P. 1
Catatan Harian Seorang Dokter

Catatan Harian Seorang Dokter

|Views: 635|Likes:
Published by khidriumi
tulisan ini adalah kumpulan goresan dan coret-coretan sekedar mengisi waktu dari kepenatan aktifitas. Mungkin hanya sebagai renungan untuk menjadi pelajaran bagi penulis dalam melihat begitu banyaknya problem yang tidak bisa tuntas hanya sekedar di tulis di kolom ini.
tulisan ini adalah kumpulan goresan dan coret-coretan sekedar mengisi waktu dari kepenatan aktifitas. Mungkin hanya sebagai renungan untuk menjadi pelajaran bagi penulis dalam melihat begitu banyaknya problem yang tidak bisa tuntas hanya sekedar di tulis di kolom ini.

More info:

Published by: khidriumi on Dec 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

Tentang.....

Kematian

rindu sang Khalik kepada Uje
1

Senin, (10/09/95) siang yang terik, seorang ibu muda yang mengenakan baju koass, baru saja mengambil uang kiriman dari suaminya di BDN, menyeberang jalan dengan rasa was-was di sekitar jalan kartini. Tanpa dilihatnya, sebuah motor bebek dari arah timur jalan Gunung Bawakaraeng dengan kecepatan yang cukup tinggi berusaha memburu lampu kuning dari traffic light yang memberikan tanda hati-hati. Dan, takdir Tuhan-pun berjalan seperti kehendak-Nya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, ibu muda itu tersungkur dengan tragis, ketika sang pengendara, yang seorang mahasiswa, berusaha menghindarinya. Seolah bumi berhenti berputar, manusia-manusia yang berada di sekitar jalan itu seperti dikejutkan oleh sebuah tragedi, dimana nasib anak manusia dengan kepasrahannya menjalani garis ketentuan itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.

* * *
Berita itu sangat mengejutkan, bumi Tamalanrea berduka cita. Insan kedokteran yang begitu erat persaudaraannya tak dapat membendung air mata. Seorang putri terbaik yang pernah dilahirkan untuk mengabdikan ilmunya bagi kemanusiaan harus menerima kenyataan yang tak pernah diduga oleh keluarganya, oleh sahabat, oleh sang suami yang sangat mencintainya, bahkan oleh sang anak semata wayang yang baru berusia 9 bulan, yang masih memerlukan belaian kasih sayang dari ibunya. Wanita malang itu bernama Andi Besse Ujerah, S. Ked., seorang sahabat yang tak melepaskan kita berpisah kecuali diberinya senyum. Tak ada yang tersisa darinya kecuali kebaikannya, rasa kemanusiaannya sesama insan, dan rasa persaudaraannya yang begitu baik. Sulit untuk melupakan semua itu. Dua hari sebelum kejadiaan naas itu menimpanya, dia baru saja diwisuda menjadi sarjana kedokteran, yang hanya ditempuhnya 4 tahun lebih, dengan IPK 3,2 memberikan harapan melanjutkan cita-cita ibunya menjadi dokter. Uje, demikian sahabat dan teman-teman memanggilnya, adalah pribadi yang mempesona bagi siapa saja yang mengenalnya. Ia, tidak hanya sekedar menjadi mahasiswa kutu buku, tetapi iapun aktif dalam kepengurusan senat kedokteran. Kematian selalu saja menjadi pembicaraan yang menyedihkan, sekaligus selalu mengundang misteri yang tak seorang manusiapun dapat 2

mengetahui hakekatnya, kecuali Allah, Sang Pemilik Kematian. Cepat atau lambat, kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. Dalam suatu riwayat, Laa yanzal maut, Fain-nal mauta Laa yanzaka (janganlah kamu melupakan kematian, sebab dia tidak pernah melupakanmu). Hal ini juga diformulasikan Qur‟an lewat pesan-Nya dalam surah An-nisa : 78 “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu dalam benteng yang tinggi dan kokoh”. Adalah kenyataan yang harus diterima setiap manusia.

* * *
Dikisahkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya, juga Ibnu Abi Hatim menceritakan, suatu kisah yang diterima dari mujahid: ada seorang wanita cantik di zaman dahulu. Oleh tukang ramal mengabarkan kepadanya bahwa dia akan mati dibunuh oleh seekor laba-laba. Mendengar ramalan itu, maka suaminya membuatkan sebuah puri yang kokoh untuk memelihara istrinya yang tercinta itu dari gigitan sang laba-laba. Pada suatu hari, duduk-duduklah mereka dalam puri yang kokoh itu. Tiba-tiba kelihatanlah seekor laba-laba sedang membuat sarangnya di loteng puri. Maka, berkata suaminya: “Coba lihat itu!” melihat itu, berkatalah wanita tersebut, “Inikah dia yang kita takuti? Sehingga kakanda membuatkan saya puri setinggi ini untuk memelihara diri daripadanya?” “Demi Allah, saya mesti membunuhnya!” lalu, laba-laba itu dikaitnya sampai bisa diturunkan ke bawah. Dengan murkanya laba-laba itu diinjaknya hingga mati. Tanpa sadar, bisa laba-laba itu telah masuk lewat ibu jari kakinya, sehingga menjalar dan menginfeksi seluruh tubuhnya, kakinya menjadi bengkak dan menghitam. Lalu matilah wanita cantik itu. Walhasil, kematian hanyalah sebuah pintu (Al Baabu mautun) dan tiap manusia melaluinya (Wa kullunn Naa-sun daakhilun). Cuma untuk menuju pintu itu banyak jalannya. Dan diantara anak-anak Adam, ada yang mati seperti berjihat di jalan Allah. Dan Semoga Allah SWT, memasukkan sahabat kami, Uje dalam mati jihad fi sabilillah. Tragedi takdir yang menimpanya boleh jadi penghapus dosa-dosanya, sebab apa yang ditimpakan kepadanya adalah sebuah kematian yang wajar dan banyak dialami oleh manusia yang pernah hidup. Ataukah mungkin Allah rindu kepada hambanya yang baik dan sholehah seperti dia? Untuk temanku, Uje di alam barzah, mungkin dia sudah menerima segala kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang 3

taqwa. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah dikalangan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al-Fajr 27-30). “Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, sejahterakanlah ia, muliakanlah tempat peristirahatannya, luaskanlah tempat masuknya, bersihkanlah dengan air salju serta embun. Ya Allah, sucikanlah ia dari kesalahankesalahan sebagaimana halnya baju putih disucikan dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik lagi, juga ahlinya lebih baik lagi, dan jagalah ia dari fitnah serta siksa kubur. Amin ya Robbal „alaamin.”

Sedang akupun ingin hidup

AKU- tidak tahu dimana aku sebenarnya. Aku Cuma tahu bahwa duniaku bukanlah dunia empiris atau dunia syariah. Aku melayang-layang diantara ketidak pastian sebuah nama dari kehidupan. Ketika aku berusia 120 hari sebuah ruh ditiupkan dalam diriku. Oh Tuhan, aku tak sendiri. Seonggok makhluk diam-diam memperhatikanku. Ia lebih banyak diam, matanya redupredup, aku tidak peduli, aku diam saja. Ia bergerak, ia ingin memelukku, tetapi badannya belum sempurna, seperti badanku yang juga belum sempurna. Ngeri juga aku melihatnya, wajahnya tak ubahnya seperti monster, dimana kepalanya lebih besar daripada badannya, tangannya sangat kecil sekecil kakinya yang pendek, lemah dan tak ada tenaga sama sekali. Aku tahu ia saudara kembarku. Tiba-tiba ia bergerak, bergeliak dan berusaha memutar dirinya. Ia ingin berteriak, tetapi mulutnya tertutup rapat. Bersamaan dengan itu, sebuah suara keras seperti menahan kesakitan menggema, sehingga membuat aku kaget. Aku tahu itu suara ibuku. Aku sering mendengar bisik-bisik bahwa ibuku ingin mengakhiri hidup kami secara tidak wajar. Seorang temannya pernah menyarankan minum obat keras daftar G yang bisa memenuhi keinginannya, kepalanya seperti mau pecah, ususnya seperti terlilit hebat, untung ia tertolong cepat. Ia gelisah terus, ia belum siap menanggung beban yang berat, ia malu, takut bercampur dosa, terus menghantuinya. Hatinya hancur, sehingga nyaris ia minum baygon. Pacarnya yang paling brengsek serta yang bertanggung jawab atas kehadiran saya dan kembarku di alam rahim, pembual cinta demi sebongkah nafsu, berusaha lari dari tanggung jawab, diam-diam memaksanya ke dukun untuk melakukan abortus kriminalis. Cemas mulai menyelimuti diriku, saudaraku sekali lagi berteriak, sebuah kayu kecil, lebih kecil dari korek api menggores tubuhnya. Tetes darah mulai merembes dari sela paha ibuku, mukanya pucat, sekujur tubuhnya 4

dingin, nafasnya sesak. Sekali lagi ibuku mengerang, ketika tidak tahan lagi, ibuku berteriak lalu pingsan. Aku semakin takut, kehidupanku akan berakhir sampai disini. Oh Tuhan… rupanya Engkau menakdirkan hidupku sampai disini. Duniaku tiba-tiba menjadi gelap, aku berputar cepat dan terasa hilang. Sayup-sayup suara nafas ibuku membangunkanku. Rasanya aku tertidur lama, tapi aku tidak pernah bermimpi. Aku kaget, badanku semakin besar, semakin sempurna dan lengkap. Mungkin usiaku kini 28 minggu. Aku mulai merasakan fisik ibuku semakin merosot. Tubuhnya semakin kurus, beban moral juga ikut memperburuk tubuhnya akibat aib yang ditanggungnya. Sebenarnya ibuku orang baik, pendiam, sabar dan cerdas. Sebagai anak bungsu, ibuku termasuk anak yang dimanja. Ketika ibuku terpikat oleh seorang lelaki gagah, ia langsung terjatuh dalam pelukan lelaki itu. Mereka sama-sama terbuai dalam mimpi yang indah. Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Kata ibuku, mereka hanya melakukan sekali. Sungguh mati, ibuku tidak menyangka kalau akibatnya akan seperti ini. Untungnya masih ada saudaranya yang iba melihat penderitaannya. Orang tuanya sudah tidak mau mengakuinya lagi. Mereka mengusir dan menyumpahinya.

* * *
Aku kaget, tiba-tiba aku merasakan nafas ibuku semakin memburu dan semakin sesak. Bau obat, tabung oksigen dan cairan infus telah menyatuh dalam diri ibuku. Aku merasa lega, di rumah sakit keselamatan jiwaku pasti lebih terjamin. Aku bersyukur kepada Tuhan, dukun laknat itu nyaris merenggut nyawaku. Andaikan saudara ibuku tidak menolong cepat, pupuslah harapanku melihat dunia manusia, sebuah dunia yang katanya sangat indah dan mempesona. Aku memang sudah lelah berlama-lama di perut ibuku. Aku ingin cepat-cepat keluar. Dua orang dokter disamping ibuku berbincang-bicang, entah apa yang dibicarakannya. Aku hanya sempat mendengar kata operasi. Sebuah kata yang paling banyak ditakuti dan dihindari orang. Ibuku akan dioperasi, apa gerangan yang terjadi? Kenapa mereka ingin mengoperasi ibuku? Apa yang terjadi pada ibuku? Aku kaget luar biasa, saudaraku yang pernah kulihat seperti monster kini tak ada lagi disampingku. Masya Allah, dia telah berubah menjadi bergumpal-gumpal darah. Kata dokter, yang membuat ibuku menjadi sesak karena adanya pendarahan di dalam perutnya yang rupanya adalah penjelmaan saudaraku 5

sendiri. Tidak lama operasi laparatomi dilakukan untuk menyelamatkan diriku. Aku berhasil selamat. Dokter muda itu memeluk diriku, ia menangis, tetapi aku diam saja. Aku tak tahu apakah aku masih pantas hidup bersama dengan penderitaan ibuku?

Pengintai-pengintai Maut
Ketika baru saja hendak merebahkan badan yang seharian bergerak, tiba-tiba hand phone berdering. Deringannya kali ini sangat nyaring, sehingga 6

serasa ingin loncat saja dari pembaringan. Dengan malas kuangkat, “ya, ada apa ?”. “dok, ada pasien, kelihatannya sangat gawat, dan sekarang di ruang UGD”. Suara seorang suster dari ruang UGD, suara itu kedengarannya lembut namun cukup menusuk. Ah, siapa sih yang masuk UGD tidak gawat. Rata-rata pasien yang masuk di ruang UGD selalu dianggap gawat. Sedikit malas kuraih jas putih lusuh itu dari gantungannya. Dengan langkah terseok-seok yang masih dibebani rasa kantuk, saya ke Unit Gawat Darurat, ruangan ber-AC yang menjadi saksi bisu ratusan bahkan ribuan pasien-pasien yang pernah masuk. Di ruang UGD, pasien bagaikan orang terdakwah, pasrah menanti vonis dari berat ringannya penyakitnya. Disana mereka menanti gong yang menakutkan, jika dokter mempersilahkan opname, itu artinya ketidakpastian menanti nasib mereka. Boleh jadi penyakitnya harus diobservasi dulu, apakah karena berat atau perlu istirahat untuk dipantau terus sambil diobati hingga sembuh. Jika mereka disuruh pulang, itu artinya penyakitnya tidak terlalu serius. Seorang gadis berbaring lemah, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat, nampak meringis menahan kesakitan di daerah ulu hatinya. Berkalikali batuk disertai darah segar ikut keluar bersama batuknya. Kegelisahan menyelimuti wajahnya yang cantik namun penuh tatapan kosong. Usai saya periksa, saya laporkan kondisinya kepada dokter jaga berikut diagnosa sementaranya. Kemungkinan ia menderita demam thifoid, melihat tanda-tanda fisis yang ada, tetapi dari mana darah itu ? setelah diberikan obat, ia dikirim ke kamar untuk di follow up perkembangan dirinya. Ia terus batuk darah, sesekali ia muntah seperti air yang bercampur darah. Suhu badannya masih tinggi, ia meringis terus kesakitan. Ibunya yang sangat setia mendampinginya hanya kelihatan pasrah dan terus berdo‟a dalam hati akan kesembuhan anaknyaa. “Dok, bagaimana anak saya, bisakah ia sembuh ?”. Ia diberi infus, dan beberapa obat disuntikkan lewat intra vena untuk mencegah darah yang terus keluar dari batuknya. Tidak berapa lama ia mulai tenang dan tertidur pulas.

Pagi-pagi ketika hendak follow-up kembali, demamnya kembali naik. Tiba-tiba ia batuk lagi yang bercampur darah. Ia gelisah dan gelisah lagi, beberapa kali ia mencoba menggigit dan mencopot infusnya. Nafasnya tersengal-sengal hingga sesak. Oksigen dan beberapa obat diberikan, namun kondisinya terus memburuk. Melihat kondisinya yang semakin kritis, 7

* * *

keluarganya mengambil inisiatif untuk memulangkannya. Mereka tidak melihat ada harapan, padahal segala daya dan upaya telah diberikan. Namun Tuhan lebih berkehendak atas apa yang ditakdirkannya terhadap seorang hambaNya. Keesokan harinya, saya menengar berita, ia pergi menghadap penciptanya dengan tenang. Seorang gadis yang baik, shalehah yang masih punya seribu harapan telah pupus terenggut oleh waktu dan memilih damai di sisi Tuhan. Ia ingin hidup lebih lama tetapi takdir berbicara lain. barangkali begitulah nasib manusia, banyak kehendak yang tidak tercapai dan hanya menjadi impian orang lain bersama terukirnya nama di batu nisan. Dari pemeriksaan laboratorium, didapatkan kemungkinan kematiannya adalah ulah leptospira. Siapakah leptospira itu ? kita tak banyak mengenalnya, namun ia sangat akrab dan mengenali kehidupan kita. Leptospira adalah sejenis penyakit zoonosis (binatang) yang disebabkan oleh mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif. Ia terdapat pada binatang peliharaan seperti anjing, kucing, lembu, babi, kerbau dan lain-lain. juga pada binatang liar seperti tikus, musang, tupai, dan sejenisnya. Manusia dapat terinfeksi jika terjadi kontak dengan tanah, air, lumpur dan lain-lain yang telah terkontaminasi dengan air kemih binatang yang terinfeksi leptospira.

* * *
Banyak diantara kita sering lupa, bahwa berbagai mikroorganisme selalu mengelilingi hidup kita adalah ancaman yang setiap saat mengadu modal hidup manusia. Banyak yang melihat bahwa hidup sehat hanya dilihat dari penampilan person seseorang. Tanpa melihat kondisi sekelilingnya, entah itu pekarangan rumah, dapur, saluran air dan pembuangan. Padahal sumber penyakit yang dapat mengintai kita asalnya dari tempat-tempat rawan seperti itu. Seringkali masalah dapur banyak diabaikan oleh ibu-ibu, sehingga tanpa disadari makanan yang sudah semestinya dibuang masih disimpan, masih untung jika makanan-makanan itu disimpan di kulkas. Kucing, tikus, lalat, kecoak di daerah dapur adalah pengintai-pengintai maut yang sering diremehkan. Makanan yang lupa ditutup, tangan yang makan tanpa dicuci dengan bersih, adalah pertanda hidup yang tidak bersih dan mengundang banyak penyakit. Wallahu „alam.

8

Catatan Kelam AKI
IBU- muda itu terus mengerang menahan kesakitan. Keringat dingin terus mengucur dari keningnya. Sebentar-sebentar ia mengerang lagi, berteriak, memilukan perasaan bagi yang mendengarkannya. Benar kata orang, orang yang hamil berada dalam dua ketidak pastian yang tidak jelas, antara 9

hidup dan mati ia melawan ketidak berdayaannya. Rasanya cepat-cepat ia ingin mengakhiri penderitaan yang cukup melelahkan. Terasa satu kakinya di pintu kubur (kata sebagaian orang, apa benar) dan satu kakinya di rumah sakit (yang benar diatas ranjang semuanya). Bidan dan ibunya yang mendampinginya tidak bisa berbuat banyak ketika darah dari sela selangkanya mulai keluar. Pada awalnya sedikit, lama-kelamaan darah semakin deras dan banyak, membanjiri di atas ranjang. Ia kemudian mengalami shok, nadinya lemah, cepat, tekanan darahnya rendah dan seluruh badannya mulai dingin menggigil serta kukunya membiru. Bidan yang mendampinginya bingung. Mestinya yang keluar adalah jabang bayi, ternyata perkiraannya meleset. Padahal ia tahu, ibu muda itu rajin memeriksakan kandungannya, malah pemeriksaan yang terakhir tidak ada gejala yang menghawatirkan. Insya Allah ia akan melahirkan dengan lancer dan normal. Tetapi, di hari partusnya (persalinan), ia tidak menduga akan terjadi apa yang tidak mesti dialaminya. Satu-satunya jalan berdasarkan instruksi dokter, ibu muda itu harus diberi darah, artinya transfusi darah harus segera dilakukan. Seperti masyarakat desa lainnya, yang masih lugu dan terbelakang. Transfusi darah sering diartikan sebagai pekerjaan yang sangat membahayakan. Untuk itu, harus minta izin dulu ke suaminya. Tetapi repotnya, sang suami masih di sawah, ia masih harus menyelesaikan bajakannya dulu baru harus ke Puskesmas. Ketika surat izin sudah dikantongi, tidak berarti sang suami rela istrinya diberi darah, sebab nanti dibilang suami yang tidak becus sama keluarga sang istri. Maka surat izin kedua harus dinantikan dari sang mertua. Di puskesmas, ibu muda itu harus bergelut menahan rasa sakitnya, yang bersamaan dengan itu, ia terus mengalami pendarahan. Ketika darah sudah diperoleh, yang diambil dari daerah kabupaten, ibu muda itu sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bersamaan dengan itu, bayinyapun tidak sempat tertolong. Dokter PTT itu memperkirakan, ibu itu kemungkinan mengalami solutio plasenta (abrupsio), yaitu hematoma retroplacenta akibat pendarahan dari arteria (terjadi

perubahan di dinding pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah di ruang intervitus). Hal ini bisa saja disebabkan oleh
hipertensi atau toksemia (keracunan darah).

Tiba-tiba kita merasakan peristiwa seperti ini bukan berita yang mengejutkan. Banyak cerita-cerita seperti di atas terjadi di daerah-daerah 10

* * *

di Indonesia, terutama di daerah terpencil, dinana fasilitas kesehatan sangat terbatas. Sebuah kematian, maaf, sepertinya sia-sia, ketika para petinggi negeri ini dengan eforianya meneriakkan tentangnta pentingnya pembangunan kesehatan digalakkan. Entah sudah berapa ribu wanita yang berakhir hidupnya dengan kematian persalinan. Belum lagi yang ribuan meninggal karena kematian akibat penyakit non-persalinan, baik karena kemiskinan, higiene yang buruk, jaminan pekerjaan yang tidak memadai dan menimbulkan resiko berat dan lain-lain. Ketika kita bangga dengan program pemerataan jangkauan jasa pelayanan kesehatan, ketika pembangunan kesehatan menunjukkan tingkat keberhasilan yang mengagumkan, kesehatan wanita Indonesia justru masih menghawatirkan. Kita juga bangga ketika bangsa ini terbilang sukses membangun fasilitas megah sebuah rumah sakit, tetapi pencapaian target untuk meningkatkan mutu kesehatan wanita sulit dipenuhi. Tidak mengherankan jika setiap tahun Angka Kematian Ibu (AKI) masih menunjukkan keprihatinan. Harap dicatat, AKI (Maternal Mortality) Indonesia tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya. Di Indonesia, AKI mencapai 450/100.000 kelahiran bayi hidup. Catatan UNICEF bahkan menyebutkan AKI Indonesia 600/100.000. Banyak faktor yang menyebabkan ini terjadi. Tidak hanya bersifat biomedis,tetapi juga menyangkut masalah sosial, ekonomi, demografi dan kultural. Kurangnya sarana layanan kesehatan, kurangnya perawatan antenatal, masih banyaknya penduduk yang melahirkan di rumah, kebiasaan kawin muda, paritas (keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan) dan jarak kelahiran yang rapat. Namun faktor yang paling menonjol disini adalah rendahnya tingkat pendidikan wanita kita. Olehnya itu, apa yang baru-baru ini dicetuskan pemerintah untuk memasyarakatkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah manifestasi rasa keprihatinan kita sebagai bangsa Indonesia untuk lebih memprioritaskan kesehatan ibu/wanita Indonesia. Sebab, diharapkan nanti, dengan adanya GSI, AKI menurun dari 450 menjadi 250/100.000 dan pada akhir PJP II menjadi 80/100.000. dalam kaitannya pula dalam pembangunan, GSI ditargetkan mampu mewujudkan dan melahirkan kader-kader bangsa yang berkualitas. Untuk itu, GSI memiliki 3 sasaran, yaitu : mengembangkan kualitas wanita, mempercepat penurunan angka kematian ibu, meningkatkan kualitas SDM ibu Indonesia. Wallahu „alam. 11

tentang . . .

Ramadhan & hari Kemenangan

Kupu-Kupu Malam Itu Mendekap Ramadhan
Wanita itu terpaksa di rawat di RS. Tanpa ia sadari beberapa hari lalu ia batuk darah. Ia meremehkan penyakitnya, ia hanya mengira luka ringan biasa. Ia baru merasakan ketika darah yang keluar dari mulutnya semakin sering dan bertambah banyak. Ia menyadari keluar di udara dingin yang menusuk tulang bukanlah pekerjaan baik. Terpaksa ia melakukannya untuk 12

mencari sesuap nasi. Belum lagi rumah bordil yang ia tempati sangat jauh dari lingkungan yang higiene. Berbagai asap rokok bersatu dengan aroma minuman keras menambah beban kerja dan sesak di paru-parunya. Terpikir selalu dalam benaknya adalah anak satu-satunya dari seorang suami yang sah tapi tidak bertanggung jawab karena terpikat oleh seorang wanita jalan. Akhirnya ia rela mengorbankan harga dirinya. Sebab, untuk bekerja ia tidak punya keterampilan, maklum SD pun tidak tamat. Iapun tidak pernah berpikir untuk menjadi lonte. Hanya karena diiming-imingi gemerlapnya kehidupan kota dan dijanjikan pekerjaan pramuniaga, akhirnya ia terperangkap oleh kehidupan malam. Kini rokok dan alkohol telah menyatu dalam dirinya. Entah sudah berapa ratus lelaki yang pernah menidurinya dan entah berapa kali pula ia tertangkap dalam razia. Bahkan di mata petugas kesehatan yang sering memeriksanya, ia tergolong langganan penyakit GO yang sudah resisten dengan berbagai obat. Itulah hidup yang sepenuhnya ia sadari, namun tak kuasa ia menolak.

* * *
Di tempatnya yang baru di RS umum, ia seperti seorang tersangka, diisolasi. Ia sudah pasrah, apapun yang terjadi. Tak ada lagi harga diri. Tak ada lagi tempat yang layak bagi dirinya, bahkan mungkin Tuhanpun tak sudi menengoknya, rintih jeritan hatinya. Ia berusaha menghitung dosa dan sederetan maksiat yang pernah ia perbuat. Terbayang dosa-dosa itu di pelupuk matanya. Terbayang wajah-wajah lelaki yang begitu ganas menggagahinya dan terbayang wajah istri laki-laki itu yang tertular penyakit kelamin darinya. Malam itu ia tertegun, tiba-tiba muncul sesosok bayangan hitam, tinggi besar. Bulu kuduknya berdiri, kepalanya terasa copot dari badannya. Bayangan itu mengulurkan kedua tangannya, mengerang keras, sehingga ia merasakan rumah sakit itu bakalan hancur oleh gema suara itu. “ ya.. Tuhan, inikah malaikat maut, inikah akhir hidup saya?” ia menjerit keras dan menjerit. “Ya Tuhan, berikan sedikit waktu buat hamba untuk bertobat, buat perbaiki sisa-sisa hidup ini, buat anakku, Oh.. Tuhan “. Bayangan itu menuntun tangannya. “Hendak kemana kita?”, suaranya gagap sambil berusaha melepaskan tangannya yang semakin erat. “Sekarang kamu harus ikut saya” , nadanya sedikit membentak. 13

“Kita sudah hampir terlambat dan orang-orang dari tadi menunggu di pintu gerbang, saya memang ditugaskan untuk menjemputmu, sudah terlalu banyak noda yang kau cemari di bumi Tuhan. Orang seperti kamu memang tidak pantas dikasihani, berbagai orang bijak telah menasehatimu, orang tuamu menangis karena ulahmu. Ayolah… kita bergegas!”. “Tapi….”, ia memalas. “Ayo.. sudah saatnya kita pargi sekarang”. Sergapnya. “Tapi saya belum siap pergi, berikan saya waktu sesaat saja. Saya ingin pamit…, saya juga harus minta maaf pada orang tua saya…, pada orang-orang yang pernah saya tulari penyakit busuk saya”. “Tidak ada waktu lagi atau saya harus bertindak kasar”. “Tidak, berilah saya kesempatan sekali ini saja. Tidakkah saya berhak untuk memperbaiki sisa hidup saya? Bukankah Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?”. “Tidakkah juga saya berhak untuk memperbaiki dosa-dosa pada saat saya menyadari bahwa saya telah melakukan kesalahan yang menodai sejarah hidup saya? Saya masih memiliki hak untuk tobat yang belum pernah saya lakukan”. Tiba-tiba ia ingat 20 tahun yang lalu, ketika ia mengaji di surau kecil, di pinggir sungai di kampung tempat ia dibesarkan dengan alam yang damai. Ia ingat kembali segala petuah dan nasehat dari guru ngajinya. Ia menangis. Ia teringat masa indah di kampung dulu. Jika Ramadhan tiba, mereka berlomba berbuat baik. Mengaji bersama dan duduk tafakur sambil menunggu buka puasa. Malamnya, menyusuri jalan-jalan di desa sambil membawa obor ke surau untuk tarawih bersama. “ Ah, adakah semua itu akan terulang lagi? Mendekap Ramadhan dalam pelukan wirid Ilahi”. Ia tersedu-sedu. Ia terus menagis dan menangis. Ya Tuhanku berilah kehidupan sejenak kepada hambaMu ini. Bilaslah magfirah ramadhan dalam diri hamba yang penuh dosa dan maksiat sepanjang hajat hamba. Bukankah ampunanMu lebih besar daripada siksaMu. Engkau adalah Maha Rahman dan Maha Rahim, sucikanlah hati hamba bersama turunnya para malaikat yang membawa rahmah di malam berberkah ini. Bukankah ramadhan adalah malam dimana para pendosa yang menyesali dirinya terbuka pintu ampunan untuknya. Bukankah NabiMu telah mengatakan bahwa pintu-pintu surge dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ia terus berdoa sampai ia merasakan bayangan hitam itu perlahan-lahan redup dan hilang. Dari kejauhan, samar-samar ia mendengar suara anak-anak bertadarrus mengalunkan Asma Allah, memecah kesunyian malam. 14

Ia merasakan dirinya berlahan hilang dan bersama menembus kegelapan. Ia merasakan mendekap Ramadhan sambil menghitung hari-hari yang lewat. Yang berlalu biarlah berlalu, maghfirah Tuhan masih terbuka bagi orang-orang yang belum terlambat bertobat.

Lewatlah engkau, ya Ramadhan Mubarak
Ya Ramadhan mubarak, sebentar lagi engkau meninggalkan kami, orang-orang yang pernah dan selalu bersamamu dalam suka dan duka. Jika lewatlah engkau, Ramadhan, berarti tertinggal kenangan lama tentang hari dan waktu. Yah, seperti malam-malam penantian Lailatul Qadri, 15

kami semua berkumpul menggelar tikar kusut. Shalat lail beberapa rakaat dan berdo‟a beramai-ramai. Betapa kesejukan di malam hari hanya diterangi lentera di surau kecil merambah suasana malam, yang semakin sejuk dalam dekapan Tuhan. Dan malam-malam itu, Rahmat Allah dan Maghfirah-Nya turun melimpah ruah dan kami sudah siap menghirupnya. Ya Ramadhan, jika lewatlah engkau, engkau menjadi saksi bahwa maksiat orangpun tidak berkurang-kurang seperti di bulan-bulan yang lain. Banyak yang pergi ke Masjid, tetapi tidak sedikit orang yang mempergunakan masjid untuk ambisi pribadi, entah itu urusan politik, ekonomi atau sekedar basa-basi sosial. Banyak masjid yang bertarawih, namun segelintir masjid juga menutup pintunya, serta mengusir orang-orang yang ingin bertarawih (itu dulu). Juga soal jamaah dan jumlah murid terkadang berlomba pasang nama, bukan syiar agama. Ada juga yang buat interest pribadi. Dengan usaha yang licik dan munafik berusaha mengangkat dirinya untuk merebut kedudukan dengan mengelabui dan menipu masyarakat, agar namanya terangkat, kedudukannya terhormat, karena ia merasa tokoh masyarakat, tokoh politik atau tokoh yang ditokoh-tokohkan. Ya Ramadhan, jika lewatlah engkau, lihatlah dari orang-orang yang bersedekah dengan menyumbang hanya untuk sekedar dipuji, yang sangat terlalu. Justru kalau ada ustadz atau kiai yang memuji-muji di atas mimbar tentang kedermawanan seseorang, berarti mendidik seseorang untuk riya dalam amalannya. Bukankah sama dengan mengajari mereka untuk menjadi pendusta agama? Kalau lewatlah engkau, Ramadhan, engkau akan menghapus dosa sang hamba. Lantaran Nabi Muhammad pernah bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah daripada seorang hamba Allah yang sedang bertobat” dan “Bulan Ramadhan itu menghapus dosa-dosa yang telah lalu”. Bukankah bulanmu ini maghfirah Allah turun di bumi ini. Tetapi engkau juga lewat untuk melaknat, yakni mereka yang berkhianat terhadap rahmat, membohongi rakyat dan menyelewengkan amanat. Oh… Ramadhan, betapa malam-malammu penuh tazkir dan takbir yang memecah kesunyian malam. Yang meramaikan masjid-masjid dengan ceramah dan tarawih serta tawa anak-anak yang riang berbaris dan meributkan masjid. Kegirangan mereka yang ikhlas dari orang-orang yang ingin menyapa TuhanMu lewat shalat. Namun oh Ramadhan, tarwihmupun dikotori orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yamg datang ke masjid bergandeng tangan, 16

yang menanti kekasih-kekasih mereka di sudut jalan, di bawah remangremang lampu jalanan bahkan berpelukan digandengan motor. Ada juga yang datang ke masjid hanya karena roti dan kue-kue untuk melepas rasa lapar dan dahaga. Bahkan ketika sibuk-sibuknya orang shalat atau mendengar ceramah tarawih, ada beberapa orang yang kehilangan sandal, atau sepatu yang bagus bertukar dengan sendal atau sepatu yang kumal. Oh Ramadhan dimana gerangan rahmatmu di tengah kebingunan orang yang ingin tenang beribadah di malammu. Ya… Ramadhan, jika lewatlah engkau di siang hari, betapalah ramai di pinggir-pinggir jalan besar dan di pasar-pasar yang ramai. Mereka datang dan berharap lalu mengutak-atik serta menjadi montir-montir nomor buntut untuk berkhayal sesaat atau bermimpi menjadi jutawan. Ya… Ramadhan, betapa mereka mengotori hari-hari sucimu, enggan berpuasa dengan seribu dalih, sembunyi-sembunyi makan coto, pallu basa di emper-emper pasar, menyudut di lorong-lorong sempit dan dengan tenang menghirup es cendol tanpa rasa dosa. Jika lewatlah engkau Ramadhan keramat, maka kuburan sudah banyak didatangi, yang keramat bukan makam atau orang suci. Yang keramat di zaman ini adalah mereka yang berduit, berpangkat, berpengaruh serta yang bisa mengambil kesempatan. Mereka yang biasa yang menjual senyum ketika kampanye dan mengoral-obral janji kepada rakyat. Kamu lihat Ramadhan, orang ziarah sekarang sambil pacaran dan berblue jeans ria atau kaos ketat yang merangsang. Sudah tahu menonjol, e ditonjol-tonjolkan lagi. Ah Ramadhan, tahukah engkau bahwa dokter dan mantri kesehatan di depan dan di sudut rumahku tarifnya sudah melangit? Dan anak yang sakit kritis, kemana mereka harus minta tolong? Banyak dokter di sebelah rumah, tetapi banyak yang sulit dimintai bantuan mendadak. Dan banyak lagi ternyata bukan dokter-dokter kami, tetapi dokter-dokter gedongan. Kalau yang memisahkan hanya tembok, kami bisa loncat. Tetapi… Ramadhan, yang memisahkan kami adalah kantung. Dengan apa batas yang ditempuh jika demikian? Merampok? Itu haram! Korupsi? Kami belum punya jabatan. Oh Ramadhan… engkau adalah nama bulan, kami tinggal menghitung. Kedatanganmu tanpa terasa, juga lewatmu, tak terasa. Tetapi yang makin perih pundak hati kami. Dulu tempat melacur tersembunyi, sekarang tinggallah di warung-warung pinggir jalan, di hotel-hotel kecil hingga besar, di panti-panti pijat, di nite club, karoke dan pub-pub remang-remang apa yang kau dapati? Dan yang jauh lebih menyakitkan dan menghina haluan agama 17

kami, terbina dan terpeliharanya judi-judi sembunyi dengan iming-iming jadi milyonaire atau sok dermawan. Ramadhan yang suci, berlalulah engkau dengan tenang, menyobek kabisat demi kabisat kami yang kau tinggal hanya mampu melambaikan tangan. Batuk mendecing tidak mampu terobati, TBC melumat paru-paru kami biarkan, anak-anak kami menjadi kurang gizi dan bodoh karena banyaknya uang kami dikorupsi. Adakah pemimpin yang ikhlas yang mau mengurusi kami tanpa menjualo mimpi-mimpi kosong ketika pemilu sudah dekat. Katanya ada pengobatan gratis, tapi nyatanya banyak orang menjerit ketika ditagih ongkos perawatan dan obat yang mahal. Sementara pakerjaan makin susah didapat, banyak generasi kami yang menganggur, dan lebih celakanya lagi BBM terus membumbung, harga-hargapun ikut melambung. Untuk menjadi pegawai negeri, saingan kelewat berjubel, yang diterima sekian puluh, yang mendaftar sekian ribu. Nasib… nasib… menjadi orang Indonesua Karena itu, kami ingin berkompromi denganmu, Ramadhan. Jangan kau cabut yang jelek-jelek tentang kami. Nanti engkau kami sanjung dan hormati. Bukankah tidak ada urusan zaman ini yang tak akan beres dengan kompromi? Pokoknya, asal ente bijaksana, anepun bakalan tahu diri. Dimana-mana urusan bisa mudah asal uang berbicara, yang namanya korupsi bias berjalan seiring jalannya amalan Ramashan. Tulisan ini khusus untukmu, Ramadhan. Sampaikanlah salam kami kepada penghuni langit agar jangan terlalu banyak menurunkan siksa dan bala‟. Hanya do‟a yang tulus dari kami hamba-hamba yang hina, yang tidak punya interes dan tidak punya pangkat, jabatan dan gelar. Semoga amalan kami tidak tergantung antara langit dan bumi, yang menyiksa perasaan dan memburu penyesalan. Kepadamu Ramadhan, sampaikanlah maaf kami di haribaan Tuhanmu agar sudilah menerima kami di sisi-Nya kelak. Olehnya itu, jika lewatlah engkau Ramadhan, maka kami semua sedang bersiap-siap diri membangun negeri ini, sebab inilah satu-satunya milik kami. Dan jauhkanlah negeri ini dari segala cobaan dan malapetaka dari ulah orangorang yang ingin merengguk nikmatnya negeri ini tanpa mau bersusah payah, serta berkhianat dari amanah rakyat. Wallahu „alam.

Surat terbuka di hari kemenangan

SAHABAT-Ku Fitri di kota metropolitan Makassar….. Tidak terasa usia kita terus menanjak. Masa yang kita lalui di kampung bersama hanya tinggal kenangan lama, tentang hari dan waktu, sepertinya baru kemarin lepas di ingatan. 18

Masih ingatkah kamu ketika malam 15 Sya‟ban (nisfu sya‟ban). Kita ke surau tempat kita biasa mengaji bersama. Disana berkumpul penduduk kampung dan menggelar tikar usang. Usai isya kita Yasinan bersama yang dipimpin oleh ustadz Zainuddin. Dilanjutkan berdo‟a ramai-ramai, tenggelam dalam kehusyu‟an. Betapa keheningan malam yang hanya diterangi lentera merambah suasana malam, semakin sejuk seolah berada dalam dekapan Tuhan. Tahukah kamu? Malam itu aku merasa limpahan Rahmat dan Maghfirah-Nya turun melimpah ruah di kampung kita. Fitri, beberapa hari kemudian Ramadhanpun datang. Tak ada suatu kegembiraan yang begitu bersahaja seperti menyambut kedatangannya. Aku ingat di malam pertama taraweh, kiai mengutip hadits Nabi yang mengatakan bahwa kedatangan Ramadhan selalu ditunggu. Ia adalah Al-Muthahhir, yang mensucikan diri dari perbuatan dosa. Kita telah melihat sekarang bahwa betapa Ramadhan telah menjadi saksi atas maksiat orang. Berbagai malapetaka telah kita baca di koran, ada banjir, tsunami, gempa bumi sampai pembunuhan, perampokan dan pencurian. Sebuah berita mengejutkan, ribuan pekerja perempuan mengadakan demonstrasi dan menjungkirbalikkan 28 buah mobil akibat THR (Tunjangan Hari Raya) dan UMR (Upah Minimum Regional) mereka di bawah standar. Tapi sebaliknya tidak sedikit perusahaan mem-PHK pekerjanya karena akan bangkrut. Aku tak menyangka, di bulan yang suci ini perempuan bisa mengamuk dan punya kekuatan besar melawan tirani sang pengusaha yang mau seenak saja memeras tenaga mereka. Fitri sahabatku, mungkin sekarang engkau sedang menanti suamimu pulang dari kantor, sebuah pekerjaan yang sangat didambakan dan dimuliakan oleh agama. Tetapi, tidakkah kamu pernah berpikir berapa banyak dari kaum kita mengejar prestasi dengan alasan karier dan demi gengsi prestise? Saya tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa mengatur antara keluarga, kerja dan ibadah. Walaupun ada juga yang masih bias mengaturnya dengan baik. Tidakkah kamu merasakan betapa tertinggalnya ibadah kita dibanding ibadahnya kaum lelaki. Belum lagi saudara kita yang masih tenggelam dalam kesibukan dunia semata. Tengoklah, bagaimana mereka menghadapi hidup ini di trotoar-trotoar pertokoan, di traffic light mengulurkan tangan berbelas kasih dengan menggendong anak kecil di terik matahari demi sesuap nasi. Kita juga tidak tahu apakah mereka terlibat dalam suatu sindikat dalam menciptakan simbol pengemisme. Fitri saudaraku, betapa kita telah dulu menikmati bersama bagaimana indahnya mengisi malam-malam Ramadhan. Dengan membawa senter kita 19

telusuri jalan-jalan berliku, menyusuri pematang sawah yang sudah menhijau. Oh indahnya seolah sang rembulanpun ikut menerangi dan mengikuti langkah kaki kita. Betapa senangnya dahulu berjalan ke surau, sholat taraweh dalam kekhusyu‟an dan bertadarrus mengisi malam-malam mubarakah. Saya heran, sekarang kok tega-teganya orang pergi taraweh dengan niat yang salah. Saya sering melihat sepasang muda-mudi berjanjian di bawah pohon, ada juga yang menanti kekasihnya di sudut jalan, di bawah remang-remang lampu. Si lelaki menyimpan kopiahnya di kantong celana bagian belakang, dan si wanita melipat mukenahnya. Mereka telah mencemari Ramadhan dengan perbuatanperbuatan hina. Apakah yang tersisa jika ramadhan datang menyapa kita manakala masih banyak saudara kita yang tenggelam dalam kemaksiatan. Hidup mereka masih tergantung pada lingkaran syaitan kehidupan dunia. Kita tahu mereka punya harga diri, namun hidup itu sendiri tidak pernah mengerti tentang mereka. Sebagian orang yang tidak tahan dengan cobaan harus tega membanting iman dan muru‟ah (harga dirinya). Lihatlah tingkah laku wanita setengah baya masih seperti gadis-gadis belasan tahun, dengan uang ratusan ribu, wajah yang kendor disulapnya menjadi menor. Lihatlah anak-anak gadis bau kencur yang mulai tumbuh dan, badannya sudah tembun dan dipermak mengikuti zaman. Bukalah pintu-pintu pub, café dan tempat hiburan malam lainnya. Berapa banyak saudar dan saudari kita menjajakan naluri kemanusiaannya yang paling rendah, mengeksploitasi seks murahan. Pasang pula mata kita, luruskan ke bagian tepi lapangan, para waria tanpa rasa malu memaksa senyumnya. Dengan bibir menor dan dua buah gunung palsunya menjajakan diri mereka demi selembar fulus. Mereka mengelus, mendengus dan merebus, menari-nari di atas gelombang si mangsa. Berjingkrat-jingkrat seperti ular kepanasan. Mereka mencoba dan berusaha mengubah status kejantanannya menjadi status betina. Entah karena faktor lingkungan atau faktor gen atau sekedar mengganjal kampung tengah. Semoga Allah membukakan pintu taubat bagi mereka. Fitri yang anggun, Ramadhan hampir usai kita jalani, sebentar lagi lebaran akan datang. Rasanya tak ada banyak yang berubah pada diri kita kecuali umur yang semakin dekat dengan kubur, rambutpun sudah putih bertabur, mata perlahan-lahan sudah mulai mengabur. Anak-anak kita tidak lama lagi akan besar dan mengikuti jejak kita. Kata orang, hidup zaman sekarang lebih enteng dan serba berkecukupan di banding kehidupan kita dulu di kampung. Tapi rasa-rasanya tidak juga. Orang-orang kota sepertinya hidup mereka berkecukupan, namun tidak sedikit dilanda stress, karena sebagian 20

harta mereka bukan milik mereka sepenuhnya. Itu milik Bank, karena rumah, mobil masih berstatus kredit. Setiap akhir bulan hanya berpikir bagaimana membayar lagi kredit itu. Tengoklah kesederhanaan orang-orang di kampung. Walaupun mereka terlihat serba kekurangan, mereka tidak dilanda cemas dan stres akhir bulan. Rumah yang mereka tempati tidak disangkutpautkan di Bank, kendaraan merekapun cukup kuda, bendi atau motor. Mereka punya sawah dan kebun yang saban hari memberi hidup bagi mereka. Ya Fitri saudaraku, sekali lagi tengoklah di sekeliling kita. Menjelang lebaran ibu-ibu kita bersibuk ria memenuhi segala hajat. Rumah seperti rasanya mau di sulap menjadi baru, gorden baru, kursi baru, lantai baru, cat baru, semuaaa serba baru. Mungkin semua itu adalah manifestasi kembalinya fitrah kita ke idul fitri. Saya Cuma menyayangkan betapa juga ada yang tidak mengerti, bahwa seluruh ornamen yang bersifat baru kadang-kadang tidak diikuti dengan kesadaran dan hakekat Ramadhan yang tidak sekedar menahan lapar dan haus. Semestinya hidup tidak diliputi sifat konsumerisme yang melahirkan materialism. Ironisnya kadang-kadang ada yang memaksa di luar potensi dan kesanggupan sang suami. Khan kacian kalau begitu… pahala puasa berdampak syubhat akibat perilaku yang nyeleneh dari akidah agama. Aduh fitri… maaf, terlalu banyak aku bertauziah di surat ini. Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga amalan ibadah kita diterima oleh Allah S.W.T. Amin.

Idul Fitri Simbol Kekhusyuan
Seminggu sudah kita berIdul Fitri. Tidak banyak yang bisa kita renungkan, kecuali sebagian dari diri kita ada yang merasa lega, sebab puasa tak lagi menjadi kewajiban. Toh, ia bisa bebas lagi melakukan semua aktivitas keduniannya, termasuk mungkin menipu orang, meneguk lagi minuman keras 21

dan berbagai bentuk maksiat lainnya. Orang seperti ini tak ubahnya kedatangan bulan suci Ramadhan adalah tempat untuk beristirahat dari segala aktivitas yang berbau dosa dan maksiat. Masih untung ia masih menyisihkan sedikit hatinya untuk malu tidak melakukan kemaksiatan di Bulan Ramadhan. Dan mungkin juga berpura-pura puasa. Puasanya bak beduk. Awal dan akhirnya saja yang sah. Sebagiannya lagi merasa biasa-biasa saja. Tidak ada bedanya bulan yang suci dengan bulan yang tidak suci. Dia rajin beribadah seperti layaknya umat yang patuh, sebab ibadah tiada lain hanya untuk melepaskan kewajiban dan tanggungjawab fitrah keTuhanannya. Tetapi disini lain, ia juga masih diperintah oleh hawa nafsunya. Urusan korupsi di kantor bukan urusan fitrah, sebab pertahanan akalnya sudah jebol dan nafsunya sudah menari-nari di atas egonya. Ia masih belum bisa membedakan mana perbuatan yang halal dan mana yang syubhat, bahkan harampun dilanggar. Ketika puasa, ia juga rajin mengomel dan menggunjing orang kiri-kanan, mengkampanye ke mana-mana sambil menjanjikan harapan-harapan yang indah. Mungkin ia juga pandai mempermainkan agama, tetapi bukan menjual ayat-ayat Tuhan. Baginya, agama bisa dijadikan “decoration of lipstic” dan “life service” atau agama juga bisa memperkuat legitimasi golongannya serta untuk memenangkan kepentingan pihaknya, syukur-syukur kalau bisa memperkuat kedudukannya. Golongan yang terakhir adalah mereka yang merasa kehilangan. “Sesuatu yang hilang” dalam hidup mereka. Kenikmatan berpuasa, kekhusyuan berdiri di malam Ramadhan dan kegemaran mengulurkan tangan dalam bersedekah. Rasa syukur dan nikmatnya menyapa Tuhan senantiasa bergemuruh lewat putaran tasbih di tangannya. Ia akui kelemahan, kerendahan dan kekurangan dirinya. Ia juga besarkan ketinggian, kekuasaan dan kebesaran Rabbul „alamin-nya. Ia menyadari betul, Tuhan tidak akan main-main jika setiap saat kelezatan di tenggorokannya di cabut. Yang memisahkan diri dari keluarga, harta, jabatan atau apapun yang dicintainya. Ia mengisi Ramadhan yang telah lewat, ia menyadari mengapa datangnya Cuma sebulan, ia juga merenungi dirinya mengapa ia tidak kaya agar mampu bersedekah banyak, mengapa ia tidak diberi umur 100 Tahun agar ia lebih lama bersujud. Ramadhan membawa berkah dalam dirinya, dalam napas dan setiap gerak hidupnya. Ketika merayakan Idul Fitri, ia menyaksikan betapa golongan “the have” sangat menonjol dalam menikmati hidup. Ia juga melihat di sisi lain masih banyaknya orang meratapi hidup ini dengan keadaan yang pas-pasan, bahkan jauh dalam standar hidup. Mereka itulah kaum dhuafah, manusia22

manusia yang miskin, yatim piatu serta orang-orang terlantar yang tidak sempat dipungut oleh negara. Pada saat anak-anak lain merayakan hari kemenangan dengan simbol-simbol materialisme, anak-anak mereka masih harus bergelut dengan kerasnya hidup di kota-kota besar, yang tempat tinggalnya beralaskan tanah dan beratapkan langit. Masih memungut kertaskertas koran dan kantong-kantong plastik di lapangan usai sholat ied serta bersusah payah menyusuri jalan-jalan dan membongkar bak sampah demi memungut bekas-bekas kaleng, botol atau apa saja yang bisa ditukar untuk mengganjal kampung tengah. Ironis memang, dan itulah hidup yang penuh dengan kenyataan. Ia masih bersyukur kepada Allah SWT, sebab fitrah keTuhanannya masih berbalutkan kebaktian dan ketaatan. Ia masih mampu mensucikan dirinya dengan menampilkan sifat kemanusiaannya. Lewat kalimat syahadat ia mensucikan akidahnya, memurnikan dirinya dari kemusyrikan dan menafikkan segala pengabdian kepada selain Allah. Dijalan sholat, ia selalu mensucikan jiwa dengan selalu mengingat Allah, “Tegakkan sholat untuk mengingat-Ku”. Dengan perantara puasa, ia mensucikan ruhaninya mengendalikan hawa nafsu dan menundukkannya pada perintah Allah. Pada uluran zakat yang dikeluarkannya, ia dapat mensucikan hartanya dan membantu sesama. Melalui haji yang dijalankan, ia mensucikan kekehidupannya dengan mengarahkan ke seluruh perjalanan hidupnya menuju Allah. Wallahu „alam.

23

Tentang . . .
W a n I t a

24

Safiah, We Tenriolle dan Tien Soeharto
Tak terhitung sudah berapa banyak wanita Indonesia yang telah berbuat banyak untuk bangsanya. Mereka patut disebut pejuang yang telah merintis kemajuan wanita Indonesia. Bahkan diantara mereka ada yang melebihi perjuangan kaum lelaki. Sejarah telah menyimpan arsip mereka, dan akan terus dikenang. Diantara fakta-fakta sejarah, yang menggambarkan masa-masa lampau, terdapat catatan historis tentang perjuangan dan bagaimana kedudukan wanita di negeri kita ini. Yang menarik, diantara mereka ada yang memperoleh kedudukan, wewenang dan kekuasaan tertinggi dalam negara sebagai kepala pemerintahan. Ironis sekali dengan keadaan umumnya kaum mereka yang menggambarkan fenomena yang terbalik, sebagai golongan tersendiri yang dibedakan dari kaum laki-laki, yang menempati kedudukan yang rendah dan hidup dalam kekangan yang sangat sulit untuk berkembang.

* * *
Sulatanah Seri Ratu Alam Safatiuddin Johan Berdaulat sebagai contoh prototipe wanita yang menempati posisi nomor satu di Aceh di pertengahan abad ke-17. putri Safiah, demikian julukannya, menggantikan suaminya yang mangkat Sultan Ahmad dari pahang, yang bertahta kurang lebih 30 tahun. Di bawah tangan dingin, Aceh mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tidak hanya di bidang hukum yang bersyariatkan sendi Islam dan hukum, adat juga ilmu pengetahuan mengalami kemajuan serta tak ketinggalan di bidang kesusastraan. Di bawah kepemerintahan beliau, juga bekerja tokoh-tokoh pemikir seperti Abdur Rauf, Hanzah Fanzuri dan Nuruddin ar-Raniry yang menghasilkan buah karya yang masih dapat dilihat sampai sekarang. Sehingga tidak heran pusat-pusat pendidikan dibuka buat mencerdaskan rakyatnya. Suatu tindakan kemajuan dan modern untuk saat itu. Apalagi bila diingat, bahwa tindakan itu diadakan lebih dari 300 tahun yang lalu, tidak di Eropa atau di Amerika, tetapi di negeri kita.

* * *
25

Di daerah Bugis-Makassar, kita juga mengenal seorang ratu Siti Aisyah We Tenriolle, yang punya kemauan baja, cerdas, berpengalaman dan punya pengetahuan luas serta menjadi kepala negara. Tahun 1856, Datu Tanete ini menggantikan kakeknya La Rumpang Megga MatinroE ri Moetiara, yang mengusulkan pengangkatan cucunya pada Gubernur “Celebes en Onderhoorigheden” (Sulawesi dan daerah-daerah taklukannya) penguasa Belanda di Makassar yang sejak 1828 memperoleh hak untuk mengangkat dan memperhentikan kepala negara Tanete yang menjadi leenvorst dari pemerintah Hindia-Belanda. Di bawah tangannya beliau berhasil mempersatukan sejumlah banua (daerah) dan beberapa palili (daerah vasal) yang pada mulanya berdiri sendiri. We tenriolle juga mengangkat ketiga putrinya menjadi Aru (kepala pemerintahan) ; putri tertua, Pantjai Tana Boenga WaliE menjadi aru daerah pancana; putri II Pateka Tana menjadi aru daerah Lololang; dan putri I Hawang menjadi aru di daerah Pao-pao. Datuk We Tenriolle tidak hanya cakap dalam mengurus rakyatnya, beliau juga adalah seorang pakar dalam bidang kesusastraan. Tak terkecuali seorang Belanda B.F. Matthes, pakar kebudayaan Bugis-Makassar memperoleh banyak pengetahuan luas dari buah karya besar mengenai kesusastraan Bugis yang dikuasai oleh beliau. Matthes, antara lain, memperoleh suatu iktisar dari epos La Galigo, suatu siklus sajak maha karya dari We Tenriolle. Pada tahun 1908 juga didirikan sekolah pertama di Tanete, tampat pendidikan modern yang sudah di buka, baik untuk anak lakilaki maupun untuk anak perempuan.

Dan yang terakhir yang bisa dicatat sebagai wanita agung adalah ibu Hajjah R.A. St. Fatimah Soehartinah Soeharto. Kita masih merasakan sisa duka bangsa Indonesia, yang juga duka paling mendalam bagi keluarga mantan presiden Soeharto. Betapa seorang ibu yang sangat cinta kepada anakanaknya, seorang istri yang sangat setia mendampingi suaminya selama hampir setengah abad, dan seorang Kartini modern yang sangat peduli terhadap nasib kaumnya, bahkan menjadi motor penggerak pembangunan di tengah rakyatnya, tidak akan datang lagi menyapa kita semua. Banyak yang tidak penah bertemu langsung dengan beliau, tetapi seakan akrab di tengah kita. Ia sangat jauh dari sikap menonjolkan diri, lebih senang disebut sebagai ibu sederhana yang selalu berada di tengah anak-anaknya, cucu dan cicit-cicitnya. 26

* * *

Beliau sangat jauh dari kesan istri yang sangat suka memamerkan diri, apalagi berpenampilan serba “wah”. Seperti layaknya wanita bangsawan Jawa, tata krama dan adat, serta syariat agama Islam sangat beliau junjung. Martabat keluarga adalah segala-galanya, sangat hormat kepada suami dan sangat cinta kepada anak-anaknya, tak terkecuali di luar anak kandungnya sendiri. Sebagai istri presiden dan ibu negara beliau tidak pernah kita dengar mengatur suami seenaknya seperti yang pernah dilakukan oleh Imelda Marcos, bahkan dengan sangat mudahnya, Imelda Macos menjadi gubernur metropolitan Manila. Juga beliau tak pernah sedikitpun berambisi menjadi seorang presiden seperti yang pernah terjadi di Argentina oleh mendiang istri presiden Juan Peron. Wanita Indonesia sekarang memang tidak menghadapi masalah berat seperti yang dialami oleh kaum mereka di zaman dahulu seperti adanya kekangan-kekangan yang menghambat perkembangan mereka. Tetapi perbedaan gender masih sering kita dengar di mana-mana. Lewat perjuangan ibu Tien secara tidak langsung ikut mengubah image tentang wanita Indonesia. Beliau banyak berjasa dan berusaha mengangkat derajat kaum wanita sejajar dengan kaum lelaki. Apa yang dilakukan oleh mereka semua di atas tak terkecuali telah menyimpan saham amal jariyah yang diperuntukkan bagi anak cucu mereka yang datang di kemudian hari. Kepada Allah-lah kita memohon agar apa yang dilakukan oleh ibu-ibu bangsa tercinta kita mendapat ridho dan untuk mereka ada tempat yang layak di sisi Tuhan. Wallahhu „alam.

27

Yeti
Tiba-tiba, ia seolah tak percaya, kalau ia berada di ruangan yang tidak pernah dibayangkan untuk hadir di dalamnya. Di sudut ruangan kantor pengadilan agama, ia teringat lagi tuduhan suaminya. Bagaimana mungkin suami yang begitu dikaguminya begitu tega terhadap dirinya. “Saya sangat menyesal mengawinimu, kalau kutahu kau tidak perawan lagi, aku tidak mungkin berbuat sebodoh ini”. Percuma ia membela diri, sebab suaminya sangat egois.

* * *
Tiga bulan yang lalu di hari pekawinan itu, dunia begitu sangat menyenangkan. Orang tuanya sudah sangat kuatir kalau dirinya akan menjadi pratu (perawan tua), sebab usianya dua tahun lagi akan berkepala tiga. Memang selama ini dia sangat sibuk memburu karier. Sebagai anak tertua, beban di pundaknya terasa berat, karena lima orang adiknya harus dibiayai sekolahnya. Setamat SMA, ia sengaja tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi, sekalipun otaknya mampu. Dengan kursus komputer dan Bahasa Inggris selama 2 Tahun, ia kemudian melamar bekerja di perusahaan besar milik anak seorang babe. Dari kemahiran kursus yang diperolehnya, akhirnya ia dapat diterima. Ia tidak Cuma cerdas, tetapi juga berbakat untuk memimpin. Tanpa terasa jabatannya terus menanjak. Puncak kariernya, ia diberi amanah sebagai sekertaris di bidang pemasaran. Di tempat kerjanya itu pula ia berkenalan dengan Deni, seorang insinyur mesin yang cakap di bidangnya. Sekalipun tampangnya sederhana, ia cukup bertanggung jawab. Masa perkenalan yang cukup singkat mereka akhiri di pelaminan setelah merasa saling cocok. Terasa lengkap sudah hidup ini, “Tuhan, terima kasih, akhirnya saya menemukan jodoh yang baik”. Tetapi itu hanya berlangsung singkat. Di malam pertama dengan hati yang tidak karuan, ia berusaha sepasrah mungkin. Ia menyadari, selaput surga itu cukup berarti bagi seorang pengantin baru. Bulan di luar menerangi kamar mereka, suara alam berhenti sejenak. Saat yang 28

dinantikan seorang gadis untuk membuktikan bahwa ia bagian dari alam, dan dalam dirinya ada alam kosmos yang berputar pada porosnya. Dan poros itu adalah surga kecil yang terdapat dalam desahnya. Mereka adalah insan yang berikrar untuk saling mengimbangi perasaan, yang kemudian menyatukan perasaan itu dalam satu titik persamaan. Tetapi iapun kecewa, tetesan darah sebagai sebuah persembahan, tidak menghilangkan rasa haus dari dahaga suaminya. Ia menyadari bahwa hari-hari selanjutnya akan mendatangkan prasangka dan akan berkembang menjadi curiga. Apa yang ditakutinya benar-benar terjadi. Tiga hari berturut-turut, persembahan itu tidak sampai pada sang dewa, perangpun meletus. “Yeti, aku suka kalau kamu jujur”, akhirnya perasaan suaminya tak bisa lagi dibendung. Hari-hari yang mestinya menjadi indah begitu cepat menjadi bara api menyala. “Demi Tuhan, saya tidak pernah mengenal seorang priapun sebelum Daeng” balas Yeti dengan sengit. “Tapi buktinya, persembahan itu tidak pernah sampai kepada saya”. Pertengkaranpun menghiasi hari-hari mereka, kedua belah pihak masing-masing mempertahankan harga dirinya. “Kenapa setiap pria selalu menuntut keperawanan padahal tidak sedikit dari mereka tidak perjaka lagi. Dunia betul-betul tidak adil. Ketika mereka, kaum pria, tidak perjaka lagi, tak ada yang mencemooh mereka. Malah sebagian dari mereka merasa bangga jika kelaknatan mereka pernah menjamah wanita laknat pula. Kalau perempuan tidak perawan, selalu dicurigai karena berbuat tidak senonoh. Padahal selaput darah ada kalanya tidak mengeluarkan darah karena pernah terbentur dengan benda keras, atau karena efek dari olah raga. Dan boleh jadi karena hymen itu tebal”. Otaknya terus bekerja, bagaimana memberi alasan yang tepat pada suaminya.

* * *
Tetapi karena merasa gengsi, iapun dengan sangat terpaksa mendatangi kantor pengadilan agama. Tak ada gunanya saya mengumbar air mata kalau saya betul-betul bersih. “Ibu Yeti, silahkan masuk”, suara petugas memanggilnya dari balik ruangan. “Apa betul ibu minta cerai? Padahal ibu baru menikah tiga bulan yang lalu dan masih muda lagi” kata bapak hakim yang berusaha memberinya nasehat. “Tak ada perkara yang halal, tetapi sangat dibenci oleh Allah kecuali perceraian. Silahkan ibu pikir-pikir dulu sebelum memutuskan”. 29

* * *
Ia berusaha menenangkan dirinya. Hari itu ia mengenakan mukenanya yang tampak usang. Ia sadar betapa lama ia melupakan Tuhan. Betapa banyak nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya, namun tak sedikitpun ia pernah ingat kepada-Nya ketika ia sukses. Di hari-hari yang penuh duka, baru ia menyadari bahwa ia membutuhkan Tuhan, tempat ia mengadu. “Ilahi”, keluhnya di malam yang sunyi itu, “Pandanglah hamba-Mu yang hina ini. Telah banyak Engkau beri nikmat, namun tak pernah hamba merasa bersyukur. Engkau anugrahkan hamba wajah yang ayu, karier yang baik, suami yang baik, tetapi tak pernah hamba menyadari kalau itu karunia yang besar bagi hamba. Engkau berikan semua itu tiada lain karena kemurahan-Mu”. “Ilahi, hamba menyadari, tiada jalan yang keluar dari ketentuan-Mu. Namun, tuntunlah hamba untuk selalu mendapat taufiq-Mu, yang merupakan juga kemauan-Mu. Maka berilah hamba selalu petunjuk untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri segala nikmat-Mu dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu”.

* * *
Di hari-hari berikutnya, Yeti, sang pengantin baru, tidak lagi merasa risau, sebab suami yang sangat dicintainya telah kembali lagi dengan wajah dan perasaan baru. Rupanya selama ini diam-diam ia berkonsultasi pada dokter ahli obstetri dan gonekologi. Dan ia juga mendatangi seorang kiai yang memberinya banyak nasehat. Ia sadar, istri sejujur Yeti bersih dari ketidak senonohan seperti yang tergambar dalam benaknya. Memang, keperawanan terlalu mahal untuk di jual murah, kecuali yang mau banting harga dengan upah sesumbar nafsu syaitan (nauzu billah min dzalik).

30

Keteguhan seorang istri
ANGIN- padang pasir bertiup sangat kencang, sesekali kedengaran sangat menderu, menerbangkan pasir-pasir halusnya yang mengikuti irama angin. Dari kejauhan terlihat dua ekor unta berjalan terseok-seok mengangkut tuannya, sepasang suami istri. Seorang lelaki setengah tua dengan cambang dan kumis yang tertata rapi menghias wajahnya yang suci serta mata yang tajam menatap hamparan permadani pasir putih yang seolah tak bertepi. Sedangkan di belakangnya adalah seorang wanita muda cantik yang menggendong erat bayinya yang masih merah. Melihat kondisi mereka, kedua suami istri itu telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Tiba-tiba lelaki itu menghentikan langkah kaki untanya. Dengan hati-hati ia menuntun istrinya turun dan meletakkannya bersama bayinya di tanah. Ia sendiri heran dan tak tahu mengapa ia membawa istri dan anaknya di tempat dimana tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tarikh telah mencatat, bahwa itulah tempat dimana Nabi Ibrahim AS bersama istrinya, Hajar, yang merupakan cikal bakal lahirnya kota Mekah kelak. Sebagai tempat dan rumah ibadah manusia dari segenap penjuru dunia. Di tempat itu, Hajar, wanita mulia dan perkasa, seperti diceritakan dalam AlQur‟an ditinggalkan oleh Ibrahim tanpa perbekalan yang banyak. Ketika Nabi Ibrahim siap-siap berangkat meninggalkannya, Hajar mengikuti dari belakang dan memegang tali kekang unta yang dikendarai suaminya, dengan pilu seraya berkata : “Kanda Ibrahim, kemanakah kanda pergi, kenapa kami ditinggalkan di tempat menakutkan yang tak ada makhluk Tuhan mampu bertahan disini”. Hajar berharap agar Ibrahim menaruh rasa kasihan terhadap dirinya dan diri anaknya yang masih bayi. Dengan air mata bercucuran disertai kata-kata yang lembut, Hajar memohon pertanggung jawaban Ibrahim, siapa yang mempertanggung jawabkan hidupnya dari kelaparan dan dahaga, yang mempertahankan dari serangan-serangan binatang buas, dari terik panas matahari yang begitu menyengat dan dari 31

udara dingin membeku yang berhembus di malam hari. Namun Ibrahim AS tidak mengacuhkan belas kasihan istrinya, sebab ia yakin, Allah punya rencana tersendiri. Allahlah yang menggerakkan hatinya menuju tempat itu. Kepada Hajar, Ibrahim menjelaskan bahwa Allah-lah yang memerintahkan ia berbuat seperti itu. Ia mengisyaratkan istrinya agar bersabar dan menerima takdir yang dicobakan kepada dirinya, supaya ia tunduk dan patuh pada semua perintah itu. Mendengar perintah itu, rasa was-was di hatinya mulai berkurang. “Jika memang itu kehendak Allah saya mengerti, saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiaka kami”. Ketika Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya, ia berdo‟a kepada Allah, “Ya Tuhanku, agar mereka mendirikan sembahyang, maka jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka semua berterima kasih atas semua itu”. Mulai saat itulah dengan rasa keteguhan ia menyerahkan nasibnya kepada Allah. Hajar dengan sabar dan tenang mulai menyesuaikan diri dengan alam dan sekitarnya. Perbekalan yang dibawanya akhirnya habis, tinggallah ia dan anaknya menunggu nasib dengan perut kosong dan lapar. Anaknya, Ismail mulai menangis, tanda dehidrasi (kekurangan cairan) menghinggapinya. Dari kejauhan Hajar melihat bayangan air, ia berlari sambil meninggalkan anaknya. Tapi, sampai di tempat itu ia tidak menemukan air, ia kembali lagi ke anaknya. Begitulah yang dilakukannya hingga tujuh kali, yang kini dikenal sebagai tempat Syafa dan Marwah. Tanpa sadar ia melihat setumpuk pasir yang semula kering tiba-tiba basah mengeluarkan air dan akhirnya melimpah. Hingga kini air yang terus melimpah itu dikenal sebagai air zam-zam. Seiring perjalanan waktu, tempat itu semakin ramai dikunjungi orang dan terbentuklah menjadi kota yang dikenal sampai sekarang, yaitu Makkatul Al-Mukarramah.

Protipe Hajar mewakili wanita pantang mundur dan putus asa. Keyakinan imanlah yang menguatkan tekadnya menerima cobaan Tuhan yang sangat berat. Dalam sosok Hajar, terdapat daya tubuh dan kekuatan fisik yang prima, sehingga panca indera dan fungsi organnya berfungsi dengan baik. Dengan daya hidupnya, ia memiliki kemampuan mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya., serta mampu mempertahankan hidupnya dalam menghadapi tantangan. Pada daya-akalnya memungkinkan dia 32

* * *

memanfaatkan pengetahuannya untuk tetap surprise di tengah alam yang tidak bersahabat dengannya. Sedangkan daya kalbunya meresapkan rasa keindahan, kelezatan iman dan kehadiran Allah dalam hidupnya, sehingga ia selalu merasakan bahwa Allah selalu bersamanya. Wallahu „alam.

Wanita Kita di Layar Kaca
Gadis itu kelihatan lincah sekali, ia mempermainkan rambutnya yang terurai lepas, mengkilat. Ketika ia menoleh, ia mengedipkan matanya. Di etalase sebelah, seorang gadis ABG meliuk-liukkan tubuhnya, bagaikan cacing kepanasan, sambil menampilkan gerakan kegerahan dengan wajah seperti orang yang kehausan. Di jendela lainnya, seorang bintang sinetron sekaligus penyanyi, sedang asik mandi dengan riangnya. Ia menikmati busa sabun yang membalut tubuhnya. Sebenarnya ia tidak telanjang, tapi tampil di layar kaca, ia seperti telanjang, untung di negara pancasila ini tampil bulat-bulat diharamkan, cukup bagian atasnya saja yang dipertontonkan. Kemudian kitapun asik menikmati gaya mereka lewat iklan yang gencar dipromosikan melalui televisi-televisi swasta, nyaris tak ada iklan yang dilewatkan begitu indah, mempesona ataupun sekalian merangsang, tanpa meninggalkan peran wanita di dalamnya. Rasanya kurang klop bila sebuah iklan tidak menampilkan pesona wanita. Entah itu bibirnya, rambutnya, pahanya, kedipan matanya, gaya pinggulnya, bahkan jika perlu desah nafasnya. Semakin vulgar gaya mereka, semakin laris barang yang dipromosikannya. 33

Luangkanlah waktu anda seharian di depan televisi, anda mungkin tidak menyadari betapa banyak iklan yang memanfaatkan jasa wanita dalam melariskan berbagai produk. Ironisnya, nyaris barang-barang yang dipromosikan kadang tidak ada sangkut paut langsung dengan wanita. Lihatlah parfum untuk laki-laki yang diiklankan, fokus kamera lebih ditujukan pada peran wanita. Masih ada cerita yang menarik dari tampilan iklan, secara tidak sadar, peran iklan membuat sistem gender. Hampir semua iklan yang menggambarkan situasi keluarga selalu berkisar, ‟Ayah bekerja di kantor, ibu tekun di dapur‟ peran wanita di sini selalu digambarkan „Kelas dua‟, sekalipun pesona mereka mampu menyedot konsumen sebesar-besarnya. Untuk produkproduk kelas menengah ke atas, iklan menampilkan barang-barang berkualitas, keluarga yang kaya raya, suami tampan, ibu cantik dan anak-anak yang manis. Kemewahan ditawarkan lewat pesona promosi, kalau hidup anda ingin happy terus dan ingin memiliki status high class, ikutlah petunjuk iklan tersebut.

* * *
Wanita dan televisi adalah fenomena yang tidak bisa dipisahkan dalam mendramatisasi dan mensensasionalisasi isi peran sebuah iklan. Dengan kekuatan luar biasa, sebuah iklan mampu memobilisasi emosi dan cita rasa konsumen, dan wanita adalah salah satu faktor pendukungnya. Herannya, wanita juga yang paling banyak termakan gosip iklan. Boleh jadi, harga sebuah sabun hanya Rp. 250, kemudian menjadi laris bak kacang, karena tampilan iklannya membuat kita terkesima, sekalipun kita menyadari bahwa isi pesannya kadang bombastis. Bagaimana mungkin dengan sebuah sabun semurah itu mampu menyamai penampilan konsumen dengan bintang film yang memerankan aklan tersebut. Ataukah hanya karena yang mempromosikan iklan tersebut adalah bintang idolanya, jadilah ia korban iklan. Apa yang digambarkan dalam dunia televisi, sebuah dunia yang terolah. Ia adalah hasil realitas sosial dari tangan-tangan terampil untuk menciptakan image kita dalam menampilkan dan menjanjikan sebuah kenyataan hidup, tentu saja lewat iklan dan tayangan-tayangan yang ditampilkan. Dengan efek kamera pada sudut tertentu, gerak, camera motions, shots, dan angels, pemirsa dipaksa membuat kesan, kemudian divisualisasikan dalam bentuk ruang membenarkan apa yang dilihat. Efek gerak lambat, menandakan adanya kesan dramatis, close-up membuat kesan adanya reaksi emosianal. Produk-produk yang tadinya kita anggap remeh dan kurang berkualitas, tiba-tiba menjadi barang bergengsi, setelah diiklankan 34

oleh seorang bintang film yang cukup terkenal dengan tampilan yang sangat mempesona dengan penuh visualisasi khayalan. Tak dapat disangkal, televisi swasta hidupnya dari iklan. Tanpa iklan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga tidak heran, dalam mempromosikan sebuah barang tak tanggung-tanggung pihak pemegang produk tersebut berbuat apa saja asalkan barangnya dikenal oleh masyarakat. Kalau perlu dibuatkan kuis atau menjadi sponsor tunggal dalam sebuah acara. Dunia iklan adalah dunia industri komunikasi. Sebab disana, selain ada ladangnya para bintang iklan, juga ikut menumbuhkan dunia usaha bagi pertumbuhan ekonomi. Bila pertumbuhan ekonomi meningkat, investasi meningkat, industri baru tumbuh subur, kompetisi meningkat, barang-barang perlu dikenalkan secara lebih baik, sebagai pemain baru maupun pemain lama. Disanalah iklan dan komunikasi pemasaran diperlukan. Sekalipun tidak semua orang menyadari perlunya iklan, namun iklan layanan masyarakat sedikit banyak ikut memperkenalkan sebuah gambaran tentang produk yang diperlukan dalam masyarakat. Jadi, betapa tertinggalnya sebuah produk jika tidak mengiklankan dirinya lewat promosi yang ditampilkannya. Salah satu yang paling berjasa, dalam meramaikan dunia iklan, juga menyedot konsumen adalah peran wanita dalam iklan. Sayangnya peran mereka dalam iklan masih kurang sesuai, yang sering masih dirasa sebagai pelengkap dan pelaris, atau tak lebih sebuah trade mark. Jeleknya, ada yang tampil seronok dan kurang etis, dengan alasan memakai label lambang kehidupan yang modern. Sayang, apabila amanah berupa tubuh yang indah harus dijual dan dipertontonkan begitu murah setiap hari demi sebuah produk.

R a t u
Yang terhormat, tamu kita baru-baru ini adalah Dayanara Torres, benar-benar gadis spektakuler. Miss universe 1993 ini boleh bangga sebab tergolong makhluk langka. Bayangkan, rata-rata orang yang mendapat gelar gengsi paling tinggi biasanya dari kalangan menengah ke atas. Sedang Dayanara, seperti yang dikisahkannya adalah gadis dari kelompok marginal. Ia bahkan terus terang menceritakan hidupnya kepada publik tanpa beban psikologis. Katanya, “Rumah yang kami tempati kecil, tua, terbuat dari kayu 35

dengan lantai yang penuh lubang”. Seperti umumnya rumah-rumah di San Jose yang merupakan daerah kumuh. Kelahiran gadis yang dilahirkan di kota Santura dua puluh tahun yang lalu, pada tanggal 28 Oktober, sebuah daerah yang banyak dihuni oleh kaum mustadzafin di Puerto Rico yang masuk sebagai daerah persemakmuran Amerika Serikat pernah dijajah Spanyol selama 4 abad sampai tahun 1898ketimbang wajah Amerika, menguasai bahasa Spanyol dan Inggris, menjadi bintang selama lima hari di Indonesia. Hal tersebut membuat sebagian gadisgadis pada cemburu akan kecantikan dan prestasinya, sehingga banyak dari mereka juga ingin seperti Dayana, terutama yang sering ikut konteskontesan. Kedatangannya banyak ditunggu. Seperti sebuah tradisi modern yang bukan lagi kelaziman, tapi lebih bersifat kewajiban yang dipaksakan. Tidaklah sah jika kita manusia-manusia Indonesia yang ingin dikatakan maju, jika tidak menghadirkan ratu-ratu sejagat untuk sekedar nampang di depan hidung pemirsa. Entah itu untuk membangkitkan kompetisi untuk saling mencantikkan dan mengayukan di kalangan gadis-gadis pribumi atau sekedar legitimasi di mata pemerintah yang dianggap kolot karena tidak mau mengirim wakil ratu cantiknya. Mereka kadang melemparkan sebuah lontaran yang cukup klasik, bahwa putri-putri Indonesia juga tidak kalah cantiknya dengan ratu-ratu sejagat. Namun yang paling dikhawatirkan –semoga hanya mimpi buruk- jika ini juga masuk program eksploitasi seks murahan untuk keuntungan orangorang „sinting‟. Sehingga dikalangan makhluk tertentu, kehadiran sang ratu yang juga merebak kehadiran bintang film dan penyanyi mancanegara lebih menjadi sebuah kultur edukatif, setelah unsur bisnis tentunya, dengan slogan GO INTERNASIONAL dalam menata dan mencontoh etika pergaulan. Toh, optimisme selalu diupayakan untuk hadir di tengah-tengah kecaman. “Diharapkan kedatangan Dayanara Torres akan menggambarkan dunia mode kita yang sebenarnya tidak kalah maju dengan negara-negara Asia lainnya”, kata Kim Thong, bos penyelenggara dan sponsor utama kedatangan Dayanara. Seperti layaknya sebuah acara, jika sang bintang hadir, maka langit menyebarkan keindahannya. Dan itulah Dayanara, ketika tampil memperagakan tiga gaun , diantaranya model pakaian pengantin Jawa yang dimodernkan. Peragaan ini adalah hasil rancangan Kim Thong sendiri, untuk memperingati 17 Tahun berdirinya Kim Thong Bridal House, sekaligus mengumpulkan dana untuk Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) di Grand Ball Room, Emerald Hotel, Jakarta. Ia tampil penuh pesona, elegan, skaligus spektakuler, karena gaun ini khusus dirancang untuk seorang ratu. “Perfect, 36

Dayanara cocok dan cantik sekali untuk busana saya”, kata Kim lebih lanjut. Nyaris nama-nama seperti Sophia Latjuba, Ratih Sanggarwati, Ani Basuki, tenggelam dalam bayang-bayang Dayana. Satu hal yang menakjubkan, di tengah keberuntungannya, selain sebagai mantan ratu, juga bintang film, model iklan, Dayana masih ingat masamasa silam di slum-slum kota Santura. Sehingga kepeduliannya terhadap masyarakat bawah membuatnya sadar, bahwa mereka juga adalah saudarasaudaranya. Untuk membuktikan kepeduliannya, ia bergabung dengan PBB dalam rangka mensukseskan program UNICEF untuk orang-orang yang miskin dan keluarga di negara berkembang. Dayanara Torres, mantan pelayan cafetaria, bak titisan dewi dari puncak Cerro De Ponta di lembah Central Cardilerra, datang di negeri Pancasila ini untuk mengajak secara tidak langsung gadis-gadis khatulistiwa untuk tampil penuh percaya diri, menebarkan pesona untuk berjihad di bidang pariwisata agar kelak sumber devisa non migas ini bisa menunjang perjuangan pembangunan berkelanjutan. Juga harus diingat nasehatnya, “gadis boleh saja cantik, tetapi ada yang lebih penting daripada itu, selain cantik, juga harus punya kepandaian”. Miss Dayanara, semoga anda lupa bahwa ini adalah negeri dimana nilai-nilai ketimuran masih dijunjung tinggi dan agama masih dapat menjaga citra wanita Indonesia untuk berlenggak-lenggok di depan hidung juri yang memang hidung belang, dengan pakaian yang penuh sensasional. Nona Torres, yang dibutuhkan wanita bukan hanya kepandaian dan kecantikan, tetapi yang lebih utama diperhatikan oleh seorang wanita adalah “Pakalebbi-i alemu cappo”.

37

Gender dan cita-cita Kartini
Mungkin tak ada lagi wanita yang begitu besar pengaruhnya dalam perputaran sejarah peradaban manusia di Indonesia seperti kebesaran nama Raden Ajeng Kartini. Memang, tak ada tulisan atau karya yang bersifat monumental yang ditinggalkan putri Jepara kelahiran 21 April 1879 itu. Ia, yang diberi gelar pahlawan nasional bukanlah pemimpin yang memimpin pasukan gerilya untuk melawan kolonial Belanda, bahkan ia meninggal bukan akibat peperangan dahsyat. Kartini yang hidup tentram di sebuah kota kecil di pantai utara pulau Jawa dan meninggal seperti banyaknya kaum wanita pada saat itu, karena melahirkan anaknya adalah wanita biasa yang mendambakan adanya perubahan pola pikiran di zamannya. Kita menjadi kagum padanya lantaran cita-citanya sangat berhubungan erat dengan kasih kaumnya. Lewat surat-suratnya yang dibukukan dengan judul Door Duesternis tot Licht (1911) yang di Indonesia dikenal Habis Gelap Terbitlah Terang (diterbitkan pertama kali tahun 1922) oleh sahabatnya, J. H. Abendanon, seorang wanita Belanda, kita menerima informasi dari tangan pertama mengenai pikiran pribadi dan cita-cita yang terkandung dalam kalbunya. Kemudian tahun 1913, Abedanon juga menulisnya disebuah majalah Perancis L‟Asie Francaise dengan judul Les Idees d‟une jeune javanaise (pikiran seorang wanita Jawa), nanti 1960 barulah surat-surat kartini dibukukan dalam bahasa Perancis. Untuk edisi Inggrisnya dibuat tahun 1920 di New York dengan judul Letters of a Javanese Princes oleh Agnes L. Symmers. Kartini yang hanya lulusan Sekolah Rendah Europese Lagere School (ELS) Jepara, memiliki buah pikiran dan renungan yang menembus berbagai bidang kehidupan sosial, pendidikan, keagamaan, politik dan kesusastraan, terutama masalah-masalah kewanitaan. Di saat masa pingitannya yang sangat membosankan, ia banyak menelaah dan melahap buku-buku, koran dan majalah yang singgah di kabupaten. Ia juga kreatif menulis di beberapa koran seperti De Locomotief dan sebagainya, sehingga tidak heran, ia adalah wartawati yang pertama di Indonesia. Ia seorang kritikus dan sangat peduli terhadap rakyat jelata. Kartini mungkin tidak tepat lahir di zamannya, ia hanya menderita dalam memandang setiap ketidakadilan dan ketimpangan di lingkungannya. Ia melihat betapa menderitanya dan bodohnya bangsa Indonesia tanpa pendidikan, terutama kaum wanitanya. Kartini, seperti kata orang Belanda te vroeg geboren, “Terlahir mendahului zamannya”. Pikirannya melambung demikian jauh ke depan, ke 38

masa yang akan datang, sehingga berbagai gagasannya sering terasa bagai ramalan peristiwa yang akan terjadi. Diukur pada zamannya, maka pikiranpikirannya dapat dikatakan sangat spektakuler dan revolusioner. Dunia yang dipandangnya sudah usang, seperti alam feodalisme, perlu dirombak dan diubah sampai setiap manusia terutama kaum wanita bisa menikmati hakhaknya serta menjalankan kewajibannya sebagaimana yang ditetapkan oleh Tuhan. Kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar lewat suratnya yang ditulis 6 November 1899, ia menulis: “Teman-teman, saya di sini mengatakan agar sebaiknya kami tidur saja barang 100 Tahun . kalau kami bangun nanti, kami baru akan tiba pada zaman yang baik. Jawa pada saat itu sudah semakin jauhnya kami temukan, seperti apa yang selalu kami inginkan”. Ah, seandainya apa yang dikatakan Kartini itu dapat dikabulkan oleh Tuhan, tentu ia akan sangat bangga dan terharu gembira melihat kondisi kaumnya. Kartini juga mungkin akan menangis gembira jika apa yang dikatakan oleh Mien Sugandhi bahwa tidak lama lagi akan ada gubernur wanita pertama dan seorang jendral wanita di tambah lagi (Jendral wanita ketiga) betul-betul tewujud. Kartini boleh bangga bahwa nyaris tak ada pekerjaan yang dilakukan laki-laki tidak dikerjakan oleh wanita. Bahkan pekerjaan mustahil bagi wanita seperti buruh, sopir, tukang becak, tukang batu dan sejenisnya bukan barang mustahil lagi. Mudah-mudahan ia juga tidak kaget bahwa ada sebagian kaumnya ingin berpura-pura melupakan kodratnya, wanita yang hanya berpikir sesaat mengejar prestise dan ambisi karier, tenggelam dalam keegoannya, namun melupakan kodrat kewanitaannya. Kartini juga mungkin terhenyuk, bahwa nasib kaumnya sebagian masih banyak yang menyedihkan. Bahkan dalam perlindungan hukum, nasib wanita masih tersudutkan. Tak ada undang-undang khusus yang melindungi nasib mereka, sehingga ketika ketidakadilan dialami wanita, nasib mereka sering ditukar dengan uang atau mencari sisi kelemahannya. Masalah gender, terutama masih ada kaum lelaki menganut subordinasi dengan melihat segala fisik, kerap kali menyudutkan posisi wanita, bahkan merugikan hak-hak wanita. Namun Kartini tidak boleh bersedih di “sana”, bahwa ide-ide dan cita-citanya untuk mengangkat kaumnya terus diperjuangkan oleh mereka yang masih cinta kedamaian dan menghormati kaum wanita, seperti mereka menghormati ibunya.

39

Eksploitasi Dan Nilai Wanita
Ketika terjadi perang teluk, 1991 yang lalu, berita sekitar perang menjadi berita yang sangat menarik. Betapa menyoloknya antara satu kekuatan yang kecil di pihak Irak dan pihak lain, yaitu sang agresor Amerika dan sekutunya sebagai pasukan multinasional sebagai pihak yang mempunyai kekuatan besar dengan mengatasnamakan PBB untuk membebaskan Kuwait dari cengkraman Irak. Tiada hari tanpa sensasi berita perang, entah itu sudah berapa banyak korban di pihak Irak, bagaimana kekuatan persenjataan pasukan multinasional yang menggunakan senjata paling mutakhir untuk membinasakan manusia dan lain-lain. kita sebagai penonton menerima informasi itu hanya lewat berita, terutama beritanya dari koran dan majalah. Itulah salah satu contoh bagaimana sebuah berita (pers) menyuguhkan sebuah image dan membentuk inspirasi kita dalam menilai realitas yang disuguhkan. Hingga hari ini beberapa koran, majalah dan tabloid berusaha menyajikan brita-berita yang surprise dan bersifat sensitif, jika perlu, lengkap dengan gambar-gambar yang menyenangkan, menyebalkan, menggemaskan dan memanaskan. Masih tersisa dalam ingatan kita bagaimana tabloid monitor dalam setiap terbitnya berusaha menampilkan berita-berita sensual lengkap dengan gambar-gambar yang menantang. Kemudian kitapun mengenal sebagai bentuk jurnalistik “Iher” yang menjual murah harga paha dan sekwilda (sekitar wilayah dada) wanita. Pemberitaan tentang wanita tidak lengkap dan tidak membawa keuntungan bisnis tanpa menampilkan sisi seksualitas mereka. Seksploitasi hampir melanda pers kita setiap hari, sekalipun tidak ada koran dan majalah mingguan yang dijual para pengecer di pinggir-pinggir jalan, bisa kita 40

pastikan setiap mereka berusaha menampilkan kelebihannya masing-masing. Tak terkecuali majalah-majalah dan tabloid mingguan berita wanita berusaha tampil dengan wajah dan citra feminisme. Mulai dari berita yang paling sopan gambar dan beritanya sampai yang paling memilukan perasaan kewanitaannya. Wanita: entah itu kasus perkosaan, penjualan wanita-wanita di luar negeri, harga murah tenaga wanita di pabrik-pabrik, pelecehan harkat wanita dan sederetan lagi berita-berita sekitar seksploitasi wanita. Pada akhirnya wanitapun dijadikan bulan-bulanan berita. Namun tak ada yang menyenangkan mata sekaligus menjengkelkan perasaan seperti jika sebuah majalah dan tabloid mingguan berusaha menjual harga murah sebuah “Body” wanita dengan gambar sensual lengkap dengan berita-berita merangsang. Menyenangkan mata tentu saja buat sebagian laki-laki yang hanya sekedar melihat sisi luar dan penampilan seorang wanita, yang melihat wanita dengan angan-angan dan nafsu syaitaninya. Sedang bagi pers sejenis jurnalistik lher apa sih yang tidak menarik untuk tidak diliput pada diri seorang wanita. Bagi yang jengkel perasaannya tentu buat wanita dan sebagian laki-laki yang merasa kasihan terhadap nasib wanita yang mau dijadikan seksploitasi. Tiba-tiba kita merasakan wanita kadang-kadang dijadikan bahan sensasi murahan. Oleh wartawan foto dan fotografer, wanita juga sering jadi maneken. Bisa diutak-atik untuk mendapatkan gambar yang terbaik dan merangsang. Lucunya, wanita yang merasa bangga dengan kerendahan diri dan keamburadulan moralnya. Ia bangga memamerkan bentuk pinggul dan sekwildanya, ia tidak malu menyebutkan ukuran bra dan celananya dan jika perlu, ia juga gamlang menceritakan perselingkuhannya. Belum cukup sampai disini, pers wanita juga pernah digugat dianggap menyebarkan konsumerisme, menawarkan kemewahan, dan mimpi-mimpi belaka. Sebagian besar memang ingin menawarkan gambar-gambar dan tulisan yang menarik. Kita dapat menebak, bahwa tujuan memang sangat gamblang; agar majalah dan tabloid wanita laku di pasaran. Agar kaum wanita mau merogohkan sedikit koceknya dari dompet, agar dapur pers masih berasap. Sama-sama menyenangkan, pembeli mendapat hiburan, pihak pengelola pers mendapatkan uang.

Mestikah kita menyalahkan pers wanita ketika mereka dituding menyebarkan konsumerisme, menawarkan bentuk-bentuk hidup yang mewah, 41

* * *

menjual mimpi-mimpi kosong. Itu tergantung mission dan niat mereka. Pada bagian lain kita juga harus tahu bagaimana persepsi wanita dalam menilai pers wanita ketika mereka secara terang-terangan dijadikan eksploitasi.

Demokrasi Ala Emansipasi
Entah apa maunya, yang pasti wanita semakin unjuk gigi memperlihatkan kepedulian terhadap kaumnya. Tidak tanggung-tanggung penguasa PBB sampai terpesona mengadakan konfrensi dunia IV mengenai wanita (FWCW) tanggal 4 September 1995 yang lalu. Konferensi ini bertujuan untuk meningkatkan kedudukan para wanita dalam pembangunan, melalui dialog kerjasama internasional. Apa yang sebenarnya terjadi dengan gejolak di dada kaum wanita, tidak lain bahwa mereka membawa misi fitrah untuk tidak sekedar disanjung, dihormati, diberi fasilitas atau hanya sekedar pendamping. Sebab jutaan wanita yang masih belum memperoleh fitrah seutuhnya, ketika dengan kebringasannya kaum lelaki menindas hak mereka. Berbagai tragedi menyedihkan yang melintasi sejarah mereka, cukup membuat mereka menanyakan keabsahan identitas apa yang sebenarnya mereka miliki di atas 42

dunia ini. Semua bentuk penderitaan belumlah bisa mewakili dengan kehilangan HAM yang mestinya mereka nikmati seperti yang dinikmati mitra mereka. Olehnya itu, apa yang dicita-citakan untuk terwujudnya ratifikasi universal pada konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum wanita (CEDAW) pada tahun 2000 adalah tidak sekedar melahirkan sebuah simbol emansipasi, tetapi juga penghargaan yang mestinya mereka dapatkan dari dulu. Ada kesyukuran yang mesti kita miliki, yang tidak sekedar sebuah pertolongan, tetapi juga sebuah perenungan yang jika dipikir-pikir tidak akan tuntas jika hanya sekedar berpikir. Bahwa kaum wanita dengan jumlah yang sedikit banyak, begitu banyak menguntungkan kaum lelaki. Betapa dengan kondisi mereka, kerap kali kaum lelaki sedikit diprioritaskan, entah itu tenaganya, keberaniannya, atau skillnya. Juga tak ada wanita yang berani datang pada lelaki untuk berinisiatif melamarnya, sementara kaum lelaki bisa saja mengulur-ulur untuk sekedar menyeleksi siapa yang paling nomor wahid disukainya. Sehingga pencetusan ide emansipasi oleh sebagian kalangan diinisialkan sebagai konsep duga-duga untuk menghilangkan bentuk kesyukuran semu yang dimiliki oleh kaum lelaki. Entah itu nantinya, kaum wanitapun siap untuk menyeleksi dan datang melamar siapa yang disukainya, sehingga protipe gender bukan milik kaum tertentu lagi. Pengemasan konsep emansipasi memang sering menjadi senjata untuk menuntut segala persamaan, dengan cara turut membangun sebuah image tentang model wanita yang maju. Tentu saja dilengkapi berbagai atribut kemoderenan. Kadang kala konsep itu memang menjadi keharusan untuk menjawab ketidakbenaran berbagai bentuk kelemahan yang dimiliki oleh kaum wanita. Andil dengan berbagai media massa dengan gencar ikut mempromosikan ke arah embrio persamaan itu, dengan tampil sedikit vulgar, sehingga objek mereka paling laku menjadi thema sentral. Ciri itu selalu berputar pada kemajuan dan kemoderenan, berpendidikan, tegas, mandiri, aktif, lincah bergaul, mampu mencari nafkah, menguasai etika internasional, netral dari ikatan adat dan agama, rasional, menggairahkan dan menikmati hidup. Ada penilaian sementara yang memutarbalikkan fakta bahwa salah satu kemujudan kaum wanita karena mereka terhalang oleh kuatnya pegangan agama. Sehingga dalam garis merahnya mereka selalu menjadi kelas dua kaum lelaki. Meletusnya revolusi Perancis yang menyerukan semboyan Liberty, Fraternite dan egalite menjadi ilham bagi semua gerakan “Pencerahan”, termasuk melahirkan gagasan emansipasi. Di Amerika 43

persoalan kelas dua menjadi gugatan kuat di awal abad 19 untuk lebih meyakinkan publik bahwa hak mereka tidak boleh disamakan dengan peran anak-anak. Mereka memperjuangkan egonya untuk mendapatkan hak pilih (the right to vote). Tahun 1948, sejumlah wanita berkumpul di Seneca Falls, New York, untuk menuntut haknya. Mereka memprotes praktek perbudakan kulit hitam, tetapi dilarang karena tidak boleh berpolitik. Secara inplisid, mereka menuntut empat poin, yaitu: 1. mengubah Undang-undang perkawinan yang menjadikan wanita dan hartanya mutlak dikuasai kelak oleh suaminya. 2. memberi jalan untuk meningkatkan pendidikan wanita. 3. menuntut hak wanita untuk bekerja. 4. memberi hak penuh untuk berpolitik. Ironisnya, kecenderungan emansipasi sering ditempatkan bukan pada proporsinya. Atau kadang hanya digunakan sebagai kedok untuk tidak sekedar disebut ketinggalan jaman atau kampungan. Apa yang sering dilontarkan tentang keterbelakangan kaum wanita disebabkan karena kuatnya agama mengatur mereka, sebenarnya bukanlah karena keterbatasan itu, tetapi pada posisi mana kita menempatkan fungsi dan kodrat mereka. Secara mujmal, Islam misalnya, sebagai agama tidak pernah menempatkan wanita di bawah kaum lelaki. Namun dalam jobnya, peran mereka memang seringkali mengharuskan mereka berada di bawah kaum lelaki. Sebagai sebuah contoh dalam fungsi keluarga, sangat tidak logis jika kedudukan mereka harus disejajarkan, dan berbagai macam pekerjaan juga menuntut hal yang demikian. Istilah emansipasi yang sering diberi kontes oleh “garis perang perseberangan” antara lelaki dan wanita, pada hakekatnya tidak dikenal. Sebab pada Rahmat Tuhan, semua nilai ibadah tidak pernah dibuatkan kelasnya untuk membedakan jenis ibadahnya kaum lelaki dengan kaum wanita. Fungsi dan peran kerja memang diatur dalam Syariat, karena ini juga untuk membuktikan keMahaAdilan Tuhan dalam menempatkan posisi dan peran mereka, yang tiada lain untuk saling mendukung dan saling melengkapi. Dilema sejarah yang sering membuat kita serasa memiliki warisan yang lebih kejam dari yang kita duga, dimana tidak saja putaran sistem yang mengaturkelompok-kelompok manusia, tetapi juga perkondisian tertentu atas alam batin per manusia. Mungkin juga karena rumusan kodrat wanita yang garis batasnya tidak kunjung disepakati betul, untuk kemudian diterapkan dalam menjadi suatu sistem nilai sosial- sementara derap sejarah tak pernah menunggu kapan selesainya diskusi kita tentang itu. 44

Dan alangkah baiknya, jika kemudian kaum wanita sedikit menarik napas yang panjang, apabila mereka tidak melihat perjuangan kaumnya sebagai suatu perjuangan kemanusiaan. Sebab, kalau mau “surpraise-surpraisan” soal penderitaan, kaum lelaki juga tak kunjung menderitanya. Sebab, di sisi mereka berdua, soal derita hampir dikata cukup adil untuk selalu melingkupi hidup dan perjuangan mereka.

Wanita : Karier atau Keluarga
Kita sering kali takjub menyaksikan kegigihan kaum wanita untuk bersaing dalam berbagai bidang dengan kaum lelaki. Sehingga dalam merebut pangsa pasar, mereka boleh dikatakan banyak dan ulet. Tidak heran begitu banyak bidang yang mereka bisa perbuat tidak dapat diperbuat oleh lelaki, sekalipun kaum lelaki kadang mau mendominasi bidang mereka, misalnya menata rambut, membuat menu makanan, atau merancang mode yang tidak lagi menjadi keterampilan wanita. Sebaliknyapun, kaum wanita juga berusaha beradaptasi dengan pekerjaan yang hanya layak bagi kaum lelaki, semisal pekerja kasar, kuli jalanan dan bangunan atau sopir. Bahkan, bukan hanya dalam pekerjaan, dalam modepun mereka tidak mau ketinggalan, sehingga nyaris dalam keseharian kita, bentuk fisik sebahagian 45

wanita hampir sama dengan lelaki, lihat saja potongan rambut mereka, pakaian mereka, bahkan pergaulan mereka. Data statistik major yang menunjukkan, bahwa kaum wanita di bumi ini sedikit lebih banyak dibanding kaum lelaki. Rata-rata wanita memiliki usia yang panjang, punya daya fisik yang lebih tahan lama hidup di atmosfir bumi ini dan resiko pekerjaannya lebih enteng untuk merenggut nyawa mereka dibanding kaum lelaki. Sehingga wajar dalam bertahan hidup, mereka juga seharusnya lebih profesional dalam mendapatkan rezeki. Istilah wanita karier yang lagi trend, sebenarnya adalah hal yang wajar yang harus diterima oleh masyarakat modern. Kaum wanita, dalam hal ini, yang berkiprah dalam bodang usaha, berusaha menjadi wanita karier, yang tentu selain mempertahankan status quo mereka, juga status makhluk subordinasi (keadaan yang menunjukkan di bawah) bagi kaum lelaki harus dihilangkan menjadi status sama terhormat. Kearifan hidup harus semakin dibijaksanai dengan memberi kesempatan bagi mereka berkiprah, selama status mereka sebagai ibu atau calon ibu tetap tersandang. Sebab istilah kodrati seringkali disalah artikan oleh kaum lelaki, juga sebagian kaum wanita, dalam pengertian yang sangat sempit, seperti yang pernah dianut oleh kaum agrarian-feodalistik. Kaum wanita dengan kodratinya, kata mereka, tak lebih layak berada pada posisi askriptif-normatif di bawah ketiak lelaki. Dengan anatomis yang jelas, fungsi mereka sudah terstruktur untuk memproduksi dengan cara mengandung dan menyusui. Istilah kodrati dalam pandangan fisik boleh saja diartikan, bahwa wanita harus dapat mengkodisikan dirinya dalam posisi defensip, sesuai dengan raganya yang berfungsi bereproduksi. Namun dalam pandangan hidup, mereka bisa lebih layak atau sama layaknya mitra mereka, kaum lelaki. Salah satu bentuk kelayakan hidup itu adalah bagaimana mereka berkarier. Namun satu sisi, timbul semacam keraguan sebagian orang, mungkin lebih banyak ditujukan oleh suami atau calon suami mereka. Ketika mereka menyinggung pembicaraan lapangan karier, seringkali diperhadapkan pada satu alternatif pada dua pilihan yang membingungkan, karier atau keluarga. Kehidupan metropolitan sering menceritrakan kepada kita, bagaimana kiprah wanita harus memilih salah satu dari dua alternatif ini. Banyak wanita di kota-kota besar tidak lagi merasa terikat untuk mengurus keluarga, atau berpikir tentang keluarga untuk bisa meraih karier setinggi mungkin. Memang belum ada riset khusus yang mencatat bagaimana kiprah wanita yang berperan ganda, tetap berkarier dan mempertahankan gelar ibu rumah 46

tangga, atau keterkaitan wanita dengan karier yang mereka kejar terhadap kehidupan mereka. Tetapi, sebagai perbandingan, mungkin tidak ada salahnya mengambil sampel kehidupan wanita karier di Amerika Serikat. Edith Fierst, seorang redaktur Washington Post dalam wawancara tentang fungsi ganda: karier atau keluarga, menyebutkan bahwa 50 wanita karier yang sukses berhenti bekerja selama 10 sampai 15 Tahun hanya untuk melahirkan dan merawat anak-anak mereka. Edith juga mengambil contoh dari Patricia Wald, hakim ketua pada United States Court of Appeals, patricia mempunyai anak lima, dalam puncak kariernya ia berhenti secara paro waktu (part-time) selama enam tahun untuk mempersiapkan anakanaknya, dan sebagian tentu saja untuk dirinya. Apa komentar Edith, ”wanita-wanita itu, merupakan role model yang lebih baik dibanding wanitawanita yang mengorbankan keluarganya dalam pendakian kariernya”. Padahal kenyataan juga sering menunjukkan kepada kita, betapa banyak wanita yang berkarir melulu tidak bahagia hidupnya. Lebih celaka lagi ketika memasuki usia perkawinan, mereka lebih condong memilih lelaki yang lebih sejajar dengan mereka, dengan berbagai macam persyaratan yang bisa mendukung karier mereka. Sehingga aspek sakral dan tujuan suci perkawinan kadang kurang diperhatikan. Dan jika mereka tidak menemukan kecocokan, mereka lebih memilih status pratu (perawan tua), ketimbang punya suami yang tidak sepadan dengan status dan kemauan mereka. Penelitian terhadap 3.000 pengacara yang dilakukan oleh Assosiasi Pengacara Amerika Serikat menemukan dampak yang jelek karier terhadap keluarga lebih banyak dialami oleh wanita ketimbang lelaki. 13% wanita telah bercerai dibanding lelaki yang hanya 4% ; 22% wanita tidak menikah, dibanding 15% lelaki ; sedang 57% wanita menyatakan tidak punya waktu untuk dirinya dibanding 45% lelaki ; dan tragisnya 56% wanita tidak punya anak sedangkan lelaki hanya 40% (Bondan Winarno, majalah Matra dalam “karierisme” hal. 107, edisi Agustus 1989). Disini kita melihat, ternyata kaum wanita tidak sungguh-sungguh bisa menikmati karir mereka dalam mengejar status terhormat dalam hal mengejar pekerjaan. Sebenarnya hal yang paling penting, bukanlah memperhadapkan secara konfrontasi antara karier dan keluarga, tetapi bagaimana mensejajarkannya. Dengan membuat afirmasi: karier dan keluarga, keduamya bisa saling mendukung. Ada banyak cara dimana karier dan keluarga saling mendukung. Misalnya dengan membuat home industri, dimana kerja kaum wanita yang bisa menghasilkan tambahan hidup dilakukan di rumah sendiri. Membuat katering atau produksi kue-kue yang dikelola 47

sendiri. Kita toh merasa bangga banyak kaum wanita yang mempunyai kantor di rumah sendiri, membuka profesi sebagai pengacara, sebagai dokter, sebagai desainer, mengelola toko kelontong, warung dan sebagainya di rumah sendiri, terlepas sebagai pegawai negeri yang punya kantor resmi. Dengan demikian, tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dapat berjalan selaras dengan peningkatan karir yang berkiprah dari rumah sendiri.

Islam, kerier dan Fikr an-Nisa
Jika benar ramalan John Neisbith bahwa mengakhiri abad XX, kita akan memasuki satu bagian penting dalam babak sejarah besar khidupan manusia, yaitu abad XXI adalah bagian dari abadnya kaum wanita.

Ungkapan itu bisa saja benar, sebab di penghujung abad XX serangkaian seminar internasional menyangkut wanita telah digelar, dan anehnya kita tidak pernah mendengar ada seminar tentang laki-laki. 48

* * *

Kalaupun ada, yang dibicarakan tiada lain bagaimana kiat menghindari penyelewengan laki-laki (suami) agar sang wanita (istri) hidupnya tentram. Hampir dipastikan bahwa nasib kaum wanita semakin cerah, berkat perkembangan tehnologi di abad reformasi ini. Sehingga selama tiga dasawarsa belakangan ini mereka berhasil masuk di semua sektor pekerjaan. Apa yang digambarkan dari sebuah pemikiran ideal tentang hak-hak wanita dari para pemikir dan kaum feminis sesungguhnya telah lebih dahulu dicetuskan empat belas abad yang silam oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah kata-kata yang indah Al-Qur‟an telah memuliakan mereka : “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling brtaqwa. (QS. 49: 13). Sesuatu yang didambakan oleh wanita di zaman sekarang tentang „kebebasan yang terikat‟ entah itu sebagai wanita karier atau wanita yang aktif di luar rumah, bukanlah hal yang baru yang pernah digambarkan oleh sejarah Islam. Islam telah melahirkan banyak tokoh wanita nasional maupun internasional. Di awal-awal Islam muncul nama-nama cemerlang di bidang bisnis perdagangan seperti Sayyidatul Khadijah, Zainab Binti Ahsy, Qilat Umi Bani Anwar. Dibidang militer ada Siti Aisyah, Ummu Salamah, Shafiyah, Laila al- Gafariyah dan Ummu Sinam al-Aslamiyah. Sementara di bidang manajemen ada As-Syafa yang diangkat menjadi direktur pengelola di zaman Umar r.a, dibidang intelektual, sejarah mencatat sayyidatul „aisyah, seorang pakar dan kritikus hadits. Ada Sayyidah Sakinah, Putri Husain Bin Ali, as-Syaikhah Syuhrah yang digelari Fakr an-Nisa‟ (kebanggaan wanita) adalah salah seorang dari guru imam Syafi‟i. Mu‟nisat al-Ayyubi, Syamiyat at- Taimiyah dan Zaenab adalah guru-guru para Imam Mazhab. Di negeri kita sendiri dari abad 17 hingga memasuki abad 20 tampil nama-nama pejuang dan tokoh Islam wanita. Di Aceh, pernah memerintah para Sultanah selama 58 Tahun, diantaranya Sultanah Taj‟al Alam Syafiatuddin (1641-1675) hingga melahirkan Laksamana Keumalahayati, Cut Nyak Dien, dan Cut Meutiah. Di kalimantan ada Ratu Aji Siti, Dayang Bomi. Di Sulawesi memerintah Ratu daeng Pasuli, Sitti Aisyah Besse Barru, I Madina Daeng Bau dan We Tendriole. Di Jawa lahir putri Campa, pahlawan Nyi Ageng Serang hingga R.A. Kartini dan lain-lainnya. Dari kenyataan sejarah yang dapat dilihat, bahwa apa yang selama ini digambarkan sebagai kebebasan mencari pekerjaan (wanita karier) dalam 49

diri wanita telah dipraktekkan di zaman awal Islam dan hingga di abad modern. Sehingga jika dipikirkan keterlibatan dan aktifitas mereka dalam berbagai pekerjaan dan penggalian pengetahuan, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas. Prof. Quraisy Shihab mengatakan, bahwa wanita boleh saja bekerja dalam berbagai bidang, di dalam maupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah atau swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam suasana terhormat, sopan serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula mereka menghindari dampak –dampak negatif dari pekerjaan tersebut dari dan lingkungannya. Di sisi lain, Islam menyamaratakan kedudukan wanita dan laki-laki sebagai satu kesatuan yang saling terkait dalam hubungan yang fungsional. Ini perlu disadari, agar nantinya kita tidak terperangkap ke arah sikap „memilah-milah sesuatu menjadi kepingan-kepingan‟ , sementara kita merupakan interkoneksi dan interaksi yang sedemikian besar antara berbagai individu lelaki wanita tersebut. Sehingga benar apa yang dikatakan dr. Ilham a-Thalib, “Terlalu sulit untuk memisahkan seorang wanita Islam dari lelaki Islam, anak-anak dan masyarakat; tidak ada seorangpun yang mampu berdiri sendiri di atas kaki sendiri dalam suasana kevakuman. Lebihlebih dalam mendiskusikan konstribusi muslimah dalam masyarakat, dimana tidak bisa diukur dalam jumlah materi dan persentase”. Wallahu „alam.

Subordinasi vs Superioritas Wanita
50

Kalau anda seorang pria, mungkin anda pernah heran atau nyaris tidak percaya, bahwa kadang wanita bisa berbuat seperti pria, atau bahkan melebihinya. Pernah menyaksikan pertandingan sepak bola atau tinju yang dimainkan oleh wanita ?, yang kata sebagian penonton nyaris bukan bolanya lagi yang diperhatikan. Atau menyaksikan binaragawati, dengan penuh percaya diri menonjolkan oto-otot ekstremitas atas dan bawahnya. Ketika kejuaraan Kempo se-Sulawesi Selatan, yang diadakan di Parepare yang diikuti kurang lebih dua puluh Do-jo, subordinasi kaum wanita nyaris hilang. Mereka memperlihatkan jati diri di luar kebiasaannya sebagai makhluk yang sering digambarkan lemah gemulai, penakut dan penurut. Gerakan –gerakan Embu berpasangan dan beregu, sangat apik dilakukan, yang dibarengi dengan teriakan semangat (ki-ai). Kadang-kadang saya berpikir, apakah mereka mampu mengimbangi teknik-teknik tingkat tinggi yang memerlukan tenaga yang tidak sedikit. Ditambah lagi rasa sakit ketika menangkis, atau ditekuk dan dibanting, yang kadang tanpa matras. Namun, ketika jurus-jurus itu (ken dan waza) dimainkan, mereka melakukannya dengan penuh semangat. Bagi mereka, sikap seksisme tidak ada lagi perbedaannya. Hampir semua cabang olahraga terutama bela diri, seperti pencak silat, karate, judo, tae kwon do, kempo dan sejenisnya, dianggap cocok sebagai perisai diri dari kekurangajaran lelaki. Tidak lagi canggung bagi wanita untuk digelutinya, sebagai salah satu kegiatan hidup, kalau tidak mau disebut sebagai gerakan emansipasi, untuk sejajar denga lawan jenisnya.

Apa yang diramalkan oleh John Neisbith dalam mega trendnya, bahwa abad 21 adalah abadnya kaum wanita mulai nyata. Dalam berbagai bidang, superioritas wanita semakin terlihat. Bukan hanya di tingkat yang bergengsi, seperti menjadi presiden atau perdana mentri, bahkan di tingkat yang paling bawah, mereka juga tidak mau ketinggalan untuk merebut bagiannya, seperti menjadi supir taksi, tukang becak, bahkan tukang batu. Rahasia keunggulan wanita memang selalu menjadi perbincangan yang menarik untuk disimak, bukan karena posisi mereka yang ingin merebut tempat yang sering dianggap dominasi pria, tetapi selalu ada kekuatan di balik kesuksesan mereka itu. Entah itu ingin sekedar mencari nama atau sekedar meminta bagian mereka yang sering didominasi bagi kaum pria. 51

* * *

Kisah-kisah sukses kaum wanita tidak hanya terlihat dipenghujung abad ke 20 ini, tetapi sejarah telah mencatatnya sebagai kemenangan tersendiri, baik fisik maupun moral telah direbut oleh merka. Sejarah juga membuktikan betapa segala dominasi kaum wanita bukan hanya merebut sektor domistik, tetapi juga telah lama menembus sektor publik, yang sering dianggap dominasi kaum pria, yaitu bidang politik. Johanna dari Arc memimpin rakyatnya pada abad ke 15 melawan infiltrasi Inggris di Perancis. Abad ke 18, kekaisaran Rusia mencapai puncaknya, bukan dibawah kehebatan Tsar, tetapi berkat pengaruh Tsarina Katharina Agung, masa keemasan kerajaan Inggris justru ketika dipimpin oleh para ratu yang turun temurun, yang bermula pada Ratu Elisabeth I (Ratu Victoria). Kehebatan politik Inggris di kancah politik Internasional semakin diperhitungkan setelah „the iron Lady‟, Margareth Tatcher, memimpin negerinya, yang pernah membuat malu Argentina ketika merebut pulau Malvinas.

* * *
Tradisi kepemimpinan wanita juga melanda di Asia Selatan yang diramalkan bakalan ramai, yang seakan menjadi tradisi turun temurun. Rasija, ratu wanita Delhi di abad 13 dengan gagah berani memimpin tentaranya untuk merebut tanah airnya. Kita mengenal putri Dekkan, Tehand Bibi, yang termahsyur kepahlawanannya melawan tentara Mongol, pemberontakan Laksmi Bai, Maharani jansi, yang sering menyamar sebagai pria, membuat kalang kabut tentara Inggris di tahun 1857, sehingga menjadi embrio bagi pemberontakan selanjutnya di India sampai menjelang abad 20.

* * *
Prestasi Srimavo Bandanaraike yang menjadi perdana mentri pertama yang tidak hanya di Sri Lanka, tetapi di dunia manjadi lambang supermasi wanita di bidang politik. Pesaing Rajiv Ghandi yang ingin menggantikan kedudukan ibunya Indira Gandhi, adalah iparnya sendiri, Maneka Ghandi nyaris membuatnya pusing tujuh keliling. Menyeberang negeri India ke negara tetangganya, Pakistan, yang disebut sebagai negara Islam yang fanatik justru dipimpin oleh seorang wanita cantik berkulit halus, Benazir Butho, pemimpin yang termuda di kala itu, 1989, dan sekarang berkuasa lagi setelah kalah sementara waktu. 52

* * *
Begum Chaleda Sia dan Hassina Wadsched, yang dijuluki dua harimau betina Bangladesh merupakan dua oposisi yang sangat disegani oleh preiden Ershad. Bahkan sekarang Bangladesh dipimpin oleh seorang perdana mentri wanita.

* * *
Dalam mitos Lontara, kerajaan Gowa pernah dipersatukan oleh seorang wanita yang dianggap sebagai To Manurung, yang juga menjadi ratu pertama untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil yang suka berselisih. Oleh sejarawan Dr. Mukhlis. P, konsep To Manurung dianggap sebagai rekayasa politik demi kestabilan keamanan negeri. Sedang kerajaan Bone pernah dipimpin tujuh ratu yang berkuasa atas tatanan birokrasi kerajaan, yang diperbantukan oleh ade‟ pitue. Menyusul muncul pahlawan-pahlawan wanita yang memimpin pergerakan di berbagai bidang. Kita mengenal Cut Nyak Dien, dengan gagah berani memporak-porandakan pertahanan Belanda di tanah rencong. R. A. Kartini memimpin kaumnya dalam bidang pendidikan serta yang lainnya, ikut meramaikan peran wanita dalam sejarah Indonesia merdeka.

* * *
Tak ada lagi keraguan bahwa abad mendatang adalah abadnya keseimbangan peran, antara kaum wanita dan kaum pria. Tidak ada lagi sikap diskriminasi kelamin, sebab profesi dan jabatan seseorang tidak lagi dilihat dari jenis kelaminnya, tetapi lebih ditentukan pada itikad dan kemampuannya. Semoga saja kaum wanita tidak pernah berpikir membuat geng eksklusif di luar wilayah pria, yang pada akhirnya mengukuhkan eksistensi mereka sebagai wanita, yang berwatak masculina, berwajah feminina.

53

Sri Widoyati, Sang Pendekar Hukum
“Tiap kali mengadili, kita sebenarnya mesti minta maaf kepada Dia”.
Kata-kata di atas diucapkan oleh seorang pendekar hukum dan keadilan, yang tak lain adalah Hakim Agung Ny. Sri Widoyati Wiratmo Soekito, S.H. ia memang sudah tidak ada, meninggal akibat kanker yang menggrogotinya di Houston, Texas, Amerika Serikat. Sekalipun beliau mendahului kita, karya dan dedikasinya terhadap nilai-nilai keadilan dan kepeduliannya terhadap hak asasi manusia tidak pernah lapuk oleh zaman. Ia jauh dari popularitas, bahkan praktisi hukum yang ada sekarangpun mungkin sebagian besar tidak mengenalnya. Sekali-kali orang mengingatnya ketika karyanya dijadikan bahan referensi seperti “Anak dan wanita dalam hukum” yang diterbitkan oleh LP3S. Bahkan suaminyapun mengakui kurang mengetahui karirnya. Itulah ciri-ciri pejuang sejati, pahlawan tanpa pamrih, dimana dalam kamus hidupnya ia tidak kenal lelah dan pantang menyerah. Lahir 29 September 1929 di Kendal, Jawa Tengah. Dua bulan setelah sarjana hukum di UI, ia diangkat sebagai pejabat (acting) hakim pada pengadilan Negeri Semarang, juni 1955. kemudian menjadi hakim di pengadilan yang sama merangkap hakim di pengadilan-pengadilan Negeri Demak, Kendal, Purwodadi, Salatiga antara bulan Oktober 1955 dan April 1961. bersama sarjana lainnya di tahun 1956 ikut mendirikan Universitas Semarang yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Diponegoro. Dua tahun kemudian, mengikuti pendidikan pasca sarjana pada Delinquency Control, School of Sociology, California university di Los Angeles, selama 1961-1962 menjabat ketua pengadilan negeri Kudus merangkap ketua pengadilan negeri Jepara dan Hakim pengadilan Negeri Semarang. Tahun 1962-1968 diangkat sebagai hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi Jakarta. Puncak pengabdian prestasinya di belantara hukum ketika Februari 1968 diangkat menjadi Mahkamah Agung pada mahkamah Agung hingga akhir hayatnya. Tak terhitung lagi berapa organisasi, baik yang erat hubungannya dengan profesinya maupun di luar spesialisasinya, yang memasukkan namanya, entah sebagai anggota atau sebagai ketua. Salah satu gagasan dan pengabdiannya di bidang hukum, yang sepatutnya dicontoh oleh aktivis hukum di era sekarang adalah gagasan untuk mengadakan “Pengabdi Hukum” . ruang lingkup kerja pengabdi hukum ini mencakup seluruh bidang pengabdian hukum, baik kepolisian, kejaksaan, 54

pengadilan, maupun profesi advokat dan pejuang hak asasi manusia. Bersama Mayjen Abdul Kadir Besar, S.H, dan Martinah, S.H paling kurang dua kali seminggu menampung permasalahan-permasalahan hukum dan yang berkaitan dengan hak-hak asasi manusia untuk kemudian dicari pemecahannya secara koordinatif dan administratif. Oleh sahabatnya, DR. Adnan Buyung Nasution, S.H. kegiatan itu dinilai sebagai wahana pemersatu yang berusaha mengkoordinasikan cara-cara perbaikan hukum, peradilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia melalui jalur-jalur profesi masing-masing, sekaligus menumbuhkan auto-aktivitas dan kebanggaan profesi. Ia juga diketahui tidak pernah absen dalam memperjuangkan harkat kaumnya, yaitu kaum wanita. Ia memberi sumbangsih yang tidak sedikit, sehingga kaum wanita terangkat derajatnya. Lihatlah misalnya, bagaimana proses terbentuknya undang-undang perkawinan yang sekarang sudah bisa dinikmati, melainkan juga setelah undang-undang itu diberlakukan, ia mengikuti perkembangan dan pelaksanaannya di seluruh Indonesia. Lewat monitoring yang tak kenal lelah, ia menampung segala permasalahan yang timbul dari praktek pelaksanaan undang-undang perkawinan itu dan berusaha mencarikan solusinya tanpa ada maksud untuk merugikan satu pihak. Tak banyak memang yang bisa ditulis tentang sosok pahlawan hukum ini, namun dengan melihat perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dalam menegakkan keadilan dan kebenaran hukum serta memimpikan hukum menjadi bagian yang sakral dan dipatuhi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, tiba-tiba timbul kerinduan akan munculnya sosok Sri Widoyati dalam bentuk reinkarnasi “moral” dan kepatuhan “amanah” di setiap penegak hukum di negeri ini. Kepada ibu Sri Widoyati, yang agung “di sana”, sampaikan salam kami kepada Sang Pencipta Keadilan bahwa kami yakin di bumi Khatulistiwa yang kami cintai ini masih ada pengabdi hukum yang menjalankan amanah-Nya sebagai wakil Tuhan untuk senantiasa menegakkan keadilan.

55

Dari diskusi KOHATI hingga peran wanita
Tanggal 24 sampai 28 April 1997 korps HMI-wati (KOHATI) cabang Makassar mengadakan latihan khusus KOHATI dengan tema Strategi Pengembangan Sumber Daya Wanita Menghadapi Era Pasar Bebas. Dalam acara tersebut yang berlangsung di cabang Makassar, penulis kebetulan dipanggil membawakan ceramah tentang “Kedudukan Wanita Dalam Islam”. Apa yang diharapkan dari diskusi tentang wanita dalam pandangan Islam yang dikaitkan dalam tema acara pelatihan tersebut, tergambar dari pertanyaan yang dilontarkan penulis dari para peserta. Mereka ingin gambaran bagaimana kelak jika mereka telah selesai di bangku kuliah serta berinteraksi di masyarakat ataupun dalam bidang pekerjaan masing-masing tidak membawa benturan antara kepentingan umum, kepentingan pribadi serta bagaimana menjaga muru‟ah agama agar konsisten dalam berIslam tanpa menapikkan kepentingan masa depan. Sebuah gambaran yang ideal tentang masa depan wanita Islam, dimana satu sisi mereka tetap ingin istiqamah dalam jihadnya untuk mensyiarkan Islam baik secara langsung maupun tidak langsung, sementara sisi lain tuntutan dunia tak ingin diabaikan sebagai makhluk mukallaf yang diberi amanah untuk meraih dan mengisi dunia ini dengan keterampilan dan intelektual yang dimiliki. Seperti kaum laki-laki, wanitapun memiliki aset yang besar dalam mengisi pembangunan ini. Dalam hal ini Islam telah membahas bagaimana peran mereka sebagai mitra kaum lelaki dalam hal bahu-membahu, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul dalam memikul tanggung jawab yang besar mengisi kemerdekaan ini. Kaum wanita, seperti sabda Rasulullah, mereka adalah Syaqa‟ iq Al-rijal (saudara-saudara sekandung kaum lelaki) sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir sama benar dengan laki-laki. Kalaupun ada yang membedakan, itu hanya tugas dan fungsi utama yang diberikan 56

Tuhan kepada masing-masing jenis kelamin itu, sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain. Dan salah satu kelebihan yang tidak mungkin dimiliki oleh kaum lelaki adalah, kaum wanita mempunyai tugas mulia untuk mengandung dan menyusui anakanaknya. Dalam tulisan yang ringkas ini, akan dicoba membahas bagaimana peran wanita Islam dari segi ekonomi. Sebuah konsep yang telah digariskan, bahwa Islam menerapkan satu hak yang tidak dimiliki wanita baik sebelum maupun sesudah era islam yaitu hak pemilikan yang bebas. Menurut ajaran Islam, hak seorang wanita atas uangnya, tanah dan kebunnya ataupun harta benda lainnya yang diakui. Hak ini tidak berbeda apakah wanita tersebut sudah kawin atau belum. Ia berhak untuk membeli, menjual, menggadaikan, atau menyewakan sebagian atau seluruh hartanya. Dalam hukum Islam tak ada satupun yang menyatakan bahwa wanita adalah warga „minor‟ semata-mata karena mereka kaum wanita, seperti yang sering kita dengar masih ada peradaban yang mengabaikan peran dan kedudukan wanita dalam tradisi dan hukum. Wanita dalam peranannya di masyarakat sebagai seorang ibu dan istri mempunyai peranan yang paling suci dan esensial. Para babysitter tidak mungkin bisa menggantikan fungsi ibu sebagai seorang pendidik dari anak yang diharapkan memiliki sifat yang mulia. Namun demikian, tidak ada ajaran Islam yang melarang seorang wanita keluar rumah mencari nafkah apabila hal itu memang diperlukan, terutama pada pekerjaan yang sesuai dengan sifatnya dan pada posisi dimana mereka paling diperlukan dalam masyarakat, sepeti guru atau perawat. Tidak ada pembatasan dalam mengambil manfaat dari bakat luar biasa dari seorang wanita dalam bidang apapun. Bahkan dalam jabatan hakim, atau bahkan hakim tertinggi (Qadhi), sarjana-sarjana muslim awal seperti Abu Hanifaah dan at-Thabari membolehkan mereka meraihnya. Mereka mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut. Apa yang diharapkan dari pekerjaan yang mereka lakukan bukan sekedar untuk mencari kepuasan atau materi, tetapi juga diperlukan skill yang tinggi. Tentu saja dengan bekal ilmu yang mereka miliki, mereka dituntut untuk lebih konsisten dan terampil dalam pekerjaannya. Dengan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya, seorang wanita mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan yang tertinggi. Hanya ada jabatan yang oleh sebagian ulama shalaf dianggap tidak dapat diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan kepala negara (Al-Imamah al- „Uzhma). Namun, perkembangan 57

masyarakat dari waktu ke waktu mengurangi pandangan tersebut, kita tidak asing lagi mendengar ada presiden atau perdana mentri wanita di negara yang mayoritas muslim. Dan kesimpulan yang ditarik dari diskusi di atas adalah diperlukan peran wanita Islam dalam menghadapi era globalisasi dengan bekal ilmu yang cukup, skill yang baik serta istiqamah terhadap perjuangan dan cita-cita Islam dengan tetap menjaga nilai kesucian serta ghirah (harga diri) mereka. Wallahu „alam.

Hanan Dan Suu Kyi Untuk Satu kemerdekaan
Ia digambarkan seperti dalam karya penyair Inggris T.S Eliot, dalam sajaknya “The Waste Land” : disini Cuma batu tanpa air / batu dan tak ada air, dan sebuah jalan berpasir… . ia juga digambarkan sebagai sebuah simbol bagi perjuangan sebuah bangsa untuk mendapatkan kembali tanah airnya. Ketika konferensi perdamaian Timur Tengah di Madrid, Spanyol 30 Oktober 1991, ia berdebat mati-matian, bagaikan besi yang yakin dapat menembus bukit. Dengan retorika seorang pejuang, ia berusaha meyakinkan juru runding lawannya, bahwa sasaran pertama dan terakhir delegasinya adalah memperjuangkan dilaksanakannya Revolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242. Resolusi yang memerintahkan bangsa laknat itu untuk hengkang dari wilayah yang didudukinya dalam perang enam hari tahun 1967. Dia adalah Hanan Ashrawi, wanita Palestina yang sosoknya bak batu yang berkilauan di tengah padang pasir. Anak dari Daoud Mikhail, seorang dokter yang ikut andil terbentuknya PLO ini, lahir di kota tepi barat, Nablus, tahun 1946. Pendidikan yang didapatkannya pada American University of Bairut dan University of virgina AS, serta masa muda yang sudah ditempa politik, memungkinkan ia patut menjadi salah satu tokoh 58

penting di Palestina. Doktor sastra Palestina ini menikah pada tahun 1975 dengan Emila Ashrawi di Yerussalem dan dikaruniai dua orang putri. Hanan Ashrawi dikenal cerdas dan cerdik, kata-katanya sangat tajam, bagaikan harimau yang siap memakan mangsanya, matanya sangat awas, bagaikan rajawali yang siap terus menantang. Dengan nuansa dan suasana baru, ia menggantikan gaya diplomasio ala Arafat dengan kalashnikovnya. Perundingan demi perundingan terus dilakukan tanpa kompromi, sebab di pundaknya nasib lima juta penduduk Palestina tergantung. Kisah ini kemudian bergulir dengan menampilkan sosok perjuangan Ashrawi yang dimuat dalam The Sunday ime Magazine, kemudian majalah tempo juga mengangkatnya di halaman selingan edisi 15 Mei 1993. sosok yang tak hentihentinya meneriakkan kemerdekaan bangsa Palestina di tengah mana Barat yang dipelopori AS seolah semakin memberi peluang bagi zionis Israil untuk mengikis habis Palestina. Berbeda dengan Hanan Ashrawi, sosok ini tidak punya pengalaman politik pada awalnya. Tetapi ia disanjung di negerinya, dari kaum yang merasa tertindas. Ia juga menjadi penyambung lidah bagi rakyat yang tertekan oleh kekuasaan jendral Ne Win sejak tahun 1962. karena dianggap berbahaya, dan karena juga dianggap sebagai titisan dari mendiang ayahnya, tokoh Myanmar, Aung San, yang ikut mendirikan National Laegue for Democracy (NDL) sebagai aliansi 105 partai oposisi menentang junta militer, ia ditangkap dengan tuduhan “membahayakan negara”, Aung San Suu Kyi dikenakan tahanan rumah tanpa pernah diadili sampai hari pembebasannya. Pembelaannya terhadap rakyat membuat panitia hadiah nobel di Oslo kagum, dan menganugrahkan nobel perdamaian atas aktivitasnya membangkitkan demokrasi di negeri yang berbentuk tapal kuda, dengan luas 675.552 km persegi serta berpenduduk menurut sensus 1983 sebanyak 35. 313. 905 jiwa. Dalam buku “Aung San Suu Kyi, bebas dari ketakutan”, yang merupakan terjemahan dari Freedom from Fear, yang ditulis sendiri oleh suaminya selama masa tahanan rumah Suu Kyi, mencoba menggambarkan sosok Suu Kyi sebagai warga negara sejati. Sebab, dimata penguasa Myanmar, ia tidak boleh ikut dalam kegiatan di negerinya. Alasannya Suu Kyi lama di luar negeri, suaminya orang barat, dan kurang paham terhadap masalah sosial politik negeri itu. Istri dari Michael Aris, yang juga pakar masalah Asia di Oxford University, sebelumnya cukup terkenal dengan tulisan-tulisaannya. Namun buah karyanya tidak mendapat simpatik, bahkan dicekal masuk dalam tanah 59

airnya sendiri. Kehidupan akademis yang dinikmatinya di Inggris berubah drastis ketika pertengahan tahun 1988, ia pulang mengunjungi ibunya yang sakit. Di tengah pergolakan mahasiswa yang meledak atas kejengkelan mereka terhadap penguasa, wanita yang jarang ikut kegiatan aktivitas itu, tiba-tiba tampil ia di kancah politik. “Saya sama sekali tidak menduga perkembangan ini”, katanya suatu kali, ketika melihat apa yang terjadi di negerinya. Ia juga menyaksikan arus gelombang demokrasi yang penuh gejolak menghujat penguasa Ne Win. Ia baru menyadari apa arti sebuah politik, terlebih arti dari sebuah demokrasi, dari rezim yang tak mau mundur dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri. Ia tampil di tengah rakyat yang mendambakan perubahan politik ke arah demokrasi yang lebih sehat, tanpa ada tekanan dan intimidasi. Di balik perjuangannya, partai NDL yang dipimpinnya berhasil memenangkan pemilu pada Tahun 1990, setahun setelah penahanannya. Sayangnya rezim militer di Yangon (dahulu Rangoon), menolak memberikan kekuasaan. Banyak pemimpin partai NDL ditahan. Suu Kyi bahkan tidak bisa berhubungan dengan dunia luar, termasuk dengan suami dan dua anak lelakinya di Inggris.

* * *
Hanan dan Suu Kyi, dua wanita besi di atas adalah sosok pejuang tanpa kompromi terhadap nilai-nilai tirani dan penindasan. Sekalipun keduanya punya latar belakang yang berbeda serta letak demografi yang berbeda pula, yang satu keturunan Arab dan yang satu keturunan Cina. Keduanya punya profesi yang sama sebelum terjun ke kancah politik, yakni sama-sama ibu rumah tangga, sama-sama mendidik dua anak dan sama-sama dari dunia akademik. Tetapi kesadaran nurani mereka tersentak ketika nilainilai kemerdekaan yang merupakan fitrah manusia dikebiri. Olehnya itu, bagi mereka, konsep HAM mutlak diberlakukan untuk setiap manusia yang ada di atas muka bumi ini. Hari-hari yang panjang adalah hari yang melelahkan bagi pejuang seperti mereka, tetapi seberkas senyum tetap menghias di bibir mereka, bahwa hari esok masih ada, dan harapan terus digulir untuk menegakkan sebuah obsesi menuju ke arah pembebasan. Apa yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya, adalah tak lain bahwa manusia diberikan kemerdekaan untuk menentukan jalan hidupnya. Tak ada manusia yang bisa mengklaim, bahwa dirinya adalah penguasa mutlak terhadap sesamanya.

60

Hanan Ashrawi dan Suu Kyi, hanyalah dua tipe manusia yang terus berjuang di tengah dahsyatnya ketercabikan harkat manusia atas penindasan sesama manusia. Mereka juga protipe dari generasi sebelumnya, yang sadar tentang fitrah kemerdekaan, bahwa mereka adalah wanita, bukan karena kelemahan dan ketidakberdayaan yang memaksa mereka untuk memahami apa arti kemerdekaan, tetapi mereka hanya meneruskan amanah perjuangan yang pernah diemban pendahulu mereka. Kepada Hanan dan Suu kyi, mereka adalah simbol kekuatan moral untuk melawan setiap tirani.

Konstelasi Fiqh dan Hak-hak Reproduksi Perempuan
Pernahkah seorang perempuan berpikir bahwa fungsi naturalnya yang ada padanya seperti kegiatan reproduksinya adalah bagian dari dirinya yang menyatu sejak penciptaan pertamanya, juga punya hak ? sama seperti dirinya ketika setiap saat sang suami menuntut haknya untuk dilayani ia hanyalah bagaikan seonggok daging hidup yang selalu siap berkhidmat, iapun pasrah, sebab ia bagian dari kultur agama dan dogma agama pula yang mengikatnya untuk selalu ber “sami‟na wa ata‟na” (kami mendengar dan kami laksanakan) sehingga bagian dari wilayah-wilayah “peka” pada dirinya yang menyatu adalah bagian yang tidak bisa dipertanyakan seiring dengan penderitaan (bagi yang merasakannya sebagai penderitaan) yang panjang dan harus dilakoninya sepanjang ia ingin disebut sebagai istri yang selalu menjaga keutuhan keluarga. Tetapi tidak bagi Masdar F. Mas‟udi dalam bukunya “Islam dan hakhak reproduksi perempuan” yang menuntut kembali reinterpretasi fungsi reproduksi seorang perempuan melalui kajian fiqh. Persoalan reproduksi (mengandung, melahirkan, menyusui) pada hakekatnya seperti yang disebutkan dalam buku bukanlah beban istri 61

semata, tetapi lebih merupakan tanggung jawab bersama. Seorang istri bisa saja ngotot tidak mau hamil dengan melakukan KB, bahkan ketika hamilpun ia bisa saja menggugurkan kandungannya (aborsi) jika ini sudah bertentangan dengan hak jaminan kesehatan dan bagian dari hak perlindungan reproduksi seorang ibu. Penulis buku tersebut memang tidak mempunyai tendensi tertentu dalam membahas masalah yang cukup kontroversial di masyarakat, kecuali mengembalikan apa yang disebut sebagai penyeimbangan dan kesetaraan dalam melihat konteks hak dan kewajiban masing-masing, dimana keduanya mempunyai kepentingan yang sama (baca suami istri). Secara fundamental berusaha menghilangkan dominasi, apapun bentuknya dan siapapun pelakunya, apakah laki-laki atau perempuan, di dalam rumah tangga atau masyarakat. Tetapi jika suami yang selama ini di masyarakat dipandang sebagai penopang keluarga dan mempunyai andil yang paling besar sebagai pelaku reproduksi, maka bisa dipastikan bahwa si istri tak lebih berusaha memenuhi haknya sang suami, sementara haknya sendiri harus menunggu ridho dari sang suami. Ambillah kasus yang sering kita dengar tentang hubungan seksual diantara mereka, yang bisa dilihat sebagai dominasi sepihak seorang suami terhadap istrinya. Ketika (maaf) coitus terjadi, yang paling menikmati hubungan tersebut adalah suami, sementara istri hanya melayani dengan pasrah, soal istri senang, berhalangan, bagaimana merasakannya itu nomor sekian. Jika hubungan seks bagi istri itu dipandang sebagai hak, ia bisa menentukan waktunya, ruangnya dan bersedia atau tidak ia melakukannya. Baginya, jika ini terpenuhi, maka hubungan itu dirasakan sebagai kenikmatan, tetapi jika itu sebagai kewajiban, maka ia harus pasrah memenuhi keinginan suaminya, apakah baginya suka atau tidak suka. Keterpaksaan ini bagi mental istri tak lebih sebuah beban, jika tidak disebut sebagai penderita. Dan kajian buku tersebut banyak yang masih perlu didiskusikan kembali. Misalnya, bukankah tidak ada salahnya jika wanita juga bisa menjadi imam dalam sholat (seperti hadits Ummi Waraqah yang dikutip dari riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, h. 63), pekerjaan rumah tangga bukan tugas istri, melainkan tugas suami sebagai bagian dari nafkah yang harus dibayarnya (h. 85), bisa saja seorang gadis menikah tanpa wali (jika ini merujuk pada pandangan mazhab Hanafi, dengan alasan bahwa nikah itu sama dengan akad [tindakan konstraktual] yang lain h. 97) bahkan untuk aborsi(di bawah empat bulan) dengan alasan non medis, misalnya pertimbangan ekonomi, dalam fiqh itu dibenarkan (disebut aborsi 62

pilihan [al-isqath al-ikhtiyari] bukan karena kecelakaan dan bukan karena terpaksa, h. 139). Inilah diantara kajian Masdar yang masih memerlukan diskusi yang panjang. Karena ia tertolak dari pandangan fiqh, maka sah-sah saja ia menilai dan menafsirkan kembali pemahaman fiqh yang selama ini dianggap banyak dinilai kurang dipahami makna dan tujuan fiqh itu. Sekalipun fiqh adalah hukum Islam yang dijadikan rujukan sebagai pedoman dalam menetapkan hukum, terutama yang berhubungan dengan ibadah, ada hukum ibadah yang lain yang masih berakar kuat, yaitu adat atau kultur yang berkembang di masyarakat. Kadang-kadang bentuk kedua inilah yang lebih banyak berpengaruh dan menjadi bagian dari sejarah yang sulit dielakkan. Karena fiqh (dalam arti metodologi) bukanlah sebuah ilmu (melainkan hasil pematangan dari sebuah penalaran hukum melalui ushul fiqh), yang sebenarnya ushul fiqh-lah yang disebut ilmu, maka perbedaan pendapat lebih banyak pada akar permasalahan ushul fiqh, kalaupun di tingkat fiqh ada perbedaan, maka letaknya paling banyak pada bagian furu‟ iah-nya. Meskipun demikian fiqh-lah yang menggagas soal-soal hak dan kewajiban dimana ia menggadaikan hukum-hukum syari‟at yang berhubungan dengan amal mukallaf yang diambil dari dalil-dalil yang jelas. Jadi, ia tak lebih “the science of all things, human and divine” (pengetahuan tentang semua hal, baik yang bersifat manusiawi maupun kebutuhan). Wallahu „alam.

Kesehatan wanita: Sebuah keprihatinan
Beberapa waktu yang lalu, masyarakat geger ketika seseorang menemukan bayi yang masih merah. Setelah diusut, ibunya ditemukan. Diketahui bahwa ibu itu dengan terpaksa membuang bayinya, bukan karena merasa malu melahirkan seorang anak. Ibu itu telah lama menyembunyikan kandungannya dari hasil hubungan sah dengan suami yang telah menelantarkannya. Karena ingin tetap bertahan dan tetap bisa dapat uang sebagi buruh pabrik, ia terus bekerja. Bahkan ia bertahan untuk 63

menyembunyikan berat kandungannya. Ia juga tidak menangis ketika bayinya lahir. Ia kuatir tetangganya membawanya ke rumah sakit dan tidak tahu darimana ia harus membayar biaya perawatannya. Ia tinggalkan bayi merah yang disayanginya, hanya karena ia ingin mempertahankan hidupnya. Kita juga hampir tidak tahu, mungkin ia juga membawa percikan darah yang masih menetes dibalik pakaiannya ketika ia meneruskan pekerjaannya di pabrik.

* * *
Apa yang bisa kita simak dari contoh kasus di atas menandakan masih memprihatinkannya nasib wanita dalam hal kesehatan, kesempatam kerja yang memadai, hak cuti yang cukup. Tidak berlebihan jika konfrensi dunia mengenai wanita IV di Beijing September 1995 lalu, kembali menegaskan komitmen dunia untuk mengangkat isu kesehatan wanita. Konfrensi itu juga melihat perlunya tiap negara untuk mengurangi berbagai kekerasan secara fisik dan psikologi yang diterima oleh wanita. Hingga saat ini kasus kekerasan pada wanita menjadi salah satu angka kejahatan yang cukup tinggi hampir di setiap negara. Ibu itu masih bertahan hidup, tetapi jutaan kaumnya di belahan dunia sana meninggal ketika melahirkan, tiap tahun; 99% kematian akibat buruknya kesehatan reproduksi dialami oleh bangsa-bangsa yang miskin. Di Indonesia, sekitar 80 sampai 1009 orang ibu mengalami nasib naas menemui ajalnya dari 100.000 ibu yang melahirakan. Secara nasional, menurut survai kesehatan Nasional (SKN) 420-425 orang ibu meninggal diantara 100.000 persalinan hidup di Indonesia. Isu kesehatan wanita yang pernah diperdebatkan memang menarik untuk dikaji. Menurut dr. Sudjana, ketua kelompok studi Kesehatan Reproduksi FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UI, aspek yang dijadikan tolak ukur betapa rendahnya derajat kesehatan wanita dapat dilihat dengan tingginya angka kematian ibu dalam persalinan. Selain itu, Sudjana juga menyebutkan persentase penderita sakit atau gejalanya, partisipasi keluarga berencana dan aspek masalah sosial yang melibatkan wanita. Untuk persentase penderita sakit atau gejalanya, anemia sebagai salah satu tolak ukurannya. Dalam beberapa penelitian, beberapa dasawarsa terakhir prevalensi anemia di kalangan wanita pedesaan diatas 60%. Penyakit lainnya dapat dilihat dengan tingginya penyakit khusus yang diidap wanita seperti kanker rahim, kanker payudara, dan penyakit-penyakit yang berhubungan 64

dengan alat reproduksi. Sedang yang menyangkut masalah sosial dapat dilihat dengan meningkatnya tindakan kekerasan, eksploitasi tenaga kerja dan seks, merupakan bagian dari alat ukur yang dapat dipergunakan untuk menilai pembangunan kesehatan wanita. Sementara itu, salah satu dari hasil konfrensi kependudukan di Kairo pada Tahun 1994, mendesak setiap negara untuk secara langsung terlibat dan mengantisipasi problem kesehatan wanita, terutama yang berkaitan dengan fungsi reproduksinya. Dalam sebuah tulisannya dr. Kartono Muhammad menilai masih kurangnya perhatian tentang masalah yang satu ini. Harus diakui program pemerintah sudah berhasil menekan angka kematian bayi, tetapi di satu sisi kita juga tidak mengelak betapa angka kematian ibu masih cukup tinggi. Beliau mengakui bahwa kesehatan wanita, terutama kesehatan reproduksi wanita dapat porsi kecil di berbagai negara, bahkan di kalangan kedokteran sendiri. Tak ada yang begitu memprihatinkan kita semua jika masalah kesehatan wanita belum mendapat prioritas utama di negara ini. Ia masih berada di urutan yang paling bawah, sama prihatinnya kita, ketika masalah lingkungan hidup tidak pernah berhenti dibicarakan. Padahal kita semua menyadari mereka adalah penghasil SDM yang menentukan keberadaan negera di masa depan. Wallahu „alam.

65

tentang. . . .

Anak & Keluarga

66

Ketika anak adalah Anugrah
“Anakmu bukan milikmu, mereka putra-putri sang hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu. Berikan kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.” (Kahlil Jibran, dalam Sang Nabi) ketika putrinya datang, beliau berdiri menyambutnya, mengambil dan mencium tangannya dengan penuh kehormatan dan kasih sayang. “Wahai AlKautsar (yang banyak diberi anugrah) belahan jiwaku, siapapun yang membuatnya marah, iapun membuatku marah, siapapun yang menyakitinya, iapun menyakitiku”, katanya dihadapan sahabat-sahabatnya. Kadang-kadang beliau mencium dahi Fatimah sambil berkata, “Bila aku merindukan bau surga, aku mencium Fatimah”. Ya Al-Mustafa, Sayyidul Anbiya, pemimpin ummat, begitu sayangnya ia kepada putrinya, belahan jiwanya. Beliau telah mengangkat derajat wanita ketika mereka dihinakan, dikuburkan hiduphidup. Sejarah juga mencatat kepemimpinan beliau yang agung dalam memperjuangkan hak-hak seorang anak, sepenuh kasih sayang dalam mempererat hubungan bathinnya. Pada saat yang sama di zaman kita, anakanak wanita dipermoderenkan, mereka ada yang sangat bebas, saking bebasnya, mereka diajari bertingkah laku seperti wanita dewasa. Menentukan pilihan yang mereka inginkan, bahkan banyak diantara mereka yang bergaul bebas. Tengoklah anak-anak kita yang menjadi wanita-wanita penghibur yang mestinya mereka masih butuh kasih sayang dan pendidikan. Catat pula berapa diantara mereka yang jadi korban akibat tidak harmonisnya kedua orang tua mereka (broken home). Al-aqra‟ bin Haris, kaget melihat Rasulullah mencium anaknya,

“Apakah engkau mencium anakmu ?, padahal aku mempunyai sepuluh orang anak, tak seorangpun pernah aku cium”. Nabi menjawab, “Saya tidaklah sepertimu, karena Allah telah mencabut cinta dari hatimu”.

* * *
67

Islam sebagai Rahmatan lil „alamin memberi tuntunan bagaimana menjadi orang tua yang bertanggung jawab, yang mampu mengekspresikan kasih sayang dalam hidup seorang anak. “Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling menyayangi keluarganya”, kata nabi suatu kali. AlQur‟an bahkan menegaskan, bahwa perintah sesudah taqwa kepada Allah adalah memberi kasih sayang kepada keluarga. “Dan bertaqwalah kepada Allah, dengan nama siapa kamu selalu meminta dan jagalah hubungan kasih sayang dalam keluarga. Sungguh Allah selalu mengawasi kamu” (QS. 4 : 1) Anak terlahir bukanlah untuk melengkapi hidup kita sebagai orang tua, yang membuktikan bahwa sang orang tua pernah ada di dunia ini, dan ia juga datang bukan sekedar pelengkap bahagia. Ia, adalah dirinya yang lahir kebetulan dari rahim seorang wanita, lalu dibesarkan dengan kasih sayang dan dilengkapi keperluannya. Tetapi lebih dari itu, anak dalam pandangan agama adalah proses dari sebuah kata sepakat dan janji terikat, dari lembaga yang telah disahkan oleh agama dan pemerintah. Dalam kesadaran sejarah, ia lahir bukan sekedar hasil dari sebuah proses kenikmatan , tetapi lahirnya adalah sebagai tanggung jawab berupa amanah untuk selanjutnya datang memberikan sebuah evolusi kepada keturunan selanjutnya. Ia memenangkan dirinya dari sekian juta spermatozoa kemudian bersatu dengan sel ovum, lalu terbentuk zigot dan setelah empat bulan diberi ruh. Jadilah ia, dirinya sendiri, yang kelak juga bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Seorang anak, dia juga tidak hanya membutuhkan makanan yang bergizi, untuk pertumbuhan badannya (fisik). Tetapi lebih dari itu, ia juga membutuhakan makanan yang berupa kasih sayang, perhatian, pendidikan dan pembinaan yang bersifat kejiwaan (non fisik). Anak dengan pengalamanpengalamannya dalam kehidupan sehari-hari bersama orang tuanya adalah unsur penting untuk membina dan menciptakan realitasnya. Bagaimana sesuatu itu diraba, dicium, dan dirasa ; pengalaman-pengalaman ini merupakan pilar-pilar terpenting bagi pembinaan perkembangan mental emosional anak yang akan dibawanya hingga kehidupan selanjutnya. Kadang banyak orang tua tidak menyadari, bahkan menyembunyikan kasih sayangnya. Secara fisik mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan, tetapi secara psikologis, mereka haus dari belaian kasih sayang. Mereka mengalami masked deprivation (deprivasi terselubung). Sang ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ibu yang berstatus wanita karier juga tak kalah sibuknya. Maka pendidikan dan perawatan anak dilimpahkan 68

ke pembantu. Akibatnya, perkembangan mental yang mempengaruhi pengendalian diri (self control) sang anak tidak terkontrol. Kehadiran orang tua (terutama ibu) dalam perkembangan jiwa anak sangat penting. Sebab ketidak hadiran mereka dalam perkembangan jiwanya dapat mengakibatkan efek buruk yang menimbulkan suatu sindrome yang disebut deprivasi parental. Jika fungsi dan peran ibu, hak anak untuk dibina, diberi kasih sayang hilang, maka anak tersebut terkena deprivasi maternal. Bila Tnggung jawab dan peran ayah tidak berfungsi disebut deprivasi paternal. Anak-anak yang mengalami deprivasi cenderung menderita patososiologi dan gangguan kepribadiaan. Mereka mengalami rasa cemas (anxiety), tidak tentram, rendah diri, kesepian, agresivitas, negativisme (cenderung durhaka kepada orang tuanya) dan pertumbuhan fisik yang lambat. Mereka memerlukan makanan bukan sekedar makanan jasmani, tetapi makanan rohani. Kasih sayang, pendidikan agama, perhatian dan dukungan yang mengarah ke pembentukan kepribadian yang positif. Olehnya itu, proses perkembangan yang menuju pendewasaan seorang anak yang meliputi kemapanan secara fisik dan rohani bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga tanggung jawab nasional bahkan internasional. Apa yang PBB setujui pada tanggal 20 Nopember 1989 mengenai konvensi hak-hak anak (convention on the rights of the child), adalah suatu pembuktian terhadap kepedulian hak dan nasib seorang anak. Sehingga secara tidak langsung, anak sudah mendapatkan haknya sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Dalam garis besarnya, hak yang disahkan oleh PBB meliputi, hak kelangsungan hidup, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk tumbuh berkembang dan hak untuk ikut berpartisipasi. Lebih empat belas abad yang lalu, Islam sudah mencanangkan hak anak. Ketika seorang sahabat bertanya tentang hak seorang anak, Rasulullah SAW menjawab, “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia ke tempat yang baik” (Riwayat Abul Hasan).

69

Ketika anak-anak menjadi korban
Suatu hari, seorang anak datang mengadukan ayahnya kepada khalifah Umar bin Khattab ra. Terjadilah dialog ynag dikenal sejarah sebagai pengaduan anak terhadap ayah yang dianggap tidak bertanggung jawab dalam mendidik anaknya. “Ya amirul mukminin, apakah hanya orang tua yang mempunyai hak terhadap anaknya ?”. “Tidak, anak juga punya hak terhadap orang tuanya”. “Apakah hak anak terhadap orang tuanya ?”. umar bin Khattab dengan penuh bijaksana menjawab, “Hak anak terhadap orang tuanya adalah mendapat nama yang baik, kemudian mendapat pendidikan yang layak dan jika cukup usianya dikawinkanlah ia”. “ya amirul mukminin, hari ini saya meminta hakku terhadap orang tuaku”. “Memangnya kenapa ?” kata sayyidina Umar. “Pertama, dia tidak memberikan saya nama yang baik, saya diberi nama Al-Khuffasy (si kelelawar). Kedua, sampai hari ini saya belum diajari mengaji dan menulis (pendidikan). Ketiga, umur saya sudah baligh (dewasa) tetapi saya belum dikawinkan”. Seketika, Umar memanggil ayah anak tersebut dan diberi ganjaran hukuman yang setimpal atas kelalaiannya mendidik anaknya. Umar telah menjalankan sunnah nabi, bahwa hak anak terhadap orang tuanya harus dipenuhi. Tengoklah ke belakang, berapa anak yang menjadi korban dari orang tua mereka. Teriris perasaan kita mendengar seorang anak perempuan digeledah oleh ayahnya, dijadikan pembantu untuk sesuap nasi buat orang tuanya. Tengoklah di jalan-jalan persimpangan traffic light, anak-anak dengan kepolosannya diskenario menjadi pengemis, bayi dengan adegan yang sangat dramatis dibaringkan di pinggir jalan untuk menarik simpati orang lewat demi sekeping rupiah. Cukupkah penderitaan mereka dari sikap orang tua saja ? ternyata tidak. Ketika PBB mengesahkan hasil konvensi hak-hak anak (Convention on the rights of the child) tanggal 20 Nopember 1989, mereka mencanangkan hak-hak anak yang perlu mendapatkan perhatian warga dunia. Hak-hak anak 70

itu meliputi hak kelangsungan hidup, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk tumbuh berkembang dan hak untuk ikut berpartisipasi. Tetapi toh nasib anak-anak tidak berubah betul. Begitu banyak penderitaan yang mereka alami. Masih ingat kekejamam tentara Rusia selama perang di Afganistan, banyak yang menemui ajalnya, kalau tidak cacat seumur hidup atau paling ringan hilang salah satu anggota tubuhnya. Bukalah mata anda, dan lihatlah di tv bagaimana sadisnya tentara separatis Serbia terhadap bombardir mereka, menyapu rata, tidak kenal orang tua atau anak, semua jadi korban. Beribu-ribu anak gadis kehilangan masa depan mereka akibat nafsu kebinatangan tentara Serbia. Tengoklah anak-anak di dunia ketiga lainnya, di Zaire, Rwanda, Etiophia, India, Pakistan, Bangladesh dan sebagainya. Mereka terpuruk dalam kemiskinan, kekurangan gizi dan keterbelakangan pendidikan. Ketika UNICEF menyelenggarakan konferensi dunia tentang anakanak di markaz PBB, New York, 29-30 September 1990, para pemimpin dunia seperti Mikhael Gorbachev, George Bush, Francois Mitterand, Margareth Tatcher ikut hadir, hanya sekedar mendukung keprihatinan nasib anak-anak. Mereka membicarakan mengenai pencegahan penyakit, gizi, pendidikan, gelandangan, anak-anak terlantar, eksploitasi tenaga kerja anak-anak dan dampak AIDS dalam kehidupan anak-anak.

* * *
Apa yang lebih penting dari sekedar berkumpulnya para pemimpin dunia membicarakan nasib makhluk kecil yang kelak memimpin dunia ini. Tidak lebih dari itu, para pemimpin dunia lebih senang mengadu teknologi dan kekuatan senjata. Kalau perlu menciptakan nuklir secara diam-diam buat menghancurkan sesama mereka. Berapa banyak bom yang dijatuhkan untuk membunuh anak-anak di Iraq, berapa banyak senjata biologi (hujan kuning) yang dijatuhkan untuk membuat anak-anak cacat di Afganistan, berapa ribu butir peluru yang dimuntahkan untuk membinasakan anak-anak di Bosnia. “Agaknya manusia itu suka perang”, kata Homer Lea, sejarawan Amerika. James P. Grant dalam State of The World‟s Children Report, 1990, menulis, “Selama 50 Tahun sejak 1992, dunia disibukkan terus menerus dengan perang, ancaman perang menahan perang, mempersiapkan perang dan membayar perang. Dalam semua bentuknya, perang telah menghancurkan kehidupan ekonomi kita, meruntuhkan industri, mendominasi penelitian dan pengembangan serta menyimpan pikiran-pikiran ilmiah terbaik dari dua 71

generasi”. Seluruh derita perang ini paling berat dipikul oleh anak-anak kita. Kesejahteraan mereka dikorbankan, kesehatan mereka dihancurkan, dan masa depan mereka dirusakkan (Jalaluddin Rahmat dalam Islam Aktual, 1991 hal 181-182). Negara ketiga yang mestinya lebih memprioritaskan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan anak-anak di negara mereka, justru menjadi negara pemasok senjata terbesar. Tahun 1987 saja, mereka membeli 75 persen dari seluruh senjata yang diperdagangkan. Meningkat dari 20 persen senjata yang mereka beli pada tahun 1969. mereka juga membeli produk industri dari barat dengan alasan untuk pengembangan teknologi. Sementara mereka terus ketinggalan dari teknologi yang terus berkembang di barat. Dari mana mereka membeli senjata dan teknologi. Dengan bahasa klise mereka menyebutnya sebagai bantuan yang sebenarnya adalah pinjaman yang harus diangsur-angsur pelunasannya beserta bunganya, sisanya adalah dana nasional yang terbatas. Mereka harus membayar dengan menanggung lebih dari 187 milyar dolar AS hanya untuk pinjaman saja. Anak-anak bermasalah tidak hanya dialami di negara dunia ketiga. Tak kalah serunya, anak-anak di negara maju juga menjadi korban dari peradaban dan kecanggihan teknologi, ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, sudah harus meninggalkan rumah ketika anak-anaknya masih mimpi indah, dan pulang ketika anak-anaknya sudah terlelap, ibu yang dengan segudang aktivitasnya di luar ketika pulang juga tak mampu lagi berkomunikasi dengan anaknya. Segala perlengkapan yang mereka miliki, dari permainan sampai komputer rupanya hanya memperburuk hubungan anak dan orang tuanya. Sebab kasih sayang dan hubungan bathin dengan orang tua tidak dirasakan, ditambah kehidupan dan pergaulan bebas di kalangan mereka. Amerika Serikat saja, dewasa ini menghadapi permasalahan besar yang menyangkut nasib anak-anak mereka berupa kenakalan anak/remaja dan penyalahgunaan obat (drug abuse). Sebagian besar dari anak-anak yang terlibat dalam kenakalan dan penyalahgunaan obat tersebut mengalami gangguan kepribadian (personality disorder drug abuse). Sebagian besar anak-anak yang terlibat dalam kenakalan dan penyalahgunaan obat yang salah satu diantaranya adalah bentuk psikopatik bila kelak telah dewasa akan memperlihatkan berbagai perilaku anti sosial, antara lain tindak kejahatan /kriminal yang pada akhirnya mengganggu ketenangan dan ketertiban masyarakat. Mereka adalah korban dari keluarga yang tidak sehat dan tidak bahagia. Akibat dari ketidakberadaan orang tua atau karena tidak berfungsinya orang tua sebagaimana mestinya (deprivasi 72

parental). Produk teknologi modern ikut mendukung terbentuknya pribadi mereka dalam beradaptasi serta berbuat seperti orang dewasa. Entah itu ayah mereka yang kurang ajar, ibu mereka yang pernah ingin menggugurkan mereka, majikan mereka yang memberikan upah dibawah UMR (Upah Minimum Regional) ataukah pemimpin-pemimpin mereka yang tidak sepenuhnya memberikan fasilitas bagi hidup dan hak mereka sebagai warga negara.

Anak-anak dan Transformasi Moral
73

Dalam kajian ilmu bedah anak, ada disebutkan bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa. Mereka adalah makhluk yang masih berada dalam proses pembentukan dan perkembangan menuju pematangan menjadi orang dewasa. Tetapi mengapa banyak orang dewasa tanpa sadar menjadikan seorang anak menjadi miniatur orang dewasa. Mereka membentuk karakter dan perilaku anak-anak menjadi lebih matang dari usianya, ibarat buah pisang yang mestinya masih menunggu beberapa hari menjadi masak diberi karbit agar cepat matang. Ada juga beberapa perilaku orang tua menjadikan anaknya sebagai bahan eksperimen hidup untuk memuaskan ambisi kemodernannya dan naluri bisnisnya. Di sebuah pesta anak-anak mereka didandani seperti boneka hidup dengan pakaian yang sangat vulgar, menyolok dan mengabaikan etika. Di pentas kontes-kontesan anak-anak yang semestinya dididik akhlaknya sejak dini diubah perilakunya untuk tampil menor dengan pakaian yang sangat seksi untuk ukuran orang dewasa. Seorang ayah pernah menceriterakan bagaimana bangganya anaknya ikut berbagai peragaan show dan pemilihan ratu-ratuan. Ia rela mengeluarkan uang ratusan ribu untuk pakaian yang dilombakan tanpa berpikir apakah mode pakaian itu cocok untuk usia sebaya anaknya. Di depan layar kaca beberapa anak sangat bersemangat menyanyikan lagu-lagu yang semestinya untuk konsumsi orang yang kasmaran. Tanpa peduli siapa yang mengajari mereka bergerak dan bergaya aerobik, mereka seolah sudah dipersiapakan untuk membentuk karakter seperti yang diinginkan oleh orang tuanya. Apa yang anak-anak polos itu lakukan secara perlahan tapi pasti telah mempengaruhi berjuta-juta anak yang menonton perilaku mereka. Inilah sebagian pentas ajang mengajari anak berakhlak buruk sebelum mereka beranjak remaja. Bentuk infasi orang tua yang memaksakan kehendaknya dalam memenuhi tuntutan hidup dan menciptakan proses akhlak yang salah terhadap anak-anaknya, pada hakekatnya melahirkan proses deintelektualisasi. Keluguan dan kebebasan seorang anak dipentaskan di tempat-tempat hiburan tanpa muatan kualitas nalar selain terbatas pada kreativitas lomba kepalsuan. Yang kita takuti polesan mereka di masa dini itu melahirkan bekas yang terus dibawa pada masa remaja hingga dewasa. Sehingga pantas jika beberapa anak yang beranjak pra-remaja (ABG) memperlihatkan kegagahannya namun tidak membawa nalar kemanusiaannya, hingga terus dewasa tidak punya perspektif ke depan. Laga hura-hura dan kesenangan semu menjadi bagian hidup baru yang terus dikejar. Mereka 74

dibatasi pandangannya terhadap hidup, sebab sedari kecil mereka kurang diperkenalkan bagaimana mengakumulasi bentuk pendidikan bathin (dzikir) dan olahan otak (fikir) itu dalam bergaul, berakhlak dan bercita-cita setinggi langit. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami masa transisional dan bingung menghadapi hidup. Apa yang tampak sebagai dekadensi moral dan etika bisa jadi sekedar merupakan tahap dimana berlangsung transformasi nilai etika yang belum tiba pada kesepakatan baru. Shaf kosong pada masa transisional itu dimanfaatkan oleh nafsu kebebasan, syeitan pergaulan, egosentris dan pengaruh budaya lainnya (other directed).

* * *
Anak-anak kita bagian dari hidup serta amanah Tuhan adalah jiwa yang terus mengumandangkan ide-ide kita setelah kita pamit. Mereka hanya ada karena keberadaan kita, namun mereka bukanlah hak mutlak milik kita. Ia adalah anak panah yang dilepaskan dari busurnya, tetapi ia bukan bagian dari kita. Mereka hidup bukan pada zaman kita, tetapi kedatangannya membawa terus nama orang tuanya. Jika seorang anak berhasil dalam menggapai cita-citanya, bukanlah keberhasilan itu miliknya, orang tuanyalah yang berhasil, orang tuanyalah yang disebut, bukan anak itu. “Wahai orangorang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang dijaga oleh malaikat-malaikat yang kasar yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim : 6).

75

Anak-anak kita dan kotak ajaib itu
ketika anak-anak itu asyik bermain, tiba-tiba dari arah yang tidak diketahui, muncul seoarang lelaki dengan sikap yang manis. Kepada anakanak yang bermain itu, si lelaki mengaku anggota ABRI dan juga anggota ninja. Dengan kepiawaiannya, ia mendemonstarasikan kebolehannya melempar pisau ke beberapa pohon dan tepat mengenai sasarannya. Fajar dan kawan-kawannya dibuat kagum. Selanjutnya kepada anak-anak itu, ia menyatakan sedang mencari anak-anak kecil untuk dididik menjadi anggota ninja. “Apakah kalian mau menjadi ninja ?”, tanyanya. Serentak Fajar dan kawan-kawannya menjawab, “Mauuuuu”. “Kalau mau, siapa yang punya mesin ketik ?”, tanyanya lagi. Fajar mengacungkan tangan sebagai tanda dia mempunyai mesin ketik yang dimaksud. “Kalau begitu, bawa kesini”, pinta sang „ninja‟ sambil menjelaskan, bahwa mesin tik itu untuk mengetik kartu anggota ninja. Sementara yang lain diisuruh mengambil kamera untuk memotret anggota ninja yang ada di bawah tanah, jelasnya kepada anakanak. Ketika mesin tik dan kamera merk nikon itu tersedia, lelaki itu mulai sibuk mengetik. Entah apa yang diketiknya, sebab anak-anak tak boleh melihat. Setelah itu, sambil menenteng mesin tik dan kamera, ia berkata akan memotret anggota ninja yang berada di bawah tanah, anak-anak tak boleh ikut, mereka disuruh menunggu di lapangan sampai kembali. Maka pergilah sang „ninja‟ dengan membawa mesin ketik dan kamera merk nikon itu tanpa kembali, hingga hari semakin sore dan anak-anak bubar ke rumah masing-masing karena tak sabar menunggu. (majalah Ummi, nomor 2, tahun ketiga). Seorang anak lain dari tas, sepatu, stiker, kaos oblong dan atribut lainnya tidak lepas dari pengaruh Batman. Ada yang menyukai Satria Baja 76

Hitam, sehingga hampir habis perabot rumah dijadikan bahan sasaran pedangnya. Jengkelnya, jika dilarang, anak-anak tersebut pasti menangis. Mereka ingin membentuk karakter dengan dunia fantasinya sendiri, seperti film-film heroik yang ditampilkan di televisi.

* * *
Begitulah, banyak anak-anak menjadi figuran tokoh-tokoh serial televisi yang mereka idolakan. Dan yang pasti, mereka yang tidak tahu menahu menjadi tertipu akibat sangat kagum terhadap tokoh idolanya. Tidak sedikit kasus yang kita dengar, cukup mengerikan di telinga, akibat pengaruh televisi yang dicontohi anak-anak. Praktek kekerasan hingga kejahatan seperti contoh di atas, seringkali terlewati hanya sekedar kasuistik yang tidak mendapat respon serius. Televisi sebagai second hand reality, mampu menyajikan realitas kedua yang merupakan salah satu kekuatan televisi. Dari kotak kaca yang mungil itu yang juga berfungsi sebagai jendela dunia, kita dipaksakan untuk mendefinisikan situasi sesuai kehendak elit pengelola informasi. Jangan tanya ibu-ibu lewat penayangan telenivela, sehingga menimbulkan banyak kasus, entah itu masalah dapur sampai kasur, yang banyak menjadi korban. Anak-anakpun ikut menjadi korban tak berdosa akibat penayangan televisi tanpa filter yang yang ekstra ketat. Masih terasa di angan-angan betapa kita belum aman, ketika stasiun TVRI masih merupakan stasiun TV tunggal di Indonesia. Pembicaraan orang tua yang menjadi problem, masih berkisar jam-jam penayangan sehingga masih sulit diatur, dimana bertepatan dengan waktu sholat Maghrib, khususnya mengaji bagi anak-anak, belum lagi waktu belajarnya. Rasa ketidakamanan itu kemudian semakin pelik, ketika stasiun-stasiun tv swasta bermunculan, dari RCTI, SCTV, TPI, AN-TV, sampai INDOSIAR saling berkompetisi merebut hati pemirsa, sehingga nilai etik sering terabaikan. Problem serius yang muncul kemudian, betapa anak-anak kita lebih banyak waktunya di “kotak ajaib” itu, ketimbang untuk belajar atau bermain. Efek sadistik yang ditakuti seperti yang diramalkan oleh George Gerbner, seorang pakar komunikasi dan peneliti televisi di Amerika Serikat, yang sudah mulai nyata di negara-negara maju, adalah bahwa televisi telah menjadi “agama masyarakat industri”. Televisi telah menggeser agamaagama konvensional, ceramah-ceramahnya telah didengar dan disaksikan langsung di seluruh dunia. Rumah ibadatnya telah tersebar di seluruh 77

belahan bumi, ritus-ritusnya diikuti dengan penuh khidmat, dan boleh jadi para pecinta dan pengikutnya melebihi agama-agama besar yang pernah ada. Celakanya, sebagian besar yang menjadi korban ritualnya adalah anak-anak yang pertumbuhan fikirannya dipaksa, akibat dicekoki sajian-sajian yang mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Mereka mampu berjam-jam melototi “benda aneh” itu. Boleh jadi dari segi efektifitas waktu, mereka telah kehilangan masa kanak-kanaknya, dalam arti kehilangan kesempatan ber-sosialisasi yang hanya bisa dikembangkan melalui pergaulan dengan temannya. Dalam ilmu kejiwaan, ternyata pengaruh sosialisasi pada masa perkembangan si anak punya arti penting dalam menapaki perkembangan kreativitas dan inovasi si anak. Dari segi pembentukan akhlak, jelas televisi ikut bertanggung jawab. Karena televisi telah menjadi sahabat anak-anak, bahkan menjadi anggota keluarga tak resmi, maka sadar atau tak sadar, televisi ikut menentukan terbentuknya kepribadian yang diciptakan lewat dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar khutbah-khutbah di televisi lebih berkiblat ke barat, yang nota bene berdampak sekularisasi. Plus, siaran-siaran televisi dari luar negeri yang disajikan melalui parabola. Sehingga televisi menjadi sahabat, jika pesannya baik, ikut membentuk perilaku baik bagi sang anak. Begitupun dampak jelek yang diciptakannya, ikut merubah kepribadian fitrahnya. Persis pesan Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tarmidzi dan Imam Abu Dawud, “Seseorang mengikuti agama sahabatnya karena itu,

perhatikanlah kepada siapa orang itu bergaul”.

Kepada orang tua, para guru, yang ikut prihatin jika nilai anak-anak jelek atau akhlaknya buruk, tak bisa disalahkan secara langsung karena tak bisa mengatur dan mengajari mereka bagaimana mendidik anak menjadi pemirsa yang baik dengan cara : tahu memilih, bisa mengadakan evaluasi, dan mampu menginterpretasi acara yang disajikan.

78

Pedofilia, Anak-anak dan rekayasa Sosial
Tiba-tiba kita dikagetkan dengan tragedi anak-anak jalanan tanpa dosa yang menjadi korban kebuasan seksual baru-baru ini yang ramai diberitakan di koran. Fenomena ini oleh seorang pengamat sosial bukanlah hal yang baru terjadi, sebab di bawah permukaan banyak anak-anak mengalami kebuasan seksual oleh orang dewasa. Bahkan tidak jarang diakhiri dengan kematian yang tragis. Dalam kehidupan, seks merupakan energi psikis yang ikut mendorong suksesnya manusia untuk aktif bertingkah laku. Seks tidak hanya dilakukan sebagai relasi seksual atau bersenggama, tetapi juga bersifat non- seksual untuk melakukan berbagai kegiatan, misalnya ikut berprestasi di bidang pengetahuan, seni, agama, sosial, budaya dan sebagainya. Oleh Freud, seks sebagai libido seksualitas menjadi motivasi atau tenaga yang mendorong untuk berbuat dan bertingkah laku. Hal yang mendasari manusia untuk memenuhi dorongan nafsu biologisnya yaitu karena adanya “kemampuan” dan “arah-tujuan”. Sedangkan arah tujuan meliputi objek seksualitas dan maksud seksual. Pada kedua ospek terakhir ini, dapat saja terjadi gangguan yang ternyata tidak saling berhubungan, yaitu gangguan pada satu aspek bukan gangguan pada aspek yang lain, misalnya homoseksual (gangguan arah-tujuan) bukan kerena hiperseksual (gangguan kemampuan). 79

* * *
Norma-norma agama meyebutkan, bahwa hubungan seksual yang sehat harus dilakukan dalam batas-batas yang etis/susila demi menjamin kebahagiaan pribadi dan ketentraman masyarakat. Kontrol dan regulasi perlu dilakukan terhadap dorongan-dorongan seks dan impuls-impuls seks, agar tidak terlampau ekssesif dan meledak-ledak sehingga bisa melemahkan jasmani dan rohani. Juga agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran dan bentrokan, karena akan mengobrak-abrik privallage serta hak-hak asasi pribadi. Dengan adanya dua persyaratan, “normal” dan “bertanggung jawab”, maka relasi seks seyogyanya dilakukan dalam suatu ikatan yang teratur, yaitu dalam ikatan perkawinan yang sah. Adapun bentuk dari penyimpangan seksual (abnormalitas) dalam pemuasan dorongan seksual dibagi dalam tiga golongan: (1) dorongan seksual abnormal, termasuk prostitusi, frigiditas, perkosaan, impotensi, ejakulasi prematur, dst; (2) oleh partner seks yang abnormal seperti homoseksual, bestiliaty (dengan binatang), nekrofilia (dengan mayat), pedofilia (dengan anak), wifeswapping (tukar istri), misofilia, koprofilia, urofilia (memakai kotoran, apakah tahi atau urine untuk pemuasan seks), dsb. Dan (3) dengan cara-cara abnormal dalam pemuasan seksualnya, seperti masturbasi, sadisme, masokisme, voyeurisme (melihat orang bersenggama), ekshibionisme (mempertontonkan alat kelaminnya), transvertitisme (senang memakai lawan jenis), transseksualisme (banci) dst. Apa yang tejadi baru-baru ini tentang kejahatan seks oleh seorang lelaki dewasa terhadap anak-anak adalah bentuk relasi seks abnormal dan perverse (buruk, jahat) yang didasari (1) tidak adanya tanggung jawab; (2) didorong oleh kompulsi-kompulsi (paksaan) dan (3) didorong oleh impulsimpuls yang abnormal. Lelaki yang berprilaku abnormal dalam menghayati makna seksual seperti pedofilia ini memang lebih cenderung mengalami gangguan deviasi seksual (terganggunya arah tujuan seksual). Arah dan tujuan seksualnya bukan lagi merupakan partner dari seks yang lain dalam hubungan heteroseksual yang umumnya dianggap biasa. Cara utama untuk mendapatkan kepuasannya adalah dengan objek lain yang tidak lazim. Mereka terangsang ketika misalnya melihat paha anak-anak, yang mulus dan polos. Kasus seperti ini boleh jadi bersifat primer (belum diketahui), bisa juga sekunder karena faktor lain, misalnya gangguan aterosklerosa otak, 80

skizofrenia (gangguan berpikir) dsb. Bahkan bisa bersifat temporal, sementara waktu jika tidak ada partner heteroseksual. Anak-anak tanpa dosa menjadi korban kebringasan seks dari rekayasa sosial yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sehingga menyeret mereka kepada dilema hidup akibat keterhimpitan ekonomi yang mereka tebus setiap saat dengan harga, kehormatan dan jiwanya. Mereka menjadi terlantar, sulit diurus dan pada akhirnya mereka dengan mudahnya diibujuk beberapa rupiah untuk memuaskan seksual seseorang. Itulah realita dan menjadi tragedi nasional.

Anak korban Machtino Complex
Seperti orang tua lainnya, Pak Ilham menginginkan anak laki-laki, biar ada yang meneruskan generasi perkasanya. Ketika menanti anak ketiga lahir, besar harapannya, jabang bayi lahir dengan kelamin laki-laki. Tuhan mengabulkan do‟anya, anaknya lahir dengan melebihi berat badan anak seusianya. Anak itu kini sudah berusia 7 Tahun. Tumbuh dengan normal, lincah dan menunjukkan tanda-tanda kecerdasan dan bakat yang dapat 81

diandalakan. Seperti cita-citanya tujuh tahun yang lalu, terpikir di benak pak Ilham bahwa anaknya harus melebihi dirinya, kalau perlu melebihi orang lain dari berbagai hal. Ketika berusia 5 tahun, anak itu sudah dibawa ke Masjid untuk belajar mengaji dan shalat. Ketika berusia tujuh tahun, anak itu khattam Al-Qur‟an, bahkan beberapa surah pendek sudah dihapalnya. Pak Ilham belum puas, duduk di kelas 1 SD, ia membawa anaknya ke tempat kursus Bahasa Inggris. Setiap hari anak itu harus diawasi bermainnya. Takut nanti ada yang terlewat vocabolarynya, sehingga ia bisa tertinggal pelajaran. Segala PR dan hasil pelajaran sekolah harus dilaporkan sepulang dari bekerja. Jika teman-teman Baco datang untuk mengajaknya main, harus selesaikan dulu Pr-nya atau rotan akan melayang. Sebab, usai maghrib ia harus ada di masjid. Lepas Isya pelajaran informal menanti dan itu harus dipelajari. Setiap minggu, majalah anak-anak atau korcil harus sudah selesai dibacanya. Pak Ilham punya cita-cita untuk anaknya. Setiap hari Baco harus belajar dihadapan ayahnya yang asyik membaca koran atau nonton tv. Jangan harap Baco terlihat menguap, pasti rotan besar akan hinggap di punggungnya. Kemerdekaan baru dirasakan Baco ketika jam di dinding berbunyi sepuluh kali. Pak Ilham berharap anaknya bisa menjadi orang. Pandai berbahasa Inggris, bisa ngomong apa saja, dari politik sampai soal agama. Ia juga ingin anaknya melebihi cita-citanya, jika bisa menjadi intelektual muslim seperti yang sering ditonton pada pengajian subuh di TV-TV swasta. Seluruh aktifitas keseharian Baco sudah dibuatkan time-scedulenya, sehingga anak itu tak ubahnya seperti robot yang harus menuruti remote control dari sang ayah. Ada sesuatu yang sering menggelisahkan bathin pak Ilham, jika melihat ada angka yang tidak memuaskan pada hasil ulangan anaknya. Kegelisahan itu juga sering menghantui dirinya jika Baco sering dibela ibunya, manakala sang ibu melihat Baco tidak mood lagi belajar. Pernah ia memukul baco hingga hampir pingsan ketika mengetahui PR Baco tidak dikerjakan akibat asyik bermain dengan temannya. Untung ibunya menyelamatkannya, namun sang istripun kena damprat. Dibanding kedua kakaknya, perlakuan terhadap Baco terbilang istimewa, baik dalam pengawasan maupun dalam pendidikan. Sebab sang ayah menginginkan figur dirinya dan orang-orang hebat melekat pada diri Baco. 82

* * *
Perlakuan pak Ilham adalah sebuah contoh dari perilaku “Machtino Complex”, yaitu suatu penyakit kejiwaan yang sering diderita orang dewasa yang merasa gagal dalam hidupnya. Machtino komplex bisa menjadi trend dikalangan orang tua yang memaksakan kemauannya, agar sang anak 100% menuruti kehendaknya. Orang tua bisa frustasi, bahkan ada sampai yang membunuh anaknya hanya karena ambisinya tidak tercapai oleh target yang dilakukan sang anak. Para Machtino komplex dengan sifat otoriter dan kaku, seringkali lupa bahwa seorang anak juga mempunyai hak hidup yang sama. Mereka menganggap bahwa anak adalah hak pribadinya dan merupakan generasi penerus yang bisa diatur menurut ambisinya. Sekalipun dari satu sisi, dengan kecintaannya, orang tua menginginkan anaknya menjadi baik, jujur, disiplin, dan patuh, sementara mereka berpura-pura suci dan sok disiplin. Kecintaan yang dipraktekkan oleh orang tua seperti ini seringkali hanya menciptakan kehidupan kamuflase dan menimbulkan intrik-intrik yang menimbulkan konflik dan ketakutan dihadapan orang tua. Anak tidak bisa lagi merasakan dunianya yang penuh canda, dan kemerdekaan bermainnya sirna. Padahal seorang anak sangat sulit menerima nilai-nilai orang dewasa, mereka punya dunia sendiri.

83

Mengasuh Anak, keramat hidup
Pada keadaaan dan hal-hal tertentu, terlalu banyak manusia tidak peduli terhadap alam di sekelilingnya. Begitu banyak yang mestinya dipedulikan oleh manusia, seolah-olah menjadi tayangan yang terlewatkan bersamaan waktu yang dikejarnya dengan kesibukan untuk memunuhi ambisi pribadi. Bahkan pada suatu saat tiba-tiba manusia menjadi makhluk yang paling cuek dengan dunia rohaninya. Ia menjadi terjepit diantara harapan dan kenyataan dalam alam nyatanya. Ia hanya mampu berpikir kreatif ketika problem yang mendesaknya untuk bertindak cepat, harus dituntaskan, tak terkecuali yang sangat sepelepun sifatnya. Apa yang terjadi pada diri kita pada suatu saat seperti itu, tak lebih akibat pengaruh egosentris yang menyelimuti kalbu kita. Mungkin banyak juga yang tidak tahu atau pura-pura lupa, sehingga menganggap saat ini adalah segala-galanya. Masih untung jika kita tidak terjebak dalam pemahaman kaum pesimis yang menganggap hidup seperti yang diungkapkan mereka, ”Segala yang lalu telah tiada, segala yang ada sekarang tiada memadai”. Mereka, kaum pesimis seandainya disuruh memilih, lebih suka tidak pernah ada dan hidup di dunia ini, dan puas dengan “damainya ketiadaan yang serba berkecukupan” (the peace of the all-sufficient nothing). Banyak yang tidak menyadari hari esok dan masa-masa mendatang adalah hari yang paling menentukan bagi perjalanan kita hari ini. Pada diri manusia, ada dua alam yang dimilikinya, yaitu alam nasut dan alam malakut. Alam nasut atau alam materi adalah alam yang kita rasakan atau kita persepsi dengan alat-alat indra kita. Semua yang dimiliki dari alam tubuh (mata, telinga, mulut,dsb) dan luar tubuh (rumah, pakaian, anak dan sejenisnya) berada dalam alam materi. Sedang ruh kita adalah bagian dari alam malakut, karenanya manusia ditarik oleh kedua alam ini sekaligus. Semakin manusia tertarik di alam nasut, semakin tertarik dia pada alam materi, sebaliknya semakin jauh ia dari alam manakut, selain ibadah yang menghasilkan amal, ada ibadah yang bisa mengantar kita lebih dekat di alam malakut, meskipun keberadaan materi (harta) tidak bisa diabaikan. Itulah anak-anak yang saleh. 84

Pada suatu hari kelak, ketika malaikat izrafil datang, kematianpun menjemput, maka berhentilah seluruh aktivitas hidup, termasuk ibadah kita. Kalau kita memiliki amal jariyah, misalnya dengan harta kita sebuah masjid didirikan, insya Allah ia menjadi investasi simpanan akhirat yang menghasilkan bunga deposito amal, yang diterima terus ketika berada di kuburan. Tetapi jika amal jariyah juga tidak ada, kita masih memiliki anak sholeh yang senantiasa mendo‟akan orang tuanya. Jika anak itu menjadi terdidik dengan akhlak mulia dari hasil pendidikan orang tuanya, maka orang tuanyapun terus menerus mendapat kiriman pahala dari do‟a atau amal ibadah lain dari anaknya. Wal hasil, anak saleh yang terdidik atau diberi pendidikan yang layak dan Islami adalah keramat hidup yang harus disyukuri selama orang tua hidup, terlebih ketika meninggal dunia. Mereka inilah yang bisa menjadikan diri kita tertarik ke alam malakut. Tak terhitung berapa banyak orang tua tertolong oleh amal ibadah dari sang anak.

Cerai
Fulani dilamar oleh seorang laki-laki berakhlak baik dan punya pekerjaan yang tetap. Namun, herannya ia menolak laki-laki itu tanpa alasan yang jelas. Setelah ditelusuri faktor tressornya (penyebabnya), Fulani pernah depresi ketika orang tuanya bercerai.

Fulani kecil menyaksikan bagaimana ayah dan ibunya bertengkar dengan persoalan-persoalan yang kelihatannya sepele namun bisa membuat rumah seperti neraka. Entah itu persoalan makanan yang kurang garam, uang belanja yang tidak cukuplah, sampai masalah anak-anak. Makian dan cacian 85

* * *

adalah menu yang sudah biasa di telinga Fulani. Hampir setiap saat ada saja perabot rumah yang tumbal, piring yang melayang, sepatu yang terbang, kursi yang terbanting dan entah apalagi. Fulani masih ingat jelas bagaimana ayahnya menampar ibunya dan menarik rambut ibunya. Giliran ibunya membalas, tak kalah gesitnya, yang nyaris merobek perut ayahnya. Rumah itu baru dikatakan damai setelah adanya gencatan senjata berupa palu yang diketukkan hakim agama untuk memutuskan perceraian atas keduanya. Fulani memilih ikut kepada ibunya, sebab dimatanya, ibunyalah yang paling banyak menderita dan tertekan batinnya. Tanpa disadari kedua orang tua itu telah membentuk watak-watak yang sedikit banyaknya bisa merubah kepribadian bagi anak-anak mereka, tak terkecuali Fulani. Banyak orang beranggapan, bahwa perceraian hanyalah merupakan berpisahnya pasangan yang terikat perkawinan yang legal. Jauh sebelum perceraian legal terjadi, perceraian secara emosional sudah terjadi. Proses dari perceraian emosional sampai ke perceraian legal terjadi sering kali memakan waktu lama, dan hal ini memberikan pengaruh yang buruk bagi anak-anak. Perkawinan sebagai suatu amanah dan sunnah Nabi hanya dapat dikenang ketika manisnya telah direngguh, perkawinan yang semestinya makin lama semakin menimbulkan mawaddah wa rahmah mestinya semakin memperkukuh komitmen untuk saling menghormati dan saling menjaga muru‟ah. Namun ketika pasangan telah dianggap sebagai lawan, dan secara diam-diam timbul niat untuk merusak tatanan yang dipupuk itu menjadi rapuh, maka dari sinilah dimulai sebuah malapetaka yang bisa merusak hidup turunan. Banyak pengalaman di masyarakat menunjukkan bagaimana misalnya seks dan uang makin sering dijadikan „arena‟ antara dua manusia yang bertengkar dalam perkawinan sekalipun sebab-sebab lain sangat banyak. Ada suami sering menyebutkan kesukaran-kesukaran dengan keluarga pihak istri, mengeluh mengenai ketidakcocokan dalam seksual, pemalas, pemboros dan acuh tak acuh. Namun tak kalah serunya, sebagian wanita mengeluhkan bahwa rumah tangga dan anak-anaknya diterlantarkan, kekurangan kasih sayang, mental cruelty (kejam, kikir, suka menyendiri, mata keranjang dan cemburu berlebihan). Sekalipun perceraian adalah perilaku halah, namun sangat dibenci Tuhan. Aspek yang ditimbulkannya tidak kalah bahayanya dibanding mereka jika tidak cerai. Seorang anak yang orang tuanya bercerai seperti berada di tengah „tim kuda‟, dimana suatu waktu ditarik ke salah satu pihak, pada kesempatan lain ia bisa ditarik oleh keduanya. Dia berusaha menyesuaikan 86

dirinya terhadap pergerakan kedua kuda tersebut. Anak-anak menjadi terhimpit diantara konflik-konflik yang menyangkut loyalitas. Dia berusaha untuk bisa bekerjasama dan memahami kedua orang tuanya yang dianggapnya „gila‟ dan saling tidak mau tahu dengan yang lainnya. Anak tanpa bimbingan dan kasih sayang, misalnya kerena perceraian orang tuanya, cenderung mengalami gangguan psikososial lebih kompleks dibanding dengan anak-anak yang masih memiliki orang tua lengkap seusia mereka.

87

Menuju keluarga pasca modern
Seperti biasa, sebelum ia pergi gosok gigi, ketika bangun dari tidurnya, adalah menyalakan PC (Personal Computer) yang bentuknya mungil terdapat di kamar tidurnya. Dengan PC jinjing mutakhir Toshiba. Danial Dg. Rewa seorang eksekutif mapan dibidangnya , mengecek bursa saham pagi itu. Jika ia kurang jelas memahami deretan-deretan angka yang kadang membingungkan itu, atau ingin mengetahui perkembangan selanjutnya, ia tidak repot, cukup ia menyambung PC-nya ke PC lain. jadi disini, fungsi PC, bukan lagi sebagai power full yang berdiri sendiri. Sejumlah solusi-solusi baru, mulai dari bridges, routers, brouters, hingga macam-macam konfigurasi virtual networking dan port mobile hub dapat diperkenalkan. Pada saat yang sama, usai sarapan pagi, ia menyambung ke akses informasi menuju dunia luar, dimana ia dapat menghubungi mitranya , berjumpa dan berkomunikasi secara face to face. Ia juga dapat mengetahui isu-isu menyangkut profil trend bisnis di masa depan, orientasi pengembangan produk dan strategi pasar. Komputer sudah menjadi bagian dari penunjang kariernya. Sebegitu pentingnya, kadang-kadang ia memanfaatkan PC untuk proses pengambilan keputusan dalam rapat. Dengan bantuan alat lain yang ada di rumahnya, yaitu teleconferencing (konferensi lewat telepon) Pak Daniel tidak usah ke kantor untuk memimpin rapat, keputusan sudah jelas setelah adanya bantuan PC. Dibantu dengan mouse, ia dengan leluasa bisa mencari informasi di luar dari bidangnya. Sampai ia dapat memasuki perkampungan global, semacam internet.

* * *
Di ruangan lain istrinya asyik menggunakan remote control dari sebuah tv berukuran 35 inci, dimana 1 layar bisa menyajikan 2 stasiun TV, yang dilengkapi antene Parabola yang bisa menjangkau tiga perempat dunia, sambil menikmati sarapan pagi, berupa telur setengah masak dua butir ditambah susu coklat yang kadar lemaknya sudah dikurangi dan sederetan obat-obat diet yang ada di atas meja, Maria Dg. Mappigau memperlihatkan resep masakan cara membuat sphageti dari channel TV Italia, sedang channel lainnya memuat acara hiburan dari stasiun CNN. Tiba-tiba telepon berdering dari teman arisannya. Ia mendengar kabar, perancang Helmut 88

Lang di Paris, baru saja meluncurkan mode techno glamour, yang bahannya dari sutra mirip plastik. Buru-buru ia merubah channel TV ke perancis, dengan mimik yang serius ia memperhatikan fashion show yang digelar dari salah satu boutique yang terkenal di Paris. Karena gaun yang diminatinya bervariasi kencang, ia harus dulu berkonsultasi dengan pusat kesehatan, tentang bagaimana lemak pada bagian pinggang dan perut harus lebih dikurangi lagi, lewat jaringan komunikasi yang disebut telemedicine

* * *.
Sementara itu, Borra, anaknya yang masih SMP asik sendiri dengan komputer Pcnya. Tampaknya ia menekuni bagaimana meningkatkan intelegensinya lewat permainan video game. Sesekali lewat internet, ia juga dapat menyaksikan adegan yang panas, cukup dengan menyambungkan jaringan ke internet. Praktis keluarga itu dapat berhubungan dengan dunia luar menggunakan networking (jaringan komputer) yang dapat melintasi seluruh tempat di dunia ini.

* * *
Potret keluarga di atas diambil dari sebuah keluarga di Makassar yang baru saja meninggalkan abad XX , sebuah keluarga yang sedang menuju ke kehidupan pascamodern, dimana seluruh fasilitas hidup digerakkan oleh mesin-mesin yang berpacu dengan waktu. Hanya dengan memutar 6 nomor telepon, ibu Maria cukup memesan keperluan sehari-harinya, kemudian tidak lama, pengantar datang membawakan pesanannya. Untuk berbelanja keperluan lainnya yang lebih mahal, mereka menggunakan credit card tanpa takut dirampok atau repot membawa uang banyak. Manusia harus berubah, searah perkembangan zaman, nilai-nilai lama mulai terkikis, kekerabatan juga mulai luntur, ketika manusia dengan malasnya sudah jenuh untuk saling bersilaturrahmi. Interaksi sosial cukup dilakukan di dalam rumah atau lewat kamar, dengan bantuan alat-alat elektronik, dimana setiap orang dapat berhubungan dengan seluruh tempat di dunia. Alat-alat elektronik, tidak lagi sekedar berfungsi penyaji berita atau alat hibur semata, tetapi secara ekstrim mulai merubah pola tingkah laku manusia. Perubahan ke arah itu sudah diramalkan oleh Frederick Williams dalam The Comunications Revolutions, “Kita Sedang Berubah. Bukan saja dalam lembaga-lembaga kita, dalam kendaraan yang kita beli, dalam baju yang kita pakai, tetapi juga dalan perilaku kita sebagai manusia. 89

Premis pokok dari revolusi komunikasi ialah bahwa ledakan komunikasi mutakhir seperti komputer, satelit, tape disc, microprocessor, dan jasa radio serta telepon baru, tampaknya sedang merubah karakteristik lingkungan manusia. Seperti yang sudah kita alami berkali-kali dalam sejarah kita, kita tengah menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan”. Ketika kehidupan manusia masih didominasi disektor pertanian , nilainilai tradisionil masih kuat berakar pada masyarakat kita. Kekerabatan masih dijunjung tinggi, dan nilai-nilai kekeluargaan masih mendominasi kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, fungsi ayah sebagai inovator dan tenaga pencari nafkah cukup dominan. Ibu sebagai pengasuh dan pendidik anak-anak masih menjadi titik sentral dalam pembentukan karakteristik anak. Anak-anak yang dibiasakan hidup dengan budi dan akhlak dari ajaran agama dan adat menjadi kebanggaan orangtua. Memasuki sektor industri, manusia sedikit demi sedikit mulai meninggalkan adat yamg menjadi pedoman dalam hidup, anak-anak yang menggantikan zaman orangtua yang ada di sektor pertanian mulai meninggalkan tanah kelahirannya menuju kehidupan dan pendidikan yang lebih baik. Perubahan yang cukup drastis membuat mereka harus banyak menyesuaikan diri dengan teknologi. Kekerabatan masih ada, tetapi waktu untuk saling mengunjungi sudah kurang. Sesama keluarga mereka masih bisa menyapa pada acara-acara hajatan. Sesudah itu, mereka kemudian saling melupakan sesaat. Memasuki sektor informasi, nilai-nilai adat semakin jauh. Manusia bergerak cepat, sebab sedikit saja, mereka akan tertinggal dari informasi yang dalam sekian detik terus berubah. Mereka terus saling berlomba dan berkompetisi dalam berbagai sektor. Hingga suatu saat lahirlah keluarga seperti di atas. Dimana untuk menghubungi dunia luar cukup dilakukan di dalam rumah . dengan bantuan alat-alat elektronik, mereka dapat setiap saat mementau keadaan dunia. Apa yang terjadi kemudian, pada suatu saat akan menimbulkan kejenuhan. Nilai-nilai kemanusiaan sudah mulai runtuh. Kini status manusia berubah menjadi seperti yang diistilahkan oleh Yablonsky, Robopatis, berperan sebagai robot yang bergerak cepat secara monoton, tanpa emosi, tanpa nilai, tanpa makna. Yablonsky menggambarkannya,” bangun pada waktu yang sama, makan pagi secara ritual, menghidupkan mesin di tempat kerja, menonton TV, bermain cinta secara ritualistik pada malam tertentu, berlibur seminggu dan makin lama makin frustasi serta bosan dengan kehidupan rutin mereka. Lama-kelamaan gairah hidup mereka, kemampuan untuk berperilaku spontan dan kreatif, diturunkan sampai ke tingkat nol. 90

Akibat dari derita ini ialah merusaknya secara perlahan-lahan rasa permusuhan dan agresif pada orang lain. Memang terlalu mahal yang harus dibayar manusia di saat segala fasilitas hidupnya terpenuhi. Nilai-nilai keluargapun semakin jauh.

Naudzubillah

Globalisasi Dan Kehidupan Keluarga
91

“Kita hidup dalam zaman „dalam kurung‟, zaman diantara masa-masa. Kendatipun kita telah mengatasi masakini dari masa lampau dan masa depan, kita sesungguhnya tidak disini dan tidak pula disana” (Neisbitt) Apa yang diramalkan sebagai bentuk perubahan masa depan, kini telah memasuki peradaban kita, tak terkecuali ke kehidupan rumah tangga. Benturan-benturan peradaban yang pernah dipertahankan manusia lambat laun akan bergeser sesuai dengan tuntutan dan kemajuan manusia itu sendiri. Menurut Megatrends-nya si Futurolog, John Neisbitt, kecenderungan perubahan itu meliputi tatanan kehidupan manusia, dari yang paling global hingga yang paling perisipil. Kita telah menyaksikan peralihan masyarakat Industri ke masyarakat Informasi, Teknologi Kasar ke Teknologi Tinggi, Ekonomi Nasional ke Ekonomi Internasional, Pola Jangka Pendek ke Pola Jangka Panjang, dari Pemusatan ke Penyebaran, Daya Kelembagaan ke Swadaya, Pola Demokrasi ke Pola Penyertaan Sistem, Sistem Bertingkat ke Sistem Jaringan, Pemusatan di Utara ke Pemusatan ke Selatan (khususnya di Amerika Serikat), Hidup dari pilihan Terbatas ke pilihan Aneka. Pola-pola perubahan ini berlangsung terus, terutama di negara-negara dengan industri yang sangat maju, misalnya Eropa, Amerika dan Jepang. Sementara negara-negara yang sering dianggap “ dunia ketiga ” terpuruk dengan ketertinggalan sains dan teknologi mereka. Tidak heran, keterpurukan ini menimbulkan kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin. Dampak dari pengaruh global ini, pada akhirnya melahirkan pertentangan dan konflik (internal dan eksternal). Satu sisi, nilai-nilai tradisi yang dipertahankan bergeser bersamaan gencarnya globalisasi telekomunikasi. Bukankah kehadiran TV-TV swasta hanya memperuncing konflik-konflik yang saling berhadapan ? satu sisi sering didengungkan, bahwa nilai-nilai dan kebudayaan dan nasionalis harus terus dipertahankan, tetapi ironisnya informasi terus diterima lewat siaran TV yang berdampak mempengaruhi struktur kehidupan kita. Sementara yang diterima lebih banyak mudharatnya lewat pencucian otak dan perasaan dari tayangan yang didominasi Barat. Dampak yang dirasakan langsung adalah kehadiran nuansanuansa baru dalam kehidupan keluarga kita. Contoh yang paling kecil, dulu kita merasa pasrah dan adem ayem menerima satu saluran TV lewat TVRI, tetapi sekarang, pertengkaran antara anggota keluarga, baik suami lawan 92

istri, anak-anak berseteru dengan orang tuanya, hanya disebabkan saling mempertahankan haknya untuk memilih channel yang disukai. Sang ayah ingin menonton sepak bola lewat TPI, sementara ibu ingin menonton Telenovela di SCTV, dan anakpun tak ingin mengalah karena satria baja hitam-nya sudah mulai tayang di RCTI. Pengaruh itu terus merambat, selaras dengan penyuguhan-penyuguhan tayangan yang ditampilkan. Telenovela yang nota bene hanya berasal dari luar negeri ikut mempengaruhi struktur kehidupan keluarga. Budaya yang ditampilkan dirasakan jauh dari budaya bangsa kita. Tema-tema cinta, dendam, perebutan harta dan harapan, adalah tema yang khas yang muncul dalam telenovela tersebut. Kita tak risih lagi melihat adegan pelukan, ciuman, bahkan adegan yang lebih berani dari itu. Anak-anak yang tadinya tidak tahu tentang semua itu, memungkinkan mereka dapat memahami, bahkan meresponi. Sehingga perkembangan seksual mereka lebih mudah terinprovisasi lewat tayangan tersebut, ditambah tayangan film-film Amerika serta video klip yang hampir tiap hari disuguhkan ke hadapan kita. Dampak lain, lahirlah sikap konsumerisme lewat tayangan-tayangan iklan yang kadang mengarah ke arah ngeseks. Lihat saja ke beberapa iklan yang nyaris ciuman, atau berpelukan. Body-body yang ditampilkan juga tak kalah hebatnya seiring dengan gencarnya iklan tersebut, yang kadang sangat vulgar, polos, seperti yang sering disaksikan pada iklan-iklan sabun, permen dan poduk-produk kosmetik lainnya. Pada akhirnya kesemuanya ini dapat melahirkan sikap materialisme yang membahayakan sistem kekerabatan dalam keluarga. Muncullah sikap ingin saling “paling wah”, mempertinggi tensi hidup, padahal gaji tidak mencukupi, melahirkan dorongan-dorongan yang mempertontonkan obyek materi dari segi kuantitasnya, serta memaksa diri untuk memenuhinya, padahal materi minim. Mau mencuri, takut ditangkap, mau korupsi, tidak ada jabatan.

Perubahan hidup memang diperlukan di setiap perkembangan dan kemajuan, tetapi jangan sampai kehidupan yang paing mendasar terabaikan, khususnya kehidupan dalam keluarga. Tentu saja, pendidikan dalam rumah tangga yang paling menentukan dalam mengubah ke arah positif. Olehnya itu, apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW, “ Baiytiy Jannatiy ”, Rumahku adalah Surgaku, mempunyai implikasi sangat luas. Keluarga bukan hanya tempat makan, minum, bernaung, memproduksi anak, tetapi lebih dari 93

* * *

itu, diharapkan melahirkan komunikasi yang beradab, saling percaya, saling membantu, saling memahami antara penghuninya. Jangan sampai istri membebani mental suami dengan berbagai macam permintaan yang tidak sanggup suami mengembannya. Atau suami bersifat sok jagoan di kandangnya, sementara anak-anak tidak lagi menjadi kebanggaan sebagai buah hati. Biarlah terjadi perubahan diberbagai sektor, asal jangan sampai mengubah tatanan sosial keluarga yang diharapkan “ Sakinah, Mawaddah wa Rahmah ”. Tuntunan agama adalah prioritas utama yang harus ditanamkan dalam memupuk kebersamaan, menyayangi, menghormati dalam menepaki hidup berkeluarga. Sehingga diharapkan jangan sampai melahirkan sikap asing di rumah sendiri serta sikap materialistik menguasai hidup keluarga.

94

Mental sehat sebagai pilar keluarga bahagia
Dahulu kami hidup sederhana, saya selalu mengurus rumah tangga, memasak, mencuci, menyapu dan sebagainya. Semuanya saya kerjakan sendiri tanpa pembantu. Hidup kami waktu itu agak tenang, walaupun suami saya dari semula tidak pernah mengenal Tuhan. Akan tetapi sekarang, rezeki telah banyak diberi Tuhan, rumah besar dengan perabotan yang lux, mobil telah berbilang dan di rumah banyak pembantu, hati saya menjadi senang. Tidak ada yang harus saya kerjakan. Namun sekarang saya menderita. Saya tak ingin benda, tak hendak kemewahan, asalkan ketentraman rumah tangga terjamin. Suami saya semakin hari semakin jauh dari sopan santun hidup, dia menjadi angkuh dan menganggap segala sesuatu diukurnya dengan benda. Moralnya telah sangat merosot. Ia bermain dengan anak-anak gadis atau wanita-wanita elit yang tidak setia dengan suaminya bahkan dengan wanita-wanita cantik yang biasa mencari kesenangan dengan sesuka hatinya. Suatu hal yang menyolok pada suami saya, ia sangat percaya pada benda-benda takhayul (jimat-jimat). Banyak sekali model jimat yang dimilikinya. Ada yang berkhasiat memudahkan mencari rezeki, ada yang untuk tangkal bahaya dan bermacam-macam lagi yang sukar bagi saya menerimanya. Akan tetapi suami saya sangat percaya kepada benda-benda tersebut. Jika salah satunya hilang atau tidak ditemukannya, ia menjadi cemas dan marah-marah, karena ia merasa dengan tidak adanya penangkal (jimat) itu, kehidupannya akan menurun, bahkan ia merasa akan binasa karenanya. Inginlah saya cerai rasanya, tetapi kalau mengingat anak yang telah berbilang jumlahnya, tak sampai hati saya melihat anak tak berbapak. Begitulah keadaan saya dari hari ke hari, sehingga nafsu makan hilang dan tiap malam mata tidak mau tidur. Itulah yang menyebabkan saya tidak hentinya ke dokter, namun badan masih selalu terasa sakit”.

Ini hanyalah satu kisah yang diambil dari pengalaman seorang istri yang diceritakan oleh Pakar Kesehatan Mental Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya “Islam dan Kesehatan Mental”. Kisah ini mewakili sekian 95

* * *

banyak pengalaman-pengalaman buruk yang dialami oleh seorang istri akibat gangguan mental sang suami. Sehingga sang istripun ikut mengalaminya, berupa ketidak tenteraman dalam hidup. Ternyata materi tidaklah cukup membahagiakan hidup seseorang, apalagi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Seringkali banyak orang merasa bahwa dengan terpenuhinya materi, dirinya akan merasa bahagia. Bahagia memang bisa menjadi sebuah kerelatifan. Dimana saja kita bisa menemukan bahagia. Tetapi bahagia tidak bisa disandarkan pada materi semata. Seorang pejabat, mengkin melihat sosok bahagia pada seorang pagandeng (penjual sayur) dengan keceriaannya mengayuh sepedanya dari Takalar ke Makassar yang membawa barang dagangannya. Tidak seperti dirinya yang banyak berpikir tentang jabatan, kerja dan tanggung jawab. Sebaliknya, mungkin pagandeng itu merasa iri terhadap nikmat dan fasilitas yang diperoleh sang pejabat. Pada hakekatnya, bahagia itu kata Prof. Dr. Abdul Aziz El-Quussiy dalam bukunya “Ususus Shihhah An-Nafsiyyah”, berhubungan dengan integrasi pribadi. Dia tumbuh dari kesatuan dan keserasian yang sempurna antara dorongan-dorongan dan sentimen-sentimennya. Adanya kesatuan ini, menjamin pengaruh potensi manusia yang timbul dari pembawaan naluri untuk mencapai satu tujuan. Siapapun dia, jika masih manusia, pasti mendambakan hidup bahagia, tenteram dan berkecukupan. Begitupun dalam hidup berkeluarga, diperlukan keserasian dan keadilan dalam mengatur dan menatanya. Fungsi suami tidak sekedar hanya sebagai kepala keluarga, tetapi ia lebih ditekankan berperan sebagai komando dalam melindungi penghuninya. Istri, sebagai ibu rumah tangga lebih condong sebagai pendidik dan pembentuk akhlak bagi anakanaknya. Sebab pendidikan awal yang diperoleh seorang anak dimulai dari pendidikan ketika ia masih dalam rahim ibunya. Sehingga sang suami yang bertugas mencari nafkah haruslah memberikan rezeki yang halal dan berkah bagi keluarganya. Ada kemungkinan anak-anak menjadi nakal dan tidak terkontrol disebabkan makanan yang disuapinya berasal dari rezeki yang tidak halal, jika tidak bersifat subhat. Akibat-akibat perbuatan yang tidak benar yang dilakukan oleh kepala rumah tangga tersebut seringkali berujung dengan terbentuknya akhlak yang tidak terpuji. Apalagi jika hidup sudah berkecukupan, kedudukan semakin empuk, berkolusi dengan pejabat yang sama bobroknya, maka dari sinilah mulai lahirnya bentuk-bentuk penyelewengan. Dari penyelewengan uang sampai penyelewengan kepada 96

istri, semuanya menjadi satu. Jabatan dan uang paling dominan ikut dalam membentuk iklim penyelewengan. Pengalaman ibu diatas menggambarkan betapa ia sangat menderita akibat perbuatan suaminya, yang dianggap sangat cekatan dalam menciptakan penyelewengan, karena didukung dengan benda-benda saktinya. Bentuk-bentuk seperti ini, pada hakekatnya muncul dari rasa tidak puas dalam hidup untuk memenuhi materi. Lahirlah sikap “Mangoa”, yang secara tidak sadar melawan kehendak takdir, menghalalkan semua cara untuk memenuhi ambisi dan nafsu ammarah bissunya. Makhluk seperti ini tidak perah punya pertimbangan bahwa istri dan anak menjadi korban. Tidak hanya itu, keluarga pun bisa tertulari gangguan kesehatan mental akibat ulahnya.

* * *
Keharmonisan keluarga tidak akan pernah diperoleh jika hidup dan kepercayaan bergantung kepada benda-benda mati yang diciptakan para dukun dan para normal. Rumah tangga menjadi kacau, sopan santun hilang, tercipta tindakan semena-mena dan mudah berbuat zalim meskipun terhadap istri sendiri. Untuk menjawab setiap tantangan dan menciptakan rasa bahagia yang hakiki maka kembali agama sebagai jawabannya. “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang. “ (S. Arra‟du:28).

97

Nyonya Cuma “Anxiety”
pager itu tiba-tiba berbunyi, sebuah nada panggilan ditujukan kepada dr. Lala, bahwa seorang pasien segera membutuhkan pertolongan. Tetapi malam itu, dr. Lala sedang bertugas jaga malam. Sebagai seorang dokter, ia memang selalu dituntut untuk siap memberikan pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Ia mengangkat telepon, dan beberapa saat ia menjawab radio panggil yang ditujukan kepadanya, bahwa ia tidak bisa ke rumah pasien, berhubung malam itu ia harus piket sampai pagi. “jika bisa, suruh saja pasien itu ke rumah sakit, biar saya yang menunggunya”. Tidak berselang lama, sebuah mobil Baby Benz berjalan memasuki pelataran rumah sakit. Sang sopir yang tahu tugasnya, segera membuka pintu belakang mobil, dan mempersilahkan seorang nyonya setengah umur turun dari mobil mewah itu. Seorang pembantu wanita, yang nampaknya masih gadis, ikut menuntun tuannya menuju ruang periksa. dr. Lala dengan cekatan segera mempersilahkan sang nyonya, yang diketahui bernama ibu Leli berbaring. Tensi darah dipasang di lengannya, kemudian tekanan darahnya diperiksa dengan seksama. “Tekanan darah saya berapa dokter ?”, kata ibu Leli sedikit pucat. “ Sedikit turun Bu, 120 per 90”. Kata dr. Lala,”normalnya untuk seusia ibu, 140 per 90”. Kemudian jantungnya juga diperiksa secara uaskultasi dengan memakai stetoskop. “Semuanya normal Bu”, dr. Lala berusaha meyakinkan pasiennya. “Tetapi saya sakit, dok! saya harus dirawat, kalau perlu diopname”. Ny.Leli ngotot untuk membenarkan dirinya bahwa ia sakit. Dia butuh pertolongan.

“Tolonglah saya berapa saja biaya yang dokter butuhkan, saya tidak tahan lagi hidup, saya ingin dirawat, diopname, dok, tolonglah saya”. Ia terus
berbicara tanpa nenperdulikan suster yang memperhatikannya, juga dokter yang mulai menduga-duga penyakitnya. “Maaf, nyonya tidak sakit, fisik

Nyonya semua sehat, Cuma kurang istirahat, dengan beristirahat yang cukup beberapa hari bisa sehat kembali”.

98

Kemudian dr.Lala menuliskan beberapa obat untuk Ibu Leli dan disuruh kembali ke rumahnya, ia ngotot tidak mau pulang. “Tidak, saya tidak

mau pulang, lebih baik saya mati daripada pulang”. “Kalau begitu saya akan memanggil suami Nyonya”, kata dr.Lala. “Jangan, saya harap dokter tidak memanggilnya, dia suami pengkhianat”, timpalnya. Tidak berapa lama, suami Ibu Leli datang. “Bagaimana dok, apakah keadaan istri saya baik- baik saja”. dr.Lala kemudian terlibat dialog dengan suami Ibu Leli. “Sebenarnya keadaan istri bapak sehat, Cuma dia mengalami sedikit „kecemasan‟. Mungkin ada yang mengganggu perasaannya, atau ada problem rumah tangga yang cukup serius, sehingga nampak dia tertekan”.
Suami yang cukup terpelajar itu, sangat serius memperhatikan penjelasan sang dokter. “Benar dok, saya ini adalah pengusaha yang sangat sibuk,

perusahaan saya banyak sehingga saya jarang di rumah. Kadang-kadang dalam sehari saya berada di tiga kota. Pagi di Makassar, siang di Jakarta, malam di Surabaya. Kemudian paginya di Makassar lagi. Jika keadaan sangat penting, saya terbang ke Singapura atau ke Hongkong. Baru-baru ini, istri saya mencurigai setiap perjalanan saya. Sebuah fitnah membuat istri saya tidak bisa tidur, dikiranya saya punya istri simpanan di Surabaya, bahkan dengan sekretaris ia mencurigai saya ada „affair‟ dengannya. Saya sudah menjelaskan dengan sepenuh hati, bahkan dengan bersumpah segala. Tetapi ia ngotot tidak mau percaya, sehingga kadang-kadang penyakit lamanya, yaitu asma, sering kambuh, jika kecurigaannya memuncak”. Suami ibu Leli

terus bercerita tentang perjalanan cintanya yang besar kepada istrinya yang memberikan tiga anak yang tumbuh dewasa. Ia menggambarkan istrinya sebagai orang yang tabah dan penuh perhatian kepada anak-anak, yang ikut merasakan asam garamnya perjalanan hidup, dan banyak memberikan bantuan moril dalam menunjang kariernya.

* * *
Kecemasan (anxiety) oleh Freud dibagi menjadi kecemasan nyata dan kecemasan nerotik. Kedua kecemasan itu dapat timbul akibat adanya reaksi sesuatu bahaya yang mengancam organisme. Pada kecemasan nyata, ancaman itu datang dari suatu sumber bahaya diluar individu dan diketahui olehnya. Pada kecemasan nerotik sumber bahayanya tidak diketahui, kecemasan juga dapat dibedakan dari ketakutan atau fear (jelas atau tahu takut terhadap apa). Komponen psikologisnya dapat berupa: khawatir, gugup, tegang, cemas, rasa tak aman, takut, lekas terkejut. Sedangkan jenis somatiknya (jasmani) 99

misalnya: palpitasi (debar jantung), keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, respon kulit terhadap aliran listrik galvanik berkurang, peristaltik (gerakan meliuk-liuk pada saluran cerna) bertambah dan terjadi leukositosis (bertambahnya jumlah sel darah putih dalam darah tepi). Kecemasan sangat mengganggu homeostasis dan fungsi si individu, karena itu perlu diantisipasi untuk menghilangkannya dengan berbagai macam cara penyesuaian diri yang berorientasi kepada tugas. Pada beberapa kasus kecemasan dapat dijumpai kecemasan yang mengambang (free floating anxiety) kecemasan yang menyerap dan tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran; agitasi, kecemasan yang disertai dengan kegelisahan hebat dan psikomotorik yang meningkat, karena ketegangan emosional; panik, serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan, kebingungan dan hiperaktivasi yang tidak terorganisasi.

* * *
Beberapa saat kemudian suami Ibu Leli masuk dan membujuk istrinya untuk pulang segera. Tetapi Ibu Leli berkeras tidak mau pulang, bahkan ia mau menginap di rumah sakit. Ia terus diliputi rasa cemas akibat desas desus dari berita yang di dengarnya tentang penyelewengan suaminya. “ Dok, tolonglah saya, biar diopname saja saya disini” ia kembali mengulang pertanyaannya. “ Ibu tidak sakit, Ibu hanya dihantui rasa cemas dari derita yang belum bisa ibu buktikan, yang Ibu butuhkan hanya perhatian”. Sekali lagi dr.Lala meyakinkannya. “ Sayang…”, sedikit membujuk suaminya.

“Pulanglah, saya akan membatalkan perjalanan saya ke Singapura, kita akan umroh bersama anak-anak, biar di depan Ka‟bah saya bersumpah, bahwa semua itu fitnah dari orang yang sirik untuk menghancurkan karier saya, percayalah ma”.

Akhirnya dengan berbagai bujukan serta diyakinkan oleh dr.Lala, bahwa ia hanya butuh perhatian dan istirahat, Bu Leli akhirnya mau juga pulang.

100

Tentang . . . .

Pelajaran yang Berharga

101

Keluarga Ibrahim; Simbol Keimanan
Di tengah padang pasir yang luas terbentang bak permadani itu, Ibrahim as duduk termenung. Kegalauan hatinya belum juga bisa diredakan. Berbagai perasaan terus berkecamuk, antara sebuah ketaatan dan kepatuhan di satu sisi, dengan rasa kasih sayang dan iba terhadap sang anak di sisi lain. Belum sembuh benar rasa kangen dan rindunya kepada anak dan istri yang dicintainya. Sebuah pertemuan akbar baru saja dirasakanya. Ketika perintah Tuhan dilaksanakan untuk membawa anak dan istrinya di negeri tak bertuan lagi tandus. Ia diliputi kecemasan, bagaimana kelak nasib mereka disana. Bertahun-tahun rindu itu disimpan, dan ia sering mengutus orang untuk mengetahui keadaan mereka disana. Ibrahim sangat gembira mendengar kondisi keluarganya yang sehat wal afiat di negeri baru mereka. Ia semakin gembira ketika mengetahui, bahwa di negeri sana ada sumber mata air yang tidak pernah kering bahkan menjadi persinggahan para musafir, bahkan diantara mereka ada yang menetap dan mendirikan pemukiman baru. Apa yang pernah dido‟akan Ibrahim kepada Allah, bahwa jadikanlah hati manusia tertarik kepadanya (negeri dimana ditinggalkan anak dan istrinya) menjadi kenyataan. Suatu hari, kerinduan kepada anak dan istrinya (Hajar) tak terbendung lagi. Dengan kesepakatan istri pertamanya, Sarah, berangkatlah Ibrahim ke selatan menemui kembali Ismail dan ibunya. Didapatinya negeri yang dulu tandus dan tak berpenghuni menjadi ramai. Berbagai suku hidup menyatu di negeri itu (Mekah). Iapun kagum melihat istrinya mendapat kehormatan dari para pendatang yang dianggap oleh mereka sebagai pemilik sumber mata air zam-zam. Di padang Arafah, Ibrahim bertemu dengan keluarganya, keadaan mereka jauh lebih baik ketimbang sebelum mereka berpisah. Nabi Ibrahim dan keluarga memuji dan mensucikan kebesaran Allah atas karunia nikmat yang diberikan. Dalam perjalanan pulang menuju Mekkah, mereka berhenti di suatu tempat yang sekarang dikenal Muzdalifah (dalam Al-Qur‟an dinamai Masy‟aril haram) dan menginap. Di dalam tidurnya yang sejenak itu, Ibrahim

102

bermimpi, bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya sebagai kurban. Di ufuk timur, matahari belum lagi memunculkan cahayanya. Sisa-sisa bintang gemintang masih menghiasai langit cerah. Angin padang pasir samarsamar masih bersiul-siul, sesekali memainkan baju Ibrahim yang duduk termenung. Sebuah perenungan untuk memperjelas kembali ingatannya tentang mimpinya tadi malam. Benarkah ini sebuah ultimatum ? pikir Ibrahim. Ia baru saja melepas dahaga kerinduannya, tetapi Allah masih mau menguji keteguhan imannya. Bagi Ibrahim, berbagai ujian telah ditempuhnya, tapi tak sedikitpun mengendorkan semangat tauhidnya kepadaa Allah. Tak heran, Ibrahim oleh para sejarawan disebut sebagai bapak Tauhid. “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, insya Allah aku akan tabah”. Inilah cobaan yang terberat dalam hidup Ibrahim. Berpuluh tahun ia mengrapkan anak, ketika di usia senja Allah memberinya anak, iapun rela harus menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri. Melihat ketaatan ayah dan anak itu, iblis berusaha mencegahnya. Ia mengompiri Hajar untuk membatalkan niat suaminya itu. Namun, seperti juga suami dan anaknya, mereka setali tiga uang dalam menjalankan perintah Allah. Keharmonisan dan rasa kasih sayang (Mawaddah wa Rahmah) diantara mereka menjadi catatan emas dalam peradaban moral untuk saling mendukung dalam menciptakan keimanan. Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim merupakan simbol pengabdian tanpa pertimbangan, bahwa jika perintah Allah telah datang, tak ada kata “Tidak” untuk melakukannya. Di sisi lain, Ibrahim yang hidup di tengah manusia yang sebagian masih menganut peradaban bar-barian, ingin menghapus image masyarakat pada waktu itu yang menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan. Beliau hadir ketika orang-orang memperselisihkan tentang boleh tidaknya manusia dijadikan sesajen kepada Tuhan. Melalui amaliah dan Tauhid yang diperintahkan oleh Allah, Ibrahim mengubah tradisi Jahiliyah menjadi tradisi Ilahiah. Ismail yang tadinya siap dikorbankan, kini diganti dengan binatang dengan sekejap, bukan karena lantaran nilai manusia itu tinggi, tetapi Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Lewat Ibrahim, Allah memberi petunjuk yang benar bagaimana menuju Tuhan untuk lebih dekat. Bukan karena korbannya itu yang sampai kepada Allah, tetapi takwa manusialah yang sampai kepada-Nya. Wallahu „alam. 103

Suatu Hari di Pasar
Seperti biasa, jika hari lagi libur, kadang menjadi hari yang istimewa. Bukan karena apa, ditengah menuntutnya kaum wanita dipersamakan haknya dengan kaum lelaki, saya justru harus menikmati pekerjaan yang sering dilakukan oleh kaum wanita, yaitu berbelanja di pasar. Kadang-kadang, usai mengikuti takhassus lewat kajian shahih Bukhari beserta syarahnya (penjelasannya) dari kitab Fathul Bari, pada hari ahad pagi, dari K. H. Muhammad Nur, saya menyempatkan ke pasar, biar ibu tidak repot berbelanja, juga berhubung jarak pasar yang cukup jauh. Hitung-hitung belajar sebelum berkeluarga, bagaimana sih menjadi ayah sekaligus menjadi ibu yang baik, yang bisa menikmati hasil belanja, dan jika bisa, merasakan masakan sendiri. Tanpa diminta, entah itu suatu hari kelak, misalnya, hal seperti itu terjadi, toh tak perlu repot untuk belajar berbelanja dan menyajikan masakan sendiri. Fenomena pasar kadang menarik untuk dinikmati, sebab di sana ada seribu satu yang bisa dipandang, sekaligus tak enak dialami. Di pasar kita leluasa menawar, juga menolak untuk berbagai rasa dengan penjual, jika tawarannya terlalu kelewatan. Tetapi saya tidak suka bertengkar jika 104

problem lima puluh rupiah jadi ajang tawar-menawar. Di pasar juga ada seribu satu dosa yang tersedia untuk diam-diam dilakoni. Saya kadangkadang berpikir, bagaimana mungkin ibu-ibu kita, gadis-gadis kita, hadir di pasar dengan sengaja, lantas begitu rela ingin mempertontonkan auratnya (tentu saja bagi mereka yang sering berpakaian yang tidak etis dalam pandangan Islam). Tidakkah suami atau orang tua mereka risih melihatnya ? ketika pamit ke pasar Cuma memakai celana pendek serta kaos tanpa lengan ? ataukah mungkin mereka merasa rugi jika tidak memperlihatkan miliknya itu ? ada juga yang beralasan, biar lebih praktis, tidak repot dan bebas bergerak, sekalian bisa ditonton orang. Kita juga kadang risih, menyaksikan ibu-ibu yang kadang memakai pakaian daster, you can see. Lazimnya juga, disitu kita dapat menikamati berbagai aroma manusia yang tergesa-gesa ke pasar tanpa harus mandi atau berdandan. Entah itu dari pembeli atau dari penjual sendiri, dimana mereka berbaur dengan dagangannya, dari mulai ikan, sayur-sayuran, daging, buah-buahan dan sebagainya. Saya tiba-tiba ingat hadits Rasulullah SAW, “Sebaik-baik tempaat adalah Masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. Mengapa Masjid menjadi tempat yang baik ? sebab di sana tempat mengingat Allah SWT. Segala urusan dunia ketika berhubungan dengan Tuhan diusahakan tidak hadir, hal-hal baik selalu tempatnya di rumah suci. Di Masjid, dosa-dosa bisa dilebur, ketenangan dan kehidmatan menjadi satu dalam dekapan Allah. Sangat jauh berbeda dengan pasar, disana segala bentuk dosa bisa dihadirkan. Mulai pamer aurat, pamer kekayaan, adu mulut, hingga tipu menipu antara pembeli dan penjual bisa terjadi. Gelagat pasar adalah tempat yang paling ribut, suara pembeli dan penjual terus mendenging, arus manusia yang bergerak-gerak seperti riak-riak air berjalan tanpa hentinya. Pasar juga menjadi ajang syubhat, sebab disana para kapitalis pasar bisa seenaknya memainkan harga, bentuk kecurangan dan keculasan, ibarat mafia kecil, yang kita bisa menjumpai barang yang dilelang, yang masuk lewat illegal. Anda jangan heran, penipu kelas teri bisa berbusa-busa mulutnya berbohong untuk meyakinkan pembeli akan kualitas barangnya. Sementara para pembeli, sebagai raja, yang umumnya kaum ibu, tanpa mau kalah juga bisa mati-matian mempertahankan harga yang dimintanya, bahkan biasa di bawah harga pasar. Saya kadang tertipu, hingga ibu sering marahmarah jika sampai di rumah, ikan yang saya beli ternyata busuk. Saya juga sering bingung, mengapa ibu-ibu yang berbelanja sering kali tidak bisa membeli ikan, sayur atau barang lainnya dengan harga mulus. Selalu saja dimulai dengan pertengkaran kecil untuk saling menawar. Kalau perlu, lima 105

puluh rupiahpun ditawar menjadi dua puluh lima rupiah. Sehingga ada orang yang mengatakan tak ada barang yang bisa dibeli, dilewatkan untuk ditawar, jika pembelinya seorang perempuan. Para pembeli dan penjual adalah artis-artis tanpa skenario yang meremaikan teater pasar, dimana mereka berdialog untuk saling melengkapi kebutuhan. Tetapi keakuran seringkali sulit dipertemukan, ketika harga pas tidak ketemu. Entah itu karena banyaknya produsen yang tidak jujur kepada konsumennya, atau si konsumen terlalu ngotot meminta harga yang kelewat rendah. “E Daeng, taipayya enne, limampuloji si batu ri kaampongku”. (E daeng, di kampungku buah mangga ini hanya lima puluh rupiah sebiji). Sedikit jengkel si penjual mangga itu membalas, “Motere moko ri kamponnu malli taipa” (pulanglah ke kampungmu untuk beli mangga seharga itu). Contoh dialog kecil seperti ini menjadi menu yang sering disaksikan untuk memacu pertengkaran kecil di pasar. Tata krama pasar yang berupa saling pengertian, kurang dimengerti pelaku-pelaku pasar, terutama pelaku produsen sebagai penjaja barang. Ini biasa terlihat pada pasar-pasar besar. Salah satu contoh seperti di pasar Makassar Mall (tentu saja semua penjual tidak bersikap demikian). Seringkali kita menjumpai para produsen pasar memperlihatkan sikap kurang ramah, sedikit memaksa, memaksa harga terlalu tinggi dalam menghadapi konsumen ketika mereka menawarkan barangnya. Akibatnya, orang akan trauma singgah apalagi untuk menawar. Ada satu hal yang dilupakan oleh para penjaja barang ketika mereka berbisnis dengan mitra mereka, yaitu si pencari barang. Mereka melupakan “filosofi of salesman”, yang merupakan kunci untuk menarik para pembeli barang, atau sekedar singgah. Para pembeli barang, apalagi ibu-ibu, sangat menyukai bentuk keramahan, kebersihan, senyuman dan keterusterangan. Di kota metropolitan Manila, para pedagang menjadikan “Filosofi of salesman” sebagai daya tarik magic untuk menarik pembeli. Caranya, seorang pelayan berdiri di depan pintu toko dengan pakaian rapi tentunya, setiap saat senyumnya mengembang pada orang-orang yang lewat di depan tokonya. Jika seseorang sempat tertarik melihat etalase kaca dari barang yang dipajang, pelayan itu memberi hormat dan menyapa lalu membujuk, “Silahkan tuan masuk ke dalam toko untuk melihat-lihat barang kami, cukup melihatnya kami sudah puas”, orang tanpa segan dan disambut dengan begitu ramah, tentu saja tertarik untuk masuk. Sampai di dalam, mulailah penjual itu merayu dengan sopan, bukan memaksa. “Barangkali boneka ini sangat disukai putri anda, anda bisa menawarnya !”. jika orang masuk dan keluar kembali 106

tanpa membeli barang, pelayan toko dengan senyum mengucapkan, “Terima kasih atas kedatangan anda di toko kami”. Para penjual kita mungkin bisa belajar dari sikap seperti di atas. Dan, terutama lagi, bagi para pembeli (utamanya ibu-ibu), mereka mestinya bisa juga tampil sopan , dan bersahaja.

Mahabbah
Tentara Islam mengalami kemerosotan mental, ketika mereka sering kalah dalam peperangan. Tetapi bagi Salahuddin Al-ayyubi, dijadikan hikmah untuk berpikir bagaimana membangkitkan kembali semangat jihat. Lahirlah gagasan untuk mengadakan sayembara penulisan riwayat hidup dan perjuangan nabi yang mulia Muhammad SAW. Tercatat dalam sejarah, nobel Islam pertama bidang sastra jatuh pada Ja‟far bi Husain bin Abdul Karim bin Muhammad bin Abdurrasul AlBarazanji, seorang mufti di Madinah Al-Munawwarah dengan karyanya AlBarazanji yang setelah digabung dengan maulid Syaraful Anam dan Maulid Ad-dibbai menjadi Al-Majmuah mawalid Wa‟addiyah, sebahagian penyair menjadikannya bentuk puisi dan dalam perkembangan selanjutnya menjadi tiga versi yang puitikal dalam bahasa Swahili. Menyusul kemudian berpuluh karya sastra yang ditulis. Kekuatan ritme maulid abad-abad pertengahan menjadi pengejewentahan kultur Islam yang tertanam kuat, serta cermin kecintaan kepada Nabiullah SAW. Betapa maulid diyakini mampu memberi berkah 107

cahaya hidup dan petunjuk dari kesesatan. Sebaris sajak Turki mendendangkan keyakinan itu dalam kotanya. Jelas bukan propogandaris dari kaum mistikal Islam dalam membesarkan maulid, tetapi sebuah renungan yang sangat dalam akan kecintaan kepada sang kekasih. Betapa sang Darwis dari Turki, abad 17, dengan penuh gejolak berpantun:

Malam ketika Rasul lahir Sungguh serupa dengan Lailatul Qadri. Atau seperti yang dilantunkan Yunus Emre: Dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya, Pada malam kelahiran nabi Muhammad Lalu Qadhi Ibn „Athiyah mengidentikkan dengan bulan kelahiran nabi dengan
madahnya:

Bulan rabi‟ berjalan di depan bulan-bulan lain Dan, Demi Allah Di dalamnya ada malam nan terang benderang Dengan meteor-meteor nan bercahaya di antara cakrawala-cakrawala.

Kultus maulid bukanlah hal yang dijadikan begitu saja, ia terbina dari secercah kecintaan (mahabbah) kepada Rasul. Bentuk kecintaan itu kata Ibnu Baththal didasari: pertama, Mahabbah ijlalin wa azmathin (kecintaan yang didasari kemiliaan dan kewibawaan). Kedua, Mahabbah Syafaqatin warahmatin (cinta lantaran terikat oleh rasa kasih sayang dari seorang pemimpin kepada umatnya). Dan ketiga, Mahabbah astihshanin wa isti‟dzatin (dicintai karena kebaikan dan kenikmatannya). Realisasi cinta itu juga begitu kuat tertanam dalam sosok Iqbal yang mewakili kecintaan kaum muslimin lainnya, dengan gelora berharap, Iqbal bersenandung:

Dan dalam jawab-I Syikwah Iqbal mendengar perintah Allah:

Kekasih bersembunyi di dalam hatiku . . . . Di dalam hati Muslim ada rumah Muhammad Segenap kemuliaan kami dari nama Muhammad

Tinggikanlah segala yang rendah dengan kekuatan cinta Terangilah dunia dengan nama Muhammad

Siapapun mengakui, jangankan umat Islam, para orientalis seperti Will Durand, Toyn Bee, Miichael hart, Phillip Stoddar, dan sebagainya kehabisan untuk menulis otobiografi manusia besar sepanjang abad. Tak ada 108

yang mampu bercerita lengkap tentang kebesaran manusia insan kamil ini. Sosok pribadi yang mampu menembus di seluruh aspek kehidupan. Olehnya itu, maulid adalah sebuah sirah dari sebongkah mahabbah yang dipatrikan dari orang-orang yang senatiasa mengharapkan berkahnya. Selamat datang duhai kinasih yang tercinta Hanya demi dikaulah waktu dan ruang diciptakan.

Manusia Yang Memaki Hidup

109

Serombongan Anak Baru Gede berkumpulan di pelataran Mal Kalibata. Mereka bukan lazimnya ABG yang berduit untuk mencari angin atau pergi shopping show menghambur-hamburkan koceknya karena tidak ada kasih sayang di rumah. Para ABG tersebut adalah para perayu-perayu kelas teri yang kelak berpotensi menjadi kupu-kupu malam, mengikuti generasi sebelumnya.
Dengan berpakaian modis, bergaya selebriti yang mempermak kirikanan dengan aksesoris disekujur tubuhnya, mereka ingin meyakinkan para hidung belang atau om-om yang berduit untuk diboking kemana saja, dengan alasan kepingin uang banyak, berpakaian yang bagus dan makan direstoran. Para bocah belia yang masih belasan tahun itu ingin juga menikmati indahnya dunia tanpa harus bekerja keras. Untuk tarif sekali boking mereka juga tak mau kalah dengan senior-senior mereka yang berlabel “wanita-wanita panggilan”. Tarif mereka bervariasi, tergantung perilaku si om. Kalau diajak tidur tarifnya bisa mencapai seratus ribu, kalo cuma digeranyangi tubuhnya bisa antara sepuluh sampai lima puluh ribu rupiah, tetapi harus ditraktir belanja atau makan dulu. Para ABG yang masih berbau kencur ini tidak beraksi seenaknya, mereka umumnya dikelola oleh seorang germo remaja. Setiap selesai kencan, mereka harus menyetor sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah. Cerita kencar-kencur yang banyak diminati oleh lelaki brengsek ini bukan hanya terdapat di ibu kota, tetapi sudah merambat ke kota lain di Indonesia. Di Makassar misalnya, fenomena tragis ini sudah cukup lama berkembang. Lihatlah misalnya pola tingkah laku sebagian remaja usai jam pelajaran sekolah dengan praktek ‟ngelaba‟, seperti yang pernah dibongkar kasusnya oleh media Fajar. Mereka yang beroperasi sekitar jalan Ahmad Yani, Sudirman, Pantai Losari, mula-mula menunggu om-om yang berduit dan mengendarai mobil mewah. Jika godaan mereka kena sasaran, mereka kemudian dibawa ke suatu tempat. Bobrokkah hidup ini ? ataukah sudah tak ada lagi harga diri yang dimiliki anak-anak gadis seperti mereka. Siapakah yang harus disalahkan, orang tua, guru, tokoh pemerintah, atau tokoh agama ? mungkin juga karena keterhimpitan ekonomi, gejolak sosial yang sedemikian tidak menentu, ataukah tren yang berkembang akibat gencarnya iklan yang mengajak hidup lebih santai, sehingga garis halal dan haram tidak punya batas lagi. Sebegitu mudahnya mereka mengupayakan diri terperosok dan mengeksploitasikan moralnya hingga pada stadium paling akut. 110

* * *
Di sisi lain, hati kita juga gembira melihat fenomena beragama yang berkembang di masyarakat. Sebagian besar gadis-gadis kita tidak lagi risih berjilbab atau berdiskusi tentang agama. Bahkan diantara mereka secara transparan loyal terhadap agamanya, mencintai hidupnya di balik kerudungkerudung besarnya dan menjaga pandangannya dari yang bukan haknya. Kehadiran antara perbuatan baik dan buruk disekeliling manusia pada hakekatnya adalah suatu sunnatullah yang diskenario oleh manusia itu sendiri. Itu artinya, ada orang yang memperoleh sa‟adah (kebahagiaan) dan ada orang yang bernasib syaqawah (kemalangan) karena ikhtiarnya sendiri. Sebagian manusia memang ada yang ingin menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, dalam arti, ia ingin kehidupan dunianya berjalan sesuai apa kemauannya dan apa yang dikehendakinya. Hingga pada suatu saat apa yang pada keputusannya, ia mencampakkan kepercayaan dan kemerdekaan yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya. Ia rela, sadar atau tidak sadar merontokkan kepribadiannya, tidak menjadi tegar, sedih dan shock menjalani hidup. Mereka selalu mengkambinghitamkan problem sosial dan tekanan ekonomi. Manusia-manusia seperti inilah yang tidak sanggup mengikhlaskan hakekat antara “kebenaran” dan “realita”. Bahkan dengan sengaja ia menutupi potensi-potensi baiknya untuk menerima realitas kebenaran.

111

Kata-kata
Anda mungkin tidak sadar, ketika membaca tulisan ini, mata anda memindahkan cahaya menjadi sinyal-sinyal saraf, lalu mengirimnya menuju kortek visual. Bagian otak (cerebrum) ini terletak di bawah tengkorak belakang. Kemudian sinyal ini dikirimkan ke bagian asosiasi visual. Lain halnya jika tulisan ini dibacakan seseorang kepada anda, suara orang yang masuk ke dalam Capum Tympani mengirim „sinyal-sinyal‟ saraf ke tujuan kontek pendengaran. Yaitu bagian otak yang terletak di atas telinga dan di belakang pelipis kiri. Sewaktu anda berbicara, sistim kontrol bekerja di daerah motorik pada bagian otak yang terletak antara telinga kiri dan alis mata. Dan daerah kortikal yang terletak di bawah dahi bertugas menganalisa arti dan sematik kata. Lalu bagaimana otak kita bisa mengelompokkan kata dalam kategori tertentu ? otak kita, ibarat komputer yang mampu merekam berbagai pengalaman. Setiap kita ingin menyimpan kata atau peristiwa, cukup dimasukkan dalam file name. karena mirip kamus, maka setiap entry mempunyai sejumlah makna. Kapan saja kita melihat suatu kejadian dalam hidup ini, maka tanpa diperintah langsung menuju ke kamus (cortek cerebri) besar kita dengan menampilkan kembali memori yang tersimpan.

Dari sinilah kita manusia „bermain kata‟ yang mampu mempengaruhi cara berfikir dan merefleksinya lewat pengalaman-pengalamannya. Seorang penjual obat yang ingin meyakinkan pendengarnya, ia menampilkan konsep 112

* * *

yang aneh-aneh. Dari pakaiannya hingga obat yang dijualnya berwarna hitam. Karena hitam identik „bertuah dan keramat‟, itulah play acting at science (bermain akting dalam ilmu). Sekalipun kata bersifat innate ability (berjalan sesuai kemampuan kodratinya), kita masih bisa melihat dunia ini secara teratur. Namun, dibalik itu dunia realitas kita sering dibatasi pandangannya, itulah dunia newspeak, sebuah dunia yang merekayasa kesepakatan dengan menampilkan kata-kata manis, kemudian memberikan makna sesuai dengan kehendak yang berkepentingan. Hal inilah yang sering menyebabkan kita tidak bebas menentukan file name kita, karena file memori kita telah dirancang untuk memproduksi kata atau ungkapan yang indah. Kerancuan ini sering kita lihat ketika kata tidak lagi mengandung konsep nilai, tetapi diwujudkan dalam konsep ideologi. Kata-kata dihancurkan diganti dihambat, pemaksaan diartikan kebijaksanaan, pinjaman diistilahkan bantuan, dll. Ketika Iran berusaha menjadi penengah dalam perang teluk, antara AS dan Irak, AS dan Inggris menganggapnya „lelucun kejam‟ dan „bogus sham‟. Bombardir AS dan sekutunya di Bagdad, dianggap mewujudkan perdamaian di Timur Tengah dan menciptakan Tatanan Dunia Baru (New World Order). Kalau anda mendengar rakyat kecil memperjuangkan tanahnya karena harga tidak pantas, dicaplah “menghambat pembangunan”. Jika ada wakil rakyat menentang kebijaksanaan, dianggaplah terlalu vokal. Apa yang terjadi ketika kita mendengar SDSB diperpanjang dan masih dihalalkan, pemerintah menyebutnya “demi kemajuan olah raga serta sumbangan amal untuk negara”. Dan ketika umat Islam memprotes monitor dan menentang SDSB, buru-buru dicap terlalu “primordialisme”. Itulah newspeak yang mungkin juga selalu hadir di tengah-tengah kita.

Berinternet dengan Tetangga

113

Usai melakukan tawaf terakhir (wada‟), Abdullah bin Mubarak seorang ulama hadits dan sufi besar (118 H / 736 M – 181 H / 797 M) duduk mengaso sambil berangin-angin. Tanpa sadar ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit sedang bercakap-cakap. “Berapa orang yang naik haji tahun ini ?” kata malaikat yang satu pada temannya. “600.000 orang”. “Berapa orang diantaranya diterima hajinya ?”, temannya menjawab, “Tidak satupun yang diterima hajinya”. Masya Allah. Mereka datang dari pelosok yang jauh dan dari setiap lembah yang dalam dengan susah payah, mereka melintasi padang pasir yang luas, tetapi semua itu sia-sia, gumam Abdullah. Malaikat itu menyambung lagi pembicaraannya,

“Ada seorang tukang sepatu yang tinggal di Damaskus, Ali bin Muwaffaq namanya, dia tidak naik haji tetapi amal perbuatannya dinilai telah melaksanakan haji, dan dosa-dosanya terampuni”.

Abdullah penasaran, ia kemudian menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju Damaskus (sekarang Syiria) untuk mencari tahu apa keistemewaan si tukang sol sepatu itu. Dengan sedikit susah payah, akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. “Siapa nama tuan ?” kata Abdullah. “Ali bin Muwaffaq”. Tiba-tiba Abdullah menjerit dan pingsan. “Ceritakan kepadaku tentang dirimu”, kata Abdullah. Ali bin Muwaffak-pun mulai bercerita, “Tiga

puluh tahun saya bercita-cita naik haji bersama istri saya. Dari pekerjaan tukang sol sepatu, saya berhasil menabung uang 350 dirham. Suatu hari istri saya lagi ngidam. Dia mencium masakan tetangga sebelah. Ia merengekrengek ingin mencicipi masakan tetangga saya itu. Dengan menahan sedikit perasaan, saya ke tetangga meminta sedikit makanan itu. Tetapi, sungguh diluar perkiraan saya, tetangga saya tak ingin memberikan makanannya kepada saya. Dengan air mata berurai, ia berkata, “Pak Ali, telah tiga hari
anak-anak saya tidak makan. Sejak kematian suami saya, kami tidak punya apa-apa lagi. Tadi siang saya melihat ada seekor bangkai keledai tergeletak di pinggir jalan, diam-diam saya mengerat sedikit demi sedikit dagingnya untuk mempertahankan hidup kami. Masakan ini tidak halal buat bapak.”

Saya sangat kasihan kepadanya, sehingga seluruh uang yang ingin kupakai untuk ongkos perjalanan haji kuserahkan, sehingga saya tidak jadi berangkat”. “Kedua malaikat itu telah berbicara yang sebenarnya di dalam

mimpi saya, dan penguasa kerajaan surga benar-benar adil dalam mempertimbangkannya” kata Abdullah sambil memuji kebesaran Allah. Kita tidak tahu apa makna dibalik kisah ini. Seorang Ali bin Muwaffaq yang tidak naik haji sama sekali malah diterima hajinya serta diampuni dosanya. Namun yang pasti kisah seperti di atas bukanlah sebuah cerita 114

yang aneh di kalangan sufi. Dalam gambaran perjalanan spiritual, mereka sering sekali berhadapan dengan kenyataan sosial yang tidak lazim di tengah masyarakat. Hal yang sangat mustahil dalam sunnatullah bisa jadi sangat biasa dalam maqam dan pandangan seorang sufi. Ada makna yang sangat mendalam dari tarbiyah kisah di atas, yaitu menyangkut akhlak bertetangga. Ali bin Muwaffaq rela tak jadi pergi haji karena keprihatinannya terhadap keadaan tetangganya. Kepeduliannya membuat Allah kagum kepadanya. Ini hanyalah bagian kecil adab bertetangga. Sungguh tetangga adalah bagian dari keluarga kita, bahkan ia lebih dekat dengan saudara kita. Ketika kita membutuhkan pertolongan, tetanggalah yang pertama kali mengulurkan tangannya, meskipun gambaran seperti ini sudah mulai bergeser. Namun, bagi masyarakat yang masih memegang kuat tradisi dan agama, tetangga adalah pilar yang memperkokoh keutuhan dan peradaban hidup mereka. Seringkali kita melihat, ketika orang saling sibuk dengan pekerjaannya sendiri, pagi pergi, malam baru pulang, ia lebih banyak tidak tahu kondisi sekitar rumahnya (para tetangganya). Sampai sebuah perusahaan komputer di Inggris membuat program internet yang menghubungkan PC komputer dari rumah ke rumah untuk sekedar menyambung komunikasi karena begitu saling sibuk dan tidak saling mengenalnya diantara mereka yang bertetangga. Bahkan ada yang tidak segan membuat benteng pemisah antara ia dan tetangganya. Entah itu benteng pemisah status sosial maupun benteng tembok yang tinggi, sehingga suara-suara yang melengking dari rumahnya tidak terdengar di sebelah temboknya. Begitu penting arti tetangga sehingga Rasulullah mengaitkannya ke dalam masalah iman. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya ia menghormati tetangganya”. Ini adalah sebuah konsekuensi seorang muslim dalam bertetangga tanpa membedakan status, ras, bangsa maupun agamanya. Dalam sebuah pesannya, Nabi yang mulia bersabda : “Tahukah kamu apa yang menjadi hak tetangga ?, bila tetanggamu minta tolong, tolonglah dia. Bila ia ingin hutang kepadamu, hutangilah ia. Bila ia jatuh sakit, jenguklah ia. Bila ia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya. Bila ia memperoleh sesuatu yang menggembirakannya, ucapkanlah selamat kepadanya. Apabila ia mendapat musibah, tunjukkanlah rasa simpatik kepadanya. Janganlah kamu membangun bangunan yang tinggi dimana kamu menutupi udara tetanggamu, kecuali jika ia mengijinkanmu. Jika kamu membeli buah-buahan, hadiahkanlah sebagian kepadanya, jika tidak, 115

masukkanlah ke dalam rumahmu pelan-pelan dan jangan sampai anak-anakmu membawa keluar buah itu sehingga membuat iri anak tetanggamu itu. Janganlah kamu sakiti hati mereka dengan bau masakanmu, kecuali jika kamu memberikan sebagian kepadanya. Tahukah kamu apa yang menjadi hak tetangga ? Demi zat yang menguasai jiwaku, tidak akan menyadari hak tetangga kecuali orang yang dirahmati oleh Allah”. Wallahu „alam.

Eksistensi Sebuah Hijrah
(Telaah perjalanan Hijrah hindun “Ummul Mu‟minin” binti Abi umayyah). Kala itu kekejaman kaum kafir Quraisy sudah melewati batas. Mereka sudah berbuat sewenang-wenang tanpa pandang bulu. Keluarlah instruksi dari Nabi bahwa sudah tiba saatnya kaum muslimin berhijrah. Ada yang berhijrah sembunyi-sembunyi, ada yang berombongan bahkan ada yang secara terang-terangan, seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ra. Adalah seorang wanita dari bani Mughairah nekad melakukan perjalanan (hijrah) seorang diri yang ditemani oleh anaknya. Hindun binti Abi Umayyah bin Mughairah, istri seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Asad. Ia melakukan perjalanan sendiri bukan karena kehendaknya. Suaminya yang telah berhijrah lebih dahulu terpaksa meninggalkan istrinya, karena anak satu-satunya telah ditahan oleh pihak keluarga suaminya dari bani Asad yang belum memeluk Islam. Sehingga Hindun berhari-hari meratapi perpisahannya dengan suami dan anaknya yang tercinta. Hingga akhirnya ia diberi izin oleh kaumnya (bani Mughairah) untuk menyusul suaminya dan membawa anaknya serta. Kisah patriotik itupun terukir, betapa wanita seperti Hindun menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 450 km, sebuah perjalanan yang mempertaruhkan harga diri dan keberanian. Jangan bayangkan perjalanan sekarang dari Mekah ke Madinah dengan bus patas ber-AC yang sangat cepat larinya. Empat belas abad yang lalu, perjalanan seperti itu sangat sulit dan membutuhkan perjuangan tersendiri serta memakan waktu yang berhari-hari menempuhnya. Ia berangkat dengan menggendong anaknya tanpa menunggu kafilah yang akan menjadi teman dalam perjalanan. Berangkat tanpa bekal dan 116

petujuk jalan, suatu perjalanan yang mengerikan sekali apalagi bagi seorang wanita. Namun ia memperkokoh tekadnya, bahwa perjalanan itu sebagai suatu wujud kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada kecintaan akan agama Islam serta kecintaan kepada suaminya. Jika malam tiba, ia bersembunyi dibalik batu besar beratapkan langit, di bawah tebaran bintang gemintang dan awan. Diliputi bayang-bayang malam yang menyeramkan, digaduhkan oleh suara badai gurun dan suara burung hantu yang menegakkan bulu roma. Malam terasa lama sekali bagaikan matahari tak akan pernah terbit di ufuk timur. Dipeluknya anaknya supaya tidak kedinginan, sedang nafas di dada terasa terhenti karena setiap saat diliputi suasana mencekam. Sedang bila siang hari tiba, ia serasa dibakar panas terik sahara yang berpasir hangat pada saat setetes air tidak ada yang akan diminum. Tiada teman selain Allah dan anak yang tidak pernah lepas dari pelukannya.

* * *
Apa yang dilakukan dari kisah perjalanan seorang sahabat Nabi tergambar dari sebuah perjuangan yang sangat berat. Bahwa semua itu dilandasi atas keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebuah hijrah yang tidak hanya digambarkan dalam bentuk sebuah perjalan fisik (dari Mekah ke Madinah), tetapi lebih dari itu adalah sebuah hijrah dari perbuatan jahiliyah ke perbuatan yang Islami. Hijrah adalah simbol dari sebuah bentuk perpindahan yang bermakna universal. Perpindahan bisa berarti dari satu tempat ke tempat lainnya, perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya atau perpindahan dari satu sifat ke sifat lainnya. Bentuk keuniversalan dari hijrah dapat dilihat dari kadar yang ditimbulkan oleh niat. Istilah Nabi, hijrah itu berpangkal dari sebuah pekerjaan yang berlandaskan niat. Dengan dasar dan kualitas nilai inilah sebuah hijrah bisa bermakna. Pada tingkat kosmos yang paling hakiki, makna hijrah dititik beratkan pada motivasi bagaimana memperoleh Ridha Allah. Sehingga ketika motivasi itu ditujukan semata-mata karena Allah maka lahirlah wujud dan karakteristik seperti Hindun, Umar, Ali dan sahabat yang lainnya. Hijrah adalah sebuah bentuk manusiawi yang mencerminkan keteladanan yang diajarkan oleh nabi, bagaimana menghijrahkan bentuk dan perilaku kita yang kadang-kadang tidak manusiawi. Itulah sebabnya, 117

mengapa Nabi selalu berpesan kepada umatnya agar iman itu harus selalu diperbaharui dengan dzikir “ Laa Ilaaha Illallah”. Salah satu hikmahnya, agar kita selalu menghijrahkan bentuk-bentuk ketidakmanusiawian kita ke bentuk manusiawi. Sebab pada tataran nilai, kemanusiaan seringkali dapat berwujud keegoan yang menguasai nilai kemanusiaan kita. Sehingga lahirlah berbagai intrik yang saling menguasai, antara wujud, eksistensi dan peran. Tanpa sadar, intrik inipun kemudian melahirkan interes hidup yang bersifat kompetitif. Maka disinilah bentuk hijrah yang bisa mengintrospeksi diri, bisa me-reinterpretasi makna kemanusiaan kita. Tak kalah penting dari semua itu, bagaimana kita memahami hijrah dari segi eksistensinya. Bahwa pada akhirnya, sebuah hijrah diperlukan kesiapan dan kemapaman operasional dan bernilai strategi. Sehingga motivasi hijrah dapat melahirkan pengorbanan tanpa pamrih, mampu memahami makna hidup yang lebih hakiki serta menciptakan rasa tawakkal dan pentingnya usaha dalam hidup ini. Wallahu „alam

Qana’ah Menepis Sikap Konsumerisme
Tanpa diduga ibu Nancy, yang suaminya pejabat esalon tinggi di kantor pemerintahan melihat kalung berlian yang melilit di leher Bu Sumi, pada pertemuan ibu-ibu dharma Wanita. Naluri kewananitaanya cepat merasakan, betapa ia juga sangat cantik jika memakai perhiasan seperti yang dikenakan rekannya itu. Sebab, ia tahu bahwa gaji suaminya sedikit lebih banyak dari gaji suami rekannya itu. Malam harinya, ketika asyik nonton tv dengan keluarganya, ia tidak sabar ingin menyampaikan kegundahan hatinya kepada suaminya. Sambil meremas-remas tangan suaminya, ia sedikit merengek untuk dibelikan kalung seperti rekannya. Suami ibu Nancy akhirnya termakan rayuan istrinya dengan membandingkan bahwa gajinya lebih banyak dari gaji suami ibu Sumi. Sang suami sadar, sebagai pejabat tinggi di daerah ini, ia tentu tidak begitu saja harus memenuhi permintaan istrinya, sebab harga kalung itu sedikit mencekik. Toh ia akhirnya mengeluarkan tabungannya demi sang istri, yang mungkin juga menjaga gengsi.

118

Ketika sedang asyik membaca majalah, ibu Zaitun tiba-tiba terhenyak melihat sebuah kursi tamu yang hanya boleh dikata, dimiliki oleh para konglomerat. Ia berpikir, alangkah cantiknya ruang tamunya jika kursi-kursi yang ada di majalah tersebut terpajang di ruang tamunya. Ketika suaminya pulang, tanpa memberi istirahat, ia langsung menyodorkan majalah yang ia pegang ke suaminya. Dengan rayuan khasnya, ia sedikit menteror suaminya, tentu saja dengan berbagai alasan. Kuno-lah, harus mengikuti zaman-lah, tetangga sudah membeli kursi seperti itu-lah, dan sebagainya. Bagi suaminya, permintaan istri tak jadi masalah. Sebab, sebagai direktur sebuah perusahaan real estate, harga kursi tersebut tidak seberapa dibanding dengan gajinya. Cuma, dia menyayangkan kursi yang baru setahun dibelinya mengapa harus diganti. Daripada ribut-ribut dengan istri yang punya naluri bertengkar cukup tinggi, sang suami menurut saja. Lain lagi dengan ibu Nandong, tengah asyik berbelanja di Mall ratu Indah, ia sangat tertarik dengan gaun yang sangat cantik dan elegan. Ketika ia melihat harganya, hatinya jadi ciut, sebab hampir sama sebulan gaji suaminya. Ia hanya menahan nafas, dan cukup puas dengan melihat dan memegangnya saja. ketika pulang, tanpa pretensi mengadu, ia menceritakan kepada suaminya tentang gaun yang dilihatnya tadi. Cerita ibu Nandong tak urung membuat suaminya merah padam, walaupun ia kelihatan sabar mendengar cerita istrinya, terasa dag dig dug juga nyalinya. Padahal ia tahu, istrinya ngomong seperti itu bukan dengan maksud untuk dipenuhi permintaannya. Mungkin yang paling menarik adalah pengalaman ibu Aminah. Ketika menghadiri arisan ibu-ibu di kantor suaminya, ia melihat gelang emas murni yang dipakai ibu Hindun yang duduk di sampingnya. Sebagai wanita, tentu saja ia juga ingin berpenampilan seperti ibu Hindun tersebut. Ketika pulang, ia hanya memendam perasaan tersebut kepada suaminya. Sebab ia tahu, betapa suaminya tak sanggup membelikannya. Maka, impian itu hanya disimpan sebagai angan-angan. Dia hanya menceritrakan bagaimana suasana arisan tersebut tanpa menyinggung gelang yang dikenakan rekannya.

* * *
119

Dari keempat pengalaman ibu-ibu di atas, nyata bahwa pada hakekatnya neluri mereka satu dalam melihat dan menilik perhiasan. Naluri wanita memang ingin selalu kelihatan cantik, menarik, mempesona dan ingin selalu disanjung. Nilai kuantitas materi yang menjadi obyek kebanggan wanita yang sering dilihat, acap kali membangkitkan emosi mereka untuk merensponi fenomena kehidupan keseharian mereka. Perlakuan ibu Nancy kepada suaminya sedikit memaksa, sekalipun ia menyadari bahwa hal itu sangat berat dilakukan oleh suaminya. Tapi ia juga menyadari bahwa penampilan harus dinomor satukan untuk menjaga prestasi “mewah” atau “gengsi” sesuai dengan golongan suaminya, sebagai pejabat elit di daerah ini. Dengan sikap demonstratif, ia sedikit menteror suaminya ditambah rengekan, demi memenuhi perasaanya, tanpa pertimbangan yang realitas. Ibu Zaitun mungkin tidak menjadi masalah setiap kali ingin memenuhi hasrat materialistiknya. Sebab gaji suami menunjang ditambah dengan sikap hidupnya yang loyal terhadap barang mewah mudah direalisasikannya. Tetapi sayangnya, sikap konsumerismenya sangat mudah memenuhi ambisinya. Sehingga barang yang masih baik dan kuat harus segera digusur demi tidak ingin disaingi dan sangat takut ketinggalan mode. Beda dengan ibu Nandong, ia menyadari bahwa suaminya tidak bisa berbuat sepeti keinginannya. Karena hanya ingin melepaskan uneg-unegnya tanpa ingin dipenuhi hasratnya, tetapi akibatnya sang suami merasa sedikit stres. Dengan melihat keterbatasan yang dimilikinya, ia merasa tidak mampu memenuhi keinginan istrinya. Suami Nandong kecewa dengan takdir hidupnya. Ibu Aminah adalah protipe yang sadar akan kemanusiannya sebagai orang yang hidup dalam pas-pasan. Naluri kewanitannya ingin tampil trendi seperti ibu-ibu lainnya sangat besar, tetapi tingkat perkapita hidupnya telah membatasinya. Baginya, mengangan-angankan keinginannya sudah cukup. Sikap konsumerisme nyaris melanda masyarakat kita. Iklan-iklan yang ditayangkan telah merasuki berbagai pikiran konsumen yang ingin dipenuhi, tanpa melihat realita hidup, yang pada akhirnya dapat melahirkan sikap materialisme, syukur kalau uang atau gaji suami mencukupi. Tetapi persaingan hidup terkadang tanpa sadar menyeret kita tanpa sadar untuk melakoninya dengan menimbulkan sikap saling berlomba memiliki segalagalanya. Hingga akhirnya kita melihat, banyak ibu-ibu berusaha memenuhi 120

hasrat kewanitaannya, melengkapi atribut rumah tangganya dengan berbagai embel-embel perhiasan, meskipun harus dengan meminjam fulus kiri kanan. Islam memberikan tuntunan kepada kita bahwa kehidupan yang Thoyyib, berberkah adalah menumbuhkan sikap qana‟ah dalam hidup. Merasa cukup dan syukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita, tanpa harus membandingkannya dengan orang lain. Nabi yang mulia menasehati kita dengan sabdanya, “ Lihatlah orang yang dibawahmu, dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, karena yang demikian itu lebih tepat, agar kamu tidak meremehkan nikmat karunia Allah kepadamu”. (H. R. Bukhari- Muslim dari Abu Hurairah ra).

Disiplin
Makhluk apakah disiplin itu ?, yang begitu besar pengaruhnya pada kehidupan, yang begitu banyak membuat manusia berhasil di segala bidang. Siapa yang mengabaikannya, bisa-bisa hidupnya tidak teratur. Jepang yang habis dibom oleh Amerika Serikat bangkit dengan kekuatan ekonominya, yang sekarang menjadi suatu kekuatan raksasa yang tak tertandingi, mereka maju, juga sangat patuh terhadap disiplin. Umumnya bangsa-bangsa yang sangat kuat ekonomi dan industrinya adalah bangsa yang sangat menghargai arti disiplin. Disiplin, bisa menjadi sangat murah bagi siapa yang patuh dan terbiasa, dan menjadi mahal bagi yang hidupnya tidak teratur. Sebegitu murahnya, dapat dijumpai dimana-mana, di kantor, di R. S, di rumah, di airport, di bank. Alangkah indahnya dipandang mata, manusia Indonesia 121

antrian di loket pembayaran rekening listrik, berurutan maju di depan kas keuangan menerima gaji. Dan alangkah rusaknya pemandangan yang sering kita jumpai di halte bus, manusia makassar berebutan naik ke dalam bus yang tak ubahnya segerombolan bebek yang berebutan masuk kandang, atau ulah sopir pete-pete yang berebutan merebut penumpang yang kadang mengabaikan jiwa penumpangnya, tak ubahnya gerombolan kambing yang berebutan daun pisang. Pada hakekatnya, setiap kita mempunyai fitrah disiplin. Dalam diri manusia, segala sistem organ, fungsi faaliyah, tata aturan metabolisme serta gerak ritme hidup jasmaniah sudah dipatokkan disiplin oleh Yang maha Kuasa. Satu-satunya makhluk hidup bumi yang bernama perempuan, dari permpuan yang mulai pubertas hingga belum datang monopausenya, yang paling memahami fitrah disiplin yang terdapat dalam siklus Em-nya. Alangkah nikmat hidupnya perempuan jika siklus itu berjalan secara sunnatullah. Siklus itu mulai dari (1) masa haid, 2-8 hari, dimana endometrium dilepas, kemudian masuk. (2) masa proliferasi sampai hari keempat belas, terjadi pelepasan ovum di ovarium (ovulasi), dan terakhir (3) masa sekresi yang menghasilkan progesteron, dimana kelenjar endometrium bersekresi dan mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak. Apa yang terjadi jika siklus menstruasi ini tidak „mendisiplinkan diri‟ ? bisa jadi mengalami amenorrhea (tidak ada haid), dysmenorrhea (nyeri waktu haid), bisa juga menorrhagia (pendarahan yang berlebihan), atau mungkin menomettrorrhagia (pendarahan dari rahim yang terjadi sewaktu haid). Semuanya ini merupakan patologi yang berbahaya bagi tamu si Em yang tidak disiplin. Begitu pentingnya disiplin, ia juga sama pentingnya dengan kebutuhan pokok lainnya. Kata orang bijak, disiplin tidaklah tercipta dengan sendirinya. Selain kesadaran, juga memerlukan latihan. Dalam syariat Islam, arti sholat bagi seorang muslim, bukan hanya suatu kewajiban, tetapi juga mengajarkan arti disiplin terhadap waktu. Sehingga orang yang sering telat waktu sholatnya apalagi lalai, dianggap orang yang merugi. Mengapa Tuhan mengajarkan untuk mentaati waktu sholat, sebab Dia sendiri adalah Maha diisiplin terhadap segala ciptaan-Nya. Jika manusia disiplin dengan diberlakukannya „Qanun Basyariyah‟, maka Tuhan disiplin mencakup keseluruhannya, termasuk untuk diri-Nya dengan berlakunya „Qanun Ilahiyah‟. Hal ini biasa Ia aktualisasikan dalam sunnatullah-Nya. Misalnya, ketika ia menerangi bumi, pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung 122

sama dengan bergeraknya awan (Q.S. 27 : 88). Ini hanyalah satu dari diantara sekian banyak disiplin Allah Rabbul „Alamin terhadap makhluk-Nya.

Sang Insan Kamil dalam Baiytiy jannatiy
“Atthiril Allahumma Qabrahul kariimi Bi „Arfin Syaziyyin Min Shalaatin Wa tasliimin”. (Ya Allah, harumkanlah nama baik Nabi kami dengan wewangian dari Rahmat dan Karunia-Mu) Demikian diantara alunan bacaan dari orang-orang yang berkumpul di sebuah rumah mewah, di tengah kota. Mereka membentuk lingkaran cukup besar dengan duduk bersila. Penuh kekhusyu‟an, mereka mendengarkan alunan syair-syair dari pembaca kitab Al-Majmu‟ah mawalid Wa „Ad-diyah, yang lazim dikenal dengan kitab barazanji. Secara bergilir, tiap orang yang mahir membacanya ikut berpartisipasi mengekspresikan dalam sebuah qira‟ah tersndiri. Imam jalaluddin As-Suyuti mengomentarinya dalam sebuah perkataan, “Manusia berkumpul lalu membaca sekedarnya ayat-ayat suci AlQur‟an, kemudian membaca kisah-kisah sejarah Nabi dan kisah-kisah bagaimana situasi ketika Nabi dilahirkan, kemudian mereka makan bersama dan bubar, tidak lebih dari itu. Ibadah semacam itu adalah bid‟ah hasanah (bid‟ah yang baik), yang diberi pahala yang mengerjakannya, karena dalam amal ibadat itu terdapat suasana membesarkan Nabi, melahirkan kesukaan dan kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW yang mulia” (I‟anatut Thaaliibin III, hal 363). Menjadi kelaziman di negeri ini bahwa tiap bulan rabiul awal masyarakat Islam memeriahkan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW. Sebuah bentuk ekspresi kecintaan terhadap tokoh idola yang menjadi panutan bagi manusia yang sadar akan keberadaannya di dunia ini, sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Telah tumpul pena untuk melukiskan kemuliaan dan kebesarannya, sehingga ketika „Aisyah ditanya, “Bagaimana akhlak Nabi”. Ummul mukminin balik bertanya, “Apakah kamu membaca Al-Qur‟an ? itulah akhlaknya nabi, akhlaknya Al-Qur‟an”. Apakah akhlak Nabi yang paling membuat terpesona „Aisyah sebagai istri yang dicintainya. Dengarkanlah kisah seperti yang dikutip dari Tafsir 123

Ibnu katsir, tatkala beliau meminta izin kepada istrinya, yang mengandung penghormatan, perhatian dan kemesraan. “Pada suatu malam ketika beliau tidur bersamaku, dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, beliau berkata, “ Ya „Aisyah, izinkan aku beribadat kepada Tuhanku”. Aku berkata, “Aku sesungguhnya senang merapat denganmu, tetapi aku juga senang melihatmu beribadat dengan Tuhanmu”. Beliau bangkit dan berwudhu. Ketika beliau berdiri shalat, kudengar beliau terisak-isak menangis. Kemudian beliau duduk dan membaca Al-Quur‟an, juga sambil menangis shingga air matanya membasahi janggutnya. Ketika berbaring, air matanya jatuh lewat pipinya membasahi bumi yang ada di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat nabi menangis, “mengapa anda menangis padahal Allah telah menghapus dosa-dosamu yang lalu dan kemudian ?” tanya Bilal. “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali-Imran 190-191. celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya”. Untuk keluarganya, Nabi menjadi contoh yang paling baik dari tiap generasi yang ingin membentuk dan yang sudah berkeluarga. Tak pernah sekalipun didengar ada piring yang melayang. Ketika ia tidak menyukai masakan istrinya, ia hanya terdiam dan tidak menyentuhnya. Ketika suatu malam ia terlambat pulang, diketuk pintu rumahnya tiga kali, tak ada sahutan dari dalam, dengan berbesar hati dan tak ingin mengganggu tidur istrinya, ia membentangkan sorbannya lalu tidur di depan pintunya. Di waktu baju atau sendalnya sobek, ia menjahitnya sendiri. Seringkali ia ringkaskan sholatnya apabila mendengar tangisan anakanak, supaya lekas diurus oleh ibunya yang ikut dalam berjamaah. Ia kasihi musuhnya yang hendak membunuhnya. Bahkan ia kasihi binatang ketika memikul barang yang sangat banyak. Ia menyuruh segerakan menyembelih binatang dengan pisau tajam agar binatang itu tidak merasakan sakit. Ia melarang membunuh binatang kecuali yang dimakan. Pernah suatu kali ia membukakan pintu seekor kucing yang ingin berlindung. Atau mengobati seekor ayam jantan yang sakit. Suatu ketika „Aisyah mengendarai unta, lantaran nakalnya, ia memukul unta itu, Nabi melihatnya dan berkata, “berlaku lembutlah”. Di waktu sholat, cucunya sering naik di punggungnya, ia diam saja. ketika anaknya meninggal, ia menangis lantaran sayangnya. Ketika sahabatnya wafat, ia juga menangis karena begitu sayangnya ia kepada sahabatnya. Nabi sering mendo‟akan umatnya lantaran kasihan dan cinta kepada mereka. 124

Sangat sulit mencari pemimpin dunia yang begitu memuliakan kaum perempuan, ketika mereka dihinakan. Nabi datang membawa panji-panji mulia tentang status dan hak wanita. Sebagian rahmat yang dikembangkan Rasulullah adalah memperbaiki kedudukan wanita sederajat dengan pria. “Barang siapa yang mengerjakan perbuatan kebajikan, laki-laki atau perempuan, dalam keadaan dia beriman, niscaya akan kami hidupkan ia dalam kehidupan yang baik. Kemudian akan kami berikan kepadanya pembalasan, menurut yang mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya” (an-nahl :97). Para orientalis barat dengan sikap sinis mengkritik poligamy Nabi. Padahal tak satupun catatan sejarah yang mencatat bahwa perkawinan beliau dengan para istrinya adalah karena kecantikan atau hawa nafsu. Bahkan semasa istrinya masih Khadijah, beliau hanya punya istri seorang, Khadijah semata. Beberapa perkawinan selanjutnya, bukan menunjukkan kelemahannya dalam menghadapi nafsu “jasmaniyah”, melainkan melambangkan sifatnya dan fungsi sebagai bapak dan kepala keluarga, bukan sebagai seorang suci yang menarik diri dari dunia, juga ia hidup di dalamnya dan menerimanya dengan tujuan untuk menyatukan dalam suatu tata realitas yang lebih tinggi. Rasulullah SAW tidak pernah menikahi wanita karena melihat kecantikannya, tetapi demi silaturahmi dan untuk membela wanita itu agar tidak sampai sia-sia dan dihinakan. Itulah sebenarnya motif yang menggerakkan hati dan jiwa beliau untuk menikahi wanita-wanita itu yang sebagian besar adalah janda dan tidak mempunyai keluarga yang memeluk Islam untuk membelanya. (Dr. abdul Nasir Taufiq Al-„Atthar dalam Ta‟adduduz Zaujati Minan Nawaahid Diiniyyati yang diterjemahkan menjadi poligamy, ditinjau dari segi agama, sosial dan perundang-undangan, hal 143). Andrae dalam “Die Persons Muhammads”, mengatakan : “Istri-istrinya tidak pernah membuatnya berpaling dari Tuhan, bahkan sebaliknya, mereka menambah ketaqwaannya, karena ia menjaga agar mereka tetap suci dan mendorong mereka untuk ikut berperan serta dalam upaya kebajikan dan mengikuti petunjuk-Nya. Meskipun perkawinan itu bagi orang lain merupakan masalah duniawi, dia justru mengejar kebahagiaan akherat dengan perkawinannya”. (Annemarie Schimmel dalam „Dan Muhammad adalah utusan Allah‟, hal 77-78). Ini hanyalah sebagian dari sepercik kisah kemuliaan Nabi yang sepatutnya menjadi teladan bagi yang tahu makna “Tidaklah kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi alam ini”. (Q. S. Al-Anbiyaa : 107). 125

Catatan : Insan kamil :pribadi paripurna Baiytiy jannatiy :hadits nabi yang berarti rumahku, surgaku

Sedang Namapun Punya Harga Diri
Gaben, seperti biasanya asyik mengotak-atik gudang kecil yang terdapat di belakang rumahnya yang cukup mentereng. Bersama adiknya, Maxlen dan Meisye seorang cewek tomboy, yang keduanya duduk di SLTP dan SMU ikut-ikutan kakaknya membongkar, entah apa yang mereka cari. Tengah asyik membongkar, Gaben rupanya tertarik pada sebuah peti tua yang terdapat di sudut gudang. Gaben, seorang mahasiswa PTN, memang sering melihat peti itu, tetapi entah mengapa baru kali ini ia tertarik membuka peti itu. Dengan susah payah dan dibantu oleh kedua adiknya, peti itu berhasil dibukanya. Tak ada yang menarik dari isi peti, kecuali kertas dan majalah bekas yang rupanya telah berusia puluhan tahun. Mereka juga menemukan manuskrip-manuskrip dari sisa peninggalan kakek mereka. Yang menarik, mereka menemukan album foto. Sambil asyik membuka-buka album itu, sesekali mereka cekikikan melihat tulisan-tulisan yang tertera di bawah foto. Foto-foto itu menggambarkan kehidupan tempo dulu dari kakek neneknya. Misalnya, mereka melihat beberapa pemuda dengan pose heroik merangkul senjata, yang menggambarkan keadaan di masa revolusi fisik. Juga mereka melihat beberapa foto setengah badan dari seorang pemuda yang memakai kopiah miring atau wanita anggun yang berkebaya. Ada juga foto orang yang baru melaksanakan ibadah haji. Jelas terlihat nama-nama dari orang yang difoto itu menggelikan hati mereka. Maxlen dan Meisye tertawa-tawa membaca nama mereka. “kak, lihat nama kakek ayah, H. Abdul Malik, terus ini kakek namanya lucu ya kak, H. Azis Thaba. Nama-nama mereka kuno ya kak ?”. gaben terhenyak dalam sebuah fikiran yang mengambang jauh, melintas batas dan ruang. Dia membayangkan, betapa kakek mereka dulu bangga punya nama yang cukup menunjukkan identitas mereka sebagai muslim. Dia juga menyadari betapa pergeseran dan makna nama seringkali membuat banyak 126

orang tidak lagi peduli, yang penting nama itu kedengaran keren dan menunjukkan identitas kemoderenan.

* * *
Suatu hari, seorang anak datang kepada Sayyidina Umar bin Khattab. “Ya Amirul mukminin, apakah Cuma orang tua saja yang punya hak kepada anaknya ?” umar menjawab : “Tidak, anakpun punya hak terhadap orang tuanya”. “Apa haknya anak terhadap orang tuanya ?” “Haknya anak adalah diberi nama yang baik, di beri pendidikan yang baik dan dinikahkan jika tiba waktunya”. “Ya Amirul Mukmini, hari ini saya meminta hak saya sebagai anak”. Sedikit terhenyak, Umar menjawab, “Memangnya kenapa ?” “Orang tua saya tidak memberikan nama yang baik. Saya diberi nama Al- Khuffasy (si kelelawar), sampai saat ini saya belum diajari mengaji, terlebih sholat, dan orang tua saya juga belum menikahkan saya”. Selesai pembicaraan itu, Umar memanggil orang tua si Khuffasy dan memberikan hukuman yang setimpal sebagai orang tua.

“What is in a name ?”, kata Shakespeare. Nama mempunyai implikasi luas terhadap pembentukan pribadi anak dalam berinteraksi dalam lingkungannya. Islam memandang nama bukanlah sekedar sebagai panggilan, tetapi lebih dari itu adalah simbol yang membawa pesan terhadap identitas diri, keluarga, bangsa, bahkan aqidah. Andi Pettarani, pastilah dia orang Bugis. Fadillah Toatubun, pasti orang Maluku. Law Hong Bung, tidak salah lagi, pasti dia orang Cina. Islam menganjurkan orang tua memberi nama yang baik, yang menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintas batas rasial, geografi, etnis dan kekerabatan (kinship). Boleh jadi Abdul Malik Azis orang Indonesia, Malaysia, AS, Afrika, Iran atau Korea. Terkadang kita menjadi latah terhadap perkembangan zaman, yang menuntut perubahan di segala sektor. Namapun bisa digadaikan hanya untuk menyesuaikan diri di masyarakat. St. Khadijah misalnya, karena ingin menyesuaikan diri dengan profesinya, pemain sinetron, nama aslinya harus dihilangkan dari file masyarakat, menjadi Ayu Azhari. 127

* * *

Kadang-kadang orang biasa malu memperkenalkan namanya, ketika mendengarkan nama-nama temannya kedengaran wow, akhirnya ia memenggal atau meringkas namanya. “perkenalkan, nama saya Aar”. Temannya bingung, “Aar ? nama lengkapnya siapa ?”. dengan sedikit jengkel ia menjawab, “Aar, ya . . . Aar, itu saja”, padahal nama lengkapnya adalah Amirullah Abdul Rahim, singkatnya Aar.

* * *
Ketika menyadari betapa nama itu sangat penting, para psikolog lalu membuat sebuah analisa dalam teori pembentukan konsep diri. Sebuah nama secara tidak sadar mendorong seseorang untuk membangun citra (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya. Teori labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya penjahat (Jalaluddin Rahmat dalam Islam Aktual Hal. 185). Gantilah nama anda menjadi Kandacong (kandala Maccolong), maka teman anda akan berpikir dua kali untuk bergaul dengan anda, sebab dibenak teman anda, anda mengidap penyakit lepra. Atau Gali, kemungkinan masyarakat akan mencap anda sebagai gabungan dari anak liar atau preman pasar. Padahal ada kalanya mereka menamakan dirinya Kandacong atau Gali hanya sebagai gurauan, yang sebenarnya banyak orang yang memakai nama itu, tetapi orangnya baik di masyarakat. Walhasil, orang tua akan dituntut di akhirat oleh anaknya jika dia tidak memberikan nama yang baik, sehingga selama di dunia, sang anak tersiksa punya nama yang jelek dari orang tuanya.

128

Seksi Itu Realitas Alam Tidak seperti biasanya, jalan itu tiba-tiba menjadi macet, para penoton terus berdatangan, memadati setiap tempat yang kosong. Itu rutin, pada malam-malam seperti acar pengantin, jika pentas orkes melayu didendangkan, para anak muda dan gadis yang merasa dirinya bisa mejeng bareng, berdesak-desakan di depan panggung orkes. Sebenarnya yang paling syuur dari atraksi gratis itu adalah kreativitas olah vokal dan gerak si penyanyi yang bisa menunjukkan bantuk keliaran ular phiton dengan riitme yang menghanyutkan angan-angan. Dan sebagian dari manusia-manusia lugu itu ikut terbius dengan penampilannya. Rupanya, persaingan bisnis juga merebak diantara para pemilik orkes. Dengan alasan tuntutan zaman dan peningkatan mereka lebih berani menampilkan penyanyinya sesuai selera pasar, kata mereka. Malam itu penampilan orkes yang datang dari Kabupaten betul-betul membuat ngos-ngos para penonton. Penyani yang sudah dipolesi dengan dandanan menor, seperti topeng monyet dengan gaya menantang, ia meliukliukkan tubuhnya. Pakaiannya cukup membuat sensasi, pakaiannya tertutup tapi kelewat ketat. Pinggul yang mestinya Cuma bisa berputar seratus delapan puluh derajat, jadinya tiga ratis delapan puluh derajat. Dahsyat kan ? dingin angin malam berubah menjadi hangat, ikut membentuk aneka bau manusia yang terus berjejal dan play. Sebagian anak muda tidak tahan lagi, ada yang naik ke atas panggung, ada yang ikut menggebrak kursi, ada yang membuang rokoknya, bahkan ada yang memegang celananya. Fantastis memang, untuk membuat pesona malam yang dingin menjadi ganas

129

Zuyyina dan Eksistensi Rok Mini
Iklan rok mini yang menantang itu terpampang dikoran dan majalah nasional dengan tulisan tertera dibawahnya ”bagaimana angka kejahatan seksual bisa rendah kalau rok anda semakin tinggi” untuk memperingati kaum hawa dan berhati-hati tentang bahanya penampilan memakai rok yang kelewat tinggi dari paha. Apa yang diperingatkan dari bahaya itu, berupa simbol-simbol kevugaran adalah bisa berakibat merebaknya penyelewengan seksual yang merugikan perempuan. Tetapi iklan itu diprotes oleh beberapa LSM wanita di Jakarta yang dianggap berlebih-lebihan dan melecehkan eksistensi wanita. Rok mini tidak identik dengan tingginya perilaku perkosaan ditengah masyarakat. Banyak kasus pelecehan seksual justru dialami oleh wanita yang tidak berpenampilan sensual. Sebut misalnya korban pelecehan seksual ada yang masih kanak-kanak, ibu rumah tangga, pembantu yang lugu, pekerja wanita kasar, wanita berjilbab bahkan nenek-nenek. Itu menendakan bahwa perilaku berupa pelecehan seksual lebih banyak dialami oleh perempuan yang berpakaian lebih sopan ketimbang mereka yang suka berpakaian ”you can see” atau rok yang semakin tinggi diatas lutut. Kasus perkosaan dan pelecehan itu yang sering kita baca dikoran meliputi kasus yang sarat multifaktor, tergantung situasi yang mendukungnya. Rok mini bukanlah trend baru dari mode yang sedang merebak dinegeri ini. Era 60-an dianggap sebagai era rok mini atau pakaian mini, dan menjadi penampilan yang menarik dari daya tarik seksual yang dimiliki oleh perempuan. Anda boleh melihat wajahnya biasa-biasa saja atau bahkan cuma dapat point enam, tetapi dengan penampilan roknya yang menyibakkan kemulusan dan keputihan pahanya, point itu menjadi naik persennya. Gadisgadis yang berkulit putih dan penampilan trendy yang bekerja ditoko-toko 130

sebagai pramumaya atau pegawai-pegawai bank dan instansi lainnya, lebuh banyak mendatangkan keuntungan dari kosumen yang datang ketempat mereka ketimbang (maaf) yang berkulit hitam apalagi legam. Dengan sedikit memoles wajah mereka dan mendandaninya serta melengkapinya dengan rok mini akan lain suasananya, jika ingin dagangnya laris, ketimbang jika pegawainya cuma berpenampilan biasa-biasa saja. Wanita serta seluruh isinya yang padat adalah kecintaan yang paling didambakan oleh pria yang normal. Dari pancaran penampilannya seorang wanita bisa menundukan laki-laki yang sangat tegar. Dari seorang wanita yang lemah dan hanya ada dibalik tirai bisa meruntuhkan suatu negeri, jika daya cintanya menyelimuti seluruh ruang hati laki-laki. Sejarah banyak mencatat dengan daya tarik hipnotis dan daya naluri kelembutannya seorang perempuan membuat bertekuk lutut laki-laki. Abdullah bin Mubarak yang dicatat kisahnya oleh Fariduddin al-Attar dalam kisah ”Tazkiratul Awliyah” sebagai seorang sufi besar pernah tergilagila kepada seorang gadis. Begitu cintanya ia pada sang gadis membuat ia terus menerus dalam kegundahan. Suatu malam dimusim dingin ia berdiri dibawa jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu, ketika azan subuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah azan untuk shalat isya. Sewaktu fajar menyingsing barulah sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya. Seorang Abdullah yang begitu terlena dengan pancaran sinar mata seorang perempuan, harus melawan badai salju yang bergelora dalam dadanya. Ketertarikan dan daya yang bisa melenakan lawan jenisnya yang dimiliki perempuan adalah sebuah qadha takwiny (natural of law) yang sudah digariskan untuk melemahkan sendi-sendi kelaki-lakiannya laki-laki. Dalam dirinya sudah sedemikian rupa itu Allah ciptakan selain fitrahnya, juga ada patokan harga mati ”zuyyina”. Dalam bahasa al-Quran, Allah memformulasikannya dengan firmannya ”Diperhiaskan (zuyyina) bagi

manusia kesukaan (hubb) kepada barang yang diingini (syahwat) dari hal perempuan, anak-anak laki-laki, berpikul-pikul emas, perak dan kuda diselar tanda pilihan.....” (QS. Ali Imran, 14).

Kata ”zuyyina” atau hiasan yang dimaksudkan adalah segala barang yang diingini itu ada efek baik dan buruknya. Namun jika keinginan itu telah timbul, yang nampak adalah eloknya saja dan lupa akan buruknya atau susahnya. Sedang ”syahwat” adalah keinginan-keinginan yang dapat menimbulkan selera yang menarik buat memuaskan dan menguasainya. Jadi, 131

jika wanita menampilkan keseronokan dirinya dengan sangat vulgar, takterkecuali dengan pakaian rok mininya, tak lain ia membuktikan dirinya bahwa benar dalam dirinya ada zuyyina yang berefek sanga buruk buat yang melihatnya. Setiap barang yang indah dan bernilai sejarah kemanusiaan selalu berharga mahal dan sarat dengan etika dan estetika. Sehingga disebutkan bahwa perempuan salah satu hiasan yang paling mahal, selalu ingin dimiliki dan mempunyai nilai cinta yang tinggi. Maka tak heran, kita sangat mengagumi perempuan yang mempertahankan ketiga nilai ini, yaitu ia hiasan dunia, bernuansa cinta dan menimbulkan selera. Tetapi jika ada perempuan membuka perlahan-lahan ketiga bungkusan ini, bukan saja nilainya jatuh dibursa efek kemanusiaan yang bermoral agama, ia pun dipandang hina dimata agama. Terlepas wanita ingin bebas berpenampilan dengan berbagai macam mode itu sah-sah saja, tetapi jangan lupa bahwa dalam dirinya ada tanggung jawab yang bisa merusak kehormatan dirinya dan kehormatan laki-laki yang menguasai dirinya sekalipun hanya lewat berimprofisasi dengan khayalankhayalan yang ditampilkan dalam kesehariannya, khusus dalam bentuk bagaiman ia berpakaian. Wallahu a‟lam.

132

ISLAM DAN KESEHATAN
Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS. Tidak pernah makan kecuali bersama tamu. Suatu hari dia tidak mendapatkan seorang tamupun sehingga mengkwatirkan waktu sarapan paginya makan tanpa ditemani seseorang, sesuatu yang paling ia tidak sukai dan tidak diingini. Sewkelompok malaikat yang menyamarsebagai manusia mendatanginya. Dengan gembira nabi ibrahim menghidangkan makanan kepada mereka. Terbayang bagi ibrahim bahwa mereka tertimpa penyakit kusta. Ibrahim berkata, ”sekarang wajib bagiku untuk menyuapi kalian. ”Segala puji bagi Allah yang memberiku kesehatan, dan tidak diberi cobaan seperti kalian.” (hikayah ASShuhufiyah) Ibrahim tidak makan seorang diri, ia selalu berkeinginan agar ada orang yang akan menemaninya makan. Setiap hari ia makan bersama orangorang yang dijumpainya, baik ia sebagai tamunya maupun orang yang lewat didepan rumahnya, bahkan disebutkan Nabi Ibrahim pernah berjalan sampai bermil-mil hanya untuk mencari orang yang bisa diajak makan bersama. Sehingga Allah selalu mencukupi segala kebutuhannya, karena kemurahannya kepada orang terlebih kepada tamunya. Dan setiap hari ia selalu berdoa atas karuniabeserta kesehatanyang diberikan kepadanya, sehingga Allah menganugerahkan Ibrahimumur yang sangat panjang. Itulah sikap hidup yang dimiliki para kekasih Allah. Sifat ini menurun juga kepada keturunanya yang menjadi Nabi terakhir yang banyak mengambil nilai-nilai tauhid darinya, yaitu Muhammad SAW. Beliau termasuk orang yan paling pemurah yang pernah dikenal oleh 133

sejarah. Begitu pemurahnya, beliau selalu memberikan apa yang dimilikinya kepada orang yang berhak atau orang yang membutuhkan pertolongan kepadanya, sehingga beliau tidak ingin ada sesuatu, baik berupa barang ataupun dinar (uang) yang numpang menginap dirumahnya. Ibnu Abbas R.A. dalam atthib An-Nabawi, mengisahkan suatu hari datanglah seorang arab dusun (badui) kepada Rasullulah SAW. Lalu ia bertanya kepada Rasullulah : Apakah yang baik aku minta kepada Allah setelah selesai melakukan shalat lima waktu ? ” Rasullulah SAW menjawab : ” Mintalah kesehatan.” Orang arab dusun itu tetap mengulangi pertanyaannya, maka untuk yang ketiga kalinya Rasulullah menjawab : ”mintalah kesehatan didunia dan diakhirat.” Ia pulang dan bertanya-tanya, kenapa Rasulullah tidak memberikan nasehat lebih dari satu. Itulah cara Rasulullah memberikan advis kepada setiap orang yang menanyakan suatu perkara berdasarkan kondisi yang dialami seseorang. Sebagai seorang psikologi asuhan Allah, Rasul tahu bahwa apa yang mesti dibutuhkan oleh sahabatnya, sewhingga kita sering menjumpai banyak kata-kata (hadits) Rasul singkat padat namun penuh dengan makna. Badui tersebut dinasehati untuk memohon kesehatan, karena pada waktu itu banyak diantara mereka tidak memperdulikan kesehatannya, bahkan ada diantara mereka tidak bisa merawat dirinya. Sama ketika suatu waktu datang sesorang ingin meminta nasehat kepada Rasullulah, dan nasehat yang diberikan oleh Nabi sangat pendek dan diulang sampai tiga kali, yaitu Rasullulah mewanti-wanti orang itu agar jangan ”marah”, ”tidak ada lagi, ya Rasul.”, ”tidak ada, dan jagalah dirimu dari sikap dan sifat pemarah.” Ia pulang seperti badui diatas dan mulai memikirkan apa makna dibalik katakata yang sangat pendek dan tegas itu. Lama baru ia menyadari, bahwa sifat pemarah akan melahirkan konflik-konflik kejiwaan yang berujung tidak berfungsinya mental dan jiwa sesorang. Bahkan dibalik itu, akan merusak kesehatan seseorang, karena dengan memupuk sifat ”marah” orang mudah terkena gejala psikosomatik. Pada gejala seperti ini psikis (jiwa) yang sakit akan menularkan jasmani yang ikut sakit. Sikap seperti ini tidak hanya dialami orang-orang dahulu, tetapi juga terjadi pada manusia-manusia yang mengaku dirinya modern lebih hebat konflik yang dilahirkan akibat ”marah” yang kemudian melahirkan bahkan penyakit-penyakit jiwa, mulai stress, depresi, anxietis, sampai yang paling parah seperti skizoprenia dan paranoid. Menurut Dr. Ahmad Syauqi al-Fanjari dalam bukunya ”At Thibbul wiqo‟i”, Islam merupakan aqidah pertama, bahkan norma pertama yang 134

memperkenalkan dan memerintahkan prinsip steril yang diidentik dengan bersuci (thaharah), dan yang dimaksud istilah ”bersuci” (thaharah) adalah membersihkan atau membebaskan sesuatu dari bakteri atau benda yang mengandung bakteri (mikorganisme, pen), sedang sesuatu yang kotor, atau yang mengandung jamur (mikoorganisme, pen) diidentik dengan najis. Karena itulah banyak konteks kesehatan yang diungkapkan dalam islam, baik oleh alquran sendiri maupun hadits menunjukkan betapa agama islam sangat peduli terhadap kesehatan. Kita lihat ayat pertama yang turun adalah panggilan untuk menelaah ilmu lewat surat Iqra‟, yang artinya ”bacalah” sedang yang kedua adalah ajakan untuk menjaga ”kebersihan” lewat surat al-Mudatstsir ayat 4 : ”Dan bersihkan pakaianmu”, kemudian dalam hadits ”kebersihan itu adalah sebagian dari iman,” yang mengidentikkan bahwa salah satu tanda-tanda orang yang beriman adalah memperlihatkan sikap dan cara hidup yag bersih, yang menunjukkan adanya perhatian untuk memelihara kesehatan. Lebih lanjut Dr. Ahmad Syauqi mengatakan, bahwa islam juga satusatunya agama yang datang laksana undang-undang dasar, atau protokolprotokol yang kemudian melahirkan ilmu at-thib (kedokteran), pengobatan (farmasi) dan kesehatan masyarakat (public health) dimana kemudian melahirkan ilmu tentang kesehatn seperti yang dikenal : sanitation and personal hygiene (kesehatan lingkungan dan perorangan), Epidemiologi (preventif penyakit menular), Nutrition (kesehatan makanan), sex hygiene (kesehatan sex), mental and psychic hygiene (kesehatan jasmani), body built (keterampilan berolahraga), occupational medicine (kesehatan kerja), geriatris (memelihara manula), maternal and child health (kesehatn ibu dan anak), peraturan-peraturan untuk melayani kesehatan dan dispensasi pelayanan, metode teologis untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan lain-lain yang berhubungan dengan kesehatan. Walahu a‟lam.

KESEHATAN DAN OLAHRAGA Apakah anda sudah berusia dua puluh atau enam puluh tahun, kehidupan didepan anda seharusnyalah manis dan sangat mahal harganya. Karena apakah anda merasa muda dalam tubuh anda atau muda dalam semangat karena itulah kehidupan adalah kepunyaan anda yang anda sendirilah yang harus menghidupkannya. 135

Hidup sehat membuat kita serba ada. Anda tidak dapat bekerja dengan tepat atau mempunyai waktu bagus ketika anda sakit. Betapa banyak waktu yang terbuang percuma ketika badan teronggok tak berdaya diatas pembaringan. Betapa banyak rezki (peluang baik) yang terbuang tanpa bisa diraih ketika seluruh badan mengerang kesakitan. Menjadi sehat berarti bisa meraih setiap peluang, karena didalam badan yang sehat akan mengalir pikiran jernih dan tersimpan jiwa yang sehat (tentu saja jika dihiasi akhlak terpuji). Menjadi sehat merupakan keberuntungan dan peluang yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Setiap kita dapat memperbaiki kesehatan dengan membiasakan hidup sehat :  Makan secara sederhana dan secukupnya secara teratur  Olahraga teratur  Jangan merokok, minum-minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang dan narkoba.  Hindari stress Dalam tulisan yang sangat sederhana ini kita akan meninjau kaitan kesehatan dengan olahraga menuju hidup sehat. Sekedar mengingatkan kembali, sehat adalah keadaan ketika seorang tidak mempunyai penyakit apapun, baik dari sisi mental maupun fisik. Namun, kesehatan tidak banyak manfaatnya jika tubuh kita tidak bugar. Jadi buga itu sesuatu keadaan kita seorang dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kelelahan yang berarti, dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk kegiatan lainnya. Olahraga erat kaitannya dengan kebugaran. Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik itu memiliki banyak manfaat yang dapat menunjang aktifitas keseharian kiat. Sebut misalnya mampu meningkatkan

kemampuan kerja jantung dan paru-paru, menambah kekuatan otot dan daya tahan tubuh. Disisi lain mengurangi resiko terkena penyakit jantung koroner (PJK), menurunkan tekanan darah, menurunkan bobot badan dan kadar gula darah, serta mengurangi resiko terkena osteoporosis. Diluar manfaatnya

dari segi kesehatan, manfaat secara ekonomisnya, ketika badan sehat dan fit akan jarang sakit, sehingga memungkinkan ia tidak perlu menyediakan biaya pengobatan. Bahkan pada orang yang senang berolahraga secara teratur dapat meningkatkan rasa PD (percaya diri). Jadi apalagi yang ditunggu, sambutlah subuh dengan memulai aktifitas olahraga rohani lewat shalat subuh, dimana ketiak mulai shalat (anggaplah, sekali lagi anggaplah seolah-olah, tetapi shalat itu bukan olahraga) kita melakukan warming up (pemanasan), dimana konsentrasi pikiran kita ditujukan pada satu titik, yaitu Allah. 136

Badan yang telah lelah bekerja sepanjang hari perlu diistirahat pada waktu tidur, begitupun seluruh otot rangka, sehingga semua metabolit sisa metabolisme dibersihkan dan tenaga yang hilang ditumpukkan kembali didalam otot (ATP dan glikogen). Ketika shalat seluruh persendian kita melakukan gerakan dan otot-otot rangka mulai berkontraksi sehingga memungkinkan sistim vascularisasi (pembuluh-pembuluh darah dan jantung) bekerja lebih efektif. Usai shalat subuh, kontraksi itu lebih meningkatkan apabila seluruh tubuh kita diarahkan kebentuk latihan fisik (olahraga). Dengan olahraga yang baik dan sesuai petunjuk (misalnya aerobik) lebih meningkatkan kemampuan kerja jantung dan paru-paru (biasa disebut endurance atau kemampuan kardiovaskuler). Ini berguna untuk meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru untuk mengedarkan darah dan oksigen keseluruh tubuh. Kemampuan ini membuat orang tidak mudah lelah. Selain itu meningkatkan kemampuan otot. Otot yang kuat mempengaruhi produktivitas kerja yang lebih baik. Selain itu olahraga juga meningkatkan daya tahan atau kekebalan tubuh. Orang yang cukup berlatih tidak mudah sakit, kalaupun sakit, akan cepat pulih. Manfaat lainnya, ikut membakar lemak tubuh, karena aktivitas olahraga akan membakar lemak menjadi tenaga. Kelebihan lemak (terutama obesitas) akan menganggu kesehatan dan penampilan. Pada orang yang suka merokok atau kelebihan lemak, pembuluh darah akan menyempit dan lemak (kolesterol LDL) akan tertimbun dalam dinding pembuluh darah sehingga aliran darah terganggu. Olahraga dapat melebarkan pembuluh darah yang menyempit serta menurunkan LDL yang tertimbun sehingga pembuluh darah menjadi lebih lebar. Akibatnya, aliran darah lebih lancar. Disis lain ini sangat menguntungkan, PJK, serangan akan jauh lebih ringan dan pemulihan lebih cepat. Pada penderita kencing manis (diabetes) dimana gula darah meningkatkan efeknya bisa ditekan atau dikurangi lewat olahraga. Dimana dengan olahraga akan mengakibatkan terjadi pembakaran kalori dalam tubuh, sehingga dapat menurunkan gula darah yang meningkat. Banyak penderita diabetes dapat mengontrol gula darah mereka hanya dengan olahraga, tanpa memakan obat, selain tentu juga ditambah dengan diet gula. Bagi orang-orang tua, baik laki-laki apalagi wanita gangguan tulang yang mengarah ke osteoporosis (keropos tulang) dimana zat kapur (kalsium) keluar dari tubuh sehingga tulang kekurangan kalsium. Tulang jadi rapuh, keropos, tidak padat lagi. Dengan berolahraga dapat membantu memadatkan 137

lagi tulang yang keropos, terutama latihan yang bersifat agak membentur seperti lari dan latihan beban (weight training), selain itu diberikan juga asupan kalsium sehingga ikut membantu terbentuknya tulang yang kuat. Wallahu a‟alam.

ROKOK DAN PARU-PARU KITA Setelah saya membaca artikel yang berjudul ”merokok dan kesehatan anda” saya menyulut sebatang rokok untuk menenangkan pikiran saya, saya merokok dengan keyakinan bahwa ini akan menjadi rokok saya yang terakhir, selama seminggu saya tidak merokok sama sekali dan selama itu pula istri saya sangat menderita. Saya mengalami semua gejala yang biasa dialami oleh orang sedang berhenti merokok; cepat marah dan nafsu makan yang bertambah. Teman-teman saya terus menerus menawarkan rokok atau cerutu. Mereka tidak bisa menyembunyikan kegelian mereka bilamana saya mengeluarkan sebungkus permen dari kantong saya. Setelah tujuh hari, saya pergi kesuatu pesta. Setiap orang disekeliling saya merokok dan saya merasa saya tidak enak. Ketika teman saya mendesak saya untuk menerima tawaran rokok, saya tidak dapat lagi menahannya. Saya mengambil sebatang dengan rasa bersalah, dan menyalakannya dan merokok dengan puas. Istri saya senang sekali karena segala sesuatunya sudah kembali normal lagi. Walaupun demikian, sebagaimana teman saya mengatakan, berhenti merokok adalah hal yang 138

paling mudah dilakukan didunia. Dia sendiri pernah melakukannya berkalikali. Berhenti kemudian merokok lagi, berhenti dan merokok lagi. Belum selesai artikel tersebut saya baca, seseorang mengusik datang dengan keluhan sesak napas. Seorang guru yang hampir pensiun. Pekerjaan sampingannya selain mengajar adalahg bertani. Pagi-pagi buta ia sudah ada di sawah, menjelang matahari setinggi tombak ia sudah bersiap-siap ke sekolah. Sarapan paginya secangkir kopi ditemani sebatang rokok. Dihadapan murid-muridnya ia tidak bisa mengajar tanpa kepulan asap rokok. Dan biasanya bukan cuma dia yang batuk sebagian muridnya ikut menemaninya batuk. Karena gaji guru kecil apalagi ia punya tanggungan banyak ia cukup puas beli rokok ”ico” dipasar. Sesaknya memang tidak terlalu menggangu, setiap kali habis jalan ia baru rasakan. Memang bagi perokok apalagi yang kelas berat, keluhan selalu berhubungan kenapas. Dan tanpa disadari keluhan itu akan cukup menggangu aktifitas sehari-hari. Lebih celaka lagi bukan cuma si perokok aktif yang merasakannya, terlebih lagi siperokok pasif (yang terkena asap rokok) mereka lebih menderita. Suatu fenomena yang menarik, bahwa desa kadang identik dengan penduduknya yang perokok, terutama kaum lelakinya. Sangat jarang kita melihat orang dapat menyadari bahaya rokok, bagi mereka bagaimana rokok dapat mendatangkan kepuasan. Bahwa nanti akan muncul masalah seperti batuk, sesak sampai lemah syahwat itu persoalan belakang. Anda jangan heran, seorang kenalan atau kerabat dekat ingin mengundang dalam suatu acara resepsi perkawinan, ditempat tinggal saya, Bakunge, anda bukan disodorkan undangan tapi sebungkus rokok, yang harus diambil sebagai tanda penghormatan. Betapa rokok menjadi suatu kultus yang sangat tinggi didalam masyarakat dan menjadi suatu tanda penghargaan yang harus ditaati. Namun dibalik kultus itu orang tidak menyadari betapa bahaya rokok nyaris sama dengan obat-obat penenag lainnya. Rokok tidak hanya menyebabkan terjadinya ”ketagihan” (adiksi) tetapi juga menyebabkan ketergantungan fisik. Ap yang dilihat dari sebatang rokok tidak lebih dari serbuk-serbuk niklotin yang sangat berbahaya beserta kandungan lainnya. Hampir dipastikan lebih dari 4000 zat kimia yang sebagiannya beracun tercakup didalamnya yang tanpa disadari para perokok menikmati racun-racun tersebut sepanjang kariernya sebagai seorang perokok aktif. Mari kita lihat apa saja zat beracun tersebut yang terkandung dalam rokok. 139

Zat itu antara lain Hydro Cyanida (racun yang dipakai untuk hukuman mati), Ammonia (zat pembersih lantai), Toluena (pelarut industri), Arsenic (racun semut putih), Butane (bahan bakar korek api) DDT (racun serangga), Aceton (penghapus cat), Methanol (bahan bakar roket), Napthalane (kapur barus), Cadmium (dipakai pada accu mobil), Carbon Monoksida (gas yang keluar dari knalpot), Vinyl Clorida (bahan plastik PVC) dan maih banyak lagi zat yang beracun yang lainnya. Dalam kasus yang berhubungan dengan penyakit paru-paru, terutama TBC paru, perokok yang menderita TBC angka kesembuhannya sangat lambat dari pada yang bukan perokok, sehingga sebuah anekdot mengambarkan andaikan paru-paru perokok direndam dibaskom yang berisi air putih, maka air itu akan berubah menjadi hitam. Sebegitu parahkah paru-paru perokok dibanding yang bukan perokok. Mungkin banyak yang tidak menyadari hal tersebut meskipun bertahun-tahun mereka merokok, bahwa pada suatu saat rokok tidak lagi menyenangkan dan membuat jalan pikiran terbuka tetapi menjadi suatu ancaman yang menakutkan. ”Dok bagaimana caranya agar bisa menghentikan rokok, kata pasien tersebut meminta nasehat. Sebuah pertanyaan yang gampang tetapi susah untuk dijawab. Sebab seperti awal tulisan tersebut bagaimana seorang yang ingin berusaha menghentikan merokok tetapi selalu terhambat faktor dari luar. Dan memang berhenti merokok adalah sesuatu yang tidak terlalu sulit, tetapi menolak pemberian cigaret ini, dari seseorang, apalagi orang dekat, adalah hal yang sulit. ”Bapak mau dengar advis saya, bapak Cuma melakukan dua hal untuk berhenti merokok, pertama, jika bapak punya uang jangan sekali-kali beli rokok, kedua, jangan terima setiap kali bapak disodorkan sebatang rokok”. Bapak itu termangu memamndang saya, entah apa yang ada dipikirannya. Wallahu a‟lam.

140

ANTARA SEHAT DAN AFIAT
Rasulullah SAW, Bersabda : ‟‟Dan nikmat dimana kebanyakan manusia

tidak memperhatikannya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.‟‟

{H.R.Bukhari]. Salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita yang tak ternilai harganya adalah kesehatan, selain nuikmat-nikmat. Banyak orang tanpa dia sadiri mengabaikan nikmat tersebut, sehingga dalam menyikapi kondisi tubuhnya yang sehat sering kali lupa diri dan mengabaikan pemberian tersebut dengan cara menyia-nyiakan tubuh sehat, seperti merusak diri dengan minum minuman keras atau mengkonsumsi narkoba. Nilai kesehatan tersebut baru orang akan rasakan sangat berharga ketika ia sakit. Pada saat itu harga ”sehat” sangat mahal dan dibutuhkan. Andaikan sehat itu dapat dibeli atau disewa, maka berlomba-lombalah orang kaya membelinya, sehingga tidak ada lagi orang kaya yang menderita sakit. Begitu pentingnya kesehatan , Islam memberi tempat tertinggi dalam ajarannya, Qur‟an dan Hadits menerangkan betapa pentingnya kesehatan harus dijaga dan dipelihara. Kesehatan adalah nikmat Allah yang tak dapat dibeli atau ditukar dengan apapun. ”Barang siapa yang pada pagi harinya merasa aman ditengah-

tengah kaumnya, sehat tubuhnya dan mememilki pangan hari itu, maka seakana-akan ia memiliki dunia beserta isinya.” (H.R. Bukhari)

Banyak orang mendambakan kebahagian, berbagai macam kenikmatan yang diraih, hidupnya diliputi kemewahan, mobil yang banyak, rumah bertingkat, deposito miliyaran, pangkat yang tinggi, status sosial yang dibanggakan. Tetapi kebahagian hanya sebatas mata memandangnya, secara pendengaran yang bisa tangkapnya. Hidupnya menjadi sempit, hatinya tercekik dengan aturan-aturan formal yang diciptakannya sendiri 141

demi menjaga nama besarnya. Hilang lapang dada dihatinya, pikirannya picik, karena terlalu kekenyangan oleh kenikmatan semua yang dibuatnya. Ia tidak hanya sakit dari segi tidak afiat tetapi ia juga menderita dari segi jasmaniah tidak sehat), sehingga ia sakit karena menderita psikosomatik. Tidak sedikit yang mengalami gangguan mental hingga menderita depresi terselubung. Ketika kami sedang duduk, kata seseorang sahabat meriwayatkan, lewatlah Rasullulah SAW sedang kepala beliau terlihat basah, berkata seorang diantara kami. ”ya Rasullulah kami sungguh melihat engkau berhati lapang”. Nabi berkata : ”Tentu”. Kemudian kami berdiskusi tentang kekayaan, lalu Rasullulah SAW, berkata, ” Tidak mengapa kaya jika bertaqwa kepada Allah. Namun bagi orang yang bertaqwa kepada ALLah, kesehatan lebih baik dari pada kekayaan, dan lapang dada lebih baik daripada segala kenikmatan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa menjadi kaya tidak menjadi masalah bagi seorang mukmin, namun kekayaan itu tidak berarti apa-apa tanpa kesehatan. Sebab orang yang sakit tidak bisa menikmatio kekayaannya. Lebih daripada itu soerang mukmin dianjurkan selalu berlapang dada karena lapangdada merupakan puncak daripada kenikmatan. Seorang mukmin sehat tidak hanya mengatur pola hidupnya menurut aturan perilaku hidup sehat seperti menjaga tubuh dari segi fisiknya. Menata lingkungan yang bersih, olahraga teratur, dan makan-makanan yang bergizi. Tetapi dapat juga dijaga dengan memohon pertolongan kepada Allah agar senantiasa diberi tubuh yang sehat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari, terutama dalam hal beribadah. Bahkan kita dianjurkan untuk selalu berdoa agar diberi kesehatan, seperti termaktub dalam suatu doa ”Allahuma aafiniy fii badaniy, Allahuma aafiniy fiisam‟iy, Allahuma aafiniy fii bashariy”. ” Ya Allah sehatkanlah badanku, Ya Allah sehatkanlah pendengaranku, Ya Allah sehatkan penglihatnku”. Dalam doa diatas tidak menyebutkan kata sihha (sehat), justru yang kita ucapkan aafiniy (afiat). Disini ada perbedaan makna yang dalam bahwa dalam islam seorang tidak hanya dianjurkan sehat secara lahiriah (sehat), tetapi juga harus sehat secara rohaniah (afiat). Seseorang bisa saja sehat secara lahiriah, dimana ia terhindar dari keadaan sakit sehingga segenap anggota badannya sehat, tetapi secara afiat belum tentu sehat secara mental dan rohani. Pasang mata sehat adalah mata yang tidak menunjukkan gejala penyakit seperti conjungtivitis (radang mata), katarak atau tidak 142

memakai kacamata ketika melihat atau membaca. Tetapi mata yang afiat adalah mata yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermanfaat, menghindari mata melihat yang bukan haknya sehingga dapat mengakibatkan nafsunya, entah itu nafsu syahwat, nafsu amarah dan hal-hal yang lain yang dilarang oleh syariat. Dari Hadits diatas, Nabi menyebutkan betapa banyak orang senantiasa melupakan dua nikmat Allah yang besar, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Disini kita tidak menyinggung keduanya, menjadi fokus kita nikmat sehat yang sering diabaikan. Sangat luas makna ucapan mulia Rasullulah SAW diatas, ketika ia merasa sangat sehat ia menjadi manusia pendurhaka, merampas hak saudaranya, menjara hutan, mengunyah uang miliyaran kedalam perutnya, tidak peka terhadap penderitaan saudaranya serta mengabaikan banyak nikmat tuhan lainnya dengan melakukan pesta maksiat. Setiap pemberian (nikmat) Allah terhadap hambanya merupakan amanah, dan setiap amanah selalu mengandung konsekuensi pertanggung jawaban yang akan dipertanyakan di yaumil akhir kelak ” nikmat yang pertama yang ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat apabila ditanyakan kepadanya : tidakkah telah kami sehatkan badanmu dan telah kami segarkan (kenyangkan) kamu degan air yang dingin. ”(H.R.Tarmidzi). oleh karena itu setiap muslim senantiasa menjaga amanah Allah yang besar tersebut agar kita tidak merugi, bukan cuma didunia terlebih diakhirat kelak. Wallahu a‟lam bissawab.

HARGA SEHAT
143

Dengan tertatih-tatih Petta Cidda memasuki halaman puskesmas. Bunyi nafasnya cepat diiringi batuk sekali-kali membuat dia sangat lelah setelah berjalan setengah kilo ,Dari mulutnya asap rokok terus mengepul seperti kereta api yang berjalan tanpa henti. Di depan loket kartu ia menyodorkan kartu sehat-nya penjaga kartu, seorang gadis yang berstatus honorer membuat Petta Cidda terhentak,‟‟ Rp. 5.000,-puang‟‟ katanya tanpa beban. Ia yang biasa hanya membayar Rp. 3.500,- tiba-tiba terkejut. Uang Rp. 1.500 bagi petani yang tidak punya sawah dan hanya menggarap sawah orang cukup berarti baginya. Ia lebih terkejut ketika usai mengambil obatnya disuruh membayar tambahan Rp. 1.500. Pt. Cidda masih lebih beruntung karena ia masih memeiliki buku family folder. Andaikan bukunya sudah penuh, ia wajib membeli buku family folder baru (buku kontrol untuk menyimpan data penyakit pasien) dan sekali lagi ia harus merogoh kantungnya sebesar Rp. 5.000,-. Selama bertahun-tahun menjadi pelanggan setia puskesmas ia hanya mengeluarkan uang dari Rp. 300,- sekali berobat sampai terakhir Rp. 3.500. Tetapi kini ia harus rela atau tidak rela mengeluarkan tambahan dana sebesar kurang lebih 50%. Mungkin ada berpuluh-puluh Pt. Cidda diwilayah Bone ini mengeluhkan perda baru ini. Tetapi toh tidak sedikit pula bisa memakluminya. Biasanya orang seperti ini membandingkannya dengan daerah lain atau mengerti dan menghargai perda tersebut. Yang menjadi masalah bukan masyarakat yang berada didekat radius wilayah puskesmas (daerah kecamatan). Mengapa terjadi demikian. Ada pengalaman yang menarik, bahwa masyarakat yang berada didusun-dusun biasanya didatangi para mantri/perawat atau bidan (ini mungkin masih sedikit legal, meskipun mereka meninggalkan puskesmas/pustu atau polindes pada waktu jam dinas) atau ‟penyuntik liar‟ (istilah para mantri/perawat yang merasa diambil jobnya oleh mereka yang bukan berasal dari latar belakang perawat) yang memasang tarif sekitar Rp. 5.000 sampai Rp. 25.000 (tergantung bobot penyakitnya. Dan dalam hal ini bukan Cuma medis yang berbicara tetapi juga magic sebagai bumbunya. Melengkapi cara pengobatan mereka. Petta Cidda mungkin lupa bahwa sekarang ini era otonomi daerah, dimana semuanya sudah tidak semurah lagi dulu. Boleh jadi apa yang hari ini gratis, besok sudah ada perdanya. Ini demi untuk menyesuaikan kondisi daerah menyongsong Otoda, kata seorang pejabat. Dalam rangka Otoda masyarakat harus kita berdayakan kata pejabat kabupaten lainnya. Semua aset daerah harus difungsikan, karena pusat tidak bisa diharapkan banyak lagi teriak seorang tokoh dengan berapi-api. ”dari dulu bantuan dari pusat 144

atau luar negeri tidak pernah mencapai sasaran paling hanya sekitar 40% sehingga dari atas sampai bawa pipanya bocor dimana-mana sebocor hatinya para pejabat korup” teriak tokoh pemuda. Sebagai imbasnya kita harus ramai-ramai menutupi kebocoran itu. Ketika PLN dan telkom ingin menaikkan 45% tarifnya dengan alasan perluasan jaringan didaerah yang belum terjangkau seorang tokoh LSM (YLKI) menanggapinya, bahwa itu sekedar akal-akalan pihak telkom akibat korupsi diperusahaan tersebut. Begitupun BBM ingin dinaikkan itu hanya untuk menutupi kerugian miliyaran akibatnya banyak tikus-tikus berdasi disana yang menghabiskan uang tersebut. Imbasnya, sekali lagi rakyat yang harus ramai-ramai menutupi kerugian itu. ”Dok, saya kuatir jangan-jangan perda kesehatan naik akibat kebocoran yang ada dimana-mana”. Kata Pt. Cidda, diselinggi batuk kecil ketika usai saya periksa. Sedikit agak terkejut saya mendengar komentarnya, ”saya kira tidak ada hubungannya kesana puang”. Dimana-mana juga kita lihat semuanya sudah tidak murah lagi. Perda yang dulu itu sudah jauh dari realitas dan kondisi kita sekarang.” ”Saya kira tidak ada hubungannya kesana puang”. Dimana-mana juga kita lihat semuanya sudah tidak murah lagi. Perda yang dulu itu sudah jauh dari realitas dan kondisi kita sekarang.” ”saya belum mengerti dok, mengapa justru kami rakyat kecil yang harus mengganti kerugian pemerintah semua ini. Sudah para elit politik saling mencakar, ekonomi yang tidak kunjung membaik, harga barang terus melonjak, rakyat kecil yang terinjak-injak.” melanjutkan keluhannya ketika usai saya periksa. Seperti biasanya sesak napasnya kambuh lagi, kali ini lebih parah. Mungkin ia tidak hanya sesak nafas akibat asma yang dideritanya selama bertahun-tahun, tetapi juga diperparah oleh sesak dan muak akibat kondisi negerinya yang rusak. Tiba-tiba saya menyadari betapa harga sebuah ”sehat” begitu sangat mahal dimata rakyat kecil dengan hidup yang serba pas-pasan. Kita juga tidak bisa menyadari betapa hidup sehat menjadi dambaan semua orang tidak terkecuali orang-orang kecil disekitar kita. Apa yang kita saksikan setiap hari entah itu di RS, Puskesmas, Klimik-klinik ada ribuan orang mendambakan hidup sehat, tetapi kadang-kadang kemampuan mereka sebatas kantung yang mereka miliki. Mereka, orang-orang pinggiran, yang kita kenal dari raut wajah yang menendam kepedihan akibat penyakitnya tidak dapat merasakan pelayanan prima seperti saudara-saudara mereka yang punya uang untuk membeli kesehatan. Para ”the have” dengan uangnya mendapat pelayanan kesehatn sampai sekecil-kecilnya dan sampai 145

secanggih-canggihnya. Dan celakanya lagi sebagian dari petugas kesehatan dari perawat sampai dokter ternyata bukan milik mereka, tetapi milik orang-orang gedongan, orang-orang yang punya uang. Kalau yang memisahkan hanyalah tembok, mungkin mereka bisa loncat, tetapi yang memisahkan mereka adalah kantung. Dengan apa ‟sehat‟ itu dapat dibeli. ”Dok, sebentar lagi rapat dimulai dikantor camat”. Tiba-tiba perawat saya mengingatkan di depan pintu yang melihat saya seperti orang kebingungan. Entah sejak kapan Pt. Cidda menghilang didepan saya.

IKAN BERACUN DAN ISU
Malam itu, seperti biasa setelah setengah harian melayani pasien, saya membaca buku. Tiba-tiba dari luar pintu terdengan diketuk. Seorang ibu nampak memohon pertolongan.”Dok, tolong keluarga saya, keracunan.” Apa maksud ibu dia keracunan. ”Anak itu habis makan mie, tiba-tiba dia

muntah, tangannya kaku, perutnya kembung, matanya jadi kabur dan. Dan.. sepertinya ada busa yang mungkin air liurnya keluar dari mulutnya.””Sabar bu, nanti kita pergi lihat bersama,siapa tahu saya bisa menolongnya.” Kata

saya membesarkan hatinya. Saya teringat, masyarakat tiba-tiba dihantui isu ikan beracun. Sekarang bukan cuma ikan yang disalahkan,makanan apa saja yang membuat orang tidak enak konsumsi apa lagi sampai menimbulkan trauma ikut disalahkan,salah-salah malah dianggap ada racunnya. Sampai ditempat tujuan, terlihat banyak orang didalam rumah.anak yang diisukan keracunan makanan itu nampak terlelap dalam tidurnya.saya kemudian memeriksa nadi biasa saja, lanjut kepemeriksaan auskultasi (mendengar dengan stateskop) di dada,nafas teratur dan baik, peristaltic daerah abdomen (perut) juga baik,dan nampak ada kelainan seperti yang biasa saya lihat pada kasus orang keracunan. Setelah bertanya-tanya (anamnese) seperti biasanya, pekerjaan seorang dokter mirip detektif, interogasi kiri-kanan. Aktifitas apa saja yang dilakukan anak itu sebelum makan mie tersebut,makanan apa yang dikomsumsi sebelumnya, apakah dia ada riwayat alergi terhadap sesuatu makanan.saya juga teliti kemasan mie instan yang dikonsumsi anak tersebut yang diduga, jangan-jangan sudah kadaluarsa. namun alhamdulillah, kadaluarsanya masih lama, Exp 02-01, menunjukan bulan Februari tahun 2001 baru tidak layak dikonsumsi 146

Dari keluarganya,saya mendapat info bahwa anak tersebut sepanjang hari kerjanya cuma bermain hingga kelelahan,kemudian diajak pergi oleh orang tuanya kesebuah tempat dengan udara yang dingin ,setelah itu sang anak mandi.keterangan lainya adalah dari faktor pengolahan dan penyajian makanan yang kurang baik.kemungkinan lainnya,apabila terjadi ada faktor alergi dari makanan yang dimakan sebelumnya atau terhadap mie tersebut.sebab terbukti,bahwa sepupunya yang ikut mengkonsumsi mie tersebut sehat-sehat saja. **** Masyarakat resah, itulah reaksi yang terlihat sekarang.bukan hanya BBM dan harga transport dan harga pokok lain mengambil ancang-ancang untuk ikut naik cukup meresahkan,sehingga penggemar demonstran terus bernyanyi rock di ibu kota.bertambah lagi keresahan masyarakat kita dengan adanya isu ikan beracun. Di Bone tak kalah gesitnya,hampir kita semua disuguhi cerita seputar ikan yang membuat orang muntah, berbusa mulutnya,gembung perutnya, bahkan ayam yang diberi makan ikan tersebut mati dan cerita seram lainnya. Tiba-tiba kita menjadi oversensitive,Vsemua yang berbau ikan, lamalama semua makanan yang berasal dari laut bahkan bisa mengarah semua makanan protein hewani dicurigai beracun. Orangpun mulai menghubungkan keberbagai peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat.bisa jadi apa yang terjadi adalah suatu perekayasaan untuk meresahkan masyarakat,dan tampa sadar kita ikut terlibat sebagai penyambung lidah mereka dengan ikut memprovokasi keadaan dengan membuat berita sepotong-sepotong yang didapat dari berita yang juga sepotong-sepotong dan tidak jelas kesahihannya.kita tiba-tiba seperti diarahkan untun mendefinisikan situasi sesuai kehendak sang provokator.kita bertindak dan bahkan mengambil suatu keputusan tidak berdasarkan realita,tetapi berdasarkan kata yang ddengar dari orang yang juga seperti kita.akirnya menjadi simpang siurlah berita itu. Masyarakat kita,terutama yang berada didesa dann sebagian orang kota dalam menerima berita lebih melihat muatan berita itu berdasarkan apa yang didengar tampa melihat apa yang sesungguhnya menjadi penyebab adanya berita itu.sehingga inilah yang membuat Wakapolda Senior Supt Jusuf Mangga Barani bereaksi cepat mana kalah mendengar ada berita orang meninggal dunia sehabis mengkonsumsi ikan langsung menuju kelapangan sekalipun ditengah malam.namun apa yang beliau lihat tidak pernah terbukti. 147

**** Budaya belajar dengan menggunakan fungsi akustik(mendengar) dengan memperkuat fungsi Verbal (berkomunikasi)lebih mendominasi keadaan masyarakat kita dari pada budaya visual (melihat/membaca),sehingga yang terjadi perkembangan berita yang terakhir tidak diketahui. Dalam komunikasi,kadang-kadang pengaruh sikap lebih cepat terespon dengan himbauan(appeals)emosional.dengan komunikasi pula,kita membentuk image orang untuk membenarkan apa yang kita beritakan.sehingga jangan heran,sebuah berita yang sebenarnya sederhana tetapi dikemas dengan berbagai bumbu-bumbu bombastis akan menimbulkan respon besar ditengah masyarakat. Dengan teori general semantik-nya Alfred Korzbski, sebuah berita (bahasa)juga bisa menimbulkan respon kejiwaan baik individu maupun sosial dengan cara menggunakan bahasa yang tidak benar.semakin tidak waras seseorang semakin tidak teratur dan tidak benar bicaranya para provokator (yang dengan sengaja ingin membuat kekacauan) tahu,bahasa adalah alat yang paling ampuh untuk membuat masyarakat resah. Masyarakat resah terjadi gejolak sehingga terjadi instabilitas keamanan,pada akhirnya masyarakatpun mudah terpancing dan curiga pada pemerintah. Pada akhirnya diskusi kita tutup, bahwa ikan yang di gembar gemborkan terkontaminasi dengan racun itu tidak benar. Sebab dari 12 jenis ikan yang diperiksa (ikan cakalang, tuna, lure/mairo, tembang, layang, ikan ekor kuning, kakap putih, kakap merah kemudian bui-bui layang, kerapu dan solong) oleh tiga laboratorium Makassar termasuk POM (pengawasan obat dan makanan) semuanya menunjukan bebas dari racun. yang menjadi pekerjaan rumah bagi stekholder adalah bagaimana member pemahaman dan menyikapi secara bijaksana peristiwa tersebut sambil memetik hikmah yang terkandung didakamnya. Bahwa ini adalah suatu musiabah yang selalu diterima dengan sabar oleh msebagian masyarakat kita.kita tentu tidak ingin memperpanjang berita ini,yang semakin memperpanjang penderitaan nelayan dan penjual ikan dan semoga saja kita bukanlah satu diantara sekian yang tampa sengaja terlibat memperkeruh suasana,bahkan tampa sadar menjadi pseudo- provokator ditegah masyarakat yang selalu resah oleh berbagai isu.

148

EUTHANASIA, HAK UNTUK MATI
Euthanasia berasal dari kata ”eu” yang berarti ”baik” atau ”bagus” dan ”thenofos” yang berarti ”mati”. Jadi Euthanasia adalah mati yang baik tanpa melalui proses kematian dengan rasa sakit atau penderitaan yang berlarut-larut. Dalam ”The Advenced Learner‟s Dictionery” disebutkan ”Euthanasia is bringing about an easy painless of death for person suffering from incurable and farinful deseas” (Euthanasia adalah membawa kearah kematian dengan mudah tanpa merasakan sakit bagi seseorang yang menderita suatu penyakit yang parah dan tidak dapat di sembuhkan). Dengan suntikan insulin atau zat kimia pembunuh lainnya seorang penderita sekarat bisa menemui ajalnya dengan tenang. Karena Euthanasia masih dianggap jalan satu-satunya mengakhiri penderitaan yang berkepanjangan bagi seorang pasien sering menimbulkan kegelisahan dan kesusahan yang kronis bahkan sering di jumpai ada pasien yang terus merang-raung kesakitan, karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Padahal perawatan yang berkepanjangan memukul keluarganya habis-habisan. 149

Banyak keluarga disebut melarat. Seluruh harta dikeluarkan untuk biaya pengobatan. Dokter sendiri sudah angkat tangan. Dari sinilah timbul pikiran untuk menolong mengakhiri penderitaan si pasien dengan jalan pintas, dengan cara meng-Euthanasia si pasien, agar ”mati” dengan ”tenang”. Tentu saja, baik dokter yang memperlekas kepergian si pasien ke sisi Tuhannya, maupun keluarga pasien yang mengajukan usul tak termaksud si pasien. Bahkan sebaliknya si pasien di anggap di tolong agar lekas mengakhiri hidupnya. Hal ini dapat dilihat yang Cuma Leukimia yang dideritanya. Dalam rintihan dan kekhawatiran yang berat ia memutuskan diri melakukan bunuh diri. DR T. E. Quill ....Spesialis Ilmu Penyakit Dalam. (dr Universitas Rockester Inggris).

Hak Untuk Mati

Kapankah orang dikatakan mati ? Kematian dapat di tentukan jika aktivitas tak berfungsi lagi. Mati itu sendiri merupakan suatu proses dari perjalanan hidup manusia. Kepastian kapan meninggalnya seseorang menyangkut banyak aspek, antara lain hukum, imbalan asuransi, masalah waris dsb. Namun dengan berkembangnya teknologi transportasi alat dan jaringan masalah tsb makin menonjol. Apalagi ditemukan cara mati yasng tidak terlalu menyiksa, mati dengan cara berlahan-lahan (Euthanasia). Kematian yang wajar tidak menjadi problem yang besar karena merupakan suratan takdir yang tidak dipaksakan datangnya. Namun kematian yang nenghujat takdir Tuhan Lewat Euthanasia tidak hanya melanggar kode etik kedokteran yang bertugas menuduh kematian tetapi juga merupakan pembunuhan yang bermotif membebaskan orang lain dari suatu penderitaan. Sebagian orang yang melihat segi keuntungan Euthanasia merasa setuju untuk mengakhiri penderitaan pasien dari penyakit yang menyiksanya. Disamping itu dianggap telah meringankan beban hidup keluarganya. Karena yang demikian ini dianggap merupakan jalan satu-satunya yang di pilih pasien serta menjadi hak pasien untuk menentukan jalan yang ditempuhnya. Secara pribadi dan hukum, hak pasien tidak dapat diganggu – gugat jika ia ingin mengakhiri penderitaannya setelah merasa usaha untuk menyembuhkan dirinya dari sakit tidak bisa lagi diharapkan. Hal ini mengandung maksud kebebasan memilih bagi si pasien untuk menentukan kematiannya sendiri lewat bantuan para medis. 150

Hak pasien untuk mati dengan menentukan keadaan dirinya sendiri sebenarnya suatu hak yang dilindungi oleh kekuatan hukum. Seperti pada butir 5 Deklarasi Lisbon tahun 1981 yang menyebutkan ”Pasien mempunyai hak untuk mati dengan kemulian.” Dengan demikian jika sekiranya pasien bersungguh-sungguh menginginkan kematian, keinginan tersebut harus di hormati, maka dokter tidak boleh memaksa keinginan untuk terus mempertahankan kehidupan yang tidak diinginkan pasiennya. Suatu hal yang belum memprihatinkan bahwa praktek Euthanasia masih taraf”terdengar” saja, sebab masalahnya belum dianggkat secara sistimatis ke permukaan. Ethanasia pasif, banyak dilakukan di Indonesia yaitu ketika dokter harus memilih antara menyelamatkan si ibu atau bayinya yang akan di lahirkan, ketika di ketahui proses kelahiran bayi itu akan membahayakan nyawa si ibu. Biasanya dipilih menyelamatkana si ibu dengan mematikan bayinya. Suatu hal yang tidak dapat kita lupakan adalah bahwa sekalipun pasien punya hak untuk mati namun perbuatan itu tidaklah semudah untuk dilakukan oleh seorang dokter. Di Amerika seorang yang ingin melakukan Euthanasia harus mendapat pengesahan dari pengadilan dengan berbagai macam alasan kuat. Seorang dokter yang ingin mengeuthanasia harus berpikir 100 kali. Seprti kasus Ny Dianne. Betapa tidak henti-hentinya Dr. E. Qerill meminta pasiennya untuk memikirkan kembali keputusan Dianne untuk mati berlahan-lahan. Namun Dianne teguh pada pendiriannya. Dr.E.Qerill mengakui betapa berkecamuknya pergulatan batinnya. Pertentangan bathin itu menyangkut aspek-aspek spritual, legal dan profesionalme, namun juga emosional dan personal. Bukankah tujuan profesi kedokteran itu adalah untuk memulihkan kesehatan dan mengurangi penderitaan manusia. Hal ini di dukung oleh kode etik kedokteran Internasional, Hasil konggres ke-3 Organisasi Kedokteran Dunia tahun 1994 di London yang menyatukan , ”Adalah kewajiban dari dokter untuk mempertahankan kehidupan manusia.” Sedang tindan Euthanasia menurut kode etik kedokteran yang terakhir tahun 1983 melalui konggres ke-35 di Venice, Italia. Adalah suatu tindakan yang negatif. Dalam deklarasi tentang Euthanasia yang diajukan dalam konggres ke-39 di Madrid Spanyol tahun 1987 menyebutkan bahwa tindakan Euthanasia dipandang sebagai tindakan yang tidak etis.

151

Dalam pada itu pula, Islamic Code of Ethics (Kode Etik Kedokteran Islam) lewat The First International Conference on Islamic Medicine, Januari 1981, di kuwait menyebutkan ”Seorang dokter harus mengetahui dengan tepat bahwa kehidupan itu adalah kepunyaan Allah, dianugerahkan oleh-Nya, dan bahwa kematian itu akhir hidup seseorang dan merupakan permulaan hidup berikutnya. Kematian merupakan kebenaran yang tidak dapat dibantah dan kematian adalah akhir dari semua, kecuali Allah. Dalam profesinya seorang dokter adalah penyelamat bagi ”kehidupan.” Hanya mempertahankan dan memeliharanya sebaik mungkin dan semampu mungkin. Sekalipun pasien punya hak untuk mati dan dokter harus menghormati hak itu, namun hal itu tidak dapat diartikan dokter dibenarkan menyetop kehidupan pasien. Sebab sesuai dengan kode etik profesi yang dimiliki, betapapun harusnya keinginan pasien untuk mati dari dokter, tetap tidak boleh melakukan upaya aktif untuk melakukan keinginan tersebut. Tindakan aktif ”mematikan”pertolongan memang dibenarkan tetapi seperti yang tercantum dalam Deklarasi Venice. Hanya dilakukan terhadap pasien dengan penyakit yang bersifat terminal saja. Yang secara medis tidak dapat ditolong lagi. Sementara itu I D I sendiri yang memiliki persatuan dokter di Indonesia sampai saat ini belum pernah mengemukakan pendapat resminya, mengenai Euthanasia. Kode etik kedokteran Indonesia pada dasarnya menganut faham, bahwa hidup atau mati seseorang bukan merupakan hak manusia melainkan hak dari Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu alam.

Pengaruh Ibadah Puasa Terhadap Kesehatan Mental
Kesehatan mental seringkali dihubungkan dengan kesehatan jiwa. Istilah ini kadang juga disamakan, karena persoalan mental sangat erat kaitannya dengan jiwa manusia. Dadang Hawari, seorang psikiater mengatakan, pengertian kesehatan jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang 152

dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam penghidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain.1 Organisasi kesehatan Dunia (WHO, 1959) memberikan kriteria memberikan criteria jiwa atau mental adalah sebagai berikut : a. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya. b. Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya. c. Merasa lebih puas member daripada menerima d. Merasa relative bebas dari rasa tegang dan cemas e. Berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong dan saling memuaskan f. Menerima kekecawaan. g. Menjuruskan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif. h. Mempunyai rasa kasih saying yang besar. Dalam perkembangannya WHO (1984) menyempurnakan batasan sehat dengan menambahkan satu elemen spiritual (agama) sehinga penegertian sehat tidak hanya sehat dalam arti fisik, psikologi dan social, tetapi juga sehata dalam arti spiritual/agama.2 Inilah yang disebut empat pilar sehat, bio-psiko-sosio-spiritual. Manusia dengan segala permasalahan yang dihadapi, selain memiliki unsur jasmaniah, juga memiliki unsur rohaniah. Unsur yang terakhir ini seringkali dihubungkan dengan unsur kejiwaan. Dua unsur ini sangat mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Selain unsure jasmani yang berpengaruh terhadap kesehatan fisik, unsur kejiwaan memberi pengaruh merasakan bahagia atau tidaknya seseorang dalam meraih meraih kesuksesan hidup. Salah satu problem utama kesehatan jiwa pada manusia adalah timbulnya berbagai stresor psikososial pada masyarakat, seperti ketidakmampuan mengikuti perkembangan zaman, kesenjangan komtunikasi, beban kerja yang menumpuk, target yang hidup yang tidak tercapai, dan persaingan yang tidak sehat. Akibatnya, banyak orang

Dadang Hawari, Al-Qur’an Ilmu Jiwa Kedokteran dan Kesehatan Jiwa, Cet. IX (Yogyakarta; PT. Dana Bhakti Prima Jaya, 1999), hal. 12. 2 Ibid, hal. 13.

1

153

menderita ketegangan, kecemasan, depresi, tidak puas, kecewa, curiga berlebihan kepada orang lain, dan sebagainnya. Federasi Kesehatan Jiwa Dunia (WMFH) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa situasi kesehatan jiwa ini merupakan krisis yang tidak terungkap yang akan semakin buruk di tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, masalah kesehatan jiwa mendapat tempat dalam agenda internasional.3 Di zaman modern ini betapa banyak masalah mengganggu ketenteraman batin dan kebahagiaan hidup manusia. Semakin banyak masalah yang tidak menyenangkan menimpa seseorang, semakin meningkatlah kekesalan dan kecemasannya dalam hidup. Tekanantekanan psikologis seperti kecewa, tidak bahagia, takut, dan persaingan tidak sehat, berkorelasi tinggi terhadap menurnnya daya tahan tubuh sehingga memudahkan intervensi penyakit yang dapat diketahui dari fisik, tingkah laku, alam perasaan, dan cara berpikir seseorang. Sebagian besar penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus (DM), penyakit jantung, penyakit asma, semua penyakit alergi, dan berbagai penyakit degenerative lainnya, selain disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap pemeliharaan kesehatan jasmani, juga sering disebabkan oleh beban pikiran yang terlalu berat, berupa tekanan kejiwaan (stres) yang meliputi perasaan takut (waswas), sedih, dan jengkel (emosi). Dalam pandangan ilmu kedokteran, hal seperti ini lazim disebut dengan gejala psikosomatik. Perut kembung disertai muntah-muntah dan buang air besar misalnya, cenderung disebabkan oleh jiwa yang tegang, seperti mendengar berita yang menyedihkan atau merasa takut (waswas). 4 Antara pikiran dan lambung manusia terdapat hubungan timbal balik berupa hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Jika pikiran terganggu, lambung dan organ-organ pencernaan otomatis akan terganggu pula. Sebaliknya, jika lambung dan organ-organ pencernaan terganggu, pikiran akan terganggu pula. Akibat hubungan yang saling berpengaruh tersebut, fungsi kerja jantung menjadi tidak normal sehingga berpengaruh terhadap kerja pancaindra. Rasulullah saw. bersabda,

3

Ahmad Syarifuddin, Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis. (Pen. Gema Insani Press, 2003), Ibid, hal. 209.

hal. 208

4

154

"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh (manusia) ada segumpal daging. Bila ia baik (sehat) maka baiklah (sehatlah) seluruh tubuh. Jika ia rusak (terganggu) maka rusaklah (terganggulah) seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah al-qalbu." (HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama menerangkan kata al-qalbu dalam hadits ini memiliki dua arti. Pertama, al-qalbu berarti roh atau jiwa, sesuatu yang abstrak dalam tubuh. Arti ini berkaitan dengan ilmu kedokteran yang lazim disebut psikosomatik. Kedua, al-qalbu berarti jantung (heart) yang terletak di rongga dada, bukan hati (liver) seperti sering diartikan orang, karena hati dalam bahasa Arab dinamakan al-kabidu yang terletak di rongga perut. Jantung berfungsi sebagai alat pemompa darah ke seluruh tubuh. Besarnya hanya sekepal tangan dengan berat 250-300 gram, berdenyut lebih dari 100.000 kali setiap hari. sehari jantung memompa kurang lebih 7.000 liter darah atau dalam satu merit memompa 4,5 liter darah ke seluruh trubuh. Sementara itu, darah merupakan cairan terpenting yang menghidupi setiap organ tubuh.5 Di dalam tubuh manusia darah ini terus-menerus mengalir ke seluruh tubuh sehingga terlihat betapa berat dan keras jantung. Jantung adalah organ tubuh yang paling setia. Meskipu m manusia tidur, ia tetap bekerja. Qalbu dalam pengertian ruhaniah adalah suatu karakter yang tidak konsisten, oleh karena itu ia bisa terkena konflik bathin. Interaksi yang terjadi antara pemenuhan fungsi memahami realita dan nilai-nilai (positif) dengan tarikan potensi negatif yang berasal dari kandungan hatinya, melahirkan satu keadaan psikologis yang menggambarkan kualitas, tipe dan kondisi dari qalbu itu.6 Salah satu hikmah puasa adalah melatih dengan sengaja tidak memenuhi kebutuhan pokok jasmani pada waktu yang biasa. Selain itu puasa juga berperan dalam mencegah timbulnya penyakit-penyakit jiwa yang berlebihan dan sifat egoistis yang tinggi. 7 Jika orang berpuasa karena Allah merenungkan pengalaman tidak terpenuhinya kebutuhan pokok seharihan, ia akan menemukan suatu pelajaran dan latihan menghadapi kesulitan. Hasil latihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghadapi kesulitan
5 6

Muh. Khidri Alwy, Buku Ajar Biomedik I Cet. I (Makassar; Pen. UMI Toha, 2004), hal. 120. Dr. Achmad Mubarok, MA. Jiwa dalam Al-Qur’an, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern. (Jakarta; Pen. Paramadina, 2000), hal. 114. 7 Abdul Mun’im Qundail, At-Tadawi bi al-Qur’an (Resep al-Qur’an untuk Hidup Sehat). CV Cendekia Sentra Muslim, Pebruari 2003), hal. 42.

155

hidup yang selama ini tidak mampu dihadapi. Apabila kemampuan menghadapi dorongan dari kebutuhan pokok jasmani berhasil diraih dalam berpuasa selama satu bulan, maka seharusnya secara berangsur-angsur ia dapat melatih diri untuk menghadapi kebutuhan pokok kejiwaan. Puasa merupakan perjuangan mengekang hawa nafsu serta membebaskannya dari cengkeraman dan dosa dunia. Puasa bisa mengendalikan kebinalan hawa nafsu, mendidiknya, dan mendisiplikannya dalam hal makanan dan minuman. Selain itu menenangkan nafsu amarah da meruntuhkan kekuatannya yang tersalurkan dalam anggota tubuh, seperti mata, lidah, telinga dan kemaluan. Dengan berpuasa, aktifitas nafsu menjadi lemah.8 Salah satu bagian dari tubuh manusia yang sangat berperan dalam pengendalian diri adalah hawa nafsu, karena nafsu inilah yang selalu menyertai kehidupan manusia. Menurut karakternya, nafsu dapat dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, nafsu yang melayani kepentingan dan kebutuhan jasmani, dan kedua, nafsu yang melayani kepentingan kebutuhan rohani. Nafsu yang melayani kepentingan dan kebutuhan jasmani antara lain meliputi nafsu makan serta nafsu seks. Nafsu ini perlu dan penting, karena tanpa adanya nafsu makan dan minum, manusia tidak akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Demikian pula jika manusia tidak memiliki nafsu seks, manusia tidak akan dapat melanjutka kelangsungan generasinya. Fungsi utama dari nafsu-nafsu jasmani di atas adalah sebagai sarana untuk melestarikan kehidupan dan kepentingan manusia sendiri, di samping sebagai sarana untuk menyalurkan kesenangan jasmaniahnya. Fungsi nafsu yang melayani kepentingan dan kebutuhan rohani tidak berhubungan langsung dengan kenikmatan jasmani maupun kelangsungan hidup. Manifestasi nafsu rohani sangat bertalian erat dengan fungsi keindraan. Nafsu ini bisa berawal dari pendengaran, penglihatan, penciuman, ucapan, dan sebagainya. Namun pada umumnya, penyaluran nafsu rohani lebih sering dilakukan melalui lidah atau ucapan, seperti senang menggunjingkan orang atau menyebarkan gosip, memfitnah, dan berbohong. Oleh karena itu, mengendalikan diri dari nafsu yang kedua ini sangat penting. Ucapan yang tidak terkendali sangat potensial menjatuhkan orang lain. Sebagai contoh, gosip atau fitnah dapat menyebabkan tercemamya nama seseorang yang tidak bersalah, perang saudara, dan saling bunuh antarsesama. Dengan kabar bohong, akan

Dr. Wahba al-Zuhayly, Al-Fiqh al-Islam wa ‘adillatuh (Puasa dan I’tikaf, Kajian berbagai mazhab) Cet. III. Bandung; Pen. Remaja Rosda Karya 88-89

8

156

terjadi kerugian bagi yang mempercayainya. Sumpah palsu menyebabkan pemutarbalikan kebenaran dan melahirkan kelaliman. Nafsu rohani melalui lidah atau ucapan jika diarahkan kepada kebaikan, akan melahirkan untaian kata-kata yang menyejukkan hati, mendamaikan permusuhan, meredam kemarahan, mengalirkan doa-doa yang menyelamatkan, melantunkan pujian-pujian kepada Allah swt., dan sebagainya. Nafsu rohani dapat pula disalurkan melalui telinga. Telinga merupakan indra yang berfungsi sebagai tempat masuknya informasi yang berwujud suara. Informasi yang didengarkan, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Keduanya dapat mempengaruhi nafsu jasmani manusia. Jika informasi yang didengar tidak disaring, dan kalau yang lebih dipercayai adalah informasi yang tidak benar, ketidakbenaran tersebut akan cenderung diikuti. Bila seseorang mendengar sesuatu yang jelek menyangkut dirinya dan dia tidak mampu mengendalikan diri, akan dapat menimbulkan rasa malu atau marah pada diri orang itu. Namun, bila nafsu pendengaran diarahkan untuk menyenangi suarasuara yang indah dan merdu, seperti menyimak alunan ayat-ayat Al-Qur' an dan mendengarkan nasihat-nasihat yang bijak, tentu akan mendorong ke arah kebaikan. Begitu pula dengan nafsu indra-indra yang lain, bila dapat dikendalikan akan membawa kebaikan. Namun bila diikuti, nafsu akan membawa kepada kejelekan dan bencana. Al-Qur‟an membagi tingkatan nafsu pada dua kelompok besar, nafsu yang bermartabat tinggi dan nafsu bermartabat rendah. Nafsu bermartabat tinggi dimiliki oleh orang-orang yang bertaqwa, yang takut pada Allah dan berpegang teguh pada petunjuk-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sedangkan nafsu martabat rendah dimiliki oleh orang-orang yang menentang perintah Allah dan yang mengabaikan ketentuan-ketentuan-Nya serta orang-orang yang sesat, yang cenderung berperilaku menyimpangdan melakukan kekejian serta kemungkaran.9 Menurut Ibnu Qudamah al-Maqdisi, nafsu manusia dibagi menjadi empat macam dan tingkatan. Pertama, tingkatan istimewa, nafsu muthma'innah, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Kedua, tingkatan paling baik, nafsu musawwalah, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ketiga, tingkatan baik atau standar, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah melakukan pelanggaran. Keempat, tingkatan rendah, nafsu ammarah bisuu', yaitu nafsu yang cenderung mendorong

9

Dr. Achmad Mubarok, MA., Op. Cit., hal.114

157

kepada keburukan. 10 Dari keempat macam nafsu ini, tiga nafsu pertama masing masing nafsu muthmainnah, nafsu musawwalah, dan nafsu lawwamah termasuk kategori nafsu positif. Sedangkan, nafsu ammarah bis suu' adalah kategori nafsu negatif yang suka mendorong manusia melakukan perbuatan buruk dan jahat. Mengingat nafsu ammarah bis suu' dominan mengajak manusia ke jurang kehancuran seperti diungkapkan oleh Nabi Yusuf a.s. yang diabadikan dalam Al-Qur'an surah Yusuf ayat 53. Nafsu inilah yang harus dikekang agar tidak memperbudak manusia. Seperti yang diriwayatkan ketika Rasulullah Saw pulang dari perang, beliau bersabda: “Kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang besar.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah bukankah peperangan yang baru kita selesaikan adalah perang besar.” Nabi menjawab; “Perang terbesar itu adalah melawan hawa nafsu.” Perkataan ini juga dilontarkan oleh Ibrahim bin Ailah bahwa perjuangan mengendalikan nafsu adalah perjuangan terberat. Dia mengatakan, "Kita kembali dari perjuangan kecil menuju perjuangan besar." Apakah itu?" tanya teman-temannya. Dia (IbrahimbinAilah) menjawab, "Perjuangan besar itu adalah perjuangan mengendalikan nafsu." 11 Kemampuan mengendalikan nafsu, menurut ilmu jiwa, merupakan salah satu ciri jiwa orang yang sehat. Bagi orang beriman, alat pengendalian dirinya adalah keimanan yang telah menjelma menjadi kepribadian. Jika bisa dicapai, keimanan ini akan mengarahkan setiap perilaku manusia. Keimanan dan pengendalian diri merupakan senjata yang ampuh menghadapi godaangodaan, baik yang timbal dari dalam maupun dari luar. Puasa, dalam hal ini, melatih manusia mengendalikan diri, selain meningkatkan keimanan, juga mengendalikan waktu makan dan minum dengan mengubah waktunya/jadwalnya. Hal ini dimaksudkan agar manusia terlatih untuk tidak mencari makan dan minum dari barang haram, seperti mengonsumsi alkohol dan memakan riba, serta mencari makan dan minum secara tidak halal seperti, korupsi, mencuri, merampok, dan sebagainya. Hubungan seksual sementara dikendalikan agar manusia terlatih mengendalikan nafsu libidonya sehingga terhindar dari zina, penyelewengan dan perselingkuhan, homoseksual, lesbian, dan seks abnormal lainnya. Anjuran berpuasa dengan menahan diri dari kata-kata dan perilaku negatif seperti emosi, jorok, dusta, dan lainnya, melatih manusia untuk menghindari kejahatan seperti

10 11

Ahmad syarifuddin, hal. 223 Ibid, hal. 222.

158

memprovokatii dan berkarakter mulia seperti berkasih sayang, di sampity, disiplin dan bertanggung jawab. Latihan pengendalian diri ini, seperti ketika melakukan puasa, akan tercapai dan berhasil dengan baik manakala puasa diupayakan sampai pada tingkat ihsan dan itqan (puasa khusus) lebih dari sekadar menahan makan, minum, dan seks (seperti puasanya orang awam). Sahabat Jabir bin Abdillah al-Anshari berkata; “Bila kamu berpuasa hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lidahmu

juga turut berpuasa dari tidak jujur dan dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga. Hendaklah kamu tenang pada hari puasamu. Jangan kamu jadikan hari puasa dengan hari tidak puasamu sama saja." Puasa yang erat kaitannya dengan kemampuan menahan diri (imsak),

memiliki pengaruh terhadap pengendalian dalam menahan diri seperti sikap egois berlebihan emosi yang labil. Emosi seseorang timbal karena adanya pengaruh hormon adrenalin dan noradrenalin yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal yang menempel di bagian atas ginjal. Jika diproduksi secara berlebihan, hormon ini akan menimbulkan gejala psikologis yang negatif seperti panik, takut tanpa alasan, murung, sedih berkepanjangan, cemas, kehilangan kepribadian, kehilangan pegangan hidup, rasa bersalah yang berlebihan, dan terharu tanpa sebab. Jika emosi ini disertai dengan perilaku agresif akan dapat menyebabkan seseorang marah, berang, kalap, berani tanpa kendali (konyol), dan sejenisnya.12 Kebiasaan marah (emosional) termasuk dalam kategori masalah psikosomatik (gangguan kejiwaan) yang dapat menyebabkan timbulnya bermacam-macam penyakit fisik. Bagi penderita penyakit darah tinggi dan penyakit jantung, emosi dapat mengambuhkan penyakit tersebut. Jika seseorang tidak dapat menahan emosinya sewaktu dia menderita suatu penyakit, sulit diharapkan penyakitnya sembuh, yang terjadi justru dapat bertambah parah. Allah swt. dan Rasulullah saw. banyak menekankan untuk sebisanya menahan amarah dan meredakannya. Cara menahan dan meredakannya antara lain dengan mengingat Allah, bersujud dan berbaring, atau dengan bersegera mengambil air wudhu. Sikap menahan amarah, termasuk pemikiran yang bernilai luhur. Karena itu, orang-orang yang mampu menahan marahnya dipuji dan dicintai oleh Allah swt. Termasuk puasa adalah tips yang paling baik untuk menahan amarah dan mengendalikan emosi yang tidak stabil.

12

Prof. Hembing Wijayakusuma, Puasa itu Sehat. (Jakarta: PT Gramedia, 1997), hal. 18

159

“Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya.”
Baqarah:184). Wallahu a‟lam.

(QS. Al-

Bulan Pengendalian Diri
Adalah Mahdi bin Manshur, Khalifah Dinasti Abbasiah sangat

menginginkan Syarik bin Abdullah An-Nakha’i, seorang ahli fiqh yang terkenal ilmu dan ketaqwaannya, untuk memangku jabatan Hakim. Untuk mengelakkan dirinya dari terlibat dalam kerajaan dan pemerintahan yang zalim, Nakha’i menolak tawaran tersebut. Khalifah juga sangat berkeinginan agar Nakha’i mengajar ilmu-ilmu hadits secara private kepada anak-anaknya. Namun beliau tetap menolak dan merasa puas merdeka. Suatu hari khalifah memanggilnya dan berkata: “Hari ini engkau harus menerima satu dari tiga tawaranku. Menjadi Hakim Kepala, atau sebagai guru anak-anakku, atau hari ini engkau makan siang bersama-sama kami.” Pikir Nakha’i, karena ini adalah paksaan, tawaran ketiga adalah yang paling mudah baginya. Khalifah menyuruh juru masaknya untuk menyiapkan makanan yang paling enak bagi tamu istimewanya. Tak lama kemudian muncullah berbagai macam makan yang lezat. Sebelumnya, An-Nakha’i tidak pernah melihat, apalagi merasakan masakan selezat itu. Beliau dengan lahap menikmati hidangan hari itu. Diam-diam sahabat khalifah membisikkan sesuatu kepadanya: “Demi Allah, orang ini tidak akan berada di jalan lurus lagi.” Tidak berapa lama kemudian, mereka melihat An-Nakha’i menjadi guru anak-anak khalifah, dan juga menerima jabatan Hakim Kepala, bahkan menerima gaji dari Baitul Mal. Suatu hari beliau bertengkar dengan petugas bendahara. Petugas itu berkata: “Anda tidak menjual sebiji gandum pun kepada kami, lalu seenaknya saja ngotot kepada kami.” 160 dengan cara hidup yang sederhana dan

Nakha’i menjawab: “Telah kujual kepada kalian sesuatu yang lebih bernilai dari gandum. Aku telah jual agamaku!” Kisah di atas menyadarkan kita tentang konsep iffah. Atau apa yang berada diantara hidayah, yaitu ifrath dan tafrith. Manusia, menurut kaum sufi, memiliki kecenderungan untuk bergerak dalam tiga kekuatan; „aql, ghadabh dan syahwat. Kekuatan ini dapat berlebih dan dapat bekurang. Khusus untuk syahwat, bila berlebihaan, akan menderita penyakit hati yang disebut serakah, rakus, atau tamak (syarah). Bila kekurangan, ia menderita kelesuan, tidak ada gairah, mengalami kebekuan (jumud). Menundukkan syahwat dalam kendali akal kita sehingga berada dalam posisi moderat disebut iffah. Yang menarik penggambaran kisah di atas, ingin menyadarkan kita tentang fenomena perut yang memiliki kekuatan untuk menguasai sisi kemanusiaan dalam diri manusia. Walapun makan hanyalah aktifitas rutin yang menjadi sunnatullah untuk kelangsungan hidup manusia, namun efeknya sangat berpengaruh pada kepribadian seseorang. Makanan yang dikonsumsi manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan. Pertama tingkatan hajat (makanan yang dibutuhkan), beberapa suap makanan sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggung; kedua tingkatan khifayah (ukuran kecukupan), makanan yang mengisi sepertiga perut, sedangkan sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernapas; ketiga tingkatan fudhlah, makanan kelewat batas dan berlebih-lebihan. Secara naluri, manusia cenderung memuaskan nafsunya untuk makan secara berlebih-lebihan. Pada tataran ini, manusia berada di fase tafrith (serba berlebih). Konsekuensinya dapat memunculkan keluhan fisik akibat obesitas, dan berbagai dampak bisa timbul penyakit degenerative lainnya. Sebaliknya Islam juga tidak menganjurkan masuk ke dalam tataran ifrath (serba kekurangan). Menjadikan hidup sengsara secara fisik akibat kurang makan dan berefek kurang gizi. Kecenderungan seperti ini memaksa manusia untuk melemahkan diri dan jiwanya. Dampak yang paling berbahaya dari semuanya itu dapat mempengaruhi syahwat. Walaupun syahwat memang tidak bisa dihilangkan sama sekali, tetapi 161

kita dilarang mengembangkannya sampai tingkat yang berlebihan. Tingkat berlebihan yang tidak mampu lagi dikuasai timbul manakalah nafsu perut ikut menguasainya. Dominasi nafsu perut dalam diri manusia dianggap sebagai salah satu sumber dari berbagai kejahatan. Ketika orang sudah rakus terhadap makanan, ia berusaha untuk memperluas apa yang dimakannya secara kualitatif dan kuantitatif. Ia makan segala macam –sejak lauk pauk sampai kepada rumah, tanah, pohon, gunung, aspal, minyak dan perusahaan. Ia bergerak dari memakan apa saja sampai kepada memakan siapa saja.

Bermula dari perut Untuk mengukur kadar sehat seseorang, tidak hanya dilihat dari badan fisiknya yang prima, tetapi juga jiwa yang stabil, dalam hal ini kemampuannya dalam mengendalikan nafsu. Nafsu ini, dalam al-Qur’an biasa disebut “nafs ammarah bis-suu”. Nafsu yang selalu mengajak ke hal-hal negative. Salah satu nafsu itu adalah nafsu perut. Nafsu bawah perut) perut yang bertetangga dengan syahwat (terutama nafsu di adalah “tokoh utama” yang melahirkan malapetaka terbesar

umat manusia dalam melakoni hidupnya di dunia ini. Nafsu ini adalah salah satu peletak dasar terjadinya musibah dari dosa-dosa yang dilakukan manusia. Duduklah sejenak di hadapan TV, hampir setiap hari berita-berita kriminal besar seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan kejahatan

lainnya berawal dari nafsu perut. Kasus-kasus korupsi yang menjadi langganan berita, yang mempertontonkan mafia-mafia berdasi atas nama “paduka yang terhormat”, dari para birokrasi dan legislasi pejabat kita adalah bentuk penghambaan total terhadap nafsu perut. Jabatan diperjualbelikan, martabat digadaikan, kehormatan dicampakkan. Muncul dengan muka topeng diselingi senyum kearifan yang penuh kemunafikan. Berkulit badak yang tidak lagi memiliki rangsang saraf perifer sehingga mengalami anastesi (hilang rasa) kepekaan akan penderitaan rakyat, berbalut nurani dengan qalbu yang sudah mati (qalbun mayyit). Dan, seperti biasanya hampir semua berujung dengan komplikasi ke nafsu bawah perut yang melahirkan tamak, serakah, haus 162

kekuasaan, gila harta, gila wanita dan berbagai penyakit-penyakit qalbu lainnya. Perut yang “rakus” tidak hanya mendatangkan keluhan fisik yang setiap saat dapat menimbulkan berbagai penyakit gastrointestinal. Tetapi lebih dari itu sangat mempengaruhi aktifitas psikis (jiwa) dan rohani. Walaupun belum ada penelitian bagaimana hubungan makanan dapat mempengaruhi perilaku dan jiwa seseorang, namun kita biasa menyaksikan bagaimana orang yang sering makan makanan yang haram dan berlebihan (melampaui batas) akan turut mempengaruhi kepribadian dan jiwanya, selain tentu bodinya. Makanan haram sedikit banyaknya dapat mempengaruhi kepribadian menjadi labil, dimana akan melahirkan kegelisahan dalam hidup seperti mudah putus asa, cemas, stress sampai depresi. Nabi Saw bersabda: “Siapa yang menjaminkan kepadaku apa yang ada diantara dua rahangnya dan apa yang ada diantara dua pahanya, aku menjamin surga baginya.” Menjamin keduanya berarti mengendalikannya dalam bimbingan ajaran Rasulullah Saw. Rahang dan paha melambangkan nafsu perut dan nafsu di bawah perut. Keduanya tidak dapat dipisahkan, setali tiga uang. Lewat pengekangan “rahang”, maka “paha” dapat dikontrol. Hal itu hanya dapat dilakukan lewat puasa.

Puasa; kearifan mengendalikan diri Salah satu kearifan puasa, adalah melatih manusia mengendalikan diri. Sisi lain, puasa juga meningkatkan keimanan dan dapat mengendalikan waktu makan dan minum kita. Dalam berpuasa, kita bukan saja dilarang mengkonsumsi yang haram, kita juga dilarang mengkonsumsi yang halal, bila saatnya belum tiba. Selain itu, puasa berfungsi juga sebagai "terapi" bagi jiwa yang tidak stabil. Melahirkan sikap sabar, mampu menahan diri serta senantiasa berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. Puasa yang berarti al-imsak (menahan “diri”) mengajarkan kepada kita, jika diiringi dengan iymaanan wah tisaban akan berada pada wilayah “hidayah”. Posisi hidayah inilah yang melahirkan efek positif terhadap fisik, psikis dan 163

rohani. Tanpa pemahaman dan action puasa yang baik, puasa hanya memiliki dampak secara kuantitatif tanpa aplikasi secara kaffah ke seluruh dimensi kemanusiaan kita. Maka jangan heran, secara kualitatif puasa tidak memiliki roh dan hilang makna hakikinya. Ini terbukti kejahatan/kemaksiatan tetap langgeng dilakoni walaupun puasa datang setiap tahun. Kehadirannya sekedar slogan sebagai seremonial untuk melengkapi “cap” islam di KTP. Untuk mengkualitaskan puasa secara kaffah (menyeluruh, baik dimensi fisik, psikis maupun rohani), maka pengendalian puasa tidak hanya sebatas menahan makan dan minum, suu kita. Kemampuan mengendalikan nafsu, menurut ilmu jiwa, merupakan salah satu ciri jiwa orang yang sehat. Bagi orang beriman, alat pengendalian dirinya adalah keimanan yang telah menjelma menjadi kepribadian. Jika bisa dicapai, keimanan ini akan mengarahkan setiap perilaku manusia. Keimanan dan pengendalian diri merupakan senjata yang ampuh menghadapi godaan-godaan, baik yang timbul dari dalam maupun dari luar. Hal itu hanya dapat dicapai, lewat, salah satunya , puasa. Wallahu a‟lam. tetapi juga mengendalikan nafs ammarah bis-

MERAJUT UKHUWAH DI ATAS IKHTILAF

(Dilemma Dua Hari Raya)

Bekerjasama dalam masalah yang disepakati, Toleransi dalam masalah yang diperselisihkan
Salah satu tradisi menjelang lebaran, selain mudik, adalah adanya perbedaan hari raya. Perbedaan ini tidak hanya terjadi baik dikalangan intern umat Islam Indonesia, tetapi juga antar umat Islam Indonesia dengan umat Islam di luar negeri (terutama di negari-negari Islam seperti Arab Saudi). Keadaan ini tidak jarang menimbulkan pertentangan, dari argument sampai fisik, sehingga saling menyalahkan. Nampaknya ada yang memang suka mendahulukan fiqh dibanding menjaga ukhuwah. 164

Pertanyaannya yang kemudian muncul, mengapa kondisi ini selalu terulang. Apakah memang tidak ada kompromi yang bisa dihasilkan untuk menyatukan pendapat yang berbeda (ikhtilaf). Dari mengamati sampai menghitung Pelaksanaan hisab dan rukyat sudah ada sejak masuknya Islam di Indonesia. Dengan berlandaskan hadits Nabi bahwa dimulai dan diakhirnya puasa dengan melihat hilal. Secara sederhana usaha untuk melihat hilal (dikenal dengan rukyat) dilakukan pada saat menjelang terbenam matahari pada tanggal 29 Sya‟ban dan 29 Ramadhan. Jika hilal tidak terlihat digenapkan menjadi 30 hari. Dalam teori penentuan awal/akhir bulan; ditandai saat bulan sama sekali tidak terlihat secara visual karena posisinya ada di bawah Matahari. Karenanya, jika Bulan mulai terlihat setelah hari sebelumnya tidak terlihat, hal itu menandakan bulan sudah berganti. Setelah umat Islam mengenal ilmu falak (astronomi), serta dapat memperhitungkan posisi hilal, maka pelaksanaan rukyat secara bertahap mengalami perkembangan. Kini pelaksanaan rukyat tidak lagi didasarkan pada perkiraan semata, namun sudah didasarkan pada perhitunganperhitungan para ahli hisab. Perhitungan ini menghasilkan rumusan dan teori yang dapat mengetahui berapa derajat ketinggian hilal di atas ufuk. Berapa jauhnya dari posisi matahari. Berapa lama berada di atas ufuk setelah matahari terbenam. Berapa besar bagian hilal yang dapat dilihat. Menghadap ke arah manakah hilal, dan sederatan data lainnya yang mendukung keberhasilan pelaksanaan rukyat. Sejalan dengan perkembangan sains dan teknologi, ilmu hisab dan rukyat ikut mengalami kemajuan. Kemajuan ini dibarengi pula dengan perkembangan pemikiran tentang keabsahan dasar yang dijadikan pedoman dalam menentukan awal-awal bulan qamariyah (hijriyah). Semula hanya rukyatlah yang dijadikan dasar penetapan awal dan akhir ramadhan. Namun di kalangan umat Islam berkembang pula pendapat, bahwa hisabpun dapat dijadikan dasar dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawal. Keduan aliran besar ini sama-sama diakui memiliki kelebihan dalam dunia astronomi. Salah satu kekuatan metode hisab dapat membuktikan ramalan terjadinya gerhana matahari dan bulan, juga untuk konjungasi planet. Dengan diketahuinya berbagai parameter pergerakan Matahari, Bulan, dan Bumi, para astronom dengan menggunakan ilmu mekanika benda langit (celestical mechanics). Dengan didukung peralatan dan program 165

komputer yang canggih, metode ini bahkan bisa meramalkan gerhanagerhana yang akan terjadi hingga puluhan tahun ke depan (Ninok; 2006). Melihat dua cara pandang di atas, perbedaan dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan tidak bisa dihindari. Perbedaan ini bertumpu pada posisi hilal sudah berada di atas ufuk dan mungkin untuk dirukyat namun tidak berhasil dirukyat. Bagi penganut yang berpegang pada rukyat maka bulan berikutnya harus ditetapkan dengan istikmal. Bagi yang berpegang pada mazhab hisab, bulan berikutnya harus ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan, walaupun hilal tersebut tidak berhasil dilihat. Melihat hilal memang tidak semudah melihat indahnya bintang-bintang di langit. Secara kasat mata, Bulan yang baru tampak sebagai lengkungan tipis di dekat Matahari yang baru tenggelam tidak selalu mudah dilihat. Perbedaan jatuhnya awal dan akhir Ramadhan tidak hanya disebabkan adanya perbedaan antar mazhab hisab dan mazhab rukyat. Perbedaan intern dikalangan mereka sering juga timbul. Sekedar gambaran saja, lebih tiga puluh sistim dan referensi hisab yang dipakai di Indonesia. Dikenal tiga kelompok besar;hisab taqriby, hisab tahqiqy dan hisab temporer (Wahyu:2005). Ketiganya memiliki kelebihan masing-masing. Namun dalam pehitungan posisi bulan dan matahari, ketiganya juga menghasilkan data yang berbeda. Begitupun hasil rukyat,juga terjadi perbedaan dikalangan mereka dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawal. Perbedaan ini cukup menyolok, dimana sebagian berpedoman kepada ijtima qablal ghurub. Lainnya bersandar pada posisi hilal di atas ufuq. Yang berpegang pada posisi hilal di atas ufuq juga berbeda-beda, ada yang berpedoman pada wujudulhilal di atas ufuq. Ada yang berpedoman pada imkanrukyat 2o atau 5o. Semuanya ini menimbulkan penetapan yang berbeda, walau sama-sama menggunakan sistim dan referensi hisab yang sama. Jangan heran, kalau penetapan awal Ramadhan atau Syawal pun berbeda. Disinilah sebenarya masalah yang timbul. Tidak adanya kesepakatan untuk saling memahami dan mencari solusi untuk umat dalam merajut ukhuwah. Sangat disayangkan jika fiqh didahulukan, ukhuwah diabaikan. Akibatnya, akan melahirkan ketegasan dan ketegangan dimasing-masing pihak yang merasa benar.

Dari Ikhtilaf ke Ukhuwah

Sebenarnya umat Islam bisa tenang dan solid jika semua persoalan ini dikembalikan pada kaedah; “hukmul hakim yarfa‟ul khilaf” (keputusan pemerintah, menghilangkan perbedaan). Dengan mendasarkan keputusan isbat pemerintah yang menyatukan semua pendapat dan mencari titik 166

kesepatakan. Seperti yang dikatakan Goodwill Zubair tahun lalu, dari PP Muhammadiyah; “Jika pemerintah punya prakarsa untuk mempertemukan ahli hisab dan rukyat, pasti akan ada solusi”. Kriteria penentuan itulah yang berbeda. Jika kriteria ini disatukan dan dicari persamaannya, hari raya hanya ada satu. Salah satu solusinya terletak pada penanggalan Hijriyah yang harus disamakan persepsinya. Harus ada kesepakatan bersama pada garis batas tanggal. Dibuat dan disepakati akan tata aturan penanggalan hijriyah. Selain itu, persoalan hukum (fiqh)nya diposisikan untuk melihat aturan apakah melanggar kaidah hukum atau tidak. Bukan ditempatkan untuk menentukan tata aturan penanggalan sendiri berdasar ijtihad fiqhiyah. Mengingat sifatnya yang ijtihadiyah tentu akan selalu muncul perbedaan (Hendro; 2006). Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni-nya ketika menafsirkan Hadits Rasulullah Saw. yang diriwaytkan Imam Bukhari; Berpuasalah kamu bila

telah melihat bulan dan berlebaranlah bila telah melihat bulan. Jika penglihatanmu kabur, ukurlah ia.” Perkataan ”ukurlah ia”, ketika posisi hilal

tidak bisa ditentukan, kita bisa memilih satu dari 3 opsi penafsiran. Bisa Fakmihi (sempurnakanlah, dengan hitungan 30 hari), bisa Fashibu (hisablah) atau Fadhayyiqu (ambillah yang singkat). Untuk amannya, kenapa tidak diambil yang penafsirannya lebih mendekati kepentingan bersama, demi bingkai persatuan. Sudah saatnya persatuan dan kesatuan umat Islam harus diutamakan karena merupakan pokok dan dasar kokohnya ukhuwa Islamiyah. Perbedaan internal dan eksternal yang berkaitan dengan masalah dasar (asal) seminimal mungkin dihindari. Diutamakan selalu menjaga maslahah. Karena, ”bertengkar itu jelek,” kata Rasulullah, maka dicarilah jalan kesepakatan. Kaedah fiqh mengatakan; ”Bekerjasamalah dalam masalah yang disepakati, dan saling toleransi dalam masalah yang diperselisihkan.” Diperlukan sikap tasamuh, agar tidak saling menyalahkan, demi menegakkan ukhuwah. Kita menyadari, setiap yang bertentangan pasti berikhtilaf; tetapi tidak semua yang berikhtilaf bertentangan. Walaupun ikhtilaf berbeda jalannya, namun tujuanya sama. Selain itu selalu bersandar pada nash yang sharih, dan terjadi karena rahmat. Dengan paradigma akhlak, ikhtilaf menjadi rahmat. Ikhtilaf mengembangkan ilmu dan memperbanyak pilihan (alternatif), sehingga kesempitan dapat dihindarkan. Dengan ikhtilaf pula, kita mencari akar persoalan dan menuntaskan akar perbedaan menuju kebersamaan. Kapan ya kita sama-sama berlebaran. Wallahu a‟lam bissawab. 167

Pengobatan Tradisional diantara Pengobatan Konvensional
Allah tidak menciptakan suatu penyakit tanpa menciptakan pula obatnya Barang siapa mengerti hal ini, ia mengetahuinya Barang siapa tidak mengerti hal ini, ia tidak mengetahuinya, kecuali kematian (HR. Ibnu Majah)

Seorang lelaki divonis bahwa hidupnya tidak berapa lama lagi. Kanker sudah bermetastase (menyebar) di paru-parunya. Enam bulan kemudian dia datang kepada dokter yang memeriksanya. Hasilnya sungguh menakjubkan, kanker itu sudah tidak bersemayam di paru-parunya. Demikian cerita Andrew Weil, MD dalam bukunya

Spontaneous Healing (1996).
Masih cerita yang sama, dalam buku Quantum Healing (2002), Deepak

Chopra, M.D, bercerita. Seorang wanita India diangkat payudanya karena tumor.

168

Ternyata tumor itu menyisakan

metastase yang sudah sampai ke jantung dan

paru-paru. Namun dengan kesadaran yang tinggi serta kesabaran dalam menjalani pengobatan khemoterapi yang dipadukan dengan ayurveda (pengobatan yang bersumber dari kitab suci agama Hindu), wanita itu sembuh. Beberapa penggal ayat Qur‟an dan alunan zikir pernah juga diceritakan, ternyata dapat menghancurkan sebuah tumor di usus dari seorang Kyai. Sampai sekarang, kasus-kasus diatas masih merupakan misteri. Dunia kedokteran modern (konvensional medicine) tidak begitu saja dapat menerimanya. Penyembuhan seperti kasus diatas, dianggap keluar dari kewajaran, dan bisa bersifat kebetulan. Namun, tidak bisa disangkal, banyak masyarakat modern, bahkan dikalangan dokter, tidak dapat mengelak, ketika dalam keputusasaan, mereka menjadikan pengobatan tradisional/ alternatif sebagai harapan terakhir untuk sembuh. Di Amerika, yang terkenal kemajuan ilmu kedokterannya, pengobatan alternatif berkembang pesat. Begitupun negara-negara di Eropa, pengobatan

alternatif sudah sangat dikenal. Di Indonesia, pengobatan tradisional sudah dikenal sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Walaupun kedokteran modern sudah sangat maju, masih banyak masyarakat kita, terutama yang tinggal di pedesaan, masih mengandalkan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional didefinisikan sebagai pengobatan atau keperawatan dengan cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman, keterampilan turun menurun, atau pendidikan pelatihan dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (SK Mentri RI No.

1076/MENKES/SK/VII/2003). Sedang pengobat tradisional adalah orang yang melakukan pengobatan tradisional (alternatif). Secara garis besar pengobatan ini dikenal 4 kelompok, yaitu : 1. Keterampilan; pijat urut, patah tulang, sunat, dukun bayi, refleksi dan akupuntur.

169

2. Ramuan; tabib, sinshe, gurah, haemopathi, aromaterapi. 3. Pendekatan agama; Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha 4. Supranatural; pengobatan tenaga dalam, paranormal, reiki, qigong dll. Sampai sekarang, masih banyak pengobat tradisional dan masyarakat enggan menggunakan istilah batantra (pengobatan tradisional). Mereka lebih cenderung mengistilahkan pengobatan alternatif. Istilah ini terasa lebih modern, tidak berbau kuno. Dari beberapa defenisi, pengobatan alternatif adalah kumpulan teknik, cara/modalitas, sistim medis, yang sebagian besar belum akrab di tengah masyarakat. Dia dianggap sebagai pengganti (alternatif) di luar pengobatan konvensional. Pengobatan yang dilabel ”alternatif” biasanya berasal dari suatu

kultur atau pengobatan tradisi leluhur. Dari definisi ini, terlihat sebenarnya tidak perbedaan antara pengobatan teradisional dengan pengobatan alternatif (Lestari, 2004). Pengobatan alternatif sebenarnya sudah memasyakarat dalam ranah hidup keseharian kita tanpa disadari. Banyak tehnik pengobatan ini dipraktekkan dari pengalaman sehari-hari kita. Ketika kepala sakit, kita memijit-mijit. Saat tangan terkilir dikompres dengan es. Sedang mengalami kelelahan fisik mental atau

menghilangkan stres, kita mendengar alunan musik. Tanpa disadari, kita sudah mempraktekkan pengobatan alternatif.

Western Medicine dan Oriental Medicine
Seringkali istilah oriental medicine mewakili kedokteran timur. Sistim pengobatannya meliputi akupuntur, herbal, pijat, aromaterapi, naturopati dan lainlain, lengkap dengan peralatan pengobatan yang sederhana/tradisionil. Sedang western medicine menampilkan model pengobatan modern disertai dengan

peralatan canggihnya. Memang ada perbedaan yang menyolok, namun memiliki tujuan yang sama. Meelayani pasien, memberi obat dan menyembuhkan.

170

Kedokteran modern berbasis ilmu yang melewati uji coba (trial and error), lewat eksperimen dan berdasaarkan akal (rasio). Dapat dijelaskan dengan hukum

causal. Sebaliknya, kebanyakan oriental medicine bersendikan kepercayaan,
berhubungan erat dengan tenaga supranatural, kebathinan, agama dan tradisi. Dalam dunia kedokteran, ada penegakan ”diagnosis” (menentukan sesuatu penyakit), bukan berdasarkan ”kira-kira”, dilakukan dengan ”anamnese” (menelusuri riwayat penyakit) bukan menduga dan pengalaman belaka, disertai pemeriksaan fisik dan klinis. Dilengkapi pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan alat canggih lainnya. Beberapa yang membedakan praktek pengobatan tradisional/alternatif dengan pengobatan konvensional (Mery, 2003 dan Lestari, 2004), yaitu; 1. Mengutamakan kekuatan penyembuhan secara alamiah. Pengobatan alternatif mempunyai dasar kepercayaan yang mendalam terhadap kekuatan penyembuhan secara alamiah. Mereka percaya, bahwa dalam diri manusia ada kemampuan secara alamiah untuk sembuh. Meskipun sifatnya lama, mengobati secara perlahan dengan merangsang kekuatan penyembuhan dari dalam tubuh. Disini, pengobatan alternatif hanya mengajarkan, membangkitkan dan memotivasi pasien untuk untuk bertanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri. 2. Berpusat pada pasien, dan bukan pada pengobat. Ilmu pengetahuan memiliki dasar fisik yang kuat, dan dimata dokter, dasar fisik tersebut sangat meyakinkan. Sebaliknya kekuatan penyembuhan yang dimiliki pikiran dianggap meragukan (Depaak, 2002). Padahal dibalik pikiran, ada kekuatan Ilahi yang berpusat di alam bawah sadar, dan menyatu dengan alam kosmos. Itulah kekuatan pikiran yang mampu mensugesti dan membangkitkan seluruh energi potensial yang tersembunyi dan tercipta menjadi kekuatan yang sangat hebat. Tidak banyak yang tahu, bahwa tubuh manusia dibentuk dari realitas kesadaran yang sempurna. Ilmu pengobatan yang didasarkan pada kesadaran, akan mampu menembus tubuh, jauh masuk ke dalam, yaitu, ke pusat pikiran. Sama dengan

171

kekuatan pengobatan konvensional (secara holistik), inilah kekuatan pengobatan alternatif. Mementingkan kepercayaan, perasaan, opini sebagai sumber kekuatan yang bisa menyembuhkan 3. Melakukan yang tidak membahayakan. Berakar dari tindakan yang tidak dramatis dalam mengobati penyakit. Hasilnya dapat dilihat, walaupun secara perlahan namun pasti. Berbeda dengan sistim pengobatan konvensional yang bersifat invasif. Sistim konvensional berusaha membuang secara cepat keluhan atau gejala yang ada, dan kadang-kadang tanpa mempertimbangkan efek sampingnya. Tindakan pembedahan, kemoterapi, radiasi dan antibiotik

membuktikan kemampuannya dalam menghentikan, melambatkan, dan akhirnya menyembuhkan penyakit yang parah. Cara tersebut merupakan pilihan pertama dalam kedokteran konvensional (Lestari, 2004). Pengobatan alternatif

memandang cara tersebut dapat mengurangi kualitas hidup manusia, yang semestinya merupakan tindakan terakhir. 4. Menggunakan bahan yang berasal dari alam secara keseluruhan (utuh). Bahan alam yang sering digunakan adalah herbal, binatang, homepati, suplemen makanan dan makanan secara utuh. 5. Menerapkan standar kesehatan yang lebih arif. Kesehatan tidak saja dalam

usaha kuratif dan preventif, tetapi juga suatu proses yang dinamis. Tidak hanya dilihat dari bebas dari penyakit, tetapi juga memperhatikan energi vital, yang mempengaruhi bagaimana dia mampu menikmati kehidupan pribadi dan profesinya. Secara total, manusia dievaluasi untuk mengetahui keadaaan kesehatannya. Hampir secara menyeluruh, kesehatan alternatif seseorang dinilai berdasarkan kondisi fisik, emosi, mental, psikososial, pola hidup, keteraturan makan, termasuk kondisi spiritual dan agama. Kedua model pengobatan ini sama mulianya disisi Tuhan untuk meringankan beban dan membebaskan manusia dari penyakit. “Dan apabila aku sakit, maka Dia-lah

(Allah) yang menyembuhkan

172

ADAM BUKAN SUNANATULLAH
Berbicara tentang penciptaan dan asal manusia, berarti berbicara tentang evolusi. Jauh sebelum Lamarck dan Darwin membahasnya, abad VI SM orang sudah menyinggungnya. Aristoteles misalnya memoerluas pengertian evolusi dengan mengklasifikasikan hewan-hewan dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Teori evolusi mencapai zaman emasnya setelah periode Lamarck, Bapak Evolusi dan Darwin/Wallace yang menyewmpurnakan serta membahas evolusi yang di khususkan mencari asalusul manusia. Pendapatnya dikuatkan dengan diterbitnya ”On the Origin of Species by means of Natural Selection or the Preservertion of of Favoured races in the struggle of the life,” yang diambil dari inspirasi buku Malthus, “An Essay on the Principle of Population.” Menurut Darwin, bentuk kehidupanmutahir berkembang menurut evolusi dari tumbuhan dan hewan yang hidup jutaan tahun yang silam. Sepanjang generasi yang berkesinambungan terjadi perubahan dan variasi yang berangsur-angsur dengan melihat bentuk petunjuk fosilnya. Darwin tidak menyinggung langsung asal-usul manusia, dia hanya berkesimpulan bahwa telah berevolusi serta mengambarkan nenek moyang manusia itu primitif. Karena tidak ada fosil yang nirip betul manusia modern, maka diambil yang lebih dekat. Kebetulan kera secara anantomis serta ciricirinya lebih dekat dengan manusia. Misalnya tangan yang dapat bergerak bebas, bentuk cranium (kepala), taring kecil, suka berkelompok. Apa yang dicetuskan oleh Darwin, sekitar 6 abad sebelumnya, para sarjana islam sudah pro-kontra membahasnya. Berdasakan petunjuk Al-qur‟an dan Hadist mereka berpolemik makhluk sebelum Nabi Adam. Failasuf Al-Maskawaih (abad XII M), dalam Miskat al-Mashabihnya, yang mendahului teori Lamarck mengatakan, bahwa fase-fase penciptaan hewan mirip manusia (bangsa kera) di mulai dari tumbuhtumbuhan. Kecerdasannya telah mencapai derajat yang dapat diajar dan dilatih seperti ulah manusia. Keadaan ini merupakan batas terakhir dari alam hewani, yang apabila mendapat tambahan sedikit saja, dia akan keluar kebatas hewan dan masuk ke alam manusia. Misalnya dapat berfikir, berbicara, berbudaya dll. Muhammad Syakir bin Abdu ar-Rahman adDaraini (w. 1335 M) mengemukakan, dikalangan par ahli yang membahas 173

eksak, kera dipandang perpaduan antara manusia dan hewan setelah mengikuti beberapa tahap (maksudnya seleksi alam). Ibnu Khaldun dalam

mukaddimah-nya lebih menegaskan lagi tentang adanya tahap demi tahap dalam evolusi, yang kemudian hari menjadi teori dari Darwin yang sangat terkenal, yaitu Natursl Selection.” Mereka yang mendukung evollusi pada

manusia didasarkan pada pengewrtian ayat, ketika Tuhan berdialog dengan para Malaikat (Q<2:30).....”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan (jaa‟ilun) seorang khalifah dimuka bumi....” Allah menggunakan kata ”Ja‟ala” dalam penciptaan Adam diartikan ”Mengevolusikan,”bukan khalaqah(khali-qun). Ar-Razi dalam tafsir al-Kabir-nya, mengartikan fungsi khalifaannya Adam adalah ; (1). Pengganti jin yang telah pernah menempati dunia. Pegertian ini erat kaitannya engan evolusi; (2). Sebagai penguasa di bumi yang mewakili Allah dalam menegakkan hukum-hukum-Nya di bumi ini. Pendapat ini juga di kuatkan oleh riwayat Ibnu Abbas, bahawa jauh sebelum Nabi Adam, telah ada makhluk yang pernah mendiami bumi ini. Berdasarkan penafsiran lanjutan ayat diatas, tersurat prtoesa Malaikat, yang menghawatirkan bahwa makhluk yang dijadikan khalifah akan saling menumpahkan darah, seperti pendahulu Adam, yang pernah mendiami bumi, yaitu bengsa Al-Jinn dan Al-Bann (lihat juga pandangan Mahmud Al-Alusi

dalam ”Tafsir Rahul Ma‟ani fi Tafsiril Qur‟anil Azhim was Sab‟ul Matsani,”

dalam menafsirkan surat An-Nisa ayat 1. Beliau mengatakan, bahwa ada 30 Adam beserta Hawa. Ini diperkuat juga dengan pandangan Muhammad bin Ali al-Baqir, Imam Syi‟ah ke-V/w. 732 M, yang mengatakan, telah ada Bapak-bapak kami berupa beribu Adam sebagai nenek moyang menusia.

Menurut pandangan evolusioner, perjalanan evoluisi manusia dibagi atas 4 tahap. Tahap I Australopithcus (biasa di sebut kera dari selatan), Tahap II Pithecantropus (jenis kera yang berjalan tegak, Mayor menyebutnya, manusia kera atau Homo Erectus, Tahap III Homo Naendwerthalensis (jenis manusia yang sudah mempunyai peradaban), Tahap IV, Homo Sapiens (Manusia yang bijaksana). Pertanyaan yang belum terjawab sekarang adalah, dimana periode Nabi Adam. Menurut Dr.H. Supan Kusumamihardja, Adam berada pada periode Homo Sapiens (lihat studi Islamica h, 35). Jika kita telusiri keatas, secara tidak langsung genotipa manusia berasal dari genotipa Australopithecus.
Lalu bagaiman pandangan Al-qur‟an dan Hadist yang memuat jelas tantang asal dan penciptaan manusia. Sekalipun tidak ada ayat yang mengatakan bahwa Adam adalah Awwalul Insan , tetapi beberapa ayat mengambarkan bahwa Adam adalah nenenk moyang manusia sekarang.

174

Allah Yang Maha Besar dalam setiap proses penciptaan tidak langsung menyempurnakannya tetapi melalui, a. menciptakan (khalaqa); b, menyempurnakan/menyeimbangkan (sawwa); c, mengatur (qaddara) dan d, membimbing (hudan) (QS.87: 2-3). Untuk proses penciptaan sampai kepada

bimbingan dijelaskan dalam Al-qur‟an diberbagai ayat. 1. Untuk 3 tahap : 1. Manusia diciptakan pertama kali dari tanah (Bada‟aa khalqal al-insaani min thin); 2. Menjadikan perpaduan sperma dan ovum (minsulaa-latin min maa-ing mahyim) dan 3. Meniupkan roh yang sudah lengkap berupa embrio (nafakha fii-hi min ruu-hi-hi) (QS<32; 7-9). 2. Untuk 4 tahap 1. Spermatozoit yang bertemu dengan ovum di Ampulla tuba ovarii (nutfatan min maniyyin yum-naa); 2. Menjadi embrioblast (alqah); 3. Menciptakan dan menyempurnakan (fa-khalaqa fa-sawwa) dan; 4. Menjadikan berpasangan- kembali ke siklus pertama. (fa-ja‟ala min-hu az-zaujayni al-azzakara wal –untsaa). (QS.75; 37-39). 3. Untuk 5 tahap; 1. Dari tanah (turab); 2. zygot/pertemuan antara sperma dan ovum (nufhfah); 3. Embrioblast (al-aqah); 4. Embrio yang sempurna dan yang cacad (min mudhgat muhallaqatin wa ghairi mukhallaqatin) dan ; 5 Lahirlah bayi (nukhri-jukum thif-lan) (QS. 22:5). 4. Untuk 6 tahap : 1. Sari pati tanah (sulaa-latin min thin); 2. Dari hasil zigot yang tersimpan ditempat yang kokoh/rahim (nuth-fatan fii qaraarin ma-kiin); 3. Embrioblast (‟alaqah); 4. Mesoderma, kelak menjadi jantung, darah daging, tulang dll. (mudh-ghah); 5. Sclerotoma, kerangka pembentuk tulang (idzaa-man) dan Myotoma, kerangka pembentik daging sebagai pembungkus (lah-man) dan; 6. tercipta makhluk yang berbentuk lain, neonate (an-sya‟ naa-hu khal-qan aa-akhara) (QS. 12-14) Ayat-ayat diatas mendukung proses fase-fase penciptaan manusia, yang dimulai dari tanah hingga kebentuk manusia yang sempurna. Implikasi ayat-ayat diatas ditambah penjelasan ayat lainnya terdiri dari tiga bentuk evolusi. Evolusi pertama bukan berasal dari evolusi organik, karena penciptaan pertama dimulai dari tanah hingga ke Adam. Istilah tanah (thin/mengandung H2O, QS 32:5) kadang-kadang disebut tanah liat yang melekat(ylaa-zib/mengandung /ferrum) tanah/debu (turab/zat-zat anorganik, QS 3;58), sari pati tanah (sulalah min thin), tanah liat kering seperti tembikar (shal shaa-lin kal fakh-khaar),”shal-shal” adalah tanah kering mengandung zat pembakar, oxygen) ”fakh-haar,” zat arang/Carbon (QS 55:15), lumpur yang di beri bentuk (shal-shal min hamaa-in mas nun), kata hamaa-in, zat lemas (Nitro-gen) (QS 15:28). Keseluruhannya ini, jika 175

dilihat dari unsur kimianya, mengandung C, H, O, dan N serta unsur-unsur lainnya. Jika bersenyanwa dengan Fe, I, Si, Ma, K dan unsur kimi lainnya disebut ”laazib” (zat-zat an-organis) sehingga terbentuklah ”turab” sebagai Protein yang merupakan substansi dasar makhluk hidup. Menurut Harold Urey (Ahli Kimia Amerika, 1893), pada suatu saat , atmosfir bumi kaya akan molekul-molekul gas yang merupakan unsur-unsur penting dalam tubuh makhluk hidup. Unsur itu adalah Metana (NH4). Amoniak (NH3), Air (H2O) dan H2. Stanley Miller, sang murid menyempurnakannya, lewat eksperimen. Dengan bantuan sinar ultra violet, panas vulkanis dan loncatan api listrik dihasilkan bentuk asam amino dan molekul organik lainnya. Inilah komponen dasar protein, sebagai substansi dasar kehidupan. Komponen ini sama dengan komponen dasar yang ada dalam diri manusia. Sehingga tidak mustahil proses dari anorganis tercipta menjadi organis, dari tanah menjadi Adam. Namun bagaiman persisnya fase penciptaan itu hingga sempurna menjadi Adam hanyalah Allah yang Maha Tahu (Wallahu a‟alam) Perbandingan contoh paling sederhana bisa kita merujuk pada virus sebagai mahkluk yang dianggap mati (jika berdiri sendiri) menjadi hidup. Dalam diri virus terdapat partikel yang mengandung RNA, Polymeras, Nucleo Protein, Lipid Biliyar dll. Virus tidak memiliki organel sel yang mampu melaksanakan kegiatan hidup, seperti mensintesis dsb. Tetapi jika menetap dalam sel atau jaringan yang hidup maka dia mengadakan reflikasi, aktif hidup dan terus berkembang. Dalam surat 3;59, ketika Allah menciptakan Adam dari tanah hanya dengan perkataan ”Kun” (jadilah manusia), fa ya-kun (maka jadilah ia). Kedudukan fa (huruf‟athf) sebagai lit-ta‟qiib, menunjukan pengertian langsung. Tenggang waktu nya relatif singkat. Ini menunjukan, bahwa penciptaan manusia pertama tidak dari prosesevolusi organik apalaghi mikro. Penciptanya terpisah dari species sebelumnya dan tidak mempunyai hubungan dengan species lainnya. Sedang pada penciptaan kedua diambil dari penciptaan pertama dalam bentuk lain. (khalaqa min-ha) oleh A. Yusuf Ali, dalam holy Quran yang merujuk tafsiran Ar-Razi, mengartikan, partikel ”min” menunjukan pada suatu species, suatu sifat dengan suatu kesamaan. Sedang partikel ”ha” dimaksudkan berhubungan dengan ”nafs” (1968, h. 178 ). Kelengkapannya menjadi Hawa, pendamping Adam (QS 39,6). Dan penciptaan ketiga dan seterusnya berasal dari bahan pertama dan kedua setelah terjadinya talqih/zigot ditempat yang kokoh/rahim (fii qaraa-rin ma-kin). 176

Peristiwa urutan-urutan kejadian ini dipertegas dalam QS, 2;35, dimana Allah memanggil Adam dengan perkataan ...Ya adam ”Uskun Anta wa zawu-juka...” Perkataan ”Adam” disini dimulai huruf nida (Ya) , sebagai panggilan pribadidan mengaskan kembali dengan Anta (engkau), bukan Antum (kalin), sebagai dhamir/kata ganti orang kedua tunggal yang mengikuti kata Ya Adam. Ditambah lagi , dalam QS,17:70 dan 60, Allah menyebut Bani Adam (keturunan Adam), yang menunjukan Adam adalah Bapak pertama dari seluruh umat manusia dan tak ada sebelumnya, apalagi Adam mempunyai orang tua, mustahil. Adapun hadits / riwaya yang menguatkan pandangan teori evoluisi entang Adam dianggap Zhann sekalipun shahih. Ulama yang menolak menganggap haditsnya tidak mutawatir. Hadits-hadits yang menyangkut aqidah, jika tidak memenuhi rukun mutawatir tertolak, sekalipun shahih, tetapi hanya bersifat zhann (sangkaan), sedang zhann tidak dapat menetapkan suatu aqidah (Prof. Dr.

Mahmud Syaltut dalam Islam, Aqidah dan Syari‟ah Jilid II, 1986, h. 739).

Untuk menguatkan pandangan diatas mengemukakan hadits Nabi SAW, yang berbunyi, ”An-Nasu Kullu-hum, min Adam wa Adama min tu-rab” (Semua manusia berasal dari Adam dan Adam dari tanah). Namun demikian menjadi suatu kehormatan, bahwa Al-Qur‟an menganjurkan para pemeluknya untuk selalu berfikir, merenung (QS. 16:78), mengadakan observasi dan eksperimen (QS. 29:20) segala sesuatu yang termasuk tentang teori evolusi. Al-Qur‟an sama sekali tidak merintangi jalan yang hendak ditempuh oleh manusia untuk mengetahui sesuatu yang bermanfaat. Termasuk apa yang dilakukan oleh Bapak Dr. Barasila merupakan suatu terobosan yang patut mendapat penghargaan dan saya sangat salut. Semoga tidak berhenti sampai disini dan hendaknya diikuti ilmuwan yang lain dalam rangka membuktikan ayat-ayat Al-Qur‟an. Wallahu a‟lam bis sawaab.

177

ISRA‟ DAN MI‟RAJ SUATU PERJALANAN ILMIAH SUPERNATURAL
”Maha suci Allah yang telah meperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkati sekililingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra‟ 1) Sebagai orang Islam apabila Al-Qur‟an menceritakan suatu kepada kita, maka tidak ada sikap lain lagi bagi kita melainkan harus menbimaninya , karena hal itu datangnya dari Allah. Dan tidak ada kewenangan bagi akal untuk menutak-atiknya dengan menjadikan peristiwaperistiwa dimuka bumi sebagai tolak ukur untuk menguji kebenaran peritiwa yang disampaikan Allah lewat Al-Qur‟an itu, dan tidak wajar pula jika kita menjadikan undang-undang ciptaan Allah yang berbeda dengan undangundang ciptaan manusia itu. Maka selagi Allah mengatakan begini dan begitu, semua muslim wajiblah menerima apa yang dikatakan Allah itu. Baru setelah itu akalnya dipergunakan untuk memebuat perbandinngan guna memperkuat kebenaran apa yang difirmankan Allah itu. Dalam menyampaikan berita terjadi peristiwa Isra‟ dan Mi‟raj ini Allah Ta‟ala memulainya dengan kata-kata ”Subahana” (Maha Suci).... Katakata ”Subahana” ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa disana ada kekuataan yang jauh dari segala macam pwerbandingan, kekautan yang jauh melampauisegala kekuatan manusia dimuka bumi. Oleg Prof. Dr Mutawalli Asy Sya‟rawi (Guru Besar Universitas Al-Azhar) dikatakan makna, subahana ialah bahwa Allah itu Maha Suci Zat-nya dan perbuatan-Nya dari segala kesamaan. Kalau ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang disitu Allah mengatakan bahwa ”Peristiwa itu Dia Yang Melakukkan” maka saya harus mensicikan (tansih) Dia dari segala undangyndang dan ketentuan yang berlaku bagi manusia dan saya tidak mengukur perbuatan Allah itu dengan perbuatan saya. Oleh karena itu surat itu dimulai dengan kata ”Subahana”(Maha Suci) sebagai kakan timbul kesan didalam hatimanusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa ajaib dan luar biasa diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia.

Problematika Metafisika
178

Berbagai pakar mengeluarkan konsep dan teori mereka untuyk mengungkap misteri peristiwa mah dahsyat ini. Namun tak satupun dari mereka yang dapat memecahkan bahkan merumuskan hakekat yang sebenarnya dari perjalanan Nabi ini. Dr. M. Quraisy Shihab MA. Mengatakan, bahwa seandainya seorang belum atau tidak mencapai pemahaman secara”ilmiah” tentang peristiwa ”Isra‟ Mi‟raj”, maka usaha atau tuntutan untuk membuktikan secara ilmiah itu tidaklah ilmiah lagi. Sebagai diketahui, peristiwa yang dialami Nabbi Muhammad SAW. Itu, hanya terjadi sekali sehingga tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimen terhadapnya. Padahal asas filosofi dari ilmu pengetahuan adalah‟trial and error‟(Usaha yang coba-coba tak mustahil keliru), observasi dan eksperimen terhsadap fenomena-fenomena alam yang berlaku disetiap tempat dan waktu yang dapat dilakukan siapapun. Alam fisika tidak dapat mengungkap peristiwa ini, sebab ini bagian dari problem dari metafisika yang sifatnya non empiris terhadap halhal yang non material, yang secara populernya mempersoalkan apa yang terdapat setelah atau dibalik yang bersifat benda (materil). ”Maa ba dattobiah” demikian istilah Buya Hamka. Menurut Immanuel Kent problem permanen (masalh yang tetap) dihadapi metafisika adalah terutama mengenai: Tuhan, Kelenggangan hidup dan kebebasan. Singkatnya untuk memahami konsep isra‟ Mi‟raj tidak lain hanya berlandaskan semta-mata iman, kemudian barulah kita melangkah untuk menelitinya, baik dari segi ilmiah biasa maupun dari ilmiah supernatural. Jika dari segi ini tidak dapat terungkap, sebagai orang muslim kita harus kembali ke pokok semula yaitu mengimani dan meyakini bahwa peristiwa itu benar adanya. Seorang tokoh eksistensialisme Kierkegaard pernah menyatakan bahwa seseorang percaya bukan karena ia tahu, melainkan percaya karena ia tidak tahu. Sedang Imannuel Kent filsuf dan ahli metafiska Jerman (1724-1804) mengatakan pula, bahwa ia terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah yang ia lakukan, demi menyediakan waktu bagi hatinya untuk percaya. Perjalanan Ke Ruang Maha Mutlak Memasuki abad XXI ini serng kita mendengar bagaimana kehebatan makhluk yang namanya manusia itu. Berbagai penemuan dan rekayasa yang mereka peroleh guna kesejahteraan hidup mereka di dunia ini. Mereka tidak hanya berhubungan dengan alam kecil (idea en verbinding 179

met het innelijk) yakni mikrokosmos yang disebur ”Alam Shagir tetapi lebih dari itu mereka menghubungkan diri dengan dunia luar atau jagat besar (Idea verbinding met de buitten wereid) yakni mikrokosmos yamg disebut ”Alam Kabir.” Negara-negara super power, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berlomba untuk mengungkap tabir alamjagad raya ini. Mereka mengirimkan para astronout dan pesawat antariksa mereka untuk menjalani ruang angkasa. Tidak hanya sampai di bulan bahkan menuju ke planet Mars. Salah satu roket Uni Soviet yang diberi nama G=1 setinggi 122 merupakan suatu pesawat yang dikirim planet Mars, mengorbit diseputar planet tersebut. Tidak lama kemudian menyusul pesawat antariksa Soviet yang lain yang sudah mendarat diplanet tersebut. Bukan nhanya Uni Sovyet punya ambisi, Amerika juga sekjak dulu ingin menjejakan kakinya di Planet terdekat dari Bumi, yang sampai sekarang dengan pesawat ulang aliknya terus berusaha. Inilah salah satu kehebatan manusia. Bahkan salah satu cita-cita manusia kalau bisa sampai ke planet Pluto. Luar biasa. Namun jauh sebelum itu pada abad ke-7 atau 1403 tahun yang lalu pernah tejadi suatu peristiwa yang Maha Hebat dan Luar Biasa, yaitu peristiwa Isra‟ Mi‟raj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bermula dikota Mekkah sebagai ibukota bumi atau sumbu bumi. Nabi diberangkatkan dari Masjidil Haram sebuah masjid yang terletak tepat ditengah-tengah kota Mekkah, tempat kelahirannya pada tangal 12 Rabi‟ul Awal 571 suatu tempat yang terletak dilembah yang dibatasi oleh daerah Al-Qushashiyah, Al-Samiahhil dan Ash Shubikah di kelilingi oleh gunung-gunung batu, Jabal Ka‟bah, Jabal Qal‟ah, Jaba; Tsur dan Jabal Qubaisy. Dari situ Nabi terus dibawa ke angkasa tidak hanya disekitar bulan, bahkan, bahkan sudah meluncur ke ufuk yang tertinggi, melalui sistem planet (planet system) menembus ruang langit (hemeraimte) yang Maha Luas dan berlanjut terus kegugusan bintang Bima Sakti (Milkway, Meilkeg) meningkat kemudian mengarungi Semsta Alam (Universe) hingga sampai di ruang tak terbatas kemudian sampailah Rasulullah Muhammad SAW pada ruang Yang Mutlak (Absolute Ruimte) yang dinamakan ruang ”Maha Ruang.” Inilah yang disebut dalam suatu riwayat: Dan Dia Muahammad itu di ufuk tertinggi. Kalau manusia pada abad ini baru merencanakan untuk menjelajahi bulan, mengukur-ukur kemungkinan untuk hidup di bulan, maka Nabi Muhammad SAW telah menembus ruang angkasa, menuju pusat sekalian alam , Het Centre Beginsel, yang meliputi segala macam reuang dan menjadi pusat segala suatu yang wujud (ada, exist). 180

Hasil Operasi Jiwa
Barangkali yang bertanya bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW, mampu menembus angkasa yang maha luas sampai ke ruang ”Yang Maha Ruang” hanya dengan bermodalkan ruh dan jasmaniah (visible, invisible) sebagai manusia biasa. Pertanyaan klise yang sering kali muncul dari generasi-generasi. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Beliau di datangi Malaikat dalam keadaan setengah tidur. Setengah tidur yang disini adalah sebagau meditasi (tafakur) menuju abstrak, yang tertinggi yaitu Allah SWT. Dalam keadaan tafakur ini beliau di bawa oleh Malaikat kesekitar sumur zam-zam. Di sana Beliau mendapatkan ”Operasi Jiwa”, untuk menyelidiki kalau-kalau dalam panca indera batinnya masih ada sesuatu yang perlu di bersihkan. Badan rasa (gevoelslichaam) Beliau diperiksa, dikeluarkan sejenak dari tubuh Beliau. Mengenai badan rasa ini apabila dikeluarkan dari tubuh(exteriorisatie), akan menghilangkan rasa pada jasmani, sekalipun jasmani itu tertusuk oleh suatu benda. Hal ini sangat perlu bagi Nabi agar jasmani Beliau tidak merasa sakit ataupun yang lainnya bila bersentuhan dengan atmosfir yang berlapis-lapis dan beraneka ragam itu dan sangat berbahaya yang akan kita jumpai dalam perjalanan Beliau nanti. Setelah itu, badannafsu Beliau di cabut oleh Malaikat. Dayadaya nafsu ini dipindahkan dan dialirkan ke pusat kesadaran. Dari situ dayadaya nafsu ini dialirkan kedalam pusat ingatan untuk seterusnya ke pusat akal sehingga menuju ke pusat kemauan. Maka terjelmahlah amal perbuatan untuk melaksanakan tugas Isra‟ Mi‟raj itu dengan daya pikir yang lengkap (pranis-lichaam). Karena itu dalam perjalanan beliau, pikiran dan ingatan tetap sadar dan dapat menyaksikan segala sesuatu yang di jumpai dalam perjalanan dengan jelas sekali. Nyatalah Beliau masih cakap berbicara dan bersoal jawab dengan Malaikat, bahkan dapat menceritakan pengalamannya kepada sahabatnya setelah dari Isra‟ Mi‟raj. Setelah daya-daya nafsu Beliau dialirkan sedemikian rupa sampai berwujud kemauan yang sempurna itu, menyusul kemudian daya-daya yanf badan akal (devachanis licaam) beliau di alirkan ke arah otak dan untuk di teruskan kearah budi (Budis Lichaam). Dengan memakai alt inilah beliau dapat menerima firman-firman Allah secara langsung. Bagian disebut Atman (degoestelijke) dan disebut juga het levensbeginsel. Seseorang yang mencapai tingkatan ini dinaamakan Insanul Kamil(manusia sempurna). Ia mampu untuk mengetahui haekat yang mutlak. 181

Dengan perangkap-perangkap yang dimilikinya Nabi dengan aman dapat berIsra‟ Mi‟raj. Hal ini juga di karenakan rohaninya suci dan bersih yang mampu menangkap getrang Malaikatberupa sinar-sinar yang halus melalui proses resonansi rohani. Kendati pun diperjalanan Nabi di ruang angkasa penuh dengan kegaduhan suara-suara meteor, messon dan oer-atom yang tersimpang siur dijagad raya, Beliau dengan tenang dan sempurna sekali mampu mengikuti pembicaraan yang diberikan oleh Malaikat. Jadi dapatlah dimaklumi bahwa sekalipun jasmani dan rohani sebagai manusia biasa, Beliau dapat ber-Isra‟ Mi‟raj setelah terlebih dahulu menjalani operasi jiwa

Kecepatan Sinar Rohani

Dalam melakukan perjalan ini, Beliau memakai kendaraan Buraq yang di mulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (perjalanan Isra). Sekedar perkiraan, jika kecepatan Buraq disamakan dengan kecepatan elektrik, yaitu 300.000 km perdetik. Maka kecepatan Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sejauh 1500 km itu hanya dapat di tempuh 1/200 detik. Padahal kecepatan Buraq itu jauh lebih cepat dari elektrik. Dalam perjalanan Mi‟raj ini Beliau tidak lagi memakai kendaraan Buraq, adfa yang berpendapat Beliau memakai kendaraan Mar‟a. Sebuah kendaraan yang jauh lebih cepat dari Buraq. Bagaimana Nabi dapat mencapai tempat tertinggi (Absolute Ruimte) dalam waktu yang begitu relatif singkat. Padahal diketahui Rasulullah SAW mempunyai sinar rohani yang sangat kuat yang di peroleh dari operasi jiwa sebagaiman diterangkan yang lalu. Dengan sinar rohani Beliau mampu menangkap sinar Allah yaitu sinar yang serba ”Esa”. (Monistis). Akibatnya terciptanya kesadaran jagad raya pada diri beliau. Setelah seluruh badan hakus beliau meliputu sinar Allah itu maka runtuhlah bion-bion rohani Beliau sehingga kehilangan sifatnya sebagai bion dan berubah menjadi aether (aether-lichaam). Aether ini bersatu dengan sinar Allah yang tersususn dari zat mutlak(Absolute substante) yang suci dan murni dan tidak pernah di sentuh oleh makhluk apapun juga. Peristiwa perpaduan antara kedua sinar ini menimbulkan kosmis yang kemudian berubah menjadi karsa atau kodrat Tuhan sehingga dapat menggerakan Rasulullah yang melakukan perjalanan ke alam angkasa luar menuju alam Tuhan. Kosmis energi inilah yang disebut ”Tangga” (sebagian ulama klasik mengidentifikasikan dengan Mar‟a) alat pemanjat dari langit yang pertama kelangit ketujuh sampai Sidrathul Muntaha. 182

Prof. Dr. Aloei Saboe mengatakan Mar‟a atau tangga dalam fisika disebut Neutrino, yakni suatu partikel yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu yang kecepatannya ribuan kali dari kecepatan cahaya. Dalam Al-Qur‟an , Allah SWT berfirman : ”Malikat dan Ruh naik kehadirat Allah dalam waktu sehari yang lamanya (jangka waktunya) 50 ribu tahun (Al-Ma‟arij : 4). Kata ‟tahun‟ dalam ayat ini artinya ”Tahun Cahaya” jadi maksudnya 50 ribu tahun cahaya. Menurut perhitungan Ilmu Metafisika kecepatan sinar rohani yang paling rendah adalah 30 milyard km tiap detik (3 x 1010 km/detik). Jaddi jika dihitung menurut ilmu eksata untuk melakukan perjalanan kealam Tuhan yang jaraknya 50 ribu tahun cahaya itu, maka jarak yang harus di tempuh adalah 50.000 x 12 x 30 x 24 x 60 x 300.000 km = 46.656 x 1010 km. Jika dibandingkan dengan roket yang tercepat dengan daya jamgkuan 3.000 mil / detik, maka perjalanan menuju kealam Tuhan ini dengan menggunakan roket tesebut membutuhkan waktu ± 5.000.000 (5 juta) tahun. Sedang menurut ilmu Metafisika untuk menuju kealam Tuhan dengan alat rohani manusia yang tercepat 3 x 10 16 km/detik, maka dibutuhkan ±15 detik saja. Benar-benar mengagumkan. Padahal sinar rohani Rasulullah SAW memiliki kecepatan jauh melebihi rohani manusia biasa. Tentunya waktu yang dibutuhkan oleh Rasulullah untuk menuju ke alam Tuhan Yang Maha Mutlak jauh lebih pendek dari waktu rohani manusia biasa. Dengan kata lain sinar rohani Rasulullah mampu mencapai alam Tuhan dalam waktu kurang dari 15 detik. Oleh Mutawali Sya‟rawi peristiwa ini disebut Qanun Illahi (Undang-undang Illahi yang tidak terikat oleh ruang dan waktu).

183

Memfana‟kan Relegious Science dengan General Science
Imam Syafi‟I r.a. pernah berkata dalam Ta‟lim al-Muta‟allim, ilmu itu hanya ada dua macam; ilmu fiqih („ilm fiqh), untuk mengetahui seluk beluk agama, dan ilmu kedokteran („ilm at-thib) untuk mengetahui kondisi badan. Bisa kita bayangkan andaikan kedua ilmu ini disinergikan, akan menghasilkan sebuah pemahaman yang luas dan mendalam tentang hakekat diri manusia, bahwa diantara keduanya memiliki keterkaitan yang saling melengkapi (khusus dalam hal ini, ketika membahas tentang bab at-thaharah dan beberapa pembahasan lainnya). Ketika kedua ilmu ini dibicarakan pada ranah yang berbeda, dengan dunianya masing-masing, satu di Perguruan Tinggi Islam (al-lum al-Diniyah/religious science), satu di Perguruan tinggi Umum (general science), maka ilmuawan di bidangnya masing-masing membuat dikotomi yang saling bertolak belakang. Paradigma pemikiran dikotomi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum bukan persoalan baru dalam sejarah perkembangan pengetahuan di dunia Islam. Hal ini dimulai ketika penolakan terjadi tidak hanya terhadap ilmuilmu yang bersumber dari penalaran akal, seperti ilmu filasafat dan matematika, tetapi juga dari ilmu yang berlandaskan aspek empiris, seperti astronomi, kedokteran, fisika dan lain-lain. Dalam perkembangannya, kaum sunni ortodoks menolak secara tegas ilmu yang berlandaskan nalar rasional dan ilmu yang berdasarkan data empiris. Sebaliknya kaum mu‟tazilah menekuni ilmu tersebut. Penolakan tersebut tidak lepas dari pemikiran yang 184

berlandaskan bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak selaras dengan kebenaran wahyu (Azumardi Azra, 2001). Melihat kenyataan tersebut, sudah tidak relevan lagi dengan dinamika masyarakat di era modern ini untuk membuat sekat-sekat primordial adanya dikotomi dua ilmu tersebut. Seiring dengan besarnya minat untuk mengkaji ilmu umum dalam perfestik Islam, sebagian cendekiawan muslim mencoba mensinergikan kedua ilmu tersebut dengan memberi label islamisasi ilmu pengetahuan. Sebab dalam pandangan mereka, semua ilmu pengetahuan setara kedudukannya, karena dalam Islampun tidak membedakan keduanya, semuanya wajib dipelajari. Islam tidak memandang ilmu-ilmu umum lebih rendah secara hirarki dibanding ilmu agama. Sufi al-Arabi mengatakan, ilmu tidak dapat dirumuskan dalam pengertian esensialnya serta tidak mungkin ditentukan batasan-batasannya karena ia meliputi segala ikatan. Tiada sesuatupun yang gemilang cahayanya selain daripada ilmu yang tempat beremayamnya di hati (William C. Chittick dalam Abuddin Nata dkk, 2005). Dengan menyimak perkembangan pengetahuan dan antusias kaum muslim dalam pencerahan pencarian ilmu, maka menjadi tanggungjawab perguruan tinggi yang berlebel Islam untuk menjawab tantangan tersebut. Di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan mewajibkan mata kuliah Islam Disiplin Ilmu (IDI) sinergisme antara pengetahuan umum dan pengetahuan Islam dikembangkan di setiap fakultas. Misalnya mempertemukan dimensi pengetahuan tentang ekonomi dengan landasan syariah berdasarkan al-Qur‟an dan Sunnah. Dengan demikian pengetahuan tentang ekonomi liberal dapat dibedakan dengan ekonomi syariah, yang menuntun manusia untuk bersikap kritis terhadap ekonomi liberal. Contoh lain dalam Islam Displin ilmu kesehatan, bagaimana mempertemukan teori kesehatan dengan relevansinya terhadap kaidah-kaidah agama. Salah satu hasil yang ingin dicapai misalnya, bagaimana sehat itu bersifat sihhah dan afiah (jasadiah, nafsiah dan ruhaniah). Di IAIN setelah beralih ke UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin menjadi sunnat muakkad amanah itu harus diemban. Dengan metode pendekatan dosen pendamping, dimana dosen umum didampingi dosen agama melahirkan sinergis yang seimbang. Adagium „berilmu amaliah dan beramal ilmiah‟ adalah tujuan dari sinergi kedua ilmu tersebut yang ingin direalisasikan. Sebab secara substansial tidak ada yang dinamakan ilmu-ilmu Islam dan ilmu-ilmu umum. Yang dinamakan ilmu dimanapun sebagai satu kesatuan, yaitu upaya kreatif manusia yang memahami ciptaan Tuhan. Kitab suci sebagai sumber ilmu agama Islam adalah wahyu dari Allah. Demikian 185

pula jagat raya dan manusia yang ada di dalamnya, yang selanjutnya menjadi bahan kajian dalam ilmu-ilmu umum juga adalah ciptaan Allah. Antara satu dan yang lain sama-sama ciptaan Allah. Penamaan pada macam-macam ilmu tersebut ditujukan bukan untuk memisahkan antara keduanya, melainkan hanya untuk kepentingan teknis metodologis sebagai ilmu. Ketika keduanya berbaur dalam ke‟fana‟annya, tidak ada lagi yang dapat memisahkan keduanya, sebab tujuan yang ingin dicapai adalah terciptanya “mardhatillah” dari ilmu itu untuk kemaslahatan bersama. Sekarang, yang diperlukan adalah kesiapan bagi civitas akademika untuk menyongsong era Islamisasi pengetahuan di UIN Alauddin. Menurut Prof. Dr. Azhar Arsyad (Rektor UIN Alauddin) dari kolaborasi religious science dengan general science di UIN diharapkan melahirkan 3 tujuan; 1) meyakini Tuhan itu ada, 2) Tuhan itu hanya Satu, dan 3) Tuhan itu Maha Kuasa. Sebuah filosofi yang begitu sederhana namun hikmah dibalik itu dapat melahirkan sebuah kesadaran, bahwa manusia berakal dan pencari ilmu meyakini, semua ilmu itu berasal dari satu sumber dan dari ilmu lahir manusia yang bernalar sainstific dan berakhlak Ilahiah. Dengan demikian, melalui pendekatan teologis normative akan sampai pada kesimpulan bahwa Islamisasi atau integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum pada intinya merupakan panggilan Tuhan dan kemanusiaan yang wajib dilakukan, serta wujud dari huhungan timbal balik antara realitas dan aspek kewahyuan. Selain itu, realisasi yang diharapkan dari sinergis kedua ilmu tersebut melahirkan pandangan filosofis Islami dibidang keilmuan. Pandanganpandangan ini jika dijabarkan dalam epistemologi ilmu adalah, bahwa ilmu merupakan sebuah proses (kegiatan) yang tidak statis, tetapi merupakan kegiatan yang dinamis. Maka dengan kesungguhan dan berbekal metodologi serta referensi yang aktual, kolaborasi ilmu dan agama melahirkan pengetahuan akan hikmah dari ilmu itu. Secara ontologis dimaksudkan bahwa semua alam ini adalah ciptaan Tuhan, dan Tuhan sendiri tidak pernah berhenti mencipta di dalam diri kita. Dia senantiasa menciptakan al infinitum, karenanya ilmu begitu luas dan tak terbatas. Ilmu itu adalah entitas-entitas dari segala ciptaanNya, karena itu keinginan orang untuk selalu mencari dan menekuni ilmu tidak pernah merasa puas, ia akan selalu merasa kurang. Sedang dalam aksiologis, dengan ilmu, manusia mencari nilai dan kemuliaan dalam dirinya. Dengan kedua nilai ilmu itu, manusia dapat mengubah wajah dunia, mendapatkan kemudahan dalam hidupnya, berinteraksi secara horizontal dengan makhluk dan lingkungan sekitarnya. 186

Secara vertikal, melanggengkan nilai spiritual dalam dimensi ruhaninya.

Wallahu „alam .

187

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->