P. 1
Bab i Akidah Islam Tentang Allah

Bab i Akidah Islam Tentang Allah

|Views: 262|Likes:
Published by Ibnu So'im

More info:

Published by: Ibnu So'im on Dec 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2014

pdf

text

original

BAB I PEMBAHASAN

A. BERIMAN KEPADA ALLAH Pokok dari segala pokok akidah adalah beriman kepada Allah SWT. Yang berpusat pada pengakuan terhadap eksistensi dan kemahaesaan-Nya. Keimanan kepada Allah ini merupakan keimanan yang menduduki peringkat pertama. Pengakuan terhadap kemahaesaan itu, Esa dalam segala-galanya, dan Esa dalam Dzat-Nya. Artinya tidak ada persamaannya dalam seluruh zat yang kita kenal dalam ilmu fisika. Dia maha Esa dalam sifat-sifatnya. Artinya hanya Allah sajalah yang wajib wujud, sedangkan yang lainnya hanya mumkinun wujud. Oleh karena itu, kalimat pengakuan islam adalah La Illaha Illallah (tiada tuhan selain Allah) pengetahuan tentang keesaan Allah itu disebut ilmu tauhid. Mempelajari ilmu tauhid hukumnya wajib bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah tentang perintah kepada Nabi Muhammad SAW. Dan ummatnya bertauhid dalam:

         





     
Artinya: “Katakanlah Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya, segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S Al-Ikhlas :1-4)

B. METODE PEMBUKTIAN ADANYA ALLAH

1

Untuk membuktikan adanya Allah, Al-Qur’an menunjukan suatu metode yakni dengan menyelidiki hakikat kejadian manusia dan alam sekitar . (Q.S Ali Imran:190-191, Q.S Al-A’raf : 185, Q.S Al-Anbiya’:22 dan masih banyak lagi ayat yang lainnya). Dalam membuktikan wujud Allah, Ibnu Rasyd seorang Filosof muslim, memberikan dua cara yaitu Pertama, dalil al-inayah, intinya bahwa sesungguhnya kesempurnaan struktur susunan alam semesta ini menunjukkan adanya suatu tujuan tertentu pada alam. Kedua, dalil ikhtira’ intinya bahwa yang ada (maujud) yang kita lihat adalah makhluk (dijadikan), terutama pada makhluk hidup, manusia sangat lemah untuk menciptakan walaupun hanya seekor binatang kecil.1 Dari keterangan diatas, dapat ditarik kesimpulan tentang bukti-bukti adanya Allah SWT: 1. Karena hakikat manusia itu adalah makhluk bertuhan Pada hakikatnya, manusia membutuhkan Dzat yang Maha Kuasa sebagai tempat berlindung. Allah SWT berfirman: (Q.S Yunus: 12)





  

                

 

  

 
Artinya:

   

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang Telah
1

Ibid, hlm. 71

2

menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus: 12). 2. Adanya bukti dari ayat-ayat Al-Qur’an Didalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menyebutkan keberadaan Allah. Karena merupakan kitab yang sumber kebenarannya mutlak, Al-Qur’an wajib kita percayai. (Q.S Al-Baqoroh:163)

            
Artinya:

              

 

 

                  
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Baqoroh:163) 3. Terjadinya Alam Semesta Keberadaan alam semesta ini membuktikan bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat tentang adanya Tuhan yang telah menciptakan semuanya. Mana mungkin ada alam semesta ini tanpa adanya penciptanya. Allah berfirman (Q.S Ibrahim:32)

  

    

  

                                           

        Artinya: “Allah-lah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, Kemudian dia mengeluarkan    



3

dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia Telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (Q.S Ibrahim:32) 4. Adanya kejadian manusia Manusia dengan segala kelebihan dan keunikannya, tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Manusia pasti diciptakan oleh suatu Dzat yang Maha Sempurna. Siapakah ia? Pasti Allah jawabanya. Manusia diciptakan Allah dari bahan yang sederhana dan rendah nilainya, yakni unsur tanah. Namun, kemudian manusia itu menjadi makhluk yang terbaik di antara sekalian makhluk lannya. (Q.S Al-Mukminin: 12-14)

                            

      

    
Artinya:





4

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S Al-Mukminin: 12-14) 5. Adanya kitab Al-Qur’an Al-Qur’an, sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak ada yang mampu menandinginya, baik dari segi sastra, bahasa, apalagi isi kandungannya. Ini membuktikan bahwa ada Dzat yang Maha Besar dan Maha Sempurna yang telah mewahyukan Al-Qur’an. Kita ketahui Al-Qur’an ini diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang tidak dapat membaca dan menulis (ummi). Melihat fakta-fakta tersebut, yakinlah bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah . dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surat (Q.S. Al-Hijr: 9)





 

  
Artinya



“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya” Lima landasan pokok tersebut mampu membuktikan bahwa Allah itu benarbenar wujud (ada). Disamping dalil-dalil tersebut, para pakar mengemukakan dalil lain yang bias membuktikan adanya Allah. Dalil yang dimaksud adalah dalil Aqli (rasional) yang terbagi kedalam dalil kosmologis, dalil teologis, dalil ontologism, dan dalil moral. 1. Dalil Kosmologis

5

Dalil Kosmologis atau dalil penciptaan merupakan pembuktian paling tua dan sederhana tentang eksistensi Allah. Intinya adalah bahwa segala sesuatu yang ada (wujud) itu pasti ada yang menciptakan sebab seluruh kejadian dan perwujudan yang ada di alam semesta ini, selamanya, bergantung pada adanya perwujudan yang lain. 2. Dalil Teologis Dalil ini merupakan dalil yang amat popular, dan ia merupakan penerapan dalil kosmologis dalam bentuknya yang lain. Inti dalil ini adalah bahwa segala perwujudan tersusun dalam system yang amat teratur dan setiap benda yang ada di alam semesta ini memiliki tujuan-tujuan tertentu. 3. Dalil Ontologis Dalil ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Anselm (1033-1109) yang kemudian dipertajam oleh Descartes pada pertengahan abad modern ini. Inti dalil ini adalah bahwa manusia memiliki konsep tentang sesuatu yang sempurna. 4. Dalil Moral Inti dalil ini adalah bahwa dikalangan umat manusia di dunia ini berlaku nilai-nilai moral, seperti kebenaran, kebahagiaan dan keadilan. Pengalaman sejarah umat manusia memperlihatkan bahwa bahwa banyak orang yang membela suatu prinsip yang dianggapnya benar sekalipun hal itu bertentangan dengan pandangan orang banyak. Untuk apa orang-orang itu memperjuangkan kebenaran dan keadilan kalau di sekitarnya banyak orang yang melanggar keadilan dan kebenaran? Sesungguhnya disamping dalil-dalil yang telah dikemukakan disini, masih ada dalil-dalil yang lain yang membuktikan eksistensi Allah. Akan tetapi, cukuplah dalil-dalil di atas yang dijadikan pegangan dalam upaya kita membuktikan eksistensi Allah SWT.2 C. SIFAT-SIFAT ALLAH

2

Muhammad,Op,Cit, hlm. 28-29

6

Perlu kita tegaskan bahwa yang berhak menetapkan sifat-sifat Allah SWT. Hanyalah Allah sendiri yang tertuang dalam ayat-ayat Al-Qur’an . Dari ayat-ayat itu, kita ketahui bagaimana sifat-sifat Allah tersebut. Di samping sifat Maha Esa, Al-Quran juga menyebutkan sifat-sifat lain, semisal Ar-Rahman, (maha pengasih), Ar-Rahim (maha mengetahui), As-Sami’ (maha mendengar), Al-Alim (maha mengetahui0, dan sebagainya. Dari sifat-sifat tersebut, ada sementara ulama yang kemudian membuat kesimpulan adanya sifat-sifanya yang dikemukakan dalam Al-Qur’an, sehingga muncullah apa yang selama ini kita kenal dengan sifat dua puluh, yang bias disimpulkan lebih sederhana lagi menjadi sifat tiga belas, dan akhirnya dapat diringkaskan pula menjadi satu, yakni Sifat Maha Sempurna (Al-Kamal).3

1.

Sifat Wajib Allah

Maksud sifat wajib Allah adalah sifat yang harus ada pada Dzat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya. Sifat-sifat wajib Allah tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya, maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal (wajib aqli) dan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul (wajib Naqli). a. Sifat Wujud (artinya ada) Maksudnya, adanya Allah itu bukan karena ada yang menciptakan, tetapi karena ada dengan sendirinya. Firman Allah SWT. (Q.S. Al-Hadid: 4)





 





            

    
3





Ibid,hlm 32

7



  



            
Artinya : ”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy[1453] dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [1454]. dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” . (Q.S. Al-Hadid: 4) b. Sifat Qidam (artinya dahulu) Allah bersifat Qidam (terdahulu), maksudnya bahwa Allah terdahulu tanpa didahului dengan sesuatu. Jika Allah itu ada permulaan-Nya, berarti ada yang menciptakannya, dan jika Allah ada yang menciptakan, berarti Allah huduts (baharu), sama dengan makhluk. Hal ini tidak mungkin, sebagaimana ditegaskan dalam Firman-Nya: (Q.S. Al-Hadid: 3)







          
Artinya: “Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin[1452]; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.” c. Baqa’ (artinya kekal)

8

Maksudnya, Allah itu kekal tidak berubah-ubah sebagaimana makhluk-Nya. Yang selalu mengalami proses perubahan dan kehancuran. Allah SWT berfirman dalam (Al-Qur’an Surat Al-Qashash: 88)









         

      

Artinya: “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS Al-Qashash: 88) d. Mukholafatu lil Hawaditsi (berbeda dengan makhluknya) Maksudnya, Allah berbeda dengan semua Makhluk-Nya. Dzat maupun sifatsifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat makhluknya, kalau sama dengan makhluk, ia dibuat oleh Dzat lain. Hal ini tidaklah mungkin bagi Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT. (Q.S Al-Ikhlas:4)









 
Artinya: “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." e. Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri tanpa memerlukan orang lain) Maksudnya, adalah Allah tidak membutuhkan bantuan apapun dan dari siapapun. Sebab, kalau Allah membutuhkan yang lain, berarti dia memiliki sifat lemah, tidak sempurna, sedangkan sifat lemah itu bukan sifat Allah dan hal itu tidak mungkin bagi Allah. Berbeda dengan makhluk yang saling bergantung antara satu dan lainnya.

9

Adapun dalil naqli yang menunjukan bahwa Allah tidak memerlukan apapun, yaitu firman Allah SWT. (Q.S Al-Ankabut:6)







      

 
Artinya: Sesungguhnya Dan Allah barangsiapa benar-benar yang berjihad, Kaya Maka (Tidak Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Maha memerlukan sesuatu) dari semesta alam. . (Q.S Al-Ankabut:6) f. Wahdaniah (tunggal) Maksudnya, adalah Allah itu hanya satu-satunya (tunggal). Tidak mungkin ada dua Tuhan, sebab kalau Allah tidak maha Esa, akan timbul kehancuran alam semerta ini, karena yang satu bertujuan ke kiri dan yang lainnya membawa ke kanan. Masing-masing ingin lebih berkuasa dari yang lain. Banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah Maha Esa, diantaranya sebagai berikut: (Q.S An-Nahl: 51)







   

   



  

Artinya: “Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; Sesungguhnya dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". (Q.S An-Nahl: 51) g. Qudrat (maha kuasa) Maksudnya, Allah itu kuasa atas segalanya. Kekuasaan Allah itu tidak ada yang menyamainya. Sebab kalau tidak berkuasa berarti dia lamah. Kalau dia

10

lemah, tentulah semua makhluk tidak ada karena Allah tidak kuasa untuk menciptakannya, dan ini tidak mungkjn bagi Allah. Allah Berfirman (Q.S AlBaqoroh: 20)

  

 

 



                   



  

Artinya: “Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, dan niscaya dia melenyapkan Baqoroh: 20) h. Iradat (maha berkehendak) Maksudnya, bahwa Allah bebas berkehendak atau kemauan-Nya tanpa ada yang dapat memerintahkan dan menghalangi –Nya, segala sesuatu yang Allah ciptakan adalah atas kehendak-Nya, bukan karena terpaksa atau kebetulan. Adapun dalil naqli yang menunjukan bahwa Allah bersifat irodat, adalah (Q.S Al-Qashash: 68) pendengaran penglihatan mereka.

Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. “(Q.S Al-

11











            

  
Artinya: “ Berkatalah orang-orang yang Telah tetap hukuman atas mereka[1132]; "Ya Tuhan kami, mereka inilah orangorang yang kami sesatkan itu; kami Telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat[1133], kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (Q.S Al-Qashash: 68) i. Ilmu (mengetahui) Allah itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Ilmu Allah itu bersifat lengkap, menyeluruh, luas, dan mendalam. Segala sesuatu yang lahir maupun yang gaib tidak lepas dari pengetahuan-Nya. Allah berfirman (Q.S AlMujadalah:7)











  
Artinya: “ Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” j. Hayat (hidup) Allah itu Maha Hidup. Ia hidup sebagaiman Ia, tanpa didahului oleh tidak ada atau tidak hidup, dan hidupnya Allah itu tidak berkesudahan

12

k. Sama’ (mendengar) Maksudnya, adalah Allah itu Maha Mendengar , baik yang nyaring, samara, bahkan yang tidak terdengar sama sekali oleh telinga manusia. Allah tidak memerlukan alat pendengar seperti manusia. Dalil yang menegaskan bahwa Allah sama’ adalah firman Allah: (Q.S . An-Nisa’ :148)





 

 



         
Artinya: “Allah tidak menyukai Ucapan buruk[371], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[372]. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. l. Bashar (melihat) Maksudnya, adalah Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kecil maupun yang tersembunyi, tanpa bantuan alat penglihatan. Penglihatannya tidak ada batasnya. Teknologi canggihpun tidak ada yang mampu menandinginya. (Q.S Al-Maidah: 71)







 
Artinya: “Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” m. Kalam (berkata-kata atau berfirman) Maksudnya, adalah Allah itu tidak bisu karena bisu adalah sifat kekurangan. Allah berkomunikasi dengan hamba yang dikehendaki-Nya. Bicaranya atau firman-Nya berbeda dengan berbicaranya makhluk karena kalamnya Allah yang bersifat qadim, contohnya Al-Qur’an itu adalah kalam Allah yang Qadim

13

dan tertulis selalu dibaca manusia, sedangkan mashhaf Al-Quran itu adalah gambaran dari kalam Allah itu. Adapun dalil naqli yang menunjukan bahwa Allah bersifat Kalam, antara lain: (Q.S An-Nisa’: 164)







          

 
Artinya: “Dan (Kami Telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasulrasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung[381].” (Q.S An-Nisa’: 164) n. Qadiran artinya maha kuasa. Maksudnya adalah bahwa Allah adalah Dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu. o. Muridan, artinya maha berkehendak, maksudnya adalah bahwa Allah sesungguhnya adalah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. p. Aliman, Artinya maha mengetahui q. Hayyan, artinya maha hidup, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang maha hidup, hidup selamanya dan tidak akan mati r. Sami’an, artinya maha mendengar sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar s. Basiran, Artinya maha melihat. Sesungguhnay allah adalah dzat yang maha melihat. t. Mutakkaliman, artinya maha berkata-kata, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang maha berkata-kata atau berfirman.

14

Sifat wajib bagi Allah yang berjumlah 20 tersebut, dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: a. Sifat nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan diri Dzat Allah SWT. b. Sifat Salbiyah adalah sifat Allah yang menolak atau menafikan sifat-sifat yang tidak sesuai atau tidak layak bagi Allah SWT. Sifat-sifat tersebut adalah Al-qidamu, menafikan al huduutsu, al-ba’qou, menafikan al-fanau, al mukhaalafatu lil hawaditsi manafikan al mumaatsalatu lilhawaditsi, alqiyamu binafsihi menafikan al-ihtiyaju ilaa ghoirihii, dan alwahdaniyatu menafikan at-ta’adadu. c. Sifat ma’ani ialah sifat yang memastikan bahwa yang disifati itu memiliki sifat tersebut. Maksudnya, sifat-sifat wajib Allah dapat digambarkan oleh akal pikiran manusia serta dapat meyakinkan kepercayaan seseorang sebab dapat dibuktikan kebenarannya oleh panca indra manusia. d. Adapun sifat ma’nawiyyah ialah sifat yang berhubungan dengan sifat Ma’ani atau sebagai kelanjutan dari ketujuh sifat ma’ani, yaitu kaunuhu qodiran, kaunuhu nuridan, kaunuhu aaliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu sami’an, kaunuhu bashiran, kaunuhu mutakkaliman.4 2. Sifat Mustahil Allah

Yang dimaksud sifat mustahil Allah adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Allah. Sifat-sifat Mustahil Allah itu ada 20 juga yaitu sebagai berikut: a. Adam artinya tidak ada. Maksudnya, mustahil Allah itu tidak ada. b. Hudud, artinya bahuru atau permulaan, maksudnya Allah itu mustahil bersifat baru sebab yang baharu pasti akan berakhir. c. Fana’ artinya rusak, maksudnya, mustahil Allah itu bersifat Rusak d. Mumatsalatu Lil Hawadits, artinya menyerupai yang baru atau makhluk. Maksudnya, mustahil Allah itu serupa dengan makhluk. e. Ihtiyaju li Ghoirihi artinya membutuhkan sesuatu selain dirinya.
4

Abdullah Zakiy, Al-Kaaf dan Maman Abdul Djaliel, Mutiara Ilmu Tajwid, Pustaka Setia, Bandung, 1999, hlm. 103-104.

15

f. Ta’addud, artinya berbilang atau lebih dari satu, Mustahil Allah lebih dari satu Dia adalah Maha Kaya. g. Ajzun artinya lemah, mustahil Allah bersifat lemah sebab Dia Maha Kuasa. h. Karahah artinya terpaksa. Mustahil Allah itu terpaksa dalam perbuatanNya, sebab jika Allah itu terpaksa berarti Allah bukan Dzat yang berdiri sendiri. i. Jahlun artinya bodoh. Mustahil Allah bersifat bodoh. Jika Allah bodoh tidak mungkin Dia mampu menciptakan makhluk yang beragam ini. j. Maut artinya mati, mustahil Allah bersifat mati sebab mati menunjukan sifat kelemahan. k. Shamamun, artinya tuli. Mustahil Allah itu tuli, jika Dia tuli, pastilah Ia tidak mendengar ucapan doa dan puji syukur makhluk-Nya, dan tidak mendengar ucapan orang-orang yang durhaka. l. Umyun artinya buta. Mustahil Allah bersifat buta sebab Allah itu melihat semua pekerjaan makhluk-Nya untuk dipertanggungjawabkan kelak, m. Bukmun artinya bisu. Mustahil Allah bersifat bisu. n. Ajizan artinya maha lemah. Mustahil Allah bersifat lemah. o. Mukrahan artinya maha terpaksa. Mustahil Allah bersifat Terpaksa. p. Jahilan artinya maha bodoh, mustahil Allah bersifat Bodoh q. Mayyitan artinya maha mati, mustahil Allah bersifat demikian r. Ashamuma artinya maha tuli. Mustahil Allah bersifat tuli s. A’ma artinya maha Buta. Mustahil Allah bersifat buta t. Abkama artinya maha bisu. Mustahil Allah bersifat bisu.5 3. Sifat Jaiz Allah

Secara bahasa , jaiz berarti boleh. Yang dimaksud dengan sifat jaiz Allah ialah sifat yang boleh ada dan boleh tidak ada pada Allah. Sifat jaiz ini tidak menuntut pasti ada atau pasti tidak ada.

5

Zainuddin, Op, cit, hlm. 93-94

16

Sifat Jaiz Allah adalah Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu, artinya memperbuat sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuatnya. Maksudnya Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Kebebasan ada hikmah dan gunanya.6 D. ASMAUL HUSNA (NAMA-NAMA ALLAH YANG BAIK) Yang dimaksud dengan asma’ul husna adalah nama-nama Allah yang baik atau indah. Nama-nama itu bukan sekedar nama, namun dapat dijadikan jalan untuk bermakrifat kepada Allah dengan cara memahami baik-baik nama-nama itu.7 Sebagaimana firman Allah SWT. (Q.S. Al-A’Raf: 180).

   

       



 

Artinya: “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada –Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) namanama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. Al-A’Raf:
180). Adapun jumlah nama-nama baik Allah itu ada 99 nama. Nama-nama Allah yang 99 itu adalah: Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Qudus, As-Salam, Al-Mu’min, Al-Muhaimin, Al-Aziz, Al-Jabar, Al-Mufakabbir, Al-Kholiq, Al-Bari’, Al-Mushawwir, Al-Ghoffar, Al-Qohhar, Al-Qahhab, Ar-Razaq, Al-Fattah, Al-‘Alim, Al-Qobidh, Al-Basith, Al-Khafidh, Ar-Rafi’, Al-Mu’iz, Al-Mudzil, As6 7

Ibid, hlm. 94 Sayyid Sabiq, Akidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Diponegoro, Bandung 1978, hlm 38

17

Sami’ Al- Hakam, Al-Bashar,Al-Adl, Al-Latif, Al-Khabir, Al-Halim, Al-‘Azhim, Al-Ghaffur, Asy-Syukur, Al-‘Aliyy, Al-Kabir, Al-Hafizh, Al-Muqid, Al-Hasib, AlJalil, Al-Karim, Ar-Roqib, Al-Mujib, Al-Wasi’, Al-Hakim, Al-Wadud, AlMajid,Al-Ba’its, Asy-Shahid, Al-Haqq, Al-Wakil, Al-Qawariyy, Al-Matin, AlWaliyy, Hamid, Al-Muhshi, Al-Muhdi, Al-Mu’id, Al-Muhyi, Al-Mumit, Al-Hayy, Al-Qoyyum, Al-Qajid, Al-Majid, Al-Wahid, As-Shamad, Al-Qodir, Al-Muqiadir, Muqaddim, Al-Muakhir, Al-Awwal, Al-Akhir, Azh-Zhahir, Al-Bathin, Al-Wali, AlMuta’ali, Al-Barr, At-Tawwab, Al-Muntaqim, Al-Affuww, Ar-Ra’uf, Malikul Mulk, Dzul Jalalil Wal Ikhram, Al-Muqsith, Al-Jama’, Al-Ghaniyy, Al-Mughniy, Al-Mani’, Adh-Dharr, An-Nafi’, An-Nur, Al-Hadi, Al-Badri, Al-Warits, ArRasyid, Ash-Shabur.8

8

Sabiq op, cit, hlm. 40-48

18

BAB II KESIMPULAN

Bahwa Allah adalah Tuhan pencipta alam jagat raya ini, sudah jelas Allah itu tidak lemah, bodoh, dan lain-lain. Sifat wajib Allah yang wajib diketahui ada 20 sifat, Sifat Jaiz Allah adalah Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu, artinya memperbuat sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuatnya. Maksudnya Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Sedangkan Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik atau indah) Allah ada 99 yang sudah dijelaskan diatas.

19

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Zakiy Al-Kaaf dan Maman Abdul Djaliel, Mutiara Ilmu Tauhid, Pustaka Setia, Bandung. 1999. hlm 103-104 Zainudin, Op, cit, hlm. 78-90

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->