P. 1
Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta

Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta

|Views: 31|Likes:
Published by Emak Surti

More info:

Published by: Emak Surti on Dec 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2011

pdf

text

original

“Mein Name Ist Aisha”

Judul Novel Pengarang Penerbit XI (Revisi) Kota Tempat Terbit Tahun Terbit Tebal Harga : Jakarta : 2006 : 419 Halaman : Rp 150.000,00 : Ayat Ayat Cinta : Habiburrahman El Shirazy : Republika dan Pesantren Basmala Indonesia, cetakan

Menjadi seorang santri salaf metropolis dan musafir yang haus akan ilmu, apalagi di negeri para nabi menjadi sesuatu yang diimpi-impikan oleh setiap muslim yang taat kepada Tuhannya.Begitulah yang terjadi pada Fahri Abdullah. Ketika cinta mulai semerbak dan menghiasi kepribadiannya sebagai seorang mahasiswa yang menenggelamkan dirinya dalam lautan ilmu tiada bertepi serta hidayah Allah yang tiada terkira, ia seakan tak sadar dengan hadirnya tiga sosok gadis belia yang amat dan sangat konsisten terhadap syariat, budaya dan aturan serta kerelaan berkorban. Tiga sosok yang “memperebutkan” dirinya namun tetap dalam sentuhan dan cahaya Islam. Halaman pertama dibuka dengan penceritaan suasana Mesir di musim panas dengan suhu 41 derajat. Al Azhar University sebagai universitas tertua di dunia serta tempat – tempat yang biasa dilalui mahasiswa Al Azhar dalam kesehariaannya menjadi setting dalam karya fenomenal ini. Menurut pemerhati sastra Hadi Susanto dalam kata pengantarnya, novel ini bukan hanya novel islami tapi kehalusan penulis dalam menuliskan suasana alam Mesir serta kemampuannya menyisipkan pesan – pesan moral dalam ceritanya membuat novel ini mendapat julukan novel pembangun jiwa, novel politik, novel budaya, novel politik, novel etika, novel bahasa, dan novel dakwah (hlm.2).

aku tidak tahu. begitu. Dalam diri Maria tersimpan kekaguman terhadap Islam dan Al Quran sebagai kitab sucinya. untuk talaqqi . 15 ). Aku salut atas ketegasanmu menjaga apa yang kau yakini ( hlm. Maria hafal Surah Al – Maidah dan Surah Maryam. Dari sini masuklah tokoh utama bernama Fahri. ujung utara Cairo. Pernah ketika tetangganya Noura – gadis belia yang juga mahasiswi Al Azhar – dizalimi oleh ayahnya Bahadur. Kalau tahu.belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama – pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. 133 ). “Dengan tekad bulat aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar ash – Shiddiq yang terletak di Shubra El – Khaima. Ia punya lesung pipi yang nampak ketika tersenyum. Fahri menolak dengan kehalusan dan kearifan akhlaknya. Selain taat. TENGAH HARI INI.Halaman pertama dibuka dengan suasana kota Cairo yang sangat panas. Kemudian Maria atau Maryam masuk melalui keseharian Fahri. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung – gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik ( hlm. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah – membaca Al Quran dengan riwayat tujuh imam – dan ushul tafsir – ilmu tafsir paling pokok –“ ( hlm. Matahari berpijar di tengah petala langit. 16 ). Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat – jilat bumi. 24 ). Seorang Kristen Koptik yang sangat taat dan cukup aneh bagi Fahri. Selain itu ketika Maria lupa dan mengajak Fahri untuk ikut berdansa dengannya. aku tidak mungkin menawarkan hal ini kepadamu. Tanah dan pasir seakan menguapkan bau neraka. Lalu simaklah sahutan Maria setelahnya “ Oh. Maria adalah gadis yang sangat toleran akan perbedaan terutama masalah aqidah. “ Aku bangga namaku diabadikan dalam Al Quran “ kata Maria ( hlm. Maria bersedia menampung Noura sementara di flatnya dan mengizinkannya untuk shalat. Seorang santri salaf metropolis dan musafir yang haus akan ilmu. . Maaf. Fahri menjelaskan tentang larangan Al Quran dan Hadits bersentuhan dengan perempuan kecuali dia istri atau mahram. kota Cairo seakan membara.

mereka kan memperlakukan kita seumpama raja. Mereka mudah menerima kebenaran dari siapa saja ( hlm. “Danke. Sepertinya ada sesuatu dalam diri Fahri yang membuat Aisha terkesima setelah pembelaan Fahri terhadap orang – orang Amerika karena cacian orang Mesir di dalam Metro. Mereka terkadang keras tapi jika sudah jinak dan luluh mereka bisa melakukan kebaikan seperti malaikat. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jerman. Posisinya sebagai ketua umum Wihdah – organisasi mahasiswi Indonesia paling bergengsi di . Aisha adalah sosok wanita bercadar asal Turki dengan akhlak yang murni dan konsisten terhadap apa yang ia yakini sebagai gadis sholehah. Ayahnya memiliki pondok pesantren yang membina ratusan santri dan santriwati dari seluruh penjuru nusantara. auf widersehen ! kata Aisha dengan harapan suatu saat akan bertemu dengan Fahri ( hlm. wait! Please. Ketika orang Mesir tersentuh hatinya dan sadar akan kesalahannya telah melanggar aturan Al Quran dan Hadits seperti dengan mencaci maki serta melaknat orang Amerika tersebut. Ia adalah anak perempuan seorang Kiayi di Jawa. 56 ). “ Mein Name Ist Aisha “ sambil menyerahkan kartu nama dan menyodorkan buku notes kecil dan pulpen dengan maksud agar Fahri menuliskan nama dan alamat serta nomor HPnya di kertas tersebut. 51 ). “Mom. Selanjutnya kejadian di dalam Metro menjadi first meeting antara Fahri dengan Aisha yang kelak menjadi istrinya. sit down here !” kata Aisha yang mempersilahkan Nenek Bule duduk di tempatnya ketika Nenek itu hamper saja jatuh menggelosor di lantai Metro karena sudah tidak tahan berdiri. Tak ada dendam di belakang yang diingat sampai tujuh keturunan seperti orang Jawa dan Indonesia pada umumnya.Kemahiran Kang Abik – panggilan akrab sang pengarang – membenturkan budaya Indonesia dengan budaya Mesir melalui percekcokan tajam antara orang Mesir dengan orang Amerika bersama Fahri di dalam Metro. Ia juga toleran terhadap perbedaan. Di sisi lain Nurul Azkiya yang biasa dipanggil Nurul adalah gadis belia asal Indonesia yang sholehah dan rendah hati serta teguh dalam menjaga apa yang ia yakini.

Cerita berlanjut dengan penangkapan Fahri atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura – gadis yang pernah diselamatkannya bersama Maria dari amukan seorang ayah yang kejam -.tidak membuat dirinya segan untuk menyempatkan waktunya mengajar anak – anak membaca Al Quran ( hlm. khususnya masyarakat Jawa. disiplin waktu. Dapat menjadi pelajaran bagi siapapun yang sedang dalam perencanaan menikahi seseorang. 287 ). Fahri menerima lamaran dari Aisha melalui Syaikh Utsman yang terkenal sangat sholeh dan amanah. Bukan harta yang membuat Fahri istimewa di mata mereka tetapi pribadi yang jujur dan sholeh. Simaklah tanggapan Nurul dalam sebuah bulletin Terobosan Indonesia di Cairo “ Pernikahan Fahri (Indonesia) dengan Aisha (Turki berdarah Palestina) menunjukkan universalitas Islam. Sebelum dia menikah dengan Fahri dia pernah banyak bertanya padaku tentang budaya Indonesia.Mesir. Fahri terancam hukuman gantung. Lalu dengan menarik. 104 ). Namun ayat – ayat cinta yang diutarakan Fahri dalam balasan surat untuk Nurul kembali menenangkan hatinya. Maka jadilah Fahri dan Aisha sepasang sejoli yang memadu kasih di malam zafaf – malam pertama -. dengan sunnah dan ajaran Rasulullah SAW. Begitulah agama memaparkannya. Fahri mendapat siksaan . Seseorang yang sholeh tentu belum dianggap sholeh dan beriman di sisi Allah SWT sebelum ia diuji. da’i yang taat. Aku tahu siapa Aisha. pelajar yang tekun. serta akhlak yang mulia semuanya menjadi daya tarik tersendiri bagi ketiga gadis tersebut. Kang Abik meramu cerita dengan bakat yang luar biasa. Bayangkanlah bagaimana hati seorang Nurul yang hancur disertai rintihan airmata di pipinya. Selamat buat Fahri yang berhasil menyunting muslimah Turki yang sholehah dan jelita. Dalam penjara bawah tanah.”( hlm. Sosok Fahri teramat sangat istimewa di mata ketiga gadis belia tersebut. malam terindah dan paling romantis dalam hidupnya. Dengan kemantapan hati Aisha dan Fahri siap menjalani lika-liku bahtera rumah tangga.

Berkat kesaksian Maria dalam persidangan dan saksi – saksi yang Maria tunjukkan maka Fahri divonis bebas oleh hakim. Sangat mudah bagi Tuhan untuk menghapus duka dan kesedihan hamba – hambaNya. menikahlah dengan Maria. “Aku merasa keagungan Tuhan di seluruh jiwa.yang luar biasa. Aku ikhlas" ( hlm. Sangat menarik.”(hlm. Aku merasa Dia tiada pernah meninggalkan diriku dalam segala cuaca dan keadaan.yang sedang dalam kandungan.dan kelangsungan hidup anaknya – anak Fahri . 390) .sebagai saksi mata dalam kejadian yang menimpanya . Di tengah penderitaannya sebuah keputusan yang harus ia ambil dengan tegas demi kelangsungan hidup anaknya dan Maria yang sedang sekarat yang kelak akan menjadi saksi di persidangan. secara tak sengaja ketika Fahri berdialog dengan Alicia – seorang wartawan bule yang meliput berita tentang anggapan orang barat terhadap Islam -. Dalam keyakinan yang ia jaga kuat dan telah mengakar dalam jiwanya bahwa Allah tidak akan membiarkan hambanya sia – sia dalam cobaan dan penderitaan yang bisa ia lalui dengan sabar dan tawakkal. Simaklah kata – kata Aisha sebagai berikut “Fahri. Di Negeri Mesir ada banyak ulama – ulama yang mengalami nasib tragis di tangan para algojo penjara. Fahri pernah menjawab beberapa pertanyaan dari Alicia tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Sungguh Aisha adalah seorang istri idaman bagi setiap pemuda di dunia yang merelakan suaminya demi kesembuhan Maria . Dan ternyata hal itu dapat menuntunnya menemukan cahaya Tuhan sehingga ia sekarang menjadi seorang muslimah. 376 ). Hal ini sempat membuat hatinya ciut. “Dengan menikahi Maria maka peluang untuk sembuh dan menjadi saksi di persidangan nanti akan semakin besar” begitu kata dokter yang merawat Maria. Kisah pengorbanan dari seorang istri yang Sholehah.

. Selingan bahasa Inggris dan Jerman seringkali hadir dalam dialog antara tokohnya. catatan – catatan kaki yang diberikan sangat membantu pembaca. Pantaslah novel ini dijuluki sebagai novel pembangun jiwa. Kita seperti melihat mahattah atau stasiun – stasiun di sana. bahkan kita seolah – olah menjadi Fahri dalam novel ini. “ Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah Fadkhulii fii ‘ibadii wadkhulii jannatii ” – Hai jiwa yang tenang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai.benar hadir dalam jiwa Maria yang sedang “koma”. Masuklah ke dalam SurgaKu –( hlm. Dengan ini. Novel ini sangat sarat dengan hikmah. “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu” kata Maria yang telah memeluk cahaya Islam sambil menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir. Novel ini memperlihatkan perkembangan antara satu bagian dengan bagian yang lain terlihat wajar dan masuk akal serta harmonis.Akhir yang sangat menarik dan menyentuh relung jiwa yang terdalam. Ungkapan – ungkapan dalam bahasa Arab pasaran yang digunakan sana – sini berhasil membawa pembaca ke setting novel. Keajaiban ayat – ayat cinta benar . Warna daerah terbangun dengan baik. Maria terus melantunkan ayat – ayat cinta itu sambil menangis dalam alam bawah sadarnya meminta diajari kunci surga oleh Bunda Maryam. Humor –humor yang di gunakan orang – orang Mesir. Kita seperti melihat langsung Mesir itu dalam suasana panas 41 derajatnya. Gambaran rumah -rumah-nya. Dan banyak lagi yang lainnya. Kang Abik cukup memberikan detail dalam setiap penceritaannya. Yang membuat novel ini luar biasa adalah Kang Abik berhasil menjadikan tokoh Fahri hidup. 402 ). Sambil terisak Aisha melantunkan ayat. Budaya masyarakat-nya. Suasana yang dibangun juga diperkental dengan digunakannya bahasa Arab fusha (formal) maupun ‘amiyah (informal) hampir dalam setiap paragrafnya. Maka masuklah ke dalam golonngan hamba – hambaKu.

tempat lainnya yang disebutkan dalam novel. Aku tidak teman kuliahnya” yang seharusnya “bukan”. Terutama bagi para pemuda – pemudi yang berencana untuk menikah.Menilik lebih jauh. Kami sarankan kepada seluruh masyarakat dunia agar membaca novel fenomenal ini. Cairo. mungkin ada baiknya jika Kang Abik mencantumkan sebuah peta Mesir atau peta khusus kota Cairo sehingga pembaca lebih bisa menyelami di manakah Nasr City. dan kota – kota serta tempat . DI SUSUN OLEH KELOMPOK IV DZUL IKRAM FIRMANSYAH NASRUDDIN . Pada perwajahan novel terdapat kekeliruan dan kesalahan cetak pada halaman 42 dan 45 yakni pada kalimat “Kata ‘friend’ selalu mereka ucapan” yang seharusnya “ucapkan” dan pada kalimat “Tidak.Maydan Husein. Dan petiklah hikmah nan indah dan kehalusan bahasa dari seorang Habiburrahman El Shirazy.

ANDI DIAN TENRIGANGKA NURQAIDAH MUSTAMIN SRI RAHAYU SURTI DWI HANDAYANI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 PAREPARE TAHUN AJARAN 2007 / 2008 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->