Kompilasi Permasalahan

Direktorat Perjanjian Ekonomi Sosial dan Budaya
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri 2008

TOR DEPLU MENGENAI STUDI TENTANG SISTEM HUKUM SUATU NEGARA TERKAIT DENGAN PROSES PENGESAHAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL SERTA PENGOLAHAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL OLEH SUATU NEGARA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
* TOR ini dilengkapi dengan “Diskusi Professor Ko Swan Sik dengan Bapak Damos Dumoli Agusman berkaitan dengan TOR DEPLU mengenai Studi Tentang Sistem Hukum Suatu Negara Terkait dengan Proses Pengesahan dan Pemberlakuan Perjanjian Internasional serta Pengolahan Naskah Perjanjian Internasional oleh suatu Negara dan Organisasi Internasional”

Permasalahan yang lahir dari Praktek Negara RI tentang Internasional yang perlu mendapatkan penjelasan akademis:

Perjanjian

1. Dalam kaitannya dengan hubungan perjanjian internasional dengan hukum nasional, apakah Indonesia menganut faham monisme atau dualisme? 2. Apakah perjanjian internasional perlu di definisi ulang sehingga mencakup semua perjanjian yang bersifat transnasional? 3. 4. Apakah loan agreements adalah perjanjian internasional? Apakah nomenclauture membedakan bobot juridis suatu perjanjian internasional?

5. Apakah lembaga negara di luar eksekutif (MA, BPK, DPR) dapat membuat perjanjian internasional? 6. Apakah Sekjen ASEAN dapat membuat perjanjian dengan negara ketiga atas nama angota ASEAN?

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM DINAMIKA GLOBAL 1. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi, mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Sekalipun Literarur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten, namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Perkembangan antar bangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan dan intensitas pembuatan perjanjian internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya.

2.

3.

Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur dalam Pasal 11 UUD 1945, yang kemudian diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional oleh Pemerintah RI. Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional.

4.

PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME? 5. Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukum nasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme, dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjian internasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untuk mengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan. Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikan dasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.

Komentar Prof. Swan Sik:

Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasional Indonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari sudut tata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2 sebagai berikut: (a) HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungan sistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluar dan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan ini berkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN (transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalam lingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagai HN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukan hubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori) (b) HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagai keseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“diinkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun dengan mempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untuk diterapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.

diatas dapat ditentukan secara berbeda-beda. dan yang lain bahkan menempatkan UUD pun dibawah HI. Jika HN telah menetapkan status hubungan ini maka warna jurusan akan terlihat dan teridentifikasi. Dalam jurusan ini terdapat dua variasi. HN Indonesia tidak perlu terjebak dengan berbagai jurusan tsb namun tetap diperlukan adanya sikap (”legal provisions”) dalam HN Indonesia yang menentukan apa status HI dalam HN (hubungan HI dan HN). sehingga dapat diharapkan ada keputusan2 hakim yang mengutarakan pendapatnya tentang ada (tidak)-nya “pengecualian2” demikian. Beberapa ahli berpandangan bahwa sebaiknya ketiga jurusan itu bisa dipakai dengan menggunakan parameter kepentingan nasional secara kasus per kasus.” Berdasarkan ketentuan ini hakim wajib menguji wewenangnya terhadap HI. Ada HN yang menentukan pilihan tsb. Saya sendiri berpendapat bahwa ”bukan jurusan yang menentukan apa yang HN pilih. para ahli Indonesia menolak menggunakan teori monisme-dualisme dalam menjelaskan hubungan HI dan HN namun tanpa sengaja pandangan mereka tentang hubungan ini selalu dilatarbelakangi oleh salah satu aliran ini. jika kepentingan nasonal (national interest) menuntut. Pilihan antara ketiga kemungkinan tsb. terdapat suatu pertanyaan critical. tapi apa yang HN pilih yang akan menentukan jurusan”. maupun di hukum PI yang berlaku untuk Indonesia. Kesulitan yang saya hadapi adalah. di Konstitusinya. maka ketiga jurusan itu bisa dipakai secara bergantian. atau melalui tundakan2 berdasarkan otoritas pejabat hukum (misalnya hakim.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dari hasil diskusi dengan para ahli hukum Indonesia. atau pemerintah pusat) Disamping itu ada kemungkinan diadakannya perbedaan antara HI tertulis (perjanjian internasional) dan HI tak tertulis (hukum kebiasaan) dalam penerapan pilihan sistem. yaitu ”apakah suatu negara mutlak memilih salah satu jurusan tersebut”. atau dgn jalan undang-undang. yang satu mengecualikan UUD dari pengutamaan HI. sehingga mendahului HN yang berlawanan dengannya. . Sayang sukar untuk diketahui praktek hakim karena masih belum adanya kebijakan pengumuman luas keputusan2 hakim (selain dari pemberitaan2 wartawan disurat kabar). baik yang bersumber di hukum kebiasaan. bahkan diakui sebagai hukum yang bertingkat lebih tinggi. seperti pasal 22a “Ketentuan2 umum perundang-undangan” (Algemene bepalingen van wetgeving. They deny the theory but their thinking reflect the theory. Artinya.(c) HI dianggap tidak hanya ter-inkorporasi dalam lingkungan HN. Dalam konteks ini mereka tidak menginginkan HN Indonesia memilih jurusan dan membiarkan ketiganya applicable dalam setiap kasus. Petunjuk paling jelas sebenarnya dapat dilihat dalam praktik peradilan (“yurisprudensi” dalam arti-kata umum). Staatsblad 1847:23) yang berbunyi: “Wewenang hakim dan daya pelaksanaan keputusan hakim dan akta otentik dibatasi oleh pengecualian2 hukum internasional. Bahkan dari zaman kolonial masih ada ketentuan yang berdasarkan peraturan2 peralihan masih berlaku. Sikap tata hukum Indonesia (HN) terhadap berlakunya HI dalam lingkungan HN sebagai keseluruhan belum jelas.

terhadap suatu negara) diperlukan seperangkat tindakan pejabat hukum HN (ratifikasi) yang dalam hal ini bertindak baik dalam fungsi HN maupun fungsi HI. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasanaliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Indikasi kearah monisme misalnya tercermin dari: . Praktek Indonesia justru tidak konsisten dalam masalah ini. tidak per se merupakan bukti bahwa RI menganut dualisme. Swan Sik: Syarat keberlakuan PI untuk lingkungan HN ditetapkan oleh HI (ada tidaknya PI yang relevan untuk RI) dan HN (ketentuan status PI tsb. Dari pandangan para ahli hukum Indonesia. Perundang2an bersangkutan mungkin “mengatur lebih lanjut” (ToR dengan tepat menggunakan istilah “implementasi”).Saya sendiri keberatan jika parameter kepentingan nasional selalu dipakai untuk menentukan pemilihan jurusan karena akan menciptakan ketidakpastian hukum dan prinsip predictability yang menjadi fundasi suatu sistem hukum. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. dalam lingkungan HN).  Komentar Agusman: Damos Dumoli Memang tidak terdapat indikasi tegas apa yang dianut oleh Indonesia dalam masalah hubungan HI dan H. Adanya perundangundangan yang mengatur hal2 sama dengan apa yang telah diatur pula dalam suatu PI yang berlaku untuk RI. Agar PI mengikat suatu negara (berlaku. dan belum terlihat adanya pandangan yang diluar dari ketiga jurusan tsb. dapat saya simpulkan bahwa pandangan mereka terhadap hubungan HI dan HN mengarah pada memilih salah satu jurusan teori. dari sudut HI. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. Apakah tindakan2 tersebut juga berakibat PI bersangkutan berlaku dalam lingkungan HN (lihat catatan diatas) adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh HN. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. Pertanyaan saya: dapatkan suatu negara memilih ketiga jurusan tersebut? Jika dapat. apakah dilakukan secara “silent”? (tanpa memerlukan penetapan oleh HN?) *** 6. dalam bentuk tegas ataupun sebagai hasil penafsiran (contoh: oleh hakim). Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut.

1. Menurut kelompok ini UU/Perpres ini Pakar hukum D. suatu dokumen yang ”governed UNCLOS 1982 10. the Subject-Matter of the agreement? dianggap there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to c. Namun dilain pihak.  by Subject of International Law  in Written Form 6. hanya jubah untuk menyatakan persetujuan DPR/Presiden dan bukan merupakan UU/Perpres dalam pengertian perundang-undangan. Dalam hal ini. Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. UU NO 39/1999 tentang HAM: Ketentuan hukum internasional yang telah diterima yaitu: negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum  an International Agreement nasional. atau subjek hukum internasional lain. Perjanjian yang dibuat dengan NGO juga dianggap sebagai Perjanjian internasional. organisasi hukum internasional. Apakah dari: law” juga masih menimbulkan tentang Perairan Indonesia. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan UU/Perpres yang internasional yang PI dimaksud. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merujuk langsung pada “praktek dan dasar yang harus dipenuhi Dari pengertian hukum ini. 24/2000 tentang PI: ”Penempatan peraturan perundangundangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan THEY? TREATIES: WHAT AREagar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia. 17/1985 tidak dianggap bertentangan dengan UU Perpu a. UU ini baru dicabut oleh UU No.6/1996 sendiri dapat b. Judicial review MK tentang UU No. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional tidak luput dari kerancuan ini. UU No. UU No. Kasus Sengketa bidang hukum publik. produksendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 6/1996. Klausula yang dimuat dalam suatu UU yang meratifikasi suatu Perjanjian Internasional (dan oleh organisasi internasional) adalah:PI selalu memuat kalimat: asli (PI) Inggris “An ”Salinan naskahAgreementdalam bahasa between dan terjemahannya dalam bahasa International concluded States and International Indonesia sebagaimana and governed by international Law. Sebelum lahirnya UU ini. 17/1985adalah meratifikasi by international tidak mencabut UU Perpu 4/1960 perdebatan akademis.Penjelasan Pasal 13 UU No. PASAL 22A AB: KEKUASAAN HAKIM DIBATASI OLEH PENGECUALIAN-PENGECUALIAN  “governed by international law”((diatur dalam hukum internasional serta OLEH HI menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik)  whatever form. di bidang hukum perdata. 1/1982 dimaksud dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yangdalam prakteknya dapat diterapkan langsung tanpa ada UU tentang Diplomatik/Konsuler. the intention of the Parties? 4/1960 karena karakter dualisme. 4. yang diatur Perjanjian Internasional adalah: setiap perjanjian diTanah Kedubes Saudi Arabia: Fatwa MA oleh Langsung Merujuk Padadan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. bahwa perjanjian mentransformasikan menjadi lingkup UU ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang diatur dalam hukum Jurisprudensi Indonesia sendiri hak dan kewajiban sehingga hukum publik dan bukan internasional serta menimbulkanbelum berkembang di bidang belum memberikan kontribusi untuk pengembangan doktrin hubungan HI dan HN. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex.” 7) Perjanjian Internasional berdasarkan Konvensi Wina 1969 (dan 1986) tentang Hukum 2. Kelompok ini masih menganggap perlu adanya 11. Konvensi Wina 1961 internasional. whether embodied Organizations in written formterlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari in a Undang-Undang ini. Pandangan dualisme ini is governed by international oleh Kelompok ahli hukum perundangcreate legal relations tampaknya juga didukung law? undangan Indonesia yang menolak untuk mengkategorikan UU/Perpres yang meratifikasi utatu PI sebagai Harris perundang-undangan. 12. 8) 9) . Dalam rangka dualisme. praktek Indonesia juga mengindikasikan dualisme misalnya dalam praktek penerapan UNCLOS 1982. should sebagai UU yang mentransformasikan UNCLOS 1982. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”treaty room”. Praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya UU No. maka terdapat beberapa kriteria kebiasaan internasional secara oleh universal” suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan UU Nomor 24 Tahun tentang Perjanjian Internasional. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai Perjanjian Internasional dan bahkan diratifikasi melalui UU Nomor 1 Tahun 1963.J. or in two or more related instruments and whatever its single instrument particular designation” 3. Bagaimana mengidentifikasi bahwa UU No. 5.

.

Sebaliknya tercantumnya judul tersebut juga boleh jadi melulu disebabkan kehendak pembuat UU 24/2000 bahwa perjanjian pinjaman/hibah. Swan Sik: Dilihat dari sudut umum. perumus UU No. Dalam hal ini persetujuan dengan UU itu dapat saja ditafsirkan lepas dari hal penempatan perjanjian tsb. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apakah perjanjian internasional perlu didefinisikan kembali.13. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. 24/2000 pada waktu itu tidak dibekali oleh pemahaman tentang definisi perjanjian internasional. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Tafsiran terakhir ini lebih2 masuk akal apabila ternyata praktek Indonesia setelah diundangkannya UU 24/2000 masih tetap kadang2 memuat klausula tentang “governing law” (lihat ToR ayat 24)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dilihat dari historis pembuatan UU No 24/2000. karena materinya. perlu disetujui UU. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. antar negara maupun antar perusasahaan multinasional. sehingga menganggap semua perjanjian baik perdata maupun public adalah treaty dalam pengertian . Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. Pertanyaan yang kita hadapi yalah apakah pilihan demikian masih mungkin bagi RI. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. dengan adanya UU 24/2000 pasal 10 judul (f). pilihan para fihak (negara atau organisasi internasional) tentang penempatan (G-to-G) loan agreement mereka dilingkungan HI atau HN adalah pilihan politik (kebutuhan dan kepentingan) dan tidak merupakan persoalan teoretis juridis. 14. Tercantumnya judul ini boleh jadi oleh karena pembuat UU secara prinsip tidak sudi memperbolehkan perjanjian pinjaman/hibah antarnegara/organisasi internasional diperlakukan sebagai perjanjian yang dikuasai suatu HN. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasan aliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. dilingkungan HN atau HI (lihat juga catatan atas ayat 16). Kalangan publik Indonesia telah menggunakan istilah perjanjian internasional secara popular yang mencakup seluruh perjanjian yang bersifat lintas negara baik publilk maupun perdata (kontrak internasional).

b. Deplu mengusulkan agar dalam RUU ini dibedakan antara kedua jenis perjanjian ini sehingga dapat diketahui rejim UU apa yang akan diberlakukan. ILC sendiri dalam drafting Vieanna Convnetion 1969 menempatkan loan agreements sebagai “subject to a national law”. Praktek negara (termasuk IBRD) yang cenderung menggunakan HI sebagai governing law adalah karena konstelasi politik internasional dewasa ini beranggapan “governed by international law” lebih secured dari pada “governed by a national law”. Akibatnya. perjanjian perdata internasional biasa yang governed by other than international law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan UU tersebut. Mereka enggan menggunakan pengadilan nasional dan HN untuk penyelesaian conflict. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. 24/2000 selalu dianggap sebagai treaty sekalipun governed by HN. yaitu: a. Pertanyaan critical adalah apakah norma HI sudah cukup “adequate” dan available untuk mengatur tentang loan agreements. yaitu governed by international law dan governed by national law. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata. Untuk kelompok pertama diterapkan UU No. . muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang mendindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005.Konvensi Wina 1969. 24/2000. Dalam praktek. misalnya penetapan loan interest. *** 15. Akibatnya. 24/2000. 24/2000 tidak lagi diberi ruang bagi adanya loan agreement governed by HN. 16. Dalam konteks pemahaman yang keliru inilah loan agreements dirumuskan dalam UU No. their terms. perjanjian internasional publik governed by international law seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan. maka berdasarkan UU No. 24/2000 tetapi untuk kelompok kedua tidak perlu diberlakukan. Menurut saya. hal ini tidak dapat dipertahankan karena acapkali muncul loan agreements yang governed by HN namun “dipaksakan” untuk dikategorikan sebagai PI berdasarkan UU No. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. Saat ini terjadi perdebatan yang sangat intensif antara Deplu dengan Depkeu/Bapenas tentang status loan agreements dalam RUU tentang Pinjaman/Hibah. Untuk itu sejak tahun 2006. dalam rangka pembuatan RUU tentang Pinjaman/Hibah telah diupayakan untuk membedakan perjanjian pinjaman menjadi dua jenis. Sehingga mereka menggunakan “treaty” dari pada “contract”. Sehingga loan agreement pada waktu itu oleh perumus UU No. pilihan hukum tentang loan agreements tetap menjadi persoalan juridis teoritis karena “theoretically” loan agreement bukan merupakan domain dari hukum internasional.

yang tentunya membutuhkan ratifikasi sebelum pemberlakuannya. Konsekuensinya. Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun PP Nomor 2 Tahun 2006 (bahkan dalam RUU Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. Pasal 16 PP Nomor 2 Tahun 2006 menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. Dalam pembahasan RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. untuk perjanjian pinjaman kategori ini. perjanjian pinjaman (loan agreements) adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. UU Nomor 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam Pasal 23 (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya UU APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut Pasal 10 (f) UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan UU dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam UU tersendiri. Selain itu. 18. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional jelas mengkategorikan perjanjian pinjaman sebagai perjanjian per definisi UU ini yaitu perjanjian governed by international law. Swan Sik: . Seperti diketahui bahwa UU tentang APBN bukanlah UU untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan UU untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Dalam praktek Indonesia. apakah lembaga ratifikasi seperti yang dikenal dalam hukum tatanegara telah mengalami pergeseran makna? 20. 21. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. 19. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.  Komentar Prof. Dalam kaitan ini.17. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan akademis tentang apakah persetujuan DPR dalam kontek UU APBN identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan UU (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional?.

 Komentar Agusman: Damos Dumoli Untuk menyelesaikan problem ini.macam sebutan yang dipakai dalam praktek untuk perjanjian2 antar-negara/organisasi internasional. Sebaiknya pemerintah mencari ketegasan dengan jalan memancing pernyataan azas dari fihak DPR. Jika loan agreement itu tidak treaty (governing law adalah HN) maka UU 24/2000 tidak apply.  Komentar Damos Dumoli Melihat kompleksitas masalah ini maka sampai saat ini DPR belum memberikan posisi apa pun tentang hal ini. . UU 24/2000 tidak mengatur persetujuan in advance karena tidak dikenal dalam hukum perjanjian internasional. Apakah ini dapat dianggap telah memenuhi syarat tersebut dipasal 23(1) UU 17/2003 dan pasal 10 UU 24/2000 merupakan soal penafsiran yang dapat dijawab oleh praktek hubungan pemerintah-DPR. Namun demikian. Swan Sik: Cara persetujuan DPR seperti yang disebut di ayat 18 diatas pada hakekatnya merupakan persetujuan terlebih dahulu (in advance) atau “pemberian wewenang” untuk mengadakan pinjaman sampai batas tertentu.  Komentar Prof. dengan (dan selama) adanya UU 24/2000 pemerintah tidak mungkin mengadakan perjanjian pinjaman yang mulai berlaku sejak saat ditandatangani. Secara tradisional bentuk dan nama perjanjian (nomenclature) tidak relevan untuk dibedakan karena apa pun namanya tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang di dalam suatu perjanjian internasional.Menurut tafsiran yang manapun. walaupun tanpa perincian sumber pinjaman demikian. artinya PP 2/2006 can apply. Pertanyaan saya adalah apakah persetujuan DPR (in advance) identik dengan ratifikasi? Mengingat karakter ratifikasi adalah “confirming the act that already taken by the executive” maka persetujuan in advance bukan ratifikasi. Namun demikian Depkeu menyatakan pasal 16 PP 2/2006 tidak bertentangan dengan UU karena sudah ada persetujuan dari DPR dalam bentuk UU APBN. Swan Sik: Salah satu hal yang masih tetap tanpa ketegasan yalah konsekwensi bermacam. content perjanjian merupakan tolok ukur ketimbang namanya. Treaty dan Agreement akan dianggap lebih mengikat ketimbang MOU. Dalam hal ini. dan dengan demikian pasal 16 PP 2/2006 bertentangan dengan UU. dunia diplomasi cenderung memberikan bobot yang berbeda untuk setiap nomenclature. maka DEPLU telah memberikan penafsiran bahwa loan agreement menurut UU 24/2000 adalah “treaty”. SHOULD THEY BE DISTINGUISHED? 22. NOMENCLATURE.  Komentar Prof.

Yang dimaksudkan yalah apakah penggunaan istilah tertentu berakibat berbeda dalam bidang keberlakuan hukumnya. Pandangan para negotiators selalu terjebak pada mind setting bahwa MOU lebih rendah dari agreement dan agreement lebih rendah dari Treaty. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya mengikat seperti treaties. Perkembangan hukum perjanjian internasional juga ditandai dengan adanya perbedaan praktek Negara mengenai nomenclature MoU. 25. 24. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti khususnya tentang implikasinya dalam hukum nasional. 23. Masalah ini sayang sekali terlalu luas (dan spekulatif) untuk dijadikan objek catatan singkat. Bagaimanapun persoalan ini sekali-kali tidak semata-mata soal nomenclatur. Dinamika dalam masalah nomenclature ini menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dunia praktisi tentang apakah diperlukan adanya tingkat hirarki perjanjian internasional berdasarkan namanya. khususnya pada Negara-negara common law system yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. (Masalah tersebut pernah saya bahas sebagai judul pidato inaugurasi saya pada tahun 1990. sayang sekali dalam bahasa Belanda: “De verplichting in het volkenrecht” [Kewajiban dalam hukum internasional] . namun menurut terkaan saya masalahnya tetap terbuka)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Praktek Indonesia dalam pembuatan PI dengan negara-negara lain sangat inkonsisten. Gejala ini telah memicu pertanyaan yang bersifat akademis yaitu apakah dewasa ini pemerintah suatu negara yang selama ini dikenal sebagai pemangku fungsi representation of states tidak lagi menjadi lembaga tunggal untuk membuat perjanjian internasional? . Untuk kebutuhan praktis. Petunjuk utama jika menghadapi persoalan bersangkutan yalah tafsiran segala faktor yang memain peranan dalam terjadinya “perjanjian” bersangkutan. Ada praktek Negara. Pustaka mengenai masalah ini pasti telah banyak berkembang sejak saat itu. Praktek internasional termasuk Indonesia juga ditandai dengan maraknya pembuatan perjanjian internasional oleh lembaga di luar eksektif seperti MA. melainkan soal usaha politik antar-negara untuk menghindari keterikatan pada kewajiban hukum tanpa mengaku maksud tersebut. Adanya pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktek beberapa Negara akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. APAKAH LEMBAGA NEGARA DI LUAR EKSEKUTIF DAPAT MEMBUAT PERJANJIAN INTERNASIONAL? 26. BPK dan DPR.

Mereka mengklaim tidak perlu memperoleh kuasa dari pemerintah. Swan Sik: . apakah Menlu lazim mengeluarkan full powers kepada lembagai non-eksekutif? ASEAN’S TREATY MAKING POWER 28. Dalam hal ini. artinya perjanjian antara subjek2 internasional bersangkutan. dan sekali-kali bukannya alat(-alat) perlengkapannya. Komentar Prof. biasa negara. Swan Sik: Bagi HI yang menentukan yalah apakah ada suatu PI. Kenapa pertanyaan full power muncul? Karena non-ekeskutif tidak mengakui Menteri Luar Negeri sebagai bagian dari eksekutif mengeluarkan full power bagi mereka. ASEAN telah memiliki konstitusi barunya (ASEAN Charter) yang akan memberikan landasan hukum bagi aktivitas ASEAN baik dari segi internal maupun eksternal. Seiring dengan maraknya perjanjian internasional oleh lembaga non-eksekutif. Treaty making power merupakan salah satu isu dasar yang lazim diatur dalam konstitusi setiap organisasi internasional sebagai bagian dari paragraf tentang external relations. Namun ASEAN Charter tidak secara rinci mengatur mengenai treaty making power of ASEAN. Hasilnya yang dituju tetap suatu PI.  Komentar Prof. Sejauh pimpinan negara mengizinkan lembaga2 kenegaraan lain daripada Eksekutif mengadakan PI dan sejauh fihak lainnya menerimanya. dan hanya mengindikasikan bahwa masalah ini akan diatur lebih lanjut dalam perangkat implementasi. maka kemudian muncul pertanyaan tentang lembaga full powers. kedudukan Menlu sebagai pejabat khas dalam hukum internasional tidak dikenal 27. Dalam HN. Aspek lain yang kelihatannya kadang-kadang menimbulkan pertanyaan dalam kepustakaan yang tidak jelas terjawab. Perjanjian ini diberi nama “administrative agreements”. tidak ada halangan terhadap praktek demikian. eksekutif adalah the legitimate representive of states. Yang berbeda dari kebiasaan hanya pejabat pelaksananya. Adanya pembagian kekuasaan negara yang semakin ketat di Indonesia menimbulkan implikasi bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga non-eksekutif bukan merupakan urusan eksekutif sehingga perjanjian yang dibuat oleh mereka bukan tanggung jawab eksekutif.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Secara traditional. yalah apakah sifat (PI atau tidak) dan apakah akibat hukum (menurut tata hukum mana) dari perjanjian2 yang kadang-kadang diadakan antara lembaga dan alat perlengkapan badan2 hukum tingkat rendahan (contoh: antara kota-kota) dari negara berbeda. Begitu pula pertanyaan tentang full powers kelihatannya tidak relevan benar (lihat dibawah catatan atas ayat 32/37).

dapatkan dilakukan tanpa melalui consent dari Sekretaris Jenderal ASEAN? . sehingga soal full powers tidak timbul. DPR tidak “mengesahkan perbuatan hukum oleh subjek hukum internasional lain” melainkan mengesahkan perbuatan yang bersifat perbuatan hukum RI berdasarkan pemberian wewenang (“surat kuasa”) tersebut tadi. Dari sudut HI tiada halangan apapun (ayat 37) terhadap acara demikian. atau (3) tanpa ketegasan demikian. European Union yang sudah demikian terintegrasi tidak pernah suatu negara anggota memberi mandate kepada Presiden Komisi untuk bertindak atas nama negara tersebut mengikatkan diri dengan pihak lain. Praktek ASEAN dalam hal ini tidak didasarkan pada prinsip hukum perjanjian internasional bahwa “consent to be bound” harus dinyatakan oleh negara itu sendiri. Pertanyaan yang muncul jika Sekjen ASEAN menandatangani PI atas nama negara anggota adalah: 1. Pengeluaran Surat Kuasa Resmi (Full Powers) adalah untuk kepentingan fihak lainnya (counterpart) dalam perjanjian agar fihak ini memperoleh kepastian bahwa si wakil RI bersangkutan memang “disuruh” RI dan perbuatannya memang di”tanggung” RI. Saya telah membuat catatan khusus tentang issue ini yang akan saya sampaikan secara terpisah. dimana negara anggota akan turut membubuhkan tanda tangan jika bagian dari perjanjian dengan EU tersebut adalah wewenang negara anggota. Pemberian wewenang demikian tidak selalu ternyata dari naskah yang diumumkan. atau (2) berdasarkan pemberian wewenang khusus oleh para negara anggauta secara insidental. Dalam konstruksi seperti digambarkan diatas fihak lain itu percaya. Permasalahannya adalah.[Catatan ini dibuat tanpa penelitian data perjanjian di ASEAN Documents Series] Pembuatan perjanjian dengan fihak ketiga yang dilakukan (ditandatangani) oleh Sekretariat/Sekjen atau “pejabat salah-satu anggauta” dapat (1) tegas atas nama ASEAN. Dalam hal adanya keperluan ratifikasi.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Treaty making power of ASEAN telah menjadi persoalan dalam praktek ASEAN dalam membuat perjanjian. Selanjutnya tindakan tersebut dapat (1) berdasarkan suatu ketentuan khusus dalam naskah “anggaran dasar” ASEAN. Apakah full powers oleh negara itu kepada Sekretaris Jenderal ASEAN adalah full powers yang dimaksud oleh Vienna Convnetion 1969? 2. . atau (2) tegas atas nama para negara anggauta. para negara yang berdaulat berkuasa penuh untuk “memberi kuasa” kepada subyek hukum lain. menerima dan mengaku (recognition!!) wewenang Sekretariat ASEAN. Jika negara itu ingin “terminate atau amandement perjanjian itu. Apa yang dilakukan oleh ASEAN adalah hanya untuk kebutuhan praktis. Dalam EU dikenal adanya Mix Agreements.

29. Hubungan antara seluruh anggota ASEAN dengan pihak ketiga dimana status negara anggota adalah sebagai subjek hukum internasional yang berdiri sendiri. Istilah ASEAN dalam hal ini hanya digunakan untuk merujuk setiap Negara anggota sebagai collective members. Kedudukan ASEAN dalam kaitan ini adalah sebagai organisasi internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional oleh Organisasi Internasional. Namun demikian. Hubungan antara ASEAN sebagai subjek hukum internasional (biasanya ASEAN Secretariat) dengan pihak ketiga. dapatkah DPR mengesahkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum internasional lain? Jika perjanjian itu membutuhkan full power apakah lazim Menteri Luar Negeri memberikan full power kepada subjek asing? Jika negara anggota ingin menarik diri dari perjanjian semacam ini. Hal ini tercermin dari participation clause-nya serta pihak yang menandatangani perjanjian dimaksud yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN secara individual seperti pada the Cooperation Agreement between the Member Countries of ASEAN and the EEC. Dalam perjanjian ini yang membuat perjanjian dengan EEC adalah setiap dan semua negara anggota dan bukan ASEAN sebagai a distinct subject separated from its members. Praktek ASEAN dalam hubungan eksternalnya sudah sangat intensif dan dapat dibedakan atas dua perspektif: a. dapatkah subjek hukum internasional lain melakukan tindakan express to be bound by a treaty atas nama subjek hukum internasional lainnya? Jika perjanjian tersebut memerlukan ratifikasi. bertindak sebagai organisasi internasional as a distinct subject separated from its members 31. dapatkah dilakukan sendiri tanpa melalui Sekjen ASEAN? . ASEAN juga telah membuat berbagai perjanjian dalam kedudukannya sebagai a distinct subject separated from its members yang biasanya menggunakan istilah ASEAN Secretariat. yaitu Perjanjian dengan Pihak Ketiga yang mengikat seluruh Negara anggota ASEAN tetapi ditandatangani oleh oleh Sekjen ASEAN/Pejabat salah satu anggota untuk dan atas nama Negara-negara anggota. Penandatanganan oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota terhadap perjanjian menimbulkan beberapa pertanyaan akademis tentang kekuatan mengikat perjanjian tersebut terhadap negara anggota. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa materi yang diperjanjikan bukan merupakan ruang lingkup atau wewenang ASEAN sebagai suatu organisasi yang berdiri sendiri namun terletak pada negara-negara anggotanya. 7 March 1980. 32. Dalam kaitan ini. b. 30. 33. dalam kaitannya dengan ASEAN sebagai subjek hukum internasional. ASEAN sebagai collective members telah banyak membuat perjanjian dengan negara/organisasi internasional lain. Sekalipun judul perjanjian itu menggunakan isitilah ASEAN namun pada hakekatnya perjanjian dimaksud adalah perjanjian antara negaranegara anggota secara individu dengan organisasi/negara ketiga (perjanjian multilateral). yang terlepas dari Negara anggotanya. Dilain pihak. praktek ASEAN juga menunjukkan adanya beberapa perjanjian yang tampaknya agak menyimpang dari prinsip hukum umum yang berlaku. Sedangkan EEC.

Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan berbagai Perjanjian Internasional. yang ada kaitannya dengan Hukum Internasional. DR. Hukum tentang hubungan diplomatik dan konsuler dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru tahun 1961. 24 Tahun 2000. Sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No. 1978 dan 1986. STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA) Pengantar Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak mudah untuk menemukan kaidah hukum yang mengatur tentang status Hukum Internasional dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional RI. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. MOHD. paham ini cenderung mengabaikan Hukum Internasional. Hukum Nasional tunduk pada Hukum Internasional dalam arti Hukum Nasional harus sesuai dengan Hukum Internasional. Hukum Internasional merupakan kelanjutan Hukum Nasional. 1975 dan 1979. yang tunduk pada Hukum Internasional. Negara akan mengutamakan Hukum Internasional atau Hukum Nasional? Permasalahan pengutamaan dapat diselesaikan dengan menggunakan paham (teori) dalam hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Pada tahun 1969. 1973. Sekarang Indonesia mempunyai Undang-Undang mengenai Perjanjian Internasional yakni Undang-Undang No. Menurut faham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Nasional. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Undangundang yang berkaitan dengan Hukum Internasional. mengatur mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan pengangkatan serta penerimaan duta dalam ranah Hukum Nasional. MH. Indonesia menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Presiden. Hal ini mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian Internasional di ranah Hukum Nasional. Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan 1945. Dikenal ada dua paham yaitu dualisme dan monisme. Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah dibandingkan dengan Hukum Internasional. Permasalahan yang mungkin masih relevan untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan dan bahkan pertentangan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Berdasarkan paham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Internasional. UUD 1945 tidak mencantumkan satu pasal pun yang mengatur status tersebut.. urusan luar negeri. Menurut paham dualisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. seperti Undang-Undang No. dan bagaimana Indonesia menerapkan Hukum Internasional. . sudah mengadakan interaksi dengan Negara maupun Organisasi Internasional. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. yang juga masih berupa Hukum Kebiasaan Internasional. Berdasarkan paham monisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan bagian yang saling berkaitan dari satu sistem hukum pada umumnya.” Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Hukum Diplomatik. Pengutamaan mungkin pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. termasuk didalamnya Perjanjian Internasional. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Namun secara logika paham dualisme akan mengutamakan Hukum Nasional dan mengabaikan Hukum Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional juga tidak mencantumkan pasal tersendiri yang mengatur status tersebut.PROF. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang benar-benar terpisah. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Hukum Internasional merupakan Hukum Nasional untuk “Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Indonesia menetapkan bahwa Presiden mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan menerima duta dan konsul. BURHAN TSANI. Pasal 11 dan 13 UUD 1945. Hakekat Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Nasional. SH. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang No. 1969. 1963.

Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Untuk sepenuhnya menggunakan teori transformasi perlu dilampirkan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi yang termuat dalam perjanjian yang bersangkutan. yang dimulai dengan penutupan (persetujuan) suatu Perjanjian Internasional. ditentukan oleh preferensi etnis atau preferensi politis. Hubungan antara keduanya saling melengkapi. Dalam penerapan PerjanjianPerjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi. Bagi pandangan yang mempunyai sikap politis nasionalis. Prosedur yang dilaksanakan merupakan bagian dari keseluruhan proses pembuatan Perjanjian Internasional yang bersangkutan. Ratifikasi merupakan bagian prosedur pembentukan Hukum Internasional yang dituangkan dalam perjanjian yang bersangkutan. Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Teori ini berlaku untuk penerapan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi Hukum Nasional. Tidak ada transformasi. Hukum Internasional tidak mewajibkan bahwa suatu Negara harus menganut paham dualisme atau monisme. yaitu teori transformasi. Syarat-syarat konstitusional hukum nasional hanya merupakan bagian dari satu kesatuan mekanisme penciptaan (pembuatan) hukum. Tidak ada penciptaan (pembuatan) aturan hukum atau Hukum Nasional yang benar-benar baru. kapan ketentuan Perjanjian Internasional berlaku dalam Hukum Nasional. yang bersumber dari Perjanjian Internasional ada dua teori. Mengenai hal ini ada beberapa teori yang dikenal dalam Hukum Internasional. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. akan mengutamakan Hukum Nasional. Bertumpu pada pengakuan Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. cara bagaimana ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional. Menurut teori inkorporasi Hukum Internasional dapat diterapkan dalam Hukum Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. Indonesia cenderung pada monisme dengan pengutamaan Hukum Internasional. Pengesahan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Pengesahan yang dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia. Dalam penerapan Hukum Internasional. Hukum Internasional dianggap sudah menyatu ke dalam Hukum Nasional. Menurut teori delegasi. Akan tetapi perjanjian yang disahkan dilampirkan begitu saja seperti aslinya. Pasal 2 instrumen pengesahan telah menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang bersangkutan dalam Hukum Nasional Indonesia. delegasi. hak untuk menentukan: 1. dan inkorporasi. Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimanakah penerapan Hukum Internasional dalam ranah Hukum Nasional Indonesia. yang secara tersendiri menentukan sikap Indonesia. Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang yang ada sekarang. Untuk dapat diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. Indonesia dapat dianggap ingin menggunakan teori transformasi. Nampaknya Indonesia cenderung menggunakan teori delegasi. Indonesia secara diamdiam menerima bahwa perjanjian yang bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum Nasional. dan secara struktur merupakan sistem hukum yang berbeda. merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Nasional untuk memperoleh instrumen ratifikasi. aturan-aturan konstitusional Hukum Internasional mendelegasikan kepada masingmasing konstitusi Negara. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. . Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian Internasional yang berlakunya memerlukan ratifikasi. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan sistem hukum yang benar-benar terpisah. yaitu teori transformasi dan teori delegasi. akan mengutamakan Hukum Internasional. Sebaliknya bagi pandangan yang simpatik pada Internasionalisme. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Hal ini tercermin dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang Terorisme Bonn. secara formal dan substantif. Hukum Internasional yang bersumber dari Perjanjian Internasional dapat diterapkan di dalam Hukum Nasional apabila sudah dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Nasional. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. bahwa aturanaturan Hukum Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum Nasional. Indonesia belum pernah membuat perundang-undangan yang mengatur substansi perjanjian yang telah ditandatangani. Dalam praktek pilihan pengutamaan pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Perjanjian Internasional yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah aslinya. Indonesia menganut paham monisme. Demikian juga sebaliknya. yang diperlukan prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. Yang dilakukan hanya merupakan kelanjutan (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan yang tunggal. Indonesia nampak tidak sepenuhnya menggunakan teori transformasi. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. 2. belum ada ketentuan (pasal). Berdasarkan praktek.Dimungkinkan ada monisme yang menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar dengan Hukum Internasional. Teori transformasi mendasarkan diri pada pendapat pandangan positivis. bukan dalam bentuk perundang-undangan formal mengenai substansi perjanjian yang bersangkutan. Prosedur dan metode yang digunakan Negara merupakan suatu kelanjutan proses. Berdasarkan teori transformasi.

SH. BURHAN TSANI. DR. MOHD. Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. dilandaskan pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. PROF. Penutup Praktek-praktek yang tidak ajeg dan simpang siur yang mengakibatkan permasalahan perlu diluruskan. Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Hasil pelurusan dirumuskan dengan baik dan disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada semua pengelola Negara dan Warga Negara. Apabila Indonesia sudah menjadi Negara pihak. MH.. Indonesia wajib melaksanakannya dengan itikad baik dan melakukan penyesuaian perundang-undangannya dengan Perjanjian Internasional yang sudah berlaku secara definitif. .Keterikatan Indonesia pada Perjanjian Internasional yang bersangkutan.

Sebaliknya. Penetapan kesepakatan sebagai perjanjian dalam arti huku. Disamping itu. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tidak hanya melekat karena kekurang jelasannya. melainkan kadang-kadang juga menunjukkan sifat nisbi berbagai pengertian dan azas sekitar PI. ditambah syarat kewenangan pelaku tersebut untuk mengadakan perjanjian yang berkekuatan hukum. Penulis juga tidak bermaksud mencoba menyajikan risalah teori hukum apapun. tetapi tidak mencukupi sebagai penjelasan konsep perjanjian. tulisan ini semata-mata merupakan renungan tentang berbagai ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari. Apabila kesepakatan ini tercapai dan disertai kesungguhan para pihak. dan bersumber pada pengertian perjanjian internasional (PI). . dan yang memuat tekad mereka untuk bertindak kearah keinginan dan sesuai dengan hasrat tersebut. sesuai dengan seruan azas terkenal dalam bahasa asing kuno: pacta sunt servanda1. Demikianlah bunyi Pasal 1338 KUHPer (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) lama (sejauh kitab undang-undang ini masih kita akui sebagai sumber hukum berlaku).BEBERAPA ASPEK KENISBIAN DAN INTERNASIONAL Oleh Ko Swan Sik* KESAMARAN PERJANJIAN * Penulis adalah mantan Guru Besar Erasmus Universiteit Rotterdam (19881996). tata hukum mengenal Pacta sunt servanda merupakan adagium dari Bahasa Latin yang pada umumnya ditafisrkan sebagai “perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya”. Kenisbian lain yaitu ketergantungan keabsahan perjanjian dari kedudukan para pelakunya sebagai subyek hukum 1 tata hukum bersangkutan. berlakunya hukum dalam batas-batas suatu tata hukum tertentu menampilkan pertanyaan tentang keterbatasan ruang lingkup daya hukum yang terkait pada kesepakatan. Istilah “perjanjian” menggambarkan adanya kesepakatan antara anggota masyarakat tentang suatu keadaan yang mereka inginkan. maka tata hukum “menghukum”nya. Diantaranya. Pengantar Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan analisa persoalan hukum tertentu (spesifik/ kongkrit). yang mencerminkan hasrat mereka. berarti bahwa isi kesepakatan itu dijadikan hak dan kewajiban para pihaknya yang berunsur khusus sebagai berikut: apabila si pengemban kewajibannya tidak memenuhi kewajibannya. Uraian singkat ini cukup mutlak dan terang bunyinya. maka tata hukum yang berlaku di masyarakat bersangkutan memberi kekuatan hukum padanya dengan menetapkan perjanjian itu setaraf dengan undang-undang. Guna lebih jelas lihat Black Law’s Dictionary. pendiri Foundation for the Development of International Law in Asia dan anggota Instituut de Droit International. apalagi mencoba menyajikan pemecahan persoalan demikian. artinya membebaninya dengan akibat-akibat (hukum) tertentu tanpa persetujuannya. Ternyata berbagai kenisbian dan kesamaran melekat padanya.

seperti kini juga terdapat di Pasal 1 judul (3) UU 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Ini berarti bahwa sekalipun kita jelas menghadapi perjanjian antar negara. dan yang dikuasai oleh hukum internasional . “Internasional” Terhadap latar belakang tersebut di atas. Meskipun kelihatannya cukup jelas. yaitu istilah “publik”. For the purpose of the present Convention: (a) ‘treaty’ means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law.”. Patut kiranya disini ditambah sekedar catatan sampingan tentang pemakaian istilah lain yang adakalanya terlihat dalam hubungan ini. Sesuai tafsiran undangan Editor jurnal ini. yang sudah 2 memenuhi syarat-syarat yang menurut perkiraan kita menjadikannya Perjanjian 3 Pasal 2 ayat (1) ini berbunyi: 1. Ternyata bahwa yang menjadi buah aturan Konvensi adalah “perjanjian internasional yang diadakan antara negara . yang kata sifatnya “internasional” tidak berarti tunggal. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation.. tampillah pengertian dan istilah “perjanjian internasional”. hal mana kita ingat betul dari setiap permulaan tahun kuliah apabila kita mencoba menerangkan kepada para mahasiswa hakekat mata pelajaran yang mereka ikuti. tetapi para pihaknya pun masing-masing bertindak dari lingkungan HN berbeda.. ketika kita menitikberatkan keperluan menentukan apakah yang kita hadapi itu benar perjanjian yang dikuasai Hukum Internasional.pembatasan-pembatasan mengenai pokok persoalan (“obyek”) perjanjian. pertentangan (hukum) antara publik – perdata sebenarnya tidak berlaku (tidak dapat diterapkan). Sebagai contoh patut diajukan pertanyaan apakah ada perbedaan hukum antara PI tentang pinjaman uang antar-negara dan PI tentang persekutuan militer. Marilah kini kita meneliti beberapa kenisbian dan kesamaran khusus mengenai PI. Kita tahu bahwa keragu-raguan itu bukan akibat kurang jelasnya pencipta pengertian.. Mungkinkah si perancang naskah undang-undang tersebut terjebak kekhilafan yang tersirat dalam penggunaan istilah “hukum internasional publik” sebagai “lawan” “hukum perdata internasional”? Di lingkungan (hukum) internasional (atau “dalam rangka tata hukum internasional”) yang tidak mengenal hubungan antara subyek-penguasa dan subyek yang tunduk pada kekuasaan. melainkan akibat pemakaian perkataan dalam arti kata berganda. namun bagaimanakah kita dapat tetapkan bahwa suatu perjanjian yang kita hadapi itu memang “governed by international law” seperti yang disyaratkan Pasal 2 ayat 1 (a) Konvensi Wina 1969 2 tentang Hukum Perjanjian Internasional? Ada kalanya yang kita maksudkan dengan istilah PI adalah perjanjian yang para pihaknya bertindak dalam lingkungan hukum nasional (HN) (tanpa mempedulikan apakah mereka itu asal mulanya diciptakan sebagai subyek HI ataupun sebagai subyek HN) tapi dengan mata perjanjian yang bersifat lintas batas suatu negara dan oleh karena itu disebut “internasional”. tulisan ini hanya akan mencurahkan perhatian kepada perjanjian golongan pertama dan kenisbian dan kesamaran yang melekat padanya. Kenisbian tersebut terdapat juga di bidang PI yang merupakan golongan khusus dari pengertian perjanjian yang lebih luas. pembatasan mana biasanya bersangkut paut dengan sendi-sendi kemayarakatan bersangkutan.3 Kita dapat (meskipun syukur jarang terjadi) menambah kerumitan di lapangan PI golongan belakangan ini apabila tidak hanya obyek perjanjiannya melintas-batas. Kata “internasional” pertama digunakan untuk merujuk pada perjanjian antara para aktor yang bertindak selaku subyek hukum internasional (HI) dan oleh karena itu khusus berlaku dalam lingkungan HI.. Sifat Normatif Hukum dan Sangkalannya Tadi telah pernah disebut Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina 1969. .

Memang. semua ini tanpa melalui ataupun berdasarkan alasan hukum. sistem-sistem ini semuanya ditujukan kepada pribadi manusia dan tidak mengenal kaidah-kaidah pelaksanaan untuk memberlakukannya dan menerapkannya pada hubungan antar negara. yang dapat dikuasai oleh “sesuatu” yang lain (bukan HN) daripada HI. bertentangan dengan apa yang diharapkan. tidak mustahil pihak yang dikecewakan membalas dengan menuntut apa yang diharapkan dan bahkan menuntut ganti kerugian. akan tetapi sistem demikian hanya mengacu pada bentuk dan tata cara kelakuan dan tidak bersangkut-paut dengan sifat normatif dari hak/kewajiban yang termuat dalam perjanjian bersangkutan. kadang-kadang kita menghadapi perjanjian-perjanjian antar negara yang dianggap tidak memuat kewajiban hukum melainkan “hanya memuat kewajiban politik”. misalnya agama. Memang ilmu politik mengenal dan memperhatikan keadaan dimana kelakuan tertentu pihak yang satu dapat diduga dan diharapkan sebagai akibat kelakuan tertentu pihak yang lain. Hal mana berarti bahwa satu-satunya dugaan tentang maksud dan arti anak kalimat tadi yang masuk akal adalah bahwa si perancang membayangkan kemungkinan adanya perjanjian antar negara. bahkan mengenyampingkan. dan dalam hubungan ini kadang-kadang terdengar pula istilah “perjanjian tidak mengikat” (“non-binding agreements”) yang agak aneh bunyinya dan biasanya dimaksudkan sebagai “perjanjian yang tidak mengikat dari sudut hukum” (legally non-binding agreements). Kita dapat bayangkan berbagai sistem normatif yang berlaku bagi kelakuan manusia selain sistem hukum. Soalnya ialah bahwa hingga kini belum ada uraian yang memberi penjelasan memuaskan tentang bagimana sebenarnya isi sistem normatif politik demikian itu dan sejauh mana sistem tersebut berbeda dari sistem hukum. kita masih juga perlu memeriksa apakah benar “dikuasai Hukum Internasional”. tanpa perhatian. Sistem apakah yang kita dapat bayangkan di sini? Istilah “dikuasai” di anak kalimat tersebut tentu berarti “dikuasai” sistem (hukum internasional) yang mengaitkan ciri normatif kepada kesepakatan antara para pihak perjanjian. hal-hal yang mengenai perjanjian di lingkungan HN. satu dan lain menurut kehendak dan pilihan para pihak tersebut. Dalam perbincangan tentang hubungan-hubungan internasional. dan moralitas. Apabila dalam keadaan demikian kelakuan pihak yang satu itu ternyata tidak terjadi. Namun. Contoh tersohor perjanjian yang kadar hukumnya terang-terangan disangkal adalah Akta Terakhir Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Helsinki Final Act 1975) yang meliputi negaranegara Eropa Barat maupun Eropa Timur termasuk Uni Soviet dan Amerika Serikat dan Kanada (yang hingga kini masih berlaku di negara-negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Sentral yang . maksud tujuannya dan konteks pembuatannya. Apakah makna anak kalimat ini? Mengingat sifatnya. kadang terdengar istilah “perjanjian politik” untuk membedakannya dari perjanjian yang dikuasai hukum. dimana kelakuan belakangan ini merupakan “cogent motive for action” pihak pertama. di lingkungan internasional. Kadang-kadang disebut sistem “kesopanan kemasyarakatan” yang menguasai hubungan-hubungan internasional. dapatlah kita bertolak dari anggapan bahwa Konvensi tersebut khusus mengacu pada perjanjian di lingkungan internasional. Sehingga timbullah pertanyaan apakah kiranya ada “sistem politik” yang bersifat normatif dan menguasai kelakukan dan yang merupakan alternatif di samping sistem hukum. adat istiadat.Internasional asli.

Latar belakang cara yang dipakai ini ialah Pasal 102 Piagam PBB 4 yang mewajibkan setiap PI yang diikutsertai negara anggota untuk didaftarkan pada Sekretariat untuk keperluan penerbitannya (di UN Treaty Series). “Sesuai dengan” peraturan ini. yang tidak.sama sekali bukan merupakan bagian dari Eropa). kadangkadang mengenai perbaikan kedudukan manusia pribadi di pelbagai lapangan. Lembaga inipun belum sanggup menyajikan jawaban yang memuaskan. Keraguan tentu sangat menyolok apabila para peserta berbeda pendapat tentang maksud naskah mereka. ini mengacu pada tidak tercapainya kesepakatan. walaupun mungkin tetap perlu dibedakan dari. No party to any such treaty or international agreement which has not been registered in accordance with the provisions of paragraph I of this Article may invoke that treaty or agreement before any organ of the United Nations. Akan tetapi. dan bahkan memutuskan pada 1983 untuk menangguhkan penyelidikannya sambil menunggu perkembangan-perkembangan yang membawa bahan-bahan baru.5 Pokok persoalan fenomena tersebut. bukan kesamaran perjanjian. Konvensi Wina dalam Pasal 2 ayat 1 judul (a) dengan tegas menyatakan bahwa PI dapat saja termuat dalam satu atau lebih dari satu dokumen dan dapat saja diberi nama apapun. mirip dengan. as would be the case were it a matter of a treaty or international agreement under the aforesaid Article”. Negara-negara Barat menitikberatkan bahwa Akta tersebut bukan PI yang mengikat menurut hukum. Akta Helsinki memuat ketentuan yang memohon si Tuan Rumah (Finlandia) untuk “transmit to the Secretary-General of the United Nations the text of this Final Act (untuk disosialisasikan di antara negara anggota PBB) which is not eligible for registration under Article 102 of the Charter of the United Nations. Kenisbian dan kesamaran yang penulis sebut disini dan yang kadang agak kurang tepat diberi nama “hukum lemah” (soft law). 2. setidak-tidaknya belum. Terlihat disini fenomena hukum “pincang” yang “tidak sempurna”. fenomena usaha-usaha “perundang-undangan internasional” dalam bentuk perjanjian-perjanjian multilateral. Lihat Annuaire de l’Institut de droit international jilid 60-I (persidangan Cambridge. yang mengenai kewajiban kelakuan yang unsur hukumnya disangkal. berarti bahwa bentuk PI tidak ada relevansinya bagi HI dan tidak mempengaruhi kadar hukum 4 5 Ketentuan Pasal 102 ini berbunyi : 1. Every treaty and every international agreement entered into by any Member of the United Nations after the present Charter comes into force shall as soon as possible be registered with the Secretariat and published by it. memuat aturan penegakan hak-hak yang diakui (“without legal remedies”). Sumber Hak dan Kewajiban dan Sangkalannya Dalam menetapkan perjanjian-perjanjian mana yang dikuasai olehnya. perlu dibedakan dari naskah-naskah yang disepakati oleh para pihak namun yang jelas tidak dimaksudkan sebagai sumber hak/kewajiban melainkan sematamata sebagai rumusan pendirian dan tekad masing-masing (yang “kebetulan” sesuai) mengenai hal tertentu. Persoalan kewajiban perjanjian yang tidak berkadar hukum ini bahkan pernah dijadikan judul penelitian di kalangan Institut Hukum Internasional (Instituut de Droit Internasional) di tahuntahun 1970an dan 1980an. Ketentuan ini. yang boleh dikatakan mencerminkan anggapan umum dan dengan demikian dapat dianggap berlaku sebagai HI umum. 1983) . Hal ini ditegaskan secara agak aneh namun jelas.

makna kebebasan bentuk yang diakui Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina. Beliau mengaitkan pandangan ini dengan kebijakan para pihak bersangkutan untuk ‘hanya menggunakan’ nama ‘Deklarasi Bangkok 1967 ‘. bahkan “Nota Kesepahaman” (memorandum of understanding). seperti kata “treaty” dalam bahasa Inggris. meskipun “Pernyataan Bersama” kadang-kadang lebih disukai.isinya.6 Pembuatan naskah sebagai hasil perundingan dapat mengacu ke berbagai tujuan. Tadi kita telah menjumpai fenomena perjanjian dengan hak/kewajibannya yang dikuasai sistem normatif yang tidak bersifat hukum atau suatu “sistem pengharapan” berdasarkan tindakan timbal balik. Ada kalanya naskah dimaksudkan sebagai penetapan hak / kewajiban masing-masing dengan kekuatan hukum. bagaimanapun resmi dan mulia sifatnya. misalnya. Akan tetapi. Meskipun harus diakui bahwa naskah Deklarasi tersebut memang kurang sesuai dengan bentuk lazim naskah pendirian organisasi. Alternatif selanjutnya ialah pengumuman belaka. Demikianlah tafsiran yang selayaknya diberi kepada istilah “treaties in simplified form” yang kita kenal dari praktek diplomasi dan yang dapat berbentuk. Sebaliknya. Tanpa menerangkan alasan-alasan apakah yang menyebabkan kecondongan tersebut. kiranya penyangkalan unsur keterikatan dalam comtoh ini patut dipertanyakan. yaitu keanekaragaman jenis (hak dan) kewajiban yang kadar hukumnya tidak diragukan. Disamping itu. Contoh lain ialah kabar tentang wawancara dengan Presiden AS pada bulan April 2005 tentang hubungan AS dengan Afghanistan setelah pemilihan presiden di negeri itu. Apabila naskah diberi nama menurut kebiasaan tradisional di bidang PI. Sebagai contoh yang cukup ekstrim. oleh karena nama dan rumusan itu merupakan sumber interpretasi tentang maksud para pihak dan makna dokumen bersangkutan mengenai hak dan kewajiban masing-masing. hal ini tidak berarti bahwa nama yang diberikan kepada naskah dan rumusan pengertian-pengertian dan istilah yang dipakai dalam naskah tidak penting. ada kalanya dipilih bentuk “Communiqué” yang sebenarnya berarti tidak lebih daripada “penerangan khalayak ramai tentang sesuatu yang terjadi”. tentang (biasanya hanya sebagian dari) apa yang diperbincangkan antara para pihak dan hasil kesepakatannya. Tidak termuatnya ciri-ciri terkenal demikian sama sekali tidak membenarkan kesimpulan bahwa para pihak tidak menghendaki dokumen kesepakatan mereka merupakan sumber hak/kewajiban hukum. antara lain. . Inilah. pertukaran surat. tanpa tersiratnya janji yang bersifat hukum. suatu naskah sebagai hasil komunikasi (secara bagaimanapun) antara para pihak dapat saja dibuat dengan tujuan berlainan. Tadi telah disebut istilah “Communiqué”. apalagi jika disertai acara-acara klasik seperti syarat ratifikasi (persetujuan keterikatan) dan/atau kesepakatan untuk mendaftarkannya di Sekretariat PBB sesuai Pasal 102 maka kesamaran tentang maksud para pihak boleh dikatakan dapat tercegah. 6 Tidak lama berselang Edy Prasetyono (CSIS) dilaporkan (Hukum Online 11 Juni 2006) pernah mengutarakan pendiriannya bahwasanya dokumen kesepakatan yang melahirkan organisasi ASEAN tidak mengikat. “Pernyataan Bersama” (joint statement). namun dipakai sebagai sumber hak dan kewajiban. Ia menitikberatkan bahwa hubungan strategis tidak mengharuskan pengaturannya dalam perjanjian resmi melainkan cukup diatur dalam bentuk pertukaran surat atau dalam suatu Memorandum of Understanding. Tapi bentuk dan acara demikian tidak merupakan syarat untuk menegaskan sifat hukum isinya. naskah yang disepakati dapat dimaksudkan sebagai pernyataan penetapan tekad para pihak tentang kelakuan mereka di masa yang akan datang. Kadar Hak dan Kewajiban Sangkalan kadar hukum yang merupakan pokok persoalan di atas tadi tidak dapat disamakan dan tidak boleh dicampuradukkan dengan gejala lain.

kewajiban ternyata begitu longgar dan kadar keharusannya menjadi demikian rendah. Kesamaran tetap terdapat bila. 7 Lihat. Istilah “hukum lemah” kiranya lebih tepat untuk menggambarkan kewajiban yang diakui sifat hukumnya namun memberi kelonggaran demikian banyaknya sehingga sukar menentukan garis batas antara memenuhi dan melanggar kewajiban. Draft Articles on State Responsibility. misalnya. apalagi bila ditetapkan pula bahwa tindakan itu harus terlaksana dalam tenggang waktu yang tertentu. dugaan itu ternyata tidak tepat. seperti memilih bermacam nama yang menghindari kata perjanjian. tetap terdapat cukup banyak gejala dalam praktek PI yang menimbulkan pelbagai pertanyaan tentang kelakuan dan tindakan ataupun hasil usaha yang merupakan isi sebenarnya kewajiban bersangkutan. misalnya. Dalam golongan kewajiban untuk melakukan sesuatu (obligation of conduct). Tadi telah kita bertemu dengan istilah “hukum lemah” yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat kewajiban yang tidak jelas apakah memang dimaksudkan sebagai kewajiban hukum. versi 1996. 48th session. Ada sebagian peneliti yang mencari sebab kebijakan demikian di bidang adat-istiadat di bagianbagian dunia yang segan menitikberatkan secara tajam hak dan kewajiban masing-masing pihak. Antara kewajiban-kewajiban kita dapat membedakan kewajiban yang “keras” dan yang “lunak”. Bayangkanlah kewajiban untuk mencegah terjadinya sesuatu. kita perlu mencurahkan perhatian khusus kepada soal kejelasan atau sebaliknya kesamaran yang kadang-kadang melekat pada rumusan suatu kewajiban. Namun.Pengertian sempurna tentang hakekat suatu kewajiban hukum merupakan syarat penting untuk dapat menetapkan apakah kewajiban itu dapat dinilai telah dipenuhi atau justru dilanggar. Kita dapat saja mengira bahwa kesamaran demikian tidak dapat timbul dalam hak kewajiban untuk mencapai suatu hasil usaha tertentu (kewajiban hasil usaha/obligation of result). sesuai dengan kemampuan si pengemban kewajiban. kewajiban dapat saja dirumuskan sebagai kewajiban untuk berusaha. kewajiban bersangkutan mengharuskan menghasilkan suatu “keadaan yang bermanfaat” bagi sesuatu. Dalam hal demikian. Itulah sebabnya perhatian yang cukup besar dicurahkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB kepada penggolongan dan pembedaan antara berbagai jenis kewajiban hukum selama sebagian besar waktu perencanaan naskah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan negara melawan hukum. sehingga timbullah keraguan cukup mendalam tentang dimana letak sebenarnya garis batas antara pelaksanaan dan pelanggarannya. 1996 (A/51/10) Pasal 19-21. hal mana penulis sangsikan.7 Meskipun demikian. Oleh karena itu. . dengan mempertimbangkan keadaan menurut penilaian si pengemban kewajiban. Sebaliknya. Meskipun perlu diakui bahwa di lapangan HI yang bersifat khas itu pertimbangan-pertimbangan “tidak langsung” memainkan peranan yang jauh lebih besar di bidang perjanjian daripada di lingkungan HN. Report of the ILC. sifatnya keras apabila tindakan itu dirumuskan secara sangat tegas dan spesifik. Kami mencatat disana bahwa penggunaan istilah dalam rangka itu rasanya kurang tepat oleh karena kesamaran disana mengenai batas antara hukum dan bukan-hukum. untuk mencoba mencapai sesuatu.

Ada kalanya diadakan perjanjian antara alat-alat perlengkapan dari negara-negara berbeda.8 Timbullah pertanyaan apa sebenarnya kedudukan hukum perjanjian demikian yang kadang-kadang disebut “perjanjian administrasi”. Kompas 7 Agustus 2006. biarpun tidak tegas menyuruh. Haruskah kita menarik kesimpulan bahwa perjanjian semacam itu tidak bersifat “internasional” dalam arti kata lazim sehingga tidak tunduk pada hukum internasional mengenai PI melainkan harus dianggap dikuasai HN? Di samping itu. mengizinkan ataupun menyetujui (meskipun tidak melarang) pembuatan perjanjian demikian. oleh karena mereka dapat saja di samping itu bertindak selaku subyek HN. disamakan dengan PI? Tetapi para pelakunya pada umumnya tidak merupakan (artinya: tidak diakui oleh negara bersangkutan sebagai) subyek HI (pengecualian boleh terjadi di negara federal tertentu). cukup membuat pelik. terutama di kawasan-kawasan yang terletak saling berdekatan namun di negara yang berlainan. antara lain kedudukan para pihaknya sebagai subyek hukum. tata hukum manakah yang menguasainya. Aktor kemasyarakatan yang tidak diakui sebagai subyek HI tidak dengan sendirinya tidak dapat mengadakan PI sehingga perjanjian hasil kesepakatannya tidak pernah dapat dianggap bersifat PI. dianggap terikat padanya. Bayangkan sekarang perjanjian antara aktor yang tidak jelas kedudukannya sebagai subyek HI namun bertindak dalam rangka hukum publik di negaranya. atau boleh. mengingat bahwa perjanjian demikian itu tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu perjanjian HN?! Karangan singkat ini bukan tempatnya untuk menyelidiki persoalan ini secara panjang-lebar. Sebaliknya perjanjian antara para aktor yang jelas subyek HI tidak otomatis bersifat PI. cukup banyak negara-negara dimana hal demikian dapat terjadi dan perjanjian-perjanjian demikian ternyata memenuhi kebutuhan bersama dibidang pemerintahan dan pengaturan kemasyarakatan setempat.Pihak Perjanjian dalam Kenyataan dan Pihak Perjanjian Menurut Hukum: Gejala “Perjanjian Administrasi” Penggolongan suatu perjanjian sebagai PI atau sebagai kategori lain menunjuk pada dikuasainya oleh HI atau hukum lain (atau. Tentu ada negara dimana hubungan lintas batas demikian antara alatalat perlengkapan ataupun kesatuan negara teritorial dilarang oleh hukumnya. Apakah perjanjian itu harus. Akan tetapi. sama sekali tidak dikuasai hukum). 37/1999 tidak memuat sebutan kemungkinan ini. Penggolongan itu didasarkan berbagai kriteria. sehingga gejala yang dibayangkan disini tidak terjadi. siapakah yang selayaknya dianggap sebagai pihak perjanjian? Haruskah negara-negara bersangkutan. meskipun demikian keluhan salah satu Dirjen Deplu tentang ”banyak perjanjian luar negeri yang dilakukan daerah kurang efektif”. seperti kita sempat menjumpai tadi. Namun. . mungkin disinipun kita dapat belajar dan mencari sandaran (meskipun hanya secara tidak langsung) di naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum 2001. khususnya bab 2 yang berkepala “The ‘Act of the State’ under International Law” yang Pasal 5-nya berbunyi: 8 UU No. meskipun seluruh acara pembuatannya tidak sesuai dengan acara yang lazim untuk PI dan semata-mata oleh karena aktor yang mengadakannya merupakan sebagian dari bangunan kenegaraan? Ataukah perjanjian demikian itu hanya mengikat para instansi bersangkutan di lingkungan HN? Tapi jika demikian. yang tidak khusus ataupun langsung berwenang dan bertugas di lapangan hubungan luar negeri atau antara kesatuan-kesatuan teritorial sesuai sistem otonomi daerah (seperti kota atau propinsi) negara masing-masing. Kesepakatan dan perjanjian demikian itu mengenai salah satu kebijakan di bidang tugas mereka.

meskipun tentu hanya sejauh HI bersangkutan dapat ada relevansinya dalam lingkungan HI (relevansi demikian tidak ada dalam HI yang memang kita kenal ajaran-ajaran tentang kesatuan hukum internasional dan nasional (monisme) dan sebaliknya tentang perbedaan dan pemisahan mutlak antara kedua sistem hukum itu (dualisme). undang-undang biasa. Hal yang kita perlukan untuk memberi jawaban ialah adanya penetapan. Kebijakan ini berdasarkan sangkalan perbedaan antara hukum tak tertulis (“kebiasaan”) yang tercipta di suasana nasional dan internasional. yang berakibat HI itu berlaku di lingkungan HN. atau dengan mengundangkan isi tersebut sebagai HN dalam bentuk perundang-undangan HN pula. Tata HN dapat saja menyangkal mutlak segala peranan dan pengaruh HI terhadap HN. tata HN dapat juga pada azasnya mengakui kemungkinan peranan dan pengaruh itu. yaitu dengan “mengizinkan” isi HI berlaku di lingkungan HN tanpa merubah sifat internasionalnya. Perbandingan antara sistem-sistem HN menunjuk dua jalan yang dapat dilalui dalam penerapan kebijakan cara pertama tadi. Jalan yang satu ialah secara “membuka pintu” bagi HI. (2) For the purposes of paragraph 1. Pilihan demikian dapat berwujud tanpa atau melalui suatu tindakan hukum tegas dari tata HN bersangkutan yang termuat di undang-undang dasar. tanpa tindakan apapun dari pihak penguasa negara. Sebaliknya. seperti di sistem mazhab hukum common law yang menggolongkan HI tak tertulis ini sebagai “law of the land”. dan berpendirian bahwa pembuat hukum nasional merupakan satu-satunya yang berwenang mengadakan peraturan tentang hal apapun yang perlu diatur hukum di lingkungan HN. sekalipun yakin akan .” Keberlakuan di Lingkungan Hukum Nasional Perbedaan antara tata HI dan tata HN menyebabkan timbulnya kenisbian tentang makna PI. whether the organ exercises legislative. executive. whatever position it holds in the organization of the State. atau. pengakuan mana dapat diutarakan menurut dua cara. dimana HN ternyata tidak melakukan pilihan tegas (eksplisit). berhubung dengan persoalan kedudukan dan keberlakuan HI (atau khususnya PI) di lingkungan HN. Persoalan ini perlu dikaji dan dijawab oleh masing-masing tata HN sendiri. and whatever its character as an organ of the central government or of a territorial unit of the State. dikembangkan dalam bentuk hukum kebiasaan yang penerapannya terlihat dalam keputusan-keputusan konkrit. khususnya PI. atau “pilihan”m yang dibuat oleh hukum nasional tentang kedudukan dan peranan HI. the conduct of any State organ acting in that capacity shall be considered an act of that State under international law. misalnya keputusan-keputusan hakim. dan yang melalui jalan itu juga menghasilkan keberlakuan HI tak tertulis di lingkungan nasional. dilingkungannya. an organ includes any person or body which has that status in accordance with the internal law of the State. ajaran-ajaran muluk ini tidak menghidangkan jawaban langsung apapun atas pertanyaan yang kita hadapi dalam dunia “hukum yang berlaku” (“hukum positif”). Jalan yang lain perlu ditempuh apabila tata HN. Akan tetapi. judicial or any other functions.“(1) For the purposes of the present articles. Kebijakan “pintu terbuka” dapat juga hanya diterapkan sejauh mengenai HI tak tertulis yang biasanya bertepatan dengan HI yang “umum berlaku”.

Dalam hal PI. tanpa “mengubah” sifatnya sebagai HIM. perjanjian tidak mengakibatkan keuntungan maupun kewajiban bagi pihak ketiga). Hubungan-hubungan kemasyarakatan itu mengenai bermacam-macam aspek kehidupan yang mencerminkan cita-cita kemasyarakatan. atau kemasyarakatan tertentu itu di masing-masing lingkungan hukum . Sebagai alternatif kedua cara “pemberian izin” kepada HI tersebut kita kenal kebijakan menolak secara mutlak keberlakuan HI dalam tata HN. ataupun “hanya” memberlakukan isi HI di lingkungan HN sejauh (“diubah”) bentuk dan sifatnya menjadi HN. dengan hak pihak yang satu terhadap pihak yang lain tergabung dengan hak pihak kedua ini terhadap pihak pertama. Dalam rumusan ini tersirat penetapan bahwa siapapun yang tidak ikut menyepakatinya dengan sendirinya tidak terikat padanya (pacta tertiis nec nocent nec prosunt. sesuai dengan bertambah padatnya hubungan-hubungan kemasyarakatan internasional di pelbagai lapangan (“globalisme”) dan sejajar dengan perkembangan itu. Pertanyaan yang kadang timbul adalah: dapatkah dan bolehkah PI yang berlaku antar negara AB-C-D (yang menyajikan peraturan bersama tentang perlindungan hak-hak azasi manusia. yang kewenangannya di bidang penerapan hukum terbatas pada hukum yang berlaku di lingkungan hukum nasionalnya. hubungan-hubungan keluarga. UU persetujuan PI (yang di praktek politik Indonesia disamakan dengan “ratifikasi”) kadang dipakai untuk keperluan ini. Dalam rangka ini. pemberantasan penyakit.perlunya penerapan isi HI di lingkungan HN. kebijakan berbeda itu juga memain peranan dalam penetapan kedudukan hirarki kaidah-kaidah hukum yang berasal internasional dan nasional yang termasuk kewenangan tersebut. timbullah dan bertambahlah kebutuhan akan pengaturan hubungan-hubungan yang menyentuh pelbagai masyarakat nasional. dan yang bersifat baik lintas batas maupun tidak. PI dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai kesamaan dalam menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan nasionalnya. dan makin lama makin banyak. Memang disini tidak ada alasan untuk memberi peranan apapun kepada pihak ketiga. Ruang Lingkup Azas Keterbatasan Berlakunya Antar-Pihak Titik tolak di bidang hukum perjanjian adalah bahwa perjanjian itu mencerminkan kesepakatan antara pihak-pihaknya tentang apa yang mereka inginkan. dan sebagainya. Di samping itu. Kadang-kadang. Akan tetapi. Dengan demikian. di lingkungan HN-nya. namun tidak bersifat antar negara. seperti ketentuan dalam UUD atau perundangan biasa. dan kelayakan ini lebih-lebih menyolok apabila kita memandang perjanjian itu sebagai sumber hak dan kewajiban timbal-balik antar para pihaknya. merupakan soal penting bagi penegak hukum nasional. seperti hak azasi manusia. seluruhnya atau sebagian. menganggap perlu adanya suatu tindakan HN tegas agar mencapai hasil itu. Azas ini kelihatannya memang cukup layak. pemberlakuan isi HI di lingkungan HN memerlukan pembuatan HN yang tegas memuat ataupun setidaknya tegas mengundangkan isi HI bersangkutan sebagai HN (transformasi). PI tidak selalu bersifat timbal balik. Soal ya atau tidaknya tata hukum nasional memberlakukan HI.

yang bersifat normatif dan tidak memaksa dalam arti kata hukum alam. keadaan ini tentu tidak mengurangi kewenangan negara D untuk mengajukan keberatan terhadap penerapan perjanjian itu berdasarkan alasan-alasan lain. perjanjian bersangkutan tidak mengenai hak-kewajiban antar negara yang timbal balik. Sebaliknya. hak dan kewajiban timbal balik antar negara untuk bertindak bersama sebagai persekutuan militer. ia juga tidak berwenang untuk berkeberatan. misalnya. dapat saja dilanggar.merupakan peraturan bersama untuk persoalan-persoalan yang bersangkut dengan adopsi lintas batas. maka negara D tidak dapat dipaksa menurut hukum untuk menyesuaikan kelakuannya dengan persekutuan tersebut. Jika obyek perjanjian terdiri dari. maka mereka itu tentu bebas untuk mengubahnya. Jika isi perjanjian tidak lagi memenuhi kehendak bersama para pihaknya. seperti telah pernah disebut tadi. Namun. Azas ini mengacu pada aspek primer PI. bahwa pelanggaran demikian oleh tata hukum dikaitkan pada akibat-akibat tertentu tanpa persetujuan si pelanggar. . dan oleh karena itu . Dalam contoh belakangan ini. berdasarkan alasan tidak ikut sertanya sebagai pihak perjanjian. yaitu terjadinya kesepakatan antara negaranegara sebagai subyek HI yang berdaulat. berhakkah negara X dengan alasan “memberi perlindungan diplomatik” kepada warganya atau dengan alasan lain menolak penerapan PI tersebut? Disini kadang tampak kemungkinan adanya suatu salah mengerti tentang makna azas pacta tertiis. Tentu kewajiban yang terisi dalam azas ini. Ruang Lingkup Azas Pacta Sunt Servanda Azas ini merupakan inti dan hakekat pengertian perjanjian. melainkan merupakan kesepakatan (antar negara) untuk menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan kemasyarakatan tertentu secara sama dan serupa di masingmasing lingkungan HN-nya. terhadap penerapan isi perjanjian tadi di lingkungan HN negara-negara A. B atau C jika penerapan demikian menyentuh suatu unsur yang berkaitan dengan negara D itu. termasuk PI. Akan tetapi. gagasan pengubahan sepihak adalah sesuatu yang mutlak bertentangan dengan gagasan perjanjian. tapi pihak berperkara itu kebetulan berkewarganegaraan negara X. Sebaliknya. Negara D tidak terikat pada perjanjian A-B-C. apabila obyek perjanjian terdiri dari kesepakatan tertentu untuk menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu secara sama di lingkungan HN masing-masing pihak perjanjian. maka negara D tetap tidak dapat dipaksa berdasarkan hukum untuk menyesuaikan kebijakan dalam lingkungan HN-nya dengan perjanjian tadi. tidak dapat diwajibkan tunduk pada isi perjanjian tersebut tanpa persetujuannya sebagai negara berdaulat. Akan tetapi. sedang kewajiban asal tetap berlaku. Disini terletaklah batas ruang lingkup azas pacta tertiis tersebut tadi. ciri inti tata hukum adalah. atau berisi aturan bersama tentang pemindahan perselisihan perdata tertentu dari kewenangan pengadilan kekuasaan pewasitan) diterapkan bila orang yang tersangkut dalam perkara HAM itu berkewarganegaraan negara E? Dan bagaimanakah apabila antara pihak hubungan internasional perdata ada yang berkewarganegaraan negara F? Atau apabila ada pihak berpekara digugat di pengadilan negara A untuk tunduk pada acara pewasitan sesuai dengan PI yang mengatur pewasitan.

Unsur kebebasan kehendak sebagai inti perjanjian dengan demikian menjadi nisbi dalam hal PI. Pengaruh Kekerasan Menurut pengertian intinya. dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihamnya dan oleh karena itu tidak dapat lain daripada berdasarkan kehendak bebas. PI berada di lingkungan HI yang tidak mengenal organisasi masyarakat lengkap dengan dasar dan pucuknya. Namun. Bedanya.Kemungkinan melanggar kewajiban hukum dapat dipandang sebagai kenisbian hukum pada umumnya dan tidak khusus mengenai pengertian perjanjian. Di lingkungan HN. tata hukum dikuasai. 2001. Apa lagi. baik hukum nasional maupun hukum internasional. Oleh karena itu. yaitu kewenangan politik hukum. ketika presiden AS mengutarakan kesimpulannya bahwa AS tidak lagi berkepentingan dengan adanya Anti-Ballistic Missile Treaty 1972 (ABM Treaty) dan bahwa ia mempertimbangkan mengakhirinya. di lingkungan HN pergulatan itu tersalur melalui bermacam bangunan organisasi dan penjagaan dan pembagian kewenangan. Sebaliknya. sejauh terjadi di lingkungan HN. Kekuasaan ini dipegang secara monopoli dan mutlak (ingatlah julukan “negara gagal” bagi keadaan sebaliknya). seluruhnya pada dasarnya tergantung pada subyek hukum sendiri. berbeda dari perjanjian di lingkungan HN. dijaga. sehingga seakan-akan disublimasi dan dapat menghindari bentrokan-bentrokan yang merusak kestabilan masyarakat. sekalipun dapat saja terjadi. unsur pembagian kekuatan. termasuk yang akibat kekerasan. terutama pada negara. sehingga dalam perbincangan hukum. berdasarkan titik tolak HI. Akan tetapi. termasuk pemegang kekuasaan pusatnya dan alat perlengkapan penegak hukumnya yang berwenang dan nyatanya mampu menjaga dan mempertahankan hukum secara memaksa. Wewenang menetapkan hukum. di lingkungan HI aturan hukum hampir seluruhnya semata-mata merupakan buah hasil pergulatan kekuatan antara para subyek hukumnya yang kebebasannya hampir mutlak. Dilihat dari sudut ini. Ketika ditanya tentang niat tersebut. pada hakekatnya merupakan hasil pergulatan kekuatan-kekuatan di masyarakat. lihatlah ketentuan Pasal 9 dari naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum. terdapat (atau setidak-tidaknya: seharusnya terdapat) alat dan organisasi penegak hukum yang cukup lengkap dan kuat untuk menghadapi dan “menghukum” pelanggaran demikian sehingga dapat tertekan terjadinya. Lain halnya di lingkungan HI yang berbeda secara mendalam dibanding dengan keadaan nasional. perlu diperhatikan dan diperhitungkan. . yaitu kedaulatan negara. ia menyalahkan orang yang tidak dapat atau tidak mau mengakui bahwa zaman dan keadaan dapat saja berganti (dengan akibat kemungkinan perlunya hukum berganti pula). ancaman unsu kekerasan di bidang perjanjian perdata. dan diatur oleh penguasa atau alat kekuasaan yang benar-benar berkuasa terhadap masyarakat lingkungan HN-nya. namun biasa ditindak oleh penegak hukum dan pada umumnya tidak merupakan faktor yang dapat mengurangi azas-azas yang berdasarkan hakekat perjanjian. maklumlah kekurangan dunia pengertian-pengertian dibanding kompleksitas kenyataan hidup jika menghadapi keadaan seperti negara Libanon dimana kekuasaan dan kekuatan sebenarnya yang membela kedaulatan negara terhadap dunia luar untuk sebagian besar berada di tangan organisasi di luar rangka pemerintah. kenisbian PI ternyata sekali dari kejadian beberapa waktu yang lalu. Dalam rangka ini. Pada umumnya.

Berlatar belakang ini. baik di lapangan penerapan hukum praktis maupun di lapangan akademik. yang kemudian disahkan (!) dalam “perjanjian perdamaian” atau perjanjian lain. mengenal ketentuan-ketentuan tentang peranan kekerasan di bidang PI. Dilihat dari sudut kenyataan lingkungan HI seperti kita uraikan tadi. . Konvensi Wina. bagi kita semua. artinya sebagai akibat. keinginan yang “sesuai rasa keadilan” itu sukar disesuaikan dengan kerangka bangunan tata HI yang belum mengenal larangan mempergunakan daya kekuatan dalam hubungan antar negara untuk menetapkan hak dan kewajiban antar mereka. Istilah tersebut kebanyakan mengacu kepada perjanjian yang pernah diadakan di zaman lampau antara negara-negara Barat yang biasanya lebih kuat dengan kerajaan-kerajaan atau lain kesatuan kenegaraan di luar kawasan dunia Barat yang umumnya lebih lemah. sehingga perjanjian-perjanjian itu seringkali terus terang menguntungkan yang kuat dan merugikan si lemah. Pasal 52 Konvensi Wina) untuk mencapai perubahan isi perjanjian bersangkutan. Kita patut ingat bahwa sebelum terbentuknya tata hukum yang kita kenal semasa pasca Perang Dunia Kedua dalam bentuk piagam PBB termasuk larangan kekerasanya.Di pustaka sejarah politik internasional terkenal istilah “perjanjian tidak seimbang”. Penutup Mudah-mudahan tulisan singkat ini berhasil menambah keyakinan akan tersimpulnya pelbagai kenisbian. tata HI bahkan mengizinkan. yaitu Pasal 51-52. yang kadangkadang diiringi tuntutan pembatalannya. kita condong berkesimpulan bahwa keinginan membatalkan perjanjian “tak seimbang” demi hukum akan gagal. Kekerasan terhadap pribadi seseorang cukup jelas. setidak-tidaknya tidak melarang. Pasal 51 mengatur hal persetujuan negara untuk mengikat diri pada perjanjian yang diperoleh dengan. kekerasan yang dipakai terhadap pribadi pejabat yang mewakili negara bersangkutan. Multi interpretasi pengertian-pengertian yang digunakan di kalimat ini menunjuk pada kadar kenisbian cukup tinggi. penggunaan kekuasaan (perang) untuk mencapai keinginan terhadap subyek lain. Keinginan yang cukup legitimasi namun tanpa dasar hukum itu hanya dapat tercapai dengan cara penggemblengan kekuatan yang cukup besar dan segala cara meyakinkan lainnya (kecuali paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Bagi keadaan demikian. setidak-tidaknya jauh lebih jelas daripada Pasal 52 yang menetapkan bahwa suatu perjanjian yang terjadi dengan memakai “ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan azas-azas HI yang termuat di Piagam PBB”. Pasal 51 menentukan bahwa “persetujuan” demikian “tanpa akibat hukum apapun”. kesamaran dan pertanyaan di bidang lembaga perjanjian internasional yang memerlukan penelitian dan penyelidikan seperlunya. yang dapat kita anggap mencerminkan HI tentang PI menurut keadaan perkembangannya yang paling baru. Timbullah pertanyaan apakah perjanjian-perjanjian demikian dapat dibatalkan ataupun dianggap batal demi hukum.

Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan pelaksanaan. perjanjian internsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional.PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK* DALAM SUASANA * Dari buku Syahmin AK. ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional. Sementara itu. baru dapat diterapkan dan menjadi hukum nasional. Menurut teori adoption. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada.186 s/d 205 Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu negara peserta. perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect) dalam suasana nasional. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat internasionalnya (keasliannya). Hukum Kontrak Internasional. perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada. Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation. yangmengajarkan bahwa hukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada umumnya. . menurut teori incorporation. PT RajaGrafindo Persada. perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian internasional. Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme. Menurut pandangan kaum dualisme. 2006: hal. sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam hukum nasionalnya. mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional. kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional. Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist system. yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda. namun diterapkan dalam suasana hukum nasional.

statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional.Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri.87. pemberlakuan perjanjian internasional. Kadangkadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil. yaitu UUD 1945. terutama perjanjian yan Dalam oleh diwariskan pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas.9 Selanjutnya. yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini. 9 10 Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional. Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional. kita harus meninjau kembali hukum konstitusi. perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing. Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional..10 Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat.Cit. Dalam hal ini. jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya. Op. maka dapat muncul permasalahannya. UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut. ataupun hukum interasional atau praktik. baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara. hlm. suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggaran tersebut. Jika penerapannya melanggar hukum internasional. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona. yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting? Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional. Mochtar Kusumaatmdja. asas lex posterior derogat lege priori akan diterapkan. .

34 Tahun 1981. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut. Akan tetapi.. beliau juga mengingatkan sebagai berikut.. yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara sebagai perorangan.. tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No.” Meskipun demikian. Prof. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada tanggal 7 Juni 1959. Sebaliknya..” Dari pendapat Prof. Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa.. dengan dikeluarkannya Keppres No.bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita.11 “. dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini 11 Ibid.Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945. hlm.. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan Arbitrase Asing 1... UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya. apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku. Konvensi Jenewa 1927 Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu.. kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana. pengundangan dalam Undangmasalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas. yakni langsung menganggap diri kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undangundang pelaksana. D. . Undang Nasional mutlak dipelukan.kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat.. jelas kiranya bahwa dalam memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu perjanjian internasional. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958. “. Mochtar Kusumaatmadja di atas.87. mengenai sikap Indonesia terhadap perjanjian ini.

. Syahmin AK. Lihat Lampiran II buku ini Staatsblad Tahun 1933 No. Remadja Karya. Perjanjian demikian tidak Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian yang bersifat polotis. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di antaranya ialah: The Law of State Succession. masih berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara pengganti (sucessor state).131. yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah. Connel. (Bandung CV Armico.6 dan seterusnya. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internsional (Bandung: CV. misalnya perjanjian ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase luar negeri. serta dispositive.14 Sehubungan dengan hal tersebut. Ltd. Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi? Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties. aneksasi...12 sebelum Konvensi New York 1958 ini dinyatakan berlaku. . sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat.dengan cara accescion. suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian yuridis dan pergantian menurut kenyataan. dan State Sucession in Municipal Law and Internasional. Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan penelitian tentang succession of state ini adalah D. dan mulai tanggal 5 Agustus 1981. konfederasi. Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi. persekutuan (aliansi) pemberian bantuan. akan beralih kepada penggantinya. Contoh perjanjian yang bersifat politis adalah perjanjian persahabatan. dapat juga karena sesi.P. baik bilateral maupun multilateral. dan State Succession and Problems of Treaty Interpretation. Dengan kata lain. Sementara itu. Perjanjian ini 12 13 14 15 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40. Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969. hlm. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan.13 Akan tetapi. Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan. atau negara kesatuan. di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri. hlm. Mac Millan & Co. dekolonisasi. dan lain sebagainya. penggantinya. 1988).196. 1986). London.O.15 Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan karena dekolonisasi.

universal. meskipun negara tersebut. Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut perjanjian peralihan. hukum internasional. Menurut acquired rights doctrine. ada Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas. Doktrin ini juga disebut free choice doktrine. kemudian disertai dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda. dan lain sebgainya. Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie. Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam Dalam untuk penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul praktik yang berbeda-beda. perjanjian perbatasan. doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berbeda-beda. bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan. Indonesia Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947). mulai dari perjanjian perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. meskipun telah terjadi suksesi negara. doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. Ternyata dalam praktiknya. dan ditindaklanjuti dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949). Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara dapat berjalan dengan lancar. hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti beralih kepada negara yang menggantikannya. Namun. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap mengikat negara tersbut. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights doctrine dan clean state doctrine. setelah pemutusan perjanjian KMB. Teori ini juga disebut dengan teori Sementara itu. misalnya pernjanjian pangkalan militer. sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian . sendiri mengadakan perjanjian Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah dengan Kerajaan Belanda. dua doktrin yang populer yang dapat dipakai menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan suksesi negara.membebani suatu wilayah dengan status hukum.

2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku.(3) merumuskan sebagai berikut. or (2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary. . Pasal 12 (3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1.2).33 Tahun 1950. kemudian dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak Kerajaan Belanda. (2. ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah Irian Barat.18 Jadi. (1) a boundary established by treaty.17 Sementara itu.16 Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978. Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not as such affect. Keppres No.a) Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan. Pasal 12 ayat (1. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950. Article 12 par. menyatakan tidak 16 17 18 19 20 Lihat. Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par. Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional. di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan Belanda.19 Kembali lepada persoalan. bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun 1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement). Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2.a) merumuskan: fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes boundary.a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti. meskipun telah terjadi suksesi negara. Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu. The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates.internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia. Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195620. Pasal 11 dan Pasal 12 (1. Konvensi Wina Tahun 1978. Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956.

sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berlandaskan pada UU No. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with Cheques and Protocol (Geneva March 19. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof. 12727. kecuali mengenai perbatasan. March 19 1931). 2 tanggal 10 Oktober 1945. sesuai dengan prosedur 21 dalam hukum perjanjian internasional. hlm. tidak secara otomatis berlaku. Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva. selama Republik Indonesia secara tegas menyatakan demikian. Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa 1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Op. . Sudargo Gautama sebagai berikut.” Kembali pada persoalan. c... 13 tahun 1956. untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan Penetapan Presiden No. Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva. Cit. March 19. b. Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB) Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi. Oleh karena itu. Setelah pemutusan terhadap perjanjian KMB. yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: “…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. antara lain adalah: a. maka persetujuan internasional 21 Budi Lazurusdi dan Syahmin AK. dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. 95. 1931). 1931). “…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku untuk negara kita.terikat lagi pada Perjanjian KMB.

yaitu reciprocity principles (asas perberlakuan secara timbal balik). Sekali lagi penulis tegaskan bahwa adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut. Aksesi ini didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981. Cit. Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights. hlm. Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing. Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di atas masing-masing mempunyai pendukungnya. agaknya Prof. Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja. keppres tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum yang ditimbulkannya. Op.” Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state. Asikin Kusumaatmadja.. tanggal 5 Agustus 1981. Pendapat kedua dianut oleh Prof. 22 Sudargo Gautama. atau juga disebut dengan teori universal. 2.yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan tetap berlaku. Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini. Indonesia menjadi peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981. 68 . yaitu sebagai berikut. “Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar.”22 Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka. Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu. di mana klausul arbitrase tercakup di dalamnya.

ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas. diperlukan peraturan pelaksanaan. “Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. Beliau memberikan sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin mengikuti status hukum sang ibu. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar hukum ternama. Sudargo Gautama. namun dengan adanya perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia. 23 Sudargo Gautama. sebuah keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. Prof. Dr. Mr. ternyata dalam pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri muncul. Untuk itu.. Ibid. 34 tahun 1981.”23 Sebaliknya. Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi konvensi melalui Keppres No. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya. yang berarti bahwa ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia. kepada Pengadilan Negeri yang mana. . khususnya Prof. Peraturan pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan. Mahkamah berpendapat perlu adanya peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan. Menurut beliau. Lengkapnya Mahkamah menyatakan sebagai berikut. permohonan pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. hlm. 57. Dr. berlainan dengan undang-undang yang menentukan.Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958. 34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981 dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri.

Menurut hemat penulis. masalah keputusan hakim arbitrase asing di Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul arbitrase. Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu. Sementara itu. yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. tetapi juga di kalangan perguruan tinggi. peran kontrol inilah yang diemban oleh pemerintah. dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990. Memang untuk para pengusaha di Indonesia. pengenalan terhadap lembaga arbitrase saja masih minim sekali. sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua. sekaligus menjawab dua masalah penafsiran hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang. Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut dihormati dan dilaksanakan. apakah suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak. peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak. Peran pemerintah disini sudah jelas. Jadi. Kehendak pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri. penghargaan terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa komersial mereka. yang memegang kendali utama dan sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dan menetapkan arbitrasenya. sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq. serta kesepakatan untuk melaksanakan segala keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan. Bukan saja bagi kalangan pengusaha. tampaknya komitmen dan taraf pemahaman. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Di tanah air. badan peradilan manakah yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim arbitrase asing tersebut? . Masalah pertama. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan. Jadi.

tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu. dapat disimpulkan di sini bahwa keppres pun. Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun. 34 tahun 1981. Akibatnya praktik negara kita sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi. bila pemerintah menganggap perlu. Akhirnya. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional Indonesia yang mengatur. 34 Tahun 1981. maupun keppresnya sendiri tidak mengatur tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi dari para ahli hukum kita. Masalah kedua. Oleh karena itu. dan telah dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai dengan konvensi ketatanegaraan. 2826. telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1990 itu dimungkinkan. menurut hemat kami. dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah (cq. pelaksanaan Surat Presiden No. 2826 dalam praktiknya belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. tanggal 5 Agustus 1981. . bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia. Mengulangi pernyataan sebelumnya. bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. Dengan demikian. dapat dibuatkan aturan pelaksanaan. baik Konvensi New York 1958.Masalah pertama. peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari Keppres No.

S. ”Tapi negara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”. kepada penulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasional pada tahun 1986. sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum.APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman* * Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof. perjanjian internasional adalah: “An International Agreement concluded between States and International Organizations in written form and governed by International Law. LL. ”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”. Menurut Konvensi ini. Distorsi publik ini pulalah yang mendorong lahirnya klaim bahwa Production Sharing Contracts (PSC) antara Pemerintah RI adalah ”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya judicial review terhadap UndangUndang No. Dr. Komar Kantaadmaja.H.H. Perdebatan sengit bahkan berlangsung pula dalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Kasus judicial review ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensi Indonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjian internasional. penulis masih belum dapat menemukan jawabannya.M. Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi.. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi pada tahun 2007. Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasional guna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa.. DR. Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu issue kontroversi dalam literatur hukum perjanjian internasional. LL. Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU.M. lanjut beliau dengan tersenyum. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull. Pemahaman publik tentang apa itu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popular yaitu perjanjian yang bersifat lintas batas. DEPLU. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknya adalah negara. Komar Kantaatmadja S. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. demikian pertanyaan Almarhum Prof. whether embodied .

suatu dokumen disebut sebagai ”Governed by International Law” jika memenuhi dua elemen. 1967). There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations. 1962). by Subject of International Law. in Written Form. yaitu: ● ● ● ● ● an International Agreement. Whatever Form. depends on the subject-matter and the intention of the parties (ILC Draft and Commentary. dan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. Dari pengertian hukum ini. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang merumuskan sebagai setiap perjanjian di bidang hukum publik. “Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik). …Under International Law. maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. . Parameter tentang ”Governed by International Law” merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya di kalangan praktisi namun juga akademisi. b. definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. They could be in the form of a “Joint Statement”. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969. organisasi internasional. There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i. yang diatur oleh hukum internasional.e. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. atau subjek hukum internasional lain. loan agreements” (Report of the ILC Special Rapporteur. Intended to create obligations and legal relations.in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” Selanjutnya. or “MOU”. yaitu “intended to create obligations and legal relations under international law: a.

Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagai perjanjian internasional.Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah ”Governed by International Law” juga masih menimbulkan perdebatan akademis. Apakah hal ini dapat ditarik dari the intention of the Parties? the Subject-Matter of the agreement?. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas).J. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara. Namun praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional dan bahkan diratifikasi melalui Undang-Undang No. Keputusan MK terhadap judicial review Undang-Undang No. Dalam kasus ini. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini. sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh Pemerintah RI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loan agreements”. Setelah lahirnya Undang-Undang No. 1 Tahun 1963. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masih terdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan “Governed by International Law”. Undang-Undang No. dimana penulis juga terlibat untuk mewakili pemerintah. Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata. diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”Treaty Room”. merupakan jurisprudensi landmark bagi perkembangan hukum perjanjian internasional di Indonesia. atau should there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to create legal relations is governed by international law? Pakar hukum D. beberapa anggota DPR mempermasalahkan bahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RI” dianggap bertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan . Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI.

Delaume. The Proper Law of Loans concluded by International Persons: A Restatement and Forecast. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Hal ini disebabkan adanya pergeseran tentang governing law yang mendasari perjanjian-perjanjian pinjaman. “perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Secara konvensional. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata (lihat Georges R.mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. perjanjian pinjaman dikenal sebagai perjanjian perdata internasional dan tunduk pada hukum nasional tertentu sehingga status perjanjian ini bukanlah perjanjian internasional ”Governed by International Law”. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. Konstitusi menyatakan: “Meskipun bunyi pasal 11 ayat (2) UUD 1945 menyebut. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) UU Migas. Akibatnya. Vol. American Journal of International Law. Status loan agreements juga menjadi kontroversi dalam perspektif definisi perjanjian internasional. 56. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan DPR”. Oleh karenanya. kami dapat menyetujui pendapat Pemerintah dan ahli yang diajukan bahwa perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian internasional sebagaimana diartikan dalam pasal 1 dan 2 Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian (Law of Treaties) dan pasal 2 ayat (1) huruf a Konvensi Wina tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional). tidak termasuk Perjanjian Internasional yang merupakan ruang lingkup pasal 11 UUD 1945. dan dengan demikian bukan perjanjian internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (dan UU No. 1962). muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang Mahkamah . dan karena itu permohonan Pemohon sepanjang mengenai hal tersebut tidak cukup beralasan”. Mahkamah Konstitusi dalam judical review ini telah melakukan koreksi terhadap distorsi yang terjadi dalam opini public tentang apa itu perjanjian internasional.

24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. perbuatan Pemerintah RI by International Law” seperti yang a. dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang No. Namun perlu ditekankan bahwa persetujuan DPR dalam konteks Undang-Undang APBN tidak identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. banyak perjanjian pinjaman seperti halnya perjanjian komersial lainnya yang tidak secara tegas menyebutkan governing law. 24 Tahun .mengindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan Undang-Undang dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut pasal 10 huruf f Undang-Undang No. dan. Namun di lain pihak. Di lain pihak pengesahan/ratifikasi adalah lembaga hukum ketatanegaraan tentang pengesahan oleh legislatif atas perbuatan hukum pemerintah RI sesuai dengan Hukum Perjanjian Internasional. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. perjanjian perdata internasional biasa yang ”Governed by other than International Law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan Undang-Undang No. sehingga penetapan status perjanjian diserahkan pada intepretasi di kemudian hari manakala terjadi sengketa. Undang-Undang APBN bukanlah Undang-Undang untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan Undang-Undang untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. yaitu: perjanjian internasional publik ”Governed 2000 tentang Perjanjian Internasional. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Dalam hal ini. b. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam pasal 23 ayat (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”.

kecuali secara tegas dinyatakan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman/Hibah Luar Negeri ini. berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. Pada Peraturan Pemerintah ini tidak terdapat aturan yang mengindikasikan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah harus mendapat persetujuan DPR. Dalam prakteknya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. adanya persetujuan DPR dalam APBN tidak dapat meniadakan persyaratan ratifikasi sebagaimana ditetapkan oleh pasal 10 huruf f Undang-Undang No. wewenang penandatanganan Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri berada pada Menteri Keuangan. Selain itu. Dalam praktek. Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang pada hakekatnya mengatur tentang Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah Luar Negeri. terikat pada perjanjian itu. dalam rangka akuntabilitas juridis serta untuk mengamankan kepentingan hukum khususnya kewajiban pengesahan dengan Undang-Undang. Dengan demikian. Menurut pasal 15 Peraturan Pemerintah tersebut.yang menandatangani suatu perjanjian disahkan dengan Undang-Undang (dengan demikian melalui persetujuan DPR) sehingga Indonesia secara resmi. secara juridis formal. Persetujuan DPR pada Undang-Undang APBN adalah terhadap perjanjian yang akan dan belum ditandatangani oleh Pemerintah RI sedangkan persetujuan dalam konteks pengesahan/ratifikasi adalah terhadap perjanjian yang sudah ditandatangani. Sedangkan pengertian persetujan DPR pada Undang-Undang APBN bukanlah mengesahkan perjanjian yang sudah ditandatangani melainkan menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. Itulah sebabnya. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam Undang-Undang . maka posisi Departemen Luar Negeri pada setiap perjanjian pinjaman kategori ini selalu mengupayakan klausula tentang dipenuhinya terlebih dahulu prosedur konstitusional/internal sebelum berlakunya perjanjian. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Departemen Luar Negeri akan menyampaikan notifikasi “telah terpenuhinya prosedur konstitusional/ internal” setelah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Departemen Keuangan perihal itu. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.

Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. “Dalam hal pinjaman luar negeri. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. Menteri (dalam hal ini Menteri Luar Negeri) mendelegasikan kepada Menteri Keuangan”. 2 Tahun 2006 (bahkan dalam Rancangan Undang-Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UndangUndang No. akan terjadi konflik kewenangan antara substansi dan format yaitu Menteri Keuangan yang memiliki kewenangan atas pinjaman luar negeri dengan kewenangan Menteri Luar Negeri yang memiliki wewenang untuk membuat perjanjian internasional itu sendiri. Sehingga untuk perjanjian pinjaman kategori ini. diindikasikan bahwa Pemerintah RI dapat membuat perjanjian dengan pemberi pinjaman. Loan Agreements yang dibuat oleh Indonesia selama ini adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh Undang-Undang No. Namun di pihak lain. dalam pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri ditandatangani oleh Menteri Keuangan sedangkan menurut penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang No. Terlebih lagi. serta Lembaga Donor Swasta lainnya.No. Lembaga-lembaga ini jelas bukan Subjek Hukum Internasional dan dengan demikian perjanjian pinjaman dengan . Undang-Undang No. Akibat tidak adanya penegasan juridis dari Rancangan Undang-Undang. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional hanya mengatur tentang perjanjian pinjaman per definisi Undang-Undang ini yaitu perjanjian “Governed by International Law”. 24 Tahun 2000 harus diterapkan. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dalam definisi tentang Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri pada Rancangan UndangUndang ini. Dalam praktek Indonesia. Lembaga Keuangan Non-Pemerintah Asing. beberapa negara seperti Jerman dan Loan Agreement dengan International Fund for Agriculture Development tahun 2000 menginginkan agar perjanjian pinjaman ini mengambil format perjanjian internasional yang tunduk pada Konvensi Wina 1969. yang dalam hal ini mungkin Bank Swasta Asing. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. termasuk prosedur ratifikasi berdasarkan pasal 10. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun Peraturan Pemerintah No. perjanjian pinjaman dapat merupakan perjanjian internasional dan juga dapat berupa perjanjian perdata internasional. sehingga prosedur Undang-Undang No.

the Court must have regard above all to its actual terms and to the particular circumstances in which it was drawn up. The Court concludes that the Minutes of 25 December 1990. They constitute an international agreement. of Aide Memoire. Memorandum . record of discussion bukan perjanjian internasional. Dengan demikian maka setiap dokumen yang berjudul treaty. ICJ menyatakan bahwa Minutes ini adalah perjanjian internasional. MOU. like the exchanges of letters of December 1987. Side Letter. Understanding. Dalam tanggapannya terhadap “Minutes signed by Foreign Ministers of Bahrain. Minutes of Meeting. of Memorandum Agreement. the Foreign Minister of Bahrain is not in a position subsequently to say that he intended to subscribe only to a "statement recording a political understanding” and not to an international agreement”. Dewasa ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti Joint Statement. 1994.lembaga-lembaga ini bukan merupakan perjanjian yang menjadi lingkup Undang-Undang No. In order to ascertain whether an agreement of that kind has been concluded. perlu pula diperhatikan bahwa praktek negara tentang judul suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. constitute an international agreement creating rights and obligations for the Parties. 1990”. adalah perjanjian internasional sedangkan agreed minutes. b. Process Verbal. Pada sisi lain terdapat pula kecenderungan pada publik opini untuk menggunakan parameter nomenklatur atau judul dokumen sebagai faktor penentu untuk menetapkan dokumen itu sebagai perjanjian internasional. They thus create rights and obligations in international law for the Parties. convention. Protocol. memberikan petunjuk bahwa untuk menetapkan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional tidak harus dilihat dari judul perjanjian. Letter of Intent. Having signed such a text. 24 Tahun 2000. The Minutes are not a simple record of a meeting. Memorandum of Cooperation. Charter. Joint Declaration. ICJ Qatar/Bahrain Case. Letter Demarche. ICJ merujuk pada The ICJ Aegean Sea Continental Shelf. They enumerate the commitments to which the Parties have consented. Final Act. Sekalipun Konvensi Wina dan jurisprudensi tidak menempatkan judul dokumen sebagai faktor penentu. c. of Letter of Agreement. 1978: a. Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik). agreement. Qatar and Saudi Arabia. d. they do not merely give an account of discussions and summarize points of agreement and disagreement.

Selain itu terdapat kecenderungan dalam praktek negara-negara. terdapat pula kecenderungan umum dalam praktek Indonesia bahwa dalam setiap pembuatan perjanjian yang bersifat teknis antar sektor harus didahului dengan pembuatan perjanjian payung. Para ahli berpendapat bahwa istilah MOU digunakan dengan alasan politis yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement yang dinilai lebih formal dan mengikat. pengelompokan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. Sekalipun Undang-Undang No.Cooperation. Exchange of Notes. misalnya lebih cenderung menggunakan “Agreement” sebagai instrumen payung dan kemudian MOU serta Arrangements untuk instrumen turunannya. bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian tersebut memiliki bobot kerjasama yang berbeda tingkatannya dengan perjanjian internasional lainnya. atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam perjanjian. jika terdapat kebutuhan lain maka suatu perjanjian dapat saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian payung. sekalipun tidak konsisten. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak menyepakatinya. Dalam hal ini. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MOU) memiliki daya mengikat seperti Treaties. sekalipun tidak mengikat secara hukum cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MOU yang kemudian diikuti dengan Arrangements. Adanya pengertian MOU yang non-legally binding dalam praktek beberapa negara akan . 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak mempermasalahkan judul atau nomenklatur. Terdapat praktek negara. Selain itu. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding) merupakan salah satu model dokumen yang memiliki sifat khas/typical. yang berpandangan bahwa MOU adalah nonlegally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. namun apabila ditelaah lebih lanjut. Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk kepentingan conveniences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam. seperti Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik. atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan perjanjian internasional lainnya. namun praktek Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi tertentu. Record of Understandings. khususnya pada negara-negara common law system. Praktek di Indonesia misalnya.

Perlu pula dicermati bahwa MOU sudah menjadi instrumen yang digunakan dalam hubungan kerjasama antar wilayah dalam kerangka otonomi daerah di Indonesia. pengertian nonlegally binding memiliki implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dijadikan alat pembuktian serta di-enforce oleh pengadilan. Dari sisi hukum nasional. Untuk kebutuhan praktis. maka pada hakekatnya dapat dilakukan klasifikasi sbb: . pengertian non-legally binding belum menjadi concern yang berarti bagi Indonesia. Pemerintah Daerah juga sudah mulai menggunakan format MOU untuk merefleksikan jaminan Pemerintah Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di daerah itu. khususnya pada negara-negara common law. Status hukum MOU semacam ini masih menjadi perdebatan. Secara umum pengertian ini selalu diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MOU melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang lazim dilakukan terhadap perjanjian internasional. Jika diteliti lebih dalam seluruh dokumen yang tersimpan pada Treaty Room berdasarkan materi perjanjian (the merits of the documents).menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasional. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti. Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan politik terhadap investor asing. Hal ini terlihat dari pola sistem penyimpanan perjanjian (depository system) yang ternyata menyimpan pada Treaty Room Departemen Luar Negeri semua dokumen sepanjang ditandatangani oleh Pemerintah RI tanpa melihat apakah dokumen tersebut memenuhi semua elemen sebagai suatu perjanjian. Dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini. Dengan demikian. Metode yang digunakan dalam praktek Indonesia untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional masih belum konsisten. Istilah MOU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk yang lebih informal dari ”kontrak” atau ”perjanjian” dalam hubungan perdata nasional. Pengertian MOU oleh otonomi daerah merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk “Perjanjian Kerjasama” yang bersifat mengikat.

agreed minutes. Perjanjian seperti yang didefinisikan oleh Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations 1986 serta Undang-Undang No. Exchange of Notes. MOU’s. mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Border Treaties. . Sekalipun literatur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten. Dari uraian diatas maka praktek Indonesia juga ternyata tidak luput dari dinamika tersebut. b. Agreement. namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Extradition.a. etc). 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Multilateral Convention. etc). Dokumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum (joint statements. c. etc). Perjanjian yang memiliki karakter internasional tetapi tidak tunduk pada hukum internasional publik (loan agreements. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat. sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi. declarations. procurement contracts.

Vol. Shaw. DEPLU. 2006. “Pengantar Hukum Internasional”.BIBLIOGRAPHY John H Jackson. Hynning. 2003. J. Chirelstein. Sweet & Maxwell. “International Law”. Marvin A. Rebecca Wallace. Mochtar Kusumaatmadja. Cambridge University Press. London. M. Damos Dumoli Agusman. “Hukum Kontrak Internasional”. “Cases and Materials on International Law”.N. Vol. D. 1975. . Ltd. 2006. Grotius Publication. “Modern Treaty Law and Practice”. Charlotte Ku & Paul F. Cambridge University Press. Syahmin AK. The University of Chicago Law Review. Shaw. Inc. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. “International Law”. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. 86. 2001. New York: Foundation Press. Bina Cipta. "Concepts and Case Analysis in the Law of Contracts”. 310-340. 2005. 2004. 2000. Anthony Aust. “International Law”. 1992). pp. Cambridge University Press. 23. “International Law”. “International Law: Classic and Contemporary Readings”. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. London: Lynne Rienner Publishers. 1991. 1997. 2 (Apr. 2005. “Treaty Law for the Private Practitioner”. Harris. “Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional”. Diehl. “The European Union and the International Law of Treaties”. Antonio Cassese. Martinus Nijhoff Publishers. Oxford. “The Concept of Treaty in International Law”. 1998. Delano Verwey. AJIL. Jan Klabbers. “Status of Treaties in Domestic Legal System: A Policy Analysis”. London: Sweet & Maxwell. 1996. Clifford J. Malcolm N. No.

KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI . menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR. Perjanjian internasional . Februari 2006. Indonesia karena denganpemerintah negara negara-negara subyek lain. organisasi internasional dan subyek hukum lainnya. Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. al* *Diambil dari Jurnal Konstitusi. Dengan meningkatnya intensitas hubungan dan interdependensi antarnegara. et. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan mengikat dengan hukum internasional lainnya. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasional yang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional. nomor 1. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. volume 3.JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati. Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional hukum yang antara sangat Pemerintah penting. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. Latar Belakang Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalah dengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain.

tanggal 22 Agustus 1960. Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK? 3. Sebelum adanya UU No. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuan DPR. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960. Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia? 2. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. akan dibahas pokok permasalahan sbb: 1.24 Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. Dalam penelitian ini. yang ditujukan kepada Ketua DPR. Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkan perjanjian internasional jika dibatalkan ole MK? Proses Pengesahan Perjanjian Internasional Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. 24 tahun 2000. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Oleh sebab itu. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subyek hukum internasional lainnya. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalam hal diajukan kehadapan MK? 4. . 2826/HK/1960.yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. Untuk itu melalui Surat Presiden No. 24 Surat Presiden No.

Ketentuan Penutup Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori. Penyimpangan perjanjian internasional f. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional. UU No. Ketentuan Umum b. 3. Aksesi. Ratifikasi. 25 26 Indonesia (a). yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat.Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UU No. Pemberlakuan perjanjian internasional e. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan.perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). adapun isi yang diatur adalah25: a. Pasal 7 . 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional. 24 tahun 2000. 4. Pengakhiran perjanjian internasional g. Pengesahan perjanjian internasional d. Pembuatan perjanjian internasional c. Selain itu juga ada perjanjian. 185 Ibid. Penerimaan atau penyetujuan. yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut. Ketentuan peralihan h. Dalam UU tersebut.26 Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah presiden dan menteri. 2. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian. yaitu: 1. Lembaran Negara RI Tahun 2000 No. memerlukan surat uasa (Full Powers). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut.

perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. dan keamanan negara b. 24 tahun 2000.27 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan UU atau Keppres.28 Pengesahan dengan UU memerlukan persetujuan DPR.30 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui UU apabila berkenaan dengan: a. internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam UU. baik departemen maupun non-departemen. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional. Pasal 9 Ibid. perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR. 24 tahun 2000. kedualatan atau hak berdaulat negara d. pertahanan. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. masalah politik. dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. perdamaian.29 Pengesahan dengan Keppres hanya perlu pemberitahuan ke DPR. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia 27 28 29 30 31 Ibid. Pasal 10 . dinyataka bahwa. Pasal 8 Ibid. pembentukan kaidah hukum baru f. DPR dapat meminta pertanggungjawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. Pasal 11 Ibid. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e. “Pengesahan perjanjian internasional sebagaiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak. Pasal 10 Ibid.Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah. sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UU No.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia tidakserta merta. pinjaman dan/atau hibah luar negeri.31 Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme.

memandang hukum nasional dan hukum interasional sebagai dua sitem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. dan d. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 c. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum32 32 Indonesia (b). contoh Indonesia meratifikasi ICCPR melalui UU. maka selanjutnya Indonesia harus membuat UU yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam UU yang lebih spesifik. biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat UU yang lebih spesifik mengenai perjanjian internasional yang diratifikasi. Apakah MK Berwenang Menguji UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional? Menurut UU No. UU ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. kehutanan dan kerjasama antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional seperti ini dapat langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/ nota diplomatic. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. 98. pada Pasal 10 dinyatakan bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk: a. . Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. menguji UU terhadap UUD 1945 b. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. diratifikasi melalui UU dan Keppres. Pasal 10. memutus pembubaran partai politik. Perjanjian yang termasuk kedalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan. pertanian. pariwisata. budaya. 24 tahun 2003 tentang MK. Lembaran Negara RI tahun 2003 No. penerangan kesehatan. social. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya. UU ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. UU No. 24 tahun 2003 tentang MK. 24 tahun 2000.

Hal lain adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dan lebih spesifik dari muatan UU secara umum. disebutkan bahwa materi muatan yang harus diatur dalam UU berisi hal-hal yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi (1) hak-hak asasi manusia. wilayah negara dan masalah keuangan negara. menyiapkan salinan naskah perjanjian. Dalam surat tersebut Presiden menegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR.35 Pengajuan disampaikan pengesahan kepada perjanjian internasional Presiden dilakukan melalui Menteri untuk Presiden.Dengan demikian salah satu kewenangan dari MK yang perlu digaris-bawahi adalah mengenai menguji UU terhadap UUD 1945.36 mengajukan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional yang telah disiapkan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. terjemahan. Beberapa hal yang sama adalah mengenai kedaulatan. Pasal 12 ayat (3) Indonesia (c). Untuk keperluan pembahsan RUU di DPR. (5) kewarganegaraan dan kependudukan. dalam Pasal 8.33 Selanjutnya selain dari yang berkaitan dengan UUD 1945 adalah diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. 24 tahun 2000 mengenai hal apa saja dari perjanjian internasional yang disahkan dalam UU. RUU. Sehingga tidak adanya suatu perbedaan antara UU ratifikasi perjanjian internasional dan UU pada umumnya dilihat dari sudut muatan materi UU. Pasal 8 Ibid. Pasal 8 ayat (2) Ibid. UU No. lembaga pemprakarsa yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah. menteri atau pimpinan 33 34 35 36 37 Indonesia (c). baik departemen maupun nondepartemen. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional. Lembaran Negara RI tahun 2004 NO.37 DPR mulai membahas RUU dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden diterima. atau rancangan Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. (4) wilayah negara dan pembagian daerah. (3) pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Sesuai dengan UU No. dan (6) keuangan negara.34 Hal ini sama dengan ketentuan dalam UU No. (2) hak dan kewajiban warga negara. hak asasi manusia. Pasal 12 Ibid. Hal ini relevan karena dalam melakukan ratifikasi terhadap suatu perjanjian internasional adalah melalui UU. Pasal 20 . 53.

38 39 40 41 42 43 Ibid.43 Disamping perjanjian internasional yang disahkan melalui UU atau Keppres. Tingkattingkat pembicaraan dilakukan dalam rapat komisi/ panitia/ alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. Pasal 32. muatan dan isi serta proses pembentukan dari UU pengesahan perjanjian internasional tidak berbeda dengan UU lainnya. dan 7 Ibid. Tata cara pembahasan RUU tersebut diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPR. atau melalui cara lain sesuai kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam perjanjian.42 Lembaga penyimpanan (depositary) merupakan negara atau organisasi internasional yang ditunjuk atau disebut secara tegas dalam surat perjanjian untuk menyimpan piagam pengesahan perjanjian internasional. Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. diampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi UU.5. .6. Penempatan peraturan perundang-undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam Lembaran Negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara. Ibid. UU ini dapat diajukan ke MK. pemerintah dapat membuat perjanjian internasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatic. Pasal 14 Ibid. Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. Pasal 37 Indonesia (a). Lembaga penyimpanan selanjutnya memberitahukan semua pihak bahwa perjanjian tersebut telah menerima piagam pengesahan dari salah satu pihak.Praktek ini berlaku bagi perjanjian multilateral yang memiliki banyak pihak. Pasal 14 Ibid.lembaga pemrakarsa 38 memperbanyak naskah RUU tersebut dalam jumlah yang diperlukan.41 Menteri menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan pemerintah RI pada suatu perjanjian internasional untuk dipertukarkan dengan negara-negara pihak dalam perjanjian internasional atau disimpan oleh negara atau lembaga penyimpanan pada organisasi internasional. Secara struktur.40 Setiap UU atau Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara RI. ayat 1.39 Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden. Oleh karena itu.

Dalam berperkara di MK. 24 tahun 2003. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian UU. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversaria atau contentious yang berkenaan dengan pihakpihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata maupun tata usaha negara.44 Adanya kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata45 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut UU untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada MK. Dalam hukum acara MK yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No. Oleh sebab itu perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya UU yang dipersoalkan.47 a. maka prosedur pengajuan yang digunakan tidaklah berbeda dengan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan Mahkamah tentang pengajuan permohonan. Dalam hal ini adalah kepentingan pemohon dalam mengajukan permohonan termaksud. 44 45 46 47 Semua perkara konstitusi di MK disebut sebagai perkara permohonan. b. Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet poiny d’action. Rumusan ini merujuk pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan.Tatacara Pengajuan Permohonan Pengujian UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional ke MK Dalam perkara permohonan pengujian UU Pengesahan Perjanjian Internasional. Dengan demikian.46 Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI ynag diatur dalam UU. sebenarnya tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke MK dan menjadi pemohon. melainkan permohonan. Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama. yang bunyinya sbb: Perorangan warganegara Indonesia. subjek hukum yang mengajukan disebut sebagai pemohon. Dimana bagian yang terpenting adalah legal standing dari pemohon dalam mengajukan permohonannya. Persyaratan legal standing dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam UU. asalkan dapat membuktikan dirinya memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk menjadi pemohon. UU yang digugat adalah UU yang mengkat umum terhadap segenap warga negara. bukan gugatan. Yang termasuk sebagai ini adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan yang sama dapat tampil sebagai pemohon.

Kemudian. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu UU yang dimohonkan pengujian. b. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di MK. atau (iv) lembaga negara. (iii) badan hukum public atau privat. hal. Konstitusi Press: Jakarta. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. Hal Badan hukum public atau privat. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.49 yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat khusus dan actual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya UU yang dimohonkan pengujian. Mahkamah telah menentukan lima persyaratan mengenai kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu UU sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK. Seperti telah diuraikan di atas. Dua criteria dimaksud adalah:50 a. melainkan juga mencakup pengertian lainnya secara luas. maka dapat diketahui bahwa setiap pemohon haruslah: 48 49 50 Dengan berkembangnya ilmu hukum di masa modern ini. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan. b. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. 006/PUU-III/2005. Maruarar Siahaan. berdasarkan pertimbangan hukum Putusan Perkara No. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan WNI (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). e. c. maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. 81-82 .48 Lembaga Negara. 2005. Maksudnya adalah lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. besar kemungkinan badan hukum tidak hanya mencakup pengertian public/privat saja. Dari penjelasan-penjelasan di atas. yaitu: a. d. d.c.

2. bahwa hak atau kewenangan konstitusional yang bersangkutan memang telah dirugikan atau dilanggar oleh berlakunya UU atau bagian dari UU yang dipersoalkannya itu. bahwa apabila permohonan yang bersangkutan kelak dikabulkan. 4. maka kerugian konstitusional yang bersangkutan memang dapat dipulihkan kembali dengan dibatalkannya UU dimaksud. Untuk itu dalam kaitannya dengan permohonan yang diajukan ke mahkamah. dalam permohonannya pemohonharus menjelaskan kedudukan hukum pemohon dalam perkara yang diajuakan. maka yang bersangkutan memang dapat dipastikan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan perkara ke MK. Bagaimana penilaiannya oleh hakim sangat tergantung kepada kasus konkretnya di lapangan.1. Sudah tentu. Jika kelima criteria ini tidak dapat dipenuhi secara kumulatif. dalam pelaksanaannya. bahwa subjek hukum dimaksud memang mempunyai hak-hak atau kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Mahkamah perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan legal standing ini. mengingat dampak kekuatan mengikatnya tidak saja terhadap keberlakuan UU tersebut akan tetapi juga dalam pergaulan internasional. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. 5. belum memperhitungkan pokok permohonannya. Karena. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. Untuk dinyatakan memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan. kelima criteria tersebut masih bersifat abstrak. Untuk itu secara khusus perihal legal standing harus menjadi perhatian Mahkamah. atau bersifat kumulatif secara mutlak. kelima kriteria itu kadang-kadang tidak diterapkan secara kaku. . penilaian mengenai legal standing ini baru mengantarkan pemohon kepada keabsahannya sebagai pemohon. Uraian ini harus secara jelas dan tegas yang pada pokoknya akan menunjukkan hubungan hukum antara pemohon dengan materi permohonan yang hendak diajukan. bahwa adanya atau timbulnya kerugian dimaksud memang terbukti mempunyai hubungan sebab akibat atau hubungan kausal dengan berlakunya UU yang dimaksud. 3. salah satu dari keempat kelompok subjek hukum tersebut di atas. maka pemohon harus menguraikan dengan jelas mengenai anggapan tentang hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan dengan berlakunya UU a quo.

Dalam kaitannya dengan pengajuan pengujian formil. Hal ini akan terkait dengan sejauh mana wewenang wakil pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan proses keikutsertaan dalam perjanjian internasional. sebagaimana yang disebutkan dalam UU Perjanjian Internasional. dimana harus dilihat siapa yang mewakili pemerintah Indonesia? Apa dasar keterweakilan pemerintah Indonesia? Hal ini terkait dengan surat kuasa yang diemban oleh wakil Indonesia dalam proses perjanjian internasional tersebut.Materi pengajuan yang hendak dimohonkan ke mahkamah juga harus menyebutkan dengan jelas perihal permohonan pengujian formil atau pengujian materiil. Hal ini terkait dengan proses keikutsertaan Indonesia sebagai pihak dalam perjanjian internasional. Dalam hal ini pemohon harus menguraikan dengan jelas yang berisi uraian perihal permohonan yang hendak diajukan. pemeriksaan tidak hanya terkait dengan proses pembentukan di DPR akan tetapi harus juga dijadikan perhatian perihal proses keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Hal ini akan terkait dengan bentuk keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Uraian ini akan menjadi gambaran yang jelas bagi hakim dalam menilai materi permohonan yang diajukan. Terkait Indonesia perjanjian tersebut. Hal lain yang harus juga diperhatikan dalam kaitannya dengan permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional adalah apa bentuk UU pengesahan tersebut. apakah itu materiil atau formil. Dalam pengujian formalitas UU pengesahan perjanjian internasional. kiranya menjadi perhatian khusus Mahkamah dalam memeriksa dan memutus perkara ini adalah terkait dengan pengujian atas pembentukan UU a quo. Hal ini adalah untuk menjawab pertanyaan perihal bentuk pengesahannya apakah UU ratifikasi atau aksesi atau penerimaan. Apabila dalam permohonan tidak dinyatakan . Permohonan putusan Mahkamah dalam petitum penting untuk dinyatakan dalam permohonan yang diajukan. dalam perkara pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam menjatuhkan putusan atas perkara a quo. masalah proses perundingan atau negosiasi. menyatakan bahwa UU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam hal ini harus diperhatikan bagaimana dengan keikutsertaan keterwakilan Indonesia pemerintah dalam perjanjian dalam internasional tersebut. Dalam petitumnya pemohon dalam permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional. keterwakilan pemerintah dalam perjanjian internasional tersebut dan proses pengesahan perjanjian internasional menjadi UU.

maka hal ini harus menjadi perhatian dalam pemeriksaan pendahuluan dan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki permohonannya. perjanjian internasional tersebut secara keseluruhan. dimana apakah pernyataan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat atas materi muatan yang diperiksa dan diputus mahkamah akan dapat dikategorisasi sebagai pembatalan sepihak atau tidak. Hal ini penting bagi Indonesia. Dalam hal ini harus diperhatikan dengan baik terkait dengan materi muatan yang menjadi dasar pengujian materiil yang diajukan. Dampak Pembatalan UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional Dampak dari pembatalan UU tersebut tidak hanya akan bersifat nasional tetapi juga bersifat internasional. Meskipun dengan pembatalan UU pengesahan perjanjian internasional tidak secara serta merta menghilangkan keikutsertaan Indonesia dalam pergaulan internasional. Dalam hal ini harus diperhatikan. maka pengujian dilakukan berkaitan dengan materi muatan dalam ayat. karena Indonesia tidak dapat menarik diri dari perjanjian tersebut jika tidak ada pasal yang mengatur mengenai pe. yaitu apakah dalam perjanjian internasional tersebut dimungkinkan untuk melakukan pembatalan sepihak atau penangguhan. juga harus dipertimbangkan dampak yang akan timbul dari dikabulkannya permohonan tersebut. Dalam hal permohonan yang diajukan adalah pengujian materiil UU pengesahan perjanjian internasional. Kerena pengujian UU pengesahan perjanjian internasional memiliki dimensi yang tidak saja bersifat nasional namun juga internasional.petitumnya. Kesemua aspek tersebut akan menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan yang akan dibuat oleh Mahkamah dalam memutus permohonan a quo.batalan sepihak atau penangguhan keikutsertaan dalam perjanjian tersebut. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah jika perjanjian internasional yang disahkan oleh UU . Dalam memberikan keputusan yang terkait dengan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. hal ini juga harus diperhatikan oleh Mahkamah. pasl dan/ atau bagian yang bertentangan dengan UUD 1945. Walaupun dalam Konvensi Wina Article 46 dinyatakan bahwa negara peserta dari suatu perjanjian internasional dapat membatalkan keikutsertaannya dalam perjanjian jika pelanggaran terhadap perjanjian tersebut merupakan suatu tindakan yang memang sesuai dengan internal law of fundamental importance. Dalam hal pengujian UU pengesahan perjanjian internasional dapat menimbulkan penafsiran sebagai bentuk pembatalan sepihak (denunciation) dari keikutsertaan Indonesia.

Maka pernyataan untuk terikat dalam perjanjian internasional tersebut merupakan suatu itikad baik. . seperti halnya dalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Hal berbeda jika hal ini diatur dalam perjanjian internasional. yang harus dihormati oleh negara-negara lainnya. Berlainan jika pengunduran diri atau pembatalan tidak diatur dalam perjanjian internasional. Dengan demikian pembatalan suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional yang dilakukan oleh MK tidak selalu menjadikan Indonesia lepas dari keterikatannya yang telah dinyatakan oleh Indonesia terhadap perjanjian tersebut. menetapkan bahwa pembatalan atau pernyataan tidak terikat terhadap perjanjian ini berlaku satu tahun sejak pemberitahuan mengenai pernyataan tersebut diterima oleh Dewan Federasi Swiss. Pada saat Indonesia ingin kembali menjadi anggota PBB. pengunduran diri Indonesia di PBB dihitung sejak pernyataan mundur Indonesia di PBB. Konvensi Wina menyatakan hal di atas karena dalam prosedur ratifikasi. Hal ini berlainan dengan LBB yang mengatur mengenai pengunduran diri dari LBB. dalam Pasl 63 mengenai Perbaikan Keadaan Luka dan Sakit di Medan Perang di darat. negara peserta diberikan kesempatan untuk memutuskan apakah akan menjadi pihak dalam perjanjian internasional atau tidak. Mengenai pembatalan perjanjian yang diakibatkan oleh dibatalkannya suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional oleh MK tidak termasuk dalam faktor-faktor yang menjadikan perjanjian menjadi batal atau ditangguhkan.dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan UUD 1945. Dengan demikian Indonesia sebenarnya tidak pernah keluar dari PBB. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia mundur dari keanggotaan PBB pad Desmber 1964. Seperti halnya di dalam Piagam PBB. jika pengunduran diri atau penangguhan untuk terikat terhadap perjanjian tidak diatur. hal ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. dengan menyesuaikan perjanjian internasional tersebut dengan konstitusi negaranya. PBB tidak ingin mengulangi pengalaman LBB yang dilemahkan oleh pengunduran diri beberapa anggotanya pada tahun 1938. Indonesia diwajibkan membayar segala kewajiban selama ketidak aktifannya di PBB. Namun dalam hal ini dapat dimasukkan dalam pembatalan atau penangguhan secara sepihak ini tidak akan menjadi masalah jika pengunduran diri diatur dalam suatu perjanjian internasional.

[3] Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. University of Delhi dan program Master of Political Science (M.) di School of Social Science. I. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda.A. IGNOU.C. Dalam memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori.PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA Oleh Pan Mohamad Faiz* * Penulis adalah mahasiswa program Master of Comparative Law (M.[1] yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara.L. Karena peran dari hukum nasional negara-negara dalam memberikan pengaruh dalam kancah hubungan internasional mengangkat pentingnya isu bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional dari sudut pandang praktis. Berbeda dengan . saling berdampingan dan terpisah. yaitu teori voluntarisme. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya. Latar Belakang Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis. Hal ini dapat dilihat dari interaksi masyarakat internasional dimana peran negara sangat penting dan mendominasi hubungan internasional. New Delhi. dan teori objektivis[2] yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara.) di Faculty of Law.

Sumber hukum.[4] Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: 1. Akibat lain adalah tidak mungkin adanya pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut. 3. Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. 4. pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda. yang mungkin adalah renvoi. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara. II. 2. Teori Keberlakuan Hukum Internasional A. Struktur hukum.[6] Karena itu dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasional memerlukan transformasi menjadi hukum nasional. Subjek hukum internasional. subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik. Kenyataan. .[5] Maka sebagai akibat dari teori dualisme ini adalah kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada perangkat hukum yang lain. sedangkan pada hukum internasional adalah negara.pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum. hukum nasional bersumber pada kemauan negara. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. Dengan demikian dalam teori dualisme tidak ada hirarki antara hukum nasional dan hukum internasional karena dua perangkat hukum ini tidak saja berbeda dan tidak bergantung satu dengan yang lain tetapi juga terlepas antara satu dengan yang lainnya. sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional.

Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme. Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara. 2. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara. dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional. Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1.[8] Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional. Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya.B.[9] Monisme dengan primat hukum internasional. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional.[7] Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia. Monisme dengan primat hukum nasional. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis. hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. .[10] Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional.

termasuk organisasi internasional dan negara-negara.[11] Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal. 3. Pasal 7. 2.III. Perjanjian Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan Kapal tidak pernah terbentuk. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan untuk menetapkan hukum. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 . Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920. tertanggal 18 Oktober 1907. 4.[12] Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk mengakibatkan hukum tertentu. Pada Konvensi Den Haag XII. yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan Piagam Mahkamah Internasional. hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas. yang pada saat ini tercantum dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 1945. karena tidak tercapainya minimum ratifikasi. rinsip Hukum Umum. Menurut sumber tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum internasional. ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional. dengan demikian hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan dihadapannya adalah: 1. Perjanjian Internasional. Kebiasaan Internasional. Dengan demikian Pasal 38 Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional. yang mendirikan Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam Mahkamah Internasional Permanen. Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Wina) 1969.[13] Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan sangat pesat.

[16] Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua tahap. Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda dengan perjanjian internasional. Sedangkan golongan kedua lebih sederhana. Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional. piagam (statute). charter. Dalam Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga diratifikasi menjadi hukum nasional. Hal ini biasanya berdasarkan alasan adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara. konvensi (convention).[17] Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan perjanjian internasional. arrangement. Dalam perundingan multilateral. modus vivendi. perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang cepat.[15] Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan. sehingga memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan perjanjian mana yang tidak di Indonesia. 3. Proses pembentukan Perjanjian Internasional. sebagai berikut: 1. 4. dan lain-lain. pakta (pact). Selanjutnya apa yang menjadi ukuran suatu perjanjian mana yang termasuk golongan yang penting. yaitu perundingan dan penandatanganan. kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan. deklarasi.Januari 1980. penandatanganan dan ratifikasi. Dalam perundingan bilateral. proses penerimaan . protokol. 2.[14] Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty). Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional. Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalahmasalah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. covenant. accord.

Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan undang-undang. penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak.[18] Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No.[19] Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau keputusan presiden. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pengesahan Perjanjian Internasional di Indonesia Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. . kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945. 5. Sebelum adanya Undang-Undang No. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional.(acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. IV. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. Untuk perjanjian multilateral. Untuk itu melalui Surat Presiden No. yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. 2826/HK/1960. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/accession/acceptance/approval). organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya. Penandatanganan : merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. tertanggal 22 Agustus 1960.

Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah: • • • • • • • • Ketentuan Umum Pembuatan Perjanjian Internasional Pengesahan Perjanjian Internasional Pemberlakuan Perjanjian Internasional Penyimpanan Perjanjian Internasional Pengakhiran Perjanjian Internasional Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup[20]

Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional; 2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian; 3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan (approval) yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut; 4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).[21] Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah Presiden dan Menteri. Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada

dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian interansional tersebut. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.

internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang.[22] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang atau keputusan Presiden.[23] Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan DPR.[24] Pengesahan dengan keputusan Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.[25] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: • • • • • • masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara; kedaulatan atau hak berdaulat negara; hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pembentukan kaidah hukum baru; pinjaman dan/atau hibah luar negeri.[26]

Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional, perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun 2000. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24 tahun 2000, dinyatakan bahwa: ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang

hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui undang-undang dan keputusan presiden. Undang-undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih spesifik. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional seperti ini dapat lansung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya, pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. *** Catatan: Tulisan ini merupakan resume dari salah satu hasil penelitian yang dibuat penulis bersama tim lainnya dalam "Pengujian Undang-undang yang Mensahkan Perjanjian Internasional".

Jakarta 2003. [7] Ibid.. hal 117 . Alumi. cit. hal 61 [9] Ibid [10] Ibid. [2] Teori ini menghendaki adanya suatu norma hukum yang merupakan dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional. Pengantar Hukum Internasional. cit. Akhir dari puncak kaidah hukum terdapat kaidah dasar (Grundnorm) yang tidak dapat lagi dikembalikan pada suatu kaidah yang lebih tinggi. hal 62. hal 56 [4] I A Shearer. hal 57-56. [8] Op. yang mempengaruhi teori Objektivis ini. hal 29 [13] Op. 11th ed. Kelsen dianggap sebagai bapak dari mazhab Wina. hal 114 [12] Shearer. cit. hal 65.. Kelsen dan Verdross) [11] Ibid.Endnotes: [1] Teori-teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional itu pasa kehendak negara ini merupakan pencerminan dari teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai pemikiran ilmu hukum di Eropa pada abad ke 19. 1984. Paham ini dikembangkan oleh mazhab Wina (Kunz. [3] Mochtar Kusumaatmadja. Pengantar Hukum Internasional. Aliran ini pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia. USA. Starke’s International Law. Butterworths.. Bandung 2003. [6] Loc. Para pemuka aliran ini adalah Triepel dan Anziloti. [5] Mochtar Kusumaatmadja. Alumni. hal 64.

Lihat: Catatan Kaki No. [21] Ibid. Pasal 10 [25] Ibid. Pasal 11 [26] Ibid. Undang-undang No. Pasal 9 [24] Ibid. 5.. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185. hal 119 [16] Ibid [17] Ibid [18] Surat Presiden No. Pasal 10 . 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. [20] Indonesia (a). cit. tanggal 22 Agustus 1960. Vienna 1969 [15] Op. [19] Loc. Pasal 7.[14] Vienna Convention on the Law of Treaties. cit. Pasal 8 [23] Ibid. 2826/HK/1960. [22] Ibid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful