Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH

Copyright tobroni tobroni@umm.ac.id http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/

TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH
Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

Paling tidak ada empat kategori sekolah apabila dilihat dari mutu dan proses pendidikannya, yaitu: bed school (sekolah yang buruk) , good school, (sekolah yang baik)  effective school (sekolah yang efektif)  dan excellence school (sekolah  unggul). Bed school adalah sekolah yang memiliki in put yang baik atau sangat baik tetapi proses pendidikannya tidak baik dan menghasilkan out put yang tidak bermutu. Good school adalah sekolah yang memiliki in put yang baik, proses baik dan hasilnya (out put-nya) baik. effective school adalah sekolah yang memiliki in put baik/kurang baik, proses pendidikannya sangat baik dan menghasilkan out put baik/sangat baik. Sedang excellence school adalah sekolah yang in put nya sangat baik, prosesnya sangan baik dan menghasilkan lulusan (out put) yang sangat baik.

1. Seputar Konsep Sekolah yang Efektif

Sekolah yang efektif (effective school), adalah sebuah istilah untuk menggambarkan sekolah yang ideal. Istilah ini (effective school) antara lain dikemukakan oleh Margaret Preedy dalam bukunya "Managing the Effective" (1993), Davis and Thomas dalam bukunya "Effective School and Effective Teacher", (1989), Frymier dkk,dalam bukunya "One Hundred Good Schools,  (1984) dan Townsend dalam bukunya "Effective Schooling for The Community" (1994). Istilah-istilah lain yang berarti sekolah ideal seperti: sekolah yang baik (good school atau better schools) dikemukakan oleh  John T. Lowel and Kimbal Wiles, dalam " Supervision for Better Schools" ( 1983) sekolah favorit (favorite school), sekolah unggulan (excellence school), sekolah yang sukses (successful school), sekolah bermutu (quality school), sekolah percontohan, sekolah model, sekolah elite, sekolah pujaan, sekolah mahal, sekolah harapan dan lain sebagainya. Berikut ini dikemukakan pendapat para ahli tentang sekolah yang efektif.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), sekolah dikatakan baik apabila memiliki delapan kriteria: (1) siswa yang masuk terseleksi dengan ketat dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan prestasi akademik, psikotes dan tes fisik; (2) sarana dan prasarana pendidikan terpenuhi dan kondusif bagi proses pembelajaran, (3) iklim dan suasana mendukung untuk kegiatan belajar, (4) guru dan tenaga kependidikan memiliki profesionalisme yang tinggi dan tingkat kesejahteraan yang memadai, (5) melakukan improvisasi kurikulum sehingga memenuhi kebutuhan siswa yang pada umumnya memiliki motivasi belajar yang tinggi dibandingkan dengan siswa seusianya, (6) jam belajar siswa umumnya lebih lama karena tuntutan kurikulum dan kebutuhan belajar siswa, (7) proses pembelajaran lebih berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada siswa maupun wali siswa, dan (8) sekolah unggul bermanfaat bagi lingkungannya (Depdikbud, Pengembangan Sekolah Unggul, 1994).

Sejalan dengan kriteria Depdiknas di atas, menurut Lipsitz dalam bukunya "Successful Schools for Young Adolescent" mengemukakan,  sekolah dikatakan baik apabila memiliki kriteria kebaikan (goodness) yang banyak: (1) Aspek murid; kualitas lulusan diakui institusi lain yang dengan indikasi: skor tes murid di atas rata-rata kelompok murid lain yang sejenjang; guru dan muridnya sama-sama bekerja keras untuk sukses; para murid puas dengan sekolahnya; para murid yang dirujuk untuk layanan kesehatan mental rendah bahkan dibanding dengan sekolah lain; para murid memenangkan lomba-lomba olah raga dan kegiatan ekstra lainnya; banyak murid yang menstudi bahasa asing, seni dan fisik. (2) Aspek guru: para guru merencanakan pelajaran secara memadai: anggota guru cukup memadai bagi murid; anggota guru bekerjasama, membagi ide, dan saling membantu di antara mereka; pergantian guru rendah; konflik guru rendah. (3) Aktivitas kelembagaan: sekolah mempunyai program perayaan hari besar nasional dan keagamaan; program ekstrakurikuler yang menarik bagi murid; moral lembaga tinggi. (4) Orangtua menerima hasil studi anaknya secara baik; para orangtua mempunyai pilihan untuk mengirimkan anaknya pada sekolah favorit dibanding sekolah lain (J. Lipsitz, 1983).

Fantini dalam "Regaining Excellence in Education" mengemukakan untuk menilai kualitas pendidikan, paling tidak ada empat dimensi yang harus diperhatikan: aspek individu murid, kurikulum, guru dan lulusan dari suatu proses pendidikan (M. Fantini, 1986). Sementara itu Davis dan Thomas dalam bukunya "Effective Schools and Effective Teacher" setelah  mengutip pendapat para pakar dan berdasarkan hasil berbagai penelitian menyimpulkan lima karateristik sekolah yang efektif: (1) praktek pengelolaan kelas yang baik; (2) kemampuan akademik yang tinggi; (3) monitoring kemajuan siswa; (4) peningkatan kualitas pengajaran menjadi prioritas sekolah; (5) kejelasan arah dan tujuan (Gary A. Davis & Margaret A. Thomas, 1989).

page 1 / 8

Buku ini mengkaji tentang pengembangan sekolah yang efektif dalam perspektif sistem organisasi dengan sudut pandang sosiologi organisasi yang memiliki kedekatan dengan sudut pandang administrasi pendidikan. akan dikatakan berhasil apabila dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. alokasi sumber daya. Sementara itu yang disebut sekolah unggul adalah sekolah yang memang unggul dalam berbagai hal: siswa dan guru pilihan.  1985). Dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia banyak bermunculan sekolah unggul dengan sistem full day school dengan fasilitas plus plus mulai antar jemput. page 2 / 8 . bangunan fisik megah dan fasilitas lengkap. 1998). Jakarta: Rajawali. Pendekatan sekolah yang baik berdasarkan pada pencapaian tujuan ini menurut Arifin dalam penelitian Disertasinya yang berjudul " Kepemimpinan Kepala SekolahDalam Mengelola Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar Berprestasi: Studi Multi Kasus pada MIN Malang I. Gibson dkk dan juga Robins  dan juga Robin (Gibson1992. kepemimpinan kepala sekolah. dengan keunggulannya itu tentunya memiliki peluang lebih besar untuk menjadi sekolah yang efekif atau seklah yang baik. dan SDN Ngaglik I Batu di Malang" pernah diterapkan oleh The Seatle Public Scool. misi. yaitu sejauh mana sekolah mampu merumuskan tujuan dan nilai-nilai yang mampu menjadi arah dan menjiwai visi. (2) berusaha meraih prestasi akademik semaksimal mungkin pada semua mata pelajaran. Sebagai gambaran. Ragam Perspektif atas Keefektifan Sekolah Townsend secara metodologis mengemukakan framework (kerangka kerja) untuk melakukan penilaian terhadap efektifitas sekolah yang meliputi delapan aspek: tujuan sekolah. 1.  Lembaga pendidikan unggul ini banyak disponsori oleh para konglomerat. Ahli filsafat pendidikan akan mengkajinya dari aspek kefilsafatannya. Kedua. Tujuan organisasi yang bernama sekolah sebenarnya sangat komplek tergantung dari motif-motif dominan para penyelenggaranya. Namun demikian. diukur dari kualitas atau efektifitas proses pembelajaran. dan (3) menunjukkan keberhasilan melalui evaluasi yang sistematik (systematic testing) (Arifin. Robins. Menurut Etzioni dalam bukunya "Organisasi-Organisasi Modern" mengemukakan. Pendekatan-pendekatan itu terkait dengan perspektif yang digunakan dalam memahami hakekat sekolah. Demikian juga sekolah sebagai sebuah organisasi yang bertujuan. 1983) berpendapat efektifitas organisasi termasuk di dalamnya organisasi sekolah dilihat dari tiga kriteria: pertama diukur dengan sejauhmana sekolah dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga sekolah dikatakan bermutu. berkuda dan lain sebagainya. unggul dan baik apabila lulusannya memperoleh nilai tertinggi dibanding sekolah-sekolah lainnya dan pada gilirannya dapat melanjutkan ke sekolah favorit pada jenjang yang lebih tinggi. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan. dan proses penyelenggaraan pendidikan. Model ini disebut model respons lingkungan menurut Robins. pengambilan keputusan. pengusaha besar dan perwakilan Negara asing.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ Dari berbagai pendapat tersebut. utamanya tercermin dalam sistem kurikulumnya. Sekolah yang efektif menggambarkan adanya keefektifan dalam proses pendidikan sehingga hasilnya maksimal.umm. walaupun keadaan input siswa. dan berbagai bentuk kegiatan ekstra kurikuler seperti berenang. penulis membedakan antara antara sekolah yang efektif (effective school) dan sekolah unggul. gedung dan fasilitas sekolah  layaknya hotel berbintang. Model ini disebut model pendekatan tujuan. Washington Amerika Serikat pada tahun 1982 yang menetapkan sekolah yang bermutu berdasarkan muridnya yang memiliki kriteria: (1) menguasai keterampilan-keterampilan dasar (mastery of basic skill). Apakah sekolah unggul ini pasti efektif? Jawabannya belum tentu dan tidak ada jaminan. 1994). sistem pembelajaran e-learning. implementasi kurikulum. prestasi murid diukur dengan standar nilai nasional atau nilai ujian akhir sekolah.staff.ac. 1)          Pendekatan Tujuan (objective approach) Model tujuan berangkat dari pemikiran bahwa sekolah adalah sebuah organisasi (Lihat Philip Robinson. Di Indonesia pada umumnya. menembak. lingkungan sekolah.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm. Terdapat beberapa pendekatan untuk menilai kualitas sebuah sekolah. guru dan fasilitas tidak nomor satu akan tetapi menghasilkan lulusan nomor satu atau hasil rata-ratanya sangat signifikan. MI Mamba’ul Ulum.ac. Dan yang ketiga diukur dengan kelangsungan organisasi sekolah. organisasi dikatakan berhasil apabila dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Etzioni.id http://tobroni. komunikasi dan keterlibatan komunitas sekolah (Tony Townsend.  Namun secara umum biasanya diukur dengan tingkat pencapaian prestasi lulusan sekolah yang diukur melalui tes uji kemampuan murid. dan unggul pula dalam biaya pendidikannya. Model ini disebut model proses atau model sistem. 1981).

  justru diukur dari seberapa jauh dapat meningkatkan kebesaran lembaga dan nilai  tambah secara ekonomi sebagai ukuran keberhasilan yang paling utama. kemampuan bersosialisasi. berbicara. partisipasi dan kepuasan wali murid sebagai pelanggan (customer). yaitu memahami diri sendiri (potensi diri). learning to do. misalnya beberapa muridnya yang potensial dibina secara khusus atau diikutkan les.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ Mengukur keefektifan sekolah berdasarkan pencapaian tujuan dapat dikatakan sebagai pendekatan klasik. melainkan lebih dari itu agar: (1) dapat hidup (to make a living). 2001). melainkan industrialisasi pendidikan atau kapitalisasi pendidikan. kelangsungan organisasi sekolah dan lain sebagainya. yaitu memiliki keterampilan berfikir (mampu bernalar. harus dimulai dari diri sendiri. Pada era Orde Baru misalnya. mampu memahami dan dapat menjalin hubungan dengan orang lain atas dasar saling membangun kepercayaan. 2000). tetapi peningkatan citra lembaga guna peningkatan nilai tawar kepada pelanggan jauh lebih penting. Keempat pilar pendidikan (the four pillars of education) itu merupakan kemampuan komulatif murid yang direkomendasikan UNESCO dalam menghadapi milenium ketiga abad ke-21. agama. Sekolah yang seperti ini biasanya tidak berani menampilkan pencapaian hasil pendidikannya berdasarkan nilai rata-rata sekolah. melainkan lebih banyak terkait pada kompetensi personal yang menggabungkan keterampilan dan bakat seperti perilaku sosial. Penetapan keefektifan sekolah yang hanya dilihat dari kemampuan akademik siswa semata jelas berangkat dari paradigma pendidikan yang tidak memadai.staff. Pendidikan juga tidak dapat dilepaskan darikepentingan politik. Atas dasar itu tidak sedikit lembaga pendidikan yang tidak fairness dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. membangun prestasi. inovatif. menulis.id http://tobroni.ac. Hanya saja penggunaan pendekatan ini perlu disertai dengan beberapa catatan: (1) tujuan sekolah tidak semata-mata diukur berdasarkan prestasi murid apalagi hanya prestasi akademik. Dan learning to be diterjemahkan sebagai tercapainya perkembangan yang maksimal dan seutuhnya dalam kepribadian yang ditandai dengan terciptanya self esteem. tanggung jawab.umm.  tidak terbatas pada mempersiapkan murid pada posisi-posisi (profesi dan jabatan) dalam masyarakat dan  untuk keberhasilan hidup. baik politik penguasa pemerintahan maupun kelompok-kelompok kepentingan tertentu. integritas dan kejujuran. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mempersiapkan murid untuk menghadapi kehidupan. Goleman menemukan banyaknya orang yang memiliki EQ yang lebih tinggi meskipun IQ lebih rendah tetapi mampu memimpin orang yang memiliki IQ lebih tinggi tetapi EQnya rendah. efektif-efisien dan mudah. Dalam perspektif  ekonomi politik misalnya. self management. mampu mengambil keputusan. Learning to live together diterjemahkan sebagai kemampuan menghormati kehidupan dan kebersamaan dalam keragaman budaya. diterjemahkan sebagai orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan intelektual.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm. Inilah orang yang cerdas secara emosional (emotional Intelligence atau emotional quotient). Pendidikan diselenggarakan untuk membentuk warga Negara yang baik page 3 / 8 . Pencapaian tujuan pendidikan yang meliputi empat pilar pendidikan sebagaimana direkomendasikan oleh UNESCO barangkali juga lebih memadai untuk dijadikan ukuran bagi sekolah yang efektif. Penemuan pakar sosiologi kontemporer seperti Danield Goleman Dalam penelitiannya yang popular. (2) untuk dapat mengembangkan kehidupan bermakna (to lead a meaningful life). Learning to know. memiliki motivasi untuk sukses yang tinggi. Learning to do di masa depan tidak terbatas pada keterampilan fisik rutin. etnik dan lain sebagainya. mampu menyelesaikan masalah) dan memiliki wawasan dan menguasai informasi tentang dinamika persoalan kehidupannya. prakarsa personal. dan kehendak untuk mengambil resiko. namun demikian tetap merupakan cara yang fungsional. disinyalir bahwa muatan atau nuansa politis dalam penyelenggaraan pendidikan lebih kental ketimbang. learning to live together dan learnig to be (Wuri Sudjatmiko. mampu mengelola diri sendiri. Siap menghadapi kehidupan menurut Buchori dalam bukunya "Pendidikan Antisipatoris". tidak sedikit penyelenggaraan pendidikan yang  tujuannya tidak terfokus pada murid. mendengarkan dan berhitung) dengan baik. Dan keempat pilar ini pulalah yang mestinya dijadikan ukuran keefektifan sekolah yang ditetapkan berdasarkan prestasi murid.ac. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa untuk dapat berkarya. Learning to know dapat berkembang dengan baik apabila murid dibekali dengan kemampuan dasar (membaca. keefektifan kepemimpinan. yaitu paradigma yang memisahkan pendidikan dari kehidupan. dan (3) untuk turut memuliakan kehidupan (to enneble life )) Buchori. Keempat pilar pendidikan ini  merupakan satu kesatuan. cerdas. Pencapaian prestasi murid penting. Dalam kenyataannya. Lembaga pendidikan seperti ini tidak dapat disebut sebagai noble industry. (2) sekolah sebagai organisasi juga memiliki ukuran keefektifan seperti kepuasan dan prestasi kerja guru. Keempat pilar itu sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya meliputi: learning to know. kreatif.

proses-keluaran. kurikulum dan organisasi sekolah merupakan aspek intern. Analisis keefektifan organisasi menurut pendekatan ini terfokus pada perilaku organisasi secara intern dan ekstern. kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Lulusan pendidikan bukan menjadi individu yang kreatif. ketimbang untuk membangun sumberdaya anak didik. kebutuhannya semakin kompleks. organisasi sekolah merupakan sebuah sistem yang dinamis. (Administration Quarterly. 2)          Pendekatan Proses (process approach) Menurut Gibson dalam bukunya "Organisasi Perilaku Struktur Proses" mengemukakan. Lulusan pendidikan tidak menjadi manusia yang mandiri. dua pendekatan dalam menganalisis organisasi yaitu pendekatan tujuan dan pendekatan sistem (proses) merupakan dua teknik analisis yang paling popular (Etzioni.staff. Sekolah harus memberikan penjaminan mutu dalam proses pendidikannya. 1992). Pengendalian aspek intern dan ekstern secara serempak adalah tugas utama pimpinan sekolah sebagai seorang menajer. melainkan sangat tergantung pada penguasa. Hal ini terjadi apabila mereka memiliki agenda tersembunyi (hidden agenda) dalam penyelenggaraan pendidikannya. efisiensi penggunaan sumber daya yang ada. 1985). misalnya untuk mewariskan atau melestarikan (indoktrinasi) ideologinya semata dan menomorduakan misi yang sesungguhnya dari pendidikan itu sendiri. organisasi sekolah dianggap sebagai satu kesatuan dari komponen-komponen yang saling berkaitan. W. 117-132.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ dan taat pada penguasa dalam rangka menjaga  status quo. kritis dan mandiri. Gibson. Kedua.  1987). Secara intern yang dikaji adalah bagaimana dan mengapa orang (guru) di dalam organisasi (sekolah) melaksanakan tugas individual dan kelompok. Hoy dan J. organisasi sekolah merupakan sebuah sistem yang terbuka yang harus mampu memanfaatkan dan merefleksikan lingkungan sekitarnya.ac. pergaulan murid di luar jam sekolah. Sergiovanni. Kewajiban sekolah adalah menyelenggarakan pendidikan dan menciptakan kondisi dengan sebaik-baiknya. Fergusen. 2 Spiring: 1985). dan begitu menjadi besar. Owens. struktur kekuatan politik. Keterkaitan antar komponen itu terjadi dalam proses kerja organisasi yang secara linier maupun secara siklus mengikuti pola input-process-output atau masukan. Senada dengan Gibson. sistem supervisi dan evaluasi. katrakteristik eksternal sekolah. Ahli organisasi seperti Etzioni mengemukakan. 1987).pendekatan proses melihat keefektifan organisasi pada konsistensi internal. kedisiplinan. fisik dan fasilitas. kreatif.  Dalam perspektif Teori Sistem. Asumsinya adalah terdapat  pengaruh yang signifikan antara proses dengan hasil atau antara proses pendidikan dengan prestasi murid. dan kesuksesan dalam mekanisme kerjanya  (W. Fergusen. sehingga tidak mungkin didefinisikan hanya melalui sejumlah kecil tujuan organisasi seperti prestasi murid semata.K. lembaga atau pihak lain. tetapi bias juga oleh organisasi-organisasi penyelenggara pendidikan termasuk di dalamnya organisasi sosial kemasyarakatan atau keagamaan. sistem pembelajaran. Memang terdapat variabel lain yang ikut mempengaruhi prestasi belajar murid yang tidak dapat sepenuhnya dikontrol oleh sekolah seperti perhatian orangtua. proses komunikasi. Theoritical Framework and Explanation of Organizational Effectiveness of School" mengemukakan.. tradisi sosio-kultural. inovatif dan komitmen dengan keyakinannya. No.G. Infrastruktur sekolah seperti guru. Masing-masing pendekatan page 4 / 8 . Keefektifan suatu sekolah diukur pada proses organisasional termasuk di dalamnya proses pembelajaran. Politisasi pendidikan seperti ini bias jadi tidak kalah hebatnya dengan yang dilakukan penguasa. kecerdasan intelektual (intellectual intelligence).ac.  pendekatan proses atau pendekatan sistem menekankan pentingnya adaptasi terhadap tuntutan ekstern sebagai kriteria penilaian keefektifan (James L.K. Penetapan pendekatan proses dalam menilai keefektifan sekolah menurut Hoy dan Ferguson didasari oleh dua asumsi: pertama. Kedua.umm. karakteristik internal sekolah yang mencakup: gaya kepemimipinan.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm. Fenomena ini disebut sebagai politisasi pendidikan.id http://tobroni. Tingkat keefektifan proses organisasional sekolah menurut Sergiovanni dalam bukunya "The Principalship: A Reflective Practice Perspectives" disebut karakteristik sekolah (school characteristics) (T. Volume XXI. Hoy dan J. Sementara supra struktur sekolah seperti harapan dan tuntutan masyarakat dan pemerintah merupakan aspek ekstern. Hoy & Ferguson. dan demografinya (R. melainkan hanya menjadi orang yang fanatik terhadap aliran atau golongannya saja (fanatisme buta). dan proses pembuatan keputusan.J. Politisasi pendidikan dapat terjadi bukan hanya oleh Negara. misalnya menjadi pegawai negeri. walaupun disadari prestasi murid tidak sepenuhnya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah. Akan tetapi hal itu tentu tidak dapat sepenuhnya dikontrol oleh pihak sekolah. dalam bukunya "A. Secara ekstern yang dikaji adalah transaksi dan kolaborasi (dialektika) organisasi sekolah dengan organisasi.  hal. yaitu karakteristik situasi dimana sekolah berada dan saling mempengaruhi dengan karakteristik masyarakat seperti kekayaan.  Kareakteristik sekolah ( school characteristics) menurut Owens dalam bukunya "Organizational Behavior in Education" dikelompokkan dalam dua perspektif: pertama. 1985).

Kelangsungan hidup (viability)  sekolah dengan demikian seakan tak tergoyahkan. peneliti yang menggunakan dua pendekatan ini antara lain  dilakukan Bafadal dalam penelitian disertasinya . berapa persen yang masuk di sekolah favorite pada jenjang di atasnya? dan seterusnya. 3)          Pendekatan Kelangsungan Pembaharuan (Continuous Improvement Approach) Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa organisasi sekolah diibaratkan sebagai organisme yang hidup. tidak sedikit ahli administrasi pendidikan yang menetapkan kriteria sekolah yang efektif berdasarkan gabungan dari kedua pendekatan tersebut. 1980). Sekolah di negara-negara maju banyak yang telah memasuki fase aktualisasi diri ini dan tidak sedikit telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Ketika masih berada pada masa-masa sulit kondisinya aman-aman saja. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan: Berapa prosen tingkat kelulusan sekolah? Berapa NEM tertinggi yang diraih dan oleh berapa murid? Dari jumlah lulusan. Sementara itu pihak intern sekolah lebih cenderung menggunakan pendekatan proses dalam menilai keefektifan sekolah dengan sebuah pertanyaan: apakah semua komponen sekolah dan komponen dalam proses pembelajaran telah berfungsi secara efektif? Apakah guru-guru telah mengajar secara efektif? Apakah kepustakaan telah dapat berfungsi sebagaimana mestinya? Apakah lingkungan sekolah dapat diciptakan suasana yang kondusif untuk belajar? Dua pendekatan tersebut tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi.umm. meyakinkan (convincingly) dan diperhitungkan oleh masyarakat.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ memiliki kelebihan dan kekurangannya. (4) harapan tinggi atas pencapaian belajar murid (high expectations of pupil attainment). stagnan.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm. gradual dan berkelanjutan menuju kedewasaan dan aktualisasi diri. Sekolah yang baik dengan demikian adalah sekolah yang fase-fase perkembangannya dapat dilalui secara dinamis.  sekolah yang efektif adalah sekolah yang mampu menimbulkan respon positif dari page 5 / 8 . namun ketika mulai berkembang muncullah konflik dan berbagai persoalan. kelengkapan fisik dan fasilitas. Sedangkan fase aktualisasi diri ditandai dengan kemampuan sekolah melahirkan adikarya dan mengambil peran di masyarakat. (3) perawatan dan pemeliharaan lingkungan (an orderly and secure environment).  berbuah lebat dan berkualitas dan telah berkembang biak. (2) penekanan pada pencapaian belajar keterampilan dasar (emphasis on acquiring basic skills).id http://tobroni. perkembangan. melainkan mematikannya. Tidak sedikit sekolah-sekolah Islam yang kelangsungan organisasinya tidak berjalan secara dinamis-linier menuju kedewasaan dan aktualisasi diri. kepercayaan masyarakat tinggi sehingga keberadaannya menjadi kokoh. yaitu: (1) kuatnya kepemimpinan pendidikan (strong educational leadership). Mortimore dkk dalam bukunya "School Matters: The Junior Years" (1988) dan Brandma dan Knuver sebagaimana dikutip Scheerens dalam bukunya "Effective Schooling for The Community" menemukan lima faktor pendorong sekolah menjadi efektif. Ibarat tanaman. peningkatan kualitas akademik (kedewasaan) dan fase aktualisasi diri (Hadikoemoro. dan (5) perkiraan secara intensif pada kemajuan (belajar) murid (frequent assessment of pupil progress). memiliki basis sosial yang kokoh. pertumbuhan. menejemen yang sehat. Sebagian peneliti pendidikan menyebut pendekatan kelangsungan organisasi dengan istilah perdekatan respon lingkungan atau pendekatan multidimensional. Pendekatan kelangsungan organisasi ini penulis anggap penting untuk menilai keefektifan sekolah khususnya bagi budaya pengorganisasian sekolah di tanah air. Akibatnya ribuan sekolah Islam di tanah air masih banyak yang belum berperan sebagai tempat berinvestasi bagi pengembangan sumberdaya manusia.ac. dan seterusnya. Karena itu. Ibarat tanaman. "Proses Perubahan di sekolah: Studi Multi Kasus pada Tiga Sekolah yang Baik di Sumekar"(1994) yang menekankan sekolah yang baik berdasarkan pencapaian tujuan pembelajaran yang disimbolkan dengan prestasi  akademik siswa dan keefektifan sistem organisasi sekolah. menjadi simbol prestasi. Sementara yang berhasil mencapai kedewasaan dapat dihitung dengan jari dan yang berhasil mencapai aktualisasi diri masih harus dipertanyakan ada-tidaknya. sekolah yang telah memasuki fase aktualisasi diri adalah tanaman yang sehat. Di indonesia. Fase kedewasaan ditandai dengan kemantapan elemen-elemen dalam sistem sekolah seperti guru yang profesional. Fase perkembangan sekolah swasta tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Hadikoemoro di atas. pertumbuhan. perkembangan. Ia mengalami masa  pendirian. melainkan hasil.ac. muncullah berbagai macam hama dan penyakit yang tidak  hanya menghambat pertumbuhan tanaman. Orang luar organisasi sekolah seperti orangtua murid dan pengguna lulusan lebih cenderung memilih pendekatan tujuan untuk menganalisis keefektifan (effectivness) sekolah. dan meyakinkan masyarakat tentang kelangsungan hidupnya dan memiliki keefektifan secara internal dan eksternal. Hadikumoro dalam bukunya "Strategi dan Fase Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta" mengemukakan fase pengembangan perguruan tinggi swasta kepada lima fase: pendirian. Mereka pada umumnya tidak mau tahu tentang proses. alumninya tersebar dalam berbagai posisi strategis di masyarakat.staff. set-back dan bahkan berguguran sebelum memasuki kedewasaan. Purnel dan Gotts dalam bukunya "An Approach for Inproving Parent Involvement Through More Effective School-Home Communication" (1983) misalnya setelah melakukan penelitian tentang hubungan sekolah dan masyarakat (orangtua) mengatakan. Kebanyakan justru mengikuti pola spiral. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sekolah yang efektif menurut pendekatan kelangsungan organisasi adalah sekolah yang keberadaannya kokoh.

Oleh karena itu.ac. humor sehat. diharapkan akan memperoleh gambaran yang utuh. dan peneliti agar tidak mempertentangkan kedua model pendekatan ini atau memilih salah satu diantaranya.ac. 4)          Gabungan dari Ketiga Pendekatan Sebuah teori senantiasa berangkat dari paradigma tertentu yang sifatnya spesifik dan parsial dalam melihat realitas.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ orang dan masyarakat di sekitarnya. realistik. Sifat teori senantiasa spesifik. sementara menurut Sergiovanni pendekatan respon lingkungan pada dasarnya merupakan dimensi lain yang melengkapi pendekatan pencapaian tujuan dan pendekatan proses dalam menetapkan sekolah yang efektif. seimbang. e)     bervariasinya mode dan sumber mengajar yang digunakan secara tepat untuk tujuan pembelajaran. dan difahami. h)     orang tua dan masyarakat lain dari komunitas sekolah berpartisipasi penuh dan bersemangat dalam memberikan kesempatan bagi lingkungan mereka dalam program pendidikan. j)      program sekolah memberikan kemajuan alami bagi pelajar dari tergantung kemandiriannya. Demikian juga ketiga perspektif pendekatan (teoritik) terhadap sekolah yang efektif sebagaimana telah dikemukakan. dkk  dalam bukunya "One Hundred Good Schools"  mengemukakan 12 ciri sekolah yang efektif yang  meliputi: a)     sekolah sebagai bagian dari program pendidikan masyarakat luas.staff.id http://tobroni. c)     sekolah mempunyai pertanggungjawaban untuk perencanaan program yang dilakukan olegh personel sekolah sendiri.umm. sibuk dan anggota sekolah dan staf secara umum melakukan kerja sebagai tantangan dan kepuasan. mendalam dan terintegrasi tentang sekolah yang efektif. g)     murid partisipasi penuh dan bersemangat dalam berbagai kegiatan yang diberikan oleh sekolah dan masyarakat.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm. Frymer. page 6 / 8 .  pendekatan kelangsungan organisasi merupakan dimensi lain dari pendekatan sistem dalam analisis keefektifan organisasi. Sergiovanni menyarankan kepada para kepala sekolah. i)      perpustakaan dan pusat belajar lain secara luas dan efektif digunakan oleh murid. Apabila ketiga perspektif teoritik tersebut digabungkan. Sebaliknya. teoritisi. b)     tujuan-tujuan sekolah memenuhi unsur komprehensif. f)      unjuk kerja murid mengarah pada semua tujuan sekolah yang dievaluasikan secara umum memuaskan. d)     iklim sekolah yang bersahabat. mendalam dan bahkan ekstrem. Menurut Etzioni dalam bukunya "Modern Organizations" mengatakan. dan tujuan tersebut terserap dalam kegiatan sekolah. pendekatan tujuan yang digabungkan dengan pendekatan proses dan pendekatan kelangsungan organisasi akan lebih komprehensif didalam memahami kesuksesan sekolah.

sekolah yang efektif adalah: (1) aktivitas-aktivitasnya disesuaikan dengan kebutuhan murid secara individual. h)   Ditinjau dari pertanggungjawaban kepada masa depan. sekolah dikatakan baik apabila: (1) Proses pembelajaran lebih menekankan pada penemuan. melainkan didorong untuk aktif membentuk pengalamannya sendiri. (2) antara murid satu dengan lainnya tidak dituntut mengikuti aktivitas yang sama. (2) Mengembangkan diversifikasi program kepada masyarakat. (3) murid-murid tidak disyaratkan semata-mata mematuhi waktu dalam pelajaran. sekolah yang efektif apabila personelnya: (1) hubungan sekolah-masyarakat lebih menekankan pada pola partisipasi dari pada pola paternalisme-birokratik. sekolah dikatakan baik apabila memenuhi: (1) pengaturan waktu didasarkan atas ketentuan yang ada secara konsisten. (3) peran mengajar diorganisasikan dan kemudian ditugaskan sesuai dengan kemampuan guru. d)   Ditinjau pelaksanaan evaluasi. c)   Ditinjau dari pendefinisian kecerdasan. (6) pengetahuan diri sendiri merupakan bagian dari definisi pengetahuannya. pengetahuan atau perilakunya. (4) murid sebagai subyek dalam setiap aktivitasnya. (3) berbagai keterampilan komunikasi dilatihkan kepada murid.id http://tobroni. (2) aktor proses pembelajaran tidak didiminasi oleh guru. sekolah yang efektif apabila: (1) proses pembelajaran berorientasi pada masa depan berdasarkan analisis kondisi sekarang dan masa lalu. (2) menginterpretasikan page 7 / 8 .  (4) meningkatkan penghargaan terhadap ilmu untuk praktek kegiatan sehari-hari. (2) murid dihindarkan dari kebiasaan menerima pelajaran secara pasip. (3) tidak kuatir mempertanggungjawabkan performansi sekolah. f)      Ditinjau dari perbedaan peran.umm. b)     Dilihat dari penstrukturan aktivitasnya. sekolah sebagai institusi memiliki 8 (delapan) fungsi esensial yang apabila masing-masing fungsi esensial dijabarkan kesemuanya menjadi 35 (tiga puluh lima) indikator  sekolah yang efektif: a)     Dilihat dari penstrukturan waktu. (4) macam perilaku yang dikehendaki dinyatakan secara eksplisit.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm. e)     Ditinjau dari pelaksanaan supervisi. (5) hubungan sesama murid tidak ditempatkan sebagai kompetitor semata. pemecahan masalah dan penelitian dari pada memorisasi. sekolah yang efektif apabila: (1) menghindari permusuhan guru-murid.staff. dan (4) murid-murid diarahkan untuk mengorganisasi dan memanfaatkan waktu mereka sendiri dalam belajar. dan (3) memecahkan masalah murid secara tuntas. melainkan pada perolehan hasil proses pembelajaran. melainkan juga sebagai kolaborator. (2) digunakan pendekatan yang humanistik dan perorangan.id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ k)     kepala sekolah merupakan pemimpin yang berpengaruh dan berkolaborasi secara efektif dalam sekolah dan masyarakat. (2) murid diberi peluang untuk mensupervisi dirinya sendiri. sekolah dikatakan efektif apabila: (1) menekan upaya balikan dan mendorong belajar murid. sebaliknya lebih menyuburkan kerjasama antar keduanya. (5) menyadari perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang dan tidak membakukan pengetahuan yang ada. (3) sekolah melibatkan sepenuhnya partisipasi murid. (2) antara murid tidak diharuskan mengerjakan tugas yang sama dalam rentang waktu yang sama. Menurut Postman & Weingartner "The School Book: For People Who want to Know What All the Hollering is About" (1979). (5) hati-hati menggunakan tes standar. (5) aktivitas murid tidak terbatas pada gedung sekolah. g)   Ditinjau dari pertanggungjawaban terhadap masyarakat. (3) mencakup aspek yang komprehensif. (6) untuk mengevaluasi guru dan administrator digunakan prosedur yang konstruktif dan tidak bersifat menghukum. (6) pengembangan aktivitas berdasarkan pada perbedaan latar belakang dan kemampuan murid. (4) murid tidak dijadikan obyek. dan l)      guru-guru sekolah tampak melakukan pembaharuan dan perbaikan secara kontinyu.ac. sekolah dikatakan efektif apabila: (1) sekolah diciptakan sebagai masyarakat belajar dan guru berperan sebagai koordinator dan  fasilitator.ac. melainkan mencakup semua sumber dalam masyarakat.

Analisis tentang sekolah efektif di atas. khususnya kepada murid dan stake-holder.staff.umm.Khalifatu Rabb | TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH Copyright tobroni tobroni@umm.id http://tobroni. Ketiga pendekatan tersebut sangat fungsional.ac.ac. menurut peneliti berangkat dari paradigma sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran dan dalam perspektif administrasi pendidikan. page 8 / 8 .id/2010/11/25/teori-teori-tentang-mutu-sekolah/ tanggungjawabnya kepada masa depan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful