PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG

TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI
NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010

SALINAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (3), Pasal 37, Pasal 42 ayat (2), dan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Nomor 4287); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

Mengingat

:

-26. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5107); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD atau dengan sebutan lain adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah Gubernur dan wakil Gubernur untuk provinsi, bupati dan wakil bupati untuk kabupaten, walikota dan wakil walikota untuk kota. Satuan kerja perangkat daerah yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang selanjutnya disingkat dengan Bappeda atau sebutan lain adalah unsur perencana penyelenggaraan pemerintahan yang melaksanakan tugas dan mengkoordinasikan penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.

2.

3.

4. 5.

-36. Pemangku kepentingan adalah pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah antara lain unsur DPRD provinsi dan kabupaten/kota, TNI, POLRI, Kejaksaan, akademisi, LSM/Ormas, tokoh masyarakat provinsi dan kabupaten/kota/desa, pengusaha/investor, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pemerintahan desa, dan kelurahan serta keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan. Pembangunan daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapantahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Rencana pembangunan jangka panjang daerah yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.

7.

8.

9.

10. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun. 11. Rencana kerja pembangunan daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana pembangunan tahunan daerah. 12. Rencana strategis SKPD yang selanjutnya disingkat dengan Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. 13. Rencana kerja SKPD yang selanjutnya disingkat Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun. 14. Rencana pembangunan jangka panjang nasional yang selanjutnya disingkat RPJPN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun. 15. Rencana pembangunan jangka menengah nasional yang selanjutnya disingkat RPJMN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahunan. 16. Rencana kerja pemerintah yang selanjutnya disingkat dengan RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. 17. Anggaran pendapatan dan belanja negara, selanjutnya disingkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan ditetapkan dengan Undang-Undang. 18. Anggaran pendapatan dan belanja daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 19. Kebijakan umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. 20. Prioritas dan plafon anggaran sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD.

-421. Rencana kerja dan anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 22. Rencana kerja adalah dokumen rencana yang memuat program dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pembangunan, dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka anggaran. 23. Kerangka regulasi, adalah sekumpulan pengaturan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk perundang-undangan untuk mencapai sasaran hasil pembangunan, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. 24. Kerangka anggaran adalah rencana kegiatan pengadaan barang maupun jasa yang akan didanai APBD untuk mencapai tujuan pembangunan daerah. 25. Kerangka pendanaan, adalah program dan kegiatan yang disusun untuk mencapai sasaran hasil pembangunan yang pendanaannya diperoleh dari anggaran pemerintah/daerah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. 26. Isu-isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena dampaknya yang signifikan bagi daerah dengan karakteristik bersifat penting, mendasar, mendesak, berjangka panjang, dan menentukan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah dimasa yang akan datang. 27. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 28. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 29. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 30. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan. 31. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD atau masyarakat, yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan daerah. 32. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program, dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut, sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 33. Kegiatan prioritas adalah kegiatan yang ditetapkan untuk mencapai secara langsung sasaran program prioritas. 34. Prakiraan maju adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan, guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui untuk setiap program dan kegiatan. 35. Bersifat indikatif adalah bahwa data dan informasi, baik tentang sumber daya yang diperlukan maupun keluaran dan dampak yang tercantum di dalam dokumen rencana, hanya merupakan indikasi yang hendak dicapai dan tidak kaku. 36. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.

-537. Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program atau kegiatan. 38. Standar pelayanan minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. 39. Sasaran adalah target atau hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 40. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan, yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 41. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 42. Musyawarah perencanaan pembangunan yang selanjutnya disingkat musrenbang adalah forum antarpemangku kepentingan dalam rangka menyusun rencana pembangunan daerah. 43. Forum SKPD provinsi dan kabupaten/kota merupakan wahana antar pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi dan kabupaten/kota. 44. Fasilitator adalah tenaga terlatih atau berpengalaman dalam memfasilitasi dan memandu diskusi kelompok/konsultasi publik yang memenuhi kualifikasi kompetensi teknis/substansi dan memiliki keterampilan dalam penerapan berbagai teknik dan instrumen untuk menunjang partisipatif dan efektivitas kegiatan. 45. Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil musrenbang. 46. Delegasi adalah perwakilan yang disepakati peserta musrenbang untuk menghadiri musrenbang pada tingkat yang lebih tinggi. 47. Rencana tata ruang wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang yang merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah nasional dan pulau/kepulauan ke dalam struktur dan pola ruang wilayah. 48. Provinsi lainnya adalah provinsi lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 49. Kabupaten/kota lainnya adalah kabupaten/kota lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 50. Koordinasi adalah kegiatan yang meliputi pengaturan hubungan kerjasama dari beberapa instansi/pejabat yang mempunyai tugas dan wewenang yang saling berhubungan dengan tujuan untuk menghindarkan kesimpangsiuran dan duplikasi.

-6BAB II RUANG LINGKUP, PRINSIP DAN PENDEKATAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup perencanaan pembangunan daerah meliputi tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah terdiri atas: a. b. c. d. e. RPJPD; RPJMD; Renstra SKPD; RKPD; dan Renja SKPD. Bagian Kedua Prinsip Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 3 Prinsip-prinsip perencanaan pembangunan daerah meliputi: a. b. c. d. merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional; dilakukan pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing; mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah; dan dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah, sesuai dinamika perkembangan daerah dan nasional. Pasal 4 Perencanaan pembangunan daerah dirumuskan secara: a. b. c. d. e. f. g. h. i. transparan; responsif; efisien; efektif; akuntabel; partisipatif; terukur; berkeadilan; dan berwawasan lingkungan. Pasal 5 (1) Transparan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.

-7(2) Responsif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, yaitu dapat mengantisipasi berbagai potensi, masalah dan perubahan yang terjadi di daerah. (3) Efisien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, yaitu pencapaian keluaran tertentu dengan masukan terendah atau masukan terendah dengan keluaran maksimal. (4) Efektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d, merupakan kemampuan mencapai target dengan sumber daya yang dimiliki, dengan cara atau proses yang paling optimal. (5) Akuntabel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e, yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (6) Partisipatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf f, merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok masyarakat rentan termarginalkan, melalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. (7) Terukur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf g, adalah penetapan target kinerja yang akan dicapai dan cara-cara untuk mencapainya. (8) Berkeadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf h, adalah prinsip keseimbangan antarwilayah, sektor, pendapatan, gender dan usia. (9) Berwawasan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf i, yaitu untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan yang berkelanjutan dalam mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia, dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam yang menopangnya. Bagian Ketiga Pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 6 Perencanaan pembangunan daerah menggunakan pendekatan: a. b. c. d. teknokratis; partisipatif; politis; dan top-down dan bottom-up. Pasal 7 (1) Pendekatan teknokratis dalam perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, menggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (2) Metoda dan kerangka berpikir ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis terkait perencanaan pembangunan berdasarkan bukti fisis, data dan informasi yang akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan. (3) Metoda dan kerangka berpikir ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), antara lain digunakan untuk: a. mereview menyeluruh kinerja pembangunan daerah periode yang lalu;

-8b. c. d. e. f. g. merumuskan capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah masa kini; merumuskan peluang dan tantangan yang mempengaruhi capaian sasaran pembangunan daerah; merumuskan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah; memproyeksikan kemampuan keuangan daerah dan sumber daya lainnya berdasarkan perkembangan kondisi makro ekonomi; merumuskan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja; menetapkan tolok ukur dan target kinerja keluaran dan hasil capaian, lokasi serta kelompok sasaran program/kegiatan pembangunan daerah dengan mempertimbangkan SPM; memproyeksikan pagu indikatif program dan kegiatan pada tahun yang direncanakan, serta prakiraan maju untuk satu tahun berikutnya; dan menetapkan SKPD penanggungjawab pelaksana, pengendali, dan evaluasi rencana pembangunan daerah. Pasal 8 Pendekatan partisipatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, dilaksanakan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dengan mempertimbangkan: a. relevansi pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, di setiap tahapan penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah; kesetaraan antara para pemangku kepentingan dari unsur pemerintahan dan non pemerintahan dalam pengambilan keputusan; adanya transparasi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan serta melibatkan media massa; keterwakilan seluruh segmen masyarakat, termasuk kelompok masyarakat rentan termarjinalkan dan pengarusutamaan gender; terciptanya rasa memiliki terhadap dokumen perencanaan pembangunan daerah; dan terciptanya konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan, seperti perumusan prioritas isu dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi, kebijakan dan prioritas program. Pasal 9 Pendekatan politis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, bahwa programprogram pembangunan yang ditawarkan masing-masing calon kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih pada saat kampanye, disusun ke dalam rancangan RPJMD, melalui: a. penerjemahan yang tepat dan sistematis atas visi, misi, dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan daerah selama masa jabatan; konsultasi pertimbangan dari landasan hukum, teknis penyusunan, sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran pembangunan nasional dan pembangunan daerah; dan pembahasan dengan DPRD dan konsultasi dengan pemerintah untuk penetapan produk hukum yang mengikat semua pemangku kepentingan.

h. i.

b. c. d. e. f.

b.

c.

-9Pasal 10 Pendekatan perencanaan pembangunan daerah bawah-atas (bottom-up) dan atasbawah (top-down) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d, hasilnya diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional, sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. Bagian Keempat Pendekatan Penyusunan Program, Kegiatan, Alokasi Dana Indikatif dan Sumber Pendanaan Pasal 11 (1) Program, kegiatan, alokasi dana indikatif dan sumber pendanaan yang dirumuskan dalam RPJMD, RKPD, Renstra SKPD dan Renja SKPD disusun berdasarkan: a. b. c. pendekatan kinerja, kerangka pengeluaran perencanaan dan penganggaran terpadu; kerangka pendanaan dan pagu indikatif; dan urusan wajib yang mengacu pada SPM sesuai dengan kondisi nyata daerah dan kebutuhan masyarakat, atau urusan pilihan yang menjadi tanggungjawab SKPD. jangka menengah serta

(2) Pendekatan kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa program dan kegiatan yang direncanakan mengutamakan keluaran/hasil yang terukur, dan pengalokasian sumberdaya dalam anggaran untuk melaksanakannya, secara efektif dan efisien telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. (3) Kerangka pengeluaran jangka menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa pengambilan keputusan terhadap program dan kegiatan prioritas pembangunan, mempertimbangkan perspektif penganggaran lebih dari satu tahun anggaran dan implikasi terhadap pendanaan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. (4) Perencanaan dan penganggaran terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa pengambilan keputusan penetapan program dan kegiatan yang direncanakan, merupakan satu kesatuan proses perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi, konsisten dan mengikat, untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran program dan kegiatan pembangunan daerah. (5) Pagu indikatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program dan kegiatan tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Mengacu pada SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, bahwa perumusan capaian kinerja setiap program dan kegiatan, harus berpedoman pada rencana pencapaian SPM berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah. Pasal 12 (1) Kerangka pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, diutamakan untuk penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD. (2) Pagu indikatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, digunakan untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD.

- 10 Bagian Kelima Data dan Informasi Pasal 13 (1) Penyusunan rencana pembangunan daerah menggunakan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, serta rencana tata ruang. (2) Menteri Dalam Negeri secara periodik melakukan penyempurnaan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan daerah. (3) Penyempurnaan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. (4) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. b. c. d. e. f. g. h. i. penyelenggaraan pemerintahan daerah; organisasi dan tatalaksana pemerintahan daerah; kepala daerah, DPRD, perangkat daerah, dan pegawai negeri sipil daerah; keuangan daerah; potensi sumber daya daerah; produk hukum daerah; kependudukan; informasi dasar kewilayahan; dan informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

(5) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), selanjutnya dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografis, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis, dalam rangka penyusunan rencana pembangunan daerah. BAB III KOORDINASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ANTARPROVINSI Bagian Pertama Tujuan Pasal 14 (1) Koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi bertujuan untuk: a. b. terciptanya sinkronisasi dan sinergi pelaksanaan pembangunan daerah dalam upaya mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya; memantapkan hubungan dan keterikatan daerah provinsi yang satu dengan daerah provinsi yang lain dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; mensinergikan pengelolaan potensi antarprovinsi dan/atau dengan pihak ketiga, serta meningkatkan pertukaran pengetahuan, teknologi dan kapasitas fiskal; keterpaduan antara rencana pembangunan daerah provinsi yang didanai melalui APBD dengan rencana pembangunan di daerah provinsi yang didanai APBN;

c.

d.

- 11 e. mengurangi kesenjangan daerah dalam penyediaan pelayanan umum, khususnya yang ada di wilayah terpencil, pulau-pulau terluar, perbatasan antardaerah/antar negara dan daerah tertinggal; dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan asli daerah.

f.

(2) Koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi mencakup: a. dua provinsi atau lebih yang berdekatan; b. dua provinsi atau lebih dalam satu wilayah kepulauan; dan c. dua provinsi atau lebih atas dasar kesepakatan bersama; (3) Dua provinsi atau lebih atas dasar kesepakatan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c ditetapkan sebagai satu wilayah pembangunan regional dan/atau memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. Bagian Kedua Aspek-aspek Koordinasi Antarprovinsi Pasal 15 Aspek koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi meliputi: a. b. c. d. e. fungsional; formal; struktural; materiil; dan operasional. Pasal 16 (1) Aspek fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a, adanya keterkaitan dan keterpaduan fungsional antara strategi, kebijakan program dan kegiatan antar SKPD, antar wilayah pembangunan dan antar tahapan perencanaan pembangunan dalam satu provinsi dan/atau dengan provinsi lainnya atau dengan pemerintah, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (2) Aspek formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b, perumusan tujuan dan sasaran, strategi, kebijakan program dan kegiatan pembangunan daerah yang direncanakan, telah sesuai dengan kebijakan pemerintah dan peraturan perundang-undangan. (3) Aspek struktural sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c, adanya kaitan dan koordinasi dalam bentuk penugasan pada tiap SKPD yang bersangkutan. (4) Aspek materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d, tercapainya keterkaitan dan keterpaduan pencapaian target dan sasaran program/kegiatan pembangunan antar SKPD, antar wilayah pembangunan dan antar tahapan perencanaan pembangunan dalam satu provinsi dan/atau dengan provinsi lainnya atau dengan pemerintah, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (5) Aspek operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf e, adanya kaitan dan keterpaduan dalam penentuan langkah-langkah pelaksanaan, baik menyangkut waktu, lokasi, sumber dana dan sumber daya lainnya.

- 12 Bagian Ketiga Mekanisme Pelaksanaan Koordinasi Perencanaan Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 17 (1) Koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi mencakup koordinasi penyusunan program pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan tahunan. (2) Koordinasi penyusunan program pembangunan jangka panjang antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi arah kebijakan dan program kerjasama pembangunan daerah jangka panjang yang telah disepakati antarprovinsi berkenaan. (3) Koordinasi penyusunan program pembangunan jangka menengah antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program-program kerjasama pembangunan daerah yang berdimensi jangka menengah dan telah disepakati antarprovinsi berkenaan. (4) Koordinasi penyusunan program pembangunan tahunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program-program kerjasama pembangunan tahunan daerah dan telah disepakati antarprovinsi berkenaan. Pasal 18 (1) Program dan kegiatan pembangunan tahunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) dirumuskan kedalam RKPD untuk didanai APBD masingmasing provinsi pada tahun yang direncanakan. (2) Program dan kegiatan pembangunan daerah yang dikoordinasikan dan disepakati antarprovinsi yang akan didanai APBN, diusulkan untuk dibahas dalam musrenbangnas RKP. Pasal 19 (1) Penyelenggaraan koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi, dapat dilakukan oleh forum kerjasama atau sebutan lain, yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara dua provinsi atau lebih yang berdekatan atau dalam satu wilayah kepulauan. (2) Forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain berfungsi memfasilitasi penyelenggaraan koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi. (3) Pimpinan dan keanggotaan forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disesuaikan dengan kebutuhan yang disepakati antarprovinsi berkenaan. (4) Mekanisme penyelenggaraan koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi, diatur lebih lanjut oleh forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RPJPD Pasal 22 Persiapan penyusunan RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a. persiapan penyusunan RPJPD. mengacu pada RPJPN. d. mengacu pada RPJPN dan RPJPD provinsi. c. meliputi: a. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. b. dan c. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJPD. b. d. b. misi dan arah pembangunan daerah. dan c. memuat visi. penyusunan rancangan awal RPJPD. berpedoman pada RTRW provinsi. (2) Rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun: a. penyusunan agenda kerja tim penyusun RPJPD. berpedoman pada RTRW kabupaten/kota. e.13 BAB IV RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 20 RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. pelaksanaan musrenbang RPJPD.. perumusan rancangan akhir RPJPD. (2) RPJPD disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. Bagian Kedua Penyusunan RPJPD Pasal 21 (1) Bappeda menyusun RPJPD. c. memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. b. . dan penetapan RPJPD. orientasi mengenai RPJPD. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Pasal 23 (1) Rancangan awal RPJPD provinsi disusun: a.

arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dengan visi. arah. perumusan visi dan misi daerah provinsi. untuk provinsi mencakup: a. analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. (2) Berpedoman pada RTRW kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf b.14 Pasal 24 (1) Mengacu pada RPJPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a. c. e.. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. (3) Memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang provinsi. perumusan arah kebijakan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf b. tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional dan provinsi. d. terdiri atas: a. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. pelaksanaan forum konsultasi publik.dan arah kebijakan RPJPD provinsi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang kabupaten/kota dengan visi. Pasal 26 Penyusunan rancangan awal RPJPD. h. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi. arah. g. (3) Memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf c. f. misi. b. b. j. penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya. dan penyelarasan visi. Pasal 25 (1) Mengacu RPJPN dan RPJPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a. misi. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. i. tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. dan penyajian rancangan awal RPJPD. pengolahan data dan informasi. misi. Pasal 27 (1) Perumusan rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a. . misi. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan pemanfaatan struktur serta pola ruang kabupaten/kota lain sekitarnya. misi. (2) Berpedoman pada RTRW provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b. penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. misi. perumusan rancangan awal RPJPD. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan pemanfaatan struktur serta pola ruang provinsi lain sekitarnya.

analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. b. penyelarasan. d. f. perumusan arah kebijakan. c. perumusan visi dan misi daerah kabupaten/kota. d. dan arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota. Paragraf 3 Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Pasal 30 (1) Musrenbang RPJPD dilaksanakan untuk penajaman. kepada kepala daerah dalam rangka memperoleh persetujuan untuk dibahas dalam musrenbang RPJPD. e. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. h. Pasal 29 (1) Rancangan awal RPJPD yang disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. Pasal 28 Penyajian rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf b.. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3). gambaran umum kondisi daerah. pengolahan data dan informasi. penelaahan RPJPN. arah kebijakan. dan kaidah pelaksanaan. pelaksanaan forum konsultasi publik. visi dan misi daerah. untuk kabupaten/kota mencakup: a. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. pendahuluan. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal.15 (2) Perumusan rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a. j. . misi. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. penyelarasan. penajaman visi dan misi daerah. f. dan penyelarasan visi. (2) Penajaman. (3) Bappeda mengajukan rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). i. RPJPD provinsi dan RPJPD kabupaten/kota lainnya. mencakup: a. g. e. analisis isu-isu srategis. b.

dan dikoordinasikan oleh Bappeda (3) Musrenbang RPJPD dilaksanakan provinsi/kabupaten/kota.. pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat atau dari unsur lain terkait. dan membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah. . menjadi bahan masukan untuk merumuskan rancangan akhir RPJPD. b. rancangan akhir RPJPD provinsi. e. c. dapat diundang menjadi narasumber dalam musrenbang RPJPD provinsi dan kabupaten/kota.16 b. penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah Bupati/Walikota menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Gubernur. c. dirumuskan paling lama 1 (satu) tahun sebelum RPJPD yang berlaku berakhir. klarifikasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang daerah. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Rancangan akhir RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima Menteri Dalam Negeri. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. Paragraf 4 Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Pasal 32 (1) Hasil musrenbang RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31. d. Pasal 34 (1) Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada Gubernur. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah Gubernur menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Menteri Dalam Negeri. Pasal 31 Hasil musrenbang RPJPD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk mencapai visi dan misi daerah. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD provinsi. Pasal 33 (1) Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. (4) Pimpinan DPRD atau anggota DPRD.

(2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. Pasal 37 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan RPJPD kepada Gubernur untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah konsultasi dilakukan. sistematika dan teknis penyusunan. untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum penyusunan. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. c. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum penyusunan. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD provinsi. kepala daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. Pasal 38 (2) Gubernur menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil konsultasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2). b. rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota.17 (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima Gubernur. sinkronisasi dan sinergi dengan RPJPN. sinkronisasi dan sinergi. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat kementerian/lembaga dan/atau pemerintahan daerah provinsi yang terkait sesuai dengan kebutuhan. (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintah daerah dan/atau provinsi/ kabupaten/kota yang terkait sesuai dengan kebutuhan. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. Pasal 35 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1). untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah konsultasi dilakukan. RTRW kabupaten/kota serta RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. . RPJPD kepada Bupati/Walikota. RTRW provinsi dan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. RPJPD provinsi. Pasal 36 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). dengan RPJPN. sistematika dan teknis penyusunan.

. Pasal 40 (1) Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota kepada DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh persetujuan bersama. . (2) Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota disampaikan kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. dan surat Gubernur kabupaten/kota. dan surat Menteri Dalam Negeri perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi. paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJPD provinsi. paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJPD kabupaten/kota. b. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. Pasal 43 Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD provinsi. Pasal 42 (1) Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan.18 Paragraf 5 Penetapan RPJPD Pasal 39 (1) Gubernur menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi kepada DPRD provinsi untuk memperoleh persetujuan bersama. Pasal 44 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1). berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. dengan lampiran rancangan akhir RPJPD provinsi yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri beserta: a. perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD Pasal 41 Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi dan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan RPJPN. dengan lampiran rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota yang telah dikonsultasikan dengan Gubernur beserta: a. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 48 (1) Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi dan tidak dikonsultasikan. (2) Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau tidak dikonsultasikan.19 Pasal 45 (1) Gubernur melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2). memuat: a. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Bappeda provinsi. visi. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri. misi dan program calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. (3) Penyampaian hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah tentang RPJPD diterima. Peraturan Daerah tentang RPJPD dinyatakan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. arah kebijakan keuangan daerah. BAB V RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 50 RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. dan program kepala daerah. . (2) Gubernur menyampaikan hasil klarifikasi kepada Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) telah menindaklanjuti hasil konsultasi. Pasal 49 RPJPD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah provinsi dan Peraturan Daerah kabupaten/kota. kebijakan umum. Pasal 47 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil klarifikasi kepada Gubernur yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) telah menindaklanjuti hasil konsultasi.. (4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). strategi pembangunan daerah. Pasal 46 Klarifikasi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagaimana dimaksud Pasal 44 dan Pasal 45 untuk memastikan saran penyempurnaan hasil konsultasi telah ditindaklanjuti. c. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Dalam Negeri. menjadi pedoman penyusunan visi. misi. b. d.

20 e. lapangan berusaha. dan keberlanjutan pembangunan antarwilayah/antarkawasan dalam kecamatan di wilayah kabupaten/kota atau antar kabupaten/kota di wilayah provinsi atau dengan provinsi lainnya berdasarkan rencana tata ruang wilayah. merupakan langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi dalam rangka pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. akses terhadap pengambilan kebijakan. misi dan program kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a. berdaya saing. dan rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.. . merupakan program yang melibatkan lebih dari satu SKPD untuk mencapai sasaran pembangunan yang ditetapkan termasuk indikator kinerja. (4) Kebijakan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf d. memberikan arah perumusan rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun program dan kegiatan Renstra SKPD. tahun pelaksanaan. program kewilayahan. (3) Strategi pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf c. (6) Program lintas SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf f. lokasi program. h. untuk mencapai target dan sasaran yang ditetapkan. (8) Rencana kerja dalam kerangka regulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf h. maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. (9) Rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf i. keseimbangan laju pertumbuhan. Pasal 51 (1) Visi. g. merupakan pedoman dan gambaran dari pelaksanaan hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan bidang urusan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. program SKPD. dengan dilengkapi jumlah pagu indikatif berdasarkan prakiraan maju dan sumber pendanaannya. (2) Arah kebijakan keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf b. merupakan keadaan masa depan yang diharapkan dan berbagai upaya yang akan dilakukan melalui program-program pembangunan yang ditawarkan oleh Kepala Daerah terpilih. i. merupakan program pembangunan daerah untuk terciptanya keterpaduan. dan sumber daya yang diperlukan. dan sumber daya yang diperlukan. (7) Program kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf g. program lintas SKPD. (5) Program SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf e. merupakan program yang dirumuskan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD yang memuat indikator kinerja. f. rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif. untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata baik dalam aspek pendapatan. merupakan tahapan dan jadual pelaksanaan proram. merupakan dasar hukum atau kebijakan yang dijadikan landasan perumusan dan pelaksanaan program pembangunan daerah. keserasian. tahun pelaksanaan. kesempatan kerja. lokasi program.

misi dan program Gubernur dan wakil Gubernur terpilih. meliputi: a. c.. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Pasal 54 (1) Rancangan awal RPJMD provinsi disusun: a. dan penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD. e.21 Bagian Kedua Penyusunan RPJMD Pasal 52 (1) Bappeda menyusun RPJMD. b. pelaksanaan musrenbang RPJMD. d. a. b. memuat visi. persiapan penyusunan RPJMD. penyusunan rancangan awal RPJMD. f. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJMD. memuat visi. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. penyusunan rancangan RPJMD. c. orientasi mengenai RPJMD. c. berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota. Pasal 55 (1) Berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf b. penyusunan agenda kerja tim penyusun RPJMD. d. misi dan program bupati dan wakil bupati terpilih atau walikota dan wakil walikota terpilih. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RPJMD Pasal 53 Persiapan penyusunan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a. RPJMD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. dan memperhatikan RPJMN. berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi. b. dilakukan dengan: (2) Rancangan awal RPJMD kabupaten/kota disusun: . perumusan rancangan akhir RPJMD. c. b. RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. (2) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. dan memperhatikan RPJMN. RPJMD provinsi.

dan penyajian rancangan awal RPJMD. dan prioritas bidang-bidang pembangunan. sasaran. sasaran. sasaran. kebijakan umum dan prioritas pembangunan nasional. kebijakan. kondisi. dilakukan melalui penyelarasan antara rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lain sekitarnya. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi dengan arah. (2) Memperhatikan RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c. dan pembangunan kewilayahan sesuai dengan kewenangan. misi. b. misi. kebijakan umum. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. kebijakan. Pasal 56 (1) Berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf b. dan b. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan struktur dan pola pemanfaatan ruang provinsi. menyelaraskan visi. menyelaraskan pencapaian visi. (3) Memperhatikan RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. dan karakteristik daerah. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan arah. misi. kebijakan. serta prioritas pembangunan nasional.. (3) Memperhatikan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c. sebagaimana dimaksud pada Pasal 52 ayat (2) huruf b. dan c. kebijakan. tujuan. kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. tujuan. terdiri atas: a. (2) Memperhatikan RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan: a. tujuan. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. arah. kebijakan. misi. pembangunan kewilayahan. sasaran. arah. menyelaraskan visi. sasaran. kebijakan. misi. Pasal 57 Penyusunan rancangan awal RPJMD. misi. b.22 a. misi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. arah kebijakan. prioritas pembangunan jangka menengah provinsi. misi. tujuan. dan b. . arah. dilakukan dengan: a. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. menyelaraskan pencapaian visi. misi. kebijakan. tujuan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. tujuan. dilakukan melalui penyelarasan pembangunan jangka menengah daerah dan pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lain sekitarnya. sasaran. (4) Memperhatikan RPJMD dan RTRW kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. kebijakan. kebijakan. perumusan rancangan awal RPJMD. sasaran. tujuan.

(2) Perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. q. n. dan penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan. penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. b. i. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah provinsi. perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. penetapan indikator kinerja daerah. l. untuk kabupaten/kota mencakup: a. dan . penelaahan RPJMN. k. m. pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota. m. p. e. j. analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. penetapan indikator kinerja daerah. analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. g. analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. pembahasan dengan SKPD provinsi. penelaahan RPJPD provinsi. pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. pengolahan data dan informasi. b. perumusan tujuan dan sasaran. f. penelaahan RPJPD kabupaten/kota. j. penelaahan RPJMN dan RPJMD provinsi lainnya. f. d. n. analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. perumusan penjelasan visi dan misi. RPJMD provinsi dan RPJMD kabupaten/kota lainnya. g. l. r. e. perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. o.. c. c. i. pengolahan data dan informasi. p. d. k. h.23 Pasal 58 (1) Perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a. perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. perumusan tujuan dan sasaran. untuk provinsi mencakup: a. perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. pelaksanaan forum konsultasi publik. pelaksanaan forum konsultasi publik. perumusan strategi dan arah kebijakan. h. perumusan strategi dan arah kebijakan. o. perumusan penjelasan visi dan misi. pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. q.

penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan. dan penetapan indikator kinerja daerah. (3) Pembahasan dan kesepakatan terhadap kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan. misi. e. paling lama 2 (dua) minggu sejak diajukan kepala daerah. Pasal 59 Penyajian rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf b. Pasal 62 (1) Rancangan awal RPJMD menjadi pedoman SKPD dalam menyusun rancangan renstra SKPD. kepada DPRD untuk dibahas dan memperoleh kesepakatan. (4) Hasil pembahasan dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. c. (2) Pengajuan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 61 (1) Kepala daerah mengajukan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan yang tercantum dalam rancangan awal RPJMD yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60. i. (2) Rancangan renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani oleh kepala daerah dan ketua DPRD.24 r. menjadi bahan penyusunan rancangan RPJMD. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. f. strategi dan arah kebijakan. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. d. h. gambaran umum kondisi daerah. Pasal 60 (1) Rancangan awal RPJMD yang disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. visi. paling lama 10 (sepuluh) minggu sejak kepala daerah dan wakil kepala daerah dilantik. analisis isu-isu srategis. gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. b. g. tujuan dan sasaran. pendahuluan.

menyelaraskan dengan strategi dan arah kebijakan.. misi. pendahuluan. c. g. e. b. analisis isu-isu srategis. misi. b. disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. (4) Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). d. e. gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. gambaran umum kondisi daerah. dijadikan bahan masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. kepada para kepala SKPD dengan surat edaran kepala daerah. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. f. d. .25 Paragraf 3 Penyusunan Rancangan RPJMD Pasal 63 (1) Bappeda menyampaikan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62. paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak surat edaran kepala daerah diterima. memecahkan isu-isu srategis sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RPJMD. tujuan dan sasaran. tujuan dan sasaran. (2) Bappeda mengajukan rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antara lain dalam: a. (2) Kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan yang telah disepakati kepala daerah dan DPRD menjadi acuan kepala SKPD merumuskan kegiatan dalam rancangan renstra SKPD. Pasal 64 (1) Rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (5). (3) Rancangan renstra SKPD yang telah disusun disampaikan kepala Bappeda kepada kepala SKPD. c. menyelaraskan dengan visi. dan penetapan indikator kinerja daerah. i. dan mempedomani indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan. (5) Rancangan renstra SKPD yang telah diverifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). visi. mempedomani kebijakan umum dan program pembangunan daerah. untuk mengintegrasikan dan menjamin kesesuaian dengan rancangan awal RPJMD. strategi dan arah kebijakan. h.

strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas. kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. e. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (2). mencakup: a. dan RPJMD daerah lainnya. pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat atau dari unsur lain terkait. (3) Musrenbang RPJMD dilaksanakan provinsi/kabupaten/kota. (4) Pimpinan DPRD atau anggota DPRD. dibahas oleh seluruh kepala SKPD.26 Paragraf 4 Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Pasal 65 (1) Musrenbang RPJMD dilaksanakan untuk penajaman. misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah. g. dapat diundang menjadi narasumber dalam musrenbang RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. dan sinergi dengan RPJMN. (4) Pembahasan rancangan akhir RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Paragraf 5 Perumusan Rancangan Akhir RPJMD Pasal 67 (1) Perumusan rancangan akhir RPJMD berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66. (2) Penajaman. memastikan program pembangunan jangka menengah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD telah tertampung dalam rancangan akhir RPJMD. (2) Rancangan akhir RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai dengan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan daerah. . paling lambat dilakukan pada akhir bulan ke-4 (keempat) setelah kepala daerah terpilih dilantik. penyelarasan. f. b. Pasal 66 Hasil musrenbang RPJMD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. penyelarasan. dan dikoordinasikan oleh Bappeda c. capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode RPJMD. indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan.. komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD dalam melaksanakan pembangunan daerah. d. sasaran pembangunan jangka menengah daerah.

sistematika dan teknis penyusunan. dilakukan setelah Gubernur menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Menteri Dalam Negeri. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota lainnya. . keselarasan dengan RPJPD provinsi. Pasal 71 (2) Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat kementerian/lembaga dan/atau (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1). menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. b. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta sinkronisasi dan sinergitas. sistematika dan teknis penyusunan. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). RTRW provinsi. memastikan pertimbangan landasan hukum penyusunan. RTRW kabupaten/kota. c. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. diterima Gubernur. rancangan akhir RPJMD provinsi. keserasian. c. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. harmonisasi.. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pemerintah daerah provinsi yang terkait sesuai dengan kebutuhan dalam pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 69 (1) Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada Gubernur. b. serta keselarasan dengan RPJPD kabupaten/kota. dilakukan setelah Bupati/Walikota menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Gubernur. RTRW provinsi. untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. Pasal 70 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1).27 Pasal 68 (1) Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). diterima Menteri Dalam Negeri.

Paragraf 6 Penetapan RPJMD Pasal 74 (1) Gubernur menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi kepada DPRD provinsi untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. dan surat Menteri Dalam Negeri perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD provinsi. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. setelah konsultasi dilakukan. setelah konsultasi dilakukan. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan surat Gubernur kabupaten/kota.. Pasal 72 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan RPJMD kepada Gubernur untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintahan daerah dan/atau provinsi/ kabupaten/kota yang terkait sesuai dengan kebutuhan. Pasal 75 (1) Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota kepada DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. b. perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD Pasal 76 Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi dan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik. . berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. dengan lampiran rancangan akhir RPJMD provinsi yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri beserta: a. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RPJMD kepada Bupati/Walikota untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja.28 (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. dengan lampiran rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota yang telah dikonsultasikan dengan Gubernur beserta: a. Pasal 73 (2) Gubernur menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil konsultasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72. b.

Pasal 78 Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD dengan DPRD. (2) Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota disampaikan kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. Pasal 82 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil klarifikasi kepada Gubernur yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1). (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Dalam Negeri. paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah tentang RPJMD diterima. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 81 Klarifikasi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagaimana dimaksud Pasal 79 dan Pasal 80 untuk memastikan saran penyempurnaan hasil konsultasi telah ditindaklanjuti. Peraturan Daerah tentang RPJMD dinyatakan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.. Pasal 80 (1) Gubernur melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2). telah menindaklanjuti hasil konsultasi. dilaksanakan oleh Bappeda provinsi. Pasal 79 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1). Pasal 83 (1) Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi dan tidak dikonsultasikan. .29 Pasal 77 (1) Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. (2) Gubernur menyampaikan hasil klarifikasi kepada Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1). (3) Penyampaian hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. telah menindaklanjuti hasil konsultasi.

misi. realistis. yang dirumuskan bersifat spesifik.30 (2) Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau tidak dikonsultasikan. (6) Kebijakan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf e. memuat: a. dan kegiatan. dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran program yang ditetapkan dalam RPJMD. (5) Strategi sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf d. d. merupakan keadaan yang ingin diwujudkan SKPD pada akhir periode Renstra SKPD. BAB VI RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 85 (1) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c. Pasal 84 RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah provinsi dan Peraturan Daerah kabupaten/kota menjadi pedoman penetapan Renstra SKPD dan penyusunan RKPD. dilengkapi dengan sasaran yang terukur dan dapat dicapai dalam periode yang direncanakan. merupakan sesuatu yang ingin dicapai dari setiap misi SKPD. disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif Pasal 86 (1) Visi. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). strategi dan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1) huruf a. huruf d dan huruf e. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri. e. misi. (2) Visi SKPD sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf a. kebijakan. strategi. f. huruf b. b. program. tujuan.merupakan langkah-langkah berisikan program-program indikatif. untuk mencapai tujuan dalam rangka melaksanakan misi untuk mewujudkan visi SKPD. merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan sesuai tugas dan fungsi. serta digunakan sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. c. merupakan arah/tindakan yang harus dipedomani SKPD. (3) Misi SKPD sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf b. visi. dalam rangka mewujudkan visi SKPD. g. sesuai dengan tugas dan fungsi yang sejalan dengan pernyataan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam RPJMD. huruf c. (4) Tujuan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf c.. tujuan. dalam melaksanakan strategi untuk mencapai tujuan Renstra SKPD. .

merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dirumuskan.. c. persiapan penyusunan Renstra SKPD. (2) Dalam hal SPM belum tersedia. Pasal 88 (1) Pencapaian sasaran program SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1). (3) Program lintas SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau program kewilayahan. b. (2) Program SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penyusunan rancangan Renstra SKPD. (9) Tugas dan fungsi sebagaimana Pasal peraturan perundang-undangan. . 85 ayat (2). Bagian Kedua Penyusunan RENSTRA SKPD Pasal 89 (1) SKPD menyusun Renstra SKPD. (8) Kegiatan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf g. dan akan dilaksanakan secara simultan dengan program SKPD lainnya. penyusunan rancangan akhir Renstra SKPD. merupakan bagian dari program yang memuat sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya sebagai masukan (input). (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Program kewilayahan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi. mempertimbangkan pencapaian SPM yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. untuk mencapai keberhasilan pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan daerah yang ditetapkan pada satu atau beberapa wilayah atau kawasan. d.31 (7) Program sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf f. untuk mencapai sasaran dan tujuan sesuai tugas dan fungsi SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi. dapat berupa program SKPD. dan akan dilaksanakan secara simultan dengan program SKPD lainnya. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi sesuai dengan tugas dan fungsi. yang akan dilaksanakan oleh 1 (satu) SKPD. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. perumusan sasaran program disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan dan kemampuan SKPD. dan penetapan Renstra SKPD. sesuai dengan ketentuan Pasal 87 (1) Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (7). program lintas SKPD. untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.

32 Paragraf 1 Persiapan Penyusunan Renstra SKPD Pasal 90 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) huruf a. c. b. Perumusan rancangan Renstra SKPD. pelaksanaan forum SKPD provinsi. f. dan Penyajian rancangan Renstra SKPD. review renstra kementerian/lembaga dan Renstra SKPD kabupaten/kota. untuk provinsi mencakup: a. j. c. d. penyusunan agenda kerja tim penyusun Renstra SKPD. dan n. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) huruf b. perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD provinsi. h. untuk kabupaten/kota mencakup: . kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. indikator kinerja. analisis terhadap dokumen hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. termasuk lokasi kegiatan. perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD provinsi guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD provinsi yang menjadi tugas dan fungsi SKPD provinsi.. mempelajari surat edaran Gubernur perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD provinsi beserta lampirannya. melalui tahapan sebagai berikut: a. g. (2) Perumusan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a. perumusan indikator kinerja SKPD provinsi yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD provinsi. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. perumusan isu-isu strategis. perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD provinsi. k. penelaahan RTRW provinsi. d. m. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan RENSTRA SKPD Pasal 91 Penyusunan rancangan Renstra SKPD. l. i. meliputi: a. pengolahan data dan informasi. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun Renstra SKPD. yaitu rancangan awal RPJMD provinsi yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD provinsi. e. kegiatan. b. Pasal 92 (1) Perumusan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a. analisis gambaran pelayanan SKPD provinsi. perumusan visi dan misi SKPD provinsi. b. orientasi mengenai Renstra SKPD. perumusan rencana program.

m.33 a. (3) Pembahasan dengan pemangku kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. Pasal 94 (1) Penyusunan rancangan Renstra SKPD berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1). isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi. mempelajari surat edaran Bupati/Walikota perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD kabupaten/kota beserta lampirannya. review renstra kementerian/lembaga dan Renstra SKPD provinsi. tujuan dan sasaran. f. perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. k. termasuk lokasi kegiatan. visi. indikator kinerja. e. pendahuluan. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. gambaran pelayanan SKPD. pelaksanaan forum SKPD kabupaten/kota. dibahas dengan seluruh unit kerja dilingkungan SKPD untuk dibahas bersama dengan pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan dalam forum SKPD. perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. b.. bertujuan untuk memperoleh masukan dalam rangka penajaman pencapaian sasaran program dan kegiatan pelayanan SKPD. i. . yaitu rancangan awal RPJMD kabupaten/kota yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD kabupaten/kota. l. (2) Rancangan Renstra SKPD yang telah disusun. penelaahan RTRW kabupaten/kota. dan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. analisis gambaran pelayanan SKPD kabupaten/kota. guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD kabupaten/kota yang menjadi tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. h. c. pengolahan data dan informasi. dan n. analisis terhadap dokumen hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. kegiatan. f. perumusan rencana program. b. indikator kinerja. g. Pasal 93 Penyajian rancangan Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf b. d. perumusan isu-isu strategis. c. rencana program. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. misi. j. perumusan visi dan misi SKPD kabupaten/kota. d. perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. strategi dan kebijakan. (3) Perumusan rancangan Renstra SKPD merupakan proses yang tidak terpisahkan dan dilakukan bersamaan dengan tahap perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62. kegiatan. perumusan indikator kinerja SKPD kabupaten/kota yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif.

(6) Berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pengesahan Renstra SKPD. ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. tujuan. program dan kegiatan pembangunan daerah sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang ditetapkan dalam RPJMD. (2) Rancangan akhir Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Bappeda menghimpun seluruh rancangan akhir Renstra SKPD yang telah diteliti melalui verifikasi akhir. Paragraf 4 Penetapan Renstra SKPD Pasal 97 (1) Rancangan akhir Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. (8) Penetapan Renstra SKPD oleh kepala SKPD paling lama 7 (tujuh) hari setelah Renstra SKPD disahkan oleh kepala daerah. kebijakan. dan keterpaduan dengan rancangan akhir Renstra SKPD lainnya. disampaikan kepala SKPD kepada kepala Bappeda untuk memperoleh pengesahan kepala daerah. bertujuan untuk mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan. strategi. program. Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD. paling lama 1 (satu) bulan setelah Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan. hasil penyempurnaan rancangan renstra SKPD disampaikan kembali oleh kepala SKPD kepada kepala Bappeda paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. yang berpedoman pada RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84. (2) Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (7) Pengesahan rancangan akhir Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah. sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD.. strategi. paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat edaran kepala daerah diterima. (3) Apabila dalam verifikasi ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. diverifikasi akhir oleh Bappeda. misi. untuk diajukan kepada kepala daerah guna memperoleh pengesahan. harus dapat menjamin kesesuaian visi. (5) Pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kebijakan. (3) Verifikasi akhir sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepada kepala Bappeda. Paragraf 3 Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD Pasal 96 (1) Penyusunan rancangan akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan rancangan Renstra SKPD.34 Pasal 95 (1) Kepala SKPD menyampaikan rancangan Renstra SKPD yang telah dibahas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2). dan kegiatan SKPD dengan RPJMD. (2) Dengan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD.

dan perkiraan untuk tahun yang direncanakan. memuat program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah. program prioritas pembangunan daerah. kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah paling sedikit 2 (dua) tahun sebelumnya.. yaitu kebijakan. melibatkan peran serta masyarakat baik dalam bentuk dana. yang bersumber dari APBD maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. (2) Rencana kerja. persiapan penyusunan RKPD. Pasal 100 (1) Rancangan kerangka ekonomi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1) huruf a. disertai perhitungan kebutuhan dana bersumber dari APBD untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. (3) Rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif yang bersumber dari APBD Pasal 99 ayat (2). program dan kegiatan pemerintah daerah yang didanai APBD dalam pencapaian sasarannya. mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif. Bagian Kedua Penyusunan RKPD Pasal 101 (1) Bappeda menyusun RKPD. pendanaan dan prakiraan maju sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. memuat gambaran kondisi ekonomi. (2) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).35 Bagian Ketiga Penyusunan Rancangan Renstra Kecamatan Pasal 98 Tahapan dan tata cara penyusunan renstra kecamatan atau sebutan lain mutatis mutandis dengan penyusunan Renstra SKPD. c. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. memuat program-program yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan sebagai penjabaran dari RPJMD pada tahun yang direncanakan. rancangan kerangka ekonomi daerah. (4) Sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat Pasal 99 ayat (2). material maupun sumber daya manusia dan teknologi. memuat: a. BAB VII RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 99 (1) RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d. . (2) Program prioritas pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1) huruf b. b. pendanaan dan prakiraan maju. dan rencana kerja.

dilakukan melalui penyelarasan: a. Pasal 104 (1) Berpedoman pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) huruf a. perumusan rancangan akhir RKPD. dan mengacu pada RPJMN. penyusunan agenda kerja tim penyusun RKPD. c. mengacu pada RPJMD provinsi. wilayah perbatasan antar provinsi dan/atau wilayah perbatasan antar negara. (2) Rancangan awal RKPD kabupaten/kota disusun: (2) Mengacu pada RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) huruf b. dan penetapan RKPD. d. berpedoman pada RPJMD kabupaten/ kota. b. a. meliputi: a. dan mengacu pada RPJMN. b. pelaksanaan musrenbang RKPD. berpedoman pada RPJMD provinsi. d. e. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah.36 b. b. . c. c. (3) program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). mencakup dua wilayah provinsi atau lebih. penyusunan rancangan awal RKPD. f. b.. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RKPD Pasal 103 (1) Rancangan awal RKPD provinsi disusun: a. penyusunan rancangan RKPD. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RKPD Pasal 102 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf a. orientasi mengenai RKPD. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD. dan rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah provinsi dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi dengan prioritas pembangunan nasional.

analisis ekonomi dan keuangan daerah. i. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a. dan b. (4) Mengacu pada RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2) huruf c. (3) Program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. k. dan penyajian rancangan awal RKPD. huruf a. untuk provinsi mencakup: a. . perumusan rancangan awal RKPD. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf b. terdiri atas: a. b. mencakup dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. (2) Perumusan rancangan awal RKPD. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD provinsi. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan pembangunan provinsi. dilakukan melalui penyelarasan: a. perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah. e. untuk kabupaten/kota mencakup: a.. f. evaluasi kinerja tahun lalu. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan prioritas pembangunan nasional. pengolahan data dan informasi. l. pengolahan data dan informasi. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah. b. pelaksanaan forum konsultasi publik. huruf a. Pasal 107 (1) Perumusan rancangan awal RKPD. g. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a. h. b. perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah. Pasal 106 Penyusunan rancangan awal RKPD. analisis gambaran umum kondisi daerah. analisis gambaran umum kondisi daerah. j. dan penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif. dan wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. (2) Mengacu pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2). c. prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota.37 Pasal 105 (1) Berpedoman pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2). rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah kabupaten/kota dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. d. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi.

. perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. Pasal 108 Penyajian rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf b. sebagai bahan penyusunan rancangan Renja SKPD. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. d. dan penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif. prioritas dan sasaran pembangunan.38 c. b. g. k. evaluasi kinerja tahun lalu. Paragraf 3 Penyusunan Rancangan RKPD Pasal 111 Penyusunan rancangan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf c. e. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD kabupaten/kota. . Pasal 109 (1) Rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108. c. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. Pasal 110 (1) Kepala Bappeda menyiapkan surat edaran kepala daerah kepada kepala SKPD perihal penyampaian rancangan awal RKPD yang sudah dibahas dalam forum konsultasi publik. (2) Surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat agenda penyusunan RKPD. untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. sekaligus batas waktu penyampaian rancangan Renja SKPD kepada kepala Bappeda untuk dilakukan verifikasi. e. merupakan proses penyempurnaan rancangan awal RKPD menjadi rancangan RKPD berdasarkan hasil verifikasi Renja SKPD. j. perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah. analisis ekonomi dan keuangan daerah. l. pendahuluan. f. pelaksanaan forum SKPD dan musrenbang RKPD. dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta pagu indikatif. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. pelaksanaan forum konsultasi publik. dan rencana program prioritas daerah. d. i.

mengintegrasikan program. 112 ayat (1). dilakukan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. dilakukan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. (2) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). hasil penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi disampaikan kembali kepada kepala Bappeda provinsi paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. (2) Bappeda mengajukan rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendahuluan. pendahuluan.39 Pasal 112 (1) Rancangan awal RKPD provinsi disempurnakan menjadi rancangan RKPD provinsi berdasarkan hasil verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD provinsi. hasil penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota disampaikan kembali kepada kepala Bappeda kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. kegiatan. disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. (4) Apabila dalam verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. dan rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. e. d. c. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RKPD provinsi. Pasal 115 (1) Rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1). c. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD provinsi sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD provinsi. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. kegiatan.. ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. (5) Apabila dalam verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). . prioritas dan sasaran pembangunan. Pasal 114 (1) Rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD kabupaten/kota. mengintegrasikan program. b. ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. Pasal 113 (2) Rancangan awal RKPD kabupaten/kota disempurnakan menjadi rancangan RKPD kabupaten/kota berdasarkan hasil verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD kabupaten/kota.

(4) Pimpinan atau anggota DPRD provinsi. (2) Penyusunan rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (1).. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (2). prioritas pembangunan daerah serta rencana kerja dan pendanaan. penyelarasan. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RKPD kabupaten/kota. e. pelaksanaan musrenbang RKPD provinsi. (2) Penajaman. (5) Hasil musrenbang RKPD provinsi dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri musrenbang. terdiri dari: a. c. dan pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan. diselesaikan paling lama minggu kedua pada bulan April. mencakup: a. dapat diundang menjadi narasumber musrenbang RKPD provinsi. dan sinergi dengan RKP.40 d. (2) Bappeda mengajukan rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). prioritas dan sasaran pembangunan. d. usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah provinsi pada musrenbang RKPD kabupaten/kota dan/atau sebelum musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan. (3) Musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Bappeda provinsi. b. pejabat SKPD provinsi atau dari unsur lain terkait. prioritas dan sasaran pembangunan nasional serta usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota. . Pasal 116 (1) Penyusunan rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (1). program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah provinsi dengan arah kebijakan. indikator dan target kinerja program dan kegiatan pembangunan provinsi. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota. b. diselesaikan paling lama minggu kedua pada bulan Maret. c. e. Paragraf 4 Pelaksanaan Musrenbang RKPD Pasal 117 Pelaksanaan Musrenbang RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf d. penyelarasan. dan rencana program dan kegiatan prioritas daerah. pejabat dari kementerian/lembaga ditingkat pusat. Pasal 118 (1) Musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan untuk penajaman.

Pasal 120 (1) Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan untuk penajaman. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (2). (2) Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (5). prioritas pembangunan daerah serta program dan kegiatan prioritas daerah. (4) Pimpinan atau anggota DPRD kabupaten/kota. dapat diundang menjadi narasumber musrenbang RKPD kabupaten/kota. pejabat SKPD provinsi dan pejabat SKPD kabupaten/kota atau dari unsur lain terkait. prioritas dan sasaran pembangunan daerah provinsi. d. e. penyelarasan. pejabat dari kementerian/lembaga ditingkat pusat. c. (2) Penajaman. dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD provinsi. prioritas dan sasaran pembangunan daerah kabupaten/kota dengan arah kebijakan. (5) Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. (2) Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (5). dilaksanakan paling lama minggu ketiga bulan April. dikoordinasikan Bappeda provinsi dengan kementerian/lembaga terkait guna dibahas dalam forum musrenbangnas. dilaksanakan paling lama akhir bulan Maret. (3) Program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi yang perlu diintegrasikan dengan program dan kegiatan pembangunan yang menjadi kewenangan pemerintah sesuai dengan berita acara kesepakatan musrenbang RKPD provinsi.41 Pasal 119 (1) Pelaksanaan musrenbang RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118. . mencakup: a. dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota dan bahan masukan untuk membahas rancangan RKPD provinsi dalam musrenbang RKPD provinsi.. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). indikator kinerja program dan kegiatan prioritas daerah kabupaten/kota. b. (3) Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Bappeda kabupaten/kota. Pasal 121 (1) Pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120. penyelarasan. usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah kabupaten/kota pada musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dan/atau sebelum musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan. dan sinergi dengan RKP dan RKPD provinsi.

. Untuk efisiensi dan efektifitas musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dapat diselenggarakan dengan menggabungkan penyelenggaraan beberapa musrenbang kecamatan di kecamatan tertentu yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Pasal 124 (1) Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan. (2) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penyelenggaraan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dilaksanakan oleh camat. mencakup: a. dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan rancangan renja SKPD kabupaten/kota. usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan yang tertuang dalam berita acara musrenbang desa/kelurahan yang akan menjadi kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang bersangkutan. klarifikasi dan kesepakatan usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan. penyelarasan. Pasal 123 (1) (2) (3) Pelaksanaan musrenbang kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 122. dilaksanakan paling lama minggu ke dua pada bulan Februari. penyelarasan. Paragraf 5 Perumusan Rancangan Akhir RKPD Pasal 125 (1) Perumusan rancangan akhir RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 huruf e. . klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Penajaman. dituangkan dalam berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. setelah berkoordinasi dengan kepala Bappeda kabupaten/kota. musrenbang RKPD provinsi dan musrenbangnas RKP. dilaksanakan untuk penajaman. berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota. (2) Perumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 huruf e. dan pengelompokan kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. yang diintegrasikan dengan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan. c. (3) Kegiatan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan mengacu pada program dalam rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD provinsi dan musrenbangnas RKP.42 Pasal 122 (1) Musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 huruf c. b. kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang belum tercakup dalam prioritas kegiatan pembangunan desa.

memastikan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD provinsi telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD provinsi. dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi dan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota. paling lambat pada pertengahan bulan Mei. memastikan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD kabupaten/kota telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD kabupaten/kota. (2) RKPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota setelah RKPD provinsi ditetapkan. (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 127 (1) Rancangan akhir RKPD kabupaten/kota yang telah dirumuskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 ayat (2). Pasal 128 (1) Penyelesaian rumusan rancangan akhir RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 ayat (1). . Pasal 130 (1) RKPD provinsi yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 ayat (1). dibahas oleh seluruh kepala SKPD provinsi. paling lambat pada akhir bulan Mei.43 Pasal 126 (1) Rancangan akhir RKPD provinsi yang telah dirumuskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 ayat (1). (3) RKPD sebagai landasan penyusunan KUA dan PPAS dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disampaikan bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang APBD provinsi. Pasal 131 (1) Gubernur menyampaikan Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) RKPD kabupaten/kota yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 ayat (2). Paragraf 6 Penetapan RKPD Pasal 129 (1) RKPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Gubernur setelah RKP ditetapkan. (2) Penyelesaian rumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 ayat (1). dibahas oleh seluruh kepala SKPD kabupaten/kota..

BAB VIII RENCANA KERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 134 Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e. lokasi kegiatan. (5) Prakiraan maju sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf e. dan indikator kinerja kegiatan yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif masukan. (2) Lokasi kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf b. d. keluaran yang akan dicapai dari kegiatan. Pasal 133 (1) RKPD yang telah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah digunakan sebagai bahan evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang APBD. indikator kinerja. e. seperti kelompok masyarakat berdasarkan status ekonomi. dan pagu indikatif dan prakiraan maju Pasal 135 (1) Program dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf a. memuat penjelasan terhadap karakteristik kelompok sasaran yang memperoleh manfaat langsung dari hasil kegiatan. program dan kegiatan. indikator kinerja program yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif hasil yang akan dicapai dari program. guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui untuk setiap program dan kegiatan. gender dan yang kelompok masyarakat rentan termarginalkan. kelompok sasaran. merupakan lokasi atau tempat dari setiap kegiatan yang akan dilaksanakan seperti nama desa/kelurahan. memuat kebutuhan dana untuk tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. (4) Kelompok sasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf d. memuat: a. kecamatan. b. terdiri dari: a. untuk memastikan APBD telah disusun berlandaskan RKPD.44 Pasal 132 (1) Bupati/Walikota menyampaikan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang RKPD kabupaten/kota kepada Gubernur. . disampaikan bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang APBD kabupaten/kota. c. profesi. (3) Indikator kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf c. (2) Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b.. meliputi program dan kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan alternatif atau baru. (2) RKPD digunakan sebagai bahan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. pelaksanaan forum SKPD. yaitu program dan kegiatan SKPD. penyusunan agenda kerja tim penyusun Renja SKPD. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun Renja SKPD. d. penyusunan rancangan Renja SKPD. dan penetapan Renja SKPD. orientasi mengenai Renja SKPD. c. Bagian Kedua Penyusunan Renja SKPD Pasal 137 (1) SKPD menyusun Renja SKPD. d. tidak bisa ditunda karena dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah maupun masyarakat. c. dan/atau dilakukan jika kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya belum memberikan keluaran dan hasil yang sesuai dengan sasaran Renstra SKPD. (2) Program dan kegiatan alternatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1).45 Pasal 136 (1) Program dan kegiatan yang sedang berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Renja SKPD Pasal 139 Rancangan Renja SKPD provinsi dan kabupaten/kota disusun: . dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. (2) Renja SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lintas SKPD dan kewilayahan yang berdasarkan analisis perlu dilakukan pergeseran pelaksanaannya atas pertimbangan mempunyai dampak mempercepat pencapaian sasaran pembangunan daerah. d. adanya kebijakan pemerintah yang menjadi prioritas nasional yang mendukung percepatan pembangunan daerah. yaitu program dan kegiatan yang tidak tercantum pada Renstra SKPD dengan kriteria sebagai berikut: a. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan Renja SKPD Pasal 138 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2) huruf a. (3) Program dan kegiatan baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). b. b. meliputi: a. persiapan penyusunan Renja SKPD.. c. b. yaitu program dan kegiatan satu tahun sebelum tahun yang direncanakan yang tercantum dalam Renstra SKPD. dalam rangka mempercepat capaian target sasaran Renstra SKPD.

c. b. f. perumusan tujuan dan sasaran. sasaran. mengacu pada hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya.46 a. untuk provinsi mencakup: a. mengacu pada rancangan awal RKPD. indikator kinerja dan dana indikatif dalam Renja SKPD. penelaahan usulan masyarakat. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2). sasaran. Pasal 142 (1) Perumusan rancangan Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a. lokasi kegiatan serta prakiraan maju berdasarkan program prioritas rancangan awal RKPD yang disusun ke dalam rancangan Renja SKPD. lokasi kegiatan serta prakiraan maju dalam rancangan Renja SKPD dapat menjawab berbagai isuisu penting terkait dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD. kegiatan. e. menjadi acuan perumusan tujuan. dan berdasarkan usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat. persiapan penyusunan rancangan Renja SKPD provinsi. h.. menjadi acuan perumusan program. untuk memecahkan masalah yang dihadapi. analisis gambaran pelayanan SKPD provinsi. mereview hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD provinsi. Pasal 141 Penyusunan rancangan Renja SKPD. kelompok sasaran. mengacu pada Renstra SKPD. d. pengolahan data dan informasi. (5) Usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf e. b. d. b. kelompok sasaran. Pasal 140 (1) Rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf a. kegiatan. terdiri atas: a. penelaahan rancangan awal RKPD provinsi. dan Penyajian rancangan Renja SKPD. Perumusan rancangan Renja SKPD. penentuan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD provinsi. sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD. selaras dengan Renstra SKPD. kegiatan. dan 141 . (3) Hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf c. menjadi acuan penyusunan tujuan. c. (4) Masalah yang dihadapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf d. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf b. menjadi acuan perumusan kegiatan alternatif dan/atau baru untuk tercapainya sasaran Renstra SKPD berdasarkan pelaksanaan Renja SKPD tahun-tahun sebelumnya. menjadi acuan perumusan kegiatan dalam rancangan Renja SKPD mengakomodir usulan masyarakat yang selaras dengan program prioritas yang tercantum dalam rancangan awal RKPD. e. g.

(2) Pembahasan rancangan Renja RKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tujuan. b. g.47 i. persiapan penyusunan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. sumber dana yang dibutuhkan untuk menjalankan program dan kegiatan. b.. b. sasaran. e. dalam forum SKPD provinsi. dan perumusan kegiatan prioritas. pengolahan data dan informasi. 141 (2) Perumusan rancangan Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. program dan kegiatan. penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota. Pasal 143 Penyajian rancangan Renja RKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 huruf b. f. d. perumusan kegiatan prioritas. SKPD kabupaten/kota dibahas dalam forum SKPD Paragraf 3 Pelaksanaan Forum SKPD Pasal 145 (1) Bappeda mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renja RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). . dan penutup. penelaahan rancangan awal RKPD kabupaten/kota. evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu. dana indikatif beserta sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif. mencakup: a. g. Pasal 144 (1) Rancangan Renja SKPD provinsi dibahas dalam forum SKPD provinsi. c. penelaahan usulan masyarakat. penentuan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. c. d. h. penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. indikator kinerja dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra SKPD. e. perumusan tujuan dan sasaran. untuk kabupaten/kota mencakup: a. (2) Rancangan Renja kabupaten/kota. i. pendahuluan. f. analisis gambaran pelayanan SKPD kabupaten/kota. mereview hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD kabupaten/kota.

efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan. c. Pasal 148 (1) Berita acara kesepakatan hasil forum SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (5). sesuai dengan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2). SKPD kabupaten/kota. (3) Forum SKPD provinsi dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa SKPD provinsi sekaligus dalam satu forum dengan mempertimbangkan tingkat urgensi. (2) Pembahasan rancangan Renja RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kecamatan. dan pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. (4) Penyelenggaraan forum SKPD provinsi dilaksanakan paling lama minggu terakhir bulan Maret. Pasal 147 (1) Peserta forum SKPD provinsi antara lain terdiri dari SKPD provinsi. mencakup: a. d..48 c. dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD provinsi. . penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD kabupaten/kota dalam rangka sinergi pelaksanaan dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD kabupaten/kota. b. kepada kepala Bappeda provinsi sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD provinsi menjadi rancangan RKPD provinsi. dalam forum SKPD kabupaten/kota. (2) Kepala SKPD provinsi menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. dan penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu indikatif untuk masing-masing SKPD provinsi. sesuai dengan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2). dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi. penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. (5) Hasil kesepakatan pembahasan forum SKPD provinsi dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan hasil forum SKPD provinsi. Pasal 146 (1) Bappeda mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renja RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (2). (2) Pimpinan atau anggota komisi DPRD provinsi yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. dapat diundang menjadi narasumber dalam pembahasan forum SKPD. penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD provinsi dalam rangka sinergi pelaksanaan dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD provinsi. dan penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu indikatif untuk masing-masing SKPD kabupaten/kota.

kepada kepala Bappeda provinsi sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD provinsi menjadi rancangan RKPD provinsi. Pasal 152 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota menyempurnakan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota dengan berpedoman pada RKPD kabupaten/kota yang telah ditetapkan. Pasal 150 (1) Berita acara kesepakatan hasil forum SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (5). dijadikan bahan penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. (5) Hasil kesepakatan pembahasan forum SKPD dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan hasil forum SKPD kabupaten/kota. paling lambat minggu pertama bulan April. dapat diundang menjadi narasumber dalam pembahasan forum SKPD. serta pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. (2) Rancangan Renja SKPD provinsi yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Penyelenggaraan forum SKPD kabupaten/kota dilaksanakan paling lama minggu terakhir bulan Februari. Pasal 149 (1) Peserta forum SKPD kabupaten/kota antara lain terdiri dari wakil peserta musrenbang kecamatan dan SKPD lainnya. (3) Penyampaian rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pimpinan atau anggota komisi DPRD kabupaten/kota yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. dan ditandatangai oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD kabupaten/kota. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . (2) Kepala SKPD provinsi menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). paling lambat minggu pertama bulan Maret. (4) Kepala Bappeda menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi yang telah sesuai dengan RKPD provinsi kepada Gubernur untuk memperoleh pengesahan.49 (3) Penyampaian rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan. disampaikan kepada kepala Bappeda provinsi untuk diverifikasi. memastikan rancangan Renja SKPD provinsi telah sesuai dengan RKPD provinsi.. (3) Forum SKPD kabupaten/kota dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa SKPD kabupaten/kota sekaligus dalam satu forum dengan mempertimbangkan tingkat urgensi. Paragraf 4 Penetapan Renja SKPD Pasal 151 (1) Kepala SKPD provinsi menyempurnakan rancangan Renja SKPD provinsi dengan berpedoman pada RKPD provinsi yang telah ditetapkan.

e. memastikan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota telah sesuai dengan RKPD kabupaten/kota. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 156 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi. dan Kesesuaian antara capaian pembangunan daerah dengan indikator-indikator kinerja yang telah ditetapkan.50 (2) Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disampaikan kepada kepala Bappeda kabupaten/kota untuk diverifikasi. dengan pelaksanaan dan hasil rencana Konsistensi antara RPJPD dengan RPJPN dan RTRW nasional. Konsistensi antara kebijakan pembangunan daerah. perencanaan (3) Bupati/Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota. Pasal 153 (1) Rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam dalam Pasal 151 ayat (4). . ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. b.. (2) Penetapan Keputusan Bupati/Keputusan Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) minggu setelah RKPD kabupaten/kota ditetapkan. BAB IX PENGENDALIAN DAN EVALUASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 155 Pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah bertujuan untuk mewujudkan: a. Pasal 154 (1) Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 ayat (4). (4) Kepala Bappeda menyampaikan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota yang telah sesuai dengan RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota untuk memperoleh pengesahan. Konsistensi antara RPJMD dengan RPJPD dan RTRW daerah. ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Keputusan Walikota. d. (2) Gubernur melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan daerah lingkup provinsi. Konsistensi antara RKPD dengan RPJMD. antarkabupaten/kota. (2) Penetapan Keputusan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) minggu setelah RKPD provinsi ditetapkan. c.

arah. mencakup perumusan visi dan misi serta serta sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Pasal 158 Pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155. visi. misi. c. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selaras dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi masing-masing. jangka menengah dan tahunan daerah. b. mencakup pembangunan daerah pada satu provinsi atau lebih dalam jangka waktu tertentu. arah. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. dan Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah. . b.. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pembangunan daerah. harus dapat menjamin perumusan: a. meliputi: a. selaras dengan RTRW provinsi lainnya. c. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (3) Lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3). Pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah. mencakup pembangunan daerah pada wilayah kabupaten/kota dalam jangka waktu tertentu. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD provinsi masing-masing yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Paragraf 1 Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 159 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (2). Pasal 160 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. (2) Lingkup provinsi. misi. selaras dengan visi. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi lainnya rencana pembangunan jangka panjang daerah. mencakup pembangunan daerah provinsi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kebijakan dan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang nasional.51 Pasal 157 (1) Antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (1). kabupaten/kota dan antarkabupaten/kota pada wilayah provinsi dalam jangka waktu tertentu. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah provinsi. d.

. serta prioritas pembangunan nasional. c. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. dan karakteristik daerah. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. selaras dengan b. kebijakan umum. misi. Pasal 162 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 mencakup perumusan visi. misi. (3) Dalam hal evaluasi hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah provinsi. visi. kebijakan. Pasal 161 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. selaras dengan arah. sasaran. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. misi. selaras dengan visi. kebijakan. d. misi. dan indikator kinerja daerah. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD provinsi. prioritas pembangunan jangka panjang daerah provinsi.52 e. kondisi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lainnya. arah. kebijakan umum dan program. harus dapat menjamin perumusan: a. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi berkenaan. f. sasaran. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. kepada Menteri Dalam Negeri. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang nasional.. tujuan. tujuan. tujuan dan sasaran. kebijakan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD provinsi masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kebijakan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi masing-masing. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. strategi dan arah kebijakan. program pembangunan jangka menengah daerah. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (3). visi. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah provinsi lainnya.

telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi masing-masing. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD provinsi masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. e. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. sesuai dengan prioritas pembangunan nasional terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah provinsi atau lebih. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan nasional. Pasal 164 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. d. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD provinsi. b. . mencakup perumusan prioritas dan sasaran serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD provinsi. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi berkenaan. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. f. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 162 ayat (4). rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD provinsi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). maupun pada wilayah perbatasan antar provinsi/negara..53 e. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD provinsi. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi masing-masing. mengacu pada RPJMN dan memperhatikan RTRW provinsi lainnya. Pasal 163 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah provinsi masing-masing. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi masing-masing. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. c. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus dapat menjamin perumusan: a.

meliputi pelaksanaan RPJPD. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RPJMD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD telah berpedoman pada RPJMD provinsi masing-masing dan mengacu pada RKP.. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. . (1). kepada Menteri Dalam Negeri. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan. Pasal 167 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. RPJMD dan RKPD. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). misi. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah dilaksanakan melalui RPJMD provinsi masing-masing. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat pemantauan dan supervisi dalam pelaksanaan RPJPD. tujuan dan sasaran RPJMD provinsi masing-masing. Paragraf 2 Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 166 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (4). Pasal 168 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD antarprovinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (4). Pasal 165 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarprovinsi. misi.54 (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.

kepada Menteri Dalam Negeri. lokasi. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2).55 Pasal 169 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mencakup prioritas dan sasaran pembangunan. PPAS dan APBD provinsi masing-masing. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi masing-masing. dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. telah disusun kedalam rancangan KUA. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKPD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif. b. harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 172 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD antarprovinsi. pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD provinsi. Pasal 170 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD antarprovinsi.. Pasal 171 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. harus dapat menjamin: a. PPAS dan APBD provinsi masingmasing. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. program pembangunan jangka menengah daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah provinsi masing-masing. telah dilaksanakan melalui RKPD provinsi masingmasing. serta pagu indikatif. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. . (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD provinsi.

Pasal 174 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RPJPD dan/atau RPJMD periode berikutnya. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD antarprovinsi. misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi masing-masing dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). digunakan untuk mengetahui: . mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. Pasal 176 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. tujuan dan sasaran. (5) Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RPJPD provinsi masing-masing. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Paragraf 3 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 173 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c meliputi RPJPD. (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. b. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD provinsi dengan capaian sasaran RPJMD provinsi masing-masing. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2).. dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan RPJPD provinsi masingmasing dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD antarprovinsi.56 (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 171 pada ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD antarprovinsi. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah provinsi. digunakan untuk mengetahui: a. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RPJMD dan RKPD.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi masing-masing. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD provinsi dengan laporan realisasi APBD provinsi masing-masing. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah.57 a. (5) Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan hasil evaluasi RKPD provinsi masingmasing. Pasal 177 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJMD antarprovinsi. b.. dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN. disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RKPD periode berikutnya. dan pembangunan jangka menengah nasional. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD provinsi. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dengan capaian indikator kinerja program dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD provinsi masing-masing. misi. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD provinsi masing-masing. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dapat dicapai dalam rangka mewujudkan sasaran jangka menengah daerah provinsi dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. Pasal 179 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD antarprovinsi. . dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD antarprovinsi. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RPJMD dan/atau RKPD periode berikutnya. digunakan untuk mengetahui: a. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD provinsi masing-masing. Pasal 178 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173.

arah. Pasal 181 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. . Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi. RPJPD memperhatikan RTRW provinsi lainnya. e. arah. b. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. selaras dengan visi. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. jangka menengah dan tahunan daerah. prioritas pembangunan jangka panjang daerah provinsi. c. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). g.58 Paragraf 4 Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. f.. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. kebijakan dan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang nasional. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD provinsi. Pasal 182 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. d. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi lainnya. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah provinsi. misi. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 180 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah lingkup provinsi. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. visi. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi. misi. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi kepada Gubernur.

Pasal 183 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. misi. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD kabupaten/kota. telah mengacu pada RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota masing-masing serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Pasal 184 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. d. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. b. . selaras dengan visi. sebagai lampiran dari surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf c. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. arah. g. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). misi.. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota lainnya. prioritas pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota.59 (4) Gubernur menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. visi. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota masing-masing. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. c. sasaran pokok dan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. harus dapat menjamin perumusan: a. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota berkenaan. arah. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. e. rencana pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan RTRW kabupaten/kota lainnya. tahapan. f. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota.

berpedoman pada tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah.60 (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 187 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi. telah berpedoman pada RPJMD provinsi serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. berpedoman pada indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. harus dapat menjamin perumusan: a. dan pentahapan pelaksanaan program SKPD. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. . dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renstra SKPD provinsi ditetapkan. kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. strategi dan kebijakan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi. Pasal 185 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mencakup perumusan visi dan misi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). indikator kinerja. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 186 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sesuai dengan pentahapan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). indikator kinerja SKPD provinsi. f. c. indikator kinerja. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).. visi dan misi SKPD provinsi. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. strategi dan kebijakan SKPD provinsi. b. rencana program dan kegiatan. rencana program dan kegiatan SKPD provinsi. berpedoman pada kebijakan umum dan program pembangunan serta program prioritas jangka menengah daerah serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. e. berpedoman pada strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. mencakup kebijakan perencanaan strategis SKPD dan RPJMD Provinsi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. Pasal 186 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. d. berpedoman pada visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah.

tujuan. kebijakan umum dan program. c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. selaras dengan b. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah provinsi lainnya. pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lainnya. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). misi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pengendalian dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta prioritas pembangunan nasional. kondisi. arah. selaras dengan arah. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. misi.61 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. program pembangunan jangka menengah daerah.. mengacu pada RPJMN dan memperhatikan RTRW provinsi lainnya. Pasal 188 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan strategik SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 187 ayat (3). kebijakan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dan karakteristik daerah. misi. kebijakan. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. visi. harus dapat menjamin perumusan: a. . (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. kebijakan. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN. selaras dengan visi. kebijakan. tujuan. telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi. Pasal 189 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 mencakup perumusan visi dan misi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. dan indikator kinerja daerah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah provinsi. visi. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD provinsi. e. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. sasaran. mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah provinsi. sasaran. f. d. strategi dan arah kebijakan. kebijakan umum. sesuai dengan kewenangan.

selaras dengan arah. visi. sasaran. telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota masing-masing. tujuan. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi kepada Gubernur. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. kebijakan. e. tujuan. misi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. c.62 Pasal 190 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. kebijakan. mengacu pada RPJMD dan memperhatikan RTRW kabupaten/kota lainnya. kondisi. . serta prioritas pembangunan nasional. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). harus dapat menjamin perumusan: a. dan karakteristik daerah. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. mencakup perumusan visi dan misi. kebijakan umum. kebijakan. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. misi. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota lainnya. sebagai lampiran dari surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2) huruf c. sasaran. dan indikator kinerja daerah. (4) Gubernur menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah.. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. kebijakan. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota masing-masing. d. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. selaras dengan visi. program pembangunan jangka menengah daerah. sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD kabupaten/kota. f. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kebijakan umum dan program. dengan b. Pasal 191 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. misi. visi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah. selaras pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lainnya. strategi dan arah kebijakan. arah. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota.

. lokasi. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. mencakup perumusan kebijakan Renja SKPD dan kebijakan RKPD provinsi. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renja SKPD provinsi ditetapkan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 193 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. rencana program dan kegiatan serta indikator kinerja. Pasal 194 (1) Pengendalian kebijakan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193 mencakup tujuan. kelompok sasaran. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. rencana program dan kegiatan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota berkenaan. Pasal 195 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan penyusuan Renja SKPD provinsi.63 Pasal 192 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. . (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. indikator kinerja. dan pendanaan indikatif dalam Renja SKPD. berpedoman pada rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah dalam RKPD. sasaran. harus dapat menjamin perumusan tujuan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sasaran. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan Renja SKPD provinsi telah berpedoman pada RKPD dan Renstra SKPD. serta selaras dengan Renstra SKPD.

c. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD provinsi telah berpedoman pada RPJMD provinsi dan mengacu pada RKP. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.64 Pasal 196 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan penyusunan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (3). Kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. lokasi. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD provinsi. Pasal 197 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193.. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD provinsi. serta rencana program. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. dan kegiatan prioritas daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi kebijakan pembangunan tahunan daerah provinsi kepada Gubernur. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. e. maupun pada wilayah perbatasan antar provinsi/negara. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (4). rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. b. . sesuai dengan prioritas pembangunan nasional terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah provinsi atau lebih. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan nasional. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD provinsi. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi. d. Pasal 198 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi.

sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. e.. b. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD antarkabupaten/kota telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota masingmasing dan mengacu pada RKPD provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. c. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. RPJMD dan RKPD. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD kabupaten/kota.65 Pasal 199 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan provinsi. maupun pada wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota masing-masing. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota. Pasal 200 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarkabupaten/kota. Paragraf 5 Pengendalian Dan Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. sesuai dengan prioritas pembangunan provinsi terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). meliputi pelaksanaan RPJPD. d. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 201 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah lingkup provinsi.

misi. (2) Pengendalian terhadap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi.. Pasal 203 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. tujuan dan sasaran RPJMD provinsi. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. dan evaluasi . (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. telah dilaksanakan melalui RPJMD provinsi. sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi kepada Gubernur. telah dilaksanakan melalui RPJMD kabupaten/kota masing-masing. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota masing-masing. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. misi. Pasal 204 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah masing-masing kabupaten/kota. Pasal 205 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi.66 Pasal 202 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). misi.

kelompok sasaran. serta pendanaan indikatif Renstra SKPD provinsi. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi telah dilaksanakan melalui Renja SKPD provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa indikator kinerja SKPD provinsi.67 (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 207 (1) Pengendalian pelaksanaan Renstra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 206. telah dipedomani dalam menyusun indikator kinerja dan kelompok sasaran. rencana program. kegiatan. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD provinsi. misi. Pasal 208 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi. . (2) Dalam hal evaluasi terhadap laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Rentra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi telah dijabarkan dalam tujuan dan sasaran Renja SKPD provinsi. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan RPJMD Provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). program. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi. (3) Kepala SKPD provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. dan visi. Pasal 209 (1) Kepala Bappeda provinsi menggunakan laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 208 ayat (3). misi. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 206 Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. b. kegiatan. dana indikatif dan prakiraan maju Renja SKPD provinsi. rencana program. kelompok sasaran. pendanaan indikatif serta visi. mencakup indikator kinerja SKPD provinsi. kegiatan. pendanaan indikatif serta visi. harus dapat menjamin: a. kegiatan. sebagai bahan evaluasi pelaksanaan RPJMD provinsi.. misi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi. indikator kinerja dan kelompok sasaran. melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). mencakup pelaksanaan Renstra SKPD. rencana program.

program pembangunan jangka menengah daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi kepada Gubernur. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi. (2) Pengendalian pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pengendalian pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. harus dapat menjamin: a. telah dilaksanakan melalui RKPD provinsi. harus dapat menjamin: a. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 211 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD provinsi. telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah provinsi.68 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. program pembangunan jangka menengah daerah. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. b. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota masing-masing. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Pasal 210 (1) Pengendalian pelaksanaan RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 206. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. dan . Pasal 212 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201.

Pasal 215 (1) Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 214. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).. harus dapat menjamin agar program dan kegiatan. pagu indikatif serta prakiraan maju. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. lokasi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program dan kegiatan. mencakup program dan kegiatan. Pasal 214 Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup Renja SKPD provinsi dan RKPD provinsi. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 212 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. telah dilaksanakan melalui RKPD kabupaten/kota masing-masing. dilakukan melalui . pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. lokasi. Pasal 213 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (2) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota masing-masing. dana indikatif yang disusun ke dalam RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi.69 b. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. pagu indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. lokasi. Pasal 217 (1) Kepala SKPD provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi. (2) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 216 (1) Pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 215 ayat (2). Kepala SKPD provinsi mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar penyusunan RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. telah disusun kedalam RKA-SKPD provinsi.

dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. Pasal 220 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD provinsi. serta pagu indikatif. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melalui . Pasal 218 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renja SKPD provinsi yang disampaikan oleh kepala SKPD provinsi. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 221 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 219 (1) Pengendalian pelaksanaan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 214 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 219 ayat (3) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.70 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. rencana program dan kegiatan prioritas daerah. PPAS dan APBD Provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD provinsi. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD provinsi kepada Gubernur. serta pagu indikatif. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi.. lokasi. serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA. rencana program dan kegiatan prioritas daerah. PPAS dan APBD provinsi. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKA-SKPD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. Kepala Bappeda provinsi melakukan perbaikan/penyempurnaan. (1). harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah.

untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional. harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. RKPD. lokasi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan evaluasi hasil RPJMD provinsi. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 223 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah lingkup provinsi. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. Pasal 222 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD antarkabupaten/kota.. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. digunakan untuk mengetahui: a. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi. meliputi RPJPD. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. PPAS dan APBD kabupaten/kota masing-masing. serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA. Pasal 224 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. lokasi. dan realisasi antara capaian sasaran pokok RPJPD provinsi dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional. Paragraf 6 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. b. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta pagu indikatif dijadikan pedoman penyusunan KUA dan PPAS serta APBD kabupaten/kota masing-masing. . antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c.71 (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dapat dicapai. realisasi antara sasaran pokok RPJPD provinsi dengan capaian sasaran RPJMD provinsi. RPJMD.

(2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota masing-masing. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. Pasal 227 (1) Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD antarkabupaten/kota. b. Pasal 226 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223 mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD provinsi. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Hasil evaluasi RPJPD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJPD provinsi untuk periode berikutnya. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk mengetahui: a.. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi.72 Pasal 225 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RPJPD kabupaten/kota masing-masing. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota masing-masing dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. tujuan dan sasaran. disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RPJPD pada periode berikutnya. . Pasal 228 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJPD provinsi kepada Gubernur. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan capaian sasaran RPJMD kabupaten/kota masingmasing. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota.

digunakan untuk mengetahui: a. misi. digunakan untuk mengetahui: a. Pasal 229 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi hasil RPJMD lingkup provinsi. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJMD provinsi kepada Gubernur. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD provinsi dengansasaran pokok dan prioritas serta sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN. (3) Hasil evaluasi RPJMD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJMD provinsi untuk periode berikutnya. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota masing-masing. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan.. misi. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi dan pembangunan jangka menengah nasional. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD kabupaten/kota masing-masing. b. Pasal 230 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. tujuan dan sasaran. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD kabupaten/kota masing-masing dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota masing-masing. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD provinsi. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).73 (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang kabupaten/kota masing-masing dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah daerah provinsi. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing dengan sasaran pokok RPJPD kabupaten/kota masing-masing. serta dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah provinsi. (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD provinsi dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi. .

. mencakup program dan kegiatan. (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RPJMD kabupaten/kota masingmasing pada periode berikutnya. kelompok sasaran. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). misi Renstra SKPD provinsi serta prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi. kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/ penyempurnaan. lokasi dan penyerapan dana indikatif kegiatan Renja SKPD provinsi dicapai. dilakukan melalui penilaian terhadap realisasi DPA-SKPD provinsi.74 Pasal 231 (1) Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJMD antarkabupaten/kota. (3) Hasil evaluasi Renja SKPD provinsi menjadi bahan penyusunan Renja SKPD provinsi untuk tahun berikutnya. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kelompok sasaran. (4) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenaan. Pasal 235 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan evaluasi Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 ayat (4). digunakan untuk mengetahui realisasi pencapaian target indikator kinerja. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi dan penyerapan dana dan kendala yang dihadapi. Pasal 232 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223 mencakup hasil Renja SKPD provinsi dan hasil RKPD provinsi. kelompok sasaran. (5) Evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi dilakukan setiap triwulan dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 234 (1) Kepala SKPD melaksanakan evaluasi terhadap hasil Renja SKPD provinsi. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur.. dilakukan untuk memastikan bahwa indikator kinerja program. lokasi dan dana indikatif. Pasal 233 (1) Evaluasi terhadap hasil Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 232. indikator kinerja. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. untuk mewujudkan visi.

Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).75 (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi. dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD provinsi. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD provinsi dengan laporan realisasi APBD provinsi. Pasal 238 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. (3) Hasil evaluasi RKPD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RKPD provinsi untuk tahun berikutnya. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dapat dicapai. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD kabupaten/kota.. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan capaian indikator kinerja program. digunakan untuk mengetahui: . Gubernur melalui kepala Bappeda menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. digunakan untuk mengetahui: a. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi hasil Renja SKPD provinsi. lokasi. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD provinsi. Pasal 237 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD provinsi. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). lokasi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RKPD provinsi kepada Gubernur. untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah provinsi dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. Pasal 236 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223.

Pasal 239 (1) Kepala Bappeda provinsi antarkabupaten/kota. disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RKPD kabupaten/kota masing-masing untuk tahun berikutnya (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. arah. dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota masing-masing. dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD kabupaten/kota masing-masing. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. tahapan.76 a. misi. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program. Pasal 240 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah lingkup lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. arah. lokasi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus dapat menjamin perumusan: a. melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD (2) Hasil evaluasi hasil RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. misi. visi. Pasal 241 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD kabupaten/kota dengan laporan realisasi APBD kabupaten/kota masingmasing. Paragraf 7 Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan visi. b. jangka menengah dan tahunan daerah. dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. . (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dengan capaian indikator kinerja program. b.. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). lokasi. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. sasaran pokok dan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional.

(4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD kabupaten/kota. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. Pasal 244 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 mencakup perumusan visi dan misi. e. g. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota kepada Gubernur sebagai lampiran surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c. Pasal 243 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240 mencakup kebijakan perencanaan strategis SKPD dan RPJMD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota lainnya rencana pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan RTRW kabupaten/kota lainnya. indikator kinerja. strategi dan kebijakan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. f. kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renstra SKPD kabupaten/kota ditetapkan. prioritas pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. d. telah mengacu pada RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. . rencana program dan kegiatan. harus dapat menjamin perumusan: a. Pasal 242 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.77 c. visi dan misi SKPD kabupaten/kota berpedoman pada visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah.. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 247 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 mencakup perumusan visi dan misi. kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD.78 b. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). strategi dan kebijakan SKPD kabupaten/kota berpedoman pada strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. kebijakan umum dan program. kegiatan SKPD kabupaten/kota berpedoman pada kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. rencana program. indikator kinerja SKPD kabupaten/kota berpedoman pada tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 pada ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. indikator kinerja. d. f. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan strategis SKPD kabupaten/kota. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. e. dan indikator kinerja daerah.. dan pentahapan pelaksanaan program SKPD sesuai dengan pentahapan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. c. strategi dan arah kebijakan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD kabupaten/kota berpedoman pada indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. . Pasal 245 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD kabupaten/kota. Pasal 246 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan strategik SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (3). telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis.

kondisi. misi. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. misi. serta prioritas pembangunan nasional. arah. kebijakan. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota selaras dengan arah. mencakup perumusan kebijakan Renja SKPD dan kebijakan RKPD kabupaten/kota. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. misi. Pasal 249 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240. d.79 (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah selaras dengan visi. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD kabupaten/kota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah kabupaten/kotate. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. harus dapat menjamin perumusan: a. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota lainnya. dengan b. dan karakteristik daerah. berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota. mengacu pada RPJMD provinsi dan memperhatikan RTRW kabupaten/kota lainnya. kebijakan. tujuan.. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tujuan. . sasaran. Pasal 248 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota. sasaran. c. visi. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. program pembangunan jangka menengah daerah selaras pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lainnya. e. kebijakan umum. f. visi. kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. kebijakan. kebijakan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota kepada Gubernur sebagai lampiran surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c.

(2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus dapat menjamin perumusan: . kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD.. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. sasaran. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 251 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). harus dapat menjamin perumusan tujuan. lokasi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kelompok sasaran. Pasal 252 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota sebagimana dimaksud dalam Pasal 251 ayat (3). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. rencana program dan kegiatan serta indikator kinerja. dan kegiatan prioritas daerah. Pasal 253 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249. lokasi. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. rencana program. indikator kinerja. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan Renja SKPD kabupaten/kota telah berpedoman pada RKPD dan Renstra SKPD. sasaran rencana program dan kegiatan. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota. mencakup tujuan. dan pendanaan indikatif dalam Renja SKPD mempedomani rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah RKPD serta selaras dengan Renstra SKPD. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 250 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD kabupaten/kota.80 Pasal 250 (1) Pengendalian kebijakan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renja SKPD kabupaten/kota ditetapkan.

rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. d.. RPJMD dan RKPD Pasal 256 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota dan mengacu pada RKPD provinsi. b. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sesuai dengan prioritas pembangunan provinsi terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. meliputi pelaksanaan RPJPD. . maupun pada wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. Pasal 254 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota. ayat (1). tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD kabupaten/kota. Paragraf 8 Pengendalian dan Evaluasi terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. Pasal 255 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b.81 a. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan provinsi. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. e. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD kabupaten/kota. misi. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota.

Pasal 258 Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. mencakup pelaksanaan Renstra SKPD. harus dapat menjamin: a. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 256 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 259 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). . (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kelompok sasaran dan pendanaan indikatif sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam upaya mencapai visi. kegiatan. tujuan dan sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. rencana program. b.82 (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. rencana program. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. program. Pasal 257 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota. dan visi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tujuan dan sasaran Renstra SKPD. misi. misi. indikator kinerja dan kelompok sasaran. telah dilaksanakan melalui RPJMD kabupaten/kota. Pasal 260 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra SKPD. dan RPJMD kabupaten/kota. kegiatan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota.. mencakup indikator kinerja SKPD serta rencana program. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif serta visi. kegiatan. telah dipedomani dalam menyusun indikator kinerja dan kelompok sasaran. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa indikator kinerja SKPD kabupaten/kota. telah dilaksanakan melalui Renja SKPD kabupaten/kota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. serta pendanaan indikatif Renstra SKPD kabupaten/kota. dana indikatif dan prakiraan maju Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. misi. misi. kegiatan. tujuan dan sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota telah dijabarkan dalam tujuan dan sasaran Renja SKPD kabupaten/kota.

(3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dalam hal evaluasi terhadap laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. b. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Pengendalian pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. program pembangunan jangka menengah daerah telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota.83 (3) Kepala SKPD kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi Renstra SKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. Pasal 262 (1) Pengendalian pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Pasal 263 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. . sebagai bahan evaluasi pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. harus dapat menjamin: a. Pasal 261 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota menggunakan laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 260 ayat (3). Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 262 ayat (4). dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota..pembangunan jangka menengah daerah telah dilaksanakan melalui RKPD kabupaten/kota. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.

pagu indikatif serta prakiraan maju. Pasal 266 (1) Pemantauan dan supervisi terhadap penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2). melalui . (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan triwulan hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKA-SKPD kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program dan kegiatan. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. Pasal 268 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota yang disampaikan oleh kepala SKPD kabupaten/kota. telah disusun kedalam RKA-SKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Kepala SKPD kabupaten/kota mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota sesuai dengan Renja SKPD kabupaten/kota. mencakup program dan kegiatan. dilakukan pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota. lokasi. mencakup Renja SKPD kabupaten/kota dan RKPD kabupaten/kota.84 Pasal 264 Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. (2) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. dana indikatif yang disusun ke dalam RKA-SKPD kabupaten/kota sesuai dengan Renja SKPD kabupaten/kota. lokasi. harus dapat menjamin agar program dan kegiatan. lokasi. pagu indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 265 (1) Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264. Pasal 267 (1) Kepala SKPD melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota.

- 85 Pasal 269 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah, serta pagu indikatif. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. melalui

(3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA, PPAS dan APBD kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah, serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA, PPAS dan APBD kabupaten/kota. Pasal 270 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 269 ayat (3) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. Paragraf 9 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. Pasal 271 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c, meliputi RPJPD, RPJMD, RKPD. Pasal 272 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271, mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. b. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan capaian sasaran RPJMD kabupaten/kota; dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang provinsi.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa visi, misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang provinsi.

- 86 (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi terhadap hasil RPJMD kabupaten/kota. Pasal 273 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJPD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJPD kabupaten/kota untuk periode berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 274 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271 mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi, tujuan dan sasaran, dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD kabupaten/kota dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota; dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD kabupaten/kota dengan prioritas dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi.

b.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD kabupaten/kota. Pasal 275 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi hasil RPJMD lingkup kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJMD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJMD kabupaten/kota untuk periode berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJMD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.

- 87 (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 276 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271 mencakup hasil rencana Renja SKPD kabupaten/kota dan hasil RKPD kabupaten/kota. Pasal 277 (1) Evaluasi terhadap hasil Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276, mencakup program dan kegiatan, indikator kinerja dan kelompok sasaran, lokasi, serta dana indikatif. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian terhadap realisasi DPA-SKPD kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui realisasi pencapaian target indikator kinerja, penyerapan dana dan kendala yang dihadapi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa indikator kinerja program dan kegiatan Renja SKPD kabupaten/kota dapat dicapai dalam rangka mewujudkan visi, misi Renstra SKPD kabupaten/kota serta prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota. (5) Evaluasi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota dilakukan setiap triwulan dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 278 (1) Kepala SKPD melaksanakan evaluasi terhadap hasil Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi Renja SKPD kabupaten/kota menjadi bahan bagi penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota untuk tahun berikutnya. (4) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenaan. Pasal 279 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap hasil evaluasi Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277 ayat (4). (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD Bupati/Walikota. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota.

- 88 Pasal 280 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dengan capaian indikator kinerja program dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD kabupaten/kota; dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD kabupaten/kota dengan laporan realisasi APBD kabupaten/kota.

b.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dapat dicapai dalam rangka mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dan mencapai sasaran pembangunan tahunan provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi hasil Renja SKPD kabupaten/kota. Pasal 281 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RKPD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RKPD kabupaten/kota untuk tahun berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. BAB X PERUBAHAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 282 (1) Perubahan RPJPD dan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila: a. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan, tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini; hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan, tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini; terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau merugikan kepentingan nasional.

b. c. d.

- 89 (2) Perubahan yang mendasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, mencakup antara lain terjadinya bencana alam, goncangan politik, krisis ekonomi, konflik sosial budaya, gangguan keamanan, pemekaran daerah, atau perubahan kebijakan nasional. (3) Merugikan kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, apabila bertentangan dengan kebijakan nasional. Pasal 283 RPJPD dan RPJMD perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 284 Dalam hal pelaksanaan RPJPD dan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka panjang dan menengah, penetapan perubahan RPJPD dan RPJMD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Pasal 285 (1) RKPD dapat diubah dalam hal tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan. (2) Perkembangan keadaan dalam tahun berjalan sebagaiman dimaksud pada ayat (1), seperti: a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan kegiatan prioritas daerah; keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan; dan/atau anggaran

b. c.

keadaan darurat dan keadaan luar biasa sebagaimana ditetapkan dalam perturan perundang-undangan. Pasal 286

(1) Perubahan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. (2) Gubernur menyampaikan Peraturan Gubernur tentang Perubahan RKPD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD provinsi tahun berkenaan untuk dievaluasi. (3) Bupati/Walikota menyampaikan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang Perubahan RKPD Kabupaten/kota kepada Gubernur bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD kabupaten/kota tahun berkenaan untuk dievaluasi dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri.

- 90 BAB XI PENYUSUNAN RKPD BAGI DAERAH YANG BELUM MEMILIKI RPJMD DAN DAERAH OTONOM BARU Bagian Kesatu Penyusunan RKPD bagi Daerah yang belum memiliki RPJMD Pasal 287 (1) Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah provinsi, penyusunan RKPD berpedoman pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD provinsi, dan mengacu pada RPJMN untuk keselaran program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi dengan pembangunan nasional. (2) Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah kabupaten/kota, penyusunan RKPD berpedoman pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota dan mengacu pada RPJMD provinsi untuk keselaran program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan pembangunan daerah provinsi. (3) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menjadi bagian dari RPJMD yang akan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 288
(1) Kepala daerah yang diperpanjang masa jabatannya 2 (dua) tahun atau lebih,

diwajibkan menyusun RPJMD.
(2) RPJMD

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi pedoman untuk penyusunan RKPD selama kurun waktu masa jabatan. Bagian Kedua Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah Otonom Baru Pasal 289

(1) Penjabat kepala daerah otonom baru menyusun rancangan RKPD (2) Penyusunan rancangan RKPD sebagaimana dimaksud ayat (1), berpedoman pada RPJMD provinsi/kabupaten/kota induk. (3) Berpedoman pada RPJMD provinsi/kabupaten/kota induk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), yaitu mengacu pada identifikasi permasalahan pembangunan dan isu-isu strategis berdasarkan evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dalam wilayah administratif pemerintahan daerah otonom yang baru dibentuk. (4) Berdasarkan hasil analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (3), disusun rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan, prioritas, lokasi, dan sasaran pembangunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah. (5) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah sebagai dasar penyusunan KUA, PPAS, dan RAPBD. Pasal 290 Tahapan, tatacara penyusunan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD bagi daerah yang belum memiliki RPJMD dan bagi daerah otonom baru tetap berpedoman pada ketentuan Peraturan Menteri ini. BAB XII

- 91 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 291 Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah. Pasal 292
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pemberian

291, meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan. pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. mencakup penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

(3) Pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan bagi

kepala daerah dan wakil kepala daerah, pimpinan dan anggota DPRD serta aparatur pemerintah daerah, yang dilakukan bersama dengan Badan Pendidikan dan Pelatihan. Pasal 293 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291, dilakukan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini dalam hal penyusunan, pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah. Pasal 294 Gubernur melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 295
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pemberian

294 meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan. pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. mencakup penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

(3) Pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan bagi

bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota serta aparatur pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota.

- 92 Pasal 296 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 294 dilakukan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini dalam penyusunan, pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota.

BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 297
(1) Daerah yang sedang menyusun atau akan mengubah RPJPD, RPJMD dapat

mempedomani tahapan dan tatacara penyusunan sesuai dengan Peraturan Menteri ini.
(2) Rencana pembangunan daerah yang telah ditetapkan, tetap digunakan sampai

dengan disusun dan ditetapkan rencana pembangunan daerah sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan yang diatur dalam Peraturan Menteri ini. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 298 Tata cara pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD, RKPD, Renja SKPD dan pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah, masing-masing tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV, Lampiran V, Lampiran VI dan Lampiran VII sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 299
(1) Tata

cara koordinasi penyusunan rencana pembangunan antarkabupaten/kota, diatur dengan Peraturan Gubernur. kepala daerah.

daerah

(2) Pelaksanaan musrenbang RPJPD, RPJMD dan RKPD diatur dengan peraturan (3) Peraturan Gubernur dan Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Menteri ini ditetapkan. Pasal 300 Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1982 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

- 93 Pasal 301 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 2010 MENTERI DALAM NEGERI, ttd GAMAWAN FAUZI Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 21 Oktober 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 517 Salinan sesuai dengan aslinya Plt.KEPALA BIRO HUKUM

ZUDAN ARIF FAKRULLOH

Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

(BUKU I) TATA CARA PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010

LAMPIRAN I : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010

TATA CARA PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah mencakup data dan informasi gambaran umum kondisi daerah yang meliputi data kondisi geografis dan demografis daerah, dan data terkait dengan indikator kinerja kunci penyelenggaraan pemerintahan daerah meliputi aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. Jenis data dan informasi gambaran umum kondisi daerah berikut sumbernya dapat diperoleh melalui: 1) Data primer yang diperoleh dari kegiatan penelitian, monitoring dan evaluasi, serta kegiatan sejenis lainnya yang dilaksanakan secara periodik oleh SKPD. 2) Data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat maupun daerah dan instansi pemerintah, hasil riset/audit/studi oleh lembaga yang kompeten dibidangnya. Analisis Kondisi Umum Daerah. Analisis kondisi umum daerah bertujuan untuk menghasilkan dan memutakhirkan gambaran umum kondisi daerah yang diperlukan untuk menunjang perencanaan pembangunan daerah. Dalam analisis kondisi umum daerah agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Hasil evaluasi capaian kinerja rencana pembangunan daerah periode sebelumnya yaitu: a. Hasil evaluasi kinerja RPJPD periode sebelumnya untuk menyusun RPJPD periode berikutnya; b. Hasil evaluasi kinerja RPJMD periode sebelumnya untuk menyusun RPJMD periode berikutnya. 2. Memiliki hubungan/keterkaitan dengan urusan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, serta memenuhi kriteria dalam rangka pencapaian indikator kinerja kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. 3. Memprediksi kondisi dan perkembangan pembangunan daerah terhadap aspek yang dianalisis dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: a. b. c. d. Menggunakan formula/rumus penghitungan baku terhadap obyek tertentu; Melihat trend (kecenderungan); Menggunakan metode regresi linier atau metode lainnya; dan/atau Menggunakan asumsi berdasarkan hasil pengamatan obyek tertentu.

4. Menyatakan suatu fakta dan permasalahan dari suatu aspek yang dianalisis dapat dilakukan dengan cara: a. Perbandingan antar waktu; b. Perbandingan dengan standar yang berlaku (nasional/internasional); dan/atau c. Perbandingan dengan daerah/wilayah/kawasan lainnya. Data dan informasi yang digunakan untuk mendukung penjelasan fakta dan permasalahan, dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar, dan lain-lain disertai dengan penjelasan yang memadai.

-2A. Data dan Informasi Kondisi Umum Daerah.

Data dan informasi kondisi umum daerah sekurang-kurangnya mencakup: 1. Aspek Geografi dan Demografi Memberikan gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi geografis daerah, mencakup karakteristik dan potensi pengembangan wilayah, kerentanan wilayah terhadap bencana, luas wilayah menurut batas administrasi pemerintahan kabupaten/kota/kecamatan/desa dan kelurahan. a. Karakteristik lokasi dan wilayah, mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi 2) Letak dan kondisi geografis antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis b) Posisi geostrategis c) Kondisi/kawasan, antara lain meliputi: (1) (2) (3) (4) (5) Pedalaman Terpencil Pesisir Pegunungan Kepulauan

3) Topografi, antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan b) Ketinggian lahan 4) Geologi, antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik b) Potensi kandungan 5) Hidrologi, antara lain terdiri dari: a) Daerah Aliran Sungai b) Sungai, danau dan rawa c) Debit 6) Klimatologi, antara lain terdiri dari: a) b) c) d) Tipe Curah hujan Suhu Kelembaban

7) Penggunaan lahan, antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya b) Kawasan lindung b. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan, pertanian, pariwisata, industri, pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah. c. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain. d. Demografi Memberikan deskripsi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.

-3Hasil analisis geografis dapat disajikan dalam bentuk tabel. 2. Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk mengetahui capaian indikator kinerja dari setiap aspek, fokus menurut bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, dapat menggunakan formula yang di disajikan dalam Tabel.T-I.A.1. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi, merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota, sedangkan untuk kabupaten/kota, pada setiap kecamatan di wilayah masing-masing.
Tabel.T-I.A.1 ASPEK, FOKUS DAN INDIKATOR KINERJA MENURUT BIDANG URUSAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

1.1.

Pertumbuhan PDRB

Dimana: +1 = tahun pengamatan PDRB = tahun pengamatan PDRBsebelumnya { Dimana : = perubahan inflasi dari nilai tahun sebelumnya = adalah periode pengamatan perubahan nilai inflasi. Sedangkan dihitung dengan rumus sebagai berikut : }

1.2.

Laju inflasi provinsi

Dimana : = = = 1.3. PDRB per kapita
k

nilai inflasi pada tahun n nilai pada 1 tahun berikutnya tahun ...

G  1   Pi (Qi  Qi 1 )
i 1

dimana: 1.4. Indeks Gini Pi : persentase rumahtangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentase kumulatif total pendapatan atau pengeluaran sampai kelas ke-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1, jika:    G < 0,3 0,3 ≤ G ≤ 0,5 G > 0,5 = = = ketimpangan rendah ketimpangan sedang ketimpangan tinggi

-4NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS

Dimana: YD4 = Persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk 1.5. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia lapisan bawah Qi -l = Persentase kumulatif pendapatan ke i-1 Pi qi = Persentase kuraulatif penduduk ke i = Persentase pendapatan ke i

√ Dimana:

Untuk kabupaten/kota:
Yi Y 1.6. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Fi n = = = = PDRB perkapita di kecamatan I PDRB perkapita rata-rata kab/kota jumlah penduduk di kecamatan i jumlahpenduduk di kab/kota

Untuk provinsi Yi =
Y fi n = = = PDRB perkapita di kab/kota i PDRB perkapita rata-rata provinsi jumlah penduduk di kab/kota i jumlah penduduk di provinsi

1.7. 1.8.

Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Angka kriminalitas yang tertangani

(100 – angka kemiskinan)
0 000

Fokus Kesejahteraan Masyarakat
1. Pendidikan

1.1.

Angka melek huruf

dimana: = = = angka melek huruf ( penduduk usia 15 tahunkeatas) pada tahun t Jumlah penduduk (usia diatas 15 tahun) yang bisa menulis pada tahun t Jumlah penduduk usia 15 tahunkeatas

1.2.

Angka rata-rata lama sekolah

Kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki. dan pendidikan yang ditamatkan.

1.3.

Angka partisipasi kasar

Dimana, h = a = t = = =

jenjang pendidikan kelompok usia tahun adalah jumlah penduduk yang pada tahun tdari berbagai usia sedangsekolah pada jenjang pendidikan h adalah jumlah penduduk yang pada tahun tberada pada kelompok usia yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h

1.4.

Angka pendidikan yang ditamatkan

Dimana: h = t = = =

jenjang pendidikan tahun jumlah penduduk yang mencapai jenjang pendidikan h pada tahun t total jumlah penduduk pada tahun t

Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Kesehatan 3 5 3 5 00 1.1.000 penduduk.1.5. Jumlah grup kesenian per 10. Angka usia harapan hidup Angka perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur 2.1.1.3. 3. 4. 2. Jumlah gedung olahraga per 10.1. Jumlah klub olahraga b.000 penduduk Jumlah gedung kesenian per 10. Angka kelangsungan hidup bayi 1 AKB = per 1000 kelahiran = Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR) = Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu. 2. Persentase balita gizi buruk Pertanahan Persentase penduduk yang memiliki lahan Ketenagakerjaan Rasio penduduk yang bekerja Penduduk memiliki lahan x100 Jumlah penduduk 00 Fokus Seni Budaya dan Olahraga 1. Angka Partisipasi Murni a t = = = = = jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a 1. 2.2. 1.2. 2.5.5. . Jumlah gedung olahraga Jumlah klub olahraga per 10. 1. 3. 00 00 ∑ Dimana: 2.000 penduduk.5. ∑LahirHidup = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu.1. 2. 1.-5NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS dimana: h 1. 4.2.2.3. Kebudayaan Jumlah grup kesenian Jumlah gedung Pemuda dan Olahraga a.000 penduduk.

2.3. 1. Pendidikan Pendidikan dasar: dimana: h 1. 1. 1.1.3.2.2.1.2.1.1.4. Fasilitas Pendidikan: Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angka Putus Sekolah: 00 00 1.5. Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI 00 1.5.1.rata Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) G G 3 5 0 000 0 000 000 000 0 000 0 000 0 000 5 5 00 1. 1.1. 1. 1.2.2.1.1.5. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Rasio guru/murid per kelas ratarata Pendidikan menengah: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid per kelas rata.1.3. 1.2. – 1. 1.1.3.2. 1.5. Angka partisipasi sekolah a t = = = = = jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a 1.2.4. Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs 00 .-6NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Layanan Urusan Wajib 1. 1. 1.3. 00 1.2.4.4. 1.

13. 2. 00 2. 00 2.14.9.6. 00 2.4.6.12.8.1. 1. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rasio dokter per satuan penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 00 .-7NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS 1.6.6. Angka Kelulusan (AL) SD/MI 1. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs 00 1. 00 2.6. 2.3.10. 2. 2.5. 000 00 1.2.1.11. poliklinik. 2. 1. 00 00 G . . Cakupan puskesmas 00 . AngkaKelulusan: 00 1. 00 000 000 000 000 2.6.5.2. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 00 2.6.6.3. 2.4. Cakupan kunjungan bayi 00 2. Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.6.7. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan 00 2. .5.3. Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA 00 1. 2.

15. 00 3. 00 3. 3. 4. 4.11.2.1. 00 3.15. 00 00 00 .12. 3. 4.5 m) Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan rumah liar Sempadan sungai yang dipakai bangunan liar Drainase dalam kondisi baik/ pembuangan aliran air tidak tersumbat Pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor lingkup kewenangan kota Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik Lingkungan Pemukiman Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah tangga pengguna listrik Rumah tangga ber-Sanitasi Lingkungan pemukiman kumuh Rumah layak huni 00 00 00 00 000 RUMUS 00 000 00 000 3.18. 4.3. 00 3. 3.7.-8NO 2.14. 00 3.1. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Cakupan pembantu puskesmas PekerjaanUmum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio Jaringan Irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Rasio rumah layak huni Rasio permukiman layak huni Panjang jalan dilalui Roda 4 Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4) Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air ( minimal 1.2.13. 3.10. 4.16. 3.5. 3.17. 3. 3. 00 3.3. 3. 00 3. 4.8.4. 3. 3.5.6.4.9.

4. Jumlah uji kir angkutan umum Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Angkutan darat 7.3. Rasio ijin trayek Jumlah Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor. Kepemilikan KIR angkutan umum Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) Biaya pengujian kelayakan angkutan umum Pemasangan Rambu-rambu Lingkungan Hidup Persentase penanganan sampah Persentase Penduduk berakses airminum Persentase Luas pemukiman yang tertata 00 7. 00 7. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Penataan Ruang Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber.3. 8.5. 5. 7.2. Ada/ tidak 6.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Perencanaan Pembangunan Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Perhubungan Jumlah arus penumpang angkutan umum (bis/kereta api/kapal laut/pesawat udara) yang masuk/keluar daerah selama 1 (satu) tahun.1.9.1. 5.3. 8. 00 7. Ada/ tidak 6. 6. 8. Jangka waktu proses pengujian angkutan umum Biaya pengujian kelayakan angkutan umum 00 00 00 00 8.5.2.1. baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis 7.6. Pencemaran status mutu air 00 8. Ada/ tidak 6.1.2. 5.7. Jumlah arus penumpang angkutan umum 7.3. Cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan Sumber Mata Air 00 .2.8. 7.4. 8. 7. Jumlah arus penumpang angkutan umum yang masuk/keluar daerah – RUMUS G 00 6.4.-9NO 5. 7.

2. 9.1.3.7. 10.6. 8.2. 12. 12. 10.1. 10.3. 11.1.5. 10. Kepemilikan KTP Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk Ketersediaan database kependudukan skala provinsi Penerapan KTP Nasional berbasis NIK Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Partisipasi perempuan di lembaga swasta Rasio KDRT Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Partisipasi angkatan kerja perempuan Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB Cakupan peserta KB aktif Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Sosial 00 5 5 00 10. 00 12. Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Penegakan hukum lingkungan Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat Penyelesaian kasus tanah Negara Penyelesaian izin lokasi Kependudukan dan Catatan Sipil Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk Rasio bayi berakte kelahiran Rasio pasangan berakte nikah 00 00 0 3 00 RUMUS 00 00 00 10.5. 00 Ada/tidak ada Sudah/belum 00 00 00 00 11. 10. 11. 12. 13.4.4. 9. 11.2.3.4. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal.3.6.. 12. 11.8. 11.2.7. 00 00 . 8.6. 9. 9.1. 11.10 NO 8. 10.

Keselamatan dan perlindungan 3 00 14. 17. Jumlah UKM non BPR/LKM UKM 15. 17.1.2.4. 14. Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Kepemudaan dan Olahraga Jumlah penyelenggaraan festival seni dan budaya Jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya . Jumlah BPR/LKM Jumlah BPR/LKM aktif 15.1. 17..2. panti jompo dan panti rehabilitasi PMKS yg memperoleh bantuan sosial Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Ketenagakerjaan Angka partisipasi angkatan kerja Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun Tingkat partisipasi angkatan kerja Pencari kerja yang ditempatkan Tingkat pengangguran terbuka 5 5 00 00 RUMUS Menunjukan jumlah sarana sosial seperti panti asuhan.1. 14.1.3.4. .7.6.3.1. 16. 00 18. – 00 16. 13. 13. 14. 14. Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Persentase koperasi aktif Jumlah UKM aktif non BPR/LKM UKM 00 00 15.4.2. 14. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 16.2.3. .3.11 NO 13. 00 000 5 00 00 00 14. panti jompo. 15. 15. 14. Usaha Mikro dan Kecil Penanaman Modal Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Rasio daya serap tenaga kerja Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Kebudayaan Penyelenggaraan festival seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda. Jumlah nilai investasi berskala nasional(PMDN/PMA) 16. rumah singgah dll yang terdapat di suatu daerah. 16.5. panti rehabilitasi. 00 17.3. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Sarana sosial seperti panti asuhan.2.

18. 18.3.7.000 Penduduk Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Pertumbuhan ekonomi Kemiskinan Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan adiministrasi pemerintah (100 – angka kemiskinan) 0 000 0 000 20. 00 00 20.1. Ormas dan OKP Menunjukan Jumlah Kegiatan pembinaan politik daerah Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga 000 RUMUS 000 19. Kepegawaian dan Persandian Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10. 21.11. 18. Pemerintahan Umum. 20.12 NO 18. 18. 18. Otonomi Daerah.2.9.13. Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban. 20.1.5. Ada/Tidak 20. ketentraman. Cakupan patroli petugas Satpol PP Jumlah patroli petugas Satpol PP pemantauan dan penyelesaian pelanggaran K3 dalam 24 Jam 20.000 penduduk Jumlah Linmas per Jumlah 10. 19. 20.2.10. 00 20. Ormas dan OKP Kegiatan pembinaan politik daerah Menunjukkan Jumlah Kegiatan pembinaan terhadap LSM.6. 19.8.2.14. Menunjukkan Jumlah Sistim Informasi Manajemen Pemda yang telah dibuat oleh pemda ybs Ada atau tidaknya survey IKM di Pemda .4.4. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) Lapangan olahraga Kesatuan Bangsadan Politik Dalam Negeri Kegiatan pembinaan terhadap LSM. 00 20.5. 20. keindahan) di Kabupaten Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Cakupan sarana prasarana perkantoran pemerintahan desa yang baik Sistim Informasi Manajemen Pemda Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat Ketahanan Pangan 3 3 00 20. 20. Administrasi Keuangan Daerah. 20.6.12.. 20.3.15. Perangkat Daerah.1. Penegakan PERDA 00 20. 20.

00 22.1.2. 25. 23.8.2.1.2. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Jumlah LSM LPM Berprestasi 00 22. Statistik ” ” Kearsipan ” ” Ada/Tidak Ada/Tidak 24. 26. 22. 22.6. 25.1. 25.3. 25.1. 21. 22. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Regulasi ketahanan pangan RUMUS Ada/tidak peraturan tentang kebijakan ketahanan pangan dalam bentuk perda.6.2.3.2.1. Jenis surat kabar nasional/lokal yang masuk ke daerah Jumlah penyiaran radio/TV yang masuk ke daerah Ada/Tidak Menunjukkan jumlah pameran/expo yang dilaksanakan per Tahun . 25. 25. 26.1.. 23.13 NO 21.4. PKK aktif Posyandu aktif Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat 00 00 22. Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan masyarakat 00 23. Jumlah LSM yang aktif 22. 24. Ketersediaan pangan utama 00 22.perkada.5.7. 26. Menunjukkan jumlah Kegiatan peningkatan SDM pengelola kearsipan 25. dsb. 22.2.5. Pengelolaan arsip secara baku Peningkatan SDM pengelola kearsipan Komunikasi dan Informatika Jumlah jaringan komunikasi Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal Web site milik pemerintah daerah Pameran/expo Perpustakaan Jumlah perpustakaan Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Jumlah perpustakaan 000 00 24.4.

Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Fokus Layanan Urusan Pilihan 1.1.1.5. 5. 00 1. 3.1. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kontribusi sektor pertanian (palawija) terhadap PDRB Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB 00 1.3.2.3. 00 1.14 NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS 26.1.3.2. 5. 2. 00 . 1. 00 1.2.. 2. 00 1. 3. 6.4. 2. Kunjungan wisata Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Kelautan dan Perikanan Produksi perikanan Konsumsi ikan 00 00 4.2. 00 00 5. 5.2.3.1.6.4. Cakupan bina kelompok nelayan 00 5. 3.1. Produksi perikanan kelompok nelayan Perdagangan Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB 00 6. Kahutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Energi dan Sumber Daya Mineral Pertambangan tanpa ijin Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Pariwisata 00 00 00 00 00 4. Cakupan bina kelompok petani 00 2. 4.

1. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Pertanian Nilai tukar petani 00 00 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1.1. 2. 1. Cakupan bina kelompok pengrajin 00 8.2.1.3. Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Luas wilayah industri Luas wilayah kebanjiran 00 Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara /terminal per tahun 00 00 00 . 00 00 00 7. Perangkat Daerah.3. 1.2.4..3. 7.1. 1.1. 7. 2.3. Otonomi Daerah. 1.2. Administrasi Keuangan Daerah.2. 2. 2. Pemerintahan Umum. 7.2.4. 2.1.15 NO 6. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Ekspor Bersih Perdagangan Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal Perindustrian Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri Pertumbuhan Industri. 8. 8.1. 2. 2. 00 7. Ketransmigrasian Transmigran swakarsa Kontibusi transmigrasi terhadap PDRB 00 00 ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah 1. RUMUS nilai ekspor bersih = nilai ekspor – nilai impor 6. 1.2.3.

3. 4. 4. 1.6.4. Perangkat Daerah.2. 3. . Perangkat Daerah. 1.2. Administrasi Keuangan Daerah. kelas. 1. 1. 1. Kepegawaian dan Persandian Jenis dan jumlah bank dan cabang Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang Jenis. Pemerintahan Umum. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Luas wilayah kekeringan Luas wilayah perkotaan RUMUS 00 00 Otonomi Daerah. 1.6.1. 5. Ketenagakerjaan Rasio lulusan S1/S2/S3 Rasio ketergantungan 5 5 3 0 000 00 Berikut ini akan diuraikan dan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi yang dapat digunakan untuk menilai capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota menggunakan formula yang tercantum dalam Tabel. 1. 5.4.1. 5.2.1. kelas. Otonomi Daerah.. Pemerintah daerah pada dasarnya dapat mengembangkan dan/atau mensleleksi data dan informasi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. 2. dan jumlah restoran Jenis.3. Pemerintahan Umum.16 NO 2. 5.3.1.1.cabangnya Jumlah dan jenis perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas Persentase jumlah penginapan/hotel menurut jenis dan kelas 00 00 00 Fokus Iklim Berinvestasi 1.1. 3. 1. Administrasi Keuangan Daerah.3.T-I. dan jumlah penginapan/ hotel Lingkungan Hidup Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Komunikas dan Informatika Rasio ketersediaan daya listrik Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon 00 Jumlah dan jenis bank dan cabang.2. Kepegawaian dan Persandian Angka kriminalitas Jumlah demo Lama proses perijinan Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Jumlah demo dalam 1 tahun Rata-rata lama proses perijinan (dalam hari) Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha 0 000 0 000 Fokus Sumber Daya Manusia 1.A. 3.5. 3.5.

dan jasa-jasa lainnya.T-I. listrik. gas. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan setiap sektor ekonomi. angka PDRB juga bermanfaat untuk bahan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. s...1.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan. Untuk mengetahui struktur perekonomian. industri pengolahan. kesejahteraan sosial....d . Adapun beberapa kegunaan angka PDRB ini antara lain : 1. 3. pertambangan dan penggalian. 1. Provinsi/Kabupaten/Kota . Terdapat 2 (dua) jenis penilaian produk domestik regional bruto (PDRB) dibedakan dalam dua jenis penilaian yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan.. Untuk mengetahui besarnya PDRB perkapita penduduk sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran/kesejahteraan.B. 4.. mencakup sektor pertanian. restoran dan hotel. perdagangan. Pengolahan Data dan Informasi Kondisi Umum Daerah... Atas Dasar Harga Konstan Tahun . mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. pengangkutan dan komunikasi. Rumus menghitung pertumbuhan PDRB: 00 Dimana: +1 = tahun pengamatan PDRB = tahun pengamatan PDRB sebelumnya Hasil analisis pertumbuhan PDRB.*) (n-5) (Rp) % NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.17 B. sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui tingkat inflasi/deflasi. seni budaya dan olah raga. Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-4) (Rp) % (Rp) (n-3) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi a.. Pertumbuhan PDRB Di bidang pembangunan ekonomi. konstruksi.. pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. 2. & Js.. berdasarkan pertumbuhan/perubahan harga produsen.1 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . sewa. dan air bersih.. Beberapa contoh tata cara pengolahan data dan informasi kondisi umum daerah terkait dengan indikator kinerja pembangunan daerah mencakup aspek kesejahteraan masyarakat.. . Aspek Kesejahteraan Masyarakat Memberikan gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat. lembaga keuangan. Selain menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan. salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro adalah data produk domestik regional bruto (PDRB). Penyajian PDRB atas dasar harga konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun dasar yang digunakan.

. Provinsi/Kabupaten/Kota . s... & Js.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan... Tabel.... sampai dengan Tahun.. sewa. Tabel. Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota .18 - Tabel.T-I.. Perusahaan Jasa-jasa PDRB Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan. ..B..4 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Tahun .3 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. Atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota .*) Pertumbuhan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik..T-I. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.. sewa.. & Js.T-I.d .B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi angangkutan & Komunikasi Keuangan.....d . Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.... Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s.*) (n-5) (Rp) % NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.B.*) (n-5) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.. & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...2 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. sewa.

.. Sajikan data inflasi 5 (lima) tahun yang lalu... dimana harga-harga pada umumnya turun.T-I...*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.19 b. Sedangkan PDRB per kapita atas harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi perkapita penduduk suatu daerah. .5 Nilai inflasi rata-rata Tahun. s. Rumus menghitung PDRB perkapita: Sajikan hasil penghitungan PDRB perkapita dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. Provinsi/Kabupaten/Kota .. Inflasi didasarkan pada indeks harga konsumen (IHK) yang dihitung secara sampel di 45 (empat puluh lima) kota di Indonesia yang mencakup 283-397 komoditas dan dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil survei biaya hidup (SBH).. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..d ..T-I.. PDRB per kapita dihitung berdasarkan pendapatan regional netto atas dasar biaya faktor dibagi dengan jumlah penduduk regional pertengahan tahun. Rumus menghitung rata-rata pertumbuhan Inflasi: { Dimana : = = } perubahan inflasi dari nilai tahun sebelumnya adalah periode pengamatan perubahan nilai inflasi. Sedangkan dihitung dengan rumus sebagai berikut : 00 Dimana : = = = nilai inflasi pada tahun n nilai pada 1 tahun berikutnya tahun . Sedangkan kondisi sebaliknya. Uraikan hasil analisis terhadap perubahan dan laju inflasi. PDRB per kapita PDRB per kapita atas harga berlaku berguna untuk menunjukkan nilai PDRB per-kepala atau satu orang penduduk.. s.B. disebut deflasi.*) Uraian Nilai PDRB (Rp) Jumlah Penduduk (jiwa) PDRB perkapita (Rp/jiwa) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Angka inflasi dan deflasi disajikan hanya pada tingkat provinsi..B.. c. Provinsi .....d ..6 PDRB Perkapita Tahun .. Laju inflasi provinsi Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. dan hitung rata-rata pertumbuhannya dalam tabel sebagai berikut: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...

Kurva lorenz memberikan gambaran persentase penduduk yang menerima Q persen pendapatan 3.B.9rb 200-299.20 d. Rata-rata pendapatan atau pengeluaran rumah tangga yang sudah dikelompokkan menurut kelasnya. karena nilai G semakin kecil 4.1 Kurva Lorenz Provinsi/Kabupaten/Kota . G-A.T-I. Jumlah rumah tangga atau penduduk 2.. Data yang diperlukan dalam penghitungan gini ratio: 1. Kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok pendapatan.9rb 300-499. 1..9rb 150-199.7 Rata-Rata Interval Penghitungan Gini Ratio Uraian Rata-rata pengeluaran kapita per bulan Jumlah penduduk Total pengeluaran seluruh penduduk sebulan Proporsi penduduk (persen) Pi Kumulatif proporsi penduduk Proporsi pengeluaran (persen) Proporsi kumulatif total pengeluaran (persen) Qi Qi+Qi-1 Pi(Qi+Qi-1) Gini Ratio Interval <100rb 100-149..*) Kumulatif Proporsi Pengeluaran 100 80 60 B Kurva Lorenz 40 20 0 100 40 80 20 60 Kumulatif Proporsi Penduduk A *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Indeks Gini/Koefiesien Gini Tingkat pemerataan distribusi pendapatan sering diukur dengan koefisien gini. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Jika kuva lorenz mendekati diagonal OA → pendapatan semakin merata.9rb 500-749.. GAMBAR.. Jika G mendekati nol → distribusi pendapatan yang diterima hampir sama dengan banyak penduduk. Koefisien gini merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membandingkan luas antara diagonal dan kurva lorenz (daerah A) dibagi dengan luas segitiga di bawah diagonal. Koefisien gini adalah ukuran ketidakseimbangan atau ketimpangan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Caranya adalah dengan membagi penduduk menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tingkat pendapatannya. 2. Kurva Lorenz adalah titik potong antara persentase kumulatif jumlah rumah tangga (penduduk) dan persentase kumulatif total pendapatan.9rb >1jt .9rb 750-999.

jika:  G < 0.21 Rumus untuk menghitung gini ratio: G  1   Pi (Qi  Qi 1 ) i 1 k dimana: Pi : persentase rumah tangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentase kumulatif total pendapatan atau pengeluaran sampai kelas ke-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1. yaitu dengan mengelompokkan penduduk ke dalam tiga kelompok berdasarkan besarnya pendapatan.3  0. Kategori ketimpangan ditentukan sebagai berikut: 1. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional). 3. Rumus menghitung Indeks ketimpangan Williamson : √ Dimana: Untuk tingkat kabupaten/kota Yi = PDRB perkapita di kecamatan I Y = PDRB perkapita rata-rata kab/kota fi = jumlah penduduk di kecamatan i n = jumlah penduduk di kab/kota Untuk tingkat provinsi Yi = PDRB perkapita di kab/kota i Y = PDRB perkapita rata-rata provinsi . Ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan 40% terendah dibandingkan total pendapatan seluruh penduduk. 40% penduduk berpendapatan menengah. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk antara 12-17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan sedang/menengah. Rumus untuk menghitung pemerataan pendapatan versi Bank Dunia: 0 Dimana: YD4 = Persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk lapisan bawah Qi -l = Persentase kumulatif pendapatan ke i-1 Pi = Persentase kumulatif penduduk ke i qi = Persentase pendapatan ke i f. adalah indeks untuk mengukur ketimpangan pembangunan antar kecamatan di suatu kabupaten/kota atau antar kabupaten/kota di suatu provinsi dalam waktu tertentu. 40% penduduk berpendapatan rendah. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia Pemerataan pendapatan ini diperhitungkan berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh Bank Dunia. dan 20% berpendapatan tinggi..3 ≤ G ≤ 0. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan rendah.5 = = = ketimpangan rendah ketimpangan sedang ketimpangan tinggi e. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan tinggi.5  G > 0. 2.

. Cara menghitung angka melek huruf dengan rumus: 5 5 5 00 dimana: 5 5 5 = angka melek huruf ( penduduk usia 15 tahun keatas) pada tahun t = Jumlah penduduk (usia diatas 15 tahun) yang bisa membaca dan menulis pada tahun t = Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Sajikan data angka melek huruf penduduk usia 15 tahun keatas. menurut kabupaten/kota Provinsi . 3.. Provinsi .*) NO 1 2 3 4 Kabupaten/kota Kabupaten . 2..... . Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.. jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis dan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas untuk 5 tahun terakhir.... s.8 Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun ...22 fi n 1.. Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kota .. Angka melek huruf didapat dengan membagi jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas kemudian hasilnya dikalikan dengan seratus..1.d ...B. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel...T-I. = jumlah penduduk di kab/kota i = jumlah penduduk di provinsi Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka Melek Huruf (AMH) Angka Melek Huruf (dewasa) adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya...B...*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. AMH dapat digunakan untuk: 1.. terutama di daerah pedesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf.... a. Kabupaten .. a. Tabel. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota..9 Angka Melek Huruf Tahun ... Dst .T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2.... menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis..

. Ukuran ini mengatasi masalah kekurangan estimasi dari TPT yang tidak mengakomodir kelas tertinggi yang pernah dicapai individu. Lamanya bersekolah merupakan ukuran akumulasi investasi pendidikan individu.. dan masuk sekolah dasar di usia yang terlalu muda atau sebaliknya. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Tabel. maka ia memiliki jumlah tahun bersekolah sama dengan 8 tahun. yaitu 6 tahun bersekolah di tingkat SD ditambah dengan 2 tahun di SMP.T-I. dapat digunakan tabel konversi sebagai berikut: Tabel.2.. misalnya jika seseorang pendidikan tertingginya adalah SMP kelas 2. Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf a. Kecamatan. Tetapi.. putus sekolah yang kemudian melanjutkan kembali.. jumlah tahun bersekolah ini tidak mengindahkan kasus-kasus tidak naik kelas..B.T-I.. Angka rata-rata lama sekolah Lamanya Sekolah atau years of schooling adalah sebuah angka yang menunjukkan lamanya bersekolah seseorang dari masuk sekolah dasar sampai dengan Tingkat Pendidikan Terakhir (TPT)..d .*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Angka melek huruf *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.12 Lamanya Bersekolah berdasarkan Jenjang Pendidikan dan Kelas Jenjang SD Kelas 1 2 3 4 5 6 1 2 3 1 2 3 Jumlah tahun bersekolah (kumulatif) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SMP SMA . Angka rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani...B..11 Angka Melek Huruf Tahun ......T-I. Sehingga nilai dari jumlah tahun bersekolah menjadi terlalu tinggi kelebihan estimasi atau bahkan terlalu rendah (underestimate). s. Kabupaten/Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Setiap tahun tambahan sekolah diharapkan akan membantu meningkatkan pendapatan individu tersebut. Cara menghitung angka rata-rata lama sekolah: Lamanya bersekolah dapat dikonversikan langsung dari jenjang pendidikan dan kelas tertinggi yang pernah diduduki seseorang..10 Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun .*) NO 1 2 Kecamatan Kecamatan..B.. Ratarata lama bersekolah dapat dijadikan ukuran akumulasi modal manusia suatu daerah. menurut Kecamatan Kabupaten/Kota ..23 Untuk kabupaten/kota: Tabel... Pada prinsipnya angka ini merupakan transformasi dari bentuk kategori TPT menjadi bentuk numerik. Untuk memudahkan perhitungan.

APM juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. bukan melanjutkan dari diploma. Dalam kenyataannya. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu.24 Jenjang Diploma Kelas I II III I II III IV Jumlah tahun bersekolah (kumulatif) 13 14 15 13 14 15 16 17 – 19 20-24 S1 S2 S3 Untuk Diploma. konversi lamanya bersekolah dapat berbeda untuk setiap individu karena asumsi yang digunakan dalam konversi diatas adalah sebagai berikut: Seseorang yang masuk S1 adalah lulusan SMA. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. seperti pada contoh dibawah ini : Individu A B C Jumlah 3 Jenjang SMP SD Universitas Kelas/tingkat 2 6 (tamat) 2 Lama sekolah (tahun) 8 6 14 28 Angka rata-rata lama sekolah : ̅ 9. Tetapi. terdapat program S1 extension yang membuka kesempatan bagi lulusan Diploma untuk melanjutkan studi ke S1. . Angka Partisipasi Murni Angka partisipasi murni adalah perbandingan penduduk usia antara 7 hingga 18 tahun yang terdaftar sekolah pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun.33 Nilai rata-rata lamanya bersekolah yang besar menunjukkan tingginya tingkat pendidikan penduduk di suatu wilayah. APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah siswa atau penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut. jika dibandingkan APK. dapat digunakan rumus sebagai berikut: ̅ dimana : ̅ = = = adalah rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk usia 5 tahun keatas adalah jumlah tahun bersekolah individu usia 5 tahun keatas adalah jumlah penduduk usia 5 tahun keatas. B. Sedangkan untuk rata-rata jumlah tahun bersekolah di tingkat kabupaten. a.3.. Seperti APK. Contoh: Bila diketahui tiga individu A.33 artinya rata-rata penduduk di suatu wilayah bersekolah sampai 9 tahun 4 bulan atau setingkat SLTP. Asumsi menempuh pendidikan S2 maksimum adalah 3 tahun dan S3 maksimum adalah 4 tahun. S1. S2. Jika didapat rata-rata lamanya sekolah sama dengan 9. dan C menurut jenjang dan kelas sekolah tertinggi yang pernah di tamatkan. dan S3.

Kabupaten .3..B. Dst . 2 2...... Kota .1.. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APM SMA/MA/SMK Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel..2...25 Cara menghitung APM: dimana: h = jenjang pendidikan a = kelompok usia t = tahun = jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t = jumlah penduduk kelompok usia a Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun SMA/MA/SMK = 16-18 tahun Sajikan data angka partisipasi murni untuk 5 tahun terakhir .T-I.... s.2..B. 3......14 Angka Partisipasi Murni Tahun . 2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..3. Dst . 1.*) NO 1 1...T-I...*) SD/MI NO Kabupaten /Kota jumlah siswa usia 7-12 th bersekolah di SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APM SMP/MTs jumlah siswa usia 13Jumlah penduduk 15 th bersekolah di usia 13-15 th SMP/MTs APM SMA/MA/SMK jumlah siswa usia 16-18 th bersekolah di SMA/MA/ SMK jumlah penduduk usia 16-18th APM 1 2 3 4 5 Kabupaten ... 1.d . menurut kabupaten/kota Provinsi .. 2..3.2...13 Perkembangan APM Tahun .1. Provinsi ... dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. 3.. .1. 3 3.

**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. APK didapat dengan membagi jumlah penduduk yang sedang bersekolah (atau jumlah siswa).. Kabupaten/Kota .... yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. a.. menurut Kecamatan Kabupaten/Kota .1.1.*) NO 1 1. 2. = jenjang pendidikan kelompok usia tahun adalah jumlah penduduk yang pada tahun t dari berbagai usia sedang sekolah pada jenjang pendidikan h adalah jumlah penduduk yang pada tahun t berada pada kelompok usia a yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h . Kecamatan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.3. 3 3. Dst . Tabel. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.3.. berapapun usianya. Dimana. s.3..B.. Cara Menghitung APK: 00 ...T-I.2.T-I.. Angka Partisipasi Kasar (APK) APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa.15 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun . APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3. tanpa memperhitungkan umur.2...B. 1. 3.16 Angka Partisipasi Murni Tahun . 2 2.*) SD/MI NO Kecamatan jumlah siswa usia 7-12 th bersekolah di SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th SMP/MTs jumlah siswa usia 13-15 th bersekolah di SMP/MTs Jumlah penduduk usia 13-15 th SMA/MA/SMK jumlah siswa usia 16-18 th bersekolah di SMA/MA/ SMK jumlah penduduk usia 1618th APM APM APM 1 2 3 Kecamatan. 1.2. 2.. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APM SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d ..26 Untuk kabupaten/kota: Tabel......1....4... h = a = t = = .. pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut..

. 2.d .. Provinsi ..*) NO 1 1.1.. 1.27 Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun SMA/MA/SMK = 16-18 tahun Sajikan data APK untuk 5 tahun terakhir.1. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . Dst ..2. 3 3. 1.. 3. 2. 2 2... Kabupaten/Kota.*) NO 1 1.3.. 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... menurut kabupaten/kota Provinsi ..T-I.3. 1.B..1.. 2... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2. 2.. s.18 Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun . SD/MI jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APK SMA/MA/SMK Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 3...T-I. 3 3. 2 2.3.2.1. Tabel...*) NO Kabupaten/kota jumlah siswa bersekolah di SD/MI SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APK jumlah siswa bersekolah di SMP/MTs SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APK jumlah siswa bersekolah di SMA/MA/ SMK SMA/MA/SMK jumlah penduduk usia 16-18th APK 1 2 3 4 5 Kabupaten ...... Kabupaten .17 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun ..19 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar(APK) Tahun . Kota ....B.3.. Dst .2.......T-I. Untuk kabupaten/kota: Tabel.2. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.....B.3.1.1.d . dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. s....

000) x 100 = 13..000.5. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan. 2. Tabel.000 21...000 jiwa... sedangkan penduduk menurut ijazah tertinggi yang pernah ditamatkan sebagai berikut: NO 1.000/153.2.000.000.28 NO 3. Angka Pendidikan yang ditamatkan (APT) APT adalah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah di sekolah negeri maupun swasta dengan mendapatkan surat tanda tamat belajar/ijazah. menurut kecamatan Kabupaten/Kota..000 APT SD APT SMP APT SMA APT Perguruan Tinggi = = = = (53. a.000 153.. 3.000. APT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah... SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah penduduk Ijazah Tertingi Jumlah Penduduk (jiwa) 53.000.000.000/153.000) x 100 = 20. Maka dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar penduduk hanya tamat SD. Dst ...000..000/153. 4. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.000 32.T-I.58% Interpretasi : Angka APT berkisar antara 0 sampai dengan 100.73% (7. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah.92% (21.20 Angka Partisipasi Kasar Tahun .000. Jenjang Pendidikan jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APK SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Dari contoh diatas didapat APT SD adalah 34... Cara menghitung APT sebagai berikut: 00 Dimana: h t = jenjang pendidikan = tahun = jumlah penduduk yang mencapai jenjang pendidikan h pada tahun t = total jumlah penduduk pada tahun t Berikut contoh perhitungan APT: diketahui jumlah penduduk sejumlah 153. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi. juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja.B.000 7..000.64% (32.000) x 100 = 4.000/153.*) SD/MI NO Kecamatan jumlah siswa jumlah penduduk bersekolah di usia 7-12 th SD/MI APK jumlah siswa bersekolah di SMP/MTs SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APK jumlah siswa bersekolah di SMA/MA/ SMK SMA/MA/SMK jumlah penduduk usia 16-18th APK 1 2 3 Kecamatan .. Kecamatan ..3. 5... 3.92%.000) x 100 = 34. .64% dan SMP adalah 20.000. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.000.000.. APT merupakan persentase jumlah penduduk.000.000.

.000.B.3.000.000 32.000. s.4.d .2.000.. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Untuk provinsi : Tabel..000..000) x 100 = 5. II. penduduk usia angkatan kerja. Maka dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar tenaga kerja yang tersedia hanya berpendidikan sampai dengan SD. . Ijazah Tertingi Tidak Berijazah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah penduduk 15-64 tahun APT SD APT SMP APT SMA APT Perguruan Tinggi = = = = (53.2.T-I.000.3. Perguruan Tinggi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. APT … SD SMP SMA Perguruan Tinggi … SD SMP SMA Perguruan Tinggi … SD SMP SMA Perguruan Tinggi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.000..*) NO I.000. III.000/133.000.2.*) (n-5) NO APT 1. III.000. 4.d ..1.000) x 100 = 39.. 2.29 Selanjutnya. dapat disamakan dengan jumlah Berikut contoh perhitungan APT: diketahui jumlah penduduk usia 15-64 tahun menurut ijazah tertinggi yang pernah ditamatkan: Jumlah Penduduk usia 15-64 tahun (jiwa) 20. III.000.. Catatan: Bila ingin menggunakan APT untuk perencanaan tenaga kerja.000 53.000 7.1.000 NO 1. SMP 3. III. I. II. misalnya usia 15-64 tahun. data APT dapat disajikan dalam tabel berikut: Untuk kabupaten/kota : Tabel.000..26% Interpretasi: Angka APT berkisar antara 0 sampai dengan 100..21 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan(APT) Tahun .000) x 100 = 24.. s.3...000.85% (32.1.000/133. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..4.06 persen.000/133.000) x 100 = 15.000 133. Kabupaten/Kota.. Dari contoh diatas didapat APT SD adalah 39. II.000. 3.4.79% (7. III.85 persen dan SMP adalah 24.. Provinsi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. II..000/133. SMA 4.B.T-I.000 21.. 5.22 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan(APT) Tahun . I.. I. I... SD 2. II.06% (21.

000 43.. dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir.. Angka kematian bayi (AKB) menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kabupaten/Kecamatan .... kabupaten/kota. . yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.. Interpretasi: Apabila AKB nasional = 26 pada tahun x. 0-≤ ∑ Lahir Hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. *) Jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun pada tahun x 750 800 900 Jumlah Kelahiran Hidup pada tahun x 21.. untuk mengetahui perkembangan hasil penanggulangan/kebijakan yang telah dilaksanakan mengatasi tingginya AKB dalam suatu wilayah provinsi. Angka kelangsungan hidup bayi = (1-angka kematian bayi). sebagai berikut: Kabupaten/Kecamatan *) Kabupaten/Kecamatan . program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. AKB dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil. Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. dengan cara sebagai berikut: 0≤ ∑ Dimana: 1 AKB 000 = per 1000 kelahiran = Angka kematian bayi/Infant Mortality Rate (IMR) = Jumlah kematian bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu.000 AKB 36 32 21 AKHB 964 968 979 Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Berikut contoh perhitungan AKHB. Kabupaten/Kecamatan . Kesehatan b. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal. program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk ibu hamil dan anak.30 b. diketahui jumlah jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dan jumlah kelahiran Hidup pada tahun x. maka dengan AKB = 36 di kabupaten/kecamatan masih diatas rata-rata nasional atau perlu ditekan seperti melalui program-program imunisasi.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak. serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak.. kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neo-natal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan.1. misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.000 25.. Secara garis besar. Sedangkan angka kematian Post-Neo Natal dan angka kematian anak serta kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi. Contoh perhitungan seperti diatas supaya disajikan dalam bentuk tabel sekurang-kurangnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Kegunaan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. dari sisi penyebabnya.

Angka usia harapan hidup Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.31 b. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Persentase balita gizi buruk dapat dihitung dengan rumus. Contoh: Angka Harapan Hidup yang terhitung untuk suatu kabupaten/kota dari hasil sensus penduduk Tahun 1970 adalah 47. dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik maka untuk menghitung angka harapan hidup digunakan dengan mengutip angka yang diterbitkan BPS. Angka harapan hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang.. WHO (1999) mengelompokkan wilayah yaitu kecamatan untuk kabupaten/kota dan kabupaten/kota untuk provinsi berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok dari seluruh jumlah balita. sangat tinggi = di bawah 10 % = 10-19 % = 20-29 % = 30 % Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Idealnya angka harapan hidup dihitung berdasarkan angka kematian menurut umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat tabel kematian. anak disebut gizi baik. sedang c. b. tinggi d.7 tahun. Angka harapan hidup saat lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu. Apabila AHH dibawah angka rata-rata nasional maka diperlukan program pembangunan kesehatan.. Klasifikasi status gizi dibuat berdasarkan standar WHO. Keadaan tubuh anak atau bayi dilihat dari berat badan menurut umur.5 Tahun 2010 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.2 Tahun 1990 59. berikut contoh dibawah ini: Angka Harapan Hidup Provinsi/Kabupaten/Kota . sebagai berikut: . kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.*) Hasil Sensus Penduduk Tahun 1970 47. Peningkatan angka harapan hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan bangsa Indonesia selama tiga puluh tahun terakhir dari Tahun 1970an sampai Tahun 2000. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. dan bagi bayi yang dilahirkan Tahun 2000 usia harapan hidupnya mencapai 65. Persentase balita gizi buruk Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita. rendah b.. Artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1971 (periode 19671969) akan dapat hidup sampai 47 atau 48 tahun.. Tetapi bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1980 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yakni 52. pada suatu tahun tertentu.7 Tahun 1980 52.8 tahun untuk bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1990.2.. 2 tahun. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. yaitu : a.5 tahun.3. Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya.8 Tahun 2000 65. meningkat lagi menjadi 59. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar. dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan.

Beberapa pengertian terkait dengan kemiskinan antara lain: 2. 1. ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencapai standar kehidupan yang ditetapkan masyarakat setempat sehingga proses penentuannya sangat subjektif.23 Garis Kemiskinan. Menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka. kemiskinan karena lokasi yg terisolasi.T-I.. yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masingmasing komoditi pokok bukan makanan. suku kubu (Jambi).angka kemiskinan). Kemiskinan Struktural (contoh..32 00 c. kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Persentase penduduk diatas garis kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula (100 . Untuk melihat penduduk miskin dunia.. Mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi .. . Kemiskinan relatif. Sebagai informasi tambahan. Tabel.*) Garis Kemiskinan Rph/Kapita/bulan Daerah/Tahun Makanan Perkotaan Perdesaan Kota + Desa *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Dengan pendekatan ini. antar daerah. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. Membandingkan kemiskinan antar waktu. dapat dihitung Head Count Index (HCI).. Kemiskinan. Adalagi kemiskinan kultural (karena faktor adat) seperti suku badui di cibeo (Banten). Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan (GK). juga digunakan hasil survei SPKKD (survei paket komoditi kebutuhan dasar). 2. c. ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum. misal orang mentawai.. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk: 1. orang tengger dsb). 3. Kemiskinan absolut. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Kepemilikan tanah (Persentase Jumlah Penduduk Yang Memiliki Lahan) Persentase jumlah penduduk yang memiliki lahan adalah perbandingan jumlah penduduk yang memiliki lahan terhadap jumlah penduduk dikali 100.B. dayak dan sebagainya. Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan.1. BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Untuk mengukur kemiskinan. Dengan pendekatan ini. biasanya Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan US $ 1 atau US $ 2 per hari. Angka kemiskinan adalah persentase penduduk yang masuk kategori miskin terhadap jumlah penduduk. 3. yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Bukan Makanan Total Jumlah penduduk miskin (jiwa) Persentase penduduk miskin d. Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung kemiskinan adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). yang terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan (GKBM).

Dengan demikian. Kecamatan.T-I. (n-3) (n-2) (n-1)**) Sedangkan untuk Kabupaten/kota: Tabel.. Bisa juga disebut sumber daya manusia.B... … Provinsi .T-I..... Dalam ilmu ekonomi...... (n-5) (n-4) Uraian Luas Tanah Jumlah penduduk Jumlah penduduk yang memiliki tanah Persentase penduduk memiliki tanah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kesempatan kerja (Rasio penduduk yang bekerja) Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja.. Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja. Kesempatan Kerja (demand for labour) adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja).33 00 Selanjutnya perhitungan angka kepemilikan tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel... Jika yang tersedia adalah angka pengangguran. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Luas Tanah (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah penduduk yang memiliki tanah (4) Persentase penduduk memiliki tanah (5=4/3) e. Kecamatan (1) Kecamatan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Sementara itu... Kecamatan.24 Persentase Penduduk Memiliki Lahan Tahun . Kecamatan. Kabupaten/kota.... dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.B. Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja. kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian.. keterampilan dan bakatnya masing-masing.angka pengangguran) Contoh menghitung rasio tersebut terlebih dahulu disusun data angkatan kerja yang bekerja dan yang mencari pekerjaan menurut kelompok umur berdasarkan hasil sensus terakhir ke dalam tabel sebagai berikut: . angkatan kerja (labour force) menurut Soemitro Djojohadikusumo didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif... maka angka yang digunakan adalah = (1 .25 Kepemilikan Tanah Tahun .

.000 15. Kejadian 5 8 4 2 7 15 12 2 5 9 15 5 0 89 Tertangani 4 6 2 2 6 13 10 1 4 8 14 4 0 74 Contoh diketahui jumlah penduduk kabupaten/kota sebesar 200.600 19.500 1.400 14.. Kriminalitas (Angka kriminalitas yang tertangani) Keamanan.B. menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat. Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegak hukum (polisi/kejaksaan).000 jiwa.700 Jumlah 6.000 6. maka angka kriminalitas yang tertangani : 0 000 . Pemerintahan daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat.34).B. f.000 88.100 1.600 9. Kasus Pembunuhan Penganiayaan Berat Penculikan Pencurian dengan Kekerasan Pencurian dengan Pemberatan Pencurian Ranmor Pencurian Kawat Telepon Pemerkosaan Pembakaran Senpi/Handak Pemerasan Penyelundupan Kejahatan Terhadap Kepala Negara Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..000 10.000 13.100 2.300 10. Tabel.*) Tahun .100 45. ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas untuk mewujudkan stabilitas penyelenggaraan pemerintahan terutama di daerah.34 Tabel..000 11.000 11.000 4.100 133.000 3.700 000 0.66=0.000 5..600 9..000 Mencari Pekerjaan 1. serta menanggulangi kriminalitas sehingga kuantitas dan kualitas kriminalitas dapat diminimalisir.27 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota ..600 4.000 penduduk.400 6.000 3.000 8.300 7.100 12.700 8.500 12. Angka kriminalitas yang ditangani merupakan jumlah tindak kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap 10. 33 00 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 66% dari angkatan kerja yang ada memperoleh kesempatan kerja sedangkan 34%nya masih mencari kerja atau pengangguran (1-0.T-I.26 Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja Golongan umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Jumlah Angkatan Kerja Bekerja 5.700 21..300 3.T-I.100 5.000 12.300 4.

c. budaya dan olahraga dapat dilihat berdasarkan indikator sebagai berikut: a. budaya dan olahraga dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Untuk Provinsi: Tabel.. .T-I.29 Perkembangan Seni...T-I. Jumlah gedung olahraga per 10.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Jumlah klub olahraga per 10.. budaya dan olahraga sangat terkait erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat.B.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. d. Selanjutnya penyajian pencapaian pembangunan seni.*) NO 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10..000 penduduk Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kabupaten ......000 penduduk... Pencapaian pembangunan seni. 1..000 penduduk..000 penduduk Jumlah gedung olahraga per 10. Jumlah gedung olahraga adalah jumlah gedung olahraga per 10. Kabupaten/kota Jumlah grup kesenian per 10..B. b. menurut kabupaten/kota/Provinsi .. Provinsi ...35 - Catatan: Tabel tersebut diatas dapat disajikan dan dianalisis untuk data angka kriminalitas dalam kurun 5 tahun terakhir.000 penduduk Jumlah klub olahraga per 10. berbudaya dan beradab serta (ii) mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera.3..000 penduduk. Dst .*) No 1 2 3 4 5 Kabupaten .d .28 Perkembangan Seni..000 penduduk... Dst .. Jumlah grup kesenian adalah jumlah grup kesenian per 10. Jumlah klub olahraga adalah jumlah klub olahraga per 10.000 penduduk..000 penduduk Jumlah gedung kesenian per 10. Seni Budaya dan olahraga Pembangunan bidang seni... beretika.000 penduduk.000 penduduk..000 penduduk. Budaya dan Olahraga Tahun . Jumlah gedung kesenian per 10.. Budaya dan Olahraga Tahun ... Hal ini sesuai dengan 2 (dua) sasaran pencapaian pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan yaitu (i) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia..... Jumlah gedung kesenian adalah jumlah gedung kesenian per 10. Kota . s.. Tabel. bermoral.

bisa jadi ditemukan penurunan jumlah murid di sekolah dasar dengan interpretasi terjadi penurunan partisipasi sekolah.. Aspek Pelayanan Umum 2. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.. Sehingga.T-I.1. Fokus Layanan Urusan Wajib 2. Pendidikan Dasar 2.36 2. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun 000 Sajikan data APS untuk 5 tahun terakhir.. bila digunakan APS. 000 dimana: h = a = t = = . 2 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan dasar (7-12 tahun dan 13-15 tahun) yang masih menempuh pendidikan dasar per 1.1.1.d . Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Cara menghitung APS sebagai berikut: . 2. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah.1. Di Indonesia... Bila ukuran seperti perubahan jumlah murid digunakan.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar.2.2.*) NO 1 1. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah.30 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .1.3..1..3. 1. . Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. s.1. = . .1.1. Provinsi . Penurunan ini akan menyebabkan semakin menurunnya jumlah anak-anak yang masuk sekolah dasar... maka akan ditemukan peningkatan partisipasi di tingkat SD yang disebabkan semakin rendahnya jumlah penduduk usia SD. 1. Namun. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.1. proporsi penduduk muda sendiri semakin menurun akibat semakin rendahnya angka fertilitas (lihat bagian fertilitas). SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B..1. 2. Pendidikan 1.1.

....T-I.1.. Kabupaten/Kota . Dst ...B...... menurut kecamatan Provinsi .*) SD/MI NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota Kabupaten .....31 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ..T-I. Untuk menghitung APS menurut jenjang pendidikan: APS 7-12 APS 13-15 3.....3. 1. 2.5 000 000 Untuk menghitung APS usia pendidikan dasar: 3 3 5 5 000 . 1. Dst .....37 Tabel.5 3...B.B...*) NO 1 1........d .T-I. 2... Kabupaten ..2.. jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..3. Kecamatan. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... 2 2. menurut kabupaten/kota Provinsi .33 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ..32 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun . Tabel...1. Kota .. Jumlah Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) NO 1 2 3 Kecamatan jumlah murid usia 7-12 thn SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 1315 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS Kecamatan..... Untuk kabupaten/kota: Tabel. s... Dst .2..

**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.36 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Tahun .. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan dasar.. Rasio 2 SMP/MTs 2. Kota . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun 2..1..1. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Rasio 2 SMP/MTs 2.. NO 1 1.2....B..2.34 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Tahun .*) NO (1) (2) Kabupaten/kota SD/MI Jumlah gedung sekolah (3) jumlah penduduk usia 7-12 th (4) Rasio (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) 1 2 3 4 5 Kabupaten .. Kabupaten ......2.1.3. jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.*) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1. Dst .3.. Dst . 1...T-I.. Kabupaten/kota ...000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar.1.*) Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun 1....3.. Jumlah gedung sekolah 1... menurut Provinsi ..B. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) .2...35 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah .1. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10.d . Untuk kabupaten/kota: Tabel. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s. Untuk menghitung rasio ketersedian/penduduk usia sekolah dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..T-I. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..T-I.......d . Provinsi . Jumlah gedung sekolah 2... jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2...1.2.. Jumlah gedung sekolah 2.1.B..38 2.3..

...38 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .B. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Dst .. Rasio guru/murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per 1..B..1..T-I......B.*) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1...d . Jumlah Guru 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Kota . Rasio 2 SMP/MTs 2. Provinsi ...... Dst .1.2.T-I..2..3... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..1.3...T-I.. Kabupaten ... 1 2 3 Rumus menghitung rasio ketersediaan sekolah menurut jenjang pendidikan dasar: Rasio Ketersediaan sekolah SD/MI = Rasio Ketersediaan sekolah SMP/MTs = Rasio Ketersediaan sekolah pendidikan dasar: 0 000 0 000 0 000 3 5 3 5 2... Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..37 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah menurut kecamatan Kabupaten/kota . Dst ... Jumlah Guru 1.. s.1.000 jumlah murid pendidikan dasar.. Kecamatan . Jumlah Murid 2.*) SD/MI NO (1) SMP/MTs KABUPATEN/KOTA (2) Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) Kabupaten . Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar...3...... 1 2 3 4 5 ..39 Tabel.39 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar menurut kabupaten/kota Provinsi ... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Jumlah Murid 1... Untuk menghitung rasio guru terhadap murid dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.*) SD/MI NO (1) SMP/MTs KECAMATAN (2) Jumlah gedung sekolah (3) jumlah penduduk usia 7-12 th (4) Rasio (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan .1..

. . dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.1.3...*) NO (1) KECAMATAN (2) SD/MI SMP/MTs Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan ..4. Jumlah Murid 2.1.1.T-I.1....*) (n-5) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1. Kabupaten/Kota..2..T-I. Rasio 2 SMP/MTs 2.1.. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan menengah per 10.1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.3. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.1 APS untuk pendidikan dasar.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah.1..2.1..1.1. Jumlah Guru 2..40 Untuk kabupaten/kota: Tabel.1. Sajikan data APS usia pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir..1. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan menengah..41 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar menurut Kecamatan Kabupaten/Kota..2.d .B.1.. 1 2 3 Rumus menghitung rasio guru dan murid menurut jenjang pendidikan: Rasio guru dan murid SD/MI Rasio guru dan murid SMP/MTs = = G G G 000 0 000 0 000 Rasio Guru dan Murid pendidikan dasar = 2.1.. Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah (16-19 tahun) yang masih menempuh pendidikan menengah per 1. Jumlah Guru 1. seperti pada penjelasan 2.2. Kecamatan .. s.2.2. Rasio guru/murid per kelas rata-rata 000 1.1.. Jumlah Murid 1..40 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .B. Pendidikan Menengah 1... Kemudian hitung APS jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: APS 16-19 - 000 1. Dst .

1 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan menengah. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal guru per kelas terhadap jumlah murid agar tercapai mutu pengajaran.4. 2. Membudayakan NKKBS.1. melahirkan dan nifas).1. . Tujuan penyelenggaraan Posyandu: 1. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar per kelas. dapat dilakukan pada Posyandu.41 Sajikan Rasio ketersediaan sekolah terhadap pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir.1. Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan menengah per 1. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Kemudian hitung rasio ketersediaan sekolah menurut jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Rasio Ketersediaan sekolah SMA/MA/SMK = 0 000 1. seperti pada penjelasan 3. pengembangan psikososial/emosi.1. Karena Posyandu merupakan wadah peranserta masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya.1.1. Angka Kematian Ibu ( ibu Hamil. Sajikan rasio guru terhadap murid pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir. Kesehatan 1. Kemudian hitung rasio guru terhadap murid pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = G 0 000 1..2.2. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar.2. Pengalaman empirik dibeberapa tempat menunjukan. lingkungan yang sehat dan aman. merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik.000 jumlah murid pendidikan menengah. Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera. kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.1. 3. 0 000 2. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.2. oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata adalah jumlah guru pendidikan menengah per kelas per 1. maka diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini.000 jumlah murid pendidikan menengah. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB).1. Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia dini. Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera.3.2. dapat dilakukan di setiap posyandu.1. 4. bahwa strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan anak seperti itu.

. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Jumlah balita 3. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Kota . Kabupaten/Kota.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah posyandu (3) Jumlah balita (4) Rasio (5=4/3) Kabupaten . 1 2 3 4 Untuk kabupaten/kota: Tabel.43 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..T-I.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d .B........d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per balita. Provinsi .B. 3...... Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah posyandu (3) Jumlah balita (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah posyandu 2.*) (n-5) NO Uraian 1....... Tabel. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Uraian Jumlah posyandu Jumlah balita Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.......42 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun . . Kegunaannya untuk mengetahui berapa selayaknya jumlah posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah.44 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun . Dst ... Provinsi . Untuk menghitung rasio posyandu per satuan balita dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kecamatan . Kabupaten/Kota..T-I.... Dst .. Dst ....T-I.. s.......42 Terkait dengan hal tersebut diatas perlu dilakukan analisis rasio posyandu terhadap jumlah balita dalam upaya peningkatan fasilitasi pelayanan pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.45 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan Tahun . s. dan agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan dan atau ditingkatkan.B.. 2...B...*) NO 1.T-I.

4. Poliklinik dan Pustu Menurut Kecamatan Tahun .. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dst . Dst . Dst . 5.43 1.. Poliklinik dan Pustu Menurut Kabupaten/Kota Tahun .T-I. Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Poliklinik Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas persatuan penduduk Rasio Poliklinik persatuan penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 7..1. Poliklinik dan Pustu Tahun .T-I.. Provinsi ..... 6.. Rasio Puskesmas.2.. Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Tabel.2..... Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan. 3. Kota ..48 Jumlah Puskesmas.B. Untuk menghitung rasio rumah sakit per satuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: ... Rasio Pustu persatuan penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....B.2... asuhan keperawatan yang berkesinambungan....B.... Tabel.46 Jumlah Puskesmas... Kabupaten/Kota. diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien..T-I. Kecamatan.... Kabupaten/Kota ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s...*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah Penduduk (3) Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (6) Rasio (7=6/3) Jumlah (8) Rasio (9=8/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .47 Jumlah Puskesmas.1... Kabupaten ....3.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (6) Rasio (7=6/3) Jumlah (8) Rasio (9=8/3) 1 2 3 Kecamatan....*) NO 1.d ... 1. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 2.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....

d ...... Provinsi . 4. 5.51 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun ..52 Jumlah Rumah Sakit menurut Kecamatan tahun . 3...... 6... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) NO 1. Dst .... Kabupaten/Kota ..B...49 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun .... Tabel.B..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 4.. 7. s.... Kota . Tabel... 2.. 6...... 3.. Kabupaten/Kota. s. Kecamatan. Untuk kabupaten/kota: Tabel. 2..T-I..*) NO 1. Dst . Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... 7....*) Jumlah Penduduk Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio NO Kecamatan RS Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh Rasio Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jmlh Rasio Rumah Sakit Daerah Jmlh Rasio Rumah Sakit Swasta Jmlh Rasio Total Jmlh Rasio 1 2 3 Kecamatan...50 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah . 5..B...B.T-I.. Dst .T-I... Kabupaten ......44 Untuk Provinsi: Tabel..T-I...d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) Jumlah Penduduk Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio NO Kabupaten/kota Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh Rasio Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jmlh Rasio Rumah Sakit Daerah Jmlh Rasio Rumah Sakit Swasta Jmlh Rasio Total Jmlh Rasio 1 2 3 4 5 Kabupaten .. Provinsi . Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...

.....T-I.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Dokter (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan . 1 2 3 4 Untuk kabupaten/kota: Tabel.d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...53 Jumlah Dokter Tahun .T-I.. Rasio dokter per satuan penduduk Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada......T-I..... dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 000 1...45 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.55 Jumlah Dokter Tahun ....... Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu...B... Selain itu distribusi dokter dan dokter spesialis tidak merata serta kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Untuk menghitung rasio dokter per satuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..2. Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Provinsi . Kabupaten/Kota.. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.T-I......d ....*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Dokter (4) Rasio (5=4/3) Kabupaten .1. Dst . idealnya satu orang dokter melayani 2.. Kecamatan ....500 penduduk.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.56 Jumlah Dokter Menurut Kecamatan Tahun .54 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.4...... Rasio ini mengukur ketersediaan fasilitas rumah sakit berdasarkan jumlah penduduk..*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Dokter 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s.. Jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlah penduduk Indonesia. s...B. Kabupaten/Kota .*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Dokter 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Rasio rumah sakit per satuan penduduk adalah jumlah rumah sakit per 10..B. Kota .B...000 penduduk. Dst ..... Provinsi .

.2...B. 1. 2..T-I......1. Kota . Provinsi ..d .... Kabupaten/Kota...T-I. Rasio tenaga medis per satuan penduduk Rasio Tenaga Medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besar ketersediaan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada penduduk.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Tenaga Medis (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten . Untuk menghitung rasio tenaga medis persatuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel...3..1... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..58 Jumlah Tenaga Medis Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. s.1. Untuk kabupaten/kota: Tabel.3. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel...*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah Tenaga Medis Jumlah Penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.57 Jumlah Tenaga Medis Tahun ... Dst .B.5.59 Jumlah Tenaga Medis Tahun ..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Tabel. Kecamatan .. Provinsi ...46 1.60 Jumlah Tenaga Medis Menurut Kecamatan Tahun .. s..*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Tenaga Medis 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten ......B.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...d .. Dst .... Dst ..... Lingkungan Hidup Persentase penanganan sampah Untuk menghitung persentase penanganan sampah dapat disusun tabel sebagai berikut: ...B...... Kabupaten/Kota ..1....*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Tenaga Medis (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan .T-I.

.. Dst .1...d .. dan tidak mengandung logam berat..2. 3..B.64 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kecamatan Tahun .. Kecamatan .*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah sampah yang ditangani (3) Jumlah volume produksi sampah (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan ..... terutama logam. 3... tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.. Dst ...T-I. Untuk Kabupaten: Tabel...T-I. 1.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. tidak berbau. Provinsi .. terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya.. Dst . Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia.*) NO 1.d .. banyak zat berbahaya. Kabupaten .*) NO 1... Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.3.. Persentase penduduk berakses air minum Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa..... Kabupaten/Kota .... Untuk menghitung persentase penduduk berakses air bersih dapat disusun tabel sebagai berikut: ..B..... s.. tidak berwarna. Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.63 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun .T-I.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2.T-I.B. Kabupaten/Kota...... s....... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Tabel....B... Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C. Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.62 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..61 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun . Tabel...47 Untuk Provinsi: Tabel.... Provinsi . 2..*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah sampah yang ditangani (3) Jumlah volume produksi sampah (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .

.. air leding/PAM. Kabupaten/Kota .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I. Kecamatan ... Kabupaten ... atau mata air .... Tabel.... NO 1. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Persentase penduduk berakses air bersih *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO 1. sumur.. 3. Dst .. 2..B. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Kabupaten/Kota..d . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Provinsi . Provinsi . Jumlah penduduk 3.66 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun . s......68 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun ..... Kota ....B...*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .B.d . Uraian Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum Jumlah penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase penduduk berakses air bersih *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 1 2 3 Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan. s....B. pompa air.. Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..67 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun ..... Dst ....... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..*) (n-5) Uraian Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum 2...T-I......T-I....48 Untuk Provinsi: Tabel.65 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun ...T-I.....*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Penduduk yang mendapatkan akses air minum (4) Persentase (5=4/3) Kecamatan ...

s.B.. Dst . Uraian luas area permukiman tertata luas area permukiman keseluruhan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase Luas Permukiman yang Tertata *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.49 yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal...d .T-I.. 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I..... 2....... Provinsi .70 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Persentase luas permukiman yang tertata Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Untuk menghitung persentase luas permukiman yang tertata dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..*) (n-5) Uraian luas area permukiman tertata luas area permukiman keseluruhan Persentase Luas Permukiman yang 3.69 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun . . NO 1.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 1.3.. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan . 3.....*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Luas Area Permukiman Keseluruhan (3) Luas Area Permukiman Tertata (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .B. Untuk kabupaten/kota: Tabel.....1.*) NO 1.d ..B..T-I... Kabupaten ...3... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..71 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun .... s. Kota . Tertata *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... Provinsi . Dst ..... Kabupaten/Kota ...

1. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu : a. c... bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menuju rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 10 s/d 16 %).1.1.. Kabupaten/Kota . b.. Dst . Dapat dikatakan juga sebagai semua ruas jalan yang mantap dari aspek kondisi tetapi tidak mantap dari aspek pemanfaatan/kapasitas atau sebaliknya. 1 2 3 Persentase Luas Permukiman yang Tertata adalah proporsi luas area permukiman yang sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang satuan permukiman terhadap luas area permukiman keseluruhan. atau semua ruas jalan yang mantap baik dari aspek kondisi maupun aspek pemanfaatan/kapasitas. dimana hal tersebut lebih merupakan definisi secara kualitatif. bahu jalan dan ≤ . Mantap Sempurna.72 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kecamatan Tahun . Mantap Marginal. adalah semua ruas jalan baik secara kondisi maupun kapasitas tidak mantap. atau sebaliknya yaitu jalan dengan lebar yang cukup tetapi kondisi rusak sampai rusak berat.1. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek kemantapan adalah merupakan kinerja gabungan dari aspek kondisi dan aspek pemanfaatan/kapasitas.1. Sarana dan Prasarana Umum 1.. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi Kinerja jaringan berdasarkan kondisi dengan terminologi baik.4.*) NO (1) Kecamatan (2) Luas Area Permukiman Keseluruhan (3) Luas Area Permukiman Tertata (4) Persentase (5=4/3) Kecamatan . Mantap Marginal dan Tidak Mantap...50 Tabel. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 2.4..2.. sehingga kendaraan harus mengurangi kecepatannya. Tidak Mantap.T-I.1. Kerusakan yang ada belum (atau sedikit saja) menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas. b.1. sedang rusak. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik dan lebarnya memenuhi ketentuan lebar minimum perkerasan (berdasarkan LHR yang ada). bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 6 s/d 10 %). Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Kinerja jaringan jalan sebagai hasil dari manajemen pengelolaan didasarkan kepada beberapa indikator makro yaitu : 1. .. Kinerja jaringan jalan dinyatakan sebagai Mantap Sempurna.B.. c.4..lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan kecepatan disain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan. Kondisi Sedang (S) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan..4.1... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. sedang. rusak dan rusak berat. 1. Untuk keperluan teknis operasional diperlukan suatu definisi atau batasan/kriteria teknis (“engineering criteria”) yang lebih jelas dan bersifat kuantitatif. Kondisi Sedang Rusak (SR) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.. Kerusakan yang ada mulai menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas.. arus lalu . Kecamatan . Terminologi ini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan dengan penjelasan sebagai berikut: a. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik tetapi lebarnya kurang dari ketentuan berdasarkan jumlah LHR yang ada... Kondisi Baik (B) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.

Kabupaten . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Dst .. Kondisi diukur (terutama) dengan besaran nilai Kondisi.. Kondisi Jalan Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Panjang Jalan (km) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan (nasional...T-I.51 d.. e.1. V/C ratio menunjukkan gambaran mengenai tingkat pelayanan suatu jalan dalam melayani arus (pergerakan) lalu – lintas.. atau hanya dapat dilewati dengan kecepatan sangat rendah.... dimana semakin besar nilai V/C ratio berarti semakin rendahnya tingkat pelayanan jalan tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya kemacetan. Kerusakan yang ada sudah sangat parah dan nyaris tidak dapat lagi dilewati oleh kendaraan roda – 4.3. Kota ..74 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 5. sehingga kendaraan harus berjalan secara perlahan . Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek pemanfaatan Dua hal utama yang berkaitan erat dengan kinerja jalan.. Kondisi Rusak Berat (RB) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.B... baik untuk individual segmen maupun untuk sepanjang ruas dan sistem jaringan adalah aspek kondisi dan aspek pemanfaatannya.73 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun . Kondisi Rusak (R) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan...*) NO 1... Provinsi . Tabel.lintas. provinsi.. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak berat menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan > 20 %).. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. dan kabupaten/kota) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d .*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan Kabupaten .. sedangkan aspek pemanfaatan diukur dengan besaran V/C ratio..4.. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 16 s/d 20 %). Batasan nilai V/C ratio yang menunjukkan tingkat pelayanan mulai mendekati kemacetan diambil > 0.B...T-I...1..lahan. .. Kerusakan yang ada sudah sangat menghambat kelancaran arus pergerakan lalu .. Provinsi . 1. 3.. mengurangi kecepatannya. Dst .. Untuk menghitung proporsi panjang jaringan jalan berdasarkan kondisi dapat disusun tabel sebagai berikut : Untuk Provinsi: Tabel..... 4.65. s. 2. kadangkala harus berhenti akibat adanya kerusakan atau hambatan pada permukaan perkerasan...

..52 Untuk kabupaten/kota: Tabel.d . Kondisi Jalan Panjang Jalan (km) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan (nasional. Kabupaten/Kota ..T-I. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.75 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun . Tabel. 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi ..*) NO 1.. yang langsung berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi ke dalam petakan sawah adalah jaringan irigasi tersier yang terdiri dari saluran tersier. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1. 4. 5.d ..... pembagian... Untuk menghitung Rasio perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya dapat disusun tabel sebagai berikut : Untuk Provinsi: Tabel.2. 4. dan kabupaten/kota). 2..1.. .. provinsi. boks tersier..B... Dst .T-I..B. pemberian. saluran kuarter dan saluran pembuang..B. penggunaan dan pembuangan air irigasi. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan.. Kecamatan . 2.... 3.. Jaringan Irigasi Panjang Jaringan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3..76 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kecamatan tahun ... dan kabupaten/kota) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Hal ini mengindikasikan kualitas jalan dari keseluruhan panjang jalan.77 Rasio Jaringan Irigasi Tahun .. sekunder dan tersier. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) NO 1 2 3 Kecamatan Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan Kecamatan . Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan (nasional. s.*) NO 1.4.. Kabupaten/Kota . Selanjutnya secara operasional dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer.T-I. boks kuarter serta bangunan pelengkapnya... Dari ketiga kelompok jaringan tersebut..... provinsi.. Rasio Jaringan Irigasi Pengertian jaringan irigasi adalah saluran.

.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Didalam pengelolaan jaringan irigasi.... Pasok Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok Air Relatif (PAR) dengan rumusan sebagai berikut:    ....B..53 Tabel...d .. Dalam hal ini efisiensi teknis diukur dari tiga indikator yaitu Pasok Irigasi per Area (PIA). Kabupaten/Kota..*) NO (1) Kabupaten /Kota (2) Primer (3) Panjang Jaringan Irigasi Sekunder Tersier (4) (5) Total Panjang Jaringan Irigasi (6=3+4+5) Luas lahan budidaya (7) Rasio (8=6/7) Kabupaten .....78 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst . Kabupaten/Kota.. Kecamatan . 5.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Dst .79 Rasio Jaringan Irigasi Tahun .. Provinsi .T-I. 3.. Kabupaten . 1 2 3 4 5 Untuk kabupaten/kota: Tabel..... a. Kota ..T-I...... Tingkat efisiensi akan diukur dari nilai Pasok Irigasi per Area (PIA). tolok ukur keberhasilan pengelolaan adalah efisiensi dan efektifitas... Tabel.. Jaringan Irigasi Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio (n-5) (n-4) Panjang Jaringan (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.80 Rasio Jaringan Irigasi menurut Kecamatan tahun . s.. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif... 1 2 3 Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya. Pasok Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok Air Relatif (PAR)..T-I...*) NO (1) Kecamatan (2) Panjang Jaringan Irigasi Primer Sekunder Tersier (3) (4) (5) Total Panjang Jaringan Irigasi (6=3+4+5) Luas lahan budidaya (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Sedangkan efektivitas ditunjukkan oleh indeks luas areal (IA). 2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Dst . Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian...B.*) NO 1. sekunder.. 4...B. tersier...

Sementara itu PIR atau disebut juga Relative Irrigation Supply (RIS) menunjukkan nisbah antara pasok irigasi total dengan kebutuhan air tanaman. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. dan PAR atau Relative Water Supply (RWS) merupakan nisbah total pasok air (irigasi ditambah curah hujan efektif) terhadap kebutuhan air tanaman.B. 1. dengan rumusan berikut: 00 Luas rancangan = rancangan luas areal Semakin tinggi nilai IA menunjukkan semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. Dst . dalam hal ini semakin kecil nilai PIA maka efisiensi manajemen akan semakin besar. Selisih antara PAR dan PIR merupakan curah hujan yang dapat digunakan tanaman.... Pasok Air Relatif 4. Apabila curah hujan tinggi dan nilai PIR juga tinggi maka fenomena ini menunjukkan bahwa petani belum mampu untuk mengelola sumberdaya secara sepadan. Indek Luas Areal 5.. PIR dan PAR biasa juga dipakai untuk mengukur kemampuan masyarakat mengelola sumberdaya air dalam kegiatan suatu sistem irigasi...B. b.. Dengan pemahaman seperti itu. Kota . Semakin kecil nilai PIR dan PAR menunjukkan bahwa efisiensi manajemen irigasi semakin bagus. Pasok Irigasi per Area 2....*) NO Pasokan Irigasi 1. Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nisbah antara luas areal terairi terhadap luas rancangan.. 3. maka pengelolaan irigasi semakin efisien.54 Semakin kecil nilai PIA.. 2..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.d .. Tingkat efektivitas akan diukur dari nilai Indek Luas Areal (IA). efektifitas pengelolaan air ini mengalami peningkatan sekitar 2%..... Provinsi. PIA menunjukkan nisbah antara pasok irigasi dengan luas lahan terairi..82 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst . Efisiensi pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nilai koefisien PIA. Rancangan Luas Areal *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Hasil Analisis efisiensi dan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi disajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. di lapangan diidentifikasi rasio atau nisbah luas areal terairi terhadap rancangan luas areal mencapai 91% (0. PIR dan PAR.91). Provinsi. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi...*) NO Kabupaten/kota Luas Rancangan (Ha) 3 Luas Lahan Terairi (Ha) 4 Kebutuhan Air Tanaman (Ha) 5 Pasok Air Irigasi (lt/ dtk) 6 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) 7 Total Pasok Air (lt/ dtk) 8 PIA (lt/ dtk/ha) PIR (lt/ dtk/ha) PAR (lt/ dtk/ha) IA (%) 1 2 9=6/4 10=7/5 11=8/5 12=4/3 Kabupaten .81 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun .. s.T-I. PIR dan PAR. Artinya dari seluruh target areal yang akan diairi hanya ada sekitar 9% saja yang tidak terairi... . 4. Pasok Irigasi Relatif 3. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (89%)..

Dst .86 Rasio Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Rancangan Luas Areal *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... 3.. 2...T-I.d . Kecamatan .4. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Dst ... Provinsi . Indek Luas Areal 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s..B..d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...B. 2.. Provinsi . s. 3. 5. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kecamatan .. Pasok Irigasi Relatif 3. Mesjid Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Gereja Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Pura Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Vihara Jumlah pemeluk Rasio Kelenteng Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Lain-lain Jumlah pemeluk Rasio Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Kabupaten .83 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun . .T-I. s.1..B.. Kabupaten .d ... Pasok Air Relatif 4..... 5.....85 Rasio Tempat Ibadah Tahun .. Dst .. 2. 1..*) NO Kabupaten/Kota 1.... Pasok Irigasi per Area 2. 4.. Tabel.*) Untuk Provinsi: NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) Thn (n-5) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Thn (n-1)**) Jumlah pemeluk Rasio (1) (2) (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=7/8) Mesjid Gereja Pura Vihara Kelenteng Lain-Lain Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3...55 Untuk kabupaten/kota: Tabel. 6.3.... Kabupaten/Kota...84 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan Tahun .. Kota . 1... Kabupaten/Kota..*) NO Pasokan Irigasi 1....*) NO 1 Kecamatan 2 Luas Rancangan (Ha) 3 Luas Lahan Terairi (Ha) 4 Kebutuhan Air Tanaman (Ha) 5 Pasok Air Irigasi (lt/ dtk) 6 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) 7 Total Pasok Air (lt/ dtk) 8 PIA (lt/ dtk/ha) 9=6/4 PIR (lt/ dtk/ha) 10=7/5 PAR (lt/ dtk/ha) 11=8/5 IA (%) 12=4/3 1...... 4.T-I....B..T-I...... 4. Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Tabel..

2.... Provinsi .89 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun .. 5..... Pembuangan Tinja c. Pembuangan sampah Hasil analisis data rumah tinggal berakses sanitasi disajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.88 Rasio Tempat Ibadah Menurut Kecamatan Tahun . Fasilitas Air bersih b... 6. Kabupaten/Kota. Gereja Jumlah (unit) Pura Jumlah pemeluk Rasio Vihara Jumlah Jumlah (unit) pemeluk Rasio Kelenteng Jumlah Jumlah (unit) pemeluk Rasio Jumlah (unit) Lain-lain Jumlah pemeluk Rasio Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Rasio Rasio (unit) pemeluk (unit) pemeluk Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...*) NO 1..d .1...4.T-I.. 3.*) Thn (n-5) NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) (3) Jumlah pemeluk (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (unit) (6) Thn (n-1)**) Jumlah pemeluk (7) Rasio (8=7/8) (1) 1. 1...56 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Persentase rumah tinggal bersanitasi Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi..87 Rasio Tempat Ibadah Tahun . .B......... 2. 3.d . 2.. 3.*) Mesjid NO 1.. s. Pembuangan air limbah (air bekas) d. Kabupaten/Kota. 4.. s. Mesjid Gereja Pura Vihara Kelenteng Lain-Lain Jumlah (2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. sebagai berikut: a..B.T-I. Kecamatan ..4. Kecamatan Kecamatan . Dst .T-I.. Tabel.. Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

Kabupaten/Kota .92 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kecamatan Tahun . Kabupaten/Kota ..1. Kabupaten ... Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Tempat Pemakaman Umum (TPU) adalah areal tempat pemakaman milik/dikuasai pemerintah daerah yang disediakan untuk umum yang berada dibawah pengawasan. 2.d .... s....T-I..... 5..90 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Untuk kabupaten/kota: Tabel. 1. Kecamatan ..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 3.. Kecamatan (2) Jumlah rumah tinggal (3) Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi (4) Persentase (5=4/3) Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman mayat yang pengelolaannya dilakukan oleh yayasan/badan sosial/badan keagamaan. 2.. 2. 3. 4... pengurusan dan pengelolaan pemerintah daerah.. Kecamatan .. Untuk menghitung rasio tempat pemakaman disajikan tabel sebagai berikut: . Tabel... 3.... Dst .. Dst ..57 Tabel. Dst ..B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..91 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun .5.4.. Kabupaten . Tempat Pemakaman Khusus (TPK) adalah areal tanah yang digunakan untuk pemakaman yang karena faktor sejarah dan faktor kebudayaan mempunyai arti khusus....*) No (1) 1...T-I.. Provinsi ....T-I..... Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....*) NO 1.B...B..*) No (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah rumah tinggal (3) Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi (4) Persentase (5=4/3) 1. Kota .

Dst .. 4. Tabel.. 2..B.. 6. Provinsi .d . s... 4... Provinsi . 5....B.. Kabupaten/Kota .. 2...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3..93 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Tahun ... Kota ..*) No 1.d .T-I. 7.. . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) No 1.B.... 6.94 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun ... Kabupaten . Dst .58 Untuk Provinsi: Tabel.. Uraian Tempat pemakaman umum (TPU) Tempat Pemakaman bukan umum (TPBU) Tempat pemakaman khusus (TPK) Lain-Lain Jumlah Tempat Pemakaman Jumlah penduduk (jiwa) Rasio TPU persatuan penduduk (1/6) Tahun (n-5) Jumlah Luas Daya Tampung Jumlah Tahun (n-1)**) Luas Daya Tampung *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s.T-I... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 5. Untuk kabupaten/kota: Tabel... 3.. 2..*) Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jmlh (1) (2) (3) (4) Daya tampung (5) No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Jmlh (6) Daya Tampung (7) Tempat Pemakaman Khusus (TPK) Jmlh (8) Daya Tampung (9) Lain-Lain Jumlah Total Jmlh (10) Daya Tmpt Pemakaman Daya Tampung Tampung (11) (12=4+6+8+10) (13=5+7+9+11) Rasio TPU Persatuan Penduduk (14=4/3) 1.... 7... 4.T-I.... 3.95 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Tahun .... 5. Uraian Tempat pemakaman umum (TPU) Tempat Pemakaman bukan umum (TPBU) Tempat pemakaman khusus (TPK) Lain-Lain Jumlah Tempat Pemakaman Jumlah penduduk (jiwa) Rasio TPU persatuan penduduk (1/6) Tahun (n-5) Jumlah Luas Daya Tampung Jumlah Tahun (n-1)**) Luas Daya Tampung *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten ..

s... 4. Dst ..1... Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Kota . Provinsi .B.T-I.. Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd 4...59 Tabel.. 3...T-I. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12=4+6+8+10) (13=5+7+9+11) (14=4/3) Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 1. 2.6.*) No (1) 1....... 3...97 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Tahun ... 3. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Untuk Provinsi: Tabel.. Untuk kabupaten/kota: Tabel... Jumlah penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2.. Tabel..... No 1..d .. Uraian Jumlah Penduduk (jiwa) TPS Jumlah (unit) (4) Jumlah Daya Tampung (Ton) (5) Rasio (6=5/3) (3) (2) Kabupaten .. Dst .. 2. Dst ...............T-I. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . 5... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.99 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Tahun . Kecamatan ..d . 2. (2) Kecamatan . s...B.*) Uraian Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd 4..T-I..*) No 1. 3.. Kabupaten/Kota ...4. Kabupaten/Kota .. Kabupaten ..B..*) No Kecamatan Tempat Tempat Jumlah pemakaman umum Pemakaman bukan (TPU) umum (TPBU) Penduduk Jmlh Daya tampung Jmlh Daya tampung Tempat pemakaman khusus (TPK) Jmlh Daya tampung Lain-Lain Jmlh Daya tampung Jumlah Total Tmpt Pemakaman Daya tampung Rasio TPU persatuan penduduk (1) 1.B.96 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun . Jumlah penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.98 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Provinsi .

c.. Rasio permukiman layak huni Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. dan didominasi komunitas tumbuhan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. yangditetapkan dengan kriteria: a. .. dan kegiatan ekonomi.1.B..7. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. 4. Rasio permukiman layak huni adalah perbandingan luas permukiman layak huni dengan luas wilayah permukiman secara keseluruhan. pengembangan ruang terbuka hijau dari luas kawasan perkotaan paling sedikit 30% (tiga puluh persen)..1. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk adalah jumlah daya tampung tempat pembuangan sampah per 1. 2.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi..60 Tabel.*) No (1) Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) (3) TPS Jumlah (unit) (4) Jumlah Daya Tampung (Ton) (5) Rasio (6=5/3) (2) 1.000 jumlah penduduk.T-I. Kecamatan . Kecamatan ...1. atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Lahan dengan luas paling sedikit 2. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka...5.8.4.... baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1..4. Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok. Ruang terbuka hijau kota merupakan kawasan perlindungan. 3..1. Indikator ini mengukur proporsi luas pemukiman yang layak huni terhadap keseluruhan luas pemukiman. tempat tumbuh tanaman. berbentuk satu hamparan. b. Penataan Ruang 1.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 000 1.100 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun .5. Dst . pelayanan sosial. Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tamping lingkungan.1. Kabupaten/Kota . Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. berbentuk jalur.. Rasio rumah layak huni Rasio rumah layak huni adalah perbandingan jumlah rumah layak huni dengan jumlah penduduk. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 2.

. Luas Ruang Terbuka Hijau 2..*) No Uraian 1.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... 4. 3..d .. sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau di dalam tanah dan/atau air. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...T-I. Kabupaten . Kabupaten/Kota . 2. 1.. Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Izin mendirikan bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh Pemerintah kabupaten/kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru.61 Untuk Provinsi: Tabel. Dst .. Untuk kabupaten/kota: Tabel... mengurangi...... Kecamatan .. dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku. Luas wilayah ber HPL/HGB 3. Dst .. Kota .d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya.. Provinsi . Rasio Ruang Terbuka Hijau (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I... s.. Kabupaten/Kota .B...B. mengubah.. 5.5. Kabupaten (2) Luas Wilayah Luas Wilayah ber HPL/HGB Luas Ruang Terbuka Hijau Rasio Ruang Terbuka Hijau (3) (4) (5) (6=5/4) Kabupaten .... yang .. memperluas. 2. Rasio Ruang Terbuka Hijau (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Provinsi ...104 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kecamatan Tahun ..B...*) No Uraian 1..101 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Tahun .....*) No (1) 1. Luas wilayah 4...B......102 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota Tahun .1...*) No (1) Kecamatan (2) Luas Wilayah Luas wilayah ber HPL/HGB Luas Ruang Terbuka Hijau Rasio Ruang Terbuka Hijau (3) (4) (5) (6=5/4) 1..T-I.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Luas Ruang Terbuka Hijau 2.2. 3.103 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Tahun ... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Kecamatan .... Luas wilayah 4. Dst .T-I... Luas wilayah ber HPL/HGB 3. s.

.... Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Dst .. kegiatan usaha. s. 2.. .... kegiatan sosial. 3.... Kabupaten/Kota .*) No Uraian 1.....T-I...106 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst .B. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... 5.108 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan Tahun . Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan adalah perbandingan jumlah bangunan ber-IMB terhadap jumlah seluruh bangunan yang ada...B. Kabupaten .B.105 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Tahun .107 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Tahun . budaya...*) No (1) Kecamatan (2) Jumlah Bangunan (3) Jumlah Bangunan berIMB (4) Rasio bangunan berIMB (5=4/3) Kecamatan . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah Bangunan ber-IMB 2.T-I. 2. 3. 3... Kota . baik untuk hunian atau tempat tinggal... Tabel.. 1..*) No (1) Kabupaten (2) Jumlah Bangunan Jumlah Bangunan ber-IMB Rasio bangunan ber-IMB (3) (4) (5=4/3) Kabupaten ..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... Rasio bangunan ber-IMB (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 1.T-I.d .. Kabupaten/Kota ... Provinsi ..*) No 1. Dst . Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Bangunan ber-IMB Jumlah Bangunan Rasio bangunan ber-IMB (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kecamatan . 4.d ..... kegiatan keagamaan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan......T-I... Jumlah Bangunan 3.. Untuk Provinsi: Tabel..B... maupun kegiatan khusus. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s... 2...62 berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. Provinsi ...

.... .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten .6... Kota .. 2.*) No 1...B.. Kabupaten/Kota . Perhubungan 1..6... Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I...... 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B.*) No (1) 1.. Kabupaten/Kota . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 4..111 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun ..*) No 1. 4...... 3.T-I. Kecamatan (2) Bis (3) Kereta Api (4) Kapal Laut (5) Pesawat Udara (6) Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) Kecamatan ..*) Jumlah penumpang No (1) 1...B... 3. 2. s..110 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah arus penumpang angkutan umum Untuk Provinsi: Tabel... 3. 2. 4. 2. Tabel.. Dst .T-I..B.d .... 5.1.1.... 5. Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.........112 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun .T-I.. s. Kabupaten/kota (2) Jumlah penumpang Bis (3) Kereta api (4) Kapal laut (5) Pesawat udara (6) Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) Kabupaten ... Dst .. 3.109 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun ...1... Dst .63 2.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kecamatan . Tabel.d . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Provinsi .. Provinsi ..

4. 5. b.... Tabel.. jaringan trayek lintas batas negara.B. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus. d.. Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Dst . c. Untuk Provinsi: Tabel.. e.. 4.114 Rasio Ijin Trayek Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..T-I..B.T-I.113 Rasio Ijin Trayek Tahun . jaringan trayek perkotaan. 2. 3. Jaringan trayek terdiri atas: a.64 1... Untuk kabupaten/kota: Tabel. s... Provinsi .B. Kota . Kabupaten .. 5. 2.. Rasio ijin trayek Izin Trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/ atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek.. jaringan trayek antarkota dalam provinsi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) No 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.115 Rasio Ijin Trayek Tahun .. Uraian Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... Dst . .d . Kabupaten/Kota .. 4.. Provinsi .. 6... Uraian Izin Trayek antarkota antarprovinsi Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... 5......*) No 1. jaringan trayek antarkota antarprovinsi. Kabupaten/kota (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah Izin Trayek antarkota antar provinsi (4) Perkotaan (5) perdesaan (6) Total Jumlah Izin Trayek (7=4+5+6) Rasio Izin Trayek (8=7/3) Kabupaten . yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap. s. 3... 3....... 2.lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. dan jaringan trayek perdesaan...6..*) No (1) 1.1..d .T-I..2.

116 Rasio Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun. 5. 3.....*) No 1. uji berkala yaitu diwajibkan untuk mobil penumpang umum. . 2. mobil barang. Kabupaten . bak muatan.. Tabel. Kabupaten . Dst . 3. s... Untuk Provinsi: (n-5) Jmlh Jmlh KIR % Jmlh (n-4) Jmlh KIR % Jmlh (n-3) Jmlh KIR % Jmlh (n-2) Jmlh KIR % Jmlh (n-1)**) Jmlh KIR % Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 4. kereta tempelan. Dst ..65 Tabel. Kabupaten/Kota .118 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Selama 1 (satu) Tahun. Kecamatan. Dst . mobil bus. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah uji kir angkutan umum Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor.. meliputi pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dan pengesahan hasil uji.3. Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Izin Trayek Perkotaan Perdesaan (4) (5) Total Jumlah Izin Trayek (7=4+5+6) Rasio Izin Trayek (8=7/3) Kecamatan...d ....6. 5. Provinsi . Kota .. 2... Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..... 2. dan kereta tempelan yang dioperasikan di Jalan. kereta gandengan.. 4... uji tipe yaitu pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Bermotor dalam keadaan lengkap dan penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor yang dilakukan terhadap rumahrumah...... Provinsi .B... 1.. Pengujian dimaksud meliputi: a. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Tabel. 3..... Angkutan Umum Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Kereta gandengan Kereta tempelan b.1..T-I. baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.117 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun .T-I.*) No (1) 1..B.. kereta gandengan.T-I... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) No Angkutan Umum Mobil penumpang umum Jmlh Jmlh KIR (3) (4) Mobil bus Jmlh Jmlh KIR (6) (7) Mobil barang % Jmlh Jmlh KIR (9) (10) Kereta gandengan % Jmlh (12) Kereta tempelan Jmlh Jmlh KIR (15) (16) % (5=4/3) Jmlh KIR (13) % (14=13/12) % Jmlh Angkutan Jmlh KIR % (1) (2) (8=7/6) (11=10/9) (17=16/15) (18) (19) (20=19/18) 1. dan Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi tipenya.B.

Kecamatan. perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.B........ 1...... danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Kabupaten/kota Pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara terminal bis Kabupaten ..... 4. Untuk Provinsi: Tabel.120 Jumlah uji kir angkutan umum selama 1 (satu) tahun Menurut Kecamatan Tahun . Provinsi.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.... 3.4. Angkutan Umum Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Kereta gandengan Kereta tempelan (n-5) Jmlh Jmlh KIR % (n-4) Jmlh Jmlh KIR % (n-3) Jmlh Jmlh KIR % (n-2) Jmlh Jmlh KIR % Jmlh (n-1)**) Jmlh KIR % Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kecamatan. 3.. Provinsi. 5. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....T-I. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.6.B.d ... 3.*) No (1) Angkutan Umum (2) Mobil penumpang umum Jmlh Jmlh KIR (3) (4) Mobil bus Jmlh Jmlh KIR (6) (7) Mobil barang % Jmlh Jmlh KIR (9) (10) Kereta gandengan % Jmlh (12) Kereta tempelan Jmlh Jmlh KIR (15) (16) % (5=4/3) Jmlh KIR (13) % (14=13/12) % (17=16/15) Jmlh Jmlh Angkutan KIR (18) (19) % (20=19/18) (8=7/6) (11=10/9) 1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.. sungai. Tabel... Dst .T-I.... s. 2. Dst . Pelabuhan Udara/bandara bisa diartikan sebagai sebuah fasilitas untuk menerima pesawat dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya.*) No 1. Kabupaten/Kota . 2. Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang..d ... 4...*) No 1. 3...B..T-I.. 2. Kabupaten/Kota ...121 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun . Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera..1.119 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun .66 Untuk kabupaten/kota: Tabel. .122 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun .. No 1. 2. Dst . Kota .T-I.*) Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B..

*) Tahun Persetujuan JumlahProyek Nilai Investasi JumlahProyek Realisasi Nilai Investasi n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2.T-I. s.. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Penanaman modal dalam negeri (PMDN) adalah penggunaan modal dalam negeri bagi usaha-usaha yang mendorong pembangunan ekonomi pada umumnya.d .. Provinsi/Kabupaten/Kota..125 Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun ...... Banyaknya investasi PMDN berskala nasional dengan banyaknya investasi PMA berskala nasional dihitung dari total nilai proyek yang telah terealisasi pada suatu periode tahun pengamatan...124 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun .*) Tahun Uraian (1) (2) n-5 Jumlah Investor n-4 Jumlah Investor n-3 Jumlah Investor n-2 Jumlah Investor n-1 Jumlah Investor *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.2.. Jumlah investor PMDN/PMA dihitung dengan menjumlahkan banyaknya investor PMDN berskala nasional dengan banyaknya investor PMA berskala nasional yang aktif berinvestasi di daerah dan pada suatu periode tahun pengamatan..123 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun ..1.. PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) Semakin banyak jumlah investor maka akan semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah. 2. s..d .. s. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi investor PMDN/PMA dihitung dengan menjumlahkan jumlah realisasi nilai proyek investasi berupa PMDN dan nilai proyek investasi PMA yang telah disetujui oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).2.2.. .B.T-I. Penanaman modal asing (PMA) merupakan penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan perundang . Untuk menghitung nilai PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.undang di Indonesia....B. 2.12. dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanaman modal tersebut.d . No 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....B. 3.1.67 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Penanaman Modal 2.. Fokus Layanan Urusan Pilihan 2....12.T-I... Untuk menghitung jumlah investor PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2. Kabupaten/Kota ..

d . Jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMA/PMDN dihitung dari banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada investasi PMA/PMDN yang terealisasi pada suatu tahun.... 2. Menghitung Rasio daya serap tenaga kerja digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel.2. Persentase koperasi aktif Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan.. Menghitung persentase koperasi aktif digunakan rumus sebagai berikut: 00 Tabel.. 2.... NO 1 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Semakin besar rasio daya serap tenaga kerja pada PMA dan PMDN akan mencerminkan besarnya daya tampung proyek investasi PMA/PMDN untuk menyerap tenaga kerja di suatu daerah. Jumlah seluruh PMA/PMDN dihitung dari banyaknya proyek investasi yang terealisasi di daerah pada suatu tahun berdasarkan data BKPM. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. ..2.1. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) 2..T-I. Rasio daya serap tenaga kerja Rasio daya serap tenaga kerja adalah perbandingan antara jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN.*) Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN 2 Jumlah seluruh PMA/PMDN 3 Rasio daya serap tenaga kerja *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..2...2.126 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun .. Kabupaten/Kota.d . Koperasi Aktif adalah koperasi yang dalam dua tahun terakhir mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) atau koperasi yang dalam tahun terakhir melakukan kegiatan usaha.68 Semakin banyak nilai realisasi investasi maka akan semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah.3.T-I.127 Persentase Koperasi Aktif Tahun ...*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Provinsi/Kabupaten/Kota.12.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.12.. Semakin banyak realisasi proyek maka akan menggambarkan keberhasilan daerah dalam memberi fasilitas penunjang pada investor untuk merealisasikan investasi yang telah direncanakan.B..

. dikuasai.. dst.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.12.. yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki.. Tabel.2.. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar.129 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun . Provinsi... Jumlah UKM non BPR/LKMUKM Usaha kecil adalah peluang usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri..T-I. s.130 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun .. dst. Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif Dst.*) NO 1 Kabupaten/kota (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kabupaten . atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan Menghitung jumlah UKM non BPR/LKM UKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2 3 Jumlah Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Total Persentase koperasi aktif *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri.2. dikuasai. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. s. 2....d .T-I.*) NO Uraian 1 Jumlah seluruh UKM 2 Jumlah BPR/LKM 3 Jumlah UKM non BPR/LKM *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.69 Tabel.....T-I. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki....128 Persentase Koperasi Aktif Tahun ..B... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM 3 Dst. Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM 2 Kabupaten. Semakin besar jumlah persentase ini maka akan semakin besar pelayanan penunjang yang dimiliki daerah dalam menggerakkan perekonomian melalui koperasi...*) NO 1 Kabupaten/kota Kabupaten .B.. Total Provinsi Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...d . Kabupaten/Kota.. s. Provinsi... ..d ... Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif Kabupaten. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data......

d .131 Jumlah BPR/LKM Tahun . yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. 2... Provinsi. Menghitung Jumlah BPR/LKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut.B. Faktor pengurang 1) Kematian (mortalitas) adalah keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen.132 Jumlah UKM BPR/LKM tahun .T-I.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah BPR Jumlah LKM Jumlah BPR dan LKM (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Faktor penambah 1) 2) Kelahiran (fertilitas) adalah: kemampuan riil seorang wanita atau sekelompok untuk melahirkan. Komponen pertumbuhan penduduk: a.. ..d .... Tabel... dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR.. dst.. Pertumbuhan penduduk yang minus berarti jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah mengalami penurunan yang bisa disebabkan oleh banyak hal. pembayaran sebagai transaksi jasa (payment service) serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. Kabupaten/Kota. LKM memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan berbagai jasa keuangan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2) Migrasi keluar (emigrasi) adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah.... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu daerah dari waktu ke waktu.3.. Pertumbuhan penduduk meningkat jika jumlah kelahiran dan perpindahan penduduk dari luar ke dalam lebih besar dari jumlah kematian dan perpindahan penduduk dari dalam keluar. 2. Kependudukan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran.. Jumlah BPR/LKM BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka.. Dst. yang dicerminkan dalam jumlah bayi yang dilahirkan hidup. Migrasi masuk (imigrasi) adalah masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan b.2. Lembaga keuangan mikro (LKM) adalah lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan (deposits)..70 Semakin banyak jumlah UKM non BPR/LKM akan menunjukkan semakin besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah dalam meningkatkan ekonomi daerah melalui UKM.3....*) NO 1 2 3 Kabupaten/kota Kabupaten .2. s. Semakin banyak jumlah BPR/LKM akan menunjukkan semakin besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah dalam mendukung pendanaan UKM melalui BPR/LKM..B.. 2.3. Kota.1.T-I. Tabel.12. tabungan.. s.2. kredit (loan). kematian dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun dari luar.

Pertumbuhan Geometri. Pertumbuhan ini mengasumsikan adanya angka pertumbuhan jumlah penduduk yang sama dari tahun ke tahun Rumus : Pt = Po (1+r) Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode n = jumlah tahun dalam periode tersebut r = angka pertumbuhan geometris 3. Dirumuskan: ⁄ keterangan: r = angka perubahan linier Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode N = jumlah tahun dalam periode tersebut P = jumlah penduduk pada pertengahan periode 2. Pertumbuhan eksponensial perhitungan ini sama dengan pertumbuhan Geometri tetapi pertambahan penduduk terjadi setiap saat mengikuti fungsi eksponensial. Pertumbuhan (linier). Perhitungan ini mengasumsikan adanya perubahan jumlah absolut penduduk yang sama dari satu tahun ketahun yang lain.. Rumus: atau 0 Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode n = jumlah tahun dalam periode tersebut e = angka pertumbuhan eksponensial Perhitungan laju pertumbuhan penduduk didasarkan pada perhitungan: . Ada 3 macam ukuran pertumbuhan penduduk: 1. Rumus menghitung pertumbuhan penduduk : 0 0 Angka pertumbuhan penduduk (r) adalah: rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun pada periode\waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dengan persen.71 Rasio perpindahan peduduk pertahun dapat dihitung dengan rumus: 00 Rasio perpindahan penduduk masuk (imigrasi) dan keluar (emigrasi) dihitung dengan rumus: 00 00 Dinamika kependudukan adalah perubahan kependudukan untuk suatu daerah tertentu dari waktu ke waktu.

Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian bayi berumur dibawah 1 tahun selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup.T-I. . Dari rumusan tersebut dapat diketahui jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dalam satu wilayah..72 1.*) … No 1 2 3 Kabupaten/Kota … … … Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Dari data yang ada kemudian dapat dipersempit lagi dengan menghitung jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan berdasarkan umur.. Pengelompokan Penduduk 2.1. Hasilnya dituangkan dalam tabel berikut: Tabel. .3.3. sebagaimana terlihat dalam tabel berikut.134 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Provinsi. Rumus: 000 Keterangan: IMR = angka kematian bayi Do = jumlah kematian bayi selama 1 tahun B = jumlah kelahiran hidup dalam tahun yang sama Hasil perhitungan laju pertumbuhan penduduk dituangkan dalam tabel berikut.2.T-I. Angka Kelahiran Kasar (crude birth rate) yaitu jumlah kelahiran hidup per 1000 penduduk dalam suatu tahun tertentu Rumus: Keterangan: CBR = angka kelahiran kasar B = jumlah kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu D = jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama k = konstanta biasanya 1000 2.2.B. Angka ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) yaitu jumlah kematian pada tahun tertentu per 1000 penduduk: Rumus: 000 Keterangan: CDR = angka kematian kasar D = jumlah kematian pada tahun tertentu P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun itu 3.. Jumlah 2...2..2. .. Tabel.133 Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi/ …… Tahun . No Fertilitas/mortalitas 1 Angka kelahiran kasar (CBR) 2 Angka kematian kasar (CDR) 3 Angka kematian bayi (IMR) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.B. Pengelompokan Penduduk Berdasar Jenis Kelamin dan umur Rasio jenis kelamin (sex rasio) adalah banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan ( (penduduk laki-laki) : (penduduk perempuan) x 100.

B.B....B. Kecamatan … … dst Jumlah Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis kelamin .T-I..T-I.. Provinsi…… Kelompok (n-5) (n-4) Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.73 Tabel. (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Tahun.136 Proyeksi Penduduk Perempuan Berdasarkan Umur …....T-I..135 Proyeksi Penduduk Laki-Laki Berdasarkan Umur … Tahun.. (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. 2.137 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan Tahun. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3. …… 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi…… Kelompok Umur (n-5) (n-4) 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...

B.. dapat dihitung berdasarkan kepemilikan KTP. Untuk mendapatkan data penduduk yang sudah terdaftar dalam catatan sipil.. Pengelompokan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan dapat menggunakan tabel berikut. persebaran administrative dan politis.. yaitu persebaran penduduk berdasarkan provinsi...2.*) Tingkat Pendidikan No 1 2 3 Kabupaten/Kota SD/MI SMP SMA Perguruan Tinggi Tidak Sekolah Jumlah ….. KK..2. kabupaten. daerah istimewa. … Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. persebaran geografis..3. yaitu persebaran penduduk menurut pulau. 2.. penduduk juga dapat dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan.2... Tabel berikut dapat digunakan untuk menghitung persebaran penduduk provinsi tertentu.B.3. Tabel.. Provinsi.T-I... Pengelompokkan penduduk berdasarkan persebaran penduduk/geografis Persebaran penduduk dapat dihitung berdasarkan: 1. Rasio penduduk ber-KTP adalah perbandingan jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas yang ber-KTP terhadap jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas atau telah menikah.2. Akte lahir dan Akte Nikah.. dispesifikasikan lagi berdasarkan jenis kelamin sebagaimana tampak pada tabel berikut.. 2..140 Penduduk 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi Tahun .. Selanjutnya dari data yang ada. 00 . Tabel. Pengelompokan Penduduk Berdasar tingkat pendidikan Selain berdasarkan jenis kelamin.T-I.*) No 1 2 3 … Kabupaten/Kota … … Jumlah Penduduk Luas wilayah (km2) Kepadatan (%) Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.74 2. … … No 1 2 3 4 5 Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Jumlah Prosentase (%) Tidak punya ijazah SD SD/MI sederajat SMP SMA Perguruan tinggi Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.139 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun.T-I......3.2. 00 Rasio penduduk ber-KK adalah perbandingan jumlah penduduk yang ber-KK terhadap jumlah penduduk yang telah menikah.138 Sebaran Penduduk Menurut Luas wilayah dan Kepadatan Tahun. untuk mengetahui prosentasenya. Tabel.. Provinsi. Kabupaten/kota .B..

. kemudian dituangkan dalam tabel berikut.2.142 Jumlah Penduduk Peserta KB Provinsi. Tenaga kerja dikatakan juga sebagai penduduk usia .. PUS Jumlah Penduduk Peserta KB Peserta KB Tidak KB 2. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dicanangkan untuk mengetahui tingkat Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap KB. Akte Lahir.. Angkatan Kerja (labour force) Berdasarkan publikasi ILO (International Labour Organization).B.. Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah penduduk. KK.4.75 Rasio bayi berakte kelahiran adalah perbandingan jumlah bayi lahir dalam 1 tahun yang berakte kelahiran terhadap jumlah bayi lahir pada tahun yang sama.. 00 Hasil perhitungan rasio diatas...T-I.. Tabel. salah satu caranya adalah melalui program KB. Ketenagakerjaan Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum. penduduk dapat dikelompokkan menjadi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.1.*) No 1 2 Kabupaten/Kota Sdh Ka … Jumlah se-provinsi … KTP blm Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KK Akte lahir Sdh blm Sdh blm Sdh Akte nikah blm *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Provinsi. Tenaga kerja (man power) adalah penduduk dalam usia kerja (dalam literatur 15-64 tahun).. Guna mengetahui jumlah penduduk peserta KB pada suatu wilayah dapat dihitung dengan menggunakan rumusan berikut: Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000 pasangan usia subur pada tahun yang sama.. Akte Nikah Tahun . Tabel.B.. jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktifitas tersebut. Tenaga kerja adalah jumlah seluruh penduduk dalam usia kerja dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa. selama dan sesudah masa kerja. 2....T-I.141 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP.. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Di Indonesia dipakai batasan umur 10 tahun...4.. 00 Rasio pasangan berakte nikah adalah perbandingan jumlah pasangan nikah berakte nikah terhadap jumlah keseluruhan pasangan yang telah menikah.2. 00 Hasil perhitungan dituangkan dalam tabel berikut.*) No 1 2 3 Kabupaten/Kota … … … Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.

Provinsi/ … *) No 1 ANGKATAN KERJA a. atau dapat dikatakan sebagai pekerja dan merupakan potensi penduduk yang akan masuk pasar kerja.. Mengurus RT c. yang merupakan rasio antara angkatan kerja dan tenaga kerja. atau kegiatan lainnya selain bekerja).. Tabel.143 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Tahun. bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja ataupun mencari kerja... 5 5 00 Tingkat partisipasi umum yaitu jumlah angkatan kerja dibagi seluruh penduduk berumur 10 tahun keatas. mengurus rumah tangga. tenaga kerja dibedakan menjadi: angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (penduduk yang sebagian besar kegiatannya adalah bersekolah. Bekerja b.2 Klasifikasi Penduduk Berdasar Ketenagakerjaan Penduduk Tenaga kerja Bukan tenaga kerja Bukan angkatan kerja Angkatan kerja Bekerja Tidak bekerja/sedang mencari kerja Angka yang sering digunakan untuk menyatakan jumlah angkatan kerja adalah TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja). GAMBAR. Pengangguran Jumlah penduduk angkatan kerja (i) 2 BUKAN ANGKATAN KERJA a. G-A.B.T-I. Sekolah b. Sedangkan.. yaitu penduduk usia 15 tahun atau lebih. seiring dengan program wajib belajar 9 tahun. Selanjutnya. . Angkatan kerja merupakan bagian penduduk yang sedang bekerja dan siap masuk pasar kerja.76 kerja.. Lainnya Jumlah penduduk bukan angkatan kerja (ii) Jumlah penduduk usia kerja (i) + (ii) 3 4 TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja) TPT (tingkat pengangguran terbuka) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.

Komunikasi Keuangan. Kesempatan kerja Kesempatan kerja (permintaan atas tenaga kerja) merupakan peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian.. maka angka yang digunakan adalah = (1 .*) Lapangan Usaha No Kabupaten /Kota Kab/Kota. Rasio dari kedua data tersebut menunjukkan produktivitas tenaga kerja.145 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun. Provinsi.4.3. … Pertanian Industri pengolahan Bangunan Perdaganga.. Pergudangan...2..B.. 2.. Kemasyarakatan Listrik. 2. Produktivitas Kerja Secara praktis. Usaha Persewaan Lainnya Jasa (Pertambangan..angka pengangguran) Tabel.77 Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja. Jika yang tersedia adalah angka pengangguran... Data ini bisa didapat dari BPS sebagaimana dalam tabel berikut. Restoran dan Hotel Angkutan.2.. Asuransi.. Kesempatan Kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja).*) Golongan Umur (1) Angkatan Kerja Bekerja (2) Mencari Pekerjaan (3) Jumlah (4=2+3) 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Tabel.144 Penduduk Angkatan Kerja kabupaten/kota… Provinsi.B. yaitu PDRB dengan jumlah pekerja.. Jumlah penduduk yang ada dalam suatu wilayah kemudian dikelompokan berdasarkan lapangan usaha yang ada. keterampilan dan bakatnya masing-masing.T-I.4..T-I.. Kab/Kota.. dan Air Minum) Jml 1 2 3 Total se provinsi . produktivitas pekerja dapat diukur menggunakan data nilai tambah suatu daerah.2...

e.5. 2. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan.78 Melihat jumlah lapangan kerja yang tersedia. yaitu mereka yang mampu untuk bekerja full time tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakit.2. sering kali dijumpai adanya sengketa antara pengusaha dan pekerja.4. Sajikan data persentase perempuan di lembaga pemerintah .4.2. Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja.2. yaitu mereka yang tidak digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah menganggur. Tingkat sengketa antara pengusaha dan pekerja per tahun dihitung dengan rumusan: 2. misalnya orang yang bekerja tidak sesuai dengan tingkat atau jenis pendidikannya. 2) 3) d.. Tampaknya bekerja tetapi tidak bekerja secara penuh. musiman) kurang dari yang mereka kerjakan. padahal pekerjaan itu sebenarnya tidak memerlukan waktu sehari penuh. Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Dalam rangka pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diperlukan akses seluas-luasnya terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan dalam rangka pemberdayaan untuk menuju kesetaraan gender. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. c. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Pekerja perempuan di lembaga pemerintahan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan persentase perempuan yang menempati posisi Eselon I – IV. Pengangguran tersembunyi (hidden unemployment). misalnya para petani yang bekerja di ladang selama sehari penuh. Pengangguran terbuka: baik sukarela (mereka yang tidak mau bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara terpaksa (mereka yang mau bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan) Setengah menganggur (underemployment): yaitu mereka yang bekerja lamanya (hari. Tenaga kerja yang tidak produktif.1. dalam tabel sebagai berikut: . besarnya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). termasuk disini adalah: 1) Pengangguran tidak kentara (disguised unemployment). Tenaga kerja yang lemah (impaired). Pensiun lebih awal b. Untuk mengetahui peran aktif perempuan dapat diukur dari partisipasi perempuan di lembaga pemerintah maupun swasta. Lima bentuk pengangguran: a. 2. yaitu mereka yang mampu untuk bekerja secara produktif tetapi karena semberdaya-sumberdaya penolong kurang memadai sehingga mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu dengan baik.5. Pengangguran Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. minggu.

.. Kota .148 Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Tahun . Dst ..... NO 1 2 3 4 5 6 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... Kota .... Dst ... s. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..... Kabupaten . Partisipasi perempuan di lembaga swasta Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga swasta terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan........147 Persentase Pekerja Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun .... s.*) NO 1 2 3 4 Kabupaten/kota Jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah Kabupaten ... dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. 1 2 3 4 .T-I.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten ..B.. 2... dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.T-I...... Menurut Kabupaten/Kota Provinsi ... Provinsi .2.T-I. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan data persentase perempuan di lembaga swasta .d ..149 Persentase Pekerja Perempuan di Lembaga Swasta Tahun ..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah pekerja perempuan di lembaga swasta (3) Jumlah pekerja perempuan (4) Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta (5=3/4) Kabupaten .5. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...79 Untuk Provinsi: Tabel.B.2....d ....... Provinsi ....B... Menurut Kabupaten/Kota/Provinsi .146 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.B....*) Uraian Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon II Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon III Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon IV Pekerja perempuan di pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO Uraian 1 Jumlah perempuan yang bekerja di lembaga swasta 2 Jumlah pekerja perempuan 3 Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.

pemaksaan. adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit.. atau pemeliharaan kepada orang tersebut.5. 1 2 3 4 2. Kabupaten . Penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan.. Hal ini mengindikasikan masih belum ada perlindungan anak..3.5.. (II) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.B. Penelantaran rumah tangga dimana setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya.80 2. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan data rasio KDRT. seksual....151 Rasio KDRT Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kekerasan seksual meliputi : (I) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. d. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah KDRT (3) Jumlah rumah tangga (4) Rasio KDRT (5=3/4) Kabupaten . Menurut Kabupaten/Kota Provinsi ..150 Rasio KDRT Tahun . c. s. Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Persentase tenaga kerja di bawah umur adalah proporsi pekerja anak usia 5-14 tahun terhadap jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas.. meliputi: a. Provinsi ...2.T-I... dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan.4. hilangnya rasa percaya diri.. b... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. atau luka berat Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan.*) NO Uraian 1 Jumlah KDRT 2 Jumlah Rumah Tangga 3 Rasio KDRT *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kekerasan fisik.. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. perawatan. psikologis... 5 5 00 . rasa tidak berdaya. Kota . atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga..000 rumah tangga... Anak dianggap masih memiliki nilai ekonomi dan seringkali anak dieksploitasi. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..T-I... Dst . hilangnya kemampuan untuk bertindak. jatuh sakit. Rasio KDRT adalah jumlah KDRT yang dilaporkan dalam periode 1 (satu) tahun per 1.. Jenis kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya.B.....2.d ..

T-I.. 2. Sajikan data rata-rata jumlah anak perkeluarga.d .*) NO (1) 1 2 3 4 Kabupaten/kota Pekerja Anak Usia 5-14 Tahun (3) Jumlah Pekerja Usia 5 Tahun Keatas (4) Persentase Jumlah Tenaga Kerja dibawah Umur (5=3/4) (2) Kabupaten .. s. Dst . Rata-rata jumlah anak per keluarga adalah jumlah anak dibagi dengan jumlah keluarga. Kota ....... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel...*) NO Uraian 1 Jumlah anak 2 Jumlah keluarga 3 Rata-rata jumlah anak per keluarga *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Keluarga Berencana (KB) Dan Keluarga Sejahtera (KS) Rata-rata jumlah anak per keluarga Salah satu indikator keberhasilan keluarga berencana adalah penurunan rata-rata jumlah anak per keluarga. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B..T-I...B.... dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota...1..T-I. 2.......... dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Kota . Dst ..2...153 Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur. NO 1 2 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Provinsi ...81 Sajikan data persentase tenaga kerja di bawah umur..... Provinsi .6..... 1 2 3 .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....152 Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur Tahun .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.d . Menurut Kabupaten/Kota Tahun. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... Provinsi ... s......155 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Menurut Kabupaten/Kota Tahun. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Anak (3) Jumlah Keluarga (4) Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga (5=3/4) Kabupaten ...B... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.6...B.2..*) Uraian Pekerja anak usia 5-14 tahun Jumlah pekerja usia 5 tahun keatas Persentase jumlah tenaga kerja 3 dibawah umur *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I... Provinsi . Kabupaten .154 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Tahun .

Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah penduduk. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..d . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel...B.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..6..T-I......7.d . Provinsi/Kabupaten/Kota. Dst . s.. Untuk menghitung jaringan komunikasi dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.*) NO Uraian 1 Jumlah akseptor KB 2 Jumlah pasangan usia subur 3 Rasio akseptor KB *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. . Provinsi .B.. beberapa operator dapat menggunakan hanya satu (1) jaringan telekomunikasi di wilayah pemerintah daerah. Rasio akseptor KB Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000 pasangan usia subur pada tahun yang sama..2..82 2...*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah akseptor KB (3) Jumlah pasangan usia subur (4) Rasio akseptor KB (5=3/4) 1 2 3 4 Kabupaten .....T-I... s.. 00 Sajikan data rasio akseptor KB. Sebuah operator jasa telekomunikasi dapat memiliki satu (1) jaringan dan sebaliknya. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) NO 1 2 Uraian Jumlah jaringan telepon genggam Jumlah jaringan telepon stasioner Tahun n-5 Tahun n-1 3 Total jaringan Komunikasi (1+2) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..2..1. Provinsi ...B..158 Jaringan Komunikasi Tahun ... Semakin banyak jumlah jaringan komunikasi maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah... 2......7.. Kabupaten .2.. 2....2. Jaringan komunikasi dihitung dari banyaknya jaringan komunikasi yang berada dalam wilayah suatu pemerintah daerah.. Komunikasi Dan Informasi Jumlah jaringan komunikasi Jumlah jaringan komunikasi adalah banyaknya jaringan komunikasi baik telepon genggam maupun stasioner. Kota ..T-I.156 Rasio Akseptor KB Tahun ..157 Rasio Akseptor KB Menurut Kabupaten/Kota Tahun.

.83 2...000 penduduk.2.. Kabupaten/Kota... Kota .. Kecamatan.d .... cerita rekaan (fiksi). Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Jumlah surat kabar nasional/lokal adalah banyaknya jenis surat kabar terbitan nasional atau terbitan lokal yang masuk ke daerah. Jumlah surat kabar nasional/lokal Surat kabar merupakan komunikasi massa yang diterbitkan secara berkala dan bersenyawa dengan kemajuan teknologi pada masanya dalam menyajikan tulisan berupa berita. Kecamatan. 3. Kabupaten .. dst.2.. 2.3....7. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Rasio wartel/warnet atau rasio ketersediaan wartel/warnet adalah jumlah wartel/warnet per 1. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. s..... Dst .T-I. 5.. feature.*) NO (1) Kecamatan (2) Jmlh Pddk (3) Jumlah wartel (4) Tahun n-5 Jumlah Rasio warnet wartel (5) (6=4/3) Rasio warnet (7=5/3) Jmlh Pddk (8) Jumlah wartel (9) Tahun n-1 Jumlah Rasio warnet wartel (10) Rasio Warnet (11=9/8) (12=10/8) 1.T-I.2.7.000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Wartel atau warung telekomunikasi adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan telekomunikasi kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan.d .....B.... dan bentuk karangan yang lain....*) Tahun n-5 NO (1) Tahun n-1 Rasio wartel (6=4/3) Rasio warnet (7=5/3) Jumlah Jmlh Pddk wartel (8) (9) Jumlah warnet (10) Rasio wartel (11=9/8) Rasio Warnet (12=10/8) Kabupaten/kota (2) Jumlah Jmlh Pddk wartel (3) (4) Jumlah warnet (5) 1. pendapat. Untuk menghitung surat kabar terbitan nasional atau lokal dapat disusun tabel sebagai berikut: . Provinsi.. 3. Kabupaten .. s.159 Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Tahun . 2. Dst . Warnet atau warung internet adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan internet kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 2.B. Semakin besar rasio wartel/warnet per 1000 penduduk akan menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan internet dan fasilitas jaringan komunikasi data sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Menghitung ketersediaan wartel/warnet per 1.. 4.160 Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Tahun .

Hak Milik (HM) merupakan hak turun-menurun. Jumlah penyiaran radio/TV lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal adalah banyaknya penyiaran radio/TV nasional maupun radio/TV lokal yang masuk daerah. oleh karena itu dapat diberikan atas tanah yang dikuasai langsung oleh negara maupun tanah milik seseorang. pertanian.. Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan.. Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat Prosentase luas lahan bersertifikat adalah proporsi jumlah luas lahan bersertifikat (HGB.T-I.*) NO 1 2 3 4 5 Jumlah penyiaran radio lokal Jumlah penyiaran radio nasional Jumlah penyiaran TV lokal Jumlah penyiaran TV nasional Total penyiaran radio/TV lokal (1+2+3+4) Uraian Tahun n-5 Tahun n-1 Semakin banyak jumlah penyiaran radio/TV baik di daerah maupun nasional di daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa berupa media elektronik sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Provinsi /Kabupaten/Kota.162 Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Tahun ...hak lainnya adalah hak yang “ ”. perikanan dan peternakan.. Hak Guna Usaha (HGU) adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu paling lama 25 tahun. Menghitung prosentase luas lahan bersertifikat digunakan rumus sebagai berikut: 0 . HM. Indikator pertanahan ini bertujuan untuk mengetahui tertib administrasi sebagai kepastian dalam kepemilikan. HPL) terhadap luas wilayah daratan.2.d ... 2..7.2.. BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) .2. Hak Guna Usaha merupakan hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna perusahaan.84 Tabel. s...8... Untuk menghitung jumlah penyiaran radio/TV lokal dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. 2. -hak atas tanah yang dipunyai orang.161 Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun . Hak Pengelolaan Lahan (HPL) adalah hak untuk mengelola lahan yang hanya diberikan atas tanah negara yang dikuasai oleh Badan Pemerintah. hak miliklah yang paling kuat dan penuh. Tidak mengenai tanah pertanian...T-I. Provinsi/Kabupaten/Kota. dengan jangka waktu paling lama 30 tahun.d .4.. terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Sifat-sifat hak milik yang membedakannya dengan hak...B.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah jenis surat kabar terbitan nasional Jumlah jenis surat kabar terbitan lokal Total jenis surat kabar (1+2) Tahun n-5 Tahun n-1 Semakin banyak jumlah jenis surat kabar terbitan nasional/lokal di daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa berupa media cetak sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah..9.B.1.. HGU.. 2. s.bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri.

. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah Total luas wilayah (n-5) HGB HGU HM HPL HGB (n-4) HGU HM HPL HGB (n-3) HGU HM HPL HGB (n-2) HGU HM HPL HGB (n-1)**) HGU HM HPL *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...d . 3... Total luas wilayah 5. .. 2. 6.*) NO 1.163 Luas Lahan (m2) Berdasar Sertifikat Tahun . 4. Untuk kabupaten/kota: Tabel. 9.B. Kota.. Semakin besar prosentase luas lahan bersertifikat menggambarkan semakin besar tingkat ketertiban administrasi kepemilikan lahan di suatu daerah. 8... 3.. Kota. 4. s. Kabupaten/kota Kabupaten....164 Prosentase (%) Luas Lahan Bersertifikat Tahun ... Kabupaten/Kota. 5.. Prosentase luas lahan bersertifikat menggambarkan tingkat ketertiban administrasi kepemilikan tanah di daerah.d . *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Prosentase total luas lahan bersertifikat *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Provinsi. 10. 2.....d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) NO 1.. s....T-I.*) NO Kabupaten/kota Kabupaten. Dst.T-I..B.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst.. 3. 7.T-I. 2.. Luas wilayah daratan Luas tanah bersertifikat HGB Luas tanah bersertifikat HGU Luas tanah bersertifikat HM Luas tanah bersertifikat HPL Total luas tanah bersertifikat Prosentase HGB dibanding luas daratan Prosentase HGU dibanding luas daratan Prosentase HM dibanding luas daratan Prosentase HGPL dibanding luas daratan Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 11.85 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Tabel.165 Luas Lahan Bersertifikat Tahun ... 4.. S. Provinsi. 5.. Jumlah (n-5) HGB HGU HM HPL HGB (n-4) HGU HM HPL HGB (n-3) HGU HM HPL HGB (n-2) HGU HM HPL HGB (n-1)**) HGU HM HPL 1..B.

..d .. 3. Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d . Untuk kabupaten/kota: Tabel...167 Kelompok Binaan LPM Tahun ... 1.2... s.86 2.. 2.. Kota . s.. Menghitung rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) digunakan rumus sebagai berikut: Kelompok binaan LPM adalah kelompok masyarakat yang dibina oleh LPM sebagai mitra pemerintah desa atau kelurahan dalam mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. Kabupaten .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rata-rata jumlah kelompok binaan LPM adalah banyaknya kelompok binaan LPM dalam 1 (satu) tahun dibagi dengan jumlah LPM. Dst .T-I..166 Kelompok Binaan LPM Tahun ... Dst . 4. Besarnya rata-rata jumlah kelompok binaan LPM juga menunjukkan besarnya pelayanan penunjang yang dapat diciptakan oleh pemerintah daerah dalam pemberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui pembentukan LPM.. Dst ..*) NO (1) Kecamatan (2) (n-5) Jumlah LPM (3) Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah LPM (5=4/3) Jumlah LPM (6) Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah LPM (8=7/6) Jumlah LPM (9) Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah LPM (11=10/9) Jumlah LPM (12) Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah LPM (14=13/12) Jumlah LPM (15) Jumlah Kelompok Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) Binaan (16) Rata-rata Jumlah LPM (17=16/15) 1.*) (n-5) NO Kabupaten/ Kota (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Rata-rata Jumlah Kelompok Jumlah LPM Binaan LPM (15) (16) (17=16/15) Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah LPM LPM LPM LPM Binaan LPM Binaan LPM Binaan LPM Binaan LPM (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=7/6) (9) (10) (11=10/9) (12) (13) (14=13/12) (1) (2) 1. Pemberdayaan masyarakat dan desa Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) adalah lembaga atau wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintah Desa atau Kelurahan dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dibidang pembangunan.. 2. Kecamatan .T-I.. Semakin besar rata-rata jumlah kelompok binaan LPM maka menggambarkan keaktifan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui LPM. ..... Kabupaten ...9. Jumlah se-Kab/Kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten/Kota .. 3.. Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Provinsi .B. 4. 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Kecamatan ..B....

4.168 Kelompok Binaan PKK Tahun .. 2... 1... Kota .d .*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) (n-5) Jumlah PKK (3) Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah PKK (5=4/3) Jumlah PKK (6) Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah PKK (8=7/6) Jumlah PKK (9) J Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah PKK (11=10/9) Jumlah PKK (12) Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah PKK (14=13/12) Jumlah Jumlah Kelompok PKK Binaan (15) (16) Rata-rata Jumlah PKK (17=16/15) Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) 1. 3.T-I... Jumlah se-Kab/Kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 2. Menghitung rata-rata jumlah kelompok binaan PKK digunakan rumus sebagai berikut: Kelompok binaan PKK adalah kelompok-kelompok masyarakat yang berada di bawah Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan. 2.. Kabupaten .. dan berfungsi sebagai perencana.10.169 Kelompok Binaan PKK Tahun ... adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaanya dari. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK adalah banyaknya kelompok binaan PKK dalam 1 (satu) tahun dibagi dengan jumlah PKK... kesejahteraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan..B. Kecamatan . s.... Semakin besar rata-rata jumlah kelompok binaan PKK maka menggambarkan keaktifan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui PKK. s..87 2. Tim penggerak PKK beranggotakan warga masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. perencana. yang dapat dibentuk berdasarkan kewilayahan atau kegiatan seperti kelompok dasawisma dan kelompok sejenis. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga selanjutnya di singkat PKK.1.... lembaga atau instansi. pelaksana.B. Untuk menghitung Jumlah PKK maka dihitung dari jumlah tim penggerak PKK dalam lingkup wilayah pemerintah daerah...*) (n-5) NO Kecamatan Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah PKK (5=4/3) Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah PKK (8=7/6) Jumlah PKK J Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah PKK (11=10/9) Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah PKK (14=13/12) Jumlah PKK Jumlah Kelompok Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) Binaan (16) Rata-rata Jumlah PKK (17=16/15) (1) (2) (3) (6) (9) (12) (15) 1. pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK. 4. Tim Penggerak PKK adalah mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan..d .. tidak mewakili organisasi. Berakhlak mulia dan berbudi luhur..T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 3.. golongan partai politik. Besarnya rata-rata jumlah kelompok . Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... sehat sejahtera. Kecamatan . Untuk kabupaten/kota: Tabel. yang berfungsi sebagai fasilitator. Dst .. maju dan mandiri. Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... Provinsi . pelaksana pengendali Gerakan PKK. bersifat sukarela. Kabupaten/Kota .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. oleh dan untuk masyarakat menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. perorangan.2. Kabupaten .. Dst . Dst .

.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) (n-5) Aktif (3) Tidak Aktif (4) Terdaftar (5=3+4) Aktif (6) (n-4) Tidak Aktif (7) Terdaftar (8=6+7) Aktif (9) (n-3) Tidak Aktif (10) Terdaftar (11=9+10) Aktif (12) (n-2) Tidak Aktif (13) Terdaftar (14=12+13) Aktif (15) (n-1)**) Tidak Aktif (16) Terdaftar (17=15+16) 1.2. Kabupaten .. yang disusun menurut sistim tertentu.. 4.. 5.10.T-I..B....d . Dst ..d .. Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang bertugas mengumpulkan. Jumlah perpustakaan dihitung berdasarkan jumlah perpustakaan umum yang dapat diakses secara langsung oleh masyarakat yang beroperasi di wilayah pemerintah daerah.10. Dst . Untuk menghitung LSM yang aktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kota .2...... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Besarnya jumlah LSM aktif akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah sebagai upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat daerah. mengatur dan menyajikan bahan pustakanya untuk masyarakat umum.. 3.171 Jumlah LSM aktif Tahun .. yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pendidikan.. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..170 Jumlah LSM Tahun ... yang menitik beratkan kepada pengabdian secara swadaya. Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. s. Untuk menghitung jumlah perpustakaan dapat disusun tabel sebagai berikut: .1. 2.T-I.. 2. Jumlah LSM aktif (1-2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Besarnya jumlah LSM aktif juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pembangunan daerah.2... Provinsi /Kabupaten/Kota.10. Perpustakaan 2..88 binaan PKK juga menunjukkan besarnya pelayanan penunjang yang dapat diciptakan oleh pemerintah daerah dalam pemberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui PKK. Jumlah LSM terdaftar 2. Jumlah LSM tidak aktif 3. 2.B.. Jumlah perpustakaan Perpustakaan adalah suatu wadah atau tempat di mana didalamnya terdapat bahan pustaka untuk masyarakat. Jumlah LSM yang aktif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah Organisasi/Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warga Negara Republik Indonesia secara sukarela atas kehendak sendiri dan berminat serta bergerak dibidang kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh organisasi/lembaga sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Provinsi . Jumlah LSM dihitung berdasarkan jumlah LSM aktif dalam satu (1) tahun... menyimpan..*) NO Uraian 1.

*) NO 1..2.d .*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Kabupaten . Uraian Jumlah Perpustakaan milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah Perpustakaan milik non pemda Total Perpustakaan (1+2) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Pengunjung perpustakaan adalah pemakai perpustakaan yang berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan pustaka dalam satu (1) tahun.. Kota . 6. s. . Jumlah se-Provinsi Tahun (n-5) Milik pemda (3) Non pemda (4) Total (5=3+4) Milik pemda (6) Tahun (n-1)**) Non pemda (7) Total (8=6+7) 1.. Provinsi ..89 Untuk Provinsi: Tabel.. Untuk menghitung jumlah pengunjung perpustakaan dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.B.. Provinsi . Pengunjung perpustakaan dihitung berdasar pengunjung yang mengisi daftar kehadiran atau berdasar data yang diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung..172 Jumlah Perpustakaan Tahun ... Untuk kabupaten/kota: Tabel..T-I.d ..... Dst .2..... Kabupaten/Kota. Dst ...174 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun ...T-I... Dst .B. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....*) NO (1) 1.B. Dst . 5. s. 2. Kabupaten .. Kabupaten/Kota (2) Kabupaten . Banyaknya jumlah perpustakaan akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dalam memberikan bahan pustaka kepada masyarakat pengguna perpustakan... 2. Kota .. 3.....T-I. 4.. 3.. 5. 3.... *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah se-Provinsi Tahun (n-5) Milik pemda (3) Tahun (n-1)**) Total (5=3+4) Non pemda (4) Milik pemda (6) Non pemda (7) Total (8=6+7) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Besarnya jumlah perpustakaan juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pelayanan pendidikan....10...173 Jumlah Perpustakaan Tahun .. 4.. 2..d ..

. Kabupaten.... Jumlah polisi pamong praja dihitung dari jumlah aparatur pada satuan polisi pamong praja yang ditetapkan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan peraturan perundang-undangan..T-I. Kabupaten.B. menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.11. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.11. Provinsi .... Satuan polisi pamong praja merupakan perangkat daerah yang dapat berbentuk dinas daerah atau lembaga teknis daerah. Besarnya jumlah perpustakaan juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai peluang untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pelayanan pendidikan.. NO (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Banyaknya jumlah pengunjung perpustakaan menggambarkan tingginya budaya baca di daerah... Menghitung rasio jumlah polisi pamong praja per 10.*) Uraian Jumlah pengunjung perpustakaan 1.000 penduduk Polisi Pamong Praja adalah aparatur Pemerintah Daerah yang melaksanakan tugas Kepala Daerah dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum. 5.. 2... Se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...175 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun . Rasio jumlah polisi pamong praja per 10..176 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun . s.90 Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Dengan jumlah pengunjung perpustakaan yang tinggi merupakan indikator efektifitas penyediaan pelayanan perpustakaan di daerah. Dst.B. Kota. Total pengunjung Perpustakaan (1+2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... s... milik non pemda 3.. Dst.. milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah pengunjung perpustakaan 2. 4.000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh PolPP (3) Jmlh Pddk (4) Rasio (5=3/4) Jmlh PolPP (6) (n-4) Jmlh Pddk (7) Rasio (8=6/7) Jmlh PolPP (9) (n-3) Jmlh Pddk (10) Rasio (11=9/10) Jmlh PolPP (12) (n-2) Jmlh Pddk (13) Rasio (14=12/13) Jmlh PolPP (15) (n-1)**) Jmlh Pddk (16) Rasio (17=15/16) 1. 3..2.d . Kabupaten/Kota.d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1..T-I. 6. Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat 2.2. 2. .

. Kabupaten.*) NO Uraian 1.179 Rasio Jumlah Linmas Per 10.. Semakin besar rasio jumlah polisi pamong praja maka akan semakin besar ketersediaan polisi pamong praja yang dimiliki pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst.T-I.. menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah..91 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dst... s.000 penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Jumlah penduduk 3.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Rasio jumlah polisi pamong praja per 10.000 penduduk Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) merupakan satuan yang memiliki tugas umum pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat..d .d .T-I. Menghitung rasio linmas per 10.B. Rasio jumlah linmas per 10. 2..... s. Kabupaten/Kota.d . Untuk kabupaten/kota: Tabel..T-I. ... 6. Se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kota.177 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun ..000 Penduduk Tahun .B. Kabupaten. 5.000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.2..*) NO 1... 4.. Satuan ini memiliki peran penting dalam ketertiban masyarakat secara luas.2... 2.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh Linmas (3) Jmlh Pddk (4) Rasio (5=3/4) Jmlh Linmas (6) (n-4) Jmlh Pddk (7) Rasio (8=6/7) Jmlh Linmas (9) (n-3) Jmlh Pddk (10) Rasio (11=9/10) Jmlh Linmas (12) (n-2) Jmlh Pddk (13) Rasio (14=12/13) Jmlh Linmas (15) (n-1)**) Jmlh Pddk (16) Rasio (17=15/16) 1. Kabupaten/Kota.B..000 penduduk Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.11. s... Jumlah Linnmas Jumlah penduduk Rasio jumlah Linnmas per 10. 2. Rasio jumlah linmas menggambarkan kapasitas pemda untuk memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat adalah upaya mengkondisikan lingkungan yang kondusif dan demokratif sehingga tercipta kehidupan strata sosial yang interaktif .. 3...178 Rasio Jumlah Linmas Per 10. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah polisi pamong praja 2.. 3.000 Penduduk Tahun . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio jumlah polisi pamong praja menggambarkan kapasitas pemda dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum..... Provinsi ..

.d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.B.. Dst.181 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Kecamatan Tahun . s.. Rasio jumlah pos siskamling menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap desa/kelurahan.. 2....T-I. Kecamatan. Dst...3... Pemuda dan olah raga 2.....11. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah organisasi pemuda dihitung dari jumlah organisasi pemuda yang aktif sampai dengan tahun pengukuran.1. 2... Untuk menghitung jumlah organisasi pemuda dapat disusun tabel sebagai berikut: .12. s.. Rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan Rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan adalah perbandingan jumlah pos siskamling selama 1 (satu) tahun dengan jumlah desa/kelurahan. 2. 5. Kabupaten.. untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kabupaten/Kota....B.. 4. Kabupaten. 6.d . Dst.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh siska mling (3) Jmlh Desa (4) Rasio (5=3/4) Jmlh siska mling (6) (n-4) Jmlh Desa (7) Rasio (8=6/7) Jmlh siska mling (9) (n-3) Jmlh Desa (10) Rasio (11=9/10) Jmlh siska mling (12) (n-2) Jmlh Desa (13) Rasio (14=12/13) Jmlh siskam ling (15) (n-1)**) Jmlh Desa (16) Rasio (17=15/16) 1.2.T-I. 3. Semakin besar rasio jumlah pos siskamling akan semakin besar ketersediaan kapasitas pemda dalam memberdayakan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat serta keamanan lingkungan.12. Jumlah Organisasi Pemuda Organisasi pemuda adalah sekelompok pemuda yang berkerjasama dengan suatu perencanaanperencanaan kerja dan peraturan-peraturan. 2. Rasio ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap desa/kelurahan.. Menghitung rasio pos siskamling per jumlah desa/keluarahan digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kecamatan.92 Semakin besar rasio jumlah linmas maka akan semakin besar ketersediaan linmas yang dimiliki pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat .2.. Kota.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.180 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Tahun . Provinsi . 3..*) (n-5) NO (1) (n-4) Rasio (5=3/4) Jmlh siska mling (6) Jmlh Desa (7) Rasio (8=6/7) Jmlh siska mling (9) (n-3) Jmlh Desa (10) Rasio (11=9/10) Jmlh siskaml ing (12) (n-2) Jmlh Desa (13) Rasio (14=12/13) Jmlh siska mling (15) (n-1)**) Jmlh Desa (16) Rasio (17=15/16) Kecamatan (2) Jmlh siska mling (3) Jmlh Desa (4) 1..2.

183 Jumlah Organisasi Pemuda Tahun . Kecamatan..12.... Kabupaten. untuk mencapai suatu tujuan pembangunan dunia olahraga.. 4. 3.182 Jumlah Organisasi Pemuda Tahun .. 3. Dst.... . Jumlah organisasi olahraga dihitung dari jumlah organisasi olahraga yang aktif sampai dengan tahun pengukuran....93 Untuk Provinsi: Tabel. 5..d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten/kota Kabupaten. s. 4.....B. Untuk menghitung jumlah organisasi olahraga dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...T-I. Dst. Kabupaten/Kota . Dst. Provinsi . 2. 2.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.T-I. Kabupaten/kota Kabupaten... Kota. Kota. Se-Kabupaten/kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... Kecamatan. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2.d . Provinsi .... Dst.2... 4... Jumlah Organisasi Olahraga Organisasi olahraga adalah organisasi formal yang dibentuk oleh sekelompok masyarakat olahraga yang bekerjasama dengan suatu perencanaan-perencanaan kerja dan peraturan-peraturan. s. 2...T-I..B.. 3.*) NO 1.*) NO 1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst..d ..*) NO Kecamatan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1. s... Semakin banyak jumlah organisasi pemuda menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai untuk memberdayakan pemuda dalam pembangunan daerah.B.184 Jumlah Organisasi Olahraga Tahun ... 2.. Banyaknya jumlah organisasi pemuda menggambarkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan dan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila..

Jumlah Kegiatan Olahraga Kegiatan olahraga adalah kegiatan atau “event” olahraga yang diselenggarakan baik oleh pemerintah daerah.*) NO 1. Dengan jumlah kegiatan kepemudaan yang tinggi merupakan indikator efektifitas keberadaan organisasi pemuda dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah 2...d . Jumlah Kegiatan Kepemudaan Kegiatan kepemudaan adalah kegiatan atau “event” kepemudaan yang diselenggarakan dalam bentuk pertandingan. Kecamatan. Kegiatan olahraga dapat diselenggarakan dalam bentuk pertandingan dan perlombaan serta kejadian atau peristiwa sejenis.*) NO 1.186 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun .. perlombaan dan upacara serta kejadian atau peristiwa sejenis... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 5. Provinsi .B.. Dst..187 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun .. Kabupaten... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I. Dst.... 2. Jumlah kegiatan kepemudaan dihitung dari jumlah kegiatan kepemudaan dalam periode 1 (satu) tahun... 4.. s... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Untuk menghitung jumlah kegiatan kepemudaan dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Dst.94 Untuk kabupaten/kota: Tabel.. 4. Dst.... 2. swasta dan masyarakat. Kota.12.B.2.*) NO 1.... Kecamatan.T-I. Jumlah kegiatan olahraga dihitung dari jumlah kegiatan atau “event” olahraga dalam periode 1 (satu) tahun. 3. s..d .. s... Kepemudaan sendiri bermakna segala hal tentang pemuda.. 3.3. 2. Kabupaten/Kota . Kabupaten/kota Kabupaten. 2..T-I..d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kecamatan Kecamatan. Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kecamatan Kecamatan. 3.4... Banyaknya jumlah kegiatan kepemudaan menggambarkan tingginya antusiasme pemuda untuk berperan serta dalam pembangunan daerah.B.185 Jumlah Organisasi Olahraga Tahun ... Kabupaten/Kota. Banyaknya jumlah organisasi olahraga menggambarkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan daerah khususnya dalam menciptakan pelayanan penunjang di bidang olahraga.12..2.. Untuk menghitung jumlah kegiatan olahraga dapat disusun tabel sebagai berikut: ..

. yaitu rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita.d . s.. 4. tembakau. s. 3. Semakin besar rasio atau angka konsumsi RT semakin atraktif bagi peningkatan kemampuan ekonomi daerah.. 2.95 Untuk Provinsi: Tabel. dan unggulan daerah. sebagai berikut: 3. Kabupaten..189 Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun .... Suatu daya saing (competitiveness) merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. Banyaknya jumlah kegiatan olahraga menggambarkan tingginya antusiasme organisasi olahraga di daerah untuk berperan serta dalam pembangunan daerah.B.. Dst. 4. .. sekolah. Bukan makanan mencakup perumahan. Angka ini dihitung berdasarkan pengeluaran penduduk untuk makanan dan bukan makanan per jumlah penduduk. Kemampuan ekonomi daerah memicu daya saing daerah dalam beberapa tolok ukur. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...1.188 Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun . Kabupaten/kota Kabupaten. Kecamatan.*) NO 1. Kecamatan Kecamatan.T-I. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dapat diketahui dengan menghitung angka konsumsi RT per kapita. minuman. kekhasan. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan potensi.. 2.B.. Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kota...1.*) NO 1.d . dan sebagainya... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst..T-I... Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsumsi rumah tangga yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran rumah tangga. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dengan jumlah kegiatan olah raga yang tinggi merupakan indikator efektifitas keberadaan organisasi olahraga dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah... sandang. 3.. Kabupaten/Kota . Kemampuan Ekonomi Daerah Kemampuan ekonomi daerah dalam kaitannya dengan daya saing daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi pelaku ekonomi yang telah berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiflier effect bagi peningkatan daya saing daerah. Provinsi . 3... Dst.1..... 5.. dan sirih. biaya kesehatan. 3.

2. 2. Nilai tukar petani Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga.*) NO Uraian 1. Untuk Provinsi: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2..1.. Jika NTP lebih besar dari 100 maka periode tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan periode tahun dasar..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. Nilai Tukar Petani dapat dihitung dengan membandingkan faktor produksi dengan produk..96 Untuk Provinsi: Tabel. 3... 3.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Total Pengeluaran RT (3) Jumlah RT (4) Rasio (5=3/4) 1. 3.. 2. Provinsi . Provinsi ....../2.B.B.*) NO 1..... Jumlah Untuk kabupaten/kota: Tabel... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten/Kota.. yaitu perbandingan antara indeks yang diterima (It) petani dan yang dibayar (Ib) petani.. Total Pengeluaran RT 2.d .. Rasio (1..d . sebaliknya jika NTP lebih kecil dari 100 berarti terjadi penurunan daya beli petani.191 Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota Tahun .d ..T-I.T-I.. Provinsi .. s..B.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan......*) NO 1.. Jumlah RT 3./2. s...... s. Kota . Kabupaten . Uraian Indeks yang diterima petani (lt) Indeks yang dibayar petani (lb) NTP *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...193 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .. Tabel... 4.T-I.T-I.190 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . Dst .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) .. Uraian Total Pengeluaran RT Jumlah RT (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio (1... Dst ....192 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun .B..

Kabupaten .T-I. 3...194 Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kabupaten .. Provinsi .195 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .B...T-I.B.. Untuk Provinsi: Tabel. 3... NO 1..1.. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (Persentase Konsumsi RT untuk non pangan) Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita dibuat untuk mengetahui pola konsumsi rumah tangga di luar pangan.. s.. 2.d . 2. 2. Dst .. Uraian Total Pengeluaran RT non Pangan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Tabel........ 4.T-I.T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3.. Pengeluaran konsumsi non pangan per kapita dapat dicari dengan menghitung persentase konsumsi RT untuk non pangan...... s.. Untuk kabupaten/kota: Tabel...*) Uraian Indeks yang diterima petani (lt) Indeks yang dibayar petani (lb) NTP *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... Dst ...197 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .... 5. Provinsi ......B..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.3... 3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3..... 4..*) NO 1. Dst .196 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..d . Kota ....97 NTP dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Tabel... Provinsi . Total Pengeluaran Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Total Pengeluaran RT non Pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) 1. yaitu proporsi total pengeluaran rumah tangga untuk non pangan terhadap total pengeluaran. Dst ..... Jumlah .. 2.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Indeks yang diterima petani (lt) (3) Indeks yang dibayar petani (lb) (4) NTP (5=3/4) Kabupaten . Kabupaten/Kota. 1.. Kota ..B..

4.*) NO 1. Produktivitas Total Daerah dapat diketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan.5 1.d.. sewa. Uraian Total Pengeluaran RT non Pangan Total Pengeluaran Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d . & Js.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.1.. PDRB dihitung berdasarkan 9 (sembilan) sektor. 2..T-I....9 2. Provinsi. Produktivitas total daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sektor per angkatan kerja yang menunjukan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong ekonomi daerah per sektor.... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.*) NO 1...198 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun .199 Produktivitas Per Sektor Tahun. 3.B.8 1.i adalah sector 1 s.7 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. PDRB Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. 1... Untuk kabupaten/kota: Tabel.3 1.98 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.4 1..2 1... Untuk Provinsi: Tabel.6 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: di mana.1 1...T-I. 9 .B. s. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.. Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Angkatan Kerja Sektor (n-5) (Rp) % (Rp) (n-4) % (Rp) (n-3) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.

B.*) NO 1.T-I.9 2.. & Js.. sewa. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Aksesibilitas daerah Untuk mengetahui tingkat aksesibilitas daerah dapat dihitung dengan: 3.T-I. 3. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 1. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaannya (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah..2....d . s.3 1. Kabupaten . Untuk Provinsi: Tabel.. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan adalah perbandingan panjang jalan terhadap jumlah kendaraan.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B.. Dst .7 1..2.T-I.. 5.99 Tabel.1. Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.4 1. ***) Jalan: jalan negara.2. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan dihitung untuk mengetahui tingkat ketersediaan sarana jalan dapat memberi akses tiap kendaraan.. (n-5) (n-4) Uraian Panjang Jalan***) Jumlah Kendaraan Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....B.1. PDRB Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Uraian Kabupaten ... 2. & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi (n-3) (n-2) (n-1)**) .. Sektor (n-5) (Rp) % (Rp) (n-4) % (Rp) (n-3) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % 3. Rasio Produktivitas Daerah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) NO 1....1 1. Provinsi...*) NO 1. Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Angkatan Kerja *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3..2 1.200 Produktivitas Total Daerah Provinsi.5 1... Dst ..1.202 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Tahun . 3.201 Produktivitas Per Sektor Kabupaten/Kota .. provinsi. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.8 1...Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.6 1.. 4.. 2..

. 3... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. ***) Jalan: jalan negara.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I... Provinsi ..1..d .. 2..*) NO 1... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kota ... 2. Dst . Kabupaten/kota Jumlah Orang Jumlah Barang Keterangan .. ***) Jalan: jalan negara.. 4... s.. Kabupaten . Provinsi.... provinsi.T-I.. Kabupaten .. s... 3..B.B. & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi Untuk kabupaten/kota: Tabel.... & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. Dst ...2.*) NO 1. Kabupaten .. Untuk Provinsi: Tabel.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst .B. Provinsi .. 4... 5. Tabel.2.205 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun .... Uraian Panjang Jalan Jumlah Kendaraan Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten .T-I..100 Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel..203 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kota ....*) NO 1.... Uraian Jumlah orang Jumlah Barang Satuan Orang Ton (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.....206 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Tahun ...... Dst .B..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Panjang Jalan (3) Jumlah Kendaraan (4) Rasio (5=3/4) 1...d . 3. 2..204 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Tahun .. 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Kabupaten/Kota.. Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum dalam periode 1 (satu) tahun. provinsi.T-I... 2......

.1...d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) NO 1. 3.B...*) NO 1. s. Untuk Provinsi: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3..... 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... .. Provinsi....*) NO 1.... (n-5) Orang Brng Orang (n-4) Brng Orang (n-3) Brng Orang (n-2) Brng (n-1)**) Orang Brng Tabel..210 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun ..B...T-I... 2.. Dermaga Bandara Terminal Jumlah Uraian (n-5) Orang Brng Orang (n-4) Brng Orang (n-3) Brng Orang (n-2) Brng (n-1)**) Orang Brng *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kabupaten .... s...209 Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Dst ....2.. Jumlah Dermaga Orang Barang Orang Bandara Barang Orang Terminal Barang *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. s. 2.208 Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Tahun ... Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara/ terminal per tahun Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal dalam periode 1 (satu) tahun. Dst ..T-I.....101 Untuk kabupaten/kota: Tabel... Provinsi .3.B.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.d ... Provinsi/Kabupaten/Kota. 2.. Uraian Dermaga Bandara Terminal Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.T-I..207 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun .T-I. Kabupaten/Kota.B.. Uraian Jumlah orang Jumlah Barang Satuan Orang Ton (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..d . Kota ...*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kabupaten ..

3.d . Provinsi/Kabupaten/Kota. Provinsi ..1...*) NO (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota (2) Kabupaten . Luas wilayah produktif Luas wilayah produktif adalah persentase realisasi luas wilayah produktif terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW.T-I..212 Persentase luas Wilayah Produktif Tahun . (n-5) Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1..2..... Provinsi ....2.. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wil...B.2..T-I. Dst ....... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... s..*) NO 1. ../2.... Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Ketaatan terhadap RTRW merupakan kesesuaian implementasi tata ruang hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional dengan peruntukan yang direncanakan sesuai dengan RTRW.. Rasio ketaatan dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Dst .*) NO 1..102 3.2. 2.B.T-I.d ......) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B.211 Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Tahun . Kota .2. s.. Kabupaten .. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.. Penataan wilayah 3. Budidaya Rasio (1. Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil.213 Persentase Luas Wilayah Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..... Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...2. 3.. 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data./2.2.

s. Kota ..*) NO 1... Budidaya Rasio (1./2...) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.217 Rasio Luas Wilayah Industri Tahun . 2. Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3... Budidaya (4) Rasio (5=3/4) Kabupaten ..../2.B.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3... s. Luas Wilayah Industri Luas wilayah industri adalah persentase realisasi luas kawasan Industri terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW. Budidaya Rasio (1. Dst ..T-I..d . s.103 Untuk kabupaten/kota: Tabel. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ..d ..2......*) NO 1.T-I. Budidaya Rasio (1./2..215 Persentase Luas Wilayah Industri Tahun . 3. (n-5) Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil...3...d .214 Rasio Luas Wilayah Produktif Tahun .) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....*) NO 1. 2.. (n-5) Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Industri (3) Luas Seluruh Wil. Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil.B...T-I........ Kabupaten/Kota. Provinsi ...B. 2.T-I... Provinsi ...2... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Dst .. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel.. 1 2 3 4 5 Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B. Kabupaten .....216 Persentase Luas Wilayah Industri Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..

3.2....218 Persentase Luas Wilayah Kebanjiran Tahun .B. s. Untuk kabupaten/kota: Tabel... Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil..104 - 3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3...2./2.. s.5...B......) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Luas Wilayah Kekeringan Luas wilayah kekeringan adalah luas wilayah kekeringan terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW..T-I.*) NO 1.. Dst .4...) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 3.. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten . Kabupaten/Kota....d .B.. 2..d . Provinsi .. Budidaya Rasio (1. Kabupaten ... Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 .*) NO 1.2....2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data./2... Dst ..T-I. Kota .T-I..220 Rasio Luas Wilayah Kebanjiran Tahun ...219 Persentase Luas Wilayah Kebanjiran Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Provinsi . 2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel....*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Kebanjiran (3) Luas Seluruh Wil.... Budidaya Rasio (1. Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Luas Wilayah Kebanjiran Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah banjir terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW.

Provinsi . Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten .. Kabupaten/Kota.222 Persentase Luas Wilayah Kekeringan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s.d .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Budidaya Rasio (1. ... Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel../2..d .... s. Kota ...105 Untuk Provinsi: Tabel.*) NO 1..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Kekeringan (3) Luas Seluruh Wil..T-I.224 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Tahun .... 2...6.. 3...223 Rasio Luas Wilayah Kekeringan Tahun .2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Uraian Luas Wilayah Kekeringan Luas Seluruh Wil.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.T-I. 2. Budidaya (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. 3... Dst .T-I.. Provinsi .. Provinsi .B.d ..... Kabupaten . 2. Rasio (1.../2. Uraian Luas Wilayah Perkotaan Luas Seluruh Wil.221 Persentase Luas Wilayah Kekeringan Tahun . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3....) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst ...B./2.. s....) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Luas Wilayah Perkotaan Luas wilayah perkotaan adalah persentase realisasi luas wilayah perkotaan terhadap luas rencana wilayah budidaya sesuai dengan RTRW......) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..T-I.*) NO 1...2...B.. Uraian Luas Wilayah Kekeringan Luas Seluruh Wil.. Budidaya Rasio (1.*) NO 1..B.

. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten .T-I.. n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 3. Uraian Luas Wilayah Perkotaan Luas Seluruh Wil...B.B...106 Tabel. Untuk kabupaten/kota: Tabel... s. Kabupaten/Kota... Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 2... Bank Umum Konvensional Syariah BPR Konvensional Syariah Total Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . Fasilitas bank dan non bank Fasilitas bank dan non bank diukur dengan jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya..2.226 Rasio Luas Wilayah Perkotaan Tahun . Budidaya Rasio (1. 1.d . 2.. 1..T-I.... Kota .2... Provinsi ....1. bank dibagi menjadi bank umum dan bank perkreditan rakyat.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.1.. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.T-I.2.....*) NO 1.2.. 2. 2.3. 3.1...*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Perkotaan (3) Luas Seluruh Wil. Menurut fungsinya. dan jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya 3.227 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Provinsi .... Kabupaten . Dst ... Untuk Provinsi: Tabel./2.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..225 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Dst . Jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.3..*) NO 1.

T-I..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B.2..*) NO 1...... Kabupaten/kota Kabupaten . Penyelenggaraan asuransi dipisahkan menjadi dua yaitu perusahaan asuransi yang beroperasi secara konvensional dan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah.2. 3...229 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Kabupaten/Kota.. 2.1. Dst . 2... 1..1. 5. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 1... Provinsi . Usaha asuransi adalah usaha jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi guna memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti terhadap hidup atau meninggalnya seseorang.3... Dst .230 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Provinsi.2..1.. Kota .. 3..2.. 2.T-I..107 Tabel. Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Perusahaan Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Perusahaan Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..2.... Kabupaten . 2. 2. Bank Umum Konvensional Syariah Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2. Bank Umum Konvensional Syariah Konvensional BPR Syariah Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 4. 1.. 2. Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Asuransi merupakan alat untuk menanggulangi risiko (nasabah) dengan cara menanggung bersama kerugian yang mungkin terjadi dengan pihak lain (perusahaan asuransi). meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.1. .2.228 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Untuk Provinsi: Tabel.*) NO 1.B.B.*) NO 1.Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi.T-I. 1. BPR Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..

.4.. Air Minum(drinking water) Air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002).2.. Kota ... Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Air Bersih(clean Water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. 2.*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kabupaten .. Air Sumur Dalam Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dalam tabel sebagai berikut: ...1.B.232 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Kabupaten/Kota. 3... Ketersediaan air bersih 3. Sektor Perusahaan Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Perusahaan Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah (n-5) (n-4) Jumlah (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Untuk kabupaten/kota: Tabel..4.231 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan cabangnya Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst . Persh. 2.1...*) NO 1. Mata Air 4. Kabupaten . Air Sumur Dangkal 5.108 Tabel..T-I.. 2.2. Air Sungai dan Danau 3.B.2. Air Hujan 2. Provinsi . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Sumber air bersih dapat dibedakan atas: 1. 1..... Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Persh..T-I. Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....2..1.... Dst ..... 1.

B.. 6.. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Perhitungan ketersediaan daya listrik dan kebutuhannya kedepan dapat mengacu pada dokumen Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) atau Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang telah disusun.Public .2. 3.Industri 2.5.. 13.. 3.1. Tabel.rumah tangga . Sumber Air Bersih Leding (Perpipaan) Sumur Lindung Sumur Tidak Terlindung Mata Air Terlindung Mata Air Tidak Terlindung Sungai Danau/Waduk Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan air bersih Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan air bersih (11/12) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 9. 11. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. 3.2. 3. 4. Susut & Losses (T&D) Susut Pemakaian Sendiri Total Susut & Losses Faktor Beban Produksi Beban Puncak Kapasitas Terpasang (Existing) Cummulated Commited Projects TOTAL KAPASITAS SISTEM DAYA YANG DIBUTUHKAN* Uraian Satuan GWH GWH GWH GWH GWH % % % % GWH MW MW MW MW MW (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B. 10. 10..5. Fasilitas listrik dan telepon 3. Rasio ketersediaan daya listrik Rasio ketersediaan daya listrik adalah perbandingan daya listrik terpasang terhadap jumlah kebutuhan.. 7.T-I. 8. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Pemerintah Daerah berkewajiban untuk melistriki masyarakat tidak mampu dan . 9. 11. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.234 Prakiraan Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Provinsi/Kabupaten/Kota .233 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Provinsi/Kabupaten/Kota . 12.T-I. 4..2. 6.. 5.2. 2. 5.*) No 1. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat.5. 8. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 7.Komersial .109 Tabel. Kebutuhan .*) NO 1.

6. 2. Ketersediaan restoran 3. 3.6..236 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan HP/Telepon Provinsi/Kabupaten/Kota .. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik merupakan proporsi jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai daya penerangan terhadap jumlah rumah tangga.235 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Provinsi/Kabupaten/Kota ..3. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.5. 3. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya.T-I. dan jumlah restoran (Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas) Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukan tingkat daya tarik investasi suatu daerah. 3.2.1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Penduduk yang memiliki HP Penduduk yang memiliki telepon PSTN Total Jumlah penduduk yang memiliki HP/Telepon (1) + (2) Jumlah penduduk Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon (3)/(4) Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon Peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi pada suatu daerah...*) No 1.300 watt RT dengan daya 2. 8. Uraian RT dengan daya 450 watt RT dengan daya 900 watt RT dengan daya 1.6. 4.. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Tabel. Jenis. 2. 7.. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Persentase penduduk atau rumah tangga yang memiliki HP dan fasilitas telepon (PSTN) dapat diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS mengenai survei tentang teknologi komunikasi dan informasi..*) No 1..200 watt Total Jumlah Rumah Tangga menggunakan listrik Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan listrik (6)/(7) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Salah satu indikator dalam melihat perkembangan teknologi komunikasi adalah dengan melihat seberapa banyak penduduk suatu daerah telah memiliki perangkat komunikasi berupa hand-phone (HP) dan telepon rumah biasa. Sedangkan pengusahaan .2. 5.T-I. kelas. 3.B.110 daerah terpencil. Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon adalah proporsi jumlah penduduk menggunakan telepon/HP terhadap jumlah penduduk. 4. Sajikan Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan HP/Telepon dalam tabel sebagai berikut: Tabel.B. tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. 5.2.200 watt RT dengan daya > 2. Pengertian restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

1. 9. 3.. Ijin Usaha). 3. Tabel. Jenis. Jenis Penginapan/Hotel Hotel Bintang 5 Hotel Bintang 4 Hotel Bintang 3 Hotel Bintang 2 Hotel Bintang 1 Jumlah Hotel Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur Jumlah Hotel Tahun (n-1)**) Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur . Uraian Usaha restoran golongan tertinggi Usaha restoran golongan menengah Usaha restoran golongan terendah Usaha rumah makan kelas A Usaha rumah makan kelas B Usaha rumah makan kelas C Usaha rumah makan kelas D Usaha rumah makan kelas Jenis Usaha Restoran Jenis Usaha Rumah Makan Tahun (n-5) Jumlah Usaha Jumlah Kursi Tahun (n-1)**) Jumlah Usaha Jumlah Kursi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang telah ditentukan. dan belum memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang. Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Provinsi/Kabupaten/Kota .7. 10.. 4. 7. dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. Penetapan penilaian golongan kelas hotel bintang dilakukan dengan penggabungan dari nilai persyaratan dasar dan persyaratan teknis. Persyaratan Teknis : Unsur Fisik. 4. kelas.238 Jenis. Ketersediaan penginapan Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Persyaratan Dasar : Perijinan (persetujuan Prinsip.2. di mana setiap orang dapat menginap. Unsur Pengelolaan. 2. 8. 3.. kriteria penggolongannya didasarkan pada persyaratan dasar dan penilaian teknis operasional. 5.*) No 1. 2.237 Jenis. b. memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. memperoleh pelayanan. Unsur Pelayanan. 6.. makan. makan. terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunjungan dari luar daerah.B. di mana setiap orang dapat menginap..T-I. Hotel Melati Hotel Melati adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus.T-I. Hotel Berbintang Hotel berbintang adalah suatu usaha jasa yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus.111 usaha restoran dan rumah makan adalah penyediaan jasa pelayanan makanan dan minuman kepada tamu sebagai usaha pokok.... Untuk Hotel Berbintang. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan jumlah penginapan/ hotel Jenis penginapan/hotel dapat dibedakan menjadi: a.2. 2. Tabel. Kelas dan Jumlah Restoran Provinsi/Kabupaten/Kota .*) Tahun (n-5) No 1. Penilaian penggolongan Hotel Bintang dilaksanakan oleh PHRI. Dengan semakin banyaknya jumlah kunjungan orang dan wisatawan ke suatu daerah perlu didukung oleh ketersediaan penginapan/hotel. Semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut.B.7. 5.. Ciri khusus dari hotel berbintang adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut.

3.112 Tahun (n-5) No Jenis Penginapan/Hotel Hotel Non Bintang (hotel melati dan penginapan lainnya) Total Jumlah penginapan/Hotel Jumlah Hotel Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur Jumlah Hotel Tahun (n-1)**) Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur 6.3.1.1.T-I... semakin rendah tingkat kriminalitas. 7.3.*) No 1. 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Angka kriminalitas dihitung berdasarkan delik aduan dari penduduk korban kejahatan dalam periode 1 (satu) tahun.T-I. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3.3. Jenis Kriminal Jumlah kasus Narkoba Jumlah kasus Pembunuhan Jumlah Kejahatan Seksual Jumlah kasus Penganiayaan Jumlah kasus Pencurian Jumlah kasus Penipuan Jumlah kasus Pemalsuan uang Total Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun Jumlah Penduduk Angka Kriminalitas (8)/(9) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. pembunuhan. 7.. 8. 9. Tabel.2. 5. 6.1. dan sebagainya.. 3. maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Tabel. 2. Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. Iklim Berinvestasi Keamanan dan ketertiban Angka kriminalitas Angka Kriminalitas adalah rata-rata kejadian kriminalitas dalam satu bulan pada tahun tertentu..1..240 Jumlah Demonstrasi Provinsi/Kabupaten/Kota .B. 3. Indikator ini berguna untuk menggambarkan tingkat keamanan masyarakat.B.239 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota . Unjuk rasa atau demonstrasi ("demo") adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.. 10.*) No 1 2 3 4 Bidang Politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah Demonstrasi/Unjuk Rasa *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Jumlah Demonstrasi Jumlah demonstrasi adalah jumlah demonstrasi yang terjadi dalam periode 1 (satu) tahun. Artinya dalam satu bulan rata-rata terjadi berapa tindak kriminalitas untuk berbagai kategori seperti curanmor. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.3.. pemerkosaan.

4.4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan).1.. 2.1. yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah (sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku). salah satunya kemudahan perijinan. SIUP TDP IUI TDI IMB HO Uraian Lama mengurus (hari) Jumlah persyaratan (dokumen) Biaya resmi (rata-rata maks Rph) 3.. Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung iklim usaha Perda merupakan sebuah instrumen kebijakan daerah yang sifatnya formal. 3.. Contoh retribusi daerah yaitu: retribusi sewa tempat di pasar milik pemda.113 3. Uraian Jumlah Pajak yang dikeluarkan Jumlah Insentif Pajak yang mendukung iklim investasi Jumlah Retribusi yang dikeluarkan Jumlah Retribusi yang mendukung iklim investasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 4. Jenis perijinan yang dianalisis antara lain: 1. Contoh pajak daerah yaitu: pajak penerangan jalan..3. dan retribusi sejenis lainnya. retribusi kebersihan di pasar milik pemda. 3. SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan TDP : Tanda Daftar Perusahaan IUI : Izin Usaha Industri TDI : Tanda Daftar Industri IMB : Izin Mendirikan Bangunan HO : Izin Gangguan Tabel. berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor.3. dan pajak restoran/hotel.*) NO 1. retribusi parkir di tepi jalan umum yang disediakan oleh pemda.. 3. 2. Perda yang mendukung iklim usaha dibatasi yaitu perda terkait dengan .3. Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah) Jumlah dan macam pajak daerah dan retribusi daerah diukur dengan jumlah dan macam insentif pajak dan retribusi daerah yang mendukung iklim investasi.242 Jumlah dan Macam Insentif Pajak dan Retribusi Daerah Yang Mendukung Iklim Investasi Provinsi/Kabupaten/Kota . 6. 5. Kemudahan perijinan Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada daya saing investasi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan...241 Lama Proses Perijinan Provinsi/Kabupaten/Kota . Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan) kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang berdasarkan perundangundangan yang berlaku.. 6. 5.T-I.B. Kemudahan perijinan adalah proses pengurusan perijinan yang terkait dengan persoalan investasi relatif sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. pajak reklame. Lama proses perijinan merupakan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu perijinan (dalam hari). Pembentukan daya saing investasi.3.*) NO 1.5. Tabel.B.1. 4. Daya saing investasi suatu daerah tidak terjadi dengan serta merta. 3.. melalui perda inilah dapat diindikasikan adanya insentif maupun disinsentif sebuah kebijakan di daerah terhadap aktivitas perekonomian.T-I.

. Uraian Jumlah Perda terkait perijinan Jumlah Perda terkait lalu lintas barang dan jasa Jumlah Perda terkait ketenagakerjaan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. keterampilan dan prakarsanya. Berdasarkan kriteria status. 2. dengan meningkatkan kualitas hidup. Dalam rangka mencapai tujuan itu pembangunan desa diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusianya yang merupakan bagian terbesar penduduk Indonesia.. Persentase desa/kelurahan berstatus swasembada terhadap total desa/kelurahan adalah proporsi jumlah desa/kelurahan berswasembada terhadap jumlah desa/ kelurahan. Desa Sedang Berkembang atau Desa Swakarsa Desa sedang berkembang adalah desa yang mulai menggunakan dan memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan sumber keuangan atau dana. desa/kelurahan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga). Tabel. kemampuan.6. taraf berkehidupan miskin dan tradisional serta tidak memiliki sarana dan prasaranan penunjang yang mencukupi. 3. 2..243 Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Provinsi/Kabupaten/Kota . Desa swakarsa belum banyak memiliki sarana dan prasarana desa yang biasanya terletak di daerah peralihan desa terpencil dan kota. Masyarakat pedesaan swakarsa masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan tidak bermata pencaharian utama sebagai petani di pertanian saja serta banyak mengerjakan sesuatu secara gotong royong..B..3. perda terkait dengan lalu lintas barang dan jasa. dan desa swasembada (berkembang). 3. dalam memanfaatkan berbagai potensi desa maupun peluang yang ada untuk berkembang. Biasanya desa terbelakang berada di wilayah yang terpencil jauh dari kota. 3. Kehidupan desa swasembada sudah mirip kota yang modern dengan pekerjaan mata pencarian yang beraneka ragam serta sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan maju. Status desa (Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa) Pembangunan desa dalam jangka panjang ditujukan untuk memperkuat dasar-dasar sosial ekonomi pedesaan yang memiliki hubungan fungsional yang kuat dan mendasar dengan kotakota dan wilayah di sekitarnya.114 perizinan. Pembangunan desa dan pembangunan sektor yang lain di setiap pedesaan akan mempercepat pertumbuhan desa menjadi desa swasembada yang memiliki ketahanan di segala bidang dan dengan demikian dapat mendukung pemantapan ketahanan nasional. Desa Terbelakang atau Desa Swadaya Desa terbelakang adalah desa yang kekurangan sumber daya manusia atau tenaga kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Dalam upaya peningkatan daya saing daerah salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah melalui peningkatan dan percepatan pertumbuhan status desa menjadi desa swasembada. desa swakarya (transisional). dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 0 000 . yakni desa swadaya (tradisional). Desa Maju atau Desa Swasembada Desa maju adalah desa yang berkecukupan dalam hal sumber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal.*) NO 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Indikator peningkatan daya saing terkait pertumbuhan desa swasembada dapat dilihat dari persentase desa/kelurahan berstatus swasembada terhadap total desa/kelurahan.1.T-I. Pengertian masingmasing klasifikasi desa tersebut adalah sebagai berikut: 1. serta perda terkait dengan ketenagakerjaan.

1.. 6... Kualitas sumberdaya manusia juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan daya saing daerah dan perkembangan investasi di daerah. 3.. 2.4. kreatif. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Selain itu. mengembangkan dan menguasai ilmu dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional.. terampil. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik kualitas tenaga kerjanya.000 penduduk. disiplin dan profesional.115 Tabel. Indikator kualitas sumberdaya manusia dalam rangka peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja dan tingkat ketergantungan penduduk untuk melihat sejauhmana beban ketergantungan penduduk.B. 3. Uraian Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Julah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kualitas tenaga kerja pada suatu daerah dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk yang telah menyelesaiakan S1... Hal ini dapat disadari oleh karena manusia sebagai subyek dan obyek dalam pembangunan. Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif.B. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk . 5.. Rasio lulusan S1/S2/S3 adalah jumlah lulusan S1/S2/S3 per 10. 4. 3. S2 dan S3.2.*) No 1.. 3.*) NO 1. 4. Kualitas SDM ini berkaitan erat dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan kerja di dalam negeri dan di luar negeri. Penduduk usia 15-64 tahun. Mengingat hal tersebut. Tingkat ketergantungan Rasio ketergantungan digunakan untuk mengukur besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun.4. Sumber Daya Manusia Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. 2.245 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota .T-I.4. Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam kerangka pembangunan daerah adalah menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM). Uraian Jumlah Desa/Kelurahan Swadaya Jumlah Desa/Keluarahan Swakarya Jumlah Desa/Keluarahan Swasembada Jumlah Desa/Kelurahan (1) + (2) + (3) Persentase Desa berstatus swasemda dibagi jumlah desa/kelurahan (3)/(4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. 5.T-I.244 Jumlah Desa Swasembada Provinsi/Kabupaten/Kota . maka pembangunan SDM diarahkan agar benar-benar mampu dan memiliki etos kerja yang produktif. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 3 0 000 Tabel. Disamping itu juga mampu memanfaatkan.

3..116 yang tergantung pada penduduk usia kerja... Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.. Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) &(2) Jumlah Penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . 2. 5. Rasio ketergantungan adalah perbandingan jumlah penduduk usia <15 tahun dan >64 tahun terhadap jumlah penduduk usia 15-64 tahun. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang.246 Rasio Ketergantungan Tahun . Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting..*) No 1.. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 5 5 00 Tabel. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.d . MENTERI DALAM NEGERI.T-I.B.. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt. Provinsi/Kabupaten/Kota . Meskipun tidak terlalu akurat. 4... s...

PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU II) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. TATACARA PENYUSUNAN.

BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD B.LAMPIRAN II : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) A. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJPD E. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJPD F. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJPD . PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD D. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD C.

1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD MUSRENBANG RPJPD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD PENETAPAN RPJPD Rancangan Awal RPJPD · · · · · pendahuluan. Arah kebijakan pembangunan jangka panjang · Kaidah pelaksanaan. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD Gambar. Visi dan misi daerah Arah kebijakan pembangunan jangka panjang · Kaidah pelaksanaan Penyampaian perda ttg RPJPD kepada Kepemendagri Perda tentang RPJPD RPJPD · Pendahuluan · Gambaran umum Kondisi daerah · Analisis isu-isu srategis · Visi dan misi daerah · Arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah · Kaidah pelaksanaan Masukan dari SKPD . visi dan misi daerah.G-II. analisis isu-isu strategis. Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Rancangan Perda ttg RPJPD beserta Rancangan akhir RPJPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJPD Persiapan Penyusunan RPJPD Penelaahan RPJPN dan RPJPD daerah lainnya Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW daerah lainnya Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka panjang provinsi Perumusan visi dan misi daerah provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJPD Konsultasi rancangan akhir RPJPD Penyempurnaan rancangan akhir RPJPD Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Analisis Gambaran umum kondisi daerah provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Penyelarasan visi. misi dan arah kebijakan RPJPD provinsi Rancangan Akhir RPJPD · · · · · Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisis isu-isu srategis.-2A. gambaran umum kondisi daerah.A.

Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Kab/ Kota dan RTRW kab/ kota daerah lainnya Analisis isuisu strategis pembangunan jangka panjang kabupaten/kota Perumusan visi dan misi daerah kabupaten/ kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan Sasasaran pokok dan arah kebijakan Perumusan hasil Musrenbang Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJPD Konsultasi rancangan akhir RPJPD Penyempurnaa n rancangan akhir RPJPD Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Analisis Gambaran umum kondisi daerah Kabupaten/ Kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ kota Penyampaian Perda Ttg RPJPD kepada PemProv Penyelarasan visi. gambaran umum kondisi daerah. analisis isu-isu strategis.G-II.A. visi dan misi daerah. RPJPD Provinsi dan RPJPD kab/ kota lainnya Persiapan Penyusun RPJPD · · · · · pendahuluan.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJPD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD MUSRENBANG RPJPD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD PENETAPAN RPJPD Rancangan Perda ttg RPJPD beserta Rancangan akhir RPJPD Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN. misi dan arah kebijakan RPJPD Kabupaten/Kota Rancangan Akhir RPJPD · · · · Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisis isu-isu srategis. Visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah · Arah kebijakan jangka panjang daerah Perda tentang RPJPD RPJPD · Pendahuluan · Gambaran umum Kondisi daerah · Analisis isu-isu srategis · Visi dan misi Pembangunan jangka panjang daerah · Arah kebijakan jangka panjang daerah Masukan dari SKPD . arah kebijakan.-3- GAMBAR.

pengelolaan keuangan daerah. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. antara lain: · Peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara. Penyusunan Agenda Kerja Tim RPJPD · · B. Tim penyusun RPJPD provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RPJPD. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RPJPD dan penyusunan anggaran. Tugas tim penyusun RPJPD selanjutnya dijabarkan kedalam agenda kerja. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJPD. Hal ini untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundangundangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. Anggota tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD Tahapan persiapan dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan tahapan penyusunan RPJPD provinsi dan kabupaten/kota.2.1.-4B. B. yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD. tahapan tata cara penyusunan. Orientasi mengenai RPJPD Orientasi mengenai RPJPD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. Pembentukan Tim Penyusun RPJPD Kegiatan pembentukan tim penyusun dimulai dari penyiapan rancangan surat keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. Bahan orientasi mengenai RPJPD. Struktur tim penyusun RPJPD sekurang-kurangnya sebagai berikut: Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : : Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Sekretaris Bappeda Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan. . pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Rencana kegiatan tim penyusun RPJPD dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan mulai dari persiapan hingga ditetapkannya rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD.3. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. B. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. teknis penyusunan dokumen RPJPD. tim penyusun sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja (pokja) berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. sistem perencanaan pembangunan nasional. pemerintahan daerah.

antara lain: 1. dalam rangka penyusunan RPJPD perlu dikumpulkan data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.B. RTRWN. RPJPN. Penyusunan Rancangan RPJPD E. Kegiatan Tahun 1 Tahun 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 A. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD 1. untuk penyusunan RPJPD provinsi. RPJPN. RTRWN. Penyiapan Surat Edaran KDH D. 3. Data dan informasi yang perlu dikumpulkan dalam proses penyusunan RPJPD. Dokumen-dokumen: a. sebagai berikut: 1. 3. b. kabupaten/kota. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan langkah-langkah. Pengumpulan data dan Informasi B. Orientasi mengenai RPJPD 3.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RPJPD adalah sebagai berikut: Tabel T-II. Penyusunan Agenda Kerja 4. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah merupakan unsur penting dalam penyusunan rencana. MUSRENBANG RPJPD 1. Contoh Agenda Kerja Penyusunan RPJPD No. 2. karena akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang akan disusun. Mengumpulkan data dan informasi yang akurat dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. RPJMN. Penyiapan Data dan Kegiatan 2.1. 2. Pembentukan tim penyusunan RPJPD 2. Penyusunan Rancangan Awal RPJPD C. Pelaksanaan Musrenbang RPJPD 3. Perumusan hasil Musrenbang RPJPD F PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJPD 1 Perumusan rancangan akhir RPJPD 2 3 Pembahasan rancangan akhir RPJPD dengan SKPD dan Kepala Daerah Penyampaian rancangan akhir RPJPD untuk persetujuan Kepala Daerah 4 Konsultasi rancangan akhir RPJPD 5 Penyempurnaan rancangan akhir RPJPD berdasarkan hasil konsultasi G PENETAPAN PERDA RPJPD 1 Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD 2 Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD 3 Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Penyampaian Perda tentang RPJPD provinsi oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri/perda tetang RPJPD kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota kepada gubernur dengan tembusan ke Menteri Dalam Negeri H B. Menyusun daftar data dan informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RPJPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. Untuk itu. RPJMN dan RPJPD provinsi untuk penyusunan RPJPD . Kebijakan-kebijakan nasional yang terkait. Peraturan perundangan terkait. Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis.4.

· analisis isu-isu strategis. dan 4. Tahap perumusan rancangan awal RPJPD.C. Data statistik minimal lima tahun terakhir. dapat dilihat pada Gambar. C. · arah kebijakan. Gambar.G-II.-6c. misi dan arah kebijakan RPJPD Provinsi Masukan dari SKPD . Tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota.C. Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Provinsi dan RTRW provinsi lainnya Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang provinsi Perumusan visi dan misi daerah Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan Sasaran pokok dan arah kebijakan Analisis Gambaran umum kondisi daerah Provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Penyelarasan visi. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen RPJPD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. dan 2. Tahap penyajian rancangan awal RPJPD.2.C. · visi dan misi daerah. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD Penyusunan rancangan awal RPJPD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJPD rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota yang dilakukan melalui dua tahapan rangkaian proses yang berurutan.G-II. · gambaran umum kondisi daerah.G-II.1 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Provinsi Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya · pendahuluan. Hasil evaluasi RPJPD periode lalu.1 dan Gambar. mencakup: 1.

8. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan RPJPD merupakan dokumen yang tak terpisahkan dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen). · arah kebijakan. misi. 4. b. · visi dan misi daerah. misi dan arah kebijakan RPJPD Kabupaten/Kota Masukan dari SKPD C. dan RPJPD kabupaten/kota lainnya. Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. Penyelarasan visi. 5. Perumusan visi dan misi daerah kabupaten/kota. 6. · analisis isu-isu strategis. 8. Pelaksanaan forum konsultasi publik. dan 10. a. 9. 5.2 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Kabupaten/Kota Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN. 3. Pengolahan data dan informasi. 6. Perumusan arah kebijakan. 3. Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Kab/ Kota dan RTRW kab/ kota daerah lainnya Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang Kabupaten/ Kota Perumusan visi dan misi daerah Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Analisis Gambaran umum kondisi daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Penyelarasan visi. Perumusan visi dan misi daerah provinsi. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah provinsi. . · gambaran umum kondisi daerah. Analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi.C. 4. mengingat cikal bakal perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah yang akan disusun kedalam RPJPD. Penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya. Penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Tahap Perumusan Rancangan Awal RPJPD Perumusan isi dan substansi rancangan awal RPJPD sangat menentukan kualitas dokumen RPJPD yang akan dihasilkan. sebagai berikut: 1. RPJPD provinsi.-7Gambar. Perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. Perumusan arah kebijakan. 7. Pengolahan data dan informasi. 7. 2. dan arah kebijakan RPJPD provinsi.G-II. Perumusan rancangan awal RPJPD kabupaten/kota dilakukan melalui serangkaian kegiatan. Penelaahan RPJPN. Analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. disiapkan pada tahap ini baik melalui pendekatan teknokratis maupun pendekatan partisipatif. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. RPJPD Provinsi dan RPJPD kab/ kota lainnya · pendahuluan. Perumusan rancangan awal RPJPD provinsi dilakukan melalui serangkaian kegiatan.1. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). sebagai berikut: 1. Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. 2.

Berdasarkan penjelasan diatas. aspek kesejahteraan. Dalam kaitan itu. Pelaksanaan forum konsultasi publik. dan arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota. hasil riset dan lain-lain. rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun dengan mengacu pada RPJPN dan RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota.2. karena tergantung pada urgensi data dan informasi apa saja yang paling signifikan sesuai dengan kebutuhan. aspek pelayanan umum. resume/notulen-notulen pertemuan. C. sistematis. dengan cara: . Rancangan awal RPJPD provinsi disusun dengan mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi. kabupaten/kota yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. penyusunan RPJPD harus berpedoman pada RTRWD masing-masing.1. Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang berikut asumsi-asumsinya. seiring dengan dinamika penyelengaraan pemerintahan daerah. dan 10. tetapi kegiatan ini arus berlangsung terus menerus. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis guna memberikan gambaran tentang kondisi umum daerah sekurangkurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. informasi. Sedangkan. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi hendaknya tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. Penyelarasan visi. serta telaahan rumusan hasil reses DPRD. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan awal RPJPD. Tidak semua data dan informasi dapat disajikan dalam dokumen RPJPD. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian selama ini. C. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan. tim penyusun harus menyusun terlebih dahulu hasil pengolahan data dan informasi yang diperlukan kedalam kertas kerja (worksheet). analisis ekonomi dan keuangan daerah. misi. bahan paparan (slide atau white paper). bisa dalam bentuk grafis maupun dalam bentuk Tabel. Untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang disiapkan.2.1. Penelaahan RTRW dan RTRW Daerah lainnya Perencanaan pembangunan daerah pada prinsipnya bertujuan mengintegrasikan rencana tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan daerah.1. C. menjadi informasi yang lebih terstruktur. Data dan informasi yang diolah mencakup bahan yang diperlukan dalam rangka analisis kondisi umum wilayah dan permasalahan pembangunan daerah.1.1. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus bertanggung jawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. telaahan kebijakan nasional dan provinsi. maka berikut ini akan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJPD provinsi. Hal ini untuk menjamin agar arah kebijakan dan sasaran pokok dalam RPJPD selaras dengan atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW. utamanya bagi pengelolaan rencana pembangunan daerah. evaluasi kinerja pembangunan daerah. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan RPJPD. berdasarkan sistematika penulisan RPJPD yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.-89. maka di lingkungan SKPD perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran tentang pentingnya data dan informasi. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah harus dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografi dan demografi. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. hasil analisis. dan aspek daya saing daerah. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Penelaahan RTRW Tata ruang merupakan perwujudan dari struktur ruang dan pola ruang.

d. b. Menelaah rencana pola ruang Pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan untuk fungsi lindung dan untuk fungsi budidaya. c. Menelaah program pengembangan wilayah kabupaten. dan pentahapan pengembangan wilayah per 5 (lima) tahun dalam 20 (dua puluh) tahun kedepan. Provinsi 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah provinsi. Rencana kawasan lindung. Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan. e. f. 4) Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. dan Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah kabupaten. Telaahan terhadap rencana pola ruang. dan Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis. Menelaah rencana struktur ruang Struktur ruang merupakan susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat. 2) Menelaah program pengembangan wilayah provinsi. 2. arah kebijakan. Rencana jaringan energi. dan Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah kota. meliputi: a. 2) 3) 4) 5) c. Peta rencana struktur ruang. dapat diidentifikasi (secara geografis) arah pengembangan wilayah. Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan. Rencana sistem perkotaan. 3. Kabupaten 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kabupaten. Hasil telaahan struktur dan pola ruang . 3) Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. Rencana jaringan telekomunikasi. dan 5) Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah provinsi. Telaahan rencana tata ruang ditujukan untuk memperoleh informasi bagi analisis gambaran umum kondisi daerah. Telaahan terhadap indikasi program pemanfaatan ruang. melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu. Kota 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kota. dan Rencana sistem jaringan sumber daya air. b. Telaahan terhadap rencana struktur ruang meliputi: a.-91. 2) 3) Menelaah program pengembangan wilayah kota. Menelaah indikasi program pemanfaatan ruang Program pemanfaatan ruang adalah program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif. b. meliputi: a. Dengan menelaah rencana tata ruang daerah. yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. Rencana jaringan transportasi.

.....2..*) Rencana pentahapan pemanfaatan struktur ruang sesuai RTRW No (1) I... selain berpedoman pada RTRW sendiri juga berpedoman pada RTRW daerah lain. C.......... Penelaan RTRW daerah lain dilakukan seperti tahapan pada telaahan RTRW daerah sendiri namun lebih disederhanakan. Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota ....2 V.C..1 I..2 II......1 III.. III........ Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi.. Rencana Pola Ruang (2) Rencana kawasan lindung .............. serta keterpaduan struktur dan pola ruang dengan provinsi/kabupaten lainnya.. agar tercipta sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi dan/atau antarkabupaten/kota.....2 III.................. C. Dst…...............1 II...T-II....... Tabel.......1............... Penelahaan RTRW Daerah lainnya Dalam menyusun RPJPD.2....2.....3..1 II.........T-II..C.....1 IV...C.............. Dst… Rencana sistem jaringan sumber daya air .... Dst…. II.. Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang ........ Dst… Rencana jaringan energi .....10 selanjutnya dituangkan ke dalam contoh Tabel......... II.......T-II........*) Rencana pentahapan pemanfaatan Pola Ruang sesuai RTRW No (1) I..2 Dst ........1 V. menyangkut pola ruang dan tata ruang daerah lain yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan daerah sendiri... Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota . Rencana Struktur Ruang (2) Rencana pusat permukiman .. IV...1 I...1......2 Dst .................................. Penentuan daerah mana yang harus ditelaah RTRW-nya adalah berdasarkan pertimbangan awal dan implikasi pembangunan dimasa-masa lalu maupun secara strategis dan kewilayahan..1 dan Tabel......2 Dst…........................T-II... Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) Waktu pelaksanaan lokasi lima tahun ke-I (4) (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. V..... II........ serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota.......2 IV. I...... .. sebagai berikut: Tabel.......... terutama yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan provinsi/kabupaten/kota dan atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah.............. Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis ..................... Dst… Rencana jaringan transportasi ..............C.......... . Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) lokasi (4) Waktu pelaksanaan lima tahun ke-I (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...2.. I.... Rencana jaringan telekomunikasi .............................1....

antara lain terdiri dari: a) Daerah Aliran Sungai. dan sejauh mana keberhasilan pembangunan daerah yang dilakukan selama ini. d) Kelembaban. antara lain terdiri dari: a) Tipe. Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan pemahaman awal bagi tim tentang apa. (2) Terpencil. Secara rinci. potensi pengembangan wilayah. kerentanan wilayah terhadap bencana. analisis geografi daerah untuk provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan antara lain terhadap: a. Aspek Geografi dan Demografi Analisis pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah. b) Potensi. b) Ketinggian lahan. data dan informasi yang diolah untuk kabupaten/kota. 5) Hidrologi. bagaimana. antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik. merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota. antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis. 3) Topografi. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi. antara lain meliputi: (1) Pedalaman. menggambarkan keadaan setiap kecamatan di wilayah masing-masing..11 penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama. c) Kondisi/kawasan. Gambaran umum kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam proses perumusan perencanaan pembangunan daerah. c) Suhu. (5) Kepulauan. b) Sungai. dan identifikasi faktor-faktor dan berbagai aspek yang nantinya perlu ditingkatkan dalam optimalisasi pencapaian keberhasilan pembangunan daerah provinsi dan kabupaten/kota. (3) Pesisir. Mengingat perbedaaan dari karakteristiknya maka dalam analisis gambaran umum kondisi daerah harus disesuaikan dengan struktur kewenangan dan tingkatan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten/kota. yaitu aspek kesejahteraan masyarakat. Sedangkan gambaran kondisi demografi. antara lain mencakup perubahan penduduk. Karakteristik lokasi dan wilayah. 4) Geologi. b) Curah hujan. danau dan rawa. b) Posisi geostrategis. 2) Letak dan kondisi geografis. antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. 6) Klimatologi. 7) Penggunaan lahan. dan b) Kawasan lindung. Sedangkan. baik dari aspek geografi dan demografi serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya. pada provinsi dan kabupaten/kota. mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi. komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu. antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan. . (4) Pegunungan. 1. c) Debit.

sebagai berikut: Tabel. terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-II.. abrasi. Pertumbuhan PDRB Hasil analisis pertumbuhan PDRB dapat disajikan dalam contoh tabel. serta seni budaya dan olahraga. PDRB per kapita. dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. agama.3.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. Provinsi/Kabupaten/Kota . Gas. Sedangkan untuk penyusunan RPJPD kabupaten/kota. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. c.. laju inflasi provinsi. .. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat dalam menyusun rancangan awal RPJPD provinsi. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran.. & Js. kewarganegaraan. & Air Bersih Konstruksi Perdagangan. Demografi Memberikan deskripsi tentang ukuran. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator pertumbuhan PDRB.. terdiri dari: 2. kesejahteraan sosial. longsor.. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud. kematian.d . migrasi. Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Hotel .C. atau entitas tertentu. seperti: banjir.. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi terhadap rawan bencana alam. industri. Sewa. persentase penduduk diatas garis kemiskinan. pariwisata. pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah.. serta penuaan.. s. indeks gini.. terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kecamatan di wilayah diwilayah kabupaten/kota. d. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. dan angka kriminalitas yang tertangani.1. Perush. indeks ketimpangan Williamson (indeks ketimpangan regional).. pertanian. gempa tektonik/vulkanik. pemerataan pendapatan versi Bank Dunia.12 b. 2. struktur. atas Dasar Harga Konstan Tahun . dan lain-lain. kebakaran hutan.. Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No.. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. tsunami..*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. sebagai berikut: a.

. s.C..C.. Hotel.13 - Tabel. & Air bersih Konstruksi Perdagangan.. Perusahaan Jasa-jasa PDRB Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.Gas. Hotel. sampai dengan Tahun.. Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.6. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. sewa.......5...4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.. Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun . Tabel. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.. atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota .. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. & Js.T-II.*) (n-5) No.C.Gas.. . & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan... Tabel..d ......*) Pertumbuhan No.. sewa..Gas. atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota . Perusahaan Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No... Provinsi/Kabupaten/Kota . Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. sewa. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.T-II. Hotel..*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.. & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. & Air bersih Konstruksi Perdagangan. & Air bersih Konstruksi Perdagangan. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. & Js.d .T-II.

. dan rasio penduduk yang bekerja.14 Tabel. Laju Inflasi Hasil analisis nilai inflasi rata-rata dapat disajikan dalam contoh tabel. angka kelangsungan hidup bayi. sebagai berikut: Tabel... Angka melek huruf Tabel. atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota ...*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... angka partisipasi kasar. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.8..... jika kecamatan dapat dibandingkan dengan standar kabupaten/kota dst.*) No....*) (dalam jutaan rupiah) PDRB No Kabupaten/Kota/Kecamatan*) HB (n-5) HK HB (n-4) HK HB (n-3) HK HB (n-2) HK (n-1)**) HB HK 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan..***) Dst … Standar Provinsi/Kabupaten/Kota****) Standar Nasional/Provinsi****) Standar Internasional/Nasional****) *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.. Jika tabel provinsi.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial. persentase penduduk yang memiliki lahan. sebagai berikut: a. Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-II.T-II. 2... Coret sesuai dengan kebutuhan (untuk kabupaten dapat dibandingkan dengan standar provinsi... 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas Angka melek huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Hasil analisis angka melek huruf dapat disajikan dalam contoh tabel....9. Nilai inflasi rata-rata Tahun.d ..2.. angka usia harapan hidup... Provinsi/Kabupaten/Kota ..***) Kabupaten/Kota/Kecamatan... Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun ...C.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. s. Provinsi/Kabupaten/Kota . ......d .7. Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun . sebagai berikut: *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. angka pendidikan yang ditamatkan. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.. s..T-II. angka rata-rata lama sekolah.) b.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan..C.C. Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....... s.d . angka partisipasi murni.

1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jika tabel provinsi.d . 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10. sebagai berikut: Tabel.C.11. ***) Jika tabel provinsi.3. Jumlah Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.000 penduduk. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..T-II. Jumlah klub olahraga per 10. Perkembangan Seni.... Angka Melek Huruf Tahun ..d .T-II... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan... Angka rata-rata lama sekolah Hasil analisis angka rata-rata lama sekolah dapat disajikan dalam contoh tabel..15 - Tabel. Jumlah gedung olahraga per 10.*) No... 2. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga sebagai berikut: Tabel.12. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.....10. Provinsi/Kabupaten/Kota .**) Kabupaten/Kota /Kecamatan.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas....***) Dst . Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator jumlah grup kesenian.. dan jumlah gedung olahraga.... . Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan sosial sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. Provinsi/Kabupaten/Kota ... Jumlah (n-5) L P L (n-4) P L (n-3) P L (n-2) P (n-1)**) L P *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota . Budaya dan Olahraga Tahun .. s. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.*) No... s. b..... Jumlah gedung kesenian per 10..000 penduduk....*) No......000 penduduk.C.**) Dst .T-II.C. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rata-Rata Lama Sekolah Tahun ... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota /Kecamatan.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan....000 penduduk... jumlah klub olahraga..

.. koperasi dan usaha kecil menengah.. kesehatan. kependudukan dan catatan sipil.T-II.. yaitu bidang urusan pendidikan. pemerintahan umum. sebagai berikut: a. ketahanan pangan. pemberdayaan masyarakat dan desa. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.**) Dst .000 penduduk 10.. perumahan.. Sedangkan untuk penyusunan rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun kedalam Tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. kepegawaian.. otonomi daerah. 3.. Indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari: 3.16 Tabel.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. perencanaan pembangunan. pekerjaan umum.1 Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan wajib pemerintahan daerah... perhubungan.. pertanahan. sosial.000 penduduk 10.C.. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan. Budaya dan Olahraga Tahun .... penanaman modal. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota.. komunikasi dan informatika dan perpustakaan.13.*) No 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. administrasi keuangan daerah. kebudayaan. lingkungan hidup.000 penduduk 10. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri... Jika tabel provinsi.. sebagai berikut: .. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintahan daerah.000 penduduk *) **) Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. kepemudaan dan olah raga. Jumlah grup Jumlah gedung Jumlah klub Jumlah gedung kesenian per kesenian per olahraga per olahraga per 10. Perkembangan Seni. Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. ketenagakerjaan. perangkat daerah. Angka partisipasi sekolah Hasil analisis perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) di lingkup provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. statistik.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau table seperti contoh diatas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.. dan persandian. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun rancangan awal RPJPD provinsi terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. penataan ruang. kearsipan.. menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota .

2 2..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 1 1. Rasio ketersediaan gedung sekolah/penduduk usia sekolah Hasil analisis rasio ketersediaan gedung sekolah per-penduduk usia sekolah se provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel.. menurut kabupaten/kota/kecamatan*) Provinsi/Kabupaten/Kota ...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... b. 1.*) SD/MI No. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun . 2 2.2.1.. Provinsi/Kabupaten/Kota .15. Tabel.*) No....1.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....d . Provinsi/Kabupaten/Kota .3.C... 2..2. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...... 2..1....C..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.3.14. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan... sebagai berikut: Tabel...1. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .16.. 1.17 Tabel. s... 2.d ... s.**) Dst ..T-II.2...... 2.. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun . Jumlah *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-II.C... 1.2. 1.3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. Jika tabel provinsi. ..*) No.3.. SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..T-II. 1 1...

...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.C. 1 1.......**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.T-II.3.19. sebagai berikut: Tabel.... Jumlah Jumlah gedung sekolah (3) SD/MI jumlah penduduk usia Rasio 7-12 th (4) (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 1. Jika tabel provinsi. 2 2..**) Dst ....C.1.1.. (1) 1 2 3 4 5 6 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.d ..2..**) Dst .. c. 2.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. ....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...T-II. s. Menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota . dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan...*) SD/MI No..3.....*) No... Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun ...2.*) No...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. ***) Jika tabel provinsi.C. Tabel. SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota Provinsi/Kabupaten/Kota .. (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .......17.....18 Tabel........**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... Jumlah Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) SMP/MTs Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... 2. 1.T-II.. Rasio guru/murid Hasil analisis rasio jumlah guru/murid se provinsi/kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..18. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan... Provinsi/Kabupaten/Kota .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...

d . sebagai berikut: Tabel. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan pilihan pemerintahan daerah....*) Tahun (1) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Uraian (2) PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... s.d . s. dapat disajikan dalam contoh tabel. kelautan dan perikanan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis jumlah investor PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas. yaitu bidang urusan pertanian. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.... sebagai berikut: Tabel.C.... 3. perdagangan..19 Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan wajib sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Provinsi/Kabupaten/Kota .. sebagai berikut: a..21.C... energi dan sumberdaya mineral.20. Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi Realisasi JumlahProyek Nilai Investasi c. Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun ..T-II. pariwisata.*) Tahun (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. b...2 Fokus Layanan Urusan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan pilihan pemerintahan daerah. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis nilai PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. Rasio daya serap tenaga kerja Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota. sebagai berikut: . Provinsi/Kabupaten/Kota . industri dan ketransmigrasian. Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun ....T-II. kehutanan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..

dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi lainnya. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun . Provinsi/Kabupaten/Kota . s. Jumlah RT Uraian Total Pengeluaran RT (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas..T-II. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek daya saing daerah dalam menyusun rancangan awal RPJPD propinsi. Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota masingmasing... produktivitas total daerah. Provinsi/Kabupaten/Kota . 1 2 3 Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN Rasio daya serap tenaga kerja (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. . sebagai berikut: Tabel.. Rasio (1.. iklim berinvestasi...C. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini..20 Tabel.. dan nilai tukar petani. sebagai berikut: a. 2.23..1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita... Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Hasil analisis konsumsi RT perkapita dapat disajikan dalam tabel. 1.. atau internasional. domestik. Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . terdiri dari: 4./2... fasilitas wilayah atau infrastruktur. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. Indikator variabel aspek daya saing daerah. s..T-II.22.*) No. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan sumber daya manusia. pengeluaran konsumsi non pangan per kapita.d .. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kemampuan ekonomi daerah. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d .. 4.*) No.C.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan pilihan sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota..

. Provinsi/Kabupaten/Kota ... sebagai berikut: Tabel.. s.T-II. s. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (lt) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun .T-II.. Tabel.*) No..d ....... dapat disajikan ke dalam contoh tabel...*) No. Jika tabel provinsi... Total Pengeluaran RT non Pangan Total Pengeluaran Rasio *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 2. (1) Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jika tabel provinsi. 3...C. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun .. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (Persentase Konsumsi RT untuk non pangan) Untuk menghitung jumlah nonkonsumsi pangan perkapita... Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun . Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...24.21 Tabel.......T-II. sebagai berikut: Tabel. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan..25.....**) Dst .. *) Dst .. 3.. 2.d . b. Provinsi/Kabupaten/Kota .. Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun . 3... . 2..T-II.. 3.. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..*) No.26.......**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..**) Indeks Yang Diterima Petani (lt) (3) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) (4) Rasio (5=3/4) 1..C.... Jumlah Total Pengeluaran RT (3) Jumlah RT (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...*) No.. Provinsi/Kabupaten/Kota . isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (1) 1... Nilai tukar petani Untuk hasil penghitungan terhadap nilai tukar petani (NTP).C. 1.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2. Provinsi/Kabupaten/Kota .. dapat disajikan ke dalam contoh tabel..C..27. Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1.. **) c. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.

**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2. Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Untuk menghitung ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat disajikan dalam contoh tabel... luas wilayah industri.T-II.**) Dst ..29. (1) 1. Jumlah Total pengeluaran RT non pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. jenis.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun. sebagai berikut: a..C.. Rasio Ketaatan terhadap RTRW Tahun .. Provinsi/Kabupaten/Kota . isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. .. Persentase Konsumsi RT non-Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun ... kelas..22 - Tabel.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. luas wilayah produktif. 4. jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang... jenis dan jumlah bank dan cabang. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.. dan jumlah penginapan/hotel..*) No. dan jumlah restoran..... luas wilayah kekeringan. s. luas wilayah perkotaan.d . kelas.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Provinsi/Kabupaten/Kota . dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator rasio panjang jalan per jumlah kendaraan.. 2.*) No. 4... jenis...... Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1. luas wilayah kebanjiran.. rasio ketersediaan daya listrik. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.. 1. sebagai berikut: Tabel.. persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.C.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur. persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih... ketaatan terhadap RTRW. jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kemampuan ekonomi daerah sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota..T-II...28.. 5... 3. Jika tabel provinsi. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan./2.

2. 4. Tabel. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. dan persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa.**) Dst . Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota .C. Jenis Kriminal Jumlah kasus narkoba Jumlah kasus pembunuhan Jumlah kejahatan seksual Jumlah kasus penganiayaan Jumlah kasus pencurian Jumlah kasus penipuan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . Uraian Luas wilayah produktif Luas seluruh wil..30. (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.*) No. Jika tabel provinsi.. 3. Luas wilayah produktif Untuk menghitung luas wilayah produktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wil. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..31....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...C.32. 3. jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. Provinsi/Kabupaten/Kota .T-II. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus iklim berinvestasi. Persentase luas Wilayah Produktif Tahun ... jumlah demo. 4.T-II....23 b.. 2. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus fasilitas/infrastruktur sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota....... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Persentase Luas Wilayah Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun .*) No..d . jumlah perda yang mendukung iklim usaha.. sebagai berikut: a. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini./2.. s. Angka kriminalitas Untuk menghitung angka kriminalitas dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.C..3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas... lama proses perijinan......T-II. Provinsi/Kabupaten/Kota ..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Budidaya Rasio (1... 6.. 1.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 5........ dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.*) No 1.

4.. 5.35. Uraian Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Julah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 4.T-II.. 6. 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jenis Kriminal Jumlah kasus pemalsuan uang Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah penduduk Angka kriminalitas (8)/(9) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 5.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus iklim berinvestasi sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas..4 Fokus Sumber Daya manusia Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan S1/S2/S3. Rasio lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota . 2. Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Hasil analisis rasio ketergantungan dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.C. 4. Rasio Ketergantungan Tahun .*) No 1 2 3 4 Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Bidang politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah unjuk rasa *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. s. 2. b. Jumlah Demonstrasi Untuk menghitung jumlah demontrasi.... a.C... Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Hasil analisis rasio lulusan S1/S2/S3 dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.T-II. 8.C.. Uraian Jumlah penduduk usia < 15 tahun Jumlah penduduk usia > 64 tahun Jumlah penduduk usia tidak produktif (1) & (2) Jumlah penduduk usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-II. Provinsi/Kabupaten/Kota .. 3.. 9. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...24 - No 7. b. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.*) No.34....*) No 1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. . 3. Jumlah Demo Provinsi/Kabupaten/Kota . 10...33.d ..

Pemerintahan Umum.1. Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota .1 2.2. poliklinik.2.3.1 2. Administrasi keuangan daerah..3 2..1. PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid Dst …… Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….36.1.2.1 2.1. 1.1 2. 1.. sebagai berikut: Tabel.2.1..1 1.2.1.1.2. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.1.2.1.2 2.1.1.2. pustu per satuan penduduk Dst….*) Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah.4 2.1.1.1. 1.1.1.4 1.1.1.1.3.2.1.2.1.2.2 2.2 2.2. Pelayanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….1 2.3 .1 2.1.1.1.3 2. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst …… Dst …… Dst….2.1.1.1. Perangkat Daerah.2 1.3 2.1.3 1.1..2 2.2..3 2.1.1.1 1.2.1 2.2 2.2 2.3.1. 2.1 2.1.T-II.1.1. Dst… Dst….1 1.2 2.2.2.2 1.1.25 - Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota dapat dirangkum dalam bentuk tabel. 1.3 1. 1.1.1.1.1.2.1.2.1.2.1.1.2 2.2 2.1 2.. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi PDRB per kapita Dst….C.1 2.1.1 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 1.

1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1. Administrasi keuangan daerah.4 3.1 3.2. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst …… Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1. identifikasi permasalahan pembangunan dilakukan terhadap seluruh bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara terpisah atau sekaligus terhadap beberapa urusan. dan hubungannya dengan agenda-agenda pembangunan yang telah berhasil dicapai di periode sebelumnya. C.1 3. permasalahan pada urusan atau gabungan urusan yang akan dijadikan sebagai dasar penentuan sasaran pokok adalah permasalahan- .. Pemerintahan Umum. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah.1.1.1. fokus kepada agenda paling strategis.1.2.3 2.3 3. Dst… (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 2.2. Dengan pendekatan manajemen strategis.2.1 3.2.1. Dst…… DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi Otonomi Daerah.4.1. khususnya yang berhubungan dengan kemampuan manajemen pemerintahan dalam memberdayakan kewenangan yang dimilikinya. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah dimasa lalu.1.1.3 3.2. Selanjutnya.3 3.3 3.3.1. Tidak semua permasalahan tiap urusan dijadikan sasaran pokok selama 20 (dua puluh) tahun ke depan.2.2.2. Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan sedang dibuat.1.26 Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Dst….1. isu strategis yang muncul.1 3.1. Dst ….2 3.1 3.2 3.1 3.1 3. dibutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang kekuatan dan kelemahan sehubungan dengan peluang dan tantangan yang dihadapi.2.2 3.2 3. Untuk mengefektifkan sistem perencanaan pembangunan daerah dan bagaimana visi/misi daerah dibuat dengan sebaik-baiknya..2 3.1 3.2.2. mengingat keterbatasan pendanaan.2. 3.2.2 3.1.3. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal dan kelemahan yang tidak diatasi. Perangkat Daerah.

1.3. 3. hasil kinerja. 4.3. 2. Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah layak huni Dst…. 1.3. Perumusan permasalahan pembangunan pada tiap penyelenggaraan urusan pemerintah daerah dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap penyelenggaraan urusan pemerintah guna mendapatkan rumusan permasalahan pada masing-masing urusan tersebut.3.2. 5. 3. 2. sebagaimana Tabel berikut ini: Tabel.1. 4. 5.3. 1. 3. Faktor-faktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis. 1. Identifikasi Permasalahan Pembangunan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi/Kabupaten/Kota …. 1.4. 3..*) No BIDANG URUSAN DAN INDIKATOR KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (2) Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Dst…. 3.3.37. 3. 4. 5.3.1.1. Kesehatan Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.7.5. Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Dst….3. 1. 2. Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan.2..1. poliklinik.2.T-II.1.2.5.1.4..2.27 permasalahan yang memiliki dampak paling tinggi terhadap pembangunan dan kriteria-kriteria lain yang sesuai peraturan perundang-undangan. tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang.C. 3. Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber. 2. 2. 5. 2. dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan. 2. 1. 4. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Dst…. 2.6.2. Penataan Ruang INTERPRETASI Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH (4) FAKTOR –FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (5) (1) 1. .6.4.4.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Ketaatan terhadap RTRW 5.3.

T-II.. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau sebaliknya. Hasil telaahan pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis.T-II.. diisi dengan permasalahan pembangunan daerah.*) Kebijakan Nasional RPJPN (2) No. diisi dengan interpretasi hanya pada kolom urusan berdasarkan pada analisis indikator-indikator sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. Penelaahan kebijakan nasional untuk tingkat provinsi dilakukan terhadap dokumen RPJPN dan sumber-sumber informasi terkait lainnya.28 INTERPRETASI Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) No BIDANG URUSAN DAN INDIKATOR KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (2) PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH (4) FAKTOR –FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (5) (1) 5. C..C. Keterangan: untuk pengisian tabel provinsi.. diisi dengan faktor-faktor penentu keberhasilan. penelaahan kebijakan nasional untuk tingkat kabupaten/kota dilakukan terhadap dokumen RPJPN dan RPJPD provinsi dan sumbersumber informasi terkait lainnya.. di samping sumber-sumber lain. (1) RPJP Provinsi (3) Lain-lain (4) 1.5. tidak termasuk kolom 3 . Identifikasi Kebijakan Nasional Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. Penelaahan RPJPN Penelaahan kebijakan nasional bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan nasional terpenting. Tabel.1. Dst *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Indikator pada tiap-tiap urusan dijadikan input utama bahan analisis. 2. 5.C. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. Luas wilayah produktif Dst….. bidang urusan urutannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Adapun. 6. Cara pengisian Tabel. tantangan bagi daerah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang.5. Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) Perlu diperhatikan bahwa pengisian tabel diatas difokuskan pada identifikasi permasalahan pembangunan pada tiap-tiap urusan.38. dan berpengaruh langsung dengan daerah bersangkutan. berhubungan.6.37 adalah sebagai berikut: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut. diisi dengan bidang urusan/indikator. 3.

Perlunya suatu daerah menelaah RPJPD daerah lain karena beberapa alasan. Selanjutnya. Analisis Isu-Isu Strategis Pembangunan Jangka Panjang Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah.. dan 4.*) No. 2.1. dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan. diisi dengan kebijakan nasional yang mengacu pada rancangan awal RPJPN atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau sebaliknya. C. Oleh karena itu. diisi dengan kebijakan provinsi yang mengacu pada rancangan awal RPJPD provinsi atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.T-II.T-II.. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. di samping sumber-sumber lain..C. khususnya selama 20 (dua puluh) tahun yang akan datang diidentifikasi dengan baik maka pemerintah daerah dapat mempertahankan kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.6.1. 3. Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan. provinsi maupun kabupaten/ kota. Perencanaan pembangunan antara lain adalah dimaksudkan agar organisasi senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan.29 Cara Pengisian Tabel.39. Daerah Lain Periode RPJPD Kebijakan Terkait Keterangan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Penelaahan RPJPD daerah lainnya C. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan. .5.. identifikasi kebijakan dari dokumen RPJPD daerah lain dituangkan dalam tabel.. Adanya persamaan kepentingan/tujuan atau upaya-upaya strategis yang harus disinergikan.38: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan urutan isu di tingkat nasional. Adanya kebijakan pemerintah yang menetapkan suatu daerah sebagai bagian dari kesatuan wilayah/kawasan pembangunan. yang dapat dipertanggungjawabkan. tantangan bagi daerah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. Hasil telaahan RPJPD daerah lainnya pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis. diisi dengan identifikasi kebijakan nasional/provinsi selain dalam bentuk (atau ada dalam) RPJP.1. untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Adanya persamaan permasalahan pembangunan yang memerlukan upaya pemecahan bersama. Penyusunan dokumen RPJPD daerah juga memperhatikan dokumen RPJPD daerah lainnya. utamanya daerah-daerah yang letaknya berdekatan. Adanya agenda pembangunan kewilayahan yang menentukan kewenangan bersama.C. sebagai berikut: Tabel. Jika dinamika eksternal. dimaksudkan agar tercipta keterpaduan pembangunaan jangka panjang daerah dengan daerah-daerah lain terkait.. Identifikasi RPJPD Daerah Lain Provinsi/Kabupaten/Kota . sebagai berikut: 1.

Metode penentuan isu-isu strategis yang dapat digunakan. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas pemerintahan daerah dan masyarakat dimasa datang. sebagian lainnya. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional. antara lain: 1) Dibahas melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman merumuskan isu-isu strategis.T-II. 4. dan peluang yang berbeda tiap daerah. Memiliki dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat. .30 Pemerintahan daerah yang tidak menyelaraskan diri secara sepadan atas isu strategisnya akan menghadapi kegagalan dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah. isu strategis hanya berlaku bagi satu daerah tertentu saja karena kekhasan. Suatu kondisi/kejadian penting adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya. sebagai berikut: 1. Namun. Suatu isu strategis dapat berlaku umum untuk sebagian besar daerah.. penentuan sesuatu atau kondisi menjadi isu strategis dapat didukung dengan menerbitkan pedoman atau kriteria oleh kepala daerah atau Kepala Bappeda. dibuat berbagai rumusan isu-isu strategis dengan tabel. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal yang bersifat penting.T-II. perencanaan daerah juga harus menghasilkan ide dan langkah untuk menciptakan peluang itu sendiri. 3.40. Identifikasi Isu-Isu Strategis No (1) 1. Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional termasuk kebijakan nasional yang mengacu pada rancangan awal RPJPN. Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah. mendesak. Isu strategis dalam jangka panjang daerah sekurang-kurangnya memenuhi kriteria. 2. mendasar. 2. sebagai berikut: Tabel. Sinkronisasi langkah dan kebijakan pembangunan daerah terhadap isu-isu strategis tetap berlandaskan bahwa pembangunan daerah tidak saja memanfaatkan peluang dimasa datang. dan 5.40: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan. termasuk analisis kebijakan terhadap entitas pemerintahan diatasnya. Memiliki daya ungkit yang signifikan pembangunan daerah.C. 3. bersifat kelembagaan/keorganisasian dan menentukan tujuan organisasi/institusi dimasa yang akan datang. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat provinsi termasuk kebijakan provinsi yang mengacu pada rancangan awal RPJP provinsi. tantangan. Hal ini bertujuan agar rumusan isu strategis yang dihasilkan dapat sinkron dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional dan kebijakan pembangunan jangka panjang provinsi bagi kabupaten/kota. tak kalah penting. Isu strategis diindentifikasikan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (teknokratik) melalui pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.C. Panduan itulah yang akan digunakan tim perencana dalam mengkompilasi berbagai bahan untuk merumuskan isu-isu strategis bagi daerah. dalam hal tidak dimanfaatkan maka menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. berjangka panjang. Isu Strategis Dunia Internasional (2) Kebijakan Nasional (3) Regional (4) Lain-lain (5) Cara Pengisian Tabel. Secara teknokratis.

Isu Strategis (2) Nilai Skala Kriteria 1 (3) 2 (4) 3 (5) 4 (6) 5 (7) 6 (8) Dst… (9) Jumlah skor (10) Cara Pengisian Tabel.31 Kolom (5) diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.C. Nilai Skala Kriteria Nama Anggota Tim : ..T-II.C.. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan.C.42. yang dituangkan dalam tabel...T-II.T-II... Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah Dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat Memiliki daya ungkit yangsignifikan pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… Total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan. s. 2) Pembobotan Setelah berbagai isu diidentifikasi dan dilakukan FGD untuk memahami usulan dan masukan tentang berbagai isu strategis.. Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria per-isu strategis per peserta. No (1) 1 2 3 4 5 Dst. diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria. Salah satu metode yang menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan. usaha/bisnis. diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi pada Tabel..40. sebagai berikut: .C.C.41. sosial budaya.. dengan mengisi Tabel.41 dengan contoh sebagai berikut: Tabel. Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta.T-II.. penemuan-penemuan teknologi.d. langkah selanjutnya adalah menentukan mana isu strategis yang paling prioritas dan akan dijadikan dasar bagi proses berikutnya (menentukan visi dan misi). Bobot 20 10 20 10 15 25 *) Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skor tersebut diatas dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.T-II..42: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (10) diisi dengan nomor urut..

usulan permasalahan pembangunan.7. tetapi suatu komitmen dan upaya merancang dan mengelola perubahan untuk mencapai tujuan.T-II. seperti pemrioritaskan program prioritas. Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya.C.43: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut. Visi pembangunan jangka panjang daerah yang telah diterjemahkan dalam sasaran pokok dan arah kebijakan RPJPD menjadi acuan bagi (calon) kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam merumuskan visinya pada periode lima tahun berkenaan dan bagaimana RPJMD dikembangkan. Kolom (3) diisi total akumulasi jumlah skor dari keseluruhan anggota tim perumus (diambil dari Tabel. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis yaitu total skor pada Kolom (3) dibagi banyaknya anggota tim. bukan pikiran berandai-andai (wishfull thinking). Visi bukan hanya mimpi atau serangkaian harapan. diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional. Oleh karena itu. dan lain-lain. visi diciptakan melampaui realitas sekarang. Kriteria dan Syarat Visi Daerah Kriteria suatu rumusan visi daerah antara lain memuat hal-hal sebagai berikut: . C. Visi harus dapat menunjukkan gambaran masa depan yang ideal bagi masyarakat/daerah dan merupakan suatu pernyataan umum yang menjadi dasar/basis bagi semua elemen atau semua pelaku (stakeholders) dalam operasionalisasi perencanaan pembangunan daerah.1.43.42) untuk setiap isu-isu strategis.. Visi menjelaskan arah atau suatu kondisi ideal dimasa depan yang ingin dicapai (clarity of direction) berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini yang menciptakan kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dan masa depan yang ingin dicapai.. Visi daerah dituangkan dalam RPJPD. Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No.T-II.32 - Tabel.7.1. tetapi dengan fokus pada masa depan.C. Visi mengarahkan kondisi daerah yang ingin dicapai dimasa depan (desired future) dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan. C. kegiatan prioritas. Pernyataan visi yang artikulatif akan memberikan arah yang jelas bagaimana mencapai masa depan yang diharapkan dan mengatasi kesenjangan yang terjadi. Perumusan Visi dan Misi Daerah Perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang merupakan salah satu tahap penting penyusunan dokumen RPJPD sebagai hasil dari analisis sebelumnya.1. (1) 1 2 3 4 5 Dst. visi didasarkan pada realita. yang merefleksikan kekuatan dan potensi khas daerah sekaligus menjawab permasalahan dan isu-isu strategis daerah.C.T-II. Perumusan Visi Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan pembangunan jangka panjang 20 (dua puluh) tahun. dibahas dan disepakati secara bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan pembangunan daerah secara partisipatif. nasional dan regional. Visi dan misi daerah harus jelas menunjukkan apa yang menjadi cita-cita bersama masyarakat daerah atau stakeholder pembangunan daerah. Di sini. dirumuskan. Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) Cara Pengisian Tabel.

33 1. sebelum menentukan identifikasi perwujudan visi. Menggambarkan nilai-nilai kunci (core values) yang perlu dilaksanakan. antara lain: 1. dan 7. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). Memusatkan perhatian kepada isu strategis dan permasalahan utama daerah. efisien dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focussed). jelas dan padat. 2. berikut pemikiran atau hasil analisis yang mendasarinya. dengan mengisi tabel dibawah ini.C. Namun. Memungkinkan. Perumusan Perwujudan Visi Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 PPD 2 PPD 3 Dst     Perwujudan Visi 1     Perwujudan Visi 2     Perwujudan Visi 3     Dst Perwujudan visi diidentifikasi melalui proses FGD atau teknik lain yang secara efektif dapat menghasilkan rumusan tentang bagaimana wujud daerah dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan yang dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategisnya. Menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka panjang. Permasalahan pembangunan daerah harus dapat pula mengungkapkan . Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. 6. 3. 4. Bagi sel (kotak) yang bertanda () itulah dibuatkan perwujudan dimaksud pada tabel diatas. 5. Untuk memperjelas gambaran suatu perwujudan visi dapat ditambahkan dengan atribut atau ciri-ciri lain tentang suatu wujud visi.T-II. 2. Di sini masing-masing anggota tim perumus perlu diberi waktu yang cukup untuk memaparkan gambaran masing-masing tentang wujud dari visi yang diinginkan pada akhir tahun ke-20. 3. wajar dan layak untuk dicapai dengan situasi. kondisi dan kapasitas yang ada (feasible). Perwujudan visi merupakan gambaran paling sederhana dan dengan bahasa yang mudah dikomunikasikan tentang wujud nyata kondisi daerah di 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. Proses Perumusan Visi Dengan koridor atau panduan tentang karakteristik visi sebagaimana dijelaskan diatas dan melanjutkan tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD. perumusan visi dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah (PPD) untuk menemukan perwujudan visi.44. Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan perwujudan visi yang salah satunya berlandaskan pada kekuatan terbaik daerah. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti oleh semua pelaku (communicable). Dapat dibayangkan oleh semua pelaku (imaginable).. dan 4. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). identifikasi permasalahan daerah harus mampu mengungkapkan peta kekuatan yang paling dominan dalam realisasi pembangunan daerah dimasa-masa lalu. dengan memberi tanda (x) untuk yang tidak berkesesuaian dan tanda () untuk yang berkesesuaian. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang (clarity of direction). Menjelaskan/mengakomodasikan kekuatan dan peluang serta keunikan „kompetitif‟ yang dimiliki daerah dalam jangka panjang. Tabel. Syarat visi yang baik. terlebih dahulu dibuat analisis keterhubungan antara permasalahan pembangunan dengan isu strategis (misal.

Selanjutnya. Suatu pernyataan visi dapat berupa satu atau lebih pernyataan atau kalimat yang merangkum atau menggabungkan berbagai pokok visi terpilih. Pembahasan tentang wujud apa yang paling baik atau sesuai bagi suatu daerah dimasa datang sangat ditentukan bagaimana anggota tim mengenali.7.46. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.T-II. Perumusan Visi No. diupayakan visi adalah satu kalimat dengan pokok-pokok visi dapat lebih dari satu. lugas. Suatu perwujudan visi merupakan kalimat yang relatif masih lengkap dalam menggambarkan wujud visi masa datang. C.T-II. sehingga keseluruhan langkah diatas dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.1. dengan kesederhanaan kalimat. Namun. dan membandingkan atribut-atribut dari berbagai perwujudan visi yang berbeda-beda.45. Perumusan pokok-pokok visi dilakukan dengan mencari inti (kalimat) perwujudan visi ke dalam satu-dua kata dengan menghilangkan berbagai kata dan atribut yang bukan inti dari perwujudan visi dimaksud. suatu penjelasan visi pada dasarnya menguraikan kembali pokok-pokok visi yang telah disepakati ke dalam perwujudan visi dengan merinci lebih baik berbagai atribut atau penjelasan masing-masing pokok visi. Setelah berbagai identifikasi perwujudan visi dibuat. Untuk memberi penekanan atas keyakinan bahwa target dapat dicapai pada akhir periode perencanaan maka pernyataan visi dapat secara spesifik menyebutkan waktu capaian.34 kantong-kantong kekuatan pembangunan yang selama ini terabaikan untuk dijadikan salah satu faktor keberhasilan visi/misi pembangunan dimasa 20 (dua puluh) tahun mendatang. dari keseluruhan pokok-pokok visi dibuatlah pernyataan visi.C.. perwujudan visi dapat disebutkan target waktu pencapaiannya. memahami.C. Untuk membantu identifikasi dan mengukur capaian kinerja. Penyusunan Penjelasan Visi Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Dengan demikian. Berbagai atribut sangat penting dalam memberi bobot dan kejelasan bahwa perwujudan visi dimaksud penting bagi pembangunan daerah 20 (dua puluh) tahun mendatang. Perumusan Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. dan jelas serta memenuhi kriteria atau karakteristik visi sebagaimana telah dijelaskan di awal. Perwujudan Visi Pokok-pokok Visi Pernyataan Visi Suatu pernyataan visi dibuat dengan menggunakan bahasa yang singkat. Misi juga dapat dipandang sebagai pilihan jalan (the chosen track) bagi pemerintahan daerah dalam menyediakan dan menyelenggarakan layanan bagi masyarakat dan aktivitas pembangunan pada umumnya bagi stakeholder pembangunan secara keseluruhan.2. Rumusan misi yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi yang ingin . Sebagaimana telah dijelaskan bahwa salah satu potensi permasalahan pembangunan adalah jika suatu kekuatan tidak dimanfaatkan secara optimal. dilakukan pembahasan masing-masing perwujudan visi menjadi pokok-pokok visi. termasuk atribut-atribut yang menjelaskannya. Penjelasan visi dibuat untuk menjelaskan masing-masing pokok visi.

Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. Teknisnya. selanjutnya dibuat misi. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa misi juga menyangkut komitmen pada stakeholder utama atau apa yang ingin diwujudkan oleh visi. Proses perumusan misi dicontohkan pada tabel berikut ini: Tabel. Perumusan misi adalah suatu upaya untuk menyusun peta perjalanan yang memungkinkan pemerintahan daerah memiliki dasar yang jelas dalam mengembangkan program-program prioritas dalam memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kepuasan masingmasing segmen masyarakat pengguna layanan (customer perspective). dan pemanfaatan teknologi yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan seluruh proses birokrasi (learning and growth perspective). Perumusan Misi No. maka pengertian misi harus sederhana. Atau stakeholder yang berhubungan atau terkait dengan pokok visi tersebut. 2. pelaku ekonomi di daerah. Mengandung rumusan misi yang lebih luas jangkauan dan skalanya untuk menaungi prioritas program pembangunan lima tahunan selama 20 (dua puluh) tahun.47. bagaimana barang/jasa disiapkan dan diberikan dalam berbagai aktivitas pembangunan (internal process perspective). Menunjukkan dengan jelas komitmen pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan visi daerah. maka pengembangan misi harus dijabarkan terlebih dahulu kepada stakeholder utama pembangunan.. termasuk penjelasan misi didalamnya. Alasan utama pengembangan visi adalah pada pokok-pokok visi karena pada pokok-pokok visi tersebut terkandung ulasan-ulasan apa yang akan dijadikan untuk dicapai dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan. serta kekuatan. Mengingat bahwa misi harus dibuat penjelasannya. dalam hal ini masyarakat daerah (secara keseluruhan). aktivitas dan investasi apa pada SDM. Jika misi RPJMD dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang program pembangunan daerah lima tahunan yang harus diselenggarakan maka misi RPJPD harus dapat menaungi berbagai tema pembangunan di 4 (empat) tahap pembangunan daerah. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi.35 dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan. 4. Visi Pokokpokok visi (√) Stakeholder Pembangunan Masyarakat Rincian misi Pemerintah Daerah (x) Pelaku Ekonomi (√) Rincian misi Lainnya Rincian (√) misi Misi . kemudian dibuatlah rincian misi. Kriteria suatu rumusan misi: 1. dan bagaimana dana publik dapat terus ditingkatkan kapasitasnya serta efektifitas/efisiensi penggunaannya (financial perspective).C. Dalam suatu dokumen perencanaan. singkat dan lugas dalam menjelaskan bagaimana visi akan dicapai. termasuk pokok-pokok visi dan penjelasan visi. Rumusan misi dalam dokumen RPJPD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis. Perumusan Misi Setelah dibuat visi. peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. kelemahan. Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa rumusan misi di RPJPD berbeda dengan misi RPJMD. sistem/kebijakan.T-II. 3. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi. pokok visi harus diidentifikasi terlebih dahulu stakeholder mana yang menjadi pelaku atau terkena dampak atas pokok visi dimaksud. pemerintah daerah (pelaku organisasi). dan stakeholder pembangunan daerah lainnya. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah. Disusun dengan menggunakan bahasa yang ringkas. sederhana dan mudah diingat.

substansi arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: Gambar. C.. . namun harus tetap mempertahankan substansi. Pengemasan menjadi kalimat misi dapat dilakukan dengan bermacam cara. Penekanan prioritas dalam setiap tahapan berbeda-beda. Lalu.3.3 Visi daerah Misi daerah Sasaran 20 tahun Arah kebijakan lima tahun ke-1 Arah kebijakan lima tahun ke-2 Arah kebijakan lima tahun ke-3 Arah kebijakan lima tahun ke-4 (.7. Secara skematis..1. dan Merumuskan tahapan dan prioritas pembangunan daerah untuk setiap periode RPJMD. Merumuskan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk masing-masing sasaran pokok dalam rangka mencapai masing-massing misi. merupakan langkah awal yang cukup penting guna menggambarkan kondisi agar apa yang diinginkan dengan visi/misi pada akhir periode 20 (dua puluh) tahun dan bagaimana upaya-upaya yang akan dilakukan. tetapi memiliki kesinambungan dari satu periode ke periode lainnya dalam rangka mencapai sasaran pokok tahapan lima tahunan RPJPD. Setelah diketahui stakeholder yang terpengaruh atau berhubungan dengan pokok-pokok visi dan dijelaskan dalam “rincian misi”.G-II. Sebagai contoh.1.7..C. yang mana. Pentahapan dalam RPJPD dijabarkan sesuai dengan periode masa jabatan kepala daerah.36 Visi dan pokok-pokok visi yang telah diperoleh dalam proses penyusunan visi yang dijelaskan pada subbab C. masingmasing sub-misi tersebut pada dasarnya adalah misi.. misi dapat dibuat spesifik setiap pokok visi dengan merangkum masing-masing rincian misinya.) (. Tahapan dan prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan berkaitan dengan pengaturan waktu. c. b.-…. dibuat penjelasan misi dengan menggunakan dasar rincian atau sub-misi yang telah dibuat untuk menjelaskan berbagai hal sehingga misi menjadi mudah dipahami... Selanjutnya. Perumusan Arah Kebijakan Arah kebijakan adalah instrumen perencanaan yang memberikan panduan kepada pemerintah daerah agar lebih terarah dalam menentukan dan mencapai tujuan.) (.-….1 maka pokok-pokok visi disandingkan dengan stakeholder pembangunan yang terpengaruh atau terkait visi tersebut dengan (√) dan dijelaskan sebagai rincian misi kenapa stakeholder tersebut mempengaruhi pokok-pokok misi.. Langkah-langkah penyusunan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah adalah sebagai berikut: a.... Mengidentifikasi sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah yang diturunkan dari masing-masing pernyataan misi daerah yang telah disepakati.-…..) Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Dari gambar diatas tampak bahwa penyusunan sasaran pokok. selanjutnya dibuat pernyataan misinya..) (. Arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah merupakan pedoman untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan lima tahunan selama 20 (dua puluh) tahun guna mencapai sasaran pokok RPJPD bertahap.. Kurun waktu RPJPD sesuai dengan kurun waktu RPJPN 20 (dua puluh) tahun. tiap-tiap misi dibuat sub-misi berdasarkan rincian misi.-….

........ Misi dst …… dst .. Visi 1 ....... ....... Dst .... .................49...... . . Perumusan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah selanjutnya disajikan dalam tabel..... dst ......... sasaran tersebut digambarkan kedalam pembangunan lima tahunan melalui arah kebijakan pembangunan berupa sasaran pokok........................ ........................ ......... ............... Perumusan Sasaran dan Indikator Kinerja No......... Pokok Visi Misi/Sub misi Sasaran pokok Indikator dan target Selanjutnya..........C. Misi dst …… Visi 2 .. ........ Misi 1…… Sasaran Pokok 1 ........ Misi dst …… dst ..... Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah Visi Misi /Sub misi Sasaran Pokok Indikator dan Uraian Target ............. sebagai berikut: Tabel... ...................T-II........................................................ ........ ....... ........ Misi dst …… dst .... .......................... Misi 2…… Sasaran Pokok 2 .... dst ...37 Dengan telah diterjemahkannya tiap-tiap pokok visi ke dalam misi maka berbekal penjelasan masing-masing misi dibuat sasaran pokok dengan mengisi tabel.....................C.... Visi dst... Dst ............................ sebagai berikut: Tabel...................... Dst ......T-II.... ............... .........48.. Arah Kebijakan Pembangunan Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV ...... dst .. dst ...............

......... sasaran dapat diterjemahkan dari beberapa misi. Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Arah Kebijakan Pembangunan dan Sasaran Pokok Indikator Kondisi Awal Kinerja Pembangunan Target Tahap Tahap II III Kondisi Akhir Kinerja Pembangunan Tahap I Tahap IV Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan I 1...... atau sebaliknya........... 2............ Sasaran Pokok 1 …………… Dst .... 4...... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan III 1............ Perumusan sasaran pokok 5 (lima) tahunan dilakukan dalam tahapan lima tahunan secara lebih definitif........ 4... 3.. Dst ...... Secara teknis. Sasaran pokok dan indikator kinerja yang dibuat pada tabel diatas belum dibuat per-lima tahunan........ 3....... Hal yang harus diperhatikan adalah kerangka logis yang harus dibangun bahwa misi dapat sepenuhnya diterjemahkan dalam sasaran.. diwakili dengan pilihan indikator kinerja (beserta target kinerjanya) yang menjelaskan sasaran pokok dimaksud selama 20 (dua puluh) tahun. Hasil rumusan dimaksud selanjutnya disajikan dalam tabel...... 2......C..... akan dicapai tiap tahapannya dalam 5 (lima) tahun..... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan IV 1............... Dst . sebagai berikut: Tabel...... Dst ..................... Dst .... satu misi diterjemahkan dalam beberapa sasaran.... 4.......... Prioritas masing-masing sasaran dapat dipilih mana yang menjadi prioritas utama sesuai urutan waktu yang menggambarkan makna strategis dan urgensi permasalahan sehingga dapat diketahui mana yang harus didahulukan dari yang lain di masing-masing 4 (empat) tahapan 5 (lima) tahun selama 20 (dua puluh) tahun... Penyusunan Sasaran Pokok Lima Tahunan Sasaran 20 (dua puluh) tahunan dalam misi pembangunan jangka panjang daerah dapat diterjemahkan prioritasnya masing-masing pada setiap tahapan pembangunan lima tahunan melalui penetapan sasaran pokok 5 (lima) tahunan...... Arah kebijakan pembangunan pada dasarnya merupakan arahan fokus kebijakan lima tahunan yang diterjemahkan dalam sasaran pokok..... Adakalanya................. Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan II 1..................... satu misi tidak selalu harus diterjemahkan dalam satu sasaran...... 2... berdasarkan arah kebijakan pembangunan.. Perumusan sasaran pokok dari sasaran dilakukan dengan menggunakan arah kebijakan pembangunan lima tahunan sebagaimana dijelaskan pada Error! Reference source not found. maka dibuatlah arah kebijakan pembangunan..... Arah kebijakan pembangunan dalam suatu periode dapat lebih dari satu poin atau kalimat utama.... walau dalam diskusi tim perumus harus sudah digambarkan kemungkinan-kemungkinannya......... Dst ......... 3. Sasaran Pokok 1 …………… Dst ........38 Dari tabel diatas.... Adapun untuk menjembatani bagaimana kinerja 20 (dua puluh) tahun tersebut... suatu sasaran pokok merupakan proses kontinum yang harus selalu diwujudkan dari keseluruhan tahap........50........ Sasaran Pokok 1 …………… Dst .... Dst . yang kerap berupa indikator kinerja yang makin membaik dari tahap .. Suatu arah kebijakan pembangunan harus dapat memberi panduan kapan suatu indikator kinerja sasaran pokok harus dicapai dari empat kemungkinan tahapan yang ada.... 2...... Sasaran Pokok 1 …………… Dst ......... Dst ....T-II.. 3...... Sebagai tambahan............ Dst . di atas. suatu sasaran pokok dibuat pada tiap butir misi untuk menjelaskan fokus dan keterkaitannya...... yang selanjutnya dijadikan pedoman bagi penyusunan visi dan misi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan mengikuti pemilihan umum kepala daerah (pemilukada).......... 4.

7. misi. Karakteristik lain adalah bahwa suatu sasaran pokok dapat menjadi prasyarat (enabler) bagi keberhasilan kinerja (sasaran pokok) lainnya.1. sasaran pokok. Misi. C.4. Tujuan utama penyelenggaraan forum konsultasi publlik adalah penyampaian rancangan visi/misi dan sasaran pokok serta arah kebijakan pembangunan jangka panjang. sesuatu harus diperhatikan dalam perancangan suatu sasaran. Suatu penyelarasan harus didukung bukti yang memadai dari kesepakatan akhir dalam forum konsultasi publik. Kompilasi Hasil Forum Konsultasi Publik No. Penyelarasan Visi. Penyelarasan terhadap draft rancangan awal RPJPD dapat berupa adopsi hasil kesepakatan dalam forum konsultasi publik maupun pembahasan terhadap masukanmasukan dalam forum konsultasi yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut di tingkat tim perumus.51. Visi Materi Masukan/Usulan Tambahan Keterangan Misi Sasaran Pokok Arah Kebijakan Masukan atau kesepakatan forum konsultasi publik dituangkan dalam berita acara kegiatan yang ditandatangani oleh peserta rapat. Hasil penyelarasan. C. Tujuannya adalah untuk menghimpun masukan atau harapan para pemangku kepentingan terhadap visi. Forum konsultasi publik dapat diselenggarakan secara bertahap atau sekaligus dengan melibatkan tokoh atau wakil berbagai elemen masyarakat. termasuk prioritasi tahapan-tahapan pembangunan selama empat tahap pembangunan lima tahunan.C.7. sebagaimana tabel berikut: Tabel.T-II. . digunakan untuk menyempurnakan kertas kerja perumusan sekaligus dijadikan sebagai bahan dan dasar dalam membuat penyajian rancangan awal RPJPD. dicapai pada periode atau tahapan tertentu. dan lain-lain sesuai dengan kemampuan anggaran dan urgensinya.1. dan arah kebijakan..39 ke tahap sehingga target kinerja akhir periode tahun ke-20 dapat dicapai. selanjutnya. Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pelaksanaan forum konsultasi publik dimaksudkan untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan terhadap draft rancangan awal RPJPD. Sementara. pakar. Berbagai masukan dan draft perubahan di kompilasi. sasaran pokok lainnya bersifat spesifik. akademisi. misi dan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan daerah. dan Arah Kebijakan RPJPD Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyelaraskan draft rancangan awal dengan hasil forum konsultasi publik sebagaimana dijelaskan diatas. Penyelarasan dilakukan terhadap muatan visi.5.

Penyajian agar diperkaya dengan teknis presentasi yang baik. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasardasar analisis. 1. alasan mengapa RPJPD ini disusun. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang maksud penyusunan dokumen RPJPD dan tujuan penyusunan dokumen RPJPD bagi daerah yang bersangkutan.2. 3. Dasar Hukum Penyusunan Bagian ini menjelaskan dasar hukum perencanaan pembangunan daerah pada umumnya dan RPJPD pada khususnya sesuai peraturan perundangan dan produk hukum daerah terkait.4. Penulisan rancangan awal RPJPD disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengacu pada hasil kertas kerja pasca tahap perumusan rancangan awal RPJPD. Sistematika Penulisan Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RPJPD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab di dalamnya. 1.2. permasalahan pembangunan daerah. BAB II. termasuk pedoman pengelolaan keuangan daerah.3.. gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. proses penyusunan RPJPD. Hubungan Antar Dokumen RPJPD dengan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah lainnya Bagian ini menjelaskan hubungan RPJPD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. Hanya informasi yang relavan dan penting saja yang perlu dicantumkan untuk mendapatkan fokus yang baik dalam dokumen. Tidak seluruh informasi dalam perumusan tentang gambaran umum kondisi daerah ditampilkan dalam penyajian. dan kebutuhan perumusan strategi. Informasi yang disajikan dapat merupakan keseluruhan bentuk pada tahap perumusan (kertas kerja perumusan) atau sebagian menjadi yang dianggap relevan disajikan. RTRW provinsi. Semua informasi yang disajikan harus berkorelasi dan didukung dengan data yang valid dari kertas kerja perumusan.40 C.1. pilihan yang kata yang sederhana dan mudah dipahami. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum materi rancangan awal RPJPD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. 1. 1. seperti: RPJPN. RPJPD provinsi. Tahap Penyajian Rancangan Awal RPJPD Tahap ini pada dasarnya merupakan penyajian dari apa yang telah dihasilkan dari tahap perumusan kedalam dokumen perencanaan.5. Ketersediaan data gambaran umum kondisi daerah selengkapnya dapat dilihat di Lampiran I Peraturan Menteri ini. Penyajian rancangan awal RPJPD tersebut disusun menurut sistimatika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I. Keterhubungan dengan dokumen lain. . 1. dan RTRW kabupaten/kota. Prinsip-prinsip dalam penyajian adalah: 1. resiko jika RPJPD tidak tersedia dan pendekatan yang digunakan dalam penyusunan. Tidak seluruh informasi yang diolah dari hasilhasil analisis dan pembahasan/kesepakatan disajikan. visi/misi kepala daerah. Bagian ini dijabarkan berdasarkan hasil analisis dan kajian gambaran umum kondisi daerah pada tahap perumusan. Latar Belakang Menjelaskan pengertian ringkas tentang RPJPD. 2. RTRW nasional. Suatu informasi dianggap relevan dan penting jika menjelaskan gambaran umum kondisi daerah yang selaras dan mendukung isu strategis.

G-II. dapat ditampilkan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek pelayanan umum sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.2. sesuai Lampiran I peraturan ini. Berbagai indikator yang telah diolah . atau etnis tertentu. agama. Selanjutnya.4.1. Aspek Geografi dan Demografi Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum daerah bersangkutan. dapat ditampilkan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum geografis mengenai kondisi geografi daerah. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat daerah bersangkutan. dengan mengisi dan menyajikan diagram sebagai berikut: Gambar. potensi pengembangan wilayah. 2. struktur. serta penuaan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.C. kematian. kewarganegaraan. Tabel-tabel atau grafik tertentu yang dianggap relevan. migrasi. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek daya saing daerah sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. dapat dipaparkan pada bab ini. Analisis kependudukan dapat merujuk pada populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. sesuai Lampiran I peraturan ini. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus urusan layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan. Aspek Pelayanan Umum Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. dijelaskan tentang kondisi demografi seperti ukuran. 2. dan gambar yang mendukung setiap potensi kawasan budaya yang dimiliki daerah. Selanjutnya. Aspek Daya Saing Daerah Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan.4 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya Kondisi Geologi Kondisi Klimatologi Kondisi Hidrologi Kondisi Topografi Penggunaan Lahan Letak. Selanjutnya.41 2. Penjelasan perlu dilengkapi dengan kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan potensi pengembangan kawasan budidaya. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.3. Selanjutnya. fokus kesejahteraan sosial. dan wilayah rawan bencana. Penjelasan dapat dilengkapi dengan tabel. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. Luas dan Batas Wilayah Uraian Potensi Pengembangan Wilayah Kondisi Geografis Lainnya Selanjutnya. fokus seni budaya dan olah raga. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. grafik. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran.. 2.

dan fokus sumber daya manusia. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJPD karena menjadi dasar utama perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah. BAB IV.1. penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan dihadapi dalam pembangunan daerah untuk waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang. Oleh karena itu. Visi Sesuai perumusan visi yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan.C. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek daya saing daerah bersangkutan.2. Dalam hal visi diuraikan dalam satu kalimat maka dapat dicontohkan.T-II. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis. walau tetap ada dalam kertas kerja (worksheet) perumusan. Hal terpenting dalam penyajian visi adalah dibuatnya uraian yang jelas tentang apa dan bagaimana visi yang ingin diwujudkan tersebut pada akhir periode perencanaan pembangunan jangka panjang daerah. Dengan demikian permasalahan pembangunan daerah disajikan dengan merujuk pada identifikasi permasalahan pembangunan daerah.42 pada tahap perumusan. 3. fokus iklim berinvestasi.1. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang relevan atau pada akhirnya dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah. Perumusan permasalahan pembangunan dapat dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk uraian kalimat.. Isu-isu strategis yang tidak dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi agar dieliminasi. VISI DAN MISI DAERAH Penyajian visi dan misi dalam dokumen RPJPD sangat penting karena keadaan atau cita-cita yang diinginkan dari hasil pembangunan daerah selama 20 (dua puluh) tahun mendatang akan tergambar. permasalahan-permasalahan pembangunan lain yang tidak diprioritaskan atau menjadi agenda utama rencana pembangunan daerah dalam 20 (dua puluh) tahun kedepan tidak perlu disajikan.43 dituangkan dalam penyajian. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat/pengaruh dimasa datang terhadap daerah. pernyataan visi pada Tabel. Sesuai isu-isu strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan pada Tabel. 3. sebagai berikut: Visi Terwujudnya Kota ABC sebagai pusat industri dan perdagangan terdepan se Jawa Tengah pada tahun 20xx . sesuai Lampiran I peraturan ini. dapat ditampilkan. Pada bagian atau tahap perumusan isu-isu strategis.T-II. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kemampuan ekonomi daerah. Suatu visi dapat berupa satu kalimat atau lebih. kebijakan nasional maupun regional.C. Isu Strategis Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international. fokus fasilitas wilayah/infrastuktur. 4.45 dituangkan dalam penyajian. bagian demi bagian dengan sistematika berurut sesuai urusan yang terpilih atau sesuai jenis permasalahan tanpa mengedepankan urusannya. BAB III.

....................... Indikator keberhasilan suatu pusat perdagangan dan industri untuk (ukuran) Jawa Tengah harus dipaparkan.. dst .............. Misi I... target tersebut memang rasional dapat dicapai. Misi diatas dituangkan dalam bentuk paparan secara sistematis dan penjelasan yang memadai masing-masing misi dengan sub-misi disertai data dan argumentasi yang baik dan jelas.... dst . Dengan asumsi.................... 2: menjamin kemudahan aksesibilitas dan mobilitas ekonomi daerah............ Seperti... Perwujudan Visi 2: Kota ABC sebagai pusat perdagangan terdepan se Jawa Tengah....... Misal................... sebagai berikut: · · Perwujudan Visi 1: Kota ABC sebagai pusat industri terdepan se Jawa Tengah...... pada periode 20 (dua puluh) tahun berikutnya setelah visi diatas dapat dicapai....... Misi II.. .. untuk memberi gambaran yang spesifik dan jelas horizon waktunya bahwa target kota ABC selama 20 (dua) puluh tahun ke depan adalah menjadikan pusat perdagangan dan industri terdepan se Jawa Tengah............. khususnya pada pusat-pusat industri........ dan penjelasan relevan lainnya tentang pokok visi: PUSAT INDUSTRI terdepan se Jawa Tengah dan PUSAT PERDAGANGAN terdepan se Jawa Tengah............................. menggunakan keberhasilan visi pada periode sekarang untuk mendapatkan fokus baru dimasa datang..... menjadi pusat perdagangan dan industri terdepan di pentas nasional.......... 4.... dengan demikian.... termasuk kriteria tentang pusat perdagangan dan industri yang terdepan (atau nomor satu) se Jawa Tengah.................... Misi Sebagai rumusan tentang bagaimana visi diwujudkan dan di sisi lain sebagai komitmen terhadap keseluruhan stakeholders utama pelaku pembangunan daerah..............2. SASARAN DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Bagian ini menjelaskan arah kebijakan pembangunan jangka panjang untuk menjelaskan keterhubungan antara sasaran dengan sasaran pokok dan bagaimana pentahapan pembangunan dilakukan pada tiap lima tahunan selama 4 (empat) periode. Kota ABC sebagai pusat industri terdepan se jawa tengah........... Rasionalitas tentang dipilihnya pokok visi dapat ditambahkan untuk memberikan kejelasan.........C.. visi tidak lagi sama............. atau tetap dengan fokus yang sama tapi ditingkatkan target keunggulannya... 1: ............ Kota ABC sebagai pusat perdagangan terdepan se jawa tengah Misi II.........T-II................43 Dengan pernyataan visi sebagaimana dicontohkan diatas maka dalam penyajian visi harus dijelaskan tentang makna....... Tabel..... BAB V... 2:. 3: .. Misi II. Visi sebagaimana contoh diatas harus dijelaskan................ Masingmasing misi dapat disajikan sub-misi dan penjelasan yang memadai bagaimana maksud dan arah dari masing-masing misi..... misi harus disajikan dengan teknik penulisan yang mampu menjelaskan hubungan yang erat dengan visi dan bahwa misi cukup lengkap untuk menaungi berbagai jenis agenda pembangunan yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran pokok... Sesuai kriteria. Misi I. kriteria........ Dari pernyataan visi diatas kita dapat melakukan pemilahan menjadi perwujudan visi....... Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Daerah Visi Misi Misi I............. 3: Menciptakan nilai tambah produk dengan basis teknologi tepat guna dan bahan baku lokal yang lebih murah......52. 1: menciptakan dan memperbaiki sentra-sentra industri dan produk unggulan.....

1. dan target . c. Penetapan sasaran pokok harus mengacu pada arah kebijakan pembangunan periode berkenaan.. Arah pembangunan lima tahunan ke III Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap ketiga RPJPD.1. daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas 5.2. indikator. 3.. Arah pembangunan lima tahunan ke II Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap kedua RPJPD.. Arah Pembangunan Lima tahun I.. Arah pembangunan lima tahunan ke I Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap pertama RPJPD..... 1... Sasaran menjelaskan target dari capaian pembangunan jangka panjang pada akhir tahun ke-20.. Suatu sasaran harus dapat menjelaskan keterhubungannya dengan visi/misi dan menunjukkan indikator kinerja beserta target masing-masing.. Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Suatu sasaran pembangunan jangka panjang pada dasarnya adalah kuantifikasi visi dan misi pada akhir periode tahun ke-20 (dua puluh). indikator. Arah Pembangunan Lima tahun III..3.3.. Sasaran dst…… Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. Sasaran Pokok. Arah pembangunan lima tahunan ke IV Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap keempat/terakhir RPJPD.. 2..1. ………………………………………………………………………………………... Sasaran 3.... Sasaran 1... indikator.. 4. Sasaran Pokok..1... a. Sasaran Pokok. Arah Pembangunan Daerah Pada tahap ini berisi tentang pentahapan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan selama 20 (dua puluh) tahun guna mencaapai sasaran pokok tahapan lima tahunan RPJPD.... 2....1.... 3............ Penuangan sasaran dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 5.... 5..... Sasaran Pokok. Sasaran 2. Dst.. b. Dst. Arah Pembangunan Lima tahun II... indikator. Sasaran Pokok... 2...1... ……………………………………………………………………………………….. dan target . 5.44 5.... Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun... ……………………………………………………………………………………….1. Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.4. dan target ..... dan target . 5. ... 1.2... 3. 5.. dan target . Sasaran pokok Pada bagian ini diuraikan sasaran pokok terkait beserta indikator dan capain target tiap-tiap. 1.. Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.. indikator......

.. Menyiapkan fasilitator dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.... D.. sekurang-kurangnya mencakup hasil analisis isu-isu strategis daerah. 2... .. sebelum musrenbang RPJPD dilaksanakan. penyusunan RPJPD serta penjelasan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan materi yang akan dibahas didalam musrenbang RPJPD.. Dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain: 5.. Mempublikasikan seluas-luasnya melalui sarana publikasi yang tersedia terhadap pokokpokok materi RPJPD yang akan dibahas dalam musrenbang RPJPD.. KAIDAH PELAKSANAAN RPJPD merupakan penjabaran dari visi..... b. 4... Dst.. indikator. Tujuan musrenbang RPJPD yakni untuk mendapatkan masukan dan komitmen para pemangku kepentingan pembangunan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJPD. dan arah kebijakan daerah.. dan target . Penentuan narasumber disesuaikan dengan kompetensi. Persiapan musrenbang RPJPD. BAB VI... dan target . 3.. Arah Pembangunan Lima tahun IV.. misi. dan Penyelenggaraan musrenbang RPJPD..1. 2.. 7. dan target .. Pada bagian ini diuraikan langkah-langkah pelaksanaan dari visi misi dan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD.... b. 6. Menyiapkan narasumber dengan memperhatikan antara lain: a... tata tertib pelaksanaan ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. 8.... 1. tempat. rumusan visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.. Untuk optimalisasi pelaksanaan musrenbang RPJPD. Menghimpun saran dan tanggapan dari masyarakat terhadap pokok-pokok materi dari hasil publikasi. dan agenda musrenbang RPJPD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJPD Musrenbang RPJPD merupakan forum musyawarah antara para pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati rancangan awal RPJPD.. c. d...45 2. indikator. Bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas. Memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memimpin diskusi kelompok. D.... Untuk musrenbang RPJPD provinsi dapat mengundang akademisi.. Mengumumkan secara terbuka jadual. Sasaran Pokok.. pimpinan DPRD atau pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. 3. 2. 1.. Penyiapan pokok-pokok materi yang akan dipublikasikan. Menyajikan/memaparkan berbagai kebijakan menjadi acuan.. Musrenbang RPJPD dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : 1... Sasaran Pokok. Menyiapkan materi bahasan dalam musrenbang RPJPD.. 3. Musrenbang RPJPD dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya RPJPD periode sebelumnya.. Dst. Sasaran Pokok... Persiapan Musrenbang RPJPD Menyusun jadwal dan agenda musrenbang RPJPD. indikator.

Pembagian kelompok dan anggota kelompok diskusi mempertimbangkan keseimbangan keterwakilan dari setiap unsur yang hadir (pembagian anggota kelompok diskusi disesuaikan berdasarkan absensi/daftar hadir). pimpinan dan anggota DPRD provinsi. Musrenbang RPJPD provinsi terdiri dari Gubernur dan wakil Gubernur. tokoh masyarakat. 3. akademisi. mencakup tata tertib sidang/diskusi dan kriteria penajaman sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.2. kepala SKPD provinsi. Untuk RPJPD kabupaten/kota dapat mengundang akademisi. . 5. 4. a. Dapat dibagi berdasarkan misi atau gabungan dari beberapa misi. Tanggapan peserta atas materi yang dipaparkan. antara lain sebagai berikut: 1. b. Pemaparan materi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. 9. c. Penajaman visi dan misi daerah. 10. Penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk mencapai visi dan misi daerah. tokoh masyarakat. serta pejabat kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. Penyelenggaraan musrenbang RPJPD dilaksanakan guna membahas dan menyepakati rancangan awal RPJPD. 2. 2. kepala SKPD kabupaten/kota. pimpinan DPRD kabupaten/kota atau pejabat provinsi dan dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. dan Membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk memedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah. membahas dan menyepakati rancangan RPJPD antara lain mencakup: 1. Susunan acara pelaksanaan musrenbang RPJPD. Penyelenggaraan Musrenbang RPJPD b. Penjelasan panitia penyelenggara secara umum atau informasi penting lainnya terkait . Bupati dan Walikota serta Kepala Bappeda kabupaten/kota. kepala instansi vertikal di provinsi.46 d. Merancang pembagian kelompok diskusi dan kriteria penajaman visi.. LSM/ormas. Klarifilasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang daerah. Pemaparan materi rancangan RPJPD. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor. Penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. Rapat Pleno I a. Jumlah kelompok diskusi dan fasilitator serta narasumber dapat disesuaikan dengan kebutuhan. 3. Mengundang calon peserta musrenbang RPJPD meliputi: a. dan Musrenbang RPJPD kabupaten/kota terdiri dari Bupati dan wakil Bupati/Walikota dan wakil Walikota. Pemaparan rumusan visi dan misi daerah. Pembagian kelompok diskusi memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 11. LSM/ormas. antara lain: 1) 2) 3) Isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah. b. Menyusun pedoman penyelenggaraan musrenbang RPJPD termasuk panduan diskusi kelompok. D. Pemaparan arah kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. akademisi. Acara pembukaan musrenbang RPJPD diisi dengan penyampaian sambutan dari pejabat yang diundang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus acara peresmian pembukaan musrenbang RPJPD oleh kepala daerah. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor serta pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. 12. misi dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Kepala Bappeda provinsi dan kabupaten/kota. c.

.. untuk membahas materi rancangan RPJPD....... Tanggapan dan saran dari seluruh peserta musrenbang jangka panjang daerah terhadap materi yang dipaparkan baik pada sidang pleno maupun dalam sidang kelompok....... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap visi dan misi daerah........... KETIGA KEEMPAT KELIMA Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya. tanggal.............. dengan contoh format sebagai berikut: a..... b. Rapat Pleno II Pemaparan hasil kelompok diskusi musrenbang RPJPD..47 dengan pelaksanaan diskusi kelompok musrenbang RPJPD........ mendengar dan mempertimbangkan : a............ f........... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini...*) Tahun ............ 4... c..... Sambutan-sambutan yang disampaikan oleh ............... b....... : Sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah Provinsi/Kabupaten/Kota . Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD..............*) Tahun...... musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota .........-..... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJPD terhadap tahapan dan prioritas jangka panjang daerah...........sampai dengan tanggal.... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini....... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini. Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD beserta lampirannya terdiri dari: a.......*) Pada hari. Pemaparan materi lainnya (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan).... maka pada: Hari dan Tanggal : .. (dijelaskan secara berurutan pejabat yang menyampaikan) pada acara pembukaan musrenbang RPJPD..... bulan... .................. : Berita acara ini beserta lampiran dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota.......... Rangkuman hasil rapat pleno I dan pleno II musrenbang RPJPD selanjutnya di rumuskan ke dalam rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD oleh tim perumus yang dipimpin oleh Kepala Bappeda..... .. tanggal …... Tempat : ... tahun. Jam : ......* ): MENYEPAKATI KESATU KEDUA : Visi dan Misi Daerah dalam RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota ................ visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah oleh ............. e........ . : Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota.*) Tahun ....*) Tahun ..... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini............*)Tahun ............... 6...... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah....-... Pemaparan analisis isu-isu strategis daerah... d...... c.................... . : Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rancangan awal RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota........ telah diselenggarakan musrenbang RPJPD yang dihadiri para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam I berita acara ini..... 7. Setelah memperhatikan.............-. Format Rancangan Berita Acara Kesepakatan Hasil Musrenbang RPJPD RANCANGAN BERITA ACARA KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJPD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ................. Diskusi kelompok musrenbang RPJPD.. Daftar hadir peserta musrenbang RPJPD.......... dan Kesepakatan hasil sidang kelompok musrenbang RPJPD. d... 5....

.. Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Visi dan Misi Daerah LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II.. No 1... Dst...... *) Tanggal : . 4........... 3. 4. Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal: ...... Tempat : ...1.. 2... 3. Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Visi dan Misi Daerah Tahun .... 1.. Format Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJPD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Daftar hadir peserta musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota ..48 - Pimpinan Sidang Tanda tangan ( Nama) Mewakili peserta musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota.. Tempat : .. Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan Catatan : *) Coret yang tidak perlu b.D......... Visi Misi 1 Misi 2 Misi 3 Misi 4 Misi .*) No.....-.. Tanda tangan c....... 5......... 2.. 5.. dst… Nama Lembaga/Instansi Alamat & no Telp..........

......... ...............-….........-…...... Sasaran 1 ..... Tempat : ..... 2................. Misi Daerah Misi1 ... ........... ............... LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II..-….................. Sasaran 2 ........) Tahapan lima tahun ke-3 (... ..........) Tahapan lima tahun ke-4 (. Arah Kebijakan Pembangunan .................... Tahapan lima tahun ke-2 (.. ........................... Dst ....... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal : ..... Arah Kebijakan Pembangunan ....) Tahapan lima tahun ke-3 (....................... 1.... ............) · · · · · · · · · · · · dst Sasaran Pokok · · · · · · · · · · · dst dst dst · · · · · · · · · · · dst dst dst Sasaran Pokok · · · · · · · · · · · · ............. Misi................... ..... Tahapan Tahapan lima tahun ke-1 (............D... ... ................ Arah Kebijakan Pembangunan ......... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah... ............ Tempat : ... ...3.-…....... ....... .................. 2.. .......-…....... e................D...................... Misi 2 ....) ...-….............. 2................................ 2.................-…......................... ......... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal : ... ....2.. . Sasaran 2 ..........-….......... ....................) Tahapan lima tahun ke-4 (.. ...... 1.......... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II. ... 1............ 1........) Tahapan lima tahun ke-2 (....) Misi dst.. ....... ........ .... ... .......49 d. Tahapan Tahapan lima tahun ke-1 (... Sasaran Pokok Sasaran 1 .

...5................ 1.) · · · dst · · · Tahapan lima tahun ke-3 (.. Misi. Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota......-….. · · · dst · · · ..............................) · · · dst · · · .... ... Tahapan · Tahapan lima tahun ke-1 (...*)............D... Tabel T-II.... .... ................... ............. .... Arah Kebijakan Pembangunan 1... ......... sasaran pokok dan Arah Kebijakan Misi Daerah Misi1 ... Format Kesepakatan Hasil Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Kesepakatan Hasil Sidang Kelompok .... ...... 1.) · · dst · No.......-….................. ................ Dst............. 2.............) Sasaran Pokok Arah Kebijakan Pembangunan · · .......4... 3.....-….. SARAN/REKOMENDASI SIDANG KELOMPOK ..... 2.................. Tahapan lima tahun ke-4 (. Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah Misi. ..... Pokok bahasan : Misi ..D............ .. Sasaran 2 .......... . Sasaran Pokok Sasaran 1 ..... Tahapan lima tahun ke-2 (.........-…....50 - f.... Tabel T-II.... 2........

dan 10.... 2. 2. No. sinkronisasi dan sinergi. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD Rancangan akhir RPJPD dirumuskan berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. Rapat Pleno III Pembacaan rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD dan pengambilan keputusan.. 4... Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD yang telah ditandatangani beserta lampirannya dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJPD menjadi rancangan akhir RPJPD.. surat Gubernur perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. 5.1..Konsultasi Rancangan Akhir RPJPD 1.... 1. E. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD yang telah disetujui dalam rapat Pleno III.. Kepala Bappeda menyiapkan surat kepala daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD sebagai berikut: a. Konsultasi rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada gubernur untuk memperoleh saran pertimbangan dari landasan hukum penyusunan. 4. Dalam surat permohonan konsultasi diberitahukan pokok-pokok substansi materi yang perlu dikonsultasikan dan dilampiri dengan dokumen rancangan akhir RPJPD beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD serta hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah. sistematika dan teknis penyusunan.... sistematika dan teknis .*) Tahun .. Konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri bertujuan untuk untuk memperoleh saran pertimbangan dari landasan hukum penyusunan.51 . 3. Rancangan akhir RPJPD yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan hasil musrenbang RPJPD...... Rancangan akhir RPJPD yang telah disempurnakan selanjutnya diajukan kepada kepala daerah untuk meminta persetujuan dikonsultasikan kepada Menteri Dalam Negeri terhadap rancangan akhir RPJPD provinsi dan kepada gubernur terhadap rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota.... ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang RPJPD. dst… Nama Lembaga/instansi Jabatan Dalam Sidang Kelompok Tanda Tangan 8... (nama daerah) (Tanggal/Bulan/Tahun) Anggota Sidang Kelompok. RTRW provinsi dan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD provinsi. b. 9. dengan RPJPN.. dan surat Bupati/Walikota perihal konsultasi rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada gubenur.. Surat kepala Daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sebelum konsultasi dilakukan.. 3. Setelah rancangan akhir RPJPD mendapatkan persetujuan dari kepala daerah untuk dikonsultasikan kepada Menteri/Gubernur.. Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota.... E.-..

sistematika penyajian rancangan akhir RPJPD. E. Hubungan Antar Dokumen RPJPD dengan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah lainnya Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. dan Bupati/Walikota menindak lanjuti hasil konsultasi rancangan RPJPD kabupaten/kota dengan Gubernur. RPJPD provinsi.1..5.4. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.Penyempurnaan Rancangan Akhir RPJPD Berdasarkan Hasil Konsultasi. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Dengan demikian. RTRW kabupaten/kota serta RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya.1. . 1. 2. sinkronisasi dan sinergi. 1. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.52 penyusunan. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1. E.3. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan akhir RPJPD sebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan akhir RPJPD.3. 2. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1.2. Tindak lanjut dimaksud yaitu menyempurnakan rancangan akhir RPJPD berdasarkan hasilhasil konsultasi yang disampaikan dengan surat Menteri Dalam Negeri/Gubernur. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota.Melengkapi Sistematika Rancangan Awal RPJPD Menjadi Rancangan Akhir RPJPD Penyajian rancangan akhir RPJPD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota . Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. dengan RPJPN. Gubernur menindak lajuti hasil konsultasi RPJPD Provinsi dengan Menteri Dalam Negeri. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. 2.

4. 4. 5.. BAB IV VISI DAN MISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VI KAIDAH PELAKSANAAN Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. . Misi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2.3. Visi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.4.1. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1.1. Tahapan dan Prioritas Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. Sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk masing-masing misi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 4. 5. BAB III ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 3.53 2. 3.

2. 5. MENTERI DALAM NEGERI. Peraturan daerah tentang RPJPD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan untuk dievaluasi dan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota. paling lama 6 (enam) bulan sebelum RPJPD yang sedang berjalan berakhir.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan. 4.. Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD disertai dengan rancangan akhir RPJPD yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri/Gubernur disertai dengan: a. Kepala daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan b. surat Menteri Dalam Negeri/Gubernur perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD. disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. 3. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJPD 1. Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan RPJPN.54 F. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt.

TATA CARA PENYUSUNAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU III) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN.

PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJMD . BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD B. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD D.LAMPIRAN III : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD E. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD C. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJMD G. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJMD F.

Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. misi. G-III. misi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan Perda tentang RPJMD RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.visi. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD GAMBAR. · visi.-2A. MISI dan Program KDH Persiapan Penyusunan RPJMD Provinsi Pengolahan data dan informasi Penelaahan RJPMN dan RPJMD Provinsi lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Pembahasan Rancangan Akhir RPJMD Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah provinsi Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Penyusunan SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Verifikasi Rancangan RENSTRA SKPD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJMD Persetujuan Rancangan akhir RPJMD oleh Gubernur Konsultasi rancangan akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD Mendagri Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Provinsi & RTRW Provinsi lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD Provinsi Penyajian Rancangan RPJMD Penetapan Perda tentang RPJMD Provinsi Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD Analisis Gambaran umum kondisi daerah provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. misi. misi.A.visi. Rancangan Awal Renstra SKPD VISI.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJMD Provinsi PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG RPJMD PENETAPAN RPJMD Rancangan Perda ttg RPJMD beserta Rancangan akhir RPJMD Provinsi Telaahan terhadap RPJPD Provinsi Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan . tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.

tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan Perda tentang RPJMD RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. misi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan . · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. G-III. · visi.A. misi. misi. RPJMD Provinsi dan RPJMD kab/ kota lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Kabupaten/Kota Persiapan Penyusunan RPJMD Kab/ Kota Pengolahan data dan informasi Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah Kabupaten/Kota Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. Rancangan Awal Renstra SKPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJMD Penyusunan SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Verifikasi Rancangan RENSTRA SKPD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJMD Persetujuan Rancangan akhir RPJMD oleh Bupati/Walikota Konsultasi rancangan akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD ke PemProv Penetapan Perda tentang RPJMD kabupaten/kota Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/ Kota & RTRW Kab/Kota lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota Penyajian Rancangan RPJMD Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD Analisis Gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. misi.visi.-3GAMBAR. Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJMD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG RPJMD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD PENETAPAN RPJMD Rancangan Perda ttg RPJMD beserta Rancangan akhir RPJMD Kabupaten/ Kota Telaahan terhadap RPJPD Kabupaten/ kota VISI. MISI dan Program KDH Penelaahan RJPMN.visi.

2. tim penyusun RPJMD sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja (pokja). Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota.1. : Sekretaris Daerah : Kepala Bappeda : Pejabat Pengelola Keuangan Daerah : Sekretaris Bappeda : Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan. Pembagian tersebut dapat berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). Bahan orientasi mengenai RPJMD. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RPJMD dan penyusunan anggaran. Pembentukan Tim Penyusun RPJMD Kegiatan pembentukan tim penyusun RPJMD dimulai dari penyiapan rancangan Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. pengelolaan keuangan daerah. Peraturan perundang-undangan. Tugas tim penyusun RPJMD dijabarkan ke dalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan peraturan daerah tentang RPJMD. Penyusunan Agenda Kerja Tim RPJMD. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJMD. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. sistem perencanaan pembangunan nasional. 2. Rencana kegiatan tim penyusun RPJMD disusun kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari persiapan hingga ditetapkannya rancangan peraturan daerah tentang RPJMD. Tim penyusun dipersiapkan oleh bappeda dan diusulkan kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan dengan keputusan Kepala daerah. Orientasi mengenai RPJMD Orientasi mengenai RPJMD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. Susunan keanggotaan tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. B. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. teknis penyusunan dokumen RPJMD. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RPJMD. 3.3. untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundang-undangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD Tahapan persiapan penyusunan RPJMD dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan kegiatan penyusunan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. B.-4B. mencakup: 1. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. tahapan tata cara penyusunan. . Susunan keanggotaan tim penyusun RPJMD sekurang-kurangnya sebagai berikut : Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Kelompok kerja/Anggota B. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah. pemerintahan daerah. antara lain: tentang keuangan negara.

5. 1. F 1. 3. 4. 2. dalam penyusunan RPJMD perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat dan relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. 1. Untuk itu. Pengumpulan data dan informasi tersebut dilakukan dengan langkah-langkah. B. 2. sebagai berikut: . 2. 1 2 C.1.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RPJMD adalah sebagai berikut: Tabel T-III. 3. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting dalam perumusan rencana yang akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang disusun. Contoh Agenda Kerja Penyusunan RPJMD Bulan I NO A. G 1. D. dan Penyusunan agenda kerja RPJMD Pengumpulan data dan Informasi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD Pengajuan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah & indikasi program prioritas disertai kebutuhan pendanaan Pembahasan dan kesepakatan PENYIAPAN SURAT EDARAN KDH PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD Penyampaian rancangan renstra SKPD Verifikasi rancanganrestra SKPD MUSRENBANG RPJMD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan musrenbang RPJMD Perumusan hasil musrenbang RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan rancangan akhir RPJMD Pembahasan rancangan akhir RPJMD dengan SKPD dan Kepala daerah Penyampaian rancangan akhir RPJMD untuk persetujuan Kepala daerah Konsultasi rancangan akhir RPJMD Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD berdasarkan hasil konsultasi PENETAPAN PERDA RPJMD Penyampaian rancangan perda tentang RPJMD kepada DPRD Pembahasan rancangan perda tentang RPJMD bersama DPRD Persetujuan bersama perda tentang RPJMD oleh DPRD dan Kepala daerah Penyampaian peraturan daerah tentang RPJMD provinsi kepada menteri dan peraturan daerah tentang RPJMD kabupaten/kota kepada Gubernur H B.B.4. Orientasi. Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Bulan II Bulan III Bulan IV Bulan V Bulan VI PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD Pembentukan tim. 1 2 E. 3. 2.

2. Penyajian rancangan awal RPJMD. 2. Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RPJMD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. dan yang akurat dari sumber-sumber yang dapat Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis.2 dibawah ini: Gambar. c.G-III. Data statistik sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir. RPJPD kabupaten/kota. Pembahasan dengan SKPD Provinsi Analisis Gambaran umum kondisi daerah Provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Penyelarasan Progran Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan . RPJMD provinsi. C. Perumusan rancangan awal RPJMD.G-III.-61. untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota.C. untuk penyusunan RPJMD provinsi. 3.visi. RPJPD provinsi. misi. Tahapan penyusunan rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD Penyusunan rancangan awal RPJMD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJMD yang dilakukan melalui dua tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan.G-III. 4. dan 2. mencakup: 1. b. Hasil evaluasi RPJMD periode lalu. Mengumpulan data/informasi dipertanggungjawabkan. MISI dan Program KDH Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Penjelasan visi dan misi Penelaahan RPJMN & RPJMD provinsi lainnya Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Pengolahan data dan informasi Hasil evaluasi capaian RPJMD Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah Provinsi Penelaahan RTRW Provinsi & RTRW Provinsi lainnya Perumusan Tujuan dan Sasaran Penetapan Indikator Kinerja Daerah Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.C. RTRW kabupaten/kota. Kebijakan pemerintah yang terkait. Dokumen-dokumen: a. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen RPJMD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. masing-masing dapat dilihat pada Gambar. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. antara lain: 1. Peraturan perundang-undangan yang terkait. 3.1 dan Gambar. RTRW provinsi. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang perlu dikumpulkan dalam menyusun RPJMD.C.1 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Provinsi Telaahan terhadap RPJPD Provinsi Persiapan Penyusunan RPJMD Provinsi VISI.

1.-7- Gambar. Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. 14. 2. Penetapan Indikator Kinerja Daerah. 3. Pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. 6. Penelaahan RPJMN dan RPJMD provinsi lainnya. Pelaksanaan forum konsultasi publik. Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. 16. Analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. 11. 8. MISI dan Program KDH Penelaahan RJPMN. Analisis Gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan C. Penelaahan RPJPD provinsi. 9. a. 12. Pengolahan data dan informasi. 17. Tersusunnya rancangan awal RPJMD sangat strategis untuk mengarahkan penyusunan rancangan Renstra SKPD dan berfungsi sebagai koridor perencanaan pembangunan indikatif selama 5 (lima) tahun yang disusun menggunakan pendekatan teknokratis dan partisipatif.visi. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah provinsi. Tahap Perumusan Rancangan Awal RPJMD Perumusan isi dan substansi rancangan awal RPJMD sangat menentukan kualitas dokumen RPJMD yang akan dihasilkan. Perumusan rancangan awal RPJMD provinsi dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: 1.G-III. Perumusan penjelasan visi dan misi. dan Penyelarasan program prioritas dan kebutuhan pendanaan. 4. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). . Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah provinsi. Perumusan tujuan dan sasaran. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. Pembahasan dengan SKPD provinsi.2 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Kabupaten/kota Telaahan terhadap RPJPD Kabupaten/ kota VISI. RPJMD Provinsi dan RPJMD kab/ kota lainnya Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Kabupaten/Kota Persiapan Penyusunan RPJMD Kab/ Kota Pengolahan data dan informasi Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah Kabupaten/Kota Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/ Kota & RTRW Kab/Kota lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD kabupaten/ kota Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan RPJMD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen). 5. 18. 10.C. misi. 7. Penyusunan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Perumusan strategi dan arah kebijakan. 13. 15.

Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. 8. seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. Penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. dan RPJMD kabupaten/kota lainnya. dan Penyelarasan program prioritas dan kebutuhan pendanaan. bisa dalam bentuk grafis maupun dalam bentuk tabel. bahan paparan (slide atau white paper). 11. 12. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah dimaksud mencakup data dan informasi gambaran umum kondisi daerah serta data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah. Pelaksanaan forum konsultasi publik. Untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang disiapkan. C. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan awal RPJMD.1. 16. Perumusan rancangan awal RPJMD kabupaten/kota dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. 2. Perumusan penjelasan visi dan misi. aspek pelayanan umum.1. RPJMD provinsi. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan hasil analisis. Penyusunan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. 18. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian hampir diseluruh lingkungan. 15. Pengolahan data dan informasi. resume/notulen-notulen pertemuan. maka dilingkungan SKPD perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran betapa pentingnya data dan informasi utamanya untuk penyusunan rencana pembangunan daerah. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah kabupaten/kota. 13. 17. sistematis. Perumusan strategi dan arah kebijakan. Pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota. maka berikut ini akan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJMD Provinsi dan Kabupaten/kota yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. Analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. tim penyusun harus menyusun terlebih dahulu hasil pengolahan data dan informasi yang diperlukan kedalam kertas kerja (worksheet).-8- b. 5. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. menjadi informasi yang lebih terstruktur. 10. 3. hasil riset dan lain-lain. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan RPJMD. 14. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus ditugaskan bertanggungjawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. dan aspek daya saing daerah. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah harus dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografi dan demografi. 6. aspek kesejahteraan. tetapi kegiatan ini harus berlangsung terus menerus setiap hari (kontinyu). Perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. Tidak semua data dan informasi dapat disajikan dalam dokumen RPJMD. 9. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis yang digunakan sebagai bahan analisis guna memberikan perkembangan tentang gambaran kondisi umum daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. Pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. Perumusan tujuan dan sasaran. 4. karena tergantung pada urgensi data dan informasi apa saja yang paling signifikan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan sistematika penulisan RPJMD yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. . Berdasarkan penjelasan di atas. 7. Penelaahan RPJPD kabupaten/kota. Penelaahan RPJMN. Penetapan Indikator Kinerja Daerah.

Rencana jaringan transportasi. Dalam pengumpulan hasil pengolahan data dan informasi pembangunan daerah yang dibutuhkan untuk menganalisis objek/aspek pembangunan daerah. dengan cara: 1. dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau instansi pemerintah pusat yang membina keuangan daerah. Selain itu. sebelum masa RPJMD yang direncanakan. C. Sumber data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah diperoleh dari: 1. Telaahan terhadap rencana struktur ruang meliputi: a. Dalam kaitan itu. Penelaahan RTRW Tata ruang merupakan perwujudan dari struktur ruang dan pola ruang. belanja daerah. validitas dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. pembiayaan daerah dan neraca daerah. C. diperlukan kegiatan penelaahan RTRW untuk menjamin agar arah kebijakan dalam RPJMD selaras dengan. dari anggota tim penyusun RPJMD yang berasal dari Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). Oleh karena itu. aspek kesejahteraan masyarakat. e. Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis.1. perlu memperhatikan tingkat urgensi data dan informasi keuangan daerah yang dibutuhkan. Rencana sistem jaringan sumber daya air Menelaah rencana pola ruang Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya. atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW. Data dan informasi yang diolah sekurang-kurangnya memberikan gambaran tentang perkembangan selama 5 (lima) tahun terakhir.1.1. c. Rencana sistem perkotaan. Data dan Informasi Gambaran Umum Kondisi Daerah Data dan informasi yang berhubungan gambaran umum kondisi daerah mencakup data kondisi geografi dan demografi. berupa: Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). dan b. Peta rencana struktur ruang. tenaga dan biaya dalam pengumpulan data dan informasi yang tidak bermanfaat untuk keperluan analisis. grafik. sekurang-kurangnya mencakup data 5 (lima) tahun terakhir.2. 2. dan 2. Rencana jaringan energi. . penyusunan RPJMD harus berpedoman pada RTRW. C.1.1. Hal ini guna menghindari tersitanya waktu. data dan informasi keuangan daerah yang digunakan.1.2.1. dan f. Telaahan terhadap rencana pola ruang. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah provinsi dan kabupaten/kota. b. Rencana jaringan telekomunikasi.2. d. Pengolahan data dan informasi pembangunan daerah yang dibutuhkan. peta dan sebagainya. Penelaahan RTRW dan RTRW Daerah Lainnya Perencanaan pembangunan daerah pada prinsipnya bertujuan mengintegrasikan rencana tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan daerah. Menelaah rencana struktur ruang Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.1. berupa: APBD dan realisasi APBD. Data primer. Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 5 (lima) tahun mendatang berikut asumsi-asumsinya.-9C. yang dapat disajikan secara deskriptif atau dalam bentuk tabel. hendaknya memiliki tingkat keakurasian. Data sekunder. meliputi: a. Data dan Informasi Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah mencakup data pendapatan daerah. Rencana kawasan lindung.

.....T-III......C...1 dan Tabel.. b....... Telaahan terhadap indikasi program pemanfaatan meliputi: Provinsi a. dan c....C........ dan e.. Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kabupaten...........*) Rencana Pentahapan Pemanfaatan Struktur Ruang sesuai RTRW No (1) Rencana Struktur Ruang (2) Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) Lokasi (4) Waktu pelaksanaan Lima tahun ke-I (5) Lima tahun ke-II (6) Lima tahun ke-III (7) Lima tahun ke-IV (8) I....... Menelaah program pengembangan wilayah kota....... I.. Dst…. Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota... Menelaah program pengembangan wilayah kabupaten...2 V..... Dst… Rencana jaringan energi ...1 I..2 sebagai berikut: Tabel.......... Dst… Rencana sistem jaringan sumber daya air .... Dst….. Menelaah program pembangunan sektoral wilayah provinsi. Kota: a.... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... b......T-III. II.... b........10 3. d. Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota....1 II...1 III.. Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan...... Kabupaten a.... c.. Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kota... c...... . Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kabupaten.........1 IV...T-III........ melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu.......2 Rencana pusat permukiman .... d.......... IV... Rencana jaringan telekomunikasi ...... Menelaah program pengembangan wilayah provinsi.....C..2 II...2 IV... V. Menelaah indikasi program pemanfaatan ruang Program pemanfaatan ruang adalah program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif... Hasil telaahan struktur ruang dan pola ruang provinsi dan kabupaten/kota dapat disusun kedalam Tabel............... III. dan e.. Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kota....... Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah provinsi..2 III...... Dst… Rencana jaringan transportasi .1 Tabel Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota ... Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan...............1 V..

Sedangkan gambaran kondisi demografi.. komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu pada provinsi/kabupaten/kota........ Gambaran umum kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam merencanakan pembangunan....... Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi. terutama yang berdekatan atau yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan provinsi dan kabupaten/kota dan atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah........ Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota....T-III..... ..... II............1........... antara lain mencakup perubahan penduduk....C... pada setiap kecamatan di wilayah masing-masing... dan kerentanan wilayah terhadap bencana.. juga perlu memperhatikan RTRW daerah lain agar tercipta sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi/antarkabupaten/kota serta keterpaduan struktur dan pola ruang dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya........ sedangkan untuk kabupaten/kota... maka dalam menganalisis gambaran umum kondisi daerah. Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan pemahaman awal bagi tim tentang apa....... (2) Rencana kawasan lindung . selain berpedoman pada RTRW daerah sendiri..2.... Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama..... C. 1.... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota........ (3) Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis .. baik dari aspek geografi dan demografi.. Mengingat perbedaan dari karakteristiknya.... Secara rinci analisis geografi daerah untuk provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan antara lain terhadap: ... Penelaahan RTRW Daerah Lainnya Dalam menyusun RPJMD.. C.......2 Dst ...2 Dst ...... bagaimana..3..... harus disesuaikan dengan struktur kewenangan dan tingkatan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten/kota..*) Rencana Pentahapan Pemanfaatan Pola Ruang sesuai RTRW No Rencana Pola Ruang Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program Waktu pelaksanaan lokasi lima tahun ke-I (4) (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) (1) I....2 Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota .. yaitu aspek kesejahteraan masyarakat...........11 Tabel.....1.... dan/atau mengidentifikasi faktor-faktor atau berbagai aspek yang nantinya perlu ditingkatkan untuk optimalisasi pencapaian berhasilan pembangunan daerah provinsi dan kabupaten/kota.. II..1 II......... ...... potensi pengembangan wilayah... I. dan sejauh mana keberhasilan pembangunan daerah yang dilakukan selama ini... serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya........1 I...2. merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota... Aspek Geografi dan Demografi Analisis pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah.... aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah....

abrasi. c. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota. pertanian. 3) Topografi. dan b) Potensi. dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator pertumbuhan PDRB.. kebakaran hutan.12 a. dan c) Debit. indeks gini. b. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. c) Suhu. c) Kondisi/kawasan. serta penuaan. agama. industri. antara lain terdiri dari: a) Tipe. dan b) Kawasan lindung. laju inflasi provinsi. kematian. tsunami. antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya. antara lain terdiri dari: a) Daerah aliran sungai. PDRB per kapita. (2) Terpencil. pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah. mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi. (4) Pegunungan. antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik. (3) Pesisir. d. antara lain meliputi: (1) Pedalaman. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. Demografi Memberikan deskripsi ukuran. atau entitas tertentu. dan b) Ketinggian lahan. 6) Klimatologi. pemerataan . serta seni budaya dan olahraga. seperti banjir. gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain. b) Sungai. danau dan rawa. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. 5) Hidrologi. kesejahteraan sosial. 2. 7) Penggunaan lahan. kewarganegaraan. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. 4) Geologi. b) Curah hujan. 2) Letak dan kondisi geografis antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis. Karakteristik lokasi dan wilayah. dan (5) Kepulauan. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan. Sedangkan untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. b) Posisi geostrategic. pariwasata. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. migrasi. struktur. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud terdiri dari: 2. dan d) Kelembaban. longsor. dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam.

s.. & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan. & jasa Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % .T-III. hotel..T-III.5 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . & air bersih Konstruksi Perdagangan.d . hotel.*) (n-5) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor Pertanian Pertambangan& penggalian Industri pengolahan Listrik. angka kriminalitas yang tertangani. hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Indeks Ketimpangan Williamson (indeks ketimpangan regional).. & jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...4 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .3 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun ..... Provinsi/Kabupaten/Kota. persentase penduduk diatas garis kemiskinan......d . sewa.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik. s.C. & jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-5) (Rp) % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...*) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik..13 pendapatan versi Bank Dunia.. sebagai berikut: a. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. gas. sewa.. & restoran Pengangkutan & komunikasi angangkutan & komunikasi Keuangan... sewa. Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota.C..T-III..gas & air bersih Konstruksi Perdagangan. Tabel. Tabel. s... atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota.. Pertumbuhan PDRB Hasil analisis pertumbuhan PDRB..C... atas Dasar Harga Konstan Tahun ....gas & air bersih Konstruksi Perdagangan. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.d ..

. Jika tabel provinsi.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. sampai dengan Tahun. Tabel.d ...6 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun .C.. atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota. & jasa perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota....*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. ..... hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan..**) Dst … Standar provinsi/kabupaten/ kota***) Standar nasional/provinsi***) Standar internasional/ nasional***) *) **) ***) ****) b...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-III. s.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.*) Pertumbuhan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik.. Laju Inflasi Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C........**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.T-III.*) PDRB No Kabupaten/Kecamatan*) HB (n-5) HK HB (n-4) HK HB (n-3) HK HB (n-2) HK (n-1)**) HB HK 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.... Provinsi/Kabupaten/Kota... Tabel.7 Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun . Coret sesuai dengan kebutuhan (untuk kabupaten dapat dibandingkan dengan standar provinsi... jika kecamatan dapat dibandingkan dengan standar kabupaten/kota dst.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Diisi sesuai dengan ketersediaan data...C.. Provinsi/Kabupaten/Kota.8 Nilai Inflasi Rata-Rata Tahun.) Hasil analisis nilai inflasi rata-rata.14 perusahaan 9 Jasa-jasa PDRB *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... s... dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas. diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi provinsi dan kabupaten/kota.... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.d . sewa..T-III..gas & air bersih Konstruksi Perdagangan..

... diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. angka rata-rata lama sekolah... persentase penduduk yang memiliki lahan.... .C. dan **) Jika tabel provinsi.9 Hasil analisis angka melek huruf. Provinsi/Kabupaten/Kota.. Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. diisi sesuai dengan nama kabupaten/kota berkenaan.C. angka pendidikan yang ditamatkan.... angka partisipasi kasar..*) (n-5) L P L (n-4) P L (n-3) P L (n-2) P (n-1)**) L P No 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Jumlah Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka Melek Huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...T-III.d .. dan rasio penduduk yang bekerja.. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh di atas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. angka kelangsungan hidup bayi.T-III....**) Dst .**) Dst . sebagai berikut: a. Angka rata-rata lama sekolah Hasil analisis angka rata-rata lama sekolah. angka usia harapan hidup.. angka partisipasi murni... Angka melek huruf Tabel....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...*) No 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota........d ..T-III. s. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. b.... dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun .11 Rata-Rata Lama Sekolah Tahun . s. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota. Tabel.15 2... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Provinsi/Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...C.10 Angka Melek Huruf Tahun .. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial.. ***) Jika tabel provinsi..2 Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf.

kesehatan.000 penduduk *) **) Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator-indikator: jumlah grup kesenian.... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.000 penduduk 10. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.000 penduduk 10.T-III... kepemudaan dan olah raga.. otonomi daerah..**) Dst ... lingkungan hidup.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data. kebudayaan. perangkat daerah. Indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari: 3. s. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri.. yaitu bidang urusan pendidikan. perhubungan. 3.000 penduduk 10.. koperasi dan usaha kecil menengah.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.13 Perkembangan Seni. dan ..000 penduduk. Jumlah gedung kesenian per 10.... ketenagakerjaan... Jika tabel provinsi. penanaman modal. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/kota .1 Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah.16 2. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota..C. pemerintahan umum. Jumlah gedung olahraga per 10.12 Perkembangan Seni.*) No 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10.. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. Budaya dan Olahraga Tahun . pekerjaan umum.. sosial...d . diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. jumlah klub olahraga dan jumlah gedung olahraga.. pertanahan.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga yang dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.*) No 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Sedangkan untuk penyusunan rancangan awal RPJMD kabupaten/kota disusun ke dalam tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota..C. Jumlah grup Jumlah gedung Jumlah klub Jumlah gedung kesenian per kesenian per olahraga per olahraga per 10. Tabel. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun rancangan awal RPJMD provinsi terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh diatas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.. kepegawaian.T-III. kependudukan dan catatan sipil. Jumlah klub olahraga per 10..000 penduduk. perumahan. baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan...000 penduduk. Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan.000 penduduk. Budaya dan Olahraga Tahun .. Provinsi/Kabupaten/Kota. perencanaan pembangunan. penataan ruang.. administrasi keuangan daerah.

1..1.. ketahanan pangan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. 2.*) No 1 1... b.. **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintahan daerah sebagai berikut: a.15 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ...**) Dst .1...T-III. 2. Tabel. 1... kearsipan.. Angka Partisipasi Sekolah Hasil analisis perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) lingkup provinsi/kabupaten/ kota...3.T-III...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.3..C. Provinsi/Kabupaten/Kota. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: .*) SD/MI No Kabupaten/Kota/Kecamatan*) jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan..C. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...2. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota. s. Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... 2 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...d ... Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Hasil analisis rasio ketersediaan sekolah/penduduk usai sekolah se provinsi/kabupaten/ kota.. pemberdayaan masyarakat dan desa..14 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .17 persandian. statistik.... komunikasi dan informatika dan perpustakaan..2..

..16 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .. Provinsi/Kabupaten/Kota.... 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...C. s.*) No 1 1.. s.. Provinsi/Kabupaten/Kota.. 2.....d ...3. c.T-III.. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III.3..2... SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C.. 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.d . 2.3. 2. Tabel. 1... 1.18 Tabel...T-III.17 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.1. SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota....... Rasio guru/murid Hasil analisis rasio jumlah guru/murid se-provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam cotoh tabel sebagai berikut: Tabel.**) Dst ...1.3.2.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2 2........*) No 1 1...C.2. Jumlah Jumlah gedung sekolah (3) SD/MI Jumlah penduduk usia Rasio 7-12 th (4) (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 1.18 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun ..1. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan...1. 2 2.2.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... ...

Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis nilai PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.**) Dst .T-III. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini....... Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis jumlah investor PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel..19 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.C.. perdagangan.19 - Tabel.d . Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan pilihan pemerintahan daerah sebagai berikut: a. energi dan sumberdaya mineral.21 Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun .....T-III. s. industri dan ketransmigrasian...*) Tahun (1) n-5 n-4 n-3 n-2 Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Uraian (2) PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) n-1 Jumlah Investor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota........**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jumlah Jumlah Guru (3) SD/MI Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) SMP/MTs Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. kehutanan...... s. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan wajib sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. 3. Provinsi/Kabupaten/Kota... yaitu bidang urusan pertanian... pariwisata.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.20 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun ....2 Fokus Layanan Urusan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan pilihan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota.C. b..*) Tahun n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi Realisasi JumlahProyek Nilai Investasi .C..T-III. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. kelautan dan perikanan.*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Provinsi/Kabupaten/Kota.d ........**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..

....T-III. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek daya saing daerah. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah.C.. Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan diwilayah kabupaten/kota masing-masing. fasilitas wilayah atau infrastruktur.22 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun . Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya yang berdekatan.T-III.23 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . dan nilai tukar petani. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.*) No 1. dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. produktivitas total daerah.d .. pengeluaran konsumsi non pangan per kapita.. s. 2. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi... 3.d .1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Uraian Total Pengeluaran RT Jumlah RT Rasio (1. Indikator variabel aspek daya saing daerah terdiri dari: 4.. Provinsi/Kabupaten/Kota.. s.. nasional atau internasional. Provinsi/Kabupaten/Kota. iklim berinvestasi dan sumber daya manusia. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (angka konsumsi RT per kapita) Hasil analisis konsumsi RT perkapita. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kemampuan ekonomi daerah sebagai berikut: a.20 - c. Rasio daya serap tenaga kerja Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota...*) No 1 2 Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3 Rasio daya serap tenaga kerja *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan pilihan sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. 4../2...C. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh di atas.

Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. Provinsi/Kabupaten/Kota.. s.. Provinsi/Kabupaten/Kota.21 - Tabel...24 Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun ... Nilai tukar petani Untuk hasil penghitungan terhadap nilai tukar petani (NTP).**) Indeks Yang Diterima Petani (lt) (3) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) (4) Rasio (5=3/4) Dst ..... s..d .C.. Tabel.C.. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Total pengeluaran RT non pangan Total pengeluaran Rasio *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 3.27 Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Tahun ..*) No 1. c. ...T-III.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3...d .T-III........ 3.. 2.*) NO Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1.T-III.26 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (persentase konsumsi RT untuk non pangan) Untuk menghitung jumlah konsumsi non pangan perkapita... 2... Jumlah Total pengeluaran rt (3) Jumlah rt (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.25 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (lt) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.qqq Provinsi/Kabupaten/Kota.*) No (1) Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan...C.. 1....C.... 2..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2. b.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 3....T-III.**) Dst ....*) No (1) 1... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...

2.. kelas. luas wilayah industri.. jenis.. .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.29 Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Tahun .*) No (1) 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. jenis..T-III. Provinsi/Kabupaten/Kota..........**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. s.d . persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih. luas wilayah produktif. dan jumlah restoran. Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1... jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang. Jumlah Total Pengeluaran Rt Non Pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur sebagai berikut: a.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...22 - Tabel.28 Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Menurut Kabupaten/kota Tahun ........ dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.. dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon.. 3..C.. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. rasio ketersediaan daya listrik... 2./2. luas wilayah perkotaan..*) No 1. Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Untuk menghitung ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. 4... 3.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.**) Dst . Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kemampuan ekonomi daerah sesuai dengan kewenangan provinsi/kabupaten/kota. ketaatan terhadap RTRW. dan jumlah penginapan/hotel. kelas.T-III.. 5. luas wilayah kebanjiran. luas wilayah kekeringan.. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.. 4. jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator-indikator: rasio panjang jalan per jumlah kendaraan. persentase rumah tangga yang menggunakan listrik... jenis dan jumlah bank dan cabang. Provinsi/Kabupaten/Kota.. jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun.C.

Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.. 3. Jenis Kriminal Jumlah kasus narkoba Jumlah kasus pembunuhan Jumlah kejahatan seksual Jumlah kasus penganiayaan Jumlah kasus pencurian Jumlah kasus penipuan Jumlah kasus pemalsuan uang Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah penduduk Angka kriminalitas (8)/(9) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan...T-III.**) Dst . dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh di atas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Uraian Luas wilayah produktif Luas Seluruh wilayah budidaya Rasio (1/2.C..... 6..) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..32 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota.... 5.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 2. Provinsi/Kabupaten/Kota. 9. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus fasilitas/infrastruktur wilayah sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota. 4.......30 Persentase Luas Wilayah Produktif Tahun .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Luas wilayah produktif Untuk menghitung luas wilayah produktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wilayah Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.31 Persentase luas Wilayah Produktif Tahun .*) No 1. Tabel.C.... s. 8. jumlah demo.3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas.. ... 2.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. lama proses perijinan.C...*) No 1. 3... 7.. 10. 4. jumlah perda yang mendukung iklim usaha.. Angka kriminalitas Untuk menghitung angka kriminalitas dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.T-III..d . a. jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah.T-III. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa...*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.23 b.

....35 Rasio Ketergantungan Tahun . 3. Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Hasil analisis rasio ketergantungan dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel...34 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-III.*) No 1 2 3 4 Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Bidang politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah unjuk rasa *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.4 Fokus Sumber Daya manusia Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan S1/S2/S3. 4. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh di atas.d . 2... Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus iklim berinvestasi sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Hasil analisis rasio lulusan S1/S2/S3 dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. b. 6. 3. 4. 5.C. Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Jumlah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. a.T-III.24 b.*) No 1. Jumlah Demonstrasi Untuk menghitung jumlah demontrasi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 5. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini... Provinsi/Kabupaten/Kota. .T-III.C. Uraian Jumlah penduduk usia < 15 tahun Jumlah penduduk usia > 64 tahun Jumlah penduduk usia tidak produktif (1) &(2) Jumlah penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. s..*) NO 1. 2. 4.C.33 Jumlah Demo Provinsi/Kabupaten/Kota.

1.2..2.1.2 2.3 2.3 2.1.2.1..1.1.1.2 2.1.4 1.1.1 2. Perangkat Daerah..1. Administrasi keuangan daerah.2. 1.3 2.2.1. 1.2.1 2.2.1.2 2. 1.36 Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/Kota.2.1 1.C.3 2.1.2 2.2 2.1.3 1.3 1..2. Pelayanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….2.2.1.1.2. Pemerintahan Umum.1. sebagai berikut: Tabel.4 2.1 1.1.1 2.1.2.1.2.1. .1.T-III.1.1 2.3.1.3 2.2..1.1.*) Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah.2.1 2.3.1.2.2.2 1.1. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.1.1 2.1.25 Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi dapat dirangkum dalam bentuk tabel.2.1.1.1. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst …… Dst …… Dst….1.1. 1.1.1.1.1 2. Dst… Dst….1.1.1 2. Dst….1 3.2 2.2..2 2.1 2. 2.1 2. PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid Dst …… Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst…. Dst…… DAYA SAING DAERAH (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 1. poliklinik.1.1 1.1.3.3 2.2 1. 1.2 2.1.2.1.2 2.1 2.1.2. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi PDRB per kapita Dst….3. pustu per satuan penduduk Dst….

Tim penyusun dapat melibatkan tim yang berasal dari bagian/biro/dinas keuangan untuk menyiapkan data dan analisis.2 3. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan daerah diwujudkan dalam suatu APBD maka analisis pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan keuangan daerah pada umumnya. ..2.2.1. Selanjutnya. Analisis dan diskusi juga dilakukan terhadap perkembangan neraca daerah.1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.3 3.1.1. Administrasi keuangan daerah. Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah.1.1. Kapasitas keuangan daerah pada dasarnya ditempatkan sejauh mana daerah mampu mengoptimalkan penerimaan dari pendapatan daerah.1 3.1.1 3.1.1. belanja dan pembiayaan sesuai dengan kewenangan.2.2 3.2.1. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan (money follow function).3 3.3. Menganalisis pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan provinsi dan kabupaten/kota terlebih dahulu harus memahami jenis obyek pendapatan.3 3.2. Pemerintahan Umum.2. termasuk segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah. belanja.2 3. C.4. Data-data perkembangan realisasi anggaran.1.2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Hasilnya didiskusikan di tingkat tim. analisis dilakukan terhadap penerimaan daerah yaitu pendapatan dari penerimaan pembiayaan daerah. Berbagai objek penerimaan daerah dianalisis untuk memahami perilaku atau karakteristik penerimaan selama ini.1.2 3. meliputi: pendapatan.26 - Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Kemampuan Ekonomi Otonomi Daerah.1 3. meliputi: aset dan hutang daerah serta ekuitas dana.2.1 3.1.4 3.2 3.2.1 3. Dst ….1. Dibutuhkan pemahaman yang baik tentang realisasi kinerja keuangan daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. Analisis Pengelolaan Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang.2. dan pembiayaan. data lima tahun didiskusikan bersama.2.2.1.1 3.1. susunan/struktur masing-masing APBD.3 3. Dst… (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 3..2 3.1 3. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst …… Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. Perangkat Daerah.

1.37 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun. Gambar.2... analisis difokuskan pada objek dan rincian objek sumber-sumber pendapatan daerah. s/d Tahun .2. dibuatlah analisis untuk mengidentifikasi proyeksi pendapatan daerah. 1..1.C.C. 1. (3) Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah.3... 1. 1.3 Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah Kebijakan di bidang Keuangan Negara Asumsi indikator makro ekonomi Angka rata-rata pertumbuhan setiap objek pendapatan daerah Tingkat Pertumbuhan Pendapatan daerah Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi Dengan kerangka di atas. 1.1.2..27 Selanjutnya. (4) Kebijakan dibidang keuangan negara.1. inflasi dan lain-lain). Mengingat masing-masing rincian objek memiliki perilaku atau karakteristik yang berbeda.. 1.2..1. Analisis dilakukan berdasarkan pada data dan informasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pendapatan daerah. 1 1.3. Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di bawah ini. PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) . antara lain: (1) Angka rata-rata pertumbuhan pendapatan daerah masa lalu.3. dan dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel..2.2.1. maka masing-masing daerah dapat mengembangkan teknik dan penghitungan sendiri yang dianggap paling akurat. 1.1..G-III.1. Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kapasitas pendapatan daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun kedepan. 1.*) No. untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah.4.T-III. Provinsi/Kabupaten/Kota. (2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi.

T-III..38 Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Provinsi/Kabupaten/Kota.1 1.4 1. Berlaku untuk kabupaten/kota.3..3...38 berikut: Tabel. Keterangan: tahun n-1 tahun n-2 tahun n-3 tahun n-4 tahun n-5 n-1 n-2 n-3 = = = = = satu tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD dua tahun lalu sebelum tahun ke-1 RPJMD tiga tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD empat tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD lima tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD misalnya tahun ke-1 RPJMD = tahun 2011.3.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2 1.. dilakukan dengan mengisi Tabel.. dilakukan: 1) Analisis belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran realisasi dari kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan daerah pada periode tahun anggaran sebelumnya yang digunakan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan dimasa datang dalam rangka peningkatan kapasitas pendanaan pembangunan daerah..3 1. Papua Barat dan Aceh.C.3. . maka = tahun 2010 = tahun 2009 = tahun 2008 Untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan alokasi dana.. 1.C. Berlaku hanya untuk provinsi Papua.3.5 Hibah Dana darurat Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya ***) Dana penyesuaian dan otonomi khusus****) Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Analisis ini sekurang-kurangnya dilakukan melalui: a) proporsi realisasi belanja daerah dibanding anggaran. Diisi sesuai dengan ketersediaan data.TIII.*) No A 1 2 3 4 5 6 7 8 B 1 2 3 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Uraian (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..28 - No.

**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Keterangan : Sumber data pada kolom (a) berasal dari Tabel. .T-III.. Pelatihan....*) No 1 2 3 Uraian Tahun anggaran (n-3) Tahun anggaran (n-2) Tahun anggaran (n-1)**) Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) (a) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (b) Prosentase (a) / (b) x 100% *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Mobil Dinas.40 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota. Analisis terhadap realisasi pengeluaran wajib dan mengikat dilakukan untuk menghitung kebutuhan pendanaan belanja dan pengeluaran pembiayaan yang tidak dapat dihindari atau harus dibayar dalam suatu tahun anggaran. c) Analisis belanja periodik dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama..39 Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota. Belanja periodik yang wajib dan mengikat adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan dibayar setiap tahun oleh Pemerintah Daerah seperti gaji dan tunjangan pegawai serta anggota dewan..C. belanja jasa kantor..C..T-III..29 b) Analisis proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur yang dilakukan dengan cara mengisi Tabel.*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Tambahan Penghasilan**) Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja pemungutan Pajak Daerah**) Belanja Langsung Belanja Honorarium PNS**) Belanja Uang Lembur**) Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Kursus....C.. Tabel diatas menjadi dasar untuk menentukan kebijakan efisiensi anggaran aparatur selama periode yang direncanakan.C. peralatan dan perlengkapan dll) TOTAL (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. sewa kantor yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya. bunga.39 dan kolom (b) berasal dari data realisasi APBD.. Meubelair.T-III.. Sosialisasi dan Bimbingan Teknis PNS**) Belanja premi asuransi kesehatan Belanja makanan dan minuman pegawai***) Belanja pakaian dinas dan atributnya**) Belanja Pakaian Khusus dan Hari-hari Tertentu*) Belanja perjalanan dinas**) Belanja perjalanan pindah tugas Belanja Pemulangan Pegawai Belanja Modal (Kantor.....T-III.39 minimal 3 (tiga) tahun terakhir sebagai berikut: Tabel. ***) Dapat ditetapkan menjadi prioritas untuk dilakukan efisiensi Selanjutnya dilakukan analisis proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur untuk 3 (tiga) tahun terakhir dengan tabel sebagai berikut: Tabel.

Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis.30 Belanja periodik prioritas utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik oleh Pemerintah Daerah dalam rangka keberlangsungan pelayanan dasar prioritas Pemerintah Daerah yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan.. d) Analisis proyeksi belanja daerah Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kebutuhan belanja tidak langsung daerah dan pengeluaran pembiayaan yang bersifat wajib dan mengikat serta prioritas utama.*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 C 1 2 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Dst. Gambar.. Keterangan : menghitung rata-rata pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama dapat mempergunakan rumus pada analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Total pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama pada tabel diatas menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan anggaran belanja yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat ditunda dalam rangka penghitungan kapasitas riil keuangan daerah dan analisis kerangka pendanaan..C... Analisis realisasi pengeluaran dimaksud antara lain dilakukan dengan mengisi Tabel. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik.C..4 Analisis Proyeksi Belanja Daerah Asumsi indikator makro ekonomi Kebijakan Pembiayaan Daerah Angka rata-rata pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama pendapatan daerah Tingkat pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama Kebijakan Pemerintah yang mempengaruhi belanja tidak langsung & belanja pendidikan .T-III.. telepon dan sejenisnya ) Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor (yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst … Pembiayaan Pengeluaran Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran pokok utang Dst… TOTAL (A+B+C) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di bawah ini.41 berikut: Tabel.G-III. air...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.C.41 Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III. Analisis dilakukan dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah. seperti honorarium guru dan tenaga medis serta belanja sejenis lainnya.

C..42 Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota.. 6.*) Data Tahun Dasar (Rp) Tingkat pertum buhan (%) Proyeksi Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 Uraian Belanja TidakLangsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis. 2.... Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor (khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik....C. A 4. telepon dan sejenisnya ) Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst sesuai kriteria wajib mengikat Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran pokok utang TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA C 1 2 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...TIII...T-III.. 3.43 Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III. 2) Analisis pembiayaan daerah Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dari pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun-tahun anggaran sebelumnya terhadap surplus/defisit belanja daerah sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan dimasa datang dalam rangka penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah..31 Tabel..43 berikut: Tabel..C. Uraian Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: Belanja Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) ..*) NO 1.. Analisis pembiayaan daerah dilakukan melalui: a) Analisis sumber penutup defisit riil Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran masa lalu tentang kebijakan anggaran untuk menutup defisit riil anggaran Pemerintah Daerah yang dilakukan dengan mengisi Tabel.... air. 5.

..... Tabel.T-III..T-III.32 (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) NO 7. Keterangan : gunakan rumus menghitung rata-rata pertumbuhan .. Dengan mengetahui SILPA realisasi anggaran periode sebelumnya.45 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.*) Proporsi dari total defisit riil No.C... B A-B Uraian Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. dapat diketahui kinerja APBD tahun sebelumnya yang lebih rasional dan terukur. kemudian disusun tabel analisis untuk mengetahui gambaran komposisi penutup defisit riil sebagai berikut...C.44 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota... Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Uraian Rp % dari SiLPA Rp (n-2) % dari SiLPA (n-1)**) Rp % dari SiLPA Rata-rata pertumbuhan*) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. 3.T-III.. 2.. 1. 5.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.45 berikut. 5. 6. 7. 9. 7. Tabel. 4. b) Analisis Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran tentang komposisi sisa lebih perhitungan anggaran. 4.C. Berdasarkan tabel analisis di atas. 2.. Gambaran masa lalu terkait komposisi realisasi anggaran SILPA Pemerintah Daerah dilakukan dengan mengisi data realisasi anggaran pada Tabel. 3. 6.. Uraian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) 1.. 8. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) (n-3) No.

G-III..C. (3) Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah.33 c) Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara riil sisa lebih pembiayaan anggaran yang dapat digunakan dalam penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah. 3. d) Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran sisa lebih riil perhitungan anggaran. Saldo kas neraca daerah Dikurangi: 2.. Analisis dilakukan dengan mengisi Tabel. Hasil analisis dapat digunakan untuk menghitung kapasitas penerimaan pembiayaan daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan. Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Uraian (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. antara lain: (1) Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan rata-rata pertumbuhan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan. 1.5 Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah Asumsi indikator makro ekonomi Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan ratarata pertumbuhan Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan Tingkat pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan Kebijakan Efisiensi belanja daerah dan peningkatan pendapatan daerah .T-III.....*) No. (2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi.C...46 berikut: Tabel. inflasi dan lain-lain).C. Analisis dilakukan berdasarkan data dan informasi yang dapat mempengaruhi besarnya sisa lebih riil perhitungan anggaran dimasa yang akan datang.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (4) Kebijakan efisiensi belanja daerah dan peningkatan pendapatan Gambar..46 Sisa Lebih (riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III.

47 Proyeksi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.. dihitung dengan formula sebagai berikut. Jenis rasio likuiditas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain : a. solvabilitas dan rasio aktivitas serta kemampuan aset daerah untuk penyediaan dana pembangunan daerah.. Rata-rata umur piutang = 365 : perputaran piutang Dimana : Perputaran piutang = pendapatan daerah/rata-rata piutang pendapatan daerah. b. Rasio total hutang terhadap total aset = total hutang : total aset Rasio hutang terhadap modal = total hutang : total ekuitas (3) Rasio aktivitas adalah rasio untuk melihat tingkat aktivitas tertentu pada kegiatan pelayanan Pemerintah Daerah. rata-rata piutang pendapatan daerah = (saldo awal piutang + saldo akhir piutang) : 2 b.. dihitung dengan formula sebagai berikut. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Rata-rata umur piutang. Analisis data neraca daerah sekurang-kurangnya dilakukan untuk hal-hal sebagai berikut: (1) Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.34 - Tabel. hari yang diperlukan untuk melunasi piutang (merubah piutang menjadi kas). Jenis rasio solvabilitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain: a.. Rata-rata umur persediaan = 365 : perputaran persediaan Dimana : Perputaran persediaan = nilai persediaan yang digunakan dalam satu tahun: rata-rata nilai persediaan. yaitu rasio untuk melihat berapa lama.. yaitu rasio untuk melihat berapa lama dana tertanam dalam bentuk persediaan (menggunakan persediaan untuk memberi pelayanan publik). Sedangkan.C.. b. Sedangkan.. 2. rata-rata nilai persediaan = (saldo awal persediaan + saldo akhir persediaan) : 2 .*) Data tahun dasar (Rp) Tingkat pertum buhan (%) Proyeksi Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) No 1. 3) Analisis neraca daerah Analisis neraca daerah bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan Pemerintah Daerah melalui perhitungan rasio likuiditas. Jenis rasio aktivitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain: a. Rata-rata umur persediaan. Rasio lancar Rasio quick = aktiva lancar : kewajiban jangka pendek = ( aktiva lancar – persediaan ) : kewajiban jangka pendek (2) Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya...T-III. Uraian Saldo kas neraca daerah Dikurangi: Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran 1...

.. untuk menentukan kapasitas riil keuangan daerah. Penerimaan dana alokasi umum diprioritaskan bagi belanja umum pegawai dan operasional rutin pemerintahan daerah. Penerimaan dana bagi hasil agar dialokasikan secara memadai untuk perbaikan layanan atau perbaikan lingkungan sesuai jenis dana bagi hasil didapat. Sebelum dialokasikan ke berbagai pos belanja dan pengeluaran. Berdasarkan Tabel. Penerimaan dari pendapatan hasil pengelolaan aset daerah yang dipisahkan dialokasikan kembali untuk upaya-upaya peningkatan kapasitas dimana dana penyertaan dialokasikan sehingga menghasilkan tingkat pengembalian investasi terbaik bagi kas daerah. 2.48 disusun Tabel. dihitung dengan mengisi tabel. Pendapatan Pencairan dana cadangan (sesuai Perda) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total penerimaan Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 4. besaran masing-masing sumber penerimaan memiliki kebijakan pengalokasian yang harus diperhatikan.T-III..C.. antara lain: · Penerimaan retribusi pajak diupayakan alokasi belanjanya pada program atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan layanan dimana retribusi pajak tersebut dipungut.49 dapat dihitung rencana penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi kebutuhan anggaran belanja langsung dan belanja tidak langsung dalam rangka pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan.*) Proyeksi No.48 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.35 4) Analisis Kerangka Pendanaan Analisis kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan.C. · · · · Selanjutnya.. Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama.T-III. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah sebagaimana telah dihitung pada bagian di atas dan ke pos-pos mana sumber penerimaan tersebut akan dialokasikan. 3. sebagai berikut: Tabel.T-III.. Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) 1.C. Penerimaan dari dana alokasi khusus dialokasikan sesuai dengan tujuan dimana dana tersebut dialokasikan. dengan menggunakan tabel berikut: ..

kemudian dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai urutan prioritas. dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi. prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik.b-II.a+II.b Belanja Langsung Pembentukan dana cadangan Dikurangi: II. termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% (duapuluh persen).b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota....a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III.. Prioritas I Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala daerah sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana. dimana prioritas I mendapatkan prioritas pertama sebelum prioritas II.cII. memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggi pada capaian visi/misi daerah.49 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Prioritas II Program Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPD yang merupakan penjabaran dari analisis per urusan.d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II III. .36 - Tabel.. Prioritas III mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya.a II..a-III. berskala besar. bersifat monumental. prioritas II dan prioritas III. Keterangan : Surplus anggaran diperbolehkan apabila nilainya tidak material dan tidak dapat digunakan untuk membiayai suatu program Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi prioritas I.T-III.c II.*) Proyeksi No I Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II.d II Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total Rencana Pengeluaran Prioritas I (II.C. Di samping itu.. Suatu prioritas II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III.

Identifikasi permasalahan pembangunan daerah merupakan salah satu input bagi perumusan tujuan dan sasaran yang bersifat prioritas sesuai platform Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.50 Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah Alokasi Tahun I Tahun II Tahun III % Rp % Rp % Rp No. Secara simultan persentasi tersebut dipertajam ketika program prioritas untuk masing-masing jenis prioritas (prioritas I dan II) telah dirumuskan. belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa serta belanja tidak terduga. 2. kapasitas riil keuangan daerah dapat dialokasikan sebagaimana tabel berikut: Tabel.37 Prioritas III Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti: tambahan penghasilan PNS. dialokasikan untuk persentasi final prioritas III. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah di masa lalu. Jenis Dana Prioritas I Prioritas II Prioritas III Total Tahun IV % Rp Tahun V % Rp Penetapan persentase tiap tahun sesuai urutan prioritas (I. C.. belanja hibah. 1. Penetapan persentase masing-masing prioritas bersifat indikatif sebagai panduan awal tim perumus dalam menetapkan pagu program atau pagu SKPD.1. dan ancaman yang tidak diantisipasi. Identifikasi permasalahan pembangunan dapat diuraikan menurut bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Evaluasi atau analisis dari penyelenggaraan pembangunan daerah dimasa lalu cukup baik untuk mendapatkan gambaran yang diinginkan. Sisanya. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan . dan III) bukan menunjukkan urutan besarnya persentase tetapi lebih untuk keperluan pengurutan pemenuhan kebutuhan pendanaannya. peluang yang tidak dimanfaatkan. atau terhadap beberapa urusan yang dianggap memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap munculnya permasalahan pada bidang urusan lainnya. Baris total untuk kolom rupiah dapat menunjukkan total kapasitas riil keuangan daerah yang telah dihitung pada bagian sebelumnya. Identifikasi Permasalahan Untuk Penentuan Program Pembangunan Daerah Sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dijabarkan dalam program pembangunan daerah sesuai dengan arah kebijakan pembangunan daerah periode 5 (lima) tahun berkenaan.1. II.C. Besar persentase ditentukan sesuai analisis umum tentang kapasitas pendanaan dari program prioritas yang dibayangkan akan menunjang prioritas dimaksud. Identifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan terhadap lingkungan internal maupun eksternal dengan mempertimbangkan masukan dari SKPD.1. Perumusan permasalahan pembangunan daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan dibuat. C.5.T-III. belanja bantuan sosial organisasi kemasyarakatan. baris total pada tabel untuk masingmasing kolom persentase harus selalu berjumlah 100%. kelemahan yang tidak diatasi. Adapun. Suatu program pembangunan daerah harus menjabarkan dengan baik sasaran-sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan tujuan dan sasaran dari visi dan misi rencana pembangunan 5 (lima) tahun. Pengalokasian dana pada prioritas III harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar. 3. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal. diperlukan identifikasi berbagai permasalahan pembangunan daerah untuk menjabarkan pencapaian sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan mencapai tujuan dan sasaran RPJMD.5. Untuk itu. Dengan demikian.

Dst.52 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi/Kabupaten/kota……*) No (1) 1. Namun demikian. Faktorfaktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis. tidak berarti bahwa urusan dimaksud tidak diselenggarakan Pemerintah Daerah. diuraikan permasalahan yang paling krusial tentang layanan dasar sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD melalui penilaian terhadap capaian kinerja yang masih jauh dari harapan atau belum mencapai target yang ditetapkan dalam RPJMD. diluar permasalahan program pembangunan daerah.C.*) No Sasaran Pokok RPJPD Indikator dan Target RPJPD Permasalahan Pembangunan Daerah Faktor-faktor Penentu Keberhasilan 1. C. hasil kinerja. yang menjadi pendorong munculnya permasalahan tersebut.C. urusan-urusan tersebut tetap harus dilaksanakan untuk menjaga kinerja yang telah dicapai di masa-masa lalu atau memenuhi standar layanan bagi masyarakat.2. tidak semua penyelenggaraan urusan dapat diprioritaskan atau terkait dengan sasaran pokok (RPJPD) dan tujuan serta sasaran pembangunan daerah (RPJMD) dalam suatu periode.1.5. tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang. 1. Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan.3. baik secara internal maupun eksternal. 1.2.T-III. dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan Di tingkat SKPD. 2.T-III. 1. Identifikasi Permasalahan Pemerintahan Daerah untuk Pemenuhan Penyelenggaraan Urusan Dengan keterbatasan kapasitas keuangan daerah dan karakteristik alokasi belanja daerah. 3. Identifikasi permasalahan pada tiap urusan dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap urusan untuk mendapatkan rumusan permasalahan. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar: Bidang Urusan Dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Interpretasi Belum Tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Permasalahan Faktor –Faktor Penentu Keberhasilan (2) (4) (5) .1. penting untuk menyertakan identifikasi terhadap faktor-faktor penentu keberhasilan pada tiap-tiap permasalahan daerah. dilakukan dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. Secara operasional. Masing-masing permasalahan yang ada kemudian diuraikan lagi untuk mengetahui faktor-faktor.38 urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah guna menentukan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah.51 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Program Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota…….. Maksud dari analisis permasalahan pembangunan diseluruh urusan penyelenggaraan pemerintahan adalah guna menjamin diperolehnya identifikasi permasalahan penyelenggaraan seluruh urusan pemerintahan. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Dari tabel di atas. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.

4.6. 5. 3. . Kolom (4) diisi dengan permasalahan pembangunan daerah. Bidang Urusan Dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Interpretasi Belum Tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Permasalahan Faktor –Faktor Penentu Keberhasilan (2) Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Dst…. dan Kolom (5) diisi dengan faktor-faktor penentu keberhasilan. 3. 4.1. 5. 2. 4. 3.1. 2.4.3. 5..3. Kolom (3) diisi dengan interprestasi hanya pada kolom urusan berdasarkan pada analisis indikator-indikator sesuai pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. 1. 2. 1. Perlu diperhatikan bahwa pengisian tabel di atas difokuskan pada indentifikasi permasalahan pembangunan pada tiap-tiap urusan. Indikator pada tiap-tiap urusan dijadikan input utama bahan analisis. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Dst….5. Kolom (2) diisi dengan bidang urusan/indikator. 5.C.7. Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Dst….2.2.3.2.39 - No (1) 1. 5.3.6. 5. 2. 2. 2. poliklinik.2. 3. 2.T-III. Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah layak huni Dst….6.3.1..1.4. 3.3. 5.52: Kolom (1) diisi dengan nomor urut. 3.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….5.5.3. Dst… (4) (5) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Tata cara pengisian Tabel. 2. 4. 4. Kesehatan Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.3.2. 1. Penataan Ruang Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber.4. 3. bidang urusan urutannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pada indikator sesuai pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. 6.1.

diisi dengan kebijakan pemerintah yang mengacu pada RPJMN atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. yang dapat dipertanggungjawabkan.. agar perencanaan pembangunan yang berhubungan dengan rencana jangka menengah atau program kewilayahan daerah lain dapat selaras maka telaahan dari RPJMD daerah lain juga perlu dilakukan. Penelaahan kebijakan pembangunan nasional untuk penyusunan RPJMD provinsi dilakukan terhadap dokumen RPJMN atau kebijakan pemerintah terkait dengan pembangunan daerah provinsi.1. ancaman bagi daerah selama kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang..... Disamping itu. Sedangkan penelaahan kebijakan pembangunan nasional untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota dilakukan terhadap dokumen RPJMN dan RPJMD provinsi atau kebijakan pemerintah dan provinsi terkait dengan pembangunan daerah kabupaten/kota. sebaliknya. diisi dengan identifikasi kebijakan pemerintah selain bersumber dari dokumen RPJPN dan/atau kebijakan Gubernur selain yang ditetapkan dalam RPJPD provinsi..53: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan urutan isu di tingkat nasional.6. 6.*) NO.C. atau dalam satu wilayah kepulauan atau yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan . 2. 5..T-III. RPJMN (2) RPJMD Provinsi (3) Lain-lain (4) Dst *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Keterangan: Untuk pengisian tabel tingkat provinsi. perlu dilakukan telaahan terhadap pemerintah dibidang pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN yang berhubungan atau mempengaruhi pembangunan daerah.2.. Penalaahan RPJMN & RPJMD Provinsi Penelaahan kebijakan pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN merupakan salah satu identifikasi faktor-faktor eksternal yang bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan pemerintah terpenting. diisi dengan kebijakan provinsi yang mengacu pada RPJMD provinsi atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil telaahan kebijakan selanjutnya disusun ke dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Penyusunan RPJMD juga memperhatikan dokumen RPJMD daerah lainnya agar tercipta keterpaduan pembangunaan jangka menengah daerah dengan daerah sekitar. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau. Penelaahan RPJMD Daerah Lainnya C. 3.6. dan berpengaruh langsung terhadap perencanaan pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan.T-III.. 4.1.6.40 C. Penelaahan RPJMN dan RPJMD Daerah Lainnya Agar perencanaan pembangunan daerah mengadopsi atau selaras dengan kebijakan pembangunan nasional.C. yang berhubungan.1. provinsi maupun kabupaten/kota.. (1) 1.53 Identifikasi Kebijakan dalam RPJMN dan RPJM Provinsi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. tidak termasuk kolom 3 Cara Pengisian Tabel.1.. Hasil telaahan pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis. C.

perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan. dalam hal tidak dimanfaatkan. Adanya agenda pembangunan kewilayahan yang menentukan kewenangan bersama. Bagi . maka pemerintahan daerah akan dapat mempertahankan/meningkatkan pelayanan pada masyarakat..*) No. akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya. 3. Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. untuk memperoleh rumusan isu-isu strategis diperlukan analisis terhadap berbagai fakta dan informasi yang telah diidentifikasi untuk dipilih menjadi isu strategis. Perlunya suatu daerah menelaah RPJMD daerah lain karena alasan: 1. Adanya persamaan permasalahan pembangunan yang memerlukan upaya pemecahan bersama. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. Oleh karena itu. Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal yang bersifat penting. mendasar. khususnya selama 5 (lima) tahun yang akan datang.T-III. Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi. C.41 atau dengan daerah lain yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah.C. Adanya kebijakan pemerintah menetapkan daerah sebagai bagian dari kesatuan wilayah/kawasan pembangunan. Jika dinamika eksternal. bersifat kelembangaan/keorganisasian dan menentukan tujuan di masa yang akan datang.. 2. Adanya persamaan kepentingan atau tujuan atau upaya-upaya strategis yang harus disinergikan. Selanjutnya. dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan. berjangka panjang. akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.. identifikasi kebijakan dari dokumen RPJMD daerah lain dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.1. Pemerintahan daerah yang tidak menyelaraskan diri secara sepadan atas isu strategisnya akan menghadapi potensi kegagalan dalam melaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi tanggungjawabnya atau gagal dalam melaksanakan pembangunan daerah.7.54 Identifikasi RPJMD Daerah Lain Provinsi/Kabupaten/Kota. penentuan sesuatu atau kondisi menjadi isu strategis dapat didukung dengan menerbitkan pedoman atau kriteria oleh kepala daerah atau kepala Bappeda. Secara teknokratis. Daerah Lain Periode RPJMD Kebijakan Terkait Keterangan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang... diidentifikasi dengan baik. mendesak. Oleh karena itu. Analisis Isu-isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. utamanya daerah-daerah yang letaknya berdekatan. dan 4.

lalu menentukan sumber-sumber informasi yang tepat. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional.55: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan. 5.. Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah. dan lain-lain) skala regional. 6. Tanpa itu. FGD diarahkan untuk memilih kategori isu atau kecenderungan dalam 5 (lima) tahun mendatang. sosial budaya. Sumber lain bagi informasi atau isu strategis dari lingkungan eksternal (misal. 3. dari masyarakat. misi dan program kepala daerah terpilih. nasional. kebijakan Pemerintah Daerah tidak lagi bersifat reaktif tetapi lebih antisipatif. dan RPJMN agar rumusan isu yang dihasilkan selaras dengan cita-cita dan harapan masyarakat terhadap kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih serta kebijakan pemerintah dalam jangka menengah. Dengan demikian. dengan ancaman tidak dikenali atau terlambat diantisipasi. Penentuan data atau informasi menjadi isu strategis sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi se-wilayah provinsi/kab/kota. dan Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan. selanjutnya melakukan upaya-upaya rutin untuk memantau peluang dan ancaman lingkungan eksternal. Luasnya dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat.T-III. dunia riset. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan. penemuan-penemuan teknologi. perguruan tinggi.C. diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.55 Identifikasi Isu-Isu Strategis No (1) 1 2 3 4 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Isu Strategis Dinamika Internasional (2) Dinamika Nasional (3) Dinamika Regional/Lokal (4) Lain-lain (5) Cara Pengisian Tabel. Memiliki daya ungkit yang sigiifikan terhadap pembangunan daerah. Kriteria lain dapat dikembangkan sesuai kebutuhan/dinamika daerah. 4.42 daerah yang lebih berhasil menciptakan sistem informasi perencanaan pembangunan daerah. akan banyak peluang-peluang penting akan hilang. lembaga nonprofit. Metode penentuan isu-isu strategis yang dapat digunakan antara lain: 1) Focussed Group Discussion (FGD) Forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman dalam merumuskan atau memahami isu-isu strategis perencanaan pembangunan daerah. dunia swasta. Faktor penting lain yang perlu diperhatikan dalam merumuskan isu-isu strategis adalah telaahan terhadap visi.T-III. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional. usaha/ bisnis. 2. .C. Tabel. Kemungkinan atau kemudahannya untuk dikelola. dan internasional yang berkorelasi atau mempengaruhi tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah juga merupakan unsur penting yang perlu diperhatikan dan menjadi masukan dalam menganalisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah.

C.57: Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (10) diisi dengan nomor urut diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi pada Tabel.C.43 - 2) Pembobotan Setelah berbagai isu diidentifikasi dan dilakukan FGD untuk memahami usulan dan masukan tentang berbagai isu strategik. maka langkah selanjutnya adalah menentukan mana isu strategik yang paling prioritas dan akan dijadikan dasar bagi penyusunan visi dan misi. .C. dapat dilakukan dengan mengisi Tabel.57 Nilai Skala Kriteria No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dst.C..56 Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah Dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat Memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan.56 sebagai berikut: Tabel.d Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria. Isu Strategis (2) Nilai Skala Kriteria 3 4 5 (5) (6) (7) Total skor (10) 1 (3) 2 (4) 6 (8) Dst… (9) Cara Pengisian Tabel.C.55 dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel..C.T-III.T-III.55 s.T-III.T-III.T-III. Bobot (contoh) 20 10 20 10 15 25 *) a) Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan bobot pada Tabel. Salah satu metode untuk menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan.T-III.

Perumusan Penjelasan Visi dan Misi Bagian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. dan program kepala daerah merupakan hasil proses politik terpilihnya Kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. seperti pemrioritaskan program prioritas. kegiatan prioritas. Hasil telaahan RPJPD selanjutnya dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.C.59 Hasil Telaahan RPJPD No. dijadikan sebagai substansi dan .T-III. yang tertuju pada arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah pada periode berkenaan yang ditetapkan dalam RPJPD Mengingat visi. Kolom (2) diisi sesuai dengan isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional. misi. Kolom (3) diisi dengan total akumulasi nilai skor dari isu-isu strategis. Untuk memudahkan penelaahan RPJPD dapat menggunakan hasil evaluasi hasil pelaksanaan RPJPD. nasional dan regional.58: Kolom (1) diisi dengan nomor urut...1.T-III. misi.T-III..d Periode Terakhir*) Target Sasaran Pokok RPJPD pada Periode RPJMD tahun . Penelaahan RPJPD Penelaahan RPJPD merupakan langkah utama dalam perumusan RPJMD mengingat RPJMD merupakan penjabaran dari tahapan pembangunan periode 5 (lima) tahunan berkenaan dalam RPJPD.. usulan permasalahan pembangunan. sebagai landasan perumusan rumusan tujuan dan sasaran dengan memperhatikan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.9. yang dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Cara Pengisian Tabel. menjadi bahan utama penyusunan tujuan dan sasaran RPJMD.58 Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No. Tim perumus harus menelaah sasaran pokok RPJPD dan tingkat capaian kinerja sampai dengan periode penyusunan RPJMD.8. Hasil penelaahan sampai dengan periode terakhir dibandingkan dengan target kinerja sasaran pokok periode RPJMD yang akan disusun.. (1) Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) 1 2 3 4 Dst. *) sampai dengan periode terakhir sebelum penyusunan RPJMD C.. dan lain-lain.C. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis. .44 b) Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta.. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.C. maka visi.. Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya. Sasaran Pokok Indikator & Target Kinerja 20 Tahun Realisasi Kinerja s.1. C..

penting bagi tim untuk memahami bagaimana seharusnya visi dan misi yang baik dibuat. Perumusan Penjelasan Visi Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada). kondisi dan kapasitas yang ada (feasible). Dari penjelasan di atas. kepemimpinan yang berbeda dapat menghasilkan visi dan misi yang berbeda pula tergantung tekanan dan prioritas pembangunan masing-masing.45 rujukan utama penyusunan RPJMD. Menerjemahkan pernyataan visi dan misi ke dalam butir-butir penjelasan yang mudah dipahami dan tidak bias. Menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka menengah. 3. Memungkinkan. 4. Menjelaskan visi dan misi dalam kriteria yang memudahkan penerjemahannya ke dalam tujuan dan sasaran yang terukur. 5. Untuk mencapai indikator dan target dari sasaran pokok yang sama. wajar dan layak untuk dicapai dengan situasi. 2. efisien dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focussed). Kriteria suatu rumusan visi antara lain sebagai berikut: 1. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku (imaginable). Disertai dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan kebijakan. Dapat menyelaraskan muatan visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. C. Visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih seharusnya menggambarkan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai (desired future) dalam masa jabatan selama 5 (lima) tahun sesuai misi yang diemban. dengan memperhatikan sasaran pokok dan arah kebijakan RPJPD periode berkenaan.. Disertai penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan di daerah. 2.1. Dengan demikian. Memusatkan perhatian kepada isu dan permasalahan utama daerah. Namun demikian. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). 2. manageable. agar tujuan dan sasaran pembangunan selama 5 (lima) tahun dapat dijabarkan secara efektif dalam mencapai tujuan utama pembangunan daerah. sepanjang secara substantif tidak keluar dari makna yang sesungguhnya. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). . Untuk dapat menyusun penjelasan visi dan misi dimaksud. Kriteria suatu penjelasan visi dan misi. relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pembangunan di daerah. 4. 3. sebagai berikut: 1. dan selaras dengan manajemen pemerintahan daerah. 3. Syarat visi yang baik: 1. Pedoman utama penyusunan visi kepala daerah (saat mencalonkan) adalah bagaimana menyesuaikannya dengan sasaran pokok sesuai dengan arah kebijakan pembangunan lima tahun periode berkenaan.9. kedudukan RPJMD sangat penting untuk dapat menerjemahkan berbagai kemungkinan perbedaan visi dan misi calon kepala daerah lainnya dengan kepala daerah yang terpilih sehingga menjadi landasan penyusunan dokumen RPJMD yang dapat dioperasionalkan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan. dan Sejalan dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah. strategi dan program (articulative). maka visi dan misi tersebut perlu dikembangkan dan dijabarkan sesuai prinsip perencanaan pembangunan daerah. demi mendapatkan dokumen perencanaan yang baik. penjelasan visi dan misi juga dimaksudkan untuk menyempurnakan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif.1.

Penjelasan visi memuat penjabaran kriteria dan indikator-indikator keberhasilan untuk mewujudkan visi. Penelaahan terhadap visi kepala daerah menghasilkan pokok-pokok visi yang diterjemahkan dalam pengertiannya sebagaimana tabel berikut ini: Tabel. 2. Dengan gambaran misi yang demikian. Tabel. 6. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). dan mudah diingat.. misi dapat dirumuskan menjadi alasan mengapa organisasi ada. Secara teknokratis. ringkas dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan. jelas dan padat.T-III. Disusun dengan menggunakan bahasa yang ringkas. peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. harus dirujuk sasaran pokok RPJPD periode berkenaan untuk menghasilkan penjelasan visi yang selaras dengan arah kebijakan RPJPD periode berkenaan.61 Perumusan Penjelasan Misi No. Pokok-pokok Visi Misi/Sub-misi Penjelasan Misi . pernyataan misi sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana.46 5. kelemahan. Suatu alasan menjelaskan jati diri yang sesungguhnya dari Pemerintah Daerah. Oleh karena itu. tim menelaah misi kepala daerah dan makna serta implikasinya bagi perencanaan pembangunan.C. Ada banyak stakeholder pembangunan daerah.60 Perumusan Penjelasan Visi No.9.C. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan.2. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi.T-III. Kriteria suatu rumusan misi: 1. Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan visi daerah. Perumusan Penjelasan Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah. Dalam mengembangkan penjelasan visi. misi juga dapat didefinisikan sebagai komitmen terbaik terhadap stakeholder. C. Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Visi kepala daerah yang telah diuraikan menjadi pokok-pokok visi harus dijelaskan untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. lalu menerjemahkannya ke dalam pernyataan misi sesuai kriteria pernyataan misi sebagaimana telah dijelaskan di atas. sederhana. dan 3. 7. utamanya adalah masyarakat sebagai objek (tujuan) sekaligus subjek (pelaku) pembangunan. spesifik dan jelas horizon waktunya. Rumusan misi dalam dokumen RPJMD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis. Dalam suatu dokumen perencanaan. Rumusan misi yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi yang ingin dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan.1. dan Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti semua pelaku (communicable). Disini.

dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar. dan sasaran.G-III. Dalam hal ini. hasil.. baik pada dampak. “ Apa yang dikerjakan dan dihasilkan (barang) atau dilayani (proses)“ Input Sumberdaya yang memberikan kontribusi dalam menghasilkan output “ Apa yang digunakan dalam bekerja“ Dari gambar di atas.6 Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah Visi/Misi Dampak (Impact) Tujuan/ Sasaran Hasil pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapaian outcome “ Apa yang ingin diubah “ Program Hasil (Outcome) Manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu sebagai hasil dari output “ Apa yang ingin dicapai “ Kegiatan Keluaran (Output) Produk/barang/jasa adalah yang dihasilkan dari proses/kegiatan yang menggunakan input.47 Tabel diatas digunakan untuk merumusan penjelasan misi. Perumusan penjelasan misi merupakan penyelarasan dari arah kebijakan 5 (lima) tahun misi kepala daerah terpilih dan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah. Secara skematik keterkaitan antara visi. Hal ini mengingat bilamana visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak dijabarkan secara teknokratis dan partisipatif kedalam tujuan dan sasaran. program dan kegaiatan yang secara totalitas menjadi arsitektur kinerja pembangunan daerah.10. Perumusan Tujuan dan Sasaran Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja pembangunan daerah secara keseluruhan. program. tujuan dan sasaran Renstra SKPD untuk periode 5 . peran dari penjelasan visi dan misi sangat penting agar proses penyusunan tujuan dan sasaran memenuhi syarat supaya selaras dengan sasaran pokok RPJPD. Perumusan tujuan dan sasaran dari visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah menjadi landasan perumusan visi. C. jelas bahwa tujuan dan sasaran pembangunan daerah mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan pembangunan daerah secara keseluruhan. Selaras dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka perencanaan pembangunan daerah pun menggunakan prinsip yang sama.C. misi. tujuan dan sasaran merupakan dampak (impact) keberhasilan pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapain berbagai program prioritas terkait. Perumusan tujuan dan sasaran merupakan salah satu tahap perencanaan kebijakan (policy planning) yang memiliki kritikal poin dalam penyusunan RPJMD. maka program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih akan mengalami kesulitan dalam mengoperasionalisasikannya kedalam sistem penyelenggaraan pemerintahan. Pengembangan rencana pembangunan daerah lebih ditekankan pada target kinerja.1. misi dengan perumusan tujuan dan sasaran. maupun keluaran dari suatu kegiatan. Di sini.

. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. 2. Merumuskan rancangan pernyataan-pernyataan sasaran dari setiap tujuan. 4.. mudah dicapai. melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah. Kriteria sasaran memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Dalam hal pernyataan tujuan belum sepenuhnya memecahkan isu-isu strategis maka pernyataan tujuan perlu disempurnakan. 4. spesifik. Diturunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi pembangunan daerah yang telah ditetapkan dengan memperhatikan visi. dan Disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. 4. Dirumuskan untuk mencapai atau menjelaskan tujuan. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. Merumuskan rancangan capaian indikator yang terukur dari setiap sasaran. 1. rasional.48 (lima) tahun. Merumuskan rancangan pernyataan tujuan dari setiap misi dan melihat kesesuaian dengan program kepala daerah terpilih. dan Memenuhi kriteria SMART-C. Kriteria suatu rumusan tujuan pembangunan: 1. Untuk mencapai satu tujuan dapat dicapai melalui beberapa sasaran. 2. Untuk mewujudkan suatu misi dapat dicapai melalui beberapa tujuan. 3. dapat di jelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan.C.G-III. dan Langkah – langkah perumusan tujuan dan sasaran: 3. 3. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. 2.7 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah Kepala Daerah Kepala SKPD Visi/misi SKPD dibuat untuk secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung atau mewujudkan visi misi Kepala Daerah Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Program Pembangunan Daerah Program Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Program Pembangunan Daerah berisi program-program prioritas terpilih yang menjadi “top priority” untuk mewujudkan visi/misi Kepala Daerah (RPJMD) RPJMD RENSTRA SKPD Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. sekurangkurangnya memenuhi indikator kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Menguji apakah rancangan pernyataan tujuan dapat memecahkan isu-isu strategis dalam jangka menengah. Kuatnya hubungan kedua lembaga antara kepala daerah dan SKPD dalam perumusan tujuan dan sasaran untuk mewujudkan visi dan misi. Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur.

. .......... Yang demikian.     Tujuan 2 ............... Tujuan 2     Tujuan 3     Dst ....62 Perumusan Tujuan terhadap Misi kepala daerah dan Sasaran Pokok RPJPD Sasaran Pokok Misi KDH Sasaran Pokok 1 Sasaran Pokok 2 Sasaran Pokok 3 Dst Misi 1 ... dapat dimungkinkan mengingat bahwa tujuan dalam RPJMD lebih dimaksudkan menerjemahkan misi.. Dst     Tujuan 1 .. sasaran dan indikator kinerja sasaran. ... .... yang mana sasaran pokok RPJPD ditempatkan sebagai syarat minimal yang harus ada dalam tujuan RPJMD.........T-III.. ............. ................49 5.. Suatu tujuan dapat saja hanya berkorelasi pada misi....63 Pengujian Tujuan terhadap Isu Strategis dan Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 ... ... Menyelaraskan rancangan pernyataan-pernyataan sasaran dan capaian indikator yang terukur terhadap pernyataan arah kebijakan dan sasaran RPJMN untuk penyusunan rancangan awal RPJMD provinsi serta rancangan awal RPJMD kabupaten/kota.. .......... Misi 2 ...........     ...... ........ ...... namun tidak berkorelasi dengan sasaran pokok RPJPD.. Rancangan tujuan RPJMD selanjutnya diuji apakah telah dapat menjawab berbagai isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah...... Dalam hal kepala daerah terpilih menyertakan sub-misi pada masing-masing misi maka tujuan dibuat dengan melihat atau mempertimbangkan sub-sub misi........... ... Hasil rumusan tujuan.. ............ ... sebagai berikut: ......... Perumusan sasaran dengan mengisi tabel........... Dst     Tujuan 4     . Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa suatu tujuan yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya harus diselaraskan jika masih terdapat isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang belum dipecahkan melalui perumusan sasaran.... PPD 2 . Dari tabel di atas tampak bahwa perumusan tujuan pada dasarnya dilakukan terhadap tiaptiap misi dengan memperhatikan sasaran pokok dimana suatu tujuan berkorelasi..... Tujuan 1 . Dalam hal suatu isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah tetap tidak dapat ditemukan atau dibuatkan tujuannya maka perlu disepakati dalam forum perumus bahwa atas isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang dianulir dan tidak dimasukkan dalam prioritas pembangunan daerah periode rencana.... selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel............... .. Misi 3 ..... . PPD 3 .................T-III................... .. Tabel diatas juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa seluruh sasaran pokok RPJPD telah memiliki tujuan dalam RPJMD.. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel...................... ............. ................     Dst ..C..C..... Berdasarkan masing-masing tujuan yang telah disepakati dibuat sasaran untuk kuantifikasi lebih lanjut dan lebih teknis dapat dikelola pencapaiannya..........

: indikator yang mengukur hasil tidak secara langsung.64 Rumusan Sasaran dan Indikator No. Approriate.50 Tabel. Oleh karena itu. program. dimungkinkan digunakannya indikator proxy atau activity dengan catatan bahwa terus diupayakan untuk mendapatkan (yang mengarah pada) indikator exact dimasa-masa datang. Namun. Dalam hal karena kesulitan dalam mendapatkannya. b.. dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: a. Reliable. c. g. kegunaan indikator sebanding dengan biaya pengumpulan data. relevant. : indikator kinerja yang mengukur jumlah. Indikator dan target kinerja dinyatakan dengan jelas pada tahap perencanaan dan pada akhir pelaksanaan. yaitu definisi indikator jelas dan tidak bermakna ganda sehingga mudah untuk dimengerti dan digunakan. b. dapat berupa pengukuran secara kuantitas. Relevant. target kinerja harus menggambarkan secara langsung pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah dan memenuhi kriteria specific. f. yaitu memungkinkan proses validasi dalam sistem yang digunakan untuk menghasilkan idikator. Tingkat validitas indikator kinerja dibagi menjadi: a.C. Validitas indikator kinerja dapat dibedakan berdasarkan gap antara indikator kinerja dan sasaran strategis yang dapat dilihat pada gambar berikut: . Hal ini untuk menjamin aspek akuntabilitas pencapaian kinerja. c. Verifiable. Well Defined. Kualitas indikator kinerja ditentukan oleh: Tingkat validitas indikator kinerja ditentukan berdasarkan tingkat kedekatan indikator kinerja tersebut dengan tujuannya.T-III. e. Cost-effective. Indikator kinerja dipilih seyogyanya merupakan indikator kinerja exact. kualitas atau harga. achievable. Exact Proxy Activity : ukuran yang ideal untuk mengukur hasil pencapaian sasaran strategis yang diharapkan. dan waktu dari kegiatankegiatan yang berdampak pada sasaran strategis yang bersangkutan. Measurable. d. program. yaitu indikator yang dipilih harus sesuai dengan upaya peningkatan pelayanan/kinerja. yaitu indikator yang digunakan diukur dengan skala penilaian tertentu yang disepakati. time bond dan continously improve (SMART-C). Karena indikator dimaksud memiliki gap mendekati nol atau sama sekali tidak ada gap dalam menjelaskan indikator kinerja yang diukur. measurable. disadari bahwa penentuan suatu indikator kinerja atas kegiatan. yaitu indikator yang digunakan akurat dan dapat mengikuti perubahan tingkatan kinerja. tetapi sesuatu yang mewakili hasil tersebut. atau sasaran yang diukur. Misi/Sub-misi Tujuan Sasaran Indikator Target - Perumusan indikator kinerja dan capaian kinerja tersebut harus dapat digunakan untuk mengukur capaian keberhasilan program pembangunan jangka menengah daerah. biaya. Kualitasnya ditentukan sejauh mana indikator benar-benar dapat mewakili (perilaku) dari kegiatan. yaitu indikator terkait secara logis dan langsung dengan tugas institusi. serta realisasi tujuan dan sasaran strategis. atau sasaran bukan hal yang mudah.

Metodologi itulah berupa perumusan strategi. strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi.51 Gambar. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.. dan perbaikan kinerja birokrasi. termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi. Dibutuhkan pendalaman materi dan analisis data serta diskusi yang tidak kenal lelah demi menghasilkan strategi terbaik untuk mencapai tujuan dan sasaran RPJMD. : Pencapaian target juga dipengaruhi unit/individu lain.C.1.11. C.G-III. Perumusan Strategi dan Arah Kebijakan Setelah tujuan dan sasaran dan indikator kinerja RPJMD dirumuskan. Suatu tingkat kendali Menunjukan sejauh mana kemampuan suatau organisasi dalam mengontrol/mengelola pencapaian target indikator kinerja: a. High b.1. Low : Pencapaian target secara dominan ditentukan oleh unit/individu yang bersangkutan. sistem manajemen.1. Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan. Dengan pendekatan yang komprehensif. Sebagai proses yang abstrak dan kompleks. Size of Gap . perumusan strategi membutuhkan keseriusan dan kemampuan berpikir bagi anggota tim yang terlibat dalam perumusan. dibutuhkan metodologi atau teknis dalam menentukan program/kegiatan prioritas apa suatu target kinerja akan dicapai dalam 5 (lima) tahun. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah (strategy focussed-management).11. Perumusan Strategi Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. : Pencapaian target sangat dipengaruhi secara dominan oleh unit/individu lain. dan pemanfaatan teknologi informasi.8 Tingkat Validitas Indikator Kinerja Sasaran Strategis Indikator Kinerja Exact Sasaran Strategis Size of Gap Sasaran Strategis Indikator Kinerja Proxy Indikator Kinerja Activty Indikator kinerja dan upaya-upaya untuk mencapainya juga mempertimbangkan tingkat kendali (degree of contollability) pemerintahan daerah atas apa yang ditargetkan dari kinerja tersebut. tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik. C. reformasi. Rumusan strategi berupa pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Moderate c.

Menyelaraskan organisasi sesuai pilihan strategi jangka menengah.Sasaran Pokok . Menjadikan strategi sebagai proses yang berkelanjutan. Arsitektur perencanaan pembangunan daerah dipisahkan menjadi dua: 1.9 Pemisahan Rencana Strategis dan Operasional RPJPD 20 Tahun . 3.Visi dan Misi . akuntabel dan berkomitmen terhadap kinerja. Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis. Melalui parameter tersebut. strategi harus dikendalikan dan dievaluasi (learning process). Perencanaan Operasional yaitu perencanaan yang menekankan pada pencapaian kinerja layanan pada tiap urusan. Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. 4.Program Pembangunan Daerah . transparan.Program Prioritas Dibutuhkan komitmen agar strategi yang telah disepakati juga dijalankan. 5. dan Suatu strategi yang baik harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip: 3. . Di sini penting untuk mendapatkan parameter utama yang menunjukkan bagaimana strategis tersebut menciptakan nilai (strategic objective). Strategi dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertolak-belakang. Perencanaan Strategik yaitu perencanaan pembangunan daerah yang menekankan pada pencapaian visi dan misi pembangunan daerah.Strategi dan Arah kebijakan .52 Rumusan strategi juga harus menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana Pemerintah Daerah menciptakan nilai tambah (value added) bagi stakeholder pembangunan daerah.Arah Kebijakan RPJMD 5 Tahun .Program Prioritas Perencanaan Strategik Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Perencanaan Operasional . Strategi didasarkan pada capaian kinerja pembangunan dan pemenuhan kebutuhan layanan yang berbeda tiap segment masyarakat pengguna layanan. Perencanaan sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi kepala daerah ke dalam rencana kerja yang actionable. dan pemangku kepentingan. 1.C. dan Memobilisasi perubahan melalui kepemimpinan yang baik. Menerjemahkan strategi kedalam bentuk yang operasional.Tujuan dan Sasaran .Visi dan Misi . Lima prinsip manajemen untuk menciptakan komitmen dalam menjadikan strategi sebagai basis perencanaan pembangunan daerah adalah: 1. 2. 2. Menjadikan strategi sebagai komitmen dan rutinitas birokrasi. 2. Layanan yang bernilai tambah diciptakan secara berkelanjutan dalam proses internal Pemerintah Daerah.G-III. dapat dikenali indikasi keberhasilan atau kegagalan suatu strategi sekaligus untuk menciptakan budaya “berpikir strategik” dalam menjamin bahwa transformasi menuju pengelolaan keuangan pemerintah daerah yang lebih baik..

................................................................................................................... ................ Strategi terdiri dari tema-tema yang secara simultan saling melengkapi membentuk cerita atau skenario strategi..............53 4....... ............................ satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut................................. .... jelas bahwa perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak.... dipetakan kebutuhan informasi untuk analisis SWOT (atau TOWS) dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel................................. Satu strategi dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran.... beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema........................... peluang/opportunities dan tantangan/threats).........G-III..................................... Pertama.T-III.. ................................................... ......... Menyusun alternatif pilihan langkah yang dinilai realistis dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan.... Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan untuk setiap langkah yang akan dipilih..........................C........... (-) Ancaman ........ ............................ (-) Kelemahan ....... ..................................................... .................... 2........10 Keterkaitan Sasaran Dengan Strategi Sasaran 1 Strategi 1 atau Sasaran 1 Sasaran 2 Strategi 1 Sasaran 2 Strategi 2 Sasaran 3 Dari gambar di atas........ dan threats)............. .............................................................................................................. menentukan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran atau kumpulan sasaran yang inherent................................. Langkah-langkah merumuskan strategi sebagai berikut: 1...... dengan dengan terlebih dahulu melakukan analisis SWOT (strength........................... Suatu strategi............................ weakness.... dapat secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis sebagaimana bagan berikut: Gambar.................. dan Melakukan evaluasi untuk menentukan pilihan langkah yang paling tepat antara lain dengan menggunakan metode SWOT (kekuatan/strengths........... Dalam hal.. dengan langngkah-langkah meliputi: 3..... Pemetaan SWOT di atas sangat penting untuk memahami kondisi riil daerah termasuk di dalamnya Pemerintah Daerah.. Eksternal (+) Peluang ..... ................ kelemahan/weaknesses........ ....................................65 Identifikasi SWOT Internal (+) Kekuatan ................................................ .................................... opportunity.......................................... Melalui analisis data-data dan hasil prosesproses pada tahapan sebelumnya............. Diskusi-diskusi yang intens akan sangat membantu penajaman .............C..............

……………… 3. 2. 3.66 Keempat. Tabel. ……………… 3. selanjutnya diuraikan ke dalam tabel sebagai berikut: Penentuan Alternatif Strategi No. ……………… 3. dst …… Alternatif Strategi: 1. dst …… Alternatif Strategi: 1. ……………… 3.. 1. Pemilihan strategi yang paling tepat diantara berbagai alternatif strategi yang dihasilkan dengan metode SWOT. Menggunakan metode Balanced Scorecard. dst …… Alternatif Strategi: 1. ……………… 2. dst …… Alternatif Strategi: 1. Kedua.C.T-III. ……………… 2. pemangku kepentingan lainnya. Pengujian dilakukan pada tingkat pembahasan tim. dst … Faktor Eksternal Faktor Internal Kekuatan: 1. ……………… 2. Dst. alternatif strategi yang dipilih. ……………… 2. .66 Penentuan Alternatif Strategi dan Indikator Sasaran Peluang: 1.C. Penting untuk menekankan bahwa strategi harus dipandang sebagai satu kesatuan skenario-skenario selama periode 5 (lima) tahun. ……………… 3. dst …… Pengembangan alternatif strategi dapat menggunakan metode atau teknik lain sepanjang dapat dipertanggungjawabkan. ……………… 2. ……………… 3. Menggunakan kombinasi antara FGD dengan metode lainnya untuk objektifitas pemilihan strategi. ……………… 3. Penggunaan metode SWOT di sini lebih karena kesederhanaan dan banyak dipahami berbagai kalangan. ……………… 2. dst … Ancaman: 1. Atas dasar informasi yang telah terbagi dalam 4 (empat) kuadran di atas dirumuskan alternatif strategi sebagai berikut: Tabel. menentukan strategi dari beberapa alternatif strategi.C. ……………… 2. dst …… Kelemahan: 1.T-III. ……………… 3.T-III. Kinerja Sasaran Indikator Kinerja Sasaran Alternatif Strategi *) `*) Diisi dengan alternatif strategi yang dipilih dari Tabel.67 Ketiga. ……………… 2.54 tiap komponen. dapat dilakukan melalui: 1) 2) 3) 4) Dibahas kembali melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman di bidang manajemen strategik. agar secara seimbang melintasi lebih kurang empat perspektif: 1) Perspektif masyarakat/layanan: bagaimana strategi dapat menjadikan pengaruh langsung terhadap pengguna layanan atau segmen masyarakat. Menggunakan metode pembobotan dengan cara seperti yang dilakukan terhadap penentuan isu-isu strategis. untuk menghasilkan perumusan strategi yang pada akhirnya dapat selaras dengan pilihan program yang tepat maka rumusan strategi harus dipetakan (strategy mapping).

FGD atas bahan-bahan yang telah diidentifikasi. 4.2. Mengidentifikasi permasalahan dan isu strategik terkait tiap tahun. 3.. teknologi. Mengidentifikasi tiap sasaran dan target kinerja tiap tahun. Tujuan Sasaran Arah Kebijakan Arah Kebijakan Th 1 Arah Kebijakan Th 2 Arah Kebijakan Th 3 Arah Kebijakan Th 4 Arah Kebijakan Th 5 Strategi . Menetapkan arah kebijakan untuk menghubungkan strategi pada sasaran dan kapan harus diselenggarakan diuraikan kedalam tabel sebagai berikut: Tabel.68 Perumusan Arah Kebijakan Pembangunan No. 2. dan 6. Dirumuskan bersamaan dengan formulasi strategi. 5. antara lain: 1. 2. Membantu menghubungkan tiap-tiap strategi kepada sasaran secara lebih rasional. Perspektif keuangan: strategi harus dapat menempatkan aspek pendanaan sebagai tujuan sekaligus sebagai konstrain (cost-effectiveness) serta untuk mencapai manfaat yang terbesar dari dana yang terbatas (allocative efficiency). Kriteria suatu rumusan arah kebijakan. Memutuskan arah kebijakan. Memperjelas kapan suatu sasaran dapat dicapai dari waktu ke waktu.T-III. Langkah-langkah merumuskan arah kebijakan sebagai berikut: 1. 3. sebelum atau setelah alternatif strategi dibuat. Perspektif kelembagaan: strategi harus mampu menjelaskan dengan investasi apa pada sistem. Mengarahkan pemilih strategi agar selaras dengan arahan dan sesuai/tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.11.C. dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjamin terselenggaranya layanan pemerintahan daerah yang baik (good governance) dalam jangka panjang.1. dan 4. 4) C. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya.55 2) 3) Perspektif proses internal: strategi harus mampu menjadikan perbaikan proses dan pemberian nilai tambah pada proses birokrasi (internal business process). Menguji apakah rancangan arah kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Merumuskan draft arah kebijakan. Perumusan Arah Kebijakan Arah kebijakan adalah pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5 (lima) tahun.

C. Namun. operasional dan fokus.11 Strategi Pelaksanaan Arah Kebijakan Sasaran Pokok/ Target Kinerja Arah Kebijakan Tahun 1 Strategi 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Sasaran I Sasaran II Strategi 2 Strategi 3 Sasaran III Strategi 4 Strategi 5 Sasaran IV Strategi 6 Strategi 7 Sasaran V Dari diagram di atas. Menjelaskan strategi lebih spesifik. Strategi dapat dijalankan dari atas dalam 1 (satu) tahun periode. yang terpenting keseluruhan strategi harus menjadi strategi pembangunan daerah yang padu dan mampu memberdayakan segenap potensi daerah dan pemerintahan daerah sekaligus memanfaatkan segala peluang yang ada. strategi harus dirumuskan secara spesifik terhadap horizon waktu. Dengan arah kebijakan. dan Mengarahkan pemilihan program agar tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan dan kepentingan umum..C.1. Kriteria suatu rumusan kebijakan umum antara lain: 1. Perumusan Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator kinerja sasaran yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan jangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang ditetapkan. Melalui rumusan kebijakan umum. Mengarahkan pemilihan program yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. Urut-urutan strategi dari tahun ke tahun selama 5 (lima) tahun dipandu dan dijelaskan dengan arah kebijakan. Keberhasilan capaian satu program mendukung atau memicu keberhasilan program lainnya. 3. berdasarkan arah kebijakan. konkrit.56 Terhadap atribusi waktu. diperoleh sarana untuk menghasilkan atau diperolehnya berbagai program yang paling efektif mencapai sasaran. Agar kebijakan umum dapat dijadikan pedoman dalam menentukan program prioritas yang tepat. strategi dapat diterangkan secara logis kapan suatu strategi dijalankan mendahului atau menjadi prasyarat bagi strategi lainnya. Untuk itu. Namun.12. 2. sebagai berikut: . sebagaimana kerangka logis sebagai berikut: Gambar.G-III. kebijakan umum dibuat dalam empat perspektif sesuai strateginya. dibutuhkan kebijakan umum agar dapat merangkai program-program prioritas yang inherent. suatu strategi juga dapat dijelaskan pelaksanaannya sesuai tahapan. dapat pula membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Melalui kebijakan umum diperoleh cerita strategi melalui program-program yang saling terkait dan rasional dalam mendukung pencapaian indikator dan target sasaran yang ditetapkan.

dan upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas keuangan daerah demi mendukung strategi pembangunan daerah. Setelah kebijakan umum dibuat. 3.12 Arsitektur Kinerja RPJMD antara kinerja Strategis dengan Oprasional Hasil/out come Program Pembangunan Daerah Perencanaan Strategik Program Prioritas (Strategik) Indikator Kinerja Strategis Lagging Leading Program Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Perencanaan Operasional Hasil/out come Program Prioritas (Operasional) Indikator Kinerja Oprasional Lagging Leading Langkah awal untuk mengidentifikasi program-program prioritas apa yang akan dirumuskan bagi suatu strategi adalah dengan membuat kebijakan umum di 4 (empat) perspektif tiap strategi dan diidentifikasi indikator kinerjanya. Kebijakan pada perspektif kelembagaan yaitu kebijakan yang mendorong upaya-upaya yang mengungkit kinerja masa depan berupa investasi pada perbaikan SDM.. pengembangan barang/jasa publik.C. dan penyerahan layanan pada segmentasi masyarakat yang sesuai. langkah selanjutnya adalah merumuskan program pembangunan daerah. efisiensi belanja. dan pemanfaatan teknologi informasi bagi peningkatan kinerja operasional pemerintahan daerah. 2. dengan mengisi tabel berikut: Langkah awal untuk mengidentifikasi program-program prioritas apa yang akan dirumuskan bagi suatu strategi adalah dengan membuat kebijakan umum di 4 (empat) perspektif tiap strategi dan diidentifikasi indikator kinerjanya. 4. Suatu program pembangunan daerah merupakan sekumpulan program prioritas yang secara khusus berhubungan dengan capaian sasaran pembangunan daerah. Suatu program pembangunan daerah dapat berupa pernyataan yang disamakan atau sekurang-kurangnya mengandung program kepala daerah terpilih yang didalamnya berisi program prioritas yang bersifat strategis. kebutuhan dan aspirasi mereka dan layanan apa yang harus diberikan. Tahap ini sangat penting dalam perumusan RPJMD karena hasil dari perumusan program pembangunan daerah menghasilkan rencana pembangunan yang kongkrit dalam bentuk program prioritas. Kebijakan pada perspektif proses internal adalah kebijakan bagi operasionalisasi birokrat dan lembaga pemerintahan yang mendorong proses penciptaan nilai dari proses inovasi. sebagai berikut: Gambar.G-III. dengan mengisi tabel berikut: . Kebijakan pada perspektif keuangan yaitu kebijakan yang memberi jalan bagi upaya untuk mengefektifkan alokasi anggaran. Suatu program prioritas bersifat strategis mengikuti arsitektur kinerja. Kebijakan pada perspektif masyarakat/layanan adalah kebijakan yang dapat mengarahkan kejelasan segmentasi masyarakat yang akan dilayani. sistem.57 1. Urgensi lain adalah juga karena perumusan program pembangunan daerah adalah inti dari perencanaan strategis itu sendiri yang mendefinisikan tujuan startegis dalam 5 (lima) tahun.

. Strategi ... Kebijakan Umum: ..69 Perumusan Kebijakan Umum Strategi 1 No 1................. Bagi suatu perspektif yang tidak ada kebijakannya maka program prioritas pada perspektif tersebut tidak perlu dibuat....... sebagai berikut: Gambar.......... Perspektif Perspektif 1 Perspektif 2 Perspektif 3 Perspektif 4 Kebijakan Umum Indikator Strategi 2 Kebijakan Umum Indikator Strategi 3 Kebijakan Umum Indikator Strategi..(dst) Kebijakan Umum Indikator Dengan pengisian tabel di atas... (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 2) (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 3) Suatu program pembangunan daerah.. Tiap-tiap strategi akan memiliki gambaran tema-tema strategik di masing-masing perspektif. secara teknokratis diterjemahkan dalam program prioritas yang pada dasarnya dijabarkan dari strategi yang telah dirumuskan.. 2... rumusan kebijakan umum akan dibuat setiap perpektif mengenai masing-masing strategi.... Berdasarkan kebijakan umum pada masing-masing perspektik dan indikator kinerja (outcome) yang dipersyaratkan maka dirumuskan berbagai jenis program terkait....C.. 4............................ (dst) Perspektif Masyarakat/ stakeholder (P1) (Tema Strategis: Perspektif 1 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 1 untuk strategis 3) Kebijakan Umum: ....58 Tabel. Perspektif Proses Internal (P2) (Tema Strategis: Perspektif 2 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 2 untuk strategis 2) Kebijakan Umum: . Perspektif Kelembagaan (P3) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 2) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 3) Perspektif Keuangan (P4) Kebijakan Umum: ....T-III.... .. Kebijakan Umum: .......13 Gambaran Analisis Strategi Sasaran A Sasaran B Sasaran C Sasaran . sebagaimana dijelaskan dalam diagram di bawah ini............... melaui kebijakan umum. 3.. (dst) Strategi I Kebijakan Umum: ...G-III. Kebijakan Umum: .... Strategi II Strategi III Kebijakan Umum: ...............C.....

P... P...... II.. III.... Program harus disusun dalam kerangka strategis pembangunan jangka menengah daerah.d Perspektif Masyarakat (P1) P..P. d.P.P..a P...1... (dst) Kebijakan Umum: .b P.. (dst) Strategi I Kebijakan Umum: .P... tergantung strategi untuk mencapai sasaran.2.P.b Perspektif Keuangan (P4) Kebijakan Umum: .. I.. memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.a P.P.P.3....... Penamaan program dengan kalimat sederhana........ Suatu indikator di perspektif paling atas adalah hasil (outcome measures) bagi indikator kinerja dari perspektif-perspektif yang ada dibawahnya (performance drivers)...G-III..3.. I.C..59 Gambar.c Kebijakan Umum: .2.... III.c Perspektif Proses Internal (P2) P....c P. Lagging indicators adalah tolak ukur kinerja sebagai akibat atau hasil dari serangkaian tindakan lain...4.. I... I. kinerja masing-masing program dapat dipisahkan antara lagging indicators dan leading indicators. c.. tidak selalu tiap perspektif terdapat program prioritas.3.4.a P.. III. Adapun leading indicators adalah kinerja yang memicu tercapainya hasil..P... Strategi II Strategi III Strategi ... yaitu harus memperhitungkan bahwa program yang dirumuskan merupakan salah satu elemen dalam pencapaian rencana pembangunan jangka menengah daerah. I.4.1.....P.P.....1....P.. Keterkaitan antara program dengan strategi dan arah kebijakan menunjukan pentingnya kejelasan hubungan antara program prioritas dengan sasarannya...... Selanjutnya.P... dalam penyusunan program harus melibatkan SKPD berkenaan.14 Arsitektur Pemetaan Strategi RPJMD Sasaran A Sasaran B Sasaran C Sasaran . P.... Penentuan program diupayakan merata ditiap perspektif untuk menjaga kepaduan dan daya ungkit strategi terhadap target indikator kinerja sasaran pokok. Perumusan program pembangunan jangka menengah daerah termasuk program prioritas di dalamnya... Kebijakan Umum: ... III..P.P...a Keterangan: PP.a P.I.1....2.....3......P...b P. Kebijakan Umum: .2.. II..a P.... P.1. Kebijakan Umum: ......... I.P.b Kebijakan Umum: . Untuk meningkatkan rasa tanggung jawab atas pencapaian kinerja program.2. Namun demikian..b P. I.. II.. Dari gambar diatas juga dapat dijelaskan bahwa suatu program atau perspektif (P4) dapat menjadi kebijakan umum yang berlaku bagi seluruh strategi.P..a P. Program harus didefinisikan sebagai cara untuk mencapai target kinerja sasaran melalui strategi dan arah kebijakan.1.. b.a P... II. Tampak bahwa tiap strategi mengandung berbagai program yang inherent dan spesifik untuk mencapai sasaran masing-masing.a P. ringkas mudah dimengerti sehingga dapat dijabarkan kedalam kegiatan.a Perspektif Kelembagaan (P3) P. I.. P.. III. II.a: Program Prioritas untuk perspektif P1 pada strategi I..1. III...2. .P..

.....60 Perumusan output/keluaran yang akan dihasilkan dalam rangka pencapaian outcome. Kebijakan Umum P3 Program I................. Kebijakan Umum P2 1...1.........a . Kebijakan Umum P1 Program I.d ................ sebagai berikut: Tabel.................. Indikator Kinerja Target Kinerja *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.................a ...... Dengan demikian........... Strategi II Kebijakan Umum P3 Kebijakan Umum P4 Program II. Program II.. Program II....a .......2.......... Disusun dengan melibatkan SKPD yang memiliki tugas dan fungsi terkait dengan outcome yang ditetapkan dalam pembangunan jangka menengah daerah.......a ...c ... Perumusan Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Tahapan ini merupakan langkah teknokratis dalam menerjemahkan berbagai analisis dan metodologi perumusan sebelumnya ke dalam penyusunan program prioritas......... Program I.b .......b ........ Program III...2.... Program II.................3.....3.... Sesuai arsitektur perencanaan yang memisahkan antara aspek strategis dan operasional program prioritas dipisahkan pula menjadi 2 (dua) yaitu program prioritas untuk perencanaan strategis dan program prioritas untuk perencanaan operasional...a ...a ............a .. Suatu program prioritas yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah pada dasarnya adalah perencanaan operasional.........a .1..T-III.......2.a ..1...4. Program I.....1.1.....C.... memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a...b ......c ..70 Perumusan Program Prioritas Pada Program Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota..3.. Program III...c ... Kebijakan Umum P1 Program III........a .. c........... Program III..........................13.... 3. Strategi III Program III.....2...... Program III.... Kebijakan Umum P2 2........ Strategi I Program I..2. Sebuah outcome dapat dicapai dengan satu atau beberapa output b.. ...........*) No Strategi Kebijakan Umum Program Pembangunan Daerah/Program Prioritas Program I........... Disusun untuk menjadi acuan bagi SKPD dalam menyusun kegiatan yang akan dirumuskan dalam Renstra SKPD..3...1.....b ..... rumusan program prioritas pada program pembangunan daerah dapat dituangkan dalam bentuk tabel... Program II........b ........... C. Kebijakan Umum P3 Kebijakan Umum P4 Dst... Kebijakan Umum P4 Program I.1.4........2.........4................... Program I................

dibuatlah alokasi pagu untuk setiap program. perhitungan pagu indikatif masing-masing program dipisahkan menjadi pagu indikatif untuk program prioritas yang berhubungan dengan program pembangunan daerah (strategik) dan pagu indikatif untuk program-program yang berhubungan dengan pemenuhan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dengan kerangka. Berdasarkan rumusan permasalahan pembangunan daerah di tiap urusan maka dibuatlah program prioritas dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan. Perumusan program prioritas bagi penyelenggaraan urusan dilakukan sejak tahap awal evaluasi kinerja pembangunan daerah secara sistematis dilakukan pada identifikasi permasalahan pembangunan diseluruh urusan (wajib dan pilihan).71 Perumusan Program Prioritas No Program Pembangunan Daerah (starategis) Permasalahan Pembangunan Daerah (Oprasional) Faktor Penentu Keberhasilan Program Indikator Kinerja Target Kinerja Perhitungan Pagu Indikatif Program Prioritas Setelah program prioritas diketahui baik berasal dari perumusan strategis maupun dari rumusan permasalahan pembangunan daerah. Namun. harus diprioritaskan terlebih dahulu. menjadi tanggung jawab bersama Kepala SKPD dengan kepala daerah pada tingkat kebijakan. bagi program prioritas yang dikategorikan strategik. Yang demikian karena suatu urusan yang bersifat strategis ditetapkan temanya karena pengaruhnya yang sangat luas dan urgent untuk diselenggarakannya sangat tinggi. menjadi operasional diperiode berikutnya. tidak langsung dipengaruhi oleh visi dan misi kepala daerah terpilih. kinerjanya merupakan tanggung jawab Kepala SKPD. dan evaluasi yang dilakukan lebih tinggi intensitasnya dibanding yang operasional.T-III. tidak berarti bahwa urusan lain ditinggalkan atau diterlantarkan.C. pengendalian. Berbeda dengan penyelenggaraan aspek atrategik. Artinya. Dalam hal suatu urusan atau program/kegiatan didalamnya menjadi strategis maka perencanaan. baik strategis maupun operasional.61 Suatu urusan menjadi strategis tergantung tujuan dan sasaran pembangunan dan bagaimana strategi pencapaiannya. program prioritas bagi penyelenggaraan urusan pemerintahan dilakukan agar setiap urusan (wajib) dapat diselenggarakan setiap tahun. Suatu program prioritas. sebagaimana tabel dibawah ini: Tabel. suatu prioritas pada beberapa urusan untuk mendukung visi dan misi serta program kepala daerah terpilih. Suatu urusan pemerintahan daerah dapat menjadi strategis di satu tahun atau periode dan sebaliknya. sebagai berikut: . Selanjutnya. Pagu indikatif program merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program prioritas tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Begitu pula dalam penganggarannya..

. . Keluaran 2 .. sebagai berikut: Tabel..... Rp.. total pagu indikatif............ ..... ......... Menghitung alokasi pagu dari setiap output kegiatan untuk setiap program. Berdasarkan jumlah total dana pada Dana Prioritas I dan II........... penentuan pagu indikatif pada masing-masing kelompok diatas. d. Program 1 ..... Standar Belanja Rp........ Dst ... Rp.... .. Program dst ............. Menghitung alokasi pagu setiap program setelah output kegiatan pada setiap program diverifikasi kebenarannya.. Dst ...G-III.. Keluaran 2 . Rp. Dst .72 Perhitungan Pagu Program Prioritas pada Prioritas I Program Outcome Keluaran 1 .. . dilakukan secara simultan antara nilai pagu indikatif masing-masing program prioritas.. b.. Menghitung alokasi SKPD berdasarkan program yang menjadi tanggungjawab SKPD...... SKPD 1 Pagu Program SKPD .... . Rp... Menentukan keluaran/output setiap kegiatan pada program terkait.. Rp. . SKPD 2 Rp.. Program 2 . Keluaran 3 ..... ......... Rp...... Keluaran 1 .... Perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan mengisi tabel...C.15 Kerangka Penghitungan Pagu Indikatif Perencanaan Strategik Dana Pada Prioritas I Dialokasikan Pagu Indikatif Program Prioritas Pada Program Pembangunan Daerah Dialokasikan Perencanaan Operasional Dana Pada Prioritas II Pagu Indikatif Program Prioritas Pada Penyelenggaraan Urusan Pemerintah daerah Lainnya Dengan demikian...C. c...62 Gambar... Rp... dan dana pada total dana Prioritas I/Prioritas II.. perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan: a.....T-III...... ....

. Keluaran 1 ................. ...... Setelah pagu setiap kegiatan diketahui kemudian Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program.. kegiatan.... Keluaran 3 .. Keluaran 2 ..... ......C............. Program dst ... Rp..63 Tabel... indikator kinerja....T-III. Dst .... Rp... Rp.. SKPD 1 Pagu Program SKPD Dengan berjalannya waktu dimana proses pembelajaran dan terpenuhinya data-data kinerja lebih baik di masa datang... ............ ...... Dst .. Keluaran 2 ......... ..73 Perhitungan Pagu Program Prioritas pada Prioritas II Program Outcome Keluaran 1 .... . kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD.. .... Rp. Dst . bukan activity... yang dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: . ....... Rp.......... Rp. Program 1 . Program 2 ... . Rp.. penghitungan pagu dapat dibuat pada level indikator proxy atau bahkan indikator exact dimana pagu dihitung dari standar belanja outcomes....... Standar Belanja Rp........ SKPD 2 Rp..

. Program....74 Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota.......... 2 02 Dst ............. 1 03 Dst . Dst ...... 2 2 2 2 2 01 01 01 01 01 02 03 Urusan Pilihan Pertanian Program........ Program.C. Dst ........*) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan (2) Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja pada Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun-1 Target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 Target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) (17) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program....... 1 1 1 02 02 02 01 02 Kesehatan Program..........T-III...... Dst . *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota ......64 Tabel.

Cara pengisian Kolom (6) sampai dengan kolom (13) yang terdapat mulai dari kolom Tahun-2 (tahun kedua periode RPJMD) sampai dengan kolom Tahun-5 (tahun kelima periode RPJMD). Kolom (3) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome). diisi dengan kondisi kinerja pada awal RPJMD Kolom (4) Kolom Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan untuk setiap baris program. C. Uraian nama urusan pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (2) diisi dengan: a. diisi sebagai berikut: a. Indikator kinerja daerah secara teknis pada dasarnya dirumuskan dengan mengambil indikator dari program prioritas yang telah ditetapkan (outcomes) atau kompositnya (impact).T-III. Kolom (6) diisi dengan jumlah pendanaan pada tahun pertama periode RPJMD yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) yang ditetapkan. Kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): Kolom (5) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada tahun pertama periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. layanan. .65 Tata cara pengisian Tabel. Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dari sisi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah.74 Kolom (1) diisi dengan dengan kode Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah/ Program. Pemerintahan Daerah Provinsi.o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah. khususnya dalam memenuhi kinerja pada aspek kesejahteraan. Kolom (Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD): Kolom (15) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Uraian nama program.1. yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode RPJMD. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Kolom (16) diisi dengan total jumlah pendanaan selama periode RPJMD mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5.C. Kolom (17) Diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j. b. Penetapan Indikator Kinerja Daerah Setelah program prioritas dan pendanaan diketahui langkah selanjutnya adalah menetapkan indikator kinerja daerah. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM)..14. dilakukan sama dengan cara pengisian kolom (4) dan kolom (5) pada kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): b. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota. dan daya saing.

Perumusan indikator program prioritas dapat dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. 1.1.1. 2.2.4. 1..2 2.. 1.1.66 Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan. Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 1 (4) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1..1. 1.3.. poliklinik. 1. Dst.75 Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/kota .2..*) Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 (1) (2) (3) No... 1.. 1..2. Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid dst….1. Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst…..C.3.3 3.. Pemerintahan Umum. Perangkat Daerah. 1. pustu per satuan penduduk Dst….. ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib 1. 1.4.. 1.3 2. .2..2.3. 1..2.. 1..1.. Otonomi Daerah.T-III.1 1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi provinsi PDRB per kapita Dst… Kesejahteraan Sosial 1.1.1 2. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas. 2.2.. 1.2. 2..1. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst…. Dst…… Dst. 1.. 1.. Administrasi Keuangan Umum.1.

.3.1.T-III.. 1. Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1.2. 1. 1. 3.3.74 Kolom (1) diisi dengan dengan no urutan aspek/fokus/indikator..1. 3. Dst ….67 - No. 2. 1. 1. s/d kolom (8) diisi dengan target capaian indikator tiap tahunnya. 2. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 Tahun 1 (4) Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) (1) (2) (3) 3. 2.2. Dst….1.1 Dst…. 2.. Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan aspek/fokus indikator kinerja pembangunan daerah (dapat merujuk pada lampiran I peraturan Menteri ini).. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1 Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….1. Perangkat Daerah. Pelayanan Urusan Pilihan 1. 1.2.C. 1. 2.2. diisi dengan uraian indikator kinerja pada awal RPJMD. 2. 2. Tata cara pengisian Tabel. 2.1. 3. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst….3. 2. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst…. 2.1. 3. Pemerintahan Umum.2. 1.4. Administrasi Keuangan Umum.1 Otonomi Daerah. Dst…… ASPEK DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi 1.3. 1.

. Pembahasan dengan DPRD untuk Memperoleh Masukan dan Saran Setelah dirumuskannya visi dan misi kepala daerah kedalam program dan tujuan pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan.16.17.1..15. Rancangan awal RPJMD kabupaten/kota juga merupakan bahan acuan bagi desa/ kelurahan dan kecamatan untuk melakukan Musrenbang desa/kelurahan dan Musrenbang kecamatan.1.. Bahan yang dikonsultasikan adalah rumusan sementara program pembangunan daerah untuk tahun rencana serta dasar analisis yang mendukung rumusan tersebut.T-III. akan menentukan arah pembangunan 5 (lima) tahun kedepan apa yang akan dilaksanakan oleh daerah dalam mencapai visi dan misi kepala dan wakil kepala daerah yang kemudian dirumuskan kedalam program dan tujuan pembangunan daerah 5 (lima) tahun kedepan.. Selanjutnya dilakukan pembahasan dengan DPRD yang merupakan perwakilan dari masyarakat. Bappeda mengirimkan rancangan awal RPJMD yang disertai dengan jadwal kalender perencanaan daerah untuk tahun yang direncanakan kepada seluruh SKPD sebagai bahan bagi SKPD untuk menyusun Rancangan Renstra SKPD. Hasil konsultasi atau kesepakatan dalam konsultasi publik dapat dimasukkan dalam tabel berikut ini: Tabel. Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pelaksanaan forum konsultasi publik dimaksudkan untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan pada tahap awal dengan tujuan untuk menghimpun aspirasi atau harapan para pemangku kepentingan terhadap program pembangunan daerah pada tahun yang direncanakan.68 Kolom (9) diisi dengan kondisi kinerja pada akhir periode RPJMD (dalam hal. SKPD akan menyesuaikan program yang telah disusun dalam dokumen Renstra SKPD dengan RPJMD. indikator akhir periode sama dengan indikator akhir tahun ke lima).76 Kompilasi Hasil Konsultasi Publik Provinsi/Kabupaten/Kota. Pengiriman rancangan awal RPJMD tersebut disertai dengan catatan agar setiap SKPD menyerahkan rancangan Renstra SKPD kepada Bappeda sesuai dengan kalender perencanaan yang disampaikan. Bappeda bersama Sekretaris Daerah mengundang seluruh Kepala SKPD untuk pembahasan rancangan awal RPJMD.C.1.*) No Visi Misi Sasaran Pokok Arah Kebijakan Materi Masukan/Usulan Tambahan Keterangan C. Pembahasan dengan . Kertas kerja perumusan rancangan awal RPJMD dapat disertakan untuk mendukung rancangan awal RPJMD yang dikonsultasikan. Pembahasan Dengan SKPD C. target tahunan bersifat kumulatif tiap tahun.. guna disepakati sebagai pedoman penyusunan rancangan RenstraSKPD. Setelah diketahui program prioritas beserta kerangka pendanaan kemudian setiap program dilakuan pembahasan dengan SKPD sebagai bahan/input SKPD dalam menyusun Renstra SKPD. C. apakah program dan tujuan pembangunan lima tahun yang telah disusun dalam dokumen RPJMD sudah selaras dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat lima tahun kedepan. Kesesuaian antara Renstra SKPD dan RPJMD.

.. Dst . Program1 ... yang dihitung berdasarkan indikasi jenis dan besaran kegiatan yang dibutuhkan sesuai program prioritas dan kemampuan fiskal daerah.. TAHAP PENYAJIAN Tahap ini pada dasarnya merupakan penyajian dari apa yang telah dihasilkan dari tahap perumusan kedalam dokumen perencanaan..o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah.. 3...... diisi dengan uraian nama program dari masing-masing prioritas.. Prinsip-prinsip dalam penyajian adalah: a..... Semua informasi yang disajikan harus berkorelasi dan didukung dengan data yang valid dari kertas kerja perumusan.. 2........ Program 2 .... Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Mengemukaan antara program yang telah disusun dalam rancangan awal RPJMD kemudian program tersebut diserahkan pada SKPD untuk disusun prioritas kegiatan. diisi dengan jumlah pagu indikatif untuk setiap program prioritas. 5... Kolom ini cukup diisi untuk pagu indikatif program saja... dalam penyusunan program pembangunan SKPD juga memperhatikan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD sehingga terjadi keselarasan dalam penyusunan program yang telah disusun dalam rencana awal RPJMD dengan arah kebijakan.... Kolom (6) Kolom (7) Catatan : C.. Tidak seluruh informasi yang diolah dari hasilhasil analisis dan pembahasan/kesepakatan disajikan..C.. Sasaran Pembangunan Daerah (3) Nama Program (4) Arah Kebijakan (5) Pagu (6) SKPD Penanggung Jawab (7) *) coret yang tidak perlu Cara Pengisian Tabel. diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program dan/atau kegiatan yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j...77 Program Pembangunan Daerah Tahun ... b.T-III..... Prioritas 2 . Informasi yang disajikan dapat merupakan keseluruhan bentuk pada tahap perumusan (kertas kerja perumusan) atau sebagian menjadi yang dianggap relevan disajikan. . untuk bahan penyelarasan dengan program prioritas dalam penyusunan rancangan awal RPJMD.C. Provinsi/Kabupaten/Kota………………*) Nomor (1) 1.69 DPRD menjadi salah satu proses yang penting sehingga dalam pembasahan tersebut aspirasi masyarakat dapat terwakilkan oleh DPRD..1... 4. C. diisi dengan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD..2.T-III..18. Prioritas 4 .. Tabel ini ditandatangani oleh kepala daerah yang merupakan lampiran dari dokumen RPJMD. Prioritas Pembangunan Daerah (2) Prioritas 1...77: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) diisi dengan nomor urut program pembangunan daerah untuk Tahun Rencana diisi dengan uraian nama/rumusan prioritas pembangunan......... Tabel.. diisi dengan uraian judul/rumusan sasaran pembangunan daerah.. Program 1 . Prioritas 3 ...

1. Aspek Geografi dan Demografi Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. dan kebutuhan perumusan strategi. gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. Sistematika Penulisan Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RPJMD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab didalamnya.2. Hanya informasi yang relavan dan penting saja yang perlu dicantumkan untuk mendapatkan fokus yang baik dalam dokumen. melainkan cukup pada peraturan-perundangan yang memuat ketentuan secara langsung terkait dengan penyusunan RPJMD. Penyajian agar diperkaya dengan teknis presentasi yang baik.1. Latar Belakang Mengemukakan pengertian ringkas tentang RPJMD. dan wilayah rawan bencana. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum geografis mengenai kondisi geografi daerah. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum penyusunan rancangan awal RPJMD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. 2. Pada sub-bab ini tidak perlu semua peraturan-perundangan dicantumkan. 1. maupun lokal.1. BAB II. 1. Bagian ini dijabarkan berdasarkan hasil analisis dan kajian gambaran umum kondisi daerah pada tahap perumusan. baik yang berskala nasional. Penjelasan dapat dilengkapi dengan tabel. RPJMD Provinsi. dan gambar yang mendukung setiap potensi kawasan budaya yang dimiliki daerah. Suatu informasi dianggap relevan dan penting jika menjelaskan gambaran umum kondisi daerah yang selaras dan mendukung isu strategis. keterkaitan antara dokumen RPJMD dengan dokumen RKPD dan Renstra SKPD. RTRW nasional. Ketersediaan data gambaran umum kondisi daerah selengkapnya dapat dilihat di Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. perlu dicantumkan.4. Penjelasan perlu dilengkapi dengan kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan .70 c. 1. proses penyusunan RPJMD. Hubungan Antar Dokumen Bagian ini menjelaskan hubungan RPJMD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. Penulisan rancangan awal RPJMD disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengacu pada hasil kertas kerja pasca tahap perumusan rancangan awal RPJMD. visi/misi kepala daerah. seperti: RPJMN. 1.. Keterhubungan dengan dokumen lain. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang tujuan penyusunan dokumen RPJMD bagi daerah yang bersangkutan dan sasaran penyusunan dokumen RPJMD bagi daerah yang bersangkutan. Penyajian rancangan awal RPJMD tersebut disusun menurut sistimatika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I. potensi pengembangan wilayah. RTRW Provinsi. kedudukan RPJMD tahun rencana dalam RPJPD. Selanjutnya. pilihan yang kata yang sederhana dan mudah dipahami. Dalam hal ini kalau di daerah telah diterbitkan peraturan daerah atau Peraturan Kepala Daerah yang mengatur tentang perencanaan dan penganggaran ataupun tentang tata cara penyusunan dokumen perencanaan dan pelaksanaan musrenbang.3. dan RTRW kab/kota. permasalahan pembangunan daerah. grafik. Dasar Hukum Penyusunan Memberikan uraian ringkas tentang dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan RPJMD.5. Tidak seluruh informasi dalam perumusan tentang gambaran umum kondisi daerah ditampilkan dalam penyajian.

kewarganegaraan. migrasi. dapat ditampilkan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek pelayanan umum sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. dengan mengisi dan menyajikan diagram sebagai berikut: Gambar.3. Selanjutnya. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum daerah bersangkutan. fokus fasilitas wilayah/infrastuktur. 2. Selanjutnya.. fokus seni budaya dan olah raga. Selanjutnya.C. sesuai lampiran I peraturan ini.2. Aspek Daya Saing Daerah Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek daya saing daerah sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. agama. kematian. sesuai lampiran I peraturan ini. . sesuai lampiran I peraturan ini. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. 2. serta penuaan. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat daerah bersangkutan.16 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya Kondisi Klimatologi Kondisi Geologi Kondisi Hidrologi Kondisi Topografi Penggunaan Lahan Letak.4. dijelaskan tentang kondisi demografi seperti ukuran. fokus kesejahteraan sosial. fokus iklim berinvestasi. 2. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. Tabel-tabel atau grafik tertentu yang dianggap relevan. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. dapat dipaparkan pada bab ini. Aspek Pelayanan Umum Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Luas dan Batas Wilayah Potensi Pengembangan Wilayah Kondisi Geografi Lainnya Selanjutnya. Analisis kependudukan dapat merujuk pada populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek daya saing daerah bersangkutan.71 potensi pengembangan kawasan budidaya. dan fokus sumber daya manusia.G-III. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kemampuan ekonomi daerah. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. struktur. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus urusan layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan. dapat ditampilkan. dapat ditampilkan. atau etnis tertentu.

1.72 BAB III.1. 1 1. sebagai berikut: Tabel..37).5 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Hibah Dana darurat Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya **) Dana penyesuaian dan otonomi khusus***) Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.3.2... sebagai berikut: 3. Kinerja Keuangan Masa Lalu Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis.. Penyajian hasil analisis dapat disertai dengan grafik.2.4 1.C. Kinerja Pelaksanaan APBD Bagian ini menguraikan perkembangan pendapatan dan belanja tidak langsung. 1. Selanjutnya.2. 1. 2. Berlaku untuk kabupaten/kota.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan nasional. 1. Berlaku hanya untuk provinsi Papua..3. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah dilakukan pada tahap perumusan ke dalam sub-bab.3. Papua Barat dan Aceh.1. dan 3.2 1. dan gambaran realisasi belanja daerah.3.1.3. analisis rasio likuiditas.T-III. 1.3. proporsi sumber pendapatan.C. Neraca Daerah Bagian ini menguraikan sekurang-kurangnya mengenai perkembangan neraca daerah. 1.3 1.4. 1. 3. atau tabel sebagaimana dihasilkan dalam tahap perumusan yang relevan.3. antara lain: 1. 1..1.1.. Provinsi/Kabupaten/Kota. 1. Perbandingan dengan realisasi APBD dengan daerah lainnya atau standar nasional. s/d Tahun . pencapaian kinerja pendapatan. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah yang timbul dalam pelaksanaan APBD. analisis rasio solvabilitas dan analisis rasio aktivitas. Contoh penyajian hasil analisis rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah dalam bentuk tabel (diambil dari Tabel.2. Selanjutnya.1.3.T-III.1.1. gambar.78 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun. . 1..1.1.1 1. 1. dijelaskan gambaran kinerja keuangan daerah yang mencakup: 3. bagian ini dapat ditambahkan pokok-pokok analisis kinerja masa lalu pelaksanaan APBD..2.2.*) No. Potensi dan tantangan perkembangan ke depan ditinjau dari perspektif regional.2.

1.2.2.1.. 1.2. 1. 1. dan jaringan Aset tetap lainnya Konstruksi dalam pengerjaan dst……………… ASET LAINNYA Tagihan penjualan angsuran Tagihan tuntutan ganti kerugian daerah Kemitraan dengan pihak kedua Aset tak berwujud dst…………..2.C.1.2. 1. 3. JUMLAH ASET DAERAH 2. 1. 1.1. 3. 2. 1.2.*) No. 1.5. . Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.3.1.4. EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR SILPA Cadangan piutang Cadangan persediaan dst……………… EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam aset tetap Diinvestasikan dalam aset lainnya dst………….2. 1.79 Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. 3..2. 1.3.4.3.3.1. 2.1.1. KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang perhitungan pihak ketiga Uang muka dari kas daerah Pendapatan diterima dimuka Dst…………….2. 1.1. ASET ASET LANCAR Kas Piutang Persediaan ASET TETAP Tanah Peralatan dan mesin Gedung dan bangunan Jalan.3.. 3.1. 3.4.3.3. 1.2. 2.7.T-III.1.1.2. 3.2.4..1.2.1. 1.1.73 Oleh karena itu.1.3.. 2.2.1.1. 1. 3.3.6.2.2. 3. 1.2. JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA Uraian Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 1. irigasi. 3. 1.1. 1. 3. 1.5.1. 2. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.2.3.3.3.

pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.81 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota...(lainnya) Uraian (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-III.C. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis neraca daerah.... dan nasional. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kebijakan pengelolaan keuangan daerah antara lain: . 5.1.C. dan 4..C.*) NO 1. 2.2. Oleh karena itu... Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. Rasio lancar (current ratio) Rasio quick (quick ratio) Rasio total hutang terhadap total aset Rasio hutang terhadap modal Rata-rata umur piutang Rata-rata umur persediaan Rasio ….40 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD.. 3. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.C..39 dan Tabel. Proporsi Penggunaan Anggaran Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dan proporsi realisasi belanja pendidikan. dst. 4... 3. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan neraca daerah. Penyajian tabel untuk menggambarkan analisis pertumbuhan neraca daerah dapat disesuaikan dengan ketersediaan data di daerah. 3. 6.*) No 1 2 3 Uraian Tahun anggaran n-3 Tahun anggaran n-2 Tahun anggaran n-1 Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) (a) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (b) Prosentase (a) / (b) x 100% *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 2.T-III.2.74 - Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. pada bagian ini dijelaskan gambaran kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu terkait proporsi penggunaan anggaran dan hasil analisis pembiayaan yang mencakup: 3.T-III. Selanjutnya. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis neraca daerah antara lain: 1..T-III. Perbandingan dengan neraca daerah dengan daerah lainnya atau standar nasional.80 Analisis Rasio Keuangan Provinsi/Kabupaten/Kota..

82 Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.2.*) (n-3) No. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.. 6.. 2.75 1. 3. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait penggunaan anggaran belanja daerah.*) NO 1. 1. 3.. dan Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. 2. Perbandingan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam hal penggunaan anggaran belanja dengan daerah lainnya atau standar nasional.T-III. 3. 1. Tabel. .2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah dalam hal penggunaan anggaran belanja.... Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai analisis pembiayaan.T-III. 3.C. 4. Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: Belanja Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Uraian (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Analisis Pembiayaan 3. 2. 6. 7. 4. Uraian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Proporsi dari total defisit riil (n-3) (n-2) (n-1)**) (%) (%) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-III. 2.. dan nasional... 4. 5.C. Oleh karena itu..84 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.*) No. 5. Uraian Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Rp % dari SiLPA Rp (n-2) % dari SiLPA (n-1)**) Rp % dari SiLPA *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..83 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Tabel..C. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai analisis belanja periodik yang wajib dan mengikat.C. Perbandingan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam hal pembiayaan daerah dengan daerah lainnya atau standar nasional. Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis.T-III.C. air. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait pembiayaan daerah. b..T-III.Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota.*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 C 1 2 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Dst.42 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik.T-III. 3..85 Pengeluaran Periodik. Kerangka Pendanaan Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. . pada bagian ini dijelaskan gambaran kerangka pendanaan dari hasil analisis yang mencakup: 3.. Selanjutnya. dan nasional. Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. c. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/ atau gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.C.76 Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kebijakan penggunaan anggaran belanja antara lain: a.T-III. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.3.1. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Tabel.C.43. telepon dan sejenisnya) Belanja sewa gedung kantor (yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst … PembiayaanPengeluaran Pembentukan Dana Cadangan Pembayaranpokokutang Dst… TOTAL (A+B+C) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... d.T-III.3.45 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. Oleh karena itu.44 dan Tabel.. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah dalam hal pembiayaan daerah. serta pengeluaran periodik prioritas utama.C.

proyeksi belanja tidak langsung dan belanja langsung yang periodik... Tabel. Oleh karena itu.87 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) 1.b-II... 3. mengikat serta prioritas utama Disajikan penjelasan setiap asumsi yang digunakan serta kebijakan yang mempengaruhi hasil proyeksi. Penghitungan Kerangka Pendanaan 3.77 3.1.T-III.86 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/ atau gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.1.T-III.d Ii ... Proyeksi Data Masa Lalu Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai proyeksi data masa lalu dan asumsi yang digunakan untuk memproyeksi serta kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi proyeksi data. b.48 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. Disajikan tabel tentang proyeksi pendapatan.a II.C. sebagaiberikut: Tabel.C.*) Proyeksi No. wajib.C.d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II Ii.b Belanja Langsung Pembentukan dana cadangan Dikurangi: Belanja langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas i (II.a+II.. Oleh karena itu pada bagian ini sekurang-kurangnya disertai dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis.c-II... Tabel dapat disajikan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.c II..1.. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.*) Proyeksi No I Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II. Pendapatan Pencairan dana cadangan (sesuai Perda) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total penerimaan Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 4. 2.2. Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai penghitungan kerangka pendanaan dengan tujuan untuk mengetahui kapasitas riil kemampuan keuangan daerah dan rencana penggunaannya. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.

d. Uraian dan penjelasan rencana alokasi belanja langsung dan belanja tidak langsung yang dapat digunakan untuk membiayai program pembangunan pada tahun anggaran yang direncanakan. permasalahan-permasalahan pembangunan lain yang tidak diprioritaskan atau bukan menjadi agenda utama rencana pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun kedepan tidak perlu disajikan (biarkan saja tetap dalam kertas kerja perumusan). . Sesuai isu-isu strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan pada Tabel. bagian demi bagian dengan sistematika berurut sesuai urusan yang terpilih atau sesuai jenis permasalahan tanpa mengedepankan urusannya. Pada bagian atau tahap perumusan isu-isu strategis.T-III. c.a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III.T-III. Permasalahan Pembangunan Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah yang relevan yang berdasarkan analisis yang merujuk pada identifikasi permasalahan pembangunan daerah dalam perumusan rancangan awal RPJMD. kebijakan nasional maupun regional. penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan menentukan kinerja pembangunan dalam 5 (lima) tahun mendatang.78 - Proyeksi No III. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis.a-III. b. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kerangka pendanaan antara lain: a. Perumusan permasalahan pembangunan dapat dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk uraian kalimat.1. Keterangan : Surplus anggaran diperbolehkan apabila nilainya tidak material dan tidak dapat digunakan untuk membiayai suatu program Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel..C.2. dan Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait pembiayaan daerah.58 dituangkan dalam penyajian. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat/pengaruh dimasa datang terhadap daerah tersebut. 4.49 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. dan nasional. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kerangka pendanaan. Oleh karena itu.C. Isu Strategis Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international. Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJMD karena menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III. 4.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.

Penjelasan Visi Berdasarkan Kata Kunci Pada Visi kota XYZ 2007-2012 terdapat 2 (dua) kalimat kunci yaitu Rakyat kota XYZ Sejahtera serta Iman dan Taqwa. misalnya diuraikan mengenai visi RPJMD atau visi kepala daerah terpilih. Meningkatkan peran aktif dan menggalang semangat kebersamaan.: Kejelasan Rumusan Misi Sesuai dengan harapan terwujudnya “Rakyat kota XYZ Sejahtera Berlandaskan Iman dan Taqwa”. dan 3.. 2. 5. ringkas dan mudah dipahami. 2. Visi Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. kemajuan ekonomi dapat menjadi tidak bermakna tanpa dilandasi kehidupan masyarakat yang penuh magfiroh dari khalik-Nya. Mengembangkan dan menata ulang hubungan antar industri dengan orientasi pada penciptaan iklim yang kondusif bagi investasi. Pengantar bagian ini. Uraian visi kepala daerah terpilih dan jangka waktunya. : Visi Pembangunan Jangka Menengah Dalam periode 2007-2012. Penjelasan masing-masing misi (jika ada). sinergitas antara rencana pembangunan jangka menengah daerah dengan RPJMN dan RPJPD. 5. sebagai berikut: 1. terpenuhinya sarana dan prasarana dasar pendidikan. Pernyataan Misi merupakan penjabaran dari visi dengan bahasa yang jelas. TUJUAN. 3. maka ditetapkan “Misi Pembangunan kota XYZ 2007-2012” sebagai upaya dalam mewujudkan visi. penjelasan visi harus menggambarkan keterkaitannya dengan RPJPD dan RPJPN untuk RPJMD provinsi dan keterkaitannya dengan RPJPD provinsi untuk RPJMD kabupaten/kota. Box 2. 2. serta untuk menjadikan masyarakat yang saleh dan taat pada tuntunan ajaran agama yang diyakini.2. oleh karena itu pembangunan yang diarahkan untuk mencapai rakyat kota XYZ Sejahtera harus dilandasi oleh Iman dan Taqwa sebagai ruh-nya. Misi Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. Maksud perumusan misi. Meningkatkan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat kota XYZ. yang pada gilirannya akan mewujudkan masyarakat sejahtera. 6. Melakukan revitalisasi dan refungsionalisasi lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga kemasyarakatan menuju tata pemerintahan yang bersih. Merevitalisasi kawasan dan antar kawasan dengan dukungan infrastruktur yang memadai melalui pengembangan ”Tiga Pintu Keluar Masuk Wilayah kota XYZ” . Artikulasi atau penjelasan kata-kata kunci dari pernyataan visi. meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat. Pembangunan di bidang atau sektor apapun tidak akan mendatangkan kemaslahatan dan keberkahan tanpa dilandasi oleh iman dan taqwa. kesehatan dan ekonomi serta ditemukannya jati diri masyarakat kota XYZ. Namun demikian.1. MISI. Menjadikan masyarakat kota XYZ yang bersandar pada moralitas agama dalam kerangka negara Kesatuan Republik Indonesia. “Iman dan Taqwa” merupakan persyaratan mutlak untuk dapat terwujudnya kehidupan agamis. 4. Box 1. 7. Visi Pembangunan kota XYZ adalah “Rakyat kota XYZ Sejahtera Berlandaskan Iman dan Taqwa”. Kalimat “Rakyat kota XYZ Sejahtera” adalah merupakan refleksi dari berkurangnya masyarakat miskin. solidaritas dan kemitraan seluruh komponen pelaku pembangunan. DAN SASARAN Dalam rangka konsistensi. Memperkuat struktur ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha agribisnis dan memperluas kesempatan kerja. Kemajuan ekonomi merupakan salah satu dari sekian banyak tujuan pembangunan lainnya. penggunaan bahan baku lokal unggulan dan penciptaan peluang usaha. 3. transparan dan profesional yang berorientasi pada pelayanan publik. PENYAJIAN VISI.79 BAB V. sehingga diharapkan seluruh stakeholder di kota XYZ secara bahu membahu mengoptimalkan seluruh kapasitas yang dimilikinya untuk meningkatkan dan mewujudkan seluruh masyarakat kota XYZ lebih sejahtera. 5.

1 2.. Sasaran 1. .. Dst… 1.... Sasaran 2. Arah kebijakan 2. Dst…… Arah kebijakan 1.1 2... Tabel.... Arah kebijakan 1.2 1.. Sasaran 1..2 3. 4. Dst… Dst…… Strategi 1. Misi..2 3... BAB VI.. Dst… 1...... Penyajian strategi dan arah kebijakan. Dst… Dst…… Strategi 1.1 2.. Berdasarkan tabel diatas.. 1.. 3.2 3....80 5. Uraian mengenai apa itu tujuan dan apa itu sasaran serta bagaimana merumuskannya..... Dst… Dst…… : . Sasaran 2. 1...2 3. Uraian pernyataan sasaran-sasaran dengan bahasa yang jelas...... Dst……... Dst… Dst…… Tujuan 2 Dst…… MISI II Tujuan 2 Dst…… Dst ..1 2. Dst… 1... Sasaran 2... Sasaran 1... Dst… 1.C. ringkas dan mudah dipahami. Uraian pernyataan tujuan-tujuan dengan bahasa yang jelas. Arah kebijakan 2.2 3. Dst……... Dst…….1 2..2 3... Strategi 2...........1 2.*) VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota ….1 2. Strategi 1. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1... Dst……. Strategi 2..2 3. Sasaran Sasaran.......*) Visi: ……………………………………………………………………………… Misi Misi 1: Tujuan Tujuan. Arah kebijakan 2. Strategi 2.1 2.. Berdasarkan tabel diatas perlu dijelaskan hubungan setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan dengan isu strategis daerah. Strategi 1.. Sasaran 2...89 Strategi..88 Keterkaitan Visi.. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1.T-III.... sekurang-kurangnya disajikan dalam contoh tabel berikut......1 2.2 1..3.2 3...... serta Menggambarkan keterkaitan elemen-elemen perencanaan dalam suatu tabel/ matrik.. Arah kebijakan 2... 2... Arah kebijakan 1.. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Arah kebijakan 1.2 1. Tujuan dan Sasaran Provinsi/Kabupaten/Kota. ringkas dan mudah dipahami.1 2. yang beriman dan berdaya saing : .... Arah dan Kebijakan Provinsi/Kabupaten/Kota.. Sasaran 1..... Strategi 1.1 2... selanjutnya diberikan penjelasan hubungan setiap strategi dengan arah dan kebijakan dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan.1 2.. Dst…… Arah kebijakan 1. Arah kebijakan 1.. Strategi 2..2 3.. Strategi 1.C. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam bagian ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih. Tabel....... Tujuan dan Sasaran Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1.T-III..

*) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan (2) Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun-1 target (5) Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Tahun-4 Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) (17) SKPD Penanggung Jawab Rp target (10) (11) (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 03 02 01 01 01 01 02 01 03 02 02 01 02 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program.. Tabel... Dst . Urusan Pilihan Pertanian Program..... yang datanya bersumber dari Tabel. sekurang-kurangnya disajikan dalam Tabel. Dst ......*) No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Kondisi Awal Akhir (5) (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPDPenanggung Jawab (9) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C. Perlu disajikan penjelasan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih.T-III...T-III.. Pada bagian ini. sekurangkurangnya disajikan dalam Tabel..... disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...C. Penyajian kebijakan umum dan program pembangunan daerah.T-III.. KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Dalam bagian ini diuraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja... Dst .......C....... Program..C.90 yang datanya bersumber dari Tabel.... Penyajian indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Kesehatan Program.......90 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Provinsi/Kabupaten/Kota.91 Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota... BAB VIII.. Dst .... Tabel..74.T-III..91..81 BAB VII. BAB IX.69... INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Dalam bagian ini diuraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome . Program.... Dst .C........T-III. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan.....C.T-III...

.3.1. 1.92 Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/kota .82 program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi provinsi PDRB per kapita Dst… Kesejahteraan Sosial 1. 1. 1. 1.1 Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid dst…. 1. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita . Administrasi Keuangan Umum.2..T-III.2. Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 1 (4) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1.. Perangkat Daerah.. ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib 1.2... Dst…… Dst. Otonomi Daerah.3 2..1. Penetapan indikator kinerja daerah selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut (data yang digunakan sesuai dengan LAMPIRAN I peraturan menteri ini): Tabel.2. 1...2.1 1.2. 1. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst….4. 1.. Pemerintahan Umum.4. 1..1.2.. Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan.1.3.1. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 (1) (2) (3) No. 1. Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst…. 2. 1. 2. 1.1. 2.1.2. 1.1. 1..3. 1.C.

2. 1.4. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst….83 - No. Dst…… ASPEK DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi 1.1 Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. 1.2.. 3. 2.2. pustu per satuan penduduk Dst…. Dst….1 Rasio puskesmas... Dst …. 1. Pelayanan Urusan Pilihan 1. 2.1.3 3.. Administrasi Keuangan Umum.1. 2.. 1. 2.3. 2..1.. Pemerintahan Umum.1.1.3. 3... 1. 1.. 2..1. poliklinik..1 Otonomi Daerah. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.2 2. 3. 2.2. . 2. Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1.. Dst. 2.2. Dst….3. 1. 3.3. Perangkat Daerah.. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst…. 1. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 Tahun 1 (4) Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) (1) (2) (3) 2. 3. 1.2.

· visi. misi. PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD Penyusunan rancangan RPJMD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJMD yang dilakukan melalui tiga tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. misi. antara lain: a) b) c) d) e) Perumusan gambaran pelayanan SKPD berdasarkan gambaran umum kondisi daerah. Bagan alir penyusunan rancangan RPJMD dapat dilihat dibawah ini: Gambar.84 D.G-III. b.D. Rancangan awal RPJMD.1 Penyusunan Rancangan RPJMD SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Penyusunan rancangan Renstra SKPD Renstra SKPD Verifikasi dan Integrasi RENSTRA SKPD Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran renstra SKPD berdasarkan visi. Perumusan isu-isu strategis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi berdasarkan analisis isu-isu strategis.1. sebagai masukan untuk menyempurnakan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. kegiatan. Terkait dengan hal tersebut maka perlu disiapkan surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD bertujuan memberikan arahan kepada seluruh kepala SKPD agar dalam menyusun Renstra SKPD masing-masing mempedomani: 1. Penyiapan Surat Edaran KDH perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 dinyatakan bahwa. dan c. Perumusan visi. indikator kinerja. misi. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah.. Perumusan strategi dan kebijakan program dan kegiatan jangka menengah SKPD berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan D. Perumusan rencana. Penyiapan surat edaran kepala daerah. perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD. mencakup: a. Verifikasi dan integrasi Renstra-SKPD menjadi Rancangan RPJMD. Penyajian rancangan RPJMD. kepala SKPD menyusun rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan rancangan awal RPJMD dan disampaikan oleh kepala SKPD kepada kepala Bapppeda. kelompok sasaran program dan kegiatan serta pendanaan indikatif SKPD berdasarkan indikator keluaran program dan pagu per-SKPD yang tercantum dalam tabel kebijakan umum dan program .

Verifikasi juga bertujuan untuk mengintegrasikan dan mempertajam pencapaian sasaran program dan kegiatan antara satu SKPD dengan SKPD lainnya (lintas SKPD). . Menghitung alokasi pagu dari setiap output kegiatan untuk setiap program.1. serta memperoleh klarifikasi/masukan dari SKPD dalam hal terdapat ketidaksesuaian dengan arahan yang telah disampaikan dalam surat edaran. dan Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. dilakukan terhadap substansi materi yang terkait dengan BAB berkenaan dalam rancangan awal RPJMD kecuali pernyataan visi. setelah Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dilantik. kepala SKPD wajib menyempurnakan rancangan Renstra SKPD dan menyampaikan kembali kepada Bappeda. Penyampaian surat edaran kepala daerah dimaksud kepada seluruh kepala SKPD paling lama 2 (dua) bulan. dilakukan verifikasi melalui pembahasan bersama antara Bappeda dengan setiap SKPD. Untuk memastikan bahwa substansi materi rancangan renstraSKPD telah disusun sesuai dengan rancangan awal RPJMD. Penyajian Rancangan RPJMD Seluruh Renstra SKPD yang telah diverifikasi selanjutnya dijadikan sebagai masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. d. Agenda penyusunan RPJMD. Menentukan keluaran/output setiap kegiatan. Bilamana terdapat ketidaksesuaian dengan arahan yang telah ditetapkan. Verifikasi Renstra SKPD Kepala SKPD menyampaikan rancangan renstra SKPD kepada kepala Bappeda sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan dalam surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD.3.. D. Perumusan Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Perumusan Alokasi pagu untuk setiap program dihitung berdasarkan capaian indikator program pembangunan yang dilakukan oleh tim penyusun RPJMD. b. D. c. Menghitung alokasi pagu setiap program setelah output kegiatan pada setiap program diverifikasi kebenarannya.85 pembangunan jangka menengah daerah. f) 2. antara lain mencakup: a) b) Batas waktu penyampaian rancangan Renstra SKPD dan jadwal pembahasan atau verifikasi Bappeda. Menghitung alokasi SKPD berdasarkan program yang menjadi tanggungjawab SKPD.2. e.3. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Jadwal musrenbang RPJMD. Penyempurnaan rancangan awal RPJMD dimaksud. Setelah dilakukan penyempurnaan langkah selanjutnya merumuskan: D. Menentukan rencana penggunaan kapasitas riil anggaran berupa alokasi belanja langsung dan belanja tidak langsung sebagaimana telah dihitung dalam perumusan kerangka pendanaan.

.1... ... ... .... Dst .. Rp.... Dst .. Perhitungan Pagu Program Program Outcome Keluaran 1 . Program dst ......... Rp..... .. Rp......... Keluaran 1 . ..... Program 1 . Rp... Rp.... Keluaran 2 ..................... .....D..... kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD.. ... ... indikator kinerja..86 Perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan mengisi tabel berikut: Tabel T-III... Keluaran 2 .... Rp. Rp.......... yang dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: .......... kegiatan...... Standar Belanja Rp..... . SKPD 2 Rp....... Keluaran 3 .... Program 2 ..... Dst ........ SKPD 1 Pagu Program SKPD Setelah pagu setiap kegiatan diketahui kemudian Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program.

.. Program... Dst ... Program. Dst .....*) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program..... Dst .............2....... Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota.. Kesehatan Program............. Dst ........87 Tabel T-III.. Dst .D........ ...... Urusan Pilihan Pertanian Program.. (2) (17) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota....

diisi dengan jumlah pendanaan pada tahun pertama periode RPJMD yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) yang ditetapkan. Kolom (17) diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j.D. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan RPJMDsebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan awal RPJMD. Uraian nama urusan pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah.2: Kolom (1) diisi dengan dengan kode Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah/ Program.2. Kolom (16) diisi dengan total jumlah pendanaan selama periode RPJMD mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. b. dilakukan sama dengan cara pengisian kolom (4) dan kolom (5) pada kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): b. Kolom (kondisi kinerja pada akhir periode RPJMD): Kolom (15) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. diisi sebagai berikut: a. D.o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah. yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode RPJMD. diisi dengan kondisi kinerja awal RPJMD Kolom (4) Kolom capaian kinerja program dan kerangka pendanaan untuk setiap baris program.3. Kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada tahun pertama periode RPJMD untuk setiap program berkenaan.88 Tata cara pengisian Tabel T-III. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). Kolom (5) Kolom (6) Cara pengisian Kolom (6) sampai dengan kolom (13) yang terdapat mulai dari kolom Tahun-2 (tahun kedua periode RPJMD) sampai dengan kolom Tahun-5 (tahun kelima periode RPJMD). Uraian nama program. . Melengkapi Sistematika Rancangan Awal RPJMD Menjadi Rancangan RPJMD Penyajian rancangan RPJMD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota. Kolom (3) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome). x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (2) diisi dengan: a. Pemerintahan Daerah Provinsi..

Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3.89 Dengan demikian.1. 3. Kinerja Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.5. 2.. 2.1. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1.2.1. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. sistematika penyajian rancangan RPJMD. 3.2. .3. Hubungan Antar Dokumen Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.4. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 3. 1. Kerangka Pendanaan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.4. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1. 2.

. Pedoman Transisi: Dalam bagian ini perlu dinyatakan bahwa RPJMD menjadi pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun pertama dibawah kepemimpinan Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada periode berikutnya. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. DAN SASARAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan mengisi kekosongan RKPD setelah RPJMD berakhir. Visi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5.1.90 - BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 4. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Pedoman transisi dimaksud antara lain bertujuan menyelesaikan masalah-masalah pembangunan yang belum seluruhnya tertangani sampai dengan akhir periode RPJMD dan masalah-masalah pembangunan yang akan dihadapi dalam tahun pertama masa pemerintahan baru.2. TUJUAN.1. BAB VIII PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Misi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan yang perlu dirumuskan dalam bagian ini antara lain: 1. MISI.3. BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5. 4. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.. 5. BAB V PENYAJIAN VISI. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

program. E. misi. 3. Kaidah Pelaksanaan: RPJMD merupakan penjabaran dari visi. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih merupakan pedoman bagi setiap kepala SKPD menyusun Renstra SKPD dan pedoman untuk menyusun RKPD. 4. Musrenbang RPJMD dilaksanakan paling lama 4 (empat) bulan setelah Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dilantik. Mempublikasikan seluas-luasnya melalui sarana publikasi yang tersedia terhadap pokokpokok materi RPJMD yang akan dibahas dalam musrenbang RPJMD. Menghimpun saran dan tanggapan dari masyarakat terhadap pokok-pokok materi dari hasil publikasi. Menyusun jadwal dan agenda musrenbang RPJMD. dan agenda musrenbang RPJMD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan. tata tertib pelaksanaan ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. E. 2. berkewajiban untuk melaksanakan program-program dalam RPJMD dengan sebaik-baiknya. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJMD Musrenbang RPJMD merupakan forum musyawarah antara para pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati rancangan RPJMD. perlu dirumuskan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut: 1. dan Penyelenggaraan musrenbang RPJMD. b. strategi. sekurang-kurangnya mencakup hasil analisis isu-isu strategis daerah. Menyiapkan narasumber dengan memperhatikan antara lain: a. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan RPJMD. Penyiapan musrenbang RPJMD. serta masyarakat termasuk dunia usaha. dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD dan menjadi pedoman dalam menyusun Renja SKPD setiap tahun.91 Selanjutnya RKPD masa transisi merupakan tahun pertama dan bagian yang tidak terpisahkan dari RPJMD dari Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilukada pada periode berikutnya. b.. kebijakan.Penyiapan Musrenbang RPJMD Dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain: 1. Musrenbang jangka menengah daerah dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : a. Memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memimpin diskusi kelompok. 2. Penyiapan pokok-pokok materi yang akan dipublikasikan.1. 3. penyusunan RPJMD serta penjelasan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan materi yang akan 5. tujuan. Mengumumkan secara terbuka jadual. SKPD. Bappeda berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran RPJMD ke dalam Renstra SKPD. Menyiapkan materi bahasan dalam musrenbang RPJMD. 7. Untuk optimalisasi pelaksanaan musrenbang RPJMD. Sehubungan dengan hal tersebut dalam bagian ini. Menyajikan/memaparkan berbagai kebijakan menjadi acuan. misi. 2. rumusan visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. 8. Menyiapkan fasilitator dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. sebelum musrenbang RPJMD dilaksanakan. Tujuan musrenbang RPJMD untuk mendapatkan masukan dan komitmen para pemangku kepentingan pembangunan daerah sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJM Daerah menjadi rancangan akhir RPJMD. 6. . Bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas. SKPD berkewajiban untuk menyusun rencana strategis yang memuat visi. tempat. SKPD berkewajiban menjamin konsistensi antara RPJMD dengan Renstra SKPD. 4.

dan Komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD dalam melaksanakan pembangunan daerah. Pembagian kelompok diskusi memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 11. Menyusun pedoman penyelenggaraan musrenbang RPJMD termasuk panduan diskusi kelompok. LSM/ormas. pimpinan DPRD kabupaten/kota atau pejabat provinsi dan dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. c. 10. b. serta pejabat kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. 4. misi dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Jumlah kelompok diskusi dan fasilitator serta narasumber dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Penentuan narasumber disesuaikan dengan kompetensi. Untuk musrenbang RPJMD provinsi dapat mengundang akademisi. 2. Indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan. Strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas sesuai dengan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan daerah. kepala SKPD provinsi. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. Pembagian kelompok dan anggota kelompok diskusi mempertimbangkan keseimbangan keterwakilan dari setiap unsur yang hadir (pembagian anggota kelompok diskusi disesuaikan berdasarkan absensi/daftar hadir). LSM/ormas. 5. kepala SKPD kabupaten/kota. b. d. misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah. Acara pembukaan yang diisi dengan penyampaian sambutan dari pejabat yang diundang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus pembukaan acara musrenbang RPJMD oleh kepala daerah. b. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor serta pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan.Penyelenggaraan Musrenbang RPJMD Penyelenggaraan musrenbang RPJMD dilaksanakan guna membahas dan menyepakati rancangan RPJMD antara lain mencakup: 1. Kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. Susunan acara musrenbang RPJMD antara lain: 1. dan Musrenbang RPJMD kabupaten/kota terdiri dari bupati dan wakil bupati/walikota dan wakil walikota. akademisi. a. Sasaran pembangunan jangka menengah daerah. 2. Rapat Pleno I .. kepala bappeda provinsi dan kabupaten/kota. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. mencakup tata tertib sidang/diskusi dan kriteria penajaman sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor. Musrenbang RPJMD provinsi terdiri dari Gubernur dan wakil Gubernur. 6. 3. 12. E. bupati dan walikota serta kepala Bappeda kabupaten/kota. tokoh masyarakat. Dapat dibagi berdasarkan misi atau gabungan dari beberapa misi. 9. Untuk RPJMD kabupaten/kota dapat mengundang akademisi. akademisi. c. . tokoh masyarakat. Merancang pembagian kelompok diskusi dan kriteria penajaman visi.2.92 dibahas didalam musrenbang RPJMD. kepala instansi vertikal di provinsi. Mengundang calon peserta musrenbang RPJMD meliputi: a. pimpinan DPRD atau pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. Capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode RPJMD.

.. Penjelasan panitia penyelenggara secara umum atau informasi penting lainnya terkait dengan pelaksanaan diskusi kelompok musrenbang RPJMD..93 a......... strategi dan arah kebijakan... Tanggapan dan saran dari seluruh peserta musrenbang jangka menengah daerah terhadap materi yang dipaparkan baik pada sidang pleno maupun dalam sidang kelompok..... Kesepakatan hasil sidang kelompok musrenbang RPJMD.. d. Pemaparan materi lainnya (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan) e............ untuk membahas materi rancangan RPJMD... Daftar hadir peserta musrenbang RPJMD.... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJMD terhadap kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah. e... c.... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJMD terhadap indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.. Setelah memperhatikan... mendengar dan mempertimbangkan : a.. indikasi rencana program prioritas pembangunan daerah dan pagu indikatif oleh . tanggal............... d......... maka pada: Hari dan Tanggal : Jam : Tempat : . strategi dan arah kebijakan......... Diskusi kelompok musrenbang RPJMD.... kebijakan umum dan program pembangunan daerah.....*) Pada hari.......... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap visi.. indikasi rencana program prioritas pembangunan daerah yang disertai kebutuhan pendanaan dan indikator kinerja daerah. tujuan............. Sambutan-sambutan yang disampaikan oleh . Pemaparan materi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. sasaran.. 4.... ............ isu-isu strategis dan program jangka menengah oleh ...... Rapat Pleno II Pemaparan hasil kelompok diskusi musrenbang RPJMD...sampai dengan tanggal... dan dengan contoh format sebagai berikut: a...... c.. Tanggapan peserta atas materi yang dipaparkan 3........ telah diselenggarakan musrenbang RPJMD yang dihadiri para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam LAMPIRAN I berita acara ini...................... 5... misi kepala daerah dan wakil kepala daerah.* ) : ............................ tujuan.... f. strategi dan arah kebijakan RPJMD. c. 2) Isu-isu strategis... (dijelaskan secara berurutan pejabat yang menyampaikan) pada acara pembukaan musrenbang jangka menengah daerah.. tujuan......... 6................ bulan....... Rangkuman hasil rapat pleno I dan rapat pleno II musrenbang RPJMD di rumuskan ke dalam rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD oleh tim perumus yang dipimpin oleh kepala Bappeda.. 7. misi.. misi dan program kepala daerah... Pemaparan visi... Gambaran ringkas rancangan RPJMD mencakup isu-isu strategis...... Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD beserta lampirannya terdiri dari: a... Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD.. b....... sasaran. Format Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RPJMD RANCANGAN BERITA ACARA KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJMD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ............... b....... sasaran. tahun... musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/kota . ...... Pemaparan materi rancangan RPJMD antara lain : 1) visi. b..

..................................*) Tahun ....... 4.. KEDUA KETIGA KEEMPAT KELIMA Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya... 3..*) NO 1... 3...-.E......94 - MENYEPAKATI KESATU : Tujuan. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini. dan Arah Kebijakan RPJMD provinsi/kabupaten/kota .... berdasarkan visi dan misi Gubernur dan wakil Gubernur/Bupati dan wakil Bupati/Walikota dan wakil Walikota**) sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini.......... Nama Lembaga/Instansi Alamat & No Telp..*) Tahun ....... 2. tanggal …....-.......... Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan Catatan : *) Coret yang tidak perlu b... .... Tanda tangan ... Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota....1......... : Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan rancangan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota. 5... Tempat : .... Sasaran. Strategi...........*) Tahun..... : Berita acara ini beserta lampiran dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota.. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini.... .. : Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota.. 4. .... Pimpinan Sidang Tanda tangan ( Nama) Mewakili peserta musrenbang Provinsi/Kabupaten/Kota..*) Tanggal : .*) Tahun .. Dst .. 2... No 1....... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini.. 5.. Format Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJMD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III.*) Tahun . Dst........ : Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah rancangan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota.. ..

.2 Dst… Tujuan 2 Dst…… Dst .... 2....... 2..... 3...........1 Sasaran 1..... Arah kebijakan Arah kebijakan 1. Strategi 1. Arah kebijakan Arah kebijakan 1. 1.. 1. 1. Strategi 2.... Tempat : ..... Strategi 1. 2.. Tujuan Tujuan 1 Dst…… Dst…… Dst…… Sasaran 1..1 Arah kebijakan 2.....1 Strategi 1.. 1......1 Sasaran 1..2 Dst… Arah kebijakan 2...1 Arah kebijakan 2...2 Dst…….2 Dst… Sasaran 1..2 Dst… Arah kebijakan 2.... 2..2 Dst……. Dst…… Dst…… Dst…… .. Sasaran 1...... 3.1 Arah kebijakan 1.1 Arah kebijakan 1...... 2..........2 Dst… Tujuan 2 Dst…… MISI II : ..*) Tanggal : . 3.. 3. dan Arah Kebijakan RPJMD Tahun ....2 Dst… 1. 3. Sasaran...... Tujuan... Sasaran. 3. 1.-.. 3.. yang beriman dan berdaya saing : . 3...... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Visi...... 2..... 2...... Strategi....... Strategi 2. 3. 2.2 Dst… Sasaran 2...2 Dst…….. 2...... Misi....95 c.. 2... 2..2.E...... dan Arah Kebijakan RPJMD LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III.......... Sasaran 1..1 Sasaran 2. 3..... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Tujuan...1 Sasaran 2.... 3.. Provinsi/Kabupaten/Kota.2 Dst… Sasaran 2.... VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota ….... 3. Strategi 1..1 Strategi 2.1 Strategi 2.. 1..... Tujuan Tujuan 1 1.2 Dst……. 2... Strategi.1 Strategi 1. Strategi 1.

Strategi dan Arah Kebijakan (3) No (1) Sasaran (2) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) ... Tempat : ....96 d.......E..... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota......... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III..............3...*) Tanggal : ..................................

... (2) (17) .... Program........ Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program...............4............................. Kesehatan Program..... Urusan Pilihan Pertanian Program.. Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota..97 e................ Program... Dst ..........*) Tanggal : ...... Dst . Tempat : ..E............ Dst .... Dst ...................... Dst .. Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III.......

. 2..2 Dst…….1 Strategi 2...E... Sasaran.......2 Dst… Dst…… Dst…… Dst…… Tabel T-III. yang beriman dan berdaya saing : ... 1..2 Dst… Sasaran 1... 3..1 Arah kebijakan 1..... LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Hasil Kesepakatan Sidang Kelompok .. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah terkait dengan pokok bahasan Misi .2 Dst… Sasaran 2. 1.... Strategi 1.. 2.. Strategi 1.2 Dst… Arah kebijakan 2. 3....... No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) .... 2. Format Hasil Kesepakatan Sidang Kelompok RPJMD..98 f.E....1 Strategi 1. Visi.5. 3.. Arah kebijakan Arah kebijakan 1... 3.. 3.. Misi.. Strategi 2.. Sasaran 1.1 Sasaran 2. Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/kota ........1 Arah kebijakan 2. Tabel T-III... Tujuan Tujuan 1 Tujuan 2 Dst…… 1.1 Sasaran 1. 2. Strategi..2 Dst……. 3....... *) Pokok bahasan : Misi . Tujuan.... dan Arah Kebijakan VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota …. 2.. 1...6.. 2..

. Program..... ............ Dst ............. Program... Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kinerja Program (outcome) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib .. Program...... Dst .......99 Tabel T-III.... Dst ....................... Dst .....E. Urusan Pilihan ....... Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan terkait dengan pokok bahasan Misi ........ (2) (3) (4) (5) (17) . Program.................... Dst ......7.......... Program...............

E. 2. 4. 4... sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJMD menjadi rancangan akhir RPJMD. selanjutnya dibahas dengan seluruh kepala SKPD untuk memastikan bahwa program pembangunan jangka menengah terkait dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing telah disempurnakan dengan kesepakatan hasil musrenbang dan ditampung dalam rancangan akhir RPJMD.8.. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Rancangan akhir RPJMD dirumuskan berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD. . Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RPJMD yang telah disepakati dalam rapat Pleno III. Dst Nama Lembaga/Instansi Jabatan Dalam Sidang Kelompok Tanda Tangan 8. 9. ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang RPJMD. Rancangan akhir RPJMD diajukan kepada kepala daerah untuk meminta persetujuan dikonsultasikan kepada menteri untuk rancangan akhir RPJMD Provinsi dan kepada Gubernur untuk rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota.. F... F. surat Gubernur perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD provinsi kepada menteri. Dst. Konsultasi Rancangan Akhir RPJMD 1.E. 5. b. 2. kepala Bappeda menyiapkan surat kepala daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD sebagai berikut: a.. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok No 1.100 Tabel T-III. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok Tabel T-III. Daftar Anggota Sidang Kelompok. dan surat bupati/walikota perihal konsultasi rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada gubenur.9.1.. Rapat Pleno III pembacaan rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD dan pengambilan keputusan.. NO 1. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD yang telah ditandatangani beserta lampirannya. dan 10. 3. 3. Setelah rancangan akhir RPJMD mendapatkan persetujuan dari kepala daerah untuk dikonsultasikan kepada Menteri/Gubernur. Rancangan akhir RPJMD yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan hasil musrenbang RPJMD .

1. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. 4. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi.5. .101 2. 5. 3. RTRW provinsi. Surat kepala Daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD disampaikan kepada Menteri/Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sebelum konsultasi dilakukan. sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Hubungan Antar Dokumen Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan akhir RPJMD sebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan akhir RPJMD. Melengkapi Sistematika Rancangan RPJMD Menjadi Rancangan akhir RPJMD Penyajian rancangan akhir RPJMD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota . serta sinkronisasi dan sinergitas.. 1.2. Tindak lanjut dimaksud yaitu menyempurnakan rancangan akhir RPJMD berdasarkan hasilhasil konsultasi yang disampaikan dengan surat Menteri/Gubernur.2. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. Penyempurnaan Rancangan Akhir RPJMD Berdasarkan Hasil Konsultasi Gubernur menindak lajuti hasil konsultasi RPJMD Provinsi dengan menteri. 1. 1. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota lainnya. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. 2.1. Konsultasi rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota dengan Gubernur bertujuan untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. RTRW provinsi. F. RTRW kabupaten/kota.3. 1.3. serta keselarasan dengan RPJPD kabupaten/kota.4. Dengan demikian. sistematika dan teknis penyusunan. Konsultasi rancangan akhir RPJMD dengan Menteri bertujuan untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. Dalam surat permohonan konsultasi diberitahukan pokok-pokok substansi materi yang perlu dikonsultasikan dan dilampiri dengan dokumen rancangan akhir RPJMD beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD serta hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah. F. dan bupati/walikota menindak lanjuti hasil konsultasi rancangan RPJMD kabupaten/kota dengan Gubernur. harmonisasi. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. sistematika dan teknis penyusunan. keselarasan dengan RPJPD provinsi. sistematika penyajian rancangan akhir RPJMD. keserasian. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2.3. MISI. 5. 3. 2. 3.1. Misi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. DAN SASARAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2.2. 4. BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5.1. Kerangka Pendanaan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. BAB V . Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Kinerja Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. TUJUAN. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.4. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 4. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5.2.1. 3. PENYAJIAN VISI.102 - 2. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. Visi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

103 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD. Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang RPJMD dengan DPRD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan Rancangan peraturan daerah tentang RPJMD provinsi/kabupaten/kota ditetapkan menjadi peraturan daerah tentang RPJMD paling lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik. G. 1. 4. 5. paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. 3. MENTERI DALAM NEGERI. 2. BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Penyampaian rancangan peraturan daerah tentang RPJMD dengan lampiran rancangan akhir RPJMD yang telah dikonsultasikan dengan Menteri/Gubernur disertai dengan : a..KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . dan surat Menteri/Gubernur perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD. Peraturan daerah tentang RPJMD provinsi disampaikan kepada menteri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan untuk diklarifikasi dan peraturan daerah tentang RPJMD kabupaten/kota. b. disampaikan kepada Gubernur untuk diklarifikasi dengan tembusan kepada menteri. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJMD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang RPJMD kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. BAB VIII PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU IV) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 . TATACARA PENYUSUNAN.

PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD D. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD B. PENETAPAN RENSTRA SKPD . PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RENSTRA SKPD E. PERSIAPAN PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD C.LAMPIRAN IV : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) A.

kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.-2A. misi.A. indikator kinerja. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . G-IV. Gambar. indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. tujuan dan sasaran. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD. kegiatan.1 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENYUSUNAN RPJMD PENETAPAN SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU per SKPD Tidak sesuai sesuai Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Penyusunan Rancangan RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD sesuai Penetapan RenstraSKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra Renstra-KL dan Renstra SKPDRenstra dan Kab/ Kabupaten/ Kota Kabupaten/ Kota Kota Rancangan Renstra-SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Pelaksanaan Musrenbang RPJMD PERDA ttg RPJMD Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Tidak sesuai Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD RENSTRASKPD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. strategi dan kebijakan · rencana program.

kegiatan.2 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENYUSUNAN RPJMD PENETAPAN SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU per SKPD Tidak sesuai sesuai Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Penyusunan Rancangan RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD sesuai Penetapan RenstraSKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi Renstra-KL Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra dan Renstra dan Prov SKPD Renstra Kabupaten/ Kabupaten/ Kota Kota Rancangan Renstra-SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Pelaksanaan Musrenbang RPJMD PERDA ttg RPJMD Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Tidak sesuai Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD RENSTRASKPD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. G-IV. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . tujuan dan sasaran.A. misi. indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. strategi dan kebijakan · rencana program.-3Gambar. indikator kinerja.

Tim penyusun Renstra SKPD dipersiapkan oleh Kepala SKPD dan diusulkan kepada kepala daerah untuk ditetapkan dengan surat keputusan kepala daerah. Pembentukan Tim Penyusun Renstra SKPD Pembentukan tim penyusun Renstra SKPD dimulai dari penyiapan rancangan Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota. Dengan demikian perlu dipilih orang-orang yang mempunyai kesiapan waktu dan kemampuan teknis yang cukup. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. teknis penyusunan dokumen Renstra SKPD. . yang diketuai oleh kepala unit kerja dengan anggota pejabat/staf SKPD dan unsur non pemerintah yang dinilai kompeten sebagai tenaga ahli. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan Renstra SKPD dan penyusunan anggaran. Tugas tim penyusun Renstra SKPD dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja sampai dengan ditetapkannya Renstra SKPD. mencakup: 1. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun Renstra SKPD. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. Agenda kerja ini juga membantu koordinasi dan integrasi antara proses penyusunan Renstra SKPD dengan penyusunan RPJMD. Bahan orientasi mengenai Renstra SKPD. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). B.-4B. untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundangundangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. tahapan tata cara penyusunan. Sedapat mungkin anggota tim menguasai substansi fungsi dan tugas SKPD. Penyusunan Agenda Kerja Tim Renstra SKPD Rencana kegiatan tim penyusun Renstra SKPD disusun kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari persiapan surat edaran KDH hingga verifikasi rancangan Renstra SKPD sebagai bahan musrenbang.3. 2.1. Susunan keanggotaan tim penyusun Renstra SKPD yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah ini sekurang-kurangnya sebagai berikut: Ketua Tim Sekretaris Tim Kelompok Kerja : Kepala SKPD : Kasubag TU/pejabat lainnya : Susunan kelompok kerja tim disesuaikan dengan kebutuhan. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. Anggota tim penyusun yang dilibatkan harus siap bertugas secara penuh dalam menyiapkan dokumen Renstra SKPD. Peraturan perundang-undangan. antara lain: tentang keuangan negara. Orientasi mengenai Renstra SKPD Orientasi mengenai Renstra SKPD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. PERSIAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD Tahapan persiapan penyusunan Renstra SKPD dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan kegiatan penyusunan Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota. sistem perencanaan pembangunan nasional. pemerintahan daerah. B. Susunan keanggotaan tim berasal dari pejabat dan staf SKPD bersangkutan yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. Tim penyusun terdiri atas perwakilan dari setiap unit kerja (bagian/bidang/subdin/atau sebutan lain) yang ada di masing-masing SKPD dan dapat melibatkan tenaga ahli sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. 3. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah.2. pengelolaan keuangan daerah. B.

dalam penyusunan Renstra SKPD perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat dan relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. D. C. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting dalam perumusan rencana yang akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang disusun. RPJMD kabupaten/kota. Data statistik sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir. Hasil evaluasi Renstra SKPD periode lalu. RPJMD provinsi. B. antara lain: 1. Dokumen-dokumen: a. RTRW provinsi. Peraturan perundang-undangan yang terkait. Kebijakan pemerintah yang terkait. Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Bulan II Bulan III Bulan IV PERSIAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD Penyampaian rancangan Renstra SKPD Verifikasi rancangan Renstra SKPD MUSRENBANG RPJMD B. 4. PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD Tahap perumusan rancangan Renstra SKPD. Mengumpulan data/informasi dipertanggungjawabkan.C. b.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen Renstra SKPD adalah sebagai berikut: Tabel. 1 2 E. 2. yaitu: . Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang perlu dikumpulkan dalam menyusun Renstra SKPD. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen Renstra SKPD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.T-IV. dan Renstra K/L untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. 3. Pengumpulan data dan informasi tersebut dilakukan dengan langkah-langkah. dan yang akurat dari sumber-sumber yang dapat Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. dan Tahap penyajian rancangan Renstra SKPD. sebagai berikut: 1.4. 2. dan Renstra K/L untuk penyusunan RPJMD provinsi.1 Contoh Agenda Kerja Penyusunan Renstra SKPD Bulan I NO A. Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan Renstra SKPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. Tahap penyusunan rancangan Renstra SKPD terdiri dari dua tahap. RTRW kabupaten/kota. 3. c. 2. RPJMD provinsi. 1. Untuk itu.

misi. tujuan dan sasaran. indikator kinerja. G-IV. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. kegiatan. tujuan dan sasaran. indikator kinerja.C. indikator kinerja. misi. strategi dan kebijakan · rencana program. strategi dan kebijakan · rencana program.C. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi .2 Bagan Alir Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Kabupaten/Kota Renstra-KL Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra dan Renstra dan Renstra SKPD Provinsi Kabupaten/ Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan.-6Tahapan penyusunan rancangan Renstra SKPD dapat digambarkan dalam bagan alir sebagai berikut: GAMBAR. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. G-IV. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.1 Bagan Alir Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Provinsi Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra Renstra-KL dan Renstra SKPDRenstra dan Kab/ Kabupaten/ Kota Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. indikator kinerja. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi GAMBAR. kegiatan.

(2) data dan informasi yang menggambarkan pencapaianpencapaian yang telah dilaksanakan dalam Renstra SKPD periode sebelumnya. yang mencakup: a) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra K/L.1 Tahap Perumusan Rancangan Renstra SKPD Perumusan isi dan substansi rancangan Renstra SKPD sangat menentukan kualtias dokumen Renstra SKPD yang akan dihasilkan. dilakukan review Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. dan d) program prioritas SKPD kabupaten/kota dan target kinerja serta lokasi program prioritas. (3) data pembiayaan SKPD (khusus Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah/SKPKD). terdiri dari: a) b) 3. Penelaahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Review Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) dan Renstra SKPD Untuk penyusunan rancangan Renstra SKPD provinsi. yang mencakup: a) b) c) d) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra K/L. tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD Provinsi.-7- C. analisis gambaran umum pelayanan SKPD untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan pelayanan SKPD. program prioritas K/L dan target kinerja serta lokasi program prioritas. b) struktur dan pola ruang. Pengolahan data dan informasi a) data dan informasi gambaran pelayanan SKPD. 4. b) program prioritas K/L dan target kinerja serta lokasi program prioritas. dilakukan review Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. dan program prioritas SKPD provinsi dan target kinerja serta lokasi program prioritas. b) 2. Kegiatan-kegiatan tersebut dikelompokkan sebagai berikut: Kegiatan-kegiatan perumusan rancangan Renstra SKPD yang dilakukan secara simultan (bersamaan waktunya) dengan proses penyusunan RPJMD terdiri dari: 1. mencakup (1) struktur organisasi beserta tugas dan fungsinya sebagai dasar untuk melihat dan menentukan lingkup kewenangan SKPD. c) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota. data dan informasi pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD: mencakup (1) data pendapatan SKPD. . mencakup: a) tujuan dan sasaran RTRW. Untuk penyusunan rancangan Renstra SKPD kabupaten/kota. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan Renstra SKPD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen) Renstra SKPD. Analisis gambaran pelayanan SKPD. (2) data belanja SKPD. (3) data dan informasi yang menunjukkan aspirasi-aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan barang publik. layanan publik. analisis pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan SKPD. dan c) indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah. dan regulasi dalam lingkup kewenangan SKPD. Salah satu dokumen rujukan awal dalam menyusun rancangan Renstra SKPD adalah Rancangan Awal RPJMD yang menunjukkan program dan target indikator kinerja yang harus dicapai oleh SKPD selama lima tahun. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). baik untuk mendukung visi/misi kepala daerah maupun untuk memperbaiki kinerja layanan dalam rangka pemenuhan tugas dan fungsi SKPD terkait.

dan kepegawaian SKPD. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi hendaknya tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. huruf b). Sedangkan kegiatan yang dilakukan setelah SKPD menerima surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD adalah: 1. Mempelajari surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD beserta lampirannya yaitu rancangan awal RPJMD yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD. huruf c). bahan paparan (slide atau white paper).1. c) Hasil penelaahan RTRW. dan e) Penentuan isu-isu strategis yang akan dihadapi dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD berdasarkan huruf a). Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian hampir diseluruh lingkungan kehidupan kita. indikator kinerja. Perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD. hasil riset dan lain-lain. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan renstra SKPD. maka perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran betapa pentingnya data dan informasi utamanya untuk penyusunan rencana pembangunan daerah. 6. C. termasuk lokasi kegiatan berdasarkan rencana program prioritas RPJMD. 3. dan 9. Perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Regulasi yang menjadi asas legal bagi SKPD dalam pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD serta struktur organisasi. tata laksana.-85. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus ditugaskan bertanggungjawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. . 7. seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. kegiatan. 4. Perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD. dan 5. Pelaksanaan forum SKPD. Perumusan visi dan misi SKPD. sistematis. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan hasil analisis. 8. 2. Analisis terhadap Dokumen Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sesuai dengan pelayanan atau tugas dan fungsi SKPD. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan renstra SKPD. Perumusan rencana program. Perumusan isu-isu strategis berdasarkan: a) Hasil analisis gambaran pelayanan SKPD (potensi dan permasalahan pelayanan SKPD). menjadi informasi yang lebih terstruktur. dan huruf d). Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan sebagai bahan kajian/analisis dalam perumusan rancangan Renstra SKPD yakni yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD mencakup: 1. resume/notulen-notulen pertemuan. b) Hasil review Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota untuk penyusunan Renstra SKPD provinsi dan hasil review Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi untuk penyusunan Renstra SKPD kabupaten/kota. tetapi kegiatan ini harus berlangsung terus menerus setiap hari (kontinyu). d) Hasil analisis dokumen KLHS.1.

2. Pengolahan data dan informasi diatas perlu memperhatikan tingkat urgensi data dan informasi dalam analisis/kajian yang diperlukan bagi penyusunan suatu Renstra SKPD. 5. Peraturan perundang-undangan terkait pelayanan SKPD. 4. Renstra K/L. Data dan informasi yang digunakan hendaknya memiliki tingkat keakurasian. validitas. RTRW.2.1.-92. dan 3. hasil evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD sampai dengan tahun ke-5 belum diperoleh. Indikator yang dimaksud adalah sebagaimana dimuat dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Adapun informasi yang diperlukan untuk mendukung analisis ini. 7. Potensi dan permasalahan pelayanan SKPD. Analisis gambaran pelayanan SKPD diharapkan mampu mengidentifikasi: 1. 8. Tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD periode sebelumnya. Hambatan dan permasalahan yang perlu diantisipasi. Hasil evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu. Hasil evaluasi Renstra SKPD periode sebelumnya merupakan informasi utama bagi penyusunan Renstra SKPD periode berikutnya. Peran SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. Dalam keadaan indikator kinerja yang dimaksud tidak tersedia. dan biaya yang dialokasikan dalam pengumpulan dan pengolahan data/informasi. 2. Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat bahwa pada saat rancangan Renstra SKPD disusun. Capaian kinerja yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. 4. maka digunakan hasil evaluasi sementara Renstra SKPD yang memuat hasil evaluasi Renstra SKPD sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD sampai dengan tahun berjalan (periode sebelum tahun rencana). C. dan indikator sesuai urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Data perkembangan pengelolaan keuangan dan aset SKPD paling kurang 5 (lima) tahun terakhir. Informasi lain yang terkait pelayanan SKPD. dan 5. Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD adalah indikator kinerja pembangunan daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. Sumber daya SKPD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya. sebagaimana dimuat dalam Lampiran I peraturan menteri ini. Renja SKPD tahun berjalan untuk menginformasikan kondisi terkini isu-isu pelayanan SKPD dan perkiraan tingkat capaian target Renstra SKPD sampai dengan akhir tahun berjalan. Potensi dan permasalahan aspek pengelolaan keuangan SKPD. Hal ini guna memastikan efektivitas dan efisiensi waktu. 3. 3. Capaian kinerja antara Renstra SKPD dengan RPJMD periode sebelumnya. 9. dan 10. Standar Pelayanan Minimal/SPM untuk urusan wajib dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya. Analisis Gambaran Pelayanan SKPD Analisis gambaran pelayanan SKPD untuk menunjukkan: 1. 6. sekurang-kurangnya mencakup: . maka SKPD perlu menyepakati indikator kinerja mandiri untuk mengukur kinerja SKPD berkenaan. tenaga. menurut SPM untuk urusan wajib.

pelayanan yang mencapai target atau yang belum mencapai target. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan aspek pendanaan pelayanan SKPD. dan potensi pengembangan pelayanan SKPD. 4.10 a) Regulasi yang menjadi asas legal bagi SKPD dalam pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD untuk menunjukkan peran SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. Hitung realisasi capaian target kinerja setiap tahun sampai dengan tahun ke-5 dalam Renstra SKPD dan sampai dengan saat penyusunan Renstra SKPD berdasarkan Renja SKPD tahun berjalan. mekanisme). Indikator yang digunakan mengacu pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. e) Berita acara forum SKPD tahunan (yang dapat menunjukkan aspirasi-aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan barang publik. g) Data perkembangan pendanaan pelayanan SKPD (pendapatan. layanan publik. c) Indikator yang telah dikembangkan SKPD secara mandiri berdasarkan hasil analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD tersebut. dilakukan perbandingan antara capaian kinerja pelayanan SKPD dengan kinerja yang dibutuhkan. d) Laporan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu untuk menunjukkan tingkat capaian/realisasi terhadap target kinerja yang harus dicapai selama pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. Hitung rasio antara capaian kinerja dengan kinerja yang dibutuhkan/ditargetkan untuk menunjukkan ada/tidaknya kesenjangan/gap pelayanan. Identifikasi target (besaran) kinerja menurut SPM. Langkah-langkah analisis tingkat kinerja pelayanan SKPD adalah: 1. 6. b) Struktur organisasi SKPD untuk menunjukkan organisasi. b) Indikator kinerja yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. SKPD menggunakan indikator dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Tentukan indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD. belanja. isu strategis dalam Renstra SKPD periode sebelumnya. dan d) Indikator Millennium Development Goals (MDGs) ataupun indikator lain yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. c) Renja SKPD tahun berjalan untuk menginformasikan isu-isu terkini pelayanan SKPD dikaitkan dengan isu-isu krusial dan aktual daerah (sebagaimana dimuat dalam RKPD tahun berjalan). baik berupa faktor pendukung maupun faktor kendala pencapaian sebagai bahan perumusan . Identifikasi target (besaran) kinerja dalam Renstra SKPD (periode sebelumnya) yang dirinci per tahun. dan faktor-faktor yang mempengaruhi tercapai tidaknya target pelayanan tersebut. prosedur. dan regulasi dalam lingkup kewenangan SKPD). dan kapasitas pendanaan pelayanan SKPD. jumlah personil. dan f) Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk urusan wajib dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya Informasi dari butir (c) sampai dengan (f) dianalisis untuk menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian target tersebut. pada setiap indikator. 3. Yang dimaksud dengan kinerja yang dibutuhkan adalah target sebagaimana dimuat dalam Renstra SKPD periode sebelumnya dan/atau berdasarkan atas hasil analisis standar kebutuhan pelayanan. yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. 7. dan perkiraan tingkat pencapaian target Renstra SKPD sampai dengan akhir tahun berjalan. serta dampak yang ditimbulkan atas kinerja pelayanan tersebut.. jika SKPD telah memiliki SPM. Identifikasi pada pelayanan mana saja target telah tercapai dan belum tercapai. dan pembiayaan) minimal 5 (lima) tahun terakhir untuk menunjukkan kemampuan pengelolaan pendanaan SKPD (rasio antara dana yang dianggarkan dengan yang direalisasikan). Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari kelompok indikator berikut ini: a) Indikator kinerja SPM. indikator kinerja kunci (IKK) atau hasil analisis kebutuhan. 2. masalah yang dihadapi. dan tata laksana SKPD (proses. 5. Untuk menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD.

. 8.C.2 berikut: . Bila target kinerja dalam IKK belum tercantum.T-IV. 10. maka analisis capaian kinerja dihubungkan dengan indikator kinerja SKPD yang terkait dengan SPM. maka analisis tingkat capaian pelayanan mengacu pada IKK serta analisis kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD. dan 11. Jika SKPD belum mempunyai SPM dan dokumen Renstra SKPD-nya belum mencantumkan indikator maupun target kinerjanya. Bila pada IKK angka standarnya tidak tersedia atau target kinerjanya tidak tercantum dalam Renstra SKPD. 9. maka perlu dilakukan analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai dengan norma dan standar pelayanan masing-masing SKPD. dapat diajikan dalam contoh tabel (contoh untuk layanan SKPD/dinas pendidikan) seperti Tabel. Hasil dari langkah-langkah analisis tersebut diatas.11 permasalahan pelayanan SKPD untuk ditangani pada Renstra berikutnya.

.2 Review Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Pendidikan*) Provinsi/Kabupaten/Kota **) ……………… NO (1) SPM A.T-IV. Pendidikan Formal SD/MI (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah) a) Partisipasi anak bersekolah (PAB) b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis d) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan e) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional f) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa g) Jumlah siswa per kelas h) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional i) j) l) 2. 1. 90 % <1% 90 % 80 % 90 % 90 % 100 % 95 % <1% 90 % 90 % 90 % 95 % 30-40 90 % 95 % Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 (11) Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) k) Indikator lainnya ....... Jumlah lulusan yang melanjutkan ke SMP/MTs Indikator lainnya .... Indikator lainnya ...12 Tabel....C.. SMP/Mts a) Partisipasi anak bersekolah b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis d) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non guru e) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan f) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional g) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa .

60 % <1% 90 % 80 % 90 % 90 % 100 % 30-40 90 % 25 % k) Indikator lainnya .......13 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) h) Jumlah siswa per kelas i) j) l) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional Jumlah lulusan yang melanjutkan ke SMA/MA/SMK Indikator lainnya ....... l) m) Indikator lainnya ... Target SPM Target IKK (3) 30-40 90 % 70 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) k) Indikator lainnya ... 3........ SMK a) Angka putus sekolah (APS) b) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis yang ditetapkan c) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non <1% 90 % 80 % .... 4. m) Indikator lainnya ... SMA/MA a) Partisipasi anak bersekolah b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis yang ditetapkan d) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non guru e) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan f) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional g) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa h) Jumlah siswa per kelas i) j) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional Jumlah lulusan yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang terakreditasi Indikator lainnya ....

Pendidikan Non Formal Pendidikan Keaksaraan a) Bisa membaca dan menulis b) Orang buta aksara dalam kelompok usia 15-44 tahun c) Orang buta aksara dalam kelompok usia diatas 44 tahun d) Ketersediaan data dasar keaksaraan yang diperbarui terus menerus l) Indikator lainnya ......... m) Indikator lainnya .......... 2... B.... n) Indikator lainnya . Indikator lainnya ... Target SPM Target IKK (3) 90 % 90 % 100 % 30-40 20 % 20 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) k) Indikator lainnya .14 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) guru d) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan e) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional f) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa g) Jumlah siswa per kelas h) Jumlah lulusan SMK melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang terakreditasi i) j) Jumlah lulusan yang diterima di dunia kerja sesuai dengan keahliannya. 1. Kesetaraan SD (program Paket-A) a) Peserta paket A bagi penduduk usia sekolah yang belumbersekolah SD/MI b) Peserta didik Paket A yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket A oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket A dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi (SMP/MTs) atau Program Paket B 85 % < 10% 100 % 95 % 95 % 100 % <7% < 30% ...

. atau Program Paket C) g) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan h) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket B yang diperlukan i) j) Kualifikasi tutor Program Paket A yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional Jumlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran 90 % < 10% 100 % 80 % 50 % 50% 90 % 100 % 90 % 90 % ... MA.... 3.15 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) f) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan g) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket A yang diperlukan h) Kualifikasi tutor Program Paket A yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional i) Jumlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran Jumlah peserta yang memiliki sarana belajar Target SPM Target IKK (3) 90 % 100 % 90 % 90 % 100 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) j) k) Tersedianya data dasar kesetaraan SD yang diperbarui terus menerus.... n) Indikator lainnya . Kesetaraan SMP (Program Paket B) a) Peserta didik Program Paket B bagi penduduk usia sekolah yang belum bersekolah SMP/MT b) Peserta didik Program Paket B yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket B oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket B dapat memasuki dunia kerja f) Jumlah lulusan Program Paket B yang dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMA.. SMK...... l) Indikator lainnya . m) Indikator lainnya ..

l) Indikator lainnya .... Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 4. Kasetaraan SMA (Program Paket C) a) Peserta didik Program Paket C bagi penduduk usia sekolah yang belum bersekolah SMA/MA/SMK b) Peserta didik Program Paket C yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket C oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket C dapat memasuki dunia kerja f) Jumlah lulusan Program Paket C dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi 70 % <5% 60 % 80 % 60 % 10 % 90 % 100 % 90 % 90 % g) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan h) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket C yang diperlukan i) j) Kualifikasi tutor yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional Jumlah pusat belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran k) Tersedianya data dasar kesetaraan SMA yang diperbarui terus menerus l) Indikator lainnya .. dan dari keluarga pra sejahtera yang menjadi peserta didik dalam kursuskursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang 25 % .. 5......16 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) k) Tersedianya data dasar kesetaraan SMP yang diperbarui terus menerus. pengangguran..... m) Indikator lainnya .. n) Indikator lainnya ..... m) Indikator lainnya ...... Pendidikan Keterampilan dan Bermata-pencaharian a) Prosentase jumlah anggota masyarakat putus sekolah...

.. magang.. atau penguji praktek kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan h) Jumlah peserta ujian kursus-kursus yang memperoleh ijazah atau sertifikat i) Jumlah kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan Tersedianya data dasar kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang diperbarui terus menerus Indikator lainnya ..... l) m) Indikator lainnya ...17 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) b) Kepemilikan ijin operasional dari pemerintah atau pemerintah daerah c) Jumlah lembaga kursus dan lembaga pelatihan yang terakreditasi d) Kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang dibina secara terus menerus e) Lulusan kursus. kelompok belajar usaha yang dapat memasuki dunia kerja f) Pemenuhan jumlah tenaga pendidik. instruktur... Target SPM Target IKK (3) 100 % 25 % 100 % 90 % 100 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 90 % 75 % 90 % j) k) Indikator lainnya . atau penguji praktek dari kursus-kursus/pelatihan/ kelompok belajar usaha/magang yang diperlukan g) Kualifikasi tenaga pendidik. pelatihan... instruktur.... 6. Pendidikan Taman Kanak-kanak a) Jumlah anak usia 4-6 tahun yang mengikuti program TK/RA b) Guru yang layak mendidik T/RA dengan kualifikasi sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional c) TK/RA yang memiliki sarana dan prasarana belajar/bermain d) TK/RA yang telah menerapkan manajemen berbasis sekolah sesuai dengan manual yang ditetapkan oleh Menteri 20 % 90 % 90 % 60 % .

. e) Indikator lainnya ..... Indikator Kinerja Kunci (Permendagri No 73 Tahun 2009) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 7..... 65 % 50 % 50 % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Angka Rata-rata Lama Bersekolah Angka Melek Huruf Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SD/MI Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMP/MTS Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMA/SMK/MA Pembinaan Guru jenjang SD/MI Pembinaan Guru jenjang SMP/MTS Pembinaan Guru jenjang SMA/SMK/MA Fasilitasi dan Asistensi Pengelolaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI .... f) Indikator lainnya .. Kelompok Bermain atau sederajat b) Jumlah Anak usia 4-6 tahun yang belum terlayani pada program PAUD jalur formal mengikutii program PAUD jalur non formal.... Pendidikan di Taman Penitipan Anak. Kelompok Bermain atau yang sederajat a) Jumlah anak 0 – 4 tahun yang mengikuti kegiatan Tempat Penitipan Anak. c) Guru PAUD jalur non formal yang telah mengikuti pelatihan di bidang PAUD d) Indikator lainnya ...18 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) e) Indikator lainnya ....

19 - NO (1) 16 17 18 19 20 21 22 23 Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) Catatan: *) Contoh untuk SKPD Pendidikan **) Diisi nama provinsi/ kabupaten/kota ***) Sesuaikan dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi/ kabupaten/kota ..

Hasil retribusi daerah ..C. sampai dengan Kolom (10) diisi dengan target yang tercantum dalam Renstra SKPD untuk masing-masing tahun pelaksanaan Renstra SKPD.. Indikator Millennium Development Goals (MDGs) ataupun indikator lain yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) Kolom (6) Kolom (11) Kolom (16) Lakukan analisis pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode perencanaan sebelumnya untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan SKPD dengan cara mengisi Tabel. jika SKPD telah memiliki SPM.Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya . sampai dengan Kolom (20) diisi dengan rasio antara realisasi capaian dengan target dalam Renstra SKPD. Data realisasi capaian kinerja ini berdasarkan laporan evaluasi hasil pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya.Bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak .Pendapatan hibah . diisi dengan target yang telah ditentukan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah untuk setiap IKK berkenaan. c. diisi dengan indikator kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD.Lain-lain PAD yang Sah Dana Perimbangan . SKPD menggunakan Lampiran I peraturan menteri ini sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. Indikator kinerja yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan.Bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya . sampai dengan Kolom (15) diisi dengan realisasi capaian kinerja sebagaimana hasil evaluasi tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-5 pelaksanaan Renstra SKPD.T-IV.Dana alokasi umum . dan d.2: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut sesuai dengan kebutuhan.T-IV.20 Petunjuk cara pengisian Tabel.Hasil pajak daerah . *) Provinsi/ Kabupaten/Kota……………… **) Anggaran pada Tahun keUraian ***) 1 (1) (2) Realisasi Anggaran pada Tahun ke1 (7) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 (12) 2 (3) 3 (4) 4 (5) 5 (6) 2 (8) 3 (9) 4 (10) 5 (11) 2 (13) 3 (14) 4 (15) 5 (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggar Realis an asi (17) (18) PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah ..C.C.Dana penyesuaian dan otonomi khusus . Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari kelompok indikator berikut ini: a. diisi dengan target yang ditentukan pada indikator yang berkenaan.Dana darurat .Dana alokasi khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah .Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan . Rasio ini dinyatakan dalam persentase. Indikator kinerja SPM. misalnya target MDGs untuk indikator yang terkait MDGs.T-IV. b.: Tabel.3 berikut ini. diisi dengan target nasional menurut SPM pada indikator kinerja yang berkenaan. Indikator yang telah dikembangkan SKPD secara mandiri berdasarkan hasil analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD tersebut.3 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD .

jumlah dan kualitas personil (sumber daya manusia). Dengan demikian. yaitu: (jumlah anggaran pada tahun ke-5 – jumlah anggaran pada tahun ke-1)/5. .T-IV. misalnya prosedur/mekanisme.21 Realisasi Anggaran pada Tahun ke1 (7) Anggaran pada Tahun keUraian ***) 1 (1) (2) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 (12) 2 (3) 3 (4) 4 (5) 5 (6) 2 (8) 3 (9) 4 (10) 5 (11) 2 (13) 3 (14) 4 (15) 5 (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggar Realis an asi (17) (18) BELANJA DAERAH Belanja tidak langsung Belanja pegawai Belanja bunga Belanja subsidi Belanja hibah Belanja bantuan sosial Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa . yaitu: (jumlah realisasi pada tahun ke-5 – jumlah realisasi pada tahun ke-1)/5.Pemberian pinjaman daerah Total *) **) ***) diisikan dengan nama SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kewenangan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota Petunjuk cara pengisian Tabel..Penerimaan piutang daerah Pengeluaran pembiayaan . sampai dengan Kolom (16) diisi dengan rasio antara realisasi penyerapan anggaran dengan anggaran yang telah dialokasikan dalam APBD. sampai dengan Kolom (11) diisi dengan data realisasi penyerapan anggaran SKPD sesuai laporan pelaksanaan APBD/Renja SKPD pada tahun berkenaan.Pembentukan dana cadangan .Belanja modal PEMBIAYAAN Penerimaan pembiayaan .Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya . progres pelaksanaan program. dan selanjutnya perlu diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD. dapat dilihat pada tahun mana saja rasio antara realisasi penyerapan anggaran dan anggaran dapat dikatakan baik atau kurang baik. Dari tabel diatas.Pembayaran pokok utang .C.C.3 merupakan salah satu tabel yang dimuat dalam dokumen Renstra SKPD. diisikan dengan angka rata-rata pertumbuhan realisasi. selanjutnya dapat dirumuskan permasalahan pendanaan pelayanan SKPD untuk diatasi melalui strategi/kebijakan dalam Renstra SKPD periode berikutnya.Belanja tidak terduga Belanja langsung .Penerimaan pinjaman daerah .Pencairan dana cadangan . sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan isu strategis dan program strategis SKPD pada Renstra SKPD yang akan disusun. sampai dengan Kolom (6) diisi dengan data anggaran SKPD sesuai yang tercantum pada APBD dalam 5 (lima) tahun pelaksanaan Renstra SKPD.Belanja barang dan jasa .Belanja pegawai . Tabel diatas juga menunjukkan kapasitas pendanaan pelayanan SKPD dalam 5 (lima) tahun terakhir.T-IV.Penerimaan kembali pemberian pinjaman . pada perihal mana yang baik atau kurang baik. Tabel. dan diisi dengan angka rata-rata pertumbuhan anggaran.3: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (7) Kolom (12) Kolom (17) Kolom (18) diisi dengan uraian jenis pendapatan/belanja/pembiayaan sesuai dengan kebutuhan.Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah .Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan . dan sebagainya.

strategi dan kebijakan. isu-isu strategis pelayanan K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. diisi dengan indikator kinerja sasaran yang terdapat pada Renstra SKPD provinsi. program prioritas beserta target kinerjanya. Review merupakan proses penting untuk harmonisasi dan sinergi antara Renstra SKPD provinsi dengan Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota serta mencegah tumpang tindih antara program dan kegiatan pemerintah atau K/L dengan provinsi/kabupaten/kota.C. maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja SKPD sudah baik secara nasional dan regional. diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). dan tahapan pelaksanaan program dan kegiatan. kegiatan. Tabel. indikasi lokasi program prioritas.3. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk . peluang.T-IV. c. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota tahun rencana. sumber daya penyelenggaraan pelayanan. dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD provinsi terhadap sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota sesuai dengan urusan yang menjadi kewenangan masing-masing SKPD. maka hal ini mengindikasikan bahwa SKPD tersebut memiliki permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanannya.. g. maka review dilakukan pada: a. apakah capaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD provinsi telah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. d. ditujukan untuk mengidentifikasi potensi. keterpaduan.C. dan strategi/kebijakan pelayanan yang ditempuh. indikasi besaran pendanaan program strategi. Jika Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota tahun rencana telah tersedia. e.1. sinkronisasi. Analisis Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) dan Renstra SKPD Untuk Provinsi Analisis Renstra K/L dan SKPD kabupaten/kota (yang masih berlaku) ditujukan untuk menilai keserasian.T-IV.4 Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Provinsi terhadap Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota*) dan Renstra K/L No (1) Indikator Kinerja (2) Capaian Sasaran Renstra SKPD Provinsi (3) Sasaran pada Renstra SKPD Kabupaten/Kota*) (4) Sasaran pada Renstra K/L (5) 1 2 3 dst *) Rata-rata Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Cara pengisian Tabel.4: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. 1. diisi dengan data capaian sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). dan tantangan pelayanan sebagai masukan penting dalam perumusan isu-isu strategis dan pilihan/kebijakan strategis dalam Renstra SKPD provinsi. tujuan dan sasaran. f. seperti dalam perencanaan program.22 - C. Jika tingkat capaian kinerja Renstra SKPD provinsi melebihi sasaran Renstra K/L atau ratarata kabupaten/kota. b. Sedangkan jika lebih rendah. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota yang masih berlaku ini menjadi masukan dalam perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD yang akan ditangani pada Renstra SKPD provinsi periode berikutnya. proses/prosedur/mekanisme pelayanan. dan pendanaan. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi: a. dan apakah tingkat capaian kinerja Renstra SKPD provinsi melebihi/sama/kurang dari sasaran Renstra K/L atau rata-rata Kabupaten/kota. b.

Sedangkan jika lebih rendah.23 dalam indikator kinerja sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.T-IV. e. dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota terhadap sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD Provinsi sesuai dengan urusan yang menjadi kewenangan sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD. sumber daya penyelenggaraan pelayanan. apakah capaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota telah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi dan Renstra K/L. strategi dan kebijakan. dan apakah tingkat capaian kinerja Renstra SKPD kabupaten/kota melebihi/sama/kurang dari sasaran Renstra SKPD provinsi atau Renstra K/L. c. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi: a. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi yang masih berlaku. Kolom (5) 2. program prioritas beserta target kinerjanya. tujuan dan sasaran. maka hal ini mengindikasikan bahwa SKPD tersebut memiliki permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanannya.5 Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/kota terhadap Sasaran Renstra SKPD Provinsi dan Renstra K/L No (1) 1 2 3 dst Indikator Kinerja (2) Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota (3) Sasaran pada Renstra SKPD Provinsi (4) Sasaran pada Renstra K/L (5) . kegiatan. maka review dilakukan pada: a. sinkronisasi. f. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra K/L. dan strategi/ kebijakan pelayanan yang ditempuh. seperti dalam perencanaan program. dan tahapan pelaksanaan program dan kegiatan. Review ini merupakan proses penting untuk harmonisasi dan sinergi antara Renstra SKPD kabupaten/kota dengan Renstra K/L dan Renstra provinsi serta mencegah tumpang tindih program dan kegiatan antara pemerintah atau K/L dengan provinsi/kabupaten/kota. dan tantangan pelayanan sebagai masukan penting dalam perumusan isu-isu strategis dan pilihan/kebijakan strategis dalam Renstra SKPD kabupaten/kota. maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja SKPD sudah baik secara nasional/provinsi. indikasi besaran pendanaan program strategis.C.. keterpaduan. Untuk Kabupaten/Kota Analisis Renstra K/L dan SKPD Provinsi (yang masih berlaku) ditujukan untuk menilai keserasian. Tabel. Jika Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi tahun rencana telah tersedia. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi tahun rencana bertujuan untuk mengidentifikasi potensi. b. b. g. Jika tingkat capaian kinerja Renstra SKPD kabupaten/kota melebihi sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. indikasi lokasi program prioritas. dan pendanaan. yang berarti Renstra K/L tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. menjadi masukan dalam perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD yang akan ditangani pada Renstra SKPD kabupaten/kota periode berikutnya. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). isu-isu strategis pelayanan K/L dan Renstra SKPD provinsi. proses/prosedur/mekanisme pelayanan. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). peluang. dan diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra K/L untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). d. yang berarti Renstra SKPD kabupaten/kota tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya.

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Rencana struktur tata ruang. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang direncanakan di wilayah provinsi/kabupaten/kota.C. 4. dan diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra K/L untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). Cara pengisian Tabel. diisi dengan data capaian sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2).C. jaringan prasarana energi/listrik. dan prioritas wilayah pelayanan SKPD dalam lima tahun mendatang. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). jaringan prasarana sumber daya air.6: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut sesuai dengan kebutuhan. jaringan jalan primer/sekunder. dan 5. Untuk itu. Indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah Tabel. jaringan prasarana sumber daya air.*) No (1) 1 2 3 dst Rencana Struktur Ruang (2) Struktur Ruang Saat Ini (3) Indikasi Program Pemanfaatan Ruang pada Periode Perencanaan Berkenaan (4) Pengaruh Rencana Struktur Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan SKPD (5) Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan SKPD (6) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. rencana bandara. Kolom (3) . jaringan prasarana energi/listrik. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. pelabuhan laut. diisi dengan indikator kinerja sasaran yang terdapat pada Renstra SKPD kabupaten/kota. Dibandingkan dengan struktur dan pola ruang eksisting maka SKPD dapat mengidentifikasi arah (geografis) pengembangan pelayanan. aspek yang perlu ditelaah adalah: 1.5: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. diisi dengan daftar Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Sedangkan kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya. terminal.T-IV.6 Hasil Telaahan Struktur Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota..24 Cara pengisian Tabel. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang telah ada di wilayah provinsi/ kabupaten/kota. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra SKPD provinsi. diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2).4. stasiun kereta.. dan jaringan prasarana telekomunikasi. yang berarti Renstra SKPD provinsi tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. 3. Dikaitkan dengan indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah dalam RTRW. Telaahan rencana tata ruang wilayah ditujukan untuk mengidentifikasi implikasi rencana struktur dan pola ruang terhadap kebutuhan pelayanan SKPD. Kolom (5) C. stasiun kereta.T-IV. pelabuhan laut. diisi dengan daftar Pusat Kegiatan Nasional (PKN). maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-).C. pelabuhan penyeberangan. dan jaringan prasarana telekomunikasi. Struktur tata ruang saat ini. pelabuhan penyeberangan. yang berarti Renstra K/L tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra K/L. Rencana pola ruang.T-IV. dalam penelaahan RTRW. Pola ruang saat ini. jaringan jalan primer/sekunder. 2. terminal. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-)..1.. perkiraan kebutuhan pelayanan. SKPD dapat menyusun rancangan program beserta targetnya yang sesuai dengan RTRW tersebut. ketersediaan bandara.

. 3. dan/atau program pembangunan dalam suatu wilayah.7: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. Hasil KLHS menjadi dasar bagi kebijakan. dan diisi dengan perbandingan antara kondisi rencana dan kondisi saat ini. kawasan budidaya. Cara pengisian Tabel. 4. dan lokasinya. Kajian Lingkungan Hidup Strategis. dan indikasi program pemanfaatan ruang pada periode berkenaan dengan tahun perencanaan Renstra SKPD. Apabila hasil KLHS menyatakan bahwa daya dukung dan daya tampung sudah terlampaui. lakukan identifikasi apakah ada pengaruhnya kepada kebutuhan pelayanan SKPD.25 Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan indikasi program pemanfaatan ruang untuk setiap rencana struktur ruang.T-IV. Daftar lokasi ini menjadi arahan lokasi pengembangan pelayanan SKPD untuk mendukung perwujudan pola ruang wilayah. dan/atau program pembangunan tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan rekomendasi KLHS. identifikasilah bentuk kebutuhan tersebut. rencana. diisi dengan daftar kawasan lindung. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. perkiraan besaran kebutuhan. kinerja layanan/jasa ekosistem. dan lokasinya. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan. dan . Analisis terhadap Dokumen Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sesuai dengan pelayanan SKPD Kolom (6) C. rencana. Jika ada. dan indikasi program pemanfaatan ruang pada periode berkenaan dengan tahun perencanaan Renstra SKPD. rencana.T-IV. maka: 1. dan diisi dengan daftar lokasi berdasarkan hasil pada kolom (5).C. 2. 1. dan diisi dengan daftar lokasi berdasarkan hasil pada kolom (5).7 Kolom (6) Hasil Telaahan Pola Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota No (1) 1 2 3 4 dst Rencana Pola Ruang (2) Pola Ruang Saat Ini (3) Indikasi Program Pemanfaatan Ruang Pada Periode Perencanaan Berkenaan (4) Pengaruh Rencana Pola Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan SKPD (5) Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan SKPD (6) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.5. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam. diisi dengan indikasi program pemanfaatan ruang untuk setiap rencana pola ruang. KLHS memuat kajian antara lain. yang selanjutnya disingkat KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis. Jika ada. kawasan strategis yang telah ada (eksisting) di wilayah provinsi/kabupaten/kota. kawasan budidaya. lakukan identifikasi apakah ada pengaruhnya kepada kebutuhan pelayanan SKPD. identifikasilah bentuk kebutuhan tersebut. kawasan strategis yang direncanakan di wilayah provinsi/kabupaten/kota. kebijakan. Daftar lokasi ini menjadi arahan lokasi pengembangan pelayanan SKPD untuk mendukung perwujudan struktur ruang wilayah. 6. perkiraan besaran kebutuhan. diisi dengan perbandingan antara kondisi rencana dan kondisi saat ini. 5. Tabel. menyeluruh. diisi dengan daftar kawasan lindung.C. dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan.1. dan tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati. dan/atau program.

.T-IV.C.. diisi dengan aspek kajian KLHS. Tabel. dan diisi dengan catatan yang harus diperhatikan dalam perumusan program dan kegiatan agar tidak bertentangan dengan KLHS.. Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar layanan SKPD senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan dan aspirasi pengguna layanan...... Cara pengisian Tabel..*) SKPD.. Oleh karena itu. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan. maka program dan kegiatan tersebut perlu direvisi agar sesuai dengan rekomendasi KLHS.. Aspek Kajian (2) Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup Kinerja layanan/jasa ekosistem Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim Tingkat ketahanan dan keanekaragaman hayati potensi Ringkasan KLHS (3) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 2. 5.26 2. Perumusan Isu-isu Strategis Berdasarkan Tugas dan Fungsi C... dalam hal tidak dimanfaatkan.. diisi dengan ringkasan KLHS untuk setiap aspek kajian berkenaan. akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya.. . dapat dioperasionalkan dan secara moral serta etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan. diisi dengan pengaruh yang mungkin/dapat terjadi terhadap kebijakan pelayanan SKPD. Implikasi terhadap Pelayanan SKPD (4) Catatan bagi Perumusan Program dan Kegiatan SKPD (5) No (1) 1.6.. Jika ada program dan kegiatan pelayanan SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang berimplikasi negatif terhadap lingkungan hidup. 3...C...T-IV.. segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi Dengan mempertimbangkan fungsi KLHS tersebut maka analisis terhadap dokumen hasil KLHS ditujukan untuk mengidentifikasi apakah ada program dan kegiatan pelayanan SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang berimplikasi negatif terhadap lingkungan hidup.1...8: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan.8 Hasil Analisis terhadap Dokumen KLHS Provinsi/Kabupaten/Kota.... Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi. 6. 4.. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi SKPD dimasa datang... Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat dalam jangka panjang.

7).T-IV. Cara pengisian Tabel.. dan kolom (5). diisi dengan kesimpulan setiap aspek kajian tentang capaian/kondisi saat ini diisi dengan standar yang digunakan pada setiap aspek kajian untuk menilai kualitas capaian/kondisi saat ini.9: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) (6) diisi dengan judul aspek-aspek kajian yang telah dilakukan.C. dan diisi dengan rumusan permasalahan pelayanan SKPD berdasarkan informasi pada kolom (2). kolom (4)..T-IV.T-IV.T-IV. dan 4...C. Kajian KLHS.9 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi SKPD Pendidikan*) Provinsi..3).T-IV. kolom (3).C. 2.2 dan Tabel. Hasil analisis KLHS (Tabel... Hasil telaahan RTRW (Tabel. Selanjutnya. diisi dengan faktor-faktor yang dapat dikendalikan melalui kewenangan SKPD. Kajian terhadap RTRW.4 untuk provinsi) atau (Tabel.**) Faktor yang Mempengaruhi INTERNAL (KEWENANGAN SKPD) EKSTERNAL (DILUAR KEWENANGAN SKPD) Aspek Kajian Capaian/Kondisi Saat ini Standar yang Digunakan Permasalahan Pelayanan SKPD (1) (2) (3) (4) (5) (6) *) Sebagai contoh adalah SKPD pendidikan provinsi **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi..T-IV. Informasi yang diperlukan dalam perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi ini adalah: 1. 3.C. Kajian terhadap Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota.T-IV.C. dianalisis isu-isu strategis yang berhubungan atau mempengaruhi SKPD dari faktor-faktor eksternal lainnya dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel..10 Identifikasi Isu-Isu Strategis (Lingkungan Eksternal) No (1) 1 2 3 4 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Isu Strategis Dinamika Internasional (2) Dinamika Nasional (3) Dinamika Regional/Lokal (4) Lain-lain (5) .C.8) Informasi tersebut dapat disusun kedalam contoh tabel matriks sebagai berikut: Tabel..T-IV.. Hasil analisis gambaran pelayanan SKPD (Tabel..C.C. diisi dengan faktor-faktor yang berada diluar kewenangan SKPD.27 Suatu isu strategis bagi SKPD diperoleh baik berasal dari analisis internal berupa identifikasi permasalahan pembangunan maupun analisis eksternal berupa kondisi yang menciptakan peluang dan ancaman bagi SKPD di masa lima tahun mendatang. Kajian terhadap Renstra K/L.6 dan Tabel..C. Hasil analisis Renstra K/L dan Renstra-SKPD provinsi/kabupaten/kota (Tabel.T-IV.C. yaitu: Gambaran pelayanan SKPD.5 untuk kabupaten/kota).T-IV.

..T-IV..11: Kolom kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.. Tabel.. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih ditujukan untuk memahami arah pembangunan yang akan dilaksanakan selama kepemimpinan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut... Dengan demikian.......C.C..28 Cara Pengisian Tabel. 1..C... Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Visi: .. usaha/ bisnis.. No (1) 1 Misi dan Program KDH dan Wakil KDH terpilih (2) Misi 1……………… Program………… 2 Misi 1……………… Program………… Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional..... diisi dengan uraian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.9 yang dapat mempengaruhi pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Setiap uraian misi disertai dengan uraian program..C....C. Menelaah Visi....... diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. Untuk provinsi: Selanjutnya berdasarkan hasil analisis terhadap Renstra K/Ldan Renstra SKPD kabupaten/kota (lihat kembali Tabel.... diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel. sosial budaya.. dan diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. tetapi juga berdasarkan kebutuhan pengelolaan faktor-faktor agar dapat berkontribusi dalam pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Hasil identifikasi SKPD tentang faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih ini juga akan menjadi input bagi perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD...T-IV. SKPD provinsi juga perlu menyusun faktor-faktor . dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan.4). Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Menelaah visi. isu-isu yang dirumuskan tidak saja berdasarkan tinjauan terhadap kesenjangan pelayanan. penemuan-penemuan teknologi. diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.11 Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan SKPD Terhadap Pencapaian Visi..T-IV...... diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi se-wilayah provinsi/kab/kota. misi.. diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan dan dapat menghambat pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah..T-IV.....10: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan.T-IV.

yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi.C..13 Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi berdasarkan Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra SKPD Kabupaten/kota (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) . SKPD kabupaten/kota menyusun faktor-faktor baik yang bersifat menghambat maupun yang bersifat mendorong. untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD. Kolom (2) diisi dengan sasaran jangka menengah Renstra K/L sebagaimana tercantum dalam Renstra K/L.C.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD dengan sasaran Renstra K/L.T-IV.12: Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. Kolom (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra K/L. Identifikasi faktor tersebut dapat disusun pada tabel berikut: Tabel.C. 2. SKPD provinsi perlu menyusun daftar faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi pada Tabel. Kolom (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.9. Indikator kinerja pelayanan SKPD yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD. Untuk kabupaten/kota: Selanjutnya berdasarkan hasil analisis terhadap Renstra K/Ldan Renstra SKPD provinsi (lihat kembali Tabel. 1.T-IV.29 baik yang bersifat menghambat maupun yang bersifat mendorong.C. yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi.T-IV.C. dan Kolom (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra K/L.T-IV.C. Untuk provinsi: Demikian pula hal-nya dengan hasil analisis terhadap Renstra SKPD kabupaten/kota.5).12 Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota berdasarkan Sasaran Renstra K/L beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra K/L (2) Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel. Tabel.T-IV.T-IV.

TIV. Tabel.T-IV.C. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.C. Untuk kabupaten/kota: Demikian pula hal-nya dengan hasil analisis terhadap Renstra SKPD provinsi. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi. (2) diisi dengan sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi sebagaimana tercantum dalam Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD kabupaten/kota..9.C.T-IV. Kolom Kolom Kolom Demikian pula selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hasil telaahan RTRW.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD provinsi dengan rata-rata sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.14: Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.13: Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD provinsi. SKPD kabupaten/kota perlu menyusun daftar faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi pada Tabel.T-IV. Indikator kinerja pelayanan SKPD provinsi yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD provinsi. Indikator kinerja pelayanan SKPD kabupaten/kota yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD kabupaten/kota.C.14 Permasalahan Pelayanan SKPD Kabupaten/Kota Berdasarkan Sasaran Renstra SKPD Provinsi beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra SKPD Provinsi (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel.T-IV.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD kabupaten/kota dengan sasaran Renstra SKPD provinsi.T-IV. . (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD provinsi yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi.30 Cara pengisian Tabel. (2) diisi dengan rata-rata sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana tercantum dalam Renstra SKPD masing-masing kabupaten/kota di wilayah provinsi tersebut.C. Kolom Kolom Kolom 2.C.

Menggunakan metode pembobotan dengan cara sebagai berikut: a.C.C.T-IV. Demikian pula selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hasil telaahan terhadap KLHS. dengan mengisi tabel dengan contoh sebagai berikut: . Tabel. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan sehingga sesuai dengan hasil KLHS.T-IV.9 berdasarkan implikasi RTRW terhadap macam dan tingkat pelayanan SKPD yang dibutuhkan. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.T-IV.C.C. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.T-IV.15: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.16: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. Menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan.15 Permasalahan Pelayanan SKPD berdasarkan Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Rencana Tata Ruang Wilayah terkait Tugas dan Fungsi SKPD (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel.16 Permasalahan Pelayanan SKPD berdasarkan Analisis KLHS beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Hasil KLHS terkait Tugas dan Fungsi SKPD (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisianTabel.. (2) diisi dengan hasil telaahan RTRW terkait tugas dan fungsi SKPD. (2) diisi dengan hasil analisis terhadap KLHS terkait tugas dan fungsi SKPD.T-IV. Penentuan Isu-Isu Strategis Metode penentuan isu-isu strategis pelayanan SKPD antara lain dapat dilakukan dengan cara: 1.C. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong terwujudnya RTRW. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD sebagai implikasi dari hasil KLHS. 2. Dibahas melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman merumuskan isu-isu strategis.T-IV.31 Tabel. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat terwujudnya RTRW.9 berdasarkan implikasi KLHS terhadap pelayanan SKPD.C.

yang dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.T. Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skala tersebut pada angka b).. Kolom (3) diisi dengan total akumulasi nilai skor dari isu-isu strategis.18: Kolom Kolom Kolom Kolom c.IV. .19 Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No. nasional dan regional.T-IV. (1) (2) (3) diisi dengan nomor urut diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi s.C.. Cara Pengisian Tabel. Bobot**) 20 10 20 10 15 25 *) b.C.17 Contoh Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L atau Renstra provinsi/kabupaten/kota Merupakan tugas dan tanggung jawab SKPD Dampak yang ditimbulkannya terhadap publik Memiliki daya ungkit untuk pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… Total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan.C.T-IV.C. (1) Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) 1 2 3 4 Dst.18 Nilai Skala Kriteria No (1) Isu Strategis (2) 1 (3) 2 (4) Nilai Skala Kriteria ke3 4 5 (5) (6) (7) 6 (8) Dst… (9) Total Skor (10) 1 2 3 4 5 6 7 Dst.19: Kolom (1) diisi dengan nomor urut. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.32 Tabel.T-IV. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis.T.. Kolom (2) diisi sesuai dengan isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional.d Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria (10) diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria. Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta.IV. Cara Pengisian Tabel.C.

dan lain-lain. kegiatan prioritas. dan kapasitas yang ada (feasible).33 Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya.1. dan peningkatan daya saing daerah dengan mempertimbangkan permasalahan dan isu strategis yang relevan. 3. dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focused). Visi bukan hanya mimpi atau serangkaian harapan. 3.7. Visi dan misi SKPD harus jelas menunjukkan apa yang menjadi cita-cita layanan terbaik SKPD baik dalam upaya mewujudkan visi dan misi kepala daerah maupun dalam upaya mencapai kinerja pembangunan daerah pada aspek kesejahteraan. 6. Perumusan Visi SKPD Visi SKPD adalah gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai SKPD melalui penyelenggaraan tugas dan fungsi dalam kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang. 4. Disertai dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan tujuan. dan Sejalan dengan visi dan misi kepala daerah dan arah pembangunan daerah jangka menengah. 5. dan Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. tetapi suatu komitmen dan upaya merancang dan mengelola perubahan untuk mencapai tujuan. dan padat. bukan pikiran berandai-andai (wishfull thinking). Memungkinkan. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). sasaran. tetapi dengan fokus pada masa depan. kondisi. C. 2. Di sini. usulan permasalahan pembangunan. wajar. layanan. efisien. 2. . strategi dan kebijakan. relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pembangunan di daerah yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi pembangunan masa depan yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD dalam 5 (lima) tahun mendatang.. Pernyataan visi yang artikulatif akan memberikan arah yang jelas bagaimana mencapai masa depan yang diharapkan dan mengatasi kesenjangan yang terjadi. Visi menjelaskan arah atau suatu kondisi ideal dimasa depan yang ingin dicapai (clarity of direction) berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini yang menciptakan kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dan masa depan yang ingin dicapai. 4. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti oleh semua pelaku (communicable). seperti pemrioritaskan program prioritas. visi diciptakan melampaui realitas sekarang. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku/pemangku kepentingan pelayanan SKPD (imaginable). Visi SKPD yang baik harus dapat memenuhi syarat sebagai berikut: 1. 7. Memusatkan perhatian kepada isu dan permasalahan utama daerah. Oleh karena itu. Perumusan Visi dan Misi SKPD Perumusan visi dan misi jangka menengah SKPD merupakan salah satu tahap penting penyusunan dokumen Renstra SKPD sebagai hasil dari analisis sebelumnya. Kriteria suatu rumusan visi SKPD antara lain: 1. dan layak untuk dicapai dengan situasi. Disertai dengan penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan SKPD. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). jelas. visi didasarkan pada realita.

Perwujudan visi merupakan gambaran paling sederhana dan dengan bahasa yang mudah dikomunikasikan tentang wujud nyata kondisi. perlu dilakukan kajian terhadap visi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan. uraian misi kepala daerah dan wakil kepala daerah. Di sini masing-masing anggota tim perumus perlu diberi waktu yang cukup untuk memaparkan gambaran masing-masing tentang wujud dari visi yang diinginkan pada akhir tahun ke-5 (lima).T-IV. Hasil perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD propinsi Pernyataan visi dalam Renstra SKPD propinsi harus dapat merespon (merupakan jawaban) atas isu-isu strategis SKPD tersebut. Suatu permasalahan pembangunan di tingkat SKPD adalah berbagai permasalahan pembangunan yang berhubungan layanan atau peningkatan kinerja penyelenggaraan urusan terkait. Misi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rancangan awal RPJMD adalah untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. dengan mengisi tabel dibawah ini.. Bagi sel (kotak) yang bertanda () itulah dibuatkan perwujudan dimaksud pada tabel diatas. Tabel. Visi SKPD yang akan dirumuskan dalam Renstra SKPD harus memiliki keterkaitan dengan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terdapat dalam rancangan awal RPJMD. Untuk memperjelas gambaran suatu perwujudan visi dapat ditambahkan dengan atribut atau ciri-ciri lain tentang suatu wujud visi.20 Perumusan Perwujudan Visi Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 PPD 2 PPD 3 Dst     Perwujudan Visi 1     Perwujudan Visi 2     Perwujudan Visi 3     Dst Perwujudan visi diidentifikasi melalui proses FGD atau teknik lain yang secara efektif dapat menghasilkan rumusan tentang bagaimana wujud nyata kondisi. Dengan demikian. Namun. Hal ini menjadikan tim penyusun Renstra SKPD perlu selalu berkoordinasi dengan tim penyusun RPJMD guna memahami penjelasan visi. keadaan dan impian SKPD dalam 5 (lima) tahun yang akan dicapai dimasa mendatang. sebelum merumuskan visi SKPD. rumusan tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah yang dimuat dalam rancangan awal RPJMD. serta bagaimana target indikator kinerja yang dibutuhkan dari SKPD dalam . Proses Perumusan Visi Perumusan visi dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah (PPD) untuk menemukan perwujudan visi. keadaan dan impian SKPD dalam 5 (lima) tahun ke depan yang dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategisnya. Visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah dan arah pembangunan daerah jangka menengah.C. berikut pemikiran atau hasil analisis yang mendasarinya. 2. .34 Informasi yang diperlukan dalam perumusan visi SKPD adalah: 1. dengan memberi tanda (x) untuk yang tidak berkesesuaian dan tanda () untuk yang berkesesuaian. sebelum menentukan identifikasi perwujudan visi. terlebih dahulu dibuat analisis keterhubungan antara permasalahan pembangunan dengan isu strategis (misal.

Suatu pernyataan visi dapat berupa satu atau lebih pernyataan atau kalimat yang merangkum atau menggabungkan berbagai pokok visi terpilih.21 Perumusan Visi No. Perwujudan Visi Pokok-pokok Visi Pernyataan Visi Suatu pernyataan visi dibuat dengan menggunakan bahasa yang singkat. dan jelas serta memenuhi kriteria atau karakteristik visi sebagaimana telah dijelaskan di awal. Untuk memberi penekanan atas keyakinan bahwa target dapat dicapai pada akhir periode perencanaan maka pernyataan visi dapat secara spesifik menyebutkan waktu capaian. termasuk atribut-atribut yang menjelaskannya. perwujudan visi dapat disebutkan target waktu pencapaiannya. lugas. Namun. Untuk membantu identifikasi dan mengukur capaian kinerja. . Pembahasan tentang wujud apa yang paling baik atau sesuai bagi suatu SKPD dimasa datang sangat ditentukan bagaimana anggota tim mengenali. Setelah berbagai identifikasi perwujudan visi dibuat. suatu penjelasan visi pada dasarnya menguraikan kembali pokok-pokok visi yang telah disepakati ke dalam perwujudan visi dengan merinci lebih baik berbagai atribut atau penjelasan masing-masing pokok visi. Suatu perwujudan visi merupakan kalimat yang relatif masih lengkap dalam menggambarkan wujud visi masa datang.T-IV. Penjelasan visi dibuat untuk menjelaskan masing-masing pokok visi. Selanjutnya. lakukan pembahasan masing-masing perwujudan visi menjadi pokok-pokok visi.. diupayakan visi adalah satu kalimat dengan pokok-pokok visi dapat lebih dari satu. memahami. Berbagai atribut sangat penting dalam memberi bobot dan kejelasan bahwa perwujudan visi dimaksud penting bagi SKPD dalam menentukan kondisi dalam 5 (lima) tahun mendatang. Permasalahan SKPD harus dapat pula mengungkapkan kantong-kantong kekuatan layanan yang selama ini terabaikan untuk dijadikan salah satu faktor keberhasilan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD dimasa 5 (lima) tahun mendatang. identifikasi permasalahan SKPD harus mampu mengungkapkan peta kekuatan yang paling dominan dalam realisasi pembangunan daerah dimasa-masa lalu.C. Perumusan pokok-pokok visi dilakukan dengan mencari inti (kalimat) perwujudan visi ke dalam satu-dua kata dengan menghilangkan berbagai kata dan atribut yang bukan inti dari perwujudan visi dimaksud. dan membandingkan atribut-atribut dari berbagai perwujudan visi yang berbeda-beda.35 Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan perwujudan visi yang salah satunya berlandaskan pada kekuatan terbaik SKPD.C. dari keseluruhan pokok-pokok visi dibuatlah pernyataan visi. dengan kesederhanaan kalimat.22 Penyusunan Penjelasan Visi Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Dengan demikian.T-IV. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. sehingga keseluruhan langkah diatas dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.

Menggunakan bahasa yang ringkas. SKPD (pelaku organisasi). 1. Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh SKPD dalam rangka mewujudkan visi SKPD. pokok visi harus diidentifikasi terlebih dahulu stakeholder mana yang menjadi pelaku atau terkena dampak atas pokok visi dimaksud. pelaku ekonomi di daerah. Proses perumusan misi dicontohkan pada tabel berikut ini: . maka pengembangan misi harus dijabarkan terlebih dahulu kepada stakeholder utama pembangunan. ringkas. dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan. Rumusan misi SKPD yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi SKPD yang ingin dicapai. Mengingat bahwa misi harus dibuat penjelasannya. Hasil perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD. dan tantangan) pembangunan daerah. Upaya-upaya yang akan dikembangkan. maka pernyataan misi menunjukkan kerja-kerja/upaya untuk mewujudkan visi tersebut. serta menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan oleh SKPD bersangkutan. Atau stakeholder yang berhubungan atau terkait dengan pokok visi tersebut. Dalam suatu dokumen perencanaan. Memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah. Pernyataan visi SKPD. Alasan utama pengembangan visi adalah pada pokok-pokok visi karena pada pokok-pokok visi tersebut terkandung ulasan-ulasan apa yang akan dijadikan untuk dicapai dalam 5 (lima) tahun ke depan oleh SKPD. singkat dan lugas dalam menjelaskan bagaimana visi akan dicapai. Informasi yang diperlukan dalam perumusan misi SKPD adalah: Berdasarkan kedua informasi tersebut. Rumusan misi dalam dokumen Renstra SKPD dikembangkan dengan memperhatikan faktorfaktor lingkungan strategis. 2. SKPD mengidentifikasi keadaan dan/atau kondisi yang harus ada atau dicapai supaya visi SKPD benar-benar terwujud di akhir periode perencanaan. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa misi juga menyangkut komitmen pada stakeholder utama atau apa yang ingin diwujudkan oleh visi. selanjutnya dibuat misi. Rumusan misi merupakan upaya untuk mewujudkan keadaan atau kondisi yang diinginkan. atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi SKPD. Jika pernyataan visi menunjukkan keadaan/kondisi yang ingin dicapai pada akhir periode perencanaan. peluang. pernyataan misi sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana. Teknisnya. 2. Kriteria suatu rumusan misi: 1. termasuk pokok-pokok visi dan penjelasan visi. Misi disusun untuk memperjelas jalan. kelemahan. harus memanfaatkan faktor-faktor pendorong dan mengantisipasi faktor-faktor penghambat yang telah diidentifikasi pada perumusan isu strategis. Oleh karena itu. dalam hal ini masyarakat daerah (secara keseluruhan).36 - Perumusan Misi SKPD Misi SKPD adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi SKPD. kemudian dibuatlah rincian misi. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi (kekuatan. termasuk penjelasan misi didalamnya. Proses Perumusan Misi Setelah dibuat visi. 3. dan stakeholder pembangunan daerah lainnya. dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi SKPD. maka pengertian misi harus sederhana. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. sederhana dan mudah dipahami..

Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. selanjutnya dibuat pernyataan misinya. namun setidaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dicapai dimasa mendatang. Visi Pokokpokok visi (√) Stakeholder layanan SKPD lain Rincian misi Pengguna layanan (x) Pelaku Ekonomi (√) Rincian misi (√) Lainnya Rincian misi Misi Visi dan pokok-pokok visi yang telah diperoleh dalam proses penyusunan visi. 2. kuantitatif. dan menangani isu strategis daerah yang dihadapi. Rumusan pernyataan tujuan biasanya disusun dengan membalikkan pernyataan isu. Rumusan tujuan harus realistis dan dapat dicapai. Pernyataan tujuan biasanya dimulai dengan menggunakan suatu kata kerja (verb) yang menjelaskan arah keinginan/preferensi (lebih/kurang) dan suatu kata benda (noun) yang menjelaskan obyek yang menjadi perhatian. Untuk mewujudkan suatu misi. dibuat penjelasan misi dengan menggunakan dasar rincian atau sub-misi yang telah dibuat untuk menjelaskan berbagai hal sehingga misi menjadi mudah dipahami.C. Perumusan Tujuan Pelayanan Jangka Menengah SKPD Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja SKPD selama lima tahun. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah.37 Tabel. Sebagai contoh. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam perumusan tujuan pembangunan: 1. Lalu. permasalahan. namun harus tetap mempertahankan substansi. ataupun tangible. masing-masing submisi tersebut pada dasarnya adalah misi. tiap-tiap misi dibuat sub-misi berdasarkan rincian misi. dan peluang menjadi suatu kalimat positif yang ringkas.23 Perumusan Misi No. yang mana. . dapat dicapai melalui beberapa tujuan. Selanjutnya. 3.. dan Disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Setelah diketahui stakeholder yang terpengaruh atau berhubungan dengan pokok-pokok visi dan dijelaskan dalam ―rincian misi‖. 2. Diturunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi SKPD yang telah ditetapkan. selanjutnya pokok-pokok visinya disandingkan dengan stakeholder pembangunan/layanan yang terpengaruh atau terkait visi tersebut dengan (√) dan dijelaskan sebagai rincian misi kenapa stakeholder tersebut mempengaruhi pokok-pokok misi. Pengemasan menjadi kalimat misi dapat dilakukan dengan bermacam cara. C. Pernyataan tujuan tersebut akan diterjemahkan kedalam sasaran-sasaran yang ingin dicapai. dan Meningkatkan pemerataan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan Rumusan tujuan merefleksikan konteks pembangunan yang dihadapi SKPD dan memiliki keterkaitan dengan visi SKPD yang ingin dicapai. misalnya: 1.8. Menurunkan angka pengangguran. Dalam menentukan tujuan tidaklah mutlak harus terukur. memecahkan permasalahan.T-IV. misi dapat dibuat spesifik setiap pokok visi dengan merangkum masing-masing rincian misinya.1. melaksanakan misi.

Mereview pernyataan tujuan pembangunan jangka menengah dalam rancangan awal RPJMD untuk dikaitkan dengan tugas dan fungsi SKPD. 3. spesifik. Pencapaian satu tujuan dapat saja melalui beberapa sasaran. Mereview program prioritas beserta target indikator kinerja dari Rancangan Awal RPJMD yang menjadi tanggung jawab SKPD.T-IV. 3. yakni sasaran dapat dicapai secara bertahap Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD selanjutnya disusun dalam Tabel. 3. Isu-isu strategis SKPD yang sesuai dengan bidang layanan SKPD. Tabel. fokus. e) Time Bound (batas waktu).9. d) Relevant (relevan). b) Measurable (dapat diukur).T-IV. sekurangkurangnya memenuhi indikator kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. 2. Dalam merumuskan sasaran yang perlu diperhatikan adalah: 1. c) Achievable (dapat dicapai).38 Adapun langkah-langkah perumusan tujuan berdasarkan penjabaran visi dan misi SKPD dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Perumusan Sasaran Pelayanan Jangka Menengah SKPD Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur. yakni target sasaran dapat dicapai terkait dengan kapasitas dan sumber daya yang ada. 7. 6. Indikator kinerja urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. 2. dan f) Continously improve (perbaikan berkelanjutan). Kriteria SMART-C yaitu: a) Specific (spesifik). (1) TUJUAN (2) SASARAN (3) INDIKATOR KINERJA (4) 1 (5) TARGET KINERJA PADA TAHUN KE2 3 4 (6) (7) (8) 5 (9) . dan 8. mudah dicapai..T-IV.C.24 berikut. yakni mencerminkan keterkaitan antara target sasaran dengan tujuan.C. Mereview pernyataan visi dan misi SKPD. serta profil pelayanan yang terkait dengan indikator kinerja. spesifik. 2.C. yakni sifat dan tingkat sasaran dapat diidentifikasi dengan jelas. 4. C. dan 4. yakni target sasaran dinyatakan dengan jelas dan terukur. Sasaran harus dapat menyatakan sebuah target yang terukur atas sebuah kondisi atau pencapaian tujuan. Tabel.1. Perumusan sasaran perlu memperhatikan indikator kinerja sesuai tugas dan fungsi SKPD atau kelompok sasaran yang dilayani. Langkah yang diperlukan dalam perumusan sasaran sebagai berikut: 1. Memeriksa kembali konsistensi pernyataan sasaran terhadap tujuan dan misi serta melakukan penyempurnaan bila diperlukan. dan sesuai dengan bidang layanan SKPD. 4. Mereview pernyataan tujuan pelayanan jangka menengah yang telah dirumuskan. Mereview hasil perumusan isu-isu strategis SKPD. Pernyataan tujuan yang telah dirumuskan.24 ini selanjutnya ditampilkan dalam dokumen Renstra SKPD. rasional. yakni periode pencapaian sasaran ditetapkan. Merumuskan rancangan capaian indikator yang terukur dari setiap sasaran. Kelompok sasaran yang dilayani. 5. Merumuskan pernyataan tujuan dengan cara: mendeskripsikan setiap pernyataan misi dalam satu atau beberapa tujuan yang menggambarkan kondisi atau keadaan yang harus ada supaya pernyataan misi dapat tercapai. Merumuskan pernyataan sasaran untuk masing-masing tujuan.24 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan SKPD NO. dan 5. untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Profil pelayanan terkait indikator kinerja.

39 - Cara pengisian Tabel. Pengembangan rencana pembangunan SKPD lebih ditekankan pada target kinerja.C.. Selaras dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka perencanaan SKPD pun menggunakan prinsip yang sama. “ Apa yang dikerjakan dan dihasilkan (barang) atau dilayani (proses)“ Input Sumberdaya yang memberikan kontribusi dalam menghasilkan output “ Apa yang digunakan dalam bekerja“ Dari gambar di atas. maupun keluaran dari suatu kegiatan. dapat di jelaskan dalam bagan berikut ini: .24: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan (2) diisi dengan uraian tujuan (3) diisi dengan uraian sasaran untuk setiap tujuan. dan sasaran.T-IV. hasil. tujuan dan sasaran Renstra SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. program dan kegaiatan yang secara totalitas menjadi arsitektur kinerja pembangunan daerah. Kuatnya hubungan kedua lembaga antara Kepala Daerah dan SKPD dalam perumusan tujuan dan sasaran untuk mewujudkan visi dan misi.C. dapat digambarkan sebagai berikut: GAMBAR. misi.3 Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah Visi/Misi Dampak (Impact) Tujuan/ Sasaran Hasil pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapaian outcome “ Apa yang ingin diubah “ Program Hasil (Outcome) Manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu sebagai hasil dari output “ Apa yang ingin dicapai “ Kegiatan Keluaran (Output) Produk/barang/jasa adalah yang dihasilkan dari proses/kegiatan yang menggunakan input. Perumusan tujuan dan sasaran dari visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah menjadi landasan perumusan visi. jelas bahwa tujuan dan sasaran mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan SKPD secara keseluruhan. baik pada dampak. program. G-IV.Tujuan dapat dijabarkan dalam satu sasaran atau lebih (4) diisi dengan indikator kinerja setiap sasaran (5) sampai dengan (9) diisik dengan target kinerja sasaran yang harus dicapai pada tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-5 pelaksanaan Renstra SKPD. misi dengan perumusan tujuan dan sasaran. Secara skematik keterkaitan antara visi.

Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. Tim penyusun RPJMD selanjutnya menggunakan hasil analisis/kajian dan rumusan dari tim penyusun Renstra SKPD ini dalam: 1.40 GAMBAR. Muatan rancangan awal RPJMD (analisis isu-isu strategis. Mempelajari Surat Edaran Kepala Daerah perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD (dilampiri rancangan awal RPJMD dengan indikator keluaran program dan pagu per SKPD) C. Hasil analisis dan kajian sampai dengan perumusan tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD ini disampaikan kepada Bappeda sebagai bahan/masukan bagi penajaman substansi yang dihasilkan dalam penyusunan rancangan awal RPJMD. 5.Daerah Program Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Program Pembangunan Daerah berisi program-program prioritas terpilih yang menjadi “top priority” untuk mewujudkan visi/misi Kepala Daerah (RPJMD) RPJMD RENSTRA SKPD Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. dan Indikator keluaran program dan pagu indikatif per SKPD. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan).. G-IV. 3. strategi dan arah kebijakan. Penentuan pagu per SKPD. strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk . 4. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. Strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD menunjukkan bagaimana cara SKPD mencapai tujuan. Perumusan Strategi dan Kebijakan Jangka Menengah SKPD 3. Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Penentuan indikator keluaran program. Perumusan strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah. sasaran jangka menengah SKPD. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana SKPD mencapai tujuan dan sasaran dengan efektif dan efisien. tujuan dan sasaran pembangunan 5 (lima) tahun tahun mendatang. Setelah surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD diterima. misi. dan target kinerja hasil (outcome) program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. maka SKPD perlu mencermati: 1. Strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD adalah strategi dan kebijakan SKPD untuk mencapai tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD yang selaras dengan strategi dan kebijakan daerah serta rencana program prioritas dalam rancangan awal RPJMD. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. melaksanakan misi dengan menjawab isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang berhubungan dengan layanan dan tugas serta fungsi SKPD. Strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD selanjutnya menjadi dasar perumusan kegiatan SKPD bagi setiap program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. visi.10.1.11. Dengan pendekatan yang komprehensif. 2.C. Jadwal penyampaian rancangan Renstra SKPD.1. C. 2.4 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah Kepala Daerah Kepala SKPD Visi/misi SKPD dibuat untuk secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung atau mewujudkan visi misi Kepala Daerah Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Program Pembangunan Daerah Program Prioritas Program Penyelengaraan Urusan Pem.

Melalui parameter tersebut.Program Prioritas Berdasarkan dari arsitektur perencanaan pembangunan daerah yang dibagi menjadi 2 (dua) perencanaan strategis dan opersional. dan pemanfaatan teknologi informasi.Tujuan dan Sasaran .C.Visi dan Misi . dapat dikenali indikasi keberhasilan atau kegagalan suatu strategi sekaligus untuk menciptakan budaya ―berpikir strategik‖ dalam menjamin bahwa transformasi menuju pengelolaan pemerintah daerah yang lebih baik. strategi harus dikendalikan dan dievaluasi (learning process). tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik. termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi. maka SKPD diharapkan dalam merencanakan program dan kegiatannya dapat memecahkan permasalahan pembangunan daerah (visi. Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis. Di sini penting untuk mendapatkan parameter utama yang menunjukkan bagaimana strategi tersebut menciptakan nilai (strategic objective). reformasi. misi tujuan dan sasaran SKPD) dan permasalahan urusan pemerintahan daerah (indikator kinerja Daerah). Perumusan Strategi Rumusan strategi merupakan pernyataan-pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai serta selanjutnya dijabarkan dalam serangkaian kebijakan.Kegiatan Prioritas . seperti dijelaskan pada kerangka fikir pada gambar dibawah ini: .Visi dan Misi .G-III. sistem manajemen. transparan.Strategi dan Arah kebijakan .Tujuan dan Sasaran .Kegiatan Prioritas Perencanaan Operasional Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan . Keterhubungan Renstra Strategis Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan. dan perbaikan kinerja birokrasi.41 melakukan tranformasi..Program Prioritas .Program Pembangunan Daerah . Perencanaan sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi Kepala Daerah ke dalam rencana kerja yang actionable.Program Prioritas .Program Pembangunan Daerah .Program Prioritas . Rumusan strategi juga harus menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana SKPD menciptakan nilai tambah (value added) bagi stakeholder layanan.Strategi dan Arah kebijakan Perencanaan Strategik .1 Keterhubungan Renstra SKPD dengan RPJMD RPJMD Renstra SKPD . akuntabel dan berkomitmen terhadap kinerja.

Menerjemahkan strategi kedalam bentuk yang operasional. Strategi dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertolak-belakang. dg Penyelenggaraan Program Pemb.G-III.42 Gambar. Menyelaraskan organisasi sesuai pilihan strategi jangka menengah. 5. dan pemangku kepentingan. dapat secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis sebagaimana bagan berikut: Gambar. 4. 3. dan Strategi terdiri dari tema-tema yang secara simultan saling melengkapi membentuk cerita atau skenario strategi. dan Memobilisasi perubahan melalui kepemimpinan yang baik.G-III. Menjadikan strategi sebagai komitmen dan rutinitas birokrasi. Menjadikan strategi sebagai proses yang berkelanjutan. 1. 4. 3. 2.C.Daerah Penyelenggaraan Tugas & Fungsi SKPD Program/Kegiatan Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Lima prinsip manajemen untuk menciptakan komitmen dalam menjadikan strategi sebagai basis perencanaan pembangunan adalah: 1.. Strategi didasarkan pada tujuan dan sasaran SKPD dan pemenuhan kebutuhan layanan yang berbeda tiap segment masyarakat pengguna layanan. 2.C.2 Kerangka Fikir Keterhubungan Antarkinerja Visi/Misi SKPD Tujuan dan Sasaran Indikator Kinerja Daerah (terkait) Keterhub. Suatu strategi yang baik harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip: Suatu strategi.3 Keterkaitan Sasaran Dengan Strategi Sasaran 1 Strategi 1 atau Sasaran 1 Sasaran 2 Strategi 1 Sasaran 2 Strategi 2 Sasaran 3 . Layanan yang bernilai tambah diciptakan secara berkelanjutan dalam proses internal SKPD.

dengan salah satu contoh sebagai berikut: Tabel. Dalam hal.... 2..25 Penentuan Alternatif Strategi Pencapaian Indikator Sasaran:.. ……………… 2. ……………… 3.. Menggunakan metode Balanced Score Card.C. dst …… Kelemahan: 1... Menggunakan metode pembobotan dengan cara seperti yang dilakukan terhadap penentuan isu-isu strategis...... ……………… 3. ……………… 2.. Menyusun alternatif pilihan langkah yang dinilai realistis dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. ……………… 2.. ..... ……………… 3. dst …… Alternatif Strategi : 1... dst …… Alternatif Strategi : 1. satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut. ……………… 2. kelemahan/weaknesses.. ……………… 3. 3.. dst …… Alternatif Strategi : 1. dst … Tantangan: 1.. beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema........ Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan untuk setiap langkah yang akan dipilih..43 Dari gambar di atas.. dst …… Alternatif Strategi : 1... Melakukan evaluasi untuk menentukan pilihan langkah yang paling tepat antara lain dengan menggunakan metode SWOT (kekuatan/strengths.. tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD. ……………… 2... peluang/opportunities.. jelas bahwa perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak.. …………… 2. Peluang : 1. ……………… 3.. Satu strategi dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran. dst …… b) Pemilihan strategi yang paling tepat (efektif dan efisien) diantara berbagai alternatif strategi yang dihasilkan melalui metode SWOT. dapat dilakukan melalui: 1) 2) 3) 4) Dibahas kembali melalui Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman di bidang manajemen strategik. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menentukan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran kedalam berbagai tabel. dan Menggunakan kombinasi antara FGD dengan metode lainnya untuk obyektivitas pemilihan strategi.. Perumusan strategi pada Renstra SKPD dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1... ……………… 3. hasil perumusan isu-isu strategis.. Strategi dirumuskan berdasarkan hasil analisis gambaran pelayanan SKPD..T-IV.. dst … Faktor Eksternal Faktor Internal Kekuatan : 1.. ……………… 3. ……………… 2. dan tantangan/threats)... ……………… 2... ……………… 3.

Perspektif keuangan: strategi harus dapat menempatkan aspek pendanaan sebagai tujuan sekaligus sebagai konstrain (cost-effectiveness) serta untuk mencapai manfaat yang terbesar dari dana yang terbatas (allocative efficiency). Mengarahkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. agar secara seimbang melintasi lebih kurang empat perspektif: 1..TIV. 4. 3. Dst . pemangku kepentingan lainnya. Membantu menghubungkan strategi kepada sasaran secara lebih rasional. Perspektif kelembagaan: strategi harus mampu menjelaskan dengan investasi apa pada sistem. Cara PengisianTabel. agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran.. 2.44 c) Alternatif strategi yang dipilih selanjutnya diuraikan kedalam tabel berikut: Tabel.. Perspektif masyarakat/layanan: bagaimana strategi dapat menjadikan pengaruh langsung terhadap pengguna layanan atau segmen masyarakat. (1) 1.T-IV. 2. dan operasional. konkrit...C... dan 4. untuk menghasilkan perumusan strategi yang pada akhirnya dapat selaras dengan pilihan kegiatan yang tepat maka rumusan strategi harus dipetakan (strategy mapping). Sasaran (2) Meningkatnya APM SD Merata dan meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah .... Kebijakan yang dirumuskan harus dapat: 1.APM SD .Rasio guru terhadap murid di kota dan desa .25 Keempat... Memperjelas strategi sehingga lebih spesifik/fokus.C. Perspektif proses internal: strategi harus mampu menjadikan perbaikan proses dan pemberian nilai tambah pada proses birokrasi (internal business process).T-IV. Mengarahkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD agar tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan melanggar kepentingan umum.C... dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjamin terselenggaranya layanan pemerintahan daerah yang baik (good governance) dalam jangka panjang.Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis di kota dan desa Indikator Kinerja Sasaran (3) Strategi (4) 3.26 Penentuan Strategi (Contoh Pencapaian Indikator Sasaran: Meningkatnya Angka Partisipasi Murni SLTP) No. Merumuskan rancangan kebijakan dari setiap strategi dengan mempertimbangkan: .. 2. Perumusan Kebijakan Kebijakan adalah pedoman yang wajib dipatuhi dalam melakukan tindakan untuk melaksanakan strategi yang dipilih.26: Kolom Kolom Kolom Kolom d) (1) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan (2) diisi dengan uraian sasaran jangka menengah pelayanan SKPD sebagaimana hasil perumusan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD (3) diisi dengan indikator kinerja setiap uraian sasaran (4) diisi dengan hasil pemilihan alternatif strategi yang dirumuskan pada Tabel. Langkah-langkah perumusan kebijakan adalah: 1. 3. teknologi.

. Sasaran 1. Kebijakan 2...2 3...1 2. misi. sasaran.. Dst……. Strategi 2. Review kembali rancangan awal RPJMD. Kebijakan 1.. Dst… 1. Sasaran 2.. indikator kinerja.. Dst…… Dst…… Kebijakan 1. dan Kebijakan VISI MISI I Tujuan 1 : Terwujudnya sumber daya manusia Provinsi/Kabupaten/Kota .1 2. visi.. Jika terdapat pernyataan strategi atau kebijakan yang tidak relevan dan tidak konsisten dengan pernyataan lainnya. Dst… Dst…… Strategi 1. dan kebijakan... Menguji apakah rancangan kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan...2 3... Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1. kelompok sasaran..2 3. 3.... Kelompok sasaran adalah pihak yang menerima manfaat langsung dari jenis layanan SKPD. Kebijakan 2. Dst… 1.2 3.. Dst……......45 a) Besarnya pengaruh kebijakan terhadap keberhasilan implementasi strategi.. 1. harus dapat menunjukkan akuntabilitas kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. dan b) Keterkaitan langsung dengan pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan 2.1 2.. Kegiatan yang dipilih untuk setiap program prioritas.2 3... C..27 dapat menunjukkan relevansi dan konsistensi antar pernyataan visi. Strategi.... Sasaran 2. Menguji rumusan rancangan kebijakan apakah dapat menghasilkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dan telah mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran.... Dst…… Kebijakan 1..2 3...1 2.. strategi...1 2. tujuan dan sasaran pembangunan 5 (lima) tahun mendatang... kelompok sasaran. Rencana program prioritas beserta indikator keluaran program dan pagu per SKPD sebagaimana tercantum dalam rancangan awal RPJMD..C.2 3.. Strategi 2. Sasaran 2... selanjutnya dijabarkan SKPD kedalam rencana kegiatan untuk setiap program prioritas tersebut.. Tujuan Sasaran 1. Kebijakan 1.. Strategi 1... Strategi 2.... Tabel.2 3.yang cerdas dan handal : .. Sasaran 1..1 2.. indikator kinerja. Kebijakan 2... Strategi 2..T-IV. Dst… Dst…… : . .1 2... kegiatan.1 2. Perumusan rencana program.2 3. b. Sasaran 2.. dan pendanaan indikatif dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1.. Strategi 1.. yaitu pada: a..... maka diperlukan perbaikan dalam proses perumusan strategi dan kebijakan tersebut..2 3. dan pendanaan indikatif Program SKPD merupakan program prioritas RPJMD yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. Dst… Dst…… Tujuan 2 Dst…… MISI II Tujuan 2 Dst…… Dst ....2 3.. Outcome merupakan manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Indikator keluaran program prioritas yang telah ditetapkan tersebut.12. 1..C.2 3. Dst… 1. Sasaran....T-IV.. tujuan.1 2.. merupakan indikator kinerja program yang berisi outcome program. Pemilihan kegiatan untuk masingmasing program prioritas ini didasarkan atas strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD.. Kebijakan 1..27 Tujuan........... Strategi 1. Strategi 1. Tabel.. misi. Dst… 1. Dst… Dst…… Strategi 1. Kebijakan 1..1 2. isu-isu strategis..1 2.1 2. Kebijakan 2.1. Sasaran 1. Perumusan rencana kegiatan.. Dst……. Sasaran 1.

4.C. dan sasaran SKPD pada 5 (lima) tahun mendatang. lakukan pemeringkatan prioritas program dan kegiatan sehingga sesuai dengan pagu SKPD. 8.28 berikut ini. e. strategi dan arah kebijakan. Perhatikan indikator program dan pagu per SKPD. 7. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. rumuskan target outcome program SKPD untuk mencapai sasaran pembangunan. Tabel. dan kebijakan dalam rancangan Renstra SKPD telah relevan dan sinergis dengan rancangan awal RPJMD. d. Lakukan perumusan target output/keluaran yang akan dihasilkan melalui kegiatankegiatan dalam rangka mencapai target outcome program SKPD. 3.T-IV. Hitunglah biaya kegiatan untuk mencapai target output kegiatan. Berdasarkan (2) dan (3). kegiatan. 6.T-IV. . Daftar urutan prioritas program dan kegiatan ini menjadi salah satu bahan yang akan dibahas dalam forum SKPD penyusunan Renstra SKPD. 2. Berdasarkan target outcome tahunan pada langkah (10). Periksalah apakah total biaya program sesuai dengan pagu SKPD.C. 5. Periksalah apakah visi. dan pendanaan indikatif dapat ditampilkan pada Tabel. Lakukan penyesuaian jika diperlukan. kelompok sasaran. strategi. tujuan. susunlah perkiraan kebutuhan anggaran pembiayaan program pertahun Rencana program.28 merupakan tabel yang harus ditampilkan dalam dokumen Renstra SKPD. misi. Jika melebihi pagu SKPD.46 c. 10. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.. 9. Susunlah rincian target outcome program kedalam target tahunan. indikator kinerja. Lakukan perumusan kegiatan. dan 11. Hitunglah biaya program untuk mencapai target outcome.

............... Tujuan Sasaran 2 1 Program .............................. Program .....C........ Kegiatan.................................28 Rencana Program...................... *) diisikan dengan nama SKPD **) diisikan dengan nama provinsi/kabupaten/kota ..47 Tabel. dan Pendanaan Indikatif SKPD...... Kegiatan. Indikator Kinerja.............. Kegiatan................*) Provinsi/ Kabupaten/Kota... (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Tujuan Sasaran 1 1 Tujuan Sasaran 1 2 Program ... Dst ..**) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada Unit Kerja SKPD akhir periode Penanggungjawab Renstra SKPD target Rp Lokasi target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (1) (2) (3) (4) (5) Program ..........T-IV... Kegiatan................. Kelompok Sasaran...

Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator SPM. Pernyataan indikator sasaran dari setiap sasaran sebagaimana tercantum dalam Tabel.T-IV.1.13. Pernyataan sasaran dari setiap tujuan sebagaimana tercantum dalam Tabel. Perumusan Indikator Kinerja SKPD yang mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD adalah indikator kinerja yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.C. Identifikasi bidang pelayanan dalam tugas dan fungsi SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. (2) diisi dengan pernyataan sasaran dari setiap pernyataan tujuan. mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. diisi dengan nama unit kerja SKPD yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program dan kegiatan berkenaan.28: Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan pernyataan tujuan jangka menengah sebagaimana tercantum dalam Tabel.C. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) 2) 3) Review terhadap tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode Renstra SKPD. diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode Renstra SKPD untuk setiap program berkenaan. dan Identifikasi indikator dan target kinerja SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. diisi sebagai berikut: Kolom Tahun-1 adalah tahun pertama periode Renstra SKPD. Kolom Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD: Kolom (18) Kolom (19) Kolom (20) Kolom (21) C.24. Kolom (7) Data capaian pada tahun awal perencanaan diisi dengan data capaian pada awal tahun perencanaan untuk setiap indikator kinerja yang akan dijadikan titik tolak periode perencanaan jangka menengah SKPD Kolom Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan untuk setiap baris program.T-IV.24 (3) diisi dengan indikator sasaran dari setiap pernyataan sasaran.. (4) diisi dengan kode urusan/bidang urusan Pemerintahan Daerah/ Program.C.T-IV. .C. diisi dengan indikasi lokasi pelaksanaan program dan kegiatan berkenaan.24. demikian seterusnya sampai dengan Kolom Tahun-5 adalah tahun kelima periode Renstra SKPD Kolom target diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) dan kinerja kegiatan (output) yang akan dicapai pada tahun berkenaan untuk masing-masing program dan kegiatan Kolom Rp diisi dengan jumlah pendanaan yang dibutuhkan pada tahun berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) dan target kinerja kegiatan (output) pada tahun tersebut.TIV.48 Cara pengisiannya Tabel. diisi dengan total jumlah pendanaan yang dibutuhkan untuk mendanai program. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (5) Uraian nama program dan uraian nama kegiatan yang dirancang untuk setiap sasaran jangka menengah Kolom (6) Indikator kinerja program (outcome) dan kegiatan (output) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome) dan kegiatan (output).

Pelaksanaan Forum SKPD Forum SKPD dalam rangka penyusunan Renstra SKPD adalah forum para pemangku kepentingan pelayanan SKPD untuk membahas rancangan Renstra SKPD dibawah koordinasi kepala SKPD untuk mendapatkan masukan bagi penajaman dan penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD.14.49 Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD disusun dalam Tabel.C..T-IV.C.29 adalah tabel yang harus dimuat dalam dokumen Renstra SKPD.T-IV.C.1.29: Kolom (1) diisi dengan nomor urutan pengisian indikator. .29 Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Contoh: SKPD Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Angka Melek Huruf Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SD/MI Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMP/MTS Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMA/SMK/MA Pembinaan Guru jenjang SD/MI Pembinaan Guru jenjang SMP/MTS Pembinaan Guru jenjang SMA/SMK/MA Fasilitasi dan Asistensi Pengelolaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV (2) Angka Rata-rata Lama Bersekolah (3) Tahun 1 (4) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (9) Target Capaian Setiap Tahun NO Indikator Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) Tahun 5 (8) Cara pengisian Tabel.T-IV. Tabel. Kolom (2) diisi dengan uraian indikator kinerja SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam RPJMD Kolom (3) diisi dengan data capaian pada awal tahun periode RPJMD untuk setiap indikator kinerja Kolom (4) sampai dengan kolom (8) diisikan dengan besaran yang ditargetkan untuk setiap indikator kinerja pada masing-masing tahun berkenaan Kolom (9) diisi dengan besaran yang ditargetkan tercapai pada akhir tahun periode RPJMD untuk setiap indikator kinerja SKPD C.TIV.C. Tabel.29 berikut.

2. Mengkomunikasikan hasil analisis/kajian oleh SKPD atas kebutuhan pelayanan SKPD untuk lima tahun mendatang Memperoleh penajaman.14.1. Forum ini juga menjadi media komunikasi antara SKPD dengan para pemangku kepentingannya untuk menyepakati apa yang dapat dilakukan dan apa yang belum dapat dilakukan SKPD melalui Renstra SKPD tahun rencana. b. klarifikasi.1. Keluaran yang harus dihasilkan oleh forum SKPD penyusunan Renstra SKPD adalah materi kesepakatan dengan para pemangku kepentingan pelayanan SKPD tentang masukanmasukan bagi penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD. program dan kegiatan yang akan dimuat dalam dokumen Renstra SKPD mampu merespon kebutuhan dan aspirasi para pemangku kepentingan pelayanan SKPD tersebut. Isu strategis (pelayanan) SKPD untuk ditangani dalam 5 (lima) tahun mendatang. Rancangan Renstra SKPD yang telah disempurnakan ini kemudian disampaikan kepada Bappeda sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam Surat Edaran Kepala Daerah perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD. kebijakan. 2. 3. digunakan untuk pembahasan forum SKPD provinsi. Strategi dan kebijakan pelayanan. Penyelenggaraan forum SKPD dilakukan dengan mempertimbangkan urgensi. . dan 4. efisiensi dan efektifitas sesuai dengan kebutuhan. Peserta forum SKPD berfungsi sebagai pengambil keputusan melalui pembahasan yang disepakati bersama. dan penyepakatan tentang: a. Dengan demikian. Tujuan dan sasaran pelayanan SKPD jangka menengah. Peserta forum SKPD terdiri dari: 1.1. Kelompok yang memperoleh manfaat/dampak tidak langsung dari pelayanan SKPD. 4.. Tujuan penyelenggaraan forum SKPD adalah untuk: 1. Program dan kegiatan prioritas SKPD dalam 5 (lima) tahun mendatang.1. 3.14. Unsur-unsur yang dilibatkan dalam Forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD Peserta C.2. penyelarasan. forum SKPD penyusunan Renstra SKPD dilaksanakan untuk mempertajam dan menyempurnakan muatan rancangan Renstra SKPD sebelum disampaikan kepada Bappeda untuk diverifikasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. c. SKPD yang bersangkutan.14. digunakan untuk pembahasan forum SKPD kabupaten/kota. Kelompok sasaran pelayanan SKPD.2. e. 2. Ringkasan Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. 1. dan Rancangan Awal RPJMD. dan Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Kesepakatan yang dihasilkan oleh forum SKPD ini menjadi acuan bagi tim penyusun Renstra SKPD dalam penyempurnaan materi rancangan Renstra SKPD. tujuan dan sasaran. Materi yang Perlu Disiapkan Materi yang perlu disiapkan bagi pembahasan forum SKPD ini sekurang-kurangnya adalah: Ringkasan hasil kajian/analisis dan hasil perumusan substansi Rancangan Renstra SKPD yang dihasilkan oleh Tim Penyusun Renstra SKPD. C. Ringkasan Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. Peserta forum SKPD adalah pihak-pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam forum SKPD melalui pembahasan yang disepakati bersama.50 Forum SKPD penyusunan Renstra SKPD merupakan forum penting guna membantu memastikan bahwa isu strategis pelayanan. d. SKPD yang memperoleh manfaat/dampak langsung/tidak langsung dari pelayanan SKPD. C. Forum ini menjadi semacam uji publik atas rancangan kebijakan pelayanan SKPD dalam menangani dinamika kebutuhan dan aspirasi pelayanan para pemangku kepentingan SKPD tersebut untuk 5 (lima) tahun mendatang.1.

5. 3. Narasumber Narasumber forum SKPD berfungsi memberikan informasi yang perlu diketahui peserta untuk proses pengambilan keputusan hasil forum SKPD. Menyiapkan materi yang diperlukan bagi pembahasan forum SKPD. 2. kriteria prioritisasi program SKPD jangka menengah. minimal 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan forum SKPD.14.1. Fasilitator Fasilitator yang memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memandu pembahasan dan proses pengambilan keputusan dalam kelompok diskusi.3.4.1. narasumber. Mempublikasikan pokok-pokok substansi rancangan Renstra SKPD melalui media masa. pembagian diskusi kelompok. dan perumusan kesepakatan dan berita acara.14. Tahap perumusan kesepakatan. dan tempat pelaksanaan forum SKPD. Tim Penyelenggara Forum Tim penyelenggara forum SKPD adalah tim penyusun Renstra SKPD. Pokok-pokok substansi rancangan Renstra SKPD sedikitnya memuat: a) b) c) d) e) f) g) 6) Gambaran kinerja pelayanan SKPD pada periode sebelumnya. agenda acara. dan pendanaan indikatif. fasilitator yang akan terlibat.14. dan memiliki pengalaman yang memadai dalam memfasilitasi diskusi dan penyepakatan hasil. Tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD. Menyiapkan tata cara pelaksanaan forum SKPD meliputi peserta.1. Tahap Persiapan Forum SKPD Pada tahap ini.1. 2.14.2. Tugas Tim Penyelenggara forum SKPD adalah: 1. dan 3. Tahap persiapan. Tahapan pelaksanaan forum SKPD terdiri dari: 1. . Menyiapkan jadwal. Tahap diskusi dan pembahasan. Informasi yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan. C. Mengidentifikasi fasilitator yang akan memandu pembahasan. agenda. Fasilitator bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas dalam setiap kelompok diskusi. 8.2. Mengumumkan secara terbuka jadwal.14. kelompok sasaran.3. indikator kinerja. dan tempat penyelenggaraan Forum SKPD Menerima pendaftaran peserta forum SKPD. C. 4) 5) Mengundang fasilitator yang dinilai memenuhi kualifikasi berikut: memiliki pemahaman yang memadai atas substansi yang akan dibahas dalam forum SKPD. Visi dan misi pelayanan SKPD. tempat dan logistik pelaksanaan forum SKPD. C.1. agenda dan daftar kebutuhan logistik/kelengkapan Forum SKPD. dan Menyampaikan kepada Bappeda dan DPRD rancangan Renstra SKPD yang telah disempurnakan berdasarkan hasil forum SKPD Pelaksanaan Forum SKPD C.3.1. Menyusun jadwal.51 C. dan Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. agenda. kegiatan yang dilakukan adalah: 1) 2) 3) Menyiapkan materi yang akan digunakan sebagai bahan pembahasan dalam forum SKPD. 4. 6. Isu-isu strategis pelayanan SKPD untuk ditangani pada 5 tahun mendatang . Strategi dan kebijakan pelayanan jangka menengah SKPD.2. 7. Merangkum berita acara kesepakatan hasil penyelenggaraan forum SKPD. Menyusun hasil penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD berdasarkan hasil forum SKPD.. agenda.2. Mengumumkan secara terbuka minimal 3 (tiga) hari sebelum penyelenggaraan forum SKPD tentang jadwal. Rencana program dan kegiatan.

24.T-IV. dan klarifikasi terkait dengan aspek keterpaduan.T-IV. Berdasarkan tanggapan.C. Menyusun tata tertib pembahasan forum SKPD. dan pagu indikatif SKPD. penajaman. peserta menginformasikan pada kelompok diskusi yang mana dia akan bergabung. kelompok sasaran. kelompok sasaran. isu-isu strategis. dan 10) Menyusun daftar pembagian peserta berdasarkan butir (9). serta indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. dan klarifikasi dari peserta kelompok diskusi. tujuan dan sasaran. Penutupan mencakup: a) . Pembahasan untuk memperoleh saran. Menerima pendaftaran peserta forum SKPD sampai dengan 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan forum SKPD. C.2.52 7) 8) 9) Mengundang narasumber yang telah dipilih berdasarkan kompetensi atas bidang pelayanan SKPD. 2. Perumusan rancangan kesepakatan hasil forum SKPD yaitu: a) b) 6. tujuan dan sasaran. Pengambilan keputusan ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Tabel. Sidang Pleno II berisikan pemaparan rancangan hasil sidang kelompok antara lain: a) b) 5. dan keterkaitan antar program dalam sidang pleno II.. strategi dan kebijakan. program prioritas. Dalam hal pengambilan keputusan tidak dapat ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. narasumber. program prioritas.T-IV.14.27. penajaman. Pemaparan pokok-pokok materi rancangan Renstra SKPD Pemaparan materi lainnya sesuai kebutuhan.C. Sidang Pleno I meliputi: a) Pemaparan tentang pokok-pokok materi rancangan awal RPJMD yang sekurangkurangnya meliputi isu strategis pembangunan daerah. Materi yang disepakati kelompok diskusi diformulasikan kedalam rancangan rumusan hasil keputusan/kesepakatan kelompok diskusi. Saat mendaftar. Pembukaan oleh Kepala SKPD.28. indikator kinerja.3.C. sesuai dengan kebutuhan. tanggapan. dan Tanggapan umum peserta atas materi yang dipaparkan kriteria prioritisasi program SKPD jangka menengah.C. Tabel.29. indikator keluaran program. dan pagu indikatif SKPD yang bersangkutan.1.T-IV. keselarasan. Tabel. pengambilan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah kelompok diskusi. Rangkuman hasil keputusan sidang pleno II dirumuskan kedalam rancangan berita acara hasil kesepakatan forum SKPD Pembacaan rumusan rancangan berita acara hasil forum SKPD b) c) d) 3. Dalam kaitan ini dapat dibentuk tim perumus yang berunsurkan fasilitator. dan klarifikasi dari seluruh peserta forum SKPD terhadap materi hasil diskusi kelompok. indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD dalam upaya mewujudkan visi dan misi SKPD dan pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah. indikasi rencana program prioritas daerah. strategi dan kebijakan. Merangkum seluruh tanggapan dan saran serta keputusan atas penajaman. Tahap Diskusi dan Pembahasan Forum SKPD Tahap diskusi dan pembahasan forum SKPD terdiri dari: 1. tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah. Hasil penajaman isu-isu strategis. dan Tabel. diambil keputusan untuk disepakati menjadi keputusan sidang pleno II atas setiap materi kelompok diskusi pada Forum SKPD. a) Sidang kelompok diskusi membahas: b) c) d) 4. dan pendanaan indikatif SKPD. indikator kinerja. wakil-wakil kelompok.

.......... kelompok diskusi...... Berita acara hasil kesepakatan forum SKPD yang telah ditandatangani beserta lampirannya dijadikan sebagai bahan penyempurnaan Rancangan Renstra SKPD yang akan disampaikan kepada Bappeda untuk diverifikasi... Dalam hal pengambilan keputusan tidak dapat ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat..... Pengambilan keputusan ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat... .................. tujuan.......... dengan contoh format sebagai berikut: 2..... Rekapitulasi hasil pembahasan kelompok forum SKPD terhadap isu strategis............... ... PROVINSI/KABUPATEN/KOTA *).... a..... sasaran...53 b) c) Meminta tanggapan akhir dari peserta terhadap rumusan rancangan berita acara kesepakatan hasil forum SKPD yang dibacakan untuk pengambilan keputusan kesepakatan......... maka pada: Hari dan Tanggal Jam Tempat : : : ............ Pemaparan materi....... f..................... PENYUSUNAN RENSTRA SKPD.............. pengambilan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah peserta.......... b..... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok forum SKPD terhadap program dan kegiatan prioritas Renstra SKPD...3.. Format berita acara hasil kesepakatan forum SKPD beserta lampirannya terdiri dari: a... Setelah memperhatikan. 4.. : ...3...... Rancangan berita acara hasil kesepakatan forum SKPD. tanggal bulan ... Berita acara hasil kesepakatan forum SKPD yang telah disetujui ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD. d.............tahun …………telah diselenggarakan forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD ..............tanggal....... dan sidang pleno III sebagai lampiran dari berita acara hasil kesepakatan forum SKPD........ yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam LAMPIRAN I berita acara ini.. sampai dengan hari ……………………........ e..... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok forum SKPD terhadap indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.............. sidang pleno II....... (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan) Tanggapan dan saran dari seluruh peserta forum SKPD terhadap materi yang dipaparkan oleh masing-masing ketua kelompok diskusi sebagaimana telah dirangkum menjadi hasil keputusan kelompok diskusi...................14. strategi...... 3. Format Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Forum SKPD BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD..... b.................... C... mendengar....... c....... Daftar hadir peserta forum SKPD... Tim perumus merangkum seluruh hasil pembahasan materi pada sidang pleno I..................... Hasil kesepakatan sidang kelompok forum SKPD....... forum SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota*) …..... dan kebijakan Renstra SKPD.......1................ dan mempertimbangkan: a..... Pada hari ... Tahap Perumusan Hasil Perumusan hasil dilakukan dengan sebagai berikut: 1......

Provinsi/Kabupaten/Kota*) ........ 4.........C.. Berita acara ini beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada diktum KEEMPAT dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan Renstra SKPD.. 2.. No 1.......... provinsi/kabupaten/kota*) ...... 2.... Catatan: *) coret yang tidak perlu KEDUA : KETIGA KEEMPAT : : KELIMA : Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya.... .....30 Daftar Hadir Peserta Forum SKPD........... tujuan dan sasaran.... Tempat : ............... 3.. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ........ sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini................... Tanda tangan ( Nama) Mewakili Peserta Forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD……………. Dst..... 4.54 MENYEPAKATI KESATU : Isu strategis (pelayanan) SKPD.... Rencana program dan kegiatan prioritas SKPD.... Tahun ... Provinsi/Kabupaten/Kota*) .... Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini........ tanggal …... Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok forum SKPD.... provinsi/kabupaten/kota*)........ . Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan b................ Format Daftar Hadir Peserta Forum SKPD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel. 5...... provinsi/kabupaten/kota*) .....-. Tanda tangan ... yang disertai dengan target dan kebutuhan pendanaan sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini....... NO 1...……………… Tanggal : ..-.. Dst. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini. Tahun . 3............. …..T-IV.. .... 6....Tahun ........ strategi dan kebijakan pelayanan rancangan Renstra SKPD..... Kepala SKPD selaku pimpinan sidang Forum SKPD.... Tahun.... .............. Nama Lembaga/Instansi Alamat & no Telp....

1 Tujuan Strategi 1..2 3.. Strategi 1......1 1.. Kebijakan Kebijakan 1... Dst…… 1............... 1.. Dst……..2 3... Sasaran 1. Strategi.... Kebijakan 1...1 Strategi 1. Tujuan. Sasaran 2. Sasaran..... dst VISI MISI I : : . Sasaran 1.... Dst…… .......2 3. Kebijakan 2... Sasaran 1.1 2.......... Strategi 2.. ISU STRATEGIS: 1.1 1..........2 3. Tempat : .. Strategi Strategi 1.......2 Dst……..1 Kebijakan 1.2 Dst… Tujuan 2. Sasaran 1. 2.... Kebijakan 1...........2 3. Strategi 1........... Tujuan 1 Sasaran 1. Tujuan...... Tahun .1 2...... Dst… Dst…… Tujuan 2 2... 2.. Kebijakan 2... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Forum SKPD terhadap Isu Strategis. Strategi 2. 3.. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ....... dan Kebijakan Renstra SKPD LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel..... 2..... terhadap Isu Strategis.....31 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Forum SKPD. Dst… Dst…… Tujuan 1 2. Sasaran.2 3.... Dst… Dst…… MISI II Dst…… : ..1 2..55 - c.……………… Tanggal : ..2 3. Dst…… Kebijakan 1. Dst…….1 2. Dst… Dst…… Dst . Dst… 1...... dan Kebijakan Renstra SKPD.. Strategi... Sasaran 1.T-IV...-. Sasaran 2... 3.C.

... Tujuan 2 Sasaran 1 Program ........ Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel.......— ............. Kegiatan............ Tahun..……………… Tanggal : . Kegiatan.......C.......56 d. Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) (6) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (7) Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD target (18) Rp (19) (20) (21) Unit Kerja SKPD Penanggungjawab Lokasi Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (1) (2) (3) (4) (5) Program ......................T-IV...... Provinsi/Kabupaten/Kota*) ..... Dst . Program .....32 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD.... .. Tujuan 1 Sasaran 1 Tujuan 1 Sasaran 2 Program ................ Kegiatan. Tempat : .

Tempat: ..... Sasaran 1...... Dst……...........2 3. Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel... NO Indikator Sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 Target Capaian Setiap Tahun Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD f.....T-IV. Dst… Dst…… Strategi 1... Kebijakan Kebijakan 1.. Strategi 1.2 Dst… Dst…… .......T-IV...... 3....... 3..............1 Kebijakan 2. Provinsi/Kabupaten/Kota*) . 1.. Pokok Bahasan: Misi .....33 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Indikator kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota*) .....2 3. Dst…… 1.... Strategi 2. Dst…….. 2..1 2.......... Tujuan Tujuan 1 Tujuan 2 Dst…… Sasaran 1.. HASIL KESEPAKATAN SIDANG KELOMPOK FORUM SKPD LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : HASIL KESEPAKATAN SIDANG KELOMPOK . : .57 e...... Strategi 2....... Strategi 1......2 3... Sasaran 1.........C.C.. Sasaran 2........... 1.. 2... Dst… 1.......2 Dst… Kebijakan 2............ FORUM SKPD..1 2.......1 Kebijakan 1. Tempat: ...2 3..……………… Tanggal: ...1 2.34 ISU STRATEGIS: VISI MISI : ... Sasaran 2...... Tanggal: ......1 2..... Tabel..

……………… terkait dengan Pokok Bahasan Misi ..... Tabel...……………… terkait dengan pokok bahasan Misi ...T-IV... Tujuan 2 Sasaran 1 Program ...... Tahun...35 Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD..T-IV..C. Kegiatan. Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) (6) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (7) Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD target (18) Unit Kerja SKPD Penanggungjawab Lokasi target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Rp (19) (20) (21) (1) (2) (3) (4) (5) Tujuan 1 Sasaran 1 Program ... Kegiatan..........................36 Indikator kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota*) . Dst . Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Target Capaian Setiap Tahun Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 NO Indikator Sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD ..— ... Kegiatan....... Tujuan 1 Sasaran 2 Program ......C..... Program .. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ..58 Tabel........

BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD Memuat informasi tentang peran (tugas dan fungsi) SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah.. keterkaitan Renstra SKPD dengan RPJMD. 1. 2. proses penyusunan Renstra SKPD..T-IV. dst Nama Tabel. serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran SKPD. Renstra K/L dan Renstra provinsi/kabupaten/kota.. dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang struktur organisasi. Jabatan Dalam Sidang Lembaga/instansi Kelompok Tanda Tangan C.. mengulas secara ringkas apa saja sumber daya yang dimiliki SKPD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya.. mengemukakan capaian program prioritas SKPD yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan RPJMD periode sebelumnya.. 4. 5..37 No 1. dan dengan Renja SKPD.... Dst.... dan mengulas hambatan-hambatan utama yang masih dihadapi dan dinilai perlu diatasi melalui Renstra SKPD ini... fungsi Renstra SKPD dalam penyelenggaraan pembangunan daerah.... (nama daerah) (Tanggal/Bulan/Tahun) NO 1... tugas dan fungsi. serta susunan garis besar isi dokumen. disusun secara sistematis kedalam naskah rancangan Renstra SKPD... peraturan pemerintah.C.T-IV.4 Sistematika Penulisan Menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renstra SKPD..2 Tahap Penyajian Rancangan Renstra SKPD Hasil-hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan perumusan rancangan Renstra SKPD yang telah diuraikan sebelumnya.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Mengemukakan secara ringkas pengertian Renstra SKPD. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok ..-..38 Daftar Anggota Sidang Kelompok. . mengemukakan capaian-capaian penting yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. kewenangan SKPD..59 Tabel... Forum SKPD Provinsi……………… Tahun .. 3..3 Maksud dan Tujuan Memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renstra SKPD 1. 2.C. Peraturan Daerah.. 1..2 Landasan Hukum Memuat penjelasan tentang undang-undang.. 4. 3. dengan sistematika penulisan sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I 1.

2.1 Tugas. struktur organisasi SKPD. Adapun tabel yang perlu disajikan adalah hasil pengisian Tabel.60 2. dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya seperti MDGs atau indikator yang telah diratifikasi oleh pemerintah. mencakup sumber daya manusia. prosedur. asset/modal.T-IV. dan unit usaha yang masih operasional. Uraian tentang struktur organisasi SKPD ditujukan untuk menunjukkan organisasi. 2.3 Kinerja Pelayanan SKPD Bagian ini menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD periode sebelumnya.1.C. mekanisme). Bahan penulisan tentang kinerja pelayanan SKPD ini mengacu pada hasil kerja bagian B.3 dengan format sebagai berikut: . menurut SPM untuk urusan wajib.2. dan tata laksana SKPD (proses. dan Struktur Organisasi SKPD Memuat penjelasan umum tentang dasar hukum pembentukan SKPD.C. serta uraian tugas dan fungsi sampai dengan satu eselon dibawah kepala SKPD.2.2 Sumber Daya SKPD Memuat penjelasan ringkas tentang macam sumber daya yang dimiliki SKPD dalam menjalankan tugas dan fungsinya.. Fungsi.2 dan Tabel. jumlah personil.T-IV.

..61 Tabel 2............................ . ...............1 Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD *).......... .2 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD* ............... Provinsi/Kabupaten/Kota ……………… NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD (2) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) Realisasi Capaian Tahun ke1 (11) Rasio Capaian pada Tahun ke5 1 (16) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 2 (12) 3 (13) 4 (14) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (15) ...... 20.... 20.... Kepala SKPD ..... Kepala SKPD . ……………… Uraian ***) (1) 1 (2) Anggaran pada Tahun ke2 3 4 (3) (4) (5) 5 (6) 1 (7) Realisasi Anggaran pada Tahun ke2 3 4 (8) (9) (10) 5 (11) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 2 3 4 5 (12) (13) (14) (15) (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggaran Realisasi (17) (18) *) **) ***) diisikan dengan nama SKPD diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kewenangan SKPD . Provinsi/Kabupaten/Kota**).... Tabel 2... .....

2 (Analisis Gambaran Pelayanan SKPD) 3. Identifikasi permasalahan didasarkan pada hasil pengisian Tabel. Misi. lalu pada pelayanan mana saja target belum tercapai serta faktor yang mempengaruhi belum berhasilnya pelayanan tersebut.1.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Bagian ini mengemukakan apa saja faktor-faktor penghambat ataupun faktor-faktor pendorong dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari sasaran jangka menengah Renstra K/L ataupun Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. misi.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pada bagian ini dikemukakan apa saja faktor-faktor penghambat dan pendorong dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari implikasi RTRW dan KLHS. serta program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. jumlah dan kualitas personil (sumber daya manusia). BAB III 3.11). dan hasil analisis terhadap KLHS yang berimplikasi sebagai tantangan dan peluang bagi pengembangan pelayanan SKPD pada lima tahun mendatang. 2..C.2. hasil telaahan terhadap RTRW. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi salah satu bahan perumusan isu strategis pelayanan SKPD.1 ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Pada bagian ini dikemukakan permasalahan-permasalahan pelayanan SKPD beserta faktorfaktor yang mempengaruhinya. . 3. dan sebagainya.62 Setelah penyajian setiap tabel diatas. interpretasi sekurang-kurangnya mengemukakan ada/tidaknya kesenjangan/gap pelayanan.1.9 yang telah dilakukan pada C.C. pada pelayanan mana saja target telah tercapai. Hasil interpretasi ini ditujukan untuk menggambarkan potensi dan permasalahan pendanaan pelayanan SKPD. 3.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Bagian ini mengemukakan hasil analisis terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota (untuk provinsi) dan Renstra SKPD provinsi (untuk kabupaten/kota). dan selanjutnya mengemukakan apa saja faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD.C. dikemukakan apa saja interpretasi atas hasil pengisian tiap tabel tersebut. dipaparkan apa saja faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut (hasil pengisian Tabel.T-IV.T-IV.2. misalnya prosedur/mekanisme. interpretasi sekurang-kurangnya mengemukakan pada tahun mana saja rasio antara realisasi dan anggaran dapat dikatakan baik atau kurang baik. Hasil interpretasi ini ditujukan untuk menggambarkan potensi dan permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari kinerja pelayanan periode sebelumnya.T-IV. Setelah penyajian Tabel. pada perihal mana yang baik atau kurang baik. perkiraan besaran kebutuhan pelayanan. Selanjutnya berdasarkan identifikasi permasalahan pelayanan SKPD (Tabel.9).2 Telaahan Visi. Bagian ini mengemukakan macam pelayanan. dan Program Kepala daerah dan wakil kepala daerah Terpilih Bagian ini mengemukakan apa saja tugas dan fungsi SKPD yang terkait dengan visi. faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan pelayanan ini. Setelah penyajian Tabel 2. progres pelaksanaan program. dan arahan lokasi pengembangan pelayanan yang dibutuhkan.

Adapun penyajiannya menggunakan Tabel 5.2 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD sebagaimana dihasilkan pada C. MISI. . DAN SASARAN.T-IV. KELOMPOK SASARAN. (Perumusan rencana program..28.1.1.1. indikator kinerja.5 Penentuan Isu-isu Strategis Pada bagian ini direview kembali faktor-faktor dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari: 1.1 sebagaimana berikut ini. indikator kinerja. kegiatan. TUJUAN. sebagaimana dihasilkan pada C1.8 (Perumusan Tujuan Pelayanan Jangka Menengah SKPD) dan C. kelompok sasaran. Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD beserta indikator kinerjanya disajikan dalam Tabel 4. Dengan demikian.T-IV. dan implikasi KLHS bagi pelayanan SKPD Selanjutnya dikemukakan metoda penentuan isu-isu strategis dan hasil penentuan isu-isu strategis tersebut.C. INDIKATOR KINERJA. implikasi RTRW bagi pelayanan SKPD. DAN PENDANAAN INDIKATIF Pada bagian ini dikemukakan rencana program dan kegiatan. pada bagian ini diperoleh informasi tentang apa saja isu strategis yang akan ditangani melalui Renstra SKPD tahun rencana.11.63 3.T-IV.1 yang bersumber dari Tabel.C. 3. sasaran jangka menengah dari Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. dan pendanaan indikatif).1. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan visi dan misi SKPD sebagaimana dihasilkan pada B.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan SKPD NO. dan pendanaan indikatif sebagaimana dihasilkan dari C.7 4. sasaran jangka menengah pada Renstra K/L.C. 4. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN. Tabel 4. kelompok sasaran. gambaran pelayanan SKPD. 5.1 VISI.27. (1) TUJUAN (2) SASARAN (3) INDIKATOR SASARAN (4) TARGET KINERJA SASARAN PADA TAHUN KE1 (5) 2 (6) 3 (7) 4 (8) 5 (9) 4.24. BAB IV 4. yaitu dari Tabel.2. 2.12.3 Strategi dan Kebijakan SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan strategi dan kebijakan SKPD dalam lima tahun mendatang.9 (Perumusan Sasaran Pelayanan Jangka Menengah SKPD) dan dikemukakan dalam Tabel.

..**) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kondisi Unit Kinerja Data Kinerja Kerja Program Capaian Indikator Program dan pada akhir SKPD Tujuan Sasaran Kode (outcome) pada Tahun Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Lokasi Sasaran Kegiatan periode Penangdan Awal Renstra gungKegiatan Perencanaan SKPD jawab (output) target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (1) (2) (3) (4) (5) Program ...64 Tabel 5. Tabel 6.T-IV....29...1 yang bersumber dari Tabel.. Kegiatan......*) Provinsi/Kabupaten/Kota. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD ini ditampilkan dalam Tabel 6.1 Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 NO Indikator Target Capaian Setiap Tahun Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (8) (9) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Naskah rancangan Renstra SKPD ini selanjutnya disampaikan kepala SKPD kepada Bappeda untuk di verifikasi......... Indikator Kinerja........... Kegiatan... Tujuan Sasaran 2 1 Program ...... (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Tujuan Sasaran 1 1 *) diisikan dengan nama SKPD **) diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Pada bagian ini dikemukakan indikator kinerja SKPD yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.1 Rencana Program....... Kelompok Sasaran... Dst ..........C. Kegiatan.... Kegiatan.. dan Pendanaan Indikatif SKPD. ..... Tujuan Sasaran 1 2 Program .....................

PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RENSTRA SKPD. program. Perumusan kaidah transisi dan kaidah pelaksanaan. D. Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan atas Rancangan Renstra SKPD yang berpedoman pada RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahap Perumusan Rancangan Akhir Renstra SKPD Setelah RPJMD disahkan dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Visi dan misi SKPD yang telah dirumuskan semula pada rancangan Renstra SKPD dipertajam dan disesuaikan dengan visi dan misi sebagaimana dalam RPJMD..1. karena visi dan misi ini akan menjadi arahan bagi tujuan. Penajaman indikator kinerja urusan (sesuai tugas dan fungsi). Penajaman kembali rumusan tujuan SKPD berdasarkan rumusan tujuan. Tahap perumusan rancangan akhir Renstra SKPD. maka sebagai konsekuensinya rancangan Renstra SKPD harus disesuaikan dengan RPJMD tersebut. D. sasaran. kebijakan. D. strategi dan arah kebijakan dalam RPJMD. strategi. Penyelarasan tujuan.1.1. sasaran. dan kegiatan Tahap ini bertujuan untuk menyelaraskan rancangan Renstra SKPD dengan isi RPJMD. 5. Penyesuaian program prioritas SKPD yang disertai dengan indikasi kebutuhan pendanaan. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD dengan yang telah ditetapkan dalam RPJMD. kebijakan. sasaran. strategi. Hal pertama yang dilakukan dalam penyempurnaan ini adalah penajaman visi dan misi. strategi. Tahap penyajian rancangan akhir Renstra SKPD. 3. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut. dan Penyusunan rancangan Keputusan Gubernur/Keputusan Bupati/Walikota tentang Renstra SKPD. Penajaman visi dan misi. dan kegiatan.2. program. 4. Penyusunan rancangan akhir ini dilakukan melalui dua tahap yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan.65 D. 6. program dan kegiatan SKPD. 2. 2. maka tim penyusun Renstra SKPD membahas rancangan akhir Renstra SKPD dengan seluruh unit kerja SKPD. Ini merupakan bagian penting. Perumusan isi dan substansi rancangan akhir Renstra SKPD ini dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. kebijakan.1. Penajaman visi dan misi Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD menjadi rancangan akhir Renstra SKPD dilakukan oleh tim penyusun Renstra SKPD berdasarkan hasil kajian terhadap RPJMD provinsi yang telah disahkan dengan Peraturan Daerah. Penyelarasan tujuan. sasaran. Setelah perumusan rancangan akhir Renstra SKPD diselesaikan. Penyelarasan ini mencakup: 1. tim menyempurnakan rancangan akhir Renstra SKPD . Penyempurnaan Rancangan Renstra SKPD bertujuan untuk mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan. program. kebijakan. sasaran. dan 2. yaitu: 1. Penyesuaian rumusan sasaran dan strategi serta kebijakan berdasarkan RPJMD. strategi.

2. 1. INDIKATOR KINERJA.2 Sumber Daya SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.1 3. BAB III 3.3 3. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi SKPD Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD Strategi dan Kebijakan RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN.3 BAB V ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Telaahan Visi. Penyajian rancangan akhir Renstra SKPD disusun menurut sistematika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I 1. Penyajian Rancangan Akhir Renstra SKPD. 2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. 2.2 4..4 Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.5 BAB IV 4.66 D. 2.1 4. dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi/Kabupaten/Kota Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penentuan Isu-isu Strategis VISI. Misi.2.2 3. TUJUAN. DAN PENDANAAN INDIKATIF Sama dengan isi Rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.2 Landasan Hukum Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. DAN SASARAN. MISI.1 Tugas. 1.3 Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD . dan Struktur Organisasi SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.4 3. Fungsi. KELOMPOK SASARAN.3 Kinerja Pelayanan SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. 1. BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.

5. PENETAPAN RENSTRA SKPD 1.. misi. kebijakan. strategi. Pengesahan rancangan akhir Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah. dan kegiatan SKPD dengan RPJMD. tujuan. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt. Rancangan akhir Renstra SKPD disampaikan kepala SKPD kepada Kepala Bappeda untuk memperoleh pengesahan kepala daerah.67 E. program. ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . MENTERI DALAM NEGERI. dan keterpaduan dengan rancangan akhir Renstra SKPD lainnya. Pengesahan Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah Berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pengesahan Renstra SKPD. 3.KEPALA BIRO HUKUM 4. Sebelum Bappeda mengajukan kepada kepala daerah untuk disahkan. terlebih dahulu melakukan verifikasi akhir terhadap rancangan akhir Renstra SKPD Verifikasi akhir antara lain bertujuan untuk menjamin kesesuaian visi. Penetapan Renstra SKPD oleh kepala SKPD paling lama 7 (tujuh) hari setelah Renstra SKPD disahkan oleh kepala daerah. 6. kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD. 2. 7. paling lama 1 (satu) bulan setelah Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. TATA CARA PENYUSUNAN. DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU V) TAHAPAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 . PENGENDALIAN.

PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD E. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR G. PELAKSANAAN MUSRENBANG F. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RKPD B. PENETAPAN RKPD .LAMPIRAN V : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) A. PERSIAPAN PENYUSUNAN RKPD C. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD D.

· prioritas dan sasaran pembangunan Daerah · rencana program dan kegiatan prioritas daerah Penyusunan KUA dan PPAS Kesepakatan KUA dan Kesepakatan KUA dan PPAS antara KDH dan PPAS antara KDH dan DPRD DPRD Penyusunan Penyusunan RAPBD RAPBD . · Analisis dan evaluasi .A. G-V. · Prioritas dan sasaran pembangunan daerah PerKDH ttg RKPD Provinsi Rancangan Akhir RKPD · pendahuluan. · pendahuluan. · Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja RPJMD. · rencana program dan kegiatan prioritas daerah. · agenda forum SKPD. prioritas dan sasaran pembangunan daerah. RKP Persetujuan rancangan akhir RKPD Provinsi oleh Gubernur Penelaahan Terhadap RPJMN Pengolahan data dan informasi Analisis Gambaran Umum Kondisi daerah provinsi Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah provinsi Evaluasi kinerja tahun lalu Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Integrasi Renja SKPD Pelaksanaan Musrenbang RKPD Provinsi Penyelarasan Penyajian Ranc Akhir RKPD Konsultasi rancangan Konsultasi rancangan akhir RKPD Provinsi akhir RKPD Provinsi ke Mendagri ke Mendagri Perumusan hasil Musrenbang RKPD Provinsi Sinkronisasi hasIl Musrenbang RKPD Provinsi Penetapan PerKDH ttg RKPD Provinsi Persiapan Penyusunan RKPD Provinsi Perumusan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah beserta pagu indikatif Perumusan Kerangka Ekonomi dan Kebijakan Keuangan Daerah provinsi Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif sesuai Verifikasi RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI pendahuluan. rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RKPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD PROVINSI MUSRENBANG RKPD PROVINSI PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RKPD PROVINSI PENETAPAN RKPD PROVINSI Hasil Musrenbangnas RKP/RKP Penelaahan Pokok-pokok pikiran DPRD provinsi Evaluasi Rancangan Awal RKP Nasional. · evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capain kinerja RPJMD. rencana program dan kegiatan prioritas · · · · · tidak Rancangan Akhir RKPD Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Provinsi Rancangan Renja-SKPD provinsi RPJMD provinsi Evaluasi dokumen RKPD provinsi tahun lalu dokumen RKPD provinsi tahun berjalan Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program dan prioritas daerah beserta Pagu Indikatif Surat Edaran KDH (perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan renja-SKPD) · agenda penyusunan RKPD.-2A. · analisis dan evaluasi. · evaluasi hasil Pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RKPD Gambar. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda Penyusunan Rancangan Renja SKPD Provinsi Rancangan RKPD Provinsi · pendahuluan. · agenda musrenbang RKPD. · rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah. Persiapan Musrenbang RKPD Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD Evaluasi Musrenbang Nas. evaluasi Hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · Rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · prioritas dan sasaran pembangunan daerah.

rencana program dan kegiatan prioritas · · · · · tidak Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Kabupaten/Kota Rancangan Renja-SKPD Kab/Kota Rancangan Akhir RKPD RPJMD Kab/ Kota Evaluasi dokumen RKPD kab/ kota tahun lalu dokumen RKPD Kab/ Kota tahun berjalan Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta Pagu Indikatif Surat Edaran KDH (perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan renja-SKPD) · agenda penyusunan RKPD. · agenda musrenbang RKPD. · Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja RPJMD. · rencana program dan kegiatan prioritas.-3- Gambar. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda · pendahuluan. · rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capain kinerja RPJMD.A. prioritas dan sasaran pembangunan daerah. evaluasi Hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · · Penyusunan KUA dan PPAS Kesepakatan KUA dan Kesepakatan KUA dan PPAS antara KDH dan PPAS antara KDH dan DPRD DPRD Penyusunan Penyusunan RAPBD RAPBD . PemProv. Sinkronisasi hasil Musrenbang RKPD Kecamatan Penetapan PerKDH ttg RKPD Kabupaten/Kota Perumusan Rancangan Kerangka Ekonomi dan Kebijakan Keuangan Daerah Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif sesuai Perumusan hasil Musrenbang RKPD Kabupaten/ Kota Verifikasi RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN/KOTA pendahuluan. analisis dan evaluasi.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RKPD Kabupaten/kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN/KOTA PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD KABUPATEN/KOTA MUSRENBANG RKPD KABUPATEN/KOTA PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RKPD KABUPATEN/ KOTA PENETAPAN RKPD PROVINSI Pengolahan data dan informasi Penelaahan terhadap RPJMN dan RPJMD provinsi Hasil Musrenbangnas RKP/RKP Penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota Evaluasi Rancangan Awal RKP & RKPD Provinsi Hasil Musrenbang RKPD Provinsi Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Persiapan Penyusunan RKPD Kab/ Kota Persiapan Musrenbang RKPD Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD Evaluasi Musrenbangnas RKP & RKPD Kab/ Kota Persetujuan rancangan akhir RKPD Kab/Kota oleh Bupati/ Walikota Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah Evaluasi kinerja RKPD Tahun lalu Perumusan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah beserta pagu indikatif Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah kab/ kota Integrasi Renja SKPD Pelaksanaan Musrenbang Kabupaten/Kota Penyelarasan Penyajian Ranc Akhir RKPD Konsultasi Rancangan Konsultasi Rancangan akhir RKPD Kab/Kota ke akhir RKPD Kab/Kota ke PemProv. G-V. rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · agenda forum SKPD. · Rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · Analisis dan evaluasi . prioritas dan sasaran pembangunan Daerah rencana program dan kegiatan prioritas daerah Penyusunan Rancangan Renja SKPD Kab/Kota Rancangan RKPD Kabupaten/Kota · pendahuluan. rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah. · Prioritas dan sasaran pembangunan daerah PerKDH tentang RKPD Kabupaten/ Kota Rancangan Akhir RKPD · · · · pendahuluan. · evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · prioritas dan sasaran pembangunan daerah.

· · Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. Tim penyusun RKPD provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan Kepala Daerah. Pembentukan Tim Penyusun RKPD Bappeda menyiapkan rancangan surat keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD provinsi dan kabupaten/kota. tahapan tata cara penyusunan. PERSIAPAN PENYUSUNAN RKPD Tahapan persiapan penyusunan RKPD meliputi: pembentukan Tim Penyusun RKPD. serta penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RKPD. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.2. B. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya utamanya RPJMD. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. Bahan orientasi mengenai RKPD. Agenda kerja tersebut dapat dituangkan dalam sebuah matrik kalender kegiatan. untuk itu perlu disusun agenda kerja tim yang merinci setiap tahapan kegiatan penyusunan dokumen RKPD dengan satuan waktu sejak persiapan sampai dengan penetapan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. .1.-4B. B. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RKPD dan penyusunan anggaran. orientasi mengenai RKPD. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RKPD. pemerintahan daerah. penyusunan agenda kerja. Anggota tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi dibidang perencanaan dan penganggaran. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Rancangan awal RKPD merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi setiap SKPD provinsi dan kabupaten/kota dalam penyusunan rancangan Renja SKPD. B. Orientasi mengenai RKPD Orientasi mengenai RKPD kepada seluruh anggota tim dilakukan untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundang-undangan kebijakan pemerintah berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. pedoman evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (EPPD). Tugas tim penyusun RKPD selanjutnya dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD tahun berkenaan Struktur tim penyusun RKPD sekurang-kurangnya sebagai berikut: Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : : Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Sekretaris Bappeda Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan.3. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. Penyusunan Agenda Kerja Jangka waktu dan kegiatan penyusunan dokumen RKPD sangat ketat dan padat. tim penyusun dapat dibagi kedalam beberapa kelompok kerja (pokja) berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. pengelolaan keuangan daerah. sistem perencanaan pembangunan nasional. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. teknis penyusunan dokumen RKPD. antara lain: · Peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara.

Demikian halnya rancangan awal RKPD kabupaten/kota selain dibahas bersama dengan pemangku kepentingan dalam forum musrenbang RKPD kabupaten/kota juga dibahas dalam forum musrenbang di kecamatan dan menjadi acuan dalam membahas Renja SKPD dalam forum SKPD kabupaten/kota.-5Dalam rangka menerapkan perencanaan partisipatif. rancangan awal RKPD provinsi dibahas bersama pemangku kepentingan dalam forum musrenbang RKPD provinsi dan menjadi acuan dalam membahas Renja SKPD dalam forum SKPD provinsi. Mempertimbangkan terbatasnya waktu dan adanya keterkaitan hubungan antar satu kegiatan dengan kegiatan lainnya dalam proses penyusunan RKPD dan Renja SKPD diharapkan penyusunan rancangan awal RKPD provinsi dan kabupaten/kota sudah harus dimulai dari bulan Desember tahun sebelumnya Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagai berikut: .

4. 6. D.B. 26. 25. 10. 21. 8. 1. E. 24. 18. T-V. 13. 9. 2. 27. 23. 7. Renja SKPD dan APBD Kabupaten/Kota NO Tahapan Perencanaan dan penganggaran Tahunan Daerah A.1 Contoh Agenda Kerja Penyusunan RKPD. 19. C 12. 15. 20. 17. 3. 28. 22. B. 16. 11. PenyusunanRKPD dan Renja-SKPD (s/d Rancangan Akhir) Pembentukan tim penyusun RKPD/Renja-SKPD Kab/Kota Penyusunan rancangan awal RKPD dan rancangan Renja-SKPD Kab/Kota Musrenbang desa/kelurahan Lanjutan penyusunan rancangan Renja-SKPD Musrenbang Kecamatan Pembahasan rancangan Renja SKPD pada Forum SKPD kabupaten/kota Penyusunan rancangan RKPD kabupaten/kota Pelaksanaan Musrenbang RKPD kabupaten/kota Perumusan Rancangan Akhir RKPD kab/kota Penetapan perkada RKPD dan Renja SKPD Penetapan perkada RKPD kabupaten/kota Penetapan Renja SKPD kabupaten/kota Penyusunan KUA dan PPAS Penyusunan Rancangan KUA dan PPAS Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada KDH Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada DPRD Pembahasan KUA dan PPAS Nota Kesepakatan KUA dan PPAS Penyusunan RAPBD Penyiapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penetapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penyusunan RKA-SKPD Pembahasan RKA-SKPD oleh TAPD Penyempurnaan RKA-SKPD Penyiapan Raperda APBD Pembahasan dan Penetapan APBD Penyampaian Raperda APBD beserta kampirannya oleh Kepala Daerah kepada DPRD Pembahasan Raperda APBD Persetujuan Bersama antara DPRD dan KDH Evaluasi oleh Mendagri bagi APBD provinsi dan oleh Gubernur bagi APBD kabupaten/kota Penyempurnaan Raperda APBD berdasarkan hasil evaluasi Penetapan Perda tentang APBD Desember I II III IV I Januari II III IV I Februari II III IV I Maret II III IV I April II III IV I Mei II III IV I Juni II III IV I Juli II III IV I Agustus II III IV September I II III IV I Oktober II III IV November I II III IV Desember I II III IV . 14. 5.-6Tabel.

4. 16. 22. 11. 7. 6. 26. Penyusunan RKPD dan Renja-SKPD (s/d Rancangan Akhir) Pembentukan tim penyusun RKPD/Renja-SKPD Prov Penyusunan rancangan awal RKPD dan rancangan Renja-SKPD Provinsi Musrenbang desa/kelurahan Musrenbang Kecamatan Forum SKPD kabupaten/kota Musrenbang RKPD kabupaten/kota Pelaksanaan Forum SKPD provinsi Penyusunan rancangan RKPD provinsi Pelaksanaan Musrenbang RKPD provinsi Perumusan Rancangan Akhir RKPD provinsi Penetapan RKPD dan Renja SKPD Penetapan perkada RKPD provinsi Penetapan Renja-SKPD provinsi Penyusunan KUA dan PPAS Penyusunan Rancangan KUA dan PPAS Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada KDH Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada DPRD Pembahasan KUA dan PPAS Nota Kesepakatan KUA dan PPAS Penyusunan RAPBD Penyiapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penetapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penyusunan RKA-SKPD Pembahasan RKA-SKPD oleh TAPD Penyempurnaan RKA-SKPD Penyiapan Raperda APBD Pembahasan dan Penetapan APBD Penyampaian Raperda APBD beserta lampirannya oleh Kepala Daerah kepada DPRD Pembahasan Raperda APBD Persetujuan Bersama antara DPRD dan KDH Evaluasi oleh Mendagri bagi APBD provinsi dan oleh Gubernur bagi APBD kabupaten/kota Penyempurnaan Raperda APBD berdasarkan hasil evaluasi Penetapan Perda tentang APBD Desember I II III IV I Januari II III IV I Februari II III IV I Maret II III IV I April II III IV I Mei II III IV I Juni II III IV I Juli II III IV I Agustus II III IV September I II III IV I Oktober II III IV November I II III IV Desember I II III IV . 21. 10. C. 24. 27. B. 29. 3. 20. T-V.B. 28. Renja SKPD dan APBD Provinsi NO Tahapan Perencanaan dan penganggaran Tahunan Daerah A.2 Contoh Agenda Kerja Penyusunan RKPD.-7- Tabel. 8. 5. 17. 25. F. 2. 14. 15. 12. 13. E. 18. 1. 9. 19. 23.

Kebijakan-kebijakan nasional yang terkait.Tahap perumusan rancangan awal RKPD. dan 2. Dokumen-dokumen: a. dan RKP untuk penyusunan RKPD provinsi. dan Data pokok statistik daerah sampai dengan versi terakhir. RPJMN.4. G-V. RTRW kabupaten/kota yang bersangkutan.1 untuk provinsi dan Gambar. Dokumen APBD tahun berjalan dan realisasi APBD tahun-tahun sebelumnya. 5. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD Penyusunan rancangan awal RKPD provinsi dan kabupaten/kota dilakukan melalui 2 (dua) tahapan kegiatan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. Data dan informasi yang perlu dikumpulkan antara lain bersumber dari: 4. RTRWN. perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan. masingmasing dapat dilihat pada Gambar. Bagan alir tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. 1. G-V. 2. yaitu: 1. Mengumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengumpulan data dan informasi dapat dilakukan denganlangkah-langkah antara lain sebagai berikut: 1. Hasil evaluasi RKPD periode lalu. Peraturan perundangan terkait. karena selain akan mendukung kelancaran penyusunan juga akan menentukan kualitas dokumen RKPD yang akan disusun.A.2 untuk kabupaten/kota sebagai berikut: . C. Dokumen hasil evaluasi pelaksanaan RKPD tahun-tahun sebelumnya. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting yang harus tersedia dalam penyusunan RKPD. 8. Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis.-8B. dan c. 6. RPJMD dan RKPD Provinsi untuk penyusunan RKPD kabupaten/kota. b. 9. 3. 3. 7.C. Dokumen-dokumen RPJMD. 2. Untuk itu.Tahap penyajian rancangan awal RKPD. Data lainnya dari laporan kinerja SKPD. Menyusun daftar data dan informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RKPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan dalam analisis. Dokumen RPJMD dan hasil evaluasi pelaksanaannya.

· batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda Penyusunan Rancangan Renja SKPD Provinsi Gambar.1 Penyusunan Rancangan Awal RKPD Provinsi Penelahaan pokok-pokok pikiran DPRD provinsi Pengolahan data dan informasi Penelaahan Terhadap RPJMN Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Analisis Ekonomi dan Keu