P. 1
Promosi Kesehatan

Promosi Kesehatan

|Views: 780|Likes:
Published by Vani Wardani

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Vani Wardani on Dec 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2013

pdf

text

original

Sejarah Promosis Kesehatan Bab I PENDAHULUAN “Hidup hanya dapat dimengerti dengan menoleh ke belakang Mengamati yang telah

dila kukan Tetapi harus dijalani dengan melihat ke depan” (Soren Kierkegaard) “We learn f rom the past days, we belong to the present, and with the guidance from the Almi ghty we build our tomorrow” (A wise person’s saying) Di era milenium ini, setiap hari bahkan setiap saat, kepada kita disaj ikan pelbagai macam iklan atau upaya pemasaran pelbagai macam produk dan jasa. I klan-iklan itu dengan gencarnya menyapa kita melalui berbagai media, terutama TV dan radio. Melalui internet, iklan-iklan itu juga datang silih berganti. Iklan juga menyergap kita melalui telepon seluler. Jangan ditanya iklan melalui surat kabar dan majalah. Juga melalui film layar lebar di gedung bioskop. Iklan-iklan juga mejeng secara mentereng melalui billboard, spanduk, umbul-umbul, dll. Tentu saja iklan juga muncul melalui poster, leaflet atau brosur. Belum lagi iklan me lalui selebaran yang secara berdesakan nongol di tembok-tembok, tiang listrik/te lepon, pagar rumah, dll. Ada juga iklan yang disamarkan melalui tulisan ilmiah a tau tulisan populer. Jangan dilupakan iklan atau pemasaran produk atau jasa yang dikemas secara sangat professional dalam bentuk pameran, seminar atau pertemuan . Belum lagi iklan atau upaya pemasaran yang dilakukan secara agresif melalui ta tap mula langsung dari rumah ke rumah dan secara berantai (multy level marketing ). Demikian pula upaya yang dilakukan melalui loby kepada pelbagai pihak, khusus nya pengambil kebijakan, agar produk atau jasanya dapat dipergunakan oleh khalay ak luas. Dan masih banyak lagi cara-cara kreatif yang dilakukan dalam rangka men jajakan suatu produk atau jasa. Upaya-upaya itu mempunyai pengaruh yang sangat b esar terhadap lakunya suatu produk atau jasa. Produk atau jasa apa saja, termasu k produk atau jasa di bidang kesehatan serta produk dan jasa yang merugikan kese hatan seperti rokok, minuman keras, obat-obatan yang tidak layak, dll. Itu semua termasuk upaya pemasaran atau upaya untuk mempromosikan produk atau jasa. Pada zaman dulu upaya itu disebut propaganda. Istilah propaganda sering dik aitkan dengan bidang politik. Namun sebenarnya tidak selalu demikian. Bisa juga tentang masalah sosial, termasuk kesehatan. Di zaman pra dan awal kemerdekaan du lu propaganda masalah kesehatan itu sudah dilakukan. Pada waktu itu cara propaga nda itulah yang dilakukan untuk memberi penerangan kepada masyarakat tentang kes ehatan. Propaganda pada waktu itu dilakukan dalam bentuknya yang sederhana melal ui pengeras suara atau dalam bentuk gambar dan poster. Juga melalui film layar t ancap. Cara-cara itu kemudian berkembang, karena propaganda dirasakan kurang efe ktif apabila tidak dilakukan upaya perubahan atau perbaikan perilaku hidup sehar i-hari masyarakat. Maka dilancarkanlah upaya pendidikan kesehatan masyarakat (he alth education) yang dipadukan dengan upaya pembangunan masyarakat (community de velopment) atau upaya pengorganisasian masyarakat (community organization). Upaya ini berkembang pada tahun 1960 an, sampai kemudian mengalami perkemb angan lagi pada tahun 1975 an, menjadi “Penyuluhan Kesehatan”. Meski fokus dan caran ya sama, tetapi istilah “Pendidikan kesehatan” itu berubah menjadi “Penyuluhan Kesehat an”, karena pada waktu itu istilah “pendidikan” khusus dibakukan di lingkungan Departe men Pendidikan. Pada sekitar tahun 1995 istilah Penyuluhan kesehatan itu berubah lagi menjadi “Promosi Kesehatan”. Perubahan itu dilakukan selain karena hembusan pe rkembangan dunia (Health promotion mulai dicetuskan di Ottawa pada tahun 1986), juga sejalan dengan paradigma sehat, yang merupakan arah baru pembangunan keseha tan di Indonesia. Istilah itulah yang berkembang sampai sekarang, yang antara la in menampakkan wujudnya dalam bentuk pemasaran atau iklan, yang marak pada era m ilenium ini. Perjalanan dari propaganda, kemudian menjadi pendidikan, lalu penyuluhan dan sekarang promosi kesehatan itu, merupakan sejarah. Dalam per jalanan dari waktu ke waktu itu ada kejadian atau peristiwa yang patut dikenang, dan ada cerita atau kisah yang menarik, mengharukan, atau juga lucu. Tetapi yan g penting pastilah ada hikmah, kebijaksanaan, nilai atau “wisdom” yang dapat diangka t dari rentetan kisah atau cerita itu. Hikmah, kebijaksanaan, nilai atau “wisdom” it u tentulah sangat besar manfaatnya bagi kita semua, terutama generasi muda yang merupakan penerus pembangunan bangsa tercinta ini. Kebijaksanaan itu pula yang r

asanya patut sekali dapat dimiliki oleh para pembuat kebijakan, yang menentukan arah perkembangan negara kita di masa y.a.d. Demikianlah, maka sejarah atau perk embangan tentang promosi kesehatan di Indonesia itu perlu dituliskan. Penulisan sejarah atau perkembangan promosi kesehatan di Indonesia itu dirasakan semakin p erlu karena nampaknya sejarah berulang. Apa yang kita pikirkan sekarang, rupanya sudah pernah dipikirkan bahkan dilaksanakan pada waktu yang lalu. Melalui tulis an ini diharapkan kita dapat lebih cepat belajar dan tidak mengulangi kesalahankesalahan yang pernah kita lakukan pada waktu yang lalu itu. Dengan de mikian yang dimaksud dengan sejarah di sini bukan dalam arti rentetan peristiwa dalam tanggal, bulan dan tahun. Tetapi sejarah adalah uraian tentang peristiwa n yata berupa fakta dan data yang bisa dijadikan bahan analisa untuk disimpulkan m anfaat dan mudaratnya bagi pijakan untuk kegiatan masa kini dan yang akan datang . Di sini sejarah lebih mempunyai arti ke depan. Dalam kaitan itu beberapa negar a sedang ribut dalam penulisan sejarah ini. Korea, Jepang dan China berebut melu ruskan sejarah dengan versi masing-masing. Pemerintah RI sejak merdeka sampai se karang juga sangat berkepentingan dengan penulisan sejarah. Ini menunjukkan bahw a sejarah sering dibuat untuk kepentingan sesaat demi pemenuhan si pembuat sejar ah. Seharusnyalah bahwa sejarah itu netral. Yang penting adalah tentang pembelaj aran sejarah. Makna, nilai atau kebijaksanaan apa yang dapat ditangkap di balik kejadian atau rentetan peristiwa itu. Para pembacalah yang menganalisis sendiri, menyimpulkan dan mengambil makna sebagai landasan untuk pengambilan kebijakan b agi langkah-langkah tindakannya masa kini dan yang akan datang. Sejara h, menurut Prof Nugroho Notosutanto, mengandung dua hal: fakta dan persepsi. Di satu pihak merupakan rentetan peristiwa berdasar fakta. Tekanannya pada uraian f akta yang bersifat deskriptif. Di pihak lain sejarah juga merupakan persepsi dar i para pelaku, para saksi dan para pengamatnya. Tekanannya berupa analisis peris tiwa bahkan dilanjutkan dengan prediksi ke depan. Demikianlah, maka sejarah perk embangan Promosi Kesehatan di Indonesia ini ditulis senetral dan seobyektif mung kin berdasarkan fakta sesuai rentetan peristiwa. Namun demikian juga t idak dapat dihindari adanya pandangan subyektif berupa analisis dan prediksi dar i para pelaku, para saksi atau pengamat yang kebetulan menjadi penulisnya. Sikap subyektif ini ditekan seminimal mungkin karena buku ini ditulis oleh satu tim y ang terdiri dari berbagai unsur dan lintas generasi. Selanjutnya kebenaran deskr ipsi fakta, analisis dan prediksi tim penulis ini diserahkan sepenuhnya kepada p ara pembaca. Para pembaca buku ini dapat siapa saja : para pengambil kebijakan, praktisi lapangan, kalangan Perguruan Tinggi khususnya mahasiswa, kalangan ilmuw an, para profesional, media massa, dan lain-lain. Melalui tulisan ini, para pemb aca diharapkan dapat menangkap makna, nilai atau kebijaksanaan di setiap peristi wa itu dan memanfaatkannya untuk menghadapi masalah sekarang dan yang akan datan g, untuk peningkatan kesehatan masyarakat pada khususnya dan pembangunan nasiona l pada umumnya. Setidak-tidaknya tulisan ini diharapkan dapat menjadi dokumen te rtulis yang memperkaya dokumen-dokumen lain, yang ternyata tidak banyak jumlahny a. Buku tentang sejarah atau perkembangan Promosi Kesehatan ini diberi nama “Perkembangan Dan Tantangan Masa Depan Promosi Kesehatan Di Indonesia”, dengan sub judul: “Dari Propaganda, Pendidikan dan Penyuluhan Sampai Promosi Kesehatan”. I ni berarti bahwa meskipun buku ini ditulis berdasar rentetan peristiwa, tetapi y ang ingin diungkap terutama adalah makna yang dapat ditarik dari balik rentetan peristiwa itu. Maka periodesasi atau kurun waktu perjalanan promosi kesehatan di kaitkan dengan isu yang mengemuka serta “widom” yang dapat dipetik di setiap periode atau kurun waktu itu. Sekali lagi yang diharapkan dari buku ini adalah bahwa pe mbaca dapat belajar dari masa lalu, untuk menghadapi masalah sekarang, serta ter utama untuk menjajagi dan proaksi masa depan, sebagaimana dikatakan oleh orang b ijak yang dikutip pada awal tulisan ini. Mengenai istilah Promosi Kese hatan sendiri juga mengalami perkembangan. Mula-mula dicetuskan di Ottawa, Canad a pada tahun 1986 (dikenal dengan “Ottawa Charter”), oleh WHO promosi kesehatan dide finisikan sebagai: “the process of enabling people to control over and improve the ir health”. Definisi tersebut diaplikasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi : “Pro ses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi keseha tannya”. Definisi ini tetap dipergunakan, sampai kemudian mengalami revisi pada ko nferensi dunia di Bangkok pada bulan Agustus 2005, menjadi: “Health promotion is t

he process of enabling people to increase control over their health and its dete rminants, and thereby improve their health” (dimuat dalam The Bangkok Charter). De finisi baru ini belum dibakukan bahasa Indonesia. Selain istilah Promosi Kesehat an, sebenarnya juga beredar banyak istilah lain yang mempunyai kemiripan makna, atau setidaknya satu nuansa dengan istilah promosi kesehatan, seperti : Komunika si, Informasi dan Edukasi (KIE), Pemasaran sosial, Mobilisasi sosial, Pemberdaya an masyarakat, dll. Istilah-istilah tersebut juga akan diulas dalam buku ini, da lam bab-bab yang berkaitan. Buku ini terdiri dari 11 bab. Masing-masin g bab, mulai bab II sampai dengan bab V mencoba menceritakan : peristiwa atau ke jadian secara ringkas pada waktu itu, pemikiran atau konsep yang mengemuka, peng alaman empirik di lapangan, tokoh atau figur yang menonjol, serta pelajaran yang dapat ditarik dari episode itu. Dalam beberapa bab itu ada juga diselipkan ceri ta atau kisah ringan yang merupakan kenangan khusus pada waktu itu. Sedangkan ba b VI khusus bercerita tentang perkembangan Promosi Kesehatan dari segi organisas i, yang mengalami pasang surut. Pernah menjadi jabatan yang berada langsung di b awah Menteri Kesehatan (dapat disebut setara eselon I) di awal kemerdekaan, pern ah pula menjadi eselon III pada era 1960-1970 an. Kemudian menjadi beb erapa unit eselon II. Bab VII bercerita tentang perkembangan Pendidikan Kesehata n di Perguruan Tinggi, baik di Jakarta maupun di kota-kota lain, juga yang ada d i PT Swasta. Bab VIII bercerita tentang perkembangan tenaga profesional Penyuluh atau Promosi Kesehatan, yang ternyata juga sudah dimulai di zaman awal kemerdek aan dulu, sampai pengembangannya secara besar-besaran pada era 1970 an dan terus berlangsung sampai sekarang. Dalam bab itu juga dikisahkan perkembangan organis asi profesi Tenaga Penyuluh Kesehatan, baik sebagai jabatan profesional di lingk ungan pemerintahan, maupun sebagai organisasi profesi yang juga mempunyai hubung an dengan organisasi sejenis di luar negeri. Bab IX tentang Proaksi Promosi Kese hatan di masa depan. Secara ringkas diuraikan kekuatan, kelemahan, peluang dan t antangan yang dihadapi dengan dilatar belakangi analisis situasi dan kecenderung an ke depan. Di dalamnya termasuk kaitannya dengan “the Bangkok Charter” yang dihasi lkan dalam Konferensi Dunia Promosi Kesehatan ke-enam di Bangkok, Thailand pada bulan Agustus 2005. Bab X mencoba mendokumentasikan kesan dan pesan dari para pe laku atau mereka yang terkait dengan upaya promosi kesehatan, baik yang berada d i Jakarta maupun di kota-kota lain, yang berada di unit promosi kesehatan atau d i unit lainnya, di pemerintahan dan di luar pemerintahan. Terakhir bab XI adalah bab Penutup, yang juga memuat kesimpulan dan sumbang saran yang berkaitan denga n promosi kesehatan untuk masa sekarang dan yang akan datang. Dalam beberapa bab terasa terjadi pengulangan, tetapi hal itu tidak dapat dihindari, bahkan semoga dapat memperkuat cerita. Ini sesuai dengan salah satu jargon Health Education, bahwa “Education is reenforcement”. Dengan membaca buku perkembangan promosi kesehat an di Indonesia ini, kita mencoba sedikit menoleh ke belakang, mencoba mengamati apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kemudian dengan mengambil pe lajaran dan hikmah yang ada di dalamnya, kita bertekad melangkah untuk menjalani nya dengan melihat ke depan, sebagaimana dikatakan oleh Soren Kierkegaard, seora ng filsuf Jerman, yang dikutip di awal tulisan ini. Bab II ERA PROPAGANDA DAN PENDIDIKAN KESEHATAN RAKYAT (Masa Penjajahan dan Awal Kemerdekaan sampai sekitar Tahun 1960 an) “Health education alone is nothing. Health education with program is something. He alth education with program and community is everything”. (Jargon Health Education ) Masa Penjajahan Mula-mula Belanda, untuk kepentingan mereka sendiri, membentuk Jawatan Kesehatan Tentara (Militair Geneeskundige Dienst) pada tahun 1808. Itu terjadi pada waktu pemerintahan Gubernur Jendral H.W. Daendels, yang terkenal dengan pem buatan jalan dari Anyer sampai Banyuwangi, yang membawa banyak korban jiwa pendu duk. Pada waktu itu ada tiga RS Tentara yang besar, yaitu di Batavia (Jakarta), Semarang dan Surabaya. Usaha kesehatan sipil mulai diadakan pada tahun 1809, dan Peraturan Pemerintah tentang Jawatan Kesehatan Sipil dikeluarkan pada tahun 182 0. Pada tahun 1827 kedua jawatan digabungkan dan baru pada tahun 1911 ada pemisa han nyata antara kedua jawatan tersebut. Pada permulaannya, perhatian hanya ditu

jukan kepada kelompok masyarakat penjajah (Belanda) sendiri, beserta para anggot a tentaranya yang juga meliputi orang pribumi. Sedangkan usaha untuk mempertingg i kesehatan rakyat secara keseluruhan baru dinyatakan dengan tegas dengan dibent uknya Jawatan/Dinas Kesehatan Rakyat pada tahun 1925. Sedangkan pelayanan keseha tan yang mula-mula dilakukan adalah pengobatan dan perawatan (upaya kuratif), me lalui RS Tentara. Pada waktu itu sebagian besar rakyat di pedesaan mas ih sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, kepercayaan akan tahayul, sedangkan pengob atan lebih percaya pada dukun. Ibu-ibu pada waktu melahirkan bayinya juga lebih banyak ditolong oleh dukun. Kondisi hygiene-santasi masih sangat buruk, dan bero bat ke dokter masih menimbulkan rasa takut. Banyak penyakit timbul karena pola h idup yang tidak bersih dan tidak sehat. Pada waktu itu sering terjadi wabah mala ria, kolera, sampar, dan cacar. Di samping itu juga sering terjadi wabah busung lapar di daerah-daerah tertentu. Sedangkan penyakit frambusia/patek/puru, kusta dan tuberkulosis merupakan penyakit rakyat. Usaha preventif pertama yang dilakuk an adalah pemberian vaksin cacar yang hanya dilakukan dalam kelompok terbatas. U saha lainnya yang sebenarnya tertua usianya adalah pengasingan para penderita ku sta, tetapi itu lebih sebagai usaha pencegahan penularan semata-mata. Selain itu juga ada kegiatan pengasingan para penderita sakit jiwa, yang hanya dilakukan t erhadap mereka yang berbahaya bagi masyarakat sekelilingnya. Dengan ad anya wabah kolera, pada tahun 1911 di Batavia dibentuk badan yang diberi nama “Hyg iene Commissie” yang kegiatannya berupa: memberikan vaksinasi, menyediakan air min um dan menganjurkan memasak air untu diminum. Perintis usaha ini adalah Dr. W. T h. De Vogel. Selanjutnya pada tahun 1920 diadakan jabatan “propagandist” (juru penyi ar berita) yang meletakkan usaha pendidikan kesehatan kepada rakyat melalui pene rbitan, penyebar luasan gambar dinding, dan pemutaran film kesehatan. Usaha ini karena penghematan dihentikan pada tahun 1923. “Medisch Hygienische Propaganda” Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiat an pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usaha nya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunak annya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamaka n “Medisch Hygienische Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit per ut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengo batan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah gerakan, untuk mendirikan “br igade sekolah” dimana-mana. Hanya saja gerakan ini tidak lama usianya. B aru pada tahun 1933 dapat dimulai organisasi higiene tersendiri, dalam bentuk Pe rcontohan Dinas Kesehatan Kabupaten di Purwokerto. Dinas ini terpisah dari Dinas Kuratif tetapi dalam pelaksanaannya bekerjasama erat. Dalam hubungan usaha higi ene ini perlu disebutkan nama Dr.John Lee Hydrick dari Rocckefeller Fundation (A merika), yang memimpin pemberantasan cacing tambang mulai tahun 1924 sampai 1939 , dengan menitik beratkan pada Pendidikan Kesehatan kepada masyarakat. Ia mengan gkat kegiatan Pendidikan Kesehatan Rakyat (Medisch Hygienische Propaganda) denga n mengadakan penelitian operasional tentang lingkup penderita penyakit cacing ta mbang di daerah Banyumas. Ia menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Kesehatan tent ang Hygiene dan Sanitasi, dengan mencurahkan banyak informasi tentang penyakit-p enyakit yang berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan lingkungan serta usaha pe ncegahan dan peningkatan kesehatan (cacing tambang, malaria, tbc.). Ia mengadaka n pendekatan dalam upaya membangkitkan dan menggerakkan partisipasi masyarakat ( pendekatan seperti ini nanti dikenal dengan nama “pendekatan edukatif”). Yang menonj ol pada waktu itu adalah penggunaan media pendidikan (booklets, poster, film dsb ) dan juga kunjungan rumah yang dilakukan oleh petugas sanitasi yang terdidik. Sebagai pelaksana kegiatan pendidikan kesehatan dalam bidang Hygiene da n Sanitasi, seorang dokter pribumi bernama Dr. Soemedi, kemudian mendirikan Seko lah Juru Hygiene di Purwokerto. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh Dr. R. Mocht ar yang kemudian menjabat sebagai Kepala Bagian Pendidikan Kesehatan Rakyat (Med isch Hygienische Propaganda Dienst). Sehubungan dengan karya atau usaha Dr. Hydr ick itu, Dr. R. Mochtar mengemukakan sbb.: “Selama penyelidikan itu, dia dakan penerangan kepada penduduk tentang penyakit cacing dengan menggunakan film , dan gambar-ganbar sorot. Hasil penerangan itu begitu besar, hingga terjadilah

keyakinan, bahwa mungkin sekali kepada penduduk diberikan pengetahuan lebih lanj ut tentang kesehatan itu dan tentang penyakit dengan jalan mengadakan propaganda tentang kesehatan dan organisasi pekerjaan hygiene secara seksama. Ke mudian timbul suatu pekerjaan secara teratur dalam lapangan Medisch Hyg. Propaga nda dan hygiene yang seksama di daerah-daerah desa, dibawah pimpinan dokter-dokt er. Suatu daerah percontohan diadakan di wilayah Kabupaten Banyumas . Disamping itu diadakan suatu sekolah Mantri Kesehatan. Berkat kegiatan mereka ja ng mendjalankan tugasnja dalam lapangan tersebut, maka pekerdjaan tadi dalam art i sebenarnyja mendjelma sebagai suatu pendidikan tentang kesehatan kepada rakyat bukan saja suatu medisch hygiensche propaganda. Meskipun para pegawai acapkali menghadapi orang-orang jang salah faham tentang pekerjaan itu dan meng alami berbagai penghinaan, akan tetapi dengan penuh keyakinan tentang kesucian p ekerjaan itu, mereka menjalankan tugasnya, sehingga pendidikan kesehatan rakjat itu memperoleh tempat dalam usaha Pemerintahan dalam lapangan kesehatan rakjat, bahkan sejak pecahnya revolusi pada tahun 1945 di Indonesia telah dibangun urusa n hygiene desa atas dasar pendidikan kesehatan rakyat. Perang dunia ke II mengakibatkan datangnya zaman baru. Arus gelombang gerakan kesehatan rakyat di dunia telah juga meliputi Indonesia. Di Indonesia filsafat kesehatan yang dia njurkan oleh W.H.O. itu diterima pula dan dijadikan dasar dalam gerakan kesehata n rakyat di Indonesia. Oleh karena itu dapat diramalkan, bahwa pekerjaan Pendidi kan Kesehatan Rakyat itu terus menerus akan memperoleh perhatian besar dari peme rintah, maupun masyarakat. Filsafat yang diandjurkan oleh W.H.O. itu ialah, bahw a kesehatan itu adalah : “a state of complete physical, mental and social wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity”(Suatu keadaan sempurna mengenai tubuh, rohani dan sosial, bukan saja tidak ada penjakit, uzur arau cacad). Riwayat Kesehatan Rakyat memperlihatkan, bahwa pada permulaannya Usaha Kesehatan Rakyat itu ditujukan kepada usaha menyehatkan lingkungan hidup dan pe mberantasan penjakit; usaha itu didjalankan untuk rakyat dengan jika perlu mengg unakan juga undang-undang. Akan tetapi dalam bentuk Usaha Kesehatan Ra kyat yang paling baru, usaha-uaaha itu dijalankan untuk rakyat dengan ikut serta nya rakyat. Ini berarti bahwa penyelenggaraanUsaha Kesehatan Rakyat itu membutuh kan juga gerakan rakyat ke jurusan tadi. Hal ini sungguh lebih sukar daripada me njalankan usaha itu tidak dengan syarat bahwa rakjat juga harus ikut mengadakan inisiatif. Inisiatif rakyat tadi perlu dibangunkan dengan jalan pendid ikan, agar rakyat dapat mengerti dan suka sama-sama bekerja dengan pemerintah un tuk keperluan mereka sendiri. Bantuan rakyat itu harus berdasarkan atas intelige nsi”. (R.Mochtar, M.D.,M.P.H. –1954, tulisan sudah disesuaikan dengan ejaan baru) Pendidikan Kesehatan Rakyat Dalam tulisannya tersebut, Dr. R. Mochtar jelas memberikan gambaran be tapa penting arti Pendidikan Kesehatan Rakyat dalam upaya membangkitkan dan meng gerakkan partisipasi masyarakat dalam Kesehatan Rakyat, yang sejak sebelum Hydri ck, yaitu 1911, sudah mulai digalakkan oleh pemeritah Belanda. Ada bebarapa poko k penting yang dapat diangkat dari tulisan Dr. R.Mochtar, yaitu : 1. Pendidikan Kesehatan Rakjat (PKR) sudah dirasakan pentingnya sejak permula an abad ke XX, namun direalisasikan dalam bentuk kegiatan nyata baru dalam tahun 1911, yang dikenal dengan nama Medisch Hygienische Propaganda. 2. Pendidikan Kesehatan Rakyat (PKR) terkait pada program kesehatan, yaitu Hy giene dan Sanitasi lingkungan (PKR bukan suatu program yang berdiri sendiri) 3. Walaupun Pendidikan Kesehatan merupakan bagian dan kegiatan terintegrasi d alam program-program kesehatan, namun hal ini perlu ditangani secara “professional”. Untuk ini perlu organisasi/unit kerja khusus yang menangani Pendidikan Kesehata n, dan diperlukan pula tenaga terdidik atau terlatih. Dalam hal ini tenaga sanit asi, disiapkan untuk mampu memberikan pendidikan tentang kesehatan dan sanitasi kepada masyarakat desa, disertai alat/media pendidikan (Audio Visual Aid ). Tena ga “Health Educators” ini bekerja dengan penuh keyakinan dan dedikasi.

Pada waktu itu sudah ada anggapan bahwa Pendidikan Kesehatan tidak dip erlukan, jika masyarakat telah maju. Hal ini tidak dibenarkan oleh Dr.R.Mochtar, karena kenyataan memperlihatkan bahwa di negara-negara yang telah majupun kegia tan Pendidikan Kesehatan Rakyat masih diperlukan dan dilaksanakan. Cara pendekat an, metodologi serta tehnologi yang dipergunakan disesuaikan dengan kemajuan mas yarakat setempat. Sedangkan Dr. J. Leimena (1952) mengangkat beberapa prinsip “pioneering job” Dr. J.L. Hydrick, khususnya yang berkaitan dengan pentingny a health education, sbb.: Principles : The idea underlying the organization of this intensive hygiene work was the belief that if health education could instill in the people an unde rstanding of the fundamental rules of hygiene and a realization of the importanc e and necessity of healthful habits of life, many diseases and condition might b e brought under control and in time might be eradicated. Purpose : The purpose o f the work is to awaken in the people a permanent interest in hygiene and stimul ate them to adopt habits and to carry out measures which will help them secure h ealth and remain healthy. Cooperation of the people: In order to secure the coop eration of the people, health education work must propose practicable measures, so that the people will be able to give cooperation. Further it is of the greate st importance that not only the children be taught hygiene and health, but that also the adults be taught at the same time, so that each group will support the other. This cooperation is very valuable. The spirit of the approach : …They shoul d be lead, not driven. They should be stimulated and lead to express a desire to live more hygienically. It is the task of the health worker to create the desir e. A subject with which to begin : ….to begin with an attempt to bring about in th e people an understanding of the fundamental facts involved in the cause, transm ission and prevention of a wide spread chronic disease. ….if the people can be tau ght that they themselves can carry out certain simple measures which will help t hem to avoid one of the chronic diseases, they will learn to live more hygienica lly and thus build up their resistance to many other diseases. Laying the founda tion for general hygienic work: If this new sanitary habits become permanent, th en there has been laid the foundation upon which general hygiene work can be bui lt …..It was therefore not intended that the Division of Public Health Education s hould conduct only a campaign against soil and water pollution, but it should th ereby lay a foundation for a broad general campaign for hygiene by teaching the dangers of the pollution of soil and water. Memaknai apa yang diuraikan dalam kutipan tersebut di atas, ada contoh menarik. PT Unilever dalam rangka mempromosikan produksinya berupa sabun mandi dan pasta gigi, sering mengadakan bioskop keliling dengan layar tancap. Pada zam an belum ada televisi, bioskop semacam ini sangat digemari oleh masyarakat, teru tama di pedesaan. Di sela-sela pertunjukan film dengan cerita tertentu sering di selipkan pendidikan/penyuluhan kesehatan. Yaitu dengan selipan slide film yang a ntara lain menunjukkan tokoh kartun yang memerankan petugas laboratorium yang se dang meneropong secawan air mentah dengan mikroskop. Melalui alat itu terlihat b ahwa air mentah itu banyak mengandung kuman atau bakteri dengan berbagai bentuk yang berkeliaran, berjingkrak-jingkrak dan menari-nari di dalam air tersebut. Ad egan berikutnya adalah air di cawan itu langsung diminum oleh tokoh kartiun yang lain dengan akibat beberapa lama kemudian merasakan sakit perut dan beberapa ka li buang air besar. Lalu dijelaskan oleh narrator dari slide film tersebut itula h akibatnya apabila kita minum air tanpa dimasak lebih dahulu. Sang narrator men ganjurkan agar air sebelum diminum agar dimasak lebih dahulu. Kemudian ditunjukk an slide film berikutnya bahwa melalui mikroskop terlihat bahwa kuman-kuman itu pada mati dan tidak berkeliaran lagi dalam air yang sudah dimasak. Sang narrator menjelaskan bahwa air yang sudah dimasak aman dari gangguan penyakit. Dari sili de film sederhana ini ternyata banyak penduduk pedesaan yang memasak air sebelum diminum. “Prevention is better than cure” Usaha Kesehatan Rakyat yang semula lebih ditekankan pada usaha kuratif

, lambat laun berkembang pula kearah preventif. Sebagian dari usaha kuratif dise rahkan pada “inisiatif partikelir” (1917 – 1937) seperti Zending, Missie, Bala Keselam atan (Leger des Heils), perusahaan perkebunan. (Dr.J.Leimena, 1952). Dalam tahun 1937 sampai meletusnya Perang Dunia ke II, Pemerintah Pusat menyerahkan usaha k uratif kepada daerah otonom, namun tetap diawasi dan dikoordinir oleh Pemerintah Pusat. Seiring dengan perkembangan dalam bidang kuratif, maka usaha p reventif juga berkembang. Usaha kuratif dan preventif mulai digalakkan dan dikem bangkan di perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda yang memang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan para pekerja perkebunan, dan dengan demikian meni ngkat pula daya kerja (arbeidscapaciteit) dan daya produksinya (productie capaci teit) . Penelitian dalam bidang bakteriologi dan epidemiologi menambah luas wawasan pengetahuan tentang sebab penyakit menular dan cara pencegahannya, seperti, cholera, desentri, typhus. Demikian pula halnya dengan penelitian tent ang penyakit rakyat, seperti TBC, frambusia, cacing tambang, malaria dsb. Agar m asyarakat sadar dan berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan upaya peningkatan kualitas kesehatannya, maka sudah pada tempatnya jika informasi terkini mengenai perkembangan dalam bidang kesehatan dapat disalurkan ke masyarakat, seperti pen yebab penyakit, cara penangulangannya atau cara pencegahannya. Disinilah Pendidi kan Kesehatan dapat mewujudkan perannya dengan jelas. Apa yang telah d irintis oleh Hydrick tersebut kemudian ternyata dilanjutkan oleh Pemeritah (Bela nda). Perhatian Pemerintah Belanda terhadap usaha preventif dilaksanakan melalui berbagai kegiatan, tindakan dan peraturan (perundang-undangan). Motto yang berb unyi “Prevention is better than cure” diwujudkan dalam berbagai kegiatan a.l. : * vaksinasi cacar, typus, cholera, desentri, pes * pendaftaran kelahiran, kematian * pelaporan tentang penyakit menular, sakit jiwa * pengawasan : air minum, pabrik, tempat pembuatan makanan dan minuman, saluran limbah ait/riolering, pembuangan sampah, perumahan. * Termasuk upaya pendidikan kepada rakyat tentang peraturan dalam pemeli haraan kesehatan diri dan lingkungan. Dengan demikian upaya pencegahan semakin dipandang sebagai usaha yang penting, demikian pula upaya pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Masa Pendud ukan Jepang dan Awal Kemerdekaan Dengan pecahnya Perang Dunia ke II dan pendudukan Jepang (1942 –1945) ma ka semua sistem pemerintahan praktis mengalami disorganisasi, karena semua usaha ditujukan untuk kepentingan perang (Pemerintahan dan orang-orang Jepang). Pendi dikan, ekonomi, kehidupan sosial, kesehatan amat sangat terpuruk. Sumber daya al am dan sumber daya manusia, semua dikerahkan untuk kepentingan Jepang. Dimana-ma na hanya terlihat kemiskinan, penderitaan, kelaparan, dan penyakit. Hidup masyar akat sangat tertekan. Situasi ini berlangsung sampai tahun 1945, saat berakhirny a Perang Dunia ke II. Pada tahun 1945 Jepang menyerah dan Indonesia memproklamas ikan kemerdekaan serta memperjuangkannya dengan melawan tentara sekutu (Amerika dan Inggris) dan Belanda yang ingin memperoleh kembali supremasi penjajahannya d i Indonesia. Disorganisasi Usaha Kesehatan Masyarakat yang sejak zaman pendudukan Jepang sudah kacau, berlangsung terus dalam periode revolusi fisik ( 1945 – 1949). Banyak fasilitas Kesehatan tidak dapat dipergunakan karena rusak, ba hkan para petugas kesehatan pun banyak yang meninggalkan posnya, bergabung dalam barisan gerilyawan melawan Belanda, Amerika dan Inggris. Dalam kaitan itu perlu dicatat bahwa banyak tenaga dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang menjadi pe juang dan di antaranya ada yang gugur di medan perang, atau menjadi korban peran g. Dalam periode revolusi fisik itu (Agustus 1945 – Desember 1949), masi h ada dua sistem pemeritahan, yaitu Belanda yang berpusat di Jakarta, dan Republ ik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Dengan demikian maka selama 8 tahun (1 942 – 1949), Indonesia mengalami masa yang sangat memprihatinkan. Banyak fasilitas kesehatan yang tidak dapat dipergunakan, karena rusak, ditinggalkan, bahkan par a petugas kesehatanpun meninggalkan posnya untuk turut bergabung dengan para ger ilyawan. Obat-obatan didaerah Republik juga sulit. Baru setelah penyer

ahan Kedaulatan (27 Desember 1949), Pemerintah memberikan perhatian pada kesehat an rekyat. Pemerintah (RI) juga memberikan perhatiannya pada kesehatan masyaraka t di desa. Pada waktu itu dikembangkan Usaha Pembangunan Masyarakat Desa yang an tara lain melakukan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Pada waktu itu ada y ang disebut Gerakan Kebersihan, Pekan Kerja Bakti, dll. Diadakan pula Usaha Kese hatan di sekolah-sekolah, yang berkaitan dengan kebersihan diri dan lingkungan, perbaikan gizi, dll. Bahkan di masa masih bergolak (1948) sudah didirikan sekola h untuk penyuluh kesehatan di Magelang dan dibuat dua daerah percontohan, yaitu di Magelang dan Yogyakarta. Empat Sehat Lima Sempurna dan “Bandung Plan” Pada sekitar tahun 1950 an itu masalah gizi cukup menonjol. Dengan uku ran sesuai Nutritional Standard (`id`, `date`, `writer`, `title`, `pict_name`, ` pict_dname`, `attach_name`, `attach_dname`, `news_type_id`, `description`, `lang `, `attach1_name`, `attach1_dname`, `attach2_name`, `attach2_dname`, `dt_created `, `dt_updated`) VALUES ditentukan tingkat keadaan gizi dengan menggunakan indek s. Dengan demikian dapat ditentukan keadaan gizi: kurang, minimal, normal, atau optimal. Golongan gizi minimal oleh Prof. Dr. Poerwo Soedarmo disebut golongan “ti dak sakit dan tidak sehat”. Sementara itu “kwashiorkhor” dan “xerophthalmia” sebagai masal ah gizi pda golongan anak para sekolah mendapat banyak perhatian. Selain penyeli dikan secara mendalam, usaha perbaikan dilakukan melalui penyuluhan gizi dan pen ggalian sumber makanan bernilai gizi. Penerangan kepada masyarakat dil aksanakan melalui kursus yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi, maupun m elalui pers dan radio. Pada waktu itu diperkenalkan semboyan atau pesan : “Empat S ehat Lima Sempurna”, sesuai dengan pola makanan Indonesia. Pesan tersebut berhasil disebar luaskan dan menjadi populer. Pesan tersebut juga banyak terpampang di d inding-dinding sekolah. Pengertian semboyan tersebut ternyata berhasil dihayati masyarakat. Pesan itu sangat efektif dan mudah dihafal, bahkan masih relevan sam pai sekarang. Selanjutnya pada sekitar tahun 1951, oleh Dr. J. Leimena dan Dr. Patah diperkenalkan “Konsep Bandung” atau “Bandung Plan”, yang menggambarkan pe rpaduan antara upaya kuratif dan preventif. Konsep tersebut sebenarnya tidak lai n dari konsep Communiyty health, yang merupakan dasar bagi pengembangan Puskesma s, yang kemudian menjadi pembuka program kesehatan masyarakat desa dan upaya pen didikan kesehatan masyarakat secara luas. Dengan demikian masyarakat pedesaan ak an mempunyai akses lebih dekat ke Pelayanan Kesehatan. Hal ini dianggap penting, karena sebagian besar masyarakat Indonesia ada di pedesaan, dan di masa lalu ma syarakat desa kurang mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan. Pro gram pembangunan kesehatan untuk periode 10 tahun (1950-1960) telah digariskan d alam konperensi Kementerian Kesehatan tahun 1952 di Jakarta. Isi program mencaku p kebijaksanaan umum dan khusus. Usaha kuratif dan preventif yang ditempuh sesua i dengan rumusan WHO mengenai kesehatan, yaitu: “a state of complete physical, men tal and social well being, and not merely the absence of disease or infirmity”. Tu juan pemerintah adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Indonesi a untuk meningkatkan derajat kesehatan bangsa Indonesia agar memiliki kemampuan kerja semaksimal mungkin. Kesehatan Masyarakat Desa (KMD) Pada sekitar tahun 1956, dibentuk Unit Kesehatan Masyarakat Desa dan P endidikan Kesehatan Rakyat (KMD/PKR). Prof. Dr. dr. Sulianti Sarosa (alm), yang biasa disebut dengan ”dr Sul” ditetapkan sebagai pimpinan unit tersebut. Menurut bel iau, titik berat usaha kesehatan masyarakat adalah pada usaha preventif. Namun i stilah preventif ini masih kurang dipahami secara tepat oleh masyarakat, bahkan seringkali dikira bahwa usaha preventif hanya meliputi penerangan-penerangan kes ehatan atau usaha imunisasi saja. Yang diharapkan dan dianggap penting oleh masy arakat adalah ’pengobatan’ atau usaha kuratif. Sebenarnya yang dimaksud de ngan usaha preventif adalah bahwa upaya kesehatan yang dijalankan tidak semata-m ata untuk penyembuhan yang sakit, tetapi lebih pada upaya untuk mencegah timbuln ya penyakit serta mempertinggi derajat kesehatan masyarakat (promotif). Hal ini berarti bahwa usaha-usaha pengobatan ringan perlu dilakukan agar penyakit tidak bertambah parah, juga termasuk pengobatan dalam rangka memberantas penyakit menu

lar yang dilakukan secara sistematis. Dr Sul selalu mengingatkan bahwa rangkaian usaha preventif inilah yang dimaksudkan dengan Public Health atau Usa ha Kesehatan Masyarakat, yang dirumuskan oleh Prof. Winslow, dimana pemahaman de finisinya divisualkan sebagai berikut : PUBLIC HEALTH is THE SCIENCE and ART OF THROUGH FOR 1. Preventing Disease 2. Prolonging Life and 3. Promoting Health Organized Community Effort 1. The Sanitation of the Environment 2. The Control of Communicable Disease 3. The Education of the Individual in Personal Hygiene 4. The Organization of Medical and Nursing Service for the Early Diagnosis an d Preventive Treatment of Disease, and 5. The Development of Social machinery to ensure everyone a standard of livin g adequate for maintenance of Health So organizing these benefit as to enable every citizen to realize his birthright of health and longevity Demikianlah dengan jelasnya bahwa dengan usaha kesehatan masyarakat se tiap orang diberi kesempatan untuk mendapatkan ’hak’nya untuk hidup sehat dan umur p anjang. Mengenai upaya kesehatan yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut diatas dr. Sul mengingatkan kembali skema yang menggambarkan riw ayat penyakit dan tindakan yang dapat diambil sesuai dengan tahap-tahap perkemba ngan penyakit, yang disusun oleh Prof Leavell dari Harvard University dibawah in i : Berdasarkan riwayat penyakit tersebut, maka usaha-usaha kesehatan prev entif yang dapat dilakukan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pendidikan Kesehatan kepada Masyarakat (Health Education) Perbaikan Makanan Rakyat Perbaikan Hygiene lingkungan hidup Kesejahteraan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Sekolah Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (Public Health Nursing) Usaha Pengobatan Pemberantasan Penyakit endemis dan epidemis S t a t i s t i k Laboratorium Kesehatan

Lebih lanjut dr Sul menatakan bahwa tujuan Pendidikan Kesehatan kepada masyaraka t adalah : Pendidikan Kesehatan Rakyat (PKR) Model Lemah Abang Berhubung pada waktu itu (dan juga sampai sekarang) sebagian besar pen duduk hidup di pedesaan, maka usaha-usaha kesehatan terutama ditujukan kepada ma syarakat desa, selain karena disebabkan usaha kesehatan belum merata sampai ke p elosok-pelosok. Konsep yang dianut oleh seluruh dunia ialah bahwa sebaiknya usah a-usaha kesehatan itu dijalankan secara terintegrasi dan koordinasi serta perlu mengikut sertakan masyarakat secara aktif pada penyelenggaraan usaha-usaha keseh atan tersebut. Untuk melaksanakan rencana kesehatan masyarakat tersebut maka Kem enterian Kesehatan waktu itu, telah mengadakan percontohan didaerah Bandung yang disebut dengan Bandung Plan dan tepat dengan waktu dimulainya Program Nasional Pembangunan Masyarakat Desa dalam bulan Agustus 1956. Percontohan Usah a Kesehatan Masyarakat Desa (KMD) dimulai dari Kabupaten Bekasi pada 1956. Di si ni diadakan kursus-kusrsus atau latihan mengenai usaha KMD untuk segala jenis te

naga kesehatan dari seluruh Indonesia. Disamping KMD di Bekasi, di setiap propin si juga diadakan daerah percontohan KMD untuk dijadikan tempat pelatihan bagi te naga kesehatan setempat. Daerah-daerah percontohan lain adalah di : Bojongloa (B andung), Sleman (Magelang), Godean (Yogjakarta), Mojosari (Surabaya), Metro (Lam pung), Kasemen (Denpasar), Kotaraja (Banda Aceh), Indrapura (Medan), dan Barabai (Banjarmasin). Pada waktu itu tenaga-tenaga yang akan diterjunkan ke masyarakat dilatih dahulu secara intensif dalam suatu pelatihan atau kursus yang diberi na ma Pendidikan Kesehatan pada Rakyat (PKR). Khusus Daerah Percontohan K MD/PKR Kecamatan Lemah Abang, Bekasi, dipersiapkan sebagai Daerah pelatihan bagi tenaga kesehatan dalam bidang Rural Health and Health Education. Tujuan diadaka nnya Daerah Percontohan KMD/PKR Lemah Abang adalah : “Menjadikan Daerah itu sebaga i contoh sistem kerja dan pengelolaan program Kesehatan Masyarakat Desa, oleh su atu Tim Kesehatan Desa (Rural Health), dan juga sebagai daerah pelatihan lapanga n (field training) tenaga-tenaga kesehatan (medis, para medis)”. Tim KMD /PKR Lemah Abang terdiri dari petugas kesehatan yang bertugas sebagai full timer dan merupakan “administrative staff” dalam bidang-bidang : * Kuratif – dokter selaku pimpinan Tim, pimpinan proyek * Beberapa Penilik Kesehatan yang bertugas dalam : Public Health Administrat ion dan Statistik, Hygiene dan Sanitasi Lingkungan * Gizi (Nutrition) * Public Health Nursing * Pendidikan Kesehatan (Health Education). Selain dari itu ada tenaga-tenaga lapangan seperti bidan, pembantu bidan dan beb erapa sanitarians. Dapat dikemukakan bahwa Staf KMD/PKR secara keselur uhan, sebelum ditugaskan dalam pos masing-masing, baik di Dep.Kes. sebagai staf Bagian KMD/PKR, maupun di Lemah Abang, sebagai Team Staff lapangan, semua mendap at pendidikan dan pelatihan khusus di Luar Negeri dalam disiplin profesi masingmasing dalam konteks Kesehatan Masyarakat. Sekembali masing-masing ke tanahair, masih ada tahap pembinaan intensif dari Kepala Bagian KMD/PKR yaitu oleh Ibu Dr. J. Soelianti Saroso, mengenai program Rural Health, serta tentang cara dan meka nisme kerja dalam Tim. Staff Meeting dilakukan secara teratur (hampir setiap har i) di Bag. KMD/PKR, Dep.Kes., dengan penugasan-penugasan khusus, sebelum ke Lema h Abang. Dalam kesempatan pertemuan seperti ini laporan lisan tentang pelaksanaa n tugas dan masalah-masalah juga dibicarakan bersama. Cara ini menimbulkan rasa kebersanaan, rasa tanggung-jawab bersama, rasa persaudaraan, lebih-lebih bagi me reka yang memang harus tinggal di Lemah Abang. Beberapa hal yang dapat diutarakan sebagai pengalaman yang membantu dalam membentuk Tim KMD/PKR Lemah A bang yang solid dan handal a.l. adalah : * adanya organization and staff development planning yang solid (Tingkat Pus at) * Adanya well planned staff preparation, development, and placement (Tingkat Pusat) * Adanya regular Lemah Abang team staff meeting, dan keterbukaan (lokal), se tiap hari Senin sebelum kelapangan. * Adanya technical supervision and guidance (dari Pusat-Bgn KMD/PKR)melalui berbagai jalur seperti : o Kunjungan lapangan ke desa-desa, dan dialog langsung dengan petugas lapangan dan PEMDA setempat. o Pertemuan/rapat dengan administrative Team staff Lemah Abang. Pertem uan seperti ini biasanya dihadiri pula oleh staff Bgn KMD/PKR dari berbagai disp lin dan bersifat edukatif. * Pertemuan non-formal (social gathering) yang sewaktu-waktu diselenggarakan Kepala Bagian KMD/PKR untuk seluruh staf, membantu menambah erat hubungan sosia l antar-staf. Pembentukan dan pengembangan Daerah Percontohan Lemah Abang mendapat b antuan tehnis dari badan Internasional, dengan penempatan Team Konsultan (full t

mer) di lokasi untuk bidang-bidang : kuratif (dokter), Environment Sanitation, P ublic Health Nursing (semuanya dari US-AID) dan Health Education (dari WHO). Tea m consultant ini masing-masing didampingi oleh local national technical counterp art, sebagai Tim KMD/PKR. Untuk Public Health Administration & Statistics tidak ada consultant tehnisnya. H.E. Consultant, Mr. Calhoun dalam masa penu gasannya pernah mengadakan penulusuran jejak karya Hydrick di wilayah Banyumas y ang didampingi Sdr. TarzanPanggabean Bsc, Penilik Kesehatan yang bertugas dibida ng Health Education di lapangan. Keberadaan dan bantuan tehnis dari para konsult an Luar Negeri membantu upaya meningkatkan mutu kinerja local national staff. Tr ansfer of knowledge and technology tentang cara kerja dalam Team, penggunaan ala t-alat bantu dalam melaksanakan Pendidikan Kesehatan kepada masyarakat, cara-car a pendekatan masyarakat dsb. adalah hal yang dialami langsung, di diskusikan dan di analisa bersama. Dengan cara “learning by doing”, maka pemahaman dan penghayatan tentang Health Education in rural areas dan role of Health Educator as a member of a Rural Health Team, dapat secara langsung diterapkan. Masing-masing counter part mampu menampung, menyaring, memilih, mengolah, meresapkan dan memanfaatkan masukan-masukan yang diperoleh dari konsultan-konsultan asing dalam upaya memper kuat dan meningkatkan mutu profesinya dalam rangka pengembangan program KMD/PKR. Tidak dapat disangkal kebenarannya bahwa kehidupan Tim yang cukup din amis ini, diliputi juga oleh adanya “nuansa dominasi profesional”. Ini dapat menimbu lkan arus ketegangan dikalangan Tim, dan merusak “Team Spirit”, jika kesadaran para anggota Tim akan makna pentingnya keberadaan Daerah Percontohan ini tidak kuat, dan roda kepemimpinannya lemah. Dominasi profesional juga dapat diamati dikalang an foreign consultants. Jika local administrative staff sebagai technical counte rpart terpengaruh, maka hal ini dapat membahayakan hubungan sosial antar-staf da n pada akhirnya membuyarkan fungsi Tim. Selain dominasi professional, maka sikap perilaku yang dapat juga melemahkan fungsi Tim ialah adanya “individual vested in terest” anggota Tim, yang dapat memicu timbulnya sikap kecurigaan antar-disiplin. Disinilah diperlukan adanya leadership yang objektif, kuat dan mampu menjaga kes eimbangan hubungan sosial antar-disiplin, intra-disiplin dan intra-Team. Jika lo cal conflicting situation and conflicting interest tidak dapat teratasi setempat , maka posisi kepemimpinan untuk memecahkan masalah, diangkat ke tingkat Departe men(Pusat), yaitu oleh Bagian KMD/PKR. Peranan Health Education Staff Sebagaimana halnya tujuan Pendidikan pada umumnya, yaitu menjadikan or ang itu dewasa, memiliki tanggung-jawab untuk diri sendiri dan lingkungan sosial nya, serta mampu mengambil keputusan yang bijaksana, maka Health Education sebag ai proses yang terarah, menjadikan orang itu “dewasa”, mampu meningkatkan taraf kese hatan diri sendiri, keluarga dan lingkungannya atas kesadaran diri tentang penti ngnya kesehatan dan melaksanakan pola hidup sehat atas upaya dan kekuatannya sen diri. Health Education “mengolah” pola pikir orang, agar ia dapat berpikir rasional, objektif , mampu secara sadar mewujudkan pengetahuan tentang kesehata n kedalam kehidupan sehari-hari, bahkan dapat mentransfer pengetahuannya juga ke pada orang lain. Para pertugas kesehatan di lapangan dibina sedemikian rupa, aga r mampu mengembangkan “critical mind”-nya. Adakalanya penerapannya dirasakan sebagai “mengganggu” disiplin kesehatan lainnya. Ini kemudian dapat meninbulkan social conf licts dalam Team. Conflicting ideas, opnion, interest, dalam suatu Tim , selalu dapat terjadi, namun yang perlu diperhatikan ialah bawa hal ini merupak an “ingredients” dalam kehidupan Tim, yang dapat menambah ke-matangan dan kedewasaan team sebagai suatu Kelompok yang anggota-anggotanya bervariasi. Penting dalam h al ini adalah adanya “team spirit”, dan sikap toleransi, objektif dalam melihat atau menanggapi masalah, peka terhadap kondisi lingkungan, dan responsive serta krea tif dalam mencari penyelesaian yang dapat memberikan rasa puas bagi seluruh angg ota Tim. Pengalaman sebagai “grassroot level worker” dan sebagai anggota R ural Health & Health Education Team, telah menempa spiritual maturity, dan lebih peka terhadap kemungkinan timbulnya benturan antar-anggota Tim. Dalam menghadap i foreign consultants, maka kita perlu memperkuat posisi kita sebagai nasional c ounterpart, dengan lebih memperhatikan kepentingan program nasional. Sedapat mun gkin dapat mengendalikan pemikiran-pemikiran yang sekiranya dapat menghambat ata u mengalihkan arus dan arah perkembangan program. Dapat dikemukakan ba

hwa sasaran Health Education bukan hanya masyarakat saja, tetapi juga para petug as kesehatan. Tujuan tentu berbeda. Bagi masyarakat, diharapkan agar mereka sada r akan pentingnya kesehatan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat lingkunga nnya, dan bagi Petugas kesehatan, agar mereka juga dapat menjadi panutan dalam c ara hidup sehat, serta mampu menggunakan tehnologi Health Education dalam melaks anakan tugasnya, yang dilaksanakan sedemikian rupa, hingga masyarakat yang menja di sasarannya menjadikan cara hidup bersih dan sehat sebagai pola hidupnya sehar i-hari. Pengalaman di Lemah Abang memberikan pelajaran bahwa perubahan sikap perilaku kesehatan yang diharapkan meskipun hanya dalam lingkup seluas Ke acamatan saja, ternyata memerlukan tindakan-tindakan di tingkat adminsitratif da n sosial yang lebih tinggi. Untuk itu diperlukan tenaga khusus untuk menanganiny a secara professional. Pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa sebagai “health educator” dalam Tim, ia dapat menjadi “Mediator” dalam menghadapi situasi konflik yan g terjadi dalam Tim serta dapat membangun “networking” antar berbagai program/unit k erja. Singkatnya ia dapat berperan sebagai ”catalyst” dalam upaya mengadakan perubah an, yang memadukan pendidikan kesehatan dengan program serta dengan melibatkan p eran aktif masyarakat. Pengalaman di Lemah Abang juga menunjukkan, seb agaimana jargon dikutip di awal bab ini, bahwa :“Health education alone is nothing . Health education with program is something. Health education with program and community is everything”. Bab III ERA PENDIDIKAN DAN PENYULUHAN KESEHATAN (Kurun Waktu 1960-1980) ”Education is not for knowing more But for behaving differently” (Ruskin) Istilah Pendidikan Kesehatan dan UU Kesehatan 1960 Dr. J. Leimena, selaku Menteri Kesehatan menyampaikan kepada Presiden Sukarno, Presiden I RI, pada tahun 1955 (dalam buku Kesehatan Rakyat di Indonesi a, Pandangan dan Planning), bahwa merajalelanya berbagai penyakit di Indonesia p ada saat itu adalah karena kurang baiknya keadaan hygiene lingkungan di Indonesi a. Hal ini disebabkan antara lain karena kurangnya pengertian masyarakat tentang hygiene perseorangan dan hygiene umum. Oleh karena itu maka Pendidikan Kesehata n kepada Rakyat adalah suatu soal yang penting di Indonesia. Dalam kai tan itu beliau juga menyatakan bahwa pada umumnya semua usaha di lapangan keseha tan masyarakat tidak akan berhasil jika masyarakat tidak diberikan pendidikan da n penerangan yang sebaik-baiknya tentang masalah itu. ”The public health administr ation can achieve no solid, durable and effective result unless the public is gi ven Health Education”. Mengenai pentingnya pendidikan kesehatan ini juga dapat dil ihat pada Undang-undang No. 9 Ytahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan. Paling tidak ada dua hal penting dalam Undang-undang tersebut yang perlu dike mukakan dan dijadikan landasan dalam penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan Masyar akat yaitu : * Pasal 1, yang menyatakan bahwa Tiap-tiap warganegara berhak memperoleh der ajat kesehatan setinggi-tingginya dan perlu diikut sertakan dalam usaha-usaha Ke sehatan Pemerintah. * Pasal 4, yang menetapkan Tugas Pemerintah untuk memelihara dan mempertingg i derajat kesehatan rakyat dengan menyelenggarakan dan menggiatkan usaha-usaha d alam lapangan......... butir c. Penerangan dan Pendidikan Kesehatan Rakyat...... dst Dengan demikian pada saat itu, istilah Pendidikan Kesehatan telah dipergunakan s ecara resmi. Tentang apa yang disebut dengan Pendidikan Kesehatan (Hea lth Education) banyak ahli memberikan definisi (seperti: Dorothy Neswander, Guy Steuart, Paul Mico, Helen Ross, Iwan Sutjahja, dll). Dari berbagai definisi ters ebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan merupakan upaya yang ditekanka n pada terjadinya perubahan perilaku, baik pada individu maupun masyarakat. Bahk an dalam salah satu jargonnya, yang bermula dari Ruskin sebagaimana dikutip di a wal bab ini, ditegaskan bahwa fokus Health Education adalah pada perubahan peril aku itu, bukan hanya pada peningkatan pengetahuan saja. Oleh karena itu area Pen didikan Kesehatan adalah pada Knowledge (Pengetahuan), Attitude (Sikap) dan Prac tice (Perilaku), yang disingkat menjadi K.A.P. Mengenai metode yang di

pergunakan dalam pendidikan kesehatan dapat bervariasi, sesuai dengan keadaan, m asalah dan potensi setempat. Namun metode tersebut harus dikembangkan : dari, ol eh, untuk dan bersama masyarakat. Penetapan Hari Kesehatan Nasional Pada sekitar tahun 1960-an malaria merupakan salah satu penyakit rakya t yang berkembang dengan subur. Ratusan ribu jiwa mati akibat malaria. Berdasark an penyelidikan dan pengalaman, sebenarnya penyakit malaria di Indonesia dapat d ilenyapkan. Untuk itu cara kerja harus dirubah dan diperbarui. Maka pada Septemb er 1959 dibentuk Dinas Pembasmian Malaria (DPM) yang kemudian pada Januari 1963 dirubah menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM). Pembasmian malaria t ersebut ditangani secara serius oleh pemerintah dengan dibantu oleh USAID dan WH O. Direncanakan bahwa pada tahun 1970 malaria hilang dari bumi Indonesia. Pada akhir tahun 1963, dalam rangka pembasmian malaria dengan racun serangga DDT, telah dijalankan penyemprotan rumah-rumah di seluruh Jawa, Bali dan Lampun g, sehingga l.k. 64,5 juta penduduk telah mendapat perlindungan dari kemungkinan serangan malaria. Usaha itu juga dilanjutkan dengan nusaha surveilans yang berh asil menurunkan ”parasite index” dengan cepat, yaitu dari 15 % menjadi hanya 2%. Pada saat itulah, tepatnya pada tanggal 12 November 1964, peristiwa penye mprotan nyamuk malaria secara simbolis dilakukan oleh Bung Karno selaku Presiden RI di desa Kalasan, sekitar 10 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Meskipun pe ristiwanya sendiri merupakan upacara simbolis penyemprotan nyamuk, tetapi kegiat an tersebut harus dibarengi dengan kegiatan pendidikan atau penyuluhan kepada ma syarakat. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang setiap tahun terus menerus diperingati sampai sekarang. Sejak itu, HKN dija dikan momentum untuk melakukan pendidikan/penyuluhan kesehatan kepada masyarakat . Tetapi pemberantasan malaria dengan cara penyemprotan tersebut terny ata tidak dapat diteruskan karena tiadanya biaya. Bantuan dari USAID dan WHO ber henti. Juga karena adanya pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Bagian Pendidikan Kesehatan Masyarakat Pada tahun 1967, Prof. Dr. GA Siwabessy, selaku Menteri Kesehatan, den gan Surat Keputusan No. 091/III/Ad.Um/’67, telah menetapkan Susunan Organisasi Dep artemen Kesehatan. Dalam struktur organisasi tersebut antara lain ditetapkan bah wa unit yang melaksanakan tugas pendidikan kesehatan adalah Bagian Pendidikan Ke sehatan Masyarakat (Bagian PKM) yang berada di Biro Pendidikan, Sekretariat Jend eral. Kalau di era sebelumnya Bagian Pendidikan Kesehatan kepada Rakyat berada l angsung dan bertanggung jawab kepada Menteri (yang mungkin dapat disebut setara dengan eselon I), maka dengan SK Menkes 1967 tersebut posisi Bagian Pendidikan K esehatan Masyarakat berada di bawah Kepala Biro, dan ditetapkan dalam jabatan es elon III, meskipun beban kerja Pendidikan Kesehatan tetap dan bahkan makin besar . Meskipun hanya eselon III tetapi unit ini mempunyai jaringan yang cu kup kuat dengan WHO. Demikianlah misalnya pada bulan November 1967, di New Delhi , India, diselenggarakan Inter-Country Workshop on The Methodology of Planning, Implementation and Evaluation of Health Education. Pada waktu itu Indonesia meng irimkan wakilnya yaitu : (1) Prof. Dr. I.M. Bagiastra (alm), saat itu sebagai De kan FKM-UI; (2) dr. Wirjawan Djojosugito (alm), saat itu Kepala Biro V/Pendidika n; dan (3) Drs. Koento Hidajat (alm), saat itu sebagai Kepala Bagian PKM. Hasil workshop tersebut, di antaranya adalah keharusan berintegrasinya kegiatan Pendid ikan Kesehatan dalam setiap program kesehatan baik dalam perencanaan, pelaksanaa n (implementasi) maupun penilaian. Selanjutnya pada bulan Agustus 1968 , Bagian PKM menyelenggarakan Workshop tentang Approach Edukatip dalam Perencana an dan Penyelenggaraan Program-Program Kesehatan Masyarakat, yang merupakan tind ak lanjut dari Rapat Kerja Nasional bulan April 1968. Salah satu keputusan Raker adalah dinyatakannya ”Pendidikan Kesehatan” sebagai usaha utama dan mutlak, kalau r encana Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) hendak direalisasikan. B eberapa rekomendasi penting dari workshop ini antara lain : 1. Fungsi dan Peran PKM baik di tingkat Pusat, Propinsi maupun Kabupaten: Yai tu bahwa Fungsi Bagian PKM di Pusat antara lain adalah Bimbingan Konsepsionil, B imbingan Tehnis dan Penyaluran Bantuan Materiil

2. Struktur Organisasi: Diusulkan kedudukan Bagian PKM ditingkatkan menjadi B iro karena merupakan salah satu tugas pokok Departemen (Basic Six) 3. Untuk pembiayaan, diusulkan ada anggaran khusus untuk Pendidikan Kesehatan Masyarakat baik di tingkat Pusat, Propinsi maupun Kabupaten. 4. Diusulkan pengembangan staff yang qualified, antara lain pendidikan Health Education Specialist 5. Bentuk terintegrasinya kegiatan PKM dalam setiap Program Pendidikan Health Education Specialist Pada sekitar tahun 1967-1968, semakin disadari bahwa masalah kesehatan tidak dapat diatasi melalui disiplin ilmu kedokteran saja, tetapi juga perlu me nggunakan ilmu sosial. Itu disebabkan karena masalah kesehatan banyak terkait de ngan masalah sosial, khususnya perilaku masyarakat. Untuk itu dipikirkan tentang perlunya tenaga khusus pendidikan kesehatan masyarakat tingkat sepesialis, yang memahami persoalan sosial kemasyarakatan. Hal itu telah dibawa dan dibahas di d alam Rakerkesnas 1968, dan disepakati perlunya pengembangan tenaga spesialis bid ang pendidikan kesehatan masyarakat. Maka diadakanlah proyek khusus Pe ngadaan Tenaga Health Education Specialist ini. Kegiatan ini mendapat bantuan da na dan konsultan dari WHO dan USAID, dan proyeknya bernama: Health Education Man power Development Project. Konseptor dari proyek ini adalah Dr. Wiryawan Djojoso egito, Kepala Biro Pendidikan waktu itu dengan dibantu khususnya Drs. Koento Hid ayat dan Dra. Koesnaniyah Wiryomihardjo. Selaku Pimpinan proyek ditetapkan: Dr. Soeharto Wiryowidagdo. Tujuan proyek adalah pengadaan sekitar 60 orang HES (Heal th Education Specialist) dan memperkuat Fakultas Kesehatan Masyarakat khususnya di Universitas Indonesia, yang nantinya diharapkan mampu menyelenggarakan pendid ikan tenaga HES tersebut di dalam negeri. Proyek ini mulai berjalan p ada tahun 1971 dengan merekrut para sarjana dari berbagai disiplin. Selain dokte r dan dokter gigi, juga sarjana pendidikan, sarjana ekonomi, sarjana hukum, sosi ologi, antropologi, dll. Angkatan I dan II dari proyek tersebut dididik di dalam dan luar negeri (USA). Sedangkan angkatan III dan IV dididik di dalam negeri (F KM UI). Khusus Angkatan I dan II, sebelum mereka belajar di USA terlebih dahulu mereka mengikuti Basic Orientation Course (BOC) dan Work Experience (Pengalaman Kerja Lapangan) in Health Education. Sedangkan angkatan III dan IV pengalaman la pangan dilakukan di belakang, setelah pendidikan di FKM UI selesai. Cerita lebih lanjut tentang proyek dan tenaga ini dapat dibaca di bab VII. Sementa ra itu kegiatan pendidikan kesehatan masyarakat di daerah tetap berjalan. Kegiat an KMD/PKR atau ”community development in health” di beberapa daerah berjalan cukup baik. Hal itu memang banyak dipengaruhi oleh adanya tenaga atau tokoh yang kreat if. Misalnya di Jawa Timur, ada Drs. Yusworo, yang pada waktu itu menjadi Kepala Unit Pendidikan Kesehatan Masyarakat di sana. Perlu pula disampaikan bahwa ada beberapa orang yang sebelumnya juga dikirim untuk memperoleh pendidikan atau pel atihan di luar negeri. Mereka itu ada yang dikirim ke USA, Libanon, India, dll. Mereka bersama tenaga-tenaga lainnya yang terus menerus menggerakkan kegiatan Pe ndidikan Kesehatan Masyarakat di Indonesia pada waktu itu. Dari Pendidikan ke Penyuluhan Pada tahun 1975, Struktur Bagian PKM berubah, dari eselon III menjadi eselon II, tetapi tidak sebagai Biro, melainkan sebagai salah satu direktorat pa da Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas). Yang b erubah ternyata tidak hanya eselonnya, tetapi juga istilah (nomenklatur). Pada waktu itu ada kebijakan Pemerintah dalam penggunaan nomenklatur (istila h/nama institusi), yaitu bahwa istilah Pendidikan hanya boleh dipergunakan di li ngkungan Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan di luar Depdiknas, nomenklatu r Pendidikan Kesehatan yang dipergunakan adalah Penyuluhan Kesehatan. Dengan dem ikian maka Direktorat baru yang menangani masalah Pendidikan Kesehatan diberi na ma Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, dengan Kepala Direktoratnya adala h dr Pudjiastuti Pranjoto, MPH (alm). Dengan dibentuknya Direktorat PKM ini, bah kan kantorpun juga mengalami perpindahan. Kalau sebelumnya bermarkas di Hang Jeb at, maka Direktorat PKM me nempati sayap kanan gedung Departemen Kesehatan, lant

ai 2, di Jl Prapatan 10. Sedangkan pengertian atau konsep Penyuluhan K esehatan Masyarakat sebenarnya tidak berbeda dengan Pendidikan Kesehatan. Dalam hal ini, Penyuluhan Kesehatan Masyarakat diberi pengertian sebagai ”suatu proses p erubahan, pertumbuhan dan perkembangan diri manusia menuju kepada keselarasan da n keseimbangan jasmani, rohani dan sosial dari manusia tersebut terhadap lingkun gannya, sehingga mampu dan bertanggung jawab untuk mengatasi masalah-masalah kes ehatannya sendiri serta masyarakat lingkungannya” (Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Ditjen Binkesmas Depkes, 1976). Tujuan penyuluhan kesehatan masyara kat ini adalah agar: (a) Kesehatan dianggap sebagai hal yang penting dan diberi nilai tinggi oleh masyarakat; (b) Masyarakat melakukan tindakan yang perlu untuk mencapai kesehatan diri dan lingkungannya; (c) Masyarakat berusaha membantu dan mengembangkan serta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia untuk mencap ai tingkat kesehatan yang optimal. DKI PKM Salah satu kegiatan yang menonjol pada era penyuluhan kesehatan ini ad alah adanya Daerah Kerja Intensif Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (disingkat DKI PKM) yang mula-mula muncul awal tahun 1970-an. Ini berawal dari pengalaman kerj a lapangan (field work experience) para ”Student Health Education Specialist” (calon Tenaga Ahli Pendidikan Kesehatan Masyarakat) di Bandung. Sebelum tugas belajar di Amerika, mereka diterjunkan di berbagai kecamatan di daerah kabupaten dan kot a Bandung. Selama di lapangan ini mereka mengembangkan daerah kerja percontohan (demonstration area) pendidikan kesehatan masyarakat, yaitu suatu daerah yang ma syarakatnya berperan aktif dalam pembangunan kesehatan. Mereka belajar teori dal am kelas dengan bimbingan konsultan WHO (Dr. CH Pyaratna) dan USAID (Mr. John Ne lson) yang dibantu oleh dua orang supervisor Indonesia, yaitu Bapak Drs. Putulaw a Udayana dan Bapak Dr. I.B. Mantra. Teori-teori dari dalam klas tersebut dicoba dipraktekkan di lapangan, secara langkah demi langkah, dalam nrangka pembinaan masyarakat, yang dilakukan bersama staf Puskesmas dan Kecamatan. Selama sekitar setahun mereka bolak balik antara kelas dan lapangan ini. Setelah mere ka kembali belajar dari Amerika, mereka ditempatkan di pusat dan daerah. Bertola k dari pengalaman Bandung yang dipadukan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya maka dikembangkanlah Daerah Kerja Intensif Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (DKI PKM) yang langsung dikoordinasikan oleh Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyara kat, d.h.i. Sub Direktorat Pengembangan Metoda dan Tehnik yang dipimpin oleh Dr. IB Mantra, mantan supervisor program kerja lapangan (work experience) HES di Ba ndung. Sesuatu yang khas dari DKI PKM ini adalah pendekatannya yang benar-benar melibatkan peranserta masyarakat, bahkan berupaya untuk memberdayakan masyarakat . Pendekatan ini kemudian hari disebut dengan pendekatan edukatif. Dal am rangka penyelenggaraan DKI PKM itu diselenggarakanlah pelatihan PKM bagi petu gas daerah, yang lamanya 3 bulan. Pesertanya adalah Koordinator PKM Kabupaten. M ereka itu pada umumnya lulusan D3 Sanitasi atau D3 Perawatan. Kurikulum dan pros esnya mirip BOC dan Work Experience Bandung, hanya waktunya dipersingkat. Pelati han ini diselenggarakan beberapa angkatan, tetapi kemudian waktunya dipersingkat lagi menjadi 4 minggu. Pada tahap awal DKI ini dikembangkan pada 4 pr ovinsi, yaitu: Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Tern yata keberhasilan pengembangan DKI pada 4 propinsi telah melebar ke provinsi lai nnya. Tidak jarang dari kegiatan pengembangan DKI ini muncul petugas kesehatan t eladan yang pada waktu itu penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah secara b erkala. DKI PKM juga banyak menghasilkan kegiatan masyarakat dalam bidang keseha tan, yang pada umumnya terkait dengan masalah kebersihan lingkungan, penyediaan air bersih, perbaikan rumah tempat tinggal, dll. DKI PKM inilah yang kemudian be rkembang menjadi kegiatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Salah satu kelemahan dari pengembangan DKI PKM ini adalah sistem pencatatan da n pendokumentasian kegiatan yang belum dilakukan secara benar, sehingga tidak da pat dikemukakan secara kuantitatif, baik yang berkaitan dengan jenis kegiatan ma syarakat, tenaga masyarakat yang berhasil dilatih, media yang diterbitkan, dana, dll. Tetapi kelemahan yang utama adalah karena proses pendekatan yang bersifat sektoral. Keterlibatan lintas sektoral bahkan lintas program sangat kurang, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian maupun di tahap pengembangan. H

al ini menyebabkan sulitnya diperoleh dukungan dari lintas program dan lintas se ktor, dan sekaligus merupakan salah satu faktor penting tidak populernya DKI PKM . Pengembangan DKI PKM ini tenggelam karena program kesehatan lain jug a mengembangkan pendekatan yang serupa di lapangan, yang kemudian nanti dikenal dengan kegiatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (disingkat PKMD) dan Posya ndu. Pendekatan Edukatif Pendekatan edukatif yang merupakan pendekatan yang dipergunakan dalam DKI PKM (juga kemudian dalam PKMD), adalah serangkaian kegiatan untuk membantu m asyarakat: mengenali dan menemukan masalah mereka sendiri, dan kemudian atas das ar rumusan masalah kesehatan yang telah mereka sepakati dikembangkanlah rencana penanggulangannya. Tujuan utama pendekatan edukatif adalah untuk mengembangkan k emampuan masyarkat sehingga masyarakat yang bersangkutan dapat memcahkan masalah yang dihadapi atas dasar swadaya sebatas kemampuan mereka. Untuk mencapai tujua n tersebut, strategi dasar yang ditempuh adalah mengembangkan provider dan masya rakat. Yang dimaksud dengan provider adalah para petugas yang peduli t erhadap kesehatan, utamanya petugas kesehaan yang terlibat langsung dengan masal ah kesehatan masyarakat. Pengembangan provider ini bertujuan agar mereka mempuny ai persamaan pandangan atau sikap positif terhadap kesehatan dan pendekatan eduk atif. Secara lebih rinci pengembangan provider ini diharapkan akan menciptakan s uatu kerja sama lintas sektor yang terkoordinir. Untuk itu perlu diper hatikan, antara lain: (a) Adanya keterbukaan dan komunikasi; (b) Adanya wadah, y aitu yang telah ada di masyarakat setempat, misalnya: PKMD, LSD (lembaga sosial desa), atau BPGD (Badan Perbaikan Gizi Daerah, now(), now()); (c) Program yang s aling menunjang, yaitu program kesehatan dan program sektor lainnya, dengan sali ng menghormati kewenangan masing-masing sektor; (d) Peran yang jelas dari masing -masing pihak; (e) Adanya kepusan atau keberhasilan bersama dari semua pihak yan g terlibat; serta (f) Adanya perencanaan terpadu dari semua sektor. Da lam rangka mewujudkan kerjasama antar provider, dilakukan langkah-langkah: 1. Pendekatan terhadap para penjabat penentu kebijakan: Para penjabat lintas sektor baik tingkat pusat, daerah dan lokal, terutama pejabat pemerintahan (gube rnur, bupati, camat, dsb) adalah merupakan kunci kerja sama. Oleh sebabab itu da lam menggalang kerjasama dalam rangka pendekatan edukatif ini, harus dilakukan p endekatan terhadap mereka ini. Tujuan pendekatan kepada para penjabat ini adalah untuk memperoleh dukungan politis. Dalam perkembangan selanjutnya pendekatan se macam ini disebut ”advocacy”. 2. Pendekatan terhadap para pelaksana dari berbagai sektor dan tingkat: Pende katan ini bertujuan agar para pelaksanan dilapangan dari berbagai sektor mempero leh pemahaman yang sama terhadap program atau pendekatan yang akan dilakukan. Pe ndekatan ini dapat dilakukan baik secara horisontal (antar sektor pada tingkat s ektor yang sama), maupun secara vertikal, antara sektor yang sama di tingkat adm inistrasi yang berbeda (diatas atau dibawahnya). 3. Pengumpulan data oleh provider tingkat kecamatan: Data adalah fakta empiri s dari lapangan atau masyarakat, dan merupkan bukti bahwa masalah memang ada di masyarakat secara riil (faktual). Dari data inilah masalah ada, dan dari masalah inilah program atau kegiatan akan dimulai, karena program merupakan upaya pemec ahan masalah. Oleh sebab itu, para petugas atau provider harus mengumpulkan send iri data dan memahaminya sendiri. Manfaat data bagi provider disamping untuk men genal masalah yang ada di masyarakat, juga merupakan pembanding (data awal) yang dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil kegiatan. Jenis data yang diperlukan a ntara lain: (i) Data umum, yakni data tentang kondisi geografi wilayah, demograf i, pemuka masyarakat, media komunikasi yang ada, sejenisnya, dan sebagainya; (ii ) Data khusus, yakni data dari masing-masing sektor, antara lain: data pertanian , pendidikan, kesehatan (jamban keluarga, sumber air bersih, saluran air limbah, tempat pembuangan sampah, status gizi anak balita, dan sebaginya, now(), now()) ; (iii) Data perilaku, khususnya perilaku yang berkaitan dengan kesehatan, misal nya: kebaiasaan buang air besar, kebiasan mandi, kebiasaan makan, perilaku pence gahan penyakit, dan sebagainya.

Sedangkan pengembangan masyarakat pada hakekatnya adalah upaya menghid upkan atau menggali potensi masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya upaya ini disebut pemberdayaan masyarakat (community empowerment). Adapun langkah-langkah pengembangan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Pendekatan tingkat desa: Sasaran pendekatan ini adalah adalah para tokoh-t okoh masyarakat tingkat desa, utamanya kepala desa. Tujuan pendekatan ini adalah agar mereka memperoleh pemahaman tentang program, dan akhirnya mendukung progra m tersebut. Agar memperoleh kepercayaan mereka, maka sebaiknya pendekatan ini di lakukan oleh Kepala Puskesmas bersama-sama dengan Camat setempat. Akan lebih bai k lagi kalau dilakukan oleh tim Kecamatan yang terdiri dari penjabat lintas sekt or tingkat kecamatan yang dipimpin oleh Camat. Pelaksanaan pendekatan ini dianju rkan diadakan dalam bentuk pertemuan tingkat desa (kelurahan) yang dihadiri oleh kepala desa dan stafnya, anggota-anggota Lembaga Sosial Desa dan tokoh-tokoh ma syarakat setempat lainnya. Dalam pertemuan ini tim dari kecamatan menjelaskan te ntang Pengertian pendekatan edukatif serta langkah-langkah selanjutnya yang perl u dilakukan dalam pengembangan masyarakat. 2. Survai Mawas Diri (community self survey): Survai Mawas Diri atau Communit y self survey (CSS) ini merupakan pengenalan lingkungan sendiri, termasuk masala h yang ada di masyarakat, oleh mereka sendiri. CSS tidak terlepas dari kegiatan pengumpulan data oleh mereka sendiri untuk mengenal lebih baik tentang dirinya ( masyarakat) sendiri. Meskipun petugas (tim) kecematan atau provider telah mempun yai data tentang masyarakat tersebut, tetapi data tersebut dilihat dari kaca mat a provider, yang mungkin agak berbeda dengan yang dilihat atau gambaran dari mas yarakat sendiri. Dengan cara ini maka program akan benar-benar dikembangkan bert olak dari kebutuhan dan masalah yang ditemukan sendiri atau oleh masyarakat send iri, bukan menurut perkiraan provider. Kegiatan pokok CSS terdiri dari: Orientas i dan latihan; Pengumpulan data; Pengolahan dan analisis data; serta Penyajian d ata. 3. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Penyajian data (hasil CSS) diusahakan ole h atau setidaknya di hadapan para tokoh masyarakat desa agar diperoleh kesepakat an tentang: Masalah yang dirasakan oleh masyarakat, Prioritas masalah, yaitu mas alah yang dianggap perlu dan segera dipecahkan; serta kesediaan masyarakat untuk ikut berperan sertan secara aktif dalam usaha pemecahan masalah tersebut. Hal i tu dibicarakan dalam suatu forum yang disebut Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). 4. Perencanaan: Setelah kesepakatan seperti tersebut diatas tercapai, tim pem bangunan desa yang bersangkutan, dibawah bimbingan tim dari kecamatan atau Puske smas, menyusun rencana pemecahan masalah, yang mencakup antara lain: Program pem ecahan masalah, sesuai dengan prioritas masalah yang telah ditentukan sebelumnya , tujuan dan sasaran program (tujuan umum dan khusus), kegiatan yang akan dilaku kan, termasuk Rencana anggaran dan biaya, serta sumber dananya. 5. Pelaksanaan: Hal yang penting dalam tahap pelaksanaan adalah mempersiapkan tenaga-tenaga pelaksana, termasuk penanggung jawaban pelaksana program. 6. Penilaian: Pada waktu pelaksanaan program diperlukan pengawasan, monitorin g sampai dengan evaluasi terhadap program atau kegiatan-kegiatan tersebut. Monit oring dan evaluasi program bukan sekedar apakah kegiatan-kegiatan telah berjalan sesuai dengan perencanaannya, tetapi juga apakah program mempunyai dampak terha dap penurunan atau hilangnya masalah. Dengan perkataan lain, apakah program ters ebut mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kesehatan msyarakat. ”Pendekatan Edukatif” ini sangat membantu petugas kesehatan di Puskesmas, khususnya dokter-dokter baru Puskesmas, yang menurut pengakuannya kurang sekali memperoleh pengetahuan tentang itu waktu di Fakultas Kedokteran. Pendekatan eduk atif itu semula dipergunakan dalam pengembangan DKI PKM. Kemudian, pada Rapat Ke rja Pelaksanaan PKMD di Jakarta tanggal 27-30 Nopember 1978, oleh Dr. IB Mantra diusulkan untuk menjadi pendekatan yang dipergunakan dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (disingkat PKMD). Berbagai kegiatan penyuluhan kesehatan Selain mengembangkan DKI PKM dengan menggunakan pendekatan edukatif, P

usat PKM juga melakukan penyuluhan berbagai program kesehatan melalui berbagai k egiatan. Penyuluhan langsung melalui media dilakukan melalui televisi dan radio, baik secara nasional maupun secara lokal di Daerah. Setiap tahun PKM juga selal u memproduksi berbagai leaflet, poster, radio spot, TV spot, kalender, dll yang berisi pesan-pesan kesehatan. Berbagai pameran kesehatan juga digelar, khususnya dalam memperingati hari-hari tertentu, seperti: Hari Kesehatan Nasional, Hari K esehatan Sedunia, Hari Tanpa Rokok Sedunia, dll. Dalam rangka memperingati berba gai hari tertentu itu, PKM lah yang paling sibuk dalam penyelenggaraannya, sekal igus memanfaatkan momentum hari-hari itu untuk melakukan penyuluhan kesehatan. Selanjutnya berbagai pedoman, manual, dll juga diterbitkan, sebagai pan duan bagi daerah atau program untuk melakukan penyuluhan kesehatan. Pelatihan-pe latihan bagi tenaga PKM daerah dan organisasi kemasyarakatan juga sering diselen ggarakan, baik mengenai ke-PKM-an pada umumnya maupun mengenai metode dan tehnik tertentu, khususnya dalam pengembangan media penyuluhan. Kerjasama dengan linta s sektor, lintas program dan organisasi kemasyarakatan dijalin dalam rangka pemb erdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Dalam perkembangannya nanti, PKM juga sangat berperan dalam menggerakkan PKMD dan Posyandu, serta berbagai ke giatan lainnya yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan . Itu semua dilakukan dalam rangka menunjang terjadinya perubahan perilaku yang sehat di masyarakat. Perubahan perilaku itulah yang menjadi fokus kegiatan PKM, sebagaimana salah satu jargon yang dikutip pada awal bab ini (yang berasal dari Ruskin), bahwa: ”Education is not for knowing more, but for behaving differently”. Bab IV ERA PKMD, POSYANDU DAN PENYULUHAN KESEHATAN MELALUI MEDIA ELEKTRONIK (Kur un Waktu 1975 - 1995) ”Go to the people; Stay with them; Learn from them; Work with them. (Jargon Health Education) Peran Serta Dan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Sebelum cerita tentang Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) ki ranya perlu cerita sedikit tentang peranserta masyarakat yang merupakan komponen utama dalam PKMD. Perlunya peranserta masyarakat dalam pembangunan, termasuk di bidang kesehatan, didasarkan pada kesadaran bahwa tidak mungkin pembangunan han ya dilakukan dan ditanggung oleh pemerintah saja. Masyarakat harus diikut sertak an dan berperanserta di dalamnya. Masyarakat bukan hanya sebagai obyek, tetapi j uga sebagai subyek pembangunan. Hal ini sejak awal sudah merupakan konsep dasar pendidikan atau penyuluhan kesehatan, yang sudah dilaksanakan sejak sebelum dan di awal kemerdekaan. Banyak batasan pengertian tentang peran serta mas yarakat. Berdasarkan pertemuan Alma Ata (1978), WHO memberi rumusan tentang pera n serta masyarakat adalah suatu proses dimana individu dan keluarga: 1. Bertanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan diri, keluarga dan masy arakat. 2. Berkembang kemampuannya untuk berkontribusi dalam pembangunan. 3. Mengetahui keadaannya dengan lebih baik dan termotivasi untuk memecahkan m asalahnya. 4. Memungkinkan menjadi penggerak pembangunan (agent of develepment). Bank Dunia (World Bank, 1978) merumuskan partisipasi masyarakat dari d imensi cakupannya, yakni: 1. Keterlibatan dari semua unsur yang terlibat dalam proses pengambilan keput usan terhadap apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara pelaksanaannya. 2. Kontribusi massa dalam upaya pembangunan, misalnya dalam pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. 3. Menikmati bersama hasil program pembangunan Selanjutnya dalam ”World Health Assembly 1979” dirumuskan: Peran serta mas yarakat adalah suatu proses untuk mewujudkan kerja sama kemitraan (partnership) antara pemerintah dan masyarakat setempat dalam merencanakan, melaksanakan dan m emanfaatkan kegiatan kesehatan, sehingga diperoleh manfaat berupa peningkatan ke

mampuan swadaya masyarakat dan masyarakat ikut berperan dalam penentuan prasaran a dan pemeliharaan teknologi tepat guna dalam pelayanan kesehatan. Sed angkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) Tahun 1982 menyebutkan bahwa cara masyara kat berperan serta dapat dalam bentuk: ikut dalam penelahaan masalah, ikut dalam perencanaan dan pelaksanaan pemecahahan masalah-masalah kesehatan. Lebih jauh S KN, dalam Dasar-dasar Pembangunan Kesehatan Nasional menyebutkan, bahwa: 1. Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan mempertin ggi derjat kesehatan masyarakat. 2. Penyelenggaraan upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan dilakukan secar a seimbang oleh pemerintah dan masyarakat serta dilaksanakan terutama melalui up aya pencegahan (preventif) dan peningkatan (promotif) secara terpadu dengan upay a penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). 3. Sikap, suasana kekeluargaan, kegotong royongan serta semua potensi yang ad a diarahkan dan dimanfaatkan sejauh mungkin untuk pembangunan kesehatan. 4. Pelayanan kesehatan nasional harus berlandaskan pada kepercayaan akan kema mpuan dan kekuatan sendiri, berisendikan kepribadian bangsa. Dari berbagai pengertian dan rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa : Peran Serta Msayarakat adalah proses dimana individu dan keluarga serta lembag a swadaya masyarakat termasuk swasta: 1. Mengambil tanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri, keluarga serta masyarakat. 2. Mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam peningkatan kesehatan me reka sendiri dan masyarkat sehingga termotivasi untuk memecahkan berbagai masala h kesehatan yang dihadapi. 3. Menjadi agen, perintis atau penggerak pembangunan kesehatan dan pemimpin g erakan peran serta masyarakat di bidang kesehatan yang dilandasi semangat gotong royong. Dalam perkembangannya nanti, istilah peran serta masyarakat dipandang kurang dinamis. Istilah tersebut dipandang kurang sesuai dengan isi pengertian y ang dicakupnya. Di dunia internasional, selanjutnya juga digunakan istilah lain yang lebih menunjukkan tanggungjawab masyarakat yang lebih besar, yaitu: empower ment, atau community empowerment. Di Indonesia istilah itu menjadi ”pemberdayaan m asyarakat”. Dalam berbagai pertemuan dunia/internasional tentang promosi kesehatan , istilah pemberdayaan masyarakat ini yang kemudian lebih ditonjolkan. Munculnya PKMD PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) mulai muncul di permukaan pada sekitar tahun 1975. Pada waktu itu oleh Depkes dibentuk Panitya Kerja untu k menyiapkan konsep program Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Ketuan ya adalah Dr. R. Soebekti, Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Landasan dasar dikembangkannya PKMD ini adalah sejarah budaya bangsa Indonesia yang telah turu n temurun, yakni “gotong royong’ dan “musyawarah”. Mengacu pada dua prinsip ini maka kon sep PKMD dikembangkan dengan semangat kekeluargaan dan saling membantu, yang kua t membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, dan yang sehat membantu y ang sakit. Disamping landasan sosio budaya, PKMD juga mengacu pada Pancasila seb agai dasar dan tujuan pembangunan masyarakat Indonesia, yakni Berketuhanan yang Maha Esa, berperikemanusian dan berkebangsaan Indonesia, serta berkeadilan socia l yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pada waktu itu semua program pembangunan harus didasarkan pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) . Demikian pula PKMD, yang di dalam GBHN dengan jelas disebutkan bahwa pembangun an kesehatan bertujuan untuk mencacapai kesempatan yang luas bagi setiap warga N egara untuk meningkatkan derajat kesehatannya sebagai bagian dari pencapaian kes ejahteraan sosial. Hal itu juga sejalan dengan Undang-Undang Kesehatan No. 9/196 0 yang menyebutkan bahwa kesehatan bukan hanya sekedar bebas penyakit dan cacat, tetapi merupakan keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial. Kesehatan adal ah hak setiap warga Negara untuk mecapai derajat kesehatan yang setinggi-tinggin

ya. Untuk mewujudkan derajat kesehatan seperti ini, maka perlu dilaksanakan pemb angunan kesehatan masyarakat desa, sebagi bagian dari pembanguan nasional. Sementara itu PKMD juga dikaitkan dengan kebijakan Departemen Dalam Negeri untuk melaksanakan program pembangunan desa jangka panjang, yaitu untuk menuju d esa swasembada dengan pendekatan UDKP (Unit Daerah Kerja Pembangunan). Tiga tipe daerah pembangunan desa pada waktu dikelompokkan berdasarkan perkembangannya, y akni : Desa Swadaya (desa tradisional), Desa Swkarya (desa transsisi), dan Desa Swasembada (modern). Kemudian pada tahun 1976 (Januari) di dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ditetapkan bahwa PKMD merupakan pendekatan yang strate gis untuk meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan dengan target meningkatnya ke sehatan masyarakt. Ditetapkan pula bahwa PKMD adalah program nasional. Untuk men goperasikan PKMD pada bulan Maret tahun 1976 diadakan Lokakarya, yang diahadiri oleh para penjabat Departemen Kesehatan dan Depertemen Dalam Negeri. Hasil Lokak arya tersebut menetapkan Kabupaten Karanganyar sebagai daerah uji coba PKMD. Dis amping itu Loakakrya juga menetapkan Prokesa (promoter kesehatan desa) merupakan tenaga lapangan PKMD, dan Dana Sehat merupakan salah satu elemen pokok PKMD. Selanjutnya pada Rapat Kerja Kesehatan Nasional tahun 1977, hasil uji co ba PKMD di kabupaten Karanganyar dibahas, dan dari hasil pembahasan tersebut dis impulkan bahwa PKMD dimantapakan sebagai startegi nasional untuk meningkatkan de rajad kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Oleh sebab it u implemetasi PKMD diperluas secara nasional, bukan saja di pedesaan tetapi juga di perkotaan, sehingga muncul istilah PKMD perkotan. Dalam pertumbuha nnya, PKMD mememperoleh komitmen dari lembaga-lembaga baik pemerintah maupun swa sta. Departemen-Departemen dan lembaga-lembaga non departemen yang telah meberik an komitmen terhadap PKMD adalah: Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri, Depertemen Pertanian, Departemen Sosial, Depertemen Pekerjaan Umum, Departemen Agama , Departemen Perdagangan dan Industri dan Departemen Keuangan. Sedangkan l embaga pemerintahan non Departemen, dan lemabga swadaya masyarakat lainnya yang terlibat adalah: Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Bank Raky at Indonesia , Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), Pramuka, Komite Nasional P emuda Indonesia (KNPI), Perkumpulan Kelauraga Berenecana Indonsia (PKBI), Organi sasi Wanita dan Palang Merah Indonsia. PKMD dan Deklarasi Alma Ata PKMD adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilakukan dengan beraza skan gotong royong dan swadaya. PKMD dilaksanakan dalam rangka menolong diri (ma syarakat) sendiri untuk mengenal dan memecahkan masalah/kebutuhan yang dirasakan mayarakat. Kegiatan PKMD ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuaan masyara kat dalam bidang kesehatan maupun dalam bidang yang berkaitan dengan kesehatan. Oleh sebab itu sasaran utama PKMD adalah: masyarakat mampu memelihara dan mening katkan kehidupannya yang sehat dan sejehtera. Dengan demikian sebenarnya PKMD sa ma dan sebangun dengan upaya Pendidikan Kesehatan Masyarakat, khususnya yang dil akukan melalui pengembangan masyarakat (community development). PKMD j uga merupakan bagian integral dari pembangunan nasional pada umumnya, dan pemban gunan desa pada khususnya. Kegiatan PKMD diharapkan muncul dari masyarakat sendi ri dengan bimbingan dan pembinaan oleh pemerintah setempat secara lintas program dan lntas sektor. Puskesmas sebagai pusat pembangunan kesehatan tingkat kecamat an atau kelurahan mengambil parakarsa dalam pemabangunan kesehatan masyarakat. T ujuan umum PKMD adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menolong diri mer eka sendiri dibidang kesehatan dalam rangka meningkatkan mutu hidup dan kesejaht eraan masyarakat. Sedangkan tujuan khusus PKMD adalah: 1. Menumbuhkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimiliki untuk menolong diri sendiri dalam meningkatkan mutu hidup mereka. 2. Mengembangkan kemampuan dan prakarsa masyarakat untuk berperan serta aktif dan berswadaya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. 3. Menghasilkan tenaga-tenaga masyarakat setempat yang mampu, trampil serta m au berperan aktif dalam kegiatan pembangunan. 4. Meningkatnya kesehatan masyarakat.

Dengan demikian sebenarnya PKMD adalah identik dengan pengembangan DKI PKM, sebagaimana yang diceritakan pada bab III. Kedua kegiatan ini sama-sama me ningkatkan peranserta dan memberdayakan masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Namun karena PKMD melibatkan lintas program dan lintas sektoral, dan di Depkes s endiri dimotori oleh pejabat eselon I, maka PKMD lebih berkembang. Apalagi, PKMD kemudian memperoleh dukungan dunia internasional yang menggalakkan Primary Heal th Care, yang dicetuskan dalam “Deklarasi Alma Ata”. Deklarasi itu dicetus kan pada tahun 1978 dalam suatu konferensi kesehatan yang dihadiri oleh 140 nega ra di dunia, termasuk Indonesia, di Alma Ata. Salah satu keputusan penting konfr ensi tersebut adalah dideklarasikan “Sehat Untuk Semua Pada Tahun 2000” atau yang le bih dikenal dengan “Health For All By The Year 2000”. Semua negara yang menanda tang ani deklarasi Alma Ata tersebut, termasuk Indonesia sepakat ingin mencapai keseh atan untuk semua tahun 2000 dan “Primary Health Care” sebagai bentuk operasionalnya. Sementara itu Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) yang telah dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1996, sebenarnya sudah merupakan perwujud an “primary helath care”. Maka kemudian dalam kebijakan nasional PKMD dikatakan bahw a “Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) merupakan bentuk kegiatan Primary Health Care” di Indonesia. Dengan adanya deklarasi Alma Ata yang intinya adalah pe laksanaan primary health care, maka memberikan dorongan pada pelaksanaan PKMD di Indonesia. PKMD Dan SKN Pada sekitar tahun 1982 ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional oleh Ment eri Kesehatan RI (waktu itu Dr. Suwardjono Suryaningrat) yang menetapkan pembang unan kesehatan sebagai suatu sistem dari supra sistem pembangunan nasional. Sela njutnya berdasarkan Ketetapan MPR No. II/1983 tentang GBHN, disebutkan bahwa “Dala m rangka mempertinggi taraf kesehatan dan kecerdasan rakyat, pembangunan kesehat an termasuk perbaikan gizi perlu makin ditingkatkan dengan mengembangkan Sistem Kesehatan nasional (SKN).” Peningkatan kesehatan dilakukan dengan meliba tkan peran serta (partisipasi) masyarakat berpengahasilan rendah baik di desa ma upun di kota. Panca Karsa Husada sebagai tujuan pembangunan panjang bidang keseh atan mencakup: (1) Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan; (2) Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin keseh atan; (3) Peningkatan status gizi masyarakat; (4) Pengurangan kesakitan dan kema tian; dan (5) Pengembangan keluarga sehat sejahtera dengan makin diterimanya nor ma keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan dikaitkan dengan komitmen Indonesia untuk mengimplementasikan prima ry health care, ditetapkan hal-hal sebagai berikut: 1. Hirarkhi tingkat pelayanan kesehatan sehubungan dengan komponen atau unsur -unsur pelayanan kesehatan menurut SKN, mulai dari tingkat Rumah tangga, selanju tnya ke tingkat masyarakat, terus sampai ke tingkat yang lebih tinggi, adalah se bagai berikut: Bagan Tingkat Pelayanan Kesehatan Hirarkhi Komponen atau unsur pelayanan kesehatan Tingkat Rumah Tangga Pelayanan kesehatan oleh individu atau keluarga sendiri Tingkat Masyarakat Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong merek a sendiri, atau oleh kader kesehatan. Tingkat Pertama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Puskesmas, Puskesmas Pem bantu, Puskesmas Keliling Tingkat Rujukan Pertama Rumah Sakit Tingkat Kabupaten Tingkat Rujukan Yang Lebih Tinggi Rumah Sakit Kelas B atau A 2. Pelaksanaan kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) yang dil akukan masyarakat minimal mencakup salah satu dari 8 unsur Primary Haelath Care sebagai berikut: 1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit s erta perlindungannya. 2. Peningkatan persediaan makanan dan peningkatan gizi. 3. Pengadaan air bersih dan sanitasi dasar yang memadai. 4. Kesehatan Ibu dan Anak termasuk keluarga berencana

5. Imunisasi untuk penyakit yang utama 6. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemi setempat 7. Pengobatan penyakit umum dan luka-luka 8. Penyediaan obat esensial. 3. Pengembangan dan Pembinaan PKMD dilakukan sebagai berikut: 1. Berpedoman pada GBHN. 2. Dilakukan dengan kerja sama lintas program dan lintas sektor melalui pendekatan edukatif. 3. Koordinasi pembinaan melalui jalur fungsional pada Gubernur, Bupati, atau Camat. 4. Merupakan bagian integral dari pembangunan desa secara keseluruhan. 5. Kegiatan dilaksanakan dengan membentuk mekanisme kerja yang efektif antara instansi yang berkepentingan dalam pembinaan masyarakat desa. 6. Puskesmas sebagai pusat pembangunan dan pengembangan kesehatan berfu ngsi sebagai dinamisator. Penyebarluasan PKMD Begitu PKMD memperoleh komitmen nasional bahkan dunia internasional (m elalui Primary Health Care), maka dipersiapkan perangkat keras dan perangkat lun aknya. Direktorat Jenderal Binkesmas Depkes merupakan unit utama yang menggerakk an kegiatan ini dengan dukungan semua unit di Depkes dan unit-unit lain di luar Depkes. Direktorat Puskesmas yang berada di bawah Ditjen Binkesmas merupakan mot or atau sekretariat kegiatan ini, yang menyiapkan tenaga, dana, sarana, dll yang diperlukan. Direktorat tersebut bekerjasama dengan Pusdiklat Depkes d an unit-unit lain yang berkaitan, mula-mula menyelenggarakan pelatihan pelatih u ntuk beberapa provinsi dan kabupaten. Angkatan pertama pelatihan pelatih ini dis elenggarakan di Bandung pada tahun 1978, dengan peserta antara lain dari Jawa Ba rat (kab. Indramayu), Sumatera Barat (kab. Solok), Jawa Timur (kab. Bangkalan) d an Sulawesi Utara (kab. Tondano). Pelatihan pelatih ini ditindak lanjuti dengan kegiatan pelatihan di masing-masing kabupaten, dan demikian seterusnya sampai pe laksanaan di lapangan. Sementara itu disiapkan pula bahan-bahan berupa pedoman-p edoman, peralatan, dana penunjang, dll. Pelatihan untuk angkatan-angkatan selanj utnya bagi kabupaten-kabupaten lain di Indonesia diselenggarakan di Balai Latiha n Kesehatan Masyarakat (BLKM kemudian menjadi Bapelkes) Salaman, Magelang. BLKM Salaman ini kemudian juga berperan sebagai laboratorium lapangan PKMD. Demikianlah PKMD berkembang di seleuruh penjuru tanah air. Gemanya juga cukup k eras terdengar dan di beberapa daerah juga melakukan berbagai inovasi kegiatan. Di antara daerah tersebut adalah Jawa Timur yang pada waktu itu Kepala Kanwilnya adalah Dr. Suyono Yahya. PKMD yang semula lebih terbuka (unstructured) berkemba ng menjadi lebih fokus (semi structured). Kegiatan yang lebih fokus dan semi str uctured ini kemudian mengarah pada perkembangan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) . Apalagi Dr. Suyono Yahya kemudian menjadi Dirjen Binkesmas, menggantikan Dr. S ubekti yang memasuki pensiun. Tidak kenal Dirjen WHO Di Pertemuan WHO Waktu itu ada konferensi internasion al yang diselenggarakan oleh Badan Organisasi Dunia, WHO. Nama konferensi itu: “In ternational Conference On Community Health Worker: Pillars for Health For All”. Wa ktunya pada bulan Desember tahun 1986. Tempatnya di kota Yaounde, ibu kota negar a Cameroon, di Afrika. Wakil dari Indonesia sebenarnya ada dua orang, tetapi wak il dari program, pejabat yang cukup senior, berhalangan hadir. Terpaksalah saya sendiri, yang waktu itu bertugas di Pusdiklat Depkes dan masih muda, datang ke p ertemuan itu. Bahkan saya juga harus menyajikan pengalaman Indonesia dalam salah satu sidang pleno pertemuan itu. Sebelum sidang-sidang resmi dimulai, seperti b iasa ada acara informal: Acara santai yang diisi dengan minuman ringan dan makan an kecil serta bincang-bincang antar peserta, atau untuk saling mengenalkan diri dengan peserta lain yang belum kenal. Itulah yang saya lakukan pada waktu itu. Saya cukup aktif untuk mengenalkan diri dan berkenalan dengan peserta lain dalam konferensi itu. Di antara kelompok-kelompok peserta ada satu kelompok yang namp aknya bicaranya lebih ramai. Saya dekati kelompok tersebut dan bergabung dengan

mereka. Saya memperkenalkan diri dan menanya siapa mereka itu, karena memang bel um kenal semuanya. Orang yang pertama saya jabat tangannya dan menanya siapa dia ternyata alah Dr. Mahler, Dirjen WHO waktu itu. Dengan sopan beliau memperkenal kan dirinya, dan menyatakan kegembiraannya bahwa saya dapat ikut pertemuan itu. Beliau juga menanyakan pejabat senior dari Indonesia yang tidak dapat hadir dala m pertemuan itu, serta pejabat-pejabat penting Depkes lainnya, yang beliau sebut sebagai teman-teman beliau. Aduh, selain bersyukur dapat bertatap muka dan berb incang langsung dengan beliau, pada waktu itu saya maluuu banget. Dengan orang s etenar beliau saya kok belum kenal. Seperti diketahui, rasanya beliaulah orang y ang pertama kali mengemukakan kata-kata yang sangat terkenal itu sampai sekarang . Kata-kata itu adalah : “Health is not everything, but without health everything else is nothing”. (Diceritakan oleh Dachroni) Munculnya Posyandu Dengan berkembangnya PKMD dan dalam implementasinya menggunakan pendek atan edukatif, muncullah berbagai kegiatan sawadaya masyarakat untuk pelayanan k esehatan antara lain: Pos Penimbangan Balita, Pos Imunisasi, Pos KB Desa, Pos Ke sehatan, Dana Sehat. Selain itu juga muncul berbagai kegiatan lain, yang berada di luar kesehatan, meskipun tetap ada kaitannya dengan bidang kesehatan. Kegiata n-kegiatan tersebut murni muncul dari masyarakat sendiri, dan untuk pelayanan me reka sendiri, dibidang kesehatan. Secara teori, pada periode ini telah muncul perbedaan sudut pandang. Mulai terlihat bahwa salah satu kelemahan dari pendekatan edukatif adalah belum berhasil memunculkan “community real need”. Yang te rjadi adalah bahwa melalui pendekatan edukatif ini telah muncul berbagai “communit y felt need”. Akibatnya muncul berbagai kegiatan masyarakat sesuai kebutuhan masya rakat tersebut. Dengan munculnya aneka ragam kegiatan masyarakat tersebut, sulit untuk memperhitungkan kontribusi kegiatan masyarakat tersebut terhadap peningka tan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini mendorong para pengambil keputusan di lingkungan Departemen Kesehatan untuk melakukan perubahyan pada pendekatan eduka tif sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pada tahun 1984, berbagai kelompok kegi atan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan (Pos Penimbangan Balita, Pos Imun isasi, Pos KB Desa, Pos Kesehatan), dilebur menjadi satu bentuk pelayanan keseha tan terpadu yang disebut Posyandu (pos pelayanan terpadu). Atau lengkapnya Pos P elayanan Terpadu KB-Kesehatan. Peleburan menjadi Posyandu tersebut, selain setel ah dicoba dikembangkan di Jawa Timur, juga setelah melalui tahap kegiatan uji co ba di tiga provinsi, yaitu: Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. D ipadukannya pelayanan KB dan kesehatan ini dimaksudkan untuk memberikan kemudaha n dan keuntungan bagi masyarakat. Karena dengan keterpaduan pelayanan ini masyar akat dapat memperoleh pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama. Secara konsepsual, Posyandu merupakan bentuk modifikasi yang lebih maju dalam upaya pemberdayaan masyarakat untuk menunjang pembangunan kesehatan, khususnya dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui penurunan angka k ematian bayi. Modifikasi tersebut adalah dengan tetap mempertahankan prinsip dar i, oleh dan untuk masyarakat, gotong royong dan sukarela, namun bentuk kegiatan masyarakat dalam pembangunan kesehatan tidak lagi beragam, karena sudah diarahka n dan diseragamkan yaitu Posyandu. Melalui keseragaman kegiatan masyarakat dalam bentuk Posyandu, diharapkan dapat berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya penurunan angka kematian bayi dan balita. Posyan du merupakan unit pelayanan kesehatan di lapangan yang diselenggarakan oleh masy arakat untuk masyarakat dengan dukungan teknis Puskesmas, Departemen Agama, Depa rtemen Pertanian, dan BKKBN. Posyandu melaksankan 5 program kesehatan dasar yakn i: KB, kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, dan penaggulangan diare. Adapun sasaran utama adalah menurunkan angka kematian bayi dan memperbaiki status keseh atan dan gizi balita, maupun ibu hamil dan menyusui. Posyandu merupaka n wadah partsipasi masyarakat, karena Posyandu paling banyak menggunakan tenaga kader. Kader ini merupakan tenaga relawan murni, tanpa dibayar, namun merupakan tenaga inti di Posyandu. Sebagian besar kader adalah wanita, anggota PKK (Pembin aan Kesejahteraan Keluarga). Maka dapat dikatakan bahwa PKK merupakan sumber pen

ggerak Posyandu. Tokoh-tokoh di awal terbentuknya Posyandu ini adalah: Dr. M. Ad hyatma, Dr. Suyono Yahya, Ibu Soeparjo Rustam, dll. Stand Pameran yang paling lama dikunjungi Presiden RI Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada waktu itu diadakan peringatan ula ng tahun BKKBN, Dep. Transmigrasi dan Tenaga Kerja dan Dep. Pertanian. Dengan pe rtimbangan efisiensi, upacara peringatan tersebut digabungkan menjadi satu peris tiwa dan dilangsungkan di daerah transmigrasi di provinsi Jambi. Karena Presiden Soeharto dan ibu Tien berkenan akan hadir ke acara tersebut, maka di lokasi ter sebut akan diadakan pameran yang menggambarkan kemajuan yang telah dicapai oleh ketiga departemen/lembaga tersebut. Tentu saja mereka mengerahkan segala daya te rmasuk dana untuk menyiapkan pameran untuk memberikan kesan “hebat” kepada Kepala Ne gara. Setelah persiapan selesai, tiba-tiba saja Dep. Kesehatan juga diberi kesem patan untuk turut serta dalam pameran tersebut. Maka dikirim rombongan dengan mi si khusus yang terdiri dari: Bapak Ign Tarwotjo MSc, Dr. Widyastuti MScPH, Drs. Sri Widodo, MPH dan Drs. Muchsin Alwi, MPH. Tim ini dibantu oleh Dr. Fadlun dari Dinkes Jambi dengan tugas menyiapkan pameran di lokasi transmigrasi. Karena mer upakan peserta terakhir, Depkes tidak memperoleh tempat di dalam gedung pameran, karena semua tempat telah penuh terisi. Oleh panitia disediakan tempat di luar gedung, bersebelahan dengan tempat pameran sapi Banpres. Hanya dalam tempo semal am disiapkanlah rencana pameran tersebut, dan tema yang dipilih adalah Posyandu. Dalam stand pameran itu ditampilkan kegiatan kader Posyandu lengkap dengan pera latan dan bayi. Alhamdulillah, ternyata stand dadakan ini merupakan stand yang p aling lama dikunjungi oleh Bapak Presiden dan Ibu Tien Soeharto. Sedangkan stand lain di dalam gedung hanya dilewati saja oleh kedua beliau. Rupanya beliau meni kmati sekali sajian lagu “Aku Anak Sehat” yang dibawakan oleh para kader Posyandu. Tujuan Posyandu dan Sistem Pelayanan 5 Meja Sasaran utama pelayanan Posyandu adalah kelompok-kelompok rentan, yakn i ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak balita. Oleh sebab itu pelayanan Posyan du mencakup pelayanan-pelayanan: kesehatanan ibu dan anak, imunisasi, gizi, pena nggulangan diere, dan keluarga berencana. Tujuan dikembangkannya Posya ndu sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan, yakni: 1. Untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak balita, dan angka kelahiran. 2. Untuk mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (N KKBS). 3. Berkembangnya kegiatan-kegiatan masyarakat dalam rangka menunjang meningka tnya kesehatan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Pelayanan Posyandu menganut sistem 5 meja, dengan urutan sebagai berik ut: 1. Meja 1:Melayani pendaftaran bagi para pengunjung Posyandu, yang dikelompok kan menjadi 3 yakni: bayi dan anak balita, Ibu hamil dan menyusui, dan PUS (pasa ngan usia subur). Pelayanan meja 1 dilakukan oleh kader kesehatan. 2. Meja 2: Melayani penimbangan bayi, balita, dan ibu hamil, dalam rangka mem antau perkembangan bayi, balita, dan janin dari ibu yang sedang hamil, yang dila yani oleh kader kesehatan. 3. Meja 3: Melayani pencatatan hasil dari penimbangan dari Meja 2 didalam KMS (kartu menuju sehat), baik KMS bayi/balita maupun KMS ibu hamil, juga dilayanan i oleh kader. 4. Meja 4: Melakukan penyuluhan kepada ibu bayi/balita dan ib hamil, sebagai tindak lanjut dari hasil pemantauan status gizi, balita dan ibu hamil, dan KB. M eja ini dilayani oleh petugas atau kader. 5. Meja 5: Dilakukan pelayanan oleh petugas medis/para medis dari Puskesmas u ntuk imunisasi, pemasangan alat kontrasepsi, atau pengobatan bagi yang memerluka n, dan periksa hamil. Bila terdapat kasus yang tidak dapat ditangani oleh Posyan

du, mereka akan dirujuk ke Puskesmas. Perkembangan pesat Posyandu Penyelenggaraan Posyandu pada berbagai tatanan administrasi, merupakan satu bentuk demonstrasi tentang betapa efektifnya jejaring kemitraan yang dikem bangkan oleh Departemen Kesehatan. Di Depkes, unit yang merupakan penggerak kegi atan Posyandu ini adalah Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat (BPSM) yang bera da di bawah Direntorat Jenderal Binkesmas, yang merupakan ”saudara kembar” dari unit Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, yang berada dibawah Sekretariat Jendral. Dalam rangka pengembangan jejaring kemitraan untuk mennunjang penyele nggaraan Posyandu, Departemen Dalam Negeri mengambil prakarsa untuk mewujudkan K elompok Kerja nasional Posyandu (Pokjananl Posyandu), sebagai bagian dari instit usi LKMD yang ada pada setiap jenjang administrasi pemerintahan. LKMD ini merupa kan wadah koordinasi berbagai kegiatan peran serta masyarakat dalam pembangunan. Inilah yang merupakan salah satu kunci suksesnya pengembangan Posyandu, yaitu k arena terjalinnya kemitraan yang kuat dan luas di kalangan penyelenggara pemerin tahan melalui Pokjanal Posyandu tersebut Demikianlah kemudian Posyandu berkembang sangat pesat. Terakhir tercatat tidak kurang dari 240.000 buah Posya ndu yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Banyak pejabat kesehatan dunia d an dari negara sahabat datang berkunjung, serta berdecak kagum melihatnya dari d ekat. Ini juga tidak lepas dari para kader PKK (penggerak kesejahteraan keluarga ) yang menjadi penggerak Posyandu mulai dari Pusat sampai ke lini paling depan. Atas perannya ini, wajarlah apabila Ibu Suparjo Rustam memperoleh penghargaan de ari WHO (berupa Sasakawa award). Memang belum dapat diketahui secara p asti berapa besar kontribusi keberadaan dan kegiatan Posyandu ini terhadap penur unan angka kematian bayi. Tetapi yang pasti memang terjadi penurunan angka kemat ian bayi berbarengan dengan melesatnya perkembangan Posyandu di Indonesia. Namun Posyandu belum berdampak positif pada penurunan angka kematian ibu. Dan dengan terjadinya krisis ekonomi dan sosial di sekitar tahun 2000, banyak Posyandu yang terpuruk. Pada saat ini sedang dilakukan kegiatan revitalisasi Posyandu. Peran PKM Dalam Pengembangan Posyandu Penyuluhan Kesehatan Masyarakat menempati peran sentral dalam pengemba ngan Posyandu. Itu dilakukan selain masukan berupa gagasan, terutama berupa upay a untuk mempromosikannya. Dalam kaitan ini banyak sekali media penyuluhan dikemb angkan untuk menunjang kegiatan Posyandu. Poster, leaflet, dan berbagai buku ped oman banyak dicetak dan disebar luaskan. Baligo: ”Ayo ke Posyandu” banyak dipasang d i mana-mana. Logo dan slogan Posyandu dikenal sampai sekarang, yaitu: ”Menjaga ana k sehat tetap sehat”. Sinetron Dr. Sartika dibuat a.l. juga untuk menyebar luaskan pentingnya Posyandu. Selain itu disebar luaskan pula lagu ”Aku Anak Seh at” yang syairnya ditulis oleh Drs. Oendang Badruzzaman (staf PKM, angkatan ke 4 P royek Pengembangan Tenaga HES), dan lagunya diciptakan oleh A Riyanto (almarhum) . Lagu itu dikenal dan dinyanyikan secara luas sampai sekarang. Di bawah ini ada lah syair lagu ”Aku Anak Sehat” tersebut: Aku Anak Sehat Aku anak sehat, tubuhku kuat Karena ibuku rajin dan cermat Se masa aku bayi selalu diberi ASI Makanan bergizi dan imunisasi Berat badanku diti mbang selalu Posyandu selalu menunggu setiap waktu Bila aku diare ibu telah wasp ada Pertolongan oralit telah siap sedia Demikianlah, dalam PKMD dan Posyandu ini mengingatkan kita pada jargon yang mengajak kita untuk lebih mengenali masyarakat, melarang kita untuk menggu rui masyarakat bahkan kita harus lebih banyak belajar kepada masyarakat. Paling tidak kita harus dapat menangkap aspirasi masyarakat, sebagaimana diungkapkan di awal tulisan bab ini: “Go to the people, stay with them, learn from them and work with them”. Penyuluhan Kesehatan Melalui Media Elektronik Selain penggerakan dan pemberdayaan masyarakat melalui PKMD dan Posyan du, penyuluhan kesehatan pada waktu itu juga dilakukan melalui berbagai media, b

aik media cetak, media luar ruang, maupun khususnya media elektronik. Media elek tronik itu terutama melalui radio dan televisi, selain juga dilakukan melalui ka set atau VCD, berupa lagu-lagu atau film lepas, dan belakangan juga melalui inte rnet. Khususnya penyuluhan melalui radio sudah dilakukan sejak awal kemerdekaan melalui RRI, meskipun belum terprogram secara tetap. Selain acara yang berskala nasional juga berlangsung siaran yang bersifat lokal. Kemudian pada se kitar tahun 1980-an, Direktorat PKM mempunyai program tetap penyuluhan kesehatan melalui RRI Program Nasional. Programnya berupa acara langsung dalam bentuk dia log tentang penyakit-penyakit yang ada di masyarakat. Tanggapan masyarakat berup a pertanyaan tertulis diajukan ke Direktorat PKM, yang dijawab oleh pengasuh pad a acara dialog selanjutnya, atau melalui surat. Selanjutnya juga dikembangkan pe san-pesan kesehatan melalui sandiwara radio (judul: ”Butir-butir Pasir Putih”), yang siarannya dibawakan oleh para aktor/aktris RRI, dan PKM megirim bahan sampai ra tusan naskah. Pada sekitar tahun 1995-2000 karena maraknya masalah HIV /AIDS, dikembangkan sandiwara radio dengan topik HIV/AIDS. Sandiwara yang dilsia rkan setiap hari itu dilakukan oleh RRI dan terdengar sampai ke Papua. Khusus un tuk sandiwara radio ini juga ada ratusan naskah, dan acaranya disertai lomba ber upa ”kwis” untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan materi sandiwara. Para pe menang lomba diundang dalam acara konperensi pers. Ada yang sangat mengharukan: Salah satu pemenangnya adalah mahasiswa ITB yang menyatakan bahwa hadiahnya akan dipergunakan untuk membayar uang kuliah. Padahal waktu itu hadiahnya hanya bebe rapa ratus rupiah saja. Selain itu juga ada radio spot juga mengenai HIV/AIDS ya ng sehari diulang sampai lima kali. Acara-acara itu disponsori oleh Ford Foundat ion, yang juga mensponsori acara di televisi. Penyuluhan kesehatan melalui radio ini terus berlangsung sampai sekarang, bahkan meliputi radio swasta nasional da n lokal, dengan berbagai program dan topik pesan. Sedangkan acara peny uluhan kesehatan melalui televisi, mulai berlangsung sejak tahun 1960-an akhir a tau 1970-an awal. Pada waktu itu televisi pada umumnya masih hitam putih, dan bi ntangnya adalah dr. Herman Susilo, MPH, kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta waktu itu, dibantu oleh Drs. Tarzan Panggabean, dari unit PKM DKI Jakarta. Penyuluhan kesehatan berupa nasehat-nasehat yang diberikan oleh dokter kepada pasiennya ya ng datang berobat dengan berbagai penyakit yang dideritanya. Acara itu cukup ber kesan di masyarakat, dan banyak anak yang mengidolakan profil dr. Herman Susilo. Acara ini tetap berlangsung meskipun dr. Herman Susilo sudah tidak lagi menjaba t sebagai kepala Dinas Kesehatan DKI. Kemudian juga ada penyuluhan kesehatan yan g diberikan oleh dr. Sumaryati Aryoso, SKM, yang waktu itu menjabat sebagai kepa la Unit PKM DKI Jakarta. Penyuluhan dilakukan dalam bentuk dialog dengan beberap a orang penanya yang hadir di studio tentang berbagai penyakit atau masalah kese hatan yang ada di masyarakat. Selanjutnya pada sekitar tahun 1980-1995 itu, penyuluhan kesehatan melalui TVRI diorganisir oleh Direktorat PKM melalui beberapa acara, antara lain: 1. Sebaiknya Anda Tahu, yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan keseha tan/penyakit yang perlu diketahui oleh masyarakat luas. 2. Dari Desa Ke Desa, mengekspose kegiatan masyarakat desa dalam melakukan up aya-upaya yang dilakukan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesehatan masyar akatnya. 3. Dewasa Kita, mengekspose satu desa yang masyarakatnya giat melakukan upaya kesehatan di desanya. 4. Bentuk acara lain, misalnya tentang mereka (petugas kesehatan atau kader k esehatan) yang berhasil membangun kesehatan masyarakat di wilayahnya. Selain itu juga pesan-pesan kesehatan melalui sandiwara boneka ”Si Unyil”, ”Ria Jenaka”, dll. Seme ntara itu lagu ”Aku Anak Sehat” juga sering berkumandang melalui TVRI. Acara-acara tersebut cukup berjalan dengan baik. Khusus acara nomor 2 dan 3 sangat merangsang desa-desa lain, dan sering sekali mendapat dukungan kuat dari Pemerintah Daerah setempat. Sinetron Dr. Sartika dan Bidan Minati Pada sekitar tahun 1980-an itu ada drama TV ”Losmen” yang sangat digemari masyarakat. Kemudian Menkes pada waktu itu, Dr. Soewardjono Soerjaningrat memang

gil Dr. IB Mantra, Kapus PKM waktu itu untuk menjajagi adanya sinetron seperti ”Lo smen”. Diadakanlah pendekatan kepada Ami Priyono dan Wahyu Sihombing. Disepakatila h harga per episode waktu itu Rp. 25 juta bersih. Padahal drama Losmen hanya Rp. 14 juta. Setelah dibuat proposal, Bappenas memberikan persetujuan, bahkan harga nya menjadi Rp. 30 juta karena harus dilakukan melalui tender. Maka di rancanglah sinetron khusus untuk menyebar luaskan pesan-pesan kesehatan ini, yan g diberi nama: Dr. Sartika. Skenario naskah disusun oleh Ibu Maryati Sihombing. Sedangkan konsultan materi adalah program-program di lingkungan Depkes. Pengatur pesan-pesan kesehatan menjadi tanggungjawab Pusat PKM dengan ”contact person” : Drs . Oendang Badruzzaman, staf Pusat PKM. Para bintangnya antara lain: Dewi Yull ya ng memerankan Dr. Sartika, Dwi Yan sebagai Dr. Imam, dll. Tetapi ada saja kecolo ngan. Misalnya cuci tangan di ember. Maka selain meneliti naskah, diperlukan pul a supervisi ke lapangan. Maka dalam setiap ”shooting” yang dilakukan di luar studio, staf PKM pada umumnya selalu menlakukan supervisi lapangan. Program s inetron Dr. Sartika ini mendapat sambutan hangat masyarakat. Sinetron ini meskip un berisi pesan-pesan kesehatan, tetapi dijalin dengan masalah keluarga dan masy arakat, sehingga pesan-pesannya mengalir, tidak menggurui dan ”alamiah”. Melalui sin etron ini masyarakat dapat belajar hidup sehat serta menjadikan Puskesmas sebaga i tempat pelayanan kesehatan bagi yang membutuhkannya (tidak pergi ke dukun). Si netron ini sekaligus juga berisi informasi kepada para petugas Puskesmas, untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan benar. Sinetron tersebut juga menja di rujukan dan penghubung antara program dan petugas Puskesmas. Selain itu sinet ron ”Dr. Sartika” ini juga memberikan dampak positif kepada para artis pendukungnya. Misalnya, ada artis yang semula perokok berat kemudian menghentikan kebiasaan m erokoknya tersebut. Program ini berjalan sampai 39 episode, dan berjalan selama sekitar empat tahun (1989-1992). Harga per episode berkembang dari sekitar Rp 25 juta menjadi sekitar Rp. 250 juta. Program ini berhenti, karena beberapa alasan . Antara lain pada waktu itu sudah mulai ada beberapa saluran TV swasta yang men yediakan banyak pilihan acara lain. Selain itu biaya produksi dan tayang semakin mahal, sehingga sponsor program ini akhirnya tidak melanjutkan acara ini. Sinet ron Dr. Sartika ini pernah mau dihidupkan lagi, tetapi ada beberapa kendala sehi ngga sampai sekarang belum berhasil. Selain sinetron Dr. Sartika juga dikembangkan film-film lepas. Antara lain mini seri film yang berjudul: ”Minati Bi dan Tercinta”. Film ini bertujuan untuk mempromosikan bidan di desa yang pada wakt u itu kurang memperoleh sambutan masyarakat, karena banyak di antara mereka yang masih lajang dan belum mempunyai banyak pengalaman menolong persalinan. Pemeran utama film ini adalah Uci Bing Slamet. Mini seri ini berjalan baik meskipun sam butan masyarakat tidak sehangat sebagaimana pada Dr. Sartika. Sinetron Kupu-kupu Ungu dan acara-acara lainnya Selain kedua sinetron tersebut, juga ada sinetron lepas dengan judul ”Re lung Hati”, yang dibintangi oleh Drg. Fadli dan Minati Atmanagara, untuk mempromos ikan dokter Inpres. Sinetron lepas lainnya adalah ”Pengakuan” yang dibintangi oleh L eila Anggraeni dll, untuk menunjang program Kesehatan Ibu dan Anak. Sedangkan un tuk menunjang program air dibuat film dengan judul : ”Cintaku pada Gemericik Air”. Kemudian pada sekitar tahun 1994 persoalan HIV/AIDS mulai marak. Pada w aktu itu di Ford Foundation Perwakilan Indonesia ada Dr. Rosalia (orang Itali ya ng bersuamikan orang Indonesia) yang sangat peduli dengan HIV/AIDS. Melalui Ford Foundation disponsorilah berbagai kegiatan penanggulangan HIV/AIDS, antra lain sinetron di televisi. Maka dibuatlah sinetron, dengan judul: ”Kupu-kupu ungu”. Sutra dara dan penulis skenario adalah Nino Riantarno, dengan bintang utamanya: Nurul Arifin. Untuk menulis skenario tersebut berkumpul beberapa orang pakar yang mewa kili beberapa unit program di Depkes dan beberapa unsur swasta/LSM. ”Contact perso n” dari Pusat PKM adalah Ir. Ninik Suharini Sahal. Sinetron ini disiarkan di RCTI, dibuat sampai 13 episode, menyajikan persoalan HIV/AIDS dari berbagai segi pand ang, termasuk HIV/AIDS pada anak, ibu rumah tangga, Pekerja Seks Komersial, ODHA , dll. Beberapa judul sinetron ini bahkan diminta untuk disajikan pada festival film Asia di Amsterdam pada sekitar tahun 1995 dan di Kualumpur pada sekitar tah un 1999. Penyuluhan melalui televisi selain melalui sinetron juga mela lui acara-acara lain seperti: kompetisi lagu-lagu kesehatan: ada versi pop, dang

dut dan rock. Juga melalui lagu-lagu gambang kromong Benyamin S dan Ida Royani. Selanjutnya yang semakin marak sampai sekarang adalah penyampaian pesan melalui ”f iller” atau iklan layanan masyarakat. Sudah banyak sekali ”filler” yang ditayangkan me ngenai berbagai macam program. Salah satunya yang cukup terkenal pada waktu itu adalah dengan judul: ”Jangan Lupa” yang disampaikan oleh Butet Kertajaya dengan koca knya, sehingga setiap kita melihat dan mendengar suaranya: ”Jangan Lupa” kita lalu i ngat pesan-pesannya tentang HIV/AIDS. Juga filler tentang Ibu Hamil, Napza/Narko ba, Gizi, Gaya Hidup Sehat, dll. Dan kita juga akan selalu ingat filler tentang Pekan Imunisasi Nasional yang dibawakan oleh kelompok Rano Karno dan Mandra yang waktu itu sangat tenar. Pesan-pesan kesehatan yang disebar luaskan me lalui media televisi dan kerjasama dengan para artis ini tetap berlangsung sampa i sekarang. Beberapa cukup berhasil membina suasana dan mengajak masyarakat untu k berbuat sesuatu. Namun beberapa juga ada yang kurang mendapat sambutan masyara kat. Perlu diakui bahwa tayangan melalui teleivisi itu biayanya sangat mahal. Pada hal pada saat ini pilihan saluran TV cukup banyak, sehingga upaya p enyebar luasan informasi melalui televisi ini perlu dihitung dengan cermat plus minusnya. Evaluasi terhadap program kesehatan di televisi ini seharusnya dilakuk an, untuk lebih mengetahui efektifitas dan efisiensinya, dan terutama untuk dapa t lebih memahami aspirasi masyarakat terhadap pesan-pesan kesehatan. S elanjutnya selain sinetron, film lepas atau filler tersebut juga diproduksi kase t dan VCD, berisi lagu, film atau pesan nlainnya. Media-media tersebut kemudian disebar luaskan ke beberapa media televisi dan radio, baik yang ada di Jakarta m aupun di kota-kota lainnya. Dikembangkan pula pesan-pesan atau tulisan melalui i nternet, dengan kode: www.promosikesehatan.com. Pusat Promkes sekarang juga memb uka saluran melalui email dengan kode: pa@promosikesehatan.com. Bab V ERA PROMOSI KESEHATAN DAN PARADIGMA SEHAT (Kurun waktu 1995-2005) “Dream children, dream, otherwise you won’t have anything to live for” (The 4th ICHP, Jakarta, 1997) Munculnya Istilah Promosi Kesehatan Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) sebenarnya sudah mulai di cetuskan setidaknya pada tahun 1986, pada waktu diselenggarakan Konferensi Inter national Pertama tentang Health Promotion di Ottawa, Canada, pada tahun 1986. Pa da waktu itu dicanangkan the Ottawa Charter, yang memuat definisi dan prinsip-pr insip dasar Health Promotion. Namun istilah tersebut pada waktu itu di Indonesia belum bergema. Pada waktu itu, istilah yang ada tetap Penyuluhan Kesehatan, dis amping juga populer istilah-istilah lain seperti: KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), Pemasaran Sosial (Social Marketing), Mobilisasi Sosial, dll. Suatu ketika pada sekitar akhir tahun 1994, Dr. Ilona Kickbush, yang baru saja menjabat sebagai Direktur Health Promotion WHO Headquarter Geneva, datang ke In donesia. Sebagai direktur baru ia mengunjungi beberapa negara, termasuk Indonesi a. Kebetulan pada waktu itu Kepala Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes juga baru s aja diangkat, yaitu Drs. Dachroni MPH, yang menggantikan Dr. IB Mantra yang purn a bakti (pensiun). Dengan kedatangan Dr. Kickbush, diadakanlah pertemuan dengan pimpinan Depkes dan pertemuan lainnya baik internal penyuluhan kesehatan maupun external dengan lintas program dan lintas sektor, termasuk FKM UI. Bahkan sempat pula mengadakan kunjungan lapangan ke Bandung, yang diterima dengan baik oleh I bu Neni Surachni (kepala Sub Dinas PKM Jabar waktu itu) dan teman-teman lain di Bandung. Dari serangkaian pertemuan itu serta perbincangan selama kunjungan lapa ngan ke Bandung, kita banyak belajar tentang Health Promotion (Promosi Kesehatan ). Barangkali karena terkesan dengan kunjungannya ke Indonesia, ia kemudian meny ampaikan usulan agar Indonesia dapat menjadi tuan rumah Konferensi International Health Promotion yang keempat, yang sebenarnya memang sudah waktunya diselengga rakan. Usulan itu diterima oleh pimpinan Depkes (Menteri Kesehatan wak tu itu Prof. Dr. Suyudi). Kunjungan Dr. Kickbush itu ditindak lanjuti dengan kun jungan pejabat Health Promotion WHO Geneva lainnya, yaitu Dr. Desmond O Byrne, s ampai beberapa kali, untuk mematangkan persiapan konferensi Jakarta. Sejak itu k hususnya Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes berupaya mengembangkan konsep promosi kesehatan tersebut serta aplikasinya di Indonesia. Sebagai tuan rumah konferens i internasional tentang promosi kesehatan, seharusnyalah kita sendiri mempunyai

kesamaan pemahaman tentang konsep dan prinsip-prinsipnya serta dapat mengembangk annya paling tidak di beberapa daerah sebagai percontohan. Dengan demi kian penggunaan istilah promosi kesehatan di Indonesia tersebut dipacu oleh perk embangan dunia internasional. Nama unit Health Education di WHO baik di Headquar ter, Geneva maupun di SEARO, India juga sudah berubah menjadi Unit Health Promot ion. Nama organisasi profesi internasional juga sudah berubah menjadi Internatio nal Union for Health Promotion and Education (IUHPE). Istilah promosi kesehatan tersebut juga ternyata sesuai dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indon esia sendiri, yang mengacu pada paradigma sehat. Strategi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Bertolak dari prinsip-prinsip yang dapat dipelajari tentang Promosi Ke sehatan, pada pertengahan tahun 1995 dikembangkanlah Strategi atau Upaya Peningk atan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (disingkat PHBS), sebagai bentuk operasiona l atau setidaknya sebagai embrio promosi kesehatan di Indonesia. Strategi terseb ut dikembangkan melalui serangkaian pertemuan baik internal Pusat Penyuluhan Kes ehatan maupun external secara lintas program dan lintas sektor, termasuk dengan organisasi profesi, FKM UI dan LSM. Beberapa hal yang dapat disarikan tentang pokok-pokok Promosi Kesehatan (Health Promotion) atau PHBS yang merupaka n embrio Promosi Kesehatan di Indonesia ini, adalah bahwa: 1. Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses pember dayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (th e process of enabling people to control over and improve their health), lebih lu as dari Pendidikan atau Penyuluhan Kesehatan. Promosi Kesehatan meliputi Pendidi kan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merup akan bagian penting (core) dari Promosi Kesehatan. 2. Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan (dapat dikatakan) menekankan pada upaya pe rubahan atau perbaikan perilaku kesehatan. Promosi Kesehatan adalah upaya peruba han/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi li ngkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku d an kualitas kesehatan. 3. Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai perpaduan dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan re habilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif. Promo si Kesehatan juga merupakan upaya untuk menjajakan, memasarkan atau menjual yang bersifar persuasif, karena sesungguhnya “kesehatan” merupakan “sesuatu” yang sangat lay ak jual, karena sangat perlu dan dibutuhkan setiap orang dan masyarakat. 4. Pendidikan/penyuluhan kesehatan menekankan pada pendekatan edukatif, sedan gkan pada promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan eduka tif yang banyak dilakukan pada tingkat masyarakat di strata primer (di promosi k esehatan selanjutnya digunakan istilah gerakan pemberdayaan masyarakat), perlu d ibarengi atau didahului dengan upaya advokasi, terutama untuk strata tertier (ya itu para pembuat keputusan atau kebijakan) dan bina suasana (social suppoprt), k hususnya untuk strata sekundair (yaitu mereka yang dikategorikan sebagai para pe mbuat opini). Maka dikenallah strategi ABG, yaitu Advokasi, Bina Suasana dan Ger akan/pemberdayaan Masyarakat. 5. Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan, masalah diangkat dari apa yang ditem ui atau dikenali masyarakat (yaitu masalah kesehatan atau masalah apa saja yang dirasa penting/perlu diatasi oleh masyarakat, now(), now()); Pada PHBS, masyarak at diharapkan dapat mengenali perilaku hidup sehat, yang ditandai dengan sekitar 10 perilaku sehat (health oriented). Masyarakat diajak untuk mengidentifikasi a pa dan bagaimana hidup bersih dan sehat, kemudian mengenali keadaan diri dan lin gkungannya serta mengukurnya seberapa sehatkah diri dan lingkungannya itu? Pende katan ini kemudian searah dengan paradigma sehat, yang salah satu dari tiga pila r utamanya adalah perilaku hidup sehat. (Sebenarnya ini tidak baru, karena dalam Posyandu, masalah juga sudah difokuskan pada sekitar 5 masalah prioritas). 6. Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan yang menonjol adalah pendekatan di ma syarakat (melalui pendekatan edukatif), sedangkan pada PHBS/promosi kesehatan di kembangkan adanya 5 tatanan: yaitu di rumah/tempat tinggal (where we live), di s

ekolah (where we learn), di tempat kerja (where we work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana kesehatan (where we get health s ervices). Dari sini dikembangkan kriteria rumah sehat, sekolah sehat, tempat ker ja sehat, tempat umum sehat, dll yang mengarah pada kawasan sehat seperti : desa sehat, kota sehat, kabupaten sehat, dll sampai ke Indonesia Sehat. 7. Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang diland asi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaa t (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarak at termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program da n lintas sektor. 8. Sebagaimana pada Pendidikan dan Penyuluhan, Promosi Kesehatan sebenarnya j uga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk mengukur hasil kegi atan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang le bih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, b ina suasana, gerakan sehat masyarakat, dll. Karena dituntut untuk dapat mengukur hasil kegiatannya, maka promosi kesehatan mengaitkan hasil kegiatan tersebut pa da jumlah tatanan sehat, seperti: rumah sehat, sekolah sehat, tempat kerja sehat , dst. Konsep Promosi Kesehatan dan/atau PHBS tersebut selanjutnya digulirkan ke daerah dan beberapa daerah mencoba mengembangkannya paling tidak di beberapa kabupaten . Konferensi Internasional Health Promotion IV dan Deklarasi Jakarta Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV ini terselenggara pada b ulan Juli 1997 bertempat di Hotel Horison, Ancol, Jakarta. Konferensi I di Ottaw a, Canada (1986) menghasilkan ”Ottawa Charter”, memuat 5 strategi pokok Promosi Kese hatan, yaitu : (1) Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy pu blic policy, now(), now()); (2) Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportiv e environment, now(), now()); (3) Memperkuat gerakan masyarakat (community actio n, now(), now()); (4) Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills) ; da n (5) Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services). Konferensi II di Adelaide, Australia (1988), membahas lebih lanjut tentang p engembangan kebijakan yang berwawasan kesehatan, dengan menekankan 4 bidang prio ritas, yaitu: (1) Mendukung kesehatan wanita; (2) Makanan dan gizi; (3) Rokok da n alkohol; dan (4) Menciptakan lingkungan sehat. Pada tahun 1989 diadakan pertem uan Kelompok Promosi Kesehatan negara-negara berkembang di Geneva, sebagai serua n untuk bertindak (A call for action). Dalam pertemuan ini ditekankan bahwa 3 st rategi pokok promosi kesehatan untuk pembangunan kesehatan: (1) Advokasi Kebijak an (advocacy, now(), now()); (2) Pengembangan aliansi yang kuat dan sistem dukun gan sosial (social support, now(), now()); dan (3) Pemberdayaan masyarakat (empo werment). Selanjutnya pada tahun 1991 diselenggarakan Konferensi ke II I di Sundval, Swedia. Konfrensi ini menghasilkan pernyataan perlunya dukungan li ngkungan untuk kesehatan. Untuk dukungan ini diperlukan 4 strategi kunci, yakni: (1) Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat; (2) Memberdayakan masyara kat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan lingkungannya melalui pendidik an dan pemberdayaan; (3) Membangun aliansi; dan (4) Menjadi penengah diantara be rbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat. Ketiga konferensi int ernasional tersebut diselenggarakan di negara maju. Timbul pertanyaan apakah pro mosi kesehatan itu hanya sesuai untuk negara maju saja dan tidak cocok untuk neg ara berkembang? Untuk membantah keraguan itu, maka konferensi yang ke IV ini dis elenggarakan di salah satu negara sedang berkembang. Indonesia memperoleh kehorm atan untuk menjadi penyelenggaranya yang pertama. Konferensi ke IV di Jakarta ini dihadiri oleh sekitar 500 orang dari 78 negara, termasuk sekitar 150 orang Indonesia, khususnya dari daerah. Ini karena konferensi tersebut juga mer upakan konferensi nasional promosi kesehatan yang pertama (Selanjutnya nanti ada konferensi nasional kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, tahun 2000, dan konferens i nasional ketiga di Yogyakarta, tahun 2003). Konferensi dibuka oleh Presiden RI , Bapak Soeharto, di Istana Negara. Selain pembicara-pembicara internasional, ju ga tampil pembicara Indonesia, yaitu Prof Dr. Suyudi selaku Menteri Kesehatan, d

an Prof. Dr. Haryono Suyono, selain selaku Menteri Kependudukan juga sebagai pak ar komunikasi. Pada acara Indonesia Day, tampil pembicara-pembicara dari berbaga i program, sektor dan daerah, menyampaikan pengalamannya dalam berbagai kegiatan promosi kesehatan atau pendidikan kesehatan dalam program atau daerah masing-ma sing (diselenggarakan dalam sidang-sidang yang berjalan secara serentak/pararel) . Konferensi ini bertema: “New players for a new era: Leading Health Pro motion into the 21st century” dan menghasilkan Deklarasi Jakarta, yang diberi nama : “The Jakarta Declaration on Health Promotion into the 21st Century”. Selanjutnya D eklarasi Jakarta ini memuat berbagai hal, antara lain sebagai berikut: * Bahwa Konferensi Promosi Kesehatan di Jakarta ini diselenggarakan hampir 2 0 tahun setelah Deklarasi Alma Ata dan sekitar 10 tahun setelah Ottawa Charter, serta yang pertama kali diselenggarakan di negara sedang berkembang dan untuk pe rtama kalinya pihak swasta ikut memberikan dukungan penuh dalam konferensi. * Bahwa Promosi Kesehatan merupakan investasi yang berharga , yang mempengar uhi faktor-faktor penentu di bidang kesehatan guna mencapai kualitas sehat yang setinggi-tingginya. * Bahwa Promosi Kesehatan sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantan gan dan perubahan faktor penentu kesehatan. Berbagai tantangan tersebut seperti: adanya perdamaian, perumahan, pendidikan, perlindungan sosial, hubungan kemasya rakatan, pangan, pendapatan, pemberdayaan perempuan, ekosistem yang mantap, pema nfaatan sumber daya yang berkelanjutan, keadilan sosial, penghormatan terhadap h ak-hak azasi manusia, dan persamaan, serta kemiskinan yang merupakan ancaman ter besar terhadap kesehatan, selain masih banyak ancaman lainnya. * Bahwa untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul terhadap kesehatan d iperlukan kerjasama yang lebih erat , menghilangkan sekat-sekat penghambat, sert a mengembangkan mitra baru antara berbagai sektor, di semua tingkatan pemerintah an dan lapisan masyarakat. * Bahwa prioritas Promosi Kesehatan abad 21 adalah : 1. Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan; 2. Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan; 3. Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan; 4. Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat; 5. Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan. * Selanjutnya menyampaikan himbauan untuk bertindak, dengan menyusun rencana aksi serta membentuk atau memperkuat aliansi promosi kesehatan di berbagai ting katan, mencakup a.l. : (1) Membangkitkan kesadaran akan adanya perubahan faktor penentu kesehatan; (2) Mendukung pengembangan kerjasama dan jaringan kerja untuk pembangunan kesehatan; (3) Mendorong keterbukaan dan tanggungjawab sosial dalam promosi kesehatan. Era Paradigma Sehat: Visi dan Misi Promosi Kesehatan Pada tahun 1998 Presiden Soeharto digantikan oleh Presiden Habibie. Se bagai Menteri Kesehatan ditetapkan Prof. Dr. Farid Anfasa Moeloek. Setelah melal ui persiapan antara lain pertemuan dengan para pakar, pertemuan nasional dengan daerah-daerah, pertemuan lintas sektor dan dengar pendapat dengan DPR, pada 1 Ma ret 1999 oleh Presiden Habibie dicanangkan : “Gerakan Pembangunan yang Berwawasan Kesehatan”, atau dikenal dengan “Paradigma sehat”. Sebagai konsekwensinya adalah bahwa semua pembangunan dari semua sektor harus mempertimbangkan dampaknya di bidang kesehatan, minimal harus memberi kontribusi dan tidak merugikan pertumbuhan ling kungan dan perilaku sehat. Disebutkan bahwa visi pembangunan kesehatan adalah: I ndonesia Sehat 2010, dengan misi: (1) Menggerakkan pembangunan nasional yang ber wawasan kesehatan; (2) Mendorong kamandirian masyarakat untuk hidup sehat; (3) M eningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu; dan (4) Meningkatkan kesehatan ind ividu, keluarga dan masyarakat termasuk lingkungannya. Salah satu pilar Indonesi a Sehat 2010 tersebut adalah : perilaku sehat, disamping dua pilar lainnya yaitu : lingkungan sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata. Ditetapkan pula strategi pembangunan kesehatan beserta program-program pokok nya. Dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) disebutkan bahwa salah satu p

rogram pokok pembangunan kesehatan adalah peningkatan perilaku sehat dan pemberd ayaan masyarakat, yang karenanya menempatkan promosi kesehatan sebagai salah sat u program unggulan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 dan Rencana Strategis (Renstra) Depkes 2005-2009 juga disebutkan bahwa Promosi Kesehatan merupakan program tersendiri dan diposisikan pada urutan pertama. Ini menegaskan bahwa Paradigma Sehat dengan Visi Indonesia Sehat-nya tersebut sangat sesuai dengan Deklarasi Jakarta, dan dengan demikian promosi kesehatan (termasu k PHBS), yang berorientasi pada perilaku hidup sehat, semakin memperoleh pijakan yang kuat. Selanjutnya masing-masing program termasuk Promosi Kesehat an menyusun visi, misi dan program kegiatannya, serta sasaran atau target yang h arus dapat terukur. Dalam kaitan itu ditetapkan Visi Promosi kesehatan yaitu : B erkembangnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Misinya adalah: (1) Melakukan advokasi kebijakan publik yang berdampak positif pada kesehatan; (2) Mensosialisasikan pesan-pesan kesehatan; (3) Mendorong gerakan-gerakan sehat di masyarakat; Strategi pokok Promosi Kesehatan disingkat ABG, yaitu : (1) Advokasi , yaitu upaya untuk mempengaruhi kebijakan agar memberikan kontribusi pada pertu mbuhan perilaku dan lingkungan sehat; (2) Bina Suasana, yaitu upaya pembentukan opini publik untuk mengembangkan norma hidup sehat; dan (3) Gerakan pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya untuk menggerakkan dan memberdayakan semua komponen mas yarakat untuk hidup sehat. Dari visi, misi dan strategi tersebut diren canakan delapan kegiatan pokok, yaitu: (1) Upaya advokasi; (2) Pembinaan suasana ; (3) Pemberdayaan masyarakat; (4) Pengembangan kemitraan; (5) Pengembangan SDM; (6) Pengembangan Iptek Promosi Kesehatan; (7) Pengembangan media dan sarana; (8 ) Pengembangan infra struktur Promosi kesehatan. Visi, misi, strategi, kegiatan pokok beserta rincian kegiatan dan tolok ukurnya dan lain-lainnya ditu angkan dalam pendoman tehnis Program Promosi Kesehatan. Kemudian hari dengan beb erapa perbaikan dan penyempurnaan, pedoman tersebut dukukuhkan dengan SK Menteri Kesehatan RI menjadi Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Promosi Kesehatan Di Era Reformasi Dan Desentralisasi Lahirnya semangat reformasi yang ditingkahi dengan terjadinya perganti an pemerintahan pada tahun 1998 telah membawa perubahan fundamental dalam kehidu pan bangsa dan negara Indonesia. Angin reformasi yang bertiup kencang sejak leng sernya Presiden Soeharto memperoleh wadahnya dalam sidang-sidang MPR, yang merup akan lembaga tertinggi negara. Akhirnya dilakukan amandemen terhadap UUD 1945, s esuatu yang “diharamkan” pada era sebelumnya. Amandemen tersebut bahkan dilakukan be berapa kali, antara lain menyangkut tentang penghapusan lembaga Dewan Pertimbang an Agung, dibentuknya Mahkamah Konstitusi, ada Dewan Perwakilan Daerah (DPD), pe milihan Presiden dan Wakil Presiden RI secara langsung oleh rakyat, dll. Salah satu perubahan yang mendasar adalah bergantinya sistem pemerintahan sen tralisasi menjadi desentralisasi, atau otonomi daerah. Semangat inilah yang meng ilhami diundangkannya UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 32 tahun 2004 tentang Peme rintahan Daerah serta UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat da n Daerah yang diberlakukan pada tahun 2001. Sesuai dengan UU tersebut, maka Gube rnur, Bupati dan Walikota kini dipilih langsung oleh rakyat dan karenanya mempun yai kewenangan yang sangat menentukan, termasuk dalam penentuan organisasi daera h, jabatan dan personilnya. Sementara itu lembaga legislatif, baik DPR di Pusat maupun DPRD di daerah mempunyai kewenangan yang lebih besar (bahkan sangat besar ) dalam penyusunan anggaran keuangan baik Pusat maupun Daerah. Berkaitan dengan itu, partai-partai politik mempunyai peranan yang sangat menentukan, melalui wak il-wakilnya yang duduk di pemerintahan (ekskutif) dan lembaga perwakilan (legisl atif), baik di Pusat maupun di daerah. Untuk mengantisipasi hal ini De partemen Kesehatan dalam hal ini Promosi Kesehatan menyelenggarakan pertemuan de ngan Bupati dan Walikota seluruh Indonesia pada bulan Juli 2000 yang menyepakati tentang perlunya perhatian Daerah secara lebih sungguh-sungguh terhadap program kesehatan, kelembagaan, ketenagaan serta anggaran yang mendukungnya. Berbagai p ertemuan khusus untuk menjelaskan dan mendiskusikan tentang Paradigma Sehat dan Visi Indonesia sehat 2010 juga diselenggarakan kepada partai-partai politik dan anggota DPR kkhususnya komisi yang mengurusi bidang kesehatan. Demikia n pula dengan tujuan yang sama beberapa kali pertemuan khusus juga digelar di da

erah, paling tidak di beberapa propinsi, seperti Banten, Sumatera Selatan, Bangk a Belitung, Sumatera Barat, dll. Belum lagi panduan tertulis tentang penanganan program-program kesehatan termasuk promosi kesehatan di daerah. Selanj utnya dalam rangka desentralisasi dan otonomi daerah, setelah dilakukan pembahas an dan sosialisasi dengan daerah, telah ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan t entang Stándar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Salah s atu SPM bidang kesehatan tersebut adalah tentang Penyuluhan perilaku sehat, yang harus mencakup setidaknya: Rumah tangga sehat (65%) dan Desa Posyandu Purnama ( 40%). Selain itu juga ditetapkan bahwa promosi kesehatan merupakan salah satu pe layanan yang wajib dilakukan di Puskesmas. Pengembangan Jaringan Dan Kemitraan Pada era ini juga ditandai dengan berkembangan jaringan (networking) d an kemitraan (partnership) antara unit promosi kesehatan dengan berbagai pihak, baik sektor pemerintah maupun swasta dan masyarakat, baik regional maupun global . Secara nasional dapat disebutkan a.l. : (1) Forum Komunikasi Promosi Kesehatan, yang anggotanya adalah unit atau lembaga (pemerintah dan masyarakat) yang peduli dengan upaya promosi kesehatan; (2) Koalisi Indonesia Sehat (anggot a: berbagai unit pemerintah dan swasta serta masyarakat yang peduli pada Indones ia Sehat, now(), now()); (3) Forum Komunikasi Penanggulangan Masalah Tembakau (a nggota: unit, organisasi profesi dan lembaga peduli masalah rokok/tembakau, now( ), now()); (4) Jaringan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular; (5) Dan lain-lain , seperti: Forum Pengembangan Kota Sehat, Forum Penanggulangan Penyakit TBC, dll . Secara regional dan global dapat disebutkan: Mega country Health Pro motion Network, yaitu jaringan sekitar 10 negara di dunia yang berpenduduk 100 j uta lebih dalam bidang promosi kesehatan; International Network for Health Promo tion Foundation (Indonesia diwakili oleh Unit Promkes sebelum mempunyai Yayasan Promosi Kesehatan yang mandiri, now(), now()); International Union for Health Pr omotion and Education (organisasi profesi Promosi kesehatan yang bersifat intern asional), dll. Dalam kaitan itu diselenggarakan beberapa kali pertemuan internas ional (di Geneva, Jakarta, Meksiko, Bangkok, Melbourne, dll). Dalam ra ngka pengembangan jaringan dan kemitraan itu maka sejak tahun 2000, penyelenggar aan Hari Kesehatan Nasional dilakukan bersama oleh swasta dan sektor di luar Dep kes, sedangkan Depkes dalam hal ini Promosi Kesehatan berperan sebagai sekretari atnya. Dengan penyelenggaraan oleh swasta itu terasa bahwa Hari Kesehatan lebih bergema. Demikianlah maka sejak tahun 2000, pada setiap acara puncak HKN Preside n RI (yaitu Gus Dur, Mbak Mega dan Pak SBY) selalu hadir dan menyampaikan pesanpesan kesehatan yang diliput oleh media massa secara luas. SKN 2004 dan Promosi Kesehatan Pada tahun 2004 oleh Menteri Kesehatan (Dr. Achmad Sujudi) ditetapkanl ah Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang baru, sebagai pengganti SKN lama (tahun 1982). SKN baru ini dimaksudkan antara lain untuk mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia dan memperjelas penyelenggara an pembangunan kesehatan sesuai visi dan misinya. Disebutkan bahwa SKN adalah su atu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan s aling mendukung, guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. Sedang kan pada hakekatnya SKN adalah juga merupakan wujud dan sekaligus metode penyele nggaraan pembangunan kesehatan, yang memadukan berbagai upaya Bangsa Indonesia d alam satu derap langkah guna menjamin tujuan pembangunan kesehatan. Sedangkan tu juannya adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil guna dan be rdaya guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tinggin ya. Apa kaitannya dengan Promosi Kesehatan? Dalam SKN tersebut disebut kan adanya 7 prinsip dasar. Prinsip ke 4 adalah Prinsip Pemberdayaan dan Kemandi rian Masyarakat, dan prinsip ke 5 adalah Prinsip Kemitraan. Tanpa mengurangi art i upaya kesehatan lainnya, kedua prinsip tersebut sangat erat kaitannya dengan r uang lingkup upaya promosi kesehatan. Selain itu SKN ini terdiri 6 subsistem, sa lah satunya adalah; Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. Disebutkan bahwa Subsiste

m pemberdayaan masyarakat adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya perorang an, kelompok dan masyarakat umum di bidang kesehatan secara terpadu dan saling m endukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-ti ngginya. Sedangkan tujuannya adalah terselenggaranya upaya pelayanan, advokasi d an pengawasan sosial oleh perorangan, kelompok dan masyarakat di bidang kesehata n dsn seterusnya. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat dengan segala uraiannya itu tentu saja merupakan ranah (domein) Promosi Kesehatan. Promosi Kesehatan Pada Program-program Kesehatan Sebenarnya pada setiap program kesehatan ada komponen promosi kesehata nnya, karena semua masalah kesehatan mengandung komponen perilaku. Namun karena keterbatasan sumberdaya, pada kurun waktu ini secara nasional, promosi kesehatan terbatas pada beberapa program prioritas saja. Program-program kesehatan terseb ut adalah: Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak (Khususnya Pertolongan persalinan dan Pe nggunaan ASI Eklusif), Peningkatan Gizi Keluarga dan Masyarakat (termasuk GAKY), Kesehatan Lingkungan (khususnya penggunaan air bersih, penggunaan toilet/jamban , mencuci tangan dengan sabun), Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (khususnya Aktivitas fisik, makan gizi seimbang dan masalah merokok), Penanggulangan penya lahgunaan NAPZA, dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Di daerah , prioritas program tersebut disesuaikan dengan keadaan, masalah dan potensi dae rah. Selain itu juga dilakukan promosi kesehatan untuk mendukung beber apa program khusus. Sebagai contoh adalah kampanye Pekan Imunisasi Nasional (dal am rangka penanggulangan polio). Demikian pula dalam penanggulangan HIV/AIDS yan g dilakukan promosi kesehatan secara lintas sektoral, juga dalam menghadapi SARS . Selain itu dilakukan pula promosi kesehatan dalam rangka penanggulangan masala h tembakau, promosi penggunaan obat generik, dll. Perlu diakui bahwa masih banya k promosi kesehatan untuk berbagai program kesehatan lainnya yang belum dapat te rtangani. Era Globalisasi Dan Promosi Kesehatan Kurun waktu 2000 an ini juga merupakan era globalisasi. Batas-batas an tar negara menjadi lebih longgar. Persoalan menjadi lebih terbuka. Berkaitan den gan era globalisasi ini dapat menimbulkan pengaruh baik positif maupun negatif. Di satu pihak arus informasi dan komunikasi mengalir sangat cepat. Ilmu pengetah uan dan teknologi berkembang pesat. Dunia menjadi lebih terpacu dan maju. Di pih ak lain penyakit menular yang ada di satu negara dapat menyebar secara cepat ke negara lain apabila negara itu rentan atau rawan. Misalnya AIDS, masalah merokok , penyalahgunaan NAPZA, dll sudah menjadi persoalan dunia. Demikian pula budaya negatif di satu bangsa/negara dengan cepat juga dapat masuk dan mempengaruhi bud aya bangsa/negara lain. Sementara itu khususnya di bidang Promosi Kese hatan, dalam era globalisasi ini Indonesia memperoleh banyak masukan dan perband ingan dari banyak negara. Melalui berbagai pertemuan internasional yang diikuti, setidaknya para delegasi memperoleh inspirasi untuk mengembangkan promosi keseh atan di Indonesia. Beberapa pertemuan itu adalah sebagai berikut : 1. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan. Konferensi ini bersifat resmi, para utusannya diundang oleh WHO dan mewakili negara. Selama kurun waktu 1995-2 005 ada tiga kali konferensi internasional, yaitu: the 4th International Confere nce on Health Promotion, Jakarta, 1997, the 5th International Conference on Heal th Promotion, Mexico City, 2000, dan the 6th Global Conference on Health Promoti on, Bangkok, 2005. Pada pertemuan di Bangkok istilah International Conference di ganti dengan Global Conference, a.l. karena dengan istilah “Global” tersebut menunju kkan bahwa sekat-sekat antar negara menjadi lebih tipis dan persoalan serta solu sinya menjadi lebih mendunia. Menkes RI yang hadir pada konferensi di Jakarta ad alah Prof. Dr. Suyudi yang juga menjadi pembicara kunci pada konferensi tersebut ; di Mexico City: Dr. Achmad Suyudi, yang juga menjadi salah satu pembicara kunc i dan bersama para menteri kesehatan dari negara-negara lain ikut menandatangani “Mexico Ministerial Statements on health Promotion”; dan yang hadir di Bangkok adal ah Drs. Richard Panjaitan, Staf Ahli yang mewakili Menteri Kesehatan yang harus berada di tanah air menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Konferensi d

i Bangkok ini menghasilkan “The Bangkok Charter”. Ketiga konferensi tersebut baik pr oses maupun hasil-hasilnya memberikan sumbangan yang bermakna dalam perkembangan promosi kesehatan di Indonesia. 2. Konferensi internasional Promosi dan Pendidikan Kesehatan. Konferensi ini bersifat keilmuan. Utusannya datang atas kemauan sendiri dengan mendaftar lebih dahulu. Penyelenggaranya adalah Organisasi Profesi, yaitu International Union fo r Health Promotion and Education. Dalam kurun waktu ini sebenarnya ada empat kal i pertemuan, tetapi Indonesia hanya hadir di tiga pertemuan yaitu di Ciba, Jepan g, tahun 1995, di Paris, Perancis, tahun 2001, dan Melbourne, Australia, 2004. I ndonesia tidak hadir pada pertemuan di Pourtorico, tahun 1998, karena situasi ta nah air yang tidak memungkinkan untuk pergi. Dengan mengikuti konferensi seperti ini, selain menambah wawasan dan gagasan, juga menambah teman dan jaringan. 3. Pertemuan-pertemuan WHO tingkat regional dan internasional. Pertemuan sepe rti ini biasanya diikuti oleh kelompok terbatas, antara 20-30 orang. Sifatnya me rupakan pertemuan konsultasi atau juga pertemuan tenaga ahli (expert). Pesertany a adalah utusan yang mewakili unit Promosi Kesehatan di masing-masing negara, at au perorangan yang dianggap ahli, yang diundang oleh WHO. Dalam kurun waktu 1995 -2005 beberapa kali diselenggarakan pertemuan konsultasi di New Delhi, India, di Bangkok, Thailand, di Jakarta, Indonesia, dan beberapa kali di Genewa, Swis, kh ususnya dalam kaitannya dengan Mega Country Health Promotion Network. Pertemuanpertemuan seperti ini juga memacu perkembangan promosi kesehatan di Indonesia. K husus dalam Mega country network ini diupayakan penanggulangan penyakit tidak me nular secara bersama melalui upaya aktivitas fisik, makan gizi seimbang dan tida k merokok. 4. Pertemuan regional ASEAN. Pertemuan ini diselenggarakan oleh negara-negara anggota ASEAN. Pertemuan seperti ini diselenggarakan beberapa kali, tetapi yang menyangkut promosi kesehatan diselenggarakan pada tahun 2002 di Vientiane, Laos . Pertemuan ini menghasilkan Deklarasi Vientiane atau Kesepakatan Menteri Keseha tan ASEAN tentang “Healthy ASEAN Lifestyle” (antara lain ditandatangani oleh Dr. Ach mad Suyudi selaku Menkes RI) yang pada pokoknya merupakan kesepakatan untuk meng intensifkan upaya-upaya regional untuk meningkatkan gaya hidup sehat penduduk AS EAN. Dalam kesepakatan itu ditetapkan antara lain tentang visinya, yaitu bahwa p ada tahun 2020 semua penduduk ASEAN akan menuju kehidupan yang sehat, sesuai den gan nilai, kepercayaan dan budaya lingkungannya. 5. Pertemuan-pertemuan internasional atau regional lainnya, seperti: Internat ional Conference on Tobacco and Health di Beijing, 1997; International Conferenc e on Working Together for better health di Cardiff, UK, 1998; dan masih banyak p ertemuan lainnya, misalnya tentang HIV/AIDS di Bangkok, Manila, dll; pertemuan t entang kesehatan lingkungan di Nepal; pertemuan tentang Health Promotion di Bang kok, di Melbourne, dll. Ini semua memperkuat jaringan dan semakin memantapkan la ngkah di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga banyak menerima kunjungan persahabatan dari negara-negara sahabat, kebanyakan dari negara-negara yang sedang berkembang sep erti dari Bangladesh, India, Myarmar, Sri Langka, Maladewa (Maldives) dan bebera pa negara di Afrika. Dalam kesempatan diskusi di kelas maupun kunjungan lapangan , mereka juga sering memberi masukan dan perbandingan tentang kegiatan promosi k esehatan. Promosi kesehatan melalui berbagai media Sebagaimana upaya promosi pada umumnya, Promosi kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan upaya untuk mempromosikan atau menjajagakan sesuatu yang berup a kesehatan. Kesehatan memang sesuatu yang sebenarnya sangat diperlukan oleh mas yarakat, tetapi masyarakat belum banyak yang memandangnya sebagai prioritas. Mak a benar sekali ungkapan Dr. Mahler, Dirjen WHO pada sekitar tahun 1985-an bahwa: “Health is not everything, but without health everything else is nothing”. Selain i tu kesehatan juga merupakan karunia Tuhan yang perlu disyukuri. Karenanya perlu dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Oleh karena itu seharusnya diperlukan promo si yang gencar untuk menjajakan kesehatan itu. Upaya mempromosikan kes ehatan itu antara lain dilakukan melalui berbagai media. Baik media cetak, elekt ronik maupun media luar ruang. Dalam hal ini media diposisikan sebagai sarana un

tuk membuat suasana yang kondusif terhadap perubahan perilaku yang positif terha dap kesehatan. Dalam bahasa promosi kesehatan, upaya tersebut disebut dengan: “bin a suasana”. Melalui media cetak telah dikembangkan berbagai leaflet, bro sur, poster, kalender, dan lain-lain. Setiap tahun unit Promosi Kesehatan mempro duksinya, terutama sebagai semacam “proto type” agar dapat dikembangkan lebih lanjut oleh daerah atau unit yang lain yang memerlukannya, sesuai dengan keadaan, masa lah dan potensi setempat.Juga dikembangkan “Logo Indonesia Sehat” yang dihasilkan me lalui lomba. Dalam rangka memfasilitasi penyelenggaraan promosi kesehatan di dae rah, disusunlah berbagai panduan, seperti: Panduan advokasi, panduan bina suasan a, panduan pemberdayaan masyarakat dan panduan pengembangan kemitraan. Selain itu Pusat Promosi Kesehatan juga menerbitkan majalah: “Interaksi” yang terbi t 3-4 kali setahun. Majalah itu merupakan forum untuk tukar menukar informasi, b aik yang berkaitan dengan ide/gagasan (disebut inter ide) , maupun hal-hal lain (melalui rubrik: inter nest, inter info, inter fokus, inter kajian, inter progra m, inter studi, inter etika, inter iman, dll). Alamat email redaksi majalah Inte raksi adalah: interaksi@hotmail.com, atau promkes@depkes.go.id. Kemudian juga ad a majalah khusus GAKY, yang berkaitan dengan informasi tentang Penanggulangan GA KY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium), Selanjutnya melalui media luar ruang, dikembangkan prototype baliho, misalnya mengenai Garam Yodium, Penanggul angan Masalah Rokok, dll. Beberapa pesan tentang masalah rokok sampai sekarang m asih terpampang di halaman parkir dan pintu masuk Dep-kes. Mobil jemputan pegawa i Depkes yang melewati jalan-jalan utama Jakarta juga pernah dipasangi pesan-pes an kesehatan. Dan setiap Hari Kesehatan Nasional dan hari-hari tertentu lainnya, Pusat Promosi Kesehatan bekrjasama dengan pihak-pihak lain juga menyelenggaraka n pameran kesehatan. Sedangkan melalui media elektronik, dilakukan pro mosi atau bina suasana melalui televisi, radio, dll. Antara lain sinetron Kupu-k upu ungu (13 episode) dan beberapa film lepas yang sudah disampaikan pada bab IV . Selanjutnya juga dilakukan penyampaian pesan melalui ”radio spot”, ”TV spot” atau ”fille r” mengenai berbagai macam program. Salah satunya yang cukup terkenal pada waktu i tu adalah dengan judul: ”Jangan Lupa” yang disampaikan oleh Butet Kertajaya dengan k ocaknya. Juga diproduksi filler tentang Penanggulangan GAKY, Ibu Hamil, Napza/Na rkoba, Gizi, Gaya Hidup Sehat, dll, serta khususnya tentang Pekan Imunisasi Nasi onal yang dibawakan oleh kelompok Rano Karno dan Mandra dengan sangat kocaknya. Sebagaimana disampaikan pada bab IV, pesan-pesan kesehatan yang diseba r luaskan melalui media televisi itu beberapa cukup berhasil membina suasana dan mengajak masyarakat untuk berbuat sesuatu. Namun beberapa juga ada yang kurang mendapat sambutan masyarakat. Pada umumnya orang tahu bahwa tayangan melalui tel eivisi itu biayanya sangat mahal. Sementara itu pada saat ini pilihan saluran TV cukup banyak, sehingga upaya penyebar luasan informasi melalui televisi ini per lu dihitung dengan cermat plus minusnya. Selanjutnya juga diproduksi k aset dan VCD, berisi lagu, film atau pesan lainnya, yang kemudian disebar luaska n ke daerah dan media. Dikembangkan pula pesan melalui internet, dengan kode: ww w.promosikesehatan.com, dan untuk interaksi dapat digunakan email dengan kode: p a@promosikesehatan.com. Profil Promosi Kesehatan 2003 Promosi Kesehatan adalah upaya yang menekankan pada proses dengan teta p memperhatikan hasil (the process as well as content). Beberapa hal yang dapat dicatat sebagai profil promosi kesehatan, secara rinci dapat dilihat di buku : P rofil Promosi Kesehatan 2003, sedangkan secara garis besar adalah sebagai beriku t: 1. Dalam upaya advokasi, telah dihasilkan beberapa keputusan yang menyangkut kebijakan yang berkaitan dengan: “social enforcement” garam beryodium, kawasan tanpa rokok, kabupaten/kota sehat, program langit biru, dll. Selain itu sekitar 20 pr ovinsi juga telah mengeluarkan Surat Keputusan atau Edaran yang berkaitan dengan PHBS, garam yodium, penanggulangan AIDS, Kawasan Tanpa Rokok, dll. 2. Dalam upaya bina suasana atau pembentukan opini masyarakat untuk membudaya kan perilaku sehat telah dilakukan penyebaran informasi kesehatan, melalui media televisi, radio, media cetak, pameran, media luar ruang lainnya, penyuluhan mel

alui mobil-mobil unit penyuluhan dan penyuluhan melalui kelompok dan diskusi int eraktif. Penyebaran informasi kesehatan itu dilakukan baik di Pusat maupun Daera h, tentang berbagai topik, masalah atau program kesehatan, seperti: GAKY, AIDS, Gaya Hidup Sehat, dll, termasuk kampanye tentang penanggulangan dampak pengurang an subsidi energi. 3. Dalam upaya pengembangan perilaku hidup sehat, 30 provinsi melaporkan tela h mengembangkan PHBS di berbagai tatanan: jumlah kumulatifnya sebanyak 7.5 juta lebih di tatanan rumah tangga, 53 ribu lebih di tatanan sekolah (SD, SMP, SMU), 260 ribu lebih di tempat kerja (kantor pemerintah, kantor swasta, pabrik), 26 ri bu lebih di tatanan tempat umum (terminal, pelabuhan, pasar), dan 5 ribu lebih d i tatanan sarana kesehatan (pemerintah dan swasta). 4. Dalam upaya peningkatan kemitraan untuk meningkatkan efektivitas dsan efis iensi upaya promosi kesehatan, dilakukan berbagai kegiatan, seperti: reorientasi LSM termasuk di provinsi, sosialisasi Indonesia Sehat ke partai politik, organi sasi kemasyarakatan dan wartawan, pertemuan-pertemuan lintas program dan lintas sektor, juga berbagai pertemuan bersama LSM, Sektor Swasta, Organisasi Profesi, Ormas Kepemudaan, Ormas Wanita, Ormas Keagamaan, dll. 5. Pengembangan SDM Promosi Kesehatan, baik bagi pengelola program maupun pel aksana di lapangan, termasuk tokoh masyarakat dan kader. Dalam kaitan itu pada t ahun 2002 tercatat ada 54 tenaga promosi kesehatan di Pusat dan beberapa daerah mengikuti pendidikan formal (D3, S1 dan S2). Sedangkan tenaga yang mengikuti pel atihan tentang promkes dalam tahun 2002 itu tidak kurang dari 600 orang, berasal dari Pusat dan sedikitnya dari 20 provinsi. Selain itu juga telah ditetapkan se banyak 856 orang tenaga jabatan profesional penyuluh kesehatan (98 orang ahli da n 758 orang terampil), baik di Pusat maupun di daerah. 6. 7. Dalam upaya pengembangan metode dan teknik promosi kesehatan, antara lain dihasilkan: Promosi kesehatan (Promkes) di kawasan pariwisata, Promkes di perusa haan, Promkes dalam era desentralisasi, Promkes dalam pemberdayaan keluarga, Pen gembangan Kawasan Tanpa Rokok, Promkes di pondok pesantren, Pengembangan Kota Se hat, Pemanfaatan Dana Sosial dan Keagamaan untuk Kesehatan, dll. Yang juga perlu disebutkan di sini adalah: Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Beresiko Ter padu (yang dipandang sebagai surveilans generasi kedua, setelah surveilans penya kit) dan Pengembangan Sistem Informasi PHBS di berbagai tatanan. Pengembangan me dia dan sarana promkes, antara lain pengembangan studio mini dan mobil unit peny uluhan di Pusat dan 5 provinsi proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi beserta sarana kelengkapannya, serta berbagai prototype media di Pusat untuk kemudian dikemban gkan di daerah. Dikembangkan pula media interaksi baik melalui majalah tiga bula nan maupun melalui internet. 8. Pengembangan infra struktur khususnya yang menyangkut organisasi dan kelem bagaan, serta penganggaran, hasilnya mengalami pasang surut. Demikian pula yang terjadi di daerah, ada yang muncul dan ada yang terintegrasi dengan unit lain, s esuai dengan potensi, keadaan dan perkembangan di daerah. Di beberapa daerah jug a dibentuk Badan Koordinasi Promosi Kesehatan Provinsi, seperti yang terjadi di Sumatera Utara, Jawa Barat, DIY dan Lampung. Selain itu dapat disampaikan bahwa pengembangan anggaran biaya untuk k egiatan promosi kesehatan selama ini mengalami fluktuasi. Pada awal Repelita I s ampai VI tersedia dana melalui APBN termasuk bantuan luar negeri yang jumlahnya belum memadai. Namun belakangan ini pada masa reformasi terjadi peningkatan angg aran yang cukup besar, baik yang berasal dari APBN maupun APBD bagi daerah otono m. Promosi Kesehatan Berjalan di tempat? Pada era promosi kesehatan dalam kurun waktu 1995-2005 ini, nampaknya banyak yang dilakukan, tetapi hasilnya perlu banyak diberi tanda tanya. Visi Ind onesia Sehat belum bergema. Paradigma Sehat baru di tataran konsep dan retorika. Kenyataan sehari-hari masih kental dengan paradigma lama. Dalam pembangunan kes ehatan, promosi Kesehatan belum memberikan sumbangan nyata. Berbagai gerakan mas yarakat yang telah dicanangkan Presiden, misalnya Gerakan Jumat Bersih, tidak be rjalan sesuai rencana. Beberapa kesepakatan juga belum ditindak lanjuti secara n

yata. Forum jejaring dengan para mitra belum optimal perkembangannya. Tenaga Pro mkes juga masih belum profesional sepenuhnya. Di daerah tenaga promkes banyak ya ng harus mutasi secara terpaksa atau harus pindah posnya. Yang jelas: Masyarakat miskin belum dapat dientaskan dari derita. Sedangkan masyarakat lainnya masih j auh dari budaya sehat, hidup yang produktif dan sejahtera. Apabila dit elaah, mengapa demikian? Banyak pakar menyoroti bahwa dalam kurun waktu sekitar tahun 2000an itu bangsa kita kurang mempunyai spirit perjuangan. Kita banyak ter paku dengan proyek dan anggaran. Ada juga pakar yang menyatakan bahwa sedikitnya 30 % anggaran bocor di tengah jalan. Dari sekian banyak kegiatan hanya sedikit sekali yang benar-benar langsung dan memberikan perhatian kepada rakyat kecil di lapangan. Dengan demikian kepentingan masyarakat khususnya rakyat miskin banyak terabaikan. Keadaan seperti itu juga berpengaruh pada kegiatan promosi kesehata n. Informasi sederhana yang seharusnya sangat diperlukan rakyat agar dapat hidup sehat, kurang mereka dapatkan. Bimbingan lapangan bagaimana agar dapat berperil aku sehat dan terhindar penyakit, kurang mereka rasakan. Banyak masyarakat masih berkutat dengan berbagai faktor yang sangat mempengaruhi kesehatan, seperti pen didikan, keamanan, dan lain-lain terutama kemiskinan. Selain itu juga harus diakui bahwa promosi kesehatan masih kurang sigap dalam menghadapi peluang dan kesempatan. Konsistensi kegiatan juga sering terabaikan. Prioritas kegiatan juga sering tidak memperoleh kejelasan. Belum lagi etos kerja petugas yang masi h perlu terus menerus ditingkatkan. Dengan demikian banyak masalah yang belum te rselesaikan dan tantangan yang belum memperoleh jawaban. Maka apakah p romosi kesehatan hanya berjalan di tempat saja? Atau bahkan menurun jalannya? Se moga saja tidak demikian kenytaannya. Karena kita semua telah berbuat! Konon yan g sangat penting adalah selalu usaha dan berbuat, atau proses itu! Tentang hasil , kita serahkan kepada halayak dan Truhan! Yang penting lagi bahwa semuanya itu merupakan pembelajaran untuk dapat ditarik makna dan hikmahnya. Paling tidak mas ih mempunyai impian, karena mimpi itu juga merupakan harapan dan cita-cita. Kala u tidak mempunyai mimpi, sebagaimana disampaikan di awal bab ini, jangan-jangan nanti kita tidak akan memperoleh apa-apa, bahkan tidak tahu akan menuju ke mana … Bab VI DINAMIKA ORGANISASI PROMOSI KESEHATAN Dari Bahagian Pendidikan Kesehatan sampai Pusat Promosi Kesehatan Sesuatu yang benar (haq) tanpa terorganisasi dengan baik akan dikalahkan oleh se suatu yang tidak benar (batil) yang terorganisasi secara baik (Ali bin Abi Thali b) Struktur vs Fungsi Organisasi Topik organisasi mencakup ruang lingkup yang luas, termasuk didalamnya pemahaman visi, misi, struktur organisasi, dan tugas pokok serta fungsi organis asi itu sendiri. Kemudian dari situ akan lahir kebutuhan terhadap kuantitas sert a kualitas sumber daya manusianya. Peran organisasi dalam perkembangan dan pertumbuhan sebuah profesi merupakan hal yang sangat penting. Di alam dan s emangat negara demokrasi, struktur organisasi yang ada, bukan hanya merupakan ce rminan dari visi dan misi yang ingin dicapai oleh profesi itu sendiri, tetapi ju ga merupakan cerminan visi dan misi yang ingin diraih oleh bangsa itu secara kes eluruhan. Demikian juga peran pendidikan kesehatan di Indonesia, akan senantiasa merupakan gambaran dari pemahaman dan kebutuhan bangsa Indonesia terhadap hal t ersebut dengan memperhatikan berbagai kendala yang dihadapinya. Sejarah perkemba ngan organisasi pendidikan kesehatan di Indonesia telah membuktikan hal tersebut , melalui rangkaian naik turunnya oganisasi, tumbuh kembangnya organisasi diling kungan Departemen Kesehatan. Disebutkan naik turunnya organisasi, kare na memang dalam perkembangannya ada saat dimana organisasi pendidikan kesehatan di Indonesia berada pada posisi cukup tinggi, tetapi kemudian merosot turun kepa da status tingkatan yang cukup rendah. Posisi cukup tinggi pernah diraih oleh or ganisasi Pendidikan Kesehatan di Indonesia pada saat bangsa Indonesia baru mereb ut dan mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1945. Periode awal kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan masa transisi dalam berbagai aspek kehidupan, dan hal tersebut tercermin dalam tatanan organisasi yang dikembangkannya. Bahagian Pendidikan Kesehatan Yang Setara Eselon I?

Pada tahun 1950, ketika pemerintah Indonesia menyusun kabinetnya, terw ujudlah gagasan untuk membentuk Kementrian Kesehatan. Dorongan semangat kemerdek aan yang menggelora dan keinginan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat makmur y ang masih menggebu-gebu, telah berhasil menuntun para pengambil keputusan pada w aktu itu untuk mewujudkan organisasi Bahagian Pendidikan Kesehatan untuk rakyat dilingkungan Kementrian Kesehatan. Makna yang tersurat dan tersirat dari keputus an ini, adalah pemberian dan pengakuan status organisasi yang tinggi telah diber ikan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia itu kepada masalah pendidikan kesehata n. Memang benar dapat dipahami pilihan tersebut, mengingat kondisi rakyat Indone sia pada tahun ‘50an tersebut baik dalam aspek kesehatan maupun pendidikan masih s angat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lainnya, apalagi jika haru s mengacu kepada standar derajat kesehatan yang baku. Status organisas i Bahagian Pendidikan Kesehatan yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri K esehatan tersebut, dapat dikatakan setara dengan jabatan eselon I pada tatanan o rganisasi pemerintah Indonesia sekarang. Dalam kondisi negara dan pemerintahan y ang normal, dengan status yang demikian tinggi, sesungguhnya banyak hal yang dap at dilakukan untuk pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan kesehatan bagi ra kyat Indonesia. Namun karena nuansa politik pada saat itu masih sangat dominan, seperti isu negara kesatuan versus federal, masalah keamanan dan keutuhan negara , peralihan dari suasana administrasi pemerintahan penjajahan kepada administras i sebuah negara yang bebas dan merdeka, maka status tersebut belum dapat dimanfa atkan secara optimal. Disamping itu kendala tidak atau belum tersedianya sumber daya, baik sumber daya manusia (kuantitas dan kualitas) maupun sumber daya biaya mendorong rendahnya pemanfaatan status yang demikian tinggi tersebut terhadap o rganisasi pendidikan kesehatan. Namun demikian berkembangnya Pendidika n Kesehatan Rakyat dengan beberapa daerah percontohan, antara lain di Lemah Aban g, Bekasi, adalah produk pada masa ini. Pendidikan Kesehatan juga diakui harus a da dan terintegrasi pada setiap program kesehatan. Keadaan ini terus berkembang sampai sekitar tahun 1967,waktu ditetapkannya susunan organisasi Depkes yang bar u, dibawah Menteri G.A.Siwabessy. Menjadi Bagian PKM Di Biro Pendidikan Pada tahun 1967 Menteri Kesehatan Siwabessy, dengan Surat Keputusan No . 091/III/Ad.Um/’67, menetapkan susunan organisasi Depkes yang baru. Dalam struktu r organisasi tersebut unit yang mengurusi Pendidikan Kesehatan Masyarakat (PKM) ditetapkan sebagai salah satu bagian di bawah Biro V (Pendidikan), yang berada d i bawah Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Bagian-bagian lain yang berad a dalam Biro V itu antara lain adalah: Bagian Pendidikan Institusi, Bagian Perrp ustakaan, dll. Sebagai suatu bagian, maka Bagian PKM tersebut setara dengan esel on III. Sebagai kepala bagian PKM ditetapkan Drs. Koento Hidayat, sedangkan seba gai kepala biro V adalah: Dr. Wiryawan Djoyosugito, MPH. Status organi sasi yang setara dengan eselon III di lingkungan Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan tersebut memberikan implikasi dua hal penting. Pertama bahwa unit pen didikan kesehatan merupakan unit kerja yang memiliki kewenangan dan ruang lingku p kerja yang lebih terbatas. Kedua, unit tersebut tidak memiliki akses untuk men yelenggarakan kegiatan operasional pendidikan kesehatan termasuk pembinaan kedae rah atau lapangan. Berbagai Gagasan Pembaruan Dalam sejarah perkembangan organisasi pendidikan kesehatan di Indonesi a, posisi yang setara dengan eselon III di lingkungan Departemen Kesehatan terse but, merupakan posisi paling rendah dari berbagai posisi organisasi yang pernah ada. Namun justru dari posisi organisasi seperti itu, telah lahir berbagai gagas an dan produk monumental yang merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan pendidikan kesehatan di Indonesia. Paling tidak unit tersebut tentu telah membe rikan sumbangan pemikiran dan/atau merupakan wadah penggodokan kegiatan operasio nal dari gagasan yang dikembangkan waktu itu. Berkantor di kawasan Han g Jebat IV, Kebayoran Baru (kini menjadi kantor Badan Pengembangan Sumber Daya M anusia Departemen Kesehatan), Bagian PKM, sebagai salah satu Bagian yang berada di bawah bimbingan dan pembinaan Biro V, melakukan tugas dan fungsinya, untuk me

ngembangkan pendidikan kesehatan di Indonesia. Dari sinilah kemudian lahir beber apa hal penting seperti: * Pengembangan Sumber Daya Manusia PKM, yang pada saat itu dirasakan sebagai kebutuhan mendesak, yaitu dengan pembentukan sebuah proyek yang dikenal dengan nama Health Education Manpower Development Project, atau Proyek Pengembangan Ten aga Pendidik Kesehatan Masyarakat. Bagian PKM pada khususnya dan Biro V serta un it lain terkait melakukan kerjasama dengan kelompok ahli dari luar negeri melaku kan rekruitmen ketenagaan yang berasal dari berbagai disiplin kesarjanaan, baik kedokteran dan sosial. Sebagai pimpinan proyek ditunjuk Dr.Soeharto Wiryowidagdo MPH. Setelah melalui tahap pendidikan di dalam dan luar negeri, kelompok inilah yang kemudian disebarluaskan pada berbagai tatanan organisasi dilingkungan Depa rtemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi dan Institusi Pendidikan. Sebagian be sar dari kelompok yang ditempatkan dilingkungan Departemen Kesehatan berada di k antor Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (Dit.PKM), dan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat). Hanya beberapa orang saja yang ditempatkan pada instit usi pendidikan. Sulitkah berbahasa Inggris ? Salah satu persyaratan untuk dapat mengik uti pendidikan Health Education Specialist di Amerika Serikat, adalah harus lulu s ujian TOEFL dengan nilai terendah 500. Untuk mencapai score 500, bukanlah peke rjaan yang mudah, sehingga karenanya setiap siswa HES diwajibkan mengikuti kursu s bhs.Inggris di Lembaga Indonesia Amerika setiap hari. Menyadari bahwa bukan ha nya kemampuan reading, dan writing saja yang harus dikuasai, tetapi juga kemampu an conversationpun harus dikuasai, maka salah satu sessi dari kursus adalah bela jar cara pengucapan yang benar. Konon terjadilah dialog dalam salah satu ruang k elas, antara siswa HES dengan dosen bhs.Inggris. Kata dosen “Please repeat after m e. Are you copying the lesson?” Dengan serta merta siswa HES tersebut mengucapkan “ Are you kambing ?”. Sang dosen merasa kaget plus heran dan kemudian mengulangi lag i pertanyaan yang sama. Ajaibnya si siswa masih mengucapkan kalimat yang sama ya itu Are you kambing ?. Tentu saja seluruh kelas merasa lucu dan tertawa. Baru pa da pertanyaan ulangan yang ketiga sang siswa berhasil mengucapkan Are you copyin g the lesson. Luluslah dia. Tentu saja kemudian sang siswa setelah lulus dari Pe rguruan Tinggi di Amerika Serikat menjadi salah seorang pejabat dilingkungan Dep artemen Kesehatan. * Dalam rangka pengembangan metodologi, khusus dalam rangka pemberdayaan mas yarakat dikembangkan beberapa pola pendekatan seperti Bekasi model, Bandung Plan , dll. Secara konsep, kedua model tersebut menjadi cikal bakal pengembangan dari berbagai model pengembangan untuk pemberdayaan masyarakat seperti Daerah Kerja Intensif (DKI), Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD), Kelompok Penimbang an (Pokbang), Pos Kesehatan (Poskes), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pos Obat Desa, Dana Sehat dan beberapa Pos lainnya yang dikembangkan oleh program keseha tan, serta yang terakhir Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Nampak denga n jelas alur benang merah filsafat pemberdayaan masyarakat pada berbagai nama wa dah tersebut diatas, yaitu wujud nyata peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Kebutuhan akan upaya pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting d ari strategi untuk mewujudkan Indonesia Sehat menjadi issue sentral dari perkemb angan pendidikan kesehatan di Indonesia. Dari Direktorat Menjadi Pusat, Kembali Direktorat Dan Pusat Lagi Setelah selama sekitar 8 tahun menjadi Bagian, pada tahun 1975 berdasa rkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 125 Tahun 1975, Bagian PKM Biro V Pend idikan Depkes tersebut berkembang menjadi Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyar akat (PKM) pada Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat (Binkesmas). Diangkat sebagai Kepala Direktorat adalah Dr. Pudjiastuti Pranjoto, MPH, yang me mperoleh pendidikan tentang Health Education di University of Berkeley, USA. Sal ah satu Kepala Subditnya adalah Dr. I.B. Mantra, MSc., yang setelah selesai dari kegiatan Work Experience di Bandung (beliau sebagai salah seorang supervisornya

), beliau belajar di Harvard University, USA. Pada masa inilah pemantapan pendid ikan Health Education Specialist baik di dalam maupun di luar negeri, pengembang an tenaga Wakil Koordinator (Wator) di tingkat kabupaten, serta diperkenalkannya daerah percontohan PKM yang disebut Daerah Kerja Intensif (DKI) PKM. Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 558 Tahun 1984, unit Dire ktorat PKM Ditjen Binkesmas tersebut berubah menjadi Pusat PKM di bawah Sekretar iat Jenderal. Sebagian tugas pokok Direktorat PKM tersebut ditambah dengan beber apa tugas lain menjadi Direktorat baru yaitu Direktorat Bina Peran Serta Masyara kat (BPSM) yang tetap berada di lingkungan Ditjen Binkesmas. Sementara itu di ba wah Ditjen Binkesmas juga ada Direktorat Bina Puskesmas, yang kemudian menjadi m otor pengembangan kegiatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Kepala Pusat PKM adalah Dr. I.B. Mantra, MSc, dan Kepala Direktorat BPSM adalah Dr. Son ya Roesma, SKM, sedangkan Kepala Direktorat Bina Puskesmas adalah Dr. Soeharto W iryowidagdo, MPH. Pada periode inlah Pusat PKM mengembangkan dan memproduksi ber bagai media, a.l. serial sinetron Dr. Sartika melalui TVRI (satu-satunya saluran TV waktu itu), yang mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Sela njutnya pada tahun 2000, diadakan reorganisasi Depkes. Berdasarkan Keputusan Men teri Kesehatan Nomor 130 Tahun 2000, unit Pusat PKM berubah lagi menjadi Direkto rat Promosi Kesehatan pada Ditjen Binkesmas. Direkturnya adalah Drs. Dachroni, M PH, yang sebelumnya telah menjadi Kepala Pusat PKM sejak 1994, menggantikan Dr. I.B. Mantra yang memasuki usia pensiun. Pada masa inilah diperkenalkan Pengemban gan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sebagai cikal bakal Promosi Kesehatan , yang kemudian menjadi nomenklatur PKM di lingkungan Depkes. Pada masa ini pula diselenggarakan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan ke-4, yang menghasil kan Deklarasi Jakarta, yang menjadin acuan kegiatan promosi kesehatan di dunia. Sesuai dengan KepMenkes tersebut, Direktorat BPSM dilikuidasi. Salah satu subdit nya masuk di Direktorat Promosi kesehatan, sedangkan subdit lainnya ada yang ber gabung dengan Direktorat baru yaitu Dit. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarak at (JPKM), Dit. Kesehatan Tradisonal, dll. Satu hal yang menjadi catat an sejarah adalah bahwa pada tahun 2001 pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Dep artemen Kesehatan dan Departemen Sosial digabung menjadi satu Departemen, yaitu Departemen Kesehatan dan Sosial RI. Konsekwensinya adalah bahwa unit-unit di ked ua departemen tersebut juga disatukan, salah satunya adalah Direktorat Promosi K esehatan Depkes dan Pusat Penyuluhan Sosial Depsos. Berdasarkan Keputusan Menter i Kesehatan dan Sosial RI Nomor 446 Tahun 2001, unit tersebut ditetapkan menjadi Direktorat Promosi Kesehatan dan Penyuluhan Sosial di bawah Ditjen Pemberdayaan Sosial RI. Surat Keputusan sudah ditandatangani, dan telah ditetapkan Drs. Dach roni, MPH sebagai direkturnya, tinggal menunggu saat pelantikannya saja. Struktu r organisasi ini tidak pernah diberlakukan, karena sebelum pelantikan telah terj adi pergantian pemerintahyan dari Presiden Abdurrahman Wahid kepada Presiden Meg awati Soekarnoputeri, yang kembali memisahkan Depk. Kesehatan dan Dep. Sosial RI . Akhirnya melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1227 Tahun 200 1, Direktorat Promosi Kesehatan berubah status menjadi Pusat Promosi Kesehatan d i bawah Sekretariat Jenderal. Sudit Peran Serta Masyarakat terpisah dari Pusat P romosi Kesehatan, bergabung dengan Direktorat baru, menjadi Direktorat Kesehatan Komunitas, di bawah Ditjen Binkesmas. Dit JPKM tetap ada, juga di bawah Ditjen Binkesmas. Sebagai Kepala Pusat ditetapkan Drs. Dachroni, MPH, dan waktu ia pens iun pada tahun 2004, ia digantikan oleh Bambang Hartono, SKM, MSc. Direktorat BPSM, JPKM dan Kesehatan Komunitas Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa pada sekitar tahun 1985 berdasar kan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 558 Tahun 1984 dibentuk organisasi baru an tara lain Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat (BPSM) di lingkungan Ditjen Bin kesmas. Sebagai sebuah organisasi baru yang ditugaskan untuk mengelola dan menge mbangkan peran serta masyarakat, Di.Bina PSM memiliki sub.dit Pembangunan Keseha tan Masyarakat Desa (PKMD) yang sebelumnya berada pada Direktorat Bina Puskesmas . Sub.dit ini memiliki seksi PKMD dan PKMD Perkotaan (PKMD/K). Sub.dit inilah ya ng kemudian bersama unit kerja terkait lainnya mengembangkan Posyandu. Secara ke lembagaan sub.dit PKMD bertanggung jawab untuk melakukan berbagai upaya pembinaa n dan pengembangan Posyandu, dan secara teknis memperoleh bantuan kerjasama yang

erat dari unit organisasi terkait, seperti Gizi, Imunisasi, Diare, KIA bahkan B KKBN. Periode ini merupakan salah satu periode penting dalam perkemban gan organisasi pendidikan kesehatan, karena selain pada tingkat Pusat ada Pusat PKM dan Direktorat BPSM, pada tingkat propinsi terdapat Seksi PSM yang ada di Ka ntor Wilayah Departemen Kesehatan (Kanwil Dep.Kes), dan Sub.Dinas PKM pada Dinas Kesehatan Propinsi. Sementara itu pada tingkat kabupaten cerminan serupa diatas juga masih tercerminkan, karena di kabupaten masih ada Kantor Departemen Keseha tan ( Kandep.Kesehatan), dan Dinas Kesehatan Kabupaten. Yang menarik d ari Dit.Bina PSM ini pada waktu itu sudah mulai melakukan upaya rintisan untuk m engantisipasi masalah pembiayaan kesehatan yang pada era tahun 2000 malah menjad i topik nasional dari pembangunan kesehatan, yaitu dengan munculnya seksi Dana S ehat walaupun strukturnya masih merupakan sebuah seksi saja. Ternyata dalam perk embangan lebih lanjut, masalah pembiayaan kesehatan telah ditetapkan oleh para p engambil keputusan di Departemen Kesehatan sebagai bagian terpenting dari sekian banyak topik dan masalah peran serta masyarakat. Hal ini menjadi lata r belakang kebijakan penting dari lahirnya Direktorat Jaminan Pemeliharaan Keseh atan (Dit.JPKM), sebagai pengembangan lebih lanjut dari Dit.Bina PSM dan masih t etap berada dilingkungan Dit.Jen Binkesmas. Maka lahirlah Dit.JPKM, dan sirnalah Dit.BPSM atau dengan kata lain berakhirlah periode peran serta masyarakat dalam bentuk kegiatan Posyandu, digantikan oleh program JPKM yang melahirkan Badan Pe nyelenggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat ( Bapel JPKM). Berbeda den gan Posyandu yang ada ditingkat akar rumput yaitu desa, maka Bapel JPKM berada d iibukota Kabupaten. Praktis dengan lahirnya program JPKM sebagai prima dona peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan, maka sirnalah era Posya ndu yang konon pada masa puncaknya pernah melahirkan tidak kurang dari 240.000 b uah Posyandu sebagai bentuk peran aktif masyarakat. Dan untuk tidak memberikan k esan seolah peran serta masyarakat kurang penting, maka berbagai hal yang terkai t dengan hal tersebut akan dikelola oleh sebuah unit organisasi setingkat sub.di t, yaitu sub.dit Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Selanjutn ya pada reorganisasi Depkes tahun 2000 muncul Direktorat Kesehatan Komunitas, di bawah Ditjen Binkesmas. Direktorat ini mempunyai beberapa sub direktorat antara lain UKBM dan PKMD Perkotaan. Dengan demikian upaya pemberdayaan masyarakat sep ertinya menjadi urusan Direktorat baru ini. Sementara itu Direktorat JPKM masih tetap bertahan, yang juga berada di lingkungan Ditjen Binkesmas. Sedangkan Pusat Promosi Kesehatan yang berada di lingkungan Sekretariat Jenderal mengurusi bida ng metode, teknik dan sarana promosi serta kemitraan dan peran serta masyarakat. Unit PKM/Promosi Kesehatan di Daerah Keberadaan unit PKM dalam organisasi kesehatan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) sebenarnya sudah ada sejak dicanangkannya pembangunan nasional melalui Repelita I tahun 1969. Pada beberapa provinsi yang relatif maju, unit PK M sudah dibentuk sejak tahun 1967 setelah pemberlakuan struktur organisasi Depke s tahun 1967. Pada waktu itu kegiatan-kegiatannya masih terbatas pada dukungan t erhadap upaya penenggulangan beberapa penyakit menular di daerah tersebut dengan metoda dan sarana yang masih sangat terbatas. Tersedianya dana melalui APBN yan g kemudian dituangkan dalam bentuk proyek di daerah, ternyata memberikan dukunga n sangat berarti bagi kegiatan PKM di daerah. Hal ini semakin meningkat dan memp eroleh momentum setelah pada sebagian besar provinsi ditempatkan tenaga spesiali s Penyuluh Kesehatan (HES). Pada mulanya PKM berupa unit yang pada seb agian daerah berdiri sendiri atau menjadi bagian dari Direktorat Daerah yang mer upakan cerminan dari struktur yang berlaku di tingkat Nasional. Kemudian sesuai dengan kewenangan otonomi daerah yang dimiliki oleh provinsi dan semakin dipaham inya arti penting PKM, maka status PKM menjadi Direktorat Daerah (eselon III) da lam struktur organisasi Inspektur / Dinas Kesehatan Provinsi. Ini terjadi sekita r tahun 1979-an, dan ini juga tercermin pada struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten, yang menempatkan unit PKM pada seksi (eselon IV). Tenaga pengelola P KM di kabupaten pada waktu itu pada umumnya adalah tenaga perawat atau sanitaria n zdengan ketrampilan PKM yang terbatas. Pada waktu itu belum ada tena ga PKM di front terdepan yaitu Puskesmas. Itu karena dianut prinsip bahwa penyul uhan kesehatan adalah bagian yang terintegrasi dengan semua program di Puskesmas

, dan penyuluhan kesehatan dapat dilakukan oleh siapa saja di Puskesmas. Akibatn ya, kegiatan PKM menjadi tidak terarah dan dijalankan secara sambil lalu saja. Dengan pembentukan Kantor Wilayah pada tahun 1985, sebagian tugas PKM y aitu pengembangan masyarakat dialihkan dan ditangani oleh Kantor Wilayah, yaitu oleh seksi Peran Serta Masyarakat. Sedangkan sebagian yang lain masih tetap bera da di Dinas Kesehatan dan dikelola oleh Sub Dinas Penyuluhan Kesehatan Masyaraka t. Hal ini juga tercermin di kabupaten/kota, yang tercermin dalam organisasi Kan dep dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pada waktu itu memang sering terjadi riv alitas antara kedua unit yang sama-sama mengurusi penyuluhan/pemberdayaan masyar akat itu. Rivalitas itu ada yang berkembang positif dengan kerjasama yang baik, tetapi ada juga yang kurang berjalan baik. Dengan diberlakukannya oton omi daerah secara penuh pada tahun 2001 melalui UU No. 22 Tahun 1999, maka kewen angan pembentukan organisasi daerah sepenuhnya berada dalam tangan pemerintah da erah kabupaten dan kota. Hal itu juga berimbas pada struktur organisasi dinas ke sehatan, termasuk unit promosi kesehatan. Struktur organisasi promosi kesehatan menjadi sangat bervariasi. Ada daerah yang menempatkannya dalam sub dinas tersen diri, ada yang menjadi seksi/bagian dari subdinas lain, dan ada juga yang hanya menjadi program tanpa eselon. Bahkan ada pula yang hilang sama sekali dari pered aran. Hal ini tentunya menjadi bahan renungan dan pemikiran untuk dicarikan solu sinya yang terbaik. Beberapa Wacana (Issues) Dalam Organisasi Pendidikan/Promosi Kesehatan Dalam perkembangan organisasi pendidikan kesehatan, muncul issu yang k emudian memberikan warna dan mempengaruhi pertumbuhan organisasi. Beberapa issu tersebut antara lain adalah: * Posisi organisasi pendidikan kesehatan dalam organisasi Departemen Kesehat an * Untuk menjawab pertanyaan ini, tersedia dua alternatif jawaban yaitu organ isasi pendidikan kesehatan berada para unit organisasi operasional seperti Direk torat Jendral atau berada pada unit organisasi penunjang seperti Sekretariat Jen dral. Ternyata dalam perkembangan organisasi pendidikan kesehatan, kedua jawaban tersebut pernah dialami. Pendidikan Kesehatan pernah berada pada unit penunjang seperti Bagian PKM, pada Biro V di lingkungan Sekretariat Jendral. Juga pernah sebagai Pusat Penyuluhan Kesehatan, juga secara admkinistratif di bawah Sekretar iat Jenderal. Hal tersebut memberikan keuntungan bahwa pendidikan kesehatan memi liki akses luas untuk masuk kesemua program. Namun demikian karena berada pada u nit penunjang, maka organisasi pendidikan kesehatan tidak memiliki akses untuk o perasional karena lebih berperan pada aspek pembinaan dan pengembangan semata. D alam perkembangan lebih lanjut, pendidikan kesehatan pernah berada pada unit ker ja operasional, yaitu sebagai Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat di ling kungan Direktorat Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat (Binkesmas). Juga sebag ai Direktorat Promosi Kesehatan pada Ditjen yang sama. Berada pada posisi ini un it tersebut mempunyai akses pembinaan operasional di lapangan, tetapi memberikan kesan seolah organisasi pendidikan kesehatan hanya dimiliki dan hanya melayani program yang berada dilngkungan Direktorat Jendral itu saja. Sudah barang tentu kesan tersebut tidak benar, namun posisi ini secara lambat menyebabkan popularit as pendidikan kesehatan dilingkungan Direktorat Jendral lain kurang dikenal. Uni t pendidikan kesehatan di setiap unit kerja Departemen Kesehatan? Adalah benar bahwa pelayanan pendidikan kesehatan diperlukan oleh seluruh program di lingkungan Departemen Kesehatan. Tetapi apakah keberadaan unit pendid ikan kesehatan harus ada pada setiap unit organisasi dilingkungan Departemen Kes ehatan? Pertanyaan itu kemudian selalu menjadi perdebatan dalam rangka menata or ganisasi dilingkungan Departmen Kesehatan. Issu ini berkembang dari pemikiran ba hwa “Health Education itself is nothing, health education with program is somethin g, heath education with program and people is everything” Selamat jalan PKM…? Ketika pertama kali organisasi pendidikan kesehatan muncul di lingkungan Departemen Kesehatan, namanya adalah Pendidikan Kesehatan. Selanjutnya dalam perkembangan sejarah, istilah pendidikan kesehatan di lingkung

an Departemen Kesehatan dihentikan, dan kemudian muncul Penyuluhan Kesehatan Mas yarakat. Nama Penyuluhan Kesehatan Masyarakat yang sering disingkat menjadi P.K. M.ini bertahan cukup lama, dan cukup populer di lingkungan Dep.Kesehatan maupun Dinas Kesehatan baik propinsi maupun kabupaten. Istilah PKM seolah sudah melekat menjadi trade mark tersendiri untuk singkatan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.. Sayang sekali singkatan ini tidak pernah dipatenkan sebagai milik Penyuluhan Ke sehatan Masyarakat, sehingga ketika belakangan muncul pengertain lain terhadap P KM, yah tidak bisa protes. Seperti diketahui sudah bukan menjadi rahasia lagi ba hwa di llingkungan Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota, istilah Puskesma s yang sebenarnya sudah merupakan singkatan sering disingkat lagi menjadi PKM. D ari kaidah bahasa, Puskesmas menjadi PKM sebenarnya tidak tepat, tetapi mereka m erujuk kepada program AMD yang konon merupakan singkatan ABRI Masuk Desa. Kini n ama PKM tinggal sejarah dan kenangan, karena konon penyuluhanpun sudah berubah m enjadi Promosi Kesehatan. * Issu ini yang menjadi dasar pemikiran mengapa pada awalnya unit organisasi pendidikan kesehatan berada pada Biro V, di lingkungan Sekretariat Jendral, buk an berada di lingkungan Direktorat Jendral yang memberikan layanan langsung kepa da masyarakat. Berada di lingkungan Sekretariat Jendral memberikan kesempatan ke pada Bagian 4 Pendidikan Kesehatan untuk memberikan layanan secara lebih luas, a rtinya kepada semua unit organisasi yang berada pada berbagai Direktorat Jendral , dilingkungan Departemen Kesehatan. Diharapkan dengan hanya ada satu unit organ isasi pendidikan kesehatan, pengembangan dan pelayanan yang diberikan kepada sel uruh program akan relatif lebih mudah. Berbeda dengan unit organisasi lain yang juga berada pada lingkungan Sekretariat Jendral seperti Biro Kepegawaian, ternya ta keberadaan unit organisasi kepegawaian tersebut muncul dan diperkuat juga ole h unit organisasi kepegawaian pada tiap Direktorat Jendral. Sementara itu organi sasi pendidikan kesehatan hanya berada pada lingkungan Sekretariat Jendral saja. Walaupun demikian, unit organisasi pendidikan kesehatan secara konsep tetap dit untut untuk memberikan pelayanan kepada seluruh unit organisasi di lingkungan De partemen Kesehatan. Ternyata dalam jangka panjang, hal ini menjadi kendala yang mengakibatkan tidak optimalnya pelayanan pendidikan kesehatan untuk seluruh prog ram, dan lebih jauh memberikan kesan seolah tanpa unit organisasi pendidikan kes ehatanpun kebutuhan terhadap layanan pendidikan kesehatan dapat dipenuhi. Pada s isi lain, penerapan prinsip ini mengandung resiko yang menyangkut pendanaan yang memang selalu sangat terbatas jumlahnya. Dengan hanya berada di lingkungan Sekr etariat Jendral saja dan itupun hanya merupakan satu dari lima bagian yang ada, praktis perolehan alokasi anggaran sangat terbatas. Pada perkembangan selanjutny a, pada waktu menjadi Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, ada 4 bidang, yang salah satu bidangnya menguryusi penyuluhan program kesehatan. Bidang tersebut me mpunyai empat sub bidang, yang masing-masing mengurusi program-program yang ada di unit kerja utama Depkes, yaitu di empat direktorat jenderal. Dengan adanya bi dang khusus tersebut diharapkan kerjasama antara unit PKM dengan unit program be rjalan baik. Pada kenyataannya beberapa program dapat berjalan lancar, tetapi ad a juga beberapa program yang jalannya tersendat. Apakah kiprah pendidikan keseha tan cukup ditampung hanya melalui satu organisasi saja di lingkungan Departemen Kesehatan ? Kesadaran yang semakin meningkat akan peran dan perlunya pendidikan keseha tan untuk setiap program kesehatan ternyata telah menyebabkan semakin sempitnya wadah Direktorat penyuluhan Kesehatan Masyarakat yang berada dibawah Direktorat Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Kebutuhan tersebut dirasakan secara mera ta oleh unit organisasi terutama di lingkungan Direktorat Jendral Pembinaan Kese hatan Masyarakat. Merasa bahwa Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat belum dapat menampung aspirasi yang diperlukan, Direktorat Bina Gizi Masyarakat salah satu Direktorat dilingkungan Dit.jen Binkesmas melangkah sendiri dengan mengemba ngkan program pemberdayaan masyarakat, melalui pengembangan Kelompok Penimbangan (Pokbang) pada banyak desa dengan dukungan penuh UNICEF. Bersamaan dengan itu D it.Gizi juga banyak mengembangkan berbagai media penyuluhan untuk keperluan peng embangan Pokbang. Merasa bahwa gagasan dan hasrat Direktorat Bina Gizi Masyaraka t belum sepenuhnya tersalurkan, dalam perkembangannya kemudian dibentuk sebuah u

nit organisasi yang disebut sebagai Nutrition Education dengan bantuan Bank Duni a. Yang menarik dari unit Nutrition Education ini adalah posisinya secara organi sasi berada di lingkungan Direktorat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Dr.I.B. Ma ntra MPH yang pada saat itu sebagai Ka subdit Metoda dan Teknik pada Dit.PKM dit unjuk sebagai Direktur Nutrition Education walaupun memang lokasi kegiatannya ba ru pada beberapa propinsi saja, seperti Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan D.I. Yogyakarta. Sementara itu pada saat yang sama, Direktorat Bina Puskesmas merasak an keperluan yang amat mendesak untuk pemberdayaan masyarakat. Direktorat ini me lalui salah satu subditnya yang bernama subdit Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) kemudian mengembangkan desa PKMD yang mengidentifikasikan dirinya se bagai bentuk operasional Primary Health Care (PHC) di Indonesia, dan mendapat du kungan dana dari WHO. Dengan demikian pada tatanan desa sudah ada Pokbang, Desa PKMD, bahkan Daerah Kerja Intensif sebagai desa yang dibina oleh Direktorat PKM pada waktu itu. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap partisipasi aktif masya rakat dalam setiap program kesehatan sudah sangat mendesak, dan itu tidak dapat dipenuhi hanya melalui wadah Dit.PKM semata-mata. Pada reorganisasi di lingkunga n Departemen Kesehatan yang terjadi pada tahun 1985, muncullah wadah organisasi yang khusus menangani masalah peran serta masyarakat, yaitu Direktorat Bina Pera n Serta Masyarakat (Bit.BPSM) di lingkungan Dit.Jen Binkesmas, dengan Kepala Dir ektorat yang pertama : Dr.Sonya Roesma SKM. Unit Promosi Kesehatan menjadi Eselon I? Kiranya perlu pula dimunculkan issu atau wacana tentang perlunya unit Promosi Kesehatan menjadi eselon I. Mengapa tidak? Dilihat dari berbagai pertimb angan, kiranya cukup pantas untuk menjadikan Promosi Kesehatan sebagai eselon I, yang langsung berada di bawah Menteri. Pertama apabila dilihat dari u paya kesehatan sendiri. Upaya kesehatan terdiri dari upaya promotive, preventive , curative dan rehabilitative. Atau upaya peningkiatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan. Semua sepakat bahwa keempat upaya tersebut perlu dilakukan secara komprehensive, dan semua juga sepakat bahwa “Promotive or preventive is better th an cure”. Selain itu juga semua sepakat bahwa upaya promotif lebih “cost efective” dib andingkan dengan upaya lainnya. Jadi adalah wajar apabila untuk upaya promotif i ni diberikan perhatian saksama dengan pemikiran serta sumber daya yang lebih mem adai, dengan menempatkannya sebagai unit eselon I. Kemudian apabila di lihat dari tujuan pembangunan kesehatan, fokusnya adalah pada peningkatan kesada ran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Dengan kata lain tujuan nya berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Dengan pemberdayaan masyarakat ini, m asyarakat akan menjadi subyek, menjadi pelaku, yang akan berperan aktif dalam pe mbangunan kesehatan. Dengan demikian program kesehatan akan berjalan secara lebi h cepat, karena mendapatkan energi berlimpah yaitu masyarakat itu sendiri. Ini j uga sejalan dengan SKN baru (2004) yang menetapkan adanya enam sub sistem, salah satunya adalah Sub Sistem Pemberdayaan Masyarakat, yang merupakan bidang garapa n promosi kesehatan. Untuk memberdayakan masyarakat itu tidak mudah, diperlukan segenap pemikiran dan sumber daya. Unit yang memikirkan upaya ini, seharusnyalah perlu ditingkatkan menjadi eselon I, langsung di bawah Menkes. Dalam hal ini su dah ada contoh di Departemen lain yang menempatkan unit penyuluhan berstatus ese lon I yaitu di Departemen Pertanian, yang bernama Badan Penyuluhan Pertanian Kemudian apabila urusan Departemen ini kita bandingkan dengan urusan di d unia usaha, maka bidang promosi ini biasanya menempati posisi yang sangat pentin g, disamping bidang produksi dan umum/keuangan. Bahkan seringkali direktur bidan g promosi menerima gaji yang lebih baik daripada direktur lainnya, hanya sedikit di bawah direktur utama. Bidang promosi di berbagai unit usaha (swasta atau BUM N) seringkali juga mendapatkan perhatian istimewa, dengan sumber daya yang istim ewa pula. Demikianlah, promosi kesehatan yang perlu melakukan advokasi , bina suasana dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan itu memang layak menjadi eselon I di Departemen Kesehatan. Kata-kata mutiara yang dikutip di awal bab ini telah mengingatkan bahwa apabila hal-hal yang baik seperti promosi kese hatan ini tidak terorganisasi secara mantap, akan dikalahkan dan tenggelam oleh hal yang buruk yang terorganisasi secara baik (misalnya kampanye rokok yang sang

at gencar). Bab VII PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT DI PERGURUAN TINGGI “Carilah ilmu mulai dari buaian sampai ke pembaringan” (Kata orang bijak) Pendirian FKM-UI Cerita tentang Pendidikan Kesehatan Masyarakat (PKM) di Perguruan Ting gi tidak lepas dari cerita tentang Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Fakul tas Kedokteran (FK). Di Perguruan Tinggi, materi Pendidikan Kesehatan (Health Ed ucation, selanjutnya disingkat HE) sudah diberikan kepada mahasiswa Fakultas Ked okteran (FK) dalam perkuliahan ilmu kesehatan masyarakat sebelum ada Fakultas Ke sehatan Masyarakat (FKM). Melihat kenyataan lapangan, dipandang perlu penambahan ilmu dan pengalaman khusus dalam bidang kesehatan masyarakat, termasuk ilmu dan pengalaman dalam pendidikan kesehatan masyarakat (health education). Pada era 1960-an itu, yang ada baru Fakultas Kedokteran di beberapa kota besar d i Indonesia sedangkan FKM belum ada. Sementara itu Fakultas Kedokteran hanya men ghasilkan tenaga-tenaga ahli atau spesialis bidang Kedokteran Klinik. Pada masa itu, tenaga-tenaga ahli kesehatan masyarakat pada umumnya lulusan luar negeri ya ng jumlahnya sangat sedikit. Dirasakan benar kekurangan jumlah tenaga ahli keseh atan masyarakat untuk dapat menangani masalah-masalah kesehatan masyarakat di In donesia. Sedangkan dari aspek pembiayaan, pendidikan ke luar negeri dirasakan se bagai beban sangat berat bagi pemerintah Indonesia. Dalam kaitan itu D okter Mochtar, Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pence gahan, Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia (FKUI) mengajukan gagasan mendir ikan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Namun sebelum gagasannya terwujud beliau gug ur dalam kecelakaan pesawat terbang pada tanggal 24 Januari 1961. Pada tahun yan g sama penerusnya Dokter Sajono Sumodidjojo, mengambil langkah untuk mewujudkan gagasan tersebut. Beliau mengajukan usulan proyek kepada Rektor Universitas Indo nesia, Dekan FKUI dan Perwakilan WHO di Indonesia. Selanjutnya, pada akhir tahun 1964 karena desakan kebutuhan yang besar, maka Dokter Sajono mengirim surat kep ada Rektor Univesitas Indonesia dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menya takan bahwa FKM harus segera didirikan. Dengan Surat keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 26 tahun 1965 tanggal 26 Februari 1 965 diputuskan bahwa Fakultas Kesehatan Masyarakat dibentuk di bawah naungan Uni versitas Indonesia. Pada tanggal 13 Maret 1965 Panitia Persiapan Pembentukan FKM UI terbentuk yang anggotanya terdiri dari wakuil-wakil FKUI, Departemen Kesehata n, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan Departemen Tenaga Kerja. Selanjutny a terbit Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No. 153/1 965 yang memperbaiki SK yang terdahulu nomor 26 tahun 1965 yang menetapkan tangg al berdirinya FKMUI yaitu 1 Juli 1965. Sedangkan dengan Surat Keputusa n Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor :5581SEKRET/BUP/65 memutuskan dan menu njuk Dokter Sajono Sumodidjojo sebagai Dekan, Dokter Drajat D. Prawiranegara seb agai Pembantu Dekan Bidang Akademis, Dokter I Made Bagiastra sebagai Pembantu De kan Bidang administrasi dan Keuangan dan Dokter T. Karimuddin sebagai Pembantu D ekan Bidang Mahasiswa dan Alumni. Tujuan pembentukan FKMUI pada saat i tu adalah : (1) Menghasilkan tenaga kesehatan yang terlatih dalam bidang kesehat an masyarakat untuk pelayanan kesehatan. (2) Menghasilkan tenaga kesehatan yang terlatih dalam bidang kesehatan masyarakat untuk perguruan tinggi. (3) Memberika n pendidikan keahlian dalam bidang kesehatan masyarakat bagi lulusan perguruan t inggi seperti dokter, doktergigi, dokter hewan, apoteker, insinyur, dan memberik an pendidikan lanjutan bagi tenaga para medis yang telah lulus tingkat akademi, seperti akademi penilik kesehatan, akdemi gizi dan akademi perawat. Pa da permulaannya, penyelanggaraan FKMUI dilakukan bersama-sama dengan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pencegahan FKUI, karena FKMUI tidak me mpunyai sarana pendidikan yang meliputi gedung, tenaga pengajar maupun penunjang administrasi. Dalam suasana prihatin karena langkanya dana dan tenaga, pimpinan Fakultas terus berusaha untuk mengembangkan FKMUI, sehingga mampu berdiri sebag ai Fakultas yang dapat menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh dunia kes ehatan masyarakat khusunya masyarakat Indonesia yang sedang membangun. Pendirian FKM UI, sebagai FKM pertama di Indonesia tersebut, mencerminkan kerja sama antara Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan secara baik. Pada wak

tu FKM UI dibentuk, dekan pertama Prof. Dr. Sajono (alm) adalah Kepala Dinas Kes ehatan Kota (DKK) Jakarta (sekarang DKI). Sedangkan Kepala Bagian PH FK UI adala h dr. Herman Soesilo (alm). FKMUI belum memiliki gedung sendiri. Perkuliahan dil aksanakan dalam gedung mikrobiologi kesehatan masyarakat FKUI di jalan Pegangsaa n Barat 16. Dengan ditempatkannya Prof. Dr. Sajono (alm) menjadi dekan FKMUI yan g berada di lingkungan FKUI, beliau sekalian diangkat menjadi kepala bagian PH F KUI, dan dr. Herman Soesilo (alm) dipindah menggantikan Prof. Dr. Sajono sebagai kepala DKK Jakarta. Program Pendidikan di FKM UI Pada awalnya, program pendidikan FKM UI hanya menerima mahasiswa yang berasal dari bidang kesehatan, yaitu lulusan tingkat fakultas (terdiri dari sarj ana medik/dokter) dan tingkat akademi (terdiri dari sarjana muda para medik berb agai bidang kesehatan seperti: penilik kesehatan/sanitasi, gizi, dan keperawatan ). Lama pendidikan bagi kedua kategori mahasiswa tersebut sama yaitu satu tahun dan gelar yang diberikan kepada lulusan pada waktu itu kurang ada ketegasan. Apa kah gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) atau Doktorandus (Drs). Penggunaan gelar Drs ini tidak disalahkan untuk pendidikan yang sifatnya lebih tinggi dari akademi/sarjanan muda. Kemudian sekitar tahun 1968 atau 1969 ada perubahan dalam lama program pendidikan. Yaitu bagi mahasiswa yang sarjana muda/paramedik, yang semula satu tahun kini menjadi dua tahun. Sedangkan bagi mahasiswa yang berlata r belakang sarjana/dokter tetap satu tahun dengan gelar SKM. Para dose n pada waktu itu lengkap dan berkualitas, baik dari segi pendidikan maupun lapan gan kerja. Di antara para dosen itu dapat disebutkan: Prof. Dr. Sajono, Prof. Dr . Bagiastra dan dr. Herman Soesilo (ketiganya almarhum dan memperoleh MPH dalam bidang PH Administration). Kemudian: Prof. Dr. Dradjat Prawiranegara (alm, MPH N utrition), Prof. dr. Karimuddin (alm, MPH Environment & Occupational Health), Pr of. dr. Gambiro (alm, MPH MCH), dr. Budiharsana dan Prof. dr. Widodo Talogo (alm , MPH Epidemiologi), dr. Wiryawan Djojosoegito dan dr. Liem Tjae Lie (alm, MPH H ealth Education) dan Prof. dr. Gani KS (alm, MPH Statistik). Kepemimpinan FKMUI Untuk mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi Fakultas dan juga unt uk lebih memacu perkembangannya, maka pada tanggal 10 April 1972 Rektor Universi tas Indonesia membentuk apa yang dikenal dengan Staf Inti FKMUI yang terdiri dar i : Iwan Sutjahja, dr.MPH (sebagai ketua), Does Sampoerno, dr.MPH (Sekretaris, n ow(), now()); dan empat orang anggota, yaitu : Budi Harsana, dr.MPH, Kusuma Sury a Gani, dr.MPH, Sujana Jatiputra, dr.MPH dan Gambiro Prawirosudirdjo, dr.MPH. Dengan bantuan berbagai pihak, antara lain Departemen Pendidikan dan Keb udayaan RI (Dirjen Pendidikan Tinggi), rektor UI, Konsorsium Ilmu Kedokteran, De partemen Kesehatan, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), USAID, CMB, University o f Hawai, maka pada bulan September 1972 selesailah disusun oleh staf inti Rencan a Lima Tahun Pengembangan FKM UI. Dalam perkembangan selanjutnya dari staf inti ini, dibentuklah 3 macam panitia, yaitu sebagai berikut : 1. Panitia Akademik Riset dan pelayanan dengan Does sampoerno, dr.MPH sebagai Ketua dan PMH Sinaga, dr.MSc sebagai Sekretaris. 2. Panitia Administrasi dan Keuangan dengan Budi Harsana, dr.MPH sebagai Ketu a dan Alex Papilaya, dr.DTPH sebagai Sekretaris. 3. Panitia Kemahasiswaan dan Alumni dengan Gambiro Prawirosudirdjo, dr,MPH se bagai Sekretaris. Dengan terpilih dan ditetapkannya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor. 6345/C/1973 tanggal 14 Februari 1973 dan tersusunnya organisasi yang dianggap memadai pada waktu itu, maka staf intipun dibubarkan. Selain itu usahausaha pembangunan gedung FKMUI di Jalan Proklamasi 16 terus dilaksanakan, sehing ga akhirnya pada tanggal 16 Juni 1973 gedung tersebut diresmikan oleh rektor UI Prof. DR. Ir. Soemantri Brodjonegoro, dan diberi nama Gedung Mochtar, untuk meng enang jasa-jasa Prof. Mochtar almarhum. Pada perkembangan terakhir, setelah hamp ir 15 tahun di Gedung Mochtar yang bersejarah itu, mulai tahun akademik 1987/198

8 seluruh kegiatan FKMUI diselenggarakan di kampus Baru UI Depok, suatu kampus y ang selama ini menjadi idaman. Sejak tanggal 1 Juli 1965 anggota kedek anan FKMUI yang mepiluti Dekan, Pembantu Dekan Bidang Akademis, Pembantu Dekan B idang Administrasi dan Keuangan, dan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswa dan Alumn i, adalah sebagaimana dapat dibaca pada tabel berikut: Tahun Dekan PD Bid. Akademis PD Bid. Adm & Keu PD Bid. Mahasisw a & alumni 1965-1970 Prof. Sajono Sumodidjojo, dr.MPH Prof. Drajat D. Prawiran egara,dr.MPH Prof. I Made Bagiastra,dr.MPH. Prof. T. Karimuddin, dr.MPH. 1970-1972 Prof. T. Karimuddin, dr.MPH. Widodo Talogo, dr.MPH. Gambiro Prawirosudirdjo,dr.MPH Herman Soesilo,dr.MPH. 1973-1976 Iwan Sutjahja, dr.MPH. Does Sampoerno dr.MPH. Budiharsana, dr. MPH. Gambiro Prawirosudirdjo,dr.MPH 1976-1980 H. Fahmi D. Saifuddin,dr.MPH. Sujana Jatimutra, dr.MPH. Soeratmi Poerbonegoro, dr.MPH Alex Papilaya, dr.DTPH. 1981-1983 Does Sampoerno, dr.MPH. Anhari Achadi, dr.SKM. Sri Angg rarini,drh,SKM. Suharnyoto Martomulyono,dr.MSc. (1983 diganti oleh PMH S inaga, dr.MSc.) 1984-1986 Alex Papilaya, dr. DTPH. Sudarto Ronoatmodjo, Dr.dr. SKM, MSc. Adik Wibowo, Dr.dr,MPH. Sudarti, dra,SKM,MA. 1987-1980, H. Fahmi D. Saifuddin,dr.MPH. Kemal N. Siregar, SKM,MA. Izhar M. Fihir, dr,MOH,MPH. Ratna D. Hatma, dr, MPH. 1991-1994 Kemal N. Siregar, SKM,MA. Sudijanto Kamso, dr,SKM. Ratna D. Hatma, dr, MPH. Zulasmi Mamdy, dr.MPH. 1995-1997 Prof. Ascobat Gani, dr. MPH, DrPH. H. Adang Bachtiar,dr,MPh , DSc. Hj. Mardiati Nadjib, drg, MSc. H. Syahrial Srarif, dr.MPH. 1997-2000 Prof. Ascobat Gani, dr. MPH, DrPH. Prof. Sudarto Ronoatmodj o,dr,SKM, MSc. Agustin Kusumayati,dr,MSc. H. Syahrial Srarif, dr.MPH. 2000-2004 Prof. Sudarto Ronoatmodjo,dr,SKM, MSc. Nuning M. Kiptiyah, dr,M PH,DrPH. Agustin Kusumayati,dr,MSc. Sabarinah B. Prasetyo, dr,MSc. Sejak April 2004 anggota kedekanan FKMUI berubah, meliputi Dekan, Wakil Dekan I yang membawahi Bidang Akademik, dan wakil Dekan II yang membawahi bidang Non Aka demik. Anggota kedekanan untuk tahun 2004-2008 adalah : Prof. dr. Hasbullah Thab rany, MPH, DrPH (Dekan), Bambang Wispriyono, Drs, Spt, PhD. (Wakil Dekan I), dan Prastuti Chusnun Soewondo, SE,MPH,Ph.D. (Wakil Dekan II). Proyek Pengembangan T enaga HES Pada sekitar tahun 1971 dengan bantuan WHO dan USAID dibentuk Proyek P engembangan Tenaga Ahli Pendidikan Kesehatan Masyarakat, atau Health Education M anpower Development Project, yang lebih dikenal dengan Proyek HES. Proyek terseb ut selain bermaksud mengadakan tenaga ahli atau spesialis dalam bidang pendidika n kesehatan masyarakat, juga dimaksudkan untuk memperkuat FKM UI. Melalui proyek tersebut direncanakan untuk dihasilkan sebanyak sekitar 60 orang tenaga ahli HE (HES) yang akan ditempatkan di Pusat dan di daerah. Separuh dari jumlah HES ter sebut akan dididik di berbagai universitas di Amerika, sedangkan separuhnya lagi akan dididik di dalam negeri, yaitu di FKM UI. Proyek pengembangan te naga pendidik kesehatan ini berjalan 5 tahun. Setelah melakukan berbagai persiap an, a.l. mengirim tenaga dosen ke luar negeri, mempersiapkan kurikulum dll, maka pada sekitar tahun 1973 FKM UI mulai menyelenggarakan program pendidikan (tingk at manajerial atau magister) tenaga HES ini. Latar belakang calon tenaga HES yan g diterima harus sudah sarjana, dokter atau non dokter, meliputi: sarjana pendid ikan, ilmu sosial, psikologi, dan anthropologi. Program pendidikan yan g disiapkan bagi calon HES itu lamanya antara 1,5 – 2 tahun. Bagi sarjana non kese hatan, lama pendidikan dua tahun ditambah setengah tahun magang di lapangan. Sed angkan bagi sarjana/dokter, lama pendidikan satu tahun di FKMUI ditambah setenga h tahun magang di lapangan. Magang itu dilakukan bersama dengan mereka yang sarj ana non kesehatan. Di lapangan ini mereka melakukan kegiatan perencanaan dan pel aksanaan pendidikan kesehatan dalam program kesehatan di tempat mereka magang. Program peminatan

Dari pengalaman menyelenggarakan proyek HES ini, dan dengan berlakunya penstrataan kesarjanaan, lambat laun mahasiswa lulusan akademi berkurang. Merek a berusaha untuk memperoleh gelar sarjanan S1 lebih dahulu, dan FKM UI juga tida k menutup pintu untuk mereka yang berlatar belakang S1 non kesehatan. Kemudian dengan berkembangnya sistem kredit pada sekitar tahun 1976 (pada waktu kepemimpinan dr. Fahmi Saefuddin – Prof. Dr. Sujana) FKM UI memiliki bidang pemina tan, yaitu: Admin istrasi, Epidemiologi, Kesehatan Lingkungan/Kesehatan Kerja, P endidikan Kesehatan (HE), dan Statistik/Demografi. Untuk HE program peminatan la ngsung dapat diterapkan dengan dikurangi atau ditambah pengalaman lapangan sesua i dasar atau latar belakang pendidikan mahasiswa maupun biaya yang tersedia. Dal am waktu ini mahasiswa lain dari peminatan HE dapat kesempatan memperoleh materi HE karena menginginkan/membutuhkannya. Di samping strata S1 dan S2, juga ada pe ndidikan non gelar D3 promosi kesehatan yang telah meluluskan beberapa angkatan. Tetapi sekarang ini berhenti karena kebijakan UI yang berlaku. Meskipun sebenar nya konon program ini banyak peminatnya dan lulusannya banyak yang langsung memp eroleh pekerjaan. Muatan Pendidikan Kesehatan (Health Education) Pada waktu Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) belum ada, pada dasarny a materi Pendidikan Kesehatan/Health Education (selanjutnya disingkat HE) sudah diberikan kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dalam perkuliahan ilmu keseh atan masyarakat. Di samping HE yang diberikan dalam kedudukannya sebagai salah s atu program pokok Kesehatan Masyarakat (Public Health, selanjutnya disingkat PH) juga diberikan promosi kesehatan (health promotion, selanjutnya disingkat HP) y ang diterima sebagai kegiatan pencegahan tingkat pertama dalam kedokteran penceg ahan (preventive medicine). Pembelajaran ini berjalan dengan dosen lulusan Fakul tas Kesehatan Masyarakat Luar Negeri, dosen Fakultas Kedokteran dan juga pejabat Departemen Kesehatan. Materi diberikan dalam perkuliahan, pengalaman bekerja di lapangan, serta membaca buku rujukan yang waktu itu tidak banyak tersedia. Buku pegangan pokok adalah: Public Health Administration karangan Hanlon dan Prevent ive Medicine karangan Leavell & Clark. Dengan muatan PH/HE/HP ini para lulusan FK ditempatkan langsung di daerah bertugas sebagai dokter di masyarakat atau di kantor Dinas Kesehatan. Mereka yang berasal dari Departemen P & K kemba li ke Fakultas Kedokteran. Mereka itu ada yang langsung mengajar di klas, dan ad a pula yang ditempatkan di institusi pelayanan kesehatan tempat diselenggarakann ya pendidikan mahasiswa FK (seperti Rumah Sakit dan Puskesmas Umum/Khusus). Muatan HE dan HP ini dalam perkuliahan Kesehatan Masyarakat S2 di FKM UI m engalami perubahan dan perkembangan, sbb: Mahasiswa/Tahun Dokter/Drg Paramedis Sarjana Non Kesehatan 1965-1972 HE/HP dalam kesmas/PH (1 tahun) HE/HP dalam kesmas (1 th n, now(), now()); setelah 1970 menjadi 2 tahun Belum ada 1973-1977 HE/HP dalam kesmas/PH (1 tahun, now(), now()); Bagi mahasiswa HE S plus 1/2 tahun praktek HE di lapangan HE/HP dalam kesmas (2 tahun) Hanya ada HES; HE dlm kesmas (1 th), kuliah pre klinik (1/2 th) dan di lapangan HE (1/2 th) 1977-sekarang Paket peminatan dgn kuliah tertentu; HE harus diikuti semua maha siswa (1 tahun) Tidak ada mahasiswa lulusan akademi langsung masuk S2 Pendidikan 2 tahun dgn peminatan yang dipilih Program Pendidikan S1 Empat Tahun Pada akhir tahun 1980-an FKM UI mulai menyelenggarakan program pendidi kan S1 kesehatan masyarakat bagi lulusan SMA. Ini sehubungan dengan kebijakan pe merintah di bidang pendidikan bahwa fakultas adalah institusi pendidikan dengan keharusan menerima mahasiswa lulusan SMA untuk memperoleh gelar sarjana (S1) di samping pendidikan pasca sarjana (lanjutan) S2 dan S3. Waktu pendidikan untuk S1 (SKM) adalah 8 semester atau 4 tahun. Pada awal dimulainya pendidikan 4 tahun ini mahasiswa dengan dasar akademi masih ada dan digabung dengan mahasi swa yang 4 tahun pada 2 tahun terakhir. Lambat laun mahasiswa berlatar belakang pendidikan akademi tidak ada. Lulusan dengan gelar SKM ini memperoleh muatan HE dan Promkes terliput dalam perkulihan PH dengan program dasarnya a.l.: Administr

asi Kesehatan, Kesehatan lingkungan dan Kesehatan Kerja, Pendidikan Kesehatan da n Ilmu Perilaku (PKIP), Statistik dan kependudukan, gizi dan epidemiologi. Pengembangan FKM lainnya di Indonesia Pada sekitar tahun 1994-1995 dengan dukungan Menteri Pendidikan dan Ke budayaan, Departemen Kesehatan dan USAID dibentuk Faculties of Public Health Dev elopment Project ( Proyek pengembangan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesi a). Proyek ini adalah Proyek Kerjasama selama 5 tahun dengan tujuannya adalah me mbentuk 4 (empat) Fakultas Kesehatan Masyarakat Negeri baru di Indonesia, yaitu di Universitas Sumatera Utara (FKM-USU) di Medan, FKM Universitas Diponegoro (Un dip) di Semarang, FKM Universitas Airlangga Surabaya, FKM Universitas Hasanuddin Makassar. FKMUI sebagai Fakultas Kesehatan Masyarakat yang paling tua berfungsi sebagai Pembina. Ketua Project Management Unit (PMU) dari kegiatan tersebut ada lah Prof. dr Does Sampoerno, MPH. Dengan proyek tersebut untuk menduku ng pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di tiap FKM telah diseleksi sejumlah s taf pengajar untuk mengikuti pendidikan tingkat S2 maupun S3 baik di luar negeri (USA) maupun diberbagai perguruan tinggi di Indonesia. Selain pengembangan prog ram riset di bidang kesehatan masyarakat dan dukungan hardware, software, keleng kapan perpustakaan melalui proyek tersebut juga dikembangkan pendidikan tenaga a hli kesehatan masyarakat lulusan SMA yang dikenal sebagi program “S1 4 (empat) tah un”. Ini untuk melengkapi program “S1 2 (dua) tahun” yang peserta programnya adalah me reka yang tamat pendidikan tingkat akademi. Dengan demikian Pendidikan Kesehatan Masyarakat di Indonesia berkembang bukan hanya tingkat S1, S2, tetapi juga sampai tingkat Doktor (S3). Proyek berakhir pada tahun 2000/2001. Pada saa t tersebut jumlah FKM Negeri di Indonesia sebanyak 5 buah, dan masing-masing tel ah menerima mahasiswa baru FKM lulusan SMU (yang dimulai tahun 1996) dan setiap FKM menampung antara 50-80 mahasiswa baru setiap tahunnya. Di beberapa FKM juga mulai dengan program pendidikan S2 di bidang Kesehatan Masyarakat. Sementara itu di lingkungan FK Negeri se Indonesia (13 buah) juga terdapat Bagian Kedokteran Pencegahan. Sebagian FK tersebut juga menyelanggarakan Pendidikan Ahli Kesehatan Masyarakat. Sesudah proyek selesai 5 FKM membentuk Badan kerjasama FKM di Indon esia yang bertujuan untuk saling memperkuat dan tukar pengalaman demi kemajuan p endidikan Ahli Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Pendidikan Kesehatan Masyarakat di FKM Pasca 2000 Dengan selesainya proyek Pengembangan FKM di Indonesia, maka ada gejal a liberalisasi pendidikan oleh Mendiknas. Hal ini ditandai dengan berdirinya ber bagai pendidikan kesehatan masyarakat ( FKM-FKM) baik swasta maupun negeri. Saat ini diperkirakan jumlah FKM Negeri mapun swasta di Indonesia ada kurang lebih 4 0 buah. Di Jakarta saja paling sedikit terdapat 5 FKM negeri maupun swasta. Disa tu sisi hal ini menggembirakan tetapi dilain pihak dengan jumlah yang semakin be sar tentu akan berpengaruh pada kualitas proses belajar mengajar. Dala m rangka menjaga mutu pendidikantermasuk bidang kesehatan masyarakat telah diben tuk Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang telah melakukan proses akreditasi berba gai pendidikan tinggi termasuk bidang kesehatan masyarakat. Selain itu telah dib entuk juga Konsorsium Ilmu Kesehatan dimana berbagai keahlian kesehatan, dokter, dokter gigi, perawat dan kesehatan masyarakat juga diwakili. Melalui konsorsium ini juga dibicarakan dan didiskusikan berbagai aspek pendikan tinggi kesehatan termasuk di bidang kesehatan masyarakat. PKM Di Institusi/Akademi Pendidikan Tenaga Kesehatan Selain di FKM, materi pendidikan kesehatan masyarakat juga merupakan b agian kurikulum di Insititusi/Akademi Pendidikan Tenaga Kesehatan. Misalnya, di Akademi Penilik Kesehatan (sekarang: Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kes ehatan), Akademi Gizi (sekarang: Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan), dan Akademi Perawat (sekarang: Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan). Institusi Pendidi kan Tenaga Kesehatan tersebut diselenggarakan baik oleh Pemerintah (Dep. Kesehat an), Pemerintah Daerah, TNI/POLRI, maupun oleh swasta. Di Institusi Pe ndidikan tersebut materi PKM diberikan secara bervariasi. Ada yang merupakan mat a kuliah tersendiri, ada juga yang terintegrasi dalam mata kuliah kesehatan masy

arakat, atau kesehatan komunitas. Dalam perkembangannya kemudian, mata kuliah PK M diganti menjadi mata kuliah pemberdayaan masyarakat, yang isinya selaras denga n substansi promosi kesehatan. Lamanya juga bervariasi antara 1 sampai 2 semeste r. Selain itu materi PKM tersebut biasanya juga terintegrasi dengan materi lain secara komprehensif pada saat kuliah kerja lapangan. Lulusan Institusi /Akademi Pendidikan Tenaga Kesehatan tersebut selain dapat langsung bekerja, jug a dapat melanjutkan pendidikan S1 di FKM ataupun Sekolah Tinggi Kesehatan lainny a. Bagaimana di masa datang Khusus dalam pengembangan mutu tenaga pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia, kiranya perlu dipersiapkan program pendidikan tenaga promosi keseh atan ini secara lebih mantap. Perlu dilakukan kerjasama antara pengguna/pengirim tenaga dengan institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan. Ter utama juga untuk mengantisipasi adanya kebijakan pendidikan yang yang berbasis k ompetensi (competency based curriculum). Dalam kaitan itu kiranya perl u dimasukkan kembali ke dalam kurikulum praktek atau pengalaman kerja lapangan. Itu karena kegiatan promosi kesehatan merupakan kegiatan yang langsung berhadapa n dengan sasaran, baik itu konsumen ataupun provider. Kemampuan untuk mempraktek kan hubungan antar pribadi, pemasaran, penampilan, ketrampilan non verbal dll ki ranya perlu diberikan dalam kurikulum. Juga hal-hal lain sesuai dengan perkemban gan dan tantangan yang dihadapi. Selanjutnya interaksi yang lebih dina mis dan cerdas memang perlu dilakukan terus menerus antara pihak FKM dengan berb agai pihak, baik Pemerintah, pemerintah daerah, kalangan swasta, kalangan media, dan juga para alumninya sendiri. Kiranya FKM juga perlu membuka pintunya secara lebih lebar lagi untuk dapat menyerap aspirasi masyarakat. Demikian pula Instit usi/Akademi Pendidikan Tenaga Kesehatan (sekarang: Politeknik Kesehatan), juga p erlu berinteraksi dengan berbagai pihak dan membuka pintunya lebih lebar, termas uk untuk menyesuaikan dengan Sistem Pendidikan Nasional. Secara institusi FKM da n Institusi/Akademi Pendidikan Tenaga Kesehatan tersebut juga perlu terus belaja r untuk dapat terus mengembangkan diri dan berkreasi. Belajar memang perlu terus menerus dilakukan, sebagaimana kata-kata bijak yang dikutip di awal bab ini. Ju ga oleh institusi pendidikan, seperti FKM ini. Bab VIII SUMBER DAYA MANUSIA PROMOSI KESEHATAN (KETENAGAAN PENYULUH KESEHATAN) “Our greatest weakness lies in living up. The most certain ways to succeed is alwa ys to try just one more time”. (Thomas A. Edison) Tenaga Penyuluh Kesehatan di beberapa masa Keberadaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat/Promosi Kesehatan sangat di tentukan oleh tenaga pendukungnya. Selama ini sejak dari periode awal hingga kin i pada umumnya tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat/Promosi Kesehatan adalah ora ng-orang yang peduli (concern) pada bidang ini. Tapi karena jumlahnya sangat ter batas dan berada dalam lingkup struktur yang terbatas serta tidak strategis, mak a gemanya kurang terdengar. Dalam hal ini, pengalaman menunjukkan, bahwa pengaku an terhadap eksistensi Promosi Kesehatan dan pengembangannya termasuk ketenagaan nya pada saat ini tidaklah diperoleh dengan mudah. Artinya ada suatu proses panj ang yang cukup melelahkan yang harus ditempuh untuk dapat mencapai situasi seper ti sekarang. Pengadaan tenaga khusus Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan M asyarakat sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelum dibentuknya suatu unit khusus dalam struktur Departemen Kesehatan. Bahkan pada masa perintisan Pendidikan Kese hatan Rakyat di era pemerintahan Hindia Belanda sekitar awal abad 20 (1911) di B anyumas telah didirikan Sekolah Juru Hygiene yang menghasilkan sejumlah Juru Hyg iene yang bekerja melakukan propaganda kepada masyarakat. Para Juru Higiene ini bekerja di daerah perkebunan yang penduduknya banyak menderita penyakit cacing t ambang dengan menjadi tenaga propaganda yang memperkenalkan cara mencegah dan me mberantas serta mengobati penyakit ini. Kemudian pada masa awal kemerd ekaan, sekitar tahun 1948, kesadaran akan perlunya pendidikan kesehatan kepada r akyat diwujudkan melalui pendirian Sekolah Penyuluh Kesehatan di Magelang yang m empunyai daerah percontohan di Magelang dan Yogyakarta. Tenaga-tenaga ini diadak an secara sporadis di beberapa daerah yang merupakan perintisan pendidikan keseh

atan rakyat. Mereka ditugasi untuk melakukan penyuluhan di bidang hygiene dan sa nitasi untuk mencegah penyakit menular yang waktu itu menimpa sebagian penduduk terutama di perdesaan. Tenaga-tenaga ini pada dasarnya adalah tenaga sanitasi ya ng diberi kemampuan propaganda atau penyuluhan.Tetapi yang jelas tenaga-tenaga i ni belumlah merupakan tenaga propaganda atau pendidikan kesehatan secara khusus tetapi tenaga sanitasi atau perawat yang diberi ketrampilan propaganda/pendidika n. Pendidikan dan pelatihan tenaga pendidik atau penyuluh kesehatan in i juga dilakukan pada era KMD/PKR, khususnya di daerah percontohan Lemah Abang, Bekasi, dalam bimbingan Dr. Sulianti Sarosa. Pada waktu itu dikembangkan “Rural He alth Team” yang terdiri dari beberapa tenaga dari berbagai disiplin yang dengan ca ra “learning by doing” dan dengan semangat tim (team spirit) melakukan kegiatan kese hatan masyarakat desa. Beberapa alumni dapat disebutkan, a.l. Dra. Koesnaniah Wi rja Mihardja, Prof. Dr. Buchari Lapau, Drs. Putu Lawa Udayana, dll. Beberapa ora ng juga dikirim belajar ke luar negeri, seperti ke Beirut. Lebanon, India dan ju ga USA. Pengadaan Tenaga Health Education Specialist Arti penting pendidikan kesehatan pada akhir tahun 1960-an dan awal ta hun 70-an menuntut dikembangkannya tenaga khusus penyuluhan kesehatan yang diseb ut sebagai Health Education Specialist. Sekitar tahun 1968 dalam Rapat Kerja (Wo rkshop) Nasional a.l. dikemukakann tentang pentingnya pendidikan kesehatan dan k emudian diputuskan bahwa Pendidikan Kesehatan merupakan suatu usaha utama dan mu tlak untuk merealisasikan puskesmas. Dan dalam kesempatan itu direkomendasikan a .l. “pengembangan staff yang qualified melalui pendidikan Health Education Special ist”. Rekomendasi ini baru dapat diwujudkan pada tahun 1971 dalam bentuk Pendidikan Tenaga Ahli Pendidikan Kesehatan Masyarakat (Health Education Specia list). Upaya ini mendapatkan dukungan dana dan konsultan dari WHO dan USAID dan disebut sebagai Health Education Manpower Development Project. Tenaga-tenaga ini diharapkan menjadi advocator, motivator dan katalisator bagi penyusunan kebijak an dan keputusan pembangunan kesehatan masyarakat. Tenaga-tenaga ini direkrut da ri berbagai disiplin ilmu dan dididik dalam berbagai perguruan tinggi di luar da n di dalam negeri. Mereka dididik dan dipersiapkan untuk menjadi tenaga pengelol a PKM di tingkat nasional dan provinsi. Sejatinya, tenaga-tenaga ini dipersiapka n untuk menduduki jabatan atau fungsi penyuluhan kesehatan pada institusi keseha tan utamanya penyuluhan kesehatan di pusat dan provinsi maupun institusi di luar kesehatan. Ada dua model yang dikembangkan melalui pendidikan tenaga ahli PKM ini yaitu pendidikan model BOC dan pendidikan model FKM-UI. Pendidikan model pertama melalui tahapan basic orientation course (BOC) selama 6 bulan di C ilandak diikuti dengan pengalaman lapangan selama 6-12 bulan di Bandung dan dila njutkan dengan pendidikan S2 (Master) di universitas-universitas di Amerika Seri kat selama 1 tahun. Model pertama berlangsung selama 2 angkatan mencakup 31 oran g. Pendidikan model kedua melalui pra-SKM selama 6 bulan, diikuti pendidikan SKM (Master) selama 1 tahun dan diakhiri dengan pengalaman lapangan selama 6 bulan. Seluruhnya diselenggarakan di FKM-UI. Model kedua juga berlangsung selama 2 ang katan berjumlah 30 orang. Selama mengikuti kegiatan pengalaman lapanga n (work experience program), peserta (calon HES khususnya angkatan I dan II) dit empatkan di Puskesmas. Mereka melakukan study untuk mengenali masyarakat dengan menggunakan antropological approach. Mereka tinggal di desa dan hidup bersama ma syarakat desa. Hasil study itu disampaikan kepada masyarakat desa, lalu diadakan temu atau musyawarah desa untuk menyepakati hal-hal yang perlu dilakukan untuk membangun masyarakat desanya. Model inilah yang kemudian nanti berkembang menjad i apa yang disebut dengan “Pendekatan Edukatif”. Peserta juga mengembangka n program pendidikan kesehatan yang melekat pada masing-masing program kesehatan . Mereka ini mula-mula mengikuti kegiatan setiap petugas puskesmas (bidan, peraw at, sanitarian, petugas UKS, tenaga gizi, juga dokter), kemudian bersama masingmasing mereka mendiskusikan aspek pendidikan kesehatan yang dapat dilakukan oleh masing-masing tenaga kesehatan itu dalam program atau kegiatan masing-masing. Setelah di Puskesmas, peserta (calon HES) itu melakukan hal yang sama d i tingkat kabupaten (bersama staf Dinas Kesehatan Kabupaten) dan juga di tingkat provinsi (bersma staf Dinas Kesehatan Provinsi). Para peserta bolak-balik antar

a lapangan dengan klas. Dalam klas ini mereka memperoleh bimbingan para konsulta n (adviser dari WHO dan USAID) dan supervisor (bapak Putulawa Udayanan dan Bapak I.B. Mantra). Tenaga-tenaga ini kemudian setelah lulus (angkatan I sd IV) ditempatkan sebagian di Direktorat PKM, dan sebagian lainnya di Pusdiklat, Ditjen Binkesmas, Asuransi Kesehatan dan FKM di beberapa universitas negeri sert a di Dinas Kesehatan Provinsi (Unit PKM). Perkembangan karir mereka bervariasi m ulai dari staf sampai yang menjabat eselon 2 di Pusat PKM dan dari dosen/widyais wara hingga anggota Tim Pemberantas Korupsi. Ada juga yang menjabat eselon I di Departemen lain / Lembaga Non Departemen. Selaras dengan perkembangan pada waktu itu, ada juga beberapa tenaga lulusan ini yang beralih ke bidang-bidang lain ba ik yang masih berkaitan dengan penyuluhan kesehatan maupun yang tidak banyak ber kaitan dengannya. Walaupun demikian kehadiran tenaga-tenaga ini di posisinya mas ing-masing cukup mewarnai perkembangan penyuluhan kesehatan secara khusus dan pe mbangunan kesehatan pada umumnya. Tenaga Wakil Koordinator (Wator) PKM Pada pertengahan tahun 1970-an berhubung dengan dirasakannya kesenjang an antara tenaga ahli di provinsi dan tenaga PKM di kabupaten/kota, maka diperke nalkan suatu bentuk pelatihan praktis yang berjangka waktu singkat untuk petugas PKM lapangan. Pelatihan ini diselenggarakan bersama FKM-UI dengan menggunakan p endekatan modul. Pelatihan ini berjangka 3 bulan dan mengambil model pendidikan ahli PKM yang disederhanakan. Yaitu pendidikan teori di kelas selama 2 bulan dan dilanjutkan dengan pengalaman lapangan (magang) selama 1 bulan. Pelatihan ini d iselenggarakan di Jakarta (Direktorat PKM) dan juga disebar di beberapa provinsi yang dianggap mampu menyelenggarakan yaitu di Bandung (Jawa Barat), Semarang (J awa Tengah), Surabaya (Jawa Timur) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Dalam rangka penyetaraan pengetahuan dan ketrampilan didoronglah provinsi-provinsi lain untu k mengirimkan tenaganya agar dapat dilatih pada lokasi pelatihan yang terdekat p ada mereka. Misalnya NTT dan NTB mengirimkan petugasnya ke Surabaya. D engan didukung dana APBN melalui proyek PKM provinsi diperkirakan hampir seluruh kabupaten/kota dari seluruh provinsi di Indonesia (termasuk prov Timtim waktu i tu) telah mengikuti pelatihan tersebut. Tenaga-tenaga inilah yang kemudian diseb ut Wakil Koordinator (Wator) PKM yang ditempatkan kembali di kabupaten/kota untu k mengembangkan antara lain daerah percontohan kabupaten/kotanya yang disebut da erah kerja intensif (DKI) PKM disamping tugas-tugas PKM yang lain. Ten aga yang telah dilatih ini kemudian ditempatkan di unit PKM sebagai koordinator atau wakil koordinator dengan pengutamaan pada tingkat kabupaten walaupun ada ju ga yang ditempatkan di provinsi ataupun puskesmas dalam jumlah terbatas. Tenagatenaga inilah, sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki, yang ditugasi untuk meng embangkan antara lain daerah percontohan PKM yang disebut Daerah Kerja Intensif (DKI) PKM disamping tugas-tugas lain yang menjadi beban tugasnya. Pada waktu itu telah dipikirkan juga untuk mengembangkan tenaga PKM di tingkat Puske smas yang mendapatkan pelatihan yang mirip dengan pelatihan Wator dengan masa pe latihan yang lebih singkat lagi. Sayang sekali rencana ini tidak berjalan mulus terkendala dengan anggaran yang terbatas dan banyaknya jumlah tenaga yang harus dilatih. Akhirnya rencana tersebut hilang begitu saja yang berakibat pada belum sempat disiapkan dan diadakannya tenaga operasional di tingkat akar rumput/puske smas. Dengan kata lain, upaya penyuluhan kesehatan di tingkat terdepan belum men dapatkan perhatian dan sentuhan yang memadai dan tentu saja hal ini mempengaruhi perkembangan PKM dan kesehatan pada umumnya. Dalam era otonomi daerah di masa kini, pengembangan tenaga operasional promosi kesehatan perlu dihidupka n kembali dan jika memungkinkan merekrut serta menyebarkan tenaga jabfung PKM ya ng rencananya akan ditempatkan pada puskesmas-puskesmas di seluruh Indonesia. Ha l ini menjadi semakin mendesak lagi setelah menyaksikan perkembangan penyakit la ma dan baru yang bertubi-tubi mengancam dan menimpa sebagian atau seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Dengan berkembangnya waktu dan keadaan, sekitar akhir tahun 1980-an da n awal 1990-an lahir suatu konsep pemikiran tentang profesionalisme tenaga birok

rasi pemerintahan melalui jabatan fungsional. Artinya untuk meningkatkan pelayan an publik, struktur yang ada sekarang sudah tidak memadai lagi dan harus didukun g oleh tenaga fungsional yang bermakna professional yang menguasai ilmu dan tekn ologi profesi yang bersangkutan dan terampil melaksanakannya. Untuk me ngembangkan program PKM jelas diperlukan jabatan fungsional PKM disamping tentun ya tenaga jabatan struktural yang sudah ada di berbagai tingkatan administratif. Pada waktu itu di lingkungan kesehatan sendiri baru dibentuk beberapa tenaga ja batan fungsional seperti dokter, dokter gigi dan perawat. Lalu diikuti dengan te naga professional yang bersifat umum seperti penata komputer, pustakawan, arsipa ris, dll. Sedangkan di lingkungan pertanian misalnya dibentuk penyuluh pertanian , penyuluh perikanan, kehutanan dan lain-lain. Pembentukan jabatan fun gsional penyuluh Kesehatan masyarakat sebenarnya dimulai pada tahun 1989, tetapi baru intensif dilakukan pada tahun 1992. Selanjutnya. Proses pembahasannya meli batkan berbagai pihak seperti MENPAN, BAKN (sekarang BKN), Biro kepegawaian Depk es., Pusat PKM, Direktorat BPSM, Unit PKM Provinsi, Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi bahkan sector-sektor lain yang sudah berpengalaman dalam membentuk dan mengembangkan jabatan fungsional masing-masing. Kendala utama yang dihadapi hádala pengakuan terhadap penyuluhan kesehatan sebagai sutau profesi. Setela h melalui proses panjang dengan kerja keras dan melelahkan serta mengalami masamasa yang sulit, akhirnya Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) menetapkan terbentuknya Jabatan Fungsional Penyuluh Keshatan Masyarakat (PKM) pa da tahun 2000 melalui Keputusan MENPAN No. 58/M.PAN/VIII/2000 tanggal 14 Agustus 200. Keptusan ini mengacu pada KEPPRES No. 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Pegawai negeri Sipil. Terbentuknya jabatn fungsional PKM ini dari awal kurang m enjanjikan, karena sudah diberikan batasan bahwa sepanjang kondisi keuangan nega ra Belem memungkinkan makan tunjang jabatan tidak disediakan. Tetapi untunglah a ngka kreditnya sudah dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkat/jabatan. Animo untuk menjadi pejabat fungsional tidak menggebu-gebu, karena kurang me narik atau menjanjikan walaupun sudah ditawarkan ingá ke daerah-daerah. Namur demi kian masih ada sejumlah PNS kesehatan terutama di beberapa provinsi mengajukan d iri untuk menjadi pejabat fungsional melalui proses inpassing (pemutihan). Prose s ini berlangsung hinggá akhir tahun 2001, dan untuk selanjutnya diberi kesempatan untuk menjadi pejabat fungsional PKM dengan persayaratan melalui pengangkatan p ertama kali seperti yang berlaku pada jabatan fungsional lain. Baru pada tahun 2 004 dengan Keppres No. 5 tahun 2004 disediakan tunjangan jabatan fungsional ling kup rumpun kesehatan. Pada awalnya, tenaga yang terjaring sekitar 200an orang dan kini berdasarkan data bulan Februari 2005 telah terdaftar sebanyak kira-kira 856 orang yang terdiri dari 98 tenaga ahli dan 758 tenaga trampil. Pen yebarannya kebanyakan tenaga ini berada paling jauh di tingkat kabupaten atau ko ta, malahan yang terbanyak berada pada di pusat dan provinsi. Sedangkan di puske smas-puskesmas sebagai fron terdepan dari promosi kesehatan ketersedian tenaga P KM jauh daripada memadai. Sebagai contoh, di Pusat Promosi Kesehatan d iantara 75 pegawai terdapat 37 tenaga jabatan fungsional penyuluh kesehatan dan 5 arsiparis. Jabatan struktural berjumlah 11 orang, dan staff sebanyak 22 orang. Dari 37 orang ini terdiri dari 19 orang Penyuluh Kesehatan Ahli dan 18 orang Pe nyuluh Kesehatan Terampil. Masih ada beberapa orang pejabat fungsional PKM yang berada di Direktorat Kesehatan Komunitas (5 orang), Direktorat Gizi ( 7 orang), Direktorat Kesehatan Khusus 1 orang, Sekretariat Ditjen Binkesmas 4 orang, dan d i UPT Pusat 9 orang. Beberapa hal tentang Jabatan Fungsional PKM Namanya memang Tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat, tetapi dalam peng ertian dapat dimengerti bahwa tenaga tersebut adalah juga tenaga promosi kesehat an. Dalam bab tentang Pengertian umum disebutkan bahwa Jabatan fungsional ádalah j abatan profesional sebagai pelaksana teknis fungsional pada unit tertentu. Sedan gkan Penyuluh Keshatan Masyarakat ádalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tangungj awab dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan p enyuluhan keshatan masyarakat/promosi kesehatan secara profesional. Ke giatan yang diemban oleh pejabat fungsional ini ádalah: Promosi Kesehatan/Penyuluh an Kesehatan Masyarakat yang bermakna sebagai proses pemberdayaan perorangan, ke

luarga dan masyarakat agar mereka mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya . Persyaratan menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat tentu yang bersang kutan sudah diangkat sebagai PNS, telah melaksanakan tugas PKM/PROMKES sekurangkurangnya 2 tahun dan DP3 ( Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) dalam 2 tahu n terkahir bernilai baik. Pada awalnya tenaga fungsionalo PKM ini diangkat melal ui Inpassing yang berakhir pada Bulan Desember 2001, dan selanjutnya untuk penga ngkatan pertama kali adalah, PKM Terampil : Berijazah D III kesehatan señalan deng an kebutuhan di daerah, maka minimal pendidikan tersebut akan direvisi menjadi D I kesehatan. PKM Ahli : minimal berijazah D IV dan menduduki pangkat Penata Muda ( III a ). Jenjang kepangkatan dari PKM Terampil dari golongan II/b hingga III d, sedangkan PKM Ahli dari golongan III a hingga IV c. Tugas pokok jaf ung PKM adalah : Penyuluh Kesehatan adalah melaksanakan: a). Advokasi, Bina Suas ana, dan pemberdayaan masyarakat; b) melakukan penyebarluasan infromasi; c) memb uat rancangan media; d) melakukan penlitian/pengkajian perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan; e) merencanakan intervenís dalam rangka mengembangka n perilaku masyarakat yang mendukung kesehatan. Yang membedakan antara kedua jen is tenaga ini adalah : tugas dan kompetensi, kualifikasi pendidikan serta pangka t awal. Tugas PKMterampil meliputi kegiatan teknis operacional yang bersifat ket erampilan,s edangkan PKM Ahli meliputi pengembangan pengetahuan, penerapan konse p dan teori, ilmu dan seni untuk pemecahan masalah dan proses pembelajaran secar a sistematis. Selanjutnya disebutkan bahwa Angka kredit : adalah statu angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang sudah dicapai seo rang penyuluh kesehatan masyarakat dalam mengerjakan kegiatan yang digunakan seb agai salah satu syarat pengangkatan dan kenaikan pangkat Penyuluh Kesehatan Masy arakat. Sedangkan mengenai Tim Penilai/Instansi yang berwenang dapat dibedakan s ebagai berikut : Tim Penilai tingkat pusat dibentuk oleh Sekretaris Jenderal dan pada tingkat Direktorat/Unit oleh Kepala Pusat Promosi Kesehatan, sedangkan tin gkat Provinsi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan pada tingkat Kabupaten/k ota oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Lingkup/ruang tugas da ri jabatan ini meliputi tingkat pusat dan daerah sebagai berikut : * Pusat: Pusat Promosi Kesehatan dan Unit lain di dalam dan di luar Depkes. * Daerah Provinsi : Unit yang mengurusi PROMKES/PKM/PSM dan unit lain di lin gkungan Dinas Kesehatan Provinsi. * Daerah Kabupaten/Kota : unit yang mengurusi PROMKES/PKM/PSM dan unit lainn ya. * Rumah Sakit Umum : Unit PROMKES/PKM dan unit lainnya. * Puskesmas : yang melaksanakan Promkes/PKM/PSM/Pemberdayaan masyarakat. * Unit lain : Balai Kesehatan, Balai Diklat Kesehatan dll. * Masyarakat : Bantuan untuk swasta dan LSM. Organisasi Profesi PPKMI Di satu pihak dengan semakin berkembangnya program PKM/Promosi Kesehat an dengan organisasi formal pengelola di belakangnya dan di lain pihak meningkat nya kesadaran dan kecerdasan masyarakat di bidang kesehatan mempersyaratkan bahw a tenaga PKM/Promosi kesehatan haruslah profesional dan dapat diandalkan. Untuk itu diperlukan faktor pendukung seperti organisasi profesi yang mampu menghimpun dan membina anggotanya sehingga memiliki keahlian dan ketrampilan yang mumpuni dan sekaligus dapat mengangkat citra PKM/Promosi kesehatan didalam lingkungan ke sehatan maupun masyarakat pada umumnya. Menyadari akan hal ini, maka p ada tahun 1988 sekelompok ahli dan peminat pendidikan dan promosi kesehatan masy arakat mendirikan suatu organisasi profesi bernama Perkumpulan Pendidikan Keseha tan Masyarakat Indonesia (PPKMI) yang kemudian disempurnakan menjadi Perkumpulan Promosi dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat Indonesia (Perkumpulan PPKMI). Orga nisasi ini disahkan melalui Akte Notaris Eko Hari Poernomo,SH no. 3 tgl 1 Agustu is 2003. Pada hakekatnya organisasi ini tidaklah sepenuhnya mandiri tapi bernaun g dibawah organisasi Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Hubungan ini menggambarkan eratnya hubungan antara promosi kesehatan dengan k esehatan masyarakat pada umumnya. Dengan terbentuknya organisasi ini, dirumuskan

pula visi, misi, tujuan, strategi dan program-program pokok PPKMI. Visi PPKMI a dalah : Perilaku hidup sehat bagi masyarakat Indonesia guna terciptanya kualitas sumber daya manusia Indonesia yang optimal. Misinya adalah : Meningkatkan kemam puan profesional di bidang promosi dan pendidikan kesehatan masyarakat agar berp eran optimal dalam pembangunan kesehatan. Sedangkan Tujuan PPKMI adala h : 1). Berperan aktif dalam pembangunan kesehatan dengan menerapkan promosi dan pendidikan kesehatan masyarakat; 2). Mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketramp ilan di bidang promosi dan pendidikan kesehatan masyarakat melalui seminar, simp osium, sarasehan, penelitian dan pelatihan; 3). Meningkatkan kemampuan organisas i dan kesejahteraan anggotanya; 4). Mengatur standardisasi dan akreditasi profes i; 5). Memberikan umpan balik/masukan pada kebijakan. Adapun Strategi yang ditetapkan adalah : 1) Advokasi di bidang kesehatan dengan menempatkan bida ng kesehatan sebagai agenda pokok dalam kebijakan yang berpengaruh pada masyarak at luas; 2) Meningkatkan dukungan sosial dengan menekankan pada terciptanya ling kungan yang mendukung serta kemitraan dan jaringan kerja yang dapat memberikan d ukungan untuk terciptanya perilaku hidup sehat. 3) Pemberdayaan masyarakat denga n memberikan bekal pada setiap individu, keluarga dan kelompok yang ada di masya rakat akan pengetahuan dan kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat dalam pe mecahan masalah kesehatan perorangan maupun kesehatan masyarakat umum. Selanjutnya juga dirumuskan Program Pokok: 1) Mengembangkan bidang penelitian d an pengembangan program promosi kesehatan; 2) Mengembangkan program peningkatan kualitas SDM sehingga mampu berperan dalam upaya promosi kesehatan secara optima l; 3) Melakukan kemitraan dengan berbagai pihak terkait dalam mendukung upaya pr omosi kesehatan berdasarkan prinsip kesetaraan, keterbukaan, dan saling menguntu ngkan. Selama ini organisasi tersebut telah terlibat dalam berbagai ke giatan antara lain: 1) Kegiatan Penelitian berupa pengembangan dan penyempurnaan indikator perilaku hidup bersih dan sehat tahun 2001-2002 dalam kerjasama denga n Pusat Promosi Kesehatan, Litbangkes Depkes dan BPS; 2) Kegiatan Pelatihan dala m bentuk pelatihan tenaga PKM trampil dan ahli di tingkat pusat dan provinsi tah un 2002, 2003 bekerjasama dengan Pusat Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan Provin si dan Diklatkes Depkes. 3) Pengembangan Organisasi menyangkut penyusunan etika profesi promosi, penyuluh dan pendidik kesehatan masyarakat Indonesia dan terlib at dalam penyelenggaraan Konferensi Nasional Promosi Kesehatan; 4) Menyiapkan te naga konsultan. Dalam hal konferensi nasional itu PPKMI bekerjasama de ngan Pusat Promosi Kesehatan Depkes telah tiga kali menyelenggarakan konferensi nasional promosi kesehatan. Pertama di Hotel Horizon, Ancol, pada tahun 1997, be rsamaan dengan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan ke-4. Kedua di hotel B idakara, Jakarta pada tahun 2001 dan ketiga di Yogyakarta pada tahun 2004. Pengurus Perkumpulan PPKMI periode 2002-2005 (sekarang) dipimpin oleh dr. Z ulasmi Mamdi, MPH selaku Ketua Umum. Sedangkan Ketua Umum pada Pengurus yang per tama adalah dr. I.B.Mantra, MPH, MSc (alm). Keanggotaannya terbuka pada mereka y ang terkait dengan promosi kesehatan/pendidikan kesehatan termasuk yang berminat . International Union for Health Promotion and Education (IUHPE) Organisasi internasional yang menangani pendidikan dan promosi kesehat an disebut International Union for Health Promotion and Education (IUHPE) yang p engurusnya berkedudukan di Paris. Organisasi ini telah menyelenggarakan 18 kali konferensi internasional. Empat kali yang terakhir yaitu yang ke XV di Ciba, Jep ang tahun 1995, ke XVI di Puerto Rico, AS tahun 1998, ke XVII di Paris, Prancis tahun 2001, dan terakhir ke XVIII di Melbourne, Australia tahun 2004. Rencananya konferensi yang ke XIX akan diselenggarakan di Canada pada tahun 2007. Peserta konferensi adalah individu yang berminat dan melamar kepada panitia karena konfe rensi ini bersifat keilmuan. Peserta Indonesia biasanya menghadiri konferensi-ko nferensi ini kecuali di Puerto Rico tahun 1998 karena situasi negara yang tidak kondusif. Dalam pertemuan internasional itu dibahas berbagai pengemban gan dan keberhasilan kegiatan promosi kesehatan di seluruh bagian dunia, baik di negera maju maupun negara yang sedang berkembang. Disampaikan berbagai studi ka sus, serta disampaikan pula hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan promosi kesehatan. IUHPE ini mempunyai terbitan berupa jurnal tiga bulanan ya

ng menggunakan tiga bahasa (Inggeris, Perancis dan Spanyol), bernama: Promotion & Education. Pada konferensi di Melbourne yang diselenggarakan pada tahun 2004 t elah dipercaya untuk memimpin IUHPE selama tiga tahun ke depan adalah : Maurice B. Mitterlmark dari Norwegia. Alamat IUHPE adalah : IUHPE/UIPES – 42, boulevard de la Liberation 93203 Saint-Denis Cedex – France. Telepon: 33 (0)1 48 1371 20; Fax: 33 (0)1 48 09 17 67. Email: jcadinu@iuhpe.org. Sayang sekali sejak dulu Indones ia kurang mengambil bagian aktif dan kurang tampil dalam IUHPE ini. Bagaimana ke depan Demikianlah sebenarnya masalah SDM ini masalah kunci. Seharusnyalah ki ta mempersiapkan SDM Promosi Kesehatan ini dengan sebaik-baiknya. Kita semua per lu melakukan introspeksi: Apakah kita ini telah memberikan kontribusi bagi pemba ngunan khususnya bidang kesehatan? Kalau ada, seberapa jauhkah kontribusi itu? Untuk menghadapi masa depan, tidak ada lain kecuali kita harus meningka tkan kuantitas dan terutama kualitas SDM Promosi kesehatan ini secara terus mene rus, bersinambungan dan berkelanjutan. SDM Promosi Kesehatan hendaknya mempunyai kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual. SDM yang mempunyai kep ekaan tinggi (dimensi sosial), yang mau bekerja keras (dimensi fisik), secara ce rdas (dimensi intelektual) dan ihlas (dimensi spiritual). SDM tersebut selanjutnya diharapkan mampu melakukan berbagai peran. 1. Peran sebagai pendidik (educator) yang dengan sabar melalukan upaya peruba han perilaku, melalui upaya pendekatan educatif, community development, communit y organization, dll. Peran ini sering dilakukan secara “tut wuri handayani” atau den gan melakukan pendorongan dari belakang. 2. Peran sebagai “penjaja” (social marketer), yang harus dengan penuh percaya dir i dan ulet mengajak masyarakat untuk menerima dan pempraktekkan pesan-pesan seha t yang dijajakannya. Peran ini harus dilakukan secara lantang melalui berbagai m edia, dan agar lebih efektif harus disertai contoh atau ketauladanan dari sipenj aja sendiri. Dengan sendirinya ia memerankan diri di depan sebagai contoh, atau “i ng ngarsa sung tulodo”. 3. Peran sebagai pendamping, penasehat, atau “advocat”, yang harus dengan sabar d an cerdas mendampingi, membujuk, memantau atau “mengawal” para pembuat kebijakan aga r keputusan yang dibuatnya selalu berdampak positif terhadap kesehatan. Peran in i agar efektif harus dilakukan dengan menempatkan diri kita “setara” (dalam arti kel uasan wawasan, “respect” di masyarakat, dll) dengan para pembuat kebijakan tersebut. Dengan perkataan lain, harus dapat memerankan diri dalam koridor: “ing madya mang un karsa”. Dari semuanya itu, kata kuncinya adalah semangat dan tekad pantang men yerah. Kita perlu belajar dengan apa yang disampaikan oleh Thomas Alfa Edison, s ebagaimana dikutip pada awal bab ini. Bab IX PRO AKSI MASA DEPAN (Kurun Waktu 2005 – Y.a.d.) “Apabila hari ini lebih baik daripada kemarin kita beruntung, apabila sama kita ru gi, dan apabila lebih jelek kita hancur (Kata orang bijak) Dalam menghadapi masa depan perlu melakukan analisis situasi dan kecen derungan serta mengenali kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada dan yang potensiil akan ada. Berbekal pengalaman yang cukup panjang dari perjalanan promosi kesehatan dari masa para kemerdekaan sampai sekarang, banyak yang dapat dikemukakan tentang hal-hal tersebut. Selanjutnya kekuatan yang ada perlu dikon solidasikan dan ditingkatkan, kelemahan perlu dikenali dan diperbaiki, peluang p erlu dimanfaatkan, sedangkan tantangan harus dihadapi dengan sabar dan dengan se mangat pantang menyerah. Selanjutnya berdasarkan itu semua kita memant apkan langkah untuk menjalani masa depan. Hal-hal tersebut telah diuraikan denga n jelas dalam Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan, yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1193 Tahun 2004. Dalam bab ini, sebagian dar i uraian tersebut akan dikutip di sini dengan penambahan dan pengurangan di sana sini. Konsep Yang Mantap

Sesuai the Bangkok Charter, Promosi kesehatan adalah proses pemberdaya an manusia untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya termasuk faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga dapat memperbaiki derajat kesehatannya. Berdasar kan pengertian tersebut, Promosi kesehatan merupakan konsep sehat yang positif d an inklusif yang menekankan pada kualitas hidup, mental dan spiritual yang sebai k-baiknya. Promosi kesehatan, karenanya merupakan konsep yang efektif untuk meni ngkatkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia. Sehubungan dengan itu Promosi Kesehatan merupakan solusi yang sangat tepat terhadap permasalahan dan tantangan pembangunan kesehatan sekarang dan yang akan datang. Salah satu ha k asasi setiap manusia adalah untuk memperoleh kualitas kesehatan yang setinggitingginya, sebagai prasyarat utama untuk memperoleh kualitas sumber daya manusia yang sebaik-baiknya. Sedangkan pada hakekatnya pembangunan adalah upaya untuk m eningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) itu disamping mendaya gunakan SDA (Sumber Daya Alam) untuk sebesar-besar manfaat bagi manusia secara berkeadaban, yaitu dengan melestarikan dan tidak merusaknya. Konsep Promosi Keseha tan tersebut telah teruji dan dapat menggerakkan peran aktif masyarakat dalam up aya mereka mememelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri dan lingkungannya. Promosi Kesehatan dengan berbagai model pelaksanaannya telah menempatkan masyar akat bukan sebagai obyek tetapi subyek, bukan sasaran tetapi pelaku, dan bukan p asif menunggu tetapi aktif berperan dalam upaya dan pembangunan kesehatan bagi d iri, masyarakat dan lingkungannya. Konsep Promosi Kesehatan tersebut j uga terbukti sesuai bukan hanya untuk masyarakat di negara yang telah berkembang , tetapi juga di negara yang sedang berkembang. Ia juga dapat dilakukan baik di masyarakat perkotaan maupun di perdesaan, bagi masyarakat yang tergolong kaya, j uga bagi masyarakat yang tergolong miskin. Demikian pula Promosi Kesehatan juga perlu dilakukan oleh mereka yang merasa sehat, agak sehat, atau yang merasa saki t. Karena semua saja, perlu memelihara dan/atau meningkatkan derajat kesehatanny a dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan hidup secara produk tif dan berkualitas. Konsep Promosi Kesehatan akan semakin mantap deng an adanya dukungan WHO dan dunia internasional, apalagi dengan selalu diselengga rakannya konferensi dunia (direncanakan setiap tiga tahun). Demikian pula dengan adanya dukungan organisasi profesi internasional yang juga menyelenggarakan kon ferensi internasional secara tiga tahunan. Dalam konferensi internasional terseb ut konsep beserta aplikasinya di lapangan serta kendala-kendalanya selalu dibaha s dan dipertajam. Belum lagi WHO juga sering mengadakan pertemuan konsultasi unt uk membahas penyelenggaraan promosi kesehatan di berbagai negara. Deng an konsep yang mantap dan terus menerus dipertajam ini, Promosi Kesehatan dihara pkan dapat melangkah ke masa depan dengan mantap. Namun demikian konsep tersebut perlu terus menerus direview dan disesuaikan dengan keadaan serta perkembangan di masa depan. Visi, Misi Dan Strategi Yang Jelas Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebij akan Nasional Promosi Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan be rsama program kesehatan lainnya mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Par adigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat. Visi Promosi Kesehatan adala h: “PHBS 2010”, yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru y ang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner, menunjukkan arah , harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukka n bahwa bidang garapan Promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menj anjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkunganny a dan karenanya bersifat lebih lestari. Misi Promosi Kesehatan yang di tetapkan adalah: (1) Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat; (2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya phbs di masyarakat; (3) Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penent u kebijakan. Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu di lakukan oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjel

askan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas ba hwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak. Selanjutnya strategi P romosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu: Advokasi, Bina Suasa na dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut dengan jelas me nunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi. Strategi t ersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata pri mer adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya ger akan atau pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskes tren, Pos UKS, dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, pe rlu dibina atau diajak bersama untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan melalui media massa, media tradisonal , adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan, masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan penentu kebijakan, y ang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai keadaan, m asalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan. Dengan visi, mi si dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang disebut kan di muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat. Ujung Tombak Pembangunan Kesehatan Dan Pilar Indonesia Sehat Tujuan program Promosi Kesehatan pada dasarnya adalah untuk meningkatk an kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Tujuan ini sangat mendukung bahkan me mpunyai kemiripan dengan rumusan tujuan pembangunan kesehatan sebagaimana yang d irumuskan dalam UU Kesehatan, baik UU Kesehatan Tahun 1960, UU Kesehatan Tahun 1 992, maupun Tujuan dalam SKN Baru, yang direncanakan sebagai naskah akademis Ran cangan UU Kesehatan yang akan datang. Ini menunjukkan bahwa Promosi Kesehatan pa da hakekatnya merupakan ujung tombak pembangunan kesehatan. Dapat dikatakan bahw a semua upaya dan program kesehatan, sebenarnya perlu diawali dengan upaya atau program kesehatan. Dengan perkataan lain, promosi kesehatan menyiapkan masyaraka t agar menjadi lebih sadar, paham, dan siap untuk berbuat. Setelah itu diikuti a tau dibarengi dengan program-program kesehatan yang memberikan layanan teknis ke sehatan. Maka pantaslah apabila Promosi Kesehatan dinyatakan sebagai ujung tomba k pembangunan kesehatan. Selanjutnya Promosi Kesehatan yang mempunyai bidang garapan perilaku hidup sehat adalah satu dari tiga pilar Indonesia Sehat. Pilar lainnya adalah: Lingkungan Sehat dan Pelayanan Kesehatan yang bermutu, ad il dan merata. Sebagai salah satu pilar Indonesia Sehat, Promosi Kesehatan jelas mempunyai peran yang sangat menentukan dalam pencapaian visi Indonesia Sehat. H al ini juga diperkokoh dengan ditetapkannya Promosi Kesehatan sebagai salah satu program unggulan. Sedangkan di dalam PROPENAS dan Rencana Pembangunan Jangka Me nengah (2004-2009) serta dalam RENSTRA Departemen Kesehatan (2005-2009) Promosi Kesehatan menempati prioritas dalam urutan pertama. Hal ini juga tercermin dalam alokasi anggaran yang meningkat cukup tajam mulai tahun 2005. Perlu d isebutkan pula bahwa Upaya pemberdayaan masyarakat yang merupakan bidang garapan Promosi Kesehatan ditetapkan seagai salah satu sub sistem dalam Sistem Kesehata n Nasional yang baru. Promosi kesehatan (penyuluhan kesehatan) juga ditetapkan d alam Stándar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan untuk kabupaten/kota; Promos i Kesehatan juga ditetapkan sebagai pelayanan wajib Puskesmas. Selain itu juga t elah ditetapkan jabatan fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat dan tunjuangan jabatannyapun telah diberikan. Ini semua menunjukkan bahwa peran Promoisi Keseha tan dalam pembangunan kesehatan pada masa yang akan datang tetap penting dan kar enanya memerlukan perhatian lebih saksama. Namun dalam operasionalnya di lapanga n, diperlukan kepekaan yang tinggi dari segenap petugasnya serta diperlukan krea tifitas dalam menerjemahkannya sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat. Metode Dan Tehnik Yang Handal Melalui pengalaman yang cukup panjang, dan dengan dukungan jaringan ke mitraan yang cukup kuat dari dunia internasional, Promosi Kesehatan mempunyai be rbagai metode dan tehnik yang cukup handal dalam pemberdayaan masyarakat. Itu se

mua telah dituangkan dalam berbagai panduan atau pedoman tertulis, seperti: Pand uan Daerah Kerja Intensif PKM, Pendekatan Edukatif, KIE, Panduan PKMD, Penyeleng garaan Posyandu, ARRIF, PHBS, Panduan Advokasi, Panduan Kampanye atau sosialisas i program kesehatan (dalam Bina Susana), dll. Dalam kaitan itu juga te lah diselenggarakan pelatihan dan atau sosialisasi panduan atau pedoman tersebut bagi para pejabat dan pelaksana di daerah. Demikian pula telah dikembangkan dae rah-daerah percontohan atau uji coba di beberapa daerah. Selain itu juga telah d ikembangkan proto type media, misalnya untuk : Kesehatan Keluarga dan Gizi, Gara m Yodium, Kawasan Tanpa Rokok, HIV/AIDS, dll. Selain itu, bekerjasama dengan Bad an Litbang Depkes dan BPS juga telah dikembangkan sistem surveilans perilaku ber esiko terpadu dan sistem informasi PHBS. Dalam kaitan itu telah dilakukan pemeta an PHBS di berbagai daerah. Selanjutnya dalam berbagai konferensi inte rnasional/dunia tentang promosi kesehatan, metode dann tehnik promosi kesehatan tersebut juga selalu memperoleh perhatian. Demikian pula pada pertemuan-pertemua n nasional selalu membahas inovasi atau setidaknya improvisasi metode dan tehnik yang dilakukan oleh berbagai daerah, program atau LSM. Tanpa mengurangi apresia si terhadap metode dan tehnik yang telah ada dan yang dikembangkan selama ini, p erlu pula terus menerus dikembangkan metode dan tehnik yang lebih sesuai untuk m asa yang akan datang. Namun demikian, apabila diperlukan dapat pula menghidupkan , memberi “ruh” atau semangat baru (revitalisasi) metode dan tehnik yang telah ada, misalnya : revitalisasi PKMD, dsb. Kemitraan Dan Jaringan Yang Luas Promosi Kesehatan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam model jaringan kemitraan. Kerjasama dengan model Jaringan dan/atau Kemitraan ini membuat kerjasama menjadi lebih hidup dan dinamis. Dalam jaringan dan/atau kemi traan ini tidak perlu ada organisasi yang kaku dan mekanisme kerja yang baku. Ya ng penting jaringan dan /atau kemitraan ini dikembankan atas dasar kesetaraan (e quity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Pada saat ini Promosi Kesehatan mempunyai jaringan kemitraan cukup luas. Kemitraan dengan berbagai program kesehatan, adalah kerjasama dalam menggarap pesan-pesan kesehatan. Setiap program kesehatan pasti memerlukan dukungan aspek perilaku yang merupakan sisi lain dari tehnis program (the other side of the co in). Kemitraan seperti ini pada masa yang akan datang tentu akan perlu terus men erus dilakukan, karena program kesehatan tanpa promosi kesehatan akan buta, seba liknya promosi kesehatan tanpa program kesehatan akan lumpuh. Kemitraa n dengan lintas sektor, adalah kerjasama dengan sektor di luar kesehatan. Kerjas ama tersebut terutama untuk saling memberi dukungan dalam membuat kebijakan yang sehat serta mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. Kemitraan ini pada mas a yang akan datang akan dan perlu terus menerus dikembangkan karena masalah kese hatan tidak dapat dipisahkan dari masalah lain di luar bidang kesehatan. Masalah -masalah tersebut akan saling mempengaruhi, dan karenanya perlu saling memberi d ukungan. Kemitraan dengan Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Profes i dan Lembaga Swadaya Masyarakat, adalah kerjasama dalam memberdayakan masyaraka t di bidang kesehatan. Di sini dapat saling bertukar informasi dan saling belaja r tentang berbagai hal. Fokusnya adalah agar masyarakat dapat lebih berdaya dala m mengatasi, melindungi dan meningkatkan kesehatan diri dan lingkungannya. Dalam kaitan itu masyarakat juga diharapkan berdaya atau mampu memberikan masukan ser ta mengawasi upaya kesehatan yang dilakukan pemerintah. Baik melalui “koalisi”, “wali amanah” ataupun “dewan penyantun” yang dibentuk di tingkat provinsi, kabupaten atau ke camatan. Kemitraan dengan pihak swasta dilakukan untuk menjalin kerjas ama yang saling menguntungkan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia, terutama d i bidang kesehatan. Kerjasama tersebut juga termasuk dalam menghimpun sumber day a yang diperlukan untuk mendukung upaya kesehatan dalam rangka pengembangan SDM secara keseluruhan. Kemitraan ini jelas perlu dikembangkan lebih lanjut, karena pihak swasta pada umumnya juga memerlukan manusia yang sehat agar dapat mengguna kan produk dan jasanya. Kemitraan-kemitraan tersebut agar lebih berhas il guna dan berdaya guna diwadahi dalam suatu jaringan, yang memungkinkan pihakpihak yang bermitra dapat berinteraksi secara lebih leluasa kapan dan di mana sa ja memerlukannya. Selain jaringan kemitraan di tingkat nasional, juga

ada kemitraan antara Pusat dan Daerah, yang juga dikembangkan atas dasar kesetar aan, keterbukaan dan saling menguntungkan, sesuai dengan era desentralisasi seka rang ini. Selain itu juga ada jaringan kemitraan regional dan global, seperti de ngan sesama negara ASEAN, dengan negara-negara anggota Mega Country Network, den gan organisasi profesi internasional, dll. Jaringan kemitraan ini juga terus men erus perlu dikembankan, mengingat batas-batas antar negara kini sudah menjadi se makin tipis dan longgar. SDM Promosi Kesehatan Pada saat ini ada kurang lebih 1.000 orang bekerja sebagai pengelola p romosi kesehatan di pusat dan daerah, walaupun sebagian masih merupakan tenaga r angkap. Kualitas SDM pengelola promosi kesehatan juga telah ditingkatkan dan tel ah ditetapkan adanya jabatan fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat (PKM). Tun jangan jabatan fungsional juga telah keluar sejak akhir tahun 2004. Pe ndidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas tenaga juga selalu dise lenggarakan setiap tahun. Pada tahun 2002 terdapat 50 orang lebih tenaga pengelo la promosi kesehatan pusat dan daerah yang mengikuti pendidikan formal, baik pen didikan Diploma, Sarjana maupun Pasca Sarjana. Sedangkan 600 orang lebih mengiku ti pelatihan, baik pelatihan promosi kesehatan maupun tehnis kesehatan. Dengan adanya otonomi daerah, kebijakan penempatan tenaga sangat tergantung pa da daerah masing-masing. Dalam kaitan itu banyak tenaga promosi kesehatan atau y ang dipersiapkan menjadi tenaga promosi kesehatan dimutasi ke tempat lain, dan s ebagai gantinya pos tersebut diisi oleh tenaga baru yang belum memahami tugas pr omosi kesehatan. Selain itu pada era 1970 an dahulu di Dinas Kesehatan Kabupaten ada Wakil koordinator PKM (koordinatornya adalah Kepala Dinas), yang mengkoordi nasikan seksi-seksi tehnis di bidang penyuluhan kesehatan. Tenaga tersebut kiran ya perlu dihidupkan lagi. Selanjutnya pada saat ini tugas penyuluhan/promosi kes ehatan di Puskesmas sebagian besar dirangkap oleh tenaga sanitarian, perawat, at au tenaga lainnya. Di masyarakat memang ada tenaga kader, yang banyak membantu kegiatan promosi kesehatan di masyarakat. Dengan tetap mengapresiasi te rhadap apa yang mereka lakukan, tetapi sebagian besar mereka bukan tenaga promos i kesehatan yang seharusnya dapat merencanakan, melaksanakan, memantau dan menil ai kegiatan promosi kesehatan di lapangan. Apalagi angka drop out kader sejak er a reformasi besar sekali. Pada waktu yang akan datang perlu diangkat t enaga khusus yang mengurusi promosi atau penyuluhan kesehatan di Puskesmas ini. Hal itu mengingat promosi kesehatan merupakan salah satu layanan wajib yang haru s dilakukan di setiap Puskesmas. Suksesnya upaya promosi kesehatan dan pembangun an kesehatan pada umumnya sangat dipengaruhi oleh keberadaan tenaga ini. Banyak Kelemahan Dan Masalah Banyak sekali kelemahan yang harus diperbaiki untuk menghadapi masa de pan. Pertama adalah SDM Promosi kesehatan. Selain baik dari segi jumlah maupun m utunya belum memadai, jabatan fungsional PKM juga belum mantap. Selanjutnya sali ng hubung (linkage) di bidang promosi kesehatan antara pusat, provinsi dan kabup aten/kota sangat kurang. Apa yang dipikirkan dan dilakukan di pusat sering tidak berhubungan dengan apa yang dipikirkan dan dilakukan di provinsi, kabupaten/kot a. Demikian pula sebaliknya. Sementara itu posisi organisasi pengelola kesehatan juga belum stándar: Ada yang berada di posisi lini, ada yang berada di posisi penunjang. Ada yang langsung dibawah pimpinan unit, ada pula yang berada dibawah sub unit. Selanjutnya Promosi kesehatan juga belum terintegrasi benar de ngan program-program kesehatan. Promosi kesehatan juga belum dapat berperan di a rus tengah pembangunan kesehatan. Sedangkan sistem informasi perilaku sehat belu m berkembang sepenuhnya. Promosi kesehatan juga belum sepenuhnya berdasarkan fak ta (evidence based). Selain itu masih banyak masalah khususnya dalam p engoperasionalan misi dan strategi, yang berkaitan dengan pemberdayaan masyaraka t, bina suasana dan advokasi. Berbagai permasalahan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: * Permasalahan yang berkaitan dengan Pemberdayaan Masyarakat, a.l. : 1. Pemberdayaan potensi masyarakat termasuk pemberdayaan perempuan belu

m optimal, karena masih sebatas pada mobilisasi dean penggerakan peran serta mas yarakat serta belum terorganisir; Kemampuan masyarakat dalam mengemukakan pendap at dan mengambil keputusan tentang kesehatan, menyampaikan usulan atau desakan m aupun mengkritisi upaya kesehatan belum berkembang. 2. Pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pelayanan masyarakat, advokasi kesehatan dan pengawasan sosial dalam pembangunan kesehatan juga belum banyak be rkembang. 3. Jaringan kemitraan dengan berbagai pihak termasuk sektor pemerintaha n dan dunia usaha belum optimal. Kemitraan yang telah dibangun belum menampakkan kepekaan, kepedulian dan rasa memiliki terhadap permasalahan dan upaya kesehata n. 4. Potensi masyarakat baik berupa organisasi, tenaga, dana, sarana, tek nologi maupun dalam mekanisme pengambilan keputusan belum secara optimal dimanfa atkan untuk percepatan program kesehatan. 5. Dinamika masyarakat yang dipengaruhi politik dan ekonomi dewasa ini telah memberikan dampak negatif terhadap sikap dan perilaku sehat masyarakat Ind onesia. 6. Perkembangan peran serta masyarakat di bidang kesehatan (PKMD, sekar ang Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) saat ini menurun karena berkurangnya j umlah (drop out) kader yang aktif, antara lain akibat kurangnya supervisi dan pe mbinaan oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. 7. Sementara itu kebijakan pemberdayaan belum mantap serta implementasi nya di lapangan belum konsisten. Pada umumnya masyarakat masih diperlakukan seba gai obyek dalam berbagai kegiatan. Sedangkan di tingkat Pusat pengorganisasian p emberdayaan masyarakat perlu dikoordinasikan khususnya antara Pusat Promkes dan Dit. Kesehatan Komunitas. * Permasalahan tentang Bina Suasana, a.l. : 1. Kampanye untuk membangun opini masyarakat yang dilakukan dengan berb agai iklan layanan masyarakat (yang sering dibintangi artis terkenal, atau tokoh masyarakat), melalui televisi, radio, dll telah menghabiskan dana cukup besar, tetapi belum tahu sampai seberapa jauh keberhasilan dan efektifitasnya. 2. Demikian pula berbagai poster, leaflet, kalender dan berbagai kegiat an yang dilakukan di daerah seperti: lomba-lomba, tabligh akbar, dll masih perlu dipertanyakan keberhasilannya dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat, apalag i untuk dapat merubah perilaku positif masyarakat. 3. Berbagai kegiatan dalam rangka bina suasana tersebut (yang kiranya b erbeda dengan upaya mempromosikan barang konsumsi) belum sepenuhnya merupakan up aya yang berkelanjutan, serta terpadu dengan upaya lain, terutama dengan upaya p emberdayaan masyarakat atau pengorganisasian secara langsung oleh masyarakat itu sendiri. 4. Upaya-upaya kreatif sesuai dengan keadaan, masalah, potensi dan buda ya daerah belum sepenuhnya dikembangkan. 5. Pengkajian lebih lanjut tentang dukungan kegiatan bina suasana (yang memerlukan dana besar) dalam perubahan perilaku masyarakat belum dilakukan, ter masuk tentang pemilihan jenis media, tokoh atau bintang yang tampil, dll. * Permasalahan Advokasi, a.l. : 1. Adokasi sering tidak dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan berkel anjutan, serta terkesan sepotong-sepotong sehingga hasilnya tidak maksimal. 2. Dalam banyak kasus, kerja advokasi sering terhenti di tengah jalan, atau rencana yang telah disusun tidak dapat dikerjakan maksimal, karena kurangny a dukungan dana. 3. Advokasi sebenarnya memerlukan tokoh yang berboot, media dan sarana yang memadai, sedangkan hal-hal itu tidak dipenuhi secara semestinya. Dengan dem ikian hasilnya juga kurang menggembirakan. Banyak Peluang Selain hal-hal tersebut di atas perlu dikemukakan pula banyaknya pelua ng yang ada. Globalisasi dan kemajuan IPTEK khususnya di bidang telekomunikasi d an informatika merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan pro

mosi kesehatan. Sistem pemerintahan desentralisasi yang memberikan bobot pada ot onomi daerah memungkinkan berkembangnya promosi kesehatan sesuai dengan kebutuha n setempat. Selanjutnya digalakkannya praktik good governance akan memacu pening katan kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Sementa ra itu tatanan yang tersebar secara luas dan merata di masyarakat (sekolah, temp at kerja, tempat umum, sarana kesehatan, juga tempat tinggal) merupakan lahan ya ng perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pengelola dari masing-masing tatana n tersebut perlu diajak sebagai mitra untuk menggerakkan perilaku hidup sehat di masing-masing tatanan tersebut. Dorongan dari dunia internasional jug a dapat dimanfaatkan untuk memacu promosi kesehatan di Indonesia. Kesepakatan-ke sepakatan global, khususnya yang berkaitan dengan promosi kesehatan dan peningka tan perilaku sehat perlu dikaji kembali (direview) dan ditindak lanjuti. Hal itu misalnya yang tertuang dalam Deklarasi Jakarta (1997), Pernyataan para Menteri Kesehatan di Mexiko (2000), Deklarasi Vientiane tentang Healthy ASEAN Lifestyle (2002), the Bangkok Charter (2005), dll. Berbagai Tantangan Selanjutnya banyak tantangan yang harus dihadapi pada masa yang akan d atang, yang diperkirakan akan semakin kompleks. Globalisasi, di satu pihak dapat membuka lebih banyak peluang dan kesempatan. Tetapi globalisasi, yang juga dita ndai dengan meningkatnya persaingan bebas, akan mengharuskan segenap komponen ba ngsa untuk meningkatkan daya saing. Teknologi, transportasi dan telekomunikasi-i nformasi yang berkembang pesat, dapat mengarah pada terbentuknya dunia yang terb uka dan tanpa batas. Dengan demikian globalisasi dapat memperlemah pengawasan pe merintah terhadap faktor-faktor yang berdampak negatif terhadap kesehatan. Indonesia yang masih rendah kualitas SDM dan rawan masalah politik, ekonomi , sosial dan budayanya (poleksosbud) akan rentan terhadap masalah kesehatan dan masalah yang berpengaruh terhadap kesehatan yang datang dari negara lain. Penetr asi budaya negatif yang datang dari luar akan susah sekali dicegah. Se jalan dengan itu demokratisasi, hak asasi manusia dan pelestarian lingkungan hid up telah menjadi tuntutan dunia yang semakin mendesak. Berbagai komitmen interna sional seperti Millennium Development Goals, Sustainable Development Principles, World Fit For Children dan agenda-agenda internasional lainnya di bidang keseha tan perlu memperoleh perhatian. Itu semua merupakan tantangan yang harus dihadap i oleh segenap bangsa, termasuk oleh promosi kesehatan. Secara nasiona l, dampak dari krisis multi dimensi di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya d an keamanan yang sudah mengarah pada disintegrasi bangsa masih terasa. Berbagai kondisi tersebut berdampak luas terhadap peri kehidupan masyarakat dalam berbang sa dan bernegara, diantaranya meningkatnya pengangguran dan jumlah penduduk misk in, menurunnya derajat kesehatan penduduk yang pada gilirannya berpengaruh terha dap mutu sumberdaya manusia Indonesia. Selain itu penurunan kualitas lingkungan yang terjadi terus menerus, urbanisasi dan perubahan keadaan kerja, serta transi si politik, epidemiologi dan demografi telah memberikan kontribusi terhadap sema kin kompleksnya masalah. Selanjutnya desentralisasi yang diharapkan da pat lebih mendekatkan aspirasi rakyat pada tujuan pembangunan serta meningkatkan peran aktif mereka pada jalannya pembangunan, masih dalam masa transisi. Desent ralisasi masih berkutat pada bidang politik (itupun baru bersifat formal) sedang kan cita-cita desentralisasi yang sebenar-benarnya masih jauh dari kenyataan. De ngan beberapa pengecualian, banyak daerah yang justru mengalami kemerosotan dala m pelayanan kesehatannya. Pembangunan kesehatan kurang memperoleh perhatian, org anisasi Dinas Kesehatan di daerah rancu, penempatan tenaga dan mutasi jabatan ti dak berdasar kemampuan dan keahlian, dll. Posisi Promosi Kesehatan jug tidak jel as. Sehingga pemeo lama berulang kembali: “Health education is everybody bussiness , but in reality it is nobody bussiness”. Akibatnya banyak masalah keseh atan bermunculan. Demam berdarah, malaria, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA ), TBC merebak di mana-mana. Bahkan busung lapar, kurang gizi, flu burung muncul menjadi isu nasional. Belum lagi pelayanan kesehatan di Rumah Sakit juga menjad i sorotan dan banyak dikeluhkan masyarakat. Profesionalisme tenaga kesehatan khu susnya dokter bayak dipertanyakan masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan terjadi dehumanisasi. Sedangkan perilaku negatif masyarakat di bidang kesehatan meningka

t. Permasalahan dan tantangan tersebut pada masa yang akan datang akan menjadi semakin besar dan kompleks. Promosi Kesehatan seharusnya mempunyai andi l dalam menjawab permasalahan dan tantangan tersebut di atas. Rencana Aksi ke depan: Kerja keras secara cerdas dan ikhlas ! Bagaimana menjalani masa kini dan menghadapi masa datang? Pertama, seb agaimana telah disebutkan di depan (bab VIII) kita harus memperkuat tekad dan se mangat. Kita harus pantang menyerah dan tidak akan putus asa menghadapi berbagai kesulitan, masalah dan tantangan sekompleks apapun. Kuncinya terletak pada SDM, maka kuantitas dan kualitas SDM perlu terus menerus ditingkatkan. SDM yang mempunyai kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual. SDM yan g mempunyai kepekaan tinggi (dimensi sosial), yang mau bekerja keras (dimensi fi sik), secara cerdas (dimensi intelektual) dan ihlas (dimensi spiritual), serta m ampu memainkan berbagai peran. Selanjutnya kebijakan promosi kesehatan dimantapkan. Didukung dengan peraturan dan kebijakan operasional yang mantap, b aik di pusat maupun daerah. Perbaikan kualitas kesehatan, pemberdayaan masyaraka t dan mengurangi kesenjangan di bidang kesehatan harus merupakan fokus pembangun an nasional. Paradigma Sehat dengan visi Indonesia Sehat-nya perlu terus dikemba ngkan dan dioperasionalkan. Visi, misi, strategi dan hal-hal yang telah dituangk an dalam Keputusan Menkes 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan perlu dicermati, ditindak lanjuti dan dioperasionalkan. Hal-hal yang telah menj adi komitmen misalnya yang tertuang dalam Millenium Development Goals perlu diag endakan secara saksama dan didukung sepenuhnya. Kemudian jaringan kemi traan dengan berbagai pihak perlu terus menerus dijalin dan dikembangkan. Hal it u karena untuk menghadapi berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan da lam rangka peningkatan kualitas kesehatan memerlukan adaptasi kebijakan dan tind akan nyata dalam pelaksanaannya. Kemitraan perlu dikembangkan secara lintas sekt or, lintas program, Pusat-Daerah, pemerintah-masyarakat termasuk dunia usaha dan LSM, dan kemitraan lainnya, termasuk antara unsur pelayanan dengan kalangan ilm uwan di Perguruan Tinggi. Demikian pula jaringan kemitraan dengan badan dunia da n berbagai organisasi internasional juga perlu terus dikembangkan. Sel anjutnya agar langkah ke depan tersebut dapat lebih terencana dan nyata, perlu d isusun rencana aksi yang jelas. Rencana aksi Promosi Kesehatan tersebut, yang di kembangkan dari Strategi Peningkatan Promosi Kesehatan dalam Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan (yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menkes 1193/2004), adal ah sebagai berikut : * Pengembangan Kebijakan Promosi Kesehatan Daerah, yang diperlukan untuk men gupayakan adanya landasan hukum dalam rangka memperkuat penyelenggaraan promosi kesehatan di daerah. * Peningkatan Sumber Daya Promosi Kesehatan dalam rangka peningkatan SDM, da na dan sumber daya lain, yang diperlukan untuk penyelenggaraan promosi kesehatan yang berkualitas. Khususnya peningkatan SDM dilaksanakan dengan peningkatan mut u dan jumlah pejabat fungsional PKM di berbagai lini, serta peningkatan kemampua n tenaga-tenaga kesehatan yang berada di garis depan (yaitu perawat, bidan, sani tarian, dll di Puskesmas), Rumah Sakit, dan sarana kesehatan lain, dalam bidang pemberdayaan masyarakat. Peningkatan pembiayaan promosi kesehatan dilakukan deng an advokasi kepada Pemda, DPRD, DPR, dan Departemen Keuangan, serta berbagai pih ak lainnya. * Pengembangan Organisasi Promosi Kesehatan, yang diperlukan untuk mengupaya kan posisi yang sesuai bagi unit promosi kesehatan agar mampu mengemban tugas da n tanggung jawab yang diberikan. * Integrasi dan sinkronisasi Promosi Kesehatan dalam program-program kesehat an, yang dilakukan dengan menyusun rancangan (design) promosi kesehatan untuk be rbagai tatanan (setting) yang ada (rumah tangga, institusi pendidikan, tempat ke rja, tempat umum dan sarana kesehatan), melalui berbagai kegiatan pemberdayaan m asyarakat, bina suasana dan advokasi secara terpadu. * Pendayagunaan data dan pengembangan Sistem Informasi Promosi Kesehatan, ya ng diperlukan untuk mewujudkan promosi kesehatan yang berdasar pada fakta (evide nce based). Ini dilakukan dengan peningkatan kualitas perencanaan dan perancanga

n promosi kesehatan, pencatatan dan pelaporan, dll. * Peningkatan kerjasama dan kemitraan, baik lintas program maupun lintas sek tor, termasuk dengan tokoh-tokoh masyarakat (dari kalangan agamawan, politik, bu dayawan, selebriti), LSM, wartawan, jurnalis dan reporter (cetak, radio dan tele visi). Itu semua perlu dilakukan untuk merespons masalah-masalah kesehatan yang aktual di masyarakat sehingga dapat menyentuh kepentingan masyarakat secara lang sung. * Pengembangan metode, tehnik dan media, untuk menemukan metode, tehnik dan media pemberdayaan masyarakat, bina suasana dan advokasi serta kemitraan yang se suai dengan ciri-ciri tertentu masyarakat, baik dari segi geografi, sosial, buda ya, maupun ekonomi dan politik. Selain itu juga untuk meningkatkan pendayagunaan IPTEK dalam promosi kesehatan, termasuk pendayagunaan internet dan jaringan ber basis web. * Memfasilitasi peningkatan promosi kesehatan, untuk meningkatkan kemampuan daerah kabupaten/kota yang merupakan titik berat otonomi daerah dalam penyelengg araan promosi kesehatan. Ini dilakukan oleh provinsi bersama dengan pusat, melal ui daerah-daerah percontohan yang kemudian direplikasi ke daerah lain. Berbagai rencana aksi tersebut perlu dilandasi dengan tekad dan semang at yang mantap. Kita berharap bahwa hari esok harus lebih baik daripada hari ini dan kemarin. Dengan demikian kita akan termasuk orang yang beruntung, sebagaima na kata orang yang sangat bijak, yang dikutip di awal bab ini. Bab X APA KATA MEREKA Sejarah tergantung pada para pelakunya. Para pelaku itu banyak yang sudah me ndahului kita menghadap Sang Pencipta. Di antara yang tinggal banyak yang sudah purna bakti dan bertebaran di berbagai tempat. Banyak di antara para pelaku itu masih berbuat untuk masyarakat dan bangsa dengan caranya masing-masing. Inilah k esan dan pesan dari sebagian para pelaku sejarah dan para pengamat atau pemerhat i Promosi Kesehatan itu. Dokter Sayoga (Mantan BOC I, terakhir pejabat DEPDIKNAS Provinsi Jawa Barat) Sek olah sebagai Lahan Strategis bagi Promosi Kesehatan Yang dimaksud sekolah adalah semua jenjang pendidikan di tingkat dasar dan menengah yang dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen A gama. Para murid atau siswa sudah dalam keadaan terorganisasikan dan dalam keada an siap untuk menerima segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan Promosi Kesh atan. Demikian pula para pengasuh atau gurunya. Promosi Kesehatan tidak hanya da lam bentuk pendidikan atau penyuluhan kesehatan, baik secara intra kurikuler ata u ekstra kurikuler, melainkan juga dilengkapi dengan Pelayanan Kesehatan Sekolah . Berkenaan dengan Otonomi Daerah, maka kegiatan Pelayanan Kesehatan Sekolah dis esuaikan dengan kemampuan daerah masingt-masing. Menurut pengamatan da n pengalaman saya di lapangan terbukti bahwa pendidikan kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Sekolah belum berjalan dengan optimal, bahkan hanya dilaksanakan sekad arnya saja. Initerjadi karena buku-buku, sarana dan sumber daya manusianya tidak tersedia atau kurang memadai. Apakah yang dapat dilakukan oleh Depart emen Kesehatan atau khususnya oleh Pusat Promosi Kesehatan? Ini mengingat para s iswa yang jumlahnya jutaan itu mempunyai potensi sebagai pembaru perilaku keseha tan (Agent of change for positive health behaviour) yang merupakan salah satu tu juan dari promosi kesehatan. Pusat Promosi Kesehatan sebagai Sumber Referensi Alangkah baiknya apabila Pusat Promosi Kesehatan mempunyai bagian Sumb er Referensi Kesehatan. Selain memiliki data-data kesehatan mutakhir, bagian ini juga membuat brosur-brosur, modul-modul, buku-buku kesehatan dan alat-alat pera ga audio-visual tentang kesehatan yang dapat digunakan bagi masyarakat umum atau pun untuk sekolah-sekolah. Hal ini saya kemukakan karena sepertinya be lum ada buku-buku tentang kesehatan bagi sekolah yang memadai. Oleh karena itu P usat Promosi Kesehatan harus mempunyai tenaga pengelola sumber referensi kesehat

an dan Tim Penulis. Apabila diperlukan Tim Penulis dari PPK ini dapat bekerja sa ma dengan DEPDIKNAS atau DEPAG, atau memberi bantuan kepada DEPDIKNAS, DEPAG, at au Departemen lain yang memerlukan. Prof. Dr. Soeratmi Poerbonegoro, MPH. Setelah lulus, tidak langsung bekerja dengan penempatan sebagai staf p engajar Fakultas Kedokteran, tetapi mengikuti program Departemen Kesehatan ke da erah dengan wabah selama 2 minggu bersama dokter yang baru lulus dengan penempat an di daerah/puskesmas waktu itu ke Palembang (wabah cacar tahun 1961). Sebelum berangkat memperoleh pelatihan di Departemen Kesehatan Jakarta dengan supervisi almarhum dr. Bagiastra dan dr. Abdulkadir (kegiatan ini merefleksikan suatu kerj asama antar Departemenn Pendidikan dan Departemen Kesehatan yang baik). Dalam kurun waktu (1963-1965) saya bertemu dengan Ibu Koesnaniah, almarhum Ibu Tati dan alamarhum Liem Tjae Lie sewaktu bertugas sebagai Kepala BKIA Pendidika n mahasiswa FKUI di Jl. Kwini, di gedung Departemen Kesehatan bagian belakang ya ng bersebelahan dengan bagian Pendidikan Kesehatan Departemen Kesehatan. Dari hu bungan ini diperoleh bekal pengalaman kerja berkaitan dengan Kesehatan Masyaraka t dan Pendidikan Kesehatan. Kegiatan BKIA meliputi penimbangan para ibu hamil, b ayi/balita sehat, pemberian imunisasi pada bayi/balita maupun ibu hamil sehat se rta vitamin dan makanan tambahan (pada waktu itu susu bubuk persahabatan USA-RI, Vit A D, Fe), dan pendidikan kesehatan dengan menggunakan pamflet-pamflet terte ntu dan kartu gizi dilaksanakan baik di puskesmas maupun waktu kunjungan rumah d ilaksanakan bersama mahasiswa yang kuliah kerja PH (Public Health) di BKIA dan s taf paramedis yang ada. Jika disimak kembali maka saya dapat mengatakan bahwa pe laksanaan promosi kesehatan yang baik erat berhubungan dengan pendidikan kesehat an yang diberikan, jelas kegiatan penyuluhan/HE. Keadaan ini mendukung pernyataa n Leavell & Clark ” health education is vitally important the procedures in promot ing health” (1953). Keadaan ini disadari oleh dr. Leimena dengan tulisan beliau (1 956) sbb: public health of to day can not be solved without health education; an d it is also true that this activity can aonly be carried out by capable worker. Kata capable workers menurut saya meliputi kemampuan bidang pekerjaan kesmas (s ubstansi) dan bidang komunikasi serta hubungan antarpribadi ( HAM). Dra. Koesnaniah Wirja Mihardja, MPH Tafsiran atau pengertian orang tentang Pendidikan Kesehatan memang tid ak sama. Masing-masing mempunyai persepsinya sendiri. Namun yang jelas adalah ba hwa Pendidikan Kesehatan,s ebagaimana halnya dengan pendidikan pada umumnya, ada lah suatu proses yang diarahkan sedemikian rupa, agar cara hidup sehat menjadi p ola idup sehari-hari. Jelas bahwa cara hidup sehat (Pendidikan Kesehatan ) harus sudah diawali, ditanam sejak dini dalam keluarga. Perlu ditekankan ba hwa program kesehatan (gizi, sanitasi, pemberantasan penyakit-penyakit menular d sb.) dapat mencapai hasil yang efektif dan efisien, bila disatu pihak ada fasili tas dan system pelayanan kesehatan yang memadai dan dilain pihak ada kesadaran d an partisipasi masyarakat. ”It can, in general be said that all activiteis in the field of public will no t have satisfactory result, unless appropriate education and information on thos e problems are provided efficiently to the public “ ( Leimena, 1956.) Adanya program Pendidikan kesehatan didorong oleh keadaan bahwa banyak masalah kesehatan timbula, justru karena ketidaktahuan (ignorance) masyarakat, yang tercermin dalam pola piker, pola hidup, kebiasaan hidups ehari-hari yang ti dak memenuhi syarat kesehatan. Kiranya ini pula yang mendorong Dr. Hydrick dari Rockefeller Foundation (Amerika), untuk membuktikan pentingnya Public Health Edu cation sebagai kegiatan untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam bidang H ygiene dan Sanitasi. Ia mengadakan penelitian dalam rangka pemberantasan penyaki t cacing tambang, di daerah Banyumas tahun 1924 dengan menggalakkan kegiatan Pro gram Kesehatan Rakyat. Dalam penyusunan Sejarah PKR, kita tidak dapat mengabaika n peran kondisi social politik dan ekonomi Indoensia dengan dinamika perubahanny a yang jelas mempengaruhi perputaran roda mesin Kesehatan Masyarakat dan pendidi

kan Kesehatan. Selanjutnya naik turun dan berkembangnya Pendidikan Kes ehatan sebagai disiplin baru dibidang Kesehatan Masyarakat, dengan posisi yang b erubah-ubah dalam system organisasi Kesehatan Masyarakat, memang bervariasi. Ini tergantung pandangan dan nilai yang ada pada waktu itu tentang Pendikan Kesehat an. Pengalaman bertahun-tahun tentang eksistensi Pendidikan Kesehatan, telah membawa perkembangannnya pad titik dimana tenaga khusus Pendidik Kesehata n diperlukan dengan latar belakang pendidikan Pasca Sarjana. Hal ini dodorong ol eh kebutuhan dan anggapan bahwa tenaga pasca sarjanan akan lebih mampu menerapka n Health Education diberbagai pihak dalam rangka menempatkan H.E. sebagai bagian integral dalam program-program kesehatan, dan menyediakan “technical backstopping” sebagai bagian dari tugas pembinaan. Prof. Dr. Rika Subarniati Triyogo, dr.,SKM. Perkembangan lembaga pendidikan tinggi ( 5 FKM ) ikut memberi andil be sar dalam mengembangkan SDM bidang Promosi Kesehatan. Saat ini sudah berkembang menjadi 47 lembaga pendidikan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Institut Pend idikan Tinggi Kesehatan Masyarakat (AIPTKMI). Di FKM Unair misalnya, bagian PKIP akan mulai menyelenggarakan pendidikan profesi dengan mewajibkan lulusannya mam pu menguasasi kompetensi Strategi Promosi Kesehatan yaitu Advokasi,Bina Suasana (Social support) dan Pemberdayaan (empowerment). Mereka diwajibkan mampu mengemb angkan media baik cetak mapun elektronik serta membuat scenario suatu kegiatan p romosi kesehatan yang local spesifik. Karena biaya pendidikan yang minimal, maka belum bersifat individual melainkan dalam kelompok kecil. Fakta ini menunjukkan bahwa ada saling kerterkaitan antara Departemen Kesehatan dan Departemen Pendid ikan Nasional Nasional dalam perkembangan promosi kesehatan di Indonesia ini. De apartemen kesehatan tidak berjalan sendiri dalam pengembangan promosi keshatan d i Indonesia. Promkes tidak hanya individu, kelompok dan masyarakat lua s, melainkan juga individu sebagai anggota organisasi (manajemen & karyawan dari Rumah sakit, Instansi pemerintah, swasta serta organisasi LSM) dan individu dal am organisasi (yayasan, sekolah, asrama dll). Baik-baik secarapersonal maupun ke lompok. Karena kami juga mengembangkan dan berjuang agar pelatihan-pel atihan di semua instansi termasuk rumah sakit bukan hanya meliputi prosedur/tekn is (medis, asuhan keprawatan, asuhan kefarmasian maupun pelayanan penunjang dan administraf) untuk mencapai tujuan organisasi, seperti yang banyak dilakukan saa t sebelum ini, melainkan juga aspek perilaku (anggota) organisasinya (tentang ke pemimpinan, negosisasi, manajemen konflik, advokasi, motivasi kerja, dukungan so cial, pembentukan norma dan nilai-nilai sebagai unsuru budaya organisasi dll., y ang merupakan unsure utama dalam proses Organization learning dalam menuju Learn ing Organization). Hal ini sangat sesuai dengan pemikiran SDM sebagai Human Inve sment bukan hanya alat produksi, melainkan juga penentu produkstivitas itu sendi ri. Pemenuhan kebutuhan bagi diri pribadinya perlu diperhitungkan, disdamping ke butuhan organisasi. Penekanan ciri kegiatan promosi kesehatan yang cen derung ke evidence based dari pada problem based, perlu juga seperti halnya Pena nggulangan HIV/AIDS tidak usah menunggu stelah menjadi masalah. Demikian juga si fat proaktif dari pada reaktif/responsive, meskipun hasilnya belum maksimal, mis alnya tindakan surveillance perilaku menyimpang yang dilakukan saat ini. Selain itu pergeseran perhatian ke penyakit menular mengarah ke metoabolik perlu juga d iketengahkan. Hal baru yang dikembangkan di FKM Unair mulai tahun akademik ini a dalah metode pembelajaran yang mengarah ke perkembangan kepribadian, slef effica cy dengan pendekatan life skill education (LSE)(baik personal, interpersonal mau pun vocational) serta quantum learning ( yang bermuataan penegbangan IQ, EQ, dan SQ) diharapakan akan sangat bermanfaat bagi pengembangan SDM Pembangunan Indones ia di segala bidang, khususnya para pelaksana promosi kesehatan. Secara non form al sudah banyak dilakukan LSE di Indonesia, khususnya di Jawa Timur dengan bantu an UNICEF telah dilakukan di bberapa pondok pesantren di 4 Kabupaten/Kota. Insya Allah melalui lokakarya Peta Respon yang diselenggarakan oleh BPNA Jatim bekerj asama dengan ASA akan kami dorong pendekatan LSE di semua kabupaten di Jawa Timu r. Kemampuan ini kami yakini dapat mendudkung Strategi Promosi Kesehatan khususn ya empowerment (individual & community level). Drs. Nurhasan, MPH.

* Health Educator tak usah berbangga diri, justru kebanggaannya adalah membu at profesi atau orang lain bangga. * Profesi dokter baik dan mulia, profesi pedagang pun baik dan mulia, tetapi bila keduanya ada pada satu orang maka menjadi tidak baik dan tidak mulia. * Seorang Dokter bertutur kepada putri tercintanya : “ Nak, kamu tidak usah ik uti jejak ayahmu menjadi dokter, karena dokter adalah pekrjaan mulia dan kemulya an itu pudar bila kamu menjadi kaya raya karenanya “ ( Dan memang sampai meninggal nya Pak dokter ini tetap hidup sederhana dan masyarakat sekitarnya tetap mengena ngnya dengan rasa hormat ). Dra. Gertruida Tampubolon, MPH. Sekitar tahun 1976, saya ditugaskan mewakili Departemen keshatan menda mpingi Almarhumah Ibu Lasiah sutanto ( Meneg Peranan Wanita) supervisi program-p rogram di daerah ke Kalimantan Barat. Maka di provinsi pun seluruh dinas yang te rkait juga ikut dlam rombongan menuju salah satu desa percontohan di kabupaten m empawah. Sebagaimana biasanya setiap kunjungan Menteri ke daerah sudah berderet acara-acara yang ketat dan protokololer. Setelah selesai kunjungan di desa kami pulang menuju Pontianak. Sebelum menyeberangi jembatan Sungai kapuas, mobil Toyo ta Land cruiser yang membawa Menteri yang didampingi oleh Bapak Gubernur dan Kep ala kanwil Kesehatan tiba-tiba mogok, maka semua mobil yang membawa rombongan be rhenti ditengah hutan (kira-kira sekitar 30 mobil yang mewakili semua departemen ), sambilmenunggu si sopir memperbaikimobil tersebut. Setelah kira-kir a 30 menit berhenti sambil ngobrol belum ada tanda-tanda apakah mobil itu dapat segera berfungsi. Saya yang kebetulan ada pada mobi dibelakang memberi masukan p ada Ibu menteri yang saat itu lagi ngobrol denganBapak Gubenur mengatakan sbagai berikut : Ibu di belakang sekali ada mobil cadangan dari panitia berupa Ambulan s yang baru, apakah tidak sebaiknya kita manfaatkan fasilitas itu ? Acara kita d i Pontianak malam cukup padat. Saran itu disambut baik oleh pimpinan, maka ambul ans dipanggil dan kami meluncur ke Pontianak. Kami tiba satu jam terlambat dari rencana kunjungan. Malam itu ada dialog dengan mahasiswa Universitas Lambung Man gkurat. Kira-kira 3 jam kemudian mobil yang mogok dapat menyusul kami. Seminggu kemudian setelah pulang dari Pontianak saya diapnggil oleh IbuKadit PK M yang saat itu dipimpin oleh Dr. Pudjiastuti, MPH, mengatakan sebagai berikut : Kenapa kamu langsung bicara ke Ibu Menteri sewaktu mobil rusak di Pontianak min ggu lalu ? Saya dapat tegoran dari panitia, seharusnya usulan melalui protokol. Lalu saya jawab : Maaf bu, Saya tidak tahu siapa protocol dan dimana mereka bera da karena banyak sekali orang dalam rombongan itu. Jawabnya : Yah saya mengerti karena kamu baru masuk ke disiplin ini yang penuh dengan protokoler dan birokras i, tambahan lagi kamu pindah dari swasta dan baru pulang dari Amerika yang berpi kir lebih praktis. “ Saya sudah minta maaf pada mereka, tetapi lain kali jangan me ngulang hal yang sama “. Saya sebagai tenaga baru di Departemen Kesehatan dan menu rut pembimbing kami salah satu fungsi Health Educator adalah problem solver, nam un ternyat tidak selalu tepat dengan budaya kita. Bob Susilo Kusumobroto. Pengalaman pelaksanaan DKI-PKM di kabupaten Barru Sulawe si Selatan Kabupaten Barru merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Se latan, terletak di pantai barat. Ibukota kabupaten terletak 100 km dari Ujung Pa ndang (sekarang Makassar) kearah kota Pare-Pare. Sebagian besar penduduknya hidu p sebagai nelayan dan petani. Barru merupakan tempat pendaratan para pejuang kem erdekaan. Sebagai seorang Koordinator PKM Kabupaten dan merangka Kepal a Seksi Hygiene Sanitasi di Kabupaten Barru, yang bertanggung jawab atas terlaks ananya penyuluhan keshatan secara umum maupun khusus samijaga. Pemberian keperca yaan oleh provinsi sebagai salah satu dari empat daerah uji coba DKI-PKM merupak an suatu tantangan. Sebagai petugas lapangan mengetahui benar bahwa banyak masal ah kesehatan yang disebabkan karena perilaku masyarakat yang kurang sehat sepert i buang air besar disebarang tempat, menmgambil air minum dari sumur yang tidak ememebuhi persayaratan, pertolongan persalinan masih dilakukan oleh sanro (dukun bayi) dan lain-lain. Kegiatan yang eprtama kali dilakukan adalah peng

umpulan data awal yang dilakukan oleh Pusat. Pengambilan blok sensus secar rando m yang dilakukan di pusat ternyata terbentur dengan kenyataan, tiga blok sensus yang terpilih terletak sangat jauh, yang letaknnya di pegunungan dimana untuk me ncapai lokasi tersebut sangat sulit dan rumahnya terpencar-pencar. Sehingga diam bil kesepakatan bahwa desanya tetap sama tetapi blok sensus diubah, sehingga leb ih udah dijangkau dan mendapatkan respondennya. Sejak awal ditekankan bahwa DKI-PKM ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatip, yaitu melalui suatu p roses belajar yang melibatkan masyarakat dan petugas. Masyarakat tahu akan lingk ungannya, masalah kesehatannya dan cara pemecahannya bersama-sama dengan petugas . Untuk itu dilakukan pengembangan provider dan pengembangan masyarakat. Kegiata n awal lainnya adalah mencari dukunbgan politis dan membentuk kelompok kerja tin gkat kabupaten seperti : Kabag Pemerintahan, Kesejahteraan Rakyat, Perencanaan d an Kepala Dinas atau Kandep terkait. Dukungan ini sngat penting karena penyelesa aian masalah kesehatan bukan oleh sector kesehatan saja. Kegiatan lain nya adalah memeprsiapkan jajaran kesehatan khususnya bagi tenaga puskesmas dan p engelola program di kabupaten. Mereka harus memahami kegiatan awal berupa “ Commun ity self survai” yang kemudian dikenal sebagai Survai mawas diri. Petugas harus ta hu cara melakukan survai bersama masyarakat dan lintas sector terkait, kemudian mentabulasi serta menyajikan dalam bentuk yang mudah dimengerti. Mengajak masyar akat untuk berdiskusi dan melihat keadaan kampong yang sebenarnya berkaitan erat dengan permasalahan yang ada dan kaitannya dengan permasalahan kesehatan yang a kan timbul. Hal ini merupakan pengalman yang pertama kali bagi mereka, karena di libatkan sejak awal dan didukung oleh lintas sector mulai dari tingkat desa samp ai kabupaten. Dari pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat lebih menekankan kepa da perubahan fisik yang mudah dilihat dan dapat dilakukan dengan bergotong-royon g, seperti perbaikan jalan, penataan rumah dan lingkungannya, disamping itu kegi atan yang lebih penting adalah penyuluhan dan KIE. Melalui berbagai pe rtemuan di tingkat kampong maupun desa yang melibatkan masayarakat dan tokoh mas yarakat, penyuluhan yang terencana serta bimbingan dari petugas lintas sector se cara terpadu ternyata menggugah semangat mereka untuk ikut berperan di dalam pem bangunan. Hal ini tidak dapat dinilai dengan uang. Pada berbagai pertemuan jiga disajikan foto atau slide dari akmpung tersebut sebelum dan sesudah diperbaiki. Pengalaman juga menunjukkan bahwa hal ini juga dicontoh oleh kampung sekitarnya, sehingga secara perlahan lahan dapat mengubah fisik kampung dan meningkatkan ke sadaran masyarakat akan pentingnya hidup besih dan sehat. Dari hasil e valuasi diketahui bahwa adanya mekanisme kerja mulai dari tingkat desa-kecamatan -kabupaten-provinsi yang terencana akan sangat membantu pelaksanaan program. Mel alui kegiatan yang melibatkan langsung masyarakat di dalam pengambilan keputusan meningkatkan kesadaran dan ekmampuan yang dimiliki untuk menanggulangi masalahmasalah secara terencana. Dilain pihak petugas khususnya petugas kesehatan harus merubah orientasi dari klinis ke masyarakat, hal ini etrnyata tidak mudah dilak ukan. Pengalaman yang diperoleh bahwa untuk meningkatkan perhatian mas yarakat terhadap masalah kesehatan dimulai dengan emembantu pemecahan masalah di masyarakat yang secara langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Hal ini perlu dukungan dari pemerintah daerah maupun lintas sector terkait, baik di dalam peme brian bantuan dan bimbingan teknis. Tidak dapat dipungkiri bahwa cara pandang pe tugas kesehatan perlu disipaknan secara matang agar mereka tidak beranggapan bah wa masyarakat hanya sebagai obyek dan tidak emmpunyai kemampuan, disamping melak ukan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih da n sehat (kesehatan) secara terencana dan berkesinambungan. Pujanto, SKM, MKes. Awal pelajaran HE/PKM waktu semester 2 Tahun 1974 di APK Jakarta, saya tidak tertarik pelajaran ini. Assisten Ibu Koesnaniah Wirja Mihardja, 3 orang y aitu : Rachmat Hartono BSc, Bambing Ristanto, BSc, dan Bambang Hartono, BSc., ya ng sekarang menjabat kepala Pusat promosi Kesehatan. Karena kala itu adalah Rach mat Hartono, BSc yang sambil merokok memberi kuliah. Yang menarik adalah Bambang Hartono,…. Bahan kuliah, kuis yang stensilan kertas duplikator masih tersimpan? K arena alur kuliah 2 semester dibuat skematis, kotak-perkotak mulai pengenalan da ri Public Health sampai aplikasi pada program kesehatan tertentu, bahkan rancang

an membuat media dikenal mengikuti langkah alur diagnosa edukatip. Alh asil, tugas pertama di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan di tahun 1977, di Seks i Hygienen&Sanitasi, tetapi juga berteman dengan Koordinator HE/PKM Kabupaten, t ugas-tugas PKM malah melekat. Pada tahun tahun itulah sudah dikenalkan dengan Da erah Kerja Intesif PKM, yang kala itu mencakup seluruh Kabupaten/Kota di Sulawes i Selatan, masing-masing pada 1 Kecamatan, pada satu Desa. Awalnya HE/PKM dibenc i tetapi malah melekat sampai dengan sekarang ini (ada peribahasa Jawa : Genting -Nyanding,……ini mengajarkan pada kita kalau kita benci, malah mendekat atau melekat) . Tiga tahun kemudian, pada awal April 1980, tugas berpindah di Dinas Kesehatan Provinsi, kala itu di Unit PKM ( belum Organisasi Struktural) yang sifatnya fung sional, Kepala Unit PKM adalah, dr. H. Aisyah R. Pananrang…. Inilah yang turut mem bina saya, dan ternyata teman seangkatan Bapak Bambang Hartono sewaktu Training PKM yang 3 bulan di Murnajati Malang….di Unit PKM kala itu hanya ada 6 orang staf tehnis, yaitu 1 orang dokter (Ibu dr. Aisyah R Pananrang) 2 lulusan APK dan 2 or ang Lulusan Akper, 1 orang tamatan SAM yang menangani AVA. Tahun 1979 satu staf Teknis Bapak Sumardin Makka, Bsc. Tubel ke FKM-UI. Baru tugas 3 bulan, giliran I bu dr. Aisyah R. Pananrang, menyusul tubel ke FKM-UI, yang pada akhirnya operasi onal Unit PKM Provinsi dikelola 3 staf teknis dan Pelaksana tugas Kepala Unit ya itu Dr. MN. Anwar SKM. (sudah Almarhum) yang merangkap sebagai kepala Dinas Kese hatan Kota Makassar. Sewaktu itulah sedikit-sedikit berkenalanlah dengan Program Binaan Daerah Bina PKM 4 Provinsi yaitu : Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Ba rat dan Sumatera Barat. Daerah Bina 4 ini dimulai persiapan tahun 1978/1979, sta rt operasional kegiatan pada tahun 1979/1980 sampai dengan 1984/1985.. Setiap Pr ovinsi Daerah Bina 4 ini di pilih 1 Kabupaten, dan mencakup seluruh Kecamatan, s etiap Kecamatan dipilih 1 desa. Metodologi pendekatan yang diterapkan adalah Pen dekatan Edukatif. Ditengah perjalanan Daerah Bina 4 ini, saya Tubel ke FKM-UI pa da tahun 1982-1984. Waktu berjalan terus, akhirnya PKM menjadi salah s atu Subdinas Penyuluhan Kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan p ada pertengahan tahun 1983, dengan 3 Seksi : Penyuluhan Langsung, Peran Serta Ma syarakat, dan Usaha Kesehatan Sekolah. Kasi Penyuluhan Langsung yang pertama Sum ardin Makka, SKM, Kasi PSM pertama Sdr. Bob Suslilo, SKM, dan Kasi UKS pertama B apak M. Jusuf. Januari 1986 barulah awal tugas strukutral sebagai Kasi PSM mengg antikan Sdr. Bob Susilo, SKM, dan berjalan rotasi mutasi ke Seksi PL, PI Kes., d an PSM lagi berlangsung sampai dengan tahun 2000. Ditengah kejenuhan, antara bol eh pindah ke Pusat atau Tubel, akhirnya tahun 1993 sd April 1996, tubel kembali di PPS-Unair PS-IKM (PKIP). Sekembali tubel di Unair, mulai aktif 1 Mei 1996, Ke pala Dinas Kesehatan ( Dr. Mustafa Djide, SKM), mengarahkan meminta bahwa sd. Ba pak Pensiun dilarang pindah kemanapun…….inilah yang menjadi beban fikiran……, ya sudahlah……… . Ada Masa transisi, pernah sebagai Pjs. Kasubdin Bina PKM kurang lebi h 6 bulan, dari September 2000 sd Februari 2001. Memasuki Era Otonomi-Desentrali sasi yang mulai diterapkan tahun 2001, yang semula Subdinas Bina Penyuluhan Kese hatan Masyarakat dengan 4 Seksi (Penyebarluasan Informasi Kesehatan, Sarana, PSM dan Upaya Kesehatan Institusi), berubahlah menjadi Sub Dinas Bina Promosi & Kes ehatan Masyarakat dengan 4 Seksi : Promosi & Kampanye Kesehatan, JPKM, UKBM dan Bina Puskesmas….Kasi Promosi & Kamkes yang pertama Era Otonomi adalah Purjanto, SK M, MKes, akhirnya saya pindah ke Pusat Promosi Kesehatan per 1 April 2004. Hikmah yang dapat dipetik adalah bahwa HE/PKM harus dilandasi dengan Public Health sebagaimana dikemukakan Prof. Wislow, dan HE/PKM harus terintegrasi bers ama Program Kesehatan lainnya. Perkembangan dari HE/PKM, ke Promosi Kesehatan me mbawa konsekuensi memperhitungkan aspek Regional-Global, semakin terasa peran ya ng dimainkan Promosi Kesehatan bersama program-program kesehatan lain. Deangan d emikian, yang mutlak diperlukan sebagai Health Promotor adalah: penguasaan semua aspek program-program kesehatan termasuk kebijakannya, karena Promosi Kesehatan sendiri tidaklah bermakna, Promosi Kesehatan bersama program dan masyarakat, ya ng dilaksanakan secara konsekuen, bertanggung jawab, dilandasi Etika Profesi Hea lth Promotor, da harus menciptakan lingkungan yang kondusif berperilaku sehat di organisasi dan di masyarakat. Ir. Dunanti RK. Sianipar, MPH. Metode Pemasaran Sosial telah digunakan oleh Richard K. Manoff Konsult

an proyek Bank Dunia Era Nutrition Education Component pada tahun 1981 untuk mem asarakan produk dan pesan kesehatan dan gizi agar masyarakat berperilaku sehat u tamanya dalam gizi keluarga. Masalah kekurangan protein kalori khususn ya pada anak usia 0-4 bulan, usia 5-8 bulan, dan usia 9 – 24 bulan akibat kurang p ada makanannya, gizi kurang pada saat hamil, kurang Viatmin A pada balita dan ke kurangan yodium merupakan focus utama proyek. Dengan menggunakan tenaga kader da n bidan, proyek ini berhasil melakukan kampanye melalui poster dan radio memakai Slogan “ Gizi Baik, Anak Sehat “ ( Good Nutrition, Healthy Child ). Poste r yang digunakan disebut Poster Aksi karena poster tersebut mengajak ibu untuk b erperan serta aktif dalam memantau pemeberian makan anak dengan cara memberi tan da/menusuk poster tersebut. Perilaku baru tersebut adalah memberi maka n anak usia 0-4 bulan dengan ASU Eksklusif, usia 5-9 bulan dengan bubur campur d an menyusui dari payudara kiri dan kanan bergantian dan usia 9 – 24 bulan dengan m akanan keluarga serta tetap memberi ASI. Bab XI PENUTUP “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya” (WR Supratman: Lagu Keb angsaan) “Mulailah dari dirimu sendiri” (Kata orang bijak) Dari perjalanan sejarah, dari masa penjajahan sampai sekarang, Promosi Kesehatan telah mengalami pasang surut. Banyak yang telah dicapai, tetapi lebih banyak lagi yang belum dilakukan. Di antara semuanya itu, yang paling penting a dalah pengambilan hikmah, makna, nilai atau “wisdom” yang dapat ditarik dari renteta n perjalanan sejarah itu. Kemudian belajar dari semuanya itu kita dapat menjalan i masa kini dan menghadapi masa depan dengan lebih terarah dan mantap. Beberapa hikmah, makna atau nilai yang dapat dipetik dari perjalanan sejarah Pr omosi Kesehatan itu adalah sebagai berikut: 1. Bahwa Promosi Kesehatan (atau apapun namanya waktu itu: Propaganda, Pendid ikan, Penyuluhan atau nama lainnya lagi) merupakan kebutuhan mutlak baik bagi ma syarakat maupun bagi penyelenggara kesehatan. 2. Bahwa upaya promosi kesehatan perlu dilakukan secara terpadu dengan progra m-program kesehatan. Promosi kesehatan tanpa program akan tidak berarti apa-apa (lumpuh), sebaliknya program kesehatan tanpa promosi kesehatan akan kurang menge nai sasaran (buta). 3. Bahwa gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan esensi dari upaya Promosi Kesehatan. Upaya ini adalah upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat. Upay a ini dapat dilakukan dengan model Pendidikan Kesehatan Rakyat (Model Bekasi), D aerah Kerja Intensif PKM (Model Bandung), Pendekatan Edukatif, Pengembangan PKMD , Posyandu, Gerakan PHBS, dll. 4. Bahwa gerakan pemberdayaan masyarakat tersebut perlu didukung dengan upaya bina suasana (mempengaruhi opini publik) dan upaya advokasi kebijakan (mempenga ruhi kebijakan yang berorientasi sehat). Bahwa untuk itu perlu dikembangkan renc ana aksi yang jelas dan operasional. 5. Bahwa kemitraan dengan berbagai pihak perlu dilakukan, baik lintas program , lintas sektor, pemerintah-masyarakat, termasuk swasta dan LSM, Pusat-Daerah, u nsur pelayanan-unsur ilmuwan/Perguruan Tinggi, maupun antara berbagai negara dal am lingkup lingkup global/internasional. 6. Bahwa SDM promosi kesehatan profesional perlu dipersiapkan dengan sungguhsungguh, sehingga mempunyai kemampuan yang diperlukan sebagai planner, mediator, educator, advocator, social marketer, dll. 7. Bahwa metode dan teknik promosi kesehatan perlu terus menerus dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kemajuan dan perkembangan IPTEK, yang juga dapat memenuhi berbagai kebutuhan berdasar keadaan, masalah dan potensi setempat. 8. Bahwa pengembangan promosi kesehatan perlu dilakukan berdasarkan pada fakt a (evidence-based) dengan mendayagunakan data dan informasi dalam perencanaan da n pencatatan/pelaporan, yang dilakukan sejak di tingkat Kabupaten/Kota, sampai t ingkat Provinsi dan Nasional. 9. Bahwa untuk menjalankan kegiatan promosi kesehatan diperlukan dukungan org anisasi yang mantap, baik di Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota, dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Apabila memungkinkan di tingkat Pusat

eselonnya dapat ditingkatkan menjadi eselon I sehingga dapat mengemban visi dan misinya secara lebih berhasil guna dan berdaya guna. Sedangkan di tingkat Provin si dan Kabupaten/Kota menyesuaikan. 10. Selain itu juga diperlukan adanya Organisasi Profesi Promosi Kesehatan yan g kuat, yang berperan antara lain sebagai mitra, pemikir, pemasok, pengamat dan pengkritik kegiatan promosi kesehatan di lapangan. Selanjutnya, perlu disadari bahwa upaya promosi kesehatan merupakan ta nggungjawab kita bersama, bahkan bukan sektor kesehatan semata, melainkan juga l intas sektor, masyarakat dan dunia usaha. Promosi kesehatan perlu didukung oleh semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Kesamaan pengertian, efektifitas kerjasama dan sinergi antara aparat kesehatan pusat, provinsi, kabupaten/kota d an semua pihak dari semua komponen bangsa adalah sangat penting dalam rangka men capai visi, tujuan dan sasaran promosi kesehatan secara nasional. Semuanya itu a dalah dalam rangka menuju Indonesia Sehat, yaitu Indonesia yang penduduknya hidu p dalam perilaku dan budaya sehat, dalam lingkungan yang bersih dan kondusif dan mempunyai akses untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu, sehingga dap at hidup sejahtera dan produktif. Itu semua kita lakukan adalah dalam rangka membangun jiwa dan membangun badan, sebagaimana tertuang dalam lagu keban gsaan kita. Maka Hiduplah Indonesia Raya. Dalam kaitan dengan itu, kita, kapan d an di manapun berada, perlu melakukan sesuatu, apa saja yang dapat kita lakukan asal positif, dengan ihlas. Sebagai penutup buku ini, kita perlu renungkan katakata bijak dari orang yang sangat bijak bestari, yaitu: “Mulailah dari dirimu send iri”. http://www.promosikesehatan.com/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->