Kompilasi Permasalahan

Direktorat Perjanjian Ekonomi Sosial dan Budaya
Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri 2008

TOR DEPLU MENGENAI STUDI TENTANG SISTEM HUKUM SUATU NEGARA TERKAIT DENGAN PROSES PENGESAHAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL SERTA PENGOLAHAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL OLEH SUATU NEGARA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
* TOR ini dilengkapi dengan “Diskusi Professor Ko Swan Sik dengan Bapak Damos Dumoli Agusman berkaitan dengan TOR DEPLU mengenai Studi Tentang Sistem Hukum Suatu Negara Terkait dengan Proses Pengesahan dan Pemberlakuan Perjanjian Internasional serta Pengolahan Naskah Perjanjian Internasional oleh suatu Negara dan Organisasi Internasional”

Permasalahan yang lahir dari Praktek Negara RI tentang Internasional yang perlu mendapatkan penjelasan akademis:

Perjanjian

1. Dalam kaitannya dengan hubungan perjanjian internasional dengan hukum nasional, apakah Indonesia menganut faham monisme atau dualisme? 2. Apakah perjanjian internasional perlu di definisi ulang sehingga mencakup semua perjanjian yang bersifat transnasional? 3. 4. Apakah loan agreements adalah perjanjian internasional? Apakah nomenclauture membedakan bobot juridis suatu perjanjian internasional?

5. Apakah lembaga negara di luar eksekutif (MA, BPK, DPR) dapat membuat perjanjian internasional? 6. Apakah Sekjen ASEAN dapat membuat perjanjian dengan negara ketiga atas nama angota ASEAN?

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM DINAMIKA GLOBAL 1. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi, mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. Sekalipun Literarur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten, namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. Perkembangan antar bangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan dan intensitas pembuatan perjanjian internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya.

2.

3.

Dalam hal pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, diatur dalam Pasal 11 UUD 1945, yang kemudian diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. UU tentang Perjanjian Internasional sangat penting artinya untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional oleh Pemerintah RI. Pada dasarnya UU tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratifikasi oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional dan telah dijadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat dan mengesahkan perjanjian internasional.

4.

PRAKTEK HUKUM RI: MONISME OR DUALISME? 5. Praktek Indonesia dalam masalah implementasi perjanjian internasional dalam hukum nasional RI tidak terlalu jelas mencerminkan apakah Indonesia menganut monisme, dualisme atau kombinasi keduanya. Dalam prakteknya, sekalipun suatu perjanjian internasional telah diratifikasi dengan UU, masih dibutuhkan adanya UU lain untuk mengimplementasikannya pada domain hukum nasional, seperti UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh UU No. 17/1985 tetap membutuhkan UU No. 6/1996 tentang Perairan. Di lain pihak, terdapat pula perjanjian internasional yang diratifikasi namun dijadikan dasar hukum untuk implementasi, seperti Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No. 1/1982.

Komentar Prof. Swan Sik:

Pertanyaan berlakunya hukum internasional (HI) didalam lingkungan hukum nasional Indonesia (HN) memang belum jelas terjawab. ToR tepat menitikberatkan bahwa dari sudut tata-hukum Indonesia perlu dikembangkan pilihan politik hukum antara kemungkinan2 sebagai berikut: (a) HI dianggap sebagai tata-hukum yang mutlak terpisah dari dan tiada hubungan sistematis dengan HN, dengan lain perkataan secara mutlak berada dan berlaku diluar dan disamping lingkungan HN (pada hakekatnya menganut “aliran dualisme”). Pilihan ini berkonsekwensi diperlukan pembuatan hukum menurut acara dan dalam bentuk HN (transformasi) agar kaidah isi HI bersangkutan dapat berlaku sebagai hukum dalam lingkungan HN. Dengan demikian kaidah tersebut yang telah di”transformasi” sebagai HN, berlaku setaraf dengan HN lainnya, dan tunduk pada azas2 yang menentukan hubungan antar-kaidah hukum (a.l. lex posterior derogat legi priori) (b) HI dan HN pada hakekatnya dianggap sama2 merupakan bagian dari hukum sebagai keseluruhan (sesuai ajaran monisme). Oleh karena itu HI dianggap berlaku pula (“diinkorporasikan”) dilingkungan HN, setaraf dengan HN “aseli”, namun dengan mempertahankan sifat HI-nya (tanpa “transformasi”) dan sejauh isinya cocok untuk diterapkan pada hubungan2 HN. Azas2 tsb.tadi berlaku pula terhadapnya.

atau dgn jalan undang-undang. Sikap tata hukum Indonesia (HN) terhadap berlakunya HI dalam lingkungan HN sebagai keseluruhan belum jelas. Ada HN yang menentukan pilihan tsb. Dalam konteks ini mereka tidak menginginkan HN Indonesia memilih jurusan dan membiarkan ketiganya applicable dalam setiap kasus. maka ketiga jurusan itu bisa dipakai secara bergantian. para ahli Indonesia menolak menggunakan teori monisme-dualisme dalam menjelaskan hubungan HI dan HN namun tanpa sengaja pandangan mereka tentang hubungan ini selalu dilatarbelakangi oleh salah satu aliran ini.” Berdasarkan ketentuan ini hakim wajib menguji wewenangnya terhadap HI. maupun di hukum PI yang berlaku untuk Indonesia. dan yang lain bahkan menempatkan UUD pun dibawah HI. Bahkan dari zaman kolonial masih ada ketentuan yang berdasarkan peraturan2 peralihan masih berlaku. tapi apa yang HN pilih yang akan menentukan jurusan”. bahkan diakui sebagai hukum yang bertingkat lebih tinggi. Petunjuk paling jelas sebenarnya dapat dilihat dalam praktik peradilan (“yurisprudensi” dalam arti-kata umum). .  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dari hasil diskusi dengan para ahli hukum Indonesia. yaitu ”apakah suatu negara mutlak memilih salah satu jurusan tersebut”. HN Indonesia tidak perlu terjebak dengan berbagai jurusan tsb namun tetap diperlukan adanya sikap (”legal provisions”) dalam HN Indonesia yang menentukan apa status HI dalam HN (hubungan HI dan HN). Dalam jurusan ini terdapat dua variasi. Sayang sukar untuk diketahui praktek hakim karena masih belum adanya kebijakan pengumuman luas keputusan2 hakim (selain dari pemberitaan2 wartawan disurat kabar). baik yang bersumber di hukum kebiasaan. Jika HN telah menetapkan status hubungan ini maka warna jurusan akan terlihat dan teridentifikasi.(c) HI dianggap tidak hanya ter-inkorporasi dalam lingkungan HN. Artinya. Pilihan antara ketiga kemungkinan tsb. atau pemerintah pusat) Disamping itu ada kemungkinan diadakannya perbedaan antara HI tertulis (perjanjian internasional) dan HI tak tertulis (hukum kebiasaan) dalam penerapan pilihan sistem. Beberapa ahli berpandangan bahwa sebaiknya ketiga jurusan itu bisa dipakai dengan menggunakan parameter kepentingan nasional secara kasus per kasus. seperti pasal 22a “Ketentuan2 umum perundang-undangan” (Algemene bepalingen van wetgeving. terdapat suatu pertanyaan critical. di Konstitusinya. yang satu mengecualikan UUD dari pengutamaan HI. Staatsblad 1847:23) yang berbunyi: “Wewenang hakim dan daya pelaksanaan keputusan hakim dan akta otentik dibatasi oleh pengecualian2 hukum internasional. sehingga mendahului HN yang berlawanan dengannya. They deny the theory but their thinking reflect the theory. diatas dapat ditentukan secara berbeda-beda. Saya sendiri berpendapat bahwa ”bukan jurusan yang menentukan apa yang HN pilih. atau melalui tundakan2 berdasarkan otoritas pejabat hukum (misalnya hakim. sehingga dapat diharapkan ada keputusan2 hakim yang mengutarakan pendapatnya tentang ada (tidak)-nya “pengecualian2” demikian. jika kepentingan nasonal (national interest) menuntut. Kesulitan yang saya hadapi adalah.

 Komentar Agusman: Damos Dumoli Memang tidak terdapat indikasi tegas apa yang dianut oleh Indonesia dalam masalah hubungan HI dan H. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasanaliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. dalam bentuk tegas ataupun sebagai hasil penafsiran (contoh: oleh hakim). apakah dilakukan secara “silent”? (tanpa memerlukan penetapan oleh HN?) *** 6. Agar PI mengikat suatu negara (berlaku.Saya sendiri keberatan jika parameter kepentingan nasional selalu dipakai untuk menentukan pemilihan jurusan karena akan menciptakan ketidakpastian hukum dan prinsip predictability yang menjadi fundasi suatu sistem hukum. dari sudut HI. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. terhadap suatu negara) diperlukan seperangkat tindakan pejabat hukum HN (ratifikasi) yang dalam hal ini bertindak baik dalam fungsi HN maupun fungsi HI. dan belum terlihat adanya pandangan yang diluar dari ketiga jurusan tsb. tidak per se merupakan bukti bahwa RI menganut dualisme. dalam lingkungan HN). Dari pandangan para ahli hukum Indonesia. Swan Sik: Syarat keberlakuan PI untuk lingkungan HN ditetapkan oleh HI (ada tidaknya PI yang relevan untuk RI) dan HN (ketentuan status PI tsb. Pertanyaan saya: dapatkan suatu negara memilih ketiga jurusan tersebut? Jika dapat. Apakah tindakan2 tersebut juga berakibat PI bersangkutan berlaku dalam lingkungan HN (lihat catatan diatas) adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh HN. atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. dapat saya simpulkan bahwa pandangan mereka terhadap hubungan HI dan HN mengarah pada memilih salah satu jurusan teori. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. Indikasi kearah monisme misalnya tercermin dari: . Adanya perundangundangan yang mengatur hal2 sama dengan apa yang telah diatur pula dalam suatu PI yang berlaku untuk RI. Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. Praktek Indonesia justru tidak konsisten dalam masalah ini. yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural. Perundang2an bersangkutan mungkin “mengatur lebih lanjut” (ToR dengan tepat menggunakan istilah “implementasi”).

Menurut kelompok ini UU/Perpres ini Pakar hukum D. 24/2000 tentang PI: ”Penempatan peraturan perundangundangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan THEY? TREATIES: WHAT AREagar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia. 12. Dalam rangka dualisme. Kelompok ini masih menganggap perlu adanya 11. the intention of the Parties? 4/1960 karena karakter dualisme. PASAL 22A AB: KEKUASAAN HAKIM DIBATASI OLEH PENGECUALIAN-PENGECUALIAN  “governed by international law”((diatur dalam hukum internasional serta OLEH HI menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik)  whatever form. 1/1982 dimaksud dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yangdalam prakteknya dapat diterapkan langsung tanpa ada UU tentang Diplomatik/Konsuler. suatu dokumen yang ”governed UNCLOS 1982 10. the Subject-Matter of the agreement? dianggap there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to c. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional tidak luput dari kerancuan ini. atau subjek hukum internasional lain. UU No. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merujuk langsung pada “praktek dan dasar yang harus dipenuhi Dari pengertian hukum ini. 1. hanya jubah untuk menyatakan persetujuan DPR/Presiden dan bukan merupakan UU/Perpres dalam pengertian perundang-undangan. Konvensi Wina 1961 internasional.J. organisasi hukum internasional. Klausula yang dimuat dalam suatu UU yang meratifikasi suatu Perjanjian Internasional (dan oleh organisasi internasional) adalah:PI selalu memuat kalimat: asli (PI) Inggris “An ”Salinan naskahAgreementdalam bahasa between dan terjemahannya dalam bahasa International concluded States and International Indonesia sebagaimana and governed by international Law. 6/1996. yang diatur Perjanjian Internasional adalah: setiap perjanjian diTanah Kedubes Saudi Arabia: Fatwa MA oleh Langsung Merujuk Padadan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”treaty room”. whether embodied Organizations in written formterlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari in a Undang-Undang ini. UU No. Judicial review MK tentang UU No.6/1996 sendiri dapat b. 4.  by Subject of International Law  in Written Form 6. maka terdapat beberapa kriteria kebiasaan internasional secara oleh universal” suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan UU Nomor 24 Tahun tentang Perjanjian Internasional. Apakah dari: law” juga masih menimbulkan tentang Perairan Indonesia. praktek Indonesia juga mengindikasikan dualisme misalnya dalam praktek penerapan UNCLOS 1982. or in two or more related instruments and whatever its single instrument particular designation” 3. Pandangan dualisme ini is governed by international oleh Kelompok ahli hukum perundangcreate legal relations tampaknya juga didukung law? undangan Indonesia yang menolak untuk mengkategorikan UU/Perpres yang meratifikasi utatu PI sebagai Harris perundang-undangan. should sebagai UU yang mentransformasikan UNCLOS 1982. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai Perjanjian Internasional dan bahkan diratifikasi melalui UU Nomor 1 Tahun 1963. 17/1985adalah meratifikasi by international tidak mencabut UU Perpu 4/1960 perdebatan akademis. produksendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 17/1985 tidak dianggap bertentangan dengan UU Perpu a. 8) 9) . Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. Praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya UU No.Penjelasan Pasal 13 UU No. 5. Perjanjian yang dibuat dengan NGO juga dianggap sebagai Perjanjian internasional. di bidang hukum perdata. Namun dilain pihak. bahwa perjanjian mentransformasikan menjadi lingkup UU ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang diatur dalam hukum Jurisprudensi Indonesia sendiri hak dan kewajiban sehingga hukum publik dan bukan internasional serta menimbulkanbelum berkembang di bidang belum memberikan kontribusi untuk pengembangan doktrin hubungan HI dan HN. UU NO 39/1999 tentang HAM: Ketentuan hukum internasional yang telah diterima yaitu: negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum  an International Agreement nasional. Sebelum lahirnya UU ini. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan UU/Perpres yang internasional yang PI dimaksud. UU ini baru dicabut oleh UU No. Bagaimana mengidentifikasi bahwa UU No. Dalam hal ini. Kasus Sengketa bidang hukum publik. Konvensi Wina 1961/1963 tentang Hubungan Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi dengan UU No.” 7) Perjanjian Internasional berdasarkan Konvensi Wina 1969 (dan 1986) tentang Hukum 2.

.

yaitu apakah UU/Perpres ini bersifat organik atau prosedural.13. Kalangan publik Indonesia telah menggunakan istilah perjanjian internasional secara popular yang mencakup seluruh perjanjian yang bersifat lintas negara baik publilk maupun perdata (kontrak internasional). Permasalahan lainnya yang terkait adalah apakah hakim Indonesia terikat pada perjanjian internasional yang tidak dimuat dalam suatu perundang-undangan?  Komentar Prof. 14. sehingga menganggap semua perjanjian baik perdata maupun public adalah treaty dalam pengertian . dengan adanya UU 24/2000 pasal 10 judul (f). atau apakah perjanjian yang telah diratifikasi telah menjadi norma atau masih membutuhkan perangkat hukum implementatif. Sebaliknya tercantumnya judul tersebut juga boleh jadi melulu disebabkan kehendak pembuat UU 24/2000 bahwa perjanjian pinjaman/hibah. Dalam hal ini persetujuan dengan UU itu dapat saja ditafsirkan lepas dari hal penempatan perjanjian tsb. pilihan para fihak (negara atau organisasi internasional) tentang penempatan (G-to-G) loan agreement mereka dilingkungan HI atau HN adalah pilihan politik (kebutuhan dan kepentingan) dan tidak merupakan persoalan teoretis juridis. yaitu tentang perlu tidaknya perangkat hukum nasional untuk mengimplemtasikan perjanjian tersebut. perlu disetujui UU. karena materinya. Kesimpangsiuran ini telah mewarnai perdebatan di kalangan interdep tentang status suatu perjanjian internasional. Tercantumnya judul ini boleh jadi oleh karena pembuat UU secara prinsip tidak sudi memperbolehkan perjanjian pinjaman/hibah antarnegara/organisasi internasional diperlakukan sebagai perjanjian yang dikuasai suatu HN. Pertanyaan yang kita hadapi yalah apakah pilihan demikian masih mungkin bagi RI. Ketidakkonsistenan praktek Indonesia bersumber dari ketidakjelasan aliran hukum yang dianut oleh Indonesia perihal hubungan hukum internasional dan nasional. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Masalah ini juga melahirkan pertanyaan mendasar tentang status UU/Perpres yang meratifikasi suatu perjanjian internasoinal. dilingkungan HN atau HI (lihat juga catatan atas ayat 16). Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apakah perjanjian internasional perlu didefinisikan kembali. Swan Sik: Dilihat dari sudut umum. Tafsiran terakhir ini lebih2 masuk akal apabila ternyata praktek Indonesia setelah diundangkannya UU 24/2000 masih tetap kadang2 memuat klausula tentang “governing law” (lihat ToR ayat 24)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Dilihat dari historis pembuatan UU No 24/2000. antar negara maupun antar perusasahaan multinasional. perumus UU No. 24/2000 pada waktu itu tidak dibekali oleh pemahaman tentang definisi perjanjian internasional.

Saat ini terjadi perdebatan yang sangat intensif antara Deplu dengan Depkeu/Bapenas tentang status loan agreements dalam RUU tentang Pinjaman/Hibah.Konvensi Wina 1969. dalam rangka pembuatan RUU tentang Pinjaman/Hibah telah diupayakan untuk membedakan perjanjian pinjaman menjadi dua jenis. Sehingga mereka menggunakan “treaty” dari pada “contract”. Untuk kelompok pertama diterapkan UU No. Untuk itu sejak tahun 2006. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. Dalam praktek. perjanjian perdata internasional biasa yang governed by other than international law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan UU tersebut. Akibatnya. their terms. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman. 24/2000. *** 15. 24/2000 tidak lagi diberi ruang bagi adanya loan agreement governed by HN. Mereka enggan menggunakan pengadilan nasional dan HN untuk penyelesaian conflict. 16. Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata. ILC sendiri dalam drafting Vieanna Convnetion 1969 menempatkan loan agreements sebagai “subject to a national law”. yaitu: a. pilihan hukum tentang loan agreements tetap menjadi persoalan juridis teoritis karena “theoretically” loan agreement bukan merupakan domain dari hukum internasional. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang mendindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. b. Praktek negara (termasuk IBRD) yang cenderung menggunakan HI sebagai governing law adalah karena konstelasi politik internasional dewasa ini beranggapan “governed by international law” lebih secured dari pada “governed by a national law”. 24/2000 tetapi untuk kelompok kedua tidak perlu diberlakukan. yaitu governed by international law dan governed by national law. misalnya penetapan loan interest. maka berdasarkan UU No. . perjanjian internasional publik governed by international law seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan. Deplu mengusulkan agar dalam RUU ini dibedakan antara kedua jenis perjanjian ini sehingga dapat diketahui rejim UU apa yang akan diberlakukan. Dalam konteks pemahaman yang keliru inilah loan agreements dirumuskan dalam UU No. 24/2000. hal ini tidak dapat dipertahankan karena acapkali muncul loan agreements yang governed by HN namun “dipaksakan” untuk dikategorikan sebagai PI berdasarkan UU No. Menurut saya. Pertanyaan critical adalah apakah norma HI sudah cukup “adequate” dan available untuk mengatur tentang loan agreements. Akibatnya. Sehingga loan agreement pada waktu itu oleh perumus UU No. 24/2000 selalu dianggap sebagai treaty sekalipun governed by HN.

Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut Pasal 10 (f) UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan UU dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam UU tersendiri. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. 21. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional jelas mengkategorikan perjanjian pinjaman sebagai perjanjian per definisi UU ini yaitu perjanjian governed by international law. UU Nomor 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam Pasal 23 (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. Dalam kaitan ini. Selain itu. Pasal 16 PP Nomor 2 Tahun 2006 menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. Swan Sik: . perjanjian pinjaman (loan agreements) adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional. 19. Konsekuensinya. untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun PP Nomor 2 Tahun 2006 (bahkan dalam RUU Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa.17. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. Dalam pembahasan RUU tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya UU APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan akademis tentang apakah persetujuan DPR dalam kontek UU APBN identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan UU (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional?. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Seperti diketahui bahwa UU tentang APBN bukanlah UU untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan UU untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. apakah lembaga ratifikasi seperti yang dikenal dalam hukum tatanegara telah mengalami pergeseran makna? 20. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Dalam praktek Indonesia. 18. yang tentunya membutuhkan ratifikasi sebelum pemberlakuannya.  Komentar Prof.

Treaty dan Agreement akan dianggap lebih mengikat ketimbang MOU. Secara tradisional bentuk dan nama perjanjian (nomenclature) tidak relevan untuk dibedakan karena apa pun namanya tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang di dalam suatu perjanjian internasional. NOMENCLATURE. Apakah ini dapat dianggap telah memenuhi syarat tersebut dipasal 23(1) UU 17/2003 dan pasal 10 UU 24/2000 merupakan soal penafsiran yang dapat dijawab oleh praktek hubungan pemerintah-DPR. maka DEPLU telah memberikan penafsiran bahwa loan agreement menurut UU 24/2000 adalah “treaty”. Namun demikian Depkeu menyatakan pasal 16 PP 2/2006 tidak bertentangan dengan UU karena sudah ada persetujuan dari DPR dalam bentuk UU APBN. Dalam hal ini. dan dengan demikian pasal 16 PP 2/2006 bertentangan dengan UU. dunia diplomasi cenderung memberikan bobot yang berbeda untuk setiap nomenclature.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Untuk menyelesaikan problem ini. Jika loan agreement itu tidak treaty (governing law adalah HN) maka UU 24/2000 tidak apply.macam sebutan yang dipakai dalam praktek untuk perjanjian2 antar-negara/organisasi internasional. Swan Sik: Salah satu hal yang masih tetap tanpa ketegasan yalah konsekwensi bermacam. SHOULD THEY BE DISTINGUISHED? 22. dengan (dan selama) adanya UU 24/2000 pemerintah tidak mungkin mengadakan perjanjian pinjaman yang mulai berlaku sejak saat ditandatangani. Pertanyaan saya adalah apakah persetujuan DPR (in advance) identik dengan ratifikasi? Mengingat karakter ratifikasi adalah “confirming the act that already taken by the executive” maka persetujuan in advance bukan ratifikasi. Swan Sik: Cara persetujuan DPR seperti yang disebut di ayat 18 diatas pada hakekatnya merupakan persetujuan terlebih dahulu (in advance) atau “pemberian wewenang” untuk mengadakan pinjaman sampai batas tertentu.  Komentar Prof. Sebaiknya pemerintah mencari ketegasan dengan jalan memancing pernyataan azas dari fihak DPR. UU 24/2000 tidak mengatur persetujuan in advance karena tidak dikenal dalam hukum perjanjian internasional. Namun demikian.Menurut tafsiran yang manapun. content perjanjian merupakan tolok ukur ketimbang namanya. walaupun tanpa perincian sumber pinjaman demikian. artinya PP 2/2006 can apply.  Komentar Damos Dumoli Melihat kompleksitas masalah ini maka sampai saat ini DPR belum memberikan posisi apa pun tentang hal ini. .  Komentar Prof.

Masalah ini sayang sekali terlalu luas (dan spekulatif) untuk dijadikan objek catatan singkat. namun menurut terkaan saya masalahnya tetap terbuka)  Komentar Agusman: Damos Dumoli Praktek Indonesia dalam pembuatan PI dengan negara-negara lain sangat inkonsisten. APAKAH LEMBAGA NEGARA DI LUAR EKSEKUTIF DAPAT MEMBUAT PERJANJIAN INTERNASIONAL? 26. Petunjuk utama jika menghadapi persoalan bersangkutan yalah tafsiran segala faktor yang memain peranan dalam terjadinya “perjanjian” bersangkutan. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti khususnya tentang implikasinya dalam hukum nasional. (Masalah tersebut pernah saya bahas sebagai judul pidato inaugurasi saya pada tahun 1990. 24. BPK dan DPR. Pandangan para negotiators selalu terjebak pada mind setting bahwa MOU lebih rendah dari agreement dan agreement lebih rendah dari Treaty. Bagaimanapun persoalan ini sekali-kali tidak semata-mata soal nomenclatur. 23. Praktek internasional termasuk Indonesia juga ditandai dengan maraknya pembuatan perjanjian internasional oleh lembaga di luar eksektif seperti MA. Dinamika dalam masalah nomenclature ini menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dunia praktisi tentang apakah diperlukan adanya tingkat hirarki perjanjian internasional berdasarkan namanya. Adanya pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktek beberapa Negara akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. 25.Yang dimaksudkan yalah apakah penggunaan istilah tertentu berakibat berbeda dalam bidang keberlakuan hukumnya. sayang sekali dalam bahasa Belanda: “De verplichting in het volkenrecht” [Kewajiban dalam hukum internasional] . melainkan soal usaha politik antar-negara untuk menghindari keterikatan pada kewajiban hukum tanpa mengaku maksud tersebut. Gejala ini telah memicu pertanyaan yang bersifat akademis yaitu apakah dewasa ini pemerintah suatu negara yang selama ini dikenal sebagai pemangku fungsi representation of states tidak lagi menjadi lembaga tunggal untuk membuat perjanjian internasional? . Untuk kebutuhan praktis. khususnya pada Negara-negara common law system yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya mengikat seperti treaties. Pustaka mengenai masalah ini pasti telah banyak berkembang sejak saat itu. Ada praktek Negara. Perkembangan hukum perjanjian internasional juga ditandai dengan adanya perbedaan praktek Negara mengenai nomenclature MoU.

Yang berbeda dari kebiasaan hanya pejabat pelaksananya. dan hanya mengindikasikan bahwa masalah ini akan diatur lebih lanjut dalam perangkat implementasi. Hasilnya yang dituju tetap suatu PI. eksekutif adalah the legitimate representive of states. Treaty making power merupakan salah satu isu dasar yang lazim diatur dalam konstitusi setiap organisasi internasional sebagai bagian dari paragraf tentang external relations. Perjanjian ini diberi nama “administrative agreements”. Seiring dengan maraknya perjanjian internasional oleh lembaga non-eksekutif. Dalam hal ini. Kenapa pertanyaan full power muncul? Karena non-ekeskutif tidak mengakui Menteri Luar Negeri sebagai bagian dari eksekutif mengeluarkan full power bagi mereka. maka kemudian muncul pertanyaan tentang lembaga full powers.  Komentar Prof. dan sekali-kali bukannya alat(-alat) perlengkapannya. Dalam HN. kedudukan Menlu sebagai pejabat khas dalam hukum internasional tidak dikenal 27. biasa negara. Sejauh pimpinan negara mengizinkan lembaga2 kenegaraan lain daripada Eksekutif mengadakan PI dan sejauh fihak lainnya menerimanya. ASEAN telah memiliki konstitusi barunya (ASEAN Charter) yang akan memberikan landasan hukum bagi aktivitas ASEAN baik dari segi internal maupun eksternal. Komentar Prof. apakah Menlu lazim mengeluarkan full powers kepada lembagai non-eksekutif? ASEAN’S TREATY MAKING POWER 28. Adanya pembagian kekuasaan negara yang semakin ketat di Indonesia menimbulkan implikasi bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga non-eksekutif bukan merupakan urusan eksekutif sehingga perjanjian yang dibuat oleh mereka bukan tanggung jawab eksekutif.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Secara traditional. yalah apakah sifat (PI atau tidak) dan apakah akibat hukum (menurut tata hukum mana) dari perjanjian2 yang kadang-kadang diadakan antara lembaga dan alat perlengkapan badan2 hukum tingkat rendahan (contoh: antara kota-kota) dari negara berbeda. Swan Sik: . Namun ASEAN Charter tidak secara rinci mengatur mengenai treaty making power of ASEAN. Swan Sik: Bagi HI yang menentukan yalah apakah ada suatu PI. Begitu pula pertanyaan tentang full powers kelihatannya tidak relevan benar (lihat dibawah catatan atas ayat 32/37). artinya perjanjian antara subjek2 internasional bersangkutan. Aspek lain yang kelihatannya kadang-kadang menimbulkan pertanyaan dalam kepustakaan yang tidak jelas terjawab. tidak ada halangan terhadap praktek demikian. Mereka mengklaim tidak perlu memperoleh kuasa dari pemerintah.

European Union yang sudah demikian terintegrasi tidak pernah suatu negara anggota memberi mandate kepada Presiden Komisi untuk bertindak atas nama negara tersebut mengikatkan diri dengan pihak lain. Saya telah membuat catatan khusus tentang issue ini yang akan saya sampaikan secara terpisah. Pengeluaran Surat Kuasa Resmi (Full Powers) adalah untuk kepentingan fihak lainnya (counterpart) dalam perjanjian agar fihak ini memperoleh kepastian bahwa si wakil RI bersangkutan memang “disuruh” RI dan perbuatannya memang di”tanggung” RI. dimana negara anggota akan turut membubuhkan tanda tangan jika bagian dari perjanjian dengan EU tersebut adalah wewenang negara anggota. atau (2) berdasarkan pemberian wewenang khusus oleh para negara anggauta secara insidental. . atau (2) tegas atas nama para negara anggauta. Apa yang dilakukan oleh ASEAN adalah hanya untuk kebutuhan praktis. Praktek ASEAN dalam hal ini tidak didasarkan pada prinsip hukum perjanjian internasional bahwa “consent to be bound” harus dinyatakan oleh negara itu sendiri.  Komentar Agusman: Damos Dumoli Treaty making power of ASEAN telah menjadi persoalan dalam praktek ASEAN dalam membuat perjanjian. Jika negara itu ingin “terminate atau amandement perjanjian itu.[Catatan ini dibuat tanpa penelitian data perjanjian di ASEAN Documents Series] Pembuatan perjanjian dengan fihak ketiga yang dilakukan (ditandatangani) oleh Sekretariat/Sekjen atau “pejabat salah-satu anggauta” dapat (1) tegas atas nama ASEAN. menerima dan mengaku (recognition!!) wewenang Sekretariat ASEAN. DPR tidak “mengesahkan perbuatan hukum oleh subjek hukum internasional lain” melainkan mengesahkan perbuatan yang bersifat perbuatan hukum RI berdasarkan pemberian wewenang (“surat kuasa”) tersebut tadi. Apakah full powers oleh negara itu kepada Sekretaris Jenderal ASEAN adalah full powers yang dimaksud oleh Vienna Convnetion 1969? 2. sehingga soal full powers tidak timbul. Dalam hal adanya keperluan ratifikasi. Dalam EU dikenal adanya Mix Agreements. Dari sudut HI tiada halangan apapun (ayat 37) terhadap acara demikian. dapatkan dilakukan tanpa melalui consent dari Sekretaris Jenderal ASEAN? . Selanjutnya tindakan tersebut dapat (1) berdasarkan suatu ketentuan khusus dalam naskah “anggaran dasar” ASEAN. para negara yang berdaulat berkuasa penuh untuk “memberi kuasa” kepada subyek hukum lain. atau (3) tanpa ketegasan demikian. Pemberian wewenang demikian tidak selalu ternyata dari naskah yang diumumkan. Permasalahannya adalah. Pertanyaan yang muncul jika Sekjen ASEAN menandatangani PI atas nama negara anggota adalah: 1. Dalam konstruksi seperti digambarkan diatas fihak lain itu percaya.

bertindak sebagai organisasi internasional as a distinct subject separated from its members 31. Hubungan antara seluruh anggota ASEAN dengan pihak ketiga dimana status negara anggota adalah sebagai subjek hukum internasional yang berdiri sendiri. Praktek ASEAN dalam hubungan eksternalnya sudah sangat intensif dan dapat dibedakan atas dua perspektif: a. Dalam perjanjian ini yang membuat perjanjian dengan EEC adalah setiap dan semua negara anggota dan bukan ASEAN sebagai a distinct subject separated from its members. dapatkah DPR mengesahkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum internasional lain? Jika perjanjian itu membutuhkan full power apakah lazim Menteri Luar Negeri memberikan full power kepada subjek asing? Jika negara anggota ingin menarik diri dari perjanjian semacam ini. ASEAN juga telah membuat berbagai perjanjian dalam kedudukannya sebagai a distinct subject separated from its members yang biasanya menggunakan istilah ASEAN Secretariat. 30. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa materi yang diperjanjikan bukan merupakan ruang lingkup atau wewenang ASEAN sebagai suatu organisasi yang berdiri sendiri namun terletak pada negara-negara anggotanya. dapatkah dilakukan sendiri tanpa melalui Sekjen ASEAN? .29. Dalam kaitan ini. Dilain pihak. 33. Hubungan antara ASEAN sebagai subjek hukum internasional (biasanya ASEAN Secretariat) dengan pihak ketiga. Sedangkan EEC. dapatkah subjek hukum internasional lain melakukan tindakan express to be bound by a treaty atas nama subjek hukum internasional lainnya? Jika perjanjian tersebut memerlukan ratifikasi. 32. dalam kaitannya dengan ASEAN sebagai subjek hukum internasional. Istilah ASEAN dalam hal ini hanya digunakan untuk merujuk setiap Negara anggota sebagai collective members. yaitu Perjanjian dengan Pihak Ketiga yang mengikat seluruh Negara anggota ASEAN tetapi ditandatangani oleh oleh Sekjen ASEAN/Pejabat salah satu anggota untuk dan atas nama Negara-negara anggota. b. Penandatanganan oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota terhadap perjanjian menimbulkan beberapa pertanyaan akademis tentang kekuatan mengikat perjanjian tersebut terhadap negara anggota. Hal ini tercermin dari participation clause-nya serta pihak yang menandatangani perjanjian dimaksud yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN secara individual seperti pada the Cooperation Agreement between the Member Countries of ASEAN and the EEC. Namun demikian. praktek ASEAN juga menunjukkan adanya beberapa perjanjian yang tampaknya agak menyimpang dari prinsip hukum umum yang berlaku. yang terlepas dari Negara anggotanya. ASEAN sebagai collective members telah banyak membuat perjanjian dengan negara/organisasi internasional lain. Kedudukan ASEAN dalam kaitan ini adalah sebagai organisasi internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional oleh Organisasi Internasional. Sekalipun judul perjanjian itu menggunakan isitilah ASEAN namun pada hakekatnya perjanjian dimaksud adalah perjanjian antara negaranegara anggota secara individu dengan organisasi/negara ketiga (perjanjian multilateral). 7 March 1980.

. seperti Undang-Undang No. Menurut faham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Nasional. Berdasarkan paham monisme dengan pengutamaan pada Hukum Internasional. mengatur mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan pengangkatan serta penerimaan duta dalam ranah Hukum Nasional. urusan luar negeri. yang juga masih berupa Hukum Kebiasaan Internasional. SH. termasuk didalamnya Perjanjian Internasional. Berdasarkan paham monisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan bagian yang saling berkaitan dari satu sistem hukum pada umumnya.” Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Hukum Diplomatik. Sekarang Indonesia mempunyai Undang-Undang mengenai Perjanjian Internasional yakni Undang-Undang No. MH. 24 Tahun 2000. DR. 1969. Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan 1945. Indonesia menetapkan bahwa Presiden mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan menerima duta dan konsul.PROF. Hal ini mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian Internasional di ranah Hukum Nasional. Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan berbagai Perjanjian Internasional. Hukum Internasional merupakan Hukum Nasional untuk “Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. BURHAN TSANI. Indonesia menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Presiden. Hukum Nasional tunduk pada Hukum Internasional dalam arti Hukum Nasional harus sesuai dengan Hukum Internasional. Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah dibandingkan dengan Hukum Internasional. STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA) Pengantar Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak mudah untuk menemukan kaidah hukum yang mengatur tentang status Hukum Internasional dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional RI. MOHD. Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang benar-benar terpisah. dan bagaimana Indonesia menerapkan Hukum Internasional. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang No. 1963. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Pengutamaan mungkin pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Pasal 11 dan 13 UUD 1945. Hakekat Hukum Internasional berbeda dengan Hukum Nasional. UUD 1945 tidak mencantumkan satu pasal pun yang mengatur status tersebut. Sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No. Permasalahan yang mungkin masih relevan untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan dan bahkan pertentangan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. 1978 dan 1986. 1975 dan 1979. . sudah mengadakan interaksi dengan Negara maupun Organisasi Internasional. yang tunduk pada Hukum Internasional. Menurut paham dualisme Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Dikenal ada dua paham yaitu dualisme dan monisme. 1973. yang ada kaitannya dengan Hukum Internasional. Undangundang yang berkaitan dengan Hukum Internasional. paham ini cenderung mengabaikan Hukum Internasional. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. Namun secara logika paham dualisme akan mengutamakan Hukum Nasional dan mengabaikan Hukum Internasional. Hukum tentang hubungan diplomatik dan konsuler dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru tahun 1961. Negara akan mengutamakan Hukum Internasional atau Hukum Nasional? Permasalahan pengutamaan dapat diselesaikan dengan menggunakan paham (teori) dalam hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Hukum Internasional merupakan kelanjutan Hukum Nasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional juga tidak mencantumkan pasal tersendiri yang mengatur status tersebut. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Pada tahun 1969.

Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi Hukum Nasional. Hukum Internasional yang bersumber dari Perjanjian Internasional dapat diterapkan di dalam Hukum Nasional apabila sudah dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Nasional. merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Nasional untuk memperoleh instrumen ratifikasi.Dimungkinkan ada monisme yang menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar dengan Hukum Internasional. Menurut teori delegasi. Syarat-syarat konstitusional hukum nasional hanya merupakan bagian dari satu kesatuan mekanisme penciptaan (pembuatan) hukum. Teori ini berlaku untuk penerapan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Indonesia tidak secara tegas-tegas menerima teori inkorporasi. secara formal dan substantif. ditentukan oleh preferensi etnis atau preferensi politis. yang bersumber dari Perjanjian Internasional ada dua teori. Sebaliknya bagi pandangan yang simpatik pada Internasionalisme. yaitu teori transformasi dan teori delegasi. Dalam praktek pilihan pengutamaan pada Hukum Nasional atau Hukum Internasional. Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. aturan-aturan konstitusional Hukum Internasional mendelegasikan kepada masingmasing konstitusi Negara. Bagi pandangan yang mempunyai sikap politis nasionalis. Teori transformasi mendasarkan diri pada pendapat pandangan positivis. yaitu teori transformasi. delegasi. Indonesia nampak tidak sepenuhnya menggunakan teori transformasi. yang dimulai dengan penutupan (persetujuan) suatu Perjanjian Internasional. Ratifikasi merupakan bagian prosedur pembentukan Hukum Internasional yang dituangkan dalam perjanjian yang bersangkutan. bukan dalam bentuk perundang-undangan formal mengenai substansi perjanjian yang bersangkutan. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Indonesia belum pernah membuat perundang-undangan yang mengatur substansi perjanjian yang telah ditandatangani. Untuk sepenuhnya menggunakan teori transformasi perlu dilampirkan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi yang termuat dalam perjanjian yang bersangkutan. Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian Internasional yang berlakunya memerlukan ratifikasi. Demikian juga sebaliknya. Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang yang ada sekarang. Indonesia cenderung pada monisme dengan pengutamaan Hukum Internasional. Indonesia tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus. Menurut teori inkorporasi Hukum Internasional dapat diterapkan dalam Hukum Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. Yang dilakukan hanya merupakan kelanjutan (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan yang tunggal. Berdasarkan praktek. Hukum Internasional dianggap sudah menyatu ke dalam Hukum Nasional. Nampaknya Indonesia cenderung menggunakan teori delegasi. Bertumpu pada pengakuan Indonesia terhadap keberadaan Hukum Internasional. akan mengutamakan Hukum Internasional. Hukum Internasional tidak mewajibkan bahwa suatu Negara harus menganut paham dualisme atau monisme. Indonesia menganut paham monisme. akan mengutamakan Hukum Nasional. Indonesia secara diamdiam menerima bahwa perjanjian yang bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum Nasional. . Hal ini tercermin dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang Terorisme Bonn. Pengesahan yang dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia. Prosedur yang dilaksanakan merupakan bagian dari keseluruhan proses pembuatan Perjanjian Internasional yang bersangkutan. 2. Mengenai hal ini ada beberapa teori yang dikenal dalam Hukum Internasional. Tidak ada transformasi. Untuk dapat diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. Ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional dengan Undang-Undang atau Peraturan Presiden. yang secara tersendiri menentukan sikap Indonesia. cara bagaimana ketentuan Perjanjian Internasional dijadikan Hukum Nasional. Indonesia dapat dianggap ingin menggunakan teori transformasi. dan inkorporasi. Dalam penerapan Hukum Internasional. kapan ketentuan Perjanjian Internasional berlaku dalam Hukum Nasional. dan secara struktur merupakan sistem hukum yang berbeda. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional dan Hukum Internasional universal. Tidak ada penciptaan (pembuatan) aturan hukum atau Hukum Nasional yang benar-benar baru. Hubungan antara keduanya saling melengkapi. Akan tetapi perjanjian yang disahkan dilampirkan begitu saja seperti aslinya. belum ada ketentuan (pasal). Hukum Internasional dan Hukum Nasional merupakan sistem hukum yang benar-benar terpisah. Pengesahan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Presiden. Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimanakah penerapan Hukum Internasional dalam ranah Hukum Nasional Indonesia. bahwa aturanaturan Hukum Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum Nasional. Prosedur dan metode yang digunakan Negara merupakan suatu kelanjutan proses. yang diperlukan prosedur ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. Pasal 2 instrumen pengesahan telah menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang bersangkutan dalam Hukum Nasional Indonesia. Berdasarkan teori transformasi. hak untuk menentukan: 1. Dalam penerapan PerjanjianPerjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi. Perjanjian Internasional yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah aslinya.

Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Apabila Indonesia sudah menjadi Negara pihak. dilandaskan pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. BURHAN TSANI. Penutup Praktek-praktek yang tidak ajeg dan simpang siur yang mengakibatkan permasalahan perlu diluruskan. .. DR. MH. Hasil pelurusan dirumuskan dengan baik dan disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada semua pengelola Negara dan Warga Negara. PROF.Keterikatan Indonesia pada Perjanjian Internasional yang bersangkutan. Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. SH. MOHD. Indonesia wajib melaksanakannya dengan itikad baik dan melakukan penyesuaian perundang-undangannya dengan Perjanjian Internasional yang sudah berlaku secara definitif.

yang mencerminkan hasrat mereka. Pengantar Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan analisa persoalan hukum tertentu (spesifik/ kongkrit). tulisan ini semata-mata merupakan renungan tentang berbagai ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari. pendiri Foundation for the Development of International Law in Asia dan anggota Instituut de Droit International. Sebaliknya. berlakunya hukum dalam batas-batas suatu tata hukum tertentu menampilkan pertanyaan tentang keterbatasan ruang lingkup daya hukum yang terkait pada kesepakatan. Demikianlah bunyi Pasal 1338 KUHPer (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) lama (sejauh kitab undang-undang ini masih kita akui sebagai sumber hukum berlaku). berarti bahwa isi kesepakatan itu dijadikan hak dan kewajiban para pihaknya yang berunsur khusus sebagai berikut: apabila si pengemban kewajibannya tidak memenuhi kewajibannya. Diantaranya. Apabila kesepakatan ini tercapai dan disertai kesungguhan para pihak. dan bersumber pada pengertian perjanjian internasional (PI). sesuai dengan seruan azas terkenal dalam bahasa asing kuno: pacta sunt servanda1. dan yang memuat tekad mereka untuk bertindak kearah keinginan dan sesuai dengan hasrat tersebut. Penetapan kesepakatan sebagai perjanjian dalam arti huku. Penulis juga tidak bermaksud mencoba menyajikan risalah teori hukum apapun. Guna lebih jelas lihat Black Law’s Dictionary. Istilah “perjanjian” menggambarkan adanya kesepakatan antara anggota masyarakat tentang suatu keadaan yang mereka inginkan. apalagi mencoba menyajikan pemecahan persoalan demikian. Uraian singkat ini cukup mutlak dan terang bunyinya. . tetapi tidak mencukupi sebagai penjelasan konsep perjanjian. Ternyata berbagai kenisbian dan kesamaran melekat padanya.BEBERAPA ASPEK KENISBIAN DAN INTERNASIONAL Oleh Ko Swan Sik* KESAMARAN PERJANJIAN * Penulis adalah mantan Guru Besar Erasmus Universiteit Rotterdam (19881996). maka tata hukum yang berlaku di masyarakat bersangkutan memberi kekuatan hukum padanya dengan menetapkan perjanjian itu setaraf dengan undang-undang. Disamping itu. Kenisbian lain yaitu ketergantungan keabsahan perjanjian dari kedudukan para pelakunya sebagai subyek hukum 1 tata hukum bersangkutan. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tidak hanya melekat karena kekurang jelasannya. ditambah syarat kewenangan pelaku tersebut untuk mengadakan perjanjian yang berkekuatan hukum. artinya membebaninya dengan akibat-akibat (hukum) tertentu tanpa persetujuannya. tata hukum mengenal Pacta sunt servanda merupakan adagium dari Bahasa Latin yang pada umumnya ditafisrkan sebagai “perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya”. maka tata hukum “menghukum”nya. melainkan kadang-kadang juga menunjukkan sifat nisbi berbagai pengertian dan azas sekitar PI.

. Sesuai tafsiran undangan Editor jurnal ini. tampillah pengertian dan istilah “perjanjian internasional”. Ternyata bahwa yang menjadi buah aturan Konvensi adalah “perjanjian internasional yang diadakan antara negara . Mungkinkah si perancang naskah undang-undang tersebut terjebak kekhilafan yang tersirat dalam penggunaan istilah “hukum internasional publik” sebagai “lawan” “hukum perdata internasional”? Di lingkungan (hukum) internasional (atau “dalam rangka tata hukum internasional”) yang tidak mengenal hubungan antara subyek-penguasa dan subyek yang tunduk pada kekuasaan.3 Kita dapat (meskipun syukur jarang terjadi) menambah kerumitan di lapangan PI golongan belakangan ini apabila tidak hanya obyek perjanjiannya melintas-batas. pembatasan mana biasanya bersangkut paut dengan sendi-sendi kemayarakatan bersangkutan. hal mana kita ingat betul dari setiap permulaan tahun kuliah apabila kita mencoba menerangkan kepada para mahasiswa hakekat mata pelajaran yang mereka ikuti. Sifat Normatif Hukum dan Sangkalannya Tadi telah pernah disebut Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina 1969.”. “Internasional” Terhadap latar belakang tersebut di atas.. yaitu istilah “publik”. namun bagaimanakah kita dapat tetapkan bahwa suatu perjanjian yang kita hadapi itu memang “governed by international law” seperti yang disyaratkan Pasal 2 ayat 1 (a) Konvensi Wina 1969 2 tentang Hukum Perjanjian Internasional? Ada kalanya yang kita maksudkan dengan istilah PI adalah perjanjian yang para pihaknya bertindak dalam lingkungan hukum nasional (HN) (tanpa mempedulikan apakah mereka itu asal mulanya diciptakan sebagai subyek HI ataupun sebagai subyek HN) tapi dengan mata perjanjian yang bersifat lintas batas suatu negara dan oleh karena itu disebut “internasional”.pembatasan-pembatasan mengenai pokok persoalan (“obyek”) perjanjian. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation. yang kata sifatnya “internasional” tidak berarti tunggal. Kata “internasional” pertama digunakan untuk merujuk pada perjanjian antara para aktor yang bertindak selaku subyek hukum internasional (HI) dan oleh karena itu khusus berlaku dalam lingkungan HI. Sebagai contoh patut diajukan pertanyaan apakah ada perbedaan hukum antara PI tentang pinjaman uang antar-negara dan PI tentang persekutuan militer.. Kita tahu bahwa keragu-raguan itu bukan akibat kurang jelasnya pencipta pengertian. Meskipun kelihatannya cukup jelas. melainkan akibat pemakaian perkataan dalam arti kata berganda.. Patut kiranya disini ditambah sekedar catatan sampingan tentang pemakaian istilah lain yang adakalanya terlihat dalam hubungan ini. dan yang dikuasai oleh hukum internasional . tetapi para pihaknya pun masing-masing bertindak dari lingkungan HN berbeda. seperti kini juga terdapat di Pasal 1 judul (3) UU 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. . tulisan ini hanya akan mencurahkan perhatian kepada perjanjian golongan pertama dan kenisbian dan kesamaran yang melekat padanya. Kenisbian tersebut terdapat juga di bidang PI yang merupakan golongan khusus dari pengertian perjanjian yang lebih luas. For the purpose of the present Convention: (a) ‘treaty’ means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law. ketika kita menitikberatkan keperluan menentukan apakah yang kita hadapi itu benar perjanjian yang dikuasai Hukum Internasional. pertentangan (hukum) antara publik – perdata sebenarnya tidak berlaku (tidak dapat diterapkan). Marilah kini kita meneliti beberapa kenisbian dan kesamaran khusus mengenai PI. Ini berarti bahwa sekalipun kita jelas menghadapi perjanjian antar negara. yang sudah 2 memenuhi syarat-syarat yang menurut perkiraan kita menjadikannya Perjanjian 3 Pasal 2 ayat (1) ini berbunyi: 1.

dapatlah kita bertolak dari anggapan bahwa Konvensi tersebut khusus mengacu pada perjanjian di lingkungan internasional. adat istiadat. Kadang-kadang disebut sistem “kesopanan kemasyarakatan” yang menguasai hubungan-hubungan internasional. dan dalam hubungan ini kadang-kadang terdengar pula istilah “perjanjian tidak mengikat” (“non-binding agreements”) yang agak aneh bunyinya dan biasanya dimaksudkan sebagai “perjanjian yang tidak mengikat dari sudut hukum” (legally non-binding agreements). Dalam perbincangan tentang hubungan-hubungan internasional. dimana kelakuan belakangan ini merupakan “cogent motive for action” pihak pertama. kadang-kadang kita menghadapi perjanjian-perjanjian antar negara yang dianggap tidak memuat kewajiban hukum melainkan “hanya memuat kewajiban politik”. hal-hal yang mengenai perjanjian di lingkungan HN. bertentangan dengan apa yang diharapkan. akan tetapi sistem demikian hanya mengacu pada bentuk dan tata cara kelakuan dan tidak bersangkut-paut dengan sifat normatif dari hak/kewajiban yang termuat dalam perjanjian bersangkutan. kita masih juga perlu memeriksa apakah benar “dikuasai Hukum Internasional”. misalnya agama. dan moralitas. Kita dapat bayangkan berbagai sistem normatif yang berlaku bagi kelakuan manusia selain sistem hukum.Internasional asli. satu dan lain menurut kehendak dan pilihan para pihak tersebut. Namun. Apakah makna anak kalimat ini? Mengingat sifatnya. Memang. Contoh tersohor perjanjian yang kadar hukumnya terang-terangan disangkal adalah Akta Terakhir Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Helsinki Final Act 1975) yang meliputi negaranegara Eropa Barat maupun Eropa Timur termasuk Uni Soviet dan Amerika Serikat dan Kanada (yang hingga kini masih berlaku di negara-negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Sentral yang . kadang terdengar istilah “perjanjian politik” untuk membedakannya dari perjanjian yang dikuasai hukum. Apabila dalam keadaan demikian kelakuan pihak yang satu itu ternyata tidak terjadi. tanpa perhatian. Hal mana berarti bahwa satu-satunya dugaan tentang maksud dan arti anak kalimat tadi yang masuk akal adalah bahwa si perancang membayangkan kemungkinan adanya perjanjian antar negara. tidak mustahil pihak yang dikecewakan membalas dengan menuntut apa yang diharapkan dan bahkan menuntut ganti kerugian. yang dapat dikuasai oleh “sesuatu” yang lain (bukan HN) daripada HI. Sehingga timbullah pertanyaan apakah kiranya ada “sistem politik” yang bersifat normatif dan menguasai kelakukan dan yang merupakan alternatif di samping sistem hukum. maksud tujuannya dan konteks pembuatannya. di lingkungan internasional. Memang ilmu politik mengenal dan memperhatikan keadaan dimana kelakuan tertentu pihak yang satu dapat diduga dan diharapkan sebagai akibat kelakuan tertentu pihak yang lain. Sistem apakah yang kita dapat bayangkan di sini? Istilah “dikuasai” di anak kalimat tersebut tentu berarti “dikuasai” sistem (hukum internasional) yang mengaitkan ciri normatif kepada kesepakatan antara para pihak perjanjian. sistem-sistem ini semuanya ditujukan kepada pribadi manusia dan tidak mengenal kaidah-kaidah pelaksanaan untuk memberlakukannya dan menerapkannya pada hubungan antar negara. bahkan mengenyampingkan. Soalnya ialah bahwa hingga kini belum ada uraian yang memberi penjelasan memuaskan tentang bagimana sebenarnya isi sistem normatif politik demikian itu dan sejauh mana sistem tersebut berbeda dari sistem hukum. semua ini tanpa melalui ataupun berdasarkan alasan hukum.

“Sesuai dengan” peraturan ini. dan bahkan memutuskan pada 1983 untuk menangguhkan penyelidikannya sambil menunggu perkembangan-perkembangan yang membawa bahan-bahan baru. fenomena usaha-usaha “perundang-undangan internasional” dalam bentuk perjanjian-perjanjian multilateral. perlu dibedakan dari naskah-naskah yang disepakati oleh para pihak namun yang jelas tidak dimaksudkan sebagai sumber hak/kewajiban melainkan sematamata sebagai rumusan pendirian dan tekad masing-masing (yang “kebetulan” sesuai) mengenai hal tertentu. Every treaty and every international agreement entered into by any Member of the United Nations after the present Charter comes into force shall as soon as possible be registered with the Secretariat and published by it. as would be the case were it a matter of a treaty or international agreement under the aforesaid Article”. Terlihat disini fenomena hukum “pincang” yang “tidak sempurna”. mirip dengan. No party to any such treaty or international agreement which has not been registered in accordance with the provisions of paragraph I of this Article may invoke that treaty or agreement before any organ of the United Nations. Konvensi Wina dalam Pasal 2 ayat 1 judul (a) dengan tegas menyatakan bahwa PI dapat saja termuat dalam satu atau lebih dari satu dokumen dan dapat saja diberi nama apapun. Akta Helsinki memuat ketentuan yang memohon si Tuan Rumah (Finlandia) untuk “transmit to the Secretary-General of the United Nations the text of this Final Act (untuk disosialisasikan di antara negara anggota PBB) which is not eligible for registration under Article 102 of the Charter of the United Nations. Hal ini ditegaskan secara agak aneh namun jelas. setidak-tidaknya belum.sama sekali bukan merupakan bagian dari Eropa). kadangkadang mengenai perbaikan kedudukan manusia pribadi di pelbagai lapangan. 1983) . ini mengacu pada tidak tercapainya kesepakatan. berarti bahwa bentuk PI tidak ada relevansinya bagi HI dan tidak mempengaruhi kadar hukum 4 5 Ketentuan Pasal 102 ini berbunyi : 1. Akan tetapi. Sumber Hak dan Kewajiban dan Sangkalannya Dalam menetapkan perjanjian-perjanjian mana yang dikuasai olehnya. Latar belakang cara yang dipakai ini ialah Pasal 102 Piagam PBB 4 yang mewajibkan setiap PI yang diikutsertai negara anggota untuk didaftarkan pada Sekretariat untuk keperluan penerbitannya (di UN Treaty Series). walaupun mungkin tetap perlu dibedakan dari. Kenisbian dan kesamaran yang penulis sebut disini dan yang kadang agak kurang tepat diberi nama “hukum lemah” (soft law). Keraguan tentu sangat menyolok apabila para peserta berbeda pendapat tentang maksud naskah mereka. yang boleh dikatakan mencerminkan anggapan umum dan dengan demikian dapat dianggap berlaku sebagai HI umum. yang mengenai kewajiban kelakuan yang unsur hukumnya disangkal.5 Pokok persoalan fenomena tersebut. Ketentuan ini. Persoalan kewajiban perjanjian yang tidak berkadar hukum ini bahkan pernah dijadikan judul penelitian di kalangan Institut Hukum Internasional (Instituut de Droit Internasional) di tahuntahun 1970an dan 1980an. Negara-negara Barat menitikberatkan bahwa Akta tersebut bukan PI yang mengikat menurut hukum. bukan kesamaran perjanjian. memuat aturan penegakan hak-hak yang diakui (“without legal remedies”). Lembaga inipun belum sanggup menyajikan jawaban yang memuaskan. 2. yang tidak. Lihat Annuaire de l’Institut de droit international jilid 60-I (persidangan Cambridge.

Meskipun harus diakui bahwa naskah Deklarasi tersebut memang kurang sesuai dengan bentuk lazim naskah pendirian organisasi. Ia menitikberatkan bahwa hubungan strategis tidak mengharuskan pengaturannya dalam perjanjian resmi melainkan cukup diatur dalam bentuk pertukaran surat atau dalam suatu Memorandum of Understanding. Sebaliknya. tentang (biasanya hanya sebagian dari) apa yang diperbincangkan antara para pihak dan hasil kesepakatannya. namun dipakai sebagai sumber hak dan kewajiban. Akan tetapi. Sebagai contoh yang cukup ekstrim. kiranya penyangkalan unsur keterikatan dalam comtoh ini patut dipertanyakan. Tapi bentuk dan acara demikian tidak merupakan syarat untuk menegaskan sifat hukum isinya. Inilah. bagaimanapun resmi dan mulia sifatnya. misalnya. oleh karena nama dan rumusan itu merupakan sumber interpretasi tentang maksud para pihak dan makna dokumen bersangkutan mengenai hak dan kewajiban masing-masing. . tanpa tersiratnya janji yang bersifat hukum. Tanpa menerangkan alasan-alasan apakah yang menyebabkan kecondongan tersebut. bahkan “Nota Kesepahaman” (memorandum of understanding). Tadi kita telah menjumpai fenomena perjanjian dengan hak/kewajibannya yang dikuasai sistem normatif yang tidak bersifat hukum atau suatu “sistem pengharapan” berdasarkan tindakan timbal balik. apalagi jika disertai acara-acara klasik seperti syarat ratifikasi (persetujuan keterikatan) dan/atau kesepakatan untuk mendaftarkannya di Sekretariat PBB sesuai Pasal 102 maka kesamaran tentang maksud para pihak boleh dikatakan dapat tercegah. Beliau mengaitkan pandangan ini dengan kebijakan para pihak bersangkutan untuk ‘hanya menggunakan’ nama ‘Deklarasi Bangkok 1967 ‘. Kadar Hak dan Kewajiban Sangkalan kadar hukum yang merupakan pokok persoalan di atas tadi tidak dapat disamakan dan tidak boleh dicampuradukkan dengan gejala lain. Tadi telah disebut istilah “Communiqué”. pertukaran surat. Alternatif selanjutnya ialah pengumuman belaka. seperti kata “treaty” dalam bahasa Inggris. naskah yang disepakati dapat dimaksudkan sebagai pernyataan penetapan tekad para pihak tentang kelakuan mereka di masa yang akan datang. Apabila naskah diberi nama menurut kebiasaan tradisional di bidang PI. Ada kalanya naskah dimaksudkan sebagai penetapan hak / kewajiban masing-masing dengan kekuatan hukum.6 Pembuatan naskah sebagai hasil perundingan dapat mengacu ke berbagai tujuan. antara lain. 6 Tidak lama berselang Edy Prasetyono (CSIS) dilaporkan (Hukum Online 11 Juni 2006) pernah mengutarakan pendiriannya bahwasanya dokumen kesepakatan yang melahirkan organisasi ASEAN tidak mengikat. Disamping itu. meskipun “Pernyataan Bersama” kadang-kadang lebih disukai.isinya. “Pernyataan Bersama” (joint statement). makna kebebasan bentuk yang diakui Pasal 2 ayat 1 judul (a) Konvensi Wina. Tidak termuatnya ciri-ciri terkenal demikian sama sekali tidak membenarkan kesimpulan bahwa para pihak tidak menghendaki dokumen kesepakatan mereka merupakan sumber hak/kewajiban hukum. suatu naskah sebagai hasil komunikasi (secara bagaimanapun) antara para pihak dapat saja dibuat dengan tujuan berlainan. Contoh lain ialah kabar tentang wawancara dengan Presiden AS pada bulan April 2005 tentang hubungan AS dengan Afghanistan setelah pemilihan presiden di negeri itu. ada kalanya dipilih bentuk “Communiqué” yang sebenarnya berarti tidak lebih daripada “penerangan khalayak ramai tentang sesuatu yang terjadi”. yaitu keanekaragaman jenis (hak dan) kewajiban yang kadar hukumnya tidak diragukan. hal ini tidak berarti bahwa nama yang diberikan kepada naskah dan rumusan pengertian-pengertian dan istilah yang dipakai dalam naskah tidak penting. Demikianlah tafsiran yang selayaknya diberi kepada istilah “treaties in simplified form” yang kita kenal dari praktek diplomasi dan yang dapat berbentuk.

Tadi telah kita bertemu dengan istilah “hukum lemah” yang kadang dipakai untuk menggambarkan sifat kewajiban yang tidak jelas apakah memang dimaksudkan sebagai kewajiban hukum. dugaan itu ternyata tidak tepat.7 Meskipun demikian. Sebaliknya. untuk mencoba mencapai sesuatu. Itulah sebabnya perhatian yang cukup besar dicurahkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB kepada penggolongan dan pembedaan antara berbagai jenis kewajiban hukum selama sebagian besar waktu perencanaan naskah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan negara melawan hukum. Kesamaran tetap terdapat bila. Report of the ILC. Dalam hal demikian. Draft Articles on State Responsibility. 1996 (A/51/10) Pasal 19-21. versi 1996. Oleh karena itu. Kami mencatat disana bahwa penggunaan istilah dalam rangka itu rasanya kurang tepat oleh karena kesamaran disana mengenai batas antara hukum dan bukan-hukum.Pengertian sempurna tentang hakekat suatu kewajiban hukum merupakan syarat penting untuk dapat menetapkan apakah kewajiban itu dapat dinilai telah dipenuhi atau justru dilanggar. sehingga timbullah keraguan cukup mendalam tentang dimana letak sebenarnya garis batas antara pelaksanaan dan pelanggarannya. 7 Lihat. Bayangkanlah kewajiban untuk mencegah terjadinya sesuatu. Kita dapat saja mengira bahwa kesamaran demikian tidak dapat timbul dalam hak kewajiban untuk mencapai suatu hasil usaha tertentu (kewajiban hasil usaha/obligation of result). tetap terdapat cukup banyak gejala dalam praktek PI yang menimbulkan pelbagai pertanyaan tentang kelakuan dan tindakan ataupun hasil usaha yang merupakan isi sebenarnya kewajiban bersangkutan. Istilah “hukum lemah” kiranya lebih tepat untuk menggambarkan kewajiban yang diakui sifat hukumnya namun memberi kelonggaran demikian banyaknya sehingga sukar menentukan garis batas antara memenuhi dan melanggar kewajiban. seperti memilih bermacam nama yang menghindari kata perjanjian. Dalam golongan kewajiban untuk melakukan sesuatu (obligation of conduct). kewajiban ternyata begitu longgar dan kadar keharusannya menjadi demikian rendah. sesuai dengan kemampuan si pengemban kewajiban. apalagi bila ditetapkan pula bahwa tindakan itu harus terlaksana dalam tenggang waktu yang tertentu. kewajiban bersangkutan mengharuskan menghasilkan suatu “keadaan yang bermanfaat” bagi sesuatu. misalnya. Meskipun perlu diakui bahwa di lapangan HI yang bersifat khas itu pertimbangan-pertimbangan “tidak langsung” memainkan peranan yang jauh lebih besar di bidang perjanjian daripada di lingkungan HN. Ada sebagian peneliti yang mencari sebab kebijakan demikian di bidang adat-istiadat di bagianbagian dunia yang segan menitikberatkan secara tajam hak dan kewajiban masing-masing pihak. misalnya. hal mana penulis sangsikan. kita perlu mencurahkan perhatian khusus kepada soal kejelasan atau sebaliknya kesamaran yang kadang-kadang melekat pada rumusan suatu kewajiban. kewajiban dapat saja dirumuskan sebagai kewajiban untuk berusaha. Antara kewajiban-kewajiban kita dapat membedakan kewajiban yang “keras” dan yang “lunak”. dengan mempertimbangkan keadaan menurut penilaian si pengemban kewajiban. sifatnya keras apabila tindakan itu dirumuskan secara sangat tegas dan spesifik. . Namun. 48th session.

siapakah yang selayaknya dianggap sebagai pihak perjanjian? Haruskah negara-negara bersangkutan. mengingat bahwa perjanjian demikian itu tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu perjanjian HN?! Karangan singkat ini bukan tempatnya untuk menyelidiki persoalan ini secara panjang-lebar. cukup banyak negara-negara dimana hal demikian dapat terjadi dan perjanjian-perjanjian demikian ternyata memenuhi kebutuhan bersama dibidang pemerintahan dan pengaturan kemasyarakatan setempat. 37/1999 tidak memuat sebutan kemungkinan ini. Ada kalanya diadakan perjanjian antara alat-alat perlengkapan dari negara-negara berbeda. biarpun tidak tegas menyuruh. Namun. Haruskah kita menarik kesimpulan bahwa perjanjian semacam itu tidak bersifat “internasional” dalam arti kata lazim sehingga tidak tunduk pada hukum internasional mengenai PI melainkan harus dianggap dikuasai HN? Di samping itu. yang tidak khusus ataupun langsung berwenang dan bertugas di lapangan hubungan luar negeri atau antara kesatuan-kesatuan teritorial sesuai sistem otonomi daerah (seperti kota atau propinsi) negara masing-masing. Bayangkan sekarang perjanjian antara aktor yang tidak jelas kedudukannya sebagai subyek HI namun bertindak dalam rangka hukum publik di negaranya. cukup membuat pelik. . Apakah perjanjian itu harus.8 Timbullah pertanyaan apa sebenarnya kedudukan hukum perjanjian demikian yang kadang-kadang disebut “perjanjian administrasi”. Kesepakatan dan perjanjian demikian itu mengenai salah satu kebijakan di bidang tugas mereka. mungkin disinipun kita dapat belajar dan mencari sandaran (meskipun hanya secara tidak langsung) di naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum 2001. dianggap terikat padanya. sama sekali tidak dikuasai hukum). Kompas 7 Agustus 2006. meskipun demikian keluhan salah satu Dirjen Deplu tentang ”banyak perjanjian luar negeri yang dilakukan daerah kurang efektif”. mengizinkan ataupun menyetujui (meskipun tidak melarang) pembuatan perjanjian demikian. oleh karena mereka dapat saja di samping itu bertindak selaku subyek HN. seperti kita sempat menjumpai tadi. disamakan dengan PI? Tetapi para pelakunya pada umumnya tidak merupakan (artinya: tidak diakui oleh negara bersangkutan sebagai) subyek HI (pengecualian boleh terjadi di negara federal tertentu).Pihak Perjanjian dalam Kenyataan dan Pihak Perjanjian Menurut Hukum: Gejala “Perjanjian Administrasi” Penggolongan suatu perjanjian sebagai PI atau sebagai kategori lain menunjuk pada dikuasainya oleh HI atau hukum lain (atau. antara lain kedudukan para pihaknya sebagai subyek hukum. sehingga gejala yang dibayangkan disini tidak terjadi. meskipun seluruh acara pembuatannya tidak sesuai dengan acara yang lazim untuk PI dan semata-mata oleh karena aktor yang mengadakannya merupakan sebagian dari bangunan kenegaraan? Ataukah perjanjian demikian itu hanya mengikat para instansi bersangkutan di lingkungan HN? Tapi jika demikian. Akan tetapi. Sebaliknya perjanjian antara para aktor yang jelas subyek HI tidak otomatis bersifat PI. Penggolongan itu didasarkan berbagai kriteria. tata hukum manakah yang menguasainya. khususnya bab 2 yang berkepala “The ‘Act of the State’ under International Law” yang Pasal 5-nya berbunyi: 8 UU No. terutama di kawasan-kawasan yang terletak saling berdekatan namun di negara yang berlainan. Tentu ada negara dimana hubungan lintas batas demikian antara alatalat perlengkapan ataupun kesatuan negara teritorial dilarang oleh hukumnya. Aktor kemasyarakatan yang tidak diakui sebagai subyek HI tidak dengan sendirinya tidak dapat mengadakan PI sehingga perjanjian hasil kesepakatannya tidak pernah dapat dianggap bersifat PI. atau boleh.

Perbandingan antara sistem-sistem HN menunjuk dua jalan yang dapat dilalui dalam penerapan kebijakan cara pertama tadi. executive. the conduct of any State organ acting in that capacity shall be considered an act of that State under international law. an organ includes any person or body which has that status in accordance with the internal law of the State. atau “pilihan”m yang dibuat oleh hukum nasional tentang kedudukan dan peranan HI. and whatever its character as an organ of the central government or of a territorial unit of the State. tata HN dapat juga pada azasnya mengakui kemungkinan peranan dan pengaruh itu. ajaran-ajaran muluk ini tidak menghidangkan jawaban langsung apapun atas pertanyaan yang kita hadapi dalam dunia “hukum yang berlaku” (“hukum positif”). tanpa tindakan apapun dari pihak penguasa negara. (2) For the purposes of paragraph 1. Sebaliknya. meskipun tentu hanya sejauh HI bersangkutan dapat ada relevansinya dalam lingkungan HI (relevansi demikian tidak ada dalam HI yang memang kita kenal ajaran-ajaran tentang kesatuan hukum internasional dan nasional (monisme) dan sebaliknya tentang perbedaan dan pemisahan mutlak antara kedua sistem hukum itu (dualisme).“(1) For the purposes of the present articles. yang berakibat HI itu berlaku di lingkungan HN. Hal yang kita perlukan untuk memberi jawaban ialah adanya penetapan. dikembangkan dalam bentuk hukum kebiasaan yang penerapannya terlihat dalam keputusan-keputusan konkrit. dimana HN ternyata tidak melakukan pilihan tegas (eksplisit). atau dengan mengundangkan isi tersebut sebagai HN dalam bentuk perundang-undangan HN pula. atau. whatever position it holds in the organization of the State. undang-undang biasa. dilingkungannya. dan yang melalui jalan itu juga menghasilkan keberlakuan HI tak tertulis di lingkungan nasional. Kebijakan ini berdasarkan sangkalan perbedaan antara hukum tak tertulis (“kebiasaan”) yang tercipta di suasana nasional dan internasional.” Keberlakuan di Lingkungan Hukum Nasional Perbedaan antara tata HI dan tata HN menyebabkan timbulnya kenisbian tentang makna PI. sekalipun yakin akan . misalnya keputusan-keputusan hakim. pengakuan mana dapat diutarakan menurut dua cara. Akan tetapi. Persoalan ini perlu dikaji dan dijawab oleh masing-masing tata HN sendiri. Tata HN dapat saja menyangkal mutlak segala peranan dan pengaruh HI terhadap HN. whether the organ exercises legislative. dan berpendirian bahwa pembuat hukum nasional merupakan satu-satunya yang berwenang mengadakan peraturan tentang hal apapun yang perlu diatur hukum di lingkungan HN. seperti di sistem mazhab hukum common law yang menggolongkan HI tak tertulis ini sebagai “law of the land”. Jalan yang satu ialah secara “membuka pintu” bagi HI. berhubung dengan persoalan kedudukan dan keberlakuan HI (atau khususnya PI) di lingkungan HN. Jalan yang lain perlu ditempuh apabila tata HN. Kebijakan “pintu terbuka” dapat juga hanya diterapkan sejauh mengenai HI tak tertulis yang biasanya bertepatan dengan HI yang “umum berlaku”. judicial or any other functions. yaitu dengan “mengizinkan” isi HI berlaku di lingkungan HN tanpa merubah sifat internasionalnya. khususnya PI. Pilihan demikian dapat berwujud tanpa atau melalui suatu tindakan hukum tegas dari tata HN bersangkutan yang termuat di undang-undang dasar.

Dalam rumusan ini tersirat penetapan bahwa siapapun yang tidak ikut menyepakatinya dengan sendirinya tidak terikat padanya (pacta tertiis nec nocent nec prosunt. PI dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai kesamaan dalam menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan nasionalnya. hubungan-hubungan keluarga. Akan tetapi. Di samping itu. merupakan soal penting bagi penegak hukum nasional. dengan hak pihak yang satu terhadap pihak yang lain tergabung dengan hak pihak kedua ini terhadap pihak pertama. namun tidak bersifat antar negara. dan sebagainya. UU persetujuan PI (yang di praktek politik Indonesia disamakan dengan “ratifikasi”) kadang dipakai untuk keperluan ini. Soal ya atau tidaknya tata hukum nasional memberlakukan HI. dan yang bersifat baik lintas batas maupun tidak. Pertanyaan yang kadang timbul adalah: dapatkah dan bolehkah PI yang berlaku antar negara AB-C-D (yang menyajikan peraturan bersama tentang perlindungan hak-hak azasi manusia. Azas ini kelihatannya memang cukup layak. dan makin lama makin banyak. tanpa “mengubah” sifatnya sebagai HIM. Dengan demikian. atau kemasyarakatan tertentu itu di masing-masing lingkungan hukum . dan kelayakan ini lebih-lebih menyolok apabila kita memandang perjanjian itu sebagai sumber hak dan kewajiban timbal-balik antar para pihaknya. menganggap perlu adanya suatu tindakan HN tegas agar mencapai hasil itu. pemberantasan penyakit. pemberlakuan isi HI di lingkungan HN memerlukan pembuatan HN yang tegas memuat ataupun setidaknya tegas mengundangkan isi HI bersangkutan sebagai HN (transformasi). ataupun “hanya” memberlakukan isi HI di lingkungan HN sejauh (“diubah”) bentuk dan sifatnya menjadi HN. Hubungan-hubungan kemasyarakatan itu mengenai bermacam-macam aspek kehidupan yang mencerminkan cita-cita kemasyarakatan. seperti ketentuan dalam UUD atau perundangan biasa.perlunya penerapan isi HI di lingkungan HN. PI tidak selalu bersifat timbal balik. seluruhnya atau sebagian. Dalam rangka ini. yang kewenangannya di bidang penerapan hukum terbatas pada hukum yang berlaku di lingkungan hukum nasionalnya. sesuai dengan bertambah padatnya hubungan-hubungan kemasyarakatan internasional di pelbagai lapangan (“globalisme”) dan sejajar dengan perkembangan itu. Sebagai alternatif kedua cara “pemberian izin” kepada HI tersebut kita kenal kebijakan menolak secara mutlak keberlakuan HI dalam tata HN. Memang disini tidak ada alasan untuk memberi peranan apapun kepada pihak ketiga. Dalam hal PI. di lingkungan HN-nya. seperti hak azasi manusia. perjanjian tidak mengakibatkan keuntungan maupun kewajiban bagi pihak ketiga). kebijakan berbeda itu juga memain peranan dalam penetapan kedudukan hirarki kaidah-kaidah hukum yang berasal internasional dan nasional yang termasuk kewenangan tersebut. Ruang Lingkup Azas Keterbatasan Berlakunya Antar-Pihak Titik tolak di bidang hukum perjanjian adalah bahwa perjanjian itu mencerminkan kesepakatan antara pihak-pihaknya tentang apa yang mereka inginkan. Kadang-kadang. timbullah dan bertambahlah kebutuhan akan pengaturan hubungan-hubungan yang menyentuh pelbagai masyarakat nasional.

terhadap penerapan isi perjanjian tadi di lingkungan HN negara-negara A. B atau C jika penerapan demikian menyentuh suatu unsur yang berkaitan dengan negara D itu. ia juga tidak berwenang untuk berkeberatan. seperti telah pernah disebut tadi. Sebaliknya. hak dan kewajiban timbal balik antar negara untuk bertindak bersama sebagai persekutuan militer. bahwa pelanggaran demikian oleh tata hukum dikaitkan pada akibat-akibat tertentu tanpa persetujuan si pelanggar. apabila obyek perjanjian terdiri dari kesepakatan tertentu untuk menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu secara sama di lingkungan HN masing-masing pihak perjanjian. Disini terletaklah batas ruang lingkup azas pacta tertiis tersebut tadi. tapi pihak berperkara itu kebetulan berkewarganegaraan negara X. Akan tetapi. ciri inti tata hukum adalah. melainkan merupakan kesepakatan (antar negara) untuk menghadapi dan mengatur hubungan-hubungan kemasyarakatan tertentu secara sama dan serupa di masingmasing lingkungan HN-nya. maka mereka itu tentu bebas untuk mengubahnya. maka negara D tetap tidak dapat dipaksa berdasarkan hukum untuk menyesuaikan kebijakan dalam lingkungan HN-nya dengan perjanjian tadi. Namun. Jika isi perjanjian tidak lagi memenuhi kehendak bersama para pihaknya. sedang kewajiban asal tetap berlaku. gagasan pengubahan sepihak adalah sesuatu yang mutlak bertentangan dengan gagasan perjanjian. termasuk PI. . Azas ini mengacu pada aspek primer PI. keadaan ini tentu tidak mengurangi kewenangan negara D untuk mengajukan keberatan terhadap penerapan perjanjian itu berdasarkan alasan-alasan lain.merupakan peraturan bersama untuk persoalan-persoalan yang bersangkut dengan adopsi lintas batas. atau berisi aturan bersama tentang pemindahan perselisihan perdata tertentu dari kewenangan pengadilan kekuasaan pewasitan) diterapkan bila orang yang tersangkut dalam perkara HAM itu berkewarganegaraan negara E? Dan bagaimanakah apabila antara pihak hubungan internasional perdata ada yang berkewarganegaraan negara F? Atau apabila ada pihak berpekara digugat di pengadilan negara A untuk tunduk pada acara pewasitan sesuai dengan PI yang mengatur pewasitan. perjanjian bersangkutan tidak mengenai hak-kewajiban antar negara yang timbal balik. Negara D tidak terikat pada perjanjian A-B-C. Dalam contoh belakangan ini. yang bersifat normatif dan tidak memaksa dalam arti kata hukum alam. Tentu kewajiban yang terisi dalam azas ini. misalnya. Sebaliknya. dapat saja dilanggar. dan oleh karena itu . tidak dapat diwajibkan tunduk pada isi perjanjian tersebut tanpa persetujuannya sebagai negara berdaulat. Ruang Lingkup Azas Pacta Sunt Servanda Azas ini merupakan inti dan hakekat pengertian perjanjian. yaitu terjadinya kesepakatan antara negaranegara sebagai subyek HI yang berdaulat. berhakkah negara X dengan alasan “memberi perlindungan diplomatik” kepada warganya atau dengan alasan lain menolak penerapan PI tersebut? Disini kadang tampak kemungkinan adanya suatu salah mengerti tentang makna azas pacta tertiis. berdasarkan alasan tidak ikut sertanya sebagai pihak perjanjian. Jika obyek perjanjian terdiri dari. Akan tetapi. maka negara D tidak dapat dipaksa menurut hukum untuk menyesuaikan kelakuannya dengan persekutuan tersebut.

berbeda dari perjanjian di lingkungan HN. . sekalipun dapat saja terjadi. Bedanya. terdapat (atau setidak-tidaknya: seharusnya terdapat) alat dan organisasi penegak hukum yang cukup lengkap dan kuat untuk menghadapi dan “menghukum” pelanggaran demikian sehingga dapat tertekan terjadinya. yaitu kedaulatan negara. di lingkungan HN pergulatan itu tersalur melalui bermacam bangunan organisasi dan penjagaan dan pembagian kewenangan. Pada umumnya. ia menyalahkan orang yang tidak dapat atau tidak mau mengakui bahwa zaman dan keadaan dapat saja berganti (dengan akibat kemungkinan perlunya hukum berganti pula). Di lingkungan HN. dan diatur oleh penguasa atau alat kekuasaan yang benar-benar berkuasa terhadap masyarakat lingkungan HN-nya. termasuk yang akibat kekerasan. unsur pembagian kekuatan. Namun. ketika presiden AS mengutarakan kesimpulannya bahwa AS tidak lagi berkepentingan dengan adanya Anti-Ballistic Missile Treaty 1972 (ABM Treaty) dan bahwa ia mempertimbangkan mengakhirinya. dijaga. termasuk pemegang kekuasaan pusatnya dan alat perlengkapan penegak hukumnya yang berwenang dan nyatanya mampu menjaga dan mempertahankan hukum secara memaksa. Lain halnya di lingkungan HI yang berbeda secara mendalam dibanding dengan keadaan nasional. namun biasa ditindak oleh penegak hukum dan pada umumnya tidak merupakan faktor yang dapat mengurangi azas-azas yang berdasarkan hakekat perjanjian. tata hukum dikuasai. Wewenang menetapkan hukum. sehingga seakan-akan disublimasi dan dapat menghindari bentrokan-bentrokan yang merusak kestabilan masyarakat. pada hakekatnya merupakan hasil pergulatan kekuatan-kekuatan di masyarakat. berdasarkan titik tolak HI. baik hukum nasional maupun hukum internasional. dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihamnya dan oleh karena itu tidak dapat lain daripada berdasarkan kehendak bebas. sehingga dalam perbincangan hukum. di lingkungan HI aturan hukum hampir seluruhnya semata-mata merupakan buah hasil pergulatan kekuatan antara para subyek hukumnya yang kebebasannya hampir mutlak. maklumlah kekurangan dunia pengertian-pengertian dibanding kompleksitas kenyataan hidup jika menghadapi keadaan seperti negara Libanon dimana kekuasaan dan kekuatan sebenarnya yang membela kedaulatan negara terhadap dunia luar untuk sebagian besar berada di tangan organisasi di luar rangka pemerintah. Unsur kebebasan kehendak sebagai inti perjanjian dengan demikian menjadi nisbi dalam hal PI. lihatlah ketentuan Pasal 9 dari naskah PBB tentang perbuatan negara melawan hukum. Sebaliknya. 2001. terutama pada negara. Dalam rangka ini.Kemungkinan melanggar kewajiban hukum dapat dipandang sebagai kenisbian hukum pada umumnya dan tidak khusus mengenai pengertian perjanjian. kenisbian PI ternyata sekali dari kejadian beberapa waktu yang lalu. Oleh karena itu. Apa lagi. sejauh terjadi di lingkungan HN. Ketika ditanya tentang niat tersebut. Dilihat dari sudut ini. PI berada di lingkungan HI yang tidak mengenal organisasi masyarakat lengkap dengan dasar dan pucuknya. Akan tetapi. Kekuasaan ini dipegang secara monopoli dan mutlak (ingatlah julukan “negara gagal” bagi keadaan sebaliknya). seluruhnya pada dasarnya tergantung pada subyek hukum sendiri. yaitu kewenangan politik hukum. ancaman unsu kekerasan di bidang perjanjian perdata. perlu diperhatikan dan diperhitungkan. Pengaruh Kekerasan Menurut pengertian intinya.

penggunaan kekuasaan (perang) untuk mencapai keinginan terhadap subyek lain. kekerasan yang dipakai terhadap pribadi pejabat yang mewakili negara bersangkutan.Di pustaka sejarah politik internasional terkenal istilah “perjanjian tidak seimbang”. kesamaran dan pertanyaan di bidang lembaga perjanjian internasional yang memerlukan penelitian dan penyelidikan seperlunya. Bagi keadaan demikian. artinya sebagai akibat. bagi kita semua. kita condong berkesimpulan bahwa keinginan membatalkan perjanjian “tak seimbang” demi hukum akan gagal. yaitu Pasal 51-52. Multi interpretasi pengertian-pengertian yang digunakan di kalimat ini menunjuk pada kadar kenisbian cukup tinggi. Istilah tersebut kebanyakan mengacu kepada perjanjian yang pernah diadakan di zaman lampau antara negara-negara Barat yang biasanya lebih kuat dengan kerajaan-kerajaan atau lain kesatuan kenegaraan di luar kawasan dunia Barat yang umumnya lebih lemah. Keinginan yang cukup legitimasi namun tanpa dasar hukum itu hanya dapat tercapai dengan cara penggemblengan kekuatan yang cukup besar dan segala cara meyakinkan lainnya (kecuali paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. setidak-tidaknya jauh lebih jelas daripada Pasal 52 yang menetapkan bahwa suatu perjanjian yang terjadi dengan memakai “ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan azas-azas HI yang termuat di Piagam PBB”. mengenal ketentuan-ketentuan tentang peranan kekerasan di bidang PI. yang dapat kita anggap mencerminkan HI tentang PI menurut keadaan perkembangannya yang paling baru. yang kemudian disahkan (!) dalam “perjanjian perdamaian” atau perjanjian lain. tata HI bahkan mengizinkan. Pasal 51 mengatur hal persetujuan negara untuk mengikat diri pada perjanjian yang diperoleh dengan. Dilihat dari sudut kenyataan lingkungan HI seperti kita uraikan tadi. Penutup Mudah-mudahan tulisan singkat ini berhasil menambah keyakinan akan tersimpulnya pelbagai kenisbian. sehingga perjanjian-perjanjian itu seringkali terus terang menguntungkan yang kuat dan merugikan si lemah. Berlatar belakang ini. Kekerasan terhadap pribadi seseorang cukup jelas. keinginan yang “sesuai rasa keadilan” itu sukar disesuaikan dengan kerangka bangunan tata HI yang belum mengenal larangan mempergunakan daya kekuatan dalam hubungan antar negara untuk menetapkan hak dan kewajiban antar mereka. Timbullah pertanyaan apakah perjanjian-perjanjian demikian dapat dibatalkan ataupun dianggap batal demi hukum. Konvensi Wina. baik di lapangan penerapan hukum praktis maupun di lapangan akademik. yang kadangkadang diiringi tuntutan pembatalannya. setidak-tidaknya tidak melarang. Pasal 52 Konvensi Wina) untuk mencapai perubahan isi perjanjian bersangkutan. . Kita patut ingat bahwa sebelum terbentuknya tata hukum yang kita kenal semasa pasca Perang Dunia Kedua dalam bentuk piagam PBB termasuk larangan kekerasanya. Pasal 51 menentukan bahwa “persetujuan” demikian “tanpa akibat hukum apapun”.

mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional. Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme. perjanjian internsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional. PT RajaGrafindo Persada. Sementara itu. yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda. perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian internasional. . kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional. menurut teori incorporation. baru dapat diterapkan dan menjadi hukum nasional. 2006: hal. Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist system. Menurut teori adoption. Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan pelaksanaan. Menurut pandangan kaum dualisme. perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada.186 s/d 205 Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu negara peserta.PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK* DALAM SUASANA * Dari buku Syahmin AK. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat internasionalnya (keasliannya). Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation. yangmengajarkan bahwa hukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada umumnya. sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam hukum nasionalnya. perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect) dalam suasana nasional. Hukum Kontrak Internasional. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada. namun diterapkan dalam suasana hukum nasional. ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional.

ataupun hukum interasional atau praktik.. melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional. bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas. yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting? Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional.Cit. .9 Selanjutnya.10 Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat. yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini.Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri. kita harus meninjau kembali hukum konstitusi. Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional. statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional. suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggaran tersebut. jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya. Dalam hal ini. Mochtar Kusumaatmdja.87. yaitu UUD 1945. maka dapat muncul permasalahannya. Op. hlm. pemberlakuan perjanjian internasional. Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional. Jika penerapannya melanggar hukum internasional. 9 10 Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. terutama perjanjian yan Dalam oleh diwariskan pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara. perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing. Kadangkadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil. asas lex posterior derogat lege priori akan diterapkan. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona. UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut.

Konvensi Jenewa 1927 Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu. apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku. Prof.87. Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut.bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita. UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya. pengundangan dalam Undangmasalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas. . Sebaliknya. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan Arbitrase Asing 1. yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara sebagai perorangan. Undang Nasional mutlak dipelukan. hlm. D. Akan tetapi. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini 11 Ibid.11 “. jelas kiranya bahwa dalam memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu perjanjian internasional. beliau juga mengingatkan sebagai berikut...” Meskipun demikian. kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana. tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No.. dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu.” Dari pendapat Prof.. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada tanggal 7 Juni 1959. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di New York pada tanggal 10 Juni 1958..Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945.. mengenai sikap Indonesia terhadap perjanjian ini. Mochtar Kusumaatmadja di atas.34 Tahun 1981. “...kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat. dengan dikeluarkannya Keppres No... yakni langsung menganggap diri kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undangundang pelaksana.

Dengan kata lain. persekutuan (aliansi) pemberian bantuan.196. Remadja Karya. Lihat Lampiran II buku ini Staatsblad Tahun 1933 No. dekolonisasi. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di antaranya ialah: The Law of State Succession. akan beralih kepada penggantinya.13 Akan tetapi. Ltd. baik bilateral maupun multilateral. suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian yuridis dan pergantian menurut kenyataan. dan State Succession and Problems of Treaty Interpretation. penggantinya.14 Sehubungan dengan hal tersebut.. Syahmin AK. 1988). konfederasi. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan.dengan cara accescion. Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan.15 Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan karena dekolonisasi. sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat. Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi? Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties. hlm.. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internsional (Bandung: CV. Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK. Sementara itu.P. Perjanjian demikian tidak Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian yang bersifat polotis. serta dispositive. . dan lain sebagainya. dan mulai tanggal 5 Agustus 1981.6 dan seterusnya. atau negara kesatuan. Contoh perjanjian yang bersifat politis adalah perjanjian persahabatan. yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah.12 sebelum Konvensi New York 1958 ini dinyatakan berlaku. aneksasi. masih berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara pengganti (sucessor state). hlm. dapat juga karena sesi. Mac Millan & Co. London. (Bandung CV Armico.O. Perjanjian ini 12 13 14 15 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40. dan State Sucession in Municipal Law and Internasional. 1986).131. Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969. Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan penelitian tentang succession of state ini adalah D.. Connel. di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri. misalnya perjanjian ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase luar negeri.

Menurut acquired rights doctrine. Indonesia Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947). Teori ini juga disebut dengan teori Sementara itu. ada Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas. kemudian disertai dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda. dua doktrin yang populer yang dapat dipakai menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan suksesi negara. Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara dapat berjalan dengan lancar. bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan. doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. setelah pemutusan perjanjian KMB. hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti beralih kepada negara yang menggantikannya. Ternyata dalam praktiknya. sendiri mengadakan perjanjian Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah dengan Kerajaan Belanda. sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian . meskipun negara tersebut. mulai dari perjanjian perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut perjanjian peralihan.membebani suatu wilayah dengan status hukum. meskipun telah terjadi suksesi negara. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap mengikat negara tersbut. Namun. universal. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights doctrine dan clean state doctrine. perjanjian perbatasan. Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie. Doktrin ini juga disebut free choice doktrine. Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam Dalam untuk penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul praktik yang berbeda-beda. dan lain sebgainya. dan ditindaklanjuti dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949). misalnya pernjanjian pangkalan militer. hukum internasional. doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berbeda-beda.

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950. Keppres No. kemudian dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak Kerajaan Belanda. Pasal 12 (3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1. Konvensi Wina Tahun 1978. menyatakan tidak 16 17 18 19 20 Lihat. or (2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary. (2. ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah Irian Barat. Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional. bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun 1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement).19 Kembali lepada persoalan. meskipun telah terjadi suksesi negara. Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195620. . Pasal 12 ayat (1.(3) merumuskan sebagai berikut. Article 12 par. Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par.a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti.internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia. Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2. Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956. Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu. di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Pasal 11 dan Pasal 12 (1.2). Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not as such affect.18 Jadi. (1) a boundary established by treaty.16 Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978.17 Sementara itu.a) merumuskan: fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes boundary.a) Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan.33 Tahun 1950. The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates.2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku.

2 tanggal 10 Oktober 1945.. sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara berlandaskan pada UU No. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva. tidak secara otomatis berlaku. b. sesuai dengan prosedur 21 dalam hukum perjanjian internasional. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with Cheques and Protocol (Geneva March 19. 12727. Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB) Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi. Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva. c.terikat lagi pada Perjanjian KMB.” Kembali pada persoalan. 1931). maka persetujuan internasional 21 Budi Lazurusdi dan Syahmin AK. March 19 1931). 13 tahun 1956. “…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku untuk negara kita. Setelah pemutusan terhadap perjanjian KMB. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o. Cit. selama Republik Indonesia secara tegas menyatakan demikian. Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar. Op. yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: “…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. . hlm. antara lain adalah: a. kecuali mengenai perbatasan. untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. March 19.. dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan Penetapan Presiden No. 1931). Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa 1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri? Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Sudargo Gautama sebagai berikut. dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. Oleh karena itu. 95.

hlm. Op. Aksesi ini didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981. keppres tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum yang ditimbulkannya. Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja. Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing. 2. tanggal 5 Agustus 1981. Indonesia menjadi peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981.. yaitu reciprocity principles (asas perberlakuan secara timbal balik). Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di atas masing-masing mempunyai pendukungnya. 68 . Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu. 22 Sudargo Gautama.” Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state. Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di Indonesia. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut. Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights. “Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar. atau juga disebut dengan teori universal. yaitu sebagai berikut. Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini. Pendapat kedua dianut oleh Prof. di mana klausul arbitrase tercakup di dalamnya. Asikin Kusumaatmadja.yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan tetap berlaku. agaknya Prof. Cit.”22 Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka.

34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981 dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri. namun dengan adanya perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia.”23 Sebaliknya. diperlukan peraturan pelaksanaan. Dr. 57. yang berarti bahwa ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia. Untuk itu. Peraturan pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan.. Dr. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. Beliau memberikan sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin mengikuti status hukum sang ibu. . ternyata dalam pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri muncul. kepada Pengadilan Negeri yang mana. Menurut beliau. Mahkamah berpendapat perlu adanya peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan.Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958. permohonan pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima. berlainan dengan undang-undang yang menentukan. Sudargo Gautama. Mr. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya. ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar hukum ternama. 23 Sudargo Gautama. Prof. Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi konvensi melalui Keppres No. 34 tahun 1981. hlm. “Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. Lengkapnya Mahkamah menyatakan sebagai berikut. sebuah keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. khususnya Prof. Ibid.

serta kesepakatan untuk melaksanakan segala keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan. penghargaan terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa komersial mereka. Peran pemerintah disini sudah jelas. yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua. Sementara itu. peran kontrol inilah yang diemban oleh pemerintah. Jadi. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. apakah suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak. masalah keputusan hakim arbitrase asing di Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul arbitrase. Masalah pertama. Memang untuk para pengusaha di Indonesia. Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu. Jadi. peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak. Kehendak pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri. tetapi juga di kalangan perguruan tinggi. badan peradilan manakah yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim arbitrase asing tersebut? . dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990.Menurut hemat penulis. sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq. Di tanah air. Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut dihormati dan dilaksanakan. yang memegang kendali utama dan sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul arbitrase dan menetapkan arbitrasenya. pengenalan terhadap lembaga arbitrase saja masih minim sekali. sekaligus menjawab dua masalah penafsiran hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang. tampaknya komitmen dan taraf pemahaman. Bukan saja bagi kalangan pengusaha. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan.

bila pemerintah menganggap perlu. tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia. . Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan. telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1990 itu dimungkinkan. pelaksanaan Surat Presiden No. Dengan demikian. 2826. dapat disimpulkan di sini bahwa keppres pun. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional Indonesia yang mengatur. sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. baik Konvensi New York 1958. Masalah kedua.Masalah pertama. peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari Keppres No. Akhirnya. 34 tahun 1981. tanggal 5 Agustus 1981. maupun keppresnya sendiri tidak mengatur tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi dari para ahli hukum kita. Mengulangi pernyataan sebelumnya. yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun. menurut hemat kami. dapat dibuatkan aturan pelaksanaan. bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. 2826 dalam praktiknya belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah (cq. Akibatnya praktik negara kita sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi. Oleh karena itu. 34 Tahun 1981. dan telah dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai dengan konvensi ketatanegaraan.

”Apa perbedaan antara perjanjian internasional dengan perjanjian biasa atau kontrak?”. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan bukan merupakan pandangan resmi DEPLU.M. ”Tapi negara dengan negara juga bisa membuat kontrak?”. S. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. DR. Penulis merenung dan saat usainya ujian skripsi.. Penulis adalah lulusan FH Unpad (1987) dan University of Hull. penulis masih belum dapat menemukan jawabannya. LL. Penulis menjawab secara normatif bahwa yang pertama subjeknya adalah negara. Perdebatan sengit bahkan berlangsung pula dalam perumusan definisi ini pada Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. LL. Inggris (1990) yang saat ini menjabat Direktur Perjanjian Ekososbud. lanjut beliau dengan tersenyum. Komar Kantaatmadja S.APA PERJANJIAN INTERNASIONAL ITU? BEBERAPA PERKEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA TENTANG HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Oleh Damos Dumoli Agusman* * Tulisan ini dimuat dalam buku “Refleksi Dinamika Hukum” (2008) dalam rangka mengenang Prof.. Penulis semakin menyadari betapa pentingnya memahami definisi perjanjian internasional guna membedakannya dengan kontrak/perjanjian biasa. demikian pertanyaan Almarhum Prof. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ke Mahkamah Konstitusi pada tahun 2007. Dr.M. whether embodied . Distorsi publik ini pulalah yang mendorong lahirnya klaim bahwa Production Sharing Contracts (PSC) antara Pemerintah RI adalah ”perjanjian internasional” sehingga memicu adanya judicial review terhadap UndangUndang No. perjanjian internasional adalah: “An International Agreement concluded between States and International Organizations in written form and governed by International Law. Pemahaman publik tentang apa itu perjanjian internasional juga sangat minim dan acapkali melihatnya dari segi popular yaitu perjanjian yang bersifat lintas batas.H.H. kepada penulis pada saat sidang ujian skripsi penulis tentang hukum perjanjian internasional pada tahun 1986. Kasus judicial review ini merupakan kasus yang pertama dalam jurisprudensi Indonesia yang mengangkat permasalahan teoritis tentang hukum perjanjian internasional. Masalah definisi perjanjian internasional memang salah satu issue kontroversi dalam literatur hukum perjanjian internasional. Menurut Konvensi ini. DEPLU. Komar Kantaadmaja. sedangkan yang kedua subjeknya adalah orang/badan hukum.

in Written Form. loan agreements” (Report of the ILC Special Rapporteur. . suatu dokumen disebut sebagai ”Governed by International Law” jika memenuhi dua elemen. Parameter tentang ”Governed by International Law” merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional tidak hanya di kalangan praktisi namun juga akademisi. They could be in the form of a “Joint Statement”. …Under International Law. depends on the subject-matter and the intention of the parties (ILC Draft and Commentary. dan dibuat oleh Pemerintah dengan Negara. organisasi internasional. There may be agreements whilst concluded between States but create no obligations and legal relations. or “MOU”. Dari pengertian hukum ini. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang merumuskan sebagai setiap perjanjian di bidang hukum publik. atau subjek hukum internasional lain. yang diatur oleh hukum internasional. 1967). definisi ini diadopsi oleh Undang-Undang No. “Governed by International Law” (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik).e. by Subject of International Law. Intended to create obligations and legal relations. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation” Selanjutnya. yaitu “intended to create obligations and legal relations under international law: a. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969. maka terdapat beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu dokumen untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969 dan Undang-Undang No. 1962). b. Whatever Form. yaitu: ● ● ● ● ● an International Agreement. There may be agreements between States but subject to the local law of one of the parties or by a private law system/conflict of law such as “agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission or for some purely commercial transactions i.

24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional sendiri telah menekankan bahwa perjanjian internasional yang menjadi lingkup Undang-Undang ini adalah hanya perjanjian internasional yang dibuat oleh Pemerinth Indonesia yang diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik dan bukan di bidang hukum perdata. Namun praktek Indonesia tentang pembuatan perjanjian internasional baik sebelum dan sesudah lahirnya Undang-Undang No. semua dokumen sepanjang bersifat lintas negara. merupakan jurisprudensi landmark bagi perkembangan hukum perjanjian internasional di Indonesia. Dalam kasus ini.J. beberapa anggota DPR mempermasalahkan bahwa pasal 11 ayat (2) UU Migas yang berbunyi ”Setiap Kontrak Kerja Sama (KPS) yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis kepada DPR-RI” dianggap bertentangan dengan pasal 11 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi ”Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan . Perjanjian yang dibuat Pemerintah RI dengan NGO juga dianggap sebagai perjanjian internasional.Permasalahan teoritis tentang bagaimana mengidentifikasi bahwa suatu dokumen adalah ”Governed by International Law” juga masih menimbulkan perdebatan akademis. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas). dimana penulis juga terlibat untuk mewakili pemerintah. praktek di Indonesia telah menunjukkan konsistensi tentang perjanjian namun masih terdapat kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan “Governed by International Law”. Keputusan MK terhadap judicial review Undang-Undang No. Harris sendiri masih melihat hal ini sebagai ”unanswered questions”. 24 Tahun 2000 tidak luput dari kerancuan ini. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini. Apakah hal ini dapat ditarik dari the intention of the Parties? the Subject-Matter of the agreement?. sehingga semua dokumen sepanjang dibuat oleh Pemerintah RI dengan Subjek Hukum Internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti “loan agreements”. Undang-Undang No. 1 Tahun 1963. Setelah lahirnya Undang-Undang No. PT Stanvac and PT Shell juga pernah dianggap sebagai perjanjian internasional dan bahkan diratifikasi melalui Undang-Undang No. Agreement yang dibuat oleh Pertamina and PT Caltex. atau should there be a presumption that an inter-state agreement which is intended to create legal relations is governed by international law? Pakar hukum D. diperlakukan sebagai perjanjian internasional dan disimpan dalam ”Treaty Room”. sepanjang yang menjadi pihak adalah Pemerintah RI.

kami dapat menyetujui pendapat Pemerintah dan ahli yang diajukan bahwa perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian internasional sebagaimana diartikan dalam pasal 1 dan 2 Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian (Law of Treaties) dan pasal 2 ayat (1) huruf a Konvensi Wina tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) UU Migas. Mahkamah Konstitusi dalam judical review ini telah melakukan koreksi terhadap distorsi yang terjadi dalam opini public tentang apa itu perjanjian internasional. dan karena itu permohonan Pemohon sepanjang mengenai hal tersebut tidak cukup beralasan”. Oleh karenanya. tidak termasuk Perjanjian Internasional yang merupakan ruang lingkup pasal 11 UUD 1945. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. dan dengan demikian bukan perjanjian internasional seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional (dan UU No.mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. “perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. 56. muncul berbagai perjanjian pinjaman antar negara dan organisasi internasional yang Mahkamah . 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional). Kreditor lebih merasa terjamin jika perjanjian pinjaman memiliki karakteristik publik dibandingkan dengan sifatnya yang perdata (lihat Georges R. Secara konvensional. perjanjian pinjaman dikenal sebagai perjanjian perdata internasional dan tunduk pada hukum nasional tertentu sehingga status perjanjian ini bukanlah perjanjian internasional ”Governed by International Law”. Vol. Hal ini disebabkan adanya pergeseran tentang governing law yang mendasari perjanjian-perjanjian pinjaman. Meningkatnya transaksi pinjam meminjam antar negara dan organisasi internasional ternyata menuntut adanya kebutuhan hukum khususnya bagi pihak kreditor agar perjanjian pinjaman terlepas dari domain hukum nasional dan ditempatkan pada rejim hukum internasional. 1962). dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-Undang harus dengan persetujuan DPR”. American Journal of International Law. Konstitusi menyatakan: “Meskipun bunyi pasal 11 ayat (2) UUD 1945 menyebut. Delaume. The Proper Law of Loans concluded by International Persons: A Restatement and Forecast. Status loan agreements juga menjadi kontroversi dalam perspektif definisi perjanjian internasional. Akibatnya.

24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. b. perjanjian perdata internasional biasa yang ”Governed by other than International Law yang tidak membutuhkan prosedur seperti yang dimaksud oleh Konvensi Wina dan Undang-Undang No. Namun di lain pihak. Dengan adanya perkembangan ini maka terdapat dua kemungkinan tentang status perjanjian pinjaman.mengindikasikan bahwa perjanjian ini tidak tunduk pada hukum nasional seperti tercermin pada General Conditions for Loans IBRD 2005. Perjanjian tentang Pinjaman/Hibah menurut pasal 10 huruf f Undang-Undang No. Di lain pihak pengesahan/ratifikasi adalah lembaga hukum ketatanegaraan tentang pengesahan oleh legislatif atas perbuatan hukum pemerintah RI sesuai dengan Hukum Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional harus mendapat pengesahan/diratifikasi dengan Undang-Undang dan menurut penjelasan pasal ini akan diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri. Undang-Undang No. dan. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menegaskan kembali prinsip perlunya persetujuan DPR ini sehingga dalam pasal 23 ayat (1) menyatakan “Pemerintah Pusat dapat memberikan hibah/pinjaman kepada atau menerima hibah/pinjaman dari pemerintah/lembaga asing dengan persetujuan DPR”. banyak perjanjian pinjaman seperti halnya perjanjian komersial lainnya yang tidak secara tegas menyebutkan governing law. yaitu: perjanjian internasional publik ”Governed 2000 tentang Perjanjian Internasional. Namun perlu ditekankan bahwa persetujuan DPR dalam konteks Undang-Undang APBN tidak identik dengan pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang (oleh DPR) seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. pagu pinjaman luar negeri telah disetujui oleh DPR bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang APBN sehingga secara otomatis persetujuan DPR telah diperoleh pada saat membuat perjanjian pinjaman luar negeri. sehingga penetapan status perjanjian diserahkan pada intepretasi di kemudian hari manakala terjadi sengketa. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. kalangan Departemen Keuangan telah menegaskan bahwa berdasarkan praktek yang berlaku selama ini. perbuatan Pemerintah RI by International Law” seperti yang a. Undang-Undang APBN bukanlah Undang-Undang untuk mengesahkan/ratifikasi suatu perjanjian internasional melainkan Undang-Undang untuk menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. 24 Tahun . dimaksud oleh Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang No. Dalam hal ini. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.

Sedangkan pengertian persetujan DPR pada Undang-Undang APBN bukanlah mengesahkan perjanjian yang sudah ditandatangani melainkan menyetujui rencana pemerintah untuk melakukan pinjaman. Departemen Luar Negeri akan menyampaikan notifikasi “telah terpenuhinya prosedur konstitusional/ internal” setelah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Departemen Keuangan perihal itu. maka posisi Departemen Luar Negeri pada setiap perjanjian pinjaman kategori ini selalu mengupayakan klausula tentang dipenuhinya terlebih dahulu prosedur konstitusional/internal sebelum berlakunya perjanjian. berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. dalam rangka akuntabilitas juridis serta untuk mengamankan kepentingan hukum khususnya kewajiban pengesahan dengan Undang-Undang. Persetujuan DPR pada Undang-Undang APBN adalah terhadap perjanjian yang akan dan belum ditandatangani oleh Pemerintah RI sedangkan persetujuan dalam konteks pengesahan/ratifikasi adalah terhadap perjanjian yang sudah ditandatangani. Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait masalah perjanjian pinjaman ini adalah tidak adanya penegasan secara juridis baik dalam Undang-Undang . Menurut pasal 15 Peraturan Pemerintah tersebut. Pada Peraturan Pemerintah ini tidak terdapat aturan yang mengindikasikan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah harus mendapat persetujuan DPR. Pasal 16 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan bahwa Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri mulai berlaku sejak ditandatangani. 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang pada hakekatnya mengatur tentang Naskah Perjanjian Pinjaman atau Hibah Luar Negeri. terikat pada perjanjian itu. secara juridis formal. adanya persetujuan DPR dalam APBN tidak dapat meniadakan persyaratan ratifikasi sebagaimana ditetapkan oleh pasal 10 huruf f Undang-Undang No. Dengan demikian. wewenang penandatanganan Perjanjian Pinjaman dan Hibah Luar Negeri berada pada Menteri Keuangan. Pasal ini akan menyulitkan Departemen Luar Negeri jika ternyata perjanjian dimaksud adalah perjanjian internasional publik yang tunduk pada Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. kecuali ditentukan lain dalam naskah/dokumen yang bersangkutan. Selain itu. Itulah sebabnya. kecuali secara tegas dinyatakan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman/Hibah Luar Negeri ini. Dalam praktek.yang menandatangani suatu perjanjian disahkan dengan Undang-Undang (dengan demikian melalui persetujuan DPR) sehingga Indonesia secara resmi. Dalam prakteknya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No.

Terlebih lagi. ketentuan Konvensi Wina 1969 dan 1986 serta UndangUndang No. Undang-Undang No. beberapa negara seperti Jerman dan Loan Agreement dengan International Fund for Agriculture Development tahun 2000 menginginkan agar perjanjian pinjaman ini mengambil format perjanjian internasional yang tunduk pada Konvensi Wina 1969. 2 Tahun 2006 (bahkan dalam Rancangan Undang-Undang Pinjaman/Hibah Luar Negeri) apakah perjanjian pinjaman ini masuk dalam kategori perjanjian internasional publik atau perjanjian perdata internasional biasa. Namun di pihak lain.No. Lembaga-lembaga ini jelas bukan Subjek Hukum Internasional dan dengan demikian perjanjian pinjaman dengan . Akibat tidak adanya penegasan juridis dari Rancangan Undang-Undang. diindikasikan bahwa Pemerintah RI dapat membuat perjanjian dengan pemberi pinjaman. Lembaga Keuangan Non-Pemerintah Asing. Konsekuensinya adalah mekanisme ratifikasi menurut hukum perjanjian internasional tidak diperlukan karena perjanjian ini tunduk pada hukum nasional bukan hukum internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional hanya mengatur tentang perjanjian pinjaman per definisi Undang-Undang ini yaitu perjanjian “Governed by International Law”. akan terjadi konflik kewenangan antara substansi dan format yaitu Menteri Keuangan yang memiliki kewenangan atas pinjaman luar negeri dengan kewenangan Menteri Luar Negeri yang memiliki wewenang untuk membuat perjanjian internasional itu sendiri. Dalam praktek Indonesia. perjanjian pinjaman dapat merupakan perjanjian internasional dan juga dapat berupa perjanjian perdata internasional. termasuk prosedur ratifikasi berdasarkan pasal 10. dalam pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri ditandatangani oleh Menteri Keuangan sedangkan menurut penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-Undang No. serta Lembaga Donor Swasta lainnya. yang dalam hal ini mungkin Bank Swasta Asing. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional diberlakukan. 24 Tahun 2000 harus diterapkan. sehingga prosedur Undang-Undang No. Menteri (dalam hal ini Menteri Luar Negeri) mendelegasikan kepada Menteri Keuangan”. “Dalam hal pinjaman luar negeri. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara maupun Peraturan Pemerintah No. Sehingga untuk perjanjian pinjaman kategori ini. Loan Agreements yang dibuat oleh Indonesia selama ini adakalanya memuat klausula tentang governing law yang merujuk pada hukum nasional sehingga dengan demikian secara juridis teoritis perjanjian ini bukan termasuk kategori perjanjian seperti dimaksud oleh Undang-Undang No. Dalam definisi tentang Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri pada Rancangan UndangUndang ini. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.

Dengan demikian maka setiap dokumen yang berjudul treaty. constitute an international agreement creating rights and obligations for the Parties. They constitute an international agreement. They enumerate the commitments to which the Parties have consented. perlu pula diperhatikan bahwa praktek negara tentang judul suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. agreement. the Court must have regard above all to its actual terms and to the particular circumstances in which it was drawn up. Letter of Intent. like the exchanges of letters of December 1987. they do not merely give an account of discussions and summarize points of agreement and disagreement. d. of Memorandum Agreement.lembaga-lembaga ini bukan merupakan perjanjian yang menjadi lingkup Undang-Undang No. The Minutes are not a simple record of a meeting. Dewasa ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti Joint Statement. b. ICJ merujuk pada The ICJ Aegean Sea Continental Shelf. 1978: a. Letter Demarche. 24 Tahun 2000. Pada sisi lain terdapat pula kecenderungan pada publik opini untuk menggunakan parameter nomenklatur atau judul dokumen sebagai faktor penentu untuk menetapkan dokumen itu sebagai perjanjian internasional. In order to ascertain whether an agreement of that kind has been concluded. Memorandum of Cooperation. the Foreign Minister of Bahrain is not in a position subsequently to say that he intended to subscribe only to a "statement recording a political understanding” and not to an international agreement”. They thus create rights and obligations in international law for the Parties. Memorandum . Qatar and Saudi Arabia. Sekalipun Konvensi Wina dan jurisprudensi tidak menempatkan judul dokumen sebagai faktor penentu. record of discussion bukan perjanjian internasional. Final Act. ICJ menyatakan bahwa Minutes ini adalah perjanjian internasional. Process Verbal. 1990”. Minutes of Meeting. Protocol. MOU. c. memberikan petunjuk bahwa untuk menetapkan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional tidak harus dilihat dari judul perjanjian. Understanding. convention. The Court concludes that the Minutes of 25 December 1990. adalah perjanjian internasional sedangkan agreed minutes. of Letter of Agreement. Joint Declaration. Dalam tanggapannya terhadap “Minutes signed by Foreign Ministers of Bahrain. Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik). Charter. Having signed such a text. of Aide Memoire. Side Letter. 1994. ICJ Qatar/Bahrain Case.

Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk kepentingan conveniences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat. sekalipun tidak mengikat secara hukum cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MOU yang kemudian diikuti dengan Arrangements. Exchange of Notes. Record of Understandings. Praktek di Indonesia misalnya. khususnya pada negara-negara common law system. Sekalipun Undang-Undang No. Adanya pengertian MOU yang non-legally binding dalam praktek beberapa negara akan . namun apabila ditelaah lebih lanjut. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak menyepakatinya. yang berpandangan bahwa MOU adalah nonlegally binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam perjanjian. sekalipun tidak konsisten. jika terdapat kebutuhan lain maka suatu perjanjian dapat saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian payung. atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan perjanjian internasional lainnya. Dalam hal ini. Selain itu terdapat kecenderungan dalam praktek negara-negara. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam. namun praktek Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi tertentu. seperti Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik. terdapat pula kecenderungan umum dalam praktek Indonesia bahwa dalam setiap pembuatan perjanjian yang bersifat teknis antar sektor harus didahului dengan pembuatan perjanjian payung. misalnya lebih cenderung menggunakan “Agreement” sebagai instrumen payung dan kemudian MOU serta Arrangements untuk instrumen turunannya. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak mempermasalahkan judul atau nomenklatur. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding) merupakan salah satu model dokumen yang memiliki sifat khas/typical. pengelompokan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. Selain itu.Cooperation. Namun praktek negara-negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap persetujuan yang dibuat antara negara (termasuk MOU) memiliki daya mengikat seperti Treaties. Terdapat praktek negara. bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian tersebut memiliki bobot kerjasama yang berbeda tingkatannya dengan perjanjian internasional lainnya. Para ahli berpendapat bahwa istilah MOU digunakan dengan alasan politis yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement yang dinilai lebih formal dan mengikat.

Pengertian MOU oleh otonomi daerah merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan dituangkan dalam bentuk “Perjanjian Kerjasama” yang bersifat mengikat. Pemerintah Daerah juga sudah mulai menggunakan format MOU untuk merefleksikan jaminan Pemerintah Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di daerah itu. Untuk kebutuhan praktis. Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan politik terhadap investor asing. Hal ini terlihat dari pola sistem penyimpanan perjanjian (depository system) yang ternyata menyimpan pada Treaty Room Departemen Luar Negeri semua dokumen sepanjang ditandatangani oleh Pemerintah RI tanpa melihat apakah dokumen tersebut memenuhi semua elemen sebagai suatu perjanjian. maka pada hakekatnya dapat dilakukan klasifikasi sbb: .menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen tersebut sebagai perjanjian internasional yang mengikat namun pihak yang lain menganggap dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral. pengertian non-legally binding belum menjadi concern yang berarti bagi Indonesia. Dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini. Secara umum pengertian ini selalu diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MOU melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang lazim dilakukan terhadap perjanjian internasional. Dari sisi hukum nasional. Perlu pula dicermati bahwa MOU sudah menjadi instrumen yang digunakan dalam hubungan kerjasama antar wilayah dalam kerangka otonomi daerah di Indonesia. pengertian non-legally binding itu sendiri masih belum memberikan klarifikasi yang berarti. sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasional. Metode yang digunakan dalam praktek Indonesia untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional masih belum konsisten. pengertian nonlegally binding memiliki implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dijadikan alat pembuktian serta di-enforce oleh pengadilan. Status hukum MOU semacam ini masih menjadi perdebatan. Dengan demikian. Jika diteliti lebih dalam seluruh dokumen yang tersimpan pada Treaty Room berdasarkan materi perjanjian (the merits of the documents). Istilah MOU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk yang lebih informal dari ”kontrak” atau ”perjanjian” dalam hubungan perdata nasional. khususnya pada negara-negara common law.

c. Extradition. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Multilateral Convention. declarations. Perjanjian seperti yang didefinisikan oleh Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations 1986 serta Undang-Undang No. Agreement. Perjanjian yang memiliki karakter internasional tetapi tidak tunduk pada hukum internasional publik (loan agreements. sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globlalisasi. Exchange of Notes. b. etc). Dokumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum (joint statements. Sekalipun literatur hukum internasional telah menyediakan banyak teori dan praktek tentang perjanjian internasional yang cenderung ajeg dan konsisten. Dari uraian diatas maka praktek Indonesia juga ternyata tidak luput dari dinamika tersebut. etc). Border Treaties. Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat. namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah memperkaya teori dimaksud dalam berbagai variasinya dalam bentuk format dan klausula yang kreatif dan inovatif. agreed minutes. etc). MOU’s. procurement contracts.a. mengakibatkan hukum perjanjian internasional juga mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri. .

Charlotte Ku & Paul F. “International Law”. Ltd. “The European Union and the International Law of Treaties”. 23. London: Sweet & Maxwell. Mochtar Kusumaatmadja. “International Law”. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. “Treaty Law for the Private Practitioner”. “International Law”. Grotius Publication. 2005. Rebecca Wallace. AJIL. “Status of Treaties in Domestic Legal System: A Policy Analysis”. J. Antonio Cassese. Malcolm N. 1997. 2001. No. 1975. Syahmin AK. Anthony Aust. Martinus Nijhoff Publishers. 2006. New York: Foundation Press. DEPLU. Diehl. 1998. Cambridge University Press. 1992). 2005. Hynning.BIBLIOGRAPHY John H Jackson. The University of Chicago Law Review. . Oxford. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. Cambridge University Press. 1991. pp. “Hukum Kontrak Internasional”. Shaw. 86. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. 2003. “International Law”.N. 1996. “Pengantar Hukum Internasional”. “The Concept of Treaty in International Law”. 2004. Vol. London: Lynne Rienner Publishers. 2000. Delano Verwey. “Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional”. London. Vol. “International Law: Classic and Contemporary Readings”. “Modern Treaty Law and Practice”. Marvin A. 2 (Apr. Bina Cipta. Damos Dumoli Agusman. Cambridge University Press. M. Clifford J. Chirelstein. Inc. Sweet & Maxwell. Harris. D. “Cases and Materials on International Law”. 310-340. 2006. Shaw. Jan Klabbers. "Concepts and Case Analysis in the Law of Contracts”.

al* *Diambil dari Jurnal Konstitusi.KEMUNGKINAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI . Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional hukum yang antara sangat Pemerintah penting. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR. Perjanjian internasional . Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. et. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan mengikat dengan hukum internasional lainnya.JUDICIAL REVIEW – KAN oleh Lita Arijati. menyebabkan meningkatnya pula kerjasama internasional yang dituangkan dalam bentk berbagai macam perjanjian internasional. Kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Oleh sebab itu salah satu cara pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. Indonesia karena denganpemerintah negara negara-negara subyek lain. Februari 2006. Latar Belakang Pemerintah RI dalam melaksanakan politik luar negerinya selalu berusaha melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan kepentinan nasionalnya diantaranya adalah dengan membuat suatu perjanjian internasional dengan negara lain. Dengan meningkatnya intensitas hubungan dan interdependensi antarnegara. nomor 1. volume 3. organisasi internasional dan subyek hukum lainnya. Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukanberdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat.

Untuk itu melalui Surat Presiden No. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 UUD 1945. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. Tetapi dalam prakteknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan UU yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. Apakah UU yang mengesahkan perjanjian internasional dapat diajukan ke depan MK? 3.24 Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No. 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan perstujuan DPR. Bagaimana proses pengesahan perjanjian nternasional menjadi UU di Indonesia? 2. yang ditujukan kepada Ketua DPR. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkanlebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. 24 Surat Presiden No. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subyek hukum internasional lainnya. Sebelum adanya UU No. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. . pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan UU. akan dibahas pokok permasalahan sbb: 1. Bagaimana dampak secara nasionalmaupun internasional dari UU yang mensahkan perjanjian internasional jika dibatalkan ole MK? Proses Pengesahan Perjanjian Internasional Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain.yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang. 24 tahun 2000. Bagaimana proses pengajuan UU yang mengesahkan perjanjian internasional dalam hal diajukan kehadapan MK? 4. Dalam penelitian ini. Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden dapat dilakukan melalui UU atau Keppres. Oleh sebab itu. 2826/HK/1960. tanggal 22 Agustus 1960.

Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. Lembaran Negara RI Tahun 2000 No. Pemberlakuan perjanjian internasional e. adapun isi yang diatur adalah25: a. Dalam UU tersebut. Pembuatan perjanjian internasional c. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional. Selain itu juga ada perjanjian. Pengesahan perjanjian internasional d. 2. 185 Ibid. UU No.Hal ini emudian yang menjadi alas an perlunya perjanjian internasional diatur dalam UU No. Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penerimaan atau penyetujuan. Ketentuan peralihan h. yaitu: 1. Pasal 7 . yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut. Ratifikasi. 4. Ketentuan Penutup Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori. yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian. Pengakhiran perjanjian internasional g. memerlukan surat uasa (Full Powers). 25 26 Indonesia (a). Penyimpangan perjanjian internasional f. 24 tahun 2000.26 Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah presiden dan menteri. Ketentuan Umum b. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. 3.perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Aksesi. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan.

perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR.27 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan UU atau Keppres. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.29 Pengesahan dengan Keppres hanya perlu pemberitahuan ke DPR. masalah politik. dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. 24 tahun 2000. DPR dapat meminta pertanggungjawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. “Pengesahan perjanjian internasional sebagaiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. Pasal 8 Ibid.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia tidakserta merta.31 Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang.28 Pengesahan dengan UU memerlukan persetujuan DPR. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Pasal 10 . 24 tahun 2000. kedualatan atau hak berdaulat negara d. Pasal 9 Ibid. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia 27 28 29 30 31 Ibid. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat (2) UU No.30 Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui UU apabila berkenaan dengan: a. Pasal 11 Ibid. sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UU No. internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam UU. pembentukan kaidah hukum baru f.Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme. pertahanan. dinyataka bahwa. Pasal 10 Ibid. dan keamanan negara b. baik departemen maupun non-departemen. perdamaian. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian internasional tersebut. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e.

penerangan kesehatan. UU ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. pertanian. 98. Perjanjian internasional seperti ini dapat langsung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/ nota diplomatic. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya. budaya. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 c. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. dan d. contoh Indonesia meratifikasi ICCPR melalui UU. kehutanan dan kerjasama antar propinsi atau kota. UU No. pada Pasal 10 dinyatakan bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk: a.memandang hukum nasional dan hukum interasional sebagai dua sitem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Apakah MK Berwenang Menguji UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional? Menurut UU No. diratifikasi melalui UU dan Keppres. menguji UU terhadap UUD 1945 b. UU ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Perjanjian yang termasuk kedalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan. Pasal 10. memutus pembubaran partai politik. atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. social. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat UU yang lebih spesifik mengenai perjanjian internasional yang diratifikasi. . maka selanjutnya Indonesia harus membuat UU yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam UU yang lebih spesifik. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum32 32 Indonesia (b). biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. 24 tahun 2000. 24 tahun 2003 tentang MK. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. pariwisata. Lembaran Negara RI tahun 2003 No. 24 tahun 2003 tentang MK.

Pasal 8 ayat (2) Ibid. Pasal 20 . UU No. 24 tahun 2000 mengenai hal apa saja dari perjanjian internasional yang disahkan dalam UU. Hal ini relevan karena dalam melakukan ratifikasi terhadap suatu perjanjian internasional adalah melalui UU. (5) kewarganegaraan dan kependudukan. (4) wilayah negara dan pembagian daerah. Sesuai dengan UU No. Pasal 12 ayat (3) Indonesia (c). dalam Pasal 8. baik departemen maupun nondepartemen.35 Pengajuan disampaikan pengesahan kepada perjanjian internasional Presiden dilakukan melalui Menteri untuk Presiden. dan (6) keuangan negara. Pasal 8 Ibid. (2) hak dan kewajiban warga negara. Untuk keperluan pembahsan RUU di DPR. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dalam surat tersebut Presiden menegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan RUU di DPR. hak asasi manusia. Beberapa hal yang sama adalah mengenai kedaulatan. menyiapkan salinan naskah perjanjian.36 mengajukan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional yang telah disiapkan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. terjemahan. Sehingga tidak adanya suatu perbedaan antara UU ratifikasi perjanjian internasional dan UU pada umumnya dilihat dari sudut muatan materi UU. disebutkan bahwa materi muatan yang harus diatur dalam UU berisi hal-hal yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi (1) hak-hak asasi manusia.34 Hal ini sama dengan ketentuan dalam UU No. Hal lain adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dan lebih spesifik dari muatan UU secara umum. RUU. Pasal 12 Ibid. 53.Dengan demikian salah satu kewenangan dari MK yang perlu digaris-bawahi adalah mengenai menguji UU terhadap UUD 1945. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional. wilayah negara dan masalah keuangan negara. lembaga pemprakarsa yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah.37 DPR mulai membahas RUU dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden diterima.33 Selanjutnya selain dari yang berkaitan dengan UUD 1945 adalah diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. Lembaran Negara RI tahun 2004 NO. menteri atau pimpinan 33 34 35 36 37 Indonesia (c). (3) pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. atau rancangan Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.

Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. Tingkattingkat pembicaraan dilakukan dalam rapat komisi/ panitia/ alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. Tata cara pembahasan RUU tersebut diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPR. atau melalui cara lain sesuai kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam perjanjian. Pasal 37 Indonesia (a). Pasal 32.40 Setiap UU atau Keppres tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara RI. UU ini dapat diajukan ke MK.42 Lembaga penyimpanan (depositary) merupakan negara atau organisasi internasional yang ditunjuk atau disebut secara tegas dalam surat perjanjian untuk menyimpan piagam pengesahan perjanjian internasional. . Penempatan peraturan perundang-undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam Lembaran Negara dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara. muatan dan isi serta proses pembentukan dari UU pengesahan perjanjian internasional tidak berbeda dengan UU lainnya. Secara struktur. ayat 1. Pasal 14 Ibid.5.41 Menteri menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan pemerintah RI pada suatu perjanjian internasional untuk dipertukarkan dengan negara-negara pihak dalam perjanjian internasional atau disimpan oleh negara atau lembaga penyimpanan pada organisasi internasional. Lembaga penyimpanan selanjutnya memberitahukan semua pihak bahwa perjanjian tersebut telah menerima piagam pengesahan dari salah satu pihak.39 Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden.43 Disamping perjanjian internasional yang disahkan melalui UU atau Keppres.lembaga pemrakarsa 38 memperbanyak naskah RUU tersebut dalam jumlah yang diperlukan. dan 7 Ibid. Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. Ibid.6. Oleh karena itu. diampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi UU. 38 39 40 41 42 43 Ibid.Praktek ini berlaku bagi perjanjian multilateral yang memiliki banyak pihak. pemerintah dapat membuat perjanjian internasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatic. Pasal 14 Ibid.

Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut UU untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada MK. b. UU yang digugat adalah UU yang mengkat umum terhadap segenap warga negara. 24 tahun 2003. yang bunyinya sbb: Perorangan warganegara Indonesia. Dalam hal ini adalah kepentingan pemohon dalam mengajukan permohonan termaksud. Dimana bagian yang terpenting adalah legal standing dari pemohon dalam mengajukan permohonannya. Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet poiny d’action. subjek hukum yang mengajukan disebut sebagai pemohon. asalkan dapat membuktikan dirinya memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk menjadi pemohon.44 Adanya kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata45 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. Dengan demikian. bukan gugatan. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan. Persyaratan legal standing dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam UU. Dalam hukum acara MK yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian UU.47 a. 44 45 46 47 Semua perkara konstitusi di MK disebut sebagai perkara permohonan. sebenarnya tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke MK dan menjadi pemohon. Dalam berperkara di MK. Oleh sebab itu perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan.46 Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI ynag diatur dalam UU. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya UU yang dipersoalkan. maka prosedur pengajuan yang digunakan tidaklah berbeda dengan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan Mahkamah tentang pengajuan permohonan. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversaria atau contentious yang berkenaan dengan pihakpihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata maupun tata usaha negara. Yang termasuk sebagai ini adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan yang sama dapat tampil sebagai pemohon. melainkan permohonan.Tatacara Pengajuan Permohonan Pengujian UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional ke MK Dalam perkara permohonan pengujian UU Pengesahan Perjanjian Internasional. Rumusan ini merujuk pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama.

Mahkamah telah menentukan lima persyaratan mengenai kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu UU sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK. 81-82 . Kemudian. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya UU yang dimohonkan pengujian. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di MK. Maruarar Siahaan. maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. e. besar kemungkinan badan hukum tidak hanya mencakup pengertian public/privat saja.49 yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. atau (iv) lembaga negara. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat khusus dan actual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. berdasarkan pertimbangan hukum Putusan Perkara No. b. maka dapat diketahui bahwa setiap pemohon haruslah: 48 49 50 Dengan berkembangnya ilmu hukum di masa modern ini. Dari penjelasan-penjelasan di atas. Seperti telah diuraikan di atas. b. c. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu UU yang dimohonkan pengujian. Maksudnya adalah lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat. melainkan juga mencakup pengertian lainnya secara luas. Konstitusi Press: Jakarta. d. Hal Badan hukum public atau privat. 2005.c. 006/PUU-III/2005. Dua criteria dimaksud adalah:50 a.48 Lembaga Negara. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. d. (iii) badan hukum public atau privat. hal. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan WNI (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). yaitu: a.

bahwa apabila permohonan yang bersangkutan kelak dikabulkan. 2. Bagaimana penilaiannya oleh hakim sangat tergantung kepada kasus konkretnya di lapangan. Untuk itu dalam kaitannya dengan permohonan yang diajukan ke mahkamah.1. kelima kriteria itu kadang-kadang tidak diterapkan secara kaku. maka yang bersangkutan memang dapat dipastikan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan perkara ke MK. dalam permohonannya pemohonharus menjelaskan kedudukan hukum pemohon dalam perkara yang diajuakan. bahwa subjek hukum dimaksud memang mempunyai hak-hak atau kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Untuk itu secara khusus perihal legal standing harus menjadi perhatian Mahkamah. Jika kelima criteria ini tidak dapat dipenuhi secara kumulatif. Karena. maka kerugian konstitusional yang bersangkutan memang dapat dipulihkan kembali dengan dibatalkannya UU dimaksud. 4. Sudah tentu. belum memperhitungkan pokok permohonannya. atau bersifat kumulatif secara mutlak. Untuk dinyatakan memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan. Uraian ini harus secara jelas dan tegas yang pada pokoknya akan menunjukkan hubungan hukum antara pemohon dengan materi permohonan yang hendak diajukan. kelima criteria tersebut masih bersifat abstrak. bahwa hak atau kewenangan konstitusional yang bersangkutan memang telah dirugikan atau dilanggar oleh berlakunya UU atau bagian dari UU yang dipersoalkannya itu. dalam pelaksanaannya. mengingat dampak kekuatan mengikatnya tidak saja terhadap keberlakuan UU tersebut akan tetapi juga dalam pergaulan internasional. 3. salah satu dari keempat kelompok subjek hukum tersebut di atas. maka pemohon harus menguraikan dengan jelas mengenai anggapan tentang hak dan/ atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan dengan berlakunya UU a quo. Mahkamah perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan legal standing ini. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. Dalam kaitannya dengan pengajuan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. penilaian mengenai legal standing ini baru mengantarkan pemohon kepada keabsahannya sebagai pemohon. bahwa adanya atau timbulnya kerugian dimaksud memang terbukti mempunyai hubungan sebab akibat atau hubungan kausal dengan berlakunya UU yang dimaksud. . 5.

keterwakilan pemerintah dalam perjanjian internasional tersebut dan proses pengesahan perjanjian internasional menjadi UU. menyatakan bahwa UU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Hal lain yang harus juga diperhatikan dalam kaitannya dengan permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional adalah apa bentuk UU pengesahan tersebut. Uraian ini akan menjadi gambaran yang jelas bagi hakim dalam menilai materi permohonan yang diajukan. Terkait Indonesia perjanjian tersebut. masalah proses perundingan atau negosiasi. dalam perkara pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam menjatuhkan putusan atas perkara a quo. Hal ini akan terkait dengan bentuk keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional. Hal ini terkait dengan proses keikutsertaan Indonesia sebagai pihak dalam perjanjian internasional. Dalam hal ini harus diperhatikan bagaimana dengan keikutsertaan keterwakilan Indonesia pemerintah dalam perjanjian dalam internasional tersebut. Hal ini adalah untuk menjawab pertanyaan perihal bentuk pengesahannya apakah UU ratifikasi atau aksesi atau penerimaan. Dalam pengujian formalitas UU pengesahan perjanjian internasional. apakah itu materiil atau formil. Apabila dalam permohonan tidak dinyatakan . sebagaimana yang disebutkan dalam UU Perjanjian Internasional. Dalam petitumnya pemohon dalam permohonan pengujian formil UU pengesahan perjanjian internasional. dimana harus dilihat siapa yang mewakili pemerintah Indonesia? Apa dasar keterweakilan pemerintah Indonesia? Hal ini terkait dengan surat kuasa yang diemban oleh wakil Indonesia dalam proses perjanjian internasional tersebut. Dalam hal ini pemohon harus menguraikan dengan jelas yang berisi uraian perihal permohonan yang hendak diajukan. kiranya menjadi perhatian khusus Mahkamah dalam memeriksa dan memutus perkara ini adalah terkait dengan pengujian atas pembentukan UU a quo. Permohonan putusan Mahkamah dalam petitum penting untuk dinyatakan dalam permohonan yang diajukan. Hal ini akan terkait dengan sejauh mana wewenang wakil pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan proses keikutsertaan dalam perjanjian internasional. Dalam kaitannya dengan pengajuan pengujian formil. pemeriksaan tidak hanya terkait dengan proses pembentukan di DPR akan tetapi harus juga dijadikan perhatian perihal proses keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional.Materi pengajuan yang hendak dimohonkan ke mahkamah juga harus menyebutkan dengan jelas perihal permohonan pengujian formil atau pengujian materiil.

pasl dan/ atau bagian yang bertentangan dengan UUD 1945. Meskipun dengan pembatalan UU pengesahan perjanjian internasional tidak secara serta merta menghilangkan keikutsertaan Indonesia dalam pergaulan internasional. Dampak Pembatalan UU yang Mengesahkan Perjanjian Internasional Dampak dari pembatalan UU tersebut tidak hanya akan bersifat nasional tetapi juga bersifat internasional. perjanjian internasional tersebut secara keseluruhan.batalan sepihak atau penangguhan keikutsertaan dalam perjanjian tersebut. karena Indonesia tidak dapat menarik diri dari perjanjian tersebut jika tidak ada pasal yang mengatur mengenai pe. juga harus dipertimbangkan dampak yang akan timbul dari dikabulkannya permohonan tersebut. Dalam hal ini harus diperhatikan. dimana apakah pernyataan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat atas materi muatan yang diperiksa dan diputus mahkamah akan dapat dikategorisasi sebagai pembatalan sepihak atau tidak. Dalam hal permohonan yang diajukan adalah pengujian materiil UU pengesahan perjanjian internasional. maka pengujian dilakukan berkaitan dengan materi muatan dalam ayat.petitumnya. yaitu apakah dalam perjanjian internasional tersebut dimungkinkan untuk melakukan pembatalan sepihak atau penangguhan. Dalam hal ini harus diperhatikan dengan baik terkait dengan materi muatan yang menjadi dasar pengujian materiil yang diajukan. Hal ini penting bagi Indonesia. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah jika perjanjian internasional yang disahkan oleh UU . Dalam hal pengujian UU pengesahan perjanjian internasional dapat menimbulkan penafsiran sebagai bentuk pembatalan sepihak (denunciation) dari keikutsertaan Indonesia. Walaupun dalam Konvensi Wina Article 46 dinyatakan bahwa negara peserta dari suatu perjanjian internasional dapat membatalkan keikutsertaannya dalam perjanjian jika pelanggaran terhadap perjanjian tersebut merupakan suatu tindakan yang memang sesuai dengan internal law of fundamental importance. Kesemua aspek tersebut akan menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan yang akan dibuat oleh Mahkamah dalam memutus permohonan a quo. Dalam memberikan keputusan yang terkait dengan permohonan pengujian UU pengesahan perjanjian internasional. maka hal ini harus menjadi perhatian dalam pemeriksaan pendahuluan dan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki permohonannya. Kerena pengujian UU pengesahan perjanjian internasional memiliki dimensi yang tidak saja bersifat nasional namun juga internasional. hal ini juga harus diperhatikan oleh Mahkamah.

Mengenai pembatalan perjanjian yang diakibatkan oleh dibatalkannya suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional oleh MK tidak termasuk dalam faktor-faktor yang menjadikan perjanjian menjadi batal atau ditangguhkan. Sebagai contoh adalah ketika Indonesia mundur dari keanggotaan PBB pad Desmber 1964. Konvensi Wina menyatakan hal di atas karena dalam prosedur ratifikasi. jika pengunduran diri atau penangguhan untuk terikat terhadap perjanjian tidak diatur. dalam Pasl 63 mengenai Perbaikan Keadaan Luka dan Sakit di Medan Perang di darat. Pada saat Indonesia ingin kembali menjadi anggota PBB. seperti halnya dalam Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Hal ini berlainan dengan LBB yang mengatur mengenai pengunduran diri dari LBB. hal ini dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. Maka pernyataan untuk terikat dalam perjanjian internasional tersebut merupakan suatu itikad baik. pengunduran diri Indonesia di PBB dihitung sejak pernyataan mundur Indonesia di PBB. PBB tidak ingin mengulangi pengalaman LBB yang dilemahkan oleh pengunduran diri beberapa anggotanya pada tahun 1938. Dengan demikian Indonesia sebenarnya tidak pernah keluar dari PBB.dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan UUD 1945. Hal berbeda jika hal ini diatur dalam perjanjian internasional. Indonesia diwajibkan membayar segala kewajiban selama ketidak aktifannya di PBB. Dengan demikian pembatalan suatu UU yang mensahkan suatu perjanjian internasional yang dilakukan oleh MK tidak selalu menjadikan Indonesia lepas dari keterikatannya yang telah dinyatakan oleh Indonesia terhadap perjanjian tersebut. Namun dalam hal ini dapat dimasukkan dalam pembatalan atau penangguhan secara sepihak ini tidak akan menjadi masalah jika pengunduran diri diatur dalam suatu perjanjian internasional. . menetapkan bahwa pembatalan atau pernyataan tidak terikat terhadap perjanjian ini berlaku satu tahun sejak pemberitahuan mengenai pernyataan tersebut diterima oleh Dewan Federasi Swiss. Berlainan jika pengunduran diri atau pembatalan tidak diatur dalam perjanjian internasional. Seperti halnya di dalam Piagam PBB. negara peserta diberikan kesempatan untuk memutuskan apakah akan menjadi pihak dalam perjanjian internasional atau tidak. yang harus dihormati oleh negara-negara lainnya. dengan menyesuaikan perjanjian internasional tersebut dengan konstitusi negaranya.

Karena peran dari hukum nasional negara-negara dalam memberikan pengaruh dalam kancah hubungan internasional mengangkat pentingnya isu bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional dari sudut pandang praktis. IGNOU.) di School of Social Science. Anggapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa hukum internasional sebagai suatu perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehingga mempunyai hubungan yang efektif dengan ketentuan dan asas pada bidang hukum lainnya. Kedudukan hukum internasional dalam tata hukum secara umum didasarkan atas anggapan bahwa hukum internasional sebagai suatu jenis atau bidang hukum merupakan bagian dari hukum pada umumnya. saling berdampingan dan terpisah. Hal ini dapat dilihat dari interaksi masyarakat internasional dimana peran negara sangat penting dan mendominasi hubungan internasional.L. Dalam memahami berlakunya hukum internasional terdapat dua teori.[3] Perbedaan pandangan atas dua teori ini membawa akibat yang berbeda dalam memahami hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional.A. dan teori objektivis[2] yang menganggap berlakunya hukum internasional lepas dari kemauan negara. Pandangan teori voluntarisme memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum yang berbeda. University of Delhi dan program Master of Political Science (M.[1] yang mendasarkan berlakunya hukum internasional pada kemauan negara. Bidang hukum lainnya yang paling penting adalah bidang hukum nasional.) di Faculty of Law. yaitu teori voluntarisme.C. New Delhi. I. Latar Belakang Hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional dalam sistem tata hukum merupakan hal yang sangat menarik baik dilihat dari sisi teori hukum atau ilmu hukum maupun dari sisi praktis.PROSES PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL MENJADI UNDANG-UNDANG DI INDONESIA Oleh Pan Mohamad Faiz* * Penulis adalah mahasiswa program Master of Comparative Law (M. Berbeda dengan .

Akibat lain adalah tidak mungkin adanya pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut.[4] Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh aliran dualisme untuk menjelaskan hal ini: 1. lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum pada realitasnya ada mahkamah dan organ eksekutif yang hanya terdapat dalam hukum nasional. Sumber hukum. Subjek hukum internasional. 2. Aliran Dualisme Aliran dualisme bersumber pada teori bahwa daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara. Teori Keberlakuan Hukum Internasional A.pandangan teori objektivis yang menganggap hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua perangkat hukum dalam satu kesatuan perangkat hukum. sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama dari negara-negara sebagai masyarakat hukum internasional.[5] Maka sebagai akibat dari teori dualisme ini adalah kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada perangkat hukum yang lain. Dengan demikian hukum nasional tetap berlaku secara efektif walaupun bertentangan dengan hukum internasional. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. subjek hukum nasional adalah orang baik dalam hukum perdata atau hukum publik. 4. Hal yang sama tidak terdapat dalam hukum internasional. yang mungkin adalah renvoi. . sedangkan pada hukum internasional adalah negara. Struktur hukum. 3. Kenyataan. hukum nasional bersumber pada kemauan negara. II.[6] Karena itu dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasional memerlukan transformasi menjadi hukum nasional. pada dasarnya keabsahan dan daya laku hukum nasional tidak dipengaruhi oleh kenyataan seperti hukum nasional bertentangan dengan hukum internasional. Dengan demikian dalam teori dualisme tidak ada hirarki antara hukum nasional dan hukum internasional karena dua perangkat hukum ini tidak saja berbeda dan tidak bergantung satu dengan yang lain tetapi juga terlepas antara satu dengan yang lainnya. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber hukum yang berbeda.

Alasan yang kemukakan adalah sebagai berikut: 1. Aliran Monisme Teori monisme didasarkan pada pemikiran bahwa satu kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia.[8] Paham ini melihat bahwa kesatuan hukum nasional dan hukum internasional pada hakikatnya adalah hukum internasional bersumber dari hukum nasional. Indonesia sendiri menganut teori dualisme dalam menerapkan hukum internasional dalam hukum nasionalnya. Hal ini berakibat dua perangkat hukum ini mempunyai hubungan yang hirarkis. 2. Paham ini dalam teori monisme disebut sebagai paham monisme dengan primat hukum nasional. . Paham lain beranggapan hukum internasional lebih tinggi dari hukum nasional. Ada pihak yang menganggap hukum nasional lebih utama dari hukum internasional. Paham ini disebut dengan paham monisme dengan primat hukum internasional. Mengenai hirarki dalam teori monisme ini melahirkan dua pendapat yang berbeda dalam menentukan hukum mana yang lebih utama antara hukum nasional dan hukum internasional. paham ini beranggapan bahwa hukum nasional bersumber dari hukum internasional.[10] Menurut paham ini hukum nasional tunduk pada hukum internasional yang pada hakikatnya berkekuatan mengikat berdasarkan pada pendelegasian wewenang dari hukum internasional.[9] Monisme dengan primat hukum internasional.[7] Dengan demikian hukum nasional dan hukum internasional merupakan dua bagian dalam satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia. dasar hukum internasional dapat mengatur hubungan antar negara terletak pada wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional yang berasal dari kewenangan yang diberikan oleh konstitusi masing-masing negara.B. hukum internasional merupakan kepanjangan tangan atau lanjutan dari hukum nasional atau dapat dikatakan bahwa hukum internasional hanya sebagai hukum nasional untuk urusan luar negeri. Hal ini dimungkinkan dalam teori monisme. Monisme dengan primat hukum nasional. tidak adanya suatu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara. Pada kenyataannya kedua teori ini dipakai oleh negara-negara dalam menentukan keberlakuan dari hukum internasional di negara-negara.

Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Wina) 1969. termasuk organisasi internasional dan negara-negara.[11] Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal. hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan untuk menetapkan hukum. yang pada saat ini tercantum dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 1945. Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920. dengan demikian hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan dihadapannya adalah: 1. Menurut sumber tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum internasional. Pasal 7.III.[12] Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk mengakibatkan hukum tertentu. tertanggal 18 Oktober 1907. karena tidak tercapainya minimum ratifikasi.[13] Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan sangat pesat. rinsip Hukum Umum. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 . Pada Konvensi Den Haag XII. Dengan demikian Pasal 38 Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan Kapal tidak pernah terbentuk. 3. 2. Perjanjian Internasional. Kebiasaan Internasional. yang mendirikan Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam Mahkamah Internasional Permanen. ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional. Perjanjian Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional. 4. yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan Piagam Mahkamah Internasional.

covenant. menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan perjanjian internasional. protokol.[16] Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua tahap. Selanjutnya apa yang menjadi ukuran suatu perjanjian mana yang termasuk golongan yang penting. proses penerimaan . Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional. kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing.[17] Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). deklarasi. dan lain-lain. accord.[15] Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan. modus vivendi. perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang cepat. sehingga memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan perjanjian mana yang tidak di Indonesia. Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda dengan perjanjian internasional. Hal ini biasanya berdasarkan alasan adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara. 3. piagam (statute). Sedangkan golongan kedua lebih sederhana. yaitu perundingan dan penandatanganan. Dalam perundingan multilateral. sebagai berikut: 1. Proses pembentukan Perjanjian Internasional. konvensi (convention). Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. charter. pakta (pact).[14] Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty). Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalahmasalah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. penandatanganan dan ratifikasi. 2. Dalam perundingan bilateral.Januari 1980. Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional. 4. Dalam Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga diratifikasi menjadi hukum nasional. arrangement.

penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak. Untuk perjanjian multilateral.(acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. Pengesahan Perjanjian Internasional di Indonesia Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara lain. . Tetapi dalam prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian internasional. Oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan undang-undang. organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara dengan subjek hukum internasional lainnya. IV. Penandatanganan : merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. Sebelum adanya Undang-Undang No. tertanggal 22 Agustus 1960. kewenangan untuk membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945. menyatakan bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk membuat perjanjian internasional dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. dan telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan perjanjian internasional selama bertahun-tahun. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. tergantung dari materi yang diatur dalam perjanjian internasional. 2826/HK/1960. 2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal 11 UUD 1945 tersebut. Pasal 11 UUD 1945 ini memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi hukum di Indonesia. Untuk itu melalui Surat Presiden No.[18] Pengaturan tentang perjanjian internasional selama ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No.[19] Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang atau keputusan presiden. 5. yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/accession/acceptance/approval).

Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah: • • • • • • • • Ketentuan Umum Pembuatan Perjanjian Internasional Pengesahan Perjanjian Internasional Pemberlakuan Perjanjian Internasional Penyimpanan Perjanjian Internasional Pengakhiran Perjanjian Internasional Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup[20]

Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional; 2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani naskah perjanjian; 3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan (approval) yaitu pernyataan menerima atau menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan perjanjian internasional tersebut; 4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya self-executing (langsung berlaku pada saat penandatanganan). Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian internasional memerlukan pengesahan untuk dapat mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan. Seseorang yang mewakili pemerintah dengan tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).[21] Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah Presiden dan Menteri. Tetapi penandatanganan suatu perjanjian internasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada

dalam lingkup kewenangan suatu lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa memerlukan surat kuasa. Pengesahan perjanjian internasional oleh pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh perjanjian interansional tersebut. yang Pengesahan disepakati suatu oleh perjanjian para internasional Perjanjian dilakukan berdasarkan ketetapan pihak.

internasional yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam undang-undang.[22] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang atau keputusan Presiden.[23] Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan DPR.[24] Pengesahan dengan keputusan Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.[25] Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: • • • • • • masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara; kedaulatan atau hak berdaulat negara; hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pembentukan kaidah hukum baru; pinjaman dan/atau hibah luar negeri.[26]

Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan nasional, perjanjian internasional tersebut dapat dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun 2000. Indonesia sebagai negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24 tahun 2000, dinyatakan bahwa: ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang

hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui undang-undang dan keputusan presiden. Undang-undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih spesifik. Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional seperti ini dapat lansung berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang disepakati dalam perjanjian oleh para pihak. Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah perjanjian yang materinya mengatur secara teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya, pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. *** Catatan: Tulisan ini merupakan resume dari salah satu hasil penelitian yang dibuat penulis bersama tim lainnya dalam "Pengujian Undang-undang yang Mensahkan Perjanjian Internasional".

. [8] Op. Jakarta 2003. yang mempengaruhi teori Objektivis ini. hal 29 [13] Op.. hal 64. cit. Pengantar Hukum Internasional.Endnotes: [1] Teori-teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional itu pasa kehendak negara ini merupakan pencerminan dari teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai pemikiran ilmu hukum di Eropa pada abad ke 19. Butterworths. [2] Teori ini menghendaki adanya suatu norma hukum yang merupakan dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional. USA. Bandung 2003. 11th ed. Aliran ini pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia. Para pemuka aliran ini adalah Triepel dan Anziloti. hal 56 [4] I A Shearer. Alumi. Akhir dari puncak kaidah hukum terdapat kaidah dasar (Grundnorm) yang tidak dapat lagi dikembalikan pada suatu kaidah yang lebih tinggi. [6] Loc. hal 57-56. hal 62. Kelsen dianggap sebagai bapak dari mazhab Wina. hal 114 [12] Shearer. hal 65.. Kelsen dan Verdross) [11] Ibid. cit. hal 117 . Pengantar Hukum Internasional. [7] Ibid. cit. [5] Mochtar Kusumaatmadja. Paham ini dikembangkan oleh mazhab Wina (Kunz. hal 61 [9] Ibid [10] Ibid. 1984. [3] Mochtar Kusumaatmadja. Alumni. Starke’s International Law.

[21] Ibid. Pasal 9 [24] Ibid. hal 119 [16] Ibid [17] Ibid [18] Surat Presiden No. cit. Pasal 11 [26] Ibid. [19] Loc. Pasal 10 [25] Ibid. tanggal 22 Agustus 1960. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 2826/HK/1960. [20] Indonesia (a). [22] Ibid.[14] Vienna Convention on the Law of Treaties. Pasal 10 . Lihat: Catatan Kaki No. 5. Pasal 8 [23] Ibid. Undang-undang No. cit.. Pasal 7. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185. Vienna 1969 [15] Op.