinsip hukum umum yang berlaku. 33. Istilah ASEAN dalam hal ini hanya digunakan untuk merujuk setiap Negara anggota sebagai collective members. Dilain pihak. Hubungan antara seluruh anggota ASEAN dengan pihak ketiga dimana status negara anggota adalah sebagai subjek hukum internasional yang berdiri sendiri.

Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. termasuk didalamnya Perjanjian Internasional. STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA) Pengantar Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak mudah untuk menemukan kaidah hukum yang mengatur tentang status Hukum Internasional dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional RI. Menurut paham dualisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional.” Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Hukum Diplomatik. Pasal 11 dan 13 UUD 1945. yang ada kaitannya dengan Hukum Internasional. 1975 dan 1979. Hal ini mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian Internasional di ranah Hukum Nasional. Sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No. Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan 1945. Undangundang yang berkaitan dengan Hukum Internasional. sudah mengadakan interaksi dengan Negara maupun Organisasi Internasional. SH. mengatur mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan pengangkatan serta penerimaan duta dalam ranah Hukum Nasional. Hukum Internasional merupakan kelanjutan Hukum Nasional. UUD 1945 tidak mencantumkan satu pasal pun yang mengatur status tersebut. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang No. Pada tahun 1969. Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan berbagai Perjanjian Internasional. Indonesia menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Presiden. dan bagaimana Indonesia menerapkan Hukum Internasional. Indonesia menetapkan bahwa Presiden mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan menerima duta dan konsul. 1963. Hukum tentang hubungan diplomatik dan konsuler dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru tahun 1961. BURHAN TSANI. seperti Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional juga tidak mencantumkan pasal tersendiri yang mengatur status tersebut. . Negara akan mengutamakan Hukum Internasional atau Hukum Nasional? Permasalahan pengutamaan dapat diselesaikan dengan menggunakan paham (teori) dalam hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Pengutamaan mungkin pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Namun secara logika paham dualisme akan mengutamakan Hukum Nasional dan mengabaikan Hukum Internasional. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. Dikenal ada dua paham yaitu dualisme dan monisme. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Menurut faham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Nasional. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang benar-benar terpisah. 1969. Berdasarkan paham monisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan bagian yang saling berkaitan dari satu sistem hukum pada umumnya. MOHD. yang juga masih berupa Hukum Kebiasaan Internasional. Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah dibandingkan dengan Hukum Internasional. Hakekat Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Nasional. Sekarang Indonesia mempunyai Undang-Undang mengenai Perjanjian Internasional yakni Undang-Undang No. MH. paham ini cenderung mengabaikan Hukum Internasional. 1978 dan 1986. Hukum Internasional merupakan Hukum Nasional untuk “Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. urusan luar negeri. 1973. Berdasarkan paham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Internasional. 24 Tahun 2000..PROF. Permasalahan yang mungkin masih relevan untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan dan bahkan pertentangan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. DR. Hukum Nasional tunduk pada Hukum Internasional dalam arti Hukum Nasional harus sesuai dengan Hukum Internasional. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. yang tunduk pada Hukum Internasional.

Hal ini tercermin dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang Terorisme Bonn. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Demikian juga sebaliknya. yang bersumber dari Perjanjian Internasional ada dua teori. ditentukan oleh preferensi etnis atau preferensi politis. yang dimulai dengan penutupan (persetujuan) suatu Perjanjian Internasional. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi Hukum Nasional. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. kapan ketentuan Perjanjian Internasional berlaku dalam Hukum Nasional. Hukum Internasional tidak mewajibkan bahwa suatu Negara harus menganut paham dualisme atau monisme. Untuk dapat diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. Dalam penerapan PerjanjianPerjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi. Prosedur dan metode yang digunakan Negara merupakan suatu kelanjutan proses. Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang yang ada sekarang. Pasal 2 instrumen pengesahan telah menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang bersangkutan dalam Hukum Nasional Indonesia. Menurut teori delegasi. Dalam praktek pilihan pengutamaan pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. belum ada ketentuan (pasal). Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Sebaliknya bagi pandangan yang simpatik pada Internasionalisme. akan mengutamakan Hukum Internasional. Dalam penerapan Hukum Internasional. Teori ini berlaku untuk penerapan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Indonesia dapat dianggap ingin menggunakan teori transformasi. Tidak ada transformasi. Bagi pandangan yang mempunyai sikap politis nasionalis. merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Nasional untuk memperoleh instrumen ratifikasi. yaitu teori transformasi. yang diperlukan prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. Untuk sepenuhnya menggunakan teori transformasi perlu dilampirkan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi yang termuat dalam perjanjian yang bersangkutan. Indonesia secara diamdiam menerima bahwa perjanjian yang bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum Nasional. Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimanakah penerapan Hukum Internasional dalam ranah Hukum Nasional Indonesia. Mengenai hal ini ada beberapa teori yang dikenal dalam Hukum Internasional. Bertumpu pada pengakuan Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. yaitu teori transformasi dan teori delegasi. Menurut teori inkorporasi Hukum Internasional dapat diterapkan dalam Hukum Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. akan mengutamakan Hukum Nasional. Indonesia menganut paham monisme. Berdasarkan teori transformasi. Hukum Internasional dianggap sudah menyatu ke dalam Hukum Nasional. Prosedur yang dilaksanakan merupakan bagian dari keseluruhan proses pembuatan Perjanjian Internasional yang bersangkutan. cara bagaimana ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional. Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian Internasional yang berlakunya memerlukan ratifikasi. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan sistem hukum yang benar-benar terpisah. Nampaknya Indonesia cenderung menggunakan teori delegasi. dan secara struktur merupakan sistem hukum yang berbeda. delegasi. hak untuk menentukan: 1. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Ratifikasi merupakan bagian prosedur pembentukan Hukum Internasional yang dituangkan dalam perjanjian yang bersangkutan. . Tidak ada penciptaan (pembuatan) aturan hukum atau Hukum Nasional yang benar-benar baru. Pengesahan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Presiden. bahwa aturanaturan Hukum Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum Nasional. Perjanjian Internasional yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah aslinya. Indonesia cenderung pada monisme dengan pengutamaan Hukum Internasional. aturan-aturan konstitusional Hukum Internasional mendelegasikan kepada masingmasing konstitusi Negara.Dimungkinkan ada monisme yang menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar dengan Hukum Internasional. Yang dilakukan hanya merupakan kelanjutan (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan yang tunggal. dan inkorporasi. Indonesia belum pernah membuat perundang-undangan yang mengatur substansi perjanjian yang telah ditandatangani. 2. Syarat-syarat konstitusional hukum nasional hanya merupakan bagian dari satu kesatuan mekanisme penciptaan (pembuatan) hukum. bukan dalam bentuk perundang-undangan formal mengenai substansi perjanjian yang bersangkutan. Pengesahan yang dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia. yang secara tersendiri menentukan sikap Indonesia. Indonesia nampak tidak sepenuhnya menggunakan teori transformasi. Akan tetapi perjanjian yang disahkan dilampirkan begitu saja seperti aslinya. Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. secara formal dan substantif. Hubungan antara keduanya saling melengkapi. Berdasarkan praktek. Hukum Internasional yang bersumber dari Perjanjian Internasional dapat diterapkan di dalam Hukum Nasional apabila sudah dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Nasional. Teori transformasi mendasarkan diri pada pendapat pandangan positivis.

. BURHAN TSANI. Hasil pelurusan dirumuskan dengan baik dan disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada semua pengelola Negara dan Warga Negara. . Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. MH.Keterikatan Indonesia pada Perjanjian Internasional yang bersangkutan. Apabila Indonesia sudah menjadi Negara pihak. dilandaskan pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. DR. Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. SH. MOHD. PROF. Indonesia wajib melaksanakannya dengan itikad baik dan melakukan penyesuaian perundang-undangannya dengan Perjanjian Internasional yang sudah berlaku secara definitif. Penutup Praktek-praktek yang tidak ajeg dan simpang siur yang mengakibatkan permasalahan perlu diluruskan.

Diantaranya. .BEBERAPA ASPEK KENISBIAN DAN INTERNASIONAL Oleh Ko Swan Sik* KESAMARAN PERJANJIAN * Penulis adalah mantan Guru Besar Erasmus Universiteit Rotterdam (19881996). tulisan ini semata-mata merupakan renungan tentang berbagai ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari. yang mencerminkan hasrat mereka. Uraian singkat ini cukup mutlak dan terang bunyinya. berlakunya hukum dalam batas-batas suatu tata hukum tertentu menampilkan pertanyaan tentang keterbatasan ruang lingkup daya hukum yang terkait pada kesepakatan. Penetapan kesepakatan sebagai perjanjian dalam arti huku. berarti bahwa isi kesepakatan itu dijadikan hak dan kewajiban para pihaknya yang berunsur khusus sebagai berikut: apabila si pengemban kewajibannya tidak memenuhi kewajibannya. Disamping itu. melainkan kadang-kadang juga menunjukkan sifat nisbi berbagai pengertian dan azas sekitar PI. ditambah syarat kewenangan pelaku tersebut untuk mengadakan perjanjian yang berkekuatan hukum. Istilah “perjanjian” menggambarkan adanya kesepakatan antara anggota masyarakat tentang suatu keadaan yang mereka inginkan. Sebaliknya. Apabila kesepakatan ini tercapai dan disertai kesungguhan para pihak. maka tata hukum yang berlaku di masyarakat bersangkutan memberi kekuatan hukum padanya dengan menetapkan perjanjian itu setaraf dengan undang-undang. dan bersumber pada pengertian perjanjian internasional (PI). Guna lebih jelas lihat Black Law’s Dictionary. Penulis juga tidak bermaksud mencoba menyajikan risalah teori hukum apapun. tata hukum mengenal Pacta sunt servanda merupakan adagium dari Bahasa Latin yang pada umumnya ditafisrkan sebagai “perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya”. apalagi mencoba menyajikan pemecahan persoalan demikian. Pengantar Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan analisa persoalan hukum tertentu (spesifik/ kongkrit). Demikianlah bunyi Pasal 1338 KUHPer (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) lama (sejauh kitab undang-undang ini masih kita akui sebagai sumber hukum berlaku). Ternyata berbagai kenisbian dan kesamaran melekat padanya. sesuai dengan seruan azas terkenal dalam bahasa asing kuno: pacta sunt servanda1. tetapi tidak mencukupi sebagai penjelasan konsep perjanjian. dan yang memuat tekad mereka untuk bertindak kearah keinginan dan sesuai dengan hasrat tersebut. artinya membebaninya dengan akibat-akibat (hukum) tertentu tanpa persetujuannya. pendiri Foundation for the Development of International Law in Asia dan anggota Instituut de Droit International. Kenisbian lain yaitu ketergantungan keabsahan perjanjian dari kedudukan para pelakunya sebagai subyek hukum 1 tata hukum bersangkutan. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tidak hanya melekat karena kekurang jelasannya. maka tata hukum “menghukum”nya.

pertentangan (hukum) antara publik – perdata sebenarnya tidak berlaku (tidak dapat diterapkan).. Ternyata bahwa yang menjadi buah aturan Konvensi adalah “perjanjian internasional yang diadakan antara negara . . Patut kiranya disini ditambah sekedar catatan sampingan tentang pemakaian istilah lain yang adakalanya terlihat dalam hubungan ini. dan yang dikuasai oleh hukum internasional .. hal mana kita ingat betul dari setiap permulaan tahun kuliah apabila kita mencoba menerangkan kepada para mahasiswa hakekat mata pelajaran yang mereka ikuti. yang sudah 2 memenuhi syarat-syarat yang menurut perkiraan kita menjadikannya Perjanjian 3 Pasal 2 ayat (1) ini berbunyi: 1.”.3 Kita dapat (meskipun syukur jarang terjadi) menambah kerumitan di lapangan PI golongan belakangan ini apabila tidak hanya obyek perjanjiannya melintas-batas. Kata “internasional” pertama digunakan untuk merujuk pada perjanjian antara para aktor yang bertindak selaku subyek hukum internasional (HI) dan oleh karena itu khusus berlaku dalam lingkungan HI. Sifat Normatif Hukum dan Sangkalannya Tadi telah pernah disebut Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina 1969. ketika kita menitikberatkan keperluan menentukan apakah yang kita hadapi itu benar perjanjian yang dikuasai Hukum Internasional. Mungkinkah si perancang naskah undang-undang tersebut terjebak kekhilafan yang tersirat dalam penggunaan istilah “hukum internasional publik” sebagai “lawan” “hukum perdata internasional”? Di lingkungan (hukum) internasional (atau “dalam rangka tata hukum internasional”) yang tidak mengenal hubungan antara subyek-penguasa dan subyek yang tunduk pada kekuasaan. “Internasional” Terhadap latar belakang tersebut di atas. Marilah kini kita meneliti beberapa kenisbian dan kesamaran khusus mengenai PI. tetapi para pihaknya pun masing-masing bertindak dari lingkungan HN berbeda. Sebagai contoh patut diajukan pertanyaan apakah ada perbedaan hukum antara PI tentang pinjaman uang antar-negara dan PI tentang persekutuan militer. For the purpose of the present Convention: (a) ‘treaty’ means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law. namun bagaimanakah kita dapat tetapkan bahwa suatu perjanjian yang kita hadapi itu memang “governed by international law” seperti yang disyaratkan Pasal 2 ayat 1 (a) Konvensi Wina 1969 2 tentang Hukum Perjanjian Internasional? Ada kalanya yang kita maksudkan dengan istilah PI adalah perjanjian yang para pihaknya bertindak dalam lingkungan hukum nasional (HN) (tanpa mempedulikan apakah mereka itu asal mulanya diciptakan sebagai subyek HI ataupun sebagai subyek HN) tapi dengan mata perjanjian yang bersifat lintas batas suatu negara dan oleh karena itu disebut “internasional”... tampillah pengertian dan istilah “perjanjian internasional”. yang kata sifatnya “internasional” tidak berarti tunggal. pembatasan mana biasanya bersangkut paut dengan sendi-sendi kemayarakatan bersangkutan. seperti kini juga terdapat di Pasal 1 judul (3) UU 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Sesuai tafsiran undangan Editor jurnal ini. Meskipun kelihatannya cukup jelas. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation. melainkan akibat pemakaian perkataan dalam arti kata berganda. Kenisbian tersebut terdapat juga di bidang PI yang merupakan golongan khusus dari pengertian perjanjian yang lebih luas.pembatasan-pembatasan mengenai pokok persoalan (“obyek”) perjanjian. Ini berarti bahwa sekalipun kita jelas menghadapi perjanjian antar negara. yaitu istilah “publik”. Kita tahu bahwa keragu-raguan itu bukan akibat kurang jelasnya pencipta pengertian. tulisan ini hanya akan mencurahkan perhatian kepada perjanjian golongan pertama dan kenisbian dan kesamaran yang melekat padanya.

adat istiadat. Sehingga timbullah pertanyaan apakah kiranya ada “sistem politik” yang bersifat normatif dan menguasai kelakukan dan yang merupakan alternatif di samping sistem hukum. Memang ilmu politik mengenal dan memperhatikan keadaan dimana kelakuan tertentu pihak yang satu dapat diduga dan diharapkan sebagai akibat kelakuan tertentu pihak yang lain. tidak mustahil pihak yang dikecewakan membalas dengan menuntut apa yang diharapkan dan bahkan menuntut ganti kerugian. hal-hal yang mengenai perjanjian di lingkungan HN. dan moralitas. sistem-sistem ini semuanya ditujukan kepada pribadi manusia dan tidak mengenal kaidah-kaidah pelaksanaan untuk memberlakukannya dan menerapkannya pada hubungan antar negara. dimana kelakuan belakangan ini merupakan “cogent motive for action” pihak pertama. akan tetapi sistem demikian hanya mengacu pada bentuk dan tata cara kelakuan dan tidak bersangkut-paut dengan sifat normatif dari hak/kewajiban yang termuat dalam perjanjian bersangkutan. bahkan mengenyampingkan. dan dalam hubungan ini kadang-kadang terdengar pula istilah “perjanjian tidak mengikat” (“non-binding agreements”) yang agak aneh bunyinya dan biasanya dimaksudkan sebagai “perjanjian yang tidak mengikat dari sudut hukum” (legally non-binding agreements). Sistem apakah yang kita dapat bayangkan di sini? Istilah “dikuasai” di anak kalimat tersebut tentu berarti “dikuasai” sistem (hukum internasional) yang mengaitkan ciri normatif kepada kesepakatan antara para pihak perjanjian. Apakah makna anak kalimat ini? Mengingat sifatnya. dapatlah kita bertolak dari anggapan bahwa Konvensi tersebut khusus mengacu pada perjanjian di lingkungan internasional. maksud tujuannya dan konteks pembuatannya. Contoh tersohor perjanjian yang kadar hukumnya terang-terangan disangkal adalah Akta Terakhir Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Helsinki Final Act 1975) yang meliputi negaranegara Eropa Barat maupun Eropa Timur termasuk Uni Soviet dan Amerika Serikat dan Kanada (yang hingga kini masih berlaku di negara-negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Sentral yang . yang dapat dikuasai oleh “sesuatu” yang lain (bukan HN) daripada HI. kadang terdengar istilah “perjanjian politik” untuk membedakannya dari perjanjian yang dikuasai hukum.Internasional asli. di lingkungan internasional. Apabila dalam keadaan demikian kelakuan pihak yang satu itu ternyata tidak terjadi. bertentangan dengan apa yang diharapkan. kita masih juga perlu memeriksa apakah benar “dikuasai Hukum Internasional”. semua ini tanpa melalui ataupun berdasarkan alasan hukum. satu dan lain menurut kehendak dan pilihan para pihak tersebut. Soalnya ialah bahwa hingga kini belum ada uraian yang memberi penjelasan memuaskan tentang bagimana sebenarnya isi sistem normatif politik demikian itu dan sejauh mana sistem tersebut berbeda dari sistem hukum. Kita dapat bayangkan berbagai sistem normatif yang berlaku bagi kelakuan manusia selain sistem hukum. Hal mana berarti bahwa satu-satunya dugaan tentang maksud dan arti anak kalimat tadi yang masuk akal adalah bahwa si perancang membayangkan kemungkinan adanya perjanjian antar negara. Dalam perbincangan tentang hubungan-hubungan internasional. Kadang-kadang disebut sistem “kesopanan kemasyarakatan” yang menguasai hubungan-hubungan internasional. tanpa perhatian. kadang-kadang kita menghadapi perjanjian-perjanjian antar negara yang dianggap tidak memuat kewajiban hukum melainkan “hanya memuat kewajiban politik”. misalnya agama. Memang. Namun.

yang mengenai kewajiban kelakuan yang unsur hukumnya disangkal. No party to any such treaty or international agreement which has not been registered in accordance with the provisions of paragraph I of this Article may invoke that treaty or agreement before any organ of the United Nations. yang boleh dikatakan mencerminkan anggapan umum dan dengan demikian dapat dianggap berlaku sebagai HI umum. Konvensi Wina dalam Pasal 2 ayat 1 judul (a) dengan tegas menyatakan bahwa PI dapat saja termuat dalam satu atau lebih dari satu dokumen dan dapat saja diberi nama apapun. Terlihat disini fenomena hukum “pincang” yang “tidak sempurna”. Persoalan kewajiban perjanjian yang tidak berkadar hukum ini bahkan pernah dijadikan judul penelitian di kalangan Institut Hukum Internasional (Instituut de Droit Internasional) di tahuntahun 1970an dan 1980an.5 Pokok persoalan fenomena tersebut. Hal ini ditegaskan secara agak aneh namun jelas. Akan tetapi. mirip dengan. Negara-negara Barat menitikberatkan bahwa Akta tersebut bukan PI yang mengikat menurut hukum. Latar belakang cara yang dipakai ini ialah Pasal 102 Piagam PBB 4 yang mewajibkan setiap PI yang diikutsertai negara anggota untuk didaftarkan pada Sekretariat untuk keperluan penerbitannya (di UN Treaty Series). perlu dibedakan dari naskah-naskah yang disepakati oleh para pihak namun yang jelas tidak dimaksudkan sebagai sumber hak/kewajiban melainkan sematamata sebagai rumusan pendirian dan tekad masing-masing (yang “kebetulan” sesuai) mengenai hal tertentu. walaupun mungkin tetap perlu dibedakan dari. setidak-tidaknya belum. Every treaty and every international agreement entered into by any Member of the United Nations after the present Charter comes into force shall as soon as possible be registered with the Secretariat and published by it. ini mengacu pada tidak tercapainya kesepakatan. Keraguan tentu sangat menyolok apabila para peserta berbeda pendapat tentang maksud naskah mereka. memuat aturan penegakan hak-hak yang diakui (“without legal remedies”).sama sekali bukan merupakan bagian dari Eropa). Akta Helsinki memuat ketentuan yang memohon si Tuan Rumah (Finlandia) untuk “transmit to the Secretary-General of the United Nations the text of this Final Act (untuk disosialisasikan di antara negara anggota PBB) which is not eligible for registration under Article 102 of the Charter of the United Nations. Kenisbian dan kesamaran yang penulis sebut disini dan yang kadang agak kurang tepat diberi nama “hukum lemah” (soft law). 2. “Sesuai dengan” peraturan ini. 1983) . Sumber Hak dan Kewajiban dan Sangkalannya Dalam menetapkan perjanjian-perjanjian mana yang dikuasai olehnya. berarti bahwa bentuk PI tidak ada relevansinya bagi HI dan tidak mempengaruhi kadar hukum 4 5 Ketentuan Pasal 102 ini berbunyi : 1. Lembaga inipun belum sanggup menyajikan jawaban yang memuaskan. Ketentuan ini. dan bahkan memutuskan pada 1983 untuk menangguhkan penyelidikannya sambil menunggu perkembangan-perkembangan yang membawa bahan-bahan baru. Lihat Annuaire de l’Institut de droit international jilid 60-I (persidangan Cambridge. kadangkadang mengenai perbaikan kedudukan manusia pribadi di pelbagai lapangan. as would be the case were it a matter of a treaty or international agreement under the aforesaid Article”. fenomena usaha-usaha “perundang-undangan internasional” dalam bentuk perjanjian-perjanjian multilateral. yang tidak. bukan kesamaran perjanjian.

oleh karena nama dan rumusan itu merupakan sumber interpretasi tentang maksud para pihak dan makna dokumen bersangkutan mengenai hak dan kewajiban masing-masing. Sebaliknya. misalnya. bahkan “Nota Kesepahaman” (memorandum of understanding). . Sebagai contoh yang cukup ekstrim. Alternatif selanjutnya ialah pengumuman belaka. Tidak termuatnya ciri-ciri terkenal demikian sama sekali tidak membenarkan kesimpulan bahwa para pihak tidak menghendaki dokumen kesepakatan mereka merupakan sumber hak/kewajiban hukum. hal ini tidak berarti bahwa nama yang diberikan kepada naskah dan rumusan pengertian-pengertian dan istilah yang dipakai dalam naskah tidak penting. meskipun “Pernyataan Bersama” kadang-kadang lebih disukai. Akan tetapi.isinya. Tapi bentuk dan acara demikian tidak merupakan syarat untuk menegaskan sifat hukum isinya. tanpa tersiratnya janji yang bersifat hukum. Ia menitikberatkan bahwa hubungan strategis tidak mengharuskan pengaturannya dalam perjanjian resmi melainkan cukup diatur dalam bentuk pertukaran surat atau dalam suatu Memorandum of Understanding. Tanpa menerangkan alasan-alasan apakah yang menyebabkan kecondongan tersebut. naskah yang disepakati dapat dimaksudkan sebagai pernyataan penetapan tekad para pihak tentang kelakuan mereka di masa yang akan datang. kiranya penyangkalan unsur keterikatan dalam comtoh ini patut dipertanyakan. Contoh lain ialah kabar tentang wawancara dengan Presiden AS pada bulan April 2005 tentang hubungan AS dengan Afghanistan setelah pemilihan presiden di negeri itu. bagaimanapun resmi dan mulia sifatnya. tentang (biasanya hanya sebagian dari) apa yang diperbincangkan antara para pihak dan hasil kesepakatannya. 6 Tidak lama berselang Edy Prasetyono (CSIS) dilaporkan (Hukum Online 11 Juni 2006) pernah mengutarakan pendiriannya bahwasanya dokumen kesepakatan yang melahirkan organisasi ASEAN tidak mengikat. makna kebebasan bentuk yang diakui Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina. “Pernyataan Bersama” (joint statement). Tadi telah disebut istilah “Communiqué”. Meskipun harus diakui bahwa naskah Deklarasi tersebut memang kurang sesuai dengan bentuk lazim naskah pendirian organisasi. apalagi jika disertai acara-acara klasik seperti syarat ratifikasi (persetujuan keterikatan) dan/atau kesepakatan untuk mendaftarkannya di Sekretariat PBB sesuai Pasal 102 maka kesamaran tentang maksud para pihak boleh dikatakan dapat tercegah. suatu naskah sebagai hasil komunikasi (secara bagaimanapun) antara para pihak dapat saja dibuat dengan tujuan berlainan. Beliau mengaitkan pandangan ini dengan kebijakan para pihak bersangkutan untuk ‘hanya menggunakan’ nama ‘Deklarasi Bangkok 1967 ‘. Ada kalanya naskah dimaksudkan sebagai penetapan hak / kewajiban masing-masing dengan kekuatan hukum. Disamping itu. namun dipakai sebagai sumber hak dan kewajiban. Tadi kita telah menjumpai fenomena perjanjian dengan hak/kewajibannya yang dikuasai sistem normatif yang tidak bersifat hukum atau suatu “sistem pengharapan” berdasarkan tindakan timbal balik. Apabila naskah diberi nama menurut kebiasaan tradisional di bidang PI. pertukaran surat.6 Pembuatan naskah sebagai hasil perundingan dapat mengacu ke berbagai tujuan. yaitu keanekaragaman jenis (hak dan) kewajiban yang kadar hukumnya tidak diragukan. ada kalanya dipilih bentuk “Communiqué” yang sebenarnya berarti tidak lebih daripada “penerangan khalayak ramai tentang sesuatu yang terjadi”. seperti kata “treaty” dalam bahasa Inggris. Demikianlah tafsiran yang selayaknya diberi kepada istilah “treaties in simplified form” yang kita kenal dari praktek diplomasi dan yang dapat berbentuk. Inilah. Kadar Hak dan Kewajiban Sangkalan kadar hukum yang merupakan pokok persoalan di atas tadi tidak dapat disamakan dan tidak boleh dicampuradukkan dengan gejala lain. antara lain.

Antara kewajiban-kewajiban kita dapat membedakan kewajiban yang “keras” dan yang “lunak”. Ada sebagian peneliti yang mencari sebab kebijakan demikian di bidang adat-istiadat di bagianbagian dunia yang segan menitikberatkan secara tajam hak dan kewajiban masing-masing pihak. 1996 (A/51/10) Pasal 19-21. tetap terdapat cukup banyak gejala dalam praktek PI yang menimbulkan pelbagai pertanyaan tentang kelakuan dan tindakan ataupun hasil usaha yang merupakan isi sebenarnya kewajiban bersangkutan. Kesamaran tetap terdapat bila. kewajiban ternyata begitu longgar dan kadar keharusannya menjadi demikian rendah. kewajiban dapat saja dirumuskan sebagai kewajiban untuk berusaha. dengan mempertimbangkan keadaan menurut penilaian si pengemban kewajiban. Dalam hal demikian. Oleh karena itu. 48th session. Dalam golongan kewajiban untuk melakukan sesuatu (obligation of conduct). Kami mencatat disana bahwa penggunaan istilah dalam rangka itu rasanya kurang tepat oleh karena kesamaran disana mengenai batas antara hukum dan bukan-hukum. Kita dapat saja mengira bahwa kesamaran demikian tidak dapat timbul dalam hak kewajiban untuk mencapai suatu hasil usaha tertentu (kewajiban hasil usaha/obligation of result). apalagi bila ditetapkan pula bahwa tindakan itu harus terlaksana dalam tenggang waktu yang tertentu. misalnya. Itulah sebabnya perhatian yang cukup besar dicurahkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB kepada penggolongan dan pembedaan antara berbagai jenis kewajiban hukum selama sebagian besar waktu perencanaan naskah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan negara melawan hukum. kewajiban bersangkutan mengharuskan menghasilkan suatu “keadaan yang bermanfaat” bagi sesuatu. Sebaliknya. Meskipun perlu diakui bahwa di lapangan HI yang bersifat khas itu pertimbangan-pertimbangan “tidak langsung” memainkan peranan yang jauh lebih besar di bidang perjanjian daripada di lingkungan HN. misalnya. kita perlu mencurahkan perhatian khusus kepada soal kejelasan atau sebaliknya kesamaran yang kadang-kadang melekat pada rumusan suatu kewajiban. seperti memilih bermacam nama yang menghindari kata perjanjian. 7 Lihat. Tadi telah kita bertemu dengan istilah “hukum lemah” yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat kewajiban yang tidak jelas apakah memang dimaksudkan sebagai kewajiban hukum. Draft Articles on State Responsibility. Namun. dugaan itu ternyata tidak tepat. untuk mencoba mencapai sesuatu.7 Meskipun demikian. Report of the ILC. sehingga timbullah keraguan cukup mendalam tentang dimana letak sebenarnya garis batas antara pelaksanaan dan pelanggarannya. hal mana penulis sangsikan. Istilah “hukum lemah” kiranya lebih tepat untuk menggambarkan kewajiban yang diakui sifat hukumnya namun memberi kelonggaran demikian banyaknya sehingga sukar menentukan garis batas antara memenuhi dan melanggar kewajiban. Bayangkanlah kewajiban untuk mencegah terjadinya sesuatu.Pengertian sempurna tentang hakekat suatu kewajiban hukum merupakan syarat penting untuk dapat menetapkan apakah kewajiban itu dapat dinilai telah dipenuhi atau justru dilanggar. sesuai dengan kemampuan si pengemban kewajiban. . versi 1996. sifatnya keras apabila tindakan itu dirumuskan secara sangat tegas dan spesifik.

Aktor kemasyarakatan yang tidak diakui sebagai subyek HI tidak dengan sendirinya tidak dapat mengadakan PI sehingga perjanjian hasil kesepakatannya tidak pernah dapat dianggap bersifat PI. atau boleh. biarpun tidak tegas menyuruh. seperti kita sempat menjumpai tadi. 37/1999 tidak memuat sebutan kemungkinan ini. Bayangkan sekarang perjanjian antara aktor yang tidak jelas kedudukannya sebagai subyek HI namun bertindak dalam rangka hukum publik di negaranya. oleh karena mereka dapat saja di samping itu bertindak selaku subyek HN. mungkin disinipun kita dapat belajar dan mencari sandaran (meskipun hanya secara tidak langsung) di naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum 2001. yang tidak khusus ataupun langsung berwenang dan bertugas di lapangan hubungan luar negeri atau antara kesatuan-kesatuan teritorial sesuai sistem otonomi daerah (seperti kota atau propinsi) negara masing-masing. Ada kalanya diadakan perjanjian antara alat-alat perlengkapan dari negara-negara berbeda. tata hukum manakah yang menguasainya. meskipun seluruh acara pembuatannya tidak sesuai dengan acara yang lazim untuk PI dan semata-mata oleh karena aktor yang mengadakannya merupakan sebagian dari bangunan kenegaraan? Ataukah perjanjian demikian itu hanya mengikat para instansi bersangkutan di lingkungan HN? Tapi jika demikian. Tentu ada negara dimana hubungan lintas batas demikian antara alatalat perlengkapan ataupun kesatuan negara teritorial dilarang oleh hukumnya. cukup membuat pelik. disamakan dengan PI? Tetapi para pelakunya pada umumnya tidak merupakan (artinya: tidak diakui oleh negara bersangkutan sebagai) subyek HI (pengecualian boleh terjadi di negara federal tertentu). terutama di kawasan-kawasan yang terletak saling berdekatan namun di negara yang berlainan. Sebaliknya perjanjian antara para aktor yang jelas subyek HI tidak otomatis bersifat PI. dianggap terikat padanya. cukup banyak negara-negara dimana hal demikian dapat terjadi dan perjanjian-perjanjian demikian ternyata memenuhi kebutuhan bersama dibidang pemerintahan dan pengaturan kemasyarakatan setempat. Penggolongan itu didasarkan berbagai kriteria. siapakah yang selayaknya dianggap sebagai pihak perjanjian? Haruskah negara-negara bersangkutan. Apakah perjanjian itu harus. Akan tetapi. sehingga gejala yang dibayangkan disini tidak terjadi. mengingat bahwa perjanjian demikian itu tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu perjanjian HN?! Karangan singkat ini bukan tempatnya untuk menyelidiki persoalan ini secara panjang-lebar. Haruskah kita menarik kesimpulan bahwa perjanjian semacam itu tidak bersifat “internasional” dalam arti kata lazim sehingga tidak tunduk pada hukum internasional mengenai PI melainkan harus dianggap dikuasai HN? Di samping itu. Kesepakatan dan perjanjian demikian itu mengenai salah satu kebijakan di bidang tugas mereka. Kompas 7 Agustus 2006.Pihak Perjanjian dalam Kenyataan dan Pihak Perjanjian Menurut Hukum: Gejala “Perjanjian Administrasi” Penggolongan suatu perjanjian sebagai PI atau sebagai kategori lain menunjuk pada dikuasainya oleh HI atau hukum lain (atau. khususnya bab 2 yang berkepala “The ‘Act of the State’ under International Law” yang Pasal 5-nya berbunyi: 8 UU No. meskipun demikian keluhan salah satu Dirjen Deplu tentang ”banyak perjanjian luar negeri yang dilakukan daerah kurang efektif”. mengizinkan ataupun menyetujui (meskipun tidak melarang) pembuatan perjanjian demikian. sama sekali tidak dikuasai hukum).8 Timbullah pertanyaan apa sebenarnya kedudukan hukum perjanjian demikian yang kadang-kadang disebut “perjanjian administrasi”. antara lain kedudukan para pihaknya sebagai subyek hukum. Namun. .

ajaran-ajaran muluk ini tidak menghidangkan jawaban langsung apapun atas pertanyaan yang kita hadapi dalam dunia “hukum yang berlaku” (“hukum positif”). the conduct of any State organ acting in that capacity shall be considered an act of that State under international law. atau. Sebaliknya. atau “pilihan”m yang dibuat oleh hukum nasional tentang kedudukan dan peranan HI.” Keberlakuan di Lingkungan Hukum Nasional Perbedaan antara tata HI dan tata HN menyebabkan timbulnya kenisbian tentang makna PI. Hal yang kita perlukan untuk memberi jawaban ialah adanya penetapan. khususnya PI. Akan tetapi. yang berakibat HI itu berlaku di lingkungan HN. atau dengan mengundangkan isi tersebut sebagai HN dalam bentuk perundang-undangan HN pula. and whatever its character as an organ of the central government or of a territorial unit of the State.“(1) For the purposes of the present articles. sekalipun yakin akan . Kebijakan ini berdasarkan sangkalan perbedaan antara hukum tak tertulis (“kebiasaan”) yang tercipta di suasana nasional dan internasional. tanpa tindakan apapun dari pihak penguasa negara. Jalan yang lain perlu ditempuh apabila tata HN. Jalan yang satu ialah secara “membuka pintu” bagi HI. (2) For the purposes of paragraph 1. whatever position it holds in the organization of the State. dimana HN ternyata tidak melakukan pilihan tegas (eksplisit). berhubung dengan persoalan kedudukan dan keberlakuan HI (atau khususnya PI) di lingkungan HN. dan berpendirian bahwa pembuat hukum nasional merupakan satu-satunya yang berwenang mengadakan peraturan tentang hal apapun yang perlu diatur hukum di lingkungan HN. dan yang melalui jalan itu juga menghasilkan keberlakuan HI tak tertulis di lingkungan nasional. Pilihan demikian dapat berwujud tanpa atau melalui suatu tindakan hukum tegas dari tata HN bersangkutan yang termuat di undang-undang dasar. Perbandingan antara sistem-sistem HN menunjuk dua jalan yang dapat dilalui dalam penerapan kebijakan cara pertama tadi. meskipun tentu hanya sejauh HI bersangkutan dapat ada relevansinya dalam lingkungan HI (relevansi demikian tidak ada dalam HI yang memang kita kenal ajaran-ajaran tentang kesatuan hukum internasional dan nasional (monisme) dan sebaliknya tentang perbedaan dan pemisahan mutlak antara kedua sistem hukum itu (dualisme). misalnya keputusan-keputusan hakim. executive. an organ includes any person or body which has that status in accordance with the internal law of the State. seperti di sistem mazhab hukum common law yang menggolongkan HI tak tertulis ini sebagai “law of the land”. tata HN dapat juga pada azasnya mengakui kemungkinan peranan dan pengaruh itu. judicial or any other functions. pengakuan mana dapat diutarakan menurut dua cara. Kebijakan “pintu terbuka” dapat juga hanya diterapkan sejauh mengenai HI tak tertulis yang biasanya bertepatan dengan HI yang “umum berlaku”. whether the organ exercises legislative. Tata HN dapat saja menyangkal mutlak segala peranan dan pengaruh HI terhadap HN. Persoalan ini perlu dikaji dan dijawab oleh masing-masing tata HN sendiri. yaitu dengan “mengizinkan” isi HI berlaku di lingkungan HN tanpa merubah sifat internasionalnya. undang-undang biasa. dilingkungannya. dikembangkan dalam bentuk hukum kebiasaan yang penerapannya terlihat dalam keputusan-keputusan konkrit.

perjanjian tidak mengakibatkan keuntungan maupun kewajiban bagi pihak ketiga). seperti ketentuan dalam UUD atau perundangan biasa. dan sebagainya. seperti hak azasi manusia. Akan tetapi. Memang disini tidak ada alasan untuk memberi peranan apapun kepada pihak ketiga.perlunya penerapan isi HI di lingkungan HN. Pertanyaan yang kadang timbul adalah: dapatkah dan bolehkah PI yang berlaku antar negara AB-C-D (yang menyajikan peraturan bersama tentang perlindungan hak-hak azasi manusia. Kadang-kadang. Ruang Lingkup Azas Keterbatasan Berlakunya Antar-Pihak Titik tolak di bidang hukum perjanjian adalah bahwa perjanjian itu mencerminkan kesepakatan antara pihak-pihaknya tentang apa yang mereka inginkan. sesuai dengan bertambah padatnya hubungan-hubungan kemasyarakatan internasional di pelbagai lapangan (“globalisme”) dan sejajar dengan perkembangan itu. Azas ini kelihatannya memang cukup layak. Dalam hal PI. Sebagai alternatif kedua cara “pemberian izin” kepada HI tersebut kita kenal kebijakan menolak secara mutlak keberlakuan HI dalam tata HN. pemberlakuan isi HI di lingkungan HN memerlukan pembuatan HN yang tegas memuat ataupun setidaknya tegas mengundangkan isi HI bersangkutan sebagai HN (transformasi). yang kewenangannya di bidang penerapan hukum terbatas pada hukum yang berlaku di lingkungan hukum nasionalnya. di lingkungan HN-nya. Hubungan-hubungan kemasyarakatan itu mengenai bermacam-macam aspek kehidupan yang mencerminkan cita-cita kemasyarakatan. timbullah dan bertambahlah kebutuhan akan pengaturan hubungan-hubungan yang menyentuh pelbagai masyarakat nasional. atau kemasyarakatan tertentu itu di masing-masing lingkungan hukum . hubungan-hubungan keluarga. dan makin lama makin banyak. Dengan demikian. namun tidak bersifat antar negara. dan kelayakan ini lebih-lebih menyolok apabila kita memandang perjanjian itu sebagai sumber hak dan kewajiban timbal-balik antar para pihaknya. PI tidak selalu bersifat timbal balik. PI dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai kesamaan dalam menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan nasionalnya. kebijakan berbeda itu juga memain peranan dalam penetapan kedudukan hirarki kaidah-kaidah hukum yang berasal internasional dan nasional yang termasuk kewenangan tersebut. dan yang bersifat baik lintas batas maupun tidak. UU persetujuan PI (yang di praktek politik Indonesia disamakan dengan “ratifikasi”) kadang dipakai untuk keperluan ini. tanpa “mengubah” sifatnya sebagai HIM. ataupun “hanya” memberlakukan isi HI di lingkungan HN sejauh (“diubah”) bentuk dan sifatnya menjadi HN. Dalam rangka ini. seluruhnya atau sebagian. menganggap perlu adanya suatu tindakan HN tegas agar mencapai hasil itu. merupakan soal penting bagi penegak hukum nasional. pemberantasan penyakit. Dalam rumusan ini tersirat penetapan bahwa siapapun yang tidak ikut menyepakatinya dengan sendirinya tidak terikat padanya (pacta tertiis nec nocent nec prosunt. Soal ya atau tidaknya tata hukum nasional memberlakukan HI. Di samping itu. dengan hak pihak yang satu terhadap pihak yang lain tergabung dengan hak pihak kedua ini terhadap pihak pertama.

tapi pihak berperkara itu kebetulan berkewarganegaraan negara X. Akan tetapi. seperti telah pernah disebut tadi. ciri inti tata hukum adalah. atau berisi aturan bersama tentang pemindahan perselisihan perdata tertentu dari kewenangan pengadilan kekuasaan pewasitan) diterapkan bila orang yang tersangkut dalam perkara HAM itu berkewarganegaraan negara E? Dan bagaimanakah apabila antara pihak hubungan internasional perdata ada yang berkewarganegaraan negara F? Atau apabila ada pihak berpekara digugat di pengadilan negara A untuk tunduk pada acara pewasitan sesuai dengan PI yang mengatur pewasitan. keadaan ini tentu tidak mengurangi kewenangan negara D untuk mengajukan keberatan terhadap penerapan perjanjian itu berdasarkan alasan-alasan lain. misalnya. tidak dapat diwajibkan tunduk pada isi perjanjian tersebut tanpa persetujuannya sebagai negara berdaulat. hak dan kewajiban timbal balik antar negara untuk bertindak bersama sebagai persekutuan militer. dan oleh karena itu . bahwa pelanggaran demikian oleh tata hukum dikaitkan pada akibat-akibat tertentu tanpa persetujuan si pelanggar. Namun. Sebaliknya. berdasarkan alasan tidak ikut sertanya sebagai pihak perjanjian. Disini terletaklah batas ruang lingkup azas pacta tertiis tersebut tadi. Jika isi perjanjian tidak lagi memenuhi kehendak bersama para pihaknya. perjanjian bersangkutan tidak mengenai hak-kewajiban antar negara yang timbal balik. . apabila obyek perjanjian terdiri dari kesepakatan tertentu untuk menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu secara sama di lingkungan HN masing-masing pihak perjanjian. berhakkah negara X dengan alasan “memberi perlindungan diplomatik” kepada warganya atau dengan alasan lain menolak penerapan PI tersebut? Disini kadang tampak kemungkinan adanya suatu salah mengerti tentang makna azas pacta tertiis. maka mereka itu tentu bebas untuk mengubahnya. dapat saja dilanggar. sedang kewajiban asal tetap berlaku. termasuk PI. B atau C jika penerapan demikian menyentuh suatu unsur yang berkaitan dengan negara D itu. Sebaliknya. Negara D tidak terikat pada perjanjian A-B-C. Tentu kewajiban yang terisi dalam azas ini. terhadap penerapan isi perjanjian tadi di lingkungan HN negara-negara A. ia juga tidak berwenang untuk berkeberatan. melainkan merupakan kesepakatan (antar negara) untuk menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan kemasyarakatan tertentu secara sama dan serupa di masingmasing lingkungan HN-nya. Azas ini mengacu pada aspek primer PI. yaitu terjadinya kesepakatan antara negaranegara sebagai subyek HI yang berdaulat. Ruang Lingkup Azas Pacta Sunt Servanda Azas ini merupakan inti dan hakekat pengertian perjanjian. Dalam contoh belakangan ini.merupakan peraturan bersama untuk persoalan-persoalan yang bersangkut dengan adopsi lintas batas. maka negara D tetap tidak dapat dipaksa berdasarkan hukum untuk menyesuaikan kebijakan dalam lingkungan HN-nya dengan perjanjian tadi. gagasan pengubahan sepihak adalah sesuatu yang mutlak bertentangan dengan gagasan perjanjian. Jika obyek perjanjian terdiri dari. yang bersifat normatif dan tidak memaksa dalam arti kata hukum alam. maka negara D tidak dapat dipaksa menurut hukum untuk menyesuaikan kelakuannya dengan persekutuan tersebut. Akan tetapi.

Kekuasaan ini dipegang secara monopoli dan mutlak (ingatlah julukan “negara gagal” bagi keadaan sebaliknya). ketika presiden AS mengutarakan kesimpulannya bahwa AS tidak lagi berkepentingan dengan adanya Anti-Ballistic Missile Treaty 1972 (ABM Treaty) dan bahwa ia mempertimbangkan mengakhirinya. Pengaruh Kekerasan Menurut pengertian intinya. sehingga dalam perbincangan hukum. dan diatur oleh penguasa atau alat kekuasaan yang benar-benar berkuasa terhadap masyarakat lingkungan HN-nya. unsur pembagian kekuatan. berdasarkan titik tolak HI. Sebaliknya. Lain halnya di lingkungan HI yang berbeda secara mendalam dibanding dengan keadaan nasional. termasuk pemegang kekuasaan pusatnya dan alat perlengkapan penegak hukumnya yang berwenang dan nyatanya mampu menjaga dan mempertahankan hukum secara memaksa. yaitu kedaulatan negara. di lingkungan HI aturan hukum hampir seluruhnya semata-mata merupakan buah hasil pergulatan kekuatan antara para subyek hukumnya yang kebebasannya hampir mutlak. terutama pada negara. tata hukum dikuasai. seluruhnya pada dasarnya tergantung pada subyek hukum sendiri. dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihamnya dan oleh karena itu tidak dapat lain daripada berdasarkan kehendak bebas. Dalam rangka ini. baik hukum nasional maupun hukum internasional. Wewenang menetapkan hukum. berbeda dari perjanjian di lingkungan HN. Namun. namun biasa ditindak oleh penegak hukum dan pada umumnya tidak merupakan faktor yang dapat mengurangi azas-azas yang berdasarkan hakekat perjanjian. Dilihat dari sudut ini. pada hakekatnya merupakan hasil pergulatan kekuatan-kekuatan di masyarakat. PI berada di lingkungan HI yang tidak mengenal organisasi masyarakat lengkap dengan dasar dan pucuknya. 2001. Bedanya. . sehingga seakan-akan disublimasi dan dapat menghindari bentrokan-bentrokan yang merusak kestabilan masyarakat. sekalipun dapat saja terjadi. perlu diperhatikan dan diperhitungkan. terdapat (atau setidak-tidaknya: seharusnya terdapat) alat dan organisasi penegak hukum yang cukup lengkap dan kuat untuk menghadapi dan “menghukum” pelanggaran demikian sehingga dapat tertekan terjadinya. Apa lagi. kenisbian PI ternyata sekali dari kejadian beberapa waktu yang lalu. dijaga. termasuk yang akibat kekerasan. Akan tetapi. sejauh terjadi di lingkungan HN. Oleh karena itu. Ketika ditanya tentang niat tersebut. yaitu kewenangan politik hukum. maklumlah kekurangan dunia pengertian-pengertian dibanding kompleksitas kenyataan hidup jika menghadapi keadaan seperti negara Libanon dimana kekuasaan dan kekuatan sebenarnya yang membela kedaulatan negara terhadap dunia luar untuk sebagian besar berada di tangan organisasi di luar rangka pemerintah. di lingkungan HN pergulatan itu tersalur melalui bermacam bangunan organisasi dan penjagaan dan pembagian kewenangan. Pada umumnya. ancaman unsu kekerasan di bidang perjanjian perdata. ia menyalahkan orang yang tidak dapat atau tidak mau mengakui bahwa zaman dan keadaan dapat saja berganti (dengan akibat kemungkinan perlunya hukum berganti pula). Unsur kebebasan kehendak sebagai inti perjanjian dengan demikian menjadi nisbi dalam hal PI.Kemungkinan melanggar kewajiban hukum dapat dipandang sebagai kenisbian hukum pada umumnya dan tidak khusus mengenai pengertian perjanjian. lihatlah ketentuan Pasal 9 dari naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum. Di lingkungan HN.

bagi kita semua. baik di lapangan penerapan hukum praktis maupun di lapangan akademik. kita condong berkesimpulan bahwa keinginan membatalkan perjanjian “tak seimbang” demi hukum akan gagal. Multi interpretasi pengertian-pengertian yang digunakan di kalimat ini menunjuk pada kadar kenisbian cukup tinggi. Bagi keadaan demikian. kesamaran dan pertanyaan di bidang lembaga perjanjian internasional yang memerlukan penelitian dan penyelidikan seperlunya. tata HI bahkan mengizinkan. setidak-tidaknya tidak melarang. Istilah tersebut kebanyakan mengacu kepada perjanjian yang pernah diadakan di zaman lampau antara negara-negara Barat yang biasanya lebih kuat dengan kerajaan-kerajaan atau lain kesatuan kenegaraan di luar kawasan dunia Barat yang umumnya lebih lemah. Penutup Mudah-mudahan tulisan singkat ini berhasil menambah keyakinan akan tersimpulnya pelbagai kenisbian. yaitu Pasal 51-52. kekerasan yang dipakai terhadap pribadi pejabat yang mewakili negara bersangkutan. artinya sebagai akibat. sehingga perjanjian-perjanjian itu seringkali terus terang menguntungkan yang kuat dan merugikan si lemah. yang kemudian disahkan (!) dalam “perjanjian perdamaian” atau perjanjian lain. keinginan yang “sesuai rasa keadilan” itu sukar disesuaikan dengan kerangka bangunan tata HI yang belum mengenal larangan mempergunakan daya kekuatan dalam hubungan antar negara untuk menetapkan hak dan kewajiban antar mereka. Kekerasan terhadap pribadi seseorang cukup jelas. Kita patut ingat bahwa sebelum terbentuknya tata hukum yang kita kenal semasa pasca Perang Dunia Kedua dalam bentuk piagam PBB termasuk larangan kekerasanya. Timbullah pertanyaan apakah perjanjian-perjanjian demikian dapat dibatalkan ataupun dianggap batal demi hukum. .Di pustaka sejarah politik internasional terkenal istilah “perjanjian tidak seimbang”. penggunaan kekuasaan (perang) untuk mencapai keinginan terhadap subyek lain. Konvensi Wina. Berlatar belakang ini. yang kadangkadang diiringi tuntutan pembatalannya. Pasal 52 Konvensi Wina) untuk mencapai perubahan isi perjanjian bersangkutan. setidak-tidaknya jauh lebih jelas daripada Pasal 52 yang menetapkan bahwa suatu perjanjian yang terjadi dengan memakai “ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan azas-azas HI yang termuat di Piagam PBB”. yang dapat kita anggap mencerminkan HI tentang PI menurut keadaan perkembangannya yang paling baru. mengenal ketentuan-ketentuan tentang peranan kekerasan di bidang PI. Pasal 51 mengatur hal persetujuan negara untuk mengikat diri pada perjanjian yang diperoleh dengan. Keinginan yang cukup legitimasi namun tanpa dasar hukum itu hanya dapat tercapai dengan cara penggemblengan kekuatan yang cukup besar dan segala cara meyakinkan lainnya (kecuali paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dilihat dari sudut kenyataan lingkungan HI seperti kita uraikan tadi. Pasal 51 menentukan bahwa “persetujuan” demikian “tanpa akibat hukum apapun”.

yangmengajarkan bahwa hukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada umumnya. baru dapat diterapkan dan menjadi hukum nasional. Hukum Kontrak Internasional. perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect) dalam suasana nasional. sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam hukum nasionalnya.PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK* DALAM SUASANA * Dari buku Syahmin AK. Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist system. Sementara itu. menurut teori incorporation. perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada. Menurut pandangan kaum dualisme. ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional. Menurut teori adoption. Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation. 2006: hal. perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian internasional. Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme. Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme.186 s/d 205 Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu negara peserta. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat internasionalnya (keasliannya). namun diterapkan dalam suasana hukum nasional. mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada. perjanjian internsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional. yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan pelaksanaan. . PT RajaGrafindo Persada. kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional.

. perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing. Kadangkadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil. statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional. pemberlakuan perjanjian internasional. terutama perjanjian yan Dalam oleh diwariskan pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. kita harus meninjau kembali hukum konstitusi. 9 10 Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara. bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas. Jika penerapannya melanggar hukum internasional. ataupun hukum interasional atau praktik.87.Cit. .Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona. hlm. Mochtar Kusumaatmdja. UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut. asas lex posterior derogat lege priori akan diterapkan. maka dapat muncul permasalahannya. Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional. Op.10 Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat.9 Selanjutnya. Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional. yaitu UUD 1945. melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional. jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya. suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggaran tersebut. yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting? Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional. Dalam hal ini. yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini.

..” Meskipun demikian... hlm. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini 11 Ibid. dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu. Mochtar Kusumaatmadja di atas.. mengenai sikap Indonesia terhadap perjanjian ini.. beliau juga mengingatkan sebagai berikut. Sebaliknya.kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut. Konvensi Jenewa 1927 Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu.34 Tahun 1981. “. apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku. UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya..” Dari pendapat Prof. Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa. Akan tetapi.Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945. yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara sebagai perorangan.11 “. jelas kiranya bahwa dalam memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu perjanjian internasional. tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No. yakni langsung menganggap diri kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undangundang pelaksana. dengan dikeluarkannya Keppres No.. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada tanggal 7 Juni 1959.bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan Arbitrase Asing 1. . Undang Nasional mutlak dipelukan. kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana. D...87. pengundangan dalam Undangmasalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas. Prof.

. dan lain sebagainya. London. konfederasi. Ltd.15 Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan karena dekolonisasi. hlm. Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969. hlm. Remadja Karya.. di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri. suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian yuridis dan pergantian menurut kenyataan. atau negara kesatuan. baik bilateral maupun multilateral. Dengan kata lain. dapat juga karena sesi. Perjanjian ini 12 13 14 15 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40.196. Connel. serta dispositive. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di antaranya ialah: The Law of State Succession.dengan cara accescion.131. 1986).P.. sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat. dekolonisasi. yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah. akan beralih kepada penggantinya. Contoh perjanjian yang bersifat politis adalah perjanjian persahabatan. 1988). Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan. dan State Succession and Problems of Treaty Interpretation. Syahmin AK. Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi? Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties.6 dan seterusnya.O. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan.13 Akan tetapi. dan mulai tanggal 5 Agustus 1981. Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi. misalnya perjanjian ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase luar negeri. aneksasi. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internsional (Bandung: CV..12 sebelum Konvensi New York 1958 ini dinyatakan berlaku. dan State Sucession in Municipal Law and Internasional. (Bandung CV Armico.14 Sehubungan dengan hal tersebut. Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan penelitian tentang succession of state ini adalah D. penggantinya. Perjanjian demikian tidak Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian yang bersifat polotis. masih berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara pengganti (sucessor state). Lihat Lampiran II buku ini Staatsblad Tahun 1933 No. persekutuan (aliansi) pemberian bantuan. Sementara itu. Mac Millan & Co.

doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. dua doktrin yang populer yang dapat dipakai menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan suksesi negara. hukum internasional. doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berbeda-beda. perjanjian perbatasan. Namun. sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian . Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam Dalam untuk penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul praktik yang berbeda-beda. Indonesia Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947). meskipun negara tersebut. Menurut acquired rights doctrine. Doktrin ini juga disebut free choice doktrine. ada Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas.membebani suatu wilayah dengan status hukum. setelah pemutusan perjanjian KMB. misalnya pernjanjian pangkalan militer. dan ditindaklanjuti dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949). Ternyata dalam praktiknya. Teori ini juga disebut dengan teori Sementara itu. kemudian disertai dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda. mulai dari perjanjian perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. dan lain sebgainya. sendiri mengadakan perjanjian Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah dengan Kerajaan Belanda. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap mengikat negara tersbut. meskipun telah terjadi suksesi negara. hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti beralih kepada negara yang menggantikannya. universal. Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut perjanjian peralihan. Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara dapat berjalan dengan lancar. bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan. Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights doctrine dan clean state doctrine.

(3) merumuskan sebagai berikut.2). Keppres No. meskipun telah terjadi suksesi negara. Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not as such affect. Pasal 12 (3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1.19 Kembali lepada persoalan. di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Pasal 12 ayat (1.18 Jadi. . Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195620.a) Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan. Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu.a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti.internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia. Konvensi Wina Tahun 1978. Pasal 11 dan Pasal 12 (1. Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956.a) merumuskan: fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes boundary. Article 12 par. Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2. or (2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary.16 Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978.2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku.17 Sementara itu. kemudian dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak Kerajaan Belanda. bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun 1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement).33 Tahun 1950. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950. The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates. menyatakan tidak 16 17 18 19 20 Lihat. ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah Irian Barat. (1) a boundary established by treaty. Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional. (2. Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par.

2 tanggal 10 Oktober 1945.. Cit. sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berlandaskan pada UU No. “…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku untuk negara kita. Oleh karena itu. 1931). Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa 1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o.. 13 tahun 1956.” Kembali pada persoalan. Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar. dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan Penetapan Presiden No. selama Republik Indonesia secara tegas menyatakan demikian. b. sesuai dengan prosedur 21 dalam hukum perjanjian internasional. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof. Setelah pemutusan terhadap perjanjian KMB. c.terikat lagi pada Perjanjian KMB. 95. antara lain adalah: a. dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. March 19 1931). Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva. Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB) Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi. March 19. Sudargo Gautama sebagai berikut. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva. Op. untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. kecuali mengenai perbatasan. tidak secara otomatis berlaku. hlm. maka persetujuan internasional 21 Budi Lazurusdi dan Syahmin AK. . 1931). yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: “…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. 12727. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with Cheques and Protocol (Geneva March 19.

Aksesi ini didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981. yaitu reciprocity principles (asas perberlakuan secara timbal balik). Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja. “Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar. Op. 2. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu.yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan tetap berlaku. Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut. 22 Sudargo Gautama. Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights. atau juga disebut dengan teori universal. Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing.. Asikin Kusumaatmadja. hlm. Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di Indonesia. Pendapat kedua dianut oleh Prof. agaknya Prof. Cit. tanggal 5 Agustus 1981. Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di atas masing-masing mempunyai pendukungnya. Indonesia menjadi peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981. 68 . yaitu sebagai berikut.” Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state. di mana klausul arbitrase tercakup di dalamnya. keppres tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum yang ditimbulkannya.”22 Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka.

”23 Sebaliknya. Mr. Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi konvensi melalui Keppres No. . Dr. khususnya Prof. 34 tahun 1981. Dr. Untuk itu. Ibid. Sudargo Gautama.. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar hukum ternama. diperlukan peraturan pelaksanaan. hlm. yang berarti bahwa ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia. Peraturan pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan. sebuah keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. Beliau memberikan sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin mengikuti status hukum sang ibu. permohonan pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima. Menurut beliau. Mahkamah berpendapat perlu adanya peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan. kepada Pengadilan Negeri yang mana. Lengkapnya Mahkamah menyatakan sebagai berikut. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. Prof. namun dengan adanya perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia. berlainan dengan undang-undang yang menentukan. 34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981 dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri. “Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas. ternyata dalam pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri muncul. 23 Sudargo Gautama.Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958. 57.

peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak. Jadi. Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut dihormati dan dilaksanakan. Sementara itu. Kehendak pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri. Di tanah air. Sehubungan dengan hal tersebut di atas.Menurut hemat penulis. tetapi juga di kalangan perguruan tinggi. yang memegang kendali utama dan sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dan menetapkan arbitrasenya. tampaknya komitmen dan taraf pemahaman. Bukan saja bagi kalangan pengusaha. masalah keputusan hakim arbitrase asing di Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul arbitrase. serta kesepakatan untuk melaksanakan segala keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan. Masalah pertama. sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq. pengenalan terhadap lembaga arbitrase saja masih minim sekali. peran kontrol inilah yang diemban oleh pemerintah. dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990. apakah suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak. Memang untuk para pengusaha di Indonesia. sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua. Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu. badan peradilan manakah yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim arbitrase asing tersebut? . Peran pemerintah disini sudah jelas. yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. Jadi. penghargaan terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa komersial mereka. sekaligus menjawab dua masalah penafsiran hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang.

2826. pelaksanaan Surat Presiden No.Masalah pertama. baik Konvensi New York 1958. dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah (cq. dapat dibuatkan aturan pelaksanaan. bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. 34 tahun 1981. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia. . Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari Keppres No. dan telah dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai dengan konvensi ketatanegaraan. dapat disimpulkan di sini bahwa keppres pun. Oleh karena itu. telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1990 itu dimungkinkan. Mengulangi pernyataan sebelumnya. bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. menurut hemat kami. 34 Tahun 1981. maupun keppresnya sendiri tidak mengatur tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi dari para ahli hukum kita. tanggal 5 Agustus 1981. yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 2826 dalam praktiknya belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional Indonesia yang mengatur. bila pemerintah menganggap perlu. sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. Akibatnya praktik negara kita sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi. Namun. Masalah kedua. tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu. Dengan demikian. Akhirnya.

Kasus judicial review ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensi Indonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjian internasional. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU. Dr. DR. sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum.M. Distorsi publik ini pulalah yang mendorong lahirnya klaim bahwa Production Sharing Contracts (PSC) antara Pemerintah RI adalah ”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya judicial review terhadap UndangUndang No. LL. LL.M. Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu issue kontroversi dalam literatur hukum perjanjian internasional. penulis masih belum dapat menemukan jawabannya. kepada penulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasional pada tahun 1986.APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman* * Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof.H. Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi.H. ”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”. demikian pertanyaan Almarhum Prof.. Menurut Konvensi ini.. DEPLU. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknya adalah negara. Perdebatan sengit bahkan berlangsung pula dalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Komar Kantaadmaja. Komar Kantaatmadja S. ”Tapi negara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasional guna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa. Pemahaman publik tentang apa itu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popular yaitu perjanjian yang bersifat lintas batas. lanjut beliau dengan tersenyum. perjanjian internasional adalah: “An International Agreement concluded between States and International Organizations in written form and governed by International Law. S. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull. Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi pada tahun 2007. whether embodied .

by Subject of International Law. Dari pengertian hukum ini. dan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. in Written Form. 1962). maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. “Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik). yaitu “intended to create obligations and legal relations under international law: a. 1967). loan agreements” (Report of the ILC Special Rapporteur.in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” Selanjutnya. organisasi internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. . There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i. atau subjek hukum internasional lain. There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969. …Under International Law. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang merumuskan sebagai setiap perjanjian di bidang hukum publik.e. depends on the subject-matter and the intention of the parties (ILC Draft and Commentary. yaitu: ● ● ● ● ● an International Agreement. definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. Parameter tentang ”Governed by International Law” merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya di kalangan praktisi namun juga akademisi. Whatever Form. They could be in the form of a “Joint Statement”. Intended to create obligations and legal relations. or “MOU”. yang diatur oleh hukum internasional. b. suatu dokumen disebut sebagai ”Governed by International Law” jika memenuhi dua elemen.

Setelah lahirnya Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas). Undang-Undang No. merupakan jurisprudensi landmark bagi perkembangan hukum perjanjian internasional di Indonesia. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagai perjanjian internasional. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masih terdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan “Governed by International Law”. atau should there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to create legal relations is governed by international law? Pakar hukum D. diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”Treaty Room”. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional dan bahkan diratifikasi melalui Undang-Undang No.J. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini. sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI. Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. Apakah hal ini dapat ditarik dari the intention of the Parties? the Subject-Matter of the agreement?. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara. dimana penulis juga terlibat untuk mewakili pemerintah. beberapa anggota DPR mempermasalahkan bahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RI” dianggap bertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan . 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata.Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah ”Governed by International Law” juga masih menimbulkan perdebatan akademis. Dalam kasus ini. Keputusan MK terhadap judicial review Undang-Undang No. Namun praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-Undang No. sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh Pemerintah RI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loan agreements”. 1 Tahun 1963.

Konstitusi menyatakan: “Meskipun bunyi pasal 11 ayat (2) UUD 1945 menyebut. perjanjian pinjaman dikenal sebagai perjanjian perdata internasional dan tunduk pada hukum nasional tertentu sehingga status perjanjian ini bukanlah perjanjian internasional ”Governed by International Law”. 56. Secara konvensional. “perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Vol. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. kami dapat menyetujui pendapat Pemerintah dan ahli yang diajukan bahwa perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian internasional sebagaimana diartikan dalam pasal 1 dan 2 Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian (Law of Treaties) dan pasal 2 ayat (1) huruf a Konvensi Wina tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional). Hal ini disebabkan adanya pergeseran tentang governing law yang mendasari perjanjian-perjanjian pinjaman. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang Mahkamah . tidak termasuk Perjanjian Internasional yang merupakan ruang lingkup pasal 11 UUD 1945. 1962). dan dengan demikian bukan perjanjian internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (dan UU No. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) UU Migas. Status loan agreements juga menjadi kontroversi dalam perspektif definisi perjanjian internasional. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. The Proper Law of Loans concluded by International Persons: A Restatement and Forecast. Delaume.mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Mahkamah Konstitusi dalam judical review ini telah melakukan koreksi terhadap distorsi yang terjadi dalam opini public tentang apa itu perjanjian internasional. American Journal of International Law. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata (lihat Georges R. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan DPR”. dan karena itu permohonan Pemohon sepanjang mengenai hal tersebut tidak cukup beralasan”. Oleh karenanya. Akibatnya.

sehingga penetapan status perjanjian diserahkan pada intepretasi di kemudian hari manakala terjadi sengketa. banyak perjanjian pinjaman seperti halnya perjanjian komersial lainnya yang tidak secara tegas menyebutkan governing law. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. yaitu: perjanjian internasional publik ”Governed 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dalam hal ini. b. dan. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut pasal 10 huruf f Undang-Undang No. Namun perlu ditekankan bahwa persetujuan DPR dalam konteks Undang-Undang APBN tidak identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. Undang-Undang No.mengindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. Namun di lain pihak. perjanjian perdata internasional biasa yang ”Governed by other than International Law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan Undang-Undang No. Undang-Undang APBN bukanlah Undang-Undang untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan Undang-Undang untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. perbuatan Pemerintah RI by International Law” seperti yang a. 24 Tahun . Di lain pihak pengesahan/ratifikasi adalah lembaga hukum ketatanegaraan tentang pengesahan oleh legislatif atas perbuatan hukum pemerintah RI sesuai dengan Hukum Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan Undang-Undang dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri. dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang No. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam pasal 23 ayat (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”.

secara juridis formal. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Menurut pasal 15 Peraturan Pemerintah tersebut. Dalam praktek. Departemen Luar Negeri akan menyampaikan notifikasi “telah terpenuhinya prosedur konstitusional/ internal” setelah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Departemen Keuangan perihal itu. Sedangkan pengertian persetujan DPR pada Undang-Undang APBN bukanlah mengesahkan perjanjian yang sudah ditandatangani melainkan menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dalam prakteknya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Selain itu. wewenang penandatanganan Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri berada pada Menteri Keuangan. dalam rangka akuntabilitas juridis serta untuk mengamankan kepentingan hukum khususnya kewajiban pengesahan dengan Undang-Undang. adanya persetujuan DPR dalam APBN tidak dapat meniadakan persyaratan ratifikasi sebagaimana ditetapkan oleh pasal 10 huruf f Undang-Undang No. kecuali secara tegas dinyatakan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman/Hibah Luar Negeri ini. 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang pada hakekatnya mengatur tentang Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah Luar Negeri. Persetujuan DPR pada Undang-Undang APBN adalah terhadap perjanjian yang akan dan belum ditandatangani oleh Pemerintah RI sedangkan persetujuan dalam konteks pengesahan/ratifikasi adalah terhadap perjanjian yang sudah ditandatangani. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dengan demikian. Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam Undang-Undang . maka posisi Departemen Luar Negeri pada setiap perjanjian pinjaman kategori ini selalu mengupayakan klausula tentang dipenuhinya terlebih dahulu prosedur konstitusional/internal sebelum berlakunya perjanjian. terikat pada perjanjian itu.yang menandatangani suatu perjanjian disahkan dengan Undang-Undang (dengan demikian melalui persetujuan DPR) sehingga Indonesia secara resmi. Itulah sebabnya. Pada Peraturan Pemerintah ini tidak terdapat aturan yang mengindikasikan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah harus mendapat persetujuan DPR.

perjanjian pinjaman dapat merupakan perjanjian internasional dan juga dapat berupa perjanjian perdata internasional. yang dalam hal ini mungkin Bank Swasta Asing. Lembaga-lembaga ini jelas bukan Subjek Hukum Internasional dan dengan demikian perjanjian pinjaman dengan . Dalam praktek Indonesia.No. akan terjadi konflik kewenangan antara substansi dan format yaitu Menteri Keuangan yang memiliki kewenangan atas pinjaman luar negeri dengan kewenangan Menteri Luar Negeri yang memiliki wewenang untuk membuat perjanjian internasional itu sendiri. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. Terlebih lagi. Menteri (dalam hal ini Menteri Luar Negeri) mendelegasikan kepada Menteri Keuangan”. Sehingga untuk perjanjian pinjaman kategori ini. diindikasikan bahwa Pemerintah RI dapat membuat perjanjian dengan pemberi pinjaman. “Dalam hal pinjaman luar negeri. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Akibat tidak adanya penegasan juridis dari Rancangan Undang-Undang. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Loan Agreements yang dibuat oleh Indonesia selama ini adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh Undang-Undang No. dalam pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri ditandatangani oleh Menteri Keuangan sedangkan menurut penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang No. beberapa negara seperti Jerman dan Loan Agreement dengan International Fund for Agriculture Development tahun 2000 menginginkan agar perjanjian pinjaman ini mengambil format perjanjian internasional yang tunduk pada Konvensi Wina 1969. Namun di pihak lain. termasuk prosedur ratifikasi berdasarkan pasal 10. 24 Tahun 2000 harus diterapkan. Lembaga Keuangan Non-Pemerintah Asing. Undang-Undang No. sehingga prosedur Undang-Undang No. serta Lembaga Donor Swasta lainnya. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun Peraturan Pemerintah No. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UndangUndang No. Dalam definisi tentang Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri pada Rancangan UndangUndang ini. 2 Tahun 2006 (bahkan dalam Rancangan Undang-Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional hanya mengatur tentang perjanjian pinjaman per definisi Undang-Undang ini yaitu perjanjian “Governed by International Law”.

convention. Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik). Final Act. 1978: a. Pada sisi lain terdapat pula kecenderungan pada publik opini untuk menggunakan parameter nomenklatur atau judul dokumen sebagai faktor penentu untuk menetapkan dokumen itu sebagai perjanjian internasional. 24 Tahun 2000. Memorandum . d. Sekalipun Konvensi Wina dan jurisprudensi tidak menempatkan judul dokumen sebagai faktor penentu. Dengan demikian maka setiap dokumen yang berjudul treaty. ICJ Qatar/Bahrain Case. c. record of discussion bukan perjanjian internasional. Letter of Intent. Protocol. Letter Demarche. Qatar and Saudi Arabia.lembaga-lembaga ini bukan merupakan perjanjian yang menjadi lingkup Undang-Undang No. They constitute an international agreement. the Foreign Minister of Bahrain is not in a position subsequently to say that he intended to subscribe only to a "statement recording a political understanding” and not to an international agreement”. adalah perjanjian internasional sedangkan agreed minutes. b. Side Letter. they do not merely give an account of discussions and summarize points of agreement and disagreement. Dewasa ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti Joint Statement. Charter. constitute an international agreement creating rights and obligations for the Parties. Process Verbal. MOU. They thus create rights and obligations in international law for the Parties. agreement. of Letter of Agreement. memberikan petunjuk bahwa untuk menetapkan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional tidak harus dilihat dari judul perjanjian. 1990”. The Court concludes that the Minutes of 25 December 1990. Understanding. of Aide Memoire. the Court must have regard above all to its actual terms and to the particular circumstances in which it was drawn up. The Minutes are not a simple record of a meeting. Dalam tanggapannya terhadap “Minutes signed by Foreign Ministers of Bahrain. Minutes of Meeting. ICJ merujuk pada The ICJ Aegean Sea Continental Shelf. They enumerate the commitments to which the Parties have consented. of Memorandum Agreement. 1994. Joint Declaration. ICJ menyatakan bahwa Minutes ini adalah perjanjian internasional. Memorandum of Cooperation. Having signed such a text. like the exchanges of letters of December 1987. perlu pula diperhatikan bahwa praktek negara tentang judul suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. In order to ascertain whether an agreement of that kind has been concluded.

sekalipun tidak konsisten. Dalam hal ini. khususnya pada negara-negara common law system. pengelompokan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. Praktek di Indonesia misalnya. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding) merupakan salah satu model dokumen yang memiliki sifat khas/typical. atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan perjanjian internasional lainnya.Cooperation. Adanya pengertian MOU yang non-legally binding dalam praktek beberapa negara akan . misalnya lebih cenderung menggunakan “Agreement” sebagai instrumen payung dan kemudian MOU serta Arrangements untuk instrumen turunannya. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak mempermasalahkan judul atau nomenklatur. seperti Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik. Selain itu. Terdapat praktek negara. bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian tersebut memiliki bobot kerjasama yang berbeda tingkatannya dengan perjanjian internasional lainnya. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MOU) memiliki daya mengikat seperti Treaties. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam. Record of Understandings. sekalipun tidak mengikat secara hukum cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MOU yang kemudian diikuti dengan Arrangements. yang berpandangan bahwa MOU adalah nonlegally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk kepentingan conveniences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat. terdapat pula kecenderungan umum dalam praktek Indonesia bahwa dalam setiap pembuatan perjanjian yang bersifat teknis antar sektor harus didahului dengan pembuatan perjanjian payung. jika terdapat kebutuhan lain maka suatu perjanjian dapat saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian payung. Para ahli berpendapat bahwa istilah MOU digunakan dengan alasan politis yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement yang dinilai lebih formal dan mengikat. Selain itu terdapat kecenderungan dalam praktek negara-negara. namun praktek Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi tertentu. atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam perjanjian. namun apabila ditelaah lebih lanjut. Exchange of Notes. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak menyepakatinya. Sekalipun Undang-Undang No.

Istilah MOU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk yang lebih informal dari ”kontrak” atau ”perjanjian” dalam hubungan perdata nasional. Metode yang digunakan dalam praktek Indonesia untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional masih belum konsisten. Perlu pula dicermati bahwa MOU sudah menjadi instrumen yang digunakan dalam hubungan kerjasama antar wilayah dalam kerangka otonomi daerah di Indonesia. Pemerintah Daerah juga sudah mulai menggunakan format MOU untuk merefleksikan jaminan Pemerintah Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di daerah itu. Dengan demikian. pengertian non-legally binding belum menjadi concern yang berarti bagi Indonesia. khususnya pada negara-negara common law. Status hukum MOU semacam ini masih menjadi perdebatan. Dari sisi hukum nasional. Hal ini terlihat dari pola sistem penyimpanan perjanjian (depository system) yang ternyata menyimpan pada Treaty Room Departemen Luar Negeri semua dokumen sepanjang ditandatangani oleh Pemerintah RI tanpa melihat apakah dokumen tersebut memenuhi semua elemen sebagai suatu perjanjian. pengertian nonlegally binding memiliki implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dijadikan alat pembuktian serta di-enforce oleh pengadilan. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti. Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan politik terhadap investor asing. Jika diteliti lebih dalam seluruh dokumen yang tersimpan pada Treaty Room berdasarkan materi perjanjian (the merits of the documents). maka pada hakekatnya dapat dilakukan klasifikasi sbb: . Dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini. Untuk kebutuhan praktis.menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. Pengertian MOU oleh otonomi daerah merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk “Perjanjian Kerjasama” yang bersifat mengikat. sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasional. Secara umum pengertian ini selalu diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MOU melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang lazim dilakukan terhadap perjanjian internasional.

a. Dokumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum (joint statements. mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Extradition. Exchange of Notes. . declarations. etc). etc). c. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat. Agreement. agreed minutes. MOU’s. namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi. b. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Multilateral Convention. procurement contracts. Dari uraian diatas maka praktek Indonesia juga ternyata tidak luput dari dinamika tersebut. etc). Sekalipun literatur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten. Perjanjian yang memiliki karakter internasional tetapi tidak tunduk pada hukum internasional publik (loan agreements. Border Treaties. Perjanjian seperti yang didefinisikan oleh Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations 1986 serta Undang-Undang No.

Vol. Martinus Nijhoff Publishers. Syahmin AK. “Pengantar Hukum Internasional”. 2006. Damos Dumoli Agusman. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. Delano Verwey. Mochtar Kusumaatmadja. 1991. No. 1992). “International Law: Classic and Contemporary Readings”. “International Law”. D. Diehl. “Modern Treaty Law and Practice”. J. London: Lynne Rienner Publishers. 2004. 2003. Oxford. 2005. 2 (Apr. Cambridge University Press. Inc. 1998. 310-340. 23. “International Law”. pp. Cambridge University Press. London: Sweet & Maxwell. 1975. “Treaty Law for the Private Practitioner”. M. 2000. 2001. Antonio Cassese. “International Law”. DEPLU. 2006. 1996. Cambridge University Press. Grotius Publication. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. “The European Union and the International Law of Treaties”. Bina Cipta. Chirelstein. New York: Foundation Press.BIBLIOGRAPHY John H Jackson. “Status of Treaties in Domestic Legal System: A Policy Analysis”. "Concepts and Case Analysis in the Law of Contracts”. Marvin A. London. Rebecca Wallace. The University of Chicago Law Review. “International Law”. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. AJIL. Vol. Harris. Shaw. 2005. Ltd. . 86. Shaw. Hynning. Jan Klabbers. “Hukum Kontrak Internasional”. Charlotte Ku & Paul F. “The Concept of Treaty in International Law”. 1997. Malcolm N. Sweet & Maxwell. Clifford J.N. “Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional”. Anthony Aust. “Cases and Materials on International Law”.

menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR. al* *Diambil dari Jurnal Konstitusi. volume 3. et. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasional yang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. Perjanjian internasional . organisasi internasional dan subyek hukum lainnya. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan mengikat dengan hukum internasional lainnya.KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI . Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. Dengan meningkatnya intensitas hubungan dan interdependensi antarnegara.JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati. Latar Belakang Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalah dengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain. nomor 1. Februari 2006. Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional hukum yang antara sangat Pemerintah penting. Indonesia karena denganpemerintah negara negara-negara subyek lain. Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945.

tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subyek hukum internasional lainnya. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres. tanggal 22 Agustus 1960. Dalam penelitian ini. 2826/HK/1960. Sebelum adanya UU No. Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK? 3. 24 Surat Presiden No. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. akan dibahas pokok permasalahan sbb: 1. Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia? 2. Oleh sebab itu. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU.yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang. Untuk itu melalui Surat Presiden No. 24 tahun 2000. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuan DPR. Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalam hal diajukan kehadapan MK? 4. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkan perjanjian internasional jika dibatalkan ole MK? Proses Pengesahan Perjanjian Internasional Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain.24 Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. . yang ditujukan kepada Ketua DPR.

24 tahun 2000. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Pengakhiran perjanjian internasional g. 4. Pengesahan perjanjian internasional d.26 Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah presiden dan menteri. Ketentuan Penutup Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori. yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut.perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Pemberlakuan perjanjian internasional e. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional. Lembaran Negara RI Tahun 2000 No. Penyimpangan perjanjian internasional f. Pembuatan perjanjian internasional c. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional. memerlukan surat uasa (Full Powers). yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. Aksesi. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian. yaitu: 1. adapun isi yang diatur adalah25: a. Ketentuan Umum b. Ketentuan peralihan h. 185 Ibid. 3. 25 26 Indonesia (a). Dalam UU tersebut.Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UU No. Pasal 7 . Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Ratifikasi. Selain itu juga ada perjanjian. 2. Penerimaan atau penyetujuan. UU No.

sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UU No. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional. Pasal 8 Ibid. Pasal 10 .30 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui UU apabila berkenaan dengan: a. internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam UU. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. perdamaian. Pasal 11 Ibid. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat (2) UU No.29 Pengesahan dengan Keppres hanya perlu pemberitahuan ke DPR. perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme. pertahanan. 24 tahun 2000. 24 tahun 2000.27 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan UU atau Keppres. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Pasal 10 Ibid.28 Pengesahan dengan UU memerlukan persetujuan DPR. “Pengesahan perjanjian internasional sebagaiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak. kedualatan atau hak berdaulat negara d. dinyataka bahwa. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia 27 28 29 30 31 Ibid.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia tidakserta merta. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e. masalah politik. DPR dapat meminta pertanggungjawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat.Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah. Pasal 9 Ibid. baik departemen maupun non-departemen. dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa.31 Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang. dan keamanan negara b. pembentukan kaidah hukum baru f.

memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 c. pada Pasal 10 dinyatakan bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk: a. memutus pembubaran partai politik. budaya. 98. 24 tahun 2000. diratifikasi melalui UU dan Keppres. UU ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. contoh Indonesia meratifikasi ICCPR melalui UU. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. menguji UU terhadap UUD 1945 b. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat UU yang lebih spesifik mengenai perjanjian internasional yang diratifikasi. Apakah MK Berwenang Menguji UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional? Menurut UU No. Perjanjian internasional seperti ini dapat langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/ nota diplomatic. pariwisata. biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. . Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya. Perjanjian yang termasuk kedalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. maka selanjutnya Indonesia harus membuat UU yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam UU yang lebih spesifik. pertanian. 24 tahun 2003 tentang MK. Pasal 10. penerangan kesehatan. UU ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. UU No. 24 tahun 2003 tentang MK. kehutanan dan kerjasama antar propinsi atau kota. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum32 32 Indonesia (b). social. Lembaran Negara RI tahun 2003 No.memandang hukum nasional dan hukum interasional sebagai dua sitem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. dan d.

37 DPR mulai membahas RUU dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden diterima. Pasal 20 . Sehingga tidak adanya suatu perbedaan antara UU ratifikasi perjanjian internasional dan UU pada umumnya dilihat dari sudut muatan materi UU. dan (6) keuangan negara. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional. Sesuai dengan UU No. baik departemen maupun nondepartemen. (3) pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. Untuk keperluan pembahsan RUU di DPR. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. disebutkan bahwa materi muatan yang harus diatur dalam UU berisi hal-hal yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi (1) hak-hak asasi manusia. Pasal 8 Ibid. (2) hak dan kewajiban warga negara. Pasal 8 ayat (2) Ibid. (5) kewarganegaraan dan kependudukan. lembaga pemprakarsa yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah. dalam Pasal 8. Hal ini relevan karena dalam melakukan ratifikasi terhadap suatu perjanjian internasional adalah melalui UU.34 Hal ini sama dengan ketentuan dalam UU No. Pasal 12 Ibid. atau rancangan Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. hak asasi manusia. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dalam surat tersebut Presiden menegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR. 24 tahun 2000 mengenai hal apa saja dari perjanjian internasional yang disahkan dalam UU. Beberapa hal yang sama adalah mengenai kedaulatan. 53. menyiapkan salinan naskah perjanjian.Dengan demikian salah satu kewenangan dari MK yang perlu digaris-bawahi adalah mengenai menguji UU terhadap UUD 1945. terjemahan. Hal lain adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dan lebih spesifik dari muatan UU secara umum. (4) wilayah negara dan pembagian daerah. RUU. Lembaran Negara RI tahun 2004 NO.33 Selanjutnya selain dari yang berkaitan dengan UUD 1945 adalah diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. UU No. Pasal 12 ayat (3) Indonesia (c). wilayah negara dan masalah keuangan negara.36 mengajukan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional yang telah disiapkan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. menteri atau pimpinan 33 34 35 36 37 Indonesia (c).35 Pengajuan disampaikan pengesahan kepada perjanjian internasional Presiden dilakukan melalui Menteri untuk Presiden.

pemerintah dapat membuat perjanjian internasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatic.6.40 Setiap UU atau Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara RI. ayat 1. 38 39 40 41 42 43 Ibid. muatan dan isi serta proses pembentukan dari UU pengesahan perjanjian internasional tidak berbeda dengan UU lainnya.lembaga pemrakarsa 38 memperbanyak naskah RUU tersebut dalam jumlah yang diperlukan.41 Menteri menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan pemerintah RI pada suatu perjanjian internasional untuk dipertukarkan dengan negara-negara pihak dalam perjanjian internasional atau disimpan oleh negara atau lembaga penyimpanan pada organisasi internasional. UU ini dapat diajukan ke MK. Pasal 37 Indonesia (a). Penempatan peraturan perundang-undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam Lembaran Negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara. .39 Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden. dan 7 Ibid. Oleh karena itu. Tata cara pembahasan RUU tersebut diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPR. Pasal 32. Ibid. Pasal 14 Ibid. Lembaga penyimpanan selanjutnya memberitahukan semua pihak bahwa perjanjian tersebut telah menerima piagam pengesahan dari salah satu pihak. diampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi UU. Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan.42 Lembaga penyimpanan (depositary) merupakan negara atau organisasi internasional yang ditunjuk atau disebut secara tegas dalam surat perjanjian untuk menyimpan piagam pengesahan perjanjian internasional. Secara struktur.5. atau melalui cara lain sesuai kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam perjanjian.43 Disamping perjanjian internasional yang disahkan melalui UU atau Keppres. Pasal 14 Ibid. Tingkattingkat pembicaraan dilakukan dalam rapat komisi/ panitia/ alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna.Praktek ini berlaku bagi perjanjian multilateral yang memiliki banyak pihak. Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi.

b. 24 tahun 2003. bukan gugatan. Yang termasuk sebagai ini adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan yang sama dapat tampil sebagai pemohon. Persyaratan legal standing dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam UU. yang bunyinya sbb: Perorangan warganegara Indonesia. asalkan dapat membuktikan dirinya memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk menjadi pemohon. Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet poiny d’action.46 Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI ynag diatur dalam UU. Rumusan ini merujuk pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . Dalam hal ini adalah kepentingan pemohon dalam mengajukan permohonan termaksud.Tatacara Pengajuan Permohonan Pengujian UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional ke MK Dalam perkara permohonan pengujian UU Pengesahan Perjanjian Internasional.47 a. 44 45 46 47 Semua perkara konstitusi di MK disebut sebagai perkara permohonan. UU yang digugat adalah UU yang mengkat umum terhadap segenap warga negara.44 Adanya kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata45 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. Oleh sebab itu perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian UU. Dengan demikian. subjek hukum yang mengajukan disebut sebagai pemohon. sebenarnya tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke MK dan menjadi pemohon. maka prosedur pengajuan yang digunakan tidaklah berbeda dengan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan Mahkamah tentang pengajuan permohonan. Dimana bagian yang terpenting adalah legal standing dari pemohon dalam mengajukan permohonannya. melainkan permohonan. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya UU yang dipersoalkan. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan. Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversaria atau contentious yang berkenaan dengan pihakpihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata maupun tata usaha negara. Dalam hukum acara MK yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No. Dalam berperkara di MK. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut UU untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada MK.

49 yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. 81-82 .c. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di MK. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat khusus dan actual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. Konstitusi Press: Jakarta. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945. e. melainkan juga mencakup pengertian lainnya secara luas. yaitu: a. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Dua criteria dimaksud adalah:50 a. Maksudnya adalah lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat. 006/PUU-III/2005. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya UU yang dimohonkan pengujian. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu UU yang dimohonkan pengujian. Kemudian. Dari penjelasan-penjelasan di atas. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan WNI (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). Seperti telah diuraikan di atas. besar kemungkinan badan hukum tidak hanya mencakup pengertian public/privat saja. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. maka dapat diketahui bahwa setiap pemohon haruslah: 48 49 50 Dengan berkembangnya ilmu hukum di masa modern ini. 2005. berdasarkan pertimbangan hukum Putusan Perkara No. c. b. d.48 Lembaga Negara. (iii) badan hukum public atau privat. hal. atau (iv) lembaga negara. Maruarar Siahaan. Mahkamah telah menentukan lima persyaratan mengenai kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu UU sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK. b. Hal Badan hukum public atau privat. d. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan.

Karena. maka pemohon harus menguraikan dengan jelas mengenai anggapan tentang hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan dengan berlakunya UU a quo. Bagaimana penilaiannya oleh hakim sangat tergantung kepada kasus konkretnya di lapangan. dalam permohonannya pemohonharus menjelaskan kedudukan hukum pemohon dalam perkara yang diajuakan. maka yang bersangkutan memang dapat dipastikan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan perkara ke MK. Sudah tentu. Mahkamah perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan legal standing ini. dalam pelaksanaannya. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. . Jika kelima criteria ini tidak dapat dipenuhi secara kumulatif. Uraian ini harus secara jelas dan tegas yang pada pokoknya akan menunjukkan hubungan hukum antara pemohon dengan materi permohonan yang hendak diajukan. bahwa hak atau kewenangan konstitusional yang bersangkutan memang telah dirugikan atau dilanggar oleh berlakunya UU atau bagian dari UU yang dipersoalkannya itu. belum memperhitungkan pokok permohonannya. salah satu dari keempat kelompok subjek hukum tersebut di atas.1. bahwa adanya atau timbulnya kerugian dimaksud memang terbukti mempunyai hubungan sebab akibat atau hubungan kausal dengan berlakunya UU yang dimaksud. bahwa apabila permohonan yang bersangkutan kelak dikabulkan. 3. maka kerugian konstitusional yang bersangkutan memang dapat dipulihkan kembali dengan dibatalkannya UU dimaksud. 2. Untuk itu dalam kaitannya dengan permohonan yang diajukan ke mahkamah. bahwa subjek hukum dimaksud memang mempunyai hak-hak atau kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945. 5. atau bersifat kumulatif secara mutlak. kelima criteria tersebut masih bersifat abstrak. Untuk dinyatakan memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan. penilaian mengenai legal standing ini baru mengantarkan pemohon kepada keabsahannya sebagai pemohon. Untuk itu secara khusus perihal legal standing harus menjadi perhatian Mahkamah. kelima kriteria itu kadang-kadang tidak diterapkan secara kaku. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. 4. mengingat dampak kekuatan mengikatnya tidak saja terhadap keberlakuan UU tersebut akan tetapi juga dalam pergaulan internasional.

Dalam pengujian formalitas UU pengesahan perjanjian internasional. masalah proses perundingan atau negosiasi. apakah itu materiil atau formil. dimana harus dilihat siapa yang mewakili pemerintah Indonesia? Apa dasar keterweakilan pemerintah Indonesia? Hal ini terkait dengan surat kuasa yang diemban oleh wakil Indonesia dalam proses perjanjian internasional tersebut. Dalam hal ini harus diperhatikan bagaimana dengan keikutsertaan keterwakilan Indonesia pemerintah dalam perjanjian dalam internasional tersebut. hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam menjatuhkan putusan atas perkara a quo. kiranya menjadi perhatian khusus Mahkamah dalam memeriksa dan memutus perkara ini adalah terkait dengan pengujian atas pembentukan UU a quo.Materi pengajuan yang hendak dimohonkan ke mahkamah juga harus menyebutkan dengan jelas perihal permohonan pengujian formil atau pengujian materiil. Hal ini akan terkait dengan sejauh mana wewenang wakil pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan proses keikutsertaan dalam perjanjian internasional. Hal ini terkait dengan proses keikutsertaan Indonesia sebagai pihak dalam perjanjian internasional. pemeriksaan tidak hanya terkait dengan proses pembentukan di DPR akan tetapi harus juga dijadikan perhatian perihal proses keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Apabila dalam permohonan tidak dinyatakan . Hal lain yang harus juga diperhatikan dalam kaitannya dengan permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional adalah apa bentuk UU pengesahan tersebut. keterwakilan pemerintah dalam perjanjian internasional tersebut dan proses pengesahan perjanjian internasional menjadi UU. Uraian ini akan menjadi gambaran yang jelas bagi hakim dalam menilai materi permohonan yang diajukan. dalam perkara pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. Hal ini akan terkait dengan bentuk keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Permohonan putusan Mahkamah dalam petitum penting untuk dinyatakan dalam permohonan yang diajukan. Hal ini adalah untuk menjawab pertanyaan perihal bentuk pengesahannya apakah UU ratifikasi atau aksesi atau penerimaan. Dalam kaitannya dengan pengajuan pengujian formil. sebagaimana yang disebutkan dalam UU Perjanjian Internasional. Terkait Indonesia perjanjian tersebut. Dalam hal ini pemohon harus menguraikan dengan jelas yang berisi uraian perihal permohonan yang hendak diajukan. menyatakan bahwa UU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam petitumnya pemohon dalam permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional.

pasl dan/ atau bagian yang bertentangan dengan UUD 1945. Meskipun dengan pembatalan UU pengesahan perjanjian internasional tidak secara serta merta menghilangkan keikutsertaan Indonesia dalam pergaulan internasional. Walaupun dalam Konvensi Wina Article 46 dinyatakan bahwa negara peserta dari suatu perjanjian internasional dapat membatalkan keikutsertaannya dalam perjanjian jika pelanggaran terhadap perjanjian tersebut merupakan suatu tindakan yang memang sesuai dengan internal law of fundamental importance. Dalam hal permohonan yang diajukan adalah pengujian materiil UU pengesahan perjanjian internasional.batalan sepihak atau penangguhan keikutsertaan dalam perjanjian tersebut. Dalam hal ini harus diperhatikan. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah jika perjanjian internasional yang disahkan oleh UU . Kerena pengujian UU pengesahan perjanjian internasional memiliki dimensi yang tidak saja bersifat nasional namun juga internasional. juga harus dipertimbangkan dampak yang akan timbul dari dikabulkannya permohonan tersebut. Kesemua aspek tersebut akan menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan yang akan dibuat oleh Mahkamah dalam memutus permohonan a quo. Dampak Pembatalan UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional Dampak dari pembatalan UU tersebut tidak hanya akan bersifat nasional tetapi juga bersifat internasional. karena Indonesia tidak dapat menarik diri dari perjanjian tersebut jika tidak ada pasal yang mengatur mengenai pe. hal ini juga harus diperhatikan oleh Mahkamah. maka hal ini harus menjadi perhatian dalam pemeriksaan pendahuluan dan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki permohonannya. perjanjian internasional tersebut secara keseluruhan. dimana apakah pernyataan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat atas materi muatan yang diperiksa dan diputus mahkamah akan dapat dikategorisasi sebagai pembatalan sepihak atau tidak. maka pengujian dilakukan berkaitan dengan materi muatan dalam ayat. yaitu apakah dalam perjanjian internasional tersebut dimungkinkan untuk melakukan pembatalan sepihak atau penangguhan. Hal ini penting bagi Indonesia.petitumnya. Dalam hal ini harus diperhatikan dengan baik terkait dengan materi muatan yang menjadi dasar pengujian materiil yang diajukan. Dalam hal pengujian UU pengesahan perjanjian internasional dapat menimbulkan penafsiran sebagai bentuk pembatalan sepihak (denunciation) dari keikutsertaan Indonesia. Dalam memberikan keputusan yang terkait dengan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional.

Sebagai contoh adalah ketika Indonesia mundur dari keanggotaan PBB pad Desmber 1964.dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan UUD 1945. Maka pernyataan untuk terikat dalam perjanjian internasional tersebut merupakan suatu itikad baik. Indonesia diwajibkan membayar segala kewajiban selama ketidak aktifannya di PBB. Berlainan jika pengunduran diri atau pembatalan tidak diatur dalam perjanjian internasional. Dengan demikian pembatalan suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional yang dilakukan oleh MK tidak selalu menjadikan Indonesia lepas dari keterikatannya yang telah dinyatakan oleh Indonesia terhadap perjanjian tersebut. pengunduran diri Indonesia di PBB dihitung sejak pernyataan mundur Indonesia di PBB. menetapkan bahwa pembatalan atau pernyataan tidak terikat terhadap perjanjian ini berlaku satu tahun sejak pemberitahuan mengenai pernyataan tersebut diterima oleh Dewan Federasi Swiss. Hal ini berlainan dengan LBB yang mengatur mengenai pengunduran diri dari LBB. PBB tidak ingin mengulangi pengalaman LBB yang dilemahkan oleh pengunduran diri beberapa anggotanya pada tahun 1938. Dengan demikian Indonesia sebenarnya tidak pernah keluar dari PBB. dengan menyesuaikan perjanjian internasional tersebut dengan konstitusi negaranya. Pada saat Indonesia ingin kembali menjadi anggota PBB. seperti halnya dalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Seperti halnya di dalam Piagam PBB. Namun dalam hal ini dapat dimasukkan dalam pembatalan atau penangguhan secara sepihak ini tidak akan menjadi masalah jika pengunduran diri diatur dalam suatu perjanjian internasional. Konvensi Wina menyatakan hal di atas karena dalam prosedur ratifikasi. jika pengunduran diri atau penangguhan untuk terikat terhadap perjanjian tidak diatur. Mengenai pembatalan perjanjian yang diakibatkan oleh dibatalkannya suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional oleh MK tidak termasuk dalam faktor-faktor yang menjadikan perjanjian menjadi batal atau ditangguhkan. yang harus dihormati oleh negara-negara lainnya. Hal berbeda jika hal ini diatur dalam perjanjian internasional. negara peserta diberikan kesempatan untuk memutuskan apakah akan menjadi pihak dalam perjanjian internasional atau tidak. . hal ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. dalam Pasl 63 mengenai Perbaikan Keadaan Luka dan Sakit di Medan Perang di darat.

[1] yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya. Berbeda dengan . yaitu teori voluntarisme. New Delhi. saling berdampingan dan terpisah. I. Latar Belakang Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis.PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA Oleh Pan Mohamad Faiz* * Penulis adalah mahasiswa program Master of Comparative Law (M.A. Dalam memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional.L.) di Faculty of Law.) di School of Social Science.C.[3] Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. IGNOU. University of Delhi dan program Master of Political Science (M. dan teori objektivis[2] yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari interaksi masyarakat internasional dimana peran negara sangat penting dan mendominasi hubungan internasional. Karena peran dari hukum nasional negara-negara dalam memberikan pengaruh dalam kancah hubungan internasional mengangkat pentingnya isu bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional dari sudut pandang praktis.

3. yang mungkin adalah renvoi. sedangkan pada hukum internasional adalah negara. sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional. hukum nasional bersumber pada kemauan negara. Akibat lain adalah tidak mungkin adanya pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. 4. 2. lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. Struktur hukum. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah.[6] Karena itu dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasional memerlukan transformasi menjadi hukum nasional.pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum. Kenyataan.[4] Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: 1. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara.[5] Maka sebagai akibat dari teori dualisme ini adalah kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada perangkat hukum yang lain. Subjek hukum internasional. II. Sumber hukum. subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik. Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional. . Dengan demikian dalam teori dualisme tidak ada hirarki antara hukum nasional dan hukum internasional karena dua perangkat hukum ini tidak saja berbeda dan tidak bergantung satu dengan yang lain tetapi juga terlepas antara satu dengan yang lainnya. pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. Teori Keberlakuan Hukum Internasional A.

[8] Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional.[7] Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia. dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara.[9] Monisme dengan primat hukum internasional. 2. Monisme dengan primat hukum nasional. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional. . Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1. hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis.B. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia. Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya. Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional. Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme.[10] Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional. Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara.

rinsip Hukum Umum. yang mendirikan Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam Mahkamah Internasional Permanen. karena tidak tercapainya minimum ratifikasi. Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Wina) 1969. 4. Pasal 7. yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan Piagam Mahkamah Internasional. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 . ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional. dengan demikian hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan dihadapannya adalah: 1. 2.III. hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas. Dengan demikian Pasal 38 Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan untuk menetapkan hukum. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan Kapal tidak pernah terbentuk.[11] Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal. yang pada saat ini tercantum dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 1945. termasuk organisasi internasional dan negara-negara. Kebiasaan Internasional. Pada Konvensi Den Haag XII.[12] Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk mengakibatkan hukum tertentu. tertanggal 18 Oktober 1907.[13] Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan sangat pesat. Menurut sumber tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum internasional. Perjanjian Internasional. 3. Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920. Perjanjian Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional.

yaitu perundingan dan penandatanganan. konvensi (convention). deklarasi.[16] Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua tahap. piagam (statute). Sedangkan golongan kedua lebih sederhana. Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalahmasalah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. covenant. arrangement. penandatanganan dan ratifikasi. Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda dengan perjanjian internasional. proses penerimaan . Proses pembentukan Perjanjian Internasional. accord. charter. kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. 4. perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang cepat. sehingga memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan perjanjian mana yang tidak di Indonesia.Januari 1980. pakta (pact). Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional. Hal ini biasanya berdasarkan alasan adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara. Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional.[14] Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty). Dalam Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga diratifikasi menjadi hukum nasional. sebagai berikut: 1. menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan perjanjian internasional. Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan. Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. 2.[15] Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan. 3. Dalam perundingan bilateral. Dalam perundingan multilateral.[17] Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). Selanjutnya apa yang menjadi ukuran suatu perjanjian mana yang termasuk golongan yang penting. dan lain-lain. modus vivendi. protokol.

Untuk perjanjian multilateral. Pengesahan Perjanjian Internasional di Indonesia Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain.(acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. 2826/HK/1960. yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. IV. Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan undang-undang.[18] Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. 5. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak. Tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya. Untuk itu melalui Surat Presiden No. Sebelum adanya Undang-Undang No. tertanggal 22 Agustus 1960. . Penandatanganan : merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional.[19] Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau keputusan presiden. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/accession/acceptance/approval). kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun.

Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah: • • • • • • • • Ketentuan Umum Pembuatan Perjanjian Internasional Pengesahan Perjanjian Internasional Pemberlakuan Perjanjian Internasional Penyimpanan Perjanjian Internasional Pengakhiran Perjanjian Internasional Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup[20]

Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional; 2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian; 3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan (approval) yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut; 4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).[21] Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah Presiden dan Menteri. Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada

dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian interansional tersebut. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.

internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang.[22] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang atau keputusan Presiden.[23] Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan DPR.[24] Pengesahan dengan keputusan Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.[25] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: • • • • • • masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara; kedaulatan atau hak berdaulat negara; hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pembentukan kaidah hukum baru; pinjaman dan/atau hibah luar negeri.[26]

Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional, perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun 2000. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24 tahun 2000, dinyatakan bahwa: ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang

hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui undang-undang dan keputusan presiden. Undang-undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih spesifik. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional seperti ini dapat lansung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya, pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. *** Catatan: Tulisan ini merupakan resume dari salah satu hasil penelitian yang dibuat penulis bersama tim lainnya dalam "Pengujian Undang-undang yang Mensahkan Perjanjian Internasional".

cit. USA. hal 62. Bandung 2003.. yang mempengaruhi teori Objektivis ini. cit. 1984.. [2] Teori ini menghendaki adanya suatu norma hukum yang merupakan dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional. hal 65. Kelsen dan Verdross) [11] Ibid. [8] Op. hal 57-56. [7] Ibid. hal 114 [12] Shearer. [3] Mochtar Kusumaatmadja. cit. Pengantar Hukum Internasional. hal 29 [13] Op. Jakarta 2003. Akhir dari puncak kaidah hukum terdapat kaidah dasar (Grundnorm) yang tidak dapat lagi dikembalikan pada suatu kaidah yang lebih tinggi. hal 61 [9] Ibid [10] Ibid. hal 64. Aliran ini pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia. Paham ini dikembangkan oleh mazhab Wina (Kunz. Kelsen dianggap sebagai bapak dari mazhab Wina. hal 56 [4] I A Shearer. Alumi. Para pemuka aliran ini adalah Triepel dan Anziloti. Starke’s International Law. [6] Loc. hal 117 . Butterworths.. Pengantar Hukum Internasional. Alumni. 11th ed.Endnotes: [1] Teori-teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional itu pasa kehendak negara ini merupakan pencerminan dari teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai pemikiran ilmu hukum di Eropa pada abad ke 19. [5] Mochtar Kusumaatmadja.

[20] Indonesia (a). Pasal 10 .[14] Vienna Convention on the Law of Treaties. 2826/HK/1960. cit. cit. Pasal 8 [23] Ibid. Pasal 10 [25] Ibid.. Vienna 1969 [15] Op. [21] Ibid. [22] Ibid. Pasal 7. Lihat: Catatan Kaki No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Pasal 11 [26] Ibid. Pasal 9 [24] Ibid. tanggal 22 Agustus 1960. [19] Loc. 5. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185. hal 119 [16] Ibid [17] Ibid [18] Surat Presiden No. Undang-undang No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful