P. 1
Teori Bangunan Kapal 1

Teori Bangunan Kapal 1

5.0

|Views: 907|Likes:
Published by Herman Agatha

More info:

Published by: Herman Agatha on Dec 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2013

pdf

text

original

Teori Bangunan Kapal 1

Buku acuan:
• V. V. Semyonov-Tyan-Shansky, “Statics and Dynamics of the Ship”, Peace Publishers, Moscow, 196?
• R. F. Scheltema de Heere, A. R. Bakker, “Bouyancy and Stability of Ships”, George G. Harrap & Co.
Ltd., London, 1970
• K. J. Rawson & E. C. Tupper, “Basic Ship Theory”, 5th Ed. Vol. 1, Butterworth-Heinemann, Oxford,
2001. Ada soal-soal untuk latihan.
• Edward V. Lewis, Ed., “Principles of Naval Architecture”, Second Revision, Vol. I – Stability and
Strength, the Society of Naval Architects and Marine Engineers (SNAME), Jersey City, NJ, 1988.
• “Code on Intact Stability for All Types of Ships Covered by IMO Instruments”, 2002 edition, IMO,
London, 2002
• “International Convention for the Safety of Life at Sea, 1974, and 1988 Protocol relating there to”,
Consolidated Edition, IMO, London, 2001
0. Nama bagian badan kapal (hull)
Bangunan Atas Lubang Palka Bulwark/pagar
Bangunan Atas
Rumah Geladak Rumah Geladak
Bangunan Atas
Bangunan Atas
Sekat blk. Sisi Sekat dpn
Sekat blk. Sisi Sekat dpn
Sisi Sekat dpn
Sekat blk. Sisi
Geladak
Geladak
GAMBAR bagian badan kapal
3
Sekat Depan
Kamar Mesin
Sekat
Ceruk
buritan
Sekat
Ruang Muat Sekat
Ceruk
Haluan
Geladak Utama
Lambung Kiri
Lambung Kanan
Alas Dalam
Alas
Kapal: suatu bangunan berdinding tipis, bukan benda pejal
• lambung (shell)
o alas (bottom)
o sisi (side)
• alas (bottom)
o alas tunggal (single bottom)
o alas dalam (inner bottom)
o alas ganda, dasar ganda (double bottom)
• sisi (side)
• sekat (bulkhead)
o sekat tubrukan (collision bulkhead)
o sekat ceruk buritan (after peak bulkhead)
o sekat kamar mesin (engine room bulkhead)
o dan sebagainya
• geladak (deck)
o geladak utama (main deck)
o geladak antara (tween deck)
o geladak cuaca (weather deck)
• palkah (hold) dibatasi oleh 2 sekat, 2 sisi, alas dan geladak: ruangan untuk muatan
• Ruang Mesin (engine room) dibatasi oleh 2 sekat, 2 sisi, alas dan geladak: ruangan untuk permesinan
• lubang palkah (hatchway)
o ambang palkah (hatchway coaming)
• bangunan atas (superstructure)
o akil, agil (forecastle)
o anjungan (bridge)
o kimbul (poop)
• bagian bangunan atas
o geladak bangunan atas (superstructure deck)
o sisi bangunan atas (sides of superstructure)
o sekat ujung bangunan atas (end bulkheads of superstructure)
• rumah geladak (deckhouse)
o geladak sekoci (boat deck)
o geladak navigasi (navigation deck, bridge deck)
o geladak kompas (compass deck)
o dan sebagainya
• bagian rumah geladak
o geladak rumah geladak (deck of a deckhouse)
o sisi rumah geladak (sides of a deckhouse)
o sekat ujung rumah geladak (end bulkheads of a deckhouse)
• ceruk (peak)
o ceruk buritan (after peak)
o ceruk haluan (fore peak)
Nama daerah / lokasi
GAMBAR daerah/lokasi
• haluan (bow)
• buritan (stern)
• lambung kiri (port)
• lambung kanan (starboard)
4
Nama bagian konstruksi kapal baja
Konstruksi alas tunggal
• lunas (keel)
o lunas pelat (plate keel)
o lunas batang (bar keel)
• garboard strake
• pelat alas (bottom plating)
• centre girder
• side girder
• wrang pelat (plate floors)
Konstruksi alas ganda
• sama dengan atas ditambah dengan
• wrang terbuka (open floor)
• gading alas (bottom angle)
• gading balik (reversed angle)
• wrang kedap air (watertight floor)
• pelat alas dalam (inner bottom plating)
Konstruksi sisi
• gading (frame)
• gading besar (web frame)
• senta sisi (side stringer)
Konstruksi geladak
• balok geladak (deck beam)
• balok besar geladak (strong beam)
• cantilever
• penumpu geladak (deck girder)
• balok ujung palkah (hatch end beam)
• ambang palkah (hatchway)
Konstruksi sekat melintang
• penegar sekat (bulkhead stiffeners):
o tegak (vertical)
o datar (horizontal)
• senta sekat (bulkhead stringer)
Konstruksi sekat memanjang
• penegar sekat (bulkhead stiffeners):
o melintang (transverse)
o memanjang (longitudinal)
• senta sekat (bulkhead stringer)
Konstruksi bangunan atas dan rumah geladak
• sekat ujung (end bulkhead)
o penegar sekat (bulkhead stiffeners)
• dinding samping (side wall)
o gading dinding samping (side wall frame)
• geladak bangunan atas dan rumah geladak (superstructure deck and deckhouse deck)
5
o balok geladak (deck beam)
o balok besar geladak (strong deck beam)
o penumpu geladak (deck girder)
Konstruksi ceruk dan linggi
• Linggi
o linggi haluan (stem)
 linggi haluan pelat (plate stem)
 linggi haluan batang (bar stem)
o linggi buritan (stern)
 linggi buritan pelat (plate sternframe)
 linggi buritan batang (bar sternframe)
• Ceruk haluan
o Gading ceruk (peak frame)
o Senta sisi (side stringer)
o Tiers of beam
o Sekat berlubang (wash bulkhead)
6
Sejarah singkat
• Archimedes dari Yunani, tahun 200 SM.
• Pierre Bouguer, “Traité du navire, de sa construction et de ses mouvements”, Paris, 1746. Penulis
adalah anggota French Academy of Sciences
• L. Euler, “Naval Architecture”, St. Petersburg, 1749. Penulis adalah anggota Russian Academy of
Sciences
• Bernoulli
• Santacilla
• Lagrange
• Frederick Chapman
• William Froude
Sistem koordinat, bentuk dan penampang
Untuk menyebutkan letak sesuatu, sering dipakai acuan sesuatu yang lain yang sudah diketahui atau dikenal,
misalnya: Saya duduk di sebelah kanan A. Tetapi jika kita ingin lebih teliti, kita perlu menyebutkan jarak,
misalnya saya duduk 50 cm di sebelah kanan A. Di sini acuannya adalah A.
Jika kita ingin menyebutkan letak suatu titik dalam bidang secara teliti, kita membutuhkan 2 garis acuan
yang biasanya disebut system koordinat. Kita sebutkan jarak titik ke sumbu X (yang menjadi harga y) dan
jarak titik tersebut ke sumbu Y (yang menjadi harga x). Misalnya kita punya suatu segitiga dengan titik-titik
sudutnya adalah titik A (0,0), titik B (10,2) dan titik C(4,6) dan gambarnya adalah sebagai berikut:
GAMBAR segitiga
Siapapun yang menggambar mengikuti koordinat yang diberikan di atas, akan menghasilkan gambar segitiga
yang sama.
Untuk menyebutkan letak suatu titik dalam ruang, kita membutuhkan 3 bidang acuan yang membentuk
sistem koordinat XYZ. Jarak titik ke bidang YOZ menjadi harga x, jarak titik ke bidang XOZ menjadi harga
y dan jarak titik ke bidang XOY menjadi harga z. Karena kita hanya dapat menggambar pada bidang datar,
maka sistem sumbu 3 dimensi kita gambar dalam bentuk tampak depan: yang digambar hanya koordinat x
dan y, tampak samping: yang digambar hanya koordinat x dan z, tampak atas yang digambar hanya
koordinat y dan z.
Misalkan kita pilih sumbu X ke arah memanjang benda, sumbu Y ke arah kiri dan sumbu Z ke arah atas.
Suatu benda dibatasi oleh titik-titik berikut ini:
Titik A (0,-10,10), titik B(0,10,10), titik C(0,-8,2), titik D(0,8,2), titik E(0,0,0).
Titik A’(10,-7,10), titik B’(10,7,10), titik C’(10,-5.3,4.6), titik D’(10,5.3,4.6), titik E’(10,0,3)
B(10,2)
C(4,6)
X
Y
A(0,0)
7
Benda dibatasi oleh bidang AA’B’BA, bidang AA’C’CA, bidang CC’E’EC, bidang EE’D’DE, bidang
BB’D’DB, bidang ACEDBA, bidang A’C’E’D’B’A’. Gambar ketiga pandangan adalah sebagai berikut:
GAMBAR benda tiga dimensi
Siapapun yang menggambar mengikuti koordinat dan bidang batas yang diberikan di atas, akan
menghasilkan gambar benda yang sama. Dengan demikian kita dapat dengan tepat memberi tahu orang lain
bentuk dan ukuran benda yang kita inginkan.
Kapal adalah benda 3 dimensi yang dibatasi oleh bidang datar maupun bidang lengkung. Maka cara di atas
tidak sepenuhnya dapat dipakai. Untuk menggambarkan kelengkungan bidang, harus dipakai penampang-
penampang sehingga bentuk garis lengkung dapat dinyatakan lebih jelas. Penampang-penampang ini dibuat
sejajar dengan system sumbu koordinat, jadi ada penampang-penampang yang dibuat sejajar bidang XOY,
penampang-penampang ini disebut bidang air atau waterplane, ada juga yang sejajar bidang YOZ dan
disebut station dan yang sejajar bidang XOZ yang disebut buttock plane.
8
GAMBAR Lines Plan
Bentuk badan kapal dalam proyeksi
• bidang dasar (base line) BL
• bidang tengah bujur (centerline) CL
• garis tegak belakang (after perpendicular) AP
• garis tegak depan (forward perpendicular) FP
• bidang tengah lintang (amidships)

• body plan – pandangan depan-belakang
o station
o gading (frame)
o deck side line
o kubu-kubu (bulwark)
GAMBAR amidships
• amidships
o flat of keel, half siding
o rise of floor, deadrise
o bilga (bilge)
o jari-jari bilga (bilge radius)
o tumblehome
o flare
o lengkung lintang geladak (camber, round of beam)
GAMBAR waterlines
• waterlines plan – pandangan atas
o garis air (waterline)
o parallel middle body
o run
o entrance
o deck side line
o kubu-kubu (bulwark)
9
• sheer plan – pandangan samping
o buttock lines
o lengkung bujur geladak (sheer)
o deck center line
o deck side line
o kubu-kubu (bulwark)
Gambar di atas disebut Rencana Garis (Lines Plan) suatu kapal
Ukuran utama kapal (principal dimensions)
GAMBAR ukuran utama
• panjang kapal (length)
o panjang antara garis tegak (length between perpendiculars) L
PP
, L
BP
o panjang garis air (length of load water line) L
WL
o panjang seluruhnya (length over all) L
OA
• lebar kapal (breadth, beam)
o lebar dalam (breadth moulded) B
mld
o lebar garis air (breadth of waterline) B
WL
o lebar maksimum/terbesar (maximum breadth) B
max
• tinggi geladak, tinggi (depth)
o tinggi dalam (depth moulded) H
mld
, diukur di tengah Lpp (amidships)
• sarat air (draught, draft)
o sarat dalam (draught moulded) T
mld
o sarat rancang (designed draught)
o sarat ringan (light draught)
o sarat haluan (forward draught)
o sarat buritan (after draught)
• lambung timbul (freeboard)
Kedudukan kapal
• sarat rata (even keel) >< trim
• tegak (upright) >< oleng (heel)
10
1a. Perhitungan dan kurva hidrostatik (hydrostatic curves and
calculations) – Bagian I
Semua koefisien, luas, titik berat luasan, volume, titik berat volume dan lain-lain berubah harganya menurut
sarat kapal. Padahal harga-harga tersebut dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Maka dibuat suatu diagram
yang menunjukkan harga-harga tersebut sebagai fungsi sarat: kurva hidrostatik.
Sistem sumbu:
GAMBAR sistem sumbu
• sumbu X pada perpotongan bidang dasar dengan bidang tengah bujur, positif ke arah haluan kapal
• sumbu Y pada perpotongan bidang dasar dengan bidang tengah lintang, positif ke arah lambung kiri
• sumbu Z pada perpotongan bidang tengah bujur dengan bidang tengah lintang, positif ke arah atas
Kedudukan kapal: tidak trim, tidak oleng.
1. Luas garis air WPA
2. titik berat garis air LCF
3. TPC
4. WSA
5. Volume kulit
6. Luas gading besar
7. Kurva Bonjean
8. displasemen moulded (volume)
9. displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air tawar)
10. displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air laut)
11. tinggi titik apung KB
12. letak memanjang titik apung LCB
13. Koefisien blok
14. koefisien prismatic
15. Koefisien prismatic
16. koefisien gading besar
17. LBM
18. TBM
19. MTC
20. DDT
• luas garis air (waterplane area)

·
LWL
WL
ydx A 2
dengan y = setengah lebar garis air. Satuan: m
2
• momen statis garis air terhadap bidang tengah lintang (midships)

·
LWL
WY
xydx M 2
dengan x = lengan terhadap sumbu Y. Satuan: m
3
• titik berat garis air terhadap bidang tengah lintang (center of flotation)
z
y
x
11
WL
WY
F
A
M
x LCF · ,
LCF berharga positif jika letaknya di depan midships. Bentuk lain: M
WY
= LCF.A
WL
.
Satuan: m
• ton (force) per centimeter immersion
100
g A
TPC
WL
ρ ×
·
dengan ρ = massa jenis air (tawar atau laut) dan g = percepatan gravitasi. Satuan: N/cm
GAMBAR
Contoh soal
Hitung segitiga, trapezium, setengah lingkaran dll.
• luas permukaan basah (wetted surface area)

·
LWL
G
dx h WSA 2
dengan h
G
= half girth. Satuan: m
2
• volume kulit (shell displacement)

·
LWL
G sh
tdx h V 2
dengan t = tebal pelat kulit. Satuan: m
3
GAMBAR
Contoh soal
• luas gading besar (midship area)

·
WL
M
ydz A
0
2
Satuan: m
2
• kurva luas station atau kurva Bonjean (Bonjean curves)

·
WL
ST
ydz A
0
2
Satuan: m
2
GAMBAR Bonjean
Contoh soal
• displasemen (volume) moulded (moulded displacement)
∫ ∫
· · ∇
LWL
ST
WL
WL
dx A dz A
0
Satuan: m
3
. Sebaliknya
dz
d
A
WL

·
dan
dx
d
A
ST

·
• displasemen (volume) total (displacement including shell)
SH TOT
V + ∇ · ∇
Satuan: m
3
• displasemen (gaya) total di air tawar (total displacement in fresh water)
g
FW TOT FW
ρ ∇ · ∆
dengan ρ
FW
= massa jenis air tawar. Satuan kN atau MN.
• displasemen (gaya) total di air laut (total displacement in salt water)
g
SW TOT SW
ρ ∇ · ∆
dengan ρ
SW
= massa jenis air laut. Satuan kN atau MN.
• cadangan gaya apung (reserve buoyancy): tambahan muatan atau air yang akan menyebabkan kapal
tepat tenggelam. Jika volume badan kapal di atas garis air sampai geladak dikalikan massa jenis dan
percepatan gravitasi, hasilnya adalah cadangan gaya apung.
GAMBAR
Contoh soal
12
• momen statis volume terhadap bidang dasar

·

WL
WL X
dz zA M
0
dengan z = lengan terhadap bidang dasar. Satuan: m
4
• tinggi titik apung (vertical center of buoyancy)

·
∇X
B
M
z KB VCB , ,
Satuan: m.
Bentuk lain:
KB M
X
. ∇ ·

. Jika KB kita turunkan terhadap z, kita dapat:
) (
1
B
WL
B
X B
z z
A
dz
d
z
dz
dM
dz
dz
dz
dKB


·

,
_

¸
¸ ∇


· ·

Harga ini tidak mungkin nol, karena z
B
selalu kurang dari z. Jadi tidak ada harga ekstrem.
• momen statis volume terhadap bidang tengah lintang
∫ ∫
· ·

WL
WY
LWL
ST Y
dz M dx xA M
0
dengan x = lengan terhadap bidang tengah lintang. Satuan: m
4
• letak memanjang titik apung (longitudinal centre of buoyancy)

·
∇Y
B
M
x LCB ,
LCB berharga positif jika terletak di depan midships. Satuan: m.
Jika LCB diturunkan terhadap z, kita peroleh
) (
1
B F
WL
B
Y B
x x
A
dz
d
x
dz
dM
dz
dx
dz
dLCB


·

,
_

¸
¸ ∇


· ·

Harga ekstrem terjadi jika turunan ini berharga 0, yaitu jika x
F
– x
B
= 0.
Mengingat bahwa
WL
A
d
dz

·
maka turunan di atas dapat ditulis sebagai
) (
1
B F
B
x x
d
dx


·

Koefisien bentuk (coefficients of form)
GAMBAR koefisien bentuk
• Koefisien blok (block coefficient)
BT L
V
C
PP
B
·
• Koefisien gading besar (midship coefficient)
BT
A
C
M
M
·
dengan A
M
= luas penampang gading besar
• Koefisien prismatik (prismatic coefficient, longitudinal prismatic coefficient)
M
P
LA
V
C ·
• Koefisien garis air (waterplane coefficient)
B L
A
C
WL
WL
WP
·
dengan A
WL
= luas bidang garis air
• Koefisien prismatik tegak (vertical prismatic coefficient)
WL
PV
TA
V
C ·
• Koefisien volumetrik (volumetric coefficient)
13
3
)
10
(
L
C
V

·
Contoh soal.
GAMBAR contoh soal
Kapal dengan panjang L = 50 m, lebar B = 10 m dan sarat T = 5 m dengan bentuk seperti pada gambar di
atas. Hitunglah pada sarat 2m dan 5m:
Luas garis air WPA titik berat garis air LCF TPC
WSA Volume kulit Luas gading besar
Kurva Bonjean displasemen moulded (volume)
displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air tawar)
displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air laut)
tinggi titik apung KB letak memanjang titik apung LCB Koefisien blok
koefisien prismatic Koefisien prismatic koefisien gading besar
Kapal dengan panjang L = 50 m, lebar B = 10 m dan sarat T = 5 m dengan bentuk seperti pada gambar di
atas. Hitunglah pada sarat 2m dan 5m:
Luas garis air WPA titik berat garis air LCF TPC
WSA Volume kulit Luas gading besar
Kurva Bonjean displasemen moulded (volume)
displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air tawar)
14
displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air laut)
tinggi titik apung KB letak memanjang titik apung LCB Koefisien blok
koefisien prismatic Koefisien prismatic koefisien gading besar
Metode Integrasi Numerik
K. J. Rawson dan E. C. Tupper, “Basic Ship Theory”, Longman, London, 1983. pp 23 – 33.
Dalam rumus-rumus di atas, untuk menghitung luas, volume, momen dll. kita memakai integral suatu fungsi.
Tetapi untuk bentuk badan kapal, fungsi yang dibutuhkan biasanya tidak diketahui. Hal ini dapat diatasi
dengan memakai integrasi numerik yang tidak membutuhkan fungsi, tetapi membutuhkan hasil pengukuran,
biasanya setengah lebar kapal dan/atau sarat.
• Rumus trapezoid: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan garis lurus.
Jika
hanya
dipakai 1 trapesium dengan jarak ordinat h, luas trapezium A menjadi
) (
1 0 2
1
y y h A + ·
Jika dipakai 2 trapesium dengan jarak ordinat h yang sama, jumlah luas trapezium A menjadi
trapesium I: ) (
1 0
2
1
0
y y h A + ·
trapesium II: ) (
2 1 2
1
1
y y h A + ·
Jumlah ) (
2 2
1
1 0 2
1
y y y h A + + ·
Jika dipakai banyak trapesium dengan jarak ordinat h yang sama untuk semua trapesium:
) ... (
2
1
2 1 0 2
1
N
y y y y h A + + + + ·
15
• Rumus Simpson I atau rumus 3 ordinat: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan parabola
dengan bentuk persamaan y = ax
2
+ bx + c. Tiap potongan parabola mencakup 3 titik pada garis
lengkung.
Untuk mudahnya diambil x
0
= -h, x
1
= 0 dan x
2
= h. Maka y
0
= ax
0
2
+ bx
0
+ c = ah
2
– bh + c dan seterusnya.
ch ah cx bx ax
dx c bx ax A
h
h
h
h
2
3
2
|
2
1
3
1
) (
3 2 3
2
+ · + +
· + + ·



Misalkan luas dapat dinyatakan sebagai A = Ly
0
+ My
1
+ Ny
2
. Masukkan harga y
0
, y
1
dan y
2
:
) ( ) ( ) (
) ( ) (
2
2 2
N M L c N L bh N L ah
c bh ah N Mc c bh ah L A
+ + + + − + +
· + + + + + − ·
Kedua luas ini harus sama besar, sehingga didapat 3 persamaan berikut:
o koefisien untuk a: h N L h N L h
3
2
3
2
) (
3 2
· + → · +
o koefisien untuk b:
0 0 ) ( · + − → · + − N L N L h
o koefisien untuk c: h N M L 2 · + +
Dari 3 persamaan ini didapat
h N h M h L
3
1
,
3
4
,
3
1
· · ·
Jika hanya dipakai 1 parabola dengan jarak ordinat h, luas parabola A menjadi
) 4 (
3
1
2 1 0
y y y h A + + ·
Jika hanya dipakai 2 parabola dengan jarak ordinat h yang sama, jumlah luas parabola A menjadi
parabola I:
) 4 (
3
1
2 1 0 0
y y y h A + + ·
parabola II:
) 4 (
3
1
4 3 2 1
y y y h A + + ·
Jumlah
) 4 2 4 (
3
1
4 3 2 1 0
y y y y y h A + + + + ·
16
Jika dipakai banyak parabola dengan jarak ordinat h yang sama untuk semua parabola:
) 4 ... 4 2 4 (
3
1
1 3 2 1 0 n n
y y y y y y h A + + + + + + ·

• Rumus Simpson II atau rumus 4 ordinat: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan
polinom pangkat 3 dengan bentuk persamaan y = ax
3
+ bx
2
+ cx + d. Tiap potongan parabola
mencakup 4 titik pada garis lengkung.
Jika
hanya dipakai 1 polinom pangkat 3 dengan jarak ordinat h, luas polinom A menjadi
) 3 3 (
8
3
3 2 1 0
y y y y h A + + + ·
Jika hanya dipakai 2 polinom pangkat 3 dengan jarak ordinat h yang sama, jumlah luas polinom A menjadi
polinom I:
) 3 3 (
8
3
3 2 1 0 0
y y y y h A + + + ·
polinom II:
) 3 3 (
8
3
6 5 4 3 1
y y y y h A + + + ·
Jumlah
) 3 3 2 3 3 (
8
3
6 5 4 3 2 1 0
y y y y y y y h A + + + + + + ·
• Dalam rumus-rumus di atas, dihitung luas gambar yang dibatasi oleh kurva, sumbu koordinat dan
ordinat-ordinat ujung. Jika ingin dihitung luas gambar bagian kiri atau kanan saja, maka kita pakai
Rumus Simpson III atau rumus 5,8 minus 1: garis lengkung didekati dengan sebuah potongan
parabola dengan bentuk persamaan y = ax
2
+ bx + c. Parabola mencakup 3 titik pada garis lengkung.
GAMBAR
Luas bagian kiri saja adalah
) 8 5 (
12
1
2 1 0
y y y h A
KIRI
− + ·
Luas bagian kanan saja adalah
) 5 8 (
12
1
2 1 0
y y y h A
KANAN
+ + − ·
• Rumus Newton-Cotes
• Rumus Tchebycheff
• Rumus Gauss
CONTOH SOAL
17
Kapal dengan panjang L = 50 m, lebar B = 10 m dan sarat T = 5 m dengan bentuk seperti pada gambar di
atas.
Pemakaian kurva hidrostatik
Perubahan akibat muatan dimuat atau dibongkar
• Pergeseran titik berat secara umum
Kita lihat kasus ada muatan ditambahkan. Pada kapal dengan displasemen Δ ditambahkan muatan sebesar P,
sehingga displasemen menjadi Δ
1
:
P + ∆ · ∆
1
Jika muatan dibongkar, maka P berharga negatif dan Δ
1
lebih kecil dari Δ.
Dari hubungan Δ = γV dan Δ
1
= γV
1
didapatkan
) (
1
V V P − ·γ
Adanya tambahan muatan akan menyebabkan titik berat kapal berpindah tempat. Jika koordinat titik berat
kapal semula adalah x
G
, y
G
dan z
G
sedang koordinat titik berat muatan P adalah x
P
, y
P
dan z
P
, maka setelah
beban P ditambahkan, koordinat titik berat gabungan menjadi
P
P x x
x
P G
GB
+ ∆
+ ∆
·
P
P y y
y
P G
GB
+ ∆
+ ∆
·
P
P z z
z
P G
GB
+ ∆
+ ∆
·
Pergeseran titik berat dapat kita hitung sebesar
) (
G P G GB G
x x
P
P
x x x −
+ ∆
· − · δ ) (
G P G GB G
y y
P
P
y y y −
+ ∆
· − · δ
) (
G P G GB G
z z
P
P
z z z −
+ ∆
· − · δ
Rumus di atas berlaku umum, untuk muatan P kecil atau besar.
Jadi kalau letak titik berat muatan P berimpit dengan titik berat kapal, maka titik berat tidak akan berpindah
tempat. Tetapi displasemen akan selalu berubah, berarti sarat juga selalu berubah dan titik apung juga akan
berpindah tempat.
• Tambahan muatan kecil tak hingga
Untuk mencari pergeseran titik apung, kita mulai dengan penambahan muatan kecil tak hingga sebesar dD
dan kapal dianggap simetris dan tetap tegak. Akibat penambahan muatan ini, akan terjadi perubahan
displasemen sebesar
∆ · d dD γ
dan perubahan sarat sebesar
18
WL
A
dD
z d
γ
·
Jika letak titik apung semula adalah x
B
(= LCB), y
B
dan z
B
(= KB) dan letak titik berat garis air adalah x
F
(=
LCF), maka pergeseran titik apung menjadi
) (
B F B
x x
dD
dx −

· ) (
B F B
z z
dD
dz −

·
Pergeseran ke arah y tidak ada karena kapal dianggap simetris dan tetap tegak. Pergeseran titik apung ini
akan nol jika dan hanya jika x
F
= x
B
.
Pergeseran titik berat dapat dihitung seperti di atas dan menghasilkan:
) (
G P G GB G
x x
dD
x x x −

· − · δ ) (
G P G GB G
y y
dD
y y y −

· − · δ
) (
G P G GB G
z z
dD
z z z −

· − · δ
• Tambahan muatan kecil tertentu
Jika tambahan muatan itu kecil tetapi tertentu besarnya, untuk menyederhanakan masalah, dianggap bahwa
badan kapal berdinding tegak sekitar garis air yang diperiksa.
Muatan tambahan kita sebut p, dan berdasarkan anggapan di atas maka perubahan sarat adalah
WL
A
p
T
γ
δ ·
Titik berat lapisan air ini terletak pada setengah tinggi lapisan dan di atas titik berat garis air (LCF), sehingga
koordinat titik beratnya adalah x
F
(= LCF), 0 (karena simetris), T + 0.5δT. Untuk mencari pergeseran titik
apung, kita hitung momen statis volume
o terhadap garis yang melewati titik apung semula sejajar sumbu Y:
B B F
x V V x x V δ δ δ ) ( ) ( + · −
o terhadap garis yang melewati titik apung semula sejajar sumbu X:
B B
z V V z
T
T V δ δ
δ
δ ) (
2
+ ·

,
_

¸
¸
− +
Dari kedua persamaan ini didapat pergeseran titik apung
) (
B F B
x x
p
p
x −
+ ∆
· δ

,
_

¸
¸
− +
+ ∆
·
B B
z
T
T
p
p
z
2
δ
δ
Tambahan muatan dianggap kecil jika p besarnya tidak lebih dari 10 – 15 % Δ.
Pergeseran titik berat dapat dihitung dengan rumus umum di atas.
• Tambahan muatan besar
Untuk penambahan muatan besar, kita memakai bantuan kurva hidrostatik, yaitu kurva displasemen, LCB
dan KB sebagai fungsi sarat. Pada kurva displasemen dibuat suatu titik yang menunjukkan displasemen awal
kapal. Dari titik ini diukurkan ke kanan tambahan muatan sebesar P dan dengan bantuan kurva displasemen
dibaca sarat baru serta LCB dan KB baru.
• Pengaruh massa jenis air
Perubahan kadar garam selalu diikuti oleh perubahan massa jenis air. Kita lihat suatu kapal berlayar dari
sungai ke laut atau sebaliknya, sedang gaya beratnya tetap. Hubungan volume displasemen dengan berat
displasemen adalah
γ

· ∇
Kita ambil turunan kedua ruas
2
γ
γ d
d ∆ − · ∇
Dari hubungan
dz A d
WL
· ∇
dan mengganti dz dengan dT, kita dapatkan
19
2
γ
γ d
A
dT
WL

− ·
Mengingat bahwa
LBT C
B
γ · ∆
dan
LB C A
W WL
·
maka rumus di atas dapat ditulis sebagai
γ
γ d
C
C
T
dT
W
B
− ·
Jika kapal berlayar dari air tawar ke air laut yang berat jenisnya lebih besar, berarti dγ > 0 sehingga dT < 0
artinya sarat kapal berkurang.
Karena sarat berubah, maka letak titik apung akan berpindah juga.
20
2. STABILITAS KAPAL
Buku Acuan:
• Edward V. Lewis, Ed., “Principle of Naval Architecture”, Second Revision, Vol. I, Stability and
Strength, SNAME, Jersey City, NJ, 1988
o Lawrence L. Goldberg, Chapter 2: Intact Stability, pp. 63 – 138
o George C. Nickum, Chapter 3: Subdivision and Damage Stability, pp. 143 - 194
• V. Semyonov – Tyan – Shansky, “Statics and Dynamics of the Ship”, Peace Publishers, Moscow,
1960?
• K.J. Rawson, E.C. Tupper, “Basic Ship Theory”, 5
th
edition, Butterworth-Heinemann, Oxford, 2001
• --, “SOLAS”, Consolidated Edition, 1997, IMO, London.
o Chapter II – 1, Construction – Subdivision and stability, machinery and electrical installations
 Part A – General
 Part B – Subdivision and Stability
 Part B-1 – Subdivision and damage stability of cargo ships, pp. 89 – 99.
Pendahuluan
Pada waktu bongkar muat maupun pada waktu berlayar, kapal selalu mendapat gaya-gaya baik dari muatan
yang sedang dibongkar-muat maupun dari benda dan alam sekitarnya: ombak, arus, angin, tumbukan dengan
dermaga, kapal lain atau kandas. Gaya-gaya ini menyebabkan kapal mengalami oleng dan gerakan-gerakan
lain. Dalam cuaca buruk, gaya-gaya ini akan menjadi semakin besar dan akan menyebabkan oleng dan
gerakan lain yang besar dan cepat, bahkan dapat menyebabkan kapal terbalik. Jadi kita perlu tahu
kemampuan kapal menghadapi gaya-gaya tersebut dan kemungkinan kapal terbalik.
Keseimbangan benda kaku
Suatu benda dikatakan dalam keadaan seimbang jika jumlah gaya yang bekerja pada benda dan jumlah
momen (yang bekerja pada benda) terhadap suatu titik sama dengan nol.
Jika benda yang dalam keadaan seimbang tadi mendapat gangguan kecil sesaat dari luar, apa yang akan
terjadi? Ada 3 kemungkinan:
• Keseimbangan disebut stabil jika setelah pengaruh luar hilang/tidak ada, benda bergerak kembali ke
kedudukan semula.
• Keseimbangan disebut indiferen atau netral jika setelah pengaruh luar hilang/tidak ada, benda tidak
kembali ke kedudukan semula, tetapi tetap diam pada kedudukannya yang baru.
• Keseimbangan disebut labil jika setelah pengaruh luar hilang/tidak ada, benda tidak kembali ke
kedudukan semula, tetapi bergerak terus menjauhi kedudukan semula.
Gambar Macam keseimbangan
Stabil
dx
Indiferen / netral
dx
Labil
dx
21
Keseimbangan kapal dengan 6 derajat bebas
GAMBAR 1 Sistem koordinat
Sistem sumbu yang dipakai: sumbu X pos 22ea rah haluan kapal, sumbu Y pos 22ea rah kanan (starboard)
kapal dan sumbu Z pos 22ea rah atas.
Gambar Derajat bebas kapal terapung
Suatu kapal yang terapung bebas mempunyai 6 derajat bebas, yaitu 3 translasi ke arah sumbu X, Y dan Z
serta 3 rotasi, memutari sumbu // sumbu X, Y dan Z.
• Gerakan translasi ke arah sumbu Z (vertikal) atau heave: keseimbangan stabil
• Gerakan translasi ke arah sumbu X dan Y (horisontal) atau surge dan sway: keseimbangan netral atau
indiferen
• Gerakan rotasi memutari sumbu // sumbu Z (vertikal) atau yaw: keseimbangan netral atau indiferen
• Gerakan rotasi memutari sumbu // sumbu X dan Y atau heel dan pitch: tidak tentu, mungkin
keseimbangan stabil, labil atau netral.
Jadi yang perlu dibahas adalah gerakan rotasi memutari sumbu // sumbu X dan Y saja, karena keadaan
keseimbangannya tidak tertentu.
Keseimbangan sebuah tongkang
Kita lihat sebuah tongkang dengan panjang 50 m, lebar 10 m, tinggi 8 m dan sarat 5 m. Volume displasemen
tongkang ini adalah 2500 m3. Tinggi titik beratnya adalah 0.5*H = 4 m dan tinggi titik apungnya adalah
0.5*T = 2.5m, sedang letak memanjangnya adalah 0.5*L = 25 m dari AP. Gambar penampang melintangnya
adalah sebagai berikut:
GAMBAR
Karena suatu sebab, tongkang ini oleng sebesar 5 derajat = 0.087266 radian. Karena tidak ada perubahan
pada berat tongkang dan muatannya, maka gaya apung juga tidak berubah, berarti volume displasemen akan
tetap. Gambar penampang melintangnya sekarang menjadi:
GAMBAR
z
y
x
y
z
x
yy
zz z
22
Dari gambar dapat kita hitung bahwa luas penampang dalam air adalah
) tan ( 5 . 0 θ B T T B A
KIRI KIRI
+ + ·
,
sedang luas semula A = B.T, sehingga supaya luasnya tetap:
sarat kiri adalah
θ tan
2
B
T T
KIRI
− ·
dan sarat kanan adalah
θ tan
2
B
T T
KANAN
+ ·
Setelah harga T, B dan tan θ dimasukkan, didapat T
KIRI
= 4.5626 m dan T
KANAN
= 5.4374 m.
Demikian juga titik apung berpindah tempat, sehingga sekarang koordinatnya adalah:
dihitung dari sisi kiri
T
B T B
T T
T T B
y
KANAN KIRI
KANAN KIRI
B
3
) tan 5 . 0 3 (
) ( 3
) 2 ( θ +
·
+
+
·
dihitung dari CL
) ( 6
) (
KANAN KIRI
KIRI KANAN
B
T T
T T B
y
+

·
dan
dihitung dari alas
T
B
T
T T
T T T T
z
KANAN KIRI
KANAN KANAN KIRI KIRI
B
3
tan
4
3
) ( 3
.
2
2
2
2 2 θ +
·
+
+ +
·
Setelah T, B dan tan θ dimasukkan, didapat y
B
= 0.145814 m dihitung dari CL dan z
B
= 2.506379 m.
Dalam keadaan ini, arah gaya berat maupun gaya apung tidak lagi sejajar CL, tetapi berubah, yaitu tegak
lurus muka air, sehingga kedua gaya ini membentuk momen kopel. Untuk menghitung lengan momen kopel
ini, sumbu koordinat kita putar sebesar 5 derajat = 0.087266 radian, sehingga koordinat baru titik berat
menjadi:
θ θ sin cos
GL GL GB
z y y + ·
dan
θ θ cos sin
GL GL GB
z y z + − ·
Koordinat titik apung menjadi:
θ θ sin cos
BL BL BB
z y y + ·
dan
θ θ cos sin
BL BL BB
z y z + − ·
GAMBAR
Setelah harga-harga dimasukkan, didapat koordinat titik berat setelah sumbu diputar sebesar
y
GB
= 0.348623 m dan z
GB
= 3.984779 m
y
BB
= 0.363705 m dan z
BB
= 2.484132 m.
Dari gambar terlihat bahwa lengan kopel sama dengan selisih y
GB
dan y
BB
sebesar 0.015082 m, dan juga gaya
berat ada di sebelah kiri dan gaya apung ada di sebelah kanan, berarti momen kopel yang ada akan memutar
kapal kembali ke kedudukan tegak.
Jadi kuncinya adalah mengetahui letak titik apung dalam keadaan oleng.
Bagaimana kalau lebar kapal kita rubah, sedang ukuran yang lain tetap?
Misalkan lebar kapal dirubah menjadi 9 m. Dengan cara seperti di atas, kita dapatkan
T
KIRI
= 4.606301 m dan T
KANAN
= 5.393699 m. Selanjutnya y
B
= 0.11811 m dan z
B
= 2.505167 m.
Kemudian sumbu koordinat kita putar sehingga koordinat titik apung dan titik berat menjadi:
yBB = 0.336 m dan z
BB
= 2.48534 m
y
GB
= 0.348623 m dan z
GB
= 3.984779 m. Maka lengan kopel menjadi -0.01262 m, dan momen kopel tidak
mengembalikan kapal ke kedudukan semula.
23
Oleng kecil dengan displasemen tetap
Suatu kapal yang berlayar di laut akan mengalami oleng. Kita lihat suatu keadaan oleng tetapi tanpa trim.
Karena tidak ada perubahan muatan, maka oleng terjadi pada displasemen tetap. Kapan oleng terjadi pada
displasemen tetap? Jika volume baji masuk sama dengan baji keluar.
GAMBAR 2
(1)
k m
v v ·
Untuk kapal berdinding tegak, dari segitiga keluar kita dapat
d x y y d v
k k k
θ t a n
2
1
• ·
sehingga
dx y y v
k k k
L
L
θ tan
2
2
2
1
• ·


Karena θ tan adalah konstan, maka dapat dikeluarkan dari integral
(2)
dx y y v
k k k
L
L
• ·


2
2
2
1
tanθ
Integral ini dapat dibaca juga sebagai berikut:
dx y
k
adalah luasan elementer dan
k
y
2
1
adalah lengan
luasan terhadap sumbu X hingga integral itu juga dapat dibaca sebagai momen statis bagian garis air yang
keluar terhadap sumbu X.
(3)


• ·
2
2
2
1
L
L
dx y y M
k k Sk
dan
θ tan
Sk k
M v ·
θ θ tan tan
Sm Sk m k
M M v v · → ·
dan setelah tan θ dicoret, kita dapatkan
(4)
Sm Sk
M M ·
Jadi volume baji masuk sama dengan volume baji keluar berarti juga momen statis bagian garis air keluar
terhadap sumbu X sama dengan momen statis bagian garis air masuk terhadap sumbu X.
Ini berarti bahwa
 jika kapal oleng sedemikian sehingga garis potong dua garis air tersebut melalui titik berat garis air
tegak dan oleng, maka displasemennya tetap
z
y
y
k
y
m
y
k
tanø
y
m
tanø
WL
1
WL
A
m
A
k
ø
dx
24
atau
 supaya displasemennya tetap, kapal harus oleng sedemikian sehingga garis potong kedua garis air
harus melalui titik berat garis-garis air tersebut.
Pergeseran titik apung pada oleng kecil dengan displasemen tetap
GAMBAR 3 Pergeseran muatan
Sebuah “kapal” dengan ukuran B x H mempunyai “muatan” dengan ukuran b x h yang terletak di sudut kiri.
Sumbu Y di BL dan sumbu Z di CL kapal. Maka letak titik berat kapal adalah y
K
= 0 dan z
K
= 0.5H. Letak
titik berat beban adalah y
B
= -0.5B+0.5b dan z
B
= H+0.5h.
Momen statis gabungan terhadap CL adalah
bh b B BH M
SC
) 5 . 0 5 . 0 ( . 0 + − + ·
sehingga letak titik berat terhadap CL adalah
bh BH
bh b B
y
G
+
+ −
·
) 5 . 0 5 . 0 (
0
Momen statis gabungan terhadap BL adalah
bh h H BH H M
SB
) 5 . 0 ( . 5 . 0 + + ·
sehingga tinggi titik berat terhadap BL adalah
bh BH
bh h H BH H
z
G
+
+ +
·
) 5 . 0 ( . 5 . 0
0
“Muatan” ini kemudian digeser ke sudut kanan. Maka letak titik beratnya adalah +0.5B–0.5b. Momen statis
gabungan terhadap CL adalah
bh b B BH M
SC
) 5 . 0 5 . 0 ( . 0 − + ·
sehingga letak titik berat terhadap CL adalah
bh BH
bh b B
y
G
+

·
) 5 . 0 5 . 0 (
1
Momen statis gabungan terhadap Base Line adalah
bh h H BH H M
SB
) 5 . 0 ( . 5 . 0 + + ·
sehingga tinggi titik berat terhadap BL adalah
bh BH
bh h H BH H
z
G
+
+ +
·
) 5 . 0 ( . 5 . 0
1
Ternyata tinggi titik berat terhadap BL tidak berubah, sedang letak titik berat terhadap CL bergeser sejauh
bh BH
bh b B
bh BH
bh b B
bh BH
bh b B
y y
G G
+

·
+
+ −

+

· −
) ( ) 5 . 0 05 ( ) 5 . 0 5 . 0 (
0 1
Pergeseran titik berat muatan adalah dari -0.5B+0.5b ke 0.5B-0.5b atau sebesar B-b. Jadi perbandingan
pergeseran adalah
bh BH
bh
b B
y y
G G
+
·


0 1
25
Kita lihat suatu kapal yang oleng kecil dengan displasemen tetap.
GAMBAR 4
Jadi dalam hal kapal oleng tadi, titik berat baji keluar bergerak ke titik berat baji masuk, maka titik apung
kapal akan bergerak sejajar arah gerak tersebut. Besar perubahan momen terhadap sumbu X akibat
pergerakan titik berat baji adalah volume baji k
v
kali jarak pergerakan titik berat baji 1 0
g g
. Besar
perubahan momen terhadap sumbu X akibat pergerakan titik apung kapal adalah volume kapal V kali jarak
pergerakan titik apung kapal 1 0
B B
. Perubahan momen akibat baji dan perubahan momen akibat pergerakan
titik apung harus sama besar, jadi
1 0 1 0
B VB g g v
k
·
sehingga
(5) 1 0 1 0
g g
V
v
B B
k
·
Dari gambar untuk komponen gerakan ke arah Y kita lihat bahwa ) ( ) (
3
2
1 0 m k y
y y g g + · dan
k
v
didapat
dari rumus di atas, sehingga
θ θ θ tan tan tan 2 ) (
2
2
2
2
3
3
2
2
1
3
2
1 0 xx k k k k y k
I dx y dx y y y g g v
L
L
L
L
· · • ·
∫ ∫
− −
Jadi pergeseran titik apung ke arah Y besarnya adalah
(6)
θ tan ) (
1 0
V
I
y B B
xx
B y
· ∆ ·
Komponen gerakan ke arah Z adalah θ t a n ) (
3
2
1 0 k z
y g g · sehingga
θ θ θ
2
2
1
2
1
3
2
1 0
tan tan tan ) (
2
2
xx k k k z k
I dx y y y g g v
L
L
· • ·


Jadi pergeseran titik apung ke arah Z besarnya adalah
(7)
θ
2
2
1
1 0
tan ) (
V
I
z B B
xx
B z
· ∆ ·
Analog dengan di atas, untuk trim, pergeseran ke arah X adalah
(8)
θ tan ) (
1 0
V
I
x B B
yF
B x
· ∆ ·
Untuk sudut kecil tan θ θ ≈ sehingga rumus-rumus di atas dapat disederhanakan menjadi
(9)
θ
V
I
x
yF
B
· ∆
(10)
θ
V
I
y
xx
B
· ∆
z
y
WL
1
WL
2
/
3
y
m
y
m
2
/
3
y
k
y
k
26
(11)
2
2
1
θ
V
I
z
xx
B
· ∆
Dengan demikian kita dapat menghitung koordinat titik B jika θ diketahui.
Momen inersia garis air
Dalam rumus-rumus pergeseran titik apung selalu dibutuhkan momen inersia garis air. Momen inersia suatu
bidang terhadap suatu sumbu adalah

·
A
dA y I
2
dengan
· A luas elementer
· y
jarak luas elementer dA terhadap sumbu acuan
Momen inersia suatu 4 persegi panjang alas b dan tinggi h terhadap alasnya adalah
3
3
1
b h I ·
.
Untuk garis air kapal pada kedudukan tegak dengan sumbu acuan sumbu X memanjang, lebar elementer
adalah dx dan tinggi adalah y sehingga momen inersianya adalah
(12)

· dx y I
xx
3
3
2
Sumbu acuan untuk momen inersia ini melewati titik berat garis air, sehingga syarat garis potong melalui
titik berat sudah dipenuhi.
Untuk garis air kapal pada kedudukan tegak dengan sumbu acuan sumbu Y melintang, luas elementer adalah
ydx dan jarak adalah x sehingga momen inersianya adalah
(13)

· ydx x I
yy
2
2
Sumbu acuan untuk momen inersia ini biasanya tidak melewati titik berat garis air, sehingga syarat garis
potong melalui titik berat biasanya tidak dipenuhi. Momen inersia terhadap sumbu yang melalui titik berat
dan // sumbu Y bisa didapat dengan rumus pergeseran sumbu
(14)
WL F yy yF
A y I I
2
− ·
dengan
·
WL
A
luas garis air
·
F
y
jarak titik berat garis air dari sumbu acuan Y
Untuk garis air oleng dengan sudut θ tanpa trim
θ
θ
cos
y
y ·
sehingga
θ θ
θ θ 3 3
3
3
2
3
3
2
cos cos
xx
x
I
dx
y
dx y I
∫ ∫
· · ·
(15)
θ
θ 3
cos
xx
x
I
I ·
∫ ∫
· · ·
θ θ
θ θ
cos cos
2 2
2 2 yy
y
I
dx
y
x dx y x I
(16)
θ
θ
cos
yy
y
I
I ·
dan
(17)
θ θ
θ
cos cos
2 WL
F
yy
yF
A
y
I
I − ·
27
M
WL
1
WL
G
B
0
B
θ
θ
Metasenter dan jari-jari metasenter
Jika garis kerja gaya apung pada keadaan tegak dan garis kerja gaya apung dalam keadaan miring
dilanjutkan, keduanya akan berpotongan di suatu titik. Titik potong ini kita beri nama M, singkatan dari
metasenter.
GAMBAR 4
Kita lihat segitiga MB
0
B
1
. Komponen datar dari B
0
B
1
adalah θ
V
I
y
xx
B
· ∆ dan jika dianggap segitiga MB
0
B
1
adalah segitiga siku-siku, maka kita dapat
θ θ
0 0 1 0
sin MB MB y B B
B
· · ∆ ·
, berarti
(18)
V
I
r MB
xx
T
· ·
0
Dari rumus ini kita lihat bahwa MB
0
bukan fungsi θ, berarti untuk sudut kecil, MB
0
tetap harganya, jadi titik
M tidak berpindah. MB
0
yang tetap besarnya ini diberi nama jari-jari metasenter. Untuk gerak oleng, harga
ini disebut jari-jari metasenter melintang dan besarnya menurut rumus di atas, sedang untuk gerak angguk
atau trim, besarnya jari-jari metasenter adalah
(19)
V
I
r B M
yF
L L
· ·
0
dan disebut jari-jari metasenter memanjang. Baik jari-jari metasenter melintang maupun memanjang selalu
berharga positif.
Karena panjang kapal beberapa kali lebih besar dari lebarnya, maka I
yF
banyak lebih besar dari I
xx
sehingga
M
L
B
0
juga banyak lebih besar dari MB
0
.
28
Momen penegak
• Pada waktu kapal tegak, garis kerja gaya berat dan gaya apung berimpit dan berada pada CL kapal dan
kapal dalam keadaan seimbang atau diam. Pada waktu kapal oleng, jika tidak ada muatan yang bergeser
atau muatan cair, maka titik berat kapal tidak bergeser. Sebaliknya, dari pembahasan di atas, jelas bahwa
titik apung akan bergeser. Ini berarti ada sepasang gaya sama besar (gaya berat dan gaya apung) yang
membentuk kopel dan kopel ini disebut momen penegak (righting moment), karena seharusnya akan
menegakkan kapal kembali.
Ada 3 kemungkinan yang dapat terjadi:
• Kasus 1: garis kerja gaya berat berada di sebelah
kanan garis kerja gaya apung karena titik berat kapal
letaknya rendah. Momen kopel akan memutar badan
kapal supaya kapal tegak kembali seperti yang
diinginkan, maka disebut momen penegak. Kapal
dalam keadaan seimbang stabil.
• Kasus 2: garis kerja gaya berat berimpit dengan
garis kerja gaya apung karena titik berat kapal
letaknya agak tinggi. Momen kopel atau penegak
besarnya nol, berarti kapal tidak berusaha kembali
ke kedudukan tegak. Kapal dalam keadaan seimbang
netral atau indiferen.
• Kasus 3: garis kerja gaya berat berada di sebelah
kiri garis kerja gaya apung karena titik berat kapal
letaknya tinggi. Momen kopel atau penegak akan
memutar kapal makin oleng atau miring. Kapal
dalam keadaan seimbang labil.
GAMBAR 5
Yang kita inginkan tentu saja Kasus 1, sedang yang lain kita hindari.
Rumus stabilitas memakai metasenter. Tinggi metasenter
Kita lihat suatu kapal yang oleng kecil. Letak titik metasenter M, titik berat G, titik apung B dan beberapa
titik lain diberikan dalam gambar. Terlihat bahwa lengan momen penegak adalah
(20)
θ sin MG GZ l · ·
M
WL
1
WL
G
B
0 B
θ
θ
θ
V
M=
G
WL
1
WL
B
0
B
θ
θ
θ
V
M
WL
1
WL
G
B
0 B
θ
θ
θ
V
29
MG menunjukkan tinggi titik metasenter M di atas titik berat G dan disebut tinggi metasenter melintang.
Ternyata besar MG menentukan besar lengan stabilitas.
Dari gambar kita lihat bahwa tinggi metasenter sama dengan tinggi titik apung ditambah jari-jari metasenter
dikurangi tinggi titik berat
G T B
z r z KG BM KB MG − + · − + ·
GAMBAR 6
atau tinggi metasenter sama dengan tinggi titik M di atas lunas dikurangi tinggi titik berat
G M
z z KG KM MG − · − ·
atau tinggi metasenter sama dengan jari-jari metasenter dikurangi tinggi titik berat di atas titik apung
(21)
a r BG MB MG
T
− · − ·
dengan a = BG = KG – KB.
Momen penegak menjadi
(22)
θ θ ) ( sin a r D DMG Dl M
T r
− · · ·
untuk θ kecil dan
V D γ ·
.
Kita lihat kembali ketiga kasus di atas:
Kasus 1: titik B terletak di bawah titik G, berarti
KG KB < atau
0 > − · − ·
B G
z z KB KG BG
dan titik M terletak di atas titik G, berarti
KG KM >
Kedua ruas kita kurangi dengan KB menjadi
KB KG KB KM − > −
sehingga
BG MB > atau
a r
T
>
Ini berarti bahwa
0 ) ( > − · θ a r D M
T r
atau arah putar M
r
adalah untuk menegakkan kapal kembali atau kapal dalam keseimbangan stabil.
Kasus 2: titik B terletak di bawah titik G, berarti
KG KB < atau
G B
z z <
dan titik M terletak berimpit dengan titik G, berarti
KG KM · atau
G M
z z ·
Kedua ruas kita kurangi dengan KB menjadi
KB KG KB KM − · −
sehingga
BG MB · atau
a r
T
·
Ini berarti bahwa
M
WL
1
WL
G
B
0 B
θ
θ
V
z
z
B
Z
G

y
30
0 ) ( · − · θ a r D M
T r
tidak ada momen untuk menegakkan kapal kembali atau kapal dalam keseimbangan netral atau indiferen.
Kasus 3: titik B terletak di bawah titik G, berarti
KG KB < atau
G B
z z <
dan titik M terletak di bawah titik G, berarti
KG KM < atau
G M
z z <
Kedua ruas kita kurangi dengan z
B
menjadi
B G B M
z z z z − < −
atau
a r
T
<
Ini berarti bahwa
0 ) ( < − · θ a r D M
T r
atau arah putar M
r
akan lebih mengolengkan kapal atau kapal dalam keseimbangan labil.
1b. Perhitungan dan kurva hidrostatik (hydrostatic curves and
calculations) – Bagian II
• momen inersia garis air (moment of inertia of waterplane) terhadap sumbu X

·
LWL
X
dx y I
3
3
1
2
Satuan: m
4
• jari-jari metasenter melintang (transverse metacentric radius)

·
X
I
TBM
Satuan: m
• metasenter (metacentre) “Basic Ship Theory”, pp 19-20
• tinggi metasenter melintang (height of transverse metacentre)
KB TBM TKM + ·
Satuan: m
• momen inersia garis air (moment of inertia of waterplane) terhadap sumbu Y

·
LWL
Y
ydx x I
2
2
Satuan: m
4
• momen inersia garis air terhadap sumbu titik berat // sumbu Y
WL Y Y
A LCF I I
2
0
) ( − ·
Satuan: m
4
• jari-jari metasenter memanjang (longitudinal metacentric radius)

·
0 Y
I
LBM
Satuan: m
• tinggi metasenter memanjang (height of longitudinal metacentre)
KB LBM LKM + ·
Satuan: m
• Perubahan displasemen akibat trim (change of displacement due to trim)
PP
L
LCF TPC
DDT
× −
·
Satuan: N/cm
• Momen untuk merubah trim (moment to change trim)
PP
L TOT
L
GM
MTC
100

·
dengan GM
L
adalah tinggi metasenter memanjang, yang didekati dengan GM
L
≈ LBM
31
PP
TOT
L
LBM
MTC
100
× ∆
·
Satuan: Nm/cm
Untuk Contoh soal, lihat soal pada Hidrostaik bagian pertama
Komponen momen penegak. Stabilitas bentuk dan stabilitas berat
Momen penegak dapat juga kita tulis dalam bentuk berikut:
(23)
θ θ θ θ θ ) ( a
V
I
D Da
V
I
D Da Dr M
xx xx
T r
− · − · − ·
Suku pertama ruas kanan ditentukan oleh I
xx
/V yaitu oleh ukuran dan bentuk badan kapal dan karenanya
disebut momen stabilitas bentuk dan I
xx
θ/V adalah lengan stabilitas bentuk.
Suku kedua ruas kanan ditentukan oleh D yaitu berat kapal dan muatannya dan a yang sama dengan KG
dikurangi KB. Jadi di sini ada faktor berat kapal dan KG yang mewakili susunan berat di kapal dan
karenanya kita sebut momen stabilitas berat serta aθ adalah lengan stabilitas berat. Jadi bentuk badan kapal
dan susunan beratlah yang menentukan apakah suatu kapal pada kondisi pembebanan tertentu akan dalam
keseimbangan stabil atau tidak. Pada kapal yang sudah jadi, ukuran dan bentuk badan kapal sudah tertentu,
maka keseimbangan akan ditentukan oleh KG, yaitu bagaimana kita menyusun muatan di kapal, apakah
mengakibatkan KG tinggi atau rendah dan dengan demikian MG akan positif atau negatif.
32
Stabilitas pada sudut oleng besar
Seperti pada stabilitas sudut kecil, tujuan perhitungan adalah untuk menentukan koordinat titik apung B.
Berbeda dengan keadaan pada sudut kecil, titik metasenter M tidak lagi diam di tempatnya, tetapi juga
berpindah tempat. Jadi untuk menghitung lengan stabilitas statis kita juga perlu mengetahui koordinat titik M
pada sudut oleng besar.
Rumus analitis untuk menghitung koordinat titik apung dan titik metasenter
Kita lihat suatu kapal dengan displasemen V dalam keadaan oleng dengan sudut oleng θ
1
. Diketahui pula
koordinat titik apung x
B
, y
B
, dan z
B
dan koordinat metasenter x
M
, y
M
, dan z
M
.
Kemudian sudut oleng ditambah dengan dθ menjadi θ
1
+dθ. Dari yang lalu, kita dapat:
• perubahan momen statis akibat pergeseran titik berat baji ke arah X adalah displasemen V dikalikan
perubahan titik apung ke arah X:
θ θ
θ
θ
d I d
V
I
V M
yF
yF
yz
·

,
_

¸
¸
· ∆
• perubahan momen statis akibat pergeseran titik berat baji ke arah Y adalah displasemen V dikalikan
komponen datar perubahan titik apung dalam bidang YOZ:
θ θ θ θ
θ
θ
d I d
V
I
V M
x
x
xz
cos cos ·

,
_

¸
¸
· ∆
• perubahan momen statis akibat pergeseran titik berat baji ke arah Z adalah displasemen V dikalikan
komponen tegak perubahan titik apung dalam bidang YOZ:
θ θ θ θ
θ
θ
d I d
V
I
V M
x
x
xy
sin sin ·

,
_

¸
¸
· ∆
sehingga koordinat titik apung dapat dihitung sebagai berikut
θ
θ
θ θ
θ
d
V
I
x
V
d I Vx
x
yF
B
yF B
B
+ ·
+
·
θ θ
θ
θ θ
θ
d
V
I
y
V
d I Vy
y
x
B
x B
B
cos + ·
+
·
θ θ
θ
θ θ
θ
d
V
I
z
V
d I Vz
z
x
B
x B
B
sin + ·
+
·
Dengan demikian jika kapal oleng dari sudut θ
1
sampai sudut θ
2
, maka koordinat titik apung dapat diperoleh
dengan
θ
θ
θ
θ
d
V
I
x x
yF
B B

+ ·
2
1
1 2
θ θ
θ
θ
θ
d
V
I
y y
x
B B
cos
2
1
1 2

+ · θ θ
θ
θ
θ
d
V
I
z z
x
B B
sin
2
1
1 2

+ ·
Harga
V
I

kita sebut r

yaitu jari-jari metasenter melintang pada sudut θ
(24)
V
I
r
x
T
θ
θ
·
sedang
V
I
yFθ
kita sebut r

yaitu jari-jari metasenter memanjang pada sudut θ. Dengan demikian rumus-
rumus di atas akan menjadi
(25)
θ
θ
θ
θ
d r x x
L B B

+ ·
2
1
1 2
33
(26)
θ θ
θ
θ
θ
d r y y
T B B
cos
2
1
1 2

+ ·
(27)
θ θ
θ
θ
θ
d r z z
T B B
sin
2
1
1 2

+ ·
Rumus-rumus di atas dapat kita turunkan secara geometris murni. Kita lihat kapal oleng sebesar φ, lalu
ditambah lagi sebesar dφ.
GAMBAR 7
Diketahui koordinat titik apung pada keadaan tegak sebesar (y
B0
, z
B0
) dan keadaan oleng dengan sudut φ
sebesar (y
B1
, z
B1
), serta koordinat titik metasenter M pada keadaan oleng ini sebesar (y

, z

). Pada waktu
sudut oleng ditambah sebesar dφ, titik M dianggap tidak berpindah. Kita lihat segitiga kecil B
1
B
2
E. Karena
dφ kecil, maka
ϕ ≈ ∠ E B B
2 1
dan
ϕ cos
2 1 1
B B E B dy · ·

ϕ sin
2 1 2
B B EB dz · ·
sedang
ϕ
ϕ
d r B B ·
2 1 , sehingga
(28)
ϕ ϕ
ϕ
d r dy cos ·
(29)
ϕ ϕ
ϕ
d r dz sin ·
dan untuk mendapatkan y
B2
dan z
B2
kita mengintegral pers. (28) dan (29) dari θ
1
sampai θ
2
dan kita dapatkan
pers. (26) dan (27).
Selanjutnya kita cari koordinat titik metasenter M. Dari gambar kita lihat bahwa
(30)
θ
θ θ θ
sin
T B M
r y y − ·
(31)
θ
θ θ θ
cos
T B M
r z z + ·
E
WL
φ
B
0
B
2
z
z
Bo
Z
m
y
B
1

y
m


z
B1
z
B2
K
34
Lengan stabilitas statis. Momen penegak
Setelah koordinat titik apung dan titik metasenter kita dapatkan, maka selanjutnya kita hitung lengan
stabilitas pada sudut oleng θ.
GAMBAR 8
Dari gambar kita lihat bahwa lengan momen penegak adalah
E B QR Q B GZ l
0 0
− + · ·
dan bahwa
θ
θ
cos
0 B
y Q B · θ
θ
sin ) (
0 B B
z z QR − · θ sin
0
a E B ·
Kalau semua ini kita masukkan dalam rumus di atas, kita dapat
(32)
θ θ θ
θ θ
sin sin ) ( cos
0
a z z y l
B B B
− − + ·
Kita masukkan lagi rumus-rumus (24), (25) dan (26) dengan θ
1
= 0, menjadi
θ ϕ ϕ θ ϕ ϕ θ
θ
ϕ
θ
ϕ
sin sin sin cos cos
0 0
a d r d r l − + ·
∫ ∫
Dengan memakai rumus trigonometri rumus di atas dapat ditulis menjadi
θ ϕ ϕ θ ϕ θ
θ
ϕ
sin ) sin sin cos (cos
0
a d r l − + ·

dan
(33)
θ ϕ ϕ θ
θ
ϕ
sin ) cos(
0
a d r l − − ·

dan dengan integrasi parsial akhirnya didapat
(34)

− + − ·
θ
ϕ
ϕ θ θ
T
T
r
r
T
dr a r l
0
) sin( sin ) (
0
Jika rumus (33) dimasukkan ke dalam momen penegak
Vl Dl M
r
γ · ·
dan r
θ
diganti, maka didapat
(35)

− + − ·
θ
ϕ
ϕ θ θ
T
T
r
r
T r
dr D a r D M
0
) sin( sin ) (
0
Suku pertama ruas kanan adalah momen penegak yang dihitung dengan anggapan jari-jari metasenter tetap
harganya sebesar r
0
, sedang suku kedua memperhitungkan perubahan harga jari-jari metasenter tersebut.
Komponen momen penegak. Stabilitas bentuk dan stabilitas berat.
Rumus (32) dapat kita bagi menjadi dua bagian, yaitu
(36)
θ θ
θ θ
sin ) ( cos
0 B B B c
z z y l − + ·
yang ditentukan oleh ukuran dan bentuk badan kapal dan karenanya kita sebut lengan stabilitas bentuk, dan
(37)
θ sin a l
g
·
B
1
z
B1
- z
B0
y
B
0
z
M
G
θ
θ
θ
E
F
Q
R
P
K
z
35
yang ditentukan oleh letak titik berat kapal dan muatannya dan karenanya kita sebut lengan stabilitas berat.
Demikian juga momen penegak dapat kita bagi menjadi momen stabilitas bentuk dan momen stabilitas berat.
Turunan lengan stabilitas statis terhadap sudut oleng. Tinggi umum
metasenter
Rumus (32) untuk lengan stabilitas kita turunkan terhadap sudut oleng:
θ θ θ
θ
θ θ
θ θ
θ
θ
θ
θ
cos cos ) ( sin sin cos
0
a z z
d
dz
y
d
dy
d
dl
B B
B
B
B
− − + + − ·
Dengan memakai rumus (27) dan (28), persamaan di atas dapat kita ubah menjadi
θ θ θ
θ
θ θ θ
cos cos ) ( sin
0
a z z y r
d
dl
B B
− − + − ·
Pada keadaan tegak, θ = 0 sehingga sin θ = 0, cos θ = 1, y

= 0, z

= z
B0
dan r
θ
= r
0
dan rumus di atas
menjadi
MG a r
d
dl
· − ·

,
_

¸
¸
·
0
0 θ
θ
Jadi turunan pertama lengan stabilitas statis terhadap sudut oleng pada keadaan tegak adalah tinggi
metasenter awal. Kalau kita perhatikan, turunan ini mempunyai satuan panjang. Untuk mencari penggal
garis yang mana, lihat gambar berikut:
GAMBAR 9
Misalkan pada sudut oleng θ letak titik metasenter M dan titik berat G diketahui. Jika dari G ditarik garis
tegak lurus garis kerja gaya apung, didapat lengan stabilitas statis pada sudut oleng θ berupa penggal garis
GZ. Jika kemudian sudut oleng ditambah dengan dθ, titik M tidak berpindah tempat, tetapi untuk garis kerja
gaya apung yang baru, titik Z akan berpindah ke Z
1
.
Untuk dθ→0, maka
(36) θ MZd dl · atau
MZ
d
dl
·
θ
MZ yang diukur dari titik metasenter ke titik potong lengan dengan garis kerja gaya apung, disebut tinggi
umum metasenter. Pada waktu lengan stabilitas statis mencapai maksimum, maka
0 · · MZ
d
dl
θ
, berarti titik
M dan titik H berimpit.
Stabilitas dinamis. Rumus analitis untuk lengan stabilitas dinamis. Kerja
untuk mengolengkan kapal.
Stabilitas dinamis menggambarkan kerja atau usaha yang dibutuhkan untuk mengolengkan kapal. Sebagai
contoh, kita lihat setengah silinder berikut:
GAMBAR 10
Dalam keadaan diam – gambar kiri – bidang atas akan terletak mendatar. Dalam keadaan miring – gambar
tengah – ternyata titik berat akan naik dibandingkan dengan keadaan awal dan dalam keadaan tegak –
36
gambar kanan – titik berat dalam kedudukan tertinggi. Untuk menaikkan titik berat ini jelas dibutuhkan
usaha atau kerja. Usaha ini akan sama besar (tetapi berlawanan tanda) dengan berat dikalikan perpindahan
titik berat pada arah vertikal, yaitu selisih tinggi titik berat pada kedudukan akhir dengan tinggi titik berat
pada kedudukan awal.
Untuk mengolengkan kapal, juga dibutuhkan kerja. Pada setengah silinder di atas, titik tempat reaksi
tumpuan bekerja tidak berubah tingginya sehingga kita hanya perlu melihat selisih tinggi titik berat saja.
Tetapi pada kapal, titik tempat reaksi tumpuan adalah titik apung kapal dan selama proses oleng, ketinggian
titik ini berubah terus. Jadi jarak vertikal titik apung ke titik berat juga selalu berubah dan jarak vertikal
inilah yang disebut lengan stabilitas dinamis dan kerja yang dilakukan adalah
d
Dl E ·
dengan
d
l
adalah lengan stabilitas dinamis.
Kerja untuk mengolengkan kapal juga dapat dilihat sebagai kerja dari suatu momen kopel yang
mengolengkan kapal sampai sudut dφ:
ϕ d M dE
r
·
Jika M
r
diganti dengan rumus (22), kita dapatkan
ϕ Dld dE ·
Dalam ruas kanan, harga l berubah terus menurut harga φ, sehingga untuk mengolengkan kapal dari
keadaan tegak ke sudut oleng θ dibutuhkan kerja sebesar
∫ ∫
· ·
θ θ
ϕ ϕ
0 0
ld D Dld E
Kalau kita bandingkan kedua rumus kerja di atas, kita peroleh
(37) ∫
·
θ
ϕ
0
ld l
d
Ternyata lengan stabilitas dinamis adalah integral lengan stabilitas statis sampai sudut θ tertentu dan
sebaliknya lengan stabilitas statis adalah turunan pertama stabilitas dinamis terhadap sudut oleng.
Marilah kita turunkan rumus lengan stabilitas dinamis.
GAMBAR 11 fig 72 hal 188
Pada garis kerja gaya apung dari titik Z ke bawah diukurkan ZN = B
0
G = a. Karena lengan stabilitas dinamis
adalah selisih jarak vertikal titik apung ke titik berat pada kedudukan tegak dengan selisih jarak pada sudut
oleng θ, maka
a ZB ZN ZB l
d
− · − ·
θ θ
Dari gambar kita lihat bahwa
FP QP GE ZB − + ·
θ
dengan
θ cos a GE ·
θ
θ
sin
B
y QP · θ
θ
cos ) (
0 B B
z z FP − ·
sehingga
(38)
a z z y l
B B B d
) cos 1 ( cos ) ( sin
0
θ θ θ
θ θ
− − − − ·
Kalau lengan dinamis d kita turunkan terhadap θ, kita dapatkan
37
(38)
l a z z y
d
dl
B B B
d
· − − + · θ θ θ
θ
θ θ
sin sin ) ( cos
0
dan ternyata ruas kanan sama dengan rumus (29) untuk lengan stabilitas statis. Jadi memang lengan stabilitas
statis adalah turunan pertama lengan stabilitas dinamis.
Jika kita bandingkan rumus (35) dengan rumus (38), maka kita dapatkan
(39) MZ
d
l d
d
·
2
2
θ
atau turunan kedua lengan dinamis adalah tinggi umum metasenter.
Diagram stabilitas statis dan dinamis. Kurva jari-jari metasenter
Kita dapat membuat diagram lengan stabilitas statis sebagai fungsi sudut oleng θ. Demikian juga kita dapat
membuat diagram lengan stabilitas dinamis sebagai fungsi θ. Diagram macam ini pertama kalinya
diperkenalkan oleh Reeds.
GAMBAR 12
Dalam kedua gambar di atas, absis adalah sudut oleng dalam derajat dan ordinat adalah lengan stabilitas
statis atau dinamis dalam meter. Gambar atas disebut diagram stabilitas statis dan gambar bawah disebut
diagram stabilitas dinamis.
Dalam diagram stabilitas statis, momen penegak dapat juga dipakai sebagai ordinat, dan karena momen
penegak adalah displasemen dikalikan lengan stabilitas dinamis, maka bentuk diagram akan tetap, hanya
skalanya yang berubah. Demikian juga kerja atau usaha dapat dipakai sebagai ordinat dalam diagram
stabilitas dinamis dan merubah skala ordinatnya.
Di atas telah disebutkan bahwa ada hubungan diferensial-integral antara lengan stabilitas statis dan dinamis.
Pada θ = 0, lengan stabilitas statis berharga 0 dan lengan stabilitas dinamis menunjukkan minimum. Pada
saat lengan stabilitas statis mencapai maksimum, lengan stabilitas dinamis mempunyai titik belok (inflexion
point). Pada saat lengan stabilitas statis mencapai harga 0 lagi, lengan stabilitas dinamis mencapai
maksimum. Sudut oleng pada saat itu disebut sudut batas stabilitas. Lewat sudut ini kapal akan terus terbalik
(capsize).
Pada sudut kecil, besar lengan stabilitas statis diberikan oleh rumus (20)
θ sin MG GZ l · ·
Jika kita ambil turunan pertamanya terhadap θ, kita peroleh
θ
θ
cos MG
d
dl
·
sehingga kemiringan garis singgung pada θ = 0 adalah MG. Jadi untuk menggambar garis singgung di θ = 0,
kita ukurkan MG tegak lurus pada absis 1 rad (=57.3 derajat) dan hubungkan ujungnya dengan titik 0, maka
kita dapat garis singgungnya.
Karena simetri badan kapal, maka kurva lengan stabilitas statis akan ada juga untuk sudut negatif dan bentuk
di bagian sudut negatif ini akan sama dengan bentuknya di bagian sudut positif, karena besar lengan tak
dipengaruhi oleh arah oleng kapal. Jadi lengan stabilitas statis adalah fungsi ganjil.
GAMBAR 13
Gambar-gambar di atas menunjukkan tiga jenis diagram stabilitas statis untuk bentuk badan kapal atau
Rencana Garis yang paling sering dijumpai.
• Jenis I adalah bentuk diagram stabilitas statis yang paling sering dijumpai. Kurva ini hanya
mempunyai 1 titik balik pada daerah lengan positif. Sudut batas stabilitasnya biasanya antara 60
sampai dengan 90 derajat dan MG awalnya antara 0.5 sampai 1.0 m atau lebih.
• Jenis II adalah bentuk diagram stabilitas statis kapal dengan MG awal yang kecil, 0.4 m atau kurang,
tetapi dengan lambung bebas yang besar. Kurvanya berada di atas garis singgung awal dilanjutkan
dengan titik balik. Meskipun MG awal kecil, tetapi stabilitasnya cukup baik karena luasnya besar dan
sudut batas stabilitas yang besar.
• Jenis III adalah bentuk diagram stabilitas statis untuk kapal dengan MG awal negatif. Garis singgung
awal berarah ke bawah. Kurvanya berada di atas garis singgung diikuti titik minimum lalu memotong
38
sumbu datar pada sudut θ
1
diikuti dengan titik balik. Ini berarti bahwa pada sudut oleng 0
0
, kapal
mempunyai keseimbangan labil dan baru stabil dengan sudut oleng θ
1
. Meskipun luas kurva mungkin
besar dan sudut batas stabilitasnya besar, bentuk ini sekarang tidak diijinkan lagi.
Persamaan diferensial stabilitas
Pengaruh momen luar terhadap stabilitas
Perubahan volume dan momen statis pada garis air oleng
GAMBAR 14
Kita lihat kapal tanpa trim dan suatu garis air WL dengan sudut oleng besar θ dan garis air W
1
L
1
dengan
sudut oleng θ
1
yang berpotongan di titik sembarang. Dengan demikian garis air WL akan memotong sumbu
Z pada titik T dan garis air W
1
L
1
memotong sumbu Z pada titik T
1
. Antara θ dan θ
1
serta antara T dan T
1
ada
hubungan
θ θ θ d + ·
1
T d T T + ·
1
Tinggi elemen baji h (diukur // sumbu Z) yang dibatasi oleh kedua garis air itu adalah
} tan ) {tan( ) tan (tan
1
θ θ θ θ θ − + · − + · d y y dT h
sehingga
θ
θ
2
cos
yd
dT h + ·
Sedangkan harga z dapat dihitung dengan rumus
θ tan y T h T z + · + ·
setelah suku-suku kecil diabaikan.
Luas elemen baji dS diukur pada proyeksi elemen baji pada bidang XOY atau bidang dasar.
Maka perubahan volume dan momen statis adalah
∫ ∫ ∫
+ · ·
S S S
ydS
d
dS dT hdS dV
θ
θ
2
cos
(40)
θ
θ
d
Sy
SdT dV
F
2
cos
+ ·
∫ ∫ ∫
+ · ·
S S S
yz
xydS
d
xdS dT xhdS dM
θ
θ
2
cos
(41)
θ
θ
d
I
dT Sx dM
xy
F yz 2
cos
+ ·
∫ ∫ ∫
+ · ·
S S S
xz
dS y
d
ydS dT yhdS dM
2
2
cos θ
θ

θ
W
1
W
L
L
1
T
1
T
y
x
z
d
θ
θ
T
1
T
z
dT
h
y
WL
1
WL
39
(42)
θ
θ
d
I
dT Sy dM
x
F xz 2
cos
+ ·
∫ ∫ ∫ ∫
· + + + ·

,
_

¸
¸
+ · ·
S S S S
xy
dS
yd
y T dTdS y T dS
yd
dT z zhdS dM
θ
θ
θ θ
θ
θ
2 2
cos
) tan ( ) tan (
cos
θ
θ
θ
θ
θ
θ
2 2
cos
tan
cos
tan
d
I
d
TSy dT Sy TSdT
x F F
+ + + ·
(43)
θ
θ
θ θ
2
cos
) tan ( ) tan (
d
I TSy dT Sy TS dM
x F F xy
+ + + ·
Untuk kasus khusus dengan kedua garis air WL dan W
1
L
1
membatasi displasemen yang sama, berarti bahwa
dV = 0 dan pers (40) menjadi
θ
θ
d
y
dT
F
2
cos
− ·
Perhitungan lengan-lengan stabilitas menurut Krylov
Ada banyak cara untuk menghitung lengan stabilitas, baik yang menggunakan alat (planimeter dan
integrator) maupun tanpa alat. Di sini akan dijelaskan cara tanpa alat yang dikembangkan oleh A.N. Krylov.
Di atas telah dijelaskan bahwa untuk menghitung lengan stabilitas statis pada sudut oleng besar, dibutuhkan
jari-jari metasenter r
θ
. Maka kita perlu membuat garis air dengan displasemen tetap dengan sudut oleng yang
berselisih sama. Ada dua cara yang dikembangkan oleh Krylov:
Cara pertama
GAMBAR
Pada cara pertama, garis air dengan sudut oleng 10
o
, 20
o
dan seterusnya dibuat melalui satu titik, yaitu titik
potong CL dengan garis air tegak. Untuk suatu sudut, biasanya volume baji masuk tidak akan sama dengan
volume baji keluar, sehingga garis air harus digeser dengan sudut tetap supaya kedua volume baji sama
besar. Besar pergeseran adalah sedemikian sehingga volume air di antara kedua garis air sama dengan selisih
volume baji masuk v
m
dan volume baji keluar v
k
. Dari gambar kita dapatkan
k m
v v S − · ε
dengan
ε = jarak penggeseran garis air
S = luas garis air awal
Rumus ini hanya tepat jika kapal berdinding tegak, tetapi untuk ε kecil kesalahannya akan kecil juga. Besar ε
kita hitung dengan rumus
S
v v
k m

· ε
Karena semua garis air melalui titik yang sama pada sumbu Z, maka tidak ada perubahan sarat, dT = 0,
sehingga dari rumus (40) kita dapat menghitung perubahan volume
θ
θ
d
Sy
dv
F
2
cos
·
Faktor pertama ruas kanan dapat dilihat juga sebagai momen statis garis air oleng terhadap sumbu olengnya,
sehingga
θ d M dv
x
·
Dengan demikian, v
m
– v
k
menjadi

· −
θ
θ
0
d M v v
x k m
sehingga ε menjadi
(44) ∫
·
θ
θ ε
0
1
d M
S
x
Pada rumus ini, momen statis garis air dapat dihitung dengan rumus
40


− ·
2 /
2 /
2 2
) (
2
1
L
L
k m x
dx y y M
dan luas garis air S dapat dihitung dengan rumus


+ ·
2 /
2 /
) (
L
L
k m
dx y y S
Setelah ε didapat, maka garis air oleng dengan displasemen tetap telah didapatkan. Dengan garis air ini, kita
menghitung momen inersia garis air oleng dengan rumus


+ ·
2 /
2 /
3 3
) (
3
1
L
L
k m x
dx y y I
Tetapi momen inersia ini tidak melewati titik berat garis air oleng, jadi masih harus dikoreksi
S y I I
F x xF
2
− ·
Setelah momen inersia didapat, dihitung jari-jari metasenter dengan rumus (24). Kemudian koordinat titik
apung dihitung dengan rumus (26) dan (27) dan terakhir komponen lengan stabilitas bentuk dan komponen
lengan stabilitas berat dihitung dengan rumus (31) dan (32) dan lengan stabilitas dinamis dengan rumus (38).
Ini dilakukan untuk tiap sudut oleng dan setelah itu dibuat diagram stabilitas statis dan dinamis.
Langkah pelaksanaan
a) Diketahui: Panjang L, lebar B, sarat T, displasemen V, tinggi titik berat KG, tinggi titik apung awal
KB
0
. dan Rencana Garis
b) Buat garis air dengan keolengan 0
o
.
c) Buat garis air dengan keolengan 10
o
. Titik potong garis air dengan CL kita sebut A.
d) Cari titik potong garis air ini dengan Station ujung depan atau ujung belakang. Hitung y
m
dan y
k
dengan titik awal titik A.
e) Ulangi untuk semua station.
f) Hitung luas garis air S dan momen statis M
X
garis air 10
o
terhadap sumbu memanjang lewat A.
g) Hitung ε.
h) Letakkan titik B pada CL juga sejarak
o
10 cos
ε
di bawah titik A.
i) Buat garis air dengan kemiringan 10
o
melalui titik B.
j) Cari titik potong garis air ini dengan Station ujung depan atau ujung belakang. Hitung y
m
dan y
k
dengan titik awal titik B.
k) Ulangi untuk semua station.
l) Hitung luas garis air S, momen statis M
X
dan momen inersia I
X
garis air 10
o
terhadap sumbu
memanjang lewat B. Hitung titik pusat garis air y
F
.
m) Hitung momen inersia garis air I
XF
terhadap sumbu memanjang melewati titik pusat garis air
n) Hitung jari-jari metasenter r
θ
pada 10
o
.
o) Ulangi langkah c) sampai dengan n) untuk sudut 20
o
, … 90
o
.
p) Hitunglah lengan stabilitas dengan rumus
θ ϕ ϕ θ ϕ ϕ θ
θ
ϕ
θ
ϕ
sin sin sin cos cos
0 0
a d r d r l − + ·
∫ ∫
q) Buat grafik lengan stabilitas statis
Cara kedua
Pada cara kedua, garis air baru dibuat melewati garis air sebelumnya, misalnya garis air dengan kemiringan
30
0
dibuat melalui titik berat garis air dengan kemiringan 20
0
dan seterusnya. Karena selisih sudut (= 10
0
)
cukup kecil, maka integral dalam rumus (44) cukup didekati dengan rumus trapezium
( )
2
1
2 1
θ
ε

+ ·
x x
M M
S
Karena sumbu oleng dibuat melalui titik berat garis air pertama, maka M
x1
= 0, sehingga
2
θ
ε

·
S
M
x
dan M
x
adalah momen statis garis air bantu terhadap sumbu oleng. Faktor pertama ruas kanan sama dengan
jarak titik berat garis air bantu terhadap sumbu oleng, jadi rumus di atas dapat ditulis sebagai
41
θ ε ∆ ·
2
F
y
Setelah ε didapat, langkah selanjutnya adalah menghitung lengan stabilitas statis dan dinamis seperti pada
cara pertama. Ada beberapa penyederhanaan yang dapat dilakukan, karena ε biasanya kecil. Untuk
mendapatkan titik berat dan momen inersia garis air, dapat diambil harga y
m
dan y
k
dari garis air bantu dan
bukan dari garis air displasemen tetap. Ini berarti bahwa letak titik berat garis air displasemen tetap dan titik
berat garis air bantu dianggap berjarak sama ke sumbu putar. Setelah itu langkah berikutnya sampai akhir
sama dengan langkah pada cara pertama.
Tetapi untuk menggambar garis air oleng berikutnya, harus dibuat melalui titik berat garis air displasemen
tetap.
Persyaratan stabilitas kapal utuh menurut SOLAS
Yang pertama memberikan kriteria stabilitas untuk kapal adalah
o J. Rahola, “The Judging of the Stability of Ships and the Determination of the Minimum Amount of
Stability”, Doctor of Technology thesis, Helsinki, 1939.
Persyaratan sekarang diambil dari “Intact Stability Criteria for Passenger and Cargo Ships, 1987 Edition”,
yang diterbitkan oleh IMO, London, 1987 untuk kapal di bawah 100m.
Dalam Section 5 Recommended criteria disebutkan:
5.1 Untuk kapal barang dan penumpang:
a) Luas gambar di bawah kurva lengan penegak GZ tidak boleh kurang dari 0.055 meter.radian sampai
sudut oleng θ = 30
0
, dan tidak kurang dari 0.09 meter.radian sampai sudut oleng θ = 40
0
atau sudut
air masuk θ
f
jika sudut ini kurang dari 40
0
.
Selain itu luas gambar di bawah kurva lengan penegak GZ antara sudut oleng 30
0
dan 40
0
atau sudut
air masuk θ
f
jika sudut ini kurang dari 40
0
, tidak boleh kurang dari 0.03 meter.radian.
b) Lengan penegak GZ harus paling sedikit 0.2 meter pada sudut oleng 30
0
atau lebih
c) Lengan penegak maksimum sebaiknya terjadi pada sudut oleng lebih dari 30
0
tetapi tidak kurang dari
25
0
.
d) Tinggi metasenter awal GM
0
tidak boleh kurang dari 0.15 meter.
5.2 untuk kapal pengangkut kayu dengan muatan di geladak
Jika muatan geladak berada
• dari bangunan atas sampai bangunan atas
• dan selebar kapal (dengan pengurangan untuk “rounded gunwale” yang tidak lebih dari 4% lebar
kapal) dan/atau sebatas batang pagar
• dan muatan terikat baik sehingga tidak bergerak pada sudut oleng besar
maka kriteria berikut boleh dipakai sebagai pengganti 5.1 di atas:
a) Luas gambar di bawah kurva lengan penegak GZ tidak boleh kurang dari 0.08 meter.radian sampai
sudut oleng θ = 40
0
atau sudut air masuk θ
f
jika sudut ini kurang dari 40
0
.
b) Lengan penegak maksimum paling sedikit harus berharga 0.25 meter
c) Pada setiap saat selama pelayaran, tinggi metasenter GM
0
harus positif setelah koreksi permukaan
bebas cairan dalam tangki-tangki dan jika sesuai, penyerapan air oleh muatan geladak dan/atau
pengumpulan es pada permukaan tak terlindung. Selain itu, pada waktu berangkat, tinggi metasenter
tidak boleh kurang dari 0.1 meter.
5.3 Kriteria tambahan berikut direkomendasikan untuk kapal penumpang
a) Sudut oleng akibat penumpang menggerombol di satu sisi kapal seperti dijelaskan dalam Appendix II
2(11) (4 orang per m2) tidak boleh melebihi 10
0
.
b) Sudut oleng karena kapal berbelok tidak boleh melebihi 10
0
jika dihitung dengan rumus berikut:

,
_

¸
¸
− ∆ ·
2
02 . 0
2
0
d
KG
L
V
M
R
dengan
M
R
= momen pengoleng dalam meter.ton
V
0
= kecepatan dinas dalam m/s
42
L = panjang garis air dalam m
Δ = displasemen dalam metric ton
d = sarat rata-rata dalam m
KG = tinggi titik berat di atas lunas dalam m
Dalam rekomendasi di atas tidak diberikan harga maksimum, tetapi harus diingat bahwa MG yang besar
mengakibatkan percepatan yang besar juga dan dapat membahayakan kapal, anak buahnya, peralatannya dan
muatannya.
Selain itu, ditentukan juga kondisi apa saja yang harus diperiksa stabilitasnya. Dalam Appendix II Standard
Conditions of Loading to be Examined diberikan:
1 LOADING CONDITIONS
1) Kapal penumpang:
i. Kapal dalam kondisi berangkat dengan muatan penuh, dengan penumpang penuh bersama barang
bawaannya, dengan persediaan dan bahan bakar penuh
ii. Kapal dalam kondisi datang dengan muatan penuh, dengan penumpang penuh bersama barang
bawaannya, tetapi persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja
iii. Kapal dalam kondisi berangkat tanpa muatan, dengan penumpang penuh bersama barang bawaannya
dan dengan persediaan dan bahan bakar penuh
iv. Kapal dalam kondisi datang tanpa muatan, dengan penumpang penuh bersama barang bawaannya
tetapi persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja
2) Kapal barang:
i. Kapal dalam kondisi berangkat dengan muatan penuh, dengan muatan tersebar merata dalam semua
ruang muat dan dengan persediaan dan bahan bakar penuh
ii. Kapal dalam kondisi datang dengan muatan penuh, dengan muatan tersebar merata dalam semua
ruang muat, tetapi persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja
iii. Kapal dengan ballast dalam kondisi berangkat tanpa muatan, dengan persediaan dan bahan bakar
penuh
iv. Kapal dengan ballast dalam kondisi datang tanpa muatan, tetapi dengan persediaan dan bahan bakar
tinggal 10 % saja
3) Kapal barang dengan muatan geladak
i. Kapal dalam kondisi berangkat dengan muatan penuh, dengan muatan tersebar merata dalam semua
ruang muat dan muatan dengan tinggi, tempat serta berat tertentu di geladak, dengan persediaan dan
bahan bakar penuh
ii. Kapal dalam kondisi datang dengan muatan penuh, dengan muatan tersebar merata dalam semua
ruang muat dan muatan dengan tinggi, tempat serta berat tertentu di geladak, tetapi dengan
persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja
43
Panjang bocor (floodable length)
• K. J. Rawson dan E. C. Tupper, “Basic Ship Theory”, Longman, London, 1983 Chapter 5 Hazards
and Protection.
• R. F. Scheltema de Heere, A. R. Bakker, “Bouyancy and Stability of Ships”, George G. Harrap &
Co. Ltd., London, 1970
Kapal dalam masa hidupnya banyak mengalami bahaya. Pada kapal yang dirancang dengan baik, bahaya
timbul karena penanganan kapal secara salah, kecelakaan atau tindakan musuh. Bahaya itu dapat
menyebabkan kebocoran, kebakaran, ledakan, kerusakan konstruksi atau gabungannya. Dalam bab ini
dibahas pengaruh air yang masuk ke badan kapal, baik itu karena tubrukan, kandas, tindakan musuh atau
kerja suatu sistem yang terhubung dengan laut. Masuknya air dalam satu atau lebih kompartemen
mempunyai akibat-akibat berikut:
• sarat kapal akan bertambah
• trim kapal akan berubah
• stabilitas kapal akan berkurang
Apapun penyebabnya, kita harus membatasi banyaknya air yang masuk karena alasan-alasan berikut:
• supaya berkurangnya stabilitas melintang sekecil mungkin
• supaya kerusakan muatan sesedikit mungkin
• supaya kapal jangan kehilangan stabilitas memanjang
• supaya berkurangnya gaya apung cadangan sesedikit mungkin
Idealnya, kapal mengalami kebocoran yang makin lama makin besar tanpa kehilangan stabilitasnya sampai
kapal tenggelam. Kejadian ini disebut foundering. Jika kapal tetap tegak, maka berjalan (atau berlari), naik
turun tangga, menurunkan sekoci penyelamat dan lain-lain akan jauh lebih mudah.
Jika suatu ruangan terhubung dengan air laut, maka dalam ruangan itu gaya apung berkurang/hilang dan
momen inersia garis air berkurang, hingga lengan stabilitas kapal berkurang. Untuk mengatasi hal-hal
tersebut, dapat diberikan sekat melintang dan memanjang dalam jumlah besar. Tetapi sekat-sekat yang
banyak ini akan menyebabkan kapal menjadi lebih besar, pembuatannya makin mahal, bergerak dari satu
ruangan ke ruangan lain lebih susah, muatan lebih susah dimasukkan ke dalam palkah dan bongkar muat
menjadi lebih mahal. Suatu kompromi antara tingkat keselamatan dan segi ekonomis kapal harus ditemukan
dan sebagai kompromi disepakati bahwa geladak tidak boleh tenggelam, dan bangunan atas masih terlihat
cukup tinggi.
SOLAS 1974
• geladak sekat (bulkhead deck)
• margin line
• garis air penyekatan (subdivision load line)
• permeabilitas suatu ruangan (permeability of a space)
• ruang permesinan (machinery space)
• ruang penumpang (passenger space)
• panjang ijin kompartemen (permissible length of compartments)
• criterion of service, criterion numeral
• faktor penyekatan (factor of subdivision)
• perhitungan panjang ijin kompartemen
o rumus Shirokauer 1928 (PNA vol. 1 pp. 152)
o menghitung volume air masuk dan titik beratnya untuk beberapa garis air
o membuat kurva kebocoran (floodable length)
o menentukan ujung kurva kebocoran
o membuat kurva panjang ijin
o menentukan letak sekat-sekat
44
KEBOCORAN
Pendahuluan
Semua kapal menghadapi risiko tenggelam jika badan kapal bocor dan air masuk. Kapal dapat bocor jika
terjadi tabrakan, kandas atau ledakan di dalam badan kapal dan kejadian-kejadian tersebut cukup sering
terjadi.
Akibat utama kebocoran kapal adalah
• berkurangnya gaya apung dan perubahan trim. Kalau kedua hal ini tidak bisa dibatasi, maka kapal
akan tenggelam tanpa terbalik (foundering) atau tenggelam menukik, biasanya dengan haluan kapal
tenggelam lebih dahulu.
• berkurangnya stabilitas melintang atau bertambah besarnya momen pengoleng. Jika hal-hal ini tidak
bisa dibatasi, maka kapal akan terbalik dan tenggelam
Jika kapal tidak mempunyai sekat baik memanjang maupun melintang dan bocor, maka pasti kapal akan
tenggelam. Perlindungan yang paling efektif adalah dengan membuat sekat memanjang dan melintang, dan
juga alas ganda atau sekat datar lain.
Masalahnya adalah berapa sekat yang dianggap cukup dan diletakkan di mana?
Dalam menjawab pertanyaan ini, ada beberapa ketidak pastian yang dihadapi:
• letak dan besarnya kerusakan tidak diketahui terlebih dahulu
• banyaknya, jenis dan penempatan muatan berubah selama satu pelayaran dan dari pelayaran ke
pelayaran
• perancang tidak tahu apakah ABK akan mengambil tindakan yang tepat dalam keadaan darurat atau
sebaliknya akan mengambil tindakan yang justru memperburuk keadaan.
Selain itu sekat juga menambah beaya pembangunan dan pemeliharaan serta membatasi panjang muatan
yang bisa diangkut.
Sejarah
Pada akhir abad 19, biro klasifikasi menetapkan peraturan empiris untuk pemasangan sekat pada kapal
niaga, terutama sekat ceruk buritan dan sekat ceruk haluan serta sekat yang memisahkan ruang permesinan
dari ruang muat. Tetapi peraturan ini tidak didasarkan pada kemampuan kapal bertahan pada keadaan bocor.
Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, bangsa-bangsa maritim besar mulai mempelajari masalah ketahanan
terhadap bocor. Hal ini dipicu oleh bertambah seringnya kecelakaan di laut yang mengambil korban jiwa
yang besar, dan sebagai puncaknya adalah tenggelamnya kapal Titanic dengan korban 1430 jiwa dalam
tahun 1912.
Pada tahun 1913 diadakan konferensi international untuk Safety of Life at Sea yang membahas usulan dari
Inggris, Jerman dan Perancis. Hasilnya adalah kompromi dari ketiga usulan itu, tetapi tidak pernah
dilaksanakan karena meletusnya Perang Dunia I.
Pada tahun 1929 diadakan lagi International Conference on Safety of Life at Sea. Disetujui sistem
penyekatan faktorial (factorial system of subdivision) dan dipakai criterion of service. Sistem ini banyak
kekurangannya dan stabilitas tidak diperhatikan.
Setelah itu ada lagi International Conference on Safety of Life at Sea pada tahun 1948 dan 1960. Hanya ada
sedikit perubahan dan disyaratkan standard yang lebih tinggi untuk kapal yang membawa banyak
penumpang dalam pelayaran pendek dan lebih banyak kapal yang harus memenuhi syarat dua kompartemen
bocor.
Perubahan peraturan yang ada didorong terutama atas tenggelamnya kapal “Andrea Doria” yang dibuat
memenuhi persyaratan tahun 1948 yang terbukti tidak cukup baik. Pada konferensi 1960 ada usulan konsep-
konsep baru yang nantinya akan dibahas. Pemikiran pertama adalah bahwa keselamatan kapal dapat diukur
dari besarnya kerusakan yang dapat ditanggungnya. Pemikiran kedua adalah kemampuan menanggung
kerusakan dengan dasar probabilitas. Sementara itu Intergovernmental Maritime Consultative Organization
45
dibentuk pada tahun 1958 yang bernaung di bawah PBB dan studi mengenai hal-hal di atas dapat dilakukan
lebih intensif.
Sebelum tahun 1970, peraturan yang ada hanya untuk kapal penumpang (banyaknya penumpang paling
sedikit 12 orang) dan kapal tanker. Setelah tahun itu, IMCO mengeluarkan peraturan untuk bulk chemical
carriers dan liquefied gas carriers, lalu untuk tanker, mobile offshore drilling unit (MODU) dan offshore
supply vessel, Untuk kapal ikan besar ada konvensi 1977 kemudian juga untuk kapal-kapal khusus lain.
Semua peraturan ini tidak lagi mengikuti sistem faktorial, tetapi berdasarkan konsep-konsep baru tersebut di
atas. Peraturan yang berlaku sekarang dimuat dalam SOLAS Consolidated Edition 2000.
Dasar pemikiran
Kapal dianggap masih belum tenggelam jika geladaknya masih berada di atas air, meskipun hanya sedikit.
Menurut perjanjian, jarak ini diambil 76 mm (atau 3 inci) dan garis yang sejajar geladak ini disebut garis
batas atau margin line. Di atas sudah disebut bahwa cara paling efektif supaya kapal tidak mudah tenggelam
adalah dengan membuat sekat-sekat lintang. Persoalannya adalah berapa banyak sekat dan diletakkan di
mana?
Kita lihat dua keadaan:
GAMBAR 1
Pada keadaan I, kapal pada sarat rancang dengan sarat T
1
. Ada beberapa sekat di kapal ini, tetapi yang
digambar hanya dua, membatasi suatu ruangan kosong.
Pada keadaan II, ruangan tersebut bocor dan air masuk sehingga sekarang air di luar menyinggung margin
line.
Untuk mengetahui banyaknya air yang masuk, kita perlu mengetahui volume displasemen pada kedua
keadaan itu, kita sebut V
1
dan V
2
. Maka banyaknya air yang masuk adalah
1 2
V V v − ·
Jika kedua sekat dapat kita geser-geser dengan volume tetap sama dengan v, supaya air luar tepat
menyinggung margin line, di mana kedua sekat harus diletakkan?
Keadaan II dapat kita lihat sebagai gabungan keadaan I dan air yang masuk. Dari fisika, kita dapat rumus
untuk titik berat gabungan:
v V
vx x V
x
V B
B
+
+
·
1
1 1
2
T V
1
B
1
B
2
V
2
V
1
B
1
46
Jadi kita perlu mencari LCB dari kedua keadaan tersebut, untuk keadaan I kita sebut x
B1
dan untuk keadaan
II kita sebut x
B2
diukur dari AP misalnya. Dalam persamaan ini, semua volume diketahui atau dapat dihitung,
juga x
B1
dan x
B2
sudah dihitung, sehingga x
V
dapat dihitung.
Gambar 2
Dari fisika kita juga tahu, bahwa momen statis suatu luasan atau volume terhadap sumbu yang melalui titik
beratnya sama dengan nol. Jadi sekat depan dan sekat belakang harus kita letakkan sedemikian sehingga
momen statis volume di belakang x
V


·
VB
B
ldV M
0
sama besar dengan momen statis volume di depan x
V

·
VD
D
ldV M
0
dengan jumlah volume sama dengan v. Cara ini dapat kita ulang sehingga kita mengetahui letak pasangan
sekat untuk sebarang x
V
. Panjang ruangan atau jarak sepasang sekat yang bersebelahan sebagai hasil
perhitungan di atas disebut panjang kebocoran (floodable length).
Dari pembahasan di atas kita lihat bahwa jika sarat makin rendah, volume air yang masuk bisa lebih banyak
untuk air sampai menyinggung margin line, sehingga jarak pasangan sekat bisa lebih jauh dan sebaliknya.
Jadi jarak sekat banyak ditentukan oleh besar sarat. Karena itu waktu perhitungan dilakukan, sejak awal sarat
ini harus sudah ditentukan dan disebut sarat penyekatan (subdivision load line).
Masih ada beberapa definisi yang diambil dari SOLAS 1974 Chapter II-1 Construction – Subdivision and
stability, machinery and electrical installations, Part A – General:
Regulation 2 Definitions
• sarat penyekatan terdalam (deepest subdivision load line): sarat terbesar yang diijinkan
persyaratan penyekatan yang berlaku untuk suatu kapal
• panjang kapal adalah panjang garis air pada sarat penyekatan terdalam
• geladak sekat (bulkhead deck): geladak teratas yang dicapai oleh semua sekat lintang.
• garis batas (margin line): garis yang dibuat pada sisi kapal, paling sedikit 76 mm di bawah
permukaan atas geladak sekat
Pembahasan di atas mengandaikan bahwa ruang yang bocor itu kosong. Dalam praktek jarang terjadi bahwa
ruang muat sama sekali kosong dalam suatu pelayaran. Adanya muatan dan/atau benda lain tentu saja
x
V
dV
H
dV
B
dx x
B
x
H
dV
FP AP
47
mengakibatkan banyaknya air yang bisa masuk berkurang. Perbandingan volume air yang bisa masuk dalam
ruangan berisi dengan volume ruang kosong disebut permeabilitas (permeability), dinyatakan dalam %
diberi tanda µ (mu). Jika banyaknya air yang masuk berkurang, ini berarti bahwa jarak antara sekat lintang
dapat diperbesar sebelum air di luar mencapai margin line. Harga permeabilitas berbagai ruangan tentu saja
berbeda-beda, tergantung apa isi ruangan tersebut.
Untuk kapal yang membawa penumpang lebih dari 12 orang, SOLAS 1974 Chapter tersebut di atas Part B –
Subdivision and stability, menentukan:
Regulation 5: Permeability in passenger ships
• Ruang Permesinan
Ruang permesinan (machinery space) meliputi ruangan dari bidang dasar (moulded base line) sampai ke
margin line dan antara dua sekat lintang kedap air yang terjauh, dan berisi motor penggerak utama dan
bantu, ketel yang melayani permesinan penggerak, dan semua bunker permanen penyimpan batubara
(permanent coal bunker). (Regulation 2)
Ruang penumpang (passenger spaces) adalah ruangan-ruangan yang disediakan untuk akomodasi dan
keperluan penumpang, tidak termasuk ruangan bagasi penumpang, gudang, gudang bahan makanan dan
ruang surat pos (mail). Untuk penerapan Regulation 5 dan 6, ruangan di bawah margin line yang disediakan
untuk akomodasi dan keperluan ABK dianggap sebagai ruang penumpang. (Regulation 2)
2.1 Permeabilitas rata-rata uniform untuk Ruang Permesinan dihitung dengan rumus berikut:

,
_

¸
¸ −
+ ·
v
c a
10 85 µ
dengan
a = volume ruang penumpang menurut Regulation 2, yang terletak di bawah margin line dan dalam
batas-batas ruang permesinan
c = volume ruang geladak antara yang terletak di bawah margin line dan dalam batas-batas ruang
permesinan yang dipakai untuk muatan, batubara atau gudang
v = volume seluruh ruang permesinan di bawah margin line
• Ruang di depan dan di belakang Ruang Permesinan
2.2 Permeabilitas rata-rata uniform untuk ruang di depan dan di belakang Ruang Permesinan dihitung
dengan rumus berikut:
v
a
35 63 + · µ
dengan
a = volume ruang penumpang, menurut Regulation 2 yang terletak di bawah margin line dan terletak
di depan atau di belakang Ruang Permesinan
v = volume seluruh ruang di bawah margin line di depan atau di belakang Ruang Permesinan
2.3 Untuk kapal-kapal yang memenuhi persyaratan III/20.1.2, permeabilitas rata-rata uniform untuk ruang di
depan dan di belakang Ruang Permesinan dihitung dengan rumus berikut:
v
b
35 95 − · µ
dengan
b = volume ruangan di bawah margin line dan di atas wrang, alas ganda atau tangki ceruk yang
disediakan dan dipakai untuk tempat muatan, bahan bakar atau batubara, gudang, ruang bagasi dan
surat pos, kotak rantai dan tangki air tawar, di depan atau di belakang Ruang Permesinan.
Panjang kebocoran ruang berisi sama dengan panjang kebocoran ruang kosong dibagi dengan permeabilitas
ruangan tersebut atau
µ
µ
F
F
L
L ·
48
Regulation 6: Permissible length of compartments in passenger ships
2. Faktor penyekatan (Factor of subdivision)
Kapal yang lebih panjang membutuhkan sekat yang lebih banyak dibandingkan kapal yang lebih pendek,
jika lambung timbul sama. Demikian juga kapal yang penumpangnya lebih banyak perlu jaminan
keselamatan yang lebih baik, berarti jarak sekat yang lebih pendek atau jumlah sekat yang lebih banyak.
Untuk mencapai hal-hal di atas, dipakai faktor penyekatan (factor of subdivision). Hasil perhitungan di
atas L

dikalikan dengan faktor penyekatan untuk mendapatkan panjang kompartemen yang diijinkan
(Permissible length of compartment).
3. Criterion of service
Apakah suatu kapal terutama dipakai untuk mengangkut barang atau penumpang, diukur dengan criterion
service.
Sebelum menghitung criterion of service, kita harus menghitung P
1
terlebih dahulu.
L = panjang kapal dalam meter menurut Regulation 2
M = volume Ruang Permesinan dalam m
3
menurut Regulation 2, dengan ditambah bunker minyak
permanen yang boleh terletak di atas alas ganda dan di depan atau di belakang Ruang Permesinan
P = seluruh volume Ruang Penumpang di bawah margin line dalam m
3
menurut Regulation 2
V = seluruh volume badan kapal di bawah margin line dalam m
3
Selanjutnya
N = jumlah penumpang yang akan ditulis dalam sertifikat
K = 0.056L
P
U =
seluruh volume Ruang Penumpang di atas margin line dalam m
3
,
Jika KN <= P + P
U
, maka
KN P ·
1
Jika KN > P + P
U
, maka
KN P
P P P
U
3
2
1
1
·
+ ·
diambil yang besar
Untuk kapal dengan panjang tertentu, factor penyekatan ditentukan oleh criterion of service numeral dan
selanjutnya disebut criterion numeral C
S
. Criterion numeral dihitung sebagai berikut:
P P V
P M
C
S
− +
+
·
1
1
2
72
jika P
1
> P
V
P M
C
S
2
72
+
·
jika P
1
<=P
dengan
C
S
= criterion numeral
Faktor penyekatan
Pengaruh panjang kapal dinyatakan oleh faktor A dan B. Faktor A adalah untuk kapal yang panjang dan
terutama mengangkut barang dan factor B adalah untuk kapal yang pendek dan terutama mengangkut
penumpang. Faktor A dan B dihitung dengan rumus berikut:
18 . 0
60
2 . 58
+

·
L
A
untuk panjang kapal 131 m atau lebih
18 . 0
42
3 . 30
+

·
L
B
untuk panjang kapal 79 m atau lebih
Besarnya faktor penyekatan dihitung sebagai berikut
• Untuk L >= 131 meter, F untuk ruangan di belakang ceruk haluan:
o C
S
<= 23, F = A
49
o C
S
>= 123, F = B
o 23 > C
S
< 123
100
) 23 )( ( − −
− ·
S
C B A
A F
o Jika C
S
>= 45 dan 0.5 < F <= 0.65, maka F = 0.5
o Jika F < 0.4 dan dapat ditunjukkan bahwa tidak mungkin memenuhi harga F ini untuk Ruang
Permesinan, maka F boleh diperbesar, tetapi tidak boleh lebih dari 0.4.
• Untuk 79 <= L < 131 meter, F untuk ruangan di belakang ceruk haluan:
o Jika
13
25 574 . 3 L
S

· dan C
S
= S, F = 1
o C
S
>= 123 F = B
o Untuk S < C
S
< 123
S
S C B
F
S

− −
− ·
123
) )( 1 (
1
o Untuk C
S
< S F = 1
• Untuk L < 79 meter F = 1
Setelah faktor penyekatan didapat, kita hitung panjang yang diijinkan L
P
:
µ
µ
F L
F L L
F
F P
· · .
Penerapan rumus ini dilakukan sepanjang kapal.
Untuk kapal yang melakukan pelayaran international jangka pendek berlaku peraturan-peraturan berikut.
Pelayaran internasional jarak pendek (short international voyage) adalah pelayaran internasional yang
- selama pelayarannya kapal tidak pernah lebih dari 200 mil dari suatu pelabuhan atau tempat lain
untuk menurunkan penumpang dan ABK supaya selamat.
- Jarak antara pelabuhan singgah terakhir dalam negara tempat kapal mulai pelayarannya dengan
pelabuhan akhir pelayarannya maupun jalur pulangnya tidak boleh melebihi 600 mil.
Cara perhitungan berikut ini diberikan oleh Dipl. Ing. F. Shirokauer (1928).
• Untuk sarat penyekatan terdalam, dihitung volume displasemen V
1
dan letak titik apung x
B1
.
• Dibuat garis air datar yang menyinggung garis batas (margin line). Tinggi dari garis dasar (base line)
sampai garis air datar ini disebut D
ML
.
• Kemudian dari titik potong garis air datar dengan AP dan diukurkan ke bawah jarak h sebesar (lihat
PNA I)
T D h
ML
5 . 1 6 . 1 − ·
• Jarak h ini dibagi tiga. Demikian juga dari titik potong garis air datar dengan FP dilakukan hal yang
sama.
• Dari tiap titik dibuat garis air yang menyinggung margin line, sehingga ada 7 garis air
o Untuk tiap garis air dihitung volume displasemen V
2
dan letak memanjang titik apung x
B2
.
o Kemudian dihitung volume air yang masuk v dan letak titik berat air masuk x
V
dengan rumus
di atas.
o Dibuat grafik dengan absis adalah panjang kapal dan ordinat adalah volume
o Ketujuh pasang v dan x
V
digambar pada grafik ini dan dihubungkan membentuk suatu grafik.
Grafik ini menunjukkan besar v untuk sebarang x
V
.
o Jika titik-titik yang didapat terlalu mengumpul sehingga bagian ujung kapal tidak ada
titiknya, ditambah titik (satu atau lebih sesuai kebutuhan) di bawah ujung jarak h di atas.
o Jika titik-titik yang didapat terlalu menyebar sehingga melewati ujung kapal, ditambah titik
(satu atau lebih sesuai kebutuhan) di tengah dua titik yang sudah ada.
• Dibuat grafik

· Adx V
sepanjang kapal dengan A adalah luas station sampai margin line.
GAMBAR
o Ditarik garis tegak ke atas lewat suatu x
V
sampai memotong grafik V. Sebut titik potong ini
titik A.
o Dipilih letak sekat belakang pada sumbu X dan dari sini ditarik garis ke atas sampai
memotong grafik V. Sebut titik potong ini titik B.
50
o Dari titik B dibuat garis datar sampai memotong garis tegak lewat x
V
tadi. Sebut titik potong
ini titik C.
o Dengan bantuan grafik V ditentukan letak sekat depan. Dari sini ditarik garis ke atas sampai
memotong grafik V. Sebut titik potong ini titik D.
o Dari titik D dibuat garis datar sampai memotong garis tegak lewat x
V
tadi. Sebut titik potong
ini titik E.
o Maka luas bidang ABC adalah momen statis volume di belakang x
V
dan luas bidang ADE
adalah momen statis volume di depan x
V
. Hitung res = momen statis volume di belakang x
V
-
momen statis volume di depan x
V
.
o Ulangi untuk dua titik letak sekat belakang, hingga ada res1, res2, res3, tetapi ada res yang
berlawanan tanda (pos, pos, neg atau neg, neg, pos)
o Gambarkan res1 pada absis letak sekat belakang 1, res2 pada absis letak sekat belakang 2,
res3 pada absis letak sekat belakang 3
o Hubungkan ketiga titik dengan suatu kurva. Kurva ini memotong sumbu X di titik yang kita
cari, yaitu letak sekat belakang ruangan yang volumenya = v dan titik beratnya di x
V
.
o Letak sekat depan didapat dengan bantuan grafik V. Jarak sekat belakang ke sekat depan kita
sebut L
F
.
o Cari titik tengah antara sekat depan dan belakang dan dari titik tengah ini gambarkan L
F
ke
atas dengan skala yang sama dengan skala sumbu X.
• Ulangi langkah di atas untuk harga-harga x
V
lain, lalu hubungkan titik ujung atas untuk semua L
F
hingga didapat grafik sepanjang kapal, yaitu grafik panjang bocor (curve of floodable length)
• Masukkan pengaruh permeabilitas dan faktor penyekatan hingga mendapatkan panjang yang
diijinkan (curve of permissible length).
Berdasarkan kurva panjang yang diijinkan, periksalah apakah peletakkan sekat pada kapal sudah memenuhi
syarat.
51
Stabilitas kapal berpenampang trapezium
Lebar geladak = B
DEK
, lebar alas = B
ALAS
, tinggi geladak = H, sarat awal = T
Kapal oleng sebesar θ dengan displasemen tetap, bidang air memotong CL setinggi T
M
.
Luas Penampang semula
DEK ALAS ALAS DEK ALAS AWAL
B
H
T
B
H
T
B B
H
T
B B +
,
_

¸
¸
− · − + · 1 ) (
Luas gading besar =

,
_

¸
¸
+
,
_

¸
¸
− · +
DEK ALAS ALAS AWAL
B
H
T
B
H
T
T B B T 2 ) (
2
1
2
1
Persamaan bidang air
Titik potong bidang air dengan CL: (0, T
M
)
Persamaan bidang air:
M
T z y − · − θ tan
θ tan
M
T z
y

· atau
M
T y z + · θ tan
Perpotongan bidang air dengan sisi kanan
Ujung kanan geladak ) , (
2
1
H B
D E K
, ujung kanan alas ) 0 , (
2
1
A L A S
B .
Persamaan garis sisi kanan: ALAS
ALAS DEK
B
H
B B z
y ·


) (
2
Matrix:
1
1
]
1

¸

− −

H
B B
ALAS DEK
) (
2
1 tanθ
inverse
1
1
]
1

¸


− −
− −
θ
θ
tan 2
1
) (
tan ) ( 2
H
B B
B B H
H
ALAS DEK
ALAS DEK
Titik potong
1
]
1

¸

1
1
]
1

¸


− −
− −
ALAS
M
ALAS DEK
ALAS DEK
B
T
H
B B
B B H
H
θ
θ
tan 2
1
) (
tan ) ( 2
θ tan ) ( 2
) (
ALAS DEK
ALAS M ALAS DEK
KANAN
B B H
HB T B B
y
− −
+ −
·
dan
θ
θ
tan ) ( 2
) tan 2 (
ALAS DEK
ALAS M
KANAN
B B H
B T H
z
− −
+
·
Perpotongan bidang air dengan sisi kiri
Ujung kiri geladak ) , (
2
1
H B
D E K
− , ujung kiri alas ) 0 , (
2
1
A L A S
B − .
Persamaan garis sisi kiri:
ALAS
ALAS DEK
B
H
B B z
y − ·

+
) (
2
Matrix
1
1
]
1

¸



H
B B
ALAS DEK
) (
2
1 tanθ
inverse
1
1
]
1

¸



− +
θ
θ
tan 2
1
) (
tan ) ( 2
H
B B
B B H
H
ALAS DEK
ALAS DEK
Titik potong
1
]
1

¸



1
1
]
1

¸



− +
ALAS
M
ALAS DEK
ALAS DEK
B
T
H
B B
B B H
H
θ
θ
tan 2
1
) (
tan ) ( 2
θ tan ) ( 2
) (
ALAS DEK
ALAS M ALAS DEK
KIRI
B B H
HB T B B
y
− +
− − −
·
dan
θ
θ
tan ) ( 2
) tan 2 (
ALAS DEK
ALAS M
KIRI
B B H
B T H
z
− +

·
Luas kiri
Trapesium ) (
2
1
2
1
K I A L A S K I
y B z −
52
Segitiga ) (
2
1
K I M K I
z T y − −
Jumlah
M K I K I A L A S
T y z B
2
1
4
1

Luas kanan
Trapesium ) (
2
1
2
1
K A A L A S K A
y B z +
Segitiga ) (
2
1
M K A K A
T z y −
Jumlah
M K A K A A L A S
T y z B
2
1
4
1
+ ·
Jumlah seluruhnya ) ( ) (
2
1
4
1
K A K I M K A K I A L A S
y y T z z B + − + +
Karena displasemen tetap, jumlah luas ini harus sama dengan luas semula
AWAL DEK ALAS KA KI M KA KI ALAS
A B
H
T
B
H
T
T y y T z z B ·

,
_

¸
¸
+

,
_

¸
¸
− · + − + + 2 ) ( ) (
2
1
2
1
4
1
θ
2 2
2
tan ) ( 4
4 ) ( 4
ALAS DEK
ALAS ALAS DEK M
KANAN KIRI
B B H
B H B B HT
y y
− −
+ −
· + −
θ
θ
2 2 2
2 2
tan ) ( 4
tan ) ( 2 8
ALAS DEK
ALAS DEK ALAS M
KANAN KIRI
B B H
B B HB H T
z z
− −
− +
· +
Jika harga-harga ini dimasukkan ke dalam persamaan di atas, maka didapat
0 } tan ) ( 4 { tan ) (
4 ) ( 2
2 2 2 2 2
2
1
2 2
· − − − −
+ + −
θ θ
ALAS DEK AWAL ALAS ALAS DEK
M ALAS M ALAS DEK
B B H A B B B H
T H B T B B H
53

0. Nama bagian badan kapal (hull)
Bangunan Atas Lubang Palka Bulwark/pagar Bangunan Atas

Rumah Geladak
Geladak

Rumah Geladak

Sekat blk.

Sisi

Sekat dpn

Sekat blk.

Sisi

Sekat dpn

Bangunan Atas
Geladak

Bangunan Atas

Sisi

Sekat dpn

Sekat blk.

Sisi

Lambung Kiri

Geladak Utama

Sekat Ceruk buritan

Sekat Depan Kamar Mesin

Sekat Ruang Muat

Sekat Ceruk Haluan

Alas Dalam

Alas Lambung Kanan

GAMBAR bagian badan kapal

3

Kapal: suatu bangunan berdinding tipis, bukan benda pejal • lambung (shell) o alas (bottom) o sisi (side) • alas (bottom) o alas tunggal (single bottom) o alas dalam (inner bottom) o alas ganda, dasar ganda (double bottom) • sisi (side) • sekat (bulkhead) o sekat tubrukan (collision bulkhead) o sekat ceruk buritan (after peak bulkhead) o sekat kamar mesin (engine room bulkhead) o dan sebagainya • geladak (deck) o geladak utama (main deck) o geladak antara (tween deck) o geladak cuaca (weather deck) • palkah (hold) dibatasi oleh 2 sekat, 2 sisi, alas dan geladak: ruangan untuk muatan • Ruang Mesin (engine room) dibatasi oleh 2 sekat, 2 sisi, alas dan geladak: ruangan untuk permesinan • lubang palkah (hatchway) o ambang palkah (hatchway coaming) • bangunan atas (superstructure) o akil, agil (forecastle) o anjungan (bridge) o kimbul (poop) • bagian bangunan atas o geladak bangunan atas (superstructure deck) o sisi bangunan atas (sides of superstructure) o sekat ujung bangunan atas (end bulkheads of superstructure) • rumah geladak (deckhouse) o geladak sekoci (boat deck) o geladak navigasi (navigation deck, bridge deck) o geladak kompas (compass deck) o dan sebagainya • bagian rumah geladak o geladak rumah geladak (deck of a deckhouse) o sisi rumah geladak (sides of a deckhouse) o sekat ujung rumah geladak (end bulkheads of a deckhouse) • ceruk (peak) o ceruk buritan (after peak) o ceruk haluan (fore peak)

Nama daerah / lokasi
GAMBAR daerah/lokasi • • • • haluan (bow) buritan (stern) lambung kiri (port) lambung kanan (starboard)

4

Nama bagian konstruksi kapal baja
Konstruksi alas tunggal
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • lunas (keel) o lunas pelat (plate keel) o lunas batang (bar keel) garboard strake pelat alas (bottom plating) centre girder side girder wrang pelat (plate floors)

Konstruksi alas ganda
sama dengan atas ditambah dengan wrang terbuka (open floor) gading alas (bottom angle) gading balik (reversed angle) wrang kedap air (watertight floor) pelat alas dalam (inner bottom plating)

Konstruksi sisi
gading (frame) gading besar (web frame) senta sisi (side stringer)

Konstruksi geladak
balok geladak (deck beam) balok besar geladak (strong beam) cantilever penumpu geladak (deck girder) balok ujung palkah (hatch end beam) ambang palkah (hatchway)

Konstruksi sekat melintang
penegar sekat (bulkhead stiffeners): o tegak (vertical) o datar (horizontal) senta sekat (bulkhead stringer)

Konstruksi sekat memanjang
penegar sekat (bulkhead stiffeners): o melintang (transverse) o memanjang (longitudinal) senta sekat (bulkhead stringer)

Konstruksi bangunan atas dan rumah geladak
sekat ujung (end bulkhead) o penegar sekat (bulkhead stiffeners) dinding samping (side wall) o gading dinding samping (side wall frame) geladak bangunan atas dan rumah geladak (superstructure deck and deckhouse deck) 5

o balok geladak (deck beam) o balok besar geladak (strong deck beam) o penumpu geladak (deck girder) Konstruksi ceruk dan linggi • Linggi o linggi haluan (stem)  linggi haluan pelat (plate stem)  linggi haluan batang (bar stem) o linggi buritan (stern)  linggi buritan pelat (plate sternframe)  linggi buritan batang (bar sternframe) Ceruk haluan o Gading ceruk (peak frame) o Senta sisi (side stringer) o Tiers of beam o Sekat berlubang (wash bulkhead) • 6 .

kita membutuhkan 2 garis acuan yang biasanya disebut system koordinat. tahun 200 SM. Penulis adalah anggota French Academy of Sciences L.0) X GAMBAR segitiga Siapapun yang menggambar mengikuti koordinat yang diberikan di atas. tampak atas yang digambar hanya koordinat y dan z. Paris. Di sini acuannya adalah A. maka sistem sumbu 3 dimensi kita gambar dalam bentuk tampak depan: yang digambar hanya koordinat x dan y. Euler.-7.2) dan titik C(4. titik C(0. Jika kita ingin menyebutkan letak suatu titik dalam bidang secara teliti. titik D’(10. sering dipakai acuan sesuatu yang lain yang sudah diketahui atau dikenal. tampak samping: yang digambar hanya koordinat x dan z. titik E’(10. sumbu Y ke arah kiri dan sumbu Z ke arah atas. jarak titik ke bidang XOZ menjadi harga y dan jarak titik ke bidang XOY menjadi harga z. titik B’(10. titik C’(10. Pierre Bouguer.6) dan gambarnya adalah sebagai berikut: Y C(4.Sejarah singkat • • • • • • • • Archimedes dari Yunani. Petersburg.5.-10.2) A(0. titik B (10. titik E(0. misalnya: Saya duduk di sebelah kanan A. Penulis adalah anggota Russian Academy of Sciences Bernoulli Santacilla Lagrange Frederick Chapman William Froude Sistem koordinat. Misalnya kita punya suatu segitiga dengan titik-titik sudutnya adalah titik A (0. Suatu benda dibatasi oleh titik-titik berikut ini: Titik A (0.3.0).7.-8. titik D(0.6) B(10. Titik A’(10.6). misalnya saya duduk 50 cm di sebelah kanan A.3.10). Karena kita hanya dapat menggambar pada bidang datar.8. bentuk dan penampang Untuk menyebutkan letak sesuatu.-5. St. “Traité du navire. 1746.0).4.3) 7 .4. Kita sebutkan jarak titik ke sumbu X (yang menjadi harga y) dan jarak titik tersebut ke sumbu Y (yang menjadi harga x). akan menghasilkan gambar segitiga yang sama.10). kita perlu menyebutkan jarak. Jarak titik ke bidang YOZ menjadi harga x. 1749.10).2). de sa construction et de ses mouvements”. kita membutuhkan 3 bidang acuan yang membentuk sistem koordinat XYZ. “Naval Architecture”.2). Untuk menyebutkan letak suatu titik dalam ruang.6).10). Tetapi jika kita ingin lebih teliti.10.0. Misalkan kita pilih sumbu X ke arah memanjang benda.0. titik B(0.

jadi ada penampang-penampang yang dibuat sejajar bidang XOY. Penampang-penampang ini dibuat sejajar dengan system sumbu koordinat. Untuk menggambarkan kelengkungan bidang. akan menghasilkan gambar benda yang sama.Benda dibatasi oleh bidang AA’B’BA. bidang ACEDBA. 8 . harus dipakai penampangpenampang sehingga bentuk garis lengkung dapat dinyatakan lebih jelas. bidang BB’D’DB. ada juga yang sejajar bidang YOZ dan disebut station dan yang sejajar bidang XOZ yang disebut buttock plane. bidang A’C’E’D’B’A’. bidang AA’C’CA. Gambar ketiga pandangan adalah sebagai berikut: GAMBAR benda tiga dimensi Siapapun yang menggambar mengikuti koordinat dan bidang batas yang diberikan di atas. bidang EE’D’DE. Maka cara di atas tidak sepenuhnya dapat dipakai. penampang-penampang ini disebut bidang air atau waterplane. Kapal adalah benda 3 dimensi yang dibatasi oleh bidang datar maupun bidang lengkung. bidang CC’E’EC. Dengan demikian kita dapat dengan tepat memberi tahu orang lain bentuk dan ukuran benda yang kita inginkan.

deadrise o bilga (bilge) o jari-jari bilga (bilge radius) o tumblehome o flare o lengkung lintang geladak (camber. half siding o rise of floor. round of beam) GAMBAR waterlines • waterlines plan – pandangan atas o garis air (waterline) o parallel middle body o run o entrance o deck side line o kubu-kubu (bulwark) 9 .GAMBAR Lines Plan Bentuk badan kapal dalam proyeksi • bidang dasar (base line) BL • bidang tengah bujur (centerline) CL • garis tegak belakang (after perpendicular) AP • garis tegak depan (forward perpendicular) FP • bidang tengah lintang (amidships) ⊗ • body plan – pandangan depan-belakang o station o gading (frame) o deck side line o kubu-kubu (bulwark) GAMBAR amidships • amidships o flat of keel.

sheer plan – pandangan samping o buttock lines o lengkung bujur geladak (sheer) o deck center line o deck side line o kubu-kubu (bulwark) Gambar di atas disebut Rencana Garis (Lines Plan) suatu kapal • Ukuran utama kapal (principal dimensions) GAMBAR ukuran utama • panjang kapal (length) o panjang antara garis tegak (length between perpendiculars) LPP. LBP o panjang garis air (length of load water line) LWL o panjang seluruhnya (length over all) LOA lebar kapal (breadth. beam) o lebar dalam (breadth moulded) Bmld o lebar garis air (breadth of waterline) BWL o lebar maksimum/terbesar (maximum breadth) Bmax tinggi geladak. draft) o sarat dalam (draught moulded) Tmld o sarat rancang (designed draught) o sarat ringan (light draught) o sarat haluan (forward draught) o sarat buritan (after draught) lambung timbul (freeboard) • • • • Kedudukan kapal • • sarat rata (even keel) >< trim tegak (upright) >< oleng (heel) 10 . diukur di tengah Lpp (amidships) sarat air (draught. tinggi (depth) o tinggi dalam (depth moulded) Hmld.

letak memanjang titik apung LCB 13. TBM 19. displasemen moulded (volume) 9. Sistem sumbu: z x y GAMBAR sistem sumbu • sumbu X pada perpotongan bidang dasar dengan bidang tengah bujur. LBM 18. positif ke arah atas Kedudukan kapal: tidak trim. Koefisien prismatic 16. positif ke arah haluan kapal • sumbu Y pada perpotongan bidang dasar dengan bidang tengah lintang. Luas garis air WPA 2. titik berat garis air LCF 3. Luas gading besar 7. Satuan: m3 titik berat garis air terhadap bidang tengah lintang (center of flotation) 11 . displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air tawar) 10. TPC 4. Koefisien blok 14. Volume kulit 6. Satuan: m2 momen statis garis air terhadap bidang tengah lintang (midships) M W =2 Y L L W ∫xydx • dengan x = lengan terhadap sumbu Y. Maka dibuat suatu diagram yang menunjukkan harga-harga tersebut sebagai fungsi sarat: kurva hidrostatik. tidak oleng. 1. MTC 20. koefisien gading besar 17.1a. positif ke arah lambung kiri • sumbu Z pada perpotongan bidang tengah bujur dengan bidang tengah lintang. titik berat luasan. luas. DDT • luas garis air (waterplane area) AW =2 L L L W ∫ydx • dengan y = setengah lebar garis air. Perhitungan dan kurva hidrostatik (hydrostatic curves and calculations) – Bagian I Semua koefisien. koefisien prismatic 15. tinggi titik apung KB 12. volume. displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air laut) 11. Kurva Bonjean 8. titik berat volume dan lain-lain berubah harganya menurut sarat kapal. Padahal harga-harga tersebut dibutuhkan untuk berbagai keperluan. WSA 5.

displasemen (gaya) total di air laut (total displacement in salt water) ∆ S W = TT ∇ O ρ S W g dengan ρSW = massa jenis air laut. Jika volume badan kapal di atas garis air sampai geladak dikalikan massa jenis dan percepatan gravitasi. Satuan kN atau MN. Satuan: m ton (force) per centimeter immersion TPC = AWL × ρ g 100 • dengan ρ = massa jenis air (tawar atau laut) dan g = percepatan gravitasi. Sebaliknya AWL = d∇ d∇ dan AST = dz dx = +S ∇ H V • • • • displasemen (volume) total (displacement including shell) ∇ TT O Satuan: m displasemen (gaya) total di air tawar (total displacement in fresh water) ∆ F W = TT ∇ O 3 ρ F W g dengan ρFW = massa jenis air tawar. setengah lingkaran dll. Satuan: m2 volume kulit (shell displacement) Vsh =2 L L W ∫h G tx d dengan t = tebal pelat kulit.AWL. xF = M WY AWL • LCF berharga positif jika letaknya di depan midships. trapezium. Satuan: N/cm GAMBAR Contoh soal Hitung segitiga. hasilnya adalah cadangan gaya apung. cadangan gaya apung (reserve buoyancy): tambahan muatan atau air yang akan menyebabkan kapal tepat tenggelam.LCF . GAMBAR Contoh soal 12 . Satuan: m3 GAMBAR • Contoh soal luas gading besar (midship area) AM = 2 ∫ ydz 0 WL • Satuan: m kurva luas station atau kurva Bonjean (Bonjean curves) AST = 2 ∫ ydz 0 W L 2 Satuan: m • 2 GAMBAR Bonjean Contoh soal displasemen (volume) moulded (moulded displacement) ∇= ∫ AW d = L z 0 W L L L W ∫A S T d x Satuan: m3. luas permukaan basah (wetted surface area) WA S =2 L L W ∫h G d x • dengan hG = half girth. Satuan kN atau MN. Bentuk lain: MWY = LCF.

Jika LCB diturunkan terhadap z. kita dapat: dKB dz B 1  dM ∇X d∇  AWL = =  − zB ( z − zB ) = dz dz ∇  dz dz  ∇ Harga ini tidak mungkin nol. B Bentuk lain: M ∇X =∇K . Jadi tidak ada harga ekstrem. xB = M ∇Y ∇ LCB berharga positif jika terletak di depan midships. longitudinal prismatic coefficient) CP = V LA M • Koefisien garis air (waterplane coefficient) CWP = AWL LWL B • dengan AWL = luas bidang garis air Koefisien prismatik tegak (vertical prismatic coefficient) C PV = V TAWL • Koefisien volumetrik (volumetric coefficient) 13 . K . Satuan: m4 letak memanjang titik apung (longitudinal centre of buoyancy) LCB . Jika KB kita turunkan terhadap z. Satuan: m. zB = C B M ∇X ∇ • Satuan: m. yaitu jika xF – xB = 0. Mengingat bahwa dz = A maka turunan di atas dapat ditulis sebagai WL dx B 1 = ( x F − xB ) d∇ ∇ d∇ Koefisien bentuk (coefficients of form) • GAMBAR koefisien bentuk Koefisien blok (block coefficient) CB = V LPP B T • Koefisien gading besar (midship coefficient) CM = AM BT • dengan AM = luas penampang gading besar Koefisien prismatik (prismatic coefficient. . Satuan: m4 tinggi titik apung (vertical center of buoyancy) V B . momen statis volume terhadap bidang tengah lintang M∇ = Y L L W ∫xA S T d = ∫M W d x z Y 0 W L • dengan x = lengan terhadap bidang tengah lintang.• momen statis volume terhadap bidang dasar W L M∇ = X ∫zA 0 W L d z • dengan z = lengan terhadap bidang dasar. kita peroleh dLCB dx B 1  dM ∇Y d∇  AWL = =  − xB ( xF − xB ) = dz dz ∇  dz dz  ∇ Harga ekstrem terjadi jika turunan ini berharga 0. karena zB selalu kurang dari z.

lebar B = 10 m dan sarat T = 5 m dengan bentuk seperti pada gambar di atas. lebar B = 10 m dan sarat T = 5 m dengan bentuk seperti pada gambar di atas. Hitunglah pada sarat 2m dan 5m: Luas garis air WPA titik berat garis air LCF TPC WSA Volume kulit Luas gading besar Kurva Bonjean displasemen moulded (volume) displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air tawar) displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air laut) tinggi titik apung KB letak memanjang titik apung LCB Koefisien blok koefisien prismatic Koefisien prismatic koefisien gading besar Kapal dengan panjang L = 50 m. Hitunglah pada sarat 2m dan 5m: Luas garis air WPA titik berat garis air LCF TPC WSA Volume kulit Luas gading besar Kurva Bonjean displasemen moulded (volume) displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air tawar) 14 .CV = ∇ (L ) 3 10 Contoh soal. GAMBAR contoh soal Kapal dengan panjang L = 50 m.

Jika hanya dipakai 1 trapesium dengan jarak ordinat h. Hal ini dapat diatasi dengan memakai integrasi numerik yang tidak membutuhkan fungsi. Dalam rumus-rumus di atas. 1983. luas trapezium A menjadi A = 1 h( y 0 + y1 ) 2 Jika dipakai 2 trapesium dengan jarak ordinat h yang sama. “Basic Ship Theory”.. J. tetapi membutuhkan hasil pengukuran. momen dll. pp 23 – 33. + 1 y N ) 2 2 Jika dipakai banyak trapesium dengan jarak ordinat h yang sama untuk semua trapesium: 15 . Tetapi untuk bentuk badan kapal.. • Rumus trapezoid: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan garis lurus. fungsi yang dibutuhkan biasanya tidak diketahui. C. volume. London. jumlah luas trapezium A menjadi trapesium I: trapesium II: Jumlah A0 = 1 h( y0 + y1 ) 2 A1 = 12 h( y1 + y 2 ) A = h( 12 y0 + y1 + 12 y 2 ) A = h( 1 y 0 + y1 + y 2 + . Rawson dan E. untuk menghitung luas.displasemen moulded ditambah displasemen kulit (volume & gaya di air laut) tinggi titik apung KB letak memanjang titik apung LCB Koefisien blok koefisien prismatic Koefisien prismatic koefisien gading besar Metode Integrasi Numerik K. biasanya setengah lebar kapal dan/atau sarat. Tupper. kita memakai integral suatu fungsi. Longman.

N = h 3 3 3 Jika hanya dipakai 1 parabola dengan jarak ordinat h. jumlah luas parabola A menjadi parabola I: A0 = h( y0 + 4 y1 + y 2 ) parabola II: Jumlah 1 3 1 A1 = h( y 2 + 4 y3 + y 4 ) 3 1 A = h( y0 + 4 y1 + 2 y 2 + 4 y3 + y 4 ) 3 16 . Maka y0 = ax02 + bx0 + c = ah2 – bh + c dan seterusnya.• Rumus Simpson I atau rumus 3 ordinat: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan parabola dengan bentuk persamaan y = ax2 + bx + c. Tiap potongan parabola mencakup 3 titik pada garis lengkung. M = h. A = ∫ ( ax 2 + bx + c )dx = −h h 1 3 1 2 2 ax + bx + cx | h h = ah 3 + 2ch − 3 2 3 Misalkan luas dapat dinyatakan sebagai A = Ly0 + My1 + Ny2. luas parabola A menjadi A= 1 h( y0 +4 y1 + y 2 ) 3 Jika hanya dipakai 2 parabola dengan jarak ordinat h yang sama. sehingga didapat 3 persamaan berikut: o koefisien untuk a: o koefisien untuk b: o koefisien untuk c: h2 (L + N ) = h( −L + N ) = 0 → −L + N = 0 2 3 2 h →L+N = h 3 3 L + M + N = 2h 1 4 1 Dari 3 persamaan ini didapat L = h. x1 = 0 dan x2 = h. Untuk mudahnya diambil x0 = -h. Masukkan harga y0. y1 dan y2: A = L ( ah 2 − bh + c ) + Mc + N ( ah 2 + bh + c ) = ah 2 ( L + N ) + bh ( −L + N ) + c ( L + M + N ) Kedua luas ini harus sama besar.

Parabola mencakup 3 titik pada garis lengkung. sumbu koordinat dan ordinat-ordinat ujung.. +4 y n − + y n ) 1 3 • Rumus Simpson II atau rumus 4 ordinat: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan polinom pangkat 3 dengan bentuk persamaan y = ax3 + bx2 + cx + d. dihitung luas gambar yang dibatasi oleh kurva. Jika hanya dipakai 1 polinom pangkat 3 dengan jarak ordinat h. jumlah luas polinom A menjadi polinom I: A0 = h( y0 + 3 y1 + 3 y 2 + y3 ) polinom II: Jumlah • 3 8 3 A1 = h( y3 + 3 y 4 + 3 y5 + y6 ) 8 3 A = h( y0 + 3 y1 + 3 y 2 + 2 y3 + 3 y 4 + 3 y5 + y 6 ) 8 Dalam rumus-rumus di atas.. Tiap potongan parabola mencakup 4 titik pada garis lengkung. luas polinom A menjadi A= 3 h( y 0 +3 y1 +3 y 2 + y3 ) 8 Jika hanya dipakai 2 polinom pangkat 3 dengan jarak ordinat h yang sama.8 minus 1: garis lengkung didekati dengan sebuah potongan parabola dengan bentuk persamaan y = ax2 + bx + c.Jika dipakai banyak parabola dengan jarak ordinat h yang sama untuk semua parabola: A= 1 h( y 0 +4 y1 +2 y 2 +4 y3 +. Jika ingin dihitung luas gambar bagian kiri atau kanan saja. maka kita pakai Rumus Simpson III atau rumus 5. GAMBAR AKIRI = AKANAN Luas bagian kiri saja adalah Luas bagian kanan saja adalah • Rumus Newton-Cotes • Rumus Tchebycheff • Rumus Gauss CONTOH SOAL 1 h(5 y0 + 8 y1 − y 2 ) 12 1 = h(− y0 + 8 y1 + 5 y 2 ) 12 17 .

Dari hubungan Δ = γV dan Δ1 = γV1 didapatkan P = γ (V1 −V ) Adanya tambahan muatan akan menyebabkan titik berat kapal berpindah tempat. Jadi kalau letak titik berat muatan P berimpit dengan titik berat kapal. maka setelah beban P ditambahkan. Jika koordinat titik berat kapal semula adalah xG. koordinat titik berat gabungan menjadi x ∆ + xP P y ∆ + yP P z ∆ + zP P xGB = G yGB = G zGB = G ∆+ P ∆+P ∆+ P Pergeseran titik berat dapat kita hitung sebesar δxG = xGB −xG = P ( x P −xG ) ∆+P δ yG = yGB − yG = P ( z P −zG ) ∆+P P ( y P − yG ) ∆+P δ zG = zGB −zG = Rumus di atas berlaku umum. yP dan zP. untuk muatan P kecil atau besar. kita mulai dengan penambahan muatan kecil tak hingga sebesar dD dan kapal dianggap simetris dan tetap tegak. Pemakaian kurva hidrostatik Perubahan akibat muatan dimuat atau dibongkar • Pergeseran titik berat secara umum Kita lihat kasus ada muatan ditambahkan. Tetapi displasemen akan selalu berubah. akan terjadi perubahan displasemen sebesar dD =γd∆ dan perubahan sarat sebesar 18 . berarti sarat juga selalu berubah dan titik apung juga akan berpindah tempat. maka titik berat tidak akan berpindah tempat. yG dan zG sedang koordinat titik berat muatan P adalah xP. • Tambahan muatan kecil tak hingga Untuk mencari pergeseran titik apung. sehingga displasemen menjadi Δ1: ∆1= ∆ + P Jika muatan dibongkar. lebar B = 10 m dan sarat T = 5 m dengan bentuk seperti pada gambar di atas. Akibat penambahan muatan ini.Kapal dengan panjang L = 50 m. maka P berharga negatif dan Δ1 lebih kecil dari Δ. Pada kapal dengan displasemen Δ ditambahkan muatan sebesar P.

Muatan tambahan kita sebut p. Untuk mencari pergeseran titik apung. • Tambahan muatan besar Untuk penambahan muatan besar. Pergeseran titik apung ini akan nol jika dan hanya jika xF = xB. maka pergeseran titik apung menjadi dx B = dD ( x F −x B ) ∆ dz B = dD ( z F −z B ) ∆ Pergeseran ke arah y tidak ada karena kapal dianggap simetris dan tetap tegak. Pergeseran titik berat dapat dihitung seperti di atas dan menghasilkan: δ xG = xGB −xG = d D ( x P −xG ) ∆ δ yG = yGB − yG = d D ( z P −z G ) ∆ d D ( y P − yG ) ∆ δ zG = zGB −zG = • Tambahan muatan kecil tertentu Jika tambahan muatan itu kecil tetapi tertentu besarnya. kita dapatkan dγ 19 . Pergeseran titik berat dapat dihitung dengan rumus umum di atas. 0 (karena simetris). Hubungan volume displasemen dengan berat displasemen adalah ∇= γ ∆ Kita ambil turunan kedua ruas d∇ = −∆ γ2 Dari hubungan d∇= AWL dz dan mengganti dz dengan dT.5δT. yB dan zB (= KB) dan letak titik berat garis air adalah xF (= LCF). kita memakai bantuan kurva hidrostatik.dz = dD γ AWL Jika letak titik apung semula adalah xB (= LCB). T + 0. • Pengaruh massa jenis air Perubahan kadar garam selalu diikuti oleh perubahan massa jenis air. Kita lihat suatu kapal berlayar dari sungai ke laut atau sebaliknya. yaitu kurva displasemen. dan berdasarkan anggapan di atas maka perubahan sarat adalah δT = p γ AWL Titik berat lapisan air ini terletak pada setengah tinggi lapisan dan di atas titik berat garis air (LCF). kita hitung momen statis volume o terhadap garis yang melewati titik apung semula sejajar sumbu Y: δ V ( xF − xB ) = (V + δ V )δ xB o terhadap garis yang melewati titik apung semula sejajar sumbu X: δT   δ V T + − z B  = (V + δ V )δ z B  2  Dari kedua persamaan ini didapat pergeseran titik apung δx B = p ( x F −x B ) ∆+ p δ zB = p  δT  −zB  T + ∆+ p  2  Tambahan muatan dianggap kecil jika p besarnya tidak lebih dari 10 – 15 % Δ. sehingga koordinat titik beratnya adalah xF (= LCF). LCB dan KB sebagai fungsi sarat. untuk menyederhanakan masalah. dianggap bahwa badan kapal berdinding tegak sekitar garis air yang diperiksa. Pada kurva displasemen dibuat suatu titik yang menunjukkan displasemen awal kapal. Dari titik ini diukurkan ke kanan tambahan muatan sebesar P dan dengan bantuan kurva displasemen dibaca sarat baru serta LCB dan KB baru. sedang gaya beratnya tetap.

maka letak titik apung akan berpindah juga. 20 . Karena sarat berubah.dT = − ∆ dγ AWL γ 2 Mengingat bahwa ∆ = γ C B LBT dan AWL = CW LB maka rumus di atas dapat ditulis sebagai dT C dγ =− B T CW γ Jika kapal berlayar dari air tawar ke air laut yang berat jenisnya lebih besar. berarti dγ > 0 sehingga dT < 0 artinya sarat kapal berkurang.

Second Revision. I. Semyonov – Tyan – Shansky. benda tidak kembali ke kedudukan semula. Ed. Butterworth-Heinemann. pp. dx dx dx Stabil Indiferen / netral Labil Gambar Macam keseimbangan 21 .J. 2001 • --. Stability and Strength. Lewis. kapal selalu mendapat gaya-gaya baik dari muatan yang sedang dibongkar-muat maupun dari benda dan alam sekitarnya: ombak. Construction – Subdivision and stability. “Principle of Naval Architecture”. angin. “SOLAS”. tetapi tetap diam pada kedudukannya yang baru. Moscow. Pendahuluan Pada waktu bongkar muat maupun pada waktu berlayar. • Keseimbangan disebut labil jika setelah pengaruh luar hilang/tidak ada. SNAME. Consolidated Edition. Tupper.194 • V. Jika benda yang dalam keadaan seimbang tadi mendapat gangguan kecil sesaat dari luar. bahkan dapat menyebabkan kapal terbalik. 63 – 138 o George C. pp. gaya-gaya ini akan menjadi semakin besar dan akan menyebabkan oleng dan gerakan lain yang besar dan cepat. arus. pp. Peace Publishers. • Keseimbangan disebut indiferen atau netral jika setelah pengaruh luar hilang/tidak ada. Goldberg. kapal lain atau kandas.. benda bergerak kembali ke kedudukan semula. E. “Statics and Dynamics of the Ship”. 1960? • K. Chapter 3: Subdivision and Damage Stability. Jadi kita perlu tahu kemampuan kapal menghadapi gaya-gaya tersebut dan kemungkinan kapal terbalik. 1988 o Lawrence L. 5th edition. Vol.C. Oxford. Keseimbangan benda kaku Suatu benda dikatakan dalam keadaan seimbang jika jumlah gaya yang bekerja pada benda dan jumlah momen (yang bekerja pada benda) terhadap suatu titik sama dengan nol. Jersey City. “Basic Ship Theory”. Rawson. tetapi bergerak terus menjauhi kedudukan semula. 1997. machinery and electrical installations  Part A – General  Part B – Subdivision and Stability  Part B-1 – Subdivision and damage stability of cargo ships. 143 . 89 – 99. STABILITAS KAPAL Buku Acuan: • Edward V. IMO. Gaya-gaya ini menyebabkan kapal mengalami oleng dan gerakan-gerakan lain. Dalam cuaca buruk. Nickum. o Chapter II – 1. tumbukan dengan dermaga. benda tidak kembali ke kedudukan semula. apa yang akan terjadi? Ada 3 kemungkinan: • Keseimbangan disebut stabil jika setelah pengaruh luar hilang/tidak ada.2. NJ. London. Chapter 2: Intact Stability.

5*H = 4 m dan tinggi titik apungnya adalah 0.Keseimbangan kapal dengan 6 derajat bebas z x y GAMBAR 1 Sistem koordinat Sistem sumbu yang dipakai: sumbu X pos 22ea rah haluan kapal. memutari sumbu // sumbu X. tinggi 8 m dan sarat 5 m. maka gaya apung juga tidak berubah. sumbu Y pos 22ea rah kanan (starboard) kapal dan sumbu Z pos 22ea rah atas. berarti volume displasemen akan tetap. labil atau netral. Volume displasemen tongkang ini adalah 2500 m3. Gambar penampang melintangnya sekarang menjadi: GAMBAR 22 . Tinggi titik beratnya adalah 0. tongkang ini oleng sebesar 5 derajat = 0. Jadi yang perlu dibahas adalah gerakan rotasi memutari sumbu // sumbu X dan Y saja. Y dan Z serta 3 rotasi. • Gerakan translasi ke arah sumbu Z (vertikal) atau heave: keseimbangan stabil • Gerakan translasi ke arah sumbu X dan Y (horisontal) atau surge dan sway: keseimbangan netral atau indiferen • Gerakan rotasi memutari sumbu // sumbu Z (vertikal) atau yaw: keseimbangan netral atau indiferen • Gerakan rotasi memutari sumbu // sumbu X dan Y atau heel dan pitch: tidak tentu. Karena tidak ada perubahan pada berat tongkang dan muatannya. z x y z z y Gambar Derajat bebas kapal terapung Suatu kapal yang terapung bebas mempunyai 6 derajat bebas.5*T = 2. Y dan Z. mungkin keseimbangan stabil. sedang letak memanjangnya adalah 0. Keseimbangan sebuah tongkang Kita lihat sebuah tongkang dengan panjang 50 m. lebar 10 m.087266 radian.5*L = 25 m dari AP. karena keadaan keseimbangannya tidak tertentu. Gambar penampang melintangnya adalah sebagai berikut: GAMBAR Karena suatu sebab. yaitu 3 translasi ke arah sumbu X.5m.

didapat yB = 0.348623 m dan zGB = 3.336 m dan zBB = 2. tetapi berubah.145814 m dihitung dari CL dan zB = 2.48534 m yGB = 0. B dan tan θ dimasukkan.348623 m dan zGB = 3.5 B (TKIRI + TKIRI + B tan θ ) .606301 m dan TKANAN = 5. arah gaya berat maupun gaya apung tidak lagi sejajar CL. sedang ukuran yang lain tetap? Misalkan lebar kapal dirubah menjadi 9 m. sehingga sekarang koordinatnya adalah: B(TKIRI + 2TKANAN ) B (3T + 0.087266 radian.393699 m.TKANAN + TKANAN dihitung dari alas 4 zB = = 3(TKIRI + TKANAN ) 3T Setelah T.984779 m yBB = 0. berarti momen kopel yang ada akan memutar kapal kembali ke kedudukan tegak.Dari gambar dapat kita hitung bahwa luas penampang dalam air adalah A = 0. sedang luas semula A = B.T.5 B tan θ ) yB = = dihitung dari sisi kiri 3(TKIRI + TKANAN ) 3T B (TKANAN − TKIRI ) yB = dihitung dari CL 6(TKIRI + TKANAN ) dan B2 3T 2 + tan 2 θ 2 2 TKIRI + TKIRI .015082 m. Bagaimana kalau lebar kapal kita rubah. sehingga koordinat baru titik berat menjadi: yGB = yGL cos θ + zGL sin θ dan Koordinat titik apung menjadi: dan zGB = − yGL sin θ + zGL cos θ y BB = y BL cos θ + z BL sin θ z BB = − y BL sin θ + z BL cos θ GAMBAR Setelah harga-harga dimasukkan. Demikian juga titik apung berpindah tempat.505167 m.11811 m dan zB = 2.01262 m. kita dapatkan TKIRI = 4.4374 m.5626 m dan TKANAN = 5.506379 m. Selanjutnya yB = 0. Jadi kuncinya adalah mengetahui letak titik apung dalam keadaan oleng. sumbu koordinat kita putar sebesar 5 derajat = 0. 23 .984779 m. dan juga gaya berat ada di sebelah kiri dan gaya apung ada di sebelah kanan. Kemudian sumbu koordinat kita putar sehingga koordinat titik apung dan titik berat menjadi: yBB = 0. Dengan cara seperti di atas. Dari gambar terlihat bahwa lengan kopel sama dengan selisih yGB dan yBB sebesar 0.363705 m dan zBB = 2. yaitu tegak lurus muka air. Dalam keadaan ini. B dan tan θ dimasukkan.484132 m. didapat koordinat titik berat setelah sumbu diputar sebesar yGB = 0. Untuk menghitung lengan momen kopel ini. didapat TKIRI = 4. sehingga kedua gaya ini membentuk momen kopel. dan momen kopel tidak mengembalikan kapal ke kedudukan semula. sehingga supaya luasnya tetap: sarat kiri adalah TKIRI = T − B tan θ 2 dan sarat kanan adalah TKANAN = T + B tan θ 2 Setelah harga T. Maka lengan kopel menjadi -0.

maka dapat dikeluarkan dari integral L (2) vk = tanθ −L ∫ 2 1 2 2 yk • yk dx Integral ini dapat dibaca juga sebagai berikut: y k dx adalah luasan elementer dan 1 2 y k adalah lengan luasan terhadap sumbu X hingga integral itu juga dapat dibaca sebagai momen statis bagian garis air yang keluar terhadap sumbu X. dari segitiga keluar kita dapat vm = k v d vk = 1 2 yk • yk ta n d x θ L sehingga vk = −L ∫ 2 1 2 2 yk • yk tanθ dx Karena tan θ adalah konstan.Oleng kecil dengan displasemen tetap Suatu kapal yang berlayar di laut akan mengalami oleng. Ini berarti bahwa  jika kapal oleng sedemikian sehingga garis potong dua garis air tersebut melalui titik berat garis air tegak dan oleng. maka oleng terjadi pada displasemen tetap. Kita lihat suatu keadaan oleng tetapi tanpa trim. Kapan oleng terjadi pada displasemen tetap? Jika volume baji masuk sama dengan baji keluar. Karena tidak ada perubahan muatan. maka displasemennya tetap 24 . L (3) dan M Sk = −L ∫ 2 1 2 2 yk • yk dx vk = M Sk tan θ vk = vm → M Sk tan θ = M Sm tan θ MS k = S M m dan setelah tan θ dicoret. kita dapatkan (4) Jadi volume baji masuk sama dengan volume baji keluar berarti juga momen statis bagian garis air keluar terhadap sumbu X sama dengan momen statis bagian garis air masuk terhadap sumbu X. z yk Ak ø ym yk tanø Am WL1 ym tanø WL dx y GAMBAR 2 (1) Untuk kapal berdinding tegak.

5b.BH + ( H + 0.5b)bh BH + bh M SB = 0. kapal harus oleng sedemikian sehingga garis potong kedua garis air harus melalui titik berat garis-garis air tersebut.5 B − 0.5h)bh BH + bh 25 .5 H .5b)bh 0.5 H .5h.5h)bh sehingga tinggi titik berat terhadap BL adalah zG 0 = “Muatan” ini kemudian digeser ke sudut kanan. Momen statis gabungan terhadap CL adalah M SC = 0.BH + (−0. Maka letak titik berat kapal adalah yK = 0 dan zK = 0.5b dan zB = H+0.5b)bh sehingga letak titik berat terhadap CL adalah yG 0 = Momen statis gabungan terhadap BL adalah (−0.atau  supaya displasemennya tetap.BH + ( H + 0. Letak titik berat beban adalah yB = -0.5b)bh ( B − b)bh − = BH + bh BH + bh BH + bh 0. Jadi perbandingan pergeseran adalah yG 1 − yG 0 bh = B −b BH + bh (0.5 H .BH + ( H + 0.5 B + 0.5b)bh BH + bh M SB = 0.BH + ( H + 0.5b ke 0.BH + (0.5b)bh (−05 B + 0. Maka letak titik beratnya adalah +0. Pergeseran titik apung pada oleng kecil dengan displasemen tetap GAMBAR 3 Pergeseran muatan Sebuah “kapal” dengan ukuran B x H mempunyai “muatan” dengan ukuran b x h yang terletak di sudut kiri.5H .5H.5h)bh BH + bh sehingga letak titik berat terhadap CL adalah yG1 = Momen statis gabungan terhadap Base Line adalah sehingga tinggi titik berat terhadap BL adalah z G1 = yG 1 − y G 0 = (0. sedang letak titik berat terhadap CL bergeser sejauh Pergeseran titik berat muatan adalah dari -0.5B+0.5B–0.5B-0.5h)bh Ternyata tinggi titik berat terhadap BL tidak berubah.5B+0.5 B + 0. Sumbu Y di BL dan sumbu Z di CL kapal.5 B − 0. Momen statis gabungan terhadap CL adalah M SC = 0.5b atau sebesar B-b.5 B − 0.

z yk 2 2 /3 ym /3 yk ym WL1 WL GAMBAR 4 y Jadi dalam hal kapal oleng tadi. maka titik apung kapal akan bergerak sejajar arah gerak tersebut.Kita lihat suatu kapal yang oleng kecil dengan displasemen tetap. jadi vk g 0 g1 =VB 0 B1 vk g 0 g1 V sehingga (5) B0 B1 = Dari gambar untuk komponen gerakan ke arah Y kita lihat bahwa dari rumus di atas. Besar perubahan momen terhadap sumbu X akibat pergerakan titik apung kapal adalah volume kapal V kali jarak pergerakan titik apung kapal B0 B1 . untuk trim. sehingga L 2 ( g 0 g1 ) y = 2 3 ( yk + ym ) dan v L 2 k didapat vk ( g 0 g1 ) y = 3 2 yk tanθ 2 −L ∫ 1 2 2 k y • yk dx = I xx tan θ V 2 3 tanθ ∫ yk3dx = I xx tanθ −L 2 Jadi pergeseran titik apung ke arah Y besarnya adalah (6) Komponen gerakan ke arah Z adalah L ( B0 B1 ) y = ∆ B = y ( g0 g1 ) z = 2 3 yk ta nθ 1 2 xx sehingga vk ( g 0 g1 ) z = 2 3 yk tanθ tanθ −L ∫ 2 1 2 2 k y • yk dx = I tan2 θ I xx tan 2 θ V Jadi pergeseran titik apung ke arah Z besarnya adalah (7) ( B0 B1 ) z = ∆z B = 1 2 Analog dengan di atas. titik berat baji keluar bergerak ke titik berat baji masuk. Perubahan momen akibat baji dan perubahan momen akibat pergerakan titik apung harus sama besar. Besar perubahan momen terhadap sumbu X akibat pergerakan titik berat baji adalah volume baji v k kali jarak pergerakan titik berat baji g 0 g1 . pergeseran ke arah X adalah (8) ( B0 B1 ) x = ∆x B = I yF V tan θ Untuk sudut kecil tan θ ≈ θ sehingga rumus-rumus di atas dapat disederhanakan menjadi (9) (10) ∆x B = I yF V θ ∆y B = I xx θ V 26 .

Momen inersia suatu bidang terhadap suatu sumbu adalah I = ∫ y 2 dA A dengan A = luas elementer y = jarak luas elementer dA terhadap sumbu acuan Momen inersia suatu 4 persegi panjang alas b dan tinggi h terhadap alasnya adalah I = 13 b h3 . Momen inersia garis air Dalam rumus-rumus pergeseran titik apung selalu dibutuhkan momen inersia garis air. Untuk garis air kapal pada kedudukan tegak dengan sumbu acuan sumbu X memanjang.(11) ∆z B = 1 2 I xx 2 θ V Dengan demikian kita dapat menghitung koordinat titik B jika θ diketahui. Untuk garis air kapal pada kedudukan tegak dengan sumbu acuan sumbu Y melintang. Momen inersia terhadap sumbu yang melalui titik berat dan // sumbu Y bisa didapat dengan rumus pergeseran sumbu I = I − y A (14) dengan AWL =luas garis air y F = jarak titik berat garis air dari sumbu acuan Y 2 y y y F y y 2 F W L Untuk garis air oleng dengan sudut θ tanpa trim yθ = cos θ sehingga 3 I xθ = 2 3 ∫ yθ dx = 2 3 ∫ y y3 I dx = xx 3 cos θ cos 3 θ (15) I xθ = I xx cos3 θ I yθ = 2 ∫ x 2 yθ dx = 2 ∫ x 2 I yy y dx = cos θ cos θ (16) dan (17) I yθ = I yy cos θ I yF θ = I yy cos θ 2 − yF AWL cos θ 27 . lebar elementer adalah dx dan tinggi adalah y sehingga momen inersianya adalah (12) I xx = 2 3 ∫ y 3 dx Sumbu acuan untuk momen inersia ini melewati titik berat garis air. sehingga syarat garis potong melalui titik berat biasanya tidak dipenuhi. sehingga syarat garis potong melalui titik berat sudah dipenuhi. luas elementer adalah ydx dan jarak adalah x sehingga momen inersianya adalah I = ∫ 2 x yx d (13) Sumbu acuan untuk momen inersia ini biasanya tidak melewati titik berat garis air.

Metasenter dan jari-jari metasenter Jika garis kerja gaya apung pada keadaan tegak dan garis kerja gaya apung dalam keadaan miring dilanjutkan. MB0 yang tetap besarnya ini diberi nama jari-jari metasenter. jadi titik M tidak berpindah. keduanya akan berpotongan di suatu titik. 28 . M G θ B0 B WL1 WL θ GAMBAR 4 I xx θ dan jika dianggap segitiga MB0B1 V adalah segitiga siku-siku. MB0 tetap harganya. maka kita dapat B0 B1 = ∆y B = MB 0 sin θ = MB 0θ . harga ini disebut jari-jari metasenter melintang dan besarnya menurut rumus di atas. berarti Kita lihat segitiga MB0B1. Komponen datar dari B0B1 adalah ∆y B = I xx V (18) MB 0 = rT = Dari rumus ini kita lihat bahwa MB0 bukan fungsi θ. Untuk gerak oleng. singkatan dari metasenter. sedang untuk gerak angguk atau trim. besarnya jari-jari metasenter adalah (19) M L B0 = rL = I yF V dan disebut jari-jari metasenter memanjang. Titik potong ini kita beri nama M. Karena panjang kapal beberapa kali lebih besar dari lebarnya. Baik jari-jari metasenter melintang maupun memanjang selalu berharga positif. maka IyF banyak lebih besar dari Ixx sehingga MLB0 juga banyak lebih besar dari MB0. berarti untuk sudut kecil.

Sebaliknya. Ini berarti ada sepasang gaya sama besar (gaya berat dan gaya apung) yang membentuk kopel dan kopel ini disebut momen penegak (righting moment). berarti kapal tidak berusaha kembali ke kedudukan tegak. Momen kopel atau penegak akan memutar kapal makin oleng atau miring. Letak titik metasenter M. jelas bahwa titik apung akan bergeser. Momen kopel akan memutar badan kapal supaya kapal tegak kembali seperti yang diinginkan. Tinggi metasenter Kita lihat suatu kapal yang oleng kecil. Kapal dalam keadaan seimbang stabil. Ada 3 kemungkinan yang dapat terjadi: M G θ B0 θ Bθ V WL WL1 • Kasus 1: garis kerja gaya berat berada di sebelah kanan garis kerja gaya apung karena titik berat kapal letaknya rendah. Terlihat bahwa lengan momen penegak adalah θ (20) l = G Z = M G s i n 29 . jika tidak ada muatan yang bergeser atau muatan cair. V G M B0 θ Bθ V WL1 θ WL • Kasus 3: garis kerja gaya berat berada di sebelah kiri garis kerja gaya apung karena titik berat kapal letaknya tinggi. titik berat G. Momen kopel atau penegak besarnya nol. titik apung B dan beberapa titik lain diberikan dalam gambar. maka titik berat kapal tidak bergeser. Rumus stabilitas memakai metasenter. sedang yang lain kita hindari. garis kerja gaya berat dan gaya apung berimpit dan berada pada CL kapal dan kapal dalam keadaan seimbang atau diam.Momen penegak • Pada waktu kapal tegak. maka disebut momen penegak. M= G θ B0 θ B θ WL1 WL • Kasus 2: garis kerja gaya berat berimpit dengan garis kerja gaya apung karena titik berat kapal letaknya agak tinggi. Pada waktu kapal oleng. GAMBAR 5 Yang kita inginkan tentu saja Kasus 1. dari pembahasan di atas. karena seharusnya akan menegakkan kapal kembali. Kapal dalam keadaan seimbang netral atau indiferen. Kapal dalam keadaan seimbang labil.

Ternyata besar MG menentukan besar lengan stabilitas. Dari gambar kita lihat bahwa tinggi metasenter sama dengan tinggi titik apung ditambah jari-jari metasenter dikurangi tinggi titik berat MG = KB + BM − KG = z B + rT − z G z M G ZG θ ℓ WL1 WL B0 zB Bθ V y GAMBAR 6 atau tinggi metasenter sama dengan tinggi titik M di atas lunas dikurangi tinggi titik berat MG = KM − KG = z M − z G T atau tinggi metasenter sama dengan jari-jari metasenter dikurangi tinggi titik berat di atas titik apung M G = B −G = − M B r a (21) dengan a = BG = KG – KB. berarti KM = KG atau z M = z G Kedua ruas kita kurangi dengan KB menjadi KM − KB = KG − KB sehingga MB = BG atau rT = a Ini berarti bahwa 30 .MG menunjukkan tinggi titik metasenter M di atas titik berat G dan disebut tinggi metasenter melintang. berarti KB < KG atau BG = KG − KB = z G − z B > 0 dan titik M terletak di atas titik G. berarti KB < KG atau z B < z G dan titik M terletak berimpit dengan titik G. Kasus 2: titik B terletak di bawah titik G. berarti KM > KG Kedua ruas kita kurangi dengan KB menjadi sehingga Ini berarti bahwa KM − KB > KG − KB MB > BG atau rT > a M r = D( rT − a )θ > 0 atau arah putar Mr adalah untuk menegakkan kapal kembali atau kapal dalam keseimbangan stabil. Kita lihat kembali ketiga kasus di atas: θ D(r = − )θ a M r =l D =M DG sn i T Kasus 1: titik B terletak di bawah titik G. Momen penegak menjadi (22) untuk θ kecil dan D =γV .

Kasus 3: titik B terletak di bawah titik G. pp 19-20 tinggi metasenter melintang (height of transverse metacentre) TM K = TM B + K B Satuan: m momen inersia garis air (moment of inertia of waterplane) terhadap sumbu Y I Y =2 L L W ∫x 2 yx d • Satuan: m4 momen inersia garis air terhadap sumbu titik berat // sumbu Y IY 0 = Y −L F I ( C )2 A L W • Satuan: m4 jari-jari metasenter memanjang (longitudinal metacentric radius) LBM = IY 0 ∇ • • Satuan: m tinggi metasenter memanjang (height of longitudinal metacentre) LM K =M L B + K B Satuan: m Perubahan displasemen akibat trim (change of displacement due to trim) D T D = −TP ×L F C C LPP • Satuan: N/cm Momen untuk merubah trim (moment to change trim) M TC = ∆TOT GM 100 LPP L dengan GML adalah tinggi metasenter memanjang.M r = D (rT − a )θ = 0 tidak ada momen untuk menegakkan kapal kembali atau kapal dalam keseimbangan netral atau indiferen. 1b. berarti KM < KG atau z M < z G Kedua ruas kita kurangi dengan zB menjadi z M − z B < z G − z B atau rT < a Ini berarti bahwa M r = D (rT − a )θ < 0 atau arah putar Mr akan lebih mengolengkan kapal atau kapal dalam keseimbangan labil. berarti KB < KG atau z B < z G dan titik M terletak di bawah titik G. yang didekati dengan GML ≈ LBM 31 . Perhitungan dan kurva hidrostatik (hydrostatic curves and calculations) – Bagian II • momen inersia garis air (moment of inertia of waterplane) terhadap sumbu X IX =2 4 LW L ∫ 1 3 y 3 dx • Satuan: m jari-jari metasenter melintang (transverse metacentric radius) TBM = IX ∇ • • • Satuan: m metasenter (metacentre) “Basic Ship Theory”.

32 . lihat soal pada Hidrostaik bagian pertama Komponen momen penegak. Pada kapal yang sudah jadi. Stabilitas bentuk dan stabilitas berat Momen penegak dapat juga kita tulis dalam bentuk berikut: (23) M r = D Tθ − D θ = D r a I xx I θ − Da θ = D ( xx − a )θ V V Suku pertama ruas kanan ditentukan oleh Ixx/V yaitu oleh ukuran dan bentuk badan kapal dan karenanya disebut momen stabilitas bentuk dan Ixxθ/V adalah lengan stabilitas bentuk. ukuran dan bentuk badan kapal sudah tertentu.MTC = ∆TOT × LBM 100 LPP Satuan: Nm/cm Untuk Contoh soal. maka keseimbangan akan ditentukan oleh KG. Suku kedua ruas kanan ditentukan oleh D yaitu berat kapal dan muatannya dan a yang sama dengan KG dikurangi KB. yaitu bagaimana kita menyusun muatan di kapal. Jadi di sini ada faktor berat kapal dan KG yang mewakili susunan berat di kapal dan karenanya kita sebut momen stabilitas berat serta aθ adalah lengan stabilitas berat. Jadi bentuk badan kapal dan susunan beratlah yang menentukan apakah suatu kapal pada kondisi pembebanan tertentu akan dalam keseimbangan stabil atau tidak. apakah mengakibatkan KG tinggi atau rendah dan dengan demikian MG akan positif atau negatif.

titik metasenter M tidak lagi diam di tempatnya. dan zM. tetapi juga berpindah tempat. Dengan demikian rumusV rumus di atas akan menjadi (25) xB 2 = xB1 + ∫ rLθ dθ θ1 θ2 33 .Stabilitas pada sudut oleng besar Seperti pada stabilitas sudut kecil. Kemudian sudut oleng ditambah dengan dθ menjadi θ1+dθ. Rumus analitis untuk menghitung koordinat titik apung dan titik metasenter Kita lihat suatu kapal dengan displasemen V dalam keadaan oleng dengan sudut oleng θ1. Berbeda dengan keadaan pada sudut kecil. tujuan perhitungan adalah untuk menentukan koordinat titik apung B. dan zB dan koordinat metasenter xM. Dari yang lalu. maka koordinat titik apung dapat diperoleh dengan θ2 θ2 θ2 I yFθ I xθ I xB 2 = xB1 + ∫ dθ yB 2 = yB1 + ∫ cosθ dθ z B 2 = z B1 + ∫ xθ sin θ dθ V V V θ1 θ1 θ1 Harga (24) sedang I xθ kita sebut rTθ yaitu jari-jari metasenter melintang pada sudut θ V rTθ = I xθ V I yF θ kita sebut rLθ yaitu jari-jari metasenter memanjang pada sudut θ. yB. Jadi untuk menghitung lengan stabilitas statis kita juga perlu mengetahui koordinat titik M pada sudut oleng besar. kita dapat: • perubahan momen statis akibat pergeseran titik berat baji ke arah X adalah displasemen V dikalikan perubahan titik apung ke arah X: I  ∆M yz = V  yFθ dθ  = I yFθ dθ  V    perubahan momen statis akibat pergeseran titik berat baji ke arah Y adalah displasemen V dikalikan komponen datar perubahan titik apung dalam bidang YOZ: I  ∆M xz = V  xθ dθ  cosθ = I xθ cosθ dθ V  • perubahan momen statis akibat pergeseran titik berat baji ke arah Z adalah displasemen V dikalikan komponen tegak perubahan titik apung dalam bidang YOZ: I  ∆M xy = V  xθ dθ  sin θ = I xθ sin θ dθ V  sehingga koordinat titik apung dapat dihitung sebagai berikut xBθ = Vx B + I yFθ dθ V = xB + I yFθ V dθ • y Bθ = z Bθ = VyB + I xθ dθ I = y B + xθ cosθ dθ V V Vz B + I xθ dθ I = z B + xθ sin θ dθ V V Dengan demikian jika kapal oleng dari sudut θ1 sampai sudut θ2. yM. Diketahui pula koordinat titik apung xB.

(28) dan (29) dari θ1 sampai θ2 dan kita dapatkan pers. Dari gambar kita lihat bahwa θ (30) θ (31) d y d z = cs r o d = s r i n d y Mθ = Bθ − θ i y r s n T z Mθ = Bθ + θcs z r o T 34 . Karena B dφ kecil. Pada waktu sudut oleng ditambah sebesar dφ. sehingga ϕϕ ϕ (28) ϕϕ ϕ (29) dan untuk mendapatkan yB2 dan zB2 kita mengintegral pers. zB0) dan keadaan oleng dengan sudut φ sebesar (yB1. (26) dan (27). lalu ditambah lagi sebesar dφ.(26) y B 2 = y B1 + ∫ rTθ cos θ dθ θ1 θ2 (27) z B 2 = z B1 + ∫ rTθ sin θ dθ θ1 θ2 Rumus-rumus di atas dapat kita turunkan secara geometris murni. Kita lihat segitiga kecil B1B2E. serta koordinat titik metasenter M pada keadaan oleng ini sebesar (yMφ. z ym Mφ φ dφ WL Zm rφ B2 B1 zB1 E zB2 y B0 zBo K GAMBAR 7 Diketahui koordinat titik apung pada keadaan tegak sebesar (yB0. zB1). maka ∠ 1B2 E ≈ϕ dan dy = B1 E = B1 B2 cos ϕ dz = EB 2 = B1B2 sin ϕ sedang B1B2 =rϕdϕ . Kita lihat kapal oleng sebesar φ. titik M dianggap tidak berpindah. Selanjutnya kita cari koordinat titik metasenter M. zMφ).

maka selanjutnya kita hitung lengan stabilitas pada sudut oleng θ. Rumus (32) dapat kita bagi menjadi dua bagian. z M θ z G Q R B1 F P θ B0 E θ zB1 . (25) dan (26) dengan θ1 = 0. Komponen momen penegak. Stabilitas bentuk dan stabilitas berat. sedang suku kedua memperhitungkan perubahan harga jari-jari metasenter tersebut.zB0 K y GAMBAR 8 Dari gambar kita lihat bahwa lengan momen penegak adalah dan bahwa B0Q = y Bθ cos θ QR = ( z Bθ − z B 0 ) sin θ l =B y cs o + B (z −B 0 ) s z i n l = GZ = B0Q + QR − B0 E B0 E = a sin θ −s a i n Kalau semua ini kita masukkan dalam rumus di atas. menjadi l =co θ∫rϕ co ϕ ϕ+sin θ∫rϕ sin ϕ ϕ−a sin θ s s d d 0 0 θ θ Dengan memakai rumus trigonometri rumus di atas dapat ditulis menjadi l = ∫ rϕ (cos θ cos ϕ + sin θ sin ϕ) dϕ − a sin θ dan 0 θ (33) l = ∫rϕ cos( θ −ϕ) dϕ −a sin θ 0 θ dan dengan integrasi parsial akhirnya didapat (34) l = ( rT 0 − a ) sin θ + ∫sin( θ −ϕ)drϕ rT 0 rTθ Jika rumus (33) dimasukkan ke dalam momen penegak M r = Dl = γVl dan rθ diganti. dan θ (37) lc = B y cs o + B (z −B 0 ) s z i n l g = sn a i 35 . kita dapat θ θ θ θ θ (32) Kita masukkan lagi rumus-rumus (24). yaitu θ θ θ θ (36) yang ditentukan oleh ukuran dan bentuk badan kapal dan karenanya kita sebut lengan stabilitas bentuk.Lengan stabilitas statis. maka didapat (35) M r = D (r0 − a ) sin θ + D ∫sin( θ −ϕ)drTϕ rT 0 rTθ Suku pertama ruas kanan adalah momen penegak yang dihitung dengan anggapan jari-jari metasenter tetap harganya sebesar r0. Momen penegak Setelah koordinat titik apung dan titik metasenter kita dapatkan.

yang ditentukan oleh letak titik berat kapal dan muatannya dan karenanya kita sebut lengan stabilitas berat. persamaan di atas dapat kita ubah menjadi Pada keadaan tegak. maka (36) dl = MZd θ atau dl = MZ dθ MZ yang diukur dari titik metasenter ke titik potong lengan dengan garis kerja gaya apung. Pada waktu lengan stabilitas statis mencapai maksimum. θ = 0 sehingga sin θ = 0. cos θ = 1. Untuk mencari penggal garis yang mana. lihat gambar berikut: GAMBAR 9 Misalkan pada sudut oleng θ letak titik metasenter M dan titik berat G diketahui. Tinggi umum metasenter Rumus (32) untuk lengan stabilitas kita turunkan terhadap sudut oleng: dl dyBθ dz = cosθ − y Bθ sin θ + Bθ sin θ + ( z Bθ − z B 0 ) cosθ − a cosθ dθ dθ dθ Dengan memakai rumus (27) dan (28). Kalau kita perhatikan. maka M dan titik H berimpit. Demikian juga momen penegak dapat kita bagi menjadi momen stabilitas bentuk dan momen stabilitas berat. dl = MZ = 0 . didapat lengan stabilitas statis pada sudut oleng θ berupa penggal garis GZ. Turunan lengan stabilitas statis terhadap sudut oleng. Rumus analitis untuk lengan stabilitas dinamis. Stabilitas dinamis menggambarkan kerja atau usaha yang dibutuhkan untuk mengolengkan kapal. Jika kemudian sudut oleng ditambah dengan dθ. tetapi untuk garis kerja gaya apung yang baru. Jika dari G ditarik garis tegak lurus garis kerja gaya apung. zBθ = zB0 dan rθ = r0 dan rumus di atas menjadi  dl  = r0 − a = MG    dθ θ =0 dl = rθ − yθ sin θ + ( z Bθ − z B 0 ) cos θ − a cos θ dθ Jadi turunan pertama lengan stabilitas statis terhadap sudut oleng pada keadaan tegak adalah tinggi metasenter awal. yBθ = 0. turunan ini mempunyai satuan panjang. Kerja untuk mengolengkan kapal. titik M tidak berpindah tempat. disebut tinggi umum metasenter. Untuk dθ→0. titik Z akan berpindah ke Z1. Sebagai contoh. berarti titik dθ Stabilitas dinamis. kita lihat setengah silinder berikut: GAMBAR 10 Dalam keadaan diam – gambar kiri – bidang atas akan terletak mendatar. Dalam keadaan miring – gambar tengah – ternyata titik berat akan naik dibandingkan dengan keadaan awal dan dalam keadaan tegak – 36 .

GAMBAR 11 fig 72 hal 188 Pada garis kerja gaya apung dari titik Z ke bawah diukurkan ZN = B0G = a. Usaha ini akan sama besar (tetapi berlawanan tanda) dengan berat dikalikan perpindahan titik berat pada arah vertikal. sehingga untuk mengolengkan kapal dari keadaan tegak ke sudut oleng θ dibutuhkan kerja sebesar E = ∫ Dld ϕ = D ∫ld ϕ 0 0 θ θ Kalau kita bandingkan kedua rumus kerja di atas. Untuk menaikkan titik berat ini jelas dibutuhkan usaha atau kerja. titik tempat reaksi tumpuan bekerja tidak berubah tingginya sehingga kita hanya perlu melihat selisih tinggi titik berat saja. Jadi jarak vertikal titik apung ke titik berat juga selalu berubah dan jarak vertikal inilah yang disebut lengan stabilitas dinamis dan kerja yang dilakukan adalah E = Dl d dengan ld adalah lengan stabilitas dinamis. Marilah kita turunkan rumus lengan stabilitas dinamis. juga dibutuhkan kerja. maka ld = ZBθ − ZN = ZBθ − a ZBθ = GE + QP − FP FP = ( z Bθ − z B 0 ) cos θ s i n − B (z −B 0 ) cs z o − − ( 1 cs o Dari gambar kita lihat bahwa dengan GE = a cos θ QP = y Bθ sin θ ld = B y sehingga θ θ θ θ (38) Kalau lengan dinamis d kita turunkan terhadap θ. Pada setengah silinder di atas. titik tempat reaksi tumpuan adalah titik apung kapal dan selama proses oleng. Kerja untuk mengolengkan kapal juga dapat dilihat sebagai kerja dari suatu momen kopel yang mengolengkan kapal sampai sudut dφ: dE = M r dϕ Jika Mr diganti dengan rumus (22). kita peroleh (37) ld = ∫ld ϕ 0 θ Ternyata lengan stabilitas dinamis adalah integral lengan stabilitas statis sampai sudut θ tertentu dan sebaliknya lengan stabilitas statis adalah turunan pertama stabilitas dinamis terhadap sudut oleng. Tetapi pada kapal. kita dapatkan θ )a 37 . kita dapatkan dE = D ϕ ld Dalam ruas kanan. Karena lengan stabilitas dinamis adalah selisih jarak vertikal titik apung ke titik berat pada kedudukan tegak dengan selisih jarak pada sudut oleng θ. ketinggian titik ini berubah terus. Untuk mengolengkan kapal. yaitu selisih tinggi titik berat pada kedudukan akhir dengan tinggi titik berat pada kedudukan awal. harga l berubah terus menurut harga φ.gambar kanan – titik berat dalam kedudukan tertinggi.

GAMBAR 12 Dalam kedua gambar di atas. tetapi stabilitasnya cukup baik karena luasnya besar dan sudut batas stabilitas yang besar. Jadi untuk menggambar garis singgung di θ = 0. Kurvanya berada di atas garis singgung diikuti titik minimum lalu memotong 38 dl = MG cos θ dθ . karena besar lengan tak dipengaruhi oleh arah oleng kapal. Diagram stabilitas statis dan dinamis. momen penegak dapat juga dipakai sebagai ordinat. GAMBAR 13 Gambar-gambar di atas menunjukkan tiga jenis diagram stabilitas statis untuk bentuk badan kapal atau Rencana Garis yang paling sering dijumpai. Sudut batas stabilitasnya biasanya antara 60 sampai dengan 90 derajat dan MG awalnya antara 0. Pada sudut kecil.0 m atau lebih.4 m atau kurang. tetapi dengan lambung bebas yang besar. Kurvanya berada di atas garis singgung awal dilanjutkan dengan titik balik. Sudut oleng pada saat itu disebut sudut batas stabilitas. • Jenis I adalah bentuk diagram stabilitas statis yang paling sering dijumpai. maka bentuk diagram akan tetap. Meskipun MG awal kecil. • Jenis II adalah bentuk diagram stabilitas statis kapal dengan MG awal yang kecil. Garis singgung awal berarah ke bawah. Kurva jari-jari metasenter Kita dapat membuat diagram lengan stabilitas statis sebagai fungsi sudut oleng θ. Jika kita bandingkan rumus (35) dengan rumus (38). Karena simetri badan kapal. dan karena momen penegak adalah displasemen dikalikan lengan stabilitas dinamis. kita ukurkan MG tegak lurus pada absis 1 rad (=57. • Jenis III adalah bentuk diagram stabilitas statis untuk kapal dengan MG awal negatif. Pada θ = 0. maka kita dapatkan (39) d 2l d = MZ dθ 2 atau turunan kedua lengan dinamis adalah tinggi umum metasenter. Di atas telah disebutkan bahwa ada hubungan diferensial-integral antara lengan stabilitas statis dan dinamis. Diagram macam ini pertama kalinya diperkenalkan oleh Reeds. Pada saat lengan stabilitas statis mencapai maksimum. lengan stabilitas dinamis mencapai maksimum. besar lengan stabilitas statis diberikan oleh rumus (20) l = GZ = MG sin θ Jika kita ambil turunan pertamanya terhadap θ.(38) dl d = y Bθ cos θ + ( z Bθ − z B 0 ) sin θ − a sin θ = l dθ dan ternyata ruas kanan sama dengan rumus (29) untuk lengan stabilitas statis. Gambar atas disebut diagram stabilitas statis dan gambar bawah disebut diagram stabilitas dinamis. maka kurva lengan stabilitas statis akan ada juga untuk sudut negatif dan bentuk di bagian sudut negatif ini akan sama dengan bentuknya di bagian sudut positif. maka kita dapat garis singgungnya. Dalam diagram stabilitas statis. lengan stabilitas statis berharga 0 dan lengan stabilitas dinamis menunjukkan minimum. kita peroleh sehingga kemiringan garis singgung pada θ = 0 adalah MG.5 sampai 1. Demikian juga kerja atau usaha dapat dipakai sebagai ordinat dalam diagram stabilitas dinamis dan merubah skala ordinatnya. Jadi lengan stabilitas statis adalah fungsi ganjil. Jadi memang lengan stabilitas statis adalah turunan pertama lengan stabilitas dinamis. Lewat sudut ini kapal akan terus terbalik (capsize). Kurva ini hanya mempunyai 1 titik balik pada daerah lengan positif. Demikian juga kita dapat membuat diagram lengan stabilitas dinamis sebagai fungsi θ. lengan stabilitas dinamis mempunyai titik belok (inflexion point). hanya skalanya yang berubah. absis adalah sudut oleng dalam derajat dan ordinat adalah lengan stabilitas statis atau dinamis dalam meter. Pada saat lengan stabilitas statis mencapai harga 0 lagi. 0.3 derajat) dan hubungkan ujungnya dengan titik 0.

Ini berarti bahwa pada sudut oleng 00. kapal mempunyai keseimbangan labil dan baru stabil dengan sudut oleng θ1. Persamaan diferensial stabilitas Pengaruh momen luar terhadap stabilitas Perubahan volume dan momen statis pada garis air oleng W1 dθ W z T1 T L1 L x y WL1 d θ WL z h T1 T dT θ θ y GAMBAR 14 Kita lihat kapal tanpa trim dan suatu garis air WL dengan sudut oleng besar θ dan garis air W1L1 dengan sudut oleng θ1 yang berpotongan di titik sembarang. Antara θ dan θ1 serta antara T dan T1 ada hubungan θ1 = θ + dθ T1 = T + d T Tinggi elemen baji h (diukur // sumbu Z) yang dibatasi oleh kedua garis air itu adalah h = dT + y (tan θ1 − tan θ ) = y{tan( θ + dθ ) − tan θ } sehingga ydθ h = dT + cos 2 θ Sedangkan harga z dapat dihitung dengan rumus z = T + h = T + y tan θ setelah suku-suku kecil diabaikan. bentuk ini sekarang tidak diijinkan lagi. Luas elemen baji dS diukur pada proyeksi elemen baji pada bidang XOY atau bidang dasar. Meskipun luas kurva mungkin besar dan sudut batas stabilitasnya besar.sumbu datar pada sudut θ1 diikuti dengan titik balik. Maka perubahan volume dan momen statis adalah dθ dV = ∫ hdS = dT ∫ dS + ydS cos 2 θ ∫ S S S (40) dM yz = ∫ xhdS = dT ∫ xdS + S S dV = SdT + Sy F dθ cos 2 θ dθ cos 2 θ ∫ xydS S (41) dM xz = ∫ yhdS = dT ∫ ydS + S S dM yz = Sx F dT + I xy dθ cos 2 θ dθ y 2 dS cos 2 θ ∫ S 39 . Dengan demikian garis air WL akan memotong sumbu Z pada titik T dan garis air W1L1 memotong sumbu Z pada titik T1.

20o dan seterusnya dibuat melalui satu titik. Di sini akan dijelaskan cara tanpa alat yang dikembangkan oleh A. Ada dua cara yang dikembangkan oleh Krylov: Cara pertama GAMBAR Pada cara pertama.N. Untuk suatu sudut. sehingga garis air harus digeser dengan sudut tetap supaya kedua volume baji sama besar. dT = 0. Besar ε kita hitung dengan rumus v −v ε= m k S Karena semua garis air melalui titik yang sama pada sumbu Z. sehingga dari rumus (40) kita dapat menghitung perubahan volume dv = Faktor pertama ruas kanan dapat dilihat juga sebagai momen statis garis air oleng terhadap sumbu olengnya. Di atas telah dijelaskan bahwa untuk menghitung lengan stabilitas statis pada sudut oleng besar. tetapi untuk ε kecil kesalahannya akan kecil juga. baik yang menggunakan alat (planimeter dan integrator) maupun tanpa alat. vm – vk menjadi vm − vk = ∫ M x dθ 0 sehingga ε menjadi (44) ε= 1 S θ 0 ∫M x dθ Pada rumus ini. yaitu titik potong CL dengan garis air tegak. sehingga dv = M x dθ θ SyF dθ cos2 θ Dengan demikian. berarti bahwa dV = 0 dan pers (40) menjadi dT = − yF dθ cos2 θ Perhitungan lengan-lengan stabilitas menurut Krylov Ada banyak cara untuk menghitung lengan stabilitas. maka tidak ada perubahan sarat. momen statis garis air dapat dihitung dengan rumus 40 . Maka kita perlu membuat garis air dengan displasemen tetap dengan sudut oleng yang berselisih sama. Dari gambar kita dapatkan εS = vm − vk dengan ε = jarak penggeseran garis air S = luas garis air awal Rumus ini hanya tepat jika kapal berdinding tegak. biasanya volume baji masuk tidak akan sama dengan volume baji keluar. dibutuhkan jari-jari metasenter rθ. Besar pergeseran adalah sedemikian sehingga volume air di antara kedua garis air sama dengan selisih volume baji masuk vm dan volume baji keluar vk.(42) dM xz = Sy F dT + Ix dθ cos 2 θ yd θ  yd θ  dM xy = ∫ zhdS = ∫ z  dT + dS = dS = ∫ (T + y tan θ ) dTdS + ∫ (T + y tan θ ) 2 cos θ  cos 2 θ S S  S S = TSdT + Sy F tan θdT + TSy F dθ dθ + I x tan θ 2 cos θ cos 2 θ =(T +Sy F tan θ) d +(T S T Sy F (43) dM xy + I x tan θ) dθ cos 2 θ Untuk kasus khusus dengan kedua garis air WL dan W1L1 membatasi displasemen yang sama. Krylov. garis air dengan sudut oleng 10o.

h) Letakkan titik B pada CL juga sejarak cos 10 o di bawah titik A. garis air baru dibuat melewati garis air sebelumnya. tinggi titik berat KG. Dengan garis air ini. Kemudian koordinat titik apung dihitung dengan rumus (26) dan (27) dan terakhir komponen lengan stabilitas bentuk dan komponen lengan stabilitas berat dihitung dengan rumus (31) dan (32) dan lengan stabilitas dinamis dengan rumus (38). lebar B. sarat T. displasemen V. i) Buat garis air dengan kemiringan 10o melalui titik B. p) Hitunglah lengan stabilitas dengan rumus l = cos θ ∫ rϕ cos ϕdϕ + sin θ ∫ rϕ sin ϕdϕ − a sin θ 0 0 ε θ θ q) Buat grafik lengan stabilitas statis Cara kedua Pada cara kedua. d) Cari titik potong garis air ini dengan Station ujung depan atau ujung belakang. misalnya garis air dengan kemiringan 300 dibuat melalui titik berat garis air dengan kemiringan 200 dan seterusnya. Hitung titik pusat garis air yF. e) Ulangi untuk semua station. Hitung ym dan yk dengan titik awal titik B. j) Cari titik potong garis air ini dengan Station ujung depan atau ujung belakang. m) Hitung momen inersia garis air IXF terhadap sumbu memanjang melewati titik pusat garis air n) Hitung jari-jari metasenter rθ pada 10o. c) Buat garis air dengan keolengan 10o.Mx = 1 2 2 ∫( ym − yk )dx 2 −L / 2 L/2 dan luas garis air S dapat dihitung dengan rumus L/2 S = −L / 2 ∫( y m + yk ) dx Setelah ε didapat. sehingga M ∆θ ε= x S 2 dan Mx adalah momen statis garis air bantu terhadap sumbu oleng. dan Rencana Garis b) Buat garis air dengan keolengan 0o. Titik potong garis air dengan CL kita sebut A. l) Hitung luas garis air S. jadi rumus di atas dapat ditulis sebagai 41 . Faktor pertama ruas kanan sama dengan jarak titik berat garis air bantu terhadap sumbu oleng. Ini dilakukan untuk tiap sudut oleng dan setelah itu dibuat diagram stabilitas statis dan dinamis. Hitung ym dan yk dengan titik awal titik A. dihitung jari-jari metasenter dengan rumus (24). kita menghitung momen inersia garis air oleng dengan rumus Ix = 1 3 3 ∫( ym + yk )dx 3 −L / 2 L/2 Tetapi momen inersia ini tidak melewati titik berat garis air oleng. f) Hitung luas garis air S dan momen statis MX garis air 10o terhadap sumbu memanjang lewat A. jadi masih harus dikoreksi Ix = x − F S I y2 F Setelah momen inersia didapat. … 90o. g) Hitung ε. tinggi titik apung awal KB0. o) Ulangi langkah c) sampai dengan n) untuk sudut 20o. k) Ulangi untuk semua station. momen statis MX dan momen inersia IX garis air 10o terhadap sumbu memanjang lewat B. maka Mx1 = 0. Karena selisih sudut (= 100) cukup kecil. Langkah pelaksanaan a) Diketahui: Panjang L. maka garis air oleng dengan displasemen tetap telah didapatkan. maka integral dalam rumus (44) cukup didekati dengan rumus trapezium 1 ∆θ ε = ( M x1 + M x 2 ) S 2 Karena sumbu oleng dibuat melalui titik berat garis air pertama.

harus dibuat melalui titik berat garis air displasemen tetap. b) Sudut oleng karena kapal berbelok tidak boleh melebihi 100 jika dihitung dengan rumus berikut: M R = 0.2 meter pada sudut oleng 300 atau lebih c) Lengan penegak maksimum sebaiknya terjadi pada sudut oleng lebih dari 300 tetapi tidak kurang dari 250.2 untuk kapal pengangkut kayu dengan muatan di geladak Jika muatan geladak berada • dari bangunan atas sampai bangunan atas • dan selebar kapal (dengan pengurangan untuk “rounded gunwale” yang tidak lebih dari 4% lebar kapal) dan/atau sebatas batang pagar • dan muatan terikat baik sehingga tidak bergerak pada sudut oleng besar maka kriteria berikut boleh dipakai sebagai pengganti 5.radian sampai sudut oleng θ = 400 atau sudut air masuk θf jika sudut ini kurang dari 400.1 di atas: a) Luas gambar di bawah kurva lengan penegak GZ tidak boleh kurang dari 0. 1987 untuk kapal di bawah 100m. d) Tinggi metasenter awal GM0 tidak boleh kurang dari 0. tinggi metasenter GM0 harus positif setelah koreksi permukaan bebas cairan dalam tangki-tangki dan jika sesuai. Setelah itu langkah berikutnya sampai akhir sama dengan langkah pada cara pertama. karena ε biasanya kecil.03 meter. 5. Persyaratan sekarang diambil dari “Intact Stability Criteria for Passenger and Cargo Ships. Rahola. penyerapan air oleh muatan geladak dan/atau pengumpulan es pada permukaan tak terlindung.15 meter. b) Lengan penegak maksimum paling sedikit harus berharga 0. Persyaratan stabilitas kapal utuh menurut SOLAS Yang pertama memberikan kriteria stabilitas untuk kapal adalah o J.1 Untuk kapal barang dan penumpang: a) Luas gambar di bawah kurva lengan penegak GZ tidak boleh kurang dari 0. 5. 1987 Edition”.09 meter. Tetapi untuk menggambar garis air oleng berikutnya.055 meter. b) Lengan penegak GZ harus paling sedikit 0. pada waktu berangkat. Selain itu luas gambar di bawah kurva lengan penegak GZ antara sudut oleng 300 dan 400 atau sudut air masuk θf jika sudut ini kurang dari 400. yang diterbitkan oleh IMO.radian sampai sudut oleng θ = 300. Helsinki. tinggi metasenter tidak boleh kurang dari 0. langkah selanjutnya adalah menghitung lengan stabilitas statis dan dinamis seperti pada cara pertama. Untuk mendapatkan titik berat dan momen inersia garis air.1 meter. “The Judging of the Stability of Ships and the Determination of the Minimum Amount of Stability”.radian sampai sudut oleng θ = 400 atau sudut air masuk θf jika sudut ini kurang dari 400.3 Kriteria tambahan berikut direkomendasikan untuk kapal penumpang a) Sudut oleng akibat penumpang menggerombol di satu sisi kapal seperti dijelaskan dalam Appendix II 2(11) (4 orang per m2) tidak boleh melebihi 100. London. Ada beberapa penyederhanaan yang dapat dilakukan. tidak boleh kurang dari 0. 1939. dan tidak kurang dari 0. Dalam Section 5 Recommended criteria disebutkan: 5. Doctor of Technology thesis.ε= yF ∆θ 2 Setelah ε didapat.08 meter. Ini berarti bahwa letak titik berat garis air displasemen tetap dan titik berat garis air bantu dianggap berjarak sama ke sumbu putar.radian. Selain itu.ton V0 = kecepatan dinas dalam m/s 42 .25 meter c) Pada setiap saat selama pelayaran. dapat diambil harga ym dan yk dari garis air bantu dan bukan dari garis air displasemen tetap.02 V02  d ∆ KG −  L  2 dengan MR = momen pengoleng dalam meter.

anak buahnya. dengan penumpang penuh bersama barang bawaannya tetapi persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja 2) Kapal barang: i. dengan penumpang penuh bersama barang bawaannya. tempat serta berat tertentu di geladak. tetapi harus diingat bahwa MG yang besar mengakibatkan percepatan yang besar juga dan dapat membahayakan kapal. Kapal dalam kondisi datang tanpa muatan.L Δ d KG = panjang garis air dalam m = displasemen dalam metric ton = sarat rata-rata dalam m = tinggi titik berat di atas lunas dalam m Dalam rekomendasi di atas tidak diberikan harga maksimum. dengan persediaan dan bahan bakar penuh ii. Kapal dalam kondisi berangkat tanpa muatan. Kapal dalam kondisi datang dengan muatan penuh. Selain itu. dengan penumpang penuh bersama barang bawaannya dan dengan persediaan dan bahan bakar penuh iv. Kapal dengan ballast dalam kondisi berangkat tanpa muatan. dengan muatan tersebar merata dalam semua ruang muat dan muatan dengan tinggi. peralatannya dan muatannya. dengan muatan tersebar merata dalam semua ruang muat dan dengan persediaan dan bahan bakar penuh ii. Dalam Appendix II Standard Conditions of Loading to be Examined diberikan: 1 LOADING CONDITIONS 1) Kapal penumpang: i. tempat serta berat tertentu di geladak. dengan muatan tersebar merata dalam semua ruang muat dan muatan dengan tinggi. dengan persediaan dan bahan bakar penuh iv. tetapi persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja iii. dengan persediaan dan bahan bakar penuh ii. dengan muatan tersebar merata dalam semua ruang muat. dengan penumpang penuh bersama barang bawaannya. Kapal dalam kondisi datang dengan muatan penuh. tetapi dengan persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja 3) Kapal barang dengan muatan geladak i. Kapal dalam kondisi berangkat dengan muatan penuh. tetapi dengan persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja 43 . Kapal dalam kondisi datang dengan muatan penuh. Kapal dalam kondisi berangkat dengan muatan penuh. tetapi persediaan dan bahan bakar tinggal 10 % saja iii. Kapal dalam kondisi berangkat dengan muatan penuh. ditentukan juga kondisi apa saja yang harus diperiksa stabilitasnya. Kapal dengan ballast dalam kondisi datang tanpa muatan.

Kejadian ini disebut foundering. Ltd.. Tupper. criterion numeral • faktor penyekatan (factor of subdivision) • perhitungan panjang ijin kompartemen o rumus Shirokauer 1928 (PNA vol. Untuk mengatasi hal-hal tersebut. kita harus membatasi banyaknya air yang masuk karena alasan-alasan berikut: • supaya berkurangnya stabilitas melintang sekecil mungkin • supaya kerusakan muatan sesedikit mungkin • supaya kapal jangan kehilangan stabilitas memanjang • supaya berkurangnya gaya apung cadangan sesedikit mungkin Idealnya. Masuknya air dalam satu atau lebih kompartemen mempunyai akibat-akibat berikut: • sarat kapal akan bertambah • trim kapal akan berubah • stabilitas kapal akan berkurang Apapun penyebabnya. R. Tetapi sekat-sekat yang banyak ini akan menyebabkan kapal menjadi lebih besar. menurunkan sekoci penyelamat dan lain-lain akan jauh lebih mudah. maka berjalan (atau berlari).Panjang bocor (floodable length) K. Harrap & Co. hingga lengan stabilitas kapal berkurang. kapal mengalami kebocoran yang makin lama makin besar tanpa kehilangan stabilitasnya sampai kapal tenggelam. Bakker. dan bangunan atas masih terlihat cukup tinggi. kandas. baik itu karena tubrukan. “Basic Ship Theory”. Jika kapal tetap tegak. naik turun tangga. bahaya timbul karena penanganan kapal secara salah. muatan lebih susah dimasukkan ke dalam palkah dan bongkar muat menjadi lebih mahal. Suatu kompromi antara tingkat keselamatan dan segi ekonomis kapal harus ditemukan dan sebagai kompromi disepakati bahwa geladak tidak boleh tenggelam. dapat diberikan sekat melintang dan memanjang dalam jumlah besar. “Bouyancy and Stability of Ships”. maka dalam ruangan itu gaya apung berkurang/hilang dan momen inersia garis air berkurang. kebakaran. Jika suatu ruangan terhubung dengan air laut. Dalam bab ini dibahas pengaruh air yang masuk ke badan kapal. C. Rawson dan E. Scheltema de Heere. J. Pada kapal yang dirancang dengan baik. tindakan musuh atau kerja suatu sistem yang terhubung dengan laut. George G. Bahaya itu dapat menyebabkan kebocoran. kerusakan konstruksi atau gabungannya. 1 pp. bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain lebih susah. • R. A. 1983 Chapter 5 Hazards and Protection. 1970 Kapal dalam masa hidupnya banyak mengalami bahaya. ledakan. 152) o menghitung volume air masuk dan titik beratnya untuk beberapa garis air o membuat kurva kebocoran (floodable length) o menentukan ujung kurva kebocoran o membuat kurva panjang ijin o menentukan letak sekat-sekat • 44 . London. SOLAS 1974 • geladak sekat (bulkhead deck) • margin line • garis air penyekatan (subdivision load line) • permeabilitas suatu ruangan (permeability of a space) • ruang permesinan (machinery space) • ruang penumpang (passenger space) • panjang ijin kompartemen (permissible length of compartments) • criterion of service. F. kecelakaan atau tindakan musuh. Longman. pembuatannya makin mahal. London.

Hal ini dipicu oleh bertambah seringnya kecelakaan di laut yang mengambil korban jiwa yang besar. Sejarah Pada akhir abad 19. Disetujui sistem penyekatan faktorial (factorial system of subdivision) dan dipakai criterion of service. terutama sekat ceruk buritan dan sekat ceruk haluan serta sekat yang memisahkan ruang permesinan dari ruang muat. dan sebagai puncaknya adalah tenggelamnya kapal Titanic dengan korban 1430 jiwa dalam tahun 1912. Tetapi peraturan ini tidak didasarkan pada kemampuan kapal bertahan pada keadaan bocor. Hanya ada sedikit perubahan dan disyaratkan standard yang lebih tinggi untuk kapal yang membawa banyak penumpang dalam pelayaran pendek dan lebih banyak kapal yang harus memenuhi syarat dua kompartemen bocor. Selain itu sekat juga menambah beaya pembangunan dan pemeliharaan serta membatasi panjang muatan yang bisa diangkut. jenis dan penempatan muatan berubah selama satu pelayaran dan dari pelayaran ke pelayaran • perancang tidak tahu apakah ABK akan mengambil tindakan yang tepat dalam keadaan darurat atau sebaliknya akan mengambil tindakan yang justru memperburuk keadaan. kandas atau ledakan di dalam badan kapal dan kejadian-kejadian tersebut cukup sering terjadi. biro klasifikasi menetapkan peraturan empiris untuk pemasangan sekat pada kapal niaga. maka kapal akan tenggelam tanpa terbalik (foundering) atau tenggelam menukik. ada beberapa ketidak pastian yang dihadapi: • letak dan besarnya kerusakan tidak diketahui terlebih dahulu • banyaknya. bangsa-bangsa maritim besar mulai mempelajari masalah ketahanan terhadap bocor. • berkurangnya stabilitas melintang atau bertambah besarnya momen pengoleng. Pada tahun 1913 diadakan konferensi international untuk Safety of Life at Sea yang membahas usulan dari Inggris. Setelah itu ada lagi International Conference on Safety of Life at Sea pada tahun 1948 dan 1960. Jika hal-hal ini tidak bisa dibatasi. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Jerman dan Perancis. Kalau kedua hal ini tidak bisa dibatasi. Sementara itu Intergovernmental Maritime Consultative Organization 45 . Sistem ini banyak kekurangannya dan stabilitas tidak diperhatikan. Pemikiran kedua adalah kemampuan menanggung kerusakan dengan dasar probabilitas. biasanya dengan haluan kapal tenggelam lebih dahulu.KEBOCORAN Pendahuluan Semua kapal menghadapi risiko tenggelam jika badan kapal bocor dan air masuk. tetapi tidak pernah dilaksanakan karena meletusnya Perang Dunia I. Perubahan peraturan yang ada didorong terutama atas tenggelamnya kapal “Andrea Doria” yang dibuat memenuhi persyaratan tahun 1948 yang terbukti tidak cukup baik. maka kapal akan terbalik dan tenggelam Jika kapal tidak mempunyai sekat baik memanjang maupun melintang dan bocor. Pemikiran pertama adalah bahwa keselamatan kapal dapat diukur dari besarnya kerusakan yang dapat ditanggungnya. Pada tahun 1929 diadakan lagi International Conference on Safety of Life at Sea. Pada konferensi 1960 ada usulan konsepkonsep baru yang nantinya akan dibahas. maka pasti kapal akan tenggelam. dan juga alas ganda atau sekat datar lain. Perlindungan yang paling efektif adalah dengan membuat sekat memanjang dan melintang. Masalahnya adalah berapa sekat yang dianggap cukup dan diletakkan di mana? Dalam menjawab pertanyaan ini. Kapal dapat bocor jika terjadi tabrakan. Hasilnya adalah kompromi dari ketiga usulan itu. Akibat utama kebocoran kapal adalah • berkurangnya gaya apung dan perubahan trim.

supaya air luar tepat menyinggung margin line. Persoalannya adalah berapa banyak sekat dan diletakkan di mana? Kita lihat dua keadaan: T B1 V1 V2 B2 B1 V1 GAMBAR 1 Pada keadaan I. kita dapat rumus untuk titik berat gabungan: xB 2 = V1 x B1 + vx V V1 + v 46 . IMCO mengeluarkan peraturan untuk bulk chemical carriers dan liquefied gas carriers. Sebelum tahun 1970. Menurut perjanjian. Semua peraturan ini tidak lagi mengikuti sistem faktorial. Dari fisika. ruangan tersebut bocor dan air masuk sehingga sekarang air di luar menyinggung margin line. kita perlu mengetahui volume displasemen pada kedua keadaan itu. mobile offshore drilling unit (MODU) dan offshore supply vessel. Pada keadaan II. kapal pada sarat rancang dengan sarat T1. tetapi yang digambar hanya dua. lalu untuk tanker. jarak ini diambil 76 mm (atau 3 inci) dan garis yang sejajar geladak ini disebut garis batas atau margin line. Ada beberapa sekat di kapal ini. Peraturan yang berlaku sekarang dimuat dalam SOLAS Consolidated Edition 2000. meskipun hanya sedikit. membatasi suatu ruangan kosong. Dasar pemikiran Kapal dianggap masih belum tenggelam jika geladaknya masih berada di atas air. di mana kedua sekat harus diletakkan? Keadaan II dapat kita lihat sebagai gabungan keadaan I dan air yang masuk. Maka banyaknya air yang masuk adalah v = 2 −1 V V Jika kedua sekat dapat kita geser-geser dengan volume tetap sama dengan v. tetapi berdasarkan konsep-konsep baru tersebut di atas. Untuk mengetahui banyaknya air yang masuk. Di atas sudah disebut bahwa cara paling efektif supaya kapal tidak mudah tenggelam adalah dengan membuat sekat-sekat lintang.dibentuk pada tahun 1958 yang bernaung di bawah PBB dan studi mengenai hal-hal di atas dapat dilakukan lebih intensif. kita sebut V1 dan V2. peraturan yang ada hanya untuk kapal penumpang (banyaknya penumpang paling sedikit 12 orang) dan kapal tanker. Setelah tahun itu. Untuk kapal ikan besar ada konvensi 1977 kemudian juga untuk kapal-kapal khusus lain.

Masih ada beberapa definisi yang diambil dari SOLAS 1974 Chapter II-1 Construction – Subdivision and stability. paling sedikit 76 mm di bawah permukaan atas geladak sekat Pembahasan di atas mengandaikan bahwa ruang yang bocor itu kosong. Dalam praktek jarang terjadi bahwa ruang muat sama sekali kosong dalam suatu pelayaran. bahwa momen statis suatu luasan atau volume terhadap sumbu yang melalui titik beratnya sama dengan nol. semua volume diketahui atau dapat dihitung. Karena itu waktu perhitungan dilakukan. Adanya muatan dan/atau benda lain tentu saja 47 . Cara ini dapat kita ulang sehingga kita mengetahui letak pasangan sekat untuk sebarang xV. volume air yang masuk bisa lebih banyak untuk air sampai menyinggung margin line. Part A – General: Regulation 2 Definitions • sarat penyekatan terdalam (deepest subdivision load line): sarat terbesar yang diijinkan persyaratan penyekatan yang berlaku untuk suatu kapal • panjang kapal adalah panjang garis air pada sarat penyekatan terdalam • geladak sekat (bulkhead deck): geladak teratas yang dicapai oleh semua sekat lintang. Jadi sekat depan dan sekat belakang harus kita letakkan sedemikian sehingga momen statis volume di belakang xV VB MB = ∫ ldV 0 sama besar dengan momen statis volume di depan xV M D = ∫ldV 0 VD dengan jumlah volume sama dengan v. Panjang ruangan atau jarak sepasang sekat yang bersebelahan sebagai hasil perhitungan di atas disebut panjang kebocoran (floodable length). juga xB1 dan xB2 sudah dihitung. machinery and electrical installations.Jadi kita perlu mencari LCB dari kedua keadaan tersebut. untuk keadaan I kita sebut xB1 dan untuk keadaan II kita sebut xB2 diukur dari AP misalnya. • garis batas (margin line): garis yang dibuat pada sisi kapal. Dalam persamaan ini. Dari pembahasan di atas kita lihat bahwa jika sarat makin rendah. Jadi jarak sekat banyak ditentukan oleh besar sarat. V dVH dVB x AP dx xB xH dV FP Gambar 2 Dari fisika kita juga tahu. sehingga jarak pasangan sekat bisa lebih jauh dan sebaliknya. sehingga xV dapat dihitung. sejak awal sarat ini harus sudah ditentukan dan disebut sarat penyekatan (subdivision load line).

yang terletak di bawah margin line dan dalam batas-batas ruang permesinan c = volume ruang geladak antara yang terletak di bawah margin line dan dalam batas-batas ruang permesinan yang dipakai untuk muatan. dinyatakan dalam % diberi tanda µ (mu). Harga permeabilitas berbagai ruangan tentu saja berbeda-beda. bahan bakar atau batubara. Jika banyaknya air yang masuk berkurang. SOLAS 1974 Chapter tersebut di atas Part B – Subdivision and stability. Perbandingan volume air yang bisa masuk dalam ruangan berisi dengan volume ruang kosong disebut permeabilitas (permeability).1 Permeabilitas rata-rata uniform untuk Ruang Permesinan dihitung dengan rumus berikut: µ = 85 +10   a −c    v  dengan a = volume ruang penumpang menurut Regulation 2. di depan atau di belakang Ruang Permesinan. Untuk penerapan Regulation 5 dan 6.1. tergantung apa isi ruangan tersebut. ketel yang melayani permesinan penggerak. gudang. permeabilitas rata-rata uniform untuk ruang di depan dan di belakang Ruang Permesinan dihitung dengan rumus berikut: µ = 95 −35 b v dengan b = volume ruangan di bawah margin line dan di atas wrang. gudang bahan makanan dan ruang surat pos (mail).2. gudang. menurut Regulation 2 yang terletak di bawah margin line dan terletak di depan atau di belakang Ruang Permesinan v = volume seluruh ruang di bawah margin line di depan atau di belakang Ruang Permesinan 2. dan berisi motor penggerak utama dan bantu.2 Permeabilitas rata-rata uniform untuk ruang di depan dan di belakang Ruang Permesinan dihitung dengan rumus berikut: µ = 63 + 35 a v dengan a = volume ruang penumpang. ruangan di bawah margin line yang disediakan untuk akomodasi dan keperluan ABK dianggap sebagai ruang penumpang.3 Untuk kapal-kapal yang memenuhi persyaratan III/20. batubara atau gudang v = volume seluruh ruang permesinan di bawah margin line • Ruang di depan dan di belakang Ruang Permesinan 2. ruang bagasi dan surat pos. tidak termasuk ruangan bagasi penumpang. (Regulation 2) Ruang penumpang (passenger spaces) adalah ruangan-ruangan yang disediakan untuk akomodasi dan keperluan penumpang. ini berarti bahwa jarak antara sekat lintang dapat diperbesar sebelum air di luar mencapai margin line. (Regulation 2) 2. kotak rantai dan tangki air tawar. Panjang kebocoran ruang berisi sama dengan panjang kebocoran ruang kosong dibagi dengan permeabilitas ruangan tersebut atau LFµ = LF µ 48 .mengakibatkan banyaknya air yang bisa masuk berkurang. dan semua bunker permanen penyimpan batubara (permanent coal bunker). alas ganda atau tangki ceruk yang disediakan dan dipakai untuk tempat muatan. menentukan: Regulation 5: Permeability in passenger ships • Ruang Permesinan Ruang permesinan (machinery space) meliputi ruangan dari bidang dasar (moulded base line) sampai ke margin line dan antara dua sekat lintang kedap air yang terjauh. Untuk kapal yang membawa penumpang lebih dari 12 orang.

Demikian juga kapal yang penumpangnya lebih banyak perlu jaminan keselamatan yang lebih baik. jika lambung timbul sama.3 0 +0. kita harus menghitung P1 terlebih dahulu.Regulation 6: Permissible length of compartments in passenger ships 2. L = panjang kapal dalam meter menurut Regulation 2 M = volume Ruang Permesinan dalam m3 menurut Regulation 2. F=A 49 . berarti jarak sekat yang lebih pendek atau jumlah sekat yang lebih banyak. dipakai faktor penyekatan (factor of subdivision). Untuk mencapai hal-hal di atas. Criterion numeral dihitung sebagai berikut: C S = 72 M +2P 1 V +P −P 1 jika P1 > P C S = 72 M +2 P V jika P1 <=P dengan CS = criterion numeral Faktor penyekatan Pengaruh panjang kapal dinyatakan oleh faktor A dan B. Faktor A adalah untuk kapal yang panjang dan terutama mengangkut barang dan factor B adalah untuk kapal yang pendek dan terutama mengangkut penumpang. F untuk ruangan di belakang ceruk haluan: o CS <= 23.18 L −42 Besarnya faktor penyekatan dihitung sebagai berikut • Untuk L >= 131 meter. 3. factor penyekatan ditentukan oleh criterion of service numeral dan selanjutnya disebut criterion numeral CS. Sebelum menghitung criterion of service. Jika KN <= P + PU. maka P =N K 1 Jika KN > P + PU. Criterion of service Apakah suatu kapal terutama dipakai untuk mengangkut barang atau penumpang. Faktor penyekatan (Factor of subdivision) Kapal yang lebih panjang membutuhkan sekat yang lebih banyak dibandingkan kapal yang lebih pendek. Faktor A dan B dihitung dengan rumus berikut: A= 58 . maka P1 = P + PU P1 = 2 3 KN diambil yang besar Untuk kapal dengan panjang tertentu.18 L −60 untuk panjang kapal 131 m atau lebih untuk panjang kapal 79 m atau lebih B= 3 .056L 3 PU = seluruh volume Ruang Penumpang di atas margin line dalam m .2 +0. dengan ditambah bunker minyak permanen yang boleh terletak di atas alas ganda dan di depan atau di belakang Ruang Permesinan P = seluruh volume Ruang Penumpang di bawah margin line dalam m3 menurut Regulation 2 V = seluruh volume badan kapal di bawah margin line dalam m3 Selanjutnya N = jumlah penumpang yang akan ditulis dalam sertifikat K = 0. diukur dengan criterion service. Hasil perhitungan di atas LFµ dikalikan dengan faktor penyekatan untuk mendapatkan panjang kompartemen yang diijinkan (Permissible length of compartment).

6 DML −1. kita hitung panjang yang diijinkan LP: LP = LFµ. Dibuat grafik V =∫ Adx sepanjang kapal dengan A adalah luas station sampai margin line. F. 13 o CS >= 123. o Jika titik-titik yang didapat terlalu mengumpul sehingga bagian ujung kapal tidak ada titiknya. o Dipilih letak sekat belakang pada sumbu X dan dari sini ditarik garis ke atas sampai memotong grafik V. Sebut titik potong ini titik B. maka F = 0.5 o Jika F < 0. Dari tiap titik dibuat garis air yang menyinggung margin line.5 < F <= 0.F = LF F µ Penerapan rumus ini dilakukan sepanjang kapal. dihitung volume displasemen V1 dan letak titik apung xB1. Demikian juga dari titik potong garis air datar dengan FP dilakukan hal yang sama. Sebut titik potong ini titik A. Ing. tetapi tidak boleh lebih dari 0.574 − 25 L dan CS = S. F untuk ruangan di belakang ceruk haluan: o 23 > CS < 123 F = A − o Jika S = 3.65. 50 .Jarak antara pelabuhan singgah terakhir dalam negara tempat kapal mulai pelayarannya dengan pelabuhan akhir pelayarannya maupun jalur pulangnya tidak boleh melebihi 600 mil. . Shirokauer (1928). Cara perhitungan berikut ini diberikan oleh Dipl. Grafik ini menunjukkan besar v untuk sebarang xV. Tinggi dari garis dasar (base line) sampai garis air datar ini disebut DML.• ( A − B)(C S − 23) 100 o Jika CS >= 45 dan 0. • Untuk sarat penyekatan terdalam.4.4 dan dapat ditunjukkan bahwa tidak mungkin memenuhi harga F ini untuk Ruang Permesinan. Untuk 79 <= L < 131 meter. • Kemudian dari titik potong garis air datar dengan AP dan diukurkan ke bawah jarak h sebesar (lihat PNA I) h =1. o Dibuat grafik dengan absis adalah panjang kapal dan ordinat adalah volume o Ketujuh pasang v dan xV digambar pada grafik ini dan dihubungkan membentuk suatu grafik. ditambah titik (satu atau lebih sesuai kebutuhan) di bawah ujung jarak h di atas. sehingga ada 7 garis air o Untuk tiap garis air dihitung volume displasemen V2 dan letak memanjang titik apung xB2. o Jika titik-titik yang didapat terlalu menyebar sehingga melewati ujung kapal.selama pelayarannya kapal tidak pernah lebih dari 200 mil dari suatu pelabuhan atau tempat lain untuk menurunkan penumpang dan ABK supaya selamat.5T • • • Jarak h ini dibagi tiga. Untuk kapal yang melakukan pelayaran international jangka pendek berlaku peraturan-peraturan berikut. • Dibuat garis air datar yang menyinggung garis batas (margin line). ditambah titik (satu atau lebih sesuai kebutuhan) di tengah dua titik yang sudah ada. GAMBAR o Ditarik garis tegak ke atas lewat suatu xV sampai memotong grafik V. F=B F=1 o CS >= 123 F=B F =1− (1 − B )(C S − S ) 123 − S o Untuk S < CS < 123 o Untuk CS < S F=1 • Untuk L < 79 meter F=1 Setelah faktor penyekatan didapat. o Kemudian dihitung volume air yang masuk v dan letak titik berat air masuk xV dengan rumus di atas. maka F boleh diperbesar. Pelayaran internasional jarak pendek (short international voyage) adalah pelayaran internasional yang .

51 . neg. Jarak sekat belakang ke sekat depan kita sebut LF. • Ulangi langkah di atas untuk harga-harga xV lain. Sebut titik potong ini titik E. yaitu letak sekat belakang ruangan yang volumenya = v dan titik beratnya di xV. o Cari titik tengah antara sekat depan dan belakang dan dari titik tengah ini gambarkan LF ke atas dengan skala yang sama dengan skala sumbu X. o Ulangi untuk dua titik letak sekat belakang. lalu hubungkan titik ujung atas untuk semua LF hingga didapat grafik sepanjang kapal. res2 pada absis letak sekat belakang 2. o Letak sekat depan didapat dengan bantuan grafik V. res3. res2. Kurva ini memotong sumbu X di titik yang kita cari. Dari sini ditarik garis ke atas sampai memotong grafik V. Sebut titik potong ini titik D. periksalah apakah peletakkan sekat pada kapal sudah memenuhi syarat. o Maka luas bidang ABC adalah momen statis volume di belakang xV dan luas bidang ADE adalah momen statis volume di depan xV. tetapi ada res yang berlawanan tanda (pos. hingga ada res1. Hitung res = momen statis volume di belakang xV momen statis volume di depan xV. pos. Berdasarkan kurva panjang yang diijinkan. o Dengan bantuan grafik V ditentukan letak sekat depan. res3 pada absis letak sekat belakang 3 o Hubungkan ketiga titik dengan suatu kurva. Sebut titik potong ini titik C. yaitu grafik panjang bocor (curve of floodable length) • Masukkan pengaruh permeabilitas dan faktor penyekatan hingga mendapatkan panjang yang diijinkan (curve of permissible length). neg atau neg. pos) o Gambarkan res1 pada absis letak sekat belakang 1.o Dari titik B dibuat garis datar sampai memotong garis tegak lewat xV tadi. o Dari titik D dibuat garis datar sampai memotong garis tegak lewat xV tadi.

bidang air memotong CL setinggi TM. tinggi geladak = H.  − ( BDEK − B ALAS )  1   H  −2 tan θ     tanθ   2  −1  H − ( BDEK − B ALAS )  inverse 2 H − ( BDEK − B ALAS ) tanθ  H  Titik potong  − ( BDEK − B ALAS )  H 1   − TM   H   2 H − ( BDEK − B ALAS ) tanθ  −2 tanθ   BALAS    y KANAN = ( BDEK − B ALAS )TM + H ALAS B 2 H −( BDEK − B ALAS ) tan θ dan z KANAN = H ( 2TM + B ALAS tan θ) 2 H − ( BDEK − B ALAS ) tan θ Perpotongan bidang air dengan sisi kiri Ujung kiri geladak (− 1 BD E K. sarat awal = T Kapal oleng sebesar θ dengan displasemen tetap. ujung kanan alas ( 1 2 2 Persamaan garis sisi kanan: Matrix: 2y − z ( BDEK − B ALAS ) = B ALAS H B A L A S. ujung kiri alas (− 1 B A L A S. Luas Penampang semula B AWAL = B ALAS + T T  ( B DEK − B ALAS ) = 1 − H H  T  B DEK B ALAS + H   T  T ) = 1 T   2 − B ALAS + B DEK 2  H H  Luas gading besar = 1 T ( B AWAL + B ALAS 2     Persamaan bidang air Titik potong bidang air dengan CL: (0.0) . TM) y tan θ − z = −TM Persamaan bidang air: z − TM y= atau z = y tan θ + TM tan θ Perpotongan bidang air dengan sisi kanan Ujung kanan geladak ( 1 BD E K. H ) .0) . lebar alas = BALAS. H ) .Stabilitas kapal berpenampang trapezium Lebar geladak = BDEK. 2 2 z ( BDEK − B ALAS ) = −B ALAS H Persamaan garis sisi kiri: 2 y + Matrix  tanθ   2  −1  ( BDEK − B ALAS )   H   ( BDEK − B ALAS ) H  inverse H 2 H + ( B DEK − B ALAS ) tan θ  −2   1   − TM    tan θ   − B ALAS   dan z KIRI =  1  tan θ   Titik potong  ( BDEK − B ALAS ) H  H 2 H + ( B DEK − B ALAS ) tan θ  −2  y KIRI = −( B DEK − B ALAS )TM − H ALAS B 2 H +( B DEK − B ALAS ) tan θ H (2TM − B ALAS tan θ) 2 H + ( B DEK − B ALAS ) tan θ Luas kiri Trapesium 1 1 2 KI 2 z ( BA L A S− y K I) 52 .

maka didapat 2 2 H ( B DEK − B ALAS )TM + 4 B ALAS H 2TM + 1 2 2 H ( BDEK − B ALAS ) B ALAS tan 2 θ − AAWAL {4 H 2 − ( BDEK − B ALAS ) 2 tan 2 θ } = 0 53 . jumlah luas ini harus sama dengan luas semula   T  T 1 1 1 BDEK  = AAWAL B ALAS + 4 B ALAS ( z KI + z KA ) + 2 TM ( − y KI + y KA ) = 2 T   2 −   H H   − y KIRI + y KANAN = 4 HT M ( B DEK − B ALAS ) + 4 H 2 B ALAS 4 H 2 − ( B DEK − B ALAS ) tan 2 θ 1 1 KA 2 KA 2 ALAS 1 M 2 KA KA 1 1 4 ALAS KA 2 KA M z KIRI + z KANAN = 8TM H 2 + 2 HB ALAS ( B DEK − B ALAS ) tan 2 θ 4 H 2 − ( B DEK − B ALAS ) 2 tan 2 θ Jika harga-harga ini dimasukkan ke dalam persamaan di atas.Segitiga Jumlah Luas kanan Trapesium Segitiga − 12 y K I(TM − z K I) 1 4 BA L A Sz K I − 1 yK ITM 2 z ( B +y ) y (z − T ) Jumlah = B z + y T 1 1 Jumlah seluruhnya ( 4 B A L A S z K I + z K A) + 2 TM (− y K I + y K A) Karena displasemen tetap.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->