Kompilasi Permasalahan

Direktorat Perjanjian Ekonomi Sosial dan Budaya
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri 2008

TOR DEPLU MENGENAI STUDI TENTANG SISTEM HUKUM SUATU NEGARA TERKAIT DENGAN PROSES PENGESAHAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL SERTA PENGOLAHAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL OLEH SUATU NEGARA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
* TOR ini dilengkapi dengan “Diskusi Professor Ko Swan Sik dengan Bapak Damos Dumoli Agusman berkaitan dengan TOR DEPLU mengenai Studi Tentang Sistem Hukum Suatu Negara Terkait dengan Proses Pengesahan dan Pemberlakuan Perjanjian Internasional serta Pengolahan Naskah Perjanjian Internasional oleh suatu Negara dan Organisasi Internasional”

Permasalahan yang lahir dari Praktek Negara RI tentang Internasional yang perlu mendapatkan penjelasan akademis:

Perjanjian

1. Dalam kaitannya dengan hubungan perjanjian internasional dengan hukum nasional, apakah Indonesia menganut faham monisme atau dualisme? 2. Apakah perjanjian internasional perlu di definisi ulang sehingga mencakup semua perjanjian yang bersifat transnasional? 3. 4. Apakah loan agreements adalah perjanjian internasional? Apakah nomenclauture membedakan bobot juridis suatu perjanjian internasional?

5. Apakah lembaga negara di luar eksekutif (MA, BPK, DPR) dapat membuat perjanjian internasional? 6. Apakah Sekjen ASEAN dapat membuat perjanjian dengan negara ketiga atas nama angota ASEAN?

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM DINAMIKA GLOBAL 1. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi, mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Sekalipun Literarur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten, namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Perkembangan antar bangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan dan intensitas pembuatan perjanjian internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya.

2.

3.

Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur dalam Pasal 11 UUD 1945, yang kemudian diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional oleh Pemerintah RI. Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional.

4.

PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME? 5. Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukum nasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme, dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjian internasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untuk mengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan. Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikan dasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.

Komentar Prof. Swan Sik:

Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasional Indonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari sudut tata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2 sebagai berikut: (a) HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungan sistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluar dan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan ini berkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN (transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalam lingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagai HN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukan hubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori) (b) HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagai keseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“diinkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun dengan mempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untuk diterapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.

They deny the theory but their thinking reflect the theory. yang satu mengecualikan UUD dari pengutamaan HI. maupun di hukum PI yang berlaku untuk Indonesia. Beberapa ahli berpandangan bahwa sebaiknya ketiga jurusan itu bisa dipakai dengan menggunakan parameter kepentingan nasional secara kasus per kasus. Dalam konteks ini mereka tidak menginginkan HN Indonesia memilih jurusan dan membiarkan ketiganya applicable dalam setiap kasus. sehingga dapat diharapkan ada keputusan2 hakim yang mengutarakan pendapatnya tentang ada (tidak)-nya “pengecualian2” demikian. atau dgn jalan undang-undang.” Berdasarkan ketentuan ini hakim wajib menguji wewenangnya terhadap HI. atau melalui tundakan2 berdasarkan otoritas pejabat hukum (misalnya hakim. Saya sendiri berpendapat bahwa ”bukan jurusan yang menentukan apa yang HN pilih. . HN Indonesia tidak perlu terjebak dengan berbagai jurusan tsb namun tetap diperlukan adanya sikap (”legal provisions”) dalam HN Indonesia yang menentukan apa status HI dalam HN (hubungan HI dan HN). terdapat suatu pertanyaan critical.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dari hasil diskusi dengan para ahli hukum Indonesia. diatas dapat ditentukan secara berbeda-beda. baik yang bersumber di hukum kebiasaan. atau pemerintah pusat) Disamping itu ada kemungkinan diadakannya perbedaan antara HI tertulis (perjanjian internasional) dan HI tak tertulis (hukum kebiasaan) dalam penerapan pilihan sistem. Kesulitan yang saya hadapi adalah. jika kepentingan nasonal (national interest) menuntut. yaitu ”apakah suatu negara mutlak memilih salah satu jurusan tersebut”. seperti pasal 22a “Ketentuan2 umum perundang-undangan” (Algemene bepalingen van wetgeving. bahkan diakui sebagai hukum yang bertingkat lebih tinggi. maka ketiga jurusan itu bisa dipakai secara bergantian. tapi apa yang HN pilih yang akan menentukan jurusan”. dan yang lain bahkan menempatkan UUD pun dibawah HI. Sikap tata hukum Indonesia (HN) terhadap berlakunya HI dalam lingkungan HN sebagai keseluruhan belum jelas. Bahkan dari zaman kolonial masih ada ketentuan yang berdasarkan peraturan2 peralihan masih berlaku. Jika HN telah menetapkan status hubungan ini maka warna jurusan akan terlihat dan teridentifikasi.(c) HI dianggap tidak hanya ter-inkorporasi dalam lingkungan HN. Dalam jurusan ini terdapat dua variasi. Petunjuk paling jelas sebenarnya dapat dilihat dalam praktik peradilan (“yurisprudensi” dalam arti-kata umum). para ahli Indonesia menolak menggunakan teori monisme-dualisme dalam menjelaskan hubungan HI dan HN namun tanpa sengaja pandangan mereka tentang hubungan ini selalu dilatarbelakangi oleh salah satu aliran ini. Pilihan antara ketiga kemungkinan tsb. Sayang sukar untuk diketahui praktek hakim karena masih belum adanya kebijakan pengumuman luas keputusan2 hakim (selain dari pemberitaan2 wartawan disurat kabar). Ada HN yang menentukan pilihan tsb. sehingga mendahului HN yang berlawanan dengannya. Staatsblad 1847:23) yang berbunyi: “Wewenang hakim dan daya pelaksanaan keputusan hakim dan akta otentik dibatasi oleh pengecualian2 hukum internasional. di Konstitusinya. Artinya.

Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. Adanya perundangundangan yang mengatur hal2 sama dengan apa yang telah diatur pula dalam suatu PI yang berlaku untuk RI. Agar PI mengikat suatu negara (berlaku. apakah dilakukan secara “silent”? (tanpa memerlukan penetapan oleh HN?) *** 6. dalam bentuk tegas ataupun sebagai hasil penafsiran (contoh: oleh hakim). dalam lingkungan HN). tidak per se merupakan bukti bahwa RI menganut dualisme.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Memang tidak terdapat indikasi tegas apa yang dianut oleh Indonesia dalam masalah hubungan HI dan H. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasanaliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Swan Sik: Syarat keberlakuan PI untuk lingkungan HN ditetapkan oleh HI (ada tidaknya PI yang relevan untuk RI) dan HN (ketentuan status PI tsb. terhadap suatu negara) diperlukan seperangkat tindakan pejabat hukum HN (ratifikasi) yang dalam hal ini bertindak baik dalam fungsi HN maupun fungsi HI. Pertanyaan saya: dapatkan suatu negara memilih ketiga jurusan tersebut? Jika dapat. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal.Saya sendiri keberatan jika parameter kepentingan nasional selalu dipakai untuk menentukan pemilihan jurusan karena akan menciptakan ketidakpastian hukum dan prinsip predictability yang menjadi fundasi suatu sistem hukum. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. Dari pandangan para ahli hukum Indonesia. Indikasi kearah monisme misalnya tercermin dari: . dari sudut HI. dapat saya simpulkan bahwa pandangan mereka terhadap hubungan HI dan HN mengarah pada memilih salah satu jurusan teori. Praktek Indonesia justru tidak konsisten dalam masalah ini. Apakah tindakan2 tersebut juga berakibat PI bersangkutan berlaku dalam lingkungan HN (lihat catatan diatas) adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh HN. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. dan belum terlihat adanya pandangan yang diluar dari ketiga jurusan tsb. Perundang2an bersangkutan mungkin “mengatur lebih lanjut” (ToR dengan tepat menggunakan istilah “implementasi”).

12. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional tidak luput dari kerancuan ini. Pandangan dualisme ini is governed by international oleh Kelompok ahli hukum perundangcreate legal relations tampaknya juga didukung law? undangan Indonesia yang menolak untuk mengkategorikan UU/Perpres yang meratifikasi utatu PI sebagai Harris perundang-undangan. the intention of the Parties? 4/1960 karena karakter dualisme. Dalam hal ini. UU NO 39/1999 tentang HAM: Ketentuan hukum internasional yang telah diterima yaitu: negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum  an International Agreement nasional.” 7) Perjanjian Internasional berdasarkan Konvensi Wina 1969 (dan 1986) tentang Hukum 2. organisasi hukum internasional. produksendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. the Subject-Matter of the agreement? dianggap there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to c. UU ini baru dicabut oleh UU No. Bagaimana mengidentifikasi bahwa UU No. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merujuk langsung pada “praktek dan dasar yang harus dipenuhi Dari pengertian hukum ini. Judicial review MK tentang UU No.6/1996 sendiri dapat b. 8) 9) . maka terdapat beberapa kriteria kebiasaan internasional secara oleh universal” suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan UU Nomor 24 Tahun tentang Perjanjian Internasional. Perjanjian yang dibuat dengan NGO juga dianggap sebagai Perjanjian internasional. 1/1982 dimaksud dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yangdalam prakteknya dapat diterapkan langsung tanpa ada UU tentang Diplomatik/Konsuler. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai Perjanjian Internasional dan bahkan diratifikasi melalui UU Nomor 1 Tahun 1963. Konvensi Wina 1961 internasional. 1. 17/1985 tidak dianggap bertentangan dengan UU Perpu a. Apakah dari: law” juga masih menimbulkan tentang Perairan Indonesia. UU No. hanya jubah untuk menyatakan persetujuan DPR/Presiden dan bukan merupakan UU/Perpres dalam pengertian perundang-undangan. PASAL 22A AB: KEKUASAAN HAKIM DIBATASI OLEH PENGECUALIAN-PENGECUALIAN  “governed by international law”((diatur dalam hukum internasional serta OLEH HI menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik)  whatever form. should sebagai UU yang mentransformasikan UNCLOS 1982.Penjelasan Pasal 13 UU No. 17/1985adalah meratifikasi by international tidak mencabut UU Perpu 4/1960 perdebatan akademis. Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. Klausula yang dimuat dalam suatu UU yang meratifikasi suatu Perjanjian Internasional (dan oleh organisasi internasional) adalah:PI selalu memuat kalimat: asli (PI) Inggris “An ”Salinan naskahAgreementdalam bahasa between dan terjemahannya dalam bahasa International concluded States and International Indonesia sebagaimana and governed by international Law. Kasus Sengketa bidang hukum publik. UU No. 24/2000 tentang PI: ”Penempatan peraturan perundangundangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan THEY? TREATIES: WHAT AREagar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia. atau subjek hukum internasional lain. Kelompok ini masih menganggap perlu adanya 11. whether embodied Organizations in written formterlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari in a Undang-Undang ini. or in two or more related instruments and whatever its single instrument particular designation” 3.J. Menurut kelompok ini UU/Perpres ini Pakar hukum D. yang diatur Perjanjian Internasional adalah: setiap perjanjian diTanah Kedubes Saudi Arabia: Fatwa MA oleh Langsung Merujuk Padadan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. 6/1996. di bidang hukum perdata. Dalam rangka dualisme.  by Subject of International Law  in Written Form 6. Sebelum lahirnya UU ini. praktek Indonesia juga mengindikasikan dualisme misalnya dalam praktek penerapan UNCLOS 1982. Praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya UU No. Namun dilain pihak. 4. 5. suatu dokumen yang ”governed UNCLOS 1982 10. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”treaty room”. bahwa perjanjian mentransformasikan menjadi lingkup UU ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang diatur dalam hukum Jurisprudensi Indonesia sendiri hak dan kewajiban sehingga hukum publik dan bukan internasional serta menimbulkanbelum berkembang di bidang belum memberikan kontribusi untuk pengembangan doktrin hubungan HI dan HN. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan UU/Perpres yang internasional yang PI dimaksud.

.

13. Kalangan publik Indonesia telah menggunakan istilah perjanjian internasional secara popular yang mencakup seluruh perjanjian yang bersifat lintas negara baik publilk maupun perdata (kontrak internasional). Sebaliknya tercantumnya judul tersebut juga boleh jadi melulu disebabkan kehendak pembuat UU 24/2000 bahwa perjanjian pinjaman/hibah. dengan adanya UU 24/2000 pasal 10 judul (f). 24/2000 pada waktu itu tidak dibekali oleh pemahaman tentang definisi perjanjian internasional. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. Swan Sik: Dilihat dari sudut umum. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. sehingga menganggap semua perjanjian baik perdata maupun public adalah treaty dalam pengertian . Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasan aliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Tercantumnya judul ini boleh jadi oleh karena pembuat UU secara prinsip tidak sudi memperbolehkan perjanjian pinjaman/hibah antarnegara/organisasi internasional diperlakukan sebagai perjanjian yang dikuasai suatu HN. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apakah perjanjian internasional perlu didefinisikan kembali. dilingkungan HN atau HI (lihat juga catatan atas ayat 16). karena materinya. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. Pertanyaan yang kita hadapi yalah apakah pilihan demikian masih mungkin bagi RI. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. Tafsiran terakhir ini lebih2 masuk akal apabila ternyata praktek Indonesia setelah diundangkannya UU 24/2000 masih tetap kadang2 memuat klausula tentang “governing law” (lihat ToR ayat 24)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dilihat dari historis pembuatan UU No 24/2000. antar negara maupun antar perusasahaan multinasional. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. pilihan para fihak (negara atau organisasi internasional) tentang penempatan (G-to-G) loan agreement mereka dilingkungan HI atau HN adalah pilihan politik (kebutuhan dan kepentingan) dan tidak merupakan persoalan teoretis juridis. perlu disetujui UU. Dalam hal ini persetujuan dengan UU itu dapat saja ditafsirkan lepas dari hal penempatan perjanjian tsb. perumus UU No. 14. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural.

maka berdasarkan UU No. b. Untuk kelompok pertama diterapkan UU No. 24/2000. *** 15.Konvensi Wina 1969. ILC sendiri dalam drafting Vieanna Convnetion 1969 menempatkan loan agreements sebagai “subject to a national law”. Saat ini terjadi perdebatan yang sangat intensif antara Deplu dengan Depkeu/Bapenas tentang status loan agreements dalam RUU tentang Pinjaman/Hibah. Praktek negara (termasuk IBRD) yang cenderung menggunakan HI sebagai governing law adalah karena konstelasi politik internasional dewasa ini beranggapan “governed by international law” lebih secured dari pada “governed by a national law”. Menurut saya. Dalam konteks pemahaman yang keliru inilah loan agreements dirumuskan dalam UU No. yaitu: a. dalam rangka pembuatan RUU tentang Pinjaman/Hibah telah diupayakan untuk membedakan perjanjian pinjaman menjadi dua jenis. 24/2000 tetapi untuk kelompok kedua tidak perlu diberlakukan. Sehingga loan agreement pada waktu itu oleh perumus UU No. Deplu mengusulkan agar dalam RUU ini dibedakan antara kedua jenis perjanjian ini sehingga dapat diketahui rejim UU apa yang akan diberlakukan. Sehingga mereka menggunakan “treaty” dari pada “contract”. perjanjian internasional publik governed by international law seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan. . Mereka enggan menggunakan pengadilan nasional dan HN untuk penyelesaian conflict. Untuk itu sejak tahun 2006. misalnya penetapan loan interest. yaitu governed by international law dan governed by national law. Dalam praktek. Akibatnya. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata. their terms. Akibatnya. hal ini tidak dapat dipertahankan karena acapkali muncul loan agreements yang governed by HN namun “dipaksakan” untuk dikategorikan sebagai PI berdasarkan UU No. 16. 24/2000. 24/2000 tidak lagi diberi ruang bagi adanya loan agreement governed by HN. perjanjian perdata internasional biasa yang governed by other than international law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan UU tersebut. 24/2000 selalu dianggap sebagai treaty sekalipun governed by HN. pilihan hukum tentang loan agreements tetap menjadi persoalan juridis teoritis karena “theoretically” loan agreement bukan merupakan domain dari hukum internasional. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang mendindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. Pertanyaan critical adalah apakah norma HI sudah cukup “adequate” dan available untuk mengatur tentang loan agreements.

Dalam pembahasan RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. perjanjian pinjaman (loan agreements) adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional. untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Dalam kaitan ini. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya UU APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan.  Komentar Prof. yang tentunya membutuhkan ratifikasi sebelum pemberlakuannya. 18. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan akademis tentang apakah persetujuan DPR dalam kontek UU APBN identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan UU (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional?. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional jelas mengkategorikan perjanjian pinjaman sebagai perjanjian per definisi UU ini yaitu perjanjian governed by international law. Pasal 16 PP Nomor 2 Tahun 2006 menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. Seperti diketahui bahwa UU tentang APBN bukanlah UU untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan UU untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. apakah lembaga ratifikasi seperti yang dikenal dalam hukum tatanegara telah mengalami pergeseran makna? 20. Selain itu. Dalam praktek Indonesia. UU Nomor 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam Pasal 23 (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. Swan Sik: . kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut Pasal 10 (f) UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan UU dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam UU tersendiri. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Konsekuensinya.17. 19. Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun PP Nomor 2 Tahun 2006 (bahkan dalam RUU Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. 21.

Jika loan agreement itu tidak treaty (governing law adalah HN) maka UU 24/2000 tidak apply.  Komentar Prof. artinya PP 2/2006 can apply. Namun demikian Depkeu menyatakan pasal 16 PP 2/2006 tidak bertentangan dengan UU karena sudah ada persetujuan dari DPR dalam bentuk UU APBN.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Untuk menyelesaikan problem ini. UU 24/2000 tidak mengatur persetujuan in advance karena tidak dikenal dalam hukum perjanjian internasional. dengan (dan selama) adanya UU 24/2000 pemerintah tidak mungkin mengadakan perjanjian pinjaman yang mulai berlaku sejak saat ditandatangani. dan dengan demikian pasal 16 PP 2/2006 bertentangan dengan UU.Menurut tafsiran yang manapun. Dalam hal ini. Swan Sik: Salah satu hal yang masih tetap tanpa ketegasan yalah konsekwensi bermacam. NOMENCLATURE. Swan Sik: Cara persetujuan DPR seperti yang disebut di ayat 18 diatas pada hakekatnya merupakan persetujuan terlebih dahulu (in advance) atau “pemberian wewenang” untuk mengadakan pinjaman sampai batas tertentu. Secara tradisional bentuk dan nama perjanjian (nomenclature) tidak relevan untuk dibedakan karena apa pun namanya tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang di dalam suatu perjanjian internasional. walaupun tanpa perincian sumber pinjaman demikian. SHOULD THEY BE DISTINGUISHED? 22. dunia diplomasi cenderung memberikan bobot yang berbeda untuk setiap nomenclature. Pertanyaan saya adalah apakah persetujuan DPR (in advance) identik dengan ratifikasi? Mengingat karakter ratifikasi adalah “confirming the act that already taken by the executive” maka persetujuan in advance bukan ratifikasi. content perjanjian merupakan tolok ukur ketimbang namanya. Namun demikian.  Komentar Prof. Apakah ini dapat dianggap telah memenuhi syarat tersebut dipasal 23(1) UU 17/2003 dan pasal 10 UU 24/2000 merupakan soal penafsiran yang dapat dijawab oleh praktek hubungan pemerintah-DPR. maka DEPLU telah memberikan penafsiran bahwa loan agreement menurut UU 24/2000 adalah “treaty”.macam sebutan yang dipakai dalam praktek untuk perjanjian2 antar-negara/organisasi internasional. Sebaiknya pemerintah mencari ketegasan dengan jalan memancing pernyataan azas dari fihak DPR.  Komentar Damos Dumoli Melihat kompleksitas masalah ini maka sampai saat ini DPR belum memberikan posisi apa pun tentang hal ini. . Treaty dan Agreement akan dianggap lebih mengikat ketimbang MOU.

namun menurut terkaan saya masalahnya tetap terbuka)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Praktek Indonesia dalam pembuatan PI dengan negara-negara lain sangat inkonsisten. 25. Masalah ini sayang sekali terlalu luas (dan spekulatif) untuk dijadikan objek catatan singkat. Bagaimanapun persoalan ini sekali-kali tidak semata-mata soal nomenclatur. 23. Perkembangan hukum perjanjian internasional juga ditandai dengan adanya perbedaan praktek Negara mengenai nomenclature MoU. Adanya pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktek beberapa Negara akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. BPK dan DPR. sayang sekali dalam bahasa Belanda: “De verplichting in het volkenrecht” [Kewajiban dalam hukum internasional] . Pustaka mengenai masalah ini pasti telah banyak berkembang sejak saat itu. 24. (Masalah tersebut pernah saya bahas sebagai judul pidato inaugurasi saya pada tahun 1990. APAKAH LEMBAGA NEGARA DI LUAR EKSEKUTIF DAPAT MEMBUAT PERJANJIAN INTERNASIONAL? 26. Praktek internasional termasuk Indonesia juga ditandai dengan maraknya pembuatan perjanjian internasional oleh lembaga di luar eksektif seperti MA. Gejala ini telah memicu pertanyaan yang bersifat akademis yaitu apakah dewasa ini pemerintah suatu negara yang selama ini dikenal sebagai pemangku fungsi representation of states tidak lagi menjadi lembaga tunggal untuk membuat perjanjian internasional? . Untuk kebutuhan praktis. Petunjuk utama jika menghadapi persoalan bersangkutan yalah tafsiran segala faktor yang memain peranan dalam terjadinya “perjanjian” bersangkutan.Yang dimaksudkan yalah apakah penggunaan istilah tertentu berakibat berbeda dalam bidang keberlakuan hukumnya. Ada praktek Negara. Pandangan para negotiators selalu terjebak pada mind setting bahwa MOU lebih rendah dari agreement dan agreement lebih rendah dari Treaty. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti khususnya tentang implikasinya dalam hukum nasional. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya mengikat seperti treaties. khususnya pada Negara-negara common law system yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. Dinamika dalam masalah nomenclature ini menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dunia praktisi tentang apakah diperlukan adanya tingkat hirarki perjanjian internasional berdasarkan namanya. melainkan soal usaha politik antar-negara untuk menghindari keterikatan pada kewajiban hukum tanpa mengaku maksud tersebut.

ASEAN telah memiliki konstitusi barunya (ASEAN Charter) yang akan memberikan landasan hukum bagi aktivitas ASEAN baik dari segi internal maupun eksternal. Kenapa pertanyaan full power muncul? Karena non-ekeskutif tidak mengakui Menteri Luar Negeri sebagai bagian dari eksekutif mengeluarkan full power bagi mereka. apakah Menlu lazim mengeluarkan full powers kepada lembagai non-eksekutif? ASEAN’S TREATY MAKING POWER 28. Komentar Prof. Dalam HN. Yang berbeda dari kebiasaan hanya pejabat pelaksananya. artinya perjanjian antara subjek2 internasional bersangkutan. Sejauh pimpinan negara mengizinkan lembaga2 kenegaraan lain daripada Eksekutif mengadakan PI dan sejauh fihak lainnya menerimanya. maka kemudian muncul pertanyaan tentang lembaga full powers. Begitu pula pertanyaan tentang full powers kelihatannya tidak relevan benar (lihat dibawah catatan atas ayat 32/37). yalah apakah sifat (PI atau tidak) dan apakah akibat hukum (menurut tata hukum mana) dari perjanjian2 yang kadang-kadang diadakan antara lembaga dan alat perlengkapan badan2 hukum tingkat rendahan (contoh: antara kota-kota) dari negara berbeda. biasa negara. Mereka mengklaim tidak perlu memperoleh kuasa dari pemerintah. eksekutif adalah the legitimate representive of states.  Komentar Prof. Hasilnya yang dituju tetap suatu PI. dan hanya mengindikasikan bahwa masalah ini akan diatur lebih lanjut dalam perangkat implementasi. Namun ASEAN Charter tidak secara rinci mengatur mengenai treaty making power of ASEAN.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Secara traditional. Aspek lain yang kelihatannya kadang-kadang menimbulkan pertanyaan dalam kepustakaan yang tidak jelas terjawab. Treaty making power merupakan salah satu isu dasar yang lazim diatur dalam konstitusi setiap organisasi internasional sebagai bagian dari paragraf tentang external relations. Dalam hal ini. kedudukan Menlu sebagai pejabat khas dalam hukum internasional tidak dikenal 27. Swan Sik: Bagi HI yang menentukan yalah apakah ada suatu PI. dan sekali-kali bukannya alat(-alat) perlengkapannya. tidak ada halangan terhadap praktek demikian. Swan Sik: . Adanya pembagian kekuasaan negara yang semakin ketat di Indonesia menimbulkan implikasi bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga non-eksekutif bukan merupakan urusan eksekutif sehingga perjanjian yang dibuat oleh mereka bukan tanggung jawab eksekutif. Seiring dengan maraknya perjanjian internasional oleh lembaga non-eksekutif. Perjanjian ini diberi nama “administrative agreements”.

Dari sudut HI tiada halangan apapun (ayat 37) terhadap acara demikian. dimana negara anggota akan turut membubuhkan tanda tangan jika bagian dari perjanjian dengan EU tersebut adalah wewenang negara anggota. atau (2) berdasarkan pemberian wewenang khusus oleh para negara anggauta secara insidental. Jika negara itu ingin “terminate atau amandement perjanjian itu. dapatkan dilakukan tanpa melalui consent dari Sekretaris Jenderal ASEAN? . Pengeluaran Surat Kuasa Resmi (Full Powers) adalah untuk kepentingan fihak lainnya (counterpart) dalam perjanjian agar fihak ini memperoleh kepastian bahwa si wakil RI bersangkutan memang “disuruh” RI dan perbuatannya memang di”tanggung” RI. Permasalahannya adalah. Dalam hal adanya keperluan ratifikasi.[Catatan ini dibuat tanpa penelitian data perjanjian di ASEAN Documents Series] Pembuatan perjanjian dengan fihak ketiga yang dilakukan (ditandatangani) oleh Sekretariat/Sekjen atau “pejabat salah-satu anggauta” dapat (1) tegas atas nama ASEAN. Apakah full powers oleh negara itu kepada Sekretaris Jenderal ASEAN adalah full powers yang dimaksud oleh Vienna Convnetion 1969? 2. Saya telah membuat catatan khusus tentang issue ini yang akan saya sampaikan secara terpisah. atau (2) tegas atas nama para negara anggauta. Dalam konstruksi seperti digambarkan diatas fihak lain itu percaya. Selanjutnya tindakan tersebut dapat (1) berdasarkan suatu ketentuan khusus dalam naskah “anggaran dasar” ASEAN. menerima dan mengaku (recognition!!) wewenang Sekretariat ASEAN. DPR tidak “mengesahkan perbuatan hukum oleh subjek hukum internasional lain” melainkan mengesahkan perbuatan yang bersifat perbuatan hukum RI berdasarkan pemberian wewenang (“surat kuasa”) tersebut tadi. Pemberian wewenang demikian tidak selalu ternyata dari naskah yang diumumkan. . Praktek ASEAN dalam hal ini tidak didasarkan pada prinsip hukum perjanjian internasional bahwa “consent to be bound” harus dinyatakan oleh negara itu sendiri. European Union yang sudah demikian terintegrasi tidak pernah suatu negara anggota memberi mandate kepada Presiden Komisi untuk bertindak atas nama negara tersebut mengikatkan diri dengan pihak lain. sehingga soal full powers tidak timbul. Dalam EU dikenal adanya Mix Agreements.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Treaty making power of ASEAN telah menjadi persoalan dalam praktek ASEAN dalam membuat perjanjian. Apa yang dilakukan oleh ASEAN adalah hanya untuk kebutuhan praktis. atau (3) tanpa ketegasan demikian. para negara yang berdaulat berkuasa penuh untuk “memberi kuasa” kepada subyek hukum lain. Pertanyaan yang muncul jika Sekjen ASEAN menandatangani PI atas nama negara anggota adalah: 1.

dapatkah subjek hukum internasional lain melakukan tindakan express to be bound by a treaty atas nama subjek hukum internasional lainnya? Jika perjanjian tersebut memerlukan ratifikasi. dapatkah dilakukan sendiri tanpa melalui Sekjen ASEAN? . bertindak sebagai organisasi internasional as a distinct subject separated from its members 31. Dilain pihak. 30. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa materi yang diperjanjikan bukan merupakan ruang lingkup atau wewenang ASEAN sebagai suatu organisasi yang berdiri sendiri namun terletak pada negara-negara anggotanya. yaitu Perjanjian dengan Pihak Ketiga yang mengikat seluruh Negara anggota ASEAN tetapi ditandatangani oleh oleh Sekjen ASEAN/Pejabat salah satu anggota untuk dan atas nama Negara-negara anggota. Sedangkan EEC. Namun demikian. Sekalipun judul perjanjian itu menggunakan isitilah ASEAN namun pada hakekatnya perjanjian dimaksud adalah perjanjian antara negaranegara anggota secara individu dengan organisasi/negara ketiga (perjanjian multilateral). Dalam perjanjian ini yang membuat perjanjian dengan EEC adalah setiap dan semua negara anggota dan bukan ASEAN sebagai a distinct subject separated from its members. Hal ini tercermin dari participation clause-nya serta pihak yang menandatangani perjanjian dimaksud yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN secara individual seperti pada the Cooperation Agreement between the Member Countries of ASEAN and the EEC. 33. Istilah ASEAN dalam hal ini hanya digunakan untuk merujuk setiap Negara anggota sebagai collective members. dalam kaitannya dengan ASEAN sebagai subjek hukum internasional. Praktek ASEAN dalam hubungan eksternalnya sudah sangat intensif dan dapat dibedakan atas dua perspektif: a. Dalam kaitan ini. yang terlepas dari Negara anggotanya. Penandatanganan oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota terhadap perjanjian menimbulkan beberapa pertanyaan akademis tentang kekuatan mengikat perjanjian tersebut terhadap negara anggota.29. 32. 7 March 1980. dapatkah DPR mengesahkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum internasional lain? Jika perjanjian itu membutuhkan full power apakah lazim Menteri Luar Negeri memberikan full power kepada subjek asing? Jika negara anggota ingin menarik diri dari perjanjian semacam ini. ASEAN sebagai collective members telah banyak membuat perjanjian dengan negara/organisasi internasional lain. ASEAN juga telah membuat berbagai perjanjian dalam kedudukannya sebagai a distinct subject separated from its members yang biasanya menggunakan istilah ASEAN Secretariat. Hubungan antara ASEAN sebagai subjek hukum internasional (biasanya ASEAN Secretariat) dengan pihak ketiga. praktek ASEAN juga menunjukkan adanya beberapa perjanjian yang tampaknya agak menyimpang dari prinsip hukum umum yang berlaku. Hubungan antara seluruh anggota ASEAN dengan pihak ketiga dimana status negara anggota adalah sebagai subjek hukum internasional yang berdiri sendiri. b. Kedudukan ASEAN dalam kaitan ini adalah sebagai organisasi internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional oleh Organisasi Internasional.

Menurut paham dualisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda.PROF. Berdasarkan paham monisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan bagian yang saling berkaitan dari satu sistem hukum pada umumnya. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang benar-benar terpisah. mengatur mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan pengangkatan serta penerimaan duta dalam ranah Hukum Nasional. dan bagaimana Indonesia menerapkan Hukum Internasional. yang ada kaitannya dengan Hukum Internasional. Hal ini mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian Internasional di ranah Hukum Nasional. Indonesia menetapkan bahwa Presiden mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan menerima duta dan konsul. Hakekat Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Nasional. 1975 dan 1979. paham ini cenderung mengabaikan Hukum Internasional. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Hukum tentang hubungan diplomatik dan konsuler dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru tahun 1961. Pasal 11 dan 13 UUD 1945. MOHD. MH. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. sudah mengadakan interaksi dengan Negara maupun Organisasi Internasional. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. BURHAN TSANI. Dikenal ada dua paham yaitu dualisme dan monisme. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang No. SH.. Berdasarkan paham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Internasional. . yang tunduk pada Hukum Internasional. 1973. urusan luar negeri. Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan berbagai Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional juga tidak mencantumkan pasal tersendiri yang mengatur status tersebut. Namun secara logika paham dualisme akan mengutamakan Hukum Nasional dan mengabaikan Hukum Internasional. Hukum Internasional merupakan Hukum Nasional untuk “Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Hukum Nasional tunduk pada Hukum Internasional dalam arti Hukum Nasional harus sesuai dengan Hukum Internasional. 1969. Indonesia menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Presiden. UUD 1945 tidak mencantumkan satu pasal pun yang mengatur status tersebut. 1963. DR. 24 Tahun 2000. 1978 dan 1986. seperti Undang-Undang No. Permasalahan yang mungkin masih relevan untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan dan bahkan pertentangan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. termasuk didalamnya Perjanjian Internasional. Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah dibandingkan dengan Hukum Internasional. STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA) Pengantar Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak mudah untuk menemukan kaidah hukum yang mengatur tentang status Hukum Internasional dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional RI. Undangundang yang berkaitan dengan Hukum Internasional. Pengutamaan mungkin pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. Sekarang Indonesia mempunyai Undang-Undang mengenai Perjanjian Internasional yakni Undang-Undang No. yang juga masih berupa Hukum Kebiasaan Internasional. Pada tahun 1969. Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan 1945. Sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No. Menurut faham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Nasional. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Negara akan mengutamakan Hukum Internasional atau Hukum Nasional? Permasalahan pengutamaan dapat diselesaikan dengan menggunakan paham (teori) dalam hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional.” Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Hukum Diplomatik. Hukum Internasional merupakan kelanjutan Hukum Nasional. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

2. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi Hukum Nasional. Pengesahan yang dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia. Bagi pandangan yang mempunyai sikap politis nasionalis. Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimanakah penerapan Hukum Internasional dalam ranah Hukum Nasional Indonesia. delegasi. Perjanjian Internasional yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah aslinya. Nampaknya Indonesia cenderung menggunakan teori delegasi. cara bagaimana ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional. Indonesia cenderung pada monisme dengan pengutamaan Hukum Internasional. Prosedur dan metode yang digunakan Negara merupakan suatu kelanjutan proses. kapan ketentuan Perjanjian Internasional berlaku dalam Hukum Nasional. Menurut teori delegasi. yang dimulai dengan penutupan (persetujuan) suatu Perjanjian Internasional. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Sebaliknya bagi pandangan yang simpatik pada Internasionalisme. Menurut teori inkorporasi Hukum Internasional dapat diterapkan dalam Hukum Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. Berdasarkan praktek. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Teori ini berlaku untuk penerapan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal.Dimungkinkan ada monisme yang menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar dengan Hukum Internasional. Hukum Internasional yang bersumber dari Perjanjian Internasional dapat diterapkan di dalam Hukum Nasional apabila sudah dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Nasional. Tidak ada transformasi. Mengenai hal ini ada beberapa teori yang dikenal dalam Hukum Internasional. Syarat-syarat konstitusional hukum nasional hanya merupakan bagian dari satu kesatuan mekanisme penciptaan (pembuatan) hukum. ditentukan oleh preferensi etnis atau preferensi politis. Indonesia nampak tidak sepenuhnya menggunakan teori transformasi. Ratifikasi merupakan bagian prosedur pembentukan Hukum Internasional yang dituangkan dalam perjanjian yang bersangkutan. Indonesia secara diamdiam menerima bahwa perjanjian yang bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum Nasional. bukan dalam bentuk perundang-undangan formal mengenai substansi perjanjian yang bersangkutan. Dalam praktek pilihan pengutamaan pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Hubungan antara keduanya saling melengkapi. hak untuk menentukan: 1. Untuk dapat diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. aturan-aturan konstitusional Hukum Internasional mendelegasikan kepada masingmasing konstitusi Negara. akan mengutamakan Hukum Internasional. . Prosedur yang dilaksanakan merupakan bagian dari keseluruhan proses pembuatan Perjanjian Internasional yang bersangkutan. secara formal dan substantif. Tidak ada penciptaan (pembuatan) aturan hukum atau Hukum Nasional yang benar-benar baru. bahwa aturanaturan Hukum Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum Nasional. Indonesia dapat dianggap ingin menggunakan teori transformasi. Berdasarkan teori transformasi. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Akan tetapi perjanjian yang disahkan dilampirkan begitu saja seperti aslinya. yaitu teori transformasi. Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang yang ada sekarang. Hal ini tercermin dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang Terorisme Bonn. yang bersumber dari Perjanjian Internasional ada dua teori. Demikian juga sebaliknya. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Nasional untuk memperoleh instrumen ratifikasi. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan sistem hukum yang benar-benar terpisah. dan inkorporasi. yang secara tersendiri menentukan sikap Indonesia. Dalam penerapan Hukum Internasional. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. akan mengutamakan Hukum Nasional. yang diperlukan prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. belum ada ketentuan (pasal). Dalam penerapan PerjanjianPerjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi. Yang dilakukan hanya merupakan kelanjutan (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan yang tunggal. Teori transformasi mendasarkan diri pada pendapat pandangan positivis. Pasal 2 instrumen pengesahan telah menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang bersangkutan dalam Hukum Nasional Indonesia. Untuk sepenuhnya menggunakan teori transformasi perlu dilampirkan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi yang termuat dalam perjanjian yang bersangkutan. Hukum Internasional tidak mewajibkan bahwa suatu Negara harus menganut paham dualisme atau monisme. Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian Internasional yang berlakunya memerlukan ratifikasi. Indonesia belum pernah membuat perundang-undangan yang mengatur substansi perjanjian yang telah ditandatangani. Hukum Internasional dianggap sudah menyatu ke dalam Hukum Nasional. Pengesahan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. yaitu teori transformasi dan teori delegasi. Bertumpu pada pengakuan Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. Indonesia menganut paham monisme. dan secara struktur merupakan sistem hukum yang berbeda.

Indonesia wajib melaksanakannya dengan itikad baik dan melakukan penyesuaian perundang-undangannya dengan Perjanjian Internasional yang sudah berlaku secara definitif. Apabila Indonesia sudah menjadi Negara pihak.Keterikatan Indonesia pada Perjanjian Internasional yang bersangkutan. PROF. Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. Hasil pelurusan dirumuskan dengan baik dan disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada semua pengelola Negara dan Warga Negara. MH. BURHAN TSANI. dilandaskan pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. DR.. SH. MOHD. Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. . Penutup Praktek-praktek yang tidak ajeg dan simpang siur yang mengakibatkan permasalahan perlu diluruskan.

Uraian singkat ini cukup mutlak dan terang bunyinya. dan bersumber pada pengertian perjanjian internasional (PI). apalagi mencoba menyajikan pemecahan persoalan demikian. Disamping itu. berlakunya hukum dalam batas-batas suatu tata hukum tertentu menampilkan pertanyaan tentang keterbatasan ruang lingkup daya hukum yang terkait pada kesepakatan. Apabila kesepakatan ini tercapai dan disertai kesungguhan para pihak. tetapi tidak mencukupi sebagai penjelasan konsep perjanjian. ditambah syarat kewenangan pelaku tersebut untuk mengadakan perjanjian yang berkekuatan hukum. Istilah “perjanjian” menggambarkan adanya kesepakatan antara anggota masyarakat tentang suatu keadaan yang mereka inginkan. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tidak hanya melekat karena kekurang jelasannya. Ternyata berbagai kenisbian dan kesamaran melekat padanya. maka tata hukum “menghukum”nya. . Demikianlah bunyi Pasal 1338 KUHPer (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) lama (sejauh kitab undang-undang ini masih kita akui sebagai sumber hukum berlaku). Diantaranya. Guna lebih jelas lihat Black Law’s Dictionary. Kenisbian lain yaitu ketergantungan keabsahan perjanjian dari kedudukan para pelakunya sebagai subyek hukum 1 tata hukum bersangkutan.BEBERAPA ASPEK KENISBIAN DAN INTERNASIONAL Oleh Ko Swan Sik* KESAMARAN PERJANJIAN * Penulis adalah mantan Guru Besar Erasmus Universiteit Rotterdam (19881996). Pengantar Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan analisa persoalan hukum tertentu (spesifik/ kongkrit). maka tata hukum yang berlaku di masyarakat bersangkutan memberi kekuatan hukum padanya dengan menetapkan perjanjian itu setaraf dengan undang-undang. Sebaliknya. Penulis juga tidak bermaksud mencoba menyajikan risalah teori hukum apapun. pendiri Foundation for the Development of International Law in Asia dan anggota Instituut de Droit International. tulisan ini semata-mata merupakan renungan tentang berbagai ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari. melainkan kadang-kadang juga menunjukkan sifat nisbi berbagai pengertian dan azas sekitar PI. berarti bahwa isi kesepakatan itu dijadikan hak dan kewajiban para pihaknya yang berunsur khusus sebagai berikut: apabila si pengemban kewajibannya tidak memenuhi kewajibannya. Penetapan kesepakatan sebagai perjanjian dalam arti huku. yang mencerminkan hasrat mereka. artinya membebaninya dengan akibat-akibat (hukum) tertentu tanpa persetujuannya. tata hukum mengenal Pacta sunt servanda merupakan adagium dari Bahasa Latin yang pada umumnya ditafisrkan sebagai “perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya”. dan yang memuat tekad mereka untuk bertindak kearah keinginan dan sesuai dengan hasrat tersebut. sesuai dengan seruan azas terkenal dalam bahasa asing kuno: pacta sunt servanda1.

. yang sudah 2 memenuhi syarat-syarat yang menurut perkiraan kita menjadikannya Perjanjian 3 Pasal 2 ayat (1) ini berbunyi: 1. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation. namun bagaimanakah kita dapat tetapkan bahwa suatu perjanjian yang kita hadapi itu memang “governed by international law” seperti yang disyaratkan Pasal 2 ayat 1 (a) Konvensi Wina 1969 2 tentang Hukum Perjanjian Internasional? Ada kalanya yang kita maksudkan dengan istilah PI adalah perjanjian yang para pihaknya bertindak dalam lingkungan hukum nasional (HN) (tanpa mempedulikan apakah mereka itu asal mulanya diciptakan sebagai subyek HI ataupun sebagai subyek HN) tapi dengan mata perjanjian yang bersifat lintas batas suatu negara dan oleh karena itu disebut “internasional”. Kata “internasional” pertama digunakan untuk merujuk pada perjanjian antara para aktor yang bertindak selaku subyek hukum internasional (HI) dan oleh karena itu khusus berlaku dalam lingkungan HI. Ternyata bahwa yang menjadi buah aturan Konvensi adalah “perjanjian internasional yang diadakan antara negara .3 Kita dapat (meskipun syukur jarang terjadi) menambah kerumitan di lapangan PI golongan belakangan ini apabila tidak hanya obyek perjanjiannya melintas-batas. tetapi para pihaknya pun masing-masing bertindak dari lingkungan HN berbeda. yang kata sifatnya “internasional” tidak berarti tunggal. melainkan akibat pemakaian perkataan dalam arti kata berganda. dan yang dikuasai oleh hukum internasional . seperti kini juga terdapat di Pasal 1 judul (3) UU 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. . ketika kita menitikberatkan keperluan menentukan apakah yang kita hadapi itu benar perjanjian yang dikuasai Hukum Internasional. For the purpose of the present Convention: (a) ‘treaty’ means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law. Kenisbian tersebut terdapat juga di bidang PI yang merupakan golongan khusus dari pengertian perjanjian yang lebih luas..pembatasan-pembatasan mengenai pokok persoalan (“obyek”) perjanjian. Sesuai tafsiran undangan Editor jurnal ini. “Internasional” Terhadap latar belakang tersebut di atas. Sebagai contoh patut diajukan pertanyaan apakah ada perbedaan hukum antara PI tentang pinjaman uang antar-negara dan PI tentang persekutuan militer. yaitu istilah “publik”. Mungkinkah si perancang naskah undang-undang tersebut terjebak kekhilafan yang tersirat dalam penggunaan istilah “hukum internasional publik” sebagai “lawan” “hukum perdata internasional”? Di lingkungan (hukum) internasional (atau “dalam rangka tata hukum internasional”) yang tidak mengenal hubungan antara subyek-penguasa dan subyek yang tunduk pada kekuasaan. Meskipun kelihatannya cukup jelas. tulisan ini hanya akan mencurahkan perhatian kepada perjanjian golongan pertama dan kenisbian dan kesamaran yang melekat padanya. pembatasan mana biasanya bersangkut paut dengan sendi-sendi kemayarakatan bersangkutan.. pertentangan (hukum) antara publik – perdata sebenarnya tidak berlaku (tidak dapat diterapkan). hal mana kita ingat betul dari setiap permulaan tahun kuliah apabila kita mencoba menerangkan kepada para mahasiswa hakekat mata pelajaran yang mereka ikuti. tampillah pengertian dan istilah “perjanjian internasional”. Marilah kini kita meneliti beberapa kenisbian dan kesamaran khusus mengenai PI. Sifat Normatif Hukum dan Sangkalannya Tadi telah pernah disebut Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina 1969. Kita tahu bahwa keragu-raguan itu bukan akibat kurang jelasnya pencipta pengertian.”.. Patut kiranya disini ditambah sekedar catatan sampingan tentang pemakaian istilah lain yang adakalanya terlihat dalam hubungan ini. Ini berarti bahwa sekalipun kita jelas menghadapi perjanjian antar negara.

satu dan lain menurut kehendak dan pilihan para pihak tersebut. dan dalam hubungan ini kadang-kadang terdengar pula istilah “perjanjian tidak mengikat” (“non-binding agreements”) yang agak aneh bunyinya dan biasanya dimaksudkan sebagai “perjanjian yang tidak mengikat dari sudut hukum” (legally non-binding agreements). dapatlah kita bertolak dari anggapan bahwa Konvensi tersebut khusus mengacu pada perjanjian di lingkungan internasional. Memang. maksud tujuannya dan konteks pembuatannya. Kadang-kadang disebut sistem “kesopanan kemasyarakatan” yang menguasai hubungan-hubungan internasional. Namun. misalnya agama.Internasional asli. Hal mana berarti bahwa satu-satunya dugaan tentang maksud dan arti anak kalimat tadi yang masuk akal adalah bahwa si perancang membayangkan kemungkinan adanya perjanjian antar negara. akan tetapi sistem demikian hanya mengacu pada bentuk dan tata cara kelakuan dan tidak bersangkut-paut dengan sifat normatif dari hak/kewajiban yang termuat dalam perjanjian bersangkutan. hal-hal yang mengenai perjanjian di lingkungan HN. kadang-kadang kita menghadapi perjanjian-perjanjian antar negara yang dianggap tidak memuat kewajiban hukum melainkan “hanya memuat kewajiban politik”. Dalam perbincangan tentang hubungan-hubungan internasional. Apakah makna anak kalimat ini? Mengingat sifatnya. di lingkungan internasional. adat istiadat. Kita dapat bayangkan berbagai sistem normatif yang berlaku bagi kelakuan manusia selain sistem hukum. dan moralitas. Sehingga timbullah pertanyaan apakah kiranya ada “sistem politik” yang bersifat normatif dan menguasai kelakukan dan yang merupakan alternatif di samping sistem hukum. dimana kelakuan belakangan ini merupakan “cogent motive for action” pihak pertama. tanpa perhatian. Apabila dalam keadaan demikian kelakuan pihak yang satu itu ternyata tidak terjadi. yang dapat dikuasai oleh “sesuatu” yang lain (bukan HN) daripada HI. kita masih juga perlu memeriksa apakah benar “dikuasai Hukum Internasional”. sistem-sistem ini semuanya ditujukan kepada pribadi manusia dan tidak mengenal kaidah-kaidah pelaksanaan untuk memberlakukannya dan menerapkannya pada hubungan antar negara. Memang ilmu politik mengenal dan memperhatikan keadaan dimana kelakuan tertentu pihak yang satu dapat diduga dan diharapkan sebagai akibat kelakuan tertentu pihak yang lain. Sistem apakah yang kita dapat bayangkan di sini? Istilah “dikuasai” di anak kalimat tersebut tentu berarti “dikuasai” sistem (hukum internasional) yang mengaitkan ciri normatif kepada kesepakatan antara para pihak perjanjian. semua ini tanpa melalui ataupun berdasarkan alasan hukum. bertentangan dengan apa yang diharapkan. tidak mustahil pihak yang dikecewakan membalas dengan menuntut apa yang diharapkan dan bahkan menuntut ganti kerugian. Contoh tersohor perjanjian yang kadar hukumnya terang-terangan disangkal adalah Akta Terakhir Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Helsinki Final Act 1975) yang meliputi negaranegara Eropa Barat maupun Eropa Timur termasuk Uni Soviet dan Amerika Serikat dan Kanada (yang hingga kini masih berlaku di negara-negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Sentral yang . Soalnya ialah bahwa hingga kini belum ada uraian yang memberi penjelasan memuaskan tentang bagimana sebenarnya isi sistem normatif politik demikian itu dan sejauh mana sistem tersebut berbeda dari sistem hukum. bahkan mengenyampingkan. kadang terdengar istilah “perjanjian politik” untuk membedakannya dari perjanjian yang dikuasai hukum.

Kenisbian dan kesamaran yang penulis sebut disini dan yang kadang agak kurang tepat diberi nama “hukum lemah” (soft law). fenomena usaha-usaha “perundang-undangan internasional” dalam bentuk perjanjian-perjanjian multilateral. memuat aturan penegakan hak-hak yang diakui (“without legal remedies”). Konvensi Wina dalam Pasal 2 ayat 1 judul (a) dengan tegas menyatakan bahwa PI dapat saja termuat dalam satu atau lebih dari satu dokumen dan dapat saja diberi nama apapun. dan bahkan memutuskan pada 1983 untuk menangguhkan penyelidikannya sambil menunggu perkembangan-perkembangan yang membawa bahan-bahan baru. No party to any such treaty or international agreement which has not been registered in accordance with the provisions of paragraph I of this Article may invoke that treaty or agreement before any organ of the United Nations. Every treaty and every international agreement entered into by any Member of the United Nations after the present Charter comes into force shall as soon as possible be registered with the Secretariat and published by it. Terlihat disini fenomena hukum “pincang” yang “tidak sempurna”. 1983) . as would be the case were it a matter of a treaty or international agreement under the aforesaid Article”. mirip dengan. Lihat Annuaire de l’Institut de droit international jilid 60-I (persidangan Cambridge. Keraguan tentu sangat menyolok apabila para peserta berbeda pendapat tentang maksud naskah mereka.sama sekali bukan merupakan bagian dari Eropa). Lembaga inipun belum sanggup menyajikan jawaban yang memuaskan. kadangkadang mengenai perbaikan kedudukan manusia pribadi di pelbagai lapangan. perlu dibedakan dari naskah-naskah yang disepakati oleh para pihak namun yang jelas tidak dimaksudkan sebagai sumber hak/kewajiban melainkan sematamata sebagai rumusan pendirian dan tekad masing-masing (yang “kebetulan” sesuai) mengenai hal tertentu.5 Pokok persoalan fenomena tersebut. setidak-tidaknya belum. Latar belakang cara yang dipakai ini ialah Pasal 102 Piagam PBB 4 yang mewajibkan setiap PI yang diikutsertai negara anggota untuk didaftarkan pada Sekretariat untuk keperluan penerbitannya (di UN Treaty Series). “Sesuai dengan” peraturan ini. Sumber Hak dan Kewajiban dan Sangkalannya Dalam menetapkan perjanjian-perjanjian mana yang dikuasai olehnya. Negara-negara Barat menitikberatkan bahwa Akta tersebut bukan PI yang mengikat menurut hukum. walaupun mungkin tetap perlu dibedakan dari. Ketentuan ini. berarti bahwa bentuk PI tidak ada relevansinya bagi HI dan tidak mempengaruhi kadar hukum 4 5 Ketentuan Pasal 102 ini berbunyi : 1. Persoalan kewajiban perjanjian yang tidak berkadar hukum ini bahkan pernah dijadikan judul penelitian di kalangan Institut Hukum Internasional (Instituut de Droit Internasional) di tahuntahun 1970an dan 1980an. ini mengacu pada tidak tercapainya kesepakatan. 2. yang mengenai kewajiban kelakuan yang unsur hukumnya disangkal. yang tidak. yang boleh dikatakan mencerminkan anggapan umum dan dengan demikian dapat dianggap berlaku sebagai HI umum. Akan tetapi. bukan kesamaran perjanjian. Akta Helsinki memuat ketentuan yang memohon si Tuan Rumah (Finlandia) untuk “transmit to the Secretary-General of the United Nations the text of this Final Act (untuk disosialisasikan di antara negara anggota PBB) which is not eligible for registration under Article 102 of the Charter of the United Nations. Hal ini ditegaskan secara agak aneh namun jelas.

Ia menitikberatkan bahwa hubungan strategis tidak mengharuskan pengaturannya dalam perjanjian resmi melainkan cukup diatur dalam bentuk pertukaran surat atau dalam suatu Memorandum of Understanding. apalagi jika disertai acara-acara klasik seperti syarat ratifikasi (persetujuan keterikatan) dan/atau kesepakatan untuk mendaftarkannya di Sekretariat PBB sesuai Pasal 102 maka kesamaran tentang maksud para pihak boleh dikatakan dapat tercegah. Kadar Hak dan Kewajiban Sangkalan kadar hukum yang merupakan pokok persoalan di atas tadi tidak dapat disamakan dan tidak boleh dicampuradukkan dengan gejala lain. Demikianlah tafsiran yang selayaknya diberi kepada istilah “treaties in simplified form” yang kita kenal dari praktek diplomasi dan yang dapat berbentuk. . Tadi kita telah menjumpai fenomena perjanjian dengan hak/kewajibannya yang dikuasai sistem normatif yang tidak bersifat hukum atau suatu “sistem pengharapan” berdasarkan tindakan timbal balik. Inilah. antara lain.isinya. Sebagai contoh yang cukup ekstrim. Apabila naskah diberi nama menurut kebiasaan tradisional di bidang PI. makna kebebasan bentuk yang diakui Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina. Tidak termuatnya ciri-ciri terkenal demikian sama sekali tidak membenarkan kesimpulan bahwa para pihak tidak menghendaki dokumen kesepakatan mereka merupakan sumber hak/kewajiban hukum. tentang (biasanya hanya sebagian dari) apa yang diperbincangkan antara para pihak dan hasil kesepakatannya. ada kalanya dipilih bentuk “Communiqué” yang sebenarnya berarti tidak lebih daripada “penerangan khalayak ramai tentang sesuatu yang terjadi”. Ada kalanya naskah dimaksudkan sebagai penetapan hak / kewajiban masing-masing dengan kekuatan hukum. Beliau mengaitkan pandangan ini dengan kebijakan para pihak bersangkutan untuk ‘hanya menggunakan’ nama ‘Deklarasi Bangkok 1967 ‘. Disamping itu. 6 Tidak lama berselang Edy Prasetyono (CSIS) dilaporkan (Hukum Online 11 Juni 2006) pernah mengutarakan pendiriannya bahwasanya dokumen kesepakatan yang melahirkan organisasi ASEAN tidak mengikat. Akan tetapi. Alternatif selanjutnya ialah pengumuman belaka. suatu naskah sebagai hasil komunikasi (secara bagaimanapun) antara para pihak dapat saja dibuat dengan tujuan berlainan. hal ini tidak berarti bahwa nama yang diberikan kepada naskah dan rumusan pengertian-pengertian dan istilah yang dipakai dalam naskah tidak penting. seperti kata “treaty” dalam bahasa Inggris. Tapi bentuk dan acara demikian tidak merupakan syarat untuk menegaskan sifat hukum isinya. pertukaran surat. Tadi telah disebut istilah “Communiqué”. oleh karena nama dan rumusan itu merupakan sumber interpretasi tentang maksud para pihak dan makna dokumen bersangkutan mengenai hak dan kewajiban masing-masing. Contoh lain ialah kabar tentang wawancara dengan Presiden AS pada bulan April 2005 tentang hubungan AS dengan Afghanistan setelah pemilihan presiden di negeri itu. bagaimanapun resmi dan mulia sifatnya. naskah yang disepakati dapat dimaksudkan sebagai pernyataan penetapan tekad para pihak tentang kelakuan mereka di masa yang akan datang. misalnya. “Pernyataan Bersama” (joint statement). Sebaliknya. tanpa tersiratnya janji yang bersifat hukum. kiranya penyangkalan unsur keterikatan dalam comtoh ini patut dipertanyakan. meskipun “Pernyataan Bersama” kadang-kadang lebih disukai. Meskipun harus diakui bahwa naskah Deklarasi tersebut memang kurang sesuai dengan bentuk lazim naskah pendirian organisasi. Tanpa menerangkan alasan-alasan apakah yang menyebabkan kecondongan tersebut. bahkan “Nota Kesepahaman” (memorandum of understanding).6 Pembuatan naskah sebagai hasil perundingan dapat mengacu ke berbagai tujuan. namun dipakai sebagai sumber hak dan kewajiban. yaitu keanekaragaman jenis (hak dan) kewajiban yang kadar hukumnya tidak diragukan.

kewajiban bersangkutan mengharuskan menghasilkan suatu “keadaan yang bermanfaat” bagi sesuatu. seperti memilih bermacam nama yang menghindari kata perjanjian. Dalam golongan kewajiban untuk melakukan sesuatu (obligation of conduct). misalnya. dugaan itu ternyata tidak tepat. dengan mempertimbangkan keadaan menurut penilaian si pengemban kewajiban. Kesamaran tetap terdapat bila. Sebaliknya. misalnya. sifatnya keras apabila tindakan itu dirumuskan secara sangat tegas dan spesifik. hal mana penulis sangsikan. kita perlu mencurahkan perhatian khusus kepada soal kejelasan atau sebaliknya kesamaran yang kadang-kadang melekat pada rumusan suatu kewajiban. Report of the ILC. versi 1996. apalagi bila ditetapkan pula bahwa tindakan itu harus terlaksana dalam tenggang waktu yang tertentu. Kami mencatat disana bahwa penggunaan istilah dalam rangka itu rasanya kurang tepat oleh karena kesamaran disana mengenai batas antara hukum dan bukan-hukum. kewajiban dapat saja dirumuskan sebagai kewajiban untuk berusaha. . Itulah sebabnya perhatian yang cukup besar dicurahkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB kepada penggolongan dan pembedaan antara berbagai jenis kewajiban hukum selama sebagian besar waktu perencanaan naskah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan negara melawan hukum.7 Meskipun demikian. Antara kewajiban-kewajiban kita dapat membedakan kewajiban yang “keras” dan yang “lunak”. 7 Lihat. Istilah “hukum lemah” kiranya lebih tepat untuk menggambarkan kewajiban yang diakui sifat hukumnya namun memberi kelonggaran demikian banyaknya sehingga sukar menentukan garis batas antara memenuhi dan melanggar kewajiban. 48th session. Kita dapat saja mengira bahwa kesamaran demikian tidak dapat timbul dalam hak kewajiban untuk mencapai suatu hasil usaha tertentu (kewajiban hasil usaha/obligation of result). Tadi telah kita bertemu dengan istilah “hukum lemah” yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat kewajiban yang tidak jelas apakah memang dimaksudkan sebagai kewajiban hukum. Namun. Dalam hal demikian. 1996 (A/51/10) Pasal 19-21. Bayangkanlah kewajiban untuk mencegah terjadinya sesuatu. Oleh karena itu. kewajiban ternyata begitu longgar dan kadar keharusannya menjadi demikian rendah. tetap terdapat cukup banyak gejala dalam praktek PI yang menimbulkan pelbagai pertanyaan tentang kelakuan dan tindakan ataupun hasil usaha yang merupakan isi sebenarnya kewajiban bersangkutan. Draft Articles on State Responsibility. untuk mencoba mencapai sesuatu. Ada sebagian peneliti yang mencari sebab kebijakan demikian di bidang adat-istiadat di bagianbagian dunia yang segan menitikberatkan secara tajam hak dan kewajiban masing-masing pihak. sehingga timbullah keraguan cukup mendalam tentang dimana letak sebenarnya garis batas antara pelaksanaan dan pelanggarannya. sesuai dengan kemampuan si pengemban kewajiban.Pengertian sempurna tentang hakekat suatu kewajiban hukum merupakan syarat penting untuk dapat menetapkan apakah kewajiban itu dapat dinilai telah dipenuhi atau justru dilanggar. Meskipun perlu diakui bahwa di lapangan HI yang bersifat khas itu pertimbangan-pertimbangan “tidak langsung” memainkan peranan yang jauh lebih besar di bidang perjanjian daripada di lingkungan HN.

Kesepakatan dan perjanjian demikian itu mengenai salah satu kebijakan di bidang tugas mereka. mengingat bahwa perjanjian demikian itu tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu perjanjian HN?! Karangan singkat ini bukan tempatnya untuk menyelidiki persoalan ini secara panjang-lebar. dianggap terikat padanya. terutama di kawasan-kawasan yang terletak saling berdekatan namun di negara yang berlainan. Bayangkan sekarang perjanjian antara aktor yang tidak jelas kedudukannya sebagai subyek HI namun bertindak dalam rangka hukum publik di negaranya.8 Timbullah pertanyaan apa sebenarnya kedudukan hukum perjanjian demikian yang kadang-kadang disebut “perjanjian administrasi”. Tentu ada negara dimana hubungan lintas batas demikian antara alatalat perlengkapan ataupun kesatuan negara teritorial dilarang oleh hukumnya. Namun. Ada kalanya diadakan perjanjian antara alat-alat perlengkapan dari negara-negara berbeda. cukup banyak negara-negara dimana hal demikian dapat terjadi dan perjanjian-perjanjian demikian ternyata memenuhi kebutuhan bersama dibidang pemerintahan dan pengaturan kemasyarakatan setempat. khususnya bab 2 yang berkepala “The ‘Act of the State’ under International Law” yang Pasal 5-nya berbunyi: 8 UU No. biarpun tidak tegas menyuruh. cukup membuat pelik. oleh karena mereka dapat saja di samping itu bertindak selaku subyek HN. Penggolongan itu didasarkan berbagai kriteria. Haruskah kita menarik kesimpulan bahwa perjanjian semacam itu tidak bersifat “internasional” dalam arti kata lazim sehingga tidak tunduk pada hukum internasional mengenai PI melainkan harus dianggap dikuasai HN? Di samping itu. siapakah yang selayaknya dianggap sebagai pihak perjanjian? Haruskah negara-negara bersangkutan. Akan tetapi. antara lain kedudukan para pihaknya sebagai subyek hukum. disamakan dengan PI? Tetapi para pelakunya pada umumnya tidak merupakan (artinya: tidak diakui oleh negara bersangkutan sebagai) subyek HI (pengecualian boleh terjadi di negara federal tertentu). sehingga gejala yang dibayangkan disini tidak terjadi. mengizinkan ataupun menyetujui (meskipun tidak melarang) pembuatan perjanjian demikian. Aktor kemasyarakatan yang tidak diakui sebagai subyek HI tidak dengan sendirinya tidak dapat mengadakan PI sehingga perjanjian hasil kesepakatannya tidak pernah dapat dianggap bersifat PI. Kompas 7 Agustus 2006. . meskipun seluruh acara pembuatannya tidak sesuai dengan acara yang lazim untuk PI dan semata-mata oleh karena aktor yang mengadakannya merupakan sebagian dari bangunan kenegaraan? Ataukah perjanjian demikian itu hanya mengikat para instansi bersangkutan di lingkungan HN? Tapi jika demikian. tata hukum manakah yang menguasainya. yang tidak khusus ataupun langsung berwenang dan bertugas di lapangan hubungan luar negeri atau antara kesatuan-kesatuan teritorial sesuai sistem otonomi daerah (seperti kota atau propinsi) negara masing-masing.Pihak Perjanjian dalam Kenyataan dan Pihak Perjanjian Menurut Hukum: Gejala “Perjanjian Administrasi” Penggolongan suatu perjanjian sebagai PI atau sebagai kategori lain menunjuk pada dikuasainya oleh HI atau hukum lain (atau. atau boleh. Apakah perjanjian itu harus. Sebaliknya perjanjian antara para aktor yang jelas subyek HI tidak otomatis bersifat PI. meskipun demikian keluhan salah satu Dirjen Deplu tentang ”banyak perjanjian luar negeri yang dilakukan daerah kurang efektif”. 37/1999 tidak memuat sebutan kemungkinan ini. sama sekali tidak dikuasai hukum). seperti kita sempat menjumpai tadi. mungkin disinipun kita dapat belajar dan mencari sandaran (meskipun hanya secara tidak langsung) di naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum 2001.

atau dengan mengundangkan isi tersebut sebagai HN dalam bentuk perundang-undangan HN pula. dilingkungannya. atau “pilihan”m yang dibuat oleh hukum nasional tentang kedudukan dan peranan HI. whether the organ exercises legislative. seperti di sistem mazhab hukum common law yang menggolongkan HI tak tertulis ini sebagai “law of the land”. Perbandingan antara sistem-sistem HN menunjuk dua jalan yang dapat dilalui dalam penerapan kebijakan cara pertama tadi. Kebijakan “pintu terbuka” dapat juga hanya diterapkan sejauh mengenai HI tak tertulis yang biasanya bertepatan dengan HI yang “umum berlaku”. judicial or any other functions. Hal yang kita perlukan untuk memberi jawaban ialah adanya penetapan. dimana HN ternyata tidak melakukan pilihan tegas (eksplisit). tanpa tindakan apapun dari pihak penguasa negara. Akan tetapi. tata HN dapat juga pada azasnya mengakui kemungkinan peranan dan pengaruh itu.” Keberlakuan di Lingkungan Hukum Nasional Perbedaan antara tata HI dan tata HN menyebabkan timbulnya kenisbian tentang makna PI. the conduct of any State organ acting in that capacity shall be considered an act of that State under international law.“(1) For the purposes of the present articles. pengakuan mana dapat diutarakan menurut dua cara. sekalipun yakin akan . berhubung dengan persoalan kedudukan dan keberlakuan HI (atau khususnya PI) di lingkungan HN. yaitu dengan “mengizinkan” isi HI berlaku di lingkungan HN tanpa merubah sifat internasionalnya. Tata HN dapat saja menyangkal mutlak segala peranan dan pengaruh HI terhadap HN. Sebaliknya. yang berakibat HI itu berlaku di lingkungan HN. Kebijakan ini berdasarkan sangkalan perbedaan antara hukum tak tertulis (“kebiasaan”) yang tercipta di suasana nasional dan internasional. dan yang melalui jalan itu juga menghasilkan keberlakuan HI tak tertulis di lingkungan nasional. ajaran-ajaran muluk ini tidak menghidangkan jawaban langsung apapun atas pertanyaan yang kita hadapi dalam dunia “hukum yang berlaku” (“hukum positif”). meskipun tentu hanya sejauh HI bersangkutan dapat ada relevansinya dalam lingkungan HI (relevansi demikian tidak ada dalam HI yang memang kita kenal ajaran-ajaran tentang kesatuan hukum internasional dan nasional (monisme) dan sebaliknya tentang perbedaan dan pemisahan mutlak antara kedua sistem hukum itu (dualisme). dikembangkan dalam bentuk hukum kebiasaan yang penerapannya terlihat dalam keputusan-keputusan konkrit. Jalan yang satu ialah secara “membuka pintu” bagi HI. Persoalan ini perlu dikaji dan dijawab oleh masing-masing tata HN sendiri. dan berpendirian bahwa pembuat hukum nasional merupakan satu-satunya yang berwenang mengadakan peraturan tentang hal apapun yang perlu diatur hukum di lingkungan HN. an organ includes any person or body which has that status in accordance with the internal law of the State. and whatever its character as an organ of the central government or of a territorial unit of the State. undang-undang biasa. misalnya keputusan-keputusan hakim. (2) For the purposes of paragraph 1. Pilihan demikian dapat berwujud tanpa atau melalui suatu tindakan hukum tegas dari tata HN bersangkutan yang termuat di undang-undang dasar. executive. Jalan yang lain perlu ditempuh apabila tata HN. atau. whatever position it holds in the organization of the State. khususnya PI.

dan yang bersifat baik lintas batas maupun tidak.perlunya penerapan isi HI di lingkungan HN. dan makin lama makin banyak. merupakan soal penting bagi penegak hukum nasional. sesuai dengan bertambah padatnya hubungan-hubungan kemasyarakatan internasional di pelbagai lapangan (“globalisme”) dan sejajar dengan perkembangan itu. PI dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai kesamaan dalam menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan nasionalnya. Soal ya atau tidaknya tata hukum nasional memberlakukan HI. Pertanyaan yang kadang timbul adalah: dapatkah dan bolehkah PI yang berlaku antar negara AB-C-D (yang menyajikan peraturan bersama tentang perlindungan hak-hak azasi manusia. dengan hak pihak yang satu terhadap pihak yang lain tergabung dengan hak pihak kedua ini terhadap pihak pertama. seperti hak azasi manusia. pemberlakuan isi HI di lingkungan HN memerlukan pembuatan HN yang tegas memuat ataupun setidaknya tegas mengundangkan isi HI bersangkutan sebagai HN (transformasi). Kadang-kadang. yang kewenangannya di bidang penerapan hukum terbatas pada hukum yang berlaku di lingkungan hukum nasionalnya. ataupun “hanya” memberlakukan isi HI di lingkungan HN sejauh (“diubah”) bentuk dan sifatnya menjadi HN. UU persetujuan PI (yang di praktek politik Indonesia disamakan dengan “ratifikasi”) kadang dipakai untuk keperluan ini. tanpa “mengubah” sifatnya sebagai HIM. kebijakan berbeda itu juga memain peranan dalam penetapan kedudukan hirarki kaidah-kaidah hukum yang berasal internasional dan nasional yang termasuk kewenangan tersebut. Dalam rangka ini. di lingkungan HN-nya. Di samping itu. Memang disini tidak ada alasan untuk memberi peranan apapun kepada pihak ketiga. Hubungan-hubungan kemasyarakatan itu mengenai bermacam-macam aspek kehidupan yang mencerminkan cita-cita kemasyarakatan. timbullah dan bertambahlah kebutuhan akan pengaturan hubungan-hubungan yang menyentuh pelbagai masyarakat nasional. dan sebagainya. seperti ketentuan dalam UUD atau perundangan biasa. Sebagai alternatif kedua cara “pemberian izin” kepada HI tersebut kita kenal kebijakan menolak secara mutlak keberlakuan HI dalam tata HN. namun tidak bersifat antar negara. pemberantasan penyakit. dan kelayakan ini lebih-lebih menyolok apabila kita memandang perjanjian itu sebagai sumber hak dan kewajiban timbal-balik antar para pihaknya. Dengan demikian. hubungan-hubungan keluarga. Dalam hal PI. menganggap perlu adanya suatu tindakan HN tegas agar mencapai hasil itu. Azas ini kelihatannya memang cukup layak. Ruang Lingkup Azas Keterbatasan Berlakunya Antar-Pihak Titik tolak di bidang hukum perjanjian adalah bahwa perjanjian itu mencerminkan kesepakatan antara pihak-pihaknya tentang apa yang mereka inginkan. seluruhnya atau sebagian. Dalam rumusan ini tersirat penetapan bahwa siapapun yang tidak ikut menyepakatinya dengan sendirinya tidak terikat padanya (pacta tertiis nec nocent nec prosunt. PI tidak selalu bersifat timbal balik. perjanjian tidak mengakibatkan keuntungan maupun kewajiban bagi pihak ketiga). atau kemasyarakatan tertentu itu di masing-masing lingkungan hukum . Akan tetapi.

sedang kewajiban asal tetap berlaku. Tentu kewajiban yang terisi dalam azas ini. atau berisi aturan bersama tentang pemindahan perselisihan perdata tertentu dari kewenangan pengadilan kekuasaan pewasitan) diterapkan bila orang yang tersangkut dalam perkara HAM itu berkewarganegaraan negara E? Dan bagaimanakah apabila antara pihak hubungan internasional perdata ada yang berkewarganegaraan negara F? Atau apabila ada pihak berpekara digugat di pengadilan negara A untuk tunduk pada acara pewasitan sesuai dengan PI yang mengatur pewasitan. maka negara D tetap tidak dapat dipaksa berdasarkan hukum untuk menyesuaikan kebijakan dalam lingkungan HN-nya dengan perjanjian tadi. apabila obyek perjanjian terdiri dari kesepakatan tertentu untuk menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu secara sama di lingkungan HN masing-masing pihak perjanjian. tidak dapat diwajibkan tunduk pada isi perjanjian tersebut tanpa persetujuannya sebagai negara berdaulat. Dalam contoh belakangan ini. yang bersifat normatif dan tidak memaksa dalam arti kata hukum alam. ciri inti tata hukum adalah. . Sebaliknya. dapat saja dilanggar. Namun. misalnya. Ruang Lingkup Azas Pacta Sunt Servanda Azas ini merupakan inti dan hakekat pengertian perjanjian. yaitu terjadinya kesepakatan antara negaranegara sebagai subyek HI yang berdaulat. berdasarkan alasan tidak ikut sertanya sebagai pihak perjanjian. Azas ini mengacu pada aspek primer PI. ia juga tidak berwenang untuk berkeberatan. Akan tetapi. termasuk PI. Disini terletaklah batas ruang lingkup azas pacta tertiis tersebut tadi. melainkan merupakan kesepakatan (antar negara) untuk menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan kemasyarakatan tertentu secara sama dan serupa di masingmasing lingkungan HN-nya. Jika isi perjanjian tidak lagi memenuhi kehendak bersama para pihaknya.merupakan peraturan bersama untuk persoalan-persoalan yang bersangkut dengan adopsi lintas batas. maka negara D tidak dapat dipaksa menurut hukum untuk menyesuaikan kelakuannya dengan persekutuan tersebut. gagasan pengubahan sepihak adalah sesuatu yang mutlak bertentangan dengan gagasan perjanjian. perjanjian bersangkutan tidak mengenai hak-kewajiban antar negara yang timbal balik. seperti telah pernah disebut tadi. B atau C jika penerapan demikian menyentuh suatu unsur yang berkaitan dengan negara D itu. berhakkah negara X dengan alasan “memberi perlindungan diplomatik” kepada warganya atau dengan alasan lain menolak penerapan PI tersebut? Disini kadang tampak kemungkinan adanya suatu salah mengerti tentang makna azas pacta tertiis. tapi pihak berperkara itu kebetulan berkewarganegaraan negara X. Sebaliknya. keadaan ini tentu tidak mengurangi kewenangan negara D untuk mengajukan keberatan terhadap penerapan perjanjian itu berdasarkan alasan-alasan lain. hak dan kewajiban timbal balik antar negara untuk bertindak bersama sebagai persekutuan militer. terhadap penerapan isi perjanjian tadi di lingkungan HN negara-negara A. bahwa pelanggaran demikian oleh tata hukum dikaitkan pada akibat-akibat tertentu tanpa persetujuan si pelanggar. maka mereka itu tentu bebas untuk mengubahnya. dan oleh karena itu . Akan tetapi. Jika obyek perjanjian terdiri dari. Negara D tidak terikat pada perjanjian A-B-C.

Kekuasaan ini dipegang secara monopoli dan mutlak (ingatlah julukan “negara gagal” bagi keadaan sebaliknya). lihatlah ketentuan Pasal 9 dari naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum. sehingga seakan-akan disublimasi dan dapat menghindari bentrokan-bentrokan yang merusak kestabilan masyarakat. Wewenang menetapkan hukum. yaitu kedaulatan negara. berbeda dari perjanjian di lingkungan HN. berdasarkan titik tolak HI. maklumlah kekurangan dunia pengertian-pengertian dibanding kompleksitas kenyataan hidup jika menghadapi keadaan seperti negara Libanon dimana kekuasaan dan kekuatan sebenarnya yang membela kedaulatan negara terhadap dunia luar untuk sebagian besar berada di tangan organisasi di luar rangka pemerintah. Dalam rangka ini. dan diatur oleh penguasa atau alat kekuasaan yang benar-benar berkuasa terhadap masyarakat lingkungan HN-nya. tata hukum dikuasai. baik hukum nasional maupun hukum internasional. di lingkungan HN pergulatan itu tersalur melalui bermacam bangunan organisasi dan penjagaan dan pembagian kewenangan. yaitu kewenangan politik hukum. Unsur kebebasan kehendak sebagai inti perjanjian dengan demikian menjadi nisbi dalam hal PI. sejauh terjadi di lingkungan HN. perlu diperhatikan dan diperhitungkan. ia menyalahkan orang yang tidak dapat atau tidak mau mengakui bahwa zaman dan keadaan dapat saja berganti (dengan akibat kemungkinan perlunya hukum berganti pula). Lain halnya di lingkungan HI yang berbeda secara mendalam dibanding dengan keadaan nasional. termasuk pemegang kekuasaan pusatnya dan alat perlengkapan penegak hukumnya yang berwenang dan nyatanya mampu menjaga dan mempertahankan hukum secara memaksa. Pada umumnya. Di lingkungan HN. . Akan tetapi. sehingga dalam perbincangan hukum. namun biasa ditindak oleh penegak hukum dan pada umumnya tidak merupakan faktor yang dapat mengurangi azas-azas yang berdasarkan hakekat perjanjian. terutama pada negara. 2001. Namun. sekalipun dapat saja terjadi. dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihamnya dan oleh karena itu tidak dapat lain daripada berdasarkan kehendak bebas. Pengaruh Kekerasan Menurut pengertian intinya. Sebaliknya. Apa lagi. unsur pembagian kekuatan. dijaga. Dilihat dari sudut ini. kenisbian PI ternyata sekali dari kejadian beberapa waktu yang lalu. ancaman unsu kekerasan di bidang perjanjian perdata.Kemungkinan melanggar kewajiban hukum dapat dipandang sebagai kenisbian hukum pada umumnya dan tidak khusus mengenai pengertian perjanjian. terdapat (atau setidak-tidaknya: seharusnya terdapat) alat dan organisasi penegak hukum yang cukup lengkap dan kuat untuk menghadapi dan “menghukum” pelanggaran demikian sehingga dapat tertekan terjadinya. pada hakekatnya merupakan hasil pergulatan kekuatan-kekuatan di masyarakat. ketika presiden AS mengutarakan kesimpulannya bahwa AS tidak lagi berkepentingan dengan adanya Anti-Ballistic Missile Treaty 1972 (ABM Treaty) dan bahwa ia mempertimbangkan mengakhirinya. di lingkungan HI aturan hukum hampir seluruhnya semata-mata merupakan buah hasil pergulatan kekuatan antara para subyek hukumnya yang kebebasannya hampir mutlak. termasuk yang akibat kekerasan. Oleh karena itu. seluruhnya pada dasarnya tergantung pada subyek hukum sendiri. Bedanya. PI berada di lingkungan HI yang tidak mengenal organisasi masyarakat lengkap dengan dasar dan pucuknya. Ketika ditanya tentang niat tersebut.

Kekerasan terhadap pribadi seseorang cukup jelas. yaitu Pasal 51-52. artinya sebagai akibat. baik di lapangan penerapan hukum praktis maupun di lapangan akademik. Dilihat dari sudut kenyataan lingkungan HI seperti kita uraikan tadi. setidak-tidaknya tidak melarang. Pasal 52 Konvensi Wina) untuk mencapai perubahan isi perjanjian bersangkutan. tata HI bahkan mengizinkan. keinginan yang “sesuai rasa keadilan” itu sukar disesuaikan dengan kerangka bangunan tata HI yang belum mengenal larangan mempergunakan daya kekuatan dalam hubungan antar negara untuk menetapkan hak dan kewajiban antar mereka. bagi kita semua. yang kadangkadang diiringi tuntutan pembatalannya. mengenal ketentuan-ketentuan tentang peranan kekerasan di bidang PI. Timbullah pertanyaan apakah perjanjian-perjanjian demikian dapat dibatalkan ataupun dianggap batal demi hukum. Bagi keadaan demikian. penggunaan kekuasaan (perang) untuk mencapai keinginan terhadap subyek lain. kita condong berkesimpulan bahwa keinginan membatalkan perjanjian “tak seimbang” demi hukum akan gagal. setidak-tidaknya jauh lebih jelas daripada Pasal 52 yang menetapkan bahwa suatu perjanjian yang terjadi dengan memakai “ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan azas-azas HI yang termuat di Piagam PBB”. yang kemudian disahkan (!) dalam “perjanjian perdamaian” atau perjanjian lain. Keinginan yang cukup legitimasi namun tanpa dasar hukum itu hanya dapat tercapai dengan cara penggemblengan kekuatan yang cukup besar dan segala cara meyakinkan lainnya (kecuali paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. kekerasan yang dipakai terhadap pribadi pejabat yang mewakili negara bersangkutan. yang dapat kita anggap mencerminkan HI tentang PI menurut keadaan perkembangannya yang paling baru. Berlatar belakang ini. Kita patut ingat bahwa sebelum terbentuknya tata hukum yang kita kenal semasa pasca Perang Dunia Kedua dalam bentuk piagam PBB termasuk larangan kekerasanya. Multi interpretasi pengertian-pengertian yang digunakan di kalimat ini menunjuk pada kadar kenisbian cukup tinggi. Konvensi Wina. Istilah tersebut kebanyakan mengacu kepada perjanjian yang pernah diadakan di zaman lampau antara negara-negara Barat yang biasanya lebih kuat dengan kerajaan-kerajaan atau lain kesatuan kenegaraan di luar kawasan dunia Barat yang umumnya lebih lemah. Pasal 51 menentukan bahwa “persetujuan” demikian “tanpa akibat hukum apapun”. Penutup Mudah-mudahan tulisan singkat ini berhasil menambah keyakinan akan tersimpulnya pelbagai kenisbian.Di pustaka sejarah politik internasional terkenal istilah “perjanjian tidak seimbang”. Pasal 51 mengatur hal persetujuan negara untuk mengikat diri pada perjanjian yang diperoleh dengan. . kesamaran dan pertanyaan di bidang lembaga perjanjian internasional yang memerlukan penelitian dan penyelidikan seperlunya. sehingga perjanjian-perjanjian itu seringkali terus terang menguntungkan yang kuat dan merugikan si lemah.

Sementara itu. menurut teori incorporation. PT RajaGrafindo Persada. perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect) dalam suasana nasional. Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada. Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation. perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada. Hukum Kontrak Internasional. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat internasionalnya (keasliannya). yangmengajarkan bahwa hukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada umumnya. . Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme. Menurut pandangan kaum dualisme. 2006: hal. Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist system. yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda. perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian internasional. mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional. baru dapat diterapkan dan menjadi hukum nasional. Menurut teori adoption. perjanjian internsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional. sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam hukum nasionalnya.186 s/d 205 Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu negara peserta. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan pelaksanaan. ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional.PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK* DALAM SUASANA * Dari buku Syahmin AK. namun diterapkan dalam suasana hukum nasional. kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional.

suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggaran tersebut.10 Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat. perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing. terutama perjanjian yan Dalam oleh diwariskan pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara.. 9 10 Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut. hlm. Op. maka dapat muncul permasalahannya.Cit. bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas. jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya. Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional.87.9 Selanjutnya.Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri. melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional. Jika penerapannya melanggar hukum internasional. kita harus meninjau kembali hukum konstitusi. Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional. yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting? Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional. ataupun hukum interasional atau praktik. yaitu UUD 1945. asas lex posterior derogat lege priori akan diterapkan. Dalam hal ini. Kadangkadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil. Mochtar Kusumaatmdja. yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini. pemberlakuan perjanjian internasional. statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona. .

yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara sebagai perorangan.” Meskipun demikian. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini 11 Ibid. Konvensi Jenewa 1927 Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu. apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku. Prof.. UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya.34 Tahun 1981.. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada tanggal 7 Juni 1959.. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan Arbitrase Asing 1. Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa. Akan tetapi. kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana.Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945. .bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita...” Dari pendapat Prof. dengan dikeluarkannya Keppres No. beliau juga mengingatkan sebagai berikut.kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut... dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu. tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No. Mochtar Kusumaatmadja di atas. “. pengundangan dalam Undangmasalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas. yakni langsung menganggap diri kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undangundang pelaksana.87. mengenai sikap Indonesia terhadap perjanjian ini.11 “. jelas kiranya bahwa dalam memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu perjanjian internasional. D. hlm. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958.. Sebaliknya.. Undang Nasional mutlak dipelukan..

hlm. Dengan kata lain. hlm.dengan cara accescion...12 sebelum Konvensi New York 1958 ini dinyatakan berlaku. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di antaranya ialah: The Law of State Succession. Mac Millan & Co. Ltd. baik bilateral maupun multilateral. Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan penelitian tentang succession of state ini adalah D. Remadja Karya. penggantinya..14 Sehubungan dengan hal tersebut.O.196. dapat juga karena sesi. Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi? Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties. masih berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara pengganti (sucessor state). dan State Succession and Problems of Treaty Interpretation. Connel. 1986). (Bandung CV Armico. di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri. Sementara itu. Perjanjian ini 12 13 14 15 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan. persekutuan (aliansi) pemberian bantuan. aneksasi. konfederasi. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan. serta dispositive. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internsional (Bandung: CV.13 Akan tetapi.6 dan seterusnya. Lihat Lampiran II buku ini Staatsblad Tahun 1933 No. Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969. . London.131.15 Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan karena dekolonisasi. dan mulai tanggal 5 Agustus 1981. Syahmin AK. Contoh perjanjian yang bersifat politis adalah perjanjian persahabatan. Perjanjian demikian tidak Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian yang bersifat polotis. Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK. atau negara kesatuan. suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian yuridis dan pergantian menurut kenyataan. dan lain sebagainya. sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat. misalnya perjanjian ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase luar negeri.P. 1988). dan State Sucession in Municipal Law and Internasional. akan beralih kepada penggantinya. dekolonisasi. Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi. yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah.

doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam Dalam untuk penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul praktik yang berbeda-beda. Namun. dan ditindaklanjuti dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949). universal. meskipun telah terjadi suksesi negara. Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara dapat berjalan dengan lancar. perjanjian perbatasan. meskipun negara tersebut. misalnya pernjanjian pangkalan militer. Ternyata dalam praktiknya. Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut perjanjian peralihan. dua doktrin yang populer yang dapat dipakai menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan suksesi negara.membebani suatu wilayah dengan status hukum. mulai dari perjanjian perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights doctrine dan clean state doctrine. doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berbeda-beda. Menurut acquired rights doctrine. hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti beralih kepada negara yang menggantikannya. sendiri mengadakan perjanjian Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah dengan Kerajaan Belanda. Teori ini juga disebut dengan teori Sementara itu. Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie. Indonesia Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947). dan lain sebgainya. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap mengikat negara tersbut. setelah pemutusan perjanjian KMB. kemudian disertai dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda. hukum internasional. sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian . ada Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas. bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan. Doktrin ini juga disebut free choice doktrine.

ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah Irian Barat. Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not as such affect.a) merumuskan: fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes boundary. kemudian dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak Kerajaan Belanda.18 Jadi.2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku. or (2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary.17 Sementara itu. Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956.16 Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978. bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun 1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement). (2. Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195620. meskipun telah terjadi suksesi negara. Pasal 11 dan Pasal 12 (1.a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti. The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates.2). Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu. (1) a boundary established by treaty. Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par. Konvensi Wina Tahun 1978. Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2.19 Kembali lepada persoalan. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950.internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia.a) Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan. Article 12 par. . Pasal 12 ayat (1. Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional. di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan Belanda.(3) merumuskan sebagai berikut.33 Tahun 1950. Keppres No. menyatakan tidak 16 17 18 19 20 Lihat. Pasal 12 (3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1.

Oleh karena itu. maka persetujuan internasional 21 Budi Lazurusdi dan Syahmin AK. “…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku untuk negara kita. March 19. Setelah pemutusan terhadap perjanjian KMB.. antara lain adalah: a. Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar. 95. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with Cheques and Protocol (Geneva March 19. c. 2 tanggal 10 Oktober 1945. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva. selama Republik Indonesia secara tegas menyatakan demikian. kecuali mengenai perbatasan. 13 tahun 1956. sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berlandaskan pada UU No. dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan Penetapan Presiden No. yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: “…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. tidak secara otomatis berlaku. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof. March 19 1931).. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o. Sudargo Gautama sebagai berikut. Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB) Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi. Cit. Op. Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva. untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda.terikat lagi pada Perjanjian KMB. . 1931). sesuai dengan prosedur 21 dalam hukum perjanjian internasional. b.” Kembali pada persoalan. 1931). Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa 1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. 12727. dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. hlm.

Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights.. Pendapat kedua dianut oleh Prof.” Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state. Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing. yaitu reciprocity principles (asas perberlakuan secara timbal balik). tanggal 5 Agustus 1981. Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di atas masing-masing mempunyai pendukungnya. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut. atau juga disebut dengan teori universal.”22 Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka. yaitu sebagai berikut. Op. “Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar. Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di Indonesia. 2. Indonesia menjadi peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981. 22 Sudargo Gautama. 68 . keppres tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum yang ditimbulkannya. Asikin Kusumaatmadja. Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja. Aksesi ini didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981. agaknya Prof. Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini. Cit. hlm. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu. di mana klausul arbitrase tercakup di dalamnya.yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan tetap berlaku.

Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi konvensi melalui Keppres No. hlm. diperlukan peraturan pelaksanaan. Prof. Mr. 34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981 dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri. 57. berlainan dengan undang-undang yang menentukan. Dr. Peraturan pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan. Menurut beliau. namun dengan adanya perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia. ternyata dalam pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri muncul. . Sudargo Gautama. kepada Pengadilan Negeri yang mana. Dr. yang berarti bahwa ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia. Ibid. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar hukum ternama. Mahkamah berpendapat perlu adanya peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan. Beliau memberikan sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin mengikuti status hukum sang ibu. “Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. Lengkapnya Mahkamah menyatakan sebagai berikut. permohonan pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima. 34 tahun 1981. ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. sebuah keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. khususnya Prof.. Untuk itu. 23 Sudargo Gautama.”23 Sebaliknya.Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya.

sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq. Bukan saja bagi kalangan pengusaha. Sementara itu. tampaknya komitmen dan taraf pemahaman. peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak. Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu. Peran pemerintah disini sudah jelas. tetapi juga di kalangan perguruan tinggi. Memang untuk para pengusaha di Indonesia. apakah suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak. serta kesepakatan untuk melaksanakan segala keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan.Menurut hemat penulis. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua. penghargaan terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa komersial mereka. sekaligus menjawab dua masalah penafsiran hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang. badan peradilan manakah yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim arbitrase asing tersebut? . masalah keputusan hakim arbitrase asing di Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul arbitrase. Jadi. yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. Di tanah air. dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990. pengenalan terhadap lembaga arbitrase saja masih minim sekali. Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut dihormati dan dilaksanakan. peran kontrol inilah yang diemban oleh pemerintah. Kehendak pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri. yang memegang kendali utama dan sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dan menetapkan arbitrasenya. Masalah pertama. Jadi.

Akibatnya praktik negara kita sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi. 2826. dapat dibuatkan aturan pelaksanaan. Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. bila pemerintah menganggap perlu. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia. . pelaksanaan Surat Presiden No. tanggal 5 Agustus 1981. Dengan demikian. Akhirnya. yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 34 Tahun 1981. dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah (cq. Namun. sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. dapat disimpulkan di sini bahwa keppres pun. baik Konvensi New York 1958. telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1990 itu dimungkinkan. maupun keppresnya sendiri tidak mengatur tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi dari para ahli hukum kita. tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu. menurut hemat kami. peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari Keppres No. dan telah dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai dengan konvensi ketatanegaraan. Masalah kedua.Masalah pertama. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional Indonesia yang mengatur. 2826 dalam praktiknya belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. Mengulangi pernyataan sebelumnya. 34 tahun 1981. Oleh karena itu.

Kasus judicial review ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensi Indonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjian internasional. Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasional guna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa.M. Distorsi publik ini pulalah yang mendorong lahirnya klaim bahwa Production Sharing Contracts (PSC) antara Pemerintah RI adalah ”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya judicial review terhadap UndangUndang No. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU. DR. kepada penulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasional pada tahun 1986. penulis masih belum dapat menemukan jawabannya. perjanjian internasional adalah: “An International Agreement concluded between States and International Organizations in written form and governed by International Law. whether embodied .H. Perdebatan sengit bahkan berlangsung pula dalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Komar Kantaadmaja. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi pada tahun 2007. DEPLU. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknya adalah negara. LL. ”Tapi negara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”. Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu issue kontroversi dalam literatur hukum perjanjian internasional. Menurut Konvensi ini. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull. Dr.APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman* * Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof. lanjut beliau dengan tersenyum.. ”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”.. demikian pertanyaan Almarhum Prof. Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud.H. S. sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum. Pemahaman publik tentang apa itu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popular yaitu perjanjian yang bersifat lintas batas. LL.M. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. Komar Kantaatmadja S. Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi.

loan agreements” (Report of the ILC Special Rapporteur. or “MOU”. 1962). maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. dan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara.in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” Selanjutnya. in Written Form. yaitu: ● ● ● ● ● an International Agreement. yang diatur oleh hukum internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang merumuskan sebagai setiap perjanjian di bidang hukum publik. 1967). Intended to create obligations and legal relations. There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i. suatu dokumen disebut sebagai ”Governed by International Law” jika memenuhi dua elemen. They could be in the form of a “Joint Statement”. There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations. b. organisasi internasional. Whatever Form.e. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969. “Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik). Parameter tentang ”Governed by International Law” merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya di kalangan praktisi namun juga akademisi. definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. by Subject of International Law. yaitu “intended to create obligations and legal relations under international law: a. . …Under International Law. atau subjek hukum internasional lain. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dari pengertian hukum ini. depends on the subject-matter and the intention of the parties (ILC Draft and Commentary.

merupakan jurisprudensi landmark bagi perkembangan hukum perjanjian internasional di Indonesia. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. Undang-Undang No. sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI. dimana penulis juga terlibat untuk mewakili pemerintah. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional dan bahkan diratifikasi melalui Undang-Undang No. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini. Dalam kasus ini. Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagai perjanjian internasional. Namun praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-Undang No. Apakah hal ini dapat ditarik dari the intention of the Parties? the Subject-Matter of the agreement?.J. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas).Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah ”Governed by International Law” juga masih menimbulkan perdebatan akademis. Setelah lahirnya Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Keputusan MK terhadap judicial review Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata. diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”Treaty Room”. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara. praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masih terdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan “Governed by International Law”. 1 Tahun 1963. beberapa anggota DPR mempermasalahkan bahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RI” dianggap bertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan . atau should there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to create legal relations is governed by international law? Pakar hukum D. sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh Pemerintah RI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loan agreements”.

Status loan agreements juga menjadi kontroversi dalam perspektif definisi perjanjian internasional. Hal ini disebabkan adanya pergeseran tentang governing law yang mendasari perjanjian-perjanjian pinjaman. dan karena itu permohonan Pemohon sepanjang mengenai hal tersebut tidak cukup beralasan”. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang Mahkamah . American Journal of International Law. Vol. Konstitusi menyatakan: “Meskipun bunyi pasal 11 ayat (2) UUD 1945 menyebut. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional). 56. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) UU Migas. dan dengan demikian bukan perjanjian internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (dan UU No. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan DPR”. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata (lihat Georges R. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Oleh karenanya. tidak termasuk Perjanjian Internasional yang merupakan ruang lingkup pasal 11 UUD 1945. kami dapat menyetujui pendapat Pemerintah dan ahli yang diajukan bahwa perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian internasional sebagaimana diartikan dalam pasal 1 dan 2 Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian (Law of Treaties) dan pasal 2 ayat (1) huruf a Konvensi Wina tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional. The Proper Law of Loans concluded by International Persons: A Restatement and Forecast. Akibatnya. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. “perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara.mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Secara konvensional. Delaume. perjanjian pinjaman dikenal sebagai perjanjian perdata internasional dan tunduk pada hukum nasional tertentu sehingga status perjanjian ini bukanlah perjanjian internasional ”Governed by International Law”. Mahkamah Konstitusi dalam judical review ini telah melakukan koreksi terhadap distorsi yang terjadi dalam opini public tentang apa itu perjanjian internasional. 1962).

Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. dan. perbuatan Pemerintah RI by International Law” seperti yang a. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut pasal 10 huruf f Undang-Undang No. perjanjian perdata internasional biasa yang ”Governed by other than International Law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan Undang-Undang No. b. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam pasal 23 ayat (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. sehingga penetapan status perjanjian diserahkan pada intepretasi di kemudian hari manakala terjadi sengketa. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan Undang-Undang dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri. Dalam hal ini. yaitu: perjanjian internasional publik ”Governed 2000 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Di lain pihak pengesahan/ratifikasi adalah lembaga hukum ketatanegaraan tentang pengesahan oleh legislatif atas perbuatan hukum pemerintah RI sesuai dengan Hukum Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Undang-Undang No. Namun perlu ditekankan bahwa persetujuan DPR dalam konteks Undang-Undang APBN tidak identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. Undang-Undang APBN bukanlah Undang-Undang untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan Undang-Undang untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang No.mengindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. banyak perjanjian pinjaman seperti halnya perjanjian komersial lainnya yang tidak secara tegas menyebutkan governing law. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Namun di lain pihak. 24 Tahun .

Sedangkan pengertian persetujan DPR pada Undang-Undang APBN bukanlah mengesahkan perjanjian yang sudah ditandatangani melainkan menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang pada hakekatnya mengatur tentang Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah Luar Negeri. Selain itu. dalam rangka akuntabilitas juridis serta untuk mengamankan kepentingan hukum khususnya kewajiban pengesahan dengan Undang-Undang. berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. kecuali secara tegas dinyatakan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman/Hibah Luar Negeri ini. adanya persetujuan DPR dalam APBN tidak dapat meniadakan persyaratan ratifikasi sebagaimana ditetapkan oleh pasal 10 huruf f Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. Persetujuan DPR pada Undang-Undang APBN adalah terhadap perjanjian yang akan dan belum ditandatangani oleh Pemerintah RI sedangkan persetujuan dalam konteks pengesahan/ratifikasi adalah terhadap perjanjian yang sudah ditandatangani. Dalam praktek. Departemen Luar Negeri akan menyampaikan notifikasi “telah terpenuhinya prosedur konstitusional/ internal” setelah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Departemen Keuangan perihal itu. terikat pada perjanjian itu.yang menandatangani suatu perjanjian disahkan dengan Undang-Undang (dengan demikian melalui persetujuan DPR) sehingga Indonesia secara resmi. secara juridis formal. Dengan demikian. Dalam prakteknya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Pada Peraturan Pemerintah ini tidak terdapat aturan yang mengindikasikan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah harus mendapat persetujuan DPR. Menurut pasal 15 Peraturan Pemerintah tersebut. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam Undang-Undang . Itulah sebabnya. wewenang penandatanganan Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri berada pada Menteri Keuangan. maka posisi Departemen Luar Negeri pada setiap perjanjian pinjaman kategori ini selalu mengupayakan klausula tentang dipenuhinya terlebih dahulu prosedur konstitusional/internal sebelum berlakunya perjanjian. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.

dalam pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri ditandatangani oleh Menteri Keuangan sedangkan menurut penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. “Dalam hal pinjaman luar negeri. termasuk prosedur ratifikasi berdasarkan pasal 10. beberapa negara seperti Jerman dan Loan Agreement dengan International Fund for Agriculture Development tahun 2000 menginginkan agar perjanjian pinjaman ini mengambil format perjanjian internasional yang tunduk pada Konvensi Wina 1969. perjanjian pinjaman dapat merupakan perjanjian internasional dan juga dapat berupa perjanjian perdata internasional. 24 Tahun 2000 harus diterapkan. Akibat tidak adanya penegasan juridis dari Rancangan Undang-Undang. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Terlebih lagi. Lembaga-lembaga ini jelas bukan Subjek Hukum Internasional dan dengan demikian perjanjian pinjaman dengan . Undang-Undang No. diindikasikan bahwa Pemerintah RI dapat membuat perjanjian dengan pemberi pinjaman. Dalam definisi tentang Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri pada Rancangan UndangUndang ini. serta Lembaga Donor Swasta lainnya. Sehingga untuk perjanjian pinjaman kategori ini. 2 Tahun 2006 (bahkan dalam Rancangan Undang-Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. akan terjadi konflik kewenangan antara substansi dan format yaitu Menteri Keuangan yang memiliki kewenangan atas pinjaman luar negeri dengan kewenangan Menteri Luar Negeri yang memiliki wewenang untuk membuat perjanjian internasional itu sendiri. Menteri (dalam hal ini Menteri Luar Negeri) mendelegasikan kepada Menteri Keuangan”. Dalam praktek Indonesia. Loan Agreements yang dibuat oleh Indonesia selama ini adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh Undang-Undang No. sehingga prosedur Undang-Undang No. yang dalam hal ini mungkin Bank Swasta Asing.No. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UndangUndang No. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional hanya mengatur tentang perjanjian pinjaman per definisi Undang-Undang ini yaitu perjanjian “Governed by International Law”. Lembaga Keuangan Non-Pemerintah Asing. Namun di pihak lain. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun Peraturan Pemerintah No.

Dengan demikian maka setiap dokumen yang berjudul treaty. 1990”. Process Verbal. of Memorandum Agreement. ICJ Qatar/Bahrain Case. Having signed such a text. In order to ascertain whether an agreement of that kind has been concluded. the Foreign Minister of Bahrain is not in a position subsequently to say that he intended to subscribe only to a "statement recording a political understanding” and not to an international agreement”. memberikan petunjuk bahwa untuk menetapkan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional tidak harus dilihat dari judul perjanjian. Sekalipun Konvensi Wina dan jurisprudensi tidak menempatkan judul dokumen sebagai faktor penentu. The Court concludes that the Minutes of 25 December 1990. b. like the exchanges of letters of December 1987. 1978: a. agreement. They constitute an international agreement. They thus create rights and obligations in international law for the Parties. MOU. Side Letter. ICJ menyatakan bahwa Minutes ini adalah perjanjian internasional. Pada sisi lain terdapat pula kecenderungan pada publik opini untuk menggunakan parameter nomenklatur atau judul dokumen sebagai faktor penentu untuk menetapkan dokumen itu sebagai perjanjian internasional. convention.lembaga-lembaga ini bukan merupakan perjanjian yang menjadi lingkup Undang-Undang No. Final Act. adalah perjanjian internasional sedangkan agreed minutes. ICJ merujuk pada The ICJ Aegean Sea Continental Shelf. Memorandum of Cooperation. They enumerate the commitments to which the Parties have consented. c. Joint Declaration. they do not merely give an account of discussions and summarize points of agreement and disagreement. Charter. record of discussion bukan perjanjian internasional. d. Minutes of Meeting. Qatar and Saudi Arabia. of Letter of Agreement. Letter Demarche. constitute an international agreement creating rights and obligations for the Parties. Dalam tanggapannya terhadap “Minutes signed by Foreign Ministers of Bahrain. 24 Tahun 2000. The Minutes are not a simple record of a meeting. of Aide Memoire. Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik). 1994. Dewasa ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti Joint Statement. Protocol. Memorandum . perlu pula diperhatikan bahwa praktek negara tentang judul suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. the Court must have regard above all to its actual terms and to the particular circumstances in which it was drawn up. Letter of Intent. Understanding.

Sekalipun Undang-Undang No. namun apabila ditelaah lebih lanjut. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding) merupakan salah satu model dokumen yang memiliki sifat khas/typical. atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan perjanjian internasional lainnya. misalnya lebih cenderung menggunakan “Agreement” sebagai instrumen payung dan kemudian MOU serta Arrangements untuk instrumen turunannya. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak menyepakatinya.Cooperation. khususnya pada negara-negara common law system. Praktek di Indonesia misalnya. Para ahli berpendapat bahwa istilah MOU digunakan dengan alasan politis yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement yang dinilai lebih formal dan mengikat. namun praktek Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi tertentu. Exchange of Notes. Selain itu terdapat kecenderungan dalam praktek negara-negara. Dalam hal ini. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak mempermasalahkan judul atau nomenklatur. seperti Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik. terdapat pula kecenderungan umum dalam praktek Indonesia bahwa dalam setiap pembuatan perjanjian yang bersifat teknis antar sektor harus didahului dengan pembuatan perjanjian payung. Terdapat praktek negara. Record of Understandings. Adanya pengertian MOU yang non-legally binding dalam praktek beberapa negara akan . Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MOU) memiliki daya mengikat seperti Treaties. yang berpandangan bahwa MOU adalah nonlegally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. sekalipun tidak konsisten. Selain itu. sekalipun tidak mengikat secara hukum cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MOU yang kemudian diikuti dengan Arrangements. Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk kepentingan conveniences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat. atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam perjanjian. jika terdapat kebutuhan lain maka suatu perjanjian dapat saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian payung. pengelompokan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian tersebut memiliki bobot kerjasama yang berbeda tingkatannya dengan perjanjian internasional lainnya.

menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. pengertian nonlegally binding memiliki implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dijadikan alat pembuktian serta di-enforce oleh pengadilan. Pengertian MOU oleh otonomi daerah merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk “Perjanjian Kerjasama” yang bersifat mengikat. maka pada hakekatnya dapat dilakukan klasifikasi sbb: . Status hukum MOU semacam ini masih menjadi perdebatan. Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan politik terhadap investor asing. Dari sisi hukum nasional. Dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini. Untuk kebutuhan praktis. Jika diteliti lebih dalam seluruh dokumen yang tersimpan pada Treaty Room berdasarkan materi perjanjian (the merits of the documents). Hal ini terlihat dari pola sistem penyimpanan perjanjian (depository system) yang ternyata menyimpan pada Treaty Room Departemen Luar Negeri semua dokumen sepanjang ditandatangani oleh Pemerintah RI tanpa melihat apakah dokumen tersebut memenuhi semua elemen sebagai suatu perjanjian. sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasional. khususnya pada negara-negara common law. Istilah MOU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk yang lebih informal dari ”kontrak” atau ”perjanjian” dalam hubungan perdata nasional. Perlu pula dicermati bahwa MOU sudah menjadi instrumen yang digunakan dalam hubungan kerjasama antar wilayah dalam kerangka otonomi daerah di Indonesia. Dengan demikian. Secara umum pengertian ini selalu diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MOU melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang lazim dilakukan terhadap perjanjian internasional. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti. pengertian non-legally binding belum menjadi concern yang berarti bagi Indonesia. Metode yang digunakan dalam praktek Indonesia untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional masih belum konsisten. Pemerintah Daerah juga sudah mulai menggunakan format MOU untuk merefleksikan jaminan Pemerintah Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di daerah itu.

procurement contracts. c. Perjanjian yang memiliki karakter internasional tetapi tidak tunduk pada hukum internasional publik (loan agreements. MOU’s. Border Treaties. . etc). sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi. Dokumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum (joint statements. Perjanjian seperti yang didefinisikan oleh Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations 1986 serta Undang-Undang No. declarations. Dari uraian diatas maka praktek Indonesia juga ternyata tidak luput dari dinamika tersebut. b. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat. agreed minutes. Sekalipun literatur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Multilateral Convention. mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. etc). Extradition. Agreement. Exchange of Notes.a. namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. etc).

J. Damos Dumoli Agusman. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. "Concepts and Case Analysis in the Law of Contracts”. Delano Verwey. 23. “International Law”. Charlotte Ku & Paul F. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. 2005. Diehl. Inc. Harris. 2 (Apr. “Status of Treaties in Domestic Legal System: A Policy Analysis”. Cambridge University Press. Shaw. Cambridge University Press. Martinus Nijhoff Publishers. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006. pp. 2005. 310-340. “International Law”. The University of Chicago Law Review. Cambridge University Press. No. M. 2003. Bina Cipta. London: Lynne Rienner Publishers. Malcolm N. “International Law: Classic and Contemporary Readings”. Marvin A. London. London: Sweet & Maxwell. Vol.BIBLIOGRAPHY John H Jackson. “International Law”. 1998. Hynning. “Pengantar Hukum Internasional”. Shaw. “Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional”. 1996. AJIL. Sweet & Maxwell. Clifford J. Chirelstein. 1992). Antonio Cassese. . Grotius Publication. Syahmin AK. 2004. “Treaty Law for the Private Practitioner”. 1975. “Hukum Kontrak Internasional”. “International Law”. Oxford. Anthony Aust. Mochtar Kusumaatmadja. “The European Union and the International Law of Treaties”. 86. DEPLU. Jan Klabbers. 2001. Vol. “The Concept of Treaty in International Law”. Rebecca Wallace. Ltd.N. “Cases and Materials on International Law”. 1997. New York: Foundation Press. D. 1991. 2000. “Modern Treaty Law and Practice”. 2006.

Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Dengan meningkatnya intensitas hubungan dan interdependensi antarnegara. Indonesia karena denganpemerintah negara negara-negara subyek lain. Februari 2006. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional hukum yang antara sangat Pemerintah penting. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan mengikat dengan hukum internasional lainnya. Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. nomor 1.JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati. Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Perjanjian internasional .KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI . organisasi internasional dan subyek hukum lainnya. et. volume 3. Latar Belakang Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalah dengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain. menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasional yang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional. al* *Diambil dari Jurnal Konstitusi. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR.

Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia? 2. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres. Oleh sebab itu. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuan DPR. yang ditujukan kepada Ketua DPR. Dalam penelitian ini. 24 Surat Presiden No. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia.24 Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkan perjanjian internasional jika dibatalkan ole MK? Proses Pengesahan Perjanjian Internasional Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. 2826/HK/1960. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut.yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang. akan dibahas pokok permasalahan sbb: 1. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subyek hukum internasional lainnya. . tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. tanggal 22 Agustus 1960. Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalam hal diajukan kehadapan MK? 4. Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK? 3. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. 24 tahun 2000. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Sebelum adanya UU No. Untuk itu melalui Surat Presiden No.

25 26 Indonesia (a). Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. 3. yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut. Pemberlakuan perjanjian internasional e. Ketentuan peralihan h. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian. yaitu: 1. Lembaran Negara RI Tahun 2000 No. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional.Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UU No. Selain itu juga ada perjanjian. 4. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Pasal 7 . Ratifikasi.perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). memerlukan surat uasa (Full Powers). adapun isi yang diatur adalah25: a. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Pengesahan perjanjian internasional d. Pembuatan perjanjian internasional c. Penyimpangan perjanjian internasional f. Ketentuan Penutup Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori. Pengakhiran perjanjian internasional g. 24 tahun 2000.26 Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah presiden dan menteri. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. UU No. 185 Ibid. Dalam UU tersebut. Ketentuan Umum b. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional. Penerimaan atau penyetujuan. Aksesi. 2.

30 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui UU apabila berkenaan dengan: a. pertahanan.29 Pengesahan dengan Keppres hanya perlu pemberitahuan ke DPR.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia tidakserta merta. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak. baik departemen maupun non-departemen. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional. DPR dapat meminta pertanggungjawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat.31 Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR.Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah. dinyataka bahwa. Pasal 10 . dan keamanan negara b.28 Pengesahan dengan UU memerlukan persetujuan DPR. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e. sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UU No. Pasal 11 Ibid. Pasal 9 Ibid. pembentukan kaidah hukum baru f. “Pengesahan perjanjian internasional sebagaiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. Pasal 8 Ibid. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. 24 tahun 2000. perdamaian. dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam UU. kedualatan atau hak berdaulat negara d. 24 tahun 2000. masalah politik. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme. Pasal 10 Ibid.27 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan UU atau Keppres. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia 27 28 29 30 31 Ibid.

menguji UU terhadap UUD 1945 b. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat UU yang lebih spesifik mengenai perjanjian internasional yang diratifikasi. Pasal 10. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. . maka selanjutnya Indonesia harus membuat UU yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam UU yang lebih spesifik. budaya. 24 tahun 2003 tentang MK. memutus pembubaran partai politik. UU ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. contoh Indonesia meratifikasi ICCPR melalui UU. diratifikasi melalui UU dan Keppres. pada Pasal 10 dinyatakan bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk: a. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 c. pariwisata. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.memandang hukum nasional dan hukum interasional sebagai dua sitem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian yang termasuk kedalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan. 24 tahun 2003 tentang MK. Perjanjian internasional seperti ini dapat langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/ nota diplomatic. kehutanan dan kerjasama antar propinsi atau kota. UU ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. Lembaran Negara RI tahun 2003 No. penerangan kesehatan. UU No. pertanian. 98. social. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya. dan d. 24 tahun 2000. Apakah MK Berwenang Menguji UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional? Menurut UU No. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum32 32 Indonesia (b).

Dengan demikian salah satu kewenangan dari MK yang perlu digaris-bawahi adalah mengenai menguji UU terhadap UUD 1945. Untuk keperluan pembahsan RUU di DPR. terjemahan.34 Hal ini sama dengan ketentuan dalam UU No. dalam Pasal 8. wilayah negara dan masalah keuangan negara. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional. menyiapkan salinan naskah perjanjian. baik departemen maupun nondepartemen. Hal lain adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dan lebih spesifik dari muatan UU secara umum.35 Pengajuan disampaikan pengesahan kepada perjanjian internasional Presiden dilakukan melalui Menteri untuk Presiden. disebutkan bahwa materi muatan yang harus diatur dalam UU berisi hal-hal yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi (1) hak-hak asasi manusia.37 DPR mulai membahas RUU dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden diterima.36 mengajukan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional yang telah disiapkan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. RUU. (4) wilayah negara dan pembagian daerah. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Pasal 8 ayat (2) Ibid. Pasal 12 ayat (3) Indonesia (c). dan (6) keuangan negara. Sesuai dengan UU No. 53. Dalam surat tersebut Presiden menegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR. (3) pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. UU No. Hal ini relevan karena dalam melakukan ratifikasi terhadap suatu perjanjian internasional adalah melalui UU. Pasal 20 . Pasal 8 Ibid. 24 tahun 2000 mengenai hal apa saja dari perjanjian internasional yang disahkan dalam UU. Pasal 12 Ibid.33 Selanjutnya selain dari yang berkaitan dengan UUD 1945 adalah diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. (5) kewarganegaraan dan kependudukan. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. hak asasi manusia. lembaga pemprakarsa yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah. Sehingga tidak adanya suatu perbedaan antara UU ratifikasi perjanjian internasional dan UU pada umumnya dilihat dari sudut muatan materi UU. menteri atau pimpinan 33 34 35 36 37 Indonesia (c). atau rancangan Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. Lembaran Negara RI tahun 2004 NO. Beberapa hal yang sama adalah mengenai kedaulatan. (2) hak dan kewajiban warga negara.

40 Setiap UU atau Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara RI.6. Penempatan peraturan perundang-undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam Lembaran Negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara. dan 7 Ibid. Pasal 14 Ibid. Pasal 14 Ibid. ayat 1.41 Menteri menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan pemerintah RI pada suatu perjanjian internasional untuk dipertukarkan dengan negara-negara pihak dalam perjanjian internasional atau disimpan oleh negara atau lembaga penyimpanan pada organisasi internasional. atau melalui cara lain sesuai kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam perjanjian. Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. Pasal 37 Indonesia (a).42 Lembaga penyimpanan (depositary) merupakan negara atau organisasi internasional yang ditunjuk atau disebut secara tegas dalam surat perjanjian untuk menyimpan piagam pengesahan perjanjian internasional. Oleh karena itu. 38 39 40 41 42 43 Ibid.39 Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden. Tata cara pembahasan RUU tersebut diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPR. Tingkattingkat pembicaraan dilakukan dalam rapat komisi/ panitia/ alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna.43 Disamping perjanjian internasional yang disahkan melalui UU atau Keppres.lembaga pemrakarsa 38 memperbanyak naskah RUU tersebut dalam jumlah yang diperlukan. Lembaga penyimpanan selanjutnya memberitahukan semua pihak bahwa perjanjian tersebut telah menerima piagam pengesahan dari salah satu pihak. Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. UU ini dapat diajukan ke MK. Secara struktur. Ibid. Pasal 32.5. muatan dan isi serta proses pembentukan dari UU pengesahan perjanjian internasional tidak berbeda dengan UU lainnya. diampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi UU. pemerintah dapat membuat perjanjian internasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatic. .Praktek ini berlaku bagi perjanjian multilateral yang memiliki banyak pihak.

Persyaratan legal standing dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam UU. Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian UU. Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet poiny d’action.44 Adanya kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata45 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. Dalam berperkara di MK. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya UU yang dipersoalkan. melainkan permohonan. 24 tahun 2003. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan. b. sebenarnya tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke MK dan menjadi pemohon. bukan gugatan. subjek hukum yang mengajukan disebut sebagai pemohon. Rumusan ini merujuk pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . Dengan demikian. maka prosedur pengajuan yang digunakan tidaklah berbeda dengan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan Mahkamah tentang pengajuan permohonan. Dalam hukum acara MK yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No.Tatacara Pengajuan Permohonan Pengujian UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional ke MK Dalam perkara permohonan pengujian UU Pengesahan Perjanjian Internasional.47 a. yang bunyinya sbb: Perorangan warganegara Indonesia. Yang termasuk sebagai ini adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan yang sama dapat tampil sebagai pemohon. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut UU untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada MK. Dimana bagian yang terpenting adalah legal standing dari pemohon dalam mengajukan permohonannya. Oleh sebab itu perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. UU yang digugat adalah UU yang mengkat umum terhadap segenap warga negara. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversaria atau contentious yang berkenaan dengan pihakpihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata maupun tata usaha negara. asalkan dapat membuktikan dirinya memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk menjadi pemohon.46 Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI ynag diatur dalam UU. 44 45 46 47 Semua perkara konstitusi di MK disebut sebagai perkara permohonan. Dalam hal ini adalah kepentingan pemohon dalam mengajukan permohonan termaksud.

81-82 . Dua criteria dimaksud adalah:50 a.48 Lembaga Negara. e. maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. b. c. yaitu: a. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya UU yang dimohonkan pengujian. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. b. melainkan juga mencakup pengertian lainnya secara luas. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945. Kemudian. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. berdasarkan pertimbangan hukum Putusan Perkara No. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat khusus dan actual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. atau (iv) lembaga negara. 006/PUU-III/2005. 2005. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu UU yang dimohonkan pengujian. Konstitusi Press: Jakarta. Hal Badan hukum public atau privat. maka dapat diketahui bahwa setiap pemohon haruslah: 48 49 50 Dengan berkembangnya ilmu hukum di masa modern ini. d. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. Mahkamah telah menentukan lima persyaratan mengenai kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu UU sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di MK. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan WNI (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama).49 yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. Maruarar Siahaan. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan. d. besar kemungkinan badan hukum tidak hanya mencakup pengertian public/privat saja. Dari penjelasan-penjelasan di atas. (iii) badan hukum public atau privat.c. hal. Seperti telah diuraikan di atas. Maksudnya adalah lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat.

dalam permohonannya pemohonharus menjelaskan kedudukan hukum pemohon dalam perkara yang diajuakan. Uraian ini harus secara jelas dan tegas yang pada pokoknya akan menunjukkan hubungan hukum antara pemohon dengan materi permohonan yang hendak diajukan. belum memperhitungkan pokok permohonannya. maka kerugian konstitusional yang bersangkutan memang dapat dipulihkan kembali dengan dibatalkannya UU dimaksud. 3. Untuk itu dalam kaitannya dengan permohonan yang diajukan ke mahkamah. kelima criteria tersebut masih bersifat abstrak. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. bahwa adanya atau timbulnya kerugian dimaksud memang terbukti mempunyai hubungan sebab akibat atau hubungan kausal dengan berlakunya UU yang dimaksud. Karena. bahwa subjek hukum dimaksud memang mempunyai hak-hak atau kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945. 2. Sudah tentu. 4. atau bersifat kumulatif secara mutlak. bahwa apabila permohonan yang bersangkutan kelak dikabulkan. Bagaimana penilaiannya oleh hakim sangat tergantung kepada kasus konkretnya di lapangan.1. maka yang bersangkutan memang dapat dipastikan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan perkara ke MK. 5. Untuk dinyatakan memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan. bahwa hak atau kewenangan konstitusional yang bersangkutan memang telah dirugikan atau dilanggar oleh berlakunya UU atau bagian dari UU yang dipersoalkannya itu. kelima kriteria itu kadang-kadang tidak diterapkan secara kaku. dalam pelaksanaannya. Jika kelima criteria ini tidak dapat dipenuhi secara kumulatif. . mengingat dampak kekuatan mengikatnya tidak saja terhadap keberlakuan UU tersebut akan tetapi juga dalam pergaulan internasional. salah satu dari keempat kelompok subjek hukum tersebut di atas. maka pemohon harus menguraikan dengan jelas mengenai anggapan tentang hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan dengan berlakunya UU a quo. Untuk itu secara khusus perihal legal standing harus menjadi perhatian Mahkamah. Mahkamah perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan legal standing ini. penilaian mengenai legal standing ini baru mengantarkan pemohon kepada keabsahannya sebagai pemohon. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional.

masalah proses perundingan atau negosiasi. Hal ini adalah untuk menjawab pertanyaan perihal bentuk pengesahannya apakah UU ratifikasi atau aksesi atau penerimaan. menyatakan bahwa UU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam pengujian formalitas UU pengesahan perjanjian internasional. Hal ini akan terkait dengan sejauh mana wewenang wakil pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan proses keikutsertaan dalam perjanjian internasional. Uraian ini akan menjadi gambaran yang jelas bagi hakim dalam menilai materi permohonan yang diajukan. Dalam petitumnya pemohon dalam permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional. dalam perkara pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. dimana harus dilihat siapa yang mewakili pemerintah Indonesia? Apa dasar keterweakilan pemerintah Indonesia? Hal ini terkait dengan surat kuasa yang diemban oleh wakil Indonesia dalam proses perjanjian internasional tersebut. kiranya menjadi perhatian khusus Mahkamah dalam memeriksa dan memutus perkara ini adalah terkait dengan pengujian atas pembentukan UU a quo. Apabila dalam permohonan tidak dinyatakan . apakah itu materiil atau formil. hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam menjatuhkan putusan atas perkara a quo. Permohonan putusan Mahkamah dalam petitum penting untuk dinyatakan dalam permohonan yang diajukan. Dalam kaitannya dengan pengajuan pengujian formil. Hal lain yang harus juga diperhatikan dalam kaitannya dengan permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional adalah apa bentuk UU pengesahan tersebut. Dalam hal ini harus diperhatikan bagaimana dengan keikutsertaan keterwakilan Indonesia pemerintah dalam perjanjian dalam internasional tersebut. sebagaimana yang disebutkan dalam UU Perjanjian Internasional. Dalam hal ini pemohon harus menguraikan dengan jelas yang berisi uraian perihal permohonan yang hendak diajukan. Terkait Indonesia perjanjian tersebut. keterwakilan pemerintah dalam perjanjian internasional tersebut dan proses pengesahan perjanjian internasional menjadi UU. Hal ini akan terkait dengan bentuk keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Hal ini terkait dengan proses keikutsertaan Indonesia sebagai pihak dalam perjanjian internasional. pemeriksaan tidak hanya terkait dengan proses pembentukan di DPR akan tetapi harus juga dijadikan perhatian perihal proses keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional.Materi pengajuan yang hendak dimohonkan ke mahkamah juga harus menyebutkan dengan jelas perihal permohonan pengujian formil atau pengujian materiil.

Walaupun dalam Konvensi Wina Article 46 dinyatakan bahwa negara peserta dari suatu perjanjian internasional dapat membatalkan keikutsertaannya dalam perjanjian jika pelanggaran terhadap perjanjian tersebut merupakan suatu tindakan yang memang sesuai dengan internal law of fundamental importance. Dalam hal pengujian UU pengesahan perjanjian internasional dapat menimbulkan penafsiran sebagai bentuk pembatalan sepihak (denunciation) dari keikutsertaan Indonesia. Hal ini penting bagi Indonesia. karena Indonesia tidak dapat menarik diri dari perjanjian tersebut jika tidak ada pasal yang mengatur mengenai pe. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah jika perjanjian internasional yang disahkan oleh UU . maka hal ini harus menjadi perhatian dalam pemeriksaan pendahuluan dan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki permohonannya. Kesemua aspek tersebut akan menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan yang akan dibuat oleh Mahkamah dalam memutus permohonan a quo. yaitu apakah dalam perjanjian internasional tersebut dimungkinkan untuk melakukan pembatalan sepihak atau penangguhan. Dalam hal permohonan yang diajukan adalah pengujian materiil UU pengesahan perjanjian internasional. Dalam hal ini harus diperhatikan.petitumnya. Kerena pengujian UU pengesahan perjanjian internasional memiliki dimensi yang tidak saja bersifat nasional namun juga internasional. perjanjian internasional tersebut secara keseluruhan. juga harus dipertimbangkan dampak yang akan timbul dari dikabulkannya permohonan tersebut.batalan sepihak atau penangguhan keikutsertaan dalam perjanjian tersebut. Dalam hal ini harus diperhatikan dengan baik terkait dengan materi muatan yang menjadi dasar pengujian materiil yang diajukan. hal ini juga harus diperhatikan oleh Mahkamah. pasl dan/ atau bagian yang bertentangan dengan UUD 1945. Dalam memberikan keputusan yang terkait dengan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. maka pengujian dilakukan berkaitan dengan materi muatan dalam ayat. dimana apakah pernyataan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat atas materi muatan yang diperiksa dan diputus mahkamah akan dapat dikategorisasi sebagai pembatalan sepihak atau tidak. Meskipun dengan pembatalan UU pengesahan perjanjian internasional tidak secara serta merta menghilangkan keikutsertaan Indonesia dalam pergaulan internasional. Dampak Pembatalan UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional Dampak dari pembatalan UU tersebut tidak hanya akan bersifat nasional tetapi juga bersifat internasional.

Namun dalam hal ini dapat dimasukkan dalam pembatalan atau penangguhan secara sepihak ini tidak akan menjadi masalah jika pengunduran diri diatur dalam suatu perjanjian internasional. Hal berbeda jika hal ini diatur dalam perjanjian internasional. hal ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. . Berlainan jika pengunduran diri atau pembatalan tidak diatur dalam perjanjian internasional. Hal ini berlainan dengan LBB yang mengatur mengenai pengunduran diri dari LBB. seperti halnya dalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang.dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan UUD 1945. Maka pernyataan untuk terikat dalam perjanjian internasional tersebut merupakan suatu itikad baik. Indonesia diwajibkan membayar segala kewajiban selama ketidak aktifannya di PBB. PBB tidak ingin mengulangi pengalaman LBB yang dilemahkan oleh pengunduran diri beberapa anggotanya pada tahun 1938. pengunduran diri Indonesia di PBB dihitung sejak pernyataan mundur Indonesia di PBB. Mengenai pembatalan perjanjian yang diakibatkan oleh dibatalkannya suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional oleh MK tidak termasuk dalam faktor-faktor yang menjadikan perjanjian menjadi batal atau ditangguhkan. yang harus dihormati oleh negara-negara lainnya. menetapkan bahwa pembatalan atau pernyataan tidak terikat terhadap perjanjian ini berlaku satu tahun sejak pemberitahuan mengenai pernyataan tersebut diterima oleh Dewan Federasi Swiss. Seperti halnya di dalam Piagam PBB. Dengan demikian pembatalan suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional yang dilakukan oleh MK tidak selalu menjadikan Indonesia lepas dari keterikatannya yang telah dinyatakan oleh Indonesia terhadap perjanjian tersebut. dengan menyesuaikan perjanjian internasional tersebut dengan konstitusi negaranya. Pada saat Indonesia ingin kembali menjadi anggota PBB. Dengan demikian Indonesia sebenarnya tidak pernah keluar dari PBB. jika pengunduran diri atau penangguhan untuk terikat terhadap perjanjian tidak diatur. dalam Pasl 63 mengenai Perbaikan Keadaan Luka dan Sakit di Medan Perang di darat. Konvensi Wina menyatakan hal di atas karena dalam prosedur ratifikasi. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia mundur dari keanggotaan PBB pad Desmber 1964. negara peserta diberikan kesempatan untuk memutuskan apakah akan menjadi pihak dalam perjanjian internasional atau tidak.

Dalam memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori. yaitu teori voluntarisme.[3] Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional.L.) di Faculty of Law. New Delhi. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda. I. IGNOU. Berbeda dengan . University of Delhi dan program Master of Political Science (M. dan teori objektivis[2] yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara. Latar Belakang Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya.C.[1] yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara.) di School of Social Science. Hal ini dapat dilihat dari interaksi masyarakat internasional dimana peran negara sangat penting dan mendominasi hubungan internasional. Karena peran dari hukum nasional negara-negara dalam memberikan pengaruh dalam kancah hubungan internasional mengangkat pentingnya isu bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional dari sudut pandang praktis. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya.A.PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA Oleh Pan Mohamad Faiz* * Penulis adalah mahasiswa program Master of Comparative Law (M. saling berdampingan dan terpisah.

3. II. Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional. yang mungkin adalah renvoi.[5] Maka sebagai akibat dari teori dualisme ini adalah kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada perangkat hukum yang lain. Teori Keberlakuan Hukum Internasional A. Subjek hukum internasional.[6] Karena itu dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasional memerlukan transformasi menjadi hukum nasional. Sumber hukum. 4. sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional. Struktur hukum. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda. sedangkan pada hukum internasional adalah negara. lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. Akibat lain adalah tidak mungkin adanya pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut. Kenyataan. subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. 2. pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. hukum nasional bersumber pada kemauan negara. .[4] Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: 1.pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. Dengan demikian dalam teori dualisme tidak ada hirarki antara hukum nasional dan hukum internasional karena dua perangkat hukum ini tidak saja berbeda dan tidak bergantung satu dengan yang lain tetapi juga terlepas antara satu dengan yang lainnya. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara.

Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis. Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. .[10] Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara. 2. Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional.B. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional. hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme.[9] Monisme dengan primat hukum internasional. Monisme dengan primat hukum nasional. Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara.[8] Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia.[7] Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia.

yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan Piagam Mahkamah Internasional. karena tidak tercapainya minimum ratifikasi.III.[13] Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan sangat pesat.[12] Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk mengakibatkan hukum tertentu. Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920. 3. yang pada saat ini tercantum dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 1945. dengan demikian hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan dihadapannya adalah: 1. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan untuk menetapkan hukum. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan Kapal tidak pernah terbentuk. Perjanjian Internasional. 2. yang mendirikan Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam Mahkamah Internasional Permanen. ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional. Dengan demikian Pasal 38 Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional. Perjanjian Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional. rinsip Hukum Umum. Pada Konvensi Den Haag XII. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 . hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas.[11] Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal. termasuk organisasi internasional dan negara-negara. 4. Kebiasaan Internasional. tertanggal 18 Oktober 1907. Pasal 7. Menurut sumber tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum internasional. Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Wina) 1969.

[15] Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan. Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional. Proses pembentukan Perjanjian Internasional. charter. Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. sebagai berikut: 1.[16] Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua tahap. dan lain-lain. accord. protokol. deklarasi.[17] Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda dengan perjanjian internasional. 2. menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan perjanjian internasional. pakta (pact). perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang cepat. 4. Dalam Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga diratifikasi menjadi hukum nasional. penandatanganan dan ratifikasi. Dalam perundingan bilateral. Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan. Selanjutnya apa yang menjadi ukuran suatu perjanjian mana yang termasuk golongan yang penting. proses penerimaan . kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. covenant. modus vivendi. piagam (statute). 3. yaitu perundingan dan penandatanganan. Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional. Hal ini biasanya berdasarkan alasan adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara.Januari 1980. sehingga memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan perjanjian mana yang tidak di Indonesia.[14] Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty). konvensi (convention). Dalam perundingan multilateral. Sedangkan golongan kedua lebih sederhana. Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalahmasalah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. arrangement.

5. organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya. 2826/HK/1960. penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.[18] Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. Penandatanganan : merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. Untuk perjanjian multilateral. yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. .[19] Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau keputusan presiden.(acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/accession/acceptance/approval). Untuk itu melalui Surat Presiden No. Pengesahan Perjanjian Internasional di Indonesia Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan undang-undang. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. Tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. tertanggal 22 Agustus 1960. IV. Sebelum adanya Undang-Undang No.

Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah: • • • • • • • • Ketentuan Umum Pembuatan Perjanjian Internasional Pengesahan Perjanjian Internasional Pemberlakuan Perjanjian Internasional Penyimpanan Perjanjian Internasional Pengakhiran Perjanjian Internasional Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup[20]

Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional; 2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian; 3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan (approval) yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut; 4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).[21] Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah Presiden dan Menteri. Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada

dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian interansional tersebut. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.

internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang.[22] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang atau keputusan Presiden.[23] Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan DPR.[24] Pengesahan dengan keputusan Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.[25] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: • • • • • • masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara; kedaulatan atau hak berdaulat negara; hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pembentukan kaidah hukum baru; pinjaman dan/atau hibah luar negeri.[26]

Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional, perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun 2000. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24 tahun 2000, dinyatakan bahwa: ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang

hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui undang-undang dan keputusan presiden. Undang-undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih spesifik. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional seperti ini dapat lansung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya, pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. *** Catatan: Tulisan ini merupakan resume dari salah satu hasil penelitian yang dibuat penulis bersama tim lainnya dalam "Pengujian Undang-undang yang Mensahkan Perjanjian Internasional".

hal 56 [4] I A Shearer. Pengantar Hukum Internasional. hal 65. hal 57-56.Endnotes: [1] Teori-teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional itu pasa kehendak negara ini merupakan pencerminan dari teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai pemikiran ilmu hukum di Eropa pada abad ke 19. Kelsen dianggap sebagai bapak dari mazhab Wina. Paham ini dikembangkan oleh mazhab Wina (Kunz. hal 62. [5] Mochtar Kusumaatmadja.. hal 114 [12] Shearer. Starke’s International Law. 1984. Kelsen dan Verdross) [11] Ibid. cit. Aliran ini pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia. [7] Ibid. [6] Loc. [2] Teori ini menghendaki adanya suatu norma hukum yang merupakan dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional. Alumni. USA. Bandung 2003. hal 29 [13] Op. hal 117 . Para pemuka aliran ini adalah Triepel dan Anziloti. hal 61 [9] Ibid [10] Ibid. Butterworths. Pengantar Hukum Internasional. cit. cit. yang mempengaruhi teori Objektivis ini. [3] Mochtar Kusumaatmadja.. hal 64. Jakarta 2003. Alumi. [8] Op.. 11th ed. Akhir dari puncak kaidah hukum terdapat kaidah dasar (Grundnorm) yang tidak dapat lagi dikembalikan pada suatu kaidah yang lebih tinggi.

[22] Ibid. cit. [21] Ibid. [20] Indonesia (a). Pasal 9 [24] Ibid. Pasal 10 [25] Ibid. 2826/HK/1960. Pasal 8 [23] Ibid. Pasal 10 . Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185. hal 119 [16] Ibid [17] Ibid [18] Surat Presiden No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. [19] Loc. Lihat: Catatan Kaki No. 5. Pasal 11 [26] Ibid..[14] Vienna Convention on the Law of Treaties. Undang-undang No. cit. Pasal 7. Vienna 1969 [15] Op. tanggal 22 Agustus 1960.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful