P. 1
Buku Pelengkap Pegangan 2010 Djpk

Buku Pelengkap Pegangan 2010 Djpk

|Views: 2,889|Likes:
Published by Mulus Wijaya Kusuma

More info:

Published by: Mulus Wijaya Kusuma on Dec 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. KEbijAKAN OTONOmi dAERAH dAN dEsENTRAlisAsi fisKAl
  • 2.2. PERENCANAAN PEmbANGUNAN NAsiONAl dAN dAERAH
  • 2.2.1. PERENCANAAN PEmbANGUNAN NAsiONAl
  • 2.2.2. PERENCANAAN PEmbANGUNAN dAERAH
  • 2.2.4. mEKANismE PERENCANAAN PEmbANGUNAN dAERAH
  • 2.3. PENGANGGARAN PEmbANGUNAN dAERAH
  • 2.3.2. HUbUNGAN KEUANGAN ANTARA PUsAT dAN dAERAH
  • 3.2.1.2. Dbh Pajak bumi Dan bangunan (Pbb)
  • 3.2.1.4. Dbh Cukai haSil tembakau (Dbh Cht)
  • 3.2.2. dANA bAGi HAsil sUmbER dAYA AlAm
  • 3.2.2.1. Dbh SDa Pertambangan minyak Dan gaS bumi (Dbh SDa migaS)
  • Tabel 3.3 Porsi Pembagian DBH SDA Pertambangan umum
  • Tabel 3.4 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP)
  • Tabel 3.5 Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP)
  • 3.2.3. PENETAPAN AlOKAsi dbH sUmbER dAYA AlAm
  • 3.3.1. PENYUsUNAN fORmUlA dAN PERHiTUNGAN dAU
  • 3.3.1.2. FOrmula Dau Dalam kerangka unDang-unDang nOmOr 33 tahun 2004
  • 3.4.1. fORmUlAsi KEbijAKAN dANA AlOKAsi KHUsUs
  • 3.4.1.3. Penghitungan Dak Daerah Pemekaran
  • 3.5.1.2. Penyaluran Dana bagi haSil Pbb
  • 3.5.1.3. Penyaluran Dana bagi haSil bPhtb
  • 3.5.1.4. Penyaluran Dana bagi haSil Cukai haSil tembakau (Cht)
  • 3.5.2. PENYAlURAN dbH sUmbER dAYA AlAm
  • 4.2.1. PERENCANAAN PiNjAmAN dAERAH
  • 4.2.3. jENis PiNjAmAN dAERAH
  • 4.2.4. PRiNsiP-PRiNsiP UmUm PiNjAmAN dAERAH
  • 4.2.6. PROsEdUR PiNjAmAN dAERAH
  • 4.2.6.3. PrOSeDur Pinjaman Daerah Dari Selain Pemerintah
  • 4.2.7. PEmbAYARAN KEmbAli PiNjAmAN
  • 4.2.8.3. PengelOlaan ObligaSi Daerah
  • 4.2.8.5. PelaPOran, Pemantauan Dan eValuaSi
  • 4.2.10. sANKsi PiNjAmAN dAERAH
  • 4.3.3. KRiTERiA PEmbERiAN HibAH
  • 4.3.4. PENARiKAN dAN PENYAlURAN HibAH
  • 4.3.5. PENGElOlAAN HibAH OlEH dAERAH
  • 4.4.1. bENTUK iNVEsTAsi dAERAH
  • 4.4.2. sUmbER dANA iNVEsTAsi dAERAH
  • 4.4.3. PENGElOlAAN iNVEsTAsi dAERAH
  • 5.2. jENis PAjAK dAERAH dAN RETRibUsi dAERAH
  • 5.4. PROsEdUR PENETAPAN PdRd
  • 5.5 PENGAWAsAN dAN PEmbATAlAN PERdA PdRd
  • 5.6 sANKsi TERHAdAP PElANGGARAN KETENTUAN di bidANG PdRd
  • 5.8 PElAKsANAAN UNdANG-UNdANG PdRd
  • 6.2 PENGElOlAAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN
  • 6.2.1 PENGERTiAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN
  • 6.2.3. PENGANGGARAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN
  • 6.2.5. PERTANGGUNGjAWAbAN dAN PElAPORAN
  • 6.2.6. PENGElOlAAN bARANG miliK NEGARA
  • 6.6.1. PENGERTiAN PENdANAAN URUsAN bERsAmA PUsAT dAN dAERAH
  • 6.6.5. PENCAiRAN dAN PENYAlURAN
  • 6.6.6 PElAPORAN dAN PERTANGGUNGjAWAbAN
  • 7.4. PENYAmPAiAN iNfORmAsi dAN sANKsi
  • 7.5 mObilE fisKAl dAERAH (mOfisdA)
  • 7.7 sisTEm KONfiRmAsi TRANsfER KE dAERAH
  • dAfTAR PUsTAKA
  • UCAPAN TERimA KAsiH

Pelengkap BUKU PEGANGAN
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

2010

Sinergi Pusat dan daerah dalam pelaksanaan Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010 Kementerian Keuangan April 2010

Sinergi Pusat dan Daerah dalam Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

KEMENTERIAN KEuANgAN REPuBlIK INDoNESIA Tlp. 021.350.9442 Faks. 021.350.9443 Website: www.djpk.depkeu.go.id Email: info@djpk.depkeu.go.id
ii 

DIREKToRAT JENDERAl PERIMBANgAN KEuANgAN

gedung Sutikno Slamet lantai 16 - Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710

KATA PENGANTAR

Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yang secara nyata dan dalam penyelenggaraan kebijakan pemerintahan dan pembangunan daerah yang hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan serta dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang untuk dapat meningkatkan kualitas pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. lebih baik. undang-undang Dasar 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa

efektif diimplementasikan sejak tahun 2001 diharapkan dapat menjadi landasan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur Melalui otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, pembangunan nasional yang dibutuhkan untuk mendukung upaya Pemerintah dalam menjaga keserasian melalui triple track strategy. bersifat inklusif telah mengedepankan pembangunan berdimensi kewilayahan dengan daerah sebagai pusat pertumbuhan. Peran pemerintah daerah sangat

REPuBlIK INDoNESIA

MENTERI KEuANgAN

dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan (Growth with Equity) Kebijakan penting yang perlu dicatat dalam perjalanan kebijakan desentralisasi 1999 dan undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, fiskal di Indonesia adalah penyempurnaan kebijakan otonomi daerah dan

desentralisasi fiskal melalui amandemen undang-undang Nomor 22 Tahun
Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

dengan undang-undang
iii

Pelengkap Buku Pegangan 2010

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sebagai suatu upaya strategis penyesuaian undang-undang tersebut menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk terus menjadi bagian yang sangat strategis dalam kaitannya dengan penyempurnaan Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Implementasi kebijakan desentralisasi fiskal dilakukan terhadap dinamika pelaksanaan kebijakan tersebut. Kedua undang-undang ini mengatur pokok-pokok penyerahan kewenangan kepada pemerintah daerah serta pendanaan bagi pelaksanaan kewenangan tersebut. Penyempurnaan melanjutkan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, sekaligus

yang dilakukan pemerintah pusat dalam undang-undang Nomor 17 Tahun

2003 tentang Keuangan Negara, undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang instrumen utama yaitu pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah perimbangan keuangan yang di dalam konteks APBN diberikan nomenklatur fundamental dalam membangun hubungan keuangan antara pusat dan daerah sistem pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, melalui dua

untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah (local taxing power) dan DPR telah mengesahkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak

Transfer ke Daerah. Dalam upaya local taxing power tersebut, Pemerintah dan yang lebih ideal. undang-undang PDRD ini diharapkan dapat menyempurnakan kewenangan yang lebih luas kepada daerah di bidang perpajakan, meningkatkan investasi yang kondusif.
iv 

Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebagai suatu langkah strategis dan memberikan

efektifitas pengawasan, serta memperbaiki pengelolaan pendapatan dari beberapa jenis pajak daerah dan retribusi daerah, sehingga dapat mendukung

upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta penciptaan iklim

Instrumen kebijakan desentralisasi fiskal penting lainnya adalah Transfer ke

Daerah yang dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan sebagian urusan pemerintahan kepada daerah sebagai pelaksanaan prinsip

money follow function. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah kapasitas fiskal daerah sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan nasional dan daerah. Implementasi hubungan keuangan antara pusat dan daerah mencakup pula, antara lain pelaksanaan pinjaman dan/atau hibah ke daerah. publik di daerah dan daya saing daerah dengan tetap menjaga stabilitas dan

Nasional (RPJMN) 2010-2014, kebijakan Transfer ke Daerah diarahkan pada pengurangan kesenjangan fiskal vertikal maupun horisontal dan peningkatan kesinambungan fiskal nasional, serta sinkronisasi perencanaan pembangunan

Dalam penyelenggaraan fungsi utama Pemerintah sebagaimana diamanatkan fiskal, baik fungsi alokasi, distribusi, maupun stabilisasi harus dapat dilakukan mendukung kesinambungan fiskal dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut merupakan tantangan bersama bagi governance dan clean government dalam pengelolaan keuangan negara.

dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, pelaksanaan fungsi kebijakan secara harmonis antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. untuk Republik Indonesia, fungsi-fungsi tersebut harus dilakukan melalui koordinasi, sinkronisasi, dan internalisasi peran dan fungsi antar tingkat pemerintahan

pemerintah pusat dan pemerintahan daerah menuju terselenggaranya good Peranan pemerintah daerah yang lebih besar dalam fungsi alokasi menunjukkan membangun kebijakan yang lebih mempertimbangkan kepentingan publik
Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

tanggung jawab daerah yang juga lebih besar dalam merencanakan dan melaksanakan kebijakan di daerah, sehingga tujuan otonomi daerah dan dirasakan semakin penting. untuk itu, penciptaan lingkungan yang kondusif
Pelengkap Buku Pegangan 2010

desentralisasi fiskal dapat tercapai. Dalam kaitan inilah, maka upaya untuk

v

Berkembangnya perekonomian daerah tersebut penyelenggaraan urusan pemerintah pusat yang dilimpahkan dan/atau pembantuan. Dengan perubahan diharapkan pada gilirannya akan mendorong pembangunan perekonomian secara nasional. Selain itu. diharapkan daerah akan lebih cepat merealisasikan program kegiatannya. antara lain melalui kepastian peraturan. sinergi antara pusat dan daerah dapat diupayakan terutama dalam dan mekanisme tersebut. Dengan terbitnya buku ini diharapkan kita dapat vi  . pajak daerah dan retribusi “pembangunan untuk semua” (development for all) yang dicanangkan dalam penyusunan penganggaran di daerah. Buku ini memuat kebijakan dan implementasi informasi keuangan daerah. Peranan kepala daerah dalam sinergi tersebut diharapkan dapat RPJMN. sehingga dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian di daerah. serta antardaerah. serta sistem Perspektif Desentralisasi Fiskal. kecepatan pemberian layanan. pinjaman daerah. hibah daerah. ditugaskan kepada pemerintah daerah dalam bentuk dekonsentrasi dan tugas menjadi ujung tombak terciptanya harmonisasi dan sinkronisasi strategi Selanjutnya. dalam rangka membangun suatu fondasi yang kokoh dalam proses dari upaya kondisi pembangunan yang kondusif. aturan. transparansi pelaksanaan antara pusat dan daerah. maka disusunlah Pelengkap hubungan keuangan antara pusat dan daerah yang mencakup antara lain Transfer ke Daerah. sebagai bagian yang tidak terpisahkan Buku Pegangan Tahun 2010 dengan tema Sinergi Pusat dan Daerah Dalam daerah.perlu dibangun. pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. kemudahan kesederhanaan proses memperoleh layanan publik tersebut. serta sinergi Sejak tahun anggaran 2008 penyaluran dana Transfer ke Daerah dilakukan langsung ke rekening Bendaharawan umum Daerah.

Akhirnya saya berharap semoga buku ini dapat Menteri Keuangan SRI MULYANI INDRAWATI Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 vii . mulai dari proses perancangan hingga finalisasi dan bermanfaat bagi kita semua dan pihak-pihak terkait lainnya dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang lebih baik di Indonesia. serta sekaligus menyamakan persepsi atas pelaksanaan desentralisasi fiskal. Pada kesempatan ini saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini. harmonisasi substansinya. Selain itu. buku ini diharapkan pula dapat membangun kepastian dan transparansi dalam menyiapkan kebijakan pengelolaan keuangan dan pembangunan di daerah.memperkokoh sinergi antara pusat dan daerah dan antardaerah.

viii  .

.. KETERKAITAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN DAERAH ...........I-6 1........ KEBIJAKAN oToNoMI DAERAH DAN DESENTRAlISASI FISKAl ................................................................................. II-39 2.....................2.... PENDAHuluAN ................I-3 1......... MEKANISME PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH .................................................5...........................................................................................2........................................................II-19 2.... II-19 2.....................2.............................................1............................................................. SINKRONISASI ANTARA PERENCANAAN ...........III-51 BAB III TRANSFER KE DAERAH........dAfTAR isi KATA PENGANTAR.................................... III-51 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 ix ........................3............................................. xvii 1........... II-47 3..............1.....................1.........................1............................................ PERENCANAAN PEMBANguNAN NASIoNAl DAN DAERAH ....... II-25 2..............................................................................2.......... II-29 2...... PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL .............. PENDAHuluAN .......................................................... PARTISIPASI PUBLIK DALAM PERENCANAAN ............ I-10 2.............................................................3...4...............1..........................................2................ DuKuNgAN KEBIJAKAN PENDANAAN PElAKSANAAN uRuSAN PEMERINTAHAN ...................................................................2..................... II-28 2.............................................................................................3 SINERGI ANTARA PUSAT – DAERAH DAN ANTAR DAERAH DALAM PEMBANguNAN DAN PElAKSANAAN oToNoMI DAERAH DAN DESENTRAlISASI FISKAl ........................................................ II-42 2..................3......................................... II-19 BAB II PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN DAERAH .................2.............................................. PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ..........................3................... PENgANggARAN PEMBANguNAN DAERAH ..................................................................................xiv DAFTAR TABEL.............2...................................................... II-39 2................... HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH............................................................................................................................................................................. PENuTuP .......... iii DAFTAR ISI ..........ix DAFTAR GAMBAR .. II-19 2...3...................... II-33 PEMBANGUNAN NASIONAL DAN DAERAH ......I-3 BAB I PENDAHULUAN ................................. II-33 2..............2...........................................

....III-64 3..1............5........ 3....1....................................... PENYUSUNAN FORMULA DAN PERHITUNGAN DAU ......... 3........................4.. 3..........................................................3........... III-88 3......1........ PINJAMAN DAERAH ......... PENYALURAN DAU ....................2.... PENETAPAN ALOKASI DBH SUMBER DAYA ALAM .................III-53 3... PENYALURAN DBH PAJAK .......1....... PENYAluRAN ANggARAN TRANSFER KE DAERAH ..............1................................................ DANA BAgI HASIl ..........................5....... FORMULASI KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS .............................1................5..........................................3..4.................5...........2..5...... III-122 3......III-119 Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh ..4........................ III-57 DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ................................................3....3..................................2......... III-100 3................................................2....1...................1........................................III-101 Penghitungan DAK Daerah Pemekaran . DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM ...............III-97 3.......... PENYALURAN DBH SUMBER DAYA ALAM ............................ 3. Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (WPoPDN) dan PPh Pasal 21 ......... 3.......................5....................................III-91 3...............................1.............. 3...............1...........3...2........................................................ 3....4......... III-125 3........................................................III-97 Penetapan Program dan Kegiatan ......................2.........................1.........................2..................................2........5.........................................2....3............2..................................................4.........1..5................................................................. III-119 3.........1......... PENYALURAN DAK .................................................. 3........ III-83 DBH SDA Perikanan ............... III-54 DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ..1.........2........ PENDAHuluAN ..5....... DAU DAERAH PEMEKARAN ......... III-93 Variabel DAu ...................4..1................................. III-128 3....................................1..................................................2.........4..... III-129 4....................2....III-100 Penghitungan Alokasi DAK ..........2........................................................................ 3..............III-123 Penyaluran Dana Bagi Hasil BPHTB .... 3............. DANA AloKASI KHuSuS .......... III-59 DBH SDA Pertambangan Minyak dan gas Bumi (DBH SDA MIgAS) .......................................................... 3...III-91 3...............III-91 3......................... DANA AloKASI uMuM .....................................2.....4.............1.................3........................................................ 3......................................3...... 3....2.........1....III-117 Pelaporan . 3.1...........III-53 3..........................................1.........2.................................III-122 Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB .............3.............1.................................1...............4.....................................................1... HIBAH DAN INVESTASI DAERAH.4................... IV-133 x 4............ III-67 DBH SDA Pertambangan umum ..2....................III-124 Formula DAu dalam Kerangka undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 .......... 3.............IV-133 BAB IV PINJAMAN............................ III-93 3...................................... III-55 DBH Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) ........... 3....III-123 Penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (CHT) ........3.2.....................2......3.........................2...........................5....................2...III-115 Administrasi Pengelolaan DAK ....1................................IV-135  ................................................................................ DANA BAgI HASIl PAJAK ..4.. 3......3.................................2...................4......

................................................................2.........IV-141 4...........................IV-140 4......... PEMBAYARAN KEMBALI PINJAMAN ......... Pelaporan..............................................IV-186 4.....................................3........................2........................IV-171 4.............................................................................1..........2................ Publikasi Informasi .......................... PENARIKAN DAN PENYALURAN HIBAH .................... PEMANTAUAN ..................................................... PENGELOLAAN INVESTASI DAERAH..... PERENCANAAN PINJAMAN DAERAH ................2...2.......2.IV-170 4............6................................... SUMBER DANA INVESTASI DAERAH ............IV-172 4................... PENDAHuluAN ................................... Prinsip umum............................3................6.............. IV-167 Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri.................... V-196 5........ PROSEDUR PINJAMAN DAERAH ............................V-193 5.......... PENGELOLAAN HIBAH OLEH DAERAH .............................. Pemantauan dan Evaluasi ...................................................................2.....................IV-184 4...............IV-185 4................................................2........8................................................7..........................7.10.......................IV-168 4...... INVESTASI DAERAH.......................................................... IV-159 4....3.........................................4.............................. OBLIGASI DAERAH .....IV-167 4..... 4...................IV-186 4..............................8....2............................................ PELAPORAN PINJAMAN DAERAH .......................3.....................................6......IV-155 4...........9............... KRITERIA PEMBERIAN HIBAH ........ HIBAH DAERAH.....8.........3.............................. PAJAK DAERAH .......... BENTUK INVESTASI DAERAH .......3.IV-184 4........5...... RETRIBUSI DAERAH ................1................ V-196 5...... IV-144 Prosedur Pinjaman Daerah Dari Pemerintah yang Dananya berasal dari Pendapatan Dalam Negeri .. V-193 BAB V PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH ....4......2... IV-163 4......6...................................................IV-139 4................3......................................... IV-158 4...........2.................5......... SUMBER PINJAMAN .......3......................2..........8.................................................................... JENIS PINJAMAN DAERAH.................. 4...2..... IV-166 4.......3............................4.....2................ PERSYARATAN PINJAMAN ...........4....................2...........................................8.................................4..........................1................ IV-152 Prosedur Pinjaman Daerah dari Selain Pemerintah ........ JENIS PAJAK DAERAH DAN RETRIBuSI DAERAH....... PRINSIP-PRINSIP UMUM PINJAMAN DAERAH .3.....................................2...............3...............2..........IV-188 4.................2....... IV-153 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 xi .................2.......4....................................................IV-188 5..................... SUMBER HIBAH ................................ Pengelolaan obligasi Daerah ............IV-141 4....................................................................6................IV-136 4.................8...................2........4......2. Prosedur Penerbitan .................. 4...........IV-155 4.............2............ V-197 4.....IV-174 4.........1......8.............................................. PENCATATAN ........2.................................................................................................2................................ SANKSI PINJAMAN DAERAH ..................................IV-184 4....................3........1........................IV-143 4..............................................1........................................................................2.................... PELAPORAN ............................................1.....................2...............................................................................................4...................................................................5............3...........................................................................

VI-234 6..........................................................................6.2.....VI-234 6...................... V-211 5.........1..................................5............6 SANKSI TERHADAP PElANggARAN KETENTuAN DI BIDANg PDRD .............................VI-254 6........................7 KESALAHAN-KESALAHAN PERDA PDRD YANG SERING DILAKUKAN DAERAH ............................ PEMERIKSAAN DANA DEKONSENTRASI DAN DANA TUgAS PEMBANTUAN ..8 PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PDRD ............... PRINSIP-PRINSIP PENDANAAN URUSAN bERSAMA PUSAT DAN DAERAH........... PERTANggUNgJAwAbAN DAN PElAPORAN ......................6.............. PENDANAAN uRuSAN BERSAMA PuSAT DAN DAERAH .....VI-230 6.........4.........VI-254 6........................................................4........................................ PENDAHuluAN ............................... V-210 5.....6...... PENCAIRAN DAN PENYAlURAN ....6.................VI-233 6.........................6 PElAPORAN DAN PERTANggUNgJAwAbAN .1 PENgERTIAN DANA DEKONSENTRASI/TUgAS PEMbANTUAN .........1.....................................................3...........VI-245 6........... V-206 5................................... PENgERTIAN PENDANAAN URUSAN bERSAMA PUSAT DAN DAERAH ...... SANKSI ...VI-236 6...................VI-220 6........1...............VI-244 6............................. VI-217 6. PERENCANAAN DAN PENgANggARAN DANA URUSAN bERSAMA PUSAT DAN DAERAH ......................... V-201 5..........................2........................................................1.............................3.2 PENgElolAAN DANA DEKoNSENTRASI/TugAS PEMBANTuAN........................................VII-259 xii  ........................................................................ PENgANggARAN DANA DEKONSENTRASI/TUgAS PEMbANTUAN ..VI-220 6...............6..................................... PERAN KEPAlA DAERAH DAlAM PENYElENggARAAN DEKoNSENTRASI DAN TugAS PEMBANTuAN ....3..6................ V-212 6. PENgElOlAAN bARANg MIlIK NEgARA.............................................. PRoSEDuR PENETAPAN PDRD .......................................2.. PENDAHuluAN ................ PEMbINAAN DAN PENgAwASAN DEKONSENTRASI/TUgAS PEMBANTUAN ...........................................................6.....................................3...................VI-217 BAB VI DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN ....VI-224 6..................................................................... PENgAWASAN DAN PEMERIKSAAN .................... VII-259 BAB VII SISTEM INFORMASI KEUANGAN DAERAH ................VI-246 6...........................................7 PEMbINAAN .............................................................................................................6..............2.......................................................................................5..............VI-234 6............................................5.............................................VI-235 6..................................3......................................8 PENgAwASAN .............3............... PEMBINAAN.......................... V-208 5.........5.........................6............................................... PERSYARATAN PDRD ............................................................2........................VI-253 6.................................5 PENgAWASAN DAN PEMBATAlAN PERDA PDRD ......................2.VI-238 6....VI-255 7....

..........................................................................................VII-271 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................279 Ucapan Terima Kasih.......................VII-264 7.............................................................................................................................................................5 MOBILE FISKAL DAERAH (MOFISDA) .........................................................3............................................................. TuJuAN SISTEM INFoRMASI KEuANgAN DAERAH..............................................7 SISTEM KoNFIRMASI TRANSFER KE DAERAH ....................... VII-262 7..................6 WEBSITE SISTEM INFoRMASI KEuANgAN DAERAH............7.............................................4........................................ JENIS INFoRMASI ...2.....281 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 xiii ..........VII-260 7.................... PENYAMPAIAN INFoRMASI DAN SANKSI ......................................... VII-267 7....275 Indeks .VII-269 7............................................

................III-80 Perhitungan DBH SDA Pertambangan umum ..........III-68 Porsi Pembagian DBH SDA gas Bumi..................................................................................15 Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan.19 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas................................... II-24 Penyusunan RPJM Daerah dan Renstra SKPD .....................................................17 Proses Penentuan Besaran Alokasi per Daerah ......................................................................2 gambar 2.............12 Kebijakan Jumlah Alokasi DAu Berdasarkan undang-undang Nomor 33/2004 ................................................................................................7 gambar 3... II-22 Penyusunan RPJM Nasional .............. III-116 gambar 3........................2 gambar 3...... III-115 gambar 3...16 Proses Penentuan Daerah Tertentu Penerima DAK .....4 gambar 2..................................III-72 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas............................3 gambar 2..........5 gambar 3............................. III-101 gambar 3.... II-35 gambar 3.1 gambar 2............III-92 gambar 3..........................III-77 Penyaluran DBH SDA Migas ............................................................................ III-127 xiv gambar 3.............11 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH SDA ........................................................................................................................... II-23 Skema Bagi Hasil SDA ..........................................................................................9 Penyusunan RPJP Nasional ..10 Perhitungan DBH SDA Kehutanan ....III-95 gambar 3.....5 gambar 3............... II-27 Hubungan Antar Berbagai Dokumen Perencanaan .14 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran .............................................................4 gambar 3......6 gambar 3...III-87 gambar 3....................................................................... III-128 DaftarGambar ....III-69 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas ....1 gambar 3............................III-85 Mekanisme Perhitungan DBH SDA Migas .........III-94 gambar 3.................................................III-78 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas ....3 gambar3.......................III-65 Porsi Pembagian DBH SDA Minyak Bumi ..................20 Mekanisme Penyaluran (2008) .....18 Format Penyaluran DBH SDA Migas .III-75 Penyusunan RKP Nasional ...........III-90 gambar 3............dAfTAR GAmbAR gambar 2.... III-126 gambar 3....... 13 Formula umum Dana Alokasi umum Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 .................................................8 gambar 3...........

7 gambar 4....................2 gambar 4...........................IV-188 gambar 6..........1 gambar 7................14 Proses Penggunaan Hibah ................................................................................VI-249 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah ................................15 Bagan Jenis Investasi Daerah ............Peta Kapasitas Fiskal ... 3 Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan K/l dalam pendanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan ..............IV-154 Proses Penerbitan obligasi Daerah ...........5 gambar 7.......................IV-181 gambar 4...........................IV-159 Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah .......VII-262 Bagan Alir Pengenaan Sanksi .............. Proses Perencanaan Pinjaman Daerah ........................IV-152 Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber Selain dari Pemerintah .... VII-266 Halaman Depan moFisda ..........1 gambar 4......2 gambar 7........................IV-151 Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber dari Pemerintah .......................4 gambar 4...................... 13 Proses Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah ................ VII-270 Halaman depan Sistem Konfirmasi Transfer ke Daerah ........................... 5 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 xv ...9 gambar 4.4 gambar 6.................................................gambar 4.......IV-177 gambar 4..... 11 Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH ................VI-226 Hubungan antara SIPKD dengan SIKD Nasional ................................4 gambar 6..................3 gambar 4....................2 gambar 6...........IV-179 gambar 4...............................................1 gambar 6..............................5 gambar 4...................................................................VII-272 Sumber Pendanaan urusan bersama .........................................8 gambar 4.............. 12 Proses Penyusunan DIPA Hibah Kepada Pemerintah Daerah ............VII-267 Fitur Website DJPK.........IV-162 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang ............................................................IV-176 gambar 4...IV-147 gambar 4..............................VI-245 Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama ...............VI-220 gambar 7......... Penilaian dan PersetujuanPenerbitan obligasi Daerah oleh Menkeu ... 10 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa .............IV-183 gambar 4............................IV-161 Pengajuan..........3 gambar 7................IV-175 Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri ......IV-139 Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending) ........................6...VI-253 Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan..................................

xvi DaftarGambar .

... Prosentase Pembagian Bagi Hasil Pajak ........ 6 Tabel 4................. V-199 Rekapitulasi Alokasi Dana PNPM Per lokasi (Se-Provinsi*) Tahun 2008-2009 ........................................................VI-241 Alokasi DAu 2009 dan 2010 ..5 Tabel 3.................................III-89 Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP) .............................................................................................IV-185 Jenis Pajak Daerah ..........................................III-90 Dana Alokasi Khusus Tahun 2003-2009...........................1....................................................................................................1..........2 Tabel 3...........................III-96 Pola Penyaluran DBH Pertambangan Minyak Bumi dan gas Bumi ........................................................7 Tabel 5.........III-54 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) ..2 Tabel 3..III-85 Tabel 6.........................III-99 Pencatatan dan Pelaporan Hibah .......... 1 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 xvii .. Tabel 5.........1 Tabel 3................................................dAfTAR TAbEl Tabel 3......................3 Tabel 3................III-82 Porsi Pembagian DBH SDA Pertambangan umum...........................................4 Tabel 3.......... V-197 Jenis Retribusi Daerah ...

.

bAb i PENdAHUlUAN .

I-2 Pendahuluan .

keadilan. Pemikiran tentang reformasi di bidang fiskal sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun 80-an berkaitan dengan upaya untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Disamping itu melalui otonomi Republik Indonesia. pemerataan.1.bAb i PENdAHUlUAN 1. Pelaksanaan kebijakan tersebut merupakan jawaban atas untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan keuangan Pusat dan Daerah juga mengalami reformasi. efisiensi penggunaan keuangan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 I-3 . KEbijAKAN OTONOmi dAERAH dAN dEsENTRAlisAsi fisKAl Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia telah memasuki tahun ke-10 dan telah membawa pengaruh yang besar bagi pelaksanaan pembangunan daerah dan pengembangan perekonomian daerah. Pemberian otonomi luas kepada daerah disertai dengan pelaksanaan desentralisasi fiskal pada hakekatnya diarahkan dengan memperhatikan prinsip demokrasi. pengelolaan daerah dan desentralisasi fiskal. Kebijakan tersebut dilaksanakan berdasarkan undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan undangundang Nomor 25 Tahun 1999 yang keduanya telah direvisi menjadi undangundang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. pemberdayaan dan peran serta masyarakat. keistimewaan dan Sejalan dengan bergulirnya tuntutan reformasi di berbagai bidang. tuntutan reformasi yang terjadi pada tahun 1998.

Efisiensi penggunaan keuangan negara yang telah didesentralisasikan tersebut dikelola oleh Pemerintah Pusat (Pemerintah). penerapan kebijakan otonomi daerah yang diiringi masyarakat lokal. serta prinsip-prinsip good governance seperti partisipasi. Sebelum otonomi daerah dilaksanakan. dan dapat tercermin pada pelaksanaan fungsi pelayanan pemerintahan yang bersifat lokal. kebutuhan terhadap dana I-4 Pendahuluan dan menentukan prioritas pembangunan daerahnya sesuai dengan kondisi dan . transparansi. fungsi pemerintahan yang bersifat lokal dampak biaya yang relatif lebih besar. yaitu urusan di bidang fiskal dan moneter.negara. Pemerintah juga ingin mewujudkan Penerapan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal juga dilatarbelakangi lambatnya proses pembangunan infrastruktur. sehingga penggunaan keuangan negara menjadi akuntabilitas. Melalui kebijakan otonomi daerah. menurunnya rate of return pada proyek-proyek sektor publik. agama. Hal ini terjadi karena Pemerintah menghadapi kondisi demografis dan geografis yang memberikan pelayanan sampai pada tingkat pemerintahan yang paling dekat dengan dengan menyerahkan sebagian besar urusan pemerintahan kepada daerah. Implikasi langsung dari kebijakan tersebut adalah kemampuan keuangan daerahnya. sedemikian rupa sehingga Pemerintah hanya menangani 6 (enam) urusan pemerintahan utama adanya diskresi (keleluasaan) bagi Pemerintah Daerah untuk dapat merencanakan dengan kebijakan desentralisasi fiskal diharapkan dapat membantu Pemerintah untuk Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal tersebut dilakukan saja. oleh karena itu. Hal ini cenderung memberikan keadilan vertikal dan horisontal serta membangun tatanan penyelenggaraan government. pemerintahan yang lebih baik menuju terwujudnya good governance dan clean pengalaman bahwa pengambilan keputusan yang bersifat sentralistis di bidang pelayanan sektor publik di Indonesia ternyata mengakibatkan rendahnya akuntabilitas. peradilan. serta terhambatnya pengembangan institusi di daerah. Sebagai konsekuensinya. kurang efisien. pertahanan. dan keamanan serta politik luar negeri. sangat kompleks.

adil. fiskal melalui perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah sesuai dengan prinsip money follow function sebagai upaya untuk mendukung pendanaan berbagai urusan tersebut diikuti dengan pemberian kewenangan dalam hal perpajakan daerah (local Perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah pada hakekatnya merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan. dan transparan dengan memperhatikan potensi. sebagai objek pajak Pusat dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). pembagian keuangan dan sumber-sumber pendapatan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. kebijakan pendanaan kepada daerah dalam rangka menjalankan urusan pemerintahan yang telah diserahkan taxing power). serta tata cara penyelenggaraan kewenangan.untuk membiayai pelaksanaan urusan pemerintahan yang telah menjadi kewenangan daerah juga meningkat. yang mencakup sejalan dengan kewajiban dan pembagian urusan. serta mengurangi kesenjangan kemampuan fiskal Tujuan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 I-5 . peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan upaya yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan akuntabilitas daerah dalam pengelolaan keuangannya. demokratis. sinkronisasi antara sistem perpajakan nasional dengan sistem perpajakan daerah. kondisi. serta pemerataan antar daerah secara proporsional. perimbangan keuangan tersebut adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal antara Dari sisi pembagian sumber-sumber pendapatan. dan kebutuhan daerah. antar daerah. untuk itu. termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya. Selain itu. Pemerintah melaksanakan kebijakan desentralisasi pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah. Sedangkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Dalam kaitan ini dilakukan Sumber-sumber pendapatan yang memenuhi kriteria pungutan Pusat ditetapkan sumber-sumber pendapatan yang memenuhi kriteria pungutan Daerah ditetapkan sebagai objek pajak daerah dan retribusi daerah.

Dengan melaksanakan dapat mampu menciptakan sinergi antara Pusat dan Daerah. (3) meningkatkan akuntabilitas. transparansi. kebijakan ini perlu diikuti peningkatan PAD tidak menghambat upaya penciptaan iklim investasi yang kondusif di daerah. dUKUNGAN KEbijAKAN PENdANAAN PElAKsANAAN URUsAN PEmERiNTAHAN Dilihat dari sisi keuangan negara. kebijakan desentralisasi fiskal telah membawa APBN tahun 2001 adalah sebesar Rp 82. serta antar Daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. total dana yang didaerahkan melalui dana perimbangan dalam 2010 besarnya meningkat menjadi Rp306 triliun. Namun demikian. Dalam tahun pertama pelaksanaan desentralisasi fiskal. sehingga upaya Penerbitan uu Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Dalam melaksanakan kebijakan desentralisasi fiskal tersebut.Proses pembagian sumber-sumber pendapatan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah tersebut dilakukan secara bertahap sesuai kondisi dan kemampuan daerah. dan (6) mendukung stabilitas makro ekonomi. (5) memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Peningkatan yang cukup signifikan I-6 Pendahuluan . (4) mengurangi disparitas fiskal dan prinsip-prinsip tersebut.40 triliun.2. dan partisipasi masyarakat. pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal diharapkan 1. (2) memperbaiki struktur fiskal dan mobilisasi sumber-sumber keuangan. Pemerintah perlu menerapkan prinsip-prinsip: (1) meningkatkan efisiensi. menjamin penyediaan pelayanan dasar sosial. merupakan langkah strategis yang memberikan kewenangan yang lebih luas kepada daerah di bidang perpajakan daerah. dengan sistem pengawasan dan pengendalian yang memadai. sedangkan dalam APBN tahun perubahan dalam pola pengelolaan fiskal nasional. hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah mencakup pula pinjaman daerah dan hibah ke daerah dalam mendukung pendanaan pelaksanaan pembangunan daerah. Selain itu.

proporsi dana perimbangan dalam penerimaan APBD rata penerimaan APBD provinsi. Dana otsus dan dana tambahan infrastuktur dialokasikan kepada Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus. Secara umum. dan sekitar 70 persen dalam rata- ketergantungan fiskal daerah yang masih tinggi terhadap Pemerintah. 1 tahun 2008 tentang Perubahan atas uu No. transfer ke daerah mencakup pula dana otonomi khusus (otsus) dan dana penyesuaian. 11 I-7 . selain telah terjadi peningkatan dana yang dialokasikan kepada daerah. terdapat pula penambahan komponen dalam alokasi transfer ke daerah. kabupaten/kota adalah lebih dari 85 persen. Besarnya proporsi tersebut menunjukkan tingkat dikelola dengan hati-hati. oleh karena itu. sebagai konsekuensi tentang otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. dan berlaku selama 20 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Selain kepada Provinsi Papua dan Papua Barat. 21 tahun 2001 tersebut adalah sebesar 2 persen dari plafon DAu nasional. besarnya proporsi dana perimbangan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Implementasi kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia juga ditandai dengan Daerah (APBD). perubahan pola pengelolaan fiskal nasional tersebut harus pula diiringi dengan fleksibilitas daerah yang cukup tinggi dalam pemanfaatan sumber-sumber Sejak dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Selain alokasi dana perimbangan. Dana otsus tersebut berlaku untuk jangka Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 kepada Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) mulai tahun 2008 sesuai uu No. dana otsus juga dialokasikan diberlakukannya uu Nomor 21 Tahun 2001 tentang otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. ditetapkan bahwa Provinsi Papua Barat juga mendapatkan Dana otsus dan dana tambahan infrastuktur dari APBN. 35 tahun 2008 tentang Penetapan PP Pengganti uu No.tersebut telah menyebabkan pengelolaan fiskal yang menjadi tanggung jawab daerah menjadi semakin penting. kondisi tersebut justru dapat menciptakan disinsentif bagi utama pendanaan tersebut. khususnya dalam meningkatkan PAD. Apabila tidak Pemerintah Daerah dalam jangka panjang. Selanjutnya dengan ditetapkannya uu No. Dana otsus tahun.

seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Bantuan operasional Sekolah (BoS). dan akuntabel. dana penyesuaian dialokasikan untuk beberapa pos belanja daerah. serta program nasional melalui subsidi yang sebagian besar juga dibelanjakan di daerah. Untuk secara utuh. dalam rangka mendukung implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal desentralisasi fiskal. Sementara Di samping dukungan pendanaan dalam bentuk dana transfer ke daerah. belanja APBN di Daerah mencakup pula untuk mendanai sebagian urusan Pemerintah yang dilimpahkan kepada gubernur Kementerian Negara/lembaga. proporsional. kepada kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang lebih baik. alur dana dan ditugaskan kepada gubernur/bupati/walikota dan/atau desa. besarnya setara dengan 2 persen plafon DAu Nasional dan untuk tahun ke-16 sampai tambahan tunjangan kependidikan guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) dan dana APBN ke daerah dapat meliputi dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan dengan tahun ke-20 besarnya setara dengan 1 persen plafon DAu Nasional. antara lain: insentif bagi daerah yang berprestasi. seperti subsidi energi dan Sepuluh tahun pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal merupakan kurun waktu yang layak untuk dilakukan evaluasi sebagai bentuk continous improvement menuju perlu diiringi dengan penataan regulasi yang lebih proporsional.waktu 20 tahun. serta dana instansi pendanaan untuk pelaksanaan program nasional yang menjadi Bagian Anggaran subsidi non energi. Amandemen undang-undang I-8 Pendahuluan . pengaturan fiskal yang lebih baik untuk menyempurnakan penataan regulasi mengenai pelaksanaan kebijakan itu. dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun ke-15 itu. nyata. Selain itu. Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan penyusunan amandemen undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. vertikal bagi pelaksanaan pelimpahan sebagian urusan pemerintahan dari Pemerintah kepada instansi vertikal di daerah.

upaya peningkatan PAD tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan porsi pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah. tetapi lebih ditujukan untuk optimalisasi penerimaan PAD tanpa menimbulkan dampak negatif bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi di kewenangan daerah dalam perpajakan daerah dengan meningkatkan local taxing power. dengan tetap menjaga iklim investasi yang kondusif agar daya saing antar daerah dapat ditingkatkan. memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel bagi daerah untuk melakukan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 I-9 . Salah satu tujuan dari perubahan kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah melalui serangkaian strategi antara lain (1) memberikan kepastian mengenai jenis- daerah dan retribusi daerah melalui penetapan uu Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. serta (4) memperbaiki pengelolaan dan meningkatkan kualitas penggunaan dana yang dipungut dari masyarakat. (2) meningkatkan dengan menerapkan sistem preventif dan korektif yang diikuti dengan sanksi atas pelanggaran ketentuan perpajakan daerah. Selain melakukan penataan regulasi terhadap dana perimbangan. Pemerintah bersama pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal yang dalam perkembangannya selama DPR-RI juga telah menyempurnakan pengaturan mengenai pemungutan pajak ini.tersebut bertujuan untuk menyempurnakan berbagai ketentuan yang mendasari ini masih dihadapkan pada berbagai kendala teknis dalam pencapaian tujuan awal otonomi daerah. (3) meningkatkan efektifitas pengawasan pajak daerah dan retribusi daerah daerah. Melalui pengaturan dalam uu Nomor 28 Tahun 2009 diharapkan dapat pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah sesuai potensi dan kondisi masingmasing daerah. sehingga dapat memberikan keadilan PAD dalam APBD. undang-undang ini merupakan penyempurnaan uu Nomor 34 Tahun 2000 yang dipandang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat yang dituangkan dalam uu Nomor 28 Tahun 2009 adalah meningkatkan PAD jenis pungutan daerah dengan menerapkan closed-list system.

telah terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam memahami pengertian otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. (ii) pembangunan berdimensi kewilayahan. kondisi. Hal yang sangat penting adalah perlunya pemahaman dan kesamaan pandang oleh Pemerintah. serta penyelarasan antara RPJMN dengan RPJM Daerah (RPJMD).3 siNERGi ANTARA PUsAT – dAERAH dAN ANTAR dAERAH dAlAm PEmbANGUNAN dAN PElAKsANAAN OTONOmi dAERAH dAN dEsENTRAlisAsi fisKAl Dalam kurun waktu sepuluh tahun pertama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia. dapat ditunjukkan melalui pengembangan strategi “pembangunan untuk semua” (development for all). desentralisasi ekonomi diwujudkan pula dan bertanggung jawab diperlukan waktu yang relatif lama dan menuntut konsistensi Daerah. yang antara lain diwujudkan dengan pemilihan kepada daerah secara langsung.1. Selain desentralisasi politik. pelaku ekonomi. (iii) penciptaan integrasi ekonomi nasional dalam I-10 Pendahuluan strategi pengembangan tersebut terdapat 6 (enam) strategi yang dikembangkan. Pengalaman di negaraserta upaya penyempurnaan kebijakan yang terus menerus. Pemerintah upaya yang terus dilakukan oleh Pemerintah. nyata. Dalam pengembangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka sebagai pusat pertumbuhan. dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah melaksanakan desentralisasi politik. Menengah Nasional (RPJMN). terutama dalam hal sinergi pelaksanaan yaitu (i) strategi pembangunan yang inklusif melalui pembangunan sesuai dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. sesuai dengan potensi. dan masyarakat luas atas berbagai masalah dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Diawali dengan penyerahan sebagian besar urusan pemerintahan yang diikuti dengan dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk melaksanakan pembangunan negara lain menunjukkan bahwa untuk mewujudkan otonomi daerah yang luas. desentralisasi fiskal. dimana daerah difokuskan . dan karakteristik daerah.

dan infrastruktur dasar. meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Arah kebijakan ekonomi daerah merupakan bagian dari prioritas nasional dalam RPJMN tahun 2010 Sementara itu.era globalisasi melalui optimalisasi peluang dan menghindari efek negatif yang mungkin ditimbulkan. dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur. kebijakan ekonomi daerah ke menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran. (iii) menurunkan sampai dengan 2014 dalam rangka sinergi antara Pusat-Daerah dan antar Daerah. kesehatan. dan (v) menjaga ketahanan pangan dan energi. terutama di bidang pendidikan. serta menghilangkan hambatan perdagangan antar rangka sinergi antara pembangunan nasional dan daerah diarahkan tidak saja untuk pemerataan yang disertai keadilan (growth with equity) melalui triple track strategy. Sinergi yang lebih nyata untuk mengoptimalkan peran gubernur dalam pembangunan daerah dapat diwujudkan yang dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan I-11 . (iv) mendorong peningkatan kegiatan investasi dan perdagangan. kesehatan. akan tetapi juga ditekankan kepada depan diarahkan untuk : (i) melakukan pemulihan ekonomi melalui program-program pro-rakyat. pendapatan. serta koordinasi dalam proses pengambilan dalam penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Berdasarkan Peraturan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. keterkaitan fungsional Dengan demikian. dan (vi) pengembangan ekonomi lokal melalui penguatan keterkaitan antar daerah daerah. upaya sinergi antara Pusat-Daerah dan antar Daerah dalam kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal juga terus diupayakan melalui harmonisasi peraturan antara Pusat dan Daerah. antara industri hulu dan hilir. dan lingkungan kehidupan. (iv) keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan dan (v) pembangunan yang menitikberatkan pada kemajuan kualitas manusia melalui pembangunan aspek pendidikan. (ii) inflasi untuk meningkatkan daya beli. strategi “pembangunan untuk semua” yang dibangun dalam perwujudan pembangunan ekonomi daerah. untuk itu.

Tahun 2008, Pemerintah (melalui Kementerian/lembaga) dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan (di luar 6 urusan yang menjadi kewenangan untuk penyelenggaraan tugas pembantuan. Pemerintah) yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk penyelenggaraan dekonsentrasi, dan memberikan penugasan kepada daerah (provinsi/kabupaten/kota dan/atau desa) gubernur sebagai wakil Pemerintah dapat melakukan sinkronisasi dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah, penyiapan perangkat daerah yang akan dalam PP No. 19 tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang, kota. melaksanakan program dan kegiatan dekonsentrasi, dan koordinasi, pengendalian, pembinaan, pengawasan, dan pelaporan pelaksanaan dekonsentrasi. Disamping itu, gubernur juga memiliki peranan untuk melakukan koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ sinergi dalam pelaksanaan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan, perlu pula gaji pegawai daerah. Kegiatan tersebut dilaksanakan

Dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Pemerintah,

serta Kedudukan Keuangan gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi,

Dalam hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah, selain perlu peningkatan mulai ditingkatkan sinergi dalam pelaksanaan asas desentralisasi. Sinergi yang telah

dilakukan adalah pengumpulan data dasar untuk Alokasi Dasar DAu berupa daftar Biro Keuangan Provinsi dengan menghadirkan semua kabupaten/kota dalam wilayah provinsi yang bersangkutan bertempat di ibukota provinsi. Kegiatan sinergis ini dalam akurat karena diambil langsung dari sumbernya. secara koordinatif antara

Kementerian Keuangan c.q. DJPK, Kementerian Dalam Negeri c.q. Ditjen BAKD, dan beberapa tahun terakhir telah menghasilkan data dasar Alokasi Dasar DAu lebih

I-12

Pendahuluan

Pola sinergi tersebut perlu dikembangkan untuk penyediaan data dasar Kebutuhan Kebutuhan Fiskal dalam melaksanakan tugasnya menggunakan Kantor Statistik yang tersebar hampir diseluruh kabupaten/kota. Kantor Statistik menyediakan data meliputi jumlah penduduk, indeks pembangunan manusia (IPM), indeks kemahalan

Fiskal DAu agar keseimbangan data antar daerah dalam satu provinsi dapat dijamin

kewajarannya. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai institusi penyediaan data dasar konstruksi (IKK), dan product domestic regional bruto (PDRB). untuk mengurangi data yang diyakini daerah, gubernur sebagai Wakil pemerintah Pusat di daerah dapat mengkoordinasikan Kantor Statistik provinsi/kabupaten/kota untuk melakukan review data sebelum Kantor BPS provinsi/kabupaten/Kota menyampaikan data DAu, terutama dalam mengukur kewajaran data antara kabupaten/kota dalam satu keperluan Pemerintah. ke BPS. Koordinasi ini akan meningkatkan kualitas data dasar Kebutuhan Fiskal

perbedaan persepsi daerah terhadap data yang disediakan Kantor Statistik dengan

provinsi, disamping meningkatkan kapasitas provinsi dalam penyediaan data untuk Hal yang sama dapat diterapkan dalam penyediaan data luas wilayah. Permasalahan luas wilayah yang terjadi akhir-akhir ini, antara lain ketidakpuasan Kabupaten wilayah antara Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Timur adalah bukti

Paniai karena penurunan data luas wilayah, demikian juga tertukarnya data luas

dari kurangnya koordinasi dalam penyediaan data luas wilayah. gubernur dapat (DJPuM) untuk membantu pencapaian akurasi data luas wilayah, dengan cara ke Kementerian Keuangan untuk digunakan dalam perhitungan Kebutuhan Fiskal daerah. Dalam hubungannya dengan Dana Bagi Hasil (DBH), selama ini penyediaan data mensosialisasikan, membahas, mereview data luas wilayah sebelum disampaikan

bekerjasana dengan Kementerian Dalam Negeri c.q. Ditjen Pemerintahan umum

DBH Pajak dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Pajak,
Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

baik mengenai perkiraan maupun realisasinya. Dalam hal DBH SDA, data perkiraan
Pelengkap Buku Pegangan 2010

I-13

disediakan oleh kementerian terkait, sedangkan data realisasinya disediakan berdasarkan rekonsiliasi data realisasi PNBP yang tercatat dalam pembukuan daerah. Kegiatan koordinatif ini dimaksudkan untuk meningkatkan transparansi dan dengan mengupayakan agar daerah mendapatkan data setoran PNBP yang dilakukan oleh kontraktor/investor sumber daya alam. koordinasi DBH SDA dalam hal data realisasi penyetoran PNBP yang dimiliki oleh akuntabilitas dalam penyaluran DBH SDA. Koordinasi tersebut dapat dilaksanakan Terkait dengan data untuk perhitungan Dana Alokasi Khusus (DAK) selama ini

Kas Negara dengan data yang dimiliki oleh daerah. gubernur dapat melakukan

belum ada koordinasi antara kabupaten/kota dengan provinsi, masing-masing

daerah menyampaikan secara sendiri-sendiri data teknis berupa infrastruktur yang perlu dibangun/direhabilitasi kepada kementerian terkait. Data perhitungan DAK meliputi Kemampuan Keuangan Daerah (KKD) yang disediakan oleh Kementerian wilayah disediakan oleh kementerian tertentu, antara lain data daerah tertinggal oleh

Keuangan dari data yang telah digunakan untuk perhitungan DAu. Data kondisi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan data daerah perbatasan dengan dibangun/direhabilitasi dapat dikoordinasikan oleh gubernur untuk meningkatkan kualitas data dan meningkatkan kapasitas provinsi untuk turut memantau kebutuhan infrastruktur di masing-masing daerah yang akan meningkatkan kepercayaan daerah terhadap validitas data infrastruktur daerah. untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendetail atas pelaksanaan desentralisasi didanai dari DAK, sekaligus negara lain oleh Kementerian Dalam Negeri. Selanjutnya data infrastruktur yang akan

fiskal tahun 2010 dan mendapatkan intisari sinergi Pusat-Daerah dan antar Daerah dalam desentralisasi fiskal, Pelengkap Buku Pegangan “Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2010” ini akan memaparkan mengenai arah kendala-kendala yang dihadapi, serta berbagai kebijakan Pemerintah yang mendasari
I-14 Pendahuluan

pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia, pengelolaan keuangan daerah, pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia. Buku ini diharapkan dapat

menjadi pedoman bagi semua pemangku kebijakan, baik Pemerintah dan Pemerintah Daerah, pelaku ekonomi dan masyarakat dalam melaksanakan kebijakan desentralisasi growth, pro-job, dan pro-poor.

fiskal di Indonesia, khususnya pengelolaan keuangan di daerah yang transparan dan akuntabel untuk meningkatkan pelayanan publik sesuai agenda pro-rakyat yaitu pro-

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

I-15

bAb ii PERENCANAAN dAN PENGANGGARAN PEmbANGUNAN dAERAH

II-18 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah .

bAb ii PERENCANAAN dAN PENGANGGARAN PEmbANGUNAN dAERAH 2. 2. Sebagai alat manajemen.1. Dalam konteks ini. Perencanaan pembangunan nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang terpadu oleh kementerian/lembaga dan perencanaan pembangunan oleh pemerintah daerah sesuai Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-19 . maka perencanaan harus mampu menjadi panduan strategis dalam mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan dan penganggaran dalam pembangunan daerah merupakan dua hal yang saling terkait dan harus seimbang. berkeadilan.2. perencanaan juga perlu mempertimbangkan prinsip keterkaitan dan keseimbangan antara perencanaan dan penganggaran agar dapat dan berkelanjutan. efektif.1. PERENCANAAN PEmbANGUNAN NAsiONAl dAN dAERAH 2. menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. PENdAHUlUAN Perencanaan dan penganggaran pembangunan diperlukan agar kegiatan pembangunan mempunyai sasaran yang jelas dan dapat berjalan dengan efektif dan efisien. terpadu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).2. PERENCANAAN PEmbANGUNAN NAsiONAl Perencanaan pembangunan nasional mencakup penyelenggaraan perencanaan secara makro semua fungsi pemerintahan yang meliputi semua bidang kehidupan secara dengan kewenangannya.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional. b. yang proses penyusunannya dilakukan melalui urutan sebagai berikut: 1) Penyiapan rancangan awal RPJM Nasional 2) Penyiapan rancangan rencana kerja 3) Musrenbang Jangka Menengah Nasional 2. alur proses penyusunan RPJP Nasional dapat dilihat pada Gambar c. pimpinan kementerian/ lembaga menyelenggarakan perencanaan pembangunan sesuai dengan tugas dan pelaksanaan perencanaan tugas-tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. alur proses penyusunan RPJM Nasional dapat dilihat pada Gambar PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah .1. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional (yang selanjutnya disebut dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Nasional).Presiden menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas perencanaan pembangunan nasional. yang proses penyusunannya dilakukan melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) Penyiapan rancangan awal RKP Nasional II-20 Secara detail. Sementara itu. Perencanaan pembangunan di tingkat nasional meliputi: dilakukan melalui urutan sebagai berikut: Nasional 1) Penyiapan rancangan awal RPJP Nasional kewenangannya. Dalam menyelenggarakan perencanaan pembangunan nasional tersebut. yang proses penyusunannya 2) Musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) Jangka Panjang 3) Penyusunan rancangan akhir RPJP Nasional 2. gubernur selaku wakil pemerintah pusat mengkoordinasikan a.2 4) Penyusunan rancangan akhir RPJM Nasional Secara detail. presiden dibantu oleh para menteri.

Para menteri menghimpun dan menganalisis Pimpinan kementerian/lembaga melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan rencana penyusunan rencana pembangunan nasional untuk periode berikutnya. disebut dengan Rencana Strategis Kementerian/lembaga (Renstra-Kl) 4) Penyusunan rancangan akhir RKP Nasional Secara detail. Selanjutnya. menteri menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil evaluasi pimpinan kementerian/lembaga. d. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/lembaga. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi bahan bagi Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-21 . alur proses penyusunan RKP Nasional dapat dilihat pada Gambar hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan nasional dari masing-masing pembangunan kementerian/lembaga periode sebelumnya.3. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/lembaga. yang selanjutnya e. masing pimpinan kementerian/lembaga. yang selanjutnya disebut Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan nasional dilakukan oleh masingpimpinan kementerian/lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangannya.2) Penyiapan rancangan rencana kerja 3) Musrenbang Penyusunan RKP Nasional 2. dengan Rencana Kerja Kementerian/lembaga (Renja-Kl).

1 Sumber: Bappenas. 2004 .II-22 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah Penyusunan RPJP Nasional gambar 2.

Penyusunan RPJM Nasional gambar 2.2 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 Sumber: Bappenas. 2004 II-23 .

2004 .II-24 Penyusunan RKP Nasional gambar 2.3 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah Sumber: Bappenas.

perencanaan pembangunan 1) Penyiapan rancangan awal RPJP Daerah 2) Musrenbang Jangka Panjang Daerah a. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan undang-undang No. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. dan sinergi perencanaan pembangunan antarkabupaten/kota Seperti halnya dalam perencanaan pembangunan nasional. sinkronisasi. yang proses penyusunannya dilakukan melalui urutan sebagai berikut: Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-25 . Dalam menyelenggarakan perencanaan pembangunan daerah tersebut. Sejalan dengan perubahan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah telah mengakomodasi redesign sistem dan mekanisme perencanaan pembangunan di daerah. mekanisme yang tertuang dalam undang-undang No. undang-undang No.2. Konstruksi sistem perencanaan pembangunan daerah ini disusun dalam era desentralisasi. 25 Tahun 2004 tentang Sistem paradigma perencanaan pembangunan. yang proses penyusunannya dilakukan melalui urutan sebagai 3) Penyusunan rancangan akhir RPJP Daerah 1) Penyiapan rancangan awal RPJM Daerah b. Selanjutnya. kepala daerah dibantu oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). pimpinan Satuan Kerja sesuai dengan tugas dan kewenangannya.2. integrasi. PERENCANAAN PEmbANGUNAN dAERAH Sistem dan mekanisme perencanaan pembangunan daerah mengikuti sistem dan Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Kepala daerah menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas perencanaan Perangkat Daerah (SKPD) menyelenggarakan perencanaan pembangunan daerah di wilayahnya masing-masing. di tingkat daerah meliputi: berikut: pembangunan daerah di daerahnya.2. gubernur menyelenggarakan koordinasi. RPJP Daerah.

3) Musrenbang Penyusunan RKP Daerah SKPD).2) Penyiapan rancangan rencana kerja c. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah disebut dengan Rencana Kerja Pemerintah berikut: 1) Penyiapan rancangan awal RKP Daerah 2) Penyiapan rancangan rencana kerja d. periode sebelumnya. yang proses penyusunannya dilakukan melalui urutan sebagai 4) Penyusunan rancangan akhir RKP Daerah e. Kepala Bappeda menyusun evaluasi rencana pembangunan daerah berdasarkan hasil evaluasi pimpinan SKPD. alur proses penyusunan RPM Daerah dan Renstra SKPD dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi II-26 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah . Kepala SKPD melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan SKPD penyusunan rencana pembangunan daerah untuk periode berikutnya. Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah disebut dengan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Secara detail. 3) Musrenbang Jangka Menengah Daerah 4) Penyusunan rancangan akhir RPJM Daerah Daerah (RKPD).4. disebut dengan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra- Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan daerah dilakukan oleh masingmasing pimpinan SKPD.

4 Sumber: Bappenas. 2004 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-27 .Penyusunan RPJM Daerah dan Renstra SKPD gambar 2.

berkelanjutan atau sesaat. program. spontan atau terorganisir. Meningkatkan efektifitas dan mengoptimalkan proses perencanaan dan c. dari dalam dirinya sendiri (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) dalam dalam suatu kegiatan”.2. “peran serta aktif atau proaktif keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan” (Depdagri. PARTisiPAsi PUbliK dAlAm PERENCANAAN Partisipasi dapat dipahami sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh warga negara dalam rangka mempengaruhi proses pembuatan kebijakan yang dirumuskan oleh Pemerintah. 2004). pencapaian tujuan. Partisipasi dapat diwujudkan dengan baik secara individu maupun damai atau dengan kekerasan. Media untuk menghasilkan kesepakatan dan komitmen di antara pelaku pembangunan atas isu strategis. kegiatan. dan anggaran pembangunan PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah dan sinkronisasi kebijakan. b. Partisipasi pada intinya adalah emansipasi/pelibatan masyarakat. PEmbANGUNAN NAsiONAl dAN dAERAH berkelompok.3. Secara harfiah. partisipasi berarti “turut berperan serta dalam suatu kegiatan”. program. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam menjalin kemitraan untuk memberdayakan kapasitas. meningkatkan ketepatan kelompok sasaran. pemberdayaan kelompok marginal. dan penganggaran pembangunan daerah. keberlanjutan.2. serta dengan cara pembangunan. terutama untuk meningkatkan konsistensi antara dokumen rencana di daerah. memperluas ruang lingkup. “bentuk keterlibatan masyarakat secara aktif dan sukarela. Partisipasi dapat juga didefinisikan secara luas sebagai a. Partisipasi masyarakat menjadi kata kunci sehari-hari dalam kehidupan masyarakat “keikutsertaan atau peran serta dalam suatu kegiatan”. dan kegiatan di II-28 . baik karena alasan-alasan Manfaat yang diperoleh dari perencanaan dan penganggaran partisipatif antara lain: meningkatkan akuntabilitas. sasaran.

dari permasalahan yang dihadapi atau keperluannya. pelaksanaan upaya koordinasi perencanaan pembangunan juga sudah berlangsung. baik secara vertikal maupun horisontal. Temu Karya lembaga Ketahanan Masyarakat Desa–unit Daerah Kerja II-29 . kemauan politik (political will) dari pemerintahan daerah mutlak 2. karena dengan koordinasi dapat dilakukan sinergi dan pembangunan perlu dilakukan. Partisipasi masyarakat akan mendukung keberhasilan dari pelaksanaan seluruh Dalam hal ini. dan kegiatan/program yang dilaksanakan dan mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Selama ini. Pada tingkatan nasional. mEKANismE PERENCANAAN PEmbANGUNAN dAERAH Pola koordinasi perencanaan pembangunan adalah upaya yang harus dilakukan secara terus-menerus. Penyusunan rencana dapat melakukan seleksi prioritas usulan program/kegiatan dan alokasi anggaran pembangunan yang jelas dijabarkan berdasarkan rencana jangka panjang dan strategis. kebijakan yang dibuat mengingat para pemangku kebijakan perencanaan memiliki tahunan daerah sebagai bahan integral dari rencana jangka menengah dan strategi pembangunan nasional dan daerah.4. Musrenbang Pusat dan Murenbang Nasional merupakan lembaga pemerintah secara vertikal yang ditujukan untuk mempertemukan aspirasi pusat dan daerah serta perencanaan lintas sektoral/wilayah sehingga programSinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 horisontal telah dilakukan secara rutin. Koordinasi perencanaan Pada tingkatan daerah. koordinasi perencanaan pembangunan secara vertikal dan Pembangunan (lKMD-uDKP). diperlukan.d. Musrenbang kabupaten/kota. yaitu dalam forum Musrenbang Desa/ forum koordinasi perencanaan pembangunan secara horisontal antarkementerian/ Kelurahan. tergantung secara berkelompok maupun secara bersama berupa rapat-rapat koordinasi pembangunan. dan Musrenbang Provinsi. e. baik yang dilakukan efisiensi penggunaan dan pengalokasian sumber daya.2.

pembangunan antara pusat dan daerah. a. Mensinergikan pembangunan antarsektor dan antardaerah untuk mencapai tujuan d. konsensus. Pengembangan komitmen. Musrenbang sebagai media koordinasi dalam penyusunan perencanaan dan a. Menjamin pelaksanaan pembangunan nasional yang lebih mantap dan upaya-upaya perubahan sosial yang diinginkan secara berkelanjutan. Terwujudnya komunikasi dan konsultasi yang efektif di antara para pelaku dan menghasilkan kesepakatan dan komitmen di antara para pelaku pembangunan untuk mengimplementasikan usulan-usulan.program pembangunan yang dibiayai dengan APBN dan yang akan dilaksanakan oleh instansi-instansi pusat akan sesuai dengan kepentingan daerah. Mengefektifkan pemanfaatan sumber daya nasional yang ada untuk mensinergikan Sejalan dengan pelaksanaan prinsip-prinsip sinkronisasi dan sinergitas perencanaan pembangunan di era desentralisasi diharapkan menghasilkan perencanaan yang memperhatikan hal-hal berikut: pembangunan. b. Peningkatan keterlibatan para pelaku dalam pengambilan keputusan. II-30 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah yang didorong untuk menghasilkan konsensus tentang penanganan isu-isu strategis . dan berkesinambungan. Mengoptimalkan dan mengefektifkan proses koordinasi perencanaan dan c. maka target koordinasi perencanaan b. yaitu forum daerah. dan sasaran nasional. dalam rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan penganggaran pembangunan dilaksanakan dengan tujuan untuk: pengendalian pembangunan nasional. dan kesepakatan dalam forum koordinasi c. Pada dasarnya pola dan mekanisme sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pembangunan antara pusat dan daerah dilakukan melalui Musrenbang.

Kabupaten/Kota). Renstra Kl. Musrenbang Kabupaten/ Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-31 . yang antara lain melalui: Desa/Kelurahan) a. menyelenggarakan koordinasi e. RPJM. Renstra-SKPD). Wadah mediasi untuk mengatasi berbagai konflik kepentingan antara para pelaku Koordinasi perencanaan pembangunan diselenggarakan pada setiap tahun anggaran. Rapat koordinasi perencanaan pembangunan tingkat kecamatan (Musrenbang Musrenbang Kecamatan adalah forum musyawarah tahunan para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan untuk mendapatkan masukan kegiatan prioritas dari desa/kelurahan serta menyepakati rencana kegiatan lintas desa/kelurahan di kecamatan yang bersangkutan sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Kecamatan dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah kabupaten/kota pada tahun berikutnya. Kecamatan) secara parsitisipatif oleh para pemangku kepentingan desa/kelurahan (pihak yang akan terkena dampak hasil musyawarah) untuk menyepakati rencana kegiatan berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa/kelurahan dan pihak yang b. Rapat koordinasi perencanaan pembangunan tingkat desa/kelurahan (Musrenbang perencanaan dan penganggaran horisontal (seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Strategis). Memadukan dan mempertemukan berbagai alur perencanaan.d. baik yang bersifat maupun vertikal (seperti RPJP. Pemerintah pembangunan. dan pembangunan untuk menghasilkan solusi yang optimal. Rapat koordinasi perencanaan pembangunan tingkat Kabupaten/Kota (Musrenbang Musrenbang kabupaten/kota adalah musyawarah tahunan kabupaten/kota untuk mematangkan rancangan RKPD Kabupaten/Kota berdasarkan Renja-SKPD hasil Forum SKPD dengan cara meninjau keserasian antara rancangan Renja-SKPD yang hasilnya digunakan untuk pemutakhiran Rancangan RKPD. Musrenbang Desa/Kelurahan adalah forum musyawarah tahunan yang dilaksanakan tahun anggaran berikutnya. c.

3) Menteri Dalam Negeri. 4) Kepala lembaga Pemerintah Non-Departemen. baik dalam fungsi dalam rangka membahas rancangan awal RKP dan rancangan Renja-Kl untuk tahun provinsi sebagai daerah otonom maupun sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah Musrenbang Provinsi adalah forum musyawarah pemangku kepentingan di tingkat antarrancangan Renja masing-masing SKPD yang hasilnya digunakan untuk pemutakhiran Rancangan RKPD Provinsi. segenap pelaku pembangunan daerah untuk menetapkan program dan kegiatan daerah serta rekomendasi kebijakan guna mendukung implementasi program/ Musrenbang Tingkat Pusat (Musrenbangpus) adalah forum musyawarah anggaran berikutnya dengan mengacu pada RPJM Nasional yang sedang berlaku. Musrenbang Kabupaten/Kota adalah menjadi media utama konsultasi publik bagi d. (Musrenbang Provinsi). Rapat koordinasi perencanaan pembangunan tingkat provinsi. pelaksanaan musrenbang. 1) mematangkan rancangan RKPD Provinsi berdasarkan Renja-SKPD yang 2) menyerasikan RKPD Provinsi dan RKPD Kabupaten/Kota dengan Rancangan Hasil Musrenbang Provinsi selanjutnya disampaikan olehgubernur kepada: 1) Menteri Keuangan. dan pascamusrenbang. 2) Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas. pembantuan. II-32 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah dihasilkan melalui Forum SKPD. dengan cara menyerasikan substansi Renja-Kl dan RKP. provinsi untuk: perencanaan pembangunan yang diselenggarakan setiap tahun di tingkat pusat e. Rapat koordinasi perencanaan pembangunan tingkat Pusat (Musrenbangpus).Kota diselenggarakan secara berurutan mulai dari pelaksanaan pramusrenbang. Maksud diselenggarakannya kegiatan tahun anggaran berikutnya. khususnya dalam kegiatan dekonsentrasi dan tugas .

Proses top-down pembangunan demi pencapaian sasaran pembangunan nasional yang telah Pusat di daerah menjadi salah satu perhatian utama. Penegasan cakupan isi proses top-down dan bottom up. Nasional). maupun antara kementerian/lembaga disepakati. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun kepada kementerian/lembaga tentang penyusunan rencana kerja. Tujuan yang ingin dicapai adalah agar kegiatan Pemerintah Pusat di daerah terdistribusi secara adil dan dapat menciptakan sinergitas secara nasional. Dalam batasan selanjutnya diserasikan secara nasional. dan untuk a. setiap tingkatan perencanaan. Sebagai tindak lanjut kebijakan desentralisasi. Rapat koordinasi perencanaan pembangunan tingkat nasional (Musrenbang Musrenbang dan berfungsi sebagai media untuk menyempurnakan rancangan akhir 2.2. maka kegiatan Pemerintah dalam rangka penyusunan RKP dilaksanakan musyawarah perencanaan baik antarkementerian/lembaga Pemerintah Daerah Provinsi. siNKRONisAsi ANTARA PERENCANAAN PEmbANGUNAN NAsiONAl dAN dAERAH Keterkaitan antara perencanaan pembangunan nasional dan daerah terdapat pada 2004 tentang RKP.f. untuk mencapai tujuan ini maka dengan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-33 .5. Rancangan ini disampaikan kembali ke Pemerintah Pusat. Batasan umum ini. dikemukakan bahwa: merupakan langkah-langkah penyampaian batasan umum oleh Pemerintah Pusat ini mencakup prioritas pembangunan nasional dan pagu indikatif. Musrenbang Nasional merupakan forum musyawarah perencanaan pembangunan di tingkat nasional dan merupakan tahapan akhir dari keseluruhan rangkaian forum RKP dan Renja-Kl. Inilah inti dari proses bottom-up. kementerian/lembaga diberi keleluasaan untuk merancang kegiatan-kegiatan b.

Keserasian hubungan dalam pengelolaan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah pemerintahan yang berbeda. baik pembangunan nasional. dan saling mendukung sebagai satu kesatuan sistem Hubungan antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah dalam aspek perencanaan tercermin dalam hubungan antarberbagai dokumen perencanaan antara pusat dan Tahun 2004 tentang SPPN. pembangunan daerah.Pemberian kewenangan yang luas kepada daerah memerlukan koordinasi dan pengaturan untuk lebih mengharmoniskan dan menyelaraskan pembangunan. bersifat saling berhubungan (interkoneksi). saling tergantung (interdependensi). berarti bahwa pengelolaan bagian urusan Pemerintah yang dikerjakan oleh tingkat dengan memperhatikan cakupan kemanfaatan. Gambar 2.5 berikut menggambarkan hubungan tersebut: daerah (provinsi dan kabupaten/kota) yang diatur dalam undang-undang Nomor 25 II-34 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah . maupun pembangunan antardaerah.

hubungan tersebut juga dilihat dalam hubungan kedudukan antara dalamnya (Tabel 2. serta muatan di Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-35 .Hubungan Antar Berbagai Dokumen Perencanaan gambar 2.2) dokumen perencanaan nasional dan dokumen penrencanaan daerah.1 dan 2.5 Sumber : undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Secara detail.

Kewilayahan .1 RPJP Daerah mengacu pada RPJP Nasional RPJM Daerah berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional Renstra SKPD: Berpedoman pada RPJM Daerah RKP Daerah merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP Nasional Renja-SKPD: Berpedoman pada Renstra-SKPD dan mengacu pada RKP Daerah Sumber: undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Dokumen RPJP (20 tahun) Muatan Dokumen Perencanaan Nasional dan Daerah Penjabaran Tujuan Nasional ke dalam: . .Sarana – Prasarana .Bidang Kehidupan Nasional Daerah Tabel 2.Misi.Visi dan Penjabarannya.Visi dan Penjabarannya.urusan Wajib .Dokumen RPJP (20 tahun) RPJM (5 tahun) Renstra (5 tahun) RKP (1 tahun) Renja (1 tahun) Kedudukan Dokumen Perencanaan Nasional dan Daerah Penjabaran tujuan nasional sesuai dengan Pembukaan uuD Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 Nasional Berpedoman pada RPJP Nasional RKP Nasional merupakan penjabaran dari RPJM Nasional Renstra Kl: Berpedoman pada RPJM Nasional Renja Kl: Berpedoman pada Renstra-Kl dan mengacu pada prioritas pembangunan nasional dan pagu indikatif Daerah Tabel 2.Arah Pembangunan Daerah: .Arah Pembangunan Nasional: . 2 Mengacu kepada RPJP Nasional.urusan Pilihan II-36 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah .Kewilayahan . .Sarana – Prasarana . .Misi. dan memuat: . .

lintas SKPD. misi. tujuan. berpedoman pada RPJM Nasional.Strategi Pembangunan Daerah . lintas Kementerian/ lembaga. strategi. lintas Kementerian.Program Kementerian. dan lintas Kewilayahan yang memuat kegiatan dalam kerangka regulasi dan kerangka anggaran Penjabaran Visi. dan memuat: . mengacu pada RKP Nasional. dan kegiatan indikatif pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian/lembaga RKP Nasional merupakan penjabaran RPJM Nasional. program.Dokumen RPJM (5 tahun) Renstra (5 tahun) Penjabaran Visi.Kebijakan umum . Misi.Arah Kebijakan Fiskal . program.Program Kementerian/ lembaga. dan lintas Kewilayahan yang memuat kegiatan pokok dalam kerangka regulasi dan kerangka anggaran Daerah Renstra SKPD berpedoman pada RPJM Daerah dan memuat: visi. dan memuat: . Kewilayahan. dan memuat: . kebijakan.Arah Kebijakan Keuangan Daerah . Kewilayahan dan lintas Kewilayahan yang memuat kegiatan pokok dalam kerangka regulasi dan kerangka anggaran Nasional RKP (1 tahun) Renstra Kl berpedoman pada RPJM Nasional dan memuat: visi.Rancangan Kerangka Ekonomi Makro Nasional . memperhatikan RPJM Nasional. kebijakan.Program SKPD. Kewilayahan. berpedoman pada RPJP Daerah.Kerangka Ekonomi Makro . lintas SKPD. Program Presiden. dan memuat: .Rancangan Kerangka Ekonomi Makro Daerah . strategi.Prioritas Pembangunan Daerah . Kewilayahan.Prioritas Pembangunan Nasional . misi.Kebijakan umum .Strategi Pembangunan Nasional . dan kegiatan indikatif pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD RKP Daerah merupakan penjabaran dari RPJM Daerah.Arah Kebijakan Fiskal .Program-program SKPD. dan lintas Kewilayahan yang memuat kegiatan dalam kerangka regulasi dan kerangka anggaran Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-37 . Misi. Program Kepala Daerah. tujuan.

Rencana hasil proses atas-bawah dan bawah-atas diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan baik di tingkat nasional. dan kegiatan pembangunan. melibatkan saling memiliki. PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah pembangunan yang ditawarkan Presiden/Kepala Daerah pada saat kampanye ke Keterlibatan mereka adalah untuk mendapatkan aspirasi dan mencipatakan rasa pembangunan. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat Daerah b. Hal ini dikarenakan rakyat dipandang memilih Presiden/ sehingga perencanaan pembangunan merupakan penjabaran dari agenda-agenda dalam RPJM. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. program. kecamatan dan desa/kelurahan. menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk hal tersebut. provinsi. dan memuat: kebijakan. Yaitu bahwa perencanaan dilaksanakan dengan c. dan memuat: kebijakan. kabupaten/kota. dan kegiatan pembangunan.Dokumen Renja (1 tahun) Perencanaan yang sinergis dan harmonis dalam penyusunannya dapat diperoleh dengan proses: a. Nasional Renja SKPD merupakan penjabaran dari Renstra RKPD. Pendekatan partisipatif. Pendekatan politik. Pendekatan ini dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Pendekatan teknokratik. semua pihak yang berkepentingan terhadap Kepala Daerah berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan Sumber: undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Renja Kl merupakan penjabaran dari Renstra Kl. program. Yaitu bahwa perencanaan dilaksanakan dengan d. Pendekatan atas-bawah (top-down) dan bawah-atas (bottom-up). II-38 .

sinkronisasi. Dalam konteks ini. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. antarruang. perencanaan pembangunan. maka perencanaan harus mampu menjadi Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal PEmbANGUNAN dAERAH panduan strategis dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai.Perencanaan pembangunan nasional yang mendukung koordinasi antarpelaku antardaerah.1. dan berkelanjutan. maupun antara pusat mempergunakan sumber daya secara efisien. Sebagai alat manajemen.3. dan jenjang pemerintahan melalui musyawarah b. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan c. penganggaran. antarwaktu. bahwa langkah-langkah atau tahapan dalam lengkap yang siap untuk ditetapkan. KETERKAiTAN PERENCANAAN dAN PENGANGGARAN Perencanaan dan penganggaran merupakan dua hal yang saling terkait dan harus seimbang. efektif. PENGANGGARAN PEmbANGUNAN dAERAH 2. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. Selain itu. berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. baik oleh Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah. Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-39 .3. antarfungsi Pemerintah. dan pengawasan melalui optimalisasi peran masyarakat dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip dasar dan etika perencanaan yang dapat Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. dilakukan melalui beberapa tahapan dari penyusunan rencana sampai rancangan a. masing-masing pembangunan. menyeluruh. yaitu: dan terukur. perencanaan 2. Melibatkan masyarakat dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan d. dan sinergi baik dan daerah. berkeadilan. juga menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. pelaksanaan. pembangunan akan menjamin terciptanya integrasi.

Keduanya merupakan dua hal yang sangat yang terbaik akan dicapai apabila terhadap keduanya diberikan perhatian yang ekonomi agar realistis. Terdapat proses review dan pemantauan pendapatan. kegiatan. b. i. dan sebaliknya perencanaan perlu mempertimbangkan ketersediaan dana dan kelayakan anggaran pada tahun sebelumnya. h. Terdapat kebijakan dan prioritas alokasi belanja. Terdapat anggaran program dan anggaran modal investasi. Terdapat indikator kinerja yang disepakati untuk mengukur kinerja program/ Terdapat perkiraan dan proyeksi pendapatan dan belanja yang akurat. dan belanja sepanjang tahun e. Terdapat standar pelayanan yang jelas. Terlaksana keterlibatan stakeholders dalam proses pengambilan keputusan. anggaran. Penganggaran dikaitkan dengan tujuan dan sasaran strategis. seimbang. operasional tahunan serta prakarsa yang mungkin ditempuh untuk mengefektifkan pendapatan dan belanja melalui identifikasi sumber-sumber pembiayaan. g. Hasil Perencanaan penganggaran pada umumnya melibatkan kegiatan review kinerja posisi penganggaran dalam proses perencanaan daerah dapat dilihat pada Gambar 2. penganggaran selayaknya tidak mendikte proses perencanaan. Adapun d. Terdapat tujuan program yang jelas.perencanaan juga perlu mempertimbangkan prinsip keterkaitan dan keseimbangan antara perencanaan dan penganggaran. Dalam proses penyusunan anggaran setidaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. c. pertimbangan kepada rencana strategis dan diperlukan untuk mengelola pembangunan daerah secara efisien dan efektif.6. PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah II-40 . f.

Menggunakan semua sumber-sumber pembiayaan. baik di tingkat pusat maupun Aspek penganggaran merupakan lanjutan dari aspek perencanaan.6 Posisi Penganggaran dalam Proses Perencanaan Daerah Musrenbang Nasional aspek perencanaan dan penganggaran dalam setiap level Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 pemerintahan disinergikan. k. Mekanisme penganggaran. gambar 2. dan l. Terdapat pemantauan. Melalui II-41 . Terdapat tranparansi dan akuntabilitas.j. dan evaluasi anggaran. kontrol.

dan tanggung jawab yang jelas antartingkat bahwa besarnya distribusi keuangan didasarkan oleh distribusi kewenangan. artinya hubungan antara pusat dan daerah tercermin dalam aspek perencanaan (planning) II-42 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah .3. tugas.7.2. Dengan demikian prinsip yang digunakan adalah money follow function. HUbUNGAN KEUANGAN ANTARA PUsAT dAN dAERAH Hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah tercermin dalam pembagian kewenangan. seperti yang diatur dalam undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. pemerintahan.7 Negara. Alur Perencanaan dan Penganggaran Nasional dan Daerah gambar 2. Alur Perencanaan dan penganggaran nasional dan di daerah dapat dilihat Sumber: undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 dan undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 2. tugas.daerah diatur melalui undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan pada Gambar 2. Sehingga secara umum. dan tanggung jawab yang telah ditentukan terlebih dahulu.

yaitu: dekonsentrasi dibiayai dari dan atas beban APBN. urusan yang merupakan tugas Pemerintah Pusat atau pemerintah paerah tingkat atasnya. urusan yang merupakan tugas Pemerintah Pusat di daerah dalam rangka Pengaturan hubungan keuangan pusat dan daerah berdasarkan undang-undang b.8 terlihat jelas pola hubungan keuangan antara pusat dan daerah. urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah sendiri dalam rangka c. Sepanjang potensi sumber-sumber keuangan daerah belum mencukupi. desentralisasi dibiayai dari dan atas beban APBD. dan Pusat memberikan sejumlah bantuan. gambar 2. a. dan tanggung jawabnya masing-masing. tugas. Nomor 33 Tahun 2004 didasarkan atas 4 (empat) prinsip. Pemerintah Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-43 .8 d. Pada Gambar 2. yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan.dan penganggaran (budgeting) untuk semua aktivitas di setiap level pemerintahan sesuai dengan kewenangan. dibiayai oleh Pemerintah Pusat atas beban APBN atau oleh pemerintah daerah tingkat atasnya atas beban APBD-nya sebagai pihak yang menugaskan.

pada dasarnya di daerah sendiri telah terdapat kewenangan untuk Selaras dengan esensi otonomi daerah. Sebagaimana disebutkan di atas. Dalam implementasinya. samping transfer. kepada daerah diberikan sumbersumber pendanaan terutama melalui pengalokasian Transfer ke Daerah seiring dengan pelimpahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah. diharapkan agar local government spending akan benar-benar bermanfaat dan menjadi stimulus fiskal bagi perekonomian di gambaran alur pendanaan desentralisasi yang sesuai prinsip money follow function II-44 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah . Di melakukan pungutan pajak dan retribusi. yang tertampung dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). daerah dituntut untuk dapat secara mandiri melaksanakan pembangunan.Khusus yang terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka daerah. keberhasilan suatu daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sangat dan kegiatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat (kepentingan publik). pada dasarnya dilakukan kewenangan harus diikuti dengan penyerahan pendanaan untuk melaksanakan dengan prinsip money follow function. sebagai implikasi dari pemberian kewenangan yang semakin luas kepada baik dari sisi perencanaan maupun pelaksanaannya sesuai prinsip-prinsip otonomi pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. tergantung pada pemerintah daerah dalam mengalokasikan belanjanya pada program dan prioritas daerah.9. Hal ini berarti bahwa setiap bentuk penyerahan daerah. dapat dilihat pada Gambar 2. sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah penduduk miskin. maka besarnya sumber pendanaan untuk daerah tersebut juga diikuti dengan diskresi dalam hal pembelanjaan sesuai kebutuhan daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian. desentralisasi. oleh karena itu. untuk mendanai penyelenggaraan urusan kewenangan tersebut.

9 2. diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. ANGGARAN PENdAPATAN dAN bElANjA dAERAH APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang berdasarkan undangundang Nomor 17 Tahun 2003. Dana Perimbangan (DP).Prinsip ”money follow function” dalam Pendanaan Desentralisasi gambar 2. Pendapatan daerah berasal dari kepala/pimpinan SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/barang daerah. Kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan oleh kepala/ pimpinan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku pejabat pengelola APBD dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). dan lain-lain Pendapatan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-45 . Pendapatan daerah merupakan hak pemerintah daerah yang yang Sah (lPS). disebutkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).3. belanja.3. dan pembiayaan daerah. APBD terdiri atas pendapatan.

sekretaris daerah bertugas selaku Kordinator Pengelolaan Keuangan Daerah. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran. Menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. pejabat pengelola keuangan daerah mempunyai tugas: a.Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah. dan c. . Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. Adapun tugas sekretaris b. f. daerah sesuai Pasal 5 ayat (4) adalah melakukan kordinasi di bidang: a. Melaksanakan fungsi bendahara umum daerah. Menyusun anggaran SKPD yang dipimpinnya. b. dipimpinnya. c. c. b. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APBD. II-46 PerencanaandanPenganggaranPembangunanDaerah Mengelola barang milik/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005. Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. APBD. Peraturan Daerah (Perda). Melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan e. d. d. Menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan Sedangkan kepala/pimpinan SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/barang daerah mempunyai tugas sebagai berikut: a. dan e. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. Mengelola utang piutang daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang g. dipimpinnya.

Koordinasi dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah. e. Penyusunan Raperda APBD. Memimpin tim anggaran pemerintah daerah. Melaksanakan tugas-tugas kordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya 2. PENUTUP Perencanaan dan penganggaran dalam pembangunan daerah diperlukan agar dan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal. Memberikan persetujuan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. terintegrasi. dan d. dan pelaksanaan APBD. dilakukan melalui mekanisme Musrenbang. c. Pembangunan daerah juga harus dapat berjalan dengan sinergi. PPKD. Tugas-tugas pejabat perencana daerah. terpadu. tepat pada sasaran. efektif. maupun antartingkat pemerintahan. pembangunan daerah dapat berjalan dengan efisien. b.3. f. Menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. baik antarwilayah. daerah. Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban e. Dalam Musrenbang. Menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Perubahan APBD. Kerja Pemerintah Daerah (DPA-SKPD). dan bersifat horizontal maupun vertikal. dan pejabat pengawas keuangan Koordinator pengelolaan keuangan daerah juga mempunyai tugas: a.d. pelibatan seluruh stakeholders dan partisipasi publik adalah dan penganggaran dalam pembangunan daerah. antarsektor. baik yang kunci utama dalam upaya mengefektifkan dan mengoptimalkan proses perencanaan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 II-47 .

.

bAb iii TRANsfER KE dAERAH .

III-50 TransferkeDaerah .

(ii) mendukung kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas pembangunan kesenjangan pelayanan publik antardaerah.1. (iii) meningkatkan aksessibilitas publik terhadap prasarana dan sarana sosial ekonomi dasar di daerah. (iv) meningkatkan kemampuan daerah menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna sebagai berikut: (i) mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah. dengan tetap itu. PENdAHUlUAN Mengacu kepada dinamika dan perkembangan desentralisasi fiskal di Indonesia dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir. Atas dasar antardaerah. sehingga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah. Selanjutnya. Dana Perimbangan merupakan transfer dana Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-51 . kebijakan Transfer ke Daerah fiskal secara proporsional dan akuntabel . stimulus pembangunan di daerah dan sebagai instrumen utama pelaksanaan desentralisasi Dana Perimbangan merupakan komponen terbesar dalam alokasi Transfer ke Daerah. arah kebijakan Transfer ke Daerah pada tahun 2010 secara umum adalah menunjang penyelenggaraan otonomi daerah yang luas. serta nasional yang menjadi urusan daerah. serta (vi) mendukung kesinambungan fiskal nasional diharapkan dapat menjadi pilar pendukung kesinambungan fiskal nasional.bAb iii TRANsfER KE dAERAH 3. (v) meningkatkan daya saing daerah melalui pembangunan infrastruktur. maka arah kebijakan Transfer ke Daerah tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional. dalam menggali potensi ekonomi daerah. nyata dan bertanggung jawab. dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan. dan pengurangan dalam kerangka kebijakan ekonomi makro.

(5) mengurangi sisa anggaran pada akhir tahun dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih awal. DAu. Perbaikan mekanisme penyaluran anggaran Transfer ke Daerah tersebut terutama dimaksudkan mempercepat penyaluran Biaya Pemungutan PBB Bagian Daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara bulanan menjadi mingguan dan dilaksanakan oleh KPPN melalui tahap. (6) mempercepat tersedianya data realisasi transfer. upaya perbaikan tersebut dapat dilihat dari telah direvisinya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/ PMK. dan DAK. yaitu: (a) Daerah menjadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.07/2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke untuk memperbaiki mekanisme penyaluran anggaran Transfer ke Daerah. (3) memberikan kepastian terhadap penerimaan kas daerah sehingga daerah dapat dengan semakin cepat tersedianya dana. (2) mendorong pelaksanaan sistem treasury single account dengan disalurkannya semua dana transfer melalui satu rekening bank yang ditunjuk daerah. yakni: (1) mempercepat penyelesaian Perda APBD. Pengalokasian Dana Perimbangan bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pendanaan pemerintahan antardaerah. berupa DBH. mengatur pola belanja. Bank operasional III.yang bersumber dari APBN ke daerah. (b) mempertegas penyaluran DBH Cukai Hasil Tembakau secara Triwulanan. (4) mempercepat pelaksanaan kegiatan/pembangunan daerah Daerah. (c) mempercepat proses penyaluran DAK dari empat tahap menjadi tiga Implementasi perbaikan mekanisme penyaluran tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pengelolaan keuangan daerah. serta mengurangi kesenjangan Pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan (continuous improvement) terhadap mekanisme penyaluran Transfer ke Daerah.07/2009. dan (8) meningkatkan akurasi Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD). (7) meningkatkan akuntabilitas penyusunan lRA Transfer ke III-52 TransferkeDaerah . antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

tidak seimbang dengan besarnya pendapatan daerah itu sendiri. Memberikan insentif kepada daerah dalam melaksanakan program Pemerintah 6. dANA bAGi HAsil PAjAK Arah kebijakan DBH Pajak perlu didukung dengan penyempurnaan mekanisme perhitungan dan penyediaan data baik oleh instansi teknis terkait di tingkat pusat maupun pemerintah daerah agar penerimaan pajak dan DBH lebih optimal. antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mendanai penyelenggaraan 1. penerimaan pajak yang diperoleh Pemerintah Pusat dalam APBN dibagihasilkan kepada daerah dengan proporsi yang telah ditetapkan berdasarkan Tahun 2005 yang ditujukan dalam rangka memperkecil kesenjangan keuangan pemerintahan di daerah. Pusat. 5. Kebijakan adanya DBH Pajak ini dilatarbelakangi oleh: daerah.3. Memberikan kompensasi kepada daerah atas timbulnya beban dari kegiatan yang Proporsi DBH Pajak yang diterima oleh daerah ditentukan berdasarkan formula dari: persentase tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku.1.2. Kebutuhan pendanaan daerah dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan di undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 2. Adanya jenis penerimaan pajak dan atau bukan pajak yang berdasarkan 4. Memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah. namun obyek dan atau subyek pajaknya berada di daerah. Secara konseptual.2. pertimbangan tertentu pemungutannya harus dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat. dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. dANA bAGi HAsil 3. mandiri. Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam pengumpulan dana secara 3. DBH Pajak bersumber Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-53 .

Bagian Pemerintah Pusat sebesar 80%.6% Kab/Kota dalam provinsi yang sama 3. d) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Pajak PenghaSilan (PPh) Wajib Pajak Orang PribaDi Dalam negeri (WPOPDn) Dan PPh PaSal 21 a. Tabel 3. c) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).55 Tahun 2005 tentang Dana Alokasi dana bagi Hasil PPh Perimbangan.1. b. 4. 2.2.1 Prosentase Pembagian Bagi Hasil Pajak PROV 16% 8% KAB/KOTA PENGHASIL 64.4% Kab/Kota tempat WP terdaftar 3.a) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak orang Pribadi Dalam b) PPh Pasal 21.1.8% 0. Alokasi Dana Bagi Hasil PPh didasarkan pada PP No.2% 0.8% 64% PROPORSI KAB/KOTA LAIN DLM PROV 12% *) 0. JENIS PBB % UNTUK DAERAH 90% 80% 20% 2% BPHTB PPH CuKAI 16.6% Sumber : Kementerian Keuangan *) Dirinci Menjadi: 8. Negeri. dan e) Cukai Hasil Tembakau (dialokasikan sejak tahun 2009). Pajak Negara dari PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25 dan 29 orang Pribadi dialokasikan c. III-54 .6% UPAH PUNGUT 9% NO 1. 3. TransferkeDaerah kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk Dana Bagi Hasil.

5% dibagi secara merata kepada seluruh Kabupaten/Kota.5% dibagikan sebagai insentif kepada Daerah Kabupaten/Kota yang sebelumnya mencapai/ melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. II dan III tahun anggaran berjalan dimana ditetapkan masing-masing sebesar 20%.1. – – 3. sebagai dasar penyaluran triwulan I. berikut: Dana Bagi Hasil. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 realisasi Penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada TA III-55 . Alokasi dana bagi Hasil Pbb b. yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.2.6% untuk seluruh kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan 3. dan III. II 3. Penerimaan Negara dari PBB dialokasikan kepada Pemerintah daerah dalam Bagian pemerintah daerah 90%. dan dengan bagian yang sama besar.d. yang dibagi kembali dengan komposisi sebagai berikut: • • rincian : – – Bagian daerah provinsi sebesar 8%. Bagian daerah kabupaten atau kota sebesar 12%. yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat pada bulan pertama triwulan IV tahun anggaran berjalan.2. f. Alokasi sementara. Dbh Pajak bumi Dan bangunan (Pbb) 1.4% untuk kabupaten/kota tempat wajib pajak terdaftar. Bagian pemerintah daerah sebesar 20%. sebagai dasar penyaluran triwulan IV dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan I. Bagian pemerintah pusat 10%. d. Bagian pemerintah pusat dibagi kembali ke daerah dengan imbangan sebagai 6. e. c. Alokasi definitif. a. akan dibagi kembali dengan 8.

Berdasarkan prognosa realisasi penerimaan tersebut dalam tahap III ini dialokasikan pula insentif kepada kabupaten dan/ ditetapkan. Besaran PBB yang dibebankan ke wajib pajak tergantung hasil penilaian yang Tarif untuk pengenaan PBB ditetapkan sebesar 0. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB didasarkan atas perkiraan alokasi. diklasifikasikan dan digolongkan berdasarkan nilai NJOP per m2. 64. atau Nilai Jual obyek Pajak Pengganti. obyek Pajak ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru. perkiraan alokasi merupakan dasar untuk Dana Bagi Hasil PBB bagian Pusat. penyaluran tahap I dan II dimana ditetapkan masing-masing sebesar 20% dan penyaluran tahap III dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang oleh Ditjen Pajak ditetapkan sebagai dasar alokasi definitif. f.2% untuk daerah provinsi. Perhitungan dana bagi Hasil PbB a. kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada 2. bidang usaha perkebunan serta perhutanan dan 20% untuk obyek pajak TransferkeDaerah III-56 .5% dari Nilai Jual Kena lainnya. sebagai dasar penyaluran tahun anggaran berjalan. 50%. sedangkan untuk NJKP Assessment Ratio yang berlaku saat ini adalah 40% untuk obyek pajak perumahan dengan NJoP Rp. b. 1 milyar atau lebih. prognosa realisasi penerimaan h. g. Nilai Jual Pajak (NJKP).8% untuk daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. sebagai dasar dicairkan selama tahap I dan II. ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. 9% untuk Biaya Pemungutan PBB. yang untuk Dana Bagi Hasil PBB bagian Pusat. – – – Bagian daerah dari PBB sebesar 90% tersebut diperinci dengan imbangan: 16.e.

sebagai bagian pusat. dasar penyaluran tahun anggaran berjalan. untuk Dana Bagi Hasil BPHTB bagian pusat. pajak. dan data-data mengenai obyek Pengenaan PBB diberitahukan kepada Wajib Pajak dengan menerbitkan Surat 3. berikut: Dengan dasar perhitungan di atas maka perhitungan PBB adalah sebagai = tarif X NJKP = 0. terlebih alamat wajib pajak. secara merata kepada seluruh kabupaten/kota.-(delapan juta rupiah).5 % X(40 % X NJoP) = (20% X NJoP) d. yang dibagikan kembali ke daerah sebesar 80%. prognosa realisasi penerimaan c. Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) yang berisikan antara lain nama serta NJoP sebagai dasar pengenaan PBB sebelum dihitung beban PBB-nya. perkiraan alokasi merupakan dasar penyaluran tahap I dan II dimana ditetapkan masing-masing sebesar 20% dan 50%. besarnya pajak terutang. Bagian pemerintah pusat sebesar 20%.000.c.2. Bagian kabupaten/kota sebesar 64%.3. Alokasi dana bagi Hasil bPHTb a. – Perkiraan alokasi ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. untuk Dana Bagi Hasil BPHTB oleh Ditjen Pajak ditetapkan sebagai dasar alokasi definitif. 8. yang dibagikan kembali dengan imbangan sebagai berikut: Bagian provinsi sebesar 16%. sebagai dasar Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal III-57 Pelengkap Buku Pegangan 2010 .000.1. dahulu dikurangi dengan NJoP-TKP (Tidak Kena Pajak) per Wajib Pajak sebesar Rp. e. Bagian pemerintah daerah – b. Dbh bea Peralihan hak ataS tanah Dan bangunan (bPhtb) 1.

pemisahan hak. rata dari transaksi jual beli secara wajar yang terjadi di sekitar letak tanah pembeli dalam lelang. dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga umum tanah dan atau bangunan. NPoPKP adalah NJoP dikurang dengan NPoPTKP. 30. perhitungan pajaknya adalah sebagai berikut: BPHTB terutang Apabila dasar pengenaan pajak yang digunakan adalah NJoP PBB.000.00) x 5 % Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara menaikkan tarif pajak d. Harga transaksi digunakan untuk obyek pajak karena jual beli dan penunjukkan tukar menukar. dapat berupa harga transaksi atau nilai pasar obyek pajak.000. e.00) x 5%. Sehingga cara penghitungan pajak yang BPHTB terutang = NPOPKP x tarif = (NPoP -NPoPTKP) x Tarif = (NPoP -Rp. NPoP pihak-pihak yang bersangkutan. dan pemberian hak baru. Yang dimaksud dengan harga transaksi adalah harga yang terjadi dan telah disepakati oleh b. III-58 TransferkeDaerah . terutang adalah sebagai berikut: dicairkan selama tahap I dan II. Besarnya NPoPTKP tersebut dapat diubah dengan peraturan pemerintah. Dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan obyek Pajak (NPoP).000. c. perolehan dengan Nilai Perolehan obyek Pajak Kena Pajak (NPoPKP). Sedangkan nilai pasar obyek pajak digunakan dalam hal hak karena putusan hakim. 30. hibah. Nilai pasar obyek pajak adalah harga ratadan atau bangunan. pemasukan dalam perseroan.penyaluran tahap III dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah 2. Perhitungan dana bagi Hasil bPHTb a. maka cara = (NJOP PBB -Rp.000.

(3) Pembinaan lingkungan sosial. (4) Sosialisasi ketentuan di bidang cukai. tembakau. kegiatan utama menjadi rincian kegiatan.3. 40% (empat puluh persen) untuk kabupaten/kota Dalam pelaksanaannya. yang meliputi: b) Pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah. d) Penanganan panen dan pascapanen bahan baku.1. dengan komposisi 30% (tiga puluh menggerakkan. dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas dan untuk mendanai kegiatan. dan/atau dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2% (dua persen). hasil cukai hasil tembakau kepada bupati/walikota di daerahnya masing-masing persen) untuk provinsi penghasil.2. Pembagian daerah penghasil. c) pengujian. gubernur menetapkan pembagian dana bagi berdasarkan besaran kontribusi penerimaan cukai hasil tembakaunya. gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab untuk karakteristik daerah masing-masing daerah. untuk menjabarkan lima e) Penguatan kelembagaan kelompok petani bahan baku untuk industri hasil Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 Pengembangan sarana laboratorium uji dan pengembangan metode III-59 . Menteri Keuangan menetapkan Peraturan Menteri Keuangan No 84/PMK.4. DBH CHT dilakukan dengan persetujuan menteri. dan (5) Pemberantasan barang kena cukai ilegal. undang-undang Nomor 39 tahun 2007 tersebut juga yaitu (1) Peningkatan bahan baku industri hasil tembakau. Adapun penggunaan DBH CHT diarahkan mengamanatkan penggunaan DBH CHT kedalam 5 (lima) kelompok kegiatan utama. (2) Pembinaan industri hasil tembakau. dan 30% (tiga puluh persen) untuk kabupaten/kota lainnya. Dbh Cukai haSil tembakau (Dbh Cht) DBH CHT merupakan amanat Pasal 66A undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 yang bersumber dari penerimaan cukai hasil tembakau yang diproduksi dalam negeri yang Dalam pengelolaan dan penggunaannya. mendorong. 1) Peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau.07/2008 sebagai berikut: a) Standardisasi kualitas bahan baku.

tembakau. kerja lainnya. III-60 TransferkeDaerah (viii) Jumlah alat linting. dan a) Pendataan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau (registrasi mesin/ (ii) peralatan mesin) dan memberikan tanda khusus. tembakau. (iii) Identitas kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau. (vii) Jumlah. tipe. dan tenaga (vi) Wilayah pemasaran. merek. Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). (iv) Jumlah tenaga kerja linting/ giling.2) Pembinaan industri hasil tembakau. (iii) Realisasi produksi. c) Pembentukan kawasan industri hasil tembakau. meliputi : (ii) (v) Nama pabrik. dan provinsi). dan kapasitas mesin/peralatan mesin produksi hasil e) Asal daerah bahan baku (tembakau dan cengkih). lokasi/alamat pabrik (jalan/desa. kota/kabupaten. Jumlah mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau di setiap pabrik Identitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau (merek. yang meliputi: (i) atau tempat lainnya. b) Penerapan ketentuan terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). kapasitas. asal negara pembuat). tenaga kerja pengemasan. tipe. Realisasi pembayaran cukai. dan nomor izin usaha industri. dan . (i) (iv) Perpindahan kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil d) Pemetaan industri hasil tembakau berupa kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan industri hasil tembakau di suatu daerah.

melalui penerapan Good Manufacturing Practices (gMP). merokok di tempat umum. dan eceran. dan/ atau bahan baku. dan mematuhi ketentuan a) Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu di c) Pengumpulan informasi barang kena cukai berupa etil alkohol dan minuman di bidang cukai yang dilaksanakan dalam periode tertentu dan/atau secara b) Pengumpulan informasi hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di mengandung etil alkohol yang ilegal di peredaran atau tempat penjualan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-61 . Kemitraan usaha Kecil Menengah (uKM) dan usaha besar dalam pengadaan b) Penerapan manajemen limbah industri hasil tembakau yang mengacu kepada c) industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan baku industri hasil Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus untuk 4) Sosialisasi ketentuan di bidang cukai berupa sosialisasi ketentuan di bidang cukai merupakan kegiatan menyampaikan ketentuan di bidang cukai kepada masyarakat insidentil. memahami. h) Pengembangan industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin rendah a) Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di lingkungan Analisis Dampak lingkungan (AMDAl). yang bertujuan agar masyarakat mengetahui. dan/atau 3) Pembinaan lingkungan sosial. 5) Pemberantasan barang kena cukai ilegal. d) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok. meliputi: peredaran atau tempat penjualan eceran. meliputi : tembakau.f) g) Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau. peredaran atau tempat penjualan eceran.

dan Pasal 9 disempurnakan melalui penetapan PMK Nomor 20/PMK.d) Apabila dalam pelaksanaan kegiatan indikasi adanya hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu. Pasal 7. mengurangi pengangguran. 3. Dalam PMK ini ditetapkan pemambahan 2(dua) butir kegiatan yang cukup memperluas penggunaan Butir e : Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga kerja industri hasul tembakau. dan/atau Butir f : Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau pertumbuhan ekonomi daerah.07/2008 khususnya Pasal 1. gubernur/ bupati/walikota menyampaikan informasi secara tertulis kepada Direktorat pengumpulan informasi ditemukan Setelah mengevaluasi pelaksanaan ketentuan penggunaan DBH CHT tahun 2008 khususnya mengenai penggunaan DBH CHT. serta dalam rangka membantu program pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran maka ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan DBH CHT yaitu: Nomor 84/PMK.07/2008 dan PMK No 20/PMK. dan dengan mempertimbangkan usulan dari daerah.07/2009 adalah tergantung dari bagaimana para DBH CHT sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. atau etil alkohol dan minuman mengandung etil Jenderal Bea dan Cukai alkohol yang ilegal di peredaran atau tempat penjualan eceran. dan mendorong Keberhasilan pemanfaat DBH CHT sebagaimana diatur dalam PMK No 84/ gubernur/bupati/walikota menjabarkan lebih lanjut kegiatan-kegiatan penggunaan komprehensif. Pasal 6 . ToR tersebut sebaiknya meliputi Substansi 7W & 2H sebagai berikut: III-62 TransferkeDaerah PMK. dilaksanakan antara lain melalui bantuan permodalan dan sarana produksi. Penjabaran tersebut seyogyanya dituangkan dalam peraturan gubernur/Bupati/ Walikota yang masingmasing kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan (Term of Reference/ToR) yang . dalam rangka pengentasan kemiskinan.07/2009. Pasal. hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai.

maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut bagaimana cara melaksanakannya. pengembangan dari butir how much ini adalah Rincian 8. melalui pengerahan tenaga kerja dana yang diperlukan. keluaran.1. melalui koperasi dan sebagainya. dilengkapi dengan solusi melalui kegiatan tersebut. misalnya melaui proses pengadaan. dengan tabel penjadualan pelaksanaan kegiatan (padat karya). lain SKPD. Whom – siapa penerima manfaat : penjelasan mengenai masyarakat yang akan dimana keluaran (output) kegiatan akan berada. yang mana dari PMK No 84/PMK. What – kegiatan apa : Nama kegiatan yang akan didanai dari DBH CHT. Where – lokasi kegiatan : Penjelasan mengenai dimana kegiatan dilaksanakan dan 7. Anggaran Biaya (RAB). How – bagaimana cara melaksanakannya : Penjelasan mengenai cara-cara mencapai 9. Who – siapa yang melaksanakan : penjelasan mengenai pelaksanan kegiatan antara 5.07/2008 dan PMK No 20/PMK. unit dibawah SKPD yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. Which – kegiatan yang mana : Penjelasan kaitannya dengan salah satu kegiatan 3. When – waktu kegiatan : penjelasan mengenai waktu mulai dan waktu selesai pelaksanaan kegiatan (lamanya). Why – mengapa perlu kegiatan tersebut : Penjelasan alasan perlunya. 2.07/2009 data dan gambaran kasus-kasus yang telah terjadi sehingga mendorong perlunya 6. menerima manfaat dari keluaran 4. How much –berapa harga kegiatan : Penjelasan mengenai sumber dana dan besaran Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-63 . rinci dan jelas.

c. DBH Sumber Daya Alam berasal dari penerimaan: a. dan f.2. Kehutanan.2. Pertambangan Minyak Bumi. Persentase alokasi DBH Sumber Daya Alam ditunjukkan dalam skema berikut: dalam APBN yang dibagihasilkan kepada daerah dengan angka persentase tertentu III-64 TransferkeDaerah . e. dANA bAGi HAsil sUmbER dAYA AlAm DBH SDA adalah dana yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) didasarkan atas daerah penghasil untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pertambangan umum. Perikanan. Pertambangan Panas Bumi. d.3. Pertambangan gas Bumi. b.

yaitu: SDA Panas Bumi.Skema Bagi Hasil SDA gambar 3. Mulai tahun 2006 dilakukan pengalihan sumber penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAK-DR) menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR) Sumber: undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-65 .1 Beberapa hal baru yang diatur dan ditegaskan dalam hal DBH Sumber Daya Alam oleh undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 adalah sebagai berikut: • • 1) Adanya penambahan obyek dana bagi hasil sumber daya alam. Dana Reboisasi (sebelumnya DAK-DR).

dan dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar dan – untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan 0.2) Adanya penegasan mekanisme.5%.5% dari penerimaan gas bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi undangan.2%.1%. Penetapan alokasi dana bagi hasil sumber daya alam dilakukan berdasarkan daerah penghasil. komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang- 5) Tambahan DBH dari pertambangan minyak bumi dan gas bumi untuk daerah Adapun pembagian porsi tambahan tersebut dibagikan dengan perincian: – untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 0. • • Bagian pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 84. setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan 4) Penambahan persentase sebesar 0.2%.5% dari penerimaan pertambangan minyak bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan perundang-undangan. dan dasar perhitungan.5%. Penyaluran DBH SDA dilakukan secara triwulanan.5%. 3) Penambahan persentase sebesar 0. yakni: • • • Jadwal penetapan. sebesar 0. • • Bagian pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 69. III-66 TransferkeDaerah .5%. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 30. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 15. – untuk kabupaten/kota penghasil 0.

5% berasal dari penerimaan negara SDA pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan 3. dan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.1. DBH SDA Minyak Bumi sebesar 15. penyalurannya dilakukan melalui mekanisme formula DAu.2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil. Pola Pembagian dana bagi Hasil migas Dalam rangka mendukung pelaksanaan kebijakan dimaksud diperlukan kegiatankegiatan yang meliputi penyusunan rencana (perkiraan) dan realisasi di bidang Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) Migas dari hasil kegiatan KKKS. Dbh SDa Pertambangan minyak Dan gaS bumi (Dbh SDa migaS) 1. dan apabila melebihi 130%. Direktorat realisasi DBH SDA Migas sebagai dasar penyaluran DBH SDA Migas per provinsi/ tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Perimbangan adalah sebagai berikut : dengan rincian sebagai berikut : • • • bersangkutan. Porsi pembagian DBH SDA Migas menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 yang ditindaklanjuti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana a.2. Terkait dengan perhitungan DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota. Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya menghitung perkiraan alokasi maupun kabupaten/kota.2.1% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. 6. 130% dari asumsi dasar harga minyak bumi dan dan gas bumi dalam APBN tahun 3.2% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal III-67 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . DBH tersebut dibagi 6.6) Realisasi penyaluran DBH dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak melebihi berjalan.

DBH tersebut dibagi dengan 12. DBH SDA gas Bumi sebesar 30. 6.33% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang c.2% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang III-68 TransferkeDaerah .5% berasal dari penerimaan negara SDA rincian sebagai berikut : • • bersangkutan.2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil. 12. DBH tersebut dibagi dengan 10. dan Porsi Pembagian DBH SDA Minyak Bumi gambar 3.5% berasal dari penerimaan negara SDA pertambangan gas Bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan setelah rincian sebagai berikut : • • • bersangkutan.b.17% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan.1% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. DBH SDA Minyak Bumi sebesar 15. dan dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.2 pertambangan minyak bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. 5.

5% berasal dari penerimaan negara SDA komponen pajak dan pungutan lainnya. dan bersangkutan.17% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan.3 pertambangan gas Bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi 20. Pengecualian untuk Daerah otonomi Khusus yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua Barat. DBH SDA gas Bumi sebesar 30. gambar 3. daerah bagian dari penerimaan pemerintah provinsi dengan ketentuan sebagai berikut : • • Bagian dari pertambangan Minyak Bumi sebesar 55%.33% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang Porsi Pembagian DBH SDA gas Bumi e. DBH tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • 10. otonomi khusus tersebut mendapatkan tambahan DBH Migas yang merupakan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-69 . dan Bagian dari pertambangan gas Bumi sebesar 40%. selain mendapatkan DBH Migas.d.

PNBP per KKKS (sebagaimana yang tercantum dalam Surat Dirjen Anggaran TransferkeDaerah Rasio lifting per KKKS per daerah penghasil tersebut dikalikan dengan . disampaikan Ditjen Anggaran. 2) Mekanisme b) Surat Dirjen Anggaran-Kementerian Keuangan tentang Perkiraan PNBP Migas a) Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping KKKS berdasarkan data Prognosa lifting dalam Surat Keputusan Menteri ESDM tentang penetapan daerah penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH SDA Migas yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan PNBP per KKKS yang dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data lifting per KKKS per daerah penghasil.2. Rasio lifting dimaksud untuk mengetahui porsi lifting yang dihasilkan KKKS pada daerah penghasil tertentu. lifting yang tersusun perdaerah penghasil b) Data lifting per KKKS per daerah penghasil hasil grouping tersebut di c) III-70 per KKKS pada data Ditjen migas dikonsolidasi dengan data lifting per KKKS persentase-kan dengan total lifting per KKKS sehingga didapat rasio lifting per KKKS per daerah penghasil. Data-data yang digunakan sebagai dasar perhitungan perkiraan dan mekanisme perhitungannya a) Prognosa lifting per daerah penghasil berdasarkan Surat Keputusan Menteri ESDM tentang Penetapan Daerah Penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH SDA Migas. mekanisme Penyusunan Perkiraan DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota yang dihitung oleh Ditjen Perimbangan Keuangan selanjutnya akan dituangkan ke dalam Peraturan Menteri sebagai berikut : 1) Data Keuangan mengenai Perkiraan Alokasi Dana Bagi Hasil SDA Migas. Penyusunan Perkiraan dbH sdA migas a. per KKKS.

d) PNBP per KKKS per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil. Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah Negeri tersebut menjadi dasar perhitungan lifting per daerah penghasil SDA Migas oleh Menteri ESDM. per KKKS. dan harga minyak Indonesia (ICP) melalui penetapan asumsi makro APBN dasar perhitungan DBH SDA Migas. First Trance Petroleoum (FTP). tentang Perkiraan PNBP Migas) untuk mengetahui PNBP per KKKS per daerah penghasil. e) PNBP per daerah penghasil dihitung porsi DBH-nya untuk bagian pemerintah f) pusat. penghasil berdasarkan pertimbangan menteri teknis paling lambat 60 hari setelah 3) Bersamaan dengan proses tersebut. dan peraturan pemerintah. dan Bagian Pemerintah perhitungan perkiraan faktor-faktor pengurang (Domestic Market Obligation/ III-71 . kurs Rupiah terhadap 2) Berdasarkan asumsi tersebut Menteri ESDM menetapkan daerah penghasil dan sebelum tahun anggaran bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. Gross Revenue. Penetapan Proses penetapan perkiraan alokasi DBH SDA Migas sebagai berikut: antara Pemerintah dengan DPR. Dirjen Anggaran melakukan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 diterimanya usulan pertimbangan dari menteri teknis. Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga b. BP Migas melakukan perhitungan perkiraan 4) Berdasarkan ketetapan Menteri ESDM tersebut. daerah penghasil dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang didapat perkiraan alokasi DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota untuk selanjutnya ditetapkan dalam peraturan Menteri Keuangan. Dalam hal lapangan migas tersebut berada pada wilayah yang berbatasan atau Dollar. Selanjutnya ketetapan tersebut disampaikan ke Menteri Keuangan. Ketetapan tersebut paling lambat 60 hari berada pada lebih dari satu daerah. Ketetapan Menteri Dalam Cost Recovery. 1) Penetapan besaran asumsi dasar berupa prognosa lifting.

Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan Perkiraan Alokasi DBH SDA Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas paling Dirjen Anggaran. Diagram proses pelaksanaannya sebagai berikut: gambar3.4 Migas yang kemudian diajukan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan sebagai DMo. Fee usaha Hulu Migas. Penyusunan Realisasi dbH sdA migas a.5) Berdasarkan Ketetapan Menteri ESDM dan perhitungan Dirjen Anggaran tersebut. Hasil Perimbangan Keuangan. PPN. mekanisme Penghitungan Proses penghitungan realisasi DBH SDA Migas berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: TransferkeDaerah III-72 . perhitungan PNBP SDA Migas per KKKS tersebut disampaikan kepada Dirjen lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan Menteri ESDM dan perhitungan Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas 3. PDRD). PBB sektor pertambangan Migas.

Data yang disajikan baik oleh Ditjen Migas maupun Ditjen Anggaran dalam Data-data yang digunakan sebagai dasar penghitungan dan mekanisme penghitungan realisasi DBH SDA Migas adalah sebagai berikut : 1) Data a) Realisasi lifting per daerah penghasil per KKKS berdasarkan berita acara b) Perkiraan Realisasi PNBP per KKKS yang disampaikan oleh Ditjen Anggaran. yang membedakannya adalah data yang dirasiokan yakni data Realisasi Gross Revenue. sedangkan pada bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai 4. realisasi s. 2. triwulan III dan realisasi s. triwulan IV. sehingga perhitungan yang dihasilkan mekanisme penghitungan realisasi DBH SDA Migas ini merupakan kumulatif triwulanan. rekonsiliasi lifting yang disampaikan oleh Ditjen Migas. penghitungan perkiraan alokasi DBH SDA Migas. Hal ini dikarenakan Realisasi gross Revenue sudah berbentuk satuan mata uang. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 perkiraan realisasi PNBP per KKKS yang disampaikan Ditjen Anggaran. sehingga dikenal data realisasi triwulan I. triwulan II.1. realisasi s.d. peraturan perundang-undangan. Penghitungan realisasi DBH SDA Migas dilakukan setiap triwulan. Mekanisme perhitungan realisasi DBH SDA Migas hampir sama dengan mekanisme penghitungan perkiraan alokasi DBH SDA Migas yang digunakan dianggap lebih mendekati dibanding jika menggunakan realisasi lifting.d. Gross migas dielaborasi dengan data Gross Revenue per KKKS dari Ditjen Anggaran III-73 .d. 2) Mekanisme a) Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping KKKS berdasarkan data Realisasi Gross Revenue yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data Revenue yang tersusun per daerah penghasil per KKKS pada data Ditjen sehingga didapatkan data Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil. adalah data prognosa lifting. Dana yang dibagihasilkan adalah penerimaan negara dari wilayah daerah yang 3.

Rasio Gross Revenue dimaksud c) d) PNBP per KKKS per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang e) Dihitung porsi DBH-nya dari PNBP per daerah penghasil untuk bagian f) pemerintah pusat. daerah penghasil dan daerah pemerataan berdasarkan didapat realisasi DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota untuk disalurkan pada triwulan sebelumnya pada tahun anggaran berjalan. PNBP per KKKS (sebagaimana yang tercantum dalam Surat Dirjen Anggaran tentang Perkiraan PNBP Migas) untuk mengetahui PNBP per KKKS per daerah sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil. penghasil. Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga g) Sebelum disalurkan. Rasio Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil tersebut dikalikan dengan Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil. selanjutnya disalurkan ke tiap-tiap daerah.b) Data Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil hasil grouping tersebut di persentase-kan dengan total Gross Revenue per KKKS sehingga didapat rasio untuk mengetahui porsi Gross Revenue yang dihasilkan KKKS pada daerah penghasil tertentu. undang-undang dan peraturan pemerintah. realisasi DBH SDA Migas dikurangi terlebih dahulu dengan kelebihan salur tahun sebelumnya dan total DBH SDA Migas yang telah III-74 TransferkeDaerah .

Kemendagri. Ditjen Migas.5 Mekanisme Perhitungan DBH SDA Migas b. yang menyatakan bahwa perhitungan realisasi DBH SDA dilakukan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dan daerah penghasil. maka dilakukan proses rekonsiliasi data antara pemerintah pusat (yang diwakili oleh BP Migas. Penyaluran Setelah diketahui hasil perhitungan DBH SDA Migas yang akan disalurkan ke masingmasing provinsi/kabupaten/kota. Hal ini sesuai dengan amanat Pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 Hasil rekonsiliasi dituangkan dalam berita acara rekonsiliasi yang kemudian menjadi dasar penyaluran DBH SDA Migas ke rekening umum kas provinsi/kabupaten/kota Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-75 . Ditjen Anggaran. Ditjen Pajak dan Ditjen Perimbangan Keuangan) dengan daerah penghasil. penerima DBH SDA Migas.Diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: gambar 3.

a. Mei dikurangi penyaluran triwulan I dan triwulan II.d. Berdasarkan SP2D tersebut. Direktur Dana Perimbanganmenerbitkan SP2D. DIPA Migas untuk satu tahun anggaran. Penyaluran DBH Migas mulai dari tahun 2008 dilakukan secara triwulan dengan ketentuan sebagai berikut : triwulan II pada bulan Juni. Ditjen Perimbangan Keuangan 2) Setiap triwulan penyaluran: Perbendaharaan. BI mentransfer dana dari Rekening Kas Negara sebesar 20% dari pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Desember s. DBH SDA Migas triwulan I disalurkan pada bulan Maret dan c) ke Rekening Kas pemda provinsi/kabupaten/kota. DBH SDA Migas III-76 TransferkeDaerah .Proses penyaluran DBH SDA Migas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Di awal tahun: a) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan perkiraan Alokasi DBH SDA Migas. Dirjen Perbendaharaan menerbitkan a) Berdasarkan DIPA dan Berita Acara Rekonsiliasi. b) Berdasarkan surat permintaan tersebut. Penyaluran DBH Migas triwulan III memperhitungkan realisasi DBH SDA Migas triwulan III disalurkan pada bulan September. Penyaluran DBH Migas triwulan I dan triwulan II masing-masing dilaksanakan b. Direktur PKN-Ditjen Perbendaharaan Format Penyaluran DBH SDA Migas sudah mengalami beberapa perubahan sejalan dengan kebijakan Dirjen Perimbangan Keuangan. Migas ke Dirjen Perbendaharaan. mengajukan SPM Migas ke Ditjen Dirjen Perimbangan Keuangan mengajukan Surat Permintaan Penerbitan DIPA b) Berdasarkan SPM Migas tersebut. Menteri Keuangan.

maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN dan/atau APBN-P dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan. Sisa rampung DBH SDA Migas tersebut disalurkan pada bulan Februari tahun anggaran berikutnya. November (satu tahun anggaran) dikurangi penyaluran triwulan I s. Agustus dikurangi penyaluran triwulan I s. Apabila penyaluran DBH SDA Migas terdapat kekurangan yakni pemerintah kurang f. triwulan IV dengan batas maksimal sebesar pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Penyaluran DBH Migas triwulan IV memperhitungkan realisasi DBH SDA Migas Migas triwulan IV disalurkan pada bulan Desember.d. triwulan III.d. SDA Migas Desember s. gambar 3.c. bayar. tahun berikutnya.6 d.d. DBH SDA e. Penyaluran DBH Migas rampung (Triwulan V) memperhitungkan realisasi DBH Desember s. dasar harga Minyak dan gas Bumi dalam APBN.d. Apabila melebihi maka penyaluran Realisasi penyaluran DBH SDA Migas tidak boleh melebihi 130% dari asumsi Adapun diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-77 .

(3) alokasinya dalam APBN berdasarkan perkiraan PNBP dalam satu tahun – dalam hal migas PNBP dalam satu tahun – dalam hal DBH Migas.1. harga ICP. mekanisme Counter balance dana Penyaluran dbH migas 4.Penyaluran DBH SDA Migas gambar 3.5% pusat. Prinsip dbH Prinsip DBH secara umum meliputi : (1) harus ada PNBP-nya. perkiraan tersebut sangat tergantung dari asumsi jumlah lifting. serta kurs Rp thd uS$ dalam APBN. 15.5% daerah). waktu satu tahun tersebut dimulai dari Desember suatu tahun sampai November tahun berikutnya (tetap 12 bulan). (4) penyalurannya kepada daerah berdasarkan realisasi III-78 TransferkeDaerah .7 4. (3) besarannya adalah persentase tertentu dari PNBP (migas 84.

Waktu Perhitungan realisasi PNbP/dbH migas. sudah sebagai belanja dari rekening Kas Negara . Hal dihitung mulai dari Awal Desember sampai dengan Akhir November agar hasil kenyataannya sampai dengan bulan Desember pihak penyedia data PNBP Migas belum ini menimbulkan masalah tersendiri dalam penyaluran DBH Migas sehingga perlu 4. baru kemudian pada pertengahan Februari data realisasi diambil kebijakan penyaluran DBH Migas pada setiap tahunnya. idealnya (yang menjadi harapan semula) sudah sampai pada bulan November. Dengan demikian pagu anggaran DBH Migas baru akan dibebani untuk membayar realisasi migas dari Desember sampai dengan Agustus atau 9 bulan. status sisa anggaran yang ditampung di rekening cadangan sisa anggaran tersebut ke Rekening Cadangan Menteri Keuangan (atau biasa disebut daerah dilaksanakan setelah data realisasi PNBP Migas (per KKKS) diterima unit Migas yang dibagikan ke daerah tetap meliputi waktu 12 bulan (misalnya Desember Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal penyalur (DJPK) dan dihitung DBH-nya (per daerah). Namun siap menyediakan data . Kebijakan Pengalihan sisa Anggaran ke Rekening Cadangan Pada bulan Desember data realisasi yang tersedia hanya sampai pada bulan Agustus.3. Penyalurannya ke rekening kas dengan Escrow Account) pada Bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan (dalam hal Dengan kebijakan tersebut. oleh karena itu perlu diambil kebijakan untuk mengalihkan ini kewenangannya dilimpahkan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Pengelola Rekening Kas Negara).2. PNBP satu tahun dapat disediakan yang berarti sudah melewati tahun anggaran. Realisasi PNBP perhitungan PNBP tersebut dapat disalurkan DBH-nya pada bulan Desember.4. Dengan demikian realisasi PNBP Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-79 . yang berarti masih tersia pagu anggaran 3 bulan. Sisa pagu ini akan hangus setelah akhir Desember apabila tidak direalisasikan. Penetapan segmen waktu tersebut semula dimaksudkan agar alokasi DBH SDA seluruhnya dapat tersalur ke daerah pada akhir tahun anggaran.

Namun biasa disebut dengan kebijakan Counter Balance. Pengalihan penyaluran dari Desember penerimaan tahun betrikutnya (lihat skema Counter Balance) gambar 3.2008 s/d Agustus 2009 yang disalurkan pada Desember 2009. Sisa anggaran tersebut tetap III-80 TransferkeDaerah .4. 4. Kebijakan ini akan dilakukan setiap tahun sepanjang unit penyedia data realisasi belum bisa menyediakan data selama 12 bulan pada akhir November. Kebijakan mekanisme Counter balance Dari aspek pergeseran waktu penyaluran yang seharusnya selesai pada Bulan dari aspek jumlah bulan realisasi tetap meliputi waktu 12 bulan.8 menjadi Februari namun tetap berdasarkan data realisasi tahun yang bersangkutan membebani anggaran tahun lalu namun daerah mencatatn pendapatan sebagai Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas Desember menjadi bulan Februari memang jelas menunjukkan keterlambatan. yang bearti hak daerah atas DBH satu tahun tidak berkurang. dan September s/d November 2009 yang disalurkan pada Pertengahan Februari 2010). yang berarti terjadi selisih waktu antara realisasi dan penyaluran selama satu triwulan.

mendapatkan kepastian waktu dan ketepatan jumlah.4.5. Pemakaian terminologi Triwulan V dimaksudkan yang berasal dari realisasai PNBP Migas disalurkan sebanyak 5 kali. akurasi. Sedangkan Triwulan IV Agustus. Selanjutnya Triwulan III disalurkan pada bulan September rekonsiliasi dikurangi penyaluran Triwulan I dan Triwulan II. yang datanya sudah dapat disediakan dalam bulan Agustus. Pola yang direalisasikan secara urut sebenarnya adalah Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-81 . 4. berdasarkan hasil rekonsiliasi PNBP yang disetor ke kas negara mulai Bulan Desember Besarnya penyaluran Triwulan III adalah jumlah DBH suatu daerah berdasarkan hasil disalurkan dalam bulan Desember berdasarkan realisasi PBNP sampai dengan bulan Triwulan V pada bulan Februari. Maksud dari pola ini adalah agar daerah sampai dengan bulan Mei. Kebijakan Triwulan V Selanjunta realisasi sampai dengan Bulan November akan disalurkan ke daerah sebagai hanya untuk memudahkan adanya urutan yang baku bahwa penyaluran DBH Migas agar terdapat perbedaan yang jelas antara Penyaluran Triwulan V pada bulan Februari Pola penyaluran Triwulan I s/d Triwulan IV ditambah Triwulan V telah dilaksanakan sebagai berikut: secara rutin dan terpola. tanpa menunggu perhitungan kecepatan. DBH Migas Triwulan I dan Triwulan II masing-masing 20% dari alokasi per daerah. dan akuntabilitas. Semangat ini diwujudkan dengan penyaluran realisasi PNBP Migas. disalurkan dalam bulan Maret dan bulan Juni .5. Pola baru penyaluran dbH sdA Sejak tahun 2008 Pemerintah melaksanakan penyaluran dana Transfer ke erah dengan pendekatan baru yang mengedepankan semangat untuk menjamin kepastian. Alasan lain adalah dengan penyaluran Triwulan I pada bulan Maret.

Maret. dengan penjelasan : (1) hak yang dibagikan meliputi waktu 12 Daerah dalam satu tahun. 5. (3) pelaksanaan penyaluran penyaluran DBH Migas. III-82 . yaitu penerimaan yang masuk ke Kas anggaran Januari s/d Desember terdapat 5 kali penerimaan DBH Migas yang masuk ke Kas Daerah pada Februari. Juni. dibelanjakan pada tahun saya sama (dalam satu tahun dapat dipersepsikan bahwa tidak ada keterlambatan dalam penyaluran DBH Migas.5 persen dari TransferkeDaerah yang kewenangan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemda penerima.2 III IV V 20% dari perkiraan alokasi Realisasi dikurangi penyaluran Tw I s/d Tw III Realisasi dikurangi penyaluran Tw I s/d Tw IV Realisasi dikurangi penyaluran Tw I dan Tw II Waktu Penyaluran Maret Juni September Desember Februari Sumber : Kementerian Keuangan Dengan pola yang rutin dan tetap tersebut maka kebijakan counter balance dalam management penyaluran DBH Migas dapat dipersepsikan tidak ada keterlambatan dengan pola yang konsisiten. September dan Desember). (2) besaran dana yang disalurkan sesuai realisasi. Pemantauan dan Evaluasi penerimaan yang bersumber dari DBH Migas.Waktu (Triwulan) II I Pola Penyaluran DBH Pertambangan Minyak Bumi dan gas Bumi Tidak mempertimbangkan realisasi Tidak mempertimbangkan realisasi Desember s/d November Desember s/d Agustus Desember s/d Mei Periode realisasi 20% dari perkiraan alokasi Besaran Penyaluran Tabel 3. Dari pola ini Pada dasarnya DBH SDA Migas sebagaimana DBH SDA lainnya bersifat Block Grant kecuali untuk dana Tambahan Anggaran Pendidikan Dasar sebesar 0. Pola ini dapat diacu oleh daerah dalam membukukan bulan.

tarif iuran tetap yang dikenakan pada kuasa pertambangan merupakan tarif satuan atas nilai rupiah per satuan luas eksploitasi/ pertambangan dilakukan setiap semester. yaitu daerah tersebut dapat dikenai sanksi administrasi berupa Penerimaan negara bukan pajak dari sektor pertambangan umum terdiri dari iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) dan iuran tetap (landrent). yang dikenakan di sektor Dalam peraturan tersebut.2. tarif iuran tetap merupakan tarif satuan atas nilai uS $ per eksplorasi (hektar) dan besarnya tarif juga dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) adalah iuran produksi yang diterima Negara dalam hal Pemegang Kuasa Pertambangan Eksplorasi mendapat hasil berupa bahan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-83 . status (perpanjangan atau tidak). Pemungutan iuran tetap. Besarnya tarif dibedakan atas dasar tahap untuk Kuasa Pertambangan. Dbh SDa Pertambangan umum bahan pertimbangan dalam pengalokasian DBH SDA Migas untuk tahun anggaran untuk melakukan pemeriksaan. 3.porsi DBH SDA Migas harus digunakan untuk sektor pendidikan dasar yang tata cara penggunaannya akan diatur lebih lanjut dalam PMK. kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak). Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan dana tambahan anggaran pendidikan dasar tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dijadikan sebagai berikutnya. luas area eksploitasi/eksplorasi (hektar). Apabila hasil pemantauan dan evaluasi mengindikasikan adanya penyimpangan dalam pelaksanaannya. Kedua Iuran tersebut ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen ESDM.2.2. Pemantauan atas dana tambahan ini menyangkut apakah penggunaannya sesuai dengan peruntukannya. maka Menteri Keuangan meminta aparat pengawasan fungsional pemotongan penyaluran DBH SDA Migas untuk periode berikutnya.

3% dari 13. Tarif royalti untuk pertambangan mineral dan batubara ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003. satuan lainnya yang disetujui bersama. tarif royalti Tatacara penghitungan Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) sebagai berikut: bersifat advalorem (dalam persentasi) dan dikenakan terhadap harga jual yang telah hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan eksploitasi satu atau lebih bahan galian. hasil produksi batubara/DHPB).5% Iuran Tetap (landrent/deadrent) adalah seluruh penerimaan iuran yang diterima Eksploitasi pada suatu Wilayah Kuasa Pertambangan (dalam hal ini termasuk Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara). Peraturan besarnya tarif royalti untuk bahan tambang batubara. Bagian pemerintah sebesar 13. Eksplorasi atau III-84 TransferkeDaerah . Besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian.5% dari produksi batubara (dana DHPB. Sebelumnya pengenaan royalti Jumlah Produksi yang Terjual x Persentase Tarif (%) x Harga Jual (US$) Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 ini juga memasukkan peraturan mengenai untuk batubara sudah termasuk dalam bagian pemerintah dari Dana Hasil Produksi Dalam peraturan tersebut. Batubara (DHPB) yang diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1996. Luas Wilayah KP/KK/PKP2B (Ha) x Tarif (Rp/US $) Tatacara penghitungan Iuran Tetap (landrent/deadrent) sebagai berikut: Negara sebagai imbalan atas kesempatan Penyelidikan umum. pemerintah mendapat 13.galian yang tergali atas kesempatan eksplorasi yang diberikan kepadanya serta atas Royalty adalah pembayaran kepada Pemerintah berkenaan dengan produksi mineral yang berasal dari area penambangan.5 persen tersebut sudah mencakup pembayaran royalti yang diestimasikan sebesar 3. Royalti harus dibayar dalam satuan rupiah atau dikalikan dengan jumlah produksi.

C. 32 persen untuk Kabupaten/Kota penghasil dan 32 persen untuk Kabupaten/Kota lainnya dalam Provinsi yang bersangkutan.9 Perhitungan DBH SDA Pertambangan umum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005. bagian daerah dari landrent adalah sebesar 80 persen dengan rincian 16 persen untuk Provinsi yang bersangkutan JENIS DBH A. Porsi Pembagian DBH SDA Pertambangan umum Tabel 3.Selanjutnya untuk perhitungan DBH SDA Pertambangan umum sebagaimana diatur dan 64 persen untuk Kabupaten/Kota penghasil (lihat gambar 3. B. D. untuk bagian daerah dari royalti adalah sebesar 80 persen dengan rincian 16 persen untuk Provinsi yang bersangkutan. gambar 3.9).3 PERTAMBANGAN UMUM lAND RENT PENgHASIl lAND RENT PENgHASIl RoYAlTI PENgHASIl RoYAlTI PENgHASIl KAB/KoTA PRoVINSI PRoVINSI KAB/KoTA % UNTUK DAERAH 80% 80% 80% 80% PRoV 16% 80% 16% 26% PENgHASIl 64% 32% - KAB/KoTA PORSI lAIN DAlAM PRoV 32% 54% III-85 - KAB/KoTA Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 .

adalah pungutan yang dikenakan b. dengan HPH. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH). tarif yang dikenakan adalah pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan pemegang Izin Pemanfaatan tarif satuan Rupiah per m3. pembayaran III-86 TransferkeDaerah . untuk penyaluran produksi ke industri terkait (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Dana Reboisasi (DR). untuk produksi yang disalurkan ke industri yang tidak terkait dengan pemegang HPH. Dbh SDa kehutanan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan berasal dari Penerimaan Negara Reboisasi. Besarnya tarif tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) status HPH (baru/ Tarif PSDH tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 859/Kpts-II/1999. pembayaran dilakukan oleh pihak industri penerima.3. Pada HPH. adalah dana yang dipungut dari pemegang Izin usaha d.2. adalah pungutan yang bersifat license fee (terkait dengan perizinan). Di dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per satuan luas HPH (hektar). perpanjangan/ HPHTI). (IIuPH). IHPH dikenakan satu kali untuk jangka waktu berlakunya HPH (atau sekitar 20 tahun). (2) Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang merupakan royalti. Dalam peraturan tersebut. yang besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan Kayu (IPK) (lihat undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 juga Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1999). PSDH dikenakan terhadap pemegang HPH. Tarif IIuPH terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1998. Definisi masing-masing penerimaan adalah berikut : Bukan Pajak dari sektor kehutanan terdiri: (1) Iuran Izin usaha Pemanfaatan Hutan a.2. dan (3) Dana kepada Pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hutan atas suatu kawasan hutan c. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH). adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intrinsik dari hasil yang dipungut dari Hutan Negara. dan reboisasi dan rehabilitasi hutan Pemanfaatan Hasil Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka tertentu yang dilakukan sekali pada saat izin tersebut diberikan. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH).3.

10 mengisi volume produksi dan jenis tanaman. Pembayaran dilakukan setiap Kehutanan dan Perkebunan. disetor langsung ke Rekening Menteri Perhitungan jumlah kayu yang dikenai kewajiban untuk membayar PSDH dan Dana Reboisasi didasarkan dari laporan Hasil Penebangan (lHP). Perhitungan DBH SDA Kehutanan gambar 3. Jika Mulai tahun 2006 dilakukan pengalihan sumber penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAK-DR) menjadi DBH Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Dana Reboisasi (DBH-DR) serta Penetapan DBH PPh Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-87 . Setelah itu diterbitkan dokumen SKSHH (Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan) yang sebelumnya disebut SAKo.dilakukan oleh pemegang HPH pada saat pengangkutan. Sistem pelaporan produksi hasil hutan tersebut bersifat self assesment yaitu perusahaan pemegang HPH lHP dilakukan setelah diadakan pengukuran sampling 10 persen dari area produksi terjadi penyimpangan volume <5%. lHP tetap disahkan. bulan atas dasar produksi bulan sebelumnya. namun tidak berlaku untuk kesalahan pengisian jenis tanaman. Pengesahan oleh petugas kehutanan untuk menguji kebenaran pengisisan dokumen lHP.

2. dimana besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Hutan (uPH) dengan perhitungan sebagai berikut: yang berlaku dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya realisasi penerimaan dalam negeri Tarif Dana Reboisasi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 1999 yang Dana Reboisasi merupakan tarif satuan uS $ per m3. ditetapkan oleh gubernur mulai tahun 2006 ditetapkan oleh Menteri Keuangan.4.Negeri (WPoPDN) dan PPh Psl 21 masing-masing kabupaten/kota yang sebelumnya yang dibagihasilkan. Pungutan Pengusahaan Perikanan. Dalam perkembangannya. Dbh SDa Perikanan DBH Sumber Daya Alam Perikanan berasal dari Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia Modal (APIPM). Tarif dikenakan terhadap pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan. Menurut undangPerhitungan bagian daerah akan ditetapkan berdasarkan rencana produksi hasil hutan undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. pungutan Dana Reboisasi ini dan rencana penerbitan izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) atau usaha Pemanfaatan – Perkiraan penerimaan IHPH/IIuPH. baik hutan alam maupun tanaman yang dan bukan dan dikali tarif PSDH yang berlaku dihitung dari luas areal yg akan diterbitkan izin HPH/uPH dikalikan tarif IHPH – Perkiraan penerimaan PSDH yang dihitung dari target produksi hasil hutan kayu – Perkiraan Penerimaan PSDH dan yang bersumber dari tunggakan PSDH 3. dan Surat Ijin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI). realisasi DBH senantiasa menunjukkan kecenderungan meningkat merupakan perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1999.2. Alokasi Penangkapan Ikan Penanaman kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia untuk melakukan usaha III-88 TransferkeDaerah . sebagai imbalan atas yang memperoleh Izin usaha Perikanan (IuP).

ikan (Dead weight Ton -DWT). Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 1 uS $ 1000 uS $ 500 III-89 . Ikan (SPI) yang diperoleh. Pungutan Hasil Perikanan.perikanan dalam wilayah perikanan Republik Indonesia. dikenakan kapal. yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang melakukan usaha penangkapan ikan sesuai dengan Surat Penangkapan Pungutan untuk sektor perikanan ini diatur dalam SK Menteri Pertanian Nomor 424/ satu kali pada saat pengajuan permohonan Surat Ijin Kapal Perikanan. Dalam hal ini tarif dikenakan atas dasar berat kosong Kpts/7/1977. Tarif PPP merupakan tarif nominal (uS $) dan didasarkan atas ukuran kapal penangkapan dimana besar tarif dibedakan menurut kelompok jenis ikan. Perhitungan dbH sdA Perikanan PPP adalah: Kapal Penangkapan Ikan.424/Kpts/7/1977 Catatan: untuk setiap kelebihan di atas 100 DWT dengan pembulatan perhitungan sampai dengan 50 DWT dikenakan tambahan uS $ 250. Adapun Pungutan Hasil Perikanan (PHP) dikenakan pada hasil produksi sektor a. Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) bersifat license fee.4 Data Jumlah Surat Izin Kapal Perikanan yang dikeluarkan. 2 Sumber: SK Mentan No. 2. Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) objek yang penting dalam penghitungan perikanan yang diekspor. Rumus yang dipakai untuk menghitung PPP adalah: PPP = Tarif (US $) x Ukuran Kapal (DWT) 1. Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) Ukuran Kapal 50-100 DWT <50 DWT Tarif No. Data yang dibutuhkan untuk dapat menghitung PPP adalah: Daftar Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) Tabel 3. Tarif yang dikenakan bersifat ad valorem (persentasi).

1 dan 2 2 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH SDA gambar 3. Pungutan Hasil Perikanan (PHP) objek dalam penghitungan PHP ini adalah: Hasil Produksi Sektor Perikanan yang diekspor. 2 3 Sumber: SK Mentan No. Tabel 3. dengan rumus sebagai berikut: atau yang diperlukan adalah: 1. Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP) No.424/Kpts/7/1977 1 udang Golongan Jenis Tarif (%) 1.5 Dalam penghitungan ini hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah jumlah kapal dan volume hasil produksi perikanan yang akan diekspor. Cakalang. Daftar Tarif PHP untuk setiap jenis ikan.b. PHP = Hasil Produksi (Ton) x Tarif (%) Data Hasil Ekspor Produksi Sektor Perikanan.5 1 Ikan Tuna.11 III-90 TransferkeDaerah . 2. lain-lain yang tidak termasuk gol.

dANA AlOKAsi UmUm 3.3. dan perkiraan unsur-unsur pengurang lainnya. PENYUsUNAN fORmUlA dAN PERHiTUNGAN dAU bagian 10 persen untuk provinsi dan bagian 90 persen untuk kabupaten/kota.2. kepada Menteri Keuangan. proporsi pembagian DAu adalah Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-91 . Ketetapan Menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan daerah paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya ketetapan dari masing-masing daerah ditetapkan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah perkiraan bagian pemerintah. Menteri Teknis menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan DBH b. Perkiraan alokasi DBH Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan/atau gas Bumi untuk menerima ketetapan dari menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1). a. Sementara itu.3. d.3. Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan menteri teknis terkait paling lambat penghitungan DBH sumber daya alam oleh menteri teknis. SDA paling lambat 60 (enam puluh) hari sebelum tahun anggaran bersangkutan pada lebih dari satu daerah. Menteri Keuangan menetapkan perkiraan alokasi DBH SDA untuk masing-masing f.34/20004 porsi DAu ditetapkan sekurang-kurangnya 26 persen dari Penerimaan Dalam Negeri Netto. Dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau berada teknis.3.1. 60 (enam puluh) hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari menteri c. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal JDalam uu No. Ketetapan Menteri Dalam Negeri sebagaimana dimaksud menjadi dasar e. menteri teknis. PENETAPAN AlOKAsi dbH sUmbER dAYA AlAm Penetapan Alokasi DBH SDA diatur dalam PP 55 tahun 2005 pasal 27 sebagai berikut: dilaksanakan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. 3.

Jika penentuan proporsi tersebut untuk kabupaten/kota. III-92 26 persen dari Penerimaan Dalam Negeri Neto. Proporsi DAu antara provinsi dan belum dapat dihitung secara kuantitatif.12 Pengaturan terakhir pemerintah mengenai jumlah alokasi DAu ini secara tegas dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. yaitu 10% untuk Provinsi dan 90% TransferkeDaerah .Kebijakan Jumlah Alokasi DAu Berdasarkan undang-undang Nomor 33/2004 gambar 3. maka imbangan alokasi DAu antara provinsi dan kabupaten/kota mengikuti aturan yang lalu. Dalam PP tersebut dinyatakan bahwa alokasi DAu sekurang-kurangnya kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.

3.3.1.2. FOrmula Dau Dalam kerangka unDang-unDang nOmOr 33 tahun 2004 Bentuk umum formula alokasi DAu kepada masing-masing daerah secara formula dapat ditunjukkan pada persamaan berikut ini:

dAU = Ad + Cf
Dimana: AD CF Dimana CF

DAu = Dana Alokasi umum = Celah Fiskal = KbF – KpF (celah fiskal merupakan selisih dari kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal). = Alokasi Dasar

1. Variabel Alokasi Dasar adalah belanja pegawai yang dicerminkan oleh jumlah gaji 3.3.1.3. Variabel Dau PNSD. perairan, Indeks Pembangunan Manusia, Indeks Kemahalan Konstruksi, dan Produk Tahun 2004) SDA.

2. Variabel kebutuhan fiskal terdiri dari jumlah penduduk, luas wilayah darat dan 3. Variabel kapasitas fiskal yang merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal 4. Secara Sistematika Penyusunan Formula DAu dapat digambarkan dalam Gambar 3.13 berikut ini : dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. (sesuai undang-undang Nomor 33

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-93

Formula umum Dana Alokasi umum Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004

gambar 3. 13

Rumusan tentang kebutuhan fiskal (KbF) dapat ditunjukkan sebagai berikut: Dimana: IP IW IPM IKK
III-94

KbF = TBR (α1IP + α2IW + α3IPM + α4IKK + α5iPdRb/kap) TBR = Total Belanja Rata-rata APBD = Indeks luas Wilayah = Indeks Jumlah Penduduk

= Indeks Kemahalan Konstruksi

= Indeks Pembangunan Manusia

TransferkeDaerah

IPDRB/kap = Indek Produk Domestik Regional Bruto per kapita Sementara itu, terkait dengan daerah pemekaran baru, perhitungan alokasi DAu untuk daerah tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.14. gambar 3.14 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran α1, α2, α3, α4, α5 = Bobot dari masing-masing indeks variable α1 + α2 + α3 + α4 + α5 = 100%

Selanjutnya, sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan tersebut, kebijakan dalam pengalokasian DAu tahun 2010 adalah sebagai berikut: dan ditetapkan dengan peraturan presiden.

a. DAu ditetapkan 26 persen dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) Neto yang ditetapkan dalam APBN. Besaran alokasi per daerah sesuai dengan undangundang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005,

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-95

b. Pengalokasian DAu kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAu, kapasitas fiskal (KpF), sedangkan AD dihitung berdasarkan jumlah gaji PNSD. mempertimbangkan formasi PNS dan gaji ke-13.

yaitu DAU dihitung berdasarkan formula atas dasar celah fiskal (CF) dan alokasi dasar (AD). CF suatu daerah merupakan selisih kebutuhan fiskal (KbF) dengan

c. Alokasi dasar mengakomodir kebijakan kenaikan gaji pokok PNS sebesar 5 persen,

d. Variabel kebutuhan fiskal daerah meliputi (i) jumlah penduduk, (ii) luas wilayah, (iii) indeks kemahalan konstruksi, (iv) produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, dan (v) indeks pembangunan manusia (IPM). Sedangkan variabel kapasitas Bagi Hasil Pajak, dan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.

Pada tahun 2010, DAu ditetapkan sebesar Rp203.485,2 miliar, yang terdiri dari: a. DAu Murni Rp192.490,3 miliar; dan b. DAu Tambahan untuk Tunjangan Profesi guru Rp10.994,9 miliar.

fiskal daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD, Dana

untuk mendapatkan alokasi DAu yang ditujukan dalam rangka pemerataan paling optimal, serta jumlah daerah yang mengalami penurunan DAu paling sedikit. Alokasi DAu tahun 2009 dan 2010 dapat dilihat pada Tabel 3.6 berikut ini: Alokasi DAu 2009 dan 2010
Perpres Nomor 74 Tahun 2008 DAU (miliar Rupiah) 186.414,10

kemampuan keuangan antardaerah (equalization grant) digunakan indikator koefisien variasi dan indeks Williamson yang dapat menggambarkan tingkat pemerataan yang Tabel 3. 6

No. 1

Tahun 2009

477 Kab/Kota

33 Provinsi

Jumlah Daerah

III-96

TransferkeDaerah

No.

Tahun

DAU (miliar Rupiah) Perpres Nomor 53 Tahun 2009 PMK Nomor 223 Tahun 2009 Tambahan DAu untuk tunjangan profesi guru 10.994,9 DAu Murni 192.490,3

2

2010

469 kab/kota 33 provinsi

31 Provinsi

Jumlah Daerah

477Kab/Kota

3.3.2. dAU dAERAH PEmEKARAN

Sejak dimulainya implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia telah memberikan warna baru dengan adanya pemekaran daerah baik di tingkat provinsi serta terutama di tingkat kabupaten/kota. Pemekaran daerah memberi wilayah, jumlah penduduk, dan jumlah PNSD. pada daerah yang mengalami pemekaran dialokasikan pada daerah induk sebelum pemekaran, dan dibagi secara proporsional dengan menggunakan 3 variabel luas dampak terhadap jumlah DAu yang diterima oleh daerah pemekaran. Pembagian DAu

3.4. dANA AlOKAsi KHUsUs

Sesuai dengan Pasal 39 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan kepada pemerintah daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah. Sementara itu, Pasal 51 program yang menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan daerah. Dalam tahun 2010, arah kebijakan umum DAK diarahkan untuk: kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-97

1. Diprioritaskan membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat; dalam rangka perluasan akses pelayanan dasar masyarakat miskin;

2. Mendukung prioritas percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin, 3. Mendukung prioritas peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam rangka meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, percepatan penurunan angka kematian ibu dan anak, perbaikan gizi masyarakat dan sembilan tahun yang merata; penduduk di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan, pemantapan revitalisasi program KB, dan peningkatan kualitas wajib belajar pendidikan dasar kapasitas pemerintahan daerah dan kualitas pelayanan publik; pemantapan demokrasi dan kemanan nasional, terutama dalam rangka penguatan dalam rangka peningkatan stabilitas harga dan pengamanan pasokan bahan pokok, bagi peningkatan saya saing sektor riil;

relatif rendah, dalam rangka mendorong pencapaian SPM kepada masyarakat, serta penataan kelembagaan dan pelaksanaan sistem perlindungan sosial, terutama

pengendalian penyakit, peningkatan jaminan pelayanan penduduk miskin dan

4. Mendukung prioritas pemantapan reformasi birokrasi dan hukum, serta 5. Mendukung prioritas penguatan perekonomian domestik yang berdaya saing, yang didukung oleh pembangunan pertanian infrastruktur dan energi, khususnya peningkatan ketahanan pangan, revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan, perluasan akses pelayanan dasar masyarakat miskin, peningkatan pelayanan hidup, khususnya dalam rangka peningkatan pengelolaan sumber daya air, kualitas penataan ruang dan pengelolaan pertanahan.

6. Mendukung prioritas peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan

infrastruktur sesuai standar pelayanan minimal (SPM), dan dukungan infrastruktur

peningkatan rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam, dan peningkatan

III-98

TransferkeDaerah

610.00 968.882. alokasi DAK dari tahun 2009 dan 2010 dapat dilihat pada Tabel 3.000.411.000.231.00 4.100.253.00 562.000.610.402.000.000.010.334.000. untuk mendukung kebijakan 20 persen anggaran pendidikan di APBN.000. serta memperhatikan kemampuan keuangan negara.000.000.916.000.000.548.543.56% -37.000.00 DAK 2009 -29. yaitu DAK Air Minum dan DAK Sanitasi.000.00% III-99 0.840.00% % Prasarana Pemerintahan Kelautan dan Perikanan lingkungan Hidup Keluarga Berencana 1.760.000. pada tahun 2010 terdapat pemisahan bidang DAK.000.000. serta penurunan DAK bidang kesehatan sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya.000.633.00 1.207.370.00 329.00 606.00 329. dan No 2 3 4 5 6 10 11 7 8 9 1 Pendidikan Kesehatan Jalan Irigasi (miliar rupiah) DAK 2009 a.000. Tabel 3. yaitu DAK Air Minum dan Sanitasi yang pada tahun 2009 masih berdiri dalam satu bidang.500.000.800.000.00 9.00 357.223.00 2.00 3.334.000.7 di Dana Alokasi Khusus Tahun 2003-2009 Bidang terjadi pada penurunan DAK di bidang infrastruktur jalan.45% -31.000.000. Kesehatan Rujukan 9.000.100. Penurunan tersebut terutama sanitasi sekitar 37 persen.00 357.882.270.00 351.000.000.000.00 386.000.45% 0.000.00 1.142.00 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 .360.4 miliar.000.00 2.00606.Berdasarkan arah kebijakan DAK tersebut.000.207. DAK Pendidikan ditetapkan sama dengan tahun sebelumnya.00 4.81% -37.000.000. bawah ini.000.000.00 351.77% 3.231. Sementara itu.000.660.00 1.133.170.000.290.000.27% 9.000.56% -34.00 1. DAK tahun 2010 dialokasikan sebesar Rp21. pada tahun 2010 sudah dipisah menjadi 2 bidang.000.00 1.00% 0. yang berarti turun sekitar 15 persen dari tahun sebelumnya.000.00% 0.000.48% -37. air minum.000.000.500.010.000.000.000. Kesehatan Dasar Air Minum Sanitasi Pertanian b. Selain itu.100.000.492.7 Selanjutnya.980.810. irigasi.017.00 2.829.500.

000.00 DAK 2009 250.800.00 DAK 2009 150. dan (4) administrasi pengelolaan DAK.000.588.000.000.00 150. dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.1.No 13 14 12 Kehutanan Jumlah Bidang Sumber : APBN 2010 Sarana dan Prasarana Perdesaan Perdagangan 100.000.000.4.1.500.00 190. Selanjutnya.000. (3) arah dan penggunaan DAK.000. PenetaPan PrOgram Dan kegiatan Sebagaimana disebutkan pada awal bab ini kegiatan khusus yang di danai dari DAK daerah.89% % 3.000.00 24.00 300.00% -14.000.000.1.4. 3. ini. fORmUlAsi KEbijAKAN dANA AlOKAsi KHUsUs Formulasi yang berkaitan dengan alokasi DAK secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 kelompok besar.000.000. Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 menyatakan bahwa Pemerintah (RKP) tahun anggaran bersangkutan. Menteri menteri teknis menyampaikan kegiatan khusus yang telahditetapkan tersebut kepada Mekanisme penetapan program dan kegiatan dapat dilihat pada Gambar 3. merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan sebagaimana tercantum dalam RKP tersebut. Berdasarkan prioritas nasional Keuangan. menteri teknis mengusulkan kegiatan program yang menjadi prioritas nasional dimaksud dimuat dalam Rencana Kerja khusus dan ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri.85% -28.00 107.500.000. yaitu (1) penetapan program dan kegiatan.000.133.000.45% 57.000. (2) penghitungan alokasi DAK.000. Menteri Keuangan.322.382.819.15 berikut III-100 TransferkeDaerah .00 21.

kriteria khusus. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 Sumber: PP Nomor 55 Tahun 2005 III-101 . Penentuan daerah tertentu yang mendapat alokasi DAK harus memenuhi kriteria umum. Penentuan daerah tertentu yang menerima alokasi DAK 2. yaitu: 1. dan kriteria teknis. Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah. kriteria khusus. Penghitungan alOkaSi Dak Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui 2 tahapan.15 3. penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah ditentukan dengan perhitungan indeks berdasarkan kriteria umum.1.2. dan kriteria teknis. Sementara itu.4.Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan gambar 3.

kriteria umum tersebut Kemampuan Keuangan Daerah = Penerimaan Umum APBD – Belanja Pegawai DAu APBD DBH PNSD DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi = Pegawai Negeri Sipil Daerah = Dana Bagi Hasil = Dana Alokasi umum = Pendapatan Asli Daerah = Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah III-102 TransferkeDaerah . Hal tersebut ditujukan untuk meminimumkan tahun-tahun sebelumnya. sekaligus mengoreksi berbagai kebijakan alokasi DAK Sesuai dengan pasal 40 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dinyatakan bahwa alokasi DAK mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD. baik dalam penentuan daerah tertentu maupun terjadinya miss allocation. Dalam bentuk rumus. Hal baru yang terdapat dalam pelaksanaan alokasi DAK 2009 adalah lebih dioptimalkannya kriteria teknis. Kriteria Umum yang mengalami penurunan alokasi. Implikasi dari itu semua adalah adanya beberapa daerah mengalami kenaikan alokasi. Kriteria umum dihitung untuk melihat kemampuan APBD untuk membiayai kebutuhandapat ditunjukkan pada beberapa persamaan di bawah ini: Daerah Penerimaan Umum Belanja Pegawai Daerah Dimana: PAD = PAD + DAU + (DBH – DBHDR) = Belanja PNSD kebutuhan dalam rangka pembangunan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi belanja pegawai. namun di beberapa daerah lainnya justru hendak dicapai.Perhitungan alokasi DAK 2009 tetap berdasarkan pada ketentuan perundangan yang berlaku dengan memperhatikan beberapa perubahan tujuan dan sasaran yang besaran alokasi masing-masing daerah. 1.

Hal ini diterjemahkan bahwa DAK dialokasikan untuk daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada di bawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu). Seluruh daerah (kabupaten/kota) di Provinsi Papua dan daerah tertinggal/ Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-103 . atau dalam memperoleh DAK. Dalam tahun 2009. Dalam hal ini. rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini. perhitungan IFN dilakukan dengan membagi kemampuan keuangan daerah dengan rata-rata nasional kemampuan keuangan daerah. Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah undang-undang yang mengatur tentang kekhususan suatu daerah. kriteria khusus yang dipergunakan dalam perhitungan alokasi DAK 1. terpencil undang-undang otonomi Khusus Papua.Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal neto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun. dapat dijelaskan sebagai berikut. Rata-rata Nasional Kemampuan Kauangan Daerah = Total Kemampuan Keuangan Daerah secara Nasional Jumlah Daerah Selanjutnya. Jika IFN < 1. arah kebijakan umum DAK adalah untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. Seperti Papua akan diprioritaskan mendapatkan DAK. Indeks Fiskal Netto Daerah Z = dengan kata lain daerah tersebut memiliki kemampuan keuangan daerah lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional. Kriteria Khusus Kriteria khusus ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik daerah. Rumus IFN dapat dilihat di bawah ini. Seluruh daerah (kabupaten/kota) di Provinsi Dalam tahun 2009. maka daerah tersebut mendapatkan prioritas Kemampuan Keuangan Daerah Z Rata-rata Nasional Kemampuan Keuangan Daerah 2.

Karakteristik wilayah. c. Jumlah ruang kelas SMP rusak berat h. Kriteria teknis tersebut dicerminkan dengan indikator-indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi sarana-prasarana pada masing-masing bidang/kegiatan yang akan didanai oleh DAK. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup Kegiatan dAK Pendidikan Indikator Teknis untuk bidang pendidikan meliputi : b. b. i. Daerah pesisir dan/ atau kepulauan. d. j. 3. Daerah perbatasan dengan negara lain. l.1. g. Jumlah ruang kelas SMP rusak ringan f. meliputi: a.2. d. 3. Daerah rawan bencana Daerah pariwisata. Angka Partisipasi Kasar (APK) SuP III-104 TransferkeDaerah Jumlah SMP yang belum memiliki perpustakaan Alat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) . Kriteria Teknis Daerah yang masuk kategori ketahanan pangan. Jumlah ruang kelas SD rusak a. Jumlah SD/SlB yang belum memiliki perpustakaan d. dan. Jumlah Sekolah Dasar (SD)/Sekolah luar Biasa (SlB) c. Jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) e. Kriteria teknis dirumuskan oleh kementerian negara/departemen teknis terkait. Jumlah ruang kelas SMP susut Rasio siswa dengan ruang kelas Jumlah ruang kelas SMP rusak sedang k.

kit multimedia. ICT pendidikan. Selanjutnya. Alat olah Raga n. buku referensi. SD/SDlB: Pembangunan perbaikan ruang perpustakaan Perabot pendukung perpustakaan elektronik pendidikan b.m. meliputi: • • • • • • • Adapun ruang lingkup kegiatan DAK Pendidikan dalam tahun 2010 diarahkan juga untuk kegiatan di tingkat SMP. Alat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Indikator teknis ini ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional. Alat Kesenian p. SMP Pengadaan sarana peningkatan mutu pendidikan meliputi alat peraga. dan alat Pembangunan ruang kelas baru BNSP Pembangunan ruang perpustakaan/pusat sumber belajar beserta perabotnya Pemenuhan kebutuhan buku referensi. yaitu alat lab bahasa. buku pengayaan. pengayaan dan panduan sesuai standar Pemenuhan kebutuhanalat-alat peraga dan pembelajaran bagi sekolah yang belum mempunyai alat tersebut. dan alat matematika Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-105 . ruang lingkup kegiatan DAK Pendidikan a. lab IPA. Alat Pembelajaran Matematika o.

b. Alokasi Tahun Sebelumnya. Jenis RS. Indeks Jumlah penduduk. Kelas RS. Indeks Tempat Tidur Kelas III Jenis Menu. c. DAK Kesehatan dibagi menjadi dua. Indeks Instalasi gawat Darurat Rumah Sakit (IgDRS) b. Indikator teknis DAK Kesehatan terdiri dari: 1. Pada DAK Kesehatan untuk obat. Jumlah Tempat Tidur Kelas III. Indikator Pelayanan Kesehatan Dasar: a. Indikator Pelayanan Kesehatan Rujukan 1) 2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 4) 5) 1) 2) Jumlah Tempat Tidur RS. Alokasi Tahun Sebelumnya. Jumlah Tenaga Spog. Jenis Menu. Jumlah Tenaga SpA.2. Indeks Kemiskinan Masyarakat. a. Indeks luas Wilayah. c. Indeks Wilayah Khusus. dan pelayanan kesehatan rujukan. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup Kegiatan dAK Kesehatan Dalam tahun 2010. yaitu sarana pelayanan kesehatan dasar. Bed Occupancy Rate (BoR) kelas III. Indeks Pelayanan obstetri Neo-natal Emergensi Komprehensif (PoNEK) RS III-106 TransferkeDaerah .3. d. pelayanan kesehatan dasar diperuntukkan untuk pelayanan dasar dan pengadaan 2. Jumlah Tempat Tidur RS.

Pembangunan Puskesmas. 3) 4) 5) Indeks PoNEK RS : Bobot uTDRS Pelayanan Darah. Indeks Human Poverty Index (HPI): Data Kemiskinan Masyarakat Emergensi Dasar (PoNED) minimal 4 puskesmas perawatan kab/kota melalui pengadaan alat medis. 6. Pelayanan Rujukan: Peningkatan fasilitas tempat tidur kelas III RS. Jenis Menu. 5. Indeks Jumlah Penduduk : Jumlah Penduduk Indeks Balai latihan Kerja (BlK) Provinsi : Bobot labkes Alokasi Tahun Sebelumnya. 2. Adapun ruang lingkup kegiatannya mencakup : a. 3. 4. dan Pemenuhan peralatan kultur untuk Microbacterium Tuberculosis (M. f. e. Melengkapi puskesmas perawatan mampu Pelayanan obstetri Neo-natal b. 5. Pengadaan pusling perairan dan roda 4. 7. 3. 2. Pembangunan Pos Kesehatan Desa. 1. Pemenuhan peralatan Instalasi gawat Darurat (IgD) RS. Pengadaan obat generik .Tbc) di Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-107 . Pelayanan Dasar: 1. Pembangunan sarana prasarana dan pemenuhan peralatan PoNEK RS. dan Pengadaan roda 2 utk petugas dan bidan desa. BlK Provinsi.d. Puskesmas perawatan. 4. Pengadaan sarana pendukung penyimpanan vaksin/obat di instansi farmasi. g. Pemenuhan peralatan unit Transfusi Darah (uTD) RS.

Bidang Infrastruktur Jalan provinsi. Bidang Infrastruktur Irigasi d. Kondisi Sanitasi. Jumlah Penduduk. c. Adapun ruang lingkup untuk DAK Infrastruktur adalah sebagai berikut: 1. Jumlah Penduduk. peningkatan dan pembangunan jalan III-108 . luas Wilayah.3. jalan kabupaten/kota yang telah menjadi urusan daerah. a. b. luas Daerah Irigasi. c. luas Wilayah. d. b. Jumlah Penduduk Miskin. b. luas Wilayah. Bidang Infrastruktur Sanitasi d. dan Ditujukan untuk pemeliharaan berkala. luas Daerah Irigasi Kondisi Rusak. dan Jumlah Desa Rawan Air Bersih. a. dan 3. TransferkeDaerah luas Kawasan Kumuh Perkotaan. Jumlah Penduduk. luas Wilayah.3. Bidang Infrastruktur Jalan a. dan 4. a. b. c. c. 2. Total Panjang Jalan. Kondisi Jalan. Bidang Infrastruktur Air Minum d. Jumlah Penduduk. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK infrastruktur Indikator teknis DAK untuk infrastruktur meliputi: 1.

dan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-109 . recycle). Ditujukan untuk penyempurnaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) eksisting. dan drainase). b. Saluran Tambak. Penyuluh Perikanan. dan pembangunan jaringan irigasi rumah untuk masyarakat miskin. luas KKlD. perluasan jaringan dan peningkatan melalui pengembangan sistem air limbah komunal. c.2. Pokmaswas. h. Bidang Infrastruktur Irigasi 3. dan drainase). pengembangan Pelayanan Sistem dan layanan Baru (air limbah. persampahan. Kapal Berlabuh. Bidang Infrastruktur Sanitasi Ditujukan untuk peningkatan. d. sambungan pelayanan air limbah untuk masyarakat miskin dan /atau kumuh 3. e. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK Kelautan dan Perikanan Indikator Teknis untuk bidang kelautan dan perikanan mempertimbangkan: a. Bidang Infrastruktur Air Minum 4. unit Pengolah Ikan. i. persampahan. Pasar Ikan. reuse. Produksi Perikanan.4. f. dan dukungan pada kegiatan 3 R (reduce. pembangunan SPAM baru. j. Tenaga Kerja. g. luas lahan Budi Daya. dan perluasan jaringan dan peningkatan sambungan Ditujukan untuk penyempurnaan Sistem dan Pelayanan Eksisting (air limbah. rehabilitasi.

hasil perikanan. dan e. meliputi pembangunan/ III-110 TransferkeDaerah rehabilitasi Jalan usaha Tani (JuT). b. c. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK Pertanian Indikator Teknis untuk bidang pertanian mempertimbangkan: a. Kategori Rawan Pangan. c. lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Jaringan Irigasi Desa .5. luas Penggunaan lahan. optimasi lahan. f. Ruang lingkup kegiatannya meliputi: a. Penyediaan dan rehabilitasi sarpras produksi perikanan budidaya. Jumlah Penyuluh. Kebutuhan lumbung Pangan. jalan produksi. Penyediaan dan rehabilitasi sarpras pengolahan. sarana/alat pengolah kompos. peningkatan mutu dan pemasaran d. Penyediaan dan rehabilitasi sarpras pemberdayaan ekonomi masyarakat di e. serta reklamasi b. konservasi lahan. Penyediaan dan pengadaan sarpras penyuluhan perikanan pesisir dan pulau-pulau kecil yang terkait dengan konservasi dan pengembangan 3. Penyediaan fisik prasarana penyuluhan yang hanya digunakan untuk pembangunan/ rehabilitasi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di tingkat kecamatan. Penyediaan dan rehabilitasi sarpras produksi perikanan tangkap. Penyediaan sarana dan prasarana pengawasan. Kebutuhan Rehab dan Baru BPP. Penyediaan fisik sarana dan prasarana pengelolaan air. b. perikanan. peningkatan rehabilitasi Jaringan Irigasi Tingkat usaha Tani (JITuT). kesuburan tanah. Penyediaan fisik sarana dan prasarana pengelolaan lahan meliputi: pembangunan/ c. d.Ruang lingkup kegiatannya mencakup: a.

Penyediaan lumbung pangan dalam rangka mendukung kelembagaan distribusi pangan masyarakat yang merupakan bagian dari upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. Pengadaan alat pemantau kualitas tanah. perkebunan dan peternakan. untuk tanaman pangan. Panjang sungai. pengadaan laboratorium lingkungan bergerak. Kepadatan penduduk. sumur resapan/biopori. irigasi air permukaan. pembangunan teknologi biogas. alat pembuat asap cair. dan c. dam parit. Pembangunan gedung laboratorium. b. Kelembagaan. Perluasan areal meliputi: cetak sawah. c. Tata Air Mikro (TAM). b. dan alat e. Pengadaan alat pemantauan kualitas udara.d.6. 3. pengadaan sarana dan prasarana pemantauan kualitas air. Pembangunan unit pengolahan sampah (3R). Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-111 . Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK lingkungan Hidup Indikator teknis DAK lingkungan Hidup meliputi: a. dan Ruang lingkup kegiatannya mencakup: pembangunan IPAl komunal. pengadaan papan informasi. Penanaman pohon di sekitar sumber air di luar kawasan hutan. Pengembangan sistem informasi lingkungan untuk memantau kualitas air. pembuat briket arang. pembangunan Taman Hijau. pembangunan d. irigasi tanah dalam. a. d. irigasi tanah dangkal. hortikultura. dan (JIDES). pompanisasi. embung. luas tutupan lahan. dan pengadaan alat pencacah gulma. pembukaan lahan kering/ perluasan areal e.

Jumlah kecamatan. dinas. c.3. mobil pelayanan KB keliling. III-112 TransferkeDaerah . b. c. mobil unit penerangan (MuPEN) KB. Jumlah Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)/Petugas lapangan Keluarga Berencana b. dan d. Ruang lingkup kegiatannya meliputi: b.8. Adapun ruang lingkup kegiatannya mencakup pembangunan/perluasan/rehabilitasi penerima. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK Prasarana Pemerintahan Indikator teknis untuk DAK Prasarana Pemerintahan meliputi: a. dan e. d. Kondisi kantor yang rusak. sarana pelayanan di Klinik KB. dan gedung SKPD lainnya dengan tetap memperhatikan kriteria umum. e. Jumlah desa/kelurahan. Jumlah Pengendali Petugas lapangan Keluarga Berencana (PPlKB).7. luas Prasarana Pemerintahan yang masih dibutuhkan. c. Jumlah SKPD yang belum punya kantor sendiri. Jumlah klinik KB. pengadaan public address dan KIE Kit. Daerah yang pindah ibu kotanya. sepeda motor bagi PKB/PlKB dan PPlKB. d. DPRD. khusus. dan teknis dalam penentuan daerah 3. gedung kantor kepala daerah. a. badan. a. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK Keluarga berencana Indikator teknisnya meliputi: (PlKB).

g. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-113 . luas Hutan Mangrove. pembangunan dan pemeliharaan bangunan sipil teknis (bangunan Konservasi sumur resapan. kawasan b. luas Area Tahura. pengadaan bina keluarga balita (BKB) Kit. rehabilitasi hutan lindung dan lahan kritis di luar kawasan hutan. luas lahan Kritis di luar Kawasan. mangrove. luas Hutan lindung. e. dan e.f. Daerah Penghasil/Jumlah DBH yang Diperoleh. Tahura. dan 3. c. dan Ruang lingkup kegiatannya meliputi: a. dam pengendali. Kelembagaan Penyuluhan Kehutanan. b. a. luas lahan Kritis. pembangunan gudang alokon. pengelolaan Tahura dan Hutan Kota termasuk pengamanan hutan. d. c. (RHl). f. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK Kehutanan Indikator teknis DAK Kehutanan provinsi meliputi: b. luas Wilayah. pemeliharaan tanaman hasil rehabilitasi tahun sebelumnya. dan Indikator teknis DAK Kehutanan kabupaten/kota meliputi: a. c.9. embung dan bangunan konservasi tanah dan air lainnya. peningkatan penyediaan sarana penyuluhan teknis Rehabilitasi Hutan dan lahan Tanah dan Air/KTA) yang meliputi dam penahanan. d. dan Hutan Kota. gully plug. Kelembagaan.

Akses ke Pusat IKK lebih dari atau sama dengan 6 km. Persentase Desa Dataran. d. Persentase luas Kawasan Produksi. Persentase Transportasi Sungai. Persentase Kendaraan Roda 2. Persentase Kendaraan Roda 3/lebih. Persentase Desa Berbukit. j. c. hutan Indikator teknis: km a. Persentase jumlah pasar rusak. dan hutan pantai. g. l. Persentase Pasar Non Permanen. f. Akses ke Pusat IKK kurang dari atau sama dengan 6 km. e.13.10. dan TransferkeDaerah Persentase Transportasi laut Perahu Tidak Bermotor. taman hutan raya. Rehabilitasi lahan Kritis di dalam kawasan hutan lindung. Perdesaan Ruang lingkup kegiatannya diarahkan untuk Pembangunan dan pengembangan pasar 3. . III-114 Persentase Transportasi laut Perahu Bermotor. h. i. Persentase Desa Pesisir Pantai.f. k. b. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK Perdagangan mangrove. Jumlah desa yang tidak memiliki pasar permanen/semi permanen pada jarak < 3 b. tradisional dan pasar penunjang. 3. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup dAK sarana dan Prasarana Indikator teknisnya meliputi: a.

Adapun ruang lingkup kegiatannya diarahkan untuk membiayai pengadaan moda transportasi perintis darat. perhitungan alokasi DAK-nya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. proses pengalokasian DAK 2009 dapat dijelaskan Proses Penentuan Daerah Tertentu Penerima DAK gambar 3. masih digabung dengan induknya.17 di bawah ini. b. Secara administrasi. Penghitungan Dak Daerah Pemekaran untuk daerah pemekaran tahun 2008 dan 2009 sebanyak 14 daerah kabupaten/kota. 3. Kriteria umum dan khusus mengikuti daerah induknya.16 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-115 . Persentase Kendaraan Tidak Bermotor.1. laut dan air/rawa.16 dan 3. penetapan alokasi DAK bagi 14 daerah otonom baru tersebut pada Gambar 3. Dari beberapa penjelasan di atas.3.m. c. Kriteria teknis berdasarkan ketersediaan data teknis.4.

1 di atas daerah tidak memenuhi. Jika daerah tersebut tidak termasuk dalam kriteria khusus pada butir 2 di atas. Jika pada proses no.Proses Penentuan Besaran Alokasi per Daerah gambar 3. Jika suatu daerah memenuhi kriteria umum yang ditunjukkan dengan IFN < 1. terdapat serangkaian proses yang harus dilalui. III-116 daerah tersebut pada proses ini layak mendapat alokasi DAK. yang pertama yaitu apakah daerah tersebut termasuk dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal. tersebut layak memperoleh alokasi DAK. Jika ya.16 di atas. baik dalam alokasi masing-masing daerah.17 Dari gambar 3. maka daerah maka lihat kembali kriteria khusus yang kedua yaitu karakteristik wilayah yang TransferkeDaerah . maka dilihat kriteria khusus 3. menentukan daerah tertentu yang menerima DAK maupun dalam menentukan besaran 1. maka Tahap 1 : menentukan daerah Tertentu Penerima dAK 2.

4. Jika daerah tersebut ternyata masih belum layak untuk mendapatkan DAK pada proses ini, IT digabungkan dengan IFW sehingga menghasilkan IFWT. Jika IFWT > 1, maka daerah tersebut layak mendapat alokasi DAK pada bidang tersebut.

ditunjukkan dengan indeks kewilayahan (IKW). Pada proses ini, IFN dan IKW daerah tersebut layak memperoleh DAK;

digabungkan sehingga menghasilkan IFW. Dalam hal ini apabila IFW > 1, maka

proses nomor 3 di atas, maka dilihat kriteria teknisnya untuk masing-masing bidang yang didanai dari DAK yang dicerminkan dengan indeks teknis (IT). Pada

1. Setelah proses penentuan daerah tertentu dilalui, maka harus dihitung besaran
Tahap 2 : menentukan besaran Alokasi dAK masing-masing daerah

2. IFWT masing-masing daerah dikalikan dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dan menghasilkan Bobot Daerah (BD) untuk masing-masing daerah; sehingga dihasilkan alokasi daerah bersangkutan untuk masing-masing bidang.

alokasi untuk masing-masing bidang dan masing-masing daerahnya (ADB, alokasi daerah dan bidang);

3. Selanjutnya, BD tersebut dikalikan dengan pagu alokasi DAK masing-masing bidang 3.4.1.4. aDminiStraSi PengelOlaan Dak
1. dana Pendamping

untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab daerah dalam pelaksanaan program

yang didanai DAK, daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari nilai DAK yang diterimanya untuk tahun anggaran berjalan. Jika daerah tidak menganggarkan Dana Pendamping, pencairan DAK tidak dapat dilakukan. Dana Pendamping juga dicantumkan dalam pelaksana anggaran sejenis lainnya.

mendanai kegiatan fisik. Dana Pendamping tersebut wajib dianggarkan dalam APBD Rencana Definitif (RD) dan Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA-SKPD) atau dokumen

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-117

untuk daerah dengan kemampuan keuangan tertentu, yaitu selisih antara penerimaan diwajibkan menganggarkan Dana Pendamping.
2. Penganggaran

umum APBD dan Belanja Pegawainya sama dengan 0 (nol) atau negatif maka tidak untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan yang dapat dibiayai dari DAK, Menteri Teknis menetapkan Petunjuk Teknis pelaksanaan kegiatan DAK untuk masing-masing bidang. Jika menteri teknis tidak menerbitkan petunjuk teknis DAK, maka digunakan petunjuk teknis tahun lalu yang diterbitkan oleh menteri teknis terkait.
3. Pemantauan dan Pengawasan

Pemantauan dan pengawasan dari kegiatan yang dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus ini melibatkan tiga hal penting, yaitu pemantauan teknis, pelaksanaan kegiatan dan kewenangan masing-masing.

administrasi keuangan serta penilaian terhadap manfaat kegiatan yang dibiayai

oleh DAK tersebut. Menteri Teknis melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan administrasi keuangan DAK dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan/atau aparat terdapat penyimpangan dan/atau penyalahgunaan, BPK dan/atau aparat pengawas terhadap manfaat pelaksanaan DAK yang melibatkan pihak terkait setempat. pengawasan intern pemerintah daerah. Apabila dalam pemeriksaan tersebut intern pemerintah daerah menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-

pemanfaatan dan teknis pelaksanaan kegiatan yang didanai dari DAK sesuai dengan

undangan yang berlaku. Daerah sendiri melalui tim koordinasi melakukan evaluasi Sementara itu, untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan DAK di daerah dalam kaitannya dengan penyempurnaan kebijakan DAK, telah diterbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Negara Perencanaan
III-118 TransferkeDaerah

Pembangunan Nasional (Bappenas) Nomor 0239/M.PPN/11/2008, SE 1722/

MK.07/2008, 900/3556/SJ Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dilaksanakan antar tingkat pemerintahan. 3.4.1.5. PelaPOran

Dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK). SEB dimaksud lebih banyak

mengatur tata hubungan dalam pelaksanaan pemantauan dan evaluasi DAK yang Kepala daerah penerima DAK wajib menyampaikan laporan triwulan yang memuat belas) hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada:

laporan pelaksanaan kegiatan dan penggunaan DAK selambat-lambatnya 14 (empat

a. Menteri Keuangan cq. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktur b. Menteri Teknis; dan Jenderal Perbendaharaan, dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah.;

dalam lampiran II Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.07/2009. tentang

c. Menteri Dalam Negeri. sebagaimana dimaksud.

Penyaluran DAK dapat ditunda apabila daerah tidak menyampaikan laporan

Menteri Teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan DAK pada akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Menteri Dalam Negeri.

3.5. PENYAlURAN ANGGARAN TRANsfER KE dAERAH

Pasal 6 undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyatakan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, kekuasaan pengelolaan keuangan negara tersebut
Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal
Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-119

diserahkan

daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintahan daerah penganggaran, pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawabannya.

dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hal ini berarti, pemerintah daerah melakukan sendiri pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan,

kepada

gubernur/bupati/walikota

selaku

kepala

pemerintahan

Sejalan dengan amanat undang-undang tersebut, dalam upaya menyempurnakan terkait dengan pengalokasian dana perimbangan dan dana otonomi khusus dan Daerah” menggantikan ”Kelompok Belanja ke Daerah”. Hal ini diatur dalam Peraturan pada tahun 2008, perubahan ini diimplementasikan ke dalam perubahan nomenklatur pula dengan perubahan mendasar dalam pelaksanaan penyalurannya dari kas negara Anggaran Transfer ke Daerah. penyesuaian ke dalam kelompok bagan akun tersendiri yaitu ”Kelompok Transfer ke

bagan akun standar Menteri Keuangan telah mengelompokkan bagan akun yang Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.06/2007 tentang Bagan Akun Standar. Selanjutnya APBN dari sebelumnya ”Belanja ke Daerah” menjadi ”Transfer ke Daerah” dan diikuti ke kas daerah. Pelaksanaan penyaluran ini terakhir diatur dalam Peraturan Menteri Penyaluran angggaran Transfer ke Daerah dilakukan dengan cara pemindahbukuan rekening pada bank sentral atau bank umum untuk menampung penyaluran semua Rekening Kas umum Daerah. Keuangan Nomor 21/PMK.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban

dari rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah. Dalam rangka

penyaluran tersebut, Bendaharawan umum Daerah (BuD) atau Kuasa BuD membuka anggaran Transfer ke Daerah (DBH Pajak, DBH SDA, DAu, dan DAK) dengan nama

III-120

TransferkeDaerah

boks 3.1 Penyempurnaan new Design Kebijakan Penyaluran Transfer ke daerah
Kebijakan pengelolaan transfer ke daerah sejak tahun 2008 telah memakai pola baru, terutama ditandai dengan adanya perubahan nomenklatur Belanja ke Daerah menjadi Transfer ke Daerah dalam struktur APBN 2008, serta perpindahan pengguna anggaran/ kuasa pengguna anggaran (PA/KPA) dari pemerintah daerah menjadi Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Agar pelaksanaan kebijakan tersebut dapat dilaksanakan secara operasional, diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 04/PMK.07/2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. Mengacu pada hasil evaluasi atas pelaksanaan PMK 04/PMK.07/2008 tersebut, serta memperhatikan berbagai masukan yang berkembang di masyarakat, pada tahun 2009 telah ditetapkan PMK Nomor 21/PMK.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. Beberapa hal yang diatur dalam PMK tersebut adalah: (1) Penambahan komponen DBH baru, yaitu DBH Cukai Hasil Tembakau, yang penyalurannya dilakukan per triwulan. Triwulan I s.d. III disalurkan masing-masing sebesar 20 persen, 30 persen, dan 30 persen, sedangkan triwulan IV disalurkan sebesar selisih antara alokasi definitif dengan jumlah dana yang sudah disalurkan selama triwulan I s.d III; (2) DBH PBB/BPHTB ditransfer sesuai realisasi penerimaan PBB/BPHTB secara mingguan; (3) DBH PPh ditransfer per triwulan. Triwulan I s/d III masing-masing sebesar 20 persen, sedangkan triwulan IV adalah selisih alokasi definitif dengan jumlah dana yang sudah disalurkan selama triwulan I s/d III; (4) DBH SDA ditransfer per triwulan sebesar 20 persen untuk triwulan I dan triwulan II, sedangkan triwulan III didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan DBH SDA s.d triwulan III dengan realisasi penyaluran triwulan I dan II. Sementara itu, penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan DBH SDA s.d triwulan IV dengan realisasi penyaluran triwulan I, II, dan III; (5) DAU ditransfer setiap awal bulan sebesar 1/12 dari besaran alokasi per daerah; (6) DAK ditransfer secara bertahap, yaitu tahap-1 sebesar 30 persen untuk daerah yang sudah menyampaikan Perda APBD dan laporan penyerapan penggunaan DAK tahun sebelumnya, serta tahap-2 dan 3 masing-masing sebesar 45 persen dan 25 persen setelah Laporan Penyerapan DAK tahap sebelumnya diterima dan sudah mencapai 90%. (7) Dana Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat, serta Propinsi NAD ditransfer secara triwulan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan menteri keuangan.

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-121

Pelaksanaan atas new design kebijakan penyaluran transfer ke daerah tersebut mempunyai dampak positif, yaitu : (a) mempercepat penyelesaian Perda APBD; (b) mendorong pelaksanaan treasury single account dengan disalurkannya semua dana transfer melalui satu rekening bank yang ditunjuk daerah; (c) mempercepat pelaksanaan kegiatan/pembangunan daerah dengan semakin cepat tersedianya dana; (d) mengurangi sisa anggaran pada akhir tahun dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih awal; (e) mempercepat tersedianya data realisasi transfer; (f) meningkatkan akuntabilitas penyusunan LRA Transfer ke Daerah, dan (g) meningkatkan akurasi sistem informasi keuangan daerah (SIKD).

3.5.1. PENYAlURAN dbH PAjAK
3.5.1.1. Penyaluran Dana bagi haSil PPh Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh mengacu pada Pasal 19 PMK No.04/ PMK.07/2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. berjalan. • • • a. Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan berdasarkan b. Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan secara triwulanan, dengan rincian sebagai berikut : Penyaluran triwulan I sampai dengan triwulan III masing-masing sebesar 20 persen (dua puluh persen) dari alokasi sementara; triwulan III. Penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pembagian definitif dengan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan I sampai dengan Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran triwulan I sampai penyaluran tahun anggaran berikutnya. dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara lebih besar prognosa realisasi penerimaan PPh WPoPDN dan PPh Pasal 21 tahun anggaran

daripada alokasi definitif, maka kelebihan dimaksud diperhitungkan dalam

III-122

TransferkeDaerah

Penyaluran DBH BPHTB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan BPHTB b.a. Penyaluran DBH PBB bagian daerah dilaksanakan secara mingguan. anggaran berjalan.2. Penyaluran Dana bagi haSil Pbb Transfer ke Daerah. bulan agustus. yaitu bulan april.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah yaitu: tahun anggaran berjalan.1. Penyaluran Dana bagi haSil bPhtb Penyaluran DBH BPHTB didasarkan pada Pasal 17. Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan sebagai insentif kepada f. secara mingguan (setiap Jum’at). PMK No. seluruh kabupaten dan kota dilaksanakan dalam tiga tahap. dan bulan november tahun anggaran berjalan. untuk Dana Bagi Hasil BPHTB bagian daerah penyaluran BPHTB dilaksanakan c. bulan Nomor 21/PMK. dilaksanakan dalam bulan November tahun anggaran berjalan. Penyaluran Biaya Pemungutan PBB bagian daerah dilaksanakan secara bulanan kabupaten dan kota yang realisasi penerimaan PBB sector pedesaan dan perkotaan 3.5. dan bulan november tahun anggaran berjalan. agustus. yaitu bulan april. Penyaluran DBH PBB didasarkan pada Pasal 17. Peraturan Menteri Keuangan 3.5. a.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran d.21/PMK. Penyaluran DBH BPHTB bagian pemerintah yang dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota dilaksanakan dalam tiga tahap. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-123 .1. Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan secara merata kepada e. pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.3. b. Penyaluran DBH PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun c.

dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. II. disadari masih terdapat hal-hal yang belum tertampung untuk mengoptimalkan upaya pengawasan dan pengendalian serta memberdayakan peranan cukai sebagai salah satu sumber penerimaan negara sehingga diperlukan adanya penyempurnaan kebijakan yang disesuaikan dengan perkembangan sosial ekonomi nasional dan kebijakan Pemerintah lainnya. sosialisasi ketentuan di bidang cukai. Salah satu ruang lingkup perubahan UU tersebut adalah mengenai pengaturan tambahan komponen DBH. yang diatur dalam Pasal 66A sampai dengan Pasal 66D. terdapat komponen utama.5. pembinaan industri.3. dilaksanakan setelah Ditjen Perimbangan Keuangan menerima laporan realisasi pelaksanaan DBH CHT semester I. Penyaluran Dana bagi haSil Cukai haSil tembakau (Cht) Penyaluran DBH CHT didasarkan pada Pasal 20. boks 3. Hal tersebut didasarkan pada sifat dan karakteristik dari pungutan cukai yang tidak dikenakan secara langsung.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah yaitu: a. c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK. Triwulan IV sebesar selisih antara alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I. Triwulan III sebesar 30 persen dari alokasi sementara. Dalam hal ini penggunaan CHT bersifat limitatif.” Dalam ketentuan tersebut. pada tanggal 15 Agustus 2007 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Triwulan I sebesar 20 persen dari alokasi sementara. Dalam UU tersebut menyatakan bahwa “Penerimaan Negara dari Cukai Hasil Tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil Cukai Hasil Tembakau sebesar 2 (dua) persen yang digunakan untuk mendanai peningkatan kualitas bahan baku. sehingga yang memperoleh DBH CHT adalah daerah provinsi dimana pabrik hasil tembakau berada. dan III. Triwulan II sebesar 30 persen dari alokasi sementara. yaitu provinsi penghasil Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan provinsi penghasil tembakau sebagai hasil pertanian atau tembakau sebagai produk primer.4.2 dbH CUKAi HAsil TEmbAKAU Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.1. d. b. pembinaan lingkungan sosial. III-124 TransferkeDaerah . Untuk itu. yaitu DBH Cukai Hasil Tembakau kepada Pemerintah Daerah.

Berdasarkan surat permintaan tersebut. c. Triwulan IV berdasarkan (perhitungan perkiraan realisasi penerimaan negara e. triwulan IV). yaitu: b.5. Triwulan II sebesar 20 persen dari pagu di PMK-nya. sampai dengan triwulan III) – (penyaluran s. Berdasarkan DIPA tersebut. sejalan dengan hasil peninjauan undang-undang cukai berdasarkan amar putusan mahkamah konstitusi. pola penyaluran DBH SDA dilaksanakan secara triwulanan. (perhitungan perkiraan realisasi penerimaan negara sampai dengan triwulan d. Dirjen Perbendaharaan menerbitkan DIPA Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 III-125 .d. 3. triwulan III) perkiraan realisasi penerimaan negara sampai dengan triwulan IV) – (penyaluran (penyaluran triwulan I dan II (40 persen PMK)) + (lebih salur tahun Penyaluran DBH SDA Migas dari rekening kas negara ke rekening kas pemerintah daerah penerima DBH SDA Migas. dapat disampaikan bahwa pengalokasian DBH CHT untuk provinsi penghasil tembakau dapat dipenuhi paling lambat Tahun Anggaran 2010.2. Triwulan III berdasarkan: • • II) sebelumnya). a. Direktur Dana Perimbangan sebagai KPA mengajukan SPM Migas ke Direktur PKN – DJPBN. Migas untuk Dirjen PK. b. Dirjen PK mengajukan Surat Permintaan Penerbitan DIPA Migas ke Dirjen c. Secara umum. Penyaluran rampung tahun sebelumnya (bulan Februari) berdasarkan (perhitungan Proses Penyaluran s. Triwulan I sebesar 20 persen dari pagu di PMK-nya. Proses penyaluran tersebut sebagai berikut: Perbendaharan.Selanjutnya. PENYAlURAN dbH sUmbER dAYA AlAm a.d.

Format Penyaluran DBH SDA Migas

gambar 3.18

d. Berdasarkan SPM Migas tersebut, Direktur PKN – DJPBN menerbitkan SP2D. Selanjutnya, alur perhitungan dan penyaluran DBH Migas dapat dilihat pada Gambar 3.19. penyaluran ini. Bila sebelumnya semua dokumen dilaksanakan untuk setiap triwulan, sebagai berikut: Berdasarkan SP2D tersebut, BI mentransfer dana dari rekening kas negara ke rekening kas pemda provinsi/kabupaten/kota

Sementara itu, sejak tahun 2008 diberlakukan sedikit perubahan dalam proses maka mulai tahun 2008 proses permintaan dan penerbitan DIPA dilaksanakan hanya satu kali di awal tahun. Jadi hanya ada satu DIPA untuk setiap tahunnya. Prosesnya 1. Di awal tahun:

III-126

TransferkeDaerah

Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas

gambar 3.19

2. Setiap Penyaluran: a. c. b.

b.

a. Berdasarkan PMK Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas, Dirjen PK mengajukan Surat Permintaan Penerbitan DIPA Migas ke Dirjen Perbendaharan. DIPA Migas untuk satu tahun anggaran.

Berdasarkan surat permintaan tersebut, Dirjen Perbendaharan menerbitkan Berdasarkan DIPA dan Berita Acara Rekonsiliasi, Direktur Dana Perimbangan Berdasarkan SPM Migas tersebut, Direktur PKN – DJPBN menerbitkan SP2D. rekening kas pemda provinsi/kabupaten/kota sebagai KPA mengajukan SPM Migas ke Direktur PKN – DJPBN.

Dengan demikian proses penyaluran dapat dilaksanakan dengan lebih cepat, karena penyaluran setiap triwulannya tidak lagi melalui proses permintaan dan penerbitan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan SP2D tersebut, BI mentransfer dana dari rekening kas negara ke

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal

Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-127

Mekanisme Penyaluran (2008)

gambar 3.20

3.5.3. PENYAlURAN dAU

Sampai dengan tahun 2007 penyaluran DAu dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan umum Negara (BuN) membuat DIPA dan menyampaikannya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Selanjutnya, kepala daerah atau setempat untuk penyaluran DAu setiap bulan. pejabat yang ditunjuk menerbitkan SPM dan menyampaikannya kepada KPPN

melalui KPPN setempat. Kepala daerah bertindak selaku KPA dari Bendaharawan

Sesuai dengan peraturan menteri keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggung-

jawaban Anggaran Transfer ke Daerah, mulai tahun 2008 Dirjen Perimbangan masing daerah. Dalam rangka penyaluran tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan SPM setiap bulan dan menyampaikannya kepada Kuasa BuN (KPPN Jakarta II - DJPB).
III-128 TransferkeDaerah

Keuangan bertindak selaku KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya

kepada Dirjen Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Penyaluran DAu dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 dari besaran alokasi masing-

3.5.4. PENYAlURAN dAK

Sampai dengan tahun 2007 penyaluran DAK dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Selanjutnya, kepala daerah atau setempat untuk penyaluran DAK setiap tahapnya.

melalui KPPN setempat. Kepala Daerah bertindak selaku KPA dari Bendaharawan umum Negara (BuN) membuat DIPA dan menyampaikannya kepada Kanwil Ditjen pejabat yang ditunjuk menerbitkan SPM dan menyampaikannya kepada KPPN

Seiring dengan perubahan yang disebutkan di atas, mulai tahun 2008 penyaluran daerah. Berdasarkan peraturan menteri keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, Dirjen Perimbangan Keuangan Dirjen Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan SPM yang terbagi dalam 3 tahap yaitu; • • • Keuangan,

DAK dilaksanakan langsung melalui Kuasa BuN (KPPN Jakarta II - DJPB) dengan cara memindahbukukan dari rekening kas umum negara ke rekening kas umum Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Dalam rangka menyalurkan DAK, APBD, laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya, dan ditunjuk sebagai KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Dirjen Tahap I sebesar 30 persen dari alokasi, dilaksanakan setelah Perda mengenai Surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping diterima oleh Dirjen Perimbangan oleh Dirjen Perimbangan Keuangan, dan oleh Dirjen Perimbangan Keuangan. Tahap II sebesar 45 persen dari alokasi, dilaksanakan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap I diterima Tahap III sebesar 25 persen dari alokasi, dilaksanakan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap II diterima

Sesuai dengan PMK, pelaksanaan penyaluran secara bertahap tersebut tidak dapat dilakukan sekaligus dan tidak boleh melampaui tahun anggaran berjalan.
Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal
Pelengkap Buku Pegangan 2010

III-129

bAb iV Pinjaman, Hibah, dan investasi daerah

IV-132 Pinjaman.danInvestasiDaerah .Hibah.

pemerintah Koordinasi yang efektif dalam pelaksanaan pembangunan nasional ini diharapkan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah mengatur bahwa dalam rangka penyelenggaraan asas desentralisasi dan untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan dengan tegas bahwa memberikan pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintah daerah atau sebaliknya. Kondisi ini menimbulkan konsekuensi kebutuhan akan keselarasan pelaksanaan pembangunan diantara masing-masing tingkat pemerintahan maupun antar tingkat pemerintahan yang sama. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal pemerintah pusat memberikan sumber-sumber penerimaan kepada pemerintah Pinjaman Daerah.bAb iV PiNjAmAN. daerah sejalan dengan kewenangan yang telah diserahkan. PENdAHUlUAN Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal memberikan kewajiban kepada pemerintah pusat untuk mendistribusikan pendanaan yang memadai bagi pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk dapat mengelola pembangunan di daerah dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Dana Perimbangan. dan Hibah Daerah. yang antara lain terdiri dari Pendapatan Asli Daerah. akan sinergi yang optimal antara pusat dan daerah dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. daerah. Hal ini sejalan dengan undang-undang Nomor selain berkewajiban mengalokasikan dana perimbangan. dAN iNVEsTAsi dAERAH 4.1. pemerintah pusat dapat Pengalokasian dana perimbangan dan pemberian pinjaman dan/atau hibah ini Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-133 . Di sisi lain. HibAH.

termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya. Investasi manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pinjaman dan/atau hibah oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau proporsional. Kedua peraturan perundang-undangan di atas secara tegas menjelaskan pelaksanaan sebaliknya merupakan wujud pelaksanaan hubungan keuangan antara pemerintah dalam kerangka negara kesatuan.danInvestasiDaerah dimana pemerintah (pusat dan daerah) dapat melakukan pemberian pinjaman. sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan Selain itu. pemerintah pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. penerimaan pinjaman daerah yang diteruskan kepada perusahaan daerah. adil. dan kebutuhan daerah. Pemberian pusat dan pemerintah daerah yang merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pemerataan antardaerah secara serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut. hibah. dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas otonomi daerah dan penyediaan pelayanan daerah juga dapat melakukan investasi jangka pendek dan jangka panjang. kondisi.dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.Hibah. undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 pada Pasal 24 mengatur bahwa hubungan keuangan antara pemerintah pusat. dan transparan dengan memperhatikan potensi. serta dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan pembangunan. pemerintah daerah dan perusahaan daerah. untuk lingkup pemerintah . yang mencakup pembagian keuangan antara kebijakan pinjaman daerah dan hibah daerah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan asas desentralisasi dan otonomi daerah. yang dilakukan harus menghasilkan manfaat ekonomis seperti bunga. untuk melaksanakan amanat undang-undang Dasar 1945 pada Pasal 18 umum. pendapatan hibah dan/atau dan/atau penyertaan modal kepada perusahaan daerah. IV-134 Pinjaman. dananya dapat bersumber dari dana APBD murni. demokratis. daerah. royalti. dividen. Terkait dengan hal tersebut.

Dalam teori pengelolaan keuangan. risiko perubahan tingkat suku bunga. Namun. maka pemerintah daerah seharusnya memiliki visi seoptimal mungkin untuk dapat melayani masyarakat dengan baik. dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah juga telah mengatur dan mendorong pemerintah daerah untuk dapat melakukan kegiatan investasi daerah. mengingat pinjaman daerah mempunyai konsekuensi berupa pengembalian pinjaman yang kembali. risiko pembiayaan pinjaman daerah harus dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-135 . Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan uang Negara/ Daerah. 4. kerja sama dengan pihak swasta. yang memiliki nilai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan uang “masa datang”. akan terjadi pada masa yang akan datang dan adanya risiko pinjaman berupa risiko kesinambungan fiskal. yang jauh ke depan untuk dapat mengelola potensi yang ada agar dapat dimanfaatkan defisit. maka pengelolaan (prudent management). risiko operasional. defisit dapat direncanakan dalam rangka Dengan prinsip tersebut di atas. Pinjaman daerah terjadi karena APBD mengalami investasi untuk dapat mengambil manfaat dengan melakukan pinjaman dengan prinsip memanfaatkan uang “sekarang”. PiNjAmAN dAERAH Pinjaman daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima merupakan salah satu instrumen pembiayaan pembangunan daerah dalam rangka sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. seperti penyertaan modal perusahaan daerah. dan risiko perubahan nilai tukar. Pinjaman daerah memberikan pelayanan publik.2. dan pembelian surat berharga dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan mengembangkan perekonomian daerah.Pemerintah pusat melalui berbagai peraturan perundang-undangan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

dan Batas Maksimal Kumulatif Pemerintah Pusat. maka tahapan yang dilakukan dalam proses perencanaan adalah sebagai berikut: sebagai alternatif pembiayaan untuk menutup defisit APBD yang bersangkutan.2. untuk tahun anggaran 2009.Bab ini menjelaskan ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan pinjaman daerah. dan Publikasi Informasi obligasi Daerah. Daerah dari Pemerintah yang Dananya bersumber dari Pinjaman luar Negeri. Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.010/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Pertanggungjawaban.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. Batas Maksimal Defisit Anggaran Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2010.Hibah.1.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya Dengan Pinjaman Daerah Dari 4. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 129/PMK.danInvestasiDaerah Nomor 123/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.07/2008 tentang Batas Maksimal Jumlah Kumulatif Defisit Daerah. PERENCANAAN PiNjAmAN dAERAH Pemerintah daerah melakukan pinjaman daerah jangka menengah dan panjang dan panjang. Keuangan Nomor 138/PMK. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja IV-136 Pinjaman. Dalam hal pemerintah daerah merencanakan untuk melakukan pinjaman jangka menengah 1) Pemerintah daerah menetapkan jumlah defisit APBD sepanjang memenuhi persyaratan batas maksimal defisit APBD masing-masing daerah setiap tahunnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya. Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan Belanja Daerah masing- .07/2009 tentang Batas Maksimal Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Peraturan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK. sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Peraturan Menteri Pendapatan Belanja Daerah masing-masing Daerah.

Batas maksimal Defisit APBD masing-masing daerah sebagaimana dimaksud pada butir c adalah defisit yang dibiayai dari pinjaman. setelah mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan (tiga koma lima persen) dari perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2009. dengan pertimbangan Menteri Dalam Negeri. diatur sebagai berikut: 2009.masing Daerah. dan pinjaman daerah. Anggaran 2009 ditetapkan sebesar 2.35% (nol koma tiga puluh lima persen) dari proyeksi PDB yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009. didasarkan pada – – g. proyeksi PDB tahun 2009 yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Batas maksimal kumulatif pinjaman daerah sampai dengan Tahun Anggaran Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-137 . Batas maksimal kumulatif defisit APBD sebagaimana dimaksud dalam butir Pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai defisit APBD dilaksanakan sesuai dengan persyaratan peraturan perundang-undangan mengenai 2009 ditetapkan sebesar 0. dimaksud pada butir c.5% d. Persetujuan Menteri Keuangan dimaksud pada butir e. Defisit APBD suatu daerah dapat melebihi batas maksimal sebagaimana f. ditetapkan sebesar 0. dari proyeksi PDB yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran e. ketentuan sebagai berikut : b tidak terlampaui.25% (dua koma dua puluh lima persen) a. Batas maksimal jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD untuk Tahun b. Batas maksimal Defisit APBD masing-masing daerah ditetapkan sebesar 3.35% (nol koma tiga puluh lima persen) dari Anggaran 2009. dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2009. Batas maksimal jumlah kumulatif Defisit APBD untuk Tahun Anggaran 2009 c.

Hibah. atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah. untuk menutup Defisit APBD. yang Bab ini. c.h. dan sumber pinjaman daerah yang akan dilakukan.danInvestasiDaerah . defisit APBD dapat ditutup dengan sumber-sumber penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak direalisasikan pada tahun anggaran yang bersangkutan. Penerimaan kembali pemberian pinjaman. Berdasarkan peraturan pembiayaan sebagai berikut: a. uang pihak ketiga yang belum diselesaikan. Pencairan dana cadangan.1 berikut ini: IV-138 Pinjaman. mencakup sisa dana untuk mendanai kegiatan lanjutan. e. dan/atau Penerimaan pinjaman. dan pelampauan target pendapatan daerah. b. Sisa lebih Perhitungan Anggaran (SilPA) daerah tahun anggaran sebelumnya. Besaran jumlah pinjaman masing-masing daerah disesuaikan dengan perundang-undangan. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. dapat berupa hasil kemampuan keuangan daerah dan setelah memenuhi persyaratan pinjaman daerah. 2) Penentuan jenis pembiayaan untuk menutup defisit APBD. termasuk penerbitan obligasi daerah yang akan 3) Dalam hal pemerintah daerah memutuskan untuk melakukan pinjaman daerah meneliti pemenuhan persyaratan untuk dapat melakukan pinjaman daerah. maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah akan dijelaskan lebih rinci pada bagian tentang persyaratan pinjaman daerah dalam 4) langkah selanjutnya dari perencanaan pinjaman daerah adalah penentuan jenis Secara umum proses perencanaan pembiayaan daerah dilakukan sesuai bagan alur (flow chart) dalam Gambar 4. yang akan dijelaskan lebih terinci pada bagian tentang sumber dan jenis pinjaman daerah dalam Bab ini. ketiga. d.

1) Pemerintah yang dananya berasal dari pendapatan APBN dan/atau pengadaan 2) Pemerintah daerah lain.2.1 4. dan pinjaman Pemerintah dari dalam maupun luar negeri. sUmbER PiNjAmAN adalah sebagai berikut: Alternatif sumber-sumber pinjaman yang dapat dipilih oleh pemerintah daerah.Proses Perencanaan Pinjaman Daerah gambar 4.2. 4) lembaga Keuangan Bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-139 . 3) lembaga Keuangan Bank yang berbadan Hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah negara Indonesia. tempat kedudukan dalam wilayah negara Indonesia.

komitmen. pinjaman daerah dapat dikategorikan dalam pinjaman jangka pendek. Pinjaman jangka pendek dipergunakan hanya untuk 2) Pinjaman jangka menengah komitmen. Pinjaman jangka pendek tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. penjelasan setiap jenis pinjaman tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut: 1) Pinjaman jangka Pendek Pinjaman jangka pendek merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. atau jasa dimaksud diterima. yaitu berupa obligasi Daerah yang diterbitkan melalui penawaran 4. Secara detail.5) Masyarakat. asuransi. dan denda) harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan penerimaan. dan biaya lain (termasuk biaya administrasi.Hibah. misalnya pelunasan kewajiban atas pengadaan/pembelian barang dan/atau jasa tidak dilakukan pada saat barang dan/ menutup kekurangan arus kas. Berdasarkan waktunya.2. jangka menengah. IV-140 Pinjaman.danInvestasiDaerah . dan biaya lain (termasuk biaya administrasi.3. provisi. asuransi. jENis PiNjAmAN dAERAH umum kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri. Pinjaman jangka menengah dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. bunga. dan jangka panjang. bunga. anggaran yang bersangkutan. dan denda) seluruhnya harus dilunasi dalam tahun Pinjaman jangka menengah merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih provisi. sisa masa jabatan Kepala Daerah yang bersangkutan.

daerah.5. dan biaya lain (seperti: biaya administrasi. dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan.2. Penjelasan persyaratan tersebut dapat dijelaskan berikut ini: Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal IV-141 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . 5) Tidak melebihi Batas Defisit APBD dan Batas Kumulatif Pinjaman Daerah yang 4. komitmen.07/2008). Pinjaman daerah dapat dilaksanakan dengan berpedoman pada 3) Pendapatan Daerah dan/atau aset daerah tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman 4) Proyek yang dibiayai dari obligasi Daerah beserta barang milik daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi Daerah.4. Pinjaman jangka panjang satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi asuransi. transaksi obligasi Daerah di Pasar Modal Domestik.2. dan denda) harus dilunasi pada tahun-tahun berikutnya sesuai dengan 4.3) Pinjaman jangka Panjang Pinjaman jangka panjang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari pokok pinjaman. dalam hal pinjaman langsung kepada pihak luar negeri yang terjadi karena kegiatan desentralisasi. telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku (untuk Tahun Anggaran 2009 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. provisi. 123/PMK. PERsYARATAN PiNjAmAN Persyaratan pinjaman secara garis besar dapat dibagi berdasarkan jenis pinjaman daerah. bunga. PRiNsiP-PRiNsiP UmUm PiNjAmAN dAERAH prinsip-prinsip umum sebagai berikut: Pinjaman Daerah adalah salah satu sumber pembiayaan daerah dalam pelaksanaan 1) Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri kecuali 2) Pemda tidak dapat melakukan penjaminan terhadap pinjaman pihak lain.

2) Pinjaman jangka menengah dan jangka Panjang mendesak dan tidak dapat ditunda.5 (dua koma lima). Dana Darurat. Jumlah sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak tahun sebelumnya.danInvestasiDaerah IV-142 . dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: • • • dibayar. sebelumnya melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD Jumlah sisa Pinjaman Daerah adalah jumlah pinjaman lama yang belum tahun yang bersangkutan. Jumlah pinjaman yang akan ditarik adalah rencana pencairan dana pinjaman Penerimaan umum APBD tahun sebelumnya adalah seluruh penerimaan APBD penerimaan lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tidak termasuk Dana Alokasi Khusus. dana pinjaman lama. dengan rumus sebagai berikut: Pinjaman.Hibah.1) Pinjaman jangka Pendek Persyaratan yang dipenuhi bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman jangka pendek adalah sebagai berikut: APBD tahun bersangkutan. dan b. Kegiatan yang akan dibiayai dari pinjaman jangka pendek telah dianggarkan dalam b. Kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan kegiatan yang bersifat c. Persyaratan lainnya yang dipersyaratkan oleh calon pemberi pinjaman. tertentu. a. Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DSCR) paling sedikit 2. Persyaratan bagi Pemerintah Daerah untuk dapat melakukan pinjaman jangka menengah dan panjang adalah sebagai berikut: a. Pinjaman < 75% Penerimaan Umum TA. jml.

bersangkutan. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang dananya bersumber dari Pinjaman luar 2. asuransi. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang dananya bersumber selain dari Pinjaman luar Negeri.2. komitmen. = Dana Bagi Hasil. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-143 . dan modal kepada Badan usaha Milik Daerah (BuMD). 1. Mendapatkan persetujuan dari DPRD.Keterangan: DSCR PAD DBH DAu BW P B dsCR = (PAd + (dbH-dbHdR) + dAU) – bW P + b + bl > 2. = Belanja Wajib.5 DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi. dan c.6. = Debt Service Coverage Ratio. Persetujuan DPRD termasuk dalam hal pinjaman tersebut diteruspinjamkan dan/atau diteruskan sebagai penyertaan 4. yaitu belanja pegawai dan belanja DPRD dalam tahun = Bunga pinjaman yang jatuh tempo pada tahun anggaran bersangkutan. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman. yaitu: Negeri. = Dana Alokasi umum. denda) yang jatuh tempo pada tahun anggaran bersangkutan = Angsuran pokok pinjaman yang jatuh tempo pada tahun anggaran = Biaya lainnya (biaya administrasi. PROsEdUR PiNjAmAN dAERAH Prosedur pinjaman daerah dapat dibedakan berdasarkan sumbernya. Bl d. = Pendapatan Asli Daerah. anggaran bersangkutan. provisi.

Pengajuan usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Pinjaman/Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat. 2/2006 dan Peraturan Menteri PPN/Bappenas No.1.2. 4.Hibah. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari kedua Peraturan Pemerintah di atas. yaitu: Peraturan Negeri. dengan proses yang lebih rinci sebagai berikut: IV-144 Pinjaman.1.danInvestasiDaerah . Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat Prosedur penerusan pinjaman luar negeri dimulai dengan prosedur pengadaan Pinjaman luar Negeri oleh Pemerintah Pusat yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. Pinjaman Daerah dari sumber Selain Pemerintah baik pinjaman jangka pendek maupun pinjaman jangka panjang. 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Hibah luar Negeri yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang mengatur proses lebih lanjut penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam 4.3. dan Peraturan Menteri Keuangan bentuk pinjaman.6. Pinjaman Daerah Dari Pemerintah yang Dananya berSumber Dari Pinjaman luar negeri Saat ini prosedur yang berlaku untuk pemerintah daerah melakukan pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah yang dananya berasal dari penerusan pinjaman luar negeri mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah No.1. 53/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Menteri PPN/Kepala Bappenas No.6. No.2. 54/2005 tentang Pinjaman Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 2/2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pemerintah telah menetapkan paket peraturan setingkat menteri. 005/2006. Pinjaman ini dapat dilakukan sepanjang tidak melampaui batas kumulatif Pinjaman Pemerintah dan Pemda.

Meneg PPN/Kepala Bappenas menilai kelayakan kegiatan. yang ditujukan untuk menghilangkan dominasi pemberi pinjaman (lender driven) Rencana Pinjaman/Hibah luar Negeri Jangka Menengah (DRPHlN-JM). Kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam DRPHlN-JM diproses lebih lanjut untuk meningkatkan kesiapan pelaksanaan kegiatan. untuk membuat lending Program. Kerangka Acuan Kerja. untuk usulan BuMN. Kementerian Negara/lembaga. berkoordinasi dengan Menkeu. 4).1. Surat persetujuan pemerintah daerah dan DPRD yang bersangkutan untuk dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman/Hibah luar Negeri (DRPPHlN) yang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal IV-145 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . RKPlN disebutnya juga dengan istilah borrowing strategy. usulan 3). dan BuMN menyampaikan usulan proyek untuk masuk ke dalam Daftar Daftar Isian Pengusulan Kegiatan. luar negeri dan strateginya dalam rangka pengelolaan keuangan yang memegang dalam perencanaan pinjaman yang selama ini terjadi menuju Indonesian driven. d. Hasil Studi Kelayakan. Meneg PPN/Kepala Bappenas bersama Menteri Keuangan membuat Rancangan kepada Presiden untuk mendapatkan penetapan dalam bentuk Peraturan Presiden. telah memenuhi kelayakan kesiapan kegiatan (readiness criteria) akan dicantumkan usulan Pemda dan/atau Surat persetujuan Direksi BuMN dan Menteri BuMN. Kementerian PPN/Bappenas akan melakukan sinkronisasi pendanaan bersama Departemen Keuangan. Berdasarkan RKPlN yang telah disusun. Rencana Kebutuhan Pinjaman luar Negeri (RKPlN). DRPHlN-JM yang telah disusun disampaikan kepada calon PHlN sebagai acuan 5). Kegiatan yang disampaikan berisi: a. Dalam rangka penyusunan DRPHlN-JM. untuk selanjutnya disampaikan Rencana Kebutuhan Pinjaman luar Negeri adalah rencana pengadaan pinjaman prinsip kehati-hatian. Dalam penilaian atas usulan kegiatan pemerintah daerah. untuk selanjutnya kegiatan yang akan diterbitkan setiap tahunnya oleh Meneg PPN/Kepala Bappenas. 2. pemerintah daerah. b. c.

Berdasarkan penetapan alokasi pinjaman.2. kepada Meneg PPN/Kepala Bappenas serta Menkeu untuk selanjutnya Meneg PPN/ Kepala Bappenas serta penilaian atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman. Kementerian Negara/lembaga/Pemda/BuMN pengusul melaksanakan persiapan untuk mendapatkan komitmen pendanaan. Berdasarkan Daftar Kegiatan yang disampaikan oleh Meneg PPN/ 8). maka prosedur pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri termasuk yang akan diteruskan kepada pemerintah daerah/BuMN. Berdasarkan DRPPHlN. calon PPHlN menyampaikan indikasi komitmen pendanaan atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman untuk menetapkan alokasi pinjaman. adalah sebagaimana tercantum dalam Gambar 4. pinjaman serta melakukan konfirmasi penerusan pinjaman dengan menyampaikan usulan kegiatan kepada Menkeu untuk menetapkan alokasi pinjaman. Menkeu mengajukan usulan kepada calon PPHlN Berdasarkan uraian di atas. Kepala Bappenas menyusun Daftar Kegiatan. Menkeu menetapkan alokasi pinjaman.Hibah. dan Menkeu melakukan penilaian diteruskan kepada Pemda/BuMN. Berdasarkan Daftar Kegiatan yang telah disusun oleh Meneg PPN/Kepala Bappenas. Dalam rangka menyusun DRPPHlN. IV-146 Pinjaman.danInvestasiDaerah . Menteri Keuangan menyampaikan masukan berupa indikasi kemampuan keuangan Pemda dan BuMN untuk kegiatan PlN yang akan diteruskan.6). Berdasarkan permintaan dari Meneg PPN/Kepala 7). Meneg PPN/Kepala Bappenas meminta informasi kemampuan keuangan Pemda/BuMN untuk kegiatan PlN yang akan Bappenas.

53/2006 merupakan proses yang lebih terinci sebagai berikut: terkait dengan prosedur pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri. Prosedur Penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada Pemerintah daerah dalam bentuk Pinjaman Prosedur penerusan Pinjaman luar Negeri kepada daerah dalam bentuk pinjaman yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.1.2 4. Menteri Keuangan akan menyampaikan surat kepada pemerintah daerah agar dokumen rencana pinjaman yang terdiri dari: a. dengan proses yang 1.6. Prosesnya dimulai setelah daftar kegiatan disampaikan dari Meneg PPN/ Kepala Bappenas kepada Menteri Keuangan. Berdasarkan Daftar Kegiatan. dengan melampirkan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-147 . Studi kelayakan kegiatan. menyampaikan rencana pinjaman kepada Menteri Keuangan.2.2.Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri gambar 4.

Menteri penilaian atas dokumen rencana pinjaman. d. g. dan pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak. e. (ii) (iii) Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman tersebut (iv) Dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil untuk 2. f. dan Rencana Pembiayaan Kegiatan (financing plan) secara keseluruhan. Tidak memiliki tunggakan atas pinjaman yang sedang berjalan. Penilaian kelengkapan dokumen rencana pinjaman dilakukan selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya Keuangan akan melakukan penelitian kelengkapan dokumen rencana pinjaman dan Pinjaman. Keuangan akan memberikan jawaban atas kekurangan atau telah terpenuhinya berkas dokumen rencana pinjaman. Surat persetujuan DPRD berupa persetujuan prinsip yang diberikan oleh kewajiban pembayaran kembali pinjaman (proyeksi DSCR) serta asumsi yang Perhitungan proyeksi APBD selama jangka waktu pinjaman termasuk h. i. Dalam rangka penilaian kelengkapan dokumen rencana pinjaman.Hibah. terakhir. Menteri kelengkapan dokumen. dalam APBD setiap tahun selama masa pinjaman. komisi di DPRD yang menangani bidang keuangan.b. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tiga tahun APBD tahun bersangkutan. perhitungan DSCR yang mencerminkan kemampuan daerah dalam memenuhi digunakan selama jangka waktu pinjaman yang akan diusulkan. (i) telah dilakukan. IV-148 3.danInvestasiDaerah . Rencana Kegiatan Rinci. Data kewajiban yang masih harus dibayar setiap tahunnya dari pinjaman yang Surat Pernyataan Pemerintah Daerah. Berdasarkan dokumen rencana pinjaman yang telah disampaikan. yang berisi tentang: Menyediakan dana pendamping. c.

Menteri Keuangan meminta aspek-aspek diluar perencanaan dan keuangan. Plafond pinjaman. Berdasarkan komitmen pendanaan dari calon PPlN. maka rencana pinjaman dapat diproses lebih lanjut tanpa menunggu pertimbangan Mendagri. b. Bunga pinjaman. Dalam hal Menteri Keuangan menetapkan penolakan atas rencana pinjaman. 7. e. Pelengkap Buku Pegangan 2010 . Berdasarkan DRPD. Berdasarkan hasil penilaian. dan Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman tersebut dalam Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal IV-149 Menyediakan dana pendamping. Penilaian oleh Menteri Keuangan dilakukan selambatsecara lengkap. (PPlN) untuk mendapatkan komitmen pendanaan. Jangka waktu pinjaman. Biaya komitmen. f. Pertimbangan Menteri Dalam Negeri diberikan ditentukan. d. Dalam hal pertimbangan Mendagri tidak diberikan dalam batas waktu yang telah selambat-lambatnya dalam 10 (sepuluh) hari kerja setelah diterimanya dokumen 6. pemerintah daerah menyampaikan Surat paripurna DPRD kepada Menteri Keuangan. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan. Menteri Keuangan menerbitkan Daftar Rencana Pinjaman Daerah (DRPD) untuk disampaikan kepada Pemerintah Daerah pengusul. Menteri Keuangan menetapkan persetujuan atau lambatnya 40 (empat puluh) hari kerja setelah dokumen rencana pinjaman diterima penolakan atas rencana pinjaman.4. c. 5. Keputusan DPRD tentang persetujuan Pinjaman yang dihasilkan dari rapat selanjutnya dilakukan koordinasi dengan calon Pemberi Pinjaman luar Negeri APBD setiap tahun selama masa pinjaman. yang meliputi aspek politik dan rencana pinjaman yang dinyatakan lengkap. pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri atas rencana pinjaman untuk administrasi pemerintah daerah. yang memuat hal-hal sebagai berikut: a. Menteri Keuangan menyampaikan surat kepada pemerintah daerah pengusul. Dalam rangka melaksanakan penilaian tersebut.

Hasil perundingan akan menjadi acuan dalam Naskah Perjanjian IV-150 Pinjaman. Kesiapan konsep pengelolaan proyek/petunjuk pengelolaan/administrasi Pembentukan dan penempatan personalia unit Manajemen Proyek (Project 9. Management unit/PMu) dan unit Pelaksana Proyek (Project Implementation unit/PIu). e. dan proyek/memorandum (yang berisi cakupan organisasi dan kerangka acuan kerjanya. dan auditing). Keuangan yang keanggotaannya terdiri atas unsur-unsur Departemen Keuangan. disbursement. dan instansi terkait lainnya. yang mencakup: a.danInvestasiDaerah . NPPlN ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa dalam 40 (empat puluh) hari kerja Menteri Keuangan menerbitkan surat daerah pengusul. b. Pengadaan tanah dan/atau resettlement telah dilaksanakan. b. Kesediaan dipotong DAu dan/atau DBH untuk pembayaran angsuran pinjaman d. c. laboran. APBD. dan Persyaratan pinjaman. Jumlah. selambat-lambatnya persetujuan pinjaman yang memuat: a. anggaran. 10. termasuk pemerintah Pinjaman luar Negeri (NPPlN). Perundingan dilakulkan oleh Tim Perunding yang ditetapkan oleh Menteri Kementerian PPN/Bappenas. dan pengaturan tentang pengadaan. Alokasi Dana Pendamping untuk pelaksanaan kegiatan tahun pertama dalam g. Peruntukan.Hibah. yang tertunggak. dengan PPlN. Kesiapan indikator kinerja monitoring dan evaluasi. Berdasarkan NPPlN yang telah ditandatangani. Perundingan dengan calon PPlN dilakukan setelah diterbitkannya DRPD dan pemerintah daerah memenuhi kriteria kesiapan kegiatan. c.8. seperti data dasar.

penggunaan dana. pembayaran kembali. penarikan dana. b.3 11. Persyaratan pinjaman dalam NPPlN menjadi acuan dalam menetapkan persyaratan pinjaman dalam Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman (NPPP). pelaporan dan perkembangan fisik dan keuangan. persyaratan pinjaman. IV-151 . memuat sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut: a. g. f. e. h. d. peruntukan. sumber dan jumlah dana. dan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 monitoring dan evaluasi. NPPP ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa dengan Kepala Daerah.Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending) gambar 4. c.

i.6. Pinjaman. pemerintah daerah melaksanakan proses penarikan pinjaman serta pelaksanaan kegiatan. Pemerintah Daerah mengajukan usulan pinjaman daerah kepada Menteri Keuangan Studi Kelayakan Kegiatan yang akan dibiayai dari pinjaman daerah. prosedur pinjaman daerah dari Pemerintah yang dananya berasal dari pendapatan dalam negeri harus melewati tahapan antara lain sebagai berikut: dengan melampirkan dokumen sekurang-kurangnya sebagai berikut: a. PrOSeDur Pinjaman Daerah Dari Pemerintah yang Dananya beraSal Dari PenDaPatan Dalam negeri Prosedur pinjaman daerah dari Pemerintah yang dananya berasal dari Pendapatan Dalam Negeri saat ini dikelola oleh Menteri Keuangan melalui Rekening Pembangunan Gambar 4.12. Berdasarkan NPPP. b. Prosedur pinjaman daerah tersebut secara sistematis dapat ditunjukkan pada Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber dari Pemerintah Dari Gambar 4.4 berikut ini: gambar 4. Prosedur penerusan Pinjaman luar Negeri kepada pemerintah daerah dalam 4.3.4 Daerah. 1.2. sanksi. bentuk Pinjaman secara sitematis dapat digambarkan sebagaimana Gambar 4.4.2.Hibah.danInvestasiDaerah IV-152 . Persetujuan DPRD.

Dokumen lain yang diperlukan.3. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan. disampaikan. yaitu prosedur Calon pemberi pinjaman memberikan penilaian terhadap proposal tersebut penerima pinjaman.5 berikut ini: Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-153 . Menteri Keuangan dapat memberikan persetujuan atau penolakan atas usulan pinjaman. Penjelasan secara detil adalah sebagai berikut: 1. Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menandatangani perjanjian pinjaman. c.6. 4. Pinjaman jangka pendek: a. Pemda mengajukan proposal kepada calon pemberi pinjaman besar terbagi dua. Pinjaman jangka menengah dan panjang. Menteri Keuangan melakukan penilaian atas usulan pinjaman yang telah 3. b. Berdasarkan hasil penilaian. pinjaman yang ditandatangani oleh Kepala Daerah dan Pemberi pinjaman dengan memperhatikan persyaratan yang paling menguntungkan Pemda Jika disetujui.2. PrOSeDur Pinjaman Daerah Dari Selain Pemerintah Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari Selain Pemerintah secara garis pinjaman jangka pendek serta prosedur pinjaman jangka menengah dan panjang. Prosedur pinjaman jangka menengah dan panjang yang bersumber dari selain Pemerintah dapat ditunjukkan pada Gambar 4. Kepala Daerah dengan Menteri 4. pinjaman daerah jangka pendek dilakukan melalui perjanjian 2.2. c. yang dibedakan menurut lamanya masa pinjaman.

APBD tahun yang bersangkutan. Menteri Dalam Negeri memberikan pertimbangan dalam rangka pemantauan defisit APBD dan batas kumulatif pinjaman daerah. IV-154 Pinjaman. 2.Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber Selain dari Pemerintah gambar 4. maka terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan Menteri Negeri tersebut.5 Tahapan dari prosedur sesuai dengan gambar 4. Surat Persetujuan DPRD.5 di atas adalah sebagai berikut: dokumen: • • • • • 1. Calon pemberi pinjaman melakukan penilaian terhadap proposal tersebut. Dalam hal defisit APBD suatu daerah melebihi batas maksimal defisit APBD masing4. Proyeksi DSCR. masing daerah. Rencana Keuangan (Financing Plan) pinjaman yang akan diusulkan. Pemda mengajukan proposal pinjaman berdasarkan pertimbangan Menteri Dalam 5.danInvestasiDaerah .Hibah. dan 3. Pemda wajib melaporkan rencana pinjaman yang bersumber dari selain Pemerintah kepada Menteri Dalam Negeri dengan menyampaikan sekurang-kurangnya Kerangka acuan proyek. Keuangan.

Seluruh kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam 2. PEmbAYARAN KEmbAli PiNjAmAN Pengaturan tentang pembayaran kembali pinjaman daerah diatur sebagai berikut: APBD tahun anggaran yang bersangkutan. Dalam hal daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Pemerintah. berkaitan dengan kapasitas Pemerintah Daerah unsur utama yang perlu diperhatikan khusus dalam kaitannya dengan obligasi daerah yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus terlebih dahulu mendapatkan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal dalam menerbitkan Obligasi Daerah. Terdapat dua Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 1. tidak akan dijelaskan dalam bagian lain dalam Bab ini. Jika disetujui. 7. Penerbitan obligasi ini dimaksudkan untuk Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-155 . Untuk melindungi fiskal daerah.54/2005 tentang Pinjaman Daerah. berlaku untuk pinjaman daerah yang bersumber dari masyarakat dalam bentuk obligasi Daerah. ObliGAsi dAERAH Dalam undang-undang No. pemerintah persetujuan dari Menteri Keuangan.7. kewajiban membayar pinjaman tersebut diperhitungkan dengan DAu dan/atau Dana Bagi Hasil dari penerimaan negara yang menjadi hak daerah 4. Dalam Negeri. tersebut. pinjaman daerah dilakukan melalui perjanjian pinjaman yang ditandatangani oleh Kepala Daerah dan pemberi pinjaman.8. Prosedur obligasi Daerah diatur dengan mekanisme tersendiri dan 4.2. obligasi Daerah diartikan sebagai pinjaman daerah yang Daerah. Perjanjian pinjaman tersebut wajib dilaporkan ke Menteri Keuangan dan Menteri Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari selain Pemerintah di atas. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal.6. unsur yang pertama adalah.2.

Transaksi jual beli obligasi Daerah mengikuti peraturan pasar modal lainnya. Jika obligasi Daerah telah diterbitkan dan telah dinyatakan efektif oleh Badan Pengawas mekanisme di pasar modal. bukan dalam .danInvestasiDaerah dana investasi. Hal ini dimaksudkan untuk melihat layak sehingga benar-benar dapat menghasilkan penerimaan. menghasilkan penerimaan. prosedur yang perlu diikuti memenuhi prinsip keterbukaan di pasar modal. maka obligasi Daerah telah siap telah diatur sedemikian rupa melalui berbagai Keputusan Kepala Bapepam-lK dan perjanjian pemberian obligasi Daerah. Pihak yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus untuk memberikan informasi lengkap mengenai prospek obligasi Daerah untuk (emiten) memiliki utang terhadap pemegang obligasi dan emiten berkewajiban untuk Pasar Modal lembaga Keuangan (Bapepam-lK). dimana penerbit obligasi membayar pokok obligasi beserta bunganya pada waktu yang telah ditetapkan dalam (satu) tahun. dan akan dikelola pada pasar modal domestik. Berkaitan dengan hal ini. untuk diperjualbelikan di pasar modal. dan pemerintah daerah kota) untuk mendapatkan mata uang asing.Hibah. Pada prinsipnya. Jangka waktu obligasi Daerah lebih dari 1 obligasi Daerah dikeluarkan oleh pemerintah daerah (pemerintah daerah provinsi. obligasi Daerah ini diterbitkan dalam mata uang rupiah. diharapkan pendapatan yang didapat dibayarkan pada saat jatuh tempo. perlu diadakan langkah-langkah dari proyek yang dibiayai obligasi Daerah dapat menutup pokok dan bunga yang harus kemungkinan apakah komponen-komponen dari proyek yang dimaksud di sini telah unsur yang kedua adalah mengenai penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal. Dalam prakteknya obligasi Daerah dianggap sebagai efek yang bersifat utang. IV-156 Pinjaman.membiayai proyek-proyek yang dapat memberikan manfaat kepada publik dan penilaian atas proyek yang akan dibiayai tersebut. Prinsip keterbukaan dimaksudkan menarik minat investor. pemerintah daerah kabupaten. oleh karena itu. obligasi Daerah merupakan efek yang bersifat utang.

obligasi dilunasi sesuai dengan nilai nominalnya. Dengan menerbitkan obligasi Daerah. Suku bunga biasanya sudah ditentukan. oleh karena itu. yang artinya bunga dibayarkan 2 (dua) kali dalam setahun Dalam obligasi. jumlah bunga obligasi merupakan surat utang yang dikeluarkan oleh emiten sehingga pemegang obligasi adalah pemberi pinjaman kepada emiten. dimana biasanya pemberi pinjaman adalah bank. pemegang obligasi. manfaat. dapat disesuaikan. obligasi memiliki jangka waktu yang pasti. yang telah dibayarkan adalah sama dalam tiap tahunnya sampai pembayaran pokok adalah semi-tahunan.Secara khusus. bunga yang terhutang pada neraca pinjaman. si peminjam menjadi emiten dan pemberi pinjaman menjadi tunggal pada akhir jangka waktu yang telah ditentukan. obligasi memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan pinjaman. dimana pada saat itu obligasi dibayarkan kembali. tetapi diberikan dalam bentuk surat berharga. Kebanyakan obligasi pada pokok obligasi. Kadangkala. pemerintah daerah juga dimungkinkan proyek infrastruktur. Melalui obligasi. dimana suku bunganya biasanya dibayarkan pada jumlah yang sama. Pokok obligasi itu sendiri dibayarkan dalam bentuk pembayaran obligasi lunas. pemerintah daerah dapat memperoleh pembiayaan bagi Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-157 . Pada akhir jangka waktu. Peminjam membayar kembali pokok Pembayaran biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun. Pokok pinjaman dapat dibayarkan pada jumlah yang sama. pemerintah daerah akan mendapatkan banyak proyek-proyek yang memberikan manfaat kepada publik. Pinjaman diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima pinjaman. Mekanisme yang ada di pasar modal memungkinkan lebih banyak pihak yang terlibat untuk memberikan pinjaman dalam bentuk obligasi karena Diantaranya. pokok dan bunga pinjaman obligasi juga merupakan pinjaman. dengan dan bunga pinjaman kepada yang meminjamkan sampai batas waktu pinjaman. khususnya untuk proyekmelibatkan masyarakat luas.

mengikuti ketentuan perundang-undangan di bidang Pasar Modal. maka proyek tersebut harus benar-benar matang dan layak.Hibah. Dengan ketentuan ini maka pemerintah daerah misalnya dengan kurs dollar atau harga emas. Dengan hanya jenis obligasi Pendapatan (Revenue Bond). obligasi Daerah merupakan pinjaman pemerintah daerah dan tidak dijamin oleh 3. dalam tahapan sebelum mendapat Namun demikian. Nilai obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal obligasi Daerah pada saat diterbitkan. Pemerintah.2. maka obligasi Daerah yang diterbitkan pemerintah daerah 5.1. Pemerintah daerah dapat menerbitkan obligasi Daerah hanya untuk membiayai Kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi urusan pemerintah daerah.untuk mendapatkan pinjaman dari investor asing. yang telah diatur dalam 2.8. oleh karena itu. yang ditawarkan di pasar modal. pemerintah daerah harus benar-benar memberikan kepastian bahwa obligasi tersebut akan dibayarkan kembali pada saat jatuh tempo. untuk menarik minat para investor agar membeli obligasi Daerah persetujuan dari menteri keuangan. 4. Pinjaman. Mengingat bahwa obligasi Daerah dipergunakan untuk proyek yang memberikan yang terdaftar di Bapepam-lK sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. dilarang menerbitkan obligasi Daerah dengan jenis index bond yaitu obligasi Daerah yang nilai jatuh temponya dinilai dengan index tertentu dari nilai nominal.danInvestasiDaerah ketentuan tersebut. Penerbitan obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar modal domestik dan 4. manfaat kepada publik dan menghasilkan penerimaan. mengingat pinjaman langsung luar negeri bukan melalui obligasi Daerah tidak diperkenankan bagi pemerintah daerah. PrinSiP umum peraturan perundangan-undangan. Pengaturan lebih lanjut mengenai penerbitan obligasi Daerah di Pasar Modal IV-158 . 1. Studi Kelayakan harus dibuat oleh lembaga penilai Prinsip umum mengenai penerbitan obligasi Daerah. antara lain sebagai berikut: dalam mata uang Rupiah.

penilaian.6.2. 4. c) pengajuan penyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum di Pasar gambar 4. PrOSeDur Penerbitan Daerah.Selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.6. diatur lebih lanjut tentang perencanaan.2.8. secara sistematis dapat dilihat dalam gambar Proses Penerbitan obligasi Daerah Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-159 . Modal. Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi obligasi Secara garis besar prosedur penerbitan obligasi Daerah dapat dibagi berdasarkan a) perencanaan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah. dan persetujuan Menteri Keuangan.07/2006 4. Prosedur penerbitan obligasi Daerah. pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum. b) pengajuan. prosedur: tentang Tatacara Penerbitan.

Pengajuan Usulan.Hibah. Perencanaan Obligasi daerah oleh Pemerintah daerah hal-hal sebagai berikut: a. dan biaya lainnya yang timbul sebagai akibat IV-160 Pinjaman. penerbitan obligasi. c. c. d.2. b.2. e. kompeten. b. Kepala Daerah menyampaikan usulan penerbitan obligasi Daerah kepada Menteri Keuangan c. 2.8. melakukan persiapan penerbitan obligasi Daerah yang sekurang-kurangya meliputi menyiapkan studi kelayakan yang dibuat oleh pihak yang independen dan d. membuat proyeksi keuangan dan perhitungan kemampuan pembayaran nilai bersih maksimal obligasi Daerah. Kepala Daerah melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ditunjuk menentukan kegiatan. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan dilengkapi dokumen sebagai berikut: a. Persetujuan prinsip DPRD meliputi: a.q. memantau batas kumulatif pinjaman serta posisi kumulatif pinjaman mengajukan permohonan persetujuan prinsip kepada DPRD. 1.1. f.7 berikut ini: Keuangan 4. Penilaian dan Persetujuan menteri 1. dan kembali obligasi Daerah. jumlah dan nilai nominal obligasi yang akan diterbitkan. Secara sistematis prosedur persiapan penerbitan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah dapat digambarkan dalam Gambar 4. pembayaran pokok.2.danInvestasiDaerah . kupon.4. Studi kelayakan kegiatan. penggunaan dana.2. daerahnya.8.2. membuat kerangka acuan kegiatan.

Menteri Keuangan memberikan persetujuan/ pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. dan Perda APBD tahun yang bersangkutan dan Perda Perhitungan APBD 3 (tiga) Surat persetujuan prinsip DPRD.Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah gambar 4. penolakan atas rencana penerbitan obligasi Daerah dengan memperhatikan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal IV-161 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . 2. c. Berdasarkan hasil penilaian tersebut. 3. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan penilaian atas dokumen rencana penerbitan obligasi Daerah selambat-lambatnya obligasi Daerah dinyatakan lengkap. tahun terakhir.q. Perhitungan DSCR. Kerangka acuan kegiatan. dalam waktu 20 (dua puluh) hari kerja setelah dokumen rencana penerbitan d. e. Menteri Keuangan c.7 b.

Kepala Daerah . sesuai daerah harus menyampaikan pernyataan pendaftaran dengan melengkapi dokumen IV-162 Pinjaman.danInvestasiDaerah dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.8 pernyataan pendaftaran penawaran umum kepada Bapepam-lK. dan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana telah diuraikan di atas. penilaian. dapat digambarkan dalam bagan alur pada Gambar 4.2. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan. Kepala Daerah menyampaikan Prosedur pengajuan. pemerintah yang dipersyaratkan kepada Bapepam-lK – Departemen Keuangan.3. 4. Penilaian dan Persetujuan gambar 4.8.Hibah.4.2. Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum di Pasar modal Dalam rangka pelaksanaan penawaran umum obligasi Daerah di Pasar Modal.8 berikut ini: Penerbitan obligasi Daerah oleh Menkeu Pengajuan.

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal 1. maka Perda harus memuat jadwal penerbitan tahunan obligasi Daerah. 6.3. Perda harus memuat ketentuan mengenai aset yang akan dijaminkan. penggunaan dana obligasi Daerah. nilai nominal. dan 5. yang meliputi: pengendalian risiko. Pelunasan pada saat jatuh tempo. 5. Perencanaan dan penetapan struktur portfolio pinjaman daerah. PengelOlaan ObligaSi Daerah keterbukaan (adequate disclosure) sebagai persyaratan penawaran umum di pasar modal. Perda tentang Penerbitan obligasi Daerah memuat ketentuan mengenai: 1.8. diperlukan pengelolaan 2. Pembelian kembali obligasi Daerah sebelum jatuh tempo.wajib menyampaikan Perda tentang Penerbitan obligasi Daerah kepada Bapepam-lK sebelum pernyataan efektif obligasi Daerah. 4. 3. Dalam hal obligasi Daerah yang akan diterbitkan membutuhkan jaminan. Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi Daerah termasuk kebijakan Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-163 . 2. mengembalikan pokok dan bunga obligasi daerah. 4. Penawaran umum obligasi Daerah dapat dilakukan setelah Bapepam-lK Setelah diterbitkannya obligasi daerah. Penerbitan obligasi Daerah. Dalam hal obligasi Daerah akan diterbitkan dalam beberapa tahun anggaran. Penjualan obligasi Daerah melalui lelang. pemerintah daerah berkewajiban untuk obligasi Daerah yang baik. 3. 4. maka Bapepam-lK selanjutnya akan melakukan penelahaan terhadap kecukupan mengeluarkan pernyataan efektif penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal.2. Dalam rangka memenuhi kewajiban untuk pengembalian pokok dan bunga obligasi Daerah. jumlah.

terutama pada masa konstruksi. diperlakukan sebagai pelunasan kembali atas obligasi Daerah tersebut atau disimpan Pokok dibayarkan pada saat obligasi daerah jatuh tempo.8.7. Alokasi dana cadangan dialokasikan setiap untuk melunasi kewajiban pembayaran pokok obligasi daerah.2. maka hak-hak yang melekat pada obligasi Daerah batal demi hukum. 4.Hibah. bunga dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pengelolaan obligasi Daerah dilakukan oleh Kepala Daerah dengan menunjuk satuan kerja yang akan melaksanakannya. Pada prinsipnya. dengan besaran yang dibagi rata per tahunnya.3. Pertanggungjawaban. pembayaran kembali obligasi daerah bersumber dari penerimaan kegiatan investasi belum menghasilkan penerimaan. Pada keadaan ini. tahun hingga obligasi daerah tersebut jatuh tempo.3. pembayaran Khusus untuk pembayaran pokok.1.8.2. Pembelian kembali Obligasi daerah sebelum jatuh Pembelian kembali obligasi Daerah oleh pemerintah daerah sebagai emiten dapat untuk dapat dijual kembali (treasury bonds). ada kalanya.danInvestasiDaerah . sementara bunga dibayarkan kegiatan investasi. harus dibentuk suatu dana cadangan dalam rekening khusus yang dananya tidak dapat digunakan untuk kepentingan lain selain pembayaran kupon obligasi daerah. Pelunasan pada saat jatuh tempo setiap jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian obligasi daerah. Dalam hal diperlakukan sebagai treasury bonds. Hal ini memudahkan pemerintah daerah untuk mengontrol arus kas sehingga dapat menjamin bahwa pada saat jatuh tempo pemerintah daerah sanggup IV-164 Pinjaman.2. Namun demikian. tempo 4.

3.2.4. Pertanggungjawaban Kepala Daerah wajib membuat pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi Daerah dan dana obligasi Daerah sesuai dengan rencana penerbitan obligasi Daerah. 3. yaitu: 1.8. Pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi daerah. 1.8. dan melaporkan: 2. dan bunga. pelunasan. 4. pemerintah daerah 2. Dana hasil penjualan obligasi Daerah ditempatkan pada rekening tersendiri yang 2. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-165 . Terdapat dua hal yang perlu dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah berkaitan dengan penerbitan obligasi daerah. Pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi daerah. pembelian kembali.4. Keterangan tentang portofolio obligasi daerah. Dana hasil penjualan obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan yang telah direncanakan yang merupakan kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. laporan transaksi obligasi daerah di pasar modal yang mencakup penawaran umum. dan denda obligasi Daerah.3. pembayaran bunga dan biaya lain. Dalam pertanggungjawaban pengelolaan obligasi daerah. 1. Pertanggungjawaban ini disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari pertanggungjawaban APBD.2. Posisi obligasi daerah.3. 3. serta kegiatan lain yang terkait dengan pengelolaan obligasi daerah. Penatausahaan dan Penggunaan dana Obligasi daerah penjualan obligasi daerah sebagai berikut: Pemerintah telah mengatur tentang penatausahaan dan penggunaan dana hasil ditatausahakan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Penerimaan dari investasi sektor publik diprioritaskan untuk membayar pokok. pertukaran.

8. Publikasi informasi secara berkala tersebut meliputi: yang meliputi perkiraan jumlah dan jadwal waktu penerbitan.4. serta laporan-laporan yang bersifat material.4. dan tingkat bunga.2. pemerintah 7. laporan keuangan pemerintah daerah.undangan di bidang Pasar Modal. struktur jatuh tempo 3.Hibah. 9. IV-166 Pinjaman. 4. 5. PublikaSi inFOrmaSi Kepala daerah wajib mempublikasikan secara berkala mengenai data obligasi Daerah dan/atau informasi lainnya berdasarkan peraturan perundang . laporan keuangan kegiatan yang meliputi penggunaan dana dari obligasi daerah resiko. daerah melaporkan: 6. Dalam pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi daerah. Alokasi angaran dan realisasinya. Kewajiban publikasi data dan/atau informasi lainnya yang diwajibkan berdasarkan Publikasi data dan informasi mengenai obligasi Daerah dilakukan oleh satuan kerja mengenai obligasi Daerah setelah mendapat persetujuan tertulis dari Kepala Daerah. Jumlah obligasi Daerah yang beredar beserta komposisinya. 1. Realisasi strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk pengendalian 5.danInvestasiDaerah yang ditunjuk untuk mengelola obligasi Daerah.8. dan peraturan perundang-undangan di Pasar Modal. alokasi dana cadangan. laporan penggunaan dana yang diperoleh melalui penerbitan obligasi Daerah. laporan alokasi dana cadangan. dan 4. Pihak lain yang terkait dengan pengelolaan obligasi Daerah hanya dapat melakukan publikasi data dan informasi . Kebijakan pengelolaan pinjaman daerah dan rencana penerbitan obligasi Daerah 2. Perkembangan pelaksanaan kegiatan investasi. dan dana hasil penerimaan kegiatan.

maka semua penerimaan dan kewajiban dalam rangka Pinjaman Daerah harus dicantumkan dalam APBD dan dibukukan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. 3. 2. dilakukan untuk melihat indikasi adanya Jenderal Perimbangan Keuangan kepada Menteri Keuangan. setiap perjanjian pinjaman yang dilakukan oleh Daerah merupakan dokumen publik yang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-167 . PElAPORAN PiNjAmAN dAERAH untuk melaksanakan tertib anggaran. penyimpangan dan/atau ketidaksesuaian antara rencana penerbitan obligasi Daerah dengan realisasinya.8. dan penggunaan dana dan pembayaran kupon dan/atau pokok obligasi Daerah setiap 3 (tiga) bulan kepada Menteri Keuangan.q. Selain itu. dan temu obligasi Daerah. Pemantauan Dan eValuaSi Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk wajib menyampaikan laporan penerbitan.2. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dapat merekomendasikan kepada Ketua Bapepam-lK untuk menghentikan 4.Pelaksanaan publikasi antara lain dilakukan melalui seminar.5.2. Kinerja pelaksanaan kegiatan. Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas: 1. penerbitan obligasi Daerah. publik atau melalui media cetak dan media elektronik terutama situs internet (website) yang dimiliki dan dikelola oleh satuan kerja yang ditunjuk untuk mengelola 4. Penerbitan obligasi Daerah. termasuk obligasi Daerah. Pemantauan dan evaluasi tersebut di atas. PelaPOran. Hasil pemantauan dan evaluasi tersebut dilaporkan oleh Direktur Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi dimaksud. lokakarya. Dirjen Perimbangan 4. Realisasi pembayaran kupon dan/atau Pokok obligasi Daerah.9. Penggunaan dana obligasi Daerah. Menteri Keuangan c.

1. Jika daerah tidak menyampaikan laporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban 3. maka Menteri Keuangan akan melakukan akan mengenakan sanksi berupa penundaan atas penyaluran Dana Perimbangan. 2.10. dapat dikenakan sanksi seperti yang pemotongan DAu dan/atau Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah tersebut. Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan dilihat dalam Boks No 4. maka Menteri Keuangan maka Menteri Keuangan akan melaksanakan pemotongan DAu dan/atau Dana Bagi untuk pengaturan lebih lanjut mengenai tata cara pemotongan DAu dan/atau DBH Menteri Keuangan No.diumumkan dalam lembaran Daerah sehingga dapat diakses oleh publik. maka pemerintah daerah yang tidak memenuhi kewajibannya. Hasil yang menjadi hak daerah tersebut. pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri agar penatausahaan Pinjaman Daerah dapat berjalan dengan baik. 4. sANKsi PiNjAmAN dAERAH dijelaskan berikut ini: Berkaitan dengan kewajiban yang muncul dari pinjaman daerah.2. Jika daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Pemerintah.1 di bawah ini.Hibah. sebagaimana dimaksud di atas. Jika daerah melakukan pinjaman langsung dari sumber luar negeri yang bukan karena kegiatan transaksi obligasi Daerah.danInvestasiDaerah .07/2008. Penjelasan mengenai PMK tersebut dapat IV-168 Pinjaman.129/PMK.

1 Pemotongan dana Alokasi Umum (dAU) dan/atau dana bagi Hasil (dbH) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.5) 20% x (DAU + DBH) 15% x (DAU + DBH) 10% x (DAU + DBH) Besaran Potongan Jika besaran maksimum pemotongan DAU dan/atau DBH per tahun lebih kecil dari jumlah tunggakan. Pemerintah Pusat dapat memotong DAU dan/atau DBH Pemerintah Daerah (Pemda) apabila Pemda memiliki tunggakan atas pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. surat kuasa Pemda kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Transfer ke Daerah untuk memotong DAU dan/ atau DBH. akan tetapi pemotongan per tahun tidak melebihi besaran maksimum pemotongan DAU dan/atau DBH per tahun yang dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah bersangkutan. 2.boks No 4. Besaran pemotongan DAU dan/atau DBH dihitung sebesar jumlah tunggakan. surat pernyataan Pemda bersedia dipotong DAU dan/atau DBH secara langsung. Pemotongan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran tunggakan.07/2008. besaran maksimum pemotongan DAU dan/atau DBH per tahun akan dihitung kembali dengan menggunakan data kapasitas fiskal dan jumlah DAU dan DBH yang dialokasikan untuk Pemda bersangkutan pada tahun anggaran berkenaan. Pemotongan DAU dan/atau DBH sebagaimana dimaksud dalam PMK dilakukan setelah terpenuhinya persyaratan adanya dokumen sebagai berikut: 1. surat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengenai kesediaan dipotong DAU dan/atau DBH secara langsung. Adapun pinjaman yang dapat dikenakan pemotongan DAU dan/atau DBH adalah (i) pinjaman yang dalam naskah perjanjian pinjaman telah mencantumkan ketentuan mengenai sanksi pemotongan DAU dan/atau DBH atau (ii) pinjaman yang dalam naskah perubahan perjanjian pinjaman mencantumkan ketentuan mengenai sanksi pemotongan DAU dan/atau DBH.5 – 1) Rendah ( <0. 129/PMK. Dalam hal pemotongan DAU dan/atau DBH dilakukan lebih dari satu tahun. dan 3. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-169 . pemotongan DAU dan/atau DBH akan dilakukan secara bertahap untuk beberapa tahun sampai dengan seluruh pembayaran tunggakan selesai dibayarkan. Adapun perhitungan besaran maksimum pemotongan DAU dan/atau DBH per tahun adalah sebagai berikut: Indeks Kapasitas Fiskal Pemerintah Daerah Tinggi ( indeks > 1) Sedang ( 0.

Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Hibah diterushibahkan. Pemerintah Pusat. badan/lembaga asing. dan/atau dijadikan penyertaan modal kepada Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku IV-170 Pinjaman. yang dimaksud dengan Hibah adalah Peneriman Daerah yang berasal dari pemerintah badan/lembaga dalam negeri atau perorangan baik dalam bentuk devisa. badan/lembaga internasional.Hibah.4. maka lingkup hibah daerah meliputi hibah dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah daerah dan sebaliknya hibah dari pemerintah Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah. rupiah dibayar kembali. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu negara asing.3. Menteri Keuangan selaku Pengguna Anggaran menunjuk kepada pemerintah daerah (KPA-HPD). HibAH dAERAH undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan bahwa hibah dapat diberikan oleh Pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau daerah kepada Pemerintah Pusat. diteruspinjamkan. Hibah yang diterima oleh pemerintah daerah dapat Hibah kepada pemerintah daerah dalam APBN termasuk dalam Bagian Anggaran Bendahara umum Negara. Hibah kepada pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah untuk mendukung pelaksanaan perusahaan daerah. termasuk instansi vertikal Pemerintah Pusat di daerah. kegiatan daerah dan dikelompokkan sebagai salah satu komponen pada lain-lain Pendapatan yang Sah dalam APBD.danInvestasiDaerah . sebaliknya. maupun barang dan atau jasa. Sesuai dengan hal tersebut.

q. 3. Menteri Keuangan atau kuasanya dengan kepala daerah. dan/atau 1. Hibah dari Pemerintah Pusat bersumber dari: 1.3. prioritas Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hhibah Daerah (NPHD). Kelompok masyarakat/perorangan dalam negeri. Hibah luar Negeri 2. 4. 2. Badan/lembaga internasional. Badan/lembaga organisasi swasta dalam negeri. sUmbER HibAH 1. dan/atau. Donor lainnya.Mekanisme penyaluran hibah kepada pemerintah daerah lebih lanjut diatur dalam Keuangan Nomor 169/PMK. dan/atau 4. Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN dan dari pihak lain di dalam negeri dari luar negeri (baik dari pinjaman luar negeri maupun hibah luar negeri) dilakukan melalui Pemerintah Pusat melalui penandatanganan Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) antara Pemerintah c. Badan/lembaga asing. Hibah dari luar negeri dapat bersumber dari : 3. Pemerintah daerah lain.07/2008 dan Peraturan Menteri 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2008.1. Pemerintah. Hibah kepada pemerintah daerah bersumber dari : 2. Hibah yang bersumber diberikan kepada daerah berkapasitas fiskal rendah berdasarkan peta kapasitas fiskal IV-171 . Pemerintah negara asing. Pendapatan APBN. Khusus untuk hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri. 3. Pinjaman luar Negeri.

2. dan pemerintah daerah. layanan dasar umum. PRiNsiP dAsAR PEmbERiAN HibAH KEPAdA dAERAH Pemerintah Pusat. Pinjaman. Kota sesuai dengan PP No. yaitu: dengan kriteria sebagai berikut: a. daerah adalah: Prinsip-prinsip dasar pemberian hibah dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah 1) Hibah dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat 2) Hibah dilaksanakan sejalan dengan pembagian urusan pemerintahan antara 3) Hibah bersifat bantuan untuk pelaksanakan urusan pemerintahan yang merupakan daerah dapat didanai dengan hibah. urusan pemerintah 4) Hibah diberikan kepada daerah mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah 5) Kegiatan yang dibiayai dari hibah diusulkan oleh Kementerian Negara/lembaga 4. 38 /2007. terkait merupakan diskresi Pemerintah Pusat.3.Hibah. pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah Kabupaten/ didanai dari dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Adapun urusan Pemerintah Pusat di daerah berdasarkan peta kapasitas fiskal daerah yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 4. kewenangan pemerintah daerah.yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Keuangan dan atau prioritas sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengah (RPJP/RPJM). 1) Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN diberikan kepada pemerintah daerah untuk pelaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah daerah pemberdayaan aparatur pemerintah daerah.danInvestasiDaerah seperti kegiatan peningkatan fungsi pemerintahan.3.3. KRiTERiA PEmbERiAN HibAH Kriteria pemberian hibah digolongkan berdasarkan sumber hibah. dan IV-172 .

Kegiatan lainnya sebagai akibat kebijakan Pemerintah Pusat yang Pemerintah Pusat yang berskala nasional/internasional oleh pemerintah Kegiatan tertentu yang diatur secara khusus dalam peraturan perundang- 2) Hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri. diberikan kepada pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: a. yaitu aparatur pemerintah daerah. 3) Hibah yang bersumber dari hibah luar negeri. diberikan kepada pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: a. c. peningkatan fungsi pemerintahan. mengakibatkan penambahan beban pada APBD. hidup dan budaya. untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan daerah. untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah daerah. Diprioritaskan untuk pemerintah daerah dengan kapasitas fiskal rendah d. b. Kegiatan dalam rangka bantuan kemanusiaan. untuk melaksanakan kegiatan yang merupakan urusan pemerintah daerah nasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kegiatan dalam rangka mendukung pelestarian sumber daya alam. layanan dasar umum. dalam rangka pencapaian sasaran program dan prioritas pembangunan d. berdasarkan peta kapasitas fiskal yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. b. undangan.b. lingkungan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-173 . c. dan pemberdayaan Kegiatan dalam rangka mendukung riset dan teknologi.

PENARiKAN dAN PENYAlURAN HibAH Hibah disalurkan dalam mekanisme APBN ke APBD sesuai peraturan perundangan. mekanisme penyaluran hibah berupa uang dapat dilihat pada gambar IV-174 Pinjaman. Setelah uang diterima di RKuD. dari bagian anggaran yang dikelola Kementerian/lembaga. Jika lalain memenuhi ketentuan tersebut.9 berikut: pemerintah daerah dikenai sanksi sebagaiman diatur dalam NPPH atau NPHD. 4.3. dan terpisah Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber dari pendapatan APBN dilakukan Kas umum Daerah (RKuD). pemerintah daerah wajib membayarkan uang tersebut kepada pihak ketiga dalam jangka waktu 2 hari kerja.danInvestasiDaerah .4. Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber dari melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara (RKuN) ke Rekening penerusan pinjaman luar negeri dan/atau hibah luar negeri (PHlN) dilakukan melalui pemindahbukuan dari Rekening Khusus yang merupakan bagian dari RKuN ke rekening tersendiri yang merupakan bagian dari RKuD. 1) Penyaluran Hibah Berupa uang yaitu dengan menggunakan Bagian Anggaran Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara umum Negara.Hibah. Selanjutnya.4.

dalam berita acara serah terima barang/jasa. hibah.Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang gambar 4. Copy berita acara serah terima barang/ Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-175 . Penyaluran hibah berupa barang dan/ atau jasa yang bersumber dari hibah luar negeri dan/ atau pinjaman luar negeri dapat dilakukan dengan penyerahan langsung dari pemberi pinjaman dan/atau hibah luar negeri kepada pemerintah daerah penerima penyerahan langsung hibah barang/jasa tersebut dapat dilaksanakan dan dimuat Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Setelah mendapat pertimbangan terlebih dahulu dari Kementerian/lembaga terkait.9 2) Penyaluran Hibah berupa barang dan jasa Tata cara penyaluran hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaksanakan sebagaiman diatur dalam NPHD atau NPPH dan peraturan perundang-undangan.

10 berikut: gambar 4. b. Copy berita acara serah terima tersebut 3) mekanisme Penerusan Hibah Kepada Pemerintah daerah. meminta penerbitan nomor register kepada Berdasarkan permintaan tersebut. 10 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa kepada pemerintah daerah (KPA-HPD).danInvestasiDaerah DJPu dengan melampirkan grant Agreement/loan Agreement (dokumen hibah dalam APBN dan kepada DJPK untuk ditindaklanjuti yaitu proses IV-176 . a. Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH.jasa disampaikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku KPA Hibah merupakan dasar penatausahaan dan pelaporan hibah. 1. Mekanisme penyaluran hibah berupa barang dan jasa dapat dilihat dalam gambar 4. Kementerian/lembaga perjanjian) dan rencana penyerapan. DJPu menerbitkan nomor register dan menyampaikan surat pemberitahuan kepada DJA untuk pencatuman dana penerusan hibah kepada pemerintah daerah. Pinjaman.Hibah.

c. bahwa hibah dimaksud DJPK menyusun NPPH dengan berkoordinasi dengan Kementerian/lembaga Secara ringkas. proses penganggaran hibah dan penyusunan NPPH dapat dilihat pada Gambar 4. maka DJPK menerbitkan surat persetujuan penerushibahan kepada Pemerintah Daerah. dan pemerintah daerah. d. kemudian disampaikan kepada DJPK. 11 Kementerian/lembaga menetapkan pemerintah daerah penerima hibah Atas dasar surat dari DJPu dan Kementerian/lembaga. Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-177 . e. gambar 4. sudah ditetapkan dalam APBN/APBN-P.11. Setelah konsep NPPH disetujui maka dilakukan penandatanganan NPPH oleh Kepala Daerah dan Dirjen Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan selaku KPA Hibah Daerah.

Pemerintah Secara ringkas. Kepala Daerah menyusun Rencana Perimbangan Keuangan selaku KPA-HPD. Berdasarkan DIPA-HPD.Hibah. pengesahan. penyaluran hibah kepada pemerintah daerah. g. d. Hibah Daerah (NPHD) atau Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) yang telah b. Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan verifikasi Rencana Komprehensif dan e. Penyusunan dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran–Hibah kepada a.danInvestasiDaerah . Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan. proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada Gambar 4. c.2. Berdasarkan Rencana Komprehensif tersebut. Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan dikoordinasikan terlebih dahulu Rencana Tahunan terhadap pagu hibah APBN DIPA-HPD. Rencana Alokasi Hibah kepada pemerintah daerah (RA-HPD). Dirjen Perimbangan Keuangan menyusun konsep dengan kementerian/lembaga terkait sebelum disampaikan kepada Dirjen DIPA-HPD yang telah disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan merupakan dasar k. RA-HPD disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan untuk dijadikan dasar h. IV-178 Pinjaman. pengesahan DIPA-HPD. Berdasarkan hasil verifikasi tersebut. Dirjen Perimbangan Keuangan menyusun f. j. Pemerintah Daerah (DIPA-HPD). DIPA-HPD yang telah disahkan disampaikan kepada pemerintah daerah. Tahunan. Konsep DIPA-HPD disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan untuk mendapatkan i. Kepala daerah menyusun Rencana Komprehensif berdasarkan Naskah Perjanjian ditandatangani. Atas dasar RA-HPD tersebut. Daerah menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) –SKPD.12.

12 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-179 .Proses Penyusunan DIPA Hibah Kepada Pemerintah Daerah gambar 4.

secara keseluruhan yang ditetapkan SKPD laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana pendamping 3) Tahap terakhir: – – d. a.3. Rekening Kas umum Daerah (RKuD) yang digunakan untuk menampung dana Mutlak dan dokumen-dokumen terkait yang telah mendapatkan pertimbangan dari 2) Tahap berikutnya: Copy SPM dan copy rekening koran serta dokumen terkait. Kepala daerah membuka rekening tersendiri bersifat khusus sebagai bagian dari b. laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan dokumen pendukung terkait. Berdasarkan DIPA-HPD dan DPA-SKPD. Rencana penggunaan hibah. Copy Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang disahkan oleh Bendahara laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana pendamping Copy SP2D yang disahkan oleh BuD dan dokumen pendukung terkait.danInvestasiDaerah . Copy DPA-SKPD dan dokumen pendukung terkait. nama rekening dan nama bank kepada Dirjen Perimbangan Keuangan. Dirjen Perimbangan Keuangan sebagai KPA-HPD menerbitkan SPM untuk disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan. umum Daerah (BuD) untuk tahap sebelumnya dan dokumen terkait.Hibah. serta dokumen terkait. Kepala daerah menyampaikan bukti pembukaan rekening yang memuat nomor c. rekening. IV-180 Pinjaman. kepala daerah membuat dan menyampaikan surat Permintaan Penyaluran Hibah yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab kementerian/lembaga terkait. Copy SPM dan Dokumen terkait. Penyaluran Hibah di Pemerintah Daerah. hibah. Dokumen terkait tersebut antara lain: 1) Tahap pertama: – – – – – – – – Rencana penggunaan hibah.

Berdasarkan SPM tersebut Dirjen Perbendaharaan menerbitkan SP2D selanjutnya Secara ringkas.13. Proses Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah gambar 4. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-181 . proses penyaluran hibah kepada Pemerintah Daerah dapat dilihat pada Gambar 4. 13 dilakukan pemindahbukuan dana dari RKuN atau Rekening Khusus pada APBN ke RKuD pada APBD.e.

Pihak ketiga menyiapkan dokumen-dokumen untuk mengajukan tagihan pencairan Penyaluran hibah dari Pemerintah daerah kepada Pihak ke-3. Nomor rekening dan nama bank. Pihak ketiga menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Rencana Penggunaan Hibah (RPH). b. kemudian d. IV-182 Pinjaman. KPA menyampaikan SPM-D ke BUD untuk diverifikasi dan selanjutnya BUD Secara ringkas. SPP-D disampaikan oleh PPTK kepada KPA untuk selanjutnya diterbitkan Surat Perintah Membayar Daerah (SPM-D).14. menerbitkan SP2D. proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada Gambar 4. PPTK memeriksa kelengkapan dokumen-dokumen pihak ketiga tersebut.4.danInvestasiDaerah . Progress Report. c. berdasarkan kelengkapan dokumen tersebut PPTK membuat Surat Permintaan e. Pembayaran Daerah (SPP-D). dana yaitu terdiri dari: • • • • Kontrak.Hibah. a.

Proses Penggunaan Hibah gambar 4.14 Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-183 .

perolehan atau taksiran nilai wajar barang dan/atau jasa tersebut.7. PElAPORAN IV-184 Pinjaman. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan instansi terkait. dianggarkan dalam APBD dan dituangkan dalam dokumen pelaksanaan anggaran Hibah wajib digunakan sesuai ketentuan dalam NPPH atau NPHD. PENGElOlAAN HibAH OlEH dAERAH Penerimaan hibah oleh pemerintah daerah dikelola dan dilaksanakan secara transparan dan akuntabel melalui mekanisme APBD sesuai peraturan perundang-undangan. lain-lain Pendapatan yang Sah pada APBD. 3) Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dicatat berdasarkan harga 4) Barang yang diterima dari hibah diakui dan dicatat sebagai barang milik daerah Hibah dilaporkan dalam laporan keuangan daerah sebagai berikut: pendapatan hibah dalam kelompok lain-lain Pendapatan yang Sah pada saat yang 4.danInvestasiDaerah . (pengeluaran yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan penggunaan dana hibah).Hibah.4. dan ketentuan yang dipersyaratkan untuk menghindari pengeluaran yang ineligible Penerimaan hibah dari pihak lain dalam negeri dituangkan dalam NPHD dan salinannya disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan c.3. PENCATATAN 1) Penerimaan hibah oleh daerah dicatat sebagai pendapatan hibah dalam kelompok 2) Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa selain dicatat sebagai sama dicatat sebagai belanja dengan nilai yang sama. tujuan.q. Pemerintah daerah juga wajib menjaga agar penggunaan dana hibah sesuai dengan maksud.3.6. Hal ini berarti bahwa hibah dan dana pendampingnya (apabila dipersyaratkan) (DPA) satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Pencatatan hibah oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut: 4.5.3. pada saat diterima.

1. √ √ Dicatat sebesar nilai nominal √ 2) Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaporkan dalam laporan 4) Dalam hal hibah tidak termasuk dalam perencanaan hibah pada tahun anggaran 5) Tata cara akuntansi dan pelaporan keuangan yang terkait dengan hibah dilaksanakan berikut: Secara ringkas pencatatan dan pelaporan hibah dapat digambarkan dalam Tabel 4. sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dan permasalahan pelaksanaan 4.2. Pencatatan dan Pelaporan Hibah Hibah Uang Laporan laporan Realisasi Anggaran laporan Arus Kas Neraca Keterangan Hibah Barang √ √ √ Hibah Jasa √ √ Catatan atas laporan Keuangan Dicatat sebesar nilai wajar Dicatat sebesar nilai wajar 1. Daerah melaporkan realisasi fisik.1) Penerimaan hibah dalam bentuk uang disajikan dalam laporan Realisasi Anggaran dan laporan Arus Kas. 3) Transaksi penerimaan hibah diungkapkan dalam Catatan atas laporan Keuangan. hibah harus dilaporkan dalam laporan Pertanggungjawaban Keuangan. kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas.8.3. Realisasi Anggaran. berjalan. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-185 . Tabel 4. penyerapan dana. PEmANTAUAN kegiatan serta perkembangan penyelesaian Kontrak Pengadaan Barang/Jasa dan Menteri Negara/Pimpinan lembaga terkait.

58 Tahun 2005 uang Negara/Daerah. seperti penyertaan modal perusahaan daerah.1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah telah mengatur dan mendorong Pemda untuk dapat melakukan kegiatan investasi daerah. seperti bunga. Menteri PPN/Kepala Bappenas dan 3.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. investasi daerah terdiri dari: IV-186 Pinjaman. hibah dapat dihentikan. bENTUK iNVEsTAsi dAERAH Berdasarkan jangka waktu. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. dan tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.2. pelaksanaan kegiatan dan penggunaan hibah dalam rangka pencapaian target dan sasaran yang ditetapkan dalam NPHD dan NPPH.1. pembelian surat berharga dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan mengembangkan perekonomian daerah. uu No. dividen.39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan 4. PP No. PP No. Menteri Negara/Pimpinan lembaga terkait melakukan pemantauan atas kinerja laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan yang didanai dari hibah kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. kerjasama dengan pihak swasta. Dalam rangka monitoring dan evaluasi.Hibah.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan. iNVEsTAsi dAERAH Investasi Daerah adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. maka seluruh kegiatan penyaluran 4.4. Dalam hal daerah melakukan pengelolaan hibah menyimpang dari ketentuan 4. royalti.4. manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga Pemerintah melalui berbagai peraturan perundang-undangan antara lain uu No.danInvestasiDaerah . dan PP No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Menteri PPN/Kepala Bappenas dan sebagaimana ditetapkan dalam NPHD atau NPPH. daerah penerima hibah wajib menyampaikan Menteri Negara/Pimpinan lembaga terkait setiap triwulan. uu No.

fasilitas pendanaan kepada usaha mikro dan menengah Berdasarkan jenis. yaitu investasi yang dapat segera dicairkan dan b. Investasi Langsung • • Investasi langsung terdiri dari: Penyertaan Modal Pemberian Pinjaman Apabila pemerintah daerah memiliki keterbatasan dana dalam menyediakan fasilitas layanan umum. pembelian SuN. Contohnya adalah deposito berjangka maksimal 12 (dua belas) bulan. Kerja sama dapat dilakukan antardaerah. misalnya penyertaan modal pemerintah daerah pada BuMD dimaksudkan untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang. serta antara Pemda dengan swasta. dana bergulir. surat utang jangka panjang. Investasi Jangka Pendek. yang bertujuan untuk mengoptimalkan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 dasar saling menguntungkan. dan SBI Investasi permanen: investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki secara Investasi non permanen: investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk diperjual belikan atau ditarik kembali. misalnya pembelian obligasi. pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama dengan pihak lain atas dan BuMD. Investasi Surat Berharga • • Pembelian Saham obligasi Investasi surat berharga terdiri dari: Pembelian Surat utang berupa Surat utang Negara yang terdiri atas SPN dan b. yaitu investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (dua belas) bulan. bantuan modal kerja. yaitu: a. Investasi jangka panjang terdiri dari: • • berkelanjutan tanpa ada niat untuk diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali. Investasi Jangka Panjang. investasi daerah terdiri dari dua jenis. antara Pemda IV-187 .a.

3.4.4.Hibah. Bagan Jenis Investasi Daerah gambar 4.danInvestasiDaerah . sUmbER dANA iNVEsTAsi dAERAH Sumber dana Investasi Daerah dapat berasal dari: • • • Keuntungan investasi terdahulu Sumber-sumber lainnya yang sah Surplus Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Penggunaan surplus APBD untuk investasi daerah harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) 4.15 4. PENGElOlAAN iNVEsTAsi dAERAH Pengelolaan keuangan Investasi Daerah adalah sebagai berikut: IV-188 Pinjaman. Kerja sama ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah.aset daerah tanpa mengganggu layanan umum.2.

dan ekuitas dana. Catatan Atas laporan Keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 IV-189 .• • • • • Pengelolaan anggaran investasi daerah dilakukan oleh Pejabat Pengelola Keuangan dilakukan melalui Rekening Kas umum Daerah (RKuD). laporan Arus Kas. dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam Perda tentang penyertaan dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh PPKD Penyertaan modal Pemda dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan Daerah (PPKD) dan semua penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan penyertaan modal pemerintah daerah PPKD menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan. laporan keuangan tersebut dilampiri dengan laporan ikhtisar laporan PPKD menyusun laporan keuangan Pemda yang terdiri dari lRA. utang. termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya keuangan BuMD Pemerintah. aset. Neraca. modal daerah berkenaan.

.

bAb V Pajak daerah dan Retribusi daerah .

V-192 PajakDaerahdanRetribusiDaerah .

Kebijakan Retribusi Daerah yang berlaku secara efektif sejak tanggal 1 Januari 2010. PENdAHUlUAN Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) merupakan komponen utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). pembebanan kepada masyarakat yang sifatnya dapat dipaksakan harus diatur dengan undang-undang.1. Salah satu upaya pemerintah untuk mendorong penerimaan pajak keadaan. dan perbaikan pengelolaan pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah. Sebagai sumber utama PAD. Pengaturan mengenai pungutan daerah diatur dengan undang-undang pajak daerah dan retribusi daerah. penguatan local taxing power. Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal undang-undang pajak daerah dan retribusi daerah yang berlaku saat ini adalah undangundang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan pengganti dari undang-undang diubah dengan undang-undang Nomor 34 Tahun 2000. undangan di bidang perpajakan dan retribusi daerah sesuai dengan perkembangan retribusi daerah. Berdasarkan undang-undang Pelengkap Buku Pegangan 2010 V-193 . kebijakan perpajakan dan retribusi daerah diarahkan untuk lebih memberikan ini tertuang dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Sesuai dengan ketentuan uuD 1945. untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan membangun hubungan kepastian hukum. pemerintah senantiasa mendorong peningkatan penerimaan daerah yang bersumber dari pungutan pajak daerah dan daerah dan retribusi daerah adalah melalui penyempurnaan peraturan perundangkeuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah yang lebih ideal. peningkatan efektivitas pengawasan.bAb V PAjAK dAERAH dAN RETRibUsi dAERAH 5.

yaitu 5 jenis pajak provinsi dan 11 jenis pajak kabupaten/kota. Retribusi Menaikkan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah. b. Penguatan local taxing power Memperluas basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada. seperti Bermotor. Pajak Hotel. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi. pemerintah daerah jenis pajak daerah. perluasan basis Pajak Kendaraan Bermotor. 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah antara lain: Beberapa kebijakan mendasar yang diatur dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 1. Kendaraan Bermotor. yang terdiri dari 14 jenis retribusi jasa umum. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Pajak c. yaitu: a. juga terdapat 30 jenis retribusi daerah yang dapat dipungut usaha. Selain pajak daerah. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-PP). Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Pajak Restoran. seperti Pajak Rokok. Bea Balik Nama Kendaraan Sarang Burung Walet. dan 5 jenis retribusi perizinan tertentu. Pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah diubah dari open-list system menjadi closed-list system. dilakukan melalui beberapa kebijakan. Retribusi Pelayanan Pendidikan. Retribusi Izin gangguan. Salah satu pertimbangan penerapan closed-list system adalah untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha mengenai jenis hanya dapat memungut jenis pajak dan retribusi daerah yang tercantum dalam pajak daerah dan retribusi daerah. Pajak Bahan PajakDaerahdanRetribusiDaerah 2. Berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 terdapat 16 oleh daerah. Dengan closed-list system. 11 jenis retribusi jasa retribusi daerah (penguatan local taxing power).tersebut. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah di bidang perpajakan dan Menambah jenis pajak daerah dan retribusi daerah. dan Retribusi Izin usaha Perikanan. pajak daerah dan retribusi daerah dapat dipungut oleh daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangan masing-masing dengan menerbitkan peraturan daerah (Perda). seperti Pajak . V-194 Pelayanan Tera/Tera ulang. pungutan daerah yang wajib dibayar serta meningkatkan efisiensi pemungutan undang-undang.

Dalam kaitan ini. Pajak Parkir. Bakar Kendaraan Bermotor.d. dan Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. Memberikan diskresi penetapan tarif pajak kepada provinsi kecuali Pajak melampaui tarif minimum dan maksimum yang tercantum dalam undang-undang berbagai jenis pungutan daerah sebagai akibat perubahan open-list system menjadi closed-list system. dan Rokok. Sebagai contoh kebijakan earmarking adalah sebagian pendapatan Pelengkap Buku Pegangan 2010 V-195 . Memperbaiki sistem pengelolaan pajak daerah dan retribusi daerah melalui kebijakan bagi hasil pajak provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih ideal dalam undang-undang. Kebijakan bagi hasil pajak ini mencerminkan bentuk tanggungjawab pemerintah provinsi untuk ikut serta menanggung beban biaya provinsi dibagihasilkan kepada kabupaten/kota sesuai komposisi yang ditetapkan pelayanan kepada masyarakat. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pemungutan jenis pajak daerah dan retribusi daerah yang memiliki landasan dan kebijakan earmarking untuk jenis pajak daerah tertentu. dengan adanya Kebijakan earmarking. Setiap jenis pajak yang diperlukan oleh kabupaten/kota dalam pelaksanaan fungsinya memberikan sebagian hasil pendapatan pajak daerah tertentu dialokasikan untuk membiayai pajak penerangan jalan harus dialokasikan untuk membiayai penerangan jalan pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta peningkatan moda dan sarana Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal umum. daerah didorong untuk mengoptimalkan 3. 10% dari pendapatan pajak kendaraan bermotor harus dialokasikan untuk pembayar pajak. Sementara itu. Pajak Hiburan. Daerah diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menetapkan besaran tarif pajak Nomor 28 Tahun 2009. kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh pembayar pajak tersebut. daerah yang diberlakukan di daerahnya (ditetapkan dalam Perda) sepanjang tidak Kewenangan yang lebih luas di bidang perpajakan daerah diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah sehingga dapat mengkompensasi hilangnya hukum yang kuat dan tidak menciptakan jenis pungutan baru yang potensinya relatif kecil dan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

11 jenis retribusi jasa usaha. pajak daerah yang dapat dipungut oleh daerah provinsi adalah sebanyak 5 jenis dan yang dapat dipungut oleh daerah kabupaten/kota adalah sebanyak 11 jenis. Setiap rancangan peraturan daerah dan retribusi daerah dapat dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau 5. V-196 PajakDaerahdanRetribusiDaerah . Selain itu. dan 50% dari pendapatan pajak rokok harus dialokasikan untuk membiayai pelayanan kesehatan masayarakat dan penegakan hukum.2. Perda yang sudah ditetapkan dapat 34 Tahun 2000) menjadi sistim preventif dan korektif.1. 34 Tahun 2000 dapat dilihat pada Tabel 5. Meningkatkan efektivitas pengawasan pungutan daerah dengan mengubah daerah (Raperda) tentang pajak daerah sebelum ditetapkan menjadi Perda harus dibatalkan oleh Pemerintah apabila bertentangan dengan peraturan perundangpemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi. jENis PAjAK dAERAH dAN RETRibUsi dAERAH Sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. undangan dan/atau kepentingan umum. meliputi 14 jenis retribusi jasa umum. dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota adalah 30 jenis. terhadap daerah yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pajak transportasi umum.2. dan 5 jenis retribusi perizinan 5. mekanisme pengawasan dari sistim represif (berdasarkan undang-undang Nomor dievaluasi terlebih dahulu oleh Pemerintah.1.4. PAjAK dAERAH Jenis-jenis Pajak Daerah berdasarkan uu No. . Sedangkan retribusi yang dapat tertentu.

10. Retribusi Jasa Usaha adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi: diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum Pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah yang belum Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal V-197 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . 7. yaitu retribusi jasa umum. 11. Retribusi Jasa Umum adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan atau 2. 3. 4. 2. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. dan Pajak Rokok. PBB Perdesaan & Perkotaan .. Pajak Kabupaten/Kota 5. dan/atau 1. antara lain mobilitas objek pajak. dimanfaatkan secara optimal. Pajak Reklame . Pajak Penerangan Jalan . 6. Pajak Parkir. 5. RETRibUsi dAERAH Retribusi daerah dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan. Pajak Restoran. 1. Pajak Air Tanah.2. 5. serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. 8. retribusi jasa usaha. Pajak Sarang Burung Walet. Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. Pajak Hiburan . Pajak Air Permukaan. dan retribusi perizinan tertentu. Jenis Pajak Daerah Tabel 5. 4. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.1. Pajak Hotel. 2. Sumber : undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Jenis pajak daerah bersifat limitatif (closed-list) yang berarti bahwa pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota tidak dapat memungut pajak selain yang telah ditetapkan.1. a.2. Penetapan jenis pajak tersebut sebagai pajak daerah provinsi dan pajak kabupaten/kota didasarkan pada pertimbangan. 9. Bea Balik Nama Kendaraan Bemotor. Pajak Provinsi Pajak Kendaraan Bermotor. 3.

atau fasilitas tertentu guna melindungi b. barang. Jenis Retribusi Daerah berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagaimana tercantum pada Tabel 5.2. Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum dapat disediakan secara memadai oleh pihak swasta. Retribusi Perizinan Tertentu adalah pungutan atas pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang. V-198 PajakDaerahdanRetribusiDaerah . sarana. daya alam. penggunaan sumber kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. prasarana.3.

Retribusi Izin usaha Perikanan Perizinan Tertentu jenis retribusi selain 30 jenis retribusi tersebut di atas. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol 3. Retribusi Izin Trayek 5. Retribusi Pelayanan Tera/Tera ulang 11.2 1.Sumber : undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Sama halnya dengan pajak daerah. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta 10. Retribusi Pemakaman/ Pengabuan Mayat 5. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan 9. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 8. Retribusi Tempat Rekreasi dan olahraga 10. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 9. Retribusi Penyedotan Kakus 12. Meskipun demikian. V-199 . Retribusi Terminal 5. Retribusi KTP dan Akte Capil 4. Retribusi Tempat Pelelangan 4. Retribusi Pelayanan Pasar 7. Retribusi Izin gangguan 4. Retribusi Pasar grosir/ Pertokoan 3. Retribusi Pengolahan limbah Cair 13. jenis retribusi daerah juga bersifat limitatif (closed-list) artinya bahwa pemerintah daerah tidak diperkenankan untuk memungut untuk mengantisipasi perkembangan penyerahan kewenangan pemerintah pusat Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 1. Retribusi Persampahan/ Kebersihan 3. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 2. Retribusi Parkir di Tepi Jalan umum 6. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi Jasa Umum 1. Retribusi Rumah Potong Hewan 8. Retribusi Pelayanan Kesehatan 2. Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan/Villa 7. Retribusi Tempat Khusus Parkir 6. Retribusi Penyeberangan di Air 11. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan 2. Retribusi Pelayanan Pendidikan 14. Retribusi Penjualan Produksi usaha Daerah Jasa Usaha Jenis Retribusi Daerah Tabel 5.

dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Biaya pengawasan di lapangan. Tarif Retribusi Jasa usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan 3. Penentuan jenis retribusi jasa umum dan retribusi perizinan tertentu yang dapat dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota dan kabupaten/kota berdasarkan prinsip efisiensi. yang layak. penatausahaan. sesuai peraturan perundang-undangan. Sedangkan penentuan retribusi jasa usaha didasarkan pada jasa pelayanan yang dapat diselenggarakan/diberikan oleh provinsi Tahun 2009. pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga penyelenggaraan pemberian izin dimaksud meliputi penerbitan dokumen izin. penegakan hukum. kemampuan masyarakat. Sementara itu. penetapan besaran tarif retribusi harus mengacu kepada 1. dan biaya modal. Biaya dimaksud meliputi biaya operasi dan pemeliharaan. Tarif Retribusi Jasa umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan 2. yaitu sebagai berikut: jasa yang bersangkutan. biaya bunga. V-200 PajakDaerahdanRetribusiDaerah .kepada daerah dan menyesuaikan dengan ketentuan sektoral. dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut. dimungkinkan untuk dilakukannya penambahan jenis retribusi daerah yang akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Keuntungan yang layak adalah keuntungan yang diperoleh apabila objek masing-masing jenis retribusi telah diatur dalam undang-undang Nomor 28 daerah. Tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Pemerintah daerah dapat mengatur pengecualian pengenaan retribusi atas objek tertentu namun tidak boleh melakukan perluasan terhadap objek retribusi prinsip dan sasaran penetapan tarif untuk masing-masing jenis retribusi daerah. aspek keadilan. pasar.

PERsYARATAN PdRd dengan kriteria retribusi daerah. untuk membiayai dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. dengan Contoh: Pajak Hotel. dan penyelenggaraan pemerintahan Pajak tersebut harus sesuai definisi pajak yang ditetapkan dalam Undang-Undang Jika suatu kontribusi hanya dibayar oleh orang pribadi atau badan yang b. digunakan pembangunan daerah. obyek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota yang penjelasan sebagai berikut:. Bersifat pajak.3. Kriteria Pajak daerah yaitu kontribusi wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah: • • • tanpa imbalan langsung yang seimbang. untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan jenis layanan bersangkutan yang 5. Pajak Restoran. 1) Suatu jenis pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan sebagai pungutan daerah berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria untuk pajak daerah dibedakan a. bersangkutan dan mempunyai mobilitas cukup rendah serta hanya melayani menggunakan/memanfaatkan suatu pelayanan/perizinan yang disediakan oleh masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 dan 1) Yang dimaksud dengan ’mobilitas rendah’ adalah objek pajak relative V-201 . dan bukan retribusi. immobile daerah maka iuran tersebut bukan pajak melainkan bersifat retribusi.Pemanfaatan dari hasil penerimaan masing-masing jenis retribusi daerah diutamakan pengalokasiannya ditetapkan dengan peraturan daerah.

Potensi pajak memadai. obyek Pajak bukan merupakan objek pajak pusat. tindih dengan objek dan/atau dasar pengenaan pajak lain yang sebagian atau objek pajak tersebut merupakan objek cukai yang lebih layak dipungut oleh Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. c. Pemerintah Pusat. d. sosial. seluruh hasilnya diterima oleh daerah. budaya. dan masyarakat dengan memperhatikan aspek ketentraman dan kestabilan politik. karena dampak dari pungutan ini tidak dapat dilokalisir. Pajak atas barang yang diekspor atau diimpor (lalu lintas barang) di pelabuhan adalah bahwa beban pajaknya hanya ditanggung oleh masyarakat lokal. objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum.2) Yang dimaksud dengan ’hanya melayani masyarakat di wilayah tertentu’ Jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini. contohnya antara lain : • • atau bandara atau di tempat lain. (double tax). yaitu pajak dengan objek dan/atau dasar pengenaan yang tumpang Contoh : pajak atas produksi minuman keras. antara lain adalah pajak ganda f. Jenis pajak dengan objek objek tersebut pada umumnya melayani masyarakat luas Pajak ditujukan untuk kepentingan bersama yang lebih luas antara pemerintah Contoh: Pajak atas seluruh komoditi akan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi Hasil penerimaan pajak harus lebih besar dari biaya pemungutan. Contoh: Pajak Penerangan Jalan. serta pertahanan dan keamanan. ekonomi. PajakDaerahdanRetribusiDaerah Jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini. V-202 . e. Pajak atas reklame dalam surat kabar dan media elektronik. di luar wilayah daerah yang bersangkutan.

tarif pajak ditetapkan dengan memperhatikan keadaan wajib pajak. antara lain : pajak tidak membedakan (klasifikasi) orang pribadi atau badan tanpa alasan yang kuat. Pajak harus bersifat netral terhadap lingkungan. • • Pajak tidak mengganggu alokasi sumber ekonomi dan tidak merintangi arus sumber Contoh jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini adalah: perkebunan. untuk merusak lingkungan. jumlah pembayaran pajak dapat diperkirakan oleh wajib pajak. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. Contoh: Pajak Hotel. pajak yang dipungut atas kegiatan ekonomi tertentu tanpa alasan ekonomis pajak atas lalu lintas barang atau atas transportasi barang atau hewan. h. pengecualian anggota DPRD sebagai subjek atau wajib pajak. atau sosial yang kuat. seperti: pajak angkutan barang di jalan raya. pajak. Aspek kemampuan masyarakat : Pajak memperhatikan kemampuan subjek pajak untuk memikul tambahan beban Hal lain mengenai aspek keadilan adalah objek atau subjek atau dasar pengenaan objek dan subjek pajak harus jelas sehingga dapat diawasi pemungutannya. sehingga sebagian besar dari beban pajak tersebut tidak dipikul oleh masyarakat yang relatif kurang mampu. seperti kesenian tradisional. • • • Aspek keadilan.daya ekonomi antardaerah maupun kegiatan ekspor-impor. pajak tidak memberikan peluang kepada daerah atau pusat atau masyarakat luas Contoh: Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. seperti: pajak atas produksi garam. pajak dispensasi jalan umum. Contoh: Pajak Hiburan terhadap hiburan rakyat. pajak atas hasil g. yang berarti bahwa pengenaan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 V-203 . Menjaga kelestarian lingkungan.

yang secara langsung dapat dinikmati oleh pengguna jasa tetapi jasa tersebut bukan menyangkut kegiatan pembinaan. di samping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum. juga akan menyebabkan masyarakat pada umumnya terhindar dari penyebaran bakteri yang berasal dari sampah yang menjadi sumber publik dan besarnya retribusi dapat dipikul oleh masyarakat pada umumnya. dan tersirat adanya layanan yang konkrit. Perizinan Tertentu. Misalnya retribusi pelayanan penyebaran wabah penyakit.a. V-204 Jasa yang akan dikenakan retribusi secara politis harus bisa diterima oleh Retribusi daerah tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai PajakDaerahdanRetribusiDaerah . Pengguna jasa dapat diidentifikasi dan layanan tersebut memberikan manfaat iv. Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi daerah. pengawasan. Pengenaan retribusi yang dihitung dengan nilai per komoditi tidak sesuai dengan kriteria ini karena pengenaannya bersifat pajak dan tidak iii. penyelenggaraannya. v. pengaturan. Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka Pengenaan retribusi hanya dapat dilakukan terhadap jasa yang secara eksplisit persampahan. Bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa usaha atau Retribusi Pengenaan retribusi hanya berkaitan dengan penyediaan jasa pelayanan ii. Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar retribusi. disamping manfaat bagi individu berupa terbebasnya rumah dari sampah. Kriteria Retribusi Jasa umum 2) Kriteria Retribusi daerah i. bagi kepentingan masyarakat pada umumnya. telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan sebagai fungsi dan menjadi kewenangan daerah. pelaksanaan desentralisasi. pengendalian.

vi. Retribusi atas pelayanan pendidikan dasar dan jalan umum tidak sesuai dengan kriteria ini. dan pengawasan. Penerimaan retribusi seharusnya digunakan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. pengelolaan dan administrasi tanpa menaikkan tarif retribusi daerah. pemerintah daerah. Bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa umum atau Retribusi Retribusi tidak boleh dikenakan terhadap jasa yang dimaksudkan untuk Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya Jasa yang dikenakan retribusi daerah adalah jasa yang belum sepenuhnya Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh dapat disediakan oleh swasta dimana layanan tersebut bersifat komersial V-205 . Kriteria Retribusi Jasa usaha: i. biaya pemungutan seharusnya lebih rendah dari hasil Dengan tarif retribusi daerah yang wajar. Pemungutan retribusi daerah memungkinkan penyediaan jasa tersebut atas pelayanan yang diberikan. dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih baik. pengaturan. Dari segi efisiensi. Perizinan Tertentu. penerimaan retribusi. Sarana publik yang berdasarkan kebijakan nasional wajib disediakan vii. pengendalian. melayani kepentingan umum dan bukan menyangkut kegiatan pembinaan. Retribusi daerah dapat dipungut secara efektif dan efisien. pengguna jasa memperoleh kepuasan Efektifitas dari pungutan retribusi seharusnya tercermin dalam tingkat oleh pemerintah dan pelayanannya harus diberikan secara gratis kepada masyarakat umum tidak dapat dikenakan retribusi. antara lain b. serta merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial. kepuasan pengguna jasa sebanding dengan jumlah pembayaran retribusi. dalam bentuk proses pelayanan yang lebih cepat melalui perbaikan sistem ii.

dan melalui kegiatan pengawasan dan pengendalian guna menanggulangi biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut menanggulangi dampak negatif atas pemberian izin tersebut.4. yaitu dampak negatif karena memerlukan biaya yang cukup besar untuk Retribusi dikenakan terutama terhadap pemberian izin yang menimbulkan 5.c. umum. sebelum ditetapkan menjadi Perda a. Suatu rancangan Perda tentang PDRD. dalam peraturan perundang-undangan. kepada daerah dalam rangka azas desentralisasi. PROsEdUR PENETAPAN PdRd Pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah harus diatur dengan Peraturan Daerah terlebih dahulu harus dievaluasi oleh pemerintah. Kriteria Retribusi Perizinan Tertentu: i. sehingga pemerintah daerah dimungkinkan untuk mengenakan tarif jasa yang di dalamnya sudah termasuk margin keuntungan. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan Retribusi yang boleh dipungut hanya terhadap perizinan-perizinan yang Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan ii. dengan ketentuan: dan (Perda). Rancangan Perda provinsi tentang PDRD yang telah disetujui antara gubernur dan DPRD provinsi harus disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. PajakDaerahdanRetribusiDaerah V-206 . selama ini sudah menjadi kewenangan daerah serta perizinan-perizinan baru yang pengelolaannya telah diserahkan kepada daerah sebagaimana ditetapkan iii. melalui kegiatan pembinaan dan pengaturan guna menjaga ketertiban umum dampak negatif dari pemberian izin tersebut. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan. Pemberian izin dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum.

dan subjek pajak. dan cara penghitungan pajak. dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas 2. dan 9) Tanggal mulai berlakunya. Asas timbal balik. Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penyusunan Perda PDRD adalah sebagai berikut: mengenai: a. dengan Menteri Keuangan agar terdapat sinkronisasi kebijakan fiskal antara pusat 1. 8) Sanksi administratif. Rancangan Perda kabupaten/kota yang telah disetujui antara bupati/walikota dan DPRD kabupaten/kota harus disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. gubernur dan Menteri Dalam Negeri berkoordinasi dan daerah. dan/atau 3.b. Perda tentang pajak daerah sekurang-kurangnya harus mengatur mengenai: Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 pajak kepada kedutaan. objek. berupa pemberian pengurangan. keringanan. 4) Masa pajak. 3) Wilayah pemungutan. 5) Penetapan. Setiap Perda tentang pajak daerah sekurang-kurangnya harus mengatur 1) Nama. Dalam proses evaluasi tersebut. tarif. Disamping itu. 2) Dasar pengenaan. 6) Tata cara pembayaran dan penagihan. konsulat. dan perwakilan negara asing sesuai dengan V-207 . 7) Kadaluwarsa. Pemberian pengurangan. dan pembebasan b. Tata cara penghapusan piutang pajak yang kadaluwarsa. kelaziman internasional. Perda pajak daerah dapat pula mengatur mengenai: pokok pajak dan/atau sanksinya. keringanan.

atas pokok retribusi dan/atau sanksinya. 9) Penagihan. Disamping itu. 8) Sanksi administratif. pembayaran.1) Nama. dan 11) Tanggal mulai berlakunya. Perda retribusi daerah dapat juga mengatur mengenai: 3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang kadaluwarsa. dan/atau 2) Pemberian keringanan.5 PENGAWAsAN dAN PEmbATAlAN PERdA PdRd Pemerintah melakukan pengawasan terhadap perda-perda tentang PDRD yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. dan penundaan 10) Penghapusan piutang retribusi yang kadaluwarsa. 4) Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi. Hasil evaluasi yang telah V-208 PajakDaerahdanRetribusiDaerah . Pengawasan secara preventif dilakukan dengan mengevaluasi lambat 3 (tiga) hari kerja setelah persetujuan bersama. 2) golongan retribusi. dan subjek retribusi. 3) Cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan. dan pembebasan dalam hal-hal tertentu 5. 5) Struktur dan besarnya tarif retribusi. Pengawasan dimaksud dilakukan secara preventif dan korektif. pengurangan. 7) Penentuan pembayaran. 6) Wilayah pemungutan. 1) Masa retribusi. angsuran. objek. Selanjutnya Menteri Dalam Negeri dan gubernur melakukan evaluasi terhadap Raperda dimaksud dan dalam Raperda PDRD yang telah disetujui bersama antara kepala daerah dengan DPRD sebelum ditetapkan menjadi Perda. Raperda provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Raperda Kabupaten/Kota disampaikan kepada gubernur paling proses evaluasinya berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. tempat pembayaran.

kepala daerah mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Peraturan Daerah. Jika provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dengan alasanalasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.dikoordinasikan kepada Menteri Keuangan tersebut dapat berupa persetujuan atau penolakan. dimaksud. Berdasarkan rekomendasi mengajukan permohonan pembatalan Peraturan Daerah dimaksud kepada Presiden. Paling lama 7 hari kerja setelah keputusan pembatalan. Jika keberatan dikabulkan melalui Menteri Dalam Negeri. dan/atau Dana Bagi Hasil atau restitusi. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. Peraturan Daerah dimaksud dinyatakan berlaku. pengawasan represif dilakukan terhadap peraturan daerah tentang PDRD yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Perda PDRD yang telah ditetapkan oleh kepala daerah disampaikan kepada Menteri Keuangan paling lama kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi maka 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Peraturan Daerah dan selanjutnya DPRD bersama lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak diterimanya Peraturan Daerah sebagaimana pembatalan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan. Menteri Dalam Negeri sebagian atau seluruhnya. Sementara itu. Penyampaian rekomendasi pembatalan oleh Menteri hari kerja sejak tanggal diterimanya Peraturan Daerah. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Jika Pemerintah tidak diatas dikenakan sanksi berupa penundaan atau pemotongan Dana Alokasi umum Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 V-209 . Dalam hal perda bertentangan dengan Menteri Keuangan merekomendasikan pembatalan perda dimaksud kepada Presiden Keuangan kepada Menteri Dalam Negeri dilakukan paling lambat 20 (dua puluh) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling kepala daerah mencabut Peraturan Daerah dimaksud.

Dari jumlah perda yang diterima tersebut sebanyak 13. serta perhatian agar tidak kontra produktif dalam upaya pengembangan kegiatan ekonomi 5. Sejak tahun 2005 sampai dengan dari Pemerintah Daerah. Dari jumlah tersebut. Dalam rangka pelakanaan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang 31 Maret 2010. Menteri Keuangan telah menerima 13.622 Perda PDRD. Raperda PDRD harus dievaluasi terlebih dahulu oleh pemerintah sebelum ditetapkan menjadi Perda.Semenjak digulirkannya otonomi daerah tahun 2001 sampai dengan akhir Maret 2010. hanya 363 Raperda atau sekitar 33% memerlukan pembinaan secara terus menerus. industri dan perdagangan.6 sANKsi TERHAdAP PElANGGARAN KETENTUAN di bidANG PdRd Pelanggaran terhadap ketentuan di bidang perpajakan daerah dikenakan sanksi berupa penundaan atau pemotongan DAu dan/atau dana bagi hasil atau restitusi. Pungutan daerah untuk sektor-sektor ini perlu mendapat dan pembangunan potensi fiskal. Keuangan kepada Menteri Dalam Negeri karena tidak sesuai dengan kepentingan Pemerintahan Daerah. jenis pungutan daerah yang banyak bermasalah terutama dari sektor kebudayaan dan pariwisata. energi dan sumber daya mineral. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa Berdasarkan ikhtisar hasil evaluasi Perda dan Raperda PDRD yang dilakukan oleh perhubungan.885 perda diantaranya atau sekitar 37% direkomendasikan pembatalannya oleh Menteri umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Ketentuan sanksi tersebut diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan V-210 PajakDaerahdanRetribusiDaerah .625 Raperda sebelum dapat ditetapkan menjadi Perda. yang dapat secara langsung disetujui dan 67% lainnya harus direvisi terlebih dahulu kemampuan daerah dalam penyusunan Perda PDRD masih perlu ditingkatkan dan Pemerintah. Menteri Keuangan telah menerima dan mengevaluasi 2.252 perda telah dievaluasi dan sebayak 4.

yaitu: • • • Secara umum. atau b. Struktur dan besaran tarif retribusi ditetapkan oleh kepala daerah. tarif tidak ditetapkan secara definitif. berupa pemotongan DAu dan/atau DBH pajak penghasilan sebesar perkiraan 5. yang dapat berupa: Penetapan perda tanpa melalui proses evaluasi. pelanggaran di bidang pajak daerah dan retribusi daerah dapat dibagi a. pajak penghasilan sebesar 10 % untuk setiap periode penyaluran.7 KEsAlAHAN-KEsAlAHAN PERdA PdRd YANG sERiNG dilAKUKAN dAERAH perda tentang PDRD dapat dikemukakan sebagai berikut: Kesepahaman.Nomor 11/PMK. Atas pelanggaran substansi ini dikenakan sanksi penerimaan PDRD yg telah dipungut berdasarkan perda yang telah dibatalkan. dua bagian. maksimum yang ditetapkan dalam undang-undang. Masih terdapat pungutan yang dilakukan oleh daerah tanpa didasarkan pada 2. Nota objek pungutan. Substansi pungutan tidak sesuai dengan undang-undang.07/2010 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh daerah terkait dengan penetapan 1. Atas pelanggaran prosedur ini dikenakan sanksi berupa penundaan DAu atau DBH Tidak menyampaikan Perda yang telah ditetapkan kepada Pemerintah. Penetapan Perda tanpa mengikuti hasil evaluasi. Pelanggaran terhadap substansi pungutan yaitu pemungutan PDRD berdasarkan perda yang telah dibatalkan. atau dokumen selain Perda. tarif melampaui tarif Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 V-211 . misalnya dengan Peraturan/Keputusan Kepala Daerah. Pelanggaran terhadap prosedur penetapan Perda. Materi pengaturan dalam perda tidak memenuhi standar ketentuan sebagaimana 3. misalnya ada perluasan 4. dan peraturan daerah. diatur dalam undang-undang.

yaitu: 28 Tahun 2009. Jenis pungutan yang tidak terdapat dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 d. pemerintah memberikan peluang Terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Tidak mengadakan jenis pungutan selain yang ada dalam undang-undang Nomor masih dapat diberlakukan sampai dengan 31 Desember 2010 kecuali perdanya sudah dibatalkan oleh pemerintah pusat. Perda yang berlaku saat ini yang mengatur jenis pajak dan retribusi yang terdapat f. Memilih jenis pungutan yang akan diberlakukan dengan mempertimbangkan potensi daerah (tidak harus memberlakukan semua jenis pungutan yang ada). maka undang-undang Nmor 34 Tahun 2000 beserta peraturan pelaksanaanya (seperti Peraturan Pemerintah Nomor 65 dan 66 Tahun 2001) dinyatakan tidak berlaku lagi.5. Meskipun demikian. Penerimaan terhadap jenis pungutan yang tidak terdapat dalam undang-undang e. dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 harus disesuaikan dengan undangMenyusun dan menerbitkan perda tentang BPHTB dan Pajak Air Tanah pada tahun V-212 PajakDaerahdanRetribusiDaerah . dilakukan dan diperhatikan oleh pemerintah daerah.8 PElAKsANAAN UNdANG-UNdANG PdRd Dengan berlakunya undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tersebut. Rokok pada 1 Januari 2014. beberapa hal yang perlu di a. diberlakukan pada 1 Januari 2011 serta PBB Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak kepada pemerintah daerah yang sudah siap untuk mengambil alih pemungutan PBB b. Pemberlakuan beberapa jenis pajak daerah yang baru dimunculkan dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tidak secara otomatis dapat langsung diimplementasikan oleh pemerintah daerah. 2010. undang dimaksud paling lambat 31 Desember 2012. BPHTB dan Pajak Air Tanah Baru dapat Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak Rokok sebelum 1 Januari 2014. Nomor 28 Tahun 2009 tidak dianggarkan lagi dalam APBD tahun 2011. c.

dan dan penetapan. bea dan cukai. dan lain-lain). Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pemberian Insentif Pemungutan yang penerbitannya disesuaikan dengan kebutuhan. notaris/pejabat pembuat akta tanah. k. pemerintah daerah perlu Dalam menyusun perda harus mengikuti proses dan prosedur penyusunan perda sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan. Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan. Dikecualikan sebagai Subjek PBB Perdesaan dan perkotaan. Perda tentang PDRD harus memuat seluruh ketentuan yang sekurang-kurangnya Rokok sebelum 1 Januari 2014 atau sebelum pengambilalihan kedua jenis pajak dimaksud. Mendahulukan perubahan atau penyesuaian perda yang diperluas objeknya agar i. Peraturan Menteri Keuangan tentang Badan atau perwakilan Internasional yang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal V-213 memperpersiapkan SDM khususnya tenaga administrator. BPHTB dan Pajak Rokok. daerah perlu melakukan konsultasi/koordinasi/sosialisasi dengan intansi terkait (kanwil pajak. Menyusun dan menerbitkan perda tentang PBB Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak h. badan pertanahan. Peraturan Pemerintah tentang Penetapan Retribusi Daerah Tambahan yang 4. j. penilaian. 3. harus diatur dalam perda tentang PDRD. 5. 1. pemerintah l. Beberapa peraturan pelaksanaan terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang harus disiapkan oleh Pemerintah adalah: diterbitkan pada tahun 2010. Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pemungutan dan Penyetoran Pajak Rokok yang harus diterbitkan pada tahun 2010. Pelengkap Buku Pegangan 2010 . pendataan. harus diterbitkan pada tahun 2010. Peraturan Pemerintah tentang Sistem Pemungutan Pajak Daerah yang harus 2.g. potensi penerimaan dapat dioptimalkan.

dan 7.6. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri tentang Tahapan Penyiapan peraturan pelaksanaan tersebut tidak menghambat daerah dalam dalam undang-undang tersebut. perumusan Perda PDRD sebagai implementasi dari undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaksanaan Sanksi Pelanggaran 8. Pengalihan PBB Perdesaan dan Perkotaan dan BPHTB menjadi Pajak Daerah. Peraturan Menteri Keuangan tentang Badan atau perwakilan Internasional yang dikecualikan sebagai Subjek BPHTB. karena sebagian besar pokok-pokok pengaturan Perda PDRD telah tercantum V-214 PajakDaerahdanRetribusiDaerah . Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB). Ketentuan PDRD. 9.

bAb Vi dana dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan .

VI-216 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan .

1. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 Kementerian Teknis yang berkoordinasi dalam perumusan kebijakan. Pada tingkat pemerintah pusat. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang/urusan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah dan/atau kabupaten. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang/urusan (NKRI). Kementerian Keuangan. dari pemerintah provinsi kepada pemerintahan dari pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. PENdAHUlUAN Dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia dikenal 3 (tiga) asas penyelenggaraan pemerintahan. atau kota mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Tugas Pembantuan adalah penugasan kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan dan beberapa instansi pemerintah di pusat dan daerah dalam suatu pola hubungan terlibat terdiri dari Kementerian Dalam Negeri. perencanaan. serta dari pemerintah kabupaten.bAb Vi dANA dEKONsENTRAsi dAN TUGAs PEmbANTUAN 6. dan Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan aturan pelaksanaannya. yaitu Desentralisasi. Penyelenggaraan dan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan melibatkan penyelenggaraan tugas dan wewenang. atau kota dan/atau desa. instansi yang dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa. Bappenas. Dekonsentrasi. Kementerian Dalam Negeri mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penataan urusan pemerintahan sejalan dengan ketentuan undang-undang VI-217 . dan evaluasi. dan Tugas mengurus urusan pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia Pembantuan (medebewind).

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mempunyai tugas dalam dilaksanakan oleh beberapa unit Eselon I yang mempunyai peranan dalam siklus pengelolaan informasi. dan perumusan rekomendasi Dana Dekonsentrasi tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan Menteri Keuangan Tugas Pembantuan. penerbitan RABPP dan SAPSK sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan 21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga . Hal ini berarti dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan penyelenggaran sebagian urusan pemerintah pertanggungjawabannya kepada K/l yang memberikan Dana Dekonsentrasi/ Dana Pengalokasian dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di Kementerian Keuangan pendanaan.Bappenas mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penetapan dan sinkronisasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. program sejalan dengan ketentuan undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang tugas dan wewenang dalam hal pengelolaan pendanaan sejalan dengan undangdan aturan pelaksanaannya. Kementerian Keuangan mempunyai tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Sementara kementerian teknis mempunyai tugas dan undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. pelimpahan dan penugasan urusan pusat di daerah yang dilaksanakan oleh aparat pemerintah daerah. Direktorat Jenderal Anggaran mempunyai tugas dalam penelaahan dan aturan pelaksanaannya termasuk Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur VI-218 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan dan Tugas Pembantuan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008 RKA-Kl. undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 melalui bagian anggaran kementerian/lembaga (K/l). undang-undang Nomor 1 wewenang dalam hal pelimpahan/penugasan urusan kepada Daerah yang berkaitan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. evaluasi. dengan program/kegiatan. sedangkan Tugas Pembantuan pemerintahan dimaksud didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Direktorat Jenderal Perbendaharaan mempunyai tugas dalam pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). pembinaan dan koordinasi sistem Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Direktorat pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan aturan pelaksanaannya. Peraturan Pemerintah dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat. pengenaan sanksi. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. pencairan dana.06/2007 tentang Sistem Akuntansi Jenderal Kekayaan Negara mempunyai tugas dalam bidang pengelolaan barang milik negara/daerah sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-219 . serta aturan pelaksanaannya. penerbitan Surat Rincian Alokasi akuntansi instansi (SAI) dan pelaporan keuangan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Anggaran (SRAA).mengenai Standar Biaya.

2.2 PENGElOlAAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN 6.1 PENGERTiAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah pusat yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan VI-220 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan .1 6.Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan gambar 6.

maka pada tataran yang tersedia bagi penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. kondisi dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan daerah sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 ditegaskan 2) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur selaku walikota selaku kepala daerah otonom dalam rangka Tugas Pembantuan didanai dari APBN. pelimpahan kewenangan dalam diikuti dengan pemberian dana. sedangkan Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN Sebagai salah satu unsur dalam sistem perimbangan keuangan antara pemerintah pembagian keuangan yang adil. tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat yang dilaksanakan oleh daerah dan desa yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. dan implementasi. penyelenggaraan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan Dalam sistem perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan 1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didanai dari APBD. transparan. APBN. proporsional. demokratis. pusat dan pemerintahan daerah yang bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem bertanggung jawab dalam rangka penyelengaraan desentralisasi. bahwa: di daerah. 3) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur/bupati/ wakil Pemerintah di daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi didanai dari Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004.dekonsentrasi. Dana yang diberikan untuk mendanai sebagian kewenangan yang dilimpahkan merupakan Dana Dekonsentrasi yang berasal dari Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah VI-221 . mempertimbangkan potensi.

dan kegiatan kementerian/lembaga. Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Pemerintah Pusat melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur (sebagai Pemerintah Pusat melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur/bupati/ c. dimana setiap adanya penugasan dari Dana yang diberikan untuk mendanai penugasan merupakan Dana Tugas Pembantuan mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas yang diberikan. tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk Instansi Vertikal Pusat di daerah. Pelimpahan/penugasan wewenang dimaksud dijabarkan dalam bentuk program VI-222 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . kementerian/lembaga kepada kepala daerah akan diikuti dengan pemberian dana. Pendanaan Tugas Pembantuan dilaksanakan setelah adanya penugasan dari walikota (sebagai kepala daerah). Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. pendanaan sebagai berikut: a.07/2008. Hal ini berarti bahwa Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran kementerian negara/lembaga yang dialokasikan untuk daerah provinsi/ kabupaten/kota dan/atau desa sesuai dengan beban dan jenis penugasan 6.2. wakil Pemerintah Pusat di daerah). Pembantuan tersebut. Pendanaan Dekonsentrasi dilaksanakan setelah adanya pelimpahan wewenang dari b. yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh perangkat daerah dan/atau desa yang Demikian pula dengan Tugas Pembantuan.APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah pusat.2. PRiNsiP PENdANAAN dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN Sesuai dengan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004.

antara lain sinkronisasi dan koordinasi perencanaan. supervisi. Pendanaan kegiatan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan oleh pemerintah pusat ditugaskan. antara sejenisnya. jalan. termasuk barang bantuan sosial yang diserahkan kepada masyarakat. pengadaan bibit dan pupuk.d. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan pengadaan input berupa barang habis pakai dan/atau aset tetap. serta dapat berupa kegiatan yang bersifat fisik lainnya (antara lain pengadaan Tugas Pembantuan. fasilitasi. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan i. penyuluhan. Kegiatan yang didanai dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas disesuaikan dengan beban dan besar/kecilnya wewenang yang dilimpahkan/ kementerian/lembaga yang dialokasikan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Pembantuan adalah lingkup kewenangan yang sudah menjadi tupoksi kementerian/ Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku kuasa pengguna anggaran/barang (KPA/B). bangunan. pembinaan dan Dekonsentrasi. peralatan dan mesin. Kementerian/lembaga (RKA-K/l). Kegiatan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan di daerah dilaksanakan oleh Satuan h. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran f. penelitian dan survey. e. irigasi dan jaringan. serta pengendalian. Pendanaan dalam rangka Tugas Pembantuan dialokasikan untuk kegiatan bersifat fisik. yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang tidak menambah aset tetap. lembaga. barang habis pakai. bimbingan teknis. sebagian kecil Dana Dekonsentrasi dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/atau pengadaan input lain pengadaan tanah. vaksin. Pendanaan dalam rangka Dekonsentrasi dialokasikan untuk kegiatan bersifat pengawasan. yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang menambah aset tetap. g. non-fisik. seperti obat-obatan. berupa barang habis pakai dan/atau aset tetap. atau serta pemberdayaan masyarakat). sebagian kecil Dana Tugas Pembantuan dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/atau Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal VI-223 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . pelatihan.

yang merupakan urusan pemerintah di daerah dan disusun berdasarkan Rencana pengganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tersebut dilakukan sesuai Kerja dan Anggaran Kementerian/lembaga (RKA-Kl). Ketiga parameter penyusunan perencanaan daerah dan kemampuan keuangan daerah. proses perencanaan dan penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disusun dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran kementerian/lembaga yang dialokasikan untuk mendanai program dan kegiatan dengan ketentuan yang berlaku bagi APBN.2. efisien. gubernur memberitahukan RKA-K/l yang telah diterima dari kementerian/ lembaga kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD berkaitan dengan kegiatan Dekonsentrasi di daerahnya.3. dan tidak terkonsentrasi di suatu daerah tertentu. dan penganggaran itu mengandung makna bahwa pengalokasian Dana Dekonsentrasi urusan pemerintah pusat serta mempertimbangkan besarnya transfer belanja Pusat ke dan Tugas Pembantuan disesuaikan dengan kemampuan APBN dalam mendanai dan kebutuhan pembangunan di daerah. VI-224 pembantuan menjadi lebih efektif.j. gubernur/Bupati/Walikota memberitahukan RKA-Kl yang telah diterima dari 6. keseimbangan pendanaan di daerah. agar alokasi dana dekonsentrasi dan tugas Tugas Pembantuan juga seyogyanya disesuaikan dengan prioritas pembangunan nasional dan prioritas pembangunan daerah. berkaitan dengan rencana kegiatan TP di daerah provinsi/kabupaten/kota. kementerian/lembaga kepada DPRD setempat pada saat pembahasan RAPBD k. penyusunan perencanaan dan penganggaran Dekonsentrasi dan DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . Dengan demikian mekanisme Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008. Selain itu. PENGANGGARAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN Sesuai definisi dan prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.

Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal di atas sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (1) undang-undang Nomor 17 efektif. Dana dekonsenstrasi dan Tugas Pembantuan sebagai dikelola secara tertib. Menteri Pembantuan Hasil rumusan keseimbangan pendanaan di daerah dimaksud dituangkan Rekomendasi kementerian/lembaga dalam rangka perencanaan lokasi dan anggaran kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Keseimbangan Pendanaan di daerah dalam Rangka Perencanaan lokasi dan Alokasi dana dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Keseimbangan pendanaan di daerah dalam rangka perencanaan lokasi dan alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tersebut Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan bahwa Keuangan Negara bagian dari keuangan negara harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Dana Dekonsentrasi Keseimbangan pendanaan dilakukan secara proporsional agar sebaran alokasi dan/atau Tugas Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tidak terkonsentrasi pada daerah transfer ke daerah dan kemampuan keuangan daerah. oleh karena itu. dengan tembusan kepada Kepala Bappenas selambat-lambatnya bulan Maret mempertimbangkan Kemampuan Fiskal Daerah yang terdiri dari besarnya Keuangan menjadi dasar pertimbangan bagi Rekomendasi Menteri Keuangan disampaikan kepada kementerian/ lembaga Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. transparan.07/2008 sebagai berikut: • • • • • Pengalokasian tertentu. ekonomis. taat pada peraturan perundang-undangan.a. sebelum penyusunan Renja-Kl. Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-225 . efisien. dalam Rekomendasi Menteri Keuangan. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

sementara setiap menteri/pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah untuk mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan tugas Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan K/l dalam pendanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan gambar 6. dan pengawasan keuangan. Prinsip wewenang dan tanggung jawab. VI-226 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. administrasi kepabeanan. Indonesia. administrasi . penganggaran.2 keuangan negara dalam undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 dikatakan bahwa fiskal) pada hakekatnya adalah Chief Financial Officer (CFo) Pemerintah Republik Chief Operational Officer (Coo) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan. perbendaharaan. terlaksananya mekanisme checks and balances serta Secara umum aspek pengelolaan fiskal meliputi beberapa fungsi yaitu pengelolaan perpajakan.Selanjutnya dalam Penjelasan umum poin (5) Kekuasaan atas pengelolaan Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan (pengelola ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam pembagian pemerintahan.

sedangkan kementerian/lembaga (teknis) berwenang merencanakan lokasi dan Maksud dan tujuan rekomendasi ini adalah untuk mewujudkan transparansi dan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dana kesejahteraan masyarakat yang dibentuk dari 4 (empat) indikator. lain-lain Pendapatan yang Sah. serta Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. kesehatan dan huruf penduduk dewasa. besaran alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan berdasarkan indikator akuntabilitas. a. teknis yang dimiliki setelah mempertimbangkan rekomendasi Menteri Keuangan.Terkait dengan fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dan penganggaran dalam rangka Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dana otonomi Khusus. rata-rata lama sekolah. langkah-langkah formulasi keseimbangan pendanaan adalah sebagai berikut: Menentukan Indeks Kemampuan Fiskal Daerah: DBH Pajak. i. DAK. serta proporsional dalam pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan melalui indikator umum berupa peta Tugas Pembantuan. DBH SDA. Variabel KFD diukur berdasarkan besaran: Pendapatan Asli Daerah. angka harapan hidup. dan memberikan masukan bagi kementerian/ lembaga dalam merencanakan lokasi dan alokasi Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan agar tepat sasaran dan tidak terkonsentrasi di daerah tertentu. yaitu: angka melek Bagi Hasil. dan Dana otsus). Dana Alokasi Khusus. Dana Penyesuaian. meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana Variabel yang digunakan dalam formulasi keseimbangan pendanaan di daerah adalah Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menteri Keuangan mempunyai kewenangan untuk mengarahkan kementerian/lembaga dalam perencanaan lokasi dan alokasi keseimbangan pendanaan di daerah yang disampaikan dalam bentuk rekomendasi. pengurang). Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal VI-227 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . dan Belanja PNSD (sebagai Menghitung besaran transfer daerah (jumlah dana perimbangan: DAu. Dana Alokasi umum. Sementara IPM merupakan cerminan tingkat pendidikan.

c. penduduk. Cluster 4: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di atas rata-rata nasional Hasil kedua perbandingan KFD dan IPM tersebut di atas tersusun dalam 4 VI-228 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . Menghitung kemampuan keuangan daerah (jumlah PAD dan lain-lain Pendapatan yang sah dikurangi Belanja PNSD). f.b. Mengkaitkan KFD dengan IPM: a. Cluster 1: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di atas rata-rata Cluster 2: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di bawah rata-rata nasional namun IPM di atas rata-rata nasional. (lampiran II). Menghitung KFD per kapita yang didapat dari KFD dibagi dengan jumlah Menghitung KFD Riil yang didapat dari KFD per kapita dibagi Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) sebagai proxy perbedaan tingkat harga antar rata KFD Riil nasional sehingga diperoleh Peta KFD (lampiran I). Menentukan Indeks KFD sebagai hasil dari pembagian KFD Riil terhadap rata- ii. Membandingkan indeks KFD daerah dengan rata-rata KFD Nasional sehingga Membandingkan IPM daerah dengan rata-rata IPM Nasional sehingga menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata nasional. daerah. b. nasional nasional cluster daerah sebagai berikut: menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata nasional. c. Menentukan Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) yang merupakan hasil d. e. penjumlahan dana transfer daerah dan kemampuan keuangan daerah. Cluster 3: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah rata-rata namun IPM di bawah rata-rata nasional.

RKA-Kl tersebut juga diberitahukan RKA-Kl yang telah ditetapkan menjadi SAPSK sebagai dasar dalam penyusunan DIPA. gubernur/Bupati/walikota menyampaikan usulan SKPD selaku Kuasa Pengguna Anggaran. SAPSK dimaksud kemudian disampaikan kepada gubernur/Bupati/Walikota. b. Pejabat Pembuat Komitmen. Tata cara penyusunan RKA-Kl dan penetapan/pengesahan DIPA mengacu pada Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-229 . Pejabat Penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah Membayar. dan Bendahara Pengeluaran dan menyampaikannya kepada kementerian/lembaga selambat-lambatnya minggu oleh gubernur/Bupati/ Walikota kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD untuk tujuan sinkronisasi program dan kegiatan yang akan didanai dari APBN dan APBD ketentuan peraturan perundang-undangan. Proses Penganggaran dana dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Pengangaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dituangkan dalam penyusunan RKA-Kl yang setelah melalui proses pembahasan dan penelaahan dengan K/l terkait kemudian ditetapkan menjadi Satuan Anggaran Per Satuan Kerja (SAPSK). pejabat pengelola keuangan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan yang terdiri dari pertama bulan Desember pada tahun berjalan. Prioritas I: Daerah pada Cluster 3. prioritas daerah yang akan direkomendasikan sebagai penerima dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagai berikut: a. lembaga terkait. Setelah menerima RKA-Kl tersebut. Selanjutnya untuk menentukan besaran alokasi dana dekonsentrasi/tugas pembantuan ke masing-masing daerah digunakan indikator teknis yang disusun oleh kementerian/ b.Berdasarkan hasil formulasi tersebut. Prioritas II: Daerah pada Cluster 2.

5. PENYAlURAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs PEmbANTUAN Berdasarkan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004.6.4. Aspek keluaran. kendala yang dihadapi. neraca. Sementara aspek akuntabilitas terdiri dari sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Secara rinci pertanggungjawaban dan pelaporan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Kepala SKPD provinsi selaku Kuasa Pengguna Anggaran/ Barang dekonsentrasi wajib VI-230 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan menyelenggarakan akuntansi dan bertanggung jawab terhadap penyusunan dan . pencapaian target Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.. Peraturan Menteri Keuangan No. Pembantuan adalah sebagai berikut : a. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan disalurkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) melalui Rekening Kas umum Negara. 134/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. dan saran tindak lanjut sejalan dengan Peraturan laporan realisasi anggaran. dan laporan barang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. PERTANGGUNGjAWAbAN dAN PElAPORAN Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disebutkan bahwa pertanggungjawaban dan pelaporan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan mencakup aspek manajerial dan aspek akuntabilitas. Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Sedangkan mekanisme penyaluran Dana 6. catatan atas laporan keuangan.2.2. dana dekonsentrasi manajerial terdiri dari perkembangan realisasi penyerapan dana.

untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut. gubernur penyampaian laporan dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/ nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan lembaga pemberi dana dekonsentrasi dengan tembusan kepada SKPD yang membidangi pengelolaan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran.07/2008 yang secara garis besar dapat disajikan sebagai berikut: a) Setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. dana Tugas Pembantuan Penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang berikut : a) Setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. dan b) sebagai Koordinator unit akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah c) Menteri/ pimpinan lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi menyampaikan d) laporan pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas pelaksanaan laporan pertanggungjawaban dimaksud kepada Presiden melalui Menteri Keuangan dekonsentrasi oleh gubernur dilampirkan dalam laporan Pertanggungjawaban b. Pelaksanaan APBD kepada DPRD. Kepala SKPD provinsi Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal atas pelaksanaan Tugas Pembantuan secara garis besar dapat diuraikan sebagai atas nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-231 . gubernur menugaskan/ menetapkan SKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah (Koordinator uAPPB-W).penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang. kepala SKPD provinsi atas keuangan daerah. Penyusunan dan PMK. (Koordinator uAPPA-W) dan SKPD yang membidangi pengelolaan barang/ kekayaan daerah sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah setiap berakhirnya tahun anggaran.

SKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator unit e) Menteri/ pimpinan lembaga yang mengalokasikan dana Tugas pembantuan f) laporan pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas pelaksanaan tugas Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (Koordinator uAPPA-W) dan pembantuan setiap berakhirnya tahun anggaran dilampirkan dalam laporan VI-232 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . dengan tembusan kepada SKPD yang tahun anggaran. keuangan dan kepada menteri/pimpinan lembaga pemberi dana tugas pembantuan. untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut. c) gubernur pemberi dana dan tugas pembantuan. dengan tembusan kepada gubernur. Menteri Keuangan setiap berakhirnya tahun anggaran. menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud pertanggungjawaban keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan lembaga menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya menugaskan/menetapkan SKPD yang mebidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran (Koordinator uAPPB-W). SKPD yang membidangi pengelolaan barang/kekayaan daerah sebagai Koordinator menyampaikan laporan pertanggungjawaban dimaksud kepada presiden melalui Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD kepada DPRD. Kepala SKPD kabupaten/ kota atas nama bupati/walikota menyusun dan menyampaikan laporan membidangi pengelolaan keuangan daerah. dengan tembusan kepada SKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah. bupati/walikota menugaskan/menetapkan unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (Koordinator uAPPB-W). gubernur daerah sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya Wilayah dan d) Bupati/walikota menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud dan (Koordinator uAPPA-W) dan SKPD yang membidangi pengelolaan barang/kekayaan tahun anggaran. untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut.b) Setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran.

maka daerah wajib mengelola dan dalam APBD melalui SKPD provinsi yang bersangkutan.2.6. Dana Dekonsentrasi/ Tugas Pembantuan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. dan SKPD wajib melakukan penatausahaan atas BMN sesuai ketentuan yang berlaku. maka dalam pelaksanaan dan penyelenggaraannya bisa menghasilkan output berupa BMN. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-233 . Barang yang sudah dihibahkan kepada daerah wajib dikelola dan ditatausahakan oleh daerah. Barang tersebut dapat dihibahkan menatausahakannya sebagai barang milik daerah (BMD). barang yang dibeli atau diperoleh dari pelaksanaan Dana Dekonsentrasi merupakan penunjang dari pelaksanaan Dekonsentrasi. dengan konsekuensi bahwa penatausahaan. Namun. PENGElOlAAN bARANG miliK NEGARA a. Konsekuensinya ialah daerah wajib menganggarkan seluruh kebutuhan operasi dan pemeliharaannya di b. status barang Hasil Pelaksanaan dekonsentrasi Peraturan Pemerintah Nomor. dapat dihibahkan kepada daerah. barang-barang dimaksud sifatnya hanya berupa kepada daerah dan apabila sudah dihibahkan.Adapun bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban keuangan atas barang dan jasa dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. khususnya Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Sistem Akuntansi 6. status barang dalam Pelaksanaan Tugas Pembantuan Mengingat dana tugas pembantuan digunakan untuk mendanai kegiatan yang bersifat fisik. penggunaan dan pemanfaatan barang tersebut dilaksanakan oleh daerah provinsi/ Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme penghibahan BMN mengikuti Peraturan Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara. BMN yang diperoleh dari hasil pelaksanaan Tugas Pembantuan juga kabupaten/kota sebagai BMD dengan dukungan dana dari APBD yang bersangkutan. Pemanfaatan. 7 tahun 2008 juga mengamanatkan bahwa semua barang milik negara (BMN).

serta pemantauan efektivitas pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan serta mengikuti ketentuan yang berlaku bagi APBN. PEmERiKsAAN dANA dEKONsENTRAsi dAN dANA TUGAs PEmbANTUAN Pemeriksaan atas Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan meliputi pemeriksaan keuangan. pembinaan dan pengawasan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan sebagai pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dan evaluasi. d) Pengawasan tersebut dilaksanakan dalam rangka pencapaian efisiensi dan 6. PEmbiNAAN dAN PENGAWAsAN dEKONsENTRAsi/ TUGAs PEmbANTUAN berikut: Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008.2.3. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu: • keuangan.1. dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi dan tugas Pembantuan yang meliputi pemberian pedoman. pemeriksaan kinerja. PENGAWAsAN dAN PEmERiKsAAN 6.3. transparansi. PEmbiNAAN. fasilitasi dan bimbingan teknis.6. a) Menteri Negara/Pimpinan lembaga melakukan pembinaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan urusan pemerintah yang dilimpahkan kepada gubernur terhadap b) Menteri Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penggunaan c) Pembinaan tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja.3. Pemeriksaan keuangan pemeriksaan yang dapat berupa pemeriksaan atas laporan VI-234 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan .

Sanksi penundaan pencairan. dan/atau kementerian/lembaga yang memberikan Dana Dekonsentrasi dan/atau Dana Tugas Pembantuan secara berturut-turut 2 (dua) kali dalam tahun anggaran Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-235 . pemeriksaan investigatif dan pemeriksaan atas sistim pengendalian Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan oleh unit pemeriksaan internal kementerian/lembaga dan/atau unit pemeriksaan Eksternal Pemerintah. SKPD tidak ketentuan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah Pusat.• • Pemeriksaan kinerja berupa pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi pemeriksaan atas hal-hal lain dibidang intern pemerintah. pelaksanaan kegiatan. efisiensi.4. 6.07/2008 diatur bahwa SKPD penerima Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan yang secara sengaja atau lalai tidak kementerian/lembaga dikenakan sanksi berupa: menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan dana dimaksud kepada a). i. kinerja dan tujuan tertentu berpedoman pada peraturan perundangan-undangan. sANKsi Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeriksaan keuangan. dapat dilakukan apabila: berjalan. Pengenaan sanksi penundaan pencairan dimaksud tidak membebaskan SKPD dari kewajiban menyampaikan laporan Dana menyampaikan laporan keuangan triwulanan kepada b). apabila SKPD tidak melakukan rekonsiliasi laporan keuangan dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara setempat sesuai Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan. Penghentian pembayaran dalam tahun berjalan. yang terdiri dari pemeriksaan atas aspek ekonomi. dan efektivitas atas keuangan.

dan/atau 6. atau aparat pemeriksa fungsional lainnya. ii. sinkronisasi pengalokasian Pemerintah No. BPKP. Pada aspek perencanaan. penganggaran maupun walikota) dengan kementerian/lembaga sebagaimana diatur dalam Pasal 12 Peraturan pembinaan dan pengawasan. melakukan penyimpangan sesuai hasil pemeriksaan BPK. Kementerian/lembaga tidak diperkenankan mengalokasikan Dana Dekonsentrasi dan/atau Dana Tugas Pembantuan untuk tahun berikutnya apabila SKPD penerima dana dimaksud: i. walikota) mempunyai peran yang sangat besar dalam penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan baik pada tataran perencanaan. Selanjutnya. PERAN KEPAlA dAERAH dAlAm PENYElENGGARAAN dEKONsENTRAsi dAN TUGAs PEmbANTUAN Berdasarkan butir-butir penjelasan mengenai Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di atas. Inspektorat Jenderal kementerian/lembaga yang bersangkutan atau aparat pemeriksa fungsional lainnya.ii. ditemukan adanya penyimpangan dari hasil pemeriksaan BPK. 7 Tahun 2008 dilaksanakan sejak tahap penyusunan Renja K/l dan pelaksanaan Musrenbangnas. Pemberitahuan definitif tentang . dapat kita garis bawahi bahwa kepala daerah (gubernur/bupati/ Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan antara kepala daerah (gubernur. bupati. BPKP. setelah K/l menerima pagu sementara dan meyusun RKA-Kl maka kementerian/lembaga berkewajiban untuk menyampaikan kepada pemerintah daerah tentang indikasi kegiatan Dekonsentrasi atau Tugas VI-236 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan Pembantuan yang akan dilaksanakan oleh daerah. iii. tidak memenuhi target kinerja pelaksanaan kegiatan tahun sebelumnya yang tidak pernah menyampaikan laporan keuangan dan barang sesuai ketentuan Inspektorat Jenderal kementerian/lembaga yang bersangkutan.5. yang berlaku pada tahun anggaran sebelumnya. telah ditetapkan. c).

Selain itu kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) juga melakukan koordinasi. pengawasan dan pelaporan pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dengan Kementerian/lembaga terkait seperti diatur dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Ketentuan dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Peraturan Pemerintah No.kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang akan dilaksanakan oleh daerah disampaikan oleh Kementerian/ lembaga kepada pemerintah daerah dengan Surat Keputusan / Penetapan Menteri/ Pimpinan lembaga berkenaan setelah ditetapkannya Keppres tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP). walikota) melakukan penyiapan perangkat daerah yang akan melaksanakan program dan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Wewenang serta Kedudukan Keuangan gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. yang menyatakan bahwa gubernur sebagai wakil pemerintah memiliki tugas kota. bupati.7 Tahun 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2010 dimaksud juga menggaris-bawahi dan sinkronisasi dalam setiap tahap dan dengan seluruh stakeholder agar tujuan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-237 . pengendalian. Peraturan Pemerintah No. pada tahap penganggaran. pembinaan. setelah menerima RKA-Kl yang ditetapkan menjadi SAPSK kepala daerah (gubernur.7 Tahun 2008 tersebut telah sejalan dengan ketentuan dalam pasal 3 ayat (1) huruf i Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan melaksanakan urusan pemerintah yang antara lain meliputi koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ bahwa salah satu peran dan tugas utama gubernur adalah melakukan koordinasi penyelenggaran pemerintahan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya sesuai dengan pasal 22 Peraturan Pemerintah tersebut.

Pembangunan yang bersifat dan pemerataan. meyakini bahwa pembangunan suatu bangsa masyarakat Indonesia. sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 13 untuk mendanai urusan pusat sehingga tidak diperlukan dana pendamping dari daerah. atau sering disebut juga sebagai growth with equity. Dengan sinergi VI-238 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan tersebut. PENdANAAN URUsAN bERsAmA PUsAT dAN dAERAH program PNPM Mandiri Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan suatu pola baru dalam 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. salah satu cara untuk mengantisipasi tantangan pembangunan yang dan daerah sebagaimana ditegaskan dalam Perpres 13 Tahun 2009 dan Perpres 15 mewujudkan hal tersebut. menjangkau dan mengangkat derajat seluruh lapisan inklusif ini mensyaratkan adanya keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan Secara umum. diseluruh wilayah nusantara. yaitu inklusif yang merupakan harmonisasi antara keserasian dan keseimbangan. program PNPM Mandiri ditetapkan sebagai urusan bersama pusat Program PNPM Mandiri merupakan salah satu bagian dari proses pembangunan dimana pemerintah pada hakikatnya. pemerintah telah menetapkan triple track strategy. adalah dengan meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung untuk kesinambungan pembangunan nasional yang berdimensi kewilayahan. pendanaan program PNPM Mandiri pada mulanya dialokasikan melalui mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan. proses dan hasil pembangunan tidak hanya terjadi pada sekelompok orang . Di sisi lain.6.6. Hal tersebut tentu tidak tepat karena dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan hanya digunakan Tahun 2010 dan oleh karenanya dapat didanai bersama dari APBN dan APBD. pro job dan pro poor. seyogyanya bersifat inklusif. strategi pembangunan yang pro growth. pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan khususnya dalam pelaksanaan Tahun 2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun Sebagaimana diketahui.

tersebut.atau pada sedikit daerah/wilayah tertentu saja. persen pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun 2009 yang sebesar 14. seperti lapangan kerja masih terbatas. Issue yang sifatnya crosscutting baik karena sifatnya yang memerlukan koordinasi issue terkait penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dalam rangka menurunkan kinerja pemerintah. dan program-program pro rakyat. maka diperlukan strategi kebijakan yang tepat dengan menempatkan prioritas pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda tinggi Selanjutnya untuk memenuhi capaian kinerja tersebut. Kegiatan yang diprioritaskan untuk menjalankan agenda penanggulangan program kemiskinan dengan melalui upaya peningkatan pembangunan pertanian. pembangunan pedesaan.5 PNPM Mandiri merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. mengingat kemampuan ekonomi untuk menciptakan dan sinkronisasi antar kementerian dan juga tiap tingkatan pemerintahan. Harmonisasi dan konsolidasi program-program penanggulangan kemiskinan yang tersebar di beberapa kementerian/lembaga ke dalam satu program PNPM Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-239 . mencantumkan salah satu agenda program pembangunan dalam Rencana Kerja maka pemerintah Pemerintah (RKP) tahun 2010 yaitu pemeliharaan kesejahteraan masyarakat. serta penataan kelembagaan dan pelaksanaan sistem perlindungan sosial.0-13.15 persen mempercepat penanggulangan kemiskinan dan mempercepat penciptaan lapangan kerja. yaitu suatu program yang merupakan harmonisasi dan konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang diperlukan untuk Mandiri tersebut telah dimulai pada tahun 2007. namun lebih merata dan menyebar serta tidak terfokus pada wilayah tertentu saja. yaitu penurunan jumlah persentase penduduk miskin menjadi 12. Namun tingkat pengangguran dan kemiskinan merupakan salah satu agenda capaian terhadap penciptaan kesempatan kerja.

69 triliun dan Rp11.83 triliun. baik yang bersumber dari APBN maupun APBD. dan PNPM Mandiri Perdesaan.Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Bappenas. kemudian pada tahun 2008 dan tahun 2009 Data dari Direktorat Jenderal Anggaran.1 VI-240 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . pada berturut-turut meningkat menjadi Rp6. Sementara pada tahun 2010 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp11. dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan. Alokasi anggaran Bantuan langsung Masyarakat (BlM) PNPM Mandiri Perkotaan tahun 2007 adalah sebesar Rp3. alokasi anggaran untuk program PNPM Mandiri terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Keuangan juga menunjukan trend yang meningkat pada alokasi dana PNPM.84 triliun.01 triliun. berikut ini. sebagaimana terlihat pada Tabel 6.

Sumber data : DJA RKA/Kl 2008-2009. TP = Tugas Pembantuan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal VI-241 Pelengkap Buku Pegangan 2010 . 1 Keterangan .DK = Dekosentrasi. KD = Kantor VErtikal. KP = Kantor Pusat. Se-Provinsi = Konsolidasi Provinsi dan Kab/Kota di Provinsi bersangkutan .Per lokasi (Se-Provinsi*) Tahun 2008-2009 (Miliar Rp) Rekapitulasi Alokasi Dana PNPM Tabel 6.

Sebagaimana Mandiri Perdesaan memiliki karakteristik tertentu yaitu: pemerintah daerah. – Jenis belanja yang dialokasikan lebih dominan dipenuhi dengan Belanja Bantuan – Sementara itu fund chanelling yang digunakan saat itu adalah mekanisme dana 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan Menteri Keuangan Dana Tugas Pembantuan disebutkan bahwa kegiatan yang didanai melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan adalah: Pusat. – Mensyaratkan cost-sharing atau dana pendamping dari Daerah dalam bentuk – Mendanai kegiatan yang bersifat Bantuan langsung kepada Masyarakat. dan gubernur/bupati/walikota untuk TP. penugasan sebagai dasar pelaksanaan TP. utamanya dalam aspek pendanaan. pelaksanaan program PNPM Mandiri tersebut hingga tahun 2009 masih menemui beberapa kendala. program PNPM Mandiri. sebutan apapun yang bersumber APBD.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan – Kegiatan yang merupakan urusan yang ditangani merupakan urusan Pemerintah – Kegiatan dilaksanakan oleh gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat untuk Dekon – Kegiatan bersifat Non Fisik untuk Dekon dan Fisik untuk TP. dekonsentrasi dan tugas pembantuan. diketahui. karena sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun Nomor 156/PMK. khususnya PNPM Mandiri Perkotaan dan PNPM – urusan yang ditangani merupakan urusan bersama pemerintah pusat dan – Dana cost-sharing tersebut diikat dalam naskah kesepahaman. Hal ini tentu saja belum tepat.Namun demikian. – Tidak diperkenankan mensyaratkan dana pendamping atau sebutan lain yang – Menggunakan surat pelimpahan sebagai dasar pelaksanaan Dekon dan surat VI-242 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . membebani APBD. Sosial.

dan menambah 1 (satu) kode tingkat kewenangan pelaksanaan kegiatan (diluar KP. Dalam Pasal 34 dan Pasal 36 Perpres 13 Tahun 2009 Selanjutnya berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Anggota Tim Koordinasi tersebut diatur sistem pendanaan urusan bersama yang bersumber dari APBN dan Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Nasional. disempurnakan. pada tanggal 27 Maret 2009. Melalui Surat Nomor B. Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yang merupakan payung APBD. KD. Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat selaku Ketua TKPK menugaskan Menteri Keuangan untuk menyiapkan aturan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004.122/MENKo/ KESRA/VI/2009 tanggal 12 Juni 2009. aspek legalitas dalam penyediaan sharing pendanaan dari pemerintah daerah dalam pendanaan PNPM Mandiri pun perlu untuk terus tetap meneruskan pola pendanaan melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan maka Pendanaan yang ada. pelaksanaan tentang Pendanaan urusan Bersama Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan.Dengan demikian. hukum bagi penanganan urusan bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam (PNPM Mandiri) menyalahi aturan karena tidak sesuai dengan ketentuan Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang kemudian diubah dengan Perpres 15 penanggulangan kemiskinan. pemeriksaaan oleh BPK – laporan Keuangan Pemerintah Pusat menjadi Disclaimer pada saat dilakukan Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut. DK. Hal tersebut didasarkan atas pemikiran bahwa apabila PNPM Mandiri – Pendanaan urusan Bersama terhadap program penanggulangan kemiskinan – Pendanaan urusan Bersama dinyatakan tidak transparan dan akuntabel. TP) yang selama ini belum diakomodir di Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-243 .

PENGERTiAN PENdANAAN URUsAN bERsAmA PUsAT dAN dAERAH Urusan Bersama Pusat dan Daerah dapat didefinisikan sebagai urusan pemerintahan di luar urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan sepenuhnya Pemerintah. Kabupaten/Kota. dan bersinergi dengan dunia usaha dan Lebih spesifik pada aspek pendanaan. terencana. yang hanya diperuntukkan bagi pendanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan. Sesuai dengan hal tersebut. Pemda Provinsi. dengan ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK. yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah.6. Seperti telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya. Disamping itu Peraturan Menteri Keuangan pendamping dari APBD untuk program PNPM Mandiri atau yang disebut Dana 6. urusan bersama pusat dan daerah difokuskan untuk penanggulangan kemiskinan yang merupakan kebijakan dan program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat. dan Pemda dilakukan secara sistematis. dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendanaan urusan Bersama adalah pendanaan yang bersumber dari APBN dan APBD yang digunakan untuk mendanai program/kegiatan bersama Pusat dan daerah untuk VI-244 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan .07/2009 tentang pemerintah telah memberikan dasar hukum bagi daerah untuk menyediakan dana Daerah untuk urusan Bersama (DDuB).Dalam rangka melaksanakan Peraturan Presiden tersebut diatas Menteri Keuangan tata cara pengelolaan dana program Nasional penanggulangan kemiskinan khususnya selaku Pengelola Fiskal dan Bendahara umum Negara perlu mengatur penyediaan dan mengenai Dana urusan Bersama pusat dan daerah. maka Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan.1. dimaksud juga merupakan upaya untuk menyempurnakan mekanisme pendanaan yang digunakan untuk program PNPM Mandiri selama ini.

dibedakan menjadi singkat mengenai hal tersebut.penanggulangan kemiskinan. serta Dana Daerah untuk urusan Bersama yang selanjutnya disebut DDuB. PRiNsiP-PRiNsiP PENdANAAN URUsAN bERsAmA PUsAT dAN dAERAH Sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/ PMK. gambar dibawah ini memberikan penjelasan Sumber Pendanaan urusan bersama gambar 6.2. 3 6.6. yaitu dana yang bersumber dari APBD. di lakukan sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-245 . Berdasarkan sumber pendanaannya. yaitu dana yang bersumber dari APBN.07/2009 Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan. Dana urusan Bersama yang selanjutnya disebut DuB.

taat pada peraturan jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. PERENCANAAN dAN PENGANGGARAN dANA URUsAN bERsAmA PUsAT dAN dAERAH Sesuai definisi dan prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. transparan. yang komponen bantuan langsung masyarakatnya adalah belanja bantuan sosial. sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri VI-246 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan untuk mendanai program dan kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan . ekonomis. dari APBN. APBD. dan/atau didanai bersama APBN dan APBD. dan bertanggung ditujukan untuk kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan berbasis – Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan dirinci dalam bentuk kegiatan 6.3. perundang-undangan. – Pendanaan dilakukan setelah adanya kesepakatan kedua belah pihak yang – Pengelolaan DuB dan DDuB dilakukan dengan prinsip tertib. dapat dikemukakan bahwa Dana urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan bagian anggaran kementerian/lembaga dan anggaran pemerintah daerah yang dialokasikan kemiskinan.6. Terkait dengan hal tersebut.– Pendanaan urusan Bersama untuk Penanggulangan Kemiskinan dapat didanai – Dalam hal Program Penanggulangan Kemiskinan didanai bersama pendanaan yang melalui SKPD dalam bentuk DDuB. efektif. Daerah. dituangkan dalam naskah perjanjian antara Pemerintah dan Pemerintahan bersumber dari APBN dialokasikan melalui bagian anggaran kementerian/lembaga dalam bentuk DuB dan pendanaan yang bersumber dari APBD dialokasikan – Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan pemberdayaan masyarakat yang terdiri atas program-program yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat. efisien.

penetapan penanggungjawab dalam pengelolaan DuB. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-247 .Keuangan Nomor 168/PMK. wajib mengacu pada RKP dan dituangkan dalam Renja-Kl memberitahukan indikasi – Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan dikoordinasikan oleh Tim – Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai dari APBN – Kementerian/lembaga Penanggulangan Kemiskinan yang akan diselenggarakan bersama antara pusat dan daerah kepada kepala daerah paling lambat pertengahan bulan Juni atau Penanggulangan Kemiskinan tingkat Nasional. b. rincian alokasi dan lokasi dana program/ kegiatan yang diselenggarakan sumber dan besaran pendanaan.07/2009 terhadap proses perencanaan dan penganggaran berlaku ketentuan sebagai berikut: – Perencanaan Program Penanggulangan Kemiskinan merupakan bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional. c. Penanggulangan Kemiskinan Nasional/ Provinsi/ Kabupaten/Kota. mengenai ketentuan/persyaratan penyelenggaraan urusan bersama yang akan setelah ditetapkannya pagu sementara dengan tembusan kepada Ketua Tim terkait – Naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama sekurang-kurangnya d. memuat: a. dituangkan dalam naskah perjanjian. Program/Kegiatan – Pemberitahuan tentang indikasi program tersebut. disertai dengan informasi – Menteri/Pimpinan lembaga dan Kepala Daerah menandatangani naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama pusat dan daerah untuk program Pemerintah Pusat. penanggulangan kemiskinan paling lambat minggu pertama bulan Desember atau setelah ditetapkannya Peraturan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja subyek kerja sama. bersama.

indeks fiskal dan kemiskinan VI-248 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . Penanggulangan Kemiskinan dan alokasi anggaran DuB disusun dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara. program/kegiatan Penangulangan Kemiskinan kepada Kementerian/lembaga. Kepala Daerah meneruskan – Kepala Daerah menyampaikan usulan nama SKPD yang akan melaksanakan – Dalam hal pemberitahuan indikasi program/kegiatan penanggulangan kemiskinan dapat menolak pelaksanaan program/kegiatan dimaksud. serta indikator teknis. proses tersebut diatas dapat dijelaskan dalam gambar siklus dibawah ini. e. kepada kementerian/ lembaga. program/kegiatan penanggulangan kemiskinan disesuaikan dengan kemampuan APBN melalui bagian anggaran Kementerian/lembaga. wajib mengacu pada RKPD dan dituangkan dalam Renja-SKPD. daerah. klausul komitmen daerah untuk tertib pelaporan keuangan DuB oleh daerah tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah. dan jangka waktu kerja sama. f.– Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai dari APBD – Dalam hal pemberitahuan indikasi program/kegiatan penanggulangan kemiskinan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). kepala daerah indikasi program/kegiatan dimaksud kepada SKPD sebagai bahan penyusunan Renja-SKPD dan rencana penyediaan DDuB. serta pembahasan dengan Dewan – Rencana daerah penyelenggara urusan Bersama Pusat Dan Daerah untuk – Kemampuan keuangan negara dimaksudkan bahwa pengalokasian DuB untuk Secara umum. tersebut diatas tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah.

4.6.Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama gambar 6. Peraturan Menteri Keuangan tersebut merupakan pengaturan Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan lebih lanjut ketentuan dalam Pasal 7 ayat (6) Peraturan Menteri Keuangan 168/ Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal disusun dan ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. adalah dengan tanggal 9 Maret 2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka Kemiskinan TA 2011.07/2010 PMK. dAlAm iNdEKs RANGKA fisKAl dAN KEmisKiNAN PENdANAAN dAERAH URUsAN PERENCANAAN bERsAmA PUsAT dAN dAERAH UNTUK PENANGGUlANGAN KEmisKiNAN Salah satu perwujudan dari upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam penguatan sinergi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.4 6.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-249 .

1. dan kemampuan keuangan daerah dan Transfer ke Daerah dikurangi dengan d. Penghitungan Ruang Fiskal Daerah b. VI-250 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan penduduk dan Indeks Kemahalan Konstruksi agar tercermin kemampuan Besaran Transfer ke Daerah meliputi Dana Alokasi umum.07/2010 dilakukan melalui beberapa tahap. serta proporsional dalam pendanaan pendanaan urusan bersama agar tepat sasaran dan tujuan yang nantinya diharapkan urusan Bersama (DuB). Penghitungan ruang fiskal daerah didasarkan data anggaran Tahun 2008. dan Dana otonomi Khusus.Penanggulangan Kemiskinan. . yaitu : A. Dana Penyesuaian. Penghitungan ruang fiskal daerah dilakukan dengan menghitung besaran Besaran kemampuan keuangan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah dan lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. yaitu: formulasi indeks fiskal dan Kemiskinan daerah Formulasi indeks fiskal dan kemiskinan daerah dilakukan melalui 4 (empat) tahap. serta mendukung K/l penyelenggara dalam merencanakan akan bermuara pada peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana Proses penyusunan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. c. belanja wajib. fiskal daerah riil per kapita. yang menyatakan bahwa “Indeks fiskal dan kemiskinan daerah disusun dan ditetapkan oleh Menkeu. Hasil penghitungan ruang fiskal daerah tersebut dibagi dengan jumlah e. Dana Bagi Hasil. tembusan kepada TKPK Nasional paling lambat Bulan Maret sebelum penyusunan Secara umum Peraturan Menteri Keuangan tersebut bertujuan untuk urusan bersama. serta disampaikan kepada Bappenas dan K/l penyelenggara urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan dengan Renja-Kl”. mewujudkan transparansi dan akuntabilitas. a..

a. mengkaitkan hasil penghitungan Indeks Fiskal Daerah dan Indeks Kemiskinan ii. Berdasarkan hasil pengkaitan tersebut. Penghitungan Indeks Fiskal Daerah dilakukan dengan menghitung ruang fiskal masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata ruang fiskal seluruh daerah. Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan dengan Daerah masing-masing sebagai sumbu tegak dan sumbu mendatar dalam peta dalam 4 (empat) kelompok. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan dengan menghitung rata-rata persentase jumlah penduduk miskin seluruh daerah (nasional). i. Kelompok 1 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase nasional. a. Penghitungan Indeks Fiskal Daerah 3. daerah sasaran dikelompokkan ke penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional. iv. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah. dan rata nasional. Kelompok 2 adalah daerah yang indeks fiskalnya di bawah rata-rata iii. namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional. nasional.2. dan terakhir. sebagai berikut: b. Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah. kuadran. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks fiskalnya di atas rata-rata nasional. Persentase jumlah penduduk miskin tersebut adalah persentase jumlah penduduk miskin berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada tahun persentase jumlah penduduk miskin masing-masing daerah dibagi dengan 4. b. namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata- Kelompok 3 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-251 .

– Persentase untuk menentukan besaran penyediaan DDuB untuk masing-masing Skema berikut memberikan gambaran mengenai alur pikir formulasi indeks fiskal dan kemiskinan daerah. IPPMD < 1). tingkatan tersebut ditetapkan lebih lanjut melalui Keputusan Ketua TKPK Nasional atau berdasarkan pertimbangan Menteri Keuangan. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan indeks fiskal dan – Kelompok 1 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks persentase – Kelompok 2 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di bawah rata-rata – Kelompok 3 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks persentase – Kelompok 4 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di atas rata-rata nasional. menyediakan DDuB Sedang. menyediakan DDuB Rendah. dan nasional. IPPMD < 1).menyediakan DDuB Tinggi. namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional (IRFD < 1. VI-252 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD < 1.b. formulasi Penghitungan Persentase besaran Penyediaan ddUb Per Kelompok dan Per daerah kemiskinan daerah. IPPMD > 1). dengan rincian tingkatan: menyediakan DDuB Sangat Tinggi. penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional (IRFD dan IPPMD > 1). namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD> 1.

sedangkan ketentuan lebih lanjut diatur dengan Perdirjen Perbendaharaan. Pencairan DuB secara umum dilakukan sesuai dengan mekanisme yang berlaku 2. kelompok masyarakat dan/ 3.Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah gambar 6. DuB disalurkan secara langsung kepada masyarakat.6. kelompok masyarakat dan/atau selambat-lambatnya 3 bulan setelah tahun anggaran bersangkutan berakhir.5 Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 6. pencairan dan penyaluran DuB dan DDuB mengikuti ketentuan sebagai dalam pembayaran atas beban APBN.5. DuB yang telah ditransfer ke rekening masyarakat. PENCAiRAN dAN PENYAlURAN berikut : tahun 2009. 1. atau lembaga partisipatif masyarakat dalam bentuk uang. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal lembaga partisipatif masyarakat harus telah dimanfaatkan sesuai dengan rencana Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-253 .

dengan Pasal 18 diuraikan ketentuan mengenai Pelaporan dan Pertanggungjawaban 1. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DDuB mengacu ketentuan peraturan mengenai pengelolaan keuangan daerah dan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional melakukan koordinasi pembinaan terhadap efektivitas pelaksanaan urusan bersama pusat dan daerah VI-254 DanaDekonsentrasidanTugasPembantuan . c. dan Catatan atas laporan Keuangan.6 PElAPORAN dAN PERTANGGUNGjAWAbAN DuB dan DDuB yaitu : a.7 PEmbiNAAN tersebut menyebutkan bahwa pembinaan DuB dan DDuB adalah meliputi : 1. Kepala daerah melampirkan laporan keuangan tahunan atas pelaksanaan DuB Selanjutnya dalam Bab VIII Pasal 22 dan Pasal 23 Peraturan Menteri Keuangan 6.6.6. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DuB mengacu pada 3. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 tahun 2009 Bab VI Pasal 16 sampai DDuB) wajib menyusun laporan Keuangan berupa: laporan Realisasi Anggaran. dana tersebut belum 5. SKPD yang menjadi pelaksana kegiatan penanggulangan kemiskinan (DuB dan 2. dimanfaatkan maka dana tersebut harus disetorkan ke Rekening Kas umum Negara. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana tersebut di atas. dan dalam laporan Pertanggungjawaban APBD kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas DuB dan DDuB. 6. Neraca.4. 4. b. Peraturan Menteri Keuangan tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Mekanisme pencairan dan penyaluran DDuB berpedoman pada peraturan yang dan mengatur mengenai pengelolaan keuangan daerah.

Kepala daerah melakukan pembinaan terhadap efisiensi dan efektivitas pengelolaan 6.2. Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pengawasan dan 3. Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pembinaan terhadap 4. dan informasi. Menteri Keuangan melakukan pembinaan terhadap pengelolaan DuB dalam hal: 5. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional melakukan koordinasi untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan pengendalian atas efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan. efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan. Bappenas melakukan pembinaan terhadap efektivitas perencanaan dan pelaksanaan program.8 PENGAWAsAN Sedangkan pengawasan DuB dan DDuB adalah sebagai berikut : sekali. Pengawasan dilaksanakan dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektivitas Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VI-255 . pelaksanaan anggaran. penyusunan indeks fiskal dan kemiskinan di daerah dan pengelolaan 1. DDuB. pengawasan dan pengendalian terhadap efektivitas pelaksanaan urusan bersama 5. 3. keuangan DDuB.6. untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan sekali. Kepala daerah melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaporan pengelolaan DuB dan DDuB. dan 2. keuangan DuB. Menteri Keuangan melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaporan 4. • • • efisiensi dan efektivitas alokasi anggaran.

.

bAb Vii sistem informasi Keuangan daerah .

VII-258 SistemInformasiKeuanganDaerah .

Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut diwujudkan dengan menyediakan informasi keuangan yang komprehensif daerah. terhadap seluruh hasil pelaksanaan pembangunan. mengelola dan mendayagunakan informasi secara cepat dan akurat mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif. akses antarunit kerja. dan menyalurkan informasi keuangan daerah kepada pelayanan publik. pemerintah pusat dan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan Pemerintah pusat perlu mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk membangun jaringan sistem informasi manajemen dan proses kerja yang memungkinkan pemerintahan bekerja secara terpadu dengan menyederhanakan Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-259 .bAb Vii sisTEm iNfORmAsi KEUANGAN dAERAH 7. dan serta untuk menindaklanjuti terselenggaranya proses pembangunan yang sejalan dengan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan daerah.1. hal tersebut membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengakses. prinsip tata pemerintahan yang baik (Good Governance). Dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat serta potensi untuk lebih mendorong terwujudnya pemerintahan yang bersih. pemerintah pusat selaku perumus dan pelaksanaan kebijakan APBN berkewajiban untuk terbuka dan bertanggung jawab kepada masyarakat luas. transparan. PENdAHUlUAN Dalam kehidupan bernegara yang semakin terbuka. termasuk didalamnya adalah informasi keuangan pemanfaatannya secara luas.

2. daerah (APBD) antara kepala daerah dengan DPRD dengan melibatkan komponen pengelolaan keuangan oleh kepala daerah kepada DPRD dan masyarakat di daerah 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah mempunyai landasan hukum yang memadai yaitu undang-undang Nomor 33 Tahun Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi 7.2. alat untuk melakukan pemantauan. bahan kebijakan dan pengendalian fiskal nasional. tugas pembantuan. daerah. bahan kebijakan keuangan daerah. pinjaman daerah.Sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat untuk mewujudkan pemerintahan dan akuntabel. dekonsentrasi. bentuk penyajian informasi keuangan daerah secara nasional. TUjUAN sisTEm iNfORmAsi KEUANGAN dAERAH SIKD di tingkat daerah diselenggarakan oleh masing-masing pemerintah daerah yang dikenal dengan nama Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD). dan anggaran daerah. Penyelenggaraan SIKD ini telah Keuangan Daerah. Daerah (SIKD) menjadi semakin penting. pinjaman 4. Pemerintah pusat menyelenggarakan SIKD secara nasional sebagai: 1. dan defisit VII-260 SistemInformasiKeuanganDaerah . maka penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah adalah partisipasi. pengendalian dan evaluasi pendanaan desentralisasi. transparansi. Akuntabel dilakukan dengan mempertanggungjawabkan seluruh penyediaan data melalui penyelenggaraan SIKD. seperti alokasi dana perimbangan. Sedangkan transparansi antara lain diwujudkan dengan yang baik (good governance). pengendalian defisit anggaran. 3. Partisipasi dilakukan antara lain melalui pembahasan anggaran yang bersangkutan. SIKD yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat disebut dengan SIKD Nasional. Tiga pilar utama pemerintahan yang baik masyarakat.

3. 6. dan pemerintah. peralatan. sehingga dapat membantu pengambilan kebijakan di bidang perimbangan keuangan data yang digunakan dalam pengambilan keputusan sesuai dengan kebutuhan. pembakuan SIKD yang meliputi prosedur. penyajian informasi keuangan daerah kepada masyarakat .Sementara fungsi dari penyelenggaraan SIKD secara nasional adalah untuk: 1. penyusunan standar informasi keuangan daerah. pertukaran informasi. dan 7. antara pusat dan daerah dengan baik dan tepat sasaran. dan dapat dipertanggungjawabkan. akurat. Dan tepat waktu artinya data yang dibutuhkan tersedia sesuai dengan Penyelenggaraan SIKD secara terpadu diharapkan dapat menghasilkan data yang yang akurat dimaksudkan bahwa data yang diperoleh menggambarkan kondisi yang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-261 . pengkodean. Data jadwal perumusan kebijakan. penyiapan rumusan kebijakan teknis penyajian Informasi. 2. penyiapan rumusan kebijakan teknis di bidang teknologi pengembangan SIKD. pengembangan. tepat waktu. pembangunan. yaitu relevan. 5. integrasi jaringan komunikasi data dan pertukaran informasi antarinstansi berkualitas. aplikasi. dan pemeliharaan SIKD. Relevan dimaksudkan bahwa sebenarnya. 4.

kabupaten.Hubungan antara SIPKD dengan SIKD Nasional gambar 7. VII-262 kepada pemerintah pusat berdasarkan prinsip-prinsip relevan. laporan Arus Kas.3. akurat. b. dan dapat dipertanggungjawabkan. pemerintah daerah diwajibkan menyampaikan informasi SistemInformasiKeuanganDaerah . dankota. APBD dan realisasi APBD provinsi. Bentuk dan format laporan yang disampaikan keuangan daerah kepada pemerintah pusat yang mencakup: a. Neraca pemerintah daerah. jENis iNfORmAsi Pemerintah daerah menyampaikan informasi yang berkaitan dengan keuangan daerah perundang-undangan lainnya. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah daerah harus berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintahan dan peraturan Nomor 56 Tahun 2005.1 7. c. tepat waktu.

realisasi APBD. laporan ini menyajikan informasi laporan keuangan perusahaan daerah. penerimaan. laporan ini menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. pengeluaran dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama satu tahun anggaran. DPRD. laporan APBD menyajikan informasi mengenai rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan Realisasi APBD. selama satu tahun anggaran. APBD. Neraca menyajikan informasi posisi keuangan pemerintah daerah mengenai laporan Arus Kas. Data yang berkaitan dengan kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal daerah. laporan Keuangan Perusahaan Daerah.d. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. laporan ini menyajikan informasi mengenai Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-263 . Catatan Atas laporan Keuangan. dan g. belanja. laporan ini menyajikan informasi perbandingan antara realisasi dengan anggaran pendapatan. Catatan Atas laporan Keuangan pemerintah daerah. Catatan atas laporan keuangan menyajikan informasi yang meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam laporan mengenai pembiayaan pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. investasi dan pembiayaan yang menggambarkan saldo awal. dan pembiayaan setiap fungsi dan organisasi aset. keuangan perusahaan yang ada di daerah bersangkutan. f. neraca. kewajiban. e. dan laporan arus kas. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. dan ekuitas dana pada akhir tahun anggaran. Neraca.

7. Data yang termasuk didalamnya. PENYAmPAiAN iNfORmAsi dAN sANKsi Penyampaian informasi keuangan daerah oleh pemerintah daerah kepada pemerintah yang mampu menjamin pengamanan dan keaslian dokumen yang dialihkan atau ditransformasikan. misalnya disket atau Compact Disc (CD). berikutnya. laporan Realisasi APBD per semester paling lambat 30 hari setelah berakhirnya 4). batas waktu penyampaian 1). laporan keuangan Perusahaan Daerah paling lambat tanggal 31 Agustus tahun anggaran dan data lainnya disampaikan paling lambat sesuai dengan Surat Permintaan Menteri Keuangan c. Informasi mengenai dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan.Data yang berkaitan dengan kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal. pendapatan asli daerah. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan 7). semester yang bersangkutan. Catatan Atas laporan Keuangan daerah paling lambat 6). tanggal 31 Agustus tahun anggaran berikutnya. Perubahan APBD paling lambat disampaikan 30 hari setelah ditetapkannya 3). Data yang berkaitan dengan perhitungan dana perimbangan seperti data pegawai VII-264 SistemInformasiKeuanganDaerah . Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). dan 5).4. pusat dilakukan secara berkala melalui dokumen tertulis dan media lainnya Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005. laporan Arus Kas. luas wilayah. informasi keuangan daerah adalah sebagai berikut: berkenaan.q. antara lain jumlah penduduk. Perubahan APBD tahun berkenaan. APBD setiap tahun anggaran paling lambat tanggal 31 Januari tahun anggaran yang 2). laporan Realisasi APBD paling lambat tanggal 31 Agustus tahun berikutnya. Neraca.

Sanksi tersebut adalah: Nomor 46 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah diatur mengenai sanksi atas keterlambatan penyampaian data dan informasi 1. Dalam hal pemerintah daerah tidak menyampaikan data dan informasi tentang keuangan daerah (perda APBD) hingga 1 (Satu) bulan setelah batas waktu yang Jenderal Perimbangan Keuangan. berjalan sampai dengan disampaikannya data dan informasi tentang keuangan daerah. maka diberi peringatan tertulis oleh Menteri Keuangan c. Apabila hingga 2 (dua) bulan setelah diterbitkannya peringatan tertulis pemerintah daerah belum menyampaikan data dan informasi tentang keuangan 25 persen dari jumlah DAu yang diberikan setiap bulannya pada tahun anggaran keuangan daerah dapat dilihat pada gambar 7. maka dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Keuangan dimaksud. maka Menteri Keuangan menetapkan sanksi berupa penundaan penyaluran dana perimbangan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri.q Direktur Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-265 . daerah dimaksud. (Mekanisme pengenaan sanksi atas keterlambatan penyampaian informasi Sanksi yang ditetapkan adalah penundaan penyaluran dana perimbangan sebesar ditetapkan. pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah agar dapat menetapkan APBD secara tepat waktu dan segera menyampaikan APBD tersebut kepada Kementerian Mengingat pentingnya peran data dan informasi mengenai keuangan daerah. menghambat jalannya pertumbuhan perekonomian di daerah tersebut.Dalam tingkatan tertentu belanja pemerintah cukup berperan dalam mendorong kegiatan ekonomi di masyarakat.2). dan 2. oleh karena itu. Apabila penetapan APBD terlambat akan menyebabkan terlambatnya penyerapan dana anggaran di daerah sehingga dapat Keuangan.

pemeriksaan. laporan pertanggungjawaban tersebut harus VII-266 SistemInformasiKeuanganDaerah .Bagan Alir Pengenaan Sanksi gambar 7. tahunan yang disampaikan kepala daerah kepada DPRD terlebih dahulu di periksa disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD selambat-lambatnya 6 (enam) bulan dari penyiapan oleh pemerintah daerah. maka penyampaian laporan keuangan ditetapkan akhir Agustus. pembahasan hasil pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). penyusunan laporan keuangan di daerah tidak hanya melibatkan para pejabat pengelola keuangan saja. Dengan mempertimbangkan segala aspek hingga menghasilkan laporan akhir.2 Terkait dengan penyampaian informasi keuangan daerah dalam hal ini laporan Realisasi APBD. Hal ini mengingat bahwa laporan keuangan setelah tahun anggaran berkenaan berakhir.

keuangan daerah melakukan kewajiban dan kewenangan sesuai jadwal yang diatur 7. dilakukan monitoring dan evaluasi secara komprehensif terhadap berbagai indikator Halaman Depan moFisda . untuk menjaga agar amanat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.3.Peta Kapasitas Fiskal Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-267 . kondisi. adil. serta besaran dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan. demokratis. dan kebutuhan daerah. dan transparan dengan memperhatikan potensi.5 mObilE fisKAl dAERAH (mOfisdA) undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 mengamanatkan bahwa pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilakukan secara proporsional. maka harus keuangan maupun indikator lain yang terkait. gambar 7.Pada akhirnya diharapkan agar penerapan sanksi ini dapat mendorong semua pihak yang terkait dengan pengambilan kebijakan dan pelaksanaan di bidang pengelolaan dalam peraturan perundang-undangan.

Peta Tingkat/ Proporsi Penduduk Miskin. Belanja Pusat di Daerah dan Data Dasar Perhitungan DAU. Reliable. Pinjaman dan Hibah.Reliable. dan Accurate atau secara sederhana disingkat dengan TRuST. Peta Ketertinggalan Daerah. maka database keuangan daerah yang ada dalam moFisda saat ini dibentuk dengan bercirikan CompleTe. Secure.. Peta Tingkat Inflasi Daerah. Selain itu. Peta Penolakan dan Revisi Raperda. moFisda juga menyajikan indikator-indikator ekonomi yang disajikan dalam bentuk peta. Transfer Ke Daerah. Agar setiap kebijakan yang diputuskan oleh pimpinan sesuai dengan koridor hukum dalam memanfaatkan fasilitas moFisda. yaitu meliputi data Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah. web based Executive Dashboard selanjutnya disebut mobile fiskal web yang dapat diakses oleh pimpinan dan pejabat terkait di lingkungan Kementerian Keuangan (eksekutif) di mana saja dengan menggunakan teknologi jaringan internet. Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah. Dalam pengembangan moFisda dititikberatkan pada visualisasi informasi secara sederhana dan informatif. untuk memudahkan pimpinan . Peta Pembatalan dan Revisi Perda. Keuangan Daerah. Dengan informasi dari moFisda yang memiliki ciri CompleTe. boks 7. yaitu Peta Kapasitas Fiskal.Upto date. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.Secure. Dengan demikian. disajikan secara real time.guna menunjang pelaksanaan monitoring dan evaluasi pendanaan daerah telah dibangun web based Executive Dashboard yang terkoneksi secara online ke database daerah atau disingkat menjadi moFisda merupakan suatu sistem aplikasi berbasis keuangan daerah. diharapkan dapat memudahkan proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan desentralisasi fiskal. Up to date.1 Melalui moFisda. moFisda dapat diakses secara terbatas oleh pimpinan di lingkungan Kementerian Keuangan. informasi mengenai peta fiskal daerah secara nasional dapat Mobile Fiskal Daerah (moFisda) merupakan Web Based Executive Dashboard yang bertujuan untuk memberikan informasi peta fiskal daerah secara nasional dengan real time dari pusat database keuangan daerah yang digunakan pimpinan dalam proses pengambilan keputusan (executiveinformationsystem). Peta Tingkat Pengangguran. Selain itu. maka pengembangan moFisda dititikberatkan VII-268 SistemInformasiKeuanganDaerah yang berlaku.danAccuraTe (TRUST) diharapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perimbangan keuangan yang transparan dan akuntabel dapat diwujudkan.

Data Dasar yang berisi informasi mengenai jumlah penduduk. Transfer Ke Daerah. dan Dana Vertikal di Daerah. Index Kemahalan Konstruksi (IKK). 1. Transfer ke Daerah yang berisi informasi mengenai DBH Pajak. Peta Fiskal Daerah. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 7. dan Inflasi. Informasi yang ditampilkan dalam moFisda meliputi: dan Peta APBD. Index Pembangunan Manusia (IPM). Proporsi Belanja APBN Pusat Daerah. Belanja Pusat di Daerah yang berisi informasi mengenai Dana Dekonsentrasi. dan Belanja Pusat di Daerah. Dana Tugas Pembantuan. 6. APBD. jumlah pengangguran.go. jumlah penduduk miskin. maka pemerintah pusat menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) secara nasional. Salah satu wujud pelaksanaan melalui website di alamat http://www. Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah yang berisi informasi mengenai Kerangka Pajak & Retribusi. dan Dana Penyesuaian. luas wilayah.id.6 WEbsiTE sisTEm iNfORmAsi KEUANGAN dAERAH Sebagai salah satu pilar pelaksanaan good governance terkait dengan transparansi penyajian informasi kepada publik. Neraca. Hubungan Pusat Daerah.pada visualisasi informasi yang sederhana namun informatif. DAu. 7. Evaluasi Raperda Pajak & Retribusi. 4. Kas. Peta Distribusi yang berisi informasi mengenai Proporsi Alokasi Belanja APBN. Keuangan Daerah yang berisi informasi mengenai APBD. Distribusi Transfer. 2. DAK. DBH SDA. dan Data Dasar.depkeu. Dengan adanya website Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 SIKD Nasional adalah dengan menyelenggarakan publikasi informasi secara online VII-269 . PDRB. dan laporan Arus 5.djpk. Dana otonomi Khusus. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang berisi informasi mengenai Evaluasi Perda 3.

4 Ada beberapa output yang dapat diakses publik melalui Website ini. Pusat informasi Perda dan Raperda.ini diharapkan terdapat kecepatan penyampaian informasi kepada publik untuk mendukung transparansi dan good governance dapat tercapai. dan 5. yaitu antara lain: 1. Referensi peraturan terbaru terkait dengan kebijakan di bidang perimbangan 4. yaitu: VII-270 SistemInformasiKeuanganDaerah . Dana Penyesuaian. Pusat informasi perimbangan keuangan dan desentralisasi fiskal. Fitur Website DJPK gambar 7. dan Dana otonomi Khusus). Pusat informasi jumlah Transfer ke Daerah (Dana Bagi Hasil. Pusat data keuangan daerah (APBD) Dana Alokasi umum. 2. fitur Website dikelompokan ke dalam 4 (empat) kelompok. keuangan. 3. Dana Alokasi Khusus. Oleh karena itu agar dapat mempercepat penyampaian SIKD secara nasional.

1.07/2009 tentang Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-271 . Peraturan Perundang-undangan di bidang Perimbangan Keuangan.depkeu. http://www. 3. dan pada tahun 2009 Aplikasi Sistem Konfirmasi Transfer ke Daerah dapat diakses pada situs internet Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK. dan 4. Data Keuangan Daerah. fitur 4. yaitu: 1.7 sisTEm KONfiRmAsi TRANsfER KE dAERAH diatur dalam Dalam rangka mendukung percepatan pelaksanaan Transfer ke Daerah sebagaimana Pelaksanaan Transfer ke Daerah. Sistem Informasi Transfer Ke Daerah.id/transfer mengeluarkan aplikasi Sistem Konfirmasi Transfer ke Daerah. 2. 2. Sistem Informasi Transfer Ke Daerah. Website dikelompokan ke dalam empat kelompok.go.djpk. 7. dan Oleh karena itu agar dapat mempercepat penyampaian SIKD secara nasional. Peraturan Perundangan Perimbangan Keuangan. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan telah telah melakukan bimbingan teknis kepada 2 orang pejabat/staf seluruh pemerintah daerah (total 1020 pegawai) . Informasi Peraturan Daerah. Data Keuangan Daerah. Informasi Peraturan Daerah. 3.

5 SistemInformasiKeuanganDaerah .VII-272 Halaman depan Sistem Konfirmasi Transfer ke Daerah gambar 7.

Dr. Bentuk laporan di antaranya adalah laporan nasional. dapat langsung menghubungi: Direktorat Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan. dan Dana Alokasi Khusus. Data Alokasi Transfer : berisi informasi tentang besaran alokasi Transfer ke Daerah sudah ditransfer ke Rekening Kas umum Daerah. Wahidin No. cadangan. Fitur aplikasi dapat dikelompokkan dalam : setiap tahun.depkeu. Konfirmasi Transfer : untuk melakukan konfirmasi dari pemerintah daerah bahwa dana transfer sudah diterima di Rekening Kas umum Daerah. 2. laporan realisasi per provinsi. yang diterima di Rekening Kas umum Daerah.Beberapa manfaat dari aplikasi ini antara lain : 1. Data Dana Cadangan/Kurang Bayar/Escrow : berisi informasi tentang dana 5.id. dan 3. 6.go.djpk.1. dan laporan Informasi yang terkait dengan keuangan daerah dapat dilihat pada situs internet Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 VII-273 . 1. Mempercepat konfirmasi penerimaan dana transfer oleh daerah. Data Penyaluran Transfer : berisi informasi tentang besaran dana transfer yang 3. realisasi per pemerintah daerah. laporan alokasi per provinsi. Jakarta 10710 4. Mendapatkan informasi secara online berkenaan dengan dana dan jenis transfer 2. Membuat laporan realisasi pelaksanaan transfer DAK. Monitoring penyerapan DAK : untuk membuat laporan penyerapan penggunaan http://www. gedung Sutikno Slamet lantai 19 Jl. laporan alokasi per pemerintah daerah. laporan Transfer : berbagai bentuk laporan terkait dengan Transfer ke Daerah. Bilamana diperlukan.

.

Juli 2005. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah otonom. “Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional”. 2005. “Sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah”.go. Jakarta: Penerbit Erlangga. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat. Jakarta: Bappenas (www. draft hasil Focus group Discussion (FgD) Sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah.id). 2004. BPKP. “Produk Hukum dan Perundang-undangan”. “Pedoman Acuan Anggaran Kinerja”. M. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) and Institute for Economics and Social Research-Faculty of Economics university of Indonesia (lPEM-FEuI). lPEM FEuI dan PSE-KP FEugM. Jakarta: Depkeu RI (www.go. (2008). PP No. Jakarta: lPEM-FEuI. “Study on Decentralization Framework and Fiscal and Administrative Capacity of local governments in Indonesia”.go.id).. Bambang PS dan Robert A. (2008). Building Institutions for good governance (BIgg). Jakarta: Pemerintah RI (www.id) Kuncoro.2006. Jakarta.dAfTAR PUsTAKA Asian Development Bank (ADB) TA 3967-INo: local government Provision of Minimum Basic Service for the Poor. (2004). (2009). Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 275 . 2005. Perencanaan. 2003-2004. Pemerintah Republik Indonesia. laporan Panitia Kerja Belanja Daerah dalam Rangka Pembicaraan Tingkat I/ Pembahasan Ruu tentang RAPBN TA. (2005). (2005). (2004). “otonomi Daerah: Reformasi. Departemen Keuangan. Strategi dan Peluang”. laporan Akhir.depkeu. Bappenas. Pedoman Penyusunan APBD Berbasis Kinerja.indonesia. Departemen Keuangan. Reformulasi Dana Alokasi umum: laporan Penelitian. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat. Brodjonegoro. Buku Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2008. “Nota Keuangan APBN 2009”.bappenas. Simanjuntak.

dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. PP No. 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas PP No. PP No. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. PP No.39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan uang Negara/Daerah. 106 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. PP No. PP no. 56 Tahun 2001 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri PP No. laporan Keterangan Pertanggungjawaban Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. PP No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.PP No. PP No. PP No. PP No. PP No. dan Informasi laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan 276 DaftarPustaka . 3 Tahun 2007 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah. 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga.1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah PP No. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah. PP No. PP No. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan uu No. PP No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara/ Daerah. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. PP No. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Dan Rekening Pembangunan Daerah pada Pemerintahan Daerah. 129/PMK. Rekening Dana Investasi. PMK No. 123/PMK. Permendagri No. 156/PMK. 61/PMK. PMK No. PMK No. 46 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah. PMK No. diatur lebih lanjut tentang perencanaan.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. PMK No.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas No. 147/PMK. PMK No.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. PMK No.07/2008 tentang Batas Maksimal Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. PMK No.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya Dengan Pinjaman Daerah Dari Pemerintah Pusat. 53/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang mengatur proses lebih lanjut penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman.PMK No. 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. serta aturan pelaksanaanya PMK No. dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2009.06/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat.05/2008 Tentang Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman luar Negeri. 171/PMK. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 277 . 21/PMK. 153/PMK. Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi obligasi Daerah. PMK No. Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Masing-Masing Daerah. Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2009. 223 Tahun 2009 tentang Alokasi dan Pedoman umum Dana Tambahan Penghasilan Bagi guru PNSD Kepada Daerah Provinsi.

uu No.all. 168 Tahun 2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Sidik.PMK No. November 2002. Andrew Young School of Policy Studies. 278 DaftarPustaka . 2004. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. uu No. uu No. PMK No. Smoke. Machfud et. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 2002). Dana Alokasi umum: Konsep. uu No. World Bank Report of Dutch Trust Fund Package 8 on “Reformulasi Dana Alokasi umum”. World Bank Dutch Trust Fund. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. uu No. georgia State university. uu No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 174 Tahun 2009 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. Paul. uu No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. paper for Conference Expenditure Assignment under Indonesia’s Emerging Decentralization: A Review of Progress and Issues for the Future. 197 Tahun 2009 tentang Dasar Pembagian Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Kepada Provinsi Penghasil Cukai dan/atau Provinsi Penghasil Tembakau. 39 Tahun 2007 tentang Cukai Perubahan Atas undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. May 2002. uu No. PMK No. Atlanta. Hambatan. (Jakarta: Kompas. Sponsored by the International Studies Program. “Strengthening Indonesia’s Framework for Decentralization”. uu No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. uu No. “Can Desentralization Help Rebuild Indonesia”. dan Prospek di Era otonomi Daerah. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. Support to the Ministry of Home Affairs.

IV-168. III-102. IV-147. III-58. IV-148. III-102. III-102. IV-143. III-55. III-115. III-101. IV-168. III-124. IV-169 122. IV-148. III-86. III-119. IV-143. IV-148. III-67. III-67. IV-148. 277 K Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 279 . 276. III-57. IV-169 III-123. III-122. III-59. III-128. IV-143. III-124. III-57. III-104. III-54. III-56. III-102.iNdEx A akuntabilitas III-122 D DAK III-100. III-124. IV-146. III-59. III-123. III-92. IIIDAu III-91. III-59. Dana Bagi Hasil Pajak III-53. III-58. IV-145. III-102. III-54. III-122. III-116. III-54. IV-168. III-93. III-117. IV-143. III-97. IV-168. III-121. III-123. III-86. IV-169 H hibah III-58. III-67. III-56. III-57. IV-185 Hibah luar Negeri IV-144. IV-169 Dana Alokasi Umum III-93. III-86. III-56. III-118. III-103. III-55. IV-143. IV-150. DAK Pendidikan III-104 III-129 Dana Bagi Hasil III-53. III-55. III-58. III-121. IV-169 Dana Bagi Hasil SDA III-53. III-95. III-102.

IV-165. IV-146. IV-143. IV-141. IV-145. V-194. IV-166. IV-158. IV-153. 277 IV-146. IV-155. IV-151 Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri IV-150. III-102 N Naskah Perjanjian Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman IV-150. III-58 pinjaman daerah IV-136. IV-139. IV-155. IV-155. IV-138. IV-145. IV-163. 278 Pendapatan Asli Daerah III-55. VII-269. IV-151 O obligasi Daerah IV-140. IV-143. V-193. IV-148. IV-144. III-103. IV-150. III-116 kriteria teknis III-101. IV-166. IV-152. IV-158. IV-137. VII-268. 277 280 Indeks . IV-166. IV-163. IV-169. IV-161. IV-154. IV-147. IV-138. V-191. P IV-163. IV-167. IV158. IV-160. IV-148. III-56. IV-157. IV-160. IV-147. IV-153.kriteria khusus III-101. IV-162. IV-152. IV-149. IV-156. IV-142. IV-169. IV-167. IV-164. IV-150. IV-137. IV-159. IV-144. pinjaman luar negeri IV-136. IV-168 Pajak Bumi dan Bangunan III-55 Pajak penghasilan III-55 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah iv. IV-141. IV-142. IV-167. IV-168. IV-160. IV-141. IV-151. IV157. IV-151. IV-157. IV-149. IV-168. IV-140. V-211. IV-154. IV-140. IV-139. III-57.

Mardiasmo. Ak. Kepada semuanya sekali lagi kami ucapkan Kurniawan. Dr. SH. ME. MM. Nafi.Sos. menyusun materi. MM.M. Drs.. Adriansyah. Prof. SE. SE. SH. Mu’Am. MFM. dan Endang Zainatun. Ak.. MA. ME. SE. Imaduddin. SE. Muhammad Zainuddin. Ricka Yunita Prasetya. SE.Jamiat Aries Calfat. M. Ak. atas kontribusinya membantu penyusunan materi. telah membantu proses pengumpulan naskah editing sampai setting. Berlin Panjaitan. S. SE. Matheus Agus Kristianto.UCAPAN TERimA KAsiH Terima kasih kepada para kontributor yang telah meluangkan waktunya untuk Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. MT. SE.E. SE. menyumbangkan bahan. SE. MS. serta semua pihak yang tidak bisa disebut satu-persatu.Soc. SH. lukman Adi Santoso. Ichwan Setyarno. Denny Drs. Yusrizal Ilyas. Anwar Syahdat. MM. S. Wahyudi Sulestyanto. SE.D. SE. Ph. terselesaikannya buku ini.Sc. SE. ST. MM. Drs. SE. MM. SH.E. Drs. Budi Sitepu. Jackwin Simbolon. S. MA. Sugiyarto.M. SE. MFM. Agung Setio Budi. Drs.. Helmy Rukmana. MA. Putut Hari Satyaka. SE. MA. dan Agus Nugroho yang terima kasih atas kerja kerasnya. . Heru Subiyantoro.Ak. Hesti Budi utomo. MPA. SE. SST. Anny Ratnawati. S. ubaidi Socheh Hamidi. MM. Ria Sartika A. Dr. Erny Murniasih. serta masukannya sehingga Radityo Putumayor. lily Kuntratih. SE. Edison Sihombing. M. Ah. Tidak lupa disampaikan terima kasih kepada Subandono. Masagus Zenaidi. Ph. SE. Kurnia. MPP. Ahmad Yani.Sc.. SE. Anggito Abimanyu. MSc. Drs. dan kepada semua pendukung yang telah membantu terbitnya Buku “Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal” sebagai Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan ucapan terima kasih disampaikan kepada Prof.. Ak. Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Perspektif Desentralisasi Fiskal Pelengkap Buku Pegangan 2010 281 . David Rudolf.D.. Pramudjo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->