P. 1
Filsafat Ilmu

Filsafat Ilmu

|Views: 225|Likes:
Published by Abdul Jalil

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Abdul Jalil on Dec 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2015

pdf

text

original

1

Pendahuluan Filsafat merupakan sebuah disiplin ilmu yang terkait dengan perihal kebijaksanaan. Kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan manusia, karena ia dapat menjadikan manusia untuk bersikap dan bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi, bukan asal bertindak sebagaimana yang biasa dilakukan manusia1. Perbincangan mengenai filsafat ilmu baru mulai merebak di awal abad ke dua puluh. Namun Francis Bacon dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad ke sembilan belas dapat dikatakan sebagai filsafat yang besar terhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepankan tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam hal ini ada semacam kekhawatiran di kalangan agamawan, bahkan alam beserta isinya. Para filsuf terutama melihat ancaman tersebut muncul lantaran pengembangan iptek berjalan terlepas dari asumsi-asumsi dasar filosofisnya seperti landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan iptek yang sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi iptek sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan concern terhadap kebahagiaan umat manusia, sangat diperlukan. Inilah beberapa pokok bahasan utama dalam pengenalan terhadap filsafat ilmu, di samping obyek dan pengertian filsafat ilmu yang akan dikedepankan terlebih dahulu2. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan pada bab berikutnya.

1 2

Drs. Rizal Mustasyir, M. Hum & Drs. Misnal Munir, M. Hum, 2001. Filsafat Ilmu, hlm.1 Ibid, hlm. 43 – 44

2

BAB I Pengertian Ilmu, Pengertian Pengetahuan, Obyek Ilmu Pengetahuan A. Pengertian Ilmu Kata "ilmu" merupakan terjemahan dari kata "science" yang secara etimologis berasal dari kata latin "scinre", artinya "to know". Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. Menurut Herold H. Titus, "ilmu" (science) diartikan sebagai common sence yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang diteliti dan kritis. Menurut Prof. Dr. Mohammad Hatta : "Tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunnya dari alam. Prof. Drs. Harsojo, Guru Besar Universitas Padjajaran menyatakan bahwa ilmu itu adalah3 : a. Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan. b. Suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indra manusia. c. Suatu cara menganalisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan sesuatu. Proposisi dalam bentuk : "jika ……, maka …..!" Dari beberapa pengertian "ilmu" yang kami kemukakan di atas dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas, apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari namun dilanjutkan

3

Burhanuddin Salam, 2005, Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara. Hlm. 9

3

dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara obyektif, tujuan untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya melalui observasi, eksperimen, klasifikasi dan analisis. Ilmu itu obyektif dan mengesampingkan unsur pribadi, pemikiran logika diutamakan, netral, dalam arti tidak merupakan milik manusia secara komprehensif4. B. Pengertian Pengetahuan "Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami sesuatu obyek yang dihadapinya, hasil usaha manusia untuk memahami sesuatu obyek tertentu5." Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Drs. Sidi Gazalba, mengemukakan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu semua milik atau isi pikiran. Menurut Prof. Dr. Mj. Langeveld, Guru Besar pada Rijk Universiteit Utrecht menyatakan sebagai berikut: "Pengetahuan ialah kesatuan subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana obyek itu dipandang oleh subjek sebagai diketahuinya6." Menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosohical Analysis mengemukakan ada enam alat untuk memperoleh pengetahuan, yaitu : 1. Pengalaman Indra (sense experience) 2. Nalar (reason) 3. Otoritas (authority)
4 5

Burhanuddin Salam, Ibid, hlm. 11. Surajiyo, 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 62. 6 Burhanuddin Salam, Ibid, hlm. 10 – 11.

4

4. Intuisi (intuition) 5. Wahyu (revelation) 6. Keyakinan (faith). (Abbas Hamami M., 1982, hlm. 16) C. Obyek Ilmu Pengetahuan Menurut Prof. Dr. Sikun Pribadi menulis obyek ilmu pengetahuan sebagai berikut: "Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal dan metode pendekatannya ialah berdasarkan pengalaman (experience) dengan mempergunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survei study kasus, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh pikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analisis, induktif, kemudian ditentukan relasi-relasi antara data-data, di antara relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integratif ini kita sebut ilmu pengetahuan7."

7

Burhanuddin Salam, Opcit, hlm. 10

5

BAB II Pengertian Filsafat dan Filsafat Ilmu A. Pengertian Filsafat Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Philosophia. Philos artinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan8. Ada beberapa definisi filsafat yang telah diklasifikasikan berdasarkan watak dan fungsinya sebagai berikut9: 1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal). 2. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal). 3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermcam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif). 4. Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme. 5. Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. B. Pengertian Filsafat Ilmu Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:10

8 9

Rizal Mustasyir dan Misnal, Ibid, hlm. 2 – 3. Titus, Smith dan Nolan, 1984. Persoalan-persoalan Filsafat, alih bahasa: H.M. Rasjidi, hlm. 11 – 15. 10 Surajiyo Ibid, hlm. 64 – 65.

6

1.

Filsafat ilmu dalam arti luas, yaitu menampung permasalahan yang menyangkut berbagai hubungan keluar dari kegiatan ilmiah seperti: Implikasi ontologik – metafisik dari citra dunia yang bersifat ilmiah Tata susila yang menjadi pegangan penyelenggara ilmu dan sebagainya. Konsekuensi pragmatik – etik penyelenggara ilmu, dan sebagainya.

2.

Filsafat ilmu dalam arti sempit, yaitu menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat di dalam ilmu yiatu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah, dan cara-cara mengusahakan serta mencapai pengetahuan ilmiah (Beerling, 1988). Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu

dapatlah kiranya dirangkum tiga medan telaah yang tercakup di dalam filsafat ilmu. Ketiganya itu adalah sebagai berikut: 1. Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang-lambang yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan. 2. Filsafat ilmu adalah upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar kosep, sangka wacana, dan postulat mengenai ilmu serta upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan, dan kepragmatisan. 3. Filsafat ilmu adalah studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditujukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu. (Hartono Kasmadi, dkk, 1990, hlm. 17 – 18).

7

BAB III Obyek Filsafat Ilmu A. Obyek Filsafat Ilmu Obyek filsafat ilmu meliputi:11  Fakta atau kenyataan  Konfirmasi  Kebenaran 1. Fakta atau kenyataan Yang diterima sebagai kenyataan itu apakah sesuatu yang faktual, yang riil atau yang moral? Sesuatu sebagai nyata bagi posisitivistik bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan yang sensual lainnya. Arah perkembangan pendekatan phenomenologik ada dua, yang pertama menjurus ke teori korespondensi. Korenspondensi antara ide dengan phenomena, yang kedua menjurus ke koherensi moralitas, dicari kesesuaian phenomena dengan sistem nilai. Dalam pemikiran phenomenologik, orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan juga sekaligus terkait pada konsepkonsep yang telah dimilikinya. Sedangkan bagi rasionalistik sesuatu sebagai nyata bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional. Bagi realisme metaphisik sesuatu sebagai nyata bila ada koherensi antara empiri dengan yang obyektif. Bagi pragmatis yang ada itu yang berfungsi. 2. Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut / probabilitistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan landasan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar tetapi tidak
11

Noeng Muhadjir, 1998, Filsafat Ilmu, Edisi I, Yogyakarta: Rake Sarasin, hlm. 5 – 11.

8

salah bila tidak mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan membuat penjelasan, prediksi, ataupun pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif ataupun reflektif. Asumsi adalah anggapan yang sudah dianggap benar dan tidak diragukan lagi, terutama oleh si peneliti sendiri. Asumsi biasanya digunakan sebagai titik tolak kegiatan ilmiah. Asumsi ini bisa berasal dari postulat atau aksioma juga bisa dari teori. Postulat, aksioma adalah dalil yang diyakini kebenarannya meskipun kebenarannya sendiri tak dapat dibuktikan. Contohnya : Tuhan itu ada, dunia itu ada, fenomena yang ada di dunia ini berjalan menurut hukum kausalitas. Hipotesa : jawaban sementara atas obyek yang diteliti yang besar kemungkinannya bisa menjadi jawaban yang benar setelah penelitian berlangsung12. 3. Kebenaran Bagi positivist benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuai dengan empiri sensual. Bagi realist benar substantif identik dengan benar riil obyektif, benar sesuai dengan konstruk skema rasional tertentu. Sedangkan benar epistemologik berbeda terkait pada pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran-kebenaran positivistik dilandaskan pada diketemukannya frekuensi tinggi atau variasi besar, sedangkan pada phenomenologik kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dari yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu. Dengan demikian, benar epistemalogik menjadi berbeda dengan benar substantif. Benar positivistik berbeda dengan benar substantif. Benar positivistik berbeda dengan benar phenomenologik, berbeda dengan benar
12

Ulya 2009, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Kudus : STAIN, hlm. 45

9

raalisme metaphisik. Bagi positivisme sesuatu itu benar bila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta lain. Bagi phenomenologi phenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayanya, demikian Russel. Realisme metaphisik popper mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran obyektif universal; bagi Islam mengakui kebenaran bila yang empirik faktual dengan kebenaran transenden berupa wahyu. Pragmatisme mengakui kebenaran, bila faktual berfungsi. B. Fakta 1. Fakta, ide dan teori William Whewell (dalam John Losee,1993) mengetengahkan bahwa fakta merupakan secuil pengetahuan yang menjadi raw material bagi perumusan hukum atau teori. Idee mengemukakan aspek relasional pengalaman Whewell setuju dengan kant bahwa idee itu menceritakan pengalaman sensual, bukan menjabarkannya. 2. Pola Diskovery Diilhami oleh Herschel, Whewell mengetengahkan pola discovery sebagai berikut. Dari fakta-fakta didekomposisikan menjadi fakta elementes, selanjutnya diperlagakan antar fakta menjadi hukum phenomena, dan dijadikan teori. Discovery menurut Whewell dapat pula terproses dengan cara lain, yaitu dari idee-idee dieksplisikan menjadi konsep-konsep dilagakan dengan berbagai fakta menjadi hukum phenomena, dan dijadikan teori. Teori tersebut selanjutnya dideduksi atau dijabarkan pada fakta-fakta yang sejenis ataupun yang berbeda. 3. Idee, value dan aksi Berpadunya idee dengan value dalam aksi merupakan kebenaran faktual yang dikejar pragmatisme. Value tersebut mungkin berada pada

10

dataran sensual, rasional dan mungkin moral. Dalam tata fikir pragmatik, aksi merupakan fakta konstruktif sebagai wujud dari peran aktif manusia dalam membangun lingkungannya13. C. Kebenaran Rumusan substantif tentang apa itu kebenaran (truth) terdapat banyak teori. Mechael Williams mengenalkan setidaknya 5 teori kebenaran yaitu: kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi (Borchert 1996)14. 1. Kebenaran Proposisi. Sesuatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Proposisi tidak lain adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks. Persyaratan itu merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. 2. Kebenaran Korespondensi. Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Korespendensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta yang diharapkan (positivisme), antara fakta dengan belief yang diyakini yang sifatnya spesifik (phenomenologi Russel). 3. Kebenaran Koherensi Sesuatu yang koheren dengan sesuatu lain berarti ada kesesuaian atau keharmonisan dengan sesuatu yang memiliki hirarki lebih tinggi. Yang memiliki hirarki lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut dapat berupa skema, sistem, atau nilai. 4. Kebenaran Pragmatik
13 14

Noeng Muhadjir, 2001. Filsafat Ilmu, edisi II. Yogyakarta: Rate Sarasin. Hlm. 15 – 16. Noeng Muhadjir, Ibid. Hlm. 16 - 20

11

Perintis teori ini adalah Charles S. Pierce, yang dikembangkan lebih lanjut oleh pragmatis William James dan John Dewey. Yang benar adalah yang konkret, yang individual, dan yang spesifik, demikian James Dewey lebih lanjut menyatakan bahwa kebenaran merupakan korespondensi antara idee dengan fakta; dan arti korespondensi menurut Dewey adalah kegunaan praktis. 5. Kebenaran Performatif Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual, dan menyatukan apapun yang ada di baliknya, baik yang praktis, yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual yang disebut dengan kebenaran performatif. D. Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk. Menjelaskan ataupun memprediksi tersebut lebih bersifat interpretasi untuk memberikan makna. 1. Aspek Kuantitatif dan Kualitas Konfirmasi Dasar untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi; sebagian ahli menggunakan aspek kuantitatif dan sebagian lain menggunakan aspek kualitatif. Derajat konfirmasi kuantitatif dibangun berdasarkan hipotesis mengenai obyek yang diukur dan seluas hipotesanya. Derajat konfirmasinya bersifat probabilitas; probabilitas dari hasil analisis frekuensi. 2. Teori Konfirmasi Teori kepastian atau confirtmation theory berupaya mencari deskripsi hubungan normatif antara hipotesis dengan evidensi; hubungan tersebut berupaya mengukur atau mengiindikasikan apakah dan bagaimana suatu evidensi menjamin percaya kita pada hipotesis. Sampai sekarang setidaknya ada 3 teori konfirmasi;

12

-

Decision theory → menerapkan kepastian berdasar keputusan "apakah hubungan antar hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual". Kriteria manfaat aktual memang menjadi bersifat subyektif.

-

Estimation theory → menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar – salah dengan menggunakan konsep probabilitas. Reliability analysis → menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hipotesis15.

15

Ibid. Hlm. 20 – 22

13

BAB IV Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi A. Ontologi Obyek telaah ontologi adalah yang ada studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan penelitian semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau dalam rumusan Lorens Bagus: menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. - Obyek Formal Obyek formal ontologi adalah hakekat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi telaa monisme, paralelisme, atau pluralisme. Bagi pendekatan kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme16. B. Epistimologi Bidang kedua adalah epistimologi / teori pengetahuan. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani "episteme" dan "logos". "Episteme" artinya pengetahuan (knowledge), "logos" artinya teori. Dengan demikian, epistimologi secara etimologis berarti pengetahuan. Istilah-istilah yang setara dengan epistemologi adalah : a) Kriteriologi, yakni cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar atau tidaknya pengetahuan.

16

Ibid. hal. 57

14

b) Gnosiology, yaitu perbincangan mengenai pengetahuan yang bersifat Ilahiah (Gnosis). c) Logika Material, yaitu pembahasan logis dari segi isinya, sedangkan logika formal lebih menekankan pada segi bentuknya17. Obyek material epistemologi adalah pengetahuan, sedangkan obyek formalnya adalah hakikat pengetahuan. Setiap filsuf menawarkan aturan yang cermat dan terbatas untuk menguji berbagai tuntutan lain yang menjadikan kita dapat memiliki pengetahuan, tetapi setiap perangkat aturan harus benarbenar mapan. Sebab definisi tentang "kepercayaan", "kebenaran" merupakan problem yang tetap dan terus menerus ada, sehingga teori pengetahuan tetap merupakan suatu bidang utama dalam penyelidikan filsafat18. C. Aksiologi Bidang utama ketiga adalah aksiologi yang membahas tentang masalah nilai. Istilah axiologi berasal yang berharga. Logos artinya akal, teori. Axiologi artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari nilai. Dalam pemikiran filsafat Yunani, studi mengenai nilai ini mengedepan dalam pemikiran Plato mengenai idea tentang kebaikan, atau yang lebih dikenal dengan Summum Bonum (kebaikan tertinggi19). Problem utama aksiologi ujar Runes20 berkaitan dengan empat faktor penting sebagi berikut: Pertama, kodra nilai berupa problem mengenai : apakah nilai itu berasal dari keinginan, kesenangan, kepentingan, preferensi, keinginan rasio murni, pemahaman mengenai kualitas tersier, pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian, berbagai pengalaman yang mendorong semangat hidup, relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai tujuan atau konsekuensi yang sungguh-sungguh dapat dijangkau.
17 18

Soejono Soemargono, 1987 Filsafat Pengetahuan. Hlm. 5 Sontag, 1984, Elements of Philosophy. Hlm. 11 19 Rizal Mustasyir dan Misnal Munir, Ibid. hlm. 26 20 Runes, 1979, Dictionary of Philosophy Hlm. 32 – 33.

15

Kedua, jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab mengenai nilai-nilai intrinsik. Ketiga, kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi sekaligus oleh teori psikologi dan logika. Keempat, status metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaimana hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu kealaman, kenyataan terhadap keharusan, pengalaman manusia tentang nilai pada realitas kebebasan manusia (Hegel).

16

Penutup Filsafat ilmu diperlukan kehadirannya di tengah perkembangan iptek yang ditandai dengan semakin menajamnya spesialisasi ilmu pengetahuan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, maka para ilmuwan akan menyadari keterbatasan dirinya dan tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi intelektual. Hal yang lebih diperlukan adalah sikap keterbukaan diri di kalangan ilmuwan, sehingga mereka dapat saling menyapa dan mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan umat manusia. Ketiga bidang utama filsafat, metafisika (khususnya Ontologi), epistemologi, dan aksiologis merupakan landasan pengembangan ilmu pengetahuan – landasan Ontologi ilmu berkaitan dengan hakekat ilmu, sebab secara ontologis ilmu memebag realitas sebagaimana adanya (das sein). Landasan epistemologi ilmu berkaitan dengan aspek-aspek metodologis ilmu dan sarana berfikir ilmiah lainnya seperti: bahasa, logika, matematika, statistika. Landasan aksiologis ilmu berkaitan dengan dampak ilmu bagi umat manusia. Perkembangan ketiga landasan ilmu pengetahuan ini akan melahirkan sifat kebijaksanaan ilmuwan dalam menerapkan ilmunya di masyarakat. Sebab apapun halnya, sulit bagi masyarakat untuk menerima kenyataan bahwa produk ilmiah malah menyengsarakan dan merugikan mereka. Demikian resume filsafat ilmu ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Resuman ini memang jauh dari kesempurnaan, dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan. Kritik dan saran selalu saya harapkan untuk memperbaiki dalam pembuatan resume selanjutnya.

17

DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu edisi I, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998. Rizal Mustasyir dan Misnal Munir, Filsafat llmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001. Soejono Soemargono Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1987. Sontag, Frederick, Elements of Philosophy, New York: Charles Schribner's son, 1984. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005. Titus, Smith dan Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat, alih bahasa, Jakarta: H.M.R. Rasyidi, Bulan Bintang, 1984. Ulya, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Kudus: STAIN, 2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->