PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG

TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI
NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010

SALINAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (3), Pasal 37, Pasal 42 ayat (2), dan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Nomor 4287); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

Mengingat

:

-26. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5107); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD atau dengan sebutan lain adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah Gubernur dan wakil Gubernur untuk provinsi, bupati dan wakil bupati untuk kabupaten, walikota dan wakil walikota untuk kota. Satuan kerja perangkat daerah yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang selanjutnya disingkat dengan Bappeda atau sebutan lain adalah unsur perencana penyelenggaraan pemerintahan yang melaksanakan tugas dan mengkoordinasikan penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.

2.

3.

4. 5.

-36. Pemangku kepentingan adalah pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah antara lain unsur DPRD provinsi dan kabupaten/kota, TNI, POLRI, Kejaksaan, akademisi, LSM/Ormas, tokoh masyarakat provinsi dan kabupaten/kota/desa, pengusaha/investor, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pemerintahan desa, dan kelurahan serta keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan. Pembangunan daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapantahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Rencana pembangunan jangka panjang daerah yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.

7.

8.

9.

10. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun. 11. Rencana kerja pembangunan daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana pembangunan tahunan daerah. 12. Rencana strategis SKPD yang selanjutnya disingkat dengan Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. 13. Rencana kerja SKPD yang selanjutnya disingkat Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun. 14. Rencana pembangunan jangka panjang nasional yang selanjutnya disingkat RPJPN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun. 15. Rencana pembangunan jangka menengah nasional yang selanjutnya disingkat RPJMN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahunan. 16. Rencana kerja pemerintah yang selanjutnya disingkat dengan RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. 17. Anggaran pendapatan dan belanja negara, selanjutnya disingkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan ditetapkan dengan Undang-Undang. 18. Anggaran pendapatan dan belanja daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 19. Kebijakan umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. 20. Prioritas dan plafon anggaran sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD.

-421. Rencana kerja dan anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 22. Rencana kerja adalah dokumen rencana yang memuat program dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pembangunan, dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka anggaran. 23. Kerangka regulasi, adalah sekumpulan pengaturan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk perundang-undangan untuk mencapai sasaran hasil pembangunan, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. 24. Kerangka anggaran adalah rencana kegiatan pengadaan barang maupun jasa yang akan didanai APBD untuk mencapai tujuan pembangunan daerah. 25. Kerangka pendanaan, adalah program dan kegiatan yang disusun untuk mencapai sasaran hasil pembangunan yang pendanaannya diperoleh dari anggaran pemerintah/daerah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. 26. Isu-isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena dampaknya yang signifikan bagi daerah dengan karakteristik bersifat penting, mendasar, mendesak, berjangka panjang, dan menentukan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah dimasa yang akan datang. 27. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 28. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 29. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 30. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan. 31. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD atau masyarakat, yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan daerah. 32. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program, dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut, sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 33. Kegiatan prioritas adalah kegiatan yang ditetapkan untuk mencapai secara langsung sasaran program prioritas. 34. Prakiraan maju adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan, guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui untuk setiap program dan kegiatan. 35. Bersifat indikatif adalah bahwa data dan informasi, baik tentang sumber daya yang diperlukan maupun keluaran dan dampak yang tercantum di dalam dokumen rencana, hanya merupakan indikasi yang hendak dicapai dan tidak kaku. 36. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.

-537. Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program atau kegiatan. 38. Standar pelayanan minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. 39. Sasaran adalah target atau hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 40. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan, yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 41. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 42. Musyawarah perencanaan pembangunan yang selanjutnya disingkat musrenbang adalah forum antarpemangku kepentingan dalam rangka menyusun rencana pembangunan daerah. 43. Forum SKPD provinsi dan kabupaten/kota merupakan wahana antar pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi dan kabupaten/kota. 44. Fasilitator adalah tenaga terlatih atau berpengalaman dalam memfasilitasi dan memandu diskusi kelompok/konsultasi publik yang memenuhi kualifikasi kompetensi teknis/substansi dan memiliki keterampilan dalam penerapan berbagai teknik dan instrumen untuk menunjang partisipatif dan efektivitas kegiatan. 45. Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil musrenbang. 46. Delegasi adalah perwakilan yang disepakati peserta musrenbang untuk menghadiri musrenbang pada tingkat yang lebih tinggi. 47. Rencana tata ruang wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang yang merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah nasional dan pulau/kepulauan ke dalam struktur dan pola ruang wilayah. 48. Provinsi lainnya adalah provinsi lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 49. Kabupaten/kota lainnya adalah kabupaten/kota lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 50. Koordinasi adalah kegiatan yang meliputi pengaturan hubungan kerjasama dari beberapa instansi/pejabat yang mempunyai tugas dan wewenang yang saling berhubungan dengan tujuan untuk menghindarkan kesimpangsiuran dan duplikasi.

-6BAB II RUANG LINGKUP, PRINSIP DAN PENDEKATAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup perencanaan pembangunan daerah meliputi tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah terdiri atas: a. b. c. d. e. RPJPD; RPJMD; Renstra SKPD; RKPD; dan Renja SKPD. Bagian Kedua Prinsip Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 3 Prinsip-prinsip perencanaan pembangunan daerah meliputi: a. b. c. d. merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional; dilakukan pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing; mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah; dan dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah, sesuai dinamika perkembangan daerah dan nasional. Pasal 4 Perencanaan pembangunan daerah dirumuskan secara: a. b. c. d. e. f. g. h. i. transparan; responsif; efisien; efektif; akuntabel; partisipatif; terukur; berkeadilan; dan berwawasan lingkungan. Pasal 5 (1) Transparan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.

-7(2) Responsif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, yaitu dapat mengantisipasi berbagai potensi, masalah dan perubahan yang terjadi di daerah. (3) Efisien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, yaitu pencapaian keluaran tertentu dengan masukan terendah atau masukan terendah dengan keluaran maksimal. (4) Efektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d, merupakan kemampuan mencapai target dengan sumber daya yang dimiliki, dengan cara atau proses yang paling optimal. (5) Akuntabel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e, yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (6) Partisipatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf f, merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok masyarakat rentan termarginalkan, melalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. (7) Terukur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf g, adalah penetapan target kinerja yang akan dicapai dan cara-cara untuk mencapainya. (8) Berkeadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf h, adalah prinsip keseimbangan antarwilayah, sektor, pendapatan, gender dan usia. (9) Berwawasan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf i, yaitu untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan yang berkelanjutan dalam mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia, dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam yang menopangnya. Bagian Ketiga Pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 6 Perencanaan pembangunan daerah menggunakan pendekatan: a. b. c. d. teknokratis; partisipatif; politis; dan top-down dan bottom-up. Pasal 7 (1) Pendekatan teknokratis dalam perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, menggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (2) Metoda dan kerangka berpikir ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis terkait perencanaan pembangunan berdasarkan bukti fisis, data dan informasi yang akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan. (3) Metoda dan kerangka berpikir ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), antara lain digunakan untuk: a. mereview menyeluruh kinerja pembangunan daerah periode yang lalu;

-8b. c. d. e. f. g. merumuskan capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah masa kini; merumuskan peluang dan tantangan yang mempengaruhi capaian sasaran pembangunan daerah; merumuskan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah; memproyeksikan kemampuan keuangan daerah dan sumber daya lainnya berdasarkan perkembangan kondisi makro ekonomi; merumuskan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja; menetapkan tolok ukur dan target kinerja keluaran dan hasil capaian, lokasi serta kelompok sasaran program/kegiatan pembangunan daerah dengan mempertimbangkan SPM; memproyeksikan pagu indikatif program dan kegiatan pada tahun yang direncanakan, serta prakiraan maju untuk satu tahun berikutnya; dan menetapkan SKPD penanggungjawab pelaksana, pengendali, dan evaluasi rencana pembangunan daerah. Pasal 8 Pendekatan partisipatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, dilaksanakan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dengan mempertimbangkan: a. relevansi pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, di setiap tahapan penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah; kesetaraan antara para pemangku kepentingan dari unsur pemerintahan dan non pemerintahan dalam pengambilan keputusan; adanya transparasi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan serta melibatkan media massa; keterwakilan seluruh segmen masyarakat, termasuk kelompok masyarakat rentan termarjinalkan dan pengarusutamaan gender; terciptanya rasa memiliki terhadap dokumen perencanaan pembangunan daerah; dan terciptanya konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan, seperti perumusan prioritas isu dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi, kebijakan dan prioritas program. Pasal 9 Pendekatan politis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, bahwa programprogram pembangunan yang ditawarkan masing-masing calon kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih pada saat kampanye, disusun ke dalam rancangan RPJMD, melalui: a. penerjemahan yang tepat dan sistematis atas visi, misi, dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan daerah selama masa jabatan; konsultasi pertimbangan dari landasan hukum, teknis penyusunan, sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran pembangunan nasional dan pembangunan daerah; dan pembahasan dengan DPRD dan konsultasi dengan pemerintah untuk penetapan produk hukum yang mengikat semua pemangku kepentingan.

h. i.

b. c. d. e. f.

b.

c.

-9Pasal 10 Pendekatan perencanaan pembangunan daerah bawah-atas (bottom-up) dan atasbawah (top-down) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d, hasilnya diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional, sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. Bagian Keempat Pendekatan Penyusunan Program, Kegiatan, Alokasi Dana Indikatif dan Sumber Pendanaan Pasal 11 (1) Program, kegiatan, alokasi dana indikatif dan sumber pendanaan yang dirumuskan dalam RPJMD, RKPD, Renstra SKPD dan Renja SKPD disusun berdasarkan: a. b. c. pendekatan kinerja, kerangka pengeluaran perencanaan dan penganggaran terpadu; kerangka pendanaan dan pagu indikatif; dan urusan wajib yang mengacu pada SPM sesuai dengan kondisi nyata daerah dan kebutuhan masyarakat, atau urusan pilihan yang menjadi tanggungjawab SKPD. jangka menengah serta

(2) Pendekatan kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa program dan kegiatan yang direncanakan mengutamakan keluaran/hasil yang terukur, dan pengalokasian sumberdaya dalam anggaran untuk melaksanakannya, secara efektif dan efisien telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. (3) Kerangka pengeluaran jangka menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa pengambilan keputusan terhadap program dan kegiatan prioritas pembangunan, mempertimbangkan perspektif penganggaran lebih dari satu tahun anggaran dan implikasi terhadap pendanaan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. (4) Perencanaan dan penganggaran terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa pengambilan keputusan penetapan program dan kegiatan yang direncanakan, merupakan satu kesatuan proses perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi, konsisten dan mengikat, untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran program dan kegiatan pembangunan daerah. (5) Pagu indikatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program dan kegiatan tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Mengacu pada SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, bahwa perumusan capaian kinerja setiap program dan kegiatan, harus berpedoman pada rencana pencapaian SPM berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah. Pasal 12 (1) Kerangka pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, diutamakan untuk penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD. (2) Pagu indikatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, digunakan untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD.

- 10 Bagian Kelima Data dan Informasi Pasal 13 (1) Penyusunan rencana pembangunan daerah menggunakan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, serta rencana tata ruang. (2) Menteri Dalam Negeri secara periodik melakukan penyempurnaan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan daerah. (3) Penyempurnaan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. (4) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. b. c. d. e. f. g. h. i. penyelenggaraan pemerintahan daerah; organisasi dan tatalaksana pemerintahan daerah; kepala daerah, DPRD, perangkat daerah, dan pegawai negeri sipil daerah; keuangan daerah; potensi sumber daya daerah; produk hukum daerah; kependudukan; informasi dasar kewilayahan; dan informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

(5) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), selanjutnya dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografis, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis, dalam rangka penyusunan rencana pembangunan daerah. BAB III KOORDINASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ANTARPROVINSI Bagian Pertama Tujuan Pasal 14 (1) Koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi bertujuan untuk: a. b. terciptanya sinkronisasi dan sinergi pelaksanaan pembangunan daerah dalam upaya mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya; memantapkan hubungan dan keterikatan daerah provinsi yang satu dengan daerah provinsi yang lain dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; mensinergikan pengelolaan potensi antarprovinsi dan/atau dengan pihak ketiga, serta meningkatkan pertukaran pengetahuan, teknologi dan kapasitas fiskal; keterpaduan antara rencana pembangunan daerah provinsi yang didanai melalui APBD dengan rencana pembangunan di daerah provinsi yang didanai APBN;

c.

d.

- 11 e. mengurangi kesenjangan daerah dalam penyediaan pelayanan umum, khususnya yang ada di wilayah terpencil, pulau-pulau terluar, perbatasan antardaerah/antar negara dan daerah tertinggal; dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan asli daerah.

f.

(2) Koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi mencakup: a. dua provinsi atau lebih yang berdekatan; b. dua provinsi atau lebih dalam satu wilayah kepulauan; dan c. dua provinsi atau lebih atas dasar kesepakatan bersama; (3) Dua provinsi atau lebih atas dasar kesepakatan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c ditetapkan sebagai satu wilayah pembangunan regional dan/atau memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. Bagian Kedua Aspek-aspek Koordinasi Antarprovinsi Pasal 15 Aspek koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi meliputi: a. b. c. d. e. fungsional; formal; struktural; materiil; dan operasional. Pasal 16 (1) Aspek fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a, adanya keterkaitan dan keterpaduan fungsional antara strategi, kebijakan program dan kegiatan antar SKPD, antar wilayah pembangunan dan antar tahapan perencanaan pembangunan dalam satu provinsi dan/atau dengan provinsi lainnya atau dengan pemerintah, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (2) Aspek formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b, perumusan tujuan dan sasaran, strategi, kebijakan program dan kegiatan pembangunan daerah yang direncanakan, telah sesuai dengan kebijakan pemerintah dan peraturan perundang-undangan. (3) Aspek struktural sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c, adanya kaitan dan koordinasi dalam bentuk penugasan pada tiap SKPD yang bersangkutan. (4) Aspek materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d, tercapainya keterkaitan dan keterpaduan pencapaian target dan sasaran program/kegiatan pembangunan antar SKPD, antar wilayah pembangunan dan antar tahapan perencanaan pembangunan dalam satu provinsi dan/atau dengan provinsi lainnya atau dengan pemerintah, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (5) Aspek operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf e, adanya kaitan dan keterpaduan dalam penentuan langkah-langkah pelaksanaan, baik menyangkut waktu, lokasi, sumber dana dan sumber daya lainnya.

- 12 Bagian Ketiga Mekanisme Pelaksanaan Koordinasi Perencanaan Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 17 (1) Koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi mencakup koordinasi penyusunan program pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan tahunan. (2) Koordinasi penyusunan program pembangunan jangka panjang antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi arah kebijakan dan program kerjasama pembangunan daerah jangka panjang yang telah disepakati antarprovinsi berkenaan. (3) Koordinasi penyusunan program pembangunan jangka menengah antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program-program kerjasama pembangunan daerah yang berdimensi jangka menengah dan telah disepakati antarprovinsi berkenaan. (4) Koordinasi penyusunan program pembangunan tahunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program-program kerjasama pembangunan tahunan daerah dan telah disepakati antarprovinsi berkenaan. Pasal 18 (1) Program dan kegiatan pembangunan tahunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) dirumuskan kedalam RKPD untuk didanai APBD masingmasing provinsi pada tahun yang direncanakan. (2) Program dan kegiatan pembangunan daerah yang dikoordinasikan dan disepakati antarprovinsi yang akan didanai APBN, diusulkan untuk dibahas dalam musrenbangnas RKP. Pasal 19 (1) Penyelenggaraan koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi, dapat dilakukan oleh forum kerjasama atau sebutan lain, yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara dua provinsi atau lebih yang berdekatan atau dalam satu wilayah kepulauan. (2) Forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain berfungsi memfasilitasi penyelenggaraan koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi. (3) Pimpinan dan keanggotaan forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disesuaikan dengan kebutuhan yang disepakati antarprovinsi berkenaan. (4) Mekanisme penyelenggaraan koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi, diatur lebih lanjut oleh forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

b. memuat visi. dan penetapan RPJPD. orientasi mengenai RPJPD. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RPJPD Pasal 22 Persiapan penyusunan RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a. b. persiapan penyusunan RPJPD. (2) Rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun: a. d. Bagian Kedua Penyusunan RPJPD Pasal 21 (1) Bappeda menyusun RPJPD.. (2) RPJPD disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. pelaksanaan musrenbang RPJPD. dan c. . memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Pasal 23 (1) Rancangan awal RPJPD provinsi disusun: a.13 BAB IV RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 20 RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. mengacu pada RPJPN. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. c. b. dan c. d. penyusunan agenda kerja tim penyusun RPJPD. b. berpedoman pada RTRW provinsi. memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. meliputi: a. e. perumusan rancangan akhir RPJPD. mengacu pada RPJPN dan RPJPD provinsi. berpedoman pada RTRW kabupaten/kota. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJPD. penyusunan rancangan awal RPJPD. c. misi dan arah pembangunan daerah.

c. (3) Memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf c. tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional dan provinsi. (3) Memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. pelaksanaan forum konsultasi publik. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan pemanfaatan struktur serta pola ruang kabupaten/kota lain sekitarnya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf b. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang kabupaten/kota dengan visi. i. tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dengan visi. perumusan arah kebijakan. misi. b. arah. untuk provinsi mencakup: a. j. dan penyajian rancangan awal RPJPD.14 Pasal 24 (1) Mengacu pada RPJPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a. b. misi. (2) Berpedoman pada RTRW kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf b. Pasal 25 (1) Mengacu RPJPN dan RPJPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a. analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. terdiri atas: a. misi. misi. perumusan visi dan misi daerah provinsi. dan penyelarasan visi. penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya.dan arah kebijakan RPJPD provinsi. d. misi. perumusan rancangan awal RPJPD. penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya.. h. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. g. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. pengolahan data dan informasi. f. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan pemanfaatan struktur serta pola ruang provinsi lain sekitarnya. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota. e. Pasal 27 (1) Perumusan rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a. . dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi. misi. Pasal 26 Penyusunan rancangan awal RPJPD. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. (2) Berpedoman pada RTRW provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang provinsi. arah.

d.15 (2) Perumusan rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a. arah kebijakan. j. d. visi dan misi daerah. c. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. e. perumusan visi dan misi daerah kabupaten/kota. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. (2) Penajaman. g. penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Pasal 29 (1) Rancangan awal RPJPD yang disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. perumusan arah kebijakan. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. pengolahan data dan informasi. i. analisis isu-isu srategis. dan kaidah pelaksanaan. penajaman visi dan misi daerah. penyelarasan. RPJPD provinsi dan RPJPD kabupaten/kota lainnya. penelaahan RPJPN. dan penyelarasan visi. e. c. (3) Bappeda mengajukan rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pelaksanaan forum konsultasi publik. b. kepada kepala daerah dalam rangka memperoleh persetujuan untuk dibahas dalam musrenbang RPJPD. Paragraf 3 Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Pasal 30 (1) Musrenbang RPJPD dilaksanakan untuk penajaman. . gambaran umum kondisi daerah. mencakup: a. penyelarasan. f. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3). b.. dan arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota. analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. h. misi. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 28 Penyajian rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf b. untuk kabupaten/kota mencakup: a. pendahuluan. f.

pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat atau dari unsur lain terkait. (4) Pimpinan DPRD atau anggota DPRD. Paragraf 4 Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Pasal 32 (1) Hasil musrenbang RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31. Pasal 31 Hasil musrenbang RPJPD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. dirumuskan paling lama 1 (satu) tahun sebelum RPJPD yang berlaku berakhir. e. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah Gubernur menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Menteri Dalam Negeri. Pasal 34 (1) Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada Gubernur. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima Menteri Dalam Negeri. b. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD provinsi. dapat diundang menjadi narasumber dalam musrenbang RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah Bupati/Walikota menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Gubernur. c. . penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. dan dikoordinasikan oleh Bappeda (3) Musrenbang RPJPD dilaksanakan provinsi/kabupaten/kota.16 b. c. Pasal 33 (1) Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. menjadi bahan masukan untuk merumuskan rancangan akhir RPJPD. dan membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah. klarifikasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang daerah. penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk mencapai visi dan misi daerah. rancangan akhir RPJPD provinsi. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. d.. (2) Rancangan akhir RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

sistematika dan teknis penyusunan. RPJPD provinsi. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD provinsi. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum penyusunan. kepala daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat kementerian/lembaga dan/atau pemerintahan daerah provinsi yang terkait sesuai dengan kebutuhan. Pasal 35 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1). RPJPD kepada Bupati/Walikota. RTRW provinsi dan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota. sistematika dan teknis penyusunan.17 (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima Gubernur. RTRW kabupaten/kota serta RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintah daerah dan/atau provinsi/ kabupaten/kota yang terkait sesuai dengan kebutuhan. sinkronisasi dan sinergi. Pasal 37 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan RPJPD kepada Gubernur untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah konsultasi dilakukan. dengan RPJPN.. Pasal 36 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah konsultasi dilakukan. b. sinkronisasi dan sinergi dengan RPJPN. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. Pasal 38 (2) Gubernur menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil konsultasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2). untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum penyusunan. . (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota.

(2) Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota disampaikan kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. Pasal 42 (1) Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJPD provinsi. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD provinsi. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan. .. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 44 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1). dan surat Gubernur kabupaten/kota. b. dengan lampiran rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota yang telah dikonsultasikan dengan Gubernur beserta: a. Pasal 43 Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b.18 Paragraf 5 Penetapan RPJPD Pasal 39 (1) Gubernur menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi kepada DPRD provinsi untuk memperoleh persetujuan bersama. dan surat Menteri Dalam Negeri perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi. paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJPD kabupaten/kota. perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD Pasal 41 Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi dan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan RPJPN. dengan lampiran rancangan akhir RPJPD provinsi yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri beserta: a. Pasal 40 (1) Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota kepada DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh persetujuan bersama. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah.

strategi pembangunan daerah. dan program kepala daerah. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri.. misi. (3) Penyampaian hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah tentang RPJPD diterima. b. d. (2) Gubernur menyampaikan hasil klarifikasi kepada Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) telah menindaklanjuti hasil konsultasi. BAB V RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 50 RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. memuat: a. Pasal 47 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil klarifikasi kepada Gubernur yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) telah menindaklanjuti hasil konsultasi. kebijakan umum. (2) Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau tidak dikonsultasikan. (4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 49 RPJPD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah provinsi dan Peraturan Daerah kabupaten/kota. c. visi. Pasal 46 Klarifikasi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagaimana dimaksud Pasal 44 dan Pasal 45 untuk memastikan saran penyempurnaan hasil konsultasi telah ditindaklanjuti. arah kebijakan keuangan daerah.19 Pasal 45 (1) Gubernur melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2). Peraturan Daerah tentang RPJPD dinyatakan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Dalam Negeri. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Bappeda provinsi. Pasal 48 (1) Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi dan tidak dikonsultasikan. misi dan program calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. menjadi pedoman penyusunan visi. .

h. dan keberlanjutan pembangunan antarwilayah/antarkawasan dalam kecamatan di wilayah kabupaten/kota atau antar kabupaten/kota di wilayah provinsi atau dengan provinsi lainnya berdasarkan rencana tata ruang wilayah. keseimbangan laju pertumbuhan. merupakan program yang melibatkan lebih dari satu SKPD untuk mencapai sasaran pembangunan yang ditetapkan termasuk indikator kinerja. merupakan program pembangunan daerah untuk terciptanya keterpaduan. lokasi program.. (2) Arah kebijakan keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf b. g. memberikan arah perumusan rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun program dan kegiatan Renstra SKPD. merupakan tahapan dan jadual pelaksanaan proram. kesempatan kerja. (5) Program SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf e. lokasi program. program lintas SKPD. rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif.20 e. keserasian. untuk mencapai target dan sasaran yang ditetapkan. merupakan keadaan masa depan yang diharapkan dan berbagai upaya yang akan dilakukan melalui program-program pembangunan yang ditawarkan oleh Kepala Daerah terpilih. dan sumber daya yang diperlukan. dan rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. i. program SKPD. merupakan langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi dalam rangka pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. merupakan pedoman dan gambaran dari pelaksanaan hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan bidang urusan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. lapangan berusaha. Pasal 51 (1) Visi. (8) Rencana kerja dalam kerangka regulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf h. tahun pelaksanaan. . misi dan program kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a. (4) Kebijakan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf d. akses terhadap pengambilan kebijakan. (6) Program lintas SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf f. f. (9) Rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf i. (3) Strategi pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf c. dengan dilengkapi jumlah pagu indikatif berdasarkan prakiraan maju dan sumber pendanaannya. program kewilayahan. untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata baik dalam aspek pendapatan. maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. merupakan dasar hukum atau kebijakan yang dijadikan landasan perumusan dan pelaksanaan program pembangunan daerah. merupakan program yang dirumuskan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD yang memuat indikator kinerja. berdaya saing. dan sumber daya yang diperlukan. tahun pelaksanaan. (7) Program kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf g.

Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Pasal 54 (1) Rancangan awal RPJMD provinsi disusun: a. c. dan memperhatikan RPJMN. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RPJMD Pasal 53 Persiapan penyusunan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a. misi dan program bupati dan wakil bupati terpilih atau walikota dan wakil walikota terpilih. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. RPJMD provinsi. meliputi: a. b. pelaksanaan musrenbang RPJMD. misi dan program Gubernur dan wakil Gubernur terpilih. b. d. d. RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. dan memperhatikan RPJMN. penyusunan agenda kerja tim penyusun RPJMD. b. orientasi mengenai RPJMD. dan penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD. Pasal 55 (1) Berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf b. (2) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. e. RPJMD dan RTRW kabupaten/kota lainnya..21 Bagian Kedua Penyusunan RPJMD Pasal 52 (1) Bappeda menyusun RPJMD. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJMD. c. c. perumusan rancangan akhir RPJMD. f. berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi. b. c. penyusunan rancangan RPJMD. a. persiapan penyusunan RPJMD. penyusunan rancangan awal RPJMD. memuat visi. memuat visi. berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota. dilakukan dengan: (2) Rancangan awal RPJMD kabupaten/kota disusun: .

sasaran. kondisi. kebijakan. arah. serta prioritas pembangunan nasional. kebijakan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi dengan arah. arah kebijakan.22 a. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. sasaran. misi. dan pembangunan kewilayahan sesuai dengan kewenangan. . perumusan rancangan awal RPJMD. dan prioritas bidang-bidang pembangunan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. kebijakan umum. misi. menyelaraskan visi. dan c. (3) Memperhatikan RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. sebagaimana dimaksud pada Pasal 52 ayat (2) huruf b. kebijakan. kebijakan. kebijakan. Pasal 56 (1) Berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf b. tujuan.. b. kebijakan. (4) Memperhatikan RPJMD dan RTRW kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. tujuan. sasaran. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan struktur dan pola pemanfaatan ruang provinsi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan arah. terdiri atas: a. (2) Memperhatikan RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. tujuan. tujuan. sasaran. prioritas pembangunan jangka menengah provinsi. tujuan. kebijakan. menyelaraskan visi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. misi. arah. tujuan. misi. sasaran. b. misi. dilakukan dengan: a. Pasal 57 Penyusunan rancangan awal RPJMD. tujuan. arah. misi. dilakukan melalui penyelarasan antara rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lain sekitarnya. pembangunan kewilayahan. sasaran. menyelaraskan pencapaian visi. dan b. dilakukan melalui penyelarasan pembangunan jangka menengah daerah dan pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lain sekitarnya. menyelaraskan pencapaian visi. dan karakteristik daerah. misi. misi. kebijakan. misi. (2) Memperhatikan RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. (3) Memperhatikan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan: a. dan penyajian rancangan awal RPJMD. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. kebijakan. sasaran. dan b. kebijakan umum dan prioritas pembangunan nasional.

penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. q. perumusan penjelasan visi dan misi. m. pembahasan dengan SKPD provinsi. penelaahan RPJMN. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah provinsi. d. penelaahan RPJPD provinsi. perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. b. p. untuk provinsi mencakup: a. perumusan tujuan dan sasaran. pelaksanaan forum konsultasi publik. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota. analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. l. perumusan penjelasan visi dan misi. penelaahan RPJPD kabupaten/kota. l. d. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. k. j. pengolahan data dan informasi. analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. f. pengolahan data dan informasi. q. dan penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan. perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. RPJMD provinsi dan RPJMD kabupaten/kota lainnya. e. penelaahan RPJMN dan RPJMD provinsi lainnya. pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. r.. n. g. g. pelaksanaan forum konsultasi publik. c. (2) Perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a. e. penetapan indikator kinerja daerah. penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. untuk kabupaten/kota mencakup: a. perumusan tujuan dan sasaran. pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. k. perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. penetapan indikator kinerja daerah. b. f. dan . h. j. o. i. c. analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. p. n. m. perumusan strategi dan arah kebijakan. i.23 Pasal 58 (1) Perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a. o. h. perumusan strategi dan arah kebijakan. perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.

strategi dan arah kebijakan. penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan. gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. misi. e. f.24 r. (4) Hasil pembahasan dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. pendahuluan. Pasal 60 (1) Rancangan awal RPJMD yang disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. Pasal 59 Penyajian rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf b. h. i. c. (3) Pembahasan dan kesepakatan terhadap kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). d. analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran. menjadi bahan penyusunan rancangan RPJMD. dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani oleh kepala daerah dan ketua DPRD. (2) Rancangan renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). paling lama 2 (dua) minggu sejak diajukan kepala daerah. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. b. kepada DPRD untuk dibahas dan memperoleh kesepakatan. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. . dan penetapan indikator kinerja daerah. gambaran umum kondisi daerah. (2) Pengajuan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 62 (1) Rancangan awal RPJMD menjadi pedoman SKPD dalam menyusun rancangan renstra SKPD. visi. Pasal 61 (1) Kepala daerah mengajukan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan yang tercantum dalam rancangan awal RPJMD yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60.. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. paling lama 10 (sepuluh) minggu sejak kepala daerah dan wakil kepala daerah dilantik.

h. b. i. e. (2) Kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan yang telah disepakati kepala daerah dan DPRD menjadi acuan kepala SKPD merumuskan kegiatan dalam rancangan renstra SKPD.. dan mempedomani indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan. d. disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. c. menyelaraskan dengan strategi dan arah kebijakan. tujuan dan sasaran. tujuan dan sasaran. c. gambaran umum kondisi daerah. d. strategi dan arah kebijakan. (5) Rancangan renstra SKPD yang telah diverifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). g. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. misi. Pasal 64 (1) Rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (5). kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RPJMD. f. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. memecahkan isu-isu srategis sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD. mempedomani kebijakan umum dan program pembangunan daerah. paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak surat edaran kepala daerah diterima. (3) Rancangan renstra SKPD yang telah disusun disampaikan kepala Bappeda kepada kepala SKPD. (2) Bappeda mengajukan rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). untuk mengintegrasikan dan menjamin kesesuaian dengan rancangan awal RPJMD. analisis isu-isu srategis. antara lain dalam: a. visi. e. menyelaraskan dengan visi.25 Paragraf 3 Penyusunan Rancangan RPJMD Pasal 63 (1) Bappeda menyampaikan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62. . misi. gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. pendahuluan. dijadikan bahan masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. dan penetapan indikator kinerja daerah. kepada para kepala SKPD dengan surat edaran kepala daerah. b.

(4) Pembahasan rancangan akhir RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). f. Paragraf 5 Perumusan Rancangan Akhir RPJMD Pasal 67 (1) Perumusan rancangan akhir RPJMD berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66. strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas. dan dikoordinasikan oleh Bappeda c. paling lambat dilakukan pada akhir bulan ke-4 (keempat) setelah kepala daerah terpilih dilantik.. g. Pasal 66 Hasil musrenbang RPJMD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. (4) Pimpinan DPRD atau anggota DPRD. pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat atau dari unsur lain terkait. sesuai dengan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan daerah. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan RPJMD daerah lainnya. penyelarasan. b. indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan. (2) Penajaman. (3) Musrenbang RPJMD dilaksanakan provinsi/kabupaten/kota. sasaran pembangunan jangka menengah daerah. kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. e. dibahas oleh seluruh kepala SKPD. misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan sinergi dengan RPJMN. d. . (3) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Rancangan akhir RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode RPJMD. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (2). mencakup: a. memastikan program pembangunan jangka menengah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD telah tertampung dalam rancangan akhir RPJMD. dapat diundang menjadi narasumber dalam musrenbang RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD dalam melaksanakan pembangunan daerah.26 Paragraf 4 Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Pasal 65 (1) Musrenbang RPJMD dilaksanakan untuk penajaman. penyelarasan.

Pasal 70 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1). keserasian. RTRW provinsi. menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. dilakukan setelah Gubernur menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Menteri Dalam Negeri. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. sistematika dan teknis penyusunan. Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. sistematika dan teknis penyusunan. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya.. keselarasan dengan RPJPD provinsi. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. serta sinkronisasi dan sinergitas. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota lainnya. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. harmonisasi. c. rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). memastikan pertimbangan landasan hukum penyusunan. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. b.27 Pasal 68 (1) Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. c. diterima Gubernur. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . dilakukan setelah Bupati/Walikota menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Gubernur. Pasal 69 (1) Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada Gubernur. serta keselarasan dengan RPJPD kabupaten/kota. pemerintah daerah provinsi yang terkait sesuai dengan kebutuhan dalam pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RTRW provinsi. RTRW kabupaten/kota. diterima Menteri Dalam Negeri. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. rancangan akhir RPJMD provinsi. b. Pasal 71 (2) Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat kementerian/lembaga dan/atau (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1).

setelah konsultasi dilakukan. Paragraf 6 Penetapan RPJMD Pasal 74 (1) Gubernur menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi kepada DPRD provinsi untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. Pasal 73 (2) Gubernur menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil konsultasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72. dengan lampiran rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota yang telah dikonsultasikan dengan Gubernur beserta: a. . kepala daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. dan surat Menteri Dalam Negeri perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD provinsi. Pasal 72 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan RPJMD kepada Gubernur untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintahan daerah dan/atau provinsi/ kabupaten/kota yang terkait sesuai dengan kebutuhan. setelah konsultasi dilakukan. perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD Pasal 76 Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi dan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. dan surat Gubernur kabupaten/kota. dengan lampiran rancangan akhir RPJMD provinsi yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri beserta: a. b.28 (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 75 (1) Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota kepada DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. RPJMD kepada Bupati/Walikota untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. b.

telah menindaklanjuti hasil konsultasi. (2) Gubernur menyampaikan hasil klarifikasi kepada Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1). dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Dalam Negeri. (3) Penyampaian hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 80 (1) Gubernur melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2). . (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peraturan Daerah tentang RPJMD dinyatakan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dilaksanakan oleh Bappeda provinsi. dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah.. (2) Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota disampaikan kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. (4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 82 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil klarifikasi kepada Gubernur yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1).29 Pasal 77 (1) Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah tentang RPJMD diterima. Pasal 78 Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD dengan DPRD. Pasal 83 (1) Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi dan tidak dikonsultasikan. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 81 Klarifikasi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagaimana dimaksud Pasal 79 dan Pasal 80 untuk memastikan saran penyempurnaan hasil konsultasi telah ditindaklanjuti. Pasal 79 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1). telah menindaklanjuti hasil konsultasi.

serta digunakan sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. merupakan sesuatu yang ingin dicapai dari setiap misi SKPD. tujuan. program.30 (2) Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau tidak dikonsultasikan. (4) Tujuan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf c. . sesuai dengan tugas dan fungsi yang sejalan dengan pernyataan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam RPJMD.merupakan langkah-langkah berisikan program-program indikatif. (3) Misi SKPD sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf b. strategi dan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1) huruf a. huruf b. d. f. realistis. c. dan kegiatan. misi. b. strategi. visi. dalam rangka mewujudkan visi SKPD. memuat: a. merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan sesuai tugas dan fungsi. huruf d dan huruf e. (2) Visi SKPD sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf a.. merupakan keadaan yang ingin diwujudkan SKPD pada akhir periode Renstra SKPD. misi. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri. untuk mencapai tujuan dalam rangka melaksanakan misi untuk mewujudkan visi SKPD. (6) Kebijakan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf e. disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif Pasal 86 (1) Visi. tujuan. yang dirumuskan bersifat spesifik. e. dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran program yang ditetapkan dalam RPJMD. dalam melaksanakan strategi untuk mencapai tujuan Renstra SKPD. BAB VI RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 85 (1) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c. (5) Strategi sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf d. merupakan arah/tindakan yang harus dipedomani SKPD. dilengkapi dengan sasaran yang terukur dan dapat dicapai dalam periode yang direncanakan. g. kebijakan. huruf c. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 84 RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah provinsi dan Peraturan Daerah kabupaten/kota menjadi pedoman penetapan Renstra SKPD dan penyusunan RKPD.

untuk mencapai keberhasilan pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan daerah yang ditetapkan pada satu atau beberapa wilayah atau kawasan. dapat berupa program SKPD. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. dan akan dilaksanakan secara simultan dengan program SKPD lainnya. d.31 (7) Program sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf f. dan akan dilaksanakan secara simultan dengan program SKPD lainnya. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi. merupakan bagian dari program yang memuat sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya sebagai masukan (input). merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi sesuai dengan tugas dan fungsi. sesuai dengan ketentuan Pasal 87 (1) Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (7). penyusunan rancangan Renstra SKPD. mempertimbangkan pencapaian SPM yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 85 ayat (2). b. yang akan dilaksanakan oleh 1 (satu) SKPD. (9) Tugas dan fungsi sebagaimana Pasal peraturan perundang-undangan. untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.. . Bagian Kedua Penyusunan RENSTRA SKPD Pasal 89 (1) SKPD menyusun Renstra SKPD. atau program kewilayahan. (2) Program SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Program kewilayahan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dirumuskan. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). untuk mencapai sasaran dan tujuan sesuai tugas dan fungsi SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. (2) Dalam hal SPM belum tersedia. (8) Kegiatan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf g. program lintas SKPD. (3) Program lintas SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. persiapan penyusunan Renstra SKPD. Pasal 88 (1) Pencapaian sasaran program SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1). penyusunan rancangan akhir Renstra SKPD. dan penetapan Renstra SKPD. perumusan sasaran program disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan dan kemampuan SKPD.

penyusunan agenda kerja tim penyusun Renstra SKPD. l. c. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) huruf b. b. perumusan indikator kinerja SKPD provinsi yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD provinsi. kegiatan. dan Penyajian rancangan Renstra SKPD. pengolahan data dan informasi.32 Paragraf 1 Persiapan Penyusunan Renstra SKPD Pasal 90 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) huruf a. m. analisis gambaran pelayanan SKPD provinsi. indikator kinerja. h. d. i. termasuk lokasi kegiatan. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan RENSTRA SKPD Pasal 91 Penyusunan rancangan Renstra SKPD. analisis terhadap dokumen hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. b. perumusan isu-isu strategis.. perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD provinsi guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD provinsi yang menjadi tugas dan fungsi SKPD provinsi. j. k. perumusan rencana program. perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD provinsi. meliputi: a. Pasal 92 (1) Perumusan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. f. untuk provinsi mencakup: a. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. penelaahan RTRW provinsi. melalui tahapan sebagai berikut: a. orientasi mengenai Renstra SKPD. b. Perumusan rancangan Renstra SKPD. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun Renstra SKPD. dan n. review renstra kementerian/lembaga dan Renstra SKPD kabupaten/kota. mempelajari surat edaran Gubernur perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD provinsi beserta lampirannya. g. yaitu rancangan awal RPJMD provinsi yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD provinsi. d. perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD provinsi. (2) Perumusan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a. e. pelaksanaan forum SKPD provinsi. untuk kabupaten/kota mencakup: . perumusan visi dan misi SKPD provinsi. c.

strategi dan kebijakan. mempelajari surat edaran Bupati/Walikota perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD kabupaten/kota beserta lampirannya. indikator kinerja. perumusan isu-isu strategis. . m. isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi. Pasal 93 Penyajian rancangan Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf b. c. perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. yaitu rancangan awal RPJMD kabupaten/kota yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD kabupaten/kota. c. k. (3) Pembahasan dengan pemangku kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. rencana program. perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD kabupaten/kota..33 a. misi. indikator kinerja. dibahas dengan seluruh unit kerja dilingkungan SKPD untuk dibahas bersama dengan pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan dalam forum SKPD. b. guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD kabupaten/kota yang menjadi tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. perumusan visi dan misi SKPD kabupaten/kota. kegiatan. j. analisis gambaran pelayanan SKPD kabupaten/kota. kegiatan. penelaahan RTRW kabupaten/kota. f. termasuk lokasi kegiatan. d. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. perumusan rencana program. dan n. l. f. pengolahan data dan informasi. i. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. review renstra kementerian/lembaga dan Renstra SKPD provinsi. gambaran pelayanan SKPD. g. pendahuluan. (3) Perumusan rancangan Renstra SKPD merupakan proses yang tidak terpisahkan dan dilakukan bersamaan dengan tahap perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62. tujuan dan sasaran. bertujuan untuk memperoleh masukan dalam rangka penajaman pencapaian sasaran program dan kegiatan pelayanan SKPD. (2) Rancangan Renstra SKPD yang telah disusun. visi. perumusan indikator kinerja SKPD kabupaten/kota yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. dan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. d. e. pelaksanaan forum SKPD kabupaten/kota. Pasal 94 (1) Penyusunan rancangan Renstra SKPD berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1). b. analisis terhadap dokumen hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. h. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a.

strategi. (4) Bappeda menghimpun seluruh rancangan akhir Renstra SKPD yang telah diteliti melalui verifikasi akhir. sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. tujuan. (8) Penetapan Renstra SKPD oleh kepala SKPD paling lama 7 (tujuh) hari setelah Renstra SKPD disahkan oleh kepala daerah. program dan kegiatan pembangunan daerah sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang ditetapkan dalam RPJMD. yang berpedoman pada RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84. kebijakan. kebijakan. (5) Pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).34 Pasal 95 (1) Kepala SKPD menyampaikan rancangan Renstra SKPD yang telah dibahas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2). harus dapat menjamin kesesuaian visi. bertujuan untuk mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan. ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. kepada kepala Bappeda. hasil penyempurnaan rancangan renstra SKPD disampaikan kembali oleh kepala SKPD kepada kepala Bappeda paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. (7) Pengesahan rancangan akhir Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah. strategi. . (3) Apabila dalam verifikasi ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat edaran kepala daerah diterima. disampaikan kepala SKPD kepada kepala Bappeda untuk memperoleh pengesahan kepala daerah. misi. kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD. Paragraf 3 Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD Pasal 96 (1) Penyusunan rancangan akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan rancangan Renstra SKPD. Paragraf 4 Penetapan Renstra SKPD Pasal 97 (1) Rancangan akhir Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. (2) Dengan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan keterpaduan dengan rancangan akhir Renstra SKPD lainnya. (6) Berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pengesahan Renstra SKPD. (2) Rancangan akhir Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). paling lama 1 (satu) bulan setelah Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan. Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD. diverifikasi akhir oleh Bappeda. (2) Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. dan kegiatan SKPD dengan RPJMD. (3) Verifikasi akhir sebagaimana dimaksud pada ayat (2). untuk diajukan kepada kepala daerah guna memperoleh pengesahan. program.

BAB VII RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 99 (1) RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d. memuat program-program yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan sebagai penjabaran dari RPJMD pada tahun yang direncanakan. yang bersumber dari APBD maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. material maupun sumber daya manusia dan teknologi. (3) Rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif yang bersumber dari APBD Pasal 99 ayat (2). program prioritas pembangunan daerah. (2) Rencana kerja. dan rencana kerja. c. Pasal 100 (1) Rancangan kerangka ekonomi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1) huruf a. (2) Program prioritas pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1) huruf b. yaitu kebijakan. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. (2) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). .. b. memuat program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah. memuat gambaran kondisi ekonomi. disertai perhitungan kebutuhan dana bersumber dari APBD untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. pendanaan dan prakiraan maju sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. melibatkan peran serta masyarakat baik dalam bentuk dana. memuat: a. rancangan kerangka ekonomi daerah. program dan kegiatan pemerintah daerah yang didanai APBD dalam pencapaian sasarannya. mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif.35 Bagian Ketiga Penyusunan Rancangan Renstra Kecamatan Pasal 98 Tahapan dan tata cara penyusunan renstra kecamatan atau sebutan lain mutatis mutandis dengan penyusunan Renstra SKPD. Bagian Kedua Penyusunan RKPD Pasal 101 (1) Bappeda menyusun RKPD. kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah paling sedikit 2 (dua) tahun sebelumnya. dan perkiraan untuk tahun yang direncanakan. pendanaan dan prakiraan maju. persiapan penyusunan RKPD. (4) Sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat Pasal 99 ayat (2).

prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. c. penyusunan rancangan RKPD. mencakup dua wilayah provinsi atau lebih. (2) Rancangan awal RKPD kabupaten/kota disusun: (2) Mengacu pada RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) huruf b. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD. meliputi: a.. dan rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah provinsi dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. dan penetapan RKPD. dan mengacu pada RPJMN. perumusan rancangan akhir RKPD. e. berpedoman pada RPJMD provinsi. wilayah perbatasan antar provinsi dan/atau wilayah perbatasan antar negara. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RKPD Pasal 102 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf a. b. orientasi mengenai RKPD. (3) program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). d. . c. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi dengan prioritas pembangunan nasional. dilakukan melalui penyelarasan: a. Pasal 104 (1) Berpedoman pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) huruf a. f. d. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. c. berpedoman pada RPJMD kabupaten/ kota. penyusunan agenda kerja tim penyusun RKPD. penyusunan rancangan awal RKPD. b. b. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RKPD Pasal 103 (1) Rancangan awal RKPD provinsi disusun: a. mengacu pada RPJMD provinsi. dan mengacu pada RPJMN. b.36 b. a. pelaksanaan musrenbang RKPD.

(2) Perumusan rancangan awal RKPD. huruf a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf b. j. untuk provinsi mencakup: a. k. dan wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. analisis gambaran umum kondisi daerah. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi..37 Pasal 105 (1) Berpedoman pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2). untuk kabupaten/kota mencakup: a. dan b. f. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan prioritas pembangunan nasional. rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah kabupaten/kota dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. i. (4) Mengacu pada RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2) huruf c. perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah. huruf a. . Pasal 106 Penyusunan rancangan awal RKPD. e. mencakup dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. Pasal 107 (1) Perumusan rancangan awal RKPD. dilakukan melalui penyelarasan: a. perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah. evaluasi kinerja tahun lalu. b. analisis gambaran umum kondisi daerah. c. perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. h. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah. terdiri atas: a. (2) Mengacu pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2). dan penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif. l. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan pembangunan provinsi. pengolahan data dan informasi. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD provinsi. (3) Program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pelaksanaan forum konsultasi publik. pengolahan data dan informasi. g. d. dan penyajian rancangan awal RKPD. prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. analisis ekonomi dan keuangan daerah. b. b. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a. perumusan rancangan awal RKPD.

b. i. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu.. sebagai bahan penyusunan rancangan Renja SKPD. dan penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif. g. pendahuluan. e. j. (2) Surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat agenda penyusunan RKPD. evaluasi kinerja tahun lalu. pelaksanaan forum SKPD dan musrenbang RKPD. Pasal 110 (1) Kepala Bappeda menyiapkan surat edaran kepala daerah kepada kepala SKPD perihal penyampaian rancangan awal RKPD yang sudah dibahas dalam forum konsultasi publik. h. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. Pasal 108 Penyajian rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf b. k. f. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana program prioritas daerah. d. l. d. Pasal 109 (1) Rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108. . pelaksanaan forum konsultasi publik. perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah. merupakan proses penyempurnaan rancangan awal RKPD menjadi rancangan RKPD berdasarkan hasil verifikasi Renja SKPD. e. prioritas dan sasaran pembangunan. dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD kabupaten/kota. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah. analisis ekonomi dan keuangan daerah. c. sekaligus batas waktu penyampaian rancangan Renja SKPD kepada kepala Bappeda untuk dilakukan verifikasi. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. Paragraf 3 Penyusunan Rancangan RKPD Pasal 111 Penyusunan rancangan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf c. perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta pagu indikatif. untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal.38 c.

indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD provinsi sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD provinsi. kegiatan. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Bappeda mengajukan rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). prioritas dan sasaran pembangunan. b. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. Pasal 115 (1) Rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1). indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD kabupaten/kota. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. dilakukan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. 112 ayat (1). hasil penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi disampaikan kembali kepada kepala Bappeda provinsi paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. pendahuluan. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). d. e. dilakukan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. c. mengintegrasikan program. Pasal 113 (2) Rancangan awal RKPD kabupaten/kota disempurnakan menjadi rancangan RKPD kabupaten/kota berdasarkan hasil verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. mengintegrasikan program. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. b. dan rencana program dan kegiatan prioritas daerah. kegiatan. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RKPD provinsi. .39 Pasal 112 (1) Rancangan awal RKPD provinsi disempurnakan menjadi rancangan RKPD provinsi berdasarkan hasil verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD provinsi. (5) Apabila dalam verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c. (4) Apabila dalam verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a.. pendahuluan. Pasal 114 (1) Rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. hasil penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota disampaikan kembali kepada kepala Bappeda kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. (2) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah provinsi pada musrenbang RKPD kabupaten/kota dan/atau sebelum musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan. dan sinergi dengan RKP. indikator dan target kinerja program dan kegiatan pembangunan provinsi. prioritas pembangunan daerah serta rencana kerja dan pendanaan. (2) Penyusunan rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (1). dapat diundang menjadi narasumber musrenbang RKPD provinsi. (3) Musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Bappeda provinsi. pelaksanaan musrenbang RKPD provinsi. Paragraf 4 Pelaksanaan Musrenbang RKPD Pasal 117 Pelaksanaan Musrenbang RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf d. prioritas dan sasaran pembangunan nasional serta usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (2). diselesaikan paling lama minggu kedua pada bulan April. . penyelarasan. e. (2) Bappeda mengajukan rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terdiri dari: a. diselesaikan paling lama minggu kedua pada bulan Maret.. prioritas dan sasaran pembangunan. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).40 d. penyelarasan. d. pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota. dan pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan. e. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RKPD kabupaten/kota. Pasal 118 (1) Musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan untuk penajaman. program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah provinsi dengan arah kebijakan. c. pejabat SKPD provinsi atau dari unsur lain terkait. (2) Penajaman. c. dan rencana program dan kegiatan prioritas daerah. Pasal 116 (1) Penyusunan rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (1). (5) Hasil musrenbang RKPD provinsi dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri musrenbang. b. (4) Pimpinan atau anggota DPRD provinsi. b. pejabat dari kementerian/lembaga ditingkat pusat. mencakup: a.

dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota dan bahan masukan untuk membahas rancangan RKPD provinsi dalam musrenbang RKPD provinsi. (3) Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Bappeda kabupaten/kota. (4) Pimpinan atau anggota DPRD kabupaten/kota. d. (2) Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (5). dan sinergi dengan RKP dan RKPD provinsi.. dilaksanakan paling lama akhir bulan Maret. usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah kabupaten/kota pada musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dan/atau sebelum musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan. Pasal 120 (1) Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan untuk penajaman. c. prioritas dan sasaran pembangunan daerah kabupaten/kota dengan arah kebijakan. penyelarasan. (3) Program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi yang perlu diintegrasikan dengan program dan kegiatan pembangunan yang menjadi kewenangan pemerintah sesuai dengan berita acara kesepakatan musrenbang RKPD provinsi. (2) Penajaman. Pasal 121 (1) Pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120. pejabat SKPD provinsi dan pejabat SKPD kabupaten/kota atau dari unsur lain terkait. dilaksanakan paling lama minggu ketiga bulan April. prioritas pembangunan daerah serta program dan kegiatan prioritas daerah. dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD provinsi. . pejabat dari kementerian/lembaga ditingkat pusat. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (2). e. (5) Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. indikator kinerja program dan kegiatan prioritas daerah kabupaten/kota.41 Pasal 119 (1) Pelaksanaan musrenbang RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118. prioritas dan sasaran pembangunan daerah provinsi. dapat diundang menjadi narasumber musrenbang RKPD kabupaten/kota. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mencakup: a. (2) Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (5). b. dikoordinasikan Bappeda provinsi dengan kementerian/lembaga terkait guna dibahas dalam forum musrenbangnas. penyelarasan.

42 Pasal 122 (1) Musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 huruf c. musrenbang RKPD provinsi dan musrenbangnas RKP. dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan rancangan renja SKPD kabupaten/kota. kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang belum tercakup dalam prioritas kegiatan pembangunan desa. c. (2) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 123 (1) (2) (3) Pelaksanaan musrenbang kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 122. mencakup: a. berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD provinsi dan musrenbangnas RKP. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Penajaman. usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan yang tertuang dalam berita acara musrenbang desa/kelurahan yang akan menjadi kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang bersangkutan. Paragraf 5 Perumusan Rancangan Akhir RKPD Pasal 125 (1) Perumusan rancangan akhir RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 huruf e. (3) Kegiatan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan mengacu pada program dalam rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. b.. . dituangkan dalam berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. setelah berkoordinasi dengan kepala Bappeda kabupaten/kota. yang diintegrasikan dengan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan. penyelarasan. berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota. Pasal 124 (1) Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan. dan pengelompokan kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. dilaksanakan untuk penajaman. Untuk efisiensi dan efektifitas musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dapat diselenggarakan dengan menggabungkan penyelenggaraan beberapa musrenbang kecamatan di kecamatan tertentu yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota. dilaksanakan paling lama minggu ke dua pada bulan Februari. klarifikasi dan kesepakatan usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan. penyelarasan. Penyelenggaraan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dilaksanakan oleh camat. (2) Perumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 huruf e.

paling lambat pada pertengahan bulan Mei. (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 127 (1) Rancangan akhir RKPD kabupaten/kota yang telah dirumuskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 ayat (2). . disampaikan bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang APBD provinsi. Pasal 128 (1) Penyelesaian rumusan rancangan akhir RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 ayat (1). dibahas oleh seluruh kepala SKPD provinsi. paling lambat pada akhir bulan Mei. (2) Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memastikan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD provinsi telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD provinsi. memastikan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD kabupaten/kota telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD kabupaten/kota. (3) RKPD sebagai landasan penyusunan KUA dan PPAS dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.. dibahas oleh seluruh kepala SKPD kabupaten/kota. Pasal 131 (1) Gubernur menyampaikan Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. (2) RKPD kabupaten/kota yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 ayat (2). (2) Penyelesaian rumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 ayat (1). Pasal 130 (1) RKPD provinsi yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 ayat (1). dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi dan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota.43 Pasal 126 (1) Rancangan akhir RKPD provinsi yang telah dirumuskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 ayat (1). (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 6 Penetapan RKPD Pasal 129 (1) RKPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Gubernur setelah RKP ditetapkan. (2) RKPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota setelah RKPD provinsi ditetapkan.

. seperti kelompok masyarakat berdasarkan status ekonomi. e. memuat kebutuhan dana untuk tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan.. gender dan yang kelompok masyarakat rentan termarginalkan. meliputi program dan kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan alternatif atau baru. program dan kegiatan. untuk memastikan APBD telah disusun berlandaskan RKPD. disampaikan bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang APBD kabupaten/kota. (5) Prakiraan maju sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf e. BAB VIII RENCANA KERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 134 Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e. b. c. profesi. dan pagu indikatif dan prakiraan maju Pasal 135 (1) Program dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf a. b. kelompok sasaran. indikator kinerja program yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif hasil yang akan dicapai dari program. (4) Kelompok sasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf d. (3) Indikator kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf c. memuat: a.44 Pasal 132 (1) Bupati/Walikota menyampaikan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang RKPD kabupaten/kota kepada Gubernur. indikator kinerja. Pasal 133 (1) RKPD yang telah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah digunakan sebagai bahan evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang APBD. terdiri dari: a. lokasi kegiatan. (2) Lokasi kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf b. keluaran yang akan dicapai dari kegiatan. guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui untuk setiap program dan kegiatan. (2) RKPD digunakan sebagai bahan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan indikator kinerja kegiatan yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif masukan. merupakan lokasi atau tempat dari setiap kegiatan yang akan dilaksanakan seperti nama desa/kelurahan. (2) Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. kecamatan. memuat penjelasan terhadap karakteristik kelompok sasaran yang memperoleh manfaat langsung dari hasil kegiatan.

d. persiapan penyusunan Renja SKPD. meliputi: a. orientasi mengenai Renja SKPD.. b. d.45 Pasal 136 (1) Program dan kegiatan yang sedang berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. c. yaitu program dan kegiatan SKPD. (3) Program dan kegiatan baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). yaitu program dan kegiatan satu tahun sebelum tahun yang direncanakan yang tercantum dalam Renstra SKPD. yaitu program dan kegiatan yang tidak tercantum pada Renstra SKPD dengan kriteria sebagai berikut: a. b. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. adanya kebijakan pemerintah yang menjadi prioritas nasional yang mendukung percepatan pembangunan daerah. dalam rangka mempercepat capaian target sasaran Renstra SKPD. dan penetapan Renja SKPD. c. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan Renja SKPD Pasal 138 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2) huruf a. penyusunan rancangan Renja SKPD. Bagian Kedua Penyusunan Renja SKPD Pasal 137 (1) SKPD menyusun Renja SKPD. lintas SKPD dan kewilayahan yang berdasarkan analisis perlu dilakukan pergeseran pelaksanaannya atas pertimbangan mempunyai dampak mempercepat pencapaian sasaran pembangunan daerah. penyusunan agenda kerja tim penyusun Renja SKPD. tidak bisa ditunda karena dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah maupun masyarakat. b. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun Renja SKPD. dan/atau dilakukan jika kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya belum memberikan keluaran dan hasil yang sesuai dengan sasaran Renstra SKPD. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Renja SKPD Pasal 139 Rancangan Renja SKPD provinsi dan kabupaten/kota disusun: . pelaksanaan forum SKPD. c. d. (2) Program dan kegiatan alternatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). (2) Renja SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

menjadi acuan perumusan tujuan. analisis gambaran pelayanan SKPD provinsi. e. kegiatan. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf b. sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD. indikator kinerja dan dana indikatif dalam Renja SKPD. penelaahan rancangan awal RKPD provinsi. penelaahan usulan masyarakat. (3) Hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf c. (5) Usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf e. g. mereview hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD provinsi. kelompok sasaran. pengolahan data dan informasi. f. b. kegiatan. c. penentuan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD provinsi. mengacu pada Renstra SKPD. h. d. Pasal 140 (1) Rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf a. lokasi kegiatan serta prakiraan maju dalam rancangan Renja SKPD dapat menjawab berbagai isuisu penting terkait dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD. menjadi acuan perumusan kegiatan dalam rancangan Renja SKPD mengakomodir usulan masyarakat yang selaras dengan program prioritas yang tercantum dalam rancangan awal RKPD. untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Perumusan rancangan Renja SKPD. sasaran. Pasal 141 Penyusunan rancangan Renja SKPD. Pasal 142 (1) Perumusan rancangan Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a. terdiri atas: a. dan 141 . b. (4) Masalah yang dihadapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf d. menjadi acuan perumusan kegiatan alternatif dan/atau baru untuk tercapainya sasaran Renstra SKPD berdasarkan pelaksanaan Renja SKPD tahun-tahun sebelumnya. lokasi kegiatan serta prakiraan maju berdasarkan program prioritas rancangan awal RKPD yang disusun ke dalam rancangan Renja SKPD.46 a. menjadi acuan penyusunan tujuan. e. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2). dan berdasarkan usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat. dan Penyajian rancangan Renja SKPD. sasaran. persiapan penyusunan rancangan Renja SKPD provinsi. mengacu pada rancangan awal RKPD. d. c. kegiatan. selaras dengan Renstra SKPD. mengacu pada hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya. kelompok sasaran.. perumusan tujuan dan sasaran. untuk provinsi mencakup: a. b. menjadi acuan perumusan program.

penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota.47 i. e. f. untuk kabupaten/kota mencakup: a. g. b. persiapan penyusunan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. d. b. mereview hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD kabupaten/kota. sumber dana yang dibutuhkan untuk menjalankan program dan kegiatan. f. dan penutup. penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. (2) Rancangan Renja kabupaten/kota. b. perumusan kegiatan prioritas. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. . analisis gambaran pelayanan SKPD kabupaten/kota. perumusan tujuan dan sasaran. program dan kegiatan. penelaahan rancangan awal RKPD kabupaten/kota. h. c. g. (2) Pembahasan rancangan Renja RKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 141 (2) Perumusan rancangan Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a. indikator kinerja dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra SKPD. pendahuluan. e. SKPD kabupaten/kota dibahas dalam forum SKPD Paragraf 3 Pelaksanaan Forum SKPD Pasal 145 (1) Bappeda mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renja RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu. sasaran. d. Pasal 144 (1) Rancangan Renja SKPD provinsi dibahas dalam forum SKPD provinsi. c. Pasal 143 Penyajian rancangan Renja RKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 huruf b. pengolahan data dan informasi. tujuan. i.. penentuan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. dan perumusan kegiatan prioritas. dalam forum SKPD provinsi. penelaahan usulan masyarakat. mencakup: a. dana indikatif beserta sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif.

SKPD kabupaten/kota. penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD kabupaten/kota dalam rangka sinergi pelaksanaan dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD kabupaten/kota. . (5) Hasil kesepakatan pembahasan forum SKPD provinsi dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan hasil forum SKPD provinsi. Pasal 146 (1) Bappeda mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renja RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (2). dan penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu indikatif untuk masing-masing SKPD provinsi. penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. sesuai dengan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2). d. (2) Kepala SKPD provinsi menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD provinsi dalam rangka sinergi pelaksanaan dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD provinsi. mencakup: a. Pasal 147 (1) Peserta forum SKPD provinsi antara lain terdiri dari SKPD provinsi. sesuai dengan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2). kepada kepala Bappeda provinsi sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD provinsi menjadi rancangan RKPD provinsi. d. dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD provinsi.. (3) Forum SKPD provinsi dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa SKPD provinsi sekaligus dalam satu forum dengan mempertimbangkan tingkat urgensi. dalam forum SKPD kabupaten/kota. Pasal 148 (1) Berita acara kesepakatan hasil forum SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (5). dan pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan. penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kecamatan. dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi. b. (2) Pimpinan atau anggota komisi DPRD provinsi yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. (4) Penyelenggaraan forum SKPD provinsi dilaksanakan paling lama minggu terakhir bulan Maret. dan penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu indikatif untuk masing-masing SKPD kabupaten/kota. dapat diundang menjadi narasumber dalam pembahasan forum SKPD. c. (2) Pembahasan rancangan Renja RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1).48 c.

Pasal 150 (1) Berita acara kesepakatan hasil forum SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (5). Paragraf 4 Penetapan Renja SKPD Pasal 151 (1) Kepala SKPD provinsi menyempurnakan rancangan Renja SKPD provinsi dengan berpedoman pada RKPD provinsi yang telah ditetapkan. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). memastikan rancangan Renja SKPD provinsi telah sesuai dengan RKPD provinsi. dan ditandatangai oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD kabupaten/kota. paling lambat minggu pertama bulan Maret. Pasal 152 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota menyempurnakan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota dengan berpedoman pada RKPD kabupaten/kota yang telah ditetapkan.49 (3) Penyampaian rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dapat diundang menjadi narasumber dalam pembahasan forum SKPD. dijadikan bahan penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. (3) Forum SKPD kabupaten/kota dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa SKPD kabupaten/kota sekaligus dalam satu forum dengan mempertimbangkan tingkat urgensi. paling lambat minggu pertama bulan April. (3) Penyampaian rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Rancangan Renja SKPD provinsi yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Kepala Bappeda menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi yang telah sesuai dengan RKPD provinsi kepada Gubernur untuk memperoleh pengesahan. (2) Kepala SKPD provinsi menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. kepada kepala Bappeda provinsi sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD provinsi menjadi rancangan RKPD provinsi. (4) Penyelenggaraan forum SKPD kabupaten/kota dilaksanakan paling lama minggu terakhir bulan Februari. . (2) Pimpinan atau anggota komisi DPRD kabupaten/kota yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan. (5) Hasil kesepakatan pembahasan forum SKPD dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan hasil forum SKPD kabupaten/kota. serta pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. Pasal 149 (1) Peserta forum SKPD kabupaten/kota antara lain terdiri dari wakil peserta musrenbang kecamatan dan SKPD lainnya. disampaikan kepada kepala Bappeda provinsi untuk diverifikasi.

e. ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Keputusan Walikota. (2) Penetapan Keputusan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) minggu setelah RKPD provinsi ditetapkan.. Konsistensi antara kebijakan pembangunan daerah. c. Pasal 156 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi. b. (2) Gubernur melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan daerah lingkup provinsi. Pasal 153 (1) Rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam dalam Pasal 151 ayat (4).50 (2) Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan pelaksanaan dan hasil rencana Konsistensi antara RPJPD dengan RPJPN dan RTRW nasional. disampaikan kepada kepala Bappeda kabupaten/kota untuk diverifikasi. dan Kesesuaian antara capaian pembangunan daerah dengan indikator-indikator kinerja yang telah ditetapkan. ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. (4) Kepala Bappeda menyampaikan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota yang telah sesuai dengan RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota untuk memperoleh pengesahan. Konsistensi antara RKPD dengan RPJMD. (2) Penetapan Keputusan Bupati/Keputusan Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) minggu setelah RKPD kabupaten/kota ditetapkan. Pasal 154 (1) Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 ayat (4). memastikan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota telah sesuai dengan RKPD kabupaten/kota. perencanaan (3) Bupati/Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota. BAB IX PENGENDALIAN DAN EVALUASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 155 Pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah bertujuan untuk mewujudkan: a. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . antarkabupaten/kota. d. Konsistensi antara RPJMD dengan RPJPD dan RTRW daerah.

mencakup pembangunan daerah pada wilayah kabupaten/kota dalam jangka waktu tertentu. arah. dan Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah. (2) Lingkup provinsi.51 Pasal 157 (1) Antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (1). meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. d. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (2). misi. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selaras dengan visi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Paragraf 1 Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 159 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a.. Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pembangunan daerah. arah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. selaras dengan RTRW provinsi lainnya. c. (3) Lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3). mencakup pembangunan daerah pada satu provinsi atau lebih dalam jangka waktu tertentu. kebijakan dan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang nasional. Pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah. visi. mencakup perumusan visi dan misi serta serta sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. kabupaten/kota dan antarkabupaten/kota pada wilayah provinsi dalam jangka waktu tertentu. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD provinsi masing-masing yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. misi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. jangka menengah dan tahunan daerah. b. Pasal 160 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. . selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi lainnya rencana pembangunan jangka panjang daerah. mencakup pembangunan daerah provinsi. Pasal 158 Pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi masing-masing. harus dapat menjamin perumusan: a. meliputi: a. b.

tujuan dan sasaran. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. sasaran. visi. misi. dan indikator kinerja daerah. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi berkenaan. kebijakan umum dan program. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. program pembangunan jangka menengah daerah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Dalam hal evaluasi hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kondisi. f. kepada Menteri Dalam Negeri. selaras dengan visi. harus dapat menjamin perumusan: a. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD provinsi masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kebijakan. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. tujuan. prioritas pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (3). telah mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi masing-masing. strategi dan arah kebijakan. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah provinsi lainnya. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD provinsi. misi. kebijakan. kebijakan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. visi. selaras dengan arah.. d. sasaran. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. Pasal 161 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. misi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. tujuan. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah provinsi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. g.52 e. arah. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. misi. pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lainnya. Pasal 162 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 mencakup perumusan visi. . (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kebijakan umum. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi. kebijakan. serta prioritas pembangunan nasional. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. c. selaras dengan b. dan karakteristik daerah. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.

mencakup perumusan prioritas dan sasaran serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. c. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. Pasal 164 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. Pasal 163 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi masing-masing. mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah provinsi masing-masing. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. b. (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 162 ayat (4). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan nasional. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD provinsi.. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD provinsi. mengacu pada RPJMN dan memperhatikan RTRW provinsi lainnya. harus dapat menjamin perumusan: a. d. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD provinsi. e. f. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). maupun pada wilayah perbatasan antar provinsi/negara. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD provinsi.53 e. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD provinsi masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. . sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi masing-masing. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi masing-masing. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. sesuai dengan prioritas pembangunan nasional terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah provinsi atau lebih. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi berkenaan.

tujuan dan sasaran RPJMD provinsi masing-masing. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. RPJMD dan RKPD. (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri.. misi. kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Paragraf 2 Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 166 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (4). meliputi pelaksanaan RPJPD. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).54 (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). . (1). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. telah dilaksanakan melalui RPJMD provinsi masing-masing. Pasal 167 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (4). harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD telah berpedoman pada RPJMD provinsi masing-masing dan mengacu pada RKP. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. misi. Pasal 168 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD antarprovinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat pemantauan dan supervisi dalam pelaksanaan RPJPD. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RPJMD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. Pasal 165 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarprovinsi. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.

harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKPD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. program pembangunan jangka menengah daerah. harus dapat menjamin: a. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).55 Pasal 169 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. PPAS dan APBD provinsi masingmasing. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 171 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah dilaksanakan melalui RKPD provinsi masingmasing. pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD provinsi. . telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah provinsi masing-masing. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD provinsi. PPAS dan APBD provinsi masing-masing. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. serta pagu indikatif. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi masing-masing. dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif. kepada Menteri Dalam Negeri. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD.. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). lokasi. Pasal 170 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD antarprovinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 172 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD antarprovinsi. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan. telah disusun kedalam rancangan KUA. b. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah provinsi. mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. b. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD antarprovinsi. dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan RPJPD provinsi masingmasing dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional.. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD antarprovinsi. disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RPJPD dan/atau RPJMD periode berikutnya. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. digunakan untuk mengetahui: a. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tujuan dan sasaran. (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. Paragraf 3 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 173 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c meliputi RPJPD. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 176 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. Pasal 174 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD provinsi dengan capaian sasaran RPJMD provinsi masing-masing. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). digunakan untuk mengetahui: . dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD antarprovinsi.56 (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 171 pada ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi masing-masing dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional. RPJMD dan RKPD. (5) Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RPJPD provinsi masing-masing.

dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi masing-masing. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan hasil evaluasi RKPD provinsi masingmasing. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD provinsi dengan laporan realisasi APBD provinsi masing-masing. Pasal 177 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJMD antarprovinsi. misi. digunakan untuk mengetahui: a. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD provinsi masing-masing. . (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RPJMD dan/atau RKPD periode berikutnya. dan pembangunan jangka menengah nasional. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dengan capaian indikator kinerja program dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD provinsi masing-masing. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. Pasal 178 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD provinsi masing-masing. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dapat dicapai dalam rangka mewujudkan sasaran jangka menengah daerah provinsi dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. Pasal 179 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD antarprovinsi.57 a. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. b. b. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD antarprovinsi. disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RKPD periode berikutnya.

e. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kebijakan dan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang nasional. b. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah provinsi. prioritas pembangunan jangka panjang daerah provinsi. arah. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD provinsi.58 Paragraf 4 Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi. Pasal 181 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. c. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). arah. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi lainnya. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 180 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah lingkup provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. misi. visi.. f. g. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. d. Pasal 182 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. telah mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi. RPJPD memperhatikan RTRW provinsi lainnya. selaras dengan visi. harus dapat menjamin perumusan: a. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). jangka menengah dan tahunan daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi kepada Gubernur. . digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi.

digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota. g. selaras dengan visi. telah mengacu pada RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota masing-masing serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. misi. sasaran pokok dan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional.. visi. Pasal 183 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota masing-masing. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. e. rencana pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan RTRW kabupaten/kota lainnya. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD kabupaten/kota. sebagai lampiran dari surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf c. prioritas pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. c. f. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). d. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. Pasal 184 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota lainnya. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. b. harus dapat menjamin perumusan: a. tahapan. arah. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. arah. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). . misi. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota berkenaan.59 (4) Gubernur menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah.

berpedoman pada kebijakan umum dan program pembangunan serta program prioritas jangka menengah daerah serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis.. berpedoman pada indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 185 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. berpedoman pada strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. berpedoman pada tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). visi dan misi SKPD provinsi. mencakup perumusan visi dan misi. c. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 186 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. rencana program dan kegiatan SKPD provinsi. indikator kinerja SKPD provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus dapat menjamin perumusan: a. strategi dan kebijakan SKPD provinsi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renstra SKPD provinsi ditetapkan. rencana program dan kegiatan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 186 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. indikator kinerja. telah berpedoman pada RPJMD provinsi serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. . Pasal 187 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi. e. sesuai dengan pentahapan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. b. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD provinsi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. berpedoman pada visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah. d. indikator kinerja.60 (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). strategi dan kebijakan. mencakup kebijakan perencanaan strategis SKPD dan RPJMD Provinsi. f. kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dan pentahapan pelaksanaan program SKPD.

strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. kondisi. dan indikator kinerja daerah. selaras dengan arah. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. d. kebijakan umum dan program. kebijakan. misi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. tujuan. program pembangunan jangka menengah daerah. e. pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lainnya. tujuan. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD provinsi.. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pengendalian dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai dengan kewenangan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah provinsi. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN. Pasal 189 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 mencakup perumusan visi dan misi. sasaran. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). strategi dan arah kebijakan. sasaran. kebijakan. mengacu pada RPJMN dan memperhatikan RTRW provinsi lainnya. kebijakan umum.61 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. kebijakan. kebijakan. visi. Kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. selaras dengan visi. telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. . visi. serta prioritas pembangunan nasional. misi. dan karakteristik daerah. mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. c. Pasal 188 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan strategik SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 187 ayat (3). arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi. selaras dengan b. arah. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah provinsi lainnya. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. misi. f.

dan karakteristik daerah. Pasal 191 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. program pembangunan jangka menengah daerah. sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD kabupaten/kota. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. c.. mengacu pada RPJMD dan memperhatikan RTRW kabupaten/kota lainnya. visi. misi. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota lainnya. kebijakan umum. serta prioritas pembangunan nasional. arah. f. sebagai lampiran dari surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2) huruf c. kebijakan. misi. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. visi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). selaras pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lainnya. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. dengan b. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. d. . dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. dan indikator kinerja daerah. misi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. strategi dan arah kebijakan. kebijakan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi kepada Gubernur. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota masing-masing.62 Pasal 190 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi. tujuan. sasaran. telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota masing-masing. kebijakan. selaras dengan visi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus dapat menjamin perumusan: a. kebijakan umum dan program. tujuan. kebijakan. (4) Gubernur menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. e. selaras dengan arah. kondisi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. sasaran. mencakup perumusan visi dan misi.

. Pasal 193 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. rencana program dan kegiatan serta indikator kinerja.. mencakup perumusan kebijakan Renja SKPD dan kebijakan RKPD provinsi. sasaran. Pasal 194 (1) Pengendalian kebijakan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193 mencakup tujuan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renja SKPD provinsi ditetapkan. sasaran. serta selaras dengan Renstra SKPD. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan Renja SKPD provinsi telah berpedoman pada RKPD dan Renstra SKPD. kelompok sasaran.63 Pasal 192 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. harus dapat menjamin perumusan tujuan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD. indikator kinerja. (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. lokasi. rencana program dan kegiatan. dan pendanaan indikatif dalam Renja SKPD. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 195 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan penyusuan Renja SKPD provinsi. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. berpedoman pada rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah dalam RKPD. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota berkenaan.

e. Pasal 198 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi. dan kegiatan prioritas daerah. lokasi. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. maupun pada wilayah perbatasan antar provinsi/negara. c. Kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi.64 Pasal 196 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan penyusunan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (3). rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD provinsi. sesuai dengan prioritas pembangunan nasional terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah provinsi atau lebih. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan nasional. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD provinsi telah berpedoman pada RPJMD provinsi dan mengacu pada RKP. serta rencana program. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 197 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan.. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD provinsi. d. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. b. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (4). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi kebijakan pembangunan tahunan daerah provinsi kepada Gubernur. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi.

rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. maupun pada wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD kabupaten/kota. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. meliputi pelaksanaan RPJPD. d. . dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota.. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. sesuai dengan prioritas pembangunan provinsi terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 201 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah lingkup provinsi. Paragraf 5 Pengendalian Dan Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. Pasal 200 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarkabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). RPJMD dan RKPD. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan provinsi. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing. c. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota masing-masing.65 Pasal 199 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD antarkabupaten/kota telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota masingmasing dan mengacu pada RKPD provinsi. b. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD kabupaten/kota. e. harus dapat menjamin perumusan: a. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota.

Pasal 203 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi kepada Gubernur. misi. telah dilaksanakan melalui RPJMD provinsi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).66 Pasal 202 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota masing-masing. telah dilaksanakan melalui RPJMD kabupaten/kota masing-masing. tujuan dan sasaran RPJMD provinsi. misi. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. Pasal 205 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota. dan evaluasi . Pasal 204 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah masing-masing kabupaten/kota. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi. misi. (2) Pengendalian terhadap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(2) Dalam hal evaluasi terhadap laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Rentra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.. serta pendanaan indikatif Renstra SKPD provinsi. dana indikatif dan prakiraan maju Renja SKPD provinsi. mencakup pelaksanaan Renstra SKPD. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD provinsi. (3) Kepala SKPD provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. mencakup indikator kinerja SKPD provinsi. kegiatan. Pasal 208 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi. Pasal 207 (1) Pengendalian pelaksanaan Renstra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 206. kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. rencana program. kegiatan. b. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi telah dilaksanakan melalui Renja SKPD provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan RPJMD Provinsi. sebagai bahan evaluasi pelaksanaan RPJMD provinsi. dan visi. kelompok sasaran. indikator kinerja dan kelompok sasaran.67 (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi telah dijabarkan dalam tujuan dan sasaran Renja SKPD provinsi. telah dipedomani dalam menyusun indikator kinerja dan kelompok sasaran. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kelompok sasaran. Pasal 206 Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. misi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa indikator kinerja SKPD provinsi. melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 209 (1) Kepala Bappeda provinsi menggunakan laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 208 ayat (3). program. kegiatan. misi. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi. rencana program. misi. kegiatan. . pendanaan indikatif serta visi. harus dapat menjamin: a. pendanaan indikatif serta visi. rencana program.

telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. telah dilaksanakan melalui RKPD provinsi. program pembangunan jangka menengah daerah. dan . Pasal 210 (1) Pengendalian pelaksanaan RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 206. harus dapat menjamin: a. Pasal 212 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201.. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. b. program pembangunan jangka menengah daerah. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. (2) Pengendalian pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1).68 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. harus dapat menjamin: a. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah provinsi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 211 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD provinsi. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota masing-masing. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi kepada Gubernur. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Pengendalian pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 213 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota. Pasal 215 (1) Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 214. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (2) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 216 (1) Pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 215 ayat (2).69 b. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pagu indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. (2) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. telah disusun kedalam RKA-SKPD provinsi. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi. telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota masing-masing. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi. dana indikatif yang disusun ke dalam RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. lokasi. harus dapat menjamin agar program dan kegiatan. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. mencakup program dan kegiatan. telah dilaksanakan melalui RKPD kabupaten/kota masing-masing. pagu indikatif serta prakiraan maju. dilakukan melalui . dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 212 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 214 Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup Renja SKPD provinsi dan RKPD provinsi. lokasi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program dan kegiatan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. Kepala SKPD provinsi mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar penyusunan RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. Pasal 217 (1) Kepala SKPD provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi..

PPAS dan APBD Provinsi. rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). rencana program dan kegiatan prioritas daerah. dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 219 ayat (3) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 221 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA. Pasal 220 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD provinsi.70 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi.. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi. serta pagu indikatif. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKA-SKPD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. (1). Pasal 218 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renja SKPD provinsi yang disampaikan oleh kepala SKPD provinsi. harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. lokasi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. Pasal 219 (1) Pengendalian pelaksanaan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 214 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. PPAS dan APBD provinsi. Kepala Bappeda provinsi melakukan perbaikan/penyempurnaan. melalui . (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. serta pagu indikatif. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD provinsi kepada Gubernur. serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD provinsi.

serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA. RKPD. misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dapat dicapai. lokasi. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c. harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. realisasi antara sasaran pokok RPJPD provinsi dengan capaian sasaran RPJMD provinsi. PPAS dan APBD kabupaten/kota masing-masing. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota.71 (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). serta pagu indikatif dijadikan pedoman penyusunan KUA dan PPAS serta APBD kabupaten/kota masing-masing. lokasi. meliputi RPJPD. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. . digunakan untuk mengetahui: a. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. Paragraf 6 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 223 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah lingkup provinsi. Pasal 222 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD antarkabupaten/kota. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi. RPJMD. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan evaluasi hasil RPJMD provinsi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah.. b. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 224 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional. dan realisasi antara capaian sasaran pokok RPJPD provinsi dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 226 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223 mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota.. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota masing-masing dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. Pasal 228 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RPJPD pada periode berikutnya. dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi. . (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJPD provinsi kepada Gubernur. Pasal 227 (1) Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD antarkabupaten/kota. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan capaian sasaran RPJMD kabupaten/kota masingmasing. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tujuan dan sasaran. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk mengetahui: a. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota masing-masing. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi. (3) Hasil evaluasi RPJPD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJPD provinsi untuk periode berikutnya.72 Pasal 225 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup provinsi. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD provinsi. b. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RPJPD kabupaten/kota masing-masing.

Pasal 230 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD kabupaten/kota masing-masing dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota masing-masing. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi dan pembangunan jangka menengah nasional. b. digunakan untuk mengetahui: a. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD kabupaten/kota masing-masing. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang kabupaten/kota masing-masing dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah daerah provinsi.. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing dengan sasaran pokok RPJPD kabupaten/kota masing-masing. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD provinsi dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi. (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 229 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi hasil RPJMD lingkup provinsi. tujuan dan sasaran. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dilakukan untuk memastikan bahwa visi. serta dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD provinsi. . misi. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota masing-masing. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJMD provinsi kepada Gubernur. (3) Hasil evaluasi RPJMD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJMD provinsi untuk periode berikutnya. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD provinsi dengansasaran pokok dan prioritas serta sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN. misi. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan.73 (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Pasal 234 (1) Kepala SKPD melaksanakan evaluasi terhadap hasil Renja SKPD provinsi. (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 235 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan evaluasi Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 ayat (4). kelompok sasaran. dilakukan melalui penilaian terhadap realisasi DPA-SKPD provinsi. kelompok sasaran. Pasal 233 (1) Evaluasi terhadap hasil Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 232. lokasi dan dana indikatif. untuk mewujudkan visi.74 Pasal 231 (1) Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJMD antarkabupaten/kota. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).. Pasal 232 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223 mencakup hasil Renja SKPD provinsi dan hasil RKPD provinsi. digunakan untuk mengetahui realisasi pencapaian target indikator kinerja. lokasi dan penyerapan dana dan kendala yang dihadapi. . lokasi dan penyerapan dana indikatif kegiatan Renja SKPD provinsi dicapai. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RPJMD kabupaten/kota masingmasing pada periode berikutnya. mencakup program dan kegiatan. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kelompok sasaran. misi Renstra SKPD provinsi serta prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi. (3) Hasil evaluasi Renja SKPD provinsi menjadi bahan penyusunan Renja SKPD provinsi untuk tahun berikutnya. (5) Evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi dilakukan setiap triwulan dalam tahun anggaran berjalan. kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/ penyempurnaan. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. (4) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenaan. indikator kinerja. dilakukan untuk memastikan bahwa indikator kinerja program. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi hasil Renja SKPD provinsi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD provinsi. (3) Hasil evaluasi RKPD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RKPD provinsi untuk tahun berikutnya. digunakan untuk mengetahui: a. dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dapat dicapai. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah provinsi dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD provinsi. b. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 236 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. Pasal 238 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223.75 (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur melalui kepala Bappeda menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program. digunakan untuk mengetahui: . serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. lokasi.. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RKPD provinsi kepada Gubernur. Pasal 237 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD provinsi. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD provinsi dengan laporan realisasi APBD provinsi. lokasi. dengan capaian indikator kinerja program.

disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RKPD kabupaten/kota masing-masing untuk tahun berikutnya (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. b. dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. arah. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program. lokasi. jangka menengah dan tahunan daerah. arah. b. dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD kabupaten/kota masing-masing. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan visi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 241 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240. Pasal 240 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah lingkup lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a.76 a. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota masing-masing. dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. sasaran pokok dan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD kabupaten/kota dengan laporan realisasi APBD kabupaten/kota masingmasing.. . Paragraf 7 Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. lokasi. Pasal 239 (1) Kepala Bappeda provinsi antarkabupaten/kota. misi. visi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD (2) Hasil evaluasi hasil RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan capaian indikator kinerja program. misi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota. harus dapat menjamin perumusan: a. tahapan.

77 c. f. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD kabupaten/kota. Pasal 244 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 mencakup perumusan visi dan misi. kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). prioritas pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. . (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renstra SKPD kabupaten/kota ditetapkan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota lainnya rencana pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan RTRW kabupaten/kota lainnya. harus dapat menjamin perumusan: a. telah mengacu pada RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. d. Pasal 243 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240 mencakup kebijakan perencanaan strategis SKPD dan RPJMD kabupaten/kota. g. rencana program dan kegiatan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. strategi dan kebijakan. indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota.. indikator kinerja. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota kepada Gubernur sebagai lampiran surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 242 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. visi dan misi SKPD kabupaten/kota berpedoman pada visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota.

kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 pada ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). . dan indikator kinerja daerah. telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. dan pentahapan pelaksanaan program SKPD sesuai dengan pentahapan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota.78 b. c. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. strategi dan arah kebijakan. d. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. f. Pasal 247 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 mencakup perumusan visi dan misi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan strategis SKPD kabupaten/kota. e. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD kabupaten/kota berpedoman pada indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. indikator kinerja. kebijakan umum dan program. rencana program. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. strategi dan kebijakan SKPD kabupaten/kota berpedoman pada strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. indikator kinerja SKPD kabupaten/kota berpedoman pada tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 246 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan strategik SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (3). kegiatan SKPD kabupaten/kota berpedoman pada kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. Pasal 245 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD kabupaten/kota.

strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota selaras dengan arah. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. d. misi. e. . (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tujuan. kebijakan. Pasal 249 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah kabupaten/kotate. misi. misi. kebijakan. berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota. kebijakan umum. kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. mencakup perumusan kebijakan Renja SKPD dan kebijakan RKPD kabupaten/kota. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan.79 (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sasaran. (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota kepada Gubernur sebagai lampiran surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c. dengan b.. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. visi. program pembangunan jangka menengah daerah selaras pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lainnya. kebijakan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota lainnya. mengacu pada RPJMD provinsi dan memperhatikan RTRW kabupaten/kota lainnya. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD kabupaten/kota. sasaran. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah selaras dengan visi. Pasal 248 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota. visi. kebijakan. c. serta prioritas pembangunan nasional. kondisi. dan karakteristik daerah. arah. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. tujuan. harus dapat menjamin perumusan: a. f. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan.

lokasi. rencana program dan kegiatan serta indikator kinerja. harus dapat menjamin perumusan: . digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan Renja SKPD kabupaten/kota telah berpedoman pada RKPD dan Renstra SKPD. indikator kinerja. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 250 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. rencana program. Pasal 252 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota sebagimana dimaksud dalam Pasal 251 ayat (3). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. lokasi. sasaran rencana program dan kegiatan. mencakup tujuan. dan kegiatan prioritas daerah. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. Pasal 251 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota. harus dapat menjamin perumusan tujuan. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. sasaran.80 Pasal 250 (1) Pengendalian kebijakan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249.. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renja SKPD kabupaten/kota ditetapkan. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. Pasal 253 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD kabupaten/kota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota. dan pendanaan indikatif dalam Renja SKPD mempedomani rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah RKPD serta selaras dengan Renstra SKPD. kelompok sasaran.

d. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. meliputi pelaksanaan RPJPD. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan provinsi. maupun pada wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD kabupaten/kota. e. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 254 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota. tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. Paragraf 8 Pengendalian dan Evaluasi terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. RPJMD dan RKPD Pasal 256 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. sesuai dengan prioritas pembangunan provinsi terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. . b.. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. Pasal 255 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. ayat (1). dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD kabupaten/kota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota dan mengacu pada RKPD provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. misi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.81 a. c.

dilakukan melalui pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota. Pasal 260 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra SKPD. tujuan dan sasaran Renstra SKPD. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. kegiatan. Pasal 257 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota. indikator kinerja dan kelompok sasaran. Pasal 258 Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. telah dilaksanakan melalui RPJMD kabupaten/kota. telah dilaksanakan melalui Renja SKPD kabupaten/kota. rencana program. dan RPJMD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. .82 (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kelompok sasaran dan pendanaan indikatif sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam upaya mencapai visi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa indikator kinerja SKPD kabupaten/kota. misi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan visi. misi. harus dapat menjamin: a. rencana program. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. Pasal 259 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tujuan dan sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. kegiatan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif serta visi. dana indikatif dan prakiraan maju Renja SKPD kabupaten/kota. mencakup pelaksanaan Renstra SKPD. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan.. kegiatan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 256 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. telah dipedomani dalam menyusun indikator kinerja dan kelompok sasaran. misi. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. program. misi. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. mencakup indikator kinerja SKPD serta rencana program. kegiatan. b. tujuan dan sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota telah dijabarkan dalam tujuan dan sasaran Renja SKPD kabupaten/kota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). serta pendanaan indikatif Renstra SKPD kabupaten/kota.

(2) Pengendalian pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 263 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. program pembangunan jangka menengah daerah telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 262 ayat (4). (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. b. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi terhadap laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD kabupaten/kota. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. Pasal 262 (1) Pengendalian pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota. harus dapat menjamin: a. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.83 (3) Kepala SKPD kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi Renstra SKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota.. Pasal 261 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota menggunakan laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 260 ayat (3). sebagai bahan evaluasi pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota.pembangunan jangka menengah daerah telah dilaksanakan melalui RKPD kabupaten/kota. . digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.

pagu indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Kepala SKPD kabupaten/kota mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota sesuai dengan Renja SKPD kabupaten/kota. dilakukan pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota. telah disusun kedalam RKA-SKPD kabupaten/kota.84 Pasal 264 Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. harus dapat menjamin agar program dan kegiatan. dana indikatif yang disusun ke dalam RKA-SKPD kabupaten/kota sesuai dengan Renja SKPD kabupaten/kota.. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mencakup Renja SKPD kabupaten/kota dan RKPD kabupaten/kota. lokasi. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan triwulan hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. Pasal 267 (1) Kepala SKPD melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. mencakup program dan kegiatan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program dan kegiatan. Pasal 268 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota yang disampaikan oleh kepala SKPD kabupaten/kota. Pasal 265 (1) Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264. Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKA-SKPD kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD kabupaten/kota. lokasi. pagu indikatif serta prakiraan maju. melalui . Pasal 266 (1) Pemantauan dan supervisi terhadap penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2). (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota.

- 85 Pasal 269 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah, serta pagu indikatif. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. melalui

(3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA, PPAS dan APBD kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah, serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA, PPAS dan APBD kabupaten/kota. Pasal 270 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 269 ayat (3) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. Paragraf 9 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. Pasal 271 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c, meliputi RPJPD, RPJMD, RKPD. Pasal 272 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271, mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. b. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan capaian sasaran RPJMD kabupaten/kota; dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang provinsi.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa visi, misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang provinsi.

- 86 (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi terhadap hasil RPJMD kabupaten/kota. Pasal 273 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJPD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJPD kabupaten/kota untuk periode berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 274 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271 mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi, tujuan dan sasaran, dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD kabupaten/kota dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota; dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD kabupaten/kota dengan prioritas dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi.

b.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD kabupaten/kota. Pasal 275 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi hasil RPJMD lingkup kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJMD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJMD kabupaten/kota untuk periode berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJMD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.

- 87 (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 276 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271 mencakup hasil rencana Renja SKPD kabupaten/kota dan hasil RKPD kabupaten/kota. Pasal 277 (1) Evaluasi terhadap hasil Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276, mencakup program dan kegiatan, indikator kinerja dan kelompok sasaran, lokasi, serta dana indikatif. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian terhadap realisasi DPA-SKPD kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui realisasi pencapaian target indikator kinerja, penyerapan dana dan kendala yang dihadapi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa indikator kinerja program dan kegiatan Renja SKPD kabupaten/kota dapat dicapai dalam rangka mewujudkan visi, misi Renstra SKPD kabupaten/kota serta prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota. (5) Evaluasi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota dilakukan setiap triwulan dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 278 (1) Kepala SKPD melaksanakan evaluasi terhadap hasil Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi Renja SKPD kabupaten/kota menjadi bahan bagi penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota untuk tahun berikutnya. (4) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenaan. Pasal 279 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap hasil evaluasi Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277 ayat (4). (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD Bupati/Walikota. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota.

- 88 Pasal 280 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dengan capaian indikator kinerja program dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD kabupaten/kota; dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD kabupaten/kota dengan laporan realisasi APBD kabupaten/kota.

b.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dapat dicapai dalam rangka mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dan mencapai sasaran pembangunan tahunan provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi hasil Renja SKPD kabupaten/kota. Pasal 281 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RKPD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RKPD kabupaten/kota untuk tahun berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. BAB X PERUBAHAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 282 (1) Perubahan RPJPD dan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila: a. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan, tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini; hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan, tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini; terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau merugikan kepentingan nasional.

b. c. d.

- 89 (2) Perubahan yang mendasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, mencakup antara lain terjadinya bencana alam, goncangan politik, krisis ekonomi, konflik sosial budaya, gangguan keamanan, pemekaran daerah, atau perubahan kebijakan nasional. (3) Merugikan kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, apabila bertentangan dengan kebijakan nasional. Pasal 283 RPJPD dan RPJMD perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 284 Dalam hal pelaksanaan RPJPD dan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka panjang dan menengah, penetapan perubahan RPJPD dan RPJMD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Pasal 285 (1) RKPD dapat diubah dalam hal tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan. (2) Perkembangan keadaan dalam tahun berjalan sebagaiman dimaksud pada ayat (1), seperti: a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan kegiatan prioritas daerah; keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan; dan/atau anggaran

b. c.

keadaan darurat dan keadaan luar biasa sebagaimana ditetapkan dalam perturan perundang-undangan. Pasal 286

(1) Perubahan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. (2) Gubernur menyampaikan Peraturan Gubernur tentang Perubahan RKPD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD provinsi tahun berkenaan untuk dievaluasi. (3) Bupati/Walikota menyampaikan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang Perubahan RKPD Kabupaten/kota kepada Gubernur bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD kabupaten/kota tahun berkenaan untuk dievaluasi dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri.

- 90 BAB XI PENYUSUNAN RKPD BAGI DAERAH YANG BELUM MEMILIKI RPJMD DAN DAERAH OTONOM BARU Bagian Kesatu Penyusunan RKPD bagi Daerah yang belum memiliki RPJMD Pasal 287 (1) Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah provinsi, penyusunan RKPD berpedoman pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD provinsi, dan mengacu pada RPJMN untuk keselaran program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi dengan pembangunan nasional. (2) Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah kabupaten/kota, penyusunan RKPD berpedoman pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota dan mengacu pada RPJMD provinsi untuk keselaran program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan pembangunan daerah provinsi. (3) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menjadi bagian dari RPJMD yang akan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 288
(1) Kepala daerah yang diperpanjang masa jabatannya 2 (dua) tahun atau lebih,

diwajibkan menyusun RPJMD.
(2) RPJMD

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi pedoman untuk penyusunan RKPD selama kurun waktu masa jabatan. Bagian Kedua Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah Otonom Baru Pasal 289

(1) Penjabat kepala daerah otonom baru menyusun rancangan RKPD (2) Penyusunan rancangan RKPD sebagaimana dimaksud ayat (1), berpedoman pada RPJMD provinsi/kabupaten/kota induk. (3) Berpedoman pada RPJMD provinsi/kabupaten/kota induk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), yaitu mengacu pada identifikasi permasalahan pembangunan dan isu-isu strategis berdasarkan evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dalam wilayah administratif pemerintahan daerah otonom yang baru dibentuk. (4) Berdasarkan hasil analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (3), disusun rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan, prioritas, lokasi, dan sasaran pembangunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah. (5) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah sebagai dasar penyusunan KUA, PPAS, dan RAPBD. Pasal 290 Tahapan, tatacara penyusunan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD bagi daerah yang belum memiliki RPJMD dan bagi daerah otonom baru tetap berpedoman pada ketentuan Peraturan Menteri ini. BAB XII

- 91 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 291 Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah. Pasal 292
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pemberian

291, meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan. pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. mencakup penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

(3) Pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan bagi

kepala daerah dan wakil kepala daerah, pimpinan dan anggota DPRD serta aparatur pemerintah daerah, yang dilakukan bersama dengan Badan Pendidikan dan Pelatihan. Pasal 293 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291, dilakukan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini dalam hal penyusunan, pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah. Pasal 294 Gubernur melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 295
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pemberian

294 meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan. pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. mencakup penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

(3) Pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan bagi

bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota serta aparatur pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota.

- 92 Pasal 296 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 294 dilakukan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini dalam penyusunan, pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota.

BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 297
(1) Daerah yang sedang menyusun atau akan mengubah RPJPD, RPJMD dapat

mempedomani tahapan dan tatacara penyusunan sesuai dengan Peraturan Menteri ini.
(2) Rencana pembangunan daerah yang telah ditetapkan, tetap digunakan sampai

dengan disusun dan ditetapkan rencana pembangunan daerah sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan yang diatur dalam Peraturan Menteri ini. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 298 Tata cara pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD, RKPD, Renja SKPD dan pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah, masing-masing tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV, Lampiran V, Lampiran VI dan Lampiran VII sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 299
(1) Tata

cara koordinasi penyusunan rencana pembangunan antarkabupaten/kota, diatur dengan Peraturan Gubernur. kepala daerah.

daerah

(2) Pelaksanaan musrenbang RPJPD, RPJMD dan RKPD diatur dengan peraturan (3) Peraturan Gubernur dan Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Menteri ini ditetapkan. Pasal 300 Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1982 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

- 93 Pasal 301 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 2010 MENTERI DALAM NEGERI, ttd GAMAWAN FAUZI Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 21 Oktober 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 517 Salinan sesuai dengan aslinya Plt.KEPALA BIRO HUKUM

ZUDAN ARIF FAKRULLOH

Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

(BUKU I) TATA CARA PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010

LAMPIRAN I : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010

TATA CARA PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah mencakup data dan informasi gambaran umum kondisi daerah yang meliputi data kondisi geografis dan demografis daerah, dan data terkait dengan indikator kinerja kunci penyelenggaraan pemerintahan daerah meliputi aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. Jenis data dan informasi gambaran umum kondisi daerah berikut sumbernya dapat diperoleh melalui: 1) Data primer yang diperoleh dari kegiatan penelitian, monitoring dan evaluasi, serta kegiatan sejenis lainnya yang dilaksanakan secara periodik oleh SKPD. 2) Data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat maupun daerah dan instansi pemerintah, hasil riset/audit/studi oleh lembaga yang kompeten dibidangnya. Analisis Kondisi Umum Daerah. Analisis kondisi umum daerah bertujuan untuk menghasilkan dan memutakhirkan gambaran umum kondisi daerah yang diperlukan untuk menunjang perencanaan pembangunan daerah. Dalam analisis kondisi umum daerah agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Hasil evaluasi capaian kinerja rencana pembangunan daerah periode sebelumnya yaitu: a. Hasil evaluasi kinerja RPJPD periode sebelumnya untuk menyusun RPJPD periode berikutnya; b. Hasil evaluasi kinerja RPJMD periode sebelumnya untuk menyusun RPJMD periode berikutnya. 2. Memiliki hubungan/keterkaitan dengan urusan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, serta memenuhi kriteria dalam rangka pencapaian indikator kinerja kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. 3. Memprediksi kondisi dan perkembangan pembangunan daerah terhadap aspek yang dianalisis dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: a. b. c. d. Menggunakan formula/rumus penghitungan baku terhadap obyek tertentu; Melihat trend (kecenderungan); Menggunakan metode regresi linier atau metode lainnya; dan/atau Menggunakan asumsi berdasarkan hasil pengamatan obyek tertentu.

4. Menyatakan suatu fakta dan permasalahan dari suatu aspek yang dianalisis dapat dilakukan dengan cara: a. Perbandingan antar waktu; b. Perbandingan dengan standar yang berlaku (nasional/internasional); dan/atau c. Perbandingan dengan daerah/wilayah/kawasan lainnya. Data dan informasi yang digunakan untuk mendukung penjelasan fakta dan permasalahan, dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar, dan lain-lain disertai dengan penjelasan yang memadai.

-2A. Data dan Informasi Kondisi Umum Daerah.

Data dan informasi kondisi umum daerah sekurang-kurangnya mencakup: 1. Aspek Geografi dan Demografi Memberikan gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi geografis daerah, mencakup karakteristik dan potensi pengembangan wilayah, kerentanan wilayah terhadap bencana, luas wilayah menurut batas administrasi pemerintahan kabupaten/kota/kecamatan/desa dan kelurahan. a. Karakteristik lokasi dan wilayah, mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi 2) Letak dan kondisi geografis antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis b) Posisi geostrategis c) Kondisi/kawasan, antara lain meliputi: (1) (2) (3) (4) (5) Pedalaman Terpencil Pesisir Pegunungan Kepulauan

3) Topografi, antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan b) Ketinggian lahan 4) Geologi, antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik b) Potensi kandungan 5) Hidrologi, antara lain terdiri dari: a) Daerah Aliran Sungai b) Sungai, danau dan rawa c) Debit 6) Klimatologi, antara lain terdiri dari: a) b) c) d) Tipe Curah hujan Suhu Kelembaban

7) Penggunaan lahan, antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya b) Kawasan lindung b. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan, pertanian, pariwisata, industri, pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah. c. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain. d. Demografi Memberikan deskripsi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.

-3Hasil analisis geografis dapat disajikan dalam bentuk tabel. 2. Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk mengetahui capaian indikator kinerja dari setiap aspek, fokus menurut bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, dapat menggunakan formula yang di disajikan dalam Tabel.T-I.A.1. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi, merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota, sedangkan untuk kabupaten/kota, pada setiap kecamatan di wilayah masing-masing.
Tabel.T-I.A.1 ASPEK, FOKUS DAN INDIKATOR KINERJA MENURUT BIDANG URUSAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

1.1.

Pertumbuhan PDRB

Dimana: +1 = tahun pengamatan PDRB = tahun pengamatan PDRBsebelumnya { Dimana : = perubahan inflasi dari nilai tahun sebelumnya = adalah periode pengamatan perubahan nilai inflasi. Sedangkan dihitung dengan rumus sebagai berikut : }

1.2.

Laju inflasi provinsi

Dimana : = = = 1.3. PDRB per kapita
k

nilai inflasi pada tahun n nilai pada 1 tahun berikutnya tahun ...

G  1   Pi (Qi  Qi 1 )
i 1

dimana: 1.4. Indeks Gini Pi : persentase rumahtangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentase kumulatif total pendapatan atau pengeluaran sampai kelas ke-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1, jika:    G < 0,3 0,3 ≤ G ≤ 0,5 G > 0,5 = = = ketimpangan rendah ketimpangan sedang ketimpangan tinggi

-4NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS

Dimana: YD4 = Persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk 1.5. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia lapisan bawah Qi -l = Persentase kumulatif pendapatan ke i-1 Pi qi = Persentase kuraulatif penduduk ke i = Persentase pendapatan ke i

√ Dimana:

Untuk kabupaten/kota:
Yi Y 1.6. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Fi n = = = = PDRB perkapita di kecamatan I PDRB perkapita rata-rata kab/kota jumlah penduduk di kecamatan i jumlahpenduduk di kab/kota

Untuk provinsi Yi =
Y fi n = = = PDRB perkapita di kab/kota i PDRB perkapita rata-rata provinsi jumlah penduduk di kab/kota i jumlah penduduk di provinsi

1.7. 1.8.

Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Angka kriminalitas yang tertangani

(100 – angka kemiskinan)
0 000

Fokus Kesejahteraan Masyarakat
1. Pendidikan

1.1.

Angka melek huruf

dimana: = = = angka melek huruf ( penduduk usia 15 tahunkeatas) pada tahun t Jumlah penduduk (usia diatas 15 tahun) yang bisa menulis pada tahun t Jumlah penduduk usia 15 tahunkeatas

1.2.

Angka rata-rata lama sekolah

Kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki. dan pendidikan yang ditamatkan.

1.3.

Angka partisipasi kasar

Dimana, h = a = t = = =

jenjang pendidikan kelompok usia tahun adalah jumlah penduduk yang pada tahun tdari berbagai usia sedangsekolah pada jenjang pendidikan h adalah jumlah penduduk yang pada tahun tberada pada kelompok usia yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h

1.4.

Angka pendidikan yang ditamatkan

Dimana: h = t = = =

jenjang pendidikan tahun jumlah penduduk yang mencapai jenjang pendidikan h pada tahun t total jumlah penduduk pada tahun t

Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Kesehatan 3 5 3 5 00 1.-5NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS dimana: h 1. 00 00 ∑ Dimana: 2. ∑LahirHidup = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu.5.000 penduduk. Angka Partisipasi Murni a t = = = = = jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a 1.5. 1. 1. 1.000 penduduk. . Jumlah grup kesenian per 10. 4.3.1.3.5. Jumlah gedung olahraga per 10. 4.1.000 penduduk Jumlah gedung kesenian per 10. Kebudayaan Jumlah grup kesenian Jumlah gedung Pemuda dan Olahraga a. 2. Persentase balita gizi buruk Pertanahan Persentase penduduk yang memiliki lahan Ketenagakerjaan Rasio penduduk yang bekerja Penduduk memiliki lahan x100 Jumlah penduduk 00 Fokus Seni Budaya dan Olahraga 1. Jumlah klub olahraga b.2. 3.1.5.1. 2.2. 3.000 penduduk. Jumlah gedung olahraga Jumlah klub olahraga per 10.1. Angka usia harapan hidup Angka perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur 2.2. 2. 2. 2.2. Angka kelangsungan hidup bayi 1 AKB = per 1000 kelahiran = Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR) = Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu.1.

4. Fasilitas Pendidikan: Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angka Putus Sekolah: 00 00 1.3.1. Pendidikan Pendidikan dasar: dimana: h 1.2.3.3.1.rata Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) G G 3 5 0 000 0 000 000 000 0 000 0 000 0 000 5 5 00 1. 1. 1.4.2. – 1.-6NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Layanan Urusan Wajib 1.5.1.2. Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs 00 .5.1.1.2. 1. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Rasio guru/murid per kelas ratarata Pendidikan menengah: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid per kelas rata. 1.2. 1. 1.1. 1.3. 1. 1.4.5.2. 00 1.1.5. 1. Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI 00 1.2.1. 1. Angka partisipasi sekolah a t = = = = = jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a 1.1.2.4.2.1.2. 1.3.

-7NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS 1. poliklinik. . Cakupan kunjungan bayi 00 2.5. Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA 00 1.2. 00 000 000 000 000 2. 000 00 1.3.5.6. 2. 1.6.1. 00 2.6.7. 2.3. 1. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan 00 2. 00 2.6.6. 00 2.9.12.6. 2. 2. .11. 2.6.6. 00 00 G .3. 2. Cakupan puskesmas 00 .5. Angka Kelulusan (AL) SD/MI 1.10.1.2. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs 00 1.13. AngkaKelulusan: 00 1.4.4. 2. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 00 2. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rasio dokter per satuan penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 00 . Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.14.6.8. 00 2.

3. 4. 3.6. 3.5. 4.2. 00 3.14.16.18. 3. 00 3.3. 00 3. 4. 00 3. 3. 00 3. 3.8.-8NO 2.15.5. 3.1.4. 00 3. 3.5 m) Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan rumah liar Sempadan sungai yang dipakai bangunan liar Drainase dalam kondisi baik/ pembuangan aliran air tidak tersumbat Pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor lingkup kewenangan kota Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik Lingkungan Pemukiman Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah tangga pengguna listrik Rumah tangga ber-Sanitasi Lingkungan pemukiman kumuh Rumah layak huni 00 00 00 00 000 RUMUS 00 000 00 000 3.2. 4. 00 3. 4.13. 3.10. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Cakupan pembantu puskesmas PekerjaanUmum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio Jaringan Irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Rasio rumah layak huni Rasio permukiman layak huni Panjang jalan dilalui Roda 4 Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4) Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air ( minimal 1.12.17. 00 00 00 .15. 3. 3.1.4.11.9.7.3. 4.

8.5.2.1. 00 7.-9NO 5. Cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan Sumber Mata Air 00 . 5.1.7. Pencemaran status mutu air 00 8.8.4. 5. Kepemilikan KIR angkutan umum Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) Biaya pengujian kelayakan angkutan umum Pemasangan Rambu-rambu Lingkungan Hidup Persentase penanganan sampah Persentase Penduduk berakses airminum Persentase Luas pemukiman yang tertata 00 7.2. 8. Jangka waktu proses pengujian angkutan umum Biaya pengujian kelayakan angkutan umum 00 00 00 00 8. 7.4.5. 00 7. 8. 6. 5. 7.2.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Perencanaan Pembangunan Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Perhubungan Jumlah arus penumpang angkutan umum (bis/kereta api/kapal laut/pesawat udara) yang masuk/keluar daerah selama 1 (satu) tahun. 7. Jumlah uji kir angkutan umum Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Angkutan darat 7. baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis 7. 8. Ada/ tidak 6. Jumlah arus penumpang angkutan umum 7.3. Ada/ tidak 6.3. Jumlah arus penumpang angkutan umum yang masuk/keluar daerah – RUMUS G 00 6.9.2. Ada/ tidak 6.4.6. Rasio ijin trayek Jumlah Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor.3. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Penataan Ruang Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber.3.1. 7.1.

2.6. 10. 12.6.3.. 8.4. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal.1. 00 12. 10. 11. 12.7.1. Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Penegakan hukum lingkungan Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat Penyelesaian kasus tanah Negara Penyelesaian izin lokasi Kependudukan dan Catatan Sipil Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk Rasio bayi berakte kelahiran Rasio pasangan berakte nikah 00 00 0 3 00 RUMUS 00 00 00 10.7. 9. 10. 9.1. 9. 10. 10.4.3.3.2.3. 11.2. 11.6. 00 00 . 9. 00 Ada/tidak ada Sudah/belum 00 00 00 00 11.5. 8.10 NO 8.4.2. Kepemilikan KTP Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk Ketersediaan database kependudukan skala provinsi Penerapan KTP Nasional berbasis NIK Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Partisipasi perempuan di lembaga swasta Rasio KDRT Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Partisipasi angkatan kerja perempuan Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB Cakupan peserta KB aktif Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Sosial 00 5 5 00 10.5.1. 11. 12. 12. 11. 11. 10.8. 13.

2. panti jompo dan panti rehabilitasi PMKS yg memperoleh bantuan sosial Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Ketenagakerjaan Angka partisipasi angkatan kerja Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun Tingkat partisipasi angkatan kerja Pencari kerja yang ditempatkan Tingkat pengangguran terbuka 5 5 00 00 RUMUS Menunjukan jumlah sarana sosial seperti panti asuhan. Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Persentase koperasi aktif Jumlah UKM aktif non BPR/LKM UKM 00 00 15. 14. Jumlah UKM non BPR/LKM UKM 15.1.6. 15. 14. 17.2. rumah singgah dll yang terdapat di suatu daerah. 17.7. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Sarana sosial seperti panti asuhan. 14.3. – 00 16.2.5.1. 15. 14. Jumlah nilai investasi berskala nasional(PMDN/PMA) 16.2. 00 17.1. 00 18. 00 000 5 00 00 00 14. 16. . 17. panti rehabilitasi.4.4. Usaha Mikro dan Kecil Penanaman Modal Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Rasio daya serap tenaga kerja Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Kebudayaan Penyelenggaraan festival seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda.3. 16.1. Keselamatan dan perlindungan 3 00 14.4.3. . Jumlah BPR/LKM Jumlah BPR/LKM aktif 15. 13. panti jompo. 14.2.. 13.3. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 16.3. Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Kepemudaan dan Olahraga Jumlah penyelenggaraan festival seni dan budaya Jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya . 14.1.11 NO 13.

00 20. 18.5.8. 18.12. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) Lapangan olahraga Kesatuan Bangsadan Politik Dalam Negeri Kegiatan pembinaan terhadap LSM. 19. 20. 20. 18. Administrasi Keuangan Daerah.000 penduduk Jumlah Linmas per Jumlah 10.2. 20. Kepegawaian dan Persandian Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10. 20. Ormas dan OKP Kegiatan pembinaan politik daerah Menunjukkan Jumlah Kegiatan pembinaan terhadap LSM.3. 20.1. ketentraman.14. Cakupan patroli petugas Satpol PP Jumlah patroli petugas Satpol PP pemantauan dan penyelesaian pelanggaran K3 dalam 24 Jam 20.1.2. 00 20. Ormas dan OKP Menunjukan Jumlah Kegiatan pembinaan politik daerah Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga 000 RUMUS 000 19. Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban. 21.15. Ada/Tidak 20.6.4.2.1..4. Perangkat Daerah. 20. 19. Penegakan PERDA 00 20.6. Otonomi Daerah. 20.13.000 Penduduk Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Pertumbuhan ekonomi Kemiskinan Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan adiministrasi pemerintah (100 – angka kemiskinan) 0 000 0 000 20.7. 18.5.3. Pemerintahan Umum.10.9.11. 18. 00 00 20.12 NO 18. 20. keindahan) di Kabupaten Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Cakupan sarana prasarana perkantoran pemerintahan desa yang baik Sistim Informasi Manajemen Pemda Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat Ketahanan Pangan 3 3 00 20. Menunjukkan Jumlah Sistim Informasi Manajemen Pemda yang telah dibuat oleh pemda ybs Ada atau tidaknya survey IKM di Pemda .

26. 22.6. 25.2. 22. Jumlah LSM yang aktif 22. Jenis surat kabar nasional/lokal yang masuk ke daerah Jumlah penyiaran radio/TV yang masuk ke daerah Ada/Tidak Menunjukkan jumlah pameran/expo yang dilaksanakan per Tahun .1.6.13 NO 21. Menunjukkan jumlah Kegiatan peningkatan SDM pengelola kearsipan 25.2. 21. 25.2.1. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Jumlah LSM LPM Berprestasi 00 22. 23.1. 22.1. Ketersediaan pangan utama 00 22.8.7. 26. 25.2.2.5.4.perkada. Pengelolaan arsip secara baku Peningkatan SDM pengelola kearsipan Komunikasi dan Informatika Jumlah jaringan komunikasi Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal Web site milik pemerintah daerah Pameran/expo Perpustakaan Jumlah perpustakaan Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Jumlah perpustakaan 000 00 24.1. PKK aktif Posyandu aktif Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat 00 00 22.3. 24. dsb. 25. 26. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Regulasi ketahanan pangan RUMUS Ada/tidak peraturan tentang kebijakan ketahanan pangan dalam bentuk perda. 25. 00 22. 22.4..2. Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan masyarakat 00 23. Statistik ” ” Kearsipan ” ” Ada/Tidak Ada/Tidak 24. 25. 23.1.5.3.

1.4.3.1.2. 00 1. 3. 00 1.5.2.1. 00 1. 2.1. Kunjungan wisata Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Kelautan dan Perikanan Produksi perikanan Konsumsi ikan 00 00 4. 5. Cakupan bina kelompok petani 00 2. 1.2. 00 1. 2. 5. 5. Cakupan bina kelompok nelayan 00 5. 6. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Fokus Layanan Urusan Pilihan 1.4. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kontribusi sektor pertanian (palawija) terhadap PDRB Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB 00 1.1.2.14 NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS 26. Kahutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Energi dan Sumber Daya Mineral Pertambangan tanpa ijin Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Pariwisata 00 00 00 00 00 4. 3.3. Produksi perikanan kelompok nelayan Perdagangan Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB 00 6. 2.2.1. 00 00 5.3. 00 .3. 3.. 4.6.

2. 1. Perangkat Daerah. 2.2. Administrasi Keuangan Daerah.1. 1. Cakupan bina kelompok pengrajin 00 8.1. 1.1.4. 1. 1.4. Otonomi Daerah.1.3. 7. 2. 2. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Ekspor Bersih Perdagangan Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal Perindustrian Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri Pertumbuhan Industri.2.3. 7. 1.2.15 NO 6. 7. Pemerintahan Umum.2. 2. 2.3.1.2. Ketransmigrasian Transmigran swakarsa Kontibusi transmigrasi terhadap PDRB 00 00 ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah 1..2.3. 2. 8. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Pertanian Nilai tukar petani 00 00 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1. 00 7.3.1. 00 00 00 7. RUMUS nilai ekspor bersih = nilai ekspor – nilai impor 6. Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Luas wilayah industri Luas wilayah kebanjiran 00 Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara /terminal per tahun 00 00 00 . 8.

Kepegawaian dan Persandian Angka kriminalitas Jumlah demo Lama proses perijinan Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Jumlah demo dalam 1 tahun Rata-rata lama proses perijinan (dalam hari) Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha 0 000 0 000 Fokus Sumber Daya Manusia 1.1.cabangnya Jumlah dan jenis perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas Persentase jumlah penginapan/hotel menurut jenis dan kelas 00 00 00 Fokus Iklim Berinvestasi 1.6.2.3. Otonomi Daerah.3.4.1. 1. 1. 1. Pemerintahan Umum. Administrasi Keuangan Daerah. Pemerintahan Umum. 4. . kelas. 1. 5. Kepegawaian dan Persandian Jenis dan jumlah bank dan cabang Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang Jenis.1.A.5.1. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Luas wilayah kekeringan Luas wilayah perkotaan RUMUS 00 00 Otonomi Daerah. 5.3. 1.1. 1.6. 3.2.T-I.2. Perangkat Daerah. 5. 1. dan jumlah penginapan/ hotel Lingkungan Hidup Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Komunikas dan Informatika Rasio ketersediaan daya listrik Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon 00 Jumlah dan jenis bank dan cabang. Administrasi Keuangan Daerah.5. 4.. 3.16 NO 2.4.1. 5. Pemerintah daerah pada dasarnya dapat mengembangkan dan/atau mensleleksi data dan informasi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. 3. 2. Perangkat Daerah. kelas. 3.2. 3. Ketenagakerjaan Rasio lulusan S1/S2/S3 Rasio ketergantungan 5 5 3 0 000 00 Berikut ini akan diuraikan dan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi yang dapat digunakan untuk menilai capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota menggunakan formula yang tercantum dalam Tabel. dan jumlah restoran Jenis. 1.

dan jasa-jasa lainnya. Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi a... sewa. Atas Dasar Harga Konstan Tahun . perdagangan. 4. Pertumbuhan PDRB Di bidang pembangunan ekonomi... 1. pertambangan dan penggalian. . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Provinsi/Kabupaten/Kota ..d . Rumus menghitung pertumbuhan PDRB: 00 Dimana: +1 = tahun pengamatan PDRB = tahun pengamatan PDRB sebelumnya Hasil analisis pertumbuhan PDRB. kesejahteraan sosial. Adapun beberapa kegunaan angka PDRB ini antara lain : 1. pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan setiap sektor ekonomi. Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-4) (Rp) % (Rp) (n-3) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. angka PDRB juga bermanfaat untuk bahan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. seni budaya dan olah raga.. listrik.. dan air bersih. restoran dan hotel. & Js. Beberapa contoh tata cara pengolahan data dan informasi kondisi umum daerah terkait dengan indikator kinerja pembangunan daerah mencakup aspek kesejahteraan masyarakat.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan. lembaga keuangan. Penyajian PDRB atas dasar harga konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun dasar yang digunakan. Untuk mengetahui struktur perekonomian. Untuk mengetahui tingkat inflasi/deflasi.. Untuk mengetahui besarnya PDRB perkapita penduduk sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran/kesejahteraan. mencakup sektor pertanian.17 B..B. konstruksi. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.T-I. Pengolahan Data dan Informasi Kondisi Umum Daerah. berdasarkan pertumbuhan/perubahan harga produsen.. 3..1. s. salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro adalah data produk domestik regional bruto (PDRB). industri pengolahan. gas. 2. sebagai berikut: 1.*) (n-5) (Rp) % NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi..1 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . pengangkutan dan komunikasi. selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Memberikan gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat. Selain menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan. Terdapat 2 (dua) jenis penilaian produk domestik regional bruto (PDRB) dibedakan dalam dua jenis penilaian yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan.

sewa... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B. & Js.18 - Tabel.*) Pertumbuhan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.. Atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota . Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi angangkutan & Komunikasi Keuangan... Tabel.. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan... & Js.d .B..Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan. sampai dengan Tahun.4 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Tahun ....Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan... sewa. . Perusahaan Jasa-jasa PDRB Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s.T-I. Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I.*) (n-5) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.. sewa.. Tabel..3 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.2 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun ..B.. s.T-I...d .*) (n-5) (Rp) % NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.... Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota . Provinsi/Kabupaten/Kota .

s..d . c. Provinsi . disebut deflasi... . Inflasi didasarkan pada indeks harga konsumen (IHK) yang dihitung secara sampel di 45 (empat puluh lima) kota di Indonesia yang mencakup 283-397 komoditas dan dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil survei biaya hidup (SBH). Uraikan hasil analisis terhadap perubahan dan laju inflasi.d . Angka inflasi dan deflasi disajikan hanya pada tingkat provinsi..6 PDRB Perkapita Tahun . Sedangkan PDRB per kapita atas harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi perkapita penduduk suatu daerah... Provinsi/Kabupaten/Kota .B.B.... PDRB per kapita dihitung berdasarkan pendapatan regional netto atas dasar biaya faktor dibagi dengan jumlah penduduk regional pertengahan tahun.T-I... Rumus menghitung rata-rata pertumbuhan Inflasi: { Dimana : = = } perubahan inflasi dari nilai tahun sebelumnya adalah periode pengamatan perubahan nilai inflasi. Sajikan data inflasi 5 (lima) tahun yang lalu.5 Nilai inflasi rata-rata Tahun. dimana harga-harga pada umumnya turun.. Rumus menghitung PDRB perkapita: Sajikan hasil penghitungan PDRB perkapita dalam tabel sebagai berikut: Tabel. dan hitung rata-rata pertumbuhannya dalam tabel sebagai berikut: Tabel.19 b..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. PDRB per kapita PDRB per kapita atas harga berlaku berguna untuk menunjukkan nilai PDRB per-kepala atau satu orang penduduk. Sedangkan kondisi sebaliknya. s....*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Sedangkan dihitung dengan rumus sebagai berikut : 00 Dimana : = = = nilai inflasi pada tahun n nilai pada 1 tahun berikutnya tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Laju inflasi provinsi Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat.T-I..*) Uraian Nilai PDRB (Rp) Jumlah Penduduk (jiwa) PDRB perkapita (Rp/jiwa) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..

9rb 150-199. Indeks Gini/Koefiesien Gini Tingkat pemerataan distribusi pendapatan sering diukur dengan koefisien gini. Koefisien gini adalah ukuran ketidakseimbangan atau ketimpangan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna)...9rb 200-299.. Kurva Lorenz adalah titik potong antara persentase kumulatif jumlah rumah tangga (penduduk) dan persentase kumulatif total pendapatan.. G-A. Jika G mendekati nol → distribusi pendapatan yang diterima hampir sama dengan banyak penduduk.T-I. Data yang diperlukan dalam penghitungan gini ratio: 1. Kurva lorenz memberikan gambaran persentase penduduk yang menerima Q persen pendapatan 3.20 d.9rb 300-499.1 Kurva Lorenz Provinsi/Kabupaten/Kota . GAMBAR. karena nilai G semakin kecil 4.7 Rata-Rata Interval Penghitungan Gini Ratio Uraian Rata-rata pengeluaran kapita per bulan Jumlah penduduk Total pengeluaran seluruh penduduk sebulan Proporsi penduduk (persen) Pi Kumulatif proporsi penduduk Proporsi pengeluaran (persen) Proporsi kumulatif total pengeluaran (persen) Qi Qi+Qi-1 Pi(Qi+Qi-1) Gini Ratio Interval <100rb 100-149. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. 1. 2. Jika kuva lorenz mendekati diagonal OA → pendapatan semakin merata..9rb 750-999. Kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok pendapatan. Rata-rata pendapatan atau pengeluaran rumah tangga yang sudah dikelompokkan menurut kelasnya.B. Caranya adalah dengan membagi penduduk menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tingkat pendapatannya. Jumlah rumah tangga atau penduduk 2.9rb >1jt .*) Kumulatif Proporsi Pengeluaran 100 80 60 B Kurva Lorenz 40 20 0 100 40 80 20 60 Kumulatif Proporsi Penduduk A *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.9rb 500-749. Koefisien gini merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membandingkan luas antara diagonal dan kurva lorenz (daerah A) dibagi dengan luas segitiga di bawah diagonal.

adalah indeks untuk mengukur ketimpangan pembangunan antar kecamatan di suatu kabupaten/kota atau antar kabupaten/kota di suatu provinsi dalam waktu tertentu. dan 20% berpendapatan tinggi. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk antara 12-17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan sedang/menengah. jika:  G < 0. 2. Rumus untuk menghitung pemerataan pendapatan versi Bank Dunia: 0 Dimana: YD4 = Persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk lapisan bawah Qi -l = Persentase kumulatif pendapatan ke i-1 Pi = Persentase kumulatif penduduk ke i qi = Persentase pendapatan ke i f. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan tinggi.3  0.5 = = = ketimpangan rendah ketimpangan sedang ketimpangan tinggi e.. Ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan 40% terendah dibandingkan total pendapatan seluruh penduduk.3 ≤ G ≤ 0. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional). Kategori ketimpangan ditentukan sebagai berikut: 1.21 Rumus untuk menghitung gini ratio: G  1   Pi (Qi  Qi 1 ) i 1 k dimana: Pi : persentase rumah tangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentase kumulatif total pendapatan atau pengeluaran sampai kelas ke-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1. 3. Rumus menghitung Indeks ketimpangan Williamson : √ Dimana: Untuk tingkat kabupaten/kota Yi = PDRB perkapita di kecamatan I Y = PDRB perkapita rata-rata kab/kota fi = jumlah penduduk di kecamatan i n = jumlah penduduk di kab/kota Untuk tingkat provinsi Yi = PDRB perkapita di kab/kota i Y = PDRB perkapita rata-rata provinsi . jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan rendah. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia Pemerataan pendapatan ini diperhitungkan berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh Bank Dunia. 40% penduduk berpendapatan menengah. 40% penduduk berpendapatan rendah.5  G > 0. yaitu dengan mengelompokkan penduduk ke dalam tiga kelompok berdasarkan besarnya pendapatan.

menurut kabupaten/kota Provinsi .9 Angka Melek Huruf Tahun .B..8 Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun . 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. a...... ... Kota .2. menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis......*) NO 1 2 3 4 Kabupaten/kota Kabupaten .... a.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah....T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi . Kabupaten ... s.1. Cara menghitung angka melek huruf dengan rumus: 5 5 5 00 dimana: 5 5 5 = angka melek huruf ( penduduk usia 15 tahun keatas) pada tahun t = Jumlah penduduk (usia diatas 15 tahun) yang bisa membaca dan menulis pada tahun t = Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Sajikan data angka melek huruf penduduk usia 15 tahun keatas. AMH dapat digunakan untuk: 1.. Dst ..T-I.. terutama di daerah pedesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf.. menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.d .. Angka melek huruf didapat dengan membagi jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas kemudian hasilnya dikalikan dengan seratus. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.. jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis dan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas untuk 5 tahun terakhir..B.. Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Tabel.22 fi n 1. = jumlah penduduk di kab/kota i = jumlah penduduk di provinsi Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka Melek Huruf (AMH) Angka Melek Huruf (dewasa) adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya.. 3.. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.

putus sekolah yang kemudian melanjutkan kembali. Lamanya bersekolah merupakan ukuran akumulasi investasi pendidikan individu.. Cara menghitung angka rata-rata lama sekolah: Lamanya bersekolah dapat dikonversikan langsung dari jenjang pendidikan dan kelas tertinggi yang pernah diduduki seseorang. jumlah tahun bersekolah ini tidak mengindahkan kasus-kasus tidak naik kelas.23 Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Ratarata lama bersekolah dapat dijadikan ukuran akumulasi modal manusia suatu daerah... misalnya jika seseorang pendidikan tertingginya adalah SMP kelas 2. maka ia memiliki jumlah tahun bersekolah sama dengan 8 tahun.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Angka melek huruf *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Tetapi.. Tabel...10 Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun .T-I. Angka rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani.B..B. Kabupaten/Kota .d .T-I.. Setiap tahun tambahan sekolah diharapkan akan membantu meningkatkan pendapatan individu tersebut.. Untuk memudahkan perhitungan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. dapat digunakan tabel konversi sebagai berikut: Tabel. dan masuk sekolah dasar di usia yang terlalu muda atau sebaliknya.B.. Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf a. Angka rata-rata lama sekolah Lamanya Sekolah atau years of schooling adalah sebuah angka yang menunjukkan lamanya bersekolah seseorang dari masuk sekolah dasar sampai dengan Tingkat Pendidikan Terakhir (TPT).2.... Pada prinsipnya angka ini merupakan transformasi dari bentuk kategori TPT menjadi bentuk numerik..12 Lamanya Bersekolah berdasarkan Jenjang Pendidikan dan Kelas Jenjang SD Kelas 1 2 3 4 5 6 1 2 3 1 2 3 Jumlah tahun bersekolah (kumulatif) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SMP SMA ..T-I. Ukuran ini mengatasi masalah kekurangan estimasi dari TPT yang tidak mengakomodir kelas tertinggi yang pernah dicapai individu... Sehingga nilai dari jumlah tahun bersekolah menjadi terlalu tinggi kelebihan estimasi atau bahkan terlalu rendah (underestimate).. menurut Kecamatan Kabupaten/Kota .11 Angka Melek Huruf Tahun . yaitu 6 tahun bersekolah di tingkat SD ditambah dengan 2 tahun di SMP. Kecamatan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s..*) NO 1 2 Kecamatan Kecamatan..

terdapat program S1 extension yang membuka kesempatan bagi lulusan Diploma untuk melanjutkan studi ke S1. S1. Angka Partisipasi Murni Angka partisipasi murni adalah perbandingan penduduk usia antara 7 hingga 18 tahun yang terdaftar sekolah pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun.33 Nilai rata-rata lamanya bersekolah yang besar menunjukkan tingginya tingkat pendidikan penduduk di suatu wilayah. APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah siswa atau penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut. Asumsi menempuh pendidikan S2 maksimum adalah 3 tahun dan S3 maksimum adalah 4 tahun.3. konversi lamanya bersekolah dapat berbeda untuk setiap individu karena asumsi yang digunakan dalam konversi diatas adalah sebagai berikut: Seseorang yang masuk S1 adalah lulusan SMA. Contoh: Bila diketahui tiga individu A. dapat digunakan rumus sebagai berikut: ̅ dimana : ̅ = = = adalah rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk usia 5 tahun keatas adalah jumlah tahun bersekolah individu usia 5 tahun keatas adalah jumlah penduduk usia 5 tahun keatas. Sedangkan untuk rata-rata jumlah tahun bersekolah di tingkat kabupaten. a. dan S3. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. S2. bukan melanjutkan dari diploma. Seperti APK. jika dibandingkan APK.. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. Tetapi.24 Jenjang Diploma Kelas I II III I II III IV Jumlah tahun bersekolah (kumulatif) 13 14 15 13 14 15 16 17 – 19 20-24 S1 S2 S3 Untuk Diploma. Dalam kenyataannya. dan C menurut jenjang dan kelas sekolah tertinggi yang pernah di tamatkan. Jika didapat rata-rata lamanya sekolah sama dengan 9. APM juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. . B.33 artinya rata-rata penduduk di suatu wilayah bersekolah sampai 9 tahun 4 bulan atau setingkat SLTP. seperti pada contoh dibawah ini : Individu A B C Jumlah 3 Jenjang SMP SD Universitas Kelas/tingkat 2 6 (tamat) 2 Lama sekolah (tahun) 8 6 14 28 Angka rata-rata lama sekolah : ̅ 9.

s.25 Cara menghitung APM: dimana: h = jenjang pendidikan a = kelompok usia t = tahun = jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t = jumlah penduduk kelompok usia a Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun SMA/MA/SMK = 16-18 tahun Sajikan data angka partisipasi murni untuk 5 tahun terakhir .3... 2...B.3.....1.T-I... .. 2 2. 3.2.. 3 3.1..3....14 Angka Partisipasi Murni Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....1...13 Perkembangan APM Tahun .2. Provinsi . SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APM SMA/MA/SMK Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.. Kabupaten .. menurut kabupaten/kota Provinsi . 3..T-I.... 1...*) NO 1 1..*) SD/MI NO Kabupaten /Kota jumlah siswa usia 7-12 th bersekolah di SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APM SMP/MTs jumlah siswa usia 13Jumlah penduduk 15 th bersekolah di usia 13-15 th SMP/MTs APM SMA/MA/SMK jumlah siswa usia 16-18 th bersekolah di SMA/MA/ SMK jumlah penduduk usia 16-18th APM 1 2 3 4 5 Kabupaten .2. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kota . 1..d . Dst . Dst . 2.B....

. tanpa memperhitungkan umur. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APM SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 2 2. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.15 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun .B.*) SD/MI NO Kecamatan jumlah siswa usia 7-12 th bersekolah di SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th SMP/MTs jumlah siswa usia 13-15 th bersekolah di SMP/MTs Jumlah penduduk usia 13-15 th SMA/MA/SMK jumlah siswa usia 16-18 th bersekolah di SMA/MA/ SMK jumlah penduduk usia 1618th APM APM APM 1 2 3 Kecamatan.*) NO 1 1. 2. 1.3. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kecamatan... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut.. Tabel. s.1. 3. Dimana.. Cara Menghitung APK: 00 ...1.3. Angka Partisipasi Kasar (APK) APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa..2. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.3...4.. APK didapat dengan membagi jumlah penduduk yang sedang bersekolah (atau jumlah siswa). menurut Kecamatan Kabupaten/Kota . 1.16 Angka Partisipasi Murni Tahun ..2. Kabupaten/Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. 2..B.26 Untuk kabupaten/kota: Tabel.... Dst . 3 3. 3..1..T-I..T-I. berapapun usianya... h = a = t = = .d . = jenjang pendidikan kelompok usia tahun adalah jumlah penduduk yang pada tahun t dari berbagai usia sedang sekolah pada jenjang pendidikan h adalah jumlah penduduk yang pada tahun t berada pada kelompok usia a yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h .2... a..

1.17 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun . 2....B. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . 1.2...B.3.19 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar(APK) Tahun .B.1..1.. 1.. Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kota . 2. 2 2.T-I.3..18 Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun .. Provinsi .. 3 3.1.27 Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun SMA/MA/SMK = 16-18 tahun Sajikan data APK untuk 5 tahun terakhir.*) NO Kabupaten/kota jumlah siswa bersekolah di SD/MI SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APK jumlah siswa bersekolah di SMP/MTs SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APK jumlah siswa bersekolah di SMA/MA/ SMK SMA/MA/SMK jumlah penduduk usia 16-18th APK 1 2 3 4 5 Kabupaten .T-I. 1. SD/MI jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APK SMA/MA/SMK Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kabupaten/Kota... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d ..2.. 3......... 3.. 2 2. 3 3.2.. Dst ..1.3...1.3.. Dst . 2.. s.... Kabupaten . s. menurut kabupaten/kota Provinsi . 1..2.d .*) NO 1 1.3.....T-I.. 2.. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..2.... Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO 1 1.

menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.000/153.92% (21.. Dst .. 4.000/153.000. Angka Pendidikan yang ditamatkan (APT) APT adalah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah di sekolah negeri maupun swasta dengan mendapatkan surat tanda tamat belajar/ijazah.000 jiwa. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi.000.. 3.. sedangkan penduduk menurut ijazah tertinggi yang pernah ditamatkan sebagai berikut: NO 1. a.000.64% (32..*) SD/MI NO Kecamatan jumlah siswa jumlah penduduk bersekolah di usia 7-12 th SD/MI APK jumlah siswa bersekolah di SMP/MTs SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APK jumlah siswa bersekolah di SMA/MA/ SMK SMA/MA/SMK jumlah penduduk usia 16-18th APK 1 2 3 Kecamatan .T-I.000 32.2.000) x 100 = 20.. APT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah..000 APT SD APT SMP APT SMA APT Perguruan Tinggi = = = = (53.000.20 Angka Partisipasi Kasar Tahun . 5.000. SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah penduduk Ijazah Tertingi Jumlah Penduduk (jiwa) 53.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...000) x 100 = 34.000) x 100 = 4.. menurut kecamatan Kabupaten/Kota. Cara menghitung APT sebagai berikut: 00 Dimana: h t = jenjang pendidikan = tahun = jumlah penduduk yang mencapai jenjang pendidikan h pada tahun t = total jumlah penduduk pada tahun t Berikut contoh perhitungan APT: diketahui jumlah penduduk sejumlah 153.000 153.000/153.. 2.000.000..64% dan SMP adalah 20.000 21. Kecamatan .58% Interpretasi : Angka APT berkisar antara 0 sampai dengan 100.000/153. Jenjang Pendidikan jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APK SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. APT merupakan persentase jumlah penduduk.92%... Tabel. Maka dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar penduduk hanya tamat SD.B.000..000. Dari contoh diatas didapat APT SD adalah 34..000) x 100 = 13.000.3.28 NO 3. 3.000.000 7..000. juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja.5.73% (7. .000.000.. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah..

2.06 persen.000 21. II..4.85 persen dan SMP adalah 24.1. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Untuk provinsi : Tabel. III.. penduduk usia angkatan kerja. Dari contoh diatas didapat APT SD adalah 39.000.000.d . SMP 3. misalnya usia 15-64 tahun. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Catatan: Bila ingin menggunakan APT untuk perencanaan tenaga kerja.85% (32. I. s.... III.000 133.000 53. SMA 4. II.3. III.*) (n-5) NO APT 1.. III... III. 2.000.B.000/133.22 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan(APT) Tahun . .2.000) x 100 = 15..000. 4.. APT … SD SMP SMA Perguruan Tinggi … SD SMP SMA Perguruan Tinggi … SD SMP SMA Perguruan Tinggi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3.000.. Maka dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar tenaga kerja yang tersedia hanya berpendidikan sampai dengan SD.06% (21. Kabupaten/Kota.000.. data APT dapat disajikan dalam tabel berikut: Untuk kabupaten/kota : Tabel..000.2. SD 2.000 32. 5.000.000/133.79% (7.000. Ijazah Tertingi Tidak Berijazah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah penduduk 15-64 tahun APT SD APT SMP APT SMA APT Perguruan Tinggi = = = = (53.B.000.1.26% Interpretasi: Angka APT berkisar antara 0 sampai dengan 100.000) x 100 = 39. II. II.. I..T-I.21 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan(APT) Tahun ..000.d . Perguruan Tinggi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. I. dapat disamakan dengan jumlah Berikut contoh perhitungan APT: diketahui jumlah penduduk usia 15-64 tahun menurut ijazah tertinggi yang pernah ditamatkan: Jumlah Penduduk usia 15-64 tahun (jiwa) 20..3.000.*) NO I. s..000/133. II..T-I. I.000. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.000) x 100 = 5.4.000 7...29 Selanjutnya.000) x 100 = 24. Provinsi.4.1.000 NO 1.000/133.3.000.

Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil. Kesehatan b. Kabupaten/Kecamatan .000 43.30 b..000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.. Interpretasi: Apabila AKB nasional = 26 pada tahun x. dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir. program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.. Kegunaan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.. Angka kematian bayi (AKB) menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Angka kelangsungan hidup bayi = (1-angka kematian bayi).000 AKB 36 32 21 AKHB 964 968 979 Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. . dengan cara sebagai berikut: 0≤ ∑ Dimana: 1 AKB 000 = per 1000 kelahiran = Angka kematian bayi/Infant Mortality Rate (IMR) = Jumlah kematian bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu.. maka dengan AKB = 36 di kabupaten/kecamatan masih diatas rata-rata nasional atau perlu ditekan seperti melalui program-program imunisasi.. serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak. kabupaten/kota. Contoh perhitungan seperti diatas supaya disajikan dalam bentuk tabel sekurang-kurangnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal. untuk mengetahui perkembangan hasil penanggulangan/kebijakan yang telah dilaksanakan mengatasi tingginya AKB dalam suatu wilayah provinsi. sebagai berikut: Kabupaten/Kecamatan *) Kabupaten/Kecamatan . Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. 0-≤ ∑ Lahir Hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kabupaten/Kecamatan . yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.000 25..1. diketahui jumlah jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dan jumlah kelahiran Hidup pada tahun x. Berikut contoh perhitungan AKHB.. *) Jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun pada tahun x 750 800 900 Jumlah Kelahiran Hidup pada tahun x 21.. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neo-natal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan.. AKB dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1. dari sisi penyebabnya. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar. Sedangkan angka kematian Post-Neo Natal dan angka kematian anak serta kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi. program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk ibu hamil dan anak. adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak.

meningkat lagi menjadi 59. yaitu : a. WHO (1999) mengelompokkan wilayah yaitu kecamatan untuk kabupaten/kota dan kabupaten/kota untuk provinsi berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok dari seluruh jumlah balita. Angka usia harapan hidup Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.*) Hasil Sensus Penduduk Tahun 1970 47. 2 tahun..5 Tahun 2010 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Persentase balita gizi buruk Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita.2 Tahun 1990 59. Klasifikasi status gizi dibuat berdasarkan standar WHO. dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan. sebagai berikut: .. pada suatu tahun tertentu.5 tahun. Apabila AHH dibawah angka rata-rata nasional maka diperlukan program pembangunan kesehatan. Angka harapan hidup saat lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu. kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan..8 tahun untuk bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1990. Persentase balita gizi buruk dapat dihitung dengan rumus. dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. tinggi d.31 b. b. Contoh: Angka Harapan Hidup yang terhitung untuk suatu kabupaten/kota dari hasil sensus penduduk Tahun 1970 adalah 47.8 Tahun 2000 65.. dan bagi bayi yang dilahirkan Tahun 2000 usia harapan hidupnya mencapai 65. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.7 tahun. rendah b. Peningkatan angka harapan hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan bangsa Indonesia selama tiga puluh tahun terakhir dari Tahun 1970an sampai Tahun 2000. sedang c. anak disebut gizi baik.2. berikut contoh dibawah ini: Angka Harapan Hidup Provinsi/Kabupaten/Kota . Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Angka harapan hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x. sangat tinggi = di bawah 10 % = 10-19 % = 20-29 % = 30 % Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Tetapi bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1980 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yakni 52. Idealnya angka harapan hidup dihitung berdasarkan angka kematian menurut umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat tabel kematian. Keadaan tubuh anak atau bayi dilihat dari berat badan menurut umur.. Artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1971 (periode 19671969) akan dapat hidup sampai 47 atau 48 tahun. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang.3. Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik maka untuk menghitung angka harapan hidup digunakan dengan mengutip angka yang diterbitkan BPS. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan.7 Tahun 1980 52.

Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk: 1. Kemiskinan.. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung kemiskinan adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Untuk melihat penduduk miskin dunia. Adalagi kemiskinan kultural (karena faktor adat) seperti suku badui di cibeo (Banten). Kemiskinan Struktural (contoh. Bukan Makanan Total Jumlah penduduk miskin (jiwa) Persentase penduduk miskin d. Mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan..T-I. Tabel. Angka kemiskinan adalah persentase penduduk yang masuk kategori miskin terhadap jumlah penduduk..23 Garis Kemiskinan. Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan (GK). dayak dan sebagainya. Beberapa pengertian terkait dengan kemiskinan antara lain: 2. kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.angka kemiskinan). Untuk mengukur kemiskinan. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. 2.. suku kubu (Jambi). 3. antar daerah. Sebagai informasi tambahan.1. ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum. BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). 3. dapat dihitung Head Count Index (HCI). Kemiskinan absolut.*) Garis Kemiskinan Rph/Kapita/bulan Daerah/Tahun Makanan Perkotaan Perdesaan Kota + Desa *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kemiskinan relatif. 1. Membandingkan kemiskinan antar waktu. Dengan pendekatan ini.. Menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan dibawah garis kemiskinan. yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masingmasing komoditi pokok bukan makanan. yang terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan (GKBM). Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi . Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. juga digunakan hasil survei SPKKD (survei paket komoditi kebutuhan dasar). Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan. misal orang mentawai. c. kemiskinan karena lokasi yg terisolasi.32 00 c. biasanya Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan US $ 1 atau US $ 2 per hari. Kepemilikan tanah (Persentase Jumlah Penduduk Yang Memiliki Lahan) Persentase jumlah penduduk yang memiliki lahan adalah perbandingan jumlah penduduk yang memiliki lahan terhadap jumlah penduduk dikali 100.. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Persentase penduduk diatas garis kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula (100 .B. orang tengger dsb). ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencapai standar kehidupan yang ditetapkan masyarakat setempat sehingga proses penentuannya sangat subjektif. . Dengan pendekatan ini.

... Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja. Bisa juga disebut sumber daya manusia.T-I.. Dalam ilmu ekonomi.B.. (n-5) (n-4) Uraian Luas Tanah Jumlah penduduk Jumlah penduduk yang memiliki tanah Persentase penduduk memiliki tanah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Luas Tanah (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah penduduk yang memiliki tanah (4) Persentase penduduk memiliki tanah (5=4/3) e.33 00 Selanjutnya perhitungan angka kepemilikan tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Kecamatan (1) Kecamatan. Sementara itu.. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Jika yang tersedia adalah angka pengangguran. Kabupaten/kota. kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian. angkatan kerja (labour force) menurut Soemitro Djojohadikusumo didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif. (n-3) (n-2) (n-1)**) Sedangkan untuk Kabupaten/kota: Tabel.. Kecamatan. … Provinsi . Dengan demikian.. dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.25 Kepemilikan Tanah Tahun .. Kesempatan Kerja (demand for labour) adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja). Kecamatan. Kesempatan kerja (Rasio penduduk yang bekerja) Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja...T-I... maka angka yang digunakan adalah = (1 . keterampilan dan bakatnya masing-masing.. Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja......B.. Kecamatan.24 Persentase Penduduk Memiliki Lahan Tahun .angka pengangguran) Contoh menghitung rasio tersebut terlebih dahulu disusun data angkatan kerja yang bekerja dan yang mencari pekerjaan menurut kelompok umur berdasarkan hasil sensus terakhir ke dalam tabel sebagai berikut: .

.000 88..T-I.B.000 5.100 12.. Kasus Pembunuhan Penganiayaan Berat Penculikan Pencurian dengan Kekerasan Pencurian dengan Pemberatan Pencurian Ranmor Pencurian Kawat Telepon Pemerkosaan Pembakaran Senpi/Handak Pemerasan Penyelundupan Kejahatan Terhadap Kepala Negara Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.400 6.*) Tahun .700 8. Angka kriminalitas yang ditangani merupakan jumlah tindak kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap 10.T-I. Pemerintahan daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat. Tabel.000 12.000 11.. f.000 3..500 12.600 9.34).300 4.000 Mencari Pekerjaan 1. serta menanggulangi kriminalitas sehingga kuantitas dan kualitas kriminalitas dapat diminimalisir.000 13.000 10.300 3.000 11. Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegak hukum (polisi/kejaksaan).000 4.26 Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja Golongan umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Jumlah Angkatan Kerja Bekerja 5.27 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota .700 21.100 133.600 19.300 7. Kejadian 5 8 4 2 7 15 12 2 5 9 15 5 0 89 Tertangani 4 6 2 2 6 13 10 1 4 8 14 4 0 74 Contoh diketahui jumlah penduduk kabupaten/kota sebesar 200.B.66=0.000 jiwa. maka angka kriminalitas yang tertangani : 0 000 .000 6.100 1... menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat.000 15. 33 00 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 66% dari angkatan kerja yang ada memperoleh kesempatan kerja sedangkan 34%nya masih mencari kerja atau pengangguran (1-0.. ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas untuk mewujudkan stabilitas penyelenggaraan pemerintahan terutama di daerah.600 4.100 5.100 45.34 Tabel.000 penduduk.000 3.500 1.400 14.300 10.100 2. Kriminalitas (Angka kriminalitas yang tertangani) Keamanan.600 9.700 000 0.000 8.700 Jumlah 6.

... Jumlah gedung olahraga per 10. berbudaya dan beradab serta (ii) mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera.B.B.000 penduduk.... d. menurut kabupaten/kota/Provinsi .. Budaya dan Olahraga Tahun ..000 penduduk Jumlah klub olahraga per 10..000 penduduk Jumlah gedung olahraga per 10. Jumlah gedung kesenian per 10.. Provinsi ..000 penduduk. .000 penduduk. Budaya dan Olahraga Tahun ..000 penduduk Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...000 penduduk Jumlah gedung kesenian per 10.. budaya dan olahraga dapat dilihat berdasarkan indikator sebagai berikut: a. Pencapaian pembangunan seni.... bermoral. b.... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah gedung olahraga adalah jumlah gedung olahraga per 10.. Dst . budaya dan olahraga dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Untuk Provinsi: Tabel.. Seni Budaya dan olahraga Pembangunan bidang seni... s. Kabupaten .d ....000 penduduk..000 penduduk.... Jumlah klub olahraga per 10.29 Perkembangan Seni.28 Perkembangan Seni.35 - Catatan: Tabel tersebut diatas dapat disajikan dan dianalisis untuk data angka kriminalitas dalam kurun 5 tahun terakhir. Jumlah gedung kesenian adalah jumlah gedung kesenian per 10.000 penduduk. Kota ... Jumlah klub olahraga adalah jumlah klub olahraga per 10.*) NO 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10. beretika. 1.*) No 1 2 3 4 5 Kabupaten .T-I.. Selanjutnya penyajian pencapaian pembangunan seni. Jumlah grup kesenian adalah jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk.000 penduduk. budaya dan olahraga sangat terkait erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Kabupaten/kota Jumlah grup kesenian per 10.T-I.. Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Hal ini sesuai dengan 2 (dua) sasaran pencapaian pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan yaitu (i) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia.. Dst .. c.3.

. bisa jadi ditemukan penurunan jumlah murid di sekolah dasar dengan interpretasi terjadi penurunan partisipasi sekolah. Fokus Layanan Urusan Wajib 2.. Aspek Pelayanan Umum 2. jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun 000 Sajikan data APS untuk 5 tahun terakhir.1. proporsi penduduk muda sendiri semakin menurun akibat semakin rendahnya angka fertilitas (lihat bagian fertilitas).1. 2 2.1. bila digunakan APS. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Namun. 2. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah.. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Di Indonesia. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Pendidikan Dasar 2.1. maka akan ditemukan peningkatan partisipasi di tingkat SD yang disebabkan semakin rendahnya jumlah penduduk usia SD. ..1.1.. s.1..B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. 000 dimana: h = a = t = = . APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan dasar (7-12 tahun dan 13-15 tahun) yang masih menempuh pendidikan dasar per 1.1. Pendidikan 1. ..3.1.2. Sehingga.1. 2.2. = .3.30 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .*) NO 1 1.. 1.d . Provinsi ..T-I. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Bila ukuran seperti perubahan jumlah murid digunakan. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Cara menghitung APS sebagai berikut: . Penurunan ini akan menyebabkan semakin menurunnya jumlah anak-anak yang masuk sekolah dasar..1..1.36 2.

Untuk menghitung APS menurut jenjang pendidikan: APS 7-12 APS 13-15 3...... Untuk kabupaten/kota: Tabel.32 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..1. jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.......T-I. 2. 1..... Kota .2.33 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ...T-I.*) SD/MI NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota Kabupaten .. 2 2.. Dst .. 1. menurut kabupaten/kota Provinsi ...37 Tabel.B. Jumlah Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. menurut kecamatan Provinsi .3...B... Kabupaten ...1. s. Tabel.....5 000 000 Untuk menghitung APS usia pendidikan dasar: 3 3 5 5 000 . SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Dst ... 2.3.31 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .d ..*) NO 1 1..B....2.. Kabupaten/Kota .....*) NO 1 2 3 Kecamatan jumlah murid usia 7-12 thn SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 1315 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS Kecamatan. Kecamatan.. Dst .T-I....5 3....

.. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..1.*) NO (1) (2) Kabupaten/kota SD/MI Jumlah gedung sekolah (3) jumlah penduduk usia 7-12 th (4) Rasio (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) 1 2 3 4 5 Kabupaten .T-I.. NO 1 1.1. menurut Provinsi .d .1... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel....d . Jumlah gedung sekolah 2... s. 1.. Jumlah gedung sekolah 1.....2.. Dst .000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar..1.2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.34 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Tahun .3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ...T-I..3.35 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah ...... jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.1..1.38 2. Kabupaten/kota .3.. Provinsi . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1...T-I....2.2.B. Kota .. s. Kabupaten . Rasio 2 SMP/MTs 2.2. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10. jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun 2......3. Jumlah gedung sekolah 2.*) Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun 1. Untuk menghitung rasio ketersedian/penduduk usia sekolah dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2... Rasio 2 SMP/MTs 2....1.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dst . Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan dasar. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B..B.36 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..

..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..3... Jumlah Guru 1..2. Dst .000 jumlah murid pendidikan dasar.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.37 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah menurut kecamatan Kabupaten/kota ...T-I.1. Dst . 1 2 3 Rumus menghitung rasio ketersediaan sekolah menurut jenjang pendidikan dasar: Rasio Ketersediaan sekolah SD/MI = Rasio Ketersediaan sekolah SMP/MTs = Rasio Ketersediaan sekolah pendidikan dasar: 0 000 0 000 0 000 3 5 3 5 2.1.38 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun . Jumlah Guru 2...T-I..... Untuk menghitung rasio guru terhadap murid dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.... Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.1.1..2...d ..T-I... s.. Dst .B.3..*) SD/MI NO (1) SMP/MTs KECAMATAN (2) Jumlah gedung sekolah (3) jumlah penduduk usia 7-12 th (4) Rasio (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan .*) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1... Jumlah Murid 1... Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. Kabupaten .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Rasio guru/murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per 1.B..39 Tabel. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.. Rasio 2 SMP/MTs 2..1.39 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar menurut kabupaten/kota Provinsi . 1 2 3 4 5 . Jumlah Murid 2...B...3..*) SD/MI NO (1) SMP/MTs KABUPATEN/KOTA (2) Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) Kabupaten .. Provinsi .. Kecamatan ......

. Jumlah Murid 2..000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah..1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah (16-19 tahun) yang masih menempuh pendidikan menengah per 1.1.*) NO (1) KECAMATAN (2) SD/MI SMP/MTs Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan .4.1.T-I. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..1. Pendidikan Menengah 1..3..B..2... Jumlah Murid 1.40 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Jumlah Guru 2. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan menengah.3.2.1.1 APS untuk pendidikan dasar.. Kemudian hitung APS jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: APS 16-19 - 000 1.2.. Rasio guru/murid per kelas rata-rata 000 1. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan menengah per 10...2.1. seperti pada penjelasan 2.T-I. Rasio 2 SMP/MTs 2.... s.1.B..1...41 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar menurut Kecamatan Kabupaten/Kota.40 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun . Jumlah Guru 1.1. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...*) (n-5) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1.1.1. Kabupaten/Kota.. . Dst . 1 2 3 Rumus menghitung rasio guru dan murid menurut jenjang pendidikan: Rasio guru dan murid SD/MI Rasio guru dan murid SMP/MTs = = G G G 000 0 000 0 000 Rasio Guru dan Murid pendidikan dasar = 2.1.d . dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota...1. Sajikan data APS usia pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir.1. Kecamatan .2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1.2.

1.1 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan menengah. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera. Kemudian hitung rasio guru terhadap murid pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = G 0 000 1.1. oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Membudayakan NKKBS. dapat dilakukan pada Posyandu.000 jumlah murid pendidikan menengah.4. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak.2. Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat.2.2. 2.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar per kelas. bahwa strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan anak seperti itu. seperti pada penjelasan 3. lingkungan yang sehat dan aman.1.2. merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik.41 Sajikan Rasio ketersediaan sekolah terhadap pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir. 0 000 2. Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera. Kemudian hitung rasio ketersediaan sekolah menurut jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Rasio Ketersediaan sekolah SMA/MA/SMK = 0 000 1. . dapat dilakukan di setiap posyandu.1. Angka Kematian Ibu ( ibu Hamil.2. melahirkan dan nifas). Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia dini. 4. Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata adalah jumlah guru pendidikan menengah per kelas per 1.000 jumlah murid pendidikan menengah.1. pengembangan psikososial/emosi.1.1. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. 3. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal guru per kelas terhadap jumlah murid agar tercapai mutu pengajaran. Sajikan rasio guru terhadap murid pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar.1. maka diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini.1. Tujuan penyelenggaraan Posyandu: 1. Pengalaman empirik dibeberapa tempat menunjukan.3. Kesehatan 1. Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan menengah per 1. Karena Posyandu merupakan wadah peranserta masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB).

.. 2. Jumlah balita 3...45 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Uraian Jumlah posyandu Jumlah balita Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah posyandu 2. Provinsi .. Tabel..d .T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan dan atau ditingkatkan. Kabupaten/Kota. 3.B.T-I. Kota .. Dst .B.B.42 Terkait dengan hal tersebut diatas perlu dilakukan analisis rasio posyandu terhadap jumlah balita dalam upaya peningkatan fasilitasi pelayanan pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.. 1 2 3 4 Untuk kabupaten/kota: Tabel............ Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita.. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah posyandu (3) Jumlah balita (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan ..42 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun . Dst . Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per balita..*) NO 1. s.... Dst . Untuk menghitung rasio posyandu per satuan balita dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.T-I..44 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun ... .....d .T-I... Kabupaten/Kota...B....*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah posyandu (3) Jumlah balita (4) Rasio (5=4/3) Kabupaten ..43 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kabupaten/Kota Tahun ......... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) (n-5) NO Uraian 1.. s.... Kecamatan . Provinsi . Kegunaannya untuk mengetahui berapa selayaknya jumlah posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah.....

.........*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah Penduduk (3) Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (6) Rasio (7=6/3) Jumlah (8) Rasio (9=8/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten . Untuk menghitung rasio rumah sakit per satuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: . Rasio Pustu persatuan penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Dst . Poliklinik dan Pustu Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi .2.. 3.. 6..1......47 Jumlah Puskesmas.T-I...48 Jumlah Puskesmas.. asuhan keperawatan yang berkesinambungan. Dst .2......B. 5. Kabupaten/Kota . 2. Untuk kabupaten/kota: Tabel... Rasio Puskesmas...*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (6) Rasio (7=6/3) Jumlah (8) Rasio (9=8/3) 1 2 3 Kecamatan. Poliklinik dan Pustu Menurut Kecamatan Tahun . Poliklinik dan Pustu Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..T-I..B. s. Kabupaten/Kota.B. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan..... diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Tabel.3.2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kabupaten ..... 1..1.... Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Poliklinik Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas persatuan penduduk Rasio Poliklinik persatuan penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 7.43 1. Kecamatan... 4.46 Jumlah Puskesmas. Dst .T-I..*) NO 1. Tabel. Kota ......d ..

*) Jumlah Penduduk Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio NO Kabupaten/kota Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh Rasio Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jmlh Rasio Rumah Sakit Daerah Jmlh Rasio Rumah Sakit Swasta Jmlh Rasio Total Jmlh Rasio 1 2 3 4 5 Kabupaten . Untuk kabupaten/kota: Tabel..T-I..51 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun ...... Tabel... 3. 4...d ... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... 2.. 7........ Kabupaten/Kota.. 6.... 3......52 Jumlah Rumah Sakit menurut Kecamatan tahun . Provinsi ..*) NO 1. Kota . s. Kecamatan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Tabel. Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... 5....B. Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Jumlah . Dst .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...d .. s. 2....... 5..50 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kabupaten/Kota Tahun .B... Kabupaten ..B... Kabupaten/Kota . 6... Dst . 7.T-I. 4. Dst ....*) NO 1.T-I.44 Untuk Provinsi: Tabel........ Provinsi .*) Jumlah Penduduk Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio NO Kecamatan RS Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh Rasio Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jmlh Rasio Rumah Sakit Daerah Jmlh Rasio Rumah Sakit Swasta Jmlh Rasio Total Jmlh Rasio 1 2 3 Kecamatan.B.T-I.49 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun .

.45 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel...*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Dokter 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2... Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu.. Rasio dokter per satuan penduduk Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada........B.000 penduduk. Dst .. Rasio rumah sakit per satuan penduduk adalah jumlah rumah sakit per 10.....*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Dokter (4) Rasio (5=4/3) Kabupaten . Selain itu distribusi dokter dan dokter spesialis tidak merata serta kualitasnya masih perlu ditingkatkan.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 000 1. Kabupaten/Kota. Jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlah penduduk Indonesia.. 1 2 3 4 Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio ini mengukur ketersediaan fasilitas rumah sakit berdasarkan jumlah penduduk.T-I.56 Jumlah Dokter Menurut Kecamatan Tahun .....500 penduduk.B.. Kecamatan ..... Kabupaten/Kota ..T-I.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Dokter 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....54 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Provinsi ..B.4.... idealnya satu orang dokter melayani 2..53 Jumlah Dokter Tahun .... s... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Provinsi ... s.d .T-I...*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Dokter (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan .. .d .... Dst ..1. Kota . Untuk menghitung rasio dokter per satuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Dst .B.55 Jumlah Dokter Tahun ......T-I. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...

.d ...5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Dst ... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten .46 1. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Lingkungan Hidup Persentase penanganan sampah Untuk menghitung persentase penanganan sampah dapat disusun tabel sebagai berikut: ..B..B.1..2..*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Tenaga Medis (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .T-I.3.....T-I.. s..58 Jumlah Tenaga Medis Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kabupaten/Kota....59 Jumlah Tenaga Medis Tahun ...3......... Rasio tenaga medis per satuan penduduk Rasio Tenaga Medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besar ketersediaan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada penduduk. Kecamatan . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Tenaga Medis 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... Untuk menghitung rasio tenaga medis persatuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel....*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah Tenaga Medis Jumlah Penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..d .*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Tenaga Medis (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan .1..B.. Tabel. s....1...60 Jumlah Tenaga Medis Menurut Kecamatan Tahun .. 2... Kabupaten/Kota . Dst ...T-I.T-I.57 Jumlah Tenaga Medis Tahun . 1.....1......B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kota . Dst . Provinsi ... Provinsi ....

. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.62 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kota .... Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia.T-I. Kabupaten/Kota.*) NO 1. 3. s... terutama logam. Kecamatan . dan tidak mengandung logam berat.. Kabupaten ..B......d ........ terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya..*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah sampah yang ditangani (3) Jumlah volume produksi sampah (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten . Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....B. Dst .. 3. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Tabel..d .....64 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kecamatan Tahun .1. tidak berbau.T-I... 2. Provinsi .63 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun .. Dst . 2..*) NO 1. Kabupaten/Kota .. Persentase penduduk berakses air minum Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa...2. s....3..47 Untuk Provinsi: Tabel.. Untuk Kabupaten: Tabel.. Untuk menghitung persentase penduduk berakses air bersih dapat disusun tabel sebagai berikut: .61 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun ... Tabel......T-I. Dst . Provinsi . tidak berwarna...B... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. banyak zat berbahaya....B..... Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..T-I. 1.. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C..*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah sampah yang ditangani (3) Jumlah volume produksi sampah (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan .

B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. air leding/PAM.. Dst .T-I... 1 2 3 Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan...... Provinsi ...67 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun . Uraian Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum Jumlah penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase penduduk berakses air bersih *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. s...T-I.. Jumlah penduduk 3... Untuk kabupaten/kota: Tabel.d .T-I..48 Untuk Provinsi: Tabel...65 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun ..B.. Persentase penduduk berakses air bersih *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Kabupaten/Kota .. s.d .. Dst .. Kabupaten ...*) NO 1... NO 1..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .T-I.. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral.B.. Dst . Tabel.......... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.66 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun ...B.... sumur.. Provinsi .... atau mata air . 2.. pompa air... 3.... Kota ...*) (n-5) Uraian Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum 2. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.... Kabupaten/Kota... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.68 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun .*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Penduduk yang mendapatkan akses air minum (4) Persentase (5=4/3) Kecamatan ... Kecamatan . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

2...B.T-I.. 2. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 1. 3...*) NO 1..*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Luas Area Permukiman Keseluruhan (3) Luas Area Permukiman Tertata (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten ... s...B..B.69 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun .. Untuk kabupaten/kota: Tabel..3. . s...3... Provinsi ....70 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kabupaten/Kota Tahun ........ Kabupaten/Kota . Provinsi . Dst .. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan .. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel..T-I. Kota .71 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun ...d . Uraian luas area permukiman tertata luas area permukiman keseluruhan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase Luas Permukiman yang Tertata *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Persentase luas permukiman yang tertata Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung..d ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Tertata *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...*) (n-5) Uraian luas area permukiman tertata luas area permukiman keseluruhan Persentase Luas Permukiman yang 3... Untuk menghitung persentase luas permukiman yang tertata dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Dst ..49 yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..1...T-I. NO 1..

bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 6 s/d 10 %).1.4. Kerusakan yang ada belum (atau sedikit saja) menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas. Tidak Mantap. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik tetapi lebarnya kurang dari ketentuan berdasarkan jumlah LHR yang ada...B... Kecamatan . rusak dan rusak berat.4. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 2.4. Dapat dikatakan juga sebagai semua ruas jalan yang mantap dari aspek kondisi tetapi tidak mantap dari aspek pemanfaatan/kapasitas atau sebaliknya. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu : a. b.. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi Kinerja jaringan berdasarkan kondisi dengan terminologi baik.1.2.T-I.. Mantap Sempurna.. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek kemantapan adalah merupakan kinerja gabungan dari aspek kondisi dan aspek pemanfaatan/kapasitas.1.72 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kecamatan Tahun . Kabupaten/Kota . atau sebaliknya yaitu jalan dengan lebar yang cukup tetapi kondisi rusak sampai rusak berat.1.. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Kinerja jaringan jalan sebagai hasil dari manajemen pengelolaan didasarkan kepada beberapa indikator makro yaitu : 1..1. atau semua ruas jalan yang mantap baik dari aspek kondisi maupun aspek pemanfaatan/kapasitas. c.. sedang rusak...*) NO (1) Kecamatan (2) Luas Area Permukiman Keseluruhan (3) Luas Area Permukiman Tertata (4) Persentase (5=4/3) Kecamatan . Untuk keperluan teknis operasional diperlukan suatu definisi atau batasan/kriteria teknis (“engineering criteria”) yang lebih jelas dan bersifat kuantitatif.. Mantap Marginal dan Tidak Mantap. 1 2 3 Persentase Luas Permukiman yang Tertata adalah proporsi luas area permukiman yang sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang satuan permukiman terhadap luas area permukiman keseluruhan. dimana hal tersebut lebih merupakan definisi secara kualitatif..lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan kecepatan disain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.50 Tabel. Kondisi Baik (B) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.4. bahu jalan dan ≤ . b. 1.. Terminologi ini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan dengan penjelasan sebagai berikut: a. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik dan lebarnya memenuhi ketentuan lebar minimum perkerasan (berdasarkan LHR yang ada)...1.. Kerusakan yang ada mulai menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas. Kondisi Sedang (S) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menuju rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 10 s/d 16 %). sedang. c. sehingga kendaraan harus mengurangi kecepatannya. Mantap Marginal. . Kondisi Sedang Rusak (SR) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.1. arus lalu .. Dst . Sarana dan Prasarana Umum 1. Kinerja jaringan jalan dinyatakan sebagai Mantap Sempurna.1. adalah semua ruas jalan baik secara kondisi maupun kapasitas tidak mantap.

.. Kabupaten . Kondisi diukur (terutama) dengan besaran nilai Kondisi.. 1. 5.. Untuk menghitung proporsi panjang jaringan jalan berdasarkan kondisi dapat disusun tabel sebagai berikut : Untuk Provinsi: Tabel.B.....1... Kondisi Rusak (R) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... dimana semakin besar nilai V/C ratio berarti semakin rendahnya tingkat pelayanan jalan tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya kemacetan.. sedangkan aspek pemanfaatan diukur dengan besaran V/C ratio.lahan. Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek pemanfaatan Dua hal utama yang berkaitan erat dengan kinerja jalan. dan kabupaten/kota) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kondisi Rusak Berat (RB) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.lintas.. provinsi. Tabel... Kota ..1. Provinsi .T-I.65. V/C ratio menunjukkan gambaran mengenai tingkat pelayanan suatu jalan dalam melayani arus (pergerakan) lalu – lintas.. Provinsi . Kondisi Jalan Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Panjang Jalan (km) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan (nasional. 4.. s. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....T-I.. kadangkala harus berhenti akibat adanya kerusakan atau hambatan pada permukaan perkerasan. . mengurangi kecepatannya.... sehingga kendaraan harus berjalan secara perlahan .73 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun ...B. atau hanya dapat dilewati dengan kecepatan sangat rendah. baik untuk individual segmen maupun untuk sepanjang ruas dan sistem jaringan adalah aspek kondisi dan aspek pemanfaatannya.. Dst .. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak berat menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan > 20 %)... Dst .d .4.. Kerusakan yang ada sudah sangat menghambat kelancaran arus pergerakan lalu .*) NO 1. Kerusakan yang ada sudah sangat parah dan nyaris tidak dapat lagi dilewati oleh kendaraan roda – 4.. 2. 3. Batasan nilai V/C ratio yang menunjukkan tingkat pelayanan mulai mendekati kemacetan diambil > 0.*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan Kabupaten .74 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 16 s/d 20 %).. e..3.51 d..

Kecamatan .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio Jaringan Irigasi Pengertian jaringan irigasi adalah saluran. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 4.. 4.2.52 Untuk kabupaten/kota: Tabel... Kondisi Jalan Panjang Jalan (km) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan (nasional....*) NO 1. penggunaan dan pembuangan air irigasi.77 Rasio Jaringan Irigasi Tahun .T-I.. Selanjutnya secara operasional dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer. pemberian... s. dan kabupaten/kota) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I...1. saluran kuarter dan saluran pembuang.75 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun .. sekunder dan tersier. boks kuarter serta bangunan pelengkapnya.76 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kecamatan tahun . provinsi.. Kabupaten/Kota . pembagian.B. Jaringan Irigasi Panjang Jaringan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 2. Hal ini mengindikasikan kualitas jalan dari keseluruhan panjang jalan.B. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan.4... Kabupaten/Kota .. 3. 5. yang langsung berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi ke dalam petakan sawah adalah jaringan irigasi tersier yang terdiri dari saluran tersier. s. Dari ketiga kelompok jaringan tersebut..B. .. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1.... Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan (nasional.. dan kabupaten/kota). Provinsi .. Dst . Tabel.......d . 2. 3.d .*) NO 1...T-I. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 5.*) NO 1 2 3 Kecamatan Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan Kecamatan .. boks tersier. provinsi... Untuk menghitung Rasio perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya dapat disusun tabel sebagai berikut : Untuk Provinsi: Tabel.

.. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.... Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian..... 4.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.... Tingkat efisiensi akan diukur dari nilai Pasok Irigasi per Area (PIA)... 3... tersier.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Didalam pengelolaan jaringan irigasi.. 1 2 3 Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya.B.. Kota .78 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kabupaten . Pasok Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok Air Relatif (PAR) dengan rumusan sebagai berikut:    . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....B... Kecamatan ...T-I. Kabupaten/Kota.*) NO (1) Kabupaten /Kota (2) Primer (3) Panjang Jaringan Irigasi Sekunder Tersier (4) (5) Total Panjang Jaringan Irigasi (6=3+4+5) Luas lahan budidaya (7) Rasio (8=6/7) Kabupaten . Dalam hal ini efisiensi teknis diukur dari tiga indikator yaitu Pasok Irigasi per Area (PIA).*) NO 1... Sedangkan efektivitas ditunjukkan oleh indeks luas areal (IA).... 5.T-I.B. sekunder. Kabupaten/Kota.. Dst ..*) NO (1) Kecamatan (2) Panjang Jaringan Irigasi Primer Sekunder Tersier (3) (4) (5) Total Panjang Jaringan Irigasi (6=3+4+5) Luas lahan budidaya (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan . Dst .. tolok ukur keberhasilan pengelolaan adalah efisiensi dan efektifitas...79 Rasio Jaringan Irigasi Tahun . Tabel...T-I..53 Tabel. Dst . 2..... Pasok Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok Air Relatif (PAR).d .. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 1 2 3 4 5 Untuk kabupaten/kota: Tabel.... Jaringan Irigasi Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio (n-5) (n-4) Panjang Jaringan (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi ....80 Rasio Jaringan Irigasi menurut Kecamatan tahun .. a..

1.. 4.. ... Efisiensi pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nilai koefisien PIA. PIA menunjukkan nisbah antara pasok irigasi dengan luas lahan terairi.T-I. Indek Luas Areal 5. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. b.. PIR dan PAR biasa juga dipakai untuk mengukur kemampuan masyarakat mengelola sumberdaya air dalam kegiatan suatu sistem irigasi.*) NO Kabupaten/kota Luas Rancangan (Ha) 3 Luas Lahan Terairi (Ha) 4 Kebutuhan Air Tanaman (Ha) 5 Pasok Air Irigasi (lt/ dtk) 6 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) 7 Total Pasok Air (lt/ dtk) 8 PIA (lt/ dtk/ha) PIR (lt/ dtk/ha) PAR (lt/ dtk/ha) IA (%) 1 2 9=6/4 10=7/5 11=8/5 12=4/3 Kabupaten . Provinsi. Pasok Irigasi per Area 2.. Artinya dari seluruh target areal yang akan diairi hanya ada sekitar 9% saja yang tidak terairi. Pasok Air Relatif 4. Rancangan Luas Areal *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. dengan rumusan berikut: 00 Luas rancangan = rancangan luas areal Semakin tinggi nilai IA menunjukkan semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi..T-I.... Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. Apabila curah hujan tinggi dan nilai PIR juga tinggi maka fenomena ini menunjukkan bahwa petani belum mampu untuk mengelola sumberdaya secara sepadan....91). PIR dan PAR. di lapangan diidentifikasi rasio atau nisbah luas areal terairi terhadap rancangan luas areal mencapai 91% (0. 2..... dan PAR atau Relative Water Supply (RWS) merupakan nisbah total pasok air (irigasi ditambah curah hujan efektif) terhadap kebutuhan air tanaman. Selisih antara PAR dan PIR merupakan curah hujan yang dapat digunakan tanaman. Dst ... Kota .B. Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nisbah antara luas areal terairi terhadap luas rancangan. Semakin kecil nilai PIR dan PAR menunjukkan bahwa efisiensi manajemen irigasi semakin bagus. efektifitas pengelolaan air ini mengalami peningkatan sekitar 2%.d . Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (89%). Pasok Irigasi Relatif 3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.*) NO Pasokan Irigasi 1..... Provinsi.82 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dengan pemahaman seperti itu.81 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun ..... Tingkat efektivitas akan diukur dari nilai Indek Luas Areal (IA). **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. PIR dan PAR.B.. 3. maka pengelolaan irigasi semakin efisien. Hasil Analisis efisiensi dan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi disajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. dalam hal ini semakin kecil nilai PIA maka efisiensi manajemen akan semakin besar. Dst .54 Semakin kecil nilai PIA.... s. Sementara itu PIR atau disebut juga Relative Irrigation Supply (RIS) menunjukkan nisbah antara pasok irigasi total dengan kebutuhan air tanaman.

Mesjid Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Gereja Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Pura Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Vihara Jumlah pemeluk Rasio Kelenteng Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Lain-lain Jumlah pemeluk Rasio Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s............*) NO 1 Kecamatan 2 Luas Rancangan (Ha) 3 Luas Lahan Terairi (Ha) 4 Kebutuhan Air Tanaman (Ha) 5 Pasok Air Irigasi (lt/ dtk) 6 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) 7 Total Pasok Air (lt/ dtk) 8 PIA (lt/ dtk/ha) 9=6/4 PIR (lt/ dtk/ha) 10=7/5 PAR (lt/ dtk/ha) 11=8/5 IA (%) 12=4/3 1.86 Rasio Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota Tahun . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. 3. Pasok Irigasi Relatif 3.T-I...55 Untuk kabupaten/kota: Tabel..T-I.*) NO Kabupaten/Kota 1. Kabupaten . 2...B.T-I. 3.4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 1..*) Untuk Provinsi: NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) Thn (n-5) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Thn (n-1)**) Jumlah pemeluk Rasio (1) (2) (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=7/8) Mesjid Gereja Pura Vihara Kelenteng Lain-Lain Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d .. Kabupaten/Kota.. 3. Kabupaten .*) NO Pasokan Irigasi 1.. Dst ..84 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan Tahun ... Pasok Irigasi per Area 2... Kota ..d . Tabel. 4..83 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun ....3..d .. 4.85 Rasio Tempat Ibadah Tahun .B. 2. Indek Luas Areal 5. Dst .. Rancangan Luas Areal *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Pasok Air Relatif 4... Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Tabel.. Provinsi .. . Kecamatan ....B.T-I..B.... 2.... s.. 1..... Provinsi ... 5... 4... 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kecamatan . s.. Dst . Kabupaten/Kota. 6..1.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....

Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Pembuangan Tinja c....4. 5.4.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Tabel.... 2..B. 2. Mesjid Gereja Pura Vihara Kelenteng Lain-Lain Jumlah (2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 2.*) Thn (n-5) NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) (3) Jumlah pemeluk (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (unit) (6) Thn (n-1)**) Jumlah pemeluk (7) Rasio (8=7/8) (1) 1..d .. Pembuangan air limbah (air bekas) d.T-I.T-I.. Persentase rumah tinggal bersanitasi Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi.. Dst .88 Rasio Tempat Ibadah Menurut Kecamatan Tahun .. 4.. sebagai berikut: a....B. Kecamatan Kecamatan ...B... s... Kabupaten/Kota.. Pembuangan sampah Hasil analisis data rumah tinggal berakses sanitasi disajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..87 Rasio Tempat Ibadah Tahun .... 3. s.d . Provinsi .. Kabupaten/Kota. 3..*) NO 1.1. Gereja Jumlah (unit) Pura Jumlah pemeluk Rasio Vihara Jumlah Jumlah (unit) pemeluk Rasio Kelenteng Jumlah Jumlah (unit) pemeluk Rasio Jumlah (unit) Lain-lain Jumlah pemeluk Rasio Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Rasio Rasio (unit) pemeluk (unit) pemeluk Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kecamatan .89 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun .56 Untuk kabupaten/kota: Tabel...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 6. Fasilitas Air bersih b.. 1.*) Mesjid NO 1.T-I. 3. .

Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Tempat Pemakaman Umum (TPU) adalah areal tempat pemakaman milik/dikuasai pemerintah daerah yang disediakan untuk umum yang berada dibawah pengawasan. Untuk menghitung rasio tempat pemakaman disajikan tabel sebagai berikut: .. Dst .......d ..*) NO 1.B. Dst ..*) No (1) 1.. 1...B. Kecamatan ... 3.92 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kecamatan Tahun .....*) No (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah rumah tinggal (3) Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi (4) Persentase (5=4/3) 1. 5.T-I.... Tempat Pemakaman Khusus (TPK) adalah areal tanah yang digunakan untuk pemakaman yang karena faktor sejarah dan faktor kebudayaan mempunyai arti khusus. Kecamatan (2) Jumlah rumah tinggal (3) Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi (4) Persentase (5=4/3) Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman mayat yang pengelolaannya dilakukan oleh yayasan/badan sosial/badan keagamaan. Kabupaten/Kota .. 4......T-I.1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi ..... 2..... 2... Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. pengurusan dan pengelolaan pemerintah daerah. Kecamatan ..5...4. Kota .T-I.... s.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Kabupaten . Untuk kabupaten/kota: Tabel. 3. Dst . Kabupaten . 3..91 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun ..90 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun .B. Tabel..57 Tabel.. 2... Kabupaten/Kota ..

2... 2... . Uraian Tempat pemakaman umum (TPU) Tempat Pemakaman bukan umum (TPBU) Tempat pemakaman khusus (TPK) Lain-Lain Jumlah Tempat Pemakaman Jumlah penduduk (jiwa) Rasio TPU persatuan penduduk (1/6) Tahun (n-5) Jumlah Luas Daya Tampung Jumlah Tahun (n-1)**) Luas Daya Tampung *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Kabupaten . 3.T-I. 4.... 5. 3. 6. Provinsi .. 5. 7... 4. 4.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Provinsi .....d ...T-I.... s. 3. Kabupaten/Kota . 6...B..95 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Tahun .58 Untuk Provinsi: Tabel.*) Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jmlh (1) (2) (3) (4) Daya tampung (5) No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Jmlh (6) Daya Tampung (7) Tempat Pemakaman Khusus (TPK) Jmlh (8) Daya Tampung (9) Lain-Lain Jumlah Total Jmlh (10) Daya Tmpt Pemakaman Daya Tampung Tampung (11) (12=4+6+8+10) (13=5+7+9+11) Rasio TPU Persatuan Penduduk (14=4/3) 1.. 7..... Uraian Tempat pemakaman umum (TPU) Tempat Pemakaman bukan umum (TPBU) Tempat pemakaman khusus (TPK) Lain-Lain Jumlah Tempat Pemakaman Jumlah penduduk (jiwa) Rasio TPU persatuan penduduk (1/6) Tahun (n-5) Jumlah Luas Daya Tampung Jumlah Tahun (n-1)**) Luas Daya Tampung *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I... Dst ... s. Untuk kabupaten/kota: Tabel... 5.B. Tabel.*) No 1...d ..... Kota ... 2.93 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Tahun .94 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..B.*) No 1.. Kabupaten . Dst .

B.d . 3....1... Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd 4....97 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Tahun ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kecamatan .. Jumlah penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.6. s.. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12=4+6+8+10) (13=5+7+9+11) (14=4/3) Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...T-I..B..... Uraian Jumlah Penduduk (jiwa) TPS Jumlah (unit) (4) Jumlah Daya Tampung (Ton) (5) Rasio (6=5/3) (3) (2) Kabupaten . 2. s... Kabupaten/Kota ... 4...d .*) No Kecamatan Tempat Tempat Jumlah pemakaman umum Pemakaman bukan (TPU) umum (TPBU) Penduduk Jmlh Daya tampung Jmlh Daya tampung Tempat pemakaman khusus (TPK) Jmlh Daya tampung Lain-Lain Jmlh Daya tampung Jumlah Total Tmpt Pemakaman Daya tampung Rasio TPU persatuan penduduk (1) 1. 3. Dst . Provinsi ..T-I...96 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun ...98 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun ... Untuk kabupaten/kota: Tabel..4. Kabupaten ..99 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Tahun ....T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3....*) No (1) 1. Dst . Tabel.T-I. 2.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ....B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (2) Kecamatan . Dst ..59 Tabel..... Kabupaten/Kota . 2. 3.*) No 1..... Kota ..*) Uraian Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd 4..B.. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Untuk Provinsi: Tabel..... 1.. Provinsi . 5... No 1.

pelayanan sosial.... pengembangan ruang terbuka hijau dari luas kawasan perkotaan paling sedikit 30% (tiga puluh persen).. 4. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. dan kegiatan ekonomi. berbentuk jalur. yangditetapkan dengan kriteria: a. berbentuk satu hamparan. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1. Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tamping lingkungan.7... c.60 Tabel. atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur.1.1.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 2. Ruang terbuka hijau kota merupakan kawasan perlindungan. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Rasio rumah layak huni Rasio rumah layak huni adalah perbandingan jumlah rumah layak huni dengan jumlah penduduk.. dan didominasi komunitas tumbuhan. Dst .4.8. Indikator ini mengukur proporsi luas pemukiman yang layak huni terhadap keseluruhan luas pemukiman.1..5. Penataan Ruang 1. tempat tumbuh tanaman.000 jumlah penduduk.5. Rasio permukiman layak huni Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Rasio permukiman layak huni adalah perbandingan luas permukiman layak huni dengan luas wilayah permukiman secara keseluruhan. Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok....B.. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk adalah jumlah daya tampung tempat pembuangan sampah per 1. 3. Kecamatan ..100 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun . baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam..1. Kabupaten/Kota .*) No (1) Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) (3) TPS Jumlah (unit) (4) Jumlah Daya Tampung (Ton) (5) Rasio (6=5/3) (2) 1..4.. Kecamatan . Lahan dengan luas paling sedikit 2.. b. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.1. 2. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 000 1. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. .T-I.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi.

3. mengurangi..d ... Kabupaten/Kota .. Kabupaten (2) Luas Wilayah Luas Wilayah ber HPL/HGB Luas Ruang Terbuka Hijau Rasio Ruang Terbuka Hijau (3) (4) (5) (6=5/4) Kabupaten .. Luas wilayah ber HPL/HGB 3. Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Izin mendirikan bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh Pemerintah kabupaten/kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru. yang . Rasio Ruang Terbuka Hijau (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) No (1) Kecamatan (2) Luas Wilayah Luas wilayah ber HPL/HGB Luas Ruang Terbuka Hijau Rasio Ruang Terbuka Hijau (3) (4) (5) (6=5/4) 1.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Provinsi ..B.*) No Uraian 1.. Kecamatan ..5.T-I. memperluas. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Luas wilayah 4. Dst ......T-I..102 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota Tahun .1. 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Kabupaten . Luas Ruang Terbuka Hijau 2...T-I. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Kabupaten/Kota .. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya.d .....*) No Uraian 1.....B.. 3. mengubah..61 Untuk Provinsi: Tabel. Kecamatan .103 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Tahun ......T-I..B... 5. Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio Ruang Terbuka Hijau (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 2... Dst .. Luas wilayah ber HPL/HGB 3.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.101 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Tahun ........ Luas Ruang Terbuka Hijau 2. dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi ...... s... Kota .. 1.. sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau di dalam tanah dan/atau air..104 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kecamatan Tahun .*) No (1) 1...2.. Luas wilayah 4. 4. s.

kegiatan keagamaan. 2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.d ... Untuk Provinsi: Tabel..T-I.... 2.. baik untuk hunian atau tempat tinggal..T-I.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten/Kota .. 3.... Provinsi . Untuk kabupaten/kota: Tabel. 5...B..105 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Tahun ..62 berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. 3.. Rasio bangunan ber-IMB (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi .. Kabupaten/Kota .*) No (1) Kecamatan (2) Jumlah Bangunan (3) Jumlah Bangunan berIMB (4) Rasio bangunan berIMB (5=4/3) Kecamatan . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Dst . budaya. Jumlah Bangunan 3. 1.. 2..B.. maupun kegiatan khusus...T-I.. 4. Kabupaten ...B. . 1..d .. Kota .T-I. kegiatan sosial....... Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Bangunan ber-IMB Jumlah Bangunan Rasio bangunan ber-IMB (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...*) No Uraian 1... s..*) No (1) Kabupaten (2) Jumlah Bangunan Jumlah Bangunan ber-IMB Rasio bangunan ber-IMB (3) (4) (5=4/3) Kabupaten ....... s. Tabel.. Jumlah Bangunan ber-IMB 2. Kecamatan . Dst ..... kegiatan usaha.. Dst ..106 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Menurut Kabupaten/Kota Tahun ...B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.......*) No 1. 3...107 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Tahun .108 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan Tahun .. Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan adalah perbandingan jumlah bangunan ber-IMB terhadap jumlah seluruh bangunan yang ada.

... Dst .6. 4.... Dst ... Kecamatan . 4...T-I... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 2.T-I..T-I......... Kabupaten/Kota .. Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Jumlah arus penumpang angkutan umum Untuk Provinsi: Tabel.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 5. 3....109 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun . s. Tabel. Tabel...1..d .*) No 1.110 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. 4. 2.... Kota . Kabupaten/kota (2) Jumlah penumpang Bis (3) Kereta api (4) Kapal laut (5) Pesawat udara (6) Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) Kabupaten . 3.. 2.*) No (1) 1. Kecamatan (2) Bis (3) Kereta Api (4) Kapal Laut (5) Pesawat Udara (6) Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) Kecamatan ..*) No 1.111 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun .B..63 2.112 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun .B. s.1.1....*) Jumlah penumpang No (1) 1... Provinsi .B....... 3.B...T-I.. 3. Kabupaten .. 5. Kabupaten/Kota . 2.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst .. Untuk kabupaten/kota: Tabel... 5.. . Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d .6. Perhubungan 1.. Provinsi ..

.*) No (1) 1.... 2.113 Rasio Ijin Trayek Tahun ..lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. jaringan trayek lintas batas negara.. jaringan trayek antarkota antarprovinsi. Tabel.. jaringan trayek antarkota dalam provinsi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1.. b. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... 5.. 3..*) No 1.. Uraian Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 2. Kabupaten/kota (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah Izin Trayek antarkota antar provinsi (4) Perkotaan (5) perdesaan (6) Total Jumlah Izin Trayek (7=4+5+6) Rasio Izin Trayek (8=7/3) Kabupaten . Kabupaten .B..114 Rasio Ijin Trayek Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 3.. Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 4. Dst ..... Jaringan trayek terdiri atas: a.. e.. 2.. Provinsi .. c. jaringan trayek perkotaan... Kota .B. 4.... s..115 Rasio Ijin Trayek Tahun .. Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Untuk Provinsi: Tabel.. dan jaringan trayek perdesaan.6.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Provinsi ...2.. Uraian Izin Trayek antarkota antarprovinsi Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. d...T-I.. Rasio ijin trayek Izin Trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/ atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek. Kabupaten/Kota . 4. 5..64 1. 5..B.d . . 6.. yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap. s.T-I... 3.*) No 1.T-I... Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus.d ..

.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi .B.*) No (1) 1.6... Kecamatan..... Pengujian dimaksud meliputi: a. ..1.. Provinsi .*) No 1.. mobil barang. Kabupaten . baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.B. Dst ..116 Rasio Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kota . 3. 4.. dan kereta tempelan yang dioperasikan di Jalan.T-I. 2. uji tipe yaitu pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Bermotor dalam keadaan lengkap dan penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor yang dilakukan terhadap rumahrumah.....3.T-I. meliputi pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dan pengesahan hasil uji.. Jumlah uji kir angkutan umum Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor..B. 2.117 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun . Untuk Provinsi: (n-5) Jmlh Jmlh KIR % Jmlh (n-4) Jmlh KIR % Jmlh (n-3) Jmlh KIR % Jmlh (n-2) Jmlh KIR % Jmlh (n-1)**) Jmlh KIR % Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. kereta gandengan.65 Tabel. Dst .. Menurut Kabupaten/Kota Tahun .T-I.. dan Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi tipenya. Kabupaten/Kota .. 3. 5. bak muatan. 4.. mobil bus. Tabel.... Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Izin Trayek Perkotaan Perdesaan (4) (5) Total Jumlah Izin Trayek (7=4+5+6) Rasio Izin Trayek (8=7/3) Kecamatan.*) No Angkutan Umum Mobil penumpang umum Jmlh Jmlh KIR (3) (4) Mobil bus Jmlh Jmlh KIR (6) (7) Mobil barang % Jmlh Jmlh KIR (9) (10) Kereta gandengan % Jmlh (12) Kereta tempelan Jmlh Jmlh KIR (15) (16) % (5=4/3) Jmlh KIR (13) % (14=13/12) % Jmlh Angkutan Jmlh KIR % (1) (2) (8=7/6) (11=10/9) (17=16/15) (18) (19) (20=19/18) 1... Angkutan Umum Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Kereta gandengan Kereta tempelan b.. kereta tempelan. uji berkala yaitu diwajibkan untuk mobil penumpang umum.d . 2.... kereta gandengan... Tabel... Dst .. 5. 3.118 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Selama 1 (satu) Tahun.. Kabupaten .... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s. 1.

Provinsi.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3..... 1.. perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.d . 3. Kabupaten/Kota .*) No (1) Angkutan Umum (2) Mobil penumpang umum Jmlh Jmlh KIR (3) (4) Mobil bus Jmlh Jmlh KIR (6) (7) Mobil barang % Jmlh Jmlh KIR (9) (10) Kereta gandengan % Jmlh (12) Kereta tempelan Jmlh Jmlh KIR (15) (16) % (5=4/3) Jmlh KIR (13) % (14=13/12) % (17=16/15) Jmlh Jmlh Angkutan KIR (18) (19) % (20=19/18) (8=7/6) (11=10/9) 1. Dst ... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.....B.T-I. 2. Kabupaten/kota Pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara terminal bis Kabupaten .....B. 4.T-I.. 2.... 2.4.T-I.. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Angkutan Umum Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Kereta gandengan Kereta tempelan (n-5) Jmlh Jmlh KIR % (n-4) Jmlh Jmlh KIR % (n-3) Jmlh Jmlh KIR % (n-2) Jmlh Jmlh KIR % Jmlh (n-1)**) Jmlh KIR % Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Dst ....6...B... s. Kota .d .B. 5.*) No 1.. 2. danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. 3.. Dst . Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang.*) Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 4. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.119 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun ..1.. Provinsi. No 1...122 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun . sungai. Kecamatan...T-I....121 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s... Kabupaten/Kota . Kecamatan... ..*) No 1..120 Jumlah uji kir angkutan umum selama 1 (satu) tahun Menurut Kecamatan Tahun . 3.66 Untuk kabupaten/kota: Tabel... Untuk Provinsi: Tabel. Pelabuhan Udara/bandara bisa diartikan sebagai sebuah fasilitas untuk menerima pesawat dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Tabel.

2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2.undang di Indonesia......B. Penanaman Modal 2.. 3.d . dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanaman modal tersebut.1...T-I. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi investor PMDN/PMA dihitung dengan menjumlahkan jumlah realisasi nilai proyek investasi berupa PMDN dan nilai proyek investasi PMA yang telah disetujui oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).123 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun ..*) Tahun Persetujuan JumlahProyek Nilai Investasi JumlahProyek Realisasi Nilai Investasi n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.2.. Penanaman modal asing (PMA) merupakan penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan perundang .2.*) Tahun Uraian (1) (2) n-5 Jumlah Investor n-4 Jumlah Investor n-3 Jumlah Investor n-2 Jumlah Investor n-1 Jumlah Investor *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) Semakin banyak jumlah investor maka akan semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah..... Jumlah investor PMDN/PMA dihitung dengan menjumlahkan banyaknya investor PMDN berskala nasional dengan banyaknya investor PMA berskala nasional yang aktif berinvestasi di daerah dan pada suatu periode tahun pengamatan.67 Untuk kabupaten/kota: Tabel. s.. Fokus Layanan Urusan Pilihan 2.. Banyaknya investasi PMDN berskala nasional dengan banyaknya investasi PMA berskala nasional dihitung dari total nilai proyek yang telah terealisasi pada suatu periode tahun pengamatan.T-I. Untuk menghitung jumlah investor PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten/Kota .2..1.. Provinsi/Kabupaten/Kota.T-I.B. No 1.d ... .*) Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...12.124 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun .d . Untuk menghitung nilai PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel...B. Provinsi/Kabupaten/Kota. 2.. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Penanaman modal dalam negeri (PMDN) adalah penggunaan modal dalam negeri bagi usaha-usaha yang mendorong pembangunan ekonomi pada umumnya...125 Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun .. s.12.. 2. s..

2.2.B.... Koperasi Aktif adalah koperasi yang dalam dua tahun terakhir mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) atau koperasi yang dalam tahun terakhir melakukan kegiatan usaha. Menghitung Rasio daya serap tenaga kerja digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel.*) Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN 2 Jumlah seluruh PMA/PMDN 3 Rasio daya serap tenaga kerja *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..12..126 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun . Kabupaten/Kota...2.. Jumlah seluruh PMA/PMDN dihitung dari banyaknya proyek investasi yang terealisasi di daerah pada suatu tahun berdasarkan data BKPM.1.2. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) 2.. Persentase koperasi aktif Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan. Jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMA/PMDN dihitung dari banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada investasi PMA/PMDN yang terealisasi pada suatu tahun. 2. Rasio daya serap tenaga kerja Rasio daya serap tenaga kerja adalah perbandingan antara jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN..68 Semakin banyak nilai realisasi investasi maka akan semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah...12.. Menghitung persentase koperasi aktif digunakan rumus sebagai berikut: 00 Tabel..*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Semakin banyak realisasi proyek maka akan menggambarkan keberhasilan daerah dalam memberi fasilitas penunjang pada investor untuk merealisasikan investasi yang telah direncanakan. 2.3.d .. NO 1 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Semakin besar rasio daya serap tenaga kerja pada PMA dan PMDN akan mencerminkan besarnya daya tampung proyek investasi PMA/PMDN untuk menyerap tenaga kerja di suatu daerah.T-I.B... . Provinsi/Kabupaten/Kota.127 Persentase Koperasi Aktif Tahun .. s.T-I..d ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.

Kabupaten/Kota. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2 3 Jumlah Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Total Persentase koperasi aktif *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM 2 Kabupaten.. Total Provinsi Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...12...69 Tabel. Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif Kabupaten.*) NO 1 Kabupaten/kota Kabupaten ....T-I.d ...T-I. dikuasai......2..B. s.... s. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I. ...*) NO Uraian 1 Jumlah seluruh UKM 2 Jumlah BPR/LKM 3 Jumlah UKM non BPR/LKM *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Tabel..*) NO 1 Kabupaten/kota (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kabupaten . Provinsi..128 Persentase Koperasi Aktif Tahun . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.B. Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif Dst. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan Menghitung jumlah UKM non BPR/LKM UKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut... s. dst. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri.. dikuasai..d .. dst.d ..130 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.129 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun . yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki. Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM 3 Dst.. Provinsi. Jumlah UKM non BPR/LKMUKM Usaha kecil adalah peluang usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri... Semakin besar jumlah persentase ini maka akan semakin besar pelayanan penunjang yang dimiliki daerah dalam menggerakkan perekonomian melalui koperasi... 2.2..B..

B.3...12.2. yang dicerminkan dalam jumlah bayi yang dilahirkan hidup.132 Jumlah UKM BPR/LKM tahun . 2) Migrasi keluar (emigrasi) adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah. 2..d . LKM memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan berbagai jasa keuangan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil.T-I.. pembayaran sebagai transaksi jasa (payment service) serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil.. dst. Menghitung Jumlah BPR/LKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut. s.. Komponen pertumbuhan penduduk: a. Kependudukan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran.B.. 2. Migrasi masuk (imigrasi) adalah masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan b. Kota. Faktor pengurang 1) Kematian (mortalitas) adalah keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.....1.2.2. Semakin banyak jumlah BPR/LKM akan menunjukkan semakin besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah dalam mendukung pendanaan UKM melalui BPR/LKM. 2. kredit (loan). Tabel.... yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. ..*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah BPR Jumlah LKM Jumlah BPR dan LKM (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.70 Semakin banyak jumlah UKM non BPR/LKM akan menunjukkan semakin besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah dalam meningkatkan ekonomi daerah melalui UKM..131 Jumlah BPR/LKM Tahun . Tabel. dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Pertumbuhan penduduk meningkat jika jumlah kelahiran dan perpindahan penduduk dari luar ke dalam lebih besar dari jumlah kematian dan perpindahan penduduk dari dalam keluar. tabungan. kematian dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun dari luar. Dst.T-I. Provinsi.... Pertumbuhan penduduk yang minus berarti jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah mengalami penurunan yang bisa disebabkan oleh banyak hal.*) NO 1 2 3 Kabupaten/kota Kabupaten ... s. Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu daerah dari waktu ke waktu.. Lembaga keuangan mikro (LKM) adalah lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan (deposits).. Kabupaten/Kota. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah BPR/LKM BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka.d .. Faktor penambah 1) 2) Kelahiran (fertilitas) adalah: kemampuan riil seorang wanita atau sekelompok untuk melahirkan..3.3.

Pertumbuhan eksponensial perhitungan ini sama dengan pertumbuhan Geometri tetapi pertambahan penduduk terjadi setiap saat mengikuti fungsi eksponensial.71 Rasio perpindahan peduduk pertahun dapat dihitung dengan rumus: 00 Rasio perpindahan penduduk masuk (imigrasi) dan keluar (emigrasi) dihitung dengan rumus: 00 00 Dinamika kependudukan adalah perubahan kependudukan untuk suatu daerah tertentu dari waktu ke waktu.. Pertumbuhan ini mengasumsikan adanya angka pertumbuhan jumlah penduduk yang sama dari tahun ke tahun Rumus : Pt = Po (1+r) Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode n = jumlah tahun dalam periode tersebut r = angka pertumbuhan geometris 3. Rumus: atau 0 Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode n = jumlah tahun dalam periode tersebut e = angka pertumbuhan eksponensial Perhitungan laju pertumbuhan penduduk didasarkan pada perhitungan: . Pertumbuhan Geometri. Pertumbuhan (linier). Ada 3 macam ukuran pertumbuhan penduduk: 1. Dirumuskan: ⁄ keterangan: r = angka perubahan linier Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode N = jumlah tahun dalam periode tersebut P = jumlah penduduk pada pertengahan periode 2. Rumus menghitung pertumbuhan penduduk : 0 0 Angka pertumbuhan penduduk (r) adalah: rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun pada periode\waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dengan persen. Perhitungan ini mengasumsikan adanya perubahan jumlah absolut penduduk yang sama dari satu tahun ketahun yang lain.

*) … No 1 2 3 Kabupaten/Kota … … … Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Dari data yang ada kemudian dapat dipersempit lagi dengan menghitung jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan berdasarkan umur.2..B. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) yaitu jumlah kematian pada tahun tertentu per 1000 penduduk: Rumus: 000 Keterangan: CDR = angka kematian kasar D = jumlah kematian pada tahun tertentu P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun itu 3. No Fertilitas/mortalitas 1 Angka kelahiran kasar (CBR) 2 Angka kematian kasar (CDR) 3 Angka kematian bayi (IMR) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Hasilnya dituangkan dalam tabel berikut: Tabel..3.133 Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi/ …… Tahun .. Dari rumusan tersebut dapat diketahui jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dalam satu wilayah. Angka ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan.2. Jumlah 2.B.1.. .T-I. Tabel.72 1.3.. Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian bayi berumur dibawah 1 tahun selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka Kelahiran Kasar (crude birth rate) yaitu jumlah kelahiran hidup per 1000 penduduk dalam suatu tahun tertentu Rumus: Keterangan: CBR = angka kelahiran kasar B = jumlah kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu D = jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama k = konstanta biasanya 1000 2. Rumus: 000 Keterangan: IMR = angka kematian bayi Do = jumlah kematian bayi selama 1 tahun B = jumlah kelahiran hidup dalam tahun yang sama Hasil perhitungan laju pertumbuhan penduduk dituangkan dalam tabel berikut..2. . . Pengelompokan Penduduk 2. Pengelompokan Penduduk Berdasar Jenis Kelamin dan umur Rasio jenis kelamin (sex rasio) adalah banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan ( (penduduk laki-laki) : (penduduk perempuan) x 100..T-I. sebagaimana terlihat dalam tabel berikut.134 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Provinsi.2.

. Provinsi…… Kelompok Umur (n-5) (n-4) 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.B. Kecamatan … … dst Jumlah Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 2.73 Tabel. 3.. Tahun. Provinsi…… Kelompok (n-5) (n-4) Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. …… 1. Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis kelamin .T-I..136 Proyeksi Penduduk Perempuan Berdasarkan Umur …. (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel..T-I..137 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan Tahun.B.135 Proyeksi Penduduk Laki-Laki Berdasarkan Umur … Tahun. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.T-I........B.

Rasio penduduk ber-KTP adalah perbandingan jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas yang ber-KTP terhadap jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas atau telah menikah.T-I. dapat dihitung berdasarkan kepemilikan KTP.2... Tabel.3.... dispesifikasikan lagi berdasarkan jenis kelamin sebagaimana tampak pada tabel berikut.. Selanjutnya dari data yang ada.B.. Pengelompokan Penduduk Berdasar tingkat pendidikan Selain berdasarkan jenis kelamin.2. yaitu persebaran penduduk berdasarkan provinsi..B.2. Provinsi. … … No 1 2 3 4 5 Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Jumlah Prosentase (%) Tidak punya ijazah SD SD/MI sederajat SMP SMA Perguruan tinggi Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. penduduk juga dapat dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan... Akte lahir dan Akte Nikah.*) Tingkat Pendidikan No 1 2 3 Kabupaten/Kota SD/MI SMP SMA Perguruan Tinggi Tidak Sekolah Jumlah …. Provinsi.3.139 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun. daerah istimewa. kabupaten. Untuk mendapatkan data penduduk yang sudah terdaftar dalam catatan sipil.. Kabupaten/kota .74 2. Tabel berikut dapat digunakan untuk menghitung persebaran penduduk provinsi tertentu... untuk mengetahui prosentasenya.*) No 1 2 3 … Kabupaten/Kota … … Jumlah Penduduk Luas wilayah (km2) Kepadatan (%) Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..138 Sebaran Penduduk Menurut Luas wilayah dan Kepadatan Tahun. Pengelompokkan penduduk berdasarkan persebaran penduduk/geografis Persebaran penduduk dapat dihitung berdasarkan: 1..2. KK. persebaran administrative dan politis. Pengelompokan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan dapat menggunakan tabel berikut.. 2.. 2.140 Penduduk 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi Tahun . 00 Rasio penduduk ber-KK adalah perbandingan jumlah penduduk yang ber-KK terhadap jumlah penduduk yang telah menikah..B. persebaran geografis. Tabel.3.T-I... … Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..T-I... 00 . Tabel..2.. yaitu persebaran penduduk menurut pulau.

Tenaga kerja adalah jumlah seluruh penduduk dalam usia kerja dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa. selama dan sesudah masa kerja. Tabel. Guna mengetahui jumlah penduduk peserta KB pada suatu wilayah dapat dihitung dengan menggunakan rumusan berikut: Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000 pasangan usia subur pada tahun yang sama. Angkatan Kerja (labour force) Berdasarkan publikasi ILO (International Labour Organization)... Akte Nikah Tahun .. jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktifitas tersebut. Akte Lahir.*) No 1 2 3 Kabupaten/Kota … … … Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. kemudian dituangkan dalam tabel berikut. KK. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dicanangkan untuk mengetahui tingkat Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap KB. penduduk dapat dikelompokkan menjadi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah penduduk... Provinsi. Ketenagakerjaan Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum. Tabel. 00 Rasio pasangan berakte nikah adalah perbandingan jumlah pasangan nikah berakte nikah terhadap jumlah keseluruhan pasangan yang telah menikah. Tenaga kerja (man power) adalah penduduk dalam usia kerja (dalam literatur 15-64 tahun)...T-I... 00 Hasil perhitungan rasio diatas. PUS Jumlah Penduduk Peserta KB Peserta KB Tidak KB 2.75 Rasio bayi berakte kelahiran adalah perbandingan jumlah bayi lahir dalam 1 tahun yang berakte kelahiran terhadap jumlah bayi lahir pada tahun yang sama.2....*) No 1 2 Kabupaten/Kota Sdh Ka … Jumlah se-provinsi … KTP blm Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KK Akte lahir Sdh blm Sdh blm Sdh Akte nikah blm *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 00 Hasil perhitungan dituangkan dalam tabel berikut. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk...B. Di Indonesia dipakai batasan umur 10 tahun.1.4.2..142 Jumlah Penduduk Peserta KB Provinsi.T-I.141 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP. 2. salah satu caranya adalah melalui program KB.. Tenaga kerja dikatakan juga sebagai penduduk usia ..4..B.

atau kegiatan lainnya selain bekerja).2 Klasifikasi Penduduk Berdasar Ketenagakerjaan Penduduk Tenaga kerja Bukan tenaga kerja Bukan angkatan kerja Angkatan kerja Bekerja Tidak bekerja/sedang mencari kerja Angka yang sering digunakan untuk menyatakan jumlah angkatan kerja adalah TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja). Lainnya Jumlah penduduk bukan angkatan kerja (ii) Jumlah penduduk usia kerja (i) + (ii) 3 4 TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja) TPT (tingkat pengangguran terbuka) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.T-I. yang merupakan rasio antara angkatan kerja dan tenaga kerja. Provinsi/ … *) No 1 ANGKATAN KERJA a.76 kerja. Mengurus RT c. Tabel. tenaga kerja dibedakan menjadi: angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (penduduk yang sebagian besar kegiatannya adalah bersekolah. .. GAMBAR. G-A.. 5 5 00 Tingkat partisipasi umum yaitu jumlah angkatan kerja dibagi seluruh penduduk berumur 10 tahun keatas. bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja ataupun mencari kerja. Selanjutnya.. yaitu penduduk usia 15 tahun atau lebih.. Sekolah b.. Angkatan kerja merupakan bagian penduduk yang sedang bekerja dan siap masuk pasar kerja. Sedangkan. seiring dengan program wajib belajar 9 tahun. Pengangguran Jumlah penduduk angkatan kerja (i) 2 BUKAN ANGKATAN KERJA a..B. mengurus rumah tangga. Bekerja b.143 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Tahun. atau dapat dikatakan sebagai pekerja dan merupakan potensi penduduk yang akan masuk pasar kerja.

. … Pertanian Industri pengolahan Bangunan Perdaganga. Jumlah penduduk yang ada dalam suatu wilayah kemudian dikelompokan berdasarkan lapangan usaha yang ada. Restoran dan Hotel Angkutan. yaitu PDRB dengan jumlah pekerja..145 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun.144 Penduduk Angkatan Kerja kabupaten/kota… Provinsi.. Komunikasi Keuangan. Pergudangan.. Rasio dari kedua data tersebut menunjukkan produktivitas tenaga kerja..4..angka pengangguran) Tabel. Produktivitas Kerja Secara praktis. Data ini bisa didapat dari BPS sebagaimana dalam tabel berikut.B. Asuransi. Usaha Persewaan Lainnya Jasa (Pertambangan..2. Provinsi.. Jika yang tersedia adalah angka pengangguran.. Kesempatan Kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja).*) Golongan Umur (1) Angkatan Kerja Bekerja (2) Mencari Pekerjaan (3) Jumlah (4=2+3) 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.T-I.4... Kab/Kota.77 Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja.*) Lapangan Usaha No Kabupaten /Kota Kab/Kota.2. maka angka yang digunakan adalah = (1 .T-I....2.B...3. produktivitas pekerja dapat diukur menggunakan data nilai tambah suatu daerah... keterampilan dan bakatnya masing-masing. 2.. Kemasyarakatan Listrik. Kesempatan kerja Kesempatan kerja (permintaan atas tenaga kerja) merupakan peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian. 2. dan Air Minum) Jml 1 2 3 Total se provinsi . Tabel..

2.2. musiman) kurang dari yang mereka kerjakan. Pengangguran terbuka: baik sukarela (mereka yang tidak mau bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara terpaksa (mereka yang mau bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan) Setengah menganggur (underemployment): yaitu mereka yang bekerja lamanya (hari. sering kali dijumpai adanya sengketa antara pengusaha dan pekerja. Pengangguran Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Sajikan data persentase perempuan di lembaga pemerintah . 2. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.. Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Dalam rangka pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diperlukan akses seluas-luasnya terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan dalam rangka pemberdayaan untuk menuju kesetaraan gender. yaitu mereka yang mampu untuk bekerja secara produktif tetapi karena semberdaya-sumberdaya penolong kurang memadai sehingga mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu dengan baik. c.5. Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja. Lima bentuk pengangguran: a. dalam tabel sebagai berikut: . yaitu mereka yang mampu untuk bekerja full time tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakit. 2. termasuk disini adalah: 1) Pengangguran tidak kentara (disguised unemployment).78 Melihat jumlah lapangan kerja yang tersedia.1. besarnya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tenaga kerja yang tidak produktif.2. e. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Pekerja perempuan di lembaga pemerintahan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan persentase perempuan yang menempati posisi Eselon I – IV. misalnya para petani yang bekerja di ladang selama sehari penuh. Tenaga kerja yang lemah (impaired). misalnya orang yang bekerja tidak sesuai dengan tingkat atau jenis pendidikannya.5. Tampaknya bekerja tetapi tidak bekerja secara penuh. Untuk mengetahui peran aktif perempuan dapat diukur dari partisipasi perempuan di lembaga pemerintah maupun swasta. Pensiun lebih awal b. padahal pekerjaan itu sebenarnya tidak memerlukan waktu sehari penuh. Tingkat sengketa antara pengusaha dan pekerja per tahun dihitung dengan rumusan: 2. yaitu mereka yang tidak digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah menganggur.4. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan. Pengangguran tersembunyi (hidden unemployment).4. 2) 3) d. minggu.

.146 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun ....... 2.2..*) NO 1 2 3 4 Kabupaten/kota Jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah Kabupaten ..5. NO 1 2 3 4 5 6 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.....d .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.....T-I...*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah pekerja perempuan di lembaga swasta (3) Jumlah pekerja perempuan (4) Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta (5=3/4) Kabupaten .. Menurut Kabupaten/Kota/Provinsi . Dst ..... 1 2 3 4 .2..... s....149 Persentase Pekerja Perempuan di Lembaga Swasta Tahun . dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.*) Uraian Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon II Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon III Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon IV Pekerja perempuan di pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Partisipasi perempuan di lembaga swasta Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga swasta terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan.......79 Untuk Provinsi: Tabel.. Provinsi ......B....d ..T-I.147 Persentase Pekerja Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun ... Kota . Kabupaten . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Dst ..T-I...... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Menurut Kabupaten/Kota Provinsi .*) NO Uraian 1 Jumlah perempuan yang bekerja di lembaga swasta 2 Jumlah pekerja perempuan 3 Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...B..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.148 Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Tahun . Provinsi .T-I.... Kota . Kabupaten .B. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan data persentase perempuan di lembaga swasta .B.

atau luka berat Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. Hal ini mengindikasikan masih belum ada perlindungan anak. hilangnya kemampuan untuk bertindak. (II) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.... dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan data rasio KDRT..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah KDRT (3) Jumlah rumah tangga (4) Rasio KDRT (5=3/4) Kabupaten . 5 5 00 . Penelantaran rumah tangga dimana setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. s.. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.B...151 Rasio KDRT Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. jatuh sakit.000 rumah tangga.T-I..5... Provinsi . Dst ..T-I.. 1 2 3 4 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kota . rasa tidak berdaya. seksual.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.5.2. Kekerasan fisik. Penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. Menurut Kabupaten/Kota Provinsi . yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik.. hilangnya rasa percaya diri... d. Jenis kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya.B. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan..2. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan.. atau pemeliharaan kepada orang tersebut.80 2. Kabupaten . psikologis.4. meliputi: a.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.... Anak dianggap masih memiliki nilai ekonomi dan seringkali anak dieksploitasi. Kekerasan seksual meliputi : (I) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut... pemaksaan. adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga... Rasio KDRT adalah jumlah KDRT yang dilaporkan dalam periode 1 (satu) tahun per 1. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang...3.150 Rasio KDRT Tahun . perawatan.*) NO Uraian 1 Jumlah KDRT 2 Jumlah Rumah Tangga 3 Rasio KDRT *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. b..... c.d ... Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Persentase tenaga kerja di bawah umur adalah proporsi pekerja anak usia 5-14 tahun terhadap jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas.

B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 1 2 3 . Dst .81 Sajikan data persentase tenaga kerja di bawah umur....6..T-I........ 2....*) Uraian Pekerja anak usia 5-14 tahun Jumlah pekerja usia 5 tahun keatas Persentase jumlah tenaga kerja 3 dibawah umur *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.....2........ Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Anak (3) Jumlah Keluarga (4) Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga (5=3/4) Kabupaten .B.*) NO (1) 1 2 3 4 Kabupaten/kota Pekerja Anak Usia 5-14 Tahun (3) Jumlah Pekerja Usia 5 Tahun Keatas (4) Persentase Jumlah Tenaga Kerja dibawah Umur (5=3/4) (2) Kabupaten ..153 Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur. NO 1 2 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.B...... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..... Provinsi ..154 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Tahun .T-I... Kota .155 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Menurut Kabupaten/Kota Tahun.. Rata-rata jumlah anak per keluarga adalah jumlah anak dibagi dengan jumlah keluarga... Keluarga Berencana (KB) Dan Keluarga Sejahtera (KS) Rata-rata jumlah anak per keluarga Salah satu indikator keberhasilan keluarga berencana adalah penurunan rata-rata jumlah anak per keluarga.. s...... s.. Sajikan data rata-rata jumlah anak perkeluarga.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.152 Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur Tahun .1. Dst .6.. Provinsi ..d . dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... Menurut Kabupaten/Kota Tahun.*) NO Uraian 1 Jumlah anak 2 Jumlah keluarga 3 Rata-rata jumlah anak per keluarga *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....T-I.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.2..d ... Provinsi .. Kabupaten ..T-I. 2. Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Provinsi ..

T-I. Kota ....... Rasio akseptor KB Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000 pasangan usia subur pada tahun yang sama.T-I....6. 2. Provinsi/Kabupaten/Kota.... Provinsi . Untuk menghitung jaringan komunikasi dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. ...158 Jaringan Komunikasi Tahun . Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah penduduk.2...... beberapa operator dapat menggunakan hanya satu (1) jaringan telekomunikasi di wilayah pemerintah daerah.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.d . 2.82 2.156 Rasio Akseptor KB Tahun ... Jaringan komunikasi dihitung dari banyaknya jaringan komunikasi yang berada dalam wilayah suatu pemerintah daerah. Komunikasi Dan Informasi Jumlah jaringan komunikasi Jumlah jaringan komunikasi adalah banyaknya jaringan komunikasi baik telepon genggam maupun stasioner.2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.B.... Kabupaten . Provinsi .157 Rasio Akseptor KB Menurut Kabupaten/Kota Tahun.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah akseptor KB (3) Jumlah pasangan usia subur (4) Rasio akseptor KB (5=3/4) 1 2 3 4 Kabupaten ....7.7. 00 Sajikan data rasio akseptor KB..2..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) NO 1 2 Uraian Jumlah jaringan telepon genggam Jumlah jaringan telepon stasioner Tahun n-5 Tahun n-1 3 Total jaringan Komunikasi (1+2) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s.2. s....d ..1. Semakin banyak jumlah jaringan komunikasi maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah..*) NO Uraian 1 Jumlah akseptor KB 2 Jumlah pasangan usia subur 3 Rasio akseptor KB *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...T-I. Dst .B... dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Sebuah operator jasa telekomunikasi dapat memiliki satu (1) jaringan dan sebaliknya.B...

d .2. Dst . 2... feature... 3...*) NO (1) Kecamatan (2) Jmlh Pddk (3) Jumlah wartel (4) Tahun n-5 Jumlah Rasio warnet wartel (5) (6=4/3) Rasio warnet (7=5/3) Jmlh Pddk (8) Jumlah wartel (9) Tahun n-1 Jumlah Rasio warnet wartel (10) Rasio Warnet (11=9/8) (12=10/8) 1.. dst.3...T-I. 2... Kabupaten . Semakin besar rasio wartel/warnet per 1000 penduduk akan menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan internet dan fasilitas jaringan komunikasi data sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. cerita rekaan (fiksi).. Kabupaten/Kota.000 penduduk. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Warnet atau warung internet adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan internet kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan.. 3. Menghitung ketersediaan wartel/warnet per 1.160 Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Tahun .. dan bentuk karangan yang lain. Jumlah surat kabar nasional/lokal adalah banyaknya jenis surat kabar terbitan nasional atau terbitan lokal yang masuk ke daerah.. Kota . Jumlah surat kabar nasional/lokal Surat kabar merupakan komunikasi massa yang diterbitkan secara berkala dan bersenyawa dengan kemajuan teknologi pada masanya dalam menyajikan tulisan berupa berita. 5...2.*) Tahun n-5 NO (1) Tahun n-1 Rasio wartel (6=4/3) Rasio warnet (7=5/3) Jumlah Jmlh Pddk wartel (8) (9) Jumlah warnet (10) Rasio wartel (11=9/8) Rasio Warnet (12=10/8) Kabupaten/kota (2) Jumlah Jmlh Pddk wartel (3) (4) Jumlah warnet (5) 1.B.. s... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..159 Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Tahun .7. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Rasio wartel/warnet atau rasio ketersediaan wartel/warnet adalah jumlah wartel/warnet per 1. Kabupaten .. Dst ..2.. Kecamatan.83 2. pendapat.T-I.... 4..B.. Untuk menghitung surat kabar terbitan nasional atau lokal dapat disusun tabel sebagai berikut: .. 2..000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..... Kecamatan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.7. s..d . Wartel atau warung telekomunikasi adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan telekomunikasi kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan. Provinsi.

Hak Pengelolaan Lahan (HPL) adalah hak untuk mengelola lahan yang hanya diberikan atas tanah negara yang dikuasai oleh Badan Pemerintah. dengan jangka waktu paling lama 30 tahun. Indikator pertanahan ini bertujuan untuk mengetahui tertib administrasi sebagai kepastian dalam kepemilikan.T-I. perikanan dan peternakan. s.9. Menghitung prosentase luas lahan bersertifikat digunakan rumus sebagai berikut: 0 .B.. Tidak mengenai tanah pertanian. oleh karena itu dapat diberikan atas tanah yang dikuasai langsung oleh negara maupun tanah milik seseorang. HM. Hak Guna Usaha merupakan hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna perusahaan.B.. Sifat-sifat hak milik yang membedakannya dengan hak.. hak miliklah yang paling kuat dan penuh.... -hak atas tanah yang dipunyai orang. 2..84 Tabel. HPL) terhadap luas wilayah daratan. Hak Guna Usaha (HGU) adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu paling lama 25 tahun..d .. BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ... HGU..T-I..2.*) NO 1 2 3 4 5 Jumlah penyiaran radio lokal Jumlah penyiaran radio nasional Jumlah penyiaran TV lokal Jumlah penyiaran TV nasional Total penyiaran radio/TV lokal (1+2+3+4) Uraian Tahun n-5 Tahun n-1 Semakin banyak jumlah penyiaran radio/TV baik di daerah maupun nasional di daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa berupa media elektronik sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. 2.. Hak Milik (HM) merupakan hak turun-menurun. s.7.bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri.1..161 Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun .. Untuk menghitung jumlah penyiaran radio/TV lokal dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.d .8.. 2. Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan. pertanian. terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat Prosentase luas lahan bersertifikat adalah proporsi jumlah luas lahan bersertifikat (HGB..*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah jenis surat kabar terbitan nasional Jumlah jenis surat kabar terbitan lokal Total jenis surat kabar (1+2) Tahun n-5 Tahun n-1 Semakin banyak jumlah jenis surat kabar terbitan nasional/lokal di daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa berupa media cetak sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Provinsi/Kabupaten/Kota.162 Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Tahun .2..4...hak lainnya adalah hak yang “ ”. Jumlah penyiaran radio/TV lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal adalah banyaknya penyiaran radio/TV nasional maupun radio/TV lokal yang masuk daerah.2. Provinsi /Kabupaten/Kota.

T-I. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Prosentase luas lahan bersertifikat menggambarkan tingkat ketertiban administrasi kepemilikan tanah di daerah.. Dst. 9... Total luas wilayah 5.. 7. Prosentase total luas lahan bersertifikat *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..165 Luas Lahan Bersertifikat Tahun . Luas wilayah daratan Luas tanah bersertifikat HGB Luas tanah bersertifikat HGU Luas tanah bersertifikat HM Luas tanah bersertifikat HPL Total luas tanah bersertifikat Prosentase HGB dibanding luas daratan Prosentase HGU dibanding luas daratan Prosentase HM dibanding luas daratan Prosentase HGPL dibanding luas daratan Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 11. Untuk kabupaten/kota: Tabel..B.*) NO 1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.... 3.d . 4.*) NO 1. 2. 6. Jumlah Total luas wilayah (n-5) HGB HGU HM HPL HGB (n-4) HGU HM HPL HGB (n-3) HGU HM HPL HGB (n-2) HGU HM HPL HGB (n-1)**) HGU HM HPL *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. S.T-I. Tabel.d . Dst. 5. 4.. Kota. Kota. Jumlah (n-5) HGB HGU HM HPL HGB (n-4) HGU HM HPL HGB (n-3) HGU HM HPL HGB (n-2) HGU HM HPL HGB (n-1)**) HGU HM HPL 1.. Provinsi.164 Prosentase (%) Luas Lahan Bersertifikat Tahun .85 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. 4.. 3.B.. ..d ...B.. Kabupaten/Kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 10.... 5... 3..*) NO Kabupaten/kota Kabupaten. Semakin besar prosentase luas lahan bersertifikat menggambarkan semakin besar tingkat ketertiban administrasi kepemilikan lahan di suatu daerah. Provinsi.. Kabupaten/kota Kabupaten. 2....163 Luas Lahan (m2) Berdasar Sertifikat Tahun .. 8.. s..

...B. Besarnya rata-rata jumlah kelompok binaan LPM juga menunjukkan besarnya pelayanan penunjang yang dapat diciptakan oleh pemerintah daerah dalam pemberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui pembentukan LPM... Rata-rata jumlah kelompok binaan LPM adalah banyaknya kelompok binaan LPM dalam 1 (satu) tahun dibagi dengan jumlah LPM.. Kecamatan ..167 Kelompok Binaan LPM Tahun ..T-I. 2. Semakin besar rata-rata jumlah kelompok binaan LPM maka menggambarkan keaktifan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui LPM. 3.. Jumlah se-Kab/Kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.....*) (n-5) NO Kabupaten/ Kota (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Rata-rata Jumlah Kelompok Jumlah LPM Binaan LPM (15) (16) (17=16/15) Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah LPM LPM LPM LPM Binaan LPM Binaan LPM Binaan LPM Binaan LPM (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=7/6) (9) (10) (11=10/9) (12) (13) (14=13/12) (1) (2) 1.... 3.. 4. Kabupaten .. Menghitung rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) digunakan rumus sebagai berikut: Kelompok binaan LPM adalah kelompok masyarakat yang dibina oleh LPM sebagai mitra pemerintah desa atau kelurahan dalam mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan... Kecamatan .2.166 Kelompok Binaan LPM Tahun . Kabupaten .. Provinsi ....d .. s. Dst .B.T-I. Pemberdayaan masyarakat dan desa Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) adalah lembaga atau wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintah Desa atau Kelurahan dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dibidang pembangunan.. .d . Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 2. s... Dst .*) NO (1) Kecamatan (2) (n-5) Jumlah LPM (3) Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah LPM (5=4/3) Jumlah LPM (6) Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah LPM (8=7/6) Jumlah LPM (9) Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah LPM (11=10/9) Jumlah LPM (12) Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah LPM (14=13/12) Jumlah LPM (15) Jumlah Kelompok Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) Binaan (16) Rata-rata Jumlah LPM (17=16/15) 1.9.... Dst . 1.. 2. Kabupaten/Kota ..86 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Untuk kabupaten/kota: Tabel. Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kota . 4...

Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...T-I. Menghitung rata-rata jumlah kelompok binaan PKK digunakan rumus sebagai berikut: Kelompok binaan PKK adalah kelompok-kelompok masyarakat yang berada di bawah Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan.2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. yang dapat dibentuk berdasarkan kewilayahan atau kegiatan seperti kelompok dasawisma dan kelompok sejenis. 2. 3. Tim Penggerak PKK adalah mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. oleh dan untuk masyarakat menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.T-I.. perorangan...... Berakhlak mulia dan berbudi luhur. pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK. Dst . Kabupaten/Kota .169 Kelompok Binaan PKK Tahun .... Tim penggerak PKK beranggotakan warga masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Kabupaten . 4.... Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kecamatan . Provinsi ... s. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kecamatan . s.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) (n-5) Jumlah PKK (3) Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah PKK (5=4/3) Jumlah PKK (6) Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah PKK (8=7/6) Jumlah PKK (9) J Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah PKK (11=10/9) Jumlah PKK (12) Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah PKK (14=13/12) Jumlah Jumlah Kelompok PKK Binaan (15) (16) Rata-rata Jumlah PKK (17=16/15) Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) 1. dan berfungsi sebagai perencana. 2. Besarnya rata-rata jumlah kelompok .. pelaksana pengendali Gerakan PKK. 1..d ..1.. Kabupaten . Dst . golongan partai politik. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga selanjutnya di singkat PKK.d .... maju dan mandiri. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK adalah banyaknya kelompok binaan PKK dalam 1 (satu) tahun dibagi dengan jumlah PKK.*) (n-5) NO Kecamatan Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah PKK (5=4/3) Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah PKK (8=7/6) Jumlah PKK J Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah PKK (11=10/9) Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah PKK (14=13/12) Jumlah PKK Jumlah Kelompok Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) Binaan (16) Rata-rata Jumlah PKK (17=16/15) (1) (2) (3) (6) (9) (12) (15) 1. Dst .. 3.. 4. Untuk menghitung Jumlah PKK maka dihitung dari jumlah tim penggerak PKK dalam lingkup wilayah pemerintah daerah. pelaksana..... kesejahteraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan. 2.. bersifat sukarela. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... tidak mewakili organisasi.87 2. sehat sejahtera. lembaga atau instansi. yang berfungsi sebagai fasilitator.168 Kelompok Binaan PKK Tahun ... Semakin besar rata-rata jumlah kelompok binaan PKK maka menggambarkan keaktifan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui PKK.B. Jumlah se-Kab/Kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kota ..B..10. adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaanya dari. perencana..

Untuk menghitung jumlah perpustakaan dapat disusun tabel sebagai berikut: .10.... Jumlah LSM yang aktif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah Organisasi/Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warga Negara Republik Indonesia secara sukarela atas kehendak sendiri dan berminat serta bergerak dibidang kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh organisasi/lembaga sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten . Kota . Provinsi . Perpustakaan 2..2.. Dst . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Besarnya jumlah LSM aktif akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah sebagai upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat daerah.... Provinsi /Kabupaten/Kota..88 binaan PKK juga menunjukkan besarnya pelayanan penunjang yang dapat diciptakan oleh pemerintah daerah dalam pemberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui PKK... 4....T-I.1.d . Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang bertugas mengumpulkan.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) (n-5) Aktif (3) Tidak Aktif (4) Terdaftar (5=3+4) Aktif (6) (n-4) Tidak Aktif (7) Terdaftar (8=6+7) Aktif (9) (n-3) Tidak Aktif (10) Terdaftar (11=9+10) Aktif (12) (n-2) Tidak Aktif (13) Terdaftar (14=12+13) Aktif (15) (n-1)**) Tidak Aktif (16) Terdaftar (17=15+16) 1..... Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah LSM aktif (1-2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.10.171 Jumlah LSM aktif Tahun . yang menitik beratkan kepada pengabdian secara swadaya.B.170 Jumlah LSM Tahun ...B.. mengatur dan menyajikan bahan pustakanya untuk masyarakat umum. Untuk kabupaten/kota: Tabel. 2. Dst .2...d ..10. Jumlah perpustakaan dihitung berdasarkan jumlah perpustakaan umum yang dapat diakses secara langsung oleh masyarakat yang beroperasi di wilayah pemerintah daerah.. yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pendidikan..T-I. yang disusun menurut sistim tertentu.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah LSM dihitung berdasarkan jumlah LSM aktif dalam satu (1) tahun. 2. 5. menyimpan. Jumlah perpustakaan Perpustakaan adalah suatu wadah atau tempat di mana didalamnya terdapat bahan pustaka untuk masyarakat. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2. Untuk menghitung LSM yang aktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. 2.. Jumlah LSM terdaftar 2. Jumlah LSM tidak aktif 3.*) NO Uraian 1.2. s. Besarnya jumlah LSM aktif juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pembangunan daerah. s.

.B..d ...... s.. Dst . Provinsi .*) NO (1) 1..174 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun .*) NO 1. Kabupaten/Kota (2) Kabupaten . Provinsi ..T-I.. Kota . 2.. 3...... Kabupaten .B.B.T-I... *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 5...172 Jumlah Perpustakaan Tahun .. Uraian Jumlah Perpustakaan milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah Perpustakaan milik non pemda Total Perpustakaan (1+2) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2.... Banyaknya jumlah perpustakaan akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dalam memberikan bahan pustaka kepada masyarakat pengguna perpustakan. s.. 2..d .89 Untuk Provinsi: Tabel. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 4.. Dst ....d .*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Kabupaten . Dst ..10. Untuk menghitung jumlah pengunjung perpustakaan dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. ... 4. Kabupaten/Kota.T-I.. 3. Besarnya jumlah perpustakaan juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pelayanan pendidikan. 3. Untuk kabupaten/kota: Tabel. s. Pengunjung perpustakaan dihitung berdasar pengunjung yang mengisi daftar kehadiran atau berdasar data yang diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung. 5. Kota . Jumlah se-Provinsi Tahun (n-5) Milik pemda (3) Non pemda (4) Total (5=3+4) Milik pemda (6) Tahun (n-1)**) Non pemda (7) Total (8=6+7) 1.173 Jumlah Perpustakaan Tahun ...2. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Pengunjung perpustakaan adalah pemakai perpustakaan yang berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan pustaka dalam satu (1) tahun.2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 6.. Dst .... Jumlah se-Provinsi Tahun (n-5) Milik pemda (3) Tahun (n-1)**) Total (5=3+4) Non pemda (4) Milik pemda (6) Non pemda (7) Total (8=6+7) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

Jumlah polisi pamong praja dihitung dari jumlah aparatur pada satuan polisi pamong praja yang ditetapkan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan peraturan perundang-undangan..11. s. Dengan jumlah pengunjung perpustakaan yang tinggi merupakan indikator efektifitas penyediaan pelayanan perpustakaan di daerah... NO (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Banyaknya jumlah pengunjung perpustakaan menggambarkan tingginya budaya baca di daerah. Satuan polisi pamong praja merupakan perangkat daerah yang dapat berbentuk dinas daerah atau lembaga teknis daerah... Rasio jumlah polisi pamong praja per 10......2. 6.d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Besarnya jumlah perpustakaan juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai peluang untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pelayanan pendidikan. milik non pemda 3. 3. Se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...1. Provinsi . Menghitung rasio jumlah polisi pamong praja per 10.. Total pengunjung Perpustakaan (1+2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2. Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat 2...000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...11.000 penduduk Polisi Pamong Praja adalah aparatur Pemerintah Daerah yang melaksanakan tugas Kepala Daerah dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum.T-I. milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah pengunjung perpustakaan 2. 2. Kabupaten/Kota.B. Kabupaten. 4..175 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun . 2.90 Untuk kabupaten/kota: Tabel.d .*) Uraian Jumlah pengunjung perpustakaan 1. s... Dst.. Kota.. Kabupaten.. 5. ..T-I.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh PolPP (3) Jmlh Pddk (4) Rasio (5=3/4) Jmlh PolPP (6) (n-4) Jmlh Pddk (7) Rasio (8=6/7) Jmlh PolPP (9) (n-3) Jmlh Pddk (10) Rasio (11=9/10) Jmlh PolPP (12) (n-2) Jmlh Pddk (13) Rasio (14=12/13) Jmlh PolPP (15) (n-1)**) Jmlh Pddk (16) Rasio (17=15/16) 1.176 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun . Dst. menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.B.

3..d ...000 penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten/Kota. Dst.d . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio jumlah polisi pamong praja menggambarkan kapasitas pemda dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum. menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Dst.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Rasio jumlah linmas per 10.. 6... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..178 Rasio Jumlah Linmas Per 10.. 2. Satuan ini memiliki peran penting dalam ketertiban masyarakat secara luas.. s.. 4.. Rasio jumlah polisi pamong praja per 10...000 penduduk Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 5.. Menghitung rasio linmas per 10...B.91 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Jumlah Linnmas Jumlah penduduk Rasio jumlah Linnmas per 10. Kota. s. Jumlah penduduk 3..d . Se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Jumlah polisi pamong praja 2.*) NO 1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi .177 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun ... .*) NO Uraian 1.. Kabupaten/Kota. 2...2.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh Linmas (3) Jmlh Pddk (4) Rasio (5=3/4) Jmlh Linmas (6) (n-4) Jmlh Pddk (7) Rasio (8=6/7) Jmlh Linmas (9) (n-3) Jmlh Pddk (10) Rasio (11=9/10) Jmlh Linmas (12) (n-2) Jmlh Pddk (13) Rasio (14=12/13) Jmlh Linmas (15) (n-1)**) Jmlh Pddk (16) Rasio (17=15/16) 1. 2.. Kabupaten.T-I...B.179 Rasio Jumlah Linmas Per 10... s.. Rasio jumlah linmas menggambarkan kapasitas pemda untuk memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat adalah upaya mengkondisikan lingkungan yang kondusif dan demokratif sehingga tercipta kehidupan strata sosial yang interaktif .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Semakin besar rasio jumlah polisi pamong praja maka akan semakin besar ketersediaan polisi pamong praja yang dimiliki pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah ....T-I. Kabupaten...2.11..000 Penduduk Tahun ..B.000 Penduduk Tahun .T-I. 3.000 penduduk Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) merupakan satuan yang memiliki tugas umum pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat.

untuk mencapai suatu tujuan tertentu... 6. 2.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh siska mling (3) Jmlh Desa (4) Rasio (5=3/4) Jmlh siska mling (6) (n-4) Jmlh Desa (7) Rasio (8=6/7) Jmlh siska mling (9) (n-3) Jmlh Desa (10) Rasio (11=9/10) Jmlh siska mling (12) (n-2) Jmlh Desa (13) Rasio (14=12/13) Jmlh siskam ling (15) (n-1)**) Jmlh Desa (16) Rasio (17=15/16) 1....*) (n-5) NO (1) (n-4) Rasio (5=3/4) Jmlh siska mling (6) Jmlh Desa (7) Rasio (8=6/7) Jmlh siska mling (9) (n-3) Jmlh Desa (10) Rasio (11=9/10) Jmlh siskaml ing (12) (n-2) Jmlh Desa (13) Rasio (14=12/13) Jmlh siska mling (15) (n-1)**) Jmlh Desa (16) Rasio (17=15/16) Kecamatan (2) Jmlh siska mling (3) Jmlh Desa (4) 1. Provinsi . 3.d . 2.11. Kabupaten.12.T-I. Rasio jumlah pos siskamling menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap desa/kelurahan.d . Kota. Rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan Rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan adalah perbandingan jumlah pos siskamling selama 1 (satu) tahun dengan jumlah desa/kelurahan.1. Menghitung rasio pos siskamling per jumlah desa/keluarahan digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel....B..180 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Tahun . Dst..2.. Pemuda dan olah raga 2... 4. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Semakin besar rasio jumlah pos siskamling akan semakin besar ketersediaan kapasitas pemda dalam memberdayakan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat serta keamanan lingkungan. Jumlah Organisasi Pemuda Organisasi pemuda adalah sekelompok pemuda yang berkerjasama dengan suatu perencanaanperencanaan kerja dan peraturan-peraturan... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Rasio ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap desa/kelurahan. 2... s.T-I. Kecamatan. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kecamatan.B....2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.3.92 Semakin besar rasio jumlah linmas maka akan semakin besar ketersediaan linmas yang dimiliki pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat . Untuk kabupaten/kota: Tabel..2.. Jumlah organisasi pemuda dihitung dari jumlah organisasi pemuda yang aktif sampai dengan tahun pengukuran.. Dst. 3. Kabupaten. Dst.181 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Kecamatan Tahun . Kabupaten/Kota. 5.12. s... Untuk menghitung jumlah organisasi pemuda dapat disusun tabel sebagai berikut: .... 2...

... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.182 Jumlah Organisasi Pemuda Tahun . Provinsi .. Jumlah organisasi olahraga dihitung dari jumlah organisasi olahraga yang aktif sampai dengan tahun pengukuran. Dst.... Kecamatan. .T-I. Banyaknya jumlah organisasi pemuda menggambarkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan dan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila...183 Jumlah Organisasi Pemuda Tahun ...T-I. 5.. s.B. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....d . 3....2. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kabupaten/kota Kabupaten. Kabupaten/Kota . Dst..... 4. Kota. Dst. s.... 2.. Kabupaten. 4.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d ..2.12....*) NO 1. s.. 3. Jumlah Organisasi Olahraga Organisasi olahraga adalah organisasi formal yang dibentuk oleh sekelompok masyarakat olahraga yang bekerjasama dengan suatu perencanaan-perencanaan kerja dan peraturan-peraturan... Dst..B.*) NO 1... Kabupaten/kota Kabupaten... Provinsi . 2.*) NO Kecamatan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1.. Untuk menghitung jumlah organisasi olahraga dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..93 Untuk Provinsi: Tabel. 2. Semakin banyak jumlah organisasi pemuda menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai untuk memberdayakan pemuda dalam pembangunan daerah. Kota. 2. Kecamatan..184 Jumlah Organisasi Olahraga Tahun ..d . 4. Dst.B. untuk mencapai suatu tujuan pembangunan dunia olahraga. 3.... Se-Kabupaten/kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.

2. Dst. Kegiatan olahraga dapat diselenggarakan dalam bentuk pertandingan dan perlombaan serta kejadian atau peristiwa sejenis. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d . s... Banyaknya jumlah kegiatan kepemudaan menggambarkan tingginya antusiasme pemuda untuk berperan serta dalam pembangunan daerah.T-I. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..*) NO 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..4. Kecamatan. 2. Provinsi . 2. 2. Kabupaten/Kota . 3. Dst..B.. Untuk menghitung jumlah kegiatan olahraga dapat disusun tabel sebagai berikut: .186 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun .. Jumlah kegiatan kepemudaan dihitung dari jumlah kegiatan kepemudaan dalam periode 1 (satu) tahun...d .T-I. Jumlah kegiatan olahraga dihitung dari jumlah kegiatan atau “event” olahraga dalam periode 1 (satu) tahun..12... Kabupaten/Kota..2..... 4.B. Kecamatan Kecamatan.T-I. Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Dst. Dst.. 3. Kota.*) NO 1.. s.... Untuk kabupaten/kota: Tabel.. 2.B. perlombaan dan upacara serta kejadian atau peristiwa sejenis... 3. Kabupaten/kota Kabupaten... Kecamatan Kecamatan. swasta dan masyarakat. s.d .... Kecamatan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Jumlah Kegiatan Kepemudaan Kegiatan kepemudaan adalah kegiatan atau “event” kepemudaan yang diselenggarakan dalam bentuk pertandingan... 4.94 Untuk kabupaten/kota: Tabel.187 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun ...12.*) NO 1. Kabupaten.. Kepemudaan sendiri bermakna segala hal tentang pemuda. 5. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Jumlah Kegiatan Olahraga Kegiatan olahraga adalah kegiatan atau “event” olahraga yang diselenggarakan baik oleh pemerintah daerah........ Dengan jumlah kegiatan kepemudaan yang tinggi merupakan indikator efektifitas keberadaan organisasi pemuda dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah 2.. Untuk menghitung jumlah kegiatan kepemudaan dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.3. Banyaknya jumlah organisasi olahraga menggambarkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan daerah khususnya dalam menciptakan pelayanan penunjang di bidang olahraga.185 Jumlah Organisasi Olahraga Tahun .

Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi.. 3..1. Dengan jumlah kegiatan olah raga yang tinggi merupakan indikator efektifitas keberadaan organisasi olahraga dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.. sebagai berikut: 3.B.T-I.189 Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun . yaitu rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita.*) NO 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s...d . 3. Dst. kekhasan.. Bukan makanan mencakup perumahan. 2. Dst.. Suatu daya saing (competitiveness) merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.. 3.. Kabupaten/Kota .. s.. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan potensi.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Angka ini dihitung berdasarkan pengeluaran penduduk untuk makanan dan bukan makanan per jumlah penduduk. .. sekolah.. minuman. Kemampuan ekonomi daerah memicu daya saing daerah dalam beberapa tolok ukur. biaya kesehatan.T-I. Kabupaten... Kecamatan Kecamatan. Kota. Untuk kabupaten/kota: Tabel.95 Untuk Provinsi: Tabel.1. 2.1. Dst.*) NO 1..B. dan unggulan daerah.... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsumsi rumah tangga yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran rumah tangga. 4. Kabupaten/kota Kabupaten.... Kemampuan Ekonomi Daerah Kemampuan ekonomi daerah dalam kaitannya dengan daya saing daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi pelaku ekonomi yang telah berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiflier effect bagi peningkatan daya saing daerah. 5. dan sirih.. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dapat diketahui dengan menghitung angka konsumsi RT per kapita.. Semakin besar rasio atau angka konsumsi RT semakin atraktif bagi peningkatan kemampuan ekonomi daerah. Provinsi .. sandang.. 4. tembakau. Banyaknya jumlah kegiatan olahraga menggambarkan tingginya antusiasme organisasi olahraga di daerah untuk berperan serta dalam pembangunan daerah...188 Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun . 3.d ... dan sebagainya. Kecamatan..

.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.191 Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota Tahun .... Jumlah RT 3.1... Dst .2. Total Pengeluaran RT 2.190 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...T-I...T-I.B..*) NO 1./2.... Provinsi . Untuk Provinsi: Tabel.. Uraian Indeks yang diterima petani (lt) Indeks yang dibayar petani (lb) NTP *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B.T-I. s..192 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . 3..... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) .. Kabupaten . Kota ..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Total Pengeluaran RT (3) Jumlah RT (4) Rasio (5=3/4) 1.*) NO 1.. s. 2... Kabupaten/Kota../2.. Provinsi ...... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.B... yaitu perbandingan antara indeks yang diterima (It) petani dan yang dibayar (Ib) petani.. Nilai tukar petani Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga.. 2.. Jumlah Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) NO Uraian 1.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Nilai Tukar Petani dapat dihitung dengan membandingkan faktor produksi dengan produk. s.. sebaliknya jika NTP lebih kecil dari 100 berarti terjadi penurunan daya beli petani.d ... 2. Tabel.193 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun . Provinsi .. Uraian Total Pengeluaran RT Jumlah RT (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio (1.96 Untuk Provinsi: Tabel..... 3... Dst .B.d ... Jika NTP lebih besar dari 100 maka periode tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan periode tahun dasar.d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3. Rasio (1..T-I. 4.

..B..... Kabupaten/Kota.. Dst . 2....d ..B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I... Provinsi .T-I...*) NO 1....*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Indeks yang diterima petani (lt) (3) Indeks yang dibayar petani (lb) (4) NTP (5=3/4) Kabupaten .97 NTP dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Tabel..B. Pengeluaran konsumsi non pangan per kapita dapat dicari dengan menghitung persentase konsumsi RT untuk non pangan...*) Uraian Indeks yang diterima petani (lt) Indeks yang dibayar petani (lb) NTP *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 2... Jumlah ... 4. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (Persentase Konsumsi RT untuk non pangan) Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita dibuat untuk mengetahui pola konsumsi rumah tangga di luar pangan. 4.T-I....194 Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 2.....195 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .. Dst .. 5. Dst . 3. Provinsi ... s. yaitu proporsi total pengeluaran rumah tangga untuk non pangan terhadap total pengeluaran..T-I... Kabupaten ...196 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun .. Total Pengeluaran Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 1.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. 3. 3. Uraian Total Pengeluaran RT non Pangan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Tabel. Provinsi ..197 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan........ Kota .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3..B...d . 2..1..... s.. Dst .*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Total Pengeluaran RT non Pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) 1. Untuk Provinsi: Tabel. NO 1.. Kabupaten ...3.. Kota ... 3.

. Produktivitas total daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sektor per angkatan kerja yang menunjukan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong ekonomi daerah per sektor..6 1.d... 3.8 1...198 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d ..T-I. s..Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.5 1...4.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.*) NO 1.4 1. & Js. Untuk Provinsi: Tabel.199 Produktivitas Per Sektor Tahun.7 1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 1. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: di mana.1 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota.3 1.*) NO 1. 2.2 1. PDRB Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Angkatan Kerja Sektor (n-5) (Rp) % (Rp) (n-4) % (Rp) (n-3) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.i adalah sector 1 s.B. Provinsi.9 2. PDRB dihitung berdasarkan 9 (sembilan) sektor. Uraian Total Pengeluaran RT non Pangan Total Pengeluaran Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B.....98 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 9 ..1. Produktivitas Total Daerah dapat diketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan. Untuk kabupaten/kota: Tabel.T-I. sewa. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan..

(n-5) (n-4) Uraian Panjang Jalan***) Jumlah Kendaraan Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kota .. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaannya (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah..9 2..T-I. provinsi. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO 1.202 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Tahun .2.. & Js.4 1. sewa. Uraian Kabupaten . & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi (n-3) (n-2) (n-1)**) .B...2 1. Dst . ***) Jalan: jalan negara.2. Rasio Produktivitas Daerah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1.*) NO 1.99 Tabel. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan adalah perbandingan panjang jalan terhadap jumlah kendaraan... 1.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan..*) NO 1.B...200 Produktivitas Total Daerah Provinsi.. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan dihitung untuk mengetahui tingkat ketersediaan sarana jalan dapat memberi akses tiap kendaraan.2.T-I. 2.. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan........ Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Angkatan Kerja *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.3 1.1. 3..d .5 1.6 1.1. s..201 Produktivitas Per Sektor Kabupaten/Kota ..... 3. Dst . PDRB Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.T-I. Provinsi.7 1... Aksesibilitas daerah Untuk mengetahui tingkat aksesibilitas daerah dapat dihitung dengan: 3.1 1.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten .. 5... Untuk Provinsi: Tabel. 3.8 1. Sektor (n-5) (Rp) % (Rp) (n-4) % (Rp) (n-3) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % 3. 4..

s. Dst . Uraian Panjang Jalan Jumlah Kendaraan Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... ***) Jalan: jalan negara.B. Kabupaten ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Kabupaten ... Kabupaten .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I... ***) Jalan: jalan negara.206 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Tahun .2. & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.d .... 3.T-I..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... Tabel..... 3.*) NO 1.205 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun ..1... Dst .... 4.T-I... provinsi.. 2. Kabupaten . 3.2.T-I.. 5. provinsi.*) NO 1. Provinsi . 2. 5. Untuk Provinsi: Tabel.B... 2...204 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Tahun ... Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B.. Kabupaten/kota Jumlah Orang Jumlah Barang Keterangan .203 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum dalam periode 1 (satu) tahun.*) NO 1.... Provinsi... 4.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Panjang Jalan (3) Jumlah Kendaraan (4) Rasio (5=3/4) 1... & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi Untuk kabupaten/kota: Tabel.....B. Kota .d .... Dst .. 2....100 Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel.... Kabupaten/Kota. s.. Provinsi .... Kota . Uraian Jumlah orang Jumlah Barang Satuan Orang Ton (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Dst .

Uraian Jumlah orang Jumlah Barang Satuan Orang Ton (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi/Kabupaten/Kota...1.B.B. Kabupaten .....T-I..B. Provinsi.. Kota . Dst .2.. 2.*) NO 1.210 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun .B... 3.... 2..207 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun .T-I..... Untuk Provinsi: Tabel.T-I.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Untuk kabupaten/kota: Tabel..101 Untuk kabupaten/kota: Tabel. . Provinsi .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... 2. Jumlah Dermaga Orang Barang Orang Bandara Barang Orang Terminal Barang *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...d .. Uraian Dermaga Bandara Terminal Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Dst ..209 Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Menurut Kabupaten/Kota Tahun .T-I. s..208 Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Tahun .*) NO 1..3.. s.d ..*) NO 1.. (n-5) Orang Brng Orang (n-4) Brng Orang (n-3) Brng Orang (n-2) Brng (n-1)**) Orang Brng Tabel. 3.d ........ Kabupaten/Kota... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara/ terminal per tahun Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal dalam periode 1 (satu) tahun.. Dermaga Bandara Terminal Jumlah Uraian (n-5) Orang Brng Orang (n-4) Brng Orang (n-3) Brng Orang (n-2) Brng (n-1)**) Orang Brng *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... 3.... s..*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kabupaten ...

Luas wilayah produktif Luas wilayah produktif adalah persentase realisasi luas wilayah produktif terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW.T-I..B. Dst .... (n-5) Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1.2.102 3.1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2.T-I. Penataan wilayah 3. Dst .*) NO 1. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wil... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....T-I... Kabupaten .... s.. Kota . Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil. Rasio ketaatan dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel..... Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Provinsi .*) NO (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota (2) Kabupaten . (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3..213 Persentase Luas Wilayah Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun ... Budidaya Rasio (1.....) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B..../2.. 2. Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Ketaatan terhadap RTRW merupakan kesesuaian implementasi tata ruang hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional dengan peruntukan yang direncanakan sesuai dengan RTRW.2. 3. ./2.2. s.. 2.211 Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Tahun . Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..2.B.212 Persentase luas Wilayah Produktif Tahun .2. Provinsi/Kabupaten/Kota..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.......*) NO 1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.2... Provinsi .. 3.d ...d ..

214 Rasio Luas Wilayah Produktif Tahun ./2./2.d .. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) .... 2......) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.....) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..103 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dst .B.3.. Kabupaten/Kota... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.... Dst .2... s. Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil.. 2. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel...B.217 Rasio Luas Wilayah Industri Tahun ...d .216 Persentase Luas Wilayah Industri Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Budidaya (4) Rasio (5=3/4) Kabupaten .B.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... (n-5) Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil.. Budidaya Rasio (1.*) NO 1. Luas Wilayah Industri Luas wilayah industri adalah persentase realisasi luas kawasan Industri terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW... Kabupaten .. s. 3... 3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. 1 2 3 4 5 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Provinsi ....T-I. Provinsi ....B.. Budidaya Rasio (1.T-I.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Industri (3) Luas Seluruh Wil. Kabupaten/Kota../2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Budidaya Rasio (1.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kota .. 3.2.d . (n-5) Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil..*) NO 1... s.T-I...215 Persentase Luas Wilayah Industri Tahun ...*) NO 1..

..219 Persentase Luas Wilayah Kebanjiran Menurut Kabupaten/Kota Tahun .d . Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 . Kabupaten/Kota... s. Budidaya Rasio (1.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.B.. Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil. 2... Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil.*) NO 1../2..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Dst ...104 - 3..2.4.. Untuk kabupaten/kota: Tabel...5.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Luas Wilayah Kebanjiran Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah banjir terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW...d .... Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel..2.. Luas Wilayah Kekeringan Luas wilayah kekeringan adalah luas wilayah kekeringan terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW..B..T-I.*) NO 1.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.220 Rasio Luas Wilayah Kebanjiran Tahun ....218 Persentase Luas Wilayah Kebanjiran Tahun . Kabupaten . Dst ....T-I.2. Provinsi ..2.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3./2..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Kebanjiran (3) Luas Seluruh Wil.......T-I. Kota . Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten . 3.. Budidaya Rasio (1.. 2. 3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.B. Provinsi .

. Luas Wilayah Perkotaan Luas wilayah perkotaan adalah persentase realisasi luas wilayah perkotaan terhadap luas rencana wilayah budidaya sesuai dengan RTRW.. s. s. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2..B.6. 3..T-I. ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... Uraian Luas Wilayah Kekeringan Luas Seluruh Wil. s. Dst .) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Provinsi ...2.d .223 Rasio Luas Wilayah Kekeringan Tahun .) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Uraian Luas Wilayah Perkotaan Luas Seluruh Wil..T-I. 2.B. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. Kabupaten .... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.*) NO 1.*) NO 1.*) NO 1...105 Untuk Provinsi: Tabel.B.. Dst .T-I...2. Kabupaten/Kota.........d . Provinsi .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...d ..222 Persentase Luas Wilayah Kekeringan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. 3.. Budidaya Rasio (1... Rasio (1.221 Persentase Luas Wilayah Kekeringan Tahun ..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Kekeringan (3) Luas Seluruh Wil. Budidaya Rasio (1./2.224 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Tahun ... Provinsi .B. Budidaya (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3../2..T-I...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten . Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Uraian Luas Wilayah Kekeringan Luas Seluruh Wil../2.... Kota .

Budidaya Rasio (1.d .2.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. 1.2. Uraian Luas Wilayah Perkotaan Luas Seluruh Wil.1. Provinsi . Dst ...*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Perkotaan (3) Luas Seluruh Wil. Menurut fungsinya..... n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 3. Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran....*) NO 1. 3.*) NO 1.3.. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten .. 2. Dst ... Kabupaten/Kota. bank dibagi menjadi bank umum dan bank perkreditan rakyat....... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2.227 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Provinsi .3. Kabupaten ....226 Rasio Luas Wilayah Perkotaan Tahun ... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.B..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..1. 1... Fasilitas bank dan non bank Fasilitas bank dan non bank diukur dengan jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya. 2.2. dan jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya 3../2.. s..106 Tabel.....2.T-I..T-I.B.. Jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 2. Bank Umum Konvensional Syariah BPR Konvensional Syariah Total Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ..1... Untuk Provinsi: Tabel.225 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .B.T-I. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kota ..

Usaha asuransi adalah usaha jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi guna memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti terhadap hidup atau meninggalnya seseorang.2.3. Provinsi .2... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....B.. Kabupaten/kota Kabupaten .. 2.B. meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa.. 2.2..Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi...B... 2.. 2... Kabupaten .*) NO 1.. Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Perusahaan Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Perusahaan Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Untuk Provinsi: Tabel.228 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 1. 1. Kota . BPR Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.1.... Dst .107 Tabel.1... 1.T-I.2.*) NO 1.229 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Kabupaten/Kota... 2... Penyelenggaraan asuransi dipisahkan menjadi dua yaitu perusahaan asuransi yang beroperasi secara konvensional dan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah. 1. 3. . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Bank Umum Konvensional Syariah Konvensional BPR Syariah Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Dst .T-I. Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Asuransi merupakan alat untuk menanggulangi risiko (nasabah) dengan cara menanggung bersama kerugian yang mungkin terjadi dengan pihak lain (perusahaan asuransi).230 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Provinsi. 2. Bank Umum Konvensional Syariah Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2. 5. 3..*) NO 1... Untuk kabupaten/kota: Tabel....1.2.1.. 4..T-I.2.

1.T-I... 2. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Dst .. Sumber air bersih dapat dibedakan atas: 1.. Provinsi ..2. Dst ... Air Hujan 2...4.4.*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kabupaten ...1. 1.. Kabupaten ... 2.*) NO 1. Air Minum(drinking water) Air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002). Air Sumur Dangkal 5. Air Sumur Dalam Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dalam tabel sebagai berikut: . Kota ... Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..2.1.. 3.T-I.231 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan cabangnya Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Mata Air 4... 1. Ketersediaan air bersih 3..B..B..108 Tabel...2. Persh. Sektor Perusahaan Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Perusahaan Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah (n-5) (n-4) Jumlah (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Persh.. 2. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Air Bersih(clean Water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak.. Air Sungai dan Danau 3..232 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Kabupaten/Kota.2.

. 5. 11.T-I.5.*) No 1.Komersial ..1. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat.5. 12.T-I. 4. Rasio ketersediaan daya listrik Rasio ketersediaan daya listrik adalah perbandingan daya listrik terpasang terhadap jumlah kebutuhan.B. 2.234 Prakiraan Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Provinsi/Kabupaten/Kota . Tabel. 6. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 4.233 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Provinsi/Kabupaten/Kota . 3. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. 3..Public ..2.*) NO 1. 10.. 10.rumah tangga ..2.2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 11. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Perhitungan ketersediaan daya listrik dan kebutuhannya kedepan dapat mengacu pada dokumen Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) atau Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang telah disusun.B.5. 8.Industri 2. 9. 3. Fasilitas listrik dan telepon 3. 6. 8...2. 9. 3. 5. 7. 13. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Pemerintah Daerah berkewajiban untuk melistriki masyarakat tidak mampu dan . 7. Sumber Air Bersih Leding (Perpipaan) Sumur Lindung Sumur Tidak Terlindung Mata Air Terlindung Mata Air Tidak Terlindung Sungai Danau/Waduk Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan air bersih Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan air bersih (11/12) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.109 Tabel. Kebutuhan . Susut & Losses (T&D) Susut Pemakaian Sendiri Total Susut & Losses Faktor Beban Produksi Beban Puncak Kapasitas Terpasang (Existing) Cummulated Commited Projects TOTAL KAPASITAS SISTEM DAYA YANG DIBUTUHKAN* Uraian Satuan GWH GWH GWH GWH GWH % % % % GWH MW MW MW MW MW (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.

2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.. Salah satu indikator dalam melihat perkembangan teknologi komunikasi adalah dengan melihat seberapa banyak penduduk suatu daerah telah memiliki perangkat komunikasi berupa hand-phone (HP) dan telepon rumah biasa. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik merupakan proporsi jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai daya penerangan terhadap jumlah rumah tangga. Sedangkan pengusahaan . 4. 2. 7. Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon adalah proporsi jumlah penduduk menggunakan telepon/HP terhadap jumlah penduduk. 5.*) No 1. Jenis. 5. Penduduk yang memiliki HP Penduduk yang memiliki telepon PSTN Total Jumlah penduduk yang memiliki HP/Telepon (1) + (2) Jumlah penduduk Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon (3)/(4) Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. 3.236 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan HP/Telepon Provinsi/Kabupaten/Kota ..1.200 watt Total Jumlah Rumah Tangga menggunakan listrik Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan listrik (6)/(7) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.6. 3. 8.*) No 1. 6.2...235 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Provinsi/Kabupaten/Kota .B.. Pengertian restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran. dan jumlah restoran (Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas) Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukan tingkat daya tarik investasi suatu daerah.110 daerah terpencil.200 watt RT dengan daya > 2.2..6.3. 3. Uraian RT dengan daya 450 watt RT dengan daya 900 watt RT dengan daya 1. 3.2.B. kelas.. Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon Peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi pada suatu daerah. 4. Ketersediaan restoran 3.5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Persentase penduduk atau rumah tangga yang memiliki HP dan fasilitas telepon (PSTN) dapat diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS mengenai survei tentang teknologi komunikasi dan informasi.. Sajikan Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan HP/Telepon dalam tabel sebagai berikut: Tabel.300 watt RT dengan daya 2. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Tabel.. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya.T-I.

dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. di mana setiap orang dapat menginap.*) Tahun (n-5) No 1.2. 3. Hotel Berbintang Hotel berbintang adalah suatu usaha jasa yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus.238 Jenis. memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran.T-I.2.. kriteria penggolongannya didasarkan pada persyaratan dasar dan penilaian teknis operasional. Unsur Pengelolaan.B. Untuk Hotel Berbintang.. terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunjungan dari luar daerah. 3. Dengan semakin banyaknya jumlah kunjungan orang dan wisatawan ke suatu daerah perlu didukung oleh ketersediaan penginapan/hotel. Ijin Usaha). 5. Ketersediaan penginapan Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Jenis Penginapan/Hotel Hotel Bintang 5 Hotel Bintang 4 Hotel Bintang 3 Hotel Bintang 2 Hotel Bintang 1 Jumlah Hotel Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur Jumlah Hotel Tahun (n-1)**) Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur . Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Provinsi/Kabupaten/Kota . dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang telah ditentukan.*) No 1. di mana setiap orang dapat menginap. Jenis. 9.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I. 8. b. 10. dan belum memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang. 2. 2..111 usaha restoran dan rumah makan adalah penyediaan jasa pelayanan makanan dan minuman kepada tamu sebagai usaha pokok. makan. Uraian Usaha restoran golongan tertinggi Usaha restoran golongan menengah Usaha restoran golongan terendah Usaha rumah makan kelas A Usaha rumah makan kelas B Usaha rumah makan kelas C Usaha rumah makan kelas D Usaha rumah makan kelas Jenis Usaha Restoran Jenis Usaha Rumah Makan Tahun (n-5) Jumlah Usaha Jumlah Kursi Tahun (n-1)**) Jumlah Usaha Jumlah Kursi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut. makan. kelas. 4.237 Jenis. 6. dan jumlah penginapan/ hotel Jenis penginapan/hotel dapat dibedakan menjadi: a. Kelas dan Jumlah Restoran Provinsi/Kabupaten/Kota ..1. Penetapan penilaian golongan kelas hotel bintang dilakukan dengan penggabungan dari nilai persyaratan dasar dan persyaratan teknis.. Tabel. Penilaian penggolongan Hotel Bintang dilaksanakan oleh PHRI. Persyaratan Dasar : Perijinan (persetujuan Prinsip. Persyaratan Teknis : Unsur Fisik...7.. 3. memperoleh pelayanan. Tabel. 4.. 2. 5. Hotel Melati Hotel Melati adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus.7. Ciri khusus dari hotel berbintang adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut. 7. Unsur Pelayanan.

Jenis Kriminal Jumlah kasus Narkoba Jumlah kasus Pembunuhan Jumlah Kejahatan Seksual Jumlah kasus Penganiayaan Jumlah kasus Pencurian Jumlah kasus Penipuan Jumlah kasus Pemalsuan uang Total Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun Jumlah Penduduk Angka Kriminalitas (8)/(9) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Tabel.3.2. Indikator ini berguna untuk menggambarkan tingkat keamanan masyarakat..112 Tahun (n-5) No Jenis Penginapan/Hotel Hotel Non Bintang (hotel melati dan penginapan lainnya) Total Jumlah penginapan/Hotel Jumlah Hotel Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur Jumlah Hotel Tahun (n-1)**) Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur 6. 9. 4... 7. 7.. 5. dan sebagainya.3.240 Jumlah Demonstrasi Provinsi/Kabupaten/Kota . 10. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. pembunuhan. maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat. 3..3.. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Tabel. Jumlah Demonstrasi Jumlah demonstrasi adalah jumlah demonstrasi yang terjadi dalam periode 1 (satu) tahun.*) No 1 2 3 4 Bidang Politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah Demonstrasi/Unjuk Rasa *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.239 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota . *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 8. Unjuk rasa atau demonstrasi ("demo") adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Artinya dalam satu bulan rata-rata terjadi berapa tindak kriminalitas untuk berbagai kategori seperti curanmor.1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I. Iklim Berinvestasi Keamanan dan ketertiban Angka kriminalitas Angka Kriminalitas adalah rata-rata kejadian kriminalitas dalam satu bulan pada tahun tertentu.1.. Angka kriminalitas dihitung berdasarkan delik aduan dari penduduk korban kejahatan dalam periode 1 (satu) tahun. 6. Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . 2.*) No 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok.B. 3.B.1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. 3. pemerkosaan.3.T-I. semakin rendah tingkat kriminalitas..1.

..*) NO 1. dan pajak restoran/hotel. Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung iklim usaha Perda merupakan sebuah instrumen kebijakan daerah yang sifatnya formal. 2.. yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah (sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku).T-I.113 3.1. Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah) Jumlah dan macam pajak daerah dan retribusi daerah diukur dengan jumlah dan macam insentif pajak dan retribusi daerah yang mendukung iklim investasi.B.. 4.3.3. pajak reklame.3. Pembentukan daya saing investasi.T-I. Perda yang mendukung iklim usaha dibatasi yaitu perda terkait dengan . retribusi parkir di tepi jalan umum yang disediakan oleh pemda.3. 3.4. retribusi kebersihan di pasar milik pemda. 4. 3. Contoh retribusi daerah yaitu: retribusi sewa tempat di pasar milik pemda.241 Lama Proses Perijinan Provinsi/Kabupaten/Kota . 3. Lama proses perijinan merupakan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu perijinan (dalam hari). SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan TDP : Tanda Daftar Perusahaan IUI : Izin Usaha Industri TDI : Tanda Daftar Industri IMB : Izin Mendirikan Bangunan HO : Izin Gangguan Tabel. 2.B. 6.. 6. SIUP TDP IUI TDI IMB HO Uraian Lama mengurus (hari) Jumlah persyaratan (dokumen) Biaya resmi (rata-rata maks Rph) 3.. berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor.*) NO 1. Daya saing investasi suatu daerah tidak terjadi dengan serta merta.5. 4. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan). salah satunya kemudahan perijinan.. dan retribusi sejenis lainnya.1.. 2.. 5. Uraian Jumlah Pajak yang dikeluarkan Jumlah Insentif Pajak yang mendukung iklim investasi Jumlah Retribusi yang dikeluarkan Jumlah Retribusi yang mendukung iklim investasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Tabel.1. Contoh pajak daerah yaitu: pajak penerangan jalan. Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan) kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang berdasarkan perundangundangan yang berlaku.242 Jumlah dan Macam Insentif Pajak dan Retribusi Daerah Yang Mendukung Iklim Investasi Provinsi/Kabupaten/Kota . Kemudahan perijinan adalah proses pengurusan perijinan yang terkait dengan persoalan investasi relatif sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kemudahan perijinan Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada daya saing investasi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. 3. Jenis perijinan yang dianalisis antara lain: 1. melalui perda inilah dapat diindikasikan adanya insentif maupun disinsentif sebuah kebijakan di daerah terhadap aktivitas perekonomian. 5.

3. kemampuan. dalam memanfaatkan berbagai potensi desa maupun peluang yang ada untuk berkembang. yakni desa swadaya (tradisional). dan desa swasembada (berkembang).. 2. Masyarakat pedesaan swakarsa masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan tidak bermata pencaharian utama sebagai petani di pertanian saja serta banyak mengerjakan sesuatu secara gotong royong. dengan meningkatkan kualitas hidup.*) NO 1. Desa swakarsa belum banyak memiliki sarana dan prasarana desa yang biasanya terletak di daerah peralihan desa terpencil dan kota. Uraian Jumlah Perda terkait perijinan Jumlah Perda terkait lalu lintas barang dan jasa Jumlah Perda terkait ketenagakerjaan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3.. 2. Berdasarkan kriteria status. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 0 000 . Kehidupan desa swasembada sudah mirip kota yang modern dengan pekerjaan mata pencarian yang beraneka ragam serta sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan maju. Status desa (Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa) Pembangunan desa dalam jangka panjang ditujukan untuk memperkuat dasar-dasar sosial ekonomi pedesaan yang memiliki hubungan fungsional yang kuat dan mendasar dengan kotakota dan wilayah di sekitarnya.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dalam upaya peningkatan daya saing daerah salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah melalui peningkatan dan percepatan pertumbuhan status desa menjadi desa swasembada.. Pengertian masingmasing klasifikasi desa tersebut adalah sebagai berikut: 1. keterampilan dan prakarsanya. Indikator peningkatan daya saing terkait pertumbuhan desa swasembada dapat dilihat dari persentase desa/kelurahan berstatus swasembada terhadap total desa/kelurahan..1. serta perda terkait dengan ketenagakerjaan. Pembangunan desa dan pembangunan sektor yang lain di setiap pedesaan akan mempercepat pertumbuhan desa menjadi desa swasembada yang memiliki ketahanan di segala bidang dan dengan demikian dapat mendukung pemantapan ketahanan nasional. Desa Terbelakang atau Desa Swadaya Desa terbelakang adalah desa yang kekurangan sumber daya manusia atau tenaga kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi yang ada di desanya. desa/kelurahan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga). Biasanya desa terbelakang berada di wilayah yang terpencil jauh dari kota. perda terkait dengan lalu lintas barang dan jasa. desa swakarya (transisional). Persentase desa/kelurahan berstatus swasembada terhadap total desa/kelurahan adalah proporsi jumlah desa/kelurahan berswasembada terhadap jumlah desa/ kelurahan. Tabel. Desa Maju atau Desa Swasembada Desa maju adalah desa yang berkecukupan dalam hal sumber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal. 3. 3. taraf berkehidupan miskin dan tradisional serta tidak memiliki sarana dan prasaranan penunjang yang mencukupi.243 Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Provinsi/Kabupaten/Kota .114 perizinan.B.6. Dalam rangka mencapai tujuan itu pembangunan desa diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusianya yang merupakan bagian terbesar penduduk Indonesia.T-I. Desa Sedang Berkembang atau Desa Swakarsa Desa sedang berkembang adalah desa yang mulai menggunakan dan memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan sumber keuangan atau dana.

Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. 2. Disamping itu juga mampu memanfaatkan. adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. 5.4. 3. Sumber Daya Manusia Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. kreatif. Hal ini dapat disadari oleh karena manusia sebagai subyek dan obyek dalam pembangunan. Kualitas sumberdaya manusia juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan daya saing daerah dan perkembangan investasi di daerah. Indikator kualitas sumberdaya manusia dalam rangka peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja dan tingkat ketergantungan penduduk untuk melihat sejauhmana beban ketergantungan penduduk...T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1.245 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota . Kualitas SDM ini berkaitan erat dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan kerja di dalam negeri dan di luar negeri. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 3 0 000 Tabel.*) NO 1. Selain itu.*) No 1. mengembangkan dan menguasai ilmu dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional.4. 4. Kualitas tenaga kerja pada suatu daerah dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk yang telah menyelesaiakan S1. Penduduk usia 15-64 tahun. Uraian Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Julah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3.4.. maka pembangunan SDM diarahkan agar benar-benar mampu dan memiliki etos kerja yang produktif. 3. Uraian Jumlah Desa/Kelurahan Swadaya Jumlah Desa/Keluarahan Swakarya Jumlah Desa/Keluarahan Swasembada Jumlah Desa/Kelurahan (1) + (2) + (3) Persentase Desa berstatus swasemda dibagi jumlah desa/kelurahan (3)/(4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Rasio lulusan S1/S2/S3 adalah jumlah lulusan S1/S2/S3 per 10.. 5.2.244 Jumlah Desa Swasembada Provinsi/Kabupaten/Kota .115 Tabel. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik kualitas tenaga kerjanya. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk . S2 dan S3. Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya.B.T-I. 6. disiplin dan profesional. Tingkat ketergantungan Rasio ketergantungan digunakan untuk mengukur besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif.. terampil.000 penduduk. penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. 4... Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam kerangka pembangunan daerah adalah menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM)..B. Mengingat hal tersebut. 3.

..246 Rasio Ketergantungan Tahun ..T-I.. 5. Rasio ketergantungan adalah perbandingan jumlah penduduk usia <15 tahun dan >64 tahun terhadap jumlah penduduk usia 15-64 tahun..116 yang tergantung pada penduduk usia kerja. Meskipun tidak terlalu akurat. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt.B.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . 2. Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) &(2) Jumlah Penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. MENTERI DALAM NEGERI.. rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 5 5 00 Tabel.. 3. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting.*) No 1. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..d . Provinsi/Kabupaten/Kota . 4.. Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. s.

TATACARA PENYUSUNAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU II) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN.

PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJPD . PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJPD F. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJPD E. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD D. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD B.LAMPIRAN II : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) A. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD C.

1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD MUSRENBANG RPJPD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD PENETAPAN RPJPD Rancangan Awal RPJPD · · · · · pendahuluan. analisis isu-isu strategis. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD Gambar. Visi dan misi daerah Arah kebijakan pembangunan jangka panjang · Kaidah pelaksanaan Penyampaian perda ttg RPJPD kepada Kepemendagri Perda tentang RPJPD RPJPD · Pendahuluan · Gambaran umum Kondisi daerah · Analisis isu-isu srategis · Visi dan misi daerah · Arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah · Kaidah pelaksanaan Masukan dari SKPD . gambaran umum kondisi daerah.A. Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Rancangan Perda ttg RPJPD beserta Rancangan akhir RPJPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJPD Persiapan Penyusunan RPJPD Penelaahan RPJPN dan RPJPD daerah lainnya Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW daerah lainnya Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka panjang provinsi Perumusan visi dan misi daerah provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJPD Konsultasi rancangan akhir RPJPD Penyempurnaan rancangan akhir RPJPD Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Analisis Gambaran umum kondisi daerah provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Penyelarasan visi. misi dan arah kebijakan RPJPD provinsi Rancangan Akhir RPJPD · · · · · Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisis isu-isu srategis.G-II. Arah kebijakan pembangunan jangka panjang · Kaidah pelaksanaan. visi dan misi daerah.-2A.

analisis isu-isu strategis.A.G-II. Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Kab/ Kota dan RTRW kab/ kota daerah lainnya Analisis isuisu strategis pembangunan jangka panjang kabupaten/kota Perumusan visi dan misi daerah kabupaten/ kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan Sasasaran pokok dan arah kebijakan Perumusan hasil Musrenbang Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJPD Konsultasi rancangan akhir RPJPD Penyempurnaa n rancangan akhir RPJPD Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Analisis Gambaran umum kondisi daerah Kabupaten/ Kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ kota Penyampaian Perda Ttg RPJPD kepada PemProv Penyelarasan visi. Visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah · Arah kebijakan jangka panjang daerah Perda tentang RPJPD RPJPD · Pendahuluan · Gambaran umum Kondisi daerah · Analisis isu-isu srategis · Visi dan misi Pembangunan jangka panjang daerah · Arah kebijakan jangka panjang daerah Masukan dari SKPD . arah kebijakan.-3- GAMBAR. RPJPD Provinsi dan RPJPD kab/ kota lainnya Persiapan Penyusun RPJPD · · · · · pendahuluan. misi dan arah kebijakan RPJPD Kabupaten/Kota Rancangan Akhir RPJPD · · · · Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisis isu-isu srategis. gambaran umum kondisi daerah.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJPD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD MUSRENBANG RPJPD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD PENETAPAN RPJPD Rancangan Perda ttg RPJPD beserta Rancangan akhir RPJPD Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN. visi dan misi daerah.

Pembentukan Tim Penyusun RPJPD Kegiatan pembentukan tim penyusun dimulai dari penyiapan rancangan surat keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. Orientasi mengenai RPJPD Orientasi mengenai RPJPD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. pemerintahan daerah. Bahan orientasi mengenai RPJPD. B. Hal ini untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundangundangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. B. Struktur tim penyusun RPJPD sekurang-kurangnya sebagai berikut: Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : : Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Sekretaris Bappeda Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan.1. teknis penyusunan dokumen RPJPD. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim.-4B. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJPD. tahapan tata cara penyusunan. tim penyusun sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja (pokja) berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Tugas tim penyusun RPJPD selanjutnya dijabarkan kedalam agenda kerja. Penyusunan Agenda Kerja Tim RPJPD · · B. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. antara lain: · Peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RPJPD dan penyusunan anggaran. Anggota tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. sistem perencanaan pembangunan nasional. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RPJPD. yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD. pengelolaan keuangan daerah.3. Rencana kegiatan tim penyusun RPJPD dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan mulai dari persiapan hingga ditetapkannya rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. Tim penyusun RPJPD provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. . pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah.2. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD Tahapan persiapan dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan tahapan penyusunan RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah merupakan unsur penting dalam penyusunan rencana. antara lain: 1. 2. sebagai berikut: 1. RPJMN. 3. 2. Kebijakan-kebijakan nasional yang terkait. 3. Penyiapan Surat Edaran KDH D. Peraturan perundangan terkait. Untuk itu. Contoh Agenda Kerja Penyusunan RPJPD No. dalam rangka penyusunan RPJPD perlu dikumpulkan data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RPJPD adalah sebagai berikut: Tabel T-II. karena akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang akan disusun. Menyusun daftar data dan informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RPJPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. Pengumpulan data dan Informasi B. Mengumpulkan data dan informasi yang akurat dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pelaksanaan Musrenbang RPJPD 3. b. Dokumen-dokumen: a. Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. Kegiatan Tahun 1 Tahun 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 A. kabupaten/kota. MUSRENBANG RPJPD 1. Perumusan hasil Musrenbang RPJPD F PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJPD 1 Perumusan rancangan akhir RPJPD 2 3 Pembahasan rancangan akhir RPJPD dengan SKPD dan Kepala Daerah Penyampaian rancangan akhir RPJPD untuk persetujuan Kepala Daerah 4 Konsultasi rancangan akhir RPJPD 5 Penyempurnaan rancangan akhir RPJPD berdasarkan hasil konsultasi G PENETAPAN PERDA RPJPD 1 Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD 2 Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD 3 Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Penyampaian Perda tentang RPJPD provinsi oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri/perda tetang RPJPD kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota kepada gubernur dengan tembusan ke Menteri Dalam Negeri H B. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD 1. RPJPN. Penyusunan Rancangan Awal RPJPD C. Penyusunan Rancangan RPJPD E.1. RPJMN dan RPJPD provinsi untuk penyusunan RPJPD . untuk penyusunan RPJPD provinsi. RTRWN.4. Data dan informasi yang perlu dikumpulkan dalam proses penyusunan RPJPD. Orientasi mengenai RPJPD 3. RTRWN. Pembentukan tim penyusunan RPJPD 2.B. Penyusunan Agenda Kerja 4. Penyiapan Data dan Kegiatan 2. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan langkah-langkah. RPJPN.

G-II.1 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Provinsi Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya · pendahuluan. · analisis isu-isu strategis. · visi dan misi daerah. mencakup: 1. Tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota.2.C. · gambaran umum kondisi daerah. dapat dilihat pada Gambar. dan 4. Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Provinsi dan RTRW provinsi lainnya Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang provinsi Perumusan visi dan misi daerah Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan Sasaran pokok dan arah kebijakan Analisis Gambaran umum kondisi daerah Provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Penyelarasan visi. Hasil evaluasi RPJPD periode lalu. C.-6c. Tahap penyajian rancangan awal RPJPD.G-II.C. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen RPJPD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. · arah kebijakan.G-II. misi dan arah kebijakan RPJPD Provinsi Masukan dari SKPD . PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD Penyusunan rancangan awal RPJPD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJPD rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota yang dilakukan melalui dua tahapan rangkaian proses yang berurutan. Tahap perumusan rancangan awal RPJPD. dan 2. Gambar.1 dan Gambar.C. Data statistik minimal lima tahun terakhir.

Penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya. dan RPJPD kabupaten/kota lainnya. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). 7. dan arah kebijakan RPJPD provinsi.C. RPJPD provinsi. Perumusan arah kebijakan. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah provinsi. . 5.2 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Kabupaten/Kota Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN. sebagai berikut: 1. 3. Pengolahan data dan informasi. sebagai berikut: 1. · gambaran umum kondisi daerah. 3. b. misi dan arah kebijakan RPJPD Kabupaten/Kota Masukan dari SKPD C. 2. Perumusan visi dan misi daerah provinsi. 2. · analisis isu-isu strategis. Perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. 9. 8. 6. · arah kebijakan. disiapkan pada tahap ini baik melalui pendekatan teknokratis maupun pendekatan partisipatif. Pelaksanaan forum konsultasi publik. Perumusan rancangan awal RPJPD provinsi dilakukan melalui serangkaian kegiatan. Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. dan 10. 8. 4. 5. Penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan RPJPD merupakan dokumen yang tak terpisahkan dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen). Penyelarasan visi. Analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. RPJPD Provinsi dan RPJPD kab/ kota lainnya · pendahuluan. Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. 7.G-II. Analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. Pengolahan data dan informasi. Tahap Perumusan Rancangan Awal RPJPD Perumusan isi dan substansi rancangan awal RPJPD sangat menentukan kualitas dokumen RPJPD yang akan dihasilkan. 4. Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Kab/ Kota dan RTRW kab/ kota daerah lainnya Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang Kabupaten/ Kota Perumusan visi dan misi daerah Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Analisis Gambaran umum kondisi daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Penyelarasan visi. Perumusan arah kebijakan. a. 6. mengingat cikal bakal perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah yang akan disusun kedalam RPJPD.1.-7Gambar. Penelaahan RPJPN. misi. Perumusan rancangan awal RPJPD kabupaten/kota dilakukan melalui serangkaian kegiatan. · visi dan misi daerah. Perumusan visi dan misi daerah kabupaten/kota.

dan 10. tim penyusun harus menyusun terlebih dahulu hasil pengolahan data dan informasi yang diperlukan kedalam kertas kerja (worksheet). tetapi kegiatan ini arus berlangsung terus menerus. C.1.2. maka di lingkungan SKPD perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran tentang pentingnya data dan informasi. evaluasi kinerja pembangunan daerah.2. berdasarkan sistematika penulisan RPJPD yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. menjadi informasi yang lebih terstruktur. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah harus dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografi dan demografi. Penelaahan RTRW Tata ruang merupakan perwujudan dari struktur ruang dan pola ruang. telaahan kebijakan nasional dan provinsi.1. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. aspek pelayanan umum. aspek kesejahteraan. Sedangkan. Penelaahan RTRW dan RTRW Daerah lainnya Perencanaan pembangunan daerah pada prinsipnya bertujuan mengintegrasikan rencana tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan daerah. bisa dalam bentuk grafis maupun dalam bentuk Tabel. Rancangan awal RPJPD provinsi disusun dengan mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi. analisis ekonomi dan keuangan daerah. dan aspek daya saing daerah. dan arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota. utamanya bagi pengelolaan rencana pembangunan daerah. rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun dengan mengacu pada RPJPN dan RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota. Tidak semua data dan informasi dapat disajikan dalam dokumen RPJPD. seiring dengan dinamika penyelengaraan pemerintahan daerah. maka berikut ini akan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJPD provinsi. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan awal RPJPD. Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang berikut asumsi-asumsinya. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi hendaknya tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. Hal ini untuk menjamin agar arah kebijakan dan sasaran pokok dalam RPJPD selaras dengan atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW. Pelaksanaan forum konsultasi publik. penyusunan RPJPD harus berpedoman pada RTRWD masing-masing. Untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang disiapkan.1. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis guna memberikan gambaran tentang kondisi umum daerah sekurangkurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. hasil riset dan lain-lain. sistematis.-89. C. Penyelarasan visi.1. kabupaten/kota yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. informasi. dengan cara: . Dalam kaitan itu. C. Berdasarkan penjelasan diatas. serta telaahan rumusan hasil reses DPRD. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan RPJPD. misi. Data dan informasi yang diolah mencakup bahan yang diperlukan dalam rangka analisis kondisi umum wilayah dan permasalahan pembangunan daerah. resume/notulen-notulen pertemuan.1. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian selama ini. hasil analisis. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus bertanggung jawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. bahan paparan (slide atau white paper). karena tergantung pada urgensi data dan informasi apa saja yang paling signifikan sesuai dengan kebutuhan.

4) Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. 3. f. Rencana sistem perkotaan. dan Rencana sistem jaringan sumber daya air. Peta rencana struktur ruang. Rencana jaringan energi. b. Rencana jaringan transportasi. Menelaah indikasi program pemanfaatan ruang Program pemanfaatan ruang adalah program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif. 2) Menelaah program pengembangan wilayah provinsi. melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu.-91. Hasil telaahan struktur dan pola ruang . Provinsi 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah provinsi. arah kebijakan. Rencana kawasan lindung. Kota 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kota. meliputi: a. d. b. Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan. Telaahan terhadap rencana pola ruang. Menelaah program pengembangan wilayah kabupaten. Rencana jaringan telekomunikasi. 2) 3) Menelaah program pengembangan wilayah kota. Telaahan rencana tata ruang ditujukan untuk memperoleh informasi bagi analisis gambaran umum kondisi daerah. c. Menelaah rencana pola ruang Pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan untuk fungsi lindung dan untuk fungsi budidaya. meliputi: a. dan pentahapan pengembangan wilayah per 5 (lima) tahun dalam 20 (dua puluh) tahun kedepan. b. Menelaah rencana struktur ruang Struktur ruang merupakan susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat. 3) Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan. yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. dan Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah kota. Telaahan terhadap rencana struktur ruang meliputi: a. dapat diidentifikasi (secara geografis) arah pengembangan wilayah. dan Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah kabupaten. e. Dengan menelaah rencana tata ruang daerah. 2. Kabupaten 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kabupaten. 2) 3) 4) 5) c. dan 5) Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah provinsi. Telaahan terhadap indikasi program pemanfaatan ruang. dan Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis.

...1 dan Tabel......1 II.......... C... terutama yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan provinsi/kabupaten/kota dan atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah..................2 Dst…....10 selanjutnya dituangkan ke dalam contoh Tabel... II....... Dst….......1........... Dst… Rencana jaringan energi .... Tabel.1 V.. Penelahaan RTRW Daerah lainnya Dalam menyusun RPJPD... V.1...........T-II.... Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi............................................ menyangkut pola ruang dan tata ruang daerah lain yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan daerah sendiri..2 IV....... Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis ......2 Dst ..1 I....*) Rencana pentahapan pemanfaatan struktur ruang sesuai RTRW No (1) I..... Rencana jaringan telekomunikasi ............ Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang ............. Penelaan RTRW daerah lain dilakukan seperti tahapan pada telaahan RTRW daerah sendiri namun lebih disederhanakan. Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota ......... Penentuan daerah mana yang harus ditelaah RTRW-nya adalah berdasarkan pertimbangan awal dan implikasi pembangunan dimasa-masa lalu maupun secara strategis dan kewilayahan................C........ II..................C..... III.........................2 V...1 I...2 III. Dst….*) Rencana pentahapan pemanfaatan Pola Ruang sesuai RTRW No (1) I.......... .. serta keterpaduan struktur dan pola ruang dengan provinsi/kabupaten lainnya........ Rencana Pola Ruang (2) Rencana kawasan lindung ..... ..... II...2................. Rencana Struktur Ruang (2) Rencana pusat permukiman .............1 II... C...3.......2....T-II... Dst… Rencana sistem jaringan sumber daya air ..1....2 Dst ....... I. I......... sebagai berikut: Tabel...2..T-II.. serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota.....2..........1 IV.. Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) Waktu pelaksanaan lokasi lima tahun ke-I (4) (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. agar tercipta sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi dan/atau antarkabupaten/kota...C..T-II............... Dst… Rencana jaringan transportasi ..2 II.... Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota ... IV... Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) lokasi (4) Waktu pelaksanaan lima tahun ke-I (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1 III........... selain berpedoman pada RTRW sendiri juga berpedoman pada RTRW daerah lain......C.

b) Curah hujan. (2) Terpencil. potensi pengembangan wilayah. . Sedangkan gambaran kondisi demografi. antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis. b) Ketinggian lahan.. kerentanan wilayah terhadap bencana. danau dan rawa. (3) Pesisir. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. pada provinsi dan kabupaten/kota. Mengingat perbedaaan dari karakteristiknya maka dalam analisis gambaran umum kondisi daerah harus disesuaikan dengan struktur kewenangan dan tingkatan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten/kota. antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik. (4) Pegunungan. menggambarkan keadaan setiap kecamatan di wilayah masing-masing. Sedangkan. b) Potensi. b) Posisi geostrategis. dan identifikasi faktor-faktor dan berbagai aspek yang nantinya perlu ditingkatkan dalam optimalisasi pencapaian keberhasilan pembangunan daerah provinsi dan kabupaten/kota. antara lain meliputi: (1) Pedalaman. data dan informasi yang diolah untuk kabupaten/kota. dan b) Kawasan lindung. antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan. baik dari aspek geografi dan demografi serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya. c) Suhu. 1. analisis geografi daerah untuk provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan antara lain terhadap: a. antara lain mencakup perubahan penduduk. antara lain terdiri dari: a) Tipe. Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan pemahaman awal bagi tim tentang apa. 5) Hidrologi. Gambaran umum kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam proses perumusan perencanaan pembangunan daerah. dan sejauh mana keberhasilan pembangunan daerah yang dilakukan selama ini. bagaimana. Aspek Geografi dan Demografi Analisis pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah. merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota. b) Sungai. 7) Penggunaan lahan. 6) Klimatologi. yaitu aspek kesejahteraan masyarakat.11 penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama. Secara rinci. c) Kondisi/kawasan. 4) Geologi. komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu. antara lain terdiri dari: a) Daerah Aliran Sungai. mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi. c) Debit. 2) Letak dan kondisi geografis. 3) Topografi. d) Kelembaban. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi. (5) Kepulauan. Karakteristik lokasi dan wilayah. antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya.

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . . Sedangkan untuk penyusunan RPJPD kabupaten/kota.. sebagai berikut: a.*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. longsor.3. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. s. serta penuaan. terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran.. d. pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah.. industri. sebagai berikut: Tabel. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat dalam menyusun rancangan awal RPJPD provinsi. 2.1.. dan lain-lain.. & Js. terdiri dari: 2. kewarganegaraan. serta seni budaya dan olahraga... terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kecamatan di wilayah diwilayah kabupaten/kota. kebakaran hutan. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.T-II.. atas Dasar Harga Konstan Tahun . dan angka kriminalitas yang tertangani.. Perush. Demografi Memberikan deskripsi tentang ukuran.. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. agama. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi terhadap rawan bencana alam.. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud.. kematian. abrasi. tsunami. pertanian. PDRB per kapita. seperti: banjir. persentase penduduk diatas garis kemiskinan. Gas. gempa tektonik/vulkanik. pariwisata. indeks ketimpangan Williamson (indeks ketimpangan regional). indeks gini.C. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. Provinsi/Kabupaten/Kota .. & Air Bersih Konstruksi Perdagangan.. Hotel . Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan.12 b. laju inflasi provinsi. migrasi..d . c. Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator pertumbuhan PDRB. atau entitas tertentu. Sewa.. Pertumbuhan PDRB Hasil analisis pertumbuhan PDRB dapat disajikan dalam contoh tabel. pemerataan pendapatan versi Bank Dunia. kesejahteraan sosial. struktur.

Gas. sewa..d .13 - Tabel.... Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun ..*) (n-5) No.Gas.. . Hotel. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Hotel. Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik..*) Pertumbuhan No... Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. Provinsi/Kabupaten/Kota .C. & Air bersih Konstruksi Perdagangan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Tabel.... atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota ..T-II. & Js...5.4.. sampai dengan Tahun.... & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.T-II.C. & Air bersih Konstruksi Perdagangan. Perusahaan Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No. Perusahaan Jasa-jasa PDRB Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Tabel..d ..Gas.C. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.. Hotel. s.. Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota .. & Air bersih Konstruksi Perdagangan... sewa. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. s.T-II. & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..6. & Js... sewa.

....... 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas Angka melek huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Hasil analisis angka melek huruf dapat disajikan dalam contoh tabel.*) No.*) (dalam jutaan rupiah) PDRB No Kabupaten/Kota/Kecamatan*) HB (n-5) HK HB (n-4) HK HB (n-3) HK HB (n-2) HK (n-1)**) HB HK 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan. angka partisipasi kasar..***) Kabupaten/Kota/Kecamatan......d .. angka kelangsungan hidup bayi.T-II. Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun . jika kecamatan dapat dibandingkan dengan standar kabupaten/kota dst. angka rata-rata lama sekolah. Angka melek huruf Tabel... Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi provinsi/kabupaten/kota...14 Tabel......*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Provinsi/Kabupaten/Kota . Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas... angka usia harapan hidup...T-II. Jika tabel provinsi.2..) b.8. 2. sebagai berikut: a. . s.9. sebagai berikut: *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota . Laju Inflasi Hasil analisis nilai inflasi rata-rata dapat disajikan dalam contoh tabel. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan... angka partisipasi murni..... angka pendidikan yang ditamatkan..C. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. s.T-II. dan rasio penduduk yang bekerja.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan..7. Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf.d . Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun .C.. s..... Diisi sesuai dengan ketersediaan data. persentase penduduk yang memiliki lahan... Nilai inflasi rata-rata Tahun.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..***) Dst … Standar Provinsi/Kabupaten/Kota****) Standar Nasional/Provinsi****) Standar Internasional/Nasional****) *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Provinsi/Kabupaten/Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.C. Coret sesuai dengan kebutuhan (untuk kabupaten dapat dibandingkan dengan standar provinsi.. sebagai berikut: Tabel..d .

Provinsi/Kabupaten/Kota .***) Dst .11. Rata-Rata Lama Sekolah Tahun . sebagai berikut: Tabel...*) No.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data..000 penduduk. Angka rata-rata lama sekolah Hasil analisis angka rata-rata lama sekolah dapat disajikan dalam contoh tabel...... dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. Jumlah Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. s.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..... 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota /Kecamatan.... 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. ***) Jika tabel provinsi. Provinsi/Kabupaten/Kota ... Jumlah (n-5) L P L (n-4) P L (n-3) P L (n-2) P (n-1)**) L P *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. jumlah klub olahraga. Perkembangan Seni.000 penduduk.T-II.. Jumlah klub olahraga per 10. dan jumlah gedung olahraga.... ..10.*) No..... dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.. s.15 - Tabel...000 penduduk.C..C.. 2..d .**) Dst . Budaya dan Olahraga Tahun . Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator jumlah grup kesenian. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga sebagai berikut: Tabel...**) Kabupaten/Kota /Kecamatan.T-II.C. Jika tabel provinsi. Angka Melek Huruf Tahun .3...... Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan sosial sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.*) No. b.d ..12...T-II.. Jumlah gedung olahraga per 10.000 penduduk. Jumlah gedung kesenian per 10..

. kesehatan. Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan. kepemudaan dan olah raga. sosial. Jumlah grup Jumlah gedung Jumlah klub Jumlah gedung kesenian per kesenian per olahraga per olahraga per 10. perhubungan. yaitu bidang urusan pendidikan. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun rancangan awal RPJPD provinsi terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.. perencanaan pembangunan. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan. kebudayaan.. perangkat daerah.000 penduduk *) **) Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.000 penduduk 10...000 penduduk 10. sebagai berikut: .. Perkembangan Seni. dan persandian. keluarga berencana dan keluarga sejahtera.. penataan ruang..T-II.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. koperasi dan usaha kecil menengah. kependudukan dan catatan sipil. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau table seperti contoh diatas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini... Budaya dan Olahraga Tahun . pemerintahan umum.. penanaman modal..*) No 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintahan daerah. pertanahan. Sedangkan untuk penyusunan rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun kedalam Tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota.. kearsipan.. baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan... ketahanan pangan..16 Tabel. pemberdayaan masyarakat dan desa.1 Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan wajib pemerintahan daerah.. kepegawaian.**) Dst . komunikasi dan informatika dan perpustakaan. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota . perumahan. ketenagakerjaan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. otonomi daerah. lingkungan hidup. statistik...13. sebagai berikut: a. pekerjaan umum. administrasi keuangan daerah. Indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari: 3. Jika tabel provinsi.. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota.C.000 penduduk 10... Angka partisipasi sekolah Hasil analisis perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) di lingkup provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. 3.

.1. . 1. Provinsi/Kabupaten/Kota ...3.2... b. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun . 1..3.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 1 1.3... s.. 1..17 Tabel.....15. 2. 1. sebagai berikut: Tabel.. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .14.*) No.. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan...16..1.. Provinsi/Kabupaten/Kota ..d .d ...... 2. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.C.**) Dst . Rasio ketersediaan gedung sekolah/penduduk usia sekolah Hasil analisis rasio ketersediaan gedung sekolah per-penduduk usia sekolah se provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel....*) SD/MI No..2.. 2 2..1..2.. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.... SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C.. 2..2..C. Jumlah *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..T-II..3...T-II....... 1 1. 2 2.T-II.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Tabel.1. Jika tabel provinsi.. menurut kabupaten/kota/kecamatan*) Provinsi/Kabupaten/Kota . dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.

..... Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun ....*) SD/MI No... Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .2. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan. sebagai berikut: Tabel...C..3. s. 2 2. Menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota .d .. 1....18 Tabel... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. Tabel.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan....19.1..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...1. SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... Rasio guru/murid Hasil analisis rasio jumlah guru/murid se provinsi/kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. Jumlah Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) SMP/MTs Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.....**) Dst . ***) Jika tabel provinsi.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.....**) Dst .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota Provinsi/Kabupaten/Kota .........C.*) No....T-II. Provinsi/Kabupaten/Kota ... c..T-II....*) No.C. .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... 2. (1) 1 2 3 4 5 6 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan... (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..T-II... 1.18...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jika tabel provinsi... 2. Jumlah Jumlah gedung sekolah (3) SD/MI jumlah penduduk usia Rasio 7-12 th (4) (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota....3.2.. 1 1..17...

Provinsi/Kabupaten/Kota . dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas...*) Tahun (1) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Uraian (2) PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..d . b. sebagai berikut: . energi dan sumberdaya mineral.... pariwisata. industri dan ketransmigrasian... Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis jumlah investor PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel... Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi Realisasi JumlahProyek Nilai Investasi c. kehutanan.. Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun ... sebagai berikut: Tabel..T-II.. kelautan dan perikanan.. s..21. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.20. Provinsi/Kabupaten/Kota . 3.. yaitu bidang urusan pertanian. sebagai berikut: a..2 Fokus Layanan Urusan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan pilihan pemerintahan daerah.*) Tahun (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. sebagai berikut: Tabel.T-II. Rasio daya serap tenaga kerja Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota.d .C. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan pilihan pemerintahan daerah. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis nilai PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel.C. perdagangan. s.. Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun ... dapat disajikan dalam contoh tabel.19 Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan wajib sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota..

. Provinsi/Kabupaten/Kota . Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . sebagai berikut: a. 1 2 3 Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN Rasio daya serap tenaga kerja (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. domestik.. 2.T-II./2.. s.... produktivitas total daerah. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek daya saing daerah dalam menyusun rancangan awal RPJPD propinsi.22... terdiri dari: 4.. atau internasional.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Indikator variabel aspek daya saing daerah. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kemampuan ekonomi daerah. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... dan nilai tukar petani... Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan pilihan sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. 4. 1. Jumlah RT Uraian Total Pengeluaran RT (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3..*) No. Rasio (1. sebagai berikut: Tabel..C. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. fasilitas wilayah atau infrastruktur.) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.23.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.T-II..C. s. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Hasil analisis konsumsi RT perkapita dapat disajikan dalam tabel. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun . .. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah.d . iklim berinvestasi. Provinsi/Kabupaten/Kota ..*) No.20 Tabel. dan sumber daya manusia.. pengeluaran konsumsi non pangan per kapita. dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi lainnya.. Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota masingmasing..d .

.T-II. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Provinsi/Kabupaten/Kota .T-II... (1) Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.C..d . 3. Total Pengeluaran RT non Pangan Total Pengeluaran Rasio *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun . Provinsi/Kabupaten/Kota ... (1) 1. 1..*) No... sebagai berikut: Tabel. 2. 3. Provinsi/Kabupaten/Kota .... ... 2.. 3... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.T-II.... **) c...*) No... Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (Persentase Konsumsi RT untuk non pangan) Untuk menghitung jumlah nonkonsumsi pangan perkapita..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2.. Jumlah Total Pengeluaran RT (3) Jumlah RT (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.26. Jika tabel provinsi. s.*) No.. dapat disajikan ke dalam contoh tabel. Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun ...... Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1.24..d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. b.... Nilai tukar petani Untuk hasil penghitungan terhadap nilai tukar petani (NTP)...C. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (lt) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...**) Indeks Yang Diterima Petani (lt) (3) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) (4) Rasio (5=3/4) 1.. Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..25......T-II..C.. 3... dapat disajikan ke dalam contoh tabel. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. Jika tabel provinsi. sebagai berikut: Tabel. 2. Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .**) Dst ..... *) Dst ...21 Tabel. s..C.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) No. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan...27. Tabel.. Provinsi/Kabupaten/Kota . Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun .

2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator rasio panjang jalan per jumlah kendaraan.22 - Tabel.. 3. 3. Provinsi/Kabupaten/Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 5.../2. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur. persentase rumah tangga yang menggunakan listrik... 4..*) No..C. dan jumlah penginapan/hotel... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. 2.. persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih. kelas... Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Untuk menghitung ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat disajikan dalam contoh tabel.... dan jumlah restoran.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. luas wilayah produktif. dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. luas wilayah industri. Provinsi/Kabupaten/Kota . Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kemampuan ekonomi daerah sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota... jenis. luas wilayah kebanjiran.... jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. 2. jenis... jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun.**) Dst .C.. 4.T-II. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.... jenis dan jumlah bank dan cabang. ketaatan terhadap RTRW. Jika tabel provinsi. sebagai berikut: a.. rasio ketersediaan daya listrik. (1) 1..) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Persentase Konsumsi RT non-Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .d . Jumlah Total pengeluaran RT non pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... luas wilayah perkotaan....*) No. Rasio Ketaatan terhadap RTRW Tahun . s.. kelas. sebagai berikut: Tabel.T-II. .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...28... 1. Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.29. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum. luas wilayah kekeringan.

Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wil.... jumlah perda yang mendukung iklim usaha. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..*) No.T-II.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Budidaya Rasio (1... Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota ..... Provinsi/Kabupaten/Kota . 3. dan persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.**) Dst . jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus fasilitas/infrastruktur sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.*) No 1.T-II. Luas wilayah produktif Untuk menghitung luas wilayah produktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. 2.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..31.. Persentase luas Wilayah Produktif Tahun . 4.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.32.T-II... Uraian Luas wilayah produktif Luas seluruh wil. 4..C../2..C.*) No. Angka kriminalitas Untuk menghitung angka kriminalitas dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel....d . 2......30... dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. Jenis Kriminal Jumlah kasus narkoba Jumlah kasus pembunuhan Jumlah kejahatan seksual Jumlah kasus penganiayaan Jumlah kasus pencurian Jumlah kasus penipuan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . s. Jika tabel provinsi. 6... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.23 b.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. jumlah demo. Persentase Luas Wilayah Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun . (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus iklim berinvestasi. sebagai berikut: a... 5. Provinsi/Kabupaten/Kota ....C. lama proses perijinan. Tabel....... 1.. 3.

9..34.*) No 1.. 3... Rasio lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota .*) No. s.*) No 1 2 3 4 Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Bidang politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah unjuk rasa *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..35. b...T-II. 3..C. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas. 4..4 Fokus Sumber Daya manusia Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan S1/S2/S3. b. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. Jumlah Demo Provinsi/Kabupaten/Kota . 2.dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.24 - No 7.T-II. 4.33. 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 5. ...T-II. a... 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 1.C. Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Hasil analisis rasio lulusan S1/S2/S3 dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. 10. Provinsi/Kabupaten/Kota . Uraian Jumlah penduduk usia < 15 tahun Jumlah penduduk usia > 64 tahun Jumlah penduduk usia tidak produktif (1) & (2) Jumlah penduduk usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Jenis Kriminal Jumlah kasus pemalsuan uang Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah penduduk Angka kriminalitas (8)/(9) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Jumlah Demonstrasi Untuk menghitung jumlah demontrasi. 2. 8... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d ...C.. Rasio Ketergantungan Tahun . Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Hasil analisis rasio ketergantungan dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Uraian Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Julah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... 6. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus iklim berinvestasi sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.

3 2.1.2. poliklinik.1.1 1.1.1.1 2.3 2.1 2.4 1.2 2. 1.3 1.2. PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid Dst …… Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….4 2..1.1.1.1..1.2.1.1.1.1.3 2.2.1 2.3.1.2..2 2.1.1. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst …… Dst …… Dst….2.2 2..2..1 2.2. Pelayanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….1.3 .1.C.1. sebagai berikut: Tabel.2 2.2. Dst… Dst….1. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.2.3. 1.1. 1. Perangkat Daerah. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 1.2.2 2.1. 2.2.1 2.1..1.2.1. 1.1 2.1.1.2.1. Administrasi keuangan daerah.1.1 1..1.T-II.2.25 - Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota dapat dirangkum dalam bentuk tabel.1.1.1 2.1 2.1.2 1.1.1.2 2.1 2.2.3 1.2 2.36.2.1.1.1.*) Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah.1.1 2.1.3 2. 1.2 1.3.1.1 2.2.2 2.2 2. Pemerintahan Umum. Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota . Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi PDRB per kapita Dst….2.1. pustu per satuan penduduk Dst….2.1.1.1.1 1.

Tidak semua permasalahan tiap urusan dijadikan sasaran pokok selama 20 (dua puluh) tahun ke depan. fokus kepada agenda paling strategis.1.2.2.1 3.3 3.1.1.2 3.2.2.3 3. Selanjutnya. Dst… (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 2.4.1.3 3.2 3.1. Administrasi keuangan daerah. permasalahan pada urusan atau gabungan urusan yang akan dijadikan sebagai dasar penentuan sasaran pokok adalah permasalahan- . dibutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang kekuatan dan kelemahan sehubungan dengan peluang dan tantangan yang dihadapi. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst …… Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….2. 3. isu strategis yang muncul.3.2.1 3.. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal dan kelemahan yang tidak diatasi.2.2. Dst…… DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi Otonomi Daerah.1.2.1. Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan sedang dibuat.2.1.2.3 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1 3. mengingat keterbatasan pendanaan. Pemerintahan Umum. Untuk mengefektifkan sistem perencanaan pembangunan daerah dan bagaimana visi/misi daerah dibuat dengan sebaik-baiknya. dan hubungannya dengan agenda-agenda pembangunan yang telah berhasil dicapai di periode sebelumnya.2.1. Dst ….1.3 2.1 3. Dengan pendekatan manajemen strategis.26 Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Dst….2. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah. khususnya yang berhubungan dengan kemampuan manajemen pemerintahan dalam memberdayakan kewenangan yang dimilikinya.1 3. Perangkat Daerah.1.1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.2 3.1.1.2 3.4 3. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah dimasa lalu.1 3.. C.2 3.1 3.3.1 3.2.1.2 3. identifikasi permasalahan pembangunan dilakukan terhadap seluruh bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara terpisah atau sekaligus terhadap beberapa urusan.1.

1.3. 2.2.7.6.2. 4.4. 1. 3. 3. 5.4.. Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber. 5. 1. poliklinik.3.6. .C.1.3. 3. 2.2. 4. 4. hasil kinerja.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Ketaatan terhadap RTRW 5.2.3.3. sebagaimana Tabel berikut ini: Tabel.3. 1.3. Penataan Ruang INTERPRETASI Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH (4) FAKTOR –FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (5) (1) 1. 4. Kesehatan Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas. 2. Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Dst….3. 1. Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan. Perumusan permasalahan pembangunan pada tiap penyelenggaraan urusan pemerintah daerah dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap penyelenggaraan urusan pemerintah guna mendapatkan rumusan permasalahan pada masing-masing urusan tersebut.1. 1.4. 2.. 3.1. 2. tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang.27 permasalahan yang memiliki dampak paling tinggi terhadap pembangunan dan kriteria-kriteria lain yang sesuai peraturan perundang-undangan. Identifikasi Permasalahan Pembangunan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi/Kabupaten/Kota …. 3.5.1.2. 2. 3. 1.4. 2. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Dst….37. Faktor-faktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis. 5.1.2..*) No BIDANG URUSAN DAN INDIKATOR KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (2) Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Dst…. 3.5. dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan.3. 5. 2.1.T-II. Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah layak huni Dst….

.C. Cara pengisian Tabel.T-II. Dst *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. Penelaahan kebijakan nasional untuk tingkat provinsi dilakukan terhadap dokumen RPJPN dan sumber-sumber informasi terkait lainnya. (1) RPJP Provinsi (3) Lain-lain (4) 1. diisi dengan faktor-faktor penentu keberhasilan. penelaahan kebijakan nasional untuk tingkat kabupaten/kota dilakukan terhadap dokumen RPJPN dan RPJPD provinsi dan sumbersumber informasi terkait lainnya. 6.T-II. C. tantangan bagi daerah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang.*) Kebijakan Nasional RPJPN (2) No. bidang urusan urutannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau sebaliknya. diisi dengan permasalahan pembangunan daerah.28 INTERPRETASI Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) No BIDANG URUSAN DAN INDIKATOR KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (2) PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH (4) FAKTOR –FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (5) (1) 5..5. dan berpengaruh langsung dengan daerah bersangkutan. diisi dengan bidang urusan/indikator. Luas wilayah produktif Dst….. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Indikator pada tiap-tiap urusan dijadikan input utama bahan analisis..5. di samping sumber-sumber lain. diisi dengan interpretasi hanya pada kolom urusan berdasarkan pada analisis indikator-indikator sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.37 adalah sebagai berikut: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut. Tabel.. Adapun. berhubungan. Identifikasi Kebijakan Nasional Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. 2.. 3. Keterangan: untuk pengisian tabel provinsi.6.C.1.38. 5. Hasil telaahan pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis. tidak termasuk kolom 3 . Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) Perlu diperhatikan bahwa pengisian tabel diatas difokuskan pada identifikasi permasalahan pembangunan pada tiap-tiap urusan. Penelaahan RPJPN Penelaahan kebijakan nasional bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan nasional terpenting.

Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau sebaliknya. dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan... Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan. Penelaahan RPJPD daerah lainnya C. Hasil telaahan RPJPD daerah lainnya pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis. Adanya agenda pembangunan kewilayahan yang menentukan kewenangan bersama. di samping sumber-sumber lain.C. Perlunya suatu daerah menelaah RPJPD daerah lain karena beberapa alasan. sebagai berikut: 1. diisi dengan kebijakan nasional yang mengacu pada rancangan awal RPJPN atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika dinamika eksternal. untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya.T-II. khususnya selama 20 (dua puluh) tahun yang akan datang diidentifikasi dengan baik maka pemerintah daerah dapat mempertahankan kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. tantangan bagi daerah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang.C.1.29 Cara Pengisian Tabel. dimaksudkan agar tercipta keterpaduan pembangunaan jangka panjang daerah dengan daerah-daerah lain terkait. Oleh karena itu. dan 4.1. Penyusunan dokumen RPJPD daerah juga memperhatikan dokumen RPJPD daerah lainnya.. diisi dengan identifikasi kebijakan nasional/provinsi selain dalam bentuk (atau ada dalam) RPJP.. Adanya kebijakan pemerintah yang menetapkan suatu daerah sebagai bagian dari kesatuan wilayah/kawasan pembangunan. identifikasi kebijakan dari dokumen RPJPD daerah lain dituangkan dalam tabel. . provinsi maupun kabupaten/ kota.. Analisis Isu-Isu Strategis Pembangunan Jangka Panjang Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah. utamanya daerah-daerah yang letaknya berdekatan. Adanya persamaan kepentingan/tujuan atau upaya-upaya strategis yang harus disinergikan.T-II. Identifikasi RPJPD Daerah Lain Provinsi/Kabupaten/Kota . 3.5. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. Perencanaan pembangunan antara lain adalah dimaksudkan agar organisasi senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan.*) No. yang dapat dipertanggungjawabkan.6. sebagai berikut: Tabel. 2.1.. Adanya persamaan permasalahan pembangunan yang memerlukan upaya pemecahan bersama. C. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan.39. Daerah Lain Periode RPJPD Kebijakan Terkait Keterangan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Selanjutnya. diisi dengan kebijakan provinsi yang mengacu pada rancangan awal RPJPD provinsi atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.38: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan urutan isu di tingkat nasional.

dibuat berbagai rumusan isu-isu strategis dengan tabel. perencanaan daerah juga harus menghasilkan ide dan langkah untuk menciptakan peluang itu sendiri. Hal ini bertujuan agar rumusan isu strategis yang dihasilkan dapat sinkron dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional dan kebijakan pembangunan jangka panjang provinsi bagi kabupaten/kota. mendesak. Secara teknokratis.30 Pemerintahan daerah yang tidak menyelaraskan diri secara sepadan atas isu strategisnya akan menghadapi kegagalan dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah. 3. Panduan itulah yang akan digunakan tim perencana dalam mengkompilasi berbagai bahan untuk merumuskan isu-isu strategis bagi daerah. sebagai berikut: Tabel. 2. Metode penentuan isu-isu strategis yang dapat digunakan. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas pemerintahan daerah dan masyarakat dimasa datang. 4. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional termasuk kebijakan nasional yang mengacu pada rancangan awal RPJPN.C. mendasar. tak kalah penting. Suatu isu strategis dapat berlaku umum untuk sebagian besar daerah. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional. penentuan sesuatu atau kondisi menjadi isu strategis dapat didukung dengan menerbitkan pedoman atau kriteria oleh kepala daerah atau Kepala Bappeda. bersifat kelembagaan/keorganisasian dan menentukan tujuan organisasi/institusi dimasa yang akan datang. isu strategis hanya berlaku bagi satu daerah tertentu saja karena kekhasan. termasuk analisis kebijakan terhadap entitas pemerintahan diatasnya. dan 5. Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah. 2. Isu strategis diindentifikasikan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (teknokratik) melalui pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun. . Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal yang bersifat penting. Memiliki daya ungkit yang signifikan pembangunan daerah. 3. Isu Strategis Dunia Internasional (2) Kebijakan Nasional (3) Regional (4) Lain-lain (5) Cara Pengisian Tabel. sebagai berikut: 1. sebagian lainnya. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat provinsi termasuk kebijakan provinsi yang mengacu pada rancangan awal RPJP provinsi. dan peluang yang berbeda tiap daerah. berjangka panjang. Identifikasi Isu-Isu Strategis No (1) 1.C. tantangan.. Isu strategis dalam jangka panjang daerah sekurang-kurangnya memenuhi kriteria.40: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan. Memiliki dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat.T-II.T-II. antara lain: 1) Dibahas melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman merumuskan isu-isu strategis.40. Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani. dalam hal tidak dimanfaatkan maka menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Sinkronisasi langkah dan kebijakan pembangunan daerah terhadap isu-isu strategis tetap berlandaskan bahwa pembangunan daerah tidak saja memanfaatkan peluang dimasa datang. Suatu kondisi/kejadian penting adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya.

Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta.T-II. s. diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi pada Tabel. penemuan-penemuan teknologi. Salah satu metode yang menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan. Nilai Skala Kriteria Nama Anggota Tim : .T-II. Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah Dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat Memiliki daya ungkit yangsignifikan pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… Total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan. dengan mengisi Tabel.C. Bobot 20 10 20 10 15 25 *) Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skor tersebut diatas dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.C.d.C.. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan.41. sosial budaya.. 2) Pembobotan Setelah berbagai isu diidentifikasi dan dilakukan FGD untuk memahami usulan dan masukan tentang berbagai isu strategis. yang dituangkan dalam tabel.C. sebagai berikut: .42.42: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (10) diisi dengan nomor urut. No (1) 1 2 3 4 5 Dst..T-II... Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria per-isu strategis per peserta.T-II. langkah selanjutnya adalah menentukan mana isu strategis yang paling prioritas dan akan dijadikan dasar bagi proses berikutnya (menentukan visi dan misi).. Isu Strategis (2) Nilai Skala Kriteria 1 (3) 2 (4) 3 (5) 4 (6) 5 (7) 6 (8) Dst… (9) Jumlah skor (10) Cara Pengisian Tabel.40.. diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria..31 Kolom (5) diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.. usaha/bisnis...T-II.41 dengan contoh sebagai berikut: Tabel..C.

C.32 - Tabel. diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional. dan lain-lain. nasional dan regional. Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No.1. Visi pembangunan jangka panjang daerah yang telah diterjemahkan dalam sasaran pokok dan arah kebijakan RPJPD menjadi acuan bagi (calon) kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam merumuskan visinya pada periode lima tahun berkenaan dan bagaimana RPJMD dikembangkan. seperti pemrioritaskan program prioritas. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis yaitu total skor pada Kolom (3) dibagi banyaknya anggota tim... tetapi dengan fokus pada masa depan.43. Visi harus dapat menunjukkan gambaran masa depan yang ideal bagi masyarakat/daerah dan merupakan suatu pernyataan umum yang menjadi dasar/basis bagi semua elemen atau semua pelaku (stakeholders) dalam operasionalisasi perencanaan pembangunan daerah. Visi daerah dituangkan dalam RPJPD. Perumusan Visi Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan pembangunan jangka panjang 20 (dua puluh) tahun. Visi bukan hanya mimpi atau serangkaian harapan. visi diciptakan melampaui realitas sekarang.C.42) untuk setiap isu-isu strategis. Kolom (3) diisi total akumulasi jumlah skor dari keseluruhan anggota tim perumus (diambil dari Tabel. usulan permasalahan pembangunan.C. tetapi suatu komitmen dan upaya merancang dan mengelola perubahan untuk mencapai tujuan.7.1. Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya.1. Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) Cara Pengisian Tabel.T-II. bukan pikiran berandai-andai (wishfull thinking). Oleh karena itu. Pernyataan visi yang artikulatif akan memberikan arah yang jelas bagaimana mencapai masa depan yang diharapkan dan mengatasi kesenjangan yang terjadi. Kriteria dan Syarat Visi Daerah Kriteria suatu rumusan visi daerah antara lain memuat hal-hal sebagai berikut: . (1) 1 2 3 4 5 Dst. dirumuskan. Perumusan Visi dan Misi Daerah Perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang merupakan salah satu tahap penting penyusunan dokumen RPJPD sebagai hasil dari analisis sebelumnya. C. C.T-II. visi didasarkan pada realita.43: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut.T-II. Visi mengarahkan kondisi daerah yang ingin dicapai dimasa depan (desired future) dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan. dibahas dan disepakati secara bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan pembangunan daerah secara partisipatif. Visi dan misi daerah harus jelas menunjukkan apa yang menjadi cita-cita bersama masyarakat daerah atau stakeholder pembangunan daerah. yang merefleksikan kekuatan dan potensi khas daerah sekaligus menjawab permasalahan dan isu-isu strategis daerah. kegiatan prioritas.7. Visi menjelaskan arah atau suatu kondisi ideal dimasa depan yang ingin dicapai (clarity of direction) berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini yang menciptakan kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dan masa depan yang ingin dicapai. Di sini.

.44. 2. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). 3. Menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka panjang. Di sini masing-masing anggota tim perumus perlu diberi waktu yang cukup untuk memaparkan gambaran masing-masing tentang wujud dari visi yang diinginkan pada akhir tahun ke-20. Menjelaskan/mengakomodasikan kekuatan dan peluang serta keunikan „kompetitif‟ yang dimiliki daerah dalam jangka panjang. Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti oleh semua pelaku (communicable). sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. dengan memberi tanda (x) untuk yang tidak berkesesuaian dan tanda () untuk yang berkesesuaian. Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan perwujudan visi yang salah satunya berlandaskan pada kekuatan terbaik daerah. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku (imaginable). Tabel. dan 4. Untuk memperjelas gambaran suatu perwujudan visi dapat ditambahkan dengan atribut atau ciri-ciri lain tentang suatu wujud visi. Perwujudan visi merupakan gambaran paling sederhana dan dengan bahasa yang mudah dikomunikasikan tentang wujud nyata kondisi daerah di 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. dan 7. Permasalahan pembangunan daerah harus dapat pula mengungkapkan . dengan mengisi tabel dibawah ini. wajar dan layak untuk dicapai dengan situasi. Menggambarkan nilai-nilai kunci (core values) yang perlu dilaksanakan. identifikasi permasalahan daerah harus mampu mengungkapkan peta kekuatan yang paling dominan dalam realisasi pembangunan daerah dimasa-masa lalu. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable).C. Proses Perumusan Visi Dengan koridor atau panduan tentang karakteristik visi sebagaimana dijelaskan diatas dan melanjutkan tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD.T-II. Bagi sel (kotak) yang bertanda () itulah dibuatkan perwujudan dimaksud pada tabel diatas. antara lain: 1. Namun. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang (clarity of direction). berikut pemikiran atau hasil analisis yang mendasarinya. terlebih dahulu dibuat analisis keterhubungan antara permasalahan pembangunan dengan isu strategis (misal. efisien dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focussed). 4. 2. Memungkinkan. Memusatkan perhatian kepada isu strategis dan permasalahan utama daerah. 5. 3. Perumusan Perwujudan Visi Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 PPD 2 PPD 3 Dst     Perwujudan Visi 1     Perwujudan Visi 2     Perwujudan Visi 3     Dst Perwujudan visi diidentifikasi melalui proses FGD atau teknik lain yang secara efektif dapat menghasilkan rumusan tentang bagaimana wujud daerah dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan yang dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategisnya. kondisi dan kapasitas yang ada (feasible). sebelum menentukan identifikasi perwujudan visi. Syarat visi yang baik. jelas dan padat. perumusan visi dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah (PPD) untuk menemukan perwujudan visi.33 1. 6.

Suatu pernyataan visi dapat berupa satu atau lebih pernyataan atau kalimat yang merangkum atau menggabungkan berbagai pokok visi terpilih.C. Berbagai atribut sangat penting dalam memberi bobot dan kejelasan bahwa perwujudan visi dimaksud penting bagi pembangunan daerah 20 (dua puluh) tahun mendatang.7. Untuk membantu identifikasi dan mengukur capaian kinerja. suatu penjelasan visi pada dasarnya menguraikan kembali pokok-pokok visi yang telah disepakati ke dalam perwujudan visi dengan merinci lebih baik berbagai atribut atau penjelasan masing-masing pokok visi. sehingga keseluruhan langkah diatas dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Selanjutnya. Rumusan misi yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi yang ingin . C.T-II.C. dan membandingkan atribut-atribut dari berbagai perwujudan visi yang berbeda-beda. dan jelas serta memenuhi kriteria atau karakteristik visi sebagaimana telah dijelaskan di awal.T-II. dari keseluruhan pokok-pokok visi dibuatlah pernyataan visi. Setelah berbagai identifikasi perwujudan visi dibuat. dengan kesederhanaan kalimat.45. Penyusunan Penjelasan Visi Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Dengan demikian. Pembahasan tentang wujud apa yang paling baik atau sesuai bagi suatu daerah dimasa datang sangat ditentukan bagaimana anggota tim mengenali. lugas. Suatu perwujudan visi merupakan kalimat yang relatif masih lengkap dalam menggambarkan wujud visi masa datang. Perwujudan Visi Pokok-pokok Visi Pernyataan Visi Suatu pernyataan visi dibuat dengan menggunakan bahasa yang singkat. Untuk memberi penekanan atas keyakinan bahwa target dapat dicapai pada akhir periode perencanaan maka pernyataan visi dapat secara spesifik menyebutkan waktu capaian. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa salah satu potensi permasalahan pembangunan adalah jika suatu kekuatan tidak dimanfaatkan secara optimal. Penjelasan visi dibuat untuk menjelaskan masing-masing pokok visi. diupayakan visi adalah satu kalimat dengan pokok-pokok visi dapat lebih dari satu. Perumusan Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. termasuk atribut-atribut yang menjelaskannya. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.. Perumusan Visi No. Misi juga dapat dipandang sebagai pilihan jalan (the chosen track) bagi pemerintahan daerah dalam menyediakan dan menyelenggarakan layanan bagi masyarakat dan aktivitas pembangunan pada umumnya bagi stakeholder pembangunan secara keseluruhan.2. dilakukan pembahasan masing-masing perwujudan visi menjadi pokok-pokok visi.46.1. perwujudan visi dapat disebutkan target waktu pencapaiannya. memahami.34 kantong-kantong kekuatan pembangunan yang selama ini terabaikan untuk dijadikan salah satu faktor keberhasilan visi/misi pembangunan dimasa 20 (dua puluh) tahun mendatang. Namun. Perumusan pokok-pokok visi dilakukan dengan mencari inti (kalimat) perwujudan visi ke dalam satu-dua kata dengan menghilangkan berbagai kata dan atribut yang bukan inti dari perwujudan visi dimaksud.

Teknisnya. Visi Pokokpokok visi (√) Stakeholder Pembangunan Masyarakat Rincian misi Pemerintah Daerah (x) Pelaku Ekonomi (√) Rincian misi Lainnya Rincian (√) misi Misi . pelaku ekonomi di daerah. dalam hal ini masyarakat daerah (secara keseluruhan). rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi. Kriteria suatu rumusan misi: 1. Mengingat bahwa misi harus dibuat penjelasannya. Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa rumusan misi di RPJPD berbeda dengan misi RPJMD. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah. dan bagaimana dana publik dapat terus ditingkatkan kapasitasnya serta efektifitas/efisiensi penggunaannya (financial perspective).T-II. dan stakeholder pembangunan daerah lainnya. Mengandung rumusan misi yang lebih luas jangkauan dan skalanya untuk menaungi prioritas program pembangunan lima tahunan selama 20 (dua puluh) tahun.47. 2. serta kekuatan. Perumusan Misi Setelah dibuat visi. Disusun dengan menggunakan bahasa yang ringkas. termasuk penjelasan misi didalamnya.35 dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan. singkat dan lugas dalam menjelaskan bagaimana visi akan dicapai. Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. dan pemanfaatan teknologi yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan seluruh proses birokrasi (learning and growth perspective).C. sistem/kebijakan. bagaimana barang/jasa disiapkan dan diberikan dalam berbagai aktivitas pembangunan (internal process perspective). sederhana dan mudah diingat. Atau stakeholder yang berhubungan atau terkait dengan pokok visi tersebut. peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. Perumusan misi adalah suatu upaya untuk menyusun peta perjalanan yang memungkinkan pemerintahan daerah memiliki dasar yang jelas dalam mengembangkan program-program prioritas dalam memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kepuasan masingmasing segmen masyarakat pengguna layanan (customer perspective). Proses perumusan misi dicontohkan pada tabel berikut ini: Tabel. 4. Dalam suatu dokumen perencanaan. 3. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi. Menunjukkan dengan jelas komitmen pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan visi daerah. kemudian dibuatlah rincian misi. selanjutnya dibuat misi. maka pengembangan misi harus dijabarkan terlebih dahulu kepada stakeholder utama pembangunan. Jika misi RPJMD dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang program pembangunan daerah lima tahunan yang harus diselenggarakan maka misi RPJPD harus dapat menaungi berbagai tema pembangunan di 4 (empat) tahap pembangunan daerah. pokok visi harus diidentifikasi terlebih dahulu stakeholder mana yang menjadi pelaku atau terkena dampak atas pokok visi dimaksud. aktivitas dan investasi apa pada SDM. Rumusan misi dalam dokumen RPJPD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa misi juga menyangkut komitmen pada stakeholder utama atau apa yang ingin diwujudkan oleh visi. kelemahan. termasuk pokok-pokok visi dan penjelasan visi. Perumusan Misi No. pemerintah daerah (pelaku organisasi). maka pengertian misi harus sederhana. Alasan utama pengembangan visi adalah pada pokok-pokok visi karena pada pokok-pokok visi tersebut terkandung ulasan-ulasan apa yang akan dijadikan untuk dicapai dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan..

.. Perumusan Arah Kebijakan Arah kebijakan adalah instrumen perencanaan yang memberikan panduan kepada pemerintah daerah agar lebih terarah dalam menentukan dan mencapai tujuan. c.. . Tahapan dan prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan berkaitan dengan pengaturan waktu.1. Kurun waktu RPJPD sesuai dengan kurun waktu RPJPN 20 (dua puluh) tahun. Sebagai contoh. selanjutnya dibuat pernyataan misinya....1 maka pokok-pokok visi disandingkan dengan stakeholder pembangunan yang terpengaruh atau terkait visi tersebut dengan (√) dan dijelaskan sebagai rincian misi kenapa stakeholder tersebut mempengaruhi pokok-pokok misi. Setelah diketahui stakeholder yang terpengaruh atau berhubungan dengan pokok-pokok visi dan dijelaskan dalam “rincian misi”. Mengidentifikasi sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah yang diturunkan dari masing-masing pernyataan misi daerah yang telah disepakati. Secara skematis.-…. tiap-tiap misi dibuat sub-misi berdasarkan rincian misi.) Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Dari gambar diatas tampak bahwa penyusunan sasaran pokok. tetapi memiliki kesinambungan dari satu periode ke periode lainnya dalam rangka mencapai sasaran pokok tahapan lima tahunan RPJPD. dibuat penjelasan misi dengan menggunakan dasar rincian atau sub-misi yang telah dibuat untuk menjelaskan berbagai hal sehingga misi menjadi mudah dipahami.1. Penekanan prioritas dalam setiap tahapan berbeda-beda. namun harus tetap mempertahankan substansi..7.-….) (.-….. dan Merumuskan tahapan dan prioritas pembangunan daerah untuk setiap periode RPJMD. C.. Pentahapan dalam RPJPD dijabarkan sesuai dengan periode masa jabatan kepala daerah. Lalu.C. yang mana. Selanjutnya. merupakan langkah awal yang cukup penting guna menggambarkan kondisi agar apa yang diinginkan dengan visi/misi pada akhir periode 20 (dua puluh) tahun dan bagaimana upaya-upaya yang akan dilakukan. b.3. substansi arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: Gambar.) (..3 Visi daerah Misi daerah Sasaran 20 tahun Arah kebijakan lima tahun ke-1 Arah kebijakan lima tahun ke-2 Arah kebijakan lima tahun ke-3 Arah kebijakan lima tahun ke-4 (..G-II.) (.. Langkah-langkah penyusunan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah adalah sebagai berikut: a.7. Arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah merupakan pedoman untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan lima tahunan selama 20 (dua puluh) tahun guna mencapai sasaran pokok RPJPD bertahap. Merumuskan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk masing-masing sasaran pokok dalam rangka mencapai masing-massing misi.-….. misi dapat dibuat spesifik setiap pokok visi dengan merangkum masing-masing rincian misinya. Pengemasan menjadi kalimat misi dapat dilakukan dengan bermacam cara.36 Visi dan pokok-pokok visi yang telah diperoleh dalam proses penyusunan visi yang dijelaskan pada subbab C. masingmasing sub-misi tersebut pada dasarnya adalah misi.

................... sebagai berikut: Tabel. Visi 1 .... sebagai berikut: Tabel...................48.... Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah Visi Misi /Sub misi Sasaran Pokok Indikator dan Uraian Target .... dst . ... Pokok Visi Misi/Sub misi Sasaran pokok Indikator dan target Selanjutnya. .................. .............. Visi dst........49.........................T-II.. Misi dst …… dst ............... ....... dst ........C. dst ................................................T-II....... sasaran tersebut digambarkan kedalam pembangunan lima tahunan melalui arah kebijakan pembangunan berupa sasaran pokok....... dst ... ............. .... ... Misi dst …… Visi 2 ......C..... ................... Perumusan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah selanjutnya disajikan dalam tabel.................... Misi dst …… dst ..... Arah Kebijakan Pembangunan Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV .. .............. .. Dst . ................ ......................................... Misi dst …… dst .. ............. Perumusan Sasaran dan Indikator Kinerja No.................... Misi 1…… Sasaran Pokok 1 . ............37 Dengan telah diterjemahkannya tiap-tiap pokok visi ke dalam misi maka berbekal penjelasan masing-masing misi dibuat sasaran pokok dengan mengisi tabel.................. .............. Dst ........ Misi 2…… Sasaran Pokok 2 ..... Dst .......

... Sebagai tambahan.......... 4...................... Adapun untuk menjembatani bagaimana kinerja 20 (dua puluh) tahun tersebut...........T-II... Sasaran pokok dan indikator kinerja yang dibuat pada tabel diatas belum dibuat per-lima tahunan...... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan II 1. 2. Dst ........ Dst .... 4.... Dst .. atau sebaliknya.................. Secara teknis... Dst ...... sasaran dapat diterjemahkan dari beberapa misi....... walau dalam diskusi tim perumus harus sudah digambarkan kemungkinan-kemungkinannya.. Sasaran Pokok 1 …………… Dst ..... 2. Suatu arah kebijakan pembangunan harus dapat memberi panduan kapan suatu indikator kinerja sasaran pokok harus dicapai dari empat kemungkinan tahapan yang ada... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan IV 1.. sebagai berikut: Tabel. Dst ... suatu sasaran pokok merupakan proses kontinum yang harus selalu diwujudkan dari keseluruhan tahap...... Dst . Perumusan sasaran pokok dari sasaran dilakukan dengan menggunakan arah kebijakan pembangunan lima tahunan sebagaimana dijelaskan pada Error! Reference source not found... yang kerap berupa indikator kinerja yang makin membaik dari tahap ... yang selanjutnya dijadikan pedoman bagi penyusunan visi dan misi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan mengikuti pemilihan umum kepala daerah (pemilukada).. satu misi diterjemahkan dalam beberapa sasaran. Dst ................ Adakalanya.... 3......38 Dari tabel diatas.... 3.......... Sasaran Pokok 1 …………… Dst ....... Sasaran Pokok 1 …………… Dst . 2........... maka dibuatlah arah kebijakan pembangunan... Arah kebijakan pembangunan pada dasarnya merupakan arahan fokus kebijakan lima tahunan yang diterjemahkan dalam sasaran pokok..... Prioritas masing-masing sasaran dapat dipilih mana yang menjadi prioritas utama sesuai urutan waktu yang menggambarkan makna strategis dan urgensi permasalahan sehingga dapat diketahui mana yang harus didahulukan dari yang lain di masing-masing 4 (empat) tahapan 5 (lima) tahun selama 20 (dua puluh) tahun.... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan III 1..... di atas. Perumusan sasaran pokok 5 (lima) tahunan dilakukan dalam tahapan lima tahunan secara lebih definitif. Dst ... 4......... 3.......... Sasaran Pokok 1 …………… Dst ......... 4..... 2.. diwakili dengan pilihan indikator kinerja (beserta target kinerjanya) yang menjelaskan sasaran pokok dimaksud selama 20 (dua puluh) tahun.......... berdasarkan arah kebijakan pembangunan.... 3............ suatu sasaran pokok dibuat pada tiap butir misi untuk menjelaskan fokus dan keterkaitannya........ Hal yang harus diperhatikan adalah kerangka logis yang harus dibangun bahwa misi dapat sepenuhnya diterjemahkan dalam sasaran...... Penyusunan Sasaran Pokok Lima Tahunan Sasaran 20 (dua puluh) tahunan dalam misi pembangunan jangka panjang daerah dapat diterjemahkan prioritasnya masing-masing pada setiap tahapan pembangunan lima tahunan melalui penetapan sasaran pokok 5 (lima) tahunan. satu misi tidak selalu harus diterjemahkan dalam satu sasaran.. Hasil rumusan dimaksud selanjutnya disajikan dalam tabel.............. Arah kebijakan pembangunan dalam suatu periode dapat lebih dari satu poin atau kalimat utama.....................50.. Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Arah Kebijakan Pembangunan dan Sasaran Pokok Indikator Kondisi Awal Kinerja Pembangunan Target Tahap Tahap II III Kondisi Akhir Kinerja Pembangunan Tahap I Tahap IV Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan I 1.............C................. akan dicapai tiap tahapannya dalam 5 (lima) tahun......

Misi. pakar. Forum konsultasi publik dapat diselenggarakan secara bertahap atau sekaligus dengan melibatkan tokoh atau wakil berbagai elemen masyarakat. Berbagai masukan dan draft perubahan di kompilasi. Visi Materi Masukan/Usulan Tambahan Keterangan Misi Sasaran Pokok Arah Kebijakan Masukan atau kesepakatan forum konsultasi publik dituangkan dalam berita acara kegiatan yang ditandatangani oleh peserta rapat. sebagaimana tabel berikut: Tabel. Penyelarasan Visi. misi dan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan daerah.4. Hasil penyelarasan. dan Arah Kebijakan RPJPD Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyelaraskan draft rancangan awal dengan hasil forum konsultasi publik sebagaimana dijelaskan diatas. selanjutnya.7. Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pelaksanaan forum konsultasi publik dimaksudkan untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan terhadap draft rancangan awal RPJPD. dicapai pada periode atau tahapan tertentu. C.1. Tujuannya adalah untuk menghimpun masukan atau harapan para pemangku kepentingan terhadap visi.5. Penyelarasan terhadap draft rancangan awal RPJPD dapat berupa adopsi hasil kesepakatan dalam forum konsultasi publik maupun pembahasan terhadap masukanmasukan dalam forum konsultasi yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut di tingkat tim perumus.. Suatu penyelarasan harus didukung bukti yang memadai dari kesepakatan akhir dalam forum konsultasi publik.C.7. misi.51. Kompilasi Hasil Forum Konsultasi Publik No. . akademisi. Penyelarasan dilakukan terhadap muatan visi. Karakteristik lain adalah bahwa suatu sasaran pokok dapat menjadi prasyarat (enabler) bagi keberhasilan kinerja (sasaran pokok) lainnya.39 ke tahap sehingga target kinerja akhir periode tahun ke-20 dapat dicapai. dan lain-lain sesuai dengan kemampuan anggaran dan urgensinya. digunakan untuk menyempurnakan kertas kerja perumusan sekaligus dijadikan sebagai bahan dan dasar dalam membuat penyajian rancangan awal RPJPD.T-II. sasaran pokok lainnya bersifat spesifik. sesuatu harus diperhatikan dalam perancangan suatu sasaran. termasuk prioritasi tahapan-tahapan pembangunan selama empat tahap pembangunan lima tahunan. Sementara. sasaran pokok. C.1. dan arah kebijakan. Tujuan utama penyelenggaraan forum konsultasi publlik adalah penyampaian rancangan visi/misi dan sasaran pokok serta arah kebijakan pembangunan jangka panjang.

Dasar Hukum Penyusunan Bagian ini menjelaskan dasar hukum perencanaan pembangunan daerah pada umumnya dan RPJPD pada khususnya sesuai peraturan perundangan dan produk hukum daerah terkait. RTRW nasional. 1.2. Informasi yang disajikan dapat merupakan keseluruhan bentuk pada tahap perumusan (kertas kerja perumusan) atau sebagian menjadi yang dianggap relevan disajikan. 3.3. seperti: RPJPN..5. Tidak seluruh informasi yang diolah dari hasilhasil analisis dan pembahasan/kesepakatan disajikan. dan RTRW kabupaten/kota. Hubungan Antar Dokumen RPJPD dengan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah lainnya Bagian ini menjelaskan hubungan RPJPD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. 1.4. termasuk pedoman pengelolaan keuangan daerah. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasardasar analisis. gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. RPJPD provinsi.1. pilihan yang kata yang sederhana dan mudah dipahami. proses penyusunan RPJPD. Hanya informasi yang relavan dan penting saja yang perlu dicantumkan untuk mendapatkan fokus yang baik dalam dokumen. Keterhubungan dengan dokumen lain. permasalahan pembangunan daerah. Semua informasi yang disajikan harus berkorelasi dan didukung dengan data yang valid dari kertas kerja perumusan. Sistematika Penulisan Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RPJPD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab di dalamnya. alasan mengapa RPJPD ini disusun. BAB II. 2.40 C. Latar Belakang Menjelaskan pengertian ringkas tentang RPJPD. 1. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum materi rancangan awal RPJPD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. Bagian ini dijabarkan berdasarkan hasil analisis dan kajian gambaran umum kondisi daerah pada tahap perumusan. dan kebutuhan perumusan strategi. Penyajian agar diperkaya dengan teknis presentasi yang baik. Tahap Penyajian Rancangan Awal RPJPD Tahap ini pada dasarnya merupakan penyajian dari apa yang telah dihasilkan dari tahap perumusan kedalam dokumen perencanaan. Tidak seluruh informasi dalam perumusan tentang gambaran umum kondisi daerah ditampilkan dalam penyajian. Penyajian rancangan awal RPJPD tersebut disusun menurut sistimatika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I.2. Ketersediaan data gambaran umum kondisi daerah selengkapnya dapat dilihat di Lampiran I Peraturan Menteri ini. visi/misi kepala daerah. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang maksud penyusunan dokumen RPJPD dan tujuan penyusunan dokumen RPJPD bagi daerah yang bersangkutan. resiko jika RPJPD tidak tersedia dan pendekatan yang digunakan dalam penyusunan. 1. Prinsip-prinsip dalam penyajian adalah: 1. 1. Penulisan rancangan awal RPJPD disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengacu pada hasil kertas kerja pasca tahap perumusan rancangan awal RPJPD. . RTRW provinsi. Suatu informasi dianggap relevan dan penting jika menjelaskan gambaran umum kondisi daerah yang selaras dan mendukung isu strategis.

fokus seni budaya dan olah raga. Selanjutnya. fokus kesejahteraan sosial. dengan mengisi dan menyajikan diagram sebagai berikut: Gambar. dan gambar yang mendukung setiap potensi kawasan budaya yang dimiliki daerah. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.. dapat ditampilkan. Analisis kependudukan dapat merujuk pada populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. grafik. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan.2. dan wilayah rawan bencana. potensi pengembangan wilayah. serta penuaan. 2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Bagian ini diawali dengan pengantar analisis.G-II. agama. sesuai Lampiran I peraturan ini. dijelaskan tentang kondisi demografi seperti ukuran. 2.1. dapat ditampilkan. Selanjutnya. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.4. struktur. Luas dan Batas Wilayah Uraian Potensi Pengembangan Wilayah Kondisi Geografis Lainnya Selanjutnya. Selanjutnya.3. 2. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum daerah bersangkutan. sesuai Lampiran I peraturan ini.C. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus urusan layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan.4 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya Kondisi Geologi Kondisi Klimatologi Kondisi Hidrologi Kondisi Topografi Penggunaan Lahan Letak. dapat dipaparkan pada bab ini. Berbagai indikator yang telah diolah . dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek daya saing daerah sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. Aspek Daya Saing Daerah Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum geografis mengenai kondisi geografi daerah. Selanjutnya. migrasi.41 2. kewarganegaraan. Aspek Geografi dan Demografi Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat daerah bersangkutan. Penjelasan dapat dilengkapi dengan tabel. Aspek Pelayanan Umum Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. atau etnis tertentu. Penjelasan perlu dilengkapi dengan kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan potensi pengembangan kawasan budidaya. Tabel-tabel atau grafik tertentu yang dianggap relevan. kematian. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek pelayanan umum sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.

permasalahan-permasalahan pembangunan lain yang tidak diprioritaskan atau menjadi agenda utama rencana pembangunan daerah dalam 20 (dua puluh) tahun kedepan tidak perlu disajikan. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJPD karena menjadi dasar utama perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah.42 pada tahap perumusan. fokus fasilitas wilayah/infrastuktur. Visi Sesuai perumusan visi yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan. bagian demi bagian dengan sistematika berurut sesuai urusan yang terpilih atau sesuai jenis permasalahan tanpa mengedepankan urusannya. Dalam hal visi diuraikan dalam satu kalimat maka dapat dicontohkan. dan fokus sumber daya manusia. penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan dihadapi dalam pembangunan daerah untuk waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang.43 dituangkan dalam penyajian. Suatu visi dapat berupa satu kalimat atau lebih. BAB III. walau tetap ada dalam kertas kerja (worksheet) perumusan. Sesuai isu-isu strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan pada Tabel. sebagai berikut: Visi Terwujudnya Kota ABC sebagai pusat industri dan perdagangan terdepan se Jawa Tengah pada tahun 20xx . VISI DAN MISI DAERAH Penyajian visi dan misi dalam dokumen RPJPD sangat penting karena keadaan atau cita-cita yang diinginkan dari hasil pembangunan daerah selama 20 (dua puluh) tahun mendatang akan tergambar. Oleh karena itu.C.C. BAB IV. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat/pengaruh dimasa datang terhadap daerah. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kemampuan ekonomi daerah. 3. fokus iklim berinvestasi.45 dituangkan dalam penyajian. 3.2.T-II. 4.1. Hal terpenting dalam penyajian visi adalah dibuatnya uraian yang jelas tentang apa dan bagaimana visi yang ingin diwujudkan tersebut pada akhir periode perencanaan pembangunan jangka panjang daerah.. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang relevan atau pada akhirnya dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah.1. Pada bagian atau tahap perumusan isu-isu strategis. Isu Strategis Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek daya saing daerah bersangkutan.T-II. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis. Perumusan permasalahan pembangunan dapat dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk uraian kalimat. kebijakan nasional maupun regional. dapat ditampilkan. Dengan demikian permasalahan pembangunan daerah disajikan dengan merujuk pada identifikasi permasalahan pembangunan daerah. pernyataan visi pada Tabel. sesuai Lampiran I peraturan ini. Isu-isu strategis yang tidak dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi agar dieliminasi.

termasuk kriteria tentang pusat perdagangan dan industri yang terdepan (atau nomor satu) se Jawa Tengah.... Misi II... dan penjelasan relevan lainnya tentang pokok visi: PUSAT INDUSTRI terdepan se Jawa Tengah dan PUSAT PERDAGANGAN terdepan se Jawa Tengah... dst .......... Visi sebagaimana contoh diatas harus dijelaskan. Sesuai kriteria... kriteria.. misi harus disajikan dengan teknik penulisan yang mampu menjelaskan hubungan yang erat dengan visi dan bahwa misi cukup lengkap untuk menaungi berbagai jenis agenda pembangunan yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran pokok....................... Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Daerah Visi Misi Misi I.. Misi I... visi tidak lagi sama.................... pada periode 20 (dua puluh) tahun berikutnya setelah visi diatas dapat dicapai.C............... 3: ....................... dst ........... Misi diatas dituangkan dalam bentuk paparan secara sistematis dan penjelasan yang memadai masing-masing misi dengan sub-misi disertai data dan argumentasi yang baik dan jelas............. Misal......52.. Masingmasing misi dapat disajikan sub-misi dan penjelasan yang memadai bagaimana maksud dan arah dari masing-masing misi.... Indikator keberhasilan suatu pusat perdagangan dan industri untuk (ukuran) Jawa Tengah harus dipaparkan...2..................................... Misi Sebagai rumusan tentang bagaimana visi diwujudkan dan di sisi lain sebagai komitmen terhadap keseluruhan stakeholders utama pelaku pembangunan daerah. Perwujudan Visi 2: Kota ABC sebagai pusat perdagangan terdepan se Jawa Tengah..................... 3: Menciptakan nilai tambah produk dengan basis teknologi tepat guna dan bahan baku lokal yang lebih murah............. Dari pernyataan visi diatas kita dapat melakukan pemilahan menjadi perwujudan visi............ Misi II.. atau tetap dengan fokus yang sama tapi ditingkatkan target keunggulannya.............. Seperti.. 2: menjamin kemudahan aksesibilitas dan mobilitas ekonomi daerah...... untuk memberi gambaran yang spesifik dan jelas horizon waktunya bahwa target kota ABC selama 20 (dua) puluh tahun ke depan adalah menjadikan pusat perdagangan dan industri terdepan se Jawa Tengah. Rasionalitas tentang dipilihnya pokok visi dapat ditambahkan untuk memberikan kejelasan.. .. 1: menciptakan dan memperbaiki sentra-sentra industri dan produk unggulan....... Kota ABC sebagai pusat perdagangan terdepan se jawa tengah Misi II.........T-II.. target tersebut memang rasional dapat dicapai...... menggunakan keberhasilan visi pada periode sekarang untuk mendapatkan fokus baru dimasa datang.... 2:........ BAB V.... SASARAN DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Bagian ini menjelaskan arah kebijakan pembangunan jangka panjang untuk menjelaskan keterhubungan antara sasaran dengan sasaran pokok dan bagaimana pentahapan pembangunan dilakukan pada tiap lima tahunan selama 4 (empat) periode.43 Dengan pernyataan visi sebagaimana dicontohkan diatas maka dalam penyajian visi harus dijelaskan tentang makna.......... Misi I. Tabel........................ 4... Kota ABC sebagai pusat industri terdepan se jawa tengah............ sebagai berikut: · · Perwujudan Visi 1: Kota ABC sebagai pusat industri terdepan se Jawa Tengah... dengan demikian.................... khususnya pada pusat-pusat industri. menjadi pusat perdagangan dan industri terdepan di pentas nasional. Dengan asumsi...... 1: ........

..1.1. Penuangan sasaran dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 5..3.1... Sasaran Pokok.. Arah Pembangunan Lima tahun II. ……………………………………………………………………………………….. Penetapan sasaran pokok harus mengacu pada arah kebijakan pembangunan periode berkenaan....... Sasaran 3. indikator... c.. Arah pembangunan lima tahunan ke II Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap kedua RPJPD.. Sasaran 1.. 2.... 1.. 1.. .... indikator. 2..... dan target ... Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Suatu sasaran pembangunan jangka panjang pada dasarnya adalah kuantifikasi visi dan misi pada akhir periode tahun ke-20 (dua puluh).2. 3... 3.. dan target . 1... dan target .. Sasaran Pokok. Sasaran Pokok. 4. Suatu sasaran harus dapat menjelaskan keterhubungannya dengan visi/misi dan menunjukkan indikator kinerja beserta target masing-masing.. ……………………………………………………………………………………….... ………………………………………………………………………………………. Arah Pembangunan Daerah Pada tahap ini berisi tentang pentahapan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan selama 20 (dua puluh) tahun guna mencaapai sasaran pokok tahapan lima tahunan RPJPD.. Sasaran Pokok.... Arah Pembangunan Lima tahun I. Sasaran pokok Pada bagian ini diuraikan sasaran pokok terkait beserta indikator dan capain target tiap-tiap. Sasaran menjelaskan target dari capaian pembangunan jangka panjang pada akhir tahun ke-20. 2. Arah pembangunan lima tahunan ke IV Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap keempat/terakhir RPJPD.. dan target .3. indikator...... b.. 5. Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. Dst. 5......1... 5.. 1.44 5. daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas 5....1.. a.4. Dst. 5... Sasaran dst…… Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun..... Arah pembangunan lima tahunan ke I Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap pertama RPJPD..1. Sasaran Pokok. Arah Pembangunan Lima tahun III... indikator... Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.... indikator. Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.. Sasaran 2.. 3. Arah pembangunan lima tahunan ke III Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap ketiga RPJPD. dan target .....2.

Bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas. Untuk optimalisasi pelaksanaan musrenbang RPJPD. 4. Tujuan musrenbang RPJPD yakni untuk mendapatkan masukan dan komitmen para pemangku kepentingan pembangunan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJPD.. Sasaran Pokok. Pada bagian ini diuraikan langkah-langkah pelaksanaan dari visi misi dan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD.... D... 1.. misi.. Menyiapkan fasilitator dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Penentuan narasumber disesuaikan dengan kompetensi.. Arah Pembangunan Lima tahun IV.. Musrenbang RPJPD dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : 1. pimpinan DPRD atau pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. d. Menyiapkan narasumber dengan memperhatikan antara lain: a. Musrenbang RPJPD dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya RPJPD periode sebelumnya.. 7... BAB VI........ Untuk musrenbang RPJPD provinsi dapat mengundang akademisi. rumusan visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJPD Musrenbang RPJPD merupakan forum musyawarah antara para pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati rancangan awal RPJPD. tempat. 3.. indikator.. . indikator. c. sekurang-kurangnya mencakup hasil analisis isu-isu strategis daerah. b...... Sasaran Pokok. dan Penyelenggaraan musrenbang RPJPD.. Memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memimpin diskusi kelompok. Mengumumkan secara terbuka jadual. 2.. 2. D. KAIDAH PELAKSANAAN RPJPD merupakan penjabaran dari visi.. Mempublikasikan seluas-luasnya melalui sarana publikasi yang tersedia terhadap pokokpokok materi RPJPD yang akan dibahas dalam musrenbang RPJPD.. 2. Sasaran Pokok. dan agenda musrenbang RPJPD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan. dan target ... 3.. 6... penyusunan RPJPD serta penjelasan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan materi yang akan dibahas didalam musrenbang RPJPD.. Dst.. Dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain: 5. Menyiapkan materi bahasan dalam musrenbang RPJPD.. Penyiapan pokok-pokok materi yang akan dipublikasikan. sebelum musrenbang RPJPD dilaksanakan... tata tertib pelaksanaan ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.. Menyajikan/memaparkan berbagai kebijakan menjadi acuan...45 2.1. 3.. 1. dan arah kebijakan daerah. 8. b.. Persiapan musrenbang RPJPD..... Menghimpun saran dan tanggapan dari masyarakat terhadap pokok-pokok materi dari hasil publikasi. Persiapan Musrenbang RPJPD Menyusun jadwal dan agenda musrenbang RPJPD.. Dst. dan target .. dan target . indikator.

dan Musrenbang RPJPD kabupaten/kota terdiri dari Bupati dan wakil Bupati/Walikota dan wakil Walikota. Tanggapan peserta atas materi yang dipaparkan. 2. a. tokoh masyarakat. . pimpinan dan anggota DPRD provinsi. Acara pembukaan musrenbang RPJPD diisi dengan penyampaian sambutan dari pejabat yang diundang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus acara peresmian pembukaan musrenbang RPJPD oleh kepala daerah. Penyelenggaraan musrenbang RPJPD dilaksanakan guna membahas dan menyepakati rancangan awal RPJPD. Mengundang calon peserta musrenbang RPJPD meliputi: a. 3. mencakup tata tertib sidang/diskusi dan kriteria penajaman sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. kepala SKPD provinsi. antara lain: 1) 2) 3) Isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah. LSM/ormas. b. Untuk RPJPD kabupaten/kota dapat mengundang akademisi. Musrenbang RPJPD provinsi terdiri dari Gubernur dan wakil Gubernur. membahas dan menyepakati rancangan RPJPD antara lain mencakup: 1. 5. Penajaman visi dan misi daerah. akademisi. 12. D. Merancang pembagian kelompok diskusi dan kriteria penajaman visi.. kepala instansi vertikal di provinsi. Klarifilasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang daerah. pimpinan DPRD kabupaten/kota atau pejabat provinsi dan dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. Jumlah kelompok diskusi dan fasilitator serta narasumber dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Dapat dibagi berdasarkan misi atau gabungan dari beberapa misi. tokoh masyarakat. Susunan acara pelaksanaan musrenbang RPJPD. Kepala Bappeda provinsi dan kabupaten/kota. Rapat Pleno I a. antara lain sebagai berikut: 1. Pemaparan materi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. c. 9. Pembagian kelompok dan anggota kelompok diskusi mempertimbangkan keseimbangan keterwakilan dari setiap unsur yang hadir (pembagian anggota kelompok diskusi disesuaikan berdasarkan absensi/daftar hadir). 3. Bupati dan Walikota serta Kepala Bappeda kabupaten/kota. 10. kepala SKPD kabupaten/kota. Penyelenggaraan Musrenbang RPJPD b. 4. Pemaparan rumusan visi dan misi daerah. Penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah.2. Pemaparan arah kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor. Pemaparan materi rancangan RPJPD. 2. akademisi. c. LSM/ormas. Penjelasan panitia penyelenggara secara umum atau informasi penting lainnya terkait . Menyusun pedoman penyelenggaraan musrenbang RPJPD termasuk panduan diskusi kelompok. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor serta pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. serta pejabat kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. b. misi dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk mencapai visi dan misi daerah. Pembagian kelompok diskusi memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 11. dan Membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk memedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah.46 d.

.*) Tahun .......-. KETIGA KEEMPAT KELIMA Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya.... dan Kesepakatan hasil sidang kelompok musrenbang RPJPD.. Daftar hadir peserta musrenbang RPJPD.......................... d..... 4. Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah............... Pemaparan analisis isu-isu strategis daerah........ sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini. tanggal …. . Format Rancangan Berita Acara Kesepakatan Hasil Musrenbang RPJPD RANCANGAN BERITA ACARA KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJPD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA .... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJPD terhadap tahapan dan prioritas jangka panjang daerah....... untuk membahas materi rancangan RPJPD. Diskusi kelompok musrenbang RPJPD..... Tempat : ..47 dengan pelaksanaan diskusi kelompok musrenbang RPJPD.............. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini.. visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah oleh ....... b.......... b.. ....... tanggal........ (dijelaskan secara berurutan pejabat yang menyampaikan) pada acara pembukaan musrenbang RPJPD... Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD......... c.. telah diselenggarakan musrenbang RPJPD yang dihadiri para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam I berita acara ini......... d......... musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota ..... Jam : ... Tanggapan dan saran dari seluruh peserta musrenbang jangka panjang daerah terhadap materi yang dipaparkan baik pada sidang pleno maupun dalam sidang kelompok... tahun......-.....*) Pada hari.. : Berita acara ini beserta lampiran dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota....... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini.................. Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD beserta lampirannya terdiri dari: a. Rapat Pleno II Pemaparan hasil kelompok diskusi musrenbang RPJPD.......... .............. Pemaparan materi lainnya (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan). 7......... : Sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah Provinsi/Kabupaten/Kota ............... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap visi dan misi daerah.. Setelah memperhatikan..........*)Tahun . sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini................ .... : Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rancangan awal RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota. : Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota....... dengan contoh format sebagai berikut: a.............-........... f..... Rangkuman hasil rapat pleno I dan pleno II musrenbang RPJPD selanjutnya di rumuskan ke dalam rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD oleh tim perumus yang dipimpin oleh Kepala Bappeda..... maka pada: Hari dan Tanggal : ... bulan. Sambutan-sambutan yang disampaikan oleh . mendengar dan mempertimbangkan : a........*) Tahun ..* ): MENYEPAKATI KESATU KEDUA : Visi dan Misi Daerah dalam RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota .. 5........ e..............*) Tahun.......sampai dengan tanggal................ 6..................... c..*) Tahun ....

..... 3.....-. Dst.... No 1... Tempat : . 1.... Tempat : ....... 5. Format Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJPD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Daftar hadir peserta musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota .D.48 - Pimpinan Sidang Tanda tangan ( Nama) Mewakili peserta musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota...... Visi Misi 1 Misi 2 Misi 3 Misi 4 Misi . dst… Nama Lembaga/Instansi Alamat & no Telp.1. 2.............. 5... 2....... Tanda tangan c..... *) Tanggal : ...*) No.... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Visi dan Misi Daerah Tahun . 3... 4.. 4.. Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan Catatan : *) Coret yang tidak perlu b....... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Visi dan Misi Daerah LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II....... Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal: ..

......... ..........) Tahapan lima tahun ke-4 (.. .. Tahapan Tahapan lima tahun ke-1 (.......... e... ...) ................. 1................. .....................-…...... Misi Daerah Misi1 ....... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal : ..... Sasaran 1 ......D..) Tahapan lima tahun ke-2 (...... ..... Misi.............. Tahapan Tahapan lima tahun ke-1 (. ..-….....) Tahapan lima tahun ke-4 (.... LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II.................................. ............. Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah. . 1......... Tempat : ....... ..............-…........... ..... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal : . Arah Kebijakan Pembangunan . . . .......-….) Misi dst.............. ...... ...... 2....... Misi 2 . Sasaran 2 .............................. Sasaran Pokok Sasaran 1 ............. Arah Kebijakan Pembangunan ......... ....... ................ Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II............... 1......................2.) Tahapan lima tahun ke-3 (... 2..... Tempat : .......................................-….......................... Tahapan lima tahun ke-2 (..................D..... 2... Sasaran 2 ........-….. Arah Kebijakan Pembangunan ...-….............) · · · · · · · · · · · · dst Sasaran Pokok · · · · · · · · · · · dst dst dst · · · · · · · · · · · dst dst dst Sasaran Pokok · · · · · · · · · · · · .... .... 1.................49 d... Dst ................ ... 2.........) Tahapan lima tahun ke-3 (.-…... ... .... ............................. .........3............... ....... ..

... ...5............. 2...........-…....D.D........... 1... ...) Sasaran Pokok Arah Kebijakan Pembangunan · · ....... Sasaran Pokok Sasaran 1 .........*). Dst....................................... Arah Kebijakan Pembangunan 1.......... Misi..........) · · dst · No..... .......................... ...... Tahapan lima tahun ke-4 (. Tahapan · Tahapan lima tahun ke-1 (............ 2........... ... ......-…..............50 - f.. Sasaran 2 ...... SARAN/REKOMENDASI SIDANG KELOMPOK . Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota..-…....... .-…... sasaran pokok dan Arah Kebijakan Misi Daerah Misi1 . Pokok bahasan : Misi ...... ... ......... ..) · · · dst · · · ............... Tabel T-II.... · · · dst · · · ................ Tahapan lima tahun ke-2 (.. 2........... Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah Misi.. ....... Tabel T-II...... 3.) · · · dst · · · Tahapan lima tahun ke-3 (.4..... 1... Format Kesepakatan Hasil Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Kesepakatan Hasil Sidang Kelompok ...

dst… Nama Lembaga/instansi Jabatan Dalam Sidang Kelompok Tanda Tangan 8. dan 10.. 5. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD Rancangan akhir RPJPD dirumuskan berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD.. Kepala Bappeda menyiapkan surat kepala daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD sebagai berikut: a.. 4.... E. Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota..1. ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang RPJPD. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD yang telah disetujui dalam rapat Pleno III.51 .. Konsultasi rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada gubernur untuk memperoleh saran pertimbangan dari landasan hukum penyusunan. surat Gubernur perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. Konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri bertujuan untuk untuk memperoleh saran pertimbangan dari landasan hukum penyusunan. 3.. 1. E. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD provinsi..-.*) Tahun .. 2. dengan RPJPN. Rapat Pleno III Pembacaan rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD dan pengambilan keputusan.. dan surat Bupati/Walikota perihal konsultasi rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada gubenur........ 2. sistematika dan teknis penyusunan.. b. Setelah rancangan akhir RPJPD mendapatkan persetujuan dari kepala daerah untuk dikonsultasikan kepada Menteri/Gubernur... sinkronisasi dan sinergi. RTRW provinsi dan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya.... 9. Rancangan akhir RPJPD yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan hasil musrenbang RPJPD.. No.. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD yang telah ditandatangani beserta lampirannya dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJPD menjadi rancangan akhir RPJPD.. Surat kepala Daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sebelum konsultasi dilakukan..Konsultasi Rancangan Akhir RPJPD 1.. sistematika dan teknis . 4. Dalam surat permohonan konsultasi diberitahukan pokok-pokok substansi materi yang perlu dikonsultasikan dan dilampiri dengan dokumen rancangan akhir RPJPD beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD serta hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah. 3.. (nama daerah) (Tanggal/Bulan/Tahun) Anggota Sidang Kelompok. Rancangan akhir RPJPD yang telah disempurnakan selanjutnya diajukan kepada kepala daerah untuk meminta persetujuan dikonsultasikan kepada Menteri Dalam Negeri terhadap rancangan akhir RPJPD provinsi dan kepada gubernur terhadap rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota....

RTRW kabupaten/kota serta RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Dengan demikian. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1..1. 2.4. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Hubungan Antar Dokumen RPJPD dengan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah lainnya Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. sistematika penyajian rancangan akhir RPJPD. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan akhir RPJPD sebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan akhir RPJPD. 1.2.3.Melengkapi Sistematika Rancangan Awal RPJPD Menjadi Rancangan Akhir RPJPD Penyajian rancangan akhir RPJPD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota . Tindak lanjut dimaksud yaitu menyempurnakan rancangan akhir RPJPD berdasarkan hasilhasil konsultasi yang disampaikan dengan surat Menteri Dalam Negeri/Gubernur. RPJPD provinsi.2.Penyempurnaan Rancangan Akhir RPJPD Berdasarkan Hasil Konsultasi.2. sinkronisasi dan sinergi. Gubernur menindak lajuti hasil konsultasi RPJPD Provinsi dengan Menteri Dalam Negeri.1. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. E. . 1. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. E.5. 2. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. dengan RPJPN. 2. 1.3. dan Bupati/Walikota menindak lanjuti hasil konsultasi rancangan RPJPD kabupaten/kota dengan Gubernur.52 penyusunan.

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 3. 4. 4..53 2. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VI KAIDAH PELAKSANAAN Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3.1.1. BAB IV VISI DAN MISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5. Sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk masing-masing misi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2.2.1. 4.4. 5. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. . Visi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 3. BAB III ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Tahapan dan Prioritas Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Misi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt.54 F. Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan RPJPN. 2. paling lama 6 (enam) bulan sebelum RPJPD yang sedang berjalan berakhir. Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. 4. surat Menteri Dalam Negeri/Gubernur perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . MENTERI DALAM NEGERI. 3. disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJPD 1. Peraturan daerah tentang RPJPD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan untuk dievaluasi dan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota. dan b. 5. kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan. Kepala daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD disertai dengan rancangan akhir RPJPD yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri/Gubernur disertai dengan: a..

TATA CARA PENYUSUNAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU III) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN.

PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJMD G. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD B. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD D. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD C. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJMD .LAMPIRAN III : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD E. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJMD F.

Rancangan Awal Renstra SKPD VISI.visi.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJMD Provinsi PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG RPJMD PENETAPAN RPJMD Rancangan Perda ttg RPJMD beserta Rancangan akhir RPJMD Provinsi Telaahan terhadap RPJPD Provinsi Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.-2A. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD GAMBAR. MISI dan Program KDH Persiapan Penyusunan RPJMD Provinsi Pengolahan data dan informasi Penelaahan RJPMN dan RPJMD Provinsi lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Pembahasan Rancangan Akhir RPJMD Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah provinsi Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Penyusunan SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Verifikasi Rancangan RENSTRA SKPD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJMD Persetujuan Rancangan akhir RPJMD oleh Gubernur Konsultasi rancangan akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD Mendagri Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Provinsi & RTRW Provinsi lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD Provinsi Penyajian Rancangan RPJMD Penetapan Perda tentang RPJMD Provinsi Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD Analisis Gambaran umum kondisi daerah provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.A. misi. · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan Perda tentang RPJMD RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.visi. G-III. misi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan . · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. misi. misi.

A.visi. · visi. misi. RPJMD Provinsi dan RPJMD kab/ kota lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Kabupaten/Kota Persiapan Penyusunan RPJMD Kab/ Kota Pengolahan data dan informasi Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah Kabupaten/Kota Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. MISI dan Program KDH Penelaahan RJPMN.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJMD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG RPJMD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD PENETAPAN RPJMD Rancangan Perda ttg RPJMD beserta Rancangan akhir RPJMD Kabupaten/ Kota Telaahan terhadap RPJPD Kabupaten/ kota VISI.visi. Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. Rancangan Awal Renstra SKPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJMD Penyusunan SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Verifikasi Rancangan RENSTRA SKPD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJMD Persetujuan Rancangan akhir RPJMD oleh Bupati/Walikota Konsultasi rancangan akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD ke PemProv Penetapan Perda tentang RPJMD kabupaten/kota Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/ Kota & RTRW Kab/Kota lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota Penyajian Rancangan RPJMD Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD Analisis Gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.-3GAMBAR. misi. · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan . misi. G-III. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. misi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan Perda tentang RPJMD RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.

Rencana kegiatan tim penyusun RPJMD disusun kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari persiapan hingga ditetapkannya rancangan peraturan daerah tentang RPJMD. B. Peraturan perundang-undangan.1. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota.2. Bahan orientasi mengenai RPJMD. 3. Penyusunan Agenda Kerja Tim RPJMD. Tim penyusun dipersiapkan oleh bappeda dan diusulkan kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan dengan keputusan Kepala daerah. teknis penyusunan dokumen RPJMD. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. Tugas tim penyusun RPJMD dijabarkan ke dalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan peraturan daerah tentang RPJMD.-4B. . serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RPJMD. pengelolaan keuangan daerah. Susunan keanggotaan tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. Pembentukan Tim Penyusun RPJMD Kegiatan pembentukan tim penyusun RPJMD dimulai dari penyiapan rancangan Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. tahapan tata cara penyusunan. untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundang-undangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah. sistem perencanaan pembangunan nasional. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD Tahapan persiapan penyusunan RPJMD dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan kegiatan penyusunan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. Pembagian tersebut dapat berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. pemerintahan daerah. : Sekretaris Daerah : Kepala Bappeda : Pejabat Pengelola Keuangan Daerah : Sekretaris Bappeda : Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan.3. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RPJMD dan penyusunan anggaran. Orientasi mengenai RPJMD Orientasi mengenai RPJMD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. Susunan keanggotaan tim penyusun RPJMD sekurang-kurangnya sebagai berikut : Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Kelompok kerja/Anggota B. tim penyusun RPJMD sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja (pokja). pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. mencakup: 1. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. 2. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJMD. B. antara lain: tentang keuangan negara.

Orientasi. D. Untuk itu. dan Penyusunan agenda kerja RPJMD Pengumpulan data dan Informasi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD Pengajuan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah & indikasi program prioritas disertai kebutuhan pendanaan Pembahasan dan kesepakatan PENYIAPAN SURAT EDARAN KDH PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD Penyampaian rancangan renstra SKPD Verifikasi rancanganrestra SKPD MUSRENBANG RPJMD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan musrenbang RPJMD Perumusan hasil musrenbang RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan rancangan akhir RPJMD Pembahasan rancangan akhir RPJMD dengan SKPD dan Kepala daerah Penyampaian rancangan akhir RPJMD untuk persetujuan Kepala daerah Konsultasi rancangan akhir RPJMD Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD berdasarkan hasil konsultasi PENETAPAN PERDA RPJMD Penyampaian rancangan perda tentang RPJMD kepada DPRD Pembahasan rancangan perda tentang RPJMD bersama DPRD Persetujuan bersama perda tentang RPJMD oleh DPRD dan Kepala daerah Penyampaian peraturan daerah tentang RPJMD provinsi kepada menteri dan peraturan daerah tentang RPJMD kabupaten/kota kepada Gubernur H B. 3.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RPJMD adalah sebagai berikut: Tabel T-III.B. 1 2 C. Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Bulan II Bulan III Bulan IV Bulan V Bulan VI PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD Pembentukan tim.1. Contoh Agenda Kerja Penyusunan RPJMD Bulan I NO A. 1. 1. 1 2 E. 2. F 1. sebagai berikut: . Pengumpulan data dan informasi tersebut dilakukan dengan langkah-langkah. B. dalam penyusunan RPJMD perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat dan relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting dalam perumusan rencana yang akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang disusun. 2. 3. 5. 3.4. 2. G 1. 2. 4.

2. RPJMD provinsi. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang perlu dikumpulkan dalam menyusun RPJMD. RTRW kabupaten/kota. 4.1 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Provinsi Telaahan terhadap RPJPD Provinsi Persiapan Penyusunan RPJMD Provinsi VISI. Data statistik sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir. mencakup: 1. Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RPJMD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. RPJPD kabupaten/kota. Dokumen-dokumen: a. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD Penyusunan rancangan awal RPJMD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJMD yang dilakukan melalui dua tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. RPJPD provinsi. Hasil evaluasi RPJMD periode lalu.C. 2. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. c. Tahapan penyusunan rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. Perumusan rancangan awal RPJMD. MISI dan Program KDH Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Penjelasan visi dan misi Penelaahan RPJMN & RPJMD provinsi lainnya Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Pengolahan data dan informasi Hasil evaluasi capaian RPJMD Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah Provinsi Penelaahan RTRW Provinsi & RTRW Provinsi lainnya Perumusan Tujuan dan Sasaran Penetapan Indikator Kinerja Daerah Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. C. Pembahasan dengan SKPD Provinsi Analisis Gambaran umum kondisi daerah Provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Penyelarasan Progran Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan . masing-masing dapat dilihat pada Gambar. b. RTRW provinsi. antara lain: 1. Peraturan perundang-undangan yang terkait.G-III. misi.2 dibawah ini: Gambar. Kebijakan pemerintah yang terkait.G-III.visi.C. dan 2.-61. 3. 3.1 dan Gambar. untuk penyusunan RPJMD provinsi. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen RPJMD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.G-III. Mengumpulan data/informasi dipertanggungjawabkan. Penyajian rancangan awal RPJMD.C. untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. dan yang akurat dari sumber-sumber yang dapat Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis.

13. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah provinsi. Pelaksanaan forum konsultasi publik. 2. Analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi.visi. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan RPJMD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen). Tahap Perumusan Rancangan Awal RPJMD Perumusan isi dan substansi rancangan awal RPJMD sangat menentukan kualitas dokumen RPJMD yang akan dihasilkan. . Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. 12. Penyusunan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. Tersusunnya rancangan awal RPJMD sangat strategis untuk mengarahkan penyusunan rancangan Renstra SKPD dan berfungsi sebagai koridor perencanaan pembangunan indikatif selama 5 (lima) tahun yang disusun menggunakan pendekatan teknokratis dan partisipatif. Penelaahan RPJMN dan RPJMD provinsi lainnya. Pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran.G-III. 3. RPJMD Provinsi dan RPJMD kab/ kota lainnya Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Kabupaten/Kota Persiapan Penyusunan RPJMD Kab/ Kota Pengolahan data dan informasi Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah Kabupaten/Kota Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/ Kota & RTRW Kab/Kota lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD kabupaten/ kota Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.C. 10. 7. Penelaahan RPJPD provinsi. Penetapan Indikator Kinerja Daerah.2 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Kabupaten/kota Telaahan terhadap RPJPD Kabupaten/ kota VISI. misi. 18. Perumusan strategi dan arah kebijakan. 14. 17. 9. Perumusan penjelasan visi dan misi. Pembahasan dengan SKPD provinsi.-7- Gambar. 4. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). Pengolahan data dan informasi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. 8. 6. MISI dan Program KDH Penelaahan RJPMN. 16. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah provinsi. 11. Perumusan tujuan dan sasaran. 15. a. Analisis Gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan C. Perumusan rancangan awal RPJMD provinsi dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. 5. Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. dan Penyelarasan program prioritas dan kebutuhan pendanaan.1.

3. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus ditugaskan bertanggungjawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. 18. Pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah dimaksud mencakup data dan informasi gambaran umum kondisi daerah serta data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah. RPJMD provinsi. Perumusan penjelasan visi dan misi. dan aspek daya saing daerah. 8. 10. tim penyusun harus menyusun terlebih dahulu hasil pengolahan data dan informasi yang diperlukan kedalam kertas kerja (worksheet). resume/notulen-notulen pertemuan. Penetapan Indikator Kinerja Daerah. Perumusan tujuan dan sasaran. dan Penyelarasan program prioritas dan kebutuhan pendanaan. maka berikut ini akan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJMD Provinsi dan Kabupaten/kota yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. Perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. maka dilingkungan SKPD perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran betapa pentingnya data dan informasi utamanya untuk penyusunan rencana pembangunan daerah. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah harus dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografi dan demografi. Perumusan strategi dan arah kebijakan.1. Berdasarkan penjelasan di atas. aspek kesejahteraan. Pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah kabupaten/kota. 7. Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan hasil analisis. Penelaahan RPJPD kabupaten/kota. Penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. 15. 12. Tidak semua data dan informasi dapat disajikan dalam dokumen RPJMD. 6. 5. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan awal RPJMD. 11. Perumusan rancangan awal RPJMD kabupaten/kota dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. Penyusunan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian hampir diseluruh lingkungan. 4. Pelaksanaan forum konsultasi publik. hasil riset dan lain-lain. aspek pelayanan umum. bahan paparan (slide atau white paper). Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. sistematis. Penelaahan RPJMN. tetapi kegiatan ini harus berlangsung terus menerus setiap hari (kontinyu). 9. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis yang digunakan sebagai bahan analisis guna memberikan perkembangan tentang gambaran kondisi umum daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. C.1. 17. bisa dalam bentuk grafis maupun dalam bentuk tabel. . 16. Pengolahan data dan informasi. 2.-8- b. menjadi informasi yang lebih terstruktur. 13. dan RPJMD kabupaten/kota lainnya. Analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. karena tergantung pada urgensi data dan informasi apa saja yang paling signifikan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan sistematika penulisan RPJMD yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang disiapkan. 14. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan RPJMD.

Rencana kawasan lindung. Data dan informasi yang diolah sekurang-kurangnya memberikan gambaran tentang perkembangan selama 5 (lima) tahun terakhir. Oleh karena itu.1. C. Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis. Pengolahan data dan informasi pembangunan daerah yang dibutuhkan. dan 2. Dalam pengumpulan hasil pengolahan data dan informasi pembangunan daerah yang dibutuhkan untuk menganalisis objek/aspek pembangunan daerah. C. Data dan Informasi Gambaran Umum Kondisi Daerah Data dan informasi yang berhubungan gambaran umum kondisi daerah mencakup data kondisi geografi dan demografi. dan b. 2.1.2. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah provinsi dan kabupaten/kota.-9C. b. Penelaahan RTRW Tata ruang merupakan perwujudan dari struktur ruang dan pola ruang.2.2. grafik. e. C. Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 5 (lima) tahun mendatang berikut asumsi-asumsinya. Rencana sistem jaringan sumber daya air Menelaah rencana pola ruang Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya. validitas dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. yang dapat disajikan secara deskriptif atau dalam bentuk tabel. Sumber data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah diperoleh dari: 1. Data primer. aspek kesejahteraan masyarakat. pembiayaan daerah dan neraca daerah.1. perlu memperhatikan tingkat urgensi data dan informasi keuangan daerah yang dibutuhkan. diperlukan kegiatan penelaahan RTRW untuk menjamin agar arah kebijakan dalam RPJMD selaras dengan. Selain itu. berupa: APBD dan realisasi APBD. Telaahan terhadap rencana pola ruang. dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau instansi pemerintah pusat yang membina keuangan daerah.1. Menelaah rencana struktur ruang Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Rencana sistem perkotaan. Data dan Informasi Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah mencakup data pendapatan daerah. peta dan sebagainya. Rencana jaringan telekomunikasi. . d. tenaga dan biaya dalam pengumpulan data dan informasi yang tidak bermanfaat untuk keperluan analisis. meliputi: a. atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW.1.1. dan f. Hal ini guna menghindari tersitanya waktu. sekurang-kurangnya mencakup data 5 (lima) tahun terakhir. Rencana jaringan transportasi. Data sekunder. Peta rencana struktur ruang. Rencana jaringan energi. Telaahan terhadap rencana struktur ruang meliputi: a. penyusunan RPJMD harus berpedoman pada RTRW. Penelaahan RTRW dan RTRW Daerah Lainnya Perencanaan pembangunan daerah pada prinsipnya bertujuan mengintegrasikan rencana tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan daerah.1. hendaknya memiliki tingkat keakurasian. dari anggota tim penyusun RPJMD yang berasal dari Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). belanja daerah. Dalam kaitan itu.1. data dan informasi keuangan daerah yang digunakan. berupa: Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). sebelum masa RPJMD yang direncanakan. c. dengan cara: 1.

.10 3..... . Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kota.......... Menelaah indikasi program pemanfaatan ruang Program pemanfaatan ruang adalah program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif.....1 II..... b...... II..... III.1 dan Tabel...... b.... Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota...2 Rencana pusat permukiman .....*) Rencana Pentahapan Pemanfaatan Struktur Ruang sesuai RTRW No (1) Rencana Struktur Ruang (2) Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) Lokasi (4) Waktu pelaksanaan Lima tahun ke-I (5) Lima tahun ke-II (6) Lima tahun ke-III (7) Lima tahun ke-IV (8) I.1 IV........... Dst….........1 I.....2 IV..... Dst… Rencana jaringan energi ....... d. Dst…... V....1 Tabel Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota .. c......... b......... Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kabupaten............ Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan........ Rencana jaringan telekomunikasi ..2 II.C. melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu..2 III. IV.T-III. Menelaah program pengembangan wilayah kota. Menelaah program pengembangan wilayah kabupaten. I. dan e... Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah provinsi..C.. dan c........... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...... Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kabupaten. Menelaah program pengembangan wilayah provinsi.......... dan e. Telaahan terhadap indikasi program pemanfaatan meliputi: Provinsi a.... d.........T-III....1 III.......... Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kota....C... Dst… Rencana jaringan transportasi ....... Hasil telaahan struktur ruang dan pola ruang provinsi dan kabupaten/kota dapat disusun kedalam Tabel.. Dst… Rencana sistem jaringan sumber daya air ......... c...... Kota: a.. Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan...2 sebagai berikut: Tabel.... Menelaah program pembangunan sektoral wilayah provinsi........1 V...... Kabupaten a..T-III.2 V...

...1 II...... bagaimana..2 Dst . pada setiap kecamatan di wilayah masing-masing..*) Rencana Pentahapan Pemanfaatan Pola Ruang sesuai RTRW No Rencana Pola Ruang Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program Waktu pelaksanaan lokasi lima tahun ke-I (4) (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) (1) I....... dan/atau mengidentifikasi faktor-faktor atau berbagai aspek yang nantinya perlu ditingkatkan untuk optimalisasi pencapaian berhasilan pembangunan daerah provinsi dan kabupaten/kota.. harus disesuaikan dengan struktur kewenangan dan tingkatan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten/kota.....2.... Sedangkan gambaran kondisi demografi.2 Dst .. I........... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. C.. selain berpedoman pada RTRW daerah sendiri..... Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota. merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota. Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama.2 Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota . aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah... Gambaran umum kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam merencanakan pembangunan.. Aspek Geografi dan Demografi Analisis pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah. dan sejauh mana keberhasilan pembangunan daerah yang dilakukan selama ini. antara lain mencakup perubahan penduduk.. C......... (2) Rencana kawasan lindung ... Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan pemahaman awal bagi tim tentang apa... maka dalam menganalisis gambaran umum kondisi daerah.. serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya......... komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu pada provinsi/kabupaten/kota.T-III..2... Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi..1 I....... Penelaahan RTRW Daerah Lainnya Dalam menyusun RPJMD... (3) Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis .......1.... II. Secara rinci analisis geografi daerah untuk provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan antara lain terhadap: .1. baik dari aspek geografi dan demografi.................. II...C................3......... potensi pengembangan wilayah...... 1..... Mengingat perbedaan dari karakteristiknya........ juga perlu memperhatikan RTRW daerah lain agar tercipta sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi/antarkabupaten/kota serta keterpaduan struktur dan pola ruang dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya...... ................... dan kerentanan wilayah terhadap bencana..11 Tabel.. ... terutama yang berdekatan atau yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan provinsi dan kabupaten/kota dan atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah. sedangkan untuk kabupaten/kota. yaitu aspek kesejahteraan masyarakat........

b. migrasi. Sedangkan untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik. (3) Pesisir. 2) Letak dan kondisi geografis antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. b) Sungai. danau dan rawa.12 a. kebakaran hutan. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan.. b) Curah hujan. gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. dan d) Kelembaban. 5) Hidrologi.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator pertumbuhan PDRB. tsunami. 4) Geologi. c) Kondisi/kawasan. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota. kesejahteraan sosial. agama. pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah. c. 7) Penggunaan lahan. dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. 2. dan c) Debit. longsor. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. c) Suhu. dan b) Ketinggian lahan. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud terdiri dari: 2. antara lain meliputi: (1) Pedalaman. dan (5) Kepulauan. antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan. b) Posisi geostrategic. serta penuaan. mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi. antara lain terdiri dari: a) Tipe. laju inflasi provinsi. Demografi Memberikan deskripsi ukuran. antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya. pemerataan . industri. abrasi. 3) Topografi. Karakteristik lokasi dan wilayah. PDRB per kapita. antara lain terdiri dari: a) Daerah aliran sungai. (4) Pegunungan. (2) Terpencil. kematian. serta seni budaya dan olahraga. pariwasata. dan b) Kawasan lindung. atau entitas tertentu. indeks gini. dan b) Potensi. pertanian. 6) Klimatologi. seperti banjir. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat. kewarganegaraan. struktur. d. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.

. s.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..C.T-III..d ... sewa.*) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik..C.C. Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota. & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan. Indeks Ketimpangan Williamson (indeks ketimpangan regional). sewa. hotel.. s. hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan..*) (n-5) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor Pertanian Pertambangan& penggalian Industri pengolahan Listrik... sewa. gas.. atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota.*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..5 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . Pertumbuhan PDRB Hasil analisis pertumbuhan PDRB.3 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .d . & air bersih Konstruksi Perdagangan....T-III. angka kriminalitas yang tertangani. & jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... & jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-5) (Rp) % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. & jasa Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % . atas Dasar Harga Konstan Tahun . Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi..T-III.4 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . s... hotel.gas & air bersih Konstruksi Perdagangan...d ...13 pendapatan versi Bank Dunia...gas & air bersih Konstruksi Perdagangan. sebagai berikut: a.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. Tabel.... Tabel.. Provinsi/Kabupaten/Kota. & restoran Pengangkutan & komunikasi angangkutan & komunikasi Keuangan. persentase penduduk diatas garis kemiskinan.

C. hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.) Hasil analisis nilai inflasi rata-rata. & jasa perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... sampai dengan Tahun.. Tabel. s.. sewa.*) Pertumbuhan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... Provinsi/Kabupaten/Kota....d ...T-III. diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..6 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun .C... jika kecamatan dapat dibandingkan dengan standar kabupaten/kota dst.7 Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun .T-III... Jika tabel provinsi.. Coret sesuai dengan kebutuhan (untuk kabupaten dapat dibandingkan dengan standar provinsi.C... Tabel.....d .. Provinsi/Kabupaten/Kota..**) Dst … Standar provinsi/kabupaten/ kota***) Standar nasional/provinsi***) Standar internasional/ nasional***) *) **) ***) ****) b.*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..*) PDRB No Kabupaten/Kecamatan*) HB (n-5) HK HB (n-4) HK HB (n-3) HK HB (n-2) HK (n-1)**) HB HK 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini..8 Nilai Inflasi Rata-Rata Tahun...... s..gas & air bersih Konstruksi Perdagangan.14 perusahaan 9 Jasa-jasa PDRB *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi provinsi dan kabupaten/kota...T-III.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. Laju Inflasi Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas....

Provinsi/Kabupaten/Kota.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial.. dan rasio penduduk yang bekerja.C..... angka pendidikan yang ditamatkan...... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. ***) Jika tabel provinsi.*) No 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka Melek Huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... dan **) Jika tabel provinsi.T-III.. b.C. Jumlah Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Angka melek huruf Tabel... angka partisipasi kasar.11 Rata-Rata Lama Sekolah Tahun .T-III..**) Dst .2 Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf. persentase penduduk yang memiliki lahan. s. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun . diisi sesuai dengan nama kabupaten/kota berkenaan....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.....15 2. Tabel.9 Hasil analisis angka melek huruf...... angka usia harapan hidup.*) No 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan.d .. .. s. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota. Provinsi/Kabupaten/Kota. diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. angka partisipasi murni. Angka rata-rata lama sekolah Hasil analisis angka rata-rata lama sekolah....C.... Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota.d . dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh di atas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini... dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel..T-III.**) Dst .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. angka kelangsungan hidup bayi.....10 Angka Melek Huruf Tahun . sebagai berikut: a... Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. angka rata-rata lama sekolah..*) (n-5) L P L (n-4) P L (n-3) P L (n-2) P (n-1)**) L P No 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.

000 penduduk 10.000 penduduk 10. pemerintahan umum.. 3. kebudayaan. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota. baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri... Tabel.d . Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/kota .. sosial. Jumlah klub olahraga per 10. diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.12 Perkembangan Seni. perangkat daerah. pekerjaan umum.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator-indikator: jumlah grup kesenian. Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan.000 penduduk *) **) Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Budaya dan Olahraga Tahun .. kepegawaian.000 penduduk... administrasi keuangan daerah.T-III. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan. jumlah klub olahraga dan jumlah gedung olahraga. perumahan. yaitu bidang urusan pendidikan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.13 Perkembangan Seni.000 penduduk 10.000 penduduk. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun rancangan awal RPJMD provinsi terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.. Budaya dan Olahraga Tahun .T-III. s... Provinsi/Kabupaten/Kota. Jumlah gedung kesenian per 10. ketenagakerjaan.. lingkungan hidup. otonomi daerah. kependudukan dan catatan sipil. Jumlah grup Jumlah gedung Jumlah klub Jumlah gedung kesenian per kesenian per olahraga per olahraga per 10. Sedangkan untuk penyusunan rancangan awal RPJMD kabupaten/kota disusun ke dalam tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota..... kepemudaan dan olah raga. Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh diatas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. perhubungan. dan . pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari: 3. penanaman modal..C..1 Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah. perencanaan pembangunan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga yang dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Jika tabel provinsi...16 2...**) Dst ...000 penduduk. Jumlah gedung olahraga per 10..C... koperasi dan usaha kecil menengah..*) No 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10. kesehatan... penataan ruang. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. pertanahan..000 penduduk....*) No 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan.

..2..d . pemberdayaan masyarakat dan desa.1.*) SD/MI No Kabupaten/Kota/Kecamatan*) jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Hasil analisis rasio ketersediaan sekolah/penduduk usai sekolah se provinsi/kabupaten/ kota.15 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .14 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ... statistik....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..C... 2. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No 1 1.. **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota. kearsipan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..... komunikasi dan informatika dan perpustakaan. s.T-III..T-III.17 persandian.. 1. Angka Partisipasi Sekolah Hasil analisis perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) lingkup provinsi/kabupaten/ kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 2 2... Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Provinsi/Kabupaten/Kota. 2.. b. Tabel. ketahanan pangan.....C.3.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: .. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintahan daerah sebagai berikut: a.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel...**) Dst ..1. 1.2...3.

1.*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2..T-III.1.**) Dst . 2.C. s.3...C. 2 2..17 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun . SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-III..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.2....3.. Tabel.. 2... Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan....T-III.....3...*) No 1 1. 1... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..d ..2. 1....C..2... Rasio guru/murid Hasil analisis rasio jumlah guru/murid se-provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam cotoh tabel sebagai berikut: Tabel.1.*) No 1 1. 2 2. Provinsi/Kabupaten/Kota.. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. 1.18 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .. 1...16 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .3.18 Tabel.. .. 2.1...d .. SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. s.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi/Kabupaten/Kota. c....2.. Jumlah Jumlah gedung sekolah (3) SD/MI Jumlah penduduk usia Rasio 7-12 th (4) (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..

*) Tahun n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi Realisasi JumlahProyek Nilai Investasi ..**) Dst ........ Provinsi/Kabupaten/Kota. kehutanan. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.. Jumlah Jumlah Guru (3) SD/MI Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) SMP/MTs Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.....C...T-III.*) Tahun (1) n-5 n-4 n-3 n-2 Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Uraian (2) PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) n-1 Jumlah Investor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan..... Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis jumlah investor PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.21 Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun .. Provinsi/Kabupaten/Kota. s.... perdagangan..d ....19 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.d . dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. industri dan ketransmigrasian... s.. b. kelautan dan perikanan.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan pilihan pemerintahan daerah sebagai berikut: a.T-III.20 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun .. 3...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan......19 - Tabel.C.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan pilihan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.C. energi dan sumberdaya mineral. yaitu bidang urusan pertanian... dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini..T-III. pariwisata. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan wajib sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis nilai PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (angka konsumsi RT per kapita) Hasil analisis konsumsi RT perkapita../2.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Indikator variabel aspek daya saing daerah terdiri dari: 4.. fasilitas wilayah atau infrastruktur.20 - c.. Provinsi/Kabupaten/Kota..23 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun .T-III. produktivitas total daerah.C.... pengeluaran konsumsi non pangan per kapita. 2. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh di atas.. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek daya saing daerah.. Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan diwilayah kabupaten/kota masing-masing. dan nilai tukar petani.. Uraian Total Pengeluaran RT Jumlah RT Rasio (1...C. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi..d . nasional atau internasional.d . s.T-III. 4. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. .*) No 1 2 Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3 Rasio daya serap tenaga kerja *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan pilihan sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Provinsi/Kabupaten/Kota. iklim berinvestasi dan sumber daya manusia. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya yang berdekatan.22 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun ...) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3. dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. s. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah..... Rasio daya serap tenaga kerja Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota.*) No 1. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kemampuan ekonomi daerah sebagai berikut: a.

2. Provinsi/Kabupaten/Kota. 2. c.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... Jumlah Total pengeluaran rt (3) Jumlah rt (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. s...*) NO Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..25 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun . 3...... 3.. 2.T-III.qqq Provinsi/Kabupaten/Kota.21 - Tabel. b....T-III...d .27 Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Tahun .. 2...*) No 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota. 3... Nilai tukar petani Untuk hasil penghitungan terhadap nilai tukar petani (NTP).. Tabel.....*) No (1) 1. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.. 3.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (lt) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C.**) Indeks Yang Diterima Petani (lt) (3) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) (4) Rasio (5=3/4) Dst .. Total pengeluaran RT non pangan Total pengeluaran Rasio *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..C........*) No (1) Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.T-III. .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan....T-III....d ....... 1.C. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.**) Dst .26 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun . s. Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..24 Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun .C.. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (persentase konsumsi RT untuk non pangan) Untuk menghitung jumlah konsumsi non pangan perkapita.

28 Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Menurut Kabupaten/kota Tahun .. luas wilayah kekeringan.22 - Tabel.. 4.T-III. ketaatan terhadap RTRW. jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum.. Provinsi/Kabupaten/Kota.. .. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kemampuan ekonomi daerah sesuai dengan kewenangan provinsi/kabupaten/kota. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.....*) No (1) 1.*) No 1. jenis. luas wilayah perkotaan.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur sebagai berikut: a.. Provinsi/Kabupaten/Kota..29 Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Tahun . 3.. kelas.. luas wilayah kebanjiran. s.. dan jumlah penginapan/hotel.... jenis dan jumlah bank dan cabang.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...C. jenis... Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1. persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.....d .T-III. 2. jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun. kelas. persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih.. dan jumlah restoran. 2. 5..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Untuk menghitung ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.... dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas. 3. jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang.. luas wilayah produktif. dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.../2. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. rasio ketersediaan daya listrik. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator-indikator: rasio panjang jalan per jumlah kendaraan. Jumlah Total Pengeluaran Rt Non Pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..C. 4.. luas wilayah industri..**) Dst .

. 9...*) No 1. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus fasilitas/infrastruktur wilayah sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota. 6.C.. Luas wilayah produktif Untuk menghitung luas wilayah produktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. jumlah perda yang mendukung iklim usaha. 2.30 Persentase Luas Wilayah Produktif Tahun .. persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa.31 Persentase luas Wilayah Produktif Tahun .....T-III.3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas. 3...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh di atas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini....C. Jenis Kriminal Jumlah kasus narkoba Jumlah kasus pembunuhan Jumlah kejahatan seksual Jumlah kasus penganiayaan Jumlah kasus pencurian Jumlah kasus penipuan Jumlah kasus pemalsuan uang Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah penduduk Angka kriminalitas (8)/(9) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.d ... lama proses perijinan.. Tabel. Uraian Luas wilayah produktif Luas Seluruh wilayah budidaya Rasio (1/2.**) Dst ...32 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota. 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s. 3.23 b..T-III.. 8.C... 10. .. Angka kriminalitas Untuk menghitung angka kriminalitas dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.... jumlah demo.. a.. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wilayah Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan....*) No 1... dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah.. 2.. 7. 4. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 5.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Provinsi/Kabupaten/Kota...T-III..

6... Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Jumlah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) NO 1. Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Hasil analisis rasio lulusan S1/S2/S3 dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.34 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota..*) No 1 2 3 4 Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Bidang politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah unjuk rasa *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 4. Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Hasil analisis rasio ketergantungan dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Jumlah Demonstrasi Untuk menghitung jumlah demontrasi. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh di atas.... 4.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) No 1. 3. a.33 Jumlah Demo Provinsi/Kabupaten/Kota... Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus iklim berinvestasi sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.T-III.24 b. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2.. 5. Provinsi/Kabupaten/Kota.4 Fokus Sumber Daya manusia Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan S1/S2/S3... 3... 4.C.C.T-III. 5. b..T-III.d . . Uraian Jumlah penduduk usia < 15 tahun Jumlah penduduk usia > 64 tahun Jumlah penduduk usia tidak produktif (1) &(2) Jumlah penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.35 Rasio Ketergantungan Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..C. s.. 2.. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.

1.1 3.1.2.2 2.1.1 2.1.2.2. pustu per satuan penduduk Dst….1.1.1.2.3 2.2.1 2.2. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.3 2.1.2.T-III.1.1.3.1..1.2.1 1.1. 1.2.2 2.1. Perangkat Daerah.2 2. PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid Dst …… Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….36 Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/Kota.2 2.1 2.1.3 2..1 2. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst …… Dst …… Dst….4 1.2 1.1 2.1.1.C.2..3.2.2.1.1.1 2.1. Dst…… DAYA SAING DAERAH (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 1.2 1. Pelayanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….3 2.1. 1.2.2.1..25 Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi dapat dirangkum dalam bentuk tabel.3.1.*) Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah.1.2.2.1.2.1.3.1.1 2.2 2.2.2 2.1.1.1 2.1.2 2. Pemerintahan Umum.1.3 1.2.1.1 2. 2.1. 1.2.4 2.1 1.2 2.1. Dst… Dst…. 1. .3 2.1.1 1. Dst…. poliklinik.1.1.2.1.2. Administrasi keuangan daerah..1.3 1..1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi PDRB per kapita Dst….1.1. sebagai berikut: Tabel.3 2.1 2. 1.1.1.1.1 2.2 2.

1 3. Tim penyusun dapat melibatkan tim yang berasal dari bagian/biro/dinas keuangan untuk menyiapkan data dan analisis.2. Perangkat Daerah.3 3.1.1.2.1.1.1. Data-data perkembangan realisasi anggaran. analisis dilakukan terhadap penerimaan daerah yaitu pendapatan dari penerimaan pembiayaan daerah. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.4 3. Dst… (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 3. Berbagai objek penerimaan daerah dianalisis untuk memahami perilaku atau karakteristik penerimaan selama ini. Kapasitas keuangan daerah pada dasarnya ditempatkan sejauh mana daerah mampu mengoptimalkan penerimaan dari pendapatan daerah.2. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan daerah diwujudkan dalam suatu APBD maka analisis pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan keuangan daerah pada umumnya. Dibutuhkan pemahaman yang baik tentang realisasi kinerja keuangan daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah.1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.2. susunan/struktur masing-masing APBD.1. meliputi: aset dan hutang daerah serta ekuitas dana. data lima tahun didiskusikan bersama..2 3. Hasilnya didiskusikan di tingkat tim.26 - Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Kemampuan Ekonomi Otonomi Daerah.1 3.2.1.2 3. Menganalisis pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan provinsi dan kabupaten/kota terlebih dahulu harus memahami jenis obyek pendapatan.1. C.2.2 3.1 3. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst …… Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….2 3. Analisis dan diskusi juga dilakukan terhadap perkembangan neraca daerah.1. Dst ….1 3.1. Selanjutnya.2.2.1.3 3.1 3. termasuk segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah.2.1.1. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan (money follow function). Administrasi keuangan daerah.1 3.2. belanja dan pembiayaan sesuai dengan kewenangan.3 3.1. belanja.2. dan pembiayaan. meliputi: pendapatan.3.2 3.4. Analisis Pengelolaan Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang. .1 3.1.3 3.2. Pemerintahan Umum..2 3.

1. analisis difokuskan pada objek dan rincian objek sumber-sumber pendapatan daerah. 1.2. (2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi. dan dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) . Analisis dilakukan berdasarkan pada data dan informasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pendapatan daerah. 1... maka masing-masing daerah dapat mengembangkan teknik dan penghitungan sendiri yang dianggap paling akurat.2. 1.37 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun.3 Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah Kebijakan di bidang Keuangan Negara Asumsi indikator makro ekonomi Angka rata-rata pertumbuhan setiap objek pendapatan daerah Tingkat Pertumbuhan Pendapatan daerah Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi Dengan kerangka di atas. Mengingat masing-masing rincian objek memiliki perilaku atau karakteristik yang berbeda.1..G-III.C.1. Provinsi/Kabupaten/Kota.. dibuatlah analisis untuk mengidentifikasi proyeksi pendapatan daerah. 1.. Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kapasitas pendapatan daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun kedepan. 1 1..27 Selanjutnya..2.1.2. 1.4. 1.2. s/d Tahun . Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di bawah ini.*) No.1. untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah. (4) Kebijakan dibidang keuangan negara.1.1.T-III. (3) Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah. Gambar..3.3.1..3. inflasi dan lain-lain).C. antara lain: (1) Angka rata-rata pertumbuhan pendapatan daerah masa lalu.2. 1.. 1.

..3. Analisis ini sekurang-kurangnya dilakukan melalui: a) proporsi realisasi belanja daerah dibanding anggaran.C.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data. .38 Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Provinsi/Kabupaten/Kota. 1. Keterangan: tahun n-1 tahun n-2 tahun n-3 tahun n-4 tahun n-5 n-1 n-2 n-3 = = = = = satu tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD dua tahun lalu sebelum tahun ke-1 RPJMD tiga tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD empat tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD lima tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD misalnya tahun ke-1 RPJMD = tahun 2011...3. Papua Barat dan Aceh.. Berlaku hanya untuk provinsi Papua.3.3.2 1. maka = tahun 2010 = tahun 2009 = tahun 2008 Untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan alokasi dana.28 - No...T-III.3. dilakukan dengan mengisi Tabel.4 1.C.3 1.5 Hibah Dana darurat Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya ***) Dana penyesuaian dan otonomi khusus****) Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..1 1. Berlaku untuk kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..TIII.. dilakukan: 1) Analisis belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran realisasi dari kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan daerah pada periode tahun anggaran sebelumnya yang digunakan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan dimasa datang dalam rangka peningkatan kapasitas pendanaan pembangunan daerah.*) No A 1 2 3 4 5 6 7 8 B 1 2 3 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Uraian (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.38 berikut: Tabel.

. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) No 1 2 3 Uraian Tahun anggaran (n-3) Tahun anggaran (n-2) Tahun anggaran (n-1)**) Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) (a) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (b) Prosentase (a) / (b) x 100% *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... Sosialisasi dan Bimbingan Teknis PNS**) Belanja premi asuransi kesehatan Belanja makanan dan minuman pegawai***) Belanja pakaian dinas dan atributnya**) Belanja Pakaian Khusus dan Hari-hari Tertentu*) Belanja perjalanan dinas**) Belanja perjalanan pindah tugas Belanja Pemulangan Pegawai Belanja Modal (Kantor.. ***) Dapat ditetapkan menjadi prioritas untuk dilakukan efisiensi Selanjutnya dilakukan analisis proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur untuk 3 (tiga) tahun terakhir dengan tabel sebagai berikut: Tabel...C. peralatan dan perlengkapan dll) TOTAL (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. . Pelatihan.39 minimal 3 (tiga) tahun terakhir sebagai berikut: Tabel. Mobil Dinas. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-III...39 dan kolom (b) berasal dari data realisasi APBD.... sewa kantor yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya.C. Analisis terhadap realisasi pengeluaran wajib dan mengikat dilakukan untuk menghitung kebutuhan pendanaan belanja dan pengeluaran pembiayaan yang tidak dapat dihindari atau harus dibayar dalam suatu tahun anggaran.40 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota.C..39 Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota. Tabel diatas menjadi dasar untuk menentukan kebijakan efisiensi anggaran aparatur selama periode yang direncanakan...T-III.T-III.. Keterangan : Sumber data pada kolom (a) berasal dari Tabel.29 b) Analisis proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur yang dilakukan dengan cara mengisi Tabel..*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Tambahan Penghasilan**) Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja pemungutan Pajak Daerah**) Belanja Langsung Belanja Honorarium PNS**) Belanja Uang Lembur**) Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Kursus. c) Analisis belanja periodik dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama. bunga...C. belanja jasa kantor... Belanja periodik yang wajib dan mengikat adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan dibayar setiap tahun oleh Pemerintah Daerah seperti gaji dan tunjangan pegawai serta anggota dewan. Meubelair..T-III.

Gambar. Analisis realisasi pengeluaran dimaksud antara lain dilakukan dengan mengisi Tabel.C.....C..30 Belanja periodik prioritas utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik oleh Pemerintah Daerah dalam rangka keberlangsungan pelayanan dasar prioritas Pemerintah Daerah yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan. Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis. air..41 Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota. seperti honorarium guru dan tenaga medis serta belanja sejenis lainnya. Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di bawah ini.T-III..*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 C 1 2 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Dst.. Analisis dilakukan dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah.G-III.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.4 Analisis Proyeksi Belanja Daerah Asumsi indikator makro ekonomi Kebijakan Pembiayaan Daerah Angka rata-rata pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama pendapatan daerah Tingkat pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama Kebijakan Pemerintah yang mempengaruhi belanja tidak langsung & belanja pendidikan ..T-III. telepon dan sejenisnya ) Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor (yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst … Pembiayaan Pengeluaran Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran pokok utang Dst… TOTAL (A+B+C) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. d) Analisis proyeksi belanja daerah Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kebutuhan belanja tidak langsung daerah dan pengeluaran pembiayaan yang bersifat wajib dan mengikat serta prioritas utama.41 berikut: Tabel. Keterangan : menghitung rata-rata pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama dapat mempergunakan rumus pada analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Total pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama pada tabel diatas menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan anggaran belanja yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat ditunda dalam rangka penghitungan kapasitas riil keuangan daerah dan analisis kerangka pendanaan..C. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik.

3.....TIII.43 berikut: Tabel.C..T-III..C....43 Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.. air. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor (khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik. 6... 2.*) NO 1.. Uraian Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: Belanja Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) .31 Tabel... 5.*) Data Tahun Dasar (Rp) Tingkat pertum buhan (%) Proyeksi Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 Uraian Belanja TidakLangsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis...... 2) Analisis pembiayaan daerah Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dari pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun-tahun anggaran sebelumnya terhadap surplus/defisit belanja daerah sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan dimasa datang dalam rangka penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah.T-III..C. telepon dan sejenisnya ) Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst sesuai kriteria wajib mengikat Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran pokok utang TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA C 1 2 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. A 4.42 Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota. Analisis pembiayaan daerah dilakukan melalui: a) Analisis sumber penutup defisit riil Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran masa lalu tentang kebijakan anggaran untuk menutup defisit riil anggaran Pemerintah Daerah yang dilakukan dengan mengisi Tabel.

Gambaran masa lalu terkait komposisi realisasi anggaran SILPA Pemerintah Daerah dilakukan dengan mengisi data realisasi anggaran pada Tabel.C. 2.C. 6..... Tabel. kemudian disusun tabel analisis untuk mengetahui gambaran komposisi penutup defisit riil sebagai berikut.T-III... 7... dapat diketahui kinerja APBD tahun sebelumnya yang lebih rasional dan terukur. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Uraian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) 1. Tabel. Berdasarkan tabel analisis di atas. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 5. 4... 6..T-III.44 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.45 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota. 2. Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Uraian Rp % dari SiLPA Rp (n-2) % dari SiLPA (n-1)**) Rp % dari SiLPA Rata-rata pertumbuhan*) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Keterangan : gunakan rumus menghitung rata-rata pertumbuhan .45 berikut. Dengan mengetahui SILPA realisasi anggaran periode sebelumnya.. 5. 3.. 7. b) Analisis Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran tentang komposisi sisa lebih perhitungan anggaran. 1. B A-B Uraian Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 3. 9..32 (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) NO 7. 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.C....T-III.*) (n-3) No..*) Proporsi dari total defisit riil No. 8...

G-III... inflasi dan lain-lain)..T-III.C...33 c) Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara riil sisa lebih pembiayaan anggaran yang dapat digunakan dalam penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah. Analisis dilakukan dengan mengisi Tabel.C..46 Sisa Lebih (riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Provinsi/Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. antara lain: (1) Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan rata-rata pertumbuhan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan..C.. (4) Kebijakan efisiensi belanja daerah dan peningkatan pendapatan Gambar. (2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi..T-III. Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Uraian (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No. Hasil analisis dapat digunakan untuk menghitung kapasitas penerimaan pembiayaan daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan. (3) Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah.5 Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah Asumsi indikator makro ekonomi Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan ratarata pertumbuhan Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan Tingkat pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan Kebijakan Efisiensi belanja daerah dan peningkatan pendapatan daerah . 3.46 berikut: Tabel. d) Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran sisa lebih riil perhitungan anggaran. 1.. Analisis dilakukan berdasarkan data dan informasi yang dapat mempengaruhi besarnya sisa lebih riil perhitungan anggaran dimasa yang akan datang.. Saldo kas neraca daerah Dikurangi: 2.

dihitung dengan formula sebagai berikut. Jenis rasio solvabilitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain: a.C.. Uraian Saldo kas neraca daerah Dikurangi: Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran 1.47 Proyeksi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota... b.. yaitu rasio untuk melihat berapa lama. Rata-rata umur piutang = 365 : perputaran piutang Dimana : Perputaran piutang = pendapatan daerah/rata-rata piutang pendapatan daerah. 3) Analisis neraca daerah Analisis neraca daerah bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan Pemerintah Daerah melalui perhitungan rasio likuiditas. rata-rata nilai persediaan = (saldo awal persediaan + saldo akhir persediaan) : 2 . Rata-rata umur persediaan = 365 : perputaran persediaan Dimana : Perputaran persediaan = nilai persediaan yang digunakan dalam satu tahun: rata-rata nilai persediaan. Rasio lancar Rasio quick = aktiva lancar : kewajiban jangka pendek = ( aktiva lancar – persediaan ) : kewajiban jangka pendek (2) Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya.. Jenis rasio aktivitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain: a. Rata-rata umur persediaan.*) Data tahun dasar (Rp) Tingkat pertum buhan (%) Proyeksi Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) No 1. Sedangkan..34 - Tabel. 2.... rata-rata piutang pendapatan daerah = (saldo awal piutang + saldo akhir piutang) : 2 b. yaitu rasio untuk melihat berapa lama dana tertanam dalam bentuk persediaan (menggunakan persediaan untuk memberi pelayanan publik).T-III. b. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. hari yang diperlukan untuk melunasi piutang (merubah piutang menjadi kas). Analisis data neraca daerah sekurang-kurangnya dilakukan untuk hal-hal sebagai berikut: (1) Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. dihitung dengan formula sebagai berikut. Sedangkan. Rata-rata umur piutang. solvabilitas dan rasio aktivitas serta kemampuan aset daerah untuk penyediaan dana pembangunan daerah. Rasio total hutang terhadap total aset = total hutang : total aset Rasio hutang terhadap modal = total hutang : total ekuitas (3) Rasio aktivitas adalah rasio untuk melihat tingkat aktivitas tertentu pada kegiatan pelayanan Pemerintah Daerah. Jenis rasio likuiditas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain : a...

Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah sebagaimana telah dihitung pada bagian di atas dan ke pos-pos mana sumber penerimaan tersebut akan dialokasikan. antara lain: · Penerimaan retribusi pajak diupayakan alokasi belanjanya pada program atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan layanan dimana retribusi pajak tersebut dipungut..35 4) Analisis Kerangka Pendanaan Analisis kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. untuk menentukan kapasitas riil keuangan daerah... 2. Pendapatan Pencairan dana cadangan (sesuai Perda) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total penerimaan Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 4. Penerimaan dari pendapatan hasil pengelolaan aset daerah yang dipisahkan dialokasikan kembali untuk upaya-upaya peningkatan kapasitas dimana dana penyertaan dialokasikan sehingga menghasilkan tingkat pengembalian investasi terbaik bagi kas daerah. Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) 1. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. sebagai berikut: Tabel.. 3. besaran masing-masing sumber penerimaan memiliki kebijakan pengalokasian yang harus diperhatikan. · · · · Selanjutnya.C.C.. dengan menggunakan tabel berikut: .48 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.*) Proyeksi No.T-III. Penerimaan dana alokasi umum diprioritaskan bagi belanja umum pegawai dan operasional rutin pemerintahan daerah.C..T-III. Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama.. Sebelum dialokasikan ke berbagai pos belanja dan pengeluaran. Berdasarkan Tabel. dihitung dengan mengisi tabel. Penerimaan dana bagi hasil agar dialokasikan secara memadai untuk perbaikan layanan atau perbaikan lingkungan sesuai jenis dana bagi hasil didapat.T-III. Penerimaan dari dana alokasi khusus dialokasikan sesuai dengan tujuan dimana dana tersebut dialokasikan.48 disusun Tabel.49 dapat dihitung rencana penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi kebutuhan anggaran belanja langsung dan belanja tidak langsung dalam rangka pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan.

prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III.d II Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total Rencana Pengeluaran Prioritas I (II.. prioritas II dan prioritas III.36 - Tabel. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi prioritas I. Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik.c II...b Belanja Langsung Pembentukan dana cadangan Dikurangi: II.cII. dimana prioritas I mendapatkan prioritas pertama sebelum prioritas II. Suatu prioritas II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.a-III.. dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III.C.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.49 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. kemudian dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai urutan prioritas. memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggi pada capaian visi/misi daerah. Di samping itu.d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II III. Prioritas II Program Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPD yang merupakan penjabaran dari analisis per urusan. termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% (duapuluh persen). berskala besar.a+II.T-III. Prioritas III mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya.b-II.*) Proyeksi No I Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II... Prioritas I Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala daerah sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana. bersifat monumental.. .a II. Keterangan : Surplus anggaran diperbolehkan apabila nilainya tidak material dan tidak dapat digunakan untuk membiayai suatu program Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia.

Identifikasi Permasalahan Untuk Penentuan Program Pembangunan Daerah Sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dijabarkan dalam program pembangunan daerah sesuai dengan arah kebijakan pembangunan daerah periode 5 (lima) tahun berkenaan. Identifikasi permasalahan pembangunan daerah merupakan salah satu input bagi perumusan tujuan dan sasaran yang bersifat prioritas sesuai platform Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Pengalokasian dana pada prioritas III harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar. baris total pada tabel untuk masingmasing kolom persentase harus selalu berjumlah 100%. peluang yang tidak dimanfaatkan. Perumusan permasalahan pembangunan daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan dibuat. dan III) bukan menunjukkan urutan besarnya persentase tetapi lebih untuk keperluan pengurutan pemenuhan kebutuhan pendanaannya.5. Identifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan terhadap lingkungan internal maupun eksternal dengan mempertimbangkan masukan dari SKPD. dan ancaman yang tidak diantisipasi. Penetapan persentase masing-masing prioritas bersifat indikatif sebagai panduan awal tim perumus dalam menetapkan pagu program atau pagu SKPD. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah di masa lalu. Besar persentase ditentukan sesuai analisis umum tentang kapasitas pendanaan dari program prioritas yang dibayangkan akan menunjang prioritas dimaksud. kapasitas riil keuangan daerah dapat dialokasikan sebagaimana tabel berikut: Tabel. Secara simultan persentasi tersebut dipertajam ketika program prioritas untuk masing-masing jenis prioritas (prioritas I dan II) telah dirumuskan.1.T-III. Baris total untuk kolom rupiah dapat menunjukkan total kapasitas riil keuangan daerah yang telah dihitung pada bagian sebelumnya. Sisanya. diperlukan identifikasi berbagai permasalahan pembangunan daerah untuk menjabarkan pencapaian sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan mencapai tujuan dan sasaran RPJMD. Dengan demikian. belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa serta belanja tidak terduga.5. Untuk itu. belanja bantuan sosial organisasi kemasyarakatan. 1. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal.50 Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah Alokasi Tahun I Tahun II Tahun III % Rp % Rp % Rp No. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan . C. dialokasikan untuk persentasi final prioritas III. Jenis Dana Prioritas I Prioritas II Prioritas III Total Tahun IV % Rp Tahun V % Rp Penetapan persentase tiap tahun sesuai urutan prioritas (I.. Identifikasi permasalahan pembangunan dapat diuraikan menurut bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah.1. C.1.C. kelemahan yang tidak diatasi.37 Prioritas III Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti: tambahan penghasilan PNS. Evaluasi atau analisis dari penyelenggaraan pembangunan daerah dimasa lalu cukup baik untuk mendapatkan gambaran yang diinginkan. atau terhadap beberapa urusan yang dianggap memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap munculnya permasalahan pada bidang urusan lainnya. Suatu program pembangunan daerah harus menjabarkan dengan baik sasaran-sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan tujuan dan sasaran dari visi dan misi rencana pembangunan 5 (lima) tahun. Adapun. II. 3. 2. belanja hibah.

Identifikasi permasalahan pada tiap urusan dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap urusan untuk mendapatkan rumusan permasalahan.C. hasil kinerja. diluar permasalahan program pembangunan daerah. tidak berarti bahwa urusan dimaksud tidak diselenggarakan Pemerintah Daerah. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Dari tabel di atas.51 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Program Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota……. baik secara internal maupun eksternal.2. tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang.1. Secara operasional. Namun demikian.52 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi/Kabupaten/kota……*) No (1) 1. dilakukan dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. diuraikan permasalahan yang paling krusial tentang layanan dasar sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD melalui penilaian terhadap capaian kinerja yang masih jauh dari harapan atau belum mencapai target yang ditetapkan dalam RPJMD.T-III. Masing-masing permasalahan yang ada kemudian diuraikan lagi untuk mengetahui faktor-faktor. 1. Maksud dari analisis permasalahan pembangunan diseluruh urusan penyelenggaraan pemerintahan adalah guna menjamin diperolehnya identifikasi permasalahan penyelenggaraan seluruh urusan pemerintahan.. Identifikasi Permasalahan Pemerintahan Daerah untuk Pemenuhan Penyelenggaraan Urusan Dengan keterbatasan kapasitas keuangan daerah dan karakteristik alokasi belanja daerah. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar: Bidang Urusan Dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Interpretasi Belum Tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Permasalahan Faktor –Faktor Penentu Keberhasilan (2) (4) (5) . C. Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan. yang menjadi pendorong munculnya permasalahan tersebut. 3. urusan-urusan tersebut tetap harus dilaksanakan untuk menjaga kinerja yang telah dicapai di masa-masa lalu atau memenuhi standar layanan bagi masyarakat. tidak semua penyelenggaraan urusan dapat diprioritaskan atau terkait dengan sasaran pokok (RPJPD) dan tujuan serta sasaran pembangunan daerah (RPJMD) dalam suatu periode. penting untuk menyertakan identifikasi terhadap faktor-faktor penentu keberhasilan pada tiap-tiap permasalahan daerah.*) No Sasaran Pokok RPJPD Indikator dan Target RPJPD Permasalahan Pembangunan Daerah Faktor-faktor Penentu Keberhasilan 1.C.38 urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah guna menentukan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah. Faktorfaktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis. 1. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. 1.3. dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan Di tingkat SKPD.T-III.2. Dst. 2.1.5.

3. Penataan Ruang Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber.4. Indikator pada tiap-tiap urusan dijadikan input utama bahan analisis. 2. 3.4. 5. 5. 4. Dst… (4) (5) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Tata cara pengisian Tabel.3.2.6. 5.1.1. 1. Kesehatan Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.5. 3. 2.39 - No (1) 1. 5. 4.4.7.3. Kolom (3) diisi dengan interprestasi hanya pada kolom urusan berdasarkan pada analisis indikator-indikator sesuai pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Dst….2.5. Perlu diperhatikan bahwa pengisian tabel di atas difokuskan pada indentifikasi permasalahan pembangunan pada tiap-tiap urusan.. 1. Kolom (4) diisi dengan permasalahan pembangunan daerah.5.2.4. dan Kolom (5) diisi dengan faktor-faktor penentu keberhasilan. 5.6. 5.3. Kolom (2) diisi dengan bidang urusan/indikator. Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Dst….1.1. 5. 3. 3. 4. . 3.2.3. bidang urusan urutannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pada indikator sesuai pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.2.. 2.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….3. 2.3. 4. 2.6.C. 2. Bidang Urusan Dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Interpretasi Belum Tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Permasalahan Faktor –Faktor Penentu Keberhasilan (2) Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Dst….T-III. 3. 6. 1. poliklinik.3. Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah layak huni Dst…. 2. 2.1.52: Kolom (1) diisi dengan nomor urut.3.

. Disamping itu.1. C. RPJMN (2) RPJMD Provinsi (3) Lain-lain (4) Dst *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Keterangan: Untuk pengisian tabel tingkat provinsi. 3. ancaman bagi daerah selama kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang.. yang berhubungan.53 Identifikasi Kebijakan dalam RPJMN dan RPJM Provinsi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota.. tidak termasuk kolom 3 Cara Pengisian Tabel.*) NO.T-III. sebaliknya.C.. 2. (1) 1.6.C.. perlu dilakukan telaahan terhadap pemerintah dibidang pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN yang berhubungan atau mempengaruhi pembangunan daerah. diisi dengan kebijakan provinsi yang mengacu pada RPJMD provinsi atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. 6. diisi dengan identifikasi kebijakan pemerintah selain bersumber dari dokumen RPJPN dan/atau kebijakan Gubernur selain yang ditetapkan dalam RPJPD provinsi. yang dapat dipertanggungjawabkan.1.40 C. atau dalam satu wilayah kepulauan atau yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan . dan berpengaruh langsung terhadap perencanaan pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan... Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau..2. provinsi maupun kabupaten/kota. 5. agar perencanaan pembangunan yang berhubungan dengan rencana jangka menengah atau program kewilayahan daerah lain dapat selaras maka telaahan dari RPJMD daerah lain juga perlu dilakukan. Penelaahan kebijakan pembangunan nasional untuk penyusunan RPJMD provinsi dilakukan terhadap dokumen RPJMN atau kebijakan pemerintah terkait dengan pembangunan daerah provinsi.1.1.6. 4. Penalaahan RPJMN & RPJMD Provinsi Penelaahan kebijakan pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN merupakan salah satu identifikasi faktor-faktor eksternal yang bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan pemerintah terpenting. Penelaahan RPJMD Daerah Lainnya C. Penelaahan RPJMN dan RPJMD Daerah Lainnya Agar perencanaan pembangunan daerah mengadopsi atau selaras dengan kebijakan pembangunan nasional.53: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan urutan isu di tingkat nasional. Penyusunan RPJMD juga memperhatikan dokumen RPJMD daerah lainnya agar tercipta keterpaduan pembangunaan jangka menengah daerah dengan daerah sekitar. diisi dengan kebijakan pemerintah yang mengacu pada RPJMN atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil telaahan pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis....T-III. Sedangkan penelaahan kebijakan pembangunan nasional untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota dilakukan terhadap dokumen RPJMN dan RPJMD provinsi atau kebijakan pemerintah dan provinsi terkait dengan pembangunan daerah kabupaten/kota. Hasil telaahan kebijakan selanjutnya disusun ke dalam tabel sebagai berikut: Tabel.6.

41 atau dengan daerah lain yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah. 3.*) No. Adanya persamaan kepentingan atau tujuan atau upaya-upaya strategis yang harus disinergikan. Jika dinamika eksternal. diidentifikasi dengan baik. Selanjutnya. akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.1.C. dalam hal tidak dimanfaatkan. untuk memperoleh rumusan isu-isu strategis diperlukan analisis terhadap berbagai fakta dan informasi yang telah diidentifikasi untuk dipilih menjadi isu strategis. identifikasi kebijakan dari dokumen RPJMD daerah lain dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Adanya agenda pembangunan kewilayahan yang menentukan kewenangan bersama.7.T-III. Perlunya suatu daerah menelaah RPJMD daerah lain karena alasan: 1. C.. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan. bersifat kelembangaan/keorganisasian dan menentukan tujuan di masa yang akan datang. utamanya daerah-daerah yang letaknya berdekatan. mendesak. Adanya persamaan permasalahan pembangunan yang memerlukan upaya pemecahan bersama. dan 4. Oleh karena itu. Secara teknokratis. penentuan sesuatu atau kondisi menjadi isu strategis dapat didukung dengan menerbitkan pedoman atau kriteria oleh kepala daerah atau kepala Bappeda. 2. maka pemerintahan daerah akan dapat mempertahankan/meningkatkan pelayanan pada masyarakat. mendasar.. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal yang bersifat penting. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang. akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya. dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan.. Bagi . Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. berjangka panjang. Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi.. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan.54 Identifikasi RPJMD Daerah Lain Provinsi/Kabupaten/Kota. Adanya kebijakan pemerintah menetapkan daerah sebagai bagian dari kesatuan wilayah/kawasan pembangunan. Pemerintahan daerah yang tidak menyelaraskan diri secara sepadan atas isu strategisnya akan menghadapi potensi kegagalan dalam melaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi tanggungjawabnya atau gagal dalam melaksanakan pembangunan daerah. Oleh karena itu.. Daerah Lain Periode RPJMD Kebijakan Terkait Keterangan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. khususnya selama 5 (lima) tahun yang akan datang. Analisis Isu-isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya.

Metode penentuan isu-isu strategis yang dapat digunakan antara lain: 1) Focussed Group Discussion (FGD) Forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman dalam merumuskan atau memahami isu-isu strategis perencanaan pembangunan daerah. lembaga nonprofit.T-III. Tabel. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional. akan banyak peluang-peluang penting akan hilang.T-III. selanjutnya melakukan upaya-upaya rutin untuk memantau peluang dan ancaman lingkungan eksternal. lalu menentukan sumber-sumber informasi yang tepat. diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik. Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah. Penentuan data atau informasi menjadi isu strategis sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Dengan demikian. . Kemungkinan atau kemudahannya untuk dikelola. sosial budaya. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan. dunia swasta.55 Identifikasi Isu-Isu Strategis No (1) 1 2 3 4 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Isu Strategis Dinamika Internasional (2) Dinamika Nasional (3) Dinamika Regional/Lokal (4) Lain-lain (5) Cara Pengisian Tabel. dan RPJMN agar rumusan isu yang dihasilkan selaras dengan cita-cita dan harapan masyarakat terhadap kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih serta kebijakan pemerintah dalam jangka menengah. Faktor penting lain yang perlu diperhatikan dalam merumuskan isu-isu strategis adalah telaahan terhadap visi. 3. dan internasional yang berkorelasi atau mempengaruhi tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah juga merupakan unsur penting yang perlu diperhatikan dan menjadi masukan dalam menganalisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah. perguruan tinggi. dunia riset. 4. dan lain-lain) skala regional. kebijakan Pemerintah Daerah tidak lagi bersifat reaktif tetapi lebih antisipatif.42 daerah yang lebih berhasil menciptakan sistem informasi perencanaan pembangunan daerah. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi se-wilayah provinsi/kab/kota. Tanpa itu. 6. 2. penemuan-penemuan teknologi.. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional. Luasnya dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat. dari masyarakat. 5. FGD diarahkan untuk memilih kategori isu atau kecenderungan dalam 5 (lima) tahun mendatang. misi dan program kepala daerah terpilih. dan Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan. Sumber lain bagi informasi atau isu strategis dari lingkungan eksternal (misal. Memiliki daya ungkit yang sigiifikan terhadap pembangunan daerah. Kriteria lain dapat dikembangkan sesuai kebutuhan/dinamika daerah.C. nasional. usaha/ bisnis.55: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan.C. dengan ancaman tidak dikenali atau terlambat diantisipasi.

C.T-III.C.56 sebagai berikut: Tabel.55 s.T-III.56 Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah Dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat Memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan.57: Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (10) diisi dengan nomor urut diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi pada Tabel.57 Nilai Skala Kriteria No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dst. maka langkah selanjutnya adalah menentukan mana isu strategik yang paling prioritas dan akan dijadikan dasar bagi penyusunan visi dan misi.55 dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. Bobot (contoh) 20 10 20 10 15 25 *) a) Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan bobot pada Tabel.T-III.T-III.43 - 2) Pembobotan Setelah berbagai isu diidentifikasi dan dilakukan FGD untuk memahami usulan dan masukan tentang berbagai isu strategik.C. Isu Strategis (2) Nilai Skala Kriteria 3 4 5 (5) (6) (7) Total skor (10) 1 (3) 2 (4) 6 (8) Dst… (9) Cara Pengisian Tabel.C..d Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria.. .C.T-III.C.T-III. dapat dilakukan dengan mengisi Tabel. Salah satu metode untuk menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan.

usulan permasalahan pembangunan. Tim perumus harus menelaah sasaran pokok RPJPD dan tingkat capaian kinerja sampai dengan periode penyusunan RPJMD. kegiatan prioritas. seperti pemrioritaskan program prioritas.C. dan lain-lain. Sasaran Pokok Indikator & Target Kinerja 20 Tahun Realisasi Kinerja s.. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya.T-III. C.44 b) Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta. nasional dan regional. Hasil penelaahan sampai dengan periode terakhir dibandingkan dengan target kinerja sasaran pokok periode RPJMD yang akan disusun. Penelaahan RPJPD Penelaahan RPJPD merupakan langkah utama dalam perumusan RPJMD mengingat RPJMD merupakan penjabaran dari tahapan pembangunan periode 5 (lima) tahunan berkenaan dalam RPJPD.. .. yang dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Kolom (2) diisi sesuai dengan isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional. misi.T-III. maka visi. Kolom (3) diisi dengan total akumulasi nilai skor dari isu-isu strategis..1..58 Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No. Perumusan Penjelasan Visi dan Misi Bagian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.C. Hasil telaahan RPJPD selanjutnya dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. dan program kepala daerah merupakan hasil proses politik terpilihnya Kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. (1) Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) 1 2 3 4 Dst..1. dijadikan sebagai substansi dan . menjadi bahan utama penyusunan tujuan dan sasaran RPJMD. Cara Pengisian Tabel.9. yang tertuju pada arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah pada periode berkenaan yang ditetapkan dalam RPJPD Mengingat visi.59 Hasil Telaahan RPJPD No.58: Kolom (1) diisi dengan nomor urut.T-III.8.d Periode Terakhir*) Target Sasaran Pokok RPJPD pada Periode RPJMD tahun . sebagai landasan perumusan rumusan tujuan dan sasaran dengan memperhatikan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Untuk memudahkan penelaahan RPJPD dapat menggunakan hasil evaluasi hasil pelaksanaan RPJPD.. misi.C.. *) sampai dengan periode terakhir sebelum penyusunan RPJMD C.

1. kedudukan RPJMD sangat penting untuk dapat menerjemahkan berbagai kemungkinan perbedaan visi dan misi calon kepala daerah lainnya dengan kepala daerah yang terpilih sehingga menjadi landasan penyusunan dokumen RPJMD yang dapat dioperasionalkan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan. Untuk dapat menyusun penjelasan visi dan misi dimaksud. agar tujuan dan sasaran pembangunan selama 5 (lima) tahun dapat dijabarkan secara efektif dalam mencapai tujuan utama pembangunan daerah. 4. Kriteria suatu rumusan visi antara lain sebagai berikut: 1. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku (imaginable). sepanjang secara substantif tidak keluar dari makna yang sesungguhnya. relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pembangunan di daerah. Disertai penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan di daerah.9. Disertai dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan kebijakan. wajar dan layak untuk dicapai dengan situasi. penjelasan visi dan misi juga dimaksudkan untuk menyempurnakan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Kriteria suatu penjelasan visi dan misi. 2. 2.1. 5. 3. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). .45 rujukan utama penyusunan RPJMD. Syarat visi yang baik: 1. sebagai berikut: 1. Memusatkan perhatian kepada isu dan permasalahan utama daerah. kondisi dan kapasitas yang ada (feasible). efisien dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focussed). Memungkinkan. manageable. Menerjemahkan pernyataan visi dan misi ke dalam butir-butir penjelasan yang mudah dipahami dan tidak bias. dengan memperhatikan sasaran pokok dan arah kebijakan RPJPD periode berkenaan. 3. kepemimpinan yang berbeda dapat menghasilkan visi dan misi yang berbeda pula tergantung tekanan dan prioritas pembangunan masing-masing. Visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih seharusnya menggambarkan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai (desired future) dalam masa jabatan selama 5 (lima) tahun sesuai misi yang diemban. C. strategi dan program (articulative). Dari penjelasan di atas. Perumusan Penjelasan Visi Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada). maka visi dan misi tersebut perlu dikembangkan dan dijabarkan sesuai prinsip perencanaan pembangunan daerah. Dapat menyelaraskan muatan visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Menjelaskan visi dan misi dalam kriteria yang memudahkan penerjemahannya ke dalam tujuan dan sasaran yang terukur. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). 3. 4. demi mendapatkan dokumen perencanaan yang baik.. dan Sejalan dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah. dan selaras dengan manajemen pemerintahan daerah. Untuk mencapai indikator dan target dari sasaran pokok yang sama. Menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka menengah. penting bagi tim untuk memahami bagaimana seharusnya visi dan misi yang baik dibuat. Dengan demikian. 2. Pedoman utama penyusunan visi kepala daerah (saat mencalonkan) adalah bagaimana menyesuaikannya dengan sasaran pokok sesuai dengan arah kebijakan pembangunan lima tahun periode berkenaan. Namun demikian.

Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Visi kepala daerah yang telah diuraikan menjadi pokok-pokok visi harus dijelaskan untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Rumusan misi yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi yang ingin dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan. 2. kelemahan. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan. C. Penelaahan terhadap visi kepala daerah menghasilkan pokok-pokok visi yang diterjemahkan dalam pengertiannya sebagaimana tabel berikut ini: Tabel.1. Disini. Penjelasan visi memuat penjabaran kriteria dan indikator-indikator keberhasilan untuk mewujudkan visi.T-III. sederhana. dan 3. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). Dalam suatu dokumen perencanaan. lalu menerjemahkannya ke dalam pernyataan misi sesuai kriteria pernyataan misi sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tabel. Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. Secara teknokratis. ringkas dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan. Suatu alasan menjelaskan jati diri yang sesungguhnya dari Pemerintah Daerah. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi. 6. misi juga dapat didefinisikan sebagai komitmen terbaik terhadap stakeholder. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah. Pokok-pokok Visi Misi/Sub-misi Penjelasan Misi .T-III. pernyataan misi sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana. Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan visi daerah. Perumusan Penjelasan Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.60 Perumusan Penjelasan Visi No. Ada banyak stakeholder pembangunan daerah. Kriteria suatu rumusan misi: 1. dan mudah diingat. 7.2.46 5.C. harus dirujuk sasaran pokok RPJPD periode berkenaan untuk menghasilkan penjelasan visi yang selaras dengan arah kebijakan RPJPD periode berkenaan. Rumusan misi dalam dokumen RPJMD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis. Disusun dengan menggunakan bahasa yang ringkas..9. Dalam mengembangkan penjelasan visi. misi dapat dirumuskan menjadi alasan mengapa organisasi ada. tim menelaah misi kepala daerah dan makna serta implikasinya bagi perencanaan pembangunan. peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. Oleh karena itu. jelas dan padat. dan Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti semua pelaku (communicable).61 Perumusan Penjelasan Misi No. utamanya adalah masyarakat sebagai objek (tujuan) sekaligus subjek (pelaku) pembangunan.C. spesifik dan jelas horizon waktunya. Dengan gambaran misi yang demikian.

47 Tabel diatas digunakan untuk merumusan penjelasan misi. baik pada dampak. peran dari penjelasan visi dan misi sangat penting agar proses penyusunan tujuan dan sasaran memenuhi syarat supaya selaras dengan sasaran pokok RPJPD. Hal ini mengingat bilamana visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak dijabarkan secara teknokratis dan partisipatif kedalam tujuan dan sasaran.6 Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah Visi/Misi Dampak (Impact) Tujuan/ Sasaran Hasil pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapaian outcome “ Apa yang ingin diubah “ Program Hasil (Outcome) Manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu sebagai hasil dari output “ Apa yang ingin dicapai “ Kegiatan Keluaran (Output) Produk/barang/jasa adalah yang dihasilkan dari proses/kegiatan yang menggunakan input.10. Perumusan Tujuan dan Sasaran Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja pembangunan daerah secara keseluruhan. Perumusan tujuan dan sasaran dari visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah menjadi landasan perumusan visi. maka program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih akan mengalami kesulitan dalam mengoperasionalisasikannya kedalam sistem penyelenggaraan pemerintahan. Di sini. C. dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar. Selaras dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka perencanaan pembangunan daerah pun menggunakan prinsip yang sama.1. Dalam hal ini. “ Apa yang dikerjakan dan dihasilkan (barang) atau dilayani (proses)“ Input Sumberdaya yang memberikan kontribusi dalam menghasilkan output “ Apa yang digunakan dalam bekerja“ Dari gambar di atas. maupun keluaran dari suatu kegiatan. program dan kegaiatan yang secara totalitas menjadi arsitektur kinerja pembangunan daerah. dan sasaran. misi dengan perumusan tujuan dan sasaran. Secara skematik keterkaitan antara visi. Pengembangan rencana pembangunan daerah lebih ditekankan pada target kinerja. tujuan dan sasaran merupakan dampak (impact) keberhasilan pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapain berbagai program prioritas terkait.G-III. misi. Perumusan tujuan dan sasaran merupakan salah satu tahap perencanaan kebijakan (policy planning) yang memiliki kritikal poin dalam penyusunan RPJMD. Perumusan penjelasan misi merupakan penyelarasan dari arah kebijakan 5 (lima) tahun misi kepala daerah terpilih dan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah..C. jelas bahwa tujuan dan sasaran pembangunan daerah mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan pembangunan daerah secara keseluruhan. program. tujuan dan sasaran Renstra SKPD untuk periode 5 . hasil.

3. Dirumuskan untuk mencapai atau menjelaskan tujuan. 3. melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah.48 (lima) tahun. dapat di jelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar.7 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah Kepala Daerah Kepala SKPD Visi/misi SKPD dibuat untuk secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung atau mewujudkan visi misi Kepala Daerah Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Program Pembangunan Daerah Program Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Program Pembangunan Daerah berisi program-program prioritas terpilih yang menjadi “top priority” untuk mewujudkan visi/misi Kepala Daerah (RPJMD) RPJMD RENSTRA SKPD Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. Merumuskan rancangan pernyataan tujuan dari setiap misi dan melihat kesesuaian dengan program kepala daerah terpilih. Merumuskan rancangan pernyataan-pernyataan sasaran dari setiap tujuan. Kriteria sasaran memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. dan Langkah – langkah perumusan tujuan dan sasaran: 3. 4. 1. 2. dan Disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. . Kriteria suatu rumusan tujuan pembangunan: 1.. 4. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur. Dalam hal pernyataan tujuan belum sepenuhnya memecahkan isu-isu strategis maka pernyataan tujuan perlu disempurnakan. rasional.C. dan Memenuhi kriteria SMART-C. Menguji apakah rancangan pernyataan tujuan dapat memecahkan isu-isu strategis dalam jangka menengah. spesifik. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. 4. 2. Merumuskan rancangan capaian indikator yang terukur dari setiap sasaran. Untuk mencapai satu tujuan dapat dicapai melalui beberapa sasaran. 2. sekurangkurangnya memenuhi indikator kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah.G-III. Kuatnya hubungan kedua lembaga antara kepala daerah dan SKPD dalam perumusan tujuan dan sasaran untuk mewujudkan visi dan misi. Untuk mewujudkan suatu misi dapat dicapai melalui beberapa tujuan. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. Diturunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi pembangunan daerah yang telah ditetapkan dengan memperhatikan visi. mudah dicapai.

. Rancangan tujuan RPJMD selanjutnya diuji apakah telah dapat menjawab berbagai isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah......... Berdasarkan masing-masing tujuan yang telah disepakati dibuat sasaran untuk kuantifikasi lebih lanjut dan lebih teknis dapat dikelola pencapaiannya....... Tujuan 2     Tujuan 3     Dst .. .. ....     Tujuan 2 ........... sebagai berikut: .62 Perumusan Tujuan terhadap Misi kepala daerah dan Sasaran Pokok RPJPD Sasaran Pokok Misi KDH Sasaran Pokok 1 Sasaran Pokok 2 Sasaran Pokok 3 Dst Misi 1 ........ Suatu tujuan dapat saja hanya berkorelasi pada misi. Yang demikian... dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel........ Menyelaraskan rancangan pernyataan-pernyataan sasaran dan capaian indikator yang terukur terhadap pernyataan arah kebijakan dan sasaran RPJMN untuk penyusunan rancangan awal RPJMD provinsi serta rancangan awal RPJMD kabupaten/kota.... PPD 3 . Dalam hal kepala daerah terpilih menyertakan sub-misi pada masing-masing misi maka tujuan dibuat dengan melihat atau mempertimbangkan sub-sub misi.... .......49 5..... yang mana sasaran pokok RPJPD ditempatkan sebagai syarat minimal yang harus ada dalam tujuan RPJMD.... Dari tabel di atas tampak bahwa perumusan tujuan pada dasarnya dilakukan terhadap tiaptiap misi dengan memperhatikan sasaran pokok dimana suatu tujuan berkorelasi.63 Pengujian Tujuan terhadap Isu Strategis dan Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 ........... ................. dapat dimungkinkan mengingat bahwa tujuan dalam RPJMD lebih dimaksudkan menerjemahkan misi.. . selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. Tujuan 1 ..C... Dalam hal suatu isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah tetap tidak dapat ditemukan atau dibuatkan tujuannya maka perlu disepakati dalam forum perumus bahwa atas isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang dianulir dan tidak dimasukkan dalam prioritas pembangunan daerah periode rencana...... ............. sasaran dan indikator kinerja sasaran...T-III.....T-III.......... Misi 2 . ... ........ ... .. namun tidak berkorelasi dengan sasaran pokok RPJPD........... Misi 3 ....................... ................ Tabel diatas juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa seluruh sasaran pokok RPJPD telah memiliki tujuan dalam RPJMD...................... .......... Hasil rumusan tujuan..... .......... .C. Dst     Tujuan 4     ...........     ......     Dst ................... Perumusan sasaran dengan mengisi tabel... Dst     Tujuan 1 ... ... PPD 2 ....... ..................... . Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa suatu tujuan yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya harus diselaraskan jika masih terdapat isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang belum dipecahkan melalui perumusan sasaran.

dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: a. kualitas atau harga. Dalam hal karena kesulitan dalam mendapatkannya. program. Kualitasnya ditentukan sejauh mana indikator benar-benar dapat mewakili (perilaku) dari kegiatan. Namun. Cost-effective. measurable. yaitu indikator terkait secara logis dan langsung dengan tugas institusi. Hal ini untuk menjamin aspek akuntabilitas pencapaian kinerja.. relevant. atau sasaran bukan hal yang mudah. f. Indikator kinerja dipilih seyogyanya merupakan indikator kinerja exact. Measurable.C. time bond dan continously improve (SMART-C). achievable.T-III. b. biaya. Exact Proxy Activity : ukuran yang ideal untuk mengukur hasil pencapaian sasaran strategis yang diharapkan. program. target kinerja harus menggambarkan secara langsung pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah dan memenuhi kriteria specific. : indikator yang mengukur hasil tidak secara langsung. Tingkat validitas indikator kinerja dibagi menjadi: a. c. tetapi sesuatu yang mewakili hasil tersebut. yaitu indikator yang dipilih harus sesuai dengan upaya peningkatan pelayanan/kinerja. b.50 Tabel. Well Defined. yaitu indikator yang digunakan akurat dan dapat mengikuti perubahan tingkatan kinerja. disadari bahwa penentuan suatu indikator kinerja atas kegiatan. yaitu indikator yang digunakan diukur dengan skala penilaian tertentu yang disepakati. Kualitas indikator kinerja ditentukan oleh: Tingkat validitas indikator kinerja ditentukan berdasarkan tingkat kedekatan indikator kinerja tersebut dengan tujuannya. dapat berupa pengukuran secara kuantitas.64 Rumusan Sasaran dan Indikator No. Validitas indikator kinerja dapat dibedakan berdasarkan gap antara indikator kinerja dan sasaran strategis yang dapat dilihat pada gambar berikut: . Relevant. yaitu memungkinkan proses validasi dalam sistem yang digunakan untuk menghasilkan idikator. dimungkinkan digunakannya indikator proxy atau activity dengan catatan bahwa terus diupayakan untuk mendapatkan (yang mengarah pada) indikator exact dimasa-masa datang. Misi/Sub-misi Tujuan Sasaran Indikator Target - Perumusan indikator kinerja dan capaian kinerja tersebut harus dapat digunakan untuk mengukur capaian keberhasilan program pembangunan jangka menengah daerah. serta realisasi tujuan dan sasaran strategis. Reliable. Oleh karena itu. e. g. : indikator kinerja yang mengukur jumlah. Indikator dan target kinerja dinyatakan dengan jelas pada tahap perencanaan dan pada akhir pelaksanaan. atau sasaran yang diukur. yaitu definisi indikator jelas dan tidak bermakna ganda sehingga mudah untuk dimengerti dan digunakan. dan waktu dari kegiatankegiatan yang berdampak pada sasaran strategis yang bersangkutan. d. kegunaan indikator sebanding dengan biaya pengumpulan data. Karena indikator dimaksud memiliki gap mendekati nol atau sama sekali tidak ada gap dalam menjelaskan indikator kinerja yang diukur. Verifiable. c. Approriate.

Perumusan Strategi dan Arah Kebijakan Setelah tujuan dan sasaran dan indikator kinerja RPJMD dirumuskan. dibutuhkan metodologi atau teknis dalam menentukan program/kegiatan prioritas apa suatu target kinerja akan dicapai dalam 5 (lima) tahun. strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi. Moderate c. dan perbaikan kinerja birokrasi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah (strategy focussed-management). perumusan strategi membutuhkan keseriusan dan kemampuan berpikir bagi anggota tim yang terlibat dalam perumusan.C. Metodologi itulah berupa perumusan strategi. High b. sistem manajemen. Suatu tingkat kendali Menunjukan sejauh mana kemampuan suatau organisasi dalam mengontrol/mengelola pencapaian target indikator kinerja: a.1. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.8 Tingkat Validitas Indikator Kinerja Sasaran Strategis Indikator Kinerja Exact Sasaran Strategis Size of Gap Sasaran Strategis Indikator Kinerja Proxy Indikator Kinerja Activty Indikator kinerja dan upaya-upaya untuk mencapainya juga mempertimbangkan tingkat kendali (degree of contollability) pemerintahan daerah atas apa yang ditargetkan dari kinerja tersebut. C. Rumusan strategi berupa pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. reformasi. C. termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi. Dibutuhkan pendalaman materi dan analisis data serta diskusi yang tidak kenal lelah demi menghasilkan strategi terbaik untuk mencapai tujuan dan sasaran RPJMD.1. Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan. : Pencapaian target sangat dipengaruhi secara dominan oleh unit/individu lain.G-III.51 Gambar.. Perumusan Strategi Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Sebagai proses yang abstrak dan kompleks.1. Size of Gap . : Pencapaian target juga dipengaruhi unit/individu lain. tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik. dan pemanfaatan teknologi informasi. Low : Pencapaian target secara dominan ditentukan oleh unit/individu yang bersangkutan. Dengan pendekatan yang komprehensif.11.11.

Sasaran Pokok . dan pemangku kepentingan. 5. Menerjemahkan strategi kedalam bentuk yang operasional.Tujuan dan Sasaran . dapat dikenali indikasi keberhasilan atau kegagalan suatu strategi sekaligus untuk menciptakan budaya “berpikir strategik” dalam menjamin bahwa transformasi menuju pengelolaan keuangan pemerintah daerah yang lebih baik. Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar.C.G-III. dan Memobilisasi perubahan melalui kepemimpinan yang baik. 3. 1. Perencanaan sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi kepala daerah ke dalam rencana kerja yang actionable. 2. Arsitektur perencanaan pembangunan daerah dipisahkan menjadi dua: 1.Visi dan Misi . Di sini penting untuk mendapatkan parameter utama yang menunjukkan bagaimana strategis tersebut menciptakan nilai (strategic objective). strategi harus dikendalikan dan dievaluasi (learning process).Program Prioritas Dibutuhkan komitmen agar strategi yang telah disepakati juga dijalankan. Melalui parameter tersebut. Strategi dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertolak-belakang. 2. Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis. Menjadikan strategi sebagai komitmen dan rutinitas birokrasi. 4. Layanan yang bernilai tambah diciptakan secara berkelanjutan dalam proses internal Pemerintah Daerah. akuntabel dan berkomitmen terhadap kinerja. 2. . dan Suatu strategi yang baik harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip: 3. Perencanaan Strategik yaitu perencanaan pembangunan daerah yang menekankan pada pencapaian visi dan misi pembangunan daerah.Strategi dan Arah kebijakan . Lima prinsip manajemen untuk menciptakan komitmen dalam menjadikan strategi sebagai basis perencanaan pembangunan daerah adalah: 1.Program Prioritas Perencanaan Strategik Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Perencanaan Operasional ..52 Rumusan strategi juga harus menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana Pemerintah Daerah menciptakan nilai tambah (value added) bagi stakeholder pembangunan daerah. Perencanaan Operasional yaitu perencanaan yang menekankan pada pencapaian kinerja layanan pada tiap urusan. transparan.Visi dan Misi .Arah Kebijakan RPJMD 5 Tahun . Menjadikan strategi sebagai proses yang berkelanjutan. Menyelaraskan organisasi sesuai pilihan strategi jangka menengah. Strategi didasarkan pada capaian kinerja pembangunan dan pemenuhan kebutuhan layanan yang berbeda tiap segment masyarakat pengguna layanan.9 Pemisahan Rencana Strategis dan Operasional RPJPD 20 Tahun .Program Pembangunan Daerah .

........................ weakness.......... ... Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan untuk setiap langkah yang akan dipilih....... .. opportunity..................... Eksternal (+) Peluang .......... Strategi terdiri dari tema-tema yang secara simultan saling melengkapi membentuk cerita atau skenario strategi...............................................65 Identifikasi SWOT Internal (+) Kekuatan ...G-III........... dan Melakukan evaluasi untuk menentukan pilihan langkah yang paling tepat antara lain dengan menggunakan metode SWOT (kekuatan/strengths.................. dengan dengan terlebih dahulu melakukan analisis SWOT (strength... menentukan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran atau kumpulan sasaran yang inherent................... Pertama.......................... dapat secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis sebagaimana bagan berikut: Gambar.. dipetakan kebutuhan informasi untuk analisis SWOT (atau TOWS) dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel....... Langkah-langkah merumuskan strategi sebagai berikut: 1..................................................................C..... .............................. 2............. jelas bahwa perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak......... satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut................................. Pemetaan SWOT di atas sangat penting untuk memahami kondisi riil daerah termasuk di dalamnya Pemerintah Daerah.... ................................. beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema....................................................... ......... dan threats)...... ............................................................................................................................... Diskusi-diskusi yang intens akan sangat membantu penajaman ............................................................. dengan langngkah-langkah meliputi: 3..........T-III. peluang/opportunities dan tantangan/threats)............ ...... ...53 4.....C.............................................................. .......................................... Melalui analisis data-data dan hasil prosesproses pada tahapan sebelumnya.....10 Keterkaitan Sasaran Dengan Strategi Sasaran 1 Strategi 1 atau Sasaran 1 Sasaran 2 Strategi 1 Sasaran 2 Strategi 2 Sasaran 3 Dari gambar di atas.. ........................................................................................ Menyusun alternatif pilihan langkah yang dinilai realistis dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan...................... Satu strategi dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran...................................................... .............. Suatu strategi... ................ Dalam hal............ kelemahan/weaknesses....... (-) Ancaman .......................... (-) Kelemahan ...

C. ……………… 2.T-III. dst …… Alternatif Strategi: 1. agar secara seimbang melintasi lebih kurang empat perspektif: 1) Perspektif masyarakat/layanan: bagaimana strategi dapat menjadikan pengaruh langsung terhadap pengguna layanan atau segmen masyarakat. . Tabel. Atas dasar informasi yang telah terbagi dalam 4 (empat) kuadran di atas dirumuskan alternatif strategi sebagai berikut: Tabel. dst …… Alternatif Strategi: 1.. Dst. ……………… 3. ……………… 3.C. Kedua.T-III. Kinerja Sasaran Indikator Kinerja Sasaran Alternatif Strategi *) `*) Diisi dengan alternatif strategi yang dipilih dari Tabel. ……………… 3. selanjutnya diuraikan ke dalam tabel sebagai berikut: Penentuan Alternatif Strategi No. ……………… 2. ……………… 3. ……………… 2.C. untuk menghasilkan perumusan strategi yang pada akhirnya dapat selaras dengan pilihan program yang tepat maka rumusan strategi harus dipetakan (strategy mapping). Penting untuk menekankan bahwa strategi harus dipandang sebagai satu kesatuan skenario-skenario selama periode 5 (lima) tahun. ……………… 3. Menggunakan metode pembobotan dengan cara seperti yang dilakukan terhadap penentuan isu-isu strategis. Menggunakan kombinasi antara FGD dengan metode lainnya untuk objektifitas pemilihan strategi.66 Penentuan Alternatif Strategi dan Indikator Sasaran Peluang: 1. dst … Faktor Eksternal Faktor Internal Kekuatan: 1. Pemilihan strategi yang paling tepat diantara berbagai alternatif strategi yang dihasilkan dengan metode SWOT. dst …… Alternatif Strategi: 1. Penggunaan metode SWOT di sini lebih karena kesederhanaan dan banyak dipahami berbagai kalangan. ……………… 3.66 Keempat. 3. dst …… Pengembangan alternatif strategi dapat menggunakan metode atau teknik lain sepanjang dapat dipertanggungjawabkan. ……………… 3. pemangku kepentingan lainnya. alternatif strategi yang dipilih. 1. dst …… Alternatif Strategi: 1. ……………… 2. dst … Ancaman: 1.67 Ketiga. Pengujian dilakukan pada tingkat pembahasan tim. ……………… 2. dst …… Kelemahan: 1. ……………… 2. dapat dilakukan melalui: 1) 2) 3) 4) Dibahas kembali melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman di bidang manajemen strategik.T-III. 2. menentukan strategi dari beberapa alternatif strategi. ……………… 2. ……………… 3. Menggunakan metode Balanced Scorecard. ……………… 2.54 tiap komponen.

antara lain: 1.1. FGD atas bahan-bahan yang telah diidentifikasi.55 2) 3) Perspektif proses internal: strategi harus mampu menjadikan perbaikan proses dan pemberian nilai tambah pada proses birokrasi (internal business process). Menguji apakah rancangan arah kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 4. Langkah-langkah merumuskan arah kebijakan sebagai berikut: 1. Tujuan Sasaran Arah Kebijakan Arah Kebijakan Th 1 Arah Kebijakan Th 2 Arah Kebijakan Th 3 Arah Kebijakan Th 4 Arah Kebijakan Th 5 Strategi .2. sebelum atau setelah alternatif strategi dibuat. dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjamin terselenggaranya layanan pemerintahan daerah yang baik (good governance) dalam jangka panjang.C. Mengidentifikasi permasalahan dan isu strategik terkait tiap tahun. 2.68 Perumusan Arah Kebijakan Pembangunan No. 5. dan 6. Perspektif keuangan: strategi harus dapat menempatkan aspek pendanaan sebagai tujuan sekaligus sebagai konstrain (cost-effectiveness) serta untuk mencapai manfaat yang terbesar dari dana yang terbatas (allocative efficiency). Mengidentifikasi tiap sasaran dan target kinerja tiap tahun. Memperjelas kapan suatu sasaran dapat dicapai dari waktu ke waktu. Memutuskan arah kebijakan. 3. 3. 4) C. Mengarahkan pemilih strategi agar selaras dengan arahan dan sesuai/tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dan 4. 2. Kriteria suatu rumusan arah kebijakan. Perumusan Arah Kebijakan Arah kebijakan adalah pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5 (lima) tahun. Perspektif kelembagaan: strategi harus mampu menjelaskan dengan investasi apa pada sistem. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya. Dirumuskan bersamaan dengan formulasi strategi. teknologi. Menetapkan arah kebijakan untuk menghubungkan strategi pada sasaran dan kapan harus diselenggarakan diuraikan kedalam tabel sebagai berikut: Tabel. Merumuskan draft arah kebijakan.11. Membantu menghubungkan tiap-tiap strategi kepada sasaran secara lebih rasional..T-III.

11 Strategi Pelaksanaan Arah Kebijakan Sasaran Pokok/ Target Kinerja Arah Kebijakan Tahun 1 Strategi 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Sasaran I Sasaran II Strategi 2 Strategi 3 Sasaran III Strategi 4 Strategi 5 Sasaran IV Strategi 6 Strategi 7 Sasaran V Dari diagram di atas. dan Mengarahkan pemilihan program agar tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan dan kepentingan umum. Urut-urutan strategi dari tahun ke tahun selama 5 (lima) tahun dipandu dan dijelaskan dengan arah kebijakan. Keberhasilan capaian satu program mendukung atau memicu keberhasilan program lainnya. diperoleh sarana untuk menghasilkan atau diperolehnya berbagai program yang paling efektif mencapai sasaran. 2.G-III. strategi harus dirumuskan secara spesifik terhadap horizon waktu. sebagaimana kerangka logis sebagai berikut: Gambar. Agar kebijakan umum dapat dijadikan pedoman dalam menentukan program prioritas yang tepat. Kriteria suatu rumusan kebijakan umum antara lain: 1. operasional dan fokus.C.12. kebijakan umum dibuat dalam empat perspektif sesuai strateginya. 3. Dengan arah kebijakan. dibutuhkan kebijakan umum agar dapat merangkai program-program prioritas yang inherent. sebagai berikut: . Melalui rumusan kebijakan umum. Perumusan Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator kinerja sasaran yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan jangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang ditetapkan. suatu strategi juga dapat dijelaskan pelaksanaannya sesuai tahapan. strategi dapat diterangkan secara logis kapan suatu strategi dijalankan mendahului atau menjadi prasyarat bagi strategi lainnya. Strategi dapat dijalankan dari atas dalam 1 (satu) tahun periode. Untuk itu. Melalui kebijakan umum diperoleh cerita strategi melalui program-program yang saling terkait dan rasional dalam mendukung pencapaian indikator dan target sasaran yang ditetapkan. C.. yang terpenting keseluruhan strategi harus menjadi strategi pembangunan daerah yang padu dan mampu memberdayakan segenap potensi daerah dan pemerintahan daerah sekaligus memanfaatkan segala peluang yang ada. Namun. Menjelaskan strategi lebih spesifik.56 Terhadap atribusi waktu. berdasarkan arah kebijakan. konkrit. Mengarahkan pemilihan program yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. Namun. dapat pula membutuhkan waktu lebih dari satu tahun.1.

Suatu program pembangunan daerah merupakan sekumpulan program prioritas yang secara khusus berhubungan dengan capaian sasaran pembangunan daerah. dengan mengisi tabel berikut: . Urgensi lain adalah juga karena perumusan program pembangunan daerah adalah inti dari perencanaan strategis itu sendiri yang mendefinisikan tujuan startegis dalam 5 (lima) tahun. Suatu program pembangunan daerah dapat berupa pernyataan yang disamakan atau sekurang-kurangnya mengandung program kepala daerah terpilih yang didalamnya berisi program prioritas yang bersifat strategis. 2. dan pemanfaatan teknologi informasi bagi peningkatan kinerja operasional pemerintahan daerah. Kebijakan pada perspektif keuangan yaitu kebijakan yang memberi jalan bagi upaya untuk mengefektifkan alokasi anggaran. dan penyerahan layanan pada segmentasi masyarakat yang sesuai. dengan mengisi tabel berikut: Langkah awal untuk mengidentifikasi program-program prioritas apa yang akan dirumuskan bagi suatu strategi adalah dengan membuat kebijakan umum di 4 (empat) perspektif tiap strategi dan diidentifikasi indikator kinerjanya. 3. Tahap ini sangat penting dalam perumusan RPJMD karena hasil dari perumusan program pembangunan daerah menghasilkan rencana pembangunan yang kongkrit dalam bentuk program prioritas. Setelah kebijakan umum dibuat.G-III. pengembangan barang/jasa publik. Suatu program prioritas bersifat strategis mengikuti arsitektur kinerja. sebagai berikut: Gambar.12 Arsitektur Kinerja RPJMD antara kinerja Strategis dengan Oprasional Hasil/out come Program Pembangunan Daerah Perencanaan Strategik Program Prioritas (Strategik) Indikator Kinerja Strategis Lagging Leading Program Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Perencanaan Operasional Hasil/out come Program Prioritas (Operasional) Indikator Kinerja Oprasional Lagging Leading Langkah awal untuk mengidentifikasi program-program prioritas apa yang akan dirumuskan bagi suatu strategi adalah dengan membuat kebijakan umum di 4 (empat) perspektif tiap strategi dan diidentifikasi indikator kinerjanya.C. Kebijakan pada perspektif proses internal adalah kebijakan bagi operasionalisasi birokrat dan lembaga pemerintahan yang mendorong proses penciptaan nilai dari proses inovasi. kebutuhan dan aspirasi mereka dan layanan apa yang harus diberikan.. langkah selanjutnya adalah merumuskan program pembangunan daerah. dan upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas keuangan daerah demi mendukung strategi pembangunan daerah. Kebijakan pada perspektif kelembagaan yaitu kebijakan yang mendorong upaya-upaya yang mengungkit kinerja masa depan berupa investasi pada perbaikan SDM. sistem.57 1. efisiensi belanja. 4. Kebijakan pada perspektif masyarakat/layanan adalah kebijakan yang dapat mengarahkan kejelasan segmentasi masyarakat yang akan dilayani.

...... Strategi . .. (dst) Strategi I Kebijakan Umum: ...13 Gambaran Analisis Strategi Sasaran A Sasaran B Sasaran C Sasaran ..... rumusan kebijakan umum akan dibuat setiap perpektif mengenai masing-masing strategi............ Berdasarkan kebijakan umum pada masing-masing perspektik dan indikator kinerja (outcome) yang dipersyaratkan maka dirumuskan berbagai jenis program terkait.. Perspektif Perspektif 1 Perspektif 2 Perspektif 3 Perspektif 4 Kebijakan Umum Indikator Strategi 2 Kebijakan Umum Indikator Strategi 3 Kebijakan Umum Indikator Strategi. melaui kebijakan umum....... (dst) Perspektif Masyarakat/ stakeholder (P1) (Tema Strategis: Perspektif 1 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 1 untuk strategis 3) Kebijakan Umum: . (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 2) (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 3) Suatu program pembangunan daerah........................ Tiap-tiap strategi akan memiliki gambaran tema-tema strategik di masing-masing perspektif.G-III..69 Perumusan Kebijakan Umum Strategi 1 No 1. 4.......... Kebijakan Umum: .... secara teknokratis diterjemahkan dalam program prioritas yang pada dasarnya dijabarkan dari strategi yang telah dirumuskan.C.. Perspektif Proses Internal (P2) (Tema Strategis: Perspektif 2 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 2 untuk strategis 2) Kebijakan Umum: .. Perspektif Kelembagaan (P3) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 2) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 3) Perspektif Keuangan (P4) Kebijakan Umum: ........ Kebijakan Umum: .(dst) Kebijakan Umum Indikator Dengan pengisian tabel di atas. 3....... 2................. Strategi II Strategi III Kebijakan Umum: .C. Kebijakan Umum: .................. Bagi suatu perspektif yang tidak ada kebijakannya maka program prioritas pada perspektif tersebut tidak perlu dibuat......58 Tabel....... sebagai berikut: Gambar..T-III. sebagaimana dijelaskan dalam diagram di bawah ini....

......a P.P.P...P. Namun demikian... I....1.....c Perspektif Proses Internal (P2) P.. tergantung strategi untuk mencapai sasaran...1.. III.1...a P.... Lagging indicators adalah tolak ukur kinerja sebagai akibat atau hasil dari serangkaian tindakan lain..a P..1..2.a Keterangan: PP....3..1.b Kebijakan Umum: . II. (dst) Kebijakan Umum: ...4. II. I.1..P. Perumusan program pembangunan jangka menengah daerah termasuk program prioritas di dalamnya.2. I.a Perspektif Kelembagaan (P3) P. P.P. Penamaan program dengan kalimat sederhana...3... Suatu indikator di perspektif paling atas adalah hasil (outcome measures) bagi indikator kinerja dari perspektif-perspektif yang ada dibawahnya (performance drivers). Kebijakan Umum: . d.P. I... c...... Program harus disusun dalam kerangka strategis pembangunan jangka menengah daerah.. III.2.P. I....59 Gambar... III....P..2.a P...... I.... III.. P.. tidak selalu tiap perspektif terdapat program prioritas.. Penentuan program diupayakan merata ditiap perspektif untuk menjaga kepaduan dan daya ungkit strategi terhadap target indikator kinerja sasaran pokok. Program harus didefinisikan sebagai cara untuk mencapai target kinerja sasaran melalui strategi dan arah kebijakan.. Keterkaitan antara program dengan strategi dan arah kebijakan menunjukan pentingnya kejelasan hubungan antara program prioritas dengan sasarannya.P.3.. II. II.c Kebijakan Umum: .... memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.. Untuk meningkatkan rasa tanggung jawab atas pencapaian kinerja program..P.P..1.b P.b P... III.a P.P.3.P. P.. b..I.. yaitu harus memperhitungkan bahwa program yang dirumuskan merupakan salah satu elemen dalam pencapaian rencana pembangunan jangka menengah daerah..C......P. (dst) Strategi I Kebijakan Umum: ..4. III.4.d Perspektif Masyarakat (P1) P.c P.a P. Kebijakan Umum: ... Dari gambar diatas juga dapat dijelaskan bahwa suatu program atau perspektif (P4) dapat menjadi kebijakan umum yang berlaku bagi seluruh strategi.P... I.a: Program Prioritas untuk perspektif P1 pada strategi I... Kebijakan Umum: ...a P..P. Adapun leading indicators adalah kinerja yang memicu tercapainya hasil.. kinerja masing-masing program dapat dipisahkan antara lagging indicators dan leading indicators.2...a P.14 Arsitektur Pemetaan Strategi RPJMD Sasaran A Sasaran B Sasaran C Sasaran . dalam penyusunan program harus melibatkan SKPD berkenaan.P.. ...G-III......P.. Selanjutnya....... ringkas mudah dimengerti sehingga dapat dijabarkan kedalam kegiatan.... II.. P. Strategi II Strategi III Strategi .2. I. Tampak bahwa tiap strategi mengandung berbagai program yang inherent dan spesifik untuk mencapai sasaran masing-masing...b Perspektif Keuangan (P4) Kebijakan Umum: ...b P.P.....

..... Dengan demikian... Strategi III Program III.b .2.......1.....................2...... sebagai berikut: Tabel. Kebijakan Umum P1 Program III....b .4..a .... Program I.. Strategi I Program I.....1...3.. Program II... Program II...........c .............70 Perumusan Program Prioritas Pada Program Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota....a ..a .................. Program I...........1............. Program II.T-III..4.............. Suatu program prioritas yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah pada dasarnya adalah perencanaan operasional.. Indikator Kinerja Target Kinerja *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... Sebuah outcome dapat dicapai dengan satu atau beberapa output b.... Kebijakan Umum P3 Program I..............1...............60 Perumusan output/keluaran yang akan dihasilkan dalam rangka pencapaian outcome.....a .... 3.. rumusan program prioritas pada program pembangunan daerah dapat dituangkan dalam bentuk tabel.a ....a .........1.b ...........13.......a ......b ......1... Program III...... Program III.. Kebijakan Umum P3 Kebijakan Umum P4 Dst..C. Kebijakan Umum P4 Program I...a .......... Program I................ C........ Sesuai arsitektur perencanaan yang memisahkan antara aspek strategis dan operasional program prioritas dipisahkan pula menjadi 2 (dua) yaitu program prioritas untuk perencanaan strategis dan program prioritas untuk perencanaan operasional.....4. Disusun dengan melibatkan SKPD yang memiliki tugas dan fungsi terkait dengan outcome yang ditetapkan dalam pembangunan jangka menengah daerah........ Kebijakan Umum P2 1... Kebijakan Umum P2 2.......... .. Perumusan Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Tahapan ini merupakan langkah teknokratis dalam menerjemahkan berbagai analisis dan metodologi perumusan sebelumnya ke dalam penyusunan program prioritas..3....2.... c..........2......c ......2.... Program III.................c .....d ....1.................. Disusun untuk menjadi acuan bagi SKPD dalam menyusun kegiatan yang akan dirumuskan dalam Renstra SKPD...2...... Program III.. Kebijakan Umum P1 Program I..... memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a....*) No Strategi Kebijakan Umum Program Pembangunan Daerah/Program Prioritas Program I..3..............a .... Strategi II Kebijakan Umum P3 Kebijakan Umum P4 Program II.3...... Program II.b .............a ...

suatu prioritas pada beberapa urusan untuk mendukung visi dan misi serta program kepala daerah terpilih. menjadi tanggung jawab bersama Kepala SKPD dengan kepala daerah pada tingkat kebijakan. Perumusan program prioritas bagi penyelenggaraan urusan dilakukan sejak tahap awal evaluasi kinerja pembangunan daerah secara sistematis dilakukan pada identifikasi permasalahan pembangunan diseluruh urusan (wajib dan pilihan). Namun. Berdasarkan rumusan permasalahan pembangunan daerah di tiap urusan maka dibuatlah program prioritas dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan. pengendalian. Selanjutnya. tidak berarti bahwa urusan lain ditinggalkan atau diterlantarkan. Berbeda dengan penyelenggaraan aspek atrategik. Begitu pula dalam penganggarannya. perhitungan pagu indikatif masing-masing program dipisahkan menjadi pagu indikatif untuk program prioritas yang berhubungan dengan program pembangunan daerah (strategik) dan pagu indikatif untuk program-program yang berhubungan dengan pemenuhan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dengan kerangka. Artinya.61 Suatu urusan menjadi strategis tergantung tujuan dan sasaran pembangunan dan bagaimana strategi pencapaiannya. menjadi operasional diperiode berikutnya.C. Suatu urusan pemerintahan daerah dapat menjadi strategis di satu tahun atau periode dan sebaliknya. Pagu indikatif program merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program prioritas tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. program prioritas bagi penyelenggaraan urusan pemerintahan dilakukan agar setiap urusan (wajib) dapat diselenggarakan setiap tahun. Dalam hal suatu urusan atau program/kegiatan didalamnya menjadi strategis maka perencanaan.T-III. sebagai berikut: .71 Perumusan Program Prioritas No Program Pembangunan Daerah (starategis) Permasalahan Pembangunan Daerah (Oprasional) Faktor Penentu Keberhasilan Program Indikator Kinerja Target Kinerja Perhitungan Pagu Indikatif Program Prioritas Setelah program prioritas diketahui baik berasal dari perumusan strategis maupun dari rumusan permasalahan pembangunan daerah. bagi program prioritas yang dikategorikan strategik. kinerjanya merupakan tanggung jawab Kepala SKPD. dibuatlah alokasi pagu untuk setiap program. baik strategis maupun operasional. harus diprioritaskan terlebih dahulu. tidak langsung dipengaruhi oleh visi dan misi kepala daerah terpilih. sebagaimana tabel dibawah ini: Tabel. dan evaluasi yang dilakukan lebih tinggi intensitasnya dibanding yang operasional. Yang demikian karena suatu urusan yang bersifat strategis ditetapkan temanya karena pengaruhnya yang sangat luas dan urgent untuk diselenggarakannya sangat tinggi.. Suatu program prioritas.

. Standar Belanja Rp. Menentukan keluaran/output setiap kegiatan pada program terkait.... Rp... Program dst .. Rp. Dst ... Menghitung alokasi pagu dari setiap output kegiatan untuk setiap program.... c...... Dst .. Program 1 .. Perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan mengisi tabel...... Keluaran 2 . Rp.......72 Perhitungan Pagu Program Prioritas pada Prioritas I Program Outcome Keluaran 1 . sebagai berikut: Tabel. . Menghitung alokasi SKPD berdasarkan program yang menjadi tanggungjawab SKPD. SKPD 1 Pagu Program SKPD .... total pagu indikatif.. .15 Kerangka Penghitungan Pagu Indikatif Perencanaan Strategik Dana Pada Prioritas I Dialokasikan Pagu Indikatif Program Prioritas Pada Program Pembangunan Daerah Dialokasikan Perencanaan Operasional Dana Pada Prioritas II Pagu Indikatif Program Prioritas Pada Penyelenggaraan Urusan Pemerintah daerah Lainnya Dengan demikian.... Keluaran 1 .. .. b. Menghitung alokasi pagu setiap program setelah output kegiatan pada setiap program diverifikasi kebenarannya. . Rp........... SKPD 2 Rp........ Rp..C........T-III. Dst . Program 2 .. .. dan dana pada total dana Prioritas I/Prioritas II............. dilakukan secara simultan antara nilai pagu indikatif masing-masing program prioritas.... .. perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan: a.... Rp...... Keluaran 2 .. Rp.. penentuan pagu indikatif pada masing-masing kelompok diatas....... d.................C......... . ........ . Berdasarkan jumlah total dana pada Dana Prioritas I dan II.62 Gambar...G-III. Keluaran 3 .

. Program 2 ...... Rp.. SKPD 1 Pagu Program SKPD Dengan berjalannya waktu dimana proses pembelajaran dan terpenuhinya data-data kinerja lebih baik di masa datang...... Keluaran 1 ... Program dst .. Rp....... Program 1 ... kegiatan................ ............ .... yang dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: . .. ............ Dst ... Rp... . Dst .C... SKPD 2 Rp...T-III.............. Keluaran 3 ........... . Rp... . bukan activity.... Keluaran 2 .. Rp. Standar Belanja Rp.. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD. indikator kinerja.....73 Perhitungan Pagu Program Prioritas pada Prioritas II Program Outcome Keluaran 1 ... penghitungan pagu dapat dibuat pada level indikator proxy atau bahkan indikator exact dimana pagu dihitung dari standar belanja outcomes..... Setelah pagu setiap kegiatan diketahui kemudian Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program.... Rp..63 Tabel..... ... Rp. .... Dst . Keluaran 2 .......

Program.....C.. Dst . 2 2 2 2 2 01 01 01 01 01 02 03 Urusan Pilihan Pertanian Program..74 Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota.64 Tabel........ 1 03 Dst ........... Dst .......... Program.......... Dst ..... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota ...T-III...... 2 02 Dst ....... 1 1 1 02 02 02 01 02 Kesehatan Program...*) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan (2) Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja pada Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun-1 Target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 Target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) (17) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program..........

Pemerintahan Daerah Provinsi. Kolom (3) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome).65 Tata cara pengisian Tabel. C. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). diisi sebagai berikut: a. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota. khususnya dalam memenuhi kinerja pada aspek kesejahteraan. Uraian nama urusan pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dari sisi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kolom (17) Diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (2) diisi dengan: a. Indikator kinerja daerah secara teknis pada dasarnya dirumuskan dengan mengambil indikator dari program prioritas yang telah ditetapkan (outcomes) atau kompositnya (impact).C. yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode RPJMD. Kolom (16) diisi dengan total jumlah pendanaan selama periode RPJMD mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. dilakukan sama dengan cara pengisian kolom (4) dan kolom (5) pada kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): b. Kolom (Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD): Kolom (15) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Cara pengisian Kolom (6) sampai dengan kolom (13) yang terdapat mulai dari kolom Tahun-2 (tahun kedua periode RPJMD) sampai dengan kolom Tahun-5 (tahun kelima periode RPJMD). diisi dengan kondisi kinerja pada awal RPJMD Kolom (4) Kolom Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan untuk setiap baris program. layanan. Kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): Kolom (5) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada tahun pertama periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Kolom (6) diisi dengan jumlah pendanaan pada tahun pertama periode RPJMD yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) yang ditetapkan. b.74 Kolom (1) diisi dengan dengan kode Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah/ Program.. .T-III. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Penetapan Indikator Kinerja Daerah Setelah program prioritas dan pendanaan diketahui langkah selanjutnya adalah menetapkan indikator kinerja daerah. dan daya saing.14.o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah.1. Uraian nama program.

.1. 1....3.2.3 2... pustu per satuan penduduk Dst….2.2. Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 1 (4) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1.T-III. ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib 1.. 1..2.3 3. 2..1.1.66 Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan. Administrasi Keuangan Umum.2.1 1... Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas..4..1. Otonomi Daerah.1.*) Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 (1) (2) (3) No.1. 2.1.1. 1. 1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi provinsi PDRB per kapita Dst… Kesejahteraan Sosial 1.. 1. 1. 1. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst…. 2. 1. 1.1 2. Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….. . Perumusan indikator program prioritas dapat dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. poliklinik....75 Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/kota .2. 1. Perangkat Daerah.3. 1.2 2. 1. Pemerintahan Umum..1.4. Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid dst….C.. 1.2.. 1.3. Dst…… Dst...2. Dst. 1.

Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.3. 2.3. 2.2. Administrasi Keuangan Umum.67 - No.1. 1. 2. . Dst…. Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1. diisi dengan uraian indikator kinerja pada awal RPJMD.1.. Pelayanan Urusan Pilihan 1. s/d kolom (8) diisi dengan target capaian indikator tiap tahunnya. 2..4. 1. 2. Dst ….C. 3. 2.1 Otonomi Daerah. 1. 2.2.2.1.1. 2.1. 3. Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan aspek/fokus indikator kinerja pembangunan daerah (dapat merujuk pada lampiran I peraturan Menteri ini). Tata cara pengisian Tabel. 2. 1. 1. Dst…… ASPEK DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi 1. 2.3. Perangkat Daerah.1. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst…. 3. Pemerintahan Umum.3.. 1.2. 3. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 Tahun 1 (4) Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) (1) (2) (3) 3. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst…. 1..1 Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. 1. 1.74 Kolom (1) diisi dengan dengan no urutan aspek/fokus/indikator.2.T-III.1 Dst….

15. C. Pengiriman rancangan awal RPJMD tersebut disertai dengan catatan agar setiap SKPD menyerahkan rancangan Renstra SKPD kepada Bappeda sesuai dengan kalender perencanaan yang disampaikan.17. Kertas kerja perumusan rancangan awal RPJMD dapat disertakan untuk mendukung rancangan awal RPJMD yang dikonsultasikan.1. apakah program dan tujuan pembangunan lima tahun yang telah disusun dalam dokumen RPJMD sudah selaras dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat lima tahun kedepan. Pembahasan dengan DPRD untuk Memperoleh Masukan dan Saran Setelah dirumuskannya visi dan misi kepala daerah kedalam program dan tujuan pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan.76 Kompilasi Hasil Konsultasi Publik Provinsi/Kabupaten/Kota.. indikator akhir periode sama dengan indikator akhir tahun ke lima). Kesesuaian antara Renstra SKPD dan RPJMD.T-III.. target tahunan bersifat kumulatif tiap tahun. Selanjutnya dilakukan pembahasan dengan DPRD yang merupakan perwakilan dari masyarakat. Rancangan awal RPJMD kabupaten/kota juga merupakan bahan acuan bagi desa/ kelurahan dan kecamatan untuk melakukan Musrenbang desa/kelurahan dan Musrenbang kecamatan.C.. Bappeda bersama Sekretaris Daerah mengundang seluruh Kepala SKPD untuk pembahasan rancangan awal RPJMD. guna disepakati sebagai pedoman penyusunan rancangan RenstraSKPD.1.16. SKPD akan menyesuaikan program yang telah disusun dalam dokumen Renstra SKPD dengan RPJMD.68 Kolom (9) diisi dengan kondisi kinerja pada akhir periode RPJMD (dalam hal. Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pelaksanaan forum konsultasi publik dimaksudkan untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan pada tahap awal dengan tujuan untuk menghimpun aspirasi atau harapan para pemangku kepentingan terhadap program pembangunan daerah pada tahun yang direncanakan. Setelah diketahui program prioritas beserta kerangka pendanaan kemudian setiap program dilakuan pembahasan dengan SKPD sebagai bahan/input SKPD dalam menyusun Renstra SKPD.*) No Visi Misi Sasaran Pokok Arah Kebijakan Materi Masukan/Usulan Tambahan Keterangan C.. Bappeda mengirimkan rancangan awal RPJMD yang disertai dengan jadwal kalender perencanaan daerah untuk tahun yang direncanakan kepada seluruh SKPD sebagai bahan bagi SKPD untuk menyusun Rancangan Renstra SKPD. Bahan yang dikonsultasikan adalah rumusan sementara program pembangunan daerah untuk tahun rencana serta dasar analisis yang mendukung rumusan tersebut. Hasil konsultasi atau kesepakatan dalam konsultasi publik dapat dimasukkan dalam tabel berikut ini: Tabel. akan menentukan arah pembangunan 5 (lima) tahun kedepan apa yang akan dilaksanakan oleh daerah dalam mencapai visi dan misi kepala dan wakil kepala daerah yang kemudian dirumuskan kedalam program dan tujuan pembangunan daerah 5 (lima) tahun kedepan. Pembahasan dengan . Pembahasan Dengan SKPD C..1.

..........69 DPRD menjadi salah satu proses yang penting sehingga dalam pembasahan tersebut aspirasi masyarakat dapat terwakilkan oleh DPRD.. Provinsi/Kabupaten/Kota………………*) Nomor (1) 1.. 2.. untuk bahan penyelarasan dengan program prioritas dalam penyusunan rancangan awal RPJMD.18. 3..C. Semua informasi yang disajikan harus berkorelasi dan didukung dengan data yang valid dari kertas kerja perumusan.. 4. diisi dengan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD.2... dalam penyusunan program pembangunan SKPD juga memperhatikan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD sehingga terjadi keselarasan dalam penyusunan program yang telah disusun dalam rencana awal RPJMD dengan arah kebijakan.. diisi dengan uraian nama program dari masing-masing prioritas.. Dst .... diisi dengan uraian judul/rumusan sasaran pembangunan daerah. Prinsip-prinsip dalam penyajian adalah: a..C. Informasi yang disajikan dapat merupakan keseluruhan bentuk pada tahap perumusan (kertas kerja perumusan) atau sebagian menjadi yang dianggap relevan disajikan.....T-III...... b... Tidak seluruh informasi yang diolah dari hasilhasil analisis dan pembahasan/kesepakatan disajikan..77 Program Pembangunan Daerah Tahun .. TAHAP PENYAJIAN Tahap ini pada dasarnya merupakan penyajian dari apa yang telah dihasilkan dari tahap perumusan kedalam dokumen perencanaan.. Prioritas 4 ..... Tabel ini ditandatangani oleh kepala daerah yang merupakan lampiran dari dokumen RPJMD. 5. .. Kolom (6) Kolom (7) Catatan : C.. diisi dengan jumlah pagu indikatif untuk setiap program prioritas. Program 2 .1.. Prioritas 2 ... Kolom ini cukup diisi untuk pagu indikatif program saja.. C.... Prioritas 3 . yang dihitung berdasarkan indikasi jenis dan besaran kegiatan yang dibutuhkan sesuai program prioritas dan kemampuan fiskal daerah... Program 1 .. Tabel...... Program1 ..... Prioritas Pembangunan Daerah (2) Prioritas 1. Sasaran Pembangunan Daerah (3) Nama Program (4) Arah Kebijakan (5) Pagu (6) SKPD Penanggung Jawab (7) *) coret yang tidak perlu Cara Pengisian Tabel.T-III.. diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program dan/atau kegiatan yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j...o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah..77: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) diisi dengan nomor urut program pembangunan daerah untuk Tahun Rencana diisi dengan uraian nama/rumusan prioritas pembangunan. Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Mengemukaan antara program yang telah disusun dalam rancangan awal RPJMD kemudian program tersebut diserahkan pada SKPD untuk disusun prioritas kegiatan.

grafik. Penyajian agar diperkaya dengan teknis presentasi yang baik. dan gambar yang mendukung setiap potensi kawasan budaya yang dimiliki daerah. 1. Latar Belakang Mengemukakan pengertian ringkas tentang RPJMD. Tidak seluruh informasi dalam perumusan tentang gambaran umum kondisi daerah ditampilkan dalam penyajian. Keterhubungan dengan dokumen lain.3.70 c. Penjelasan perlu dilengkapi dengan kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan . 1.2. Selanjutnya. 1. melainkan cukup pada peraturan-perundangan yang memuat ketentuan secara langsung terkait dengan penyusunan RPJMD. Penjelasan dapat dilengkapi dengan tabel.1. maupun lokal. proses penyusunan RPJMD. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum geografis mengenai kondisi geografi daerah. permasalahan pembangunan daerah. RTRW nasional. perlu dicantumkan. baik yang berskala nasional. 1. potensi pengembangan wilayah.1. keterkaitan antara dokumen RPJMD dengan dokumen RKPD dan Renstra SKPD. Hubungan Antar Dokumen Bagian ini menjelaskan hubungan RPJMD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah.5.. RPJMD Provinsi. 1. RTRW Provinsi. Hanya informasi yang relavan dan penting saja yang perlu dicantumkan untuk mendapatkan fokus yang baik dalam dokumen. Pada sub-bab ini tidak perlu semua peraturan-perundangan dicantumkan. Penyajian rancangan awal RPJMD tersebut disusun menurut sistimatika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I. pilihan yang kata yang sederhana dan mudah dipahami. dan kebutuhan perumusan strategi. Sistematika Penulisan Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RPJMD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab didalamnya. Penulisan rancangan awal RPJMD disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengacu pada hasil kertas kerja pasca tahap perumusan rancangan awal RPJMD. Ketersediaan data gambaran umum kondisi daerah selengkapnya dapat dilihat di Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. dan RTRW kab/kota. Dasar Hukum Penyusunan Memberikan uraian ringkas tentang dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan RPJMD. Aspek Geografi dan Demografi Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. BAB II. dan wilayah rawan bencana. Suatu informasi dianggap relevan dan penting jika menjelaskan gambaran umum kondisi daerah yang selaras dan mendukung isu strategis.4. Dalam hal ini kalau di daerah telah diterbitkan peraturan daerah atau Peraturan Kepala Daerah yang mengatur tentang perencanaan dan penganggaran ataupun tentang tata cara penyusunan dokumen perencanaan dan pelaksanaan musrenbang. Bagian ini dijabarkan berdasarkan hasil analisis dan kajian gambaran umum kondisi daerah pada tahap perumusan. kedudukan RPJMD tahun rencana dalam RPJPD. seperti: RPJMN. 2. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang tujuan penyusunan dokumen RPJMD bagi daerah yang bersangkutan dan sasaran penyusunan dokumen RPJMD bagi daerah yang bersangkutan. visi/misi kepala daerah. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum penyusunan rancangan awal RPJMD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis.

khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum daerah bersangkutan. atau etnis tertentu. fokus fasilitas wilayah/infrastuktur. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek pelayanan umum sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. fokus iklim berinvestasi.16 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya Kondisi Klimatologi Kondisi Geologi Kondisi Hidrologi Kondisi Topografi Penggunaan Lahan Letak. kewarganegaraan. 2. dijelaskan tentang kondisi demografi seperti ukuran. fokus seni budaya dan olah raga.4. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat daerah bersangkutan. Analisis kependudukan dapat merujuk pada populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. Luas dan Batas Wilayah Potensi Pengembangan Wilayah Kondisi Geografi Lainnya Selanjutnya. serta penuaan. Selanjutnya.G-III. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. fokus kesejahteraan sosial. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek daya saing daerah bersangkutan. dapat ditampilkan. dapat ditampilkan.C. 2. Aspek Pelayanan Umum Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kemampuan ekonomi daerah. dengan mengisi dan menyajikan diagram sebagai berikut: Gambar. Selanjutnya. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus urusan layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan.71 potensi pengembangan kawasan budidaya.2. migrasi. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. dapat dipaparkan pada bab ini. sesuai lampiran I peraturan ini. sesuai lampiran I peraturan ini. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. agama.. dapat ditampilkan.3. Tabel-tabel atau grafik tertentu yang dianggap relevan. . struktur. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek daya saing daerah sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. dan fokus sumber daya manusia. Selanjutnya. 2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. kematian. sesuai lampiran I peraturan ini. Aspek Daya Saing Daerah Bagian ini diawali dengan pengantar analisis.

dan gambaran realisasi belanja daerah.1. sebagai berikut: 3. 3.3. 1.2.1. Provinsi/Kabupaten/Kota.1 1.2.. analisis rasio likuiditas. Berlaku untuk kabupaten/kota. 1. bagian ini dapat ditambahkan pokok-pokok analisis kinerja masa lalu pelaksanaan APBD..3.. atau tabel sebagaimana dihasilkan dalam tahap perumusan yang relevan. Kinerja Pelaksanaan APBD Bagian ini menguraikan perkembangan pendapatan dan belanja tidak langsung.C.3.1.. pencapaian kinerja pendapatan.*) No. 1 1. s/d Tahun . 1. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah dilakukan pada tahap perumusan ke dalam sub-bab. Penyajian hasil analisis dapat disertai dengan grafik. Potensi dan tantangan perkembangan ke depan ditinjau dari perspektif regional. 1. dan 3.72 BAB III. dan nasional.. Kinerja Keuangan Masa Lalu Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. 1. 1. sebagai berikut: Tabel.1.T-III.3.2. Selanjutnya. 1.3.1.1.3. antara lain: 1. Selanjutnya... ..2. Diisi sesuai dengan ketersediaan data.4. 1.1.. Papua Barat dan Aceh.2. 1. dijelaskan gambaran kinerja keuangan daerah yang mencakup: 3.2.3.78 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun. Perbandingan dengan realisasi APBD dengan daerah lainnya atau standar nasional.T-III. 1. 2. Neraca Daerah Bagian ini menguraikan sekurang-kurangnya mengenai perkembangan neraca daerah. analisis rasio solvabilitas dan analisis rasio aktivitas.1. gambar.C.1. proporsi sumber pendapatan..37). Berlaku hanya untuk provinsi Papua.2 1.5 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Hibah Dana darurat Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya **) Dana penyesuaian dan otonomi khusus***) Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1.3 1. Contoh penyajian hasil analisis rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah dalam bentuk tabel (diambil dari Tabel.2.1. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah yang timbul dalam pelaksanaan APBD.4 1.3.

1. 1. 1. 1.1.1.1.4.1.2.T-III.2.3.2.C.2.1.7. KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang perhitungan pihak ketiga Uang muka dari kas daerah Pendapatan diterima dimuka Dst……………. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. 3.1.79 Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.1. 1.3.6.1. .1. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel. 1. 2. 3.1.2.1.3.2. 3.3.2..2. 1.5. 3.3. 3.. JUMLAH ASET DAERAH 2.1. 2.1. 3.3. 1.2. ASET ASET LANCAR Kas Piutang Persediaan ASET TETAP Tanah Peralatan dan mesin Gedung dan bangunan Jalan.3. 1.*) No.1. 1.2. 3..4. 1. 3.1.3.1. 1.4.2. JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA Uraian Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dan jaringan Aset tetap lainnya Konstruksi dalam pengerjaan dst……………… ASET LAINNYA Tagihan penjualan angsuran Tagihan tuntutan ganti kerugian daerah Kemitraan dengan pihak kedua Aset tak berwujud dst………….2.1. 1.3. irigasi.4.2. 1.. 1. 2.2.3.3.3. 1. 1.2. 1.1.2.1. EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR SILPA Cadangan piutang Cadangan persediaan dst……………… EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam aset tetap Diinvestasikan dalam aset lainnya dst…………. 3.2.. 1..5.2. 3. 2.73 Oleh karena itu. 2.1.

Perbandingan dengan neraca daerah dengan daerah lainnya atau standar nasional. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis neraca daerah antara lain: 1..T-III. Penyajian tabel untuk menggambarkan analisis pertumbuhan neraca daerah dapat disesuaikan dengan ketersediaan data di daerah. Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional.40 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. 3.39 dan Tabel.. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.C. Rasio lancar (current ratio) Rasio quick (quick ratio) Rasio total hutang terhadap total aset Rasio hutang terhadap modal Rata-rata umur piutang Rata-rata umur persediaan Rasio ….. 4. 2. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.. dan 4.. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan neraca daerah. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. pada bagian ini dijelaskan gambaran kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu terkait proporsi penggunaan anggaran dan hasil analisis pembiayaan yang mencakup: 3.2.(lainnya) Uraian (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C..*) No 1 2 3 Uraian Tahun anggaran n-3 Tahun anggaran n-2 Tahun anggaran n-1 Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) (a) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (b) Prosentase (a) / (b) x 100% *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C. dan nasional..*) NO 1..74 - Tabel.T-III. 6... dst.. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kebijakan pengelolaan keuangan daerah antara lain: . 3. 2.81 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis neraca daerah..C.T-III.T-III.80 Analisis Rasio Keuangan Provinsi/Kabupaten/Kota.1. Oleh karena itu. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis.. Proporsi Penggunaan Anggaran Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dan proporsi realisasi belanja pendidikan. 5..2.

Perbandingan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam hal penggunaan anggaran belanja dengan daerah lainnya atau standar nasional. 3.82 Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III.75 1.83 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota. Analisis Pembiayaan 3.*) (n-3) No. 4. Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai analisis pembiayaan...2. Oleh karena itu.*) No. dan Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. 2. Tabel. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Tabel. 5. Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: Belanja Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Uraian (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 3.. .. 5.. 1. 1. dan nasional.T-III.C. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah dalam hal penggunaan anggaran belanja. 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait penggunaan anggaran belanja daerah.. 2.2. 6.T-III. 2. 6.*) NO 1.C.. 2..C. Uraian Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Rp % dari SiLPA Rp (n-2) % dari SiLPA (n-1)**) Rp % dari SiLPA *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 7... Uraian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Proporsi dari total defisit riil (n-3) (n-2) (n-1)**) (%) (%) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 3.84 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota... 3.

*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 C 1 2 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Dst.. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/ atau gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan... Tabel.T-III. air.C. pada bagian ini dijelaskan gambaran kerangka pendanaan dari hasil analisis yang mencakup: 3. Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional.Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota. Kerangka Pendanaan Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis..1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait pembiayaan daerah. Oleh karena itu. . Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai analisis belanja periodik yang wajib dan mengikat.C.T-III. 3. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah dalam hal pembiayaan daerah.T-III. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik. telepon dan sejenisnya) Belanja sewa gedung kantor (yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst … PembiayaanPengeluaran Pembentukan Dana Cadangan Pembayaranpokokutang Dst… TOTAL (A+B+C) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Perbandingan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam hal pembiayaan daerah dengan daerah lainnya atau standar nasional.43. serta pengeluaran periodik prioritas utama. Selanjutnya.3. c.76 Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.C. Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis.C.44 dan Tabel. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.3.T-III. dan nasional..85 Pengeluaran Periodik.45 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD..T-III.C.42 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. b. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kebijakan penggunaan anggaran belanja antara lain: a. d. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.

C..d Ii . Tabel.d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II Ii.. Pendapatan Pencairan dana cadangan (sesuai Perda) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total penerimaan Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 4..C. mengikat serta prioritas utama Disajikan penjelasan setiap asumsi yang digunakan serta kebijakan yang mempengaruhi hasil proyeksi.. Proyeksi Data Masa Lalu Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai proyeksi data masa lalu dan asumsi yang digunakan untuk memproyeksi serta kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi proyeksi data.48 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) 1.. Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai penghitungan kerangka pendanaan dengan tujuan untuk mengetahui kapasitas riil kemampuan keuangan daerah dan rencana penggunaannya.a+II.C. Tabel dapat disajikan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel. Penghitungan Kerangka Pendanaan 3.. 3.*) Proyeksi No I Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II.. proyeksi belanja tidak langsung dan belanja langsung yang periodik.1.b-II.c-II.*) Proyeksi No..c II.86 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. 2. sebagaiberikut: Tabel. wajib. Oleh karena itu pada bagian ini sekurang-kurangnya disertai dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis..77 3.1.a II.. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-III.1.T-III. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/ atau gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.2. Disajikan tabel tentang proyeksi pendapatan.87 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III.. b.b Belanja Langsung Pembentukan dana cadangan Dikurangi: Belanja langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas i (II. Oleh karena itu.

Keterangan : Surplus anggaran diperbolehkan apabila nilainya tidak material dan tidak dapat digunakan untuk membiayai suatu program Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.C. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis.58 dituangkan dalam penyajian. Uraian dan penjelasan rencana alokasi belanja langsung dan belanja tidak langsung yang dapat digunakan untuk membiayai program pembangunan pada tahun anggaran yang direncanakan. dan Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. c.1.a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III. Permasalahan Pembangunan Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah yang relevan yang berdasarkan analisis yang merujuk pada identifikasi permasalahan pembangunan daerah dalam perumusan rancangan awal RPJMD. Oleh karena itu. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat/pengaruh dimasa datang terhadap daerah tersebut.C.a-III.2. 4. bagian demi bagian dengan sistematika berurut sesuai urusan yang terpilih atau sesuai jenis permasalahan tanpa mengedepankan urusannya. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait pembiayaan daerah.78 - Proyeksi No III. penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan menentukan kinerja pembangunan dalam 5 (lima) tahun mendatang. Isu Strategis Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international. Pada bagian atau tahap perumusan isu-isu strategis. d.49 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD.T-III.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III. kebijakan nasional maupun regional. Sesuai isu-isu strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan pada Tabel.T-III. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kerangka pendanaan antara lain: a.. Perumusan permasalahan pembangunan dapat dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk uraian kalimat. 4. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV. . Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kerangka pendanaan. b. permasalahan-permasalahan pembangunan lain yang tidak diprioritaskan atau bukan menjadi agenda utama rencana pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun kedepan tidak perlu disajikan (biarkan saja tetap dalam kertas kerja perumusan). dan nasional. Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJMD karena menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah.

kesehatan dan ekonomi serta ditemukannya jati diri masyarakat kota XYZ. Merevitalisasi kawasan dan antar kawasan dengan dukungan infrastruktur yang memadai melalui pengembangan ”Tiga Pintu Keluar Masuk Wilayah kota XYZ” . 2. Memperkuat struktur ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha agribisnis dan memperluas kesempatan kerja. Maksud perumusan misi. 2. MISI. Mengembangkan dan menata ulang hubungan antar industri dengan orientasi pada penciptaan iklim yang kondusif bagi investasi. 3. Melakukan revitalisasi dan refungsionalisasi lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga kemasyarakatan menuju tata pemerintahan yang bersih. Penjelasan masing-masing misi (jika ada). sebagai berikut: 1. Box 2. 5. PENYAJIAN VISI. “Iman dan Taqwa” merupakan persyaratan mutlak untuk dapat terwujudnya kehidupan agamis. Pembangunan di bidang atau sektor apapun tidak akan mendatangkan kemaslahatan dan keberkahan tanpa dilandasi oleh iman dan taqwa. transparan dan profesional yang berorientasi pada pelayanan publik. Penjelasan Visi Berdasarkan Kata Kunci Pada Visi kota XYZ 2007-2012 terdapat 2 (dua) kalimat kunci yaitu Rakyat kota XYZ Sejahtera serta Iman dan Taqwa. DAN SASARAN Dalam rangka konsistensi. Menjadikan masyarakat kota XYZ yang bersandar pada moralitas agama dalam kerangka negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemajuan ekonomi merupakan salah satu dari sekian banyak tujuan pembangunan lainnya. sehingga diharapkan seluruh stakeholder di kota XYZ secara bahu membahu mengoptimalkan seluruh kapasitas yang dimilikinya untuk meningkatkan dan mewujudkan seluruh masyarakat kota XYZ lebih sejahtera.: Kejelasan Rumusan Misi Sesuai dengan harapan terwujudnya “Rakyat kota XYZ Sejahtera Berlandaskan Iman dan Taqwa”. Artikulasi atau penjelasan kata-kata kunci dari pernyataan visi. 5. kemajuan ekonomi dapat menjadi tidak bermakna tanpa dilandasi kehidupan masyarakat yang penuh magfiroh dari khalik-Nya. Visi Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. 5. solidaritas dan kemitraan seluruh komponen pelaku pembangunan. 4. Pengantar bagian ini. maka ditetapkan “Misi Pembangunan kota XYZ 2007-2012” sebagai upaya dalam mewujudkan visi. penggunaan bahan baku lokal unggulan dan penciptaan peluang usaha. dan 3. oleh karena itu pembangunan yang diarahkan untuk mencapai rakyat kota XYZ Sejahtera harus dilandasi oleh Iman dan Taqwa sebagai ruh-nya. Meningkatkan peran aktif dan menggalang semangat kebersamaan. Visi Pembangunan kota XYZ adalah “Rakyat kota XYZ Sejahtera Berlandaskan Iman dan Taqwa”. TUJUAN. 3.1. Kalimat “Rakyat kota XYZ Sejahtera” adalah merupakan refleksi dari berkurangnya masyarakat miskin. Box 1.2. Misi Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. 2. meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat. 6. Pernyataan Misi merupakan penjabaran dari visi dengan bahasa yang jelas. misalnya diuraikan mengenai visi RPJMD atau visi kepala daerah terpilih. serta untuk menjadikan masyarakat yang saleh dan taat pada tuntunan ajaran agama yang diyakini. penjelasan visi harus menggambarkan keterkaitannya dengan RPJPD dan RPJPN untuk RPJMD provinsi dan keterkaitannya dengan RPJPD provinsi untuk RPJMD kabupaten/kota. yang pada gilirannya akan mewujudkan masyarakat sejahtera.79 BAB V.. Uraian visi kepala daerah terpilih dan jangka waktunya. Meningkatkan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat kota XYZ. terpenuhinya sarana dan prasarana dasar pendidikan. Namun demikian. sinergitas antara rencana pembangunan jangka menengah daerah dengan RPJMN dan RPJPD. 7. : Visi Pembangunan Jangka Menengah Dalam periode 2007-2012. ringkas dan mudah dipahami.

.1 2.. Strategi 1.... Tabel.2 3..1 2... Arah kebijakan 2..1 2.. Arah kebijakan 1..89 Strategi..... Berdasarkan tabel diatas perlu dijelaskan hubungan setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan dengan isu strategis daerah... Uraian pernyataan sasaran-sasaran dengan bahasa yang jelas..T-III.. Dst… Dst…… : .2 3... Strategi 2... ringkas dan mudah dipahami.1 2... Sasaran 2.1 2. Sasaran 1.... STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam bagian ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih.. ringkas dan mudah dipahami..3... Dst… 1. serta Menggambarkan keterkaitan elemen-elemen perencanaan dalam suatu tabel/ matrik. Strategi 1. Tujuan dan Sasaran Provinsi/Kabupaten/Kota. Uraian pernyataan tujuan-tujuan dengan bahasa yang jelas...*) VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota ….. Sasaran 1... Sasaran 2.......80 5..1 2... Berdasarkan tabel diatas.. Misi.. Dst……. Dst… 1.. Arah dan Kebijakan Provinsi/Kabupaten/Kota...T-III.. Dst…… Arah kebijakan 1......C.2 3.. 2. Penyajian strategi dan arah kebijakan.2 3..... Sasaran Sasaran.1 2. Dst…….2 3.2 3. Dst……. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 4.2 1. Dst… 1.. Arah kebijakan 2..1 2. Dst… Dst…… Strategi 1..1 2.2 1.88 Keterkaitan Visi. Strategi 2.. Dst…… Arah kebijakan 1...2 3.. 1......2 3.. Strategi 2... Arah kebijakan 2. Dst… Dst…… Strategi 1.... Sasaran 2............... Arah kebijakan 1. Sasaran 1..2 1.... Arah kebijakan 2.. Arah kebijakan 1. yang beriman dan berdaya saing : ... Sasaran 2. Dst… Dst…… Tujuan 2 Dst…… MISI II Tujuan 2 Dst…… Dst ....1 2.. Sasaran 1. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1. 1.2 3. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1. Uraian mengenai apa itu tujuan dan apa itu sasaran serta bagaimana merumuskannya... selanjutnya diberikan penjelasan hubungan setiap strategi dengan arah dan kebijakan dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan. .*) Visi: ……………………………………………………………………………… Misi Misi 1: Tujuan Tujuan.1 2...... Arah kebijakan 1... Dst…….. Strategi 1.. Strategi 2... 3. Tabel.C. Dst… 1.1 2. Tujuan dan Sasaran Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. sekurang-kurangnya disajikan dalam contoh tabel berikut. Strategi 1. BAB VI.

..T-III...90 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Provinsi/Kabupaten/Kota. disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan........ Program......... KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Dalam bagian ini diuraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja..... Program.. Perlu disajikan penjelasan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih... INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Dalam bagian ini diuraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD..C.T-III.. Pada bagian ini. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan.. Dst ... Penyajian indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan... Dst ..C....C...C.....90 yang datanya bersumber dari Tabel. Dst ..*) No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Kondisi Awal Akhir (5) (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPDPenanggung Jawab (9) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.81 BAB VII.91 Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota. sekurangkurangnya disajikan dalam Tabel. BAB VIII.. Tabel.. sekurang-kurangnya disajikan dalam Tabel.T-III. Urusan Pilihan Pertanian Program..74.... BAB IX. Penyajian kebijakan umum dan program pembangunan daerah.91..... Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome .T-III. yang datanya bersumber dari Tabel...... Dst .. Tabel.C.T-III..*) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan (2) Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun-1 target (5) Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Tahun-4 Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) (17) SKPD Penanggung Jawab Rp target (10) (11) (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 03 02 01 01 01 01 02 01 03 02 02 01 02 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program.69.... Kesehatan Program....C... Dst ...T-III...

1.. 1.1.T-III. 1.. Penetapan indikator kinerja daerah selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut (data yang digunakan sesuai dengan LAMPIRAN I peraturan menteri ini): Tabel. 1.. Pemerintahan Umum.2.1 1. 1.2. 1.4.. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst…. Perangkat Daerah.1 Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid dst…..3.2. Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 1 (4) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1.2. ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib 1.1.. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita . Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 (1) (2) (3) No. Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst…. 1.1.3. 1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi provinsi PDRB per kapita Dst… Kesejahteraan Sosial 1. 1. Dst…… Dst. 2. 1.2.C. 1..1. Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan..4. Administrasi Keuangan Umum.2..1. 1.1. 2. 2..82 program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.. 1. 1.2..3 2. 1.1. Otonomi Daerah..1.92 Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/kota .1.3.2.

1.. pustu per satuan penduduk Dst….3 3.3. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 Tahun 1 (4) Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) (1) (2) (3) 2.1 Rasio puskesmas.1. Perangkat Daerah.1. 2.. 2.. 2. Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1. 2.83 - No..2...1 Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. 3. Dst…. 2.2. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….3. Pemerintahan Umum. 3. 2. 3. 1.1....1. 1.2 2. 1. Dst…… ASPEK DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi 1. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 1. 1. Dst …. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst….. 2.2.3.3. 2. 1. 1.1. 2..4.1 Otonomi Daerah. . poliklinik.2. Dst….2. Dst. 3. 2. 3.. Administrasi Keuangan Umum. Pelayanan Urusan Pilihan 1.. 1.1..

Terkait dengan hal tersebut maka perlu disiapkan surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD bertujuan memberikan arahan kepada seluruh kepala SKPD agar dalam menyusun Renstra SKPD masing-masing mempedomani: 1. Bagan alir penyusunan rancangan RPJMD dapat dilihat dibawah ini: Gambar. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. Perumusan strategi dan kebijakan program dan kegiatan jangka menengah SKPD berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. indikator kinerja. kepala SKPD menyusun rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan rancangan awal RPJMD dan disampaikan oleh kepala SKPD kepada kepala Bapppeda. Perumusan isu-isu strategis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi berdasarkan analisis isu-isu strategis. perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD. b. misi. misi. Perumusan visi. · visi. Penyajian rancangan RPJMD.84 D. mencakup: a. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan D. antara lain: a) b) c) d) e) Perumusan gambaran pelayanan SKPD berdasarkan gambaran umum kondisi daerah. misi. Verifikasi dan integrasi Renstra-SKPD menjadi Rancangan RPJMD. Rancangan awal RPJMD. Penyiapan surat edaran kepala daerah.D. Penyiapan Surat Edaran KDH perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 dinyatakan bahwa.1 Penyusunan Rancangan RPJMD SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Penyusunan rancangan Renstra SKPD Renstra SKPD Verifikasi dan Integrasi RENSTRA SKPD Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. kegiatan.. kelompok sasaran program dan kegiatan serta pendanaan indikatif SKPD berdasarkan indikator keluaran program dan pagu per-SKPD yang tercantum dalam tabel kebijakan umum dan program . Perumusan rencana.G-III. PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD Penyusunan rancangan RPJMD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJMD yang dilakukan melalui tiga tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. sebagai masukan untuk menyempurnakan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. tujuan dan sasaran renstra SKPD berdasarkan visi.1. dan c.

. dilakukan terhadap substansi materi yang terkait dengan BAB berkenaan dalam rancangan awal RPJMD kecuali pernyataan visi. Menentukan rencana penggunaan kapasitas riil anggaran berupa alokasi belanja langsung dan belanja tidak langsung sebagaimana telah dihitung dalam perumusan kerangka pendanaan. D. Menentukan keluaran/output setiap kegiatan. antara lain mencakup: a) b) Batas waktu penyampaian rancangan Renstra SKPD dan jadwal pembahasan atau verifikasi Bappeda. Verifikasi juga bertujuan untuk mengintegrasikan dan mempertajam pencapaian sasaran program dan kegiatan antara satu SKPD dengan SKPD lainnya (lintas SKPD). Penyempurnaan rancangan awal RPJMD dimaksud. Menghitung alokasi pagu dari setiap output kegiatan untuk setiap program.2. Agenda penyusunan RPJMD.3. b. Bilamana terdapat ketidaksesuaian dengan arahan yang telah ditetapkan. dan Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. . Perumusan Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Perumusan Alokasi pagu untuk setiap program dihitung berdasarkan capaian indikator program pembangunan yang dilakukan oleh tim penyusun RPJMD. Menghitung alokasi pagu setiap program setelah output kegiatan pada setiap program diverifikasi kebenarannya. Jadwal musrenbang RPJMD. c. Menghitung alokasi SKPD berdasarkan program yang menjadi tanggungjawab SKPD.85 pembangunan jangka menengah daerah. Setelah dilakukan penyempurnaan langkah selanjutnya merumuskan: D. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Penyampaian surat edaran kepala daerah dimaksud kepada seluruh kepala SKPD paling lama 2 (dua) bulan.1. serta memperoleh klarifikasi/masukan dari SKPD dalam hal terdapat ketidaksesuaian dengan arahan yang telah disampaikan dalam surat edaran. kepala SKPD wajib menyempurnakan rancangan Renstra SKPD dan menyampaikan kembali kepada Bappeda. setelah Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dilantik.3. Penyajian Rancangan RPJMD Seluruh Renstra SKPD yang telah diverifikasi selanjutnya dijadikan sebagai masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. e. Untuk memastikan bahwa substansi materi rancangan renstraSKPD telah disusun sesuai dengan rancangan awal RPJMD. D. f) 2. dilakukan verifikasi melalui pembahasan bersama antara Bappeda dengan setiap SKPD. d. Verifikasi Renstra SKPD Kepala SKPD menyampaikan rancangan renstra SKPD kepada kepala Bappeda sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan dalam surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD.

yang dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: .. Dst ....... Keluaran 3 ..... Program 2 .......... .. Rp. .... Rp... .......... . ........D... SKPD 2 Rp..... kegiatan. Keluaran 2 ... kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD.... SKPD 1 Pagu Program SKPD Setelah pagu setiap kegiatan diketahui kemudian Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program... Dst ............ ... Rp. Perhitungan Pagu Program Program Outcome Keluaran 1 ... Dst ..... ..1....... Keluaran 2 ... Rp...... Standar Belanja Rp..... Rp... Rp........... Keluaran 1 . Rp....... Program 1 ... . indikator kinerja........ Program dst .........86 Perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan mengisi tabel berikut: Tabel T-III.. ....

Program......... Kesehatan Program....... Dst ......2...... Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota.. Dst ......*) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program...D....87 Tabel T-III. Dst ...... Dst ...... Dst ..... .... (2) (17) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... Program.... Urusan Pilihan Pertanian Program............

Uraian nama program. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode RPJMD. D.D. Kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada tahun pertama periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Pemerintahan Daerah Provinsi. dilakukan sama dengan cara pengisian kolom (4) dan kolom (5) pada kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): b.88 Tata cara pengisian Tabel T-III.2: Kolom (1) diisi dengan dengan kode Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah/ Program. Kolom (kondisi kinerja pada akhir periode RPJMD): Kolom (15) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. diisi dengan jumlah pendanaan pada tahun pertama periode RPJMD yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) yang ditetapkan. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan RPJMDsebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan awal RPJMD. Kolom (17) diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j.. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (2) diisi dengan: a. Uraian nama urusan pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah. Kolom (16) diisi dengan total jumlah pendanaan selama periode RPJMD mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. . b. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota. Kolom (3) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome). diisi sebagai berikut: a.o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah. Kolom (5) Kolom (6) Cara pengisian Kolom (6) sampai dengan kolom (13) yang terdapat mulai dari kolom Tahun-2 (tahun kedua periode RPJMD) sampai dengan kolom Tahun-5 (tahun kelima periode RPJMD).2.3. diisi dengan kondisi kinerja awal RPJMD Kolom (4) Kolom capaian kinerja program dan kerangka pendanaan untuk setiap baris program. Melengkapi Sistematika Rancangan Awal RPJMD Menjadi Rancangan RPJMD Penyajian rancangan RPJMD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota.

Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. 2. 3. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.4. 3.2. 2.3.4.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.5. . Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Kinerja Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1.1.89 Dengan demikian.3. 1. 3. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2. sistematika penyajian rancangan RPJMD.3. Hubungan Antar Dokumen Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2. 1.. Kerangka Pendanaan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. Pedoman Transisi: Dalam bagian ini perlu dinyatakan bahwa RPJMD menjadi pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun pertama dibawah kepemimpinan Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada periode berikutnya. BAB V PENYAJIAN VISI. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan mengisi kekosongan RKPD setelah RPJMD berakhir. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. Pedoman transisi dimaksud antara lain bertujuan menyelesaikan masalah-masalah pembangunan yang belum seluruhnya tertangani sampai dengan akhir periode RPJMD dan masalah-masalah pembangunan yang akan dihadapi dalam tahun pertama masa pemerintahan baru. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2..2. BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan yang perlu dirumuskan dalam bagian ini antara lain: 1.90 - BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. . TUJUAN. 4. 5. Visi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Misi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. MISI. 5. BAB VIII PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. DAN SASARAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5. 4.3. BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

Bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas. b. sebelum musrenbang RPJMD dilaksanakan. 8. dan agenda musrenbang RPJMD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan. 2. Mempublikasikan seluas-luasnya melalui sarana publikasi yang tersedia terhadap pokokpokok materi RPJMD yang akan dibahas dalam musrenbang RPJMD. rumusan visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. kebijakan. tempat. 4. strategi. 3. Menyiapkan narasumber dengan memperhatikan antara lain: a. 6. Menghimpun saran dan tanggapan dari masyarakat terhadap pokok-pokok materi dari hasil publikasi. tujuan. SKPD berkewajiban untuk menyusun rencana strategis yang memuat visi. Menyiapkan materi bahasan dalam musrenbang RPJMD. 2. . SKPD. Untuk optimalisasi pelaksanaan musrenbang RPJMD. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan RPJMD. SKPD berkewajiban menjamin konsistensi antara RPJMD dengan Renstra SKPD. Penyiapan musrenbang RPJMD. Sehubungan dengan hal tersebut dalam bagian ini. Menyusun jadwal dan agenda musrenbang RPJMD. 3. Kaidah Pelaksanaan: RPJMD merupakan penjabaran dari visi. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJMD Musrenbang RPJMD merupakan forum musyawarah antara para pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati rancangan RPJMD. dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD dan menjadi pedoman dalam menyusun Renja SKPD setiap tahun. Bappeda berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran RPJMD ke dalam Renstra SKPD. serta masyarakat termasuk dunia usaha. penyusunan RPJMD serta penjelasan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan materi yang akan 5. Memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memimpin diskusi kelompok. misi. Mengumumkan secara terbuka jadual. b. 7. Musrenbang RPJMD dilaksanakan paling lama 4 (empat) bulan setelah Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dilantik. E.. 2. Tujuan musrenbang RPJMD untuk mendapatkan masukan dan komitmen para pemangku kepentingan pembangunan daerah sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJM Daerah menjadi rancangan akhir RPJMD. Penyiapan pokok-pokok materi yang akan dipublikasikan.1. berkewajiban untuk melaksanakan program-program dalam RPJMD dengan sebaik-baiknya. E. tata tertib pelaksanaan ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.Penyiapan Musrenbang RPJMD Dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain: 1. program. 4. perlu dirumuskan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut: 1. sekurang-kurangnya mencakup hasil analisis isu-isu strategis daerah. dan Penyelenggaraan musrenbang RPJMD. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih merupakan pedoman bagi setiap kepala SKPD menyusun Renstra SKPD dan pedoman untuk menyusun RKPD. Musrenbang jangka menengah daerah dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : a. Menyajikan/memaparkan berbagai kebijakan menjadi acuan. Menyiapkan fasilitator dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.91 Selanjutnya RKPD masa transisi merupakan tahun pertama dan bagian yang tidak terpisahkan dari RPJMD dari Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilukada pada periode berikutnya. misi.

2. misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah. c. Merancang pembagian kelompok diskusi dan kriteria penajaman visi. Penentuan narasumber disesuaikan dengan kompetensi. Pembagian kelompok dan anggota kelompok diskusi mempertimbangkan keseimbangan keterwakilan dari setiap unsur yang hadir (pembagian anggota kelompok diskusi disesuaikan berdasarkan absensi/daftar hadir). Sasaran pembangunan jangka menengah daerah. tokoh masyarakat. 3. 2. Pembagian kelompok diskusi memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 11. dan Komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD dalam melaksanakan pembangunan daerah. E. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor serta pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. Mengundang calon peserta musrenbang RPJMD meliputi: a. Jumlah kelompok diskusi dan fasilitator serta narasumber dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk musrenbang RPJMD provinsi dapat mengundang akademisi. misi dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.Penyelenggaraan Musrenbang RPJMD Penyelenggaraan musrenbang RPJMD dilaksanakan guna membahas dan menyepakati rancangan RPJMD antara lain mencakup: 1. Strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas sesuai dengan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan daerah. mencakup tata tertib sidang/diskusi dan kriteria penajaman sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Rapat Pleno I . keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor. b. tokoh masyarakat. Untuk RPJMD kabupaten/kota dapat mengundang akademisi. kepala SKPD kabupaten/kota. bupati dan walikota serta kepala Bappeda kabupaten/kota. kepala bappeda provinsi dan kabupaten/kota. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. pimpinan DPRD atau pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber.. Musrenbang RPJMD provinsi terdiri dari Gubernur dan wakil Gubernur. b. . Susunan acara musrenbang RPJMD antara lain: 1. 6. 9. LSM/ormas. Kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. a. Dapat dibagi berdasarkan misi atau gabungan dari beberapa misi. 5. Capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode RPJMD. Indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan. Menyusun pedoman penyelenggaraan musrenbang RPJMD termasuk panduan diskusi kelompok. akademisi.2. Acara pembukaan yang diisi dengan penyampaian sambutan dari pejabat yang diundang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus pembukaan acara musrenbang RPJMD oleh kepala daerah. kepala SKPD provinsi. 12. dan Musrenbang RPJMD kabupaten/kota terdiri dari bupati dan wakil bupati/walikota dan wakil walikota. akademisi. kepala instansi vertikal di provinsi.92 dibahas didalam musrenbang RPJMD. b. LSM/ormas. 4. serta pejabat kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. 10. pimpinan DPRD kabupaten/kota atau pejabat provinsi dan dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. d. c.

........... tujuan. 5..... misi................... misi kepala daerah dan wakil kepala daerah..... 6.. Sambutan-sambutan yang disampaikan oleh ....... Pemaparan materi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. indikasi rencana program prioritas pembangunan daerah dan pagu indikatif oleh .. musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/kota ........... b.. d.... tanggal.. Tanggapan dan saran dari seluruh peserta musrenbang jangka menengah daerah terhadap materi yang dipaparkan baik pada sidang pleno maupun dalam sidang kelompok........... maka pada: Hari dan Tanggal : Jam : Tempat : ... f..................... (dijelaskan secara berurutan pejabat yang menyampaikan) pada acara pembukaan musrenbang jangka menengah daerah. sasaran... untuk membahas materi rancangan RPJMD... kebijakan umum dan program pembangunan daerah. misi dan program kepala daerah...... Daftar hadir peserta musrenbang RPJMD.... strategi dan arah kebijakan..... Diskusi kelompok musrenbang RPJMD..... sasaran.*) Pada hari. .. Pemaparan materi rancangan RPJMD antara lain : 1) visi.... Rangkuman hasil rapat pleno I dan rapat pleno II musrenbang RPJMD di rumuskan ke dalam rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD oleh tim perumus yang dipimpin oleh kepala Bappeda. c. Setelah memperhatikan. Penjelasan panitia penyelenggara secara umum atau informasi penting lainnya terkait dengan pelaksanaan diskusi kelompok musrenbang RPJMD............. ............ isu-isu strategis dan program jangka menengah oleh ..* ) : .. tujuan.. Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJMD terhadap indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan....... strategi dan arah kebijakan........ tahun..... Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD beserta lampirannya terdiri dari: a..... c...... Format Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RPJMD RANCANGAN BERITA ACARA KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJMD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ....... dan dengan contoh format sebagai berikut: a... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap visi......... b.. Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJMD terhadap kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah. 4. b....... Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD...... 7..... Tanggapan peserta atas materi yang dipaparkan 3...... telah diselenggarakan musrenbang RPJMD yang dihadiri para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam LAMPIRAN I berita acara ini.... sasaran... indikasi rencana program prioritas pembangunan daerah yang disertai kebutuhan pendanaan dan indikator kinerja daerah......... Gambaran ringkas rancangan RPJMD mencakup isu-isu strategis... Pemaparan visi..... Kesepakatan hasil sidang kelompok musrenbang RPJMD........ c..............sampai dengan tanggal.....93 a... e. tujuan.. Rapat Pleno II Pemaparan hasil kelompok diskusi musrenbang RPJMD......... d.. Pemaparan materi lainnya (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan) e.... bulan.. strategi dan arah kebijakan RPJMD....... mendengar dan mempertimbangkan : a... 2) Isu-isu strategis.

4.... 3...... tanggal …......1... Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan Catatan : *) Coret yang tidak perlu b....*) Tahun...-.......*) Tahun .. 3.................. 5. : Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan rancangan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota... Tempat : .. Strategi. .. Dst .....E..... No 1. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini... 2.. Format Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJMD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III..... Sasaran.......... Nama Lembaga/Instansi Alamat & No Telp.... 2....... Tanda tangan ...... ...... : Berita acara ini beserta lampiran dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota.. KEDUA KETIGA KEEMPAT KELIMA Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya...........*) NO 1...... : Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah rancangan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota. Dst. Pimpinan Sidang Tanda tangan ( Nama) Mewakili peserta musrenbang Provinsi/Kabupaten/Kota.... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini.... dan Arah Kebijakan RPJMD provinsi/kabupaten/kota ... .*) Tahun .....*) Tanggal : ... Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota..-.. .........*) Tahun ..... berdasarkan visi dan misi Gubernur dan wakil Gubernur/Bupati dan wakil Bupati/Walikota dan wakil Walikota**) sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini... : Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota....*) Tahun .94 - MENYEPAKATI KESATU : Tujuan. 4..... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini.... 5......

2. 3.. VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota ….1 Sasaran 1. 2... Tujuan...2 Dst……..2 Dst… Arah kebijakan 2.... 3..E.... 2.1 Sasaran 2.. 3.... Strategi 1. Strategi 2..... Sasaran. 2...... 3................... yang beriman dan berdaya saing : .... 3...1 Arah kebijakan 1... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Visi.2 Dst… Sasaran 2.....1 Sasaran 2.....-. 3...2 Dst… Arah kebijakan 2..2 Dst… Sasaran 1......1 Sasaran 1. 3...... 2. 3... Dst…… Dst…… Dst…… ... 2. 3.2 Dst… 1.. dan Arah Kebijakan RPJMD Tahun .1 Strategi 1.....1 Arah kebijakan 1. Sasaran 1.*) Tanggal : .2 Dst… Sasaran 2.... Arah kebijakan Arah kebijakan 1..2 Dst……... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Tujuan.. Tempat : .2..1 Strategi 1. 2. Sasaran.... 2...2 Dst……...... Strategi 1. 3..1 Strategi 2. Misi. 2...2 Dst……. Strategi... Strategi 2.........95 c.2 Dst… Tujuan 2 Dst…… Dst ...1 Strategi 2..... 1... Sasaran 1. Arah kebijakan Arah kebijakan 1... Provinsi/Kabupaten/Kota..... 1.. 1. 3........1 Arah kebijakan 2... 2.1 Arah kebijakan 2..... Tujuan Tujuan 1 1. 1...... Strategi 1... 2. Tujuan Tujuan 1 Dst…… Dst…… Dst…… Sasaran 1.... Strategi. Strategi 1.. 1...2 Dst… Tujuan 2 Dst…… MISI II : . 1........... dan Arah Kebijakan RPJMD LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III..... 2.... 3..

Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.96 d........................ Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III...........E.........*) Tanggal : .... Tempat : .............3.. Strategi dan Arah Kebijakan (3) No (1) Sasaran (2) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) ...............

..97 e........... Dst .. Dst ...... (2) (17) .. Dst ...... Kesehatan Program.. Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program.. Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota... Program...... Dst ............. Tempat : ................. Urusan Pilihan Pertanian Program................... Dst ......... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III....E....... Program......4.......*) Tanggal : .............................

Sasaran 1....1 Strategi 2. Visi. 3....... Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah terkait dengan pokok bahasan Misi .2 Dst… Dst…… Dst…… Dst…… Tabel T-III.......... 2. *) Pokok bahasan : Misi .2 Dst… Sasaran 2. dan Arah Kebijakan VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota …. Arah kebijakan Arah kebijakan 1.. 2..... Strategi 1. 2... Strategi 2.2 Dst… Arah kebijakan 2.1 Sasaran 1. LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Hasil Kesepakatan Sidang Kelompok ..... 2.... Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/kota .....5. Strategi 1. Format Hasil Kesepakatan Sidang Kelompok RPJMD.. 2.1 Arah kebijakan 1. 3..98 f...2 Dst… Sasaran 1.1 Sasaran 2.2 Dst……. 1...6. 1..1 Arah kebijakan 2. 3. yang beriman dan berdaya saing : .2 Dst……...... 3.. Misi. Strategi.. No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) .1 Strategi 1..... 3..... Tabel T-III. 3... Tujuan..E...... 1.E.. 2.... Tujuan Tujuan 1 Tujuan 2 Dst…… 1.. Sasaran..

.. Dst ............ Dst .....E..7......... (2) (3) (4) (5) (17) . Dst ....... Program........... Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kinerja Program (outcome) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib ...................... Dst ........... Program.... Program.. Program. Program...99 Tabel T-III................. Dst .. Urusan Pilihan ....... ................ Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan terkait dengan pokok bahasan Misi ...............

Setelah rancangan akhir RPJMD mendapatkan persetujuan dari kepala daerah untuk dikonsultasikan kepada Menteri/Gubernur. dan 10. 2.. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Rancangan akhir RPJMD dirumuskan berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD. Konsultasi Rancangan Akhir RPJMD 1... Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok No 1. b.1. 4.. sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJMD menjadi rancangan akhir RPJMD. 3. ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang RPJMD..9. 5..E. 9. Rancangan akhir RPJMD diajukan kepada kepala daerah untuk meminta persetujuan dikonsultasikan kepada menteri untuk rancangan akhir RPJMD Provinsi dan kepada Gubernur untuk rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota. dan surat bupati/walikota perihal konsultasi rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada gubenur. surat Gubernur perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD provinsi kepada menteri.. Rancangan akhir RPJMD yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan hasil musrenbang RPJMD . Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RPJMD yang telah disepakati dalam rapat Pleno III. F.100 Tabel T-III. 3.E. Dst Nama Lembaga/Instansi Jabatan Dalam Sidang Kelompok Tanda Tangan 8. Dst. 4. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD yang telah ditandatangani beserta lampirannya.. Rapat Pleno III pembacaan rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD dan pengambilan keputusan. NO 1. . selanjutnya dibahas dengan seluruh kepala SKPD untuk memastikan bahwa program pembangunan jangka menengah terkait dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing telah disempurnakan dengan kesepakatan hasil musrenbang dan ditampung dalam rancangan akhir RPJMD. Daftar Anggota Sidang Kelompok.. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok Tabel T-III. 2. kepala Bappeda menyiapkan surat kepala daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD sebagai berikut: a. F.8.

keserasian. Konsultasi rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota dengan Gubernur bertujuan untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.101 2..3. keselarasan dengan RPJPD provinsi.3.2. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. RTRW kabupaten/kota. F. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. 3. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. Konsultasi rancangan akhir RPJMD dengan Menteri bertujuan untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan.2. RTRW provinsi.4. F. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. RTRW provinsi. sistematika dan teknis penyusunan. sistematika penyajian rancangan akhir RPJMD. sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. . 4.1. dan bupati/walikota menindak lanjuti hasil konsultasi rancangan RPJMD kabupaten/kota dengan Gubernur.5. Dalam surat permohonan konsultasi diberitahukan pokok-pokok substansi materi yang perlu dikonsultasikan dan dilampiri dengan dokumen rancangan akhir RPJMD beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD serta hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah. 1. Tindak lanjut dimaksud yaitu menyempurnakan rancangan akhir RPJMD berdasarkan hasilhasil konsultasi yang disampaikan dengan surat Menteri/Gubernur. 1. harmonisasi. sistematika dan teknis penyusunan. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. 1. Melengkapi Sistematika Rancangan RPJMD Menjadi Rancangan akhir RPJMD Penyajian rancangan akhir RPJMD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota . 5. 1. serta keselarasan dengan RPJPD kabupaten/kota. Dengan demikian. Surat kepala Daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD disampaikan kepada Menteri/Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sebelum konsultasi dilakukan. 2.1. serta sinkronisasi dan sinergitas. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan akhir RPJMD sebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan akhir RPJMD. Hubungan Antar Dokumen Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. Penyempurnaan Rancangan Akhir RPJMD Berdasarkan Hasil Konsultasi Gubernur menindak lajuti hasil konsultasi RPJMD Provinsi dengan menteri.

PENYAJIAN VISI. TUJUAN. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. 3.2. Kinerja Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB V . 5. 3. 3.2.4. 2. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Kerangka Pendanaan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Visi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.102 - 2. 2. 4. Misi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3.3. MISI.1..2. 5. 4.1.1. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5. DAN SASARAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJMD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang RPJMD kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. 2. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt. disampaikan kepada Gubernur untuk diklarifikasi dengan tembusan kepada menteri. 1. G. dan surat Menteri/Gubernur perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD. 4. 3..KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . MENTERI DALAM NEGERI. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD. b. paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. 5. BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.103 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Penyampaian rancangan peraturan daerah tentang RPJMD dengan lampiran rancangan akhir RPJMD yang telah dikonsultasikan dengan Menteri/Gubernur disertai dengan : a. Peraturan daerah tentang RPJMD provinsi disampaikan kepada menteri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan untuk diklarifikasi dan peraturan daerah tentang RPJMD kabupaten/kota. BAB VIII PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang RPJMD dengan DPRD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan Rancangan peraturan daerah tentang RPJMD provinsi/kabupaten/kota ditetapkan menjadi peraturan daerah tentang RPJMD paling lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU IV) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 . TATACARA PENYUSUNAN.

LAMPIRAN IV : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) A. PENETAPAN RENSTRA SKPD . PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD D. PERSIAPAN PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD C. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD B. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RENSTRA SKPD E.

G-IV. misi. tujuan dan sasaran. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.-2A. Gambar. strategi dan kebijakan · rencana program. kegiatan. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD. indikator kinerja.1 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENYUSUNAN RPJMD PENETAPAN SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU per SKPD Tidak sesuai sesuai Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Penyusunan Rancangan RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD sesuai Penetapan RenstraSKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra Renstra-KL dan Renstra SKPDRenstra dan Kab/ Kabupaten/ Kota Kabupaten/ Kota Kota Rancangan Renstra-SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Pelaksanaan Musrenbang RPJMD PERDA ttg RPJMD Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Tidak sesuai Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD RENSTRASKPD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi.A. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . indikator kinerja.

misi.A. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi.2 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENYUSUNAN RPJMD PENETAPAN SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU per SKPD Tidak sesuai sesuai Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Penyusunan Rancangan RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD sesuai Penetapan RenstraSKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi Renstra-KL Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra dan Renstra dan Prov SKPD Renstra Kabupaten/ Kabupaten/ Kota Kota Rancangan Renstra-SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Pelaksanaan Musrenbang RPJMD PERDA ttg RPJMD Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Tidak sesuai Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD RENSTRASKPD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan.-3Gambar. kegiatan. indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. G-IV. strategi dan kebijakan · rencana program. indikator kinerja. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . tujuan dan sasaran.

pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. pemerintahan daerah. Pembentukan Tim Penyusun Renstra SKPD Pembentukan tim penyusun Renstra SKPD dimulai dari penyiapan rancangan Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota. B. Susunan keanggotaan tim berasal dari pejabat dan staf SKPD bersangkutan yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. Sedapat mungkin anggota tim menguasai substansi fungsi dan tugas SKPD. 2.2. Dengan demikian perlu dipilih orang-orang yang mempunyai kesiapan waktu dan kemampuan teknis yang cukup. Susunan keanggotaan tim penyusun Renstra SKPD yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah ini sekurang-kurangnya sebagai berikut: Ketua Tim Sekretaris Tim Kelompok Kerja : Kepala SKPD : Kasubag TU/pejabat lainnya : Susunan kelompok kerja tim disesuaikan dengan kebutuhan.-4B. Tim penyusun Renstra SKPD dipersiapkan oleh Kepala SKPD dan diusulkan kepada kepala daerah untuk ditetapkan dengan surat keputusan kepala daerah. teknis penyusunan dokumen Renstra SKPD.3. B. Anggota tim penyusun yang dilibatkan harus siap bertugas secara penuh dalam menyiapkan dokumen Renstra SKPD. Bahan orientasi mengenai Renstra SKPD. PERSIAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD Tahapan persiapan penyusunan Renstra SKPD dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan kegiatan penyusunan Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota. Tim penyusun terdiri atas perwakilan dari setiap unit kerja (bagian/bidang/subdin/atau sebutan lain) yang ada di masing-masing SKPD dan dapat melibatkan tenaga ahli sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun Renstra SKPD. . pengelolaan keuangan daerah. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. Tugas tim penyusun Renstra SKPD dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja sampai dengan ditetapkannya Renstra SKPD. mencakup: 1. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya.1. yang diketuai oleh kepala unit kerja dengan anggota pejabat/staf SKPD dan unsur non pemerintah yang dinilai kompeten sebagai tenaga ahli. Orientasi mengenai Renstra SKPD Orientasi mengenai Renstra SKPD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. antara lain: tentang keuangan negara. sistem perencanaan pembangunan nasional. B. Peraturan perundang-undangan. 3. tahapan tata cara penyusunan. Penyusunan Agenda Kerja Tim Renstra SKPD Rencana kegiatan tim penyusun Renstra SKPD disusun kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari persiapan surat edaran KDH hingga verifikasi rancangan Renstra SKPD sebagai bahan musrenbang. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah. untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundangundangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan Renstra SKPD dan penyusunan anggaran. Agenda kerja ini juga membantu koordinasi dan integrasi antara proses penyusunan Renstra SKPD dengan penyusunan RPJMD. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD).

Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting dalam perumusan rencana yang akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang disusun. c.1 Contoh Agenda Kerja Penyusunan Renstra SKPD Bulan I NO A. RTRW kabupaten/kota. Kebijakan pemerintah yang terkait. RPJMD provinsi. RPJMD provinsi. dan Renstra K/L untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. b. Tahap penyusunan rancangan Renstra SKPD terdiri dari dua tahap. Mengumpulan data/informasi dipertanggungjawabkan. Hasil evaluasi Renstra SKPD periode lalu. antara lain: 1. 2. dan Tahap penyajian rancangan Renstra SKPD. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang perlu dikumpulkan dalam menyusun Renstra SKPD. Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Bulan II Bulan III Bulan IV PERSIAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD Penyampaian rancangan Renstra SKPD Verifikasi rancangan Renstra SKPD MUSRENBANG RPJMD B. 1 2 E.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen Renstra SKPD adalah sebagai berikut: Tabel.T-IV.C. yaitu: . sebagai berikut: 1.4. B. 3. D. Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan Renstra SKPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. 3. dalam penyusunan Renstra SKPD perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat dan relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu. C. Dokumen-dokumen: a. RPJMD kabupaten/kota. Peraturan perundang-undangan yang terkait. Data statistik sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir. RTRW provinsi. 2. PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD Tahap perumusan rancangan Renstra SKPD. dan Renstra K/L untuk penyusunan RPJMD provinsi. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen Renstra SKPD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. 2. 4. Pengumpulan data dan informasi tersebut dilakukan dengan langkah-langkah. 1. dan yang akurat dari sumber-sumber yang dapat Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis.

indikator kinerja. kegiatan. kegiatan.C. tujuan dan sasaran. G-IV.1 Bagan Alir Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Provinsi Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra Renstra-KL dan Renstra SKPDRenstra dan Kab/ Kabupaten/ Kota Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. tujuan dan sasaran. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . misi. indikator kinerja.C.-6Tahapan penyusunan rancangan Renstra SKPD dapat digambarkan dalam bagan alir sebagai berikut: GAMBAR. strategi dan kebijakan · rencana program. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. indikator kinerja.2 Bagan Alir Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Kabupaten/Kota Renstra-KL Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra dan Renstra dan Renstra SKPD Provinsi Kabupaten/ Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. G-IV. strategi dan kebijakan · rencana program. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi GAMBAR. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. misi.

Analisis gambaran pelayanan SKPD. dilakukan review Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. dilakukan review Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. analisis pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan SKPD. baik untuk mendukung visi/misi kepala daerah maupun untuk memperbaiki kinerja layanan dalam rangka pemenuhan tugas dan fungsi SKPD terkait. (2) data belanja SKPD. mencakup (1) struktur organisasi beserta tugas dan fungsinya sebagai dasar untuk melihat dan menentukan lingkup kewenangan SKPD. mencakup: a) tujuan dan sasaran RTRW. terdiri dari: a) b) 3. program prioritas K/L dan target kinerja serta lokasi program prioritas. dan regulasi dalam lingkup kewenangan SKPD. (3) data dan informasi yang menunjukkan aspirasi-aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan barang publik. b) program prioritas K/L dan target kinerja serta lokasi program prioritas. analisis gambaran umum pelayanan SKPD untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan pelayanan SKPD. Untuk penyusunan rancangan Renstra SKPD kabupaten/kota. Kegiatan-kegiatan tersebut dikelompokkan sebagai berikut: Kegiatan-kegiatan perumusan rancangan Renstra SKPD yang dilakukan secara simultan (bersamaan waktunya) dengan proses penyusunan RPJMD terdiri dari: 1. layanan publik. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). data dan informasi pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD: mencakup (1) data pendapatan SKPD.1 Tahap Perumusan Rancangan Renstra SKPD Perumusan isi dan substansi rancangan Renstra SKPD sangat menentukan kualtias dokumen Renstra SKPD yang akan dihasilkan. yang mencakup: a) b) c) d) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra K/L. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan Renstra SKPD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen) Renstra SKPD. Review Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) dan Renstra SKPD Untuk penyusunan rancangan Renstra SKPD provinsi. dan d) program prioritas SKPD kabupaten/kota dan target kinerja serta lokasi program prioritas. Salah satu dokumen rujukan awal dalam menyusun rancangan Renstra SKPD adalah Rancangan Awal RPJMD yang menunjukkan program dan target indikator kinerja yang harus dicapai oleh SKPD selama lima tahun. 4. . tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD Provinsi. b) struktur dan pola ruang. dan program prioritas SKPD provinsi dan target kinerja serta lokasi program prioritas.-7- C. yang mencakup: a) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra K/L. (3) data pembiayaan SKPD (khusus Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah/SKPKD). (2) data dan informasi yang menggambarkan pencapaianpencapaian yang telah dilaksanakan dalam Renstra SKPD periode sebelumnya. b) 2. Pengolahan data dan informasi a) data dan informasi gambaran pelayanan SKPD. dan c) indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah. c) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota. Penelaahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Sedangkan kegiatan yang dilakukan setelah SKPD menerima surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD adalah: 1. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan renstra SKPD. b) Hasil review Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota untuk penyusunan Renstra SKPD provinsi dan hasil review Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi untuk penyusunan Renstra SKPD kabupaten/kota. termasuk lokasi kegiatan berdasarkan rencana program prioritas RPJMD. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan hasil analisis. Perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD. C. seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. tata laksana. huruf c). dan 5. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. menjadi informasi yang lebih terstruktur. Analisis terhadap Dokumen Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sesuai dengan pelayanan atau tugas dan fungsi SKPD.1. 7.-85. 3. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus ditugaskan bertanggungjawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. indikator kinerja. resume/notulen-notulen pertemuan. dan 9. huruf b). Regulasi yang menjadi asas legal bagi SKPD dalam pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD serta struktur organisasi. bahan paparan (slide atau white paper). Perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi hendaknya tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. 4. 8. Perumusan rencana program. d) Hasil analisis dokumen KLHS. kegiatan. hasil riset dan lain-lain. 6. sistematis.1. Perumusan isu-isu strategis berdasarkan: a) Hasil analisis gambaran pelayanan SKPD (potensi dan permasalahan pelayanan SKPD). dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan renstra SKPD. dan kepegawaian SKPD. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian hampir diseluruh lingkungan kehidupan kita. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan sebagai bahan kajian/analisis dalam perumusan rancangan Renstra SKPD yakni yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD mencakup: 1. dan e) Penentuan isu-isu strategis yang akan dihadapi dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD berdasarkan huruf a). Perumusan visi dan misi SKPD. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. dan huruf d). maka perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran betapa pentingnya data dan informasi utamanya untuk penyusunan rencana pembangunan daerah. . 2. c) Hasil penelaahan RTRW. tetapi kegiatan ini harus berlangsung terus menerus setiap hari (kontinyu). Pelaksanaan forum SKPD. Perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD. Mempelajari surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD beserta lampirannya yaitu rancangan awal RPJMD yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD.

hasil evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD sampai dengan tahun ke-5 belum diperoleh. 2. dan biaya yang dialokasikan dalam pengumpulan dan pengolahan data/informasi. menurut SPM untuk urusan wajib. Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. sebagaimana dimuat dalam Lampiran I peraturan menteri ini. Data perkembangan pengelolaan keuangan dan aset SKPD paling kurang 5 (lima) tahun terakhir.1. RTRW. maka digunakan hasil evaluasi sementara Renstra SKPD yang memuat hasil evaluasi Renstra SKPD sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD sampai dengan tahun berjalan (periode sebelum tahun rencana). Capaian kinerja antara Renstra SKPD dengan RPJMD periode sebelumnya. Hambatan dan permasalahan yang perlu diantisipasi. Hasil evaluasi Renstra SKPD periode sebelumnya merupakan informasi utama bagi penyusunan Renstra SKPD periode berikutnya.-92. Pengolahan data dan informasi diatas perlu memperhatikan tingkat urgensi data dan informasi dalam analisis/kajian yang diperlukan bagi penyusunan suatu Renstra SKPD. Analisis Gambaran Pelayanan SKPD Analisis gambaran pelayanan SKPD untuk menunjukkan: 1. Peran SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. Capaian kinerja yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. 2. validitas. Dalam keadaan indikator kinerja yang dimaksud tidak tersedia. 3. 4.2. 5. Analisis gambaran pelayanan SKPD diharapkan mampu mengidentifikasi: 1. Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD adalah indikator kinerja pembangunan daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. Adapun informasi yang diperlukan untuk mendukung analisis ini. Hal ini guna memastikan efektivitas dan efisiensi waktu. sekurang-kurangnya mencakup: . 3. Renstra K/L. C. Potensi dan permasalahan pelayanan SKPD. Tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD periode sebelumnya. maka SKPD perlu menyepakati indikator kinerja mandiri untuk mengukur kinerja SKPD berkenaan. tenaga. dan 10. Informasi lain yang terkait pelayanan SKPD. Indikator yang dimaksud adalah sebagaimana dimuat dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Data dan informasi yang digunakan hendaknya memiliki tingkat keakurasian. dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Sumber daya SKPD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya. dan 5. Mengingat bahwa pada saat rancangan Renstra SKPD disusun. 4. dan indikator sesuai urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Standar Pelayanan Minimal/SPM untuk urusan wajib dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya. dan 3. 7. 8. 6. Renja SKPD tahun berjalan untuk menginformasikan kondisi terkini isu-isu pelayanan SKPD dan perkiraan tingkat capaian target Renstra SKPD sampai dengan akhir tahun berjalan. Hasil evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu. Peraturan perundang-undangan terkait pelayanan SKPD. Potensi dan permasalahan aspek pengelolaan keuangan SKPD. 9.

dan faktor-faktor yang mempengaruhi tercapai tidaknya target pelayanan tersebut. belanja.10 a) Regulasi yang menjadi asas legal bagi SKPD dalam pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD untuk menunjukkan peran SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. prosedur. dilakukan perbandingan antara capaian kinerja pelayanan SKPD dengan kinerja yang dibutuhkan. dan kapasitas pendanaan pelayanan SKPD. 2. Tentukan indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD. SKPD menggunakan indikator dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. e) Berita acara forum SKPD tahunan (yang dapat menunjukkan aspirasi-aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan barang publik. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian target tersebut. g) Data perkembangan pendanaan pelayanan SKPD (pendapatan. dan perkiraan tingkat pencapaian target Renstra SKPD sampai dengan akhir tahun berjalan. Yang dimaksud dengan kinerja yang dibutuhkan adalah target sebagaimana dimuat dalam Renstra SKPD periode sebelumnya dan/atau berdasarkan atas hasil analisis standar kebutuhan pelayanan. jika SKPD telah memiliki SPM. 6. dan regulasi dalam lingkup kewenangan SKPD). Hitung rasio antara capaian kinerja dengan kinerja yang dibutuhkan/ditargetkan untuk menunjukkan ada/tidaknya kesenjangan/gap pelayanan. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan aspek pendanaan pelayanan SKPD. Identifikasi pada pelayanan mana saja target telah tercapai dan belum tercapai. isu strategis dalam Renstra SKPD periode sebelumnya. dan pembiayaan) minimal 5 (lima) tahun terakhir untuk menunjukkan kemampuan pengelolaan pendanaan SKPD (rasio antara dana yang dianggarkan dengan yang direalisasikan). pelayanan yang mencapai target atau yang belum mencapai target. Identifikasi target (besaran) kinerja menurut SPM. dan f) Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk urusan wajib dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya Informasi dari butir (c) sampai dengan (f) dianalisis untuk menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD. pada setiap indikator. serta dampak yang ditimbulkan atas kinerja pelayanan tersebut. dan tata laksana SKPD (proses. Indikator yang digunakan mengacu pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. dan d) Indikator Millennium Development Goals (MDGs) ataupun indikator lain yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. d) Laporan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu untuk menunjukkan tingkat capaian/realisasi terhadap target kinerja yang harus dicapai selama pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. 4. indikator kinerja kunci (IKK) atau hasil analisis kebutuhan. jumlah personil.. layanan publik. b) Struktur organisasi SKPD untuk menunjukkan organisasi. mekanisme). Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari kelompok indikator berikut ini: a) Indikator kinerja SPM. Untuk menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD. baik berupa faktor pendukung maupun faktor kendala pencapaian sebagai bahan perumusan . b) Indikator kinerja yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. Langkah-langkah analisis tingkat kinerja pelayanan SKPD adalah: 1. masalah yang dihadapi. dan potensi pengembangan pelayanan SKPD. 7. c) Renja SKPD tahun berjalan untuk menginformasikan isu-isu terkini pelayanan SKPD dikaitkan dengan isu-isu krusial dan aktual daerah (sebagaimana dimuat dalam RKPD tahun berjalan). Hitung realisasi capaian target kinerja setiap tahun sampai dengan tahun ke-5 dalam Renstra SKPD dan sampai dengan saat penyusunan Renstra SKPD berdasarkan Renja SKPD tahun berjalan. Identifikasi target (besaran) kinerja dalam Renstra SKPD (periode sebelumnya) yang dirinci per tahun. 5. c) Indikator yang telah dikembangkan SKPD secara mandiri berdasarkan hasil analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD tersebut. 3.

Bila target kinerja dalam IKK belum tercantum.11 permasalahan pelayanan SKPD untuk ditangani pada Renstra berikutnya. Hasil dari langkah-langkah analisis tersebut diatas.C. Jika SKPD belum mempunyai SPM dan dokumen Renstra SKPD-nya belum mencantumkan indikator maupun target kinerjanya. 9. Bila pada IKK angka standarnya tidak tersedia atau target kinerjanya tidak tercantum dalam Renstra SKPD. maka analisis tingkat capaian pelayanan mengacu pada IKK serta analisis kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD. maka perlu dilakukan analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai dengan norma dan standar pelayanan masing-masing SKPD. 10. dapat diajikan dalam contoh tabel (contoh untuk layanan SKPD/dinas pendidikan) seperti Tabel.T-IV. dan 11.. maka analisis capaian kinerja dihubungkan dengan indikator kinerja SKPD yang terkait dengan SPM. 8.2 berikut: .

T-IV... SMP/Mts a) Partisipasi anak bersekolah b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis d) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non guru e) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan f) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional g) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa ..2 Review Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Pendidikan*) Provinsi/Kabupaten/Kota **) ……………… NO (1) SPM A.C. Indikator lainnya .. Pendidikan Formal SD/MI (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah) a) Partisipasi anak bersekolah (PAB) b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis d) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan e) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional f) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa g) Jumlah siswa per kelas h) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional i) j) l) 2..12 Tabel.. 90 % <1% 90 % 80 % 90 % 90 % 100 % 95 % <1% 90 % 90 % 90 % 95 % 30-40 90 % 95 % Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 (11) Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) k) Indikator lainnya . 1.... Jumlah lulusan yang melanjutkan ke SMP/MTs Indikator lainnya ........

....... m) Indikator lainnya . 60 % <1% 90 % 80 % 90 % 90 % 100 % 30-40 90 % 25 % k) Indikator lainnya ......... SMA/MA a) Partisipasi anak bersekolah b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis yang ditetapkan d) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non guru e) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan f) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional g) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa h) Jumlah siswa per kelas i) j) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional Jumlah lulusan yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang terakreditasi Indikator lainnya . 4.. Target SPM Target IKK (3) 30-40 90 % 70 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) k) Indikator lainnya .. 3... l) m) Indikator lainnya .13 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) h) Jumlah siswa per kelas i) j) l) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional Jumlah lulusan yang melanjutkan ke SMA/MA/SMK Indikator lainnya ........ SMK a) Angka putus sekolah (APS) b) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis yang ditetapkan c) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non <1% 90 % 80 % ......

... 2.. Indikator lainnya . B....... 1... Pendidikan Non Formal Pendidikan Keaksaraan a) Bisa membaca dan menulis b) Orang buta aksara dalam kelompok usia 15-44 tahun c) Orang buta aksara dalam kelompok usia diatas 44 tahun d) Ketersediaan data dasar keaksaraan yang diperbarui terus menerus l) Indikator lainnya .. Target SPM Target IKK (3) 90 % 90 % 100 % 30-40 20 % 20 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) k) Indikator lainnya ..... n) Indikator lainnya .....14 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) guru d) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan e) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional f) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa g) Jumlah siswa per kelas h) Jumlah lulusan SMK melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang terakreditasi i) j) Jumlah lulusan yang diterima di dunia kerja sesuai dengan keahliannya... m) Indikator lainnya .. Kesetaraan SD (program Paket-A) a) Peserta paket A bagi penduduk usia sekolah yang belumbersekolah SD/MI b) Peserta didik Paket A yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket A oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket A dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi (SMP/MTs) atau Program Paket B 85 % < 10% 100 % 95 % 95 % 100 % <7% < 30% ...

.... SMK...15 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) f) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan g) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket A yang diperlukan h) Kualifikasi tutor Program Paket A yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional i) Jumlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran Jumlah peserta yang memiliki sarana belajar Target SPM Target IKK (3) 90 % 100 % 90 % 90 % 100 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) j) k) Tersedianya data dasar kesetaraan SD yang diperbarui terus menerus.... n) Indikator lainnya .. l) Indikator lainnya . m) Indikator lainnya ... Kesetaraan SMP (Program Paket B) a) Peserta didik Program Paket B bagi penduduk usia sekolah yang belum bersekolah SMP/MT b) Peserta didik Program Paket B yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket B oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket B dapat memasuki dunia kerja f) Jumlah lulusan Program Paket B yang dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMA. 3... atau Program Paket C) g) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan h) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket B yang diperlukan i) j) Kualifikasi tutor Program Paket A yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional Jumlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran 90 % < 10% 100 % 80 % 50 % 50% 90 % 100 % 90 % 90 % .. MA..

... Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 4.. Kasetaraan SMA (Program Paket C) a) Peserta didik Program Paket C bagi penduduk usia sekolah yang belum bersekolah SMA/MA/SMK b) Peserta didik Program Paket C yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket C oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket C dapat memasuki dunia kerja f) Jumlah lulusan Program Paket C dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi 70 % <5% 60 % 80 % 60 % 10 % 90 % 100 % 90 % 90 % g) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan h) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket C yang diperlukan i) j) Kualifikasi tutor yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional Jumlah pusat belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran k) Tersedianya data dasar kesetaraan SMA yang diperbarui terus menerus l) Indikator lainnya ... 5..... pengangguran... n) Indikator lainnya .. Pendidikan Keterampilan dan Bermata-pencaharian a) Prosentase jumlah anggota masyarakat putus sekolah..... dan dari keluarga pra sejahtera yang menjadi peserta didik dalam kursuskursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang 25 % .. m) Indikator lainnya ... l) Indikator lainnya ... m) Indikator lainnya ....16 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) k) Tersedianya data dasar kesetaraan SMP yang diperbarui terus menerus..

l) m) Indikator lainnya . Pendidikan Taman Kanak-kanak a) Jumlah anak usia 4-6 tahun yang mengikuti program TK/RA b) Guru yang layak mendidik T/RA dengan kualifikasi sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional c) TK/RA yang memiliki sarana dan prasarana belajar/bermain d) TK/RA yang telah menerapkan manajemen berbasis sekolah sesuai dengan manual yang ditetapkan oleh Menteri 20 % 90 % 90 % 60 % .... 6. instruktur.. pelatihan...17 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) b) Kepemilikan ijin operasional dari pemerintah atau pemerintah daerah c) Jumlah lembaga kursus dan lembaga pelatihan yang terakreditasi d) Kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang dibina secara terus menerus e) Lulusan kursus.. magang.... Target SPM Target IKK (3) 100 % 25 % 100 % 90 % 100 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 90 % 75 % 90 % j) k) Indikator lainnya ... instruktur... kelompok belajar usaha yang dapat memasuki dunia kerja f) Pemenuhan jumlah tenaga pendidik. atau penguji praktek kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan h) Jumlah peserta ujian kursus-kursus yang memperoleh ijazah atau sertifikat i) Jumlah kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan Tersedianya data dasar kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang diperbarui terus menerus Indikator lainnya .. atau penguji praktek dari kursus-kursus/pelatihan/ kelompok belajar usaha/magang yang diperlukan g) Kualifikasi tenaga pendidik..

... Kelompok Bermain atau sederajat b) Jumlah Anak usia 4-6 tahun yang belum terlayani pada program PAUD jalur formal mengikutii program PAUD jalur non formal...... c) Guru PAUD jalur non formal yang telah mengikuti pelatihan di bidang PAUD d) Indikator lainnya ... 65 % 50 % 50 % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Angka Rata-rata Lama Bersekolah Angka Melek Huruf Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SD/MI Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMP/MTS Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMA/SMK/MA Pembinaan Guru jenjang SD/MI Pembinaan Guru jenjang SMP/MTS Pembinaan Guru jenjang SMA/SMK/MA Fasilitasi dan Asistensi Pengelolaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI .....18 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) e) Indikator lainnya . Indikator Kinerja Kunci (Permendagri No 73 Tahun 2009) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 7... e) Indikator lainnya . Kelompok Bermain atau yang sederajat a) Jumlah anak 0 – 4 tahun yang mengikuti kegiatan Tempat Penitipan Anak.. f) Indikator lainnya .... Pendidikan di Taman Penitipan Anak..

19 - NO (1) 16 17 18 19 20 21 22 23 Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) Catatan: *) Contoh untuk SKPD Pendidikan **) Diisi nama provinsi/ kabupaten/kota ***) Sesuaikan dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi/ kabupaten/kota ..

Dana alokasi khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah . Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari kelompok indikator berikut ini: a.Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya . misalnya target MDGs untuk indikator yang terkait MDGs.20 Petunjuk cara pengisian Tabel.Lain-lain PAD yang Sah Dana Perimbangan .3 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD .Dana darurat . Data realisasi capaian kinerja ini berdasarkan laporan evaluasi hasil pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. diisi dengan target nasional menurut SPM pada indikator kinerja yang berkenaan. Rasio ini dinyatakan dalam persentase... Indikator kinerja yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan.3 berikut ini.: Tabel. diisi dengan target yang ditentukan pada indikator yang berkenaan. sampai dengan Kolom (15) diisi dengan realisasi capaian kinerja sebagaimana hasil evaluasi tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-5 pelaksanaan Renstra SKPD.2: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut sesuai dengan kebutuhan. SKPD menggunakan Lampiran I peraturan menteri ini sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan.Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan . Indikator yang telah dikembangkan SKPD secara mandiri berdasarkan hasil analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD tersebut. diisi dengan indikator kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. dan d. sampai dengan Kolom (10) diisi dengan target yang tercantum dalam Renstra SKPD untuk masing-masing tahun pelaksanaan Renstra SKPD. Indikator Millennium Development Goals (MDGs) ataupun indikator lain yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. jika SKPD telah memiliki SPM.Dana alokasi umum . c.Bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak .Hasil pajak daerah .C..C. sampai dengan Kolom (20) diisi dengan rasio antara realisasi capaian dengan target dalam Renstra SKPD. *) Provinsi/ Kabupaten/Kota……………… **) Anggaran pada Tahun keUraian ***) 1 (1) (2) Realisasi Anggaran pada Tahun ke1 (7) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 (12) 2 (3) 3 (4) 4 (5) 5 (6) 2 (8) 3 (9) 4 (10) 5 (11) 2 (13) 3 (14) 4 (15) 5 (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggar Realis an asi (17) (18) PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah . Indikator kinerja SPM.T-IV. b.Bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya . Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) Kolom (6) Kolom (11) Kolom (16) Lakukan analisis pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode perencanaan sebelumnya untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan SKPD dengan cara mengisi Tabel.T-IV.Pendapatan hibah . diisi dengan target yang telah ditentukan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah untuk setiap IKK berkenaan.Hasil retribusi daerah .Dana penyesuaian dan otonomi khusus .C.T-IV.

Belanja barang dan jasa . yaitu: (jumlah anggaran pada tahun ke-5 – jumlah anggaran pada tahun ke-1)/5. sampai dengan Kolom (6) diisi dengan data anggaran SKPD sesuai yang tercantum pada APBD dalam 5 (lima) tahun pelaksanaan Renstra SKPD.Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan . jumlah dan kualitas personil (sumber daya manusia).Penerimaan piutang daerah Pengeluaran pembiayaan .. progres pelaksanaan program. Dengan demikian. dan selanjutnya perlu diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD.Penerimaan pinjaman daerah .Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah .Pembayaran pokok utang . misalnya prosedur/mekanisme. dan sebagainya.C. dan diisi dengan angka rata-rata pertumbuhan anggaran.3 merupakan salah satu tabel yang dimuat dalam dokumen Renstra SKPD. Dari tabel diatas.Belanja pegawai . diisikan dengan angka rata-rata pertumbuhan realisasi. pada perihal mana yang baik atau kurang baik. sampai dengan Kolom (16) diisi dengan rasio antara realisasi penyerapan anggaran dengan anggaran yang telah dialokasikan dalam APBD. dapat dilihat pada tahun mana saja rasio antara realisasi penyerapan anggaran dan anggaran dapat dikatakan baik atau kurang baik.Penerimaan kembali pemberian pinjaman .Belanja modal PEMBIAYAAN Penerimaan pembiayaan .Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya . sampai dengan Kolom (11) diisi dengan data realisasi penyerapan anggaran SKPD sesuai laporan pelaksanaan APBD/Renja SKPD pada tahun berkenaan. selanjutnya dapat dirumuskan permasalahan pendanaan pelayanan SKPD untuk diatasi melalui strategi/kebijakan dalam Renstra SKPD periode berikutnya.T-IV.C. Tabel. .Pencairan dana cadangan .Belanja tidak terduga Belanja langsung .3: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (7) Kolom (12) Kolom (17) Kolom (18) diisi dengan uraian jenis pendapatan/belanja/pembiayaan sesuai dengan kebutuhan.21 Realisasi Anggaran pada Tahun ke1 (7) Anggaran pada Tahun keUraian ***) 1 (1) (2) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 (12) 2 (3) 3 (4) 4 (5) 5 (6) 2 (8) 3 (9) 4 (10) 5 (11) 2 (13) 3 (14) 4 (15) 5 (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggar Realis an asi (17) (18) BELANJA DAERAH Belanja tidak langsung Belanja pegawai Belanja bunga Belanja subsidi Belanja hibah Belanja bantuan sosial Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa . Tabel diatas juga menunjukkan kapasitas pendanaan pelayanan SKPD dalam 5 (lima) tahun terakhir. sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan isu strategis dan program strategis SKPD pada Renstra SKPD yang akan disusun.Pembentukan dana cadangan .Pemberian pinjaman daerah Total *) **) ***) diisikan dengan nama SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kewenangan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota Petunjuk cara pengisian Tabel.T-IV. yaitu: (jumlah realisasi pada tahun ke-5 – jumlah realisasi pada tahun ke-1)/5.

T-IV. sumber daya penyelenggaraan pelayanan. Sedangkan jika lebih rendah. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi: a. maka hal ini mengindikasikan bahwa SKPD tersebut memiliki permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanannya. program prioritas beserta target kinerjanya. tujuan dan sasaran. Tabel. maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja SKPD sudah baik secara nasional dan regional.3. g. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota yang masih berlaku ini menjadi masukan dalam perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD yang akan ditangani pada Renstra SKPD provinsi periode berikutnya. apakah capaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD provinsi telah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. e. 1. diisi dengan indikator kinerja sasaran yang terdapat pada Renstra SKPD provinsi.22 - C. b. Jika tingkat capaian kinerja Renstra SKPD provinsi melebihi sasaran Renstra K/L atau ratarata kabupaten/kota. b. peluang. diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). kegiatan.C. indikasi besaran pendanaan program strategi. dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD provinsi terhadap sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota sesuai dengan urusan yang menjadi kewenangan masing-masing SKPD. dan tahapan pelaksanaan program dan kegiatan. d. keterpaduan. isu-isu strategis pelayanan K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota.T-IV.1. f.. dan apakah tingkat capaian kinerja Renstra SKPD provinsi melebihi/sama/kurang dari sasaran Renstra K/L atau rata-rata Kabupaten/kota. indikasi lokasi program prioritas. maka review dilakukan pada: a. ditujukan untuk mengidentifikasi potensi. diisi dengan data capaian sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk . Review merupakan proses penting untuk harmonisasi dan sinergi antara Renstra SKPD provinsi dengan Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota serta mencegah tumpang tindih antara program dan kegiatan pemerintah atau K/L dengan provinsi/kabupaten/kota. dan strategi/kebijakan pelayanan yang ditempuh.C. Jika Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota tahun rencana telah tersedia. dan pendanaan. strategi dan kebijakan. c.4 Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Provinsi terhadap Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota*) dan Renstra K/L No (1) Indikator Kinerja (2) Capaian Sasaran Renstra SKPD Provinsi (3) Sasaran pada Renstra SKPD Kabupaten/Kota*) (4) Sasaran pada Renstra K/L (5) 1 2 3 dst *) Rata-rata Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Cara pengisian Tabel. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota tahun rencana. Analisis Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) dan Renstra SKPD Untuk Provinsi Analisis Renstra K/L dan SKPD kabupaten/kota (yang masih berlaku) ditujukan untuk menilai keserasian. proses/prosedur/mekanisme pelayanan. sinkronisasi.4: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. dan tantangan pelayanan sebagai masukan penting dalam perumusan isu-isu strategis dan pilihan/kebijakan strategis dalam Renstra SKPD provinsi. seperti dalam perencanaan program.

dan tantangan pelayanan sebagai masukan penting dalam perumusan isu-isu strategis dan pilihan/kebijakan strategis dalam Renstra SKPD kabupaten/kota. dan pendanaan. e. indikasi besaran pendanaan program strategis. strategi dan kebijakan. tujuan dan sasaran. yang berarti Renstra K/L tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. dan tahapan pelaksanaan program dan kegiatan.5 Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/kota terhadap Sasaran Renstra SKPD Provinsi dan Renstra K/L No (1) 1 2 3 dst Indikator Kinerja (2) Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota (3) Sasaran pada Renstra SKPD Provinsi (4) Sasaran pada Renstra K/L (5) . indikasi lokasi program prioritas. proses/prosedur/mekanisme pelayanan. program prioritas beserta target kinerjanya. Kolom (5) 2. maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja SKPD sudah baik secara nasional/provinsi. yang berarti Renstra SKPD kabupaten/kota tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya.23 dalam indikator kinerja sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.T-IV.C. g. isu-isu strategis pelayanan K/L dan Renstra SKPD provinsi. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi: a. sinkronisasi. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi tahun rencana bertujuan untuk mengidentifikasi potensi. menjadi masukan dalam perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD yang akan ditangani pada Renstra SKPD kabupaten/kota periode berikutnya. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). maka hal ini mengindikasikan bahwa SKPD tersebut memiliki permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanannya. c. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). keterpaduan. sumber daya penyelenggaraan pelayanan. apakah capaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota telah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi dan Renstra K/L. b. dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota terhadap sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD Provinsi sesuai dengan urusan yang menjadi kewenangan sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD. dan diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra K/L untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). seperti dalam perencanaan program. Jika Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi tahun rencana telah tersedia. b. f.. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi yang masih berlaku. maka review dilakukan pada: a. Review ini merupakan proses penting untuk harmonisasi dan sinergi antara Renstra SKPD kabupaten/kota dengan Renstra K/L dan Renstra provinsi serta mencegah tumpang tindih program dan kegiatan antara pemerintah atau K/L dengan provinsi/kabupaten/kota. dan apakah tingkat capaian kinerja Renstra SKPD kabupaten/kota melebihi/sama/kurang dari sasaran Renstra SKPD provinsi atau Renstra K/L. dan strategi/ kebijakan pelayanan yang ditempuh. peluang. Tabel. d. kegiatan. Jika tingkat capaian kinerja Renstra SKPD kabupaten/kota melebihi sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra K/L. Sedangkan jika lebih rendah. Untuk Kabupaten/Kota Analisis Renstra K/L dan SKPD Provinsi (yang masih berlaku) ditujukan untuk menilai keserasian.

maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). Pola ruang saat ini. Cara pengisian Tabel. diisi dengan daftar Pusat Kegiatan Nasional (PKN). diisi dengan indikator kinerja sasaran yang terdapat pada Renstra SKPD kabupaten/kota.C. diisi dengan data capaian sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). stasiun kereta. rencana bandara.C. Untuk itu. perkiraan kebutuhan pelayanan. jaringan prasarana energi/listrik.T-IV.T-IV. jaringan jalan primer/sekunder. dan prioritas wilayah pelayanan SKPD dalam lima tahun mendatang.*) No (1) 1 2 3 dst Rencana Struktur Ruang (2) Struktur Ruang Saat Ini (3) Indikasi Program Pemanfaatan Ruang pada Periode Perencanaan Berkenaan (4) Pengaruh Rencana Struktur Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan SKPD (5) Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan SKPD (6) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. stasiun kereta. dan diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra K/L untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). pelabuhan penyeberangan. Indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah Tabel. pelabuhan laut. pelabuhan laut. Struktur tata ruang saat ini. aspek yang perlu ditelaah adalah: 1. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-).4. dan 5.T-IV. Dikaitkan dengan indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah dalam RTRW. dan jaringan prasarana telekomunikasi. Dibandingkan dengan struktur dan pola ruang eksisting maka SKPD dapat mengidentifikasi arah (geografis) pengembangan pelayanan. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang direncanakan di wilayah provinsi/kabupaten/kota.. Kolom (5) C.1.. pelabuhan penyeberangan..C. jaringan prasarana sumber daya air. Telaahan rencana tata ruang wilayah ditujukan untuk mengidentifikasi implikasi rencana struktur dan pola ruang terhadap kebutuhan pelayanan SKPD. terminal. 3. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra SKPD provinsi. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. dalam penelaahan RTRW. diisi dengan daftar Pusat Kegiatan Nasional (PKN). ketersediaan bandara. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang telah ada di wilayah provinsi/ kabupaten/kota.. dan jaringan prasarana telekomunikasi. SKPD dapat menyusun rancangan program beserta targetnya yang sesuai dengan RTRW tersebut.24 Cara pengisian Tabel. diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). Kolom (3) . Sedangkan kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.6 Hasil Telaahan Struktur Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota. yang berarti Renstra K/L tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. Rencana struktur tata ruang. jaringan prasarana sumber daya air. 4. jaringan jalan primer/sekunder. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra K/L. yang berarti Renstra SKPD provinsi tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. terminal. 2. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). jaringan prasarana energi/listrik.6: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut sesuai dengan kebutuhan. Rencana pola ruang.5: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan.

dan lokasinya. menyeluruh.C. dan diisi dengan daftar lokasi berdasarkan hasil pada kolom (5). perkiraan besaran kebutuhan. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam. Apabila hasil KLHS menyatakan bahwa daya dukung dan daya tampung sudah terlampaui. Hasil KLHS menjadi dasar bagi kebijakan. identifikasilah bentuk kebutuhan tersebut. lakukan identifikasi apakah ada pengaruhnya kepada kebutuhan pelayanan SKPD.25 Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan indikasi program pemanfaatan ruang untuk setiap rencana struktur ruang. dan lokasinya. dan diisi dengan daftar lokasi berdasarkan hasil pada kolom (5). rencana. dan/atau program pembangunan dalam suatu wilayah. Tabel. 6. kawasan budidaya. Analisis terhadap Dokumen Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sesuai dengan pelayanan SKPD Kolom (6) C. diisi dengan daftar kawasan lindung. dan indikasi program pemanfaatan ruang pada periode berkenaan dengan tahun perencanaan Renstra SKPD. dan tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati. dan . 3. dan indikasi program pemanfaatan ruang pada periode berkenaan dengan tahun perencanaan Renstra SKPD. Kajian Lingkungan Hidup Strategis. kinerja layanan/jasa ekosistem. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan.7: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. kawasan budidaya. perkiraan besaran kebutuhan. Jika ada. maka: 1. lakukan identifikasi apakah ada pengaruhnya kepada kebutuhan pelayanan SKPD. diisi dengan perbandingan antara kondisi rencana dan kondisi saat ini. KLHS memuat kajian antara lain. identifikasilah bentuk kebutuhan tersebut..T-IV. rencana.5. 5. 4. kawasan strategis yang direncanakan di wilayah provinsi/kabupaten/kota. dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan. kebijakan. Cara pengisian Tabel. Daftar lokasi ini menjadi arahan lokasi pengembangan pelayanan SKPD untuk mendukung perwujudan pola ruang wilayah. Jika ada. dan/atau program pembangunan tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan rekomendasi KLHS. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim.1.C. yang selanjutnya disingkat KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis. diisi dengan daftar kawasan lindung. rencana. diisi dengan indikasi program pemanfaatan ruang untuk setiap rencana pola ruang. dan diisi dengan perbandingan antara kondisi rencana dan kondisi saat ini. Daftar lokasi ini menjadi arahan lokasi pengembangan pelayanan SKPD untuk mendukung perwujudan struktur ruang wilayah. kawasan strategis yang telah ada (eksisting) di wilayah provinsi/kabupaten/kota. 2.T-IV. dan/atau program.7 Kolom (6) Hasil Telaahan Pola Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota No (1) 1 2 3 4 dst Rencana Pola Ruang (2) Pola Ruang Saat Ini (3) Indikasi Program Pemanfaatan Ruang Pada Periode Perencanaan Berkenaan (4) Pengaruh Rencana Pola Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan SKPD (5) Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan SKPD (6) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup. 1.

akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat dalam jangka panjang.*) SKPD... dapat dioperasionalkan dan secara moral serta etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan..... Oleh karena itu. Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi... perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan. Cara pengisian Tabel.. Perumusan Isu-isu Strategis Berdasarkan Tugas dan Fungsi C. 6. Tabel..6. dalam hal tidak dimanfaatkan..... segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi Dengan mempertimbangkan fungsi KLHS tersebut maka analisis terhadap dokumen hasil KLHS ditujukan untuk mengidentifikasi apakah ada program dan kegiatan pelayanan SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang berimplikasi negatif terhadap lingkungan hidup..C.. Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya... 5. . 3. Implikasi terhadap Pelayanan SKPD (4) Catatan bagi Perumusan Program dan Kegiatan SKPD (5) No (1) 1. Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi SKPD dimasa datang. Aspek Kajian (2) Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup Kinerja layanan/jasa ekosistem Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim Tingkat ketahanan dan keanekaragaman hayati potensi Ringkasan KLHS (3) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-IV...... dan diisi dengan catatan yang harus diperhatikan dalam perumusan program dan kegiatan agar tidak bertentangan dengan KLHS.8 Hasil Analisis terhadap Dokumen KLHS Provinsi/Kabupaten/Kota..C.. Jika ada program dan kegiatan pelayanan SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang berimplikasi negatif terhadap lingkungan hidup. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan..26 2. diisi dengan ringkasan KLHS untuk setiap aspek kajian berkenaan.. 2. Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar layanan SKPD senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan dan aspirasi pengguna layanan.T-IV. maka program dan kegiatan tersebut perlu direvisi agar sesuai dengan rekomendasi KLHS.1. 4. diisi dengan aspek kajian KLHS... akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya.8: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. diisi dengan pengaruh yang mungkin/dapat terjadi terhadap kebijakan pelayanan SKPD.

dianalisis isu-isu strategis yang berhubungan atau mempengaruhi SKPD dari faktor-faktor eksternal lainnya dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel..T-IV.. diisi dengan faktor-faktor yang dapat dikendalikan melalui kewenangan SKPD. dan 4..T-IV.T-IV..9: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) (6) diisi dengan judul aspek-aspek kajian yang telah dilakukan. kolom (4).7).T-IV.8) Informasi tersebut dapat disusun kedalam contoh tabel matriks sebagai berikut: Tabel.C.. Kajian KLHS. Selanjutnya.C. yaitu: Gambaran pelayanan SKPD. 2.5 untuk kabupaten/kota).T-IV. Kajian terhadap RTRW..T-IV.10 Identifikasi Isu-Isu Strategis (Lingkungan Eksternal) No (1) 1 2 3 4 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Isu Strategis Dinamika Internasional (2) Dinamika Nasional (3) Dinamika Regional/Lokal (4) Lain-lain (5) .C. 3.3)..4 untuk provinsi) atau (Tabel.C.T-IV. Informasi yang diperlukan dalam perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi ini adalah: 1.6 dan Tabel.2 dan Tabel.C.. Kajian terhadap Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota.9 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi SKPD Pendidikan*) Provinsi.C. dan diisi dengan rumusan permasalahan pelayanan SKPD berdasarkan informasi pada kolom (2). Hasil analisis gambaran pelayanan SKPD (Tabel..T-IV. kolom (3).C. diisi dengan kesimpulan setiap aspek kajian tentang capaian/kondisi saat ini diisi dengan standar yang digunakan pada setiap aspek kajian untuk menilai kualitas capaian/kondisi saat ini.C.. Hasil telaahan RTRW (Tabel.**) Faktor yang Mempengaruhi INTERNAL (KEWENANGAN SKPD) EKSTERNAL (DILUAR KEWENANGAN SKPD) Aspek Kajian Capaian/Kondisi Saat ini Standar yang Digunakan Permasalahan Pelayanan SKPD (1) (2) (3) (4) (5) (6) *) Sebagai contoh adalah SKPD pendidikan provinsi **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi.C..T-IV. Cara pengisian Tabel.. Kajian terhadap Renstra K/L. dan kolom (5). Hasil analisis KLHS (Tabel.T-IV.C.27 Suatu isu strategis bagi SKPD diperoleh baik berasal dari analisis internal berupa identifikasi permasalahan pembangunan maupun analisis eksternal berupa kondisi yang menciptakan peluang dan ancaman bagi SKPD di masa lima tahun mendatang.. diisi dengan faktor-faktor yang berada diluar kewenangan SKPD. Hasil analisis Renstra K/L dan Renstra-SKPD provinsi/kabupaten/kota (Tabel.

.28 Cara Pengisian Tabel.. isu-isu yang dirumuskan tidak saja berdasarkan tinjauan terhadap kesenjangan pelayanan. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih ditujukan untuk memahami arah pembangunan yang akan dilaksanakan selama kepemimpinan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut. 1... Menelaah Visi..C. No (1) 1 Misi dan Program KDH dan Wakil KDH terpilih (2) Misi 1……………… Program………… 2 Misi 1……………… Program………… Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel.. Tabel....11 Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan SKPD Terhadap Pencapaian Visi..... diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi se-wilayah provinsi/kab/kota.....9 yang dapat mempengaruhi pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.... diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Visi: . diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional.T-IV... diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel..C. dan diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.. usaha/ bisnis.4).C... Setiap uraian misi disertai dengan uraian program..... Untuk provinsi: Selanjutnya berdasarkan hasil analisis terhadap Renstra K/Ldan Renstra SKPD kabupaten/kota (lihat kembali Tabel.. Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Menelaah visi..C.. SKPD provinsi juga perlu menyusun faktor-faktor ... diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan dan dapat menghambat pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah.... Dengan demikian.. Hasil identifikasi SKPD tentang faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih ini juga akan menjadi input bagi perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD.... misi.. diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.T-IV..T-IV. penemuan-penemuan teknologi..T-IV..10: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan.. diisi dengan uraian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih..11: Kolom kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.T-IV..C. sosial budaya. tetapi juga berdasarkan kebutuhan pengelolaan faktor-faktor agar dapat berkontribusi dalam pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih...

Untuk kabupaten/kota: Selanjutnya berdasarkan hasil analisis terhadap Renstra K/Ldan Renstra SKPD provinsi (lihat kembali Tabel.T-IV.T-IV.C..13 Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi berdasarkan Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra SKPD Kabupaten/kota (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) .5).9.T-IV.T-IV.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD dengan sasaran Renstra K/L.T-IV. untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD.T-IV. Tabel. SKPD kabupaten/kota menyusun faktor-faktor baik yang bersifat menghambat maupun yang bersifat mendorong. Identifikasi faktor tersebut dapat disusun pada tabel berikut: Tabel. Kolom (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra K/L. SKPD provinsi perlu menyusun daftar faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi pada Tabel.29 baik yang bersifat menghambat maupun yang bersifat mendorong. 1. Kolom (2) diisi dengan sasaran jangka menengah Renstra K/L sebagaimana tercantum dalam Renstra K/L.12: Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.12 Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota berdasarkan Sasaran Renstra K/L beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra K/L (2) Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel.C. yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi.C. 2.C.C. Untuk provinsi: Demikian pula hal-nya dengan hasil analisis terhadap Renstra SKPD kabupaten/kota. Indikator kinerja pelayanan SKPD yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD. yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi. Kolom (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.C. dan Kolom (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra K/L.

13: Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.C. Tabel.T-IV.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD provinsi dengan rata-rata sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota..C. SKPD kabupaten/kota perlu menyusun daftar faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi pada Tabel. Indikator kinerja pelayanan SKPD kabupaten/kota yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD kabupaten/kota.T-IV.C. Indikator kinerja pelayanan SKPD provinsi yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD provinsi.C. (2) diisi dengan rata-rata sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana tercantum dalam Renstra SKPD masing-masing kabupaten/kota di wilayah provinsi tersebut.T-IV.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD kabupaten/kota dengan sasaran Renstra SKPD provinsi. Untuk kabupaten/kota: Demikian pula hal-nya dengan hasil analisis terhadap Renstra SKPD provinsi. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD provinsi yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.14: Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. .C. Kolom Kolom Kolom Demikian pula selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hasil telaahan RTRW.TIV. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.T-IV. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi.30 Cara pengisian Tabel. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi. untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD provinsi.14 Permasalahan Pelayanan SKPD Kabupaten/Kota Berdasarkan Sasaran Renstra SKPD Provinsi beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra SKPD Provinsi (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel.C.9. (2) diisi dengan sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi sebagaimana tercantum dalam Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD kabupaten/kota. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.T-IV. Kolom Kolom Kolom 2.

Tabel.31 Tabel.C. dengan mengisi tabel dengan contoh sebagai berikut: .C. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat terwujudnya RTRW. (2) diisi dengan hasil telaahan RTRW terkait tugas dan fungsi SKPD. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD sebagai implikasi dari hasil KLHS. 2. Penentuan Isu-Isu Strategis Metode penentuan isu-isu strategis pelayanan SKPD antara lain dapat dilakukan dengan cara: 1.T-IV. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan sehingga sesuai dengan hasil KLHS.C.T-IV.16: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.C.T-IV.16 Permasalahan Pelayanan SKPD berdasarkan Analisis KLHS beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Hasil KLHS terkait Tugas dan Fungsi SKPD (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisianTabel..9 berdasarkan implikasi KLHS terhadap pelayanan SKPD.15 Permasalahan Pelayanan SKPD berdasarkan Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Rencana Tata Ruang Wilayah terkait Tugas dan Fungsi SKPD (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel.T-IV.9 berdasarkan implikasi RTRW terhadap macam dan tingkat pelayanan SKPD yang dibutuhkan. Menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan.C. Demikian pula selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hasil telaahan terhadap KLHS. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong terwujudnya RTRW.C.T-IV. Dibahas melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman merumuskan isu-isu strategis. (2) diisi dengan hasil analisis terhadap KLHS terkait tugas dan fungsi SKPD. Menggunakan metode pembobotan dengan cara sebagai berikut: a.15: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.T-IV. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.

18 Nilai Skala Kriteria No (1) Isu Strategis (2) 1 (3) 2 (4) Nilai Skala Kriteria ke3 4 5 (5) (6) (7) 6 (8) Dst… (9) Total Skor (10) 1 2 3 4 5 6 7 Dst. Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis. (1) (2) (3) diisi dengan nomor urut diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi s.. Bobot**) 20 10 20 10 15 25 *) b.19 Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No..C.C.IV.17 Contoh Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L atau Renstra provinsi/kabupaten/kota Merupakan tugas dan tanggung jawab SKPD Dampak yang ditimbulkannya terhadap publik Memiliki daya ungkit untuk pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… Total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan..C. Kolom (3) diisi dengan total akumulasi nilai skor dari isu-isu strategis. yang dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Cara Pengisian Tabel. Kolom (2) diisi sesuai dengan isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional.T-IV.d Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria (10) diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria. .T-IV.18: Kolom Kolom Kolom Kolom c.T-IV. nasional dan regional.T.T.C.19: Kolom (1) diisi dengan nomor urut. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. (1) Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) 1 2 3 4 Dst.IV.C. Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skala tersebut pada angka b). Cara Pengisian Tabel.32 Tabel.

visi diciptakan melampaui realitas sekarang. jelas. dan padat. Memusatkan perhatian kepada isu dan permasalahan utama daerah. Visi dan misi SKPD harus jelas menunjukkan apa yang menjadi cita-cita layanan terbaik SKPD baik dalam upaya mewujudkan visi dan misi kepala daerah maupun dalam upaya mencapai kinerja pembangunan daerah pada aspek kesejahteraan. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti oleh semua pelaku (communicable). dan Sejalan dengan visi dan misi kepala daerah dan arah pembangunan daerah jangka menengah. relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pembangunan di daerah yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. Visi bukan hanya mimpi atau serangkaian harapan.7. strategi dan kebijakan. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). tetapi dengan fokus pada masa depan. Perumusan Visi SKPD Visi SKPD adalah gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai SKPD melalui penyelenggaraan tugas dan fungsi dalam kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang. Perumusan Visi dan Misi SKPD Perumusan visi dan misi jangka menengah SKPD merupakan salah satu tahap penting penyusunan dokumen Renstra SKPD sebagai hasil dari analisis sebelumnya. kegiatan prioritas. dan Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. kondisi. 4. Disertai dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan tujuan. Memungkinkan. Visi menjelaskan arah atau suatu kondisi ideal dimasa depan yang ingin dicapai (clarity of direction) berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini yang menciptakan kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dan masa depan yang ingin dicapai. seperti pemrioritaskan program prioritas. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. Oleh karena itu. Pernyataan visi yang artikulatif akan memberikan arah yang jelas bagaimana mencapai masa depan yang diharapkan dan mengatasi kesenjangan yang terjadi. sasaran.33 Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya. dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focused). 6. 4. visi didasarkan pada realita. bukan pikiran berandai-andai (wishfull thinking).1. 3. 5. 2. Visi SKPD yang baik harus dapat memenuhi syarat sebagai berikut: 1. 3. Di sini. dan kapasitas yang ada (feasible). Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi pembangunan masa depan yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD dalam 5 (lima) tahun mendatang. Kriteria suatu rumusan visi SKPD antara lain: 1. usulan permasalahan pembangunan. wajar. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku/pemangku kepentingan pelayanan SKPD (imaginable). C. layanan. . Disertai dengan penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan SKPD. dan layak untuk dicapai dengan situasi. dan lain-lain.. 2. tetapi suatu komitmen dan upaya merancang dan mengelola perubahan untuk mencapai tujuan. 7. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). efisien. dan peningkatan daya saing daerah dengan mempertimbangkan permasalahan dan isu strategis yang relevan.

C. dengan mengisi tabel dibawah ini.. Dengan demikian. serta bagaimana target indikator kinerja yang dibutuhkan dari SKPD dalam . . Bagi sel (kotak) yang bertanda () itulah dibuatkan perwujudan dimaksud pada tabel diatas. Visi SKPD yang akan dirumuskan dalam Renstra SKPD harus memiliki keterkaitan dengan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terdapat dalam rancangan awal RPJMD. Namun. sebelum merumuskan visi SKPD. sebelum menentukan identifikasi perwujudan visi. rumusan tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah yang dimuat dalam rancangan awal RPJMD. Hal ini menjadikan tim penyusun Renstra SKPD perlu selalu berkoordinasi dengan tim penyusun RPJMD guna memahami penjelasan visi. 2. Di sini masing-masing anggota tim perumus perlu diberi waktu yang cukup untuk memaparkan gambaran masing-masing tentang wujud dari visi yang diinginkan pada akhir tahun ke-5 (lima). dengan memberi tanda (x) untuk yang tidak berkesesuaian dan tanda () untuk yang berkesesuaian.34 Informasi yang diperlukan dalam perumusan visi SKPD adalah: 1. Perwujudan visi merupakan gambaran paling sederhana dan dengan bahasa yang mudah dikomunikasikan tentang wujud nyata kondisi. Tabel.T-IV. keadaan dan impian SKPD dalam 5 (lima) tahun ke depan yang dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategisnya.20 Perumusan Perwujudan Visi Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 PPD 2 PPD 3 Dst     Perwujudan Visi 1     Perwujudan Visi 2     Perwujudan Visi 3     Dst Perwujudan visi diidentifikasi melalui proses FGD atau teknik lain yang secara efektif dapat menghasilkan rumusan tentang bagaimana wujud nyata kondisi. keadaan dan impian SKPD dalam 5 (lima) tahun yang akan dicapai dimasa mendatang. berikut pemikiran atau hasil analisis yang mendasarinya. Visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah dan arah pembangunan daerah jangka menengah. Misi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rancangan awal RPJMD adalah untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. perlu dilakukan kajian terhadap visi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan. terlebih dahulu dibuat analisis keterhubungan antara permasalahan pembangunan dengan isu strategis (misal. uraian misi kepala daerah dan wakil kepala daerah. Proses Perumusan Visi Perumusan visi dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah (PPD) untuk menemukan perwujudan visi. Hasil perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD propinsi Pernyataan visi dalam Renstra SKPD propinsi harus dapat merespon (merupakan jawaban) atas isu-isu strategis SKPD tersebut. Untuk memperjelas gambaran suatu perwujudan visi dapat ditambahkan dengan atribut atau ciri-ciri lain tentang suatu wujud visi. Suatu permasalahan pembangunan di tingkat SKPD adalah berbagai permasalahan pembangunan yang berhubungan layanan atau peningkatan kinerja penyelenggaraan urusan terkait.

dan membandingkan atribut-atribut dari berbagai perwujudan visi yang berbeda-beda.35 Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan perwujudan visi yang salah satunya berlandaskan pada kekuatan terbaik SKPD. memahami. identifikasi permasalahan SKPD harus mampu mengungkapkan peta kekuatan yang paling dominan dalam realisasi pembangunan daerah dimasa-masa lalu. dan jelas serta memenuhi kriteria atau karakteristik visi sebagaimana telah dijelaskan di awal. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. Perwujudan Visi Pokok-pokok Visi Pernyataan Visi Suatu pernyataan visi dibuat dengan menggunakan bahasa yang singkat. Perumusan pokok-pokok visi dilakukan dengan mencari inti (kalimat) perwujudan visi ke dalam satu-dua kata dengan menghilangkan berbagai kata dan atribut yang bukan inti dari perwujudan visi dimaksud. Untuk memberi penekanan atas keyakinan bahwa target dapat dicapai pada akhir periode perencanaan maka pernyataan visi dapat secara spesifik menyebutkan waktu capaian. Pembahasan tentang wujud apa yang paling baik atau sesuai bagi suatu SKPD dimasa datang sangat ditentukan bagaimana anggota tim mengenali. termasuk atribut-atribut yang menjelaskannya. . Suatu pernyataan visi dapat berupa satu atau lebih pernyataan atau kalimat yang merangkum atau menggabungkan berbagai pokok visi terpilih. Berbagai atribut sangat penting dalam memberi bobot dan kejelasan bahwa perwujudan visi dimaksud penting bagi SKPD dalam menentukan kondisi dalam 5 (lima) tahun mendatang. lugas. Selanjutnya. dari keseluruhan pokok-pokok visi dibuatlah pernyataan visi. suatu penjelasan visi pada dasarnya menguraikan kembali pokok-pokok visi yang telah disepakati ke dalam perwujudan visi dengan merinci lebih baik berbagai atribut atau penjelasan masing-masing pokok visi.21 Perumusan Visi No.T-IV. Untuk membantu identifikasi dan mengukur capaian kinerja.T-IV.C.C.22 Penyusunan Penjelasan Visi Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Dengan demikian. lakukan pembahasan masing-masing perwujudan visi menjadi pokok-pokok visi. sehingga keseluruhan langkah diatas dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Permasalahan SKPD harus dapat pula mengungkapkan kantong-kantong kekuatan layanan yang selama ini terabaikan untuk dijadikan salah satu faktor keberhasilan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD dimasa 5 (lima) tahun mendatang. Setelah berbagai identifikasi perwujudan visi dibuat.. diupayakan visi adalah satu kalimat dengan pokok-pokok visi dapat lebih dari satu. perwujudan visi dapat disebutkan target waktu pencapaiannya. Suatu perwujudan visi merupakan kalimat yang relatif masih lengkap dalam menggambarkan wujud visi masa datang. Penjelasan visi dibuat untuk menjelaskan masing-masing pokok visi. Namun. dengan kesederhanaan kalimat.

Proses Perumusan Misi Setelah dibuat visi. termasuk penjelasan misi didalamnya. kelemahan. Rumusan misi SKPD yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi SKPD yang ingin dicapai. Dalam suatu dokumen perencanaan. 3. maka pernyataan misi menunjukkan kerja-kerja/upaya untuk mewujudkan visi tersebut. Oleh karena itu. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. kemudian dibuatlah rincian misi. ringkas. atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi SKPD. Upaya-upaya yang akan dikembangkan. peluang. Mengingat bahwa misi harus dibuat penjelasannya. Alasan utama pengembangan visi adalah pada pokok-pokok visi karena pada pokok-pokok visi tersebut terkandung ulasan-ulasan apa yang akan dijadikan untuk dicapai dalam 5 (lima) tahun ke depan oleh SKPD. dan stakeholder pembangunan daerah lainnya. pelaku ekonomi di daerah. Rumusan misi merupakan upaya untuk mewujudkan keadaan atau kondisi yang diinginkan.. dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan. Informasi yang diperlukan dalam perumusan misi SKPD adalah: Berdasarkan kedua informasi tersebut. Menggunakan bahasa yang ringkas.36 - Perumusan Misi SKPD Misi SKPD adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi SKPD. dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi SKPD. Kriteria suatu rumusan misi: 1. 1. dalam hal ini masyarakat daerah (secara keseluruhan). SKPD (pelaku organisasi). pokok visi harus diidentifikasi terlebih dahulu stakeholder mana yang menjadi pelaku atau terkena dampak atas pokok visi dimaksud. selanjutnya dibuat misi. Misi disusun untuk memperjelas jalan. sederhana dan mudah dipahami. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi (kekuatan. maka pengembangan misi harus dijabarkan terlebih dahulu kepada stakeholder utama pembangunan. Atau stakeholder yang berhubungan atau terkait dengan pokok visi tersebut. 2. SKPD mengidentifikasi keadaan dan/atau kondisi yang harus ada atau dicapai supaya visi SKPD benar-benar terwujud di akhir periode perencanaan. serta menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan oleh SKPD bersangkutan. maka pengertian misi harus sederhana. dan tantangan) pembangunan daerah. Proses perumusan misi dicontohkan pada tabel berikut ini: . Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh SKPD dalam rangka mewujudkan visi SKPD. pernyataan misi sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana. 2. Rumusan misi dalam dokumen Renstra SKPD dikembangkan dengan memperhatikan faktorfaktor lingkungan strategis. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa misi juga menyangkut komitmen pada stakeholder utama atau apa yang ingin diwujudkan oleh visi. Jika pernyataan visi menunjukkan keadaan/kondisi yang ingin dicapai pada akhir periode perencanaan. Memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah. singkat dan lugas dalam menjelaskan bagaimana visi akan dicapai. Teknisnya. harus memanfaatkan faktor-faktor pendorong dan mengantisipasi faktor-faktor penghambat yang telah diidentifikasi pada perumusan isu strategis. Pernyataan visi SKPD. termasuk pokok-pokok visi dan penjelasan visi. Hasil perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD.

namun setidaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dicapai dimasa mendatang. Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. dan peluang menjadi suatu kalimat positif yang ringkas. dan Disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. dibuat penjelasan misi dengan menggunakan dasar rincian atau sub-misi yang telah dibuat untuk menjelaskan berbagai hal sehingga misi menjadi mudah dipahami. tiap-tiap misi dibuat sub-misi berdasarkan rincian misi. Rumusan tujuan harus realistis dan dapat dicapai. Dalam menentukan tujuan tidaklah mutlak harus terukur. Diturunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi SKPD yang telah ditetapkan. Setelah diketahui stakeholder yang terpengaruh atau berhubungan dengan pokok-pokok visi dan dijelaskan dalam ―rincian misi‖. Pernyataan tujuan tersebut akan diterjemahkan kedalam sasaran-sasaran yang ingin dicapai. namun harus tetap mempertahankan substansi. ataupun tangible. Perumusan Tujuan Pelayanan Jangka Menengah SKPD Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja SKPD selama lima tahun. Sebagai contoh. 3. misi dapat dibuat spesifik setiap pokok visi dengan merangkum masing-masing rincian misinya.C. .23 Perumusan Misi No.8. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. dan menangani isu strategis daerah yang dihadapi. Lalu. Pengemasan menjadi kalimat misi dapat dilakukan dengan bermacam cara.37 Tabel.T-IV.. dan Meningkatkan pemerataan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan Rumusan tujuan merefleksikan konteks pembangunan yang dihadapi SKPD dan memiliki keterkaitan dengan visi SKPD yang ingin dicapai. yang mana. selanjutnya pokok-pokok visinya disandingkan dengan stakeholder pembangunan/layanan yang terpengaruh atau terkait visi tersebut dengan (√) dan dijelaskan sebagai rincian misi kenapa stakeholder tersebut mempengaruhi pokok-pokok misi. kuantitatif. Rumusan pernyataan tujuan biasanya disusun dengan membalikkan pernyataan isu. memecahkan permasalahan. 2. Visi Pokokpokok visi (√) Stakeholder layanan SKPD lain Rincian misi Pengguna layanan (x) Pelaku Ekonomi (√) Rincian misi (√) Lainnya Rincian misi Misi Visi dan pokok-pokok visi yang telah diperoleh dalam proses penyusunan visi. melaksanakan misi. misalnya: 1. Untuk mewujudkan suatu misi. Pernyataan tujuan biasanya dimulai dengan menggunakan suatu kata kerja (verb) yang menjelaskan arah keinginan/preferensi (lebih/kurang) dan suatu kata benda (noun) yang menjelaskan obyek yang menjadi perhatian.1. Menurunkan angka pengangguran. Selanjutnya. masing-masing submisi tersebut pada dasarnya adalah misi. 2. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam perumusan tujuan pembangunan: 1. C. permasalahan. selanjutnya dibuat pernyataan misinya. dapat dicapai melalui beberapa tujuan.

24 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan SKPD NO. Perumusan Sasaran Pelayanan Jangka Menengah SKPD Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur. dan 8. 3.. Mereview pernyataan tujuan pembangunan jangka menengah dalam rancangan awal RPJMD untuk dikaitkan dengan tugas dan fungsi SKPD. Profil pelayanan terkait indikator kinerja. Isu-isu strategis SKPD yang sesuai dengan bidang layanan SKPD. Mereview program prioritas beserta target indikator kinerja dari Rancangan Awal RPJMD yang menjadi tanggung jawab SKPD. yakni target sasaran dinyatakan dengan jelas dan terukur. spesifik. spesifik.1. Indikator kinerja urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Pernyataan tujuan yang telah dirumuskan.9. 2. dan sesuai dengan bidang layanan SKPD. yakni sifat dan tingkat sasaran dapat diidentifikasi dengan jelas. mudah dicapai. 2.38 Adapun langkah-langkah perumusan tujuan berdasarkan penjabaran visi dan misi SKPD dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Kriteria SMART-C yaitu: a) Specific (spesifik). 7. Sasaran harus dapat menyatakan sebuah target yang terukur atas sebuah kondisi atau pencapaian tujuan. yakni periode pencapaian sasaran ditetapkan. e) Time Bound (batas waktu). Memeriksa kembali konsistensi pernyataan sasaran terhadap tujuan dan misi serta melakukan penyempurnaan bila diperlukan. b) Measurable (dapat diukur).C. Tabel. d) Relevant (relevan). Tabel. Merumuskan pernyataan sasaran untuk masing-masing tujuan. yakni sasaran dapat dicapai secara bertahap Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD selanjutnya disusun dalam Tabel. 6.24 ini selanjutnya ditampilkan dalam dokumen Renstra SKPD. Dalam merumuskan sasaran yang perlu diperhatikan adalah: 1. dan f) Continously improve (perbaikan berkelanjutan). 3.T-IV. fokus.C. dan 5. 5. 3. sekurangkurangnya memenuhi indikator kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Merumuskan pernyataan tujuan dengan cara: mendeskripsikan setiap pernyataan misi dalam satu atau beberapa tujuan yang menggambarkan kondisi atau keadaan yang harus ada supaya pernyataan misi dapat tercapai.T-IV.24 berikut. Mereview hasil perumusan isu-isu strategis SKPD. Pencapaian satu tujuan dapat saja melalui beberapa sasaran. c) Achievable (dapat dicapai). yakni target sasaran dapat dicapai terkait dengan kapasitas dan sumber daya yang ada. 4. 4.T-IV. Perumusan sasaran perlu memperhatikan indikator kinerja sesuai tugas dan fungsi SKPD atau kelompok sasaran yang dilayani. Langkah yang diperlukan dalam perumusan sasaran sebagai berikut: 1. rasional. C. dan 4. 2. serta profil pelayanan yang terkait dengan indikator kinerja. untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan.C. Mereview pernyataan tujuan pelayanan jangka menengah yang telah dirumuskan. (1) TUJUAN (2) SASARAN (3) INDIKATOR KINERJA (4) 1 (5) TARGET KINERJA PADA TAHUN KE2 3 4 (6) (7) (8) 5 (9) . Kelompok sasaran yang dilayani. Mereview pernyataan visi dan misi SKPD. yakni mencerminkan keterkaitan antara target sasaran dengan tujuan. Merumuskan rancangan capaian indikator yang terukur dari setiap sasaran.

. “ Apa yang dikerjakan dan dihasilkan (barang) atau dilayani (proses)“ Input Sumberdaya yang memberikan kontribusi dalam menghasilkan output “ Apa yang digunakan dalam bekerja“ Dari gambar di atas. program. Perumusan tujuan dan sasaran dari visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah menjadi landasan perumusan visi.39 - Cara pengisian Tabel.24: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan (2) diisi dengan uraian tujuan (3) diisi dengan uraian sasaran untuk setiap tujuan. hasil. tujuan dan sasaran Renstra SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. Kuatnya hubungan kedua lembaga antara Kepala Daerah dan SKPD dalam perumusan tujuan dan sasaran untuk mewujudkan visi dan misi.3 Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah Visi/Misi Dampak (Impact) Tujuan/ Sasaran Hasil pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapaian outcome “ Apa yang ingin diubah “ Program Hasil (Outcome) Manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu sebagai hasil dari output “ Apa yang ingin dicapai “ Kegiatan Keluaran (Output) Produk/barang/jasa adalah yang dihasilkan dari proses/kegiatan yang menggunakan input. maupun keluaran dari suatu kegiatan. dapat digambarkan sebagai berikut: GAMBAR. program dan kegaiatan yang secara totalitas menjadi arsitektur kinerja pembangunan daerah.C. baik pada dampak. dan sasaran. misi dengan perumusan tujuan dan sasaran. Secara skematik keterkaitan antara visi. jelas bahwa tujuan dan sasaran mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan SKPD secara keseluruhan. dapat di jelaskan dalam bagan berikut ini: .Tujuan dapat dijabarkan dalam satu sasaran atau lebih (4) diisi dengan indikator kinerja setiap sasaran (5) sampai dengan (9) diisik dengan target kinerja sasaran yang harus dicapai pada tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-5 pelaksanaan Renstra SKPD. misi. Selaras dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka perencanaan SKPD pun menggunakan prinsip yang sama. G-IV.T-IV.C. Pengembangan rencana pembangunan SKPD lebih ditekankan pada target kinerja.

visi. sasaran jangka menengah SKPD. 5. 2. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. Muatan rancangan awal RPJMD (analisis isu-isu strategis. Perumusan Strategi dan Kebijakan Jangka Menengah SKPD 3. Strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD adalah strategi dan kebijakan SKPD untuk mencapai tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD yang selaras dengan strategi dan kebijakan daerah serta rencana program prioritas dalam rancangan awal RPJMD. Penentuan pagu per SKPD. dan target kinerja hasil (outcome) program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD.11. Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Penentuan indikator keluaran program. 4. Tim penyusun RPJMD selanjutnya menggunakan hasil analisis/kajian dan rumusan dari tim penyusun Renstra SKPD ini dalam: 1. misi.4 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah Kepala Daerah Kepala SKPD Visi/misi SKPD dibuat untuk secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung atau mewujudkan visi misi Kepala Daerah Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Program Pembangunan Daerah Program Prioritas Program Penyelengaraan Urusan Pem..Daerah Program Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Program Pembangunan Daerah berisi program-program prioritas terpilih yang menjadi “top priority” untuk mewujudkan visi/misi Kepala Daerah (RPJMD) RPJMD RENSTRA SKPD Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi.10. melaksanakan misi dengan menjawab isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang berhubungan dengan layanan dan tugas serta fungsi SKPD. Hasil analisis dan kajian sampai dengan perumusan tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD ini disampaikan kepada Bappeda sebagai bahan/masukan bagi penajaman substansi yang dihasilkan dalam penyusunan rancangan awal RPJMD.40 GAMBAR. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. 3. Strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD menunjukkan bagaimana cara SKPD mencapai tujuan. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan). Dengan pendekatan yang komprehensif. Jadwal penyampaian rancangan Renstra SKPD. Setelah surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD diterima. Strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD selanjutnya menjadi dasar perumusan kegiatan SKPD bagi setiap program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD.C. Mempelajari Surat Edaran Kepala Daerah perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD (dilampiri rancangan awal RPJMD dengan indikator keluaran program dan pagu per SKPD) C. dan Indikator keluaran program dan pagu indikatif per SKPD. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk . G-IV.1. 2. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana SKPD mencapai tujuan dan sasaran dengan efektif dan efisien. C. maka SKPD perlu mencermati: 1. tujuan dan sasaran pembangunan 5 (lima) tahun tahun mendatang. strategi dan arah kebijakan. Perumusan strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah.1.

Keterhubungan Renstra Strategis Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. akuntabel dan berkomitmen terhadap kinerja. Di sini penting untuk mendapatkan parameter utama yang menunjukkan bagaimana strategi tersebut menciptakan nilai (strategic objective).G-III. Rumusan strategi juga harus menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana SKPD menciptakan nilai tambah (value added) bagi stakeholder layanan.Program Prioritas Berdasarkan dari arsitektur perencanaan pembangunan daerah yang dibagi menjadi 2 (dua) perencanaan strategis dan opersional. Melalui parameter tersebut. dan perbaikan kinerja birokrasi.Strategi dan Arah kebijakan . Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan.Visi dan Misi . termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi. tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik.Program Pembangunan Daerah . Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis. sistem manajemen.Program Prioritas .Program Pembangunan Daerah .1 Keterhubungan Renstra SKPD dengan RPJMD RPJMD Renstra SKPD .41 melakukan tranformasi. misi tujuan dan sasaran SKPD) dan permasalahan urusan pemerintahan daerah (indikator kinerja Daerah).Program Prioritas . seperti dijelaskan pada kerangka fikir pada gambar dibawah ini: . dapat dikenali indikasi keberhasilan atau kegagalan suatu strategi sekaligus untuk menciptakan budaya ―berpikir strategik‖ dalam menjamin bahwa transformasi menuju pengelolaan pemerintah daerah yang lebih baik.Kegiatan Prioritas . Perencanaan sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi Kepala Daerah ke dalam rencana kerja yang actionable.Visi dan Misi .C.Kegiatan Prioritas Perencanaan Operasional Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan . dan pemanfaatan teknologi informasi..Program Prioritas .Tujuan dan Sasaran . reformasi. transparan. Perumusan Strategi Rumusan strategi merupakan pernyataan-pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai serta selanjutnya dijabarkan dalam serangkaian kebijakan. maka SKPD diharapkan dalam merencanakan program dan kegiatannya dapat memecahkan permasalahan pembangunan daerah (visi. strategi harus dikendalikan dan dievaluasi (learning process).Tujuan dan Sasaran .Strategi dan Arah kebijakan Perencanaan Strategik .

Strategi dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertolak-belakang. dg Penyelenggaraan Program Pemb. Layanan yang bernilai tambah diciptakan secara berkelanjutan dalam proses internal SKPD. 2. Menjadikan strategi sebagai komitmen dan rutinitas birokrasi. Strategi didasarkan pada tujuan dan sasaran SKPD dan pemenuhan kebutuhan layanan yang berbeda tiap segment masyarakat pengguna layanan.42 Gambar. Menerjemahkan strategi kedalam bentuk yang operasional.3 Keterkaitan Sasaran Dengan Strategi Sasaran 1 Strategi 1 atau Sasaran 1 Sasaran 2 Strategi 1 Sasaran 2 Strategi 2 Sasaran 3 . 3.G-III. 5.G-III. Suatu strategi yang baik harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip: Suatu strategi.C.. 3. 2. Menjadikan strategi sebagai proses yang berkelanjutan.Daerah Penyelenggaraan Tugas & Fungsi SKPD Program/Kegiatan Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Lima prinsip manajemen untuk menciptakan komitmen dalam menjadikan strategi sebagai basis perencanaan pembangunan adalah: 1. 1. dan pemangku kepentingan.C. dapat secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis sebagaimana bagan berikut: Gambar. 4. Menyelaraskan organisasi sesuai pilihan strategi jangka menengah. dan Memobilisasi perubahan melalui kepemimpinan yang baik. 4.2 Kerangka Fikir Keterhubungan Antarkinerja Visi/Misi SKPD Tujuan dan Sasaran Indikator Kinerja Daerah (terkait) Keterhub. dan Strategi terdiri dari tema-tema yang secara simultan saling melengkapi membentuk cerita atau skenario strategi.

. jelas bahwa perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak.... dst …… Alternatif Strategi : 1. Satu strategi dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran. ……………… 2...... . ……………… 3. Menggunakan metode Balanced Score Card.. dapat dilakukan melalui: 1) 2) 3) 4) Dibahas kembali melalui Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman di bidang manajemen strategik.. dst …… Alternatif Strategi : 1... Melakukan evaluasi untuk menentukan pilihan langkah yang paling tepat antara lain dengan menggunakan metode SWOT (kekuatan/strengths. dan Menggunakan kombinasi antara FGD dengan metode lainnya untuk obyektivitas pemilihan strategi.. dst …… Alternatif Strategi : 1.. ……………… 2. Dalam hal.. Strategi dirumuskan berdasarkan hasil analisis gambaran pelayanan SKPD. ……………… 2.T-IV.. beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema... dst …… Alternatif Strategi : 1. ……………… 3.. dst … Tantangan: 1.25 Penentuan Alternatif Strategi Pencapaian Indikator Sasaran:.. ……………… 2. 3.... Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan untuk setiap langkah yang akan dipilih. ……………… 3... ……………… 2. Menggunakan metode pembobotan dengan cara seperti yang dilakukan terhadap penentuan isu-isu strategis... Peluang : 1.. ……………… 3.. dst …… Kelemahan: 1.. ……………… 3.... ……………… 3. ……………… 2. peluang/opportunities. Menyusun alternatif pilihan langkah yang dinilai realistis dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan... satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut. …………… 2. 2.. dst …… b) Pemilihan strategi yang paling tepat (efektif dan efisien) diantara berbagai alternatif strategi yang dihasilkan melalui metode SWOT.. tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD. hasil perumusan isu-isu strategis... dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menentukan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran kedalam berbagai tabel.C...43 Dari gambar di atas.. dan tantangan/threats). dengan salah satu contoh sebagai berikut: Tabel. dst … Faktor Eksternal Faktor Internal Kekuatan : 1........ kelemahan/weaknesses.. ……………… 3.. ……………… 2. Perumusan strategi pada Renstra SKPD dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. ……………… 3.

..T-IV. dan operasional... 3.. Merumuskan rancangan kebijakan dari setiap strategi dengan mempertimbangkan: .25 Keempat.C. konkrit.APM SD .Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis di kota dan desa Indikator Kinerja Sasaran (3) Strategi (4) 3. pemangku kepentingan lainnya. agar secara seimbang melintasi lebih kurang empat perspektif: 1... 2. Memperjelas strategi sehingga lebih spesifik/fokus.. teknologi.26 Penentuan Strategi (Contoh Pencapaian Indikator Sasaran: Meningkatnya Angka Partisipasi Murni SLTP) No.44 c) Alternatif strategi yang dipilih selanjutnya diuraikan kedalam tabel berikut: Tabel. dan 4.TIV. 4.T-IV. (1) 1.. untuk menghasilkan perumusan strategi yang pada akhirnya dapat selaras dengan pilihan kegiatan yang tepat maka rumusan strategi harus dipetakan (strategy mapping).. Perumusan Kebijakan Kebijakan adalah pedoman yang wajib dipatuhi dalam melakukan tindakan untuk melaksanakan strategi yang dipilih. 2. Mengarahkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD agar tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan melanggar kepentingan umum.. 3. Dst . Perspektif kelembagaan: strategi harus mampu menjelaskan dengan investasi apa pada sistem. Langkah-langkah perumusan kebijakan adalah: 1.. Kebijakan yang dirumuskan harus dapat: 1. dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjamin terselenggaranya layanan pemerintahan daerah yang baik (good governance) dalam jangka panjang. Perspektif keuangan: strategi harus dapat menempatkan aspek pendanaan sebagai tujuan sekaligus sebagai konstrain (cost-effectiveness) serta untuk mencapai manfaat yang terbesar dari dana yang terbatas (allocative efficiency).26: Kolom Kolom Kolom Kolom d) (1) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan (2) diisi dengan uraian sasaran jangka menengah pelayanan SKPD sebagaimana hasil perumusan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD (3) diisi dengan indikator kinerja setiap uraian sasaran (4) diisi dengan hasil pemilihan alternatif strategi yang dirumuskan pada Tabel. Membantu menghubungkan strategi kepada sasaran secara lebih rasional. Mengarahkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. Perspektif masyarakat/layanan: bagaimana strategi dapat menjadikan pengaruh langsung terhadap pengguna layanan atau segmen masyarakat.C. Sasaran (2) Meningkatnya APM SD Merata dan meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah . Cara PengisianTabel. agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran.. Perspektif proses internal: strategi harus mampu menjadikan perbaikan proses dan pemberian nilai tambah pada proses birokrasi (internal business process). 2.Rasio guru terhadap murid di kota dan desa ...C.

.. kelompok sasaran..2 3... yaitu pada: a. Dst……..1 2.. Outcome merupakan manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Dst… Dst…… Strategi 1.. Tujuan Sasaran 1.. Dst…… Dst…… Kebijakan 1...1 2..1. indikator kinerja....2 3. Menguji rumusan rancangan kebijakan apakah dapat menghasilkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dan telah mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. Sasaran 2.1 2..T-IV... Strategi 2.. Dst…….. Kebijakan 2. Tabel.2 3.. Sasaran 2..... Tabel. Dst…… Kebijakan 1. Jika terdapat pernyataan strategi atau kebijakan yang tidak relevan dan tidak konsisten dengan pernyataan lainnya. C.. dan Kebijakan VISI MISI I Tujuan 1 : Terwujudnya sumber daya manusia Provinsi/Kabupaten/Kota .. sasaran.. selanjutnya dijabarkan SKPD kedalam rencana kegiatan untuk setiap program prioritas tersebut.. Dst… Dst…… Tujuan 2 Dst…… MISI II Tujuan 2 Dst…… Dst .12.. dan pendanaan indikatif Program SKPD merupakan program prioritas RPJMD yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. Kebijakan 1. dan pendanaan indikatif dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1.. Strategi 2...2 3. Sasaran 2..T-IV.1 2. Kelompok sasaran adalah pihak yang menerima manfaat langsung dari jenis layanan SKPD..... Sasaran 1.. Dst… 1.27 Tujuan... isu-isu strategis. Dst… 1. Dst…….1 2.. Sasaran 1...1 2.2 3.1 2. Strategi 2. Strategi 1... tujuan. visi.C.yang cerdas dan handal : ..1 2. indikator kinerja. kelompok sasaran. Strategi..1 2.. Kebijakan 2..1 2... Perumusan rencana kegiatan. Dst… Dst…… : .2 3.. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1. Sasaran 1.......2 3. Perumusan rencana program...C.. kegiatan. Review kembali rancangan awal RPJMD. Rencana program prioritas beserta indikator keluaran program dan pagu per SKPD sebagaimana tercantum dalam rancangan awal RPJMD. Menguji apakah rancangan kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan. Dst… 1...2 3. maka diperlukan perbaikan dalam proses perumusan strategi dan kebijakan tersebut.. Kegiatan yang dipilih untuk setiap program prioritas.2 3.. misi. misi. b....... 3. Kebijakan 1. Sasaran 2...... harus dapat menunjukkan akuntabilitas kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. Strategi 2.. dan kebijakan. dan b) Keterkaitan langsung dengan pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan 2. Strategi 1..2 3. tujuan dan sasaran pembangunan 5 (lima) tahun mendatang.. Dst… Dst…… Strategi 1. Sasaran. Dst… 1.. 1... merupakan indikator kinerja program yang berisi outcome program. Strategi 1.. 1. Indikator keluaran program prioritas yang telah ditetapkan tersebut.. Kebijakan 2.. .27 dapat menunjukkan relevansi dan konsistensi antar pernyataan visi. Kebijakan 1..1 2. Pemilihan kegiatan untuk masingmasing program prioritas ini didasarkan atas strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD...1 2.2 3.. Strategi 1.. Kebijakan 2. strategi.. Sasaran 1....45 a) Besarnya pengaruh kebijakan terhadap keberhasilan implementasi strategi... Kebijakan 1..2 3.

. 5. 10. strategi. Lakukan penyesuaian jika diperlukan. Periksalah apakah total biaya program sesuai dengan pagu SKPD. 8. d. dan sasaran SKPD pada 5 (lima) tahun mendatang. Susunlah rincian target outcome program kedalam target tahunan. tujuan.T-IV. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. susunlah perkiraan kebutuhan anggaran pembiayaan program pertahun Rencana program.T-IV. 3. Jika melebihi pagu SKPD. dan pendanaan indikatif dapat ditampilkan pada Tabel. lakukan pemeringkatan prioritas program dan kegiatan sehingga sesuai dengan pagu SKPD. Perhatikan indikator program dan pagu per SKPD. Berdasarkan target outcome tahunan pada langkah (10). Hitunglah biaya kegiatan untuk mencapai target output kegiatan. 4.C. Periksalah apakah visi. Berdasarkan (2) dan (3).28 berikut ini. Daftar urutan prioritas program dan kegiatan ini menjadi salah satu bahan yang akan dibahas dalam forum SKPD penyusunan Renstra SKPD. indikator kinerja. Lakukan perumusan target output/keluaran yang akan dihasilkan melalui kegiatankegiatan dalam rangka mencapai target outcome program SKPD.28 merupakan tabel yang harus ditampilkan dalam dokumen Renstra SKPD. dan kebijakan dalam rancangan Renstra SKPD telah relevan dan sinergis dengan rancangan awal RPJMD. Lakukan perumusan kegiatan.. strategi dan arah kebijakan. 9. misi. 7. Hitunglah biaya program untuk mencapai target outcome. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. kelompok sasaran. 2.46 c.C. 6. Tabel. e. dan 11. rumuskan target outcome program SKPD untuk mencapai sasaran pembangunan. kegiatan.

Kegiatan...........T-IV... Kelompok Sasaran... Kegiatan.. dan Pendanaan Indikatif SKPD... Program ....................................................... Kegiatan......... Tujuan Sasaran 2 1 Program .......... Indikator Kinerja.............................................C.......**) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada Unit Kerja SKPD akhir periode Penanggungjawab Renstra SKPD target Rp Lokasi target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (1) (2) (3) (4) (5) Program .. Dst ...... Kegiatan... (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Tujuan Sasaran 1 1 Tujuan Sasaran 1 2 Program ...........28 Rencana Program. *) diisikan dengan nama SKPD **) diisikan dengan nama provinsi/kabupaten/kota .47 Tabel....................*) Provinsi/ Kabupaten/Kota..

Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) 2) 3) Review terhadap tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. diisi dengan nama unit kerja SKPD yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program dan kegiatan berkenaan. diisi dengan total jumlah pendanaan yang dibutuhkan untuk mendanai program. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (5) Uraian nama program dan uraian nama kegiatan yang dirancang untuk setiap sasaran jangka menengah Kolom (6) Indikator kinerja program (outcome) dan kegiatan (output) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome) dan kegiatan (output). . mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5.24.C. Kolom Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD: Kolom (18) Kolom (19) Kolom (20) Kolom (21) C. demikian seterusnya sampai dengan Kolom Tahun-5 adalah tahun kelima periode Renstra SKPD Kolom target diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) dan kinerja kegiatan (output) yang akan dicapai pada tahun berkenaan untuk masing-masing program dan kegiatan Kolom Rp diisi dengan jumlah pendanaan yang dibutuhkan pada tahun berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) dan target kinerja kegiatan (output) pada tahun tersebut.C. guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode Renstra SKPD.T-IV.48 Cara pengisiannya Tabel. Identifikasi bidang pelayanan dalam tugas dan fungsi SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. Kolom (7) Data capaian pada tahun awal perencanaan diisi dengan data capaian pada awal tahun perencanaan untuk setiap indikator kinerja yang akan dijadikan titik tolak periode perencanaan jangka menengah SKPD Kolom Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan untuk setiap baris program.T-IV. dan Identifikasi indikator dan target kinerja SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD.T-IV.C. Pernyataan indikator sasaran dari setiap sasaran sebagaimana tercantum dalam Tabel.24 (3) diisi dengan indikator sasaran dari setiap pernyataan sasaran. diisi sebagai berikut: Kolom Tahun-1 adalah tahun pertama periode Renstra SKPD. Pernyataan sasaran dari setiap tujuan sebagaimana tercantum dalam Tabel..C.24. (4) diisi dengan kode urusan/bidang urusan Pemerintahan Daerah/ Program. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator SPM.28: Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan pernyataan tujuan jangka menengah sebagaimana tercantum dalam Tabel.1. diisi dengan indikasi lokasi pelaksanaan program dan kegiatan berkenaan. diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode Renstra SKPD untuk setiap program berkenaan. (2) diisi dengan pernyataan sasaran dari setiap pernyataan tujuan.TIV. Perumusan Indikator Kinerja SKPD yang mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD adalah indikator kinerja yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.13.

C.T-IV. Kolom (2) diisi dengan uraian indikator kinerja SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam RPJMD Kolom (3) diisi dengan data capaian pada awal tahun periode RPJMD untuk setiap indikator kinerja Kolom (4) sampai dengan kolom (8) diisikan dengan besaran yang ditargetkan untuk setiap indikator kinerja pada masing-masing tahun berkenaan Kolom (9) diisi dengan besaran yang ditargetkan tercapai pada akhir tahun periode RPJMD untuk setiap indikator kinerja SKPD C. Tabel.49 Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD disusun dalam Tabel.1.T-IV.C. .TIV. Tabel. Pelaksanaan Forum SKPD Forum SKPD dalam rangka penyusunan Renstra SKPD adalah forum para pemangku kepentingan pelayanan SKPD untuk membahas rancangan Renstra SKPD dibawah koordinasi kepala SKPD untuk mendapatkan masukan bagi penajaman dan penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD.C..T-IV.29: Kolom (1) diisi dengan nomor urutan pengisian indikator.14.29 adalah tabel yang harus dimuat dalam dokumen Renstra SKPD.29 berikut.C.29 Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Contoh: SKPD Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Angka Melek Huruf Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SD/MI Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMP/MTS Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMA/SMK/MA Pembinaan Guru jenjang SD/MI Pembinaan Guru jenjang SMP/MTS Pembinaan Guru jenjang SMA/SMK/MA Fasilitasi dan Asistensi Pengelolaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV (2) Angka Rata-rata Lama Bersekolah (3) Tahun 1 (4) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (9) Target Capaian Setiap Tahun NO Indikator Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) Tahun 5 (8) Cara pengisian Tabel.

Ringkasan Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. Unsur-unsur yang dilibatkan dalam Forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD Peserta C.1. Kelompok yang memperoleh manfaat/dampak tidak langsung dari pelayanan SKPD. 1. 3. forum SKPD penyusunan Renstra SKPD dilaksanakan untuk mempertajam dan menyempurnakan muatan rancangan Renstra SKPD sebelum disampaikan kepada Bappeda untuk diverifikasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. 2. Peserta forum SKPD terdiri dari: 1. dan Rancangan Awal RPJMD. Program dan kegiatan prioritas SKPD dalam 5 (lima) tahun mendatang.1. klarifikasi. Dengan demikian. efisiensi dan efektifitas sesuai dengan kebutuhan.14. Ringkasan Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota.1. Mengkomunikasikan hasil analisis/kajian oleh SKPD atas kebutuhan pelayanan SKPD untuk lima tahun mendatang Memperoleh penajaman.14. dan 4. dan Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Kesepakatan yang dihasilkan oleh forum SKPD ini menjadi acuan bagi tim penyusun Renstra SKPD dalam penyempurnaan materi rancangan Renstra SKPD. e. C.1. program dan kegiatan yang akan dimuat dalam dokumen Renstra SKPD mampu merespon kebutuhan dan aspirasi para pemangku kepentingan pelayanan SKPD tersebut.1. Isu strategis (pelayanan) SKPD untuk ditangani dalam 5 (lima) tahun mendatang. 3. kebijakan.2. tujuan dan sasaran. 2. . Strategi dan kebijakan pelayanan. Tujuan dan sasaran pelayanan SKPD jangka menengah. SKPD yang bersangkutan. Keluaran yang harus dihasilkan oleh forum SKPD penyusunan Renstra SKPD adalah materi kesepakatan dengan para pemangku kepentingan pelayanan SKPD tentang masukanmasukan bagi penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD. Peserta forum SKPD adalah pihak-pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam forum SKPD melalui pembahasan yang disepakati bersama. Rancangan Renstra SKPD yang telah disempurnakan ini kemudian disampaikan kepada Bappeda sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam Surat Edaran Kepala Daerah perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD. 4. Forum ini juga menjadi media komunikasi antara SKPD dengan para pemangku kepentingannya untuk menyepakati apa yang dapat dilakukan dan apa yang belum dapat dilakukan SKPD melalui Renstra SKPD tahun rencana. 2. SKPD yang memperoleh manfaat/dampak langsung/tidak langsung dari pelayanan SKPD. Peserta forum SKPD berfungsi sebagai pengambil keputusan melalui pembahasan yang disepakati bersama.2. b. Kelompok sasaran pelayanan SKPD. Forum ini menjadi semacam uji publik atas rancangan kebijakan pelayanan SKPD dalam menangani dinamika kebutuhan dan aspirasi pelayanan para pemangku kepentingan SKPD tersebut untuk 5 (lima) tahun mendatang. Materi yang Perlu Disiapkan Materi yang perlu disiapkan bagi pembahasan forum SKPD ini sekurang-kurangnya adalah: Ringkasan hasil kajian/analisis dan hasil perumusan substansi Rancangan Renstra SKPD yang dihasilkan oleh Tim Penyusun Renstra SKPD. Tujuan penyelenggaraan forum SKPD adalah untuk: 1. dan penyepakatan tentang: a.. c. C. Penyelenggaraan forum SKPD dilakukan dengan mempertimbangkan urgensi. d.14. penyelarasan. digunakan untuk pembahasan forum SKPD kabupaten/kota.50 Forum SKPD penyusunan Renstra SKPD merupakan forum penting guna membantu memastikan bahwa isu strategis pelayanan. digunakan untuk pembahasan forum SKPD provinsi.

narasumber. 6. Menyiapkan jadwal.3. minimal 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan forum SKPD. Mengumumkan secara terbuka minimal 3 (tiga) hari sebelum penyelenggaraan forum SKPD tentang jadwal.4. Visi dan misi pelayanan SKPD.14. agenda. tempat dan logistik pelaksanaan forum SKPD. agenda acara. Tahap diskusi dan pembahasan.14. Tim Penyelenggara Forum Tim penyelenggara forum SKPD adalah tim penyusun Renstra SKPD. indikator kinerja. Informasi yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan. 5. pembagian diskusi kelompok.1.1. Mempublikasikan pokok-pokok substansi rancangan Renstra SKPD melalui media masa.1. kriteria prioritisasi program SKPD jangka menengah. dan perumusan kesepakatan dan berita acara. agenda. fasilitator yang akan terlibat. 4) 5) Mengundang fasilitator yang dinilai memenuhi kualifikasi berikut: memiliki pemahaman yang memadai atas substansi yang akan dibahas dalam forum SKPD.3. Tugas Tim Penyelenggara forum SKPD adalah: 1. Menyiapkan materi yang diperlukan bagi pembahasan forum SKPD. C. Menyusun hasil penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD berdasarkan hasil forum SKPD. Menyusun jadwal. Tahap persiapan. Narasumber Narasumber forum SKPD berfungsi memberikan informasi yang perlu diketahui peserta untuk proses pengambilan keputusan hasil forum SKPD.51 C. dan Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. 7.14. dan memiliki pengalaman yang memadai dalam memfasilitasi diskusi dan penyepakatan hasil. Rencana program dan kegiatan. dan tempat penyelenggaraan Forum SKPD Menerima pendaftaran peserta forum SKPD.2.14. 3. 8. C. dan pendanaan indikatif.. agenda. .14. 4.1. Merangkum berita acara kesepakatan hasil penyelenggaraan forum SKPD.2. kegiatan yang dilakukan adalah: 1) 2) 3) Menyiapkan materi yang akan digunakan sebagai bahan pembahasan dalam forum SKPD. Strategi dan kebijakan pelayanan jangka menengah SKPD. Isu-isu strategis pelayanan SKPD untuk ditangani pada 5 tahun mendatang .3.2. kelompok sasaran.1. Menyiapkan tata cara pelaksanaan forum SKPD meliputi peserta. Tahapan pelaksanaan forum SKPD terdiri dari: 1. 2. dan Menyampaikan kepada Bappeda dan DPRD rancangan Renstra SKPD yang telah disempurnakan berdasarkan hasil forum SKPD Pelaksanaan Forum SKPD C. Tahap Persiapan Forum SKPD Pada tahap ini. agenda dan daftar kebutuhan logistik/kelengkapan Forum SKPD.1. C.2. dan 3. Fasilitator Fasilitator yang memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memandu pembahasan dan proses pengambilan keputusan dalam kelompok diskusi. Mengidentifikasi fasilitator yang akan memandu pembahasan. Tahap perumusan kesepakatan. Tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD. Mengumumkan secara terbuka jadwal. Fasilitator bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas dalam setiap kelompok diskusi. 2. dan tempat pelaksanaan forum SKPD. Pokok-pokok substansi rancangan Renstra SKPD sedikitnya memuat: a) b) c) d) e) f) g) 6) Gambaran kinerja pelayanan SKPD pada periode sebelumnya.

kelompok sasaran.1. program prioritas. strategi dan kebijakan. indikator kinerja. sesuai dengan kebutuhan. Materi yang disepakati kelompok diskusi diformulasikan kedalam rancangan rumusan hasil keputusan/kesepakatan kelompok diskusi. Tabel. 2. Saat mendaftar. Perumusan rancangan kesepakatan hasil forum SKPD yaitu: a) b) 6. dan 10) Menyusun daftar pembagian peserta berdasarkan butir (9). indikasi rencana program prioritas daerah.T-IV.T-IV.3. dan pendanaan indikatif SKPD. dan Tanggapan umum peserta atas materi yang dipaparkan kriteria prioritisasi program SKPD jangka menengah. a) Sidang kelompok diskusi membahas: b) c) d) 4. Penutupan mencakup: a) . penajaman. Dalam kaitan ini dapat dibentuk tim perumus yang berunsurkan fasilitator. Menyusun tata tertib pembahasan forum SKPD.29. kelompok sasaran. penajaman. Pembahasan untuk memperoleh saran. indikator keluaran program. dan Tabel.T-IV.C. diambil keputusan untuk disepakati menjadi keputusan sidang pleno II atas setiap materi kelompok diskusi pada Forum SKPD.C.. keselarasan.2.T-IV. dan pagu indikatif SKPD yang bersangkutan.C. Berdasarkan tanggapan. indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD dalam upaya mewujudkan visi dan misi SKPD dan pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah.24. Sidang Pleno II berisikan pemaparan rancangan hasil sidang kelompok antara lain: a) b) 5.28.C. tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah. Tahap Diskusi dan Pembahasan Forum SKPD Tahap diskusi dan pembahasan forum SKPD terdiri dari: 1.14. Merangkum seluruh tanggapan dan saran serta keputusan atas penajaman. Tabel. serta indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. peserta menginformasikan pada kelompok diskusi yang mana dia akan bergabung. Dalam hal pengambilan keputusan tidak dapat ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.52 7) 8) 9) Mengundang narasumber yang telah dipilih berdasarkan kompetensi atas bidang pelayanan SKPD. program prioritas. indikator kinerja. strategi dan kebijakan. Pengambilan keputusan ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. tujuan dan sasaran.27. narasumber. tujuan dan sasaran. tanggapan. Menerima pendaftaran peserta forum SKPD sampai dengan 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan forum SKPD. Pemaparan pokok-pokok materi rancangan Renstra SKPD Pemaparan materi lainnya sesuai kebutuhan. C. dan klarifikasi dari seluruh peserta forum SKPD terhadap materi hasil diskusi kelompok. pengambilan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah kelompok diskusi. Pembukaan oleh Kepala SKPD. dan pagu indikatif SKPD. Hasil penajaman isu-isu strategis. Sidang Pleno I meliputi: a) Pemaparan tentang pokok-pokok materi rancangan awal RPJMD yang sekurangkurangnya meliputi isu strategis pembangunan daerah. isu-isu strategis. dan keterkaitan antar program dalam sidang pleno II. Tabel. wakil-wakil kelompok. dan klarifikasi dari peserta kelompok diskusi. dan klarifikasi terkait dengan aspek keterpaduan. Rangkuman hasil keputusan sidang pleno II dirumuskan kedalam rancangan berita acara hasil kesepakatan forum SKPD Pembacaan rumusan rancangan berita acara hasil forum SKPD b) c) d) 3.

.......... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok forum SKPD terhadap indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD........ Pada hari .............................. 3............. a...... Berita acara hasil kesepakatan forum SKPD yang telah disetujui ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD...... Pengambilan keputusan ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat...... sasaran..... kelompok diskusi................... e.. forum SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota*) …............. dan sidang pleno III sebagai lampiran dari berita acara hasil kesepakatan forum SKPD..... ....... tanggal bulan ... PENYUSUNAN RENSTRA SKPD..... Hasil kesepakatan sidang kelompok forum SKPD.... Format Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Forum SKPD BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD.................. PROVINSI/KABUPATEN/KOTA *).. : ...... strategi............ sidang pleno II......... dan mempertimbangkan: a..... ...tahun …………telah diselenggarakan forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD ........3...... Rancangan berita acara hasil kesepakatan forum SKPD.... Setelah memperhatikan............... Pemaparan materi.1............3........... Daftar hadir peserta forum SKPD... Tahap Perumusan Hasil Perumusan hasil dilakukan dengan sebagai berikut: 1.................. sampai dengan hari ……………………........... c.. Berita acara hasil kesepakatan forum SKPD yang telah ditandatangani beserta lampirannya dijadikan sebagai bahan penyempurnaan Rancangan Renstra SKPD yang akan disampaikan kepada Bappeda untuk diverifikasi. (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan) Tanggapan dan saran dari seluruh peserta forum SKPD terhadap materi yang dipaparkan oleh masing-masing ketua kelompok diskusi sebagaimana telah dirangkum menjadi hasil keputusan kelompok diskusi......tanggal...53 b) c) Meminta tanggapan akhir dari peserta terhadap rumusan rancangan berita acara kesepakatan hasil forum SKPD yang dibacakan untuk pengambilan keputusan kesepakatan. f..........14......... 4....... pengambilan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah peserta.. Dalam hal pengambilan keputusan tidak dapat ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. dengan contoh format sebagai berikut: 2... yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam LAMPIRAN I berita acara ini............... dan kebijakan Renstra SKPD........... b..... d.... maka pada: Hari dan Tanggal Jam Tempat : : : ......... C. Tim perumus merangkum seluruh hasil pembahasan materi pada sidang pleno I......... mendengar.. Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok forum SKPD terhadap program dan kegiatan prioritas Renstra SKPD....... tujuan.. Rekapitulasi hasil pembahasan kelompok forum SKPD terhadap isu strategis... Format berita acara hasil kesepakatan forum SKPD beserta lampirannya terdiri dari: a........ b......

. 3..... Tahun ... Tahun ....... tanggal …......... 2........... Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok forum SKPD............ provinsi/kabupaten/kota*) ......... yang disertai dengan target dan kebutuhan pendanaan sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini.C. ... tujuan dan sasaran. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ..............……………… Tanggal : ....54 MENYEPAKATI KESATU : Isu strategis (pelayanan) SKPD........-. NO 1. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini. ... Dst.............T-IV... Tanda tangan ....30 Daftar Hadir Peserta Forum SKPD...... 4.. provinsi/kabupaten/kota*) . Tempat : .... Dst....... Provinsi/Kabupaten/Kota*) .......... Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini..... provinsi/kabupaten/kota*)..... Catatan: *) coret yang tidak perlu KEDUA : KETIGA KEEMPAT : : KELIMA : Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya..... 4.. Tanda tangan ( Nama) Mewakili Peserta Forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD……………......... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini.. ...... 6... Provinsi/Kabupaten/Kota*) .......... 2.. 3. Format Daftar Hadir Peserta Forum SKPD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel...-... No 1........ …. strategi dan kebijakan pelayanan rancangan Renstra SKPD...... Tahun............... Rencana program dan kegiatan prioritas SKPD........... Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan b.... Kepala SKPD selaku pimpinan sidang Forum SKPD. ............ 5.. Nama Lembaga/Instansi Alamat & no Telp.. Berita acara ini beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada diktum KEEMPAT dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan Renstra SKPD.Tahun ......

.. Kebijakan 2. 3. dan Kebijakan Renstra SKPD LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel... Sasaran 1.. 2.... Strategi 2..... dst VISI MISI I : : .. Sasaran 1.. Kebijakan 2.……………… Tanggal : ...2 3....... Dst… 1... Kebijakan Kebijakan 1... Provinsi/Kabupaten/Kota*) . Sasaran 1...1 Tujuan Strategi 1.. Tujuan...1 2.... 2.. Strategi 1..2 3. Kebijakan 1... Sasaran 2...............1 2...... Dst… Dst…… Dst .31 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Forum SKPD.....1 2.T-IV.. Dst…….... Strategi 2.... Kebijakan 1.. 3.1 1.. Sasaran.. dan Kebijakan Renstra SKPD.. Sasaran..... Tujuan.55 - c. Strategi.1 2........2 3. 1... Strategi. Dst…… 1..... Strategi Strategi 1... Sasaran 2..1 Strategi 1.......... Tempat : .-.2 Dst… Tujuan 2.2 3. 2. Dst…… Kebijakan 1.2 3... Dst……. Dst…… .. Strategi 1.. Dst… Dst…… Tujuan 1 2........2 3.. Tahun ........ Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Forum SKPD terhadap Isu Strategis.. Sasaran 1.......... ISU STRATEGIS: 1....1 Kebijakan 1... Sasaran 1..2 Dst…….1 1..C. Tujuan 1 Sasaran 1.. terhadap Isu Strategis... Dst… Dst…… Tujuan 2 2........ Dst… Dst…… MISI II Dst…… : ....2 3.

...C... Dst .. Tujuan 2 Sasaran 1 Program ........ Program ........... Tujuan 1 Sasaran 1 Tujuan 1 Sasaran 2 Program .. Kegiatan. ...32 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel.... Tempat : ..……………… Tanggal : ..... Tahun.— ...... Kegiatan...... Provinsi/Kabupaten/Kota*) ............... Kegiatan..........56 d.......T-IV........ Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) (6) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (7) Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD target (18) Rp (19) (20) (21) Unit Kerja SKPD Penanggungjawab Lokasi Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (1) (2) (3) (4) (5) Program ........................

2.. Sasaran 2...57 e.T-IV. FORUM SKPD.......... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel..T-IV... 3..1 Kebijakan 1.2 3... Dst…… 1.C.. Kebijakan Kebijakan 1.............33 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Indikator kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota*) .2 3... NO Indikator Sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 Target Capaian Setiap Tahun Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD f............. Tanggal: ... Tempat: ...... Strategi 1......... Dst…….... Provinsi/Kabupaten/Kota*) . 2.......... Tujuan Tujuan 1 Tujuan 2 Dst…… Sasaran 1..... 3..……………… Tanggal: ...34 ISU STRATEGIS: VISI MISI : . Tabel......1 2... Sasaran 2...1 2..2 Dst… Dst…… .. Dst… 1.... Tempat: ...1 Kebijakan 2...... Strategi 1.......... : ..2 3.1 2... 1.. Dst… Dst…… Strategi 1........... Sasaran 1....... HASIL KESEPAKATAN SIDANG KELOMPOK FORUM SKPD LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : HASIL KESEPAKATAN SIDANG KELOMPOK .................. Strategi 2...2 3........ Dst……. Strategi 2. Sasaran 1..1 2.... 1. Pokok Bahasan: Misi .2 Dst… Kebijakan 2......C.....

............T-IV.……………… terkait dengan pokok bahasan Misi .....C.... Tahun.. Provinsi/Kabupaten/Kota*) . Kegiatan.36 Indikator kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota*) .....58 Tabel.35 Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD... Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Target Capaian Setiap Tahun Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 NO Indikator Sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD .... Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) (6) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (7) Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD target (18) Unit Kerja SKPD Penanggungjawab Lokasi target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Rp (19) (20) (21) (1) (2) (3) (4) (5) Tujuan 1 Sasaran 1 Program ..T-IV.........C. Program ... Tabel.. Tujuan 1 Sasaran 2 Program ........... Dst ..... Kegiatan........……………… terkait dengan Pokok Bahasan Misi .... Tujuan 2 Sasaran 1 Program ..... Kegiatan.— .....

4. 2.. Renstra K/L dan Renstra provinsi/kabupaten/kota. 2.T-IV. dengan sistematika penulisan sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Mengemukakan secara ringkas pengertian Renstra SKPD.4 Sistematika Penulisan Menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renstra SKPD.. (nama daerah) (Tanggal/Bulan/Tahun) NO 1. mengulas secara ringkas apa saja sumber daya yang dimiliki SKPD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya...C. dst Nama Tabel.. 3. proses penyusunan Renstra SKPD..37 No 1. 4..... 1. mengemukakan capaian-capaian penting yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya..-.3 Maksud dan Tujuan Memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renstra SKPD 1. Jabatan Dalam Sidang Lembaga/instansi Kelompok Tanda Tangan C. keterkaitan Renstra SKPD dengan RPJMD. Forum SKPD Provinsi……………… Tahun ..C.T-IV. tugas dan fungsi. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok ..... peraturan pemerintah. fungsi Renstra SKPD dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. kewenangan SKPD. 3. dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang struktur organisasi...2 Tahap Penyajian Rancangan Renstra SKPD Hasil-hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan perumusan rancangan Renstra SKPD yang telah diuraikan sebelumnya... 5..59 Tabel. BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD Memuat informasi tentang peran (tugas dan fungsi) SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. disusun secara sistematis kedalam naskah rancangan Renstra SKPD. serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran SKPD. Dst...... .......2 Landasan Hukum Memuat penjelasan tentang undang-undang.. mengemukakan capaian program prioritas SKPD yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan RPJMD periode sebelumnya.38 Daftar Anggota Sidang Kelompok. dan mengulas hambatan-hambatan utama yang masih dihadapi dan dinilai perlu diatasi melalui Renstra SKPD ini. Peraturan Daerah. dan dengan Renja SKPD. 1. serta susunan garis besar isi dokumen.

Adapun tabel yang perlu disajikan adalah hasil pengisian Tabel. asset/modal. 2. struktur organisasi SKPD. 2. mencakup sumber daya manusia. jumlah personil. menurut SPM untuk urusan wajib.3 dengan format sebagai berikut: .T-IV. dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya seperti MDGs atau indikator yang telah diratifikasi oleh pemerintah. Fungsi. dan Struktur Organisasi SKPD Memuat penjelasan umum tentang dasar hukum pembentukan SKPD.T-IV. Uraian tentang struktur organisasi SKPD ditujukan untuk menunjukkan organisasi.2 dan Tabel.2.3 Kinerja Pelayanan SKPD Bagian ini menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD periode sebelumnya.1. serta uraian tugas dan fungsi sampai dengan satu eselon dibawah kepala SKPD. mekanisme). dan unit usaha yang masih operasional.1 Tugas.2. dan tata laksana SKPD (proses.2 Sumber Daya SKPD Memuat penjelasan ringkas tentang macam sumber daya yang dimiliki SKPD dalam menjalankan tugas dan fungsinya..60 2.C. prosedur.C. Bahan penulisan tentang kinerja pelayanan SKPD ini mengacu pada hasil kerja bagian B.

……………… Uraian ***) (1) 1 (2) Anggaran pada Tahun ke2 3 4 (3) (4) (5) 5 (6) 1 (7) Realisasi Anggaran pada Tahun ke2 3 4 (8) (9) (10) 5 (11) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 2 3 4 5 (12) (13) (14) (15) (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggaran Realisasi (17) (18) *) **) ***) diisikan dengan nama SKPD diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kewenangan SKPD .................... ....... 20..... Provinsi/Kabupaten/Kota**)....2 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD* .....61 Tabel 2...... Provinsi/Kabupaten/Kota ……………… NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD (2) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) Realisasi Capaian Tahun ke1 (11) Rasio Capaian pada Tahun ke5 1 (16) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 2 (12) 3 (13) 4 (14) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (15) ....... Tabel 2.. ..... ..1 Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD *)................ ... Kepala SKPD . Kepala SKPD .................... 20..

dan arahan lokasi pengembangan pelayanan yang dibutuhkan. interpretasi sekurang-kurangnya mengemukakan pada tahun mana saja rasio antara realisasi dan anggaran dapat dikatakan baik atau kurang baik. interpretasi sekurang-kurangnya mengemukakan ada/tidaknya kesenjangan/gap pelayanan. pada perihal mana yang baik atau kurang baik.1.T-IV.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pada bagian ini dikemukakan apa saja faktor-faktor penghambat dan pendorong dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari implikasi RTRW dan KLHS. faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan pelayanan ini.C. dan sebagainya. serta program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.. Setelah penyajian Tabel 2. 2. misalnya prosedur/mekanisme. Bagian ini mengemukakan macam pelayanan. Hasil interpretasi ini ditujukan untuk menggambarkan potensi dan permasalahan pendanaan pelayanan SKPD. lalu pada pelayanan mana saja target belum tercapai serta faktor yang mempengaruhi belum berhasilnya pelayanan tersebut. 3.C.T-IV. dipaparkan apa saja faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut (hasil pengisian Tabel.T-IV. Selanjutnya berdasarkan identifikasi permasalahan pelayanan SKPD (Tabel. Hasil interpretasi ini ditujukan untuk menggambarkan potensi dan permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari kinerja pelayanan periode sebelumnya.9).2.2 (Analisis Gambaran Pelayanan SKPD) 3. jumlah dan kualitas personil (sumber daya manusia).11). dikemukakan apa saja interpretasi atas hasil pengisian tiap tabel tersebut. BAB III 3. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi salah satu bahan perumusan isu strategis pelayanan SKPD.62 Setelah penyajian setiap tabel diatas.C.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Bagian ini mengemukakan hasil analisis terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota (untuk provinsi) dan Renstra SKPD provinsi (untuk kabupaten/kota). progres pelaksanaan program.2. Identifikasi permasalahan didasarkan pada hasil pengisian Tabel. .3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Bagian ini mengemukakan apa saja faktor-faktor penghambat ataupun faktor-faktor pendorong dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari sasaran jangka menengah Renstra K/L ataupun Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. perkiraan besaran kebutuhan pelayanan. Setelah penyajian Tabel. dan selanjutnya mengemukakan apa saja faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD. dan Program Kepala daerah dan wakil kepala daerah Terpilih Bagian ini mengemukakan apa saja tugas dan fungsi SKPD yang terkait dengan visi.9 yang telah dilakukan pada C. dan hasil analisis terhadap KLHS yang berimplikasi sebagai tantangan dan peluang bagi pengembangan pelayanan SKPD pada lima tahun mendatang. pada pelayanan mana saja target telah tercapai. hasil telaahan terhadap RTRW.1 ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Pada bagian ini dikemukakan permasalahan-permasalahan pelayanan SKPD beserta faktorfaktor yang mempengaruhinya. Misi. misi.2 Telaahan Visi.1. 3.

pada bagian ini diperoleh informasi tentang apa saja isu strategis yang akan ditangani melalui Renstra SKPD tahun rencana. (1) TUJUAN (2) SASARAN (3) INDIKATOR SASARAN (4) TARGET KINERJA SASARAN PADA TAHUN KE1 (5) 2 (6) 3 (7) 4 (8) 5 (9) 4. KELOMPOK SASARAN.1. .11.1. dan pendanaan indikatif). gambaran pelayanan SKPD. kelompok sasaran. TUJUAN.1 VISI.9 (Perumusan Sasaran Pelayanan Jangka Menengah SKPD) dan dikemukakan dalam Tabel.28.T-IV.1. 5.C. sebagaimana dihasilkan pada C1. dan pendanaan indikatif sebagaimana dihasilkan dari C. sasaran jangka menengah dari Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota.27. 3.2 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD sebagaimana dihasilkan pada C.T-IV. Tabel 4. (Perumusan rencana program. Adapun penyajiannya menggunakan Tabel 5.T-IV. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN. yaitu dari Tabel.12.8 (Perumusan Tujuan Pelayanan Jangka Menengah SKPD) dan C. BAB IV 4.1 yang bersumber dari Tabel.7 4. MISI. kelompok sasaran. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan visi dan misi SKPD sebagaimana dihasilkan pada B. indikator kinerja.3 Strategi dan Kebijakan SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan strategi dan kebijakan SKPD dalam lima tahun mendatang. DAN SASARAN.. indikator kinerja.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan SKPD NO.C.5 Penentuan Isu-isu Strategis Pada bagian ini direview kembali faktor-faktor dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari: 1.2. 4. DAN PENDANAAN INDIKATIF Pada bagian ini dikemukakan rencana program dan kegiatan. Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD beserta indikator kinerjanya disajikan dalam Tabel 4.C. kegiatan. 2. implikasi RTRW bagi pelayanan SKPD.1. Dengan demikian.24.1 sebagaimana berikut ini.63 3. dan implikasi KLHS bagi pelayanan SKPD Selanjutnya dikemukakan metoda penentuan isu-isu strategis dan hasil penentuan isu-isu strategis tersebut. INDIKATOR KINERJA. sasaran jangka menengah pada Renstra K/L.

.......1 yang bersumber dari Tabel... dan Pendanaan Indikatif SKPD..................1 Rencana Program... Kegiatan.. Kegiatan.64 Tabel 5.C...... Kegiatan........... Kegiatan. Indikator Kinerja.......... Kelompok Sasaran....**) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kondisi Unit Kinerja Data Kinerja Kerja Program Capaian Indikator Program dan pada akhir SKPD Tujuan Sasaran Kode (outcome) pada Tahun Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Lokasi Sasaran Kegiatan periode Penangdan Awal Renstra gungKegiatan Perencanaan SKPD jawab (output) target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (1) (2) (3) (4) (5) Program .*) Provinsi/Kabupaten/Kota........T-IV..... Tabel 6.... Tujuan Sasaran 1 2 Program ...... Tujuan Sasaran 2 1 Program ...29. ..1 Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 NO Indikator Target Capaian Setiap Tahun Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (8) (9) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Naskah rancangan Renstra SKPD ini selanjutnya disampaikan kepala SKPD kepada Bappeda untuk di verifikasi.. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD ini ditampilkan dalam Tabel 6.... (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Tujuan Sasaran 1 1 *) diisikan dengan nama SKPD **) diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Pada bagian ini dikemukakan indikator kinerja SKPD yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.. Dst ...

1. karena visi dan misi ini akan menjadi arahan bagi tujuan. 5. dan 2. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut. 2. 3. Perumusan isi dan substansi rancangan akhir Renstra SKPD ini dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. Ini merupakan bagian penting. Penajaman kembali rumusan tujuan SKPD berdasarkan rumusan tujuan. Penyusunan rancangan akhir ini dilakukan melalui dua tahap yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. dan kegiatan. Penyesuaian program prioritas SKPD yang disertai dengan indikasi kebutuhan pendanaan. Setelah perumusan rancangan akhir Renstra SKPD diselesaikan. kebijakan. sasaran. sasaran. 2. strategi. Tahap perumusan rancangan akhir Renstra SKPD. sasaran. Penyelarasan ini mencakup: 1. maka sebagai konsekuensinya rancangan Renstra SKPD harus disesuaikan dengan RPJMD tersebut. Perumusan kaidah transisi dan kaidah pelaksanaan. program. Tahap Perumusan Rancangan Akhir Renstra SKPD Setelah RPJMD disahkan dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Penyelarasan tujuan.1. program. 4. Penyelarasan tujuan. kebijakan. Tahap penyajian rancangan akhir Renstra SKPD. tim menyempurnakan rancangan akhir Renstra SKPD . Visi dan misi SKPD yang telah dirumuskan semula pada rancangan Renstra SKPD dipertajam dan disesuaikan dengan visi dan misi sebagaimana dalam RPJMD. strategi. Hal pertama yang dilakukan dalam penyempurnaan ini adalah penajaman visi dan misi. program dan kegiatan SKPD..2. strategi.65 D. kebijakan. sasaran. program. yaitu: 1. 6.1. strategi. dan Penyusunan rancangan Keputusan Gubernur/Keputusan Bupati/Walikota tentang Renstra SKPD. D. Penajaman visi dan misi Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD menjadi rancangan akhir Renstra SKPD dilakukan oleh tim penyusun Renstra SKPD berdasarkan hasil kajian terhadap RPJMD provinsi yang telah disahkan dengan Peraturan Daerah. Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan atas Rancangan Renstra SKPD yang berpedoman pada RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Penyempurnaan Rancangan Renstra SKPD bertujuan untuk mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan.1. maka tim penyusun Renstra SKPD membahas rancangan akhir Renstra SKPD dengan seluruh unit kerja SKPD. dan kegiatan Tahap ini bertujuan untuk menyelaraskan rancangan Renstra SKPD dengan isi RPJMD. D. kebijakan. strategi dan arah kebijakan dalam RPJMD. D. sasaran. Penajaman indikator kinerja urusan (sesuai tugas dan fungsi). PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RENSTRA SKPD. Penajaman visi dan misi. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD dengan yang telah ditetapkan dalam RPJMD. Penyesuaian rumusan sasaran dan strategi serta kebijakan berdasarkan RPJMD.

KELOMPOK SASARAN.2 4.2 3. DAN PENDANAAN INDIKATIF Sama dengan isi Rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.4 Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. dan Struktur Organisasi SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. MISI.2. BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD . TUJUAN. BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.66 D. Penyajian Rancangan Akhir Renstra SKPD.5 BAB IV 4. 1. 2. dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi/Kabupaten/Kota Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penentuan Isu-isu Strategis VISI.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.3 Kinerja Pelayanan SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.2 Landasan Hukum Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. INDIKATOR KINERJA. Misi. DAN SASARAN. 1. 2. 1.4 3. Penyajian rancangan akhir Renstra SKPD disusun menurut sistematika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I 1.3 BAB V ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Telaahan Visi.1 4. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi SKPD Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD Strategi dan Kebijakan RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN.1 Tugas. 2. Fungsi.3 3. BAB III 3.1 3.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.3 Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.2 Sumber Daya SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. 2..

Penetapan Renstra SKPD oleh kepala SKPD paling lama 7 (tujuh) hari setelah Renstra SKPD disahkan oleh kepala daerah. 5. 6. kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD. ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . MENTERI DALAM NEGERI. dan kegiatan SKPD dengan RPJMD. PENETAPAN RENSTRA SKPD 1. Pengesahan rancangan akhir Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah.67 E. misi.. 7. tujuan. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt. strategi. paling lama 1 (satu) bulan setelah Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan. terlebih dahulu melakukan verifikasi akhir terhadap rancangan akhir Renstra SKPD Verifikasi akhir antara lain bertujuan untuk menjamin kesesuaian visi. dan keterpaduan dengan rancangan akhir Renstra SKPD lainnya. kebijakan. program. Pengesahan Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah Berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pengesahan Renstra SKPD. Sebelum Bappeda mengajukan kepada kepala daerah untuk disahkan.KEPALA BIRO HUKUM 4. Rancangan akhir Renstra SKPD disampaikan kepala SKPD kepada Kepala Bappeda untuk memperoleh pengesahan kepala daerah. 2. 3.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. TATA CARA PENYUSUNAN. PENGENDALIAN. DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU V) TAHAPAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .

PERSIAPAN PENYUSUNAN RKPD C.LAMPIRAN V : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) A. PELAKSANAAN MUSRENBANG F. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD D. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RKPD B. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR G. PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD E. PENETAPAN RKPD .

· evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capain kinerja RPJMD. · Rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. G-V. · Prioritas dan sasaran pembangunan daerah PerKDH ttg RKPD Provinsi Rancangan Akhir RKPD · pendahuluan. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RKPD Gambar. · agenda musrenbang RKPD. Persiapan Musrenbang RKPD Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD Evaluasi Musrenbang Nas.A.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RKPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD PROVINSI MUSRENBANG RKPD PROVINSI PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RKPD PROVINSI PENETAPAN RKPD PROVINSI Hasil Musrenbangnas RKP/RKP Penelaahan Pokok-pokok pikiran DPRD provinsi Evaluasi Rancangan Awal RKP Nasional. · prioritas dan sasaran pembangunan Daerah · rencana program dan kegiatan prioritas daerah Penyusunan KUA dan PPAS Kesepakatan KUA dan Kesepakatan KUA dan PPAS antara KDH dan PPAS antara KDH dan DPRD DPRD Penyusunan Penyusunan RAPBD RAPBD . · evaluasi hasil Pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · analisis dan evaluasi. · pendahuluan. · rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah.-2A. · Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja RPJMD. RKP Persetujuan rancangan akhir RKPD Provinsi oleh Gubernur Penelaahan Terhadap RPJMN Pengolahan data dan informasi Analisis Gambaran Umum Kondisi daerah provinsi Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah provinsi Evaluasi kinerja tahun lalu Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Integrasi Renja SKPD Pelaksanaan Musrenbang RKPD Provinsi Penyelarasan Penyajian Ranc Akhir RKPD Konsultasi rancangan Konsultasi rancangan akhir RKPD Provinsi akhir RKPD Provinsi ke Mendagri ke Mendagri Perumusan hasil Musrenbang RKPD Provinsi Sinkronisasi hasIl Musrenbang RKPD Provinsi Penetapan PerKDH ttg RKPD Provinsi Persiapan Penyusunan RKPD Provinsi Perumusan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah beserta pagu indikatif Perumusan Kerangka Ekonomi dan Kebijakan Keuangan Daerah provinsi Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif sesuai Verifikasi RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI pendahuluan. · rencana program dan kegiatan prioritas daerah. · rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. prioritas dan sasaran pembangunan daerah. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda Penyusunan Rancangan Renja SKPD Provinsi Rancangan RKPD Provinsi · pendahuluan. · agenda forum SKPD. · prioritas dan sasaran pembangunan daerah. · Analisis dan evaluasi . evaluasi Hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. rencana program dan kegiatan prioritas · · · · · tidak Rancangan Akhir RKPD Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Provinsi Rancangan Renja-SKPD provinsi RPJMD provinsi Evaluasi dokumen RKPD provinsi tahun lalu dokumen RKPD provinsi tahun berjalan Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program dan prioritas daerah beserta Pagu Indikatif Surat Edaran KDH (perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan renja-SKPD) · agenda penyusunan RKPD. rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah.

· Analisis dan evaluasi . G-V. · prioritas dan sasaran pembangunan daerah. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda · pendahuluan. prioritas dan sasaran pembangunan daerah. evaluasi Hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. PemProv. rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah. · agenda musrenbang RKPD. · agenda forum SKPD. · Prioritas dan sasaran pembangunan daerah PerKDH tentang RKPD Kabupaten/ Kota Rancangan Akhir RKPD · · · · pendahuluan. · rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah. rencana program dan kegiatan prioritas · · · · · tidak Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Kabupaten/Kota Rancangan Renja-SKPD Kab/Kota Rancangan Akhir RKPD RPJMD Kab/ Kota Evaluasi dokumen RKPD kab/ kota tahun lalu dokumen RKPD Kab/ Kota tahun berjalan Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta Pagu Indikatif Surat Edaran KDH (perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan renja-SKPD) · agenda penyusunan RKPD. · Rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. analisis dan evaluasi. · evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · rencana program dan kegiatan prioritas. · Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja RPJMD.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RKPD Kabupaten/kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN/KOTA PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD KABUPATEN/KOTA MUSRENBANG RKPD KABUPATEN/KOTA PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RKPD KABUPATEN/ KOTA PENETAPAN RKPD PROVINSI Pengolahan data dan informasi Penelaahan terhadap RPJMN dan RPJMD provinsi Hasil Musrenbangnas RKP/RKP Penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota Evaluasi Rancangan Awal RKP & RKPD Provinsi Hasil Musrenbang RKPD Provinsi Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Persiapan Penyusunan RKPD Kab/ Kota Persiapan Musrenbang RKPD Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD Evaluasi Musrenbangnas RKP & RKPD Kab/ Kota Persetujuan rancangan akhir RKPD Kab/Kota oleh Bupati/ Walikota Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah Evaluasi kinerja RKPD Tahun lalu Perumusan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah beserta pagu indikatif Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah kab/ kota Integrasi Renja SKPD Pelaksanaan Musrenbang Kabupaten/Kota Penyelarasan Penyajian Ranc Akhir RKPD Konsultasi Rancangan Konsultasi Rancangan akhir RKPD Kab/Kota ke akhir RKPD Kab/Kota ke PemProv. Sinkronisasi hasil Musrenbang RKPD Kecamatan Penetapan PerKDH ttg RKPD Kabupaten/Kota Perumusan Rancangan Kerangka Ekonomi dan Kebijakan Keuangan Daerah Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif sesuai Perumusan hasil Musrenbang RKPD Kabupaten/ Kota Verifikasi RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN/KOTA pendahuluan.A.-3- Gambar. prioritas dan sasaran pembangunan Daerah rencana program dan kegiatan prioritas daerah Penyusunan Rancangan Renja SKPD Kab/Kota Rancangan RKPD Kabupaten/Kota · pendahuluan. · · Penyusunan KUA dan PPAS Kesepakatan KUA dan Kesepakatan KUA dan PPAS antara KDH dan PPAS antara KDH dan DPRD DPRD Penyusunan Penyusunan RAPBD RAPBD . rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capain kinerja RPJMD.

Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RKPD dan penyusunan anggaran.3. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RKPD.-4B. B. . dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. penyusunan agenda kerja. serta penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. pedoman evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (EPPD). atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. untuk itu perlu disusun agenda kerja tim yang merinci setiap tahapan kegiatan penyusunan dokumen RKPD dengan satuan waktu sejak persiapan sampai dengan penetapan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD. B.2. antara lain: · Peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara. tim penyusun dapat dibagi kedalam beberapa kelompok kerja (pokja) berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. teknis penyusunan dokumen RKPD. Penyusunan Agenda Kerja Jangka waktu dan kegiatan penyusunan dokumen RKPD sangat ketat dan padat. Rancangan awal RKPD merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi setiap SKPD provinsi dan kabupaten/kota dalam penyusunan rancangan Renja SKPD. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RKPD. Bahan orientasi mengenai RKPD. Tim penyusun RKPD provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan Kepala Daerah.1. Orientasi mengenai RKPD Orientasi mengenai RKPD kepada seluruh anggota tim dilakukan untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundang-undangan kebijakan pemerintah berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. tahapan tata cara penyusunan. B. Anggota tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi dibidang perencanaan dan penganggaran. sistem perencanaan pembangunan nasional. Agenda kerja tersebut dapat dituangkan dalam sebuah matrik kalender kegiatan. · · Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. pengelolaan keuangan daerah. orientasi mengenai RKPD. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. Tugas tim penyusun RKPD selanjutnya dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD tahun berkenaan Struktur tim penyusun RKPD sekurang-kurangnya sebagai berikut: Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : : Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Sekretaris Bappeda Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya utamanya RPJMD. PERSIAPAN PENYUSUNAN RKPD Tahapan persiapan penyusunan RKPD meliputi: pembentukan Tim Penyusun RKPD. Pembentukan Tim Penyusun RKPD Bappeda menyiapkan rancangan surat keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD provinsi dan kabupaten/kota. pemerintahan daerah.

Demikian halnya rancangan awal RKPD kabupaten/kota selain dibahas bersama dengan pemangku kepentingan dalam forum musrenbang RKPD kabupaten/kota juga dibahas dalam forum musrenbang di kecamatan dan menjadi acuan dalam membahas Renja SKPD dalam forum SKPD kabupaten/kota. Mempertimbangkan terbatasnya waktu dan adanya keterkaitan hubungan antar satu kegiatan dengan kegiatan lainnya dalam proses penyusunan RKPD dan Renja SKPD diharapkan penyusunan rancangan awal RKPD provinsi dan kabupaten/kota sudah harus dimulai dari bulan Desember tahun sebelumnya Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagai berikut: .-5Dalam rangka menerapkan perencanaan partisipatif. rancangan awal RKPD provinsi dibahas bersama pemangku kepentingan dalam forum musrenbang RKPD provinsi dan menjadi acuan dalam membahas Renja SKPD dalam forum SKPD provinsi.

-6Tabel. 28. 9. 2. 6.1 Contoh Agenda Kerja Penyusunan RKPD. E. 22. 8. 11. 17. 10. 24. B. 21. 7. PenyusunanRKPD dan Renja-SKPD (s/d Rancangan Akhir) Pembentukan tim penyusun RKPD/Renja-SKPD Kab/Kota Penyusunan rancangan awal RKPD dan rancangan Renja-SKPD Kab/Kota Musrenbang desa/kelurahan Lanjutan penyusunan rancangan Renja-SKPD Musrenbang Kecamatan Pembahasan rancangan Renja SKPD pada Forum SKPD kabupaten/kota Penyusunan rancangan RKPD kabupaten/kota Pelaksanaan Musrenbang RKPD kabupaten/kota Perumusan Rancangan Akhir RKPD kab/kota Penetapan perkada RKPD dan Renja SKPD Penetapan perkada RKPD kabupaten/kota Penetapan Renja SKPD kabupaten/kota Penyusunan KUA dan PPAS Penyusunan Rancangan KUA dan PPAS Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada KDH Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada DPRD Pembahasan KUA dan PPAS Nota Kesepakatan KUA dan PPAS Penyusunan RAPBD Penyiapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penetapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penyusunan RKA-SKPD Pembahasan RKA-SKPD oleh TAPD Penyempurnaan RKA-SKPD Penyiapan Raperda APBD Pembahasan dan Penetapan APBD Penyampaian Raperda APBD beserta kampirannya oleh Kepala Daerah kepada DPRD Pembahasan Raperda APBD Persetujuan Bersama antara DPRD dan KDH Evaluasi oleh Mendagri bagi APBD provinsi dan oleh Gubernur bagi APBD kabupaten/kota Penyempurnaan Raperda APBD berdasarkan hasil evaluasi Penetapan Perda tentang APBD Desember I II III IV I Januari II III IV I Februari II III IV I Maret II III IV I April II III IV I Mei II III IV I Juni II III IV I Juli II III IV I Agustus II III IV September I II III IV I Oktober II III IV November I II III IV Desember I II III IV . 23. 4. 26. 18. T-V. 16. 3. 25. 27. D. Renja SKPD dan APBD Kabupaten/Kota NO Tahapan Perencanaan dan penganggaran Tahunan Daerah A. 19. 15. 13. C 12. 1. 20. 14.B. 5.

1. C. 3.B. B.2 Contoh Agenda Kerja Penyusunan RKPD. 28. 12. 22. 5. Penyusunan RKPD dan Renja-SKPD (s/d Rancangan Akhir) Pembentukan tim penyusun RKPD/Renja-SKPD Prov Penyusunan rancangan awal RKPD dan rancangan Renja-SKPD Provinsi Musrenbang desa/kelurahan Musrenbang Kecamatan Forum SKPD kabupaten/kota Musrenbang RKPD kabupaten/kota Pelaksanaan Forum SKPD provinsi Penyusunan rancangan RKPD provinsi Pelaksanaan Musrenbang RKPD provinsi Perumusan Rancangan Akhir RKPD provinsi Penetapan RKPD dan Renja SKPD Penetapan perkada RKPD provinsi Penetapan Renja-SKPD provinsi Penyusunan KUA dan PPAS Penyusunan Rancangan KUA dan PPAS Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada KDH Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada DPRD Pembahasan KUA dan PPAS Nota Kesepakatan KUA dan PPAS Penyusunan RAPBD Penyiapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penetapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penyusunan RKA-SKPD Pembahasan RKA-SKPD oleh TAPD Penyempurnaan RKA-SKPD Penyiapan Raperda APBD Pembahasan dan Penetapan APBD Penyampaian Raperda APBD beserta lampirannya oleh Kepala Daerah kepada DPRD Pembahasan Raperda APBD Persetujuan Bersama antara DPRD dan KDH Evaluasi oleh Mendagri bagi APBD provinsi dan oleh Gubernur bagi APBD kabupaten/kota Penyempurnaan Raperda APBD berdasarkan hasil evaluasi Penetapan Perda tentang APBD Desember I II III IV I Januari II III IV I Februari II III IV I Maret II III IV I April II III IV I Mei II III IV I Juni II III IV I Juli II III IV I Agustus II III IV September I II III IV I Oktober II III IV November I II III IV Desember I II III IV . 17. 18. F. 20.-7- Tabel. 11. 14. 27. E. 4. 29. T-V. 21. 13. 23. 2. 6. 9. 16. 26. 10. 8. 7. 19. 15. 24. Renja SKPD dan APBD Provinsi NO Tahapan Perencanaan dan penganggaran Tahunan Daerah A. 25.

Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting yang harus tersedia dalam penyusunan RKPD. Peraturan perundangan terkait. Hasil evaluasi RKPD periode lalu. perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan. b. yaitu: 1. 5. Data lainnya dari laporan kinerja SKPD.4. masingmasing dapat dilihat pada Gambar. 6. dan c.A. Dokumen-dokumen RPJMD. karena selain akan mendukung kelancaran penyusunan juga akan menentukan kualitas dokumen RKPD yang akan disusun. Dokumen APBD tahun berjalan dan realisasi APBD tahun-tahun sebelumnya. Data dan informasi yang perlu dikumpulkan antara lain bersumber dari: 4. Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. 2.Tahap penyajian rancangan awal RKPD. dan Data pokok statistik daerah sampai dengan versi terakhir. 7.1 untuk provinsi dan Gambar. Dokumen hasil evaluasi pelaksanaan RKPD tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu. Menyusun daftar data dan informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RKPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan dalam analisis. 8. C.C. 3. dan RKP untuk penyusunan RKPD provinsi. Dokumen-dokumen: a. dan 2. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD Penyusunan rancangan awal RKPD provinsi dan kabupaten/kota dilakukan melalui 2 (dua) tahapan kegiatan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. RTRWN. Dokumen RPJMD dan hasil evaluasi pelaksanaannya. G-V. 2. Mengumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengumpulan data dan informasi dapat dilakukan denganlangkah-langkah antara lain sebagai berikut: 1. 9. G-V. RTRW kabupaten/kota yang bersangkutan. 1. 3. RPJMN.2 untuk kabupaten/kota sebagai berikut: . Bagan alir tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. RPJMD dan RKPD Provinsi untuk penyusunan RKPD kabupaten/kota. Kebijakan-kebijakan nasional yang terkait.-8B.Tahap perumusan rancangan awal RKPD.

· agenda musrenbang RKPD. · agenda forum SKPD. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda Penyusunan Rancangan Renja SKPD Kabupaten/ Kota . rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. prioritas dan sasaran pembangunan. G-V. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. rencana program prioritas daerah RPJMD Kab/ Kota Evaluasi dokumen RKPD Kab/ Kota tahun lalu Dokumen RKPD Kab/ Kota