P. 1
Bab 2A Deskripsi Data

Bab 2A Deskripsi Data

|Views: 142|Likes:
Published by Agus Suparno

More info:

Published by: Agus Suparno on Dec 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/28/2015

pdf

text

original

DESKRIPSI DATA

Deskripsi data adalah upaya menampilkan data agar data tersebut dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah. Deskripsi data meliputi penyusunan data dalam bentuk tampilan yang mudah terbaca secara lengkap. Tabel frekuensi merupakan cara penyajian paling umum untuk deskripsi data, yang sering ditampilkan pula secara visual dalam bentuk diagram batang atau histogram. Sedangkan ukuran-ukuran deskriptif digunakan untuk menyatakan ciri lokasi pesebaran peubah pengukuran.

1.Tabel Frekuensi Tabel frekuensi merupakan bentuk deskripsi paling umum yang digunakan untuk peubah katagorik. Tabel ini menampilkan kategorikategori yang muncul dalam gugus data beserta frekuensinya masing – masing. Frekuensi relative atau persentase biasanya ditampilkan pada tabel tersebut.
 Cara membuat tabel frekuensi secara manual :

a) b) c) d) e)
f)

Mengumpulkan datanya Mengurutkan datanya Menghitung jangkauannya (Range) Menentukan berapa banyak nya kelas (k) Panjang Interval Kelasnya (i), dan Menentukan batas bawah kelas pertama

Contohnya sebagai berikut :

Statistika Dasar

1

3 Statistika Dasar 2 .3 Log 40 k = 1 + 5.Dari hasil test semester kelas IC SMA PERSADA diperoleh nilai mata pelajaran Fisika adalah sebagai berikut : 78 72 74 79 74 71 75 74 72 68 72 73 72 74 75 74 73 74 65 72 66 75 80 69 82 73 74 72 79 71 70 75 71 70 70 70 75 76 77 67 Maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengurutkan dahulu datanya. yaitu :  nilai tertinggi – nilai terendah  82 – 65 = 17.  berarti Rangenya (R) = 17 Setelah Range (R) nya didapat maka dilanjutkan lagi dengan mencari banyaknya kelas dengan menggunakan rumus : k = 1 + 3. Besarnya Range (R) dari data diatas dapat dihitung dengan proses. langkah berikutnya lagi adalah menentukan jangkauan atau sering disebut dengan Range (R).3 Log n dimana: k = banyaknyakelas n = banyaknya data dari rumus tersebut tinggal dimasukkan nilainya sehingga menjadi : k = 1 + 3. sehingga hasilnya sebagai berikut : 65 66 67 68 69 70 70 70 70 71 71 71 72 72 72 72 72 72 73 73 73 74 74 74 74 74 74 74 75 75 75 75 75 76 77 78 79 79 80 82 Setelah data diurutkan. karena itu data nilai lebih tepatnya kita urutkan dari terkecil ke yang terbesar.

cari panjang kelas intervalnya dengan proses Range dibagi dengan banyaknya kelas.1 Nilai test semester mata pelajaran Fisika kelas Ic SMA PERSADA (Data tunggal) Nilai 65 – 67 68 – 70 71 – 73 74 – 76 77 – 79 80 – 82 Jumlah Turus III IIII I IIII IIII II IIII IIII III IIII II Frekuensi 3 6 12 13 4 2 40 Contoh lain penggunaan tabel frekuensi : TABEL 2.Seng atau Asbes 3.Lain-lain Total Frekuensi 300 3 30 8 350 Frekuensi relatif 0.8 i = 3 (dibulatkan) Selanjutnya menentukan batas bawah kelas pertamanya.Nipah.009 0. Kemudian disusun tabel frekuensinya seperti yang terlihat pada tabel 2.086 0. kita ambil contoh nilai terendahnya yang kita ambil.2 0.882 0.k = 6.1 dibawah ini : TABEL 2.6 2.2 Kategori Atap Rumah di Pedesaan Katagori 1.Genteng / Beton 2.3 k = 6 (dibulatkan) Selanjutnya. sehingga hasilnya : i = 17/6 i = 2. hateup atau kirai 4.3 100 3 Statistika Dasar .023 1 Persen 88.9 8.

Pertama buat dahulu variabelnya (Disini menggunakan 2 variabel yaitu nama dan nilai.Gambar 2. Memasukan data Statistika Dasar 4 . nama bertype data nominal sedangkan nilai menggunakan tipe skala) 2.1 Diagram Batang Tentang Kategori Atap Rumah  Cara membuat tabel frekuensi secara SPSS 1.

Memindahkan variable nilai dari kiri ke kanan. Masuk ke menu AnalyzeDescriptive StatisticsFrekuencies : 4.3. pilih Histogramscentang with normal curveContinueOk : Statistika Dasar 5 . agar bias menampilkan grafiknya sekalian tekan chart.

Buka menu Variable View. dan menggunakan kelas interval dengan cara tambahkan variable baru. Statistika Dasar 6 . Pada Value diisi 1 pada Label diisi 65 – 67 terus Add. Sampai disini kita telah memiki variable baru dengan nama intnilai yang berisi kelas-kelas interval dari masing-masing nilai. Sampai langkah ini klik Tombol Old and New Values. pada Value diisi angka 1. Lanjutkan> Continue > Change > OK.Tabel Frekuensi yang dihasilkan oleh SPSS tentunya berbeda dengan cara manual sebab pada cara manual kita menghitung dahulu kelas intervalnya. pada variabelk etiga (intnilai) dan pada kolom value klik tombol … sehingga keluar menu. karena tabel frekuensi yang kita coba ada 6 kelas. kemudian klik Add. Name pada Output Variable diberi nama = intNilai dan Label diisi = Interval. Namun dari data di atas bias dilanjutkan lagi agar tabel frekuensi yang dihasilkan sama dengan cara manual. Langkah ini dijalankan sampai 6 kali. Klik Range. pada Range diisi 65. pada through diis 67. seperti berikut : Masuk ke menu Tranform> Recode > Into Different Variables >Keluar menu Pada variable nilai dipindah ke kanan.

Variable ketiga Decimalsnya diisi 0 (nol).Hal ini dilakukan sampai 6 kelas. langkah berikutnya sama dengan atas. Hal itu biasanya terjadi saat dilakukannya penelitian atau survey sering terdapat hasil yang jumlahnya cukup besar dan membingungkan sehingga untuk memudahkan pengolahan data kita harus melakukan pengelompokan data menjadi bebarapa kelompok atau kelas. atau diketahui sebaran frekuensi memberi gambaran sebaran nilai-nilai pengamatan pada suatu garis peubah atau pengelompokan data ke dalam beberapa kelas. bedanya pada variable nilai yang masih berada pada sebalah kanan.Masuk menu Analyze > Descriptive Statistics >Frekuencies. Langkah berikutnya kembali ke Data View. Statistika Dasar 7 . Sehingga hasilnya sbb :  Sebaran Frekuensi / Frekuensi Distribusi Tabel frekuensi untuk peubah pengukuran secara khusus dinamakan sebaran frekuensi. dikembalikan kekiri dan diganti dengan variable intnilai.

 Pembagian Tabel Frekuensi Distribusi: a.Sebaran frekuensi umumnya berbentuk sebuah tabel. Frekuensi relative kelas disajikan secara visual dalam bentuk histogram. dll.28 0. Kelas I adalah data dengan bobot antara 7 kg sampai dengan 9 kg. Kelas II adalah data dengan bobot antara 10 kg sampai dengan 12 kg. frekuensi relatif. frekuensi kumulatif kurang dari dan frekuensi kumulatif lebih dari. Statistika Dasar 8 .04 0. Dalam suatu tabel frekuensi (atau sebaran frekuensi) dapat berisi informasi tentang jumlah atau disebut frekuensi.36 0. Frekuensi Distribusi Kategorikal Bila dalam pengelompokan frekuensinya terdiri dari data kualitatif yang menyatakan jenis atau mewakili karakteristik tertentu seperti orang.14 (5) fk< 2 10 24 43 50 (6) fk> 50 48 40 26 7 Keterangan :  Sebaran frekuensi di atas terdiri atas 5 kelas. jenis kelamin.3 Bobot pada anak BALITA (Bawah Lima Tahun) (1) Bobot (kg) 7–9 10 – 12 13 – 15 16 – 18 19 – 21 (2) Nilai tengah (M) 8 11 14 17 20 (3) frekuen si 2 8 14 19 7 (4) fr 0.16 0. Contoh suatu sebaran frekuensi : TABEL 2. Frekuensi Distribusi Numerikal Bila dalam pengelompokan frekuensi terdiri dari data kuantitatif yang menyatakan besar bilangan numerik b.

dicari menggunakan rumus : Mi = (LLi + ULi) / 2 . 16. 18. i = kelas ke Kolom (5) Frekuensi kumulatif kurang dari yaitu penjumlahan bertambah frekuensi dari setiap kelas. Kelas V adalah data dengan bobot antara 19 kg sampai dengan 21 kg.  Kolom (1) Angka 7. 10. 13. 12. dst. 15. didapatkan dengan rumus :  Kolom (6) Frekuensi kumulatif lebih dari yaitu pengurangan bertahap frekuensi dari total data untuk setiap kelas. dan 19 disebut dengan Batas Bawah atau Lower Limit (LL) Angka 9. didapatkan dengan menggunakan rumus : fri = fi / n . dan 21 disebut dengan Batas Atas atau Upper Limit (UL)  Kolom (2) Nilai tengah untuk masing-masing kelas.  Kolom (4) Frekuensi relatif dari masing-masing kelas. dengan i = kelas ke Kolom (3) Jumlah atau frekuensi untuk setiap kelas.Kelas III adalah data dengan bobot antara 13 kg sampai dengan 15 kg. dengan n = jumlah data . Kelas IV adalah data dengan bobot antara 16 kg sampai dengan 18 kg. didapatkan dengan rumus: Statistika Dasar 9 .

5100.5-60.5 50.2 Sebaran Frekuensi Nilai Ujian Dalam Bentuk Histogram Statistika Dasar 10 .4 Sebaran Frekuensi Nilai Ujian Komprehensif Statistika (Data Kelompok) No.5 80.0189 Gambar 2. 5.5 40.5-70.5-50.Tabel 2.5-30. 8.2736 0.0660 0.0943 0.2 berturut-turut menampilkan sebaran frekuensi dan histogram hasil ujian komprehensif Statistika pada tahun pendidikan 2000/2001 sebagai contoh.5-90.5-80.5-40. Total Kelas 21-30 31-40 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Selang kelas 20. 7.5 60.0189 0.0095 0.5 106 Pertengahan kelas 25 35 45 55 65 75 85 95 Frekuen si 1 2 10 13 42 29 7 2 Frekuens i relatif 0. Tabel 2.5 30.5 90. 3.1226 0.4 dan Gambar 2.5 70. 4.3962 0. 6. 2. 1.

batang yang satu dengan batang yang lainnya berimpitan. Dalam prakteknya. Tidak ada ketentuan khusus dalam hal ini. batas-batas kelas ditetapkan menurut keperluan tertentu sesuai dengan permasalahan yang dibicarakan. persoalan sering timbul dalam menentukan batas-batas kelas. secara singkat tabel sebaran. masing-masing selang kelas pada sebaran frekuensi dibuat tumpang tindih dengan kelas yang berdampingan di atas dan di bawahnya. Statistika Dasar 11 .Tampilan histogram mirip dengan tampilan diagram batang untuk peubah katagorik. Dalam membuat tabel sebaran. Dalam penyusunannya. karena batas-batas kelas yang berbeda akan memberikan gambaran yang berbeda pula. Sebaran frekuensi peubah pengukuran memberi gambaran persebaran data pada suatu garis peubah kontinu. Perbedaan diantaranya adalah bahwa pada histogram. sedangkan batas-batas kelasnya diberi satu decimal lebih dari nilai peubahnya untuk menghindari pengkelasan satu nilai peubah masuk kedalam lebih dari satu kelas. Histogram menggambarkan sebaran fekuensi visual.

menjadi : 5 6 7 8 9 9 12 13 median = 8 + 9 = 8.Median Median adalah suatu nilai setengah dari nilai-nilai peubah tersebut lebih tinggi darinya dan setengah bagian lainnya lebih rendah. 6. 13.5 Statistika Dasar 12 . a. Pengertian lain median adalah nilai tengah setelah data terurut naik.Ukuran – Ukuran Deskriptif Ukuran-ukuran deskriptif diperlukan untuk peubah pengukuran sebagai nilai rangkuman atas nilai-nilai pengamatan yang ada. 8. Apabila genap. 9. Apabila banyak data adalah ganjil. Ukuran deskriptif ini merupakan nilai atau ukuran yang menggambarkan posisi nilai-nilai peubah dalam suatu garis peubah.2. (n=banyaknya pengamatan) setelah nilai-nilai tersebut diurutkan. median peubah adalah rataan dari dua nilai peubah (data) yaitu datum yang ke [n/2] dan datum yang ke [(n+2)/2] Contoh: Diketahui data 7. 9. 12. Ukuran yang menyatakan letak pusat secara umum dinamakan ukuran pemusatan dan ukuran yang menyatakan posisi relative nilai-niali peubah terhadap nilai pusat tersebut dinamakan persebaran. maka median adalah nilai paling tengah dari data yang sudah diurutkan atau mediannya merupakan nilai peubah yang ke (n+1)/2. 5 n=8 Data diurutkan terlebih dahulu dari yang kecil ke nilai yang besar. Median juga dikenal sebagai nilai yang terletak di tengah dari data yang terurut.

seluruh data yang berada di sebelah kiri Q2. Selanjutnya. Q1 = data ke – i ( n + 1 )4 i = 1. dan batas pengelompokan ketiga disebut kuartil atas (Q3). Nilai Q1 adalah median dari data sebelah kiri Q2. 2. sedangkan Q3 adalah median dari seluruh data di sebelah kanan Q2. seperempat bagian antara Kuarti 1 dan Kuartil 2 (K2). Nilai Q2 adalah median dari data tersebut. Contoh suatu data terurut seperti berikut.. kita tentukan nilai kuarti ltengah (Q2) terlebih dahulu.Jarak Antar Kuartil (JAK) Jarak Anatar Kuarti (JAK) menyatakan jarak yang mencakup 50% data yang berada disekitar median. dan merupakan ukuran Statistika Dasar 13 . batas pengelompokan kedua disebut kuartil tengah (Q2). nilai kuartil dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut. seperempat bagian antara Kuartil 2 dan ketiga (K3) dan seperempat bagian lagi lebih besar dari kuartil ketiga.b. Selain dengan cara di atas.Kuartil Kuartil adalah nilai ukuran yang membagi data yang sudah terurut menjadi empat bagian yang masing-masing terdiri dari 25% pengamtan. Data yang terdapat pada batas pengelompokan pertama disebut kuartil bawah (Q1). digunakan untuk mencari Q1. 3 n = Banyak data c. 1 1 2 3 3 3 4 4 5 5 6 7 8 Untuk menentukan nilai-nilai kuartil. Seperempat bagian pertama lebih kecil dari Kuartil 1(K1).

Apabila dalam suatu gugus data. Nilai tengah atau mean dilambangkan sebagai . ragam yang tinggi menunjukkan nilai-nilai yang cenderung 14 Statistika Dasar . JAK yang panjang menunjukkan bahwa nilai-nilai peubah dalam gugus tersebut cenderung berpencaran atau memiliki ukuran persebaran yang tinggi. Nilai tengah merupakan pusat sejati dari segugus data yang menyatakan lokasi pusat keseimbangan data.persebaran data sehubungan dengan nilai median sebagai pusatnya. Nilai tengah data tersebut berada di sebelah kanan mediannya.Rataan (Mean) Nilai tengah suatu peubah didefinisikan sebagai hasil bagi dari jumlah seluruh nilai pengamatan dengan banyaknya pengamatan. Demikian halnya. = e. Apabila bobot data yang berada di atas median lebih besar dari bobot data yang sebarannya melandai ke kanan (right skewed.Ragam . Kasus ini disebut menjulur ke kiri (left skewed atau skewed to the left). Besarnya angka ragam ini menyatakan ukuran pesebaran nilai – nilai pengamatan dari titik tengahnya. Atau dikenal sebagai selisih antara K3 dan K1 dinamakan. Median dan nilai tengah gugus data demikian berimpit dan terletak di tengah-tengah sebaran. d. skewed to the right). Data demikian dikatakan pula sebagai data yang menjulur ke kanan. nilai tengah data yang melandai ke kiri berada di sebelah kiri mediannya. bobot data yang berada di atas mediannya sama dengan bobot data yang berada di bawah mediannya maka data tersebut merupakan data yang sebarnnya simetrik. n = banyaknya pengamatan Ragam berbanding lurus dengan jumlah kuadrat jarak nilai – nilai data dari nilai tengahnya. Sebaliknya JAK yang pendek menunjukkan nilai-nilai pengamatan yang cenderung mengumpul atau memiliki ukuran persebaran yang rendah.

Statistika Dasar 15 . Dalam suatu gugus data.memencar jauh dari nilai tengahnya. Simpangan Baku. nilai terpancung ini kadang-kadang lebih disukai untuk menyatakan lokasi pusat. semestinya 100 tetapi tercatat 1000 misalnya atau karena data tersebut sebenarnya seringkali berubah drastic apabila nilai ekstrim ini dikesampingkan. n = banyaknya pengamatan f. sering pula dijumpai adanya nilai ekstrim yang sangat berpengaruh terhadap nilai tengah. = = . Akar pangkat dua dari ragam dinamakan Simpangan Baku (S). Karena lebih tegar. lebih sering digunakan sebagai ukuran pesebaran data karena memiliki satuan sama dengan satuan data dan nilai tengahnya. Perbandingan nilai tengah dengan nilai tengah terpancung dapat pula digunakan untuk memeriksa adanya nilai ekstrim. Dan ragam yang rendah menunjukkan nilai – nilai pengamatan yang cenderung mengumpul di sekitar nilai tengahnya.Simpangan Baku Dalam terapannya. Perbedaan mencolok diantara keduanya mengindikasika adanya nilai ekstrim yang berpengaruh. Nilai ekstrim ini kadang-kadang disebabkan adanya kesalahan mencatat. Besarnya data yang disisihkan dari perhitungan biasanya sebanyak 5% atau 10% dengan mempertimbangkan bahwa penyisihan bagian tersebut akan menghilangkan nilai ekstrim yang mungkin ada.Nilai Tengah Terpancung Nilai tengah terpancung merupakan nilai tengah data dimana sebagian data terbesar dan sebagian data terkecil disisihkan dalam perhitungan. S = . =S g.

5.8.5. 8.3.8.4. Maka nilai tengahnya adalah… Jawab : = (3.7.1 + 5. 7. maka buatlah Histogramnya! Jawab : Statistika Dasar 16 .5.7.8.4.5. Data banyaknya siswa kelas XI IPA yang tidak hadir dalam 8 hari berturut-turut sebagai berikut : Hari Siswa 1 5 2 3 3 1 4 6 5 4 6 2 7 2 8 5 Dari data tersebut.1 + 8. 5.5.5.2 + 4. 8. Diberikan data seperti di bawah ini : 5.4.6.7.3 + 6.6.6. 11. 6.7.4.10.1 + 5.4.4.8.9.6.8. 16.1 + 16. 15 3.8.1 ) = 7.7.6 Maka buatlah tabel frekuensi data tunggalnya! Jawab : Nilai 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Turus I IIII II IIII I IIII IIII IIII III IIII I I I Frekuensi 1 7 6 10 8 6 1 1 40 2.7.Contoh Soal : 1. 5.6.7.6. 12. Diketahui 13 buah amatan sebagai berikut : 3.4.6.1 + 12. 4.6.1 + 11. 5. 5.6.

menjadi : 1. 10. 5.4. 5. 4. 6. 7. 4. 8. 5. 5. 8. median = 7 + 8 = 7. 8. 13. 13.9. 16 Maka berapakah wilayahnya (Range)… Jawab : Wilayah (Range) = 16 -3 = 13 Statistika Dasar 17 . 8. 7.5 5. 11. 5. 2. 6. 5. 6. 6. 6. 8 Jawab : n = 20 Data diurutkan terlebih dahulu dari yang kecil ke nilai yang besar. 9. 8. 9. 12. Perhatikan nilai pengamatan berikut : 3. 12. 8 9. 9. 6. 4. 5. 8. 1.8. 4. 4. 2. 12. Diketahui data 6. 9. 8.

Ellen. Statistika Deskripftif. Jakarta : Grasindo Spiegel. 2007. Statistik Teori dan Aplikasi. Metode Statistik Deskfriptif.SUMBER Budi. 2005. Jakarta : Grasindo Saefuddin. 2000. Dasar dasar Metode Statistik. Rasdihan. Jakarta : Grasindo Rasyad. Statistika Dasar. Asep. Schaum’s Outlines. Jakarta : Erlangga Budiman. Jakarta : EGC Gunawan. Jakarta: Erlangga Statistika Dasar 18 . Teknik Statistika untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta : Erlangga Nugroho. 2007. 2006. Chandra. 2007. Jakarta : Erlangga Supranto. Sigit. 2007. 1995. Murray R. Santosa. Pengantar statistic kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->