P. 1
MAKALAH GERONTIK ELIMINASI

MAKALAH GERONTIK ELIMINASI

|Views: 2,001|Likes:

More info:

Published by: Love AdaBand Part II on Dec 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.BIODATA
  • 2.STATUS KESEHATAN SAAT INI
  • 3. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
  • 4. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
  • 5.SUMBER / SISTEM PENDUKUNG YANG DIGUNAKAN
  • 6.TINJAUAN SISTEM
  • 7.POLA AKTIVITAS SEHARI – HARI a.Makan dan Minum
  • 8.PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL
  • 9.PENGKAJIAN LINGKUNGAN SOSIAL
  • 10.PENGKAJIAN STATUS MENTAL GERONTIK
  • 11.PENGKAJIAN LINGKUNGAN SOSIAL
  • 12.PENGKAJIAN KESEIMBANGAN UNTUK LANSIA
  • 13.PENGKAJIAN LINGKUNGAN FISIK

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
hanya atas kehendak-Nyalah penyusunan makalah asuhan keperawatan dengan
judul “Asuhan Keperawatan Lansia Pada Ny.P Dengan Gangguan Eliminasi
(BOWEL)
” ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran Keperawatan
Gerontik I (KJR 209) tahun ajaran 2003-2004. Setelah melalui beberapa tahapan
antara lain penentuan topic dan judul, penyusunan kerangka, pengumpulan data
hingga pada analisis data. Akhirnya makalah asuhan keperawatan ini dapat
diselesaikan dengan baik.

Makalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik apabila tidak didukung
oleh beberapa pihak. Oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1.Ibu Hj. Isnaeni DTN, SKM, M. Kes, Selaku Direktur Poltekes Malang
2.Bapak Imam Subekti, Skp. Selaku koordinator ilmu keperawatan gerontik.
3.Ibu Lenny Saragih, SKM, Mkes. Selaku dosen pembimbing dalam
penyusunan makalah ini.
4.Rekan-Rekan Mahasiswa Dan Seluruh Pihak Yang Telah Membantu
Penyusunan Tugas Makalah Ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat penyusun harapkan. Dan
makalah ini penyusun persembahkan kepada para pembaca. Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Malang, Juni 2004

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Daftar Pustaka

: ……………………..…………………….ii

Daftar Isi

: ………………………..…………………iii

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

: ………………….………………………01

B.Tujuan Penulisan

: ..………...................................................02

C.Batasan Penulisan

: ……………………….………………....02

BAB II TINJAUAN TEORI

A.Pengertian

: …………………….……………...…….03

B.Eliminasi

: ……………………….……………..…..17

C.Asuhan Keperawatan

: ……………………….…………………20

D.Eliminasi Bowel

: ……………………………….……...….21

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Proses menua merupakan proses yang terus menerus secara alamiah
dan dimulai sejak lahir dan umumnya dialami oleh semua makhluk hidup.
Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama
cepatnya, adakalanya orang belum tergolong lanjut usia tetapi kekurangan-
kekurangan yang menyolok dan hal tersebut bisa terjadi karena beberapa
faktor antara lain lansia yang bekerja, lansia yang malnutrisi dan lain-lain.
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses
berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam
tubuh maupun dari luar tubuh. Walaupun demikian harus diakui bahwa ada
berbagai gangguan yang sering menghinggapi kaum lansia. Proses menua
sudah mulai berlangsung sejak mencapai usia dewasa, misalnya terjadinya
kehilangan jaringan otot, susunan syaraf dan jaringan lain sehingga tubuh
akan mengalami gangguan misalnya penurunan fungsi pencernaan/GI tract.
Pada fungsi pencernaan pada manula mengalami penurunan pada
susunan syaraf, penurunan fungsi absorbsi, penurunan fungsi peristaltik usus,
penurunan fungsi pengecap sehingga banyak mengalami gangguan seperti
diare, konstipasi, gizi buruk dan lain-lain pada lansia.
Dan pada makalah ini kelompok lebih cenderung membahas pada
gangguan Eliminasi pada lansia seperti Inkontinensia urine, konstipasi karena
banyak terjadi atau dialami oleh para manula.

B.

Tujuan Penulisan

Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan asuhan
keperawatan lansia secara nyata dalam pemenuhan kebutuhan Eliminasi pada
lansia.

C.

Batasan Penulisan

Pada pembuatan makalah ini kelompok membatasi pada pembahasan
kebutuhan Eliminasi pada lansia menggunakan tinjauan teori tentang
pemenuhan kebutuhan Eliminasi pada lansia.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.PENGERTIAN
1.Gerontologi

Berbagai istilah berkembang terkait dengan lanjut usia (lansia),
yaitu gerontologi, geriatri, dan keperawatan gerontik.
Gerontologi berasal dari kata Geros : lanjut usia dan Logos : ilmu. Jadi
Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai
faktor-faktor yang menyangkut lanjut usia.
Gerontologi ⇒Ilmu yang mempelajari seluruh aspek menua (Kozier,
1987)

⇒Cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang

mungkin terjadi pada lanjut usia (Miller, 1990).

2.Geriatri

Geriatri berasal dari kata Geros : Lanjut usia dan Eatrie :
kesehatan/medikal.
Geriatri ⇒Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit
pada lanjut usia

⇒Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari aspek-aspek klinis,

preventif maupun terapeutis bagi klien lanjut usia.

⇒Ilmu yang mempelajari proses menjadi tua pada manusia serta akibat-

akibatnya pada tubuh manusia.
Dengan demikian jelaslah bahwa objek dari geriatri adalah manusia

lanjut usia.

⇒Bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari tentang pencegahan

penyakit dan kekurangan-kekurangannya pada lanjut usia.
Geriatri : Cabang ilmu kedokteran (medicine) yang berfokus pada masalah
kedokteran yaitu penyakit yang timbul pada lanjut usia (Black &
Matassari Jacob, 1997).

3.Geriatric Nursing :

a.Praktek keperawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses
menua (Kozier, 1987)
b.Spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalankan peranya
pada tiap tatanan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan,
keahlian dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi
optimal lanjut usia/lansia secara komprehensif. Oleh karena itu,
perawatan lansia yang menderita penyakit (geriatric nursing) dan
dirawat di rumah sakit merupakan bagian dari Gerontic nursing.

4.Proses Menua

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes,
1994).

Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut)
secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua
makhluk hidup.

Proses menua sertiap individu pada organ tubuh juga tidak sama
cepatnya, adakalanya orang belum tergolong lanjut usia (masih muda)
tetapi kekurangan-kekurangan yang menyolok (Deskripansi). Menurut
undang-undang no. 9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan pasdal 8
ayat 2, berbunyi : Dalam istilah sakit termasuk cacat, kelemahan dan
lanjut usia.

Berdasarkan pernyataan ini, maka lanjut usia dianggap sebagai
semacam penyakit. Hal ini tidak benar. Gerontologi berpendapat lain,
sebab lanjut usia bukan suatu penyakit melainkan suatu masa/tahap hidup
manusia, yaitu : bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia.
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses
berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam
tubuh maupun dari luar tubuh. Walaupun demikian memang harus diakui
bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.

Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia
dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot,
susunan syaraf, dan jaringan lain sehingga tubuh “mati” sedikit demi
sedikit.

Sampai saat ini banyak sekali teori yang menerangkan “proses
menua,” mulai dari teori degeneratif yang didasari oleh habisnya daya
cadangan vital, teori terjadinya atrofi, yaitu : teori yang mengatakan
bahwa proses menua adalah proses evolusi dan teori imunologik, yaitu :
teori adanya produk sampah/waste products dari tubuh sendiri yang makin
bertumpuk. Tetapi seperti diketahui lanjut usia akan selalu bergendengan
dengan perubahan fisiologik maupun psikologik. Yang penting untuk
diketahui bahwa aktivitas fisik dapat menghambat/memperlambat
kemunduran fungsi alat tubuh yang disebabkan bertambahnya umur.

5.Teori-Teori Proses Menua

a.Secara individual
1.)

Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda.

2.)

Masing-masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda.

3.)

Tidak ada satu faktorpun ditemukan untuk mencegah proses

menua.
b.Teori-teori biologi
1.)

Teori genetik dan mutasi (Somatic Mutatie Theory)
Menurut teori ini semua telah terprogram secara genetik untuk
spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari
perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul/DNA
dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai
contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin. (terjadi
penurunan kemampuan fungsional sel).
2.)

“Pemakaian dan Rusak” kelebihan usaha dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
3.)

Pengumpulan dari pigmen/lemak dalam tubuh yang disebut
teori akumulasi dari produk sisa. Sebagai contoh adanya pigmen
Lipofuchine di sel otot jantung dan sel susunan syaraf pusat pada

orang lanjut usia yang mengakibatkan menganggu fungsi sel itu
sendiri.
4.)

Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.

5.)

Tidak ada perlindungan terhadap : radiasi, penyakit dan

kekurangan gizi.
6.)

Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto Immune Theory)
Didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat
tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai
contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa
berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan autoimun.
(Menurut Goldteris & Brocklehurst, 1989).
c.Teori immunologik slow virus (Immunology slow virus theory)
Sistem immun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan
masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ
tubuh.
d.Teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.
regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan
internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah
terpakai.
e.Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan
organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini meyebabkan sel-
sel tidak dapat regenerasi.
f.Teori rantai silang

Sel-sel yang tua/usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang
kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya
elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.

g.Teori program

Kemampuan organisme untuk menetapakn jumlah sel yang
membelah setelah sel-sel tersebut mati.

6.Teori Kejiwaan Sosial

a.Aktivitas atau kegiatan (Activity Taheory)
1.)Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan
secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia
yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam
kegiatan sosial.
2.)Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari
lanjut usia.
3.)Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar
tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
b.Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian/tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori
ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan
bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat
dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
c.Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Putusnya pergaulan/hubungan dengan masyarakat dan kemunduran
individu dengan individu lainnya. Pada lanjut usia pertama diajukan
oleh Cumming and Henry 1961. teori ini menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia seseorang secara berangsur-angsur mulai
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari
pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial
lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga
sering terjadi kehilangan ganda (Triple loos), yakni:
1.)Kerhilanhan peran (Loss of Role)
2.)Hambatan kontak sosial (Restraction of Contacts and Relation
Ships)
3.)Berkurangnya komitmen (Redused commitmen to social Mores
and Values).

7.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan

Meliputi :
a.

Hereditas : Keturunan/genetik

b.

Nutrisi : Makanan

c.

Status kesehatan

d.

Pengalaman hidup

e.

Lingkungan

f.

Stres

8.

Batasan-Batasan Lanjut Usia

Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia, sulit dijawab secara
memuaskan. Dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai
batasan umur.

Menurut organisasi kesehatan dunia lanjut usia meliputi :
a.Usia pertenggahan (middle age), ialah kelompok usia 45-59 tahun.
b.Lanjut usia (elderly)

: antara 60 dan 70 tahun

c.Lanjut usia tua (old)

: antara 75 dan 90 tahun.

d.Usia sangat tua (very old): diatas 90 tahun
Menurut Dra. Ny. Jos masdani (Psikolog UI)
Mengatakan : lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa.
Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a.Fase iuventus, antara 25 dan 40 tahun
b.Fase verilitas, antara 40 dan 50 tahun
c.Fase praesenium, antara 55 dan 65 tahun
d.Fase senium, antara 65 hingga tutup usia.

9.

Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia
Perubahan-perubahan fisik

a.

Sel

1.)Lebih sedikit jumlahnya
2.)Lebih besar ukurannya.
3.)Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan
intraseluler.

4.)Menurunnya proporsi protein diotak, otot, ginjal, darah dan
hati.
5.)Jumlah sel otak menurun.
6.)Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
7.)Otak menjadi atrofis beratny berkurang 5-10 %.

b.

Sistem persyarafan

1.)Berat otak menurun 10-20 % (setiap orang berkurang sel saraf
otaknya dalam setiap harinya).
2.)Cepatnya menurun hubungan persarafan.
3.)Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya
dengan stres.
4.)Mengecilnya saraf panca indera.
Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran,
mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap
perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
5.)Kurang sensitif terhadap sentuhan.

c.

Sistem pendengaran
1.)Presbiakus (gangguan pada pendengaran). Hilangnya
kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara/nada-nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit mengerti kata-kata, 50 % terjadi pada usia di atas
umur 65 tahun.
2.)Membran tympany menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
3.)Terjadinya pengumpalan serumen dapat mengeras karena
meningkatnya keratin.
4.)Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang
mengalami ketegangan jiwa/stres.

d.Sistem penglihatan

1.)Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap
sinar
2.)Kornea lebih berbentuk sferis (bola)

3.)Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak,
jelas menyebabkan gangguan penglihatan.
4.)Meningkatnya ambang pengamatan sinar, daya adaptasi
terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam
cahaya gelap.
5.)Hilangnya daya akomodasi.
6.)Menurunnya lapangan pandang : berkurang luas
pandangannya.
7.)Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau pada
skala.

e.

Sistem kardiovaskuler

1.)Elastisitas, dinding aorta menurun.
2.)Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
3.)Kemempuan jantung memompa darah menurun 1 % setiap
tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
4.)Kehilangan elastisitas pembuluh darah; kurangnya efektivitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi
dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan
tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan
pusing mendadak).
5.)Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya
resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolis normal ± 170
mmHg. Diastolis normal ± 90 mmHg.

f.

Sistem pengaturan temperatur tubuh

Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu
termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi
berbagai faktor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara
lain :

1.)Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik ± 35

0

C ini akibat metabolisme yang menurun.

2.)Keterbatasan refleks menggigl dan tidak dapat memproduksi
panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.

g.Sistem respirasi

1.)Oot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
2.)Menurunnya aktivitas dari silia.
3.)Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat,
menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum
menurun dan kedalaman bernafas menurun.
4.)Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya
berkurang.
5.)O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg
6.)CO2 pada arteri tidak berganti
7.)Kemampuan untuk batuk berkurang.
8.)Kemampuan pegas, dinding dada dan kekuatan otot
pernafasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.

h.Sistem gastrointestinal

1.)Kehilangan gigi, penyebab utama adanya Periodontal disease
yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain
meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
2.)Indera pengecap menurun, adanya iritasi yang kronis dari
selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya
sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa manis
dan asin, hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap tentang
rasa asin, asam dan pahit.
3.)Esofagus melebar.
4.)Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun),
asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
5.)Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6.)Fungsi absorpsi melemah (daya absorpsi terganggu)
7.)Liver (hati), makin mengecil dan menurunnya tempat
penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
8.)Menciutnya ovari dan uterus.

9.)Atrofi payudara.
10.)Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa
meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
11.)Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal
kondisi kesehatan baik), yaitu :
a.)

Kehidupan

seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia.
b.)

Hubungan
seksual secara teratur membantu mempertahankan
kemampuan seksual.
c.)

Tidak perlu

cemas karena merupakan perubahan alami.
12.)Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus,
sekresi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali dan terjadi
perubahan-perubahan warna.

i.

Sistem genitourinaria

1.)Ginjal

Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh
melalui urin darah yang masuk ke ginjal, disaring oleh satuan
(unit) terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di
glomerulus). Kemudian mengecil dan nefron menjadi atrofi,
aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, fungsi tubulus
berkurang akibatnya; kurangnya kemampuan mengkonsentrasi
urin, berat jenis urin menurun proteinuria (biasanya + 1); BUN
(blood urea nitrogen) meningkat sampai 21 mg %; nilai
ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
2.)Vesika urinaria (kandung kemih) : otot-otot menjadi lemah,
kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan
frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah
dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan
meningkatnya retensi urin.

3.)Pembesaran prostat ± 75 % dialami oleh pria usia diatas 65
tahun.
4.)Atrofi vulva
5.)Vagina

Orang-orang yang makin menua sexual intercourse masih juga
membutuhkannya; tidak ada batasan umur tertentu untuk
fungsi sexual seseorang berhenti; frekuensi sexual intercourse
cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas
untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.

j.

Sistem endokrin

1.)Produksi dari hampir semua hormon menurun
2.)Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
3.)Pituitari :

Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan
hanya di dalam pembuluh darah; berkurangnya
produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
4.)Menurunnya aktivitas tiroid, menurunnya BMR (basal
metababolic rate) dan menurunnya daya pertukaran zat.
5.)Menurunnya produksi aldosteron.
6.)Menurunnya sekresi hormon kelamin, misalnya : progesteron,
estrogen dan testeron.

k.

Sistem kulit (integumentary system)

1.)

Kulit mengerut/keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

2.)

Permukaan kulit kasar dan bersisik (karena kehilangan
proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel
epidermis).

3.)

Menurunnya respon terhadap trauma.

4.)

Mekanisme proteksi kulit menurun :
a)

Produksi serum menurun

b)

Penurunan produksi VTD.

c)

Gangguan pigmentasi kulit

5.)

Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.

6.)

Rambut dalam hidung dan telinga menebal.

7.)

Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan

vaskularisasi.

8.)

Pertumbuhan kuku lebih lambar

9.)

Kuku jari lebih menjadi keras dan rapuh.

10.)

Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk.

11.)

Kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya.

12.)

Kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.

l.

Sistem muskuloskeletal (musculosceletal system)

1.)Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh.
2.)Kifosis
3.)Pinggang, lutu dan jari-jari pergelangan terbatas.
4.)Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya
berkurang).
5.)Persendian membesar dan menjadi kaku.
6.)Tendon mengerut dan mengalami sklerosis.
7.)Atrofi serabut otot (otot-otot serabut mengecil) : serabut-serabut
otot mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban,
otot-otot kram dan menjadi tremor.
8.)Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.

B.ELIMNASI
1.

Pengertian

Merupakan proses pembuangan “waste product” (sisa metabolisme) dari
urine dan faeces.

a.

Faeces merupakan :

1.)Hasil/waste product berupa zat padat dari intestinal/colon dalam
proses defekasi
2.)Masa/faeces bergerak karena pengaruh dari peristaltik tertentu dari
daerah colon
3.)Peristaltik mendorong isi keanus dan memberi tanda untuk terjadi
pengosongan.

b.

Urine

Merupakan hasil/waste product berupa zat cair hasil sekresi ditubulus
colecting diginjal kemudian dibuang melalui ureter kemudian bledder.
Sehingga dikeluarkan karena stimulasi persyarafan dinding bledder.
Namun dapat dikontrol secara sadar terutama untuk musculus spingter
interna/externa.

2.

Proses Eliminasi

a.Pada eliminasi bowel

1.)Sistem digestif (GIT) bertambah lambat sehingga menyebabkan
sekresi cairan digestif dan peristaltik lamban sehingga terjadi
penurunan kemampuan untuk mengkonsumsi makanan tertentu.
2.)Pada lansia banyak makanan yang tidak tercerna dan kadang-
kadang tak cukup cairan untuk mencerna sehingga timbul
konstipasi.. konstipasi dapat juga terjadi karena tidak
mengkonsumsi makanan yang memadai/kurang melakukan
latihan fisik.
3.)Tidak memadainya konsumsi makanan juga sebagai akibat dari
penurunan respon terhadap tanda-tanda internal terhadap lapar
dan haus, perubahan pada gigi (karena sakit/trauma) sehingga
sulit untuk mengunyah.
4.)Keadaan sakit, misalnya : stroke akan menimbulkan kesulitan
untuk mengunyah/menelan.
5.)Kadang lupa dalam konsumsi makanan.
6.)Penggunaan laksatif yang berlebihan dapat menurunakan
penyerapan vitamin-vitamin tertentu yang larut dalam lemak (A,
D, E, K).
7.)Pada umumnya keluhan seperti kembung, perasaan tidak enak
biasanya akibat makanan yang kurang bisa dicernakan akibat :

a.)

Menurunnya fungsi kelenjar pencernaan.

b.)

Menurunnya toleransi terhadap makanan berlemak.
8.)Konstipasi dapat terjadi karena kurangnya kadar selulosa,
kurangnya nafsu makan akibat gigi sudah lepas.

b.

Eliminasi urine

Terdapat sejumlah alasan terjadinya inkontinensia, baik yang
disebabkan oleh semua faktor diatas maupun masalah klinis yang
berhubungan. Alasan utama pada lansia adalah adanya “ketidakstabilan
kandung kemih”. Beberapa kerusakan persyarafan mengakibatkan
seseorang tidak mampu mencegah kontraksi otot kandung kemih secara
efektif (otot detrusor) dan mungkin juga dipersulit oleh masalah lain,
seperti keterbatasan gerak/konfusi. Keinginan untuk miksi datang cepat
dan sangat mendesak pada seseorang sehingga penderita tidak sampai
pergi ke toilet, akibatnya terjadi inkontinensia, kejadian yang sama
mungkin dialami pada saat tidur.
Pada wanita, kelemahan otot spingter pada outlet sampai kandung
kemih seringkali disebabkan oleh kelahiran multipel sehinga pengeluaran
urine dari kandung kemih tidak mampu dicegah selama masa peningkatan
tekanan pada kandung kemih. Adanya tekanan di dalam abdomen seperti
bersin, batuk, atau saat latihan juga merupakan faktor konstribusi.
Pembesaran kelenjar prostat pada pria adalah penyebab yang paling
umum terjadinya obstruksi aliran urine dari kandung kemih. Kondisi ini
menyebabkan inkontinensia karena adanya mekanisme overflow, namun
inkontinensia ini dapat juga di sebabkan oleh adanya obstruksi yang
berakibat konstipasi dan juga adanya massa maligna (cancer) dalam pelvis
yang dialami oleh pria dan wanita. Akibat dari obstruksi, tonus kandung
kemih akan menghilang sehingga disebut kandung kemih atonik. Kandung
kemih yang kondisinya penuh gagal berkotraksi akan tetapi kemudian
menyebabkan overflow, sehingga terjadi inkontinensia.

C.ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan keperawatan adalah suatu proses pemecahan masalah yang
mengarahkan perawat dalam memberikan asuhan. Pengkajian merupakan
langkah pertama dalam proses ini yaitu meliputi pengumpulan dan analisa
data dan menghasilkan diagnosa keperawatan. Pengkajian yang berfokus

pada keperawatan sangat penting untuk menetukan diagnosa keperawatan
yang dapat menentukan intervensi dan implementasi keperawatan.

1.Pengkajian

aEliminasi urine

1.)Urine. Warna : Normal kuning jernih. Bau : Normal aromatik
amonia.

Pada overhidrasi →hampir tidak berwarna
Pada dehidrasi →orange-kecoklatan.
2.)Jumlah urine bervariasi tergantung intake. Normal 1 x BAK
250-400 ml.
3.)Distensi kandung kemih →inkontinensia (tidak dapat menahan
BAK)
4.)Frekuensi BAK, tekanan dan desakan.
5.)Kondisi-kondisi tertentu misalnya :
a.)

Disuria, keadaan nyeri waktu BAK.

b.)

Nokturia, keadaan BAK sering pada malam hari.

c.)

Enurisis, keadaan sadar BAK (umumnya pada anak-

anak).
d.)

Polyurie, peningkatan jumlah BAK baik frekuensi

maupun volume.
e.)

Oliguri, penurunan jumlah BAK

frekuensi/jumlahnya.
f.)

Anuri, produksi urine <100 /hari.

g.)

Retensio, ketidakmampuan mengosongkan bladder,
misalnya : karena obstruksi saluran urethra.

bEliminasi bowel

1.)Status gizi
2.)Pemasukan diit
3.)Anorexia, tidak dicerna, mual dan muntah.
4.)Mengunyah dan menelan.

5.)Keadaan gigi, rahang dan rongga mulut
6.)Auskultasi bising usus.
7.)Palpasi apakah perut kembung, fecal.
8.)Konstipasi, sudah berapa hari tidak BAB.
9.)Keadaan diare.

2.Intervensi

a.

Eliminasi Urine

1.)Cukupkan cairan masuk 2000-3000 ml/hari.
2.)Cegah terjadinya inkontinensia :
a)Jelaskan dan dorong klien untuk BAK tiap 2 jam.
b)Pertahankan penerangan dikamar mandi untuk
mencegah jatuh.
c)Observasi jumlah urin
d)Batasi cairan terutama waktu menjelang tidur.

b.

Eliminasi Bowel

1.)Berikan sikap fowler waktu makan
2.)Pertahankan keasaman lambung.
3.)Berikan makanan yang tidak membentuk gas
4.)Cukup cairan

3.Untuk mencegah sembelit/konstipasi.

a.

Awasi kecukupan cairan dalam diit.

b.

Dorong untuk melakukan aktivitas

c.

Fasilitasi gerak usus dalam mencerna.

d.

Berikan kebebasan dan gerak posisi tubuh normal

e.

Berikan kecukupan konsumsi serat.

f.

Ajarkan latihan kegel.

g.

Ajarkan latihan perut.

h.

Atur waktu makan dan minum.

i.

Atur jumlah makan dan minum.

j.

Berikan laxatif jika perlu.

BAB III
FORMAT PENGKAJIAN LANSIA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->