P. 1
Sistem Kasta

Sistem Kasta

|Views: 295|Likes:
Published by Nana Sara

More info:

Published by: Nana Sara on Dec 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/09/2015

pdf

text

original

Sistem Kasta Sistem kasta memilki karakteristik sistem kelas yang horizontal (strata) yang merefresentasikan area-area

fungsional yang terdapat dalam masyarakat. Area-area tersebut meliputi religi (agama), pendidikan, pemerintahan dan bisnis. Masing-masing area kemudian disusun berdasarkan atas tingkat kepentingan fungsional dalam masyarakatnya. Penentuan urutan tersebut terkadang merupakan hasil dari perjuangan kelompok tertentu yang ada dalam masyarakat dan terkadang merupakan hasil penaklukan dari kelompok yang berada di luar masyarakat. Dalam kedua kasus tersebut, sistem distabilkan melalui nilai-nilai dalam masyarakat. Konsep kasta merupakan gejala khas masyarakat feodal, sedangkan kelas tersebut adalah gejala masyarakat pasca-feodal (postkolonial). Sebagai daerah bekas pendudukan Hindu yang bersifat feodalisme, Indonesia masih memiliki ciri dan karakteristik masyarakat yang berbentuk kasta. Istilah Kasta umumnya berkenaan dengan bentuk kaku dari stratifikasi sosial masyarakat yang ditandai dengan adanya strata edomogamus (dalam perkawinan), yang mempraktekkan penolakan terhadap sesama dan tidak memungkinkan terjadinya mobilitas. Menurut McCord, sistem kasta atau sistem yang mirip dengannya mulai ada pada masyarakat Hindu di India sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam ideolgi Hindu India ini setiap hubungan dengan kasta lain (apalagi yang dibawahnya) adalah sesuatu yang terlarang. Sistem kasta yang masih kental di dunia dapat kita lihat masih ada dalam sistem kemasyarakatan, khususnya di India. Sistem kasta Hindu merupakan bentuk rumit dan kaku dari stratifikasi sosial di dunia ini. Sistem ini kemungkinan juga merupakan fenomena sosial yang paling sedikit dimengerti dalam ilmu sosial. Kasta disini seringkali mirip dengan “klan” jenis kolektif yan lebih lama yang mengasumsikan sebuah fungsi dari asosiasi. Di India, sebenarnya ada lima kasta (satu kelompok sering kali disebut sebagai kelompok yang tidak memiliki kasta) yang berkembang, namun seiring dengan adanya doktrin tradisional yang sering disebut dengan kasta hanya empat yakni Kasta Brahmana (Pendeta), Ksatrya (keluarga raja dan pemimpin kerajaan), Waisya terdiri dari golongan pedagang dan Kasta Sudra yakni para petani, sedangkan Kasta yang tidak memiliki “Kasta” dinamakan dengan sebutan Hariyan. Kasta Sudra memiliki tempat rendah dan dianggap sebagai kasta yang kotor oleh golongan kasta yang ada diatasnya. Dalam Weda, konsep sebenarnya tidak ada, ini hanya merupakan sebuah akal-akalan atau siasat dari kaum Brahmana (kaum terpelajar dan hanya yang diijinkan waktu itu untuk membaca kitab suci atau mendapatkan pendidikan) untuk mempresentasikan dirinya sebagai kasta tertinggi, sedangkan sisanya memiliki kasta yang lebih atau agak dekat dengannya. Kemunculan kelas kasta ini sebagai bentuk kolaborasi antar pendeta (rohaniawan) yang dalam hal ini sebagai kelas yang dominan dengan tuan tanah (mencengkramkan feodalisme) untuk mengembangkan kultur hemogeni sistem kasta yang diselenggarakan dari ajaran Weda, Kitab Suci Agama Hindu. Hegemoni budaya (ideologi yang dominan) ini meenggaris bawahi bahwa tipa-tipa orang dalam masyarakat dilahirkan pada kedudukan (status), struktur sosial dan kasta tertentu sehingga sangat tabu bagi masyarakat untuk melakukan perkawinan antar kasta karena hal tersebut dianggap sebagai hal yang melanggar aturan, norma dan dinilai sebagai perkawinan

tidak ada yang mutlak tertutup dari suatu gerak sosial (mobilitas). penguasaan kasta ternyata pada tingkatan ekonomi. masa membina rumah tangga dan masa mengasingkan diri kepada Tuhan. yang umumnya adalah Ksatrya (prajurit) atau Brahmana (pendeta). Telah dikemukakan di atas bahwa sistem stratifikasi sosial dalam hal ini kasta. (ii) strata sosial. begitu seterusnya. Kasta Heriyan menderita dua kerugian utama yakni.kotor atau najis. Sistem kasta ini tidak hanya pada bidang-bidang sosial saja. (iii) heterogenitas kultural. Telah jauh sebelumnya pada masyarakat di India. Hukum-hukum yang melarang praktek eksploitasi ekonomi dan penghinaan identitas tidak memiliki sebuah kekuatan untuk menghalangi praktek-praktek ini. sebagai suatu wujud sistem masyarakat dengan pelapisan sosial tertutup. Bagi masyarakat Bali perkawinan adalah suatu rangkaian kehidupan yang amat penting bagi mereka. Dari hal tersebut Mecher mengambil suatu kesimpulan bahwa dalam masyarakat berkasta. Para Brahmana dari kasta atas memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi kepada kasta yang ada dibawahnya. Salah satu bentuknya adalah perkawinan. mulai datri masa menuntut ilmu (Brahmacari). Sehingga keadaan ini memberikan sebuah kesempatan kepada kasta lebih atas untuk mendominasi kehidupana kasta dibawahnya dengan jalan eksploitasi ekonomi dan penghinaan identitas diri. pantangan dan melanggar etika. Seperti penelitiannya Joan Mecher . Sebenarnya ada tiga upacara besar dalam masyarakat Bali yakni Perkawinan. sosial atau rasial. Tahapan-tahapan kehidupan masyarakat Bali telah diatur dalam suatu konsep “jalan kehidupan”. jika kasta yang dibawahnya mereka anggap melanggar aturan-aturan tradisional masyarakat India. dimana kelas kasta memberi legitimasi kaum penguasa tanah (yang didukung oleh rohaniawan Hindu-merupakan kasta tertinggi di India) merugikan kelas petani yang berkasta lebih rendah. sehingga dengan perkataan lain hubungan sosial dalam kasta diatur sedemikian rupa. Ngurah Bagus menyatakan bahwa berdasarkan adat lama yang masih kental dengan sistem klen-klen . Bahkan di kadangkala pakaian dan tata cara menggenakan busana pun diatur sedemikian rupa. Dimana hegemoni budaya (ideologi dominan) “kasta” itu menganggap bahwa tiap-tiap individu dalam masyarakat dan hubungan-hubungan antara kasta yang berbeda (barangkali kasta dibawahnya) dianggap sebagai sebuah hubungan yang bersifat kotor. Dalam hal ini perkawinan camouran antar kasta merupakan sesuatu yang harus dihindari. gerak tubuh dan bersikap diatur sedemikian rupa. Gould menyatakan masyarakat yang umum mengembangkan sistem stratifikasi sosial yang menyerupai kasta adalah masyarakat yang agraris. dikatakan sebagai suatu hal yang najis untuk berhubungan dengan individu yang berbeda kasta. para aristokrat tuan tanah berkolborasi dengan kaum rohaniawan (kasta dominan) untuk mengembangkan kultur hegemoni sistem kasta yang diselenggarakan dari ajaran Weda (Kitab Suci Agama Hindu). melainkan juga pada bidang-bidang lain terutama ekonomi. Konsep ini sudah tertanam pada masyarakat Bali. Masyarakat kasta memiliki ciriciri penting sebagai berikut: (i) tingkat perubahan teknologi relatif lambat. Begitu juga hal pada masyarakat Bali. memiliki pengaruh atau kekuasaan yang besar. pakaian yang dikenakan menunjukkan kelas staus seseorang dari kasta mana ia berasal. Kematian (ngaben) dan upacara-upacara agama. perkawinan antar kasta menjadi dilarang. Sehingga ada kecenderungan terjadi eksploitasi oleh kelas dominan (pendeta) terhadap kelas yang lebih rendah. najis. Cara berbahasa. eksploitasi ekonomi dan identitas yang terhina.

istilah kelas pertama kali muncul dan diperkenalkan oleh bangsa Romawi dan sepanjang sejarahnya kelas tersebut selalu mengalami pergeseran arti . pemerintah dan ekonomi dianggap sama pentingnya dalam masyarakat. perkawinan antar kasta sangatlah dijaga agar jangan sampai terjadi. ke tempat jauh dari asalnya dan tidak diperbolehkn berhubungan dengan masyarakat. Sistem Kelas
 Aristotle menggambarkan bahwa didunia ini ada tiga kelas utama yang menyusun kehidupan dan akan selalu tergambar dalam setiap masyarakatnya. Oleh karenanya area-area fungsional tersebut dianggap sebagai urutan vertikal dari kekuasaan bukan sebagai sebagai urutan horizontal.(dadia) dan sistem kasta (wangsa). area militer. Bedanya adalah area-area fungsional tersebut dianggap sebagai pelengkap dan sama pentingnya. Hal ini didasari atas pemikiran mereka bahwa perkawinan antar kasta atau klen akan mengakibatkan terjadinya ketegangan-ketegangan atau noda-noda dalam keluarga. yang berada diantara kelas kaya dan kelas miskin tersebut yakni kelas menengah. Kelas menengah ini memiliki posisi penting dalam rangka menjaga kestabilan masyarakat. pengkategorian kelas menurut Aristoteles ini berdasarkan atas status sosial yang mereka peroleh dari ukuran ekonomi yaitu seberapa besar kekayaan yang dipunyainya. Batasan perkawinan hanya dalam satu klen atau kasta yang segolongan sangatlah kuat dijaga oleh generasi tua dalam masyarakat Bali. Sebagaimana yang dikemukana oleh Dahrendorf. kelas bawah (kelas miskin) dan kelas yang ketiga. sedangkan perkawinan yang masih dicita-citakan oleh masyarakat Bali yang masih bersifat kolot adalah perkawinan antar anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. merupakan orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama. maka wanita ini akan dinyatak keluar dari dadia-nya dan secara fisik suami istri akan dibuang (maselong) untuk berapa lama. yang terbagi ke dalam dua kelas. Demikian juga halnya dalam kasta pada masyarakat Bali. Sistem Estate
 Bentuk kedua dari stratifikasi sosial adalah sistem estate yang pada dasarnya juga berdasarkan pada sistem kelas tertutup. sistem estate didasarkan pada urutan posisi berdasarkan atas stratifikasi fungsional. Ketiga kelas tersebut adalah kelas atas (kelas kaya). tunggal kawitan). Istilah ”estate” berasal dari terminologi feodal Eropa. Awal mulanya digunakan untuk istilah dalam pembayaran pajak. tunggal dadia. Dengan kata lain. Seperti sistem kasta. yakni kelas assidui atau golongan kaya dan . Orang-orang yang masih se-klen (masih dalam satu sanggah. Sistem estate mencapai masa kejayaannya pada masa feodalisme di eropa dan masih digunakan oleh beberapa negara yang tetap mempertahnkan sistem aristokrasi atau kepemilikan tanah secara turun temurun (feodalis Eropa). Perkawinan seperti ini membawa malu dan turunnya gengsi kasta dalam masyarakat. religius (agama). Perkawinan adat Bali bersifat endogami klen. Dala hal ini teruatam harus dijaga perkawinan dari anak wanita yang memiliki status kasta lebi tingi dengan pemuda yang memiliki kasta lebih rendah. sedapat mungkin perkawinan yang dilakukan oleh seorang pemuda dan pemudi yang masih memiliki kesamaan klen dan tidak diperbolehkan dengan orang-orang yang dianggap memiliki derajt lebih tinggi dalam kastanya. Kelas menengah merupakan kelas yang selama ini membuat kestabilan dalam masyarakat. tetapi lebih longgar bila dibandingkan dengan sistem kasta.

Marx tidak pernah secara khusus dan mendetail membahas dan meyebutkan apa yang dia maksud sebenarnya dengan kelas. Kelompok status lebih ditekankan pada nilai yang dianut dalam kelompok sosial sebagai suatu perwujudan stratifikasi berkaiatan dengan pengkonsumsian atau penggunaan harta benda sebagaimana yang dicerminkan sebagai gaya hidup. Ketertutupan Kelas Sosial dan Mobilitas Sosial
 Hubungan antara kelas dan kasta pada masyarakat yang bersifat feodalistik lebih jelas lagi diungkapkan oleh Parkin mengenai ketertutupan sosial. Teori ini juga mengkaji tentang kenapa kepentingan obyektif muncul sebagai kepentingan subyektif yang tidak dirasakan oleh sebagian kelompok orang. status dan partai. Menurut Elster. Kelas merupakan stratifikasi sosial berkenaan dengan hubungan produksi dan penguasaan harta benda. Sehingga sangat perlu kita memperhatikan keberadaan kelas ini dalam masyarakat. Sedangkan partai merupakan perkumpulan sosial yang berorientasi terhadap penggunaan kekuasaan sosial dalam masyarakat guna mencapai kepentingan-kepentingannya (individu atau kelompok) dalam masyarakat. Teori ini juga mengkaji tentang perjuangan kelas dari masyarakat. Kelas-kelas tidak dapat dibedakan secara khusus dan mendetail. sedangkan golongan dalam sosial dalam masyarakat feodal dan kuno disebut dengan “kasta”. Pembentukan kelas sosial yang dominan terhadap masyarakat dapat dicapai . khususnya dalam bidang ekonomi yakni untuk menentukan kesenjangan sosial. Pergeseran selanjutnya adalah istilah yang dipergunakan oleh Marx. Ketiga kelas ini menunjukkan tatanan sosial dalam masyarakat. Namun yang terjadi adalah merekonstruksi berbagai definisi dari tulisan-tulisan yang pernah ditulisnya dengan cara merujuk kembali tentang apa yang dimaksudnya sebagai kelompok-kelompok yang seringkali dirujuk sebagai kelas. kelas sosial merupakan gejala khas masyarakat pascafeodal. Jadi konsep kelas menurut Marx.plotariat atau golongan miskin. Obyektifitas manusia mencul akibat adanya pemikiran bahwa orang senantiasa memiliki kepentingan agar tidak menjadi kelompok atau individu yang didominasi oleh kelompok atau individu lain. Marx beranggapan bahwa pelaku utama dalam kemasyarakatan adalah adanya kelas-kelas ini. Ketertutupan sosial merupakan kemampuan suatu kelompok untuk menutup diri dari masuknya anggota kelompok lain untuk menjadi bagian atau anggota kelompoknya. Pandangan Marx secara khusus yakni kelas-kelas merupakan unit-unit fundamental (dasar) dalam konflik sosial yang berimplikasi terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. atau dalam artian membentuk suatu kelompok yang memiliki karakteristik yang sama atau kepentingan yang sama. Ketertutupan kelas sosial merupakan sebuah cara utama yang penting dalam membentuk sebuah kelas baru. mengandaikan bahwa terjadi interaksi-interaksi antara anggota-anggota kelas-kelas yang berbeda dengan cara mentransfer perintah atau surplus. teori Marx tentang kelas mulai dengan seperangkat kepentingan tertentu yang didefinisikan secara obyektif yang muncul dari hubungan-hubungan penindasan serta dominasi oleh kelompok elite terhadap aset produksi. Peningkatan kepentingan tersebut hanya dapat diraih secara kolektif. Menurut Marx. namun demikian kelas memiliki keberadaan riil dalam masyarakat. Pengajuan perbedaan kelas dan status selanjutnya banyak dibahas juga oleh Weber dengan secara lebih ekplisit menyebut kelas.

yang kemudian ditempatkan pada derajat lebih tinggi dari kedudukan individu pembentuk kelompok tersebut. diantaranya: (i) hampir tidak ada sebuah masyarakat yang memiliki sistem sosial yang sangat tertutup. Gerak sosial sesuai dengan arahnya digolongkan menjadi dua. Pada masyarakat berkasta. pasti memiliki banyak sekali hambatan-hambatan. pada kedudukan yang telah ada dan pembentukan suatu kelompok baru. diantaranya karakteristik yang nampak ataua kelihatan.melalui kontrol monopolistik terhadap sumberdaya. umumnya mobilitas sosial yang terjadi adalah mobilitas yang bersifat horizontal (perkawinan satu kasta) dan sangat jarang ditemui adanya mobilitas sosial yang bersifat vertikal antar kasta (perkawinan antar kasta). maka menjadi suatu hal yang sulit untuk melakukan mobilitas antar kasta. agama dan gender. termasuk yang diutamakan Marx seperti tanah dan kapital. Dengan keadaan dan dibawah bayang-bayang dari foedalistik peninggalan Hindu. Mobilitas sosial vertikal dimaksudkan sebagai perpindahan inidvidu atau objek sosial dari satu status ke status yang lainnya yang tidak sederajat. Weeden. petani hanyalah sebagai penyewa lahan pertanian dari kelompok masyarakat yang memiliki modal (penguasa tanah). setiap masyarakat masyarakat memiliki ciri dan karakteristik sendiri bagi mobilitas sosialnya. Ketertutupan kelas sosial (kasta) merupakan sebuah warisan feodalistik. seperti yang dikutip dari pendapatnya Weber. menyatakan bahwa ketertutupan sosial menunjukkan sebuah kompetisi untuk mempertahankan kelompoknya dari penurunan ketertarikan terhadap kelompok. Sedangkan mobilitas sosial turun (social-sinking) mempunyai dua bentuk utama. bahasa. yaitu mobilitas sosial naik (social climbing) dan mobilitas sosial turun (social sinking). atau jumlah kekayaan. yaitu turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya dan turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan. pengetahuan. Teori ketertutupan sosial juga menggolongkan berdasarkan kriteria-kriteria individu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam masyarakat seperti kepercayaan terhadap tingkat pendidikan. yakni masuknya individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Suatu kelompok akan mencoba untuk memonopoli keuntungan dan memaksimlakan ganjaran mereka dengan menutup kesempatan dari luar yang mereka definisikan sebagai kelas bawah (inferior) atau tidak memiliki kriteria seperti yang mereka syaratkan. dimana sama sekali mobilitas vertikal terjadi. Pada kebanyakan masyarakat tani (masyarakat agraris) yang merupakan refresentasi dari keberadaan sistem stratifikasi sosial yang mirip kasta masih kuat terjadi. Ketertutupan sosial ini dapat berdasarkan bermacam-macam hal. Mobilitas sosial naik (socialclimbing) ini memiliki dua bentuk utama. latar belakang sosial. (iii) mobilitas sosial vertikal yang umum berlaku bagi semua masyarakat tidak ada. di samping kekerasan melalui senjata. Mobilitas antar kasta sendiri merupakan suatu gerak dalam struktur sosial yaitu polapola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. (iv) laju . Sruktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Namun demikian. (ii) betapa terbukanya sistem pelpisan sosial suatu masyarakat tidak akan mungkin suatu mobilitas sosial vertikal dapat dilakukan dengan sebebas-bebasnya. Ketertutupan dalam kasta merupakan hal yang spesifik dari teori ketertutupan sosial. ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melihat dan mengkaji mobilitas sosial vertikal ini. penggolangan berdasarkan ras.

1945. Stephen K. 1991. budaya satu dengan budaya lainnya cenderung memiliki makna masing-masing yang kadangkala hanya bisa dipahamioleh masyarakat yang bersangkutan. The Sociology of Stratification: A Theory of the Ppower Structure of Society. ===============
 Notes:
 John D. politik serta pekerjaan adalah berbeda. Jakarta: PT. The American Sociological Review. Moore. Sedangkan pada status. Sosiologi: suatu buku pengantar ringkas. lebih pada kajian bagaimana pendapatan. status dan kekuasaan. Hal ini berlaku bagi negara.
Status adalah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok serta masyarakatnya. pp. Pada hakekatnya setiap kebudayaan memiliki prasyarat fungsional bagi masyarakatnya.
 Pada prinsipnya secara pribadi. politik dan pekerjaan. Status mempunyai dua aspek. Icthiar Baru.
 Kingsley Davis and Wilbert A. mendefinisikan sebagai sejumlah orang yang statusnya sama menurut penilaian sosial dinamakan suatu ”lapisan”. khususnya dalam mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi. tidak ada kecenderungan yang kontinyu perihal bertambah atau berkurangnya laju mobilitas sosial. Periksa kembali Maijor Polak. Aspek kedua dimaksudkan “peranan sosial” yang berkaitan dengan suatu status tertentu. pekerjaan dan kesejahteraan mempengaruhi terbentuknya kelas-kelas baru. 2. lembaga sosial yang besar dam juga bagi sejarah manusia. Kelley.mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi. pp. yang diharapkan dari seseorang yang menduduki status . Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 242-249. Sosiologi Makro: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial. 10. Max. Some Principles of Stratification. pada perspektif klasik. istilah ini merujuk pada definisi stratifikasi. Sebuah Catatan untuk Studi Lanjut
 Terdapat pergeseran bidang kajian dalam studi stratifikasi sosial yaitu dari perspektif klasik yang hanya mengkaji bentuk-bentuk stratifikasi sosial (area-area fungsional) ke arah perspektif kontemporer dimana yang dikaji adalah masalah kelas. 2003. PhD Dissertation (Louisiana State University). 1961. Dengan kata lain kita tidak dapat menilai kebudayaan orang lain berdasarkan atas nilai budaya yang kita anut dalam kebudayaan kita. dan (v) berdasarkan bahan-bahan sejarah. 1947.
 Sanderson. bagaimana individu tersebut memaknai status dan peran yang dimiliki dalam kelompok serta bagaimana kekuasaan-kekuasaan yang melekat dalam status sosial tersebut memiliki hubungan dengan sistem stratifikasi yang lain. Berdasarkan atas pengamatan penulis. penulis tidak menyetujui adanya penggolongan masyarakat berdasarkan modernitas yaitu masyarakat tradisional atau modern. New York: Free Press. Sedangkan Polak.
 Weber. No. Aspek pertama bersifat hierarkis (mengandung perbandingan tinggi atau rendah secara relatif terhadap status-status lain. ”golongan” atau ”stratum” dan bahwasannya masyarakat tergolong berdasarkan atas strata (jamaknya stratum). 375-376. V. yaitu aspek yang agak stabil dan dinamis. the Theory of Social and Economic Organization. Sedangkan pada perspektif modern. Kelas. yang dikaji adalah terbentuknya kelas penguasa dan kelas yang dikuasai yaitu penguasaan faktor-faktor ekonomi (penguasaan alat-alat produksi dan modal). orientasi studi tentang kelas.

1946. assignedstatus (pemberiaan atau “diberikan”) dan acvieved-status (status yang diperoleh karena peruangan atau dicapai). Max Weber. Gerth and C. Inc. Oxford University Press. status dan partai.H. Max Weber: Essay in Sociology. Status sosial ada tiga yaitu ascribed-status (berdasarkan kelahiran). . translated by H. 
Periksa kembali analisis Weber tentang konsep kelas.tertentu. Wright Mills.

WSa[Z`^[[Z[\[_``W^SVS\_aTW^VS S`W^S_a SZYVa`SSSZ S^  _W\W^``SZSVSZS\`SV_S\ZYWW^S_SZWSa_WZS`S WWVWZ_W\W^` SZYVa`\VS^\WZVS\S`Z SWTW^WZ S`SSZTScS W`W^`a`a\SZ_[_SWZaZaSZ_WTaS[\W`_aZ`aW\W^`SSZSZ W[\[Z SVS^\WZa^aZSZW`W^`S^SZ`W^SVS\W[\[aS`aW[\[SSZ WZU[TSaZ`aW[Z[\[WaZ`aZYSZVSZWS_SSZYSZS^SZW^WSVWZYSZ WZa`a\W_W\S`SZVS^aS^ SZYW^WSVWXZ_SZ_WTSYSWS_TScSZXW^[^ S`Sa`VSW^`W^S_W\W^` SZYW^WS_ S^S`SZ W`W^`a`a\SZ_[_SZ VS\S`TW^VS_S^SZTW^SUSSUSSVSZ`S^SZ SS^S`W^_` SZYZS\SS`SaS WS`SZ\WZYY[SZYSZTW^VS_S^SZ^S_S`S^TWSSZY_[_STSS_SSYSSVSZ YWZVW^W[^W`W^`a`a\SZ_[_SaYSWZYY[[ZYSZTW^VS_S^SZ^`W^S^`W^S ZVbVa SZY`VSVS\S`V`ScS^`ScS^SYVSSS_ S^SS`_W\W^`W\W^US SSZ `W^SVS\`ZYS`\WZVVSZ\WZYW`SaSZS`SaaSWS SSZ W`W^`a`a\SZVSSS_`SW^a\SSZS SZY_\W_XVS^`W[^W`W^`a`a\SZ_[_S W`W^`a`a\SZWS__[_SS_`SW^a\SSZ_WTaScS^_SZXW[VS_` SVS WTSZ SSZS_ S^SS``SZS_ S^SS`SY^S^_ SZYW^a\SSZ^WX^W_WZ`S_VS^ WTW^SVSSZ__`W_`^S`XS__[_S SZY^\S_`SS_aS``W^SV\W`SZ SZ SS_WTSYS\WZ WcSSSZ\W^`SZSZVS^W[\[S_ S^SS` SZYW [VS\WZYaS_S`SZSWZYSZWSVSSZVSZVTScSTS SZYTS SZYVS^X[WVS_` \WZZYYSSZ ZVaSSWZSV_aS`aS SZY_a`aZ`aWSaSZ[T`S_SZ`S^ S_`S [T`S_SZ`S^S_`S_WZV^W^a\SSZ_aS`aYW^SVSS_`^a`a^_[_S S`a\[S \[S`W^`WZ`a SZYWZYS`a^[^YSZ_S__aS`aW[\[_[_S^a`a^_[_SWZUSa\ _XS`_XS`aTaZYSZSZ`S^SZVbVaVSSW[\[VSZaTaZYSZSZ`S^SZVbVa VWZYSZW[\[Z S SVSS_ S^SS`TW^S_`SaaZ S[T`S__[_S SZY `W^SVSVSS[T`S_ SZYTW^_XS`[^ [Z`S\W^ScZSZ_S`aS_`SVSZ_SZYS` S^SZYV`WaSVSZ S[T`S__[_S SZYTW^_XS`bW^`SSZ`S^S_`S\W^ScZSZ SZ`S^S_`S [T`S__[_SbW^`SVS_aVSZ_WTSYS\W^\ZVSSZZVbVaS`Sa [TW_[_SVS^_S`a_`S`a_W_`S`a_ SZYSZZ S SZY`VS_WVW^SS` W^S_[_S _W_aSVWZYSZS^SZ SVY[[ZYSZWZSVVaS S`a[T`S__[_SZS_[US UTZYVSZ[T`S__[_S`a^aZ_[US_ZZY [T`S__[_SZS_[US UTZYZWVaSTWZ`aa`SS SZS_aZ SZVbVa SZYW\aZ S WVaVaSZ^WZVSWVSSWVaVaSZ SZYWT`ZYY\SVSWVaVaSZ SZY`WS SVSVSZ\WTWZ`aSZ_aS`aW[\[TS^a SZYWaVSZV`W\S`SZ\SVSVW^SS` WT`ZYYVS^WVaVaSZZVbVa\WTWZ`aW[\[`W^_WTa`WVSZYSZ [T`S__[_S`a^aZ_[US_ZZYW\aZ SVaSTWZ`aa`SS S`a`a^aZZ S WVaVaSZZVbVaWWVaVaSZ SZYWT^WZVSVW^SS`Z SVSZ`a^aZZ SVW^SS` _WW[\[ZVbVa SZYVS\S`TW^a\SV_Z`WY^S_W[\[_WTSYSW_S`aSZ SaZVWSZSVSTWTW^S\S\^Z_\ SZYS^a_V\W^S`SZVSSWS`VSZ WZYS[T`S__[_SbW^`SZVSZ`S^SZ SS\^`VSSVS_WTaS S_ S^SS` SZYW__`W_[_S SZY_SZYS``W^`a`a\VSZS_SS_WS [T`S_bW^`S`W^SVTW`S\S`W^TaSZ S__`W\W\_SZ_[_S_aS`a S_ S^SS``VSSSZaZYZ_aS`a[T`S__[_SbW^`SVS\S`VSaSZVWZYSZ _WTWTS_TWTS_Z S\S_`WTSZ S_WSSTS`SZSTS`SZ[T`S_ _[_SbW^`S SZYaaTW^SaTSY_WaSS_ S^SS``VSSVS_W`S\S_ S^SS` S_ S^SS`WU^VSZS^S`W^_`_WZV^TSY[T`S__[_SZ SbSa .

[T`S__[_SbW^`S SZYV_WTSTSZ[WXS`[^XS`[^W[Z[\[`_W^`S \WW^SSZSVSSTW^TWVSVSZbTW^VS_S^SZTSSZTSSZ_WS^Sa_a_Z SVSS [T`S__[_SbW^`S SZYV_WTSTSZ[WXS`[^XS`[^W[Z[\[`VSZ \WW^SSZ`VSSVSWUWZVW^aZYSZ SZY[Z`Z a\W^STW^`STSS`Sa TW^a^SZYZ SSa[T`S__[_S SZTW^SaTSYZWYS^SWTSYS_[_S SZY TW_S^VSaYSTSY_WS^SSZa_S WTaSS`S`SZaZ`a`aV SZa`  W^VS\S`\W^YW_W^SZTVSZYSSZVSS_`aV_`^S`XS__[_S S`aVS^\W^_\W`X S_ SZYSZ SWZYSTWZ`aTWZ`a_`^S`XS__[_SS^WSS^WSXaZY_[ZSW S^S\W^_\W`X[Z`W\[^W^VSZS SZYVSSVSSS_SSWS__`S`a_VSZ WaS_SSZ WS_\SVS\W^_\W`XS_ SZYVSSVSS`W^TWZ`aZ SWS_ \WZYaS_SVSZWS_ SZYVaS_S S`a\WZYaS_SSZXS`[^XS`[^W[Z[\WZYaS_SSZ SS`SS`\^[Va_VSZ[VSWVSZYSZ\SVS\W^_\W`X[VW^Z[^WZ`S__`aV `WZ`SZYWS_WT\SVSSSZTSYSSZS\WZVS\S`SZ\WW^SSZVSZW_WS`W^SSZ W\WZYS^a`W^TWZ`aZ SWS_WS_TS^aWVSZYSZ\SVS_`S`a_TSYSSZS ZVbVa`W^_WTa`WSZS_`S`a_VSZ\W^SZ SZYVVSSW[\[_W^`S TSYSSZSWaS_SSZWaS_SSZ SZYWWS`VSS_`S`a__[_S`W^_WTa`W aTaZYSZVWZYSZ__`W_`^S`XS_ SZYSZ   [`W_  [Z WW  % W[U[[Y [X`^S`XUS`[ZW[^ [X`W \[cW^`^aU`a^W [X[UW`  __W^`S`[Z [a_SZS`S`WZbW^_` \\  WVSZYSZ [S WZVWXZ_SZ_WTSYS_WaS[^SZY SZY_`S`a_Z S_SSWZa^a`\WZSSZ_[_S VZSSSZ_aS`aS\_SZY[[ZYSZS`Sa_`^S`aVSZTScS_SZZ SS_ S^SS` `W^Y[[ZYTW^VS_S^SZS`S__`^S`SSSZ S_`^S`a_`SZW^aa\SVSVWXZ_ _`^S`XS_ W^_SWTS S[^ [S %% [_[[Y_aS`aTaa\WZYSZ`S^ ^ZYS_ SS^`S  U`S^S^a  ZY_W Sb_SZVTW^` [[^W % [W ^ZU\W_[X`^S`XUS`[ZW W^USZ[U[[YUSWbWc  [ \\  %  WTW^ S  % `WW[^ [X[USSZVU[Z[U.

^YSZ S`[Z Wc[^ ^WW ^W__  SVS\^Z_\Z S_WUS^S\^TSV\WZa_`VSWZ W`aaSVSZ S\WZYY[[ZYSZ S_ S^SS`TW^VS_S^SZ[VW^Z`S_ S`aS_ S^SS``^SV_[ZSS`Sa[VW^Z W^VS_S^SZS`S_\WZYSS`SZ\WZa_TaVS S_S`aVWZYSZTaVS SSZZ SUWZVW^aZY WSZSS_ZYS_ZY SZYSVSZYSSSZ ST_SV\SS[WS_ S^SS` SZYTW^_SZYa`SZ SVSSWS`Z S_W`S\WTaVS SSZW\^S_ S^S`XaZY_[ZSTSYS_ S^SS`Z S WZYSZS`SSZ`S`VSVS\S`WZSWTaVS SSZ[^SZYSZTW^VS_S^SZS`S_ZS TaVS S SZY`SSZa`VSSWTaVS SSZ`S  SZVW^_[Z`W\WZ  [_[[Y S^[WTaS WZVWS`SZW^SVS\WS`S_ [_S SS^`S SS ^SXZV[ W^_SVS `S`a_SVSSWVaVaSZ_[_S_W_W[^SZY VSSW[\[_W^`SS_ S^SS`Z S `S`a_W\aZ SVaSS_\W S`aS_\W SZYSYS_`STVSZVZS__\W\W^`SS TW^_XS`W^S^_WZYSZVaZY\W^TSZVZYSZ`ZYYS`Sa^WZVS_WUS^S^WS`X `W^SVS\_`S`a__`S`a_SZ_\WWVaSVS_aVSZ\W^SZSZ_[_S SZYTW^S`SZ VWZYSZ_aS`a_`S`a_`W^`WZ`a SZYVS^S\SZVS^_W_W[^SZY SZYWZVaVa_`S`a_ .

`W^`WZ`a`S`a__[_SSVS`YS S`aS_U^TWV_`S`a_TW^VS_S^SZWS^SZS__YZWV _`S`a_\WTW^SSZS`SaVTW^SZVSZSUbWbWV_`S`a__`S`a_ SZYV\W^[WS^WZS \W^aSZYSZS`SaVUS\S W^_SWTSSZS__WTW^`WZ`SZY[Z_W\WS__`S`a_ VSZ\S^`S S WTW^ %  S WTW^__S Z[U[[Y `^SZ_S`WVT    W^` SZV^Y` _.

X[^VZbW^_`  ^W__ ZU  .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->