P. 1
Rangkaian Kata Bagi Jiwa

Rangkaian Kata Bagi Jiwa

|Views: 220|Likes:
Published by alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Dec 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2014

pdf

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjkl Rangkaian Kata Bagi Jiwa zxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn Berhentilah sejenak untuk mengambil hikmah dan menyegarkan

jiwa..sejenak..hanya sejenak... mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopa sdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjk lzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwe rtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiop asdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwe rtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiop asdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnm qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjkl
11/26/2011

Judul

: Telaga Nasehat

Penyusun

: Alif Fikri

Penyusunan

: Agustus 2011

Perhatian: untuk E-book ini bertujuan untuk kepentingan penyebaran ilmu dan da’wah semata, bukan untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial lainnya. Penulis dari tiap kisah yang tidak disebutkan namanya adalah anonim.

1

30 Dzulhijjah 1432 H/ 26 Nopember 2011 M

Daftar Isi
Haus Buku, Minat Baca, Syaraf Menulis__________________________________________________5 Lima Penyakit Ukhuwah_________________________________________________________11 Filosofi Air_______________________________________________________________12 Setetes Embun: Seni Menerima______________________________________________________13 Sikap_________________________________________________________________14 Kayak Film_______________________________________________________________15 Sebentang Jaring Kepercayaan______________________________________________________16 Mulailah Memberi___________________________________________________________17 Batu Kecil_______________________________________________________________18 Seberapa Jauh Manfaat Tindakan Anda Hari Ini______________________________________________19 Manusia________________________________________________________________20 Jangan Tanya pada Pujangga______________________________________________________21 Militansi dalam Makna Sebenarnya___________________________________________________23 Kebahagiaan _____________________________________________________________25 Jangan Melihat ke Belakang______________________________________________________27 Manusia Bahagia Bila..._________________________________________________________29 Tetap Tegar Walaupun Sulit_______________________________________________________30 Menata Kembali Niat Kita________________________________________________________32 Mengapa Berteriak?__________________________________________________________33 Lantas,Apa yang 'kan Kau Bawa Kelak?_________________________________________________35 Tabayyun Terlebih Dahulu Saudaraku__________________________________________________37 Sahabat..._______________________________________________________________38 Karet Gelang_____________________________________________________________40 Sikap Terhadap Berbagai Harakah____________________________________________________42

2

The Story of Monkey__________________________________________________________44 Istimewanya Wanita Islam_______________________________________________________46 Pelajaran dari Pencuri Kue_______________________________________________________48 Ketika Bidadari Turun ke Bumi_____________________________________________________50 Pengaduan di Ujung Malam_______________________________________________________52 Kisah sedih di Jalan Da'wah_______________________________________________________54 Takkan Pernah Sebanding _______________________________________________________56 The Friendship Rainbow_________________________________________________________59 Asumsi________________________________________________________________61 Belajardari Da'wah Partai Refahyang Cerdas dan Elegan_________________________________________64 Bercermin pada Masa Lalu_______________________________________________________66 Berjuang Keras untuk Satu Istri_____________________________________________________69 Bermimpilah dan Wujudkan!______________________________________________________73 Kala Cinta Meranggas Aqidah______________________________________________________77 Keberanian______________________________________________________________80 Kehidupan yang Ber@rti _______________________________________________________83 Ketika Ikhwah Jatuh Cinta!!!______________________________________________________86 Tiada Kemuliaan Tanpa Islam______________________________________________________90 Tanya-Jawab_____________________________________________________________95 Seputar Masalah Plagiat________________________________________________________98 Sekuntum Edelweis Untukmu, Aktifis Dakwah_______________________________________________102 Sebuah Nasihat Kecil_________________________________________________________104 Seandainya Rasulullah Ke Rumah Kita_________________________________________________107 Sang Imam: Sebuah Cuplikan Kecil untuk Mengenang Imam Hasan al-Banna_________________________________110 Saat Islam Kembali ke Eropa______________________________________________________113

3

Mobocrazy Vs Democracy________________________________________________________117 Merajut Cinta_____________________________________________________________119 Meraih Surga dengan Kata-kata____________________________________________________122 Menulis Itu Seperti Bermain______________________________________________________124 Menjemput Rezeki___________________________________________________________127 Menjadi Seorang Profesional______________________________________________________129

4

Haus Buku, Minat Baca, Syaraf Menulis
“The true University of these days is a collection of books.” (Universitas sejati saat kini ialah koleksi buku.) --Thomas Carlyle (1795 - 1881), sejarahwan dan esais Skotlandia.
Oleh: Anwar Holid Editor fiksi Penerbit Jalasutra, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.

Bayangkan ada 22 orang dari berbagai disiplin ilmu masing-masing memiliki sekitar 15.000 judul buku. Total menumpuk 330.000 judul. Tapi bagaimana agar orang lain bisa memanfaatkan pustaka sekaya itu bila semuanya belum didata, belum dikatalog, dan tidak terkumpul di satu tempat, melainkan 'tercerai berai' di berbagai tempat, berjauhan, kadang-kadang disimpan dalam peti, sulit diakses, bahkan satu-dua di antaranya rusak; padahal bisa jadi ada satu buku yang betul-betul dibutuhkan seseorang. Buku itu baru bisa diakses oleh orang-orang dekat pemiliknya saja. Bahkan tidak jarang pemiliknya lupa judul, sehingga dia terpaksa beli lagi ketika merasa butuh, padahal buku tersebut terselip di salah satu jajar rak buku. Idealnya dibangun perpustakaan yang layak untuk menyimpan dan mengelola buku sebanyak itu, dengan aksesibilitas seluas mungkin bagi peminatnya, dikelola dengan manajemen bagus. Buku baru bermanfaat bila dibaca, dipahami, ditafsir, dianalisis dan dikritik isinya.

5

Jarang orang merasa terus menerus butuh perpustakaan kecuali pada saat perlu buku yang tak punya atau tak bisa pinjam dari kawan. Saat itu kebutuhan pada perpustakaan jadi penting, sekaligus sangat berharap tempat itu benar-benar menyediakan kebutuhannya. Bila kebutuhan makin besar, tentu seseorang akan makin sering mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan baru bisa dikatakan 'hidup' bila pengunjung makin terikat oleh keberadaan dirinya, makin kerap berkunjung, makin sering meminjam koleksinya. Bahkan tak jarang seorang penulis/peneliti sampai rela tinggal di sebuah perpustakaan demi keperluan tulisannya. Selain harus berinteraksi sedekat mungkin dengan bahan pustaka, tentu dia merasa perpustakaan itu merupakan rumah, yang membuatnya nyaman, tempat segala keperluannya terpenuhi. Tapi bagaimana bila tidak? Perpustakaan yang tidak bisa menyediakan buku kebutuhan anggota/ pengunjungnya jadi terasa tak layak didatangi. Daya tawar terpenting sebuah perpustakaan adalah kelengkapan dan keluasan koleksi. Sebab dengan demikian orang bisa mendapatkan

bahan atau ide (gagasan) tentang hal yang ingin ditulisnya. Semakin lengkap bahan rujukan, diharapkan pembaca makin kaya wawasan, dan dengan demikian bisa persis tahu yang ingin ditulisnya. Bayangkan seorang penulis tinggal di perpustakaan yang menyediakan apa pun untuk keperluannya, dia bisa dijamin bisa melakukan apa pun dengan dunianya, berekspresi dan mengungkapkan maksud dan pikirannya. Al-Jahiz, Jean-Paul Sartre atau Jorge Luis Borges adalah contoh terbaik orang yang pernah tinggal di perpustakaan; di tempat itu mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan membaca, menafsir, menulis, membentuk dunia ideal, dan pada akhirnya dicoba diejawantahkan. Mereka bersentuhan dengan teks dan buku setiap saat, membaui huruf, kertas, debu, udara, ruang, tinta, cover, isi buku, mencoba mencerap isinya mana kala bisa. Dari mereka kita merasakan betapa perpustakaan, minat baca, dan kebiasaan menulis sangat erat saling berpengaruh. Memang pembaca tidak selamanya mampu menuliskan yang pernah mereka baca---sebab menulis adalah fakultas lain lagi dari seorang manusia---tapi setidaknya membaca bisa diharapkan mampu menumbuhkan syaraf ekspresi manusia, yang bisa diungkapkan dengan cara terbaik sesuai bakat, kecenderungan, latihan, dan juga disiplin.

Hingga sekarang anggapan bahwa menulis merupakan hal personal masih bisa dipertanggungjawabkan, artinya proses kreatif menulis harus dilewati orang itu sendiri. Seseorang bisa bergaul erat dengan penulis produktif, berinteraksi dalam komunitas, bergelut dengan persoalan hidup atau buku besar, tapi menulis butuh kondisi, iktikad, maupun pembiasaan. Bahkan saraf menulis bisa berhenti dalam keadaan tertentu, tak menghasilkan sesuatu. Meski bisa dipelajari, menulis bukan sesuatu yang spontan. Seorang teman beribarat, menulis itu seperti odol: orang harus memencet agak keras agar isinya muncul. Menulis harus terus dilatih, dicoba, diperiksa, dikritik, agar orang tahu seberapa baik hasilnya. Ketika menulis, mencoba menghidupkan karakter, membangun tema, menawarkan motif atau argumen, orang harus melakukan dan mencoba sendiri. Wawasan, analisis, tafsiran, komentar, kadang-kadang merupakan taruhan yang sangat berisiko, tapi pada saatnya penulis harus berani mengambil sendiri, dengan seluruh pengetahuan dan landasan miliknya. Tidak segala pendapat harus disertai rujukan orang lain atau rujukan; jauh lebih penting berani berpendapat dengan nalar atau bereksperimen dengan pendekatan yang paling familiar dengan dirinya.

6

Ernest Hemingway pernah menasihati: tulislah yang engkau ketahui, tapi Arthur Phillips menantang: bagaimana bila penulis tak tahu apa-apa? Jangan khawatir, jawabnya, pergi saja ke British Museum. Di sana penulis akan diberi tahu segala yang tidak diketahuinya, dan kemudian dia bisa mencoba menuliskannya sebaik mungkin. Di British Museum penulis bisa bertemu dengan para ahli, yang bukan saja tahu segala hal tentang berbagai subjek, melainkan akan menjawab segala pertanyaan, tak peduli berapa banyak, betapa konyol dan salah, biarpun kotor dan tak masuk akal. Melalui latihan, pembelajaran, dan pengalaman, menulis bisa menjadi suatu keterampilan dan sekadar keahlian yang mampu menghasilkan efek keindahan, persuasif, argumentatif, maupun konfrontatif dan

kontroversial. Pengalaman, ungkapan, peristiwa, emosi, renungan, maksud, bisa diolah sedemikian rupa melalui berbagai cara ungkap dan kalimat, sudut pandang, dan teknik---dan akhirnya akan melahirkan ciri khas atau cara bertutur. Perpustakaan sebenarnya bisa dijadikan sahabat terbaik bagi siapa pun, baik yang bertekad melakoni 'jalan penulis' atau ingin memanfaatkan fakultas menulisnya.

Sebuah perpustakaan---apalagi bila bagus---layak dipilih sebagai sahabat penulis. Sebaliknya, perpustakaan yang telah berdiri senantiasa butuh kawan agar dinamik. Penulis bisa menawarkan diri untuk aktif; perpustakaan harus memberi akses semudah mungkin agar orang didekatnya beraktifitas. Perpustakaan harus terus memperbaiki layanan, tidak hanya melalui kelengkapan koleksi, melainkan juga melalui pendekatan paling sesuai dengan karakter maksud pendirian atau target sasarannya. Perpustakaan universitas umpamanya, layak harus berpikir menyediakan koleksi yang disukai mahasiswa, antara lain CD dan kaset musik, film, termasuk layanan hobi, internet, pembentukan komunitas atau klub (kelompok) yang memang merupakan bagian hidup tak terpisahkan mereka sehari-hari. Ketidaktersediaan fasilitas seperti itu terbukti 'melarikan' mahasiswa dari komunitas universitas, dan kompensasinya mencari semuanya di luar civitas academica. Sebaliknya kelengkapan fasilitas dan layanan akan menyedot perhatian mahasiswa ke dalam perpustakaan, nyaman melakukan aktifitas, dan betah berlama-lama di sana. Pengunjung bisa terikat cukup intens dengan perpustakaan, sebab daya tawarnya menarik dan memenuhi selera mereka. Pengalaman sejumlah klub literasi memperlihatkan bahwa penyediaan fasilitas itu bisa dilakukan dengan rendah; artinya bila dialokasikan dari biaya masuk universitas masih sangat mungkin, belum lagi kemungkinan melakukan kerja sama dengan pihak lain. Sebaliknya komunitas bisa mengandalkan pertemanan dan ikatan emosi pengunjungnya. Perpustakaan bisa berinisiatif mengadakan pertemuan rutin, menawarkan sesuatu yang bisa menarik peran serta mahasiswa, menginisiasi klub buku, mengadakan workshop menulis, bekerja sama dengan toko buku, penerbit, atau lembaga lain untuk memberi layanan maksimal. Apa pun jenis dan bagaimanapun manajemennya, perpustakaan yang bagus senantiasa berusaha menyediakan kelengkapan memadai. Di perpustakaan seperti itu pengunjung/ anggota bisa membaca dengan tenang, menulis secara ekstensif atau mencari rujukan, mendengarkan musik, menonton film, termasuk berbagi dengan pengunjung lain. Mereka membentuk komunitas, memberi denyut kehidupan, memberi napas budaya, menjadi pusat pertemuan.

7

Tentang koleksi buku misalnya, pengelola harus peka, tahu, dan menyediakan buku yang betul-betul ingin mereka baca. Orang rela melakukan apa pun demi mendapatkan buku yang betul-betul ingin mereka baca, ingin dikuras isinya. Bila perpustakaan tak punya (atau sebaliknya, tak memberi tahu bahwa buku tersebut tersedia), mahasiswa bisa mencarinya ke mana saja, baik dosen, patron pengetahuan, kawan sebaya, organisasi, toko buku, atau toko buku bekas/ second. Boleh dikatakan orang hanya butuh perpustakaan bila semua buku miliknya tak memberi kejelasan pada sesuatu yang dicari, atau dia tahu judul tertentu yang memang berisi tepat informasi yang

diinginkannya. Idealnya perpustakaan punya edisi asli sebuah buku, tapi barangkali atas pertimbangan tertentu, karena tidak tersedia di pasar buku (karena terbitan luar negeri misalnya), perpustakaan bisa menyediakan edisi

photo copy---kini teknologinya nyaris sempurna, hanya beda sedikit saja dari aslinya. Barangkali 'tindakan' seperti
itu terasa tidak etik, terutama dilihat dari sudut pandang hak cipta; tapi menimbang bahwa perpustakaan pun menyimpan manuskrip yang hak ciptanya bisa diperdebatkan, mem-photo copy buku yang tidak tersedia di pasar tampaknya patut dicoba, demi memberi layanan pada pembaca, menyediakan informasi dan pengetahuan. Strategi lain akuisisi bisa menawari agar dosen, profesor, kolektor buku menyimpankan koleksinya di perpustakaan agar bisa diakses orang sebanyak mungkin orang, dengan jaminan keamanan cukup memadai. Bisa diduga sejumlah penulis, penulis, atau sarjana memiliki jumlah pustaka luar biasa bagus untuk topik khusus minat mereka, dan di antara bisa murah hati meminjamkannya kepada mereka yang sungguh-sungguh berminat (sekalipun dengan risiko hilang). Keuntungannya buku tersebut bisa terdata, terkatalog, juga terpelihara baik. Sarjana, cendekiawan, masyarakat terpelajar, intelektual adalah kaum yang memberikan banyak kemajuan pada perpustakaan. Cikal-bakal Harvard University di Amerika Serikat dibangun dari perpustakaan sumbangan John Harvard, sebanyak 300 buku ke kolese Cambridge. Ada kalanya---jika beruntung---perpustakaan dipercaya mengelola warisan pustaka seseorang (baik sudah meninggal atau masih hidup), karena yang bersangkutan tidak memiliki waktu atau metode mengelolanya. Perpustakaan tersebut bisa menisbatkan "Ruang Tuan A" sebagai persembahan atas sumbangsihnya memberi sumbangan. Agen buku, penjual buku bekas, kolektor juga berperan besar terhadap pengadaan buku. Kadang-kadang perpustakaan berusaha mendapatkan hadiah buku langka ataupun koleksi sejarah dari berbagai kalangan.

8

Bila ruang perpustakaan sudah disediakan, nyaman, koleksi terus bertambah, bagus, fasilitas cukup, komunitas hidup di perpustakaan; apa nanti ujungnya akan menghasilkan komunitas dengan budaya literer memadai? Bila aspeknya terpenuhi, ada harapan muncul kelompok literer, baik dalam jangka panjang maupun pendek. Sejarah membuktikan tidak ada komunitas yang tumbuh tergesa-gesa kemudian berpengaruh signifikan terhadap zaman ataupun kebudayaan. Tidak di luar negeri ataupun dalam negeri. Komunitas 'Pertemuan Kecil' di Bandung dahulu butuh bertahun-tahun untuk melahirkan sejumlah penyair dan penulis penting di masa sekarang (era 2000-an); Teater Utan Kayu di Jakarta, yang berisi aktifis budaya lebih mapan, juga butuh waktu untuk meneguhkan bahwa mereka bisa berbuat sesuatu. Mari bayangkan komunitas lebih kecil, dananya sangat terbatas, hasil swadaya, mengandalkan semangat dan ketertarikan, nyaris dipenuhi kekurangan di segala sisi, namun terus bekerja keras berusaha mengagendakan acara dan menghasilkan karya. Komunitas seperti Sang Pemula di STTTelkom, Klab Baca dan Klab Menulis di Tobucil, ASAS di UPI, Mnemonic di Wabule, Textour di Rumah Buku tampaknya tetap bisa bertahan karena cukup tersedia pustaka terpilih yang bisa diakses kapan pun.

Pustaka itu jadi sumber pijakan, sumber inspirasi yang bisa jadi tak habis-habisnya digali, diperbincangkan, dikritik, terus dibaca dan dibaca lagi. Eksponen komunitas tahu sukarnya mendapat buku yang persis mereka inginkan, kadang-kadang tak tahu perpustakaan mana yang bisa diandalkan atau diharapkan untuk mencarikannya, namun juga tak tahu siapa orang yang bisa dipinjami. Maka memiliki pustaka andalan merupakan harta karun yang tak ternilai harganya. Komunitas butuh semacam 'apel kesetiaan' tak terucap, cukup egaliter, saling memberi peran, namun cukup kuat mengikat penghuninya bersama-sama melakukan banyak hal. Dalam perjalanannya komunitas akan ada proses seleksi alam, kompromi, pergesekan, biaya operasional, konflik kepentingan maupun personal, dan lain sebagainya; tapi tak apa, bisa jadi itu adalah jalan menuju masyarakat terbuka, yang sadar apa artinya melek huruf.

Bacaan tentu punya pengaruh bagi pembacanya; bisa jadi bacaan itu menghantui, menantang, memberi jalan, menggetarkan emosi dan syaraf menulis, setidak-tidaknya secara faktual memberi informasi, memperkaya pengetahuan, membeberkan kenyataan. Kadang-kadang penulis hanya butuh sebuah buku yang betul-betul mampu menginspirasi, menggerakkan syarafnya untuk mulai menulis, berani memaparkan pendapat, berargumen dengan jelas dan landasannya mantap. Begitu banyak tulisan seseorang akhirnya berhasil 'memaksa' orang lain menghasilkan tulisan baru setelah membacanya; isi sebuah buku kerap merupakan interpretasi, penjelasan, komentar, atas sari pengetahuan buku lain. Bacaan, tulisan, buku merupakan rangkaian ide yang akhirnya menghasilkan produk budaya. Boleh jadi buku saling serang, berbantahan, meruntuhkan, tapi dengan itu wawasan manusia diperkaya, pandangan dunianya tambah luas, pemikirannya makin dewasa, kritis, penafsirannya hati-hati. Penulis seperti Karl May sangat sering mengandalkan keakuratan dan kekayaan informasi dalam berkarya untuk mendukung keliaran imajinasi. Di ruang kerjanya tersedia berbagai jenis ensiklopedia yang menyediakan apa pun keterangan yang ingin dicari atau ditulis.

9

Perpustakaan bisa jadi dikelola universitas, pemerintah daerah, lembaga swasta, komunitas, atau merupakan koleksi perorangan yang disimpan dalam rak buku pemiliknya. Semuanya tak masalah. Yang terpenting adalah akses perpustakaan itu dibuka seluas mungkin bagi siapa pun, bisa jadi mahasiswa, dosen, orangtua, teman, tetangga, kawan sebaya, juga remaja dan kanak-kanak, sesuai peruntukannya. Jadikan perpustakaan sebagai tempat nyaman untuk mengisi pengetahuan dan memenuhi kehausan ilmu; pusat orang berinteraksi, perlahan-lahan jadi gerakan literasi, yang bukan sekadar tempat baca dan tulis, melainkan mencoba memberi makna pada kehidupan.[]12/13/04 4:47 AM | Terima kasih pada Ultimus dan STTTelkom.

Disampaikan dalam talkshow 'Menggali Potensi Menulis Melalui Minat Baca', diselenggarakan UPT Perpustakaan STT Telkom, 15 Desember 2004.
Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 | SMS: 08156-140621 | Email: wartax@yahoo.com

Saran Bacaan:

01. Alfred Stefferud (ed.), The Wonderful World of Books. Mentor, 1952. Terutama Bab Books for Everyone dan Bab Libraries are for You.

02. Azyumardi Azra, et. al., Bukuku Kakiku. (St. Sularto, et. al. ed.). Gramedia Pustaka Utama, 2004

03. Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam. (Terj. H. Afandi & Hasan Asari). Logos, 1994. Terutama Bab 5 (Lembaga Informal Pendidikan Tinggi).

04. Franz Magnis-Suseno, et. al., Buku: Membangun Kualitas Bangsa. Kanisius, 1997.

10

05. Jacob Burckhardt, The Civilization of the Renaissance in Italy. Mentor, 1961. Terutama Bab The Ancient Authors.

06. Jean-Paul Sartre, Kata-kata. (Terj. Jean Couteau). Gramedia, 2001.

07. Ronald Barker & Robert Escarpit, Haus Buku. (Terj. Sunindyo). Pustaka Jaya, 1976. Terutama Bab 4 (Distribusi) dan Bab 6 (Kebiasaan Membaca).

08. Yasraf Amir Piliang, 'Virtualitas Teori: Pluralitas dalam Pembacaan dan Tafsiran.' Makalah diskusi Forum Studi Kebudayaan, 2004.

“I am sorry that I have had to leave so many problems unsolved. I always have to make this apology, but the world really is rather puzzling and I cannot help it.” © Bertrand Russell (From The Philosophy of Logical
Atomism, Lecture V)

Lima Penyakit Ukhuwah
Lima penyakit ukhuwah yang harus dihindari: 1. Berbagai pertentangan yang terjadi sering diakibatkan oleh pemahaman Islam yang tidak komprehensif dan kaffah (aspek pemahaman). 2. Ta'assub dan fanatisme yang berlebih-lebihan terhadap kelompoknya sendiri-sendiri dan cenderung meremehkan kelompok lain, padahal masih sesama umat Islam. 3. Kurang tasamuh (toleransi) terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi sehingga menutup pintu dialog yang kreatif dan terbuka. 4. Kurang bersedia untuk saling menasehati sesama umat Islam untuk mengurangi berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada (aspek keikhlasan). 5. Kurang memahami kawan dan lawan yang sesungguhnya, sehingga sering salah mengantisipasi dan mengambil kesimpulan.

11

Air Filosofi Air
Air bersifat mengalah, namun selalu tidak pernah kalah Air mematikan api dan membersihkan kotoran Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan, air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun.

Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu Bilamana bertemu batu karang, dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali

Air membuat jernih udara sehingga angin menjadi mati Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati, karena dia sadar bahwa tak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan.

Air menang dengan mengalah, dia tak pernah menyerang Namun selalu menang pada akhir perjuangannya

12

Tao Te Ching

Setetes Embun: Seni Menerima
Kemarin saya menerima sebuah buku dari teman saya. Sebuah buku yang sederhana sekali. Bukan buku yang mahal dan bukan buku yang langka. Biasa saja. Namun saya menerima dengan gembira. Dan karena saya menerimanya dengan gembira, teman saya itu mengucapkan terima kasih dengan perasaan haru.

Sesuatu yang sebetulnya membuat saya bertanya dalam hati, "Lho, bukannya dia yang memberi dan saya yang menerima? Mengapa dia yang berterima kasih? Bukankah cukup kata 'terima kasih' itu terucap dari mulut saya saja?"

Dan seperti dapat membaca pikiran saya, ia berkata, "Terkadang kebaikan itu bukan hanya berasal dari orang yang memberi, tetapi terlebih juga pada orang yang menerima. Karena tanpa kerendahan hati si penerima, apa yang kita berikan menjadi sia-sia. Justru karena orang menerima dengan penuh suka cita, kita juga merasakan suka cita itu."

13

Sikap
Oleh: Marthin Luther King Jr.

Kita ditantang untuk bekerja tanpa mengenal lelah agar dapat meraih keunggulan dalam pekerjaan kita.

Tak semua orang terpanggil untuk menekuni pekerjaan profesional atau spesialisasi; bahkan lebih sedikit lagi yang naik ke tingkat kejeniusan dalam seni dan ilmu; banyak yang menjadi pekerja di pabrik, ladang, dan jalanan. Tapi, tak ada pekerjaan yang tak berarti.

Semua pekerjaan yang mengangkat kemanusiaan itu memiliki martabat dan kepentingan, dan harus dilaksanakan dengan keunggulan yang sungguh-sungguh.

Kalau seseorang menjadi penyapu jalan, ia semestinya menyapu seperti Michaelangelo melukis atau Beethoven menggubah musik, atau Shakespeare menulis syair.

14

Ia semestinya menyapu jalan begitu baik sehingga semua penghuni langit dan bumi sejenak berhenti untuk berkata, " Di sini hidup seorang penyapu jalan yang hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan baik."

Kayak Film
Benarlah. Hidup ini memang mungkin seperti sebuah sebuah film, yang terekam dalam pita seluloid panjang yang berkotak-kotak tempat kita melompat-lompat. Seperti saat kita main ciplek gunung waktu kita masih bocah dulu. Ingat?

Pita film seluloid, yang panjang dan panjang dan panjang seperti iklan choki-choki itu ternyata memang hanya sebuah pita. Punya ujung dan punya pangkal. Ada awal dan punya akhir. Demikianlah pita tempat kita melompatlompat itu mempunyai garis start dan kotak-kotak dan ujung tempat kita berhenti, mungkin sambil mengelap keringat.

Berapa panjang sebuah film? 2 jam? Titanic berdurasi sekitar 3 jam. Pearl Harbour juga. Mr. Bean.., dia cuman setengah jam. Di handphone Nokia yang terbaru, kita bisa bikin film digital tanpa pita maksimal sepanjang 20 detik. Kalau mau lebih panjang, silahkan install software pendukung, demikian kata Babah yang jualan di ITC sana.

15

Berapa umur kita? Umurmu? Umurku? Di kotak manakah kita sekarang berada?

Sebentang Jaring Kepercayaan
Bila anda tak percaya pada seseorang, maka kebaikan apapun yang dilakukannya tetap mengundang keraguan dalam diri anda. Tanpa disadari anda mendapati selalu saja ada kesalahan dalam tindakannya. Ketidakpercayaan menyayat lebih tajam daripada kritik pedas.

Sebaliknya, bila anda percaya pada seseorang, semua kekeliruan yang dilakukannya adalah titik tolak untuk melakukan perbaikan. Tanpa disadari anda terdorong untuk membenahi dan mengisi kekurangan yang ada.

Kepercayaan adalah jaring penyelamat bagi setiap peloncat yang gagal.

Keberhasilan bukan hanya karena kerja keras anda sendiri, pasti ada sebentang jaring kepercayaan yang dihamparkan oleh para pembimbing anda. Sedangkan kegagalan seringkali diakibatkan gagalnya anda meraih kepercayaan orang lain.

16
Uniknya, anda hanya akan meraih kepercayaan manakala anda mau mempercayai orang lain pula.

Tali yang kuat terpilin dalam simpul yang kuat.

Saling mempercayai adalah simpul yang jauh lebih kuat.

Mulailah Memberi
Bila tak seorang pun berbelas kasih pada kesulitan anda. Atau, tak ada yang mau merayakan keberhasilan anda. Atau tak seorang pun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan apa pun pada diri anda. Jangan masukkan ke dalam hati. Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri. Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingannya sendiri. Anda tak perlu memasukkan itu ke dalam hati. Karena hanya akan menyesakkan dan membebani langkah anda. Ringankan hidup anda dengan memberi pada orang lain. Semakin banyak anda memberi semakin mudah anda memikul hidup ini.

Berdirilah di depan jendela. Pandanglah keluar. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini. Pasti ada alasan kuat mengapa anda hadir di sini. Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung anda. Keberadaan anda bukan untuk kesia-siaan. Bahkan seekor cacing pun dihidupkan untuk menggemburkan tanah. Dan, sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung. Alangkah hebatnya anda dengan segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun untuk mengubah dunia. Itu hanya terwujud bila anda mau memberikannya.

17

Batu Kecil
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.

Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

18
Allah kadang-kadang menggunakan cobaancobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Seringkali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepada-Nya, Allah sering menjatuhkan ’batu kecil’ kepada kita.

Seberapa Jauh Manfaat Tindakan Anda Hari Ini
Memang kita hidup di hari ini, namun akibat dari tindakan kita tidak berhenti pada hari ini juga. Ia terus berjalan seiring dengan detak waktu. Terkadang ia berubah jadi harapan. Tak jarang pula ia menampakkan wajah kecemasan. Bahkan, jika toh kita tak berusaha memikirkannya, kelak ia akan mengusik kesadaran dan ingatan kita. Itu mengapa kita dianugerahi cita-cita, juga kekhawatiran. Tindakan kita sekarang selalu membawa dampak pada kehidupan di kemudian hari.

Lemparkan sebutir batu pada permukaan danau yang tenang. Sekejap ia akan menimbulkan riak-riak gelombang. Namun berangsur-angsur ombak itu menghilang ke tepian. Permukaan danau pun kembali tenang. Jika lemparan batu itu adalah tindakan anda, apakah ketika air danau menjadi tenang lantas anda berpikiran bahwa segala sesuatunya kembali seperti sedia kala? Apakah tindakan anda, sekecil apa pun itu, kelak akan lenyap tak berbekas?

Tidak.

Memang permukaan danau tak lagi menampakkan gelombang, namun sadarkah anda bahwa gelombang yang sama telah mengubah wajah tepian pantai danau tersebut?

19

Dan tindakan anda telah mengubah dunia, sekecil apa pun perubahan itu. Maka, perubahan apa yang sebenarnya ingin kita catat dari tindakan kita sekarang?

Manusia
Sadarkah kita bahwa; Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat yang ada di depan? Kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan sehingga kita dapat mendengar dari dua sisi dan dua arah. Menangkap pujian maupun kritikan, Dan mendengar mana yang salah dan mana yang benar.

20

Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Karena tak seorang pun dapat mencuri isi otak kita yang lebih berharga dari segala permata yang ada.

Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut. Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh. Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak mendengar dan melihat.

Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita. Untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati untuk dicintai, tetapi jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan.

Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini terasa menjadi lebih indah.

Jangan Tanya pada Pujangga
Oleh: yesi elsandra ardhian

Assalamualaikum

Ba'da tahmid was sholawat

Kebenaran tidak akan pernah bersahabat baik dengan kebatilan. Kedunguan tidak akan pernah menjalin cinta dengan kecerdasan.

Apapun ukuran dan bentuk lisannya, amatlah sangat mudah mengumbar keburukan dan kejelekan orang lain. Dan bagaimanapun merahnya hati, ia akan bisa hitam, bahkan bisa lebih hitam dan bau dari "air comberan"

21

Begitulah realita hidup. Hidup ini adalah perjuangan untuk kita menangkan, tapi bukan dengan cara-cara manipulasi karena hitamnya hati. Hidup bukanlah peristiwa kebetulan, tapi hidup sebuah pertarungan, di mana pemenangnya hanyalah orang yang kreatif, inovatif, prestatif, edukatif, proaktif, dan mereka yang menyeimbangkan dunia dengan suatu masa yang abadi.

Berjalanlah merangkak atau sedikit berlari. Jangan melulu tatap cermin yang hanya ada wajah kita di sana. Tapi tataplah jendela, di sana akan kita temukan ribuan keagungan dan rendahnya moral manusia. Belajarlah dari kedua kontradiktif tersebut. Kemudian biarkan hati menjamah, manakah sebenarnya sumber ketenangan itu.

Embun pagi takkan ingkar janji memberikan kesejukan pada dahan dan hijau daun. Ia meneteskan setitik yang ia punya tapi bermakna. Apakah yang telah kita beri dalam kehidupan ini? Setitik embunkah atau bara api?

Jangan tanya pada pujangga syair apa yang ia ciptakan pagi ini. Karena syair ternyata tak mampu merawat warna. Tapi tanyalah rembulan, ilham apa yang bisa merasuk ke sanubari, agar kita mampu menciptakan keadilan untuk kesejahteraan....

Wallahu’alam

22

Militansi dalam Makna Sebenarnya
Oleh: elsandra

Assalamualaikum wr wb

Ba’da tahmid was sholawat

Buat saudaraku yang meyakini bahwa pengorbanan tenaga, waktu, harta benda, pikiran, tulisan adalah persembahan minimal yang kita berikan kepada agama ini, agama yang paling benar, paling akhir, paling sempurna, paling lengkap dan diridhoi Allah SWT.

Buat saudaraku yang meyakini bahwa pengorbanan jiwa raga di jalan Allah, berjihad di jalan-Nya adalah puncak persembahan tertinggi kita untuk menyeru manusia kepada-Nya.

23

Mari mendekat kepada Allah Lebih dekat lagi…. Agar tunduk di saat yang lain sibuk Agar teguh di saat yang lain angkuh Agar tegar di saat yang lain terlempar

Setiap muslim bisa memilih, sejauh mana tingkat keislaman dan keimananya. Pilihan itu ibarat anak tangga yang menapak ke atas, lalu tinggi menjulang bahkan serasa tanpa batas, maka ada yang merasa cukup berdiri di tangga terbawah. Tetapi ada juga yang tidak puas dan ingin terus menaiki tangga-tangga keislaman dan keimanan tersebut dengan dorongan jiwa yang besar, tidak ada kamus istirahat bagi orang-orang seperti itu, mereka sadar, MILITANSI dalam makna yang sebenarnya adalah HARGA MATI UNTUK SURGA YANG MAHAL…

Kekuatan itu kini sedang bangkit, untuk itu pegang erat al-Quran, dekap kuat Sunnah Rasul tercinta, agar Islam kuasa menjadi satu-satunya aturan di dunia…..

Allah, eratkan tautan hati-hati kami, kuatkan semangat juang kami, di dunia manapun kami berada….

Turut ambil bagianlah dalam perjalan panjang para pengusung risalah, walaupun dalam barisan yang paling terakhir sekalipun...itu lebih baik dari pada tidak sama sekali....

love for all of u

Walahu’alam bish showab

24

Kebahagiaan
Kebahagian manusia ada bila ia bisa membuka mata hatinya, dan menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti dan menyadari betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus...

Kebahagian manusia tidak dapat hadir karena tidak mau membuka hati, dan berusaha meraih apa yang tidak dapat diraih, terlalu memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri apa yang ia miliki.

Keegoisan manusia yang menyebabkannya menjadi buta, keegoisan dan hanya memikirkan diri sendiri yang menyebabkan manusia tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik untuknya...

25

Begitu banyak sahabat yang begitu mencintai, tapi karena terlalu memilih, menilai dan menghakimi sendiri..justru sahabat sejati menjadi semakin jauh... Terlalu memilih sahabat membuat manusia tak dapat menyadari di depan mata ada sahabat sejati yang dibutuhkannya…

Tiap-tiap manusia memiliki arti dan peranan masing-masing, semua berbeda..tidak ada yang memiliki arti yang sama persis punya peranan dan kelebihan disatu hal, tidak harus memiliki peranan dan arti dalam hal lain..dicintai oleh satu orang belum tentu disayang oleh orang lain…

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jangan berharap dari diri manusia lain, karena orang lain dapat mengkhianati…

Kebahagiaan ada bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai dan menerima manusia lain…

Percaya kepada ALLAH..bersyukur bahwa manusia selalu diberikan yang terbaik...sesuai yang diperbuat manusia itu sendiri, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi di saat yang tepat apa yang manusia-Nya butuhkan, tidak harus saat ini, masih ada esok hari...

26

Jangan Melihat Ke Belakang
Ketika kau menjalani hidupmu selalu ada saat-saat di mana keputusan-keputusan harus diambil, saat pilihan begitu sulit, dan jalan keluarpun langka, dan hujanpun tampaknya ikut merendam pawaimu.

Ada situasi-situasi di mana yang bisa kau kerjakan cuma membiarkannya lewat dan tetap majulah, umpulkan tabah, keberanianmu dan pilihlah suatu arah yang membawamu kearah sebuah fajar baru.

Jadi kemaslah semua kesulitanmu dan ambillah langkah ke depan Proses pengubahan memang bisa berat dan sukar, tapi ingatlah akan semua keasyikan di depan asalkan kau cukup tegar dan tegap!

Bisa ada petualangan yang tak pernah kau bayangkan menunggumu di balik tikungan itu, dan harapan dan impian yang hampir menjadi nyata dalam cara dan jalan yang belum kau pahami!

27

Mungkin 'kan kau temui persahabatan berawal dari hal baru Di saat kau menantang keadaan status quo mu, Dan belajar bahwa ada begitu banyak pilihan dalam hidup, dan begitu banyaknya jalan bagimu untuk tumbuh!

Mungkin kau akan pergi menuju tempat-tempat yang tak pernah kau duga dan melihat barang dan tempat yang belum pernah kaulihat, atau berkelana ke tempat-tempat indah yang jauh dan semua pemandangan cantik di antaranya!

Mungkin akan kau jumpai kehangatan, kasih sayang dan dipedulikan. Dan ada seseorang khusus di sana untuk menolongmu tetap tinggal, mendengarkan penuh minat pada kisah dan perasaan yang kau bagikan.

Mungkin kau 'kan terhibur mengetahui bahwa teman-temanmu mendukung segala yang kau lakukan, dan percaya bahwa keputusan apapun yang kau buat. Mereka itu pilihan-pilihan yang benar bagimu.

Jadi tetaplah melangkahkan kaki satu di depan lainnya, dan jalani hidupmu hari demi hari..... Ada esok hari yang lebih terang di depan jalan itu. Jangan tengok ke belakang! Engkau tidak menuju ke sana!

28

Bila........... Manusia Bahagia Bila...........

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati untuk menyadari, betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada. Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri. Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

29

Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita sendiri. Jikalau berharap dari orang lain, maka bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati. Kita akan bahagia bila kita bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Allah, dan bersyukurlah kepada-Nya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati. Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari. Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang.

Tetap Tetap Tegar Walaupun Sulit

Assalamu’alaikum,

Hal paling penting apabila berhadapan dengan kesulitan adalah memberikan perhatian terhadap apa yang akan dilakukan, bukan mencoba mencari apa yang tidak dilakukan.

Bila keadaan menjadi buruk, kita menenangkan hati dengan menganggap bahwa keadaan akan menjadi lebih buruk. Apabila keadaan benar-benar menjadi bertambah buruk, kita menganggap keadaan pasti akan menjadi baik.

Kesulitan dan kegagalan dalam hidup, sekiranya disesuaikan dan dilihat sebagai umpan balik koreksi yang biasa, dapat digunakan untuk membetulkan kembali sasaran awal; di samping dapat membangkitkan potensi diri agar kebal terhadap sembarang kebimbangan, kekecewaan, serta mengantisipasi stress.

Sekiranya anda menemukan jalan yang tidak punya rintangan, ia mungkin tidak membawa anda ke mana-mana. Dunia mematahkan semangat siapa saja, dan setelah itu banyak yang menjadi gagah lagi di tempat mereka pernah gagal.

30

Kesuksesan setiap insan nampaknya merupakan pelajaran antara sejauh mana suatu halangan dan kesulitan dapat diatasi.

Kegagalan dan kekecewaan membuat kita begitu tertekan, tetapi ia juga mendatangkan kekuatan, membentuk watak, dan ketahanan diri, yang menjadi bekal penting guna mencapai kesuksesan.

Besar atau kecilnya suatu rintangan tergantung pada besar atau kecilnya jiwa orang yang menghadapinya.

Tanpa pengalaman negatif dalam hidup bukanlah satu-satunya sebab yang menentukan kualitas hidup.

Kita memerlukan pengalaman negatif untuk menjadi cobaan dalam usaha membangun dan melahirkan sepenuhnya aspek-aspek positif dalam diri kita.

Contoh paling tepat adalah layang-layang. Ia naik ke angkasa karena melawan angin. Sekiranya kegembiraan merupakan kehidupan yang penuh kenyamanan tanpa segala kebimbangan atau tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitar kita, maka individu yang paling gembira mungkin si badak air yang senantiasa tersenyum di dalam lumpur.

31

Menata Kembali Niat Kita

Assalamu’alaikum,

Cobalah berhenti sejenak, dari setumpuk aktifitas kita, dari sekian banyak pekerjaan kita, dari kepenatan pikiran kita, dari kesibukan yang terus memadat. Cobalah berhenti sejenak, sejenak saja. Cobalah sejenak untuk melupakan segala permasalahan yang tengah mendera. Lupakan sejenak.

Renungkan kembali hari-hari yang kita lalui. Renungkan. Rekam kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Rekamlah, lalu renungkan. Apa yang kita cari sebenarnya. Apa yang telah kita dapatkan. Apa yang kita kejar. Apa yang kita buru. Apa yang telah membuat kita puas? Apa yang membuat kita bahagia?

Mungkin di antara kita ada yang telah berhasil menggenggam dunia ini. Kemegahan, kebanggaan, kepuasan, kenikmatan. Mungkin juga ada di antara kita yang masih harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Terserahlah, siapun kita, apapun yang kita sandang, hakikatnya adalah sama. Segala yang kita miliki, kita sandang, tak lebih dari ’atribut kehidupan’. Itu semua sekedar ujian. Seberapa kita telah memanfaatkannya, menyalurkannya, mengkaryakannya, mendedikasikannya. Ketika kita terlena dengan apa yang kita kejar selama ini, hingga lupa hakikat hidup ini, dari mana asal kita, ke mana kita akan berpulang.

32

Sungguh beruntung orang yang hari-harinya selalu diiringi oleh niat yang lurus, hati bening, pikiran jernih. Merekalah orang-orang kaya yang tidak pernah merasa kaya, sederhana hidupnya, karena kakayaannya didedikasikan di jalan Allah dalam bentuk karyanya pada tegaknya kebenaran, keadilan dan kesejahteraan sesama. Merekalah orang-orang miskn tapi tidak pernah miskin karena ikhtiarnya yang tidak luntur, tetap berusaha dengan niat yang tulus. Merekalah orang-orang dalam segala kondisinya tetap meluruskan niatnya, membeningkan hatinya, menjernihkan pikirannya, tidak luntur oleh gegap gempitanya zaman yang kian tidak karuan.

Niatan hati adalah penyuci kerja kita. Kerja bukan lagi sekedar kesibukan atau kejaran materi, tetapi naik tingkatnya menjadi ibadah, pengabdian, keluhuran, kemuliaan.

Mengapa Berteriak?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

33

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

34

Lantas, Apa Yang ‘Kan Kau Bawa Kelak?

Bismillahirrahmanirrahim…

Innalhamdalillah… Ash shalatu wa ashshalamu’ala rasulillah

‘Amma ba’du…,

Maut mengintai setiap saat. Tidak peduli status sosial seseorang, tidak peduli anak siapa, tidak peduli posisinya, tidak peduli sehat atau sakit, tua muda, mahasiswa atau buruh, tentara atau sipil, kyai atau tani, siapapun tanpa terkecuali.

Maka kekayaan yang sebanyak apapun, bukan jaminan kita bisa hidup selamanya. Kematian tetap akan datang. Maut tetap akan menjemput. Betapa banyak orang yang kaya, berlimpah harta, kematian menjemputnya lebih dulu sebelum ia menikmati kekayaannya itu. Ia tinggalkan kekayaannnya, tak sedikitpun yang dibawanya ke alam kubur. Sungguh, bukan kekayaan yang dibawanya mati, tetapi seberapa besar amal kebaikan dari kekayaan yang dimilikinya, itulah yang akan menolongnya dari kesengsaraan kubur.

35

Kepandaian, kedigdayaan, kekuasaan, kehebatan, keperkasaan. Segala kepemilikan manusia sekali-kali bukan jaminan untuk terhindar dari kematian. Maut pasti menjemput. Ajal pasti datang. Betapa banyak orang didgaya, berjaya di dunianya, dipuja semua orang, disegani khalayak, ditakuti kekuasaannya, tapi akhirnya ia pun mati seiring usia tua dan kelemahan tubuhnya, atau barangkali karena kecelakaan atau sakit yang mendera. Dan di manakah kejayaan itu? Di mana kebanggaan itu? Sekali-kali tidak akan dibawanya ke alam kubur.

Wahai manusia, dalam suasana hiruk pikuk zaman akhir yang penuh tipu daya ini, kita patut merenungkan perjalanan hidup yang kita arungi selama ini. Hendaknya kita segera tersadar hari ini. Bermuhasabah diri. Apa yang kita lakukan kemarin mesti kita koreksi kembali. Mungkin selama ini kita hanya terjebak dalam fata morgana dan perburuan dunia yang melupakan hakikat hidup kita, lupa ke mana kita nanti akan berpulang, lupa bahwa semua yang kita kejar-kejar ini sama sekali tidak dibawa ke alam kubur, kecuali yang kita amalkan di jalan kebaikan.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri..." [QS. Al-Hasyr: 19] 'Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub

36

Tabayyun Terlebih Dahulu Saudaraku

Kita terkadang terlalu yakin dengan pengetahuan diri. Kita merasa tahu segalanya sehingga seolah-olah memiliki otoritas untuk membuat kesimpulan mengenai sesuatu hal. Atau kalau menyangkut kepribadian orang lain, kita sering merasa tidak perlu informasi lebih lanjut karena kita merasa cukup pengetahuan mengenai jati diri orang itu sebenarnya.

Kesalahan terbesar seseorang adalah ketika ia menganggap dirinya telah cukup pengetahuan sehingga ia tidak memiliki itikad sedikitpun untuk melakukan cek ricek, tabayyun, konfirmasi balik. Tentang suatu kejadian, ia langsung menyimpulkan ini itu. Tentang diri seseorang, ia langsung menyimpulkan ini itu, menilai begini itu. Dengan pengetahuan sedikitnya, ia merasa sudah banyak pengetahuan. Dengan interaksinya dengan orang lain yang sebentar, ia merasa sudah berhak membuat kesimpulan mengenai diri seseorang itu padahal boleh jadi apa yang disimpulkannya itu hanya akan membuahkan fitnah dan kebohongan, jauh dari fakta sebenarnya. Keterbatasan yang dimilikinya tiada pernah disadari. Ia terjebak dalam ujub diri, merasa punya kemampuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu hal atau orang lain tanpa diiringi dengan sikap kehati-hatian. Maka ia pun mudah berkomentar tanpa dipikir lebih dalam lagi. Ia mudah menilai sesuatu tanpa mencari dulu fakta yang benar.

37

Yang lebih fatal lagi adalah ketika kecerobohan sikap ini disebarkan ke orang lain. Kalau menyangkut diri seseorang, maka betapa ia akan menumbuhkan sikap kebencian dari orang yang dirugikannya atas pemberitaan yang tidak benar. Prasangka dikira kebenaran. Prasangka melahirkan kebohongan. Prasangka yang tidak disertai tabayun akan melahirkan kerenggangan hubungan sesama.

Kita berlindung kepada Allah dari sifat sombong, ujub diri, dengki, dan fitnah. Kita ini makhluk yang sangat terbatas. Terbatas ilmunya. Terbatas pengetahuannya. Bila kita sadar bahwa kita terbatas, maka kita akan menjadi manusia yang sangat hati-hati. Hati-hati dalam menyikapi sesuatu. Hati-hati dalam menilai sesuatu. Hati-hati dalam membuat kesimpulan terhadap suatu kejadian. Hati-hati meski sekedar dalam hati.

Sahabat.......... Sahabat..........
Sahabat.....

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya. Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

38

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.

Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.

Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda?? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai?? Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa??

MEREKALAH SAHABAT ANDA Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.

39

Karet Gelang

Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungangantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada.

Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan. Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa. Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.

Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, sangat biasa-biasa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi. Dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Itu pun kadangkadang salah. Kemampuan dia memang sangat terbatas.

40

Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi, membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati. Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.

Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.

Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari. Bukan beratnya perbekalan. Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.

Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun. Lebih-lebih meremehkan diri sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah. Yang salah kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.

41

Sikap Terhadap Berbagai Harakah
Berbagai harokah yang ada pada saat ini muncul karena keperdulian mereka untuk mengembalikan manusia kepada ajaran Islam. Keragaman yang ada saat ini tak bisa dielakkan, karena mereka berdiri atas dasar ijtihad (hasil pemikiran) sekelompok muslim setelah tiadanya jama'ah muslimin (jama'ah yang melingkupi umat Islam sedunia) sejak runtuhnya Khilafah ’Utsmani. Karena berdiri atas ijtihad masing-masing, maka menjadi wajar jika uslub (tata cara) berbagai jamaah itu dalam memperjuangkan Islam menjadi berbeda-beda. Ada yang mengambil garis keras, lunak dan moderat.

Sikap kita sebagai muslim terhadapt berbagai jama'ah(harokah) yang ada adalah menganggapnya sebagai asset umat. Artinya, keberadaaan mereka merupakan sarana (jalan) untuk bekerja sama dalam memperjuangkan islam. Bahkan kalau bisa dapat bersatu untuk mewujudkan kembali jama'ah muslimin yang hilang. Karena itu agar citacita itu dapat terwujud, sikap kita terhadap berbagai harakah yang ada adalah: Tidak menganggap suatu jama'ah(harakah) sebagai yang paling benar, sedangkan yang lain salah. Selama jama'ah yang lain tersebut tetap berjuang dengan aqidah ahlus sunnah wal jam'ah. Dalam upaya mengajak orang untuk

42

mengikuti jama'ah atau harakahnya, tidak boleh menjelek-jelekan jamaah atau harakah lain, selama jama'ah tersebut tetap konsisten dengan aqidah ahlus sunnah awal jamaah. Tidak boleh apriori terhadap keberadaan jama'ah yang beragam tersebut dengan tidak mau berinteraksi atau bergabung dengan salah satu di antara jama'ah yang ada. Membuka pintu dialog seintensif mungkin dengan jama'ah lain agar tidak terjadi salah paham dan untuk membuka peluang kerjasama. Berusaha untuk tetap menjalin kerjasama dengan jama'ah lain, terutama dalam masalah-masalah yang disepakati.

Selama sikap kita terhadap berbagai jama'ah yang ada masih seperti yang ditulis di atas, insya Allah keragaman jama'ah tak akan membawa mudharat (kerugian) bagi perjuangan umat. Keragaman jama'ah atau harakah menjadi mudharat, jika masing-masing pihak menutup pintu dialog dan kerjasama,serta telah menjelek-jelekan jamaah lain dalam upaya merekrut anggota/ massa untuk jamaahnya.

SIKAP TERHADAP BERBAGAI HAROKAH ADALAH KRITIS TERHADAP KEBERADAANNYA, TANPA MENUTUP PINTU DIALOG BERAZASKAN HUSNUZHZHAN.

43

Monkey...... The Story Of Monkey......

Suatu ketika ada seorang penjual topi yang berjalan melintasi hutan. Cuaca saat itu sangat panas. Ia lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya.

Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut. Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Dan, semua monyet itu mengenakan topitopinya. Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sekarang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu.

Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garukkan kepalanya. Lalu ia melihat monyet-monyet itu ternyata menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Dan monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama. Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.

44

Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Udara sangat panas. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya.

Sekali lagi, ketika terbangun ia menyadari kalau monyet-monyet telah mengambil semua topi-topinya. Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi itu erat-erat.

Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang dilemparkan oleh cucu pedagang topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, "Emangnya elo aja yang punya kakek...?"

45

Istimewanya Wanita Islam
Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan di bawah ini: 1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki. 2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya. 3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki. 4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki. 5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak. 6. Wanita wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada istrinya. 7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri. 8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

46

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Manakala seorang wanita pula, tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui mana-mana pintu syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH... Demikian sayangnya ALLAH pada wanita....kan?

47

Pelajaran Dari Pencuri Kue
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si pencuri kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

48

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si ’pencuri tak tahu terima kasih!’.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya. Lho kok kueku masih ada di sini, erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi memang adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi dengannya.

Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

Seperti dalam hidup kita ini, kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Serta tak jarang kita berprasangka buruk. Orang lainlah yang kasar, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang jahat, orang lainlah yang sombong, orang lainlah yang salah. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang salah, tapi kita tidak tahu/ tidak menyadarinya.

Kita sering mengomentari perbuatan orang lain, mencemooh tindakan, pendapat atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Seringkali kita menyalahkan orang lain atas kejadian-jadian buruk yang menimpa kita, tetapi apakah kita menyadari kalau yang salah sebenarnya adalah kita sendiri?

Apakah pernah terpikir oleh kita kalau orang lain melakukan itu untuk tujuan yang baik dan tidak bermaksud mencelakai kita?

Belajarlah untuk mengkoreksi diri kita sendiri, sebelum kita menyalahkan orang lain.

49

Ketika Bidadari Turun ke Bumi
Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadaribidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.

Sebagian kita mungkin berpikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit di antara mereka mendiami bumi sekarang ini? Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya.

Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan? Dialah wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya.

50

Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?

1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.

2. Ia menjadikan al-Quran dan al-Hadits sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.

3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.

4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.

5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang Islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada di dekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotivasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.

6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.

7. Ia bermanfaat di lingkungannya. Pengabdiannya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah" (HR. Muslim)

Dialah bidadari bumi, dialah wanita shalihah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adikku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di surga kami tidak canggung lagi.

51

Pengaduan di Ujung Malam
"Allah ta'ala turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang pertama telah berlalu. Dia berkata, Akulah raja, Akulah raja, siapa yang berdo'a kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri, siapa yang meminta ampun Aku ampuni. Dia terus berkata demikian sampai sinar fajar merekah." (HR. Muslim)
Untuk apa malam-malam itu? Sepertiga akhirnya. Saat Allah turun ke langit bumi. Tentu, untuk beribadah, memohon, mencari kekuatan dalam munajat dan pengharapan. Dalam doa dan juga istigfar. Tentu kita ingin meniru dunia malam orang-orang shalih. Karena kita ingin shalih dan baik seperti mereka. Kita ingin merenda malam kita yang banyak terkoyak oleh aktifitas yang tidak berguna atau bahkan membahayakan. Padahal malam adalah ghanimah cuma-cuma yang disediakan untuk kita.

Siang hari, memang, memberi kita begitu banyak penghidupan. Tapi, sejujurnya, malamlah yang memberi kita kehidupan. Dengan itu kita mendapat penghidupan meski sebagiannya kadang kita buru dengan cara yang sangat kotor.

52

Perjalanan hidup tak akan berhenti di tengah-tengah serialnya. Sebab kematian tak akan datang sebelum cerita diri kita benar-benar usai. Itulah mengapa, Rasulullah menegaskan, bahwa tak akan ada manusia yang mati, kecuali hak-hak rezekinya telah ditunaikan lunas oleh Allah SWT. Ini berlaku bagi siapa saja, kafir atau muslim, fasik atau mukmin.

Dalam damainya yang dalam. Atau sunyinya yang tulus. Saat tak ada desah angin dan lambaian dedaunan. Itulah saat terbaik yang dinyatakan Allah untuk beristirahat.

"Dialah (Allah) yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya. Dan menjadikan siang terang benderang supaya kamu mencari karunia Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar." (QS. Yunus: 67)

"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan." (QS. An-Naba: 9-11)
Pada sepertiga malam terakhir dari setiap potong malam. Itulah kehidupan itu. Adakah kehidupan, yang lebih utama dari memohon kepada Allah lalu diberi, meminta lalu dikabulkan-Nya, serta mengharap ampun lalu diampunkan-Nya?

Bahwa itulah saat paling dekat bagi Allah dengan hamba-Nya. Rasullullah SAW bersabda, saat yang paling dekat bagi Allah dengan hamba-Nya, adalah pada penghujung akhir malam. Maka, jika engkau bisa menjadi orang yang berdzikir mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.(HR. Tarmidzi, disahihkan oleh al-Albani).

Di sana ada rahasia, ada kekuatan, sumber kehidupan. Tetapi hanya mereka yang merasakannya yang benar-benar mengerti. "Sesungguhnya, bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusu') dan bacaan di waktu itu

lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil: 6)
Di sini juga dikatakan bahwa rahasia ini tak akan bisa dirasakan kecuali dicoba dan dicoba. Mata air kehidupan di ujung malam, adalah dunia nyata di tengah samudera mimpi orang-orang yang terlelap hingga pagi, atau bergelimang dosa hingga matahari jauh meninggi.

53

Di sini keangkuhan tak punya tempat. Sebab keangkuhan seringkali memerlukan atribut-atribut visual. Sesuatu yang mungkin menjadi hiasan kita sepanjang siang.

Sumber: Majalah Tarbawi Ramadhan 1424 H

Kisah Sedih Di Jalan Da'wah
Bismillahirrahmanirrahim....

Kereta kehidupan terkadang ia begitu ramah membawa kita berkeliling di taman-taman kehidupan. Begitu setia menemani jenak-jenak perjalanan kita. Terkadang kita merasa bahwa inilah sesungguhnya perjalanan kita. Potret hidup kita yang dihiasi oleh indahnya taman-taman bunga yang menyapa di sepanjang perjalanan, tentang segarnya hawa pegunungan, tentang indahnya kepakan burung elang yang sedang mengangkasa. Namun seketika itu pula kita tersentak, kita terhenyak. Dada terasa sesak. Dan berjuta kekalutan beranak-pinak. Seketika itu pula kita dihadapkan bahwa di dalam kereta kehidupan ini masih bisa masuk gas-gas beracun yang membuat dada terasa sesak, debu-debu perjalanan yang mengotori pakaian dan membuat mata terasa sakit. Atau bahkan kereta kehidupan ini akan dengan tega meninggalkan kita ketika kita lalai dengan keindahan perjalanan. Atau bahkan sampai berani melindas kita, ketika kita menghalangi lajunya.

54
Begitu pula dengan jalan panjang da’wah yang kita arungi. Terkadang ia mengahadirkan begitu banyak cobaan dan fitnah. Yang terkadang di tengah-tengah badai cobaan dan fitnah itu tidak sedikit dari kita yang mencoba untuk menepi, hanya karena ’merasa’ tidak mampu untuk melalui terpaan badai dan sambar kilatan mihnah. Namun ternyata tidak cuma potret ’kisah sedih di jalan da'wah’ seperti itu yang kita temui. Lihatlah perjalanan da'wah ini sepanjang masa, akan kita temui begitu banyak layar cerita ’kisah sedih di jalan da'wah’ yang tak kalah sedih dan miris hati ini menyaksikannya dari potret yang sebelumnya.

Kita melihat batapa banyak para kafilah da'wah ini yang ketika melalui terpaan badai dan kilatan kesulitan, mereka mampu untuk bertahan (bahkan begitu kokoh karang keimanannya). Namun ketika angin kemenangan dihembuskan, ketika singgasana kejayaan di berikan, ketika mahkota kegagahan di tahtakan, ketika lencana kehormatan disematkan, karang itupun mulai rapuh menjadi bongkahan-bongkahan kecil yang sedikit demi sedikit berjatuhan terkena hempasan gelombang. Perlahan namun pasti gunung karang itupun akan tenggelam ditelan gelombang.

Saudaraku....

Itu hanya sebuah potret kecil yang mungkin (sekali lagi mungkin) terlalu dibesar-besarkan. Namun tidak ada hal kecil di depan kacamata da'wah. Potret itu mungkin mengenai teman seperjuangan kita, mungkin senior kita yang begitu kita kagumi, mungkin juga saudara yang begitu dekat dengan kita, atau bahkan potret itu adalah diri kita sendiri. Diri kita yang terkadang begitu angkuh merasa telah banyak berbuat banyak untuk da’wah ini, sehingga akhirnya merasa telah cukup.

Saudaraku.......

Hanyalah kepada Allah kita berlindung. Hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan, jadikanlah perjalanan kereta kehidupan ini sebagai manifestasi dari ikhlasunniyah, itqanul 'amal dan jaudatul 'ada.

Keikhlasan niat yang senantiasa kita perbaharui setiap saat, amal yang profesional dengan segala instrumen yang membangunnya, dan penyelesaian yang tuntas. Tuntas sampai ke akhir, akhir dari perjalanan hidup kita. Sampai kita menebus takdir perjalanan kehidupan kita.

Allahumma Rabbana yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbi ala diinika wa'ala tha’atik......

55

Wallahu'alam bish shawab

Takkan Pernah Sebanding
Sobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?

Rasa bersalah yang teramat sangat.

Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua.

Tak ada lagi putra-putri yang tersisa.

Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka.

Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang "pup" di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika temantemannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.

56

Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.

Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita?

Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan? Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita? Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?

Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa ’menghidupi’ diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia). Lalu?

Mungkinkah kita bisa seperti Ismail yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa yang dihanyutkan ketika bayi?

Ternyata kita masih sangat jauh...

Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?

Sobat, bantu aku agar optimis!

57

Ya, masih banyak waktu untuk mmbahagiakan mereka.

Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan "tidak" ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia!

Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!

Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan.

Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil.

Jadikan kami termasuk anak-anak yang shalih ya Allah hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang berkenan bagi Engkau. Amin.

58

The Friendship Rainbow
Pada suatu ketika warna pelangi mulai bertengkar. Mereka bertengkar bahwa mereka adalah yang terbaik, yang paling utama, yang terpopuler.

Si Hijau berkata, "Terus terang saja aku yang paling penting. Aku adalah harapan. Pohon, rerumputan juga daun memilih warnaku. Tanpa aku hewan-hewan akan mati. Lihatlah ke segala penjuru negeri ini, aku ada di manamana."

Si Biru menginterupsi, "Jangan hanya pikirkan dunia tanpa melihat langit dan lautan. Air adalah sumber kehidupan dijatuhkan oleh awan biru yang berasal dari lautan. Langit adalah ruang kedamaian dan ketenangan. Tanpa itu semua, apalah artinya."

Kuning tertawa kecil, "Kalian begitu serius! Aku pembawa keriangan, keceriaan dan kehangatan di bumi ini. Kuning adalah matahari, bulan dan juga bintang. Setiap saat kau mengamati bunga matahari, maka duniapun mulai tersenyum. Tanpaku tak akan ada kegembiraan"

59

Jingga mulai menimpali, "Aku adalah warna kesehatan dan kebugaran. Boleh jadi aku warna yang langka, tetapi aku berharga. Aku banyak memberi vitamin yang menjaga kehidupan manusia. Lihat saja wortel, labu, jeruk, mangga juga pepaya. Aku memang tidak terlihat pada setiap saat. Tapi warnaku memenuhi langit tatkala fajar dan saat mentari terbenam. Tak ada keindahan yang seindah ini. Kecantikanku sangatlah memukau."

Merah tak tahan juga dan mulai berteriak, "Aku adalah penguasa kalian semua! Aku adalah d a r a h. Darah adalah kehidupan! Aku adalah lambang keberanian dan lonceng bahaya. Aku akan berjuang, tak kenal takut. Aku pemberi semangat di dalam tubuh. Tanpaku dunia akan sepi seperti rembulan. Aku adalah warna kegairahan dan semangat. Seperti juga mawar merah tanda cinta."

Sang Ungu pun angkat bicara. Ia sangat tinggi dan berbicara dengan penuh keagungan, "Aku adalah warna kesetiaan dan kekuasaan. Raja, pemimpin senantiasa memilih aku sebagai lambang kewenangan dan kebijaksanaan. Rakyat tak akan pernah menyanggah. Mereka mendengar dan patuh"

Akhirnya warna Nila berbicara, lebih tenang dari yang warna yang lain tetapi dengan segala keteguhan hati, "Perhitungkan juga aku. Aku adalah warna keteduhan. Kalian hampir tidak memperhatikannya. Tanpaku kalian semua tidak berarti. Aku mewakili pikiran dan refleksi dari kedewasaan senjakala dan kedalaman air. Kalian membutuhkan aku untuk dapat melihat perbedaan serta keseimbangan dalam doa dan kedamaian di hati."

Warna-warna itu saling membual, masing-masing meyakinkan bahwa ialah yang lebih hebat. Mereka berperang kata, berteriak semakin keras. Tiba-tiba mereka dikejutkan kilat yang terang, suara guntur yang membahana. Hujan tercurah lebat tanpa belas kasihan. Warna-warna saling meringkuk dalam takut, saling mendekatkan diri menemukan rasa nyaman.

Di tengah kegaduhan itu, Hujan berkata, "Kalian warna-warna yang tolol, saling bertengkar mencoba mendominasi perdebatan ini. Tahukah kalian semua? Bahwa kalian tercipta untuk tujuan yang istimewa, unik dan saling berbeda. Salinglah berpegangan tangan dan kemarilah"

Warna - warna itupun bersatu saling berpegangan.

60

Sang Hujan meneruskan lagi, "Mulai saat ini, ketika Hujan tiba, kalian akan membentangkan diri di langit seperti busur raksasa sebagai tanda kalian dapat hidup dalam damai. Pelangi - sebagai tanda harapan untuk hari esok."

Di manapun hujan membasahi bumi dan pelangi tampak di langit, ingatlah untuk saling menghormati satu sama lain.

Pertemanan itu seperti pelangi: Merah seperti buah apel, manis di dalamnya.. Jingga bak kobaran nyala api, seperti tak akan pernah padam. Kuning seperti matahari, yang menyinari hari-hari kita. Hijau bagai tanaman yang tumbuh subur. Biru seperti air yang jernih begitu alami.. Ungu bagaikan bunga yang menjelang mekar.. Nila-lembayung seperti mimpi-mimpi yang memenuhi hati.

Asumsi
Ketika Joanna keluar dari ruang bos, matanya berkaca-kaca. Teman-temannya semua mendekatinya. Mereka bertanya-tanya, ingin tahu apa yang terjadi. Joanna terpaksa bercerita juga.

Tadi pagi dia dipanggil bos, padahal biasanya jarang sekali bos ingin bertemu dengannya. Biasanya dia hanya dimintai mengirimkan laporan mingguannya. Tapi kali ini beliau ingin bertemu.

Ketika dia masuk ke ruangan bos, dia melihat bos sedang sibuk bicara di telepon. Dengan bingung Joanna berdiri dekat meja bos. Dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah sebaiknya langsung duduk atau menunggu dipersilahkan.

Setelah berpikir sebentar dia memutuskan untuk menunggu. Tapi bos masih bicara di telepon. Joanna bingung lagi, apakah sebaiknya dia keluar lagi atau duduk saja, atau lebih baik berdiri saja.

61

Masih bingung, tiba-tiba Joanna mendengar bos berkata, "Kok diam saja? Duduk dong!"

Ternyata beliau sudah selesai bicara di telepon. Tapi Joanna merasa kurang enak. Dia merasakan nada suara bos sepertinya sedang marah.

Joanna merasa bersalah karena tadi dia tidak langsung duduk saja. Hatinya berdebar-debar. Dengan takut-takut dia mencoba minta maaf. Tapi bos tampaknya tidak memerhatikan hal itu lagi dan segera menanyakan perkembangan pekerjaannya.

Ketika selesai. Joanna benar-benar merasa sedih. Dia merasa dirinya sangat bodoh dan memalukan. Begitu berbalik menuju pintu keluar, Joanna sudah hampir menangis, tapi dia mampu menahannya.

Teman-temannya heran mengapa hal sepele seperti itu membuat Joanna sangat sedih. Mereka semua mencelanya, bahkan sebagian menyalahkannya mengapa dia begitu kaku, takut dan ragu-ragu.

Joanna semakin sedih. Kemudian datanglah Pak Wiryo. Dia sudah bekerja di perusahaan itu selama 16 tahun. Semua orang mengenalnya. Meskipun termasuk karyawan senior, Pak Wiryo sangat baik dan rendah hati. Pak Wiryo mengajak Joanna ke mejanya. Kemudian Pak Wiryo menanyakan masalah yang dihadapinya.

Berbeda dengan temannya yang lain, Pak Wiryo berkata, "Apakah kamu yakin bahwa bos marah karena kamu tidak langsung duduk?"

"Tentu saja!" kata Joanna.

"Bagaimana kamu bisa yakin?" tanya Pak Wiryo.

"Yah, karena bos berbicara dengan ketus dan tanpa senyum."

"Ok," kata Pak Wiryo, "Apakah beliau jelas-jelas mengatakan bahwa beliau marah kepadamu?"

"Ya tidak, sih," kata Joanna.

62

"Nah! Mengapa kamu bisa yakin bahwa bos marah? Kamu salah besar. Kamu tidak boleh mengambil kesimpulan seperti itu. Itu namanya 'asumsi'. Kamu melihat sesuatu lalu kamu berasumsi. Padahal belum tentu asumsi kamu benar. Kamu boleh mengatakan bos marah kepadamu kalau dia benar-benar memarahimu. Dan kalaupun begitu, pasti ada sebabnya. Lihat dulu sebabnya, kalau kamu memang bersalah akui saja kesalahanmu, lalu segera memperbaiki kesalahan tersebut."

Tak Melihat Fakta

Setelah 20 menit berbincang-bincang dengan Pak Wiryo, Joanna mulai tenang. Dia mulai bisa melihat betapa seringnya dia berasumsi. Betapa seringnya dia tidak melihat fakta secara sungguh-sungguh tapi langsung berasumsi.

Joanna ingat ketika dia meminta agar temannya yang lebih senior mengajarinya cara membuat laporan mingguan. Tapi teman ini mengatakan bahwa dia sedang sibuk. Joanna merasa kesal karena dia merasa temannya sombong, tidak mau membantu.

Kini Joanna baru melihat bahwa dia telah berasumsi. Fakta menunjukkan bahwa temannya tidak bisa membantu karena sibuk, tapi Joanna langsung berasumsi bahwa dia sombong, tidak mau membantu. Padahal waktu itu sebenarnya dalam hati kecilnya, Joanna tahu bahwa temannya jujur. Dia memang sedang sibuk.

Dua minggu yang lalu juga begitu. Melihat temannya salah menghitung hasil penjualan mingguan, Joanna langsung beranggapan bahwa dia bodoh. Padahal kalau dipikir lagi, wajar saja kok kalau sekali-kali salah hitung. Dia sendiri juga pernah salah hitung. Namanya juga manusia. Joanna baru sadar bahwa dia telah membuat asumsi yang salah.

Keluar dari ruangan Pak Wiryo, wajah Joanna bersinar. Kini dia ingin belajar lebih rendah hati. Tidak mudah berasumsi semaunya. Do not just make assumption, see the fact! Be wise! Be nice!

63

Belajar dari Da'wah Partai Refah yang Cerdas dan Elegan

Ketika Partai Refah memenangkan pemilu di Turki, negara yang menerapkan sekularisme secara sempurna dan radikal di bawah kendali junta militernya, ada sebuah penelitian yang cukup fenomenal dan menakjubkan semua orang. Sekaligus tamparan buat Barat yang selama ini cukup agresif memprogandakan antipati tentang Islam.

Partai Refah mementahkan opini yg kerap kali mendeskreditkan partai Islam. Partai Islam selalu diidentikkan dengan eksklusivisme, radikalisme, antimodernisasi, mengeksploitasi simbol-simbol agama untuk kepentingan pribadi.

Partai Refah pun menjawab dengan kemenangannya meraih dukungan mayoritas rakyat Turki. Dukungan tidak hanya terbatas pada kaum santri eksklusif, atau kaum terpelajar elitis, atau komunitas Islam terbatas. Refah mampu meraih dukungan signifikan dari multi kalangan, dari kalangan terpelajar hingga kaum buruh dan komunitas masyarakat kumuh. Yang paling menakjubkan adalah dukungan yang datang dari para pekerja seksual alias pelacur!

Subhanallah...

64

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh aktifis demokrasi Barat sendiri, yang ingin mengetahui aspirasi politik para pelacur menunjukkan, menghasilkan data yang fantastis. Ternyata sebagian besar komunitas pelacur menyalurkan aspirasi politiknya pada Partai Refah.

Semua orang tahu, Partai Refah berdiri di atas platform Islam, mengusung nilai-nilai Islam dalam tatanan kenegaraan. Dan semua pun mafhum jika salah satu misi sebuah partai islam pasti ingin memberangus kemaksiatan, termasuk industri sex di dalamnya. Bagi para pelacur, jelas eksistensi sebuah partai Islam akan mengancam kehidupan mereka. Tetapi kenapa mereka malah memberikan dukungannya pada Partai Refah?

Saking tidak habis pikirnya, seorang Westernis pun bertanya kepada seorang seorang pelacur sekaligus untuk menciptakan keraguan terhadap sang pelacur atas pilihan politiknya, "Sadarkah anda bahwa jika Partai Refah berkuasa nanti, orang-orang seperti andalah yang akan pertama diberangus. Anda akan kehilangan pekerjaan..."

Sang pelacur pun menjawab dengan tenangnya, "Syukurlah, saya tidak lagi menjadi pelacur. Saya akan punya pekerjaan baru yang lebih dari sekarang ini..."

Subhanallah...

Mungkin tidak pernah terbayangkan seorang pelacur mendukung partai Islam. Di negara manapun, partai Islam selalu menjadi momok orang-orang yang bekerja di wilayah maksiat. Maka terkadang untuk melestarikan industri maksiatnya, mereka tidak segan-segan memberikan dukungan finansialnya pada partai sekuler untuk menghadang partai Islam. Di bawah naungan partai sekuler, mereka nyaman dan terlindungi pekerjaannya.

Tetapi Refah mampu menjungkir-balikkan prasangka kaum pelacur. Di bawah pemerintahan sekuler, mereka sebenarnya malah diperas dan dirampas kehormatannya. Haruskah untuk mendapatkan uang harus dengan menyerahkan kehormatan? Namun Refah tidak hanya main provokasi. Refah punya kerja riil. Refah membangun kerja nyata yang terkait langsung dengan kepentingan rakyat kecil. Refah tidak menjual simbol-simbol, tapi langsung mendekati kaum buruh, kaum tani, orang-orang di perkampungan miskin. Refah menjadi pendamping mereka, pembela mereka.

65

Ketika melihat pelacur, Refah tidak datang dengan membawa pedang dan mengancam akan membakarnya. Tapi Refah datang dengan kasih sayang, pengertian, mencoba menangkap isi hati mereka. Refah tidak sekedar melarang, tapi juga memberi alternatif riil. Tidak semua pelacur karena keinginannya sendiri. Mereka banyak yang korban perkosaan, depresi ekonomi, paksaan dari mafia kapitalis, ditambah lagi dengan pemahaman yang masih kurang. Maka mengeluarkan para pelacur dari lembah hinanya tidak cukup dengan mengeluarkan dalil halal haram. Tapi Refah pun menjadi tim advokasi mereka, mengusahakan pekerjaan alternatif buat mereka, memperjuangan hak-hak kehidupan yang lebih baik. Refah datang dengan kasih sayang, penuh harapan....

[save Indonesia with Syariah!]

Bercermin Pada Masa Lalu

"Di antara manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, hidup sebagai seorang mukmin, dan meninggal sebagai seorang mukmin. Ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup dalam kekafiran dan mati dalam kekafiran. Ada yang lahir dalam keadaan beriman, hidup sebagai mukmin, dan mati dalam kekafiran. Ada juga yang lahir dalam kekafiran, hidup sebagai orang kafir dan meninggal dalam keadaan beriman," (HR. Tirmidzi,
Ahmad dan Hakim).

Peristiwa yang pernah terjadi mungkin bisa dilupakan, tapi tak mungkin dihilangkan. Ia akan tetap ada dan harus dijadikan cermin. "Kukatakan kepada kalian seperti apa yang diucapkan Yusuf kepada saudara-saudaranya. Pergilah! Kalian semua bebas!" ujar Rasulullah SAW lantang di hadapan ribuan penduduk Makkah. Rasulullah memaklumatkan amnesti untuk kaum Quraisy atas sikap mereka memusuhi kaum Muslimin sebelumnya. Hanya beberapa nama saja yang dijatuhi hukuman mati.

Nama Ikrimah bin Abu Jahal tercantum dalam urutan pertama. Karenanya, ia melarikan diri ke Yaman. Sementara itu, Ummu Hakim, istri Ikrimah dan sepuluh orang wanita Quraisy, menghadap Rasulullah. Mereka mohon pengampunan dan menyatakan bai'at di hadapan beliau. Dalam pertemuan itu, Ummu Hakim memintakan pengampunan untuk suaminya. Setelah pertemuan itu, Ummu Hakim segera berangkat mencari suaminya. Ia berhasil menemukan Ikrimah di pantai Laut Merah. Saat itu, Ikrimah sedang bersiap-siap berlayar. Sang istri segera membawanya kembali menghadap Rasulullah saw yang memang telah memaafkannya.

66

Di hadapan Rasulullah saw, Ikrimah mengucapkan syahadat dan menyesali perbuatannya selama ini. "Demi Allah, kalau umurku panjang, semua nafkah yang dulu kukeluarkan untuk merintangi jalan Allah, akan kulipatgandakan di jalan Allah," tekad Ikrimah. Ikrimah menepati janjinya. Setelah masuk Islam, ia menjadi seorang hamba yang rajin beribadah. Seringkali dia menangis dengan air mata berlinang merenungi ayat suci al-Quran yang dibacanya. Ia menggabungkan diri dalam setiap perang, bahkan berdiri di garda terdepan. Ketika terjadi perang Yarmuk, Ikrimah maju berperang habis-habisan. Melihat tindakan nekad itu, Khalid bin Walid yang menjadi panglima pasukan segera mengejar, "Ikrimah, engkau jangan bodoh! Kembali! Kematianmu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin."

Namun Ikrimah tidak mempedulikan peringatan tersebut, "Biarkan saja, ya Khalid! Biarkan saya menebus dosadosa yang telah lalu. Saya telah memerangi Rasulullah dalam beberapa medan peperangan. Pantaskah setelah masuk Islam saya lari dari tentara Romawi ini? Tidak! Sekali-kali tidak!" Kemudian ia berteriak, "Siapakah yang berani mati bersama saya?" Beberapa orang segera melompat ke samping Ikrimah. Kemudian menerjang ke depan, menghalau pasukan lawan yang terus maju. Akhirnya, mereka berhasil memukul mundur pasukan Romawi.

Di akhir pertempuran, di bumi Yarmuk berjejer tiga mujahid Muslim dalam keadaan kritis! Mereka yang menderita luka-luka sangat parah itu adalah al-Harits bin Hisyam, 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan Ikrimah bin Abu Jahal. AlHarits minta air minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia melihat Ikrimah dalam keadaan seperti yang ia alami. "Berikan dulu kepada Ikrimah!" ujar al-Harits. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat 'Ayyasy menengok kepadanya. "Berikan dulu kepada 'Ayyasy!" ujarnya Ketika air minum didekatkan ke mulut 'Ayyasy, dia telah meninggal. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun keduanya pun telah meninggal.

Ikrimah bukanlah satu-satunya sahabat Rasulullah saw yang mempunyai masa kelam. Umar bin Khaththab juga punya masa-masa gelap yang begitu membekas dalam ingatannya. Tak jarang ia menangis terisak lantaran masa lalunya. Air matanya berderai kala mengenang anak perempuannya yang ia kubur hidup-hidup. Sering ia menangis sendirian di tengah sepinya malam saat mengingat sikapnya kepada Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Setiap orang punya masa lalu. Ada yang buruk dan ada yang baik. Seorang manusia tak bisa menghilangkan sejarah dan masa lalunya. Seluruh yang pernah terjadi mungkin bisa dilupakan, tapi tak mungkin dihilangkan. Ia akan tetap ada dan menjadi cermin bagi pelakunya sendiri atau orang lain.

67

Dalam Islam, masa lalu tak boleh dijadikan catatan sejarah semata. Ia harus memberikan manfaat. Di antaranya, masa lalu bisa dijadikan cermin. Pelaku atau orang lain, harus menjadikan masa lalu sebagai kaca untuk melihat diri. Apa yang buruk di masa lalu, tak boleh lagi terulang. Apa yang terlihat baik, harus ditingkatkan. Para sahabat Rasulullah SAW adalah sosok-sosok yang begitu nyata menjadikan masa lalu sebagai cermin.

Semangat mereka begitu besar untuk menebus kesalahan masa lalu. Hampir semua sahabat yang dulunya sangat memusuhi Rasulullah SAW, menjadi pendukung setia kaum Muslimin setelah mereka memeluk Islam. Masa lalu, seharusnya menjadi seperti bahan bakar yang terus memacu menuju perbaikan. Selain sebagai cermin, masa lalu adalah juga kumpulan anak tangga sejarah yang harus disambung dengan jenjang berikutnya. Apa yang terjadi hari ini akan menjadi masa lalu yang teramat berharga bagi generasi berikutnya.

Hari ini akan menjadi salah satu jenjang dari anak tangga sejarah yang harus disambung. Masa lalu yang paling dekat dengan kita adalah masa lalu diri sendiri. Tak ada yang banyak mengetahui secara detil baik, buruk dan pahit, manis hidup, kecuali kita sendiri. Selayaknya, jangan orang lain yang mengambil cermin hidup kita, tapi kita sendiri yang berkaca. Teramat malang nasib seseorang kala dirinya hanya menjadi cermin bagi orang lain. Betapa beruntungnya seseorang saat menjadikan masa lalu dirinya dan orang lain sebagai cermin untuk menata hidup. Agar masa lalu bersih dan menjadi cermin bagi semua orang, hari-hari yang sedang kita lewati harus diisi dengan kebaikan. Sebab, detik-detik yang sedang kita titi, dalam sekejap akan menjadi masa lalu yang tak pernah kembali. Seperti disabdakan Rasulullah saw, manusia hanya akan menjadi salah satu dari empat jenis.

"Di antara manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, hidup sebagai seorang mukmin, dan meninggal sebagai seorang mukmin. Ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup dalam kekafiran dan mati dalam kekafiran. Ada yang lahir dalam keadaan beriman, hidup sebagai mukmin, dan mati dalam kekafiran. Ada juga yang lahir dalam kekafiran, hidup sebagai orang kafir dan meninggal dalam keadaan beriman," (HR. Tirmidzi,
Ahmad dan Hakim).

Setiap orang berhak memilih keempat jenis tersebut. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya. Allah memberikan kebebasan. Akhirnya, marilah kita bercermin pada masa lalu, bekerja untuk hari ini, dan menata hari esok. Itulah cara kita mengisi hidup.

68

"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) BIARLAH ia kafir". (QS. Al-Kahfi: 29).

Berjuang Keras untuk Satu Isteri

Oleh: Zidni T. Dinan

eramuslim - Saya teringat sebuah dialog dengan "Sang Direktur" di salah satu instansi, dia memiliki posisi yang cukup strategis, dan cukup basah kata kebanyakan orang. Kami bersilaturahim ke rumah beliau dan isterinya, obrolan pun mengalir hangat dan sangat penuh kekeluargaan.

"Sudah makan malam belum nih, aku siapkan ya?" ujar sang isteri.

"Tidak usah Bu, 15 menit yang lalu kami barusan makan malam di Warung Lawu!" balasku.

"Ah, Warung Lawu! Kok mau sih makan di restauran itu?" tanyanya gemas.

69

"Memangnya kenapa bu, haram?" tanyaku penasaran.

"Kita sih ibu-ibu di sini udah pada boikot itu restauran, karena yang punya itu restauran 'doyan isteri banyak'! Wah enggak bakalan deh makan di situ lagi!" Sambil tertawa renyah dan Sang Direktur mengiyakan isterinya dengan tersenyum manis.

Tak disangka dialog semakin hangat dan mengalir ke sisi perilaku umum para pejabat di instansi Sang Direktur berkantor, di mana terdengar, banyak dari pekerja ataupun pejabat yang melakukan hubungan tak wajar. Mereka dengan mudahnya menyebut si fulan ini, si fulan itu punya simpanan di sana-sini di luar nikah, entah dengan wanita tuna susila, dengan karyawatinya atau pun rekan selingkuhan. Isteri sang direktur itu sangat antusias menceritakan kasus "mereka", dan ibarat nara sumberlah sang isteri tersebut, sambil diikuti tawa dan senyum dari suaminya layaknya suami setia di samping isterinya. Di sisi lain hatiku menolak melanjutkan pembicaraan semacam ini, "tidak ada manfaatnya dan hatiku gerah," gumamku.

"Kalau saya gimana, ibu yakin enggak?" tanya Sang Direktur kepada istrinya.

"Kalau saya sih yakin sekali suamiku tak begitu loh. Bapak sudah berkali-kali ikrar untuk enggak kayak gitu kan" sambil mereka berdua saling berpegang tangan mesra, begitu pun sambutan suaminya dengan senyuman.

Beberapa minggu menjelang, aku bertemu dengan seorang rekan usaha. Sewaktu kami sedang asyik ngobrol, tiba tiba rekanku itu menerima telepon, "Pak Fulan, apa kabar...?" jawabnya, dan berlanjut dengan obrolan urusan pekerjaan.

Di akhir pembicaraan, di seberang telepon terdengar, "Mas, tolong dikirimkan 'yang biasa' ke hotel ini, sekarang saya di...., sekarang ya! Lagi lelah dan tegangan tinggi nih! Saya enggak kuat nahannya. Ya sekitar jam 11 malam deh, aku tunggu ya...?" pintanya.

"Siap Pak, beres semuanya." ujar rekanku sambil menutup pembicaraan teleponnya.

Aku merasa kenal dengan sebutan nama yang menelepon rekanku itu, tak sabar aku bertanya, "Itu pak Fulan si Sang Direktur?" tanyaku.

70

"Betul, dia memang selalu minta gituan kalau sedang di sini, gue nih yang jadi repot nyariin 'yang Biasa' nya," ujar rekanku.

Terbayang olehku bagaimana wajah isterinya yang begitu sangat yakin atas kesetiaan Sang Direktur. Tak disangka bahwa "Sang Direktur" termasuk salah satu pelaku dari pergaulan ilegal. Aku segera tutup masalahnya, dan berlalu dari rekanku tadi.

Lain lagi cerita klien bisnisku yang lain. Dan aku yakin dengan mata kepalaku sendiri, dia selalu berujar kepadaku pada dua atau tiga kali kunjungan ke luar kota atau pun ke luar negeri bilamana bersama dengannya, "Aduh gue tak tahan nih, gue harus nyari nih. Gue pusing kalau di luar kota gini, mau bertualang ah! Mungkin orang jepang, asyik kali ya, beda rasanya nih, atau mungkin orang Itali asyik ya," begitu seterusnya. Dan itu selalu ia realisasikan pada penghujung malamnya, kutahu setelah dia bercerita pada keesokan paginya.

Hatiku perih bilamana mendengar itu, dan sesekali kuucapkan Astagfirullah. Ya Allah tolong jagalah jiwa ini dari godaan seperti itu..., karena kuakui celotehan tersebut bilamana tidak kita waspadai akan bisa menyeretku ke arah tersebut. Dan aku berjuang keras untuk itu.

Kuakui kondisi tersebut menjadi suatu pembicaraan umum di kalangan para pebisnis atau eksekutif di kota ini. Bukan saja hal itu terjadi di kantor Sang Direktur atau rekanku saja, tetapi banyak cerita pula yang terjadi di perkantoran lainnya. Dunia semakin aneh, gumamku. Tapi aku masih optimis bahwa kejadian seperti di atas belum menjadi mayoritas perilaku para eksekutif di negeri ini, kuharap ...

Jadi siapa yang seharusnya kita benci dan boikot? Warung Lawu dengan beberapa isterinya, yang meraihnya dengan cara yang halal, atau lelaki seperti Sang Direktur atau rekanku tersebut?

Akhirnya aku mencoba menelaah apa yang terjadi. Aku buka al-Quran dan beberapa buku literatur, akhirnya kudapat sebuah jawaban, sesungguhnya Allah paling mengetahui karakter ciptaan-Nya, prinsipnya kaum Adam itu mempunyai potensi dan hasrat yang kuat untuk pemenuhan psikologis terhadap wanita. Mereka juga butuh kasih sayang lebih dari kaum hawa. Terlebih itu kaum Adam memiliki energi yang sangat kuat untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya terhadap wanita. Semakin banyak semakin indah, itulah syahwat kaum Adam berbicara. Nah, permasalahannya adalah bagaimana caranya untuk melampiaskan kebutuhan tersebut.

Hanya ada dua pilihan yang baik pikirku saat ini. Pertama, poligami yang halal, syariat memperbolehkan hingga memiliki empat isteri, tetapi ada dampak sosial yang saat ini masih menjadi kendala dan masih diributkan. Apalagi yang mempermasalahkan kebanyakan dari kaum hawa. Dan pilihan kedua, adalah berjuang keras untuk tetap beristeri satu, dengan alasan khawatir tidak adil, dampak sosial yang berat, atau hal lainnya.

71

Semua pilihan di atas pastilah tetap membutuhkan perjuangan. Bagi yang memilih poligami, dia harus berjuang untuk membahagiakan isteri-isterinya, menghadapi tantangan dampak sosialnya, harus berlaku adil, memperkuat ekonominya, memperkokoh silaturahim antar keluarga besar, dan itu semua butuh kerja keras dan berjuang pula. Selain itu memastikan bahwa poligami bukanlah menjadi penghalang perjuangan amal soleh tetapi justru menjadi penyokong gerakan amal solehnya.

Begitupun untuk alternatif kedua, yang berjuang keras untuk tetap beristeri satu. Hal ini pun butuh perjuangan yang tidak ringan, untuk menahan potensi kebutuhan psikologis maupun biologisnya untuk isteri lebih dari satu. Perjuangan untuk menekan keinginan hatinya, selalu menjaga dan mempertahankan kesetiaan, menutup celah godaan, dan menekan potensi kesenangan yang dihalalkan. Berjuang untuk membahagiakan seorang isteri dan anak-anaknya, dan banyak perjuangan lainnya yang tak bisa diutarakan di sini.

Nah, buat para kaum Hawa yang memiliki suami seperti alternatif yang kedua ini, dan saya yakin makhluk seperti ini masih banyak tersebar di bumi ini, bersyukurlah. Hargailah suamimu, sayangi dan dukunglah suamimu sepenuh hati, hormati dia atas perjuangan kerasnya untuk memilih hanya seorang isteri di hatinya.

18/10/2004 09:32 WIB

(Untuk seorang wanita yang mendampingiku hingga saat ini, adalah sebuah karunia-NYA yang indah dan telah diamanatkan kepadaku, seorang kekasih yang belum pernah sekali pun memperlihatkan wajah masam, atau amarah padaku sejak kita mengikat janji untuk mengarungi perjuangan kehidupan yang singkat ini. Terima kasih ya dukungannya, and All the praises and thanks be to Allah)

72

Wujudkan! Bermimpilah dan Wujudkan!

Bisnis adalah usaha mulia. Di samping menguntungkan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Tapi semua itu harus dimulai, bukan hanya sekedar ide semata.

Pernahkah kita bercita-cita menjadi direktur di perusahaan kita sendiri? Lalu mengapa kita terjebak dalam rutinitas pegawai kantoran, kuliah atau rumah tangga tanpa sedikitpun terpikir akan membuka usaha yang menguntungkan. Padahal kesempatan anda untuk memulai bisnis terbuka lebar setiap saat.

Mulailah Sekarang

Seringkali istilah pengusaha belum dianggap sebagai pekerjaan. Bahkan, masyarakat kita banyak yang lebih menghargai pegawai kantoran yang nampak bekerja dari pagi hingga petang. Tapi pengusaha, apalagi kecil, masih dipandang sebelah mata. Padahal lewat bisnislah, orang bisa memperoleh keuntungan berkali lipat dibandingkan pegawai kantoran. Dan itu bisa dimulai dari rumah.

73

Bisnis rumahan bila dikelola secara profesional akan menjadi besar. Banyak bisnis berhasil yang dimulai dari bisnis rumahan seperti pemilik Wardah, kosmetika suci dan halal, Nurhayati Subakat misalnya, awalnya harus menjajakan produk shamponya dari satu salon ke salon lain. Kini produknya tersebar di seluruh Indonesia dan ratusan orang bekerja padanya.

Peluang itu ada di mana-mana. Cobalah buka mata, telinga dan intuisi anda dengan baik. Anda akan menemukan banyak sekali ide usaha. Bila anda hobi memasak, merancang sepatu, mengumpulkan barang bekas, mengumpulkan komik, bisa jadi ide bisnis untuk anda. Asalkan kita kreatif dan membuat sesuatu yang disukai pasar maka peluang untuk berhasil lebih terbuka. Anda bisa mengikuti jejak Nila Sari yang sukses dalam bisnis membuat kue, atau pendisain sepatu ekslusif seperti Linda Chandra atau bisa juga ide kreatif anak muda yang dituangkan lewat tulisan seperti pada Kaos Dagadu Yogya.

Andapun bisa menciptakan peluang itu. Misalnya saja peluang untuk membuat tempat penitipan anak, atau bisnis barang bekas lewat internet. Menciptakan peluang yang sama sekali baru juga dicetuskan oleh Jeff Bezos yang berinovasi menjual buku lewat internet dengan amazon.com-nya yang akhirnya sukses luar biasa dan menjadikannya milyuner di usia muda.

Tak salah juga jika anda mengekor bisnis yang sudah dibuka oleh orang lain. Misalnya bisnis ayam goreng yang sudah menyebar di kota besar ternyata menimbulkan ide menjual ayam goreng ala McDonald yang harganya lebih terjangkau masyarakat. Atau juga bisnis busana muslimah yang mulai menjamur. Tentu kita harus lihat apa kebutuhan pasar terhadap busana muslimah. Kekosongan yang tidak tersedia, dapat kita isi.

Lalu, apa yang kita lakukan jika ide sudah tercetus? Lakukan saja. Maksudnya di sini bukan tanpa perhitungan. Hanya saja jika terlalu ketat menghitung-hitung resiko yang muncul kemudian adalah rasa ragu-ragu. Ide cemerlang kita bisa segera ditangkap orang lain.

Berawal Dari Mimpi

74

Bermimpilah besar dan terus bermimpi besar, kata pepatah. Karena semua yang kita nikmati sekarang berasal dari mimpi yang dianggap tidak mungkin. Dulu Sosrodjojo ditertawakan orang karena dinilai bermimpi menjual teh dalam kemasan botol. Atau juga Tirto Utomo yang ditertawakan karena idenya menjual air minum kemasan. Ide itu kini terwujud sebab siapa yang tak kenal Teh Botol Sosro dan Aqua. Kini merek itu telah jadi trendsetter dari produk teh dan minuman mineral sejenis.

Di Amerika ada Bill Gates yang meninggalkan bangku kuliah bisnisnya di Harvard, sebuah sekolah elit di Amerika, dan serius menekuni Microsoft-nya. Dia bermimpi kelak di seluruh dunia akan ada Komputer Pribadi (PC) di setiap rumah. Impian itu menjadi slogan yang dikenal luas dengan "Computer on every desk and in every home". Mimpinya jadi kenyataan.

Jika kita telah berani bermimpi, sebenarnya mimpi itu bisa kita wujudkan dengan kerja keras dan kesungguhan. Jangan takut bermimpi, walaupun anda membuka usaha skala kecil saja di rumah.

Berani Adalah Modal

Jika anda sudah memiliki mimpi dan ide yang baik, kenapa tidak mulai sekarang? Beranikan diri untuk mencoba. Berani adalah modal seorang entrepreuner. Mencoba ide atau gagasan secara langsung adalah tantangan yang menyenangkan. Banyak ilmu didapat dibanding sekedar membaca teorinya saja.

Andaikan modal adalah alasan terbesar anda maka ketahuilah banyak pengusaha sukses yang memulai usaha dari nol. Ada yang berjualan batik titipan orang, keuntungannya dijadikan modal usaha seperti Dyah Suminar, pengusaha wanita asal Yogya. Ada pula Purdi Chandra, pemilik Bimbingan Belajar Primagama, yang memulai usaha hanya dengan 300 ribu hasil melego sepeda motornya. Lihat pula Abdullah Gymnastiar yang merintis divisi usaha pesantren Daarut Tauhid dengan menggelar dagangan yang modalnya berasal dari seorang janda. Jadi modal bukanlah permasalahan paling besar yang dihadapi oleh pebisnis pemula.

Berani Gagal

Menurut Tyas Soekarsono, dosen sekaligus pengusaha, keseriusan dan kesungguhan dalam berbisnis juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan bisnis yang anda tekuni. Hal ini berlaku pula dengan bisnis yang dimulai dari rumah. "Kerja keras perlu tapi jangan sampai tidak efektif dan tidak efisien," ujarnya mengingatkan. Work

75

hard and work smart adalah motto para entrepreuner. Jangan malas dan merasa cepat puas atas hasil yang
didapat.

Hal penting lainnya adalah daya inovasi yang tinggi terhadap layanan produk dan jasa. Karena itu seorang pebisnis harus pandai mengikuti perkembangan pasar dan melihat perilaku pesaing. Pebisnis harus menyadari bahwa produk yang ditawarkan banyak, tapi apa yang membuat si calon konsumen itu beralih menggunakan produk dan jasanya. Di sini pebisnis harus cerdik melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Safir Senduk juga menegaskan sikap tidak boleh cepat mengharapkan hasil bagi para pebisnis pemula. Kesabaran itu diperlukan untuk beradaptasi dengan usaha yang mulai dirintis. Kadang kegagalan itu perlu dirasakan oleh pebisnis karena lewat kegagalanlah pengusaha akan mencoba menghindari kesalahan yang sama.

Jika kita sudah berani mencoba maka kita harus berani gagal atau berani sukses. Intinya, seberapa keras kita berusaha itulah harga yang akan kita dapatkan. Tidak ada kamus gagal bagi yang berjiwa entrepreuner. Yang ada adalah seberapa cepat anda bangkit dari kegagalan itu. Bagaimana, siap berbisnis?

Sumber: http://www.ummigroup.co.id/ummi/lengkap.php?id=99

76

Kala Cinta Meranggas Aqidah

Oleh: Abu Aufa

Kesepian memang kadang menyakitkan, menoreh setiap senyum dan tawa, serta menciptakan riak anak sungai di sudut mata. Pedih dan sedih silih berganti kunjung-mengunjungi. Pupus segala harap, melukai semua impian yang kadang memabukkan. Hingga, jiwa yang rapuh menciptakan serpihan kegelisahan yang memilukan.

Saat temaram rembulan menyuguhkan hidangan, terlintas sekelebat bayang. Disibaknya kegelapan, namun entah di mana ia berada. Kecewa, hingga guratan keresahan menyibukkan kelamnya malam. Kebisuan yang menusuk-nusuk, membuat kedukaan semakin berat, hingga menghujam akal dan aqidah. Air mata semakin deras tumpah, lelah, tubuh pun mencoba rebah. Namun, jiwa ini lemah, mata air di telaga yang coba dibendungnya kembali menerobos kelopak mata, ke pipi, hingga membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya.

Cinta...

77

Entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya, namun cinta juga kadang melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, namun dapat pula membakar. Impian cinta membuat hati dan raga terselimuti bahagia, hingga memompa harapan yang keluar masuk melalui butiran darah. Mengharapkan kakanda tercinta yang siap mendampingi saat tawa dan air mata, hingga terbentang siluet istimewanya seorang wanita yang telah menikah, mengandung, dan melahirkan si kecil dengan selimut kasih sayang.

Namun, impian berbeda dengan kenyataan. Sepi semakin menggerogoti hari, sendiri..dan masih sendiri. Duhai belahan hati, entah di mana kakanda bersembunyi.

Ukhti sholehah yang dicintai Allah Ta'ala...

Cinta dan impian membentuk sebuah keluarga memang begitu indah. Namun, takkala ia belum menyapa, janganlah membuat gundah dan resah, bahkan merubah pandangan terhadap Sang Pemilik Cinta. Kegelisahan

jangan pula membuatmu menggadaikan aqidah, karena sungguh harta itu tak ternilai harganya. Tak ada yang dapat membelinya, apalagi dengan basa-basi cinta yang menyelubungi halleluyah.

Cinta yang membara tak akan dapat menghapus ketentuan Allah SWT, "Dan janganlah kamu menikahkan orang-

orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman..." [al-Baqarah: 221]. Namun, ajaran
junjungan Rasulullah SAW akan pupus, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, dan tidak dalam benci tapi dalam cinta [Henry Martyn, missionaris, 1812 M].

Cinta akan membentuk sebuah keluarga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah) karena kesamaan iman dan aqidah, dalam naungan ridho Allah SWT. Jangan biarkan sedikitpun celah hatimu terbuka dengan cinta berselaput halleluyah, karena cinta seperti itu akan meranggas aqidah. Pernikahan dengan keyakinan yang berbeda, tak akan melahirkan ketenteraman jiwa, karena ia adalah zina.

Dapatkah engkau menjawab saat anakmu bertanya, mengapa ayah selalu pergi setiap hari Minggu, sedangkan dirimu ruku' dan sujud? Bisakah engkau menjelaskan saat anak laki-lakimu bertanya, mengapa ayah tidak pergi Shalat Jum'at padahal dirimu berbicara panjang lebar tentang kewajiban menunaikannya? Atau, mengapa ayah tidak mengucapkan bismillah tapi atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus? Juga, mengapa Tuhannya ayah ada 3 sedangkan dirimu selalu mengucapkan Ahad... Ahad...Ahad?

78

Mampukah engkau menjelaskan semua itu dan banyak lagi kepada buah hatimu?

Duhai ukhti, sanggupkah engkau menahan murkanya Allah SWT?

Saat jiwamu lelah bertanya di manakah gerangan kakanda berada, kembalilah kepada Sang Pemilik Rahasia, lantunkan munajat dan do'a, mohon tetapkan iman untuk selalu terhatur kepada-Nya. Jadikan hati ini selalu ikhlas serta rela atas setiap keputusan-Nya.

As'alukallahummar ridha ba'dal qadha, wa burdal 'iisyi ba'dal maut, wa ladzdzatan nazhori ila wajhika, wa syauqon ila liqaa'ika.
Ya Allah, aku mohon kerelaan atas setiap keputusan-Mu, kesejukan setelah kematian, dan kelezatan memandang wajah-Mu serta kerinduan berjumpa dengan-Mu.

Mohonkan juga kepada-Nya, agar Ia menguatkan niat dan azzam kepada lelaki yang belum menikah untuk segera menyempurnakan setengah agama, sehingga dirimu serta pasangan jiwa tercinta dapat bersama membangun sebuah istana kecil nan indah dalam naungan ridho-Nya.

Duhai ukhti sholehah...

Sabar..dan bertahanlah. Kalaulah Allah SWT menakdirkan dirimu sebagai lajang di dunia ini, yakinlah di surga ada yang setia menanti. Kuatkan hati, tegar..dan selalu tegar, karena dirimu memiliki harta yang tak ternilai harganya, yaitu aqidah.

Wallahua'lam bish showab.

(Terhatur kepada para ukhti yang masih sendiri, yakinlah cinta-Nya jauh lebih berharga dari cinta yang berselimutkan halleluyah)

79

Keberanian

Suatu ketika seorang Indian muda, mendatangi tenda ayahnya. Di dalam sana, duduk seorang tua, dengan pipa panjang yang mengepulkan asap. Matanya terpejam, tampak sedang bersemadi. Hening. "Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok pagi?" tanya Indian muda itu memecahkan kesunyian di sana. Mata sang Ayah membuka perlahan, sorot matanya tajam, memandang ke arah anak paling disayanginya itu. Kepala suku itu hanya diam.

"Ya Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok? Lihat, aku sudah mengasah pisauku. Kini semuanya tajam dan berkilat." Tangan si kecil merogoh sesuatu dari balik kantung kulitnya. Sang Ayah masih diam mendengarkan. "Aku juga sudah membuat panah-panah untuk bekalku berburu. Ini, lihatlah Ayah, semuanya pasti tajam. Busurku pun telah kurentangkan agar lentur. Pasti aku akan menjadi Indian pemberani yang hebat seperti Ayah. Izinkan aku ikut Ayah." Terdengar permintaan merengek dari si kecil.

Suasana masih tetap senyap. Keduanya saling pandang. Terdengar suara berat sang Ayah, "Apakah kamu sudah berani untuk berburu? "Ya!" segera saja terdengar jawaban singkat dari si kecil. "Dengan pisau dan panahku, aku akan menjadi yang paling hebat." Sang Ayah tersenyum, "Baiklah, kamu boleh ikut besok, tapi ingat, kamu harus berjalan di depan pasukan kita. Mengerti?" Sang Indian muda mengangguk.

80

Keesokan hari, pasukan Indian telah siap di pinggir hutan. Kepala suku, dan Indian muda, berdiri paling depan. "Hari ini anakku yang akan memimpin perburuan kita. Biarkan dia berjalan di depan." Indian muda itu tampak gagah. Ada beberapa pisau yang terselip di pinggang. Panah dan busur, tampak melintang penuh di punggungnya. Ini adalah perburuan pertamanya. Si kecil berteriak nyaring, "Ayo kita berangkat."

Mereka mulai memasuki hutan. Pohon-pohon semakin rapat, dan semak semakin meninggi. Sinar matahari pun tak leluasa menyinari lebatnya hutan. Mulai terdengar suara-suara dari binatang yang ada di sana. Indian kecil yang tadi melangkah dengan gagah, mulai berjalan hati-hati. Parasnya cemas dan takut. Wajahnya sesekali menengok ke belakang, ke arah sang Ayah. Linglung, dan ngeri. Tiba-tiba terdengar beberapa suara harimau mengaum.

"Ayah...!!" teriak si kecil. Tangannya menutup wajah, dan ia berusaha lari ke belakang. Sang Ayah tersenyum melihat kelakuan anaknya, begitupun Indian lainnya.

"Kenapa? Kamu takut? Apakah pisau dan panahmu telah tumpul? Mana keberanian yang kamu perlihatkan kemarin?" Indian muda itu terdiam. "Bukankah kamu bilang, pisau dan panahmu dapat membuatmu berani? Kenapa kamu takut sekarang? Lihat Nak, keberanian itu bukan berasal dari apa yang kau miliki. Tapi, keberanian itu datang dari sini, dari jiwamu, dari dalam dadamu." Tangan Kepala Suku menunjuk ke arah dada si kecil.

"Kalau kamu masih mau jadi Indian pemberani, teruskan langkahmu. Tapi jika, di dalam dirimu masih ada jiwa penakut, ikuti langkah kakiku." Indian muda itu masih terdiam. "Setajam apapun pisau dan panah yang kau punya, tak akan membuatmu berani kalau jiwamu masih penakut. Sekuat apapun busur telah kau rentangkan, tak akan membuatmu gagah jika jiwa pengecut lebih banyak berada di dalam dirimu."

"...Aauummmm." Tiba-tiba terdengar suara harimau yang mengaum kembali. Indian muda kembali pucat. Ia memilih untuk berjalan di belakang sang Ayah.

***

81

Keberanian. Apakah itu keberanian? Keberanian bukanlah rasa yang dimiliki oleh orang yang menganggap dirinya memiliki segalanya. Keberanian juga bukan merupakan rasa yang berasal dari sifat-sifat sombong dan takabur. Keberanian adalah jiwa yang berasal dari dalam hati, dan bukan dari materi yang kita miliki. Keberanian adalah sesuatu yang tersembunyi yang membuat orang tak pernah gentar walau apapun yang dia hadapi.

Saya percaya, keberanian bukan berasal dari apa yang kita sandang atau kita miliki. Keberanian bukan datang dari apa yang kita pamerkan atau yang kita punyai. Tapi, teman, keberanian adalah datang dari dalam diri, dari dalam dada kita sendiri. Keberanian adalah sesuatu yang melingkupi perasaan kita, dan menjadi bekal dalam setiap langkah yang kita ayunkan.

Teman, mungkin saat ini kita diberikan banyak kemudahan, dan membuat kita merasa cukup berani dalam menjalani hidup. Kita mungkin dititipkan kelebihan-kelebihan dan membuat kita takabur bahwa semua masalah akan mampu di hadapi. Mungkin saat ini kita kaya, rupawan, berpendidikan tinggi, dan berkedudukan bagus, tapi apakah itu bisa menjadi jaminan bahwa kita akan selamanya dapat menjalani hidup ini? Apakah itu akan selamanya cukup untuk menjadi bekal kita dalam "perburuan" hidup ini?

Jadilah Indian muda yang tetap melangkah, dengan jiwa pemberani yang hadir dari dalam hati, dan BUKAN dari pisau dan panah yang telah diasah. Jadilah Indian muda yang tak pernah gentar mendengar suara harimau, sekeras apapun suara itu terdengar. Jadilah Indian muda yang tetap yakin dengan pilihan keberanian yang ia putuskan. Jangan gentar, jangan surut untuk melangkah.

82

Kehidupan yang Ber@rti

Berapa umur anda saat ini? 25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun... Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda? Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk menjalani kehidupan?

Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba.

Waktu untuk kita bersiap melakukan aktifitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai seorang profesional, dll. Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang menjalani hidup.

Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa.

Pekerjaan menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang tidak memuaskan, dan banyak problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

83

Tak terasa, siang menjemput... Waktunya istirahat..makan-makan... Perut lapar, membuat manusia sulit berpikir.

Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi semakin berat untuk diselesaikan. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Panas betul hari ini... Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja...

Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan kok masih banyak yang belum selesai.

Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat... Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket. Nikmatnya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...

Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah.

Dinamis sekali kehidupan ini. Waktunya makan malam tiba. Sang istri atau mungkin Ibu kita telah menyiapkan makanan kesukaan kita.

"Ohh..ada sop ayam" .

"Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali".

Suami memuji masakan istrinya, atau anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan. Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam telah tiba. Lelah menjalankan aktifitas hari ini, membuat kita tidur dengan lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan mulailah hari yang baru lagi.

Kehidupan... ya seperti itu lah kehidupan di mata sebagian besar orang.

84

Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.

Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama. Hanya rutinitas...sampai akhirnya maut menjemput.

Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas. Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan.

Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa... Kehidupan adalah... dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.

Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda?

Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda?

85

Akankah sisa waktu anda sebelum ajal menjemput hanya anda korbankan untuk sebuah rutinitas belaka?

Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.

Hanya Tuhanlah yang tahu...

Pandanglah di sekeliling kita..ada segelintir orang yang membutuhkan kita.

Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama......

Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas....

Ketika Ikhwah Jatuh Cinta!!!

Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas'ul dakwahnya, "Akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan". Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya."Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi dan…. Afwan, terus terang juga tersinggung." Sesaat kemudian suara di balik hijab itu mengatakan….ia jatuh cinta pada ana."

Mas'ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. "Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan." Sang mas'ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.

"Afwan..ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini." sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

"Ya sudah… Ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini". Mas'ul itu membuat keputusan, "Ana akan ajak bicara langsung akh fulan"

86

Beberapa waktu berlalu, ketika akhirnya mas'ul tersebut mendatangi fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, "Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?"

Sang mas'ul berusaha menanggapinya searif mungkin. "Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan kepada pembina antum untuk diseriuskan? Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????" Mas'ul tersebut membuat penekanan substansial, "Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi

ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan."

Cinta Aktivis Dakwah

Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki? Jatuh cinta bagi aktifis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.

Ketika aktifis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenannya jatuh cinta bagi aktifis dakwah bukan perkara sederhana.

87

Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta `lain' muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas di sini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda Kartini, "…akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada di samping laki-laki yang cakap, lebih banyak kata saya…..daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri.."

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan di sisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktifis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta??? Jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta

Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta di atas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan ke surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat di sana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas. Sudah banyak potret keluarga yang baru dalam masyarakat yang kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik `asing' dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan `misteri’. Pertanyaan sederhana, "Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia. Emang kamu cinta sama dia?", dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

88

Pernyataan `Nikah dulu baru pacaran' masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, "Bagaimana caranya, emang bisa?" Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada Sang Penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri di atas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-

akhwat dan tentang landasan ke mana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Epilog

Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yang berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita. Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Jadi… Sudah berani jatuh cinta…??

89

Wallahu'alam

Sumber: Majalah al-Izzah edisi 11/th4/jan 2005 M

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam

Umar bin Khaththab -semoga Allah meridloinya- mengatakan: "Kita adalah umat yang telah Allah SWT berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan."

Kapan Umar mengatakan ungkapan ini? Kapan Umar menyusun perkataan ini?

Umar mengatakan ini pada moment yang agung dan pada satu periode yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan karena kita mengabaikan Islam.

Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orangorang Nashara mendengar kedatangan Umar yang namanya telah mengguncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majelis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pingsan mendengarnya, karena takut.

90

Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan. Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya. Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Umar yang sudah dikenal dikalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.

Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan gang.

Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka kaluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.

Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis?

Tidak ada iring-iringan yang mengawal! Orang-orang mengira beliau akan datang dengan para pembesar shahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya, tetapi beliau datang hanya dengan mengendarai satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun!

Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya: "Siapa itu? Mungkin salah saeorang tentara yang memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin.

Ketika pasukan itu mendekat, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khaththab! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.

Amr bin Ash mengatakan: "Wahai Amirul Mukminin, orang-orang menanti kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini?"

91

Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: "Kita adalah umat yang telah Allah SWT berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita."

Kita membangun peradaban kita dari nol dengan satu modal; Laa ilaaha illallaah.

Pasukan Umar bin Khaththab keluar dengan 30.000 orang yang bertauhid. Setiap orang yang bertauhid sama dengan 3 juta tentara dunia sekarang. Mereka keluar untuk berperang melawan Persia, berperang untuk melawan Kisra yang kafir dan sesat. Ketika mereka tiba di Qadisiyah, Kisra ingin melakukan perundingan dengan Umar karena takut mati. Maka ia mengutus Hurmuzan -salah seorang menterinya- untuk mendatangi Madinah Nabawiyah kota Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk duduk bersama Umar al-Faruq di meja perundingan.

Utusan tersebut keluar dengan rombongan yang besar untuk menemui Umar, dengan hati yang hampir robek karena takut… Mengapa? Karena dia ragu-ragu. Bagaimana ia akan bicara dengan Umar bin Khaththab? Apakah ia akan berbicara secara langsung atau melalui perantara? Apakah ia akan duduk bersama di atas tanah? Apakah ia dapat melihat Umar secara langsung tanpa alat dan pengeras suara ?

Maka ia memakai perhiasan, sutra, emas dan perak. Ia menembus jalan dari Iraq menuju Madinah.

Ketika ia masuk Madinah, ia bertanya: "Di mana istana Khalifah Umar?"

Para shahabat mengatakan: "Umar tidak punya istana."

Ia bertanya: "Bagaimana ia memimpin kalian?"

Mereka berkata: "Beliau memimpin kami di atas tanah."

Ia bertanya: "Di mana rumahnya? Apakah rumahnya memiliki keistimewaan?"

Mereka menjawab: "Rumahnya seperti rumah kita."

Ia berkata: "Tolong tunjukkan pada saya rumahnya."

92

Mereka berangkat dan berjalan di gang-gang kota Madinah yang sempit, sampai mereka sampai di sebuah rumah yang kecil miskin yang hanya dibangun dari tanah biasa.

Ia bertanya: "Apakah ini rumahnya?"

Mereka mengatakan: "Ya"

Ia bertambah takut dan gemetar, ia bertanya: "Apakah ini rumahnya?"

Mereka mengatakan: "Kita akan tanya keluarganya"

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah. Putranya keluar, mereka bertanya: "Apakah Amirul Mukminin ada di rumah?"

Beliau menjawab: "Beliau sedang tidak di rumah, silahkan anda cari di masjid"

Kantor, istana dan tempat duduknya di masjid. Utusan ini segera berangkat ke masjid. Anak-anak berjalan di belakang utusan. Beberapa wanita melihat dari atap rumah dan dari balik pintu, untuk melihat orang yang datang dengan sutra dan emas yang bersinar karena pantulan sinar matahari.

Utusan tersebut mencari Umar. Mereka pergi dan memasuki masjid, mengamati orang-orang yang tidur -karena beliau tidur di masjid- maka mereka tidak menemukan. Mereka mengatakan: "Kita cari di tempat lain."

Maka mereka mencari lagi.

Mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata beliau berada di situ. Beliau tertidur di di bawah pohon.

Utusan Persia ini tercengang dan semakin takut.

Mereka membangunkan Umar. Ketika beliau bangun, beliau bertanya: "Siapa ini?"

Mereka mengatakan: "Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan anda, wahai Amirul Mukminin."

93

Orang Persia tersebut berkata: "Anda telah berhukum dengan adil sehingga anda merasa aman dan bisa tidur."

Jadi kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka jika kita mencari kejayaan dengan selain Islam, Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita mencari kejayaan dengan pakaian dan penampilan, bukan dengan agama, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan rumah dan istana, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan berbagai kendaraan, kakayaan, makanan dan merasa bangga dengan selain Islam maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita. Karena kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Mengapa kita tidak merasa bangga, wahai para pemuda dan orang tua, mengapa kita tidak merasa bangga dengan Islam?

Ya… Ada di tengah-tengah kita, orang yang tidak ingin masuk lebih dalam pada agama. Dia ingin Islam yang biasa-biasa saja, shalat dan puasa saja.

Sedankan dakwah dan istiqamah adalah sesuatu yang dia tidak inginkan. Mengapa?

Karena zionisme internasional telah menamakan para da'i dengan istilah fundamentalis dan berbagai istilah menakutkan lainnya..maka orang-orang yang kurang wawasan, sedikit pengetahuan dan lemah mental (imannya) merasa berat jika dikatakan seperti itu.

Allah SWT membagi manusia menjadi dua bagian, Allah SWT berfirman, yang artinya:

"Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan" (QS. Al-Qalam: 35-36)
Pilihannya hanya satu dari dua, muslim atau mujrim (orang yang berbuat dosa)..orang yang baik atau jelek… Sesat atau dapat petunjuk… Shaleh atau merusak… Taat atau maksiat. Tidak ada pilihan ketiga.

94

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orangorang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (QS. Shaad: 28)
Saran kita bagi setiap orang biasa yang ingin hidup biasa dalam Islam agar bergabung dengan para wali Allah, orang-orang pilihan, orang-orang yang istiqamah, karena agamawan dalam Islam tidak sama dengan agamawan dalam Nashrani..tidak..pilihan kita hanya satu, menjadi orang yang istiqamah sukses bahagian atau sesat bodoh dan gagal dalam hidup.

Dalam agama kita hanya ada satu pilihan, menjadi orang yang baik , bertaqwa, wara' dan menghadapkan diri kepada Allah atau menjadi orang yang celaka, lalai, sesat yang akan dikembalikan ke neraka yang menyala-nyala.

Allah SWT berfirman:

"Demikianlah Kami (Allah) jadikan kalian umat wasath (pertengahan)." (QS. Al-Baqarah: 143)
Betapa indah ungkapan wasath (pertengahan). Apa yang dimaksud dengan wasath? Banyak dari para ahli tafsir yang mengatakan bahwa maksudnya adalah umat pilihan. Sebagian yang lain mengatakan maksudnya: pertengahan dalam segala sesuatu.

Ke dua makna ini benar. Alhamdulillah kita ini umat Islam memiliki aqidah pertengahan. Kita tidak hidup tanpa aqidah seperti orang-orang yang tidak punya pegangan. Kita tidak hidup dengan hati kosong, jiwa kosong, tetapi kita punya aqidah. Namun kita juga bukan yang berlebihan dalam beribadah sampai-sampai menyembah segala sesuatu, menyembah batu, pohon, bintang, bulan, sapi, harta, pakaian..tidak..tetapi kita beribadah kepada Dzat yang memang berhak dijadikan tujuan ibadah.

"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu" (QS. Muhammad: 19)

95

Sumber: http://www.al-madina.s5.com/SerbaSerbi.htm

TanyaTanya-Jawab

Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan mengenai kata-kata "Halal" dan "Haram"; apa arti dari kata-kata tersebut?

Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan al-Quranlah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya.

Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?

Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

96

Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.

Bob: Apa maksud anda?

Yunus: Begini... Seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.

Bob: Oh begitu... Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.

Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun; hanya pada masa kinilah, para ahli makanan baru menyadari akan hal ini.

Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang terkait dengan babi?

Yunus: Sebenarnya, di luar dari larangan al-Quran dalam pengkonsumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga, pada Leviticus bab 11 ayat 8, mengenai babi, dikatakan, "Dari daging mereka (dari "swine", nama lain buat "babi") janganlah kalian makan, dan dari bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu." Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher. Namun di luar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham, atau bacon.

97

Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya.

Yunus: Ya, dan di luar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.

Seputar Masalah Plagiat

Oleh: Arman Duval Penulis sekadar penggemar sastra

Plagiat dalam dunia kesusastraan memang bukan masalah baru. Tapi juga tidak dapat dikatakan sudah basi. Konon masalah ini sudah dikenal bersamaan dengan lahirnya kesusastraan itu sendiri. Namun apakah yang dimaksudkan dengan plagiat? Tatkala dulu HAMKA bertubi-tubi dituduh dan dipermalukan sebagai plagiator, para insan sastra pun serta merta sibuk beradu argumen dan bergegas merumuskan definisi plagiat. Begitupun, untuk mencapai sebuah definisi yang bisa disepakati oleh semua pihak, ternyata tidaklah semudah melempar dan menyanggah tudingan plagiat itu sendiri. Juga di belahan utara, di mana tradisi sastra boleh dikatakan telah berakar ke semua lapisan masyarakat, istilah plagiat tak urung masih dianggap perlu untuk dikaji lebih jauh.

98

Tetapi tulisan kecil ini tidaklah berangkat dengan niat mencoba mendefinisikan plagiat secara lebih telak. Upaya itu niscaya akan terbentur pada lagu lama tadi. Sebab itu, baiklah kita tarik saja kesimpulan sementara. Bagaimana kalau kita katakan bahwa plagiat adalah penyalinan atau penyontekkan karya orang lain? Kalau definisi sementara itu terasa kurang keras, marilah kita perkeras lagi kira-kira seperti ini: plagiat adalah penjiplakan, pencurian, pembajakan karya orang lain yang diakui dan dipublikasikan sebagai karya sendiri.

Di Inggris kasus plagiat pernah secara tiba-tiba mengemuka lagi, dan dengan cepat menjadi bola pembicaraan yang ramai saling ditendang di gelanggang diskusi sastra melalui media massa. Bola masalah mula-mula bergulir akibat kemunculan satu pola plagiat yang oleh para pakar dinilai sebagai contoh dari pencurian karya orang lain secara sangat mencolok. Martin Amis, putra novelis kondang Kingsley Amis, pada tahun 1973 sukses menulis novel menarik yang diberinya judul 'The Rachel Papers'. Agaknya patut kita catat bahwa novel ini adalah novel perdana bagi Amis. Tujuh tahun usai peluncuran novel pertamanya, syahdan seorang novelis muda Amerika berhasil pula mengorbitkan sebuah novel dan langsung laku keras di dunia internasional. Judulnya 'Wild Oats'. Lalu

meledaklah bom plagiat itu. Beberapa bagian dari garapan novelis muda Amerika ini ternyata menunjukkan kemiripan-kemiripan mencurigakan dengan bagian-bagian yang terdapat dalam novel Martin Amis. Kemiripan itu bahkan dinilai bisa dilihat kata per kata. Maka wasangka besar bahwa Jacob Epstein secara mentah-mentah telah menjiplak karya Martin Amis sukar dielakkan lagi. Pembaca yang paling gegabahpun pasti akan bisa memergoki kenyataan bahwa novel yang diakui oleh Jacob Epstein sebagai karyanya sendiri itu memanglah karya jiplakan adanya.

Tapi, entah karena terpojok, atau barangkali karena Epstein sendiri memang seorang pengarang yang berhati jujur, ia lantas terus-terang mengaku bahwa sewaktu ia melakukan serangkaian penelitian menjelang penulisan novel tersebut, ia memang membajak beberapa bagian dari novel Martin Amis. ”Begitupun”, ujar Jacob Epstein pula, ”rancangan dan ide pokok Wild Oats adalah ciptaan saya sendiri.'” Tatkala ditanyakan kepada Martin Amis, kapan ia merasa novelnya dijiplak, iapun menjawab: "Ketika Wild Oats terkembang di tangan saya. Tegasnya ketika saya tiba pada sebaris kalimat yang kuketahui betul berasal dari novel saya. Kalau seseorang hanya mencuri satu ide atau tema saja, itu memang masih perlu diperdebatkan. Tapi kalau orang itu nyata-nyata menyalin sejumlah kalimat secara utuh dan komplit, kata per kata, maka jelas ini satu praktek pembajakan, satu kejahatan, dan karena itu yang perlu diselidiki adalah seberapa banyak ia melakukan pembajakan ini." Demikian Martin Amis.

99

Yang menarik adalah kenyatan bahwa plagiat itu sendiri justru merupakan tema dalam Wild Oats. Ketika Christopher Ricks, seorang professor sastra Inggris ditanya apakah ia melihat ada satu arti penting yang dapat ditafsirkan lebih mendalam dari kenyataan itu, sang Profesorpun menjelaskan: "Berdasarkan hasil penelitian, saya menemukan kenyataan bahwa seorang plagiator secara tidak sadar cenderung memperlihatkan rasa bersalah. Penyair romantis Samuel Taylor Colleridge yang berkali-kali dituduh melakukan plagiat, dan yang sering menuduh orang lain melakukan hal yang sama pernah berkata: "Sang pagiator itu seperti tukang copet, selalu curiga kalaukalau ia sendiri dicopet orang lain. Karena itu ia senantiasa berjalan dengan kedua tangan tersembunyi di dalam saku. Dan saya pikir ada hubungan yang nyata antara rasa bersalah dengan tema novel tersebut, atau dengan tema novel-novel lainnya."

Tetapi mengapakah sementara pengarang menempuh jalan plagiat? Apakah mereka tidak tahu bahwa kalau karya plagiat itu sudah diterbitkan, apalagi kalau sukses di pasaran, kedok yang menyelimuti kecurangan mereka pada akhirnya bakal tersingkap juga?

Profesor Ricks memberikan jawabannya: "Pencurian itu dilakukan secara kecil-kecilan. Saya kira pengarang yang melakukan plagiat mempunyai kemungkinan menderita gangguan jiwa yang aneh. Colleridge berpendapat bahwa plagiat adalah pekerjaan kotor. Plagiat ibarat uap dari setumpuk tinja manusia. Ide yang dicaplok seorang plagiator adalah ide yang yang sudah ditelan orang. Tapi karena sang plagiator melakukannya secara kecil-kecilan, maka ia bisa saja tidak sempat menyadarinya.

Di balik kecaman-kecaman pedas penyair Colleridge, sangat boleh jadi tersimpul perasaan bersalah, karena ia sendiri justru melakukannya. Dan meskipun plagiat dinilai sebagai suatu skandal atau kejahatan, namun tidak sedikit pengarang, yang ketika mereka mulai belajar menulis di waktu muda, sedikit banyak tergoda untuk melakukan pencurian kecil-kecilan itu dari karya yang mereka sukai, atau dari karya pengarang yang mereka kagumi, sebagaimana yang diakui oleh Profesor Ricks sendiri: ”Kalau saya perhatikan diri saya sendiri, saya juga melakukannya, bahkan hingga sekarang. Tapi saya selalu waspada, bahwa hal itu harus ada batasnya."

Profesor Ricks seterusnya memaparkan beberapa contoh terkenal dalam sejarah kesusastraan tentang pengarang dan penyair ternama yang pernah terlibat dalam kegiatan plagiat. Salah seorang di antaranya adalah penyair Skotlandia, Hugh MacDairmid. Delapan belas baris dari sajak MacDiarmid yang berjudul Perfect dinilai sebagai mengandung keindahan yang sangat mengesankan, sehingga harian The Times melontarkan pujian ke alamat sang penyair. Tapi kemudian mendadak seseorang bernama Glyn Jones menulis: ”Sajak itu, kecuali beberapa tambahan pada bait pertama, adalah hasil karya saya. Puisi itu adalah hasil kutipan mentah-mentah dari cerita pendek saya" Dan Hugh MacDiarmid membalas tuduhan itu dengan menulis: "Glyn Jones benar. Saya memang mencuri beberapa bagian dari karyanya."

100

Kembali pada Martin Amis.

Ketika ditanyakan apakah ia berpendapat tanpa melakukan plagiat, Jacob Epstein akan bisa berhasil sebagai pengarang, Amis menjawab: "Saya berkeyakinan ia pasti berhasil. Maksud saya, ia memang hanya melakukan pencurian dalam jumlah yang kecil saja, tapi ia melakukannya dengan gagabah. Karena ia menulis novel yang mengandung sejumlah nilai kehidupan, maka karyanya itu tidak mungkin dilupakan orang dalam tempo beberapa minggu saja. Oleh sebab itu, kemungkinan akan diketahui orang menjadi bertambah besar. Tapi saya pikir, Wild Oats, adalah novel yang mempunyai kemungkinan sukses, baik dengan cara menjiplak karya saya atau tidak."

Jacob Epstein sebenarnya juga bisa menghibur dirinya, kata Profesor Christopher Ricks pula, yaitu dengan melihat kenyataan sejarah bahwa hampir semua pujangga besar pernah dituduh sebagai plagiator, juga tidak terkecuali William Shakespeare.***

101

Sekuntum Edelweis Untukmu, Aktifis Dakwah

Aku ingin mundur dari wasilah dakwah ini, aku sudah tidak kuat lagi menunaikan amanah yang semakin menyesakkan dadaku, aku sudah tidak kuat lagi menelan kekecewaan demi kekecewaan, batas kesabaranku telah habis, kalimat itulah yang terlontar dari lisan salah seorang saudaraku yang biasanya terlihat tegar dan selalu mempersembahkan senyumnya setiap kali bersua denganku, tapi pagi itu seolah kesedihannya telah menghapus semua lukisan senyum di wajahnya, seakan keputusasaan telah menyedot seluruh semangat dan harapannya. Untuk sejenak aku termenung, udara dingin yang sedari tadi membekap tubuh tak kurasa lagi. Ah....masih belum begitu lama, aku pun pernah berada pada posisi yang sama layaknya yang dialami saudaraku ini, saat itu pun begitu putus pengharapanku hingga aku pun benar-benar sudah tidak kuat lagi menanggung amanah ini dan seperti dia aku pun ingin mengakhirinya dengan cara keluar dari aktifitas ini. Aku melihat masalah yang dia hadapi pun sepertinya sama denganku, kepingan-kepingan kekecewaan dan keletihan yang akhirnya menjadi puzzle raksasa bergambar kata putus asa.

Kelelahan adalah sebuah efek yang wajar dari aktifitas yang berulang ulang, kontinu bahkan terkadang membosankankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktifitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga, namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azzam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita. Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan, energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah.

102

Ketika kekecewaan dan keletihan bersemayam di dada maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridha Allah SWT akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit. Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur, begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit, adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala

keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita. Dan Dia senantiasa menyediakan telinga-Nya untuk kita. Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai keluh untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang. Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, taushiyahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian.

Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan senyum dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat abadi hidupnya dalam keterhimpitan. Ya..seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktifitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.

Sekpa, 21 Ramadhan 1425 H

103
- Sabillah -

Teruntuk saudaraku dalam sisa-sisa keletihannya

alghifary@eramuslim.com

Sebuah Nasihat Kecil

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita untuk selalu bisa melihat hikmah di balik setiap kejadian. Yakinlah, tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada satu kejadian pun yang tanpa makna. Sangatlah rugi jikalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani.

Hidup adalah samudera ilmu tiada bertepi, samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apa pun yang kita hadapi, secara efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita. Sehingga, kalau kita mati esok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita itu adalah saat yang paling indah.

104

Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar benar dalam keadaan

husnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati,
keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah.

Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki segala puja dan puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua, Rasulullah SAW.

Ah, Sahabat. Percayalah, sehebat apapun harta, gelar, kedudukan, pangkat atau atribut duniawi lainnya tidak akan pernah berharga jikalau kita tidak memliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah Azza wa Jalla dan juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting; kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa celah kehinaan.

Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier hidup ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati! Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan al-Amin (seorang yang sangat terpercaya).

Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri dan kehormatan kita menjadi seorang Muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapa pun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non-muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

105

Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apa pun. Sekecil dan sesederhana apa pun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dengan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tiak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, dari pada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeber-beberkan aib sendiri).

Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah. Mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya, sebenarnya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambahnambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa berbekal ilmu, itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan "tidak tahu" kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, dari pada kita berdusta dalam pandangan Allah.

Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat, setiap kali kita berbicara dengan orang lain, maka pembicaraan itu sudah menjadi amanat buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain, yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji. Nau'dzubillah. Tidak ada artinya semua pengorbanan kecil itu dibanding jika kita bernama "si pengingkar janji".

106

Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu. Beliau menunggu karena kehormatan baginya adalah menepati janji. Inilah teladan dari panutan kita, manusia yang mulia. Begitulah wahai sahabat. Mudah-mudahan nasihat kecil ini bermanfaat dalam kehidupan kita.

Wallahua'lam

Seandainya Rasulullah Ke Rumah Kita

Bayangkan apabila Rasulullah SAW dengan seizin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita........ Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan?

Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah SAW sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum........

Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah SAW menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam. Beliau tentu tetap tersenyum........

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu tersenyum.......

107

Bagaimana bila kemudian Rasulullah SAW bersedia menginap di rumah kita?

Barangkali kita teringat bahwa anak kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Sholawat kepada Rasulullah SAW. Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mengajari anak-anak kita. Beliau tentu tersenyum........

Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Power Rangers atau Kura-kura Ninja.

Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang Shalat.

Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah SAW. Beliau tentu tersenyum........

Belum lagi koleksi buku-buku kita dan anak-anak kita.

Belum lagi koleksi kaset kita dan anak-anak kita.

Belum lagi koleksi karaoke kita dan anak-anak kita. Ke mana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita?

Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi. Beliau tentu tersenyum........

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.

Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca al-Quran. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita. Beliau tentu tersenyum.......

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.

108

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita. Betapa senyum beliau masih ada di situ........

Bayangkan apabila Rasulullah SAW tiba-tiba muncul di depan rumah kita......

Apa yang akan kita lakukan?

Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?

Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah.........

Masihkah beliau tersenyum?

Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir........

Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah

All Rights Reserved ©2003 - FikriNet Upload: 06/05/04 18:44:43

109

alSang Imam: Sebuah Cuplikan Kecil untuk Mengenang Imam Hasan al-Banna

Oleh: Novia Syahidah

Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam telah membuat Sang Imam dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah, tiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di tengah masyarakat Mesir. Maka para ikhwan yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus seorang ikhwan bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Imam.

"Ya, Ustadz. Bagaimana pendapat anda?" tanya Mahmoud pada Sang Imam yang tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.

110

"Akhi..." Sang Imam menatap Mahmuod. "Artikelmu ini sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu. Tapi..."

"Tapi apa ya, Ustadz?" tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Imam yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangnnya.

"Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika ia jadi dimuat," ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud.

"Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius."

Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu.

"Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan timbul beberapa titik rawan. Di antaranya, justru akan mengekspos artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan mudharat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya," tutur Sang Imam pelan.

Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.

"Akhi, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN YANG AKAN MEMANCING SIKAP KERAS KEPADA BAGI YANG DIBANTAH. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah, tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA KESALAHANNYA. Ketahuilah, Akhi, si Fulan itu telah terpengaruh oleh sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN APA YANG MENJADI KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN DENGAN CARA MENGHALALKAN SEGALA CARA."

Sang Imam diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya masih menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.

111

"Akhi, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN PINTU KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG SEBENARNYA MENJADI HAK DIA. Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Akhi?" Sang Imam menutup penjelasannya.

Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Allah telah menjadikan pandangannya demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah dianugerahi bu'dunnazhar, sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang biasa.

Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil tersenyum. "Anda benar sekali ya, Ustadz. Saya setuju dengan pendapat anda."

Sang Imam pun tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada dalam pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di tangannya saat itu.

Epilog

Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di kancah dakwah. Ia telah tercatat sebagai salah seorang prajurit Islam yang gagah berani, yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara mengurung jasadnya. Ia telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di Mesir dan menutup sejarah hidupnya sebagai seorang syuhada di tiang gantungan. Dialah... Sayyid Quthb!

112
*bu'dunnazar = pandangan yang jauh ke depan

Saat Islam Kembali ke Eropa

Inilah paradoks besar dalam realitas global; Tatkala umat Islam diberi label teroris, dan terus diburu, pada saat bersamaan populasi umat Islam di dunia Barat kian meningkat. Eropa, misalnya, kini menjadi pusat gravitasi atau ''surga'' bagi gerakan Islam.

Di London, kegiatan umat Islam mendapat dukungan dari Walikota Ken Livingstone. Sang wali kota, antara lain, mengizinkan pawai cadar pada 17 Juli 2004 di ibukota Inggris itu. London pun kini punya julukan baru: Londonstan (negara London). Dukungan terhadap gerakan Islam pun datang dari Pangeran Charles yang memberikan hadiah kepada Yayasan Leicester. Yayasan ini menyebarkan gagasan Sayyid Quthb yang telah memfatwakan jihad melawan tirani dunia dan Sayyid Maududi yang memfatwakan kewajiban kembali ke hukum syariah.

''Surga'' lainnya bagi gerakan Islam di Eropa adalah Swiss. Dengan tradisi lamanya dalam hal netralitas negara dan perannya sebagai pusat perbankan, negara ini enggan mengambil tindakan terhadap gerakan Islam dan tak menghentikan aliran dana dari perbankan yang menganut prinsip moral. Pada 1960-an, dengan perlindungan keluarga raja Saudi, murid Hasan al-Banna, Said Ramadan, mendirikan Islamic Center di Jenewa.

113

Anak-anak Said Ramadan meneruskan perjuangan sang ayah. Hani Ramadan, anak Said Ramadan yang juga ketua Islamic Center Jenewa, pernah memfatwakan kepada kaum muda Islam Eropa untuk menolak masuk angkatan darat Prancis dalam perang di Afghanistan. Mereka dianjurkan pula untuk melancarkan protes kepada PBB atas pendudukan Afghanistan oleh AS dan sekutunya.

Sementara itu, Tariq Ramadan, saudara Hani Ramadan, dalam rekaman kaset dan bukunya, yang diedarkan di toko buku dan perpustakaan Islam, melontarkan wacana berbeda tentang ajaran dan metode perjuangan Hassan al-Banna tetapi ia tidak mengkritiknya. Tariq yang mengklaim dirinya sebagai korban dari konspirasi Zionis dan Islamfobia, terang-terangan mendukung perjuangan HAMAS sebagai gerakan perlawanan terhadap kezaliman Israel. Namun, paradoks global itu tetap hidup. Perkembangan Islam terus mendapat label miring.

Dalam tulisannya, ''The War for Eurabia'' (Asian Wall Street Journal, 3 Pebruari 2005), Caroline Fourest menyatakan perkembangan Islam di Eropa perlu diwaspadai. Penulis buku Frere Tariq (Grasset, 2000) ini berharap para pembuat keputusan di dunia Barat tak hanya mengarahkan perhatian kepada wilayah gerakan Islam di Timur Tengah, melainkan juga Eropa. Apalagi, menurut dia, ''Tokoh-tokoh di balik gerakan Islam Eropa sudah mengeluarkan fatwa yang bernada anjuran untuk menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.'' Salah satu tokoh tersebut adalah Tariq Ramadan, intelektual yang aktif menjadi pembicara dalam berbagai diskusi di Eropa dan AS. Ia juga dosen Universitas Notre Dame. Tokoh lainnya adalah Dr. Yusuf Qardhawi, ketua Dewan Fatwa Eropa, intelektual terkemuka yang pikirannya secara luas dianut umat Islam di seluruh dunia.

Di mata Fourest, dunia Barat merupakan medan tempur bagi ''kaum militan'' Islam. Eropa, katanya pula, adalah garis depan pertempuran sekaligus basecamp untuk merekrut pasukan baru Islam untuk melancarkan balas dendam.

Fourest memaparkan bahwa dalam melancarkan gerakan, kelompok Islam menggunakan dua pilihan. Pertama, pilihan jihad seperti ditempuh Ayman al-Zawahiri. Kedua, pendekatan reformis seperti dilakukan Ikhwanul Muslimin. Keduanya berupaya mencapai tujuan yang sama, ''mengibarkan bendera Islam di manapun umat Islam berada.''

114

Kelompok pertama, katanya, membidik target simbol-simbol Barat melalui kekerasan, sedangkan kelompok kedua melawan Westernisasi lewat masjid, radio, dan publikasi. Prioritas pertama, mereka memimpin dari Eropa.

Fourest mencurigai Syekh Yusuf Qardhawi, intelektual Muslim yang terkenal begitu moderat, sebagai ''panglima'' dalam gerakan Islam di Eropa. Ini gara-gara pendapat ketua Dewan Fatwa Eropa tersebut, ''Insya Allah, Islam akan kembali ke Eropa, dan orang-orang Eropa akan memeluk Islam. Dari sana, Islam kemudian akan menjalar ke seluruh dunia.'' Pendapat ini dipahami sebagai rencana untuk menaklukkan kembali Eropa, sedangkan penaklukan itu pasti akan menciptakan kekerasan.

Fourest memandang pendapat cendekiawan terkemuka dari Universitas al-Azhar itu telah terasuki paham Ikhwanul Muslimin, yang gagal merebut kekuasaan di Mesir, dan kalah dalam perang saudara di Algeria. Dan, menurut dia, Eropa kini menjadi target ronde ketiga, prioritas teratas. Yusuf Qardhawi, ulama yang fatwa-fatwanya sangat berpengaruh, dituduh Fourest sebagai tokoh berbahaya. ''Pemimpin Muslim Eropa itu juga memfatwakan bahwa setiap kontak dengan Yahudi harus dengan senjata,'' katanya.

Di akhir tulisannya, Fourest mengungkapkan kekecewaan, karena, ''Nilai-nilai yang dianut Barat ternyata dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan dari kelompok kepentingan tertentu.'' Ia kemudian melontarkan provokasi retoris, ''Dapatkah gerakan gerilya bawah tanah yang menentang kebebasan publik dan pribadi ini ditoleransi selamanya atas nama kebebasan yang sama?''

(Republikaonline, Jumat, 11 Pebruari 2005)

115

Mobocrazy Vs Democracy

Oleh: Artere Laksamana Kayszer

Apakah Mobocrazy itu? Ia diambil dari kata Mob yang artinya adalah gerombolan/ sejumlah massa. Mobocrazy itu sendiri berarti “Situasi di mana individu telah kehilangan kepribadiannya dan tenggelam terbawa arus massa ke manapun massa itu bergerak”. Kata Mobocracy digunakan Frank Lloyd Wright seorang arsitek kenamaan Amerika, untuk menggambarkan sebuah Comformist Society, namun saya lebih suka menyebutnya sebagai Mobocrazy.

Demokrasi hanya bisa sukses bila para individu menjadi mandiri, kritis dan berpartisipasi dalam suatu masyarakat, bukan menjadi bagian pasif dari suatu massa, yang hanya bisa ikut-ikutan.

Namun dalam suatu masyarakat dan sistem yang Paternalistik, Chauvinistic dan Feodal, sengaja sikap kristis ini dimandulkan demi kepentingan status quo dan para penguasa dan kaum elitis. Masyarakat dibikin pasif seperti robot, sebuah Mobocrazy yang bisa digerakan sekehendak hati para penguasa, sesuai dengan kepentingan mereka. Harmonis merupakan kata favorit mereka. Kalau ada perbedaan pendapat dan sikap kristis langsung harus dibungkam karena bisa merusak harmoni (ala penguasa) dalam masyrakat.

116

Contoh kasus:

Sudah banyak contoh kasus di mana suatu masyarakat yang jaya hancur karena menjadi Mobocrazy. Lihat saja Cina yang pada zaman dinasti Tang amat maju dan terbuka terhadap pengaruh luar, menjadi makin paranoid dan tertutup pada dinasti-dinasti berikutnya. Penguasa menjadi semakin absolut, rakyat semakin pasif, nepotisme, korupsi, dan inkompetensi semakin merajalela. Puncaknya terjadi pada akhir dinasti Ching, yang merupakan dinasti asing, yang berasal dari Manchuria. Pada zaman ini Cina tinggal menjadi bulan-bulanan Barat, dan kemudian juga Jepang. Tapi rakyat sudah dibikin pasif dan impotent sedemikian rupa sehingga hanya bisa pasrah ketika penguasa melakukan ketololan demi ketololan. Tidak ada kontrol dari masyrakat.

Demikian juga pada kerajaan-kerajaan di Nusantara, Majapahit yang pernah begitu jaya pun hancur berantakan dan amburadul, karena para penguasa sibuk berebut kekuasaaan dan rakyat hanya bisa menjadi penontonpenonton yang pasrah.

Masyarakat sering mengidentikan Barat atau Eropa dengan Demokrasi dan kebebasan padahal tidak selalu demikian. Pada masa Kegelapan atau dikenal sebagai Dark Ages justru yang terjadi adalah kebalikannya. Di mana banyak peradaban non barat sedang jaya-jayanya, Eropa berada dalam kegelapan. Gereja dan kepausan menjadi begitu berkuasa. Apa-apa yang dianggap bisa merugikan pengaruh gereja dan para penguasanya yang lebih duniawi dari pada surgawi, akan segera diberangus. Kalau perlu yang tidak sependapat dicap bidaah, heretic dan dibakar sampai hangus jadi arang.

Ilmu pengetahuan menjadi mandul, kreatifitas tidak berkembang. Contohnya teori Geosentris yang ngawur namun karena dipercaya oleh Aristoteles dan kemudian dikokohkan gereja, menjadi suatu kebenaran yang absolute. Doktrin gereja mengatakan planet-planet dan matahari mengelilingi bumi dan bukan matahari. Untung kemudian ada gerakan Renaissance, yang membuat masyarakat berpikir lebih kritis dan keluar dari zaman kegelapan yang panjang. Untung ada orang-orang seperti Copernicus, Galileo, dan juga Newton.

117

Bahkan pada masa sebelum Perang Dunia II pun Eropa kembali terjebak dalam sistem yang diktatorial dan pemerintahan fasis berkuasa di Jerman, Italy, juga Sepanyol dan Portugal. Masyarakat lagi-lagi menjadi Mobocrazy yang diperalat para penguasa. Seperti kita tahu periode ini berakhir dengan malapetaka Perang Dunia kedua.

Belum terlalu lama dan tidak terlalu jauh kita memiliki Orde Lama yang disusul Orde Baru. Dua-duanya menjadi despotik, dan dua-duanya berakhir dengan huru-hara, kekacauan, dan kegagalan.

Solusi dan Kesimpulan

Untuk membangun masyarakat yang kreatif dan kritis harus dimulai dari keluarga dan bangku sekolah. Adalah mustahil kalau selama di rumah dan di sekolah masyarakat dididik menjadi bagian sebuah Mobocrazy namun ketika terjun ke masyarakat otomatis menjadi para demokrat. Ini sama dengan mimpi di siang bolong.

Penulis sendiri berasal dari keluarga yang Paternalistick di mana figure ayah cenderung otoriter bahkan diktatorial. Demikian juga selama di bangku sekolah dasar dan menengah penulis dididik untuk menjadi moron yang pasif. Sayangnya hal ini terjadi di banyak rumah tangga dan bangku sekolah sampai hari.

Sikap “Fathers know best, mothers know second best, and children know nothing” harus dibuang jauh-jauh.

Kalau dari kecil seorang anak dididik dengan dengan prinsip ABS, asal bapak senang ini akan terbawa sampai dewasa, dan akan merugikan proses berdemokrasi.

Seseorang adalah hasil produk dari lingkungannya. Ini merupakan suatu fakta yang perlu disadari.

Perbedaaan, keterbukaan, dan sikap kritis harus dihargai. Untuk itu diperlukan undang-undang yang mewajibkan pemerintah untuk memberi informasi pada rakyat, melalui disclosure act. Kebebasan pers pun harus dijamin oleh

freedom of information act.
Saya bahkan mengusulkan partisipasi rakyat yang lebih besar melalui referendum nasional. Dalam beberapa hal presiden bisa meminta rakyat mengambil keputusan melalui referendum bila ada deadlock antara pemerintah dan parlemen. Hal ini biasa dilakukan di Perancis dan banyak negara lainnya. Lucunya rakyat Amerika Serikat yang sering merasa kampium demokrasi malah tidak memiliki hak ini (tidak pada tingkat nasional). Ini menunjukan tidak ada demokrasi yang sempurna di dunia.

118

Memang demokrasi merupakan suatu proses panjang tapi di mana ada niat pasti ada jalan.

3 Sebtember 2004

Merajut Cinta

Oleh: Abu Aufa

Entahlah... Entah di mana cinta itu bersembunyi Bagai sebuah keluarga, namun sapaan tak pernah menyentuh hati Lalu egois, tinggi hati, merambat perlahan meracuni

Menyatu dalam perbedaan memang tak mudah, merajut cinta dalam sebuah jama'ah kadang melelahkan jiwa. Letih, dan putus asa kadang menerpa, membuyarkan semua impian-impian indah. Padahal sungguh dahsyat, bahkan teramat dahsyat potensi yang dimiliki setiap jiwa, namun pupus saat disatukan. Orang-orang hebat, sholeh dan pintar yang mestinya menyatu dalam rajutan cinta, hanyalah seperti benang-benang kusut saat dirajut, tak ada keindahan saat mata menatap.

119

Berbeda... Bukankah itu hal yang biasa? Keragaman dalam sebuah jama'ah semestinya menjadi sumber kreatifitas, dengannya kita bangun samudera kebaikan. Layaknya pun sebuah bangunan, pastilah tersusun dari bahan olahan yang berbeda-beda, dan itu adalah kekuatan. Puncaknya adalah sebuah gerakan yang rapi, solid dan militan dalam sebuah jama'ah hingga mampu merubah kondisi jahiliyah menjadi penuh dengan rahmatnya Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kunci dari semua itu adalah rajutan cinta pada setiap hati kita, dengannya jiwa-jiwa akan selalu bersama mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Karena rajutan cinta pulalah, akan lahir manusia-manusia yang siap mengusung panji-panji dakwah dari berbagai latar belakang yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat rabbaniyah, penuh dengan curahan ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rabbani yang bukan saja sebagai ghoyah (tujuan), namun juga meliputi wijhah (arah), masdar (sumber) serta manhaj (sistem).

Memang, merajut cinta dari setiap jiwa sungguh tak mudah. Namun, selama helaan nafas masih diamanahkan-Nya, bisakah seseorang mengingkari hati akan sebuah fitrah manusia?

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu pernah mengatakan bahwa, kekeruhan jama'ah jauh lebih baik daripada kejernihan individu. Kecerdasan individual pun tak akan pernah dapat mengalahkan kecerdasan sebuah jama'ah. Memang benar, perbedaan bukan sesuatu yang mustahil, namun yang diharapkan walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan qalam Ilahi di muka bumi.

Ikhwah fillah rahimakumullah,

Semua potensi yang ada pada setiap jiwa hendaknya ditata dengan baik dalam sebuah gerakan berjama'ah. Dari seuntai benang rajutan, akan tercipta i'tishom bihabliLlah, menyatunya hati dalam ikatan aqidah serta semangat ukhuwah sebagai landasan terbentuknya ruhul jama'ah. Rajut, dan rajutlah selalu al-imanul amiq (iman yang menghujam ke dalam), al-ittishalul watsiq (hubungan yang erat dengan Allah), al-amalu muthawasihil (amal yang kontinyu) serta as-sharu daa'id (kesabaran yang ekstra) hingga tercipta rajutan cinta.

Mari rapatkan barisan dan luruskan shaf, rajut kembali cinta-cinta, karena kita semua adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh umat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an (antum ruhun jadidah tarsi fii

jaasadil ummah, Hasan Al-Banna).
Rasakan detak jantung mu ikhwah, siapkan diri menyambut kemenangan yang telah dijanjikan, hunus kesabaran serta kelapangan pada setiap rongga dada, torehkan semangat jihad dengan limpahan iman, bergelombang dan bergerak senada menuju cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala, ALLAHU AKBAR!!!

120

*Siapapun takkan pernah bisa bertahan / Melalui jalan dakwah ini Mengarungi jalan perjuangan / Kecuali dengan kesabaran Wahai ummat Islam bersatulah / Rapatkan barisan jalin ukhuwah Luruskan niat satukan tekad / Kita sambut kemenangan Dengan bekal iman maju kehadapan / Al Qur'an dan Sunnah jadi panduan Sucikan diri ikhlaskan diri / Menggapai ridho Ilahi Dengan persatuan galang kekuatan / Panji Islam kan menjulang

Tegak kebenaran hancur kebathilan / Gemakan takbir ALLAHU AKBAR!
(Notes: Dikutip dari lirik nasyid Senandung Persatuan-Izzatul Islam)

Wallahua'lam bi showab.

121

KataMeraih Surga dengan Kata-kata

Oleh: Muhammad Muhammad Masnur Hamzah Mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo

Hidayatullah.com--"Lidah memang tak bertulang," begitu kata banyak orang. Tapi harap tahu, lidah adalah roda kemudi dan kata-kata adalah nutrisinya. Karena itulah, mengapa orang yang mengalami kegundahan, kesedihan, stress atau depresi, justru akan menjadi lebih baik ketika mendapatkan siraman kata-kata sejuknya yang menghibur.

Saat kita mengucapkan, "Assalamu'alaikum? Apa kabar?" tentu, itu bukan dimaksudkan sekedar untuk mencari keterangan. Itu hanya sebuah upaya agar orang lain merasa senang. Sebaliknya, perkataan yang buruk atau komunikasi yang gagal akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak harmonis.

122

"Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra': 53)
Sebuah perumpamaan diberikan Allah yang ditunjukkan dalam Al Qur'an. "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana

Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yaitu akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim: 24-25)

Berinfaklah dengan Perasaan

Sungguh, kita kaya dan berkuasa atas perasaan yang kita miliki. Maka sedekahkanlah kekayaan bathin itu untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita. Janganlah menghalangi mereka dari merasakan perasaan-perasaan itu.

Berkatalah pada istri, suami atau kerabat dan orang terdekat dengan mulut yang terbuka dengan sempurna, lalu selamilah isi hati kita. Usahakanlah selalu agar mereka tidak merasa bahwa kita pelit hati, walau tangan sering bersedekah. Jangan buat mereka gersang dan haus akan kesejukan hati kita. Janganlah bakhil mencurahkan kemurahan hati kita, padahal mereka mengetahui bahwa kita memiliki kemurahan itu. Apakah air sejuk hati ini begitu dalam, sehingga tak dapat dirasakan seperti halnya air di sumur yang dalam?

Atsar berikut bisa kita renungkan. Istri terbahagia di antara para wanita, yaitu 'Aisyah meriwayatkan dari Rasulullah saw. "Surga adalah tempat orang yang bermurah hati." (HR. Ibnu 'Ady).

Maka bangunlah surga dengan kedermawanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan? Apakah sepotong kata yang dikeluarkan membuat harta berkurang? Apakah sepenggal kalimat baik yang kita ucapkan membuat kita terbebani? Alangkah indahnya jika kita menjunjung syiar Islam, yaitu membahagiakan orang lain. Dan orang lain yang paling utama kita bahagiakan, adalah keluarga dan orang terdekat.

123

Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amal fardhu, yaitu memberikan

kegembiraan pada orang muslim." (HR. Ath-Thabrany)
Kata-kata lembut antara suami-istri mengandung pesan hati serta jiwa yang begitu dalam. Dan setelahnya, Insya Allah akan lahir kebahagiaan agung yang mencairkan segala kebekuan. Sinarilah rumah tangga dengan kata-kata baik nan lembut, maka Anda sudah membangun satu pondasi kokoh bagi pernikahan. Dengan ucapan yang menyejukkan hati, rumah terisi dengan cahaya saling memaafkan, cahaya toleransi dan cahaya cinta. Akhirnya, hati dan jiwa pun saling menyatu.

Sumber: Hidayatullah.com, Kamis, 24 Pebruari 2005

Menulis Itu Seperti Bermain

Oleh: Abdurahman Faiz (8 tahun)

Aku tidak ingat kapan aku mengucapkan puisi. Kata bunda ketika umurku dua tahun lebih. Bunda sering merekam suaraku. Kalau aku dengar lagi terasa lucu sekali. Nah dari rekaman itu ternyata bunda mengamati. Menurut bunda, aku pintar berpuisi. Aku tidak tahu juga. Aku asal saja mengucapkan kata-kata. Aku mengobrol biasa dengan bunda. Bunda sering bilang apa yang aku bicarakan itu seperti puisi atau cerpen.

Sejak umur tiga tahun, aku punya teman khayalan. Teman khayalan itu artinya bukan teman yang benar-benar ada. Ia ada dalam pikiranku saja. Namanya Mimis. Aku senang berteman dengannya. Dia anak orang miskin tapi baik sekali. Dia juga bisa terbang.

Aku sering melihat bunda mengetik di komputer setiap hari. Aku juga sudah bisa menggunakan komputer sejak usia tiga tahun lebih. Kata bunda kalau aku sudah bisa menulis, puisi-puisi yang aku ucapkan, yang pernah direkam bunda, kutulis saja di komputer.

124

Aku mulai menulis puisi di komputer umur lima tahun. Tapi terserah aku kapan menulisnya. Ayah bunda tidak pernah memaksa.

Aku senang pada ayah bundaku. Mereka menganggap aku sebagai teman. Ayah selalu menjawab semua pertanyaanku. Aku ini cerewet dan selalu ingin tahu. Tapi ayah tak pernah marah. Bunda juga begitu. Ia sering mendongeng untukku. Bunda selalu memberitahu tentang buku-buku yang bagus dan seru. Kami sering pergi ke toko buku dan perpustakaan. Di rumah dan kalau lagi naik angkot kami sering bermain persamaan dan lawan kata.

Aku bersekolah di SDN 02 Cipayung. Aku selalu rangking tiga besar. Nilai raportku yang terakhir alhamdulillah tidak ada angka 7. Semua 8 dan 9. Tapi aku masih perlu meningkatkan. Soalnya aku sering malas-malasan belajar. Inginnya main terus.

Oh ya, aku punya 6 teman yang selalu tidur bersamaku. Orang bilang mereka boneka, tapi aku bilang teman. Bukan boneka. Mereka itu Mazda, Onix, Yanto, Primus, Hazi dan Equa. Aku sering bercakap-cakap dengan mereka. Mereka itu pintar-pintar. Tapi Primus suka bandel. Aku sering dapat ide dari mereka juga. Kami suka sedih dengan keadaan di Indonesia. Sekarang orang miskin sudah semakin banyak. Padahal negeri kita kaya.

Kalau malam tiba, aku sering mendengar masih ada bapak-bapak yang jualan. Mereka lewat rumahku. Ada yang menjual nasi goreng, sekoteng. Padahal sudah jam 12 malam. Pernah juga jam 12 malam aku pulang, masih ada anak kecil yang minta-minta di jalan raya. Kalau aku sudah besar dan punya banyak rezeki, aku mau semua anak jalanan tinggal bersamaku. Pokoknya aku benci dengan orang-orang yang suka korupsi. Jadi negara kita bangkrut dan dapat rangking 1 untuk korupsi. Jelek sekali.

Aku belum pernah ikut lomba menulis. Tahun 2003 aku mengikuti Lomba Menulis Surat untuk Presiden di Taman Ismail Marzuki. Aku tahu lomba itu dari brosur yang dibawa bunda. Kelihatannya seru. Setiap hari aku berpikir ingin menulis apa untuk Presiden. Aku dapat dua ide. Tapi akhirnya aku memilih menulis dengan ide cerita Umar bin Khatab. Aku menyelesaikan surat itu hampir tiga jam. Sayang waktu itu ayah bunda tidak ada. Padahal hari terakhir. Akhirnya mbak pembantu di rumah yang memposkan.

125

Aku tidak menyangka bisa juara I. Soalnya yang ikut ratusan orang. Sepupuku Caca juga menang jadi juara harapan. Aku dapat banyak hadiah dan uang 2 juta rupiah. Aku sudah niat sebagian uangnya untuk temantemanku di panti dan anak jalanan. Alhamdulillah sudah dilaksanakan.

Sejak jadi juara, aku sering diundang ke mana-mana membacakan surat untuk presiden itu. Sering juga di televisi. Aku tampil di Liputan 6 SCTV dan Who Wants to be A President. Sebenarnya aku gemetaran juga. Tapi aku mencoba berani saja.

Sejak itu pula aku jadi lebih senang menulis. Aku mulai rajin lagi menulis puisi di komputer. Sering juga kutulis di HP bunda. Itu kalau kami lagi di jalan dan tiba-tiba muncul ide. Sering juga sih aku tak dapat ide. Ide itu kudapat biasanya dari membaca, mengamati, menonton televisi, dengar di radio, dengar cerita orang, dan lainlain. Kalau belum dapat ide, aku jalan-jalan atau sholat dulu.

Tapi aku tidak suka kalau menulis terus, membaca terus. Ada hal lain yang lebih aku sukai. Aku suka sekali main basket, main bola, berenang, main bersama teman-temanku, main game di komputer, jalan-jalan dan banyak lagi. Aku juga tidak pendiam. Aku senang mengobrol.

Oktober 2003 puisi-puisiku sudah banyak. Bunda menghubungkan aku dengan Om Ali dari Mizan. Lalu puisi-puisi itu dikirim ke Mizan. Bunda memfotokopi dan memberikan juga kepada beberapa teman bunda yang dikenal sebagai penyair. Tak lupa juga memberikan kepada Pak Taufiq Ismail, penyair idolaku.

Entah siapa yang menyebarkan, puisi-puisiku ada di internet. Aku sering mendapat banyak email dari seluruh Indonesia dan luar negeri. Mereka menanyakan kapan buku puisi itu terbit. Tiba-tiba aku juga sering diundang baca puisi.

Aku menjadi satu-satunya anak yang diundang dalam peluncuran buku Bapak Nurcholish Majid. Aku membacakan puisiku di acaranya. Aku disalam, dicium dan mendapat buku dari beliau. Aku juga diundang Pak Faisal Basri untuk baca puisi di acara Jangan Pilih Politikus Busuk. Banyak sekali orang datang termasuk Gus Dur. Setelah itu aku sering diundang di berbagai acara lainnya.

126

Buku puisiku terbit akhir Januari 2004. Peluncurannya bareng dengan buku Izzati, novelis cilik seumuran denganku. Yang datang banyak sekali. Termasuk Ibu Christin Hakim yang memberikan sambutannya. Beliau bilang ngefans sama aku.

Aku seperti tak percaya. Wah, aku sudah menjadi penulis seperti ayah dan bunda! Harus lebih banyak senyum karena jadi terkenal. Aku sering muncul di koran, majalah dan tivi. Tapi aku tetap seperti Faiz yang biasa. Aku tidak mau, tidak boleh sombong. Lagipula aku masih harus banyak belajar supaya nanti bisa seperti Taufiq Ismail dan WS Rendra. Doakan aku ya.

Nah aku percaya teman-teman juga bisa sepertiku. Kalau bisa lebih baik lagilah. Menulis itu enak kok. Sama enak dan serunya seperti main bola, main basket dan makan pizza!

Sumber: FLP

Menjemput Rezeki

Oleh: Bayu Gawtama

Setengah jam menjelang adzan Dzuhur, dari kejauhan mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk yang dipikulnya, saya hapal betul apa yang dijajakannya, penganan langka yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan kelapa yang setelah dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan. Nikmat, pasti.

Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil dan murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut. "Tiga puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi," akunya kepada saya yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil ini. Sebab, sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada sangat sedikit yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara arang sebagai pemanasnya.

127

Tiga jam setengah berkeliling, akunya, baru saya lah yang menghentikannya untuk membeli kuenya. "Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah berkeliling," iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka enam puluh. "Saya nggak pernah tahu di mana Allah menurunkan rezeki, jadi saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu, harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin," jawabnya panjang.

Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah seperti Pak Murad ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.

"Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu, cuma ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti," lagi sebaris kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.

"Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan ini?" pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras, "Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat kelak bahwa saya tak pernah menyerah menjemput rezeki."

Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue rangi berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Murad. Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan. Dan Pak Murad termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung setiap tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.

***

128

Sewaktu kecil saya sering membeli kue rangi, tidak hanya karena nikmat rasanya melainkan juga harganya pun murah. Sekarang ditambah lagi, kue rangi tak sekadar nikmat dan murah, tapi Pak Murad pedagangnya membuat kue rangi itu semakin lezat dengan kata-kata hikmahnya. Lagi pula saya tak perlu membayar untuk setiap petuahnya itu.

Menjadi Seorang Profesional

Menjadi seorang professional bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk mencapainya, diperlukan usaha yang keras, karena ukuran profesionalitas seseorang akan dilihat dua sisi. Yakni teknis keterampilan atau keahlian yang dimilikinya, serta hal-hal yang berhubungan dengan sifat, watak, dan kepribadiannya.

Paling tidak, ada delapan syarat yang harus dimiliki oleh seseorang jika ingin jadi seorang professional.

1. Menguasai pekerjaan Seseorang layak disebut professional apabila ia tahu betul apa yang harus ia kerjakan. Pengetahuan terhadap pekerjaannya ini harus dapat dibuktikan dengan hasil yang dicapai. Dengan kata lain, seorang professional tidak hanya pandai memainkan kata-kata secara teoritis, tapi juga harus mampu mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Ia memakai ukuran-ukuran yang jelas, apakah yang dikerjakannya itu berhasil atau tidak. Untuk menilai apakah seseorang menguasai pekerjaannya, dapat dilihat dari tiga hal yang pokok, yaitu bagaimana ia bekerja, bagaimana ia mengatasi persoalan, dan bagaimana ia akan menguasai hasil kerjanya.

129

Seseorang yang menguasai pekerjaan akan tahu betul seluk beluk dan liku-liku pekerjaannya. Artinya, apa yang dikerjakannya tidak cuma setengah-setengah, tapi ia memang benar-benar mengerti apa yang ia kerjakan. Dengan begitu, maka seorang profesional akan menjadikan dirinya sebagai problem solver (pemecah persoalan), bukannya jadi trouble maker (pencipta masalah) bagi pekerjaannya.

2. Mempunyai loyalitas Loyalitas bagi seorang profesional memberikan petunjuk bahwa dalam melakukan pekerjaannya, ia bersikap total. Artinya, apapun yang ia kerjakan didasari oleh rasa cinta. Seorang professional memiliki suatu prinsip hidup bahwa apa yang dikerjakannya bukanlah suatu beban, tapi merupakan panggilan hidup. Maka, tak berlebihan bila mereka bekerja sungguh-sungguh. Loyalitas bagi seorang profesional akan memberikan daya dan kekuatan untuk berkembang dan selalu mencari hal-hal yang terbaik bagi pekerjaannya. Bagi seorang profesional, loyalitas ini akan menggerakkan dirinya untuk dapat melakukan apa saja tanpa menunggu perintah. Dengan adanya loyalitas seorang professional akan selalu berpikir proaktif, yaitu selalu melakukan usaha-usaha antisipasi agar hal-hal yang fatal tidak terjadi.

3. Mempunyai integritas Nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan harus benar-benar jadi prinsip dasar bagi seorang profesional. Karena dengan integritas yang tinggi, seorang profesional akan mampu membentuk kehidupan moral yang baik. Maka, tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa seorang professional tak cukup hanya cerdas dan pintar, tapi juga sisi mental. Segi mental seorang professional ini juga akan sekaligus menentukan kualitas hidupnya. Alangkah lucunya bila seseorang mengaku sebagai profesional, tapi dalam kenyataanya ia seorang koruptor atau manipulator?

Integritas yang dipunyai oleh seorang professional akan membawa kepada penyadaran diri bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan, hati nurani harus tetap menjadi dasar dan arah untuk mewujudkan tujuannya. Karena tanpa mempunyai integritas yang tinggi, maka seorang professional hanya akan terombang-ambingkan oleh perubahan situasi dan kondisi yang setiap saat bisa terjadi. Di sinilah intregitas seorang professional diuji, yaitu sejauh mana ia tetap mempunyai prinsip untuk dapat bertahan dalam situasi yang tidak menentu.

4. Mampu bekerja keras Seorang profesional tetaplah manusia biasa yang mempunyai keterbatasan dan kelemahan. Maka, dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai, seorang professional tidak dapat begitu saja mengandalkan kekuatannya sendiri. Sehebat-hebatnya seorang profesional, pasti tetap membutuhkan kehadiran orang lain untuk mengembangkan hidupnya. Di sinilah seorang professional harus mampu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Dalam hal ini, tak benar bila jalinan kerja sama hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu. Seorang profesional tidak akan pernah memilih-milih dengan siapa ia akan bekerja sama.

130

Seorang profesional akan membuka dirinya lebar-lebar untuk mau menerima siapa saja yang ingin bekerja sama. Maka tak mengherankan bila disebut bahwa seorang profesional siap memberikan dirinya bagi siapa pun tanpa pandang bulu. Untuk dapat mewujudkan hal ini, maka dalam diri seorang profesional harus ada kemauan menganggap sama setiap orang yang ditemuinya, baik di lingkungan pekerjaan, sosial, maupun lingkungan yang lebih luas.

Seorang profesional tidak akan merasa canggung atau turun harga diri bila ia harus bekerja sama dengan orangorang yang mungkin secara status lebih rendah darinya. Seorang profesional akan bangga bila setiap orang yang mengenalnya, baik langsung maupun tidak langsung, memberikan pengakuan bahwa ia memang seorang profesional. Hal ini bisa dicapai apabila ia mampu mengembangkan dan meluaskan hubungan kerja sama dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.

5. Mempunyai Visi Seorang profesional harus mempunyai visi atau pandangan yang jelas akan masa depan. Karena dengan adanya visi tersebut, maka ia akan memiliki dasar dan landasan yang kuat untuk mengarahkan pikiran, sikap, dan perilakunya. Dengan mempunyai visi yang jelas, maka seorang profesional akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar, karena apa yang dilakukannya sudah dipikirkan masak-masak, sehingga ia sudah mempertimbangkan resiko apa yang akan diterimanya.

Tanpa adanya visi yang jelas, seorang profesional bagaikan ’macan ompong’, di mana secara fisik ia kelihatan tegar, tapi sebenarnya ia tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk melakukan sesuatu, karena tidak mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Dengan adanya visi yang jelas, seorang profesional akan dengan mudah memfokuskan terhadap apa yang ia pikirkan, lakukan, dan ia kerjakan.

Visi yang jelas juga memacunya menghasilkan prestasi yang maksimal, sekaligus ukuran yang jelas mengenai keberhasilan dan kegagalan yang ia capai. Jika gagal, ia tidak akan mencari kambing hitam, tapi secara dewasa mengambil alih sebagai tanggung jawab pribadi dan profesinya.

131

6. Mempunyai kebanggaan Seorang profesional harus mempunyai kebanggaan terhadap profesinya. Apapun profesi atau jabatannya, seorang profesional harus mempunyai penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap profesi tersebut. Karena dengan rasa bangga tersebut, ia akan mempunyai rasa cinta terhadap profesinya.

Dengan rasa cintanya, ia akan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap apa yang dilakukannya. Komitmen yang didasari oleh munculnya rasa bangga terhadap profesi dan jabatannya akan menggerakkan seorang profesional untuk mencari dan hal-hal yang lebih baik, dan senantiasa memberikan kontribusi yang besar terhadap apa yang ia lakukan.

7. Mempunyai komitmen Seorang profesional harus memiliki komitmen tinggi untuk tetap menjaga profesionalismenya. Artinya, seorang profesional tidak akan begitu mudah tergoda oleh bujuk rayu yang akan menghancurkan nilai-nilai profesi. Dengan komitmen yang dimilikinya, seorang akan tetap memegang teguh nilai-nilai profesionalisme yang ia yakini kebenarannya.

Seseorang tidak akan mengorbankan idealismenya sebagai seorang profesional hanya disebabkan oleh hasutan harta, pangkat dan jabatan. Bahkan bisa jadi, bagi seorang profesional, lebih baik mengorbankan harta, jabatan, pangkat asalkan nilai-nilai yang ada dalam profesinya tidak hilang.

Memang, untuk membentuk komitmen yang tinggi ini dibutuhkan konsistensi dalam mempertahankan nilai-nilai profesionalisme. Tanpa adanya konsistensi atau keajegan, seseorang sulit menjadikan dirinya sebagai profesional, karena hanya akan dimainkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi.

8. Mempunyai motivasi Dalam situasi dan kondisi apa pun, seorang professional tetap harus bersemangat dalam melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Artinya, seburuk apa pun kondisi dan situasinya, ia harus mampu memotivasi dirinya sendiri untuk tetap dapat mewujudkan hasil yang maksimal.

Dapat dikatakan bahwa seorang professional harus mampu menjadi motivator bagi dirinya sendiri. Dengan menjadi motivator bagi dirinya sendiri, seorang professional dapat membangkitkan kelesuan-kelesuan yang disebabkan oleh situasi dan kondisi yang ia hadapi. Ia mengerti, kapan dan di saat-saat seperti apa ia harus memberikan motivasi untuk dirinya sendiri.

132

Dengan memiliki motivasi tersebut, seorang professional akan tangguh dan mantap dalam menghadapi segala kesulitan yang dihadapinya. Ia tidak mudah menyerah kalah dan selalu akan menghadapi setiap persoalan dengan optimis. Motivasi membantu seorang professional mempunyai harapan terhadap setiap waktu yang ia lalui, sehingga dalam dirinya tidak ada ketakutan dan keraguan untuk melangkahkan kakinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->