Agribisnis dan Dunia Pertanian Kita

Oleh Yayat Dinar N

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertanian kita dari waktu ke waktu tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Ini dipengaruhi oleh pola diregulasi kebijakan pemerintah yang cenderung menduakan sektor ini, di mana kebijakan-kebijakan yang ditetapkan sering kali tumpang tindih sehingga sangat menyulitkan dalam mengimplementasikan di lapangan yang akhirnya berakibat pada lambatnya perkembangan sektor ini. Dunia pertanian kita hingga saat ini tidak berkembang dan bahkan cenderung ditinggalkan oleh rakyat. Mandeknya sektor pertanian ini berakar pada terlalu berpihaknya pemerintah terhadap sektor industri sejak pertengahan tahun 1980-an. Pada dekade sebelumnya terjadi peningkatan yang luar biasa pada sektor pertanian. Pemerintah menganggap pembangunan pertanian dapat bergulir atau berjalan dengan sendirinya, asumsi ini membuat pemerintah mengacuhkan pertanian dalam strategi pembangunannya. Sebetulnya hal ini tidak terlepas dari paradigma pembangunan saat itu yang lebih menekankan pada industrialisasi. Pemerintah mencurahkan perhatiannya pada sektor industri, yang kemudian diterjemahkan kedalam berbagai kebijakan proteksi yang sistematis, di mana secara sadar atau tidak proteksi ini telah merapuhkan basis pertanian pada tingkat petani. Selain dari hal tersebut diatas, sebetulnya “fenomena” mengenai kemunduran dunia pertanian kita adalah, Pertama, petani menganggap sektor pertanian tidak lagi menjadi “primadona” dan tidak menjanjikan. Pendapatan atau penghasilan dari sektor pertanian tidak memadai, dimana harga jual sangat rendah sementara biaya produksi sangat tinggi. Sebetulnya hal ini terjadi karena kelemahan kebijakan pemerintah mulai dari penyediaan pupuk, pembelian gabah dan penerapan harga pembelian pemerintah (HPP), distribusi beras maupun pengelolaan agribisnis. Pada setiap lini baik dari hulu sampai hilar tidak berjalan sistematis sehingga banyak ketimpangan-ketimpangan dalam mengimplemetasikan kebijakan tersebut. Lingkaran inilah yang membuat sektor pertanian tidak menguntungkan secara ekonomi, karena menimbulkan ekonomi biaya tinggi dalam proses produksinya. Kedua, pemasaran produk (product of marketing) pertanian sangat terbatas, faktor utama dalam pertanian adalah pemasaran, karena saat ini pasar sangat terbatas dalam menerima produk hasil pertanian selain itu juga hanya produk-produk tertentu dari pertanian bisa diserap pasar. Kebanyakan petani kita tidak memahami konsep pemasaran produk, sehingga petani kesulitan dalam memasarkan produk-produk pertanian yang akhirnya membuat harga tidak stabil atau tidak menguntungkan. Ketiga, lahan pertanian semakin sempit, selama ini banyak lahan pertanian disulap menjadi lahan industri dan lahan perumahan (realestate). Hal ini disebabkan karena banyak petani yang menjual lahan pertaniannya karena menganggap pertanian sudah tidak lagi bisa menjadi “sandaran” hidup atau tidak lagi menjanjikan. Sehingga petani tergiur keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak yang terjadi setelah

penjualan tanah tersebut. Keempat, kurangnya “penelitian” (research) yang dilakukan terhadap pertanian maupun produk pertanian, baik oleh pemerintah maupun institusi-institusi terkait seperti lembagalembaga pendidikan tinggi sehingga pertanian berjalan monoton dan produk pertanian tidak bervariasi. Ini merupakan problematika mendasar dari pola kebijakan pemerintah terhadap dunia pertanian, dimana tidak adanya kebijakan pemerintah yang merangsang berkembangnya institusi atau lembaga-lembaga penelitian pertanian. Kelima, kurangnya dukungan “finansial” bagi dunia pertanian, selama ini bank sebagai pemegang otoritas keuangan baik bank pemerintah maupun swasta kurang sekali dalam mengucurkan kredit bagi usaha-usaha pertanian sehingga pertanian sulit untuk berkembang karena kesulitan finansial. Selama pihak perbankan masih belum sepenuhnya percaya terhadap dunia pertanian, maka dengan sendirinya dunia pertanian kita tidak berkembang. Faktor-faktor tersebut menjadi “fenomena” tersendiri dari dunia pertanian kita, selama ini pertanian dianggap sebagai “anak tiri” oleh pemerintah sehingga belum bisa berkembang dan maju. Pemerintah terlalu berpihak pada sektor industri, kebijakan pemerintah terhadap pertanian sejak tahun 1980-an cenderung terlalu distortif. Kebijakan-kebijakan inilah yang membuat sektor pertanian tidak berkembang. Untuk itulah diperlukan “diregulasi” kebijakan pemerintah yang “kondusif” dan “konklusif” untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas sektor pertanian. Pemerintah perlu melakukan integrasi sektor pertanian dalam kebijakan makro agar tidak berat sebelah mendukung sektor industri, selain itu juga pemerintah perlu menyediakan sarana dan prasarana (termasuk untuk penelitian). Subsidi tetap diperlukan namur bukan subsidi sektoral, melainkan subsidi kelompok miskin yang kebanyakan berada dipedesaan. Agribisnis Ruang lingkup “agribisnis” tidak terlepas dari sektor pertanian, karena agribisnis merupakan langkah “taktis” lanjutan usaha untuk menaikan atau mengembangkan nilai guna atau manfaat lebih dari hasil pertanian. Sektor agribisnis dalam ruang lingkup ekonomi masa kini mencakup berbagai macam usaha komersial, dengan menggunakan kombinasi “heterogen” dari tenaga kerja, bahan, modal dan teknologi. Selain itu juga agribisnis merupakan sektor perekonomian yang menghasilkan dan mendistribusikan masukan bagi para petani, dan memasarkan, memproses serta mendistribusikan produk usaha tani kepada pengguna atau konsumen. Sektor agribisnis merupakan lahan yang sangat “potensial” bagi pertumbuhan perekonomian nasional, karena sektor ini bisa menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari tingkat petani, produksi maupun tingkat pemasaran. Selama ini sektor agribisnis sangat terpinggirkan oleh sektor industri, karena dianggap sektor yang tidak “komersial” dan belum “produktif”. Jika kita lihat potensi sumber daya alam kita serta sumber daya manusia, sangat mungkin bagi kita untuk mengembangkan serta meningkatkan kualitas sektor agribisnis. Coba kita bayangkan berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan pada setiap lini yang menggerakkan sektor ini, mulai dari petani sebagai kegiatan hulu, pekerja sampai tenaga pemasaran produk. Hal inilah yang seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah untuk memajukan sektor

agribisnis. Peningkatan pendapatan ekonomi rakyat sangat mutlak dilakukan, karena hal ini menunjang kelangsungan hidup rakyat khususnya dan negara pada umumnya. Peningkatan ekonomi rakyat akan secara “linier” berpengaruh terhadap perekonomian nasional, ketika ekonomi rakyat kuat dan tinggi maka perekonomian negara akan sangat kuat, karena secara fundamental perekonomian negara ini didukung oleh perekonomian rakyat. Sudah sepantasnya saat ini pemerintah harus berpaling pada sektor agribisnis dan pertanian dalam meningkatkan pendapatan nasional disamping ekspor minyak bumi dan gas. Karena secara “kuantitatif” sumber daya alam sektor agribisnis sangat melimpah. Selain itu juga secara “kultural” basis ekonomi rakyat Indonesia adalah pertanian terutama dipedesaan, oleh karena itu arah pembangunan nasional kedepan haruslah berorientasi pada pembangunan sektor pertanian maupun sektor agribisnis yang lebih mandiri dan “kondusif”. Sehingga tercipta iklim yang konferhensif dan dinamis terhadap perkembangan pertanian dan sektor agribisnis masa depan. Memperkuat basis pertanian dan sektor agribisnis akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian rakyat yang selama ini terpinggirkan, yang akhirnya berimplikasi terhadap penguatan ekonomi secara nasional.n Penulis adalah Staf Nuri Lestari Foundation

2002 2 Peneliti pada Departemen Keuangan. pemerintah melalui Departemen Keuangan dalam memberikan insentif fiskal kepada KAPET benar-benar sesuai dengan tujuan pembentukan KAPET dan dalam rangka percepatan pembangunan KTI.Analisis Kebijakan Insentif Fiskal dan Non Fiskal Terhadap Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu di Kawasan Timur Indonesia1 Oleh: Agunan P. infrastruktur yang memadai. Badan Analisa Fiskal. jaminan keamanan berusaha dan memiliki pusat promosi sesuai dengan standar yang dibutuhkan investor dan dunia luar. Permasalahan Beberapa permasalahan pokok yang menjadi fokus policy paper ini yaitu: (i) Insentif fiskal apa saja yang perlu diberikan kepada KTI agar mencapai pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan? (ii) Insentif non fiskal apa saja yang perlu diberikan agar dapat menjamin perkembangan investasi di KTI?. Samosir2 Rekomendasi Kunci keberhasilan pembangunan di KTI tidak hanya tergantung dengan insentif fiskal. Pusat Statistik dan Penelitian Keuangan 1 . Perlu dilakukan studi atau kajian lanjutan untuk mengetahui dampak pemberian insentif fiskal yang selama ini telah diberikan kepada KAPET KTI dan tentang KTI berdasarkan kebutuhan serta potensi ekonomi daerah masing-masing. Sehingga. lokasi usaha/industri yang strategis. akan tetapi juga tergantung dari peranan pemerintah daerah setempat dalam memberikan insentif non fiskal. dan (iii) Apakah insentif fiskal lebih penting dibandingkan insentif non fiskal atau harus dilakukan bersamaan? Tujuan Merupakan ringkasan hasil pengamatan dalam keikusertaan di Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia Tahun 2001 . yaitu: penyediaan SDM yang berkualitas.

kota besar (ibukota propinsi) atau ibukota negara akan memiliki poin yang berbeda dengan daerah yang terpencil. unsur politis agar dihindarkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. dan (10) Security. (4) Kebijaksanaan procedures). Pemerintah daerah dan KAPET harus mempromosikan kepada investor beberapa keunggulan-keunggulan selain komoditi sebagai daya tarik investasi. (8) Corruption. Faktor lokasi ini akan menjadikan Kabupaten/Kota sebagai suatu kelebihan yang ditawarkan kepada Dengan pengusaha baik domestik maupun asing yang untuk memandang mencapai Kabupaten/Kota sebagai basis awal dalam pengembangan perusahannya.. (3) Hambatan tariff and trade. Lokasi yang strategis. kemudahan yang diperoleh investor . Sekali lagi. misalnya dekat dengan pelabuhan. Faktor lokasi akan berdampak terhadap keputusan investor yang akan menanamkan modalnya. Temuan Peranan pemerintah daerah sebagai kebijakan insentif non fiskal dalam menggerakkan ekonomi daerah masing-masing adalah sangat penting. (7) Foreign Exchange Problem. Government/Country risk. dan (iii) menentukan insentif fiskal lebih penting dibandingkan insentif non fiskal atau harus dilakukan bersamaan Metodologi Secara umum.Tujuan dari penulisan paper ini adalah: (i) mengidentifikasi insentif fiskal apa saja yang perlu diberikan kepada KTI agar mencapai pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan (ii) mengidentifikasi Insentif non fiskal apa saja yang perlu diberikan agar dapat menjamin perkembangan investasi di KTI. beberapa hal yang menjadi pertimbangan bagi suatu perusahaan terutama investor asing yang akan membangun pabriknya di luar negeri adalah sebagai berikut: (1) Biaya produksi yang lebih murah (competitive). pemerintah (5) High berkaitan Foreign dengan investasi (6) (investment Unstable Indebtedness. (9) Technological piranting. (2) Ekspansi produk ke pasar internasional dan lokal dalam mencapai skala ekonomi terpenuhi.

terutama dalam memperlancar lalu lintas barang dan jasa (sektor perdagangan regional). infrastruktur yang merupakan salah satu daya tarik untuk menarik investasi. diharapkan Pemda dan DPRD masing-masing daerah di KTI dapat memberikan rasa aman dan iklim yang kondusif untuk berinvestasi didaerah . Untuk mendukung berkembangnya industri. termasuk dalam rangka menopang pemasaran obyek-obyek wisata daerah. jaringan transportasi dan telekomunikasi. maupun kedekatan dengan pelabuhan internasional. Kabupaten/Kota yang memiliki lokasi strategis di KTI adalah pelabuhan samudera Bitung.Kabupaten/Kota. dan air bersih yang pada gilirannya dapat menunjang kelancaran proses produksi dan pemasaran produk di sekitar wilayah dan di luar KTI. Infrastruktur ini antara lain meliputi panjang jalan raya (atau sarana perhubungan lainnya). Salah satu aspek yang terpenting dalam mendorong terciptanya iklim invetasi yang kondusif adalah keamanan yang terkendali. ketersediaan listrik. sehingga dapat mengaktualisasikan potensi sumber daya daerah secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. telepon. Saat ini. Untuk itu pokok-pokok kebijaksanaan pembangunan daerah diarahkan pada pengembangan SDM. jembatan. Sektor perhubungan mempunyai peranan penting dalam menunjang keberhasilan sektor-sektor lainnya. Sulawesi Utara yang dapat dikembangkan sebagai pelabuhan internasional. Dengan berlakunya UU otonomi daerah. dan memperdayakan ekonomi rakyat. Sarana dan prasarana terdiri dari kondisi panjang jalan raya. maka diharapkan akan menjadi limpahan kunjungan usaha. kondisi semacam ini jelas akan mengurangi dan menghentikan minat investor untuk menanamkan modalnya dan pada gilirannya daerah tersebut mengalami kemandekan ekonomi dan penduduk setempat akan menjadi miskin akibat terhentinya aktivitas ekonomi. Pada saat ini konflik yang bernuansa SARA cenderung terjadi dibeberapa daerah di KTI. Pembangunan daerah di KTI dan KAPET adalah pembangunan masyarakat seutuhnya dan seluruhnya yang dilaksanakan di seluruh wilayah KTI untuk semua lapisan masyarakat serta dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat sebagai perwujudan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

masing-masing daerah nantinya perlu melakukan kegiatan promosi aktif baik ke dalam maupun ke luar negeri. dapat diinformasikan kepada dunia usaha internasional bahwa KTI adalah tempat berinvestasi yang baik. Melalui kegiatan promosi dapat diinformasikan kepada dunia usaha internasional bahwa daerah di KTI adalah tempat berinvestasi yang baik. Dalam rangka mempromosikan Kabupaten/Kota kepada dunia usaha. Agar tidak ketinggalan dengan negara atau daerah lain. pihak-pihak dunia internasional akan mendapatkan informasi secara langsung. Pusat Informasi dapat menerbitkan berbagai buku tentang informasi seperti misalnya "Kabupaten/Kota Report" yang menginformasikan kepada investor baik domestik maupun asing di KTI tentang perkembangan dunia usaha terakhir. khususnya investasi di daerah KTI. seminar. Kegiatan promosi luar negeri juga dapat dilakukan dengan menyediakan media informasi lainnya seperti brosur-brosur dalam berbagai bahasa (Investment Guidelines. Strategi pemasaran keluar (eksternal) dapat diarahkan pada proses menciptakan citra baik (image building) dan penciptaan peluang usaha. Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka memperkenalkan potensi yang dimilikinya kepada para calon investor adalah dengan mendirikan Pusat Promosi. Investment Opportunity). Melalui misi promosi ini. Pusat promosi inilah yang nantinya akan melakukan kegiatan misi promosi. Melalui kegiatan promosi investasi ini. diskusi tentang perkembangan pembangunan daerah KTI terbaru atau dapat pula dilakukan dengan membuka web site di internet yang menyediakan berbagai informasi tentang KTI.tersebut dan mengikutsertakan partisipasi keseluruhan elemen-elemen baik sosial maupun ekonomi yang berada di daerah tersebut. Salah satu Kabupaten yang baru dibentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Kutai di Kalimantan Timur yaitu Kabupaten Kutai Timur sudah mempersiapkan grand strategy pembangunan melalui gerakan daerah pembangunan tahun 2010. sehingga issue-issue negatif yang muncul dapat diredam secara perlahan. display/panel. agribisnis (Gerdabangagri) yang memiliki daya saing adalah serta suatu program mampu yang mewujudkan Kutai Timur menjadi Pusat Agribisnis dan Agroindustri pada meningkatkan .

Di samping itu. Oleh karena itu. kopi. dan pengembangan SDM menjadi modal dasar bagi kelangsungan pembangunan agribisnis saat ini menjadi perhatian besar bagi Pemda setempat. Dengan . Pemda Kalsel telah memprioritaskan pembangunan prasarana dan sarana transportasi untuk mempermudah akses produksi dan pemasaran produk yang akan dihasilkan ke wilayah sekitar. Pemda Kutai Timur mengisyaratkan bahwa SDA tersebut pada saatnya akan habis dan tidak terbaharukan.pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara kesinambungan. Disamping itu. Investor asing telah menanamkan modalnya dengan membangun resor wisata untuk olahraga selam (wisata bahari) di kawasan Taman Nasional Wakatobi. lada. sehingga ketergantungan SDA tidak menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat. pembangunan kertas dan pulp. dalam negeri dan luar negeri. dengan memiliki 1. karet. agrobisnis dan agroindustri. nenas. kenaf dan kelapa) serta wilayah perairan pantai sepanjang 152 km dan 1/3 dari 12 mil dari garis pantai kearah laut dengan kandungan ikan yang cukup besar yang dapat dikembangkan menjadi industri agribisnis perikanan. Dalam rangka peningkatan pertambahan wisatawan asing dan lokal di Kabupaten Buton. Investasi tersebut antara lain: pembangunan pabrik semen.3 juta ha lahan potensial yang cocok dan siap untuk dikembangkan (kelapa sawit. Propinsi Sulawesi Tenggara terutama di Pulau Tomia. maka Pemda Kutai Timur telah mengundang investor asing dan domestik untuk menanamkan modalnya pada Agrobisnis dan Agroindustri. penambangan batu bara di bawah tanah. Kesepakatan ini diharapkan dapat terealisasi jika kondisi politik nasional sudah kondusif untuk iklim investasi. coklat. Kepedulian terhadap pelestarian SDA. Meskipun Kutai Timur didominasi sektor minyak dan gas bumi serta batubara. untuk mempermudah akses transportasi wisatawan asing dan lokal menuju pulau tersebut. Investor asing (Swiss) telah membangun lapangan terbang untuk jenis pesawat Fokker 28. Hal yang lebih menarik lagi. sehingga investor tidak menunda atau membatalkan rencana investasi tersebut. Pemda Kalimantan Selatan telah melakukan kesepakatan investasi/Memorandum of Understanding (MoU) dengan investor asing yang bermitra dengan investor domestik senilai Rp33 trilyun.

semakin mudahnya transportasi dari ibukota propinsi ke pulau tersebut akan menambah jumlah wisatawan asing dan lokal dan pada gilirannya akan menambah PAD Buton serta menciptakan multiplier effect di wilayah sekitar seperti penciptaan lapangan kerja dan usaha kecil menengah. sebagaimana tercantum di dalam Inpres No 9 Tahun 2002 tentang Penetapan Kebijakan Perberasan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan produksi padi nasional. Penulis berusaha mencoba membahas bagaimana mendudukkan kebijakan pengaturan impor beras tersebut di dalam konteks implementasi kebijakan perberasan nasional yang komprehensif. Adapun elemen kebijakan keempat (kebijakan impor) dan elemen kebijakan kelima (distribusi beras untuk keluarga miskin. (c) kebijakan harga pembelian gabah/beras oleh pemerintah. Inpres No 9/2002 bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dan ketahanan pangan nasional melalui komponen-komponen kebijakan sebagai berikut: (a) kebijakan peningkatan produktivitas dan produksi padi/beras nasional. Hal yang menarik adalah tingginya partisipasi masyarakat Tomia terhadap sektor pariwisata yang dicanangkan Pemda Buton dengan menghibahkan tanah mereka untuk pembangunan lapangan terbang tersebut. (d) kebijakan impor beras yang melindungi produsen dan konsumen. dan elemen kebijakan ketiga (kebijakan harga) dapat dipandang sebagai elemen kebijakan yang mempromosikan agribisnis perberasan nasional. pemerintah tengah mempromosikan pengembangan sistem dan usaha agribisnis berbasis usahatani padi. (b) kebijakan pengembangan diversifikasi kegiatan ekonomi petani padi. SUARA PEMBARUAN DAILY Implementasi Kebijakan Perberasan Nasional Oleh Hermanto EMERINTAH telah mengeluarkan kebijakan pengaturan impor beras seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 9/MPP/Kep/1/2004. elemen kebijakan kedua (diversifikasi). dan (e) kebijakan pemberian jaminan penyediaan dan penyaluran beras untuk kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan. Berbagai program promosi yang dilaksanakan secara berkelanjutan adalah sebagai .rupakan kebijakan yang melindungi petani dan konsumen dari dampak negatif perdagangan beras internasional. Berdasarkan elemen-elemen kebijakan tersebut dapat diketahui bahwa kebijakan perberasan nasional merupakan suatu paket kebijakan yang terdiri dari lima elemen kebijakan. Raskin) me. Elemen kebijakan pertama (peningkatan produksi).

diharapkan petani dan lembaga usaha di pedesaan dapat melakukan investasi dalam bidang usaha agribisnis dan agro industri.7 persen dari produksi nasional dengan harga sesuai dengan harga pembelian pemerintah. Dengan demikian. diversifikasi usaha yang terkait dengan usahatani (off-farm diversification). program promosi peningkatan produktivitas usahatani padi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha tani padi. Mengingat bahwa rata-rata luas pemilikan lahan petani yang sempit.berikut: (a) Pengembangan infrastruktur mendukung usahatani padi dan peningkatan akses petani terhadap sarana produksi dan sumber permodalan. Dalam jangka menengah. Sebagai implementasi dari kebijakan harga ini. atau naik sekitar 1. Pelaksanaan berbagai tersebut ternyata telah mendorong peningkatan produksi padi pada tahun 2003 mencapai 51. (b) Peningkatan mutu intensifikasi uasahatani padi dengan menggunakan teknologi maju. Sehubungan dengan hal tersebut. (c) Melaksanakan ekstensifikasi lahan pertanian terutama di luar Jawa. pemerintah tengah mempromosikan diversifikasi usaha di pedesaan secara berkelanjutan. di antaranya melalui program diversifikasi pada tingkat usahatani (on-farm diversification). Guna mendukung diversifikasi usaha di pedesaan ini. Hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata harga nominal gabah petani pada tahun 2003 sebesar 99.27 kuintal/ha. Kebijakan harga pembelian pemerintah bertujuan agar petani padi menerima harga gabah yang layak.Tetapi di luar musim tersebut harga yang diterima petani telah sama atau lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah.5 . Adapun produktivitas padi pada tahun 2003 meningkat menjadi 45. Dengan adanya kredit ini. dalam jangka menengah tingkat proteksi terhadap komoditas padi secara bertahap dapat dikurangi. pemerintah melalui Perum Bulog melakukan pembelian gabah dalam negeri sejumlah 6 . Mencermati fakta tersebut dapat dikatakan bahwa kebijakan harga mempunyai pengaruh yang positif terhadap harga gabah di pasar. diversifikasi menurut wilayah pengembangan agroekosistem membentuk kawasan agribisnis unggulan (regional diversification). maka pendapatan rumah tangga petani tidak mungkin dapat dicukupi jika petani hanya mengandalkan usahatani padi saja.70 persen dibanding produksi tahun 2002. Petani perlu melakukan diversifikasi usahanya. Hasil pemantauan harga yang dilakukan oleh BPS menunjukkan bahwa pada bulan AprilJuli 2004 (pada saat panen raya) rata-rata harga gabah kering panen yang diterima petani berkisar antara 93.29 persen dibandingkan tahun 2002. guna meningkatkan pendapatan dan meningkatkan kemampuan untuk mengantisipasi risiko produksi yang tinggi. walaupun pada waktu itu kebijakan harga ini belum didukung sepenuhnya oleh kebijakan impor beras. pemerintah secara terus menerus mengupayakan penyaluran kredit agribisnis dengan bunga bersubsidi.9 persen dari harga pembelian pemerintah. dan (e) Peningkatan akses petani terhadap sarana pengolahan pasca panen dan pemasaran.85 juta ton gabah kering giling. sehingga mereka menerima insentif untuk meningkatkan produktivitasnya.98. . atau meningkat sekitar 0.0 persen dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah.

Sebagai alternatif dari kebijakan tarif. kualitas dan waktu. Dengan menutup impor beras pada musim panen raya. serta pasar beras internasional merupakan pasar residual.Juni. program Raskin perlu dikaitkan dengan program pengurangan kemiskinan secara keseluruhan. (d) menurunnya laju peningkatan konsumsi beras karena peningkatan pendapatan. Cina dan India. dan (e) meningkatnya investasi di bidang produksi padi/beras antarnegara. karena beras impor dengan harga yang rendah tetap membanjiri sentra-sentra produksi padi. Memang disadari bahwa keputusan pengaturan impor beras ini bukanlah suatu keputusan yang terbaik. Perlindungan tersebut akan semakin berkurang terutama pada saat musim panen raya. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebenarnya kebijakan proteksi dengan pengenaan tarif impor sebesar Rp 430/kg yang berlaku pada saat ini belum dapat melindungi petani dari rendahnya harga beras di pasar internasional. karena negara eksportir beras menerapkan tarif bea masuk beras yang tinggi (40 . program Raskin (distribusi beras bersubsidi kepada kelompok masyarakat miskin perlu dilanjutkan karena perekonomian nasional belum sepenuhnya pulih. Namun demikian. diharapkan dapat terlindungi dari serbuan beras impor yang harganya murah. dan pada periode di luar panen raya.65%). beras impor dapat masuk dengan pengaturan jumlah. Sementara itu. namun instrumen tersebut saat ini merupakan suatu pilihan yang harus diambil untuk melindungi petani padi di dalam negeri. (b) berkembangnya sarana transportasi dan komunikasi. Keadaan ini menyebabkan petani dalam negeri harus bersaing secara tidak adil dengan petani luar negeri yang sarat dengan perlindungan dan subsidi.Kebijakan Proteksi Dalam jangka waktu empat tahun terakhir ini. harga beras di pasar internasional cenderung menurun dari sekitar US$ 300/ton menjadi sekitar US$ 175/ton. masih ada perbedaan sekitar Rp 200/kg antara harga gabah dalam negeri dan harga paritas eks impor (setelah pengenaan tarif) dalam ekuivalen gabah. Rendahnya harga beras di pasar internasional pada saat ini tidak mencerminkan nilai ekonomis untuk memproduksinya. dalam arti bahwa beras yang dijual murah tersebut adalah beras yang mempunyai kualitas rendah dan tidak dikonsumsi di dalam negeri. negara eksportir beras memberikan berbagai bentuk subsidi dan subsidi ekspor. Dengan demikian. program Raskin dapat dikatakan berhasil jika . Menurut perhitungan. tempat (pelabuhan). Perubahan di pasar internasional beras disebabkan antara lain oleh: (a) terjadinya peningkatan produksi beras di masing-masing negara anggota ASEAN. diharapkan para petani yang selama ini tidak pernah menikmati harga gabah yang bagus pada musim panen raya. pemerintah telah melakukan perlindungan petani dengan menerapkan kebijakan pengaturan impor beras berdasarkan Kepmen Perindag No 9/MPP/Kep/1/ 2004 yang mengatur pelarangan impor beras satu bulan sebelum dan dua bulan sesudah panen raya sehingga beras impor dilarang masuk ke wilayah Indonesia pada bulan Januari .

sistematis. tugas pemerintah. terutama yang menyangkut kebijakan perlindungan petani dalam negeri dari dampak negatif perdagangan bebas besar di pasar internasional. Adalah kewajiban pemerintah.9 juta ton. Departemen Pertanian.besaran kegiatan itu menurun. dan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi petani. Pemerintah harus meningkatkan koordinasi antardepartemen dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam melaksanakan elemenelemen kebijakan sebagaimana tertuang di dalam Inpres No 9 Tahun 2002. Penulis adalah Kepala Pusat Pengembangan Distribusi Pangan. Pada tahun 2003 pemerintah menyalurkan beras Raskin kepada sekitar 8 (delapan) juta KK dengan jumlah beras sekitar 1. konsisten dan berkelanjutan. Efektivitas kebijakan perberasan nasional sangat tergantung pada keterkaitan dan sinergisme antarelemen kebijakan. Lengkap Dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 9/MPP/Kep/1/2004 tentang peraturan impor beras. Selain itu juga melakukan pemantauan dan pengawasan agar pelaksanaan elemen pendukung kebijakan perberasan nasional terlaksana secara efektif. Badan Bimas Ketahanan Pangan. maka lengkaplah instrumen kebijakan perberasan nasional. Dengan demikian. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menindaklanjuti pelaksanaan dan pengamanan kebijakan perberasan nasional. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk melaksanakan kebijakan perberasan nasional secara terkoordinasi. Last modified: 5/3/04 . tepat sasaran.

dan masyarakat secara luas. Kebijaksanaan Investasi Usaha Perkebunan Kebijaksanaan investasi usaha perkebunan dimaksudkan untuk lebih mendorong iklim investasi yang kondusif dalam pengembangan agribisnis perkebunan pada sentra-sentra perkebunan dengan mengutamakan peran serta petani. penciptaan iklim usaha yang kondusif dan meningkatkan partisipasi masyarakat perkebunan serta penerapan organisasi modern yang berlandaskan kepada penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. d. c. Kebijaksanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia perkebunan tidak hanya sebagai factor produksi. baik untuk komoditas konvensional maupun komoditas potensial lainnya. Ruang lingkup sumber daya manusia perkebunan meliputi jajaran birokrasi sub sector pembangunan dan SDM petani dan masyarakat perkebunan. namun lebih penting adalah sebagai pelaku usaha.Kebijakan Pembangunan Perkebunan Kebijakan umum pembangunan perkebunan adalah memberdayakan di hulu dan memperkuat di hilir guna menciptakan nilai tambah dan daya saing usaha perkebunan. Kebijaksanaan Peningkatan Dukungan terhadap Pembangunan Sistem Ketahanan Pangan . Penerapan kebijaksanaan umum tersebut selanjutnya dijabarkan dalam beberapa kebijaksanaan teknis yang meliputi : a. UKM. Kebijaksanaan pengembangan sumberdaya manusia perkebunan diarahkan agar tumbuh dan berkembangnya proses perubahan guna mewujudkan system dan usaha agribisnis perkebunan yang bertumpu pada kemampuan dan kemandirian pelaku usaha perkebunan. Dengan demikian maka potensi sumberdaya manusia yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal. Kebijaksanaan Pembangunan Komoditi Kebijaksanaan pengembangan komoditas perkebunan ditempuh melalui optimasi asset perkebunan yang sudah ada dan pengembangan baru. b. melalui pemberian insentif.

Sedangkan kebijaksanaan pengembangan kemitraan usaha dimaksudkan untuk dapat memperoleh manfaat maksimal dari kegiatan agribisnis perkebunan. f. . Kebijaksanaan Pengembangan Dukungan Terhadap Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kebijaksanaan pengembangan dukungan terhadap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup adalah memanfaatkan sumberdaya perkebunan secara optimal sesuai dengan daya dukung sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.Pengembangan system ketahanan pangan di wilayah perkebunan dimaksudkan untuk mendukung ketersediaan. social dan ekologi. ditinjau dari aspek ekonomi. e. distribusi dan keamanan pangan sebagai bari system ketahanan pangan nasional. Kebijaksanaan Pengembangan Kelembagaan dan Kemitraan Usaha Pengembangan Kebijaksanaan kelembagaan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian kelembagaan agribisnis perkebunan dalam memanfaatkan peluang. Dalam pembangunan perkebunan kebijaksanaan ini dimaksudkan adar pengembangan perkebunan dapat dilaksanakan secara harmonis.

Meningkatkan efisiensi dan percepatan diseminasi kepada para pengguna serta meningkatkan penjaringan umpan balik inovasi pertanian. dan Agroklimat. Mengembangkan jaringan kerjasama nasional dan internasional dalam rangka penguasaan IPTEK dan peningkatan peran Badan Litbang Pertanian dalam pengembangan agribisnis dan pembangunan pertanian.BALITBANG PERTANIAN DEPARTEMEN PERTANIAN Kebijakan Strategis Visi dan Misi Berdasarkan visi dan misi pembangunan pertanian. Badan Litbang Pertanian menetapkan visi dan misi yaitu: Visi Menjadi lembaga Litbang pertanian terunggul di Asia Tenggara dalam menghasilkan inovasi mendukung pertanian tangguh. sesuai dinamika kebutuhan pengguna. serta kebutuhan masyarakat. tujuan pembangunan IPTEK. o o o o Program Penelitian dan Pengembangan Komoditas: Sub Program Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Sub Program Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hortikultura Sub Program Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan Sub Program Penelitian dan Pengembangan Peternakan 3. merekayasa. menuju Program Utama Program utama Badan Litbang Pertanian 2005-2009. dan dinamika lingkungan strategis domestik dan global. Misi • • • • Menciptakan. Program Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Nilai Tambah Pertanian: . Mengembangkan kapasitas institusi Badan Litbang Pertanian pengelolaan litbang yang profesional dan berintegritas moral tinggi. o Sub Program Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. 2. dan mengembangkan inovasi teknologi dan rekomendasi kebijakan pembangunan di bidang pertanian sesuai dinamika kebutuhan pengguna. terdiri 5 program utama dan 13 sub program yaitu: 1. Air. o Program Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian: Sub Program Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Tanah.

Sasaran Sasaran yang ingin dicapai oleh Badan Litbang Pertanian dalam lima tahun ke depan (2005-2009). tersedianya. dan produk biologis unggul. o o Pertanian 5. mengkarakterisasi. ternak. dan rekayasa pengembangan agribisnis dan komoditas. dan/atau wilayah yang didukung inovasi pertanian. dan menghasilkan teknologi pemanfaatan secara optimal potensi sumberdaya tanah. dan mikroba pertanian untuk melayani kebutuhan penelitian dan kebutuhan komersial. Menghasilkan rekomendasi kebijakan kelembagaan dalam rangka mendukung pembangunan pertanian. dan agroklimat. . sosial. mekanisasi pertanian. o Program Pengembangan Kelembagaan dan Komunikasi Hasil Litbang: o Sub Program Pengembangan Kelembagaan Litbang Pertanian. mengkarakterisasi. air. Sub Program Pengembangan Model Agribisnis Berbasis Inovasi 4. Sasaran. kualitas dan ketersediaan sarana/prasarana serta budaya kerja inovatif dan berorientasi bisnis. Tersedianya dan berfungsinya inovasi teknologi dalam bidang pengelolaan sumberdaya pertanian. air dan agroklimat secara optimal. dan Strategi Tujuan Tujuan kegiatan penelitian dan pengembangan di Badan Litbang Pertanian dalam lima tahun ke depan (2005-2009): • • • • • • Mengeksplorasi. ekonomi. Menghasilkan dan mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian untuk meningkatkan efisiensi usaha dan daya saing produk pertanian. Sumberdaya Informasi Iptek. Tersedianya dan berfungsinya teknologi pengelolaan sumberdaya lahan. pengelolaan pascapanen dan pengolahan hasil pertanian. Menghasilkan model pengembangan agribisnis berbasis agroekosistem. Dihasilkannya. mengkonservasi. mengidentifikasi. sistem dan teknik produksi komoditas. sebagai berikut: • • • • Berfungsinya sistem pengelolaan plasma nutfah tanaman. Sub Program Pengembangan Diseminasi dan Penjaringan Umpan Balik. dan meningkatkan manfaat potensi sumberdaya genetik pertanian secara lestari. dan dimanfaatkannya benih dan bibit penjenis bermutu dari varietas tanaman dan strain ternak. Mengidentifikasi.Sub Program Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian dan Kebijakan Pertanian o Sub Program Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pertanian o o Sub Program Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Program Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Pertanian: Sub Program Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi. Meningkatkan kapasitas dan profesionalisme serta integritas moral sumberdaya manusia. Tujuan.

diseminasi dan Meningkatnya kapasitas dan profesionalisme sumberdaya manusia. Menajamkan skala prioritas serta memperkuat keterkaitan dan keselarasan program litbang dengan kebutuhan pengguna. agroekosistem atau wilayah yang didukung inovasi teknologi pertanian. kualitas dan ketersediaan sarana/prasarana serta budaya kerja inovatif dan berorientasi bisnis. dan memfokuskan pada kegiatan penelitian unggulan litbang secara optimal. dan swasta. ekonomi. Meningkatkan relevansi. Tersedianya dan berfungsinya rekomendasi kebijakan sosial. kualitas. dan efisiensi mekanisme penjaringan umpan balik inovasi dari pengguna. Meningkatkan kerja sama penelitian dan komersialisasinya dengan lembaga litbang lain. . perguruan tinggi. Strategi Strategi Badan Litbang Pertanian dalam lima tahun ke depan (2005-2009) sebagai berikut: • • • • • Meningkatkan pemanfaatan sumber daya.• • • • • Tersedianya dan berfungsinya inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi. Tersedianya dan berfungsinya model pengembangan agribisnis berbasis komoditas. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Meningkatkan akselerasi diseminasi serta mekanisme umpan balik inovasi pertanian. dan kelembagaan untuk mendukung pengembangan agribisnis dan pembangunan pertanian wilayah dan nasional. Meningkatnya intensitas. efektivitas. nilai tambah ilmiah dan nilai tambah ekonomi.

menjamin kontinuitas suplai dan sesuai dengan permintaan pasar.BALITBANG PERTANIAN DEPARTEMEN PERTANIAN: PROSPEK DAN AGRIBISNIS: Unggas ARAH PENGEMBANGAN Komoditas unggas mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim. Komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional. Ternak ayam lokal dan itik dapat menjadi alternatif yang cukup menjanjikan dengan pangsa pasar tertentu. Upaya meningkatkan dayasaing produk perunggasan harus dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas departemen. sepanjang . utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan. Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal. sehingga prospek yang sudah bagus ini harus dimanfaatkan untuk memberdayakan peternak di perdesaan melalui pemanfaatan sumberdaya secara lebih optimal. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha. meningkatkan kualitas produk. Profil usaha di sektor primer menunjukkan bahwa usaha peternakan ayam ras pedaging cukup memberikan peluang usaha yang baik. sehingga mampu bersaing dengan produk-produk unggas dari luar negeri. yang merupakan 60-70 persen dari biaya produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor. harga relatif murah dengan akses yang mudah diperoleh karena sudah merupakan barang publik. dimana hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa usaha peternakan ayam lokal dan itik cukup menguntungkan dan dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan keluarga. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan global yang mencakup kesiapan dayasaing produk perunggasan.

dan dalam hal ini memerlukan dukungan kebijakan termasuk ketersediaan inovasi teknologi yang sesuai dengan perkembangan usaha. berkisar antara 60-70 persen.. dan harga). dimana biaya pakan ini merupakan komponen tertinggi dalam komposisi biaya produksi industri perunggasan. dimana ketersediaan pasokan bahan pakan masih memungkinkan. Pengembangan komoditas jagung perlu mendapatkan perhatian baik oleh pemerintah. Potensi dan arah pengembangan itik dititikberatkan pada perbaikan bibit. Jagung untuk pakan unggas memiliki prospek pasar yang sangat baik. pola kemitraan intiplasma dan pola kemitraan poultry shop dengan skala usaha 15 ribu ekor. baik teknis. biaya bahanbahan input.16. Program intensifikasi itik. Hal ini memberikan indikasi bahwa usaha peternakan ayam ras petelur mempunyai keuntungan yang relatif baik bagi para peternak. Pengalaman wabah Avian Influenza (AI) beberapa waktu yang lalu memberi pelajaran bahwa sudah saatnya dilakukan desentralisasi industri perunggasan nasional.manajemen pemeliharaan mengikuti prosedur dan ketetapan yang berlaku. produksi. swasta maupun masyarakat petani.25 pada usaha mandiri. dengan merubah pola pemeliharaan tradisional . 1. impor jagung dapat mencapai 4 juta ton dan 8 juta ton jika produksi jagung nasional tidak tumbuh. ekonomis maupun sosial.13 masing-masing untuk usaha mandiri dan pola kemitraan dengan poultry shop. (b) mencegah persaingan tidak sehat antar perusahaan di pasar dalam negeri.04 dan 1. sehingga terjadi perbedaan antara itik untuk bibit dan itik untuk produksi.28 dan 1. serta kondisi pasar (permintaan. serta prospek pemasaran yang baik. Untuk memberi kepastian berusaha pada peternakan mandiri perlu dibuat mekanisme yang menjamin transparansi dalam hal informasi produksi d. maka kebutuhan akan jagung juga terus meningkat. Potensi dan arah pengembangan ayam lokal lebih difokuskan terhadap kerentanan potensi genetik terhadap penyakit unggas. serta (d) dukungan pembangunan infrastruktur penunjang lainnya.c. Sedangkan hal tersebut untuk usaha ayam lokal dan ternak itik masing-masing nilai B/C adalah 1. Upaya ini akan sangat baik ditinjau dari berbagai aspek. Indikasi yang hampir sama juga terjadi pada ayam ras petelur pada skala usaha 10 ribu ekor. sehingga konservasi terhadap plasma nutfah ayam lokal menjadi sangat penting. Peranan pemerintah juga harus memperhatikan pada pengelolaan pasar. utamanya untuk: (a) melindungi industri ayam dalam negeri dari tekanan persaingan pasar global yang tidak adil. dengan nilai B/C adalah 1. Pengembangan unggas ke depan harus mulai dipikirkan di luar Jawa. Diproyeksikan masing-masing pada tahun 2010 dan tahun 2020. Hal ini ditunjukkan dengan nilai B/C yang diperoleh secara berturut-turut sebesar 1.o. Salah satu prospek pasar yang menarik dan perlu dikembangkan adalah industri pakan unggas.2. (c) pengembangan sistem pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit menular. dimana dinyatakan bahwa jika industri unggas tumbuh dengan baik.29 dan 1.

secara tidak langsung. Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana dapat menyebabkan kematian itik secara langsung dan menurunnya ketersediaan pakan itik di sawah berupa ikan kecil. Estimasi kebutuhan investasi masyarakat untuk pengembangan agribisnis komoditas ayam lokal dan itik adalah sekitar 60 persen. Apabila sasaran pengembangan agribisnis komoditas ternak unggas ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan protein hewani pada 10 tahun mendatang.1 trilyun untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur. dan (d) mendorong serta menciptakan produk yang berdayasaing dalam upaya meraih peluang ekspor. pemerintah dan masyarakat. penyuluhan dan pendidikan bagi peternak disertai pengembangan kelembagaan.menjadi pemeliharaan terkurung atau intensif perlu dipertimbangkan dalam arah pengembangan peternakan unggas ke depan. (c) melestarikan dan memanfaatkan secara sinergis keanekaragaman sumberdaya lokal untuk menjamin usaha peternakan yang berkelanjutan. dan (d) meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan devisa negara. berturut-turut . serta kebijakan pewilayahan komoditas dan peningkatkan penelitian. Kebutuhan investasi masyarakat untuk pengembangan agribisnis ayam ras pedaging dan petelur berkisar antara 10-20 persen. peningkatan nilai tambah dan dayasaing dengan misi mendorong pembangunan peternakan unggas yang tangguh dan berkelanjutan. swasta dan pemerintah. 24.5 trilyun. (c) menciptakan lapangan kerja yang potensial dan tersebar hampir di seluruh wilayah. Pelaku investasi pengembangan agribisnis komoditas unggas dibedakan dalam tiga kelompok. (b) meningkatkan pendapatan peternak melalui peningkatan skala usaha yang optimal berdasarkan sumberdaya yang ada. katak dll. yakni investasi yang dilakukan oleh rumah tangga peternak (masyarakat). maka setara dengan 1. Kebijakan peternakan unggas diarahkan pada visi pemberdayaan peternak dan usaha agribisnis peternakan. Tujuan pengembangan agribisnis komoditas unggas adalah (a) membangun kecerdasan dan menciptakan kesehatan masyarakat seiring dengan bergesernya permintaan terhadap produk yang aman dan berkualitas. cacing. Salah satu kebijakan yang diperlukan dan berpengaruh efektif mencapai visi tersebut adalah kebijakan dalam memperluas dan meningkatkan basis produksi melalui peningkatan investasi swasta. Keadaan sawah yang semakin intensif menyebabkan jarak antara panen dan tanam menjadi semakin sempit yang menyebabkan semakin terdesaknya itik gembala. (b) meningkatkan kemandirian usaha. Pengembangan agribisnis komoditas ternak unggas diarahkan untuk: (a) menghasilkan pangan protein hewani sebagai salah satu upaya dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional.250 milyar ekor denagn nilai mencapai Rp. masing-masing sebesar Rp.

utamanya dalam hal pelayanan investasi khususnya investasi di luar sektor pertanian. 3. Pelayanan penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat sejak usia dini tentang manfaat mengkonsumsi daging dan telur perlu dilakukan secara konsisten. 0. pabrik pakan. kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner. Bentuk investasi swasta dapat berupa peningkatan penyediaan sarana input seperti peningkatan pasokan bibit. Beberapa kebijakan pendukung yang diperlukan adalah (a) kebijakan pendukung dalam membentuk lingkungan investasi yang kondusif. penanganan pascapanen berupa pembuatan silo dan sarana transportasi. (b) kebijakan dalam hal mempromosikan produk unggas. dengan nilai Rp. 9. Investasi di sektor hilir seperti pabrik pengolahan dan prosesing produk unggas seperti penyediaan sarana cold storage dan pembangunan pabrik tepung telur perlu mendapat perhatian yang serius. Estimasi kebutuhan investasi pemerintah untuk pengembangan agribisnis komoditas ayam ras pedaging dan petelur masing-masing adalah sebesar 5 persen. sehat. serta peningkatan mutu genetik itik.5 trilyun dan Rp. Pada pengembangan komoditas ayam lokal dan itik. Demikian pula halnya dengan identifikasi dan evaluasi untuk pengembangan ayam lokal yang resisten terhadap penyakit. 1. serta tidak menutup kemungkinan lembaga keuangan non-formal seperti pinjaman kelompok maupun koperasi bersama. 200 milyar untuk ayam ras petelur. peralatan serta obat dan vaksin. misi dan tujuan program pembangunan pertanian diperlukan kebijakan pendukung.8 trilyun. 4. Pangsa kebutuhan investasi swasta untuk pengembangan agribisnis komoditas ayam pedaging dan petelur rata-rata berkisar antara 80 persen. Investasi masyarakat dalam hal ini dapat berupa investasi sumberdaya dan produksi yang meliputi aset tetap seperti lahan.5 trilyun. kandang dan tenaga kerja. Investasi produksi yang berupa infrastruktur oleh pemerintah sangat diperlukan seperti penyediaan benih jagung unggul. dengan nilai berturutturut Rp.5 trilyun dan Rp.5 trilyun untuk ayam lokal dan Rp. 250 milyar untuk ternak itik. Sumber pembiayaan dapat berupa kredit dari perbankan maupun lembaga keuangan formal lainnya. 1 trilyun dan Rp. berturut-turut adalah sebesar Rp. (c) dukungan kebijakan dan inovasi dalam hal tata-ruang. Peran pemerintah juga diharapkan dalam aspek penelitian dan pengembangan. yakni Rp. utuh dan halal. hal tersebut rata-rata berkisar antara 30 persen. utamanya dalam hal menyediakan alternatif bahan baku pakan berdasarkan sumberdaya lokal.adalah sebesar Rp. Untuk mencapai visi. Investasi pemerintah utamanya terfokus pada kegiatan promosi dalam upaya meningkatkan konsumsi daging dan telur yang aman. Estimasi kebutuhan investasi swasta untuk pengembangan komoditas ayam lokal dan itik adalah sekitar 10 persen. 750 milyar. serta penegakan aturan yang terkait dengan lalulintas ternak dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah dan perdagangan . 500 milyar untuk ayam ras pedaging dan Rp.

global. utamanya dalam memperkuat pelayanan laboratorium dan pos-pos kesehatan hewan. dan (e) perlu membuat kebijakan tentang kemitraan agribisnis perunggasan yang adil baik bagi mitra maupun bagi inti melalui pembagian resiko dan keuntungan yang adil. . serta kebijakan penyuluhan tentang bahaya dan pencegahan penularan penyakit unggas. (d) kebijakan pendukung dalam rangka pencegahan penyakit.

Paradigma agribisnis yang dicanangkan Departemen Pertanian saat ini merupakan jiplakan begitu saja apa yang terjadi di Amerika. saya sangat setuju. melainkan kehidupan (livelihood) dan way of life yang tidak semuanya dapat dibisniskan. Saya sependapat dengan Profesor Mubyarto bahwa reformasi agraria harus berarti pembaruan agraria yang menyumbang pada upaya mengatasi kemiskinan atau meningkatkan kesejahteraan mereka yang paling kurang beruntung di pedesaan.Pantjar Simatupang REFORMASI AGRARIA MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN: KOMENTAR TERHADAP MAKALAH PROFESOR MUBYARTO Pendahuluan Profesor Mubyarto berpendapat bahwa jika kita ingin mengadakan pembaruan atau reformasi agraria maka harus ada kesediaan meninjau kembali konsep dan pengertian sistem dan usaha agribisnis. Sebagai seorang ilmuwan democrat saya yakin Profesor Mubyarto akan bersedia mendengar klarifikasi “sang tertuduh” juniornya ini. sumber . sama sekali tidak cocok dengan tatanan dan budaya kita. Ini adalah kesalahan para doktor ekonomi pertanian lulusan Amerika yang tanpa ragu-ragu sering mengatakan bahwa farming is business. pendapat Profesor Mubyarto bahwa “bertani tetap merupakan kehidupan (livehood)” tidak berlaku umum dan harus tidak boleh dijadikan sebagai arah kebijakan jangka panjang. Untuk itu saya merasa wajib meminta maaf terlebih dahulu atas kelancangan saya menganut pemikiran yang sangat berbeda dan mengemukakannya secara terbuka di hadapan khalayak ramai. saya tidak sependapat dengan pandangan beliau bahwa paradigma agribisnis tidak konsisten dengan arah reformasi agraria yang berkerakyatan tersebut. Namun. Bahwa pertanian skala kecil dan buruh tani merupakan kehidupan atau mata pencaharian bagi puluhan juta penduduk Indonesia. Amerika Serikat. Ames. Paradigma agribisnis dapat diadaptasikan dengan kondisi kontekstual Indonesia termasuk dalam perumusan reformasi agraria. Bagi Profesor Mubyarto. sebagian besar kegiatan bertani (farming) di Indonesia bukanlah “business”. Bagi saudara-saudara kita ini. Saya mungkin salah seorang ekonom pertanian lulusan Amerika yang termasuk golongan “tertuduh bersalah” menganut dan menyebarluaskan pemikiran bahwa farming is business karena Profesor Mubyarto dan saya sama-sama alumni Iowa state University. pertanian merupakan salah satu pekerjaan pokoknya. Farming is Livehood Hemat saya.

Bertani adalah untuk kelangsungan hidup. kekeliruan kita di massa lalu ialah terlalu mendahulukan industrialisasi berbasis eksternal dan terpusat di perkotaan sehingga gagal menjadikan lapangan kerja yang memadai untuk mengurangi tekanan angkatan kerja di sektor pertanian. Ada banyak daerah pedesaan. Mempertahankan bertani tetap menjadi kehidupan petani gurem dan buruh tani berarti membelenggu kaum miskin pedesaan dalam lingkaran setan kemiskinan. Keluarga tani tidak dapat hidup layak jika hanya mengandalkan pertanian. pasti tidak menghendaki hal ini terjadi. Masalah pokoknya ialah luas baku lahan pertanian produktif tidak memadai untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga tani. tidak ada alternatif mata pencaharian selain bertani. Pemikiran macam ini hanya melestarikan involusi pertanian yang berujung pada pemerataan kemiskinan (sharing poverty). yaitu dimana telah berkembang industri atau usaha non-pertanian atau memiliki akses ke perkotaan yang menyediakan alternatif lapangan kerja. tidak memadai untuk menopang kehidupan yang layak bagi keluarga tani. justru bagaimana agar bertani tidak lagi menjadi kehidupan bagi petani gurem dan buruh tani. Tutal luas lahan pertanian kurang dari 40 juta hektar sedangkan jumlah keluarga tani lebih dari 20 juta. Kemiskinan di pedesaan hanya dapat diberantas dengan mengurangi jumlah petani gurem dan buruh tani melalui penyediaan livelihood non-pertanian. Justru agenda kegijakan yang paling mendesak ialah bagaimana petani gurem dan buruh tani tidak lagi mengandalkan pertanian sebagai kehidupan keluarganya. seluruh usaha tani tetap gurem. bertani bukanlah satu-satunya sumber penghidupan. Dengan demikian.pangan pokoknya. Fenomena semakin bertambahnya penduduk miskin di pedesaan justru akibat dari meningkatnya jumlah penduduk yang mengandalkan bertani sebagai kehidupan. termasuk Profesor Mubyarto. Bertani hanyalah sebagai sumber pendapatan tambahan. Dalam konteks inilah. tantangan kita. Sehingga kalaupun lahan yang ada dibagi rata. yaitu agroindustri dan industri kecil pedesaan lainnya. Untuk itu yang harus dilakukan ialah menyediakan sumber kehidupan alternatif. usaha non-pertanian. Farming is livelihood adalah akar masalah kemiskinan di pedesaan yang harus diberantas. Ini khususnya benar di pedesaan terpencil dimana alternatif lapangan usaha atau lapangan kerja non-pertanian sangat terbatas atau praktis tidak ada. Bagi mereka. Yang harus dipertanyakan ialah apakah sudah ada program dan kebijakan konkrit untuk menumbuh-kembangkan agribisnis dan industri pedesaan tersebut? . Dalam hal ini saya setuju dengan Profesor Mubyarto. saya melihat pengembangan agribisnis atau pertanian dalam arti luas sungguh tepat. dan sumber pendapatan utamanya agar keluarganya dapat hidup layak dan bermartabat. berbeda dengan Profesor Mubyarto. pemerintah khususnya. Namun di banyak daerah pedesaan. dimana sumber utama pendapatan penduduknya adalah usaha nonpertanian. Saya kira kita semua. khususnya di Jawa.

semua kebutuhan hidup dihasilkan dari pekerjaan sendiri. Asalkan bekerja pada tatanan pasar pertukaran dan berorientasi untuk mengoptimalkan tujuan atau kepuasan. petani penyakap dan petani penggarap. Farming is not business tinggal hanya dalam kenangan sejarah peradaban manusia. rasionalitas ekonomi inilah. pembaruan agraria juga harus pula dirancang sehingga mampu mendorong tumbuh-kembangnya agribisnis dan industri kecil di pedessaan agar tekanan penduduk terhadap lahan berkurang. Namun kita masih menunggu gagasan Profesor Mubyarto untuk mengoperasionalkan konsep yang sungguh indah tersebut. QSAR yang sudah bangkrut dan bikin heboh itu. pendapat Profesor Mubyarto bahwa farmings are not all business lebih merupakan keinginan subyektif beliau daripada gambaran realita. Bagi saya. Sementara itu. jumlah penduduk yang menggantungkan hidupnya pada pertanian dapat berkurang. yang menjanjikan keuntungan sangat besar. Tidak dapat terhindarkan. sudah menjadi ciri dasar suatu usaha bisnis. Bahwa pertaniaan gurem juga usaha bisnis dapat diuji dengan fakta berikut: petani gurem membeli sarana produksi dan menjual hasil usahatani. bertani skala besar maupun skala kecil adalah usaha bisnis. Barangkali keinginan idealistik tersebut berkaitan dengan obsesi beliau agar Indonesia mengadopsi Sistem Ekonomi Paancasila. . Bukti yang paling gamblang bahwa pertanian gurem is business ialah penggunaan buruh tani sewaan dan traktor sewaan oleh petani kecil. ikan) yang lebih menguntungkan. farming skala kecil atau usaha tani gurem pun adalah bisnis. Bagi saya small farming is a business too! Pengertian agribisnis tidak ada hubungannya dengan skala usaha. Farming is business tidak meniscayakan argumen farming is livelihood dan farming is part of culture. responsif terhadap perubahan harga sarana produksi dan harga hasil usahatani. Farming is Business Berbeda dengan Profesor Mubyarto. harus ditata ulang sehingga memberi akses yang lebih mudah dan pembagian hak maupun kewajiban yang lebih adil bagi penggarap. misalnya. Dengan begitu. Sistem sakap menyakap lahan. Kenapa mereka tidak melulu mengandalkan tenaga kerja keluarga yang mestinya tersedia cukup memenuhi kebutuhan usahatani yang sangat kecil. saya sependapat kalau pembaruan penataan agraria harus tetap didasarkan pada pertimbangan bahwa pertanian adalah kehidupan bagi sejumlah besar penduduk pedesaan. Banyak studi empiris membuktikan bahwa petani gurem di negara-negara berkembang rasional secara ekonomi. memilih teknologi dan jenis tanaman (atau ternak. Saya condong meraba-raba. pada sistem perekonomian pasar farming is business. farming is business adalah realita yang harus kita terima. Kata kuncinya ialah etika dan moral bisnis yang tidak mudah disosialisasikan. Dewasa ini.Dalam kaitannya dengan pembaruan agraria. bagi saya. Farming is not business hanya ada pada masa silam tatkala penduduk kita hidup subsisten. Agribisnis tidak hanya perusahaan pertanian berskala bessar. seperti PT. Jawabannya ialah pertimbangan bisnis.

konsep agribisnis diimpor dari Amerika. Agribisnis sebagai Paradigma Pembangunan Pertanian Profesor Mubyarto menolak tegas strategi agribisnis yang oleh para pemimpin Departemen Pertanian diakui sebagai strategi baru yang dianut saat ini. kebijakan perbankan. Usahatani gurem. reformasi agraria merupakan salah saru operasionalisasi dari penataan sistem agribisnis. Profesor Mubyarto benar. nilai tukar rupiah. pasar input dan output internasional. Inilah yang saya kira perlu kita tuntut dari Departemen Pertanian. Bukankah anjlognya harga gabah petani karena akibat dari penurunan harga beras dunia dan menguatnya rupiah? Bukankah kasus langkanya pupuk di tingkat petani adalah akibat dari tidak baiknya sistem distribusi? Jika pemikiran ini dapat diterima maka konsep pembangunan sistem agribisnis sangat kontekstual bagi pertanian di Indonesia. efisiensi ekonomi tidaklah segalanya. bukan bisnis. keduanya warga Amerika.Dengan demikian. Selain pandangan terhadap sifat farming is a business. dimensi kedua dari paradigma agribisnis ialah pemikiran bahwa bertani atau agriculture tidak bersifat terisolir. Strategi pembangunan agribisnis akan menyebabkan perhatian pemerintah bias bagi pengembangan usaha pertanian skala besar. Agrobisnis hanyalah ussaha pertanian berskala besar. Paradigma agribisnis berpandangan bahwa usahatani sangat dipengaruhi oleh lingkungan strategis off-farm seperti sistem pemasaran input dan output. penyakap dan penggarap yang kegiatannya. Sudah barang tentu. berdasarkan studi kasus Amerika. Peraturan atau hukum agraria merupakan penunjang dalam sistem agribisnis. Saya kira pandangan ini benar adanya. Kuncinya ialah bagaimana program dan kebijakan operasional pengembangan sistem dan usaha agribisnis tersebut lebih difokuskan bagi pemberdayaan dan pengembangan petani gurem. small and large. sakap dan garap adalah juga usaha bisnis sehingga tidak dapaat dijadikan argumen untuk menolak strategi agribisnis yang dicanangkan Depertmenn Pertanian. penyakap dan penggarap tersebut. are all business enterprises. Dalam perspektif agribisnis. bagi Profesor Mubyarto. Pembaruan agraria harus tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap efiiensi usaha tani sebagai bisnis. sekali lagi saya berbeda pendapat dengan Profesor Mubyarto. Pembaruan agraria harus tetap memperhatikan aspek keadilan dan moral seperti yang dipaparkaan oleh Profesor Mubyarto. reformasi agraria hendaklah dirancang antara lain dengan pertimbangan bahwa farming. Tetapi apakah kita harus fobi dengan semua yang . atau berkurangnya perhatian pada petani gurem. dan sebagainya. Konsep ini pada awalnya digagas oleh Profesor Goldberg dan Davis. Alasan beliau ialah karena usaha tani kecil yang masih dominan saat ini bukanlah bisnis. Masalahnya barangkali bukanlah pada strategi itu sendiri. Berpegang ada argumen sebelumnya. bebas dari pengaruh kontekstual off-farm. Saya yakin keadilan tidak selalu bertentangan bahkan dapat sinergis dengan efisiensi ekonomi.

Namun dalam hal prinsip dasar bahwa reformasi agraria harus menyumbang pada upaya mengatasi kemiskinan saya sangat sependapat dengan Profesor Mubyarto. Fungsi pertanian sebagai kehidupan harus dikurangi. pengendalian konversi lahan pertanian. issu-issu ini tidak sempat dibahas Profesor Mubyarto. Termasuk dalam hal ini format reformasi agraria yang bagaimanakah yang dapat mewujudkan operasionalisasi konsep tersebut. Penutup Berbeda dengan Profesor Mubyarto. pencegahan fragmentasi dan upaya konsolidasi lahan pertanian. Departemen Pertanian Republik Indonesia. bagi saya agenda pokok bukanlah meninjau ulang konsep dan pengertian sistem dan usaha agribisnis yang telah dicanangkan Departemen Pertanian sebagai strategi pembangunan pertanian saat ini. Pantjar Simatupang.impor. Strategi yang lebih tepat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di pedesaan ialah dengan mengurangi tekanan penduduk terhadap lahan atau mengurangi jumlah petani melalui penyediaan lapangan kerja alternatif di sektor non-pertanian. . Dr. Pusat Agro-Ekonomi (PAE). Termasuk dalam hal ini antara lain: kepastian kepemilikan lahan yang menjadi salah satu faktor resiko usaha pertanian saat ini. serta pengaturan sistem sakap-menyakap dan bagi hasil lahan pertanian. kalau tidak apa alternatif yang lebih sesuai atau bagaimana mengadaptasikannya sehingga pas dengan permasalahan yang kita hadapi. Yang kita tunggu-tunggu ialah program dan kebijakan komprehensif ebagai operasionalisasi dari konsep dan strategi tersebut. termasuk ilmu pengetahuan? Barangkali yang perlu kita gugat ialah apakah konsep tersebut cocok untuk konteks Indonesia. Sayang. Reformasi agraria mutlak perlu untuk memfasilitasi pertanian berkelanjutan sebagai basis dari agribisnis di pedesaan. Untuk itu pengembangan agribisnis dalam arti luar di pedesaan merupakan langkah yang tepat.

sehingga di-hasilkan satu sinergi yang kuat untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional.TERMINAL AGRIBISNIS. Terjadinya ketidak stabilan harga akibat pengaruh musim produksi dan kondisi pasar. pelabuhan. fasilitas penyimpanan. Disamping itu pendekatan agribisnis dalam pembangunan pertanian tidak akan memperoleh hasil yang maksimal tanpa memperhatikan aspek lingkungan dari wilayah yang akan dikembangkan. Dalam arti kata bahwa mutlak diperlukan mekanisme keterpaduan antara pembangunan pertanian pende katan agribisnis dan pembangunan wilayah secara umum. Terjadinya kehilangan pasca panen atau pemasaran akibat penanganan dan pengemasan yang tidak sesuai. Dengan demikian perlu diperhatikan konsep pembangunan wilayah pertanian dengan acuan untuk menghasil-kan komoditas unggulan melalui pendekatan agribisnis. dan didukung oleh (4) subsistem sarana pendukung fasilitas. pengemas-an dan pengolahan. . Salah satu fokus penting dari pendekatan agribisnis adalah dengan memadukan konsep pembangunan wilayah yang pada akhirnya nanti diharapkan dapat memunculkan komoditas . 2. Disamping itu pendekatan kecukupan pangan yang berorientasi pada produksi hendaknya bergeser menjadi keamanan pangan yang berorientasi pada ketersediaan pangan dan daya beli masyarakat. Belum cukupnya infrastruktur pasar berupa jalan. 4. PERLUKAH DI KAWASAN TRANSMIGRASI ? Oleh : Ratna Dewi Andriani Perubahan paradigma penye-lenggaraan transmigrasi yang berorientasi pada pengembang an agribisnis didukung oleh kebijakan pengembangan komoditas pertanian tertentu dalam skala besar sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen. pengembangan jenis pangan baru. produksi pangan dan impor pangan serta peningkatan daya beli masyarakat melalui pengembangan usaha-usaha produktif dan bernilai tambah tinggi. Pendekatan agribisnis merupakan cara pandang baru dalam melihat pembangunan pertanian secara keseluruhan. Pengembangan komoditas tersebut hendaknya mampu menciptakan nilai tambah dan berorientasi pada keuntungan. Berbagai permasalahan dan isu yang biasa dihadapi dalam pemasaran hasil agribisnis adalah : 1. 3. (2) subsistem usaha tani/produksi (3) subsistem pengolahan dan pemasaran. Kurang tepatnya grading (pengkelasan) serta standarisasi produk-produk hasil panenan. Ketersediaan pangan itu sendiri dapat didekati dengan kombinasi antara diversifikasi pangan.komoditas andalan/ unggulan dari wilayah pengembangan yang bersangkutan. Agribisnis sebagai suatu sistem merupakan hasil perpaduan subsistem-subsistem berikut (1) subsistem input.

Langkanya kegiatan penelitian dan studi pemasaran. Tidak adanya mekanisme penentuan harga yang berlaku. dapat menekan susut dan menjamin stabilitas harga di tingkat petani terutama pada saat panen raya serta memperkuat posisi tawar petani. 8. Meningkatkan jangkauan pelayan an umum seperti pasar. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas produksi melalui efisiensi biaya transportasi input produksi dan komunikasi (dalam memper-oleh informasi yang berkaitan dengan produksi. 4.5. 2. Kurangnya dukungan pemerintah dalam kebijakan dan pengemba-ngan pasar. masyarakat dan wilayah yang bersangkutan. sesuai dengan agroekologi dan memberikan kepuasan tertinggi secara ekonomi dan sosial bagi rumah tangga petani. Untuk itu diperlukan kebijakan distribusi produksi agribisnis yang diarahkan untuk mencapai kinerja pemasaran yang optimal. 9. Adanya komoditi yang dipasarkan untuk mendukung peluang pasar. distribusi dan konsumsi). 5. dengan memasukkan elemen . 7. Sulitnya akses petani kecil pada kredit pemasaran. 4. 5. Langkanya jasa perluasan pasar yang memadai. Memisahkan kegiatan pemasaran dari kegiatan distribusi fisik komoditi-komoditi agribisnis tersebut. Tidak cukupnya informasi pemasaran khususnya dalam rangkaian pengum-pulan. Mempersiapkan fasilitas bangunan dan sarana pemasaran lainnya sesuai dengan daya simpan produk. 10. 6. kantor pos maupun telekomunikasi. Berbagai macam saluran pemasaran yang dapat diandalkan oleh para produsen. sekolah. Adapun penentuan lokasi terminal agribisnis dapat ditetapkan dengan memper hatikan kriteria sebagai berikut: 1. bank. 3. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemasaran melalui efisiensi biaya transportasi dan komunikasi dalam memperoleh promosi. Memantapkan pembentukan harga melalui interaksi antara jumlah pasokan dan kebutuhan. 3. analisa dan penyebarluasan informasi yang relevan.elemen sebagai berikut : 1. . puskesmas. Melengkapi informasi pasokan dan kebutuhan produk agribisnis dalam sistem distribusi. Mengamankan keselamatan dan kesehatan konsumen dengan menjamin kondisi produk agribisnis yang baik. 6. 2. Dapat menangani berbagai aspek pada phase pasca panen sesuai dengan kebutuhan pelaku agribisnis dan dapat melakukan fungsi pelayanan pemasaran produk agribisnis secara lebih efisien.

terutama dalam penyediaan insentif berupa penyediaan infrastruk-tur dan kebijakan fiscal. Berdasarkan pengamatan langsung di lapang bahwa kondisi prasarana transportasi dan jarak Unit Permukiman Transmigrasi mempe-ngaruhi kehilangan produksi berkisar 10% . Petani dapat menimba informasi agribisnis termasuk peluang pasar. terdapat empat manfaat utama terhadap pengem-bangan agribisnis yaitu (a) menekan tingkat susut produksi. (d) kemu-dahan dalam pemasaran. menjanjikan pendapatan yang baik. Melahirkan sistim transit dalam skala bisnis dan diharapkan berperan dalam proses agribisnis dengan mengakomo-dasi kepen-tingan seluruh pihak terkait (produsen. Aksesibilitas. (c) terjadinya komuni-kasi yang lebih mudah akibat meningkatnya jangkauan umum sehingga informasi seperti peluang pasar.10%. termasuk kehadiran pendatang luar. Semakin baik kualitas prasarana maka kerusakan yang terjadi pada sarana angkutan akan berkurang sehingga memperkecil biaya pemeli hara an sarana angkutan. Oleh karena itu faktor aksesibilitas yang paling berpengaruh terhadap penetapan lokasi terminal agribisnis adalah kemudahan pencapaian yang ditunjukkan oleh kondisi prasarana dan sarana transportasi. maka pembangunan terminal agribisnis di kawasan transmigrasi dapat dilaksanakan dengan kriteria tertentu sebagai berikut : 1. mutu produk dan sesuai dengan selera konsumen. potensi tenaga kerja laki-laki dan perempuan dan sejauh mana penduduk usia produktif . sikap tenaga kerja dan upah. Adanya komoditas yang sesuai dengan agroekologi setempat. harga dan permintaan. pedagang dan konsumen).15% dan penurunan mutu berkisar 5% . (b) komposisi usia. Sosial budaya sangat erat kaitannya dengan keamanan. merupakan konsekuensi dari ketepatan penyediaan produk. menjamin stabilitas harga di tingkat petani pada saat panen raya dan memperkuat posisi tawar petani. perubahan selera konsumen. 7. jenis kelamin dan dependency ratio yaitu mengetahui jumlah tenaga kerja yang tersedia. 3. kualitas sarana dan prasarana transportasi seperti angkutan termasuk fasilitas pendukung nya. Mempunyai dukungan kebijakan peme-rintah.6. 2. Unsur-unsur sosial budaya yang berpengaruh terhadap terminal agribisnis adalah (a) interaksi sosial yaitu kemudahan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan masyarakat luar serta bersifat terbuka terhadap hal-hal yang berasal dari luar seperti teknologi dan informasi. 8. Dengan demikian petani memiliki posisi tawar dan harga yang stabil meskipun pada saat panen raya. kebijak-an distribusi produksi agribisnis dan kriteria umum penetapan lokasi terminal agribisnis. berproduktivitas tinggi sehingga mutu dan kontinyuitas produk dapat dipertanggung jawabkan serta mendapat dukungan pasar baik penyedia input produksi maupun hasil produksi. perubahan selera konsumen. Memperhatikan permasalahan. peningkatan sumber daya manusia dan pengembangan teknologi lokal dalam rangka ketersediaan tenaga kerja. harga dan permintaan dapat segera diterima oleh petani. (b) penekanan biaya transportasi. berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Kantor UPT dan transmigran bahwa besarnya biaya angkut sangat ditentukan oleh jarak (Km) atau kemudahan pencapaian.

.menanggung secara ekonomi kehidupan penduduk usia non produktif. 3 . Lembaga penyedia input produksi dapat berfungsi sebagai lembaga pemasaran yang dapat mewakili petani sebagai intelijen pemasaran maupun penggerak produksi yang berlandaskan pada kompetitif wilayah sehingga meningkatkan pendapatan petani melalui efisiensi biaya produksi. Tesis yang tidak dipublikasikan. 1996. Tata ruang baik internal maupun regional. Agrimedia volume 5 ? no. untuk memperlihatkan kemampu an sumber daya yang ada dalam menerima tekno-logi. (d) komunikasi yaitu ke-mampuan untuk memberikan dan menerima informasi dan (e) lembaga formal dan informal. biaya transportasi dan kemudahan pemasaran.D. P. Dengan demikian perlu tidaknya terminal agribisnis di kawasan transmi-grasi akan menjadi renungan kita bersama dalam meningkatkan kesejah-teraan masyarakat dan memberi peluang berusaha untuk mendorong pro-gram transmigrasi swakarsa mandiri. informasi dan bersaing dengan pendatang. Wulandari S. Fakultas Pertanian IPB. 1999. Program MMA. Terminal Agribisnis: Patok Duga dan Belajar dari Negara Jepang. Bogor. Andriati. untuk menjembatani pemerintah dan masyarakat dalam rangka pembinaan komunikasi dan peningkatan sumberdaya manusia. REFERENSI : Said . Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Tesis yang tidak dipublikasikan. 2001. Sitorus. Penentuan Lokasi Pengembangan Agribisnis melalui Analisis Potensi Wilayah. memberikan dukungan terhadap penciptaan aktivitas ekonomi dan memiliki jaringan prasarana perhubungan baik secara internal maupun regional serta memiliki kemudahan dalam pembangunan prasarana listrik dan telekomunikasi. Program MMA. 5. 4. IPB Bogor . E. 1997. Bogor . (c) pendidikan dan ketram-pilan penduduk setempat.Gumbira. Dukungan tersebut akan mengaktifkan petani untuk terus berproduksi dan mening-katkan hasil secara kontinyu dengan mutu yang dapat dipertanggung-jawabkan. R. Dukungan kelembagaan baik lembaga penyedia input produksi maupun lembaga pemasaran output. IPB Bogor. Analisis Potensi Wilayah Bagi Pembukaan Kantor Bank. Usulan Program Studi Manajemen Agribisnis.

1. dan kepastian hukum. arah dan kebijakan investasi pada sub sektor perkebunan. cadangan devisa yang tetap berada dalam comfortable zone . karena didukung antara lain oleh: adanya pertumbuhan permintaan produk primer dan turunannya.Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Jasa & Konsultasi | Publikasi | Produk | Site Map | Hubungi Kami | Member Login RUMUSAN SEMINAR PROSPEK DAN PERCEPATAN INVESTASI AGRIBISNIS PERKEBUNAN Lihat Artikel Lain Jakarta. kosolidasi fiskal yang prudent . inflasi yang rendah. Perkembangan yang baik tersebut juga didukung dengan perkembangan ekonomi dunia yang terus membaik (kecuali Eropah) yang ditunjukan oleh naiknya volume ekspor dan impor dunia. kekuatiran deflasi yang semakin berkurang. kucuran kredit yang terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang membaik karena ditunjang dengan kebijakan fiskal yang pruden . 10 Maret 2004 Seminar sehari yang merupakan kerjasama Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) dengan Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan . membahas topik “Prospek dan Percepatan Investasi Agribisnis Perkebunan” dan dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2004 di Hotel Hilton Jakarta. industri hilir perkebunan. Dari paparan dan diskusi yang berkembang. indeks komposit spot non-migas yang terus melaju termasuk indeks komoditas pertanian. serta kiat-kiat percepatan investasi agribisnis perkebunan. political will dan langkah-langkah nyata dari pemerintah dalam bentuk peraturan perundangan dan kebijakan yang mendorong tumbuhnya investasi. Investasi agribisnis perkebunan di Indonesia cukup prospektif. yang ditunjukan oleh arus modal yang terus meningkat. Kinerja ekonomi makro dapat dijadikan dasar yang kuat bagi investasi dan percepatan investasi sektor riil. menguatnya mata uang Euro dan Yen terhadap US $. daya saing produk-produk ekspor perkebunan yang relatif baik dengan tersedianya input factor yang relatif . termasuk sektor agribisnis perkebunan. Seminar diawali dengan keynote speech Menteri Pertanian dan membahas 6 makalah menyangkut prospek makro ekonomi. ekonomi Cina sebagai car-full ekonomi dunia. apakah pemilu transparant dan peacefull . Akan tetapi perlu think to watch . Peluang tersebut perlu dimanfaatkan oleh dunia usaha termasuk agribisnis perkebunan. dihasilkan rumusan sebagai berikut: • Perekonomian Indonesia pada tahun 2003 menunjukkan perbaikan yang signifikan. • Diproyeksikan prospek investasi ke depan (tahun 2004) akan baik.

serta sangat menarik bagi investor global. leadership. . investasi agribisnis perkebunan dapat memanfaatkan danadana dari luar negeri serta lembaga non-bank yang ada di dalam negeri. pengembangan agribisnis perkebunan tidak bisa berdiri sendiri. maka setiap usaha agribisnis perkebunan dibutuhkan perubahan manajemen (change management) yang meliputi: kemampuan inovasi. serta diversifikasi horizontal melalui peningkatan skala usaha dan pemanfaatan kapasitas usaha yang idle. kecepatan dan akses. • Penyempurnaan kebijakan PPN melalui kebijakan satu pintu untuk mengurangi biaya pengurusan dan waktu. dalam bentuk tax holiday . keringanan tarif impor mesin dan alat-alat untuk industri kecil dan menengah. insentif PPh berdasarkan serapan tenaga kerja dan percepatan transfer teknologi. harmonisasi tarif. • Rencana tindak lanjut ( action plan ) untuk mempercepat investasi agribisnis perkebunan adalah: (i) Pelaku bisnis harus bisa meyakinkan bahwa agribisnis perkebunan mempunyai prospek yang baik. Pemerintah hendaknya memperhatikan empat faktor kunci yang berpengaruh terhadap percepatan industri hilir perkebunan. memungkinkan terjadinya interaksi yang sinergis berbagai komponen yang saling mendukung yaitu: lembaga riset dan universitas. dan harus cermat melihat peluang. pengenaan tarif/pajak ekspor terhadap produk hilir lebih kecil dibandingkan bahan bakunya dan bersifat progresif (seperti produk hilir kelapa sawit). • Menghadapi tantangan kedepan yang semakin kompetitif. adaptasi teknologi. dapat dilakukan melaui dua cara. baik pada daerah KTI dan KBI. • Harmonisasi tarif perlu dilakukan dengan menerapkan tarif proporsional sesuai kandungan produk. dan konsistensi kebijakan/dukungan pemerintah. dan masih terbukanya peluang pengembangan industri hilir perkebunan di dalam negeri. Upaya pengembangan agribisnis perkebunan difokuskan terutama pada: (i) peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman. termasuk perlu diperkuatnya koordinasi antara Departemen Pertanian dengan Departemen Industri dan Perdagangan • Ekspansi bisnis untuk pengembangan industri downstream perkebunan. yaitu: integrasi vertikal termasuk didalamnya pengembangan second industry products dan end consummer market . Upaya-upaya tersebut perlu didukung dengan penerapan Iptek. serta (iii) pengembangan industri hilir. pengusaha dan asosiasi. yaitu: kebijakan PPN. (ii) pengembangan areal baru. 3. • Konsistensi kebijakan/dukungan pemerintah merupakan faktor kunci untuk berhasilnya agribisnis perkebunan. Konsep cluster merupakan alternatif strategi yang relistis dalam memembangun agribisnis perkebunan yang kompetitif. terutama untuk produk-produk yang selama ini di ekspor dalam bentuk produk primer dan mengisi peluang pasar produk hilir dalam negeri. 2. insentif investasi. industri yang terkait. • Pada dasarnya. Dengan pendekatan cluster (konsep KIMBUN mungkin salah satu contoh yang mendekati). pengenaan tarif masuk yang lebih besar terhadap produk hilir dibandingkan produk hulunya (misal teh). tetapi berkolaborasi dengan lembaga lainnya. Cluster based yang efisien akan memicu learning process dan buyer positioning . • Insentif investasi berupa insentif fiskal hendaknya diberikan pada pengusaha yang membangun industri hilir baru (pioneer).tersedia. untuk itu inisiatif harus datang dari pelaku bisnis ( enterprenure ). terutama untuk yang telah mendapat izin usaha.

maka perusahaan perkebunan (BUMN dan Swasta) harus mengembangkan usahanya pada downstream /industri perkebunan agar produk yang dihasilkan mempunyai nilai tambah dan daya saing yang tinggi. pajak pertambahan nilai (PPN) produk perkebunan. (iv) Pemerintah diharapkan dapat memperhatikan beberapa peraturan yang potensial menghambat investasi perkebunan seperti: batasan luas usaha yang ada pada RUU Perkebunan. (v) Pengembangan konsep KIMBUN ke depan perlu memperhatikan pendekatan cluster . rencana peraturan pemerintah (RPP) tentang pajak ekspor CPO. (iii) Kedepan mengharapkan kredit investasi dengan bunga murah dari pemerintah akan sulit. 10 Maret 2004 Tim Perumus Kunjungan ke-653. Jakarta . dan peraturan daerah/restribusi yang memberatkan usaha perkebunan terutama bagi petani/pekebun sebagai produsen yang utama. pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator melalui kebijakan makro dan sektoral yang mendukung pengembangan agribisnis perkebunan. Sejak: 25 Juni 2004 . Selain itu diharapkan kebijakan/ dukungan pemerintah terhadap agribisnis perkebunan hendaknya konsisten dan adanya koordinasi antar Departemen/lembaga terkait. agar efisien dan menarik investor global.(ii) Karena masalah perkebunan ada di off-farm .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful