Nama : Hendri Setiawan Nim : 0911022003 Jurusan : TEP Mata kuliah : Dinamika Mesin dan Tanah (DMT) PENERAPAN

SISTEM KONTROL DENGAN PEGAS PADA PENGGANDENGAN ALAT PENGOLAH TANAH Proses pengolahan tanah adalah kegiatan yang membutuhkan energi paling besar dalam bidang pertanian. Usaha untuk meningkatkan kinerja pengolahan tanah secara mekanis begitu diperlukan dalam bidang pertanian. Dengan beragamnya jenis, gaya tahan tanah, sifat fisik dan mekanik akan mengakibatkan gaya tarik yang dibutuhkan menjadi bervariasi, kedalaman olah yang tidak seragam, pengendalian yang berlebihan serta konsumsi bahan bakar yang meningkat maka diperlukan perlakuan yang sesuai agar tercapai kinerja dan hasil maksimal dalam pengolahan tanah. Untuk meningkatkan kinerja pengolahan tanah diterapkan dengan memanfaatkan prinsip-prinsip umpan balik dari gaya yang bekerja pada bajak. Cara ini sebenarnya adalah pengambangan suatu mekanisme penggandengan bajak dengan metode kontrol otomatis sederhana. Dengan memanfaatkan gaya umpan balik yang bekerja pda bajak maka komponen kontrol yang digunakan adalah pegas tekan. Model penggandengan yang digunakan adalah model penggandengan tetap antara kerangka bajak dengan traktor tangan dengan penggunaan pegas tekan yang dipasangkan diantara batang penggandeng dengan bajak melalui sebuah lengan penghubung sebagai pengatur sudut bajak. Pegas tekan pada bajak akan mengatur sudut bajak secara otomatis berdasarkan besarnya gaya yang bekerja pada badan bajak. Apabila gaya yang bekerja semakin besar dan di atas titik gandeng maka momen terhadap titik gandeng lebih besar, pegas akan mengalami pemendekan sehingga kedalaman bajak akan lebih kecil begitu juga sebaliknya. Dalam penelitian digunakan traktor tangan ISEKI KL781 dan bajak singkal SEARS dengan kerangka yang telah dimodifikasi. Beberapa hal yang diamati yaitu data tentang gaya penarikan, laju penetrasi bajak kedalam tanah dan kinerja pengolahan tanah yang berupa kedalaman olah, kecepatan kerja, slip roda traktor, konsumsi bahan bakar, frekuensi pengaturan posisi traktor-bajak dan kapasitas kerja pengolahan tanah. Pengukuran kedalama pengolahan tanah dilakukan secara acak dengan interval 50 cm sepanjang alur dan dilakukan dari permukaan tanah sampai dasar alur pembajakan. Untuk kecepatan kerja dihitung dengan pencatatan waktu dalam

Pengukuran frekuensi dilakukan dengan jumlah kegiatan yang dilakukan dalam proses pengolahan. Kapasitas kerja lapang dihitung dengan mengukur luas lahan aktual yang terolah serta waktu yang digunakan untuk proses pengolahan. Walaupun pada kedalaman tidak ada perbedaan yang nyata tetapi dalam hal keseragaman pada sistem konvensional mengalami ketidakseragaman yang tinggi karena bajak sering masuk terlalu dalam akibatnya traktor mengalami slip sehingga diperlukan pengangkatan bajak dan muncul kedalaman yang berbeda disetiap pengangkatan bajak. kegiatan tersebut adalah pengangkatan bajak dari dalam tanah dan pengaturan posisi traktor untuk tetap berjalan pada jalurnya. Hal ii terjadi disebabkan oleh gaya yang bekerja pada badan bajak arahnya berada di bwah titik penggandengan dan setelah mencapai kedalaman tertentu arah gaya yang bekerja telah berada sedikit di atas titik penggandengan sehingga mata bajak akan menuju titik keseimbangan sesuai dengan keadaan tanah yang diolahnya. Slip roda traktor diukur dengan menghitung jumlah putaran roda sepanjang jarak tertentu dan sebelumnya dilakukan pengukuran diameter roda traktor.menempuh jarak tertentu. Penggunaan pegas kontrol menyebabkan sedikit penambahan kemampuan gaya penarikan traktor. frekuensinya tidak telalu besar sehingga variasi kedalaman olahnya tidak terlalu besar. Kinerja lapang pengolahan tanah menggunakan kontrol pegas dan konvensional tidak ada perbedaan hasil kedalamannya. Pengukuran konsumsi bahan bakar dilakukan dengan menguukur berapa volume bahan bakar yang terpakai per satuan luas tanah yang diolah. Pada sistem penggandengan dengan kontrol pegas walaupun masih tetap mengalami slip dan dibutuhkan pengangkatan bajak. Laju penetrasi bajak ke dalam tanah dengan sistem penggandengan kontrol pegas menunjukkan bahwa laju masuknya bajak kedalam tanah menuju kedalaman setimbang lebih cepat dibandingkan dengan penggandengan konvensional. Penggandengan sistem kontrol pegas mampu mengurangi slip yang terjadi pada roda penggerak karena sistem mampu mengatur secara otomatis sudut mata . Pada sitem konvensional sudut mata bajak selalu tetap sedangkan pada bajak dengan sistem pegas kontrol sudut mata bajak dapat berubah sesuai besarnya gaya yang bekerja pada bajak selama proses pembajakan sehingga kedalaman maksimum dapat tercapai dan efek slip roda juga dapat diminimalkan. Dari hasil pengukuran gaya penarikan bajak bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap besarnya gaya penggandengan secara konvensional maupun penggandengan menggunakan kontrol pegas. Perbedaan yang dapat dilihat adalah kedalaman pengolahan maksimum yang terjadi dalam proses pembajakan.

memperkuat kontruksi dan penentuan posisi titik gandeng. Walaupun dengan bertambahnya kemampuan dan hasil yang dimiliki sistem kontrol pegas juga memiliki beberapa kelemahan yaitu respon pegas yang lambat dan kestabilan kontruksi yang lemah. Slip pada roda yang berkurang berdampak positif terhadap kecepatan kerja pengolahan tanah. Sedangkan pada penggandengan konvensional slip yang terjadi relatif lebih besar sehingga kecepatan kerjanya berkurang yang berakibat pada kapasitas yang lebih rendah. Kapasitas kerja dilapangan sangat berpengaruh terhaap konsumsi bahan bakar.bajak di dalam tanah sesuai dengan keadaan dan kondisi tanah tersebut. Dari hasil tersebut dapat dikataka bahwa penggunaan sistem kontrol pegas dapat meningkatkan efisiensi pengolahan tanah. Dengan penggunaan sistem kontrol pegas otomatis maka kestabilan pengolahan tanah dapat lebih terjaga sehingga kapasitas kerja meningkat dan diiringi dengan menurunnya konsumsi bahan bakar. Untuk frekuensi pengendalian traktor dibagi menjadi 2 yaitu pengendalian berupa pengangkatan kedudukan bajak dari kedalaman dan pengendalian traktor agar tetap berada pada jalur serta berjalan lurus. sedangkan untuk pegas I hanya memerlukan 3 kali pengangkatan selama proses pengolahna berlangsung. mengurangi slip roda. Penggunaan bajak dengan sistem kontrol pegas baik untuk pengolahan tanah karena gaya pegas dapat menyesuaikan kedalaman pembajakan sesuai dengan jenis dan kondisi tanah. penggunaan sistem kontrol pegas dapat meningkatkan kapasitas kerja karena slip yang terjadi lebih rendah. Kelemahan tersebut diatasi dengan bertambahnya kemampuan untuk memodifikasi seperti penggunaan pegas yang lebih kuat. pengendalian yang lebih baik serta kapasitas kerja alat yang meningkat. Pengendalian yang menggunakan penggandengan konvensinal dan pegas II memerlukan 6 sampai 7 kali pengangkatan. penghematan bahan bakar. . Kapasitas kerja di lapangan dipengaruhi oleh faktor tingkat slip roda.