Kompilasi Permasalahan

Direktorat Perjanjian Ekonomi Sosial dan Budaya
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri 2008

TOR DEPLU MENGENAI STUDI TENTANG SISTEM HUKUM SUATU NEGARA TERKAIT DENGAN PROSES PENGESAHAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL SERTA PENGOLAHAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL OLEH SUATU NEGARA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
* TOR ini dilengkapi dengan “Diskusi Professor Ko Swan Sik dengan Bapak Damos Dumoli Agusman berkaitan dengan TOR DEPLU mengenai Studi Tentang Sistem Hukum Suatu Negara Terkait dengan Proses Pengesahan dan Pemberlakuan Perjanjian Internasional serta Pengolahan Naskah Perjanjian Internasional oleh suatu Negara dan Organisasi Internasional”

Permasalahan yang lahir dari Praktek Negara RI tentang Internasional yang perlu mendapatkan penjelasan akademis:

Perjanjian

1. Dalam kaitannya dengan hubungan perjanjian internasional dengan hukum nasional, apakah Indonesia menganut faham monisme atau dualisme? 2. Apakah perjanjian internasional perlu di definisi ulang sehingga mencakup semua perjanjian yang bersifat transnasional? 3. 4. Apakah loan agreements adalah perjanjian internasional? Apakah nomenclauture membedakan bobot juridis suatu perjanjian internasional?

5. Apakah lembaga negara di luar eksekutif (MA, BPK, DPR) dapat membuat perjanjian internasional? 6. Apakah Sekjen ASEAN dapat membuat perjanjian dengan negara ketiga atas nama angota ASEAN?

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM DINAMIKA GLOBAL 1. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi, mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Sekalipun Literarur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten, namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Perkembangan antar bangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan dan intensitas pembuatan perjanjian internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya.

2.

3.

Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur dalam Pasal 11 UUD 1945, yang kemudian diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional oleh Pemerintah RI. Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional.

4.

PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME? 5. Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukum nasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme, dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjian internasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untuk mengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan. Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikan dasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.

Komentar Prof. Swan Sik:

Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasional Indonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari sudut tata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2 sebagai berikut: (a) HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungan sistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluar dan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan ini berkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN (transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalam lingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagai HN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukan hubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori) (b) HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagai keseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“diinkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun dengan mempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untuk diterapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.

atau melalui tundakan2 berdasarkan otoritas pejabat hukum (misalnya hakim. sehingga dapat diharapkan ada keputusan2 hakim yang mengutarakan pendapatnya tentang ada (tidak)-nya “pengecualian2” demikian. para ahli Indonesia menolak menggunakan teori monisme-dualisme dalam menjelaskan hubungan HI dan HN namun tanpa sengaja pandangan mereka tentang hubungan ini selalu dilatarbelakangi oleh salah satu aliran ini. maka ketiga jurusan itu bisa dipakai secara bergantian. jika kepentingan nasonal (national interest) menuntut. dan yang lain bahkan menempatkan UUD pun dibawah HI. yang satu mengecualikan UUD dari pengutamaan HI. Pilihan antara ketiga kemungkinan tsb. tapi apa yang HN pilih yang akan menentukan jurusan”.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dari hasil diskusi dengan para ahli hukum Indonesia. Sayang sukar untuk diketahui praktek hakim karena masih belum adanya kebijakan pengumuman luas keputusan2 hakim (selain dari pemberitaan2 wartawan disurat kabar). diatas dapat ditentukan secara berbeda-beda. di Konstitusinya. sehingga mendahului HN yang berlawanan dengannya. Staatsblad 1847:23) yang berbunyi: “Wewenang hakim dan daya pelaksanaan keputusan hakim dan akta otentik dibatasi oleh pengecualian2 hukum internasional.(c) HI dianggap tidak hanya ter-inkorporasi dalam lingkungan HN. Petunjuk paling jelas sebenarnya dapat dilihat dalam praktik peradilan (“yurisprudensi” dalam arti-kata umum). . seperti pasal 22a “Ketentuan2 umum perundang-undangan” (Algemene bepalingen van wetgeving. atau pemerintah pusat) Disamping itu ada kemungkinan diadakannya perbedaan antara HI tertulis (perjanjian internasional) dan HI tak tertulis (hukum kebiasaan) dalam penerapan pilihan sistem. maupun di hukum PI yang berlaku untuk Indonesia. Dalam konteks ini mereka tidak menginginkan HN Indonesia memilih jurusan dan membiarkan ketiganya applicable dalam setiap kasus. HN Indonesia tidak perlu terjebak dengan berbagai jurusan tsb namun tetap diperlukan adanya sikap (”legal provisions”) dalam HN Indonesia yang menentukan apa status HI dalam HN (hubungan HI dan HN). bahkan diakui sebagai hukum yang bertingkat lebih tinggi. yaitu ”apakah suatu negara mutlak memilih salah satu jurusan tersebut”. Ada HN yang menentukan pilihan tsb. Dalam jurusan ini terdapat dua variasi. Bahkan dari zaman kolonial masih ada ketentuan yang berdasarkan peraturan2 peralihan masih berlaku. Saya sendiri berpendapat bahwa ”bukan jurusan yang menentukan apa yang HN pilih. Artinya. baik yang bersumber di hukum kebiasaan. Beberapa ahli berpandangan bahwa sebaiknya ketiga jurusan itu bisa dipakai dengan menggunakan parameter kepentingan nasional secara kasus per kasus.” Berdasarkan ketentuan ini hakim wajib menguji wewenangnya terhadap HI. Jika HN telah menetapkan status hubungan ini maka warna jurusan akan terlihat dan teridentifikasi. terdapat suatu pertanyaan critical. Kesulitan yang saya hadapi adalah. atau dgn jalan undang-undang. Sikap tata hukum Indonesia (HN) terhadap berlakunya HI dalam lingkungan HN sebagai keseluruhan belum jelas. They deny the theory but their thinking reflect the theory.

dapat saya simpulkan bahwa pandangan mereka terhadap hubungan HI dan HN mengarah pada memilih salah satu jurusan teori. Adanya perundangundangan yang mengatur hal2 sama dengan apa yang telah diatur pula dalam suatu PI yang berlaku untuk RI. tidak per se merupakan bukti bahwa RI menganut dualisme. Perundang2an bersangkutan mungkin “mengatur lebih lanjut” (ToR dengan tepat menggunakan istilah “implementasi”).Saya sendiri keberatan jika parameter kepentingan nasional selalu dipakai untuk menentukan pemilihan jurusan karena akan menciptakan ketidakpastian hukum dan prinsip predictability yang menjadi fundasi suatu sistem hukum. Praktek Indonesia justru tidak konsisten dalam masalah ini. Indikasi kearah monisme misalnya tercermin dari: . Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasanaliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Memang tidak terdapat indikasi tegas apa yang dianut oleh Indonesia dalam masalah hubungan HI dan H. dalam bentuk tegas ataupun sebagai hasil penafsiran (contoh: oleh hakim). dalam lingkungan HN). dan belum terlihat adanya pandangan yang diluar dari ketiga jurusan tsb. Pertanyaan saya: dapatkan suatu negara memilih ketiga jurusan tersebut? Jika dapat. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. terhadap suatu negara) diperlukan seperangkat tindakan pejabat hukum HN (ratifikasi) yang dalam hal ini bertindak baik dalam fungsi HN maupun fungsi HI. dari sudut HI. Dari pandangan para ahli hukum Indonesia. Agar PI mengikat suatu negara (berlaku. Swan Sik: Syarat keberlakuan PI untuk lingkungan HN ditetapkan oleh HI (ada tidaknya PI yang relevan untuk RI) dan HN (ketentuan status PI tsb. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. apakah dilakukan secara “silent”? (tanpa memerlukan penetapan oleh HN?) *** 6. Apakah tindakan2 tersebut juga berakibat PI bersangkutan berlaku dalam lingkungan HN (lihat catatan diatas) adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh HN. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif.

or in two or more related instruments and whatever its single instrument particular designation” 3. UU No. UU No. Menurut kelompok ini UU/Perpres ini Pakar hukum D. 1/1982 dimaksud dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yangdalam prakteknya dapat diterapkan langsung tanpa ada UU tentang Diplomatik/Konsuler. Praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya UU No. bahwa perjanjian mentransformasikan menjadi lingkup UU ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang diatur dalam hukum Jurisprudensi Indonesia sendiri hak dan kewajiban sehingga hukum publik dan bukan internasional serta menimbulkanbelum berkembang di bidang belum memberikan kontribusi untuk pengembangan doktrin hubungan HI dan HN. Klausula yang dimuat dalam suatu UU yang meratifikasi suatu Perjanjian Internasional (dan oleh organisasi internasional) adalah:PI selalu memuat kalimat: asli (PI) Inggris “An ”Salinan naskahAgreementdalam bahasa between dan terjemahannya dalam bahasa International concluded States and International Indonesia sebagaimana and governed by international Law. di bidang hukum perdata. atau subjek hukum internasional lain. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai Perjanjian Internasional dan bahkan diratifikasi melalui UU Nomor 1 Tahun 1963. Judicial review MK tentang UU No. 6/1996.Penjelasan Pasal 13 UU No. organisasi hukum internasional. maka terdapat beberapa kriteria kebiasaan internasional secara oleh universal” suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan UU Nomor 24 Tahun tentang Perjanjian Internasional. Sebelum lahirnya UU ini. hanya jubah untuk menyatakan persetujuan DPR/Presiden dan bukan merupakan UU/Perpres dalam pengertian perundang-undangan. 17/1985adalah meratifikasi by international tidak mencabut UU Perpu 4/1960 perdebatan akademis. should sebagai UU yang mentransformasikan UNCLOS 1982. UU ini baru dicabut oleh UU No. the Subject-Matter of the agreement? dianggap there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to c. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merujuk langsung pada “praktek dan dasar yang harus dipenuhi Dari pengertian hukum ini. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. Kasus Sengketa bidang hukum publik. Dalam rangka dualisme. 12. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan UU/Perpres yang internasional yang PI dimaksud. yang diatur Perjanjian Internasional adalah: setiap perjanjian diTanah Kedubes Saudi Arabia: Fatwa MA oleh Langsung Merujuk Padadan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. 8) 9) . 17/1985 tidak dianggap bertentangan dengan UU Perpu a. Apakah dari: law” juga masih menimbulkan tentang Perairan Indonesia. Konvensi Wina 1961 internasional. Bagaimana mengidentifikasi bahwa UU No.” 7) Perjanjian Internasional berdasarkan Konvensi Wina 1969 (dan 1986) tentang Hukum 2. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional tidak luput dari kerancuan ini.6/1996 sendiri dapat b. Perjanjian yang dibuat dengan NGO juga dianggap sebagai Perjanjian internasional. Pandangan dualisme ini is governed by international oleh Kelompok ahli hukum perundangcreate legal relations tampaknya juga didukung law? undangan Indonesia yang menolak untuk mengkategorikan UU/Perpres yang meratifikasi utatu PI sebagai Harris perundang-undangan. 5. Dalam hal ini. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”treaty room”. UU NO 39/1999 tentang HAM: Ketentuan hukum internasional yang telah diterima yaitu: negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum  an International Agreement nasional. whether embodied Organizations in written formterlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari in a Undang-Undang ini. Namun dilain pihak. 24/2000 tentang PI: ”Penempatan peraturan perundangundangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan THEY? TREATIES: WHAT AREagar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia.J. 4. the intention of the Parties? 4/1960 karena karakter dualisme.  by Subject of International Law  in Written Form 6. produksendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. praktek Indonesia juga mengindikasikan dualisme misalnya dalam praktek penerapan UNCLOS 1982. PASAL 22A AB: KEKUASAAN HAKIM DIBATASI OLEH PENGECUALIAN-PENGECUALIAN  “governed by international law”((diatur dalam hukum internasional serta OLEH HI menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik)  whatever form. 1. Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. Kelompok ini masih menganggap perlu adanya 11. suatu dokumen yang ”governed UNCLOS 1982 10.

.

antar negara maupun antar perusasahaan multinasional. 14. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. perumus UU No. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. Sebaliknya tercantumnya judul tersebut juga boleh jadi melulu disebabkan kehendak pembuat UU 24/2000 bahwa perjanjian pinjaman/hibah. Swan Sik: Dilihat dari sudut umum. Dalam hal ini persetujuan dengan UU itu dapat saja ditafsirkan lepas dari hal penempatan perjanjian tsb. Kalangan publik Indonesia telah menggunakan istilah perjanjian internasional secara popular yang mencakup seluruh perjanjian yang bersifat lintas negara baik publilk maupun perdata (kontrak internasional). dengan adanya UU 24/2000 pasal 10 judul (f). 24/2000 pada waktu itu tidak dibekali oleh pemahaman tentang definisi perjanjian internasional.13. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. Tafsiran terakhir ini lebih2 masuk akal apabila ternyata praktek Indonesia setelah diundangkannya UU 24/2000 masih tetap kadang2 memuat klausula tentang “governing law” (lihat ToR ayat 24)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dilihat dari historis pembuatan UU No 24/2000. Pertanyaan yang kita hadapi yalah apakah pilihan demikian masih mungkin bagi RI. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. pilihan para fihak (negara atau organisasi internasional) tentang penempatan (G-to-G) loan agreement mereka dilingkungan HI atau HN adalah pilihan politik (kebutuhan dan kepentingan) dan tidak merupakan persoalan teoretis juridis. sehingga menganggap semua perjanjian baik perdata maupun public adalah treaty dalam pengertian . perlu disetujui UU. Tercantumnya judul ini boleh jadi oleh karena pembuat UU secara prinsip tidak sudi memperbolehkan perjanjian pinjaman/hibah antarnegara/organisasi internasional diperlakukan sebagai perjanjian yang dikuasai suatu HN. dilingkungan HN atau HI (lihat juga catatan atas ayat 16). karena materinya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apakah perjanjian internasional perlu didefinisikan kembali. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasan aliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional.

Akibatnya. Praktek negara (termasuk IBRD) yang cenderung menggunakan HI sebagai governing law adalah karena konstelasi politik internasional dewasa ini beranggapan “governed by international law” lebih secured dari pada “governed by a national law”. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. Saat ini terjadi perdebatan yang sangat intensif antara Deplu dengan Depkeu/Bapenas tentang status loan agreements dalam RUU tentang Pinjaman/Hibah. 24/2000 tidak lagi diberi ruang bagi adanya loan agreement governed by HN. Untuk kelompok pertama diterapkan UU No. perjanjian internasional publik governed by international law seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan. *** 15. 16. hal ini tidak dapat dipertahankan karena acapkali muncul loan agreements yang governed by HN namun “dipaksakan” untuk dikategorikan sebagai PI berdasarkan UU No. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. maka berdasarkan UU No. Dalam konteks pemahaman yang keliru inilah loan agreements dirumuskan dalam UU No. 24/2000. b. 24/2000 selalu dianggap sebagai treaty sekalipun governed by HN. Dalam praktek. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang mendindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata. Deplu mengusulkan agar dalam RUU ini dibedakan antara kedua jenis perjanjian ini sehingga dapat diketahui rejim UU apa yang akan diberlakukan. Untuk itu sejak tahun 2006. Sehingga loan agreement pada waktu itu oleh perumus UU No. Sehingga mereka menggunakan “treaty” dari pada “contract”. Mereka enggan menggunakan pengadilan nasional dan HN untuk penyelesaian conflict. perjanjian perdata internasional biasa yang governed by other than international law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan UU tersebut. 24/2000. pilihan hukum tentang loan agreements tetap menjadi persoalan juridis teoritis karena “theoretically” loan agreement bukan merupakan domain dari hukum internasional. yaitu: a. 24/2000 tetapi untuk kelompok kedua tidak perlu diberlakukan. Pertanyaan critical adalah apakah norma HI sudah cukup “adequate” dan available untuk mengatur tentang loan agreements.Konvensi Wina 1969. misalnya penetapan loan interest. yaitu governed by international law dan governed by national law. Akibatnya. Menurut saya. their terms. . ILC sendiri dalam drafting Vieanna Convnetion 1969 menempatkan loan agreements sebagai “subject to a national law”. dalam rangka pembuatan RUU tentang Pinjaman/Hibah telah diupayakan untuk membedakan perjanjian pinjaman menjadi dua jenis.

kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Seperti diketahui bahwa UU tentang APBN bukanlah UU untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan UU untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. perjanjian pinjaman (loan agreements) adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional. Pasal 16 PP Nomor 2 Tahun 2006 menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. 18.  Komentar Prof. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. Swan Sik: . Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut Pasal 10 (f) UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan UU dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam UU tersendiri. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya UU APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Dalam pembahasan RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan akademis tentang apakah persetujuan DPR dalam kontek UU APBN identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan UU (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional?. apakah lembaga ratifikasi seperti yang dikenal dalam hukum tatanegara telah mengalami pergeseran makna? 20.17. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Selain itu. untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun PP Nomor 2 Tahun 2006 (bahkan dalam RUU Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. UU Nomor 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam Pasal 23 (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. Dalam kaitan ini. 21. Dalam praktek Indonesia. yang tentunya membutuhkan ratifikasi sebelum pemberlakuannya. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional jelas mengkategorikan perjanjian pinjaman sebagai perjanjian per definisi UU ini yaitu perjanjian governed by international law. Konsekuensinya. 19.

 Komentar Damos Dumoli Melihat kompleksitas masalah ini maka sampai saat ini DPR belum memberikan posisi apa pun tentang hal ini. Jika loan agreement itu tidak treaty (governing law adalah HN) maka UU 24/2000 tidak apply. Secara tradisional bentuk dan nama perjanjian (nomenclature) tidak relevan untuk dibedakan karena apa pun namanya tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang di dalam suatu perjanjian internasional. Swan Sik: Cara persetujuan DPR seperti yang disebut di ayat 18 diatas pada hakekatnya merupakan persetujuan terlebih dahulu (in advance) atau “pemberian wewenang” untuk mengadakan pinjaman sampai batas tertentu. dunia diplomasi cenderung memberikan bobot yang berbeda untuk setiap nomenclature. dan dengan demikian pasal 16 PP 2/2006 bertentangan dengan UU. Apakah ini dapat dianggap telah memenuhi syarat tersebut dipasal 23(1) UU 17/2003 dan pasal 10 UU 24/2000 merupakan soal penafsiran yang dapat dijawab oleh praktek hubungan pemerintah-DPR. artinya PP 2/2006 can apply. walaupun tanpa perincian sumber pinjaman demikian. UU 24/2000 tidak mengatur persetujuan in advance karena tidak dikenal dalam hukum perjanjian internasional. maka DEPLU telah memberikan penafsiran bahwa loan agreement menurut UU 24/2000 adalah “treaty”. dengan (dan selama) adanya UU 24/2000 pemerintah tidak mungkin mengadakan perjanjian pinjaman yang mulai berlaku sejak saat ditandatangani. content perjanjian merupakan tolok ukur ketimbang namanya. . Treaty dan Agreement akan dianggap lebih mengikat ketimbang MOU. NOMENCLATURE. Namun demikian Depkeu menyatakan pasal 16 PP 2/2006 tidak bertentangan dengan UU karena sudah ada persetujuan dari DPR dalam bentuk UU APBN. Swan Sik: Salah satu hal yang masih tetap tanpa ketegasan yalah konsekwensi bermacam. Dalam hal ini. SHOULD THEY BE DISTINGUISHED? 22.  Komentar Prof.  Komentar Prof. Pertanyaan saya adalah apakah persetujuan DPR (in advance) identik dengan ratifikasi? Mengingat karakter ratifikasi adalah “confirming the act that already taken by the executive” maka persetujuan in advance bukan ratifikasi.macam sebutan yang dipakai dalam praktek untuk perjanjian2 antar-negara/organisasi internasional.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Untuk menyelesaikan problem ini. Sebaiknya pemerintah mencari ketegasan dengan jalan memancing pernyataan azas dari fihak DPR.Menurut tafsiran yang manapun. Namun demikian.

namun menurut terkaan saya masalahnya tetap terbuka)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Praktek Indonesia dalam pembuatan PI dengan negara-negara lain sangat inkonsisten. Praktek internasional termasuk Indonesia juga ditandai dengan maraknya pembuatan perjanjian internasional oleh lembaga di luar eksektif seperti MA. Perkembangan hukum perjanjian internasional juga ditandai dengan adanya perbedaan praktek Negara mengenai nomenclature MoU. Untuk kebutuhan praktis. Adanya pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktek beberapa Negara akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. khususnya pada Negara-negara common law system yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. Pandangan para negotiators selalu terjebak pada mind setting bahwa MOU lebih rendah dari agreement dan agreement lebih rendah dari Treaty. Masalah ini sayang sekali terlalu luas (dan spekulatif) untuk dijadikan objek catatan singkat. (Masalah tersebut pernah saya bahas sebagai judul pidato inaugurasi saya pada tahun 1990.Yang dimaksudkan yalah apakah penggunaan istilah tertentu berakibat berbeda dalam bidang keberlakuan hukumnya. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti khususnya tentang implikasinya dalam hukum nasional. melainkan soal usaha politik antar-negara untuk menghindari keterikatan pada kewajiban hukum tanpa mengaku maksud tersebut. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya mengikat seperti treaties. Gejala ini telah memicu pertanyaan yang bersifat akademis yaitu apakah dewasa ini pemerintah suatu negara yang selama ini dikenal sebagai pemangku fungsi representation of states tidak lagi menjadi lembaga tunggal untuk membuat perjanjian internasional? . Ada praktek Negara. 24. Bagaimanapun persoalan ini sekali-kali tidak semata-mata soal nomenclatur. sayang sekali dalam bahasa Belanda: “De verplichting in het volkenrecht” [Kewajiban dalam hukum internasional] . APAKAH LEMBAGA NEGARA DI LUAR EKSEKUTIF DAPAT MEMBUAT PERJANJIAN INTERNASIONAL? 26. Pustaka mengenai masalah ini pasti telah banyak berkembang sejak saat itu. BPK dan DPR. 25. Dinamika dalam masalah nomenclature ini menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dunia praktisi tentang apakah diperlukan adanya tingkat hirarki perjanjian internasional berdasarkan namanya. Petunjuk utama jika menghadapi persoalan bersangkutan yalah tafsiran segala faktor yang memain peranan dalam terjadinya “perjanjian” bersangkutan. 23.

Mereka mengklaim tidak perlu memperoleh kuasa dari pemerintah. Yang berbeda dari kebiasaan hanya pejabat pelaksananya. Swan Sik: . maka kemudian muncul pertanyaan tentang lembaga full powers. dan sekali-kali bukannya alat(-alat) perlengkapannya. Hasilnya yang dituju tetap suatu PI. Swan Sik: Bagi HI yang menentukan yalah apakah ada suatu PI. artinya perjanjian antara subjek2 internasional bersangkutan. Namun ASEAN Charter tidak secara rinci mengatur mengenai treaty making power of ASEAN. Treaty making power merupakan salah satu isu dasar yang lazim diatur dalam konstitusi setiap organisasi internasional sebagai bagian dari paragraf tentang external relations. Adanya pembagian kekuasaan negara yang semakin ketat di Indonesia menimbulkan implikasi bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga non-eksekutif bukan merupakan urusan eksekutif sehingga perjanjian yang dibuat oleh mereka bukan tanggung jawab eksekutif. tidak ada halangan terhadap praktek demikian. ASEAN telah memiliki konstitusi barunya (ASEAN Charter) yang akan memberikan landasan hukum bagi aktivitas ASEAN baik dari segi internal maupun eksternal.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Secara traditional. Dalam HN. Dalam hal ini. dan hanya mengindikasikan bahwa masalah ini akan diatur lebih lanjut dalam perangkat implementasi. apakah Menlu lazim mengeluarkan full powers kepada lembagai non-eksekutif? ASEAN’S TREATY MAKING POWER 28. yalah apakah sifat (PI atau tidak) dan apakah akibat hukum (menurut tata hukum mana) dari perjanjian2 yang kadang-kadang diadakan antara lembaga dan alat perlengkapan badan2 hukum tingkat rendahan (contoh: antara kota-kota) dari negara berbeda. biasa negara.  Komentar Prof. Kenapa pertanyaan full power muncul? Karena non-ekeskutif tidak mengakui Menteri Luar Negeri sebagai bagian dari eksekutif mengeluarkan full power bagi mereka. Begitu pula pertanyaan tentang full powers kelihatannya tidak relevan benar (lihat dibawah catatan atas ayat 32/37). Sejauh pimpinan negara mengizinkan lembaga2 kenegaraan lain daripada Eksekutif mengadakan PI dan sejauh fihak lainnya menerimanya. Komentar Prof. eksekutif adalah the legitimate representive of states. Perjanjian ini diberi nama “administrative agreements”. Aspek lain yang kelihatannya kadang-kadang menimbulkan pertanyaan dalam kepustakaan yang tidak jelas terjawab. Seiring dengan maraknya perjanjian internasional oleh lembaga non-eksekutif. kedudukan Menlu sebagai pejabat khas dalam hukum internasional tidak dikenal 27.

Dalam hal adanya keperluan ratifikasi.[Catatan ini dibuat tanpa penelitian data perjanjian di ASEAN Documents Series] Pembuatan perjanjian dengan fihak ketiga yang dilakukan (ditandatangani) oleh Sekretariat/Sekjen atau “pejabat salah-satu anggauta” dapat (1) tegas atas nama ASEAN. . Dalam konstruksi seperti digambarkan diatas fihak lain itu percaya. Pengeluaran Surat Kuasa Resmi (Full Powers) adalah untuk kepentingan fihak lainnya (counterpart) dalam perjanjian agar fihak ini memperoleh kepastian bahwa si wakil RI bersangkutan memang “disuruh” RI dan perbuatannya memang di”tanggung” RI. DPR tidak “mengesahkan perbuatan hukum oleh subjek hukum internasional lain” melainkan mengesahkan perbuatan yang bersifat perbuatan hukum RI berdasarkan pemberian wewenang (“surat kuasa”) tersebut tadi. Pemberian wewenang demikian tidak selalu ternyata dari naskah yang diumumkan. Dalam EU dikenal adanya Mix Agreements. Permasalahannya adalah. para negara yang berdaulat berkuasa penuh untuk “memberi kuasa” kepada subyek hukum lain. dimana negara anggota akan turut membubuhkan tanda tangan jika bagian dari perjanjian dengan EU tersebut adalah wewenang negara anggota. Apakah full powers oleh negara itu kepada Sekretaris Jenderal ASEAN adalah full powers yang dimaksud oleh Vienna Convnetion 1969? 2. sehingga soal full powers tidak timbul. menerima dan mengaku (recognition!!) wewenang Sekretariat ASEAN. dapatkan dilakukan tanpa melalui consent dari Sekretaris Jenderal ASEAN? . atau (2) berdasarkan pemberian wewenang khusus oleh para negara anggauta secara insidental. Dari sudut HI tiada halangan apapun (ayat 37) terhadap acara demikian. atau (2) tegas atas nama para negara anggauta. atau (3) tanpa ketegasan demikian. Selanjutnya tindakan tersebut dapat (1) berdasarkan suatu ketentuan khusus dalam naskah “anggaran dasar” ASEAN.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Treaty making power of ASEAN telah menjadi persoalan dalam praktek ASEAN dalam membuat perjanjian. European Union yang sudah demikian terintegrasi tidak pernah suatu negara anggota memberi mandate kepada Presiden Komisi untuk bertindak atas nama negara tersebut mengikatkan diri dengan pihak lain. Saya telah membuat catatan khusus tentang issue ini yang akan saya sampaikan secara terpisah. Apa yang dilakukan oleh ASEAN adalah hanya untuk kebutuhan praktis. Praktek ASEAN dalam hal ini tidak didasarkan pada prinsip hukum perjanjian internasional bahwa “consent to be bound” harus dinyatakan oleh negara itu sendiri. Pertanyaan yang muncul jika Sekjen ASEAN menandatangani PI atas nama negara anggota adalah: 1. Jika negara itu ingin “terminate atau amandement perjanjian itu.

Hal ini tercermin dari participation clause-nya serta pihak yang menandatangani perjanjian dimaksud yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN secara individual seperti pada the Cooperation Agreement between the Member Countries of ASEAN and the EEC. yang terlepas dari Negara anggotanya. dapatkah subjek hukum internasional lain melakukan tindakan express to be bound by a treaty atas nama subjek hukum internasional lainnya? Jika perjanjian tersebut memerlukan ratifikasi. Dilain pihak. ASEAN juga telah membuat berbagai perjanjian dalam kedudukannya sebagai a distinct subject separated from its members yang biasanya menggunakan istilah ASEAN Secretariat. Hubungan antara ASEAN sebagai subjek hukum internasional (biasanya ASEAN Secretariat) dengan pihak ketiga. ASEAN sebagai collective members telah banyak membuat perjanjian dengan negara/organisasi internasional lain. 33. dapatkah DPR mengesahkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum internasional lain? Jika perjanjian itu membutuhkan full power apakah lazim Menteri Luar Negeri memberikan full power kepada subjek asing? Jika negara anggota ingin menarik diri dari perjanjian semacam ini. 32. Sekalipun judul perjanjian itu menggunakan isitilah ASEAN namun pada hakekatnya perjanjian dimaksud adalah perjanjian antara negaranegara anggota secara individu dengan organisasi/negara ketiga (perjanjian multilateral). Sedangkan EEC. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa materi yang diperjanjikan bukan merupakan ruang lingkup atau wewenang ASEAN sebagai suatu organisasi yang berdiri sendiri namun terletak pada negara-negara anggotanya. yaitu Perjanjian dengan Pihak Ketiga yang mengikat seluruh Negara anggota ASEAN tetapi ditandatangani oleh oleh Sekjen ASEAN/Pejabat salah satu anggota untuk dan atas nama Negara-negara anggota. Dalam perjanjian ini yang membuat perjanjian dengan EEC adalah setiap dan semua negara anggota dan bukan ASEAN sebagai a distinct subject separated from its members. dapatkah dilakukan sendiri tanpa melalui Sekjen ASEAN? . Praktek ASEAN dalam hubungan eksternalnya sudah sangat intensif dan dapat dibedakan atas dua perspektif: a. Hubungan antara seluruh anggota ASEAN dengan pihak ketiga dimana status negara anggota adalah sebagai subjek hukum internasional yang berdiri sendiri. b. 30. 7 March 1980. Dalam kaitan ini. dalam kaitannya dengan ASEAN sebagai subjek hukum internasional. Kedudukan ASEAN dalam kaitan ini adalah sebagai organisasi internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional oleh Organisasi Internasional. Penandatanganan oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota terhadap perjanjian menimbulkan beberapa pertanyaan akademis tentang kekuatan mengikat perjanjian tersebut terhadap negara anggota. Namun demikian. praktek ASEAN juga menunjukkan adanya beberapa perjanjian yang tampaknya agak menyimpang dari prinsip hukum umum yang berlaku. Istilah ASEAN dalam hal ini hanya digunakan untuk merujuk setiap Negara anggota sebagai collective members.29. bertindak sebagai organisasi internasional as a distinct subject separated from its members 31.

Menurut faham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Nasional. . termasuk didalamnya Perjanjian Internasional.” Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Hukum Diplomatik. Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah dibandingkan dengan Hukum Internasional. yang ada kaitannya dengan Hukum Internasional. Sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No. MOHD. Sekarang Indonesia mempunyai Undang-Undang mengenai Perjanjian Internasional yakni Undang-Undang No. Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan 1945. Hukum Internasional merupakan Hukum Nasional untuk “Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Namun secara logika paham dualisme akan mengutamakan Hukum Nasional dan mengabaikan Hukum Internasional. BURHAN TSANI. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Hukum Nasional tunduk pada Hukum Internasional dalam arti Hukum Nasional harus sesuai dengan Hukum Internasional. Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan berbagai Perjanjian Internasional. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. Hal ini mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian Internasional di ranah Hukum Nasional.PROF. SH. yang juga masih berupa Hukum Kebiasaan Internasional. UUD 1945 tidak mencantumkan satu pasal pun yang mengatur status tersebut. Berdasarkan paham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Internasional. Indonesia menetapkan bahwa Presiden mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan menerima duta dan konsul. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional juga tidak mencantumkan pasal tersendiri yang mengatur status tersebut. urusan luar negeri. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Menurut paham dualisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. yang tunduk pada Hukum Internasional. 1973. MH. 24 Tahun 2000. STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA) Pengantar Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak mudah untuk menemukan kaidah hukum yang mengatur tentang status Hukum Internasional dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional RI.. Pengutamaan mungkin pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Berdasarkan paham monisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan bagian yang saling berkaitan dari satu sistem hukum pada umumnya. mengatur mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan pengangkatan serta penerimaan duta dalam ranah Hukum Nasional. Pada tahun 1969. Indonesia menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Presiden. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Hakekat Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Nasional. Negara akan mengutamakan Hukum Internasional atau Hukum Nasional? Permasalahan pengutamaan dapat diselesaikan dengan menggunakan paham (teori) dalam hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. sudah mengadakan interaksi dengan Negara maupun Organisasi Internasional. dan bagaimana Indonesia menerapkan Hukum Internasional. 1963. Hukum Internasional merupakan kelanjutan Hukum Nasional. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. paham ini cenderung mengabaikan Hukum Internasional. seperti Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang No. 1975 dan 1979. Undangundang yang berkaitan dengan Hukum Internasional. Permasalahan yang mungkin masih relevan untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan dan bahkan pertentangan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang benar-benar terpisah. DR. 1969. Pasal 11 dan 13 UUD 1945. 1978 dan 1986. Dikenal ada dua paham yaitu dualisme dan monisme. Hukum tentang hubungan diplomatik dan konsuler dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru tahun 1961.

Pengesahan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Hal ini tercermin dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang Terorisme Bonn. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi Hukum Nasional. Prosedur yang dilaksanakan merupakan bagian dari keseluruhan proses pembuatan Perjanjian Internasional yang bersangkutan. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Dalam praktek pilihan pengutamaan pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Dalam penerapan PerjanjianPerjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi. Indonesia secara diamdiam menerima bahwa perjanjian yang bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum Nasional. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Indonesia dapat dianggap ingin menggunakan teori transformasi. yang diperlukan prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. Ratifikasi merupakan bagian prosedur pembentukan Hukum Internasional yang dituangkan dalam perjanjian yang bersangkutan. 2. bahwa aturanaturan Hukum Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum Nasional. Syarat-syarat konstitusional hukum nasional hanya merupakan bagian dari satu kesatuan mekanisme penciptaan (pembuatan) hukum. Indonesia menganut paham monisme. Nampaknya Indonesia cenderung menggunakan teori delegasi. cara bagaimana ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional. Berdasarkan praktek. Yang dilakukan hanya merupakan kelanjutan (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan yang tunggal. Perjanjian Internasional yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah aslinya. yaitu teori transformasi dan teori delegasi. yang dimulai dengan penutupan (persetujuan) suatu Perjanjian Internasional. Indonesia belum pernah membuat perundang-undangan yang mengatur substansi perjanjian yang telah ditandatangani. dan secara struktur merupakan sistem hukum yang berbeda. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Bertumpu pada pengakuan Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional.Dimungkinkan ada monisme yang menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar dengan Hukum Internasional. Teori ini berlaku untuk penerapan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Indonesia cenderung pada monisme dengan pengutamaan Hukum Internasional. Indonesia nampak tidak sepenuhnya menggunakan teori transformasi. yang secara tersendiri menentukan sikap Indonesia. Teori transformasi mendasarkan diri pada pendapat pandangan positivis. Prosedur dan metode yang digunakan Negara merupakan suatu kelanjutan proses. Pasal 2 instrumen pengesahan telah menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang bersangkutan dalam Hukum Nasional Indonesia. Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian Internasional yang berlakunya memerlukan ratifikasi. Dalam penerapan Hukum Internasional. Hukum Internasional tidak mewajibkan bahwa suatu Negara harus menganut paham dualisme atau monisme. delegasi. Sebaliknya bagi pandangan yang simpatik pada Internasionalisme. Berdasarkan teori transformasi. secara formal dan substantif. ditentukan oleh preferensi etnis atau preferensi politis. Hukum Internasional yang bersumber dari Perjanjian Internasional dapat diterapkan di dalam Hukum Nasional apabila sudah dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Nasional. . Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan sistem hukum yang benar-benar terpisah. hak untuk menentukan: 1. akan mengutamakan Hukum Internasional. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Hubungan antara keduanya saling melengkapi. Pengesahan yang dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia. Untuk dapat diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. Menurut teori inkorporasi Hukum Internasional dapat diterapkan dalam Hukum Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang yang ada sekarang. akan mengutamakan Hukum Nasional. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimanakah penerapan Hukum Internasional dalam ranah Hukum Nasional Indonesia. Bagi pandangan yang mempunyai sikap politis nasionalis. belum ada ketentuan (pasal). yang bersumber dari Perjanjian Internasional ada dua teori. Tidak ada transformasi. bukan dalam bentuk perundang-undangan formal mengenai substansi perjanjian yang bersangkutan. Menurut teori delegasi. merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Nasional untuk memperoleh instrumen ratifikasi. yaitu teori transformasi. kapan ketentuan Perjanjian Internasional berlaku dalam Hukum Nasional. Tidak ada penciptaan (pembuatan) aturan hukum atau Hukum Nasional yang benar-benar baru. Mengenai hal ini ada beberapa teori yang dikenal dalam Hukum Internasional. Akan tetapi perjanjian yang disahkan dilampirkan begitu saja seperti aslinya. aturan-aturan konstitusional Hukum Internasional mendelegasikan kepada masingmasing konstitusi Negara. dan inkorporasi. Demikian juga sebaliknya. Hukum Internasional dianggap sudah menyatu ke dalam Hukum Nasional. Untuk sepenuhnya menggunakan teori transformasi perlu dilampirkan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi yang termuat dalam perjanjian yang bersangkutan.

. PROF. Penutup Praktek-praktek yang tidak ajeg dan simpang siur yang mengakibatkan permasalahan perlu diluruskan. MOHD. Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. BURHAN TSANI. MH. SH. . DR. Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Apabila Indonesia sudah menjadi Negara pihak.Keterikatan Indonesia pada Perjanjian Internasional yang bersangkutan. dilandaskan pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. Indonesia wajib melaksanakannya dengan itikad baik dan melakukan penyesuaian perundang-undangannya dengan Perjanjian Internasional yang sudah berlaku secara definitif. Hasil pelurusan dirumuskan dengan baik dan disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada semua pengelola Negara dan Warga Negara.

Diantaranya. berlakunya hukum dalam batas-batas suatu tata hukum tertentu menampilkan pertanyaan tentang keterbatasan ruang lingkup daya hukum yang terkait pada kesepakatan. apalagi mencoba menyajikan pemecahan persoalan demikian. artinya membebaninya dengan akibat-akibat (hukum) tertentu tanpa persetujuannya. Istilah “perjanjian” menggambarkan adanya kesepakatan antara anggota masyarakat tentang suatu keadaan yang mereka inginkan. yang mencerminkan hasrat mereka.BEBERAPA ASPEK KENISBIAN DAN INTERNASIONAL Oleh Ko Swan Sik* KESAMARAN PERJANJIAN * Penulis adalah mantan Guru Besar Erasmus Universiteit Rotterdam (19881996). pendiri Foundation for the Development of International Law in Asia dan anggota Instituut de Droit International. Uraian singkat ini cukup mutlak dan terang bunyinya. sesuai dengan seruan azas terkenal dalam bahasa asing kuno: pacta sunt servanda1. maka tata hukum “menghukum”nya. tata hukum mengenal Pacta sunt servanda merupakan adagium dari Bahasa Latin yang pada umumnya ditafisrkan sebagai “perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya”. Demikianlah bunyi Pasal 1338 KUHPer (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) lama (sejauh kitab undang-undang ini masih kita akui sebagai sumber hukum berlaku). berarti bahwa isi kesepakatan itu dijadikan hak dan kewajiban para pihaknya yang berunsur khusus sebagai berikut: apabila si pengemban kewajibannya tidak memenuhi kewajibannya. maka tata hukum yang berlaku di masyarakat bersangkutan memberi kekuatan hukum padanya dengan menetapkan perjanjian itu setaraf dengan undang-undang. Kenisbian lain yaitu ketergantungan keabsahan perjanjian dari kedudukan para pelakunya sebagai subyek hukum 1 tata hukum bersangkutan. Penetapan kesepakatan sebagai perjanjian dalam arti huku. Apabila kesepakatan ini tercapai dan disertai kesungguhan para pihak. tetapi tidak mencukupi sebagai penjelasan konsep perjanjian. . tulisan ini semata-mata merupakan renungan tentang berbagai ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari. dan bersumber pada pengertian perjanjian internasional (PI). Sebaliknya. Penulis juga tidak bermaksud mencoba menyajikan risalah teori hukum apapun. dan yang memuat tekad mereka untuk bertindak kearah keinginan dan sesuai dengan hasrat tersebut. Guna lebih jelas lihat Black Law’s Dictionary. melainkan kadang-kadang juga menunjukkan sifat nisbi berbagai pengertian dan azas sekitar PI. Ternyata berbagai kenisbian dan kesamaran melekat padanya. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tidak hanya melekat karena kekurang jelasannya. ditambah syarat kewenangan pelaku tersebut untuk mengadakan perjanjian yang berkekuatan hukum. Disamping itu. Pengantar Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan analisa persoalan hukum tertentu (spesifik/ kongkrit).

Sifat Normatif Hukum dan Sangkalannya Tadi telah pernah disebut Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina 1969.pembatasan-pembatasan mengenai pokok persoalan (“obyek”) perjanjian. tampillah pengertian dan istilah “perjanjian internasional”. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation. yaitu istilah “publik”.. yang kata sifatnya “internasional” tidak berarti tunggal. Patut kiranya disini ditambah sekedar catatan sampingan tentang pemakaian istilah lain yang adakalanya terlihat dalam hubungan ini.”. Kenisbian tersebut terdapat juga di bidang PI yang merupakan golongan khusus dari pengertian perjanjian yang lebih luas.3 Kita dapat (meskipun syukur jarang terjadi) menambah kerumitan di lapangan PI golongan belakangan ini apabila tidak hanya obyek perjanjiannya melintas-batas. Ini berarti bahwa sekalipun kita jelas menghadapi perjanjian antar negara. Kata “internasional” pertama digunakan untuk merujuk pada perjanjian antara para aktor yang bertindak selaku subyek hukum internasional (HI) dan oleh karena itu khusus berlaku dalam lingkungan HI.. pembatasan mana biasanya bersangkut paut dengan sendi-sendi kemayarakatan bersangkutan. namun bagaimanakah kita dapat tetapkan bahwa suatu perjanjian yang kita hadapi itu memang “governed by international law” seperti yang disyaratkan Pasal 2 ayat 1 (a) Konvensi Wina 1969 2 tentang Hukum Perjanjian Internasional? Ada kalanya yang kita maksudkan dengan istilah PI adalah perjanjian yang para pihaknya bertindak dalam lingkungan hukum nasional (HN) (tanpa mempedulikan apakah mereka itu asal mulanya diciptakan sebagai subyek HI ataupun sebagai subyek HN) tapi dengan mata perjanjian yang bersifat lintas batas suatu negara dan oleh karena itu disebut “internasional”. Ternyata bahwa yang menjadi buah aturan Konvensi adalah “perjanjian internasional yang diadakan antara negara . hal mana kita ingat betul dari setiap permulaan tahun kuliah apabila kita mencoba menerangkan kepada para mahasiswa hakekat mata pelajaran yang mereka ikuti.. .. “Internasional” Terhadap latar belakang tersebut di atas. dan yang dikuasai oleh hukum internasional . ketika kita menitikberatkan keperluan menentukan apakah yang kita hadapi itu benar perjanjian yang dikuasai Hukum Internasional. Mungkinkah si perancang naskah undang-undang tersebut terjebak kekhilafan yang tersirat dalam penggunaan istilah “hukum internasional publik” sebagai “lawan” “hukum perdata internasional”? Di lingkungan (hukum) internasional (atau “dalam rangka tata hukum internasional”) yang tidak mengenal hubungan antara subyek-penguasa dan subyek yang tunduk pada kekuasaan. yang sudah 2 memenuhi syarat-syarat yang menurut perkiraan kita menjadikannya Perjanjian 3 Pasal 2 ayat (1) ini berbunyi: 1. pertentangan (hukum) antara publik – perdata sebenarnya tidak berlaku (tidak dapat diterapkan). Marilah kini kita meneliti beberapa kenisbian dan kesamaran khusus mengenai PI. seperti kini juga terdapat di Pasal 1 judul (3) UU 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. tetapi para pihaknya pun masing-masing bertindak dari lingkungan HN berbeda. For the purpose of the present Convention: (a) ‘treaty’ means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law. Sebagai contoh patut diajukan pertanyaan apakah ada perbedaan hukum antara PI tentang pinjaman uang antar-negara dan PI tentang persekutuan militer. Meskipun kelihatannya cukup jelas. Sesuai tafsiran undangan Editor jurnal ini. tulisan ini hanya akan mencurahkan perhatian kepada perjanjian golongan pertama dan kenisbian dan kesamaran yang melekat padanya. Kita tahu bahwa keragu-raguan itu bukan akibat kurang jelasnya pencipta pengertian. melainkan akibat pemakaian perkataan dalam arti kata berganda.

dimana kelakuan belakangan ini merupakan “cogent motive for action” pihak pertama. Dalam perbincangan tentang hubungan-hubungan internasional. sistem-sistem ini semuanya ditujukan kepada pribadi manusia dan tidak mengenal kaidah-kaidah pelaksanaan untuk memberlakukannya dan menerapkannya pada hubungan antar negara. yang dapat dikuasai oleh “sesuatu” yang lain (bukan HN) daripada HI. tanpa perhatian. Memang. dapatlah kita bertolak dari anggapan bahwa Konvensi tersebut khusus mengacu pada perjanjian di lingkungan internasional.Internasional asli. Soalnya ialah bahwa hingga kini belum ada uraian yang memberi penjelasan memuaskan tentang bagimana sebenarnya isi sistem normatif politik demikian itu dan sejauh mana sistem tersebut berbeda dari sistem hukum. adat istiadat. tidak mustahil pihak yang dikecewakan membalas dengan menuntut apa yang diharapkan dan bahkan menuntut ganti kerugian. di lingkungan internasional. Namun. Contoh tersohor perjanjian yang kadar hukumnya terang-terangan disangkal adalah Akta Terakhir Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Helsinki Final Act 1975) yang meliputi negaranegara Eropa Barat maupun Eropa Timur termasuk Uni Soviet dan Amerika Serikat dan Kanada (yang hingga kini masih berlaku di negara-negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Sentral yang . dan moralitas. Apabila dalam keadaan demikian kelakuan pihak yang satu itu ternyata tidak terjadi. Sehingga timbullah pertanyaan apakah kiranya ada “sistem politik” yang bersifat normatif dan menguasai kelakukan dan yang merupakan alternatif di samping sistem hukum. Kadang-kadang disebut sistem “kesopanan kemasyarakatan” yang menguasai hubungan-hubungan internasional. Sistem apakah yang kita dapat bayangkan di sini? Istilah “dikuasai” di anak kalimat tersebut tentu berarti “dikuasai” sistem (hukum internasional) yang mengaitkan ciri normatif kepada kesepakatan antara para pihak perjanjian. hal-hal yang mengenai perjanjian di lingkungan HN. maksud tujuannya dan konteks pembuatannya. Hal mana berarti bahwa satu-satunya dugaan tentang maksud dan arti anak kalimat tadi yang masuk akal adalah bahwa si perancang membayangkan kemungkinan adanya perjanjian antar negara. misalnya agama. dan dalam hubungan ini kadang-kadang terdengar pula istilah “perjanjian tidak mengikat” (“non-binding agreements”) yang agak aneh bunyinya dan biasanya dimaksudkan sebagai “perjanjian yang tidak mengikat dari sudut hukum” (legally non-binding agreements). satu dan lain menurut kehendak dan pilihan para pihak tersebut. bertentangan dengan apa yang diharapkan. akan tetapi sistem demikian hanya mengacu pada bentuk dan tata cara kelakuan dan tidak bersangkut-paut dengan sifat normatif dari hak/kewajiban yang termuat dalam perjanjian bersangkutan. kadang terdengar istilah “perjanjian politik” untuk membedakannya dari perjanjian yang dikuasai hukum. kita masih juga perlu memeriksa apakah benar “dikuasai Hukum Internasional”. Kita dapat bayangkan berbagai sistem normatif yang berlaku bagi kelakuan manusia selain sistem hukum. Apakah makna anak kalimat ini? Mengingat sifatnya. semua ini tanpa melalui ataupun berdasarkan alasan hukum. kadang-kadang kita menghadapi perjanjian-perjanjian antar negara yang dianggap tidak memuat kewajiban hukum melainkan “hanya memuat kewajiban politik”. Memang ilmu politik mengenal dan memperhatikan keadaan dimana kelakuan tertentu pihak yang satu dapat diduga dan diharapkan sebagai akibat kelakuan tertentu pihak yang lain. bahkan mengenyampingkan.

Akta Helsinki memuat ketentuan yang memohon si Tuan Rumah (Finlandia) untuk “transmit to the Secretary-General of the United Nations the text of this Final Act (untuk disosialisasikan di antara negara anggota PBB) which is not eligible for registration under Article 102 of the Charter of the United Nations. Lembaga inipun belum sanggup menyajikan jawaban yang memuaskan. Terlihat disini fenomena hukum “pincang” yang “tidak sempurna”. memuat aturan penegakan hak-hak yang diakui (“without legal remedies”). berarti bahwa bentuk PI tidak ada relevansinya bagi HI dan tidak mempengaruhi kadar hukum 4 5 Ketentuan Pasal 102 ini berbunyi : 1. Lihat Annuaire de l’Institut de droit international jilid 60-I (persidangan Cambridge. walaupun mungkin tetap perlu dibedakan dari. Sumber Hak dan Kewajiban dan Sangkalannya Dalam menetapkan perjanjian-perjanjian mana yang dikuasai olehnya. perlu dibedakan dari naskah-naskah yang disepakati oleh para pihak namun yang jelas tidak dimaksudkan sebagai sumber hak/kewajiban melainkan sematamata sebagai rumusan pendirian dan tekad masing-masing (yang “kebetulan” sesuai) mengenai hal tertentu. ini mengacu pada tidak tercapainya kesepakatan. “Sesuai dengan” peraturan ini. Akan tetapi. yang tidak. dan bahkan memutuskan pada 1983 untuk menangguhkan penyelidikannya sambil menunggu perkembangan-perkembangan yang membawa bahan-bahan baru. bukan kesamaran perjanjian. 2. Latar belakang cara yang dipakai ini ialah Pasal 102 Piagam PBB 4 yang mewajibkan setiap PI yang diikutsertai negara anggota untuk didaftarkan pada Sekretariat untuk keperluan penerbitannya (di UN Treaty Series). Ketentuan ini. setidak-tidaknya belum. Every treaty and every international agreement entered into by any Member of the United Nations after the present Charter comes into force shall as soon as possible be registered with the Secretariat and published by it. Kenisbian dan kesamaran yang penulis sebut disini dan yang kadang agak kurang tepat diberi nama “hukum lemah” (soft law). kadangkadang mengenai perbaikan kedudukan manusia pribadi di pelbagai lapangan. Negara-negara Barat menitikberatkan bahwa Akta tersebut bukan PI yang mengikat menurut hukum. 1983) .5 Pokok persoalan fenomena tersebut. Konvensi Wina dalam Pasal 2 ayat 1 judul (a) dengan tegas menyatakan bahwa PI dapat saja termuat dalam satu atau lebih dari satu dokumen dan dapat saja diberi nama apapun. yang boleh dikatakan mencerminkan anggapan umum dan dengan demikian dapat dianggap berlaku sebagai HI umum. mirip dengan. yang mengenai kewajiban kelakuan yang unsur hukumnya disangkal. Persoalan kewajiban perjanjian yang tidak berkadar hukum ini bahkan pernah dijadikan judul penelitian di kalangan Institut Hukum Internasional (Instituut de Droit Internasional) di tahuntahun 1970an dan 1980an. No party to any such treaty or international agreement which has not been registered in accordance with the provisions of paragraph I of this Article may invoke that treaty or agreement before any organ of the United Nations. as would be the case were it a matter of a treaty or international agreement under the aforesaid Article”. Keraguan tentu sangat menyolok apabila para peserta berbeda pendapat tentang maksud naskah mereka.sama sekali bukan merupakan bagian dari Eropa). Hal ini ditegaskan secara agak aneh namun jelas. fenomena usaha-usaha “perundang-undangan internasional” dalam bentuk perjanjian-perjanjian multilateral.

tanpa tersiratnya janji yang bersifat hukum. apalagi jika disertai acara-acara klasik seperti syarat ratifikasi (persetujuan keterikatan) dan/atau kesepakatan untuk mendaftarkannya di Sekretariat PBB sesuai Pasal 102 maka kesamaran tentang maksud para pihak boleh dikatakan dapat tercegah. Meskipun harus diakui bahwa naskah Deklarasi tersebut memang kurang sesuai dengan bentuk lazim naskah pendirian organisasi. Sebaliknya. ada kalanya dipilih bentuk “Communiqué” yang sebenarnya berarti tidak lebih daripada “penerangan khalayak ramai tentang sesuatu yang terjadi”. naskah yang disepakati dapat dimaksudkan sebagai pernyataan penetapan tekad para pihak tentang kelakuan mereka di masa yang akan datang. “Pernyataan Bersama” (joint statement). tentang (biasanya hanya sebagian dari) apa yang diperbincangkan antara para pihak dan hasil kesepakatannya. hal ini tidak berarti bahwa nama yang diberikan kepada naskah dan rumusan pengertian-pengertian dan istilah yang dipakai dalam naskah tidak penting. Tanpa menerangkan alasan-alasan apakah yang menyebabkan kecondongan tersebut. seperti kata “treaty” dalam bahasa Inggris. Tapi bentuk dan acara demikian tidak merupakan syarat untuk menegaskan sifat hukum isinya. Apabila naskah diberi nama menurut kebiasaan tradisional di bidang PI. . Tidak termuatnya ciri-ciri terkenal demikian sama sekali tidak membenarkan kesimpulan bahwa para pihak tidak menghendaki dokumen kesepakatan mereka merupakan sumber hak/kewajiban hukum. kiranya penyangkalan unsur keterikatan dalam comtoh ini patut dipertanyakan. Ada kalanya naskah dimaksudkan sebagai penetapan hak / kewajiban masing-masing dengan kekuatan hukum. Alternatif selanjutnya ialah pengumuman belaka.isinya. Kadar Hak dan Kewajiban Sangkalan kadar hukum yang merupakan pokok persoalan di atas tadi tidak dapat disamakan dan tidak boleh dicampuradukkan dengan gejala lain. Sebagai contoh yang cukup ekstrim. pertukaran surat. 6 Tidak lama berselang Edy Prasetyono (CSIS) dilaporkan (Hukum Online 11 Juni 2006) pernah mengutarakan pendiriannya bahwasanya dokumen kesepakatan yang melahirkan organisasi ASEAN tidak mengikat. Tadi kita telah menjumpai fenomena perjanjian dengan hak/kewajibannya yang dikuasai sistem normatif yang tidak bersifat hukum atau suatu “sistem pengharapan” berdasarkan tindakan timbal balik. Tadi telah disebut istilah “Communiqué”. namun dipakai sebagai sumber hak dan kewajiban. yaitu keanekaragaman jenis (hak dan) kewajiban yang kadar hukumnya tidak diragukan. Demikianlah tafsiran yang selayaknya diberi kepada istilah “treaties in simplified form” yang kita kenal dari praktek diplomasi dan yang dapat berbentuk. misalnya. meskipun “Pernyataan Bersama” kadang-kadang lebih disukai. makna kebebasan bentuk yang diakui Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina. antara lain. bagaimanapun resmi dan mulia sifatnya. suatu naskah sebagai hasil komunikasi (secara bagaimanapun) antara para pihak dapat saja dibuat dengan tujuan berlainan. Ia menitikberatkan bahwa hubungan strategis tidak mengharuskan pengaturannya dalam perjanjian resmi melainkan cukup diatur dalam bentuk pertukaran surat atau dalam suatu Memorandum of Understanding.6 Pembuatan naskah sebagai hasil perundingan dapat mengacu ke berbagai tujuan. Disamping itu. Inilah. Akan tetapi. bahkan “Nota Kesepahaman” (memorandum of understanding). Beliau mengaitkan pandangan ini dengan kebijakan para pihak bersangkutan untuk ‘hanya menggunakan’ nama ‘Deklarasi Bangkok 1967 ‘. Contoh lain ialah kabar tentang wawancara dengan Presiden AS pada bulan April 2005 tentang hubungan AS dengan Afghanistan setelah pemilihan presiden di negeri itu. oleh karena nama dan rumusan itu merupakan sumber interpretasi tentang maksud para pihak dan makna dokumen bersangkutan mengenai hak dan kewajiban masing-masing.

Tadi telah kita bertemu dengan istilah “hukum lemah” yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat kewajiban yang tidak jelas apakah memang dimaksudkan sebagai kewajiban hukum.7 Meskipun demikian. versi 1996. Kami mencatat disana bahwa penggunaan istilah dalam rangka itu rasanya kurang tepat oleh karena kesamaran disana mengenai batas antara hukum dan bukan-hukum. untuk mencoba mencapai sesuatu. Dalam hal demikian.Pengertian sempurna tentang hakekat suatu kewajiban hukum merupakan syarat penting untuk dapat menetapkan apakah kewajiban itu dapat dinilai telah dipenuhi atau justru dilanggar. Oleh karena itu. Itulah sebabnya perhatian yang cukup besar dicurahkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB kepada penggolongan dan pembedaan antara berbagai jenis kewajiban hukum selama sebagian besar waktu perencanaan naskah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan negara melawan hukum. Istilah “hukum lemah” kiranya lebih tepat untuk menggambarkan kewajiban yang diakui sifat hukumnya namun memberi kelonggaran demikian banyaknya sehingga sukar menentukan garis batas antara memenuhi dan melanggar kewajiban. Dalam golongan kewajiban untuk melakukan sesuatu (obligation of conduct). Sebaliknya. Draft Articles on State Responsibility. seperti memilih bermacam nama yang menghindari kata perjanjian. Antara kewajiban-kewajiban kita dapat membedakan kewajiban yang “keras” dan yang “lunak”. tetap terdapat cukup banyak gejala dalam praktek PI yang menimbulkan pelbagai pertanyaan tentang kelakuan dan tindakan ataupun hasil usaha yang merupakan isi sebenarnya kewajiban bersangkutan. misalnya. sesuai dengan kemampuan si pengemban kewajiban. Kita dapat saja mengira bahwa kesamaran demikian tidak dapat timbul dalam hak kewajiban untuk mencapai suatu hasil usaha tertentu (kewajiban hasil usaha/obligation of result). . kita perlu mencurahkan perhatian khusus kepada soal kejelasan atau sebaliknya kesamaran yang kadang-kadang melekat pada rumusan suatu kewajiban. misalnya. sehingga timbullah keraguan cukup mendalam tentang dimana letak sebenarnya garis batas antara pelaksanaan dan pelanggarannya. Ada sebagian peneliti yang mencari sebab kebijakan demikian di bidang adat-istiadat di bagianbagian dunia yang segan menitikberatkan secara tajam hak dan kewajiban masing-masing pihak. hal mana penulis sangsikan. dengan mempertimbangkan keadaan menurut penilaian si pengemban kewajiban. apalagi bila ditetapkan pula bahwa tindakan itu harus terlaksana dalam tenggang waktu yang tertentu. Namun. Report of the ILC. kewajiban ternyata begitu longgar dan kadar keharusannya menjadi demikian rendah. 1996 (A/51/10) Pasal 19-21. Kesamaran tetap terdapat bila. dugaan itu ternyata tidak tepat. 48th session. Meskipun perlu diakui bahwa di lapangan HI yang bersifat khas itu pertimbangan-pertimbangan “tidak langsung” memainkan peranan yang jauh lebih besar di bidang perjanjian daripada di lingkungan HN. sifatnya keras apabila tindakan itu dirumuskan secara sangat tegas dan spesifik. kewajiban dapat saja dirumuskan sebagai kewajiban untuk berusaha. 7 Lihat. Bayangkanlah kewajiban untuk mencegah terjadinya sesuatu. kewajiban bersangkutan mengharuskan menghasilkan suatu “keadaan yang bermanfaat” bagi sesuatu.

mengingat bahwa perjanjian demikian itu tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu perjanjian HN?! Karangan singkat ini bukan tempatnya untuk menyelidiki persoalan ini secara panjang-lebar. biarpun tidak tegas menyuruh. disamakan dengan PI? Tetapi para pelakunya pada umumnya tidak merupakan (artinya: tidak diakui oleh negara bersangkutan sebagai) subyek HI (pengecualian boleh terjadi di negara federal tertentu). Tentu ada negara dimana hubungan lintas batas demikian antara alatalat perlengkapan ataupun kesatuan negara teritorial dilarang oleh hukumnya. seperti kita sempat menjumpai tadi. mungkin disinipun kita dapat belajar dan mencari sandaran (meskipun hanya secara tidak langsung) di naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum 2001. dianggap terikat padanya. Haruskah kita menarik kesimpulan bahwa perjanjian semacam itu tidak bersifat “internasional” dalam arti kata lazim sehingga tidak tunduk pada hukum internasional mengenai PI melainkan harus dianggap dikuasai HN? Di samping itu. cukup membuat pelik. Apakah perjanjian itu harus. Sebaliknya perjanjian antara para aktor yang jelas subyek HI tidak otomatis bersifat PI. Aktor kemasyarakatan yang tidak diakui sebagai subyek HI tidak dengan sendirinya tidak dapat mengadakan PI sehingga perjanjian hasil kesepakatannya tidak pernah dapat dianggap bersifat PI. Kompas 7 Agustus 2006. 37/1999 tidak memuat sebutan kemungkinan ini. antara lain kedudukan para pihaknya sebagai subyek hukum. meskipun demikian keluhan salah satu Dirjen Deplu tentang ”banyak perjanjian luar negeri yang dilakukan daerah kurang efektif”. meskipun seluruh acara pembuatannya tidak sesuai dengan acara yang lazim untuk PI dan semata-mata oleh karena aktor yang mengadakannya merupakan sebagian dari bangunan kenegaraan? Ataukah perjanjian demikian itu hanya mengikat para instansi bersangkutan di lingkungan HN? Tapi jika demikian. tata hukum manakah yang menguasainya.Pihak Perjanjian dalam Kenyataan dan Pihak Perjanjian Menurut Hukum: Gejala “Perjanjian Administrasi” Penggolongan suatu perjanjian sebagai PI atau sebagai kategori lain menunjuk pada dikuasainya oleh HI atau hukum lain (atau. Akan tetapi. siapakah yang selayaknya dianggap sebagai pihak perjanjian? Haruskah negara-negara bersangkutan. Namun.8 Timbullah pertanyaan apa sebenarnya kedudukan hukum perjanjian demikian yang kadang-kadang disebut “perjanjian administrasi”. Ada kalanya diadakan perjanjian antara alat-alat perlengkapan dari negara-negara berbeda. . yang tidak khusus ataupun langsung berwenang dan bertugas di lapangan hubungan luar negeri atau antara kesatuan-kesatuan teritorial sesuai sistem otonomi daerah (seperti kota atau propinsi) negara masing-masing. sama sekali tidak dikuasai hukum). Bayangkan sekarang perjanjian antara aktor yang tidak jelas kedudukannya sebagai subyek HI namun bertindak dalam rangka hukum publik di negaranya. mengizinkan ataupun menyetujui (meskipun tidak melarang) pembuatan perjanjian demikian. terutama di kawasan-kawasan yang terletak saling berdekatan namun di negara yang berlainan. cukup banyak negara-negara dimana hal demikian dapat terjadi dan perjanjian-perjanjian demikian ternyata memenuhi kebutuhan bersama dibidang pemerintahan dan pengaturan kemasyarakatan setempat. Penggolongan itu didasarkan berbagai kriteria. atau boleh. oleh karena mereka dapat saja di samping itu bertindak selaku subyek HN. khususnya bab 2 yang berkepala “The ‘Act of the State’ under International Law” yang Pasal 5-nya berbunyi: 8 UU No. Kesepakatan dan perjanjian demikian itu mengenai salah satu kebijakan di bidang tugas mereka. sehingga gejala yang dibayangkan disini tidak terjadi.

yaitu dengan “mengizinkan” isi HI berlaku di lingkungan HN tanpa merubah sifat internasionalnya. Hal yang kita perlukan untuk memberi jawaban ialah adanya penetapan. Jalan yang lain perlu ditempuh apabila tata HN. dimana HN ternyata tidak melakukan pilihan tegas (eksplisit). Persoalan ini perlu dikaji dan dijawab oleh masing-masing tata HN sendiri. yang berakibat HI itu berlaku di lingkungan HN. tanpa tindakan apapun dari pihak penguasa negara. meskipun tentu hanya sejauh HI bersangkutan dapat ada relevansinya dalam lingkungan HI (relevansi demikian tidak ada dalam HI yang memang kita kenal ajaran-ajaran tentang kesatuan hukum internasional dan nasional (monisme) dan sebaliknya tentang perbedaan dan pemisahan mutlak antara kedua sistem hukum itu (dualisme). (2) For the purposes of paragraph 1. judicial or any other functions. ajaran-ajaran muluk ini tidak menghidangkan jawaban langsung apapun atas pertanyaan yang kita hadapi dalam dunia “hukum yang berlaku” (“hukum positif”). the conduct of any State organ acting in that capacity shall be considered an act of that State under international law. atau. dilingkungannya. Perbandingan antara sistem-sistem HN menunjuk dua jalan yang dapat dilalui dalam penerapan kebijakan cara pertama tadi. atau dengan mengundangkan isi tersebut sebagai HN dalam bentuk perundang-undangan HN pula. Akan tetapi. Sebaliknya. Tata HN dapat saja menyangkal mutlak segala peranan dan pengaruh HI terhadap HN. and whatever its character as an organ of the central government or of a territorial unit of the State. pengakuan mana dapat diutarakan menurut dua cara. Kebijakan “pintu terbuka” dapat juga hanya diterapkan sejauh mengenai HI tak tertulis yang biasanya bertepatan dengan HI yang “umum berlaku”. seperti di sistem mazhab hukum common law yang menggolongkan HI tak tertulis ini sebagai “law of the land”. tata HN dapat juga pada azasnya mengakui kemungkinan peranan dan pengaruh itu. Kebijakan ini berdasarkan sangkalan perbedaan antara hukum tak tertulis (“kebiasaan”) yang tercipta di suasana nasional dan internasional. khususnya PI. Jalan yang satu ialah secara “membuka pintu” bagi HI. an organ includes any person or body which has that status in accordance with the internal law of the State. whether the organ exercises legislative. executive.” Keberlakuan di Lingkungan Hukum Nasional Perbedaan antara tata HI dan tata HN menyebabkan timbulnya kenisbian tentang makna PI. dikembangkan dalam bentuk hukum kebiasaan yang penerapannya terlihat dalam keputusan-keputusan konkrit. misalnya keputusan-keputusan hakim. whatever position it holds in the organization of the State.“(1) For the purposes of the present articles. Pilihan demikian dapat berwujud tanpa atau melalui suatu tindakan hukum tegas dari tata HN bersangkutan yang termuat di undang-undang dasar. atau “pilihan”m yang dibuat oleh hukum nasional tentang kedudukan dan peranan HI. sekalipun yakin akan . dan berpendirian bahwa pembuat hukum nasional merupakan satu-satunya yang berwenang mengadakan peraturan tentang hal apapun yang perlu diatur hukum di lingkungan HN. berhubung dengan persoalan kedudukan dan keberlakuan HI (atau khususnya PI) di lingkungan HN. dan yang melalui jalan itu juga menghasilkan keberlakuan HI tak tertulis di lingkungan nasional. undang-undang biasa.

Akan tetapi. dan sebagainya. Sebagai alternatif kedua cara “pemberian izin” kepada HI tersebut kita kenal kebijakan menolak secara mutlak keberlakuan HI dalam tata HN. sesuai dengan bertambah padatnya hubungan-hubungan kemasyarakatan internasional di pelbagai lapangan (“globalisme”) dan sejajar dengan perkembangan itu. Dalam rumusan ini tersirat penetapan bahwa siapapun yang tidak ikut menyepakatinya dengan sendirinya tidak terikat padanya (pacta tertiis nec nocent nec prosunt.perlunya penerapan isi HI di lingkungan HN. tanpa “mengubah” sifatnya sebagai HIM. pemberantasan penyakit. seperti hak azasi manusia. hubungan-hubungan keluarga. yang kewenangannya di bidang penerapan hukum terbatas pada hukum yang berlaku di lingkungan hukum nasionalnya. dan yang bersifat baik lintas batas maupun tidak. PI dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai kesamaan dalam menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan nasionalnya. Hubungan-hubungan kemasyarakatan itu mengenai bermacam-macam aspek kehidupan yang mencerminkan cita-cita kemasyarakatan. pemberlakuan isi HI di lingkungan HN memerlukan pembuatan HN yang tegas memuat ataupun setidaknya tegas mengundangkan isi HI bersangkutan sebagai HN (transformasi). atau kemasyarakatan tertentu itu di masing-masing lingkungan hukum . timbullah dan bertambahlah kebutuhan akan pengaturan hubungan-hubungan yang menyentuh pelbagai masyarakat nasional. namun tidak bersifat antar negara. Memang disini tidak ada alasan untuk memberi peranan apapun kepada pihak ketiga. menganggap perlu adanya suatu tindakan HN tegas agar mencapai hasil itu. Dalam hal PI. dengan hak pihak yang satu terhadap pihak yang lain tergabung dengan hak pihak kedua ini terhadap pihak pertama. merupakan soal penting bagi penegak hukum nasional. seperti ketentuan dalam UUD atau perundangan biasa. Dalam rangka ini. kebijakan berbeda itu juga memain peranan dalam penetapan kedudukan hirarki kaidah-kaidah hukum yang berasal internasional dan nasional yang termasuk kewenangan tersebut. di lingkungan HN-nya. Pertanyaan yang kadang timbul adalah: dapatkah dan bolehkah PI yang berlaku antar negara AB-C-D (yang menyajikan peraturan bersama tentang perlindungan hak-hak azasi manusia. seluruhnya atau sebagian. Azas ini kelihatannya memang cukup layak. ataupun “hanya” memberlakukan isi HI di lingkungan HN sejauh (“diubah”) bentuk dan sifatnya menjadi HN. Soal ya atau tidaknya tata hukum nasional memberlakukan HI. dan makin lama makin banyak. Ruang Lingkup Azas Keterbatasan Berlakunya Antar-Pihak Titik tolak di bidang hukum perjanjian adalah bahwa perjanjian itu mencerminkan kesepakatan antara pihak-pihaknya tentang apa yang mereka inginkan. UU persetujuan PI (yang di praktek politik Indonesia disamakan dengan “ratifikasi”) kadang dipakai untuk keperluan ini. Kadang-kadang. PI tidak selalu bersifat timbal balik. Di samping itu. dan kelayakan ini lebih-lebih menyolok apabila kita memandang perjanjian itu sebagai sumber hak dan kewajiban timbal-balik antar para pihaknya. perjanjian tidak mengakibatkan keuntungan maupun kewajiban bagi pihak ketiga). Dengan demikian.

Jika isi perjanjian tidak lagi memenuhi kehendak bersama para pihaknya. hak dan kewajiban timbal balik antar negara untuk bertindak bersama sebagai persekutuan militer. Ruang Lingkup Azas Pacta Sunt Servanda Azas ini merupakan inti dan hakekat pengertian perjanjian. sedang kewajiban asal tetap berlaku.merupakan peraturan bersama untuk persoalan-persoalan yang bersangkut dengan adopsi lintas batas. keadaan ini tentu tidak mengurangi kewenangan negara D untuk mengajukan keberatan terhadap penerapan perjanjian itu berdasarkan alasan-alasan lain. dan oleh karena itu . Sebaliknya. bahwa pelanggaran demikian oleh tata hukum dikaitkan pada akibat-akibat tertentu tanpa persetujuan si pelanggar. Disini terletaklah batas ruang lingkup azas pacta tertiis tersebut tadi. yaitu terjadinya kesepakatan antara negaranegara sebagai subyek HI yang berdaulat. terhadap penerapan isi perjanjian tadi di lingkungan HN negara-negara A. ciri inti tata hukum adalah. dapat saja dilanggar. . yang bersifat normatif dan tidak memaksa dalam arti kata hukum alam. maka negara D tetap tidak dapat dipaksa berdasarkan hukum untuk menyesuaikan kebijakan dalam lingkungan HN-nya dengan perjanjian tadi. Namun. gagasan pengubahan sepihak adalah sesuatu yang mutlak bertentangan dengan gagasan perjanjian. Sebaliknya. melainkan merupakan kesepakatan (antar negara) untuk menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan kemasyarakatan tertentu secara sama dan serupa di masingmasing lingkungan HN-nya. Akan tetapi. ia juga tidak berwenang untuk berkeberatan. Azas ini mengacu pada aspek primer PI. berhakkah negara X dengan alasan “memberi perlindungan diplomatik” kepada warganya atau dengan alasan lain menolak penerapan PI tersebut? Disini kadang tampak kemungkinan adanya suatu salah mengerti tentang makna azas pacta tertiis. Akan tetapi. maka mereka itu tentu bebas untuk mengubahnya. perjanjian bersangkutan tidak mengenai hak-kewajiban antar negara yang timbal balik. misalnya. atau berisi aturan bersama tentang pemindahan perselisihan perdata tertentu dari kewenangan pengadilan kekuasaan pewasitan) diterapkan bila orang yang tersangkut dalam perkara HAM itu berkewarganegaraan negara E? Dan bagaimanakah apabila antara pihak hubungan internasional perdata ada yang berkewarganegaraan negara F? Atau apabila ada pihak berpekara digugat di pengadilan negara A untuk tunduk pada acara pewasitan sesuai dengan PI yang mengatur pewasitan. seperti telah pernah disebut tadi. maka negara D tidak dapat dipaksa menurut hukum untuk menyesuaikan kelakuannya dengan persekutuan tersebut. tidak dapat diwajibkan tunduk pada isi perjanjian tersebut tanpa persetujuannya sebagai negara berdaulat. Jika obyek perjanjian terdiri dari. termasuk PI. Negara D tidak terikat pada perjanjian A-B-C. Dalam contoh belakangan ini. Tentu kewajiban yang terisi dalam azas ini. berdasarkan alasan tidak ikut sertanya sebagai pihak perjanjian. tapi pihak berperkara itu kebetulan berkewarganegaraan negara X. apabila obyek perjanjian terdiri dari kesepakatan tertentu untuk menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu secara sama di lingkungan HN masing-masing pihak perjanjian. B atau C jika penerapan demikian menyentuh suatu unsur yang berkaitan dengan negara D itu.

dan diatur oleh penguasa atau alat kekuasaan yang benar-benar berkuasa terhadap masyarakat lingkungan HN-nya. berbeda dari perjanjian di lingkungan HN. Ketika ditanya tentang niat tersebut. Bedanya. pada hakekatnya merupakan hasil pergulatan kekuatan-kekuatan di masyarakat. 2001. terutama pada negara. sehingga dalam perbincangan hukum. terdapat (atau setidak-tidaknya: seharusnya terdapat) alat dan organisasi penegak hukum yang cukup lengkap dan kuat untuk menghadapi dan “menghukum” pelanggaran demikian sehingga dapat tertekan terjadinya.Kemungkinan melanggar kewajiban hukum dapat dipandang sebagai kenisbian hukum pada umumnya dan tidak khusus mengenai pengertian perjanjian. yaitu kedaulatan negara. ketika presiden AS mengutarakan kesimpulannya bahwa AS tidak lagi berkepentingan dengan adanya Anti-Ballistic Missile Treaty 1972 (ABM Treaty) dan bahwa ia mempertimbangkan mengakhirinya. ia menyalahkan orang yang tidak dapat atau tidak mau mengakui bahwa zaman dan keadaan dapat saja berganti (dengan akibat kemungkinan perlunya hukum berganti pula). kenisbian PI ternyata sekali dari kejadian beberapa waktu yang lalu. sejauh terjadi di lingkungan HN. Kekuasaan ini dipegang secara monopoli dan mutlak (ingatlah julukan “negara gagal” bagi keadaan sebaliknya). namun biasa ditindak oleh penegak hukum dan pada umumnya tidak merupakan faktor yang dapat mengurangi azas-azas yang berdasarkan hakekat perjanjian. Pengaruh Kekerasan Menurut pengertian intinya. sekalipun dapat saja terjadi. Namun. Akan tetapi. Unsur kebebasan kehendak sebagai inti perjanjian dengan demikian menjadi nisbi dalam hal PI. Di lingkungan HN. Wewenang menetapkan hukum. yaitu kewenangan politik hukum. . tata hukum dikuasai. termasuk pemegang kekuasaan pusatnya dan alat perlengkapan penegak hukumnya yang berwenang dan nyatanya mampu menjaga dan mempertahankan hukum secara memaksa. lihatlah ketentuan Pasal 9 dari naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum. sehingga seakan-akan disublimasi dan dapat menghindari bentrokan-bentrokan yang merusak kestabilan masyarakat. PI berada di lingkungan HI yang tidak mengenal organisasi masyarakat lengkap dengan dasar dan pucuknya. Oleh karena itu. Pada umumnya. baik hukum nasional maupun hukum internasional. di lingkungan HN pergulatan itu tersalur melalui bermacam bangunan organisasi dan penjagaan dan pembagian kewenangan. seluruhnya pada dasarnya tergantung pada subyek hukum sendiri. maklumlah kekurangan dunia pengertian-pengertian dibanding kompleksitas kenyataan hidup jika menghadapi keadaan seperti negara Libanon dimana kekuasaan dan kekuatan sebenarnya yang membela kedaulatan negara terhadap dunia luar untuk sebagian besar berada di tangan organisasi di luar rangka pemerintah. Lain halnya di lingkungan HI yang berbeda secara mendalam dibanding dengan keadaan nasional. ancaman unsu kekerasan di bidang perjanjian perdata. di lingkungan HI aturan hukum hampir seluruhnya semata-mata merupakan buah hasil pergulatan kekuatan antara para subyek hukumnya yang kebebasannya hampir mutlak. Dilihat dari sudut ini. dijaga. berdasarkan titik tolak HI. dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihamnya dan oleh karena itu tidak dapat lain daripada berdasarkan kehendak bebas. termasuk yang akibat kekerasan. Apa lagi. Dalam rangka ini. Sebaliknya. perlu diperhatikan dan diperhitungkan. unsur pembagian kekuatan.

tata HI bahkan mengizinkan. baik di lapangan penerapan hukum praktis maupun di lapangan akademik. . yang dapat kita anggap mencerminkan HI tentang PI menurut keadaan perkembangannya yang paling baru. setidak-tidaknya jauh lebih jelas daripada Pasal 52 yang menetapkan bahwa suatu perjanjian yang terjadi dengan memakai “ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan azas-azas HI yang termuat di Piagam PBB”. yaitu Pasal 51-52. sehingga perjanjian-perjanjian itu seringkali terus terang menguntungkan yang kuat dan merugikan si lemah. Pasal 52 Konvensi Wina) untuk mencapai perubahan isi perjanjian bersangkutan. artinya sebagai akibat. kekerasan yang dipakai terhadap pribadi pejabat yang mewakili negara bersangkutan. setidak-tidaknya tidak melarang. Dilihat dari sudut kenyataan lingkungan HI seperti kita uraikan tadi. Kita patut ingat bahwa sebelum terbentuknya tata hukum yang kita kenal semasa pasca Perang Dunia Kedua dalam bentuk piagam PBB termasuk larangan kekerasanya. Keinginan yang cukup legitimasi namun tanpa dasar hukum itu hanya dapat tercapai dengan cara penggemblengan kekuatan yang cukup besar dan segala cara meyakinkan lainnya (kecuali paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. penggunaan kekuasaan (perang) untuk mencapai keinginan terhadap subyek lain. Pasal 51 mengatur hal persetujuan negara untuk mengikat diri pada perjanjian yang diperoleh dengan. Pasal 51 menentukan bahwa “persetujuan” demikian “tanpa akibat hukum apapun”. bagi kita semua. Multi interpretasi pengertian-pengertian yang digunakan di kalimat ini menunjuk pada kadar kenisbian cukup tinggi. Berlatar belakang ini. Penutup Mudah-mudahan tulisan singkat ini berhasil menambah keyakinan akan tersimpulnya pelbagai kenisbian. Kekerasan terhadap pribadi seseorang cukup jelas. Istilah tersebut kebanyakan mengacu kepada perjanjian yang pernah diadakan di zaman lampau antara negara-negara Barat yang biasanya lebih kuat dengan kerajaan-kerajaan atau lain kesatuan kenegaraan di luar kawasan dunia Barat yang umumnya lebih lemah. yang kemudian disahkan (!) dalam “perjanjian perdamaian” atau perjanjian lain. keinginan yang “sesuai rasa keadilan” itu sukar disesuaikan dengan kerangka bangunan tata HI yang belum mengenal larangan mempergunakan daya kekuatan dalam hubungan antar negara untuk menetapkan hak dan kewajiban antar mereka. Bagi keadaan demikian. yang kadangkadang diiringi tuntutan pembatalannya.Di pustaka sejarah politik internasional terkenal istilah “perjanjian tidak seimbang”. kita condong berkesimpulan bahwa keinginan membatalkan perjanjian “tak seimbang” demi hukum akan gagal. Timbullah pertanyaan apakah perjanjian-perjanjian demikian dapat dibatalkan ataupun dianggap batal demi hukum. mengenal ketentuan-ketentuan tentang peranan kekerasan di bidang PI. Konvensi Wina. kesamaran dan pertanyaan di bidang lembaga perjanjian internasional yang memerlukan penelitian dan penyelidikan seperlunya.

yangmengajarkan bahwa hukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada umumnya. perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada. perjanjian internsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional. perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian internasional. Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme. kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional. ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional. Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation. . Hukum Kontrak Internasional. yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda. perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect) dalam suasana nasional. Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme. Menurut pandangan kaum dualisme. 2006: hal. namun diterapkan dalam suasana hukum nasional. Sementara itu. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat internasionalnya (keasliannya). Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist system. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan pelaksanaan. PT RajaGrafindo Persada. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada. baru dapat diterapkan dan menjadi hukum nasional. mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional.186 s/d 205 Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu negara peserta. Menurut teori adoption. menurut teori incorporation. sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam hukum nasionalnya.PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK* DALAM SUASANA * Dari buku Syahmin AK.

UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut. maka dapat muncul permasalahannya. kita harus meninjau kembali hukum konstitusi. melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional. Dalam hal ini. pemberlakuan perjanjian internasional. baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara. yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini. Jika penerapannya melanggar hukum internasional. Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional. perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing. Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional. suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggaran tersebut. bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas. terutama perjanjian yan Dalam oleh diwariskan pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. 9 10 Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya. hlm. Mochtar Kusumaatmdja.Cit.. yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting? Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional.9 Selanjutnya. ataupun hukum interasional atau praktik. asas lex posterior derogat lege priori akan diterapkan. statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional. Op. yaitu UUD 1945.87.Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri. .10 Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat. Kadangkadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona.

. beliau juga mengingatkan sebagai berikut. pengundangan dalam Undangmasalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas.. mengenai sikap Indonesia terhadap perjanjian ini. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut.kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat. tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No.11 “. dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu..” Dari pendapat Prof.” Meskipun demikian. Sebaliknya. yakni langsung menganggap diri kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undangundang pelaksana.Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945. dengan dikeluarkannya Keppres No. Undang Nasional mutlak dipelukan. “. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada tanggal 7 Juni 1959. jelas kiranya bahwa dalam memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu perjanjian internasional. UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya.. kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana..bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita. .34 Tahun 1981.. yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara sebagai perorangan. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini 11 Ibid. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan Arbitrase Asing 1. Prof.. Konvensi Jenewa 1927 Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu. apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku.. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958. D. Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa. Akan tetapi. hlm.87... Mochtar Kusumaatmadja di atas.

London. penggantinya. atau negara kesatuan. persekutuan (aliansi) pemberian bantuan. dan lain sebagainya. Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi. Perjanjian demikian tidak Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian yang bersifat polotis. di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri.13 Akan tetapi.. dan State Sucession in Municipal Law and Internasional. Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan penelitian tentang succession of state ini adalah D. masih berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara pengganti (sucessor state).. Contoh perjanjian yang bersifat politis adalah perjanjian persahabatan. akan beralih kepada penggantinya.dengan cara accescion. Remadja Karya.15 Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan karena dekolonisasi. Sementara itu.6 dan seterusnya. . Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi? Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties. konfederasi. baik bilateral maupun multilateral.12 sebelum Konvensi New York 1958 ini dinyatakan berlaku. 1986).. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan. Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969. Lihat Lampiran II buku ini Staatsblad Tahun 1933 No. aneksasi. dekolonisasi. hlm. suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian yuridis dan pergantian menurut kenyataan. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internsional (Bandung: CV. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di antaranya ialah: The Law of State Succession. dan State Succession and Problems of Treaty Interpretation.131. Connel. sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat. yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan.P. 1988). Dengan kata lain. Perjanjian ini 12 13 14 15 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40. Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK. hlm. Mac Millan & Co. (Bandung CV Armico. Syahmin AK. dapat juga karena sesi. Ltd.O. misalnya perjanjian ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase luar negeri.14 Sehubungan dengan hal tersebut. serta dispositive.196. dan mulai tanggal 5 Agustus 1981.

meskipun negara tersebut. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights doctrine dan clean state doctrine.membebani suatu wilayah dengan status hukum. dan lain sebgainya. Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam Dalam untuk penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul praktik yang berbeda-beda. misalnya pernjanjian pangkalan militer. sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian . perjanjian perbatasan. hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti beralih kepada negara yang menggantikannya. ada Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas. setelah pemutusan perjanjian KMB. Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara dapat berjalan dengan lancar. mulai dari perjanjian perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. sendiri mengadakan perjanjian Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah dengan Kerajaan Belanda. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap mengikat negara tersbut. Menurut acquired rights doctrine. doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan. Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie. doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berbeda-beda. dua doktrin yang populer yang dapat dipakai menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan suksesi negara. Namun. Teori ini juga disebut dengan teori Sementara itu. Ternyata dalam praktiknya. meskipun telah terjadi suksesi negara. Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut perjanjian peralihan. dan ditindaklanjuti dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949). Doktrin ini juga disebut free choice doktrine. Indonesia Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947). hukum internasional. kemudian disertai dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda. universal.

Article 12 par.19 Kembali lepada persoalan. kemudian dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak Kerajaan Belanda. Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par. meskipun telah terjadi suksesi negara. Pasal 11 dan Pasal 12 (1.a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti. Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195620.2). bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun 1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement).16 Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978. (2. Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional.a) Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan. Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956.17 Sementara itu.(3) merumuskan sebagai berikut.33 Tahun 1950.a) merumuskan: fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes boundary. Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not as such affect. Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu. Keppres No. ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah Irian Barat. di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Pasal 12 ayat (1. The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates.18 Jadi. Pasal 12 (3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1. or (2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary.2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku.internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia. Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2. menyatakan tidak 16 17 18 19 20 Lihat. (1) a boundary established by treaty. Konvensi Wina Tahun 1978. . Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950.

selama Republik Indonesia secara tegas menyatakan demikian. c. 2 tanggal 10 Oktober 1945.terikat lagi pada Perjanjian KMB. March 19 1931). 1931). Oleh karena itu. March 19. untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda.” Kembali pada persoalan. tidak secara otomatis berlaku. 1931). kecuali mengenai perbatasan. Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB) Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi. hlm. dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan Penetapan Presiden No. sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berlandaskan pada UU No. Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa 1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with Cheques and Protocol (Geneva March 19. Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar. 95. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva. Cit. 12727. Sudargo Gautama sebagai berikut. Setelah pemutusan terhadap perjanjian KMB. maka persetujuan internasional 21 Budi Lazurusdi dan Syahmin AK. . 13 tahun 1956.. sesuai dengan prosedur 21 dalam hukum perjanjian internasional. yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: “…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. antara lain adalah: a. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof. dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. b.. Op. “…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku untuk negara kita.

yaitu sebagai berikut. Cit. Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights. tanggal 5 Agustus 1981.yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan tetap berlaku. Op.. 68 . yaitu reciprocity principles (asas perberlakuan secara timbal balik). Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut.”22 Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka. hlm. Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing. Pendapat kedua dianut oleh Prof. agaknya Prof. Indonesia menjadi peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu. keppres tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum yang ditimbulkannya. Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di atas masing-masing mempunyai pendukungnya. 2. Asikin Kusumaatmadja. Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja.” Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state. atau juga disebut dengan teori universal. di mana klausul arbitrase tercakup di dalamnya. “Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar. Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di Indonesia. Aksesi ini didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981. 22 Sudargo Gautama.

berlainan dengan undang-undang yang menentukan. 57. Peraturan pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. Lengkapnya Mahkamah menyatakan sebagai berikut. 23 Sudargo Gautama. diperlukan peraturan pelaksanaan. “Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas. Prof. Beliau memberikan sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin mengikuti status hukum sang ibu. Menurut beliau.. Ibid. 34 tahun 1981. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya. Sudargo Gautama. namun dengan adanya perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia. Dr. Dr. kepada Pengadilan Negeri yang mana.”23 Sebaliknya. hlm. permohonan pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima. ternyata dalam pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri muncul. Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi konvensi melalui Keppres No. Untuk itu. 34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981 dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri. sebuah keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar hukum ternama. Mahkamah berpendapat perlu adanya peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan.Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958. yang berarti bahwa ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia. . Mr. khususnya Prof.

pengenalan terhadap lembaga arbitrase saja masih minim sekali. sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq. tampaknya komitmen dan taraf pemahaman. Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu. penghargaan terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa komersial mereka. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. Di tanah air. Jadi. tetapi juga di kalangan perguruan tinggi. sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua. Memang untuk para pengusaha di Indonesia. sekaligus menjawab dua masalah penafsiran hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan. peran kontrol inilah yang diemban oleh pemerintah. Kehendak pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri. Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut dihormati dan dilaksanakan. Bukan saja bagi kalangan pengusaha. serta kesepakatan untuk melaksanakan segala keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan. peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak. apakah suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak. masalah keputusan hakim arbitrase asing di Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul arbitrase.Menurut hemat penulis. Sementara itu. yang memegang kendali utama dan sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dan menetapkan arbitrasenya. Masalah pertama. dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990. Jadi. Peran pemerintah disini sudah jelas. badan peradilan manakah yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim arbitrase asing tersebut? .

menurut hemat kami. bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu. Mengulangi pernyataan sebelumnya. telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1990 itu dimungkinkan. yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. dan telah dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai dengan konvensi ketatanegaraan. bila pemerintah menganggap perlu. dapat dibuatkan aturan pelaksanaan. Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. tanggal 5 Agustus 1981. maupun keppresnya sendiri tidak mengatur tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi dari para ahli hukum kita. tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu. dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah (cq. Masalah kedua.Masalah pertama. 2826. . 34 tahun 1981. Dengan demikian. pelaksanaan Surat Presiden No. sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. baik Konvensi New York 1958. 2826 dalam praktiknya belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Akibatnya praktik negara kita sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional Indonesia yang mengatur. dapat disimpulkan di sini bahwa keppres pun. 34 Tahun 1981. Akhirnya. Namun. peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari Keppres No. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia.

DR. perjanjian internasional adalah: “An International Agreement concluded between States and International Organizations in written form and governed by International Law. demikian pertanyaan Almarhum Prof. Dr.M. penulis masih belum dapat menemukan jawabannya. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi pada tahun 2007. ”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”.APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman* * Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof. ”Tapi negara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU. Komar Kantaadmaja. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull.H.. Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasional guna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. kepada penulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasional pada tahun 1986.M. Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu issue kontroversi dalam literatur hukum perjanjian internasional. Kasus judicial review ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensi Indonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjian internasional. S. DEPLU. whether embodied . Distorsi publik ini pulalah yang mendorong lahirnya klaim bahwa Production Sharing Contracts (PSC) antara Pemerintah RI adalah ”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya judicial review terhadap UndangUndang No.. Komar Kantaatmadja S. sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknya adalah negara. Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud. lanjut beliau dengan tersenyum. Perdebatan sengit bahkan berlangsung pula dalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Menurut Konvensi ini. LL.H. Pemahaman publik tentang apa itu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popular yaitu perjanjian yang bersifat lintas batas. LL. Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi.

maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. or “MOU”. yaitu: ● ● ● ● ● an International Agreement. depends on the subject-matter and the intention of the parties (ILC Draft and Commentary. . Whatever Form. suatu dokumen disebut sebagai ”Governed by International Law” jika memenuhi dua elemen. atau subjek hukum internasional lain. yaitu “intended to create obligations and legal relations under international law: a. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. dan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. by Subject of International Law. …Under International Law. in Written Form. 1962). loan agreements” (Report of the ILC Special Rapporteur. b.in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” Selanjutnya. “Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik). Dari pengertian hukum ini. There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i. organisasi internasional. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969. definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations. Parameter tentang ”Governed by International Law” merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya di kalangan praktisi namun juga akademisi. They could be in the form of a “Joint Statement”. 1967). 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang merumuskan sebagai setiap perjanjian di bidang hukum publik.e. yang diatur oleh hukum internasional. Intended to create obligations and legal relations.

1 Tahun 1963. atau should there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to create legal relations is governed by international law? Pakar hukum D. praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masih terdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan “Governed by International Law”. diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”Treaty Room”. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional dan bahkan diratifikasi melalui Undang-Undang No. Keputusan MK terhadap judicial review Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas). sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. Dalam kasus ini. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara.Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah ”Governed by International Law” juga masih menimbulkan perdebatan akademis. Namun praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-Undang No. merupakan jurisprudensi landmark bagi perkembangan hukum perjanjian internasional di Indonesia. Undang-Undang No. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini. beberapa anggota DPR mempermasalahkan bahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RI” dianggap bertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan .J. sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh Pemerintah RI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loan agreements”. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Setelah lahirnya Undang-Undang No. Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagai perjanjian internasional. dimana penulis juga terlibat untuk mewakili pemerintah. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata. Apakah hal ini dapat ditarik dari the intention of the Parties? the Subject-Matter of the agreement?.

tidak termasuk Perjanjian Internasional yang merupakan ruang lingkup pasal 11 UUD 1945. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional). Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. Vol. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang Mahkamah . 1962). dan karena itu permohonan Pemohon sepanjang mengenai hal tersebut tidak cukup beralasan”. American Journal of International Law. Mahkamah Konstitusi dalam judical review ini telah melakukan koreksi terhadap distorsi yang terjadi dalam opini public tentang apa itu perjanjian internasional. Secara konvensional. Delaume. “perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara.mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Hal ini disebabkan adanya pergeseran tentang governing law yang mendasari perjanjian-perjanjian pinjaman. Akibatnya. kami dapat menyetujui pendapat Pemerintah dan ahli yang diajukan bahwa perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian internasional sebagaimana diartikan dalam pasal 1 dan 2 Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian (Law of Treaties) dan pasal 2 ayat (1) huruf a Konvensi Wina tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. dan dengan demikian bukan perjanjian internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (dan UU No. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) UU Migas. 56. The Proper Law of Loans concluded by International Persons: A Restatement and Forecast. Oleh karenanya. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata (lihat Georges R. Status loan agreements juga menjadi kontroversi dalam perspektif definisi perjanjian internasional. Konstitusi menyatakan: “Meskipun bunyi pasal 11 ayat (2) UUD 1945 menyebut. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan DPR”. perjanjian pinjaman dikenal sebagai perjanjian perdata internasional dan tunduk pada hukum nasional tertentu sehingga status perjanjian ini bukanlah perjanjian internasional ”Governed by International Law”.

dan. dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang No. sehingga penetapan status perjanjian diserahkan pada intepretasi di kemudian hari manakala terjadi sengketa. Undang-Undang APBN bukanlah Undang-Undang untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan Undang-Undang untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam pasal 23 ayat (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Namun di lain pihak. Undang-Undang No. 24 Tahun . b. Dalam hal ini. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. perbuatan Pemerintah RI by International Law” seperti yang a. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Namun perlu ditekankan bahwa persetujuan DPR dalam konteks Undang-Undang APBN tidak identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. banyak perjanjian pinjaman seperti halnya perjanjian komersial lainnya yang tidak secara tegas menyebutkan governing law. Di lain pihak pengesahan/ratifikasi adalah lembaga hukum ketatanegaraan tentang pengesahan oleh legislatif atas perbuatan hukum pemerintah RI sesuai dengan Hukum Perjanjian Internasional. perjanjian perdata internasional biasa yang ”Governed by other than International Law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan Undang-Undang No.mengindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan Undang-Undang dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri. yaitu: perjanjian internasional publik ”Governed 2000 tentang Perjanjian Internasional. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut pasal 10 huruf f Undang-Undang No. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman.

kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Dengan demikian. Itulah sebabnya. Dalam praktek. terikat pada perjanjian itu. Departemen Luar Negeri akan menyampaikan notifikasi “telah terpenuhinya prosedur konstitusional/ internal” setelah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Departemen Keuangan perihal itu. dalam rangka akuntabilitas juridis serta untuk mengamankan kepentingan hukum khususnya kewajiban pengesahan dengan Undang-Undang. Sedangkan pengertian persetujan DPR pada Undang-Undang APBN bukanlah mengesahkan perjanjian yang sudah ditandatangani melainkan menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. Persetujuan DPR pada Undang-Undang APBN adalah terhadap perjanjian yang akan dan belum ditandatangani oleh Pemerintah RI sedangkan persetujuan dalam konteks pengesahan/ratifikasi adalah terhadap perjanjian yang sudah ditandatangani. Selain itu. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Menurut pasal 15 Peraturan Pemerintah tersebut. wewenang penandatanganan Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri berada pada Menteri Keuangan. Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani.yang menandatangani suatu perjanjian disahkan dengan Undang-Undang (dengan demikian melalui persetujuan DPR) sehingga Indonesia secara resmi. berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. secara juridis formal. kecuali secara tegas dinyatakan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman/Hibah Luar Negeri ini. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. adanya persetujuan DPR dalam APBN tidak dapat meniadakan persyaratan ratifikasi sebagaimana ditetapkan oleh pasal 10 huruf f Undang-Undang No. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam Undang-Undang . Pada Peraturan Pemerintah ini tidak terdapat aturan yang mengindikasikan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah harus mendapat persetujuan DPR. Dalam prakteknya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. maka posisi Departemen Luar Negeri pada setiap perjanjian pinjaman kategori ini selalu mengupayakan klausula tentang dipenuhinya terlebih dahulu prosedur konstitusional/internal sebelum berlakunya perjanjian. 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang pada hakekatnya mengatur tentang Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah Luar Negeri.

diindikasikan bahwa Pemerintah RI dapat membuat perjanjian dengan pemberi pinjaman. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 2 Tahun 2006 (bahkan dalam Rancangan Undang-Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. Akibat tidak adanya penegasan juridis dari Rancangan Undang-Undang. Dalam definisi tentang Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri pada Rancangan UndangUndang ini. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional hanya mengatur tentang perjanjian pinjaman per definisi Undang-Undang ini yaitu perjanjian “Governed by International Law”. akan terjadi konflik kewenangan antara substansi dan format yaitu Menteri Keuangan yang memiliki kewenangan atas pinjaman luar negeri dengan kewenangan Menteri Luar Negeri yang memiliki wewenang untuk membuat perjanjian internasional itu sendiri. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun Peraturan Pemerintah No. Dalam praktek Indonesia. beberapa negara seperti Jerman dan Loan Agreement dengan International Fund for Agriculture Development tahun 2000 menginginkan agar perjanjian pinjaman ini mengambil format perjanjian internasional yang tunduk pada Konvensi Wina 1969.No. termasuk prosedur ratifikasi berdasarkan pasal 10. yang dalam hal ini mungkin Bank Swasta Asing. Lembaga-lembaga ini jelas bukan Subjek Hukum Internasional dan dengan demikian perjanjian pinjaman dengan . Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. sehingga prosedur Undang-Undang No. Sehingga untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Terlebih lagi. Lembaga Keuangan Non-Pemerintah Asing. dalam pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri ditandatangani oleh Menteri Keuangan sedangkan menurut penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang No. Menteri (dalam hal ini Menteri Luar Negeri) mendelegasikan kepada Menteri Keuangan”. “Dalam hal pinjaman luar negeri. Namun di pihak lain. 24 Tahun 2000 harus diterapkan. perjanjian pinjaman dapat merupakan perjanjian internasional dan juga dapat berupa perjanjian perdata internasional. serta Lembaga Donor Swasta lainnya. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UndangUndang No. Loan Agreements yang dibuat oleh Indonesia selama ini adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.

of Letter of Agreement. agreement. Protocol. They thus create rights and obligations in international law for the Parties. ICJ menyatakan bahwa Minutes ini adalah perjanjian internasional. Letter Demarche. Joint Declaration. Minutes of Meeting. Understanding. d. Memorandum . Having signed such a text. Process Verbal. 1994. Qatar and Saudi Arabia. The Court concludes that the Minutes of 25 December 1990. convention. b. Letter of Intent. Final Act. 1978: a.lembaga-lembaga ini bukan merupakan perjanjian yang menjadi lingkup Undang-Undang No. MOU. Sekalipun Konvensi Wina dan jurisprudensi tidak menempatkan judul dokumen sebagai faktor penentu. perlu pula diperhatikan bahwa praktek negara tentang judul suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. the Foreign Minister of Bahrain is not in a position subsequently to say that he intended to subscribe only to a "statement recording a political understanding” and not to an international agreement”. they do not merely give an account of discussions and summarize points of agreement and disagreement. Pada sisi lain terdapat pula kecenderungan pada publik opini untuk menggunakan parameter nomenklatur atau judul dokumen sebagai faktor penentu untuk menetapkan dokumen itu sebagai perjanjian internasional. The Minutes are not a simple record of a meeting. 1990”. like the exchanges of letters of December 1987. Dengan demikian maka setiap dokumen yang berjudul treaty. They enumerate the commitments to which the Parties have consented. In order to ascertain whether an agreement of that kind has been concluded. memberikan petunjuk bahwa untuk menetapkan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional tidak harus dilihat dari judul perjanjian. ICJ merujuk pada The ICJ Aegean Sea Continental Shelf. the Court must have regard above all to its actual terms and to the particular circumstances in which it was drawn up. of Aide Memoire. They constitute an international agreement. record of discussion bukan perjanjian internasional. Side Letter. c. Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik). 24 Tahun 2000. Dewasa ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti Joint Statement. Dalam tanggapannya terhadap “Minutes signed by Foreign Ministers of Bahrain. ICJ Qatar/Bahrain Case. Memorandum of Cooperation. of Memorandum Agreement. adalah perjanjian internasional sedangkan agreed minutes. constitute an international agreement creating rights and obligations for the Parties. Charter.

Exchange of Notes.Cooperation. yang berpandangan bahwa MOU adalah nonlegally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. misalnya lebih cenderung menggunakan “Agreement” sebagai instrumen payung dan kemudian MOU serta Arrangements untuk instrumen turunannya. Record of Understandings. pengelompokan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. seperti Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik. sekalipun tidak mengikat secara hukum cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MOU yang kemudian diikuti dengan Arrangements. namun praktek Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi tertentu. terdapat pula kecenderungan umum dalam praktek Indonesia bahwa dalam setiap pembuatan perjanjian yang bersifat teknis antar sektor harus didahului dengan pembuatan perjanjian payung. Terdapat praktek negara. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MOU) memiliki daya mengikat seperti Treaties. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak menyepakatinya. Selain itu. sekalipun tidak konsisten. bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian tersebut memiliki bobot kerjasama yang berbeda tingkatannya dengan perjanjian internasional lainnya. Para ahli berpendapat bahwa istilah MOU digunakan dengan alasan politis yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement yang dinilai lebih formal dan mengikat. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak mempermasalahkan judul atau nomenklatur. atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan perjanjian internasional lainnya. jika terdapat kebutuhan lain maka suatu perjanjian dapat saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian payung. namun apabila ditelaah lebih lanjut. khususnya pada negara-negara common law system. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding) merupakan salah satu model dokumen yang memiliki sifat khas/typical. Selain itu terdapat kecenderungan dalam praktek negara-negara. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam. Dalam hal ini. Adanya pengertian MOU yang non-legally binding dalam praktek beberapa negara akan . Sekalipun Undang-Undang No. Praktek di Indonesia misalnya. atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam perjanjian. Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk kepentingan conveniences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat.

sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasional. Perlu pula dicermati bahwa MOU sudah menjadi instrumen yang digunakan dalam hubungan kerjasama antar wilayah dalam kerangka otonomi daerah di Indonesia.menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. Pengertian MOU oleh otonomi daerah merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk “Perjanjian Kerjasama” yang bersifat mengikat. pengertian nonlegally binding memiliki implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dijadikan alat pembuktian serta di-enforce oleh pengadilan. pengertian non-legally binding belum menjadi concern yang berarti bagi Indonesia. khususnya pada negara-negara common law. Hal ini terlihat dari pola sistem penyimpanan perjanjian (depository system) yang ternyata menyimpan pada Treaty Room Departemen Luar Negeri semua dokumen sepanjang ditandatangani oleh Pemerintah RI tanpa melihat apakah dokumen tersebut memenuhi semua elemen sebagai suatu perjanjian. Untuk kebutuhan praktis. Status hukum MOU semacam ini masih menjadi perdebatan. Secara umum pengertian ini selalu diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MOU melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang lazim dilakukan terhadap perjanjian internasional. Metode yang digunakan dalam praktek Indonesia untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional masih belum konsisten. Istilah MOU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk yang lebih informal dari ”kontrak” atau ”perjanjian” dalam hubungan perdata nasional. maka pada hakekatnya dapat dilakukan klasifikasi sbb: . Jika diteliti lebih dalam seluruh dokumen yang tersimpan pada Treaty Room berdasarkan materi perjanjian (the merits of the documents). Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan politik terhadap investor asing. Dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini. Dengan demikian. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti. Dari sisi hukum nasional. Pemerintah Daerah juga sudah mulai menggunakan format MOU untuk merefleksikan jaminan Pemerintah Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di daerah itu.

Perjanjian seperti yang didefinisikan oleh Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations 1986 serta Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Multilateral Convention. namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. declarations. mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri.a. MOU’s. Perjanjian yang memiliki karakter internasional tetapi tidak tunduk pada hukum internasional publik (loan agreements. Sekalipun literatur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten. . Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat. Dokumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum (joint statements. Agreement. Exchange of Notes. etc). c. b. sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi. Extradition. agreed minutes. procurement contracts. etc). Border Treaties. Dari uraian diatas maka praktek Indonesia juga ternyata tidak luput dari dinamika tersebut. etc).

“The Concept of Treaty in International Law”. Anthony Aust. pp. “Treaty Law for the Private Practitioner”. “International Law”. Cambridge University Press. M. Inc. 2006. 2 (Apr.N. J. D. Cambridge University Press. “Hukum Kontrak Internasional”. 2006. Syahmin AK. “Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional”. London: Sweet & Maxwell. 1996. “International Law”. “International Law”. 310-340.BIBLIOGRAPHY John H Jackson. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. Vol. 2005. “Status of Treaties in Domestic Legal System: A Policy Analysis”. 2003. “International Law”. “Cases and Materials on International Law”. Diehl. The University of Chicago Law Review. Vol. Malcolm N. Cambridge University Press. Rebecca Wallace. 2001. Hynning. Shaw. 1991. Oxford. Harris. 86. "Concepts and Case Analysis in the Law of Contracts”. Clifford J. Marvin A. Shaw. 1975. “The European Union and the International Law of Treaties”. 2005. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1992). 2000. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. Sweet & Maxwell. Mochtar Kusumaatmadja. Damos Dumoli Agusman. DEPLU. Grotius Publication. Ltd. Bina Cipta. No. 23. Charlotte Ku & Paul F. London. 1997. Delano Verwey. AJIL. Antonio Cassese. “Modern Treaty Law and Practice”. 2004. “Pengantar Hukum Internasional”. . 1998. London: Lynne Rienner Publishers. Martinus Nijhoff Publishers. Jan Klabbers. New York: Foundation Press. “International Law: Classic and Contemporary Readings”. Chirelstein.

Dengan meningkatnya intensitas hubungan dan interdependensi antarnegara.JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Perjanjian internasional . menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasional yang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan mengikat dengan hukum internasional lainnya. Februari 2006. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut.KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI . al* *Diambil dari Jurnal Konstitusi. Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional hukum yang antara sangat Pemerintah penting. Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Latar Belakang Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalah dengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain. nomor 1. volume 3. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR. Indonesia karena denganpemerintah negara negara-negara subyek lain. organisasi internasional dan subyek hukum lainnya. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. et.

Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia? 2. Sebelum adanya UU No. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960. yang ditujukan kepada Ketua DPR. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subyek hukum internasional lainnya. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuan DPR. tanggal 22 Agustus 1960. pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalam hal diajukan kehadapan MK? 4.24 Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. Oleh sebab itu. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. akan dibahas pokok permasalahan sbb: 1. 24 Surat Presiden No. Untuk itu melalui Surat Presiden No.yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang. 2826/HK/1960. Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkan perjanjian internasional jika dibatalkan ole MK? Proses Pengesahan Perjanjian Internasional Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. Dalam penelitian ini. 24 tahun 2000. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. . dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK? 3. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia.

3. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional. yaitu: 1. 24 tahun 2000. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. memerlukan surat uasa (Full Powers). Penerimaan atau penyetujuan. Pengakhiran perjanjian internasional g. Ketentuan peralihan h. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian. UU No.Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UU No. 25 26 Indonesia (a). Ketentuan Penutup Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori. Lembaran Negara RI Tahun 2000 No. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Pasal 7 . Selain itu juga ada perjanjian. Dalam UU tersebut. Pemberlakuan perjanjian internasional e. Pengesahan perjanjian internasional d. adapun isi yang diatur adalah25: a. Ketentuan Umum b. 4. yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. 185 Ibid. Penyimpangan perjanjian internasional f.perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional. Ratifikasi. Pembuatan perjanjian internasional c. 2.26 Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah presiden dan menteri. Aksesi.

dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional. pertahanan. Pasal 9 Ibid.Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak. Pasal 11 Ibid. perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR. Pasal 8 Ibid. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. dan keamanan negara b. 24 tahun 2000.28 Pengesahan dengan UU memerlukan persetujuan DPR. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia 27 28 29 30 31 Ibid. internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam UU. sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UU No.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia tidakserta merta.30 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui UU apabila berkenaan dengan: a. Pasal 10 .29 Pengesahan dengan Keppres hanya perlu pemberitahuan ke DPR. perdamaian. pinjaman dan/atau hibah luar negeri.31 Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang. DPR dapat meminta pertanggungjawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. dinyataka bahwa. kedualatan atau hak berdaulat negara d. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e.27 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan UU atau Keppres. pembentukan kaidah hukum baru f. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. masalah politik. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme. “Pengesahan perjanjian internasional sebagaiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. 24 tahun 2000. baik departemen maupun non-departemen. Pasal 10 Ibid.

pertanian. contoh Indonesia meratifikasi ICCPR melalui UU. penerangan kesehatan. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 c. atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak.memandang hukum nasional dan hukum interasional sebagai dua sitem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. UU ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. pariwisata. social. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum32 32 Indonesia (b). Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. . 24 tahun 2003 tentang MK. memutus pembubaran partai politik. kehutanan dan kerjasama antar propinsi atau kota. 98. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat UU yang lebih spesifik mengenai perjanjian internasional yang diratifikasi. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya. biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. pada Pasal 10 dinyatakan bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk: a. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. diratifikasi melalui UU dan Keppres. 24 tahun 2000. UU ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. budaya. 24 tahun 2003 tentang MK. Apakah MK Berwenang Menguji UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional? Menurut UU No. dan d. Perjanjian internasional seperti ini dapat langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/ nota diplomatic. menguji UU terhadap UUD 1945 b. Lembaran Negara RI tahun 2003 No. Perjanjian yang termasuk kedalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan. Pasal 10. maka selanjutnya Indonesia harus membuat UU yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam UU yang lebih spesifik. UU No.

33 Selanjutnya selain dari yang berkaitan dengan UUD 1945 adalah diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. dan (6) keuangan negara.36 mengajukan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional yang telah disiapkan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. Sesuai dengan UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. menteri atau pimpinan 33 34 35 36 37 Indonesia (c). menyiapkan salinan naskah perjanjian. disebutkan bahwa materi muatan yang harus diatur dalam UU berisi hal-hal yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi (1) hak-hak asasi manusia. (5) kewarganegaraan dan kependudukan. Pasal 12 Ibid.Dengan demikian salah satu kewenangan dari MK yang perlu digaris-bawahi adalah mengenai menguji UU terhadap UUD 1945.34 Hal ini sama dengan ketentuan dalam UU No. Pasal 20 . Lembaran Negara RI tahun 2004 NO.37 DPR mulai membahas RUU dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden diterima. RUU. (3) pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara.35 Pengajuan disampaikan pengesahan kepada perjanjian internasional Presiden dilakukan melalui Menteri untuk Presiden. UU No. 53. Hal lain adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dan lebih spesifik dari muatan UU secara umum. baik departemen maupun nondepartemen. lembaga pemprakarsa yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. 24 tahun 2000 mengenai hal apa saja dari perjanjian internasional yang disahkan dalam UU. (2) hak dan kewajiban warga negara. hak asasi manusia. Pasal 8 Ibid. Untuk keperluan pembahsan RUU di DPR. Dalam surat tersebut Presiden menegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR. Sehingga tidak adanya suatu perbedaan antara UU ratifikasi perjanjian internasional dan UU pada umumnya dilihat dari sudut muatan materi UU. atau rancangan Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. Beberapa hal yang sama adalah mengenai kedaulatan. Pasal 12 ayat (3) Indonesia (c). Pasal 8 ayat (2) Ibid. Hal ini relevan karena dalam melakukan ratifikasi terhadap suatu perjanjian internasional adalah melalui UU. dalam Pasal 8. (4) wilayah negara dan pembagian daerah. terjemahan. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional. wilayah negara dan masalah keuangan negara.

Oleh karena itu. pemerintah dapat membuat perjanjian internasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatic. dan 7 Ibid. Secara struktur. Ibid. Tingkattingkat pembicaraan dilakukan dalam rapat komisi/ panitia/ alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna.39 Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden. Lembaga penyimpanan selanjutnya memberitahukan semua pihak bahwa perjanjian tersebut telah menerima piagam pengesahan dari salah satu pihak. muatan dan isi serta proses pembentukan dari UU pengesahan perjanjian internasional tidak berbeda dengan UU lainnya. ayat 1.43 Disamping perjanjian internasional yang disahkan melalui UU atau Keppres. Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. Pasal 14 Ibid.41 Menteri menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan pemerintah RI pada suatu perjanjian internasional untuk dipertukarkan dengan negara-negara pihak dalam perjanjian internasional atau disimpan oleh negara atau lembaga penyimpanan pada organisasi internasional. . UU ini dapat diajukan ke MK. diampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi UU.40 Setiap UU atau Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara RI. Pasal 32.42 Lembaga penyimpanan (depositary) merupakan negara atau organisasi internasional yang ditunjuk atau disebut secara tegas dalam surat perjanjian untuk menyimpan piagam pengesahan perjanjian internasional. Pasal 37 Indonesia (a). Tata cara pembahasan RUU tersebut diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPR. Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan.6. Pasal 14 Ibid. 38 39 40 41 42 43 Ibid.lembaga pemrakarsa 38 memperbanyak naskah RUU tersebut dalam jumlah yang diperlukan.Praktek ini berlaku bagi perjanjian multilateral yang memiliki banyak pihak. atau melalui cara lain sesuai kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam perjanjian.5. Penempatan peraturan perundang-undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam Lembaran Negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara.

yang bunyinya sbb: Perorangan warganegara Indonesia. 24 tahun 2003.44 Adanya kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata45 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. b. Yang termasuk sebagai ini adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan yang sama dapat tampil sebagai pemohon. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversaria atau contentious yang berkenaan dengan pihakpihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata maupun tata usaha negara. Dimana bagian yang terpenting adalah legal standing dari pemohon dalam mengajukan permohonannya. Oleh sebab itu perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. Persyaratan legal standing dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam UU. subjek hukum yang mengajukan disebut sebagai pemohon. bukan gugatan. Rumusan ini merujuk pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . Dalam hal ini adalah kepentingan pemohon dalam mengajukan permohonan termaksud.47 a. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya UU yang dipersoalkan. 44 45 46 47 Semua perkara konstitusi di MK disebut sebagai perkara permohonan. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan. asalkan dapat membuktikan dirinya memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk menjadi pemohon. Dalam hukum acara MK yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut UU untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada MK.Tatacara Pengajuan Permohonan Pengujian UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional ke MK Dalam perkara permohonan pengujian UU Pengesahan Perjanjian Internasional. Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet poiny d’action. melainkan permohonan. sebenarnya tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke MK dan menjadi pemohon.46 Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI ynag diatur dalam UU. maka prosedur pengajuan yang digunakan tidaklah berbeda dengan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan Mahkamah tentang pengajuan permohonan. Dengan demikian. UU yang digugat adalah UU yang mengkat umum terhadap segenap warga negara. Dalam berperkara di MK. Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian UU.

atau (iv) lembaga negara. hal. c. (iii) badan hukum public atau privat. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. b. Maruarar Siahaan. Kemudian.49 yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan.c. Maksudnya adalah lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya UU yang dimohonkan pengujian. Dari penjelasan-penjelasan di atas. melainkan juga mencakup pengertian lainnya secara luas. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat khusus dan actual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. Seperti telah diuraikan di atas. Mahkamah telah menentukan lima persyaratan mengenai kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu UU sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK. e. maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. maka dapat diketahui bahwa setiap pemohon haruslah: 48 49 50 Dengan berkembangnya ilmu hukum di masa modern ini. berdasarkan pertimbangan hukum Putusan Perkara No. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 81-82 . Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan WNI (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). 006/PUU-III/2005. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. Hal Badan hukum public atau privat. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945.48 Lembaga Negara. d. 2005. Konstitusi Press: Jakarta. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan. Dua criteria dimaksud adalah:50 a. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu UU yang dimohonkan pengujian. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di MK. yaitu: a. b. d. besar kemungkinan badan hukum tidak hanya mencakup pengertian public/privat saja.

2. bahwa apabila permohonan yang bersangkutan kelak dikabulkan. maka yang bersangkutan memang dapat dipastikan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan perkara ke MK. mengingat dampak kekuatan mengikatnya tidak saja terhadap keberlakuan UU tersebut akan tetapi juga dalam pergaulan internasional. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. maka pemohon harus menguraikan dengan jelas mengenai anggapan tentang hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan dengan berlakunya UU a quo. maka kerugian konstitusional yang bersangkutan memang dapat dipulihkan kembali dengan dibatalkannya UU dimaksud. Uraian ini harus secara jelas dan tegas yang pada pokoknya akan menunjukkan hubungan hukum antara pemohon dengan materi permohonan yang hendak diajukan. Untuk dinyatakan memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan. Untuk itu dalam kaitannya dengan permohonan yang diajukan ke mahkamah. 4. Bagaimana penilaiannya oleh hakim sangat tergantung kepada kasus konkretnya di lapangan. Karena. bahwa adanya atau timbulnya kerugian dimaksud memang terbukti mempunyai hubungan sebab akibat atau hubungan kausal dengan berlakunya UU yang dimaksud. bahwa hak atau kewenangan konstitusional yang bersangkutan memang telah dirugikan atau dilanggar oleh berlakunya UU atau bagian dari UU yang dipersoalkannya itu. Mahkamah perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan legal standing ini. . Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. 3. 5. penilaian mengenai legal standing ini baru mengantarkan pemohon kepada keabsahannya sebagai pemohon. dalam permohonannya pemohonharus menjelaskan kedudukan hukum pemohon dalam perkara yang diajuakan. atau bersifat kumulatif secara mutlak. Jika kelima criteria ini tidak dapat dipenuhi secara kumulatif. dalam pelaksanaannya. salah satu dari keempat kelompok subjek hukum tersebut di atas. kelima kriteria itu kadang-kadang tidak diterapkan secara kaku.1. belum memperhitungkan pokok permohonannya. bahwa subjek hukum dimaksud memang mempunyai hak-hak atau kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Sudah tentu. kelima criteria tersebut masih bersifat abstrak. Untuk itu secara khusus perihal legal standing harus menjadi perhatian Mahkamah.

menyatakan bahwa UU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. sebagaimana yang disebutkan dalam UU Perjanjian Internasional. apakah itu materiil atau formil.Materi pengajuan yang hendak dimohonkan ke mahkamah juga harus menyebutkan dengan jelas perihal permohonan pengujian formil atau pengujian materiil. Terkait Indonesia perjanjian tersebut. dimana harus dilihat siapa yang mewakili pemerintah Indonesia? Apa dasar keterweakilan pemerintah Indonesia? Hal ini terkait dengan surat kuasa yang diemban oleh wakil Indonesia dalam proses perjanjian internasional tersebut. dalam perkara pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. Uraian ini akan menjadi gambaran yang jelas bagi hakim dalam menilai materi permohonan yang diajukan. hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam menjatuhkan putusan atas perkara a quo. Dalam petitumnya pemohon dalam permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional. Dalam hal ini pemohon harus menguraikan dengan jelas yang berisi uraian perihal permohonan yang hendak diajukan. Dalam hal ini harus diperhatikan bagaimana dengan keikutsertaan keterwakilan Indonesia pemerintah dalam perjanjian dalam internasional tersebut. keterwakilan pemerintah dalam perjanjian internasional tersebut dan proses pengesahan perjanjian internasional menjadi UU. masalah proses perundingan atau negosiasi. Permohonan putusan Mahkamah dalam petitum penting untuk dinyatakan dalam permohonan yang diajukan. Hal ini terkait dengan proses keikutsertaan Indonesia sebagai pihak dalam perjanjian internasional. kiranya menjadi perhatian khusus Mahkamah dalam memeriksa dan memutus perkara ini adalah terkait dengan pengujian atas pembentukan UU a quo. Hal ini akan terkait dengan bentuk keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Apabila dalam permohonan tidak dinyatakan . pemeriksaan tidak hanya terkait dengan proses pembentukan di DPR akan tetapi harus juga dijadikan perhatian perihal proses keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Hal lain yang harus juga diperhatikan dalam kaitannya dengan permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional adalah apa bentuk UU pengesahan tersebut. Dalam kaitannya dengan pengajuan pengujian formil. Hal ini adalah untuk menjawab pertanyaan perihal bentuk pengesahannya apakah UU ratifikasi atau aksesi atau penerimaan. Hal ini akan terkait dengan sejauh mana wewenang wakil pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan proses keikutsertaan dalam perjanjian internasional. Dalam pengujian formalitas UU pengesahan perjanjian internasional.

Dampak Pembatalan UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional Dampak dari pembatalan UU tersebut tidak hanya akan bersifat nasional tetapi juga bersifat internasional. Dalam hal ini harus diperhatikan dengan baik terkait dengan materi muatan yang menjadi dasar pengujian materiil yang diajukan. Meskipun dengan pembatalan UU pengesahan perjanjian internasional tidak secara serta merta menghilangkan keikutsertaan Indonesia dalam pergaulan internasional. Dalam hal permohonan yang diajukan adalah pengujian materiil UU pengesahan perjanjian internasional. Dalam hal ini harus diperhatikan. perjanjian internasional tersebut secara keseluruhan. Dalam memberikan keputusan yang terkait dengan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. maka hal ini harus menjadi perhatian dalam pemeriksaan pendahuluan dan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki permohonannya. Kesemua aspek tersebut akan menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan yang akan dibuat oleh Mahkamah dalam memutus permohonan a quo.petitumnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah jika perjanjian internasional yang disahkan oleh UU . yaitu apakah dalam perjanjian internasional tersebut dimungkinkan untuk melakukan pembatalan sepihak atau penangguhan.batalan sepihak atau penangguhan keikutsertaan dalam perjanjian tersebut. Kerena pengujian UU pengesahan perjanjian internasional memiliki dimensi yang tidak saja bersifat nasional namun juga internasional. pasl dan/ atau bagian yang bertentangan dengan UUD 1945. Walaupun dalam Konvensi Wina Article 46 dinyatakan bahwa negara peserta dari suatu perjanjian internasional dapat membatalkan keikutsertaannya dalam perjanjian jika pelanggaran terhadap perjanjian tersebut merupakan suatu tindakan yang memang sesuai dengan internal law of fundamental importance. hal ini juga harus diperhatikan oleh Mahkamah. Hal ini penting bagi Indonesia. karena Indonesia tidak dapat menarik diri dari perjanjian tersebut jika tidak ada pasal yang mengatur mengenai pe. maka pengujian dilakukan berkaitan dengan materi muatan dalam ayat. juga harus dipertimbangkan dampak yang akan timbul dari dikabulkannya permohonan tersebut. dimana apakah pernyataan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat atas materi muatan yang diperiksa dan diputus mahkamah akan dapat dikategorisasi sebagai pembatalan sepihak atau tidak. Dalam hal pengujian UU pengesahan perjanjian internasional dapat menimbulkan penafsiran sebagai bentuk pembatalan sepihak (denunciation) dari keikutsertaan Indonesia.

yang harus dihormati oleh negara-negara lainnya. Maka pernyataan untuk terikat dalam perjanjian internasional tersebut merupakan suatu itikad baik. Dengan demikian pembatalan suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional yang dilakukan oleh MK tidak selalu menjadikan Indonesia lepas dari keterikatannya yang telah dinyatakan oleh Indonesia terhadap perjanjian tersebut. seperti halnya dalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. PBB tidak ingin mengulangi pengalaman LBB yang dilemahkan oleh pengunduran diri beberapa anggotanya pada tahun 1938. Dengan demikian Indonesia sebenarnya tidak pernah keluar dari PBB. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia mundur dari keanggotaan PBB pad Desmber 1964. menetapkan bahwa pembatalan atau pernyataan tidak terikat terhadap perjanjian ini berlaku satu tahun sejak pemberitahuan mengenai pernyataan tersebut diterima oleh Dewan Federasi Swiss. Hal berbeda jika hal ini diatur dalam perjanjian internasional. Seperti halnya di dalam Piagam PBB. . Pada saat Indonesia ingin kembali menjadi anggota PBB. Namun dalam hal ini dapat dimasukkan dalam pembatalan atau penangguhan secara sepihak ini tidak akan menjadi masalah jika pengunduran diri diatur dalam suatu perjanjian internasional.dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan UUD 1945. hal ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. Mengenai pembatalan perjanjian yang diakibatkan oleh dibatalkannya suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional oleh MK tidak termasuk dalam faktor-faktor yang menjadikan perjanjian menjadi batal atau ditangguhkan. jika pengunduran diri atau penangguhan untuk terikat terhadap perjanjian tidak diatur. dengan menyesuaikan perjanjian internasional tersebut dengan konstitusi negaranya. pengunduran diri Indonesia di PBB dihitung sejak pernyataan mundur Indonesia di PBB. dalam Pasl 63 mengenai Perbaikan Keadaan Luka dan Sakit di Medan Perang di darat. Hal ini berlainan dengan LBB yang mengatur mengenai pengunduran diri dari LBB. negara peserta diberikan kesempatan untuk memutuskan apakah akan menjadi pihak dalam perjanjian internasional atau tidak. Indonesia diwajibkan membayar segala kewajiban selama ketidak aktifannya di PBB. Berlainan jika pengunduran diri atau pembatalan tidak diatur dalam perjanjian internasional. Konvensi Wina menyatakan hal di atas karena dalam prosedur ratifikasi.

Hal ini dapat dilihat dari interaksi masyarakat internasional dimana peran negara sangat penting dan mendominasi hubungan internasional. IGNOU.[1] yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara.) di Faculty of Law.A. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya. Karena peran dari hukum nasional negara-negara dalam memberikan pengaruh dalam kancah hubungan internasional mengangkat pentingnya isu bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional dari sudut pandang praktis. Latar Belakang Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis. I.L.C. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda. yaitu teori voluntarisme. University of Delhi dan program Master of Political Science (M. New Delhi.) di School of Social Science. Dalam memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya. Berbeda dengan . dan teori objektivis[2] yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara.[3] Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional.PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA Oleh Pan Mohamad Faiz* * Penulis adalah mahasiswa program Master of Comparative Law (M. saling berdampingan dan terpisah. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional.

Akibat lain adalah tidak mungkin adanya pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut. sedangkan pada hukum internasional adalah negara. Dengan demikian dalam teori dualisme tidak ada hirarki antara hukum nasional dan hukum internasional karena dua perangkat hukum ini tidak saja berbeda dan tidak bergantung satu dengan yang lain tetapi juga terlepas antara satu dengan yang lainnya. yang mungkin adalah renvoi. Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional.[4] Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: 1. Sumber hukum.[6] Karena itu dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasional memerlukan transformasi menjadi hukum nasional. . Kenyataan. II. Subjek hukum internasional. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. 4. lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. Struktur hukum.[5] Maka sebagai akibat dari teori dualisme ini adalah kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada perangkat hukum yang lain. sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional. subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. 3. Teori Keberlakuan Hukum Internasional A.pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara. pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. 2. hukum nasional bersumber pada kemauan negara.

[10] Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. Monisme dengan primat hukum nasional.[7] Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia.[8] Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional.[9] Monisme dengan primat hukum internasional. Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara. hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara. Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional. Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1. Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia.B. Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara. 2. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional. . Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya.

3. Dengan demikian Pasal 38 Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional. hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas. dengan demikian hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan dihadapannya adalah: 1. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan Kapal tidak pernah terbentuk. Menurut sumber tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum internasional. termasuk organisasi internasional dan negara-negara. Kebiasaan Internasional. yang mendirikan Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam Mahkamah Internasional Permanen. ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional. 2. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 . yang pada saat ini tercantum dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 1945. Perjanjian Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional. 4.[12] Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk mengakibatkan hukum tertentu. tertanggal 18 Oktober 1907. Perjanjian Internasional. rinsip Hukum Umum.[11] Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal. Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Wina) 1969.III. Pada Konvensi Den Haag XII. yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan Piagam Mahkamah Internasional. Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920.[13] Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan sangat pesat. karena tidak tercapainya minimum ratifikasi. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan untuk menetapkan hukum. Pasal 7.

[15] Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan. accord. konvensi (convention). proses penerimaan . 2. pakta (pact). sebagai berikut: 1. protokol. 4. covenant. modus vivendi. Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalahmasalah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. Sedangkan golongan kedua lebih sederhana. deklarasi. Dalam perundingan bilateral. dan lain-lain. Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda dengan perjanjian internasional. Dalam Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga diratifikasi menjadi hukum nasional. 3. Selanjutnya apa yang menjadi ukuran suatu perjanjian mana yang termasuk golongan yang penting. Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. penandatanganan dan ratifikasi.[14] Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty). charter. Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan. Hal ini biasanya berdasarkan alasan adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara.[17] Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). piagam (statute). sehingga memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan perjanjian mana yang tidak di Indonesia. Dalam perundingan multilateral. yaitu perundingan dan penandatanganan. arrangement. menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan perjanjian internasional. Proses pembentukan Perjanjian Internasional. kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional.Januari 1980. Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional. perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang cepat.[16] Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua tahap.

Untuk perjanjian multilateral. Penandatanganan : merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk itu melalui Surat Presiden No. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. . Pengesahan Perjanjian Internasional di Indonesia Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945. 2826/HK/1960. organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya.[19] Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau keputusan presiden. tertanggal 22 Agustus 1960. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.(acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Sebelum adanya Undang-Undang No. penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak.[18] Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. Tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/accession/acceptance/approval). IV. Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan undang-undang. 5. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia.

Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah: • • • • • • • • Ketentuan Umum Pembuatan Perjanjian Internasional Pengesahan Perjanjian Internasional Pemberlakuan Perjanjian Internasional Penyimpanan Perjanjian Internasional Pengakhiran Perjanjian Internasional Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup[20]

Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional; 2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian; 3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan (approval) yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut; 4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).[21] Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah Presiden dan Menteri. Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada

dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian interansional tersebut. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.

internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang.[22] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang atau keputusan Presiden.[23] Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan DPR.[24] Pengesahan dengan keputusan Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.[25] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: • • • • • • masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara; kedaulatan atau hak berdaulat negara; hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pembentukan kaidah hukum baru; pinjaman dan/atau hibah luar negeri.[26]

Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional, perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun 2000. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24 tahun 2000, dinyatakan bahwa: ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang

hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui undang-undang dan keputusan presiden. Undang-undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih spesifik. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional seperti ini dapat lansung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya, pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. *** Catatan: Tulisan ini merupakan resume dari salah satu hasil penelitian yang dibuat penulis bersama tim lainnya dalam "Pengujian Undang-undang yang Mensahkan Perjanjian Internasional".

cit. hal 57-56.. Para pemuka aliran ini adalah Triepel dan Anziloti. USA. hal 56 [4] I A Shearer. Pengantar Hukum Internasional. Kelsen dan Verdross) [11] Ibid. hal 117 . cit. Jakarta 2003. hal 29 [13] Op. hal 65. hal 114 [12] Shearer. Starke’s International Law. Paham ini dikembangkan oleh mazhab Wina (Kunz. Akhir dari puncak kaidah hukum terdapat kaidah dasar (Grundnorm) yang tidak dapat lagi dikembalikan pada suatu kaidah yang lebih tinggi. [2] Teori ini menghendaki adanya suatu norma hukum yang merupakan dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional. hal 62. 1984. [7] Ibid. Butterworths. [8] Op. Kelsen dianggap sebagai bapak dari mazhab Wina. 11th ed.Endnotes: [1] Teori-teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional itu pasa kehendak negara ini merupakan pencerminan dari teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai pemikiran ilmu hukum di Eropa pada abad ke 19.. Alumi. Alumni.. Bandung 2003. [3] Mochtar Kusumaatmadja. cit. hal 64. yang mempengaruhi teori Objektivis ini. [6] Loc. hal 61 [9] Ibid [10] Ibid. Aliran ini pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia. Pengantar Hukum Internasional. [5] Mochtar Kusumaatmadja.

cit. 5. Pasal 8 [23] Ibid. Pasal 10 . Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185. tanggal 22 Agustus 1960. Vienna 1969 [15] Op. [19] Loc. cit. Pasal 11 [26] Ibid. hal 119 [16] Ibid [17] Ibid [18] Surat Presiden No. Pasal 9 [24] Ibid. [22] Ibid.[14] Vienna Convention on the Law of Treaties. [21] Ibid. Pasal 10 [25] Ibid. Pasal 7. [20] Indonesia (a). 2826/HK/1960. Lihat: Catatan Kaki No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.. Undang-undang No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful