P. 1
PERMENDAGRI-54-2010

PERMENDAGRI-54-2010

|Views: 253|Likes:
Published by smileisfa

More info:

Published by: smileisfa on Dec 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2015

pdf

text

original

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG

TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI
NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010

SALINAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (3), Pasal 37, Pasal 42 ayat (2), dan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Nomor 4287); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

Mengingat

:

-26. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5107); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATACARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD atau dengan sebutan lain adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah Gubernur dan wakil Gubernur untuk provinsi, bupati dan wakil bupati untuk kabupaten, walikota dan wakil walikota untuk kota. Satuan kerja perangkat daerah yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang selanjutnya disingkat dengan Bappeda atau sebutan lain adalah unsur perencana penyelenggaraan pemerintahan yang melaksanakan tugas dan mengkoordinasikan penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.

2.

3.

4. 5.

-36. Pemangku kepentingan adalah pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah antara lain unsur DPRD provinsi dan kabupaten/kota, TNI, POLRI, Kejaksaan, akademisi, LSM/Ormas, tokoh masyarakat provinsi dan kabupaten/kota/desa, pengusaha/investor, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pemerintahan desa, dan kelurahan serta keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan. Pembangunan daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapantahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Rencana pembangunan jangka panjang daerah yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.

7.

8.

9.

10. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun. 11. Rencana kerja pembangunan daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana pembangunan tahunan daerah. 12. Rencana strategis SKPD yang selanjutnya disingkat dengan Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. 13. Rencana kerja SKPD yang selanjutnya disingkat Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun. 14. Rencana pembangunan jangka panjang nasional yang selanjutnya disingkat RPJPN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun. 15. Rencana pembangunan jangka menengah nasional yang selanjutnya disingkat RPJMN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahunan. 16. Rencana kerja pemerintah yang selanjutnya disingkat dengan RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. 17. Anggaran pendapatan dan belanja negara, selanjutnya disingkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan ditetapkan dengan Undang-Undang. 18. Anggaran pendapatan dan belanja daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 19. Kebijakan umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. 20. Prioritas dan plafon anggaran sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD.

-421. Rencana kerja dan anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 22. Rencana kerja adalah dokumen rencana yang memuat program dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pembangunan, dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka anggaran. 23. Kerangka regulasi, adalah sekumpulan pengaturan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk perundang-undangan untuk mencapai sasaran hasil pembangunan, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. 24. Kerangka anggaran adalah rencana kegiatan pengadaan barang maupun jasa yang akan didanai APBD untuk mencapai tujuan pembangunan daerah. 25. Kerangka pendanaan, adalah program dan kegiatan yang disusun untuk mencapai sasaran hasil pembangunan yang pendanaannya diperoleh dari anggaran pemerintah/daerah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. 26. Isu-isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena dampaknya yang signifikan bagi daerah dengan karakteristik bersifat penting, mendasar, mendesak, berjangka panjang, dan menentukan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah dimasa yang akan datang. 27. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 28. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 29. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 30. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan. 31. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD atau masyarakat, yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan daerah. 32. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program, dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut, sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 33. Kegiatan prioritas adalah kegiatan yang ditetapkan untuk mencapai secara langsung sasaran program prioritas. 34. Prakiraan maju adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan, guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui untuk setiap program dan kegiatan. 35. Bersifat indikatif adalah bahwa data dan informasi, baik tentang sumber daya yang diperlukan maupun keluaran dan dampak yang tercantum di dalam dokumen rencana, hanya merupakan indikasi yang hendak dicapai dan tidak kaku. 36. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.

-537. Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program atau kegiatan. 38. Standar pelayanan minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. 39. Sasaran adalah target atau hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 40. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan, yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 41. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 42. Musyawarah perencanaan pembangunan yang selanjutnya disingkat musrenbang adalah forum antarpemangku kepentingan dalam rangka menyusun rencana pembangunan daerah. 43. Forum SKPD provinsi dan kabupaten/kota merupakan wahana antar pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi dan kabupaten/kota. 44. Fasilitator adalah tenaga terlatih atau berpengalaman dalam memfasilitasi dan memandu diskusi kelompok/konsultasi publik yang memenuhi kualifikasi kompetensi teknis/substansi dan memiliki keterampilan dalam penerapan berbagai teknik dan instrumen untuk menunjang partisipatif dan efektivitas kegiatan. 45. Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil musrenbang. 46. Delegasi adalah perwakilan yang disepakati peserta musrenbang untuk menghadiri musrenbang pada tingkat yang lebih tinggi. 47. Rencana tata ruang wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang yang merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah nasional dan pulau/kepulauan ke dalam struktur dan pola ruang wilayah. 48. Provinsi lainnya adalah provinsi lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 49. Kabupaten/kota lainnya adalah kabupaten/kota lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 50. Koordinasi adalah kegiatan yang meliputi pengaturan hubungan kerjasama dari beberapa instansi/pejabat yang mempunyai tugas dan wewenang yang saling berhubungan dengan tujuan untuk menghindarkan kesimpangsiuran dan duplikasi.

-6BAB II RUANG LINGKUP, PRINSIP DAN PENDEKATAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup perencanaan pembangunan daerah meliputi tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah terdiri atas: a. b. c. d. e. RPJPD; RPJMD; Renstra SKPD; RKPD; dan Renja SKPD. Bagian Kedua Prinsip Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 3 Prinsip-prinsip perencanaan pembangunan daerah meliputi: a. b. c. d. merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional; dilakukan pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing; mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah; dan dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah, sesuai dinamika perkembangan daerah dan nasional. Pasal 4 Perencanaan pembangunan daerah dirumuskan secara: a. b. c. d. e. f. g. h. i. transparan; responsif; efisien; efektif; akuntabel; partisipatif; terukur; berkeadilan; dan berwawasan lingkungan. Pasal 5 (1) Transparan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.

-7(2) Responsif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, yaitu dapat mengantisipasi berbagai potensi, masalah dan perubahan yang terjadi di daerah. (3) Efisien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, yaitu pencapaian keluaran tertentu dengan masukan terendah atau masukan terendah dengan keluaran maksimal. (4) Efektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d, merupakan kemampuan mencapai target dengan sumber daya yang dimiliki, dengan cara atau proses yang paling optimal. (5) Akuntabel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e, yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (6) Partisipatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf f, merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok masyarakat rentan termarginalkan, melalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. (7) Terukur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf g, adalah penetapan target kinerja yang akan dicapai dan cara-cara untuk mencapainya. (8) Berkeadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf h, adalah prinsip keseimbangan antarwilayah, sektor, pendapatan, gender dan usia. (9) Berwawasan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf i, yaitu untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan yang berkelanjutan dalam mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia, dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam yang menopangnya. Bagian Ketiga Pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 6 Perencanaan pembangunan daerah menggunakan pendekatan: a. b. c. d. teknokratis; partisipatif; politis; dan top-down dan bottom-up. Pasal 7 (1) Pendekatan teknokratis dalam perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, menggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (2) Metoda dan kerangka berpikir ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis terkait perencanaan pembangunan berdasarkan bukti fisis, data dan informasi yang akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan. (3) Metoda dan kerangka berpikir ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), antara lain digunakan untuk: a. mereview menyeluruh kinerja pembangunan daerah periode yang lalu;

-8b. c. d. e. f. g. merumuskan capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah masa kini; merumuskan peluang dan tantangan yang mempengaruhi capaian sasaran pembangunan daerah; merumuskan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah; memproyeksikan kemampuan keuangan daerah dan sumber daya lainnya berdasarkan perkembangan kondisi makro ekonomi; merumuskan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja; menetapkan tolok ukur dan target kinerja keluaran dan hasil capaian, lokasi serta kelompok sasaran program/kegiatan pembangunan daerah dengan mempertimbangkan SPM; memproyeksikan pagu indikatif program dan kegiatan pada tahun yang direncanakan, serta prakiraan maju untuk satu tahun berikutnya; dan menetapkan SKPD penanggungjawab pelaksana, pengendali, dan evaluasi rencana pembangunan daerah. Pasal 8 Pendekatan partisipatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, dilaksanakan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dengan mempertimbangkan: a. relevansi pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, di setiap tahapan penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah; kesetaraan antara para pemangku kepentingan dari unsur pemerintahan dan non pemerintahan dalam pengambilan keputusan; adanya transparasi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan serta melibatkan media massa; keterwakilan seluruh segmen masyarakat, termasuk kelompok masyarakat rentan termarjinalkan dan pengarusutamaan gender; terciptanya rasa memiliki terhadap dokumen perencanaan pembangunan daerah; dan terciptanya konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan, seperti perumusan prioritas isu dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi, kebijakan dan prioritas program. Pasal 9 Pendekatan politis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, bahwa programprogram pembangunan yang ditawarkan masing-masing calon kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih pada saat kampanye, disusun ke dalam rancangan RPJMD, melalui: a. penerjemahan yang tepat dan sistematis atas visi, misi, dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan daerah selama masa jabatan; konsultasi pertimbangan dari landasan hukum, teknis penyusunan, sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran pembangunan nasional dan pembangunan daerah; dan pembahasan dengan DPRD dan konsultasi dengan pemerintah untuk penetapan produk hukum yang mengikat semua pemangku kepentingan.

h. i.

b. c. d. e. f.

b.

c.

-9Pasal 10 Pendekatan perencanaan pembangunan daerah bawah-atas (bottom-up) dan atasbawah (top-down) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d, hasilnya diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional, sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. Bagian Keempat Pendekatan Penyusunan Program, Kegiatan, Alokasi Dana Indikatif dan Sumber Pendanaan Pasal 11 (1) Program, kegiatan, alokasi dana indikatif dan sumber pendanaan yang dirumuskan dalam RPJMD, RKPD, Renstra SKPD dan Renja SKPD disusun berdasarkan: a. b. c. pendekatan kinerja, kerangka pengeluaran perencanaan dan penganggaran terpadu; kerangka pendanaan dan pagu indikatif; dan urusan wajib yang mengacu pada SPM sesuai dengan kondisi nyata daerah dan kebutuhan masyarakat, atau urusan pilihan yang menjadi tanggungjawab SKPD. jangka menengah serta

(2) Pendekatan kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa program dan kegiatan yang direncanakan mengutamakan keluaran/hasil yang terukur, dan pengalokasian sumberdaya dalam anggaran untuk melaksanakannya, secara efektif dan efisien telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. (3) Kerangka pengeluaran jangka menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa pengambilan keputusan terhadap program dan kegiatan prioritas pembangunan, mempertimbangkan perspektif penganggaran lebih dari satu tahun anggaran dan implikasi terhadap pendanaan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. (4) Perencanaan dan penganggaran terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, bahwa pengambilan keputusan penetapan program dan kegiatan yang direncanakan, merupakan satu kesatuan proses perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi, konsisten dan mengikat, untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran program dan kegiatan pembangunan daerah. (5) Pagu indikatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program dan kegiatan tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Mengacu pada SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, bahwa perumusan capaian kinerja setiap program dan kegiatan, harus berpedoman pada rencana pencapaian SPM berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah. Pasal 12 (1) Kerangka pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, diutamakan untuk penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD. (2) Pagu indikatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b, digunakan untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD.

- 10 Bagian Kelima Data dan Informasi Pasal 13 (1) Penyusunan rencana pembangunan daerah menggunakan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, serta rencana tata ruang. (2) Menteri Dalam Negeri secara periodik melakukan penyempurnaan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan daerah. (3) Penyempurnaan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. (4) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. b. c. d. e. f. g. h. i. penyelenggaraan pemerintahan daerah; organisasi dan tatalaksana pemerintahan daerah; kepala daerah, DPRD, perangkat daerah, dan pegawai negeri sipil daerah; keuangan daerah; potensi sumber daya daerah; produk hukum daerah; kependudukan; informasi dasar kewilayahan; dan informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

(5) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), selanjutnya dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografis, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis, dalam rangka penyusunan rencana pembangunan daerah. BAB III KOORDINASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ANTARPROVINSI Bagian Pertama Tujuan Pasal 14 (1) Koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi bertujuan untuk: a. b. terciptanya sinkronisasi dan sinergi pelaksanaan pembangunan daerah dalam upaya mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya; memantapkan hubungan dan keterikatan daerah provinsi yang satu dengan daerah provinsi yang lain dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; mensinergikan pengelolaan potensi antarprovinsi dan/atau dengan pihak ketiga, serta meningkatkan pertukaran pengetahuan, teknologi dan kapasitas fiskal; keterpaduan antara rencana pembangunan daerah provinsi yang didanai melalui APBD dengan rencana pembangunan di daerah provinsi yang didanai APBN;

c.

d.

- 11 e. mengurangi kesenjangan daerah dalam penyediaan pelayanan umum, khususnya yang ada di wilayah terpencil, pulau-pulau terluar, perbatasan antardaerah/antar negara dan daerah tertinggal; dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan asli daerah.

f.

(2) Koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi mencakup: a. dua provinsi atau lebih yang berdekatan; b. dua provinsi atau lebih dalam satu wilayah kepulauan; dan c. dua provinsi atau lebih atas dasar kesepakatan bersama; (3) Dua provinsi atau lebih atas dasar kesepakatan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c ditetapkan sebagai satu wilayah pembangunan regional dan/atau memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. Bagian Kedua Aspek-aspek Koordinasi Antarprovinsi Pasal 15 Aspek koordinasi perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi meliputi: a. b. c. d. e. fungsional; formal; struktural; materiil; dan operasional. Pasal 16 (1) Aspek fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a, adanya keterkaitan dan keterpaduan fungsional antara strategi, kebijakan program dan kegiatan antar SKPD, antar wilayah pembangunan dan antar tahapan perencanaan pembangunan dalam satu provinsi dan/atau dengan provinsi lainnya atau dengan pemerintah, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (2) Aspek formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b, perumusan tujuan dan sasaran, strategi, kebijakan program dan kegiatan pembangunan daerah yang direncanakan, telah sesuai dengan kebijakan pemerintah dan peraturan perundang-undangan. (3) Aspek struktural sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c, adanya kaitan dan koordinasi dalam bentuk penugasan pada tiap SKPD yang bersangkutan. (4) Aspek materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d, tercapainya keterkaitan dan keterpaduan pencapaian target dan sasaran program/kegiatan pembangunan antar SKPD, antar wilayah pembangunan dan antar tahapan perencanaan pembangunan dalam satu provinsi dan/atau dengan provinsi lainnya atau dengan pemerintah, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. (5) Aspek operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf e, adanya kaitan dan keterpaduan dalam penentuan langkah-langkah pelaksanaan, baik menyangkut waktu, lokasi, sumber dana dan sumber daya lainnya.

- 12 Bagian Ketiga Mekanisme Pelaksanaan Koordinasi Perencanaan Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 17 (1) Koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi mencakup koordinasi penyusunan program pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan tahunan. (2) Koordinasi penyusunan program pembangunan jangka panjang antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi arah kebijakan dan program kerjasama pembangunan daerah jangka panjang yang telah disepakati antarprovinsi berkenaan. (3) Koordinasi penyusunan program pembangunan jangka menengah antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program-program kerjasama pembangunan daerah yang berdimensi jangka menengah dan telah disepakati antarprovinsi berkenaan. (4) Koordinasi penyusunan program pembangunan tahunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program-program kerjasama pembangunan tahunan daerah dan telah disepakati antarprovinsi berkenaan. Pasal 18 (1) Program dan kegiatan pembangunan tahunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) dirumuskan kedalam RKPD untuk didanai APBD masingmasing provinsi pada tahun yang direncanakan. (2) Program dan kegiatan pembangunan daerah yang dikoordinasikan dan disepakati antarprovinsi yang akan didanai APBN, diusulkan untuk dibahas dalam musrenbangnas RKP. Pasal 19 (1) Penyelenggaraan koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi, dapat dilakukan oleh forum kerjasama atau sebutan lain, yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara dua provinsi atau lebih yang berdekatan atau dalam satu wilayah kepulauan. (2) Forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain berfungsi memfasilitasi penyelenggaraan koordinasi penyusunan rencana pembangunan daerah antarprovinsi. (3) Pimpinan dan keanggotaan forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disesuaikan dengan kebutuhan yang disepakati antarprovinsi berkenaan. (4) Mekanisme penyelenggaraan koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi, diatur lebih lanjut oleh forum kerjasama atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(2) RPJPD disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. persiapan penyusunan RPJPD. memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. pelaksanaan musrenbang RPJPD. penyusunan agenda kerja tim penyusun RPJPD. c. (2) Rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun: a. berpedoman pada RTRW provinsi. Bagian Kedua Penyusunan RPJPD Pasal 21 (1) Bappeda menyusun RPJPD. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJPD. d. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Pasal 23 (1) Rancangan awal RPJPD provinsi disusun: a. orientasi mengenai RPJPD. e. perumusan rancangan akhir RPJPD. dan penetapan RPJPD. memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. mengacu pada RPJPN dan RPJPD provinsi. misi dan arah pembangunan daerah. d. c. memuat visi. b. . dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. dan c. dan c. mengacu pada RPJPN.13 BAB IV RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 20 RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RPJPD Pasal 22 Persiapan penyusunan RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a. b. meliputi: a. penyusunan rancangan awal RPJPD. b. b. berpedoman pada RTRW kabupaten/kota..

dan arah kebijakan RPJPD provinsi. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan pemanfaatan struktur serta pola ruang kabupaten/kota lain sekitarnya. c. e. arah. misi. penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. b. . arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota. (2) Berpedoman pada RTRW provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b.14 Pasal 24 (1) Mengacu pada RPJPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf b. arah. dan penyelarasan visi. analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. f. i. misi. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi. d. perumusan arah kebijakan. misi. pelaksanaan forum konsultasi publik. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. (3) Memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf c. (2) Berpedoman pada RTRW kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf b. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. h. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang provinsi. penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya. untuk provinsi mencakup: a. misi. dan penyajian rancangan awal RPJPD. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dengan visi. g. perumusan rancangan awal RPJPD. pengolahan data dan informasi. (3) Memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c.. perumusan visi dan misi daerah provinsi. b. Pasal 25 (1) Mengacu RPJPN dan RPJPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. dilakukan melalui penyelarasan antara arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan pemanfaatan struktur serta pola ruang provinsi lain sekitarnya. Pasal 26 Penyusunan rancangan awal RPJPD. misi. Pasal 27 (1) Perumusan rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a. tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional dan provinsi. tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. dilakukan melalui penyelarasan antara visi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang kabupaten/kota dengan visi. j. terdiri atas: a. misi.

b. Pasal 29 (1) Rancangan awal RPJPD yang disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. f. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3). klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). j. (2) Penajaman. e.15 (2) Perumusan rancangan awal RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a. dan penyelarasan visi. pengolahan data dan informasi. g. dan arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota. b. kepada kepala daerah dalam rangka memperoleh persetujuan untuk dibahas dalam musrenbang RPJPD. analisis isu-isu srategis. dan kaidah pelaksanaan. pelaksanaan forum konsultasi publik. penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. c. untuk kabupaten/kota mencakup: a. c. arah kebijakan. d. . perumusan visi dan misi daerah kabupaten/kota. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. penajaman visi dan misi daerah. misi. penelaahan RPJPN. analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota.. Pasal 28 Penyajian rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf b. gambaran umum kondisi daerah. e. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. pendahuluan. f. mencakup: a. d. h. perumusan arah kebijakan. (3) Bappeda mengajukan rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). i. visi dan misi daerah. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. RPJPD provinsi dan RPJPD kabupaten/kota lainnya. penyelarasan. Paragraf 3 Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Pasal 30 (1) Musrenbang RPJPD dilaksanakan untuk penajaman. penyelarasan. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a.

d. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD provinsi. Pasal 34 (1) Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada Gubernur. dan membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima Menteri Dalam Negeri. e. pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat atau dari unsur lain terkait. Paragraf 4 Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Pasal 32 (1) Hasil musrenbang RPJPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31. menjadi bahan masukan untuk merumuskan rancangan akhir RPJPD. c. b. (2) Rancangan akhir RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). .. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah Gubernur menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Menteri Dalam Negeri. rancangan akhir RPJPD provinsi. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. Pasal 33 (1) Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah Bupati/Walikota menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Gubernur. (4) Pimpinan DPRD atau anggota DPRD. dapat diundang menjadi narasumber dalam musrenbang RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. klarifikasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang daerah. penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk mencapai visi dan misi daerah.16 b. dan dikoordinasikan oleh Bappeda (3) Musrenbang RPJPD dilaksanakan provinsi/kabupaten/kota. penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. dirumuskan paling lama 1 (satu) tahun sebelum RPJPD yang berlaku berakhir. Pasal 31 Hasil musrenbang RPJPD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. c.

RTRW kabupaten/kota serta RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD provinsi. RPJPD kepada Bupati/Walikota. untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum penyusunan. Pasal 37 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan RPJPD kepada Gubernur untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah konsultasi dilakukan. sinkronisasi dan sinergi. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat kementerian/lembaga dan/atau pemerintahan daerah provinsi yang terkait sesuai dengan kebutuhan. untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum penyusunan. dengan RPJPN. Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintah daerah dan/atau provinsi/ kabupaten/kota yang terkait sesuai dengan kebutuhan. RPJPD provinsi. kepala daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. sistematika dan teknis penyusunan. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. Pasal 36 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sistematika dan teknis penyusunan. b.. .17 (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima Gubernur. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. Pasal 35 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1). (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RTRW provinsi dan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. c. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. Pasal 38 (2) Gubernur menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil konsultasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2). rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. sinkronisasi dan sinergi dengan RPJPN. untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah konsultasi dilakukan.

(2) Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota disampaikan kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. Pasal 42 (1) Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJPD kabupaten/kota. dan surat Gubernur kabupaten/kota. dengan lampiran rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota yang telah dikonsultasikan dengan Gubernur beserta: a. b. perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD Pasal 41 Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi dan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan RPJPN. Pasal 44 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1). dan surat Menteri Dalam Negeri perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi. Pasal 40 (1) Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota kepada DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh persetujuan bersama. Pasal 43 Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. .. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota.18 Paragraf 5 Penetapan RPJPD Pasal 39 (1) Gubernur menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi kepada DPRD provinsi untuk memperoleh persetujuan bersama. b. kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan lampiran rancangan akhir RPJPD provinsi yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri beserta: a. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJPD provinsi. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD provinsi.

arah kebijakan keuangan daerah. (4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).19 Pasal 45 (1) Gubernur melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2). (2) Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau tidak dikonsultasikan. d. menjadi pedoman penyusunan visi. visi. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri. kebijakan umum. b. (3) Penyampaian hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah tentang RPJPD diterima. strategi pembangunan daerah. Pasal 49 RPJPD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah provinsi dan Peraturan Daerah kabupaten/kota. Pasal 46 Klarifikasi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagaimana dimaksud Pasal 44 dan Pasal 45 untuk memastikan saran penyempurnaan hasil konsultasi telah ditindaklanjuti. misi dan program calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Peraturan Daerah tentang RPJPD dinyatakan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.. dan program kepala daerah. Pasal 47 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil klarifikasi kepada Gubernur yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) telah menindaklanjuti hasil konsultasi. memuat: a. misi. . Pasal 48 (1) Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi dan tidak dikonsultasikan. c. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Bappeda provinsi. (2) Gubernur menyampaikan hasil klarifikasi kepada Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1) telah menindaklanjuti hasil konsultasi. dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Dalam Negeri. BAB V RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 50 RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b.

program SKPD. (6) Program lintas SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf f. . keseimbangan laju pertumbuhan. untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata baik dalam aspek pendapatan. tahun pelaksanaan. merupakan keadaan masa depan yang diharapkan dan berbagai upaya yang akan dilakukan melalui program-program pembangunan yang ditawarkan oleh Kepala Daerah terpilih. program lintas SKPD.. merupakan pedoman dan gambaran dari pelaksanaan hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan bidang urusan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. memberikan arah perumusan rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun program dan kegiatan Renstra SKPD. (5) Program SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf e. merupakan program yang dirumuskan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD yang memuat indikator kinerja. f. (3) Strategi pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf c. (8) Rencana kerja dalam kerangka regulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf h. kesempatan kerja. lapangan berusaha. misi dan program kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a. untuk mencapai target dan sasaran yang ditetapkan. rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif. (2) Arah kebijakan keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf b. (9) Rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf i. (7) Program kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf g. lokasi program. tahun pelaksanaan. merupakan dasar hukum atau kebijakan yang dijadikan landasan perumusan dan pelaksanaan program pembangunan daerah. merupakan langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi dalam rangka pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. (4) Kebijakan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf d. merupakan program pembangunan daerah untuk terciptanya keterpaduan. h. keserasian. dan keberlanjutan pembangunan antarwilayah/antarkawasan dalam kecamatan di wilayah kabupaten/kota atau antar kabupaten/kota di wilayah provinsi atau dengan provinsi lainnya berdasarkan rencana tata ruang wilayah. i. Pasal 51 (1) Visi. program kewilayahan. berdaya saing. lokasi program.20 e. dan sumber daya yang diperlukan. maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. dan rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dengan dilengkapi jumlah pagu indikatif berdasarkan prakiraan maju dan sumber pendanaannya. g. dan sumber daya yang diperlukan. merupakan program yang melibatkan lebih dari satu SKPD untuk mencapai sasaran pembangunan yang ditetapkan termasuk indikator kinerja. merupakan tahapan dan jadual pelaksanaan proram. akses terhadap pengambilan kebijakan.

dan memperhatikan RPJMN. c. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RPJMD Pasal 53 Persiapan penyusunan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a. c. c. b. c. (2) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. a. penyusunan rancangan awal RPJMD. berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi. b. misi dan program Gubernur dan wakil Gubernur terpilih. e. misi dan program bupati dan wakil bupati terpilih atau walikota dan wakil walikota terpilih. orientasi mengenai RPJMD. penyusunan agenda kerja tim penyusun RPJMD. pelaksanaan musrenbang RPJMD.. d. b. dan memperhatikan RPJMN. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJMD. meliputi: a. dilakukan dengan: (2) Rancangan awal RPJMD kabupaten/kota disusun: . persiapan penyusunan RPJMD. RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. perumusan rancangan akhir RPJMD. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Pasal 54 (1) Rancangan awal RPJMD provinsi disusun: a. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. b. RPJMD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Pasal 55 (1) Berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf b. berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota.21 Bagian Kedua Penyusunan RPJMD Pasal 52 (1) Bappeda menyusun RPJMD. penyusunan rancangan RPJMD. RPJMD provinsi. memuat visi. d. memuat visi. dan penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD. f.

strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan arah. arah. kebijakan umum. tujuan. dilakukan melalui penyelarasan antara rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lain sekitarnya. dilakukan melalui penyelarasan pembangunan jangka menengah daerah dan pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lain sekitarnya. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. dan prioritas bidang-bidang pembangunan. arah kebijakan. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. sasaran. kebijakan umum dan prioritas pembangunan nasional. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. misi. sasaran.. kebijakan. kebijakan. Pasal 57 Penyusunan rancangan awal RPJMD. tujuan. kebijakan. dilakukan dengan: a. menyelaraskan visi. (4) Memperhatikan RPJMD dan RTRW kabupaten/kota lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. kebijakan. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. prioritas pembangunan jangka menengah provinsi. serta prioritas pembangunan nasional. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dengan: a. dan b. arah. (2) Memperhatikan RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan struktur dan pola pemanfaatan ruang provinsi. misi. arah. menyelaraskan visi. kebijakan. sasaran. misi. kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. sasaran. misi. menyelaraskan pencapaian visi. . terdiri atas: a. Pasal 56 (1) Berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf b. (3) Memperhatikan RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf c. kebijakan. b. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. misi. kebijakan. tujuan. perumusan rancangan awal RPJMD. dan karakteristik daerah. dan pembangunan kewilayahan sesuai dengan kewenangan. b. (3) Memperhatikan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. tujuan. kebijakan. kondisi. kebijakan. misi. sasaran. dan penyajian rancangan awal RPJMD. menyelaraskan pencapaian visi. tujuan. dilakukan melalui penyelarasan pencapaian visi. dan b. (2) Memperhatikan RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c. pembangunan kewilayahan. tujuan. misi.22 a. misi. sebagaimana dimaksud pada Pasal 52 ayat (2) huruf b. dan c. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi dengan arah. sasaran. misi. tujuan. sasaran.

b. j. penelaahan RPJMN dan RPJMD provinsi lainnya. pengolahan data dan informasi. perumusan penjelasan visi dan misi.. analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota. o. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. p. (2) Perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a. pelaksanaan forum konsultasi publik. perumusan penjelasan visi dan misi. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. f. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. perumusan tujuan dan sasaran. penelaahan RPJMN. analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. d.23 Pasal 58 (1) Perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a. penetapan indikator kinerja daerah. e. p. n. i. penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. l. penetapan indikator kinerja daerah. analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah provinsi. c. perumusan tujuan dan sasaran. RPJMD provinsi dan RPJMD kabupaten/kota lainnya. h. analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. e. j. k. f. untuk kabupaten/kota mencakup: a. n. b. pembahasan dengan SKPD provinsi. o. penelaahan RPJPD provinsi. pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. pengolahan data dan informasi. dan . g. analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. untuk provinsi mencakup: a. q. d. g. k. perumusan strategi dan arah kebijakan. perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. perumusan strategi dan arah kebijakan. pelaksanaan forum konsultasi publik. h. r. penelaahan RPJPD kabupaten/kota. penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. dan penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan. m. pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. i. m. l. q. c. perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota.

i. menjadi bahan penyusunan rancangan RPJMD. gambaran umum kondisi daerah. g. e. Pasal 59 Penyajian rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf b. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. h. (4) Hasil pembahasan dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). visi. d. analisis isu-isu srategis. (2) Pengajuan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendahuluan. f. misi. gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. Pasal 60 (1) Rancangan awal RPJMD yang disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. strategi dan arah kebijakan. paling lama 10 (sepuluh) minggu sejak kepala daerah dan wakil kepala daerah dilantik. Pasal 61 (1) Kepala daerah mengajukan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan yang tercantum dalam rancangan awal RPJMD yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60. .. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan. Pasal 62 (1) Rancangan awal RPJMD menjadi pedoman SKPD dalam menyusun rancangan renstra SKPD.24 r. (2) Rancangan renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani oleh kepala daerah dan ketua DPRD. c. dan penetapan indikator kinerja daerah. penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan. b. tujuan dan sasaran. paling lama 2 (dua) minggu sejak diajukan kepala daerah. kepada DPRD untuk dibahas dan memperoleh kesepakatan. (3) Pembahasan dan kesepakatan terhadap kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

b. gambaran umum kondisi daerah. memecahkan isu-isu srategis sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD. paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak surat edaran kepala daerah diterima. kepada para kepala SKPD dengan surat edaran kepala daerah. (2) Bappeda mengajukan rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . kebijakan umum dan program pembangunan daerah. c. menyelaraskan dengan strategi dan arah kebijakan. c. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. e. d. (4) Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan mempedomani indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan. h. antara lain dalam: a.. (5) Rancangan renstra SKPD yang telah diverifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). misi. pendahuluan. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RPJMD. f. tujuan dan sasaran. e. i. analisis isu-isu srategis. visi. dan penetapan indikator kinerja daerah. menyelaraskan dengan visi. (3) Rancangan renstra SKPD yang telah disusun disampaikan kepala Bappeda kepada kepala SKPD. mempedomani kebijakan umum dan program pembangunan daerah. dijadikan bahan masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. untuk mengintegrasikan dan menjamin kesesuaian dengan rancangan awal RPJMD. b. d. gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. g. disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. (2) Kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan yang telah disepakati kepala daerah dan DPRD menjadi acuan kepala SKPD merumuskan kegiatan dalam rancangan renstra SKPD. strategi dan arah kebijakan. misi. tujuan dan sasaran. Pasal 64 (1) Rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (5).25 Paragraf 3 Penyusunan Rancangan RPJMD Pasal 63 (1) Bappeda menyampaikan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.

d. mencakup: a. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (2). strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas.. g. dibahas oleh seluruh kepala SKPD. e. capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode RPJMD. penyelarasan. b. (4) Pembahasan rancangan akhir RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). paling lambat dilakukan pada akhir bulan ke-4 (keempat) setelah kepala daerah terpilih dilantik. komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD dalam melaksanakan pembangunan daerah. f. (2) Rancangan akhir RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . (4) Pimpinan DPRD atau anggota DPRD. Pasal 66 Hasil musrenbang RPJMD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. sesuai dengan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan daerah. penyelarasan. dapat diundang menjadi narasumber dalam musrenbang RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. (3) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penajaman. dan RPJMD daerah lainnya. (3) Musrenbang RPJMD dilaksanakan provinsi/kabupaten/kota. memastikan program pembangunan jangka menengah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD telah tertampung dalam rancangan akhir RPJMD. dan sinergi dengan RPJMN. pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat atau dari unsur lain terkait. dan dikoordinasikan oleh Bappeda c. misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah.26 Paragraf 4 Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Pasal 65 (1) Musrenbang RPJMD dilaksanakan untuk penajaman. kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. Paragraf 5 Perumusan Rancangan Akhir RPJMD Pasal 67 (1) Perumusan rancangan akhir RPJMD berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66. sasaran pembangunan jangka menengah daerah.

Pasal 69 (1) Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada Gubernur. (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. harmonisasi. rancangan akhir RPJMD provinsi. menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dilakukan setelah Gubernur menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Menteri Dalam Negeri. RTRW kabupaten/kota. keserasian. diterima Menteri Dalam Negeri. pemerintah daerah provinsi yang terkait sesuai dengan kebutuhan dalam pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya. b. serta sinkronisasi dan sinergitas. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. RTRW provinsi. dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. dilakukan setelah Bupati/Walikota menyampaikan surat permohonan konsultasi kepada Gubernur. c. diterima Gubernur. c. . sistematika dan teknis penyusunan. serta keselarasan dengan RPJPD kabupaten/kota. menjelaskan pokok-pokok substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan lampiran sebagai berikut: a. keselarasan dengan RPJPD provinsi. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. Pasal 71 (2) Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat kementerian/lembaga dan/atau (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1). (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. memastikan pertimbangan landasan hukum penyusunan. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi.27 Pasal 68 (1) Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. RTRW provinsi. sistematika dan teknis penyusunan. b. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Pasal 70 (1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1). dan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. (3) Konsultasi dilakukan setelah 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan (4) Surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

. dengan lampiran rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota yang telah dikonsultasikan dengan Gubernur beserta: a. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. Pasal 75 (1) Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota kepada DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 6 Penetapan RPJMD Pasal 74 (1) Gubernur menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi kepada DPRD provinsi untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD Pasal 76 Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi dan Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik.. kepala daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. b. dengan lampiran rancangan akhir RPJMD provinsi yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri beserta: a. dan surat Gubernur kabupaten/kota. RPJMD kepada Bupati/Walikota untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintahan daerah dan/atau provinsi/ kabupaten/kota yang terkait sesuai dengan kebutuhan. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. setelah konsultasi dilakukan. (2) Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan surat Menteri Dalam Negeri perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD provinsi. b. setelah konsultasi dilakukan.28 (2) Untuk efektivitas pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 73 (2) Gubernur menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil konsultasi dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72. Pasal 72 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil konsultasi berupa saran penyempurnaan rancangan RPJMD kepada Gubernur untuk ditindaklanjuti paling lama 10 (sepuluh) hari kerja.

Pasal 83 (1) Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi dan tidak dikonsultasikan. (2) Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota disampaikan kepada Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri.29 Pasal 77 (1) Peraturan Daerah tentang RPJMD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan.. dilaksanakan oleh Bappeda provinsi. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 81 Klarifikasi Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagaimana dimaksud Pasal 79 dan Pasal 80 untuk memastikan saran penyempurnaan hasil konsultasi telah ditindaklanjuti. . dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Dalam Negeri. telah menindaklanjuti hasil konsultasi. Pasal 82 (1) Menteri Dalam Negeri menyampaikan hasil klarifikasi kepada Gubernur yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1). Peraturan Daerah tentang RPJMD dinyatakan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. telah menindaklanjuti hasil konsultasi. (2) Klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 80 (1) Gubernur melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2). (2) Gubernur menyampaikan hasil klarifikasi kepada Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1). dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. (4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri dan Gubernur tidak menyampaikan hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 79 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan klarifikasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1). sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah tentang RPJMD diterima. Pasal 78 Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD dengan DPRD. (3) Penyampaian hasil klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

huruf c. yang dirumuskan bersifat spesifik. merupakan arah/tindakan yang harus dipedomani SKPD. merupakan sesuatu yang ingin dicapai dari setiap misi SKPD.merupakan langkah-langkah berisikan program-program indikatif.30 (2) Peraturan Daerah tentang RPJMD kabupaten/kota yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau tidak dikonsultasikan. merupakan keadaan yang ingin diwujudkan SKPD pada akhir periode Renstra SKPD. e. BAB VI RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 85 (1) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c. dan kegiatan. program. memuat: a. (5) Strategi sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf d. realistis. huruf b. merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan sesuai tugas dan fungsi. dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran program yang ditetapkan dalam RPJMD. misi. g. Pasal 84 RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah provinsi dan Peraturan Daerah kabupaten/kota menjadi pedoman penetapan Renstra SKPD dan penyusunan RKPD. visi. tujuan. untuk mencapai tujuan dalam rangka melaksanakan misi untuk mewujudkan visi SKPD. (3) Misi SKPD sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf b. (6) Kebijakan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf e. b. strategi. dalam melaksanakan strategi untuk mencapai tujuan Renstra SKPD. . dibatalkan oleh Presiden berdasarkan usulan Gubernur melalui Menteri Dalam Negeri. dilengkapi dengan sasaran yang terukur dan dapat dicapai dalam periode yang direncanakan. sesuai dengan tugas dan fungsi yang sejalan dengan pernyataan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam RPJMD. c. (4) Tujuan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf c. serta digunakan sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. huruf d dan huruf e. (2) Visi SKPD sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf a. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. strategi dan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1) huruf a. kebijakan. misi. tujuan.. dalam rangka mewujudkan visi SKPD. disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif Pasal 86 (1) Visi. f.

dan akan dilaksanakan secara simultan dengan program SKPD lainnya. dan penetapan Renstra SKPD. dapat berupa program SKPD. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi sesuai dengan tugas dan fungsi. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi. merupakan satu atau lebih kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi. merupakan bagian dari program yang memuat sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya sebagai masukan (input). sesuai dengan ketentuan Pasal 87 (1) Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (7). Bagian Kedua Penyusunan RENSTRA SKPD Pasal 89 (1) SKPD menyusun Renstra SKPD. untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Pasal 88 (1) Pencapaian sasaran program SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1). untuk mencapai sasaran dan tujuan sesuai tugas dan fungsi SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah.31 (7) Program sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf f. mempertimbangkan pencapaian SPM yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 85 ayat (2). (2) Dalam hal SPM belum tersedia. c. yang akan dilaksanakan oleh 1 (satu) SKPD. merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dirumuskan. untuk mencapai keberhasilan pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan daerah yang ditetapkan pada satu atau beberapa wilayah atau kawasan. d. (8) Kegiatan sebagaimana Pasal 85 ayat (1) huruf g. atau program kewilayahan. b. penyusunan rancangan Renstra SKPD. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Program lintas SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). perumusan sasaran program disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan dan kemampuan SKPD. (4) Program kewilayahan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . penyusunan rancangan akhir Renstra SKPD.. (9) Tugas dan fungsi sebagaimana Pasal peraturan perundang-undangan. program lintas SKPD. (2) Program SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan akan dilaksanakan secara simultan dengan program SKPD lainnya. persiapan penyusunan Renstra SKPD.

b. untuk provinsi mencakup: a. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan RENSTRA SKPD Pasal 91 Penyusunan rancangan Renstra SKPD. analisis gambaran pelayanan SKPD provinsi. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. orientasi mengenai Renstra SKPD. h. l. penyusunan agenda kerja tim penyusun Renstra SKPD. d.. review renstra kementerian/lembaga dan Renstra SKPD kabupaten/kota. perumusan isu-isu strategis. mempelajari surat edaran Gubernur perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD provinsi beserta lampirannya. j. e. Perumusan rancangan Renstra SKPD. dan Penyajian rancangan Renstra SKPD. dan n. perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD provinsi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. g. perumusan rencana program. analisis terhadap dokumen hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) huruf b. pengolahan data dan informasi. pelaksanaan forum SKPD provinsi. b. untuk kabupaten/kota mencakup: . perumusan indikator kinerja SKPD provinsi yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD provinsi. termasuk lokasi kegiatan. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun Renstra SKPD. f. m. penelaahan RTRW provinsi. yaitu rancangan awal RPJMD provinsi yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD provinsi. kegiatan.32 Paragraf 1 Persiapan Penyusunan Renstra SKPD Pasal 90 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) huruf a. (2) Perumusan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a. perumusan visi dan misi SKPD provinsi. i. b. melalui tahapan sebagai berikut: a. k. perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD provinsi guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD provinsi yang menjadi tugas dan fungsi SKPD provinsi. c. indikator kinerja. d. Pasal 92 (1) Perumusan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a. perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD provinsi. c. meliputi: a.

. f. penelaahan RTRW kabupaten/kota. perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. indikator kinerja. c. m. misi. dibahas dengan seluruh unit kerja dilingkungan SKPD untuk dibahas bersama dengan pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan dalam forum SKPD. f. b.. strategi dan kebijakan. perumusan indikator kinerja SKPD kabupaten/kota yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. d. pendahuluan. perumusan visi dan misi SKPD kabupaten/kota. pengolahan data dan informasi. e. review renstra kementerian/lembaga dan Renstra SKPD provinsi. l. gambaran pelayanan SKPD. dan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. indikator kinerja. e. perumusan isu-isu strategis. guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD kabupaten/kota yang menjadi tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. c. analisis gambaran pelayanan SKPD kabupaten/kota. Pasal 93 Penyajian rancangan Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf b. d. (2) Rancangan Renstra SKPD yang telah disusun.33 a. perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. yaitu rancangan awal RPJMD kabupaten/kota yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD kabupaten/kota. g. tujuan dan sasaran. pelaksanaan forum SKPD kabupaten/kota. mempelajari surat edaran Bupati/Walikota perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD kabupaten/kota beserta lampirannya. (3) Pembahasan dengan pemangku kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). h. termasuk lokasi kegiatan. (3) Perumusan rancangan Renstra SKPD merupakan proses yang tidak terpisahkan dan dilakukan bersamaan dengan tahap perumusan rancangan awal RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. analisis terhadap dokumen hasil kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. perumusan rencana program. dan n. perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD kabupaten/kota. visi. kegiatan. bertujuan untuk memperoleh masukan dalam rangka penajaman pencapaian sasaran program dan kegiatan pelayanan SKPD. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. kegiatan. b. i. Pasal 94 (1) Penyusunan rancangan Renstra SKPD berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1). k. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. j. isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi. rencana program.

(2) Dengan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). strategi. Bappeda melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD. Paragraf 4 Penetapan Renstra SKPD Pasal 97 (1) Rancangan akhir Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. (8) Penetapan Renstra SKPD oleh kepala SKPD paling lama 7 (tujuh) hari setelah Renstra SKPD disahkan oleh kepala daerah. (2) Rancangan akhir Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Apabila dalam verifikasi ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. (4) Bappeda menghimpun seluruh rancangan akhir Renstra SKPD yang telah diteliti melalui verifikasi akhir. yang berpedoman pada RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84. (6) Berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pengesahan Renstra SKPD. tujuan. kebijakan. program. (7) Pengesahan rancangan akhir Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah. kepada kepala Bappeda. hasil penyempurnaan rancangan renstra SKPD disampaikan kembali oleh kepala SKPD kepada kepala Bappeda paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. Paragraf 3 Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD Pasal 96 (1) Penyusunan rancangan akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan rancangan Renstra SKPD. kebijakan. misi. paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat edaran kepala daerah diterima. (5) Pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). program dan kegiatan pembangunan daerah sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang ditetapkan dalam RPJMD. sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. paling lama 1 (satu) bulan setelah Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan. (2) Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bertujuan untuk mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan. kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD. strategi. dan keterpaduan dengan rancangan akhir Renstra SKPD lainnya. harus dapat menjamin kesesuaian visi. disampaikan kepala SKPD kepada kepala Bappeda untuk memperoleh pengesahan kepala daerah. untuk diajukan kepada kepala daerah guna memperoleh pengesahan. ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. dan kegiatan SKPD dengan RPJMD..34 Pasal 95 (1) Kepala SKPD menyampaikan rancangan Renstra SKPD yang telah dibahas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2). diverifikasi akhir oleh Bappeda. (3) Verifikasi akhir sebagaimana dimaksud pada ayat (2). .

memuat gambaran kondisi ekonomi. b. c. (2) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana kerja. yang bersumber dari APBD maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. pendanaan dan prakiraan maju. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. memuat program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah. melibatkan peran serta masyarakat baik dalam bentuk dana. Pasal 100 (1) Rancangan kerangka ekonomi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1) huruf a. (2) Rencana kerja. mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif. (4) Sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat Pasal 99 ayat (2). program dan kegiatan pemerintah daerah yang didanai APBD dalam pencapaian sasarannya. (2) Program prioritas pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1) huruf b. persiapan penyusunan RKPD. rancangan kerangka ekonomi daerah. program prioritas pembangunan daerah. material maupun sumber daya manusia dan teknologi.35 Bagian Ketiga Penyusunan Rancangan Renstra Kecamatan Pasal 98 Tahapan dan tata cara penyusunan renstra kecamatan atau sebutan lain mutatis mutandis dengan penyusunan Renstra SKPD. pendanaan dan prakiraan maju sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. yaitu kebijakan. . dan perkiraan untuk tahun yang direncanakan. memuat: a. disertai perhitungan kebutuhan dana bersumber dari APBD untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan.. kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah paling sedikit 2 (dua) tahun sebelumnya. memuat program-program yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan sebagai penjabaran dari RPJMD pada tahun yang direncanakan. BAB VII RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 99 (1) RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d. Bagian Kedua Penyusunan RKPD Pasal 101 (1) Bappeda menyusun RKPD. (3) Rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif yang bersumber dari APBD Pasal 99 ayat (2).

mencakup dua wilayah provinsi atau lebih. dan rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah provinsi dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. dilakukan melalui penyelarasan: a. b. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD. orientasi mengenai RKPD. prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. d.36 b. . dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi dengan prioritas pembangunan nasional. a. meliputi: a. b. e. penyusunan agenda kerja tim penyusun RKPD. c. Pasal 104 (1) Berpedoman pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) huruf a. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Awal RKPD Pasal 103 (1) Rancangan awal RKPD provinsi disusun: a. dan mengacu pada RPJMN.. pelaksanaan musrenbang RKPD. mengacu pada RPJMD provinsi. c. perumusan rancangan akhir RKPD. dan mengacu pada RPJMN. f. wilayah perbatasan antar provinsi dan/atau wilayah perbatasan antar negara. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan RKPD Pasal 102 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf a. berpedoman pada RPJMD provinsi. (2) Rancangan awal RKPD kabupaten/kota disusun: (2) Mengacu pada RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) huruf b. d. dan penetapan RKPD. b. b. penyusunan rancangan awal RKPD. penyusunan rancangan RKPD. c. berpedoman pada RPJMD kabupaten/ kota. (3) program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah. perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. h. pelaksanaan forum konsultasi publik. perumusan rancangan awal RKPD. b. c. rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah kabupaten/kota dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. dan penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif. untuk provinsi mencakup: a. d. dan b. Pasal 107 (1) Perumusan rancangan awal RKPD. huruf a. pengolahan data dan informasi. dan penyajian rancangan awal RKPD. evaluasi kinerja tahun lalu. j. dan wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf b. b. analisis gambaran umum kondisi daerah. l. untuk kabupaten/kota mencakup: a. Pasal 106 Penyusunan rancangan awal RKPD. (2) Mengacu pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2). (4) Mengacu pada RPJMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2) huruf c. perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD provinsi. analisis gambaran umum kondisi daerah.. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a. mencakup dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah. e. dilakukan melalui penyelarasan: a. prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah. (3) Program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). huruf a. g. terdiri atas: a. analisis ekonomi dan keuangan daerah. b. f. k. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan prioritas pembangunan nasional. . i.37 Pasal 105 (1) Berpedoman pada RPJMD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2). pengolahan data dan informasi. dilakukan melalui penyelarasan program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan pembangunan provinsi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a. (2) Perumusan rancangan awal RKPD.

Paragraf 3 Penyusunan Rancangan RKPD Pasal 111 Penyusunan rancangan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf c. perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah. c. g. l. dan rencana program prioritas daerah. pelaksanaan forum SKPD dan musrenbang RKPD. d. pendahuluan. b. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. untuk memperoleh masukan penyempurnaan rancangan awal. e. Pasal 110 (1) Kepala Bappeda menyiapkan surat edaran kepala daerah kepada kepala SKPD perihal penyampaian rancangan awal RKPD yang sudah dibahas dalam forum konsultasi publik. prioritas dan sasaran pembangunan. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. sebagai bahan penyusunan rancangan Renja SKPD. perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah.. h. dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD dan dikonsultasikan dengan publik. f. k. d.38 c. analisis ekonomi dan keuangan daerah. merupakan proses penyempurnaan rancangan awal RKPD menjadi rancangan RKPD berdasarkan hasil verifikasi Renja SKPD. j. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD kabupaten/kota. . pelaksanaan forum konsultasi publik. Pasal 108 Penyajian rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf b. (2) Konsultasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 109 (1) Rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. e. perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta pagu indikatif. (2) Surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat agenda penyusunan RKPD. i. sekaligus batas waktu penyampaian rancangan Renja SKPD kepada kepala Bappeda untuk dilakukan verifikasi. perumusan program prioritas beserta pagu indikatif. dan penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif. evaluasi kinerja tahun lalu.

pendahuluan. hasil penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota disampaikan kembali kepada kepala Bappeda kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. dilakukan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. kegiatan. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Apabila dalam verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 113 (2) Rancangan awal RKPD kabupaten/kota disempurnakan menjadi rancangan RKPD kabupaten/kota berdasarkan hasil verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. e. Pasal 114 (1) Rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. mengintegrasikan program. prioritas dan sasaran pembangunan. 112 ayat (1). (2) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. disajikan dengan sistematika sebagai berikut: a. indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD provinsi sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD provinsi. (4) Apabila dalam verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c. pendahuluan. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RKPD provinsi. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. b. . c.. mengintegrasikan program. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. hasil penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi disampaikan kembali kepada kepala Bappeda provinsi paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak verifikasi dilakukan. d. rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan. indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD kabupaten/kota. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu. dilakukan berpedoman pada surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. (2) Bappeda mengajukan rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kegiatan. ditemukan hal-hal yang perlu disempurnakan. dan rencana program dan kegiatan prioritas daerah.39 Pasal 112 (1) Rancangan awal RKPD provinsi disempurnakan menjadi rancangan RKPD provinsi berdasarkan hasil verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD provinsi. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 115 (1) Rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1).

prioritas dan sasaran pembangunan. program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah provinsi dengan arah kebijakan. dan sinergi dengan RKP. diselesaikan paling lama minggu kedua pada bulan Maret. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). indikator dan target kinerja program dan kegiatan pembangunan provinsi. diselesaikan paling lama minggu kedua pada bulan April. . dapat diundang menjadi narasumber musrenbang RKPD provinsi.40 d. Pasal 118 (1) Musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan untuk penajaman. d. terdiri dari: a.. pejabat dari kementerian/lembaga ditingkat pusat. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (2). dan rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (4) Pimpinan atau anggota DPRD provinsi. (3) Musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Bappeda provinsi. usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah provinsi pada musrenbang RKPD kabupaten/kota dan/atau sebelum musrenbang RKPD provinsi dilaksanakan. c. c. (2) Penajaman. dan pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan. pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota. b. (2) Penyusunan rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (1). penyelarasan. prioritas dan sasaran pembangunan nasional serta usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota. mencakup: a. (2) Bappeda mengajukan rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pejabat SKPD provinsi atau dari unsur lain terkait. pelaksanaan musrenbang RKPD provinsi. b. (5) Hasil musrenbang RKPD provinsi dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri musrenbang. penyelarasan. e. kepada kepala daerah untuk memperoleh persetujuan dibahas dalam musrenbang RKPD kabupaten/kota. Pasal 116 (1) Penyusunan rancangan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (1). prioritas pembangunan daerah serta rencana kerja dan pendanaan. e. Paragraf 4 Pelaksanaan Musrenbang RKPD Pasal 117 Pelaksanaan Musrenbang RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2) huruf d.

pejabat SKPD provinsi dan pejabat SKPD kabupaten/kota atau dari unsur lain terkait. klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (2). indikator kinerja program dan kegiatan prioritas daerah kabupaten/kota. mencakup: a. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilaksanakan paling lama minggu ketiga bulan April. (5) Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. . dan sinergi dengan RKP dan RKPD provinsi. dilaksanakan paling lama akhir bulan Maret. b. dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD provinsi. (2) Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (5). c. dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota dan bahan masukan untuk membahas rancangan RKPD provinsi dalam musrenbang RKPD provinsi. (3) Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Bappeda kabupaten/kota. Pasal 120 (1) Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan untuk penajaman. dikoordinasikan Bappeda provinsi dengan kementerian/lembaga terkait guna dibahas dalam forum musrenbangnas. e. (4) Pimpinan atau anggota DPRD kabupaten/kota. prioritas dan sasaran pembangunan daerah kabupaten/kota dengan arah kebijakan. (3) Program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi yang perlu diintegrasikan dengan program dan kegiatan pembangunan yang menjadi kewenangan pemerintah sesuai dengan berita acara kesepakatan musrenbang RKPD provinsi. Pasal 121 (1) Pelaksanaan musrenbang RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120. (2) Penajaman. dapat diundang menjadi narasumber musrenbang RKPD kabupaten/kota. (2) Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (5). penyelarasan.. prioritas pembangunan daerah serta program dan kegiatan prioritas daerah. pejabat dari kementerian/lembaga ditingkat pusat. usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah daerah kabupaten/kota pada musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dan/atau sebelum musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan. prioritas dan sasaran pembangunan daerah provinsi. d. penyelarasan.41 Pasal 119 (1) Pelaksanaan musrenbang RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118.

42 Pasal 122 (1) Musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 huruf c. dan pengelompokan kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. yang diintegrasikan dengan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan. musrenbang RKPD provinsi dan musrenbangnas RKP. berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD provinsi dan musrenbangnas RKP. penyelarasan. (2) Penajaman. Pasal 124 (1) Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan. Paragraf 5 Perumusan Rancangan Akhir RKPD Pasal 125 (1) Perumusan rancangan akhir RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 huruf e. dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan rancangan renja SKPD kabupaten/kota. usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan yang tertuang dalam berita acara musrenbang desa/kelurahan yang akan menjadi kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang bersangkutan. klarifikasi dan kesepakatan usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan. . Pasal 123 (1) (2) (3) Pelaksanaan musrenbang kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 122. b. kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang belum tercakup dalam prioritas kegiatan pembangunan desa. penyelarasan. c.. dituangkan dalam berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang. setelah berkoordinasi dengan kepala Bappeda kabupaten/kota. (2) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilaksanakan untuk penajaman. (2) Perumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 huruf e. Untuk efisiensi dan efektifitas musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dapat diselenggarakan dengan menggabungkan penyelenggaraan beberapa musrenbang kecamatan di kecamatan tertentu yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota. dilaksanakan paling lama minggu ke dua pada bulan Februari. berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota. Penyelenggaraan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dilaksanakan oleh camat. klarifikasi dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kegiatan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan mengacu pada program dalam rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110. mencakup: a.

. dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Penyelesaian rumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 ayat (1). Pasal 130 (1) RKPD provinsi yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 ayat (1). (3) RKPD sebagai landasan penyusunan KUA dan PPAS dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 6 Penetapan RKPD Pasal 129 (1) RKPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Gubernur setelah RKP ditetapkan. dibahas oleh seluruh kepala SKPD kabupaten/kota. memastikan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD provinsi telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD provinsi. memastikan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD kabupaten/kota telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD kabupaten/kota. (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) RKPD kabupaten/kota yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 ayat (2). (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) RKPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota setelah RKPD provinsi ditetapkan. paling lambat pada akhir bulan Mei. paling lambat pada pertengahan bulan Mei. Pasal 131 (1) Gubernur menyampaikan Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. Pasal 128 (1) Penyelesaian rumusan rancangan akhir RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 ayat (1). dibahas oleh seluruh kepala SKPD provinsi. disampaikan bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang APBD provinsi. dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi dan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota.. Pasal 127 (1) Rancangan akhir RKPD kabupaten/kota yang telah dirumuskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 ayat (2).43 Pasal 126 (1) Rancangan akhir RKPD provinsi yang telah dirumuskan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125 ayat (1).

e. Pasal 133 (1) RKPD yang telah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah digunakan sebagai bahan evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang APBD. dan indikator kinerja kegiatan yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif masukan. BAB VIII RENCANA KERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 134 Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e. disampaikan bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang APBD kabupaten/kota. (2) Lokasi kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf b. memuat penjelasan terhadap karakteristik kelompok sasaran yang memperoleh manfaat langsung dari hasil kegiatan. merupakan lokasi atau tempat dari setiap kegiatan yang akan dilaksanakan seperti nama desa/kelurahan. (2) Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. kecamatan. kelompok sasaran. guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui untuk setiap program dan kegiatan. keluaran yang akan dicapai dari kegiatan. memuat: a. memuat kebutuhan dana untuk tahun berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. untuk memastikan APBD telah disusun berlandaskan RKPD. indikator kinerja. . gender dan yang kelompok masyarakat rentan termarginalkan. (3) Indikator kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf c. (5) Prakiraan maju sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf e. indikator kinerja program yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif hasil yang akan dicapai dari program. dan pagu indikatif dan prakiraan maju Pasal 135 (1) Program dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf a. b. program dan kegiatan. terdiri dari: a. b. profesi. c. meliputi program dan kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan alternatif atau baru. lokasi kegiatan. (2) RKPD digunakan sebagai bahan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). seperti kelompok masyarakat berdasarkan status ekonomi..44 Pasal 132 (1) Bupati/Walikota menyampaikan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang RKPD kabupaten/kota kepada Gubernur. (4) Kelompok sasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 huruf d.

yaitu program dan kegiatan satu tahun sebelum tahun yang direncanakan yang tercantum dalam Renstra SKPD. dan/atau dilakukan jika kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya belum memberikan keluaran dan hasil yang sesuai dengan sasaran Renstra SKPD. d. adanya kebijakan pemerintah yang menjadi prioritas nasional yang mendukung percepatan pembangunan daerah. Paragraf 2 Penyusunan Rancangan Renja SKPD Pasal 139 Rancangan Renja SKPD provinsi dan kabupaten/kota disusun: . penyusunan rancangan Renja SKPD. yaitu program dan kegiatan SKPD. Paragraf 1 Persiapan Penyusunan Renja SKPD Pasal 138 Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2) huruf a. penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun Renja SKPD. c. c. yaitu program dan kegiatan yang tidak tercantum pada Renstra SKPD dengan kriteria sebagai berikut: a. pelaksanaan forum SKPD. disusun dengan tahapan sebagai berikut: a..45 Pasal 136 (1) Program dan kegiatan yang sedang berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). tidak bisa ditunda karena dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah maupun masyarakat. (2) Program dan kegiatan alternatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). (2) Renja SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). meliputi: a. persiapan penyusunan Renja SKPD. b. c. (3) Program dan kegiatan baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1). dalam rangka mempercepat capaian target sasaran Renstra SKPD. penyusunan agenda kerja tim penyusun Renja SKPD. d. dan penetapan Renja SKPD. Bagian Kedua Penyusunan Renja SKPD Pasal 137 (1) SKPD menyusun Renja SKPD. b. b. dan penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. orientasi mengenai Renja SKPD. lintas SKPD dan kewilayahan yang berdasarkan analisis perlu dilakukan pergeseran pelaksanaannya atas pertimbangan mempunyai dampak mempercepat pencapaian sasaran pembangunan daerah. d.

lokasi kegiatan serta prakiraan maju berdasarkan program prioritas rancangan awal RKPD yang disusun ke dalam rancangan Renja SKPD. h. sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD. (3) Hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf c. Pasal 142 (1) Perumusan rancangan Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a. sasaran. dan 141 . untuk provinsi mencakup: a.. lokasi kegiatan serta prakiraan maju dalam rancangan Renja SKPD dapat menjawab berbagai isuisu penting terkait dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD. b. perumusan tujuan dan sasaran. kegiatan. penentuan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD provinsi. b. menjadi acuan perumusan program. mereview hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD provinsi. kegiatan. pengolahan data dan informasi. Pasal 140 (1) Rancangan awal RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf a. Perumusan rancangan Renja SKPD. terdiri atas: a. persiapan penyusunan rancangan Renja SKPD provinsi. selaras dengan Renstra SKPD. menjadi acuan perumusan tujuan. (5) Usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf e. c. e. g. b. kelompok sasaran. dan berdasarkan usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat. menjadi acuan perumusan kegiatan dalam rancangan Renja SKPD mengakomodir usulan masyarakat yang selaras dengan program prioritas yang tercantum dalam rancangan awal RKPD. indikator kinerja dan dana indikatif dalam Renja SKPD. menjadi acuan penyusunan tujuan. kegiatan. analisis gambaran pelayanan SKPD provinsi. menjadi acuan perumusan kegiatan alternatif dan/atau baru untuk tercapainya sasaran Renstra SKPD berdasarkan pelaksanaan Renja SKPD tahun-tahun sebelumnya. f. e. mengacu pada rancangan awal RKPD. mengacu pada Renstra SKPD. penelaahan usulan masyarakat. dan Penyajian rancangan Renja SKPD. untuk memecahkan masalah yang dihadapi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2). d. (4) Masalah yang dihadapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf d. penelaahan rancangan awal RKPD provinsi. c. sasaran. Pasal 141 Penyusunan rancangan Renja SKPD. d. (2) Renstra SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 huruf b. kelompok sasaran.46 a. mengacu pada hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya.

penentuan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. untuk kabupaten/kota mencakup: a. b. sumber dana yang dibutuhkan untuk menjalankan program dan kegiatan. analisis gambaran pelayanan SKPD kabupaten/kota. mereview hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD kabupaten/kota. 141 (2) Perumusan rancangan Renja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a. penelaahan usulan masyarakat. d. dan perumusan kegiatan prioritas. perumusan kegiatan prioritas. g. perumusan tujuan dan sasaran. tujuan. mencakup: a. dana indikatif beserta sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif.47 i. persiapan penyusunan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. h.. b. dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: a. g. dan penutup. . penelaahan rancangan awal RKPD kabupaten/kota. c. dalam forum SKPD provinsi. Pasal 144 (1) Rancangan Renja SKPD provinsi dibahas dalam forum SKPD provinsi. f. b. penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. (2) Rancangan Renja kabupaten/kota. pendahuluan. pengolahan data dan informasi. Pasal 143 Penyajian rancangan Renja RKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 huruf b. i. e. f. indikator kinerja dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra SKPD. e. d. penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kabupaten/kota. (2) Pembahasan rancangan Renja RKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu. SKPD kabupaten/kota dibahas dalam forum SKPD Paragraf 3 Pelaksanaan Forum SKPD Pasal 145 (1) Bappeda mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renja RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). program dan kegiatan. c. sasaran.

dan pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi. d. dalam forum SKPD kabupaten/kota. penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD provinsi dalam rangka sinergi pelaksanaan dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD provinsi. (2) Pimpinan atau anggota komisi DPRD provinsi yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. Pasal 146 (1) Bappeda mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renja RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (2). sesuai dengan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2). (3) Forum SKPD provinsi dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa SKPD provinsi sekaligus dalam satu forum dengan mempertimbangkan tingkat urgensi. SKPD kabupaten/kota. dapat diundang menjadi narasumber dalam pembahasan forum SKPD. efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan. dan penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu indikatif untuk masing-masing SKPD kabupaten/kota. (4) Penyelenggaraan forum SKPD provinsi dilaksanakan paling lama minggu terakhir bulan Maret. d. dan ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD provinsi. b. Pasal 147 (1) Peserta forum SKPD provinsi antara lain terdiri dari SKPD provinsi. (2) Kepala SKPD provinsi menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 148 (1) Berita acara kesepakatan hasil forum SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (5). c.. penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD kabupaten/kota dalam rangka sinergi pelaksanaan dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD kabupaten/kota. dan penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu indikatif untuk masing-masing SKPD provinsi. kepada kepala Bappeda provinsi sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD provinsi menjadi rancangan RKPD provinsi.48 c. penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kecamatan. (5) Hasil kesepakatan pembahasan forum SKPD provinsi dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan hasil forum SKPD provinsi. dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan Renja SKPD provinsi. . mencakup: a. (2) Pembahasan rancangan Renja RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai dengan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2).

disampaikan kepada kepala Bappeda provinsi untuk diverifikasi. (2) Pimpinan atau anggota komisi DPRD kabupaten/kota yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. serta pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. paling lambat minggu pertama bulan Maret. (2) Kepala SKPD provinsi menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). .49 (3) Penyampaian rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Paragraf 4 Penetapan Renja SKPD Pasal 151 (1) Kepala SKPD provinsi menyempurnakan rancangan Renja SKPD provinsi dengan berpedoman pada RKPD provinsi yang telah ditetapkan. dapat diundang menjadi narasumber dalam pembahasan forum SKPD. (2) Rancangan Renja SKPD provinsi yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 152 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota menyempurnakan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota dengan berpedoman pada RKPD kabupaten/kota yang telah ditetapkan.. kepada kepala Bappeda provinsi sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD provinsi menjadi rancangan RKPD provinsi. (5) Hasil kesepakatan pembahasan forum SKPD dirumuskan ke dalam berita acara kesepakatan hasil forum SKPD kabupaten/kota. dan ditandatangai oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD kabupaten/kota. dijadikan bahan penyempurnaan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota. (3) Penyampaian rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 149 (1) Peserta forum SKPD kabupaten/kota antara lain terdiri dari wakil peserta musrenbang kecamatan dan SKPD lainnya. efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan. (4) Penyelenggaraan forum SKPD kabupaten/kota dilaksanakan paling lama minggu terakhir bulan Februari. Pasal 150 (1) Berita acara kesepakatan hasil forum SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (5). (4) Kepala Bappeda menyampaikan rancangan Renja SKPD provinsi yang telah sesuai dengan RKPD provinsi kepada Gubernur untuk memperoleh pengesahan. (3) Forum SKPD kabupaten/kota dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa SKPD kabupaten/kota sekaligus dalam satu forum dengan mempertimbangkan tingkat urgensi. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). paling lambat minggu pertama bulan April. memastikan rancangan Renja SKPD provinsi telah sesuai dengan RKPD provinsi.

b. perencanaan (3) Bupati/Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota. Konsistensi antara kebijakan pembangunan daerah. (2) Penetapan Keputusan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) minggu setelah RKPD provinsi ditetapkan. ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Keputusan Walikota. c. d. Konsistensi antara RPJMD dengan RPJPD dan RTRW daerah. (4) Kepala Bappeda menyampaikan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota yang telah sesuai dengan RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota untuk memperoleh pengesahan. Pasal 154 (1) Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 ayat (4). . memastikan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota telah sesuai dengan RKPD kabupaten/kota. ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. e. (2) Penetapan Keputusan Bupati/Keputusan Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua) minggu setelah RKPD kabupaten/kota ditetapkan. disampaikan kepada kepala Bappeda kabupaten/kota untuk diverifikasi. (2) Gubernur melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan daerah lingkup provinsi. BAB IX PENGENDALIAN DAN EVALUASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Pertama Umum Pasal 155 Pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah bertujuan untuk mewujudkan: a.50 (2) Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antarkabupaten/kota. Pasal 156 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).. dengan pelaksanaan dan hasil rencana Konsistensi antara RPJPD dengan RPJPN dan RTRW nasional. Pasal 153 (1) Rancangan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam dalam Pasal 151 ayat (4). Konsistensi antara RKPD dengan RPJMD. dan Kesesuaian antara capaian pembangunan daerah dengan indikator-indikator kinerja yang telah ditetapkan.

(3) Lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3). arah. dan Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah. c. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah provinsi. meliputi: a. mencakup pembangunan daerah pada wilayah kabupaten/kota dalam jangka waktu tertentu. mencakup pembangunan daerah provinsi. Pasal 160 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159.. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi lainnya rencana pembangunan jangka panjang daerah. (2) Lingkup provinsi. kebijakan dan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang nasional. misi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. mencakup pembangunan daerah pada satu provinsi atau lebih dalam jangka waktu tertentu. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (2). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD provinsi masing-masing yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 1 Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 159 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. Pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. selaras dengan RTRW provinsi lainnya. Pasal 158 Pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155. b. Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pembangunan daerah. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . selaras dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi masing-masing.51 Pasal 157 (1) Antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (1). b. visi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. arah. misi. mencakup perumusan visi dan misi serta serta sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. c. d. jangka menengah dan tahunan daerah. kabupaten/kota dan antarkabupaten/kota pada wilayah provinsi dalam jangka waktu tertentu. selaras dengan visi.

dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD provinsi. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD provinsi masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kebijakan. harus dapat menjamin perumusan: a. kebijakan umum dan program.. pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lainnya. serta prioritas pembangunan nasional. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tujuan. . kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. c. selaras dengan visi. sasaran. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. program pembangunan jangka menengah daerah. arah. Pasal 162 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 mencakup perumusan visi. kebijakan. kebijakan umum. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah provinsi. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah provinsi lainnya.52 e. misi. visi. misi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tujuan. dan indikator kinerja daerah. kebijakan. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. kondisi. prioritas pembangunan jangka panjang daerah provinsi. Pasal 161 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. visi. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. g. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. selaras dengan b. f. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. selaras dengan arah. d. misi. sasaran. strategi dan arah kebijakan. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. misi. kebijakan. telah mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi masing-masing. tujuan dan sasaran. dan karakteristik daerah. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah provinsi berkenaan. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. (3) Dalam hal evaluasi hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

d. sesuai dengan prioritas pembangunan nasional terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah provinsi atau lebih. . (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi berkenaan.53 e. Pasal 163 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. Pasal 164 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. maupun pada wilayah perbatasan antar provinsi/negara. f. e. b. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD provinsi. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD provinsi. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD provinsi masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi masing-masing. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi masing-masing. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah provinsi masing-masing. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD provinsi.. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi. c. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan nasional. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengacu pada RPJMN dan memperhatikan RTRW provinsi lainnya. mencakup perumusan prioritas dan sasaran serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 162 ayat (4). sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi masing-masing. harus dapat menjamin perumusan: a. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD provinsi.

telah dilaksanakan melalui RPJMD provinsi masing-masing. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 168 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD antarprovinsi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RPJMD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).54 (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (1). sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.. RPJMD dan RKPD. meliputi pelaksanaan RPJPD. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat pemantauan dan supervisi dalam pelaksanaan RPJPD. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (4). kepada Menteri Dalam Negeri. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (4). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD telah berpedoman pada RPJMD provinsi masing-masing dan mengacu pada RKP. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. . (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tujuan dan sasaran RPJMD provinsi masing-masing. Pasal 165 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarprovinsi. Pasal 167 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. misi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan. Paragraf 2 Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 166 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. misi.

kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta pagu indikatif. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi masing-masing. harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. b. harus dapat menjamin: a. Pasal 171 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. Pasal 170 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD antarprovinsi. lokasi. (4) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD provinsi. telah dilaksanakan melalui RKPD provinsi masingmasing. Pasal 172 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD antarprovinsi. PPAS dan APBD provinsi masing-masing. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD provinsi.55 Pasal 169 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah provinsi masing-masing. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. . dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. telah disusun kedalam rancangan KUA. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKPD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). program pembangunan jangka menengah daerah. PPAS dan APBD provinsi masingmasing.. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah.

dilakukan untuk memastikan bahwa visi. Menteri Dalam Negeri menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Gubernur. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RPJPD dan/atau RPJMD periode berikutnya. Pasal 176 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD antarprovinsi. Paragraf 3 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Antarprovinsi Pasal 173 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c meliputi RPJPD. digunakan untuk mengetahui: a. digunakan untuk mengetahui: .. mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RPJPD provinsi masing-masing.56 (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 171 pada ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. b. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah provinsi. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. Pasal 174 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan RPJPD provinsi masingmasing dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional. tujuan dan sasaran. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD antarprovinsi. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Gubernur menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Dalam Negeri. RPJMD dan RKPD. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD provinsi dengan capaian sasaran RPJMD provinsi masing-masing. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD antarprovinsi. misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi masing-masing dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional.

b. disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RKPD periode berikutnya. dan pembangunan jangka menengah nasional. digunakan untuk mengetahui: a. dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN. misi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).57 a. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). . realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD provinsi. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD antarprovinsi. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD provinsi masing-masing. dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi masing-masing. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dapat dicapai dalam rangka mewujudkan sasaran jangka menengah daerah provinsi dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. Pasal 179 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD antarprovinsi. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan penyusunan RPJMD dan/atau RKPD periode berikutnya. b. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2).. Pasal 177 (1) Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJMD antarprovinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD provinsi masing-masing. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (5) Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan hasil evaluasi RKPD provinsi masingmasing. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD provinsi dengan laporan realisasi APBD provinsi masing-masing. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dengan capaian indikator kinerja program dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD provinsi masing-masing. Pasal 178 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD antarprovinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173.

Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. Pasal 181 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. RPJPD memperhatikan RTRW provinsi lainnya. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. jangka menengah dan tahunan daerah. f. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah provinsi. b. c. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). prioritas pembangunan jangka panjang daerah provinsi. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD provinsi. . misi. misi. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi kepada Gubernur. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. arah. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kebijakan dan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang nasional. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah provinsi. telah mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. selaras dengan visi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi lainnya. arah. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. visi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.58 Paragraf 4 Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi.. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi. Pasal 182 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW provinsi. g. e. harus dapat menjamin perumusan: a. selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang nasional. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 180 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah lingkup provinsi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. d.

selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. Pasal 183 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota. selaras dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota masing-masing. misi. . arah. Pasal 184 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. g.. harus dapat menjamin perumusan: a. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). f. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional. mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD kabupaten/kota. b. selaras dengan visi. d. c. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. telah mengacu pada RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota masing-masing serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. (2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah antarkabupaten/kota menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota berkenaan. arah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tahapan. e. selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota lainnya. prioritas pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. sebagai lampiran dari surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf c.59 (4) Gubernur menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. visi. rencana pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan RTRW kabupaten/kota lainnya. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. sasaran pokok dan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. misi.

harus dapat menjamin perumusan: a. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. indikator kinerja. Pasal 187 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi. indikator kinerja SKPD provinsi. mencakup kebijakan perencanaan strategis SKPD dan RPJMD Provinsi. visi dan misi SKPD provinsi. f.. berpedoman pada visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 186 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. d. Pasal 186 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD provinsi.60 (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. berpedoman pada strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renstra SKPD provinsi ditetapkan. kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). indikator kinerja. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). berpedoman pada kebijakan umum dan program pembangunan serta program prioritas jangka menengah daerah serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. strategi dan kebijakan. berpedoman pada indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. telah berpedoman pada RPJMD provinsi serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. rencana program dan kegiatan SKPD provinsi. dan pentahapan pelaksanaan program SKPD. . kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. rencana program dan kegiatan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 185 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. berpedoman pada tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. mencakup perumusan visi dan misi. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sesuai dengan pentahapan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. b. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. c. e. strategi dan kebijakan SKPD provinsi.

kebijakan. sasaran. misi. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi. mengacu pada RPJMN dan memperhatikan RTRW provinsi lainnya. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah provinsi. Kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. Pasal 188 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan strategik SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 187 ayat (3).61 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pengendalian dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan karakteristik daerah. Pasal 189 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 mencakup perumusan visi dan misi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. arah. serta prioritas pembangunan nasional. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. program pembangunan jangka menengah daerah. visi. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. selaras dengan visi. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD provinsi. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN. d. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah provinsi lainnya. kebijakan umum dan program. selaras dengan b. selaras dengan arah. sasaran. tujuan. kebijakan umum. f. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. c. visi. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. . strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah provinsi. kebijakan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah.. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW provinsi. kondisi. strategi dan arah kebijakan. e. dan indikator kinerja daerah. misi. kebijakan. pemanfaatan struktur dan pola ruang provinsi lainnya. sesuai dengan kewenangan. misi. tujuan. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. kebijakan.

digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. selaras pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lainnya. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 191 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota lainnya. strategi dan arah kebijakan. telah berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota masing-masing. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). visi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. dan indikator kinerja daerah. sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD kabupaten/kota. kebijakan. kebijakan.62 Pasal 190 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi. sebagai lampiran dari surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2) huruf c. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. e. (4) Gubernur menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah provinsi kepada Gubernur. f. mencakup perumusan visi dan misi. kondisi. kebijakan. program pembangunan jangka menengah daerah. c. sasaran. serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota masing-masing. dan karakteristik daerah. arah. kebijakan umum dan program. mengacu pada RPJMD dan memperhatikan RTRW kabupaten/kota lainnya. tujuan. misi. serta prioritas pembangunan nasional.. selaras dengan arah. misi. kebijakan umum. harus dapat menjamin perumusan: a. sasaran. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. . arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. dengan b. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah. tujuan. visi. selaras dengan visi. kebijakan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah. misi.

(2) Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi. (3) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. mencakup perumusan kebijakan Renja SKPD dan kebijakan RKPD provinsi. sasaran. indikator kinerja. Pasal 193 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. Pasal 194 (1) Pengendalian kebijakan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193 mencakup tujuan. Pasal 195 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan penyusuan Renja SKPD provinsi. serta selaras dengan Renstra SKPD.. menggunakan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota berkenaan. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renja SKPD provinsi ditetapkan. . (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. dan pendanaan indikatif dalam Renja SKPD. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. kelompok sasaran.63 Pasal 192 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan Renja SKPD provinsi telah berpedoman pada RKPD dan Renstra SKPD. rencana program dan kegiatan. berpedoman pada rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah dalam RKPD. harus dapat menjamin perumusan tujuan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). rencana program dan kegiatan serta indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD. sasaran.

dan kegiatan prioritas daerah. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan nasional. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. lokasi.64 Pasal 196 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan penyusunan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (3). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD provinsi ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c. d. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD provinsi. . sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (4). (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi kebijakan pembangunan tahunan daerah provinsi kepada Gubernur. b. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda provinsi.. Pasal 198 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi. Kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. Pasal 197 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. maupun pada wilayah perbatasan antar provinsi/negara. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai dengan prioritas pembangunan nasional terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah provinsi atau lebih. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD provinsi. harus dapat menjamin perumusan: a. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD provinsi. e. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD provinsi. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD provinsi. serta rencana program. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD provinsi telah berpedoman pada RPJMD provinsi dan mengacu pada RKP. mencakup perumusan prioritas dan sasaran.

(3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing. Pasal 200 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarkabupaten/kota. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. c. e. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD kabupaten/kota masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD kabupaten/kota. . (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. sesuai dengan prioritas pembangunan provinsi terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. harus dapat menjamin perumusan: a. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 201 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah lingkup provinsi. d. RPJMD dan RKPD. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. meliputi pelaksanaan RPJPD. Paragraf 5 Pengendalian Dan Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi. maupun pada wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD antarkabupaten/kota telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota masingmasing dan mengacu pada RKPD provinsi. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota masing-masing. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD kabupaten/kota.65 Pasal 199 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.

telah dilaksanakan melalui RPJMD kabupaten/kota masing-masing. misi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD.. Pasal 204 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah masing-masing kabupaten/kota. telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. misi. dan evaluasi . (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Pasal 203 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. tujuan dan sasaran RPJMD provinsi. Pasal 205 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota. telah dilaksanakan melalui RPJMD provinsi. misi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).66 Pasal 202 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi kepada Gubernur. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. (2) Pengendalian terhadap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi. mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi. tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota masing-masing.

telah dipedomani dalam menyusun indikator kinerja dan kelompok sasaran. b. Pasal 208 (1) Kepala SKPD provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi. kegiatan. indikator kinerja dan kelompok sasaran. kegiatan. Pasal 207 (1) Pengendalian pelaksanaan Renstra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 206. kegiatan. (2) Dalam hal evaluasi terhadap laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Rentra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 206 Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. mencakup pelaksanaan Renstra SKPD. dana indikatif dan prakiraan maju Renja SKPD provinsi. rencana program. pendanaan indikatif serta visi. . (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. misi. kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. kelompok sasaran. rencana program.67 (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). misi. kegiatan. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan RPJMD Provinsi. pendanaan indikatif serta visi. serta pendanaan indikatif Renstra SKPD provinsi.. Pasal 209 (1) Kepala Bappeda provinsi menggunakan laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 208 ayat (3). tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi telah dilaksanakan melalui Renja SKPD provinsi. mencakup indikator kinerja SKPD provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan visi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa indikator kinerja SKPD provinsi. melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). rencana program. dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi. program. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi. harus dapat menjamin: a. (3) Kepala SKPD provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD provinsi kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. kelompok sasaran. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD provinsi. misi. tujuan dan sasaran Renstra SKPD provinsi telah dijabarkan dalam tujuan dan sasaran Renja SKPD provinsi. sebagai bahan evaluasi pelaksanaan RPJMD provinsi.

telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota masing-masing. harus dapat menjamin: a. Pasal 211 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD provinsi. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi kepada Gubernur. dan .68 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi.. program pembangunan jangka menengah daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. program pembangunan jangka menengah daerah. (2) Pengendalian pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. harus dapat menjamin: a. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJMD provinsi. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Pasal 212 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. (2) Pengendalian pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah dilaksanakan melalui RKPD provinsi. Pasal 210 (1) Pengendalian pelaksanaan RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 206. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b.

(2) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. dana indikatif yang disusun ke dalam RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. lokasi. Pasal 213 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD antarkabupaten/kota. lokasi. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi. harus dapat menjamin agar program dan kegiatan. telah disusun kedalam RKA-SKPD provinsi.. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 214 Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup Renja SKPD provinsi dan RKPD provinsi. telah dilaksanakan melalui RKPD kabupaten/kota masing-masing. pagu indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 212 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.69 b. dilakukan melalui . mencakup program dan kegiatan. pagu indikatif serta prakiraan maju. lokasi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (2) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. Pasal 216 (1) Pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 215 ayat (2). dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program dan kegiatan. Pasal 217 (1) Kepala SKPD provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi. Pasal 215 (1) Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 214. Kepala SKPD provinsi mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar penyusunan RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota masing-masing.

(3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi. Pasal 221 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Kepala Bappeda provinsi melakukan perbaikan/penyempurnaan. lokasi. dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).70 (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD provinsi. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA. melalui . (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 219 ayat (3) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. (1). serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA. Pasal 220 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD provinsi. PPAS dan APBD provinsi.. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKA-SKPD provinsi untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. rencana program dan kegiatan prioritas daerah. Pasal 218 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renja SKPD provinsi yang disampaikan oleh kepala SKPD provinsi. PPAS dan APBD Provinsi. serta pagu indikatif. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD provinsi kepada Gubernur. Pasal 219 (1) Pengendalian pelaksanaan RKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 214 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah. serta pagu indikatif.

antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c. Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota. realisasi antara sasaran pokok RPJPD provinsi dengan capaian sasaran RPJMD provinsi. Antarkabupaten/kota Dalam Wilayah Provinsi Pasal 223 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah lingkup provinsi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). RKPD. RPJMD. misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi dapat dicapai. serta pagu indikatif dijadikan pedoman penyusunan KUA dan PPAS serta APBD kabupaten/kota masing-masing.71 (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 224 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. digunakan untuk mengetahui: a. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Bupati/Walikota menyampaikan hasil tindaklanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. PPAS dan APBD kabupaten/kota masing-masing. harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. dan realisasi antara capaian sasaran pokok RPJPD provinsi dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional. b. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). lokasi. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. meliputi RPJPD. serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA. . (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 222 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD antarkabupaten/kota. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD lingkup provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan evaluasi hasil RPJMD provinsi. Paragraf 6 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Provinsi..

misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota masing-masing. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah lingkup provinsi. dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi.72 Pasal 225 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup provinsi. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJPD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJPD provinsi untuk periode berikutnya. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RPJPD pada periode berikutnya. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD antarkabupaten/kota. dilakukan untuk memastikan bahwa visi. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan capaian sasaran RPJMD kabupaten/kota masingmasing. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 226 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223 mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RPJPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD provinsi. dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota masing-masing dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah provinsi. b. . Pasal 228 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. tujuan dan sasaran. Pasal 227 (1) Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD antarkabupaten/kota. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJPD provinsi kepada Gubernur. (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RPJPD kabupaten/kota masing-masing. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk mengetahui: a.

. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD provinsi. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah provinsi dan pembangunan jangka menengah nasional. misi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD provinsi dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi.. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota masing-masing. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD kabupaten/kota masing-masing dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota masing-masing. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dilakukan untuk memastikan bahwa visi. b. misi. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJMD provinsi kepada Gubernur. (5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri. tujuan dan sasaran.73 (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dilakukan untuk memastikan bahwa visi. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD kabupaten/kota masing-masing. digunakan untuk mengetahui: a. b. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD provinsi dengansasaran pokok dan prioritas serta sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN. dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah antarkabupaten/kota. (3) Hasil evaluasi RPJMD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJMD provinsi untuk periode berikutnya. Pasal 229 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi hasil RPJMD lingkup provinsi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 230 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang kabupaten/kota masing-masing dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah daerah provinsi. serta dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah provinsi. digunakan untuk mengetahui: a. dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD kabupaten/kota masing-masing dengan sasaran pokok RPJPD kabupaten/kota masing-masing. mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi.

74 Pasal 231 (1) Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJMD antarkabupaten/kota. Pasal 234 (1) Kepala SKPD melaksanakan evaluasi terhadap hasil Renja SKPD provinsi. indikator kinerja. untuk mewujudkan visi. mencakup program dan kegiatan. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RPJMD kabupaten/kota masingmasing pada periode berikutnya. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RPJMD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. Pasal 235 (1) Kepala Bappeda provinsi melakukan evaluasi terhadap laporan evaluasi Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 ayat (4). kelompok sasaran. Pasal 233 (1) Evaluasi terhadap hasil Renja SKPD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 232. lokasi dan dana indikatif. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). digunakan untuk mengetahui realisasi pencapaian target indikator kinerja. dilakukan untuk memastikan bahwa indikator kinerja program. kelompok sasaran. (5) Evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi dilakukan setiap triwulan dalam tahun anggaran berjalan. (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). misi Renstra SKPD provinsi serta prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah provinsi. . (4) Kepala SKPD provinsi menyampaikan laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenaan. lokasi dan penyerapan dana dan kendala yang dihadapi.. dilakukan melalui penilaian terhadap realisasi DPA-SKPD provinsi. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 232 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan tahunan daerah lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223 mencakup hasil Renja SKPD provinsi dan hasil RKPD provinsi. kelompok sasaran. (3) Hasil evaluasi Renja SKPD provinsi menjadi bahan penyusunan Renja SKPD provinsi untuk tahun berikutnya. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kepala SKPD provinsi melakukan tindakan perbaikan/ penyempurnaan. lokasi dan penyerapan dana indikatif kegiatan Renja SKPD provinsi dicapai.

(5) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Dalam Negeri.75 (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. digunakan untuk mengetahui: . ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi hasil Renja SKPD provinsi. (3) Hasil evaluasi RKPD provinsi digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RKPD provinsi untuk tahun berikutnya. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. Gubernur melalui kepala Bappeda menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD provinsi. lokasi. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan evaluasi terhadap hasil RKPD provinsi kepada Gubernur. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah provinsi dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. Pasal 238 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan capaian indikator kinerja program. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi. Pasal 237 (1) Kepala Bappeda provinsi melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD provinsi. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD provinsi. digunakan untuk mengetahui: a. dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD provinsi. Pasal 236 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD lingkup provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 223. mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah. dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD provinsi dapat dicapai. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD provinsi dengan laporan realisasi APBD provinsi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. b.. (3) Kepala SKPD provinsi menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi.

mencakup perumusan visi dan misi serta sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. harus dapat menjamin perumusan: a.. dengan capaian indikator kinerja program. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. visi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. b. misi. Paragraf 7 Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. tahapan. . Pasal 239 (1) Kepala Bappeda provinsi antarkabupaten/kota. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan arah dan kebijakan RTRW kabupaten/kota. b.76 a. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota masing-masing. dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program. dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD kabupaten/kota masing-masing. arah. jangka menengah dan tahunan daerah. dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD kabupaten/kota dengan laporan realisasi APBD kabupaten/kota masingmasing. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota. Pasal 241 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240. meliputi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD (2) Hasil evaluasi hasil RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). arah. dan mencapai sasaran pembangunan tahunan nasional. Pasal 240 Pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah lingkup lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a. lokasi. disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai bahan penyusunan RKPD kabupaten/kota masing-masing untuk tahun berikutnya (4) Kepala Bappeda provinsi melaporkan hasil evaluasi RKPD antarkabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Gubernur. kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan visi. sasaran pokok dan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. misi.

f. Pasal 244 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 mencakup perumusan visi dan misi. strategi dan kebijakan. Pasal 242 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota. telah mengacu pada RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Pasal 243 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240 mencakup kebijakan perencanaan strategis SKPD dan RPJMD kabupaten/kota. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renstra SKPD kabupaten/kota ditetapkan. g. rencana program dan kegiatan. .. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1).77 c. kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. dan dilakukan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD kabupaten/kota. indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. e. indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. harus dapat menjamin perumusan: a. prioritas pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota selaras dengan prioritas pembangunan jangka panjang provinsi dan nasional. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah lingkup kabupaten/kota kepada Gubernur sebagai lampiran surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota lainnya rencana pembangunan jangka panjang daerah selaras dengan RTRW kabupaten/kota lainnya. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). d. visi dan misi SKPD kabupaten/kota berpedoman pada visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah. pentahapan dan jangka waktu pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota sesuai dengan pembangunan jangka panjang nasional.

rencana program. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan strategis SKPD kabupaten/kota. e. Pasal 247 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 mencakup perumusan visi dan misi. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. strategi dan kebijakan SKPD kabupaten/kota berpedoman pada strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. indikator kinerja. d. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).78 b. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD kabupaten/kota berpedoman pada indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah. Pasal 246 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan strategik SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (3). indikator kinerja SKPD kabupaten/kota berpedoman pada tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. c. f.. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. kegiatan SKPD kabupaten/kota berpedoman pada kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. Pasal 245 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan strategis SKPD kabupaten/kota. . dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RPJMD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 pada ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. strategi dan arah kebijakan. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. dan pentahapan pelaksanaan program SKPD sesuai dengan pentahapan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota serta memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis. kebijakan umum dan program. dan indikator kinerja daerah.

(4) Bupati/Walikota menyampaikan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota kepada Gubernur sebagai lampiran surat permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RPJMD kabupaten/kota. harus dapat menjamin perumusan: a. serta prioritas pembangunan nasional. kebijakan. misi. strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota mengarah pada pencapaian visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. tujuan. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah selaras dengan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota lainnya. dengan b. visi. program pembangunan jangka menengah daerah selaras pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota lainnya. . dan prioritas untuk bidang-bidang pembangunan. kebijakan umum. misi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota selaras dengan arah. c. kebijakan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).. misi. strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah selaras dengan visi. kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. e. dan karakteristik daerah. kebijakan. dan pembangunan kewilayahan dalam RPJMN sesuai dengan kewenangan. mengacu pada RPJMD provinsi dan memperhatikan RTRW kabupaten/kota lainnya.79 (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. arah. berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten/kota. f. tujuan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sasaran. mencakup perumusan kebijakan Renja SKPD dan kebijakan RKPD kabupaten/kota. arah dan kebijakan pembangunan jangka panjang daerah serta pemanfaatan struktur dan pola ruang kabupaten/kota. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah kabupaten/kotate. Pasal 248 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota. kondisi. visi. sasaran. kebijakan. d. Pasal 249 Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240.

(3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. sasaran rencana program dan kegiatan. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan awal sampai dengan RKPD kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota. lokasi. Pasal 252 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil evaluasi kebijakan penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota sebagimana dimaksud dalam Pasal 251 ayat (3). (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). indikator kinerja.. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan Renja SKPD kabupaten/kota telah berpedoman pada RKPD dan Renstra SKPD. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1).80 Pasal 250 (1) Pengendalian kebijakan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249. mencakup perumusan prioritas dan sasaran. sasaran. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif SKPD. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 250 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan pendanaan indikatif dalam Renja SKPD mempedomani rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah RKPD serta selaras dengan Renstra SKPD. kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh Kepala SKPD kabupaten/kota. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan hasil evaluasi kebijakan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kepala Bappeda kabupaten/kota. dan kegiatan prioritas daerah. Pasal 251 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota. lokasi. rencana program dan kegiatan serta indikator kinerja. rencana program. dilakukan melalui pemantauan dan supervisi mulai dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan Renja SKPD kabupaten/kota ditetapkan. kelompok sasaran. harus dapat menjamin perumusan tujuan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pengendalian terhadap kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 253 (1) Pengendalian terhadap kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249. kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. mencakup tujuan. harus dapat menjamin perumusan: . ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

misi. tujuan dan sasaran RPJMD kabupaten/kota. e. RPJMD dan RKPD Pasal 256 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. Pasal 255 Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf b. kepala Bappeda provinsi melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. serta pencapaian sasaran pembangunan tahunan provinsi.. b. maupun pada wilayah perbatasan antar kabupaten/kota. Pasal 254 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota. Paragraf 8 Pengendalian dan Evaluasi terhadap Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. c. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada pemantauan dan supervisi pelaksanaan RPJPD. sesuai dengan prioritas pembangunan provinsi terutama program/kegiatan yang mencakup atau terkait dengan dua wilayah kabupaten/kota atau lebih. rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. d. sesuai dengan program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota.81 a. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa perumusan kebijakan RKPD telah berpedoman pada RPJMD kabupaten/kota dan mengacu pada RKPD provinsi. sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD kabupaten/kota. meliputi pelaksanaan RPJPD. dan sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan RKPD kabupaten/kota. prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam penyusunan RKPD kabupaten/kota. . rencana program dan kegiatan prioritas dalam menyusun RKPD kabupaten/kota. harus dapat menjamin sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. dilakukan melalui (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). telah dipedomani dalam merumuskan penjelasan visi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ayat (1). mencakup pelaksanaan sasaran pokok dan arah kebijakan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota.

dan RPJMD kabupaten/kota.. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa visi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif serta visi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam upaya mencapai visi. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. tujuan dan sasaran Renstra SKPD. misi. tujuan dan sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.82 (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). mencakup pelaksanaan Renstra SKPD. dan visi. kegiatan. kegiatan. Pasal 258 Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. telah dipedomani dalam menyusun indikator kinerja dan kelompok sasaran. rencana program. tujuan dan sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota telah dijabarkan dalam tujuan dan sasaran Renja SKPD kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota. Pasal 260 (1) Kepala SKPD kabupaten/kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra SKPD. rencana program. telah dilaksanakan melalui RPJMD kabupaten/kota. harus dapat menjamin: a. program. mencakup indikator kinerja SKPD serta rencana program. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. misi. . serta pendanaan indikatif Renstra SKPD kabupaten/kota. kegiatan. misi. dana indikatif dan prakiraan maju Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. telah dilaksanakan melalui Renja SKPD kabupaten/kota. b. indikator kinerja dan kelompok sasaran. Pasal 257 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota. kegiatan. misi. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 256 ayat (4) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Pasal 259 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa indikator kinerja SKPD kabupaten/kota.

pembangunan jangka menengah daerah telah dilaksanakan melalui RKPD kabupaten/kota. b.. ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan jangka menengah daerah telah dijabarkan kedalam rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota. Pasal 263 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. kepala Bappeda melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dilakukan melalui pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. sebagai bahan evaluasi pelaksanaan RPJMD kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).83 (3) Kepala SKPD kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi Renstra SKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. mencakup program pembangunan daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. program pembangunan jangka menengah daerah telah dipedomani dalam merumuskan prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah kabupaten/kota. . (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil pengendalian dan evaluasi perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (2) Dalam hal evaluasi terhadap laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. Pasal 261 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota menggunakan laporan hasil pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 260 ayat (3). (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 262 ayat (4). (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. (2) Pengendalian pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD kabupaten/kota. Pasal 262 (1) Pengendalian pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258. harus dapat menjamin: a. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program pembangunan dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.

melalui . telah disusun kedalam RKA-SKPD kabupaten/kota. Pasal 266 (1) Pemantauan dan supervisi terhadap penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2). Pasal 268 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pemantauan dan supervisi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota yang disampaikan oleh kepala SKPD kabupaten/kota. Kepala SKPD kabupaten/kota mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota sesuai dengan Renja SKPD kabupaten/kota. lokasi. lokasi. Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan RKA-SKPD kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD kabupaten/kota. Pasal 267 (1) Kepala SKPD melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota. dilakukan pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD kabupaten/kota. mencakup program dan kegiatan. (3) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan. pagu indikatif serta prakiraan maju. digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa program dan kegiatan.. harus dapat menjamin agar program dan kegiatan. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lokasi. dana indikatif yang disusun ke dalam RKA-SKPD kabupaten/kota sesuai dengan Renja SKPD kabupaten/kota. Pasal 265 (1) Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264. (3) Kepala SKPD menyampaikan laporan triwulan hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota. pagu indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. (2) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. mencakup Renja SKPD kabupaten/kota dan RKPD kabupaten/kota.84 Pasal 264 Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (2) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan.

- 85 Pasal 269 (1) Pengendalian terhadap pelaksanaan RKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah, serta pagu indikatif. (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan pemantauan dan supervisi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. melalui

(3) Pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dapat menjamin prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah serta pagu indikatif yang ditetapkan dalam RKPD dijadikan pedoman penyusunan rancangan KUA, PPAS dan APBD kabupaten/kota. (4) Hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), digunakan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah, rencana program dan kegiatan prioritas daerah, serta pagu indikatif telah disusun kedalam rancangan KUA, PPAS dan APBD kabupaten/kota. Pasal 270 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 269 ayat (3) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. Paragraf 9 Evaluasi Terhadap Hasil Rencana Pembangunan Daerah Lingkup Kabupaten/kota. Pasal 271 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf c, meliputi RPJPD, RPJMD, RKPD. Pasal 272 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271, mencakup sasaran pokok arah kebijakan dan pentahapan untuk mencapai misi dan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJPD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. b. realisasi antara sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan capaian sasaran RPJMD kabupaten/kota; dan realisasi antara capaian sasaran pokok arah kebijakan pentahapan RPJPD kabupaten/kota dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang provinsi.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa visi, misi dan sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang provinsi.

- 86 (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi terhadap hasil RPJMD kabupaten/kota. Pasal 273 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi terhadap hasil RPJPD lingkup kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJPD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJPD kabupaten/kota untuk periode berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 274 (1) Evaluasi terhadap hasil RPJMD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271 mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi, tujuan dan sasaran, dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah lingkup kabupaten/kota. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RPJMD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan RPJMD kabupaten/kota dengan capaian rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota; dan realisasi antara capaian rencana program dan prioritas yang direncanakan dalam RPJMD kabupaten/kota dengan prioritas dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah provinsi.

b.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dapat dicapai untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. (5) Evaluasi dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun dengan menggunakan hasil evaluasi hasil RKPD kabupaten/kota. Pasal 275 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi hasil RPJMD lingkup kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RPJMD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RPJMD kabupaten/kota untuk periode berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RPJMD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota.

- 87 (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. Pasal 276 Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 271 mencakup hasil rencana Renja SKPD kabupaten/kota dan hasil RKPD kabupaten/kota. Pasal 277 (1) Evaluasi terhadap hasil Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276, mencakup program dan kegiatan, indikator kinerja dan kelompok sasaran, lokasi, serta dana indikatif. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian terhadap realisasi DPA-SKPD kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui realisasi pencapaian target indikator kinerja, penyerapan dana dan kendala yang dihadapi. (4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa indikator kinerja program dan kegiatan Renja SKPD kabupaten/kota dapat dicapai dalam rangka mewujudkan visi, misi Renstra SKPD kabupaten/kota serta prioritas dan sasaran pembangunan tahunan daerah lingkup kabupaten/kota. (5) Evaluasi pelaksanaan Renja SKPD kabupaten/kota dilakukan setiap triwulan dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 278 (1) Kepala SKPD melaksanakan evaluasi terhadap hasil Renja SKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, kepala SKPD kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi Renja SKPD kabupaten/kota menjadi bahan bagi penyusunan Renja SKPD kabupaten/kota untuk tahun berikutnya. (4) Kepala SKPD kabupaten/kota menyampaikan laporan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenaan. Pasal 279 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan evaluasi terhadap hasil evaluasi Renja SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277 ayat (4). (2) Dalam hal hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda menyampaikan rekomendasi dan langkah-langkah penyempurnaan untuk ditindaklanjuti oleh kepala SKPD Bupati/Walikota. (3) Kepala SKPD menyampaikan hasil tindaklanjut perbaikan/penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bupati/Walikota melalui kepala Bappeda kabupaten/kota.

- 88 Pasal 280 (1) Evaluasi terhadap hasil RKPD lingkup kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 276 mencakup prioritas dan sasaran pembangunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas daerah. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian hasil pelaksanaan RKPD lingkup kabupaten/kota. (3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk mengetahui: a. realisasi antara rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dengan capaian indikator kinerja program dan kegiatan yang dilaksanakan melalui APBD kabupaten/kota; dan realisasi penyerapan dana program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD kabupaten/kota dengan laporan realisasi APBD kabupaten/kota.

b.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan untuk memastikan bahwa target rencana program dan kegiatan prioritas daerah dalam RKPD kabupaten/kota dapat dicapai dalam rangka mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota dan mencapai sasaran pembangunan tahunan provinsi. (5) Evaluasi dilaksanakan setiap triwulan dengan menggunakan hasil evaluasi hasil Renja SKPD kabupaten/kota. Pasal 281 (1) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaksanakan evaluasi terhadap hasil RKPD kabupaten/kota. (2) Dalam hal evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan adanya ketidaksesuaian/penyimpangan, kepala Bappeda kabupaten/kota melakukan tindakan perbaikan/penyempurnaan. (3) Hasil evaluasi RKPD kabupaten/kota digunakan sebagai bahan bagi penyusunan RKPD kabupaten/kota untuk tahun berikutnya. (4) Kepala Bappeda kabupaten/kota melaporkan evaluasi terhadap hasil RKPD kabupaten/kota kepada Bupati/Walikota. (5) Bupati/Walikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Gubernur melalui kepala Bappeda provinsi. BAB X PERUBAHAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 282 (1) Perubahan RPJPD dan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila: a. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan, tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini; hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan, tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini; terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau merugikan kepentingan nasional.

b. c. d.

- 89 (2) Perubahan yang mendasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, mencakup antara lain terjadinya bencana alam, goncangan politik, krisis ekonomi, konflik sosial budaya, gangguan keamanan, pemekaran daerah, atau perubahan kebijakan nasional. (3) Merugikan kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, apabila bertentangan dengan kebijakan nasional. Pasal 283 RPJPD dan RPJMD perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 284 Dalam hal pelaksanaan RPJPD dan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka panjang dan menengah, penetapan perubahan RPJPD dan RPJMD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Pasal 285 (1) RKPD dapat diubah dalam hal tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan. (2) Perkembangan keadaan dalam tahun berjalan sebagaiman dimaksud pada ayat (1), seperti: a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan kegiatan prioritas daerah; keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan; dan/atau anggaran

b. c.

keadaan darurat dan keadaan luar biasa sebagaimana ditetapkan dalam perturan perundang-undangan. Pasal 286

(1) Perubahan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. (2) Gubernur menyampaikan Peraturan Gubernur tentang Perubahan RKPD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD provinsi tahun berkenaan untuk dievaluasi. (3) Bupati/Walikota menyampaikan Peraturan Bupati/Peraturan Walikota tentang Perubahan RKPD Kabupaten/kota kepada Gubernur bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD kabupaten/kota tahun berkenaan untuk dievaluasi dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri.

- 90 BAB XI PENYUSUNAN RKPD BAGI DAERAH YANG BELUM MEMILIKI RPJMD DAN DAERAH OTONOM BARU Bagian Kesatu Penyusunan RKPD bagi Daerah yang belum memiliki RPJMD Pasal 287 (1) Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah provinsi, penyusunan RKPD berpedoman pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD provinsi, dan mengacu pada RPJMN untuk keselaran program dan kegiatan pembangunan daerah provinsi dengan pembangunan nasional. (2) Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah kabupaten/kota, penyusunan RKPD berpedoman pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota dan mengacu pada RPJMD provinsi untuk keselaran program dan kegiatan pembangunan daerah kabupaten/kota dengan pembangunan daerah provinsi. (3) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menjadi bagian dari RPJMD yang akan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 288
(1) Kepala daerah yang diperpanjang masa jabatannya 2 (dua) tahun atau lebih,

diwajibkan menyusun RPJMD.
(2) RPJMD

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi pedoman untuk penyusunan RKPD selama kurun waktu masa jabatan. Bagian Kedua Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah Otonom Baru Pasal 289

(1) Penjabat kepala daerah otonom baru menyusun rancangan RKPD (2) Penyusunan rancangan RKPD sebagaimana dimaksud ayat (1), berpedoman pada RPJMD provinsi/kabupaten/kota induk. (3) Berpedoman pada RPJMD provinsi/kabupaten/kota induk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), yaitu mengacu pada identifikasi permasalahan pembangunan dan isu-isu strategis berdasarkan evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dalam wilayah administratif pemerintahan daerah otonom yang baru dibentuk. (4) Berdasarkan hasil analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (3), disusun rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan, prioritas, lokasi, dan sasaran pembangunan daerah serta rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan tahunan daerah. (5) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah sebagai dasar penyusunan KUA, PPAS, dan RAPBD. Pasal 290 Tahapan, tatacara penyusunan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RKPD bagi daerah yang belum memiliki RPJMD dan bagi daerah otonom baru tetap berpedoman pada ketentuan Peraturan Menteri ini. BAB XII

- 91 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 291 Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah. Pasal 292
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pemberian

291, meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan. pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. mencakup penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

(3) Pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan bagi

kepala daerah dan wakil kepala daerah, pimpinan dan anggota DPRD serta aparatur pemerintah daerah, yang dilakukan bersama dengan Badan Pendidikan dan Pelatihan. Pasal 293 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291, dilakukan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini dalam hal penyusunan, pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah. Pasal 294 Gubernur melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 295
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pemberian

294 meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan. pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. mencakup penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

(3) Pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan bagi

bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota serta aparatur pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota.

- 92 Pasal 296 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 294 dilakukan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini dalam penyusunan, pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota.

BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 297
(1) Daerah yang sedang menyusun atau akan mengubah RPJPD, RPJMD dapat

mempedomani tahapan dan tatacara penyusunan sesuai dengan Peraturan Menteri ini.
(2) Rencana pembangunan daerah yang telah ditetapkan, tetap digunakan sampai

dengan disusun dan ditetapkan rencana pembangunan daerah sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan yang diatur dalam Peraturan Menteri ini. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 298 Tata cara pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, tahapan dan tata cara penyusunan RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD, RKPD, Renja SKPD dan pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah, masing-masing tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV, Lampiran V, Lampiran VI dan Lampiran VII sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 299
(1) Tata

cara koordinasi penyusunan rencana pembangunan antarkabupaten/kota, diatur dengan Peraturan Gubernur. kepala daerah.

daerah

(2) Pelaksanaan musrenbang RPJPD, RPJMD dan RKPD diatur dengan peraturan (3) Peraturan Gubernur dan Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Menteri ini ditetapkan. Pasal 300 Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1982 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

- 93 Pasal 301 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 2010 MENTERI DALAM NEGERI, ttd GAMAWAN FAUZI Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 21 Oktober 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 517 Salinan sesuai dengan aslinya Plt.KEPALA BIRO HUKUM

ZUDAN ARIF FAKRULLOH

Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

(BUKU I) TATA CARA PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010

LAMPIRAN I : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010

TATA CARA PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah mencakup data dan informasi gambaran umum kondisi daerah yang meliputi data kondisi geografis dan demografis daerah, dan data terkait dengan indikator kinerja kunci penyelenggaraan pemerintahan daerah meliputi aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. Jenis data dan informasi gambaran umum kondisi daerah berikut sumbernya dapat diperoleh melalui: 1) Data primer yang diperoleh dari kegiatan penelitian, monitoring dan evaluasi, serta kegiatan sejenis lainnya yang dilaksanakan secara periodik oleh SKPD. 2) Data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat maupun daerah dan instansi pemerintah, hasil riset/audit/studi oleh lembaga yang kompeten dibidangnya. Analisis Kondisi Umum Daerah. Analisis kondisi umum daerah bertujuan untuk menghasilkan dan memutakhirkan gambaran umum kondisi daerah yang diperlukan untuk menunjang perencanaan pembangunan daerah. Dalam analisis kondisi umum daerah agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Hasil evaluasi capaian kinerja rencana pembangunan daerah periode sebelumnya yaitu: a. Hasil evaluasi kinerja RPJPD periode sebelumnya untuk menyusun RPJPD periode berikutnya; b. Hasil evaluasi kinerja RPJMD periode sebelumnya untuk menyusun RPJMD periode berikutnya. 2. Memiliki hubungan/keterkaitan dengan urusan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, serta memenuhi kriteria dalam rangka pencapaian indikator kinerja kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. 3. Memprediksi kondisi dan perkembangan pembangunan daerah terhadap aspek yang dianalisis dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: a. b. c. d. Menggunakan formula/rumus penghitungan baku terhadap obyek tertentu; Melihat trend (kecenderungan); Menggunakan metode regresi linier atau metode lainnya; dan/atau Menggunakan asumsi berdasarkan hasil pengamatan obyek tertentu.

4. Menyatakan suatu fakta dan permasalahan dari suatu aspek yang dianalisis dapat dilakukan dengan cara: a. Perbandingan antar waktu; b. Perbandingan dengan standar yang berlaku (nasional/internasional); dan/atau c. Perbandingan dengan daerah/wilayah/kawasan lainnya. Data dan informasi yang digunakan untuk mendukung penjelasan fakta dan permasalahan, dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar, dan lain-lain disertai dengan penjelasan yang memadai.

-2A. Data dan Informasi Kondisi Umum Daerah.

Data dan informasi kondisi umum daerah sekurang-kurangnya mencakup: 1. Aspek Geografi dan Demografi Memberikan gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi geografis daerah, mencakup karakteristik dan potensi pengembangan wilayah, kerentanan wilayah terhadap bencana, luas wilayah menurut batas administrasi pemerintahan kabupaten/kota/kecamatan/desa dan kelurahan. a. Karakteristik lokasi dan wilayah, mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi 2) Letak dan kondisi geografis antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis b) Posisi geostrategis c) Kondisi/kawasan, antara lain meliputi: (1) (2) (3) (4) (5) Pedalaman Terpencil Pesisir Pegunungan Kepulauan

3) Topografi, antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan b) Ketinggian lahan 4) Geologi, antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik b) Potensi kandungan 5) Hidrologi, antara lain terdiri dari: a) Daerah Aliran Sungai b) Sungai, danau dan rawa c) Debit 6) Klimatologi, antara lain terdiri dari: a) b) c) d) Tipe Curah hujan Suhu Kelembaban

7) Penggunaan lahan, antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya b) Kawasan lindung b. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan, pertanian, pariwisata, industri, pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah. c. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain. d. Demografi Memberikan deskripsi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.

-3Hasil analisis geografis dapat disajikan dalam bentuk tabel. 2. Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk mengetahui capaian indikator kinerja dari setiap aspek, fokus menurut bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, dapat menggunakan formula yang di disajikan dalam Tabel.T-I.A.1. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi, merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota, sedangkan untuk kabupaten/kota, pada setiap kecamatan di wilayah masing-masing.
Tabel.T-I.A.1 ASPEK, FOKUS DAN INDIKATOR KINERJA MENURUT BIDANG URUSAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

1.1.

Pertumbuhan PDRB

Dimana: +1 = tahun pengamatan PDRB = tahun pengamatan PDRBsebelumnya { Dimana : = perubahan inflasi dari nilai tahun sebelumnya = adalah periode pengamatan perubahan nilai inflasi. Sedangkan dihitung dengan rumus sebagai berikut : }

1.2.

Laju inflasi provinsi

Dimana : = = = 1.3. PDRB per kapita
k

nilai inflasi pada tahun n nilai pada 1 tahun berikutnya tahun ...

G  1   Pi (Qi  Qi 1 )
i 1

dimana: 1.4. Indeks Gini Pi : persentase rumahtangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentase kumulatif total pendapatan atau pengeluaran sampai kelas ke-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1, jika:    G < 0,3 0,3 ≤ G ≤ 0,5 G > 0,5 = = = ketimpangan rendah ketimpangan sedang ketimpangan tinggi

-4NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS

Dimana: YD4 = Persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk 1.5. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia lapisan bawah Qi -l = Persentase kumulatif pendapatan ke i-1 Pi qi = Persentase kuraulatif penduduk ke i = Persentase pendapatan ke i

√ Dimana:

Untuk kabupaten/kota:
Yi Y 1.6. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Fi n = = = = PDRB perkapita di kecamatan I PDRB perkapita rata-rata kab/kota jumlah penduduk di kecamatan i jumlahpenduduk di kab/kota

Untuk provinsi Yi =
Y fi n = = = PDRB perkapita di kab/kota i PDRB perkapita rata-rata provinsi jumlah penduduk di kab/kota i jumlah penduduk di provinsi

1.7. 1.8.

Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Angka kriminalitas yang tertangani

(100 – angka kemiskinan)
0 000

Fokus Kesejahteraan Masyarakat
1. Pendidikan

1.1.

Angka melek huruf

dimana: = = = angka melek huruf ( penduduk usia 15 tahunkeatas) pada tahun t Jumlah penduduk (usia diatas 15 tahun) yang bisa menulis pada tahun t Jumlah penduduk usia 15 tahunkeatas

1.2.

Angka rata-rata lama sekolah

Kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki. dan pendidikan yang ditamatkan.

1.3.

Angka partisipasi kasar

Dimana, h = a = t = = =

jenjang pendidikan kelompok usia tahun adalah jumlah penduduk yang pada tahun tdari berbagai usia sedangsekolah pada jenjang pendidikan h adalah jumlah penduduk yang pada tahun tberada pada kelompok usia yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h

1.4.

Angka pendidikan yang ditamatkan

Dimana: h = t = = =

jenjang pendidikan tahun jumlah penduduk yang mencapai jenjang pendidikan h pada tahun t total jumlah penduduk pada tahun t

Jumlah grup kesenian per 10. Angka kelangsungan hidup bayi 1 AKB = per 1000 kelahiran = Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR) = Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu. 2.1.1. 3.000 penduduk Jumlah gedung kesenian per 10. 00 00 ∑ Dimana: 2. Angka Partisipasi Murni a t = = = = = jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a 1.1. 1. Jumlah gedung olahraga per 10.2.5. 2. Jumlah gedung olahraga Jumlah klub olahraga per 10.5. Jumlah klub olahraga b.2. 1. Persentase balita gizi buruk Pertanahan Persentase penduduk yang memiliki lahan Ketenagakerjaan Rasio penduduk yang bekerja Penduduk memiliki lahan x100 Jumlah penduduk 00 Fokus Seni Budaya dan Olahraga 1. 1. Angka usia harapan hidup Angka perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur 2. 2.5. ∑LahirHidup = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu.5. 4.1. 2. 2. 3. 4.1.3. Kebudayaan Jumlah grup kesenian Jumlah gedung Pemuda dan Olahraga a.3. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Kesehatan 3 5 3 5 00 1. .2.000 penduduk.1.000 penduduk.-5NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS dimana: h 1.000 penduduk.2.

2. 1.1. 1.2. 1. 1. Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI 00 1.2. 1.4.5.1.1. Angka partisipasi sekolah a t = = = = = jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a 1. – 1. 00 1.3.4.1.3. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Rasio guru/murid per kelas ratarata Pendidikan menengah: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid per kelas rata.2.-6NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Layanan Urusan Wajib 1.1.rata Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) G G 3 5 0 000 0 000 000 000 0 000 0 000 0 000 5 5 00 1. 1.1. Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs 00 . Fasilitas Pendidikan: Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angka Putus Sekolah: 00 00 1.2.1.3.4. Pendidikan Pendidikan dasar: dimana: h 1.2.4.3.5. 1.1.2.3. 1.1.5. 1.2. 1. 1.1.5.2.2. 1.

Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas. 00 00 G . 2. 2.6. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs 00 1.-7NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS 1.6.6.2. 00 2. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rasio dokter per satuan penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 00 .4. 2.6.6. 2. .6. . Angka Kelulusan (AL) SD/MI 1. 00 2. 000 00 1.7.11.10.6.5.6. 2.1. AngkaKelulusan: 00 1.9.13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 00 2.8.14. poliklinik.4. Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA 00 1.3.5. 1.2. Cakupan puskesmas 00 . Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan 00 2.3. 00 2.5.3. 1.1. 2. Cakupan kunjungan bayi 00 2. 00 000 000 000 000 2.12. 2. 00 2.6.

3.5. 4. 4. 3. 3.3.2. 4.13.9.5.11.10. 3. 00 3.-8NO 2. 4. 3. 3.14.7. 00 00 00 .18. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Cakupan pembantu puskesmas PekerjaanUmum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio Jaringan Irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Rasio rumah layak huni Rasio permukiman layak huni Panjang jalan dilalui Roda 4 Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4) Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air ( minimal 1. 00 3. 3.15.5 m) Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan rumah liar Sempadan sungai yang dipakai bangunan liar Drainase dalam kondisi baik/ pembuangan aliran air tidak tersumbat Pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor lingkup kewenangan kota Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik Lingkungan Pemukiman Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah tangga pengguna listrik Rumah tangga ber-Sanitasi Lingkungan pemukiman kumuh Rumah layak huni 00 00 00 00 000 RUMUS 00 000 00 000 3. 3.4.16. 00 3.4. 4. 3.12.6. 00 3.15.8.3. 3.17. 00 3. 4.2. 3. 00 3. 00 3.1.1.

1. Ada/ tidak 6.-9NO 5.3.1.3. 5. Jangka waktu proses pengujian angkutan umum Biaya pengujian kelayakan angkutan umum 00 00 00 00 8.1.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Perencanaan Pembangunan Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Perhubungan Jumlah arus penumpang angkutan umum (bis/kereta api/kapal laut/pesawat udara) yang masuk/keluar daerah selama 1 (satu) tahun.5. 00 7.2.5. 7. Jumlah arus penumpang angkutan umum yang masuk/keluar daerah – RUMUS G 00 6.6. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Penataan Ruang Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber. Ada/ tidak 6. Cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan Sumber Mata Air 00 . 5. 6.3.2.7. Kepemilikan KIR angkutan umum Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) Biaya pengujian kelayakan angkutan umum Pemasangan Rambu-rambu Lingkungan Hidup Persentase penanganan sampah Persentase Penduduk berakses airminum Persentase Luas pemukiman yang tertata 00 7. 8. 8.8.4.1.2.4.2. 00 7.3. Jumlah arus penumpang angkutan umum 7. Pencemaran status mutu air 00 8. 7. baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis 7. Rasio ijin trayek Jumlah Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor. Ada/ tidak 6.4. 7. 8. Jumlah uji kir angkutan umum Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Angkutan darat 7.9. 8. 7. 5.

12.5.2. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal.. 9. 11.4. 10.2. 11. 00 00 . 8.1. 12.10 NO 8.8.7.1. 13. 12. 10. 10. 11.3.5. 8. 10.1. 9. 11.7.6. 00 12. 9.1.3.3. 11.6. Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Penegakan hukum lingkungan Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat Penyelesaian kasus tanah Negara Penyelesaian izin lokasi Kependudukan dan Catatan Sipil Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk Rasio bayi berakte kelahiran Rasio pasangan berakte nikah 00 00 0 3 00 RUMUS 00 00 00 10. 12.6.4. 9. 10.2. 10. 11.4. 00 Ada/tidak ada Sudah/belum 00 00 00 00 11.2. Kepemilikan KTP Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk Ketersediaan database kependudukan skala provinsi Penerapan KTP Nasional berbasis NIK Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Partisipasi perempuan di lembaga swasta Rasio KDRT Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Partisipasi angkatan kerja perempuan Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB Cakupan peserta KB aktif Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Sosial 00 5 5 00 10.3.

panti rehabilitasi. 14.4.6. Keselamatan dan perlindungan 3 00 14. 13.1. Usaha Mikro dan Kecil Penanaman Modal Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Rasio daya serap tenaga kerja Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Kebudayaan Penyelenggaraan festival seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda.1.3.3.3.1.1.2. 14. Jumlah BPR/LKM Jumlah BPR/LKM aktif 15. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Sarana sosial seperti panti asuhan. panti jompo.7. 17. 15. panti jompo dan panti rehabilitasi PMKS yg memperoleh bantuan sosial Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Ketenagakerjaan Angka partisipasi angkatan kerja Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun Tingkat partisipasi angkatan kerja Pencari kerja yang ditempatkan Tingkat pengangguran terbuka 5 5 00 00 RUMUS Menunjukan jumlah sarana sosial seperti panti asuhan.4.1. Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Persentase koperasi aktif Jumlah UKM aktif non BPR/LKM UKM 00 00 15. – 00 16. .2.5. 15. 00 000 5 00 00 00 14. 13. Jumlah nilai investasi berskala nasional(PMDN/PMA) 16.4..11 NO 13. 00 18. 17. 16. 14. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 16. 16. 00 17. 14. 17. 14. Jumlah UKM non BPR/LKM UKM 15. Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Kepemudaan dan Olahraga Jumlah penyelenggaraan festival seni dan budaya Jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya . .2.3. 14.2.2. rumah singgah dll yang terdapat di suatu daerah.3.

8.11. Ormas dan OKP Kegiatan pembinaan politik daerah Menunjukkan Jumlah Kegiatan pembinaan terhadap LSM. 18. Cakupan patroli petugas Satpol PP Jumlah patroli petugas Satpol PP pemantauan dan penyelesaian pelanggaran K3 dalam 24 Jam 20.2.9.10.7.12. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) Lapangan olahraga Kesatuan Bangsadan Politik Dalam Negeri Kegiatan pembinaan terhadap LSM.5.4.6.2. Kepegawaian dan Persandian Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10. 18. Administrasi Keuangan Daerah. 18. 20. Penegakan PERDA 00 20.13. 00 20.1. 20. Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban. Ada/Tidak 20.1.15. 20.14.5.4. Ormas dan OKP Menunjukan Jumlah Kegiatan pembinaan politik daerah Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga 000 RUMUS 000 19. 00 00 20. 20. 19. 00 20.3. 20. 20. Pemerintahan Umum. 20. keindahan) di Kabupaten Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Cakupan sarana prasarana perkantoran pemerintahan desa yang baik Sistim Informasi Manajemen Pemda Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat Ketahanan Pangan 3 3 00 20.000 Penduduk Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Pertumbuhan ekonomi Kemiskinan Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan adiministrasi pemerintah (100 – angka kemiskinan) 0 000 0 000 20.000 penduduk Jumlah Linmas per Jumlah 10.1.6. 21.2.12 NO 18.. 18. Menunjukkan Jumlah Sistim Informasi Manajemen Pemda yang telah dibuat oleh pemda ybs Ada atau tidaknya survey IKM di Pemda . 20. 19. ketentraman. Otonomi Daerah. Perangkat Daerah.3. 18.

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Jumlah LSM LPM Berprestasi 00 22. Statistik ” ” Kearsipan ” ” Ada/Tidak Ada/Tidak 24. 23. 26. Menunjukkan jumlah Kegiatan peningkatan SDM pengelola kearsipan 25.2.7. 25.2.2. dsb.2. Jumlah LSM yang aktif 22. 26. 22.1. 22.4. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Regulasi ketahanan pangan RUMUS Ada/tidak peraturan tentang kebijakan ketahanan pangan dalam bentuk perda.3. 25.perkada. 21. Ketersediaan pangan utama 00 22.13 NO 21. 00 22.4.1.1.2.1.6..5. 23. 22.1. 25. 22.1. Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan masyarakat 00 23. Jenis surat kabar nasional/lokal yang masuk ke daerah Jumlah penyiaran radio/TV yang masuk ke daerah Ada/Tidak Menunjukkan jumlah pameran/expo yang dilaksanakan per Tahun . 25. 25. 26.3.5.6. 24. PKK aktif Posyandu aktif Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat 00 00 22. Pengelolaan arsip secara baku Peningkatan SDM pengelola kearsipan Komunikasi dan Informatika Jumlah jaringan komunikasi Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal Web site milik pemerintah daerah Pameran/expo Perpustakaan Jumlah perpustakaan Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Jumlah perpustakaan 000 00 24.2. 25.8.

4. 3. 1. 00 1.1. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Fokus Layanan Urusan Pilihan 1. Cakupan bina kelompok nelayan 00 5.1. 2.1. 00 . 2. 6.5.1. 5.4.3.14 NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR RUMUS 26. 3.6.2.1. 3. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kontribusi sektor pertanian (palawija) terhadap PDRB Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB 00 1.3.2. 2.2. Kunjungan wisata Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Kelautan dan Perikanan Produksi perikanan Konsumsi ikan 00 00 4. 00 1.2. Produksi perikanan kelompok nelayan Perdagangan Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB 00 6. 00 1.3.3. 5. Kahutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Energi dan Sumber Daya Mineral Pertambangan tanpa ijin Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Pariwisata 00 00 00 00 00 4. 00 1. Cakupan bina kelompok petani 00 2.1. 5.. 00 00 5.2.4.

3. 1.2. Administrasi Keuangan Daerah. Cakupan bina kelompok pengrajin 00 8.3.1. Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Luas wilayah industri Luas wilayah kebanjiran 00 Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara /terminal per tahun 00 00 00 .2. 7. 1. 2. 1.1.3. 2. 8. Perangkat Daerah. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Pertanian Nilai tukar petani 00 00 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1. 1.3. 7. 00 00 00 7. 1.2.1.2. Otonomi Daerah. 8. 1.4.2. RUMUS nilai ekspor bersih = nilai ekspor – nilai impor 6. 7.1. 2. 00 7.3.1.15 NO 6. Ketransmigrasian Transmigran swakarsa Kontibusi transmigrasi terhadap PDRB 00 00 ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah 1. 2.1.4. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Ekspor Bersih Perdagangan Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal Perindustrian Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri Pertumbuhan Industri. Pemerintahan Umum.2. 2. 2.. 2.

1. Pemerintahan Umum.5. 3. 3.3. 5. 5.1. 1. Administrasi Keuangan Daerah.cabangnya Jumlah dan jenis perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas Persentase jumlah penginapan/hotel menurut jenis dan kelas 00 00 00 Fokus Iklim Berinvestasi 1. 3. 1.2.1. Ketenagakerjaan Rasio lulusan S1/S2/S3 Rasio ketergantungan 5 5 3 0 000 00 Berikut ini akan diuraikan dan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi yang dapat digunakan untuk menilai capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota menggunakan formula yang tercantum dalam Tabel. 1.4. 1. 3.6.1. kelas.6.4.16 NO 2. Kepegawaian dan Persandian Jenis dan jumlah bank dan cabang Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang Jenis. 5. dan jumlah restoran Jenis. dan jumlah penginapan/ hotel Lingkungan Hidup Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Komunikas dan Informatika Rasio ketersediaan daya listrik Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon 00 Jumlah dan jenis bank dan cabang. kelas.2.A. Pemerintah daerah pada dasarnya dapat mengembangkan dan/atau mensleleksi data dan informasi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. BIDANG URUSAN/INDIKATOR Luas wilayah kekeringan Luas wilayah perkotaan RUMUS 00 00 Otonomi Daerah. 5.T-I.5.1. Perangkat Daerah. Kepegawaian dan Persandian Angka kriminalitas Jumlah demo Lama proses perijinan Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Jumlah demo dalam 1 tahun Rata-rata lama proses perijinan (dalam hari) Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha 0 000 0 000 Fokus Sumber Daya Manusia 1.3. 2. 4. 1. 3. . 1. 1. Administrasi Keuangan Daerah. Otonomi Daerah.1. Pemerintahan Umum.3. 4.2. Perangkat Daerah. 1.2..

Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.. Untuk mengetahui tingkat inflasi/deflasi. Selain menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan. Provinsi/Kabupaten/Kota .. Beberapa contoh tata cara pengolahan data dan informasi kondisi umum daerah terkait dengan indikator kinerja pembangunan daerah mencakup aspek kesejahteraan masyarakat. industri pengolahan. selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Rumus menghitung pertumbuhan PDRB: 00 Dimana: +1 = tahun pengamatan PDRB = tahun pengamatan PDRB sebelumnya Hasil analisis pertumbuhan PDRB. kesejahteraan sosial... mencakup sektor pertanian. Untuk mengetahui struktur perekonomian.17 B. 1. Untuk mengetahui besarnya PDRB perkapita penduduk sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran/kesejahteraan. sewa... Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan setiap sektor ekonomi. salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro adalah data produk domestik regional bruto (PDRB). 4. s.. dan jasa-jasa lainnya. Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-4) (Rp) % (Rp) (n-3) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. lembaga keuangan. Pengolahan Data dan Informasi Kondisi Umum Daerah. seni budaya dan olah raga. Terdapat 2 (dua) jenis penilaian produk domestik regional bruto (PDRB) dibedakan dalam dua jenis penilaian yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan.1 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun ..d . Aspek Kesejahteraan Masyarakat Memberikan gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat. & Js. Pertumbuhan PDRB Di bidang pembangunan ekonomi.. Adapun beberapa kegunaan angka PDRB ini antara lain : 1. konstruksi.. restoran dan hotel.*) (n-5) (Rp) % NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. sebagai berikut: 1.. gas. pengangkutan dan komunikasi. dan air bersih. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. angka PDRB juga bermanfaat untuk bahan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. berdasarkan pertumbuhan/perubahan harga produsen.. pertambangan dan penggalian. Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi a.B.1. listrik. Atas Dasar Harga Konstan Tahun .T-I. perdagangan.. mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Penyajian PDRB atas dasar harga konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun dasar yang digunakan.. 3. 2. .

B. & Js.. & Js. Tabel. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.....3 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.d .. ...*) (n-5) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. sewa. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan...18 - Tabel..B. sewa..B... Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan. Atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota ...*) (n-5) (Rp) % NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. s.. Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota .. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi angangkutan & Komunikasi Keuangan. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I.T-I.T-I. Provinsi/Kabupaten/Kota . sampai dengan Tahun. sewa.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan. Perusahaan Jasa-jasa PDRB Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...4 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Tahun ...d ......Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.2 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) Pertumbuhan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Tabel.

..5 Nilai inflasi rata-rata Tahun. Uraikan hasil analisis terhadap perubahan dan laju inflasi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Rumus menghitung rata-rata pertumbuhan Inflasi: { Dimana : = = } perubahan inflasi dari nilai tahun sebelumnya adalah periode pengamatan perubahan nilai inflasi.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..B..d .6 PDRB Perkapita Tahun .T-I. Provinsi .d . Sedangkan PDRB per kapita atas harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi perkapita penduduk suatu daerah.. PDRB per kapita PDRB per kapita atas harga berlaku berguna untuk menunjukkan nilai PDRB per-kepala atau satu orang penduduk. Sedangkan kondisi sebaliknya. c. PDRB per kapita dihitung berdasarkan pendapatan regional netto atas dasar biaya faktor dibagi dengan jumlah penduduk regional pertengahan tahun.. s. Provinsi/Kabupaten/Kota .. Angka inflasi dan deflasi disajikan hanya pada tingkat provinsi.T-I...... disebut deflasi.. s.19 b.. Rumus menghitung PDRB perkapita: Sajikan hasil penghitungan PDRB perkapita dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Inflasi didasarkan pada indeks harga konsumen (IHK) yang dihitung secara sampel di 45 (empat puluh lima) kota di Indonesia yang mencakup 283-397 komoditas dan dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil survei biaya hidup (SBH). ... dimana harga-harga pada umumnya turun..B.*) Uraian Nilai PDRB (Rp) Jumlah Penduduk (jiwa) PDRB perkapita (Rp/jiwa) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... dan hitung rata-rata pertumbuhannya dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. Sedangkan dihitung dengan rumus sebagai berikut : 00 Dimana : = = = nilai inflasi pada tahun n nilai pada 1 tahun berikutnya tahun . Sajikan data inflasi 5 (lima) tahun yang lalu.*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Laju inflasi provinsi Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat.

Kurva lorenz memberikan gambaran persentase penduduk yang menerima Q persen pendapatan 3.9rb 500-749.*) Kumulatif Proporsi Pengeluaran 100 80 60 B Kurva Lorenz 40 20 0 100 40 80 20 60 Kumulatif Proporsi Penduduk A *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2.1 Kurva Lorenz Provinsi/Kabupaten/Kota ..9rb 750-999.9rb 200-299.T-I.. Jika kuva lorenz mendekati diagonal OA → pendapatan semakin merata. Koefisien gini adalah ukuran ketidakseimbangan atau ketimpangan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna).7 Rata-Rata Interval Penghitungan Gini Ratio Uraian Rata-rata pengeluaran kapita per bulan Jumlah penduduk Total pengeluaran seluruh penduduk sebulan Proporsi penduduk (persen) Pi Kumulatif proporsi penduduk Proporsi pengeluaran (persen) Proporsi kumulatif total pengeluaran (persen) Qi Qi+Qi-1 Pi(Qi+Qi-1) Gini Ratio Interval <100rb 100-149. Caranya adalah dengan membagi penduduk menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tingkat pendapatannya. Data yang diperlukan dalam penghitungan gini ratio: 1. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.. Kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok pendapatan. karena nilai G semakin kecil 4. Jika G mendekati nol → distribusi pendapatan yang diterima hampir sama dengan banyak penduduk. Kurva Lorenz adalah titik potong antara persentase kumulatif jumlah rumah tangga (penduduk) dan persentase kumulatif total pendapatan.B.. Koefisien gini merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membandingkan luas antara diagonal dan kurva lorenz (daerah A) dibagi dengan luas segitiga di bawah diagonal. GAMBAR..20 d. 1.9rb 150-199. Indeks Gini/Koefiesien Gini Tingkat pemerataan distribusi pendapatan sering diukur dengan koefisien gini. Rata-rata pendapatan atau pengeluaran rumah tangga yang sudah dikelompokkan menurut kelasnya.9rb 300-499.9rb >1jt . Jumlah rumah tangga atau penduduk 2. G-A.

5 = = = ketimpangan rendah ketimpangan sedang ketimpangan tinggi e. 3. 40% penduduk berpendapatan rendah.. Rumus menghitung Indeks ketimpangan Williamson : √ Dimana: Untuk tingkat kabupaten/kota Yi = PDRB perkapita di kecamatan I Y = PDRB perkapita rata-rata kab/kota fi = jumlah penduduk di kecamatan i n = jumlah penduduk di kab/kota Untuk tingkat provinsi Yi = PDRB perkapita di kab/kota i Y = PDRB perkapita rata-rata provinsi . jika:  G < 0. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional). yaitu dengan mengelompokkan penduduk ke dalam tiga kelompok berdasarkan besarnya pendapatan. 2. Ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan 40% terendah dibandingkan total pendapatan seluruh penduduk. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia Pemerataan pendapatan ini diperhitungkan berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh Bank Dunia.21 Rumus untuk menghitung gini ratio: G  1   Pi (Qi  Qi 1 ) i 1 k dimana: Pi : persentase rumah tangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentase kumulatif total pendapatan atau pengeluaran sampai kelas ke-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1.5  G > 0. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan tinggi. adalah indeks untuk mengukur ketimpangan pembangunan antar kecamatan di suatu kabupaten/kota atau antar kabupaten/kota di suatu provinsi dalam waktu tertentu.3 ≤ G ≤ 0. Kategori ketimpangan ditentukan sebagai berikut: 1. Rumus untuk menghitung pemerataan pendapatan versi Bank Dunia: 0 Dimana: YD4 = Persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk lapisan bawah Qi -l = Persentase kumulatif pendapatan ke i-1 Pi = Persentase kumulatif penduduk ke i qi = Persentase pendapatan ke i f. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan rendah.3  0. dan 20% berpendapatan tinggi. jika proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk antara 12-17 persen dikategorikan ketimpangan pendapatan sedang/menengah. 40% penduduk berpendapatan menengah.

AMH dapat digunakan untuk: 1.. a... 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. = jumlah penduduk di kab/kota i = jumlah penduduk di provinsi Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka Melek Huruf (AMH) Angka Melek Huruf (dewasa) adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya.... Tabel..1.... jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis dan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas untuk 5 tahun terakhir. ..*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..9 Angka Melek Huruf Tahun . s... Kota .. menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.. Provinsi .. menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.. Angka melek huruf didapat dengan membagi jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas kemudian hasilnya dikalikan dengan seratus..*) NO 1 2 3 4 Kabupaten/kota Kabupaten .2.8 Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun .. mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf.. menurut kabupaten/kota Provinsi .22 fi n 1. terutama di daerah pedesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel....B. Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten .. Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah... dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.. Dst . 2.T-I.. a... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Cara menghitung angka melek huruf dengan rumus: 5 5 5 00 dimana: 5 5 5 = angka melek huruf ( penduduk usia 15 tahun keatas) pada tahun t = Jumlah penduduk (usia diatas 15 tahun) yang bisa membaca dan menulis pada tahun t = Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Sajikan data angka melek huruf penduduk usia 15 tahun keatas.d .T-I....B..

Kabupaten/Kota . s. jumlah tahun bersekolah ini tidak mengindahkan kasus-kasus tidak naik kelas..T-I.. Untuk memudahkan perhitungan. dan masuk sekolah dasar di usia yang terlalu muda atau sebaliknya.11 Angka Melek Huruf Tahun ...B. Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf a..12 Lamanya Bersekolah berdasarkan Jenjang Pendidikan dan Kelas Jenjang SD Kelas 1 2 3 4 5 6 1 2 3 1 2 3 Jumlah tahun bersekolah (kumulatif) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SMP SMA . putus sekolah yang kemudian melanjutkan kembali. Setiap tahun tambahan sekolah diharapkan akan membantu meningkatkan pendapatan individu tersebut. Pada prinsipnya angka ini merupakan transformasi dari bentuk kategori TPT menjadi bentuk numerik.B.. Kecamatan. Ratarata lama bersekolah dapat dijadikan ukuran akumulasi modal manusia suatu daerah.10 Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.2....T-I.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Ukuran ini mengatasi masalah kekurangan estimasi dari TPT yang tidak mengakomodir kelas tertinggi yang pernah dicapai individu. misalnya jika seseorang pendidikan tertingginya adalah SMP kelas 2.. Angka rata-rata lama sekolah Lamanya Sekolah atau years of schooling adalah sebuah angka yang menunjukkan lamanya bersekolah seseorang dari masuk sekolah dasar sampai dengan Tingkat Pendidikan Terakhir (TPT).......d . Angka rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Tetapi. dapat digunakan tabel konversi sebagai berikut: Tabel.23 Untuk kabupaten/kota: Tabel... yaitu 6 tahun bersekolah di tingkat SD ditambah dengan 2 tahun di SMP..*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Angka melek huruf *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B.*) NO 1 2 Kecamatan Kecamatan..T-I.. Sehingga nilai dari jumlah tahun bersekolah menjadi terlalu tinggi kelebihan estimasi atau bahkan terlalu rendah (underestimate). Tabel. Lamanya bersekolah merupakan ukuran akumulasi investasi pendidikan individu. maka ia memiliki jumlah tahun bersekolah sama dengan 8 tahun. Cara menghitung angka rata-rata lama sekolah: Lamanya bersekolah dapat dikonversikan langsung dari jenjang pendidikan dan kelas tertinggi yang pernah diduduki seseorang. menurut Kecamatan Kabupaten/Kota .

APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. . Sedangkan untuk rata-rata jumlah tahun bersekolah di tingkat kabupaten. Dalam kenyataannya. terdapat program S1 extension yang membuka kesempatan bagi lulusan Diploma untuk melanjutkan studi ke S1. konversi lamanya bersekolah dapat berbeda untuk setiap individu karena asumsi yang digunakan dalam konversi diatas adalah sebagai berikut: Seseorang yang masuk S1 adalah lulusan SMA. S2.33 artinya rata-rata penduduk di suatu wilayah bersekolah sampai 9 tahun 4 bulan atau setingkat SLTP. B. a.33 Nilai rata-rata lamanya bersekolah yang besar menunjukkan tingginya tingkat pendidikan penduduk di suatu wilayah. APM juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. jika dibandingkan APK. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu.3. Asumsi menempuh pendidikan S2 maksimum adalah 3 tahun dan S3 maksimum adalah 4 tahun. Jika didapat rata-rata lamanya sekolah sama dengan 9. bukan melanjutkan dari diploma.. Tetapi. seperti pada contoh dibawah ini : Individu A B C Jumlah 3 Jenjang SMP SD Universitas Kelas/tingkat 2 6 (tamat) 2 Lama sekolah (tahun) 8 6 14 28 Angka rata-rata lama sekolah : ̅ 9.24 Jenjang Diploma Kelas I II III I II III IV Jumlah tahun bersekolah (kumulatif) 13 14 15 13 14 15 16 17 – 19 20-24 S1 S2 S3 Untuk Diploma. Seperti APK. Angka Partisipasi Murni Angka partisipasi murni adalah perbandingan penduduk usia antara 7 hingga 18 tahun yang terdaftar sekolah pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun. dan S3. Contoh: Bila diketahui tiga individu A. S1. dan C menurut jenjang dan kelas sekolah tertinggi yang pernah di tamatkan. dapat digunakan rumus sebagai berikut: ̅ dimana : ̅ = = = adalah rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk usia 5 tahun keatas adalah jumlah tahun bersekolah individu usia 5 tahun keatas adalah jumlah penduduk usia 5 tahun keatas. APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah siswa atau penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut.

s.3...... 2 2.. 2... 3 3. 3..B. 1. menurut kabupaten/kota Provinsi .. Dst ..2. 1.1.....1..3.2.13 Perkembangan APM Tahun ...14 Angka Partisipasi Murni Tahun ... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.25 Cara menghitung APM: dimana: h = jenjang pendidikan a = kelompok usia t = tahun = jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t = jumlah penduduk kelompok usia a Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun SMA/MA/SMK = 16-18 tahun Sajikan data angka partisipasi murni untuk 5 tahun terakhir ..B. 2. Provinsi ..... dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APM SMA/MA/SMK Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Kota .T-I.... dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.....*) SD/MI NO Kabupaten /Kota jumlah siswa usia 7-12 th bersekolah di SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APM SMP/MTs jumlah siswa usia 13Jumlah penduduk 15 th bersekolah di usia 13-15 th SMP/MTs APM SMA/MA/SMK jumlah siswa usia 16-18 th bersekolah di SMA/MA/ SMK jumlah penduduk usia 16-18th APM 1 2 3 4 5 Kabupaten . Dst ..d . Kabupaten ..T-I.3.2. . 3.*) NO 1 1.1.

3. 1.... Tabel. pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut.2.*) SD/MI NO Kecamatan jumlah siswa usia 7-12 th bersekolah di SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th SMP/MTs jumlah siswa usia 13-15 th bersekolah di SMP/MTs Jumlah penduduk usia 13-15 th SMA/MA/SMK jumlah siswa usia 16-18 th bersekolah di SMA/MA/ SMK jumlah penduduk usia 1618th APM APM APM 1 2 3 Kecamatan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..3...15 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3.1. 2. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan....... berapapun usianya. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 16-18 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APM SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2.d .26 Untuk kabupaten/kota: Tabel.B. APK didapat dengan membagi jumlah penduduk yang sedang bersekolah (atau jumlah siswa). Dimana.T-I. Dst . 2 2. = jenjang pendidikan kelompok usia tahun adalah jumlah penduduk yang pada tahun t dari berbagai usia sedang sekolah pada jenjang pendidikan h adalah jumlah penduduk yang pada tahun t berada pada kelompok usia a yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h ..3. Cara Menghitung APK: 00 .... h = a = t = = .. menurut Kecamatan Kabupaten/Kota . APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan..1.. Kecamatan. Kabupaten/Kota ... 3 3. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... a.B. tanpa memperhitungkan umur..4.16 Angka Partisipasi Murni Tahun .T-I. 1..*) NO 1 1. 3.1.2.. 2... Angka Partisipasi Kasar (APK) APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. s.

.B.. Dst .2.. 2 2.3. 2 2...1.T-I. 2.17 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun .... Provinsi .1..B.*) NO 1 1.. 2..1.27 Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun SMA/MA/SMK = 16-18 tahun Sajikan data APK untuk 5 tahun terakhir. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... 1...d ..1. Untuk kabupaten/kota: Tabel. 3.... SD/MI jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APK SMA/MA/SMK Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.3. s. s.*) NO 1 1. Kota .2. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.2.18 Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun ...3. 1.1.3...3..... 2. 2. Dst .T-I..*) NO Kabupaten/kota jumlah siswa bersekolah di SD/MI SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APK jumlah siswa bersekolah di SMP/MTs SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APK jumlah siswa bersekolah di SMA/MA/ SMK SMA/MA/SMK jumlah penduduk usia 16-18th APK 1 2 3 4 5 Kabupaten ....2...B. 3. 3 3.. Kabupaten/Kota.T-I.d .... 1. Tabel... Kabupaten . Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2.19 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar(APK) Tahun .1. 1. menurut kabupaten/kota Provinsi . 3 3. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ..... dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota..

92% (21.000. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.58% Interpretasi : Angka APT berkisar antara 0 sampai dengan 100.000/153.000/153. 5..3.000. sedangkan penduduk menurut ijazah tertinggi yang pernah ditamatkan sebagai berikut: NO 1.000. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.000.000) x 100 = 20. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi.000..000..T-I. a.. Kecamatan .. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. 4.28 NO 3.64% (32.000 21. 3. Angka Pendidikan yang ditamatkan (APT) APT adalah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah di sekolah negeri maupun swasta dengan mendapatkan surat tanda tamat belajar/ijazah.000 153...000/153...000) x 100 = 13.000) x 100 = 34.. 3... menurut kecamatan Kabupaten/Kota. Cara menghitung APT sebagai berikut: 00 Dimana: h t = jenjang pendidikan = tahun = jumlah penduduk yang mencapai jenjang pendidikan h pada tahun t = total jumlah penduduk pada tahun t Berikut contoh perhitungan APT: diketahui jumlah penduduk sejumlah 153.20 Angka Partisipasi Kasar Tahun .000. juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja. APT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah.000. Dst .000.000....000/153. APT merupakan persentase jumlah penduduk..73% (7.*) SD/MI NO Kecamatan jumlah siswa jumlah penduduk bersekolah di usia 7-12 th SD/MI APK jumlah siswa bersekolah di SMP/MTs SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APK jumlah siswa bersekolah di SMA/MA/ SMK SMA/MA/SMK jumlah penduduk usia 16-18th APK 1 2 3 Kecamatan . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Tabel.. Dari contoh diatas didapat APT SD adalah 34.000 7. . SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah penduduk Ijazah Tertingi Jumlah Penduduk (jiwa) 53.000.92%.000.2.5.000 jiwa.000..000.. 2.64% dan SMP adalah 20.000 32. Maka dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar penduduk hanya tamat SD.B..000 APT SD APT SMP APT SMA APT Perguruan Tinggi = = = = (53. Jenjang Pendidikan jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun APK SMA/MA/SMK (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.000) x 100 = 4.

III.22 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan(APT) Tahun ...000) x 100 = 24. 4. Perguruan Tinggi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Maka dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar tenaga kerja yang tersedia hanya berpendidikan sampai dengan SD.000/133.000. 5.d . SMP 3.000.000 53.000. II. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.000.85 persen dan SMP adalah 24.000 NO 1. Dari contoh diatas didapat APT SD adalah 39.B...000.000/133.T-I. II.000. dapat disamakan dengan jumlah Berikut contoh perhitungan APT: diketahui jumlah penduduk usia 15-64 tahun menurut ijazah tertinggi yang pernah ditamatkan: Jumlah Penduduk usia 15-64 tahun (jiwa) 20. I..1...000) x 100 = 39.. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Untuk provinsi : Tabel.000.d .000 21.21 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan(APT) Tahun . SMA 4..29 Selanjutnya. Catatan: Bila ingin menggunakan APT untuk perencanaan tenaga kerja.06 persen.26% Interpretasi: Angka APT berkisar antara 0 sampai dengan 100.3.06% (21.*) (n-5) NO APT 1. SD 2.79% (7. Provinsi.000..T-I.000..000) x 100 = 15.. 3.85% (32..000 133. penduduk usia angkatan kerja.1...000 32. data APT dapat disajikan dalam tabel berikut: Untuk kabupaten/kota : Tabel. Kabupaten/Kota.2.2.000. Ijazah Tertingi Tidak Berijazah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah penduduk 15-64 tahun APT SD APT SMP APT SMA APT Perguruan Tinggi = = = = (53. III.. II..3.. APT … SD SMP SMA Perguruan Tinggi … SD SMP SMA Perguruan Tinggi … SD SMP SMA Perguruan Tinggi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. III.000..4.000) x 100 = 5.000/133. 2..4.4. I. I. I.000 7.000/133.*) NO I.2.3. misalnya usia 15-64 tahun.000.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. III. s. II. s. II.000. .000. III..1.

Interpretasi: Apabila AKB nasional = 26 pada tahun x. kabupaten/kota.. pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak. Angka kematian bayi (AKB) menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung.1. serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak.30 b. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Secara garis besar. Kegunaan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain... kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen..000 AKB 36 32 21 AKHB 964 968 979 Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. dari sisi penyebabnya... diketahui jumlah jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dan jumlah kelahiran Hidup pada tahun x. Contoh perhitungan seperti diatas supaya disajikan dalam bentuk tabel sekurang-kurangnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.. AKB dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1.000 25. untuk mengetahui perkembangan hasil penanggulangan/kebijakan yang telah dilaksanakan mengatasi tingginya AKB dalam suatu wilayah provinsi. . Angka kelangsungan hidup bayi = (1-angka kematian bayi). Kesehatan b. *) Jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun pada tahun x 750 800 900 Jumlah Kelahiran Hidup pada tahun x 21.000 43. 0-≤ ∑ Lahir Hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Sedangkan angka kematian Post-Neo Natal dan angka kematian anak serta kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi. dengan cara sebagai berikut: 0≤ ∑ Dimana: 1 AKB 000 = per 1000 kelahiran = Angka kematian bayi/Infant Mortality Rate (IMR) = Jumlah kematian bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu. Kabupaten/Kecamatan . program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk ibu hamil dan anak. Berikut contoh perhitungan AKHB. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neo-natal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan. yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. sebagai berikut: Kabupaten/Kecamatan *) Kabupaten/Kecamatan . maka dengan AKB = 36 di kabupaten/kecamatan masih diatas rata-rata nasional atau perlu ditekan seperti melalui program-program imunisasi.. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal. program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun.. misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.. Kabupaten/Kecamatan . dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir. adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

sangat tinggi = di bawah 10 % = 10-19 % = 20-29 % = 30 % Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1971 (periode 19671969) akan dapat hidup sampai 47 atau 48 tahun.8 tahun untuk bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1990. WHO (1999) mengelompokkan wilayah yaitu kecamatan untuk kabupaten/kota dan kabupaten/kota untuk provinsi berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok dari seluruh jumlah balita. sedang c. Tetapi bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 1980 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yakni 52. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Keadaan tubuh anak atau bayi dilihat dari berat badan menurut umur. Angka usia harapan hidup Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Peningkatan angka harapan hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan bangsa Indonesia selama tiga puluh tahun terakhir dari Tahun 1970an sampai Tahun 2000. Contoh: Angka Harapan Hidup yang terhitung untuk suatu kabupaten/kota dari hasil sensus penduduk Tahun 1970 adalah 47. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik maka untuk menghitung angka harapan hidup digunakan dengan mengutip angka yang diterbitkan BPS. Angka harapan hidup saat lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu. b. Angka harapan hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x. anak disebut gizi baik. Klasifikasi status gizi dibuat berdasarkan standar WHO... 2 tahun. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. yaitu : a. meningkat lagi menjadi 59. Apabila AHH dibawah angka rata-rata nasional maka diperlukan program pembangunan kesehatan.5 Tahun 2010 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya.. pada suatu tahun tertentu. dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan. dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan.2.2 Tahun 1990 59.5 tahun. Idealnya angka harapan hidup dihitung berdasarkan angka kematian menurut umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat tabel kematian.. Persentase balita gizi buruk dapat dihitung dengan rumus.8 Tahun 2000 65.31 b. sebagai berikut: . rendah b. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar.*) Hasil Sensus Penduduk Tahun 1970 47. Persentase balita gizi buruk Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita. tinggi d. dan bagi bayi yang dilahirkan Tahun 2000 usia harapan hidupnya mencapai 65.7 Tahun 1980 52. berikut contoh dibawah ini: Angka Harapan Hidup Provinsi/Kabupaten/Kota .3.7 tahun.

Tabel.. 1. Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Kemiskinan absolut.. Adalagi kemiskinan kultural (karena faktor adat) seperti suku badui di cibeo (Banten). Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Angka kemiskinan adalah persentase penduduk yang masuk kategori miskin terhadap jumlah penduduk. 3.angka kemiskinan). Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk: 1.*) Garis Kemiskinan Rph/Kapita/bulan Daerah/Tahun Makanan Perkotaan Perdesaan Kota + Desa *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan.. BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Kemiskinan. yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Membandingkan kemiskinan antar waktu.B. Untuk mengukur kemiskinan. dayak dan sebagainya. dapat dihitung Head Count Index (HCI).. . Sebagai informasi tambahan. Menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka. yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masingmasing komoditi pokok bukan makanan. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Persentase penduduk diatas garis kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula (100 . Kemiskinan Struktural (contoh. ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum.32 00 c. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi . biasanya Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan US $ 1 atau US $ 2 per hari.23 Garis Kemiskinan. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung kemiskinan adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. orang tengger dsb). Beberapa pengertian terkait dengan kemiskinan antara lain: 2. Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan. 2. juga digunakan hasil survei SPKKD (survei paket komoditi kebutuhan dasar). Kepemilikan tanah (Persentase Jumlah Penduduk Yang Memiliki Lahan) Persentase jumlah penduduk yang memiliki lahan adalah perbandingan jumlah penduduk yang memiliki lahan terhadap jumlah penduduk dikali 100.T-I. yang terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan (GKBM).. Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan (GK). antar daerah. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. Dengan pendekatan ini. 3. Kemiskinan relatif. suku kubu (Jambi).1. c.. Dengan pendekatan ini. misal orang mentawai. ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencapai standar kehidupan yang ditetapkan masyarakat setempat sehingga proses penentuannya sangat subjektif. kemiskinan karena lokasi yg terisolasi. Untuk melihat penduduk miskin dunia. Bukan Makanan Total Jumlah penduduk miskin (jiwa) Persentase penduduk miskin d.

.. kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian.B.25 Kepemilikan Tanah Tahun .. Dengan demikian.T-I... Kesempatan kerja (Rasio penduduk yang bekerja) Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja.. … Provinsi ... Kecamatan. Kecamatan.. maka angka yang digunakan adalah = (1 .B... dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Jika yang tersedia adalah angka pengangguran.24 Persentase Penduduk Memiliki Lahan Tahun . Luas Tanah (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah penduduk yang memiliki tanah (4) Persentase penduduk memiliki tanah (5=4/3) e. keterampilan dan bakatnya masing-masing.T-I... Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja... Kabupaten/kota... Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja.. Bisa juga disebut sumber daya manusia. (n-5) (n-4) Uraian Luas Tanah Jumlah penduduk Jumlah penduduk yang memiliki tanah Persentase penduduk memiliki tanah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Kecamatan (1) Kecamatan. (n-3) (n-2) (n-1)**) Sedangkan untuk Kabupaten/kota: Tabel.. Dalam ilmu ekonomi.33 00 Selanjutnya perhitungan angka kepemilikan tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel...angka pengangguran) Contoh menghitung rasio tersebut terlebih dahulu disusun data angkatan kerja yang bekerja dan yang mencari pekerjaan menurut kelompok umur berdasarkan hasil sensus terakhir ke dalam tabel sebagai berikut: . Sementara itu. angkatan kerja (labour force) menurut Soemitro Djojohadikusumo didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif. Kecamatan.. Kesempatan Kerja (demand for labour) adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja). **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

B..T-I.*) Tahun .300 3.100 5. menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat. Tabel. Kejadian 5 8 4 2 7 15 12 2 5 9 15 5 0 89 Tertangani 4 6 2 2 6 13 10 1 4 8 14 4 0 74 Contoh diketahui jumlah penduduk kabupaten/kota sebesar 200.000 10.. Pemerintahan daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat...000 3.700 Jumlah 6.B..700 000 0.000 Mencari Pekerjaan 1.34).66=0..27 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota . ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas untuk mewujudkan stabilitas penyelenggaraan pemerintahan terutama di daerah. maka angka kriminalitas yang tertangani : 0 000 .000 15.000 88..100 1.100 12.300 4.600 9.700 21.100 2.100 133. Angka kriminalitas yang ditangani merupakan jumlah tindak kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap 10.000 penduduk.000 5.600 9. Kasus Pembunuhan Penganiayaan Berat Penculikan Pencurian dengan Kekerasan Pencurian dengan Pemberatan Pencurian Ranmor Pencurian Kawat Telepon Pemerkosaan Pembakaran Senpi/Handak Pemerasan Penyelundupan Kejahatan Terhadap Kepala Negara Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.100 45.600 19.600 4. 33 00 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 66% dari angkatan kerja yang ada memperoleh kesempatan kerja sedangkan 34%nya masih mencari kerja atau pengangguran (1-0.000 3.000 11. serta menanggulangi kriminalitas sehingga kuantitas dan kualitas kriminalitas dapat diminimalisir.300 10.000 8.000 jiwa.700 8..T-I.500 1.34 Tabel.400 14.000 6.000 12.000 13. Kriminalitas (Angka kriminalitas yang tertangani) Keamanan. f.500 12.400 6. Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegak hukum (polisi/kejaksaan).000 4.300 7.000 11.26 Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja Golongan umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Jumlah Angkatan Kerja Bekerja 5.

Jumlah gedung kesenian adalah jumlah gedung kesenian per 10.d ..000 penduduk Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Dst .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...T-I.. Seni Budaya dan olahraga Pembangunan bidang seni. s..3.. menurut kabupaten/kota/Provinsi . Jumlah grup kesenian adalah jumlah grup kesenian per 10. berbudaya dan beradab serta (ii) mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi ...000 penduduk. Dst .000 penduduk.T-I. budaya dan olahraga dapat dilihat berdasarkan indikator sebagai berikut: a.000 penduduk...000 penduduk.. d. .35 - Catatan: Tabel tersebut diatas dapat disajikan dan dianalisis untuk data angka kriminalitas dalam kurun 5 tahun terakhir.000 penduduk Jumlah klub olahraga per 10.B. Tabel.000 penduduk.....B..000 penduduk. beretika.. Pencapaian pembangunan seni. Jumlah gedung olahraga adalah jumlah gedung olahraga per 10. Budaya dan Olahraga Tahun . Budaya dan Olahraga Tahun . Jumlah gedung olahraga per 10.. Jumlah klub olahraga adalah jumlah klub olahraga per 10.29 Perkembangan Seni.. Jumlah klub olahraga per 10.000 penduduk.000 penduduk Jumlah gedung olahraga per 10.000 penduduk Jumlah gedung kesenian per 10. b.*) NO 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10....... budaya dan olahraga dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Untuk Provinsi: Tabel..000 penduduk. Selanjutnya penyajian pencapaian pembangunan seni.... Jumlah gedung kesenian per 10.... Kabupaten . Kota . budaya dan olahraga sangat terkait erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat. 1. Hal ini sesuai dengan 2 (dua) sasaran pencapaian pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan yaitu (i) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia. c.. Kabupaten/kota Jumlah grup kesenian per 10. bermoral...*) No 1 2 3 4 5 Kabupaten ..28 Perkembangan Seni.

d . Aspek Pelayanan Umum 2. . dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah.1. Pendidikan Dasar 2. Di Indonesia. Namun. 1.T-I. jenjang pendidikan kelompok usia tahun jumlah siswa kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t jumlah penduduk kelompok usia a Jenjang pendidikan menurut kelompok usia sekolah : SD/MI = 7-12 tahun SMP/MTs = 13-15 tahun 000 Sajikan data APS untuk 5 tahun terakhir. Cara menghitung APS sebagai berikut: .1.1.. Bila ukuran seperti perubahan jumlah murid digunakan. bisa jadi ditemukan penurunan jumlah murid di sekolah dasar dengan interpretasi terjadi penurunan partisipasi sekolah.1.30 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun . APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan dasar (7-12 tahun dan 13-15 tahun) yang masih menempuh pendidikan dasar per 1.1. 2. maka akan ditemukan peningkatan partisipasi di tingkat SD yang disebabkan semakin rendahnya jumlah penduduk usia SD.3... Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah.36 2.. Provinsi . bila digunakan APS. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. 000 dimana: h = a = t = = .B. 1. . s.1. proporsi penduduk muda sendiri semakin menurun akibat semakin rendahnya angka fertilitas (lihat bagian fertilitas)...2. = .2. 2.1. 2 2.3. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Penurunan ini akan menyebabkan semakin menurunnya jumlah anak-anak yang masuk sekolah dasar. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO 1 1.1.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Sehingga...1. Pendidikan 1. Fokus Layanan Urusan Wajib 2.1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..1.. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah.1.

Dst ....33 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ..3.37 Tabel..T-I.d . menurut kabupaten/kota Provinsi . jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.32 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .T-I........... Dst . s.T-I. Kota . Tabel.... Untuk menghitung APS menurut jenjang pendidikan: APS 7-12 APS 13-15 3..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten ... 1....3..5 000 000 Untuk menghitung APS usia pendidikan dasar: 3 3 5 5 000 . Dst .. 2..B..*) NO 1 1.2....... 2........1.B. menurut kecamatan Provinsi .5 3. 1..2. Kecamatan.31 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ....*) NO 1 2 3 Kecamatan jumlah murid usia 7-12 thn SD/MI jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 1315 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS Kecamatan.1.. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B. 2 2. Jumlah Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..*) SD/MI NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota Kabupaten .. Untuk kabupaten/kota: Tabel... Kabupaten/Kota .

B..2...T-I.3..3.d . menurut Provinsi .... Jumlah gedung sekolah 1. jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.. Rasio 2 SMP/MTs 2.*) Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun 1. Jumlah gedung sekolah 2... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kabupaten/kota .2.1.1.3. jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... Kota .T-I........B... Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan dasar.1.2... Dst ....d . Untuk kabupaten/kota: Tabel. Jumlah gedung sekolah 2.3.. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10.. NO 1 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.....B. Untuk menghitung rasio ketersedian/penduduk usia sekolah dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. s.*) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1..000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Kabupaten .T-I. jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun 2... Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.1. Provinsi . s.2.2...38 2.*) NO (1) (2) Kabupaten/kota SD/MI Jumlah gedung sekolah (3) jumlah penduduk usia 7-12 th (4) Rasio (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) 1 2 3 4 5 Kabupaten .1. Rasio 2 SMP/MTs 2.. 1. Dst ..35 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah ..34 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Tahun ..36 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Tahun .1....

. Dst .37 Ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah menurut kecamatan Kabupaten/kota .2. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Dst .1...3.... 1 2 3 Rumus menghitung rasio ketersediaan sekolah menurut jenjang pendidikan dasar: Rasio Ketersediaan sekolah SD/MI = Rasio Ketersediaan sekolah SMP/MTs = Rasio Ketersediaan sekolah pendidikan dasar: 0 000 0 000 0 000 3 5 3 5 2......3..T-I. Dst ...000 jumlah murid pendidikan dasar..38 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun ... Jumlah Murid 2.. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.B.39 Tabel. Provinsi ...*) SD/MI NO (1) SMP/MTs KECAMATAN (2) Jumlah gedung sekolah (3) jumlah penduduk usia 7-12 th (4) Rasio (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan . Kota ...... Jumlah Murid 1.1... Rasio guru/murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per 1.39 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar menurut kabupaten/kota Provinsi . Kabupaten . Jumlah Guru 1.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Rasio 2 SMP/MTs 2...1.T-I.*) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1.1.B. 1 2 3 4 5 ... Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....1..B. Untuk menghitung rasio guru terhadap murid dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..2.. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.3.*) SD/MI NO (1) SMP/MTs KABUPATEN/KOTA (2) Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) Kabupaten . s.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.....T-I.. Jumlah Guru 2.d . Kecamatan ..

(n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel..000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Kemudian hitung APS jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: APS 16-19 - 000 1...... Kabupaten/Kota... Dst . . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Rasio 2 SMP/MTs 2.2.41 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar menurut Kecamatan Kabupaten/Kota.2.1.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Sajikan data APS usia pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir.1. Jumlah Murid 1..3.1..40 Untuk kabupaten/kota: Tabel.T-I. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan menengah. Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah (16-19 tahun) yang masih menempuh pendidikan menengah per 1. Pendidikan Menengah 1.1 APS untuk pendidikan dasar. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan menengah per 10.40 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .2...1. Kecamatan .2..1.1..T-I.1. s.*) NO (1) KECAMATAN (2) SD/MI SMP/MTs Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan . Jumlah Murid 2.... Jumlah Guru 1.1. seperti pada penjelasan 2.*) (n-5) NO Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1.1. Rasio guru/murid per kelas rata-rata 000 1...2.3.1... Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.B.1. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.1.B. Jumlah Guru 2..1.2.4. 1 2 3 Rumus menghitung rasio guru dan murid menurut jenjang pendidikan: Rasio guru dan murid SD/MI Rasio guru dan murid SMP/MTs = = G G G 000 0 000 0 000 Rasio Guru dan Murid pendidikan dasar = 2.1.1.d ..

Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.2. Karena Posyandu merupakan wadah peranserta masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya. maka diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini.41 Sajikan Rasio ketersediaan sekolah terhadap pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.1.1.4. 3.2. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal guru per kelas terhadap jumlah murid agar tercapai mutu pengajaran. Kesehatan 1. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota. Tujuan penyelenggaraan Posyandu: 1.000 jumlah murid pendidikan menengah.1.1. seperti pada penjelasan 3. Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan menengah per 1.1 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan menengah. Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB).1. Kemudian hitung rasio guru terhadap murid pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = G 0 000 1. 4. Pengalaman empirik dibeberapa tempat menunjukan.. oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak. Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata adalah jumlah guru pendidikan menengah per kelas per 1. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar.000 jumlah murid pendidikan menengah.2.1.2.2. Angka Kematian Ibu ( ibu Hamil. Sajikan rasio guru terhadap murid pendidikan menengah untuk 5 tahun terakhir. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar per kelas. Kemudian hitung rasio ketersediaan sekolah menurut jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Rasio Ketersediaan sekolah SMA/MA/SMK = 0 000 1.3. Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia dini. 2. pengembangan psikososial/emosi. melahirkan dan nifas). 0 000 2. Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera. Membudayakan NKKBS. dapat dilakukan pada Posyandu. dapat dilakukan di setiap posyandu. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera. merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik. lingkungan yang sehat dan aman. bahwa strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan anak seperti itu.1.1. .1.

..43 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst ..B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 3.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan......T-I. dan agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan dan atau ditingkatkan........ Provinsi ..d ...B. s.T-I. .....d .... Kabupaten/Kota. Jumlah balita 3. Jumlah posyandu 2. Kecamatan .B..T-I.. Dst ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah posyandu (3) Jumlah balita (4) Rasio (5=4/3) Kabupaten . Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita.. Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per balita.B..... Uraian Jumlah posyandu Jumlah balita Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.42 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun ..42 Terkait dengan hal tersebut diatas perlu dilakukan analisis rasio posyandu terhadap jumlah balita dalam upaya peningkatan fasilitasi pelayanan pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. 1 2 3 4 Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah posyandu (3) Jumlah balita (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan .*) NO 1.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst .... 2...T-I.44 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun . Kabupaten/Kota.45 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan Tahun .*) (n-5) NO Uraian 1. Untuk menghitung rasio posyandu per satuan balita dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.......... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Kegunaannya untuk mengetahui berapa selayaknya jumlah posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah. Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s. Tabel... Kota . Provinsi ...

.. 6..d ..T-I. Tabel. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Poliklinik dan Pustu Tahun .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...46 Jumlah Puskesmas.. asuhan keperawatan yang berkesinambungan.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah Penduduk (3) Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (6) Rasio (7=6/3) Jumlah (8) Rasio (9=8/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .. Dst .B. Kabupaten/Kota . Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Tabel. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.43 1.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (6) Rasio (7=6/3) Jumlah (8) Rasio (9=8/3) 1 2 3 Kecamatan. Dst ..B... 2..T-I.... diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.. Rasio Pustu persatuan penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..1.... Kecamatan.. s.... Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Poliklinik Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas persatuan penduduk Rasio Poliklinik persatuan penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 7....2..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2....2. Poliklinik dan Pustu Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst .. Kabupaten ...... Untuk kabupaten/kota: Tabel.47 Jumlah Puskesmas. Kota .*) NO 1.T-I.. 4.... Untuk menghitung rasio rumah sakit per satuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: .. 5.. 3.. Kabupaten/Kota...48 Jumlah Puskesmas.. Rasio Puskesmas.3. Provinsi ..1. Poliklinik dan Pustu Menurut Kecamatan Tahun ...B. 1.

B. Kabupaten/Kota . 6... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... 4. s..49 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun .. Dst ... Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.....T-I.....d ..T-I. Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....B. Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...*) Jumlah Penduduk Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio NO Kabupaten/kota Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh Rasio Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jmlh Rasio Rumah Sakit Daerah Jmlh Rasio Rumah Sakit Swasta Jmlh Rasio Total Jmlh Rasio 1 2 3 4 5 Kabupaten .51 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 7.. Kecamatan. 2.T-I. 3....*) NO 1.*) Jumlah Penduduk Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio NO Kecamatan RS Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh Rasio Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jmlh Rasio Rumah Sakit Daerah Jmlh Rasio Rumah Sakit Swasta Jmlh Rasio Total Jmlh Rasio 1 2 3 Kecamatan. 2.......B.... 5..d .T-I.. 4.. Tabel.50 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Untuk kabupaten/kota: Tabel. 5. Kabupaten . Jumlah . Provinsi ... Dst ... Kota ....... s..B..44 Untuk Provinsi: Tabel.... 6. Kabupaten/Kota. 3.52 Jumlah Rumah Sakit menurut Kecamatan tahun .. Tabel.........*) NO 1. Provinsi ...... 7.

Jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlah penduduk Indonesia..*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Dokter 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..T-I. Rasio dokter per satuan penduduk Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada..1...T-I..56 Jumlah Dokter Menurut Kecamatan Tahun ... ... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 000 1.d . Kabupaten/Kota. idealnya satu orang dokter melayani 2.. Untuk menghitung rasio dokter per satuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.45 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.4.. Selain itu distribusi dokter dan dokter spesialis tidak merata serta kualitasnya masih perlu ditingkatkan..... Rasio ini mengukur ketersediaan fasilitas rumah sakit berdasarkan jumlah penduduk...B.... Dst ..d ..B....2. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.T-I... s.........*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Dokter 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Dokter (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan . Kabupaten/Kota .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi .... 1 2 3 4 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Provinsi . Kota ....*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Dokter (4) Rasio (5=4/3) Kabupaten .. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Dst . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.54 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota Tahun .000 penduduk..500 penduduk.55 Jumlah Dokter Tahun ...B.. Rasio rumah sakit per satuan penduduk adalah jumlah rumah sakit per 10... Dst ..T-I...... Kecamatan ..53 Jumlah Dokter Tahun . s....

Dst ..T-I....B.1. 2.... Kabupaten/Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s...*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah Tenaga Medis Jumlah Penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B... Rasio tenaga medis per satuan penduduk Rasio Tenaga Medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besar ketersediaan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada penduduk..46 1... (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... Untuk menghitung rasio tenaga medis persatuan penduduk dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel....*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Tenaga Medis (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten . 1....3. Kabupaten ...1.*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Tenaga Medis (4) Rasio (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan ..5...B.T-I.*) (n-5) NO Uraian 1 Jumlah Tenaga Medis 2 Jumlah Penduduk 3 Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi . s.. Provinsi ... Kecamatan . Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2.....59 Jumlah Tenaga Medis Tahun ...60 Jumlah Tenaga Medis Menurut Kecamatan Tahun ... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.d ...57 Jumlah Tenaga Medis Tahun ..3......d ......... Kota ...1... Dst . Untuk kabupaten/kota: Tabel.1.B..... Dst .T-I. Lingkungan Hidup Persentase penanganan sampah Untuk menghitung persentase penanganan sampah dapat disusun tabel sebagai berikut: ..58 Jumlah Tenaga Medis Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.....T-I. Tabel.

. s.d ....B.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah sampah yang ditangani (3) Jumlah volume produksi sampah (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten . dan tidak mengandung logam berat. Kabupaten/Kota . Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia. Untuk menghitung persentase penduduk berakses air bersih dapat disusun tabel sebagai berikut: .T-I.. Provinsi .. Dst . Tabel..... Persentase penduduk berakses air minum Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa.. tidak berbau.B. Kota .61 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun ...2. banyak zat berbahaya..1...T-I. Provinsi .... Kabupaten/Kota.. tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.3.T-I... Kabupaten . terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya.63 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun .*) NO 1.. Untuk Kabupaten: Tabel.. 1.*) NO 1. 2.47 Untuk Provinsi: Tabel.62 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kabupaten/Kota Tahun .... 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Tabel.d ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Kecamatan .64 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kecamatan Tahun .. Dst . tidak berwarna.... s....B......... 2.... Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C.. Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... terutama logam.......*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah sampah yang ditangani (3) Jumlah volume produksi sampah (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 Kecamatan .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...B. Dst ..T-I. 3. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.

.B..d ..T-I..... 3.. 1 2 3 Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan.. Kecamatan .*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten . Tabel. Kota .T-I.... Provinsi .....*) NO 1...*) (n-5) Uraian Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum 2.68 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun .. s. Provinsi . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst . Dst . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.......66 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun . atau mata air .. sumur.B...T-I.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.....65 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun ..... Untuk kabupaten/kota: Tabel... NO 1..... Uraian Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum Jumlah penduduk (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase penduduk berakses air bersih *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..... Persentase penduduk berakses air bersih *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kabupaten/Kota ..... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.48 Untuk Provinsi: Tabel. pompa air. Jumlah penduduk 3....B..*) NO (1) Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Penduduk yang mendapatkan akses air minum (4) Persentase (5=4/3) Kecamatan ... 2. Kabupaten/Kota.T-I....B.. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral... Kabupaten .67 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun . s.... Dst . air leding/PAM.d .

... Provinsi . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.49 yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal....3. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... Kabupaten ..d . Uraian luas area permukiman tertata luas area permukiman keseluruhan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Persentase Luas Permukiman yang Tertata *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Luas Area Permukiman Keseluruhan (3) Luas Area Permukiman Tertata (4) Persentase (5=4/3) 1 2 3 4 5 Kabupaten .... Kota ...70 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kabupaten/Kota Tahun .B....3.. Untuk menghitung persentase luas permukiman yang tertata dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan . ..*) (n-5) Uraian luas area permukiman tertata luas area permukiman keseluruhan Persentase Luas Permukiman yang 3.. s...71 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun .. Dst .d . 3... NO 1. 2...B... Persentase luas permukiman yang tertata Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung.. Dst .... s... 2..69 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun .B.T-I.. Tertata *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi ..*) NO 1...1.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 1. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I....T-I.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kabupaten/Kota ...

Kinerja jaringan jalan dinyatakan sebagai Mantap Sempurna. Dst . c.. 1 2 3 Persentase Luas Permukiman yang Tertata adalah proporsi luas area permukiman yang sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang satuan permukiman terhadap luas area permukiman keseluruhan.1. . bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 6 s/d 10 %).1.. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi Kinerja jaringan berdasarkan kondisi dengan terminologi baik. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Kinerja jaringan jalan sebagai hasil dari manajemen pengelolaan didasarkan kepada beberapa indikator makro yaitu : 1.. Dapat dikatakan juga sebagai semua ruas jalan yang mantap dari aspek kondisi tetapi tidak mantap dari aspek pemanfaatan/kapasitas atau sebaliknya.lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan kecepatan disain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan....4.4.*) NO (1) Kecamatan (2) Luas Area Permukiman Keseluruhan (3) Luas Area Permukiman Tertata (4) Persentase (5=4/3) Kecamatan . Kerusakan yang ada mulai menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas.50 Tabel. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu : a. atau sebaliknya yaitu jalan dengan lebar yang cukup tetapi kondisi rusak sampai rusak berat.4. Kabupaten/Kota .. sedang. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek kemantapan adalah merupakan kinerja gabungan dari aspek kondisi dan aspek pemanfaatan/kapasitas.. adalah semua ruas jalan baik secara kondisi maupun kapasitas tidak mantap. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 2.. bahu jalan dan ≤ . Untuk keperluan teknis operasional diperlukan suatu definisi atau batasan/kriteria teknis (“engineering criteria”) yang lebih jelas dan bersifat kuantitatif. Terminologi ini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan dengan penjelasan sebagai berikut: a. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menuju rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 10 s/d 16 %).1. rusak dan rusak berat.72 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kecamatan Tahun . Kondisi Baik (B) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan. dimana hal tersebut lebih merupakan definisi secara kualitatif..1. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik tetapi lebarnya kurang dari ketentuan berdasarkan jumlah LHR yang ada.1. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik dan lebarnya memenuhi ketentuan lebar minimum perkerasan (berdasarkan LHR yang ada). Mantap Sempurna.. b.. c.. Kecamatan . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Sarana dan Prasarana Umum 1. Mantap Marginal. b.. arus lalu ..1. Kerusakan yang ada belum (atau sedikit saja) menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas. Tidak Mantap. sedang rusak. Mantap Marginal dan Tidak Mantap..T-I. sehingga kendaraan harus mengurangi kecepatannya..1. atau semua ruas jalan yang mantap baik dari aspek kondisi maupun aspek pemanfaatan/kapasitas.4.2. Kondisi Sedang (S) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan. Kondisi Sedang Rusak (SR) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan..B. 1..1.

Provinsi ..65...4..51 d. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3.. Kondisi Rusak (R) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.74 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kabupaten/Kota Tahun .T-I.. baik untuk individual segmen maupun untuk sepanjang ruas dan sistem jaringan adalah aspek kondisi dan aspek pemanfaatannya.*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan Kabupaten .. 4. Tabel... Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek pemanfaatan Dua hal utama yang berkaitan erat dengan kinerja jalan. dimana semakin besar nilai V/C ratio berarti semakin rendahnya tingkat pelayanan jalan tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya kemacetan. V/C ratio menunjukkan gambaran mengenai tingkat pelayanan suatu jalan dalam melayani arus (pergerakan) lalu – lintas.. Kondisi diukur (terutama) dengan besaran nilai Kondisi.B.1.T-I. mengurangi kecepatannya.... Kabupaten .1.*) NO 1... Kerusakan yang ada sudah sangat parah dan nyaris tidak dapat lagi dilewati oleh kendaraan roda – 4. Kota .. Batasan nilai V/C ratio yang menunjukkan tingkat pelayanan mulai mendekati kemacetan diambil > 0. Kerusakan yang ada sudah sangat menghambat kelancaran arus pergerakan lalu ... . Kondisi Jalan Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Panjang Jalan (km) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan (nasional.. s... dan kabupaten/kota) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....B... sedangkan aspek pemanfaatan diukur dengan besaran V/C ratio. provinsi. Dst . 1..... 5..lahan.73 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun .3. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 16 s/d 20 %)... kadangkala harus berhenti akibat adanya kerusakan atau hambatan pada permukaan perkerasan. Kondisi Rusak Berat (RB) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2.lintas.. atau hanya dapat dilewati dengan kecepatan sangat rendah. e. sehingga kendaraan harus berjalan secara perlahan . Provinsi . Untuk menghitung proporsi panjang jaringan jalan berdasarkan kondisi dapat disusun tabel sebagai berikut : Untuk Provinsi: Tabel.d .. Dst . bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak berat menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan > 20 %)....

Dst .B.. Provinsi ..T-I. s. dan kabupaten/kota) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. ..*) NO 1. 4. Rasio Jaringan Irigasi Pengertian jaringan irigasi adalah saluran.d . 3.... 5..2. Kecamatan .B.T-I. pemberian. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..d .T-I. 2. s. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan (nasional.... Selanjutnya secara operasional dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer... provinsi..1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3. Kondisi Jalan Panjang Jalan (km) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan (nasional.75 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun .. 4..... 5.. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan... Kabupaten/Kota .. 2. Hal ini mengindikasikan kualitas jalan dari keseluruhan panjang jalan.*) NO 1. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1.. penggunaan dan pembuangan air irigasi. provinsi. pembagian...... Kabupaten/Kota ... Untuk menghitung Rasio perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya dapat disusun tabel sebagai berikut : Untuk Provinsi: Tabel. saluran kuarter dan saluran pembuang.B.4. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. boks tersier. Dari ketiga kelompok jaringan tersebut.77 Rasio Jaringan Irigasi Tahun .*) NO 1 2 3 Kecamatan Kondisi Baik Kondisi Sedang Rusak Kondisi Rusak Kondisi Rusak Berat Jalan secara keseluruhan Kecamatan .. Tabel.76 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kecamatan tahun ..52 Untuk kabupaten/kota: Tabel.. boks kuarter serta bangunan pelengkapnya. dan kabupaten/kota)... yang langsung berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi ke dalam petakan sawah adalah jaringan irigasi tersier yang terdiri dari saluran tersier. Jaringan Irigasi Panjang Jaringan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. sekunder dan tersier.

... Dst .. Sedangkan efektivitas ditunjukkan oleh indeks luas areal (IA). 1 2 3 Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya..B.... 2. Kecamatan ..*) NO (1) Kabupaten /Kota (2) Primer (3) Panjang Jaringan Irigasi Sekunder Tersier (4) (5) Total Panjang Jaringan Irigasi (6=3+4+5) Luas lahan budidaya (7) Rasio (8=6/7) Kabupaten ..B. tolok ukur keberhasilan pengelolaan adalah efisiensi dan efektifitas... Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer... 5.... Kabupaten/Kota.79 Rasio Jaringan Irigasi Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Jaringan Irigasi Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio (n-5) (n-4) Panjang Jaringan (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten ... s. 4. a. Tabel.*) NO 1.*) NO (1) Kecamatan (2) Panjang Jaringan Irigasi Primer Sekunder Tersier (3) (4) (5) Total Panjang Jaringan Irigasi (6=3+4+5) Luas lahan budidaya (7) Rasio (8=6/7) Kecamatan ..B. Dst .T-I.T-I..78 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun ..T-I... Kabupaten/Kota. Pasok Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok Air Relatif (PAR) dengan rumusan sebagai berikut:    . Kota .. Pasok Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok Air Relatif (PAR). **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst .. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Didalam pengelolaan jaringan irigasi. tersier.. 3. Tingkat efisiensi akan diukur dari nilai Pasok Irigasi per Area (PIA).... Provinsi ....... sekunder.....d .... 1 2 3 4 5 Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dalam hal ini efisiensi teknis diukur dari tiga indikator yaitu Pasok Irigasi per Area (PIA).. Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian..80 Rasio Jaringan Irigasi menurut Kecamatan tahun .53 Tabel.. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.......

(n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. maka pengelolaan irigasi semakin efisien... Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. 1. dengan rumusan berikut: 00 Luas rancangan = rancangan luas areal Semakin tinggi nilai IA menunjukkan semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi..54 Semakin kecil nilai PIA. Pasok Air Relatif 4. s. . PIR dan PAR biasa juga dipakai untuk mengukur kemampuan masyarakat mengelola sumberdaya air dalam kegiatan suatu sistem irigasi.d ... di lapangan diidentifikasi rasio atau nisbah luas areal terairi terhadap rancangan luas areal mencapai 91% (0.. Rancangan Luas Areal *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Sementara itu PIR atau disebut juga Relative Irrigation Supply (RIS) menunjukkan nisbah antara pasok irigasi total dengan kebutuhan air tanaman.. Provinsi. Tingkat efektivitas akan diukur dari nilai Indek Luas Areal (IA). Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.T-I. PIA menunjukkan nisbah antara pasok irigasi dengan luas lahan terairi.. Apabila curah hujan tinggi dan nilai PIR juga tinggi maka fenomena ini menunjukkan bahwa petani belum mampu untuk mengelola sumberdaya secara sepadan. Dst . Efisiensi pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nilai koefisien PIA.. Dst . Kota .. 3.B. PIR dan PAR. Selisih antara PAR dan PIR merupakan curah hujan yang dapat digunakan tanaman...91). Pasok Irigasi Relatif 3...T-I..*) NO Kabupaten/kota Luas Rancangan (Ha) 3 Luas Lahan Terairi (Ha) 4 Kebutuhan Air Tanaman (Ha) 5 Pasok Air Irigasi (lt/ dtk) 6 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) 7 Total Pasok Air (lt/ dtk) 8 PIA (lt/ dtk/ha) PIR (lt/ dtk/ha) PAR (lt/ dtk/ha) IA (%) 1 2 9=6/4 10=7/5 11=8/5 12=4/3 Kabupaten ... dan PAR atau Relative Water Supply (RWS) merupakan nisbah total pasok air (irigasi ditambah curah hujan efektif) terhadap kebutuhan air tanaman. dalam hal ini semakin kecil nilai PIA maka efisiensi manajemen akan semakin besar.. 2. Semakin kecil nilai PIR dan PAR menunjukkan bahwa efisiensi manajemen irigasi semakin bagus. efektifitas pengelolaan air ini mengalami peningkatan sekitar 2%. Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nisbah antara luas areal terairi terhadap luas rancangan. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (89%). Provinsi.82 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Artinya dari seluruh target areal yang akan diairi hanya ada sekitar 9% saja yang tidak terairi. Hasil Analisis efisiensi dan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi disajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.....*) NO Pasokan Irigasi 1.B. Pasok Irigasi per Area 2.... Dengan pemahaman seperti itu. PIR dan PAR... Indek Luas Areal 5...... 4.81 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun . b.

...T-I.. 1....... Dst . Kabupaten ....T-I...B.. ..... Pasok Irigasi per Area 2. Dst . Tabel.d .T-I...4.*) NO Kabupaten/Kota 1..85 Rasio Tempat Ibadah Tahun .55 Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) NO 1 Kecamatan 2 Luas Rancangan (Ha) 3 Luas Lahan Terairi (Ha) 4 Kebutuhan Air Tanaman (Ha) 5 Pasok Air Irigasi (lt/ dtk) 6 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) 7 Total Pasok Air (lt/ dtk) 8 PIA (lt/ dtk/ha) 9=6/4 PIR (lt/ dtk/ha) 10=7/5 PAR (lt/ dtk/ha) 11=8/5 IA (%) 12=4/3 1... Mesjid Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Gereja Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Pura Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Vihara Jumlah pemeluk Rasio Kelenteng Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Lain-lain Jumlah pemeluk Rasio Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....... Kabupaten/Kota. 1. Pasok Air Relatif 4.T-I.. 2..... 2....d . Pasok Irigasi Relatif 3.*) NO Pasokan Irigasi 1.d ... 3.*) Untuk Provinsi: NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) Thn (n-5) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Thn (n-1)**) Jumlah pemeluk Rasio (1) (2) (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=7/8) Mesjid Gereja Pura Vihara Kelenteng Lain-Lain Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kecamatan .86 Rasio Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. 2.1.84 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan Tahun . 4... Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..B.. Dst . 3...3.B.... Kecamatan . 6. Kabupaten .. s.. 5.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Indek Luas Areal 5. Kabupaten/Kota....83 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun . 4... 5.. 4. 3. Provinsi .. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s. Provinsi . Rancangan Luas Areal *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....B. Kota .

..56 Untuk kabupaten/kota: Tabel...... Dst . 6. Mesjid Gereja Pura Vihara Kelenteng Lain-Lain Jumlah (2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..T-I.T-I.. s.d .T-I...*) Mesjid NO 1. Kabupaten/Kota.... 3. . Pembuangan Tinja c.. Kecamatan .1.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.87 Rasio Tempat Ibadah Tahun . sebagai berikut: a... 3.. Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 3. Tabel.B.B. 2.. Provinsi .89 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun ... Pembuangan sampah Hasil analisis data rumah tinggal berakses sanitasi disajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel...... Gereja Jumlah (unit) Pura Jumlah pemeluk Rasio Vihara Jumlah Jumlah (unit) pemeluk Rasio Kelenteng Jumlah Jumlah (unit) pemeluk Rasio Jumlah (unit) Lain-lain Jumlah pemeluk Rasio Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Rasio Rasio (unit) pemeluk (unit) pemeluk Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.d .. 1.88 Rasio Tempat Ibadah Menurut Kecamatan Tahun ... 4.4.*) Thn (n-5) NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) (3) Jumlah pemeluk (4) Rasio (5=4/3) Jumlah (unit) (6) Thn (n-1)**) Jumlah pemeluk (7) Rasio (8=7/8) (1) 1.. 5...B. Persentase rumah tinggal bersanitasi Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi.*) NO 1. Fasilitas Air bersih b. 2. 2.. Kecamatan Kecamatan .. Kabupaten/Kota. Pembuangan air limbah (air bekas) d. s.4.

T-I.. Provinsi . Kabupaten .. Kabupaten . pengurusan dan pengelolaan pemerintah daerah. 4...... Dst .91 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun . Kota . s.... Kecamatan (2) Jumlah rumah tinggal (3) Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi (4) Persentase (5=4/3) Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.*) No (1) 1. Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman mayat yang pengelolaannya dilakukan oleh yayasan/badan sosial/badan keagamaan..B..... 2.. 3... Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Tempat Pemakaman Umum (TPU) adalah areal tempat pemakaman milik/dikuasai pemerintah daerah yang disediakan untuk umum yang berada dibawah pengawasan.... Kabupaten/Kota ..T-I... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..*) NO 1. Dst . 1....4... 3..90 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Dst ... 2.... Kecamatan ..T-I.*) No (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah rumah tinggal (3) Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi (4) Persentase (5=4/3) 1. 2.92 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kecamatan Tahun . Kabupaten/Kota ...1...B.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...B..5.d .. 5. Tabel. 3.... Kecamatan .. Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Untuk menghitung rasio tempat pemakaman disajikan tabel sebagai berikut: ... Tempat Pemakaman Khusus (TPK) adalah areal tanah yang digunakan untuk pemakaman yang karena faktor sejarah dan faktor kebudayaan mempunyai arti khusus..57 Tabel.

.93 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. 2. 5.... 3. Kabupaten . 4.*) No 1.. 5....T-I. Kabupaten/Kota .B.. Uraian Tempat pemakaman umum (TPU) Tempat Pemakaman bukan umum (TPBU) Tempat pemakaman khusus (TPK) Lain-Lain Jumlah Tempat Pemakaman Jumlah penduduk (jiwa) Rasio TPU persatuan penduduk (1/6) Tahun (n-5) Jumlah Luas Daya Tampung Jumlah Tahun (n-1)**) Luas Daya Tampung *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan......58 Untuk Provinsi: Tabel.B.. Kota . Provinsi . Uraian Tempat pemakaman umum (TPU) Tempat Pemakaman bukan umum (TPBU) Tempat pemakaman khusus (TPK) Lain-Lain Jumlah Tempat Pemakaman Jumlah penduduk (jiwa) Rasio TPU persatuan penduduk (1/6) Tahun (n-5) Jumlah Luas Daya Tampung Jumlah Tahun (n-1)**) Luas Daya Tampung *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 7.. s.. Tabel. 6.d .... Untuk kabupaten/kota: Tabel.....d ....... 5..T-I.. Dst .B.. 3. 6. 7.*) No 1.T-I.. Provinsi .. s. 4.94 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 2... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... 3. Dst .*) Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jmlh (1) (2) (3) (4) Daya tampung (5) No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Jmlh (6) Daya Tampung (7) Tempat Pemakaman Khusus (TPK) Jmlh (8) Daya Tampung (9) Lain-Lain Jumlah Total Jmlh (10) Daya Tmpt Pemakaman Daya Tampung Tampung (11) (12=4+6+8+10) (13=5+7+9+11) Rasio TPU Persatuan Penduduk (14=4/3) 1. 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Kabupaten .95 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Tahun . 4.. .

. Uraian Jumlah Penduduk (jiwa) TPS Jumlah (unit) (4) Jumlah Daya Tampung (Ton) (5) Rasio (6=5/3) (3) (2) Kabupaten .....6..B... Untuk kabupaten/kota: Tabel..T-I...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3... Kabupaten . s... Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd 4...T-I. 4.... Provinsi .99 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Tahun ...97 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Tahun . (2) Kecamatan .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi . Dst .96 Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun . 2. Jumlah penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.59 Tabel. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Untuk Provinsi: Tabel. Dst . 2... Tabel. Jumlah penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... 2..... Kabupaten/Kota .*) No 1.. 3. 3......d ... Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B..B.. Kecamatan . (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12=4+6+8+10) (13=5+7+9+11) (14=4/3) Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 3. No 1.4..*) Uraian Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd 4. 5.... 2. Kabupaten/Kota ...T-I..d ..98 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun .B...*) No (1) 1.... 1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ..T-I.. Kota .*) No Kecamatan Tempat Tempat Jumlah pemakaman umum Pemakaman bukan (TPU) umum (TPBU) Penduduk Jmlh Daya tampung Jmlh Daya tampung Tempat pemakaman khusus (TPK) Jmlh Daya tampung Lain-Lain Jmlh Daya tampung Jumlah Total Tmpt Pemakaman Daya tampung Rasio TPU persatuan penduduk (1) 1.1... Dst ...

. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan.. yangditetapkan dengan kriteria: a.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi. dan kegiatan ekonomi.. 2. berbentuk satu hamparan. pelayanan sosial. Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok. 4.T-I. Rasio permukiman layak huni Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Rasio rumah layak huni Rasio rumah layak huni adalah perbandingan jumlah rumah layak huni dengan jumlah penduduk.. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan.1. Kecamatan . baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.. berbentuk jalur.100 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun .7.. Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tamping lingkungan.5.5.B.1.. Lahan dengan luas paling sedikit 2. dan didominasi komunitas tumbuhan. Ruang terbuka hijau kota merupakan kawasan perlindungan. pengembangan ruang terbuka hijau dari luas kawasan perkotaan paling sedikit 30% (tiga puluh persen).1. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. tempat tumbuh tanaman. Indikator ini mengukur proporsi luas pemukiman yang layak huni terhadap keseluruhan luas pemukiman. Kecamatan . .. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 000 1.60 Tabel. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 2. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka.*) No (1) Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) (3) TPS Jumlah (unit) (4) Jumlah Daya Tampung (Ton) (5) Rasio (6=5/3) (2) 1...4. b. Dst .1. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Penataan Ruang 1.. c. Rasio permukiman layak huni adalah perbandingan luas permukiman layak huni dengan luas wilayah permukiman secara keseluruhan.. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk adalah jumlah daya tampung tempat pembuangan sampah per 1.8.000 jumlah penduduk.4... 3..1.. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1... atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur. Kabupaten/Kota .

.*) No Uraian 1. Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) No (1) 1.B.... 4.. 2.. mengubah. Luas wilayah 4. Luas wilayah ber HPL/HGB 3..101 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Tahun .. Kabupaten .. Dst .. Dst ..B. Rasio Ruang Terbuka Hijau (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Luas wilayah ber HPL/HGB 3. dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku...61 Untuk Provinsi: Tabel...d .. Kabupaten/Kota . Rasio Ruang Terbuka Hijau (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.104 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kecamatan Tahun ..... Provinsi .. Kota .T-I.... 2..... yang ..B......T-I.. Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Izin mendirikan bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh Pemerintah kabupaten/kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru..2.. s.... Kecamatan .d . memperluas.. Luas wilayah 4. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel..103 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Tahun .. 3...... Dst .5.. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya...T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) No Uraian 1..T-I...*) No (1) Kecamatan (2) Luas Wilayah Luas wilayah ber HPL/HGB Luas Ruang Terbuka Hijau Rasio Ruang Terbuka Hijau (3) (4) (5) (6=5/4) 1. 5.. Provinsi .. 1. 3. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kabupaten/Kota .. mengurangi. Luas Ruang Terbuka Hijau 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau di dalam tanah dan/atau air. Luas Ruang Terbuka Hijau 2. Kabupaten (2) Luas Wilayah Luas Wilayah ber HPL/HGB Luas Ruang Terbuka Hijau Rasio Ruang Terbuka Hijau (3) (4) (5) (6=5/4) Kabupaten . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kecamatan . s..102 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota Tahun .B...1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.

Jumlah Bangunan ber-IMB 2... 2.. kegiatan keagamaan. Kota .. 4. Dst ...106 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Menurut Kabupaten/Kota Tahun .... kegiatan sosial. ... Dst . Untuk kabupaten/kota: Tabel. Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Bangunan ber-IMB Jumlah Bangunan Rasio bangunan ber-IMB (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.62 berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan adalah perbandingan jumlah bangunan ber-IMB terhadap jumlah seluruh bangunan yang ada.B..... budaya. 1. Kecamatan . Provinsi ... 1. Kabupaten ... Dst . 3.. Tabel..*) No Uraian 1..107 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Tahun ..... 5..*) No (1) Kecamatan (2) Jumlah Bangunan (3) Jumlah Bangunan berIMB (4) Rasio bangunan berIMB (5=4/3) Kecamatan . 3....d ... baik untuk hunian atau tempat tinggal. 2. maupun kegiatan khusus...B...... Provinsi . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Untuk Provinsi: Tabel..*) No (1) Kabupaten (2) Jumlah Bangunan Jumlah Bangunan ber-IMB Rasio bangunan ber-IMB (3) (4) (5=4/3) Kabupaten . 3.. 2.108 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan Tahun . s.. Jumlah Bangunan 3.... Kabupaten/Kota .T-I. s.105 Rasio Bangunan ber-IMB per Satuan Bangunan Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data......*) No 1. Kabupaten/Kota .. kegiatan usaha.T-I.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..d ..T-I. Rasio bangunan ber-IMB (1:2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan....B....B...T-I.

s... 4.1.B.T-I. Kecamatan ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Kabupaten/Kota .63 2..T-I.B. Kabupaten/kota (2) Jumlah penumpang Bis (3) Kereta api (4) Kapal laut (5) Pesawat udara (6) Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) Kabupaten .. Kabupaten . Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 4.1. Tabel... Provinsi ... 4....T-I. 3. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Jumlah arus penumpang angkutan umum Untuk Provinsi: Tabel........ Dst ..111 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun .. Dst . 2.109 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun .B.. Provinsi .*) No (1) 1....6..6.T-I... 5..110 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kabupaten/Kota . 3. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... 2....... Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 5..d . 3... Perhubungan 1.... Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.112 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun . Kota .. 2.. Kecamatan (2) Bis (3) Kereta Api (4) Kapal Laut (5) Pesawat Udara (6) Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) Kecamatan .......*) No 1.d .. 5... Untuk kabupaten/kota: Tabel. Tabel. 3....*) Jumlah penumpang No (1) 1.1.*) No 1...B. s. . 2..

.114 Rasio Ijin Trayek Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s... Provinsi ... 3. jaringan trayek lintas batas negara... Untuk kabupaten/kota: Tabel.B.. c.. Tabel.T-I. 5. 6...2. Kabupaten .. 3.. Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang.*) No (1) 1. Kabupaten/kota (2) Jumlah penduduk (3) Jumlah Izin Trayek antarkota antar provinsi (4) Perkotaan (5) perdesaan (6) Total Jumlah Izin Trayek (7=4+5+6) Rasio Izin Trayek (8=7/3) Kabupaten .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...113 Rasio Ijin Trayek Tahun . Kabupaten/Kota . jaringan trayek antarkota antarprovinsi. 5. Dst .B.. 2. d.64 1. Untuk Provinsi: Tabel.. Uraian Izin Trayek antarkota antarprovinsi Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..T-I. Kota .1. 4....lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal.. 4. yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap. Jaringan trayek terdiri atas: a. 5..d ...d . 2. b..... Provinsi .....115 Rasio Ijin Trayek Tahun . e.6.. 3. 2. jaringan trayek perkotaan.. s.. . jaringan trayek antarkota dalam provinsi.T-I.*) No 1. Dst .. 4.... dan jaringan trayek perdesaan.B. Uraian Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Rasio ijin trayek Izin Trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/ atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek.. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...*) No 1.

Kabupaten .118 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Selama 1 (satu) Tahun. dan Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi tipenya. Pengujian dimaksud meliputi: a... kereta gandengan. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.116 Rasio Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun.. 3..... ...B. Tabel. Angkutan Umum Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Kereta gandengan Kereta tempelan b. uji berkala yaitu diwajibkan untuk mobil penumpang umum.. Kota . 4. kereta gandengan. Dst .. uji tipe yaitu pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Bermotor dalam keadaan lengkap dan penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor yang dilakukan terhadap rumahrumah..1.. mobil bus. kereta tempelan.*) No (1) 1. Tabel. 3. mobil barang. Provinsi .. 5. 2. Provinsi ..*) No Angkutan Umum Mobil penumpang umum Jmlh Jmlh KIR (3) (4) Mobil bus Jmlh Jmlh KIR (6) (7) Mobil barang % Jmlh Jmlh KIR (9) (10) Kereta gandengan % Jmlh (12) Kereta tempelan Jmlh Jmlh KIR (15) (16) % (5=4/3) Jmlh KIR (13) % (14=13/12) % Jmlh Angkutan Jmlh KIR % (1) (2) (8=7/6) (11=10/9) (17=16/15) (18) (19) (20=19/18) 1. 1. bak muatan. Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah uji kir angkutan umum Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor... baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Kecamatan. 2... Dst . Dst . dan kereta tempelan yang dioperasikan di Jalan..3..117 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kecamatan (2) Jumlah Penduduk (3) Jumlah Izin Trayek Perkotaan Perdesaan (4) (5) Total Jumlah Izin Trayek (7=4+5+6) Rasio Izin Trayek (8=7/3) Kecamatan... Untuk Provinsi: (n-5) Jmlh Jmlh KIR % Jmlh (n-4) Jmlh KIR % Jmlh (n-3) Jmlh KIR % Jmlh (n-2) Jmlh KIR % Jmlh (n-1)**) Jmlh KIR % Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... meliputi pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dan pengesahan hasil uji.B...T-I.*) No 1. s..T-I. Kabupaten .. 3..65 Tabel.. 2. 4. 5.. Kabupaten/Kota ..T-I..B...6..d ..

(n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.. 3. Dst . danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya.*) No 1.. Pelabuhan Udara/bandara bisa diartikan sebagai sebuah fasilitas untuk menerima pesawat dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya..122 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun . Kabupaten/kota Pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara terminal bis Kabupaten .120 Jumlah uji kir angkutan umum selama 1 (satu) tahun Menurut Kecamatan Tahun ... sungai.. Provinsi.. Dst .. 2.... 2.T-I.B... 4.B.1. . Kabupaten/Kota .. Untuk Provinsi: Tabel. 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Kecamatan..d . s. 3..*) Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi.. Tabel.119 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun ..4. 3...d . Kota ... 5.*) No 1.. Kecamatan...... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2... perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.. 4... 1...B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten/Kota .B....T-I.. Angkutan Umum Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Kereta gandengan Kereta tempelan (n-5) Jmlh Jmlh KIR % (n-4) Jmlh Jmlh KIR % (n-3) Jmlh Jmlh KIR % (n-2) Jmlh Jmlh KIR % Jmlh (n-1)**) Jmlh KIR % Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.121 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun .. s.66 Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) No (1) Angkutan Umum (2) Mobil penumpang umum Jmlh Jmlh KIR (3) (4) Mobil bus Jmlh Jmlh KIR (6) (7) Mobil barang % Jmlh Jmlh KIR (9) (10) Kereta gandengan % Jmlh (12) Kereta tempelan Jmlh Jmlh KIR (15) (16) % (5=4/3) Jmlh KIR (13) % (14=13/12) % (17=16/15) Jmlh Jmlh Angkutan KIR (18) (19) % (20=19/18) (8=7/6) (11=10/9) 1. Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang. No 1.T-I... Dst ... 3..T-I. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera..6.

Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi investor PMDN/PMA dihitung dengan menjumlahkan jumlah realisasi nilai proyek investasi berupa PMDN dan nilai proyek investasi PMA yang telah disetujui oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)....T-I. s.. .1. PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) Semakin banyak jumlah investor maka akan semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah.. s.*) Tahun Uraian (1) (2) n-5 Jumlah Investor n-4 Jumlah Investor n-3 Jumlah Investor n-2 Jumlah Investor n-1 Jumlah Investor *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. No 1..... 2.124 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun .undang di Indonesia.d . Untuk menghitung jumlah investor PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. Banyaknya investasi PMDN berskala nasional dengan banyaknya investasi PMA berskala nasional dihitung dari total nilai proyek yang telah terealisasi pada suatu periode tahun pengamatan..67 Untuk kabupaten/kota: Tabel.*) Tahun Persetujuan JumlahProyek Nilai Investasi JumlahProyek Realisasi Nilai Investasi n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2. Penanaman modal asing (PMA) merupakan penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan perundang .*) Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Fokus Layanan Urusan Pilihan 2.T-I....d . Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Penanaman modal dalam negeri (PMDN) adalah penggunaan modal dalam negeri bagi usaha-usaha yang mendorong pembangunan ekonomi pada umumnya.T-I...B...1.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2. s.. Provinsi/Kabupaten/Kota.... Kabupaten/Kota ..2. Provinsi/Kabupaten/Kota. Jumlah investor PMDN/PMA dihitung dengan menjumlahkan banyaknya investor PMDN berskala nasional dengan banyaknya investor PMA berskala nasional yang aktif berinvestasi di daerah dan pada suatu periode tahun pengamatan.12.2.. 3.12..d ... Penanaman Modal 2.B. Untuk menghitung nilai PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel..123 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun ..2.2.125 Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun ..2.B.. dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanaman modal tersebut. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

d . 2..... Menghitung Rasio daya serap tenaga kerja digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel. 2.2.T-I... Persentase koperasi aktif Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan. Kabupaten/Kota..3..2. Jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMA/PMDN dihitung dari banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada investasi PMA/PMDN yang terealisasi pada suatu tahun.B..1.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) 2...68 Semakin banyak nilai realisasi investasi maka akan semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah. Koperasi Aktif adalah koperasi yang dalam dua tahun terakhir mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) atau koperasi yang dalam tahun terakhir melakukan kegiatan usaha..2. .. Jumlah seluruh PMA/PMDN dihitung dari banyaknya proyek investasi yang terealisasi di daerah pada suatu tahun berdasarkan data BKPM.B. s.12.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN 2 Jumlah seluruh PMA/PMDN 3 Rasio daya serap tenaga kerja *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.126 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Menghitung persentase koperasi aktif digunakan rumus sebagai berikut: 00 Tabel.2.. Provinsi/Kabupaten/Kota..d .T-I.. s. Semakin banyak realisasi proyek maka akan menggambarkan keberhasilan daerah dalam memberi fasilitas penunjang pada investor untuk merealisasikan investasi yang telah direncanakan.12... NO 1 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Semakin besar rasio daya serap tenaga kerja pada PMA dan PMDN akan mencerminkan besarnya daya tampung proyek investasi PMA/PMDN untuk menyerap tenaga kerja di suatu daerah.127 Persentase Koperasi Aktif Tahun . Rasio daya serap tenaga kerja Rasio daya serap tenaga kerja adalah perbandingan antara jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN...

dst..69 Tabel.*) NO 1 Kabupaten/kota Kabupaten . Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... s...T-I..d .*) NO Uraian 1 Jumlah seluruh UKM 2 Jumlah BPR/LKM 3 Jumlah UKM non BPR/LKM *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... Total Provinsi Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten/Kota..129 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif Dst.128 Persentase Koperasi Aktif Tahun ..12. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. s.....130 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun .. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan Menghitung jumlah UKM non BPR/LKM UKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut... Provinsi. yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki. s. dikuasai.. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar... Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM 3 Dst.B. Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif Kabupaten.*) NO 1 Kabupaten/kota (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Kabupaten .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2 3 Jumlah Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Total Persentase koperasi aktif *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-I... Semakin besar jumlah persentase ini maka akan semakin besar pelayanan penunjang yang dimiliki daerah dalam menggerakkan perekonomian melalui koperasi.T-I..B.. . Jumlah seluruh UKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR/LKM 2 Kabupaten.... dst..B.d . Jumlah UKM non BPR/LKMUKM Usaha kecil adalah peluang usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. dikuasai.d .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Provinsi....2.. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri...2.

d . Kependudukan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran. s..B.*) NO 1 2 3 Kabupaten/kota Kabupaten .T-I. Dst.. Tabel. s. Faktor penambah 1) 2) Kelahiran (fertilitas) adalah: kemampuan riil seorang wanita atau sekelompok untuk melahirkan. Komponen pertumbuhan penduduk: a.. Kota..3.12.T-I.70 Semakin banyak jumlah UKM non BPR/LKM akan menunjukkan semakin besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah dalam meningkatkan ekonomi daerah melalui UKM..1.. 2) Migrasi keluar (emigrasi) adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah.d . Jumlah BPR/LKM BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah BPR Jumlah LKM Jumlah BPR dan LKM (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...132 Jumlah UKM BPR/LKM tahun . dst.. Pertumbuhan penduduk yang minus berarti jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah mengalami penurunan yang bisa disebabkan oleh banyak hal. yang dicerminkan dalam jumlah bayi yang dilahirkan hidup... Kabupaten/Kota. .2.. pembayaran sebagai transaksi jasa (payment service) serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR... 2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Pertumbuhan penduduk meningkat jika jumlah kelahiran dan perpindahan penduduk dari luar ke dalam lebih besar dari jumlah kematian dan perpindahan penduduk dari dalam keluar.3..B. Menghitung Jumlah BPR/LKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut... kredit (loan).2. 2.3. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 2.. kematian dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun dari luar. Tabel. Provinsi. Lembaga keuangan mikro (LKM) adalah lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan (deposits). tabungan. yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup... LKM memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan berbagai jasa keuangan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil... Migrasi masuk (imigrasi) adalah masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan b. Faktor pengurang 1) Kematian (mortalitas) adalah keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen.2. Semakin banyak jumlah BPR/LKM akan menunjukkan semakin besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah dalam mendukung pendanaan UKM melalui BPR/LKM. Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu daerah dari waktu ke waktu...131 Jumlah BPR/LKM Tahun .

Pertumbuhan Geometri.71 Rasio perpindahan peduduk pertahun dapat dihitung dengan rumus: 00 Rasio perpindahan penduduk masuk (imigrasi) dan keluar (emigrasi) dihitung dengan rumus: 00 00 Dinamika kependudukan adalah perubahan kependudukan untuk suatu daerah tertentu dari waktu ke waktu. Pertumbuhan eksponensial perhitungan ini sama dengan pertumbuhan Geometri tetapi pertambahan penduduk terjadi setiap saat mengikuti fungsi eksponensial. Pertumbuhan ini mengasumsikan adanya angka pertumbuhan jumlah penduduk yang sama dari tahun ke tahun Rumus : Pt = Po (1+r) Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode n = jumlah tahun dalam periode tersebut r = angka pertumbuhan geometris 3. Pertumbuhan (linier). Perhitungan ini mengasumsikan adanya perubahan jumlah absolut penduduk yang sama dari satu tahun ketahun yang lain. Ada 3 macam ukuran pertumbuhan penduduk: 1. Rumus menghitung pertumbuhan penduduk : 0 0 Angka pertumbuhan penduduk (r) adalah: rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun pada periode\waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dengan persen. Dirumuskan: ⁄ keterangan: r = angka perubahan linier Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode N = jumlah tahun dalam periode tersebut P = jumlah penduduk pada pertengahan periode 2. Rumus: atau 0 Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada akhir periode Po = jumlah penduduk pada awal periode n = jumlah tahun dalam periode tersebut e = angka pertumbuhan eksponensial Perhitungan laju pertumbuhan penduduk didasarkan pada perhitungan: ..

2.. Hasilnya dituangkan dalam tabel berikut: Tabel.72 1.. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) yaitu jumlah kematian pada tahun tertentu per 1000 penduduk: Rumus: 000 Keterangan: CDR = angka kematian kasar D = jumlah kematian pada tahun tertentu P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun itu 3. sebagaimana terlihat dalam tabel berikut.*) … No 1 2 3 Kabupaten/Kota … … … Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Dari data yang ada kemudian dapat dipersempit lagi dengan menghitung jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan berdasarkan umur. No Fertilitas/mortalitas 1 Angka kelahiran kasar (CBR) 2 Angka kematian kasar (CDR) 3 Angka kematian bayi (IMR) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.T-I. . Angka ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan..2. Pengelompokan Penduduk 2.133 Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi/ …… Tahun . Jumlah 2. Dari rumusan tersebut dapat diketahui jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dalam satu wilayah.2..2. Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian bayi berumur dibawah 1 tahun selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup.3. Angka Kelahiran Kasar (crude birth rate) yaitu jumlah kelahiran hidup per 1000 penduduk dalam suatu tahun tertentu Rumus: Keterangan: CBR = angka kelahiran kasar B = jumlah kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu D = jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama k = konstanta biasanya 1000 2.134 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Provinsi.B. Tabel. Rumus: 000 Keterangan: IMR = angka kematian bayi Do = jumlah kematian bayi selama 1 tahun B = jumlah kelahiran hidup dalam tahun yang sama Hasil perhitungan laju pertumbuhan penduduk dituangkan dalam tabel berikut.1.3. .T-I... . Pengelompokan Penduduk Berdasar Jenis Kelamin dan umur Rasio jenis kelamin (sex rasio) adalah banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan ( (penduduk laki-laki) : (penduduk perempuan) x 100..B.

T-I.B. (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Tahun.....73 Tabel. 2... 3. Provinsi…… Kelompok Umur (n-5) (n-4) 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..137 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan Tahun..B. (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... Kecamatan … … dst Jumlah Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.T-I..T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis kelamin . Provinsi…… Kelompok (n-5) (n-4) Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.136 Proyeksi Penduduk Perempuan Berdasarkan Umur …. …… 1.135 Proyeksi Penduduk Laki-Laki Berdasarkan Umur … Tahun...

74 2. Tabel. Pengelompokan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan dapat menggunakan tabel berikut..B. dapat dihitung berdasarkan kepemilikan KTP.T-I.2. yaitu persebaran penduduk berdasarkan provinsi.... Kabupaten/kota .140 Penduduk 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi Tahun . … … No 1 2 3 4 5 Pendidikan yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Jumlah Prosentase (%) Tidak punya ijazah SD SD/MI sederajat SMP SMA Perguruan tinggi Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Rasio penduduk ber-KTP adalah perbandingan jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas yang ber-KTP terhadap jumlah penduduk usia 17 tahun ke atas atau telah menikah.2..2.*) No 1 2 3 … Kabupaten/Kota … … Jumlah Penduduk Luas wilayah (km2) Kepadatan (%) Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan..3. Pengelompokkan penduduk berdasarkan persebaran penduduk/geografis Persebaran penduduk dapat dihitung berdasarkan: 1. dispesifikasikan lagi berdasarkan jenis kelamin sebagaimana tampak pada tabel berikut.2..B.3. Provinsi.*) Tingkat Pendidikan No 1 2 3 Kabupaten/Kota SD/MI SMP SMA Perguruan Tinggi Tidak Sekolah Jumlah ….138 Sebaran Penduduk Menurut Luas wilayah dan Kepadatan Tahun... daerah istimewa. Untuk mendapatkan data penduduk yang sudah terdaftar dalam catatan sipil..B. persebaran administrative dan politis. 00 .. persebaran geografis....T-I.3.139 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun. Tabel.... penduduk juga dapat dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan. KK.. 2... 2.T-I. yaitu persebaran penduduk menurut pulau.. … Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Tabel berikut dapat digunakan untuk menghitung persebaran penduduk provinsi tertentu..2. Tabel... Selanjutnya dari data yang ada. kabupaten. Provinsi. 00 Rasio penduduk ber-KK adalah perbandingan jumlah penduduk yang ber-KK terhadap jumlah penduduk yang telah menikah. untuk mengetahui prosentasenya. Akte lahir dan Akte Nikah. Pengelompokan Penduduk Berdasar tingkat pendidikan Selain berdasarkan jenis kelamin.

Tenaga kerja (man power) adalah penduduk dalam usia kerja (dalam literatur 15-64 tahun)... jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktifitas tersebut.142 Jumlah Penduduk Peserta KB Provinsi.*) No 1 2 3 Kabupaten/Kota … … … Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.141 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP. Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah penduduk.75 Rasio bayi berakte kelahiran adalah perbandingan jumlah bayi lahir dalam 1 tahun yang berakte kelahiran terhadap jumlah bayi lahir pada tahun yang sama. Tabel. PUS Jumlah Penduduk Peserta KB Peserta KB Tidak KB 2. Tabel. 00 Hasil perhitungan rasio diatas.. Akte Lahir. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Provinsi. 00 Rasio pasangan berakte nikah adalah perbandingan jumlah pasangan nikah berakte nikah terhadap jumlah keseluruhan pasangan yang telah menikah... 00 Hasil perhitungan dituangkan dalam tabel berikut.. 2.2. salah satu caranya adalah melalui program KB..B. selama dan sesudah masa kerja.T-I. Tenaga kerja dikatakan juga sebagai penduduk usia .. Tenaga kerja adalah jumlah seluruh penduduk dalam usia kerja dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa.T-I..2....1. Akte Nikah Tahun .4. kemudian dituangkan dalam tabel berikut.. penduduk dapat dikelompokkan menjadi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dicanangkan untuk mengetahui tingkat Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap KB.. Ketenagakerjaan Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum.. Angkatan Kerja (labour force) Berdasarkan publikasi ILO (International Labour Organization)..4.B. KK.*) No 1 2 Kabupaten/Kota Sdh Ka … Jumlah se-provinsi … KTP blm Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KK Akte lahir Sdh blm Sdh blm Sdh Akte nikah blm *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Di Indonesia dipakai batasan umur 10 tahun. Guna mengetahui jumlah penduduk peserta KB pada suatu wilayah dapat dihitung dengan menggunakan rumusan berikut: Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000 pasangan usia subur pada tahun yang sama...

Tabel. bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja ataupun mencari kerja.. Lainnya Jumlah penduduk bukan angkatan kerja (ii) Jumlah penduduk usia kerja (i) + (ii) 3 4 TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja) TPT (tingkat pengangguran terbuka) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. tenaga kerja dibedakan menjadi: angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (penduduk yang sebagian besar kegiatannya adalah bersekolah. Selanjutnya. seiring dengan program wajib belajar 9 tahun. Mengurus RT c. Sekolah b.. Pengangguran Jumlah penduduk angkatan kerja (i) 2 BUKAN ANGKATAN KERJA a.. GAMBAR.143 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Tahun. 5 5 00 Tingkat partisipasi umum yaitu jumlah angkatan kerja dibagi seluruh penduduk berumur 10 tahun keatas. atau dapat dikatakan sebagai pekerja dan merupakan potensi penduduk yang akan masuk pasar kerja. G-A. Provinsi/ … *) No 1 ANGKATAN KERJA a. Sedangkan.. atau kegiatan lainnya selain bekerja).. . mengurus rumah tangga..T-I. yang merupakan rasio antara angkatan kerja dan tenaga kerja.2 Klasifikasi Penduduk Berdasar Ketenagakerjaan Penduduk Tenaga kerja Bukan tenaga kerja Bukan angkatan kerja Angkatan kerja Bekerja Tidak bekerja/sedang mencari kerja Angka yang sering digunakan untuk menyatakan jumlah angkatan kerja adalah TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja). Bekerja b.B.76 kerja. yaitu penduduk usia 15 tahun atau lebih. Angkatan kerja merupakan bagian penduduk yang sedang bekerja dan siap masuk pasar kerja.

...T-I. Jika yang tersedia adalah angka pengangguran. Usaha Persewaan Lainnya Jasa (Pertambangan..2. Jumlah penduduk yang ada dalam suatu wilayah kemudian dikelompokan berdasarkan lapangan usaha yang ada.. dan Air Minum) Jml 1 2 3 Total se provinsi . … Pertanian Industri pengolahan Bangunan Perdaganga.*) Lapangan Usaha No Kabupaten /Kota Kab/Kota.*) Golongan Umur (1) Angkatan Kerja Bekerja (2) Mencari Pekerjaan (3) Jumlah (4=2+3) 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Total *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. maka angka yang digunakan adalah = (1 .77 Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja.4. Kab/Kota. Tabel.. Rasio dari kedua data tersebut menunjukkan produktivitas tenaga kerja.144 Penduduk Angkatan Kerja kabupaten/kota… Provinsi. produktivitas pekerja dapat diukur menggunakan data nilai tambah suatu daerah.2. Kemasyarakatan Listrik. Restoran dan Hotel Angkutan. Produktivitas Kerja Secara praktis.. Data ini bisa didapat dari BPS sebagaimana dalam tabel berikut..T-I.. Provinsi. Pergudangan....B... Asuransi. 2..angka pengangguran) Tabel.. yaitu PDRB dengan jumlah pekerja. 2..B.4. keterampilan dan bakatnya masing-masing. Komunikasi Keuangan.145 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun.3.. Kesempatan kerja Kesempatan kerja (permintaan atas tenaga kerja) merupakan peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian.2.. Kesempatan Kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja)..

2.2. termasuk disini adalah: 1) Pengangguran tidak kentara (disguised unemployment). Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Dalam rangka pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diperlukan akses seluas-luasnya terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan dalam rangka pemberdayaan untuk menuju kesetaraan gender. musiman) kurang dari yang mereka kerjakan. padahal pekerjaan itu sebenarnya tidak memerlukan waktu sehari penuh. yaitu mereka yang mampu untuk bekerja full time tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakit. c. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.1. 2) 3) d. yaitu mereka yang tidak digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah menganggur. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Pekerja perempuan di lembaga pemerintahan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan persentase perempuan yang menempati posisi Eselon I – IV. Tenaga kerja yang lemah (impaired). e. Tingkat sengketa antara pengusaha dan pekerja per tahun dihitung dengan rumusan: 2.4. Lima bentuk pengangguran: a. Pensiun lebih awal b. Tampaknya bekerja tetapi tidak bekerja secara penuh. dalam tabel sebagai berikut: .5. Tenaga kerja yang tidak produktif. 2.2. Pengangguran terbuka: baik sukarela (mereka yang tidak mau bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara terpaksa (mereka yang mau bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan) Setengah menganggur (underemployment): yaitu mereka yang bekerja lamanya (hari. Pengangguran tersembunyi (hidden unemployment).4. minggu. 2. Pengangguran Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. misalnya orang yang bekerja tidak sesuai dengan tingkat atau jenis pendidikannya. misalnya para petani yang bekerja di ladang selama sehari penuh. sering kali dijumpai adanya sengketa antara pengusaha dan pekerja. besarnya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)..5. Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja. Untuk mengetahui peran aktif perempuan dapat diukur dari partisipasi perempuan di lembaga pemerintah maupun swasta.78 Melihat jumlah lapangan kerja yang tersedia. yaitu mereka yang mampu untuk bekerja secara produktif tetapi karena semberdaya-sumberdaya penolong kurang memadai sehingga mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu dengan baik. Sajikan data persentase perempuan di lembaga pemerintah .

B... NO 1 2 3 4 5 6 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..*) Uraian Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon II Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon III Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon IV Pekerja perempuan di pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..d . Dst ..79 Untuk Provinsi: Tabel. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan......B. Provinsi ..*) NO 1 2 3 4 Kabupaten/kota Jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah Kabupaten .T-I... 1 2 3 4 .. Provinsi ...B...d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.147 Persentase Pekerja Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun . dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota... Kabupaten ........ **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... s. Dst ... Kota ..B..149 Persentase Pekerja Perempuan di Lembaga Swasta Tahun .....T-I....T-I.T-I.148 Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Tahun .146 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun ... Menurut Kabupaten/Kota/Provinsi ....*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah pekerja perempuan di lembaga swasta (3) Jumlah pekerja perempuan (4) Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta (5=3/4) Kabupaten .2...... Kota .*) NO Uraian 1 Jumlah perempuan yang bekerja di lembaga swasta 2 Jumlah pekerja perempuan 3 Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... 2.. Kabupaten .... dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan data persentase perempuan di lembaga swasta .. s....5. Menurut Kabupaten/Kota Provinsi .. Partisipasi perempuan di lembaga swasta Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga swasta terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.2.

Penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.. 5 5 00 .. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik.2. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan.B.d . dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan data rasio KDRT. meliputi: a. Menurut Kabupaten/Kota Provinsi . atau luka berat Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan.. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.. psikologis. seksual.. Kabupaten ... pemaksaan..... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan... padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel...000 rumah tangga.. rasa tidak berdaya... hilangnya rasa percaya diri...5. Penelantaran rumah tangga dimana setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah KDRT (3) Jumlah rumah tangga (4) Rasio KDRT (5=3/4) Kabupaten .2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. hilangnya kemampuan untuk bertindak. Kekerasan seksual meliputi : (I) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut... c.. perawatan. b.. s. Provinsi . dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan.T-I... (II) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. 1 2 3 4 2.3. Dst .. jatuh sakit.. Jenis kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya.151 Rasio KDRT Tahun . dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.80 2....5. Rasio KDRT adalah jumlah KDRT yang dilaporkan dalam periode 1 (satu) tahun per 1.4. Hal ini mengindikasikan masih belum ada perlindungan anak.B. adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.T-I.. Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Persentase tenaga kerja di bawah umur adalah proporsi pekerja anak usia 5-14 tahun terhadap jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas. Anak dianggap masih memiliki nilai ekonomi dan seringkali anak dieksploitasi.. Kekerasan fisik. Kota .*) NO Uraian 1 Jumlah KDRT 2 Jumlah Rumah Tangga 3 Rasio KDRT *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. d.150 Rasio KDRT Tahun .

B.2.. Provinsi .153 Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur.81 Sajikan data persentase tenaga kerja di bawah umur. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Provinsi . s.......*) NO Uraian 1 Jumlah anak 2 Jumlah keluarga 3 Rata-rata jumlah anak per keluarga *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Keluarga Berencana (KB) Dan Keluarga Sejahtera (KS) Rata-rata jumlah anak per keluarga Salah satu indikator keberhasilan keluarga berencana adalah penurunan rata-rata jumlah anak per keluarga. 2..*) NO (1) 1 2 3 4 Kabupaten/kota Pekerja Anak Usia 5-14 Tahun (3) Jumlah Pekerja Usia 5 Tahun Keatas (4) Persentase Jumlah Tenaga Kerja dibawah Umur (5=3/4) (2) Kabupaten .6.....B. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. s......d . dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.. Provinsi .T-I. Dst ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... Kabupaten ... Menurut Kabupaten/Kota Tahun.1. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.*) Uraian Pekerja anak usia 5-14 tahun Jumlah pekerja usia 5 tahun keatas Persentase jumlah tenaga kerja 3 dibawah umur *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Rata-rata jumlah anak per keluarga adalah jumlah anak dibagi dengan jumlah keluarga..154 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Tahun ........B.. NO 1 2 (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel....B.155 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Menurut Kabupaten/Kota Tahun.. Provinsi .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.2.d .. Sajikan data rata-rata jumlah anak perkeluarga.. 1 2 3 ....T-I. 2.. Kota .... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data......... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.T-I. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota... Dst .152 Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur Tahun ..6.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Jumlah Anak (3) Jumlah Keluarga (4) Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga (5=3/4) Kabupaten .. Kota .T-I......

T-I... Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah penduduk.. Dst .T-I....B....*) NO 1 2 Uraian Jumlah jaringan telepon genggam Jumlah jaringan telepon stasioner Tahun n-5 Tahun n-1 3 Total jaringan Komunikasi (1+2) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan...7.2... Semakin banyak jumlah jaringan komunikasi maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah...158 Jaringan Komunikasi Tahun .d . Kabupaten ... 2. 2... s..... Jaringan komunikasi dihitung dari banyaknya jaringan komunikasi yang berada dalam wilayah suatu pemerintah daerah..6.. dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Rasio akseptor KB Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000 pasangan usia subur pada tahun yang sama. Provinsi .....157 Rasio Akseptor KB Menurut Kabupaten/Kota Tahun.*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Jumlah akseptor KB (3) Jumlah pasangan usia subur (4) Rasio akseptor KB (5=3/4) 1 2 3 4 Kabupaten .... Provinsi/Kabupaten/Kota. s. .7.82 2.1...B.2.*) NO Uraian 1 Jumlah akseptor KB 2 Jumlah pasangan usia subur 3 Rasio akseptor KB *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.....156 Rasio Akseptor KB Tahun .2. Untuk menghitung jaringan komunikasi dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. Komunikasi Dan Informasi Jumlah jaringan komunikasi Jumlah jaringan komunikasi adalah banyaknya jaringan komunikasi baik telepon genggam maupun stasioner.... Sebuah operator jasa telekomunikasi dapat memiliki satu (1) jaringan dan sebaliknya. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dirinci menurut kabupaten/kota untuk provinsi dan dirinci menurut kecamatan untuk daerah kabupaten/kota.T-I....2.. beberapa operator dapat menggunakan hanya satu (1) jaringan telekomunikasi di wilayah pemerintah daerah. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kota . 00 Sajikan data rasio akseptor KB. Provinsi .d ..B.

7. Kabupaten/Kota. 5.*) Tahun n-5 NO (1) Tahun n-1 Rasio wartel (6=4/3) Rasio warnet (7=5/3) Jumlah Jmlh Pddk wartel (8) (9) Jumlah warnet (10) Rasio wartel (11=9/8) Rasio Warnet (12=10/8) Kabupaten/kota (2) Jumlah Jmlh Pddk wartel (3) (4) Jumlah warnet (5) 1. Untuk kabupaten/kota: Tabel..B. 2. dan bentuk karangan yang lain. 2. cerita rekaan (fiksi). Dst . Jumlah surat kabar nasional/lokal Surat kabar merupakan komunikasi massa yang diterbitkan secara berkala dan bersenyawa dengan kemajuan teknologi pada masanya dalam menyajikan tulisan berupa berita..T-I... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kecamatan.. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....T-I. 3.. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Rasio wartel/warnet atau rasio ketersediaan wartel/warnet adalah jumlah wartel/warnet per 1. 4.. Warnet atau warung internet adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan internet kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan.. Dst .. Kecamatan..*) NO (1) Kecamatan (2) Jmlh Pddk (3) Jumlah wartel (4) Tahun n-5 Jumlah Rasio warnet wartel (5) (6=4/3) Rasio warnet (7=5/3) Jmlh Pddk (8) Jumlah wartel (9) Tahun n-1 Jumlah Rasio warnet wartel (10) Rasio Warnet (11=9/8) (12=10/8) 1..2. 2.000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.83 2.. Wartel atau warung telekomunikasi adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan telekomunikasi kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan...B. Kabupaten .d .3.. Jumlah surat kabar nasional/lokal adalah banyaknya jenis surat kabar terbitan nasional atau terbitan lokal yang masuk ke daerah..... Menghitung ketersediaan wartel/warnet per 1.2.7. Provinsi.... Kota .d . s... pendapat. Semakin besar rasio wartel/warnet per 1000 penduduk akan menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan internet dan fasilitas jaringan komunikasi data sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah..159 Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Tahun . feature.2..160 Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Tahun ... dst. Untuk menghitung surat kabar terbitan nasional atau lokal dapat disusun tabel sebagai berikut: .. Kabupaten . s.. 3...000 penduduk.

d . Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan.B..4.. pertanian. dengan jangka waktu paling lama 30 tahun. HM. 2.... Hak Pengelolaan Lahan (HPL) adalah hak untuk mengelola lahan yang hanya diberikan atas tanah negara yang dikuasai oleh Badan Pemerintah.161 Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun .8. Hak Milik (HM) merupakan hak turun-menurun.9... HPL) terhadap luas wilayah daratan..hak lainnya adalah hak yang “ ”...1.. 2. terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah.d . Indikator pertanahan ini bertujuan untuk mengetahui tertib administrasi sebagai kepastian dalam kepemilikan...bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. -hak atas tanah yang dipunyai orang.. oleh karena itu dapat diberikan atas tanah yang dikuasai langsung oleh negara maupun tanah milik seseorang.2. Untuk menghitung jumlah penyiaran radio/TV lokal dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.. Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat Prosentase luas lahan bersertifikat adalah proporsi jumlah luas lahan bersertifikat (HGB. s.B. hak miliklah yang paling kuat dan penuh. Sifat-sifat hak milik yang membedakannya dengan hak..162 Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Tahun . Hak Guna Usaha merupakan hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna perusahaan... Tidak mengenai tanah pertanian. HGU. Menghitung prosentase luas lahan bersertifikat digunakan rumus sebagai berikut: 0 . Jumlah penyiaran radio/TV lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal adalah banyaknya penyiaran radio/TV nasional maupun radio/TV lokal yang masuk daerah. perikanan dan peternakan. s.. BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) . 2.7.84 Tabel.2.T-I...*) NO 1 2 3 4 5 Jumlah penyiaran radio lokal Jumlah penyiaran radio nasional Jumlah penyiaran TV lokal Jumlah penyiaran TV nasional Total penyiaran radio/TV lokal (1+2+3+4) Uraian Tahun n-5 Tahun n-1 Semakin banyak jumlah penyiaran radio/TV baik di daerah maupun nasional di daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa berupa media elektronik sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Hak Guna Usaha (HGU) adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu paling lama 25 tahun.*) NO 1 2 3 Uraian Jumlah jenis surat kabar terbitan nasional Jumlah jenis surat kabar terbitan lokal Total jenis surat kabar (1+2) Tahun n-5 Tahun n-1 Semakin banyak jumlah jenis surat kabar terbitan nasional/lokal di daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa berupa media cetak sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah.T-I. Provinsi/Kabupaten/Kota. Provinsi /Kabupaten/Kota.2.

Semakin besar prosentase luas lahan bersertifikat menggambarkan semakin besar tingkat ketertiban administrasi kepemilikan lahan di suatu daerah. Prosentase luas lahan bersertifikat menggambarkan tingkat ketertiban administrasi kepemilikan tanah di daerah... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s. 4. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten/Kota. s. 6. Kota... Tabel. Kabupaten/kota Kabupaten..d .d ... Dst.T-I..163 Luas Lahan (m2) Berdasar Sertifikat Tahun ...... 10. 4. Jumlah Total luas wilayah (n-5) HGB HGU HM HPL HGB (n-4) HGU HM HPL HGB (n-3) HGU HM HPL HGB (n-2) HGU HM HPL HGB (n-1)**) HGU HM HPL *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Luas wilayah daratan Luas tanah bersertifikat HGB Luas tanah bersertifikat HGU Luas tanah bersertifikat HM Luas tanah bersertifikat HPL Total luas tanah bersertifikat Prosentase HGB dibanding luas daratan Prosentase HGU dibanding luas daratan Prosentase HM dibanding luas daratan Prosentase HGPL dibanding luas daratan Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 11... 3. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Dst.*) NO Kabupaten/kota Kabupaten.d . 5. 2. . 9. 8.....T-I.. Prosentase total luas lahan bersertifikat *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..B...B.. Provinsi. Provinsi. Total luas wilayah 5.. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 5.B.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2.165 Luas Lahan Bersertifikat Tahun .. 3. 2.. Jumlah (n-5) HGB HGU HM HPL HGB (n-4) HGU HM HPL HGB (n-3) HGU HM HPL HGB (n-2) HGU HM HPL HGB (n-1)**) HGU HM HPL 1.T-I.*) NO 1.. 4.*) NO 1.. S. 3... Kota....85 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel... 7.164 Prosentase (%) Luas Lahan Bersertifikat Tahun .

.B. Dst .166 Kelompok Binaan LPM Tahun ...B....... Rata-rata jumlah kelompok binaan LPM adalah banyaknya kelompok binaan LPM dalam 1 (satu) tahun dibagi dengan jumlah LPM...T-I. Kabupaten . 2.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.2.. 2. Pemberdayaan masyarakat dan desa Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) adalah lembaga atau wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintah Desa atau Kelurahan dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dibidang pembangunan.... Kecamatan . Dst . 2.86 2.*) NO (1) Kecamatan (2) (n-5) Jumlah LPM (3) Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah LPM (5=4/3) Jumlah LPM (6) Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah LPM (8=7/6) Jumlah LPM (9) Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah LPM (11=10/9) Jumlah LPM (12) Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah LPM (14=13/12) Jumlah LPM (15) Jumlah Kelompok Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) Binaan (16) Rata-rata Jumlah LPM (17=16/15) 1. Dst ..d ....*) (n-5) NO Kabupaten/ Kota (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Rata-rata Jumlah Kelompok Jumlah LPM Binaan LPM (15) (16) (17=16/15) Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah Kelompok Jumlah LPM LPM LPM LPM Binaan LPM Binaan LPM Binaan LPM Binaan LPM (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=7/6) (9) (10) (11=10/9) (12) (13) (14=13/12) (1) (2) 1.. Jumlah se-Kab/Kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.... .. Provinsi .. Kabupaten/Kota . Menghitung rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) digunakan rumus sebagai berikut: Kelompok binaan LPM adalah kelompok masyarakat yang dibina oleh LPM sebagai mitra pemerintah desa atau kelurahan dalam mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Semakin besar rata-rata jumlah kelompok binaan LPM maka menggambarkan keaktifan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui LPM..... Besarnya rata-rata jumlah kelompok binaan LPM juga menunjukkan besarnya pelayanan penunjang yang dapat diciptakan oleh pemerintah daerah dalam pemberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui pembentukan LPM. 3.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten . Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.9. Kota .. Kecamatan . s. 4. 3.d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....167 Kelompok Binaan LPM Tahun . 4.T-I. 1. s.

adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaanya dari.. Tim penggerak PKK beranggotakan warga masyarakat baik laki-laki maupun perempuan.. 4....*) (n-5) NO Kecamatan Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah PKK (5=4/3) Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah PKK (8=7/6) Jumlah PKK J Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah PKK (11=10/9) Jumlah PKK Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah PKK (14=13/12) Jumlah PKK Jumlah Kelompok Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) Binaan (16) Rata-rata Jumlah PKK (17=16/15) (1) (2) (3) (6) (9) (12) (15) 1. Dst . kesejahteraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan. Jumlah se-Kab/Kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. dan berfungsi sebagai perencana. 1. sehat sejahtera...d .. Dst .T-I.87 2. s..... perorangan. Tim Penggerak PKK adalah mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. bersifat sukarela. 2. yang berfungsi sebagai fasilitator. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...T-I. Kabupaten . Kecamatan .168 Kelompok Binaan PKK Tahun .. Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. oleh dan untuk masyarakat menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa... Kota . pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK. tidak mewakili organisasi.. Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel..B. Semakin besar rata-rata jumlah kelompok binaan PKK maka menggambarkan keaktifan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui PKK.. perencana.169 Kelompok Binaan PKK Tahun . 3...B. Provinsi ... Menghitung rata-rata jumlah kelompok binaan PKK digunakan rumus sebagai berikut: Kelompok binaan PKK adalah kelompok-kelompok masyarakat yang berada di bawah Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan.2. Kabupaten ...10.. 3. Untuk menghitung Jumlah PKK maka dihitung dari jumlah tim penggerak PKK dalam lingkup wilayah pemerintah daerah. 2. Kabupaten/Kota . maju dan mandiri.. s. 2. lembaga atau instansi.. pelaksana.. Berakhlak mulia dan berbudi luhur. golongan partai politik.... Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK adalah banyaknya kelompok binaan PKK dalam 1 (satu) tahun dibagi dengan jumlah PKK. Kecamatan ... 4. Dst . yang dapat dibentuk berdasarkan kewilayahan atau kegiatan seperti kelompok dasawisma dan kelompok sejenis.d .. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga selanjutnya di singkat PKK... Besarnya rata-rata jumlah kelompok .*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) (n-5) Jumlah PKK (3) Jumlah Kelompok (n-4) Rata-rata Jumlah PKK (5=4/3) Jumlah PKK (6) Jumlah Kelompok (n-3) Rata-rata Jumlah PKK (8=7/6) Jumlah PKK (9) J Jumlah Kelompok (n-2) Rata-rata Jumlah PKK (11=10/9) Jumlah PKK (12) Jumlah Kelompok (n-1)**) Rata-rata Jumlah PKK (14=13/12) Jumlah Jumlah Kelompok PKK Binaan (15) (16) Rata-rata Jumlah PKK (17=16/15) Binaan (4) Binaan (7) Binaan (10) Binaan (13) 1. Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.1. pelaksana pengendali Gerakan PKK.

Dst ..1. 2. 3... Jumlah perpustakaan dihitung berdasarkan jumlah perpustakaan umum yang dapat diakses secara langsung oleh masyarakat yang beroperasi di wilayah pemerintah daerah.171 Jumlah LSM aktif Tahun . Besarnya jumlah LSM aktif juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pembangunan daerah. Dst . 2.. Untuk menghitung LSM yang aktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Untuk menghitung jumlah perpustakaan dapat disusun tabel sebagai berikut: . Untuk kabupaten/kota: Tabel... Provinsi /Kabupaten/Kota. Jumlah perpustakaan Perpustakaan adalah suatu wadah atau tempat di mana didalamnya terdapat bahan pustaka untuk masyarakat.2.10..170 Jumlah LSM Tahun .. mengatur dan menyajikan bahan pustakanya untuk masyarakat umum. Provinsi . Perpustakaan 2. Jumlah LSM aktif (1-2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang bertugas mengumpulkan. Jumlah LSM dihitung berdasarkan jumlah LSM aktif dalam satu (1) tahun. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 4..*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) (n-5) Aktif (3) Tidak Aktif (4) Terdaftar (5=3+4) Aktif (6) (n-4) Tidak Aktif (7) Terdaftar (8=6+7) Aktif (9) (n-3) Tidak Aktif (10) Terdaftar (11=9+10) Aktif (12) (n-2) Tidak Aktif (13) Terdaftar (14=12+13) Aktif (15) (n-1)**) Tidak Aktif (16) Terdaftar (17=15+16) 1..B..... Jumlah LSM yang aktif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah Organisasi/Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warga Negara Republik Indonesia secara sukarela atas kehendak sendiri dan berminat serta bergerak dibidang kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh organisasi/lembaga sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Besarnya jumlah LSM aktif akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah sebagai upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat daerah... menyimpan..B. s.. yang menitik beratkan kepada pengabdian secara swadaya. yang disusun menurut sistim tertentu. Jumlah se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d . yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pendidikan. Jumlah LSM tidak aktif 3.. Kota . 2.. Jumlah LSM terdaftar 2... s.10.2.10...T-I. 5.2. Kabupaten ....*) NO Uraian 1..d .2.T-I.88 binaan PKK juga menunjukkan besarnya pelayanan penunjang yang dapat diciptakan oleh pemerintah daerah dalam pemberdayakan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui PKK.

2.. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Pengunjung perpustakaan dihitung berdasar pengunjung yang mengisi daftar kehadiran atau berdasar data yang diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung. s.. 2.10. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I..T-I.T-I.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Kabupaten .*) NO 1. 3.. 3.89 Untuk Provinsi: Tabel.. 3... Provinsi . Jumlah se-Provinsi Tahun (n-5) Milik pemda (3) Non pemda (4) Total (5=3+4) Milik pemda (6) Tahun (n-1)**) Non pemda (7) Total (8=6+7) 1. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Dst . Kabupaten ... 2.. Kota .2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Untuk menghitung jumlah pengunjung perpustakaan dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.. Kota ....... 4..... 6.*) NO (1) 1. Dst .. Kabupaten/Kota.. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Pengunjung perpustakaan adalah pemakai perpustakaan yang berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan pustaka dalam satu (1) tahun.. s. Provinsi .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...B. 4. ..... Jumlah se-Provinsi Tahun (n-5) Milik pemda (3) Tahun (n-1)**) Total (5=3+4) Non pemda (4) Milik pemda (6) Non pemda (7) Total (8=6+7) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Uraian Jumlah Perpustakaan milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah Perpustakaan milik non pemda Total Perpustakaan (1+2) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2.172 Jumlah Perpustakaan Tahun .2.174 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun .... Dst . *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 5. s..B.173 Jumlah Perpustakaan Tahun ... Kabupaten/Kota (2) Kabupaten ... Dst ... Besarnya jumlah perpustakaan juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pelayanan pendidikan... Banyaknya jumlah perpustakaan akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dalam memberikan bahan pustaka kepada masyarakat pengguna perpustakan..d ..B..d ... 5.d .

Satuan polisi pamong praja merupakan perangkat daerah yang dapat berbentuk dinas daerah atau lembaga teknis daerah... Kabupaten/Kota.11.. menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. 3.. Besarnya jumlah perpustakaan juga menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai peluang untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pelayanan pendidikan. 5.2. 4.. Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat 2..90 Untuk kabupaten/kota: Tabel...T-I..T-I..B..d . Dst. s..B. Dst..d . Kabupaten.. s..000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. 2. Kota.. Kabupaten. . 6.000 penduduk Polisi Pamong Praja adalah aparatur Pemerintah Daerah yang melaksanakan tugas Kepala Daerah dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum.. Dengan jumlah pengunjung perpustakaan yang tinggi merupakan indikator efektifitas penyediaan pelayanan perpustakaan di daerah.*) Uraian Jumlah pengunjung perpustakaan 1. NO (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Banyaknya jumlah pengunjung perpustakaan menggambarkan tingginya budaya baca di daerah.. Rasio jumlah polisi pamong praja per 10. milik non pemda 3.. 2.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh PolPP (3) Jmlh Pddk (4) Rasio (5=3/4) Jmlh PolPP (6) (n-4) Jmlh Pddk (7) Rasio (8=6/7) Jmlh PolPP (9) (n-3) Jmlh Pddk (10) Rasio (11=9/10) Jmlh PolPP (12) (n-2) Jmlh Pddk (13) Rasio (14=12/13) Jmlh PolPP (15) (n-1)**) Jmlh Pddk (16) Rasio (17=15/16) 1. Se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.2. Jumlah polisi pamong praja dihitung dari jumlah aparatur pada satuan polisi pamong praja yang ditetapkan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan peraturan perundang-undangan.. Menghitung rasio jumlah polisi pamong praja per 10. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..175 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.1... Total pengunjung Perpustakaan (1+2) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah pengunjung perpustakaan 2.11... Provinsi .176 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun .

177 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun . Rasio jumlah polisi pamong praja per 10.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. 2.*) NO 1..d . Se-Provinsi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.11. 2. Kota..B.... Kabupaten/Kota.000 Penduduk Tahun .000 Penduduk Tahun .179 Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 penduduk digunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel.... s. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 2....T-I.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... 5.. 6.B.178 Rasio Jumlah Linmas Per 10.*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh Linmas (3) Jmlh Pddk (4) Rasio (5=3/4) Jmlh Linmas (6) (n-4) Jmlh Pddk (7) Rasio (8=6/7) Jmlh Linmas (9) (n-3) Jmlh Pddk (10) Rasio (11=9/10) Jmlh Linmas (12) (n-2) Jmlh Pddk (13) Rasio (14=12/13) Jmlh Linmas (15) (n-1)**) Jmlh Pddk (16) Rasio (17=15/16) 1...d .. Rasio jumlah linmas menggambarkan kapasitas pemda untuk memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat adalah upaya mengkondisikan lingkungan yang kondusif dan demokratif sehingga tercipta kehidupan strata sosial yang interaktif . Kabupaten.91 Untuk kabupaten/kota: Tabel. s.000 penduduk Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) merupakan satuan yang memiliki tugas umum pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat. Rasio jumlah linmas per 10. 3. Kabupaten/Kota..*) NO Uraian 1.d . Jumlah Linnmas Jumlah penduduk Rasio jumlah Linnmas per 10.. Dst..2. Jumlah penduduk 3.2. 4. Semakin besar rasio jumlah polisi pamong praja maka akan semakin besar ketersediaan polisi pamong praja yang dimiliki pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah . Dst..T-I.. .. Satuan ini memiliki peran penting dalam ketertiban masyarakat secara luas.000 penduduk *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi .B. menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.T-I...000 penduduk Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio jumlah polisi pamong praja menggambarkan kapasitas pemda dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum. Jumlah polisi pamong praja 2. 3..... Kabupaten. Menghitung rasio linmas per 10...

2. Untuk menghitung jumlah organisasi pemuda dapat disusun tabel sebagai berikut: .. Dst. Dst.. Pemuda dan olah raga 2..180 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Tahun ..*) NO (1) Kabupaten/ Kota (2) (n-5) Jmlh siska mling (3) Jmlh Desa (4) Rasio (5=3/4) Jmlh siska mling (6) (n-4) Jmlh Desa (7) Rasio (8=6/7) Jmlh siska mling (9) (n-3) Jmlh Desa (10) Rasio (11=9/10) Jmlh siska mling (12) (n-2) Jmlh Desa (13) Rasio (14=12/13) Jmlh siskam ling (15) (n-1)**) Jmlh Desa (16) Rasio (17=15/16) 1. 3. Rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan Rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan adalah perbandingan jumlah pos siskamling selama 1 (satu) tahun dengan jumlah desa/kelurahan. Jumlah organisasi pemuda dihitung dari jumlah organisasi pemuda yang aktif sampai dengan tahun pengukuran. 4.. Kota. Kecamatan..2.2.*) (n-5) NO (1) (n-4) Rasio (5=3/4) Jmlh siska mling (6) Jmlh Desa (7) Rasio (8=6/7) Jmlh siska mling (9) (n-3) Jmlh Desa (10) Rasio (11=9/10) Jmlh siskaml ing (12) (n-2) Jmlh Desa (13) Rasio (14=12/13) Jmlh siska mling (15) (n-1)**) Jmlh Desa (16) Rasio (17=15/16) Kecamatan (2) Jmlh siska mling (3) Jmlh Desa (4) 1....92 Semakin besar rasio jumlah linmas maka akan semakin besar ketersediaan linmas yang dimiliki pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat . Kabupaten. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Rasio ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap desa/kelurahan.. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..12. Kabupaten.. Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... s. untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 2..181 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Kecamatan Tahun .T-I.B. Jumlah Organisasi Pemuda Organisasi pemuda adalah sekelompok pemuda yang berkerjasama dengan suatu perencanaanperencanaan kerja dan peraturan-peraturan.12. Dst.d ..11.3..... 2.B.. Untuk kabupaten/kota: Tabel..d . Rasio jumlah pos siskamling menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap desa/kelurahan. 2... Provinsi ... 3. 2.. 6...1. Kecamatan. 5. Menghitung rasio pos siskamling per jumlah desa/keluarahan digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. s...T-I.. Semakin besar rasio jumlah pos siskamling akan semakin besar ketersediaan kapasitas pemda dalam memberdayakan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat serta keamanan lingkungan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

2.d . Banyaknya jumlah organisasi pemuda menggambarkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan dan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.93 Untuk Provinsi: Tabel... 2. Kabupaten.T-I....B.. 4.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. 2..2. Dst. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Kabupaten/kota Kabupaten. Provinsi . 3. Dst. Kota. Kabupaten/Kota .. Dst..*) NO 1..B.. Kota....182 Jumlah Organisasi Pemuda Tahun . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. s.... s. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. s. Dst... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... 4.. 3...183 Jumlah Organisasi Pemuda Tahun . 3.*) NO 1.. Jumlah organisasi olahraga dihitung dari jumlah organisasi olahraga yang aktif sampai dengan tahun pengukuran.. Untuk menghitung jumlah organisasi olahraga dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. .. 2... Semakin banyak jumlah organisasi pemuda menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai untuk memberdayakan pemuda dalam pembangunan daerah.. Kecamatan. 4. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Kabupaten/kota Kabupaten.T-I...12.. 5.. untuk mencapai suatu tujuan pembangunan dunia olahraga..T-I...d .. Se-Kabupaten/kota *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Dst.B... Provinsi .184 Jumlah Organisasi Olahraga Tahun . Kecamatan..d .*) NO Kecamatan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1. Jumlah Organisasi Olahraga Organisasi olahraga adalah organisasi formal yang dibentuk oleh sekelompok masyarakat olahraga yang bekerjasama dengan suatu perencanaan-perencanaan kerja dan peraturan-peraturan.

. Kabupaten/Kota.3.4.. Jumlah kegiatan olahraga dihitung dari jumlah kegiatan atau “event” olahraga dalam periode 1 (satu) tahun. Kabupaten/Kota .. 2. Banyaknya jumlah organisasi olahraga menggambarkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan daerah khususnya dalam menciptakan pelayanan penunjang di bidang olahraga.T-I.B. Banyaknya jumlah kegiatan kepemudaan menggambarkan tingginya antusiasme pemuda untuk berperan serta dalam pembangunan daerah. Kecamatan.. 3. Jumlah Kegiatan Olahraga Kegiatan olahraga adalah kegiatan atau “event” olahraga yang diselenggarakan baik oleh pemerintah daerah. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B. Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...186 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun .*) NO 1. 4... 2. perlombaan dan upacara serta kejadian atau peristiwa sejenis. s. swasta dan masyarakat. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.187 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun .2... 2.. 2.. Provinsi ..d .*) NO 1.d . Kegiatan olahraga dapat diselenggarakan dalam bentuk pertandingan dan perlombaan serta kejadian atau peristiwa sejenis... Kabupaten. Kepemudaan sendiri bermakna segala hal tentang pemuda.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Dst.. Dengan jumlah kegiatan kepemudaan yang tinggi merupakan indikator efektifitas keberadaan organisasi pemuda dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah 2. s.. Jumlah Kegiatan Kepemudaan Kegiatan kepemudaan adalah kegiatan atau “event” kepemudaan yang diselenggarakan dalam bentuk pertandingan. Dst..... Untuk menghitung jumlah kegiatan olahraga dapat disusun tabel sebagai berikut: ... 3.. Dst.. 5. Kecamatan Kecamatan.94 Untuk kabupaten/kota: Tabel...12.12....185 Jumlah Organisasi Olahraga Tahun .. Kabupaten/kota Kabupaten.2.. 3. Jumlah kegiatan kepemudaan dihitung dari jumlah kegiatan kepemudaan dalam periode 1 (satu) tahun.. Untuk kabupaten/kota: Tabel..d ... Kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I.. Kecamatan Kecamatan.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.B.*) NO 1. 4.. Dst.. Untuk menghitung jumlah kegiatan kepemudaan dapat disusun tabel sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. Kecamatan.T-I...

(n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Kabupaten/kota Kabupaten.*) NO 1.... dan unggulan daerah. 4..1. 3... s.d .1... kekhasan... Kemampuan Ekonomi Daerah Kemampuan ekonomi daerah dalam kaitannya dengan daya saing daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi pelaku ekonomi yang telah berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiflier effect bagi peningkatan daya saing daerah. Bukan makanan mencakup perumahan. yaitu rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Kabupaten/Kota .189 Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun . Provinsi ...T-I. 2.. 3. Kecamatan Kecamatan.. sebagai berikut: 3.. biaya kesehatan. Banyaknya jumlah kegiatan olahraga menggambarkan tingginya antusiasme organisasi olahraga di daerah untuk berperan serta dalam pembangunan daerah. Angka ini dihitung berdasarkan pengeluaran penduduk untuk makanan dan bukan makanan per jumlah penduduk.*) NO 1. 2.. dan sebagainya. Dst.. sandang.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Semakin besar rasio atau angka konsumsi RT semakin atraktif bagi peningkatan kemampuan ekonomi daerah. 5... Dst. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dapat diketahui dengan menghitung angka konsumsi RT per kapita. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.188 Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun . tembakau. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsumsi rumah tangga yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran rumah tangga.95 Untuk Provinsi: Tabel.. 4. Dst.. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan potensi. Kemampuan ekonomi daerah memicu daya saing daerah dalam beberapa tolok ukur. Kota. Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi. s. 3. Suatu daya saing (competitiveness) merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.d . . dan sirih.. Kabupaten... sekolah. minuman.. Dengan jumlah kegiatan olah raga yang tinggi merupakan indikator efektifitas keberadaan organisasi olahraga dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah...B. Kecamatan..T-I...B.1. Untuk kabupaten/kota: Tabel.

.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..... Kabupaten ....T-I..96 Untuk Provinsi: Tabel../2.B.d . Jika NTP lebih besar dari 100 maka periode tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan periode tahun dasar...... Rasio (1. Dst ... sebaliknya jika NTP lebih kecil dari 100 berarti terjadi penurunan daya beli petani. Nilai Tukar Petani dapat dihitung dengan membandingkan faktor produksi dengan produk.191 Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota Tahun .190 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun .. Provinsi ..2.*) NO 1.. 4. Provinsi .. 3.192 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun .*) NO Uraian 1......B.. 2. Jumlah RT 3.1.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Uraian Indeks yang diterima petani (lt) Indeks yang dibayar petani (lb) NTP *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Total Pengeluaran RT (3) Jumlah RT (4) Rasio (5=3/4) 1.B. Tabel..T-I.193 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .. s. Total Pengeluaran RT 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ...) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Dst . Kota . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3../2. 3.. 2. Jumlah Untuk kabupaten/kota: Tabel. Nilai tukar petani Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga. yaitu perbandingan antara indeks yang diterima (It) petani dan yang dibayar (Ib) petani..T-I. s..d ..*) NO 1.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..d . 3. Uraian Total Pengeluaran RT Jumlah RT (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio (1... Provinsi ....T-I. Untuk Provinsi: Tabel. Kabupaten/Kota. 2..B.... s.

2..T-I... Jumlah ..B. Kota .... Kabupaten/Kota. 5.. 4......... 2. Dst ..B.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data....195 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun . Kabupaten .. 2..97 NTP dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Tabel......d . Dst . Uraian Total Pengeluaran RT non Pangan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Tabel..... Provinsi ... Provinsi ...*) Uraian Indeks yang diterima petani (lt) Indeks yang dibayar petani (lb) NTP *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.3. 3..B. 1. Kota ....1. yaitu proporsi total pengeluaran rumah tangga untuk non pangan terhadap total pengeluaran. 3.. Untuk kabupaten/kota: Tabel..194 Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 4. Untuk Provinsi: Tabel. s...T-I..*) NO 1.. Kabupaten . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Dst .*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Indeks yang diterima petani (lt) (3) Indeks yang dibayar petani (lb) (4) NTP (5=3/4) Kabupaten ...T-I. Dst .. 3.. Pengeluaran konsumsi non pangan per kapita dapat dicari dengan menghitung persentase konsumsi RT untuk non pangan. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. NO 1....d ... s..197 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Total Pengeluaran Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. Provinsi . 2.T-I.B... 3..196 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun .. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (Persentase Konsumsi RT untuk non pangan) Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita dibuat untuk mengetahui pola konsumsi rumah tangga di luar pangan.*) NO (1) Kabupaten/Kota (2) Total Pengeluaran RT non Pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) 1.....

d.7 1. PDRB dihitung berdasarkan 9 (sembilan) sektor.1. 9 ..B. Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.4. Produktivitas Total Daerah dapat diketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan.6 1..199 Produktivitas Per Sektor Tahun.8 1.T-I. 3.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..1 1.5 1... & Js. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: di mana. Provinsi/Kabupaten/Kota. Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Angkatan Kerja Sektor (n-5) (Rp) % (Rp) (n-4) % (Rp) (n-3) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.198 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun . Produktivitas total daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sektor per angkatan kerja yang menunjukan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong ekonomi daerah per sektor. 1.. Untuk Provinsi: Tabel.B.Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan...T-I.. sewa..d .2 1. s. Provinsi. PDRB Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik...i adalah sector 1 s...*) NO 1. 2..*) NO 1...98 *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Uraian Total Pengeluaran RT non Pangan Total Pengeluaran Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.9 2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3...4 1.3 1.

5 1. 2... PDRB Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik....2......1.. 3.202 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Tahun ..T-I. (n-5) (n-4) Uraian Panjang Jalan***) Jumlah Kendaraan Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan.201 Produktivitas Per Sektor Kabupaten/Kota .1.99 Tabel.4 1.*) NO 1.d .. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. 3..6 1..3 1. Uraian Kabupaten . s. Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Perusahaan Jasa-jasa Jumlah Angkatan Kerja *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.*) NO 1.T-I... 4.1 1. 2. ***) Jalan: jalan negara.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan dihitung untuk mengetahui tingkat ketersediaan sarana jalan dapat memberi akses tiap kendaraan. Kota ... Untuk Provinsi: Tabel.*) NO 1. Provinsi....200 Produktivitas Total Daerah Provinsi.2..1.8 1.. Kabupaten .....9 2. 5. Dst . Dst . Aksesibilitas daerah Untuk mengetahui tingkat aksesibilitas daerah dapat dihitung dengan: 3.2 1.T-I.B.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...7 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2. & Js. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan adalah perbandingan panjang jalan terhadap jumlah kendaraan. Sektor (n-5) (Rp) % (Rp) (n-4) % (Rp) (n-3) % (Rp) (n-2) % (n-1)**) (Rp) % 3. 1. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaannya (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah.. & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi (n-3) (n-2) (n-1)**) . 3.. Rasio Produktivitas Daerah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Untuk kabupaten/kota: Tabel. provinsi. sewa..B.B..

5..100 Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel..T-I. & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. Provinsi..... Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... 5. Dst .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten . Uraian Jumlah orang Jumlah Barang Satuan Orang Ton (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. ***) Jalan: jalan negara..... 3... 2.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data........ 2. s..B... & kabupaten/kota dalam wilayah provinsi Untuk kabupaten/kota: Tabel. 3. 2.. provinsi. Untuk Provinsi: Tabel.......B..206 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kabupaten . Dst .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2..*) NO 1.205 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun .. 4. Tabel. 3.. Kabupaten/Kota.. Kabupaten/kota Jumlah Orang Jumlah Barang Keterangan ......*) NO 1.d .1.. ***) Jalan: jalan negara. Kota .... 2. Provinsi ...B.. 4. Dst . Provinsi ..T-I. Dst ..2....... Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum dalam periode 1 (satu) tahun.T-I. Kabupaten .*) NO 1..B...203 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Menurut Kabupaten/Kota Tahun ...T-I. s. Uraian Panjang Jalan Jumlah Kendaraan Rasio *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.204 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Tahun ..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Panjang Jalan (3) Jumlah Kendaraan (4) Rasio (5=3/4) 1.d ..... provinsi. Kota .... Kabupaten .

.. . Dst .. 3....*) NO 1.*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kabupaten . s...209 Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Menurut Kabupaten/Kota Tahun ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Provinsi.B.208 Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Tahun . Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara/ terminal per tahun Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal dalam periode 1 (satu) tahun.*) NO 1.T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... s.T-I.2...... Provinsi/Kabupaten/Kota. Dst .101 Untuk kabupaten/kota: Tabel..T-I. 2.. Untuk kabupaten/kota: Tabel.d ..B.. Provinsi .B...210 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun ....3..d ..207 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun ... 2....T-I.*) NO 1. Kabupaten/Kota. Dermaga Bandara Terminal Jumlah Uraian (n-5) Orang Brng Orang (n-4) Brng Orang (n-3) Brng Orang (n-2) Brng (n-1)**) Orang Brng *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...... Jumlah Dermaga Orang Barang Orang Bandara Barang Orang Terminal Barang *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.... Untuk Provinsi: Tabel... 3... Kabupaten ... Uraian Jumlah orang Jumlah Barang Satuan Orang Ton (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Kota .1...d . s.. Uraian Dermaga Bandara Terminal Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3.B... (n-5) Orang Brng Orang (n-4) Brng Orang (n-3) Brng Orang (n-2) Brng (n-1)**) Orang Brng Tabel. 2...

Luas wilayah produktif Luas wilayah produktif adalah persentase realisasi luas wilayah produktif terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel... Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Ketaatan terhadap RTRW merupakan kesesuaian implementasi tata ruang hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional dengan peruntukan yang direncanakan sesuai dengan RTRW.T-I.1.. (n-5) Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1. 3.*) NO (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/kota (2) Kabupaten ... Dst . Kabupaten ..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...*) NO 1.B.B...) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..2. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3. Kota .... Rasio ketaatan dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel...*) NO 1..211 Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Tahun . s../2..2...212 Persentase luas Wilayah Produktif Tahun ....d ...... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wil./2..102 3...2.2.T-I.2.. Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: Untuk Provinsi: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil.d .. s.B. 3. Provinsi .213 Persentase Luas Wilayah Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun .. Budidaya Rasio (1...2. Provinsi .2..... Penataan wilayah 3... Dst .T-I. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. . Provinsi/Kabupaten/Kota... 2...

s..3..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..d . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...T-I.217 Rasio Luas Wilayah Industri Tahun ....T-I...........*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Industri (3) Luas Seluruh Wil. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) ..*) NO 1.. s./2. Budidaya Rasio (1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data./2. s.. (n-5) Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil.d .T-I. Provinsi . Kabupaten ... Kota .215 Persentase Luas Wilayah Industri Tahun .216 Persentase Luas Wilayah Industri Menurut Kabupaten/Kota Tahun .../2. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.. (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel. Luas Wilayah Industri Luas wilayah industri adalah persentase realisasi luas kawasan Industri terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW..*) NO 1. 3.. Budidaya Rasio (1..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel. Budidaya Rasio (1.. Provinsi ..B.. 2.B.. 2. Dst .. Dst .103 Untuk kabupaten/kota: Tabel..) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.. 3... Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil. Kabupaten/Kota..T-I.. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) Kabupaten ...*) NO 1. 2.. Kabupaten/Kota..2.... Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.2...214 Rasio Luas Wilayah Produktif Tahun . (n-5) Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil.....d . 3. 1 2 3 4 5 Untuk kabupaten/kota: Tabel.B..

. s..*) NO 1. Budidaya Rasio (1. Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil. Luas Wilayah Kebanjiran Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah banjir terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW.....T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2... Dst . Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel.218 Persentase Luas Wilayah Kebanjiran Tahun ..219 Persentase Luas Wilayah Kebanjiran Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan.. Kabupaten/Kota.5... Provinsi . (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel.220 Rasio Luas Wilayah Kebanjiran Tahun ...d ..2.. Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil.B. Budidaya Rasio (1.2.2....T-I. Dst .104 - 3. s./2.. Luas Wilayah Kekeringan Luas wilayah kekeringan adalah luas wilayah kekeringan terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW... Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten . 3. Provinsi ... Untuk kabupaten/kota: Tabel.. 2..*) NO 1.. 2......B..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Kebanjiran (3) Luas Seluruh Wil..d .... Kota . Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 ./2...) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...4.T-I.....) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Kabupaten . 3.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3...

.*) NO 1.. Dst .... 2.. Kabupaten .224 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Tahun .. Budidaya Rasio (1.T-I... Uraian Luas Wilayah Kekeringan Luas Seluruh Wil..... s. Dst ..../2.T-I. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.. Provinsi .) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Uraian Luas Wilayah Kekeringan Luas Seluruh Wil. Untuk kabupaten/kota: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s..6.221 Persentase Luas Wilayah Kekeringan Tahun . 3..B.....105 Untuk Provinsi: Tabel.B... 3. Uraian Luas Wilayah Perkotaan Luas Seluruh Wil. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data../2... Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten .. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Tabel....*) NO 1.2...223 Rasio Luas Wilayah Kekeringan Tahun ./2... Luas Wilayah Perkotaan Luas wilayah perkotaan adalah persentase realisasi luas wilayah perkotaan terhadap luas rencana wilayah budidaya sesuai dengan RTRW... Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Untuk Provinsi: Tabel..*) NO 1..B...d .. Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan....222 Persentase Luas Wilayah Kekeringan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 2. 2...) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Kekeringan (3) Luas Seluruh Wil.. .T-I.. s..B.. Rasio (1. Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.d .) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi .. Budidaya Rasio (1. Provinsi .d . Budidaya (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.2. Kota .T-I...

1.T-I.2. 2.. Jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak..227 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Provinsi . 2..2. 2.226 Rasio Luas Wilayah Perkotaan Tahun ... Dst ..3.d .1... bank dibagi menjadi bank umum dan bank perkreditan rakyat.....1..T-I... Uraian Luas Wilayah Perkotaan Luas Seluruh Wil....1...106 Tabel..B. Kota . Provinsi ... s.2../2..*) NO 1.. 2. Untuk Provinsi: Tabel.) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan... Fasilitas bank dan non bank Fasilitas bank dan non bank diukur dengan jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya.B. n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 3. Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran... Menurut fungsinya...*) NO 1..2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..*) NO (1) Kabupaten/kota (2) Luas Wilayah Perkotaan (3) Luas Seluruh Wil..225 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kabupaten . dan jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya 3. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Bank Umum Konvensional Syariah BPR Konvensional Syariah Total Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) . Budidaya Rasio (1. 1.3. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) 1 2 3 4 5 Kabupaten .. Dst . Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. Kabupaten/Kota...B....T-I. 3.

. Provinsi . Kabupaten/kota Kabupaten ..2..1.2.2.230 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Provinsi. 2..2.T-I.T-I. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3.3..228 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Dst . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. 2.2.*) NO 1. Bank Umum Konvensional Syariah Konvensional BPR Syariah Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa..B...Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi..107 Tabel..... Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Asuransi merupakan alat untuk menanggulangi risiko (nasabah) dengan cara menanggung bersama kerugian yang mungkin terjadi dengan pihak lain (perusahaan asuransi).. Usaha asuransi adalah usaha jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi guna memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti terhadap hidup atau meninggalnya seseorang. Untuk kabupaten/kota: Tabel.. Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Perusahaan Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Perusahaan Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan...T-I. BPR Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 1. .1.2..B. 1.... Dst . 3. 2. 4.*) NO 1. Bank Umum Konvensional Syariah Sektor Jumlah (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 2... 1.. 2....*) NO 1. 1. 5. Kota ...1. 2..... 2.. Penyelenggaraan asuransi dipisahkan menjadi dua yaitu perusahaan asuransi yang beroperasi secara konvensional dan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah.229 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Kabupaten/Kota. Untuk Provinsi: Tabel..B. Kabupaten .1.

...2.. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dst .. 1.. Dst . Air Hujan 2. 2.231 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan cabangnya Menurut Kabupaten/Kota Tahun . Kota . Persh....B... 2... Air Sumur Dangkal 5.T-I.T-I... Air Minum(drinking water) Air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002).. Air Sumur Dalam Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: 00 Sajikan Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dalam tabel sebagai berikut: . Sektor Perusahaan Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Perusahaan Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah (n-5) (n-4) Jumlah (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Air Sungai dan Danau 3.B...2...4. Asuransi Kerugian Konvensional Syariah Persh.. Sumber air bersih dapat dibedakan atas: 1.1.. Ketersediaan air bersih 3.*) NO 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kabupaten .. 1.. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Air Bersih(clean Water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak.. Mata Air 4.....2..232 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Kabupaten/Kota.4...*) NO 1.1. Untuk kabupaten/kota: Tabel. Provinsi .108 Tabel.2. Kabupaten . Asuransi Jiwa Konvensional Syariah Jumlah *) Diisi sesuai nama daerah berkenaan. 2.1.

2. 11. Sumber Air Bersih Leding (Perpipaan) Sumur Lindung Sumur Tidak Terlindung Mata Air Terlindung Mata Air Tidak Terlindung Sungai Danau/Waduk Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan air bersih Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan air bersih (11/12) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 6. 11.234 Prakiraan Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Provinsi/Kabupaten/Kota ... 3..*) NO 1.. 8.rumah tangga ..1. 3. 10.2.. Tabel. 3. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Perhitungan ketersediaan daya listrik dan kebutuhannya kedepan dapat mengacu pada dokumen Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) atau Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang telah disusun. Fasilitas listrik dan telepon 3.T-I. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Pemerintah Daerah berkewajiban untuk melistriki masyarakat tidak mampu dan . 13.Public . 12.Komersial .T-I.B. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.5. 9.5. 9. 7. 7. 8. 4. 5.. 5.B.*) No 1.. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat.2. 4.109 Tabel.Industri 2. Kebutuhan .2. 3. 6. 10. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.233 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Provinsi/Kabupaten/Kota . Rasio ketersediaan daya listrik Rasio ketersediaan daya listrik adalah perbandingan daya listrik terpasang terhadap jumlah kebutuhan. Susut & Losses (T&D) Susut Pemakaian Sendiri Total Susut & Losses Faktor Beban Produksi Beban Puncak Kapasitas Terpasang (Existing) Cummulated Commited Projects TOTAL KAPASITAS SISTEM DAYA YANG DIBUTUHKAN* Uraian Satuan GWH GWH GWH GWH GWH % % % % GWH MW MW MW MW MW (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.5.2. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat..

2.2.235 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Provinsi/Kabupaten/Kota . Sedangkan pengusahaan . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.200 watt Total Jumlah Rumah Tangga menggunakan listrik Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan listrik (6)/(7) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.6. Jenis. 2.6.. Salah satu indikator dalam melihat perkembangan teknologi komunikasi adalah dengan melihat seberapa banyak penduduk suatu daerah telah memiliki perangkat komunikasi berupa hand-phone (HP) dan telepon rumah biasa. Penduduk yang memiliki HP Penduduk yang memiliki telepon PSTN Total Jumlah penduduk yang memiliki HP/Telepon (1) + (2) Jumlah penduduk Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon (3)/(4) Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3.1. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Persentase penduduk atau rumah tangga yang memiliki HP dan fasilitas telepon (PSTN) dapat diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS mengenai survei tentang teknologi komunikasi dan informasi. 4.2.. Sajikan Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan HP/Telepon dalam tabel sebagai berikut: Tabel. 4. 7.200 watt RT dengan daya > 2.3.. 6. 3.B. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.300 watt RT dengan daya 2.*) No 1.110 daerah terpencil. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya.. Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon adalah proporsi jumlah penduduk menggunakan telepon/HP terhadap jumlah penduduk. Pengertian restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran.T-I. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik merupakan proporsi jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai daya penerangan terhadap jumlah rumah tangga. Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon Peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi pada suatu daerah.*) No 1. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 00 Tabel..5.T-I. dan jumlah restoran (Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas) Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukan tingkat daya tarik investasi suatu daerah. Ketersediaan restoran 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. 3.236 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan HP/Telepon Provinsi/Kabupaten/Kota .. kelas. 3. 8... 5. Uraian RT dengan daya 450 watt RT dengan daya 900 watt RT dengan daya 1.. 5. 2.B.

Untuk Hotel Berbintang. di mana setiap orang dapat menginap. 4. Tabel.1.238 Jenis. terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunjungan dari luar daerah. dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran.. Unsur Pengelolaan. Jenis. Dengan semakin banyaknya jumlah kunjungan orang dan wisatawan ke suatu daerah perlu didukung oleh ketersediaan penginapan/hotel. 10.*) No 1. dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang telah ditentukan. 3. 5. Kelas dan Jumlah Restoran Provinsi/Kabupaten/Kota ..*) Tahun (n-5) No 1. Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Provinsi/Kabupaten/Kota .T-I. Hotel Melati Hotel Melati adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus. Jenis Penginapan/Hotel Hotel Bintang 5 Hotel Bintang 4 Hotel Bintang 3 Hotel Bintang 2 Hotel Bintang 1 Jumlah Hotel Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur Jumlah Hotel Tahun (n-1)**) Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur . 3.B. 4. 5. 2.7.2. dan belum memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang. di mana setiap orang dapat menginap.T-I. kelas.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran.7.. kriteria penggolongannya didasarkan pada persyaratan dasar dan penilaian teknis operasional. Unsur Pelayanan. Persyaratan Teknis : Unsur Fisik. 2. Penetapan penilaian golongan kelas hotel bintang dilakukan dengan penggabungan dari nilai persyaratan dasar dan persyaratan teknis. Penilaian penggolongan Hotel Bintang dilaksanakan oleh PHRI.111 usaha restoran dan rumah makan adalah penyediaan jasa pelayanan makanan dan minuman kepada tamu sebagai usaha pokok. Hotel Berbintang Hotel berbintang adalah suatu usaha jasa yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus. 2.B. 8. makan. Uraian Usaha restoran golongan tertinggi Usaha restoran golongan menengah Usaha restoran golongan terendah Usaha rumah makan kelas A Usaha rumah makan kelas B Usaha rumah makan kelas C Usaha rumah makan kelas D Usaha rumah makan kelas Jenis Usaha Restoran Jenis Usaha Rumah Makan Tahun (n-5) Jumlah Usaha Jumlah Kursi Tahun (n-1)**) Jumlah Usaha Jumlah Kursi *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut. Persyaratan Dasar : Perijinan (persetujuan Prinsip. memperoleh pelayanan... Ciri khusus dari hotel berbintang adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut. makan. 9.. dan jumlah penginapan/ hotel Jenis penginapan/hotel dapat dibedakan menjadi: a.237 Jenis. 7. Ijin Usaha). Tabel. 6. 3. Ketersediaan penginapan Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting dalam meningkatkan daya saing daerah. b..2..

**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.240 Jumlah Demonstrasi Provinsi/Kabupaten/Kota ...3. 4.1. 3. 3. 9. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 0 000 Tabel.. Jumlah Demonstrasi Jumlah demonstrasi adalah jumlah demonstrasi yang terjadi dalam periode 1 (satu) tahun.T-I..3.. Tabel..B. semakin rendah tingkat kriminalitas.T-I. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Unjuk rasa atau demonstrasi ("demo") adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.112 Tahun (n-5) No Jenis Penginapan/Hotel Hotel Non Bintang (hotel melati dan penginapan lainnya) Total Jumlah penginapan/Hotel Jumlah Hotel Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur Jumlah Hotel Tahun (n-1)**) Jumlah Kamar Jumlah Tempat Tidur 6. Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) .1.2.1.B.*) No 1 2 3 4 Bidang Politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah Demonstrasi/Unjuk Rasa *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 7. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..1.. Iklim Berinvestasi Keamanan dan ketertiban Angka kriminalitas Angka Kriminalitas adalah rata-rata kejadian kriminalitas dalam satu bulan pada tahun tertentu. 7.*) No 1. 3. dan sebagainya. Angka kriminalitas dihitung berdasarkan delik aduan dari penduduk korban kejahatan dalam periode 1 (satu) tahun. 8.239 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota .3. 2. 5. Artinya dalam satu bulan rata-rata terjadi berapa tindak kriminalitas untuk berbagai kategori seperti curanmor.3. pemerkosaan. maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat.. 10. 3. 6. pembunuhan. Jenis Kriminal Jumlah kasus Narkoba Jumlah kasus Pembunuhan Jumlah Kejahatan Seksual Jumlah kasus Penganiayaan Jumlah kasus Pencurian Jumlah kasus Penipuan Jumlah kasus Pemalsuan uang Total Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun Jumlah Penduduk Angka Kriminalitas (8)/(9) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Indikator ini berguna untuk menggambarkan tingkat keamanan masyarakat.

. 2.1...113 3..3. 2. Uraian Jumlah Pajak yang dikeluarkan Jumlah Insentif Pajak yang mendukung iklim investasi Jumlah Retribusi yang dikeluarkan Jumlah Retribusi yang mendukung iklim investasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Lama proses perijinan merupakan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu perijinan (dalam hari). pajak reklame.. melalui perda inilah dapat diindikasikan adanya insentif maupun disinsentif sebuah kebijakan di daerah terhadap aktivitas perekonomian.. retribusi parkir di tepi jalan umum yang disediakan oleh pemda.241 Lama Proses Perijinan Provinsi/Kabupaten/Kota . 3. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan). salah satunya kemudahan perijinan. 5.B. Kemudahan perijinan Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada daya saing investasi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah (sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku). berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor. 4. Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah) Jumlah dan macam pajak daerah dan retribusi daerah diukur dengan jumlah dan macam insentif pajak dan retribusi daerah yang mendukung iklim investasi.4. dan retribusi sejenis lainnya.*) NO 1. Jenis perijinan yang dianalisis antara lain: 1. 4. 3. Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan) kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang berdasarkan perundangundangan yang berlaku. Tabel. Daya saing investasi suatu daerah tidak terjadi dengan serta merta.1. Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung iklim usaha Perda merupakan sebuah instrumen kebijakan daerah yang sifatnya formal.242 Jumlah dan Macam Insentif Pajak dan Retribusi Daerah Yang Mendukung Iklim Investasi Provinsi/Kabupaten/Kota . 2..B. Pembentukan daya saing investasi.5. retribusi kebersihan di pasar milik pemda.. Kemudahan perijinan adalah proses pengurusan perijinan yang terkait dengan persoalan investasi relatif sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Contoh pajak daerah yaitu: pajak penerangan jalan.3. 6. dan pajak restoran/hotel.3.1. Contoh retribusi daerah yaitu: retribusi sewa tempat di pasar milik pemda. 4.3. 6. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-I. 3. 3.. Perda yang mendukung iklim usaha dibatasi yaitu perda terkait dengan . 5. SIUP TDP IUI TDI IMB HO Uraian Lama mengurus (hari) Jumlah persyaratan (dokumen) Biaya resmi (rata-rata maks Rph) 3.T-I. SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan TDP : Tanda Daftar Perusahaan IUI : Izin Usaha Industri TDI : Tanda Daftar Industri IMB : Izin Mendirikan Bangunan HO : Izin Gangguan Tabel.*) NO 1.

Pengertian masingmasing klasifikasi desa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Indikator peningkatan daya saing terkait pertumbuhan desa swasembada dapat dilihat dari persentase desa/kelurahan berstatus swasembada terhadap total desa/kelurahan.. Dalam upaya peningkatan daya saing daerah salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah melalui peningkatan dan percepatan pertumbuhan status desa menjadi desa swasembada. Desa Sedang Berkembang atau Desa Swakarsa Desa sedang berkembang adalah desa yang mulai menggunakan dan memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan sumber keuangan atau dana.114 perizinan. 3. desa/kelurahan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga). Dalam rangka mencapai tujuan itu pembangunan desa diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusianya yang merupakan bagian terbesar penduduk Indonesia. 3. Status desa (Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa) Pembangunan desa dalam jangka panjang ditujukan untuk memperkuat dasar-dasar sosial ekonomi pedesaan yang memiliki hubungan fungsional yang kuat dan mendasar dengan kotakota dan wilayah di sekitarnya. Uraian Jumlah Perda terkait perijinan Jumlah Perda terkait lalu lintas barang dan jasa Jumlah Perda terkait ketenagakerjaan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. dalam memanfaatkan berbagai potensi desa maupun peluang yang ada untuk berkembang. Desa Maju atau Desa Swasembada Desa maju adalah desa yang berkecukupan dalam hal sumber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal. Berdasarkan kriteria status. Kehidupan desa swasembada sudah mirip kota yang modern dengan pekerjaan mata pencarian yang beraneka ragam serta sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan maju.1.. perda terkait dengan lalu lintas barang dan jasa. keterampilan dan prakarsanya. Masyarakat pedesaan swakarsa masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan tidak bermata pencaharian utama sebagai petani di pertanian saja serta banyak mengerjakan sesuatu secara gotong royong. 3. 2. 2. desa swakarya (transisional).B... dan desa swasembada (berkembang).6. Desa Terbelakang atau Desa Swadaya Desa terbelakang adalah desa yang kekurangan sumber daya manusia atau tenaga kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi yang ada di desanya. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 0 000 . dengan meningkatkan kualitas hidup.*) NO 1.T-I. kemampuan. Persentase desa/kelurahan berstatus swasembada terhadap total desa/kelurahan adalah proporsi jumlah desa/kelurahan berswasembada terhadap jumlah desa/ kelurahan.3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Desa swakarsa belum banyak memiliki sarana dan prasarana desa yang biasanya terletak di daerah peralihan desa terpencil dan kota. Biasanya desa terbelakang berada di wilayah yang terpencil jauh dari kota. yakni desa swadaya (tradisional). Tabel.243 Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Provinsi/Kabupaten/Kota . taraf berkehidupan miskin dan tradisional serta tidak memiliki sarana dan prasaranan penunjang yang mencukupi.. Pembangunan desa dan pembangunan sektor yang lain di setiap pedesaan akan mempercepat pertumbuhan desa menjadi desa swasembada yang memiliki ketahanan di segala bidang dan dengan demikian dapat mendukung pemantapan ketahanan nasional. serta perda terkait dengan ketenagakerjaan.

kreatif. disiplin dan profesional.. Disamping itu juga mampu memanfaatkan.T-I. maka pembangunan SDM diarahkan agar benar-benar mampu dan memiliki etos kerja yang produktif. 2.2.B. mengembangkan dan menguasai ilmu dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 4. Kualitas sumberdaya manusia juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan daya saing daerah dan perkembangan investasi di daerah..244 Jumlah Desa Swasembada Provinsi/Kabupaten/Kota .245 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota .1. 5. Selain itu. 5.. Uraian Jumlah Desa/Kelurahan Swadaya Jumlah Desa/Keluarahan Swakarya Jumlah Desa/Keluarahan Swasembada Jumlah Desa/Kelurahan (1) + (2) + (3) Persentase Desa berstatus swasemda dibagi jumlah desa/kelurahan (3)/(4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. 3.*) No 1. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3. Rasio lulusan S1/S2/S3 adalah jumlah lulusan S1/S2/S3 per 10. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk . Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Kualitas SDM ini berkaitan erat dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan kerja di dalam negeri dan di luar negeri.000 penduduk.4. Uraian Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Julah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan.4. Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam kerangka pembangunan daerah adalah menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM). Indikator kualitas sumberdaya manusia dalam rangka peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja dan tingkat ketergantungan penduduk untuk melihat sejauhmana beban ketergantungan penduduk.4. Sumber Daya Manusia Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. 4. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik kualitas tenaga kerjanya.T-I. Hal ini dapat disadari oleh karena manusia sebagai subyek dan obyek dalam pembangunan. terampil.115 Tabel. Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. Tingkat ketergantungan Rasio ketergantungan digunakan untuk mengukur besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif.B. S2 dan S3... 3.*) NO 1.. adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. Kualitas tenaga kerja pada suatu daerah dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk yang telah menyelesaiakan S1... 3. Mengingat hal tersebut.. 2. 6. Penduduk usia 15-64 tahun. penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 3 0 000 Tabel.

Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang... Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . 2.246 Rasio Ketergantungan Tahun . s. 3. Meskipun tidak terlalu akurat.*) No 1..d .... Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) &(2) Jumlah Penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Diisi sesuai dengan nama daerah berkenaan. Provinsi/Kabupaten/Kota .. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 5 5 00 Tabel. 4... 5. Rasio ketergantungan adalah perbandingan jumlah penduduk usia <15 tahun dan >64 tahun terhadap jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt.116 yang tergantung pada penduduk usia kerja. MENTERI DALAM NEGERI..T-I.B.. rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.

PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU II) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. TATACARA PENYUSUNAN.

PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJPD . PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJPD E. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJPD F. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD D. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD C. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD B.LAMPIRAN II : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) A.

Arah kebijakan pembangunan jangka panjang · Kaidah pelaksanaan. analisis isu-isu strategis.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD MUSRENBANG RPJPD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD PENETAPAN RPJPD Rancangan Awal RPJPD · · · · · pendahuluan.-2A.A.G-II. gambaran umum kondisi daerah. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD Gambar. Visi dan misi daerah Arah kebijakan pembangunan jangka panjang · Kaidah pelaksanaan Penyampaian perda ttg RPJPD kepada Kepemendagri Perda tentang RPJPD RPJPD · Pendahuluan · Gambaran umum Kondisi daerah · Analisis isu-isu srategis · Visi dan misi daerah · Arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah · Kaidah pelaksanaan Masukan dari SKPD . misi dan arah kebijakan RPJPD provinsi Rancangan Akhir RPJPD · · · · · Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisis isu-isu srategis. visi dan misi daerah. Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Rancangan Perda ttg RPJPD beserta Rancangan akhir RPJPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJPD Persiapan Penyusunan RPJPD Penelaahan RPJPN dan RPJPD daerah lainnya Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW daerah lainnya Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka panjang provinsi Perumusan visi dan misi daerah provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJPD Konsultasi rancangan akhir RPJPD Penyempurnaan rancangan akhir RPJPD Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Analisis Gambaran umum kondisi daerah provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Penyelarasan visi.

visi dan misi daerah.-3- GAMBAR. RPJPD Provinsi dan RPJPD kab/ kota lainnya Persiapan Penyusun RPJPD · · · · · pendahuluan. gambaran umum kondisi daerah. analisis isu-isu strategis. Visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah · Arah kebijakan jangka panjang daerah Perda tentang RPJPD RPJPD · Pendahuluan · Gambaran umum Kondisi daerah · Analisis isu-isu srategis · Visi dan misi Pembangunan jangka panjang daerah · Arah kebijakan jangka panjang daerah Masukan dari SKPD .G-II. Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJPD Perumusan Rancangan Akhir RPJPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian Rancangan Akhir RPJPD Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Kab/ Kota dan RTRW kab/ kota daerah lainnya Analisis isuisu strategis pembangunan jangka panjang kabupaten/kota Perumusan visi dan misi daerah kabupaten/ kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan Sasasaran pokok dan arah kebijakan Perumusan hasil Musrenbang Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJPD Konsultasi rancangan akhir RPJPD Penyempurnaa n rancangan akhir RPJPD Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Analisis Gambaran umum kondisi daerah Kabupaten/ Kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ kota Penyampaian Perda Ttg RPJPD kepada PemProv Penyelarasan visi.A.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJPD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD MUSRENBANG RPJPD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD PENETAPAN RPJPD Rancangan Perda ttg RPJPD beserta Rancangan akhir RPJPD Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN. misi dan arah kebijakan RPJPD Kabupaten/Kota Rancangan Akhir RPJPD · · · · Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisis isu-isu srategis. arah kebijakan.

tahapan tata cara penyusunan.2. antara lain: · Peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara. yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD. Tim penyusun RPJPD provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RPJPD dan penyusunan anggaran. Penyusunan Agenda Kerja Tim RPJPD · · B. pemerintahan daerah. Hal ini untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundangundangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. pengelolaan keuangan daerah. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. Pembentukan Tim Penyusun RPJPD Kegiatan pembentukan tim penyusun dimulai dari penyiapan rancangan surat keputusan kepala daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. tim penyusun sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja (pokja) berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. sistem perencanaan pembangunan nasional.1. teknis penyusunan dokumen RPJPD. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJPD. Bahan orientasi mengenai RPJPD. Anggota tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. B. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). B. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. .-4B. Orientasi mengenai RPJPD Orientasi mengenai RPJPD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. Tugas tim penyusun RPJPD selanjutnya dijabarkan kedalam agenda kerja. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD Tahapan persiapan dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan tahapan penyusunan RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Struktur tim penyusun RPJPD sekurang-kurangnya sebagai berikut: Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : : Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Sekretaris Bappeda Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan. Rencana kegiatan tim penyusun RPJPD dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan mulai dari persiapan hingga ditetapkannya rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD.3. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RPJPD.

RPJPN. Penyusunan Rancangan Awal RPJPD C. karena akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang akan disusun. RTRWN. antara lain: 1. RPJMN dan RPJPD provinsi untuk penyusunan RPJPD . Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan langkah-langkah. Pengumpulan data dan Informasi B.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RPJPD adalah sebagai berikut: Tabel T-II.4. Mengumpulkan data dan informasi yang akurat dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Kegiatan Tahun 1 Tahun 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 A. RPJPN. RTRWN.B. 2. b. Contoh Agenda Kerja Penyusunan RPJPD No. Penyusunan Agenda Kerja 4. MUSRENBANG RPJPD 1. Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. Peraturan perundangan terkait. Orientasi mengenai RPJPD 3.1. kabupaten/kota. sebagai berikut: 1. Penyiapan Surat Edaran KDH D. Pelaksanaan Musrenbang RPJPD 3. Menyusun daftar data dan informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RPJPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. Kebijakan-kebijakan nasional yang terkait. untuk penyusunan RPJPD provinsi. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah merupakan unsur penting dalam penyusunan rencana. Penyusunan Rancangan RPJPD E. RPJMN. Untuk itu. 2. Perumusan hasil Musrenbang RPJPD F PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJPD 1 Perumusan rancangan akhir RPJPD 2 3 Pembahasan rancangan akhir RPJPD dengan SKPD dan Kepala Daerah Penyampaian rancangan akhir RPJPD untuk persetujuan Kepala Daerah 4 Konsultasi rancangan akhir RPJPD 5 Penyempurnaan rancangan akhir RPJPD berdasarkan hasil konsultasi G PENETAPAN PERDA RPJPD 1 Penyampaian rancangan perda tentang RPJPD kepada DPRD 2 Pembahasan rancangan perda tentang RPJPD bersama DPRD 3 Persetujuan bersama perda tentang RPJPD oleh DPRD dan Kepala Daerah Penyampaian Perda tentang RPJPD provinsi oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri/perda tetang RPJPD kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota kepada gubernur dengan tembusan ke Menteri Dalam Negeri H B. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJPD 1. Pembentukan tim penyusunan RPJPD 2. Penyiapan Data dan Kegiatan 2. Dokumen-dokumen: a. 3. dalam rangka penyusunan RPJPD perlu dikumpulkan data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. 3. Data dan informasi yang perlu dikumpulkan dalam proses penyusunan RPJPD.

-6c. mencakup: 1. · arah kebijakan. Tahap perumusan rancangan awal RPJPD. Data statistik minimal lima tahun terakhir. dapat dilihat pada Gambar. Tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota. Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Provinsi dan RTRW provinsi lainnya Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang provinsi Perumusan visi dan misi daerah Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan Sasaran pokok dan arah kebijakan Analisis Gambaran umum kondisi daerah Provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Penyelarasan visi.2.1 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Provinsi Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya · pendahuluan. Hasil evaluasi RPJPD periode lalu. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJPD Penyusunan rancangan awal RPJPD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJPD rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota yang dilakukan melalui dua tahapan rangkaian proses yang berurutan.1 dan Gambar. dan 2. Tahap penyajian rancangan awal RPJPD. Gambar.C. · gambaran umum kondisi daerah. · visi dan misi daerah.C.G-II. misi dan arah kebijakan RPJPD Provinsi Masukan dari SKPD . · analisis isu-isu strategis. C. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen RPJPD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. dan 4.C.G-II.G-II.

sebagai berikut: 1.G-II. b.C. 2. dan RPJPD kabupaten/kota lainnya. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah kabupaten/kota. Penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. 8. Analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota.2 Penyusunan Rancangan Awal RPJPD Kabupaten/Kota Rancangan Awal RPJPD Penelaahan RPJPN.-7Gambar. 4. 2. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). Perumusan rancangan awal RPJPD provinsi dilakukan melalui serangkaian kegiatan. 8. · analisis isu-isu strategis. Pengolahan data dan informasi. Perumusan rancangan awal RPJPD kabupaten/kota dilakukan melalui serangkaian kegiatan. . Pengolahan data dan informasi Penelaahan RTRW Kab/ Kota dan RTRW kab/ kota daerah lainnya Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang Kabupaten/ Kota Perumusan visi dan misi daerah Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Analisis Gambaran umum kondisi daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Penyelarasan visi. · arah kebijakan. Penelaahan RPJPN dan RPJPD provinsi lainnya. Perumusan arah kebijakan. Penyelarasan visi. 5. 4. 7. Perumusan visi dan misi daerah provinsi. Tahap Perumusan Rancangan Awal RPJPD Perumusan isi dan substansi rancangan awal RPJPD sangat menentukan kualitas dokumen RPJPD yang akan dihasilkan. Perumusan arah kebijakan. dan 10. · gambaran umum kondisi daerah. Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. RPJPD Provinsi dan RPJPD kab/ kota lainnya · pendahuluan. dan arah kebijakan RPJPD provinsi. · visi dan misi daerah. a. 6. misi.1. misi dan arah kebijakan RPJPD Kabupaten/Kota Masukan dari SKPD C. Pengolahan data dan informasi. Analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. RPJPD provinsi. 9. Pelaksanaan forum konsultasi publik. Penelaahan RPJPN. 5. mengingat cikal bakal perumusan kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah yang akan disusun kedalam RPJPD. Perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota. disiapkan pada tahap ini baik melalui pendekatan teknokratis maupun pendekatan partisipatif. 7. Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah provinsi. 6. 3. 3. sebagai berikut: 1. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan RPJPD merupakan dokumen yang tak terpisahkan dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen). Perumusan visi dan misi daerah kabupaten/kota.

Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis guna memberikan gambaran tentang kondisi umum daerah sekurangkurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. utamanya bagi pengelolaan rencana pembangunan daerah. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah harus dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografi dan demografi. maka di lingkungan SKPD perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran tentang pentingnya data dan informasi. dan aspek daya saing daerah. resume/notulen-notulen pertemuan. Penelaahan RTRW dan RTRW Daerah lainnya Perencanaan pembangunan daerah pada prinsipnya bertujuan mengintegrasikan rencana tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan daerah. Penelaahan RTRW Tata ruang merupakan perwujudan dari struktur ruang dan pola ruang. Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang berikut asumsi-asumsinya.1. Rancangan awal RPJPD provinsi disusun dengan mengacu pada RPJPN dan berpedoman pada RTRW provinsi. aspek kesejahteraan. informasi. Sedangkan. Tidak semua data dan informasi dapat disajikan dalam dokumen RPJPD. Pelaksanaan forum konsultasi publik.-89. Dalam kaitan itu. telaahan kebijakan nasional dan provinsi.1. bisa dalam bentuk grafis maupun dalam bentuk Tabel. C. Data dan informasi yang diolah mencakup bahan yang diperlukan dalam rangka analisis kondisi umum wilayah dan permasalahan pembangunan daerah. bahan paparan (slide atau white paper). hasil analisis. hasil riset dan lain-lain. misi. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus bertanggung jawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting.2.1. berdasarkan sistematika penulisan RPJPD yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. analisis ekonomi dan keuangan daerah. rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun dengan mengacu pada RPJPN dan RPJPD provinsi dan berpedoman pada RTRW kabupaten/kota. C. C. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi hendaknya tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. tim penyusun harus menyusun terlebih dahulu hasil pengolahan data dan informasi yang diperlukan kedalam kertas kerja (worksheet). kabupaten/kota yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. Penyelarasan visi. menjadi informasi yang lebih terstruktur. dan 10. dan arah kebijakan RPJPD kabupaten/kota. tetapi kegiatan ini arus berlangsung terus menerus.1. Berdasarkan penjelasan diatas. serta memperhatikan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan. maka berikut ini akan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJPD provinsi. evaluasi kinerja pembangunan daerah. aspek pelayanan umum. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian selama ini. dengan cara: . serta memperhatikan RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. penyusunan RPJPD harus berpedoman pada RTRWD masing-masing.2. sistematis. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan RPJPD. Hal ini untuk menjamin agar arah kebijakan dan sasaran pokok dalam RPJPD selaras dengan atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW. seiring dengan dinamika penyelengaraan pemerintahan daerah.1. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan awal RPJPD. karena tergantung pada urgensi data dan informasi apa saja yang paling signifikan sesuai dengan kebutuhan. Untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang disiapkan. serta telaahan rumusan hasil reses DPRD.

2) Menelaah program pengembangan wilayah provinsi. meliputi: a. Menelaah rencana pola ruang Pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan untuk fungsi lindung dan untuk fungsi budidaya. Menelaah rencana struktur ruang Struktur ruang merupakan susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat. 4) Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. 3. dan Rencana sistem jaringan sumber daya air. Rencana jaringan telekomunikasi. Rencana kawasan lindung. Telaahan terhadap indikasi program pemanfaatan ruang. 3) Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota. Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan. Rencana sistem perkotaan. Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan. b. f. Hasil telaahan struktur dan pola ruang . Rencana jaringan energi. Dengan menelaah rencana tata ruang daerah. dan Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah kabupaten. d. arah kebijakan. 2. Provinsi 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah provinsi. Rencana jaringan transportasi. meliputi: a. Telaahan rencana tata ruang ditujukan untuk memperoleh informasi bagi analisis gambaran umum kondisi daerah. dan Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah kota. dan 5) Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan pemerintah daerah provinsi. Kabupaten 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kabupaten. 2) 3) 4) 5) c. e. dapat diidentifikasi (secara geografis) arah pengembangan wilayah. 2) 3) Menelaah program pengembangan wilayah kota. c. melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu. yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. dan Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis. Menelaah indikasi program pemanfaatan ruang Program pemanfaatan ruang adalah program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif. Telaahan terhadap rencana pola ruang. Peta rencana struktur ruang. Menelaah program pengembangan wilayah kabupaten. dan pentahapan pengembangan wilayah per 5 (lima) tahun dalam 20 (dua puluh) tahun kedepan. Kota 1) Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kota. b. b. Telaahan terhadap rencana struktur ruang meliputi: a.-91.

.. Dst… Rencana jaringan transportasi ...........C.......10 selanjutnya dituangkan ke dalam contoh Tabel..............2. selain berpedoman pada RTRW sendiri juga berpedoman pada RTRW daerah lain....C....... I...1......2 II.............. Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis ..T-II........2 Dst .C..1 IV...1.. Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) lokasi (4) Waktu pelaksanaan lima tahun ke-I (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..............1...... C.. II... Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang .......... Tabel..T-II... II.. Dst… Rencana jaringan energi ........... serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota.... Dst….1 I.......1 II...... menyangkut pola ruang dan tata ruang daerah lain yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan daerah sendiri.....2............. Penelaan RTRW daerah lain dilakukan seperti tahapan pada telaahan RTRW daerah sendiri namun lebih disederhanakan...... ..1 I...... Rencana jaringan telekomunikasi ... sebagai berikut: Tabel....*) Rencana pentahapan pemanfaatan struktur ruang sesuai RTRW No (1) I............ Rencana Struktur Ruang (2) Rencana pusat permukiman ..T-II............. C..............2 Dst .1 V......................... IV.... Dst…..........2 III..... serta keterpaduan struktur dan pola ruang dengan provinsi/kabupaten lainnya..........1 II.2 IV.2 Dst….....................C. III....*) Rencana pentahapan pemanfaatan Pola Ruang sesuai RTRW No (1) I...... agar tercipta sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka panjang daerah antarprovinsi dan/atau antarkabupaten/kota................ II...1 III... Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi.. Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota ..............T-II.......... Rencana Pola Ruang (2) Rencana kawasan lindung .. Penelahaan RTRW Daerah lainnya Dalam menyusun RPJPD......1 dan Tabel...... I... terutama yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan provinsi/kabupaten/kota dan atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah...... Penentuan daerah mana yang harus ditelaah RTRW-nya adalah berdasarkan pertimbangan awal dan implikasi pembangunan dimasa-masa lalu maupun secara strategis dan kewilayahan.2 V..2....... Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) Waktu pelaksanaan lokasi lima tahun ke-I (4) (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota............................ V......... Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota .2..3... Dst… Rencana sistem jaringan sumber daya air ...... ........

(3) Pesisir. 1. Sedangkan gambaran kondisi demografi. yaitu aspek kesejahteraan masyarakat. Gambaran umum kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam proses perumusan perencanaan pembangunan daerah. b) Ketinggian lahan. menggambarkan keadaan setiap kecamatan di wilayah masing-masing. antara lain mencakup perubahan penduduk. antara lain terdiri dari: a) Tipe. komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu. Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan pemahaman awal bagi tim tentang apa. kerentanan wilayah terhadap bencana. antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik. merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota.. bagaimana. antara lain terdiri dari: a) Daerah Aliran Sungai. b) Sungai. c) Debit.11 penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama. pada provinsi dan kabupaten/kota. antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya. Sedangkan. Karakteristik lokasi dan wilayah. b) Posisi geostrategis. . 4) Geologi. dan identifikasi faktor-faktor dan berbagai aspek yang nantinya perlu ditingkatkan dalam optimalisasi pencapaian keberhasilan pembangunan daerah provinsi dan kabupaten/kota. 3) Topografi. c) Suhu. mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi. Mengingat perbedaaan dari karakteristiknya maka dalam analisis gambaran umum kondisi daerah harus disesuaikan dengan struktur kewenangan dan tingkatan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten/kota. antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan. data dan informasi yang diolah untuk kabupaten/kota. 5) Hidrologi. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi. potensi pengembangan wilayah. danau dan rawa. Aspek Geografi dan Demografi Analisis pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah. (4) Pegunungan. c) Kondisi/kawasan. Secara rinci. dan sejauh mana keberhasilan pembangunan daerah yang dilakukan selama ini. 6) Klimatologi. b) Potensi. (5) Kepulauan. b) Curah hujan. antara lain meliputi: (1) Pedalaman. 7) Penggunaan lahan. 2) Letak dan kondisi geografis. d) Kelembaban. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah. baik dari aspek geografi dan demografi serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya. analisis geografi daerah untuk provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan antara lain terhadap: a. dan b) Kawasan lindung. (2) Terpencil. antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis.

kematian. pemerataan pendapatan versi Bank Dunia. pariwisata. laju inflasi provinsi. kebakaran hutan. Pertumbuhan PDRB Hasil analisis pertumbuhan PDRB dapat disajikan dalam contoh tabel. atau entitas tertentu. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi terhadap rawan bencana alam.T-II. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. tsunami. abrasi. Sedangkan untuk penyusunan RPJPD kabupaten/kota..C. serta penuaan. indeks gini.. serta seni budaya dan olahraga. terdiri dari: 2.. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. pertanian. Perush. dan lain-lain.. & Air Bersih Konstruksi Perdagangan. longsor.. Hotel . sebagai berikut: a. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. atas Dasar Harga Konstan Tahun .1.. terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.. PDRB per kapita. struktur. kewarganegaraan. Provinsi/Kabupaten/Kota . c... seperti: banjir. persentase penduduk diatas garis kemiskinan. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No. agama. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. s. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. dan angka kriminalitas yang tertangani.. terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kecamatan di wilayah diwilayah kabupaten/kota. kesejahteraan sosial.3.d . 2. . gempa tektonik/vulkanik. & Js. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat dalam menyusun rancangan awal RPJPD provinsi.. Gas. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . sebagai berikut: Tabel. dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan. Demografi Memberikan deskripsi tentang ukuran.. pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah.. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud.. indeks ketimpangan Williamson (indeks ketimpangan regional).. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator pertumbuhan PDRB. industri. migrasi. d. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan.12 b. Sewa.

& Air bersih Konstruksi Perdagangan... Tabel... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.*) Pertumbuhan No. Hotel.. .5.Gas. Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun ....*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Perusahaan Jasa-jasa PDRB Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-II..d . & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. & Air bersih Konstruksi Perdagangan. & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.. s.6.. Tabel.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. sampai dengan Tahun. & Air bersih Konstruksi Perdagangan. & Js..T-II.*) (n-5) No.C..13 - Tabel. Provinsi/Kabupaten/Kota . sewa... & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun .C..C... atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota .. sewa...... sewa..d . Hotel.4..T-II.. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik.. s.. & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..Gas.. atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota . Perusahaan Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No.Gas... & Js. Hotel.

.T-II.. Laju Inflasi Hasil analisis nilai inflasi rata-rata dapat disajikan dalam contoh tabel...T-II.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... Provinsi/Kabupaten/Kota .*) (dalam jutaan rupiah) PDRB No Kabupaten/Kota/Kecamatan*) HB (n-5) HK HB (n-4) HK HB (n-3) HK HB (n-2) HK (n-1)**) HB HK 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan.....8...***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... jika kecamatan dapat dibandingkan dengan standar kabupaten/kota dst.C. Angka melek huruf Tabel. Jika tabel provinsi.. Diisi sesuai dengan ketersediaan data.......*) No. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. sebagai berikut: *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. Coret sesuai dengan kebutuhan (untuk kabupaten dapat dibandingkan dengan standar provinsi..d .*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. angka rata-rata lama sekolah.2. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas..d . s.14 Tabel.T-II. s... angka partisipasi murni.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.C.. Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf. Provinsi/Kabupaten/Kota ... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun .***) Dst … Standar Provinsi/Kabupaten/Kota****) Standar Nasional/Provinsi****) Standar Internasional/Nasional****) *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...9. Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. sebagai berikut: Tabel. angka usia harapan hidup. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. persentase penduduk yang memiliki lahan. atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota .C.. angka pendidikan yang ditamatkan. angka kelangsungan hidup bayi.d ..) b.. angka partisipasi kasar......7.. Nilai inflasi rata-rata Tahun..... sebagai berikut: a.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi provinsi/kabupaten/kota. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial..... s.. 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas Angka melek huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Hasil analisis angka melek huruf dapat disajikan dalam contoh tabel. dan rasio penduduk yang bekerja. ..

.... Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah gedung olahraga per 10. 2.. 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10....*) No....000 penduduk. Provinsi/Kabupaten/Kota .15 - Tabel.. sebagai berikut: Tabel. ***) Jika tabel provinsi..*) No.000 penduduk.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan.***) Dst . Perkembangan Seni..000 penduduk.. Jumlah (n-5) L P L (n-4) P L (n-3) P L (n-2) P (n-1)**) L P *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.000 penduduk..10. Rata-Rata Lama Sekolah Tahun . Jumlah Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga sebagai berikut: Tabel. 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota /Kecamatan...... menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota . Angka rata-rata lama sekolah Hasil analisis angka rata-rata lama sekolah dapat disajikan dalam contoh tabel. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..d . Budaya dan Olahraga Tahun .d .. Angka Melek Huruf Tahun . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Provinsi/Kabupaten/Kota ....3..... . Jika tabel provinsi. b.. jumlah klub olahraga.11... Jumlah gedung kesenian per 10..T-II.***) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Dst . s.T-II.. s.C...12.. Jumlah klub olahraga per 10... Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan sosial sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.....T-II...*) No.. dan jumlah gedung olahraga. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.C..**) Kabupaten/Kota /Kecamatan.. Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator jumlah grup kesenian.C. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas..

kearsipan... pemberdayaan masyarakat dan desa. ketenagakerjaan. dan persandian. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau table seperti contoh diatas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini... keluarga berencana dan keluarga sejahtera.T-II.. penanaman modal. statistik. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun rancangan awal RPJPD provinsi terlebih dahulu disusun Tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. perumahan. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan. perangkat daerah. komunikasi dan informatika dan perpustakaan.C.. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.*) No 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... otonomi daerah. Jumlah grup Jumlah gedung Jumlah klub Jumlah gedung kesenian per kesenian per olahraga per olahraga per 10. perhubungan... sebagai berikut: a..000 penduduk *) **) Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. kesehatan... Budaya dan Olahraga Tahun . baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. kebudayaan. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri.. Jika tabel provinsi.**) Dst .. menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota . Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan. 3. pekerjaan umum.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. sosial..000 penduduk 10. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintahan daerah. pemerintahan umum. administrasi keuangan daerah. lingkungan hidup. Indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari: 3. Sedangkan untuk penyusunan rancangan awal RPJPD kabupaten/kota disusun kedalam Tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota. perencanaan pembangunan..000 penduduk 10.. sebagai berikut: . Angka partisipasi sekolah Hasil analisis perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) di lingkup provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. pertanahan.1 Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan wajib pemerintahan daerah. koperasi dan usaha kecil menengah.. yaitu bidang urusan pendidikan. penataan ruang. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota. ketahanan pangan...16 Tabel.000 penduduk 10...13. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. kependudukan dan catatan sipil. kepegawaian..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Perkembangan Seni. kepemudaan dan olah raga.

..15. 2 2...C.3. Tabel.3.T-II.. 1. Jika tabel provinsi... isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. menurut kabupaten/kota/kecamatan*) Provinsi/Kabupaten/Kota ... 2 2. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.*) No..C... 2.1....1.. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..1...3..*) SD/MI No.2. 1 1.16...17 Tabel.2. 2.2.. 2. Provinsi/Kabupaten/Kota .14. SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. sebagai berikut: Tabel..d .T-II....2.*) No..... b. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ...3........C.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. .1. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan.. 1. 2. 1.. 1 1.**) Dst ... Provinsi/Kabupaten/Kota .. s. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .T-II. s. Rasio ketersediaan gedung sekolah/penduduk usia sekolah Hasil analisis rasio ketersediaan gedung sekolah per-penduduk usia sekolah se provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. 1...... Jumlah *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.d .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.

**) Dst . Menurut kabupaten/kota/kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota .T-II.3.. 2 2....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... 1..2..... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.1....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.... Rasio guru/murid Hasil analisis rasio jumlah guru/murid se provinsi/kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel...... 1 1..d .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...*) SD/MI No.. ***) Jika tabel provinsi.. Jumlah Jumlah gedung sekolah (3) SD/MI jumlah penduduk usia Rasio 7-12 th (4) (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-II. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.*) No.. sebagai berikut: Tabel..C...19... 2.C....17.1...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun ... c.**) Dst . 1. Jika tabel provinsi..... (1) 1 2 3 4 5 6 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..18.*) No........... 2..C... .2.. Tabel. s......**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan..T-II. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota Provinsi/Kabupaten/Kota .3... Jumlah Jumlah Guru (3) Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) SMP/MTs Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .18 Tabel. Provinsi/Kabupaten/Kota .

. Provinsi/Kabupaten/Kota ..T-II. kelautan dan perikanan.. sebagai berikut: a.d . Rasio daya serap tenaga kerja Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota...*) Tahun (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. Provinsi/Kabupaten/Kota .. yaitu bidang urusan pertanian...d .2 Fokus Layanan Urusan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan pilihan pemerintahan daerah. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis jumlah investor PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel. industri dan ketransmigrasian. Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi Realisasi JumlahProyek Nilai Investasi c.C..19 Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan wajib sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.... Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan pilihan pemerintahan daerah. Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun .C. s. perdagangan. b.. s....20.. energi dan sumberdaya mineral.T-II. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis nilai PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam contoh tabel.. pariwisata. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas... kehutanan. 3. sebagai berikut: Tabel.21... sebagai berikut: . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. dapat disajikan dalam contoh tabel.*) Tahun (1) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Uraian (2) PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. sebagai berikut: Tabel. Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun .

fasilitas wilayah atau infrastruktur.. dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi lainnya..... s.. 2.. Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek daya saing daerah dalam menyusun rancangan awal RPJPD propinsi.C. domestik..d .22.. pengeluaran konsumsi non pangan per kapita. 1. iklim berinvestasi..*) No. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah.. ... Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kemampuan ekonomi daerah. produktivitas total daerah.T-II.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.C. sebagai berikut: a./2. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan..23. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. Provinsi/Kabupaten/Kota . dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Hasil analisis konsumsi RT perkapita dapat disajikan dalam tabel. Indikator variabel aspek daya saing daerah. dan sumber daya manusia. atau internasional. Jumlah RT Uraian Total Pengeluaran RT (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3.T-II. terdiri dari: 4.. 1 2 3 Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN Rasio daya serap tenaga kerja (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.d . sebagai berikut: Tabel..20 Tabel. 4. Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota masingmasing.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun ..) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No. dan nilai tukar petani. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan pilihan sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.... Provinsi/Kabupaten/Kota . Rasio (1..

. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (Persentase Konsumsi RT untuk non pangan) Untuk menghitung jumlah nonkonsumsi pangan perkapita...**) Dst ..... Provinsi/Kabupaten/Kota . 2........**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. sebagai berikut: Tabel....T-II.*) No.. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. *) Dst . isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.*) No..T-II.C.25. 2.. Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...C. 2.. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (lt) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun ..24..27. (1) 1.T-II. dapat disajikan ke dalam contoh tabel. (1) Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. 3. 3..d . **) c. 2. Total Pengeluaran RT non Pangan Total Pengeluaran Rasio *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. s.. Nilai tukar petani Untuk hasil penghitungan terhadap nilai tukar petani (NTP)... Jika tabel provinsi. .. Provinsi/Kabupaten/Kota .. 3. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... 1..T-II.... Jumlah Total Pengeluaran RT (3) Jumlah RT (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.26..d .C.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan...C....*) No. Tabel... Provinsi/Kabupaten/Kota .. dapat disajikan ke dalam contoh tabel. s.. Jika tabel provinsi.. b.. Persentase Konsumsi RT non-Pangan Tahun . sebagai berikut: Tabel..21 Tabel.. Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .**) Indeks Yang Diterima Petani (lt) (3) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) (4) Rasio (5=3/4) 1.... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..*) No. Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun .. 3. Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1... Provinsi/Kabupaten/Kota ... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.

/2... sebagai berikut: a... jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang. Jumlah Total pengeluaran RT non pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. . persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.. (1) 1. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan. 3. Jika tabel provinsi.. Rasio Ketaatan terhadap RTRW Tahun .29. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.*) No. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.. 4. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kemampuan ekonomi daerah sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..C. 4..22 - Tabel.T-II. dan jumlah restoran.C.. luas wilayah industri. jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.28. luas wilayah kebanjiran.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur....**) Dst .. Provinsi/Kabupaten/Kota .. kelas. 3.... jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun. Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1. kelas.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2..*) No. dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon.. ketaatan terhadap RTRW.. s. jenis dan jumlah bank dan cabang... Persentase Konsumsi RT non-Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun ...2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator rasio panjang jalan per jumlah kendaraan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...d .) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... 2.. 5.T-II.. luas wilayah kekeringan. Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Untuk menghitung ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat disajikan dalam contoh tabel..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... dan jumlah penginapan/hotel.. rasio ketersediaan daya listrik. persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih. luas wilayah produktif. luas wilayah perkotaan. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. jenis.. jenis.. 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota . sebagai berikut: Tabel..

.T-II. Budidaya Rasio (1. Jenis Kriminal Jumlah kasus narkoba Jumlah kasus pembunuhan Jumlah kejahatan seksual Jumlah kasus penganiayaan Jumlah kasus pencurian Jumlah kasus penipuan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) .....) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah.d .. dan persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa.. Angka kriminalitas Untuk menghitung angka kriminalitas dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.... Provinsi/Kabupaten/Kota .. 3.T-II... jumlah demo. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus fasilitas/infrastruktur sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota..*) No. Jika tabel provinsi.30.**) Dst .23 b. s.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas.C....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota ./2...C.. Luas wilayah produktif Untuk menghitung luas wilayah produktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel.32. Persentase Luas Wilayah Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun . 2.. Persentase luas Wilayah Produktif Tahun .. lama proses perijinan.. Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..*) No.... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas.... dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. 1... sebagai berikut: a.T-II. Tabel. 2... Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus iklim berinvestasi. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... 6.. 4.C. isi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan.*) No 1.. jumlah perda yang mendukung iklim usaha. 4.. 5. Uraian Luas wilayah produktif Luas seluruh wil. Provinsi/Kabupaten/Kota .. 3...31... Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wil.

. 4.d .4 Fokus Sumber Daya manusia Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan S1/S2/S3. Uraian Jumlah penduduk usia < 15 tahun Jumlah penduduk usia > 64 tahun Jumlah penduduk usia tidak produktif (1) & (2) Jumlah penduduk usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..*) No. 6. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 10..T-II. Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Hasil analisis rasio ketergantungan dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. 8... 2. .T-II.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus iklim berinvestasi sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. 5.*) No 1. Jenis Kriminal Jumlah kasus pemalsuan uang Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah penduduk Angka kriminalitas (8)/(9) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Uraian Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Julah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Jumlah Demo Provinsi/Kabupaten/Kota ... Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Hasil analisis rasio lulusan S1/S2/S3 dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri ini. a. 4..34...C.. Jumlah Demonstrasi Untuk menghitung jumlah demontrasi. Rasio lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota . **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.*) No 1 2 3 4 Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Bidang politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah unjuk rasa *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..T-II.C. Rasio Ketergantungan Tahun . 1. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.33. Provinsi/Kabupaten/Kota .35. b.. s. 2. 3.. 3. 5.24 - No 7. 4... 9. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas. b.C..

1.1.2 2.2.2 2..1.1.1 2. Dst… Dst….25 - Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota dapat dirangkum dalam bentuk tabel.1 1.3.1.1 2.2.1.1.1.1.3 1.1.1.1.1.2 1.2 2.1.1.1.2...1.2 2.1.1 2.1 2. 2.2 2.2.1. 1.3 2.3.1.1 1.1 2.1.2.3 2.1.2 2.1.1.2 2.T-II. PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid Dst …… Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….1. Pelayanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….2.1.2 2. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi PDRB per kapita Dst…..1. Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota .3 1. sebagai berikut: Tabel.2 1. 1.2.1. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.3 2. 1.1.1 2.4 2.1.2.1.1 1. poliklinik.1..3 .36.1 2.2.3.1.4 1.2. Administrasi keuangan daerah.1.2 2.1..1 2. pustu per satuan penduduk Dst….1 2.2.2.1.*) Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst …… Dst …… Dst…..2. Pemerintahan Umum.1.2.1. Perangkat Daerah.1.2.1.1.3 2.2.2.2.1.1. 1.1.C.1 2.2. 1. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 1.1 2.2.1.

2.1 3. Dst… (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 2. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah dimasa lalu.4.2.1.3 3. Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan sedang dibuat.1. Untuk mengefektifkan sistem perencanaan pembangunan daerah dan bagaimana visi/misi daerah dibuat dengan sebaik-baiknya.2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.2 3. Pemerintahan Umum.1. dan hubungannya dengan agenda-agenda pembangunan yang telah berhasil dicapai di periode sebelumnya.. fokus kepada agenda paling strategis. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst …… Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….1 3.1. Administrasi keuangan daerah.2.2 3.2.1 3.1. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal dan kelemahan yang tidak diatasi.1.1 3.1.1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.2.1. permasalahan pada urusan atau gabungan urusan yang akan dijadikan sebagai dasar penentuan sasaran pokok adalah permasalahan- . Perangkat Daerah.1.2. identifikasi permasalahan pembangunan dilakukan terhadap seluruh bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara terpisah atau sekaligus terhadap beberapa urusan.3.2 3. 3.1 3. isu strategis yang muncul.2 3.3 2.4 3. dibutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang kekuatan dan kelemahan sehubungan dengan peluang dan tantangan yang dihadapi. Dengan pendekatan manajemen strategis.1.1 3.2.2. khususnya yang berhubungan dengan kemampuan manajemen pemerintahan dalam memberdayakan kewenangan yang dimilikinya.2..3 3.26 Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Dst…. Tidak semua permasalahan tiap urusan dijadikan sasaran pokok selama 20 (dua puluh) tahun ke depan. Selanjutnya.2.2.2 3.1 3.2 3.1.1.2.3. C.2.1.3 3.1.1 3. Dst…… DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi Otonomi Daerah. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dst ….1. mengingat keterbatasan pendanaan.3 3.

4. Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah layak huni Dst…. 5. 2. dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan.1.6.5.2.1.1. 2.4. Kesehatan Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.1.3. 3. 1. 2. Faktor-faktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis. Penataan Ruang INTERPRETASI Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH (4) FAKTOR –FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (5) (1) 1. . 5. 1. Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan.3.4. Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber.3.6. 3. Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Dst….. 4. 1. hasil kinerja.3. 5. 2. 1.2. 2.3.*) No BIDANG URUSAN DAN INDIKATOR KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (2) Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Dst….. sebagaimana Tabel berikut ini: Tabel.3.3.2. 1.2. 1.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Ketaatan terhadap RTRW 5. Identifikasi Permasalahan Pembangunan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi/Kabupaten/Kota …. poliklinik.4.27 permasalahan yang memiliki dampak paling tinggi terhadap pembangunan dan kriteria-kriteria lain yang sesuai peraturan perundang-undangan.3. 2.2.. 3. 3.37.1. tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang. 5. 3.2. Perumusan permasalahan pembangunan pada tiap penyelenggaraan urusan pemerintah daerah dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap penyelenggaraan urusan pemerintah guna mendapatkan rumusan permasalahan pada masing-masing urusan tersebut. 4.C.T-II. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Dst….1.3.5. 4.7. 3.4. 2. 1. 3. 2.

Cara pengisian Tabel. Tabel. tidak termasuk kolom 3 .T-II.28 INTERPRETASI Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) No BIDANG URUSAN DAN INDIKATOR KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (2) PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH (4) FAKTOR –FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (5) (1) 5. Luas wilayah produktif Dst…. 5. diisi dengan faktor-faktor penentu keberhasilan. 3. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau sebaliknya. diisi dengan permasalahan pembangunan daerah.C. berhubungan.. Hasil telaahan pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis.*) Kebijakan Nasional RPJPN (2) No.5..T-II. Adapun. diisi dengan interpretasi hanya pada kolom urusan berdasarkan pada analisis indikator-indikator sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. Keterangan: untuk pengisian tabel provinsi.6. diisi dengan bidang urusan/indikator.37 adalah sebagai berikut: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut. Indikator pada tiap-tiap urusan dijadikan input utama bahan analisis... 6. Penelaahan RPJPN Penelaahan kebijakan nasional bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan nasional terpenting. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.5. tantangan bagi daerah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. penelaahan kebijakan nasional untuk tingkat kabupaten/kota dilakukan terhadap dokumen RPJPN dan RPJPD provinsi dan sumbersumber informasi terkait lainnya. dan berpengaruh langsung dengan daerah bersangkutan. (1) RPJP Provinsi (3) Lain-lain (4) 1.C. Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) Perlu diperhatikan bahwa pengisian tabel diatas difokuskan pada identifikasi permasalahan pembangunan pada tiap-tiap urusan.38. Penelaahan kebijakan nasional untuk tingkat provinsi dilakukan terhadap dokumen RPJPN dan sumber-sumber informasi terkait lainnya. Dst *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Identifikasi Kebijakan Nasional Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota.1. 2.. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. bidang urusan urutannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. C. di samping sumber-sumber lain..

39. dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan. diisi dengan kebijakan nasional yang mengacu pada rancangan awal RPJPN atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.*) No. Selanjutnya.. diisi dengan kebijakan provinsi yang mengacu pada rancangan awal RPJPD provinsi atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. yang dapat dipertanggungjawabkan. Adanya kebijakan pemerintah yang menetapkan suatu daerah sebagai bagian dari kesatuan wilayah/kawasan pembangunan. Penyusunan dokumen RPJPD daerah juga memperhatikan dokumen RPJPD daerah lainnya.1. Identifikasi RPJPD Daerah Lain Provinsi/Kabupaten/Kota .1. Adanya persamaan permasalahan pembangunan yang memerlukan upaya pemecahan bersama.. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. Perencanaan pembangunan antara lain adalah dimaksudkan agar organisasi senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan.T-II. Penelaahan RPJPD daerah lainnya C. 2.C. Oleh karena itu. sebagai berikut: 1. tantangan bagi daerah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. Daerah Lain Periode RPJPD Kebijakan Terkait Keterangan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. diisi dengan identifikasi kebijakan nasional/provinsi selain dalam bentuk (atau ada dalam) RPJP. 3.1. utamanya daerah-daerah yang letaknya berdekatan. Hasil telaahan RPJPD daerah lainnya pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis. Adanya agenda pembangunan kewilayahan yang menentukan kewenangan bersama.. khususnya selama 20 (dua puluh) tahun yang akan datang diidentifikasi dengan baik maka pemerintah daerah dapat mempertahankan kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika dinamika eksternal. C. di samping sumber-sumber lain.5. Analisis Isu-Isu Strategis Pembangunan Jangka Panjang Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah. Adanya persamaan kepentingan/tujuan atau upaya-upaya strategis yang harus disinergikan. dimaksudkan agar tercipta keterpaduan pembangunaan jangka panjang daerah dengan daerah-daerah lain terkait.38: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan urutan isu di tingkat nasional. untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya.6.. sebagai berikut: Tabel. identifikasi kebijakan dari dokumen RPJPD daerah lain dituangkan dalam tabel. provinsi maupun kabupaten/ kota. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau sebaliknya.29 Cara Pengisian Tabel. dan 4. . Perlunya suatu daerah menelaah RPJPD daerah lain karena beberapa alasan. Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan..C..T-II.

Memiliki daya ungkit yang signifikan pembangunan daerah. Memiliki dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat. penentuan sesuatu atau kondisi menjadi isu strategis dapat didukung dengan menerbitkan pedoman atau kriteria oleh kepala daerah atau Kepala Bappeda. Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas pemerintahan daerah dan masyarakat dimasa datang. mendasar. dan peluang yang berbeda tiap daerah. isu strategis hanya berlaku bagi satu daerah tertentu saja karena kekhasan. dan 5.C. Isu Strategis Dunia Internasional (2) Kebijakan Nasional (3) Regional (4) Lain-lain (5) Cara Pengisian Tabel. berjangka panjang. Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani. Panduan itulah yang akan digunakan tim perencana dalam mengkompilasi berbagai bahan untuk merumuskan isu-isu strategis bagi daerah. Secara teknokratis. sebagian lainnya.T-II. mendesak. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. Metode penentuan isu-isu strategis yang dapat digunakan. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional termasuk kebijakan nasional yang mengacu pada rancangan awal RPJPN. Sinkronisasi langkah dan kebijakan pembangunan daerah terhadap isu-isu strategis tetap berlandaskan bahwa pembangunan daerah tidak saja memanfaatkan peluang dimasa datang. Suatu isu strategis dapat berlaku umum untuk sebagian besar daerah.T-II. sebagai berikut: Tabel. . diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat provinsi termasuk kebijakan provinsi yang mengacu pada rancangan awal RPJP provinsi. sebagai berikut: 1. Namun. dibuat berbagai rumusan isu-isu strategis dengan tabel. 4.C. 3. termasuk analisis kebijakan terhadap entitas pemerintahan diatasnya. Suatu kondisi/kejadian penting adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya.40. Hal ini bertujuan agar rumusan isu strategis yang dihasilkan dapat sinkron dengan arah kebijakan pembangunan jangka panjang nasional dan kebijakan pembangunan jangka panjang provinsi bagi kabupaten/kota. antara lain: 1) Dibahas melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman merumuskan isu-isu strategis. perencanaan daerah juga harus menghasilkan ide dan langkah untuk menciptakan peluang itu sendiri.30 Pemerintahan daerah yang tidak menyelaraskan diri secara sepadan atas isu strategisnya akan menghadapi kegagalan dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah. tantangan.40: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan. Identifikasi Isu-Isu Strategis No (1) 1. tak kalah penting. Isu strategis diindentifikasikan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (teknokratik) melalui pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional. 3. Isu strategis dalam jangka panjang daerah sekurang-kurangnya memenuhi kriteria. dalam hal tidak dimanfaatkan maka menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. 2.. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal yang bersifat penting. 2. bersifat kelembagaan/keorganisasian dan menentukan tujuan organisasi/institusi dimasa yang akan datang.

... No (1) 1 2 3 4 5 Dst.C.40. Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah Dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat Memiliki daya ungkit yangsignifikan pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… Total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria per-isu strategis per peserta..C..41 dengan contoh sebagai berikut: Tabel. Nilai Skala Kriteria Nama Anggota Tim : .41. penemuan-penemuan teknologi. diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi pada Tabel. s. Salah satu metode yang menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan..T-II.T-II.. Bobot 20 10 20 10 15 25 *) Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skor tersebut diatas dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.. diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria.C. dengan mengisi Tabel. sebagai berikut: .31 Kolom (5) diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.42: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (10) diisi dengan nomor urut.T-II.42. langkah selanjutnya adalah menentukan mana isu strategis yang paling prioritas dan akan dijadikan dasar bagi proses berikutnya (menentukan visi dan misi). usaha/bisnis.. Isu Strategis (2) Nilai Skala Kriteria 1 (3) 2 (4) 3 (5) 4 (6) 5 (7) 6 (8) Dst… (9) Jumlah skor (10) Cara Pengisian Tabel. Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta. 2) Pembobotan Setelah berbagai isu diidentifikasi dan dilakukan FGD untuk memahami usulan dan masukan tentang berbagai isu strategis. sosial budaya. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan..C..d.T-II.C.T-II.. yang dituangkan dalam tabel.

tetapi suatu komitmen dan upaya merancang dan mengelola perubahan untuk mencapai tujuan.32 - Tabel.43.1. Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya. tetapi dengan fokus pada masa depan. yang merefleksikan kekuatan dan potensi khas daerah sekaligus menjawab permasalahan dan isu-isu strategis daerah. dibahas dan disepakati secara bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan pembangunan daerah secara partisipatif. seperti pemrioritaskan program prioritas. Visi bukan hanya mimpi atau serangkaian harapan. (1) 1 2 3 4 5 Dst. nasional dan regional. kegiatan prioritas. diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional. visi didasarkan pada realita. Oleh karena itu. Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) Cara Pengisian Tabel.43: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut. Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No. Visi daerah dituangkan dalam RPJPD. Visi dan misi daerah harus jelas menunjukkan apa yang menjadi cita-cita bersama masyarakat daerah atau stakeholder pembangunan daerah.C.T-II. Di sini.C.7.7. visi diciptakan melampaui realitas sekarang.42) untuk setiap isu-isu strategis. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis yaitu total skor pada Kolom (3) dibagi banyaknya anggota tim. C. Visi harus dapat menunjukkan gambaran masa depan yang ideal bagi masyarakat/daerah dan merupakan suatu pernyataan umum yang menjadi dasar/basis bagi semua elemen atau semua pelaku (stakeholders) dalam operasionalisasi perencanaan pembangunan daerah.T-II.. bukan pikiran berandai-andai (wishfull thinking). dan lain-lain. Perumusan Visi Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan pembangunan jangka panjang 20 (dua puluh) tahun.T-II. Visi pembangunan jangka panjang daerah yang telah diterjemahkan dalam sasaran pokok dan arah kebijakan RPJPD menjadi acuan bagi (calon) kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam merumuskan visinya pada periode lima tahun berkenaan dan bagaimana RPJMD dikembangkan.C. Visi menjelaskan arah atau suatu kondisi ideal dimasa depan yang ingin dicapai (clarity of direction) berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini yang menciptakan kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dan masa depan yang ingin dicapai. dirumuskan. Perumusan Visi dan Misi Daerah Perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang merupakan salah satu tahap penting penyusunan dokumen RPJPD sebagai hasil dari analisis sebelumnya.1. C. usulan permasalahan pembangunan. Kriteria dan Syarat Visi Daerah Kriteria suatu rumusan visi daerah antara lain memuat hal-hal sebagai berikut: . Kolom (3) diisi total akumulasi jumlah skor dari keseluruhan anggota tim perumus (diambil dari Tabel.1. Pernyataan visi yang artikulatif akan memberikan arah yang jelas bagaimana mencapai masa depan yang diharapkan dan mengatasi kesenjangan yang terjadi. Visi mengarahkan kondisi daerah yang ingin dicapai dimasa depan (desired future) dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan..

5.. Perumusan Perwujudan Visi Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 PPD 2 PPD 3 Dst     Perwujudan Visi 1     Perwujudan Visi 2     Perwujudan Visi 3     Dst Perwujudan visi diidentifikasi melalui proses FGD atau teknik lain yang secara efektif dapat menghasilkan rumusan tentang bagaimana wujud daerah dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan yang dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategisnya. efisien dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focussed).C. dan 7. Untuk memperjelas gambaran suatu perwujudan visi dapat ditambahkan dengan atribut atau ciri-ciri lain tentang suatu wujud visi. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). 6. Di sini masing-masing anggota tim perumus perlu diberi waktu yang cukup untuk memaparkan gambaran masing-masing tentang wujud dari visi yang diinginkan pada akhir tahun ke-20. identifikasi permasalahan daerah harus mampu mengungkapkan peta kekuatan yang paling dominan dalam realisasi pembangunan daerah dimasa-masa lalu.33 1.44. Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat.T-II. sebelum menentukan identifikasi perwujudan visi. terlebih dahulu dibuat analisis keterhubungan antara permasalahan pembangunan dengan isu strategis (misal. Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan perwujudan visi yang salah satunya berlandaskan pada kekuatan terbaik daerah. Menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka panjang. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti oleh semua pelaku (communicable). Memusatkan perhatian kepada isu strategis dan permasalahan utama daerah. Tabel. 4. Menggambarkan nilai-nilai kunci (core values) yang perlu dilaksanakan. 3. 3. Memungkinkan. dengan memberi tanda (x) untuk yang tidak berkesesuaian dan tanda () untuk yang berkesesuaian. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku (imaginable). sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. Perwujudan visi merupakan gambaran paling sederhana dan dengan bahasa yang mudah dikomunikasikan tentang wujud nyata kondisi daerah di 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. Proses Perumusan Visi Dengan koridor atau panduan tentang karakteristik visi sebagaimana dijelaskan diatas dan melanjutkan tahapan penyusunan rancangan awal RPJPD. 2. dan 4. Syarat visi yang baik. berikut pemikiran atau hasil analisis yang mendasarinya. antara lain: 1. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang (clarity of direction). perumusan visi dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah (PPD) untuk menemukan perwujudan visi. Bagi sel (kotak) yang bertanda () itulah dibuatkan perwujudan dimaksud pada tabel diatas. wajar dan layak untuk dicapai dengan situasi. 2. Menjelaskan/mengakomodasikan kekuatan dan peluang serta keunikan „kompetitif‟ yang dimiliki daerah dalam jangka panjang. kondisi dan kapasitas yang ada (feasible). dengan mengisi tabel dibawah ini. Permasalahan pembangunan daerah harus dapat pula mengungkapkan . Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). Namun. jelas dan padat.

Suatu pernyataan visi dapat berupa satu atau lebih pernyataan atau kalimat yang merangkum atau menggabungkan berbagai pokok visi terpilih. Untuk membantu identifikasi dan mengukur capaian kinerja.45. Perumusan Visi No. Setelah berbagai identifikasi perwujudan visi dibuat. C. Berbagai atribut sangat penting dalam memberi bobot dan kejelasan bahwa perwujudan visi dimaksud penting bagi pembangunan daerah 20 (dua puluh) tahun mendatang.C. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa salah satu potensi permasalahan pembangunan adalah jika suatu kekuatan tidak dimanfaatkan secara optimal.. perwujudan visi dapat disebutkan target waktu pencapaiannya. Untuk memberi penekanan atas keyakinan bahwa target dapat dicapai pada akhir periode perencanaan maka pernyataan visi dapat secara spesifik menyebutkan waktu capaian. termasuk atribut-atribut yang menjelaskannya.1. dari keseluruhan pokok-pokok visi dibuatlah pernyataan visi. diupayakan visi adalah satu kalimat dengan pokok-pokok visi dapat lebih dari satu. dengan kesederhanaan kalimat. Misi juga dapat dipandang sebagai pilihan jalan (the chosen track) bagi pemerintahan daerah dalam menyediakan dan menyelenggarakan layanan bagi masyarakat dan aktivitas pembangunan pada umumnya bagi stakeholder pembangunan secara keseluruhan.2. Perumusan pokok-pokok visi dilakukan dengan mencari inti (kalimat) perwujudan visi ke dalam satu-dua kata dengan menghilangkan berbagai kata dan atribut yang bukan inti dari perwujudan visi dimaksud. dilakukan pembahasan masing-masing perwujudan visi menjadi pokok-pokok visi.7. Penyusunan Penjelasan Visi Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Dengan demikian. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. Perwujudan Visi Pokok-pokok Visi Pernyataan Visi Suatu pernyataan visi dibuat dengan menggunakan bahasa yang singkat.C. dan membandingkan atribut-atribut dari berbagai perwujudan visi yang berbeda-beda. suatu penjelasan visi pada dasarnya menguraikan kembali pokok-pokok visi yang telah disepakati ke dalam perwujudan visi dengan merinci lebih baik berbagai atribut atau penjelasan masing-masing pokok visi. Namun. Selanjutnya.46. memahami. Suatu perwujudan visi merupakan kalimat yang relatif masih lengkap dalam menggambarkan wujud visi masa datang. dan jelas serta memenuhi kriteria atau karakteristik visi sebagaimana telah dijelaskan di awal.T-II.T-II. lugas. sehingga keseluruhan langkah diatas dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Rumusan misi yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi yang ingin . Pembahasan tentang wujud apa yang paling baik atau sesuai bagi suatu daerah dimasa datang sangat ditentukan bagaimana anggota tim mengenali.34 kantong-kantong kekuatan pembangunan yang selama ini terabaikan untuk dijadikan salah satu faktor keberhasilan visi/misi pembangunan dimasa 20 (dua puluh) tahun mendatang. Penjelasan visi dibuat untuk menjelaskan masing-masing pokok visi. Perumusan Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

aktivitas dan investasi apa pada SDM. 2. Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa rumusan misi di RPJPD berbeda dengan misi RPJMD. sistem/kebijakan. Dalam suatu dokumen perencanaan. Perumusan Misi Setelah dibuat visi. termasuk penjelasan misi didalamnya. 3. Proses perumusan misi dicontohkan pada tabel berikut ini: Tabel. dan pemanfaatan teknologi yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan seluruh proses birokrasi (learning and growth perspective). Kriteria suatu rumusan misi: 1. pokok visi harus diidentifikasi terlebih dahulu stakeholder mana yang menjadi pelaku atau terkena dampak atas pokok visi dimaksud. Visi Pokokpokok visi (√) Stakeholder Pembangunan Masyarakat Rincian misi Pemerintah Daerah (x) Pelaku Ekonomi (√) Rincian misi Lainnya Rincian (√) misi Misi . pemerintah daerah (pelaku organisasi).C. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa misi juga menyangkut komitmen pada stakeholder utama atau apa yang ingin diwujudkan oleh visi. Jika misi RPJMD dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang program pembangunan daerah lima tahunan yang harus diselenggarakan maka misi RPJPD harus dapat menaungi berbagai tema pembangunan di 4 (empat) tahap pembangunan daerah. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi. Mengandung rumusan misi yang lebih luas jangkauan dan skalanya untuk menaungi prioritas program pembangunan lima tahunan selama 20 (dua puluh) tahun. serta kekuatan. Alasan utama pengembangan visi adalah pada pokok-pokok visi karena pada pokok-pokok visi tersebut terkandung ulasan-ulasan apa yang akan dijadikan untuk dicapai dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan. Mengingat bahwa misi harus dibuat penjelasannya.35 dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan. 4. Perumusan misi adalah suatu upaya untuk menyusun peta perjalanan yang memungkinkan pemerintahan daerah memiliki dasar yang jelas dalam mengembangkan program-program prioritas dalam memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kepuasan masingmasing segmen masyarakat pengguna layanan (customer perspective).T-II. Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. Rumusan misi dalam dokumen RPJPD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis. maka pengertian misi harus sederhana. termasuk pokok-pokok visi dan penjelasan visi. kemudian dibuatlah rincian misi. bagaimana barang/jasa disiapkan dan diberikan dalam berbagai aktivitas pembangunan (internal process perspective).. kelemahan. Perumusan Misi No. dan stakeholder pembangunan daerah lainnya. dan bagaimana dana publik dapat terus ditingkatkan kapasitasnya serta efektifitas/efisiensi penggunaannya (financial perspective). Disusun dengan menggunakan bahasa yang ringkas. maka pengembangan misi harus dijabarkan terlebih dahulu kepada stakeholder utama pembangunan. pelaku ekonomi di daerah. Menunjukkan dengan jelas komitmen pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan visi daerah. sederhana dan mudah diingat. singkat dan lugas dalam menjelaskan bagaimana visi akan dicapai. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah.47. Teknisnya. Atau stakeholder yang berhubungan atau terkait dengan pokok visi tersebut. peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. selanjutnya dibuat misi. dalam hal ini masyarakat daerah (secara keseluruhan).

selanjutnya dibuat pernyataan misinya. Selanjutnya.-….3.) (.. tiap-tiap misi dibuat sub-misi berdasarkan rincian misi. misi dapat dibuat spesifik setiap pokok visi dengan merangkum masing-masing rincian misinya.) (. dibuat penjelasan misi dengan menggunakan dasar rincian atau sub-misi yang telah dibuat untuk menjelaskan berbagai hal sehingga misi menjadi mudah dipahami. tetapi memiliki kesinambungan dari satu periode ke periode lainnya dalam rangka mencapai sasaran pokok tahapan lima tahunan RPJPD. dan Merumuskan tahapan dan prioritas pembangunan daerah untuk setiap periode RPJMD. Tahapan dan prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan berkaitan dengan pengaturan waktu. yang mana... Merumuskan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk masing-masing sasaran pokok dalam rangka mencapai masing-massing misi. Pentahapan dalam RPJPD dijabarkan sesuai dengan periode masa jabatan kepala daerah.G-II.C..) (. Sebagai contoh. Langkah-langkah penyusunan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah adalah sebagai berikut: a..-…. Penekanan prioritas dalam setiap tahapan berbeda-beda.. Kurun waktu RPJPD sesuai dengan kurun waktu RPJPN 20 (dua puluh) tahun.... namun harus tetap mempertahankan substansi.1. C. Secara skematis.-…. Perumusan Arah Kebijakan Arah kebijakan adalah instrumen perencanaan yang memberikan panduan kepada pemerintah daerah agar lebih terarah dalam menentukan dan mencapai tujuan. Mengidentifikasi sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah yang diturunkan dari masing-masing pernyataan misi daerah yang telah disepakati. masingmasing sub-misi tersebut pada dasarnya adalah misi.3 Visi daerah Misi daerah Sasaran 20 tahun Arah kebijakan lima tahun ke-1 Arah kebijakan lima tahun ke-2 Arah kebijakan lima tahun ke-3 Arah kebijakan lima tahun ke-4 (.) Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Indikator Target Sasaran Pokok 5th Dari gambar diatas tampak bahwa penyusunan sasaran pokok.7. substansi arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: Gambar. Pengemasan menjadi kalimat misi dapat dilakukan dengan bermacam cara. b. Setelah diketahui stakeholder yang terpengaruh atau berhubungan dengan pokok-pokok visi dan dijelaskan dalam “rincian misi”.7..1. c.. Arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah merupakan pedoman untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan lima tahunan selama 20 (dua puluh) tahun guna mencapai sasaran pokok RPJPD bertahap. Lalu..-….36 Visi dan pokok-pokok visi yang telah diperoleh dalam proses penyusunan visi yang dijelaskan pada subbab C. merupakan langkah awal yang cukup penting guna menggambarkan kondisi agar apa yang diinginkan dengan visi/misi pada akhir periode 20 (dua puluh) tahun dan bagaimana upaya-upaya yang akan dilakukan.1 maka pokok-pokok visi disandingkan dengan stakeholder pembangunan yang terpengaruh atau terkait visi tersebut dengan (√) dan dijelaskan sebagai rincian misi kenapa stakeholder tersebut mempengaruhi pokok-pokok misi.. .

....... .....C.............................................................. dst .. .............. dst ....... Misi 1…… Sasaran Pokok 1 . Misi dst …… dst ......... Misi dst …… dst ... .......................... dst ............. Perumusan Sasaran dan Indikator Kinerja No.... .. sebagai berikut: Tabel......... Arah Kebijakan Pembangunan Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV ......... Perumusan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah selanjutnya disajikan dalam tabel... .. Visi dst. .............37 Dengan telah diterjemahkannya tiap-tiap pokok visi ke dalam misi maka berbekal penjelasan masing-masing misi dibuat sasaran pokok dengan mengisi tabel........48...... Misi dst …… Visi 2 ..... Dst ... Dst ............. ...... ......T-II.............49.........................C...... ................. . Visi 1 ............................................. sebagai berikut: Tabel.............. .. . Misi 2…… Sasaran Pokok 2 ........................... ............... Misi dst …… dst . Pokok Visi Misi/Sub misi Sasaran pokok Indikator dan target Selanjutnya.................. Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah Visi Misi /Sub misi Sasaran Pokok Indikator dan Uraian Target ........ dst ........ Dst .......... ....... ...... sasaran tersebut digambarkan kedalam pembangunan lima tahunan melalui arah kebijakan pembangunan berupa sasaran pokok..T-II.....

..... berdasarkan arah kebijakan pembangunan...T-II..... Dst ... 4....... Sebagai tambahan...... 2... 2...........50. Hasil rumusan dimaksud selanjutnya disajikan dalam tabel....... suatu sasaran pokok merupakan proses kontinum yang harus selalu diwujudkan dari keseluruhan tahap......... Dst ....... maka dibuatlah arah kebijakan pembangunan.......... Arah kebijakan pembangunan pada dasarnya merupakan arahan fokus kebijakan lima tahunan yang diterjemahkan dalam sasaran pokok.... Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Arah Kebijakan Pembangunan dan Sasaran Pokok Indikator Kondisi Awal Kinerja Pembangunan Target Tahap Tahap II III Kondisi Akhir Kinerja Pembangunan Tahap I Tahap IV Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan I 1..... Suatu arah kebijakan pembangunan harus dapat memberi panduan kapan suatu indikator kinerja sasaran pokok harus dicapai dari empat kemungkinan tahapan yang ada......... 4.. Sasaran Pokok 1 …………… Dst ........... yang kerap berupa indikator kinerja yang makin membaik dari tahap .... Dst ........... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan II 1.. Hal yang harus diperhatikan adalah kerangka logis yang harus dibangun bahwa misi dapat sepenuhnya diterjemahkan dalam sasaran...... Dst . Dst ............... Sasaran Pokok 1 …………… Dst .. di atas.. 3..... satu misi diterjemahkan dalam beberapa sasaran... Penyusunan Sasaran Pokok Lima Tahunan Sasaran 20 (dua puluh) tahunan dalam misi pembangunan jangka panjang daerah dapat diterjemahkan prioritasnya masing-masing pada setiap tahapan pembangunan lima tahunan melalui penetapan sasaran pokok 5 (lima) tahunan.......... satu misi tidak selalu harus diterjemahkan dalam satu sasaran.. Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan IV 1.. Dst ........... Adakalanya..... diwakili dengan pilihan indikator kinerja (beserta target kinerjanya) yang menjelaskan sasaran pokok dimaksud selama 20 (dua puluh) tahun.. Perumusan sasaran pokok dari sasaran dilakukan dengan menggunakan arah kebijakan pembangunan lima tahunan sebagaimana dijelaskan pada Error! Reference source not found......... Secara teknis. Arah kebijakan pembangunan dalam suatu periode dapat lebih dari satu poin atau kalimat utama.. Sasaran Pokok 1 …………… Dst . Sasaran pokok dan indikator kinerja yang dibuat pada tabel diatas belum dibuat per-lima tahunan..... Sasaran Pokok 1 …………… Dst .... 2............. suatu sasaran pokok dibuat pada tiap butir misi untuk menjelaskan fokus dan keterkaitannya.............. atau sebaliknya.. Prioritas masing-masing sasaran dapat dipilih mana yang menjadi prioritas utama sesuai urutan waktu yang menggambarkan makna strategis dan urgensi permasalahan sehingga dapat diketahui mana yang harus didahulukan dari yang lain di masing-masing 4 (empat) tahapan 5 (lima) tahun selama 20 (dua puluh) tahun................. Adapun untuk menjembatani bagaimana kinerja 20 (dua puluh) tahun tersebut... Dst .......... Dst . sasaran dapat diterjemahkan dari beberapa misi... 3......C.......... 4..... Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahunan III 1.......... 4... Perumusan sasaran pokok 5 (lima) tahunan dilakukan dalam tahapan lima tahunan secara lebih definitif........................ walau dalam diskusi tim perumus harus sudah digambarkan kemungkinan-kemungkinannya. 3... sebagai berikut: Tabel....38 Dari tabel diatas.. akan dicapai tiap tahapannya dalam 5 (lima) tahun...... 3......... yang selanjutnya dijadikan pedoman bagi penyusunan visi dan misi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan mengikuti pemilihan umum kepala daerah (pemilukada). 2..............

Tujuannya adalah untuk menghimpun masukan atau harapan para pemangku kepentingan terhadap visi. sasaran pokok. Tujuan utama penyelenggaraan forum konsultasi publlik adalah penyampaian rancangan visi/misi dan sasaran pokok serta arah kebijakan pembangunan jangka panjang. dicapai pada periode atau tahapan tertentu. termasuk prioritasi tahapan-tahapan pembangunan selama empat tahap pembangunan lima tahunan. Berbagai masukan dan draft perubahan di kompilasi. Kompilasi Hasil Forum Konsultasi Publik No. dan arah kebijakan. Suatu penyelarasan harus didukung bukti yang memadai dari kesepakatan akhir dalam forum konsultasi publik. Visi Materi Masukan/Usulan Tambahan Keterangan Misi Sasaran Pokok Arah Kebijakan Masukan atau kesepakatan forum konsultasi publik dituangkan dalam berita acara kegiatan yang ditandatangani oleh peserta rapat. sebagaimana tabel berikut: Tabel. Misi. Sementara.T-II. misi dan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan daerah. Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pelaksanaan forum konsultasi publik dimaksudkan untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan terhadap draft rancangan awal RPJPD. Forum konsultasi publik dapat diselenggarakan secara bertahap atau sekaligus dengan melibatkan tokoh atau wakil berbagai elemen masyarakat. Karakteristik lain adalah bahwa suatu sasaran pokok dapat menjadi prasyarat (enabler) bagi keberhasilan kinerja (sasaran pokok) lainnya.51. misi.7. digunakan untuk menyempurnakan kertas kerja perumusan sekaligus dijadikan sebagai bahan dan dasar dalam membuat penyajian rancangan awal RPJPD.1.7. dan Arah Kebijakan RPJPD Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyelaraskan draft rancangan awal dengan hasil forum konsultasi publik sebagaimana dijelaskan diatas. Penyelarasan terhadap draft rancangan awal RPJPD dapat berupa adopsi hasil kesepakatan dalam forum konsultasi publik maupun pembahasan terhadap masukanmasukan dalam forum konsultasi yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut di tingkat tim perumus. sasaran pokok lainnya bersifat spesifik. sesuatu harus diperhatikan dalam perancangan suatu sasaran. C. Penyelarasan Visi.1.4. Penyelarasan dilakukan terhadap muatan visi. akademisi.. dan lain-lain sesuai dengan kemampuan anggaran dan urgensinya. pakar.5.C. .39 ke tahap sehingga target kinerja akhir periode tahun ke-20 dapat dicapai. C. selanjutnya. Hasil penyelarasan.

Informasi yang disajikan dapat merupakan keseluruhan bentuk pada tahap perumusan (kertas kerja perumusan) atau sebagian menjadi yang dianggap relevan disajikan. Prinsip-prinsip dalam penyajian adalah: 1. Sistematika Penulisan Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RPJPD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab di dalamnya. 3. pilihan yang kata yang sederhana dan mudah dipahami. Dasar Hukum Penyusunan Bagian ini menjelaskan dasar hukum perencanaan pembangunan daerah pada umumnya dan RPJPD pada khususnya sesuai peraturan perundangan dan produk hukum daerah terkait. resiko jika RPJPD tidak tersedia dan pendekatan yang digunakan dalam penyusunan. dan kebutuhan perumusan strategi. Latar Belakang Menjelaskan pengertian ringkas tentang RPJPD.4. 1. Tahap Penyajian Rancangan Awal RPJPD Tahap ini pada dasarnya merupakan penyajian dari apa yang telah dihasilkan dari tahap perumusan kedalam dokumen perencanaan. Semua informasi yang disajikan harus berkorelasi dan didukung dengan data yang valid dari kertas kerja perumusan. visi/misi kepala daerah. Penyajian agar diperkaya dengan teknis presentasi yang baik. seperti: RPJPN.2. 2. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang maksud penyusunan dokumen RPJPD dan tujuan penyusunan dokumen RPJPD bagi daerah yang bersangkutan. Hanya informasi yang relavan dan penting saja yang perlu dicantumkan untuk mendapatkan fokus yang baik dalam dokumen. Tidak seluruh informasi dalam perumusan tentang gambaran umum kondisi daerah ditampilkan dalam penyajian. alasan mengapa RPJPD ini disusun. proses penyusunan RPJPD. RTRW provinsi. gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. Tidak seluruh informasi yang diolah dari hasilhasil analisis dan pembahasan/kesepakatan disajikan. Bagian ini dijabarkan berdasarkan hasil analisis dan kajian gambaran umum kondisi daerah pada tahap perumusan. RPJPD provinsi. termasuk pedoman pengelolaan keuangan daerah.. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasardasar analisis. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum materi rancangan awal RPJPD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. permasalahan pembangunan daerah.2. 1. 1.5. dan RTRW kabupaten/kota. Keterhubungan dengan dokumen lain. Ketersediaan data gambaran umum kondisi daerah selengkapnya dapat dilihat di Lampiran I Peraturan Menteri ini. 1. Penulisan rancangan awal RPJPD disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengacu pada hasil kertas kerja pasca tahap perumusan rancangan awal RPJPD.3.1. Penyajian rancangan awal RPJPD tersebut disusun menurut sistimatika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I.40 C. 1. RTRW nasional. Hubungan Antar Dokumen RPJPD dengan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah lainnya Bagian ini menjelaskan hubungan RPJPD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. BAB II. . Suatu informasi dianggap relevan dan penting jika menjelaskan gambaran umum kondisi daerah yang selaras dan mendukung isu strategis.

Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan.1. dan gambar yang mendukung setiap potensi kawasan budaya yang dimiliki daerah. Tabel-tabel atau grafik tertentu yang dianggap relevan. dan wilayah rawan bencana.41 2. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat daerah bersangkutan. sesuai Lampiran I peraturan ini. fokus kesejahteraan sosial. Aspek Pelayanan Umum Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. fokus seni budaya dan olah raga. 2. dapat ditampilkan. kematian. kewarganegaraan. Selanjutnya. Aspek Geografi dan Demografi Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Selanjutnya. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek daya saing daerah sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. Berbagai indikator yang telah diolah . atau etnis tertentu. 2. sesuai Lampiran I peraturan ini. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.3. agama. Selanjutnya. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. Selanjutnya. 2. Luas dan Batas Wilayah Uraian Potensi Pengembangan Wilayah Kondisi Geografis Lainnya Selanjutnya. serta penuaan. Aspek Daya Saing Daerah Bagian ini diawali dengan pengantar analisis.C. potensi pengembangan wilayah. dengan mengisi dan menyajikan diagram sebagai berikut: Gambar. dapat ditampilkan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. struktur. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus urusan layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan. dijelaskan tentang kondisi demografi seperti ukuran.4. dapat dipaparkan pada bab ini. Penjelasan dapat dilengkapi dengan tabel. grafik. Analisis kependudukan dapat merujuk pada populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan.G-II. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum daerah bersangkutan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek pelayanan umum sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. migrasi.2.. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum geografis mengenai kondisi geografi daerah. Penjelasan perlu dilengkapi dengan kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan potensi pengembangan kawasan budidaya.4 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya Kondisi Geologi Kondisi Klimatologi Kondisi Hidrologi Kondisi Topografi Penggunaan Lahan Letak.

.C. Visi Sesuai perumusan visi yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan. Isu-isu strategis yang tidak dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi agar dieliminasi.1. VISI DAN MISI DAERAH Penyajian visi dan misi dalam dokumen RPJPD sangat penting karena keadaan atau cita-cita yang diinginkan dari hasil pembangunan daerah selama 20 (dua puluh) tahun mendatang akan tergambar.1. BAB III. fokus iklim berinvestasi. permasalahan-permasalahan pembangunan lain yang tidak diprioritaskan atau menjadi agenda utama rencana pembangunan daerah dalam 20 (dua puluh) tahun kedepan tidak perlu disajikan. BAB IV. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis. Dalam hal visi diuraikan dalam satu kalimat maka dapat dicontohkan. 4.T-II. Isu Strategis Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international.C. Dengan demikian permasalahan pembangunan daerah disajikan dengan merujuk pada identifikasi permasalahan pembangunan daerah.T-II. pernyataan visi pada Tabel. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang relevan atau pada akhirnya dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kemampuan ekonomi daerah. Suatu visi dapat berupa satu kalimat atau lebih. sebagai berikut: Visi Terwujudnya Kota ABC sebagai pusat industri dan perdagangan terdepan se Jawa Tengah pada tahun 20xx . walau tetap ada dalam kertas kerja (worksheet) perumusan. dapat ditampilkan.45 dituangkan dalam penyajian.43 dituangkan dalam penyajian. Hal terpenting dalam penyajian visi adalah dibuatnya uraian yang jelas tentang apa dan bagaimana visi yang ingin diwujudkan tersebut pada akhir periode perencanaan pembangunan jangka panjang daerah. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek daya saing daerah bersangkutan.2. fokus fasilitas wilayah/infrastuktur. Oleh karena itu. bagian demi bagian dengan sistematika berurut sesuai urusan yang terpilih atau sesuai jenis permasalahan tanpa mengedepankan urusannya. dan fokus sumber daya manusia. Pada bagian atau tahap perumusan isu-isu strategis. penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan dihadapi dalam pembangunan daerah untuk waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang. Perumusan permasalahan pembangunan dapat dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk uraian kalimat. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat/pengaruh dimasa datang terhadap daerah.42 pada tahap perumusan. kebijakan nasional maupun regional. sesuai Lampiran I peraturan ini. 3. 3. Sesuai isu-isu strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan pada Tabel. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJPD karena menjadi dasar utama perumusan visi dan misi pembangunan jangka panjang daerah.

. Perwujudan Visi 2: Kota ABC sebagai pusat perdagangan terdepan se Jawa Tengah. Indikator keberhasilan suatu pusat perdagangan dan industri untuk (ukuran) Jawa Tengah harus dipaparkan..... Kota ABC sebagai pusat perdagangan terdepan se jawa tengah Misi II.... target tersebut memang rasional dapat dicapai. Tabel............................. Misal. dst .... menggunakan keberhasilan visi pada periode sekarang untuk mendapatkan fokus baru dimasa datang......43 Dengan pernyataan visi sebagaimana dicontohkan diatas maka dalam penyajian visi harus dijelaskan tentang makna.............. ........ Misi II.......... pada periode 20 (dua puluh) tahun berikutnya setelah visi diatas dapat dicapai....... Misi I........... termasuk kriteria tentang pusat perdagangan dan industri yang terdepan (atau nomor satu) se Jawa Tengah.............................................. Misi I..52............2.. Visi sebagaimana contoh diatas harus dijelaskan.......... Misi II..... Misi Sebagai rumusan tentang bagaimana visi diwujudkan dan di sisi lain sebagai komitmen terhadap keseluruhan stakeholders utama pelaku pembangunan daerah...... khususnya pada pusat-pusat industri... dan penjelasan relevan lainnya tentang pokok visi: PUSAT INDUSTRI terdepan se Jawa Tengah dan PUSAT PERDAGANGAN terdepan se Jawa Tengah............... 2: menjamin kemudahan aksesibilitas dan mobilitas ekonomi daerah.... Rasionalitas tentang dipilihnya pokok visi dapat ditambahkan untuk memberikan kejelasan. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Daerah Visi Misi Misi I. kriteria. Dari pernyataan visi diatas kita dapat melakukan pemilahan menjadi perwujudan visi.... dst .. sebagai berikut: · · Perwujudan Visi 1: Kota ABC sebagai pusat industri terdepan se Jawa Tengah............................. menjadi pusat perdagangan dan industri terdepan di pentas nasional.. Dengan asumsi.............. untuk memberi gambaran yang spesifik dan jelas horizon waktunya bahwa target kota ABC selama 20 (dua) puluh tahun ke depan adalah menjadikan pusat perdagangan dan industri terdepan se Jawa Tengah. BAB V........... Masingmasing misi dapat disajikan sub-misi dan penjelasan yang memadai bagaimana maksud dan arah dari masing-masing misi.... Misi diatas dituangkan dalam bentuk paparan secara sistematis dan penjelasan yang memadai masing-masing misi dengan sub-misi disertai data dan argumentasi yang baik dan jelas....... 1: menciptakan dan memperbaiki sentra-sentra industri dan produk unggulan........... SASARAN DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Bagian ini menjelaskan arah kebijakan pembangunan jangka panjang untuk menjelaskan keterhubungan antara sasaran dengan sasaran pokok dan bagaimana pentahapan pembangunan dilakukan pada tiap lima tahunan selama 4 (empat) periode.. visi tidak lagi sama... Seperti. Sesuai kriteria.............. Kota ABC sebagai pusat industri terdepan se jawa tengah.......... atau tetap dengan fokus yang sama tapi ditingkatkan target keunggulannya.......... 2:.. 1: ... dengan demikian...C............ 3: Menciptakan nilai tambah produk dengan basis teknologi tepat guna dan bahan baku lokal yang lebih murah....... 4...... 3: .......... misi harus disajikan dengan teknik penulisan yang mampu menjelaskan hubungan yang erat dengan visi dan bahwa misi cukup lengkap untuk menaungi berbagai jenis agenda pembangunan yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran pokok......T-II...........

Sasaran dst…… Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.. Arah Pembangunan Lima tahun I. Penetapan sasaran pokok harus mengacu pada arah kebijakan pembangunan periode berkenaan. 5..... indikator....... 1.... Sasaran pokok Pada bagian ini diuraikan sasaran pokok terkait beserta indikator dan capain target tiap-tiap.. Sasaran menjelaskan target dari capaian pembangunan jangka panjang pada akhir tahun ke-20.3. ……………………………………………………………………………………….. 1.. c.. indikator.2... Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun... ……………………………………………………………………………………….. indikator... a. dan target . Sasaran Pokok. 3.... Sasaran 2.. Arah Pembangunan Daerah Pada tahap ini berisi tentang pentahapan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan selama 20 (dua puluh) tahun guna mencaapai sasaran pokok tahapan lima tahunan RPJPD.2.1. 2...... Suatu sasaran harus dapat menjelaskan keterhubungannya dengan visi/misi dan menunjukkan indikator kinerja beserta target masing-masing...... 3.....3. Dst.. Sasaran Pokok... Sasaran Pembangunan Jangka Panjang Suatu sasaran pembangunan jangka panjang pada dasarnya adalah kuantifikasi visi dan misi pada akhir periode tahun ke-20 (dua puluh). Sasaran 1...1...... Sasaran 3.1.. daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas daerah yang menjadi prioritas 5... 3... 1. Arah Pembangunan Lima tahun III.... 2. indikator. Penuangan sasaran dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 5. Arah pembangunan lima tahunan ke I Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap pertama RPJPD. dan target .... Sasaran Pokok.44 5. Arah pembangunan lima tahunan ke II Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap kedua RPJPD. 5... Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.4. . Sasaran Pokok. Dst.. dan target ... Arah Pembangunan Lima tahun II...... 5.. dan target . Sasaran Pokok.... ……………………………………………………………………………………….. 2. Arah pembangunan lima tahunan ke III Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap ketiga RPJPD. 5. 4...1. Arah pembangunan lima tahunan ke IV Diuraikan tentang arah kebijakan pembanguan pada tahap keempat/terakhir RPJPD. dan target . indikator. b... Diuraikan mengenai sasaran pembangunan yang akan dicapai daerah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.1.1... 1.

. D. indikator... 7. Tujuan musrenbang RPJPD yakni untuk mendapatkan masukan dan komitmen para pemangku kepentingan pembangunan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJPD... 4.. pimpinan DPRD atau pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJPD Musrenbang RPJPD merupakan forum musyawarah antara para pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati rancangan awal RPJPD. dan target . 6. 2. Persiapan Musrenbang RPJPD Menyusun jadwal dan agenda musrenbang RPJPD.. Bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas.. 8. d.. Menghimpun saran dan tanggapan dari masyarakat terhadap pokok-pokok materi dari hasil publikasi.. tempat. Dst. Menyiapkan fasilitator dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. misi. dan arah kebijakan daerah.45 2.1... 1.. rumusan visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah.. dan target .. indikator.. KAIDAH PELAKSANAAN RPJPD merupakan penjabaran dari visi... c. Menyajikan/memaparkan berbagai kebijakan menjadi acuan.... Mengumumkan secara terbuka jadual.. sekurang-kurangnya mencakup hasil analisis isu-isu strategis daerah... Penentuan narasumber disesuaikan dengan kompetensi... Penyiapan pokok-pokok materi yang akan dipublikasikan.... 3. Sasaran Pokok. Persiapan musrenbang RPJPD... dan Penyelenggaraan musrenbang RPJPD.. dan agenda musrenbang RPJPD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan. penyusunan RPJPD serta penjelasan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan materi yang akan dibahas didalam musrenbang RPJPD... 3.... 3. Memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memimpin diskusi kelompok.. sebelum musrenbang RPJPD dilaksanakan. Untuk optimalisasi pelaksanaan musrenbang RPJPD... Dst.. Pada bagian ini diuraikan langkah-langkah pelaksanaan dari visi misi dan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD..... Musrenbang RPJPD dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya RPJPD periode sebelumnya. Dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain: 5... b. Musrenbang RPJPD dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : 1. dan target . 2.. . BAB VI. b. indikator.. tata tertib pelaksanaan ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.. 1. Sasaran Pokok. 2.. Arah Pembangunan Lima tahun IV. D. Untuk musrenbang RPJPD provinsi dapat mengundang akademisi. Mempublikasikan seluas-luasnya melalui sarana publikasi yang tersedia terhadap pokokpokok materi RPJPD yang akan dibahas dalam musrenbang RPJPD. Menyiapkan narasumber dengan memperhatikan antara lain: a.. Menyiapkan materi bahasan dalam musrenbang RPJPD. Sasaran Pokok.

Penjelasan panitia penyelenggara secara umum atau informasi penting lainnya terkait . 2. tokoh masyarakat. LSM/ormas. 4. mencakup tata tertib sidang/diskusi dan kriteria penajaman sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. 2. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. Pemaparan arah kebijakan dan sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. serta pejabat kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. Penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk mencapai visi dan misi daerah. Pemaparan materi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Merancang pembagian kelompok diskusi dan kriteria penajaman visi. Penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah. 10. LSM/ormas. Pemaparan materi rancangan RPJPD. Pembagian kelompok dan anggota kelompok diskusi mempertimbangkan keseimbangan keterwakilan dari setiap unsur yang hadir (pembagian anggota kelompok diskusi disesuaikan berdasarkan absensi/daftar hadir). .. pimpinan DPRD kabupaten/kota atau pejabat provinsi dan dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. akademisi. 5. Rapat Pleno I a. kepala instansi vertikal di provinsi. antara lain: 1) 2) 3) Isu-isu strategis pembangunan jangka panjang daerah. Mengundang calon peserta musrenbang RPJPD meliputi: a. akademisi. D. c. Dapat dibagi berdasarkan misi atau gabungan dari beberapa misi. Untuk RPJPD kabupaten/kota dapat mengundang akademisi. Penajaman visi dan misi daerah. Klarifilasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang daerah. dan Musrenbang RPJPD kabupaten/kota terdiri dari Bupati dan wakil Bupati/Walikota dan wakil Walikota. 3. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. 9. Pemaparan rumusan visi dan misi daerah. Penyelenggaraan musrenbang RPJPD dilaksanakan guna membahas dan menyepakati rancangan awal RPJPD. dan Membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk memedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah. membahas dan menyepakati rancangan RPJPD antara lain mencakup: 1.46 d. Jumlah kelompok diskusi dan fasilitator serta narasumber dapat disesuaikan dengan kebutuhan. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor. Kepala Bappeda provinsi dan kabupaten/kota. misi dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. 3.2. Musrenbang RPJPD provinsi terdiri dari Gubernur dan wakil Gubernur. Bupati dan Walikota serta Kepala Bappeda kabupaten/kota. kepala SKPD kabupaten/kota. Pembagian kelompok diskusi memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 11. b. kepala SKPD provinsi. Susunan acara pelaksanaan musrenbang RPJPD. Tanggapan peserta atas materi yang dipaparkan. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor serta pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. Menyusun pedoman penyelenggaraan musrenbang RPJPD termasuk panduan diskusi kelompok. c. a. b. antara lain sebagai berikut: 1. 12. Acara pembukaan musrenbang RPJPD diisi dengan penyampaian sambutan dari pejabat yang diundang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus acara peresmian pembukaan musrenbang RPJPD oleh kepala daerah. Penyelenggaraan Musrenbang RPJPD b. tokoh masyarakat.

... Setelah memperhatikan... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini.. tanggal.. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini.... Jam : . 6...................*)Tahun ................. maka pada: Hari dan Tanggal : . (dijelaskan secara berurutan pejabat yang menyampaikan) pada acara pembukaan musrenbang RPJPD..*) Tahun .... mendengar dan mempertimbangkan : a.. musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota ...-.. : Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rancangan awal RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota. Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJPD terhadap tahapan dan prioritas jangka panjang daerah. Daftar hadir peserta musrenbang RPJPD.. d....... ............... Sambutan-sambutan yang disampaikan oleh .................... 5.... : Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota....*) Tahun... telah diselenggarakan musrenbang RPJPD yang dihadiri para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam I berita acara ini. Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. d.....sampai dengan tanggal... : Berita acara ini beserta lampiran dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota.....-. KETIGA KEEMPAT KELIMA Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya.. Tempat : .... tahun...................................... Rangkuman hasil rapat pleno I dan pleno II musrenbang RPJPD selanjutnya di rumuskan ke dalam rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD oleh tim perumus yang dipimpin oleh Kepala Bappeda.....*) Tahun ..... Format Rancangan Berita Acara Kesepakatan Hasil Musrenbang RPJPD RANCANGAN BERITA ACARA KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJPD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ............ c.. Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah.... Pemaparan materi lainnya (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan)... tanggal …...... b......... Diskusi kelompok musrenbang RPJPD......-............ Tanggapan dan saran dari seluruh peserta musrenbang jangka panjang daerah terhadap materi yang dipaparkan baik pada sidang pleno maupun dalam sidang kelompok............. f........... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini..* ): MENYEPAKATI KESATU KEDUA : Visi dan Misi Daerah dalam RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota ........*) Pada hari... 7........ sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini............. . b... . dengan contoh format sebagai berikut: a....... 4........ untuk membahas materi rancangan RPJPD...... visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah oleh ................ Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap visi dan misi daerah...... Pemaparan analisis isu-isu strategis daerah...*) Tahun .... e.... c........ Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD beserta lampirannya terdiri dari: a..... Rapat Pleno II Pemaparan hasil kelompok diskusi musrenbang RPJPD.. bulan............. : Sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah Provinsi/Kabupaten/Kota ......................47 dengan pelaksanaan diskusi kelompok musrenbang RPJPD... dan Kesepakatan hasil sidang kelompok musrenbang RPJPD...... ...............

... 3... dst… Nama Lembaga/Instansi Alamat & no Telp. 5..... Tempat : . Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Visi dan Misi Daerah Tahun ....... Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan Catatan : *) Coret yang tidak perlu b. Format Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJPD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Daftar hadir peserta musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota .... Tempat : ........ 1.... *) Tanggal : ............. Tanda tangan c..*) No... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Visi dan Misi Daerah LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II.-.. 2. 4... 5. Dst..48 - Pimpinan Sidang Tanda tangan ( Nama) Mewakili peserta musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota... Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal: .. Visi Misi 1 Misi 2 Misi 3 Misi 4 Misi ... 2...... No 1........D...1.. 4.... 3......

....... Dst .) Tahapan lima tahun ke-4 (....D........ Misi........ . Sasaran 1 ..-….................-…. ...................... .. ........ ... 1...............-…....... LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II.... .....) Tahapan lima tahun ke-3 (.) ..... Arah Kebijakan Pembangunan .......... .......... Tahapan Tahapan lima tahun ke-1 (.) Misi dst...... Sasaran 2 ....) Tahapan lima tahun ke-4 (. Tempat : .. ..-….............) · · · · · · · · · · · · dst Sasaran Pokok · · · · · · · · · · · dst dst dst · · · · · · · · · · · dst dst dst Sasaran Pokok · · · · · · · · · · · · . Tempat : ................ ......-…........................ ................................ Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-II. 1..... ...... 2.....D........................... 2........ Tahapan lima tahun ke-2 (............-…............................. ........................ Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah... Sasaran 2 ........ Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal : ..... e........ .. Arah Kebijakan Pembangunan ............ . 1.................................-….49 d...............) Tahapan lima tahun ke-2 (................2......... .. Misi 2 ..... ....... ......... Tahapan Tahapan lima tahun ke-1 (........ Arah Kebijakan Pembangunan ........-…... ....... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJPD terhadap Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota *) ……………… Tanggal : ..3........ ............) Tahapan lima tahun ke-3 (.... ............. Misi Daerah Misi1 ....... ........................ 2............ 1......... 2... ... ... Sasaran Pokok Sasaran 1 ......................... . ...........

.......50 - f...D........... Misi......) · · · dst · · · ...... ..... ....... ........ . 2... Tabel T-II.......5... ..............) Sasaran Pokok Arah Kebijakan Pembangunan · · ..4.. 1....... Tabel T-II...... 1... Tahapan dan Prioritas Jangka Panjang Daerah Misi.-…. Sasaran 2 ...... sasaran pokok dan Arah Kebijakan Misi Daerah Misi1 ......... Arah Kebijakan Pembangunan 1................. ..... Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota...............-…. ........... Dst.... Tahapan · Tahapan lima tahun ke-1 (.-…...... 2................................... 3.........-….................... ..D............ Tahapan lima tahun ke-4 (..... ..... Tahapan lima tahun ke-2 (......... · · · dst · · · ... Format Kesepakatan Hasil Sidang Kelompok Musrenbang RPJPD LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJPD NOMOR : TANGGAL : Kesepakatan Hasil Sidang Kelompok ........ Pokok bahasan : Misi ........ Sasaran Pokok Sasaran 1 ....) · · dst · No.....*)..........) · · · dst · · · Tahapan lima tahun ke-3 (.... SARAN/REKOMENDASI SIDANG KELOMPOK ........ ... 2...

..... Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD yang telah disetujui dalam rapat Pleno III. b. 3.. Kepala Bappeda menyiapkan surat kepala daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD sebagai berikut: a. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD yang telah ditandatangani beserta lampirannya dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RPJPD menjadi rancangan akhir RPJPD... dan 10.-. dst… Nama Lembaga/instansi Jabatan Dalam Sidang Kelompok Tanda Tangan 8. surat Gubernur perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri. 1. Musrenbang RPJPD Provinsi/Kabupaten/Kota. 5. ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang RPJPD. No.... Surat kepala Daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJPD disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sebelum konsultasi dilakukan. Rancangan akhir RPJPD yang telah disempurnakan selanjutnya diajukan kepada kepala daerah untuk meminta persetujuan dikonsultasikan kepada Menteri Dalam Negeri terhadap rancangan akhir RPJPD provinsi dan kepada gubernur terhadap rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota.... Rancangan akhir RPJPD yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. 9.....51 ... 2.. 4.. 4.*) Tahun . 3...... sistematika dan teknis penyusunan.. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD provinsi. E...1. Dalam surat permohonan konsultasi diberitahukan pokok-pokok substansi materi yang perlu dikonsultasikan dan dilampiri dengan dokumen rancangan akhir RPJPD beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD serta hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang daerah. dan surat Bupati/Walikota perihal konsultasi rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada gubenur. Rapat Pleno III Pembacaan rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD dan pengambilan keputusan.. (nama daerah) (Tanggal/Bulan/Tahun) Anggota Sidang Kelompok.Konsultasi Rancangan Akhir RPJPD 1. sinkronisasi dan sinergi. RTRW provinsi dan RPJPD dan RTRW provinsi lainnya. 2. Setelah rancangan akhir RPJPD mendapatkan persetujuan dari kepala daerah untuk dikonsultasikan kepada Menteri/Gubernur.. Konsultasi rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada gubernur untuk memperoleh saran pertimbangan dari landasan hukum penyusunan.. E. sistematika dan teknis .. dengan RPJPN. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJPD Rancangan akhir RPJPD dirumuskan berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. Konsultasi rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri bertujuan untuk untuk memperoleh saran pertimbangan dari landasan hukum penyusunan.

Hubungan Antar Dokumen RPJPD dengan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah lainnya Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. dan Bupati/Walikota menindak lanjuti hasil konsultasi rancangan RPJPD kabupaten/kota dengan Gubernur. Tindak lanjut dimaksud yaitu menyempurnakan rancangan akhir RPJPD berdasarkan hasilhasil konsultasi yang disampaikan dengan surat Menteri Dalam Negeri/Gubernur.2.1. RPJPD provinsi.5.Melengkapi Sistematika Rancangan Awal RPJPD Menjadi Rancangan Akhir RPJPD Penyajian rancangan akhir RPJPD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan awal RPJPD provinsi dan kabupaten/kota . 1. dengan RPJPN. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan akhir RPJPD sebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan akhir RPJPD. 1.3. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. E. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. Dengan demikian.3. .2.3. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. sinkronisasi dan sinergi. 1. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. E. Gubernur menindak lajuti hasil konsultasi RPJPD Provinsi dengan Menteri Dalam Negeri. sistematika penyajian rancangan akhir RPJPD. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. konsistensi menindaklanjuti hasil musrenbang RPJPD kabupaten/kota. 2. 2. RTRW kabupaten/kota serta RPJPD dan RTRW kabupaten/kota lainnya. 1.4.Penyempurnaan Rancangan Akhir RPJPD Berdasarkan Hasil Konsultasi.2.52 penyusunan. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2.. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

4. 3. 4. 4.1. BAB III ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. Sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah untuk masing-masing misi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Misi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. 3.1.. BAB VI KAIDAH PELAKSANAAN Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5. BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Tahapan dan Prioritas Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB IV VISI DAN MISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. . 5. 4.2.2.53 2.1. Visi Sama dengan isi rancangan awal RPJPD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

Kepala daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. MENTERI DALAM NEGERI. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJPD 1. 4. paling lama 6 (enam) bulan sebelum RPJPD yang sedang berjalan berakhir. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD. kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan. Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan RPJPN. 5. disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD disertai dengan rancangan akhir RPJPD yang telah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri/Gubernur disertai dengan: a.. 3.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 .54 F. Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan b. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt. 2. Peraturan daerah tentang RPJPD provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan untuk dievaluasi dan Peraturan Daerah tentang RPJPD kabupaten/kota. surat Menteri Dalam Negeri/Gubernur perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD.

TATA CARA PENYUSUNAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU III) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 .KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN.

BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD B.LAMPIRAN III : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJMD . PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD D. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJMD G. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJMD F. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD C. PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD E.

misi.A. misi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJMD Provinsi PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG RPJMD PENETAPAN RPJMD Rancangan Perda ttg RPJMD beserta Rancangan akhir RPJMD Provinsi Telaahan terhadap RPJPD Provinsi Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD GAMBAR. misi.visi. MISI dan Program KDH Persiapan Penyusunan RPJMD Provinsi Pengolahan data dan informasi Penelaahan RJPMN dan RPJMD Provinsi lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Pembahasan Rancangan Akhir RPJMD Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah provinsi Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Penyusunan SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Verifikasi Rancangan RENSTRA SKPD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJMD Persetujuan Rancangan akhir RPJMD oleh Gubernur Konsultasi rancangan akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD Mendagri Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Provinsi & RTRW Provinsi lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD Provinsi Penyajian Rancangan RPJMD Penetapan Perda tentang RPJMD Provinsi Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD Analisis Gambaran umum kondisi daerah provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan .visi. Rancangan Awal Renstra SKPD VISI.-2A. misi. Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. G-III. · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan Perda tentang RPJMD RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.

-3GAMBAR. misi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. RPJMD Provinsi dan RPJMD kab/ kota lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Kabupaten/Kota Persiapan Penyusunan RPJMD Kab/ Kota Pengolahan data dan informasi Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah Kabupaten/Kota Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis.A. misi. MISI dan Program KDH Penelaahan RJPMN. misi. Naskah Kesepakatan Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. G-III. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.visi. · visi. misi.visi.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RPJMD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD MUSRENBANG RPJMD PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD PENETAPAN RPJMD Rancangan Perda ttg RPJMD beserta Rancangan akhir RPJMD Kabupaten/ Kota Telaahan terhadap RPJPD Kabupaten/ kota VISI. Rancangan Awal Renstra SKPD Pembahasan Rancangan Akhir RPJMD Penyusunan SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Verifikasi Rancangan RENSTRA SKPD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan hasil Musrenbang Penyampaian Rancangan Akhir RPJMD Persetujuan Rancangan akhir RPJMD oleh Bupati/Walikota Konsultasi rancangan akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD ke PemProv Penetapan Perda tentang RPJMD kabupaten/kota Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/ Kota & RTRW Kab/Kota lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota Penyajian Rancangan RPJMD Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD Analisis Gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan Perda tentang RPJMD RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. · visi. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan .

tahapan tata cara penyusunan. tim penyusun RPJMD sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja (pokja). pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. Tim penyusun dipersiapkan oleh bappeda dan diusulkan kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan dengan keputusan Kepala daerah. pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). : Sekretaris Daerah : Kepala Bappeda : Pejabat Pengelola Keuangan Daerah : Sekretaris Bappeda : Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan. Pembentukan Tim Penyusun RPJMD Kegiatan pembentukan tim penyusun RPJMD dimulai dari penyiapan rancangan Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. B. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJMD. teknis penyusunan dokumen RPJMD. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. Penyusunan Agenda Kerja Tim RPJMD. Pembagian tersebut dapat berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. 3. B. serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RPJMD. 2. Rencana kegiatan tim penyusun RPJMD disusun kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari persiapan hingga ditetapkannya rancangan peraturan daerah tentang RPJMD. untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundang-undangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Bahan orientasi mengenai RPJMD. . pemerintahan daerah. Orientasi mengenai RPJMD Orientasi mengenai RPJMD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. sistem perencanaan pembangunan nasional.2. Susunan keanggotaan tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. antara lain: tentang keuangan negara. Tugas tim penyusun RPJMD dijabarkan ke dalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan peraturan daerah tentang RPJMD. mencakup: 1.-4B. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen.3. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah. pengelolaan keuangan daerah. Susunan keanggotaan tim penyusun RPJMD sekurang-kurangnya sebagai berikut : Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Kelompok kerja/Anggota B. Peraturan perundang-undangan. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RPJMD dan penyusunan anggaran. PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD Tahapan persiapan penyusunan RPJMD dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan kegiatan penyusunan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota.1.

2. 2. Pengumpulan data dan informasi tersebut dilakukan dengan langkah-langkah. 1.1. dan Penyusunan agenda kerja RPJMD Pengumpulan data dan Informasi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD Pengajuan kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah & indikasi program prioritas disertai kebutuhan pendanaan Pembahasan dan kesepakatan PENYIAPAN SURAT EDARAN KDH PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD Penyampaian rancangan renstra SKPD Verifikasi rancanganrestra SKPD MUSRENBANG RPJMD Penyiapan data dan kegiatan Pelaksanaan musrenbang RPJMD Perumusan hasil musrenbang RPJMD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Perumusan rancangan akhir RPJMD Pembahasan rancangan akhir RPJMD dengan SKPD dan Kepala daerah Penyampaian rancangan akhir RPJMD untuk persetujuan Kepala daerah Konsultasi rancangan akhir RPJMD Penyempurnaan rancangan akhir RPJMD berdasarkan hasil konsultasi PENETAPAN PERDA RPJMD Penyampaian rancangan perda tentang RPJMD kepada DPRD Pembahasan rancangan perda tentang RPJMD bersama DPRD Persetujuan bersama perda tentang RPJMD oleh DPRD dan Kepala daerah Penyampaian peraturan daerah tentang RPJMD provinsi kepada menteri dan peraturan daerah tentang RPJMD kabupaten/kota kepada Gubernur H B. 1. 3. D. Untuk itu.-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RPJMD adalah sebagai berikut: Tabel T-III. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting dalam perumusan rencana yang akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang disusun. 1 2 C. sebagai berikut: . Contoh Agenda Kerja Penyusunan RPJMD Bulan I NO A. 2. 1 2 E. 4. F 1.4. dalam penyusunan RPJMD perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat dan relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. 5.B. B. 3. G 1. 3. Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Bulan II Bulan III Bulan IV Bulan V Bulan VI PERSIAPAN PENYUSUNAN RPJMD Pembentukan tim. Orientasi. 2.

G-III. masing-masing dapat dilihat pada Gambar. 3. C.2 dibawah ini: Gambar.G-III. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen RPJMD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Tahapan penyusunan rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota.1 dan Gambar. 2. dan 2. RTRW kabupaten/kota.C. Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RPJMD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. 4. Data statistik sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir. Peraturan perundang-undangan yang terkait.C. misi.visi. c.1 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Provinsi Telaahan terhadap RPJPD Provinsi Persiapan Penyusunan RPJMD Provinsi VISI. Dokumen-dokumen: a. RPJPD kabupaten/kota. 2. antara lain: 1. Penyajian rancangan awal RPJMD. RPJMD provinsi.C. dan yang akurat dari sumber-sumber yang dapat Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. MISI dan Program KDH Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Penjelasan visi dan misi Penelaahan RPJMN & RPJMD provinsi lainnya Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Pengolahan data dan informasi Hasil evaluasi capaian RPJMD Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah Provinsi Penelaahan RTRW Provinsi & RTRW Provinsi lainnya Perumusan Tujuan dan Sasaran Penetapan Indikator Kinerja Daerah Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. Kebijakan pemerintah yang terkait. mencakup: 1. Pembahasan dengan SKPD Provinsi Analisis Gambaran umum kondisi daerah Provinsi Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Penyelarasan Progran Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan . untuk penyusunan RPJMD provinsi. untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. Hasil evaluasi RPJMD periode lalu. RTRW provinsi. 3. Perumusan rancangan awal RPJMD. b. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD Penyusunan rancangan awal RPJMD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJMD yang dilakukan melalui dua tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. RPJPD provinsi.-61.G-III. Mengumpulan data/informasi dipertanggungjawabkan. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang perlu dikumpulkan dalam menyusun RPJMD.

Perumusan rancangan awal RPJMD provinsi dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: 1.visi. 14. Pengolahan data dan informasi. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah provinsi. 10. Tahap Perumusan Rancangan Awal RPJMD Perumusan isi dan substansi rancangan awal RPJMD sangat menentukan kualitas dokumen RPJMD yang akan dihasilkan. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan RPJMD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen). 6. Pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. Tersusunnya rancangan awal RPJMD sangat strategis untuk mengarahkan penyusunan rancangan Renstra SKPD dan berfungsi sebagai koridor perencanaan pembangunan indikatif selama 5 (lima) tahun yang disusun menggunakan pendekatan teknokratis dan partisipatif. Perumusan strategi dan arah kebijakan. Analisis Gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Pembahasan dengan DPRD utk memperoleh masukan dan saran Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan C.G-III. Penelaahan RPJPD provinsi. RPJMD Provinsi dan RPJMD kab/ kota lainnya Perumusan Strategi dan arah kebijakan Perumusan Penjelasan visi dan misi Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Kabupaten/Kota Persiapan Penyusunan RPJMD Kab/ Kota Pengolahan data dan informasi Analisis isu-isu strategis Pembangunan jangka menengah Kabupaten/Kota Perumusan Tujuan dan Sasaran Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/ Kota & RTRW Kab/Kota lainnya Penetapan Indikator Kinerja Daerah Pembahasan dengan SKPD kabupaten/ kota Rancangan Awal RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. misi. 5. Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi. Analisis gambaran umum kondisi daerah provinsi. 12. dan Penyelarasan program prioritas dan kebutuhan pendanaan. Penelaahan RTRW provinsi dan RTRW provinsi lainnya. Perumusan penjelasan visi dan misi.C. 9. 2. . 7.-7- Gambar. 13. Perumusan tujuan dan sasaran. Penetapan Indikator Kinerja Daerah. 18. 11. Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. 17. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah provinsi. Penyusunan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan.2 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Kabupaten/kota Telaahan terhadap RPJPD Kabupaten/ kota VISI. 15. 16.1. Penelaahan RPJMN dan RPJMD provinsi lainnya. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan · Penetapan indikator kinerja Daerah · Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. 8. 3. Pelaksanaan forum konsultasi publik. a. MISI dan Program KDH Penelaahan RJPMN. Pembahasan dengan SKPD provinsi. 4.

Pembahasan dengan SKPD kabupaten/kota. Perumusan tujuan dan sasaran. Analisis gambaran umum kondisi daerah kabupaten/kota.1. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah dimaksud mencakup data dan informasi gambaran umum kondisi daerah serta data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah. 8. Untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang disiapkan. dan aspek daya saing daerah. Penelaahan RTRW kabupaten/kota dan RTRW kabupaten/kota lainnya. aspek pelayanan umum. aspek kesejahteraan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis yang digunakan sebagai bahan analisis guna memberikan perkembangan tentang gambaran kondisi umum daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. Penelaahan RPJMN. sistematis. Penyusunan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan RPJMD. bahan paparan (slide atau white paper). . Analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan. maka berikut ini akan diberikan beberapa contoh pengolahan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RPJMD Provinsi dan Kabupaten/kota yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan awal RPJMD. Berdasarkan penjelasan di atas. menjadi informasi yang lebih terstruktur. 13. 3. dan Penyelarasan program prioritas dan kebutuhan pendanaan. Perumusan permasalahan pembangunan daerah kabupaten/kota.1. RPJMD provinsi. dan RPJMD kabupaten/kota lainnya. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah kabupaten/kota. tetapi kegiatan ini harus berlangsung terus menerus setiap hari (kontinyu). 16. maka dilingkungan SKPD perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran betapa pentingnya data dan informasi utamanya untuk penyusunan rencana pembangunan daerah. 7. resume/notulen-notulen pertemuan. tim penyusun harus menyusun terlebih dahulu hasil pengolahan data dan informasi yang diperlukan kedalam kertas kerja (worksheet). Analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. Pelaksanaan forum konsultasi publik. 10. 12. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus ditugaskan bertanggungjawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. 18. Pengolahan data dan informasi. Perumusan rancangan awal RPJMD kabupaten/kota dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. karena tergantung pada urgensi data dan informasi apa saja yang paling signifikan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan sistematika penulisan RPJMD yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran. 14. C. 4. 11. seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. 2. Perumusan strategi dan arah kebijakan. 15. 6. Perumusan penjelasan visi dan misi.-8- b. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan hasil analisis. hasil riset dan lain-lain. bisa dalam bentuk grafis maupun dalam bentuk tabel. 9. 17. Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian hampir diseluruh lingkungan. Penetapan Indikator Kinerja Daerah. Penelaahan RPJPD kabupaten/kota. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah harus dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek geografi dan demografi. Tidak semua data dan informasi dapat disajikan dalam dokumen RPJMD. 5. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan.

dengan cara: 1.2. yang dapat disajikan secara deskriptif atau dalam bentuk tabel. dan b.1. perlu memperhatikan tingkat urgensi data dan informasi keuangan daerah yang dibutuhkan. hendaknya memiliki tingkat keakurasian.1. Dalam kaitan itu.2. belanja daerah. C. Rencana jaringan energi. atau tidak menyimpang dari arah kebijakan RTRW. penyusunan RPJMD harus berpedoman pada RTRW. grafik. d. Telaahan terhadap rencana struktur ruang meliputi: a. . Hal ini guna menghindari tersitanya waktu. sekurang-kurangnya mencakup data 5 (lima) tahun terakhir. dari anggota tim penyusun RPJMD yang berasal dari Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). Selain itu. validitas dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.1.1. meliputi: a. Data dan Informasi Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah mencakup data pendapatan daerah. Menelaah rencana struktur ruang Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Sumber data dan informasi gambaran pengelolaan keuangan daerah diperoleh dari: 1. Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis. Pengolahan data dan informasi pembangunan daerah yang dibutuhkan. b. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah provinsi dan kabupaten/kota. tenaga dan biaya dalam pengumpulan data dan informasi yang tidak bermanfaat untuk keperluan analisis. data dan informasi keuangan daerah yang digunakan.1.1. Oleh karena itu. pembiayaan daerah dan neraca daerah. Penelaahan RTRW dan RTRW Daerah Lainnya Perencanaan pembangunan daerah pada prinsipnya bertujuan mengintegrasikan rencana tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan daerah.-9C. aspek kesejahteraan masyarakat. C. dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau instansi pemerintah pusat yang membina keuangan daerah. Data dan informasi yang diolah sekurang-kurangnya memberikan gambaran tentang perkembangan selama 5 (lima) tahun terakhir.1. Telaahan terhadap rencana pola ruang. sebelum masa RPJMD yang direncanakan. Data dan Informasi Gambaran Umum Kondisi Daerah Data dan informasi yang berhubungan gambaran umum kondisi daerah mencakup data kondisi geografi dan demografi. berupa: APBD dan realisasi APBD. e. peta dan sebagainya.2. Penelaahan RTRW Tata ruang merupakan perwujudan dari struktur ruang dan pola ruang. dan f. Rencana sistem jaringan sumber daya air Menelaah rencana pola ruang Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya. Data primer. Rencana kawasan lindung. Dalam pengumpulan hasil pengolahan data dan informasi pembangunan daerah yang dibutuhkan untuk menganalisis objek/aspek pembangunan daerah. Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 5 (lima) tahun mendatang berikut asumsi-asumsinya. Rencana sistem perkotaan.1. berupa: Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Data sekunder. 2. Rencana jaringan transportasi. C. dan 2. Rencana jaringan telekomunikasi. c. Peta rencana struktur ruang. diperlukan kegiatan penelaahan RTRW untuk menjamin agar arah kebijakan dalam RPJMD selaras dengan.

..... III....*) Rencana Pentahapan Pemanfaatan Struktur Ruang sesuai RTRW No (1) Rencana Struktur Ruang (2) Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program (3) Lokasi (4) Waktu pelaksanaan Lima tahun ke-I (5) Lima tahun ke-II (6) Lima tahun ke-III (7) Lima tahun ke-IV (8) I.... b.1 I.. Menelaah program pembangunan sektoral wilayah provinsi...... Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kota.2 V.....1 V...... Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kabupaten..2 IV... ..... Menelaah program pengembangan wilayah kabupaten. IV........1 IV..... Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota.T-III.2 sebagai berikut: Tabel.....C............. Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota......... Menelaah program pengembangan kawasan perkotaan...... Menelaah program pembangunan sektoral wilayah kota......T-III................ Kota: a..... Dst…....... dan e.... Dst… Rencana jaringan transportasi .... Menelaah program pengembangan kawasan perdesaan. Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah provinsi... Menelaah program pengembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kabupaten... Dst…..T-III... Dst… Rencana jaringan energi .. Hasil telaahan struktur ruang dan pola ruang provinsi dan kabupaten/kota dapat disusun kedalam Tabel... c....1 dan Tabel..... Menelaah program pengembangan wilayah provinsi... Kabupaten a................. I........ V..1 III... d........10 3..... melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu. Menelaah indikasi program pemanfaatan ruang Program pemanfaatan ruang adalah program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif... Rencana jaringan telekomunikasi ... dan e.. b........ Telaahan terhadap indikasi program pemanfaatan meliputi: Provinsi a. II.2 Rencana pusat permukiman ...1 II. Menelaah program pengembangan wilayah kota........... b....2 II..C..2 III.. Dst… Rencana sistem jaringan sumber daya air . dan c......... c.. d. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...1 Tabel Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota .....C.......

..1.... Sedangkan gambaran kondisi demografi. potensi pengembangan wilayah.11 Tabel........ komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu pada provinsi/kabupaten/kota....... dan sejauh mana keberhasilan pembangunan daerah yang dilakukan selama ini... II................... serta capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya......................2 Dst .. sedangkan untuk kabupaten/kota..1 I.. Mengingat perbedaan dari karakteristiknya.. selain berpedoman pada RTRW daerah sendiri...... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah.. (3) Rencana kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis .. Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan pemahaman awal bagi tim tentang apa..... bagaimana. 1... merupakan data dan informasi yang menggambarkan keadaan senyatanya pada setiap kabupaten/kota.... II... dan/atau mengidentifikasi faktor-faktor atau berbagai aspek yang nantinya perlu ditingkatkan untuk optimalisasi pencapaian berhasilan pembangunan daerah provinsi dan kabupaten/kota....... Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama..C......1.. Aspek Geografi dan Demografi Analisis pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah. Penelaahan RTRW Daerah Lainnya Dalam menyusun RPJMD. C.......... Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota... Gambaran umum kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam merencanakan pembangunan. I.2 Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi/Kabupaten/Kota .... pada setiap kecamatan di wilayah masing-masing. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber data dan informasi yang akan diolah untuk mengevaluasi capaian indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi... maka dalam menganalisis gambaran umum kondisi daerah.......2... baik dari aspek geografi dan demografi.. ..3...*) Rencana Pentahapan Pemanfaatan Pola Ruang sesuai RTRW No Rencana Pola Ruang Arah pemanfaatan Ruang/Indikasi Program Waktu pelaksanaan lokasi lima tahun ke-I (4) (5) lima tahun ke-II (6) lima tahun ke-III (7) lima tahun ke-IV (8) (1) I..T-III...2 Dst ............... antara lain mencakup perubahan penduduk. Secara rinci analisis geografi daerah untuk provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan antara lain terhadap: . terutama yang berdekatan atau yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan provinsi dan kabupaten/kota dan atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah...... harus disesuaikan dengan struktur kewenangan dan tingkatan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten/kota...... yaitu aspek kesejahteraan masyarakat............ C......2....... dan kerentanan wilayah terhadap bencana..... (2) Rencana kawasan lindung . juga perlu memperhatikan RTRW daerah lain agar tercipta sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka menengah daerah antarprovinsi/antarkabupaten/kota serta keterpaduan struktur dan pola ruang dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya....1 II. .

agama. gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain. PDRB per kapita. c) Suhu. danau dan rawa. dan (5) Kepulauan. pemerataan . c. tsunami. pertanian. kesejahteraan sosial. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. laju inflasi provinsi. d. Karakteristik lokasi dan wilayah.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator pertumbuhan PDRB. antara lain terdiri dari: a) Kawasan budidaya. Sedangkan untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. dan c) Debit. abrasi. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. serta penuaan. b) Curah hujan. dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam. Demografi Memberikan deskripsi ukuran. 4) Geologi. (3) Pesisir. serta seni budaya dan olahraga. atau entitas tertentu. mencakup: 1) Luas dan batas wilayah administrasi. industri. antara lain terdiri dari: a) Kemiringan lahan. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud terdiri dari: 2. kebakaran hutan. struktur. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. kewarganegaraan. seperti banjir. migrasi. longsor. 7) Penggunaan lahan. kematian. Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. 3) Topografi. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat. dan b) Ketinggian lahan. pariwasata. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah. antara lain meliputi: (1) Pedalaman. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan.. pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah. b) Posisi geostrategic. antara lain terdiri dari: a) Daerah aliran sungai. 2. 2) Letak dan kondisi geografis antara lain terdiri dari: a) Posisi astronomis. 5) Hidrologi. (4) Pegunungan. b. 6) Klimatologi. b) Sungai.12 a. dan b) Potensi. dan d) Kelembaban. indeks gini. (2) Terpencil. dan b) Kawasan lindung. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota. c) Kondisi/kawasan. antara lain terdiri dari: a) Tipe. antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik.

.C. atas Dasar Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota... & jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB (n-5) (Rp) % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..gas & air bersih Konstruksi Perdagangan.....5 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun ..13 pendapatan versi Bank Dunia.C.*) (n-5) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik..3 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun . hotel. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.C.. Provinsi/Kabupaten/Kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. s.. gas.. Indeks Ketimpangan Williamson (indeks ketimpangan regional).. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan. & jasa Hb % Hk % Hb % (n-4) Hk % Hb % (n-3) Hk % Hb % (n-2) Hk % (n-1)**) Hb % Hk % . Tabel..*) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik..... & jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB % (n-4) (Rp) % (n-3) (Rp) % (n-2) (Rp) % (n-1)**) (Rp) % No Sektor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. sebagai berikut: a..T-III.. sewa.... sewa.4 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun .d . s.. hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan. Pertumbuhan PDRB Hasil analisis pertumbuhan PDRB... angka kriminalitas yang tertangani. & air bersih Konstruksi Perdagangan.T-III..*) (n-5) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor Pertanian Pertambangan& penggalian Industri pengolahan Listrik.d ..d . hotel.gas & air bersih Konstruksi Perdagangan. sewa. persentase penduduk diatas garis kemiskinan.. s. & restoran Pengangkutan & komunikasi angangkutan & komunikasi Keuangan. atas Dasar Harga Konstan Tahun .T-III. Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi/Kabupaten/Kota. Tabel...

. diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan...7 Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun ...*) PDRB No Kabupaten/Kecamatan*) HB (n-5) HK HB (n-4) HK HB (n-3) HK HB (n-2) HK (n-1)**) HB HK 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan... hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan. .....C..... s.*) Pertumbuhan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik. Coret sesuai dengan kebutuhan (untuk kabupaten dapat dibandingkan dengan standar provinsi. & jasa perusahaan Jasa-jasa PDRB Sektor Hb % Hk % *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel...) Hasil analisis nilai inflasi rata-rata.T-III.T-III. Tabel....... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. s.T-III.**) Dst … Standar provinsi/kabupaten/ kota***) Standar nasional/provinsi***) Standar internasional/ nasional***) *) **) ***) ****) b. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..8 Nilai Inflasi Rata-Rata Tahun.... Jika tabel provinsi.6 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun ... Laju Inflasi Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Provinsi/Kabupaten/Kota.C.C..gas & air bersih Konstruksi Perdagangan. Tabel.. sampai dengan Tahun.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini..d . sewa.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi provinsi dan kabupaten/kota. Provinsi/Kabupaten/Kota.14 perusahaan 9 Jasa-jasa PDRB *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas..... atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi/Kabupaten/Kota. jika kecamatan dapat dibandingkan dengan standar kabupaten/kota dst.*) Uraian Inflasi (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Rata-rata pertumbuhan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.....d ... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... Diisi sesuai dengan ketersediaan data.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.

... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.11 Rata-Rata Lama Sekolah Tahun . dan **) Jika tabel provinsi. angka partisipasi murni.*) No 1 2 3 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka Melek Huruf (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C.. diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan...*) (n-5) L P L (n-4) P L (n-3) P L (n-2) P (n-1)**) L P No 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan....9 Hasil analisis angka melek huruf.**) Dst . angka partisipasi kasar. dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan... sebagai berikut: a. angka kelangsungan hidup bayi..... Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial.15 2....d . s. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun . angka rata-rata lama sekolah...*) No 1 2 3 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan... s.2 Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf....T-III.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Angka rata-rata lama sekolah Hasil analisis angka rata-rata lama sekolah..T-III... Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota... diisi sesuai dengan nama kabupaten/kota berkenaan.... Jumlah Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...C. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.... Provinsi/Kabupaten/Kota.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Provinsi/Kabupaten/Kota. b. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh di atas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. persentase penduduk yang memiliki lahan. .**) Dst .. dan rasio penduduk yang bekerja... Angka melek huruf Tabel.d ....T-III. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.... Tabel...10 Angka Melek Huruf Tahun .C. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota.. angka pendidikan yang ditamatkan... ***) Jika tabel provinsi. angka usia harapan hidup.

pekerjaan umum.*) No 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) Kabupaten/Kota/Kecamatan. dan . perangkat daerah. otonomi daerah.13 Perkembangan Seni. lingkungan hidup... Budaya dan Olahraga Tahun . penanaman modal.*) No 1 2 3 4 Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian per 10. Analisis terhadap indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota.. kepemudaan dan olah raga. perhubungan. perencanaan pembangunan. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.d . administrasi keuangan daerah.. Tabel.. 3. perumahan.**) Dst .000 penduduk 10.. Jumlah grup Jumlah gedung Jumlah klub Jumlah gedung kesenian per kesenian per olahraga per olahraga per 10.000 penduduk.T-III. s. jumlah klub olahraga dan jumlah gedung olahraga. Jumlah klub olahraga per 10. Provinsi/Kabupaten/Kota.000 penduduk. Jika tabel provinsi. yaitu bidang urusan pendidikan... diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan..... pemerintahan umum. Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan.000 penduduk 10. ketenagakerjaan. penataan ruang. baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. pertanahan. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. Jumlah gedung kesenian per 10. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus seni budaya dan olahraga yang dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel...000 penduduk *) **) Jumlah Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. sosial. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh diatas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini....T-III. kebudayaan.16 2. kesehatan. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun rancangan awal RPJMD provinsi terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..... Indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari: 3. Jumlah gedung olahraga per 10. Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/kota .C.12 Perkembangan Seni.000 penduduk 10..C.. (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. Sedangkan untuk penyusunan rancangan awal RPJMD kabupaten/kota disusun ke dalam tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan di wilayah kabupaten/kota. Budaya dan Olahraga Tahun . koperasi dan usaha kecil menengah. kependudukan dan catatan sipil..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan..... kepegawaian.1 Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah.000 penduduk.000 penduduk.. keluarga berencana dan keluarga sejahtera..3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator-indikator: jumlah grup kesenian...

3.... Angka Partisipasi Sekolah Hasil analisis perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) lingkup provinsi/kabupaten/ kota... 2... Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.1...... ketahanan pangan.14 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun .. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintahan daerah sebagai berikut: a.T-III. pemberdayaan masyarakat dan desa..*) No 1 1.C. SD/MI jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI SMP/MTs jumlah murid usia 13-15 thn jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun APS SMP/MTs Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan.. 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. statistik..17 persandian... b. s. komunikasi dan informatika dan perpustakaan..**) Dst . kearsipan. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel...d . 2.3.*) SD/MI No Kabupaten/Kota/Kecamatan*) jumlah murid usia 7-12 thn jumlah penduduk usia 7-12 th APS jumlah murid usia 13-15 thn SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th APS 1 2 3 4 Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.C.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan...T-III.2.. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Hasil analisis rasio ketersediaan sekolah/penduduk usai sekolah se provinsi/kabupaten/ kota.. 2 2. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: . 1..15 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun ....1..2. Tabel.

. Tabel.T-III.C.... Rasio guru/murid Hasil analisis rasio jumlah guru/murid se-provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam cotoh tabel sebagai berikut: Tabel.18 Tabel. 2.C..C..1.... 2.........d .*) No 1 1.... 2 2... s..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan..*) No 1 1.2.. Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III... 1..16 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun .1... Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan..1... Jumlah Jumlah gedung sekolah (3) SD/MI Jumlah penduduk usia Rasio 7-12 th (4) (5=3/4) Jumlah gedung sekolah (6) SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1.d . 1...... c.2..3..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 1... 1. .17 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun ...2..2.18 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun .. SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 1315 tahun Rasio Jenjang Pendidikan (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.3.3. 2 2. 2.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.**) Dst . Provinsi/Kabupaten/Kota.. 2... s.. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.3.T-III.

....... dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. pariwisata..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis jumlah investor PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan wajib sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota......19 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota..T-III...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 3.*) Tahun (1) n-5 n-4 n-3 n-2 Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Uraian (2) PMDN (3) PMA (4) Total (5=3+4) n-1 Jumlah Investor *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..d .. s.C. Provinsi/Kabupaten/Kota..... Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Hasil analisis nilai PMDN/PMA di provinsi dan kabupaten/kota dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel..20 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun .. s.T-III...21 Jumlah Investasi PMDN/PMA Tahun .... energi dan sumberdaya mineral.. b. yaitu bidang urusan pertanian.**) Dst . dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini..*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. industri dan ketransmigrasian.*) Tahun n-5 n-4 n-3 n-2 n-1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi Realisasi JumlahProyek Nilai Investasi ..C.T-III.... kehutanan.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan pilihan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota....d . kelautan dan perikanan..19 - Tabel....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. Jumlah Jumlah Guru (3) SD/MI Jumlah Murid (4) Rasio (5=3/4) Jumlah Guru (6) SMP/MTs Jumlah Murid (7) Rasio (8=6/7) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota... Provinsi/Kabupaten/Kota. perdagangan.. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan pilihan pemerintahan daerah sebagai berikut: a.C. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau Tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas..

**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..T-III.C. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (angka konsumsi RT per kapita) Hasil analisis konsumsi RT perkapita.*) No 1 2 Uraian Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 3 Rasio daya serap tenaga kerja *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus layanan urusan pilihan sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah pada aspek daya saing daerah. Uraian Total Pengeluaran RT Jumlah RT Rasio (1...*) No 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota. iklim berinvestasi dan sumber daya manusia.. 4. 2.T-III..C. Rasio daya serap tenaga kerja Hasil analisis rasio daya serap tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota. Indikator variabel aspek daya saing daerah terdiri dari: 4... dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh di atas. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah.22 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun ...) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. produktivitas total daerah.d . Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya yang berdekatan. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.. terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi. nasional atau internasional. dan nilai tukar petani..1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Provinsi/Kabupaten/Kota. pengeluaran konsumsi non pangan per kapita. s. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kemampuan ekonomi daerah sebagai berikut: a. fasilitas wilayah atau infrastruktur..d ...20 - c./2. 3.....23 Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun . Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan diwilayah kabupaten/kota masing-masing.. . s..

Provinsi/Kabupaten/Kota.21 - Tabel. b. 2... Tabel.........d . s...27 Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Tahun ..d .24 Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Tahun ..... 3. dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. s. 1. Nilai tukar petani Untuk hasil penghitungan terhadap nilai tukar petani (NTP)... 3.C.. Jumlah Total pengeluaran rt (3) Jumlah rt (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota....**) Kabupaten/Kota/Kecamatan... Provinsi/Kabupaten/Kota..*) No 1..C. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 3...qqq Provinsi/Kabupaten/Kota. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota..**) Dst . .. 2. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (persentase konsumsi RT untuk non pangan) Untuk menghitung jumlah konsumsi non pangan perkapita. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.*) No (1) 1...... c...C.T-III. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan.......*) No (1) Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.**) Indeks Yang Diterima Petani (lt) (3) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) (4) Rasio (5=3/4) Dst .T-III.. Total pengeluaran RT non pangan Total pengeluaran Rasio *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota......**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.T-III.. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (lt) Indeks Yang Dibayar Petani (lb) Rasio (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.26 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun ..T-III... dapat disajikan ke dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel..C. Jumlah *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 3.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data..25 Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun .*) NO Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) 1. 2. 2..

**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 2.... dan jumlah penginapan/hotel. luas wilayah industri..22 - Tabel. . dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.. dapat disajikan kedalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh diatas. luas wilayah produktif... Jumlah Total Pengeluaran Rt Non Pangan (3) Total Pengeluaran (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 3.. 3. 2. kelas./2.29 Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Tahun ..*) No 1. Berikut ini disajikan beberapa contoh hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur sebagai berikut: a....T-III.. Provinsi/Kabupaten/Kota.. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan..) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.C. jenis.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang.. jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun.C. Uraian Realisasi RTRW Rencana Peruntukan RTRW Rasio (1..*) No (1) 1.d . luas wilayah kekeringan.. s.. luas wilayah perkotaan.. Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan.. jenis dan jumlah bank dan cabang.. luas wilayah kebanjiran.. 4...T-III. kelas. Provinsi/Kabupaten/Kota. jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kemampuan ekonomi daerah sesuai dengan kewenangan provinsi/kabupaten/kota.. persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih.... ketaatan terhadap RTRW. Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Untuk menghitung ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon... 5. rasio ketersediaan daya listrik...28 Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Menurut Kabupaten/kota Tahun .. persentase rumah tangga yang menggunakan listrik. jenis. 4..**) Dst .**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator-indikator: rasio panjang jalan per jumlah kendaraan.. dan jumlah restoran...

jumlah perda yang mendukung iklim usaha.) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 10. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...d ..T-III....C. a.3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas.23 b.. 7...30 Persentase Luas Wilayah Produktif Tahun .*) No (1) 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota/Kecamatan*) (2) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 3... dan apabila tabel kabupaten/kota diisi dengan nama kecamatan berkenaan. Jumlah Luas Wilayah Produktif (3) Luas Seluruh Wilayah Budidaya (4) Rasio (5=3/4) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..*) No 1. 5...... .*) No 1...T-III. Luas wilayah produktif Untuk menghitung luas wilayah produktif dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel. persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa....32 Angka Kriminalitas Provinsi/Kabupaten/Kota.. 2.**) Dst ..C. Provinsi/Kabupaten/Kota.T-III... 8. Jenis Kriminal Jumlah kasus narkoba Jumlah kasus pembunuhan Jumlah kejahatan seksual Jumlah kasus penganiayaan Jumlah kasus pencurian Jumlah kasus penipuan Jumlah kasus pemalsuan uang Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah penduduk Angka kriminalitas (8)/(9) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. jumlah demo...**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. 2. 4.. Uraian Luas wilayah produktif Luas Seluruh wilayah budidaya Rasio (1/2.**) Kabupaten/Kota/Kecamatan.31 Persentase luas Wilayah Produktif Tahun . Tabel.. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus fasilitas/infrastruktur wilayah sesuai dengan kebutuhan untuk provinsi dan kabupaten/kota. 6... 4.C.. s....... Angka kriminalitas Untuk menghitung angka kriminalitas dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. dan **) Jika tabel provinsi diisi sesuai nama kabupaten/kota berkenaan..**) Kabupaten/Kota/Kecamatan. 3. lama proses perijinan.. Menurut Kabupaten/Kota/Kecamatan Provinsi/Kabupaten/Kota. 9. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel seperti contoh di atas dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini..

.. 4.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-III..T-III. b. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.. Uraian Jumlah penduduk usia < 15 tahun Jumlah penduduk usia > 64 tahun Jumlah penduduk usia tidak produktif (1) &(2) Jumlah penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus iklim berinvestasi sesuai dengan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.. Jumlah Demonstrasi Untuk menghitung jumlah demontrasi. dapat disajikan ke dalam bentuk grafis atau tabel sesuai dengan kebutuhan daerah seperti contoh di atas..C..C.*) No 1.34 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Provinsi/Kabupaten/Kota. s. dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. 5. 4. 3.35 Rasio Ketergantungan Tahun .*) NO 1.33 Jumlah Demo Provinsi/Kabupaten/Kota. 4.. a. Jumlah lulusan S1 Jumlah lulusan S2 Jumlah lulusan S3 Jumlah lulusan S1/S2/S3 Jumlah penduduk Rasio lulusan S1/S2/S3 (4/5) Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.24 b.. 3.. 5.. 6. Kualitas tenaga kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3) Hasil analisis rasio lulusan S1/S2/S3 dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Provinsi/Kabupaten/Kota.C.. 2.d .. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Hasil analisis rasio ketergantungan dapat disajikan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel. dengan merujuk pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini....T-III. ..4 Fokus Sumber Daya manusia Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan S1/S2/S3..*) No 1 2 3 4 Uraian (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Bidang politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah unjuk rasa *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 2.

1.1 2.1.2.1.1.3 2.. 2.1. Administrasi keuangan daerah.2.3 2.1.T-III.1. PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid Dst …… Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….3 2.1.1 1.3 2.1.1 2.2.1.1. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst …… Dst …… Dst….3.3 1.1.. 1.1.4 2.1 2.2.2.1.3.1 3.2. .2 2.2 2.1.2. sebagai berikut: Tabel.2.1 2.1 1.3.1.1. Pelayanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst….2. Dst….2.2.2 1.3 1.C.2.1.1.2 2.1.1 2. Dst… Dst….1.3.2. 1.2.1.2 2.1.1.1. 1.3 2.2 2.1 2. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.25 Hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi dapat dirangkum dalam bentuk tabel..1..2.2.36 Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/Kota.2.1.*) Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah.2 2.2.1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi PDRB per kapita Dst….1.1.1.1 2.1.1 1. 1.1 2.1. Pemerintahan Umum.1.2 2. pustu per satuan penduduk Dst….1.1.1 2. poliklinik.2.1 2..1.1.4 1.2.1. Perangkat Daerah. 1.1.1.1 2.1.3 2.1.2 2..2 2.2.1.2.2 1.1. Dst…… DAYA SAING DAERAH (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 1.

Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan (money follow function). dan pembiayaan.1.1.2.1.1.1. termasuk segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah.1.2.1 3. data lima tahun didiskusikan bersama.4 3.1.26 - Capaian kinerja No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Kemampuan Ekonomi Otonomi Daerah.3 3.3.1 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1 3. Tim penyusun dapat melibatkan tim yang berasal dari bagian/biro/dinas keuangan untuk menyiapkan data dan analisis. belanja. Dst… (n-5) (n-4) (n-3) (n-2) (n-1)**) Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) 3. meliputi: aset dan hutang daerah serta ekuitas dana.2.2 3.3 3. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan daerah diwujudkan dalam suatu APBD maka analisis pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan keuangan daerah pada umumnya. Perangkat Daerah. analisis dilakukan terhadap penerimaan daerah yaitu pendapatan dari penerimaan pembiayaan daerah. Dst ….2.1. belanja dan pembiayaan sesuai dengan kewenangan. C.2 3.2 3. . Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah.3 3.2.1 3.2 3.1 3.1 3.2.2.1. Analisis dan diskusi juga dilakukan terhadap perkembangan neraca daerah. Administrasi keuangan daerah.1. Kapasitas keuangan daerah pada dasarnya ditempatkan sejauh mana daerah mampu mengoptimalkan penerimaan dari pendapatan daerah. Dibutuhkan pemahaman yang baik tentang realisasi kinerja keuangan daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya. Menganalisis pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan provinsi dan kabupaten/kota terlebih dahulu harus memahami jenis obyek pendapatan.1.4. Berbagai objek penerimaan daerah dianalisis untuk memahami perilaku atau karakteristik penerimaan selama ini.3 3. Data-data perkembangan realisasi anggaran.1.1 3.2.1.1.2. Pemerintahan Umum.2 3. susunan/struktur masing-masing APBD..2 3. Hasilnya didiskusikan di tingkat tim.2.1 3. Selanjutnya.2.1. Analisis Pengelolaan Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang.2. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst …… Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. meliputi: pendapatan..

inflasi dan lain-lain). 1.2.T-III. 1. 1 1.2.. (2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi. (3) Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah. untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah. Provinsi/Kabupaten/Kota. Mengingat masing-masing rincian objek memiliki perilaku atau karakteristik yang berbeda. 1.3.1.. Analisis dilakukan berdasarkan pada data dan informasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pendapatan daerah. analisis difokuskan pada objek dan rincian objek sumber-sumber pendapatan daerah.1.C.3.1.G-III.2. Gambar. (4) Kebijakan dibidang keuangan negara. maka masing-masing daerah dapat mengembangkan teknik dan penghitungan sendiri yang dianggap paling akurat.2.1. 1.*) No.4.1.27 Selanjutnya.2. dibuatlah analisis untuk mengidentifikasi proyeksi pendapatan daerah....2. s/d Tahun .37 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun..1.. PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) .1. 1.. 1. Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di bawah ini. 1. dan dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. 1.3.3 Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah Kebijakan di bidang Keuangan Negara Asumsi indikator makro ekonomi Angka rata-rata pertumbuhan setiap objek pendapatan daerah Tingkat Pertumbuhan Pendapatan daerah Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi Dengan kerangka di atas. 1.. antara lain: (1) Angka rata-rata pertumbuhan pendapatan daerah masa lalu..C. Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kapasitas pendapatan daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun kedepan.

*) No A 1 2 3 4 5 6 7 8 B 1 2 3 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Uraian (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Berlaku hanya untuk provinsi Papua.. dilakukan: 1) Analisis belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran realisasi dari kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan daerah pada periode tahun anggaran sebelumnya yang digunakan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan dimasa datang dalam rangka peningkatan kapasitas pendanaan pembangunan daerah.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. ...C. dilakukan dengan mengisi Tabel.3. maka = tahun 2010 = tahun 2009 = tahun 2008 Untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan alokasi dana.3 1.2 1. Keterangan: tahun n-1 tahun n-2 tahun n-3 tahun n-4 tahun n-5 n-1 n-2 n-3 = = = = = satu tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD dua tahun lalu sebelum tahun ke-1 RPJMD tiga tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD empat tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD lima tahun sebelum tahun ke-1 RPJMD misalnya tahun ke-1 RPJMD = tahun 2011....T-III. Berlaku untuk kabupaten/kota...3.3. Papua Barat dan Aceh.4 1.28 - No.TIII.3.1 1. 1. Diisi sesuai dengan ketersediaan data.38 Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Provinsi/Kabupaten/Kota..38 berikut: Tabel.3..C.5 Hibah Dana darurat Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya ***) Dana penyesuaian dan otonomi khusus****) Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Analisis ini sekurang-kurangnya dilakukan melalui: a) proporsi realisasi belanja daerah dibanding anggaran.

. ***) Dapat ditetapkan menjadi prioritas untuk dilakukan efisiensi Selanjutnya dilakukan analisis proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur untuk 3 (tiga) tahun terakhir dengan tabel sebagai berikut: Tabel.29 b) Analisis proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur yang dilakukan dengan cara mengisi Tabel.39 dan kolom (b) berasal dari data realisasi APBD.. Sosialisasi dan Bimbingan Teknis PNS**) Belanja premi asuransi kesehatan Belanja makanan dan minuman pegawai***) Belanja pakaian dinas dan atributnya**) Belanja Pakaian Khusus dan Hari-hari Tertentu*) Belanja perjalanan dinas**) Belanja perjalanan pindah tugas Belanja Pemulangan Pegawai Belanja Modal (Kantor. Pelatihan.T-III. Analisis terhadap realisasi pengeluaran wajib dan mengikat dilakukan untuk menghitung kebutuhan pendanaan belanja dan pengeluaran pembiayaan yang tidak dapat dihindari atau harus dibayar dalam suatu tahun anggaran.. bunga. Meubelair..*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Tambahan Penghasilan**) Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja pemungutan Pajak Daerah**) Belanja Langsung Belanja Honorarium PNS**) Belanja Uang Lembur**) Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Kursus. belanja jasa kantor...T-III.39 minimal 3 (tiga) tahun terakhir sebagai berikut: Tabel.C.40 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota...C.T-III. peralatan dan perlengkapan dll) TOTAL (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Belanja periodik yang wajib dan mengikat adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan dibayar setiap tahun oleh Pemerintah Daerah seperti gaji dan tunjangan pegawai serta anggota dewan...T-III.C. sewa kantor yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya.. c) Analisis belanja periodik dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama. Mobil Dinas.. Tabel diatas menjadi dasar untuk menentukan kebijakan efisiensi anggaran aparatur selama periode yang direncanakan... Keterangan : Sumber data pada kolom (a) berasal dari Tabel.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data...... ..*) No 1 2 3 Uraian Tahun anggaran (n-3) Tahun anggaran (n-2) Tahun anggaran (n-1)**) Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) (a) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (b) Prosentase (a) / (b) x 100% *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.39 Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota.C. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

. Analisis dilakukan dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah. Keterangan : menghitung rata-rata pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama dapat mempergunakan rumus pada analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Total pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama pada tabel diatas menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan anggaran belanja yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat ditunda dalam rangka penghitungan kapasitas riil keuangan daerah dan analisis kerangka pendanaan... Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di bawah ini.C.. Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis.4 Analisis Proyeksi Belanja Daerah Asumsi indikator makro ekonomi Kebijakan Pembiayaan Daerah Angka rata-rata pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama pendapatan daerah Tingkat pertumbuhan pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama Kebijakan Pemerintah yang mempengaruhi belanja tidak langsung & belanja pendidikan .. d) Analisis proyeksi belanja daerah Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kebutuhan belanja tidak langsung daerah dan pengeluaran pembiayaan yang bersifat wajib dan mengikat serta prioritas utama. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. telepon dan sejenisnya ) Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor (yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst … Pembiayaan Pengeluaran Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran pokok utang Dst… TOTAL (A+B+C) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. seperti honorarium guru dan tenaga medis serta belanja sejenis lainnya.30 Belanja periodik prioritas utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik oleh Pemerintah Daerah dalam rangka keberlangsungan pelayanan dasar prioritas Pemerintah Daerah yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan.*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 C 1 2 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Dst.. Analisis realisasi pengeluaran dimaksud antara lain dilakukan dengan mengisi Tabel.T-III.. Gambar. air.C.C..G-III.41 berikut: Tabel.41 Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota..T-III.... Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik.

...*) Data Tahun Dasar (Rp) Tingkat pertum buhan (%) Proyeksi Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 Uraian Belanja TidakLangsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis...T-III. 6.*) NO 1..42 Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota. Uraian Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: Belanja Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) . 3.. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor (khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik. 2.. 2) Analisis pembiayaan daerah Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dari pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun-tahun anggaran sebelumnya terhadap surplus/defisit belanja daerah sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan dimasa datang dalam rangka penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah.. telepon dan sejenisnya ) Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst sesuai kriteria wajib mengikat Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran pokok utang TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA C 1 2 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. air.C...T-III....43 Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota...TIII.. A 4.. Analisis pembiayaan daerah dilakukan melalui: a) Analisis sumber penutup defisit riil Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran masa lalu tentang kebijakan anggaran untuk menutup defisit riil anggaran Pemerintah Daerah yang dilakukan dengan mengisi Tabel. 5.C...43 berikut: Tabel.31 Tabel.C.

**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... 3.T-III.. 6..*) Proporsi dari total defisit riil No. Tabel. Gambaran masa lalu terkait komposisi realisasi anggaran SILPA Pemerintah Daerah dilakukan dengan mengisi data realisasi anggaran pada Tabel...T-III. dapat diketahui kinerja APBD tahun sebelumnya yang lebih rasional dan terukur.44 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.45 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.C. Berdasarkan tabel analisis di atas. 2. 5. 1. 6.45 berikut.. B A-B Uraian Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-III...C.*) (n-3) No. Dengan mengetahui SILPA realisasi anggaran periode sebelumnya. 7.. 5. Uraian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) 1.. b) Analisis Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran tentang komposisi sisa lebih perhitungan anggaran. 2..C. kemudian disusun tabel analisis untuk mengetahui gambaran komposisi penutup defisit riil sebagai berikut. Tabel.. 3. 8. Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Uraian Rp % dari SiLPA Rp (n-2) % dari SiLPA (n-1)**) Rp % dari SiLPA Rata-rata pertumbuhan*) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 9.. 4.. 7... 4.32 (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) NO 7.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Keterangan : gunakan rumus menghitung rata-rata pertumbuhan .

G-III.T-III. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.46 Sisa Lebih (riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Provinsi/Kabupaten/Kota. Analisis dilakukan berdasarkan data dan informasi yang dapat mempengaruhi besarnya sisa lebih riil perhitungan anggaran dimasa yang akan datang.46 berikut: Tabel.C..33 c) Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara riil sisa lebih pembiayaan anggaran yang dapat digunakan dalam penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah. Hasil analisis dapat digunakan untuk menghitung kapasitas penerimaan pembiayaan daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan.C. d) Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran sisa lebih riil perhitungan anggaran.. (2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi. 1..5 Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah Asumsi indikator makro ekonomi Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan ratarata pertumbuhan Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan Tingkat pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan Kebijakan Efisiensi belanja daerah dan peningkatan pendapatan daerah ..T-III. (3) Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah.C. antara lain: (1) Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan rata-rata pertumbuhan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta kegiatan lanjutan..*) No. (4) Kebijakan efisiensi belanja daerah dan peningkatan pendapatan Gambar.. Analisis dilakukan dengan mengisi Tabel. 3.. inflasi dan lain-lain)... Saldo kas neraca daerah Dikurangi: 2. Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Uraian (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...

. yaitu rasio untuk melihat berapa lama dana tertanam dalam bentuk persediaan (menggunakan persediaan untuk memberi pelayanan publik). Jenis rasio likuiditas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain : a. rata-rata piutang pendapatan daerah = (saldo awal piutang + saldo akhir piutang) : 2 b... Rata-rata umur piutang = 365 : perputaran piutang Dimana : Perputaran piutang = pendapatan daerah/rata-rata piutang pendapatan daerah... Sedangkan.C. solvabilitas dan rasio aktivitas serta kemampuan aset daerah untuk penyediaan dana pembangunan daerah.*) Data tahun dasar (Rp) Tingkat pertum buhan (%) Proyeksi Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) No 1.. b. 3) Analisis neraca daerah Analisis neraca daerah bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan Pemerintah Daerah melalui perhitungan rasio likuiditas.T-III.34 - Tabel. Jenis rasio solvabilitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain: a. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 2. Jenis rasio aktivitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain: a. hari yang diperlukan untuk melunasi piutang (merubah piutang menjadi kas). b..47 Proyeksi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota... yaitu rasio untuk melihat berapa lama.. Rata-rata umur persediaan = 365 : perputaran persediaan Dimana : Perputaran persediaan = nilai persediaan yang digunakan dalam satu tahun: rata-rata nilai persediaan. Rata-rata umur piutang. dihitung dengan formula sebagai berikut. Sedangkan. Uraian Saldo kas neraca daerah Dikurangi: Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran 1.. Rasio total hutang terhadap total aset = total hutang : total aset Rasio hutang terhadap modal = total hutang : total ekuitas (3) Rasio aktivitas adalah rasio untuk melihat tingkat aktivitas tertentu pada kegiatan pelayanan Pemerintah Daerah. Rasio lancar Rasio quick = aktiva lancar : kewajiban jangka pendek = ( aktiva lancar – persediaan ) : kewajiban jangka pendek (2) Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Rata-rata umur persediaan. rata-rata nilai persediaan = (saldo awal persediaan + saldo akhir persediaan) : 2 . Analisis data neraca daerah sekurang-kurangnya dilakukan untuk hal-hal sebagai berikut: (1) Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. dihitung dengan formula sebagai berikut.

· · · · Selanjutnya.T-III. 3. dengan menggunakan tabel berikut: . sebagai berikut: Tabel.48 disusun Tabel.48 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.C. besaran masing-masing sumber penerimaan memiliki kebijakan pengalokasian yang harus diperhatikan.T-III. antara lain: · Penerimaan retribusi pajak diupayakan alokasi belanjanya pada program atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan layanan dimana retribusi pajak tersebut dipungut. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah sebagaimana telah dihitung pada bagian di atas dan ke pos-pos mana sumber penerimaan tersebut akan dialokasikan..T-III.. Penerimaan dana bagi hasil agar dialokasikan secara memadai untuk perbaikan layanan atau perbaikan lingkungan sesuai jenis dana bagi hasil didapat... Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama..35 4) Analisis Kerangka Pendanaan Analisis kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. Penerimaan dari dana alokasi khusus dialokasikan sesuai dengan tujuan dimana dana tersebut dialokasikan. dihitung dengan mengisi tabel.. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.49 dapat dihitung rencana penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi kebutuhan anggaran belanja langsung dan belanja tidak langsung dalam rangka pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. Pendapatan Pencairan dana cadangan (sesuai Perda) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total penerimaan Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 4. Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) 1. Penerimaan dana alokasi umum diprioritaskan bagi belanja umum pegawai dan operasional rutin pemerintahan daerah. Berdasarkan Tabel.C.C. untuk menentukan kapasitas riil keuangan daerah. 2.*) Proyeksi No. Sebelum dialokasikan ke berbagai pos belanja dan pengeluaran. Penerimaan dari pendapatan hasil pengelolaan aset daerah yang dipisahkan dialokasikan kembali untuk upaya-upaya peningkatan kapasitas dimana dana penyertaan dialokasikan sehingga menghasilkan tingkat pengembalian investasi terbaik bagi kas daerah..

bersifat monumental.*) Proyeksi No I Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II. Di samping itu. dimana prioritas I mendapatkan prioritas pertama sebelum prioritas II. Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik. prioritas II dan prioritas III. Keterangan : Surplus anggaran diperbolehkan apabila nilainya tidak material dan tidak dapat digunakan untuk membiayai suatu program Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia. Suatu prioritas II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.a+II. prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan..b Belanja Langsung Pembentukan dana cadangan Dikurangi: II.C.d II Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total Rencana Pengeluaran Prioritas I (II. Prioritas II Program Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPD yang merupakan penjabaran dari analisis per urusan.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. berskala besar.49 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III. Prioritas III mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya.a II..a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III. kemudian dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai urutan prioritas.. Prioritas I Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala daerah sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi prioritas I..36 - Tabel. memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggi pada capaian visi/misi daerah.T-III..b-II.. termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% (duapuluh persen). dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi.a-III.cII.c II.. .d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II III.

Pengalokasian dana pada prioritas III harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar. Perumusan permasalahan pembangunan daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan dibuat.T-III. Dengan demikian. dan III) bukan menunjukkan urutan besarnya persentase tetapi lebih untuk keperluan pengurutan pemenuhan kebutuhan pendanaannya. belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa serta belanja tidak terduga. Identifikasi permasalahan pembangunan dapat diuraikan menurut bidang urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah. II. Identifikasi permasalahan pembangunan daerah merupakan salah satu input bagi perumusan tujuan dan sasaran yang bersifat prioritas sesuai platform Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.37 Prioritas III Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti: tambahan penghasilan PNS. Suatu program pembangunan daerah harus menjabarkan dengan baik sasaran-sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan tujuan dan sasaran dari visi dan misi rencana pembangunan 5 (lima) tahun. Besar persentase ditentukan sesuai analisis umum tentang kapasitas pendanaan dari program prioritas yang dibayangkan akan menunjang prioritas dimaksud. Evaluasi atau analisis dari penyelenggaraan pembangunan daerah dimasa lalu cukup baik untuk mendapatkan gambaran yang diinginkan. belanja hibah. C. Penetapan persentase masing-masing prioritas bersifat indikatif sebagai panduan awal tim perumus dalam menetapkan pagu program atau pagu SKPD. baris total pada tabel untuk masingmasing kolom persentase harus selalu berjumlah 100%. kelemahan yang tidak diatasi. kapasitas riil keuangan daerah dapat dialokasikan sebagaimana tabel berikut: Tabel.5.50 Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah Alokasi Tahun I Tahun II Tahun III % Rp % Rp % Rp No. Untuk itu. Secara simultan persentasi tersebut dipertajam ketika program prioritas untuk masing-masing jenis prioritas (prioritas I dan II) telah dirumuskan. dialokasikan untuk persentasi final prioritas III. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah di masa lalu. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal. Hal ini bertujuan agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan . 1.. dan ancaman yang tidak diantisipasi.1.C. peluang yang tidak dimanfaatkan. Adapun. diperlukan identifikasi berbagai permasalahan pembangunan daerah untuk menjabarkan pencapaian sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan mencapai tujuan dan sasaran RPJMD. Baris total untuk kolom rupiah dapat menunjukkan total kapasitas riil keuangan daerah yang telah dihitung pada bagian sebelumnya. belanja bantuan sosial organisasi kemasyarakatan. Sisanya. 2. C.1. 3. Jenis Dana Prioritas I Prioritas II Prioritas III Total Tahun IV % Rp Tahun V % Rp Penetapan persentase tiap tahun sesuai urutan prioritas (I.5. Identifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan terhadap lingkungan internal maupun eksternal dengan mempertimbangkan masukan dari SKPD. Identifikasi Permasalahan Untuk Penentuan Program Pembangunan Daerah Sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dijabarkan dalam program pembangunan daerah sesuai dengan arah kebijakan pembangunan daerah periode 5 (lima) tahun berkenaan.1. atau terhadap beberapa urusan yang dianggap memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap munculnya permasalahan pada bidang urusan lainnya.

3.2.38 urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah guna menentukan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah. urusan-urusan tersebut tetap harus dilaksanakan untuk menjaga kinerja yang telah dicapai di masa-masa lalu atau memenuhi standar layanan bagi masyarakat. 1. dilakukan dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. penting untuk menyertakan identifikasi terhadap faktor-faktor penentu keberhasilan pada tiap-tiap permasalahan daerah.5. Masing-masing permasalahan yang ada kemudian diuraikan lagi untuk mengetahui faktor-faktor.T-III. Identifikasi Permasalahan Pemerintahan Daerah untuk Pemenuhan Penyelenggaraan Urusan Dengan keterbatasan kapasitas keuangan daerah dan karakteristik alokasi belanja daerah.C. C.*) No Sasaran Pokok RPJPD Indikator dan Target RPJPD Permasalahan Pembangunan Daerah Faktor-faktor Penentu Keberhasilan 1. Secara operasional.C. baik secara internal maupun eksternal. tiap-tiap permasalahan juga diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilannya dimasa datang. Dst. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Dari tabel di atas. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.2. Maksud dari analisis permasalahan pembangunan diseluruh urusan penyelenggaraan pemerintahan adalah guna menjamin diperolehnya identifikasi permasalahan penyelenggaraan seluruh urusan pemerintahan.. 3. diuraikan permasalahan yang paling krusial tentang layanan dasar sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD melalui penilaian terhadap capaian kinerja yang masih jauh dari harapan atau belum mencapai target yang ditetapkan dalam RPJMD. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar: Bidang Urusan Dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Interpretasi Belum Tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Permasalahan Faktor –Faktor Penentu Keberhasilan (2) (4) (5) . Untuk mendapatkan gambaran awal bagaimana permasalahan daerah dipecahkan. diluar permasalahan program pembangunan daerah. Identifikasi permasalahan pada tiap urusan dilakukan dengan memperhatikan capaian indikator kinerja pembangunan tiap urusan untuk mendapatkan rumusan permasalahan.51 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Program Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota……. Faktorfaktor penentu keberhasilan adalah faktor kritis. tidak berarti bahwa urusan dimaksud tidak diselenggarakan Pemerintah Daerah.1. tidak semua penyelenggaraan urusan dapat diprioritaskan atau terkait dengan sasaran pokok (RPJPD) dan tujuan serta sasaran pembangunan daerah (RPJMD) dalam suatu periode. dan faktor-faktor lainnya yang memiliki daya ungkit yang tinggi dalam memecahkan permasalahan pembangunan atau dalam mewujudkan keberhasilan penyelenggaraan urusan pemerintahan Di tingkat SKPD. Namun demikian. 2.52 Identifikasi Permasalahan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi/Kabupaten/kota……*) No (1) 1. hasil kinerja.T-III. yang menjadi pendorong munculnya permasalahan tersebut. 1.1. 1.

4.3. 2. Kolom (2) diisi dengan bidang urusan/indikator. 4.T-III. Indikator pada tiap-tiap urusan dijadikan input utama bahan analisis. Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Persentase rumah tinggal bersanitasi Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk Dst….1.1. 2. 1.3.6. Bidang Urusan Dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Interpretasi Belum Tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Permasalahan Faktor –Faktor Penentu Keberhasilan (2) Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid Dst….5. 5. pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Dst…. bidang urusan urutannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pada indikator sesuai pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Penataan Ruang Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB Rasio bangunan ber.39 - No (1) 1. 5. 4. 3. 5.3.1. 5.3. 2. 3. 3. 3.1.2. 3.. 4. 1..2. Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih Rumah layak huni Dst….C. 2. Kolom (3) diisi dengan interprestasi hanya pada kolom urusan berdasarkan pada analisis indikator-indikator sesuai pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini.5. 2.6. Kolom (4) diisi dengan permasalahan pembangunan daerah.3. Dst… (4) (5) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Tata cara pengisian Tabel.5.2.3.IMB per satuan bangunan Ruang publik yang berubah peruntukannya Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….2.4. 3. Perlu diperhatikan bahwa pengisian tabel di atas difokuskan pada indentifikasi permasalahan pembangunan pada tiap-tiap urusan.4.2.1. poliklinik. .3. 6. 5.3. 1.7. Kesehatan Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas. 2. 5.6. 3. dan Kolom (5) diisi dengan faktor-faktor penentu keberhasilan. 4. 5. 2. 2.4.52: Kolom (1) diisi dengan nomor urut.

1.. diisi dengan kebijakan provinsi yang mengacu pada RPJMD provinsi atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebijakan yang diidentifikasi dapat berupa peluang atau. Disamping itu.. (1) 1. Hasil telaahan kebijakan selanjutnya disusun ke dalam tabel sebagai berikut: Tabel. 4.1.T-III. diisi dengan kebijakan pemerintah yang mengacu pada RPJMN atau dari sumber informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan...6. provinsi maupun kabupaten/kota.2. tidak termasuk kolom 3 Cara Pengisian Tabel. Penalaahan RPJMN & RPJMD Provinsi Penelaahan kebijakan pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN merupakan salah satu identifikasi faktor-faktor eksternal yang bertujuan untuk mendapatkan butir-butir kebijakan pemerintah terpenting.53 Identifikasi Kebijakan dalam RPJMN dan RPJM Provinsi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. diisi dengan identifikasi kebijakan pemerintah selain bersumber dari dokumen RPJPN dan/atau kebijakan Gubernur selain yang ditetapkan dalam RPJPD provinsi. 5. agar perencanaan pembangunan yang berhubungan dengan rencana jangka menengah atau program kewilayahan daerah lain dapat selaras maka telaahan dari RPJMD daerah lain juga perlu dilakukan. Hasil telaahan pada dasarnya dimaksudkan sebagai sumber utama bagi identifikasi isu-isu strategis.6.. perlu dilakukan telaahan terhadap pemerintah dibidang pembangunan nasional yang ditetapkan dalam RPJMN yang berhubungan atau mempengaruhi pembangunan daerah. Penelaahan RPJMD Daerah Lainnya C.C. RPJMN (2) RPJMD Provinsi (3) Lain-lain (4) Dst *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Keterangan: Untuk pengisian tabel tingkat provinsi. 3. C. yang dapat dipertanggungjawabkan.40 C. sebaliknya. atau dalam satu wilayah kepulauan atau yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan . ancaman bagi daerah selama kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang... Penyusunan RPJMD juga memperhatikan dokumen RPJMD daerah lainnya agar tercipta keterpaduan pembangunaan jangka menengah daerah dengan daerah sekitar. Sedangkan penelaahan kebijakan pembangunan nasional untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota dilakukan terhadap dokumen RPJMN dan RPJMD provinsi atau kebijakan pemerintah dan provinsi terkait dengan pembangunan daerah kabupaten/kota.*) NO.T-III. Penelaahan kebijakan pembangunan nasional untuk penyusunan RPJMD provinsi dilakukan terhadap dokumen RPJMN atau kebijakan pemerintah terkait dengan pembangunan daerah provinsi....1.C. dan berpengaruh langsung terhadap perencanaan pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan.1. 6. 2.. Penelaahan RPJMN dan RPJMD Daerah Lainnya Agar perencanaan pembangunan daerah mengadopsi atau selaras dengan kebijakan pembangunan nasional.53: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai dengan urutan isu di tingkat nasional.6. yang berhubungan.

C. Adanya persamaan permasalahan pembangunan yang memerlukan upaya pemecahan bersama. dalam hal tidak dimanfaatkan. mendesak. Bagi .C. Daerah Lain Periode RPJMD Kebijakan Terkait Keterangan *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang.41 atau dengan daerah lain yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan daerah. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan. Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan.7. Oleh karena itu. Perlunya suatu daerah menelaah RPJMD daerah lain karena alasan: 1. bersifat kelembangaan/keorganisasian dan menentukan tujuan di masa yang akan datang.1.*) No.. identifikasi kebijakan dari dokumen RPJMD daerah lain dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Secara teknokratis. untuk memperoleh rumusan isu-isu strategis diperlukan analisis terhadap berbagai fakta dan informasi yang telah diidentifikasi untuk dipilih menjadi isu strategis. Pemerintahan daerah yang tidak menyelaraskan diri secara sepadan atas isu strategisnya akan menghadapi potensi kegagalan dalam melaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi tanggungjawabnya atau gagal dalam melaksanakan pembangunan daerah. Adanya kebijakan pemerintah menetapkan daerah sebagai bagian dari kesatuan wilayah/kawasan pembangunan. 3. dan 4. mendasar. Jika dinamika eksternal. diidentifikasi dengan baik. Adanya persamaan kepentingan atau tujuan atau upaya-upaya strategis yang harus disinergikan. penentuan sesuatu atau kondisi menjadi isu strategis dapat didukung dengan menerbitkan pedoman atau kriteria oleh kepala daerah atau kepala Bappeda. khususnya selama 5 (lima) tahun yang akan datang.. Analisis Isu-isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal yang bersifat penting. Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan. Adanya agenda pembangunan kewilayahan yang menentukan kewenangan bersama. Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan. Selanjutnya. utamanya daerah-daerah yang letaknya berdekatan. akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya.T-III. Oleh karena itu.54 Identifikasi RPJMD Daerah Lain Provinsi/Kabupaten/Kota. maka pemerintahan daerah akan dapat mempertahankan/meningkatkan pelayanan pada masyarakat.. 2. berjangka panjang...

Penentuan data atau informasi menjadi isu strategis sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Sumber lain bagi informasi atau isu strategis dari lingkungan eksternal (misal. penemuan-penemuan teknologi. Metode penentuan isu-isu strategis yang dapat digunakan antara lain: 1) Focussed Group Discussion (FGD) Forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman dalam merumuskan atau memahami isu-isu strategis perencanaan pembangunan daerah. Luasnya dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat.C. Kriteria lain dapat dikembangkan sesuai kebutuhan/dinamika daerah. Tabel. Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah. selanjutnya melakukan upaya-upaya rutin untuk memantau peluang dan ancaman lingkungan eksternal. akan banyak peluang-peluang penting akan hilang. Faktor penting lain yang perlu diperhatikan dalam merumuskan isu-isu strategis adalah telaahan terhadap visi.55 Identifikasi Isu-Isu Strategis No (1) 1 2 3 4 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Isu Strategis Dinamika Internasional (2) Dinamika Nasional (3) Dinamika Regional/Lokal (4) Lain-lain (5) Cara Pengisian Tabel. dunia riset. Dengan demikian. lalu menentukan sumber-sumber informasi yang tepat. nasional. 3. misi dan program kepala daerah terpilih. usaha/ bisnis.55: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan. 4..C. Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional. dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan. dari masyarakat.42 daerah yang lebih berhasil menciptakan sistem informasi perencanaan pembangunan daerah. dan lain-lain) skala regional. sosial budaya. 5. dan RPJMN agar rumusan isu yang dihasilkan selaras dengan cita-cita dan harapan masyarakat terhadap kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih serta kebijakan pemerintah dalam jangka menengah. 2. FGD diarahkan untuk memilih kategori isu atau kecenderungan dalam 5 (lima) tahun mendatang. .T-III. Kemungkinan atau kemudahannya untuk dikelola. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional. dunia swasta. dan internasional yang berkorelasi atau mempengaruhi tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah juga merupakan unsur penting yang perlu diperhatikan dan menjadi masukan dalam menganalisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah. kebijakan Pemerintah Daerah tidak lagi bersifat reaktif tetapi lebih antisipatif. Memiliki daya ungkit yang sigiifikan terhadap pembangunan daerah. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi se-wilayah provinsi/kab/kota. perguruan tinggi. lembaga nonprofit. dan Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan. 6. Tanpa itu.T-III. dengan ancaman tidak dikenali atau terlambat diantisipasi. diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik.

C..C.C.56 sebagai berikut: Tabel.T-III.55 dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.57 Nilai Skala Kriteria No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dst. maka langkah selanjutnya adalah menentukan mana isu strategik yang paling prioritas dan akan dijadikan dasar bagi penyusunan visi dan misi.C.55 s. Salah satu metode untuk menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan. Isu Strategis (2) Nilai Skala Kriteria 3 4 5 (5) (6) (7) Total skor (10) 1 (3) 2 (4) 6 (8) Dst… (9) Cara Pengisian Tabel. Bobot (contoh) 20 10 20 10 15 25 *) a) Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan bobot pada Tabel.43 - 2) Pembobotan Setelah berbagai isu diidentifikasi dan dilakukan FGD untuk memahami usulan dan masukan tentang berbagai isu strategik. dapat dilakukan dengan mengisi Tabel.57: Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (10) diisi dengan nomor urut diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi pada Tabel. .C.C.d Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria.56 Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah Dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan masyarakat Memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan.T-III..T-III.T-III.T-III.T-III.

.T-III.T-III. Untuk memudahkan penelaahan RPJPD dapat menggunakan hasil evaluasi hasil pelaksanaan RPJPD. Sasaran Pokok Indikator & Target Kinerja 20 Tahun Realisasi Kinerja s. Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya.d Periode Terakhir*) Target Sasaran Pokok RPJPD pada Periode RPJMD tahun ..58: Kolom (1) diisi dengan nomor urut. misi. maka visi.C. Tim perumus harus menelaah sasaran pokok RPJPD dan tingkat capaian kinerja sampai dengan periode penyusunan RPJMD. misi.C. kegiatan prioritas. Perumusan Penjelasan Visi dan Misi Bagian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.. Hasil telaahan RPJPD selanjutnya dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel.59 Hasil Telaahan RPJPD No. Cara Pengisian Tabel.C.. seperti pemrioritaskan program prioritas. . Kolom (2) diisi sesuai dengan isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional. dan lain-lain. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.58 Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No. dan program kepala daerah merupakan hasil proses politik terpilihnya Kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. sebagai landasan perumusan rumusan tujuan dan sasaran dengan memperhatikan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. yang tertuju pada arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah pada periode berkenaan yang ditetapkan dalam RPJPD Mengingat visi.1.. Kolom (3) diisi dengan total akumulasi nilai skor dari isu-isu strategis. usulan permasalahan pembangunan. C.44 b) Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta.T-III..8.. yang dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. nasional dan regional. Penelaahan RPJPD Penelaahan RPJPD merupakan langkah utama dalam perumusan RPJMD mengingat RPJMD merupakan penjabaran dari tahapan pembangunan periode 5 (lima) tahunan berkenaan dalam RPJPD. dijadikan sebagai substansi dan . menjadi bahan utama penyusunan tujuan dan sasaran RPJMD.1. Hasil penelaahan sampai dengan periode terakhir dibandingkan dengan target kinerja sasaran pokok periode RPJMD yang akan disusun. (1) Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) 1 2 3 4 Dst.. *) sampai dengan periode terakhir sebelum penyusunan RPJMD C.9.. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis.

Dari penjelasan di atas. relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pembangunan di daerah. Perumusan Penjelasan Visi Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada). penting bagi tim untuk memahami bagaimana seharusnya visi dan misi yang baik dibuat. Namun demikian. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). wajar dan layak untuk dicapai dengan situasi. 3. demi mendapatkan dokumen perencanaan yang baik. 3. C. manageable. dengan memperhatikan sasaran pokok dan arah kebijakan RPJPD periode berkenaan.1.. Pedoman utama penyusunan visi kepala daerah (saat mencalonkan) adalah bagaimana menyesuaikannya dengan sasaran pokok sesuai dengan arah kebijakan pembangunan lima tahun periode berkenaan. Disertai dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan kebijakan. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku (imaginable). kepemimpinan yang berbeda dapat menghasilkan visi dan misi yang berbeda pula tergantung tekanan dan prioritas pembangunan masing-masing. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. penjelasan visi dan misi juga dimaksudkan untuk menyempurnakan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Untuk dapat menyusun penjelasan visi dan misi dimaksud. Kriteria suatu penjelasan visi dan misi. Visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih seharusnya menggambarkan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai (desired future) dalam masa jabatan selama 5 (lima) tahun sesuai misi yang diemban. Dengan demikian. 2. 4. 3. Disertai penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan di daerah. 2. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable). kondisi dan kapasitas yang ada (feasible). Dapat menyelaraskan muatan visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. dan Sejalan dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah. efisien dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focussed).45 rujukan utama penyusunan RPJMD. strategi dan program (articulative). Menjelaskan visi dan misi dalam kriteria yang memudahkan penerjemahannya ke dalam tujuan dan sasaran yang terukur. 2. Kriteria suatu rumusan visi antara lain sebagai berikut: 1. . 5. maka visi dan misi tersebut perlu dikembangkan dan dijabarkan sesuai prinsip perencanaan pembangunan daerah. Syarat visi yang baik: 1. sebagai berikut: 1. Memusatkan perhatian kepada isu dan permasalahan utama daerah. agar tujuan dan sasaran pembangunan selama 5 (lima) tahun dapat dijabarkan secara efektif dalam mencapai tujuan utama pembangunan daerah. dan selaras dengan manajemen pemerintahan daerah. Menerjemahkan pernyataan visi dan misi ke dalam butir-butir penjelasan yang mudah dipahami dan tidak bias. sepanjang secara substantif tidak keluar dari makna yang sesungguhnya. Menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka menengah.1. Untuk mencapai indikator dan target dari sasaran pokok yang sama. kedudukan RPJMD sangat penting untuk dapat menerjemahkan berbagai kemungkinan perbedaan visi dan misi calon kepala daerah lainnya dengan kepala daerah yang terpilih sehingga menjadi landasan penyusunan dokumen RPJMD yang dapat dioperasionalkan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan. Memungkinkan. 4.9.

harus dirujuk sasaran pokok RPJPD periode berkenaan untuk menghasilkan penjelasan visi yang selaras dengan arah kebijakan RPJPD periode berkenaan.46 5. Rumusan misi dalam dokumen RPJMD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis. Dalam mengembangkan penjelasan visi.1. misi juga dapat didefinisikan sebagai komitmen terbaik terhadap stakeholder. spesifik dan jelas horizon waktunya. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. Dengan gambaran misi yang demikian. Kriteria suatu rumusan misi: 1. ringkas dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti semua pelaku (communicable). Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Visi kepala daerah yang telah diuraikan menjadi pokok-pokok visi harus dijelaskan untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Tabel. Dalam suatu dokumen perencanaan. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan. kelemahan.61 Perumusan Penjelasan Misi No. C. Pokok-pokok Visi Misi/Sub-misi Penjelasan Misi . dan mudah diingat.2. Disini. 7. dan Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. Penelaahan terhadap visi kepala daerah menghasilkan pokok-pokok visi yang diterjemahkan dalam pengertiannya sebagaimana tabel berikut ini: Tabel. 2.9. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah.T-III. Rumusan misi yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi yang ingin dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan.. jelas dan padat. Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan visi daerah. Perumusan Penjelasan Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Ada banyak stakeholder pembangunan daerah. Penjelasan visi memuat penjabaran kriteria dan indikator-indikator keberhasilan untuk mewujudkan visi. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi. tim menelaah misi kepala daerah dan makna serta implikasinya bagi perencanaan pembangunan.C. 6. Suatu alasan menjelaskan jati diri yang sesungguhnya dari Pemerintah Daerah. Disusun dengan menggunakan bahasa yang ringkas. utamanya adalah masyarakat sebagai objek (tujuan) sekaligus subjek (pelaku) pembangunan. lalu menerjemahkannya ke dalam pernyataan misi sesuai kriteria pernyataan misi sebagaimana telah dijelaskan di atas. pernyataan misi sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana. Secara teknokratis. dan 3. Oleh karena itu. Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi.T-III.60 Perumusan Penjelasan Visi No.C. sederhana. misi dapat dirumuskan menjadi alasan mengapa organisasi ada.

dan sasaran. Di sini.. jelas bahwa tujuan dan sasaran pembangunan daerah mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan pembangunan daerah secara keseluruhan. tujuan dan sasaran merupakan dampak (impact) keberhasilan pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapain berbagai program prioritas terkait. baik pada dampak. Hal ini mengingat bilamana visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak dijabarkan secara teknokratis dan partisipatif kedalam tujuan dan sasaran. Pengembangan rencana pembangunan daerah lebih ditekankan pada target kinerja. Perumusan Tujuan dan Sasaran Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja pembangunan daerah secara keseluruhan. tujuan dan sasaran Renstra SKPD untuk periode 5 . Dalam hal ini. Perumusan tujuan dan sasaran dari visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah menjadi landasan perumusan visi.1. misi. program dan kegaiatan yang secara totalitas menjadi arsitektur kinerja pembangunan daerah. maka program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih akan mengalami kesulitan dalam mengoperasionalisasikannya kedalam sistem penyelenggaraan pemerintahan. Perumusan tujuan dan sasaran merupakan salah satu tahap perencanaan kebijakan (policy planning) yang memiliki kritikal poin dalam penyusunan RPJMD. Selaras dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka perencanaan pembangunan daerah pun menggunakan prinsip yang sama. Secara skematik keterkaitan antara visi. dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar. misi dengan perumusan tujuan dan sasaran.C. C.10.6 Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah Visi/Misi Dampak (Impact) Tujuan/ Sasaran Hasil pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapaian outcome “ Apa yang ingin diubah “ Program Hasil (Outcome) Manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu sebagai hasil dari output “ Apa yang ingin dicapai “ Kegiatan Keluaran (Output) Produk/barang/jasa adalah yang dihasilkan dari proses/kegiatan yang menggunakan input. peran dari penjelasan visi dan misi sangat penting agar proses penyusunan tujuan dan sasaran memenuhi syarat supaya selaras dengan sasaran pokok RPJPD. hasil.G-III. program. “ Apa yang dikerjakan dan dihasilkan (barang) atau dilayani (proses)“ Input Sumberdaya yang memberikan kontribusi dalam menghasilkan output “ Apa yang digunakan dalam bekerja“ Dari gambar di atas. maupun keluaran dari suatu kegiatan.47 Tabel diatas digunakan untuk merumusan penjelasan misi. Perumusan penjelasan misi merupakan penyelarasan dari arah kebijakan 5 (lima) tahun misi kepala daerah terpilih dan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah.

Merumuskan rancangan capaian indikator yang terukur dari setiap sasaran. melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah. 2. 4. dan Disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. dapat di jelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. rasional. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. Kriteria suatu rumusan tujuan pembangunan: 1. 1. spesifik.G-III. 3. mudah dicapai.7 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah Kepala Daerah Kepala SKPD Visi/misi SKPD dibuat untuk secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung atau mewujudkan visi misi Kepala Daerah Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Program Pembangunan Daerah Program Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Program Pembangunan Daerah berisi program-program prioritas terpilih yang menjadi “top priority” untuk mewujudkan visi/misi Kepala Daerah (RPJMD) RPJMD RENSTRA SKPD Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. 2. untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. 4. Merumuskan rancangan pernyataan-pernyataan sasaran dari setiap tujuan. Dalam hal pernyataan tujuan belum sepenuhnya memecahkan isu-isu strategis maka pernyataan tujuan perlu disempurnakan. Dirumuskan untuk mencapai atau menjelaskan tujuan. dan Memenuhi kriteria SMART-C. Merumuskan rancangan pernyataan tujuan dari setiap misi dan melihat kesesuaian dengan program kepala daerah terpilih. Diturunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi pembangunan daerah yang telah ditetapkan dengan memperhatikan visi.. 4. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. sekurangkurangnya memenuhi indikator kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 3. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. Untuk mewujudkan suatu misi dapat dicapai melalui beberapa tujuan.48 (lima) tahun. . Kriteria sasaran memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. 2. Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur. dan Langkah – langkah perumusan tujuan dan sasaran: 3. Kuatnya hubungan kedua lembaga antara kepala daerah dan SKPD dalam perumusan tujuan dan sasaran untuk mewujudkan visi dan misi.C. Menguji apakah rancangan pernyataan tujuan dapat memecahkan isu-isu strategis dalam jangka menengah. Untuk mencapai satu tujuan dapat dicapai melalui beberapa sasaran.

Tujuan 2     Tujuan 3     Dst . Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa suatu tujuan yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya harus diselaraskan jika masih terdapat isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang belum dipecahkan melalui perumusan sasaran..C.. yang mana sasaran pokok RPJPD ditempatkan sebagai syarat minimal yang harus ada dalam tujuan RPJMD.......... dapat dimungkinkan mengingat bahwa tujuan dalam RPJMD lebih dimaksudkan menerjemahkan misi..49 5................ ... ........ dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel................ ... ............ ..... ............... PPD 2 .... .. Yang demikian.     Tujuan 2 ..T-III......... ...... .. Perumusan sasaran dengan mengisi tabel.... Menyelaraskan rancangan pernyataan-pernyataan sasaran dan capaian indikator yang terukur terhadap pernyataan arah kebijakan dan sasaran RPJMN untuk penyusunan rancangan awal RPJMD provinsi serta rancangan awal RPJMD kabupaten/kota......C..... Dari tabel di atas tampak bahwa perumusan tujuan pada dasarnya dilakukan terhadap tiaptiap misi dengan memperhatikan sasaran pokok dimana suatu tujuan berkorelasi... .. Tujuan 1 ......... sasaran dan indikator kinerja sasaran...... ..T-III.....63 Pengujian Tujuan terhadap Isu Strategis dan Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 ...... Dst     Tujuan 4     ............ selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Tabel diatas juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa seluruh sasaran pokok RPJPD telah memiliki tujuan dalam RPJMD............... ....................... ..62 Perumusan Tujuan terhadap Misi kepala daerah dan Sasaran Pokok RPJPD Sasaran Pokok Misi KDH Sasaran Pokok 1 Sasaran Pokok 2 Sasaran Pokok 3 Dst Misi 1 ...     ... Dalam hal kepala daerah terpilih menyertakan sub-misi pada masing-masing misi maka tujuan dibuat dengan melihat atau mempertimbangkan sub-sub misi...... Berdasarkan masing-masing tujuan yang telah disepakati dibuat sasaran untuk kuantifikasi lebih lanjut dan lebih teknis dapat dikelola pencapaiannya..     Dst ............ Suatu tujuan dapat saja hanya berkorelasi pada misi........ PPD 3 ............ Rancangan tujuan RPJMD selanjutnya diuji apakah telah dapat menjawab berbagai isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah................ Dst     Tujuan 1 ... ... ..... Dalam hal suatu isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah tetap tidak dapat ditemukan atau dibuatkan tujuannya maka perlu disepakati dalam forum perumus bahwa atas isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang dianulir dan tidak dimasukkan dalam prioritas pembangunan daerah periode rencana...... ........ namun tidak berkorelasi dengan sasaran pokok RPJPD. Misi 2 .... ..... Misi 3 ......................... sebagai berikut: .. Hasil rumusan tujuan...

Validitas indikator kinerja dapat dibedakan berdasarkan gap antara indikator kinerja dan sasaran strategis yang dapat dilihat pada gambar berikut: . atau sasaran bukan hal yang mudah. Well Defined.C. kualitas atau harga. serta realisasi tujuan dan sasaran strategis. Indikator kinerja dipilih seyogyanya merupakan indikator kinerja exact. : indikator yang mengukur hasil tidak secara langsung. target kinerja harus menggambarkan secara langsung pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah daerah dan memenuhi kriteria specific. program. Approriate. Reliable. yaitu indikator yang digunakan akurat dan dapat mengikuti perubahan tingkatan kinerja. Tingkat validitas indikator kinerja dibagi menjadi: a. c. time bond dan continously improve (SMART-C). yaitu indikator yang digunakan diukur dengan skala penilaian tertentu yang disepakati. Cost-effective. b. Exact Proxy Activity : ukuran yang ideal untuk mengukur hasil pencapaian sasaran strategis yang diharapkan. Namun. b. biaya. dan waktu dari kegiatankegiatan yang berdampak pada sasaran strategis yang bersangkutan.T-III. program.50 Tabel. Kualitas indikator kinerja ditentukan oleh: Tingkat validitas indikator kinerja ditentukan berdasarkan tingkat kedekatan indikator kinerja tersebut dengan tujuannya. yaitu definisi indikator jelas dan tidak bermakna ganda sehingga mudah untuk dimengerti dan digunakan. dapat berupa pengukuran secara kuantitas. Measurable. yaitu memungkinkan proses validasi dalam sistem yang digunakan untuk menghasilkan idikator. e. kegunaan indikator sebanding dengan biaya pengumpulan data. Relevant. achievable. dimungkinkan digunakannya indikator proxy atau activity dengan catatan bahwa terus diupayakan untuk mendapatkan (yang mengarah pada) indikator exact dimasa-masa datang. Indikator dan target kinerja dinyatakan dengan jelas pada tahap perencanaan dan pada akhir pelaksanaan. : indikator kinerja yang mengukur jumlah. relevant. dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: a. measurable. tetapi sesuatu yang mewakili hasil tersebut. Hal ini untuk menjamin aspek akuntabilitas pencapaian kinerja. disadari bahwa penentuan suatu indikator kinerja atas kegiatan. d.. Karena indikator dimaksud memiliki gap mendekati nol atau sama sekali tidak ada gap dalam menjelaskan indikator kinerja yang diukur. yaitu indikator yang dipilih harus sesuai dengan upaya peningkatan pelayanan/kinerja. c. yaitu indikator terkait secara logis dan langsung dengan tugas institusi. Misi/Sub-misi Tujuan Sasaran Indikator Target - Perumusan indikator kinerja dan capaian kinerja tersebut harus dapat digunakan untuk mengukur capaian keberhasilan program pembangunan jangka menengah daerah. Dalam hal karena kesulitan dalam mendapatkannya. f. atau sasaran yang diukur. g. Verifiable. Kualitasnya ditentukan sejauh mana indikator benar-benar dapat mewakili (perilaku) dari kegiatan. Oleh karena itu.64 Rumusan Sasaran dan Indikator No.

perumusan strategi membutuhkan keseriusan dan kemampuan berpikir bagi anggota tim yang terlibat dalam perumusan. High b. Size of Gap . Suatu tingkat kendali Menunjukan sejauh mana kemampuan suatau organisasi dalam mengontrol/mengelola pencapaian target indikator kinerja: a.C. dan pemanfaatan teknologi informasi. dibutuhkan metodologi atau teknis dalam menentukan program/kegiatan prioritas apa suatu target kinerja akan dicapai dalam 5 (lima) tahun.11. Moderate c. strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi.51 Gambar. : Pencapaian target sangat dipengaruhi secara dominan oleh unit/individu lain.G-III. sistem manajemen. Dibutuhkan pendalaman materi dan analisis data serta diskusi yang tidak kenal lelah demi menghasilkan strategi terbaik untuk mencapai tujuan dan sasaran RPJMD. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah (strategy focussed-management).11. C.1. : Pencapaian target juga dipengaruhi unit/individu lain.. Low : Pencapaian target secara dominan ditentukan oleh unit/individu yang bersangkutan. tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik. C.8 Tingkat Validitas Indikator Kinerja Sasaran Strategis Indikator Kinerja Exact Sasaran Strategis Size of Gap Sasaran Strategis Indikator Kinerja Proxy Indikator Kinerja Activty Indikator kinerja dan upaya-upaya untuk mencapainya juga mempertimbangkan tingkat kendali (degree of contollability) pemerintahan daerah atas apa yang ditargetkan dari kinerja tersebut. Metodologi itulah berupa perumusan strategi. Rumusan strategi berupa pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien. Perumusan Strategi dan Arah Kebijakan Setelah tujuan dan sasaran dan indikator kinerja RPJMD dirumuskan.1. Dengan pendekatan yang komprehensif. Perumusan Strategi Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan. reformasi. Sebagai proses yang abstrak dan kompleks. termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi. dan perbaikan kinerja birokrasi.1.

3.Program Prioritas Perencanaan Strategik Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Perencanaan Operasional .52 Rumusan strategi juga harus menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana Pemerintah Daerah menciptakan nilai tambah (value added) bagi stakeholder pembangunan daerah. Perencanaan Operasional yaitu perencanaan yang menekankan pada pencapaian kinerja layanan pada tiap urusan. 4. akuntabel dan berkomitmen terhadap kinerja. 1.Visi dan Misi .Tujuan dan Sasaran . Melalui parameter tersebut.C. Layanan yang bernilai tambah diciptakan secara berkelanjutan dalam proses internal Pemerintah Daerah. dan Suatu strategi yang baik harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip: 3. Strategi didasarkan pada capaian kinerja pembangunan dan pemenuhan kebutuhan layanan yang berbeda tiap segment masyarakat pengguna layanan. Menerjemahkan strategi kedalam bentuk yang operasional.Sasaran Pokok . 2. 2.Program Prioritas Dibutuhkan komitmen agar strategi yang telah disepakati juga dijalankan. dan pemangku kepentingan.G-III.Arah Kebijakan RPJMD 5 Tahun . dan Memobilisasi perubahan melalui kepemimpinan yang baik. Menjadikan strategi sebagai komitmen dan rutinitas birokrasi. Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis.Visi dan Misi . Lima prinsip manajemen untuk menciptakan komitmen dalam menjadikan strategi sebagai basis perencanaan pembangunan daerah adalah: 1. Perencanaan Strategik yaitu perencanaan pembangunan daerah yang menekankan pada pencapaian visi dan misi pembangunan daerah.Strategi dan Arah kebijakan . transparan. Di sini penting untuk mendapatkan parameter utama yang menunjukkan bagaimana strategis tersebut menciptakan nilai (strategic objective).. strategi harus dikendalikan dan dievaluasi (learning process). Menjadikan strategi sebagai proses yang berkelanjutan. Perencanaan sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi kepala daerah ke dalam rencana kerja yang actionable.Program Pembangunan Daerah . Arsitektur perencanaan pembangunan daerah dipisahkan menjadi dua: 1. 2. Menyelaraskan organisasi sesuai pilihan strategi jangka menengah. 5.9 Pemisahan Rencana Strategis dan Operasional RPJPD 20 Tahun . Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. . Strategi dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertolak-belakang. dapat dikenali indikasi keberhasilan atau kegagalan suatu strategi sekaligus untuk menciptakan budaya “berpikir strategik” dalam menjamin bahwa transformasi menuju pengelolaan keuangan pemerintah daerah yang lebih baik.

.....53 4..................................... .............. dapat secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis sebagaimana bagan berikut: Gambar.......... ..................................... Pertama................ Dalam hal...C.... .................. Suatu strategi....................................................G-III........ ....... peluang/opportunities dan tantangan/threats).... dan Melakukan evaluasi untuk menentukan pilihan langkah yang paling tepat antara lain dengan menggunakan metode SWOT (kekuatan/strengths................ ............... Strategi terdiri dari tema-tema yang secara simultan saling melengkapi membentuk cerita atau skenario strategi.................... ............10 Keterkaitan Sasaran Dengan Strategi Sasaran 1 Strategi 1 atau Sasaran 1 Sasaran 2 Strategi 1 Sasaran 2 Strategi 2 Sasaran 3 Dari gambar di atas............................................................................................................................. dengan langngkah-langkah meliputi: 3...................................... jelas bahwa perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak.............. dengan dengan terlebih dahulu melakukan analisis SWOT (strength........... ... Satu strategi dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran.....65 Identifikasi SWOT Internal (+) Kekuatan ................................................. Diskusi-diskusi yang intens akan sangat membantu penajaman ... ......... Langkah-langkah merumuskan strategi sebagai berikut: 1............................ weakness................................................... Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan untuk setiap langkah yang akan dipilih.............................. dipetakan kebutuhan informasi untuk analisis SWOT (atau TOWS) dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel........... ..... Menyusun alternatif pilihan langkah yang dinilai realistis dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan...................... Pemetaan SWOT di atas sangat penting untuk memahami kondisi riil daerah termasuk di dalamnya Pemerintah Daerah...... satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut............... (-) Kelemahan .............. ............................................ ...................................... ....................................... menentukan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran atau kumpulan sasaran yang inherent........C........................................................ dan threats)........ opportunity.. Melalui analisis data-data dan hasil prosesproses pada tahapan sebelumnya.......................... beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema...... kelemahan/weaknesses. (-) Ancaman ....... 2........................T-III.............. Eksternal (+) Peluang ...................................................................

T-III. selanjutnya diuraikan ke dalam tabel sebagai berikut: Penentuan Alternatif Strategi No.C. Dst.C. Tabel. ……………… 3.T-III. Penggunaan metode SWOT di sini lebih karena kesederhanaan dan banyak dipahami berbagai kalangan.. ……………… 3. ……………… 2. dst … Ancaman: 1. Penting untuk menekankan bahwa strategi harus dipandang sebagai satu kesatuan skenario-skenario selama periode 5 (lima) tahun.T-III. ……………… 2. dst … Faktor Eksternal Faktor Internal Kekuatan: 1. dst …… Alternatif Strategi: 1. ……………… 2.67 Ketiga. ……………… 3. ……………… 2. . Kedua. dst …… Pengembangan alternatif strategi dapat menggunakan metode atau teknik lain sepanjang dapat dipertanggungjawabkan. dst …… Alternatif Strategi: 1. 1. ……………… 3.C. ……………… 3. 2. dst …… Alternatif Strategi: 1. ……………… 3. ……………… 2. ……………… 2. menentukan strategi dari beberapa alternatif strategi. dapat dilakukan melalui: 1) 2) 3) 4) Dibahas kembali melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman di bidang manajemen strategik. pemangku kepentingan lainnya. dst …… Kelemahan: 1. ……………… 2. dst …… Alternatif Strategi: 1. Menggunakan kombinasi antara FGD dengan metode lainnya untuk objektifitas pemilihan strategi. alternatif strategi yang dipilih.66 Penentuan Alternatif Strategi dan Indikator Sasaran Peluang: 1. Pemilihan strategi yang paling tepat diantara berbagai alternatif strategi yang dihasilkan dengan metode SWOT. Pengujian dilakukan pada tingkat pembahasan tim. Atas dasar informasi yang telah terbagi dalam 4 (empat) kuadran di atas dirumuskan alternatif strategi sebagai berikut: Tabel. Kinerja Sasaran Indikator Kinerja Sasaran Alternatif Strategi *) `*) Diisi dengan alternatif strategi yang dipilih dari Tabel. Menggunakan metode Balanced Scorecard. untuk menghasilkan perumusan strategi yang pada akhirnya dapat selaras dengan pilihan program yang tepat maka rumusan strategi harus dipetakan (strategy mapping).66 Keempat. ……………… 3. 3. agar secara seimbang melintasi lebih kurang empat perspektif: 1) Perspektif masyarakat/layanan: bagaimana strategi dapat menjadikan pengaruh langsung terhadap pengguna layanan atau segmen masyarakat. ……………… 2. ……………… 3. Menggunakan metode pembobotan dengan cara seperti yang dilakukan terhadap penentuan isu-isu strategis.54 tiap komponen.

Merumuskan draft arah kebijakan. 3. Mengidentifikasi tiap sasaran dan target kinerja tiap tahun. Langkah-langkah merumuskan arah kebijakan sebagai berikut: 1. 2. Membantu menghubungkan tiap-tiap strategi kepada sasaran secara lebih rasional. dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjamin terselenggaranya layanan pemerintahan daerah yang baik (good governance) dalam jangka panjang. 4. teknologi. Perumusan Arah Kebijakan Arah kebijakan adalah pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5 (lima) tahun. dan 6.55 2) 3) Perspektif proses internal: strategi harus mampu menjadikan perbaikan proses dan pemberian nilai tambah pada proses birokrasi (internal business process). Perspektif kelembagaan: strategi harus mampu menjelaskan dengan investasi apa pada sistem. Kriteria suatu rumusan arah kebijakan. Menguji apakah rancangan arah kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Menetapkan arah kebijakan untuk menghubungkan strategi pada sasaran dan kapan harus diselenggarakan diuraikan kedalam tabel sebagai berikut: Tabel. Memutuskan arah kebijakan. 3. FGD atas bahan-bahan yang telah diidentifikasi.. dan 4. Perspektif keuangan: strategi harus dapat menempatkan aspek pendanaan sebagai tujuan sekaligus sebagai konstrain (cost-effectiveness) serta untuk mencapai manfaat yang terbesar dari dana yang terbatas (allocative efficiency).T-III.11. antara lain: 1. Dirumuskan bersamaan dengan formulasi strategi. 5. Mengarahkan pemilih strategi agar selaras dengan arahan dan sesuai/tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.2.1. Memperjelas kapan suatu sasaran dapat dicapai dari waktu ke waktu. 2.68 Perumusan Arah Kebijakan Pembangunan No. 4) C. Tujuan Sasaran Arah Kebijakan Arah Kebijakan Th 1 Arah Kebijakan Th 2 Arah Kebijakan Th 3 Arah Kebijakan Th 4 Arah Kebijakan Th 5 Strategi .C. sebelum atau setelah alternatif strategi dibuat. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya. Mengidentifikasi permasalahan dan isu strategik terkait tiap tahun.

C.. diperoleh sarana untuk menghasilkan atau diperolehnya berbagai program yang paling efektif mencapai sasaran. 2. 3.56 Terhadap atribusi waktu. strategi harus dirumuskan secara spesifik terhadap horizon waktu. Menjelaskan strategi lebih spesifik. Melalui kebijakan umum diperoleh cerita strategi melalui program-program yang saling terkait dan rasional dalam mendukung pencapaian indikator dan target sasaran yang ditetapkan. operasional dan fokus. Strategi dapat dijalankan dari atas dalam 1 (satu) tahun periode. Perumusan Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator kinerja sasaran yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan jangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang ditetapkan. berdasarkan arah kebijakan. Melalui rumusan kebijakan umum. Dengan arah kebijakan.1. Keberhasilan capaian satu program mendukung atau memicu keberhasilan program lainnya. Namun. kebijakan umum dibuat dalam empat perspektif sesuai strateginya. Kriteria suatu rumusan kebijakan umum antara lain: 1. dibutuhkan kebijakan umum agar dapat merangkai program-program prioritas yang inherent. strategi dapat diterangkan secara logis kapan suatu strategi dijalankan mendahului atau menjadi prasyarat bagi strategi lainnya. konkrit. Namun. dan Mengarahkan pemilihan program agar tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan dan kepentingan umum.11 Strategi Pelaksanaan Arah Kebijakan Sasaran Pokok/ Target Kinerja Arah Kebijakan Tahun 1 Strategi 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Sasaran I Sasaran II Strategi 2 Strategi 3 Sasaran III Strategi 4 Strategi 5 Sasaran IV Strategi 6 Strategi 7 Sasaran V Dari diagram di atas.G-III. Urut-urutan strategi dari tahun ke tahun selama 5 (lima) tahun dipandu dan dijelaskan dengan arah kebijakan.12. sebagai berikut: . suatu strategi juga dapat dijelaskan pelaksanaannya sesuai tahapan. Untuk itu. Mengarahkan pemilihan program yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. Agar kebijakan umum dapat dijadikan pedoman dalam menentukan program prioritas yang tepat. dapat pula membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. yang terpenting keseluruhan strategi harus menjadi strategi pembangunan daerah yang padu dan mampu memberdayakan segenap potensi daerah dan pemerintahan daerah sekaligus memanfaatkan segala peluang yang ada. sebagaimana kerangka logis sebagai berikut: Gambar.C.

Setelah kebijakan umum dibuat.. Suatu program pembangunan daerah dapat berupa pernyataan yang disamakan atau sekurang-kurangnya mengandung program kepala daerah terpilih yang didalamnya berisi program prioritas yang bersifat strategis. efisiensi belanja. dan upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas keuangan daerah demi mendukung strategi pembangunan daerah. dengan mengisi tabel berikut: Langkah awal untuk mengidentifikasi program-program prioritas apa yang akan dirumuskan bagi suatu strategi adalah dengan membuat kebijakan umum di 4 (empat) perspektif tiap strategi dan diidentifikasi indikator kinerjanya. kebutuhan dan aspirasi mereka dan layanan apa yang harus diberikan. Kebijakan pada perspektif proses internal adalah kebijakan bagi operasionalisasi birokrat dan lembaga pemerintahan yang mendorong proses penciptaan nilai dari proses inovasi. Suatu program prioritas bersifat strategis mengikuti arsitektur kinerja. Kebijakan pada perspektif keuangan yaitu kebijakan yang memberi jalan bagi upaya untuk mengefektifkan alokasi anggaran. dengan mengisi tabel berikut: . 2.G-III. pengembangan barang/jasa publik. sebagai berikut: Gambar.C. dan pemanfaatan teknologi informasi bagi peningkatan kinerja operasional pemerintahan daerah. Kebijakan pada perspektif kelembagaan yaitu kebijakan yang mendorong upaya-upaya yang mengungkit kinerja masa depan berupa investasi pada perbaikan SDM. Tahap ini sangat penting dalam perumusan RPJMD karena hasil dari perumusan program pembangunan daerah menghasilkan rencana pembangunan yang kongkrit dalam bentuk program prioritas. Urgensi lain adalah juga karena perumusan program pembangunan daerah adalah inti dari perencanaan strategis itu sendiri yang mendefinisikan tujuan startegis dalam 5 (lima) tahun.12 Arsitektur Kinerja RPJMD antara kinerja Strategis dengan Oprasional Hasil/out come Program Pembangunan Daerah Perencanaan Strategik Program Prioritas (Strategik) Indikator Kinerja Strategis Lagging Leading Program Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Perencanaan Operasional Hasil/out come Program Prioritas (Operasional) Indikator Kinerja Oprasional Lagging Leading Langkah awal untuk mengidentifikasi program-program prioritas apa yang akan dirumuskan bagi suatu strategi adalah dengan membuat kebijakan umum di 4 (empat) perspektif tiap strategi dan diidentifikasi indikator kinerjanya. sistem. langkah selanjutnya adalah merumuskan program pembangunan daerah. Kebijakan pada perspektif masyarakat/layanan adalah kebijakan yang dapat mengarahkan kejelasan segmentasi masyarakat yang akan dilayani. Suatu program pembangunan daerah merupakan sekumpulan program prioritas yang secara khusus berhubungan dengan capaian sasaran pembangunan daerah. 3.57 1. 4. dan penyerahan layanan pada segmentasi masyarakat yang sesuai.

...... Strategi II Strategi III Kebijakan Umum: ..T-III.... (dst) Perspektif Masyarakat/ stakeholder (P1) (Tema Strategis: Perspektif 1 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 1 untuk strategis 3) Kebijakan Umum: .. 4. Perspektif Perspektif 1 Perspektif 2 Perspektif 3 Perspektif 4 Kebijakan Umum Indikator Strategi 2 Kebijakan Umum Indikator Strategi 3 Kebijakan Umum Indikator Strategi........ 2........13 Gambaran Analisis Strategi Sasaran A Sasaran B Sasaran C Sasaran . Kebijakan Umum: ........... melaui kebijakan umum. Berdasarkan kebijakan umum pada masing-masing perspektik dan indikator kinerja (outcome) yang dipersyaratkan maka dirumuskan berbagai jenis program terkait............. 3... Kebijakan Umum: ........ secara teknokratis diterjemahkan dalam program prioritas yang pada dasarnya dijabarkan dari strategi yang telah dirumuskan............... Bagi suatu perspektif yang tidak ada kebijakannya maka program prioritas pada perspektif tersebut tidak perlu dibuat....... (dst) Strategi I Kebijakan Umum: ....... rumusan kebijakan umum akan dibuat setiap perpektif mengenai masing-masing strategi.......... ..G-III...... (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 2) (Tema Strategis: Perspektif 4 untuk strategis 3) Suatu program pembangunan daerah..... Tiap-tiap strategi akan memiliki gambaran tema-tema strategik di masing-masing perspektif...... Perspektif Kelembagaan (P3) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 2) (Tema Strategis: Perspektif 3 untuk strategis 3) Perspektif Keuangan (P4) Kebijakan Umum: ..69 Perumusan Kebijakan Umum Strategi 1 No 1.. Kebijakan Umum: .(dst) Kebijakan Umum Indikator Dengan pengisian tabel di atas. Perspektif Proses Internal (P2) (Tema Strategis: Perspektif 2 untuk strategis 1) (Tema Strategis: Perspektif 2 untuk strategis 2) Kebijakan Umum: ...... Strategi ...... sebagai berikut: Gambar....C....... sebagaimana dijelaskan dalam diagram di bawah ini.C...58 Tabel..

..4.........P...b P.. I.. Keterkaitan antara program dengan strategi dan arah kebijakan menunjukan pentingnya kejelasan hubungan antara program prioritas dengan sasarannya.. ringkas mudah dimengerti sehingga dapat dijabarkan kedalam kegiatan.I.....P..P. Kebijakan Umum: .. (dst) Strategi I Kebijakan Umum: . tidak selalu tiap perspektif terdapat program prioritas. Perumusan program pembangunan jangka menengah daerah termasuk program prioritas di dalamnya. Lagging indicators adalah tolak ukur kinerja sebagai akibat atau hasil dari serangkaian tindakan lain.. I. kinerja masing-masing program dapat dipisahkan antara lagging indicators dan leading indicators.1..a P.4......59 Gambar.P..2. I...a P. II..P. Penentuan program diupayakan merata ditiap perspektif untuk menjaga kepaduan dan daya ungkit strategi terhadap target indikator kinerja sasaran pokok...a Perspektif Kelembagaan (P3) P. III........ Adapun leading indicators adalah kinerja yang memicu tercapainya hasil..c Perspektif Proses Internal (P2) P..1.3. Strategi II Strategi III Strategi .c Kebijakan Umum: ...P. III. P.. Selanjutnya. yaitu harus memperhitungkan bahwa program yang dirumuskan merupakan salah satu elemen dalam pencapaian rencana pembangunan jangka menengah daerah....P..P.P..b P.4.. III... I...P..a P... III....1.. I.. Kebijakan Umum: . c.. P....a P.2.P. Suatu indikator di perspektif paling atas adalah hasil (outcome measures) bagi indikator kinerja dari perspektif-perspektif yang ada dibawahnya (performance drivers). (dst) Kebijakan Umum: ..3.2.... dalam penyusunan program harus melibatkan SKPD berkenaan.b Perspektif Keuangan (P4) Kebijakan Umum: ....1.P...P..a P.a Keterangan: PP.3. II.1... I. Namun demikian.G-III. Program harus disusun dalam kerangka strategis pembangunan jangka menengah daerah. Kebijakan Umum: ..a: Program Prioritas untuk perspektif P1 pada strategi I. I....P.. ..P...P. Dari gambar diatas juga dapat dijelaskan bahwa suatu program atau perspektif (P4) dapat menjadi kebijakan umum yang berlaku bagi seluruh strategi.P.2. P........ memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.P....a P.. Penamaan program dengan kalimat sederhana.a P. I. III. tergantung strategi untuk mencapai sasaran..14 Arsitektur Pemetaan Strategi RPJMD Sasaran A Sasaran B Sasaran C Sasaran .. II. II....2..... II.......P..a P.. Program harus didefinisikan sebagai cara untuk mencapai target kinerja sasaran melalui strategi dan arah kebijakan. P. III. d. b.c P.1..2. Untuk meningkatkan rasa tanggung jawab atas pencapaian kinerja program... Tampak bahwa tiap strategi mengandung berbagai program yang inherent dan spesifik untuk mencapai sasaran masing-masing.1.d Perspektif Masyarakat (P1) P....C..b Kebijakan Umum: .b P..3....

.2.. Program III................ Indikator Kinerja Target Kinerja *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota...........b ........b .....1.....1..1..................c .... Disusun dengan melibatkan SKPD yang memiliki tugas dan fungsi terkait dengan outcome yang ditetapkan dalam pembangunan jangka menengah daerah...2.. Strategi III Program III.4............13.... Suatu program prioritas yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah pada dasarnya adalah perencanaan operasional. Perumusan Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Tahapan ini merupakan langkah teknokratis dalam menerjemahkan berbagai analisis dan metodologi perumusan sebelumnya ke dalam penyusunan program prioritas..........2......... sebagai berikut: Tabel... Program I. Disusun untuk menjadi acuan bagi SKPD dalam menyusun kegiatan yang akan dirumuskan dalam Renstra SKPD..2.....1....a .a ........ c.... Kebijakan Umum P3 Program I... Kebijakan Umum P2 2.. memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a............c ...a ... Program II.............*) No Strategi Kebijakan Umum Program Pembangunan Daerah/Program Prioritas Program I............. Program III.................. Kebijakan Umum P4 Program I.....d . Kebijakan Umum P1 Program III....a ..... Program III.........a ..a ........ Program I....3.... Program III.. Kebijakan Umum P3 Kebijakan Umum P4 Dst... Sebuah outcome dapat dicapai dengan satu atau beberapa output b. ......c . Program II..........2. rumusan program prioritas pada program pembangunan daerah dapat dituangkan dalam bentuk tabel................a ......1..... Strategi II Kebijakan Umum P3 Kebijakan Umum P4 Program II.. Program I.a .............3.......a .. 3.. Program II... Sesuai arsitektur perencanaan yang memisahkan antara aspek strategis dan operasional program prioritas dipisahkan pula menjadi 2 (dua) yaitu program prioritas untuk perencanaan strategis dan program prioritas untuk perencanaan operasional....1... Kebijakan Umum P1 Program I...60 Perumusan output/keluaran yang akan dihasilkan dalam rangka pencapaian outcome......a ................C..... Program II....................1........b .. Strategi I Program I...........4..............3...70 Perumusan Program Prioritas Pada Program Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota......... Dengan demikian..b ...b ...2........ C.T-III.3..................4...... Kebijakan Umum P2 1.

. Begitu pula dalam penganggarannya. sebagaimana tabel dibawah ini: Tabel.T-III. harus diprioritaskan terlebih dahulu. Suatu program prioritas.61 Suatu urusan menjadi strategis tergantung tujuan dan sasaran pembangunan dan bagaimana strategi pencapaiannya.C. Perumusan program prioritas bagi penyelenggaraan urusan dilakukan sejak tahap awal evaluasi kinerja pembangunan daerah secara sistematis dilakukan pada identifikasi permasalahan pembangunan diseluruh urusan (wajib dan pilihan). bagi program prioritas yang dikategorikan strategik.71 Perumusan Program Prioritas No Program Pembangunan Daerah (starategis) Permasalahan Pembangunan Daerah (Oprasional) Faktor Penentu Keberhasilan Program Indikator Kinerja Target Kinerja Perhitungan Pagu Indikatif Program Prioritas Setelah program prioritas diketahui baik berasal dari perumusan strategis maupun dari rumusan permasalahan pembangunan daerah. kinerjanya merupakan tanggung jawab Kepala SKPD. sebagai berikut: . Artinya. dibuatlah alokasi pagu untuk setiap program. Berdasarkan rumusan permasalahan pembangunan daerah di tiap urusan maka dibuatlah program prioritas dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan. Selanjutnya. Pagu indikatif program merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program prioritas tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Suatu urusan pemerintahan daerah dapat menjadi strategis di satu tahun atau periode dan sebaliknya. dan evaluasi yang dilakukan lebih tinggi intensitasnya dibanding yang operasional. tidak langsung dipengaruhi oleh visi dan misi kepala daerah terpilih. program prioritas bagi penyelenggaraan urusan pemerintahan dilakukan agar setiap urusan (wajib) dapat diselenggarakan setiap tahun. Berbeda dengan penyelenggaraan aspek atrategik. menjadi tanggung jawab bersama Kepala SKPD dengan kepala daerah pada tingkat kebijakan. suatu prioritas pada beberapa urusan untuk mendukung visi dan misi serta program kepala daerah terpilih. baik strategis maupun operasional. menjadi operasional diperiode berikutnya. perhitungan pagu indikatif masing-masing program dipisahkan menjadi pagu indikatif untuk program prioritas yang berhubungan dengan program pembangunan daerah (strategik) dan pagu indikatif untuk program-program yang berhubungan dengan pemenuhan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dengan kerangka. Yang demikian karena suatu urusan yang bersifat strategis ditetapkan temanya karena pengaruhnya yang sangat luas dan urgent untuk diselenggarakannya sangat tinggi. Namun. Dalam hal suatu urusan atau program/kegiatan didalamnya menjadi strategis maka perencanaan. tidak berarti bahwa urusan lain ditinggalkan atau diterlantarkan. pengendalian.

.....15 Kerangka Penghitungan Pagu Indikatif Perencanaan Strategik Dana Pada Prioritas I Dialokasikan Pagu Indikatif Program Prioritas Pada Program Pembangunan Daerah Dialokasikan Perencanaan Operasional Dana Pada Prioritas II Pagu Indikatif Program Prioritas Pada Penyelenggaraan Urusan Pemerintah daerah Lainnya Dengan demikian. Keluaran 2 ... ...G-III.................. c......... SKPD 2 Rp..C.... Berdasarkan jumlah total dana pada Dana Prioritas I dan II........ Rp. penentuan pagu indikatif pada masing-masing kelompok diatas..... ......... . Menghitung alokasi pagu dari setiap output kegiatan untuk setiap program........ Dst . b.. Menentukan keluaran/output setiap kegiatan pada program terkait. Rp. Keluaran 1 . Program 1 . SKPD 1 Pagu Program SKPD ..... . Rp... . .. d. Program dst .72 Perhitungan Pagu Program Prioritas pada Prioritas I Program Outcome Keluaran 1 .... sebagai berikut: Tabel. Menghitung alokasi pagu setiap program setelah output kegiatan pada setiap program diverifikasi kebenarannya.. Keluaran 2 ....... Rp...... Perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan mengisi tabel....... Dst ... Rp. dilakukan secara simultan antara nilai pagu indikatif masing-masing program prioritas........ Standar Belanja Rp... Rp... ... Program 2 ........ Rp.T-III.C. ... Dst .. Menghitung alokasi SKPD berdasarkan program yang menjadi tanggungjawab SKPD.. total pagu indikatif. perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan: a..... Keluaran 3 .. dan dana pada total dana Prioritas I/Prioritas II.62 Gambar... ......

Setelah pagu setiap kegiatan diketahui kemudian Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program.. Dst ..... ... indikator kinerja.. SKPD 2 Rp. .. Rp......... kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD......... Keluaran 1 .. Rp. Rp....73 Perhitungan Pagu Program Prioritas pada Prioritas II Program Outcome Keluaran 1 ..... ............. Standar Belanja Rp....... Rp. Dst ....... Keluaran 2 ........63 Tabel..... ........... ... bukan activity..C.... . Rp. Program 2 . ...................... .......T-III. Program 1 ... penghitungan pagu dapat dibuat pada level indikator proxy atau bahkan indikator exact dimana pagu dihitung dari standar belanja outcomes. yang dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: ... Rp......... Dst .. Keluaran 3 . Program dst . Rp. Keluaran 2 . SKPD 1 Pagu Program SKPD Dengan berjalannya waktu dimana proses pembelajaran dan terpenuhinya data-data kinerja lebih baik di masa datang... . kegiatan......

... Dst ...64 Tabel..........74 Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota.....................T-III.. 2 2 2 2 2 01 01 01 01 01 02 03 Urusan Pilihan Pertanian Program. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota . 1 03 Dst ... 1 1 1 02 02 02 01 02 Kesehatan Program........ Dst ..... Program.C............ Program...... 2 02 Dst ...... Dst .*) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan (2) Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja pada Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun-1 Target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 Target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) (17) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program.

Kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): Kolom (5) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada tahun pertama periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Uraian nama urusan pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Kolom (16) diisi dengan total jumlah pendanaan selama periode RPJMD mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. dilakukan sama dengan cara pengisian kolom (4) dan kolom (5) pada kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): b.. diisi sebagai berikut: a. Uraian nama program. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota. yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode RPJMD. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (2) diisi dengan: a. layanan.74 Kolom (1) diisi dengan dengan kode Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah/ Program. b.o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah.1.C. Cara pengisian Kolom (6) sampai dengan kolom (13) yang terdapat mulai dari kolom Tahun-2 (tahun kedua periode RPJMD) sampai dengan kolom Tahun-5 (tahun kelima periode RPJMD).14. khususnya dalam memenuhi kinerja pada aspek kesejahteraan. diisi dengan kondisi kinerja pada awal RPJMD Kolom (4) Kolom Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan untuk setiap baris program. . Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dari sisi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Indikator kinerja daerah secara teknis pada dasarnya dirumuskan dengan mengambil indikator dari program prioritas yang telah ditetapkan (outcomes) atau kompositnya (impact). Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). Penetapan Indikator Kinerja Daerah Setelah program prioritas dan pendanaan diketahui langkah selanjutnya adalah menetapkan indikator kinerja daerah. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Kolom (3) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome). Kolom (6) diisi dengan jumlah pendanaan pada tahun pertama periode RPJMD yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) yang ditetapkan.65 Tata cara pengisian Tabel. C. Kolom (Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD): Kolom (15) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode RPJMD untuk setiap program berkenaan.T-III. Pemerintahan Daerah Provinsi. dan daya saing. Kolom (17) Diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j.

3 3.75 Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/kota .4... 1.1. Otonomi Daerah. 1.3 2.1. 1.... 2.3. Pemerintahan Umum.2. Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid dst….C.3. Dst…… Dst. 2.. 2. .2. 1. 1. ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib 1. poliklinik.2 2.4.1.3. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst….2. 1.1. pustu per satuan penduduk Dst…. 1. 1.2..1.2.1.. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi provinsi PDRB per kapita Dst… Kesejahteraan Sosial 1.*) Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 (1) (2) (3) No.1. Dst.1. Perangkat Daerah. Perumusan indikator program prioritas dapat dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: Tabel.. 1....66 Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan....2.T-III.. 1. 1.. 1. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas.2.. 1. 1.1 1.. Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst….1 2...2.1. Administrasi Keuangan Umum. Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 1 (4) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. 1...

3. Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1.2. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst…. 3. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst….2. Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan aspek/fokus indikator kinerja pembangunan daerah (dapat merujuk pada lampiran I peraturan Menteri ini). Dst…… ASPEK DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi 1. Perangkat Daerah. 2.1. 1. Tata cara pengisian Tabel.3.1 Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst….2.67 - No. 2. 1.. 2. 2.4.1 Dst….. 1.3. 2. 2. 1. 1.2.1 Otonomi Daerah. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 Tahun 1 (4) Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) (1) (2) (3) 3. Pelayanan Urusan Pilihan 1. 1. . 1.3. Administrasi Keuangan Umum. Pemerintahan Umum. 2.C.1.3..T-III.1. 3.74 Kolom (1) diisi dengan dengan no urutan aspek/fokus/indikator. 1. 2. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1. Dst….2. 2..1. 3. s/d kolom (8) diisi dengan target capaian indikator tiap tahunnya. Dst ….1. 1. diisi dengan uraian indikator kinerja pada awal RPJMD. 2.

Rancangan awal RPJMD kabupaten/kota juga merupakan bahan acuan bagi desa/ kelurahan dan kecamatan untuk melakukan Musrenbang desa/kelurahan dan Musrenbang kecamatan. C. Bappeda mengirimkan rancangan awal RPJMD yang disertai dengan jadwal kalender perencanaan daerah untuk tahun yang direncanakan kepada seluruh SKPD sebagai bahan bagi SKPD untuk menyusun Rancangan Renstra SKPD. Kertas kerja perumusan rancangan awal RPJMD dapat disertakan untuk mendukung rancangan awal RPJMD yang dikonsultasikan. indikator akhir periode sama dengan indikator akhir tahun ke lima). akan menentukan arah pembangunan 5 (lima) tahun kedepan apa yang akan dilaksanakan oleh daerah dalam mencapai visi dan misi kepala dan wakil kepala daerah yang kemudian dirumuskan kedalam program dan tujuan pembangunan daerah 5 (lima) tahun kedepan.C. Pengiriman rancangan awal RPJMD tersebut disertai dengan catatan agar setiap SKPD menyerahkan rancangan Renstra SKPD kepada Bappeda sesuai dengan kalender perencanaan yang disampaikan. guna disepakati sebagai pedoman penyusunan rancangan RenstraSKPD. Hasil konsultasi atau kesepakatan dalam konsultasi publik dapat dimasukkan dalam tabel berikut ini: Tabel. Bahan yang dikonsultasikan adalah rumusan sementara program pembangunan daerah untuk tahun rencana serta dasar analisis yang mendukung rumusan tersebut.16.15. Selanjutnya dilakukan pembahasan dengan DPRD yang merupakan perwakilan dari masyarakat. apakah program dan tujuan pembangunan lima tahun yang telah disusun dalam dokumen RPJMD sudah selaras dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat lima tahun kedepan. Setelah diketahui program prioritas beserta kerangka pendanaan kemudian setiap program dilakuan pembahasan dengan SKPD sebagai bahan/input SKPD dalam menyusun Renstra SKPD.*) No Visi Misi Sasaran Pokok Arah Kebijakan Materi Masukan/Usulan Tambahan Keterangan C.. SKPD akan menyesuaikan program yang telah disusun dalam dokumen Renstra SKPD dengan RPJMD. Pembahasan dengan . Kesesuaian antara Renstra SKPD dan RPJMD.. Bappeda bersama Sekretaris Daerah mengundang seluruh Kepala SKPD untuk pembahasan rancangan awal RPJMD. Pembahasan dengan DPRD untuk Memperoleh Masukan dan Saran Setelah dirumuskannya visi dan misi kepala daerah kedalam program dan tujuan pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan. Pembahasan Dengan SKPD C.17.T-III. Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Pelaksanaan forum konsultasi publik dimaksudkan untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan pada tahap awal dengan tujuan untuk menghimpun aspirasi atau harapan para pemangku kepentingan terhadap program pembangunan daerah pada tahun yang direncanakan.1. target tahunan bersifat kumulatif tiap tahun.1..68 Kolom (9) diisi dengan kondisi kinerja pada akhir periode RPJMD (dalam hal..1.76 Kompilasi Hasil Konsultasi Publik Provinsi/Kabupaten/Kota..

C....18. Prioritas 4 .. Sasaran Pembangunan Daerah (3) Nama Program (4) Arah Kebijakan (5) Pagu (6) SKPD Penanggung Jawab (7) *) coret yang tidak perlu Cara Pengisian Tabel. dalam penyusunan program pembangunan SKPD juga memperhatikan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD sehingga terjadi keselarasan dalam penyusunan program yang telah disusun dalam rencana awal RPJMD dengan arah kebijakan.. Tabel ini ditandatangani oleh kepala daerah yang merupakan lampiran dari dokumen RPJMD. ..... C........ b. untuk bahan penyelarasan dengan program prioritas dalam penyusunan rancangan awal RPJMD. diisi dengan arah kebijakan yang telah disusun dalam dokumen RPJPD.... Prioritas 2 .T-III.. Tabel. Program 1 ..o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah.......2. Program1 .... diisi dengan jumlah pagu indikatif untuk setiap program prioritas....C. Prioritas Pembangunan Daerah (2) Prioritas 1..... Tidak seluruh informasi yang diolah dari hasilhasil analisis dan pembahasan/kesepakatan disajikan. Prioritas 3 ... Program 2 . Semua informasi yang disajikan harus berkorelasi dan didukung dengan data yang valid dari kertas kerja perumusan. diisi dengan uraian judul/rumusan sasaran pembangunan daerah... 4.77 Program Pembangunan Daerah Tahun ... Kolom ini cukup diisi untuk pagu indikatif program saja. 5.T-III.77: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) diisi dengan nomor urut program pembangunan daerah untuk Tahun Rencana diisi dengan uraian nama/rumusan prioritas pembangunan. 3. yang dihitung berdasarkan indikasi jenis dan besaran kegiatan yang dibutuhkan sesuai program prioritas dan kemampuan fiskal daerah. 2. Provinsi/Kabupaten/Kota………………*) Nomor (1) 1.......1............ Penyelarasan Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan Mengemukaan antara program yang telah disusun dalam rancangan awal RPJMD kemudian program tersebut diserahkan pada SKPD untuk disusun prioritas kegiatan.69 DPRD menjadi salah satu proses yang penting sehingga dalam pembasahan tersebut aspirasi masyarakat dapat terwakilkan oleh DPRD. diisi dengan uraian nama program dari masing-masing prioritas. diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program dan/atau kegiatan yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j. Kolom (6) Kolom (7) Catatan : C. Informasi yang disajikan dapat merupakan keseluruhan bentuk pada tahap perumusan (kertas kerja perumusan) atau sebagian menjadi yang dianggap relevan disajikan.... TAHAP PENYAJIAN Tahap ini pada dasarnya merupakan penyajian dari apa yang telah dihasilkan dari tahap perumusan kedalam dokumen perencanaan. Prinsip-prinsip dalam penyajian adalah: a.... Dst .

. Penyajian rancangan awal RPJMD tersebut disusun menurut sistimatika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I. Ketersediaan data gambaran umum kondisi daerah selengkapnya dapat dilihat di Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. visi/misi kepala daerah. Penyajian agar diperkaya dengan teknis presentasi yang baik. Selanjutnya. proses penyusunan RPJMD.5. Hubungan Antar Dokumen Bagian ini menjelaskan hubungan RPJMD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. dan RTRW kab/kota. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang tujuan penyusunan dokumen RPJMD bagi daerah yang bersangkutan dan sasaran penyusunan dokumen RPJMD bagi daerah yang bersangkutan. Pada sub-bab ini tidak perlu semua peraturan-perundangan dicantumkan. baik yang berskala nasional. perlu dicantumkan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum geografis mengenai kondisi geografi daerah.70 c. 1. Bagian ini dijabarkan berdasarkan hasil analisis dan kajian gambaran umum kondisi daerah pada tahap perumusan. Tidak seluruh informasi dalam perumusan tentang gambaran umum kondisi daerah ditampilkan dalam penyajian. melainkan cukup pada peraturan-perundangan yang memuat ketentuan secara langsung terkait dengan penyusunan RPJMD.1. maupun lokal.2. RTRW nasional. pilihan yang kata yang sederhana dan mudah dipahami. Aspek Geografi dan Demografi Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. seperti: RPJMN.4. Keterhubungan dengan dokumen lain. Dasar Hukum Penyusunan Memberikan uraian ringkas tentang dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan RPJMD. Suatu informasi dianggap relevan dan penting jika menjelaskan gambaran umum kondisi daerah yang selaras dan mendukung isu strategis.1. Dalam hal ini kalau di daerah telah diterbitkan peraturan daerah atau Peraturan Kepala Daerah yang mengatur tentang perencanaan dan penganggaran ataupun tentang tata cara penyusunan dokumen perencanaan dan pelaksanaan musrenbang. 1. dan kebutuhan perumusan strategi. Penjelasan perlu dilengkapi dengan kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan .3. grafik. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum penyusunan rancangan awal RPJMD agar substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik. Penjelasan dapat dilengkapi dengan tabel. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis. 2. gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. 1. Sistematika Penulisan Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RPJMD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab didalamnya. Penulisan rancangan awal RPJMD disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengacu pada hasil kertas kerja pasca tahap perumusan rancangan awal RPJMD. Hanya informasi yang relavan dan penting saja yang perlu dicantumkan untuk mendapatkan fokus yang baik dalam dokumen. dan wilayah rawan bencana. RTRW Provinsi. permasalahan pembangunan daerah. BAB II. RPJMD Provinsi. kedudukan RPJMD tahun rencana dalam RPJPD. potensi pengembangan wilayah. 1. Latar Belakang Mengemukakan pengertian ringkas tentang RPJMD. keterkaitan antara dokumen RPJMD dengan dokumen RKPD dan Renstra SKPD. dan gambar yang mendukung setiap potensi kawasan budaya yang dimiliki daerah. 1.

Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum daerah bersangkutan. sesuai lampiran I peraturan ini. dapat ditampilkan. fokus seni budaya dan olah raga. 2. fokus fasilitas wilayah/infrastuktur. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan aspek daya saing daerah bersangkutan. sesuai lampiran I peraturan ini. Aspek Pelayanan Umum Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. dapat dipaparkan pada bab ini. atau etnis tertentu. Selanjutnya. fokus kesejahteraan sosial. . dan fokus sumber daya manusia.G-III.C. migrasi. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kemampuan ekonomi daerah.2.. agama. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi. struktur. fokus iklim berinvestasi.16 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya Kondisi Klimatologi Kondisi Geologi Kondisi Hidrologi Kondisi Topografi Penggunaan Lahan Letak. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek daya saing daerah sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan. dijelaskan tentang kondisi demografi seperti ukuran. 2. kewarganegaraan. Selanjutnya. sesuai lampiran I peraturan ini. dengan mengisi dan menyajikan diagram sebagai berikut: Gambar. dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran. dapat ditampilkan. dapat ditampilkan. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum aspek pelayanan umum sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.4. Analisis kependudukan dapat merujuk pada populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan. Lebih lanjut dipaparkan tentang fokus urusan layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan. 2.3. kematian. Luas dan Batas Wilayah Potensi Pengembangan Wilayah Kondisi Geografi Lainnya Selanjutnya. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Bagian ini diawali dengan pengantar analisis. serta penuaan. Tabel-tabel atau grafik tertentu yang dianggap relevan. Berbagai indikator yang telah diolah pada tahap perumusan. khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat daerah bersangkutan. Selanjutnya. pada bagian ini dijelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.71 potensi pengembangan kawasan budidaya. Aspek Daya Saing Daerah Bagian ini diawali dengan pengantar analisis.

. 3.3 1. Provinsi/Kabupaten/Kota.5 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Hibah Dana darurat Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya **) Dana penyesuaian dan otonomi khusus***) Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya Uraian (n-5) (Rp) (n-4) (Rp) (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan(%) *) **) ***) ****) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.1. Selanjutnya. Kinerja Pelaksanaan APBD Bagian ini menguraikan perkembangan pendapatan dan belanja tidak langsung. antara lain: 1.1. bagian ini dapat ditambahkan pokok-pokok analisis kinerja masa lalu pelaksanaan APBD.2 1.4..3. dijelaskan gambaran kinerja keuangan daerah yang mencakup: 3.3. Potensi dan tantangan perkembangan ke depan ditinjau dari perspektif regional. s/d Tahun . pencapaian kinerja pendapatan.1.1.3.2.2. dan gambaran realisasi belanja daerah. atau tabel sebagaimana dihasilkan dalam tahap perumusan yang relevan. analisis rasio solvabilitas dan analisis rasio aktivitas.1. 1. Contoh penyajian hasil analisis rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah dalam bentuk tabel (diambil dari Tabel... Selanjutnya.78 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun.3. Penyajian hasil analisis dapat disertai dengan grafik. Berlaku untuk kabupaten/kota.C. proporsi sumber pendapatan.72 BAB III.1. sebagai berikut: 3. Perbandingan dengan realisasi APBD dengan daerah lainnya atau standar nasional. sebagai berikut: Tabel. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah yang timbul dalam pelaksanaan APBD.1. 1. Diisi sesuai dengan ketersediaan data.C.1 1.3. 1.4 1. gambar. 1.1. 1.3.. Kinerja Keuangan Masa Lalu Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. Papua Barat dan Aceh. 1. dan nasional. analisis rasio likuiditas. 1. 1. 2. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah dilakukan pada tahap perumusan ke dalam sub-bab. 1 1. 1.1.T-III.2.*) No.2.3.... .3. dan 3.37). Neraca Daerah Bagian ini menguraikan sekurang-kurangnya mengenai perkembangan neraca daerah.1..2.T-III. Berlaku hanya untuk provinsi Papua.1.2..2. 1.

3. 1.2.3. 1.2. 3.2.1. 1. 1. 1.2. 2.1.2.T-III.1.73 Oleh karena itu.1. 2. . 3. KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang perhitungan pihak ketiga Uang muka dari kas daerah Pendapatan diterima dimuka Dst…………….3.3. 1.6. JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA Uraian Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 1.. 1.2..1. 1.1.1. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.3. 2.3. 1. 3. irigasi.4. 1. 3. 2.2.1.1.3.3. 1. 3.4.4.5. 3.2.2. 1.1.3. 1. 3.C.2. ASET ASET LANCAR Kas Piutang Persediaan ASET TETAP Tanah Peralatan dan mesin Gedung dan bangunan Jalan.2.2.2.3. 1.7.2. 1.3. 2.79 Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.1.4.1. 1.. 3. 1.1.1. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan.1..1.2.2.3..1. JUMLAH ASET DAERAH 2.2. dan jaringan Aset tetap lainnya Konstruksi dalam pengerjaan dst……………… ASET LAINNYA Tagihan penjualan angsuran Tagihan tuntutan ganti kerugian daerah Kemitraan dengan pihak kedua Aset tak berwujud dst………….5..1.3. 3. 1.*) No.1.1. EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR SILPA Cadangan piutang Cadangan persediaan dst……………… EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam aset tetap Diinvestasikan dalam aset lainnya dst………….2.

Penyajian tabel untuk menggambarkan analisis pertumbuhan neraca daerah dapat disesuaikan dengan ketersediaan data di daerah.2.40 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD.1. 3.. pada bagian ini dijelaskan gambaran kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu terkait proporsi penggunaan anggaran dan hasil analisis pembiayaan yang mencakup: 3.2.80 Analisis Rasio Keuangan Provinsi/Kabupaten/Kota..T-III.C.C. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.C.39 dan Tabel... Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel..81 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi/Kabupaten/Kota. 3.74 - Tabel. Selanjutnya. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. dst.T-III. dan 4.C. 5. Rasio lancar (current ratio) Rasio quick (quick ratio) Rasio total hutang terhadap total aset Rasio hutang terhadap modal Rata-rata umur piutang Rata-rata umur persediaan Rasio ….. Proporsi Penggunaan Anggaran Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dan proporsi realisasi belanja pendidikan. Oleh karena itu.*) NO 1.*) No 1 2 3 Uraian Tahun anggaran n-3 Tahun anggaran n-2 Tahun anggaran n-1 Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp) (a) Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) (Rp) (b) Prosentase (a) / (b) x 100% *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 2.. Perbandingan dengan neraca daerah dengan daerah lainnya atau standar nasional.. 6. 2. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis neraca daerah.T-III. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data... Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis neraca daerah antara lain: 1.(lainnya) Uraian (n-3) (%) (n-2) (%) (n-1)**) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 4... Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kebijakan pengelolaan keuangan daerah antara lain: . 3..T-III... dan nasional. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan neraca daerah.

2. 3. Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai analisis pembiayaan. dan nasional.82 Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.T-III. 5.83 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota.C.. Perbandingan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam hal penggunaan anggaran belanja dengan daerah lainnya atau standar nasional.. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait penggunaan anggaran belanja daerah. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel. Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: Belanja Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Defisit riil Uraian (n-3) (Rp) (n-2) (Rp) (n-1)**) (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.... Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah dalam hal penggunaan anggaran belanja. 3.75 1..*) NO 1. 4. Uraian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Proporsi dari total defisit riil (n-3) (n-2) (n-1)**) (%) (%) (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 1. 1.C.2.*) No. 2.T-III. 4.. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. dan Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional...2. 6. 7.. Uraian Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan lanjutan Rp % dari SiLPA Rp (n-2) % dari SiLPA (n-1)**) Rp % dari SiLPA *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. 3. 4. 2. 6.T-III. Analisis Pembiayaan 3. Oleh karena itu.C.84 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi/Kabupaten/Kota. Tabel.*) (n-3) No. 5. 3... . 2.. Tabel.

Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai analisis belanja periodik yang wajib dan mengikat.1.. pada bagian ini dijelaskan gambaran kerangka pendanaan dari hasil analisis yang mencakup: 3. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/ atau gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. . Tabel. c. Oleh karena itu.3. Selanjutnya..3. Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional.C.T-III. d.C. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah dalam hal pembiayaan daerah. serta pengeluaran periodik prioritas utama. Kerangka Pendanaan Pada bagian ini diawali dengan pengantar analisis. b...45 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD.T-III. **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Provinsi/Kabupaten/Kota.*) No A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 5 C 1 2 Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Gaji dan Tunjangan Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH Belanja Bunga Belanja bagi hasil Dst.T-III. Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait pembiayaan daerah. Dalam bentuk tabel dapat menggunakan contoh tabel sebagai berikut: Tabel.C. 3.43.76 Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.C. telepon dan sejenisnya) Belanja sewa gedung kantor (yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) Dst … PembiayaanPengeluaran Pembentukan Dana Cadangan Pembayaranpokokutang Dst… TOTAL (A+B+C) (n-1)**) (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.T-III. air. dan nasional.44 dan Tabel. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kebijakan penggunaan anggaran belanja antara lain: a.T-III.85 Pengeluaran Periodik. Perbandingan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam hal pembiayaan daerah dengan daerah lainnya atau standar nasional.42 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD.. Belanja Langsung Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis..C. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.

*) Proyeksi No I Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II. 3.77 3.T-III. sebagaiberikut: Tabel..*) Proyeksi No.. Oleh karena itu pada bagian ini sekurang-kurangnya disertai dengan tabel/grafik/gambar pendukung analisis. proyeksi belanja tidak langsung dan belanja langsung yang periodik.1..c-II. Proyeksi Data Masa Lalu Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai proyeksi data masa lalu dan asumsi yang digunakan untuk memproyeksi serta kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi proyeksi data. Pendapatan Pencairan dana cadangan (sesuai Perda) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total penerimaan Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 4. Disajikan tabel tentang proyeksi pendapatan. Oleh karena itu. *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.. mengikat serta prioritas utama Disajikan penjelasan setiap asumsi yang digunakan serta kebijakan yang mempengaruhi hasil proyeksi.1.... Tabel.C.d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II Ii.T-III.b-II.a+II.C.87 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota..C. pada bagian ini dapat diuraikan dengan tabel/grafik/ atau gambar pendukung analisis sesuai dengan kebutuhan. wajib. 2. Tabel dapat disajikan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Penghitungan Kerangka Pendanaan 3.48 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya mengenai penghitungan kerangka pendanaan dengan tujuan untuk mengetahui kapasitas riil kemampuan keuangan daerah dan rencana penggunaannya.2.c II. b. Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel.86 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.d Ii .. Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) 1.1.T-III.a II...b Belanja Langsung Pembentukan dana cadangan Dikurangi: Belanja langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas i (II.

Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJMD karena menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah.T-III. Uraian dan penjelasan rencana alokasi belanja langsung dan belanja tidak langsung yang dapat digunakan untuk membiayai program pembangunan pada tahun anggaran yang direncanakan. bagian demi bagian dengan sistematika berurut sesuai urusan yang terpilih atau sesuai jenis permasalahan tanpa mengedepankan urusannya.1. Pada bagian atau tahap perumusan isu-isu strategis.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III. Keterangan : Surplus anggaran diperbolehkan apabila nilainya tidak material dan tidak dapat digunakan untuk membiayai suatu program Tabel diatas disusun berdasarkan Tabel. . b.. penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan menentukan kinerja pembangunan dalam 5 (lima) tahun mendatang. d.a Belanja Tidak Langsung Dikurangi: III. Oleh karena itu. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat/pengaruh dimasa datang terhadap daerah tersebut. dan Potensi dan tantangan perkembangan kedepan ditinjau dari perspektif regional. 4.58 dituangkan dalam penyajian. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis. 4.T-III. Sesuai isu-isu strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan pada Tabel.a-III. Perumusan permasalahan pembangunan dapat dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk uraian kalimat.2. c. Permasalahan Pembangunan Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah yang relevan yang berdasarkan analisis yang merujuk pada identifikasi permasalahan pembangunan daerah dalam perumusan rancangan awal RPJMD. permasalahan-permasalahan pembangunan lain yang tidak diprioritaskan atau bukan menjadi agenda utama rencana pembangunan daerah dalam 5 (lima) tahun kedepan tidak perlu disajikan (biarkan saja tetap dalam kertas kerja perumusan). Uraian atau penjelasan faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah terkait dengan hasil analisis kebijakan masa lalu pengelolaan keuangan daerah terkait pembiayaan daerah. dan nasional. Berdasarkan uraian dan penyajian tabel diatas selanjutnya diuraikan kesimpulan analisis kerangka pendanaan antara lain: a. kebijakan nasional maupun regional.C. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV.49 yang disusun pada perumusan rancangan awal RPJMD. Isu yang menjadi potensi dan masalah pembangunan daerah terkait dengan kerangka pendanaan. Isu Strategis Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international.C.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* Uraian Tahun n+1 (Rp) Tahun n+2 (Rp) Tahun n+3 (Rp) Tahun n+4 (Rp) Tahun n+5 (Rp) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.78 - Proyeksi No III.

sehingga diharapkan seluruh stakeholder di kota XYZ secara bahu membahu mengoptimalkan seluruh kapasitas yang dimilikinya untuk meningkatkan dan mewujudkan seluruh masyarakat kota XYZ lebih sejahtera. dan 3. Maksud perumusan misi.1. 6. PENYAJIAN VISI. misalnya diuraikan mengenai visi RPJMD atau visi kepala daerah terpilih. 4. TUJUAN. penjelasan visi harus menggambarkan keterkaitannya dengan RPJPD dan RPJPN untuk RPJMD provinsi dan keterkaitannya dengan RPJPD provinsi untuk RPJMD kabupaten/kota. solidaritas dan kemitraan seluruh komponen pelaku pembangunan. Box 1. MISI.2. Meningkatkan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat kota XYZ. 2. oleh karena itu pembangunan yang diarahkan untuk mencapai rakyat kota XYZ Sejahtera harus dilandasi oleh Iman dan Taqwa sebagai ruh-nya.: Kejelasan Rumusan Misi Sesuai dengan harapan terwujudnya “Rakyat kota XYZ Sejahtera Berlandaskan Iman dan Taqwa”. kesehatan dan ekonomi serta ditemukannya jati diri masyarakat kota XYZ. Kemajuan ekonomi merupakan salah satu dari sekian banyak tujuan pembangunan lainnya. Artikulasi atau penjelasan kata-kata kunci dari pernyataan visi. Uraian visi kepala daerah terpilih dan jangka waktunya. sinergitas antara rencana pembangunan jangka menengah daerah dengan RPJMN dan RPJPD. Penjelasan masing-masing misi (jika ada). serta untuk menjadikan masyarakat yang saleh dan taat pada tuntunan ajaran agama yang diyakini. Penjelasan Visi Berdasarkan Kata Kunci Pada Visi kota XYZ 2007-2012 terdapat 2 (dua) kalimat kunci yaitu Rakyat kota XYZ Sejahtera serta Iman dan Taqwa. 5. penggunaan bahan baku lokal unggulan dan penciptaan peluang usaha. 2. 7. ringkas dan mudah dipahami. : Visi Pembangunan Jangka Menengah Dalam periode 2007-2012. Meningkatkan peran aktif dan menggalang semangat kebersamaan. sebagai berikut: 1. yang pada gilirannya akan mewujudkan masyarakat sejahtera. Kalimat “Rakyat kota XYZ Sejahtera” adalah merupakan refleksi dari berkurangnya masyarakat miskin. Box 2. Namun demikian. Memperkuat struktur ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha agribisnis dan memperluas kesempatan kerja. “Iman dan Taqwa” merupakan persyaratan mutlak untuk dapat terwujudnya kehidupan agamis. terpenuhinya sarana dan prasarana dasar pendidikan. meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat. Melakukan revitalisasi dan refungsionalisasi lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga kemasyarakatan menuju tata pemerintahan yang bersih. Pernyataan Misi merupakan penjabaran dari visi dengan bahasa yang jelas. 5. Mengembangkan dan menata ulang hubungan antar industri dengan orientasi pada penciptaan iklim yang kondusif bagi investasi. Merevitalisasi kawasan dan antar kawasan dengan dukungan infrastruktur yang memadai melalui pengembangan ”Tiga Pintu Keluar Masuk Wilayah kota XYZ” . maka ditetapkan “Misi Pembangunan kota XYZ 2007-2012” sebagai upaya dalam mewujudkan visi. kemajuan ekonomi dapat menjadi tidak bermakna tanpa dilandasi kehidupan masyarakat yang penuh magfiroh dari khalik-Nya.. Visi Pembangunan kota XYZ adalah “Rakyat kota XYZ Sejahtera Berlandaskan Iman dan Taqwa”. 5. Visi Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. Menjadikan masyarakat kota XYZ yang bersandar pada moralitas agama dalam kerangka negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembangunan di bidang atau sektor apapun tidak akan mendatangkan kemaslahatan dan keberkahan tanpa dilandasi oleh iman dan taqwa. 3. 3. Misi Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1. Pengantar bagian ini. DAN SASARAN Dalam rangka konsistensi. 2. transparan dan profesional yang berorientasi pada pelayanan publik.79 BAB V.

C. Arah kebijakan 2.. Strategi 1. Dst… Dst…… Strategi 1... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Tujuan dan Sasaran Dalam bagian ini diuraikan sekurang-kurangnya: 1.2 1.. yang beriman dan berdaya saing : .......1 2... Uraian pernyataan sasaran-sasaran dengan bahasa yang jelas. Dst…….... Penyajian strategi dan arah kebijakan.. Arah kebijakan 1.88 Keterkaitan Visi.1 2..2 3..*) VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota …. Arah dan Kebijakan Provinsi/Kabupaten/Kota..1 2.1 2. Uraian mengenai apa itu tujuan dan apa itu sasaran serta bagaimana merumuskannya... ringkas dan mudah dipahami......T-III. 1.1 2.. Strategi 2.2 3.. Strategi 1. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1. Sasaran 1...1 2. serta Menggambarkan keterkaitan elemen-elemen perencanaan dalam suatu tabel/ matrik.. selanjutnya diberikan penjelasan hubungan setiap strategi dengan arah dan kebijakan dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan..2 3. Sasaran Sasaran.... Dst…… Arah kebijakan 1.. Sasaran 1.. Misi..2 3.2 3. Arah kebijakan 1... Arah kebijakan 1..... sekurang-kurangnya disajikan dalam contoh tabel berikut... 3. 1. Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1.1 2.. Dst… Dst…… Tujuan 2 Dst…… MISI II Tujuan 2 Dst…… Dst .... Sasaran 2. Tabel.*) Visi: ……………………………………………………………………………… Misi Misi 1: Tujuan Tujuan. Strategi 1.. Dst… 1..... Berdasarkan tabel diatas perlu dijelaskan hubungan setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan dengan isu strategis daerah... Dst…….... Berdasarkan tabel diatas. ...89 Strategi... Sasaran 2..3.1 2. Arah kebijakan 2.. Dst… 1..T-III.2 3...80 5.. Dst… 1. Dst… Dst…… Strategi 1. Arah kebijakan 1.. Tabel. Arah kebijakan 2. Dst…… Arah kebijakan 1. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam bagian ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih....2 1... Sasaran 1....2 3.. BAB VI... Strategi 2.....2 3... 4..2 1.1 2. Sasaran 1. Uraian pernyataan tujuan-tujuan dengan bahasa yang jelas..... Dst… 1... Tujuan dan Sasaran Provinsi/Kabupaten/Kota. 2.1 2. Sasaran 2..... Sasaran 2.. Strategi 2. Arah kebijakan 2.. Strategi 1. ringkas dan mudah dipahami...2 3... Strategi 2.. Dst… Dst…… : .1 2.C..... Dst…….. Dst……......1 2....

Pada bagian ini.....C..T-III.T-III... BAB VIII..74... Dst . INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Dalam bagian ini diuraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD... KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Dalam bagian ini diuraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja....T-III.C. sekurangkurangnya disajikan dalam Tabel...... Dst ...T-III..91 Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota. Dst ... Penyajian kebijakan umum dan program pembangunan daerah.. yang datanya bersumber dari Tabel..... Program.C...*) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan (2) Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun-1 target (5) Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Tahun-4 Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) (17) SKPD Penanggung Jawab Rp target (10) (11) (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 03 02 01 01 01 01 02 01 03 02 02 01 02 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program.........C... Tabel.... *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. BAB IX.... Tabel.69. sekurang-kurangnya disajikan dalam Tabel....81 BAB VII. Perlu disajikan penjelasan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih.C.91...T-III.. Dst . Dst ..*) No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Kondisi Awal Akhir (5) (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPDPenanggung Jawab (9) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Kesehatan Program. Urusan Pilihan Pertanian Program..90 yang datanya bersumber dari Tabel..T-III. Penyajian indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan... Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome .90 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Provinsi/Kabupaten/Kota........ PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan....C.... disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.. Program.

1...82 program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.1. Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 1 (4) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. 2.. Pemerintahan Umum.1.1. 2. 1. Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan.. ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib 1. 1.4.T-III. Penetapan indikator kinerja daerah selanjutnya disajikan dalam tabel sebagai berikut (data yang digunakan sesuai dengan LAMPIRAN I peraturan menteri ini): Tabel.2..1. 1. Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Laju inflasi provinsi PDRB per kapita Dst… Kesejahteraan Sosial 1. 1.. 2.1. 1. Administrasi Keuangan Umum.4..C. Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita .92 Tabel Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi/Kabupaten/kota .3. 1. Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Dst….2.2. Pendidikan menengah Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Dst…. 1.1 Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio terhadap murid dst…. 1. Otonomi Daerah. 1..2...2. 1.2.1.2..2. 1. 1.3. 1. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 (1) (2) (3) No. Dst…… Dst.1.3.1.. 1..3 2.1.1 1. Perangkat Daerah.

2 2. 1. 2. 3.1.4.1. 2. 2. Pelayanan Urusan Pilihan 1. Dst …..2.1 Rasio puskesmas.3 3. Dst… *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota..... 2. 1. 3. 2.2. 2. 1. Dst…… ASPEK DAYA SAING DAERAH Kemampuan Ekonomi 1. 2.1 Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Dst… Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW Luas wilayah produktif Dst…. 1.2. 3.. 2. 1. pustu per satuan penduduk Dst….83 - No.1.... Dst…..1.3.1. 3. 3. 2. Pemerintahan Umum.1.. 2.2. Perangkat Daerah. 1.3.1 Otonomi Daerah.. Dst.. Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Produktivitas total daerah Dst…. 1. poliklinik. Pertanian Nilai tukar petani Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1. Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Dst…. Dst…. . 1.3.2.3. Kondisi Kinerja pada awal ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR periode KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD Thn 0 Tahun 1 (4) Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD Tahun 5 (8) (9) Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) (1) (2) (3) 2. Administrasi Keuangan Umum. 1..

G-III. kegiatan. dan c.. Perumusan strategi dan kebijakan program dan kegiatan jangka menengah SKPD berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah. · visi.84 D. Terkait dengan hal tersebut maka perlu disiapkan surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD bertujuan memberikan arahan kepada seluruh kepala SKPD agar dalam menyusun Renstra SKPD masing-masing mempedomani: 1. Verifikasi dan integrasi Renstra-SKPD menjadi Rancangan RPJMD. kepala SKPD menyusun rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan rancangan awal RPJMD dan disampaikan oleh kepala SKPD kepada kepala Bapppeda. Penyiapan surat edaran kepala daerah. Perumusan visi.D. sebagai masukan untuk menyempurnakan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD.1. indikator kinerja. misi. Perumusan rencana. perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD. mencakup: a.1 Penyusunan Rancangan RPJMD SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Penyusunan rancangan Renstra SKPD Renstra SKPD Verifikasi dan Integrasi RENSTRA SKPD Rancangan RPJMD · Pendahuluan · Gambaran umum kondisi daerah · Gambaran pengelolan keuangan daerah serta kerangka pendanaan · Analisis isu-isu srategis. Penyiapan Surat Edaran KDH perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 dinyatakan bahwa. misi. Penyajian rancangan RPJMD. PENYUSUNAN RANCANGAN RPJMD Penyusunan rancangan RPJMD merupakan salah satu dari tahapan penyusunan RPJMD yang dilakukan melalui tiga tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. Bagan alir penyusunan rancangan RPJMD dapat dilihat dibawah ini: Gambar. b. antara lain: a) b) c) d) e) Perumusan gambaran pelayanan SKPD berdasarkan gambaran umum kondisi daerah. misi. tujuan dan sasaran renstra SKPD berdasarkan visi. Perumusan isu-isu strategis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi berdasarkan analisis isu-isu strategis. tujuan dan sasaran · Strategi dan arah kebijakan · Kebijakan umum dan program pembangunan daerah · Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan D. Rancangan awal RPJMD. kelompok sasaran program dan kegiatan serta pendanaan indikatif SKPD berdasarkan indikator keluaran program dan pagu per-SKPD yang tercantum dalam tabel kebijakan umum dan program .

Verifikasi Renstra SKPD Kepala SKPD menyampaikan rancangan renstra SKPD kepada kepala Bappeda sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan dalam surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD. Bilamana terdapat ketidaksesuaian dengan arahan yang telah ditetapkan. setelah Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dilantik. dan Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. Jadwal musrenbang RPJMD.3. Verifikasi juga bertujuan untuk mengintegrasikan dan mempertajam pencapaian sasaran program dan kegiatan antara satu SKPD dengan SKPD lainnya (lintas SKPD). dilakukan terhadap substansi materi yang terkait dengan BAB berkenaan dalam rancangan awal RPJMD kecuali pernyataan visi. serta memperoleh klarifikasi/masukan dari SKPD dalam hal terdapat ketidaksesuaian dengan arahan yang telah disampaikan dalam surat edaran. d. D. D.3.85 pembangunan jangka menengah daerah. dilakukan verifikasi melalui pembahasan bersama antara Bappeda dengan setiap SKPD. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a.1. f) 2. Menentukan rencana penggunaan kapasitas riil anggaran berupa alokasi belanja langsung dan belanja tidak langsung sebagaimana telah dihitung dalam perumusan kerangka pendanaan. Setelah dilakukan penyempurnaan langkah selanjutnya merumuskan: D.. e. . Menghitung alokasi pagu setiap program setelah output kegiatan pada setiap program diverifikasi kebenarannya. misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Penyempurnaan rancangan awal RPJMD dimaksud. antara lain mencakup: a) b) Batas waktu penyampaian rancangan Renstra SKPD dan jadwal pembahasan atau verifikasi Bappeda.2. Menghitung alokasi pagu dari setiap output kegiatan untuk setiap program. b. Menentukan keluaran/output setiap kegiatan. c. Perumusan Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Perumusan Alokasi pagu untuk setiap program dihitung berdasarkan capaian indikator program pembangunan yang dilakukan oleh tim penyusun RPJMD. Agenda penyusunan RPJMD. kepala SKPD wajib menyempurnakan rancangan Renstra SKPD dan menyampaikan kembali kepada Bappeda. Penyajian Rancangan RPJMD Seluruh Renstra SKPD yang telah diverifikasi selanjutnya dijadikan sebagai masukan untuk penyempurnaan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD. Penyampaian surat edaran kepala daerah dimaksud kepada seluruh kepala SKPD paling lama 2 (dua) bulan. Untuk memastikan bahwa substansi materi rancangan renstraSKPD telah disusun sesuai dengan rancangan awal RPJMD. Menghitung alokasi SKPD berdasarkan program yang menjadi tanggungjawab SKPD.

......... Dst ... Keluaran 1 . Rp... ........1.. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD. Program 2 ...... .. ... Rp... Rp.... Keluaran 2 .. indikator kinerja........... Standar Belanja Rp......... Perhitungan Pagu Program Program Outcome Keluaran 1 . Dst ..... ..... Rp. .. Rp........... Rp. ....... yang dituangkan dalam contoh tabel sebagai berikut: .. . Dst ...... SKPD 1 Pagu Program SKPD Setelah pagu setiap kegiatan diketahui kemudian Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program... SKPD 2 Rp................D.. Keluaran 3 . Program dst . ..... ... Program 1 .. kegiatan..... Rp.. Keluaran 2 ........86 Perhitungan pagu program dapat dilakukan dengan mengisi tabel berikut: Tabel T-III...........

........87 Tabel T-III..D.....2..... .......... Program.... Dst . (2) (17) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota........ Urusan Pilihan Pertanian Program....*) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program. Dst .................... Dst .. Dst ... Dst ... Kesehatan Program.... Program....

diisi dengan kondisi kinerja awal RPJMD Kolom (4) Kolom capaian kinerja program dan kerangka pendanaan untuk setiap baris program.D.3. b. Kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada tahun pertama periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan RPJMDsebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan awal RPJMD. Uraian nama program. Kolom (16) diisi dengan total jumlah pendanaan selama periode RPJMD mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. Uraian nama urusan pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah. diisi dengan jumlah pendanaan pada tahun pertama periode RPJMD yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) yang ditetapkan.. Melengkapi Sistematika Rancangan Awal RPJMD Menjadi Rancangan RPJMD Penyajian rancangan RPJMD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan awal RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. . yang dibutuhkan untuk mendanai program berkenaan guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode RPJMD. dilakukan sama dengan cara pengisian kolom (4) dan kolom (5) pada kolom Tahun-1 (tahun pertama periode RPJMD): b. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (2) diisi dengan: a. D. Kolom (kondisi kinerja pada akhir periode RPJMD): Kolom (15) diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode RPJMD untuk setiap program berkenaan. Kolom (3) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome). Kolom (5) Kolom (6) Cara pengisian Kolom (6) sampai dengan kolom (13) yang terdapat mulai dari kolom Tahun-2 (tahun kedua periode RPJMD) sampai dengan kolom Tahun-5 (tahun kelima periode RPJMD). Kolom (17) diisi dengan nama satuan kerja perangkat daerah yang akan bertanggungjawab dan melaksanakan program yang direncanakan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah j. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota.2: Kolom (1) diisi dengan dengan kode Urusan/Bidang Urusan Pemerintahan Daerah/ Program.2. diisi sebagai berikut: a.88 Tata cara pengisian Tabel T-III.o Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pemerintahan Daerah Provinsi.

2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. 1. 3. 2. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.89 Dengan demikian.4. .5.2.1. 2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.. Kinerja Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 1. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. 1.3. 1. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.4. Kerangka Pendanaan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1.1. 3. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Hubungan Antar Dokumen Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. 3. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2. sistematika penyajian rancangan RPJMD. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2.

Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan mengisi kekosongan RKPD setelah RPJMD berakhir.1. BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan yang perlu dirumuskan dalam bagian ini antara lain: 1. Visi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.90 - BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Misi Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Pedoman transisi dimaksud antara lain bertujuan menyelesaikan masalah-masalah pembangunan yang belum seluruhnya tertangani sampai dengan akhir periode RPJMD dan masalah-masalah pembangunan yang akan dihadapi dalam tahun pertama masa pemerintahan baru. TUJUAN. 4. 5.3. MISI.1. BAB V PENYAJIAN VISI.. . Pedoman Transisi: Dalam bagian ini perlu dinyatakan bahwa RPJMD menjadi pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun pertama dibawah kepemimpinan Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada periode berikutnya. 4.2. 5. DAN SASARAN Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VIII PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 5. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan awal RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.

3. Tujuan musrenbang RPJMD untuk mendapatkan masukan dan komitmen para pemangku kepentingan pembangunan daerah sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJM Daerah menjadi rancangan akhir RPJMD.. 4. 2. kebijakan. serta masyarakat termasuk dunia usaha. Penyiapan musrenbang RPJMD. Sehubungan dengan hal tersebut dalam bagian ini. SKPD berkewajiban untuk menyusun rencana strategis yang memuat visi. Bappeda berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran RPJMD ke dalam Renstra SKPD. b. dan Penyelenggaraan musrenbang RPJMD. Memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memimpin diskusi kelompok. misi. SKPD. Menyiapkan fasilitator dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. 8. Mengumumkan secara terbuka jadual. Musrenbang jangka menengah daerah dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : a. Kaidah Pelaksanaan: RPJMD merupakan penjabaran dari visi. 4. Musrenbang RPJMD dilaksanakan paling lama 4 (empat) bulan setelah Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dilantik.91 Selanjutnya RKPD masa transisi merupakan tahun pertama dan bagian yang tidak terpisahkan dari RPJMD dari Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilukada pada periode berikutnya. sekurang-kurangnya mencakup hasil analisis isu-isu strategis daerah. Penyiapan pokok-pokok materi yang akan dipublikasikan. 3. Mempublikasikan seluas-luasnya melalui sarana publikasi yang tersedia terhadap pokokpokok materi RPJMD yang akan dibahas dalam musrenbang RPJMD. Untuk optimalisasi pelaksanaan musrenbang RPJMD. dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih merupakan pedoman bagi setiap kepala SKPD menyusun Renstra SKPD dan pedoman untuk menyusun RKPD. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan RPJMD. sebelum musrenbang RPJMD dilaksanakan. . rumusan visi dan misi daerah dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. E. dan agenda musrenbang RPJMD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan. PELAKSANAAN MUSRENBANG RPJMD Musrenbang RPJMD merupakan forum musyawarah antara para pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati rancangan RPJMD. 6. Bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas. dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing SKPD dan menjadi pedoman dalam menyusun Renja SKPD setiap tahun. program. tujuan. tempat. 2. 2. strategi. perlu dirumuskan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut: 1. E. Menghimpun saran dan tanggapan dari masyarakat terhadap pokok-pokok materi dari hasil publikasi. 7. Menyusun jadwal dan agenda musrenbang RPJMD. tata tertib pelaksanaan ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.Penyiapan Musrenbang RPJMD Dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain: 1. berkewajiban untuk melaksanakan program-program dalam RPJMD dengan sebaik-baiknya. misi. penyusunan RPJMD serta penjelasan lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan materi yang akan 5. Menyiapkan narasumber dengan memperhatikan antara lain: a. SKPD berkewajiban menjamin konsistensi antara RPJMD dengan Renstra SKPD. Menyajikan/memaparkan berbagai kebijakan menjadi acuan. b. Menyiapkan materi bahasan dalam musrenbang RPJMD.1.

kepala instansi vertikal di provinsi. a.2.Penyelenggaraan Musrenbang RPJMD Penyelenggaraan musrenbang RPJMD dilaksanakan guna membahas dan menyepakati rancangan RPJMD antara lain mencakup: 1. E. Jumlah kelompok diskusi dan fasilitator serta narasumber dapat disesuaikan dengan kebutuhan. misi dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Merancang pembagian kelompok diskusi dan kriteria penajaman visi. Kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan visi. LSM/ormas. bupati dan walikota serta kepala Bappeda kabupaten/kota. kepala SKPD kabupaten/kota. b. Rapat Pleno I . b. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. pimpinan DPRD kabupaten/kota atau pejabat provinsi dan dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. dan Komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD dalam melaksanakan pembangunan daerah. c. pimpinan dan anggota DPRD provinsi. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor. Untuk musrenbang RPJMD provinsi dapat mengundang akademisi.92 dibahas didalam musrenbang RPJMD. misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah. . Pembagian kelompok dan anggota kelompok diskusi mempertimbangkan keseimbangan keterwakilan dari setiap unsur yang hadir (pembagian anggota kelompok diskusi disesuaikan berdasarkan absensi/daftar hadir). 12. 5. tokoh masyarakat. Pembagian kelompok diskusi memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 11. 2. Musrenbang RPJMD provinsi terdiri dari Gubernur dan wakil Gubernur. b. 4. Penentuan narasumber disesuaikan dengan kompetensi. serta pejabat kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. 3. pimpinan DPRD atau pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat menjadi narasumber. akademisi. tokoh masyarakat. mencakup tata tertib sidang/diskusi dan kriteria penajaman sasaran pokok arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah. Susunan acara musrenbang RPJMD antara lain: 1. d. 9. keterwakilan perempuan dan kelompok masyarakat rentan termajinalkan dan unsur pengusaha/investor serta pejabat dari kementerian/lembaga tingkat pusat sesuai dengan kebutuhan. 10. Untuk RPJMD kabupaten/kota dapat mengundang akademisi. kepala SKPD provinsi. dan Musrenbang RPJMD kabupaten/kota terdiri dari bupati dan wakil bupati/walikota dan wakil walikota.. Indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan. Dapat dibagi berdasarkan misi atau gabungan dari beberapa misi. Strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas sesuai dengan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan daerah. LSM/ormas. akademisi. 6. Mengundang calon peserta musrenbang RPJMD meliputi: a. c. Acara pembukaan yang diisi dengan penyampaian sambutan dari pejabat yang diundang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus pembukaan acara musrenbang RPJMD oleh kepala daerah. 2. kepala bappeda provinsi dan kabupaten/kota. Capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode RPJMD. Sasaran pembangunan jangka menengah daerah. Menyusun pedoman penyelenggaraan musrenbang RPJMD termasuk panduan diskusi kelompok.

..................... b.. c. Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJMD terhadap indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan........... sasaran.. e..... tahun. Pemaparan materi lainnya (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan) e. Kesepakatan hasil sidang kelompok musrenbang RPJMD. (dijelaskan secara berurutan pejabat yang menyampaikan) pada acara pembukaan musrenbang jangka menengah daerah... strategi dan arah kebijakan........ dan dengan contoh format sebagai berikut: a. tanggal..... Gambaran ringkas rancangan RPJMD mencakup isu-isu strategis..... misi kepala daerah dan wakil kepala daerah.... ................. b.......... 4.. mendengar dan mempertimbangkan : a. Pemaparan materi rancangan RPJMD antara lain : 1) visi. telah diselenggarakan musrenbang RPJMD yang dihadiri para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam LAMPIRAN I berita acara ini.. Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap visi............. ........... Setelah memperhatikan.. misi....... sasaran..... 6....sampai dengan tanggal. maka pada: Hari dan Tanggal : Jam : Tempat : ....... misi dan program kepala daerah. strategi dan arah kebijakan RPJMD......... Tanggapan dan saran dari seluruh peserta musrenbang jangka menengah daerah terhadap materi yang dipaparkan baik pada sidang pleno maupun dalam sidang kelompok. bulan...... Pemaparan visi.... sasaran...... Tanggapan peserta atas materi yang dipaparkan 3.....* ) : . 5.... 2) Isu-isu strategis..... c........... d... Penjelasan panitia penyelenggara secara umum atau informasi penting lainnya terkait dengan pelaksanaan diskusi kelompok musrenbang RPJMD........... tujuan...*) Pada hari..............93 a... Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD.. indikasi rencana program prioritas pembangunan daerah dan pagu indikatif oleh . Sambutan-sambutan yang disampaikan oleh ..... b......... untuk membahas materi rancangan RPJMD. musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/kota ... Rapat Pleno II Pemaparan hasil kelompok diskusi musrenbang RPJMD..... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok musrenbang RPJMD terhadap kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah........ Daftar hadir peserta musrenbang RPJMD.. isu-isu strategis dan program jangka menengah oleh .... c. d. Rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD beserta lampirannya terdiri dari: a... indikasi rencana program prioritas pembangunan daerah yang disertai kebutuhan pendanaan dan indikator kinerja daerah.. tujuan... Format Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RPJMD RANCANGAN BERITA ACARA KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJMD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ...... 7.... Diskusi kelompok musrenbang RPJMD... Pemaparan materi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.. strategi dan arah kebijakan........ Rangkuman hasil rapat pleno I dan rapat pleno II musrenbang RPJMD di rumuskan ke dalam rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD oleh tim perumus yang dipimpin oleh kepala Bappeda. f......... tujuan...... kebijakan umum dan program pembangunan daerah..........

tanggal …......E. No 1...........*) Tahun.. Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota. Tanda tangan ..... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini.. Format Daftar Hadir Peserta Musrenbang RPJMD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III...... dan Arah Kebijakan RPJMD provinsi/kabupaten/kota .. ...... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini... : Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota... 2...... .......*) Tanggal : . berdasarkan visi dan misi Gubernur dan wakil Gubernur/Bupati dan wakil Bupati/Walikota dan wakil Walikota**) sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini........ 4....... . Pimpinan Sidang Tanda tangan ( Nama) Mewakili peserta musrenbang Provinsi/Kabupaten/Kota...94 - MENYEPAKATI KESATU : Tujuan. 3....... Sasaran. 4.*) Tahun .. Dst ............ : Berita acara ini beserta lampiran dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan akhir RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota.... Tempat : .....-. 5. Strategi....... ............... 5..... Dst..*) NO 1.. sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini.. : Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan rancangan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota. Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan Catatan : *) Coret yang tidak perlu b......-............1..... KEDUA KETIGA KEEMPAT KELIMA Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya.*) Tahun ....*) Tahun .. Nama Lembaga/Instansi Alamat & No Telp. : Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah rancangan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota.. 3....*) Tahun ..... 2.......

.1 Sasaran 2........ 1. 2. 3. Arah kebijakan Arah kebijakan 1. Strategi 1.....1 Strategi 2...... Strategi 1.*) Tanggal : .......1 Strategi 1.... 2...2 Dst……..1 Arah kebijakan 2....1 Arah kebijakan 1...1 Sasaran 1.. 3.1 Strategi 2. 3.. 2.. 3... 3. 3...... 3.. Tujuan Tujuan 1 1. 2. Misi..2 Dst… Sasaran 2.2 Dst… Arah kebijakan 2. Strategi..... Tempat : ..... Strategi 2. Tujuan Tujuan 1 Dst…… Dst…… Dst…… Sasaran 1.. Sasaran....E.2 Dst… 1.. VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota …......1 Strategi 1. 3. 2...95 c... 2. Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Visi....2 Dst… Sasaran 2.. 2.......-.... Dst…… Dst…… Dst…… . 2...... Strategi..... Provinsi/Kabupaten/Kota...... dan Arah Kebijakan RPJMD Tahun . 1.. yang beriman dan berdaya saing : ..........2.............. 1....1 Sasaran 1......1 Arah kebijakan 1.... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Tujuan..2 Dst… Tujuan 2 Dst…… MISI II : ...1 Sasaran 2... 3.2 Dst… Tujuan 2 Dst…… Dst . Strategi 2. 1.....2 Dst… Arah kebijakan 2..2 Dst……. 2.. Tujuan. 3. 2... 2. 3.. Sasaran 1... 1... Strategi 1...2 Dst……....... Sasaran... 3. Strategi 1..... Arah kebijakan Arah kebijakan 1.. 2.2 Dst… Sasaran 1. Sasaran 1. dan Arah Kebijakan RPJMD LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III.1 Arah kebijakan 2. 1...2 Dst……........

...........E... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.....................*) Tanggal : ......96 d.... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III..3.. Strategi dan Arah Kebijakan (3) No (1) Sasaran (2) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) ...... Tempat : ........................

............E....... Kesehatan Program........*) Tanggal : ........... Urusan Pilihan Pertanian Program... Dst .................. Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Tabel T-III........ Dst ......... Dst ......... Program.. Program........... Tempat : .. (2) (17) ........................ Dst .... Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kinerja Program (outcome) (3) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) (4) (5) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib Pendidikan Program........ Dst .... Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Musrenbang RPJMD terhadap Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Provinsi/Kabupaten/Kota.....4...97 e.....

Musrenbang RPJMD Provinsi/Kabupaten/kota .. Visi... Tujuan Tujuan 1 Tujuan 2 Dst…… 1. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah terkait dengan pokok bahasan Misi .. dan Arah Kebijakan VISI MISI I : Terwujudnya masyarakat provinsi/kabupaten/kota …..... Misi... 2. 1..2 Dst… Sasaran 2.. Arah kebijakan Arah kebijakan 1... 3..1 Sasaran 1. 1. 2.E.. 2.......E......2 Dst…….. Strategi 2. 3. 3... Strategi....1 Strategi 1.2 Dst… Sasaran 1.1 Arah kebijakan 2. *) Pokok bahasan : Misi ..5..98 f.. 2.. 3. No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) .. Tabel T-III.. yang beriman dan berdaya saing : . Format Hasil Kesepakatan Sidang Kelompok RPJMD.. Sasaran. 2.....6. 3.....1 Sasaran 2. Sasaran 1. 1...2 Dst…….. 3. 2.. Strategi 1.1 Strategi 2... Tujuan...1 Arah kebijakan 1. LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RPJMD NOMOR : TANGGAL : Hasil Kesepakatan Sidang Kelompok ....2 Dst… Dst…… Dst…… Dst…… Tabel T-III......2 Dst… Arah kebijakan 2... Strategi 1.......

... Program.... Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kinerja Program (outcome) Kondisi Kinerja Awal RPJMD (Tahun 0) Kode Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Tahun-1 target Rp (6) Tahun-2 target (7) Rp (8) Tahun-3 target (9) Rp (10) Tahun-4 target (11) Rp (12) Tahun-5 target (13) Rp (14) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD target (15) Rp (16) SKPD Penanggung Jawab (1) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 01 01 01 01 02 01 02 03 01 01 01 01 02 02 02 03 01 02 01 02 03 Urusan Wajib .............. Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanan terkait dengan pokok bahasan Misi ...... Program.............. Dst ................. Dst ...............E................. Dst .........99 Tabel T-III....... Program...... Urusan Pilihan ............... Program....7... (2) (3) (4) (5) (17) ... Program.. . Dst ...... Dst ...

4.9. 3. dan surat bupati/walikota perihal konsultasi rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada gubenur. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok No 1..E. 9. Setelah rancangan akhir RPJMD mendapatkan persetujuan dari kepala daerah untuk dikonsultasikan kepada Menteri/Gubernur. Dst Nama Lembaga/Instansi Jabatan Dalam Sidang Kelompok Tanda Tangan 8.. 5. 3. Rapat Pleno III pembacaan rancangan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD dan pengambilan keputusan. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok Tabel T-III.. dan 10. sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJMD menjadi rancangan akhir RPJMD... . Dst.100 Tabel T-III. Daftar Anggota Sidang Kelompok. surat Gubernur perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD provinsi kepada menteri..E. Berita acara hasil kesepakatan musrenbang RPJMD yang telah disepakati dalam rapat Pleno III. Berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD yang telah ditandatangani beserta lampirannya. 4..1. b. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RPJMD Rancangan akhir RPJMD dirumuskan berdasarkan berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD. ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri musrenbang RPJMD. selanjutnya dibahas dengan seluruh kepala SKPD untuk memastikan bahwa program pembangunan jangka menengah terkait dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing telah disempurnakan dengan kesepakatan hasil musrenbang dan ditampung dalam rancangan akhir RPJMD. NO 1... F. 2. Rancangan akhir RPJMD diajukan kepada kepala daerah untuk meminta persetujuan dikonsultasikan kepada menteri untuk rancangan akhir RPJMD Provinsi dan kepada Gubernur untuk rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota. 2. F. kepala Bappeda menyiapkan surat kepala daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD sebagai berikut: a. Rancangan akhir RPJMD yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan hasil musrenbang RPJMD .8. Konsultasi Rancangan Akhir RPJMD 1.

Dengan demikian. serta sinkronisasi dan sinergitas. RTRW provinsi. Konsultasi rancangan akhir RPJMD dengan Menteri bertujuan untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. sistematika penyajian rancangan akhir RPJMD. Latar Belakang Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. keserasian..2. Hubungan Antar Dokumen Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. Kertas kerja yang muncul pada tahap penyusunan rancangan akhir RPJMD sebagaimana dijelaskan pada subbab di atas menjadi dasar perubahan materi terkait dari isi rancangan akhir RPJMD. F. 1. 3. 1. Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini.4. Konsultasi rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota dengan Gubernur bertujuan untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan. RTRW kabupaten/kota. Dasar Hukum Penyusunan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini.101 2. RTRW provinsi. serta keselarasan dengan RPJPD kabupaten/kota. harmonisasi. sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1. Dalam surat permohonan konsultasi diberitahukan pokok-pokok substansi materi yang perlu dikonsultasikan dan dilampiri dengan dokumen rancangan akhir RPJMD beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD serta hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah. Melengkapi Sistematika Rancangan RPJMD Menjadi Rancangan akhir RPJMD Penyajian rancangan akhir RPJMD disusun menurut sistematika yang telah disusun sebagaimana disajikan pada rancangan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota . sistematika dan teknis penyusunan. F.3. Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi pada tahap ini. keselarasan dengan RPJPD provinsi. sistematika dan teknis penyusunan. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi lainnya.5. 1. Penyempurnaan Rancangan Akhir RPJMD Berdasarkan Hasil Konsultasi Gubernur menindak lajuti hasil konsultasi RPJMD Provinsi dengan menteri. 1. 2. Surat kepala Daerah perihal permohonan konsultasi rancangan akhir RPJMD disampaikan kepada Menteri/Gubernur paling lama 7 (tujuh) hari sebelum konsultasi dilakukan. sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. . 5. 4.3.2. Aspek Geografi dan Demografi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD provinsi. RPJMN dan RPJMD dan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota lainnya. Tindak lanjut dimaksud yaitu menyempurnakan rancangan akhir RPJMD berdasarkan hasilhasil konsultasi yang disampaikan dengan surat Menteri/Gubernur. konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil musrenbang RPJMD kabupaten/kota. dan bupati/walikota menindak lanjuti hasil konsultasi rancangan RPJMD kabupaten/kota dengan Gubernur.1.1.

3. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.. PENYAJIAN VISI. 4.4. 4. 5.1. 5. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. Tujuan dan Sasaran Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. DAN SASARAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.102 - 2. Permasalahan Pembangunan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Visi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. BAB V . MISI. 5. 2. BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Kerangka Pendanaan Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.1. Aspek Pelayanan Umum Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. TUJUAN.3. 3.2.2. Aspek Daya Saing Daerah Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 3. Kinerja Keuangan Masa Lalu Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.3. 3. Isu Strategis Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. Misi Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. 2.

4. Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang RPJMD dengan DPRD sesuai dengan ketentuan perundang-undangan Rancangan peraturan daerah tentang RPJMD provinsi/kabupaten/kota ditetapkan menjadi peraturan daerah tentang RPJMD paling lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik. 5. Penyampaian rancangan peraturan daerah tentang RPJMD dengan lampiran rancangan akhir RPJMD yang telah dikonsultasikan dengan Menteri/Gubernur disertai dengan : a. berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD. dan surat Menteri/Gubernur perihal hasil konsultasi rancangan akhir RPJMD. BAB VIII PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. disampaikan kepada Gubernur untuk diklarifikasi dengan tembusan kepada menteri. BAB IX PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt.KEPALA BIRO HUKUM ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . G. 2. Peraturan daerah tentang RPJMD provinsi disampaikan kepada menteri paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan untuk diklarifikasi dan peraturan daerah tentang RPJMD kabupaten/kota.103 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Sama dengan isi rancangan RPJMD dengan koreksi seperlunya sesuai kebutuhan atau tambahan informasi pada tahap ini. b. 3. MENTERI DALAM NEGERI. paling lama 5 (lima) bulan setelah dilantik. PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG RPJMD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang RPJMD kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama.. 1.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU IV) TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 . TATACARA PENYUSUNAN.

PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD D. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RENSTRA SKPD E. PENETAPAN RENSTRA SKPD .LAMPIRAN IV : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) A. PERSIAPAN PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD C. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD B.

Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . Gambar. strategi dan kebijakan · rencana program. indikator kinerja.A. tujuan dan sasaran. misi.1 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENYUSUNAN RPJMD PENETAPAN SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU per SKPD Tidak sesuai sesuai Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Penyusunan Rancangan RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD sesuai Penetapan RenstraSKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra Renstra-KL dan Renstra SKPDRenstra dan Kab/ Kabupaten/ Kota Kabupaten/ Kota Kota Rancangan Renstra-SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Pelaksanaan Musrenbang RPJMD PERDA ttg RPJMD Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Tidak sesuai Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD RENSTRASKPD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. kegiatan.-2A. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. indikator kinerja. G-IV. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD.

tujuan dan sasaran. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi.2 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Kabupaten/Kota PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENYUSUNAN RPJMD PENETAPAN SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU per SKPD Tidak sesuai sesuai Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Penyusunan Rancangan RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD sesuai Penetapan RenstraSKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi Renstra-KL Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra dan Renstra dan Prov SKPD Renstra Kabupaten/ Kabupaten/ Kota Kota Rancangan Renstra-SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Pelaksanaan Musrenbang RPJMD PERDA ttg RPJMD Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Tidak sesuai Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD RENSTRASKPD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. G-IV. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . strategi dan kebijakan · rencana program. indikator kinerja.A. misi. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.-3Gambar. kegiatan. indikator kinerja.

Bahan orientasi mengenai Renstra SKPD. Orientasi mengenai Renstra SKPD Orientasi mengenai Renstra SKPD kepada seluruh anggota tim perlu dilakukan. Tugas tim penyusun Renstra SKPD dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja sampai dengan ditetapkannya Renstra SKPD. PERSIAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD Tahapan persiapan penyusunan Renstra SKPD dilakukan untuk menyiapkan keseluruhan kegiatan penyusunan Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana penyelenggaraan daerah. Tim penyusun Renstra SKPD dipersiapkan oleh Kepala SKPD dan diusulkan kepada kepala daerah untuk ditetapkan dengan surat keputusan kepala daerah. B. B. Peraturan perundang-undangan. Penyusunan Agenda Kerja Tim Renstra SKPD Rencana kegiatan tim penyusun Renstra SKPD disusun kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari persiapan surat edaran KDH hingga verifikasi rancangan Renstra SKPD sebagai bahan musrenbang. Sedapat mungkin anggota tim menguasai substansi fungsi dan tugas SKPD. tahapan tata cara penyusunan. B. Agenda kerja ini juga membantu koordinasi dan integrasi antara proses penyusunan Renstra SKPD dengan penyusunan RPJMD.3. yang diketuai oleh kepala unit kerja dengan anggota pejabat/staf SKPD dan unsur non pemerintah yang dinilai kompeten sebagai tenaga ahli. 3.1. Susunan keanggotaan tim berasal dari pejabat dan staf SKPD bersangkutan yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang perencanaan dan penganggaran. teknis penyusunan dokumen Renstra SKPD. sistem perencanaan pembangunan nasional. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundangundangan berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan Renstra SKPD dan penyusunan anggaran. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya. Tim penyusun terdiri atas perwakilan dari setiap unit kerja (bagian/bidang/subdin/atau sebutan lain) yang ada di masing-masing SKPD dan dapat melibatkan tenaga ahli sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Dengan demikian perlu dipilih orang-orang yang mempunyai kesiapan waktu dan kemampuan teknis yang cukup. Anggota tim penyusun yang dilibatkan harus siap bertugas secara penuh dalam menyiapkan dokumen Renstra SKPD. pengelolaan keuangan daerah. antara lain: tentang keuangan negara. Pembentukan Tim Penyusun Renstra SKPD Pembentukan tim penyusun Renstra SKPD dimulai dari penyiapan rancangan Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun Renstra SKPD provinsi dan kabupaten/kota. . pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD). pemerintahan daerah. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun Renstra SKPD. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. Susunan keanggotaan tim penyusun Renstra SKPD yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah ini sekurang-kurangnya sebagai berikut: Ketua Tim Sekretaris Tim Kelompok Kerja : Kepala SKPD : Kasubag TU/pejabat lainnya : Susunan kelompok kerja tim disesuaikan dengan kebutuhan. 2. mencakup: 1.2.-4B. Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran.

Untuk itu.4. 2. RTRW provinsi. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang perlu dikumpulkan dalam menyusun Renstra SKPD. 2. 1.T-IV. Pengumpulan data dan informasi tersebut dilakukan dengan langkah-langkah.1 Contoh Agenda Kerja Penyusunan Renstra SKPD Bulan I NO A. sebagai berikut: 1. Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Bulan II Bulan III Bulan IV PERSIAPAN PENYUSUNAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD Penyampaian rancangan Renstra SKPD Verifikasi rancangan Renstra SKPD MUSRENBANG RPJMD B. B. Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan Renstra SKPD dan disajikan dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan analisis. D. Tahap penyusunan rancangan Renstra SKPD terdiri dari dua tahap. 3. dan Renstra K/L untuk penyusunan RPJMD kabupaten/kota. Peraturan perundang-undangan yang terkait. dan Tahap penyajian rancangan Renstra SKPD. 3. dalam penyusunan Renstra SKPD perlu dikumpulkan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang akurat dan relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. antara lain: 1. Dokumen-dokumen: a. RPJMD kabupaten/kota. PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD Tahap perumusan rancangan Renstra SKPD. Mengumpulan data/informasi dipertanggungjawabkan. C. c. 4. dan Renstra K/L untuk penyusunan RPJMD provinsi. RPJMD provinsi. Data statistik sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir. Jenis data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun dokumen Renstra SKPD antara lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. RPJMD provinsi. b. 1 2 E. 2.C. Kebijakan pemerintah yang terkait. yaitu: .-5Contoh agenda kerja penyusunan dokumen Renstra SKPD adalah sebagai berikut: Tabel. RTRW kabupaten/kota. Hasil evaluasi Renstra SKPD periode lalu. dan yang akurat dari sumber-sumber yang dapat Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. Pengumpulan Data dan Informasi Data dan informasi merupakan unsur penting dalam perumusan rencana yang akan menentukan kualitas dokumen rencana pembangunan daerah yang disusun.

misi.-6Tahapan penyusunan rancangan Renstra SKPD dapat digambarkan dalam bagan alir sebagai berikut: GAMBAR. misi. indikator kinerja.2 Bagan Alir Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Kabupaten/Kota Renstra-KL Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra dan Renstra dan Renstra SKPD Provinsi Kabupaten/ Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. indikator kinerja. tujuan dan sasaran.1 Bagan Alir Penyusunan Rancangan Renstra SKPD Provinsi Renstra-KL Renstra-KL dan Renstra Renstra-KL dan Renstra SKPDRenstra dan Kab/ Kabupaten/ Kota Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Strategi dan kebijakan Rancangan Renstra-SKPD Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda Penelaahan RTRW Penelaahan KLHS Perumusan Tujuan Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan sasaran Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan rencana kegiatan. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi . strategi dan kebijakan · rencana program. kegiatan. indikator kinerja. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. indikator kinerja. strategi dan kebijakan · rencana program. G-IV.C. tujuan dan sasaran. kegiatan. G-IV. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD SPM Pengolahan data dan informasi GAMBAR.C. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif · indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD · isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi · visi.

4. layanan publik. Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap penyusunan Renstra SKPD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen) Renstra SKPD. analisis gambaran umum pelayanan SKPD untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan pelayanan SKPD. (3) data pembiayaan SKPD (khusus Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah/SKPKD). b) program prioritas K/L dan target kinerja serta lokasi program prioritas. (2) data belanja SKPD. data dan informasi pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD: mencakup (1) data pendapatan SKPD. Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). Kegiatan-kegiatan tersebut dikelompokkan sebagai berikut: Kegiatan-kegiatan perumusan rancangan Renstra SKPD yang dilakukan secara simultan (bersamaan waktunya) dengan proses penyusunan RPJMD terdiri dari: 1. Penelaahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Pengolahan data dan informasi a) data dan informasi gambaran pelayanan SKPD. (2) data dan informasi yang menggambarkan pencapaianpencapaian yang telah dilaksanakan dalam Renstra SKPD periode sebelumnya. Untuk penyusunan rancangan Renstra SKPD kabupaten/kota. tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD Provinsi. (3) data dan informasi yang menunjukkan aspirasi-aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan barang publik. dan program prioritas SKPD provinsi dan target kinerja serta lokasi program prioritas. Salah satu dokumen rujukan awal dalam menyusun rancangan Renstra SKPD adalah Rancangan Awal RPJMD yang menunjukkan program dan target indikator kinerja yang harus dicapai oleh SKPD selama lima tahun. dilakukan review Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. Review Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) dan Renstra SKPD Untuk penyusunan rancangan Renstra SKPD provinsi. baik untuk mendukung visi/misi kepala daerah maupun untuk memperbaiki kinerja layanan dalam rangka pemenuhan tugas dan fungsi SKPD terkait.1 Tahap Perumusan Rancangan Renstra SKPD Perumusan isi dan substansi rancangan Renstra SKPD sangat menentukan kualtias dokumen Renstra SKPD yang akan dihasilkan. yang mencakup: a) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra K/L. terdiri dari: a) b) 3. dilakukan review Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. dan d) program prioritas SKPD kabupaten/kota dan target kinerja serta lokasi program prioritas. dan regulasi dalam lingkup kewenangan SKPD. . mencakup: a) tujuan dan sasaran RTRW. mencakup (1) struktur organisasi beserta tugas dan fungsinya sebagai dasar untuk melihat dan menentukan lingkup kewenangan SKPD. program prioritas K/L dan target kinerja serta lokasi program prioritas. c) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota. b) 2. b) struktur dan pola ruang.-7- C. analisis pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan SKPD. Analisis gambaran pelayanan SKPD. yang mencakup: a) b) c) d) tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra K/L. dan c) indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah.

Regulasi yang menjadi asas legal bagi SKPD dalam pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD serta struktur organisasi. tata laksana. Mengingat pentingnya kesiapan data dan informasi dalam proses perumusan renstra SKPD. dan 5. Perumusan isu-isu strategis berdasarkan: a) Hasil analisis gambaran pelayanan SKPD (potensi dan permasalahan pelayanan SKPD). dan 9. Pengolahan Data dan Informasi Tahap pengolahan data dan informasi bertujuan untuk menyajikan seluruh kebutuhan data dari laporan hasil analisis. Analisis terhadap Dokumen Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sesuai dengan pelayanan atau tugas dan fungsi SKPD. huruf b). 8. dan kepegawaian SKPD. 7. menjadi informasi yang lebih terstruktur. dan relevan bagi pembahasan tim dan pihak-pihak terkait ditiap tahap perumusan penyusunan rancangan renstra SKPD. Perumusan tujuan pelayanan jangka menengah SKPD. Perumusan visi dan misi SKPD. Perumusan sasaran pelayanan jangka menengah SKPD. 4. . d) Hasil analisis dokumen KLHS. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pengolahan data dan informasi hendaknya tidak dilakukan hanya disaat dimulainya perencanaan. 6.1. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. b) Hasil review Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota untuk penyusunan Renstra SKPD provinsi dan hasil review Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi untuk penyusunan Renstra SKPD kabupaten/kota. seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 (lima) tahun. Mempelajari surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD beserta lampirannya yaitu rancangan awal RPJMD yang memuat indikator keluaran program dan pagu per-SKPD. bahan paparan (slide atau white paper). Berhubung pengolahan/tersedianya data dan informasi yang akurat merupakan salah satu kelemahan atau kurang mendapat perhatian hampir diseluruh lingkungan kehidupan kita.-85. sistematis. c) Hasil penelaahan RTRW. indikator kinerja. dan e) Penentuan isu-isu strategis yang akan dihadapi dalam jangka waktu pelaksanaan Renstra SKPD berdasarkan huruf a). maka perlu ditingkatkan/ditumbuhkembangkan kesadaran betapa pentingnya data dan informasi utamanya untuk penyusunan rencana pembangunan daerah. 3. 2. Sedangkan kegiatan yang dilakukan setelah SKPD menerima surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD adalah: 1. Pelaksanaan forum SKPD. Perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD guna mencapai target kinerja program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Perumusan rencana program. tetapi kegiatan ini harus berlangsung terus menerus setiap hari (kontinyu). termasuk lokasi kegiatan berdasarkan rencana program prioritas RPJMD. huruf c). dan huruf d). kegiatan.1. hasil riset dan lain-lain. resume/notulen-notulen pertemuan. perlu ditunjuk anggota tim yang secara khusus ditugaskan bertanggungjawab terhadap pengolahan data (dan bagaimana data itu harus diperoleh) sangat penting. Data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan sebagai bahan kajian/analisis dalam perumusan rancangan Renstra SKPD yakni yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD mencakup: 1. C.

2. hasil evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD sampai dengan tahun ke-5 belum diperoleh. 4. Capaian kinerja yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. Standar Pelayanan Minimal/SPM untuk urusan wajib dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya. Sumber daya SKPD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya. Pengolahan data dan informasi diatas perlu memperhatikan tingkat urgensi data dan informasi dalam analisis/kajian yang diperlukan bagi penyusunan suatu Renstra SKPD. Hambatan dan permasalahan yang perlu diantisipasi. Peraturan perundang-undangan terkait pelayanan SKPD. 2. 7. Capaian kinerja antara Renstra SKPD dengan RPJMD periode sebelumnya. sebagaimana dimuat dalam Lampiran I peraturan menteri ini. Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD adalah indikator kinerja pembangunan daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. 9. dan 10. Hal ini guna memastikan efektivitas dan efisiensi waktu. 5. menurut SPM untuk urusan wajib. dan indikator sesuai urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Hasil evaluasi Renstra SKPD periode sebelumnya merupakan informasi utama bagi penyusunan Renstra SKPD periode berikutnya. Peran SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. Data perkembangan pengelolaan keuangan dan aset SKPD paling kurang 5 (lima) tahun terakhir. 3. dan 5. Data dan informasi yang digunakan hendaknya memiliki tingkat keakurasian.1. 3. Renja SKPD tahun berjalan untuk menginformasikan kondisi terkini isu-isu pelayanan SKPD dan perkiraan tingkat capaian target Renstra SKPD sampai dengan akhir tahun berjalan. 4. Potensi dan permasalahan pelayanan SKPD. Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. Dalam keadaan indikator kinerja yang dimaksud tidak tersedia. dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat bahwa pada saat rancangan Renstra SKPD disusun. RTRW. validitas. C. Hasil evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu. Analisis gambaran pelayanan SKPD diharapkan mampu mengidentifikasi: 1. Renstra K/L. 8. dan biaya yang dialokasikan dalam pengumpulan dan pengolahan data/informasi. maka SKPD perlu menyepakati indikator kinerja mandiri untuk mengukur kinerja SKPD berkenaan. dan 3. 6. Potensi dan permasalahan aspek pengelolaan keuangan SKPD. maka digunakan hasil evaluasi sementara Renstra SKPD yang memuat hasil evaluasi Renstra SKPD sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD sampai dengan tahun berjalan (periode sebelum tahun rencana). Informasi lain yang terkait pelayanan SKPD. Analisis Gambaran Pelayanan SKPD Analisis gambaran pelayanan SKPD untuk menunjukkan: 1.-92. Tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD periode sebelumnya. tenaga. sekurang-kurangnya mencakup: . Indikator yang dimaksud adalah sebagaimana dimuat dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. Adapun informasi yang diperlukan untuk mendukung analisis ini. 2.

Identifikasi target (besaran) kinerja dalam Renstra SKPD (periode sebelumnya) yang dirinci per tahun.. Hitung realisasi capaian target kinerja setiap tahun sampai dengan tahun ke-5 dalam Renstra SKPD dan sampai dengan saat penyusunan Renstra SKPD berdasarkan Renja SKPD tahun berjalan. d) Laporan evaluasi pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya sampai dengan pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu untuk menunjukkan tingkat capaian/realisasi terhadap target kinerja yang harus dicapai selama pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya. pada setiap indikator. Untuk menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD. 6. dan f) Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk urusan wajib dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya Informasi dari butir (c) sampai dengan (f) dianalisis untuk menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD. b) Indikator kinerja yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. pelayanan yang mencapai target atau yang belum mencapai target. Yang dimaksud dengan kinerja yang dibutuhkan adalah target sebagaimana dimuat dalam Renstra SKPD periode sebelumnya dan/atau berdasarkan atas hasil analisis standar kebutuhan pelayanan. yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. Indikator yang digunakan mengacu pada Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. Tentukan indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD. mekanisme). Hitung rasio antara capaian kinerja dengan kinerja yang dibutuhkan/ditargetkan untuk menunjukkan ada/tidaknya kesenjangan/gap pelayanan. jika SKPD telah memiliki SPM. c) Indikator yang telah dikembangkan SKPD secara mandiri berdasarkan hasil analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD tersebut. indikator kinerja kunci (IKK) atau hasil analisis kebutuhan. Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari kelompok indikator berikut ini: a) Indikator kinerja SPM.10 a) Regulasi yang menjadi asas legal bagi SKPD dalam pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD untuk menunjukkan peran SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. 5. e) Berita acara forum SKPD tahunan (yang dapat menunjukkan aspirasi-aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan barang publik. 4. isu strategis dalam Renstra SKPD periode sebelumnya. dan faktor-faktor yang mempengaruhi tercapai tidaknya target pelayanan tersebut. Identifikasi target (besaran) kinerja menurut SPM. masalah yang dihadapi. c) Renja SKPD tahun berjalan untuk menginformasikan isu-isu terkini pelayanan SKPD dikaitkan dengan isu-isu krusial dan aktual daerah (sebagaimana dimuat dalam RKPD tahun berjalan). layanan publik. g) Data perkembangan pendanaan pelayanan SKPD (pendapatan. prosedur. dan pembiayaan) minimal 5 (lima) tahun terakhir untuk menunjukkan kemampuan pengelolaan pendanaan SKPD (rasio antara dana yang dianggarkan dengan yang direalisasikan). serta dampak yang ditimbulkan atas kinerja pelayanan tersebut. belanja. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian target tersebut. b) Struktur organisasi SKPD untuk menunjukkan organisasi. dan perkiraan tingkat pencapaian target Renstra SKPD sampai dengan akhir tahun berjalan. jumlah personil. dan tata laksana SKPD (proses. baik berupa faktor pendukung maupun faktor kendala pencapaian sebagai bahan perumusan . dan regulasi dalam lingkup kewenangan SKPD). Identifikasi pada pelayanan mana saja target telah tercapai dan belum tercapai. 7. dan kapasitas pendanaan pelayanan SKPD. SKPD menggunakan indikator dalam Lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri ini. dan d) Indikator Millennium Development Goals (MDGs) ataupun indikator lain yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. Langkah-langkah analisis tingkat kinerja pelayanan SKPD adalah: 1. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan aspek pendanaan pelayanan SKPD. 3. 2. dilakukan perbandingan antara capaian kinerja pelayanan SKPD dengan kinerja yang dibutuhkan. dan potensi pengembangan pelayanan SKPD.

Bila target kinerja dalam IKK belum tercantum. dapat diajikan dalam contoh tabel (contoh untuk layanan SKPD/dinas pendidikan) seperti Tabel. Jika SKPD belum mempunyai SPM dan dokumen Renstra SKPD-nya belum mencantumkan indikator maupun target kinerjanya.T-IV. Bila pada IKK angka standarnya tidak tersedia atau target kinerjanya tidak tercantum dalam Renstra SKPD. maka analisis tingkat capaian pelayanan mengacu pada IKK serta analisis kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD. maka perlu dilakukan analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai dengan norma dan standar pelayanan masing-masing SKPD. 9. dan 11.. 8. Hasil dari langkah-langkah analisis tersebut diatas. 10.2 berikut: .C.11 permasalahan pelayanan SKPD untuk ditangani pada Renstra berikutnya. maka analisis capaian kinerja dihubungkan dengan indikator kinerja SKPD yang terkait dengan SPM.

.. SMP/Mts a) Partisipasi anak bersekolah b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis d) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non guru e) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan f) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional g) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa .C.. Jumlah lulusan yang melanjutkan ke SMP/MTs Indikator lainnya . Indikator lainnya ..12 Tabel........T-IV.2 Review Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Pendidikan*) Provinsi/Kabupaten/Kota **) ……………… NO (1) SPM A.. 1.. 90 % <1% 90 % 80 % 90 % 90 % 100 % 95 % <1% 90 % 90 % 90 % 95 % 30-40 90 % 95 % Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 (11) Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) k) Indikator lainnya ... Pendidikan Formal SD/MI (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah) a) Partisipasi anak bersekolah (PAB) b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis d) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan e) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional f) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa g) Jumlah siswa per kelas h) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional i) j) l) 2..

m) Indikator lainnya ........ 60 % <1% 90 % 80 % 90 % 90 % 100 % 30-40 90 % 25 % k) Indikator lainnya ....... SMA/MA a) Partisipasi anak bersekolah b) Angka putus sekolah (APS) c) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis yang ditetapkan d) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non guru e) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan f) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional g) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa h) Jumlah siswa per kelas i) j) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional Jumlah lulusan yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang terakreditasi Indikator lainnya ....13 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) h) Jumlah siswa per kelas i) j) l) Jumlah siswa dengan nilai memuaskan terhadap uji sampel mutu pendidikan standar nasional Jumlah lulusan yang melanjutkan ke SMA/MA/SMK Indikator lainnya ........ Target SPM Target IKK (3) 30-40 90 % 70 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) k) Indikator lainnya ... 3. 4...... l) m) Indikator lainnya . SMK a) Angka putus sekolah (APS) b) Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis yang ditetapkan c) Kepemilikan sekolah terhadap tenaga kependidikan non <1% 90 % 80 % ..

..... m) Indikator lainnya . Indikator lainnya . Target SPM Target IKK (3) 90 % 90 % 100 % 30-40 20 % 20 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) k) Indikator lainnya ..14 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) guru d) Pemenuhan jumlah guru yang diperlukan e) Kualifikasi guru yang sesuai kompetensi yang ditetapkan secara nasional f) Kelengkapan pemilikan buku pelajaran oleh siswa g) Jumlah siswa per kelas h) Jumlah lulusan SMK melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang terakreditasi i) j) Jumlah lulusan yang diterima di dunia kerja sesuai dengan keahliannya. B... Pendidikan Non Formal Pendidikan Keaksaraan a) Bisa membaca dan menulis b) Orang buta aksara dalam kelompok usia 15-44 tahun c) Orang buta aksara dalam kelompok usia diatas 44 tahun d) Ketersediaan data dasar keaksaraan yang diperbarui terus menerus l) Indikator lainnya .. 2.. 1......... n) Indikator lainnya . Kesetaraan SD (program Paket-A) a) Peserta paket A bagi penduduk usia sekolah yang belumbersekolah SD/MI b) Peserta didik Paket A yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket A oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket A dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi (SMP/MTs) atau Program Paket B 85 % < 10% 100 % 95 % 95 % 100 % <7% < 30% .........

. SMK..15 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) f) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan g) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket A yang diperlukan h) Kualifikasi tutor Program Paket A yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional i) Jumlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran Jumlah peserta yang memiliki sarana belajar Target SPM Target IKK (3) 90 % 100 % 90 % 90 % 100 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) j) k) Tersedianya data dasar kesetaraan SD yang diperbarui terus menerus. 3... l) Indikator lainnya .. atau Program Paket C) g) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan h) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket B yang diperlukan i) j) Kualifikasi tutor Program Paket A yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional Jumlah pusat kegiatan belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran 90 % < 10% 100 % 80 % 50 % 50% 90 % 100 % 90 % 90 % . MA... m) Indikator lainnya ... Kesetaraan SMP (Program Paket B) a) Peserta didik Program Paket B bagi penduduk usia sekolah yang belum bersekolah SMP/MT b) Peserta didik Program Paket B yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket B oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket B dapat memasuki dunia kerja f) Jumlah lulusan Program Paket B yang dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMA.. n) Indikator lainnya .......

. Kasetaraan SMA (Program Paket C) a) Peserta didik Program Paket C bagi penduduk usia sekolah yang belum bersekolah SMA/MA/SMK b) Peserta didik Program Paket C yang tidak aktif c) Kepemilikan modul program paket C oleh peserta didik d) Jumlah kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian kesetaraan e) Jumlah lulusan Program Paket C dapat memasuki dunia kerja f) Jumlah lulusan Program Paket C dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi 70 % <5% 60 % 80 % 60 % 10 % 90 % 100 % 90 % 90 % g) Jumlah peserta didik yang mengikuti uji sampel mutu pendidikan yang mendapatkan nilai memuaskan h) Pemenuhan jumlah tutor Program Paket C yang diperlukan i) j) Kualifikasi tutor yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional Jumlah pusat belajar masyarakat yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai standar teknis pembelajaran k) Tersedianya data dasar kesetaraan SMA yang diperbarui terus menerus l) Indikator lainnya .. l) Indikator lainnya ..16 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) k) Tersedianya data dasar kesetaraan SMP yang diperbarui terus menerus... 5. dan dari keluarga pra sejahtera yang menjadi peserta didik dalam kursuskursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang 25 % .. Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 4........ m) Indikator lainnya .. m) Indikator lainnya ... pengangguran. Pendidikan Keterampilan dan Bermata-pencaharian a) Prosentase jumlah anggota masyarakat putus sekolah... n) Indikator lainnya .........

6. pelatihan. magang.... l) m) Indikator lainnya . kelompok belajar usaha yang dapat memasuki dunia kerja f) Pemenuhan jumlah tenaga pendidik. atau penguji praktek kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan h) Jumlah peserta ujian kursus-kursus yang memperoleh ijazah atau sertifikat i) Jumlah kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan Tersedianya data dasar kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang diperbarui terus menerus Indikator lainnya ... instruktur. atau penguji praktek dari kursus-kursus/pelatihan/ kelompok belajar usaha/magang yang diperlukan g) Kualifikasi tenaga pendidik..... Pendidikan Taman Kanak-kanak a) Jumlah anak usia 4-6 tahun yang mengikuti program TK/RA b) Guru yang layak mendidik T/RA dengan kualifikasi sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional c) TK/RA yang memiliki sarana dan prasarana belajar/bermain d) TK/RA yang telah menerapkan manajemen berbasis sekolah sesuai dengan manual yang ditetapkan oleh Menteri 20 % 90 % 90 % 60 % ......17 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) b) Kepemilikan ijin operasional dari pemerintah atau pemerintah daerah c) Jumlah lembaga kursus dan lembaga pelatihan yang terakreditasi d) Kursus-kursus/pelatihan/kelompok belajar usaha/magang yang dibina secara terus menerus e) Lulusan kursus.. Target SPM Target IKK (3) 100 % 25 % 100 % 90 % 100 % (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 90 % 75 % 90 % j) k) Indikator lainnya .. instruktur.

Indikator Kinerja Kunci (Permendagri No 73 Tahun 2009) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) 7............18 - NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) e) Indikator lainnya .... f) Indikator lainnya . Kelompok Bermain atau yang sederajat a) Jumlah anak 0 – 4 tahun yang mengikuti kegiatan Tempat Penitipan Anak.. Kelompok Bermain atau sederajat b) Jumlah Anak usia 4-6 tahun yang belum terlayani pada program PAUD jalur formal mengikutii program PAUD jalur non formal. c) Guru PAUD jalur non formal yang telah mengikuti pelatihan di bidang PAUD d) Indikator lainnya .... Pendidikan di Taman Penitipan Anak. 65 % 50 % 50 % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Angka Rata-rata Lama Bersekolah Angka Melek Huruf Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SD/MI Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMP/MTS Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMA/SMK/MA Pembinaan Guru jenjang SD/MI Pembinaan Guru jenjang SMP/MTS Pembinaan Guru jenjang SMA/SMK/MA Fasilitasi dan Asistensi Pengelolaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI .... e) Indikator lainnya .

19 - NO (1) 16 17 18 19 20 21 22 23 Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) (2) Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 1 Realisasi Capaian Tahun ke2 (12) 3 (13) 4 (14) 5 (15) Rasio Capaian pada Tahun ke1 (16) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (11) Catatan: *) Contoh untuk SKPD Pendidikan **) Diisi nama provinsi/ kabupaten/kota ***) Sesuaikan dengan tugas dan fungsi SKPD provinsi/ kabupaten/kota ..

Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) Kolom (6) Kolom (11) Kolom (16) Lakukan analisis pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode perencanaan sebelumnya untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan SKPD dengan cara mengisi Tabel. Indikator Millennium Development Goals (MDGs) ataupun indikator lain yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan. diisi dengan target yang ditentukan pada indikator yang berkenaan.. c. Rasio ini dinyatakan dalam persentase.Dana alokasi umum .Lain-lain PAD yang Sah Dana Perimbangan .Dana darurat .T-IV.C.Bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak .Dana penyesuaian dan otonomi khusus . jika SKPD telah memiliki SPM. *) Provinsi/ Kabupaten/Kota……………… **) Anggaran pada Tahun keUraian ***) 1 (1) (2) Realisasi Anggaran pada Tahun ke1 (7) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 (12) 2 (3) 3 (4) 4 (5) 5 (6) 2 (8) 3 (9) 4 (10) 5 (11) 2 (13) 3 (14) 4 (15) 5 (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggar Realis an asi (17) (18) PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah . sampai dengan Kolom (10) diisi dengan target yang tercantum dalam Renstra SKPD untuk masing-masing tahun pelaksanaan Renstra SKPD.Hasil retribusi daerah . diisi dengan target yang telah ditentukan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah untuk setiap IKK berkenaan. sampai dengan Kolom (20) diisi dengan rasio antara realisasi capaian dengan target dalam Renstra SKPD. diisi dengan indikator kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. dan d. Indikator yang telah dikembangkan SKPD secara mandiri berdasarkan hasil analisis standar kebutuhan pelayanan sesuai tugas dan fungsi SKPD tersebut.: Tabel.. diisi dengan target nasional menurut SPM pada indikator kinerja yang berkenaan. Indikator kinerja SPM. sampai dengan Kolom (15) diisi dengan realisasi capaian kinerja sebagaimana hasil evaluasi tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-5 pelaksanaan Renstra SKPD.3 berikut ini.Bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya .20 Petunjuk cara pengisian Tabel.Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya . misalnya target MDGs untuk indikator yang terkait MDGs. SKPD menggunakan Lampiran I peraturan menteri ini sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD berkenaan.C. Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan SKPD sekurang-kurangnya mencakup salah satu dari kelompok indikator berikut ini: a.C.3 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD .Hasil pajak daerah .Dana alokasi khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah .2: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut sesuai dengan kebutuhan.Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan .T-IV.Pendapatan hibah .. Indikator kinerja yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. b.T-IV. Data realisasi capaian kinerja ini berdasarkan laporan evaluasi hasil pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya.

misalnya prosedur/mekanisme.3 merupakan salah satu tabel yang dimuat dalam dokumen Renstra SKPD. jumlah dan kualitas personil (sumber daya manusia).Penerimaan pinjaman daerah .3: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (7) Kolom (12) Kolom (17) Kolom (18) diisi dengan uraian jenis pendapatan/belanja/pembiayaan sesuai dengan kebutuhan. dan diisi dengan angka rata-rata pertumbuhan anggaran. Dari tabel diatas. dan sebagainya.Penerimaan kembali pemberian pinjaman .Pencairan dana cadangan .C. sampai dengan Kolom (6) diisi dengan data anggaran SKPD sesuai yang tercantum pada APBD dalam 5 (lima) tahun pelaksanaan Renstra SKPD. dan selanjutnya perlu diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD. pada perihal mana yang baik atau kurang baik.C. Tabel diatas juga menunjukkan kapasitas pendanaan pelayanan SKPD dalam 5 (lima) tahun terakhir. yaitu: (jumlah anggaran pada tahun ke-5 – jumlah anggaran pada tahun ke-1)/5.Penerimaan piutang daerah Pengeluaran pembiayaan . dapat dilihat pada tahun mana saja rasio antara realisasi penyerapan anggaran dan anggaran dapat dikatakan baik atau kurang baik. sampai dengan Kolom (11) diisi dengan data realisasi penyerapan anggaran SKPD sesuai laporan pelaksanaan APBD/Renja SKPD pada tahun berkenaan.Belanja barang dan jasa . diisikan dengan angka rata-rata pertumbuhan realisasi. Dengan demikian. progres pelaksanaan program.Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan .Pembayaran pokok utang .Belanja tidak terduga Belanja langsung .Pembentukan dana cadangan .T-IV.Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah .T-IV. yaitu: (jumlah realisasi pada tahun ke-5 – jumlah realisasi pada tahun ke-1)/5. sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan isu strategis dan program strategis SKPD pada Renstra SKPD yang akan disusun. Tabel. selanjutnya dapat dirumuskan permasalahan pendanaan pelayanan SKPD untuk diatasi melalui strategi/kebijakan dalam Renstra SKPD periode berikutnya.Pemberian pinjaman daerah Total *) **) ***) diisikan dengan nama SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kewenangan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota Petunjuk cara pengisian Tabel.Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya .Belanja modal PEMBIAYAAN Penerimaan pembiayaan ..21 Realisasi Anggaran pada Tahun ke1 (7) Anggaran pada Tahun keUraian ***) 1 (1) (2) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 (12) 2 (3) 3 (4) 4 (5) 5 (6) 2 (8) 3 (9) 4 (10) 5 (11) 2 (13) 3 (14) 4 (15) 5 (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggar Realis an asi (17) (18) BELANJA DAERAH Belanja tidak langsung Belanja pegawai Belanja bunga Belanja subsidi Belanja hibah Belanja bantuan sosial Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa . . sampai dengan Kolom (16) diisi dengan rasio antara realisasi penyerapan anggaran dengan anggaran yang telah dialokasikan dalam APBD.Belanja pegawai .

peluang. keterpaduan. g. dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD provinsi terhadap sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota sesuai dengan urusan yang menjadi kewenangan masing-masing SKPD.3. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota yang masih berlaku ini menjadi masukan dalam perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD yang akan ditangani pada Renstra SKPD provinsi periode berikutnya. Jika Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota tahun rencana telah tersedia.4: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan.T-IV. Sedangkan jika lebih rendah. tujuan dan sasaran. dan apakah tingkat capaian kinerja Renstra SKPD provinsi melebihi/sama/kurang dari sasaran Renstra K/L atau rata-rata Kabupaten/kota. ditujukan untuk mengidentifikasi potensi. sumber daya penyelenggaraan pelayanan. strategi dan kebijakan. maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja SKPD sudah baik secara nasional dan regional. dan strategi/kebijakan pelayanan yang ditempuh. indikasi besaran pendanaan program strategi.. b. b.C. maka hal ini mengindikasikan bahwa SKPD tersebut memiliki permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanannya. proses/prosedur/mekanisme pelayanan. diisi dengan data capaian sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). dan tahapan pelaksanaan program dan kegiatan. dan tantangan pelayanan sebagai masukan penting dalam perumusan isu-isu strategis dan pilihan/kebijakan strategis dalam Renstra SKPD provinsi. 1. diisi dengan indikator kinerja sasaran yang terdapat pada Renstra SKPD provinsi. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk . indikasi lokasi program prioritas. d. kegiatan. Tabel. e. seperti dalam perencanaan program. sinkronisasi. isu-isu strategis pelayanan K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. f. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi: a. Analisis Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) dan Renstra SKPD Untuk Provinsi Analisis Renstra K/L dan SKPD kabupaten/kota (yang masih berlaku) ditujukan untuk menilai keserasian.1. Review merupakan proses penting untuk harmonisasi dan sinergi antara Renstra SKPD provinsi dengan Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota serta mencegah tumpang tindih antara program dan kegiatan pemerintah atau K/L dengan provinsi/kabupaten/kota. c. dan pendanaan. Jika tingkat capaian kinerja Renstra SKPD provinsi melebihi sasaran Renstra K/L atau ratarata kabupaten/kota. diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). apakah capaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD provinsi telah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota.C.4 Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Provinsi terhadap Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota*) dan Renstra K/L No (1) Indikator Kinerja (2) Capaian Sasaran Renstra SKPD Provinsi (3) Sasaran pada Renstra SKPD Kabupaten/Kota*) (4) Sasaran pada Renstra K/L (5) 1 2 3 dst *) Rata-rata Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Cara pengisian Tabel.T-IV. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota tahun rencana. program prioritas beserta target kinerjanya.22 - C. maka review dilakukan pada: a.

dan sinergitas pencapaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota terhadap sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD Provinsi sesuai dengan urusan yang menjadi kewenangan sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing SKPD. Jika Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi tahun rencana telah tersedia. maka hal ini mengindikasikan bahwa SKPD tersebut memiliki permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanannya. tujuan dan sasaran..C. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra K/L. apakah capaian sasaran pelaksanaan Renstra SKPD kabupaten/kota telah berkontribusi terhadap pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi dan Renstra K/L. menjadi masukan dalam perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD yang akan ditangani pada Renstra SKPD kabupaten/kota periode berikutnya. indikasi besaran pendanaan program strategis. yang berarti Renstra SKPD kabupaten/kota tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. Kolom (5) 2. Jika tingkat capaian kinerja Renstra SKPD kabupaten/kota melebihi sasaran Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. Untuk Kabupaten/Kota Analisis Renstra K/L dan SKPD Provinsi (yang masih berlaku) ditujukan untuk menilai keserasian. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi tahun rencana bertujuan untuk mengidentifikasi potensi. g.5 Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/kota terhadap Sasaran Renstra SKPD Provinsi dan Renstra K/L No (1) 1 2 3 dst Indikator Kinerja (2) Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota (3) Sasaran pada Renstra SKPD Provinsi (4) Sasaran pada Renstra K/L (5) . b.23 dalam indikator kinerja sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. strategi dan kebijakan. dan diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra K/L untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). indikasi lokasi program prioritas. kegiatan. d. keterpaduan. program prioritas beserta target kinerjanya. Hasil review terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi yang masih berlaku. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). b. f. dan tantangan pelayanan sebagai masukan penting dalam perumusan isu-isu strategis dan pilihan/kebijakan strategis dalam Renstra SKPD kabupaten/kota. maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja SKPD sudah baik secara nasional/provinsi. peluang. Sedangkan jika lebih rendah. Review ini merupakan proses penting untuk harmonisasi dan sinergi antara Renstra SKPD kabupaten/kota dengan Renstra K/L dan Renstra provinsi serta mencegah tumpang tindih program dan kegiatan antara pemerintah atau K/L dengan provinsi/kabupaten/kota. dan strategi/ kebijakan pelayanan yang ditempuh. maka review dilakukan pada: a. Tabel. sinkronisasi. c. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). dan pendanaan. dan tahapan pelaksanaan program dan kegiatan. yang berarti Renstra K/L tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. isu-isu strategis pelayanan K/L dan Renstra SKPD provinsi. dan apakah tingkat capaian kinerja Renstra SKPD kabupaten/kota melebihi/sama/kurang dari sasaran Renstra SKPD provinsi atau Renstra K/L. e. seperti dalam perencanaan program. proses/prosedur/mekanisme pelayanan. sumber daya penyelenggaraan pelayanan.T-IV. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi: a.

C. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra K/L.1. diisi dengan data capaian sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). jaringan prasarana energi/listrik..C. perkiraan kebutuhan pelayanan. maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). 4. Telaahan rencana tata ruang wilayah ditujukan untuk mengidentifikasi implikasi rencana struktur dan pola ruang terhadap kebutuhan pelayanan SKPD. dan jaringan prasarana telekomunikasi.6 Hasil Telaahan Struktur Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota. Rencana pola ruang.T-IV. diisi dengan indikator kinerja sasaran yang terdapat pada Renstra SKPD kabupaten/kota.. pelabuhan laut. Jika suatu indikator kinerja tidak termasuk dalam indikator kinerja sasaran Renstra SKPD provinsi. yang berarti Renstra K/L tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya.T-IV. Pola ruang saat ini. dan diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra K/L untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). 2.24 Cara pengisian Tabel.T-IV. Rencana struktur tata ruang. Dibandingkan dengan struktur dan pola ruang eksisting maka SKPD dapat mengidentifikasi arah (geografis) pengembangan pelayanan. ketersediaan bandara. jaringan prasarana energi/listrik. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. 3. diisi dengan data sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pada kolom (2). maka pada data sasaran untuk indikator kinerja yang tidak termasuk tersebut cukup ditulis dengan (-). jaringan jalan primer/sekunder. aspek yang perlu ditelaah adalah: 1. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang telah ada di wilayah provinsi/ kabupaten/kota.4. terminal. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). dalam penelaahan RTRW. terminal.C. Kolom (3) . rencana bandara. diisi dengan daftar Pusat Kegiatan Nasional (PKN).5: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. Sedangkan kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.6: Kolom (1) Kolom (2) diisi dengan nomor urut sesuai dengan kebutuhan. Indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah Tabel. stasiun kereta. stasiun kereta. dan prioritas wilayah pelayanan SKPD dalam lima tahun mendatang. jaringan prasarana sumber daya air. yang berarti Renstra SKPD provinsi tidak mencakup indikator kinerja tersebut beserta data sasaran kinerjanya. SKPD dapat menyusun rancangan program beserta targetnya yang sesuai dengan RTRW tersebut. pelabuhan penyeberangan. pelabuhan laut.*) No (1) 1 2 3 dst Rencana Struktur Ruang (2) Struktur Ruang Saat Ini (3) Indikasi Program Pemanfaatan Ruang pada Periode Perencanaan Berkenaan (4) Pengaruh Rencana Struktur Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan SKPD (5) Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan SKPD (6) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. diisi dengan daftar Pusat Kegiatan Nasional (PKN). pelabuhan penyeberangan. Struktur tata ruang saat ini. Kolom (5) C.. Dikaitkan dengan indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah dalam RTRW. Cara pengisian Tabel. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang direncanakan di wilayah provinsi/kabupaten/kota. jaringan prasarana sumber daya air. dan 5. jaringan jalan primer/sekunder. Untuk itu. dan jaringan prasarana telekomunikasi..

dan indikasi program pemanfaatan ruang pada periode berkenaan dengan tahun perencanaan Renstra SKPD. kawasan budidaya.C. rencana. identifikasilah bentuk kebutuhan tersebut. dan/atau program. 6. KLHS memuat kajian antara lain. menyeluruh. dan lokasinya. dan diisi dengan perbandingan antara kondisi rencana dan kondisi saat ini. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. Jika ada.T-IV. kawasan strategis yang direncanakan di wilayah provinsi/kabupaten/kota. dan diisi dengan daftar lokasi berdasarkan hasil pada kolom (5). 3. dan/atau program pembangunan dalam suatu wilayah.25 Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan indikasi program pemanfaatan ruang untuk setiap rencana struktur ruang.5. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup.. Jika ada. kinerja layanan/jasa ekosistem. diisi dengan indikasi program pemanfaatan ruang untuk setiap rencana pola ruang. Hasil KLHS menjadi dasar bagi kebijakan. 5. perkiraan besaran kebutuhan. Cara pengisian Tabel. maka: 1. dan diisi dengan daftar lokasi berdasarkan hasil pada kolom (5). kawasan budidaya. dan indikasi program pemanfaatan ruang pada periode berkenaan dengan tahun perencanaan Renstra SKPD. 2. kawasan strategis yang telah ada (eksisting) di wilayah provinsi/kabupaten/kota. lakukan identifikasi apakah ada pengaruhnya kepada kebutuhan pelayanan SKPD.1. Analisis terhadap Dokumen Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sesuai dengan pelayanan SKPD Kolom (6) C. rencana. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan. kebijakan. diisi dengan daftar kawasan lindung. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam. yang selanjutnya disingkat KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis. Apabila hasil KLHS menyatakan bahwa daya dukung dan daya tampung sudah terlampaui. diisi dengan daftar kawasan lindung. dan .C. dan/atau program pembangunan tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan rekomendasi KLHS. dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan.7: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan.7 Kolom (6) Hasil Telaahan Pola Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota No (1) 1 2 3 4 dst Rencana Pola Ruang (2) Pola Ruang Saat Ini (3) Indikasi Program Pemanfaatan Ruang Pada Periode Perencanaan Berkenaan (4) Pengaruh Rencana Pola Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan SKPD (5) Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan SKPD (6) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. rencana. lakukan identifikasi apakah ada pengaruhnya kepada kebutuhan pelayanan SKPD. Tabel. 1. dan tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati. dan lokasinya. identifikasilah bentuk kebutuhan tersebut. Daftar lokasi ini menjadi arahan lokasi pengembangan pelayanan SKPD untuk mendukung perwujudan struktur ruang wilayah. 4. Daftar lokasi ini menjadi arahan lokasi pengembangan pelayanan SKPD untuk mendukung perwujudan pola ruang wilayah.T-IV. Kajian Lingkungan Hidup Strategis. diisi dengan perbandingan antara kondisi rencana dan kondisi saat ini. perkiraan besaran kebutuhan.

1... maka program dan kegiatan tersebut perlu direvisi agar sesuai dengan rekomendasi KLHS.. Perumusan Isu-isu Strategis Berdasarkan Tugas dan Fungsi C. Implikasi terhadap Pelayanan SKPD (4) Catatan bagi Perumusan Program dan Kegiatan SKPD (5) No (1) 1.. diisi dengan ringkasan KLHS untuk setiap aspek kajian berkenaan... Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan...6. 6.. Cara pengisian Tabel..8 Hasil Analisis terhadap Dokumen KLHS Provinsi/Kabupaten/Kota. diisi dengan aspek kajian KLHS. dan diisi dengan catatan yang harus diperhatikan dalam perumusan program dan kegiatan agar tidak bertentangan dengan KLHS.. 5... .. Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya..26 2... 2.. dalam hal tidak dimanfaatkan..*) SKPD. Aspek Kajian (2) Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup Kinerja layanan/jasa ekosistem Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim Tingkat ketahanan dan keanekaragaman hayati potensi Ringkasan KLHS (3) *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota. Oleh karena itu.. Jika ada program dan kegiatan pelayanan SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang berimplikasi negatif terhadap lingkungan hidup. Tabel. segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi Dengan mempertimbangkan fungsi KLHS tersebut maka analisis terhadap dokumen hasil KLHS ditujukan untuk mengidentifikasi apakah ada program dan kegiatan pelayanan SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang berimplikasi negatif terhadap lingkungan hidup. akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya. 4.C..8: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan. Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar layanan SKPD senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan dan aspirasi pengguna layanan..C.. 3.T-IV. perhatian kepada mandat dari masyarakat dan lingkungan eksternalnya merupakan perencanaan dari luar ke dalam yang tidak boleh diabaikan..T-IV... Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi.. akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat dalam jangka panjang. diisi dengan pengaruh yang mungkin/dapat terjadi terhadap kebijakan pelayanan SKPD... dapat dioperasionalkan dan secara moral serta etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan. Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi SKPD dimasa datang.

.9 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi SKPD Pendidikan*) Provinsi...T-IV.7).. Informasi yang diperlukan dalam perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi ini adalah: 1.C.T-IV.6 dan Tabel. dan diisi dengan rumusan permasalahan pelayanan SKPD berdasarkan informasi pada kolom (2). Hasil analisis KLHS (Tabel.. diisi dengan kesimpulan setiap aspek kajian tentang capaian/kondisi saat ini diisi dengan standar yang digunakan pada setiap aspek kajian untuk menilai kualitas capaian/kondisi saat ini.3). Kajian terhadap Renstra K/L.T-IV.C.. Cara pengisian Tabel.9: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) (6) diisi dengan judul aspek-aspek kajian yang telah dilakukan.C.T-IV. Kajian terhadap RTRW. Selanjutnya.5 untuk kabupaten/kota).8) Informasi tersebut dapat disusun kedalam contoh tabel matriks sebagai berikut: Tabel.T-IV.. dan kolom (5). diisi dengan faktor-faktor yang berada diluar kewenangan SKPD. 3.**) Faktor yang Mempengaruhi INTERNAL (KEWENANGAN SKPD) EKSTERNAL (DILUAR KEWENANGAN SKPD) Aspek Kajian Capaian/Kondisi Saat ini Standar yang Digunakan Permasalahan Pelayanan SKPD (1) (2) (3) (4) (5) (6) *) Sebagai contoh adalah SKPD pendidikan provinsi **) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi.C.C.. kolom (4).C. diisi dengan faktor-faktor yang dapat dikendalikan melalui kewenangan SKPD.T-IV. kolom (3)...27 Suatu isu strategis bagi SKPD diperoleh baik berasal dari analisis internal berupa identifikasi permasalahan pembangunan maupun analisis eksternal berupa kondisi yang menciptakan peluang dan ancaman bagi SKPD di masa lima tahun mendatang..C. yaitu: Gambaran pelayanan SKPD..C. Hasil telaahan RTRW (Tabel.T-IV. dianalisis isu-isu strategis yang berhubungan atau mempengaruhi SKPD dari faktor-faktor eksternal lainnya dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel..C.4 untuk provinsi) atau (Tabel. Hasil analisis Renstra K/L dan Renstra-SKPD provinsi/kabupaten/kota (Tabel. Hasil analisis gambaran pelayanan SKPD (Tabel. Kajian KLHS.10 Identifikasi Isu-Isu Strategis (Lingkungan Eksternal) No (1) 1 2 3 4 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Isu Strategis Dinamika Internasional (2) Dinamika Nasional (3) Dinamika Regional/Lokal (4) Lain-lain (5) .C.T-IV. 2. dan 4.T-IV. Kajian terhadap Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota.T-IV.2 dan Tabel.

C. misi..C. SKPD provinsi juga perlu menyusun faktor-faktor ... diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi se-wilayah provinsi/kab/kota. No (1) 1 Misi dan Program KDH dan Wakil KDH terpilih (2) Misi 1……………… Program………… 2 Misi 1……………… Program………… Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel. tetapi juga berdasarkan kebutuhan pengelolaan faktor-faktor agar dapat berkontribusi dalam pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Untuk provinsi: Selanjutnya berdasarkan hasil analisis terhadap Renstra K/Ldan Renstra SKPD kabupaten/kota (lihat kembali Tabel.11 Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan SKPD Terhadap Pencapaian Visi.... dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih ditujukan untuk memahami arah pembangunan yang akan dilaksanakan selama kepemimpinan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut...T-IV..10: Kolom (1) Kolom (2) Kolom (3) Kolom (4) Kolom (5) diisi dengan nomor urut sesuai dengan nomor urutan... dan diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.. Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Visi: . diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi dari dunia Internasional... diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel... dan lain-lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil identifikasi SKPD tentang faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih ini juga akan menjadi input bagi perumusan isu-isu strategis pelayanan SKPD.. diisi dengan isu strategis yang diidentifikasi di tingkat nasional..... Menelaah Visi.. Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Menelaah visi.... 1.C.T-IV.. Setiap uraian misi disertai dengan uraian program.9 yang dapat mempengaruhi pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih..28 Cara Pengisian Tabel.T-IV... sosial budaya..... diisi dengan uraian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.. usaha/ bisnis..T-IV.. Dengan demikian.T-IV. isu-isu yang dirumuskan tidak saja berdasarkan tinjauan terhadap kesenjangan pelayanan..C....... Tabel.4).. diisi dengan isu-isu strategis lain yang berasal dari dunia akademik. penemuan-penemuan teknologi..C...11: Kolom kolom Kolom Kolom Kolom (1) (2) (3) (4) (5) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan..... diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan dan dapat menghambat pencapaian misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah.

2.C. Indikator kinerja pelayanan SKPD yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD.29 baik yang bersifat menghambat maupun yang bersifat mendorong. SKPD kabupaten/kota menyusun faktor-faktor baik yang bersifat menghambat maupun yang bersifat mendorong. Untuk provinsi: Demikian pula hal-nya dengan hasil analisis terhadap Renstra SKPD kabupaten/kota.T-IV. Kolom (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra K/L.9.C.C. yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi.13 Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi berdasarkan Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra SKPD Kabupaten/kota (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) .T-IV. dan Kolom (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra K/L.T-IV. Kolom (2) diisi dengan sasaran jangka menengah Renstra K/L sebagaimana tercantum dalam Renstra K/L.C.. Kolom (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel. Identifikasi faktor tersebut dapat disusun pada tabel berikut: Tabel.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD dengan sasaran Renstra K/L. 1.5).T-IV.C. SKPD provinsi perlu menyusun daftar faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi pada Tabel.12: Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD. Untuk kabupaten/kota: Selanjutnya berdasarkan hasil analisis terhadap Renstra K/Ldan Renstra SKPD provinsi (lihat kembali Tabel.T-IV.12 Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota berdasarkan Sasaran Renstra K/L beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra K/L (2) Permasalahan Pelayanan SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel. yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi.C. Tabel.T-IV.

C.T-IV. Indikator kinerja pelayanan SKPD provinsi yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD provinsi. Kolom Kolom Kolom 2. Tabel.T-IV. .T-IV. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi. Kolom Kolom Kolom Demikian pula selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hasil telaahan RTRW. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota. untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD provinsi. SKPD kabupaten/kota perlu menyusun daftar faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang akan mempengaruhi penanganan permasalahan yang telah diidentifikasi pada Tabel. (2) diisi dengan sasaran jangka menengah Renstra SKPD provinsi sebagaimana tercantum dalam Renstra SKPD provinsi untuk setiap indikator kinerja pelayanan SKPD kabupaten/kota.C.. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.30 Cara pengisian Tabel.C.C. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD provinsi yang menyebabkan permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat pencapaian sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.TIV.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD provinsi dengan rata-rata sasaran Renstra SKPD kabupaten/kota.14: Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.C.T-IV. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong pencapaian sasaran Renstra SKPD provinsi.9 berdasarkan kesenjangan antara capaian Renstra SKPD kabupaten/kota dengan sasaran Renstra SKPD provinsi.T-IV.C.9.13: Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. (2) diisi dengan rata-rata sasaran jangka menengah Renstra SKPD kabupaten/kota sebagaimana tercantum dalam Renstra SKPD masing-masing kabupaten/kota di wilayah provinsi tersebut.14 Permasalahan Pelayanan SKPD Kabupaten/Kota Berdasarkan Sasaran Renstra SKPD Provinsi beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Sasaran Jangka Menengah Renstra SKPD Provinsi (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Sebagai Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel. Untuk kabupaten/kota: Demikian pula hal-nya dengan hasil analisis terhadap Renstra SKPD provinsi. Indikator kinerja pelayanan SKPD kabupaten/kota yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Renstra SKPD kabupaten/kota.

T-IV. Menentukan skor terhadap masing-masing kriteria yang telah ditetapkan.C. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD dan menghambat terwujudnya RTRW. (4) diisi dengan faktor penghambat pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD sebagai implikasi dari hasil KLHS. Penentuan Isu-Isu Strategis Metode penentuan isu-isu strategis pelayanan SKPD antara lain dapat dilakukan dengan cara: 1.16: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan.15: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor sesuai kebutuhan. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.T-IV. dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan sehingga sesuai dengan hasil KLHS.9 berdasarkan implikasi RTRW terhadap macam dan tingkat pelayanan SKPD yang dibutuhkan.T-IV.T-IV.15 Permasalahan Pelayanan SKPD berdasarkan Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Rencana Tata Ruang Wilayah terkait Tugas dan Fungsi SKPD (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisian Tabel. 2.9 berdasarkan implikasi KLHS terhadap pelayanan SKPD. Menggunakan metode pembobotan dengan cara sebagai berikut: a.C. Demikian pula selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hasil telaahan terhadap KLHS.16 Permasalahan Pelayanan SKPD berdasarkan Analisis KLHS beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya No (1) Hasil KLHS terkait Tugas dan Fungsi SKPD (2) Permasalahan Pelayanan SKPD (3) Faktor Penghambat (4) Pendorong (5) Cara pengisianTabel.T-IV. (3) diisi dengan permasalahan pelayanan SKPD hasil Tabel.C.C.C.C.31 Tabel. (2) diisi dengan hasil telaahan RTRW terkait tugas dan fungsi SKPD. (2) diisi dengan hasil analisis terhadap KLHS terkait tugas dan fungsi SKPD. dengan mengisi tabel dengan contoh sebagai berikut: . dan (5) diisi dengan faktor pendorong pelayanan SKPD yang dapat mengatasi permasalahan pelayanan dan dapat mendorong terwujudnya RTRW. Dibahas melalui forum Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman merumuskan isu-isu strategis..T-IV. Tabel.

yang dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. Cara Pengisian Tabel. .19: Kolom (1) diisi dengan nomor urut. (1) (2) (3) diisi dengan nomor urut diisi sesuai isu strategis yang teridentifikasi s. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel.d Kolom (9) diisi dengan total skor per kriteria (10) diisi dengan total skor isu strategis dari seluruh kriteria.T-IV. (1) Isu-Isu Strategis (2) Total Skor (3) Rata-Rata skor (4) 1 2 3 4 Dst. Melakukan penilaian isu strategis terhadap kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan skala tersebut pada angka b).19 Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis No.C.IV. Kolom (2) diisi sesuai dengan isu strategis yang teridentifikasi baik isu dari dunia internasional.C.. Menghitung rata-rata skor/bobot setiap isu strategis dengan mengakumulasikan nilai tiap-tiap isu strategis dibagi jumlah peserta.C.18: Kolom Kolom Kolom Kolom c. Kolom (4) diisi dengan nilai rata-rata dari total skor tiap-tiap isu strategis.17 Contoh Skor Kriteria Penentuan Isu-isu Strategis No 1 2 3 4 5 6 Dst… Kriteria*) Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L atau Renstra provinsi/kabupaten/kota Merupakan tugas dan tanggung jawab SKPD Dampak yang ditimbulkannya terhadap publik Memiliki daya ungkit untuk pembangunan daerah Kemungkinan atau kemudahannya untuk ditangani Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan Dst… Total 100 urutan dan jumlah kriteria dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kolom (3) diisi dengan total akumulasi nilai skor dari isu-isu strategis.C.18 Nilai Skala Kriteria No (1) Isu Strategis (2) 1 (3) 2 (4) Nilai Skala Kriteria ke3 4 5 (5) (6) (7) 6 (8) Dst… (9) Total Skor (10) 1 2 3 4 5 6 7 Dst.T. nasional dan regional.. Cara Pengisian Tabel. Bobot**) 20 10 20 10 15 25 *) b.T-IV..T-IV.T.C.32 Tabel.IV.

relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pembangunan di daerah yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD. sasaran. Dapat dibayangkan oleh semua pelaku/pemangku kepentingan pelayanan SKPD (imaginable). C. 5. Di sini. Disertai dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan tujuan. layanan. sehingga pemerintahan dan pembangunan daerah dapat beroperasi dan terselenggara secara efektif. Dapat dikomunikasikan dan mudah dimengerti oleh semua pelaku (communicable). usulan permasalahan pembangunan. Perumusan Visi SKPD Visi SKPD adalah gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai SKPD melalui penyelenggaraan tugas dan fungsi dalam kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang. dan kapasitas yang ada (feasible).7. Visi menjelaskan arah atau suatu kondisi ideal dimasa depan yang ingin dicapai (clarity of direction) berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini yang menciptakan kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dan masa depan yang ingin dicapai. Dapat mengantisipasi dan disesuaikan dengan perubahan zaman (flexible). Pernyataan visi yang artikulatif akan memberikan arah yang jelas bagaimana mencapai masa depan yang diharapkan dan mengatasi kesenjangan yang terjadi. dan padat. dan berkelanjutan serta dapat terjamin eksistensi daerah dimasa depan (focused). 3. Menggambarkan arah yang jelas tentang kondisi pembangunan masa depan yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD dalam 5 (lima) tahun mendatang. 6. bukan pikiran berandai-andai (wishfull thinking). efisien. Perumusan Visi dan Misi SKPD Perumusan visi dan misi jangka menengah SKPD merupakan salah satu tahap penting penyusunan dokumen Renstra SKPD sebagai hasil dari analisis sebelumnya. Memungkinkan. dan Dapat dirumuskan dan ditulis dengan suatu pernyataan yang singkat. kegiatan prioritas. seperti pemrioritaskan program prioritas. Disertai dengan penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan SKPD. dan layak untuk dicapai dengan situasi. Memiliki nilai yang memang diinginkan dan dicita-citakan (desirable).1. tetapi suatu komitmen dan upaya merancang dan mengelola perubahan untuk mencapai tujuan. tetapi dengan fokus pada masa depan. 7. visi didasarkan pada realita. 2. Visi bukan hanya mimpi atau serangkaian harapan. Visi dan misi SKPD harus jelas menunjukkan apa yang menjadi cita-cita layanan terbaik SKPD baik dalam upaya mewujudkan visi dan misi kepala daerah maupun dalam upaya mencapai kinerja pembangunan daerah pada aspek kesejahteraan. kondisi. Visi SKPD yang baik harus dapat memenuhi syarat sebagai berikut: 1. 2. visi diciptakan melampaui realitas sekarang. Kriteria suatu rumusan visi SKPD antara lain: 1. 4.. dan lain-lain. 4. Oleh karena itu. 3. dan Sejalan dengan visi dan misi kepala daerah dan arah pembangunan daerah jangka menengah. strategi dan kebijakan. jelas. dan peningkatan daya saing daerah dengan mempertimbangkan permasalahan dan isu strategis yang relevan. Memusatkan perhatian kepada isu dan permasalahan utama daerah. .33 Teknik atau metode di atas dapat digunakan untuk melakukan pemeringkatan sejenis bidang lainnya. wajar.

. sebelum menentukan identifikasi perwujudan visi. terlebih dahulu dibuat analisis keterhubungan antara permasalahan pembangunan dengan isu strategis (misal. rumusan tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah yang dimuat dalam rancangan awal RPJMD.20 Perumusan Perwujudan Visi Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis 1 Isu Strategis 2 Isu Strategis 3 Dst PPD 1 PPD 2 PPD 3 Dst     Perwujudan Visi 1     Perwujudan Visi 2     Perwujudan Visi 3     Dst Perwujudan visi diidentifikasi melalui proses FGD atau teknik lain yang secara efektif dapat menghasilkan rumusan tentang bagaimana wujud nyata kondisi. Misi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rancangan awal RPJMD adalah untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. Proses Perumusan Visi Perumusan visi dilakukan untuk menindaklanjuti hasil analisis isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah (PPD) untuk menemukan perwujudan visi. perlu dilakukan kajian terhadap visi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam 5 (lima) tahun ke depan.C. Visi SKPD yang akan dirumuskan dalam Renstra SKPD harus memiliki keterkaitan dengan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terdapat dalam rancangan awal RPJMD. Bagi sel (kotak) yang bertanda () itulah dibuatkan perwujudan dimaksud pada tabel diatas. Perwujudan visi merupakan gambaran paling sederhana dan dengan bahasa yang mudah dikomunikasikan tentang wujud nyata kondisi. Hasil perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD propinsi Pernyataan visi dalam Renstra SKPD propinsi harus dapat merespon (merupakan jawaban) atas isu-isu strategis SKPD tersebut. 2. Tabel. uraian misi kepala daerah dan wakil kepala daerah. Visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah dan arah pembangunan daerah jangka menengah. Untuk memperjelas gambaran suatu perwujudan visi dapat ditambahkan dengan atribut atau ciri-ciri lain tentang suatu wujud visi. Namun.. serta bagaimana target indikator kinerja yang dibutuhkan dari SKPD dalam . dengan memberi tanda (x) untuk yang tidak berkesesuaian dan tanda () untuk yang berkesesuaian. Hal ini menjadikan tim penyusun Renstra SKPD perlu selalu berkoordinasi dengan tim penyusun RPJMD guna memahami penjelasan visi.T-IV. keadaan dan impian SKPD dalam 5 (lima) tahun ke depan yang dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategisnya. dengan mengisi tabel dibawah ini.34 Informasi yang diperlukan dalam perumusan visi SKPD adalah: 1. sebelum merumuskan visi SKPD. Di sini masing-masing anggota tim perumus perlu diberi waktu yang cukup untuk memaparkan gambaran masing-masing tentang wujud dari visi yang diinginkan pada akhir tahun ke-5 (lima). keadaan dan impian SKPD dalam 5 (lima) tahun yang akan dicapai dimasa mendatang. Dengan demikian. berikut pemikiran atau hasil analisis yang mendasarinya. Suatu permasalahan pembangunan di tingkat SKPD adalah berbagai permasalahan pembangunan yang berhubungan layanan atau peningkatan kinerja penyelenggaraan urusan terkait.

termasuk atribut-atribut yang menjelaskannya. sehingga keseluruhan langkah diatas dituangkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel. suatu penjelasan visi pada dasarnya menguraikan kembali pokok-pokok visi yang telah disepakati ke dalam perwujudan visi dengan merinci lebih baik berbagai atribut atau penjelasan masing-masing pokok visi.T-IV. Penjelasan visi dibuat untuk menjelaskan masing-masing pokok visi. dan jelas serta memenuhi kriteria atau karakteristik visi sebagaimana telah dijelaskan di awal.C. Berbagai atribut sangat penting dalam memberi bobot dan kejelasan bahwa perwujudan visi dimaksud penting bagi SKPD dalam menentukan kondisi dalam 5 (lima) tahun mendatang. identifikasi permasalahan SKPD harus mampu mengungkapkan peta kekuatan yang paling dominan dalam realisasi pembangunan daerah dimasa-masa lalu. Untuk memberi penekanan atas keyakinan bahwa target dapat dicapai pada akhir periode perencanaan maka pernyataan visi dapat secara spesifik menyebutkan waktu capaian. Perwujudan Visi Pokok-pokok Visi Pernyataan Visi Suatu pernyataan visi dibuat dengan menggunakan bahasa yang singkat. memahami.21 Perumusan Visi No. perwujudan visi dapat disebutkan target waktu pencapaiannya. Perumusan pokok-pokok visi dilakukan dengan mencari inti (kalimat) perwujudan visi ke dalam satu-dua kata dengan menghilangkan berbagai kata dan atribut yang bukan inti dari perwujudan visi dimaksud.35 Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan perwujudan visi yang salah satunya berlandaskan pada kekuatan terbaik SKPD.. dengan mengisi tabel sebagai berikut: Tabel. Namun. dari keseluruhan pokok-pokok visi dibuatlah pernyataan visi. dengan kesederhanaan kalimat. lakukan pembahasan masing-masing perwujudan visi menjadi pokok-pokok visi. Setelah berbagai identifikasi perwujudan visi dibuat. dan membandingkan atribut-atribut dari berbagai perwujudan visi yang berbeda-beda. . Selanjutnya.T-IV. diupayakan visi adalah satu kalimat dengan pokok-pokok visi dapat lebih dari satu.C. Suatu perwujudan visi merupakan kalimat yang relatif masih lengkap dalam menggambarkan wujud visi masa datang. Permasalahan SKPD harus dapat pula mengungkapkan kantong-kantong kekuatan layanan yang selama ini terabaikan untuk dijadikan salah satu faktor keberhasilan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD dimasa 5 (lima) tahun mendatang. Untuk membantu identifikasi dan mengukur capaian kinerja. Suatu pernyataan visi dapat berupa satu atau lebih pernyataan atau kalimat yang merangkum atau menggabungkan berbagai pokok visi terpilih. lugas. Pembahasan tentang wujud apa yang paling baik atau sesuai bagi suatu SKPD dimasa datang sangat ditentukan bagaimana anggota tim mengenali.22 Penyusunan Penjelasan Visi Visi Pokok-pokok Visi Penjelasan Visi Dengan demikian.

Informasi yang diperlukan dalam perumusan misi SKPD adalah: Berdasarkan kedua informasi tersebut. dan tantangan) pembangunan daerah. Menggunakan bahasa yang ringkas. Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh SKPD dalam rangka mewujudkan visi SKPD. dalam hal ini masyarakat daerah (secara keseluruhan). dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan. Dalam suatu dokumen perencanaan.. Alasan utama pengembangan visi adalah pada pokok-pokok visi karena pada pokok-pokok visi tersebut terkandung ulasan-ulasan apa yang akan dijadikan untuk dicapai dalam 5 (lima) tahun ke depan oleh SKPD. Upaya-upaya yang akan dikembangkan. Teknisnya. Rumusan misi dalam dokumen Renstra SKPD dikembangkan dengan memperhatikan faktorfaktor lingkungan strategis. sederhana dan mudah dipahami. pokok visi harus diidentifikasi terlebih dahulu stakeholder mana yang menjadi pelaku atau terkena dampak atas pokok visi dimaksud. kelemahan.36 - Perumusan Misi SKPD Misi SKPD adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi SKPD. maka pernyataan misi menunjukkan kerja-kerja/upaya untuk mewujudkan visi tersebut. baik eksternal dan internal yang mempengaruhi (kekuatan. dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi SKPD. harus memanfaatkan faktor-faktor pendorong dan mengantisipasi faktor-faktor penghambat yang telah diidentifikasi pada perumusan isu strategis. Misi disusun untuk memperjelas jalan. singkat dan lugas dalam menjelaskan bagaimana visi akan dicapai. Pernyataan visi SKPD. Rumusan misi merupakan upaya untuk mewujudkan keadaan atau kondisi yang diinginkan. Jika pernyataan visi menunjukkan keadaan/kondisi yang ingin dicapai pada akhir periode perencanaan. 2. rumusan misi menjadi penting untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. SKPD mengidentifikasi keadaan dan/atau kondisi yang harus ada atau dicapai supaya visi SKPD benar-benar terwujud di akhir periode perencanaan. Kriteria suatu rumusan misi: 1. selanjutnya dibuat misi. Rumusan misi SKPD yang baik membantu lebih jelas penggambaran visi SKPD yang ingin dicapai. serta menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan oleh SKPD bersangkutan. termasuk pokok-pokok visi dan penjelasan visi. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa misi juga menyangkut komitmen pada stakeholder utama atau apa yang ingin diwujudkan oleh visi. 2. termasuk penjelasan misi didalamnya. maka pengertian misi harus sederhana. peluang. maka pengembangan misi harus dijabarkan terlebih dahulu kepada stakeholder utama pembangunan. 1. Hasil perumusan isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi SKPD. atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi SKPD. pelaku ekonomi di daerah. pernyataan misi sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana. Proses perumusan misi dicontohkan pada tabel berikut ini: . dan stakeholder pembangunan daerah lainnya. Oleh karena itu. Atau stakeholder yang berhubungan atau terkait dengan pokok visi tersebut. Proses Perumusan Misi Setelah dibuat visi. ringkas. SKPD (pelaku organisasi). Mengingat bahwa misi harus dibuat penjelasannya. 3. kemudian dibuatlah rincian misi. Memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal daerah.

Visi Pokokpokok visi (√) Stakeholder layanan SKPD lain Rincian misi Pengguna layanan (x) Pelaku Ekonomi (√) Rincian misi (√) Lainnya Rincian misi Misi Visi dan pokok-pokok visi yang telah diperoleh dalam proses penyusunan visi. Pernyataan tujuan tersebut akan diterjemahkan kedalam sasaran-sasaran yang ingin dicapai. dan Meningkatkan pemerataan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan Rumusan tujuan merefleksikan konteks pembangunan yang dihadapi SKPD dan memiliki keterkaitan dengan visi SKPD yang ingin dicapai. Pernyataan tujuan biasanya dimulai dengan menggunakan suatu kata kerja (verb) yang menjelaskan arah keinginan/preferensi (lebih/kurang) dan suatu kata benda (noun) yang menjelaskan obyek yang menjadi perhatian. dan peluang menjadi suatu kalimat positif yang ringkas. Lalu. selanjutnya dibuat pernyataan misinya.. Rumusan pernyataan tujuan biasanya disusun dengan membalikkan pernyataan isu. masing-masing submisi tersebut pada dasarnya adalah misi. dan menangani isu strategis daerah yang dihadapi. dibuat penjelasan misi dengan menggunakan dasar rincian atau sub-misi yang telah dibuat untuk menjelaskan berbagai hal sehingga misi menjadi mudah dipahami. dapat dicapai melalui beberapa tujuan. namun setidaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dicapai dimasa mendatang. permasalahan.8. Setelah diketahui stakeholder yang terpengaruh atau berhubungan dengan pokok-pokok visi dan dijelaskan dalam ―rincian misi‖.37 Tabel. Diturunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi SKPD yang telah ditetapkan. Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. Selanjutnya. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam perumusan tujuan pembangunan: 1. tiap-tiap misi dibuat sub-misi berdasarkan rincian misi. ataupun tangible. Rumusan tujuan harus realistis dan dapat dicapai. Menurunkan angka pengangguran. yang mana. Pengemasan menjadi kalimat misi dapat dilakukan dengan bermacam cara. Sebagai contoh. C. misi dapat dibuat spesifik setiap pokok visi dengan merangkum masing-masing rincian misinya.C. kuantitatif. misalnya: 1.1. 2. dan Disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. melaksanakan misi.23 Perumusan Misi No. Disusun dengan memperhatikan isu-isu strategis daerah. Untuk mewujudkan suatu misi. selanjutnya pokok-pokok visinya disandingkan dengan stakeholder pembangunan/layanan yang terpengaruh atau terkait visi tersebut dengan (√) dan dijelaskan sebagai rincian misi kenapa stakeholder tersebut mempengaruhi pokok-pokok misi. Dalam menentukan tujuan tidaklah mutlak harus terukur. namun harus tetap mempertahankan substansi. memecahkan permasalahan. 3. .T-IV. Perumusan Tujuan Pelayanan Jangka Menengah SKPD Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja SKPD selama lima tahun. 2.

T-IV. Indikator kinerja urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. 2. Mereview hasil perumusan isu-isu strategis SKPD. Dalam merumuskan sasaran yang perlu diperhatikan adalah: 1. Langkah yang diperlukan dalam perumusan sasaran sebagai berikut: 1. c) Achievable (dapat dicapai). Kriteria SMART-C yaitu: a) Specific (spesifik). yakni periode pencapaian sasaran ditetapkan. dan 4. e) Time Bound (batas waktu). sekurangkurangnya memenuhi indikator kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. Mereview pernyataan visi dan misi SKPD.C. dan 5. Merumuskan pernyataan sasaran untuk masing-masing tujuan. yakni sifat dan tingkat sasaran dapat diidentifikasi dengan jelas. C. spesifik. untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Tabel. yakni mencerminkan keterkaitan antara target sasaran dengan tujuan. dan sesuai dengan bidang layanan SKPD. b) Measurable (dapat diukur). Mereview pernyataan tujuan pelayanan jangka menengah yang telah dirumuskan. 5. fokus. 2. Mereview program prioritas beserta target indikator kinerja dari Rancangan Awal RPJMD yang menjadi tanggung jawab SKPD. Pencapaian satu tujuan dapat saja melalui beberapa sasaran. rasional. 3. d) Relevant (relevan). (1) TUJUAN (2) SASARAN (3) INDIKATOR KINERJA (4) 1 (5) TARGET KINERJA PADA TAHUN KE2 3 4 (6) (7) (8) 5 (9) .24 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan SKPD NO. yakni target sasaran dinyatakan dengan jelas dan terukur. 3. Tabel. Mereview pernyataan tujuan pembangunan jangka menengah dalam rancangan awal RPJMD untuk dikaitkan dengan tugas dan fungsi SKPD. Profil pelayanan terkait indikator kinerja.24 berikut. 3.C. 6. Memeriksa kembali konsistensi pernyataan sasaran terhadap tujuan dan misi serta melakukan penyempurnaan bila diperlukan.C.T-IV. Merumuskan pernyataan tujuan dengan cara: mendeskripsikan setiap pernyataan misi dalam satu atau beberapa tujuan yang menggambarkan kondisi atau keadaan yang harus ada supaya pernyataan misi dapat tercapai.24 ini selanjutnya ditampilkan dalam dokumen Renstra SKPD.38 Adapun langkah-langkah perumusan tujuan berdasarkan penjabaran visi dan misi SKPD dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Perumusan Sasaran Pelayanan Jangka Menengah SKPD Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur. dan 8.9. dan f) Continously improve (perbaikan berkelanjutan). 7. 4. 4. yakni sasaran dapat dicapai secara bertahap Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD selanjutnya disusun dalam Tabel.T-IV. spesifik. yakni target sasaran dapat dicapai terkait dengan kapasitas dan sumber daya yang ada. serta profil pelayanan yang terkait dengan indikator kinerja.1.. Kelompok sasaran yang dilayani. Sasaran harus dapat menyatakan sebuah target yang terukur atas sebuah kondisi atau pencapaian tujuan. Isu-isu strategis SKPD yang sesuai dengan bidang layanan SKPD. Merumuskan rancangan capaian indikator yang terukur dari setiap sasaran. 2. Pernyataan tujuan yang telah dirumuskan. mudah dicapai. Perumusan sasaran perlu memperhatikan indikator kinerja sesuai tugas dan fungsi SKPD atau kelompok sasaran yang dilayani.

misi. baik pada dampak. jelas bahwa tujuan dan sasaran mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan SKPD secara keseluruhan. Kuatnya hubungan kedua lembaga antara Kepala Daerah dan SKPD dalam perumusan tujuan dan sasaran untuk mewujudkan visi dan misi.C. “ Apa yang dikerjakan dan dihasilkan (barang) atau dilayani (proses)“ Input Sumberdaya yang memberikan kontribusi dalam menghasilkan output “ Apa yang digunakan dalam bekerja“ Dari gambar di atas.T-IV. Secara skematik keterkaitan antara visi. program dan kegaiatan yang secara totalitas menjadi arsitektur kinerja pembangunan daerah.Tujuan dapat dijabarkan dalam satu sasaran atau lebih (4) diisi dengan indikator kinerja setiap sasaran (5) sampai dengan (9) diisik dengan target kinerja sasaran yang harus dicapai pada tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-5 pelaksanaan Renstra SKPD. dapat digambarkan sebagai berikut: GAMBAR. Perumusan tujuan dan sasaran dari visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah menjadi landasan perumusan visi.24: Kolom Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan (2) diisi dengan uraian tujuan (3) diisi dengan uraian sasaran untuk setiap tujuan. Pengembangan rencana pembangunan SKPD lebih ditekankan pada target kinerja. maupun keluaran dari suatu kegiatan.3 Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah Visi/Misi Dampak (Impact) Tujuan/ Sasaran Hasil pembangunan daerah yang diperoleh dari pencapaian outcome “ Apa yang ingin diubah “ Program Hasil (Outcome) Manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu sebagai hasil dari output “ Apa yang ingin dicapai “ Kegiatan Keluaran (Output) Produk/barang/jasa adalah yang dihasilkan dari proses/kegiatan yang menggunakan input. tujuan dan sasaran Renstra SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. hasil.. G-IV. Selaras dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka perencanaan SKPD pun menggunakan prinsip yang sama. program. dapat di jelaskan dalam bagan berikut ini: .C. misi dengan perumusan tujuan dan sasaran. dan sasaran.39 - Cara pengisian Tabel.

Strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD selanjutnya menjadi dasar perumusan kegiatan SKPD bagi setiap program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. dan Indikator keluaran program dan pagu indikatif per SKPD.. maka SKPD perlu mencermati: 1. strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk . Tim penyusun RPJMD selanjutnya menggunakan hasil analisis/kajian dan rumusan dari tim penyusun Renstra SKPD ini dalam: 1.40 GAMBAR. 4. Perumusan strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah. Hasil analisis dan kajian sampai dengan perumusan tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD ini disampaikan kepada Bappeda sebagai bahan/masukan bagi penajaman substansi yang dihasilkan dalam penyusunan rancangan awal RPJMD. tujuan dan sasaran pembangunan 5 (lima) tahun tahun mendatang.1. Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Penentuan indikator keluaran program. Strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD adalah strategi dan kebijakan SKPD untuk mencapai tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD yang selaras dengan strategi dan kebijakan daerah serta rencana program prioritas dalam rancangan awal RPJMD. 5. 2. strategi dan arah kebijakan.11. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. dan target kinerja hasil (outcome) program prioritas RPJMD yang menjadi tugas dan fungsi SKPD. sasaran jangka menengah SKPD. Muatan rancangan awal RPJMD (analisis isu-isu strategis. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan). visi. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana SKPD mencapai tujuan dan sasaran dengan efektif dan efisien.Daerah Program Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Program Pembangunan Daerah berisi program-program prioritas terpilih yang menjadi “top priority” untuk mewujudkan visi/misi Kepala Daerah (RPJMD) RPJMD RENSTRA SKPD Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. Mempelajari Surat Edaran Kepala Daerah perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD (dilampiri rancangan awal RPJMD dengan indikator keluaran program dan pagu per SKPD) C. Jadwal penyampaian rancangan Renstra SKPD. Penentuan pagu per SKPD. misi. 3. melaksanakan misi dengan menjawab isu-isu strategis dan permasalahan pembangunan daerah yang berhubungan dengan layanan dan tugas serta fungsi SKPD. Perumusan Strategi dan Kebijakan Jangka Menengah SKPD 3. C.4 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah Kepala Daerah Kepala SKPD Visi/misi SKPD dibuat untuk secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung atau mewujudkan visi misi Kepala Daerah Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Visi/Misi Tujuan/ Sasaran Program Pembangunan Daerah Program Prioritas Program Penyelengaraan Urusan Pem. Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah.10. G-IV. Strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD menunjukkan bagaimana cara SKPD mencapai tujuan. Setelah surat edaran kepala daerah perihal penyusunan rancangan Renstra SKPD diterima. 2.1.C. Dengan pendekatan yang komprehensif.

dapat dikenali indikasi keberhasilan atau kegagalan suatu strategi sekaligus untuk menciptakan budaya ―berpikir strategik‖ dalam menjamin bahwa transformasi menuju pengelolaan pemerintah daerah yang lebih baik.Tujuan dan Sasaran . Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan.Visi dan Misi . Keterhubungan Renstra Strategis Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar. sistem manajemen. Di sini penting untuk mendapatkan parameter utama yang menunjukkan bagaimana strategi tersebut menciptakan nilai (strategic objective).Program Pembangunan Daerah .Strategi dan Arah kebijakan Perencanaan Strategik . Perumusan Strategi Rumusan strategi merupakan pernyataan-pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai serta selanjutnya dijabarkan dalam serangkaian kebijakan. Melalui parameter tersebut. seperti dijelaskan pada kerangka fikir pada gambar dibawah ini: . strategi harus dikendalikan dan dievaluasi (learning process). misi tujuan dan sasaran SKPD) dan permasalahan urusan pemerintahan daerah (indikator kinerja Daerah).Tujuan dan Sasaran . akuntabel dan berkomitmen terhadap kinerja.G-III.Strategi dan Arah kebijakan . Rumusan strategi juga harus menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana SKPD menciptakan nilai tambah (value added) bagi stakeholder layanan.Kegiatan Prioritas . reformasi.41 melakukan tranformasi. transparan.C. termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi. Perencanaan sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi Kepala Daerah ke dalam rencana kerja yang actionable.Program Prioritas .Program Prioritas .Program Prioritas Berdasarkan dari arsitektur perencanaan pembangunan daerah yang dibagi menjadi 2 (dua) perencanaan strategis dan opersional. dan pemanfaatan teknologi informasi. Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis.Program Pembangunan Daerah ..1 Keterhubungan Renstra SKPD dengan RPJMD RPJMD Renstra SKPD . maka SKPD diharapkan dalam merencanakan program dan kegiatannya dapat memecahkan permasalahan pembangunan daerah (visi. tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik.Visi dan Misi .Program Prioritas . dan perbaikan kinerja birokrasi.Kegiatan Prioritas Perencanaan Operasional Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan .

1. Strategi didasarkan pada tujuan dan sasaran SKPD dan pemenuhan kebutuhan layanan yang berbeda tiap segment masyarakat pengguna layanan.. Menjadikan strategi sebagai proses yang berkelanjutan. dg Penyelenggaraan Program Pemb. 4. 2. Menyelaraskan organisasi sesuai pilihan strategi jangka menengah. 5.42 Gambar.G-III. Layanan yang bernilai tambah diciptakan secara berkelanjutan dalam proses internal SKPD. Menjadikan strategi sebagai komitmen dan rutinitas birokrasi.3 Keterkaitan Sasaran Dengan Strategi Sasaran 1 Strategi 1 atau Sasaran 1 Sasaran 2 Strategi 1 Sasaran 2 Strategi 2 Sasaran 3 . dapat secara spesifik dikaitkan dengan satu sasaran atau sekelompok sasaran dengan kerangka logis sebagaimana bagan berikut: Gambar. 4. Suatu strategi yang baik harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip: Suatu strategi. 2.G-III. dan pemangku kepentingan.C. Strategi dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertolak-belakang. dan Strategi terdiri dari tema-tema yang secara simultan saling melengkapi membentuk cerita atau skenario strategi. 3. dan Memobilisasi perubahan melalui kepemimpinan yang baik.C. Menerjemahkan strategi kedalam bentuk yang operasional.Daerah Penyelenggaraan Tugas & Fungsi SKPD Program/Kegiatan Prioritas Program/Kegiatan Prioritas Lima prinsip manajemen untuk menciptakan komitmen dalam menjadikan strategi sebagai basis perencanaan pembangunan adalah: 1. 3.2 Kerangka Fikir Keterhubungan Antarkinerja Visi/Misi SKPD Tujuan dan Sasaran Indikator Kinerja Daerah (terkait) Keterhub.

Menggunakan metode Balanced Score Card. 3. dst … Tantangan: 1. Menyusun alternatif pilihan langkah yang dinilai realistis dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. ……………… 2...... dst …… Alternatif Strategi : 1.. ……………… 2. dengan salah satu contoh sebagai berikut: Tabel...... dan tantangan/threats). dst …… Kelemahan: 1. …………… 2. ……………… 3.. Dalam hal... Melakukan evaluasi untuk menentukan pilihan langkah yang paling tepat antara lain dengan menggunakan metode SWOT (kekuatan/strengths. Peluang : 1..... tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD... ……………… 2.25 Penentuan Alternatif Strategi Pencapaian Indikator Sasaran:.........C.. Perumusan strategi pada Renstra SKPD dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1..... 2. ……………… 2. dst …… b) Pemilihan strategi yang paling tepat (efektif dan efisien) diantara berbagai alternatif strategi yang dihasilkan melalui metode SWOT. dapat dilakukan melalui: 1) 2) 3) 4) Dibahas kembali melalui Focussed Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pakar yang memiliki pengalaman di bidang manajemen strategik... ……………… 3. dst … Faktor Eksternal Faktor Internal Kekuatan : 1. Satu strategi dapat terhubung dengan pencapaian satu sasaran. ……………… 3. jelas bahwa perumusan strategi membutuhkan kesatuan tujuan untuk mendapatkan kesatuan tindak. dst …… Alternatif Strategi : 1. ……………… 2.... dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menentukan alternatif strategi pencapaian dari setiap indikator sasaran kedalam berbagai tabel. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan untuk setiap langkah yang akan dipilih. ……………… 3.. ……………… 2.. satu strategi dapat dirumuskan untuk mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut... ……………… 3. Strategi dirumuskan berdasarkan hasil analisis gambaran pelayanan SKPD. dst …… Alternatif Strategi : 1...T-IV. kelemahan/weaknesses.. peluang/opportunities..... Menggunakan metode pembobotan dengan cara seperti yang dilakukan terhadap penentuan isu-isu strategis. ……………… 3.43 Dari gambar di atas... hasil perumusan isu-isu strategis. ……………… 3. ……………… 2. beberapa sasaran bersifat inherent dengan satu tema. . dst …… Alternatif Strategi : 1. dan Menggunakan kombinasi antara FGD dengan metode lainnya untuk obyektivitas pemilihan strategi.. ……………… 3.

. dan 4. Perspektif masyarakat/layanan: bagaimana strategi dapat menjadikan pengaruh langsung terhadap pengguna layanan atau segmen masyarakat.26 Penentuan Strategi (Contoh Pencapaian Indikator Sasaran: Meningkatnya Angka Partisipasi Murni SLTP) No.26: Kolom Kolom Kolom Kolom d) (1) diisi dengan nomor urut sesuai kebutuhan (2) diisi dengan uraian sasaran jangka menengah pelayanan SKPD sebagaimana hasil perumusan sasaran jangka menengah pelayanan SKPD (3) diisi dengan indikator kinerja setiap uraian sasaran (4) diisi dengan hasil pemilihan alternatif strategi yang dirumuskan pada Tabel.. Perspektif proses internal: strategi harus mampu menjadikan perbaikan proses dan pemberian nilai tambah pada proses birokrasi (internal business process)..44 c) Alternatif strategi yang dipilih selanjutnya diuraikan kedalam tabel berikut: Tabel. dan operasional..TIV. pemangku kepentingan lainnya. agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran. (1) 1. 3. Cara PengisianTabel. 4. Perumusan Kebijakan Kebijakan adalah pedoman yang wajib dipatuhi dalam melakukan tindakan untuk melaksanakan strategi yang dipilih. 2.... Mengarahkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjamin terselenggaranya layanan pemerintahan daerah yang baik (good governance) dalam jangka panjang. Dst .C.APM SD .. Memperjelas strategi sehingga lebih spesifik/fokus.. Membantu menghubungkan strategi kepada sasaran secara lebih rasional. Mengarahkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD agar tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan melanggar kepentingan umum.. 3. 2. Kebijakan yang dirumuskan harus dapat: 1. Sasaran (2) Meningkatnya APM SD Merata dan meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah .Jumlah sekolah yang memiliki sarana prasarana sesuai standar teknis di kota dan desa Indikator Kinerja Sasaran (3) Strategi (4) 3. agar secara seimbang melintasi lebih kurang empat perspektif: 1. 2.T-IV. Perspektif kelembagaan: strategi harus mampu menjelaskan dengan investasi apa pada sistem.Rasio guru terhadap murid di kota dan desa . Langkah-langkah perumusan kebijakan adalah: 1....C..T-IV. Perspektif keuangan: strategi harus dapat menempatkan aspek pendanaan sebagai tujuan sekaligus sebagai konstrain (cost-effectiveness) serta untuk mencapai manfaat yang terbesar dari dana yang terbatas (allocative efficiency). Merumuskan rancangan kebijakan dari setiap strategi dengan mempertimbangkan: .25 Keempat. untuk menghasilkan perumusan strategi yang pada akhirnya dapat selaras dengan pilihan kegiatan yang tepat maka rumusan strategi harus dipetakan (strategy mapping).. konkrit.C. teknologi.

Sasaran.. Sasaran 1. Dst…….2 3. Dst…… Kebijakan 1... Strategi.. 1. b... sasaran.12..1 2. misi..2 3. Menguji rumusan rancangan kebijakan apakah dapat menghasilkan pemilihan kegiatan bagi program prioritas yang menjadi tugas dan fungsi SKPD yang lebih tepat dan rasional berdasarkan strategi yang dipilih dan telah mempertimbangkan faktor-faktor penentu keberhasilan untuk mencapai sasaran. Strategi 1......yang cerdas dan handal : . Strategi 2.1 2..1 2... Dst… Dst…… Tujuan 2 Dst…… MISI II Tujuan 2 Dst…… Dst .. Kebijakan 2.1 2.1 2. Kebijakan 1..... tujuan.. Kebijakan 2.. Dst… Dst…… Strategi 1.1 2....... Strategi 2. visi. Jika terdapat pernyataan strategi atau kebijakan yang tidak relevan dan tidak konsisten dengan pernyataan lainnya. indikator kinerja. Menguji apakah rancangan kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan.. indikator kinerja.. Kelompok sasaran adalah pihak yang menerima manfaat langsung dari jenis layanan SKPD. Strategi 1..1. kelompok sasaran... Sasaran 1.. Dst… Dst…… Strategi 1.. Perumusan rencana kegiatan. Sasaran 2. 1. Indikator keluaran program prioritas yang telah ditetapkan tersebut....... dan b) Keterkaitan langsung dengan pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan 2..... Tujuan Sasaran 1. Dst……... Kebijakan 1.... kelompok sasaran....2 3. Review kembali rancangan awal RPJMD.. dan Kebijakan VISI MISI I Tujuan 1 : Terwujudnya sumber daya manusia Provinsi/Kabupaten/Kota . Dst…… Dst…… Kebijakan 1. Strategi 1.1 2.. Dst… 1.... Tabel.2 3. Dst… 1. Pemilihan kegiatan untuk masingmasing program prioritas ini didasarkan atas strategi dan kebijakan jangka menengah SKPD.. kegiatan. isu-isu strategis... . Rencana program prioritas beserta indikator keluaran program dan pagu per SKPD sebagaimana tercantum dalam rancangan awal RPJMD.... Dst… Dst…… : .1 2. yaitu pada: a.. Sasaran 1.T-IV.1 2. Sasaran 2.1 2. Sasaran 2.... selanjutnya dijabarkan SKPD kedalam rencana kegiatan untuk setiap program prioritas tersebut. Strategi 2..27 dapat menunjukkan relevansi dan konsistensi antar pernyataan visi. maka diperlukan perbaikan dalam proses perumusan strategi dan kebijakan tersebut. Kebijakan 1. Kebijakan 2.. dan kebijakan...2 3..45 a) Besarnya pengaruh kebijakan terhadap keberhasilan implementasi strategi..2 3...2 3. Perumusan rencana program.T-IV.. merupakan indikator kinerja program yang berisi outcome program.. dan pendanaan indikatif dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1.C.. Kebijakan 1. Dst…….2 3.2 3.. 3.. Kebijakan 2... Strategi 1... tujuan dan sasaran pembangunan 5 (lima) tahun mendatang. Kegiatan yang dipilih untuk setiap program prioritas. misi. Outcome merupakan manfaat yang diperoleh dalam jangka menengah untuk beneficiaries tertentu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. harus dapat menunjukkan akuntabilitas kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD.2 3. Sasaran 1. strategi..C. Tabel... Tujuan Tujuan 1 Sasaran 1.1 2.2 3.2 3... Strategi 2.27 Tujuan. Dst… 1. dan pendanaan indikatif Program SKPD merupakan program prioritas RPJMD yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD..... Sasaran 2..1 2... C. Dst… 1.

kegiatan.C. rumuskan target outcome program SKPD untuk mencapai sasaran pembangunan. Perhatikan indikator program dan pagu per SKPD. Tabel. Hitunglah biaya program untuk mencapai target outcome.C. tujuan. Susunlah rincian target outcome program kedalam target tahunan. . Berdasarkan target outcome tahunan pada langkah (10).28 berikut ini. kelompok sasaran. Periksalah apakah visi. indikator kinerja.46 c. 9. 10. Hitunglah biaya kegiatan untuk mencapai target output kegiatan. Berdasarkan (2) dan (3). Lakukan penyesuaian jika diperlukan.28 merupakan tabel yang harus ditampilkan dalam dokumen Renstra SKPD. dan sasaran SKPD pada 5 (lima) tahun mendatang. dan 11. Daftar urutan prioritas program dan kegiatan ini menjadi salah satu bahan yang akan dibahas dalam forum SKPD penyusunan Renstra SKPD. Periksalah apakah total biaya program sesuai dengan pagu SKPD. 6.. 4. e. kebijakan umum dan program pembangunan daerah. lakukan pemeringkatan prioritas program dan kegiatan sehingga sesuai dengan pagu SKPD. dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan. 3.T-IV. dan kebijakan dalam rancangan Renstra SKPD telah relevan dan sinergis dengan rancangan awal RPJMD. misi. strategi. Jika melebihi pagu SKPD. Lakukan perumusan target output/keluaran yang akan dihasilkan melalui kegiatankegiatan dalam rangka mencapai target outcome program SKPD. Lakukan perumusan kegiatan. 8. 2. 7.T-IV. d. strategi dan arah kebijakan. dan pendanaan indikatif dapat ditampilkan pada Tabel. 5. susunlah perkiraan kebutuhan anggaran pembiayaan program pertahun Rencana program.

..........C....................47 Tabel. Kegiatan................... Dst .........T-IV.... Kegiatan........**) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada Unit Kerja SKPD akhir periode Penanggungjawab Renstra SKPD target Rp Lokasi target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (1) (2) (3) (4) (5) Program ..... *) diisikan dengan nama SKPD **) diisikan dengan nama provinsi/kabupaten/kota ........... Program ... Kegiatan... Indikator Kinerja........................*) Provinsi/ Kabupaten/Kota............................. Kegiatan. (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Tujuan Sasaran 1 1 Tujuan Sasaran 1 2 Program ............... Kelompok Sasaran... Tujuan Sasaran 2 1 Program .28 Rencana Program............ dan Pendanaan Indikatif SKPD................

24.C. demikian seterusnya sampai dengan Kolom Tahun-5 adalah tahun kelima periode Renstra SKPD Kolom target diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) dan kinerja kegiatan (output) yang akan dicapai pada tahun berkenaan untuk masing-masing program dan kegiatan Kolom Rp diisi dengan jumlah pendanaan yang dibutuhkan pada tahun berkenaan guna mencapai target kinerja program (outcome) dan target kinerja kegiatan (output) pada tahun tersebut.C. Untuk urusan wajib yang berbasis pada pelayanan dasar diwajibkan menggunakan indikator SPM.24 (3) diisi dengan indikator sasaran dari setiap pernyataan sasaran. Kolom Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD: Kolom (18) Kolom (19) Kolom (20) Kolom (21) C.C.28: Kolom Kolom Kolom Kolom (1) diisi dengan pernyataan tujuan jangka menengah sebagaimana tercantum dalam Tabel.T-IV. diisi sebagai berikut: Kolom Tahun-1 adalah tahun pertama periode Renstra SKPD.13.TIV. Pernyataan indikator sasaran dari setiap sasaran sebagaimana tercantum dalam Tabel. diisi dengan jumlah/besaran target kinerja program (outcome) yang akan dicapai pada akhir periode Renstra SKPD untuk setiap program berkenaan.T-IV. Identifikasi bidang pelayanan dalam tugas dan fungsi SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. (4) diisi dengan kode urusan/bidang urusan Pemerintahan Daerah/ Program.T-IV. Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) 2) 3) Review terhadap tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. diisi dengan nama unit kerja SKPD yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program dan kegiatan berkenaan..24. mulai dari tahun-1 sampai dengan tahun-5. diisi dengan total jumlah pendanaan yang dibutuhkan untuk mendanai program. x xx xx Kode Urusan Pemerintahan Daerah Kode Bidang Urusan Pemerintahan Daerah Kode Program Kolom (5) Uraian nama program dan uraian nama kegiatan yang dirancang untuk setiap sasaran jangka menengah Kolom (6) Indikator kinerja program (outcome) dan kegiatan (output) diisi dengan uraian indikator kinerja program (outcome) dan kegiatan (output).C. dan Identifikasi indikator dan target kinerja SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam rancangan awal RPJMD. diisi dengan indikasi lokasi pelaksanaan program dan kegiatan berkenaan. (2) diisi dengan pernyataan sasaran dari setiap pernyataan tujuan. Perumusan Indikator Kinerja SKPD yang mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD adalah indikator kinerja yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.48 Cara pengisiannya Tabel.1. . Kolom (7) Data capaian pada tahun awal perencanaan diisi dengan data capaian pada awal tahun perencanaan untuk setiap indikator kinerja yang akan dijadikan titik tolak periode perencanaan jangka menengah SKPD Kolom Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan untuk setiap baris program. Pernyataan sasaran dari setiap tujuan sebagaimana tercantum dalam Tabel. guna mencapai target akhir kinerja program (outcome) yang ditetapkan pada akhir periode Renstra SKPD.

29 Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Contoh: SKPD Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Angka Melek Huruf Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SD/MI Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMP/MTS Pendidikan Luar Biasa (PLB) jenjang SMA/SMK/MA Pembinaan Guru jenjang SD/MI Pembinaan Guru jenjang SMP/MTS Pembinaan Guru jenjang SMA/SMK/MA Fasilitasi dan Asistensi Pengelolaan Penjaminan Mutu Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV (2) Angka Rata-rata Lama Bersekolah (3) Tahun 1 (4) Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (9) Target Capaian Setiap Tahun NO Indikator Tahun 2 (5) Tahun 3 (6) Tahun 4 (7) Tahun 5 (8) Cara pengisian Tabel.49 Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD disusun dalam Tabel.1. Tabel.29 adalah tabel yang harus dimuat dalam dokumen Renstra SKPD.TIV. . Pelaksanaan Forum SKPD Forum SKPD dalam rangka penyusunan Renstra SKPD adalah forum para pemangku kepentingan pelayanan SKPD untuk membahas rancangan Renstra SKPD dibawah koordinasi kepala SKPD untuk mendapatkan masukan bagi penajaman dan penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD.T-IV.C. Tabel.C.14.C.T-IV.T-IV. Kolom (2) diisi dengan uraian indikator kinerja SKPD yang berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan dan sasaran dalam RPJMD Kolom (3) diisi dengan data capaian pada awal tahun periode RPJMD untuk setiap indikator kinerja Kolom (4) sampai dengan kolom (8) diisikan dengan besaran yang ditargetkan untuk setiap indikator kinerja pada masing-masing tahun berkenaan Kolom (9) diisi dengan besaran yang ditargetkan tercapai pada akhir tahun periode RPJMD untuk setiap indikator kinerja SKPD C.C.29 berikut.29: Kolom (1) diisi dengan nomor urutan pengisian indikator..

Dengan demikian. efisiensi dan efektifitas sesuai dengan kebutuhan. tujuan dan sasaran. C.1. Forum ini menjadi semacam uji publik atas rancangan kebijakan pelayanan SKPD dalam menangani dinamika kebutuhan dan aspirasi pelayanan para pemangku kepentingan SKPD tersebut untuk 5 (lima) tahun mendatang. Program dan kegiatan prioritas SKPD dalam 5 (lima) tahun mendatang. 2.1. Tujuan penyelenggaraan forum SKPD adalah untuk: 1.2.. . penyelarasan. d. program dan kegiatan yang akan dimuat dalam dokumen Renstra SKPD mampu merespon kebutuhan dan aspirasi para pemangku kepentingan pelayanan SKPD tersebut. Kelompok sasaran pelayanan SKPD.2. Forum ini juga menjadi media komunikasi antara SKPD dengan para pemangku kepentingannya untuk menyepakati apa yang dapat dilakukan dan apa yang belum dapat dilakukan SKPD melalui Renstra SKPD tahun rencana. Ringkasan Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota. forum SKPD penyusunan Renstra SKPD dilaksanakan untuk mempertajam dan menyempurnakan muatan rancangan Renstra SKPD sebelum disampaikan kepada Bappeda untuk diverifikasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. 3. Keluaran yang harus dihasilkan oleh forum SKPD penyusunan Renstra SKPD adalah materi kesepakatan dengan para pemangku kepentingan pelayanan SKPD tentang masukanmasukan bagi penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD.14. 1. SKPD yang bersangkutan. dan Rancangan Awal RPJMD. Isu strategis (pelayanan) SKPD untuk ditangani dalam 5 (lima) tahun mendatang. b. Penyelenggaraan forum SKPD dilakukan dengan mempertimbangkan urgensi. e. Peserta forum SKPD adalah pihak-pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam forum SKPD melalui pembahasan yang disepakati bersama. dan penyepakatan tentang: a. Peserta forum SKPD terdiri dari: 1. Materi yang Perlu Disiapkan Materi yang perlu disiapkan bagi pembahasan forum SKPD ini sekurang-kurangnya adalah: Ringkasan hasil kajian/analisis dan hasil perumusan substansi Rancangan Renstra SKPD yang dihasilkan oleh Tim Penyusun Renstra SKPD. Peserta forum SKPD berfungsi sebagai pengambil keputusan melalui pembahasan yang disepakati bersama. Tujuan dan sasaran pelayanan SKPD jangka menengah. Rancangan Renstra SKPD yang telah disempurnakan ini kemudian disampaikan kepada Bappeda sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam Surat Edaran Kepala Daerah perihal Penyusunan Rancangan Renstra SKPD. kebijakan. Mengkomunikasikan hasil analisis/kajian oleh SKPD atas kebutuhan pelayanan SKPD untuk lima tahun mendatang Memperoleh penajaman.14. Kelompok yang memperoleh manfaat/dampak tidak langsung dari pelayanan SKPD. 3.14. Ringkasan Renstra K/L dan Renstra SKPD provinsi. Unsur-unsur yang dilibatkan dalam Forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD Peserta C. dan 4. digunakan untuk pembahasan forum SKPD provinsi. klarifikasi. 4. 2. digunakan untuk pembahasan forum SKPD kabupaten/kota. SKPD yang memperoleh manfaat/dampak langsung/tidak langsung dari pelayanan SKPD.1. c. 2.1.1. C. dan Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Kesepakatan yang dihasilkan oleh forum SKPD ini menjadi acuan bagi tim penyusun Renstra SKPD dalam penyempurnaan materi rancangan Renstra SKPD.50 Forum SKPD penyusunan Renstra SKPD merupakan forum penting guna membantu memastikan bahwa isu strategis pelayanan. Strategi dan kebijakan pelayanan.

dan Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. 4. Narasumber Narasumber forum SKPD berfungsi memberikan informasi yang perlu diketahui peserta untuk proses pengambilan keputusan hasil forum SKPD. Menyiapkan jadwal.1.1. Isu-isu strategis pelayanan SKPD untuk ditangani pada 5 tahun mendatang . dan memiliki pengalaman yang memadai dalam memfasilitasi diskusi dan penyepakatan hasil. minimal 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan forum SKPD. dan 3. agenda. C. . 7. Tim Penyelenggara Forum Tim penyelenggara forum SKPD adalah tim penyusun Renstra SKPD. 4) 5) Mengundang fasilitator yang dinilai memenuhi kualifikasi berikut: memiliki pemahaman yang memadai atas substansi yang akan dibahas dalam forum SKPD. Mengumumkan secara terbuka jadwal. dan perumusan kesepakatan dan berita acara.14. dan tempat penyelenggaraan Forum SKPD Menerima pendaftaran peserta forum SKPD. Menyiapkan materi yang diperlukan bagi pembahasan forum SKPD. kriteria prioritisasi program SKPD jangka menengah. Tugas Tim Penyelenggara forum SKPD adalah: 1. Tahap diskusi dan pembahasan.2. Visi dan misi pelayanan SKPD. agenda. C.3.14.3. Tahap Persiapan Forum SKPD Pada tahap ini.1. narasumber. Fasilitator Fasilitator yang memiliki persyaratan kompetensi dan kemampuan memandu pembahasan dan proses pengambilan keputusan dalam kelompok diskusi. Tahapan pelaksanaan forum SKPD terdiri dari: 1. dan pendanaan indikatif. Tahap perumusan kesepakatan. kelompok sasaran. pembagian diskusi kelompok.14. kegiatan yang dilakukan adalah: 1) 2) 3) Menyiapkan materi yang akan digunakan sebagai bahan pembahasan dalam forum SKPD. indikator kinerja. 8. Rencana program dan kegiatan. tempat dan logistik pelaksanaan forum SKPD. 6. 2. Menyusun jadwal. agenda acara.51 C.14. agenda dan daftar kebutuhan logistik/kelengkapan Forum SKPD.2. Informasi yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan. Merangkum berita acara kesepakatan hasil penyelenggaraan forum SKPD.2..1. 5. Mengidentifikasi fasilitator yang akan memandu pembahasan.14. 2. dan tempat pelaksanaan forum SKPD. Pokok-pokok substansi rancangan Renstra SKPD sedikitnya memuat: a) b) c) d) e) f) g) 6) Gambaran kinerja pelayanan SKPD pada periode sebelumnya. Menyiapkan tata cara pelaksanaan forum SKPD meliputi peserta. Tahap persiapan. C. Strategi dan kebijakan pelayanan jangka menengah SKPD.1.4. Menyusun hasil penyempurnaan substansi rancangan Renstra SKPD berdasarkan hasil forum SKPD.3. fasilitator yang akan terlibat.2. Mempublikasikan pokok-pokok substansi rancangan Renstra SKPD melalui media masa. Fasilitator bertanggungjawab terhadap kelancaran proses pembahasan dan pengambilan keputusan untuk menyepakati setiap materi yang dibahas dalam setiap kelompok diskusi. agenda. Mengumumkan secara terbuka minimal 3 (tiga) hari sebelum penyelenggaraan forum SKPD tentang jadwal.1. dan Menyampaikan kepada Bappeda dan DPRD rancangan Renstra SKPD yang telah disempurnakan berdasarkan hasil forum SKPD Pelaksanaan Forum SKPD C. 3. Tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD.

penajaman. Tahap Diskusi dan Pembahasan Forum SKPD Tahap diskusi dan pembahasan forum SKPD terdiri dari: 1.28.52 7) 8) 9) Mengundang narasumber yang telah dipilih berdasarkan kompetensi atas bidang pelayanan SKPD. dan 10) Menyusun daftar pembagian peserta berdasarkan butir (9). dan klarifikasi dari peserta kelompok diskusi. Merangkum seluruh tanggapan dan saran serta keputusan atas penajaman. Dalam kaitan ini dapat dibentuk tim perumus yang berunsurkan fasilitator. 2. C.3. indikasi rencana program prioritas daerah. serta indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. dan Tanggapan umum peserta atas materi yang dipaparkan kriteria prioritisasi program SKPD jangka menengah. kelompok sasaran. indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD dalam upaya mewujudkan visi dan misi SKPD dan pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah. narasumber. kelompok sasaran. Sidang Pleno I meliputi: a) Pemaparan tentang pokok-pokok materi rancangan awal RPJMD yang sekurangkurangnya meliputi isu strategis pembangunan daerah. penajaman.1. indikator kinerja.2. strategi dan kebijakan. Pembukaan oleh Kepala SKPD. Tabel. peserta menginformasikan pada kelompok diskusi yang mana dia akan bergabung. Penutupan mencakup: a) . wakil-wakil kelompok. Tabel.29. pengambilan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah kelompok diskusi. Menerima pendaftaran peserta forum SKPD sampai dengan 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan forum SKPD. tujuan dan sasaran pembangunan daerah jangka menengah. strategi dan kebijakan. dan klarifikasi dari seluruh peserta forum SKPD terhadap materi hasil diskusi kelompok. sesuai dengan kebutuhan. Pemaparan pokok-pokok materi rancangan Renstra SKPD Pemaparan materi lainnya sesuai kebutuhan. tanggapan. Menyusun tata tertib pembahasan forum SKPD. dan pagu indikatif SKPD yang bersangkutan. indikator kinerja.T-IV.C. Tabel.14. Pengambilan keputusan ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.T-IV. indikator keluaran program.24. program prioritas. Hasil penajaman isu-isu strategis. a) Sidang kelompok diskusi membahas: b) c) d) 4.C. Pembahasan untuk memperoleh saran. Materi yang disepakati kelompok diskusi diformulasikan kedalam rancangan rumusan hasil keputusan/kesepakatan kelompok diskusi.T-IV.C. isu-isu strategis. Saat mendaftar. dan klarifikasi terkait dengan aspek keterpaduan. dan keterkaitan antar program dalam sidang pleno II. tujuan dan sasaran. Berdasarkan tanggapan. Dalam hal pengambilan keputusan tidak dapat ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. dan pendanaan indikatif SKPD.T-IV.. program prioritas. diambil keputusan untuk disepakati menjadi keputusan sidang pleno II atas setiap materi kelompok diskusi pada Forum SKPD. Perumusan rancangan kesepakatan hasil forum SKPD yaitu: a) b) 6.C. Sidang Pleno II berisikan pemaparan rancangan hasil sidang kelompok antara lain: a) b) 5. keselarasan. tujuan dan sasaran. dan pagu indikatif SKPD.27. Rangkuman hasil keputusan sidang pleno II dirumuskan kedalam rancangan berita acara hasil kesepakatan forum SKPD Pembacaan rumusan rancangan berita acara hasil forum SKPD b) c) d) 3. dan Tabel.

............1... dan mempertimbangkan: a..... Pemaparan materi.... (disesuaikan dengan materi dan nama pejabat yang menyampaikan) Tanggapan dan saran dari seluruh peserta forum SKPD terhadap materi yang dipaparkan oleh masing-masing ketua kelompok diskusi sebagaimana telah dirangkum menjadi hasil keputusan kelompok diskusi...... b... Rancangan berita acara hasil kesepakatan forum SKPD............ Rekapitulasi hasil pembahasan kelompok forum SKPD terhadap isu strategis.... dengan contoh format sebagai berikut: 2.. 4.............. C..... sidang pleno II.... Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok forum SKPD terhadap program dan kegiatan prioritas Renstra SKPD.tahun …………telah diselenggarakan forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD . Daftar hadir peserta forum SKPD............................... Dalam hal pengambilan keputusan tidak dapat ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.... forum SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota*) ….... pengambilan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah peserta.... mendengar... f..... b...tanggal..... strategi...... Tim perumus merangkum seluruh hasil pembahasan materi pada sidang pleno I... Setelah memperhatikan..3................. c.. Rekapitulasi hasil pembahasan sidang-sidang kelompok forum SKPD terhadap indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD................................... Berita acara hasil kesepakatan forum SKPD yang telah ditandatangani beserta lampirannya dijadikan sebagai bahan penyempurnaan Rancangan Renstra SKPD yang akan disampaikan kepada Bappeda untuk diverifikasi....................... e.................. Pada hari .... yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan sebagaimana daftar hadir peserta yang tercantum dalam LAMPIRAN I berita acara ini........... Hasil kesepakatan sidang kelompok forum SKPD... Format berita acara hasil kesepakatan forum SKPD beserta lampirannya terdiri dari: a..... : ...................... Berita acara hasil kesepakatan forum SKPD yang telah disetujui ditandatangani oleh yang mewakili setiap unsur yang menghadiri forum SKPD..3... 3..... a. maka pada: Hari dan Tanggal Jam Tempat : : : ......... Pengambilan keputusan ditetapkan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat...... Tahap Perumusan Hasil Perumusan hasil dilakukan dengan sebagai berikut: 1....... Format Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Forum SKPD BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD...... sasaran..... kelompok diskusi.. dan kebijakan Renstra SKPD.................. sampai dengan hari …………………….. tanggal bulan .... .14.................. ...... dan sidang pleno III sebagai lampiran dari berita acara hasil kesepakatan forum SKPD. tujuan...... PENYUSUNAN RENSTRA SKPD.53 b) c) Meminta tanggapan akhir dari peserta terhadap rumusan rancangan berita acara kesepakatan hasil forum SKPD yang dibacakan untuk pengambilan keputusan kesepakatan... PROVINSI/KABUPATEN/KOTA *)..... d................

. ........... Hasil kesepakatan sidang-sidang kelompok forum SKPD. .C......................54 MENYEPAKATI KESATU : Isu strategis (pelayanan) SKPD.30 Daftar Hadir Peserta Forum SKPD.. Nama Lembaga/instansi Jabatan/Alamat Tanda Tangan b. yang disertai dengan target dan kebutuhan pendanaan sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN III berita acara ini........T-IV.... …....... 2.. 5.......... Dst.. .... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN II berita acara ini......... Kepala SKPD selaku pimpinan sidang Forum SKPD.......... Tahun.............. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ........ provinsi/kabupaten/kota*).. 6. Catatan: *) coret yang tidak perlu KEDUA : KETIGA KEEMPAT : : KELIMA : Demikian berita acara ini dibuat dan disahkan untuk digunakan sebagaimana mestinya.. Rencana program dan kegiatan prioritas SKPD..... 2......... Nama Lembaga/Instansi Alamat & no Telp. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN IV berita acara ini.... provinsi/kabupaten/kota*) .......-...........……………… Tanggal : ...... 4........-. Provinsi/Kabupaten/Kota*) . Tahun . 4. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ............... ...... sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN V yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari berita acara ini. NO 1. provinsi/kabupaten/kota*) . 3.... Tanda tangan ....... 3.... Tanda tangan ( Nama) Mewakili Peserta Forum SKPD Penyusunan Renstra SKPD……………..... Tempat : ......... tujuan dan sasaran. No 1..... tanggal …. strategi dan kebijakan pelayanan rancangan Renstra SKPD........ Berita acara ini beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada diktum KEEMPAT dijadikan sebagai bahan penyempurnaan rancangan Renstra SKPD.................. Format Daftar Hadir Peserta Forum SKPD LAMPIRAN I : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel...Tahun . Dst. Tahun .

.1 2.. Dst… Dst…… MISI II Dst…… : .. Dst… 1.... Strategi.55 - c....... Kebijakan 2... Strategi 2.2 Dst…….. Tahun . 3....T-IV.1 1.... dst VISI MISI I : : ..1 Tujuan Strategi 1. Strategi 1.1 2.. Strategi Strategi 1. Kebijakan 1.1 Kebijakan 1.... terhadap Isu Strategis..2 Dst… Tujuan 2...2 3.......C...... Dst…… 1..... Sasaran..... 2.2 3... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Forum SKPD terhadap Isu Strategis. Dst… Dst…… Dst . Dst… Dst…… Tujuan 1 2...... Tujuan...2 3.-.... Tujuan 1 Sasaran 1..... Dst…….... Sasaran 1. Dst……...... Dst…… .2 3.……………… Tanggal : .. 2........... Strategi.. Sasaran 1.... 2... Sasaran 1...... Strategi 2... Kebijakan 1... Sasaran 2.....2 3. dan Kebijakan Renstra SKPD.. Sasaran 1. Tempat : . 1.. Provinsi/Kabupaten/Kota*) ... Dst… Dst…… Tujuan 2 2..1 2.... Sasaran. Kebijakan Kebijakan 1. dan Kebijakan Renstra SKPD LAMPIRAN II : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel......1 1..2 3... Strategi 1.... Kebijakan 2..1 Strategi 1.....31 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Kelompok Forum SKPD... ISU STRATEGIS: 1. Sasaran 1..2 3. Dst…… Kebijakan 1... Sasaran 2... Tujuan.....1 2. 3..............

..............32 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD.................... Tempat : . Kegiatan................ .C.......... Provinsi/Kabupaten/Kota*) ....... Tujuan 1 Sasaran 1 Tujuan 1 Sasaran 2 Program . Tujuan 2 Sasaran 1 Program ........ Kegiatan... Dst .....……………… Tanggal : .......T-IV.56 d... Program .... Kegiatan. Tahun.... Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-Sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD LAMPIRAN III : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel.... Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) (6) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (7) Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD target (18) Rp (19) (20) (21) Unit Kerja SKPD Penanggungjawab Lokasi Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (1) (2) (3) (4) (5) Program ........— ......

...... NO Indikator Sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 Target Capaian Setiap Tahun Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD f.. Tempat: . Sasaran 1.......57 e....……………… Tanggal: .. 1....... HASIL KESEPAKATAN SIDANG KELOMPOK FORUM SKPD LAMPIRAN V : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : HASIL KESEPAKATAN SIDANG KELOMPOK ........1 2.........34 ISU STRATEGIS: VISI MISI : ... Tujuan Tujuan 1 Tujuan 2 Dst…… Sasaran 1.... Sasaran 2. Strategi 2....1 2..... Dst…….... Strategi 1..... Dst……... Dst…… 1... Tanggal: ..T-IV. 2..................... 3........ Tabel.........2 3...........2 Dst… Kebijakan 2.....2 3. Dst… 1.... FORUM SKPD. Strategi 1... Provinsi/Kabupaten/Kota*) . Sasaran 2....1 Kebijakan 1.... : ..........C...2 3...1 Kebijakan 2.1 2.....2 3..2 Dst… Dst…… . Format Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD LAMPIRAN IV : BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD NOMOR : TANGGAL : Tabel..T-IV.. Kebijakan Kebijakan 1......... Pokok Bahasan: Misi . Tempat: .. Strategi 2.C...1 2... Sasaran 1...33 Rekapitulasi Hasil Pembahasan Sidang-sidang Kelompok Forum SKPD terhadap Indikator kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota*) ....... 2. 3.... 1. Dst… Dst…… Strategi 1...

36 Indikator kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota*) ... Tujuan 1 Sasaran 2 Program .... Tabel..35 Program dan Kegiatan Prioritas Renstra SKPD.T-IV...... Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Target Capaian Setiap Tahun Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 NO Indikator Sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD .T-IV................. Kegiatan..C. Kegiatan. Program ..........— ...........C..... Tujuan 2 Sasaran 1 Program ... Dst ..……………… terkait dengan pokok bahasan Misi ..... Indikator Kinerja Program (outcome) dan Kegiatan (output) (6) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Data Capaian pada Tahun Awal Perencanaan (7) Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Kode Program dan Kegiatan Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra SKPD target (18) Unit Kerja SKPD Penanggungjawab Lokasi target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Rp (19) (20) (21) (1) (2) (3) (4) (5) Tujuan 1 Sasaran 1 Program .... Tahun. Provinsi/Kabupaten/Kota*) .……………… terkait dengan Pokok Bahasan Misi ...58 Tabel......... Kegiatan...

....C.. 3.. disusun secara sistematis kedalam naskah rancangan Renstra SKPD. Peraturan Daerah.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Mengemukakan secara ringkas pengertian Renstra SKPD.. 3... serta susunan garis besar isi dokumen. keterkaitan Renstra SKPD dengan RPJMD... 4.. mengemukakan capaian program prioritas SKPD yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan RPJMD periode sebelumnya. (nama daerah) (Tanggal/Bulan/Tahun) NO 1. Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok Saran/Rekomendasi Sidang Kelompok ... 5..T-IV.59 Tabel.. serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran SKPD. kewenangan SKPD.... dengan sistematika penulisan sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I 1. Forum SKPD Provinsi……………… Tahun .. dan mengulas hambatan-hambatan utama yang masih dihadapi dan dinilai perlu diatasi melalui Renstra SKPD ini...4 Sistematika Penulisan Menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renstra SKPD.. fungsi Renstra SKPD dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. tugas dan fungsi. proses penyusunan Renstra SKPD..3 Maksud dan Tujuan Memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renstra SKPD 1.2 Landasan Hukum Memuat penjelasan tentang undang-undang.C.37 No 1. dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang struktur organisasi. .2 Tahap Penyajian Rancangan Renstra SKPD Hasil-hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan perumusan rancangan Renstra SKPD yang telah diuraikan sebelumnya. Jabatan Dalam Sidang Lembaga/instansi Kelompok Tanda Tangan C. peraturan pemerintah. BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD Memuat informasi tentang peran (tugas dan fungsi) SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. 2..T-IV..-. dst Nama Tabel. 1... 2... dan dengan Renja SKPD.38 Daftar Anggota Sidang Kelompok. mengemukakan capaian-capaian penting yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode sebelumnya... 1. Renstra K/L dan Renstra provinsi/kabupaten/kota. mengulas secara ringkas apa saja sumber daya yang dimiliki SKPD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya.. 4. Dst.

1 Tugas. menurut SPM untuk urusan wajib.2 dan Tabel.. mencakup sumber daya manusia.60 2. struktur organisasi SKPD.C.T-IV. mekanisme). dan Struktur Organisasi SKPD Memuat penjelasan umum tentang dasar hukum pembentukan SKPD.T-IV. prosedur. asset/modal.3 Kinerja Pelayanan SKPD Bagian ini menunjukkan tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD periode sebelumnya. serta uraian tugas dan fungsi sampai dengan satu eselon dibawah kepala SKPD. 2.C. dan/atau indikator kinerja pelayanan SKPD dan/atau indikator lainnya seperti MDGs atau indikator yang telah diratifikasi oleh pemerintah. Adapun tabel yang perlu disajikan adalah hasil pengisian Tabel.1. dan tata laksana SKPD (proses. Uraian tentang struktur organisasi SKPD ditujukan untuk menunjukkan organisasi.2. dan unit usaha yang masih operasional.2 Sumber Daya SKPD Memuat penjelasan ringkas tentang macam sumber daya yang dimiliki SKPD dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Bahan penulisan tentang kinerja pelayanan SKPD ini mengacu pada hasil kerja bagian B. Fungsi.3 dengan format sebagai berikut: . 2.2. jumlah personil.

........ ..... Kepala SKPD .... 20........ ................ Provinsi/Kabupaten/Kota**)...........61 Tabel 2..... ……………… Uraian ***) (1) 1 (2) Anggaran pada Tahun ke2 3 4 (3) (4) (5) 5 (6) 1 (7) Realisasi Anggaran pada Tahun ke2 3 4 (8) (9) (10) 5 (11) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke1 2 3 4 5 (12) (13) (14) (15) (16) Rata-rata Pertumbuhan Anggaran Realisasi (17) (18) *) **) ***) diisikan dengan nama SKPD diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota disesuaikan dengan kewenangan SKPD ...... Tabel 2..... ... Provinsi/Kabupaten/Kota ……………… NO (1) Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD (2) Target SPM Target IKK (3) (4) Target Indikator Lainnya (5) Target Renstra SKPD Tahun ke1 (6) Realisasi Capaian Tahun ke1 (11) Rasio Capaian pada Tahun ke5 1 (16) 2 (7) 3 (8) 4 (9) 5 (10) 2 (12) 3 (13) 4 (14) 2 (17) 3 (18) 4 (19) 5 (20) (15) .... .......... 20...... Kepala SKPD ...1 Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD *)..2 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD* .........

62 Setelah penyajian setiap tabel diatas.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Bagian ini mengemukakan hasil analisis terhadap Renstra K/L dan Renstra SKPD kabupaten/kota (untuk provinsi) dan Renstra SKPD provinsi (untuk kabupaten/kota). BAB III 3. pada perihal mana yang baik atau kurang baik. dipaparkan apa saja faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan SKPD yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut (hasil pengisian Tabel. serta program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.2 (Analisis Gambaran Pelayanan SKPD) 3. perkiraan besaran kebutuhan pelayanan. Identifikasi permasalahan didasarkan pada hasil pengisian Tabel.2.1 ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Pada bagian ini dikemukakan permasalahan-permasalahan pelayanan SKPD beserta faktorfaktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi salah satu bahan perumusan isu strategis pelayanan SKPD. dan arahan lokasi pengembangan pelayanan yang dibutuhkan.2 Telaahan Visi. 3. jumlah dan kualitas personil (sumber daya manusia).1. progres pelaksanaan program.2.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Bagian ini mengemukakan apa saja faktor-faktor penghambat ataupun faktor-faktor pendorong dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari sasaran jangka menengah Renstra K/L ataupun Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota. interpretasi sekurang-kurangnya mengemukakan ada/tidaknya kesenjangan/gap pelayanan. Hasil interpretasi ini ditujukan untuk menggambarkan potensi dan permasalahan pendanaan pelayanan SKPD. Bagian ini mengemukakan macam pelayanan. .9 yang telah dilakukan pada C. hasil telaahan terhadap RTRW.T-IV. dan hasil analisis terhadap KLHS yang berimplikasi sebagai tantangan dan peluang bagi pengembangan pelayanan SKPD pada lima tahun mendatang.T-IV.1.9). Misi. Hasil interpretasi ini ditujukan untuk menggambarkan potensi dan permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari kinerja pelayanan periode sebelumnya.T-IV. lalu pada pelayanan mana saja target belum tercapai serta faktor yang mempengaruhi belum berhasilnya pelayanan tersebut. pada pelayanan mana saja target telah tercapai. 3. misalnya prosedur/mekanisme. dan selanjutnya mengemukakan apa saja faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja pengelolaan pendanaan pelayanan SKPD. dikemukakan apa saja interpretasi atas hasil pengisian tiap tabel tersebut. dan sebagainya.C.. 2.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pada bagian ini dikemukakan apa saja faktor-faktor penghambat dan pendorong dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari implikasi RTRW dan KLHS. Setelah penyajian Tabel.C. interpretasi sekurang-kurangnya mengemukakan pada tahun mana saja rasio antara realisasi dan anggaran dapat dikatakan baik atau kurang baik. misi. Setelah penyajian Tabel 2.11). faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan pelayanan ini. Selanjutnya berdasarkan identifikasi permasalahan pelayanan SKPD (Tabel.C. dan Program Kepala daerah dan wakil kepala daerah Terpilih Bagian ini mengemukakan apa saja tugas dan fungsi SKPD yang terkait dengan visi.

1. kegiatan.24.3 Strategi dan Kebijakan SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan strategi dan kebijakan SKPD dalam lima tahun mendatang.2 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD sebagaimana dihasilkan pada C. sasaran jangka menengah pada Renstra K/L.1. Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah SKPD beserta indikator kinerjanya disajikan dalam Tabel 4. (Perumusan rencana program. MISI. BAB IV 4.2.C.11. DAN SASARAN. TUJUAN.C. indikator kinerja. indikator kinerja. 2. 4.C.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan SKPD NO.5 Penentuan Isu-isu Strategis Pada bagian ini direview kembali faktor-faktor dari pelayanan SKPD yang mempengaruhi permasalahan pelayanan SKPD ditinjau dari: 1. dan pendanaan indikatif sebagaimana dihasilkan dari C. sebagaimana dihasilkan pada C1. Dengan demikian.12.1 yang bersumber dari Tabel. KELOMPOK SASARAN.63 3. dan pendanaan indikatif).T-IV. gambaran pelayanan SKPD.8 (Perumusan Tujuan Pelayanan Jangka Menengah SKPD) dan C.1 sebagaimana berikut ini. yaitu dari Tabel.28..T-IV. Adapun penyajiannya menggunakan Tabel 5. sasaran jangka menengah dari Renstra SKPD provinsi/kabupaten/kota.T-IV. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN. Tabel 4. DAN PENDANAAN INDIKATIF Pada bagian ini dikemukakan rencana program dan kegiatan. 5. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi SKPD Pada bagian ini dikemukakan rumusan pernyataan visi dan misi SKPD sebagaimana dihasilkan pada B. kelompok sasaran. .1. 3. kelompok sasaran.1.9 (Perumusan Sasaran Pelayanan Jangka Menengah SKPD) dan dikemukakan dalam Tabel. (1) TUJUAN (2) SASARAN (3) INDIKATOR SASARAN (4) TARGET KINERJA SASARAN PADA TAHUN KE1 (5) 2 (6) 3 (7) 4 (8) 5 (9) 4. INDIKATOR KINERJA. implikasi RTRW bagi pelayanan SKPD. pada bagian ini diperoleh informasi tentang apa saja isu strategis yang akan ditangani melalui Renstra SKPD tahun rencana.7 4. dan implikasi KLHS bagi pelayanan SKPD Selanjutnya dikemukakan metoda penentuan isu-isu strategis dan hasil penentuan isu-isu strategis tersebut.27.1 VISI.

.... Kegiatan...T-IV... Kegiatan.... Kegiatan...... (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Tujuan Sasaran 1 1 *) diisikan dengan nama SKPD **) diisikan dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Pada bagian ini dikemukakan indikator kinerja SKPD yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.......... .. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD ini ditampilkan dalam Tabel 6.........*) Provinsi/Kabupaten/Kota..... Tujuan Sasaran 2 1 Program ..1 Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD Kondisi Kinerja pada awal periode RPJMD Tahun 0 Tahun 1 NO Indikator Target Capaian Setiap Tahun Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Kondisi Kinerja pada akhir periode RPJMD (8) (9) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Naskah rancangan Renstra SKPD ini selanjutnya disampaikan kepala SKPD kepada Bappeda untuk di verifikasi..1 Rencana Program....................29.. dan Pendanaan Indikatif SKPD.. Kegiatan. Kelompok Sasaran.......C....... Tabel 6.. Dst ........1 yang bersumber dari Tabel..64 Tabel 5. Indikator Kinerja...**) Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Indikator Kondisi Unit Kinerja Data Kinerja Kerja Program Capaian Indikator Program dan pada akhir SKPD Tujuan Sasaran Kode (outcome) pada Tahun Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 Lokasi Sasaran Kegiatan periode Penangdan Awal Renstra gungKegiatan Perencanaan SKPD jawab (output) target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp (1) (2) (3) (4) (5) Program .. Tujuan Sasaran 1 2 Program .

5. strategi. Penyesuaian program prioritas SKPD yang disertai dengan indikasi kebutuhan pendanaan. sasaran. dan kegiatan. Visi dan misi SKPD yang telah dirumuskan semula pada rancangan Renstra SKPD dipertajam dan disesuaikan dengan visi dan misi sebagaimana dalam RPJMD. Penajaman kembali rumusan tujuan SKPD berdasarkan rumusan tujuan. sasaran. Ini merupakan bagian penting. tim menyempurnakan rancangan akhir Renstra SKPD . Hal pertama yang dilakukan dalam penyempurnaan ini adalah penajaman visi dan misi. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut.1. program dan kegiatan SKPD. Penyelarasan tujuan. D.2. Penyusunan rancangan akhir ini dilakukan melalui dua tahap yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan. 2.1. Tahap penyajian rancangan akhir Renstra SKPD.65 D. 4. Penyesuaian rumusan sasaran dan strategi serta kebijakan berdasarkan RPJMD. Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan atas Rancangan Renstra SKPD yang berpedoman pada RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahap perumusan rancangan akhir Renstra SKPD. dan kegiatan Tahap ini bertujuan untuk menyelaraskan rancangan Renstra SKPD dengan isi RPJMD. kebijakan. dan 2. strategi. strategi. strategi. 3. Penajaman visi dan misi. sasaran. kebijakan. program. 2. maka sebagai konsekuensinya rancangan Renstra SKPD harus disesuaikan dengan RPJMD tersebut. strategi dan arah kebijakan dalam RPJMD. Penyelarasan ini mencakup: 1. karena visi dan misi ini akan menjadi arahan bagi tujuan. maka tim penyusun Renstra SKPD membahas rancangan akhir Renstra SKPD dengan seluruh unit kerja SKPD. sasaran. program. dan Penyusunan rancangan Keputusan Gubernur/Keputusan Bupati/Walikota tentang Renstra SKPD. Setelah perumusan rancangan akhir Renstra SKPD diselesaikan. kebijakan. D.1. Penajaman indikator kinerja urusan (sesuai tugas dan fungsi). kebijakan. Perumusan kaidah transisi dan kaidah pelaksanaan. Penajaman visi dan misi Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD menjadi rancangan akhir Renstra SKPD dilakukan oleh tim penyusun Renstra SKPD berdasarkan hasil kajian terhadap RPJMD provinsi yang telah disahkan dengan Peraturan Daerah. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RENSTRA SKPD. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD dengan yang telah ditetapkan dalam RPJMD. Penyelarasan tujuan. sasaran. 6. Penyempurnaan Rancangan Renstra SKPD bertujuan untuk mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan. Perumusan isi dan substansi rancangan akhir Renstra SKPD ini dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut: 1. program.. Tahap Perumusan Rancangan Akhir Renstra SKPD Setelah RPJMD disahkan dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.1. D. yaitu: 1.

BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.3 3. KELOMPOK SASARAN.4 3.5 BAB IV 4. INDIKATOR KINERJA.66 D.1 4. DAN SASARAN. dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi/Kabupaten/Kota Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penentuan Isu-isu Strategis VISI. 2.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.2 Landasan Hukum Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. Misi. 2. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi SKPD Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD Strategi dan Kebijakan RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN.2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.3 Kinerja Pelayanan SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.1 Tugas.2 4. 1.4 Sistematika Penulisan Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. TUJUAN.1 3.2 3. Fungsi.. BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD . Penyajian Rancangan Akhir Renstra SKPD.2 Sumber Daya SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. 1. dan Struktur Organisasi SKPD Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. Penyajian rancangan akhir Renstra SKPD disusun menurut sistematika sekurang-kurangnya sebagai berikut: BAB I 1. 1. BAB III 3.3 Maksud dan Tujuan Sama dengan isi rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi.3 BAB V ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Telaahan Visi. DAN PENDANAAN INDIKATIF Sama dengan isi Rancangan Renstra SKPD dengan koreksi seperlunya atau tambahan informasi. MISI. 2. 2.

program. terlebih dahulu melakukan verifikasi akhir terhadap rancangan akhir Renstra SKPD Verifikasi akhir antara lain bertujuan untuk menjamin kesesuaian visi. PENETAPAN RENSTRA SKPD 1. MENTERI DALAM NEGERI. Rancangan akhir Renstra SKPD disampaikan kepala SKPD kepada Kepala Bappeda untuk memperoleh pengesahan kepala daerah. 3. tujuan. ttd GAMAWAN FAUZI Salinan sesuai dengan aslinya Plt. kebijakan. ZUDAN ARIF FAKRULLOH Pembina (IV/a) NIP 19690824 199903 1 001 . paling lama 1 (satu) bulan setelah Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan. kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD. Pengesahan Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah Berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pengesahan Renstra SKPD. 7. 5.. 2. Sebelum Bappeda mengajukan kepada kepala daerah untuk disahkan. 6.67 E. dan kegiatan SKPD dengan RPJMD. strategi. Penetapan Renstra SKPD oleh kepala SKPD paling lama 7 (tujuh) hari setelah Renstra SKPD disahkan oleh kepala daerah.KEPALA BIRO HUKUM 4. misi. dan keterpaduan dengan rancangan akhir Renstra SKPD lainnya. Pengesahan rancangan akhir Renstra SKPD dengan keputusan kepala daerah.

PENGENDALIAN. DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (BUKU V) TAHAPAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH 2010 . TATA CARA PENYUSUNAN.KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN.

PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD D. PELAKSANAAN MUSRENBANG F. PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR G.LAMPIRAN V : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 54 Tahun 2010 TANGGAL : 21 Oktober 2010 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) A. PENETAPAN RKPD . BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RKPD B. PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD E. PERSIAPAN PENYUSUNAN RKPD C.

rencana program dan kegiatan prioritas · · · · · tidak Rancangan Akhir RKPD Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Provinsi Rancangan Renja-SKPD provinsi RPJMD provinsi Evaluasi dokumen RKPD provinsi tahun lalu dokumen RKPD provinsi tahun berjalan Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program dan prioritas daerah beserta Pagu Indikatif Surat Edaran KDH (perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan renja-SKPD) · agenda penyusunan RKPD. · analisis dan evaluasi. RKP Persetujuan rancangan akhir RKPD Provinsi oleh Gubernur Penelaahan Terhadap RPJMN Pengolahan data dan informasi Analisis Gambaran Umum Kondisi daerah provinsi Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah provinsi Evaluasi kinerja tahun lalu Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah provinsi Integrasi Renja SKPD Pelaksanaan Musrenbang RKPD Provinsi Penyelarasan Penyajian Ranc Akhir RKPD Konsultasi rancangan Konsultasi rancangan akhir RKPD Provinsi akhir RKPD Provinsi ke Mendagri ke Mendagri Perumusan hasil Musrenbang RKPD Provinsi Sinkronisasi hasIl Musrenbang RKPD Provinsi Penetapan PerKDH ttg RKPD Provinsi Persiapan Penyusunan RKPD Provinsi Perumusan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah beserta pagu indikatif Perumusan Kerangka Ekonomi dan Kebijakan Keuangan Daerah provinsi Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif sesuai Verifikasi RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI pendahuluan. prioritas dan sasaran pembangunan daerah. BAGAN ALIR TAHAPAN PENYUSUNAN RKPD Gambar. · rencana program dan kegiatan prioritas daerah. · agenda musrenbang RKPD. · evaluasi hasil Pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · prioritas dan sasaran pembangunan Daerah · rencana program dan kegiatan prioritas daerah Penyusunan KUA dan PPAS Kesepakatan KUA dan Kesepakatan KUA dan PPAS antara KDH dan PPAS antara KDH dan DPRD DPRD Penyusunan Penyusunan RAPBD RAPBD . G-V. · Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja RPJMD. · evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capain kinerja RPJMD. rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah.1 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RKPD Provinsi PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD PROVINSI MUSRENBANG RKPD PROVINSI PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RKPD PROVINSI PENETAPAN RKPD PROVINSI Hasil Musrenbangnas RKP/RKP Penelaahan Pokok-pokok pikiran DPRD provinsi Evaluasi Rancangan Awal RKP Nasional. evaluasi Hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. Persiapan Musrenbang RKPD Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD Evaluasi Musrenbang Nas. · pendahuluan. · Analisis dan evaluasi . · agenda forum SKPD. · Rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah.A. · rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · Prioritas dan sasaran pembangunan daerah PerKDH ttg RKPD Provinsi Rancangan Akhir RKPD · pendahuluan. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda Penyusunan Rancangan Renja SKPD Provinsi Rancangan RKPD Provinsi · pendahuluan.-2A. · prioritas dan sasaran pembangunan daerah.

· Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja RPJMD. G-V. evaluasi Hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan. · rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah. rencana program dan kegiatan prioritas · · · · · tidak Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Kabupaten/Kota Rancangan Renja-SKPD Kab/Kota Rancangan Akhir RKPD RPJMD Kab/ Kota Evaluasi dokumen RKPD kab/ kota tahun lalu dokumen RKPD Kab/ Kota tahun berjalan Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta Pagu Indikatif Surat Edaran KDH (perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan renja-SKPD) · agenda penyusunan RKPD. analisis dan evaluasi.2 Bagan Alir Tahapan Penyusunan RKPD Kabupaten/kota PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN/KOTA PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD KABUPATEN/KOTA MUSRENBANG RKPD KABUPATEN/KOTA PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR RKPD KABUPATEN/ KOTA PENETAPAN RKPD PROVINSI Pengolahan data dan informasi Penelaahan terhadap RPJMN dan RPJMD provinsi Hasil Musrenbangnas RKP/RKP Penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota Evaluasi Rancangan Awal RKP & RKPD Provinsi Hasil Musrenbang RKPD Provinsi Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Persiapan Penyusunan RKPD Kab/ Kota Persiapan Musrenbang RKPD Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD Evaluasi Musrenbangnas RKP & RKPD Kab/ Kota Persetujuan rancangan akhir RKPD Kab/Kota oleh Bupati/ Walikota Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah Evaluasi kinerja RKPD Tahun lalu Perumusan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah beserta pagu indikatif Perumusan permasalahan Pembangunan Daerah kab/ kota Integrasi Renja SKPD Pelaksanaan Musrenbang Kabupaten/Kota Penyelarasan Penyajian Ranc Akhir RKPD Konsultasi Rancangan Konsultasi Rancangan akhir RKPD Kab/Kota ke akhir RKPD Kab/Kota ke PemProv. · agenda musrenbang RKPD. evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capain kinerja RPJMD. · rencana program dan kegiatan prioritas.A. · batas waktu penyampaian rancangan renja-SKPD kepada Bappeda · pendahuluan. · Rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · · Penyusunan KUA dan PPAS Kesepakatan KUA dan Kesepakatan KUA dan PPAS antara KDH dan PPAS antara KDH dan DPRD DPRD Penyusunan Penyusunan RAPBD RAPBD . prioritas dan sasaran pembangunan Daerah rencana program dan kegiatan prioritas daerah Penyusunan Rancangan Renja SKPD Kab/Kota Rancangan RKPD Kabupaten/Kota · pendahuluan. · Prioritas dan sasaran pembangunan daerah PerKDH tentang RKPD Kabupaten/ Kota Rancangan Akhir RKPD · · · · pendahuluan. rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah.-3- Gambar. rencana kerangka ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. · agenda forum SKPD. PemProv. Sinkronisasi hasil Musrenbang RKPD Kecamatan Penetapan PerKDH ttg RKPD Kabupaten/Kota Perumusan Rancangan Kerangka Ekonomi dan Kebijakan Keuangan Daerah Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif sesuai Perumusan hasil Musrenbang RKPD Kabupaten/ Kota Verifikasi RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN/KOTA pendahuluan. prioritas dan sasaran pembangunan daerah. · prioritas dan sasaran pembangunan daerah. · Analisis dan evaluasi . · evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan.

· · Buku-buku literatur tentang perencanaan dan penganggaran. pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. keterkaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya utamanya RPJMD. pengelolaan keuangan daerah. dan tata cara pelaksanaan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah.1. Agenda kerja tersebut dapat dituangkan dalam sebuah matrik kalender kegiatan. antara lain: · Peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara. tim penyusun dapat dibagi kedalam beberapa kelompok kerja (pokja) berdasarkan urusan atau gabungan beberapa urusan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.3. pedoman evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (EPPD). serta dapat mencurahkan waktu dan konsentrasinya untuk menyusun RKPD.-4B. Rancangan awal RKPD merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi setiap SKPD provinsi dan kabupaten/kota dalam penyusunan rancangan Renja SKPD. penyusunan agenda kerja. Tim penyusun RKPD provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan Kepala Daerah. Guna efektivitas proses penyusunan dan kedalaman kajian maupun rumusan dokumen. . sistem perencanaan pembangunan nasional. PERSIAPAN PENYUSUNAN RKPD Tahapan persiapan penyusunan RKPD meliputi: pembentukan Tim Penyusun RKPD. B. Penyusunan Agenda Kerja Jangka waktu dan kegiatan penyusunan dokumen RKPD sangat ketat dan padat.2. dan menganalisis serta menginterpretasikan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah yang diperlukan dalam menyusun RKPD. B. orientasi mengenai RKPD. atau menurut klasifikasi lainnya yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan tugas dan fungsi tim. teknis penyusunan dokumen RKPD. Anggota tim berasal dari pejabat dan staf SKPD yang memiliki kemampuan dan kompetensi dibidang perencanaan dan penganggaran. Tugas tim penyusun RKPD selanjutnya dijabarkan kedalam agenda kerja yang dijadikan sebagai panduan kerja mulai dari tahap persiapan sampai dengan ditetapkannya rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD tahun berkenaan Struktur tim penyusun RKPD sekurang-kurangnya sebagai berikut: Penanggungjawab Ketua Tim Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : : Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Sekretaris Bappeda Kepala SKPD sesuai dengan kebutuhan. tahapan tata cara penyusunan. Orientasi mengenai RKPD Orientasi mengenai RKPD kepada seluruh anggota tim dilakukan untuk penyamaan persepsi dan memberikan pemahaman terhadap berbagai peraturan perundang-undangan kebijakan pemerintah berkaitan dengan perencanaan pembangunan nasional dan daerah. B. Pembentukan Tim Penyusun RKPD Bappeda menyiapkan rancangan surat keputusan Kepala Daerah tentang pembentukan tim penyusun RKPD provinsi dan kabupaten/kota. serta penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah. pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. Panduan atau pedoman teknis terkait penyusunan RKPD dan penyusunan anggaran. pemerintahan daerah. Bahan orientasi mengenai RKPD. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. untuk itu perlu disusun agenda kerja tim yang merinci setiap tahapan kegiatan penyusunan dokumen RKPD dengan satuan waktu sejak persiapan sampai dengan penetapan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD.

-5Dalam rangka menerapkan perencanaan partisipatif. Demikian halnya rancangan awal RKPD kabupaten/kota selain dibahas bersama dengan pemangku kepentingan dalam forum musrenbang RKPD kabupaten/kota juga dibahas dalam forum musrenbang di kecamatan dan menjadi acuan dalam membahas Renja SKPD dalam forum SKPD kabupaten/kota. Mempertimbangkan terbatasnya waktu dan adanya keterkaitan hubungan antar satu kegiatan dengan kegiatan lainnya dalam proses penyusunan RKPD dan Renja SKPD diharapkan penyusunan rancangan awal RKPD provinsi dan kabupaten/kota sudah harus dimulai dari bulan Desember tahun sebelumnya Contoh agenda kerja penyusunan dokumen RKPD provinsi dan kabupaten/kota sebagai berikut: . rancangan awal RKPD provinsi dibahas bersama pemangku kepentingan dalam forum musrenbang RKPD provinsi dan menjadi acuan dalam membahas Renja SKPD dalam forum SKPD provinsi.

23.-6Tabel. B. 14. 15. 7. Renja SKPD dan APBD Kabupaten/Kota NO Tahapan Perencanaan dan penganggaran Tahunan Daerah A. 10. 19. 26. 24. 13. 9. T-V. 17.B. E. 27. 16. 18. 11. C 12. D. 28. PenyusunanRKPD dan Renja-SKPD (s/d Rancangan Akhir) Pembentukan tim penyusun RKPD/Renja-SKPD Kab/Kota Penyusunan rancangan awal RKPD dan rancangan Renja-SKPD Kab/Kota Musrenbang desa/kelurahan Lanjutan penyusunan rancangan Renja-SKPD Musrenbang Kecamatan Pembahasan rancangan Renja SKPD pada Forum SKPD kabupaten/kota Penyusunan rancangan RKPD kabupaten/kota Pelaksanaan Musrenbang RKPD kabupaten/kota Perumusan Rancangan Akhir RKPD kab/kota Penetapan perkada RKPD dan Renja SKPD Penetapan perkada RKPD kabupaten/kota Penetapan Renja SKPD kabupaten/kota Penyusunan KUA dan PPAS Penyusunan Rancangan KUA dan PPAS Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada KDH Penyampaian Rancangan KUA dan PPAS kepada DPRD Pembahasan KUA dan PPAS Nota Kesepakatan KUA dan PPAS Penyusunan RAPBD Penyiapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penetapan SE tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD Penyusunan RKA-SKPD Pembahasan RKA-SKPD oleh TAPD Penyempurnaan RKA-SKPD Penyiapan Raperda APBD Pembahasan dan Penetapan APBD Penyampaian Raperda APBD beserta kampirannya oleh Kepala Daerah kepada DPRD Pembahasan Raperda APBD Persetujuan Bersama antara DPRD dan KDH Evaluasi oleh Mendagri bagi APBD provinsi dan oleh Gubernur bagi APBD kabupaten/kota Penyempurnaan Raperda APBD berdasarkan hasil evaluasi Penetapan Perda tentang APBD Desember I II III IV I Januari II III IV I Februari II III IV I Maret II III IV