SOSIOLOGI PENDIDIKAN

ABSTRAK Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dan institusi sosial yang terkait dengan pendidikan. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas tentang: 1) orientasi sosiologi pendidikan, 2) teori-teori sosiologi pendidikan Mikro-Makro, 3) Lesson study sebagai model pembinaan guru profesional, 4) PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai Upaya Guru untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, dan 5) metode research kualitatif sosiologi pendidikan. Berdasarkan pembahasan, tulisan ini menyimpulkan bahwa: 1) Orientasi dalam sosiologi pendidikan meliputi: a) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat; b) Hubungan antarmanusia di dalam sekolah; c) Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah/ lembaga pendidikan; dan d) Lembaga pendidikan dalam masyarakat; 2) Teori- teori dalam sosiologi pendidikan meliputi: teori fungsionalis,teori konflik, dan teori interaksi dan interpretatif; 3) Lesson study dapat digunakan sebagai model pembinaan guru profesional. Kapasitas yang dapat dikembangkan dalam lesson study mencakup tiga sumber kapasitas. Kapasitas tersebut menurut Lewis et al (2003: 2) meliputi: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study.; 4) PTK merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sedangkan tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Dikaitkan dengan prestasi belajar siswa, PTK menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa; dan 5) Penelitian dalam bidang sosiologi pendidikan yang dilakukan harus merujuk pada tujuan dari sosiologi pendidikan. Ketiga paradigma tersebut meliputi: (1) paradigma fakta sosial, (2) paradigma definisi sosial, dan (3) paradigma perilaku sosial harus berkaitan dengan tujuan dari sosiologi pendidikan itu sendiri.

A. Pendahuluan Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dan

2

institusi sosial yang terkait dengan pendidikan. Tingkah laku itu hanya dapat dimengerti dari tujuan, cita-cita atau nilai- nilai yang dikejar. Sebagaimana dalam terminologi sosiologi, sosiologi pendidikan berbicara tentang pandangan tentang kelas, sekolah, keluarga, masyarakat desa, kelompok- kelompok masyarakat dan sebagainya, masing- masing terangkum dalam wilayah suatu sistem sosial. Tiap-tiap sistem sosial merupakan kesatuan integral yang mendapat pengaruh dari : 1) sistem sosial yang lain; 2) lingkungan alam; 3) sifat-sifat fisik manusia; dan 4) karakter mental penghuninya. Kajian sosiologi pendidikan menekankan pada implikasi dan akibat sosial dari pendidikan dan memandang masalah- masalah pendidikan dari sudut totalitas lingkup sosial kebudayaan, p olitik, dan ekonomisnya bagi masyarakat (Karsidi, 2007: 1). Lebih lanjut, Karsidi mengemukakan bahwa apabila psikologi pendidikan memandang gejala-gejala pendidikan dari konteks perilaku dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat. Tulisan ini membahas mengenai orientasi sosiologi pendidikan, teori- teori sosiologi pendidikan Mikro-Makro, Lesson study sebagai model pembinaan guru profesional, PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai Upaya Guru untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, dan metode research kualitatif sosiologi pendidikan. B. Orientasi Sosiologi Pendidikan Dilihat dari objek penyelidikannya, sosiologi pendidikan adalah bagian dari ilmu sosial, terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum juga

2

3

merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial (Ballantine, 2001: 1). Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan dapat digambarkan secara skematis ke dalam bagan sebagai berikut:

Kelompok Ilmu Sosial

Sosiologi

Sosiologi Pendidikan

Ilmu Pendidikan

Gambar 1 Sosiologi Pendidikan dalam Kelompok Ilmu- ilmu Sosial (Sumber: Karsidi, 2007: 2)

Sosiologi sebagai ilmu sudah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode, dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitiannya adalah tingkah laku manusia dan kelompok (Karsidi, 2007: 2). Lebih lanjut, Karsidi menjelaskan bahwa sudut pandangnya adalah memandang hakikat masyarakat, kebudayaan, dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuannya terdiri atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi. Objek penelitian sosilogi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dan institusi sosial yang terkait dengan pendidikan (Ballantine, 2001: 2). Sebagaimana dalam terminologi sosiologi, sosiologi 3

4

pendidikan berbicara mengenai pandangan tentang kelas, sekolah, keluarga, masyarakat desa, kelompok-kelompok masyarakat, dan lain sebagainya yang masing- masing terangkum dalam wilayah suatu sistem sosial (Karsidi, 2007: 3). Sistem sosial merupakan suatu kesatuan integral yang mendapat pengaruh dari: 1) sistem sosial yang lain; 2) lingkungan alam; 3) sifat-sifat fisik dari manusia; dan 4) karakter mental penghuninya. Selaras dengan pandangan tentang sosiologi pendidikan tersebut di atas, Payne (dalam Salim, 2002: 4) mengemukakan bahwa dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling kait- mengait di mana di dalam interaksi sosial tersebut individu memperoleh dan mengorganisasikan pengalamannya. Masalah- masalah yang diselidiki sosiologi pendidikan antara lain meliputi pokok-pokok berikut ini. a. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat. 1) Hubungan pendidikan dengan sistem sosial atau struktur sosial; Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan; Fungsi pendidikan dalam kebudayaan; Fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo; dan Fungsi sistem pendidikan formal berkaitan dengan kelompok rasial, kultural, dan sebagainya. b. Hubungan antarmanusia di dalam sekolah. Cakupan ini cenderung menganalisis struktur sosial di dalam sekolah yang memiliki karakter berbeda dengan relasi sosial di dalam masyarakat luar sekolah, yaitu antara lain:

4

5

1) Hakikat kebudayaan sekolah sejauh ada perbedaannya dengan kebudayaan di luar sekolah; dan Pola interaksi sosial dan struktur masyarakat sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dam pola kepemimpinan informal sebagaimana terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya. c. Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah/ lembaga pendidikan. 1) Peranan sosial guru- guru/ tenaga pendidikan; Hakikat kepribadian guru/ tenaga pendidikan; Pengaruh kepribadian guru/ tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak/ peserta didik; dan Fungsi sekolah/ lembaga pendidikan dalam sosialisasi murid/ peserta didik. d. Lembaga Pendidikan dalam Masyarakat. Dalam cakupan ini dianalisis mengenai pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah/ lembaga pendidikan. Hal-hal yang tercakup dalam wilayah ini antara lain meliputi: 1) Pengaruh masyarakat atas organisasi sekolah/ lembaga pendidikan; Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistem-sistem sosial dalam masyarakat luar sekolah; Hubungan antarsekolah dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan; dan Faktor- faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat berkaitan dengan organisasi sekolah. Menurut Ballantine (2001: 3) dikatakan bahwa ahli sosiologi mempelajari tentang orang di dalam berbagai situasi. Dalam kerangka kerja ini, ada beberapa

5

6

kekhususan yang dapat dikelompokkan ke dalam kajian-kajian tentang lembagalembaga yang ada di dalam masyarakat, kajian tentang proses-proses sosial, dan kajian tentang situasi-situasi yang ada di dalam kelompok lain yang terkait. Lebih lanjut, Ballantine (2001: 2) mengemukakan bahwa struktur masyarakat diwakili oleh enam lembaga utama yang merupakan bidang kajian dalam sosiologi, yaitu: keluarga, agama, pendidikan, politik, ekonomi, dan kesehatan. Sedangkan organisasi formal yang kompleks, seperti sekolah merupakan bagian dari lembaga struktural yang ada di dalam masyarakat. Proses merupakan tindakan sebagian dari masyarakat yang menjadikan struktur tersebut hidup. Melalui proses sosialisasi, orang akan belajar tentang peranan apa yang mereka harapkan. Proses stratifikasi menentukan di mana orang akan menempatkan diri dalam struk tur sosial sesuai dengan kondisinya. C. Teori-teori Sosiologi Pendidikan Mikro-Makro Sosiologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang cukup baru. Pada setengah abad yang lalu, penekanan diberikan pada pendidikan sebagai suatu lembaga yang bersifat unik dan me rupakan suatu bidang kajian yang bersifat objektif. Dalam masa itu, kajian difokuskan pada permasalahan sosial di mana pendidikan memainkan peranan penting, seperti peranan sekolah dalam memberikan peluang bagi kaum miskin untuk meningkatkan status ekonomi mereka, sistem nilai yang terus menerus diperdebatkan mengenai apa yang harus diajarkan di sekolah, asimilasi kaum imigran, dan peranan pendidikan dalam mendorong persamaan (Ballantine, 2001: 6).

6

7

Pada abad ke dua puluh satu, karya-karya dalam sosiologi pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam tingkat analisis (levels of analysis) yang berbeda, yaitu dari tingkatan makro seperti pendidikan sebagai suatu lembaga kemasyarakatan, hingga ke level mikro tentang interaksi di dalam ruangan kelas (Ballantine, 2001: 6). Pendekatan teoretis yang digunakan tersebut dapat membantu untuk menentukan permasalahan yang harus dijawab oleh para peneliti. Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam sosiologi pendidikan. Pendekatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1) teori fungsionalis; 2) teori konflik; dan 3) teori interaksi dan interpretatif (Ballantine, 2001: 6). Dua pendekatan yang pertama berfokus pada pandangan-pandangan yang berbeda mengenai bagaimana cara masyarakat bekerja. Sedangkan pandangan yang ketiga berkaitan dengan interaksi- interaksi dalam situasi-situasi sosial, Ketiga pendekatan tersebut juga berfokus pada tingkat analisis yang berbeda. Pendekatan fungsional dan konflik cenderung berkaitan dengan pandangan analisis tentang hubungan-hubungan sosial dan kultur sekolah tingkat makro; sedangkan pendekatan interaksi lebih berfokus pada interaksi skala mikro antara individu dengan kelompok-kelompok kecil (Ballantine, 2001: 7). 1. Teori Fungsionalis Salah satu pendekatan teoretis utama dalam sosiologi adalah teori fungsionalisme. Teori ini juga sering disebut sebagai teori fungsionalisme struktural, konsensus, atau ekuilibrium. Pendekatan ini diawali dengan adanya asumsi bahwa masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada di dalam masyarakat, seperti pendidikan, terbentuk dari bagian-bagian yang saling tergantung dan saling bekerja

7

8

sama satu sama lain, yang masing- masing saling berkontribusi memberikan aktivitas yang diperlukan bagi berfungsinya masyarakat secara keseluruhan (Ballantine, 2001: 7). Pendekatan fungsionalisme sering disamakan dengan berfungsinya tubuh manusia secara biologis. Masing- masing bagian memainkan suatu peranan penting dalam sistem keseluruhan dan saling tergantung satu sama lain untuk dapat bertahan hidup. Tokoh utama dalam pendekatan ini adalah Emile Durkheim (1858 – 1917) seorang profesor pedagogy dari Universitas Sorbonne, Perancis. Menurut Durkheim (dalam Ballantine, 2001: 8) dikatakan bahwa pentingnya pendidikan adalah dalam menciptakan nilai- nilai moral sebagai landasan dalam masyarakat. Secara lengkap Durkheim menulis sebagai berikut: “Education is the influence excercised by adult generations on those that are not yet ready for social life. Its object is to arouse and to develop in the child a certain number of physical, intellectual and moral states which are demanded of him by both the political society as a whole and the special milieu for which he is specifically destined.” Menurut Durkheim dikatakan bahwa pendidikan merupakan pengaruh yang dilatih oleh generasi dewasa kepada mereka yang belum siap untuk menjalani kehidupan sosial. Tujuannya adalah untuk membangun dan mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelektual, dan moral yang diharapkan oleh masyarakat dan lingkungan tertentu di mana ia secara khusus ditakdirkan unt uk berada di dalamnya. Teori fungsionalisme saat ini memandang bahwa fungsi utama sekolah adalah sebagai pemberi pengetahuan dan perilaku yang diperlukan untuk memelihara tatanan yang ada di dalam masyarakat (Ballantine, 2001: 9). Para ahli

8

9

teori fungsiona lisme memandang lembaga sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan atau bagian dari sistem sosial. Bagian-bagian dari sistem tersebut dibahas dalam hal fungsi mereka di dalam sistem secara keseluruhan. Tingkat saling ketergantungan antar bagian di dalam sistem tersebut berkaitan dengan tingkat integrasi yang ada di antara bagian-bagian tersebut. Nilai- nilai yang digunakan bersama antar anggota kelompok atau konsensus merupakan komponen penting yang ada di dalam sistem tersebut. Kelemahan dari teori fungsionalisme menurut beberapa ahli fungsionalisme adalah sebagai berikut: 1) teori ini gagal untuk mengenali sejumlah kepentingan yang divergen, ideologi, dan konflik kepentingan kelompok (Hurn , 1993: 50 - 55); 2) teori ini menghadapi kesulitan dalam menganalisis interaksi- interaksi yang ada di dalamnya, seperti dinamika yang ada di dalam ruangan kelas, yaitu hubungan antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa (Karabel dan Halsey, 1977: 11). 2. Teori Konflik Teori konflik berangkat dari asumsi awal tentang adanya suatu ketegangan di dalam masyarakat dan bagian-bagiannya yang tercipta karena adanya kepentingan yang saling bertentangan dari individu dan kelompok. Teori ini dilandasi dari tulisan Karl Marx dan Max Weber tentang teori konflik. Marx mendasari teori konflik dari kondisi sosial para pekerja yang dieksploitasi di dalam sistem kelas sebagai akibat dari kapitalisme. Marx menyatakan bahwa kelompok-kelompok masyarakat yang bertentangan, yaitu kelompok masyarakat ‘kaya’ dan ‘miskin’ berada dalam suatu kondisi ketegangan yang konstan yang kemungkinan dapat menimbulkan pertentangan. Kelompok

9

10

‘kaya’ mengendalikan kekuasaan, kekayaan, barang-barang materi, privilese (termasuk akses terhadap pendidikan yang terbaik), serta pengaruh; sedangkan kelompok kaum ‘miskin’ menyajikan suatu tantangan yang bersifat konstan karena mereka terus berusaha mendapatkan suatu bagian yang lebih besar dari kemakmuran masyarakat. Pertentangan untuk merebut kekuasaan tersebut membantu menentukan struktur dan berfungsinya organisasi dan hirarkhi yang muncul sebagai akibat dari hubungan kekuasaan. 3. Teori Interaksi dan Interpretatif Teori interaksi dan interpretatif berfokus pada interaksi individu dengan yang lain. Individu saling berbagi suatu kebudayaan dan mau menginterpretasikan dan menentukan beberapa situasi sosial dengan cara yang sama karena adanya sosialisasi, pengalaman, dan ekspektasi yang sama. Teori ini berakar dari karya Mead dan Cooley tentang perkembangan diri melalui interaksi sosial baik di dalam sekolah ma upun situasi lainnya. Dua teori tentang interaksi yang bermanfaat dalam sosiologi pendidikan adalah teori labeling dan teori pertukaran. Teori labeling mempunyai proposisi dasar bahwa perilaku menyimpang mempunyai karakteristik dari suatu transaksi antara orang yang menyimpang dengan yang lain. Istilah lain untuk teori ini adalah teori transaksional (Becker, 1952: 471). Perilaku tertentu adalah menyimpang karena perilaku tersebut didefinisikan demikian oleh kelompok dalam masyarakat, terutama oleh kelompok yang mempunyai kekuatan untuk menentukan bahwa definisi yang mereka berikan mempunyai bobot.

10

11

D. Lesson Study sebagai Model Pembinaan Guru Profesional Lesson Study adalah belajar mengajar secara kolaboratif dan berkelanjutan dari sekelompok guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dadan Rosana, Jaslin Ikhsan, Triatmanto, (dalam Tjipto Subadi, 2010: 1) menjelaskan bahwa Lesson study adalah suatu kegiatan pembelajaran yang ditandai dengan adanya proses kolaboratif dari sekelompok guru yang secara bersama-sama merencanakan langkah-langkah pembelajaran termasuk metode, media dan instrumen evaluasinya. Sedangkan menurut Sukirman (dalam Tjipto Subadi, 2010: 1) menjelaskan bahwa Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsipprinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Kegiatan lesson study ini berlangsung dengan cara; perencanaan bersama, kemudian salah seorang guru melakukan praktek pembelajaran, guru yang lain sebagai observer (mengamati proses pembelajaran tersebut), setelah selesai pembelajaran dilanjutkan diskusi/evaluasi bersama terhadap praktek pembelajaran tersebut, dan kemudian memperbaiki perencanaan bila ada yang kurang tepat, berikutnya praktek pembelajaran berikutnya, dan seterusnya. Lesson study sebagai proses pelatiahan profesionalitas guru merupakan pelatihan yang bersifat siklus, diawali dengan: (1) eksplorasi akademik terhadap materi ajar, strategi pembelajaran, alat-alat pelajaran, dan alat penilaian; (2) membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), dilanjutkan (3) pelaksanaan pembelajaran berdasarkan rencana dan alat-alat pelajaran yang dibuat, mengundang sejawat sebagai observer dan supervisor (4) melakukan refleksi terhadap pelajaran

11

12

tadi melalui tukar pandangan, ulasan, diskusi dengan para observer dan supervisor. Oleh karena itu, implementasi program lesson study perlu dimonitor dan dievaluasi sehingga akan diketahui bagaimana keefektifan, keefesienan dan perolehan pihakpihak yang terlibat di dalamnya. Lesson Study dilaksanakan dengan tiga tahapan utama dari lesson study yakni; (a) Tahap perencanaan (planning): pada tahapan ini secara kolaboratif (guru dengan guru atau guru dengan dosen atau guru dengan pemikir) menyusun suatu perencanaan pembelajaran yang inovatif sehingga dihasilkan suatu perencanaan pembelajaran (lesson plan) yang terbaik dan membantu siswa belajar dengan baik yang disusun berdasarkan pengalaman, hasil pengamatan, buku-buku atau sumber ide lainnya (b) Tahap implementasi (implementing/do): pada tahapan ini dilakukan pembagian tugas bagi pihak-pihak yang berkolaborasi untuk meimplementasikan lesson plan yang sudah disusun. Salah satu kolaborator berperan sebagai guru dan yang lainnya sebagai pengamat/observer yang melakukan pengamatan dengan menggunakan lesson plan sebagai acuan. Pada skala besar kegiatan implementasi ini dapat diikuti oleh guru atau pemerhati pendidikan lainnya di luar pihak-pihak yang berkolaborasi. (c)Tahap refleksi (reflecting/see): pada tahap ini pihak-pihak yang berkolaborasi (atau dengan ditambah pengamat lainnya) duduk bersama untuk melakukan diskusi dalam bentuk sharing mengenai apa-apa yang baru saja mereka tangkap dan amati dari implemantasi lesson plan yang telah dilakukan. Dikaitkan dengan pembinaan profesionalisme guru, ada beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik

12

13

dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru. E. PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai Upaya Guru untuk

Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tinakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakantindakan yang dilakukan, serta memperbaiki dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan (Wiriaatmadja, 2006: 11). Lebih lanjut, menurut Karwono (2009: 1), dikemukakan bahwa karakteristik PTK meliputi: 1) an inquiry on practice from within; 2) a collaborative effort between school teachers and teacher educators; dan 3) reflective practice made public. Karakteristik pertama, yaitu an inquiry on practice from within, diartikan bahwa kegiatannya dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati guru dalam pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu PTK bersifat practice driven dan Action driven, dalam arti PTK berujuan memperbaiki scara praktis, langsung – disini, sekarang atau sering disebut dengan penelitian praktis (practical inquiry). Hal ini berarti PTK memusatkan perhatian pada permasalahan spesifik konstekstual. Karakteristik kedua, a collaborative effort between school teachers and teacher educators, mengandung pengertian bahwa PTK diselenggarakan secara colaboratif dengan guru yang kelasnya menjadi kancah PTK. Karena yang memiliki 13

14

kancah adalah guru sehingga para dosen LPTK yang berminat melakukan PTK tidak memiliki akses kepada kancah dalam peran sebagai praktisi. Oleh sebab itu ciri kolaboratif harus secara konsisten tertampilkan sebagai kerja sama kesejawatan dalam keseluruhan tahapan penyelenggaraan PTK, mulai dari identifikasi permasalahan, serta diagnosis keadaan, perancangan tindakan perbaikan, sampai dengan pengumpulan dan analisis data serta reflektisi mengenai temuan di samping dalam penyusunan laporan. Karakteristik ketiga, reflective practice made public, mengandung pengertian bahwa guru yang berkolaborasi dalam PTK harus mengemban peran ganda sebagai praktisi ya ng dalam pelaksanaan penuh keseharian tugas-tugasnya juga sekaligus secara sistematis meneliti praksisnya sendiri. Apabila ini terlaksana dengan baik maka akan terbina kultur meneliti dikalangan guru, dan merupakan suatu langkah strategis dalam profisionalisme jabatan guru. Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan atau hasil belajar pserta didik, dan atau implementasi sesuatu program sekolah. Pada gilirannya, dengan perumusan permasalahan yang lebih tajam itu dapat dilakukan diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab permasalahan secara lebih cermat, sehingga terbuka peluang untuk menjajagi alternatif- alternatif tindakan perbaikan yang diperlukan. Alternatif mengatasi permasalahan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi program tindakan perbaikan yang akan dicobakan. Hasil percobaan tindakan perbaikan yang dinilai dan direfleksikan dengan mengacu

14

15

kepada kreteria-kreteria perbaikan yang dikehendaki, yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun tujuan utama dari PTK sendiri menurut pendapat Kemmis yang dikutip oleh Wiriaatmadja (2006: 64) yang mengatakan bahwa “penelitian tindakan kelas berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. F. Metode Research Kualitatif Sosiologi Pendidikan Secara harfiah, sesuai dengan namanya, penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur kuantifikasi, perhitungan statistik, atau bentuk cara-cara lainnya yang menggunakan ukuran angka (Strauss dan Corbin, 1990 dalam Hoepfl, 1997 dan Golafshani, 2003). Kualitatif berarti sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas, nilai atau makna yang terdapat dibalik fakta. Kualitas, nilai atau makna hanya dapat diungkapkan dan dijelaskan melalui linguistik, bahasa, atau kata-kata. Oleh karena itu, bentuk data yang digunakan bukan berbentuk bilangan, angka, skor atau nilai; peringkat atau frekuensi; yang biasanya dianalisis dengan menggunakan perhitungan matematik atau statistik (Creswell, 2002). Menurut Creswell (2003), pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif-konstruktif (misalnya, makna-makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai- nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu), atau berdasarkan perspektif partisipatori (misalnya: orientasi terhadap politik, isu, kolaborasi, atau perubahan), atau keduanya. Lebih jelasnya, pengertian tersebut adalah sebagai berikut:

15

16

A qualitative approach is one in which the inquirer often makes knowledge claims based primarily on constructivist perspectives (i.e. the multiple meanings of individual experiences, meanings socially and historically constructed, with an intent of developing a theory or pattern) or advocacy/ participatory perspectives (i.e. political, issue-oriented, collaborative or change oriented) or both (Creswell, 2003, hal.18). Penelitian kualitatif bermaksud menggali makna perilaku yang berada dibalik tindakan manusia. Interpretasi makna terhadap perilaku ini tidak dapat digali melalui verifikasi teori sebagai generalisasi empirik, seperti yang dilakukan pada panelitian kuantitatif. Dengan kata lain, penelitian kualitatif bermaksud memahami obyeknya, tetapi tidak untuk membuat generalisasi melainkan membuat ekstrapolasi atas makna di balik obyeknya tersebut. Para peneliti kualitatif mengungkapkan dan menjelaskan kenyataan adanya makna ya ng menyeluruh dibalik obyek yang ditelitinya, yang terbentuk dari keterhubungan berbagai nilai- nilai kehidupan dan kepercayaan, bukan dari ekstrasi atau turunan dari konteks pengertiannya yang menyeluruh. Dikaitkan dengan sosiologi pendidikan, maka metode penelitian kualitatif dalam sosiologi pendidikan dapat dilakukan terhadap orientasi yang menjadi fokus sosiologi pendidikan. Orientasi-orientasi tersebut antara lain meliputi: a) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat; b) Hubungan antarmanusia di dalam sekolah; c) Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah/ lembaga pendidikan; dan d) Lembaga pendidikan dalam masyarakat. Salah satu contoh penelitian kualitatif dalam sosiologi pendidikan adalah penelitian yang mengkaji tentang metode meningkatkan kualitas peran dan profesionalitas guru BP/BK dalam mentranfer ilmu (transfer of science), 16

17

internalisasi dan transfer nilai- norma (transfer of value and norm), dan sebagai pembimbing (guidance) dalam proses perubahan perilaku peserta didik di sekolah. G. Penutup Berdasarkan pembahasan di atas, selanjutnya dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Bidang cakupan sosiologi pendidikan antara lain meliputi pokok-pokok sebagai berikut: a) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat; b) Hubungan antarmanusia di dalam sekolah; c) Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah/ lembaga pendidikan; dan d) Lembaga pendidikan dalam masyarakat. Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam sosiologi pendidikan. Pendekatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1) teori fungsionalis; 2) teori konflik; dan 3) teori interaksi simbolik dan interpretatif. Dua pendekatan yang pertama berfokus pada pandangan-pandangan yang berbeda mengenai bagaimana cara masyarakat bekerja. Sedangkan pandangan yang ketiga berkaitan dengan interaksi- interaksi dalam situasi-situasi sosial. Beberapa metode yang digunakan dalam penelitian sosiologi pendidikan antara lain adalah: observasi partisipasi, survei, analisis sekunder, penelitian laboratorium terkontrol, dan studi kasus. Untuk menentukan teknik yang digunakan, peneliti harus menentukan permasalahan yang hendak dikaji dan menentukan tingkat analisis dan sumber informasi yang ada yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak dikaji tersebut. Teori sistem terbuka memandang suatu organisasi sebagai suatu rangkaian yang terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait satu 17

18

sama lain dan berinteraksi dengan lingkungan sama seperti layaknya makhluk hidup. Lesson Study merupakan model pembinaan guru profesional. Hal ini dikarenakan ada beberapa manfaat dari lesson study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. PTK merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sedangkan tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dilandasi adanya karakteristik PTK yang meliputi: 1) an inquiry on practice from within; 2) a collaborative effort between school teachers and teacher educators; reflective practice made public. Metode penelitian kualitatif dalam sosiologi pendidikan dapat dilakukan terhadap orientasi yang menjadi fokus sosiologi pendidikan. Orientasi-orientasi tersebut antara lain meliputi: a) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat; b) Hubungan antarmanusia di dalam sekolah; c) Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah/ lembaga pendidikan; dan d) Lembaga pendidikan dalam masyarakat. dan 3)

18

19

Daftar Pustaka Ballantine, Jeanne H., 2001. The Sociology of Education: A Systematic Approach. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall, Inc. Becker, Howard S. 1952. “The Career of Chicago Public Schoolteachers”. American Journal of Sociology Vol. 57, 1952, pp: 470 – 477, http://www.proque st.umi.com diakses pada 3 Juni 2010. Bernstein, Basil. 1990. Class, Codes, and Control: Vol 4. The Structuring of Pedagogic Discourse. London: Routledge. Creswell, J. W. 2003. Qualitative Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc: California Hanson, E. Mark. 1996. Educational Administration and Organizational Behavior. Boston: Alyn and Bacon. Hurn, Christopher. 1993. The Limits and Possibilities of Schooling: An Introduction to Sociology of Education 3rd Edition. New York: Holt and Rinehart, Inc. Karabel, Jerome and A. H. Halsey. 1977. Power and Ideology in Education. New York: Oxford University Press. Karsidi, Ravik. 2007. Sosiologi Pendidikan. Surakarta: UNS Press. Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial; Sketsa, Teori dan Refleksi Metodologi Kasus di Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana. Subadi, Tjipto. 2010. Lesson Study Sebagai Model Pembinaan Guru untuk Meningkatkan Profesionalitas. Artikel. http://tjiptosubadi.blogspot.com/ 2010/04/lesson-study-sebagai- model-pembinaan.html.

19

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful